Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat. Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 46. Maksiat Membuat Musuh Kita Makin Berani 1.7. 47. Maksiat akan Mengkhianati Seseorang Saat Ia Membutuhkan Dirinya Sendiri Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟ Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66) Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi? Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini. وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ. Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81) وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ. Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82) Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat Maksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut: 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ. Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut. وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ. Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.” وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِي Imam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya: “Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki Dari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ “Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِ Takwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا. Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa. Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab: إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِ وَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ. “Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.” Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, : الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ. Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah. Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri. Sebagian ulama salaf pernah berkata, إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي. “Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟ Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit. Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86) Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala, { وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ } “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.” Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin 46. Maksiat Membuat Musuh Kita Makin Berani Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَصْلٌ الْمَعَاصِي تُجَرِّئُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْدَاءَهُ وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تُجَرِّئُ عَلَى الْعَبْدِ مَا لَمْ يَكُنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ مِنْ أَصْنَافِ الْمَخْلُوقَاتِ، فَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينَ بِالْأَذَى وَالْإِغْوَاءِ وَالْوَسْوَسَةِ وَالتَّخْوِيفِ وَالتَّحْزِينِ، وَإِنْسَائِهِ مَا بِهِ مَصْلَحَتُهُ فِي ذِكْرِهِ، وَمَضَرَّتُهُ فِي نِسْيَانِهِ، فَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ حَتَّى تَؤُزَّهُ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ أَزًّا. وَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ شَيَاطِينُ الْإِنْسِ بِمَا تَقْدِرُ عَلَيْهِ مِنَ الْأَذَى فِي غَيْبَتِهِ وَحُضُورِهِ، وَيَجْتَرِئُ عَلَيْهِ أَهْلُهُ وَخَدَمُهُ وَأَوْلَادُهُ وَجِيرَانُهُ حَتَّى الْحَيَوَانُ الْبَهِيمُ. Termasuk di antara hukuman akibat maksiat adalah bahwa maksiat menjadikan makhluk lain berani kepada seseorang, yang sebelumnya tidak akan berani mengganggunya. Akibatnya, setan menjadi berani mengganggunya — dengan cara menyakitinya, menyesatkannya, membisikkan waswas, menakut-nakuti, dan membuatnya bersedih. Setan juga membuatnya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya jika diingat, dan mengingat hal-hal yang justru membahayakannya. Akhirnya, setan terus menggoda dan menyeretnya ke dalam maksiat kepada Allah dengan dorongan yang kuat. Demikian pula, setan dari kalangan manusia menjadi berani mengganggunya — baik ketika ia hadir maupun tidak hadir — dengan segala bentuk gangguan yang mampu mereka lakukan. Bahkan keluarganya sendiri, para pelayan, anak-anak, dan tetangganya pun berani kepadanya, hingga hewan tunggangan atau binatang peliharaannya ikut berani melawannya. قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ امْرَأَتِي وَدَابَّتِي. وَكَذَلِكَ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ أَوْلِيَاءُ الْأَمْرِ بِالْعُقُوبَةِ الَّتِي إِنْ عَدَلُوا فِيهَا أَقَامُوا عَلَيْهِ حُدُودَ اللَّهِ، وَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ نَفْسُهُ فَتَتَأَسَّدُ عَلَيْهِ وَتَصْعُبُ عَلَيْهِ، فَلَوْ أَرَادَهَا لِخَيْرٍ لَمْ تُطَاوِعْهُ وَلَمْ تَنْقَدْ لَهُ، وَتَسُوقُهُ إِلَى مَا فِيهِ هَلَاكُهُ، شَاءَ أَمْ أَبِي. وَذَلِكَ لِأَنَّ الطَّاعَةَ حِصْنُ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الَّذِي مَنْ دَخَلَهُ كَانَ مِنَ الْآمِنِينَ، فَإِذَا فَارَقَ الْحِصْنَ اجْتَرَأَ عَلَيْهِ قُطَّاعُ الطَّرِيقِ وَغَيْرُهُمْ، وَعَلَى حَسَبِ اجْتِرَائِهِ عَلَى مَعَاصِي اللَّهِ يَكُونُ اجْتِرَاءُ هَذِهِ الْآفَاتِ وَالنُّفُوسِ عَلَيْهِ، وَلَيْسَ لَهُ شَيْءٌ يَرُدُّ عَنْهُ. فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ وَطَاعَتَهُ وَالصَّدَقَةَ وَإِرْشَادَ الْجَاهِلِ، وَالْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ – وِقَايَةٌ تَرُدُّ عَنِ الْعَبْدِ، بِمَنْزِلَةِ الْقُوَّةِ الَّتِي تَرُدُّ الْمَرَضَ وَتُقَاوِمُهُ، فَإِذَا سَقَطَتِ الْقُوَّةُ غَلَبَ وَارِدُ الْمَرَضِ فَكَانَ الْهَلَاكُ، فَلَابُدَّ لِلْعَبْدِ مِنْ شَيْءٍ يَرُدُّ عَنْهُ، فَإِنَّ مُوجِبَ السَّيِّئَاتِ وَالْحَسَنَاتِ تَتَدَافَعُ وَيَكُونُ الْحُكْمُ لِلْغَالِبِ كَمَا تَقَدَّمَ، وَكُلَّمَا قَوِيَ جَانِبُ الْحَسَنَاتِ كَانَ الرَّدُّ أَقْوَى كَمَا تَقَدَّمَ، فَإِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا، وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، فَبِحَسَبِ قُوَّةِ الْإِيمَانِ يَكُونُ الدَّفْعُ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ. Sebagian salaf berkata, “Sungguh, aku pernah bermaksiat kepada Allah, dan aku merasakan akibatnya pada akhlak istriku dan pada hewan tungganganku.” Begitu juga para penguasa menjadi berani menimpakan hukuman kepadanya; jika mereka bersikap adil, tentu mereka hanya menegakkan hukuman dari Allah atas dirinya. Bahkan dirinya sendiri menjadi berani melawannya — jiwanya menjadi liar dan sulit dikendalikan. Ketika ia mengajaknya kepada kebaikan, jiwanya enggan taat dan tidak mau tunduk. Namun, justru ia menyeret dirinya kepada sesuatu yang membinasakan, entah ia mau atau tidak mau. Hal itu terjadi karena ketaatan adalah benteng Allah Ta‘ālā. Barang siapa masuk ke dalam benteng itu, ia akan aman. Namun, jika seseorang keluar dari benteng tersebut, maka para perampok dan musuh akan berani menyerangnya. Seberapa besar seseorang berani bermaksiat kepada Allah, sebesar itu pula makhluk lain akan berani mengganggunya. Dan ia tidak memiliki pelindung apa pun yang bisa menolak bahaya tersebut. Sesungguhnya zikir kepada Allah, ketaatan, sedekah, mengajar orang yang tidak tahu, amar makruf nahi mungkar — semuanya adalah perisai yang melindungi hamba dari gangguan, sebagaimana kekuatan tubuh yang melawan dan menolak penyakit. Jika kekuatan itu hilang, maka penyakit akan menang dan menyebabkan kehancuran. Begitu pula, hati manusia memerlukan sesuatu yang menolak keburukan dari dirinya. Karena dampak buruk dan baik selalu saling menolak; yang menang adalah yang lebih kuat. Semakin kuat amal saleh dan kebaikan seseorang, semakin kuat pula pertahanan dan perlindungan Allah baginya. Sebagaimana firman Allah: إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ḥajj: 38) Dan iman itu terdiri dari ucapan dan perbuatan. Maka, sesuai dengan kadar kekuatan iman seseorang, sebesar itu pula Allah akan menolak bahaya dari dirinya. Allah-lah tempat meminta pertolongan. 47. Maksiat akan Mengkhianati Seseorang Saat Ia Membutuhkan Dirinya Sendiri Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَخُونُ الْعَبْدَ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ، فَإِنَّ كُلَّ أَحَدٍ يَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْفَعُهُ وَمَا يَضُرُّهُ فِي مَعَاشِهِ وَمَعَادِهِ، وَأَعْلَمُ النَّاسِ أَعْرَفُهُمْ بِذَلِكَ عَلَى التَّفْصِيلِ، وَأَقْوَاهُمْ وَأَكْيَسُهُمْ مَنْ قَوِيَ عَلَى نَفْسِهِ وَإِرَادَتِهِ، فَاسْتَعْمَلَهَا فِيمَا يَنْفَعُهُ وَكَفَّهَا عَمَّا يَضُرُّهُ، وَفِي ذَلِكَ تَتَفَاوَتُ مَعَارِفُ النَّاسِ وَهِمَمُهُمْ وَمَنَازِلُهُمْ، فَأَعْرَفُهُمْ مَنْ كَانَ عَارِفًا بِأَسْبَابِ السَّعَادَةِ وَالشَّقَاوَةِ، وَأَرْشَدُهُمْ مَنْ آثَرَ هَذِهِ عَلَى هَذِهِ، كَمَا أَنَّ أَسْفَهَهُمْ مَنْ عَكَسَ الْأَمْرَ. وَالْمَعَاصِي تَخُونُ الْعَبْدَ أَحْوَجَ مَا كَانَ إِلَى نَفْسِهِ فِي تَحْصِيلِ هَذَا الْعِلْمِ، وَإِيثَارِ الْحَظِّ الْأَشْرَفِ الْعَالِي الدَّائِمِ عَلَى الْحَظِّ الْخَسِيسِ الْأَدْنَى الْمُنْقَطِعِ، فَتَحْجُبُهُ الذُّنُوبُ عَنْ كَمَالِ هَذَا الْعِلْمِ، وَعَنْ الِاشْتِغَالِ بِمَا هُوَ أَوْلَى بِهِ، وَأَنْفَعُ لَهُ فِي الدَّارَيْنِ. فَإِذَا وَقَعَ مَكْرُوهٌ وَاحْتَاجَ إِلَى التَّخَلُّصِ مِنْهُ، خَانَهُ قَلْبُهُ وَنَفْسُهُ وَجَوَارِحُهُ، وَكَانَ بِمَنْزِلَةِ رَجُلٍ مَعَهُ سَيْفٌ قَدْ غَشِيَهُ الصَّدَأُ وَلَزِمَ قِرَابَهُ، بِحَيْثُ لَا يَنْجَذِبُ مَعَ صَاحِبِهِ إِذَا جَذَبَهُ، فَعَرَضَ لَهُ عَدُوٌّ يُرِيدُ قَتْلَهُ، فَوَضَعَ يَدِهِ عَلَى قَائِمِ سَيْفِهِ وَاجْتَهَدَ لِيُخْرِجَهُ، فَلَمْ يَخْرُجْ مَعَهُ، فَدَهَمَهُ الْعَدُوُّ وَظَفِرَ بِهِ. كَذَلِكَ الْقَلْبُ يَصْدَأُ بِالذُّنُوبِ وَيَصِيرُ مُثْخَنًا بِالْمَرَضِ، فَإِذَا احْتَاجَ إِلَى مُحَارَبَةِ الْعَدُوِّ لَمْ يَجِدْ مَعَهُ مِنْهُ شَيْئًا، وَالْعَبْدُ إِنَّمَا يُحَارِبُ وَيُصَاوِلُ وَيُقْدِمُ بِقَلْبِهِ، وَالْجَوَارِحُ تَبَعٌ لِلْقَلْبِ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَ مَلِكِهَا قُوَّةٌ يَدْفَعُ بِهَا، فَمَا الظَّنُّ بِهَا؟ وَكَذَلِكَ النَّفْسُ فَإِنَّهَا تَخْبُثُ بِالشَّهَوَاتِ وَالْمَعَاصِي وَتَضْعُفُ، أَعْنِي النَّفْسَ الْمُطْمَئِنَّةَ، وَإِنْ كَانَتِ الْأَمَّارَةُ تَقْوَى وَتَتَأَسَّدُ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ هَذِهِ ضَعُفَتْ تِلْكَ، فَيَبْقَى الْحُكْمُ وَالتَّصَرُّفُ لِلْأَمَّارَةِ. وَرُبَّمَا مَاتَتْ نَفْسُهُ الْمُطْمَئِنَّةُ مَوْتًا لَا يُرْتَجَى مَعَهُ حَيَاةٌ يَنْتَفِعُ بِهَا، بَلْ حَيَاتُهُ حَيَاةٌ يُدْرِكُ بِهَا الْأَلَمَ فَقَطْ. وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا وَقَعَ فِي شِدَّةٍ أَوْ كُرْبَةٍ أَوْ بَلِيَّةٍ خَانَهُ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ وَجَوَارِحُهُ عَمَّا هُوَ أَنْفَعُ شَيْءٍ لَهُ، فَلَا يَنْجَذِبُ قَلْبُهُ لِلتَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالْإِنَابَةِ إِلَيْهِ وَالْجَمْعِيَّةِ عَلَيْهِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّذَلُّلِ وَالِانْكِسَارِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَلَا يُطَاوِعُهُ لِسَانُهُ لِذِكْرِهِ، وَإِنْ ذَكَرَهُ بِلِسَانِهِ لَمْ يَجْمَعْ بَيْنَ قَلْبِهِ وَلِسَانِهِ، فَيَنْحَبِسُ الْقَلْبُ عَلَى اللِّسَانِ بِحَيْثُ يُؤَثِّرُ الذِّكْرُ، وَلَا يَنْحَبِسُ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ عَلَى الذِّكْرِ، بَلْ إِنْ ذَكَرَ أَوْ دَعَا ذَكَرَ بِقَلْبٍ لَاهٍ سَاهٍ غَافِلٍ، وَلَوْ أَرَادَ مِنْ جَوَارِحِهِ أَنْ تُعِينَهُ بِطَاعَةٍ تَدْفَعُ عَنْهُ لَمْ تَنْقَدْ لَهُ وَلَمْ تُطَاوِعْهُ. وَهَذَا كُلُّهُ أَثَرُ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي كَمَنْ لَهُ جُنْدٌ يَدْفَعُ عَنْهُ الْأَعْدَاءَ، فَأَهْمَلَ جُنْدَهُ، وَضَيَّعَهُمْ، وَأَضْعَفَهُمْ، وَقَطَعَ أَخْبَارَهُمْ، ثُمَّ أَرَادَ مِنْهُمْ عِنْدَ هُجُومِ الْعَدُوِّ عَلَيْهِ أَنْ يَسْتَفْرِغُوا وُسْعَهُمْ فِي الدَّفْعِ عَنْهُ بِغَيْرِ قُوَّةٍ. Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat akan mengkhianati seseorang di saat ia paling membutuhkan dirinya sendiri. Setiap manusia membutuhkan kemampuan untuk mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakan dirinya—baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Orang yang paling berilmu adalah mereka yang paling paham secara rinci tentang perkara yang membawa kebahagiaan dan perkara yang menyebabkan kesengsaraan. Sementara itu, orang yang paling kuat dan cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan diri dan kehendaknya: menggunakan diri untuk hal-hal yang bermanfaat dan menahan diri dari hal-hal yang merugikan. Dalam hal inilah manusia berbeda-beda tingkat pengetahuan, ambisi, dan kedudukannya. Orang yang paling berbahagia adalah mereka yang memahami secara mendalam sebab-sebab kebahagiaan dan sebab-sebab kesengsaraan, lalu memilih jalan kebahagiaan. Sebaliknya, orang yang paling bodoh adalah mereka yang justru memilih sebaliknya. Maksiat akan mengkhianati seseorang pada saat ia membutuhkan ilmu yang benar—ilmu tentang bagaimana memilih kenikmatan yang lebih tinggi, lebih mulia, dan abadi, daripada kesenangan rendah yang sebentar dan menjerumuskan. Dosa-dosa menutupi hati dari kesempurnaan ilmu ini, dan menghalanginya dari kesibukan yang lebih utama serta lebih bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Ketika seseorang tertimpa musibah dan ia membutuhkan jalan keluar, maka hatinya, jiwanya, dan anggota tubuhnya justru mengkhianatinya. Ia seperti seorang laki-laki yang memiliki pedang, tetapi pedang itu berkarat dan melekat kuat pada sarungnya sampai-sampai tidak dapat ditarik. Padahal musuh sudah di depan mata. Ia berusaha keras menarik pedangnya, tetapi pedang itu tak bergeming, hingga musuh menyerangnya dan mengalahkannya. Demikian pula hati—hati dapat berkarat karena dosa, dipenuhi penyakit. Ketika ia perlu melawan musuh (godaan, syahwat, bisikan setan), ia tidak lagi memiliki kekuatan. Padahal pertempuran sejati dilakukan oleh hati; anggota tubuh hanyalah pengikutnya. Jika “raja”—yaitu hati—lemah dan tidak mampu memimpin, bagaimana mungkin pasukannya (anggota tubuh) dapat bertahan? Demikian juga jiwa (an-nafs). Jiwa yang tenteram menjadi kotor dan lemah karena syahwat dan maksiat, sementara jiwa yang memerintahkan pada keburukan justru semakin kuat dan beringas. Semakin kuat bagian yang buruk ini, semakin lemah bagian yang baik. Bahkan, bisa jadi jiwa yang tenteram itu benar-benar mati—mati tanpa harapan hidup yang bermanfaat. Hidupnya hanya sebatas merasakan sakit, tanpa kemampuan memperoleh kebaikan. Intinya: ketika hamba berada dalam kesulitan, musibah, atau ujian, maka hatinya, lisannya, dan anggota tubuhnya akan mengkhianatinya dari sesuatu yang paling bermanfaat baginya. Hatinya tidak mampu tertarik untuk bertawakal kepada Allah, kembali kepada-Nya, bermunajat, merendah, dan tunduk sepenuhnya kepada-Nya. Lidahnya pun tidak mudah mengucapkan dzikir. Kalaupun berdzikir, lisannya bergerak tetapi tidak diiringi hati. Dzikir itu tidak memberikan pengaruh apa-apa karena hati dan lisan tidak bersatu. Bahkan bila ia ingin menggerakkan anggota tubuhnya untuk melakukan ketaatan yang dapat menolongnya, tubuhnya tidak mau patuh. Semua ini adalah pengaruh dari dosa dan maksiat. Ia seperti seseorang yang memiliki pasukan untuk membelanya dari musuh, tetapi ia menelantarkan pasukan itu, melemahkannya, memutus hubungan, dan tidak pernah melatihnya. Lalu ketika musuh menyerang, ia berharap pasukan itu bertempur sekuat tenaga padahal mereka tak lagi memiliki kemampuan apa-apa. Pengkhianatan Hati dan Lisan pada Sakratul Maut Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, هَذَا، وَثَمَّ أَمْرٌ أَخْوَفُ مِنْ ذَلِكَ وَأَدْهَى مِنْهُ وَأَمَرُّ، وَهُوَ أَنْ يَخُونَهُ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ وَالِانْتِقَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، فَرُبَّمَا تَعَذَّرَ عَلَيْهِ النُّطْقُ بِالشَّهَادَةِ، كَمَا شَاهَدَ النَّاسُ كَثِيرًا مِنَ الْمُحْتَضَرِينَ أَصَابَهُمْ ذَلِكَ، حَتَّى قِيلَ لِبَعْضِهِمْ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: آهْ آهْ، لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقُولَهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: شَاهْ رُخْ، غَلَبْتُكَ. ثُمَّ قَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: يَا رُبَّ قَائِلَةٍ يَوْمًا وَقَدْ تَعِبَتْ … أَيْنَ الطَّرِيقُ إِلَى حَمَّامِ مِنْجَابِ ثُمَّ قَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَجَعَلَ يَهْذِي بِالْغِنَاءِ وَيَقُولُ: تَاتِنَا تِنِنْتَا. حَتَّى قَضَى وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا يَنْفَعُنِي مَا تَقُولُ وَلَمْ أَدَعْ مَعْصِيَةً إِلَّا رَكِبْتُهَا؟ ثُمَّ قَضَى وَلَمْ يَقُلْهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا يُغْنِي عَنِّي، وَمَا أَعْرِفُ أَنِّي صَلَّيْتُ لِلَّهِ صَلَاةً؟ ثُمَّ قَضَى وَلَمْ يَقُلْهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: هُوَ كَافِرٌ بِمَا تَقُولُ. وَقَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَقُولَهَا لِسَانِي يُمْسِكُ عَنْهَا. وَأَخْبَرَنِي مَنْ حَضَرَ بَعْضَ الشَّحَّاذِينَ عِنْدَ مَوْتِهِ، فَجَعَلَ يَقُولُ: لِلَّهِ، فِلْسٌ لِلَّهِ. حَتَّى قَضَى. وَأَخْبَرَنِي بَعْضُ التُّجَّارِ عَنْ قَرَابَةٍ لَهُ أَنَّهُ احْتُضِرَ وَهُوَ عِنْدَهُ، وَجَعَلُوا يُلَقِّنُونَهُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَهُوَ يَقُولُ: هَذِهِ الْقِطْعَةُ رَخِيصَةٌ، هَذَا مُشْتَرٍ جَيِّدٌ، هَذِهِ كَذَا. حَتَّى قَضَى. وَسُبْحَانَ اللَّهِ! كَمْ شَاهَدَ النَّاسُ مِنْ هَذَا عِبَرًا؟ وَالَّذِي يَخْفَى عَلَيْهِمْ مِنْ أَحْوَالِ الْمُحْتَضِرِينَ أَعْظَمُ وَأَعْظَمُ. فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ فِي حَالِ حُضُورِ ذِهْنِهِ وَقُوَّتِهِ وَكَمَالِ إِدْرَاكِهِ قَدْ تَمَكَّنَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ، وَاسْتَعْمَلَهُ فِيمَا يُرِيدُهُ مِنْ مَعَاصِي اللَّهِ، وَقَدْ أَغْفَلَ قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَعَطَّلَ لِسَانَهُ عَنْ ذِكْرِهِ وَجَوَارِحَهُ عَنْ طَاعَتِهِ، فَكَيْفَ الظَّنُّ بِهِ عِنْدَ سُقُوطِ قُوَاهُ وَاشْتِغَالِ قَلْبِهِ وَنَفَسِهِ بِمَا هُوَ فِيهِ مِنْ أَلَمِ النَّزْعِ؟ وَجَمَعَ الشَّيْطَانُ لَهُ كُلَّ قُوَّتِهِ وَهِمَّتِهِ، وَحَشَدَ عَلَيْهِ بِجَمِيعِ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ لِيَنَالَ مِنْهُ فُرْصَتَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ آخِرُ الْعَمَلِ، فَأَقْوَى مَا يَكُونُ عَلَيْهِ شَيْطَانُهُ ذَلِكَ الْوَقْتِ، وَأَضْعَفُ مَا يَكُونُ هُوَ فِي تِلْك الْحَالِ، فَمَنْ تُرَى يَسْلَمُ عَلَى ذَلِكَ؟ فَهُنَاكَ {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ} [سُورَةُ إِبْرَاهِيمَ: ٢٧] . فَكَيْفَ يُوَفَّقُ بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ مَنْ أَغْفَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِهِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا. فَبَعِيدٌ مَنْ قَلْبُهُ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، غَافِلٌ عَنْهُ مُتَعَبِّدٌ لِهَوَاهُ أَسِيرٌ لِشَهَوَاتِهِ، وَلِسَانُهُ يَابِسٌ مِنْ ذِكْرِهِ، وَجَوَارِحُهُ مُعَطَّلَةٌ مِنْ طَاعَتِهِ مُشْتَغِلَةٌ بِمَعْصِيَتِهِ – أَنْ يُوَفَّقَ لِلْخَاتِمَةِ بِالْحُسْنَى. وَلَقَدْ قَطَعَ خَوْفُ الْخَاتِمَةِ ظُهُورَ الْمُتَّقِينَ، وَكَأَنَّ الْمُسِيئِينَ الظَّالِمِينَ قَدْ أَخَذُوا تَوْقِيعًا بِالْأَمَانِ {أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ – سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَلِكَ زَعِيمٌ} [سُورَةُ الْقَلَمِ: ٣٩ – ٤٠] كَمَا قِيلَ: يَا آمِنًا مِنْ قَبِيحِ الْفِعْلِ مِنْهُ أَهَلْ … أَتَاكَ تَوْقِيعُ أَمْنٍ أَنْتَ تَمْلِكُهُ جَمَعْتَ شَيْئَيْنِ أَمْنًا وَاتِّبَاعَ هَوًى … هَذَا وَإِحْدَاهُمَا فِي الْمَرْءِ تُهْلِكُهُ وَالْمُحْسِنُونَ عَلَى دَرْبِ الْمَخَاوِفِ قَدْ … سَارُوا وَذَلِكَ دَرْبٌ لَسْتَ تَسْلُكُهُ فَرَّطْتَ فِي الزَّرْعِ وَقْتَ الْبَذْرِ مِنْ سَفَهٍ … فَكَيْفَ عِنْدَ حَصَادِ النَّاسِ تُدْرِكُهُ هَذَا وَأَعْجَبُ شَيْءٍ مِنْكَ زُهْدُكَ فِي … دَارِ الْبَقَاءِ بِعَيْشٍ سَوْفَ تَتْرُكُهُ مَنِ السَّفِيهُ إِذًا بِاللَّهِ أَنْتَ أَمِ الْ … مَغْبُونُ فِي الْبَيْعِ غَبْنًا سَوْفَ يُدْرِكُهُ Ada satu perkara yang lebih menakutkan, lebih berat, dan lebih pahit daripada semua pembahasan sebelumnya, yaitu pengkhianatan hati dan lisan pada saat sakaratul maut, ketika seseorang bersiap meninggalkan dunia dan berpindah menghadap Allah Ta‘ala. Pada saat yang sangat genting itu, bisa saja seseorang tidak mampu mengucapkan syahadat. Banyak orang yang menyaksikan kejadian semacam ini. Ada yang ketika dikatakan kepadanya, “Ucapkanlah lā ilāha illallāh,” ia menjawab, “Ah… ah… aku tidak sanggup mengucapkannya.” Ada pula yang ketika diminta membaca syahadat malah berkata: “Shāh rukh, aku menang darimu!” Lalu ia meninggal. Yang lain, ketika diminta mengucapkan syahadat, ia malah melantunkan bait syair: “Wahai wanita yang dulu pernah bertanya kepadaku saat kelelahan: ke mana arah menuju pemandian Minjāb?” Setelah itu ia wafat. Ada pula yang ketika didorong untuk mengucapkan syahadat malah mengigau dengan nyanyian: “Tātinā tinintā…” Ia terus bernyanyi hingga meninggal. Ada yang berkata: “Untuk apa ucapan itu? Tidak ada maksiat kecuali sudah aku lakukan.” Lalu ia meninggal tanpa sempat mengucapkan syahadat. Ada pula yang berkata: “Untuk apa ini? Aku bahkan tidak tahu apakah pernah sekali saja aku shalat.” Lalu ia meninggal. Ada pula yang tegas berkata: “Ia (syahadat) adalah kekafiran bagiku.” Lalu ia meninggal. Ada pula yang berkata: “Setiap kali aku akan mengucapkannya, lidahku seperti terkunci dan tidak mau mengucapkannya.” Seseorang mengabarkan kepada Ibnul Qayyim tentang seorang pengemis yang ketika sakaratul maut terus menerus berkata: “Untuk Allah… satu uang receh untuk Allah…” Ia terus mengulanginya hingga meninggal. Seorang pedagang juga menceritakan bahwa kerabatnya saat sakaratul maut mereka talqin dengan kalimat syahadat, namun yang keluar dari lisannya adalah: “Barang ini murah… yang itu pembeli bagus… ini kualitas baik… itu sekian harganya…” Ia terus berbicara tentang transaksi hingga wafat. Subḥānallāh… berapa banyak pelajaran seperti ini yang disaksikan manusia? Dan apa yang tidak mereka saksikan—dari keadaan orang-orang yang sekarat—lebih mengerikan lagi. Jika pada saat seseorang sehat, sadar, dan kuat, setan sudah menguasainya dan menjadikannya alat untuk bermaksiat kepada Allah; jika hatinya lalai dari zikir, lisannya tidak digunakan untuk mengingat Allah, dan anggota tubuhnya tidak dipakai untuk taat, maka bagaimana keadaannya saat kekuatan tubuh melemah, dan hatinya sibuk menahan rasa sakit sakaratul maut? Saat itu setan mengumpulkan seluruh kekuatannya, mengerahkan seluruh tipu dayanya untuk merebut kesempatan terakhir. Itulah akhir amal, dan setan pada saat itu berada di puncak kemampuan menyerang, sementara manusia berada pada titik terlemahnya. Siapa yang mungkin selamat dari keadaan seberat itu? Pada saat itulah firman Allah berlaku: ﴿ يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ﴾ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) “Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh (syahadat) di dunia dan akhirat…” Bagaimana mungkin seseorang diberi husnul khatimah bila Allah tidak memberinya taufik? Bagaimana mungkin ia mendapatkan penutup kehidupan yang indah jika hatinya jauh dari Allah, lalai dari zikir, mengikuti hawa nafsu, tunduk kepada syahwat, lisannya kering dari zikir, dan anggota tubuhnya sibuk bermaksiat? Sangat jauh—sangat jauh—harapan bagi orang seperti itu mendapatkan akhir yang baik. Ketakutan terhadap buruknya akhir hidup benar-benar menundukkan punggung para muttaqin. Namun para pelaku maksiat bertingkah seolah mereka telah mendapat “surat jaminan keselamatan”, sebagaimana celaan Allah: ﴿ أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ * سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴾ “Atau apakah kamu memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?” (QS. Al-Qalam: 39–40) “Apakah kalian memiliki perjanjian yang kuat dari Kami sampai Hari Kiamat bahwa kalian akan mendapatkan apa pun yang kalian inginkan? Tanyakan kepada mereka: siapakah yang menjamin semua itu?” Lalu Ibnul Qayyim menutup dengan syair peringatan: Wahai yang merasa aman dari buruknya perbuatan, Apakah engkau punya jaminan keselamatan yang kau pegang? Engkau kumpulkan dua hal: rasa aman dan mengikuti hawa nafsu, padahal salah satunya saja dapat menghancurkan manusia. Orang-orang yang berbuat baik berjalan di jalan penuh rasa takut, sedangkan engkau tidak menapakinya. Engkau menyia-nyiakan musim menanam karena kebodohan, bagaimana mungkin engkau memperoleh panen saat orang lain memetik hasilnya? Paling mengherankan darimu: engkau tidak peduli terhadap negeri akhirat, demi hidup dunia yang akan segera kau tinggalkan. Siapa yang lebih bodoh—dirimu, atau orang yang rugi dalam perdagangan dan kerugiannya akan tampak jelas kelak? Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore. – Diupdate pada Rabu, 5 Jumadilakhir 1447 H, 26 November 2025 di Darush Sholihin Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs
Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat. Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 46. Maksiat Membuat Musuh Kita Makin Berani 1.7. 47. Maksiat akan Mengkhianati Seseorang Saat Ia Membutuhkan Dirinya Sendiri Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟ Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66) Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi? Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini. وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ. Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81) وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ. Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82) Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat Maksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut: 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ. Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut. وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ. Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.” وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِي Imam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya: “Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki Dari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ “Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِ Takwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا. Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa. Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab: إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِ وَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ. “Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.” Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, : الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ. Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah. Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri. Sebagian ulama salaf pernah berkata, إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي. “Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟ Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit. Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86) Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala, { وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ } “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.” Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin 46. Maksiat Membuat Musuh Kita Makin Berani Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَصْلٌ الْمَعَاصِي تُجَرِّئُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْدَاءَهُ وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تُجَرِّئُ عَلَى الْعَبْدِ مَا لَمْ يَكُنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ مِنْ أَصْنَافِ الْمَخْلُوقَاتِ، فَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينَ بِالْأَذَى وَالْإِغْوَاءِ وَالْوَسْوَسَةِ وَالتَّخْوِيفِ وَالتَّحْزِينِ، وَإِنْسَائِهِ مَا بِهِ مَصْلَحَتُهُ فِي ذِكْرِهِ، وَمَضَرَّتُهُ فِي نِسْيَانِهِ، فَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ حَتَّى تَؤُزَّهُ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ أَزًّا. وَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ شَيَاطِينُ الْإِنْسِ بِمَا تَقْدِرُ عَلَيْهِ مِنَ الْأَذَى فِي غَيْبَتِهِ وَحُضُورِهِ، وَيَجْتَرِئُ عَلَيْهِ أَهْلُهُ وَخَدَمُهُ وَأَوْلَادُهُ وَجِيرَانُهُ حَتَّى الْحَيَوَانُ الْبَهِيمُ. Termasuk di antara hukuman akibat maksiat adalah bahwa maksiat menjadikan makhluk lain berani kepada seseorang, yang sebelumnya tidak akan berani mengganggunya. Akibatnya, setan menjadi berani mengganggunya — dengan cara menyakitinya, menyesatkannya, membisikkan waswas, menakut-nakuti, dan membuatnya bersedih. Setan juga membuatnya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya jika diingat, dan mengingat hal-hal yang justru membahayakannya. Akhirnya, setan terus menggoda dan menyeretnya ke dalam maksiat kepada Allah dengan dorongan yang kuat. Demikian pula, setan dari kalangan manusia menjadi berani mengganggunya — baik ketika ia hadir maupun tidak hadir — dengan segala bentuk gangguan yang mampu mereka lakukan. Bahkan keluarganya sendiri, para pelayan, anak-anak, dan tetangganya pun berani kepadanya, hingga hewan tunggangan atau binatang peliharaannya ikut berani melawannya. قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ امْرَأَتِي وَدَابَّتِي. وَكَذَلِكَ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ أَوْلِيَاءُ الْأَمْرِ بِالْعُقُوبَةِ الَّتِي إِنْ عَدَلُوا فِيهَا أَقَامُوا عَلَيْهِ حُدُودَ اللَّهِ، وَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ نَفْسُهُ فَتَتَأَسَّدُ عَلَيْهِ وَتَصْعُبُ عَلَيْهِ، فَلَوْ أَرَادَهَا لِخَيْرٍ لَمْ تُطَاوِعْهُ وَلَمْ تَنْقَدْ لَهُ، وَتَسُوقُهُ إِلَى مَا فِيهِ هَلَاكُهُ، شَاءَ أَمْ أَبِي. وَذَلِكَ لِأَنَّ الطَّاعَةَ حِصْنُ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الَّذِي مَنْ دَخَلَهُ كَانَ مِنَ الْآمِنِينَ، فَإِذَا فَارَقَ الْحِصْنَ اجْتَرَأَ عَلَيْهِ قُطَّاعُ الطَّرِيقِ وَغَيْرُهُمْ، وَعَلَى حَسَبِ اجْتِرَائِهِ عَلَى مَعَاصِي اللَّهِ يَكُونُ اجْتِرَاءُ هَذِهِ الْآفَاتِ وَالنُّفُوسِ عَلَيْهِ، وَلَيْسَ لَهُ شَيْءٌ يَرُدُّ عَنْهُ. فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ وَطَاعَتَهُ وَالصَّدَقَةَ وَإِرْشَادَ الْجَاهِلِ، وَالْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ – وِقَايَةٌ تَرُدُّ عَنِ الْعَبْدِ، بِمَنْزِلَةِ الْقُوَّةِ الَّتِي تَرُدُّ الْمَرَضَ وَتُقَاوِمُهُ، فَإِذَا سَقَطَتِ الْقُوَّةُ غَلَبَ وَارِدُ الْمَرَضِ فَكَانَ الْهَلَاكُ، فَلَابُدَّ لِلْعَبْدِ مِنْ شَيْءٍ يَرُدُّ عَنْهُ، فَإِنَّ مُوجِبَ السَّيِّئَاتِ وَالْحَسَنَاتِ تَتَدَافَعُ وَيَكُونُ الْحُكْمُ لِلْغَالِبِ كَمَا تَقَدَّمَ، وَكُلَّمَا قَوِيَ جَانِبُ الْحَسَنَاتِ كَانَ الرَّدُّ أَقْوَى كَمَا تَقَدَّمَ، فَإِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا، وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، فَبِحَسَبِ قُوَّةِ الْإِيمَانِ يَكُونُ الدَّفْعُ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ. Sebagian salaf berkata, “Sungguh, aku pernah bermaksiat kepada Allah, dan aku merasakan akibatnya pada akhlak istriku dan pada hewan tungganganku.” Begitu juga para penguasa menjadi berani menimpakan hukuman kepadanya; jika mereka bersikap adil, tentu mereka hanya menegakkan hukuman dari Allah atas dirinya. Bahkan dirinya sendiri menjadi berani melawannya — jiwanya menjadi liar dan sulit dikendalikan. Ketika ia mengajaknya kepada kebaikan, jiwanya enggan taat dan tidak mau tunduk. Namun, justru ia menyeret dirinya kepada sesuatu yang membinasakan, entah ia mau atau tidak mau. Hal itu terjadi karena ketaatan adalah benteng Allah Ta‘ālā. Barang siapa masuk ke dalam benteng itu, ia akan aman. Namun, jika seseorang keluar dari benteng tersebut, maka para perampok dan musuh akan berani menyerangnya. Seberapa besar seseorang berani bermaksiat kepada Allah, sebesar itu pula makhluk lain akan berani mengganggunya. Dan ia tidak memiliki pelindung apa pun yang bisa menolak bahaya tersebut. Sesungguhnya zikir kepada Allah, ketaatan, sedekah, mengajar orang yang tidak tahu, amar makruf nahi mungkar — semuanya adalah perisai yang melindungi hamba dari gangguan, sebagaimana kekuatan tubuh yang melawan dan menolak penyakit. Jika kekuatan itu hilang, maka penyakit akan menang dan menyebabkan kehancuran. Begitu pula, hati manusia memerlukan sesuatu yang menolak keburukan dari dirinya. Karena dampak buruk dan baik selalu saling menolak; yang menang adalah yang lebih kuat. Semakin kuat amal saleh dan kebaikan seseorang, semakin kuat pula pertahanan dan perlindungan Allah baginya. Sebagaimana firman Allah: إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ḥajj: 38) Dan iman itu terdiri dari ucapan dan perbuatan. Maka, sesuai dengan kadar kekuatan iman seseorang, sebesar itu pula Allah akan menolak bahaya dari dirinya. Allah-lah tempat meminta pertolongan. 47. Maksiat akan Mengkhianati Seseorang Saat Ia Membutuhkan Dirinya Sendiri Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَخُونُ الْعَبْدَ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ، فَإِنَّ كُلَّ أَحَدٍ يَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْفَعُهُ وَمَا يَضُرُّهُ فِي مَعَاشِهِ وَمَعَادِهِ، وَأَعْلَمُ النَّاسِ أَعْرَفُهُمْ بِذَلِكَ عَلَى التَّفْصِيلِ، وَأَقْوَاهُمْ وَأَكْيَسُهُمْ مَنْ قَوِيَ عَلَى نَفْسِهِ وَإِرَادَتِهِ، فَاسْتَعْمَلَهَا فِيمَا يَنْفَعُهُ وَكَفَّهَا عَمَّا يَضُرُّهُ، وَفِي ذَلِكَ تَتَفَاوَتُ مَعَارِفُ النَّاسِ وَهِمَمُهُمْ وَمَنَازِلُهُمْ، فَأَعْرَفُهُمْ مَنْ كَانَ عَارِفًا بِأَسْبَابِ السَّعَادَةِ وَالشَّقَاوَةِ، وَأَرْشَدُهُمْ مَنْ آثَرَ هَذِهِ عَلَى هَذِهِ، كَمَا أَنَّ أَسْفَهَهُمْ مَنْ عَكَسَ الْأَمْرَ. وَالْمَعَاصِي تَخُونُ الْعَبْدَ أَحْوَجَ مَا كَانَ إِلَى نَفْسِهِ فِي تَحْصِيلِ هَذَا الْعِلْمِ، وَإِيثَارِ الْحَظِّ الْأَشْرَفِ الْعَالِي الدَّائِمِ عَلَى الْحَظِّ الْخَسِيسِ الْأَدْنَى الْمُنْقَطِعِ، فَتَحْجُبُهُ الذُّنُوبُ عَنْ كَمَالِ هَذَا الْعِلْمِ، وَعَنْ الِاشْتِغَالِ بِمَا هُوَ أَوْلَى بِهِ، وَأَنْفَعُ لَهُ فِي الدَّارَيْنِ. فَإِذَا وَقَعَ مَكْرُوهٌ وَاحْتَاجَ إِلَى التَّخَلُّصِ مِنْهُ، خَانَهُ قَلْبُهُ وَنَفْسُهُ وَجَوَارِحُهُ، وَكَانَ بِمَنْزِلَةِ رَجُلٍ مَعَهُ سَيْفٌ قَدْ غَشِيَهُ الصَّدَأُ وَلَزِمَ قِرَابَهُ، بِحَيْثُ لَا يَنْجَذِبُ مَعَ صَاحِبِهِ إِذَا جَذَبَهُ، فَعَرَضَ لَهُ عَدُوٌّ يُرِيدُ قَتْلَهُ، فَوَضَعَ يَدِهِ عَلَى قَائِمِ سَيْفِهِ وَاجْتَهَدَ لِيُخْرِجَهُ، فَلَمْ يَخْرُجْ مَعَهُ، فَدَهَمَهُ الْعَدُوُّ وَظَفِرَ بِهِ. كَذَلِكَ الْقَلْبُ يَصْدَأُ بِالذُّنُوبِ وَيَصِيرُ مُثْخَنًا بِالْمَرَضِ، فَإِذَا احْتَاجَ إِلَى مُحَارَبَةِ الْعَدُوِّ لَمْ يَجِدْ مَعَهُ مِنْهُ شَيْئًا، وَالْعَبْدُ إِنَّمَا يُحَارِبُ وَيُصَاوِلُ وَيُقْدِمُ بِقَلْبِهِ، وَالْجَوَارِحُ تَبَعٌ لِلْقَلْبِ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَ مَلِكِهَا قُوَّةٌ يَدْفَعُ بِهَا، فَمَا الظَّنُّ بِهَا؟ وَكَذَلِكَ النَّفْسُ فَإِنَّهَا تَخْبُثُ بِالشَّهَوَاتِ وَالْمَعَاصِي وَتَضْعُفُ، أَعْنِي النَّفْسَ الْمُطْمَئِنَّةَ، وَإِنْ كَانَتِ الْأَمَّارَةُ تَقْوَى وَتَتَأَسَّدُ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ هَذِهِ ضَعُفَتْ تِلْكَ، فَيَبْقَى الْحُكْمُ وَالتَّصَرُّفُ لِلْأَمَّارَةِ. وَرُبَّمَا مَاتَتْ نَفْسُهُ الْمُطْمَئِنَّةُ مَوْتًا لَا يُرْتَجَى مَعَهُ حَيَاةٌ يَنْتَفِعُ بِهَا، بَلْ حَيَاتُهُ حَيَاةٌ يُدْرِكُ بِهَا الْأَلَمَ فَقَطْ. وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا وَقَعَ فِي شِدَّةٍ أَوْ كُرْبَةٍ أَوْ بَلِيَّةٍ خَانَهُ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ وَجَوَارِحُهُ عَمَّا هُوَ أَنْفَعُ شَيْءٍ لَهُ، فَلَا يَنْجَذِبُ قَلْبُهُ لِلتَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالْإِنَابَةِ إِلَيْهِ وَالْجَمْعِيَّةِ عَلَيْهِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّذَلُّلِ وَالِانْكِسَارِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَلَا يُطَاوِعُهُ لِسَانُهُ لِذِكْرِهِ، وَإِنْ ذَكَرَهُ بِلِسَانِهِ لَمْ يَجْمَعْ بَيْنَ قَلْبِهِ وَلِسَانِهِ، فَيَنْحَبِسُ الْقَلْبُ عَلَى اللِّسَانِ بِحَيْثُ يُؤَثِّرُ الذِّكْرُ، وَلَا يَنْحَبِسُ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ عَلَى الذِّكْرِ، بَلْ إِنْ ذَكَرَ أَوْ دَعَا ذَكَرَ بِقَلْبٍ لَاهٍ سَاهٍ غَافِلٍ، وَلَوْ أَرَادَ مِنْ جَوَارِحِهِ أَنْ تُعِينَهُ بِطَاعَةٍ تَدْفَعُ عَنْهُ لَمْ تَنْقَدْ لَهُ وَلَمْ تُطَاوِعْهُ. وَهَذَا كُلُّهُ أَثَرُ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي كَمَنْ لَهُ جُنْدٌ يَدْفَعُ عَنْهُ الْأَعْدَاءَ، فَأَهْمَلَ جُنْدَهُ، وَضَيَّعَهُمْ، وَأَضْعَفَهُمْ، وَقَطَعَ أَخْبَارَهُمْ، ثُمَّ أَرَادَ مِنْهُمْ عِنْدَ هُجُومِ الْعَدُوِّ عَلَيْهِ أَنْ يَسْتَفْرِغُوا وُسْعَهُمْ فِي الدَّفْعِ عَنْهُ بِغَيْرِ قُوَّةٍ. Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat akan mengkhianati seseorang di saat ia paling membutuhkan dirinya sendiri. Setiap manusia membutuhkan kemampuan untuk mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakan dirinya—baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Orang yang paling berilmu adalah mereka yang paling paham secara rinci tentang perkara yang membawa kebahagiaan dan perkara yang menyebabkan kesengsaraan. Sementara itu, orang yang paling kuat dan cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan diri dan kehendaknya: menggunakan diri untuk hal-hal yang bermanfaat dan menahan diri dari hal-hal yang merugikan. Dalam hal inilah manusia berbeda-beda tingkat pengetahuan, ambisi, dan kedudukannya. Orang yang paling berbahagia adalah mereka yang memahami secara mendalam sebab-sebab kebahagiaan dan sebab-sebab kesengsaraan, lalu memilih jalan kebahagiaan. Sebaliknya, orang yang paling bodoh adalah mereka yang justru memilih sebaliknya. Maksiat akan mengkhianati seseorang pada saat ia membutuhkan ilmu yang benar—ilmu tentang bagaimana memilih kenikmatan yang lebih tinggi, lebih mulia, dan abadi, daripada kesenangan rendah yang sebentar dan menjerumuskan. Dosa-dosa menutupi hati dari kesempurnaan ilmu ini, dan menghalanginya dari kesibukan yang lebih utama serta lebih bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Ketika seseorang tertimpa musibah dan ia membutuhkan jalan keluar, maka hatinya, jiwanya, dan anggota tubuhnya justru mengkhianatinya. Ia seperti seorang laki-laki yang memiliki pedang, tetapi pedang itu berkarat dan melekat kuat pada sarungnya sampai-sampai tidak dapat ditarik. Padahal musuh sudah di depan mata. Ia berusaha keras menarik pedangnya, tetapi pedang itu tak bergeming, hingga musuh menyerangnya dan mengalahkannya. Demikian pula hati—hati dapat berkarat karena dosa, dipenuhi penyakit. Ketika ia perlu melawan musuh (godaan, syahwat, bisikan setan), ia tidak lagi memiliki kekuatan. Padahal pertempuran sejati dilakukan oleh hati; anggota tubuh hanyalah pengikutnya. Jika “raja”—yaitu hati—lemah dan tidak mampu memimpin, bagaimana mungkin pasukannya (anggota tubuh) dapat bertahan? Demikian juga jiwa (an-nafs). Jiwa yang tenteram menjadi kotor dan lemah karena syahwat dan maksiat, sementara jiwa yang memerintahkan pada keburukan justru semakin kuat dan beringas. Semakin kuat bagian yang buruk ini, semakin lemah bagian yang baik. Bahkan, bisa jadi jiwa yang tenteram itu benar-benar mati—mati tanpa harapan hidup yang bermanfaat. Hidupnya hanya sebatas merasakan sakit, tanpa kemampuan memperoleh kebaikan. Intinya: ketika hamba berada dalam kesulitan, musibah, atau ujian, maka hatinya, lisannya, dan anggota tubuhnya akan mengkhianatinya dari sesuatu yang paling bermanfaat baginya. Hatinya tidak mampu tertarik untuk bertawakal kepada Allah, kembali kepada-Nya, bermunajat, merendah, dan tunduk sepenuhnya kepada-Nya. Lidahnya pun tidak mudah mengucapkan dzikir. Kalaupun berdzikir, lisannya bergerak tetapi tidak diiringi hati. Dzikir itu tidak memberikan pengaruh apa-apa karena hati dan lisan tidak bersatu. Bahkan bila ia ingin menggerakkan anggota tubuhnya untuk melakukan ketaatan yang dapat menolongnya, tubuhnya tidak mau patuh. Semua ini adalah pengaruh dari dosa dan maksiat. Ia seperti seseorang yang memiliki pasukan untuk membelanya dari musuh, tetapi ia menelantarkan pasukan itu, melemahkannya, memutus hubungan, dan tidak pernah melatihnya. Lalu ketika musuh menyerang, ia berharap pasukan itu bertempur sekuat tenaga padahal mereka tak lagi memiliki kemampuan apa-apa. Pengkhianatan Hati dan Lisan pada Sakratul Maut Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, هَذَا، وَثَمَّ أَمْرٌ أَخْوَفُ مِنْ ذَلِكَ وَأَدْهَى مِنْهُ وَأَمَرُّ، وَهُوَ أَنْ يَخُونَهُ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ وَالِانْتِقَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، فَرُبَّمَا تَعَذَّرَ عَلَيْهِ النُّطْقُ بِالشَّهَادَةِ، كَمَا شَاهَدَ النَّاسُ كَثِيرًا مِنَ الْمُحْتَضَرِينَ أَصَابَهُمْ ذَلِكَ، حَتَّى قِيلَ لِبَعْضِهِمْ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: آهْ آهْ، لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقُولَهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: شَاهْ رُخْ، غَلَبْتُكَ. ثُمَّ قَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: يَا رُبَّ قَائِلَةٍ يَوْمًا وَقَدْ تَعِبَتْ … أَيْنَ الطَّرِيقُ إِلَى حَمَّامِ مِنْجَابِ ثُمَّ قَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَجَعَلَ يَهْذِي بِالْغِنَاءِ وَيَقُولُ: تَاتِنَا تِنِنْتَا. حَتَّى قَضَى وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا يَنْفَعُنِي مَا تَقُولُ وَلَمْ أَدَعْ مَعْصِيَةً إِلَّا رَكِبْتُهَا؟ ثُمَّ قَضَى وَلَمْ يَقُلْهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا يُغْنِي عَنِّي، وَمَا أَعْرِفُ أَنِّي صَلَّيْتُ لِلَّهِ صَلَاةً؟ ثُمَّ قَضَى وَلَمْ يَقُلْهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: هُوَ كَافِرٌ بِمَا تَقُولُ. وَقَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَقُولَهَا لِسَانِي يُمْسِكُ عَنْهَا. وَأَخْبَرَنِي مَنْ حَضَرَ بَعْضَ الشَّحَّاذِينَ عِنْدَ مَوْتِهِ، فَجَعَلَ يَقُولُ: لِلَّهِ، فِلْسٌ لِلَّهِ. حَتَّى قَضَى. وَأَخْبَرَنِي بَعْضُ التُّجَّارِ عَنْ قَرَابَةٍ لَهُ أَنَّهُ احْتُضِرَ وَهُوَ عِنْدَهُ، وَجَعَلُوا يُلَقِّنُونَهُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَهُوَ يَقُولُ: هَذِهِ الْقِطْعَةُ رَخِيصَةٌ، هَذَا مُشْتَرٍ جَيِّدٌ، هَذِهِ كَذَا. حَتَّى قَضَى. وَسُبْحَانَ اللَّهِ! كَمْ شَاهَدَ النَّاسُ مِنْ هَذَا عِبَرًا؟ وَالَّذِي يَخْفَى عَلَيْهِمْ مِنْ أَحْوَالِ الْمُحْتَضِرِينَ أَعْظَمُ وَأَعْظَمُ. فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ فِي حَالِ حُضُورِ ذِهْنِهِ وَقُوَّتِهِ وَكَمَالِ إِدْرَاكِهِ قَدْ تَمَكَّنَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ، وَاسْتَعْمَلَهُ فِيمَا يُرِيدُهُ مِنْ مَعَاصِي اللَّهِ، وَقَدْ أَغْفَلَ قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَعَطَّلَ لِسَانَهُ عَنْ ذِكْرِهِ وَجَوَارِحَهُ عَنْ طَاعَتِهِ، فَكَيْفَ الظَّنُّ بِهِ عِنْدَ سُقُوطِ قُوَاهُ وَاشْتِغَالِ قَلْبِهِ وَنَفَسِهِ بِمَا هُوَ فِيهِ مِنْ أَلَمِ النَّزْعِ؟ وَجَمَعَ الشَّيْطَانُ لَهُ كُلَّ قُوَّتِهِ وَهِمَّتِهِ، وَحَشَدَ عَلَيْهِ بِجَمِيعِ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ لِيَنَالَ مِنْهُ فُرْصَتَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ آخِرُ الْعَمَلِ، فَأَقْوَى مَا يَكُونُ عَلَيْهِ شَيْطَانُهُ ذَلِكَ الْوَقْتِ، وَأَضْعَفُ مَا يَكُونُ هُوَ فِي تِلْك الْحَالِ، فَمَنْ تُرَى يَسْلَمُ عَلَى ذَلِكَ؟ فَهُنَاكَ {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ} [سُورَةُ إِبْرَاهِيمَ: ٢٧] . فَكَيْفَ يُوَفَّقُ بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ مَنْ أَغْفَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِهِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا. فَبَعِيدٌ مَنْ قَلْبُهُ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، غَافِلٌ عَنْهُ مُتَعَبِّدٌ لِهَوَاهُ أَسِيرٌ لِشَهَوَاتِهِ، وَلِسَانُهُ يَابِسٌ مِنْ ذِكْرِهِ، وَجَوَارِحُهُ مُعَطَّلَةٌ مِنْ طَاعَتِهِ مُشْتَغِلَةٌ بِمَعْصِيَتِهِ – أَنْ يُوَفَّقَ لِلْخَاتِمَةِ بِالْحُسْنَى. وَلَقَدْ قَطَعَ خَوْفُ الْخَاتِمَةِ ظُهُورَ الْمُتَّقِينَ، وَكَأَنَّ الْمُسِيئِينَ الظَّالِمِينَ قَدْ أَخَذُوا تَوْقِيعًا بِالْأَمَانِ {أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ – سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَلِكَ زَعِيمٌ} [سُورَةُ الْقَلَمِ: ٣٩ – ٤٠] كَمَا قِيلَ: يَا آمِنًا مِنْ قَبِيحِ الْفِعْلِ مِنْهُ أَهَلْ … أَتَاكَ تَوْقِيعُ أَمْنٍ أَنْتَ تَمْلِكُهُ جَمَعْتَ شَيْئَيْنِ أَمْنًا وَاتِّبَاعَ هَوًى … هَذَا وَإِحْدَاهُمَا فِي الْمَرْءِ تُهْلِكُهُ وَالْمُحْسِنُونَ عَلَى دَرْبِ الْمَخَاوِفِ قَدْ … سَارُوا وَذَلِكَ دَرْبٌ لَسْتَ تَسْلُكُهُ فَرَّطْتَ فِي الزَّرْعِ وَقْتَ الْبَذْرِ مِنْ سَفَهٍ … فَكَيْفَ عِنْدَ حَصَادِ النَّاسِ تُدْرِكُهُ هَذَا وَأَعْجَبُ شَيْءٍ مِنْكَ زُهْدُكَ فِي … دَارِ الْبَقَاءِ بِعَيْشٍ سَوْفَ تَتْرُكُهُ مَنِ السَّفِيهُ إِذًا بِاللَّهِ أَنْتَ أَمِ الْ … مَغْبُونُ فِي الْبَيْعِ غَبْنًا سَوْفَ يُدْرِكُهُ Ada satu perkara yang lebih menakutkan, lebih berat, dan lebih pahit daripada semua pembahasan sebelumnya, yaitu pengkhianatan hati dan lisan pada saat sakaratul maut, ketika seseorang bersiap meninggalkan dunia dan berpindah menghadap Allah Ta‘ala. Pada saat yang sangat genting itu, bisa saja seseorang tidak mampu mengucapkan syahadat. Banyak orang yang menyaksikan kejadian semacam ini. Ada yang ketika dikatakan kepadanya, “Ucapkanlah lā ilāha illallāh,” ia menjawab, “Ah… ah… aku tidak sanggup mengucapkannya.” Ada pula yang ketika diminta membaca syahadat malah berkata: “Shāh rukh, aku menang darimu!” Lalu ia meninggal. Yang lain, ketika diminta mengucapkan syahadat, ia malah melantunkan bait syair: “Wahai wanita yang dulu pernah bertanya kepadaku saat kelelahan: ke mana arah menuju pemandian Minjāb?” Setelah itu ia wafat. Ada pula yang ketika didorong untuk mengucapkan syahadat malah mengigau dengan nyanyian: “Tātinā tinintā…” Ia terus bernyanyi hingga meninggal. Ada yang berkata: “Untuk apa ucapan itu? Tidak ada maksiat kecuali sudah aku lakukan.” Lalu ia meninggal tanpa sempat mengucapkan syahadat. Ada pula yang berkata: “Untuk apa ini? Aku bahkan tidak tahu apakah pernah sekali saja aku shalat.” Lalu ia meninggal. Ada pula yang tegas berkata: “Ia (syahadat) adalah kekafiran bagiku.” Lalu ia meninggal. Ada pula yang berkata: “Setiap kali aku akan mengucapkannya, lidahku seperti terkunci dan tidak mau mengucapkannya.” Seseorang mengabarkan kepada Ibnul Qayyim tentang seorang pengemis yang ketika sakaratul maut terus menerus berkata: “Untuk Allah… satu uang receh untuk Allah…” Ia terus mengulanginya hingga meninggal. Seorang pedagang juga menceritakan bahwa kerabatnya saat sakaratul maut mereka talqin dengan kalimat syahadat, namun yang keluar dari lisannya adalah: “Barang ini murah… yang itu pembeli bagus… ini kualitas baik… itu sekian harganya…” Ia terus berbicara tentang transaksi hingga wafat. Subḥānallāh… berapa banyak pelajaran seperti ini yang disaksikan manusia? Dan apa yang tidak mereka saksikan—dari keadaan orang-orang yang sekarat—lebih mengerikan lagi. Jika pada saat seseorang sehat, sadar, dan kuat, setan sudah menguasainya dan menjadikannya alat untuk bermaksiat kepada Allah; jika hatinya lalai dari zikir, lisannya tidak digunakan untuk mengingat Allah, dan anggota tubuhnya tidak dipakai untuk taat, maka bagaimana keadaannya saat kekuatan tubuh melemah, dan hatinya sibuk menahan rasa sakit sakaratul maut? Saat itu setan mengumpulkan seluruh kekuatannya, mengerahkan seluruh tipu dayanya untuk merebut kesempatan terakhir. Itulah akhir amal, dan setan pada saat itu berada di puncak kemampuan menyerang, sementara manusia berada pada titik terlemahnya. Siapa yang mungkin selamat dari keadaan seberat itu? Pada saat itulah firman Allah berlaku: ﴿ يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ﴾ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) “Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh (syahadat) di dunia dan akhirat…” Bagaimana mungkin seseorang diberi husnul khatimah bila Allah tidak memberinya taufik? Bagaimana mungkin ia mendapatkan penutup kehidupan yang indah jika hatinya jauh dari Allah, lalai dari zikir, mengikuti hawa nafsu, tunduk kepada syahwat, lisannya kering dari zikir, dan anggota tubuhnya sibuk bermaksiat? Sangat jauh—sangat jauh—harapan bagi orang seperti itu mendapatkan akhir yang baik. Ketakutan terhadap buruknya akhir hidup benar-benar menundukkan punggung para muttaqin. Namun para pelaku maksiat bertingkah seolah mereka telah mendapat “surat jaminan keselamatan”, sebagaimana celaan Allah: ﴿ أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ * سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴾ “Atau apakah kamu memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?” (QS. Al-Qalam: 39–40) “Apakah kalian memiliki perjanjian yang kuat dari Kami sampai Hari Kiamat bahwa kalian akan mendapatkan apa pun yang kalian inginkan? Tanyakan kepada mereka: siapakah yang menjamin semua itu?” Lalu Ibnul Qayyim menutup dengan syair peringatan: Wahai yang merasa aman dari buruknya perbuatan, Apakah engkau punya jaminan keselamatan yang kau pegang? Engkau kumpulkan dua hal: rasa aman dan mengikuti hawa nafsu, padahal salah satunya saja dapat menghancurkan manusia. Orang-orang yang berbuat baik berjalan di jalan penuh rasa takut, sedangkan engkau tidak menapakinya. Engkau menyia-nyiakan musim menanam karena kebodohan, bagaimana mungkin engkau memperoleh panen saat orang lain memetik hasilnya? Paling mengherankan darimu: engkau tidak peduli terhadap negeri akhirat, demi hidup dunia yang akan segera kau tinggalkan. Siapa yang lebih bodoh—dirimu, atau orang yang rugi dalam perdagangan dan kerugiannya akan tampak jelas kelak? Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore. – Diupdate pada Rabu, 5 Jumadilakhir 1447 H, 26 November 2025 di Darush Sholihin Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs