Kejelekan Diganti Kebaikan

Jika mengingat akan dosa-dosa, hati orang beriman pasti akan terus menyesal, merasa sedih, bahkan sesekali bisa menetaskan air mata. Taubat memang seperti itu. Orang yang dikatakan bertaubat dengan sebenarnya bila ia menyesali dosa yang telah lalu, meninggalkan maksiat saat ini juga dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi di masa mendatang. Sedih dan terus menyesali dosa itulah jalan untuk kembali pada Allah. Pada kesempatan kali ini, ada sebuah ayat yang patut kita renungkan bersama. Isinya adalah mengenai keutamaan orang-orang yang bertaubat. Mereka adalah orang yang dulunya penuh dengan dosa dan kubangan maksiat, bahkan terjerumus dalam dosa besar, lalu menyesal, sedih dan bertekad tidak akan melakukannya lagi. Allah Ta’ala berfirman mengenai sifat hamba-Nya yang beriman, وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71) “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71) Mengenai “Atsamaa” Saksikanlah dalam ayat di atas, yang disebutkan adalah dosa-dosa besar. Mulai dari dosa syirik, membunuh jiwa tanpa hak, dan berzina disebutkan dalam satu ayat. Di akhir ayat ke-68, disebutkan bahwa mereka yang berbuat dosa-dosa tadi akan berjumpa dengan “أَثَامًا”.  ‘Abdullah bin ‘Amr menafsirkan bahwa “أَثَامًا” adalah nama lembah di Jahannam. ‘Ikrimah mengatakan bahwa “أَثَامًا” adalah lembah di Jahannam di mana di situlah disiksa orang-orang yang berzina. As Sudi menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, “Mereka akan memperoleh balasan atas dosa yang mereka perbuat.” As Sudi menafsirkan seperti ini karena melihat dari kelanjutan ayat setelahnya.[1] Siksa yang Pedih dan Berlipat-lipat Maksud ayat, “(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat”, adalah mereka akan mendapat siksaan yang terus berulang dan amat pedih. Sedangkan maksud ayat setelahnya, “dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”, adalah mereka mendapatkan siksaan yang begitu menghinakan.[2] Termasuk Dosa Besar Allah Ta’ala menyebutkan tiga dosa dalam ayat tersebut yaitu syirik, membunuh, dan berzina. Apa maksudnya? Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Ketiga dosa tersebut termasuk dalam al kabair (dosa besar). Syirik adalah dosa yang merusak agama. Membunuh adalah dosa yang merusak jiwa. Sedangkan zina adalah dosa yang merusak kehormatan.”[3] Itulah yang menunjukkan bahayanya ketiga dosa tersebut. Syirik sudahlah amat jelas. Jika dosa syirik dibawa mati dan tidak ada taubat terhadap dosa tersebut, pelakunya akan kekal di neraka. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48, 116) Bagaimanakah dengan dosa membunuh dan zina? Apakah membuat seorang hamba kekal dalam neraka? Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Adapun orang yang membunuh jiwa dan seorang pezina, mereka tidaklah kekal di dalam neraka karena ada berbagai dalil dari Al Qur’an dan sunnah nabawiyah yang menjelaskan hal ini. Dalil tersebut menjelaskan bahwa setiap mukmin akan keluar dari neraka dan tidak kekal di dalamnya. Setiap mukmin (selama masih ada iman) walau ia melakukan maksiat, ia tidak kekal di neraka.”[4] Wajib Bertaubat Ketika seseorang terjerumus dalam kesyirikan, pembunuhan dan zina, maka ia wajib bertaubat dari dosa tersebut. Bagaimana cara bertaubat? Taubat tentu saja dengan taubat yang nashuha, taubat yang sesungguhnya. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8). Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna taubat yang tulus (taubatan nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.”[5] Dalam surat Al Furqon yang kita bahas saat ini juga disebutkan “kecuali orang yang bertaubat”, yaitu bertaubat dari maksiat dan selainnya dengan menyesali dosa yang telah lalu dan bertekad untuk tidak mengulanginya (di masa akan datang). Kemudian disertai dengan beriman kepada Allah dengan benar yang menunjukkan bahwa ia meninggalkan maksiat dan kembali mengerjakan ketaatan. Juga disertai dengan mengerjakan amalan sholeh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan ia melakukannya dengan ikhlas. Demikianlah maksud dari penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah tentang tafsir ayat di atas. [6] Kejelekan Diganti Kebaikan Sekarang kita akan lihat maksud firman Allah, فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ “Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al Furqon: 70). Kata Ibnul Jauzi rahimahullah, para ulama berselisih pendapat tentang maksud penggantian di sini dan kapan waktunya. Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah Allah mengganti kesyirikan yang dulu mereka lakukan dengan keimanan, pembunuhan yang mereka lakukan diganti dengan menahan diri dari melakukannya dan zina yang mereka lakukan diganti dengan menjaga kehormatan dari zina. Ini menunjukkan bahwa penggantian tersebut ada di dunia. Ulama lain yang menafsirkan seperti ini adalah Sa’id bin Jubair, Mujahid, Qotadah, Adh Dhohak, dan Ibnu Zaid. Pendapat kedua, yang dimaksud dengan Allah mengganti kejelekan dengan kebajikan adalah di akhirat kelak. Yang berpendapat seperti ini adalah Salman radhiyallahu ‘anhu, Sa’id bin Al Musayyib, dan ‘Ali bin Al Husain. ‘Amr bin Maimun berkata, “Allah akan mengganti kejelekan seorang mukmin dengan kebaikan jika ia mendapat pengampunan Allah. Sampai-sampai ia sangka bahwa kejelekannya itu adalah amat banyak.”[7] Ini menunjukkan bahwa sungguh luar biasa keutamaan orang yang bertaubat. Ingatlah, Allah Maha Penerima Taubat Selama seseorang tidak menganggap remeh dosa atau maksiat dan menyesali setiap dosa dan kesalahan yang ia perbuat, maka niscaya Allah akan ampuni dosanya. Entah itu dosa syirik, membunuh atau pun berzina. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا “Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”. (QS. Al Furqon: 71). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini mengabarkan tentang amat luasnya rahmat (kasih sayang) Allah pada para hamba-Nya. Siapa saja yang bertaubat kepada Allah, Dia akan meneri taubatnya seberapa pun besar dosa tersebut, entah itu dosa yang luar biasa atau dosa yang sepele, entah itu dosa besar atau dosa kecil.”[8] So … Janganlah putus asa dari rahmat Allah! Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.   Riyadh-KSA, 24th Rajab 1432 H (26/06/2011) www.rumaysho.com [1] Lihat penjelasan Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326, terbitan Muassasah Qurthubah. [2] Idem. [3] Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, 587, terbitan Muassasah Ar Risalah. [4] Idem. [5] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/61. [6] Taisir Al Karimir Rahman, 587. [7] Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 6/107, terbitan Al Maktab Al Islami. [8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/330. Tagsmaksiat

Kejelekan Diganti Kebaikan

Jika mengingat akan dosa-dosa, hati orang beriman pasti akan terus menyesal, merasa sedih, bahkan sesekali bisa menetaskan air mata. Taubat memang seperti itu. Orang yang dikatakan bertaubat dengan sebenarnya bila ia menyesali dosa yang telah lalu, meninggalkan maksiat saat ini juga dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi di masa mendatang. Sedih dan terus menyesali dosa itulah jalan untuk kembali pada Allah. Pada kesempatan kali ini, ada sebuah ayat yang patut kita renungkan bersama. Isinya adalah mengenai keutamaan orang-orang yang bertaubat. Mereka adalah orang yang dulunya penuh dengan dosa dan kubangan maksiat, bahkan terjerumus dalam dosa besar, lalu menyesal, sedih dan bertekad tidak akan melakukannya lagi. Allah Ta’ala berfirman mengenai sifat hamba-Nya yang beriman, وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71) “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71) Mengenai “Atsamaa” Saksikanlah dalam ayat di atas, yang disebutkan adalah dosa-dosa besar. Mulai dari dosa syirik, membunuh jiwa tanpa hak, dan berzina disebutkan dalam satu ayat. Di akhir ayat ke-68, disebutkan bahwa mereka yang berbuat dosa-dosa tadi akan berjumpa dengan “أَثَامًا”.  ‘Abdullah bin ‘Amr menafsirkan bahwa “أَثَامًا” adalah nama lembah di Jahannam. ‘Ikrimah mengatakan bahwa “أَثَامًا” adalah lembah di Jahannam di mana di situlah disiksa orang-orang yang berzina. As Sudi menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, “Mereka akan memperoleh balasan atas dosa yang mereka perbuat.” As Sudi menafsirkan seperti ini karena melihat dari kelanjutan ayat setelahnya.[1] Siksa yang Pedih dan Berlipat-lipat Maksud ayat, “(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat”, adalah mereka akan mendapat siksaan yang terus berulang dan amat pedih. Sedangkan maksud ayat setelahnya, “dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”, adalah mereka mendapatkan siksaan yang begitu menghinakan.[2] Termasuk Dosa Besar Allah Ta’ala menyebutkan tiga dosa dalam ayat tersebut yaitu syirik, membunuh, dan berzina. Apa maksudnya? Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Ketiga dosa tersebut termasuk dalam al kabair (dosa besar). Syirik adalah dosa yang merusak agama. Membunuh adalah dosa yang merusak jiwa. Sedangkan zina adalah dosa yang merusak kehormatan.”[3] Itulah yang menunjukkan bahayanya ketiga dosa tersebut. Syirik sudahlah amat jelas. Jika dosa syirik dibawa mati dan tidak ada taubat terhadap dosa tersebut, pelakunya akan kekal di neraka. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48, 116) Bagaimanakah dengan dosa membunuh dan zina? Apakah membuat seorang hamba kekal dalam neraka? Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Adapun orang yang membunuh jiwa dan seorang pezina, mereka tidaklah kekal di dalam neraka karena ada berbagai dalil dari Al Qur’an dan sunnah nabawiyah yang menjelaskan hal ini. Dalil tersebut menjelaskan bahwa setiap mukmin akan keluar dari neraka dan tidak kekal di dalamnya. Setiap mukmin (selama masih ada iman) walau ia melakukan maksiat, ia tidak kekal di neraka.”[4] Wajib Bertaubat Ketika seseorang terjerumus dalam kesyirikan, pembunuhan dan zina, maka ia wajib bertaubat dari dosa tersebut. Bagaimana cara bertaubat? Taubat tentu saja dengan taubat yang nashuha, taubat yang sesungguhnya. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8). Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna taubat yang tulus (taubatan nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.”[5] Dalam surat Al Furqon yang kita bahas saat ini juga disebutkan “kecuali orang yang bertaubat”, yaitu bertaubat dari maksiat dan selainnya dengan menyesali dosa yang telah lalu dan bertekad untuk tidak mengulanginya (di masa akan datang). Kemudian disertai dengan beriman kepada Allah dengan benar yang menunjukkan bahwa ia meninggalkan maksiat dan kembali mengerjakan ketaatan. Juga disertai dengan mengerjakan amalan sholeh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan ia melakukannya dengan ikhlas. Demikianlah maksud dari penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah tentang tafsir ayat di atas. [6] Kejelekan Diganti Kebaikan Sekarang kita akan lihat maksud firman Allah, فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ “Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al Furqon: 70). Kata Ibnul Jauzi rahimahullah, para ulama berselisih pendapat tentang maksud penggantian di sini dan kapan waktunya. Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah Allah mengganti kesyirikan yang dulu mereka lakukan dengan keimanan, pembunuhan yang mereka lakukan diganti dengan menahan diri dari melakukannya dan zina yang mereka lakukan diganti dengan menjaga kehormatan dari zina. Ini menunjukkan bahwa penggantian tersebut ada di dunia. Ulama lain yang menafsirkan seperti ini adalah Sa’id bin Jubair, Mujahid, Qotadah, Adh Dhohak, dan Ibnu Zaid. Pendapat kedua, yang dimaksud dengan Allah mengganti kejelekan dengan kebajikan adalah di akhirat kelak. Yang berpendapat seperti ini adalah Salman radhiyallahu ‘anhu, Sa’id bin Al Musayyib, dan ‘Ali bin Al Husain. ‘Amr bin Maimun berkata, “Allah akan mengganti kejelekan seorang mukmin dengan kebaikan jika ia mendapat pengampunan Allah. Sampai-sampai ia sangka bahwa kejelekannya itu adalah amat banyak.”[7] Ini menunjukkan bahwa sungguh luar biasa keutamaan orang yang bertaubat. Ingatlah, Allah Maha Penerima Taubat Selama seseorang tidak menganggap remeh dosa atau maksiat dan menyesali setiap dosa dan kesalahan yang ia perbuat, maka niscaya Allah akan ampuni dosanya. Entah itu dosa syirik, membunuh atau pun berzina. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا “Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”. (QS. Al Furqon: 71). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini mengabarkan tentang amat luasnya rahmat (kasih sayang) Allah pada para hamba-Nya. Siapa saja yang bertaubat kepada Allah, Dia akan meneri taubatnya seberapa pun besar dosa tersebut, entah itu dosa yang luar biasa atau dosa yang sepele, entah itu dosa besar atau dosa kecil.”[8] So … Janganlah putus asa dari rahmat Allah! Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.   Riyadh-KSA, 24th Rajab 1432 H (26/06/2011) www.rumaysho.com [1] Lihat penjelasan Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326, terbitan Muassasah Qurthubah. [2] Idem. [3] Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, 587, terbitan Muassasah Ar Risalah. [4] Idem. [5] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/61. [6] Taisir Al Karimir Rahman, 587. [7] Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 6/107, terbitan Al Maktab Al Islami. [8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/330. Tagsmaksiat
Jika mengingat akan dosa-dosa, hati orang beriman pasti akan terus menyesal, merasa sedih, bahkan sesekali bisa menetaskan air mata. Taubat memang seperti itu. Orang yang dikatakan bertaubat dengan sebenarnya bila ia menyesali dosa yang telah lalu, meninggalkan maksiat saat ini juga dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi di masa mendatang. Sedih dan terus menyesali dosa itulah jalan untuk kembali pada Allah. Pada kesempatan kali ini, ada sebuah ayat yang patut kita renungkan bersama. Isinya adalah mengenai keutamaan orang-orang yang bertaubat. Mereka adalah orang yang dulunya penuh dengan dosa dan kubangan maksiat, bahkan terjerumus dalam dosa besar, lalu menyesal, sedih dan bertekad tidak akan melakukannya lagi. Allah Ta’ala berfirman mengenai sifat hamba-Nya yang beriman, وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71) “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71) Mengenai “Atsamaa” Saksikanlah dalam ayat di atas, yang disebutkan adalah dosa-dosa besar. Mulai dari dosa syirik, membunuh jiwa tanpa hak, dan berzina disebutkan dalam satu ayat. Di akhir ayat ke-68, disebutkan bahwa mereka yang berbuat dosa-dosa tadi akan berjumpa dengan “أَثَامًا”.  ‘Abdullah bin ‘Amr menafsirkan bahwa “أَثَامًا” adalah nama lembah di Jahannam. ‘Ikrimah mengatakan bahwa “أَثَامًا” adalah lembah di Jahannam di mana di situlah disiksa orang-orang yang berzina. As Sudi menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, “Mereka akan memperoleh balasan atas dosa yang mereka perbuat.” As Sudi menafsirkan seperti ini karena melihat dari kelanjutan ayat setelahnya.[1] Siksa yang Pedih dan Berlipat-lipat Maksud ayat, “(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat”, adalah mereka akan mendapat siksaan yang terus berulang dan amat pedih. Sedangkan maksud ayat setelahnya, “dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”, adalah mereka mendapatkan siksaan yang begitu menghinakan.[2] Termasuk Dosa Besar Allah Ta’ala menyebutkan tiga dosa dalam ayat tersebut yaitu syirik, membunuh, dan berzina. Apa maksudnya? Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Ketiga dosa tersebut termasuk dalam al kabair (dosa besar). Syirik adalah dosa yang merusak agama. Membunuh adalah dosa yang merusak jiwa. Sedangkan zina adalah dosa yang merusak kehormatan.”[3] Itulah yang menunjukkan bahayanya ketiga dosa tersebut. Syirik sudahlah amat jelas. Jika dosa syirik dibawa mati dan tidak ada taubat terhadap dosa tersebut, pelakunya akan kekal di neraka. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48, 116) Bagaimanakah dengan dosa membunuh dan zina? Apakah membuat seorang hamba kekal dalam neraka? Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Adapun orang yang membunuh jiwa dan seorang pezina, mereka tidaklah kekal di dalam neraka karena ada berbagai dalil dari Al Qur’an dan sunnah nabawiyah yang menjelaskan hal ini. Dalil tersebut menjelaskan bahwa setiap mukmin akan keluar dari neraka dan tidak kekal di dalamnya. Setiap mukmin (selama masih ada iman) walau ia melakukan maksiat, ia tidak kekal di neraka.”[4] Wajib Bertaubat Ketika seseorang terjerumus dalam kesyirikan, pembunuhan dan zina, maka ia wajib bertaubat dari dosa tersebut. Bagaimana cara bertaubat? Taubat tentu saja dengan taubat yang nashuha, taubat yang sesungguhnya. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8). Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna taubat yang tulus (taubatan nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.”[5] Dalam surat Al Furqon yang kita bahas saat ini juga disebutkan “kecuali orang yang bertaubat”, yaitu bertaubat dari maksiat dan selainnya dengan menyesali dosa yang telah lalu dan bertekad untuk tidak mengulanginya (di masa akan datang). Kemudian disertai dengan beriman kepada Allah dengan benar yang menunjukkan bahwa ia meninggalkan maksiat dan kembali mengerjakan ketaatan. Juga disertai dengan mengerjakan amalan sholeh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan ia melakukannya dengan ikhlas. Demikianlah maksud dari penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah tentang tafsir ayat di atas. [6] Kejelekan Diganti Kebaikan Sekarang kita akan lihat maksud firman Allah, فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ “Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al Furqon: 70). Kata Ibnul Jauzi rahimahullah, para ulama berselisih pendapat tentang maksud penggantian di sini dan kapan waktunya. Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah Allah mengganti kesyirikan yang dulu mereka lakukan dengan keimanan, pembunuhan yang mereka lakukan diganti dengan menahan diri dari melakukannya dan zina yang mereka lakukan diganti dengan menjaga kehormatan dari zina. Ini menunjukkan bahwa penggantian tersebut ada di dunia. Ulama lain yang menafsirkan seperti ini adalah Sa’id bin Jubair, Mujahid, Qotadah, Adh Dhohak, dan Ibnu Zaid. Pendapat kedua, yang dimaksud dengan Allah mengganti kejelekan dengan kebajikan adalah di akhirat kelak. Yang berpendapat seperti ini adalah Salman radhiyallahu ‘anhu, Sa’id bin Al Musayyib, dan ‘Ali bin Al Husain. ‘Amr bin Maimun berkata, “Allah akan mengganti kejelekan seorang mukmin dengan kebaikan jika ia mendapat pengampunan Allah. Sampai-sampai ia sangka bahwa kejelekannya itu adalah amat banyak.”[7] Ini menunjukkan bahwa sungguh luar biasa keutamaan orang yang bertaubat. Ingatlah, Allah Maha Penerima Taubat Selama seseorang tidak menganggap remeh dosa atau maksiat dan menyesali setiap dosa dan kesalahan yang ia perbuat, maka niscaya Allah akan ampuni dosanya. Entah itu dosa syirik, membunuh atau pun berzina. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا “Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”. (QS. Al Furqon: 71). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini mengabarkan tentang amat luasnya rahmat (kasih sayang) Allah pada para hamba-Nya. Siapa saja yang bertaubat kepada Allah, Dia akan meneri taubatnya seberapa pun besar dosa tersebut, entah itu dosa yang luar biasa atau dosa yang sepele, entah itu dosa besar atau dosa kecil.”[8] So … Janganlah putus asa dari rahmat Allah! Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.   Riyadh-KSA, 24th Rajab 1432 H (26/06/2011) www.rumaysho.com [1] Lihat penjelasan Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326, terbitan Muassasah Qurthubah. [2] Idem. [3] Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, 587, terbitan Muassasah Ar Risalah. [4] Idem. [5] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/61. [6] Taisir Al Karimir Rahman, 587. [7] Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 6/107, terbitan Al Maktab Al Islami. [8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/330. Tagsmaksiat


Jika mengingat akan dosa-dosa, hati orang beriman pasti akan terus menyesal, merasa sedih, bahkan sesekali bisa menetaskan air mata. Taubat memang seperti itu. Orang yang dikatakan bertaubat dengan sebenarnya bila ia menyesali dosa yang telah lalu, meninggalkan maksiat saat ini juga dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi di masa mendatang. Sedih dan terus menyesali dosa itulah jalan untuk kembali pada Allah. Pada kesempatan kali ini, ada sebuah ayat yang patut kita renungkan bersama. Isinya adalah mengenai keutamaan orang-orang yang bertaubat. Mereka adalah orang yang dulunya penuh dengan dosa dan kubangan maksiat, bahkan terjerumus dalam dosa besar, lalu menyesal, sedih dan bertekad tidak akan melakukannya lagi. Allah Ta’ala berfirman mengenai sifat hamba-Nya yang beriman, وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71) “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71) Mengenai “Atsamaa” Saksikanlah dalam ayat di atas, yang disebutkan adalah dosa-dosa besar. Mulai dari dosa syirik, membunuh jiwa tanpa hak, dan berzina disebutkan dalam satu ayat. Di akhir ayat ke-68, disebutkan bahwa mereka yang berbuat dosa-dosa tadi akan berjumpa dengan “أَثَامًا”.  ‘Abdullah bin ‘Amr menafsirkan bahwa “أَثَامًا” adalah nama lembah di Jahannam. ‘Ikrimah mengatakan bahwa “أَثَامًا” adalah lembah di Jahannam di mana di situlah disiksa orang-orang yang berzina. As Sudi menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, “Mereka akan memperoleh balasan atas dosa yang mereka perbuat.” As Sudi menafsirkan seperti ini karena melihat dari kelanjutan ayat setelahnya.[1] Siksa yang Pedih dan Berlipat-lipat Maksud ayat, “(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat”, adalah mereka akan mendapat siksaan yang terus berulang dan amat pedih. Sedangkan maksud ayat setelahnya, “dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”, adalah mereka mendapatkan siksaan yang begitu menghinakan.[2] Termasuk Dosa Besar Allah Ta’ala menyebutkan tiga dosa dalam ayat tersebut yaitu syirik, membunuh, dan berzina. Apa maksudnya? Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Ketiga dosa tersebut termasuk dalam al kabair (dosa besar). Syirik adalah dosa yang merusak agama. Membunuh adalah dosa yang merusak jiwa. Sedangkan zina adalah dosa yang merusak kehormatan.”[3] Itulah yang menunjukkan bahayanya ketiga dosa tersebut. Syirik sudahlah amat jelas. Jika dosa syirik dibawa mati dan tidak ada taubat terhadap dosa tersebut, pelakunya akan kekal di neraka. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48, 116) Bagaimanakah dengan dosa membunuh dan zina? Apakah membuat seorang hamba kekal dalam neraka? Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Adapun orang yang membunuh jiwa dan seorang pezina, mereka tidaklah kekal di dalam neraka karena ada berbagai dalil dari Al Qur’an dan sunnah nabawiyah yang menjelaskan hal ini. Dalil tersebut menjelaskan bahwa setiap mukmin akan keluar dari neraka dan tidak kekal di dalamnya. Setiap mukmin (selama masih ada iman) walau ia melakukan maksiat, ia tidak kekal di neraka.”[4] Wajib Bertaubat Ketika seseorang terjerumus dalam kesyirikan, pembunuhan dan zina, maka ia wajib bertaubat dari dosa tersebut. Bagaimana cara bertaubat? Taubat tentu saja dengan taubat yang nashuha, taubat yang sesungguhnya. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8). Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna taubat yang tulus (taubatan nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.”[5] Dalam surat Al Furqon yang kita bahas saat ini juga disebutkan “kecuali orang yang bertaubat”, yaitu bertaubat dari maksiat dan selainnya dengan menyesali dosa yang telah lalu dan bertekad untuk tidak mengulanginya (di masa akan datang). Kemudian disertai dengan beriman kepada Allah dengan benar yang menunjukkan bahwa ia meninggalkan maksiat dan kembali mengerjakan ketaatan. Juga disertai dengan mengerjakan amalan sholeh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan ia melakukannya dengan ikhlas. Demikianlah maksud dari penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah tentang tafsir ayat di atas. [6] Kejelekan Diganti Kebaikan Sekarang kita akan lihat maksud firman Allah, فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ “Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al Furqon: 70). Kata Ibnul Jauzi rahimahullah, para ulama berselisih pendapat tentang maksud penggantian di sini dan kapan waktunya. Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah Allah mengganti kesyirikan yang dulu mereka lakukan dengan keimanan, pembunuhan yang mereka lakukan diganti dengan menahan diri dari melakukannya dan zina yang mereka lakukan diganti dengan menjaga kehormatan dari zina. Ini menunjukkan bahwa penggantian tersebut ada di dunia. Ulama lain yang menafsirkan seperti ini adalah Sa’id bin Jubair, Mujahid, Qotadah, Adh Dhohak, dan Ibnu Zaid. Pendapat kedua, yang dimaksud dengan Allah mengganti kejelekan dengan kebajikan adalah di akhirat kelak. Yang berpendapat seperti ini adalah Salman radhiyallahu ‘anhu, Sa’id bin Al Musayyib, dan ‘Ali bin Al Husain. ‘Amr bin Maimun berkata, “Allah akan mengganti kejelekan seorang mukmin dengan kebaikan jika ia mendapat pengampunan Allah. Sampai-sampai ia sangka bahwa kejelekannya itu adalah amat banyak.”[7] Ini menunjukkan bahwa sungguh luar biasa keutamaan orang yang bertaubat. Ingatlah, Allah Maha Penerima Taubat Selama seseorang tidak menganggap remeh dosa atau maksiat dan menyesali setiap dosa dan kesalahan yang ia perbuat, maka niscaya Allah akan ampuni dosanya. Entah itu dosa syirik, membunuh atau pun berzina. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا “Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”. (QS. Al Furqon: 71). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini mengabarkan tentang amat luasnya rahmat (kasih sayang) Allah pada para hamba-Nya. Siapa saja yang bertaubat kepada Allah, Dia akan meneri taubatnya seberapa pun besar dosa tersebut, entah itu dosa yang luar biasa atau dosa yang sepele, entah itu dosa besar atau dosa kecil.”[8] So … Janganlah putus asa dari rahmat Allah! Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.   Riyadh-KSA, 24th Rajab 1432 H (26/06/2011) www.rumaysho.com [1] Lihat penjelasan Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326, terbitan Muassasah Qurthubah. [2] Idem. [3] Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, 587, terbitan Muassasah Ar Risalah. [4] Idem. [5] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/61. [6] Taisir Al Karimir Rahman, 587. [7] Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 6/107, terbitan Al Maktab Al Islami. [8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/330. Tagsmaksiat

Amal Jariyah Lewat Buku

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Sebagian orang menyangka bahwa amal jariyah, amal yang akan mengalir terus pahalanya hanya dibatasi pada sumbangan untuk pembangunan masjid atau pesantren. Padahal banyak cara untuk melakukan amal jariyah. Dan lebih baik lagi jika kita dapat melakukan banyak cara tersebut supaya bisa memperoleh banyak pahala. Menyebarkan ilmu diin (agama) dan ilmu itu dimanfaatkan orang lain, itu juga termasuk amal jariyah. Bentuk lainnya adalah dengan membantu dalam penerbitan buku Islam yang dibagikan secara gratis di tengah-tengah kaum muslimin. Inilah yang kami temui di tanah Arab (Saudi Arabia), para muhsinin atau dermawan begitu pintar dalam menyalurkan hartanya. Ribuan buku bahkan jutaan sering dibagi gratis di tengah-tengah masyarakat atau kepada para pelajar (tholib). Contohnya dapat kita temukan di saat musim haji, berbagai buku aqidah, fikih dan akhlak dicetak dalam bahasa Arab dan bahasa lainnya termasuk bahasa lainnya. Itu semua dibagi gratis di tengah-tengah jamaah haji. Begitu cerdasnya para muhsinin yang memilih jalan bersedekah semacam ini. Lihat saja bagaimana jika ribuan buku yang dicetak, atau bahkan jutaan buku walaupun itu dalam bentuk buku saku (kecil dan sederhana), namun jika orang yang diberi membaca dan mengamalkan ilmunya, maka muhsinin tersebut akan turut serta mendapatkan pahala amal jariyah. Karena itu, kita harus cerdas dalam memilih jalan untuk berbuat baik. Fadhilah atau keutamaan partisipasi dalam penerbitan buku yang dibagi gratis di tengah-tengah kaum muslimin tercakup dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631) Komisi Fatwa di Kerajaan Saudi Arabi, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, yang sering juga membagi buku gratis kepada para pelajar di kota Riyadh-KSA, pernah ditanya mengenai partisipasi dalam penerbitan buku gratis apakah termasuk dalam amal jariyah yaitu ilmu yang terus dimanfaatkan. Para ulama di sana ditanya sebagai berikut: Apakah pencetakan buku Islam yang shahih lalu setiap orang masih memanfaatkannya setelah kita meninggal dunia termasuk dalam amal jariyah “ilmu yang senantiasa dimanfaatkan” sebagaimana disebutkan dalam hadits? Jawaban para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah: Pencetakan buku-buku Islam yang bermanfaat yang terus dimanfaatkan oleh manusia, baik dalam ilmu diin (agama) maupun ilmu dunia, itu termasuk amalan sholehah. Ketika masih hidup, orang yang berpartisipasi dalam penerbitan buku tersebut akan mendapatkan pahala. Dan pahala tersebut akan terus mengalir selama buku tersebut terus dimanfaatkan setelah ia meninggal dunia. Amalan tersebut termausk dalam keumuman hadits shahih dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim, At Tirmidzi, An Nasai dan Ahmad). Setiap orang yang berpartisipasi dalam penerbitan buku dari ilmu yang bermanfaat akan mendapatkan pahala besar. Yang termasuk mendapatkan pahala di dalamnya adalah penulisnya, pengajarnya, penyebar buku tersebut di tengah-tengah manusia, atau yang menerbitkannya. Semuanya akan mendapatkan pahala sesuai dengan besarnya partisipasi yang ia berikan. [Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 20062] Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Riyadh-KSA, 23 Rajab 1432 H 25/06/2011 www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah Berharga dari Imam Nawawi tentang Tiga Amalan yang Tidak Terputus Pahalanya Inilah 7 Amal Jariyah yang Mesti Kamu Ketahui Tagsamal jariyah

Amal Jariyah Lewat Buku

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Sebagian orang menyangka bahwa amal jariyah, amal yang akan mengalir terus pahalanya hanya dibatasi pada sumbangan untuk pembangunan masjid atau pesantren. Padahal banyak cara untuk melakukan amal jariyah. Dan lebih baik lagi jika kita dapat melakukan banyak cara tersebut supaya bisa memperoleh banyak pahala. Menyebarkan ilmu diin (agama) dan ilmu itu dimanfaatkan orang lain, itu juga termasuk amal jariyah. Bentuk lainnya adalah dengan membantu dalam penerbitan buku Islam yang dibagikan secara gratis di tengah-tengah kaum muslimin. Inilah yang kami temui di tanah Arab (Saudi Arabia), para muhsinin atau dermawan begitu pintar dalam menyalurkan hartanya. Ribuan buku bahkan jutaan sering dibagi gratis di tengah-tengah masyarakat atau kepada para pelajar (tholib). Contohnya dapat kita temukan di saat musim haji, berbagai buku aqidah, fikih dan akhlak dicetak dalam bahasa Arab dan bahasa lainnya termasuk bahasa lainnya. Itu semua dibagi gratis di tengah-tengah jamaah haji. Begitu cerdasnya para muhsinin yang memilih jalan bersedekah semacam ini. Lihat saja bagaimana jika ribuan buku yang dicetak, atau bahkan jutaan buku walaupun itu dalam bentuk buku saku (kecil dan sederhana), namun jika orang yang diberi membaca dan mengamalkan ilmunya, maka muhsinin tersebut akan turut serta mendapatkan pahala amal jariyah. Karena itu, kita harus cerdas dalam memilih jalan untuk berbuat baik. Fadhilah atau keutamaan partisipasi dalam penerbitan buku yang dibagi gratis di tengah-tengah kaum muslimin tercakup dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631) Komisi Fatwa di Kerajaan Saudi Arabi, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, yang sering juga membagi buku gratis kepada para pelajar di kota Riyadh-KSA, pernah ditanya mengenai partisipasi dalam penerbitan buku gratis apakah termasuk dalam amal jariyah yaitu ilmu yang terus dimanfaatkan. Para ulama di sana ditanya sebagai berikut: Apakah pencetakan buku Islam yang shahih lalu setiap orang masih memanfaatkannya setelah kita meninggal dunia termasuk dalam amal jariyah “ilmu yang senantiasa dimanfaatkan” sebagaimana disebutkan dalam hadits? Jawaban para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah: Pencetakan buku-buku Islam yang bermanfaat yang terus dimanfaatkan oleh manusia, baik dalam ilmu diin (agama) maupun ilmu dunia, itu termasuk amalan sholehah. Ketika masih hidup, orang yang berpartisipasi dalam penerbitan buku tersebut akan mendapatkan pahala. Dan pahala tersebut akan terus mengalir selama buku tersebut terus dimanfaatkan setelah ia meninggal dunia. Amalan tersebut termausk dalam keumuman hadits shahih dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim, At Tirmidzi, An Nasai dan Ahmad). Setiap orang yang berpartisipasi dalam penerbitan buku dari ilmu yang bermanfaat akan mendapatkan pahala besar. Yang termasuk mendapatkan pahala di dalamnya adalah penulisnya, pengajarnya, penyebar buku tersebut di tengah-tengah manusia, atau yang menerbitkannya. Semuanya akan mendapatkan pahala sesuai dengan besarnya partisipasi yang ia berikan. [Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 20062] Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Riyadh-KSA, 23 Rajab 1432 H 25/06/2011 www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah Berharga dari Imam Nawawi tentang Tiga Amalan yang Tidak Terputus Pahalanya Inilah 7 Amal Jariyah yang Mesti Kamu Ketahui Tagsamal jariyah
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Sebagian orang menyangka bahwa amal jariyah, amal yang akan mengalir terus pahalanya hanya dibatasi pada sumbangan untuk pembangunan masjid atau pesantren. Padahal banyak cara untuk melakukan amal jariyah. Dan lebih baik lagi jika kita dapat melakukan banyak cara tersebut supaya bisa memperoleh banyak pahala. Menyebarkan ilmu diin (agama) dan ilmu itu dimanfaatkan orang lain, itu juga termasuk amal jariyah. Bentuk lainnya adalah dengan membantu dalam penerbitan buku Islam yang dibagikan secara gratis di tengah-tengah kaum muslimin. Inilah yang kami temui di tanah Arab (Saudi Arabia), para muhsinin atau dermawan begitu pintar dalam menyalurkan hartanya. Ribuan buku bahkan jutaan sering dibagi gratis di tengah-tengah masyarakat atau kepada para pelajar (tholib). Contohnya dapat kita temukan di saat musim haji, berbagai buku aqidah, fikih dan akhlak dicetak dalam bahasa Arab dan bahasa lainnya termasuk bahasa lainnya. Itu semua dibagi gratis di tengah-tengah jamaah haji. Begitu cerdasnya para muhsinin yang memilih jalan bersedekah semacam ini. Lihat saja bagaimana jika ribuan buku yang dicetak, atau bahkan jutaan buku walaupun itu dalam bentuk buku saku (kecil dan sederhana), namun jika orang yang diberi membaca dan mengamalkan ilmunya, maka muhsinin tersebut akan turut serta mendapatkan pahala amal jariyah. Karena itu, kita harus cerdas dalam memilih jalan untuk berbuat baik. Fadhilah atau keutamaan partisipasi dalam penerbitan buku yang dibagi gratis di tengah-tengah kaum muslimin tercakup dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631) Komisi Fatwa di Kerajaan Saudi Arabi, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, yang sering juga membagi buku gratis kepada para pelajar di kota Riyadh-KSA, pernah ditanya mengenai partisipasi dalam penerbitan buku gratis apakah termasuk dalam amal jariyah yaitu ilmu yang terus dimanfaatkan. Para ulama di sana ditanya sebagai berikut: Apakah pencetakan buku Islam yang shahih lalu setiap orang masih memanfaatkannya setelah kita meninggal dunia termasuk dalam amal jariyah “ilmu yang senantiasa dimanfaatkan” sebagaimana disebutkan dalam hadits? Jawaban para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah: Pencetakan buku-buku Islam yang bermanfaat yang terus dimanfaatkan oleh manusia, baik dalam ilmu diin (agama) maupun ilmu dunia, itu termasuk amalan sholehah. Ketika masih hidup, orang yang berpartisipasi dalam penerbitan buku tersebut akan mendapatkan pahala. Dan pahala tersebut akan terus mengalir selama buku tersebut terus dimanfaatkan setelah ia meninggal dunia. Amalan tersebut termausk dalam keumuman hadits shahih dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim, At Tirmidzi, An Nasai dan Ahmad). Setiap orang yang berpartisipasi dalam penerbitan buku dari ilmu yang bermanfaat akan mendapatkan pahala besar. Yang termasuk mendapatkan pahala di dalamnya adalah penulisnya, pengajarnya, penyebar buku tersebut di tengah-tengah manusia, atau yang menerbitkannya. Semuanya akan mendapatkan pahala sesuai dengan besarnya partisipasi yang ia berikan. [Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 20062] Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Riyadh-KSA, 23 Rajab 1432 H 25/06/2011 www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah Berharga dari Imam Nawawi tentang Tiga Amalan yang Tidak Terputus Pahalanya Inilah 7 Amal Jariyah yang Mesti Kamu Ketahui Tagsamal jariyah


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Sebagian orang menyangka bahwa amal jariyah, amal yang akan mengalir terus pahalanya hanya dibatasi pada sumbangan untuk pembangunan masjid atau pesantren. Padahal banyak cara untuk melakukan amal jariyah. Dan lebih baik lagi jika kita dapat melakukan banyak cara tersebut supaya bisa memperoleh banyak pahala. Menyebarkan ilmu diin (agama) dan ilmu itu dimanfaatkan orang lain, itu juga termasuk amal jariyah. Bentuk lainnya adalah dengan membantu dalam penerbitan buku Islam yang dibagikan secara gratis di tengah-tengah kaum muslimin. Inilah yang kami temui di tanah Arab (Saudi Arabia), para muhsinin atau dermawan begitu pintar dalam menyalurkan hartanya. Ribuan buku bahkan jutaan sering dibagi gratis di tengah-tengah masyarakat atau kepada para pelajar (tholib). Contohnya dapat kita temukan di saat musim haji, berbagai buku aqidah, fikih dan akhlak dicetak dalam bahasa Arab dan bahasa lainnya termasuk bahasa lainnya. Itu semua dibagi gratis di tengah-tengah jamaah haji. Begitu cerdasnya para muhsinin yang memilih jalan bersedekah semacam ini. Lihat saja bagaimana jika ribuan buku yang dicetak, atau bahkan jutaan buku walaupun itu dalam bentuk buku saku (kecil dan sederhana), namun jika orang yang diberi membaca dan mengamalkan ilmunya, maka muhsinin tersebut akan turut serta mendapatkan pahala amal jariyah. Karena itu, kita harus cerdas dalam memilih jalan untuk berbuat baik. Fadhilah atau keutamaan partisipasi dalam penerbitan buku yang dibagi gratis di tengah-tengah kaum muslimin tercakup dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631) Komisi Fatwa di Kerajaan Saudi Arabi, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, yang sering juga membagi buku gratis kepada para pelajar di kota Riyadh-KSA, pernah ditanya mengenai partisipasi dalam penerbitan buku gratis apakah termasuk dalam amal jariyah yaitu ilmu yang terus dimanfaatkan. Para ulama di sana ditanya sebagai berikut: Apakah pencetakan buku Islam yang shahih lalu setiap orang masih memanfaatkannya setelah kita meninggal dunia termasuk dalam amal jariyah “ilmu yang senantiasa dimanfaatkan” sebagaimana disebutkan dalam hadits? Jawaban para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah: Pencetakan buku-buku Islam yang bermanfaat yang terus dimanfaatkan oleh manusia, baik dalam ilmu diin (agama) maupun ilmu dunia, itu termasuk amalan sholehah. Ketika masih hidup, orang yang berpartisipasi dalam penerbitan buku tersebut akan mendapatkan pahala. Dan pahala tersebut akan terus mengalir selama buku tersebut terus dimanfaatkan setelah ia meninggal dunia. Amalan tersebut termausk dalam keumuman hadits shahih dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim, At Tirmidzi, An Nasai dan Ahmad). Setiap orang yang berpartisipasi dalam penerbitan buku dari ilmu yang bermanfaat akan mendapatkan pahala besar. Yang termasuk mendapatkan pahala di dalamnya adalah penulisnya, pengajarnya, penyebar buku tersebut di tengah-tengah manusia, atau yang menerbitkannya. Semuanya akan mendapatkan pahala sesuai dengan besarnya partisipasi yang ia berikan. [Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 20062] Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Riyadh-KSA, 23 Rajab 1432 H 25/06/2011 www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah Berharga dari Imam Nawawi tentang Tiga Amalan yang Tidak Terputus Pahalanya Inilah 7 Amal Jariyah yang Mesti Kamu Ketahui Tagsamal jariyah

Ayah Melihat Aurat Puterinya

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, pernah menjabat sebagai ketua Al Lajnah Ad Daimah, ditanya, “Aku pernah masuk kamar mandi bersama anak perempuanku yang berusia beliau 5 dan 7 tahun. Aku melakukannya dalam rangka untuk membantu mereka membersihkan rambut mereka. Apakah berdosa jika aku melihat aurat mereka?” Jawaban beliau rahimahullah, “Seperti itu tidaklah mengapa. Selama anak tersebut di bawah tujuh tahun, maka tidak ada aurat yang terlarang dilihat baginya, baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan. Tidak mengapa memandikan atau membantu mereka ketika mandi. Semuanya tidaklah mengapa. Adapun jika anak tersebut sudah di atas tujuh tahun, maka jangan lakukan. Tutuplah aurat mereka dan jangan aurat mereka disentuh kecuali bila ada hajat. Kalau ada hajat, maka tidak mengapa jika ibu atau pembantunya memandikan mereka ketika anak tersebut belum bisa mandiri untuk mandi. Sumber fatwa: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/18215 Riyadh-KSA, 18th Rajab 1432 H (22/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Menutup Aurat Hanya Musiman Aurat dengan Sesama Mahram Tagspendidikan anak

Ayah Melihat Aurat Puterinya

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, pernah menjabat sebagai ketua Al Lajnah Ad Daimah, ditanya, “Aku pernah masuk kamar mandi bersama anak perempuanku yang berusia beliau 5 dan 7 tahun. Aku melakukannya dalam rangka untuk membantu mereka membersihkan rambut mereka. Apakah berdosa jika aku melihat aurat mereka?” Jawaban beliau rahimahullah, “Seperti itu tidaklah mengapa. Selama anak tersebut di bawah tujuh tahun, maka tidak ada aurat yang terlarang dilihat baginya, baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan. Tidak mengapa memandikan atau membantu mereka ketika mandi. Semuanya tidaklah mengapa. Adapun jika anak tersebut sudah di atas tujuh tahun, maka jangan lakukan. Tutuplah aurat mereka dan jangan aurat mereka disentuh kecuali bila ada hajat. Kalau ada hajat, maka tidak mengapa jika ibu atau pembantunya memandikan mereka ketika anak tersebut belum bisa mandiri untuk mandi. Sumber fatwa: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/18215 Riyadh-KSA, 18th Rajab 1432 H (22/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Menutup Aurat Hanya Musiman Aurat dengan Sesama Mahram Tagspendidikan anak
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, pernah menjabat sebagai ketua Al Lajnah Ad Daimah, ditanya, “Aku pernah masuk kamar mandi bersama anak perempuanku yang berusia beliau 5 dan 7 tahun. Aku melakukannya dalam rangka untuk membantu mereka membersihkan rambut mereka. Apakah berdosa jika aku melihat aurat mereka?” Jawaban beliau rahimahullah, “Seperti itu tidaklah mengapa. Selama anak tersebut di bawah tujuh tahun, maka tidak ada aurat yang terlarang dilihat baginya, baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan. Tidak mengapa memandikan atau membantu mereka ketika mandi. Semuanya tidaklah mengapa. Adapun jika anak tersebut sudah di atas tujuh tahun, maka jangan lakukan. Tutuplah aurat mereka dan jangan aurat mereka disentuh kecuali bila ada hajat. Kalau ada hajat, maka tidak mengapa jika ibu atau pembantunya memandikan mereka ketika anak tersebut belum bisa mandiri untuk mandi. Sumber fatwa: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/18215 Riyadh-KSA, 18th Rajab 1432 H (22/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Menutup Aurat Hanya Musiman Aurat dengan Sesama Mahram Tagspendidikan anak


Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, pernah menjabat sebagai ketua Al Lajnah Ad Daimah, ditanya, “Aku pernah masuk kamar mandi bersama anak perempuanku yang berusia beliau 5 dan 7 tahun. Aku melakukannya dalam rangka untuk membantu mereka membersihkan rambut mereka. Apakah berdosa jika aku melihat aurat mereka?” Jawaban beliau rahimahullah, “Seperti itu tidaklah mengapa. Selama anak tersebut di bawah tujuh tahun, maka tidak ada aurat yang terlarang dilihat baginya, baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan. Tidak mengapa memandikan atau membantu mereka ketika mandi. Semuanya tidaklah mengapa. Adapun jika anak tersebut sudah di atas tujuh tahun, maka jangan lakukan. Tutuplah aurat mereka dan jangan aurat mereka disentuh kecuali bila ada hajat. Kalau ada hajat, maka tidak mengapa jika ibu atau pembantunya memandikan mereka ketika anak tersebut belum bisa mandiri untuk mandi. Sumber fatwa: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/18215 Riyadh-KSA, 18th Rajab 1432 H (22/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Menutup Aurat Hanya Musiman Aurat dengan Sesama Mahram Tagspendidikan anak

Hidup Boros, Temannya Setan

Saudaraku, perlu diketahui bahwa hidup boros, senang membuang-buang harta untuk hal yang sia-sia termasuk meniru perbuatan setan.   Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).  Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/474-475) Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ “Sesungguhnya Allah meridlai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.” (HR. Muslim no.1715) Termasuk perbuatan boros (tabdzir) adalah apabila seseorang menghabiskan harta pada jalan yang keliru. Semisal seseorang berjam-jam duduk di depan internet, lalu membuka Facebook, blog, email dan lainnya, lantas dia tidak memanfaatkannya untuk hal yang bermanfaat, namun untuk hal-hal yang mengandung maksiat. Na’udzu billahi min dzalik. Cobalah internet kita manfaatkan untuk berdakwah atau untuk mempelajari Islam lebih dalam. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi waktu kita di setiap tempat dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain terutama dalam masalah agama dan akhirat. Always remember this …! Wallahu waliyyut taufiq. **** Disusun di rumah mertua tercinta, di pagi hari yang penuh berkah, Panggang-Gunung Kidul, 30th Rabi’ul Akhir 1430 H www.rumaysho.com Baca Juga: Kisah Setan yang Mengajarkan Ayat Kursi pada Abu Hurairah Terlalu Kenyang Bikin Malas Ibadah Tagsboros setan

Hidup Boros, Temannya Setan

Saudaraku, perlu diketahui bahwa hidup boros, senang membuang-buang harta untuk hal yang sia-sia termasuk meniru perbuatan setan.   Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).  Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/474-475) Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ “Sesungguhnya Allah meridlai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.” (HR. Muslim no.1715) Termasuk perbuatan boros (tabdzir) adalah apabila seseorang menghabiskan harta pada jalan yang keliru. Semisal seseorang berjam-jam duduk di depan internet, lalu membuka Facebook, blog, email dan lainnya, lantas dia tidak memanfaatkannya untuk hal yang bermanfaat, namun untuk hal-hal yang mengandung maksiat. Na’udzu billahi min dzalik. Cobalah internet kita manfaatkan untuk berdakwah atau untuk mempelajari Islam lebih dalam. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi waktu kita di setiap tempat dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain terutama dalam masalah agama dan akhirat. Always remember this …! Wallahu waliyyut taufiq. **** Disusun di rumah mertua tercinta, di pagi hari yang penuh berkah, Panggang-Gunung Kidul, 30th Rabi’ul Akhir 1430 H www.rumaysho.com Baca Juga: Kisah Setan yang Mengajarkan Ayat Kursi pada Abu Hurairah Terlalu Kenyang Bikin Malas Ibadah Tagsboros setan
Saudaraku, perlu diketahui bahwa hidup boros, senang membuang-buang harta untuk hal yang sia-sia termasuk meniru perbuatan setan.   Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).  Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/474-475) Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ “Sesungguhnya Allah meridlai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.” (HR. Muslim no.1715) Termasuk perbuatan boros (tabdzir) adalah apabila seseorang menghabiskan harta pada jalan yang keliru. Semisal seseorang berjam-jam duduk di depan internet, lalu membuka Facebook, blog, email dan lainnya, lantas dia tidak memanfaatkannya untuk hal yang bermanfaat, namun untuk hal-hal yang mengandung maksiat. Na’udzu billahi min dzalik. Cobalah internet kita manfaatkan untuk berdakwah atau untuk mempelajari Islam lebih dalam. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi waktu kita di setiap tempat dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain terutama dalam masalah agama dan akhirat. Always remember this …! Wallahu waliyyut taufiq. **** Disusun di rumah mertua tercinta, di pagi hari yang penuh berkah, Panggang-Gunung Kidul, 30th Rabi’ul Akhir 1430 H www.rumaysho.com Baca Juga: Kisah Setan yang Mengajarkan Ayat Kursi pada Abu Hurairah Terlalu Kenyang Bikin Malas Ibadah Tagsboros setan


Saudaraku, perlu diketahui bahwa hidup boros, senang membuang-buang harta untuk hal yang sia-sia termasuk meniru perbuatan setan.   Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).  Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/474-475) Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ “Sesungguhnya Allah meridlai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.” (HR. Muslim no.1715) Termasuk perbuatan boros (tabdzir) adalah apabila seseorang menghabiskan harta pada jalan yang keliru. Semisal seseorang berjam-jam duduk di depan internet, lalu membuka Facebook, blog, email dan lainnya, lantas dia tidak memanfaatkannya untuk hal yang bermanfaat, namun untuk hal-hal yang mengandung maksiat. Na’udzu billahi min dzalik. Cobalah internet kita manfaatkan untuk berdakwah atau untuk mempelajari Islam lebih dalam. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi waktu kita di setiap tempat dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain terutama dalam masalah agama dan akhirat. Always remember this …! Wallahu waliyyut taufiq. **** Disusun di rumah mertua tercinta, di pagi hari yang penuh berkah, Panggang-Gunung Kidul, 30th Rabi’ul Akhir 1430 H www.rumaysho.com Baca Juga: Kisah Setan yang Mengajarkan Ayat Kursi pada Abu Hurairah Terlalu Kenyang Bikin Malas Ibadah Tagsboros setan

Berdoa Saat Sujud Shalat Pakai Bahasa Indonesia?

22JunBerdoa Saat Sujud Shalat Pakai Bahasa Indonesia?June 22, 2011Ceramah MP3, Konsultasi Agama, Pilihan Redaksi Pengunjung Tunasilmu.com -semoga selalu mendapatkan petunjuk dari Allah-, berikut ini kami hadirkan rekaman tanya jawab bersama Ustadz Abdullah Zaen, M.A. (Pengasuh situs Tunasilmu.com). Beliau mendapat pertanyaan sebagai berikut: Bagaimana cara berdoa ketika sujud dalam shalat, apakah harus berdoa dengan doa yang dicontohkan dalam Alquran dan Sunnah, ataukah boleh berdoa menggunakan bahasa Indonesia? Semoga jawaban yang beliau sampaikan bermanfaat bagi kaum muslimin. Silakan klik player di bawah ini untuk mendengarkan dan mengunduh jawabannya. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Berdoa Saat Sujud Shalat Pakai Bahasa Indonesia?

22JunBerdoa Saat Sujud Shalat Pakai Bahasa Indonesia?June 22, 2011Ceramah MP3, Konsultasi Agama, Pilihan Redaksi Pengunjung Tunasilmu.com -semoga selalu mendapatkan petunjuk dari Allah-, berikut ini kami hadirkan rekaman tanya jawab bersama Ustadz Abdullah Zaen, M.A. (Pengasuh situs Tunasilmu.com). Beliau mendapat pertanyaan sebagai berikut: Bagaimana cara berdoa ketika sujud dalam shalat, apakah harus berdoa dengan doa yang dicontohkan dalam Alquran dan Sunnah, ataukah boleh berdoa menggunakan bahasa Indonesia? Semoga jawaban yang beliau sampaikan bermanfaat bagi kaum muslimin. Silakan klik player di bawah ini untuk mendengarkan dan mengunduh jawabannya. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
22JunBerdoa Saat Sujud Shalat Pakai Bahasa Indonesia?June 22, 2011Ceramah MP3, Konsultasi Agama, Pilihan Redaksi Pengunjung Tunasilmu.com -semoga selalu mendapatkan petunjuk dari Allah-, berikut ini kami hadirkan rekaman tanya jawab bersama Ustadz Abdullah Zaen, M.A. (Pengasuh situs Tunasilmu.com). Beliau mendapat pertanyaan sebagai berikut: Bagaimana cara berdoa ketika sujud dalam shalat, apakah harus berdoa dengan doa yang dicontohkan dalam Alquran dan Sunnah, ataukah boleh berdoa menggunakan bahasa Indonesia? Semoga jawaban yang beliau sampaikan bermanfaat bagi kaum muslimin. Silakan klik player di bawah ini untuk mendengarkan dan mengunduh jawabannya. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


22JunBerdoa Saat Sujud Shalat Pakai Bahasa Indonesia?June 22, 2011Ceramah MP3, Konsultasi Agama, Pilihan Redaksi Pengunjung Tunasilmu.com -semoga selalu mendapatkan petunjuk dari Allah-, berikut ini kami hadirkan rekaman tanya jawab bersama Ustadz Abdullah Zaen, M.A. (Pengasuh situs Tunasilmu.com). Beliau mendapat pertanyaan sebagai berikut: Bagaimana cara berdoa ketika sujud dalam shalat, apakah harus berdoa dengan doa yang dicontohkan dalam Alquran dan Sunnah, ataukah boleh berdoa menggunakan bahasa Indonesia? Semoga jawaban yang beliau sampaikan bermanfaat bagi kaum muslimin. Silakan klik player di bawah ini untuk mendengarkan dan mengunduh jawabannya. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Berdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 3)

21JunBerdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 3)June 21, 2011Akhlak, Belajar Islam, Pilihan Redaksi Apa maksud dakwah dengan akhlak? Bukankah dakwah itu cukup dengan lisan? Pernah suatu hari ketika penulis mengisi sebuah pengajian, penulis melontarkan sebuah pertanyaan kepada para hadirin, “Apakah yang dimaksud dengan dakwah?” “Dakwah adalah seperti yang ustadz lakukan sekarang; ceramah dan khutbah!” sahut salah seorang jamaah. Dari jawaban yang terlontar tersebut, kita bisa meraba bahwa sebagian kalangan masih belum memahami makna dakwah. Mereka masih menganggap bahwa dakwah adalah penyampaian materi secara lisan. Padahal sebenarnya, dakwah meliputi hal itu juga yang lainnya; semisal praktik, memberi contoh amalan, dan akhlak mulia, atau yang biasa diistilahkan dengan dakwah bil hâl. Bahkan, justru yang terakhir inilah yang lebih berat dibanding dakwah dengan lisan dan lebih mengena sasaran [Lihat: Munthalaqât ad-Da’wah wa Wasâ’il Nasyriha, karya Hamd Hasan Raqîth (hal. 97-99) dan Ashnâf al-Mad’uwwîn wa Kaifiyyah Da’watihim, karya Prof. Dr. Hamud bin Ahmad ar-Ruhaily (hal. 41)]. Banyak orang yang pintar berbicara dan menyampaikan teori dengan lancar, namun amat sedikit orang-orang yang mewujudkan omongannya dalam praktik nyata. Di sinilah terlihat urgensi adanya qudwah di masyarakat, yang tugasnya adalah menerjemahkan teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata, sehingga teori tersebut tidak selalu hanya terlukis dalam lembaran-lembaran kertas [Lihat: It-hâf al-Khiyarah al-Maharah fî Ma’rifah Wasâ’il at-Tarbiyah al-Mu’atsirah karya Ummu Abdirrahman binti Ahmad al-Jaudar (hal. 14)]. Jadi, dakwah dengan akhlak mulia maksudnya adalah: mempraktikkan akhlak mulia sebagai sarana untuk mendakwahi umat manusia kepada kebenaran.   -bersambung insya Allah– Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Berdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 3)

21JunBerdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 3)June 21, 2011Akhlak, Belajar Islam, Pilihan Redaksi Apa maksud dakwah dengan akhlak? Bukankah dakwah itu cukup dengan lisan? Pernah suatu hari ketika penulis mengisi sebuah pengajian, penulis melontarkan sebuah pertanyaan kepada para hadirin, “Apakah yang dimaksud dengan dakwah?” “Dakwah adalah seperti yang ustadz lakukan sekarang; ceramah dan khutbah!” sahut salah seorang jamaah. Dari jawaban yang terlontar tersebut, kita bisa meraba bahwa sebagian kalangan masih belum memahami makna dakwah. Mereka masih menganggap bahwa dakwah adalah penyampaian materi secara lisan. Padahal sebenarnya, dakwah meliputi hal itu juga yang lainnya; semisal praktik, memberi contoh amalan, dan akhlak mulia, atau yang biasa diistilahkan dengan dakwah bil hâl. Bahkan, justru yang terakhir inilah yang lebih berat dibanding dakwah dengan lisan dan lebih mengena sasaran [Lihat: Munthalaqât ad-Da’wah wa Wasâ’il Nasyriha, karya Hamd Hasan Raqîth (hal. 97-99) dan Ashnâf al-Mad’uwwîn wa Kaifiyyah Da’watihim, karya Prof. Dr. Hamud bin Ahmad ar-Ruhaily (hal. 41)]. Banyak orang yang pintar berbicara dan menyampaikan teori dengan lancar, namun amat sedikit orang-orang yang mewujudkan omongannya dalam praktik nyata. Di sinilah terlihat urgensi adanya qudwah di masyarakat, yang tugasnya adalah menerjemahkan teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata, sehingga teori tersebut tidak selalu hanya terlukis dalam lembaran-lembaran kertas [Lihat: It-hâf al-Khiyarah al-Maharah fî Ma’rifah Wasâ’il at-Tarbiyah al-Mu’atsirah karya Ummu Abdirrahman binti Ahmad al-Jaudar (hal. 14)]. Jadi, dakwah dengan akhlak mulia maksudnya adalah: mempraktikkan akhlak mulia sebagai sarana untuk mendakwahi umat manusia kepada kebenaran.   -bersambung insya Allah– Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
21JunBerdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 3)June 21, 2011Akhlak, Belajar Islam, Pilihan Redaksi Apa maksud dakwah dengan akhlak? Bukankah dakwah itu cukup dengan lisan? Pernah suatu hari ketika penulis mengisi sebuah pengajian, penulis melontarkan sebuah pertanyaan kepada para hadirin, “Apakah yang dimaksud dengan dakwah?” “Dakwah adalah seperti yang ustadz lakukan sekarang; ceramah dan khutbah!” sahut salah seorang jamaah. Dari jawaban yang terlontar tersebut, kita bisa meraba bahwa sebagian kalangan masih belum memahami makna dakwah. Mereka masih menganggap bahwa dakwah adalah penyampaian materi secara lisan. Padahal sebenarnya, dakwah meliputi hal itu juga yang lainnya; semisal praktik, memberi contoh amalan, dan akhlak mulia, atau yang biasa diistilahkan dengan dakwah bil hâl. Bahkan, justru yang terakhir inilah yang lebih berat dibanding dakwah dengan lisan dan lebih mengena sasaran [Lihat: Munthalaqât ad-Da’wah wa Wasâ’il Nasyriha, karya Hamd Hasan Raqîth (hal. 97-99) dan Ashnâf al-Mad’uwwîn wa Kaifiyyah Da’watihim, karya Prof. Dr. Hamud bin Ahmad ar-Ruhaily (hal. 41)]. Banyak orang yang pintar berbicara dan menyampaikan teori dengan lancar, namun amat sedikit orang-orang yang mewujudkan omongannya dalam praktik nyata. Di sinilah terlihat urgensi adanya qudwah di masyarakat, yang tugasnya adalah menerjemahkan teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata, sehingga teori tersebut tidak selalu hanya terlukis dalam lembaran-lembaran kertas [Lihat: It-hâf al-Khiyarah al-Maharah fî Ma’rifah Wasâ’il at-Tarbiyah al-Mu’atsirah karya Ummu Abdirrahman binti Ahmad al-Jaudar (hal. 14)]. Jadi, dakwah dengan akhlak mulia maksudnya adalah: mempraktikkan akhlak mulia sebagai sarana untuk mendakwahi umat manusia kepada kebenaran.   -bersambung insya Allah– Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


21JunBerdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 3)June 21, 2011Akhlak, Belajar Islam, Pilihan Redaksi Apa maksud dakwah dengan akhlak? Bukankah dakwah itu cukup dengan lisan? Pernah suatu hari ketika penulis mengisi sebuah pengajian, penulis melontarkan sebuah pertanyaan kepada para hadirin, “Apakah yang dimaksud dengan dakwah?” “Dakwah adalah seperti yang ustadz lakukan sekarang; ceramah dan khutbah!” sahut salah seorang jamaah. Dari jawaban yang terlontar tersebut, kita bisa meraba bahwa sebagian kalangan masih belum memahami makna dakwah. Mereka masih menganggap bahwa dakwah adalah penyampaian materi secara lisan. Padahal sebenarnya, dakwah meliputi hal itu juga yang lainnya; semisal praktik, memberi contoh amalan, dan akhlak mulia, atau yang biasa diistilahkan dengan dakwah bil hâl. Bahkan, justru yang terakhir inilah yang lebih berat dibanding dakwah dengan lisan dan lebih mengena sasaran [Lihat: Munthalaqât ad-Da’wah wa Wasâ’il Nasyriha, karya Hamd Hasan Raqîth (hal. 97-99) dan Ashnâf al-Mad’uwwîn wa Kaifiyyah Da’watihim, karya Prof. Dr. Hamud bin Ahmad ar-Ruhaily (hal. 41)]. Banyak orang yang pintar berbicara dan menyampaikan teori dengan lancar, namun amat sedikit orang-orang yang mewujudkan omongannya dalam praktik nyata. Di sinilah terlihat urgensi adanya qudwah di masyarakat, yang tugasnya adalah menerjemahkan teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata, sehingga teori tersebut tidak selalu hanya terlukis dalam lembaran-lembaran kertas [Lihat: It-hâf al-Khiyarah al-Maharah fî Ma’rifah Wasâ’il at-Tarbiyah al-Mu’atsirah karya Ummu Abdirrahman binti Ahmad al-Jaudar (hal. 14)]. Jadi, dakwah dengan akhlak mulia maksudnya adalah: mempraktikkan akhlak mulia sebagai sarana untuk mendakwahi umat manusia kepada kebenaran.   -bersambung insya Allah– Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

13 Keutamaan Menunaikan Zakat

Sesungguhnya zakat merupakan perkara penting dalam agama Islam sebagaimana shalat 5 waktu. Oleh karena itu, Allah Ta’ala sering mengiringi penyebutan zakat dalam Al Qur’an dengan shalat agar kita tidak hanya memperhatikan hak Allah saja, akan tetapi juga memperhatikan hak sesama. Namun saat ini kesadaran kaum muslimin untuk menunaikan zakat sangatlah kurang. Di antara mereka menganggap remeh rukun Islam yang satu ini. Ada yang sudah terlampaui kaya masih enggan menunaikannya karena rasa bakhil dan takut hartanya akan berkurang. Padahal di balik syari’at zakat terdapat faedah dan hikmah yang begitu besar, yang dapat dirasakan oleh individu maupun masyarakat. Di antara faedah dan hikmah zakat adalah : 1. Menyempurnakan keislaman seorang hamba. Zakat merupakan bagian dari rukun Islam yang lima. Apabila seseorang melakukannya, maka keislamannya akan menjadi sempurna. Hal ini tidak diragukan lagi merupakan suatu tujuan/hikmah yang amat agung dan setiap muslim pasti selalu berusaha agar keislamannya menjadi sempurna. 2. Menunjukkan benarnya iman seseorang. Sesungguhnya harta adalah sesuatu yang sangat dicintai oleh jiwa. Sesuatu yang dicintai itu tidaklah dikeluarkan kecuali dengan mengharap balasan yang semisal atau bahkan lebih dari yang dikeluarkan. Oleh karena itu, zakat disebut juga shodaqoh (yang berasal dari kata shidiq yang berarti benar/jujur, -pen) karena zakat akan menunjukkan benarnya iman muzakki (baca: orang yang mengeluarkan zakat) yang mengharapkan ridha Allah dengan zakatnya tersebut. 3. Membuat keimanan seseorang menjadi sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45). Wahai saudaraku, sebagaimana engkau mencintai jika ada saudaramu meringankan kesusahanmu, begitu juga seharusnya engkau suka untuk meringankan kesusahan saudaramu. Maka pemberian seperti ini merupakan tanda kesempurnaan iman Anda. 4. Sebab masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ». “Sesungguhnya di surga terdapat kamar yang luarnya dapat terlihat dari dalamnya dan dalamnya dapat terlihat dari luarnya.” Kemudian ada seorang badui berdiri lantas bertanya, “Kepada siapa (kamar tersebut) wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bagi orang yang berkata baik, memberi makan (di antaranya lewat zakat, pen), rajin berpuasa, shalat karena Allah di malam hari di saat manusia sedang terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Setiap kita tentu saja ingin masuk surga. 5. Menjadikan masyarakat Islam seperti keluarga besar (satu kesatuan). Karena dengan zakat, berarti yang kaya menolong yang miskin dan orang yang berkecukupan akan menolong orang yang kesulitan. Akhirnya setiap orang merasa seperti satu saudara. Allah Ta’ala berfirman, وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al Qoshosh: 77) 6. Memadamkan kemarahan orang miskin. Terkadang orang miskin menjadi marah karena melihat orang kaya hidup mewah. Orang kaya dapat memakai kendaraan yang dia suka (dengan berganti-ganti) atau tinggal di rumah mana saja yang dia mau. Tidak ragu lagi, pasti akan timbul sesuatu (kemarahan, -pen) pada hati orang miskin. Apabila orang kaya berderma pada mereka, maka padamlah kemarahan tersebut. Mereka akan mengatakan,”Saudara-saudara kami ini mengetahui kami berada dalam kesusahan”. Maka orang miskin tersebut akan suka dan timbul rasa cinta kepada orang kaya yang berderma tadi. 7. Menghalangi berbagai bentuk pencurian, pemaksaan, dan perampasan. Karena dengan zakat, sebagian kebutuhan orang yang hidupnya dalam kemiskinan sudah terpenuhi, sehingga hal ini menghalangi mereka untuk merampas harta orang-orang kaya atau berbuat jahat kepada mereka. 8. Menyelamatkan seseorang dari panasnya hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ امْرِئٍ فِى ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ “Setiap orang akan berada di naungan amalan sedekahnya hingga ia mendapatkan keputusan di tengah-tengah manusia.” (HR. Ahmad 4/147. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih) 9. Seseorang akan lebih mengenal hukum dan aturan Allah. Karena ia tidaklah menunaikan zakat sampai ia mengetahui hukum zakat dan keadaan hartanya. Juga ia pasti telah mengetahui nishob zakat tersebut dan orang yang berhak menerimanya serta hal-hal lain yang urgent diketahui. 10. Menambah harta. Terkadang Allah membuka pintu rizki dari harta yang dizakati. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang artinya, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ ”Sedekah tidaklah mengurangi harta” (HR. Muslim no. 2558). 11. Merupakan sebab turunnya banyak kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا “Tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka, melainkan mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan) 12. Zakat akan meredam murka Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ “Sedekah itu dapat memamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek” (HR. Tirmidzi no. 664. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib dari sisi ini) 13. Dosa akan terampuni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ ”Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. Tirmidzi no. 614. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)[1] Jika Telah Mencapai Nishab dan Haul, Segeralah Tunaikan Zakat Kaum muslimin -yang selalu mengharapkan kebaikan dan mengharapkan surga Allah- segeralah tunaikan zakat yang wajib bagi kalian agar memperoleh berbagai faedah di atas. Ingatlah bahwa zakat bukanlah wajib ditunaikan hanya ketika akhir bulan Ramadhan saja berupa zakat fitri. Akan tetapi, zakat itu juga wajib bagi 5 kelompok harta yaitu: emas, perak, keuntungan perdagangan, hewan ternak (yaitu unta, sapi, dan domba), dan hasil bumi (berupa tanaman, dll). Kelima kelompok harta tersebut ditunaikan ketika sudah mencapai nishab, yaitu ukuran tertentu menurut syari’at) dan telah mencapai haul, yaitu masa 1 tahun (kecuali untuk zakat anak hewan ternak dan zakat tanaman). Wahai saudaraku, segeralah tunaikan zakat ketika telah memenuhi syarat nishab dan haul-nya. Berlombalah dalam kebaikan dan ingatlah selalu nasib saudaramun yang berada dalam kesusahan. Sesungguhnya dengan engkau mengeluarkan zakat akan meringankan beban mereka yang tidak mampu. Ingat pula, sebab bangsa ini sering tertimpa berbagai macam bencana dan cobaan adalah disebabkan kita enggan melakukan ketaatan kepada Allah, di antaranya kita enggan untuk menunaikan zakat. Semoga Allah selalu menganugerahi kita untuk selalu istiqomah dalam melakukan ketaatan kepada-Nya. Silakan lihat berbagai ulasan lengkap tentang zakat di rumaysho.com pada rubrik zakat di sini. Perfected @ Riyadh-KSA, 14th Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Menunaikan Zakat Maal dengan Sembako Akibat Enggan Menunaikan Zakat [1] Faedah-faedah di atas kami ringkaskan dari Kitab ‘Syarhul Mumthi’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ (6/7-11, terbitan Dar Ibnul Jauzi) karya  ulama besar Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- Tagspanduan zakat

13 Keutamaan Menunaikan Zakat

Sesungguhnya zakat merupakan perkara penting dalam agama Islam sebagaimana shalat 5 waktu. Oleh karena itu, Allah Ta’ala sering mengiringi penyebutan zakat dalam Al Qur’an dengan shalat agar kita tidak hanya memperhatikan hak Allah saja, akan tetapi juga memperhatikan hak sesama. Namun saat ini kesadaran kaum muslimin untuk menunaikan zakat sangatlah kurang. Di antara mereka menganggap remeh rukun Islam yang satu ini. Ada yang sudah terlampaui kaya masih enggan menunaikannya karena rasa bakhil dan takut hartanya akan berkurang. Padahal di balik syari’at zakat terdapat faedah dan hikmah yang begitu besar, yang dapat dirasakan oleh individu maupun masyarakat. Di antara faedah dan hikmah zakat adalah : 1. Menyempurnakan keislaman seorang hamba. Zakat merupakan bagian dari rukun Islam yang lima. Apabila seseorang melakukannya, maka keislamannya akan menjadi sempurna. Hal ini tidak diragukan lagi merupakan suatu tujuan/hikmah yang amat agung dan setiap muslim pasti selalu berusaha agar keislamannya menjadi sempurna. 2. Menunjukkan benarnya iman seseorang. Sesungguhnya harta adalah sesuatu yang sangat dicintai oleh jiwa. Sesuatu yang dicintai itu tidaklah dikeluarkan kecuali dengan mengharap balasan yang semisal atau bahkan lebih dari yang dikeluarkan. Oleh karena itu, zakat disebut juga shodaqoh (yang berasal dari kata shidiq yang berarti benar/jujur, -pen) karena zakat akan menunjukkan benarnya iman muzakki (baca: orang yang mengeluarkan zakat) yang mengharapkan ridha Allah dengan zakatnya tersebut. 3. Membuat keimanan seseorang menjadi sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45). Wahai saudaraku, sebagaimana engkau mencintai jika ada saudaramu meringankan kesusahanmu, begitu juga seharusnya engkau suka untuk meringankan kesusahan saudaramu. Maka pemberian seperti ini merupakan tanda kesempurnaan iman Anda. 4. Sebab masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ». “Sesungguhnya di surga terdapat kamar yang luarnya dapat terlihat dari dalamnya dan dalamnya dapat terlihat dari luarnya.” Kemudian ada seorang badui berdiri lantas bertanya, “Kepada siapa (kamar tersebut) wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bagi orang yang berkata baik, memberi makan (di antaranya lewat zakat, pen), rajin berpuasa, shalat karena Allah di malam hari di saat manusia sedang terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Setiap kita tentu saja ingin masuk surga. 5. Menjadikan masyarakat Islam seperti keluarga besar (satu kesatuan). Karena dengan zakat, berarti yang kaya menolong yang miskin dan orang yang berkecukupan akan menolong orang yang kesulitan. Akhirnya setiap orang merasa seperti satu saudara. Allah Ta’ala berfirman, وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al Qoshosh: 77) 6. Memadamkan kemarahan orang miskin. Terkadang orang miskin menjadi marah karena melihat orang kaya hidup mewah. Orang kaya dapat memakai kendaraan yang dia suka (dengan berganti-ganti) atau tinggal di rumah mana saja yang dia mau. Tidak ragu lagi, pasti akan timbul sesuatu (kemarahan, -pen) pada hati orang miskin. Apabila orang kaya berderma pada mereka, maka padamlah kemarahan tersebut. Mereka akan mengatakan,”Saudara-saudara kami ini mengetahui kami berada dalam kesusahan”. Maka orang miskin tersebut akan suka dan timbul rasa cinta kepada orang kaya yang berderma tadi. 7. Menghalangi berbagai bentuk pencurian, pemaksaan, dan perampasan. Karena dengan zakat, sebagian kebutuhan orang yang hidupnya dalam kemiskinan sudah terpenuhi, sehingga hal ini menghalangi mereka untuk merampas harta orang-orang kaya atau berbuat jahat kepada mereka. 8. Menyelamatkan seseorang dari panasnya hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ امْرِئٍ فِى ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ “Setiap orang akan berada di naungan amalan sedekahnya hingga ia mendapatkan keputusan di tengah-tengah manusia.” (HR. Ahmad 4/147. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih) 9. Seseorang akan lebih mengenal hukum dan aturan Allah. Karena ia tidaklah menunaikan zakat sampai ia mengetahui hukum zakat dan keadaan hartanya. Juga ia pasti telah mengetahui nishob zakat tersebut dan orang yang berhak menerimanya serta hal-hal lain yang urgent diketahui. 10. Menambah harta. Terkadang Allah membuka pintu rizki dari harta yang dizakati. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang artinya, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ ”Sedekah tidaklah mengurangi harta” (HR. Muslim no. 2558). 11. Merupakan sebab turunnya banyak kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا “Tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka, melainkan mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan) 12. Zakat akan meredam murka Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ “Sedekah itu dapat memamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek” (HR. Tirmidzi no. 664. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib dari sisi ini) 13. Dosa akan terampuni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ ”Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. Tirmidzi no. 614. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)[1] Jika Telah Mencapai Nishab dan Haul, Segeralah Tunaikan Zakat Kaum muslimin -yang selalu mengharapkan kebaikan dan mengharapkan surga Allah- segeralah tunaikan zakat yang wajib bagi kalian agar memperoleh berbagai faedah di atas. Ingatlah bahwa zakat bukanlah wajib ditunaikan hanya ketika akhir bulan Ramadhan saja berupa zakat fitri. Akan tetapi, zakat itu juga wajib bagi 5 kelompok harta yaitu: emas, perak, keuntungan perdagangan, hewan ternak (yaitu unta, sapi, dan domba), dan hasil bumi (berupa tanaman, dll). Kelima kelompok harta tersebut ditunaikan ketika sudah mencapai nishab, yaitu ukuran tertentu menurut syari’at) dan telah mencapai haul, yaitu masa 1 tahun (kecuali untuk zakat anak hewan ternak dan zakat tanaman). Wahai saudaraku, segeralah tunaikan zakat ketika telah memenuhi syarat nishab dan haul-nya. Berlombalah dalam kebaikan dan ingatlah selalu nasib saudaramun yang berada dalam kesusahan. Sesungguhnya dengan engkau mengeluarkan zakat akan meringankan beban mereka yang tidak mampu. Ingat pula, sebab bangsa ini sering tertimpa berbagai macam bencana dan cobaan adalah disebabkan kita enggan melakukan ketaatan kepada Allah, di antaranya kita enggan untuk menunaikan zakat. Semoga Allah selalu menganugerahi kita untuk selalu istiqomah dalam melakukan ketaatan kepada-Nya. Silakan lihat berbagai ulasan lengkap tentang zakat di rumaysho.com pada rubrik zakat di sini. Perfected @ Riyadh-KSA, 14th Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Menunaikan Zakat Maal dengan Sembako Akibat Enggan Menunaikan Zakat [1] Faedah-faedah di atas kami ringkaskan dari Kitab ‘Syarhul Mumthi’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ (6/7-11, terbitan Dar Ibnul Jauzi) karya  ulama besar Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- Tagspanduan zakat
Sesungguhnya zakat merupakan perkara penting dalam agama Islam sebagaimana shalat 5 waktu. Oleh karena itu, Allah Ta’ala sering mengiringi penyebutan zakat dalam Al Qur’an dengan shalat agar kita tidak hanya memperhatikan hak Allah saja, akan tetapi juga memperhatikan hak sesama. Namun saat ini kesadaran kaum muslimin untuk menunaikan zakat sangatlah kurang. Di antara mereka menganggap remeh rukun Islam yang satu ini. Ada yang sudah terlampaui kaya masih enggan menunaikannya karena rasa bakhil dan takut hartanya akan berkurang. Padahal di balik syari’at zakat terdapat faedah dan hikmah yang begitu besar, yang dapat dirasakan oleh individu maupun masyarakat. Di antara faedah dan hikmah zakat adalah : 1. Menyempurnakan keislaman seorang hamba. Zakat merupakan bagian dari rukun Islam yang lima. Apabila seseorang melakukannya, maka keislamannya akan menjadi sempurna. Hal ini tidak diragukan lagi merupakan suatu tujuan/hikmah yang amat agung dan setiap muslim pasti selalu berusaha agar keislamannya menjadi sempurna. 2. Menunjukkan benarnya iman seseorang. Sesungguhnya harta adalah sesuatu yang sangat dicintai oleh jiwa. Sesuatu yang dicintai itu tidaklah dikeluarkan kecuali dengan mengharap balasan yang semisal atau bahkan lebih dari yang dikeluarkan. Oleh karena itu, zakat disebut juga shodaqoh (yang berasal dari kata shidiq yang berarti benar/jujur, -pen) karena zakat akan menunjukkan benarnya iman muzakki (baca: orang yang mengeluarkan zakat) yang mengharapkan ridha Allah dengan zakatnya tersebut. 3. Membuat keimanan seseorang menjadi sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45). Wahai saudaraku, sebagaimana engkau mencintai jika ada saudaramu meringankan kesusahanmu, begitu juga seharusnya engkau suka untuk meringankan kesusahan saudaramu. Maka pemberian seperti ini merupakan tanda kesempurnaan iman Anda. 4. Sebab masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ». “Sesungguhnya di surga terdapat kamar yang luarnya dapat terlihat dari dalamnya dan dalamnya dapat terlihat dari luarnya.” Kemudian ada seorang badui berdiri lantas bertanya, “Kepada siapa (kamar tersebut) wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bagi orang yang berkata baik, memberi makan (di antaranya lewat zakat, pen), rajin berpuasa, shalat karena Allah di malam hari di saat manusia sedang terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Setiap kita tentu saja ingin masuk surga. 5. Menjadikan masyarakat Islam seperti keluarga besar (satu kesatuan). Karena dengan zakat, berarti yang kaya menolong yang miskin dan orang yang berkecukupan akan menolong orang yang kesulitan. Akhirnya setiap orang merasa seperti satu saudara. Allah Ta’ala berfirman, وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al Qoshosh: 77) 6. Memadamkan kemarahan orang miskin. Terkadang orang miskin menjadi marah karena melihat orang kaya hidup mewah. Orang kaya dapat memakai kendaraan yang dia suka (dengan berganti-ganti) atau tinggal di rumah mana saja yang dia mau. Tidak ragu lagi, pasti akan timbul sesuatu (kemarahan, -pen) pada hati orang miskin. Apabila orang kaya berderma pada mereka, maka padamlah kemarahan tersebut. Mereka akan mengatakan,”Saudara-saudara kami ini mengetahui kami berada dalam kesusahan”. Maka orang miskin tersebut akan suka dan timbul rasa cinta kepada orang kaya yang berderma tadi. 7. Menghalangi berbagai bentuk pencurian, pemaksaan, dan perampasan. Karena dengan zakat, sebagian kebutuhan orang yang hidupnya dalam kemiskinan sudah terpenuhi, sehingga hal ini menghalangi mereka untuk merampas harta orang-orang kaya atau berbuat jahat kepada mereka. 8. Menyelamatkan seseorang dari panasnya hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ امْرِئٍ فِى ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ “Setiap orang akan berada di naungan amalan sedekahnya hingga ia mendapatkan keputusan di tengah-tengah manusia.” (HR. Ahmad 4/147. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih) 9. Seseorang akan lebih mengenal hukum dan aturan Allah. Karena ia tidaklah menunaikan zakat sampai ia mengetahui hukum zakat dan keadaan hartanya. Juga ia pasti telah mengetahui nishob zakat tersebut dan orang yang berhak menerimanya serta hal-hal lain yang urgent diketahui. 10. Menambah harta. Terkadang Allah membuka pintu rizki dari harta yang dizakati. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang artinya, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ ”Sedekah tidaklah mengurangi harta” (HR. Muslim no. 2558). 11. Merupakan sebab turunnya banyak kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا “Tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka, melainkan mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan) 12. Zakat akan meredam murka Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ “Sedekah itu dapat memamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek” (HR. Tirmidzi no. 664. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib dari sisi ini) 13. Dosa akan terampuni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ ”Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. Tirmidzi no. 614. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)[1] Jika Telah Mencapai Nishab dan Haul, Segeralah Tunaikan Zakat Kaum muslimin -yang selalu mengharapkan kebaikan dan mengharapkan surga Allah- segeralah tunaikan zakat yang wajib bagi kalian agar memperoleh berbagai faedah di atas. Ingatlah bahwa zakat bukanlah wajib ditunaikan hanya ketika akhir bulan Ramadhan saja berupa zakat fitri. Akan tetapi, zakat itu juga wajib bagi 5 kelompok harta yaitu: emas, perak, keuntungan perdagangan, hewan ternak (yaitu unta, sapi, dan domba), dan hasil bumi (berupa tanaman, dll). Kelima kelompok harta tersebut ditunaikan ketika sudah mencapai nishab, yaitu ukuran tertentu menurut syari’at) dan telah mencapai haul, yaitu masa 1 tahun (kecuali untuk zakat anak hewan ternak dan zakat tanaman). Wahai saudaraku, segeralah tunaikan zakat ketika telah memenuhi syarat nishab dan haul-nya. Berlombalah dalam kebaikan dan ingatlah selalu nasib saudaramun yang berada dalam kesusahan. Sesungguhnya dengan engkau mengeluarkan zakat akan meringankan beban mereka yang tidak mampu. Ingat pula, sebab bangsa ini sering tertimpa berbagai macam bencana dan cobaan adalah disebabkan kita enggan melakukan ketaatan kepada Allah, di antaranya kita enggan untuk menunaikan zakat. Semoga Allah selalu menganugerahi kita untuk selalu istiqomah dalam melakukan ketaatan kepada-Nya. Silakan lihat berbagai ulasan lengkap tentang zakat di rumaysho.com pada rubrik zakat di sini. Perfected @ Riyadh-KSA, 14th Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Menunaikan Zakat Maal dengan Sembako Akibat Enggan Menunaikan Zakat [1] Faedah-faedah di atas kami ringkaskan dari Kitab ‘Syarhul Mumthi’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ (6/7-11, terbitan Dar Ibnul Jauzi) karya  ulama besar Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- Tagspanduan zakat


Sesungguhnya zakat merupakan perkara penting dalam agama Islam sebagaimana shalat 5 waktu. Oleh karena itu, Allah Ta’ala sering mengiringi penyebutan zakat dalam Al Qur’an dengan shalat agar kita tidak hanya memperhatikan hak Allah saja, akan tetapi juga memperhatikan hak sesama. Namun saat ini kesadaran kaum muslimin untuk menunaikan zakat sangatlah kurang. Di antara mereka menganggap remeh rukun Islam yang satu ini. Ada yang sudah terlampaui kaya masih enggan menunaikannya karena rasa bakhil dan takut hartanya akan berkurang. Padahal di balik syari’at zakat terdapat faedah dan hikmah yang begitu besar, yang dapat dirasakan oleh individu maupun masyarakat. Di antara faedah dan hikmah zakat adalah : 1. Menyempurnakan keislaman seorang hamba. Zakat merupakan bagian dari rukun Islam yang lima. Apabila seseorang melakukannya, maka keislamannya akan menjadi sempurna. Hal ini tidak diragukan lagi merupakan suatu tujuan/hikmah yang amat agung dan setiap muslim pasti selalu berusaha agar keislamannya menjadi sempurna. 2. Menunjukkan benarnya iman seseorang. Sesungguhnya harta adalah sesuatu yang sangat dicintai oleh jiwa. Sesuatu yang dicintai itu tidaklah dikeluarkan kecuali dengan mengharap balasan yang semisal atau bahkan lebih dari yang dikeluarkan. Oleh karena itu, zakat disebut juga shodaqoh (yang berasal dari kata shidiq yang berarti benar/jujur, -pen) karena zakat akan menunjukkan benarnya iman muzakki (baca: orang yang mengeluarkan zakat) yang mengharapkan ridha Allah dengan zakatnya tersebut. 3. Membuat keimanan seseorang menjadi sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45). Wahai saudaraku, sebagaimana engkau mencintai jika ada saudaramu meringankan kesusahanmu, begitu juga seharusnya engkau suka untuk meringankan kesusahan saudaramu. Maka pemberian seperti ini merupakan tanda kesempurnaan iman Anda. 4. Sebab masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ». “Sesungguhnya di surga terdapat kamar yang luarnya dapat terlihat dari dalamnya dan dalamnya dapat terlihat dari luarnya.” Kemudian ada seorang badui berdiri lantas bertanya, “Kepada siapa (kamar tersebut) wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bagi orang yang berkata baik, memberi makan (di antaranya lewat zakat, pen), rajin berpuasa, shalat karena Allah di malam hari di saat manusia sedang terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Setiap kita tentu saja ingin masuk surga. 5. Menjadikan masyarakat Islam seperti keluarga besar (satu kesatuan). Karena dengan zakat, berarti yang kaya menolong yang miskin dan orang yang berkecukupan akan menolong orang yang kesulitan. Akhirnya setiap orang merasa seperti satu saudara. Allah Ta’ala berfirman, وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al Qoshosh: 77) 6. Memadamkan kemarahan orang miskin. Terkadang orang miskin menjadi marah karena melihat orang kaya hidup mewah. Orang kaya dapat memakai kendaraan yang dia suka (dengan berganti-ganti) atau tinggal di rumah mana saja yang dia mau. Tidak ragu lagi, pasti akan timbul sesuatu (kemarahan, -pen) pada hati orang miskin. Apabila orang kaya berderma pada mereka, maka padamlah kemarahan tersebut. Mereka akan mengatakan,”Saudara-saudara kami ini mengetahui kami berada dalam kesusahan”. Maka orang miskin tersebut akan suka dan timbul rasa cinta kepada orang kaya yang berderma tadi. 7. Menghalangi berbagai bentuk pencurian, pemaksaan, dan perampasan. Karena dengan zakat, sebagian kebutuhan orang yang hidupnya dalam kemiskinan sudah terpenuhi, sehingga hal ini menghalangi mereka untuk merampas harta orang-orang kaya atau berbuat jahat kepada mereka. 8. Menyelamatkan seseorang dari panasnya hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ امْرِئٍ فِى ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ “Setiap orang akan berada di naungan amalan sedekahnya hingga ia mendapatkan keputusan di tengah-tengah manusia.” (HR. Ahmad 4/147. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih) 9. Seseorang akan lebih mengenal hukum dan aturan Allah. Karena ia tidaklah menunaikan zakat sampai ia mengetahui hukum zakat dan keadaan hartanya. Juga ia pasti telah mengetahui nishob zakat tersebut dan orang yang berhak menerimanya serta hal-hal lain yang urgent diketahui. 10. Menambah harta. Terkadang Allah membuka pintu rizki dari harta yang dizakati. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang artinya, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ ”Sedekah tidaklah mengurangi harta” (HR. Muslim no. 2558). 11. Merupakan sebab turunnya banyak kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا “Tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka, melainkan mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan) 12. Zakat akan meredam murka Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ “Sedekah itu dapat memamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek” (HR. Tirmidzi no. 664. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib dari sisi ini) 13. Dosa akan terampuni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ ”Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. Tirmidzi no. 614. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)[1] Jika Telah Mencapai Nishab dan Haul, Segeralah Tunaikan Zakat Kaum muslimin -yang selalu mengharapkan kebaikan dan mengharapkan surga Allah- segeralah tunaikan zakat yang wajib bagi kalian agar memperoleh berbagai faedah di atas. Ingatlah bahwa zakat bukanlah wajib ditunaikan hanya ketika akhir bulan Ramadhan saja berupa zakat fitri. Akan tetapi, zakat itu juga wajib bagi 5 kelompok harta yaitu: emas, perak, keuntungan perdagangan, hewan ternak (yaitu unta, sapi, dan domba), dan hasil bumi (berupa tanaman, dll). Kelima kelompok harta tersebut ditunaikan ketika sudah mencapai nishab, yaitu ukuran tertentu menurut syari’at) dan telah mencapai haul, yaitu masa 1 tahun (kecuali untuk zakat anak hewan ternak dan zakat tanaman). Wahai saudaraku, segeralah tunaikan zakat ketika telah memenuhi syarat nishab dan haul-nya. Berlombalah dalam kebaikan dan ingatlah selalu nasib saudaramun yang berada dalam kesusahan. Sesungguhnya dengan engkau mengeluarkan zakat akan meringankan beban mereka yang tidak mampu. Ingat pula, sebab bangsa ini sering tertimpa berbagai macam bencana dan cobaan adalah disebabkan kita enggan melakukan ketaatan kepada Allah, di antaranya kita enggan untuk menunaikan zakat. Semoga Allah selalu menganugerahi kita untuk selalu istiqomah dalam melakukan ketaatan kepada-Nya. Silakan lihat berbagai ulasan lengkap tentang zakat di rumaysho.com pada rubrik zakat di sini. Perfected @ Riyadh-KSA, 14th Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Menunaikan Zakat Maal dengan Sembako Akibat Enggan Menunaikan Zakat [1] Faedah-faedah di atas kami ringkaskan dari Kitab ‘Syarhul Mumthi’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ (6/7-11, terbitan Dar Ibnul Jauzi) karya  ulama besar Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- Tagspanduan zakat

Boikot Mc Donald

Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, seorang ulama senior di Saudi Arabia ditanya, “Assalamu ’alaikum wa rahmatullah. Di Perancis, sebagian imam masjid memerintahkan untuk memboikot beberapa produk Amerika setelah penyerangan mereka. Contoh produk yang diboikot adalah Mc Donald dan sebaikan produk Perancis yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Sebagian orang ada yang mendukung dan ada yang menolak seruan tersebut. Kami mohon fatwa dari Anda, apakah kami boleh melakukan boikot? Semoga Allah membalas kebaikanmu. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah. Jawab: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah. Sebenarnya boikot itu menjadi hak penguasa dan ulama yang di tangan mereka keluar fatwa-fatwa krusial dalam masalah yang berkaitan dengan banyak orang. Ulama yang mengeluarkan fatwa tersebut seperti Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama (kedua lembaga ini berisi ulama-ulama kompeten dalam mengeluarkan fatwa). Menurutku, boikot barulah ada jika telah muncul fatwa dari lembaga semacam Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama, yang di mana keduanya berada di bawah naungan penguasa. Karena perkara boikot sekali lagi adalah perkara yang menyangkut banyak orang dan bukan perkara khusus. Tidak boleh hanya kalangan individual saja yang memberanikan untuk berfatwa semacam itu. Fatwa semacam itu tidak perlu diamalkan karena hanya muncul dari segelintir orang. Wallahu a’lam. Sumber fatwa: http://al-obeikan.com/show_fatwa/511.html Moga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Riyadh-KSA, 14 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Pemboikotan dari Orang Quraisy Tak Perlu Boikot atau Lariskan Produk Saudara Muslim? Tagsboikot

Boikot Mc Donald

Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, seorang ulama senior di Saudi Arabia ditanya, “Assalamu ’alaikum wa rahmatullah. Di Perancis, sebagian imam masjid memerintahkan untuk memboikot beberapa produk Amerika setelah penyerangan mereka. Contoh produk yang diboikot adalah Mc Donald dan sebaikan produk Perancis yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Sebagian orang ada yang mendukung dan ada yang menolak seruan tersebut. Kami mohon fatwa dari Anda, apakah kami boleh melakukan boikot? Semoga Allah membalas kebaikanmu. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah. Jawab: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah. Sebenarnya boikot itu menjadi hak penguasa dan ulama yang di tangan mereka keluar fatwa-fatwa krusial dalam masalah yang berkaitan dengan banyak orang. Ulama yang mengeluarkan fatwa tersebut seperti Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama (kedua lembaga ini berisi ulama-ulama kompeten dalam mengeluarkan fatwa). Menurutku, boikot barulah ada jika telah muncul fatwa dari lembaga semacam Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama, yang di mana keduanya berada di bawah naungan penguasa. Karena perkara boikot sekali lagi adalah perkara yang menyangkut banyak orang dan bukan perkara khusus. Tidak boleh hanya kalangan individual saja yang memberanikan untuk berfatwa semacam itu. Fatwa semacam itu tidak perlu diamalkan karena hanya muncul dari segelintir orang. Wallahu a’lam. Sumber fatwa: http://al-obeikan.com/show_fatwa/511.html Moga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Riyadh-KSA, 14 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Pemboikotan dari Orang Quraisy Tak Perlu Boikot atau Lariskan Produk Saudara Muslim? Tagsboikot
Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, seorang ulama senior di Saudi Arabia ditanya, “Assalamu ’alaikum wa rahmatullah. Di Perancis, sebagian imam masjid memerintahkan untuk memboikot beberapa produk Amerika setelah penyerangan mereka. Contoh produk yang diboikot adalah Mc Donald dan sebaikan produk Perancis yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Sebagian orang ada yang mendukung dan ada yang menolak seruan tersebut. Kami mohon fatwa dari Anda, apakah kami boleh melakukan boikot? Semoga Allah membalas kebaikanmu. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah. Jawab: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah. Sebenarnya boikot itu menjadi hak penguasa dan ulama yang di tangan mereka keluar fatwa-fatwa krusial dalam masalah yang berkaitan dengan banyak orang. Ulama yang mengeluarkan fatwa tersebut seperti Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama (kedua lembaga ini berisi ulama-ulama kompeten dalam mengeluarkan fatwa). Menurutku, boikot barulah ada jika telah muncul fatwa dari lembaga semacam Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama, yang di mana keduanya berada di bawah naungan penguasa. Karena perkara boikot sekali lagi adalah perkara yang menyangkut banyak orang dan bukan perkara khusus. Tidak boleh hanya kalangan individual saja yang memberanikan untuk berfatwa semacam itu. Fatwa semacam itu tidak perlu diamalkan karena hanya muncul dari segelintir orang. Wallahu a’lam. Sumber fatwa: http://al-obeikan.com/show_fatwa/511.html Moga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Riyadh-KSA, 14 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Pemboikotan dari Orang Quraisy Tak Perlu Boikot atau Lariskan Produk Saudara Muslim? Tagsboikot


Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, seorang ulama senior di Saudi Arabia ditanya, “Assalamu ’alaikum wa rahmatullah. Di Perancis, sebagian imam masjid memerintahkan untuk memboikot beberapa produk Amerika setelah penyerangan mereka. Contoh produk yang diboikot adalah Mc Donald dan sebaikan produk Perancis yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Sebagian orang ada yang mendukung dan ada yang menolak seruan tersebut. Kami mohon fatwa dari Anda, apakah kami boleh melakukan boikot? Semoga Allah membalas kebaikanmu. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah. Jawab: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah. Sebenarnya boikot itu menjadi hak penguasa dan ulama yang di tangan mereka keluar fatwa-fatwa krusial dalam masalah yang berkaitan dengan banyak orang. Ulama yang mengeluarkan fatwa tersebut seperti Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama (kedua lembaga ini berisi ulama-ulama kompeten dalam mengeluarkan fatwa). Menurutku, boikot barulah ada jika telah muncul fatwa dari lembaga semacam Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama, yang di mana keduanya berada di bawah naungan penguasa. Karena perkara boikot sekali lagi adalah perkara yang menyangkut banyak orang dan bukan perkara khusus. Tidak boleh hanya kalangan individual saja yang memberanikan untuk berfatwa semacam itu. Fatwa semacam itu tidak perlu diamalkan karena hanya muncul dari segelintir orang. Wallahu a’lam. Sumber fatwa: http://al-obeikan.com/show_fatwa/511.html Moga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Riyadh-KSA, 14 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Pemboikotan dari Orang Quraisy Tak Perlu Boikot atau Lariskan Produk Saudara Muslim? Tagsboikot

Zina, Ujung-Ujungnya Penuh Penyesalan

Awal zina adalah rasa khawatir, ujungnya adalah penyesalan …. Ketika kami membuka tafsir tentang ayat berikut, وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71) “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka Sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71); lalu kami menemukan perkataan Luqman kepada anaknya yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, أن لقمان كان يقول: يا بني، إياك والزنى، فإن أوله مخافة، وآخره ندامة. Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku. Hati-hatilah dengan zina. Di awal zina, selalu penuh rasa khawatir. Ujung-ujungnya akan penuh penyesalan. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326) Memang betul apa yang diutarakan oleh Luqman, seorang yang sholeh. Dan itu sesuai realita. Awal zina dipenuhi rasa khawatir. Coba lihat saja apa yang dilakukan oleh orang yang hendak berzina. Awalnya mereka berusaha tidak terlihat orang lain. Khawatir ada yang melihat perbuatan dosa mereka. Ujung-ujungnya dipenuhi rasa penyesalan. Karena bisa jadi si wanita hamil. Si laki dituntut tanggung jawab. Akhirnya pusing kepayang karena perut si wanita yang makin besar dan sulit ditutupi. Akhirnya yang ada adalah rasa malu. Naik ke pelaminan pun sudah dicap “jelek” karena terpaksa “Married because an accident”. Dari sini, sudah seharusnya yang berhubungan tidak halal itu merenungkan bahwa awalnya Anda bisa merasakan senang karena itu sudah dihiasi oleh setan. Setan telah memperindah masa-masa pacaran Anda sehingga yang haram disangka sah-sah saja. Yang belum sah untuk berdua-duaan atau berjabat tangan dianggap biasa saja. Itu semua tipu daya setan. Ketika pacar Anda sudah menawari hubungan layaknya pasangan suami istri, lihatlah apa ujung-ujungnya yang terjadi? Awalnya selalu ada rasa khawatir. Diri si wanita akan dihiasi lagi oleh setan, “Bukti cinta kekasih saya adalah ini, iya butuh akan true love”. True love yang dimaksud sang pacar adalah berzina. Maka lihatlah akhir dari kisah zina Anda nantinya. Penyesalan, penyesalan, sedih …. Itu yang Anda akan rasakan. True love tentu saja dibuktikan dengan cara yang benar. True love bukan ditempuh dengan cara yang Allah haramkan. Islam memiliki jalan tersendiri sehingga tidak membuat terjerumus dalam zina. Segala jalan menuju zina dengan berdua-duaan baik yang langsung tatap muka atau sekedar sms-an, janji ketemuan (nge-date), menatap wajah wanita yang bukan mahrom dan berjabat tangan itu semua terlarang karena termasuk dalam keumuman larangan Allah, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32) So … Mulai saat ini, Anda silakan memilih, mau menempuh jalan selamat ataukah jalan yang awalnya barangkali happy namun akan didapati ujung yang penuh penyesalan. Silakan Anda menaruh pilihan. Wallahu waliyyut taufiq. — Riyadh-KSA, 17th Rajab 1432 H (19/06/2011) Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi Anda yang minat dengan satu paket buku karya Ustadz M. Abduh Tuasikal, silakan pesan melalui: Costumer Service/ SMS: +62 852 00 171 222 WhatsApp: +62 8222 739 9227 Blackberry: 2AF1727A, 7A78C851 Kirim format pesan: paket buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Paket tersebut berisi 5 buku terbaru karya beliau: (1) Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran kecil seharga Rp.6.000,-, (2) 2- Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran besar seharga Rp.10.000,-, (3) Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi) seharga Rp.14.000,-, (4) Panduan Amal Shalih di Musim Hujan seharga Rp.12.000,-, (5) Mengenal Bid’ah Lebih Dekat seharga Rp.13.000,-. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagspacaran islami seks zina

Zina, Ujung-Ujungnya Penuh Penyesalan

Awal zina adalah rasa khawatir, ujungnya adalah penyesalan …. Ketika kami membuka tafsir tentang ayat berikut, وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71) “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka Sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71); lalu kami menemukan perkataan Luqman kepada anaknya yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, أن لقمان كان يقول: يا بني، إياك والزنى، فإن أوله مخافة، وآخره ندامة. Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku. Hati-hatilah dengan zina. Di awal zina, selalu penuh rasa khawatir. Ujung-ujungnya akan penuh penyesalan. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326) Memang betul apa yang diutarakan oleh Luqman, seorang yang sholeh. Dan itu sesuai realita. Awal zina dipenuhi rasa khawatir. Coba lihat saja apa yang dilakukan oleh orang yang hendak berzina. Awalnya mereka berusaha tidak terlihat orang lain. Khawatir ada yang melihat perbuatan dosa mereka. Ujung-ujungnya dipenuhi rasa penyesalan. Karena bisa jadi si wanita hamil. Si laki dituntut tanggung jawab. Akhirnya pusing kepayang karena perut si wanita yang makin besar dan sulit ditutupi. Akhirnya yang ada adalah rasa malu. Naik ke pelaminan pun sudah dicap “jelek” karena terpaksa “Married because an accident”. Dari sini, sudah seharusnya yang berhubungan tidak halal itu merenungkan bahwa awalnya Anda bisa merasakan senang karena itu sudah dihiasi oleh setan. Setan telah memperindah masa-masa pacaran Anda sehingga yang haram disangka sah-sah saja. Yang belum sah untuk berdua-duaan atau berjabat tangan dianggap biasa saja. Itu semua tipu daya setan. Ketika pacar Anda sudah menawari hubungan layaknya pasangan suami istri, lihatlah apa ujung-ujungnya yang terjadi? Awalnya selalu ada rasa khawatir. Diri si wanita akan dihiasi lagi oleh setan, “Bukti cinta kekasih saya adalah ini, iya butuh akan true love”. True love yang dimaksud sang pacar adalah berzina. Maka lihatlah akhir dari kisah zina Anda nantinya. Penyesalan, penyesalan, sedih …. Itu yang Anda akan rasakan. True love tentu saja dibuktikan dengan cara yang benar. True love bukan ditempuh dengan cara yang Allah haramkan. Islam memiliki jalan tersendiri sehingga tidak membuat terjerumus dalam zina. Segala jalan menuju zina dengan berdua-duaan baik yang langsung tatap muka atau sekedar sms-an, janji ketemuan (nge-date), menatap wajah wanita yang bukan mahrom dan berjabat tangan itu semua terlarang karena termasuk dalam keumuman larangan Allah, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32) So … Mulai saat ini, Anda silakan memilih, mau menempuh jalan selamat ataukah jalan yang awalnya barangkali happy namun akan didapati ujung yang penuh penyesalan. Silakan Anda menaruh pilihan. Wallahu waliyyut taufiq. — Riyadh-KSA, 17th Rajab 1432 H (19/06/2011) Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi Anda yang minat dengan satu paket buku karya Ustadz M. Abduh Tuasikal, silakan pesan melalui: Costumer Service/ SMS: +62 852 00 171 222 WhatsApp: +62 8222 739 9227 Blackberry: 2AF1727A, 7A78C851 Kirim format pesan: paket buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Paket tersebut berisi 5 buku terbaru karya beliau: (1) Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran kecil seharga Rp.6.000,-, (2) 2- Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran besar seharga Rp.10.000,-, (3) Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi) seharga Rp.14.000,-, (4) Panduan Amal Shalih di Musim Hujan seharga Rp.12.000,-, (5) Mengenal Bid’ah Lebih Dekat seharga Rp.13.000,-. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagspacaran islami seks zina
Awal zina adalah rasa khawatir, ujungnya adalah penyesalan …. Ketika kami membuka tafsir tentang ayat berikut, وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71) “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka Sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71); lalu kami menemukan perkataan Luqman kepada anaknya yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, أن لقمان كان يقول: يا بني، إياك والزنى، فإن أوله مخافة، وآخره ندامة. Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku. Hati-hatilah dengan zina. Di awal zina, selalu penuh rasa khawatir. Ujung-ujungnya akan penuh penyesalan. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326) Memang betul apa yang diutarakan oleh Luqman, seorang yang sholeh. Dan itu sesuai realita. Awal zina dipenuhi rasa khawatir. Coba lihat saja apa yang dilakukan oleh orang yang hendak berzina. Awalnya mereka berusaha tidak terlihat orang lain. Khawatir ada yang melihat perbuatan dosa mereka. Ujung-ujungnya dipenuhi rasa penyesalan. Karena bisa jadi si wanita hamil. Si laki dituntut tanggung jawab. Akhirnya pusing kepayang karena perut si wanita yang makin besar dan sulit ditutupi. Akhirnya yang ada adalah rasa malu. Naik ke pelaminan pun sudah dicap “jelek” karena terpaksa “Married because an accident”. Dari sini, sudah seharusnya yang berhubungan tidak halal itu merenungkan bahwa awalnya Anda bisa merasakan senang karena itu sudah dihiasi oleh setan. Setan telah memperindah masa-masa pacaran Anda sehingga yang haram disangka sah-sah saja. Yang belum sah untuk berdua-duaan atau berjabat tangan dianggap biasa saja. Itu semua tipu daya setan. Ketika pacar Anda sudah menawari hubungan layaknya pasangan suami istri, lihatlah apa ujung-ujungnya yang terjadi? Awalnya selalu ada rasa khawatir. Diri si wanita akan dihiasi lagi oleh setan, “Bukti cinta kekasih saya adalah ini, iya butuh akan true love”. True love yang dimaksud sang pacar adalah berzina. Maka lihatlah akhir dari kisah zina Anda nantinya. Penyesalan, penyesalan, sedih …. Itu yang Anda akan rasakan. True love tentu saja dibuktikan dengan cara yang benar. True love bukan ditempuh dengan cara yang Allah haramkan. Islam memiliki jalan tersendiri sehingga tidak membuat terjerumus dalam zina. Segala jalan menuju zina dengan berdua-duaan baik yang langsung tatap muka atau sekedar sms-an, janji ketemuan (nge-date), menatap wajah wanita yang bukan mahrom dan berjabat tangan itu semua terlarang karena termasuk dalam keumuman larangan Allah, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32) So … Mulai saat ini, Anda silakan memilih, mau menempuh jalan selamat ataukah jalan yang awalnya barangkali happy namun akan didapati ujung yang penuh penyesalan. Silakan Anda menaruh pilihan. Wallahu waliyyut taufiq. — Riyadh-KSA, 17th Rajab 1432 H (19/06/2011) Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi Anda yang minat dengan satu paket buku karya Ustadz M. Abduh Tuasikal, silakan pesan melalui: Costumer Service/ SMS: +62 852 00 171 222 WhatsApp: +62 8222 739 9227 Blackberry: 2AF1727A, 7A78C851 Kirim format pesan: paket buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Paket tersebut berisi 5 buku terbaru karya beliau: (1) Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran kecil seharga Rp.6.000,-, (2) 2- Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran besar seharga Rp.10.000,-, (3) Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi) seharga Rp.14.000,-, (4) Panduan Amal Shalih di Musim Hujan seharga Rp.12.000,-, (5) Mengenal Bid’ah Lebih Dekat seharga Rp.13.000,-. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagspacaran islami seks zina


Awal zina adalah rasa khawatir, ujungnya adalah penyesalan …. Ketika kami membuka tafsir tentang ayat berikut, وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71) “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka Sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71); lalu kami menemukan perkataan Luqman kepada anaknya yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, أن لقمان كان يقول: يا بني، إياك والزنى، فإن أوله مخافة، وآخره ندامة. Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku. Hati-hatilah dengan zina. Di awal zina, selalu penuh rasa khawatir. Ujung-ujungnya akan penuh penyesalan. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326) Memang betul apa yang diutarakan oleh Luqman, seorang yang sholeh. Dan itu sesuai realita. Awal zina dipenuhi rasa khawatir. Coba lihat saja apa yang dilakukan oleh orang yang hendak berzina. Awalnya mereka berusaha tidak terlihat orang lain. Khawatir ada yang melihat perbuatan dosa mereka. Ujung-ujungnya dipenuhi rasa penyesalan. Karena bisa jadi si wanita hamil. Si laki dituntut tanggung jawab. Akhirnya pusing kepayang karena perut si wanita yang makin besar dan sulit ditutupi. Akhirnya yang ada adalah rasa malu. Naik ke pelaminan pun sudah dicap “jelek” karena terpaksa “Married because an accident”. Dari sini, sudah seharusnya yang berhubungan tidak halal itu merenungkan bahwa awalnya Anda bisa merasakan senang karena itu sudah dihiasi oleh setan. Setan telah memperindah masa-masa pacaran Anda sehingga yang haram disangka sah-sah saja. Yang belum sah untuk berdua-duaan atau berjabat tangan dianggap biasa saja. Itu semua tipu daya setan. Ketika pacar Anda sudah menawari hubungan layaknya pasangan suami istri, lihatlah apa ujung-ujungnya yang terjadi? Awalnya selalu ada rasa khawatir. Diri si wanita akan dihiasi lagi oleh setan, “Bukti cinta kekasih saya adalah ini, iya butuh akan true love”. True love yang dimaksud sang pacar adalah berzina. Maka lihatlah akhir dari kisah zina Anda nantinya. Penyesalan, penyesalan, sedih …. Itu yang Anda akan rasakan. True love tentu saja dibuktikan dengan cara yang benar. True love bukan ditempuh dengan cara yang Allah haramkan. Islam memiliki jalan tersendiri sehingga tidak membuat terjerumus dalam zina. Segala jalan menuju zina dengan berdua-duaan baik yang langsung tatap muka atau sekedar sms-an, janji ketemuan (nge-date), menatap wajah wanita yang bukan mahrom dan berjabat tangan itu semua terlarang karena termasuk dalam keumuman larangan Allah, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32) So … Mulai saat ini, Anda silakan memilih, mau menempuh jalan selamat ataukah jalan yang awalnya barangkali happy namun akan didapati ujung yang penuh penyesalan. Silakan Anda menaruh pilihan. Wallahu waliyyut taufiq. — Riyadh-KSA, 17th Rajab 1432 H (19/06/2011) Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi Anda yang minat dengan satu paket buku karya Ustadz M. Abduh Tuasikal, silakan pesan melalui: Costumer Service/ SMS: +62 852 00 171 222 WhatsApp: +62 8222 739 9227 Blackberry: 2AF1727A, 7A78C851 Kirim format pesan: paket buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Paket tersebut berisi 5 buku terbaru karya beliau: (1) Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran kecil seharga Rp.6.000,-, (2) 2- Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran besar seharga Rp.10.000,-, (3) Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi) seharga Rp.14.000,-, (4) Panduan Amal Shalih di Musim Hujan seharga Rp.12.000,-, (5) Mengenal Bid’ah Lebih Dekat seharga Rp.13.000,-. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagspacaran islami seks zina

Langkah Kuliah Teknik di KSU Riyadh

“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya”, inilah nasehat indah dari Imam Asy Syafi’i. Setiap pemuda yang telah merasakan nikmatnya menimba ilmu agama, sangat ingin belajar ke jenjang lebih tinggi dengan langsung duduk di majelis para ulama. Betapa rindunya mereka untuk menginjakkan kaki di tanah Arab karena di negeri inilah gudangnya ilmu diin. Sampai pun dia adalah seorang engineer, juga pasti menginginkannya. Untuk berbagai tips kuliah di tanah Arab (Saudi Arabia) khususnya di kota Riyadh, para pembaca bisa menempuh langkah sebagaimana yang kami jalani. Nyambi belajar engineer, saudara bisa merasakan pula duduk di majelis ilmu para ulama di sore harinya. Pagi harinya sibuk kuliah, sore harinya duduk di majelis kibar ulama. Ulama di kota Riyadh sudah ma’ruf amatlah banyak. Lihat saja, mulai dari ulama Al Lajnah Ad Daimah, seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan dan ulama yang ditunjuk dalam kumpulan ulama besar (Hay-ah Kibar Ulama) bermukim di kota Riyadh. Bahkan Anda bisa berangkat ke majelis ulama (seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan) dengan tanpa biaya, langsung dijemput oleh bus dari Sakan (asrama mahasiswa). Setiap shubuh, Anda bisa menyetorkan hafalan Al Qur’an layaknya orang yang belajar di pondok pesantren. Walaupun seorang Engineer, moga bisa juga menjadi Hafizh Al Qur’an dengan izin Allah, serta bisa memiliki ilmu agama yang mumpuni sebagai modal dakwah. Di kota Riyadh pun, Anda bisa memperoleh buku-buku agama gratis dari berbagai yayasan, bahkan sampai diberi 6 kardus seperti yang biasa diberi Al Lajnah Ad Daimah. Sebagai motivasi, lihatlah nasehat ulama berikut tentang lezatnya menimba ilmu agama di samping kesibukan Anda sehari-hari menggeluti ilmu dunia dan aktivitas dunia. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ . “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).” ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ ، الْعِلْمُ يَحْرُسُك وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ ، وَالْعِلْمُ يَزْكُو بِالْإِنْفَاقِ “Ilmu (agama) itu lebih baik dari harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta mesti engkau menjaganya. Harta akan berkurang ketika dinafkahkan, namun ilmu malah bertambah ketika diinfakkan.” Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, مَجْلِسُ فِقْهٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً “Majelis ilmu lebih baik dari ibadah 60 tahun lamanya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ “Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan, طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ “Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.” Dalam perkataan lainnya, Imam Asy Syafi’i berkata, لَيْسَ بَعْدَ الْفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ “Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.” Imam Asy Syafi’i berkata pula, مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ “Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” Maksudnya adalah ilmu sangat dibutuhkan untuk memperoleh dunia dan akherat. Langkah-langkah untuk diterima di Jami’ah Malik Su’ud (King Saud University) cukup sederhana. Modal utama sebenarnya adalah tawakkal, banyak doa dan mengeluarkan effort yang kuat untuk bisa diterima. Masuk ke sini tanpa tes. Cukup dengan IP di atas 3.00 (untuk IP skala 4.00), lalu bermodal bahasa Inggris yang lumayan (TOEFL di atas 500) dan menguasai bahasa Arab untuk modal percakapan sehari-hari, maka itu sudah jadi modal besar Anda bisa masuk Jami’ah Malik Su’ud. Sebagai tambahan, alangkah bagusnya bisa mendapatkan tazkiyah (rekomendasi) dari dosen di jenjang S1 dahulu. Untuk submit application, silakan klik link berikut: https://dgs.ksu.edu.sa/DGS1/Login.aspx. Lalu setelah itu kirim copy-an persyaratan yang ada via email ke departemen yang dituju (through Chairman, Graduate Academic Chair, etc). Contohnya bagi yang tertarik masuk jurusan Teknik Kimia KSU, silakan membuka link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Engineering/faculty-research/our-faculty/department/chemical-engineering.htm Jurusan-jurusan lainnya, silakan lihat link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Pages/default.aspx. Persyaratan yang diajukan ke ketua jurusan atau dosen di jurusan yang dituju, ini wajib agar berkasnya bisa diurus lebih lanjut dari jurusan sampai ke tingkat universitas. Berikut persyaratan untuk jenjang Master: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee Untuk program PhD: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee 8. TOEFL (500 pt) 9. GRE, Analytical part, (700 pt) Benefit yang akan Anda rasakan jika memilih kuliah di KSU: Free tuition fee Monthly reward Individual housing allowance Three times daily-subsidised meals Health Insurance Annual ticket round trip Funded research and sophisticated equipments Free international subscribed journal Comprehensive library High speed free internet access Hajj and Umroh opportunity Coba jika Anda kuliah di Eropa, Amerika, atau di Jepang, pernahkah merasakan benefit di atas. Kuliah sudah gratis, dapat uang saku sekitar 2,5 juta rupiah (belum lagi jika Anda diterima sebagai researcher yang dapat gaji total sekitar 5 juta rupiah). Mudah berhaji dan umroh. Makanan pun mudah dicari yang halal, bahkan mahasiswa mendapat subsidi dari kampus ketika makan di kantin. Beda jika Anda menaruh pilihan kuliah di negeri non muslim, yang kuliah kadang harus cari utangan. Untuk makan dan shalat saja sulit. Di sini pun Anda akan mendapatkan tiket liburan gratis (round way) sekali setiap tahunnya. Sekali lagi, coba bandingkan dengan kuliah di Eropa. Kesulitan-kesulitan yang kami hadapi selama ini sebelum diterima di KSU atau ketika menjalani kuliah: 1. Birokrasi yang sering telat dan rumit. Oleh karena itu, ketika apply harus bersabar. Birokrasi makin bertambah ribet jika Anda tidak punya modal bahasa Arab sehingga sulit untuk komunikasi dengan pegawai yg rata-rata belum bisa berbahasa Inggris. Sudah kami tekankan di atas, agar tidak menyesal jika diterima di sini, kuasailah Bahasa Arab sebelum ber’azam ke tanah Arab. Tetapi tidak perlu khawatir, jika kita berkomunikasi dengan dosen atau dengan pegawai rumah sakit, atau di instansi-instansi tertentu, mereka sudah punya kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni. Yang jadi masalah adalah dengan pegawai administrasi, terutama pegawai Arab. 2. Pegawai Arab kurang bisa tepati janji, jadi kita harus terus menagih janji mereka. Seandainya ada yang ajukan apply, lalu dosen atau pegawainya katakan diterima 100%, maka jangan dulu mudah percaya. Jadi harus ditagih terus dan cross check ulang. 3. Penerimaan gaji untuk awal tahun pelajaran biasanya telat 1-2 bulan. Namun untuk 2 bulan berikut biasa sudah dirapel gaji untuk beberapa bulan sekaligus. Jadi harus punya modal uang selama beberapa bulan awal di sini, mungkin sekitar 2000 riyal (5 juta rupiah). Tetapi insya Allah, nantinya akan dapat ganti yang lebih baik. 4. Jika mengajukan apply ke dosen atau via website, kadang kurang mendapatkan respon. Oleh karena itu, ikuti saran kami: a. Kontak dahulu mahasiswa Indonesia yang kuliah di KSU sesuai jurusan yang Anda tuju. b. Mahasiswa tersebut yang akan hubungkan Anda dengan dosen yang berminat mencari mahasiswa. c. Setelah itu, akan lebih mudah untuk pengurusan apply selanjutnya karena akan diberitahukan cara apply oleh dosen atau mahasiswa tadi. Moga info ini bermanfaat dan silakan disebar pada rekan-rekan lainnya yang tertarik untuk melanjutkan S2 atau S3. Masih banyak jalan menuju tanah Arab untuk menimba ilmu agama, namun yang kami sampaikan di atas adalah salah satu dari seribu cara yang ada. Tiga modal untuk bisa melangkahkan kaki kuliah di KSU: (1) Tawakkal, menyandarkan hati pada Allah, (2) Banyak berdo’a, jangan pernah putus asa, (3) Butuh great effort, tidak bisa hanya separuh-paruh. Untuk melihat keadaan di kampus teknik KSU, silakan kunjungi link di sini. Semoga Allah memberi berbagai kemudahan bagi kita dalam berilmu, beramal dan berdakwah serta diberi keistiqomahan hingga akhir hayat.   KSU, Riyadh-KSA, 16th Rajab 1432 H (18/06/2011) www.rumaysho.com Tagsbahasa inggris kuliah

Langkah Kuliah Teknik di KSU Riyadh

“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya”, inilah nasehat indah dari Imam Asy Syafi’i. Setiap pemuda yang telah merasakan nikmatnya menimba ilmu agama, sangat ingin belajar ke jenjang lebih tinggi dengan langsung duduk di majelis para ulama. Betapa rindunya mereka untuk menginjakkan kaki di tanah Arab karena di negeri inilah gudangnya ilmu diin. Sampai pun dia adalah seorang engineer, juga pasti menginginkannya. Untuk berbagai tips kuliah di tanah Arab (Saudi Arabia) khususnya di kota Riyadh, para pembaca bisa menempuh langkah sebagaimana yang kami jalani. Nyambi belajar engineer, saudara bisa merasakan pula duduk di majelis ilmu para ulama di sore harinya. Pagi harinya sibuk kuliah, sore harinya duduk di majelis kibar ulama. Ulama di kota Riyadh sudah ma’ruf amatlah banyak. Lihat saja, mulai dari ulama Al Lajnah Ad Daimah, seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan dan ulama yang ditunjuk dalam kumpulan ulama besar (Hay-ah Kibar Ulama) bermukim di kota Riyadh. Bahkan Anda bisa berangkat ke majelis ulama (seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan) dengan tanpa biaya, langsung dijemput oleh bus dari Sakan (asrama mahasiswa). Setiap shubuh, Anda bisa menyetorkan hafalan Al Qur’an layaknya orang yang belajar di pondok pesantren. Walaupun seorang Engineer, moga bisa juga menjadi Hafizh Al Qur’an dengan izin Allah, serta bisa memiliki ilmu agama yang mumpuni sebagai modal dakwah. Di kota Riyadh pun, Anda bisa memperoleh buku-buku agama gratis dari berbagai yayasan, bahkan sampai diberi 6 kardus seperti yang biasa diberi Al Lajnah Ad Daimah. Sebagai motivasi, lihatlah nasehat ulama berikut tentang lezatnya menimba ilmu agama di samping kesibukan Anda sehari-hari menggeluti ilmu dunia dan aktivitas dunia. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ . “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).” ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ ، الْعِلْمُ يَحْرُسُك وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ ، وَالْعِلْمُ يَزْكُو بِالْإِنْفَاقِ “Ilmu (agama) itu lebih baik dari harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta mesti engkau menjaganya. Harta akan berkurang ketika dinafkahkan, namun ilmu malah bertambah ketika diinfakkan.” Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, مَجْلِسُ فِقْهٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً “Majelis ilmu lebih baik dari ibadah 60 tahun lamanya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ “Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan, طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ “Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.” Dalam perkataan lainnya, Imam Asy Syafi’i berkata, لَيْسَ بَعْدَ الْفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ “Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.” Imam Asy Syafi’i berkata pula, مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ “Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” Maksudnya adalah ilmu sangat dibutuhkan untuk memperoleh dunia dan akherat. Langkah-langkah untuk diterima di Jami’ah Malik Su’ud (King Saud University) cukup sederhana. Modal utama sebenarnya adalah tawakkal, banyak doa dan mengeluarkan effort yang kuat untuk bisa diterima. Masuk ke sini tanpa tes. Cukup dengan IP di atas 3.00 (untuk IP skala 4.00), lalu bermodal bahasa Inggris yang lumayan (TOEFL di atas 500) dan menguasai bahasa Arab untuk modal percakapan sehari-hari, maka itu sudah jadi modal besar Anda bisa masuk Jami’ah Malik Su’ud. Sebagai tambahan, alangkah bagusnya bisa mendapatkan tazkiyah (rekomendasi) dari dosen di jenjang S1 dahulu. Untuk submit application, silakan klik link berikut: https://dgs.ksu.edu.sa/DGS1/Login.aspx. Lalu setelah itu kirim copy-an persyaratan yang ada via email ke departemen yang dituju (through Chairman, Graduate Academic Chair, etc). Contohnya bagi yang tertarik masuk jurusan Teknik Kimia KSU, silakan membuka link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Engineering/faculty-research/our-faculty/department/chemical-engineering.htm Jurusan-jurusan lainnya, silakan lihat link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Pages/default.aspx. Persyaratan yang diajukan ke ketua jurusan atau dosen di jurusan yang dituju, ini wajib agar berkasnya bisa diurus lebih lanjut dari jurusan sampai ke tingkat universitas. Berikut persyaratan untuk jenjang Master: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee Untuk program PhD: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee 8. TOEFL (500 pt) 9. GRE, Analytical part, (700 pt) Benefit yang akan Anda rasakan jika memilih kuliah di KSU: Free tuition fee Monthly reward Individual housing allowance Three times daily-subsidised meals Health Insurance Annual ticket round trip Funded research and sophisticated equipments Free international subscribed journal Comprehensive library High speed free internet access Hajj and Umroh opportunity Coba jika Anda kuliah di Eropa, Amerika, atau di Jepang, pernahkah merasakan benefit di atas. Kuliah sudah gratis, dapat uang saku sekitar 2,5 juta rupiah (belum lagi jika Anda diterima sebagai researcher yang dapat gaji total sekitar 5 juta rupiah). Mudah berhaji dan umroh. Makanan pun mudah dicari yang halal, bahkan mahasiswa mendapat subsidi dari kampus ketika makan di kantin. Beda jika Anda menaruh pilihan kuliah di negeri non muslim, yang kuliah kadang harus cari utangan. Untuk makan dan shalat saja sulit. Di sini pun Anda akan mendapatkan tiket liburan gratis (round way) sekali setiap tahunnya. Sekali lagi, coba bandingkan dengan kuliah di Eropa. Kesulitan-kesulitan yang kami hadapi selama ini sebelum diterima di KSU atau ketika menjalani kuliah: 1. Birokrasi yang sering telat dan rumit. Oleh karena itu, ketika apply harus bersabar. Birokrasi makin bertambah ribet jika Anda tidak punya modal bahasa Arab sehingga sulit untuk komunikasi dengan pegawai yg rata-rata belum bisa berbahasa Inggris. Sudah kami tekankan di atas, agar tidak menyesal jika diterima di sini, kuasailah Bahasa Arab sebelum ber’azam ke tanah Arab. Tetapi tidak perlu khawatir, jika kita berkomunikasi dengan dosen atau dengan pegawai rumah sakit, atau di instansi-instansi tertentu, mereka sudah punya kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni. Yang jadi masalah adalah dengan pegawai administrasi, terutama pegawai Arab. 2. Pegawai Arab kurang bisa tepati janji, jadi kita harus terus menagih janji mereka. Seandainya ada yang ajukan apply, lalu dosen atau pegawainya katakan diterima 100%, maka jangan dulu mudah percaya. Jadi harus ditagih terus dan cross check ulang. 3. Penerimaan gaji untuk awal tahun pelajaran biasanya telat 1-2 bulan. Namun untuk 2 bulan berikut biasa sudah dirapel gaji untuk beberapa bulan sekaligus. Jadi harus punya modal uang selama beberapa bulan awal di sini, mungkin sekitar 2000 riyal (5 juta rupiah). Tetapi insya Allah, nantinya akan dapat ganti yang lebih baik. 4. Jika mengajukan apply ke dosen atau via website, kadang kurang mendapatkan respon. Oleh karena itu, ikuti saran kami: a. Kontak dahulu mahasiswa Indonesia yang kuliah di KSU sesuai jurusan yang Anda tuju. b. Mahasiswa tersebut yang akan hubungkan Anda dengan dosen yang berminat mencari mahasiswa. c. Setelah itu, akan lebih mudah untuk pengurusan apply selanjutnya karena akan diberitahukan cara apply oleh dosen atau mahasiswa tadi. Moga info ini bermanfaat dan silakan disebar pada rekan-rekan lainnya yang tertarik untuk melanjutkan S2 atau S3. Masih banyak jalan menuju tanah Arab untuk menimba ilmu agama, namun yang kami sampaikan di atas adalah salah satu dari seribu cara yang ada. Tiga modal untuk bisa melangkahkan kaki kuliah di KSU: (1) Tawakkal, menyandarkan hati pada Allah, (2) Banyak berdo’a, jangan pernah putus asa, (3) Butuh great effort, tidak bisa hanya separuh-paruh. Untuk melihat keadaan di kampus teknik KSU, silakan kunjungi link di sini. Semoga Allah memberi berbagai kemudahan bagi kita dalam berilmu, beramal dan berdakwah serta diberi keistiqomahan hingga akhir hayat.   KSU, Riyadh-KSA, 16th Rajab 1432 H (18/06/2011) www.rumaysho.com Tagsbahasa inggris kuliah
“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya”, inilah nasehat indah dari Imam Asy Syafi’i. Setiap pemuda yang telah merasakan nikmatnya menimba ilmu agama, sangat ingin belajar ke jenjang lebih tinggi dengan langsung duduk di majelis para ulama. Betapa rindunya mereka untuk menginjakkan kaki di tanah Arab karena di negeri inilah gudangnya ilmu diin. Sampai pun dia adalah seorang engineer, juga pasti menginginkannya. Untuk berbagai tips kuliah di tanah Arab (Saudi Arabia) khususnya di kota Riyadh, para pembaca bisa menempuh langkah sebagaimana yang kami jalani. Nyambi belajar engineer, saudara bisa merasakan pula duduk di majelis ilmu para ulama di sore harinya. Pagi harinya sibuk kuliah, sore harinya duduk di majelis kibar ulama. Ulama di kota Riyadh sudah ma’ruf amatlah banyak. Lihat saja, mulai dari ulama Al Lajnah Ad Daimah, seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan dan ulama yang ditunjuk dalam kumpulan ulama besar (Hay-ah Kibar Ulama) bermukim di kota Riyadh. Bahkan Anda bisa berangkat ke majelis ulama (seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan) dengan tanpa biaya, langsung dijemput oleh bus dari Sakan (asrama mahasiswa). Setiap shubuh, Anda bisa menyetorkan hafalan Al Qur’an layaknya orang yang belajar di pondok pesantren. Walaupun seorang Engineer, moga bisa juga menjadi Hafizh Al Qur’an dengan izin Allah, serta bisa memiliki ilmu agama yang mumpuni sebagai modal dakwah. Di kota Riyadh pun, Anda bisa memperoleh buku-buku agama gratis dari berbagai yayasan, bahkan sampai diberi 6 kardus seperti yang biasa diberi Al Lajnah Ad Daimah. Sebagai motivasi, lihatlah nasehat ulama berikut tentang lezatnya menimba ilmu agama di samping kesibukan Anda sehari-hari menggeluti ilmu dunia dan aktivitas dunia. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ . “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).” ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ ، الْعِلْمُ يَحْرُسُك وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ ، وَالْعِلْمُ يَزْكُو بِالْإِنْفَاقِ “Ilmu (agama) itu lebih baik dari harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta mesti engkau menjaganya. Harta akan berkurang ketika dinafkahkan, namun ilmu malah bertambah ketika diinfakkan.” Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, مَجْلِسُ فِقْهٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً “Majelis ilmu lebih baik dari ibadah 60 tahun lamanya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ “Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan, طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ “Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.” Dalam perkataan lainnya, Imam Asy Syafi’i berkata, لَيْسَ بَعْدَ الْفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ “Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.” Imam Asy Syafi’i berkata pula, مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ “Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” Maksudnya adalah ilmu sangat dibutuhkan untuk memperoleh dunia dan akherat. Langkah-langkah untuk diterima di Jami’ah Malik Su’ud (King Saud University) cukup sederhana. Modal utama sebenarnya adalah tawakkal, banyak doa dan mengeluarkan effort yang kuat untuk bisa diterima. Masuk ke sini tanpa tes. Cukup dengan IP di atas 3.00 (untuk IP skala 4.00), lalu bermodal bahasa Inggris yang lumayan (TOEFL di atas 500) dan menguasai bahasa Arab untuk modal percakapan sehari-hari, maka itu sudah jadi modal besar Anda bisa masuk Jami’ah Malik Su’ud. Sebagai tambahan, alangkah bagusnya bisa mendapatkan tazkiyah (rekomendasi) dari dosen di jenjang S1 dahulu. Untuk submit application, silakan klik link berikut: https://dgs.ksu.edu.sa/DGS1/Login.aspx. Lalu setelah itu kirim copy-an persyaratan yang ada via email ke departemen yang dituju (through Chairman, Graduate Academic Chair, etc). Contohnya bagi yang tertarik masuk jurusan Teknik Kimia KSU, silakan membuka link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Engineering/faculty-research/our-faculty/department/chemical-engineering.htm Jurusan-jurusan lainnya, silakan lihat link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Pages/default.aspx. Persyaratan yang diajukan ke ketua jurusan atau dosen di jurusan yang dituju, ini wajib agar berkasnya bisa diurus lebih lanjut dari jurusan sampai ke tingkat universitas. Berikut persyaratan untuk jenjang Master: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee Untuk program PhD: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee 8. TOEFL (500 pt) 9. GRE, Analytical part, (700 pt) Benefit yang akan Anda rasakan jika memilih kuliah di KSU: Free tuition fee Monthly reward Individual housing allowance Three times daily-subsidised meals Health Insurance Annual ticket round trip Funded research and sophisticated equipments Free international subscribed journal Comprehensive library High speed free internet access Hajj and Umroh opportunity Coba jika Anda kuliah di Eropa, Amerika, atau di Jepang, pernahkah merasakan benefit di atas. Kuliah sudah gratis, dapat uang saku sekitar 2,5 juta rupiah (belum lagi jika Anda diterima sebagai researcher yang dapat gaji total sekitar 5 juta rupiah). Mudah berhaji dan umroh. Makanan pun mudah dicari yang halal, bahkan mahasiswa mendapat subsidi dari kampus ketika makan di kantin. Beda jika Anda menaruh pilihan kuliah di negeri non muslim, yang kuliah kadang harus cari utangan. Untuk makan dan shalat saja sulit. Di sini pun Anda akan mendapatkan tiket liburan gratis (round way) sekali setiap tahunnya. Sekali lagi, coba bandingkan dengan kuliah di Eropa. Kesulitan-kesulitan yang kami hadapi selama ini sebelum diterima di KSU atau ketika menjalani kuliah: 1. Birokrasi yang sering telat dan rumit. Oleh karena itu, ketika apply harus bersabar. Birokrasi makin bertambah ribet jika Anda tidak punya modal bahasa Arab sehingga sulit untuk komunikasi dengan pegawai yg rata-rata belum bisa berbahasa Inggris. Sudah kami tekankan di atas, agar tidak menyesal jika diterima di sini, kuasailah Bahasa Arab sebelum ber’azam ke tanah Arab. Tetapi tidak perlu khawatir, jika kita berkomunikasi dengan dosen atau dengan pegawai rumah sakit, atau di instansi-instansi tertentu, mereka sudah punya kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni. Yang jadi masalah adalah dengan pegawai administrasi, terutama pegawai Arab. 2. Pegawai Arab kurang bisa tepati janji, jadi kita harus terus menagih janji mereka. Seandainya ada yang ajukan apply, lalu dosen atau pegawainya katakan diterima 100%, maka jangan dulu mudah percaya. Jadi harus ditagih terus dan cross check ulang. 3. Penerimaan gaji untuk awal tahun pelajaran biasanya telat 1-2 bulan. Namun untuk 2 bulan berikut biasa sudah dirapel gaji untuk beberapa bulan sekaligus. Jadi harus punya modal uang selama beberapa bulan awal di sini, mungkin sekitar 2000 riyal (5 juta rupiah). Tetapi insya Allah, nantinya akan dapat ganti yang lebih baik. 4. Jika mengajukan apply ke dosen atau via website, kadang kurang mendapatkan respon. Oleh karena itu, ikuti saran kami: a. Kontak dahulu mahasiswa Indonesia yang kuliah di KSU sesuai jurusan yang Anda tuju. b. Mahasiswa tersebut yang akan hubungkan Anda dengan dosen yang berminat mencari mahasiswa. c. Setelah itu, akan lebih mudah untuk pengurusan apply selanjutnya karena akan diberitahukan cara apply oleh dosen atau mahasiswa tadi. Moga info ini bermanfaat dan silakan disebar pada rekan-rekan lainnya yang tertarik untuk melanjutkan S2 atau S3. Masih banyak jalan menuju tanah Arab untuk menimba ilmu agama, namun yang kami sampaikan di atas adalah salah satu dari seribu cara yang ada. Tiga modal untuk bisa melangkahkan kaki kuliah di KSU: (1) Tawakkal, menyandarkan hati pada Allah, (2) Banyak berdo’a, jangan pernah putus asa, (3) Butuh great effort, tidak bisa hanya separuh-paruh. Untuk melihat keadaan di kampus teknik KSU, silakan kunjungi link di sini. Semoga Allah memberi berbagai kemudahan bagi kita dalam berilmu, beramal dan berdakwah serta diberi keistiqomahan hingga akhir hayat.   KSU, Riyadh-KSA, 16th Rajab 1432 H (18/06/2011) www.rumaysho.com Tagsbahasa inggris kuliah


“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya”, inilah nasehat indah dari Imam Asy Syafi’i. Setiap pemuda yang telah merasakan nikmatnya menimba ilmu agama, sangat ingin belajar ke jenjang lebih tinggi dengan langsung duduk di majelis para ulama. Betapa rindunya mereka untuk menginjakkan kaki di tanah Arab karena di negeri inilah gudangnya ilmu diin. Sampai pun dia adalah seorang engineer, juga pasti menginginkannya. Untuk berbagai tips kuliah di tanah Arab (Saudi Arabia) khususnya di kota Riyadh, para pembaca bisa menempuh langkah sebagaimana yang kami jalani. Nyambi belajar engineer, saudara bisa merasakan pula duduk di majelis ilmu para ulama di sore harinya. Pagi harinya sibuk kuliah, sore harinya duduk di majelis kibar ulama. Ulama di kota Riyadh sudah ma’ruf amatlah banyak. Lihat saja, mulai dari ulama Al Lajnah Ad Daimah, seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan dan ulama yang ditunjuk dalam kumpulan ulama besar (Hay-ah Kibar Ulama) bermukim di kota Riyadh. Bahkan Anda bisa berangkat ke majelis ulama (seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan) dengan tanpa biaya, langsung dijemput oleh bus dari Sakan (asrama mahasiswa). Setiap shubuh, Anda bisa menyetorkan hafalan Al Qur’an layaknya orang yang belajar di pondok pesantren. Walaupun seorang Engineer, moga bisa juga menjadi Hafizh Al Qur’an dengan izin Allah, serta bisa memiliki ilmu agama yang mumpuni sebagai modal dakwah. Di kota Riyadh pun, Anda bisa memperoleh buku-buku agama gratis dari berbagai yayasan, bahkan sampai diberi 6 kardus seperti yang biasa diberi Al Lajnah Ad Daimah. Sebagai motivasi, lihatlah nasehat ulama berikut tentang lezatnya menimba ilmu agama di samping kesibukan Anda sehari-hari menggeluti ilmu dunia dan aktivitas dunia. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ . “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).” ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ ، الْعِلْمُ يَحْرُسُك وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ ، وَالْعِلْمُ يَزْكُو بِالْإِنْفَاقِ “Ilmu (agama) itu lebih baik dari harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta mesti engkau menjaganya. Harta akan berkurang ketika dinafkahkan, namun ilmu malah bertambah ketika diinfakkan.” Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, مَجْلِسُ فِقْهٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً “Majelis ilmu lebih baik dari ibadah 60 tahun lamanya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ “Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan, طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ “Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.” Dalam perkataan lainnya, Imam Asy Syafi’i berkata, لَيْسَ بَعْدَ الْفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ “Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.” Imam Asy Syafi’i berkata pula, مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ “Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” Maksudnya adalah ilmu sangat dibutuhkan untuk memperoleh dunia dan akherat. Langkah-langkah untuk diterima di Jami’ah Malik Su’ud (King Saud University) cukup sederhana. Modal utama sebenarnya adalah tawakkal, banyak doa dan mengeluarkan effort yang kuat untuk bisa diterima. Masuk ke sini tanpa tes. Cukup dengan IP di atas 3.00 (untuk IP skala 4.00), lalu bermodal bahasa Inggris yang lumayan (TOEFL di atas 500) dan menguasai bahasa Arab untuk modal percakapan sehari-hari, maka itu sudah jadi modal besar Anda bisa masuk Jami’ah Malik Su’ud. Sebagai tambahan, alangkah bagusnya bisa mendapatkan tazkiyah (rekomendasi) dari dosen di jenjang S1 dahulu. Untuk submit application, silakan klik link berikut: https://dgs.ksu.edu.sa/DGS1/Login.aspx. Lalu setelah itu kirim copy-an persyaratan yang ada via email ke departemen yang dituju (through Chairman, Graduate Academic Chair, etc). Contohnya bagi yang tertarik masuk jurusan Teknik Kimia KSU, silakan membuka link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Engineering/faculty-research/our-faculty/department/chemical-engineering.htm Jurusan-jurusan lainnya, silakan lihat link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Pages/default.aspx. Persyaratan yang diajukan ke ketua jurusan atau dosen di jurusan yang dituju, ini wajib agar berkasnya bisa diurus lebih lanjut dari jurusan sampai ke tingkat universitas. Berikut persyaratan untuk jenjang Master: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee Untuk program PhD: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee 8. TOEFL (500 pt) 9. GRE, Analytical part, (700 pt) Benefit yang akan Anda rasakan jika memilih kuliah di KSU: Free tuition fee Monthly reward Individual housing allowance Three times daily-subsidised meals Health Insurance Annual ticket round trip Funded research and sophisticated equipments Free international subscribed journal Comprehensive library High speed free internet access Hajj and Umroh opportunity Coba jika Anda kuliah di Eropa, Amerika, atau di Jepang, pernahkah merasakan benefit di atas. Kuliah sudah gratis, dapat uang saku sekitar 2,5 juta rupiah (belum lagi jika Anda diterima sebagai researcher yang dapat gaji total sekitar 5 juta rupiah). Mudah berhaji dan umroh. Makanan pun mudah dicari yang halal, bahkan mahasiswa mendapat subsidi dari kampus ketika makan di kantin. Beda jika Anda menaruh pilihan kuliah di negeri non muslim, yang kuliah kadang harus cari utangan. Untuk makan dan shalat saja sulit. Di sini pun Anda akan mendapatkan tiket liburan gratis (round way) sekali setiap tahunnya. Sekali lagi, coba bandingkan dengan kuliah di Eropa. Kesulitan-kesulitan yang kami hadapi selama ini sebelum diterima di KSU atau ketika menjalani kuliah: 1. Birokrasi yang sering telat dan rumit. Oleh karena itu, ketika apply harus bersabar. Birokrasi makin bertambah ribet jika Anda tidak punya modal bahasa Arab sehingga sulit untuk komunikasi dengan pegawai yg rata-rata belum bisa berbahasa Inggris. Sudah kami tekankan di atas, agar tidak menyesal jika diterima di sini, kuasailah Bahasa Arab sebelum ber’azam ke tanah Arab. Tetapi tidak perlu khawatir, jika kita berkomunikasi dengan dosen atau dengan pegawai rumah sakit, atau di instansi-instansi tertentu, mereka sudah punya kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni. Yang jadi masalah adalah dengan pegawai administrasi, terutama pegawai Arab. 2. Pegawai Arab kurang bisa tepati janji, jadi kita harus terus menagih janji mereka. Seandainya ada yang ajukan apply, lalu dosen atau pegawainya katakan diterima 100%, maka jangan dulu mudah percaya. Jadi harus ditagih terus dan cross check ulang. 3. Penerimaan gaji untuk awal tahun pelajaran biasanya telat 1-2 bulan. Namun untuk 2 bulan berikut biasa sudah dirapel gaji untuk beberapa bulan sekaligus. Jadi harus punya modal uang selama beberapa bulan awal di sini, mungkin sekitar 2000 riyal (5 juta rupiah). Tetapi insya Allah, nantinya akan dapat ganti yang lebih baik. 4. Jika mengajukan apply ke dosen atau via website, kadang kurang mendapatkan respon. Oleh karena itu, ikuti saran kami: a. Kontak dahulu mahasiswa Indonesia yang kuliah di KSU sesuai jurusan yang Anda tuju. b. Mahasiswa tersebut yang akan hubungkan Anda dengan dosen yang berminat mencari mahasiswa. c. Setelah itu, akan lebih mudah untuk pengurusan apply selanjutnya karena akan diberitahukan cara apply oleh dosen atau mahasiswa tadi. Moga info ini bermanfaat dan silakan disebar pada rekan-rekan lainnya yang tertarik untuk melanjutkan S2 atau S3. Masih banyak jalan menuju tanah Arab untuk menimba ilmu agama, namun yang kami sampaikan di atas adalah salah satu dari seribu cara yang ada. Tiga modal untuk bisa melangkahkan kaki kuliah di KSU: (1) Tawakkal, menyandarkan hati pada Allah, (2) Banyak berdo’a, jangan pernah putus asa, (3) Butuh great effort, tidak bisa hanya separuh-paruh. Untuk melihat keadaan di kampus teknik KSU, silakan kunjungi link di sini. Semoga Allah memberi berbagai kemudahan bagi kita dalam berilmu, beramal dan berdakwah serta diberi keistiqomahan hingga akhir hayat.   KSU, Riyadh-KSA, 16th Rajab 1432 H (18/06/2011) www.rumaysho.com Tagsbahasa inggris kuliah

Waktu Amat Berharga Dibanding Menonton Bola

Sungguh sayang waktu yang amat berharga harus disia-siakan untuk menonton bola. Seharusnya seorang muslim bersemangat untuk memanfaatkan waktunya dalam kebaikan. Hendaklah ia menyibukkan waktunya untuk banyak mengingat Allah, terus melakukan ketaatan kepada-Nya, dan mencari ilmu agama yang bermanfaat untuknya. Ingatlah nasehat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang, اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ  ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok, 4/341, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Ingatlah pula bahwa setiap orang akan ditanya mengenai kebaikan dan kejelekan yang ia lakukan dan semuanya akan diperhitungkan (dihisab). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Syaikhuna –Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan-, ulama senior dan anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia ditanya, “Apa hukum menonton pertandingan sepakbola dan selainnya?” Jawaban Syaikh hafizhohullah, Ketahuilah bahwa waktu manusia amatlah berharga. Janganlah sampai waktu tersebut disia-siakan hanya dengan menonton pertandingan bola. Karena aktivitas semacam itu sungguh melalaikan dari mengingat Allah. Awalnya hanya menonton, namun kadang sampai menyeret seseorang untuk melakukannya keesokan harinya sehingga waktunya terbuang sia-sia. Menonton semacam itu sungguh membuat kita lalai dari amalan yang lebih bermanfaat. Jadinya kita seringnya melakukan hal yang tidak berfaedah. [As-ilah Al Manahij Al Jadiidah, Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, hal. 132] Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Fawaid berkata, اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا “Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.” Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan setiap nafas dan waktu kita dalam hal yang bermanfaat dalam urusan dunia dan akhirat kita. Moga Allah menjauhkan kita dari sifat sering menyia-nyiakan waktu dan umur kita. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (17/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Taruhan Bola, Apakah Judi? Tagsmanajemen waktu

Waktu Amat Berharga Dibanding Menonton Bola

Sungguh sayang waktu yang amat berharga harus disia-siakan untuk menonton bola. Seharusnya seorang muslim bersemangat untuk memanfaatkan waktunya dalam kebaikan. Hendaklah ia menyibukkan waktunya untuk banyak mengingat Allah, terus melakukan ketaatan kepada-Nya, dan mencari ilmu agama yang bermanfaat untuknya. Ingatlah nasehat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang, اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ  ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok, 4/341, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Ingatlah pula bahwa setiap orang akan ditanya mengenai kebaikan dan kejelekan yang ia lakukan dan semuanya akan diperhitungkan (dihisab). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Syaikhuna –Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan-, ulama senior dan anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia ditanya, “Apa hukum menonton pertandingan sepakbola dan selainnya?” Jawaban Syaikh hafizhohullah, Ketahuilah bahwa waktu manusia amatlah berharga. Janganlah sampai waktu tersebut disia-siakan hanya dengan menonton pertandingan bola. Karena aktivitas semacam itu sungguh melalaikan dari mengingat Allah. Awalnya hanya menonton, namun kadang sampai menyeret seseorang untuk melakukannya keesokan harinya sehingga waktunya terbuang sia-sia. Menonton semacam itu sungguh membuat kita lalai dari amalan yang lebih bermanfaat. Jadinya kita seringnya melakukan hal yang tidak berfaedah. [As-ilah Al Manahij Al Jadiidah, Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, hal. 132] Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Fawaid berkata, اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا “Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.” Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan setiap nafas dan waktu kita dalam hal yang bermanfaat dalam urusan dunia dan akhirat kita. Moga Allah menjauhkan kita dari sifat sering menyia-nyiakan waktu dan umur kita. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (17/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Taruhan Bola, Apakah Judi? Tagsmanajemen waktu
Sungguh sayang waktu yang amat berharga harus disia-siakan untuk menonton bola. Seharusnya seorang muslim bersemangat untuk memanfaatkan waktunya dalam kebaikan. Hendaklah ia menyibukkan waktunya untuk banyak mengingat Allah, terus melakukan ketaatan kepada-Nya, dan mencari ilmu agama yang bermanfaat untuknya. Ingatlah nasehat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang, اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ  ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok, 4/341, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Ingatlah pula bahwa setiap orang akan ditanya mengenai kebaikan dan kejelekan yang ia lakukan dan semuanya akan diperhitungkan (dihisab). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Syaikhuna –Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan-, ulama senior dan anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia ditanya, “Apa hukum menonton pertandingan sepakbola dan selainnya?” Jawaban Syaikh hafizhohullah, Ketahuilah bahwa waktu manusia amatlah berharga. Janganlah sampai waktu tersebut disia-siakan hanya dengan menonton pertandingan bola. Karena aktivitas semacam itu sungguh melalaikan dari mengingat Allah. Awalnya hanya menonton, namun kadang sampai menyeret seseorang untuk melakukannya keesokan harinya sehingga waktunya terbuang sia-sia. Menonton semacam itu sungguh membuat kita lalai dari amalan yang lebih bermanfaat. Jadinya kita seringnya melakukan hal yang tidak berfaedah. [As-ilah Al Manahij Al Jadiidah, Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, hal. 132] Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Fawaid berkata, اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا “Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.” Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan setiap nafas dan waktu kita dalam hal yang bermanfaat dalam urusan dunia dan akhirat kita. Moga Allah menjauhkan kita dari sifat sering menyia-nyiakan waktu dan umur kita. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (17/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Taruhan Bola, Apakah Judi? Tagsmanajemen waktu


Sungguh sayang waktu yang amat berharga harus disia-siakan untuk menonton bola. Seharusnya seorang muslim bersemangat untuk memanfaatkan waktunya dalam kebaikan. Hendaklah ia menyibukkan waktunya untuk banyak mengingat Allah, terus melakukan ketaatan kepada-Nya, dan mencari ilmu agama yang bermanfaat untuknya. Ingatlah nasehat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang, اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ  ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok, 4/341, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Ingatlah pula bahwa setiap orang akan ditanya mengenai kebaikan dan kejelekan yang ia lakukan dan semuanya akan diperhitungkan (dihisab). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Syaikhuna –Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan-, ulama senior dan anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia ditanya, “Apa hukum menonton pertandingan sepakbola dan selainnya?” Jawaban Syaikh hafizhohullah, Ketahuilah bahwa waktu manusia amatlah berharga. Janganlah sampai waktu tersebut disia-siakan hanya dengan menonton pertandingan bola. Karena aktivitas semacam itu sungguh melalaikan dari mengingat Allah. Awalnya hanya menonton, namun kadang sampai menyeret seseorang untuk melakukannya keesokan harinya sehingga waktunya terbuang sia-sia. Menonton semacam itu sungguh membuat kita lalai dari amalan yang lebih bermanfaat. Jadinya kita seringnya melakukan hal yang tidak berfaedah. [As-ilah Al Manahij Al Jadiidah, Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, hal. 132] Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Fawaid berkata, اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا “Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.” Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan setiap nafas dan waktu kita dalam hal yang bermanfaat dalam urusan dunia dan akhirat kita. Moga Allah menjauhkan kita dari sifat sering menyia-nyiakan waktu dan umur kita. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (17/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Taruhan Bola, Apakah Judi? Tagsmanajemen waktu

Tafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 2)

17JunTafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 2)June 17, 2011Pilihan Redaksi, Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Alquran “رَبِّ الْعَالَمِينَ” · Makna Rabbul ‘alamin Rabb adalah dzat yang terkumpul pada dirinya tiga sifat sekaligus; pencipta (al-khâliq), pemilik/penguasa (al-mâlik) dan pengatur (al-mudabbir) [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/142-143) dan Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 14)]. Tidak setiap pencipta sesuatu pasti akan memilikinya. Contohnya: para tukang batu dan tukang kayu yang membangun rumah di suatu real estate, mereka yang menciptakan dan membangun rumah tersebut, namun demikian mereka bukanlah pemiliknya. Juga tidak setiap pemilik sesuatu ialah yang menciptakannya. Seperti kita yang memiliki sepeda motor, jelas bukan kita yang membuat dan menciptakannya, kita hanya terima jadi dari dealer motor. Begitu pula tidak setiap pengatur sesuatu, dialah yang memilikinya. Seperti tukang parkir yang mengatur berbagai jenis motor dan mobil, dari yang paling mewah sampai yang paling butut, kendaraan-kendaraan tersebut bukanlah miliknya. Namun Allah ‘azza wa jalla tidak demikian. Dialah yang terkumpul dalam diri-Nya secara mutlak tiga sifat sekaligus; pencipta, penguasa/ pemilik dan pengatur. Kalimat “secara mutlak” perlu digarisbawahi; karena terkadang ada yang mengklaim memiliki tiga sifat tersebut dalam dirinya, namun tatkala kita cermati ternyata hal itu hanya bersifat parsial. Seperti orang yang menciptakan komputer, dia pula yang memiliki dan mengaturnya. Namun, ketiga sifat tersebut hanya berlaku pada komputer saja. Adapun barang-barang lainnya, maka bisa dipastikan, orang itu hanya memiliki salah satu sifat dari tiga sifat tersebut di atas. Adapun Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang menggabungkan tiga sifat itu secara mutlak! Mengapa? Karena Dialah Rabbul ‘âlamîn, yakni: Yang Menciptakan, Menguasai dan Mengatur seluruh alam semesta. Kata al-‘âlamûn maknanya adalah: segala sesuatu selain Allah ta’ala, berupa langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya serta yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/144-145) dan Tafsîr al-Qurthuby (I/213-214)]. Andaikan makna al-‘âlamûn adalah apa yang tersebut di atas, kita bisa membayangkan betapa banyak ciptaan Allah, betapa besar kekuasaan-Nya dan betapa luas wilayah yang diatur-Nya. Berikut sedikit kupasan tentang tiga sifat di atas: · Allah sebagai Pencipta alam semesta. Secara fitrah, seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir, sepakat bahwa Allah-lah Sang Pencipta. Dalam Alquran diceritakan, “وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ” Artinya: “Sungguh jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka (orang kafir), ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (Q.S. Luqman: 25 dan az-Zumar: 38). Namun demikian, ada orang yang fitrahnya sudah rusak atau bahkan mati, sehingga mengingkari hal tersebut. Salah satu contohnya apa yang dikisahkan Imam Abu al-Qasim at-Taimy dalam kitabnya: Al-Hujjah fî Bayân al-Mahajjah, tentang seorang ateis yang mengklaim bisa menciptakan makhluk hidup tanpa ‘campur tangan’ Allah ta’ala. Ia memasukkan sekerat daging dalam sebuah toples, lalu ia tutup rapat. Beberapa hari kemudian, muncullah belatung-belatung di daging tersebut, katanya, “Akulah pencipta makhluk-makhluk kecil ini!”. Seorang ulama ingin memberi pelajaran kepada ateis tersebut. Ia berkata, “Sang pencipta sesuatu, pasti ia akan mengetahui betul seluk-beluk ciptaannya. Sebagaimana diiisyaratkan Allah ta’ala, “أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ” Artinya: ‘Apakah pantas yang menciptakan tidak mengetahui?’ (Q.S. Al-Mulk: 14). Jika engkau mengklaim dirimu sebagai pencipta belatung-belatung tersebut, tolong beritahu aku: berapa jumlah mereka, mana yang jantan dan mana yang betina, mana yang bapak, serta mana yang anak?!” Si ateis tadi pun terperanjat, lalu tertunduk diam seribu kata. Andaikan memang betul, bahwa orang tersebut memang bisa menciptakan belatung, itupun tidak lantas menjadikan ia berhak untuk bersikap congkak. Hanya dengan menciptakan hewan kecil yang menjijikkan, ia berlaku sombong?! Alangkah naifnya! Adapun Allah jalla wa ‘ala Dialah yang menciptakan seluruh makhluk tanpa terkecuali! Seorang ulama abad keempat; Imam Abu asy-Syaikh al-Ashbahâni (w. 369 H) menulis sebuah buku bagus berjudul Kitâb al-‘Azhamah. Dalam kitab setebal lima jilid ini, beliau berusaha mengupas keagungan Allah dan sebagian ciptaan-Nya. Beliau mengajak kita untuk bertafakur dan merenungi keagungan ‘Arsy Allah, para malaikat, langit, matahari, bulan, bintang, awan, hujan, halilintar, kilat, angin, bumi, laut, gunung, pepohonan, binatang dan lain sebagainya. Sekadar contoh: kehebatan penciptaan langit dan tetumbuhan. Allah menceritakan bagaimana langit dibangun tanpa memakai tiang satupun! “اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا” Artinya: “Allah yang mengangkat langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat.” (Q.S. Ar-Ra’du: 2). Allah juga mengajak kita berpikir bagaimana tetumbuhan yang berbagai macam bentuknya dan amat beragam buah, warna dan rasanya, ternyata semua disiram dengan satu jenis air! “وَفِي الأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاء وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ” Artinya: “Di bumi terdapat tempat-tempat yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama. Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasa. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.”. (Q.S. Ar-Ra’du: 4). Di akhir ayat di atas, Allah menjelaskan buah dari tafakur akan ciptaan-Nya; yakni agar kita menyadari akan kebesaran Allah jalla wa ‘ala. · Allah sebagai pemilik dan penguasa alam semesta. Kepemilikan dan kekuasaan Allah atas alam semesta ini bersifat mutlak dan sempurna. Dialah yang memerintah dan melarang, memberi balasan kebajikan dan menghukum, memberi dan menahan pemberian, memuliakan dan menghinakan, mengangkat dan menjatuhkan, menghidupkan dan mematikan, serta murka dan ridha. Dia pula yang mengampuni dosa, menolong orang yang tertimpa musibah, membantu orang yang terzalimi, membalas orang yang menzalimi, mengayakan orang miskin dan memiskinkan orang kaya, memberi orang yang meminta, serta perbuatan-perbuatan lain yang menunjukkan kekuasaan hakiki dan kepemilikan mutlak Allah jalla wa ‘ala [Lihat: Juhûd al-Imâm Ibn Qayyim al-Jauziyyah fî Taqrîr Tauhîd al-Asmâ’ wa ash-Shifât karya Dr. Walîd bin Muhammad al-‘Aliy (II/1295-1296)]. Tentunya, ini berbeda dengan kekuasaan manusia yang seringkali hanya bersifat semu atau formalitas belaka. Seperti seorang yang dipasang sebagai penguasa suatu daerah, namun pada kenyataannya, ternyata bukan dia yang menguasai daerah tersebut, dia hanyalah boneka. Sedangkan yang berkuasa di pasar adalah preman pasar, yang berkuasa di suatu komunitas tertentu adalah tokoh agama yang dikarismatikkan, yang berkuasa di salah satu bagian daerahnya adalah konglomerat, begitu seterusnya. Allah sebagai pengatur alam semesta. Dikisahkan bahwa suatu hari, Imam Abu Hanifah diajak berdebat oleh para ahli kalam yang kebetulan mereka mengingkari adanya pencipta dan pengatur alam semesta. Sebelum berdebat, Imam Abu Hanifah berkata, “Sebelum membahas permasalahan ini, saya ingin bertanya, ‘Percayakah kalian bahwa di sungai Dijlah (sungai di kota Baghdad), ada sebuah perahu yang memuat sendiri ke atasnya berbagai jenis bahan pangan dan yang lainnya, berlayar sendiri dari satu tepi ke tepi lainnya, serta menurunkan barang-barang yang ada di atasnya juga dengan sendirinya. Tanpa ada seorangpun yang menaikinya?’” Serta merta mereka menjawab, “Mustahil! Itu tidak mungkin terjadi!” “Andaikan itu mustahil terjadi atas sebuah perahu. Mungkinkah itu terjadi atas seluruh alam semesta ini, langit dan buminya??!” [Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahawiyyah karya Imam Ibn Abi al-‘Izz (I/135)]. Allah ta’ala berfirman, “خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى” Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan tujuan) benar, Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam, serta mengatur matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” (Q.S. Az-Zumar: 5). Belum lagi adanya pergantian musim sepanjang tahun. Bahkan, adanya pengaturan sistem dalam tubuh kita sendiri! Semisal pemasukan bahan makanan, pencernaan, pengolahan, penyerapan sari yang dibutuhkan tubuh, lalu pembuangan sisanya. Juga adanya pemfilteran racun-racun dalam darah secara rutin oleh ginjal. Ditambah pertahanan darah putih dari virus-virus yang masuk ke dalam tubuh. Dan masih banyak fenomena pengaturan lainnya dalam tubuh kita. “وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ” Artinya: “Dan (juga) dalam dirimu sendiri. Maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzariyat: 21). · Pelajaran berharga dari merenungi makna Rabbul ‘alamin Dengan menghayati nama Allah ini, yakni Rabbul ‘âlamîn kita akan memetik banyak pelajaran berharga sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan dunia yang fana ini. Di antara buah keimanan kita akan nama Allah ini: Dalam segala permasalahan, kesulitan, musibah dan yang semisal, kita hanya akan kembali kepada Allah jalla wa ‘ala; sebab di tangan-Nyalah segala sesuatu. Dialah Penguasa semua jagad raya ini dan Pemiliknya. Bukan kembali kepada para makhluk-Nya, apalagi kepada para dukun dan paranormal! Kita akan terjauh dari sifat sombong. Terkadang tatkala berhasil menciptakan sesuatu yang tidak bisa diciptakan orang lain, entah itu suatu penemuan ilmiah elektronik, peternakan, pertanian, atau apa saja, timbul dalam hati kita perasaan sombong; sebab merasa bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Andaikan bertafakur akan keagungan ciptaan Allah, kita akan sadar betapa kecilnya kita, sebab yang menciptakan penemu karya ilmiah tersebut, yakni kita sendiri, ternyata adalah Allah! Bukan hanya itu, Allah pulalah yang menciptakan penemu teori Relativitas; salah satu ilmuwan terbesar yang pernah dimiliki bumi; Albert Einstein. Allah juga yang menciptakan penemu komputer; John von Neumann. Dan Allah pula yang menciptakan segalanya, termasuk di dalamnya para pencipta dan penemu hal-hal yang menakjubkan di muka bumi. Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.Tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Tafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 2)

17JunTafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 2)June 17, 2011Pilihan Redaksi, Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Alquran “رَبِّ الْعَالَمِينَ” · Makna Rabbul ‘alamin Rabb adalah dzat yang terkumpul pada dirinya tiga sifat sekaligus; pencipta (al-khâliq), pemilik/penguasa (al-mâlik) dan pengatur (al-mudabbir) [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/142-143) dan Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 14)]. Tidak setiap pencipta sesuatu pasti akan memilikinya. Contohnya: para tukang batu dan tukang kayu yang membangun rumah di suatu real estate, mereka yang menciptakan dan membangun rumah tersebut, namun demikian mereka bukanlah pemiliknya. Juga tidak setiap pemilik sesuatu ialah yang menciptakannya. Seperti kita yang memiliki sepeda motor, jelas bukan kita yang membuat dan menciptakannya, kita hanya terima jadi dari dealer motor. Begitu pula tidak setiap pengatur sesuatu, dialah yang memilikinya. Seperti tukang parkir yang mengatur berbagai jenis motor dan mobil, dari yang paling mewah sampai yang paling butut, kendaraan-kendaraan tersebut bukanlah miliknya. Namun Allah ‘azza wa jalla tidak demikian. Dialah yang terkumpul dalam diri-Nya secara mutlak tiga sifat sekaligus; pencipta, penguasa/ pemilik dan pengatur. Kalimat “secara mutlak” perlu digarisbawahi; karena terkadang ada yang mengklaim memiliki tiga sifat tersebut dalam dirinya, namun tatkala kita cermati ternyata hal itu hanya bersifat parsial. Seperti orang yang menciptakan komputer, dia pula yang memiliki dan mengaturnya. Namun, ketiga sifat tersebut hanya berlaku pada komputer saja. Adapun barang-barang lainnya, maka bisa dipastikan, orang itu hanya memiliki salah satu sifat dari tiga sifat tersebut di atas. Adapun Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang menggabungkan tiga sifat itu secara mutlak! Mengapa? Karena Dialah Rabbul ‘âlamîn, yakni: Yang Menciptakan, Menguasai dan Mengatur seluruh alam semesta. Kata al-‘âlamûn maknanya adalah: segala sesuatu selain Allah ta’ala, berupa langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya serta yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/144-145) dan Tafsîr al-Qurthuby (I/213-214)]. Andaikan makna al-‘âlamûn adalah apa yang tersebut di atas, kita bisa membayangkan betapa banyak ciptaan Allah, betapa besar kekuasaan-Nya dan betapa luas wilayah yang diatur-Nya. Berikut sedikit kupasan tentang tiga sifat di atas: · Allah sebagai Pencipta alam semesta. Secara fitrah, seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir, sepakat bahwa Allah-lah Sang Pencipta. Dalam Alquran diceritakan, “وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ” Artinya: “Sungguh jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka (orang kafir), ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (Q.S. Luqman: 25 dan az-Zumar: 38). Namun demikian, ada orang yang fitrahnya sudah rusak atau bahkan mati, sehingga mengingkari hal tersebut. Salah satu contohnya apa yang dikisahkan Imam Abu al-Qasim at-Taimy dalam kitabnya: Al-Hujjah fî Bayân al-Mahajjah, tentang seorang ateis yang mengklaim bisa menciptakan makhluk hidup tanpa ‘campur tangan’ Allah ta’ala. Ia memasukkan sekerat daging dalam sebuah toples, lalu ia tutup rapat. Beberapa hari kemudian, muncullah belatung-belatung di daging tersebut, katanya, “Akulah pencipta makhluk-makhluk kecil ini!”. Seorang ulama ingin memberi pelajaran kepada ateis tersebut. Ia berkata, “Sang pencipta sesuatu, pasti ia akan mengetahui betul seluk-beluk ciptaannya. Sebagaimana diiisyaratkan Allah ta’ala, “أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ” Artinya: ‘Apakah pantas yang menciptakan tidak mengetahui?’ (Q.S. Al-Mulk: 14). Jika engkau mengklaim dirimu sebagai pencipta belatung-belatung tersebut, tolong beritahu aku: berapa jumlah mereka, mana yang jantan dan mana yang betina, mana yang bapak, serta mana yang anak?!” Si ateis tadi pun terperanjat, lalu tertunduk diam seribu kata. Andaikan memang betul, bahwa orang tersebut memang bisa menciptakan belatung, itupun tidak lantas menjadikan ia berhak untuk bersikap congkak. Hanya dengan menciptakan hewan kecil yang menjijikkan, ia berlaku sombong?! Alangkah naifnya! Adapun Allah jalla wa ‘ala Dialah yang menciptakan seluruh makhluk tanpa terkecuali! Seorang ulama abad keempat; Imam Abu asy-Syaikh al-Ashbahâni (w. 369 H) menulis sebuah buku bagus berjudul Kitâb al-‘Azhamah. Dalam kitab setebal lima jilid ini, beliau berusaha mengupas keagungan Allah dan sebagian ciptaan-Nya. Beliau mengajak kita untuk bertafakur dan merenungi keagungan ‘Arsy Allah, para malaikat, langit, matahari, bulan, bintang, awan, hujan, halilintar, kilat, angin, bumi, laut, gunung, pepohonan, binatang dan lain sebagainya. Sekadar contoh: kehebatan penciptaan langit dan tetumbuhan. Allah menceritakan bagaimana langit dibangun tanpa memakai tiang satupun! “اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا” Artinya: “Allah yang mengangkat langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat.” (Q.S. Ar-Ra’du: 2). Allah juga mengajak kita berpikir bagaimana tetumbuhan yang berbagai macam bentuknya dan amat beragam buah, warna dan rasanya, ternyata semua disiram dengan satu jenis air! “وَفِي الأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاء وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ” Artinya: “Di bumi terdapat tempat-tempat yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama. Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasa. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.”. (Q.S. Ar-Ra’du: 4). Di akhir ayat di atas, Allah menjelaskan buah dari tafakur akan ciptaan-Nya; yakni agar kita menyadari akan kebesaran Allah jalla wa ‘ala. · Allah sebagai pemilik dan penguasa alam semesta. Kepemilikan dan kekuasaan Allah atas alam semesta ini bersifat mutlak dan sempurna. Dialah yang memerintah dan melarang, memberi balasan kebajikan dan menghukum, memberi dan menahan pemberian, memuliakan dan menghinakan, mengangkat dan menjatuhkan, menghidupkan dan mematikan, serta murka dan ridha. Dia pula yang mengampuni dosa, menolong orang yang tertimpa musibah, membantu orang yang terzalimi, membalas orang yang menzalimi, mengayakan orang miskin dan memiskinkan orang kaya, memberi orang yang meminta, serta perbuatan-perbuatan lain yang menunjukkan kekuasaan hakiki dan kepemilikan mutlak Allah jalla wa ‘ala [Lihat: Juhûd al-Imâm Ibn Qayyim al-Jauziyyah fî Taqrîr Tauhîd al-Asmâ’ wa ash-Shifât karya Dr. Walîd bin Muhammad al-‘Aliy (II/1295-1296)]. Tentunya, ini berbeda dengan kekuasaan manusia yang seringkali hanya bersifat semu atau formalitas belaka. Seperti seorang yang dipasang sebagai penguasa suatu daerah, namun pada kenyataannya, ternyata bukan dia yang menguasai daerah tersebut, dia hanyalah boneka. Sedangkan yang berkuasa di pasar adalah preman pasar, yang berkuasa di suatu komunitas tertentu adalah tokoh agama yang dikarismatikkan, yang berkuasa di salah satu bagian daerahnya adalah konglomerat, begitu seterusnya. Allah sebagai pengatur alam semesta. Dikisahkan bahwa suatu hari, Imam Abu Hanifah diajak berdebat oleh para ahli kalam yang kebetulan mereka mengingkari adanya pencipta dan pengatur alam semesta. Sebelum berdebat, Imam Abu Hanifah berkata, “Sebelum membahas permasalahan ini, saya ingin bertanya, ‘Percayakah kalian bahwa di sungai Dijlah (sungai di kota Baghdad), ada sebuah perahu yang memuat sendiri ke atasnya berbagai jenis bahan pangan dan yang lainnya, berlayar sendiri dari satu tepi ke tepi lainnya, serta menurunkan barang-barang yang ada di atasnya juga dengan sendirinya. Tanpa ada seorangpun yang menaikinya?’” Serta merta mereka menjawab, “Mustahil! Itu tidak mungkin terjadi!” “Andaikan itu mustahil terjadi atas sebuah perahu. Mungkinkah itu terjadi atas seluruh alam semesta ini, langit dan buminya??!” [Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahawiyyah karya Imam Ibn Abi al-‘Izz (I/135)]. Allah ta’ala berfirman, “خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى” Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan tujuan) benar, Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam, serta mengatur matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” (Q.S. Az-Zumar: 5). Belum lagi adanya pergantian musim sepanjang tahun. Bahkan, adanya pengaturan sistem dalam tubuh kita sendiri! Semisal pemasukan bahan makanan, pencernaan, pengolahan, penyerapan sari yang dibutuhkan tubuh, lalu pembuangan sisanya. Juga adanya pemfilteran racun-racun dalam darah secara rutin oleh ginjal. Ditambah pertahanan darah putih dari virus-virus yang masuk ke dalam tubuh. Dan masih banyak fenomena pengaturan lainnya dalam tubuh kita. “وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ” Artinya: “Dan (juga) dalam dirimu sendiri. Maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzariyat: 21). · Pelajaran berharga dari merenungi makna Rabbul ‘alamin Dengan menghayati nama Allah ini, yakni Rabbul ‘âlamîn kita akan memetik banyak pelajaran berharga sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan dunia yang fana ini. Di antara buah keimanan kita akan nama Allah ini: Dalam segala permasalahan, kesulitan, musibah dan yang semisal, kita hanya akan kembali kepada Allah jalla wa ‘ala; sebab di tangan-Nyalah segala sesuatu. Dialah Penguasa semua jagad raya ini dan Pemiliknya. Bukan kembali kepada para makhluk-Nya, apalagi kepada para dukun dan paranormal! Kita akan terjauh dari sifat sombong. Terkadang tatkala berhasil menciptakan sesuatu yang tidak bisa diciptakan orang lain, entah itu suatu penemuan ilmiah elektronik, peternakan, pertanian, atau apa saja, timbul dalam hati kita perasaan sombong; sebab merasa bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Andaikan bertafakur akan keagungan ciptaan Allah, kita akan sadar betapa kecilnya kita, sebab yang menciptakan penemu karya ilmiah tersebut, yakni kita sendiri, ternyata adalah Allah! Bukan hanya itu, Allah pulalah yang menciptakan penemu teori Relativitas; salah satu ilmuwan terbesar yang pernah dimiliki bumi; Albert Einstein. Allah juga yang menciptakan penemu komputer; John von Neumann. Dan Allah pula yang menciptakan segalanya, termasuk di dalamnya para pencipta dan penemu hal-hal yang menakjubkan di muka bumi. Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.Tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
17JunTafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 2)June 17, 2011Pilihan Redaksi, Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Alquran “رَبِّ الْعَالَمِينَ” · Makna Rabbul ‘alamin Rabb adalah dzat yang terkumpul pada dirinya tiga sifat sekaligus; pencipta (al-khâliq), pemilik/penguasa (al-mâlik) dan pengatur (al-mudabbir) [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/142-143) dan Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 14)]. Tidak setiap pencipta sesuatu pasti akan memilikinya. Contohnya: para tukang batu dan tukang kayu yang membangun rumah di suatu real estate, mereka yang menciptakan dan membangun rumah tersebut, namun demikian mereka bukanlah pemiliknya. Juga tidak setiap pemilik sesuatu ialah yang menciptakannya. Seperti kita yang memiliki sepeda motor, jelas bukan kita yang membuat dan menciptakannya, kita hanya terima jadi dari dealer motor. Begitu pula tidak setiap pengatur sesuatu, dialah yang memilikinya. Seperti tukang parkir yang mengatur berbagai jenis motor dan mobil, dari yang paling mewah sampai yang paling butut, kendaraan-kendaraan tersebut bukanlah miliknya. Namun Allah ‘azza wa jalla tidak demikian. Dialah yang terkumpul dalam diri-Nya secara mutlak tiga sifat sekaligus; pencipta, penguasa/ pemilik dan pengatur. Kalimat “secara mutlak” perlu digarisbawahi; karena terkadang ada yang mengklaim memiliki tiga sifat tersebut dalam dirinya, namun tatkala kita cermati ternyata hal itu hanya bersifat parsial. Seperti orang yang menciptakan komputer, dia pula yang memiliki dan mengaturnya. Namun, ketiga sifat tersebut hanya berlaku pada komputer saja. Adapun barang-barang lainnya, maka bisa dipastikan, orang itu hanya memiliki salah satu sifat dari tiga sifat tersebut di atas. Adapun Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang menggabungkan tiga sifat itu secara mutlak! Mengapa? Karena Dialah Rabbul ‘âlamîn, yakni: Yang Menciptakan, Menguasai dan Mengatur seluruh alam semesta. Kata al-‘âlamûn maknanya adalah: segala sesuatu selain Allah ta’ala, berupa langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya serta yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/144-145) dan Tafsîr al-Qurthuby (I/213-214)]. Andaikan makna al-‘âlamûn adalah apa yang tersebut di atas, kita bisa membayangkan betapa banyak ciptaan Allah, betapa besar kekuasaan-Nya dan betapa luas wilayah yang diatur-Nya. Berikut sedikit kupasan tentang tiga sifat di atas: · Allah sebagai Pencipta alam semesta. Secara fitrah, seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir, sepakat bahwa Allah-lah Sang Pencipta. Dalam Alquran diceritakan, “وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ” Artinya: “Sungguh jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka (orang kafir), ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (Q.S. Luqman: 25 dan az-Zumar: 38). Namun demikian, ada orang yang fitrahnya sudah rusak atau bahkan mati, sehingga mengingkari hal tersebut. Salah satu contohnya apa yang dikisahkan Imam Abu al-Qasim at-Taimy dalam kitabnya: Al-Hujjah fî Bayân al-Mahajjah, tentang seorang ateis yang mengklaim bisa menciptakan makhluk hidup tanpa ‘campur tangan’ Allah ta’ala. Ia memasukkan sekerat daging dalam sebuah toples, lalu ia tutup rapat. Beberapa hari kemudian, muncullah belatung-belatung di daging tersebut, katanya, “Akulah pencipta makhluk-makhluk kecil ini!”. Seorang ulama ingin memberi pelajaran kepada ateis tersebut. Ia berkata, “Sang pencipta sesuatu, pasti ia akan mengetahui betul seluk-beluk ciptaannya. Sebagaimana diiisyaratkan Allah ta’ala, “أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ” Artinya: ‘Apakah pantas yang menciptakan tidak mengetahui?’ (Q.S. Al-Mulk: 14). Jika engkau mengklaim dirimu sebagai pencipta belatung-belatung tersebut, tolong beritahu aku: berapa jumlah mereka, mana yang jantan dan mana yang betina, mana yang bapak, serta mana yang anak?!” Si ateis tadi pun terperanjat, lalu tertunduk diam seribu kata. Andaikan memang betul, bahwa orang tersebut memang bisa menciptakan belatung, itupun tidak lantas menjadikan ia berhak untuk bersikap congkak. Hanya dengan menciptakan hewan kecil yang menjijikkan, ia berlaku sombong?! Alangkah naifnya! Adapun Allah jalla wa ‘ala Dialah yang menciptakan seluruh makhluk tanpa terkecuali! Seorang ulama abad keempat; Imam Abu asy-Syaikh al-Ashbahâni (w. 369 H) menulis sebuah buku bagus berjudul Kitâb al-‘Azhamah. Dalam kitab setebal lima jilid ini, beliau berusaha mengupas keagungan Allah dan sebagian ciptaan-Nya. Beliau mengajak kita untuk bertafakur dan merenungi keagungan ‘Arsy Allah, para malaikat, langit, matahari, bulan, bintang, awan, hujan, halilintar, kilat, angin, bumi, laut, gunung, pepohonan, binatang dan lain sebagainya. Sekadar contoh: kehebatan penciptaan langit dan tetumbuhan. Allah menceritakan bagaimana langit dibangun tanpa memakai tiang satupun! “اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا” Artinya: “Allah yang mengangkat langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat.” (Q.S. Ar-Ra’du: 2). Allah juga mengajak kita berpikir bagaimana tetumbuhan yang berbagai macam bentuknya dan amat beragam buah, warna dan rasanya, ternyata semua disiram dengan satu jenis air! “وَفِي الأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاء وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ” Artinya: “Di bumi terdapat tempat-tempat yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama. Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasa. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.”. (Q.S. Ar-Ra’du: 4). Di akhir ayat di atas, Allah menjelaskan buah dari tafakur akan ciptaan-Nya; yakni agar kita menyadari akan kebesaran Allah jalla wa ‘ala. · Allah sebagai pemilik dan penguasa alam semesta. Kepemilikan dan kekuasaan Allah atas alam semesta ini bersifat mutlak dan sempurna. Dialah yang memerintah dan melarang, memberi balasan kebajikan dan menghukum, memberi dan menahan pemberian, memuliakan dan menghinakan, mengangkat dan menjatuhkan, menghidupkan dan mematikan, serta murka dan ridha. Dia pula yang mengampuni dosa, menolong orang yang tertimpa musibah, membantu orang yang terzalimi, membalas orang yang menzalimi, mengayakan orang miskin dan memiskinkan orang kaya, memberi orang yang meminta, serta perbuatan-perbuatan lain yang menunjukkan kekuasaan hakiki dan kepemilikan mutlak Allah jalla wa ‘ala [Lihat: Juhûd al-Imâm Ibn Qayyim al-Jauziyyah fî Taqrîr Tauhîd al-Asmâ’ wa ash-Shifât karya Dr. Walîd bin Muhammad al-‘Aliy (II/1295-1296)]. Tentunya, ini berbeda dengan kekuasaan manusia yang seringkali hanya bersifat semu atau formalitas belaka. Seperti seorang yang dipasang sebagai penguasa suatu daerah, namun pada kenyataannya, ternyata bukan dia yang menguasai daerah tersebut, dia hanyalah boneka. Sedangkan yang berkuasa di pasar adalah preman pasar, yang berkuasa di suatu komunitas tertentu adalah tokoh agama yang dikarismatikkan, yang berkuasa di salah satu bagian daerahnya adalah konglomerat, begitu seterusnya. Allah sebagai pengatur alam semesta. Dikisahkan bahwa suatu hari, Imam Abu Hanifah diajak berdebat oleh para ahli kalam yang kebetulan mereka mengingkari adanya pencipta dan pengatur alam semesta. Sebelum berdebat, Imam Abu Hanifah berkata, “Sebelum membahas permasalahan ini, saya ingin bertanya, ‘Percayakah kalian bahwa di sungai Dijlah (sungai di kota Baghdad), ada sebuah perahu yang memuat sendiri ke atasnya berbagai jenis bahan pangan dan yang lainnya, berlayar sendiri dari satu tepi ke tepi lainnya, serta menurunkan barang-barang yang ada di atasnya juga dengan sendirinya. Tanpa ada seorangpun yang menaikinya?’” Serta merta mereka menjawab, “Mustahil! Itu tidak mungkin terjadi!” “Andaikan itu mustahil terjadi atas sebuah perahu. Mungkinkah itu terjadi atas seluruh alam semesta ini, langit dan buminya??!” [Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahawiyyah karya Imam Ibn Abi al-‘Izz (I/135)]. Allah ta’ala berfirman, “خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى” Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan tujuan) benar, Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam, serta mengatur matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” (Q.S. Az-Zumar: 5). Belum lagi adanya pergantian musim sepanjang tahun. Bahkan, adanya pengaturan sistem dalam tubuh kita sendiri! Semisal pemasukan bahan makanan, pencernaan, pengolahan, penyerapan sari yang dibutuhkan tubuh, lalu pembuangan sisanya. Juga adanya pemfilteran racun-racun dalam darah secara rutin oleh ginjal. Ditambah pertahanan darah putih dari virus-virus yang masuk ke dalam tubuh. Dan masih banyak fenomena pengaturan lainnya dalam tubuh kita. “وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ” Artinya: “Dan (juga) dalam dirimu sendiri. Maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzariyat: 21). · Pelajaran berharga dari merenungi makna Rabbul ‘alamin Dengan menghayati nama Allah ini, yakni Rabbul ‘âlamîn kita akan memetik banyak pelajaran berharga sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan dunia yang fana ini. Di antara buah keimanan kita akan nama Allah ini: Dalam segala permasalahan, kesulitan, musibah dan yang semisal, kita hanya akan kembali kepada Allah jalla wa ‘ala; sebab di tangan-Nyalah segala sesuatu. Dialah Penguasa semua jagad raya ini dan Pemiliknya. Bukan kembali kepada para makhluk-Nya, apalagi kepada para dukun dan paranormal! Kita akan terjauh dari sifat sombong. Terkadang tatkala berhasil menciptakan sesuatu yang tidak bisa diciptakan orang lain, entah itu suatu penemuan ilmiah elektronik, peternakan, pertanian, atau apa saja, timbul dalam hati kita perasaan sombong; sebab merasa bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Andaikan bertafakur akan keagungan ciptaan Allah, kita akan sadar betapa kecilnya kita, sebab yang menciptakan penemu karya ilmiah tersebut, yakni kita sendiri, ternyata adalah Allah! Bukan hanya itu, Allah pulalah yang menciptakan penemu teori Relativitas; salah satu ilmuwan terbesar yang pernah dimiliki bumi; Albert Einstein. Allah juga yang menciptakan penemu komputer; John von Neumann. Dan Allah pula yang menciptakan segalanya, termasuk di dalamnya para pencipta dan penemu hal-hal yang menakjubkan di muka bumi. Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.Tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


17JunTafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 2)June 17, 2011Pilihan Redaksi, Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Alquran “رَبِّ الْعَالَمِينَ” · Makna Rabbul ‘alamin Rabb adalah dzat yang terkumpul pada dirinya tiga sifat sekaligus; pencipta (al-khâliq), pemilik/penguasa (al-mâlik) dan pengatur (al-mudabbir) [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/142-143) dan Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 14)]. Tidak setiap pencipta sesuatu pasti akan memilikinya. Contohnya: para tukang batu dan tukang kayu yang membangun rumah di suatu real estate, mereka yang menciptakan dan membangun rumah tersebut, namun demikian mereka bukanlah pemiliknya. Juga tidak setiap pemilik sesuatu ialah yang menciptakannya. Seperti kita yang memiliki sepeda motor, jelas bukan kita yang membuat dan menciptakannya, kita hanya terima jadi dari dealer motor. Begitu pula tidak setiap pengatur sesuatu, dialah yang memilikinya. Seperti tukang parkir yang mengatur berbagai jenis motor dan mobil, dari yang paling mewah sampai yang paling butut, kendaraan-kendaraan tersebut bukanlah miliknya. Namun Allah ‘azza wa jalla tidak demikian. Dialah yang terkumpul dalam diri-Nya secara mutlak tiga sifat sekaligus; pencipta, penguasa/ pemilik dan pengatur. Kalimat “secara mutlak” perlu digarisbawahi; karena terkadang ada yang mengklaim memiliki tiga sifat tersebut dalam dirinya, namun tatkala kita cermati ternyata hal itu hanya bersifat parsial. Seperti orang yang menciptakan komputer, dia pula yang memiliki dan mengaturnya. Namun, ketiga sifat tersebut hanya berlaku pada komputer saja. Adapun barang-barang lainnya, maka bisa dipastikan, orang itu hanya memiliki salah satu sifat dari tiga sifat tersebut di atas. Adapun Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang menggabungkan tiga sifat itu secara mutlak! Mengapa? Karena Dialah Rabbul ‘âlamîn, yakni: Yang Menciptakan, Menguasai dan Mengatur seluruh alam semesta. Kata al-‘âlamûn maknanya adalah: segala sesuatu selain Allah ta’ala, berupa langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya serta yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/144-145) dan Tafsîr al-Qurthuby (I/213-214)]. Andaikan makna al-‘âlamûn adalah apa yang tersebut di atas, kita bisa membayangkan betapa banyak ciptaan Allah, betapa besar kekuasaan-Nya dan betapa luas wilayah yang diatur-Nya. Berikut sedikit kupasan tentang tiga sifat di atas: · Allah sebagai Pencipta alam semesta. Secara fitrah, seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir, sepakat bahwa Allah-lah Sang Pencipta. Dalam Alquran diceritakan, “وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ” Artinya: “Sungguh jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka (orang kafir), ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (Q.S. Luqman: 25 dan az-Zumar: 38). Namun demikian, ada orang yang fitrahnya sudah rusak atau bahkan mati, sehingga mengingkari hal tersebut. Salah satu contohnya apa yang dikisahkan Imam Abu al-Qasim at-Taimy dalam kitabnya: Al-Hujjah fî Bayân al-Mahajjah, tentang seorang ateis yang mengklaim bisa menciptakan makhluk hidup tanpa ‘campur tangan’ Allah ta’ala. Ia memasukkan sekerat daging dalam sebuah toples, lalu ia tutup rapat. Beberapa hari kemudian, muncullah belatung-belatung di daging tersebut, katanya, “Akulah pencipta makhluk-makhluk kecil ini!”. Seorang ulama ingin memberi pelajaran kepada ateis tersebut. Ia berkata, “Sang pencipta sesuatu, pasti ia akan mengetahui betul seluk-beluk ciptaannya. Sebagaimana diiisyaratkan Allah ta’ala, “أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ” Artinya: ‘Apakah pantas yang menciptakan tidak mengetahui?’ (Q.S. Al-Mulk: 14). Jika engkau mengklaim dirimu sebagai pencipta belatung-belatung tersebut, tolong beritahu aku: berapa jumlah mereka, mana yang jantan dan mana yang betina, mana yang bapak, serta mana yang anak?!” Si ateis tadi pun terperanjat, lalu tertunduk diam seribu kata. Andaikan memang betul, bahwa orang tersebut memang bisa menciptakan belatung, itupun tidak lantas menjadikan ia berhak untuk bersikap congkak. Hanya dengan menciptakan hewan kecil yang menjijikkan, ia berlaku sombong?! Alangkah naifnya! Adapun Allah jalla wa ‘ala Dialah yang menciptakan seluruh makhluk tanpa terkecuali! Seorang ulama abad keempat; Imam Abu asy-Syaikh al-Ashbahâni (w. 369 H) menulis sebuah buku bagus berjudul Kitâb al-‘Azhamah. Dalam kitab setebal lima jilid ini, beliau berusaha mengupas keagungan Allah dan sebagian ciptaan-Nya. Beliau mengajak kita untuk bertafakur dan merenungi keagungan ‘Arsy Allah, para malaikat, langit, matahari, bulan, bintang, awan, hujan, halilintar, kilat, angin, bumi, laut, gunung, pepohonan, binatang dan lain sebagainya. Sekadar contoh: kehebatan penciptaan langit dan tetumbuhan. Allah menceritakan bagaimana langit dibangun tanpa memakai tiang satupun! “اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا” Artinya: “Allah yang mengangkat langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat.” (Q.S. Ar-Ra’du: 2). Allah juga mengajak kita berpikir bagaimana tetumbuhan yang berbagai macam bentuknya dan amat beragam buah, warna dan rasanya, ternyata semua disiram dengan satu jenis air! “وَفِي الأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاء وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ” Artinya: “Di bumi terdapat tempat-tempat yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama. Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasa. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.”. (Q.S. Ar-Ra’du: 4). Di akhir ayat di atas, Allah menjelaskan buah dari tafakur akan ciptaan-Nya; yakni agar kita menyadari akan kebesaran Allah jalla wa ‘ala. · Allah sebagai pemilik dan penguasa alam semesta. Kepemilikan dan kekuasaan Allah atas alam semesta ini bersifat mutlak dan sempurna. Dialah yang memerintah dan melarang, memberi balasan kebajikan dan menghukum, memberi dan menahan pemberian, memuliakan dan menghinakan, mengangkat dan menjatuhkan, menghidupkan dan mematikan, serta murka dan ridha. Dia pula yang mengampuni dosa, menolong orang yang tertimpa musibah, membantu orang yang terzalimi, membalas orang yang menzalimi, mengayakan orang miskin dan memiskinkan orang kaya, memberi orang yang meminta, serta perbuatan-perbuatan lain yang menunjukkan kekuasaan hakiki dan kepemilikan mutlak Allah jalla wa ‘ala [Lihat: Juhûd al-Imâm Ibn Qayyim al-Jauziyyah fî Taqrîr Tauhîd al-Asmâ’ wa ash-Shifât karya Dr. Walîd bin Muhammad al-‘Aliy (II/1295-1296)]. Tentunya, ini berbeda dengan kekuasaan manusia yang seringkali hanya bersifat semu atau formalitas belaka. Seperti seorang yang dipasang sebagai penguasa suatu daerah, namun pada kenyataannya, ternyata bukan dia yang menguasai daerah tersebut, dia hanyalah boneka. Sedangkan yang berkuasa di pasar adalah preman pasar, yang berkuasa di suatu komunitas tertentu adalah tokoh agama yang dikarismatikkan, yang berkuasa di salah satu bagian daerahnya adalah konglomerat, begitu seterusnya. Allah sebagai pengatur alam semesta. Dikisahkan bahwa suatu hari, Imam Abu Hanifah diajak berdebat oleh para ahli kalam yang kebetulan mereka mengingkari adanya pencipta dan pengatur alam semesta. Sebelum berdebat, Imam Abu Hanifah berkata, “Sebelum membahas permasalahan ini, saya ingin bertanya, ‘Percayakah kalian bahwa di sungai Dijlah (sungai di kota Baghdad), ada sebuah perahu yang memuat sendiri ke atasnya berbagai jenis bahan pangan dan yang lainnya, berlayar sendiri dari satu tepi ke tepi lainnya, serta menurunkan barang-barang yang ada di atasnya juga dengan sendirinya. Tanpa ada seorangpun yang menaikinya?’” Serta merta mereka menjawab, “Mustahil! Itu tidak mungkin terjadi!” “Andaikan itu mustahil terjadi atas sebuah perahu. Mungkinkah itu terjadi atas seluruh alam semesta ini, langit dan buminya??!” [Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahawiyyah karya Imam Ibn Abi al-‘Izz (I/135)]. Allah ta’ala berfirman, “خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى” Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan tujuan) benar, Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam, serta mengatur matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” (Q.S. Az-Zumar: 5). Belum lagi adanya pergantian musim sepanjang tahun. Bahkan, adanya pengaturan sistem dalam tubuh kita sendiri! Semisal pemasukan bahan makanan, pencernaan, pengolahan, penyerapan sari yang dibutuhkan tubuh, lalu pembuangan sisanya. Juga adanya pemfilteran racun-racun dalam darah secara rutin oleh ginjal. Ditambah pertahanan darah putih dari virus-virus yang masuk ke dalam tubuh. Dan masih banyak fenomena pengaturan lainnya dalam tubuh kita. “وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ” Artinya: “Dan (juga) dalam dirimu sendiri. Maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzariyat: 21). · Pelajaran berharga dari merenungi makna Rabbul ‘alamin Dengan menghayati nama Allah ini, yakni Rabbul ‘âlamîn kita akan memetik banyak pelajaran berharga sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan dunia yang fana ini. Di antara buah keimanan kita akan nama Allah ini: Dalam segala permasalahan, kesulitan, musibah dan yang semisal, kita hanya akan kembali kepada Allah jalla wa ‘ala; sebab di tangan-Nyalah segala sesuatu. Dialah Penguasa semua jagad raya ini dan Pemiliknya. Bukan kembali kepada para makhluk-Nya, apalagi kepada para dukun dan paranormal! Kita akan terjauh dari sifat sombong. Terkadang tatkala berhasil menciptakan sesuatu yang tidak bisa diciptakan orang lain, entah itu suatu penemuan ilmiah elektronik, peternakan, pertanian, atau apa saja, timbul dalam hati kita perasaan sombong; sebab merasa bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Andaikan bertafakur akan keagungan ciptaan Allah, kita akan sadar betapa kecilnya kita, sebab yang menciptakan penemu karya ilmiah tersebut, yakni kita sendiri, ternyata adalah Allah! Bukan hanya itu, Allah pulalah yang menciptakan penemu teori Relativitas; salah satu ilmuwan terbesar yang pernah dimiliki bumi; Albert Einstein. Allah juga yang menciptakan penemu komputer; John von Neumann. Dan Allah pula yang menciptakan segalanya, termasuk di dalamnya para pencipta dan penemu hal-hal yang menakjubkan di muka bumi. Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.Tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

3 Sifat Khawarij

Syaikhuna Syaikh Sholeh Al Fauzan ditanya, “Apakah di zaman ini ada yang masih membawa pemikiran Khawarij?”   Jawab beliau hafizhohullah, Ya Subhanallah .. Memang benar masih ada di zaman ini. Tidakkah perbuatan seperti ini adalah perbuatan Khawarij?! Yaitu mengkafirkan kaum muslimin. Yang lebih kejam lagi karena pemikiran semacam itu sampai-sampai mereka tega membunuh kaum muslimin dan benar-benar melampaui batas. Inilah madzhab Khawarij. Ada 3 sifat utama mereka: Mengkafirkan kaum muslimin Keluar dari taat pada penguasa Menghalalkan darah kaum muslimin Inilah model pemikiran Khawarij. Seandainya ada yang dalam hatinya pemikiran semacam itu, namun tidak ditunjukkan dalam ucapan dan perbuatan, tetap ia disebut Khawarij dalam aqidahnya dan pemikirannya. [Dinukil dari Fatawa Asy Syar’iyyah fil Qodhoya Al ‘Ashriyyah, hal. 86] *** Fatwa Syaikh Sholeh Al Fauzan di atas menunjukkan bagaimana Khawarij di zaman ini masih ada, bahkan akan terus bermunculan. Kami sengaja mengangkat fatwa tersebut untuk menunjukkan bahwa fenomena pemboman, teror dan kekerasan yang terjadi di negeri kita, tidak lepas dari peran Khawarij. Sifat mereka amat keras, jauh dari ulama, sehingga bertindak seenaknya. Mereka begitu mudah mengkafirkan penguasa. Bahkan para polisi dan tentara sebagai kaki tangan penguasa disebut para pembela thoghut. Maka wajar jika para Khawarij pernah melakukan teror bom bunuh diri di masjid kepolisian di hari barokah, hari Jumat. Itulah latar belakang mereka bisa melakukan pemboman. Awalnya dari pengkafiran, ujung-ujungnya adalah pengeboman. Salah satu pemimpin besar mereka saat ini telah divonis 15 tahun penjara. Walaupun di balik jeruji, namun pemikirannya tidak bisa terkungkung karena pemikiran rusak Khawarij telah menyebar ke mana-mana khususnya di kalangan para pemuda. Benarlah kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِى آخِرِ الزَّمَانِ ، حُدَّاثُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ “Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Iman mereka tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama mereka seperti terlepasnya anak panah dari busurnya“. (Muttafaqun ‘alaih). Tugas kita adalah belajar dan belajar serta terus dekat pada para ulama sehingga kita bisa benar dalam meniti jalan yang ditunjuki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ‘ummah, generasi emas dari umat ini. Semoga Allah menjauhkan kita dari pemikiran menyimpang dan menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Tagskhawarij ngebom

3 Sifat Khawarij

Syaikhuna Syaikh Sholeh Al Fauzan ditanya, “Apakah di zaman ini ada yang masih membawa pemikiran Khawarij?”   Jawab beliau hafizhohullah, Ya Subhanallah .. Memang benar masih ada di zaman ini. Tidakkah perbuatan seperti ini adalah perbuatan Khawarij?! Yaitu mengkafirkan kaum muslimin. Yang lebih kejam lagi karena pemikiran semacam itu sampai-sampai mereka tega membunuh kaum muslimin dan benar-benar melampaui batas. Inilah madzhab Khawarij. Ada 3 sifat utama mereka: Mengkafirkan kaum muslimin Keluar dari taat pada penguasa Menghalalkan darah kaum muslimin Inilah model pemikiran Khawarij. Seandainya ada yang dalam hatinya pemikiran semacam itu, namun tidak ditunjukkan dalam ucapan dan perbuatan, tetap ia disebut Khawarij dalam aqidahnya dan pemikirannya. [Dinukil dari Fatawa Asy Syar’iyyah fil Qodhoya Al ‘Ashriyyah, hal. 86] *** Fatwa Syaikh Sholeh Al Fauzan di atas menunjukkan bagaimana Khawarij di zaman ini masih ada, bahkan akan terus bermunculan. Kami sengaja mengangkat fatwa tersebut untuk menunjukkan bahwa fenomena pemboman, teror dan kekerasan yang terjadi di negeri kita, tidak lepas dari peran Khawarij. Sifat mereka amat keras, jauh dari ulama, sehingga bertindak seenaknya. Mereka begitu mudah mengkafirkan penguasa. Bahkan para polisi dan tentara sebagai kaki tangan penguasa disebut para pembela thoghut. Maka wajar jika para Khawarij pernah melakukan teror bom bunuh diri di masjid kepolisian di hari barokah, hari Jumat. Itulah latar belakang mereka bisa melakukan pemboman. Awalnya dari pengkafiran, ujung-ujungnya adalah pengeboman. Salah satu pemimpin besar mereka saat ini telah divonis 15 tahun penjara. Walaupun di balik jeruji, namun pemikirannya tidak bisa terkungkung karena pemikiran rusak Khawarij telah menyebar ke mana-mana khususnya di kalangan para pemuda. Benarlah kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِى آخِرِ الزَّمَانِ ، حُدَّاثُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ “Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Iman mereka tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama mereka seperti terlepasnya anak panah dari busurnya“. (Muttafaqun ‘alaih). Tugas kita adalah belajar dan belajar serta terus dekat pada para ulama sehingga kita bisa benar dalam meniti jalan yang ditunjuki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ‘ummah, generasi emas dari umat ini. Semoga Allah menjauhkan kita dari pemikiran menyimpang dan menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Tagskhawarij ngebom
Syaikhuna Syaikh Sholeh Al Fauzan ditanya, “Apakah di zaman ini ada yang masih membawa pemikiran Khawarij?”   Jawab beliau hafizhohullah, Ya Subhanallah .. Memang benar masih ada di zaman ini. Tidakkah perbuatan seperti ini adalah perbuatan Khawarij?! Yaitu mengkafirkan kaum muslimin. Yang lebih kejam lagi karena pemikiran semacam itu sampai-sampai mereka tega membunuh kaum muslimin dan benar-benar melampaui batas. Inilah madzhab Khawarij. Ada 3 sifat utama mereka: Mengkafirkan kaum muslimin Keluar dari taat pada penguasa Menghalalkan darah kaum muslimin Inilah model pemikiran Khawarij. Seandainya ada yang dalam hatinya pemikiran semacam itu, namun tidak ditunjukkan dalam ucapan dan perbuatan, tetap ia disebut Khawarij dalam aqidahnya dan pemikirannya. [Dinukil dari Fatawa Asy Syar’iyyah fil Qodhoya Al ‘Ashriyyah, hal. 86] *** Fatwa Syaikh Sholeh Al Fauzan di atas menunjukkan bagaimana Khawarij di zaman ini masih ada, bahkan akan terus bermunculan. Kami sengaja mengangkat fatwa tersebut untuk menunjukkan bahwa fenomena pemboman, teror dan kekerasan yang terjadi di negeri kita, tidak lepas dari peran Khawarij. Sifat mereka amat keras, jauh dari ulama, sehingga bertindak seenaknya. Mereka begitu mudah mengkafirkan penguasa. Bahkan para polisi dan tentara sebagai kaki tangan penguasa disebut para pembela thoghut. Maka wajar jika para Khawarij pernah melakukan teror bom bunuh diri di masjid kepolisian di hari barokah, hari Jumat. Itulah latar belakang mereka bisa melakukan pemboman. Awalnya dari pengkafiran, ujung-ujungnya adalah pengeboman. Salah satu pemimpin besar mereka saat ini telah divonis 15 tahun penjara. Walaupun di balik jeruji, namun pemikirannya tidak bisa terkungkung karena pemikiran rusak Khawarij telah menyebar ke mana-mana khususnya di kalangan para pemuda. Benarlah kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِى آخِرِ الزَّمَانِ ، حُدَّاثُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ “Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Iman mereka tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama mereka seperti terlepasnya anak panah dari busurnya“. (Muttafaqun ‘alaih). Tugas kita adalah belajar dan belajar serta terus dekat pada para ulama sehingga kita bisa benar dalam meniti jalan yang ditunjuki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ‘ummah, generasi emas dari umat ini. Semoga Allah menjauhkan kita dari pemikiran menyimpang dan menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Tagskhawarij ngebom


Syaikhuna Syaikh Sholeh Al Fauzan ditanya, “Apakah di zaman ini ada yang masih membawa pemikiran Khawarij?”   Jawab beliau hafizhohullah, Ya Subhanallah .. Memang benar masih ada di zaman ini. Tidakkah perbuatan seperti ini adalah perbuatan Khawarij?! Yaitu mengkafirkan kaum muslimin. Yang lebih kejam lagi karena pemikiran semacam itu sampai-sampai mereka tega membunuh kaum muslimin dan benar-benar melampaui batas. Inilah madzhab Khawarij. Ada 3 sifat utama mereka: Mengkafirkan kaum muslimin Keluar dari taat pada penguasa Menghalalkan darah kaum muslimin Inilah model pemikiran Khawarij. Seandainya ada yang dalam hatinya pemikiran semacam itu, namun tidak ditunjukkan dalam ucapan dan perbuatan, tetap ia disebut Khawarij dalam aqidahnya dan pemikirannya. [Dinukil dari Fatawa Asy Syar’iyyah fil Qodhoya Al ‘Ashriyyah, hal. 86] *** Fatwa Syaikh Sholeh Al Fauzan di atas menunjukkan bagaimana Khawarij di zaman ini masih ada, bahkan akan terus bermunculan. Kami sengaja mengangkat fatwa tersebut untuk menunjukkan bahwa fenomena pemboman, teror dan kekerasan yang terjadi di negeri kita, tidak lepas dari peran Khawarij. Sifat mereka amat keras, jauh dari ulama, sehingga bertindak seenaknya. Mereka begitu mudah mengkafirkan penguasa. Bahkan para polisi dan tentara sebagai kaki tangan penguasa disebut para pembela thoghut. Maka wajar jika para Khawarij pernah melakukan teror bom bunuh diri di masjid kepolisian di hari barokah, hari Jumat. Itulah latar belakang mereka bisa melakukan pemboman. Awalnya dari pengkafiran, ujung-ujungnya adalah pengeboman. Salah satu pemimpin besar mereka saat ini telah divonis 15 tahun penjara. Walaupun di balik jeruji, namun pemikirannya tidak bisa terkungkung karena pemikiran rusak Khawarij telah menyebar ke mana-mana khususnya di kalangan para pemuda. Benarlah kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِى آخِرِ الزَّمَانِ ، حُدَّاثُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ “Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Iman mereka tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama mereka seperti terlepasnya anak panah dari busurnya“. (Muttafaqun ‘alaih). Tugas kita adalah belajar dan belajar serta terus dekat pada para ulama sehingga kita bisa benar dalam meniti jalan yang ditunjuki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ‘ummah, generasi emas dari umat ini. Semoga Allah menjauhkan kita dari pemikiran menyimpang dan menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Tagskhawarij ngebom

Aturan Islam dalam Olahraga Sepakbola

Di antara olah raga yang digandrungi para pria adalah bermain sepakbola. Di setiap penjuru negeri, dari kota hingga desa, menggemari olahraga yang satu ini. Dalam Islam, olahraga sepakbola asalnya boleh. Namun tentu saja kita mesti memperhatikan aturan Islam tentang olahraga yang satu ini. Olahraga sepakbola itu boleh dengan beberapa ketentuan[1]: Daftar Isi tutup Pertama: Tidak membuka aurat. Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Keenam: Jangan mudah emosi Pertama: Tidak membuka aurat. Aurat pria adalah antara pusar hingga lutut. Artinya antara pusar dan lutut tidak boleh dipandang. Lutut sendiri tidak termasuk aurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ “Karena di antara pusar dan lutut adalah aurat.”[2] Oleh karena itu, yang ingin bermain sepakbola hendaknya tidak mengenakan celana yang pendek sehingga kelihatan pahanya. Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, ulama senior di Saudi Arabia ditanya mengenai hukum bermain sepakbola oleh orang awam dan kapan terlarang, lalu apa batasan pakaian yang dibolehkan. Beliau hafizhohullah menjawab, “Bermain sepakbola itu boleh. Akan tetapi harus menutup aurat antara pusar dan lutut, wallahu a’lam.”[3] Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Alasannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membolehkan musabaqoh (perlombaan) dengan taruhan pada perkara tertentu saja. Perkara tersebut adalah yang dapat menegakkan islam, yaitu sebagai sarana untuk latihan berjihad. Perlombaan dengan taruhan yang dibolehkan disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ “Tidak ada taruhan kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.”[4] Sebagian ulama memperluas lagi perlombaan yang dibolehkan (dengan taruhan) yaitu perlombaan menghafal Al Qur’an, hadits dan berbagai macam ilmu agama. Karena menghafal di sini dalam rangka menjaga langgengnya ajaran Islam sehingga bernilai sama dengan lomba pacuan kuda atau lomba memanah. Lihat bahasan rumaysho.com lainnya tentang taruhan dalam lomba di sini. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Ini juga harus diperhatikan karena pria punya kewajiban shalat dan punya kewajiban berjama’ah di masjid. Jika shalat disia-siakan, maka perkara lainnya akan lebih dilalaikan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“[5] Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Tujuan bermain pun jelas untuk melatih fisik, membugarkan badan sebagaimana kita melakukan olahraga-olahraga lainnya. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Bermain bola haruslah memperhatikan waktu. Jangan sampai waktu kita jadi sia-sia karena seringnya bermain bola setiap saat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”[6] Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian. Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[7] Sangat baik sekali jika waktu senggang kita diisi dengan ibadah, menghafal Kitabullah, mempelajari Islam dan kegiatan manfaat lainnya. Baca artikel tentang hukum begadang karena nonton bola di sini. Keenam: Jangan mudah emosi Sebagai tambahan, ketika bermain sepakbola hendaklah menjaga amarah, jangan mudah emosi dan pandai-pandai menjaga lisan dari cacian. Karena sudah barang tentu kita akan mendapatkan perlakuan kasar dari teman bermain baik disengaja maupun tidak. Namun kita jangan sampai berbalik berlaku kasar. Teruslah berakhlak mulia. Dan tunjukkan bahwa Anda adalah seorang muslim yang baik dengan membalas kejelekan malah dengan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35 “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35). Sahabat yg mulia, Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.” Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”[8] Sehingga bermain bola pun butuh sikap sabar. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 13 Rajab 1432 H (15/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Hukum Menonton Pertandingan Bola [1] Syarat-syarat tersebut kami kembangkan dari tulisan pada link: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=19616 [2] HR. Ahmad 2/187, Al Baihaqi 2/229. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan. [3] Lihat fatwa Syaikh Al ‘Ubaikan dalam situs resmi beliau: http://al-obeikan.com/show_fatwa/1068.html [4] HR. Tirmidzi no. 1700, An Nasai no. 3585, Abu Daud no. 2574, Ibnu Majah no. 2878. Dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani [5] Ash Sholah, Ibnul Qayyim, hal. 12, terbitan Dar Al Imam Ahmad. [6] HR. Tirmidzi no. 2318, shahih lighoirihi kata Syaikh Al Albani. [7] Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, hal. 33, Darul ‘Aqidah. [8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/243, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.

Aturan Islam dalam Olahraga Sepakbola

Di antara olah raga yang digandrungi para pria adalah bermain sepakbola. Di setiap penjuru negeri, dari kota hingga desa, menggemari olahraga yang satu ini. Dalam Islam, olahraga sepakbola asalnya boleh. Namun tentu saja kita mesti memperhatikan aturan Islam tentang olahraga yang satu ini. Olahraga sepakbola itu boleh dengan beberapa ketentuan[1]: Daftar Isi tutup Pertama: Tidak membuka aurat. Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Keenam: Jangan mudah emosi Pertama: Tidak membuka aurat. Aurat pria adalah antara pusar hingga lutut. Artinya antara pusar dan lutut tidak boleh dipandang. Lutut sendiri tidak termasuk aurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ “Karena di antara pusar dan lutut adalah aurat.”[2] Oleh karena itu, yang ingin bermain sepakbola hendaknya tidak mengenakan celana yang pendek sehingga kelihatan pahanya. Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, ulama senior di Saudi Arabia ditanya mengenai hukum bermain sepakbola oleh orang awam dan kapan terlarang, lalu apa batasan pakaian yang dibolehkan. Beliau hafizhohullah menjawab, “Bermain sepakbola itu boleh. Akan tetapi harus menutup aurat antara pusar dan lutut, wallahu a’lam.”[3] Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Alasannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membolehkan musabaqoh (perlombaan) dengan taruhan pada perkara tertentu saja. Perkara tersebut adalah yang dapat menegakkan islam, yaitu sebagai sarana untuk latihan berjihad. Perlombaan dengan taruhan yang dibolehkan disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ “Tidak ada taruhan kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.”[4] Sebagian ulama memperluas lagi perlombaan yang dibolehkan (dengan taruhan) yaitu perlombaan menghafal Al Qur’an, hadits dan berbagai macam ilmu agama. Karena menghafal di sini dalam rangka menjaga langgengnya ajaran Islam sehingga bernilai sama dengan lomba pacuan kuda atau lomba memanah. Lihat bahasan rumaysho.com lainnya tentang taruhan dalam lomba di sini. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Ini juga harus diperhatikan karena pria punya kewajiban shalat dan punya kewajiban berjama’ah di masjid. Jika shalat disia-siakan, maka perkara lainnya akan lebih dilalaikan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“[5] Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Tujuan bermain pun jelas untuk melatih fisik, membugarkan badan sebagaimana kita melakukan olahraga-olahraga lainnya. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Bermain bola haruslah memperhatikan waktu. Jangan sampai waktu kita jadi sia-sia karena seringnya bermain bola setiap saat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”[6] Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian. Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[7] Sangat baik sekali jika waktu senggang kita diisi dengan ibadah, menghafal Kitabullah, mempelajari Islam dan kegiatan manfaat lainnya. Baca artikel tentang hukum begadang karena nonton bola di sini. Keenam: Jangan mudah emosi Sebagai tambahan, ketika bermain sepakbola hendaklah menjaga amarah, jangan mudah emosi dan pandai-pandai menjaga lisan dari cacian. Karena sudah barang tentu kita akan mendapatkan perlakuan kasar dari teman bermain baik disengaja maupun tidak. Namun kita jangan sampai berbalik berlaku kasar. Teruslah berakhlak mulia. Dan tunjukkan bahwa Anda adalah seorang muslim yang baik dengan membalas kejelekan malah dengan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35 “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35). Sahabat yg mulia, Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.” Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”[8] Sehingga bermain bola pun butuh sikap sabar. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 13 Rajab 1432 H (15/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Hukum Menonton Pertandingan Bola [1] Syarat-syarat tersebut kami kembangkan dari tulisan pada link: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=19616 [2] HR. Ahmad 2/187, Al Baihaqi 2/229. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan. [3] Lihat fatwa Syaikh Al ‘Ubaikan dalam situs resmi beliau: http://al-obeikan.com/show_fatwa/1068.html [4] HR. Tirmidzi no. 1700, An Nasai no. 3585, Abu Daud no. 2574, Ibnu Majah no. 2878. Dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani [5] Ash Sholah, Ibnul Qayyim, hal. 12, terbitan Dar Al Imam Ahmad. [6] HR. Tirmidzi no. 2318, shahih lighoirihi kata Syaikh Al Albani. [7] Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, hal. 33, Darul ‘Aqidah. [8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/243, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.
Di antara olah raga yang digandrungi para pria adalah bermain sepakbola. Di setiap penjuru negeri, dari kota hingga desa, menggemari olahraga yang satu ini. Dalam Islam, olahraga sepakbola asalnya boleh. Namun tentu saja kita mesti memperhatikan aturan Islam tentang olahraga yang satu ini. Olahraga sepakbola itu boleh dengan beberapa ketentuan[1]: Daftar Isi tutup Pertama: Tidak membuka aurat. Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Keenam: Jangan mudah emosi Pertama: Tidak membuka aurat. Aurat pria adalah antara pusar hingga lutut. Artinya antara pusar dan lutut tidak boleh dipandang. Lutut sendiri tidak termasuk aurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ “Karena di antara pusar dan lutut adalah aurat.”[2] Oleh karena itu, yang ingin bermain sepakbola hendaknya tidak mengenakan celana yang pendek sehingga kelihatan pahanya. Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, ulama senior di Saudi Arabia ditanya mengenai hukum bermain sepakbola oleh orang awam dan kapan terlarang, lalu apa batasan pakaian yang dibolehkan. Beliau hafizhohullah menjawab, “Bermain sepakbola itu boleh. Akan tetapi harus menutup aurat antara pusar dan lutut, wallahu a’lam.”[3] Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Alasannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membolehkan musabaqoh (perlombaan) dengan taruhan pada perkara tertentu saja. Perkara tersebut adalah yang dapat menegakkan islam, yaitu sebagai sarana untuk latihan berjihad. Perlombaan dengan taruhan yang dibolehkan disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ “Tidak ada taruhan kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.”[4] Sebagian ulama memperluas lagi perlombaan yang dibolehkan (dengan taruhan) yaitu perlombaan menghafal Al Qur’an, hadits dan berbagai macam ilmu agama. Karena menghafal di sini dalam rangka menjaga langgengnya ajaran Islam sehingga bernilai sama dengan lomba pacuan kuda atau lomba memanah. Lihat bahasan rumaysho.com lainnya tentang taruhan dalam lomba di sini. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Ini juga harus diperhatikan karena pria punya kewajiban shalat dan punya kewajiban berjama’ah di masjid. Jika shalat disia-siakan, maka perkara lainnya akan lebih dilalaikan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“[5] Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Tujuan bermain pun jelas untuk melatih fisik, membugarkan badan sebagaimana kita melakukan olahraga-olahraga lainnya. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Bermain bola haruslah memperhatikan waktu. Jangan sampai waktu kita jadi sia-sia karena seringnya bermain bola setiap saat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”[6] Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian. Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[7] Sangat baik sekali jika waktu senggang kita diisi dengan ibadah, menghafal Kitabullah, mempelajari Islam dan kegiatan manfaat lainnya. Baca artikel tentang hukum begadang karena nonton bola di sini. Keenam: Jangan mudah emosi Sebagai tambahan, ketika bermain sepakbola hendaklah menjaga amarah, jangan mudah emosi dan pandai-pandai menjaga lisan dari cacian. Karena sudah barang tentu kita akan mendapatkan perlakuan kasar dari teman bermain baik disengaja maupun tidak. Namun kita jangan sampai berbalik berlaku kasar. Teruslah berakhlak mulia. Dan tunjukkan bahwa Anda adalah seorang muslim yang baik dengan membalas kejelekan malah dengan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35 “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35). Sahabat yg mulia, Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.” Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”[8] Sehingga bermain bola pun butuh sikap sabar. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 13 Rajab 1432 H (15/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Hukum Menonton Pertandingan Bola [1] Syarat-syarat tersebut kami kembangkan dari tulisan pada link: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=19616 [2] HR. Ahmad 2/187, Al Baihaqi 2/229. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan. [3] Lihat fatwa Syaikh Al ‘Ubaikan dalam situs resmi beliau: http://al-obeikan.com/show_fatwa/1068.html [4] HR. Tirmidzi no. 1700, An Nasai no. 3585, Abu Daud no. 2574, Ibnu Majah no. 2878. Dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani [5] Ash Sholah, Ibnul Qayyim, hal. 12, terbitan Dar Al Imam Ahmad. [6] HR. Tirmidzi no. 2318, shahih lighoirihi kata Syaikh Al Albani. [7] Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, hal. 33, Darul ‘Aqidah. [8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/243, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.


Di antara olah raga yang digandrungi para pria adalah bermain sepakbola. Di setiap penjuru negeri, dari kota hingga desa, menggemari olahraga yang satu ini. Dalam Islam, olahraga sepakbola asalnya boleh. Namun tentu saja kita mesti memperhatikan aturan Islam tentang olahraga yang satu ini. Olahraga sepakbola itu boleh dengan beberapa ketentuan[1]: Daftar Isi tutup Pertama: Tidak membuka aurat. Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Keenam: Jangan mudah emosi Pertama: Tidak membuka aurat. Aurat pria adalah antara pusar hingga lutut. Artinya antara pusar dan lutut tidak boleh dipandang. Lutut sendiri tidak termasuk aurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ “Karena di antara pusar dan lutut adalah aurat.”[2] Oleh karena itu, yang ingin bermain sepakbola hendaknya tidak mengenakan celana yang pendek sehingga kelihatan pahanya. Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, ulama senior di Saudi Arabia ditanya mengenai hukum bermain sepakbola oleh orang awam dan kapan terlarang, lalu apa batasan pakaian yang dibolehkan. Beliau hafizhohullah menjawab, “Bermain sepakbola itu boleh. Akan tetapi harus menutup aurat antara pusar dan lutut, wallahu a’lam.”[3] Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Alasannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membolehkan musabaqoh (perlombaan) dengan taruhan pada perkara tertentu saja. Perkara tersebut adalah yang dapat menegakkan islam, yaitu sebagai sarana untuk latihan berjihad. Perlombaan dengan taruhan yang dibolehkan disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ “Tidak ada taruhan kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.”[4] Sebagian ulama memperluas lagi perlombaan yang dibolehkan (dengan taruhan) yaitu perlombaan menghafal Al Qur’an, hadits dan berbagai macam ilmu agama. Karena menghafal di sini dalam rangka menjaga langgengnya ajaran Islam sehingga bernilai sama dengan lomba pacuan kuda atau lomba memanah. Lihat bahasan rumaysho.com lainnya tentang taruhan dalam lomba di sini. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Ini juga harus diperhatikan karena pria punya kewajiban shalat dan punya kewajiban berjama’ah di masjid. Jika shalat disia-siakan, maka perkara lainnya akan lebih dilalaikan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“[5] Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Tujuan bermain pun jelas untuk melatih fisik, membugarkan badan sebagaimana kita melakukan olahraga-olahraga lainnya. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Bermain bola haruslah memperhatikan waktu. Jangan sampai waktu kita jadi sia-sia karena seringnya bermain bola setiap saat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”[6] Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian. Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[7] Sangat baik sekali jika waktu senggang kita diisi dengan ibadah, menghafal Kitabullah, mempelajari Islam dan kegiatan manfaat lainnya. Baca artikel tentang hukum begadang karena nonton bola di sini. Keenam: Jangan mudah emosi Sebagai tambahan, ketika bermain sepakbola hendaklah menjaga amarah, jangan mudah emosi dan pandai-pandai menjaga lisan dari cacian. Karena sudah barang tentu kita akan mendapatkan perlakuan kasar dari teman bermain baik disengaja maupun tidak. Namun kita jangan sampai berbalik berlaku kasar. Teruslah berakhlak mulia. Dan tunjukkan bahwa Anda adalah seorang muslim yang baik dengan membalas kejelekan malah dengan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35 “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35). Sahabat yg mulia, Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.” Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”[8] Sehingga bermain bola pun butuh sikap sabar. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 13 Rajab 1432 H (15/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Hukum Menonton Pertandingan Bola [1] Syarat-syarat tersebut kami kembangkan dari tulisan pada link: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=19616 [2] HR. Ahmad 2/187, Al Baihaqi 2/229. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan. [3] Lihat fatwa Syaikh Al ‘Ubaikan dalam situs resmi beliau: http://al-obeikan.com/show_fatwa/1068.html [4] HR. Tirmidzi no. 1700, An Nasai no. 3585, Abu Daud no. 2574, Ibnu Majah no. 2878. Dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani [5] Ash Sholah, Ibnul Qayyim, hal. 12, terbitan Dar Al Imam Ahmad. [6] HR. Tirmidzi no. 2318, shahih lighoirihi kata Syaikh Al Albani. [7] Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, hal. 33, Darul ‘Aqidah. [8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/243, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.
Prev     Next