Ilmu Lebih Berharga dari Harta: Inspirasi Parenting dari Kisah Farrukh dan Rabi‘ah

Kisah ini menggambarkan Farrukh yang pergi berjihad bertahun-tahun lamanya, lalu kembali dan tanpa disangka justru berhadapan dengan putranya sendiri yang telah tumbuh menjadi ulama besar. Pertemuan itu menyingkap pengorbanan sang ibu yang membesarkan dan mendidik anaknya dengan harta yang dititipkan suaminya, hingga Allah mengangkat derajat Rabi‘ah dengan ilmu yang jauh lebih berharga daripada puluhan ribu dinar yang dulu ditinggalkan. Diriwayatkan dari para ulama Madinah, bahwa Farrukh (Abu Abdirrahman, ayah Imam Rabi‘ah) pernah ikut dalam pasukan jihad ke Khurasan di masa pemerintahan Bani Umayyah. Saat ia berangkat, istrinya sedang hamil. Ia pun menitipkan tiga puluh ribu dinar kepada istrinya sebelum berangkat. Ia tidak kembali ke Madinah kecuali setelah dua puluh tujuh tahun. Setibanya di rumahnya, ia turun dari kuda dengan tombak di tangan, lalu mengetuk pintu dengan tombak tersebut. Tiba-tiba keluar seorang pemuda (anaknya, Rabi‘ah) dan mengira itu orang asing yang hendak masuk ke rumahnya. Rabi‘ah pun membentak: “Wahai musuh Allah! Berani sekali engkau menerobos rumahku!” Farrukh pun balas berkata: “Wahai musuh Allah! Engkau lelaki asing masuk ke rumah istriku!” Keduanya saling serang dan berpegangan dengan keras hingga orang-orang datang melerai. Keributan itu sampai kepada Imam Mālik dan para masyaikh Madinah. Mereka datang untuk melerai dan menolong Rabi‘ah. Saat itu, Rabi‘ah bersikeras: “Demi Allah, aku tidak akan melepaskanmu kecuali di hadapan penguasa!” Farrukh juga berkata: “Demi Allah, aku pun tidak akan melepaskanmu kecuali di hadapan penguasa, karena engkau bersama istriku!” Keributan semakin ramai hingga akhirnya Imam Mālik datang. Begitu melihat beliau, semua orang diam. Imam Mālik pun berkata kepada Farrukh: “Wahai Syaikh, masih banyak tempat tinggal lain bagimu selain rumah ini.” Farrukh menjawab: “Ini adalah rumahku. Aku Farrukh, maulā Bani Fulan.” Mendengar itu, istrinya pun keluar lalu berkata: “Benar, ini adalah suamiku. Dan ini anakmu yang aku kandung saat engkau berangkat dulu.” Maka keduanya pun berpelukan dan menangis. Ketika Farrukh masuk ke rumah, ia berkata kepada istrinya: “Apakah benar ini anakku?” Istrinya menjawab: “Ya.” Farrukh berkata: “Keluarkanlah uangku yang dulu kutitipkan. Aku juga membawa empat ribu dinar lagi.” Istrinya berkata: “Aku telah menguburnya, nanti aku keluarkan setelah beberapa hari.” Sementara itu, Rabi‘ah pergi ke masjid, duduk di majelis ilmunya. Saat itu banyak tokoh hadir: Imam Mālik bin Anas, al-Hasan bin Zayd, Ibnu Abī ‘Alī al-Lahabī, al-Masāhiqī, dan para pembesar Madinah. Orang-orang pun mengelilingi Rabi‘ah dalam majelis ilmu yang penuh. Kemudian ibunya berkata kepada Farrukh: “Keluarlah, shalatlah di masjid Rasulullah ﷺ.” Maka Farrukh keluar. Setelah shalat, ia melihat sebuah majelis besar, lalu ia dekati. Orang-orang memberi jalan. Saat ia melihat pengajar majelis itu—ternyata anaknya sendiri, Rabi‘ah—ia hampir tak percaya. Ia bertanya: “Siapakah pemuda ini?” Mereka menjawab: “Inilah Rabi‘ah bin Abdirrahman.” Farrukh pun kagum: “Sungguh Allah telah mengangkat derajat anakku!” Ia pun pulang dan berkata kepada istrinya: “Sungguh aku melihat anakmu dalam keadaan yang belum pernah kulihat seorang pun dari ahli ilmu dan fiqih sepertinya.” Sang ibu pun berkata: “Mana yang lebih engkau cintai, harta tiga puluh ribu dinar yang engkau tinggalkan atau kedudukan anakmu sekarang?” Farrukh menjawab: “Demi Allah, aku lebih mencintai apa yang ia raih sekarang.” Sang ibu berkata: “Ketahuilah, aku telah menghabiskan seluruh harta itu untuk mendidiknya.” Farrukh pun menjawab dengan penuh ridha: “Demi Allah, engkau tidak menyia-nyiakannya.” ⸻ Pelajaran dari kisah Farrukh dan Rabi‘ah: Keutamaan menafkahkan harta untuk pendidikan anak, karena hasilnya lebih kekal daripada simpanan materi. Ilmu yang bermanfaat jauh lebih berharga daripada harta berlimpah, bahkan mampu mengangkat derajat keluarga. Peran seorang ibu sangat besar dalam membentuk ulama besar, terutama ketika ia memiliki visi dan pengorbanan. Ibu dapat menutupi kekosongan ayah (fatherless) dengan kedekatan, ketegasan, dan arah pendidikan yang jelas. Pendidikan yang terarah mengalahkan keterbatasan kehadiran orang tua, termasuk ketika ayah jauh atau tidak hadir. Lingkungan yang baik—guru, masjid, majelis ilmu—dapat menggantikan figur ayah yang absen. Anak tidak butuh kemewahan, tetapi butuh arah hidup, adab, dan tujuan pendidikan. Ibu yang tidak menanamkan kebencian terhadap ayah membuat anak tumbuh dengan hati yang sehat meski fatherless. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, hasilnya baru terlihat ketika anak dewasa dan Allah bukakan keberkahan. Doa ibu merupakan pendorong terbesar keberhasilan anak, menjadi sebab Allah angkat derajatnya.   Kisah Farrukh dan Rabi’ah versi Arab روي عن مشيخة أهل المدينة أن فروخا أبا عبد الرحمن أبو ربيعة خرج في البعوث إلى خراسان أيام بني أمية غازيا، وربيعة حمل في بطن أمه، وخلف عند زوجته أم ربيعة ثلاثين ألف دينار ؛ فقدم المدينة بعد سبع وعشرين سنة وهو راكب فرسا في يده رمح فنزل عن فرسه ثم دفع الباب برمحه فخرج ربيعة فقال له: يا عدو الله ! أتهجم على منزلي ؟ فقال: لا، وقال فروخ: يا عدو الله ! أنت رجل دخلت على حرمتي ! فتواثبا وتلبب كل واحد منهما بصاحبه حتى اجتمع الجيران فبلغ مالك بن أنس والمشيخة فأتوا يعينون ربيعة، فجعل ربيعة يقول: والله لا فارقتك إلا عند السلطان وجعل فروخ يقول: والله لا فارقتك إلا بالسلطان وأنت مع امرأتي وكثر الضجيج. فلما بصروا بمالك سكت الناس كلهم، فقال مالك: أيها الشيخ ! لك سعة في غير هذه الدار، فقال الشيخ: هذه داري وأنا فروخ مولى بني فلان، فسمعت امرأته كلامه فخرجت فقالت: هذا زوجي وهذا ابني الذي خلفته وأنا حامل به فاعتنقا جميعا وبكيا. فدخل فروخ المنزل وقال: هذا ابني ؟ ! قالت: نعم. قال: فأخرجي المال الذي لي عندك وهذه معي أربعة آلاف دينار فقالت: المال قد دفنته وأنا أخرجه بعد أيام. فخرج ربيعة إلى المسجد وجلس في حلقته وأتاه مالك بن أنس والحسن بن زيد وابن أبي علي اللهبي والمساحقي وأشراف أهل المدينة وأحدق الناس به. فقالت امرأته: اخرج صل في مسجد الرسول فخرج فصلى فنظر إلى حلقة وافرة فأتاه فوقف عليه ففرجوا له قليلا ونكس ربيعة رأسه يوهمه أنه لم يره وعليه طويلة فشك فيه أبو عبد الرحمن فقال: من هذا الرجل ؟ فقالوا: هذا ربيعة بن أبي عبد الرحمن فقال أبو عبد الرحمن: لقد رفع الله ابني ؛ فرجع إلى منزله فقال لوالدته: لقد رأيت ولدك في حالة ما رأيت أحدا من أهل العلم والفقه عليها، فقالت أمه: فأيهما أحب إليك ثلاثون ألف دينار أو هذا الذي هو فيه من الجاه ؟ قال: لا والله ألا هذا، قالت: فإني قد أنفقت المال كله عليه قال: فوالله ما ضيعته. ———- Ditulis di perjalanan Darush Sholihin – Masjid Mina, 28 Jumadilawal 1447 H Penyusun: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanak saleh pendidikan anak pengasuhan anak

Ilmu Lebih Berharga dari Harta: Inspirasi Parenting dari Kisah Farrukh dan Rabi‘ah

Kisah ini menggambarkan Farrukh yang pergi berjihad bertahun-tahun lamanya, lalu kembali dan tanpa disangka justru berhadapan dengan putranya sendiri yang telah tumbuh menjadi ulama besar. Pertemuan itu menyingkap pengorbanan sang ibu yang membesarkan dan mendidik anaknya dengan harta yang dititipkan suaminya, hingga Allah mengangkat derajat Rabi‘ah dengan ilmu yang jauh lebih berharga daripada puluhan ribu dinar yang dulu ditinggalkan. Diriwayatkan dari para ulama Madinah, bahwa Farrukh (Abu Abdirrahman, ayah Imam Rabi‘ah) pernah ikut dalam pasukan jihad ke Khurasan di masa pemerintahan Bani Umayyah. Saat ia berangkat, istrinya sedang hamil. Ia pun menitipkan tiga puluh ribu dinar kepada istrinya sebelum berangkat. Ia tidak kembali ke Madinah kecuali setelah dua puluh tujuh tahun. Setibanya di rumahnya, ia turun dari kuda dengan tombak di tangan, lalu mengetuk pintu dengan tombak tersebut. Tiba-tiba keluar seorang pemuda (anaknya, Rabi‘ah) dan mengira itu orang asing yang hendak masuk ke rumahnya. Rabi‘ah pun membentak: “Wahai musuh Allah! Berani sekali engkau menerobos rumahku!” Farrukh pun balas berkata: “Wahai musuh Allah! Engkau lelaki asing masuk ke rumah istriku!” Keduanya saling serang dan berpegangan dengan keras hingga orang-orang datang melerai. Keributan itu sampai kepada Imam Mālik dan para masyaikh Madinah. Mereka datang untuk melerai dan menolong Rabi‘ah. Saat itu, Rabi‘ah bersikeras: “Demi Allah, aku tidak akan melepaskanmu kecuali di hadapan penguasa!” Farrukh juga berkata: “Demi Allah, aku pun tidak akan melepaskanmu kecuali di hadapan penguasa, karena engkau bersama istriku!” Keributan semakin ramai hingga akhirnya Imam Mālik datang. Begitu melihat beliau, semua orang diam. Imam Mālik pun berkata kepada Farrukh: “Wahai Syaikh, masih banyak tempat tinggal lain bagimu selain rumah ini.” Farrukh menjawab: “Ini adalah rumahku. Aku Farrukh, maulā Bani Fulan.” Mendengar itu, istrinya pun keluar lalu berkata: “Benar, ini adalah suamiku. Dan ini anakmu yang aku kandung saat engkau berangkat dulu.” Maka keduanya pun berpelukan dan menangis. Ketika Farrukh masuk ke rumah, ia berkata kepada istrinya: “Apakah benar ini anakku?” Istrinya menjawab: “Ya.” Farrukh berkata: “Keluarkanlah uangku yang dulu kutitipkan. Aku juga membawa empat ribu dinar lagi.” Istrinya berkata: “Aku telah menguburnya, nanti aku keluarkan setelah beberapa hari.” Sementara itu, Rabi‘ah pergi ke masjid, duduk di majelis ilmunya. Saat itu banyak tokoh hadir: Imam Mālik bin Anas, al-Hasan bin Zayd, Ibnu Abī ‘Alī al-Lahabī, al-Masāhiqī, dan para pembesar Madinah. Orang-orang pun mengelilingi Rabi‘ah dalam majelis ilmu yang penuh. Kemudian ibunya berkata kepada Farrukh: “Keluarlah, shalatlah di masjid Rasulullah ﷺ.” Maka Farrukh keluar. Setelah shalat, ia melihat sebuah majelis besar, lalu ia dekati. Orang-orang memberi jalan. Saat ia melihat pengajar majelis itu—ternyata anaknya sendiri, Rabi‘ah—ia hampir tak percaya. Ia bertanya: “Siapakah pemuda ini?” Mereka menjawab: “Inilah Rabi‘ah bin Abdirrahman.” Farrukh pun kagum: “Sungguh Allah telah mengangkat derajat anakku!” Ia pun pulang dan berkata kepada istrinya: “Sungguh aku melihat anakmu dalam keadaan yang belum pernah kulihat seorang pun dari ahli ilmu dan fiqih sepertinya.” Sang ibu pun berkata: “Mana yang lebih engkau cintai, harta tiga puluh ribu dinar yang engkau tinggalkan atau kedudukan anakmu sekarang?” Farrukh menjawab: “Demi Allah, aku lebih mencintai apa yang ia raih sekarang.” Sang ibu berkata: “Ketahuilah, aku telah menghabiskan seluruh harta itu untuk mendidiknya.” Farrukh pun menjawab dengan penuh ridha: “Demi Allah, engkau tidak menyia-nyiakannya.” ⸻ Pelajaran dari kisah Farrukh dan Rabi‘ah: Keutamaan menafkahkan harta untuk pendidikan anak, karena hasilnya lebih kekal daripada simpanan materi. Ilmu yang bermanfaat jauh lebih berharga daripada harta berlimpah, bahkan mampu mengangkat derajat keluarga. Peran seorang ibu sangat besar dalam membentuk ulama besar, terutama ketika ia memiliki visi dan pengorbanan. Ibu dapat menutupi kekosongan ayah (fatherless) dengan kedekatan, ketegasan, dan arah pendidikan yang jelas. Pendidikan yang terarah mengalahkan keterbatasan kehadiran orang tua, termasuk ketika ayah jauh atau tidak hadir. Lingkungan yang baik—guru, masjid, majelis ilmu—dapat menggantikan figur ayah yang absen. Anak tidak butuh kemewahan, tetapi butuh arah hidup, adab, dan tujuan pendidikan. Ibu yang tidak menanamkan kebencian terhadap ayah membuat anak tumbuh dengan hati yang sehat meski fatherless. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, hasilnya baru terlihat ketika anak dewasa dan Allah bukakan keberkahan. Doa ibu merupakan pendorong terbesar keberhasilan anak, menjadi sebab Allah angkat derajatnya.   Kisah Farrukh dan Rabi’ah versi Arab روي عن مشيخة أهل المدينة أن فروخا أبا عبد الرحمن أبو ربيعة خرج في البعوث إلى خراسان أيام بني أمية غازيا، وربيعة حمل في بطن أمه، وخلف عند زوجته أم ربيعة ثلاثين ألف دينار ؛ فقدم المدينة بعد سبع وعشرين سنة وهو راكب فرسا في يده رمح فنزل عن فرسه ثم دفع الباب برمحه فخرج ربيعة فقال له: يا عدو الله ! أتهجم على منزلي ؟ فقال: لا، وقال فروخ: يا عدو الله ! أنت رجل دخلت على حرمتي ! فتواثبا وتلبب كل واحد منهما بصاحبه حتى اجتمع الجيران فبلغ مالك بن أنس والمشيخة فأتوا يعينون ربيعة، فجعل ربيعة يقول: والله لا فارقتك إلا عند السلطان وجعل فروخ يقول: والله لا فارقتك إلا بالسلطان وأنت مع امرأتي وكثر الضجيج. فلما بصروا بمالك سكت الناس كلهم، فقال مالك: أيها الشيخ ! لك سعة في غير هذه الدار، فقال الشيخ: هذه داري وأنا فروخ مولى بني فلان، فسمعت امرأته كلامه فخرجت فقالت: هذا زوجي وهذا ابني الذي خلفته وأنا حامل به فاعتنقا جميعا وبكيا. فدخل فروخ المنزل وقال: هذا ابني ؟ ! قالت: نعم. قال: فأخرجي المال الذي لي عندك وهذه معي أربعة آلاف دينار فقالت: المال قد دفنته وأنا أخرجه بعد أيام. فخرج ربيعة إلى المسجد وجلس في حلقته وأتاه مالك بن أنس والحسن بن زيد وابن أبي علي اللهبي والمساحقي وأشراف أهل المدينة وأحدق الناس به. فقالت امرأته: اخرج صل في مسجد الرسول فخرج فصلى فنظر إلى حلقة وافرة فأتاه فوقف عليه ففرجوا له قليلا ونكس ربيعة رأسه يوهمه أنه لم يره وعليه طويلة فشك فيه أبو عبد الرحمن فقال: من هذا الرجل ؟ فقالوا: هذا ربيعة بن أبي عبد الرحمن فقال أبو عبد الرحمن: لقد رفع الله ابني ؛ فرجع إلى منزله فقال لوالدته: لقد رأيت ولدك في حالة ما رأيت أحدا من أهل العلم والفقه عليها، فقالت أمه: فأيهما أحب إليك ثلاثون ألف دينار أو هذا الذي هو فيه من الجاه ؟ قال: لا والله ألا هذا، قالت: فإني قد أنفقت المال كله عليه قال: فوالله ما ضيعته. ———- Ditulis di perjalanan Darush Sholihin – Masjid Mina, 28 Jumadilawal 1447 H Penyusun: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanak saleh pendidikan anak pengasuhan anak
Kisah ini menggambarkan Farrukh yang pergi berjihad bertahun-tahun lamanya, lalu kembali dan tanpa disangka justru berhadapan dengan putranya sendiri yang telah tumbuh menjadi ulama besar. Pertemuan itu menyingkap pengorbanan sang ibu yang membesarkan dan mendidik anaknya dengan harta yang dititipkan suaminya, hingga Allah mengangkat derajat Rabi‘ah dengan ilmu yang jauh lebih berharga daripada puluhan ribu dinar yang dulu ditinggalkan. Diriwayatkan dari para ulama Madinah, bahwa Farrukh (Abu Abdirrahman, ayah Imam Rabi‘ah) pernah ikut dalam pasukan jihad ke Khurasan di masa pemerintahan Bani Umayyah. Saat ia berangkat, istrinya sedang hamil. Ia pun menitipkan tiga puluh ribu dinar kepada istrinya sebelum berangkat. Ia tidak kembali ke Madinah kecuali setelah dua puluh tujuh tahun. Setibanya di rumahnya, ia turun dari kuda dengan tombak di tangan, lalu mengetuk pintu dengan tombak tersebut. Tiba-tiba keluar seorang pemuda (anaknya, Rabi‘ah) dan mengira itu orang asing yang hendak masuk ke rumahnya. Rabi‘ah pun membentak: “Wahai musuh Allah! Berani sekali engkau menerobos rumahku!” Farrukh pun balas berkata: “Wahai musuh Allah! Engkau lelaki asing masuk ke rumah istriku!” Keduanya saling serang dan berpegangan dengan keras hingga orang-orang datang melerai. Keributan itu sampai kepada Imam Mālik dan para masyaikh Madinah. Mereka datang untuk melerai dan menolong Rabi‘ah. Saat itu, Rabi‘ah bersikeras: “Demi Allah, aku tidak akan melepaskanmu kecuali di hadapan penguasa!” Farrukh juga berkata: “Demi Allah, aku pun tidak akan melepaskanmu kecuali di hadapan penguasa, karena engkau bersama istriku!” Keributan semakin ramai hingga akhirnya Imam Mālik datang. Begitu melihat beliau, semua orang diam. Imam Mālik pun berkata kepada Farrukh: “Wahai Syaikh, masih banyak tempat tinggal lain bagimu selain rumah ini.” Farrukh menjawab: “Ini adalah rumahku. Aku Farrukh, maulā Bani Fulan.” Mendengar itu, istrinya pun keluar lalu berkata: “Benar, ini adalah suamiku. Dan ini anakmu yang aku kandung saat engkau berangkat dulu.” Maka keduanya pun berpelukan dan menangis. Ketika Farrukh masuk ke rumah, ia berkata kepada istrinya: “Apakah benar ini anakku?” Istrinya menjawab: “Ya.” Farrukh berkata: “Keluarkanlah uangku yang dulu kutitipkan. Aku juga membawa empat ribu dinar lagi.” Istrinya berkata: “Aku telah menguburnya, nanti aku keluarkan setelah beberapa hari.” Sementara itu, Rabi‘ah pergi ke masjid, duduk di majelis ilmunya. Saat itu banyak tokoh hadir: Imam Mālik bin Anas, al-Hasan bin Zayd, Ibnu Abī ‘Alī al-Lahabī, al-Masāhiqī, dan para pembesar Madinah. Orang-orang pun mengelilingi Rabi‘ah dalam majelis ilmu yang penuh. Kemudian ibunya berkata kepada Farrukh: “Keluarlah, shalatlah di masjid Rasulullah ﷺ.” Maka Farrukh keluar. Setelah shalat, ia melihat sebuah majelis besar, lalu ia dekati. Orang-orang memberi jalan. Saat ia melihat pengajar majelis itu—ternyata anaknya sendiri, Rabi‘ah—ia hampir tak percaya. Ia bertanya: “Siapakah pemuda ini?” Mereka menjawab: “Inilah Rabi‘ah bin Abdirrahman.” Farrukh pun kagum: “Sungguh Allah telah mengangkat derajat anakku!” Ia pun pulang dan berkata kepada istrinya: “Sungguh aku melihat anakmu dalam keadaan yang belum pernah kulihat seorang pun dari ahli ilmu dan fiqih sepertinya.” Sang ibu pun berkata: “Mana yang lebih engkau cintai, harta tiga puluh ribu dinar yang engkau tinggalkan atau kedudukan anakmu sekarang?” Farrukh menjawab: “Demi Allah, aku lebih mencintai apa yang ia raih sekarang.” Sang ibu berkata: “Ketahuilah, aku telah menghabiskan seluruh harta itu untuk mendidiknya.” Farrukh pun menjawab dengan penuh ridha: “Demi Allah, engkau tidak menyia-nyiakannya.” ⸻ Pelajaran dari kisah Farrukh dan Rabi‘ah: Keutamaan menafkahkan harta untuk pendidikan anak, karena hasilnya lebih kekal daripada simpanan materi. Ilmu yang bermanfaat jauh lebih berharga daripada harta berlimpah, bahkan mampu mengangkat derajat keluarga. Peran seorang ibu sangat besar dalam membentuk ulama besar, terutama ketika ia memiliki visi dan pengorbanan. Ibu dapat menutupi kekosongan ayah (fatherless) dengan kedekatan, ketegasan, dan arah pendidikan yang jelas. Pendidikan yang terarah mengalahkan keterbatasan kehadiran orang tua, termasuk ketika ayah jauh atau tidak hadir. Lingkungan yang baik—guru, masjid, majelis ilmu—dapat menggantikan figur ayah yang absen. Anak tidak butuh kemewahan, tetapi butuh arah hidup, adab, dan tujuan pendidikan. Ibu yang tidak menanamkan kebencian terhadap ayah membuat anak tumbuh dengan hati yang sehat meski fatherless. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, hasilnya baru terlihat ketika anak dewasa dan Allah bukakan keberkahan. Doa ibu merupakan pendorong terbesar keberhasilan anak, menjadi sebab Allah angkat derajatnya.   Kisah Farrukh dan Rabi’ah versi Arab روي عن مشيخة أهل المدينة أن فروخا أبا عبد الرحمن أبو ربيعة خرج في البعوث إلى خراسان أيام بني أمية غازيا، وربيعة حمل في بطن أمه، وخلف عند زوجته أم ربيعة ثلاثين ألف دينار ؛ فقدم المدينة بعد سبع وعشرين سنة وهو راكب فرسا في يده رمح فنزل عن فرسه ثم دفع الباب برمحه فخرج ربيعة فقال له: يا عدو الله ! أتهجم على منزلي ؟ فقال: لا، وقال فروخ: يا عدو الله ! أنت رجل دخلت على حرمتي ! فتواثبا وتلبب كل واحد منهما بصاحبه حتى اجتمع الجيران فبلغ مالك بن أنس والمشيخة فأتوا يعينون ربيعة، فجعل ربيعة يقول: والله لا فارقتك إلا عند السلطان وجعل فروخ يقول: والله لا فارقتك إلا بالسلطان وأنت مع امرأتي وكثر الضجيج. فلما بصروا بمالك سكت الناس كلهم، فقال مالك: أيها الشيخ ! لك سعة في غير هذه الدار، فقال الشيخ: هذه داري وأنا فروخ مولى بني فلان، فسمعت امرأته كلامه فخرجت فقالت: هذا زوجي وهذا ابني الذي خلفته وأنا حامل به فاعتنقا جميعا وبكيا. فدخل فروخ المنزل وقال: هذا ابني ؟ ! قالت: نعم. قال: فأخرجي المال الذي لي عندك وهذه معي أربعة آلاف دينار فقالت: المال قد دفنته وأنا أخرجه بعد أيام. فخرج ربيعة إلى المسجد وجلس في حلقته وأتاه مالك بن أنس والحسن بن زيد وابن أبي علي اللهبي والمساحقي وأشراف أهل المدينة وأحدق الناس به. فقالت امرأته: اخرج صل في مسجد الرسول فخرج فصلى فنظر إلى حلقة وافرة فأتاه فوقف عليه ففرجوا له قليلا ونكس ربيعة رأسه يوهمه أنه لم يره وعليه طويلة فشك فيه أبو عبد الرحمن فقال: من هذا الرجل ؟ فقالوا: هذا ربيعة بن أبي عبد الرحمن فقال أبو عبد الرحمن: لقد رفع الله ابني ؛ فرجع إلى منزله فقال لوالدته: لقد رأيت ولدك في حالة ما رأيت أحدا من أهل العلم والفقه عليها، فقالت أمه: فأيهما أحب إليك ثلاثون ألف دينار أو هذا الذي هو فيه من الجاه ؟ قال: لا والله ألا هذا، قالت: فإني قد أنفقت المال كله عليه قال: فوالله ما ضيعته. ———- Ditulis di perjalanan Darush Sholihin – Masjid Mina, 28 Jumadilawal 1447 H Penyusun: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanak saleh pendidikan anak pengasuhan anak


Kisah ini menggambarkan Farrukh yang pergi berjihad bertahun-tahun lamanya, lalu kembali dan tanpa disangka justru berhadapan dengan putranya sendiri yang telah tumbuh menjadi ulama besar. Pertemuan itu menyingkap pengorbanan sang ibu yang membesarkan dan mendidik anaknya dengan harta yang dititipkan suaminya, hingga Allah mengangkat derajat Rabi‘ah dengan ilmu yang jauh lebih berharga daripada puluhan ribu dinar yang dulu ditinggalkan. Diriwayatkan dari para ulama Madinah, bahwa Farrukh (Abu Abdirrahman, ayah Imam Rabi‘ah) pernah ikut dalam pasukan jihad ke Khurasan di masa pemerintahan Bani Umayyah. Saat ia berangkat, istrinya sedang hamil. Ia pun menitipkan tiga puluh ribu dinar kepada istrinya sebelum berangkat. Ia tidak kembali ke Madinah kecuali setelah dua puluh tujuh tahun. Setibanya di rumahnya, ia turun dari kuda dengan tombak di tangan, lalu mengetuk pintu dengan tombak tersebut. Tiba-tiba keluar seorang pemuda (anaknya, Rabi‘ah) dan mengira itu orang asing yang hendak masuk ke rumahnya. Rabi‘ah pun membentak: “Wahai musuh Allah! Berani sekali engkau menerobos rumahku!” Farrukh pun balas berkata: “Wahai musuh Allah! Engkau lelaki asing masuk ke rumah istriku!” Keduanya saling serang dan berpegangan dengan keras hingga orang-orang datang melerai. Keributan itu sampai kepada Imam Mālik dan para masyaikh Madinah. Mereka datang untuk melerai dan menolong Rabi‘ah. Saat itu, Rabi‘ah bersikeras: “Demi Allah, aku tidak akan melepaskanmu kecuali di hadapan penguasa!” Farrukh juga berkata: “Demi Allah, aku pun tidak akan melepaskanmu kecuali di hadapan penguasa, karena engkau bersama istriku!” Keributan semakin ramai hingga akhirnya Imam Mālik datang. Begitu melihat beliau, semua orang diam. Imam Mālik pun berkata kepada Farrukh: “Wahai Syaikh, masih banyak tempat tinggal lain bagimu selain rumah ini.” Farrukh menjawab: “Ini adalah rumahku. Aku Farrukh, maulā Bani Fulan.” Mendengar itu, istrinya pun keluar lalu berkata: “Benar, ini adalah suamiku. Dan ini anakmu yang aku kandung saat engkau berangkat dulu.” Maka keduanya pun berpelukan dan menangis. Ketika Farrukh masuk ke rumah, ia berkata kepada istrinya: “Apakah benar ini anakku?” Istrinya menjawab: “Ya.” Farrukh berkata: “Keluarkanlah uangku yang dulu kutitipkan. Aku juga membawa empat ribu dinar lagi.” Istrinya berkata: “Aku telah menguburnya, nanti aku keluarkan setelah beberapa hari.” Sementara itu, Rabi‘ah pergi ke masjid, duduk di majelis ilmunya. Saat itu banyak tokoh hadir: Imam Mālik bin Anas, al-Hasan bin Zayd, Ibnu Abī ‘Alī al-Lahabī, al-Masāhiqī, dan para pembesar Madinah. Orang-orang pun mengelilingi Rabi‘ah dalam majelis ilmu yang penuh. Kemudian ibunya berkata kepada Farrukh: “Keluarlah, shalatlah di masjid Rasulullah ﷺ.” Maka Farrukh keluar. Setelah shalat, ia melihat sebuah majelis besar, lalu ia dekati. Orang-orang memberi jalan. Saat ia melihat pengajar majelis itu—ternyata anaknya sendiri, Rabi‘ah—ia hampir tak percaya. Ia bertanya: “Siapakah pemuda ini?” Mereka menjawab: “Inilah Rabi‘ah bin Abdirrahman.” Farrukh pun kagum: “Sungguh Allah telah mengangkat derajat anakku!” Ia pun pulang dan berkata kepada istrinya: “Sungguh aku melihat anakmu dalam keadaan yang belum pernah kulihat seorang pun dari ahli ilmu dan fiqih sepertinya.” Sang ibu pun berkata: “Mana yang lebih engkau cintai, harta tiga puluh ribu dinar yang engkau tinggalkan atau kedudukan anakmu sekarang?” Farrukh menjawab: “Demi Allah, aku lebih mencintai apa yang ia raih sekarang.” Sang ibu berkata: “Ketahuilah, aku telah menghabiskan seluruh harta itu untuk mendidiknya.” Farrukh pun menjawab dengan penuh ridha: “Demi Allah, engkau tidak menyia-nyiakannya.” ⸻ Pelajaran dari kisah Farrukh dan Rabi‘ah: Keutamaan menafkahkan harta untuk pendidikan anak, karena hasilnya lebih kekal daripada simpanan materi. Ilmu yang bermanfaat jauh lebih berharga daripada harta berlimpah, bahkan mampu mengangkat derajat keluarga. Peran seorang ibu sangat besar dalam membentuk ulama besar, terutama ketika ia memiliki visi dan pengorbanan. Ibu dapat menutupi kekosongan ayah (fatherless) dengan kedekatan, ketegasan, dan arah pendidikan yang jelas. Pendidikan yang terarah mengalahkan keterbatasan kehadiran orang tua, termasuk ketika ayah jauh atau tidak hadir. Lingkungan yang baik—guru, masjid, majelis ilmu—dapat menggantikan figur ayah yang absen. Anak tidak butuh kemewahan, tetapi butuh arah hidup, adab, dan tujuan pendidikan. Ibu yang tidak menanamkan kebencian terhadap ayah membuat anak tumbuh dengan hati yang sehat meski fatherless. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, hasilnya baru terlihat ketika anak dewasa dan Allah bukakan keberkahan. Doa ibu merupakan pendorong terbesar keberhasilan anak, menjadi sebab Allah angkat derajatnya.   Kisah Farrukh dan Rabi’ah versi Arab روي عن مشيخة أهل المدينة أن فروخا أبا عبد الرحمن أبو ربيعة خرج في البعوث إلى خراسان أيام بني أمية غازيا، وربيعة حمل في بطن أمه، وخلف عند زوجته أم ربيعة ثلاثين ألف دينار ؛ فقدم المدينة بعد سبع وعشرين سنة وهو راكب فرسا في يده رمح فنزل عن فرسه ثم دفع الباب برمحه فخرج ربيعة فقال له: يا عدو الله ! أتهجم على منزلي ؟ فقال: لا، وقال فروخ: يا عدو الله ! أنت رجل دخلت على حرمتي ! فتواثبا وتلبب كل واحد منهما بصاحبه حتى اجتمع الجيران فبلغ مالك بن أنس والمشيخة فأتوا يعينون ربيعة، فجعل ربيعة يقول: والله لا فارقتك إلا عند السلطان وجعل فروخ يقول: والله لا فارقتك إلا بالسلطان وأنت مع امرأتي وكثر الضجيج. فلما بصروا بمالك سكت الناس كلهم، فقال مالك: أيها الشيخ ! لك سعة في غير هذه الدار، فقال الشيخ: هذه داري وأنا فروخ مولى بني فلان، فسمعت امرأته كلامه فخرجت فقالت: هذا زوجي وهذا ابني الذي خلفته وأنا حامل به فاعتنقا جميعا وبكيا. فدخل فروخ المنزل وقال: هذا ابني ؟ ! قالت: نعم. قال: فأخرجي المال الذي لي عندك وهذه معي أربعة آلاف دينار فقالت: المال قد دفنته وأنا أخرجه بعد أيام. فخرج ربيعة إلى المسجد وجلس في حلقته وأتاه مالك بن أنس والحسن بن زيد وابن أبي علي اللهبي والمساحقي وأشراف أهل المدينة وأحدق الناس به. فقالت امرأته: اخرج صل في مسجد الرسول فخرج فصلى فنظر إلى حلقة وافرة فأتاه فوقف عليه ففرجوا له قليلا ونكس ربيعة رأسه يوهمه أنه لم يره وعليه طويلة فشك فيه أبو عبد الرحمن فقال: من هذا الرجل ؟ فقالوا: هذا ربيعة بن أبي عبد الرحمن فقال أبو عبد الرحمن: لقد رفع الله ابني ؛ فرجع إلى منزله فقال لوالدته: لقد رأيت ولدك في حالة ما رأيت أحدا من أهل العلم والفقه عليها، فقالت أمه: فأيهما أحب إليك ثلاثون ألف دينار أو هذا الذي هو فيه من الجاه ؟ قال: لا والله ألا هذا، قالت: فإني قد أنفقت المال كله عليه قال: فوالله ما ضيعته. ———- Ditulis di perjalanan Darush Sholihin – Masjid Mina, 28 Jumadilawal 1447 H Penyusun: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanak saleh pendidikan anak pengasuhan anak

Dampak Buruk Maksiat: Pelajaran dari Ibnul Qayyim

Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat.   Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 46. Maksiat Membuat Musuh Kita Makin Berani 1.7. 47. Maksiat akan Mengkhianati Seseorang Saat Ia Membutuhkan Dirinya Sendiri Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟ Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66) Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi? Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini. وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ. Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81) وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ. Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82)   Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat Maksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut: 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ. Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut. وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ. Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.” وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِي Imam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya: “Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84)   2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki Dari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ “Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِ Takwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85)   3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا. Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa. Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab: إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِ وَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ. “Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.” Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya.   4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, : الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ. Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah. Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri. Sebagian ulama salaf pernah berkata, إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي. “Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85)   5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟ Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit. Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86) Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala, { وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ } “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.” Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin   46. Maksiat Membuat Musuh Kita Makin Berani Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَصْلٌ الْمَعَاصِي تُجَرِّئُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْدَاءَهُ وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تُجَرِّئُ عَلَى الْعَبْدِ مَا لَمْ يَكُنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ مِنْ أَصْنَافِ الْمَخْلُوقَاتِ، فَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينَ بِالْأَذَى وَالْإِغْوَاءِ وَالْوَسْوَسَةِ وَالتَّخْوِيفِ وَالتَّحْزِينِ، وَإِنْسَائِهِ مَا بِهِ مَصْلَحَتُهُ فِي ذِكْرِهِ، وَمَضَرَّتُهُ فِي نِسْيَانِهِ، فَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ حَتَّى تَؤُزَّهُ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ أَزًّا. وَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ شَيَاطِينُ الْإِنْسِ بِمَا تَقْدِرُ عَلَيْهِ مِنَ الْأَذَى فِي غَيْبَتِهِ وَحُضُورِهِ، وَيَجْتَرِئُ عَلَيْهِ أَهْلُهُ وَخَدَمُهُ وَأَوْلَادُهُ وَجِيرَانُهُ حَتَّى الْحَيَوَانُ الْبَهِيمُ. Termasuk di antara hukuman akibat maksiat adalah bahwa maksiat menjadikan makhluk lain berani kepada seseorang, yang sebelumnya tidak akan berani mengganggunya. Akibatnya, setan menjadi berani mengganggunya — dengan cara menyakitinya, menyesatkannya, membisikkan waswas, menakut-nakuti, dan membuatnya bersedih. Setan juga membuatnya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya jika diingat, dan mengingat hal-hal yang justru membahayakannya. Akhirnya, setan terus menggoda dan menyeretnya ke dalam maksiat kepada Allah dengan dorongan yang kuat. Demikian pula, setan dari kalangan manusia menjadi berani mengganggunya — baik ketika ia hadir maupun tidak hadir — dengan segala bentuk gangguan yang mampu mereka lakukan. Bahkan keluarganya sendiri, para pelayan, anak-anak, dan tetangganya pun berani kepadanya, hingga hewan tunggangan atau binatang peliharaannya ikut berani melawannya. قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ امْرَأَتِي وَدَابَّتِي. وَكَذَلِكَ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ أَوْلِيَاءُ الْأَمْرِ بِالْعُقُوبَةِ الَّتِي إِنْ عَدَلُوا فِيهَا أَقَامُوا عَلَيْهِ حُدُودَ اللَّهِ، وَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ نَفْسُهُ فَتَتَأَسَّدُ عَلَيْهِ وَتَصْعُبُ عَلَيْهِ، فَلَوْ أَرَادَهَا لِخَيْرٍ لَمْ تُطَاوِعْهُ وَلَمْ تَنْقَدْ لَهُ، وَتَسُوقُهُ إِلَى مَا فِيهِ هَلَاكُهُ، شَاءَ أَمْ أَبِي. وَذَلِكَ لِأَنَّ الطَّاعَةَ حِصْنُ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الَّذِي مَنْ دَخَلَهُ كَانَ مِنَ الْآمِنِينَ، فَإِذَا فَارَقَ الْحِصْنَ اجْتَرَأَ عَلَيْهِ قُطَّاعُ الطَّرِيقِ وَغَيْرُهُمْ، وَعَلَى حَسَبِ اجْتِرَائِهِ عَلَى مَعَاصِي اللَّهِ يَكُونُ اجْتِرَاءُ هَذِهِ الْآفَاتِ وَالنُّفُوسِ عَلَيْهِ، وَلَيْسَ لَهُ شَيْءٌ يَرُدُّ عَنْهُ. فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ وَطَاعَتَهُ وَالصَّدَقَةَ وَإِرْشَادَ الْجَاهِلِ، وَالْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ – وِقَايَةٌ تَرُدُّ عَنِ الْعَبْدِ، بِمَنْزِلَةِ الْقُوَّةِ الَّتِي تَرُدُّ الْمَرَضَ وَتُقَاوِمُهُ، فَإِذَا سَقَطَتِ الْقُوَّةُ غَلَبَ وَارِدُ الْمَرَضِ فَكَانَ الْهَلَاكُ، فَلَابُدَّ لِلْعَبْدِ مِنْ شَيْءٍ يَرُدُّ عَنْهُ، فَإِنَّ مُوجِبَ السَّيِّئَاتِ وَالْحَسَنَاتِ تَتَدَافَعُ وَيَكُونُ الْحُكْمُ لِلْغَالِبِ كَمَا تَقَدَّمَ، وَكُلَّمَا قَوِيَ جَانِبُ الْحَسَنَاتِ كَانَ الرَّدُّ أَقْوَى كَمَا تَقَدَّمَ، فَإِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا، وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، فَبِحَسَبِ قُوَّةِ الْإِيمَانِ يَكُونُ الدَّفْعُ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ. Sebagian salaf berkata, “Sungguh, aku pernah bermaksiat kepada Allah, dan aku merasakan akibatnya pada akhlak istriku dan pada hewan tungganganku.” Begitu juga para penguasa menjadi berani menimpakan hukuman kepadanya; jika mereka bersikap adil, tentu mereka hanya menegakkan hukuman dari Allah atas dirinya. Bahkan dirinya sendiri menjadi berani melawannya — jiwanya menjadi liar dan sulit dikendalikan. Ketika ia mengajaknya kepada kebaikan, jiwanya enggan taat dan tidak mau tunduk. Namun, justru ia menyeret dirinya kepada sesuatu yang membinasakan, entah ia mau atau tidak mau. Hal itu terjadi karena ketaatan adalah benteng Allah Ta‘ālā. Barang siapa masuk ke dalam benteng itu, ia akan aman. Namun, jika seseorang keluar dari benteng tersebut, maka para perampok dan musuh akan berani menyerangnya. Seberapa besar seseorang berani bermaksiat kepada Allah, sebesar itu pula makhluk lain akan berani mengganggunya. Dan ia tidak memiliki pelindung apa pun yang bisa menolak bahaya tersebut. Sesungguhnya zikir kepada Allah, ketaatan, sedekah, mengajar orang yang tidak tahu, amar makruf nahi mungkar — semuanya adalah perisai yang melindungi hamba dari gangguan, sebagaimana kekuatan tubuh yang melawan dan menolak penyakit. Jika kekuatan itu hilang, maka penyakit akan menang dan menyebabkan kehancuran. Begitu pula, hati manusia memerlukan sesuatu yang menolak keburukan dari dirinya. Karena dampak buruk dan baik selalu saling menolak; yang menang adalah yang lebih kuat. Semakin kuat amal saleh dan kebaikan seseorang, semakin kuat pula pertahanan dan perlindungan Allah baginya. Sebagaimana firman Allah: إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ḥajj: 38) Dan iman itu terdiri dari ucapan dan perbuatan. Maka, sesuai dengan kadar kekuatan iman seseorang, sebesar itu pula Allah akan menolak bahaya dari dirinya. Allah-lah tempat meminta pertolongan.   47. Maksiat akan Mengkhianati Seseorang Saat Ia Membutuhkan Dirinya Sendiri Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَخُونُ الْعَبْدَ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ، فَإِنَّ كُلَّ أَحَدٍ يَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْفَعُهُ وَمَا يَضُرُّهُ فِي مَعَاشِهِ وَمَعَادِهِ، وَأَعْلَمُ النَّاسِ أَعْرَفُهُمْ بِذَلِكَ عَلَى التَّفْصِيلِ، وَأَقْوَاهُمْ وَأَكْيَسُهُمْ مَنْ قَوِيَ عَلَى نَفْسِهِ وَإِرَادَتِهِ، فَاسْتَعْمَلَهَا فِيمَا يَنْفَعُهُ وَكَفَّهَا عَمَّا يَضُرُّهُ، وَفِي ذَلِكَ تَتَفَاوَتُ مَعَارِفُ النَّاسِ وَهِمَمُهُمْ وَمَنَازِلُهُمْ، فَأَعْرَفُهُمْ مَنْ كَانَ عَارِفًا بِأَسْبَابِ السَّعَادَةِ وَالشَّقَاوَةِ، وَأَرْشَدُهُمْ مَنْ آثَرَ هَذِهِ عَلَى هَذِهِ، كَمَا أَنَّ أَسْفَهَهُمْ مَنْ عَكَسَ الْأَمْرَ. وَالْمَعَاصِي تَخُونُ الْعَبْدَ أَحْوَجَ مَا كَانَ إِلَى نَفْسِهِ فِي تَحْصِيلِ هَذَا الْعِلْمِ، وَإِيثَارِ الْحَظِّ الْأَشْرَفِ الْعَالِي الدَّائِمِ عَلَى الْحَظِّ الْخَسِيسِ الْأَدْنَى الْمُنْقَطِعِ، فَتَحْجُبُهُ الذُّنُوبُ عَنْ كَمَالِ هَذَا الْعِلْمِ، وَعَنْ الِاشْتِغَالِ بِمَا هُوَ أَوْلَى بِهِ، وَأَنْفَعُ لَهُ فِي الدَّارَيْنِ. فَإِذَا وَقَعَ مَكْرُوهٌ وَاحْتَاجَ إِلَى التَّخَلُّصِ مِنْهُ، خَانَهُ قَلْبُهُ وَنَفْسُهُ وَجَوَارِحُهُ، وَكَانَ بِمَنْزِلَةِ رَجُلٍ مَعَهُ سَيْفٌ قَدْ غَشِيَهُ الصَّدَأُ وَلَزِمَ قِرَابَهُ، بِحَيْثُ لَا يَنْجَذِبُ مَعَ صَاحِبِهِ إِذَا جَذَبَهُ، فَعَرَضَ لَهُ عَدُوٌّ يُرِيدُ قَتْلَهُ، فَوَضَعَ يَدِهِ عَلَى قَائِمِ سَيْفِهِ وَاجْتَهَدَ لِيُخْرِجَهُ، فَلَمْ يَخْرُجْ مَعَهُ، فَدَهَمَهُ الْعَدُوُّ وَظَفِرَ بِهِ. كَذَلِكَ الْقَلْبُ يَصْدَأُ بِالذُّنُوبِ وَيَصِيرُ مُثْخَنًا بِالْمَرَضِ، فَإِذَا احْتَاجَ إِلَى مُحَارَبَةِ الْعَدُوِّ لَمْ يَجِدْ مَعَهُ مِنْهُ شَيْئًا، وَالْعَبْدُ إِنَّمَا يُحَارِبُ وَيُصَاوِلُ وَيُقْدِمُ بِقَلْبِهِ، وَالْجَوَارِحُ تَبَعٌ لِلْقَلْبِ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَ مَلِكِهَا قُوَّةٌ يَدْفَعُ بِهَا، فَمَا الظَّنُّ بِهَا؟ وَكَذَلِكَ النَّفْسُ فَإِنَّهَا تَخْبُثُ بِالشَّهَوَاتِ وَالْمَعَاصِي وَتَضْعُفُ، أَعْنِي النَّفْسَ الْمُطْمَئِنَّةَ، وَإِنْ كَانَتِ الْأَمَّارَةُ تَقْوَى وَتَتَأَسَّدُ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ هَذِهِ ضَعُفَتْ تِلْكَ، فَيَبْقَى الْحُكْمُ وَالتَّصَرُّفُ لِلْأَمَّارَةِ. وَرُبَّمَا مَاتَتْ نَفْسُهُ الْمُطْمَئِنَّةُ مَوْتًا لَا يُرْتَجَى مَعَهُ حَيَاةٌ يَنْتَفِعُ بِهَا، بَلْ حَيَاتُهُ حَيَاةٌ يُدْرِكُ بِهَا الْأَلَمَ فَقَطْ. وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا وَقَعَ فِي شِدَّةٍ أَوْ كُرْبَةٍ أَوْ بَلِيَّةٍ خَانَهُ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ وَجَوَارِحُهُ عَمَّا هُوَ أَنْفَعُ شَيْءٍ لَهُ، فَلَا يَنْجَذِبُ قَلْبُهُ لِلتَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالْإِنَابَةِ إِلَيْهِ وَالْجَمْعِيَّةِ عَلَيْهِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّذَلُّلِ وَالِانْكِسَارِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَلَا يُطَاوِعُهُ لِسَانُهُ لِذِكْرِهِ، وَإِنْ ذَكَرَهُ بِلِسَانِهِ لَمْ يَجْمَعْ بَيْنَ قَلْبِهِ وَلِسَانِهِ، فَيَنْحَبِسُ الْقَلْبُ عَلَى اللِّسَانِ بِحَيْثُ يُؤَثِّرُ الذِّكْرُ، وَلَا يَنْحَبِسُ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ عَلَى الذِّكْرِ، بَلْ إِنْ ذَكَرَ أَوْ دَعَا ذَكَرَ بِقَلْبٍ لَاهٍ سَاهٍ غَافِلٍ، وَلَوْ أَرَادَ مِنْ جَوَارِحِهِ أَنْ تُعِينَهُ بِطَاعَةٍ تَدْفَعُ عَنْهُ لَمْ تَنْقَدْ لَهُ وَلَمْ تُطَاوِعْهُ. وَهَذَا كُلُّهُ أَثَرُ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي كَمَنْ لَهُ جُنْدٌ يَدْفَعُ عَنْهُ الْأَعْدَاءَ، فَأَهْمَلَ جُنْدَهُ، وَضَيَّعَهُمْ، وَأَضْعَفَهُمْ، وَقَطَعَ أَخْبَارَهُمْ، ثُمَّ أَرَادَ مِنْهُمْ عِنْدَ هُجُومِ الْعَدُوِّ عَلَيْهِ أَنْ يَسْتَفْرِغُوا وُسْعَهُمْ فِي الدَّفْعِ عَنْهُ بِغَيْرِ قُوَّةٍ. Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat akan mengkhianati seseorang di saat ia paling membutuhkan dirinya sendiri. Setiap manusia membutuhkan kemampuan untuk mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakan dirinya—baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Orang yang paling berilmu adalah mereka yang paling paham secara rinci tentang perkara yang membawa kebahagiaan dan perkara yang menyebabkan kesengsaraan. Sementara itu, orang yang paling kuat dan cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan diri dan kehendaknya: menggunakan diri untuk hal-hal yang bermanfaat dan menahan diri dari hal-hal yang merugikan. Dalam hal inilah manusia berbeda-beda tingkat pengetahuan, ambisi, dan kedudukannya. Orang yang paling berbahagia adalah mereka yang memahami secara mendalam sebab-sebab kebahagiaan dan sebab-sebab kesengsaraan, lalu memilih jalan kebahagiaan. Sebaliknya, orang yang paling bodoh adalah mereka yang justru memilih sebaliknya. Maksiat akan mengkhianati seseorang pada saat ia membutuhkan ilmu yang benar—ilmu tentang bagaimana memilih kenikmatan yang lebih tinggi, lebih mulia, dan abadi, daripada kesenangan rendah yang sebentar dan menjerumuskan. Dosa-dosa menutupi hati dari kesempurnaan ilmu ini, dan menghalanginya dari kesibukan yang lebih utama serta lebih bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Ketika seseorang tertimpa musibah dan ia membutuhkan jalan keluar, maka hatinya, jiwanya, dan anggota tubuhnya justru mengkhianatinya. Ia seperti seorang laki-laki yang memiliki pedang, tetapi pedang itu berkarat dan melekat kuat pada sarungnya sampai-sampai tidak dapat ditarik. Padahal musuh sudah di depan mata. Ia berusaha keras menarik pedangnya, tetapi pedang itu tak bergeming, hingga musuh menyerangnya dan mengalahkannya. Demikian pula hati—hati dapat berkarat karena dosa, dipenuhi penyakit. Ketika ia perlu melawan musuh (godaan, syahwat, bisikan setan), ia tidak lagi memiliki kekuatan. Padahal pertempuran sejati dilakukan oleh hati; anggota tubuh hanyalah pengikutnya. Jika “raja”—yaitu hati—lemah dan tidak mampu memimpin, bagaimana mungkin pasukannya (anggota tubuh) dapat bertahan? Demikian juga jiwa (an-nafs). Jiwa yang tenteram menjadi kotor dan lemah karena syahwat dan maksiat, sementara jiwa yang memerintahkan pada keburukan justru semakin kuat dan beringas. Semakin kuat bagian yang buruk ini, semakin lemah bagian yang baik. Bahkan, bisa jadi jiwa yang tenteram itu benar-benar mati—mati tanpa harapan hidup yang bermanfaat. Hidupnya hanya sebatas merasakan sakit, tanpa kemampuan memperoleh kebaikan. Intinya: ketika hamba berada dalam kesulitan, musibah, atau ujian, maka hatinya, lisannya, dan anggota tubuhnya akan mengkhianatinya dari sesuatu yang paling bermanfaat baginya. Hatinya tidak mampu tertarik untuk bertawakal kepada Allah, kembali kepada-Nya, bermunajat, merendah, dan tunduk sepenuhnya kepada-Nya. Lidahnya pun tidak mudah mengucapkan dzikir. Kalaupun berdzikir, lisannya bergerak tetapi tidak diiringi hati. Dzikir itu tidak memberikan pengaruh apa-apa karena hati dan lisan tidak bersatu. Bahkan bila ia ingin menggerakkan anggota tubuhnya untuk melakukan ketaatan yang dapat menolongnya, tubuhnya tidak mau patuh. Semua ini adalah pengaruh dari dosa dan maksiat. Ia seperti seseorang yang memiliki pasukan untuk membelanya dari musuh, tetapi ia menelantarkan pasukan itu, melemahkannya, memutus hubungan, dan tidak pernah melatihnya. Lalu ketika musuh menyerang, ia berharap pasukan itu bertempur sekuat tenaga padahal mereka tak lagi memiliki kemampuan apa-apa. Pengkhianatan Hati dan Lisan pada Sakratul Maut Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, هَذَا، وَثَمَّ أَمْرٌ أَخْوَفُ مِنْ ذَلِكَ وَأَدْهَى مِنْهُ وَأَمَرُّ، وَهُوَ أَنْ يَخُونَهُ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ وَالِانْتِقَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، فَرُبَّمَا تَعَذَّرَ عَلَيْهِ النُّطْقُ بِالشَّهَادَةِ، كَمَا شَاهَدَ النَّاسُ كَثِيرًا مِنَ الْمُحْتَضَرِينَ أَصَابَهُمْ ذَلِكَ، حَتَّى قِيلَ لِبَعْضِهِمْ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: آهْ آهْ، لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقُولَهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: شَاهْ رُخْ، غَلَبْتُكَ. ثُمَّ قَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: يَا رُبَّ قَائِلَةٍ يَوْمًا وَقَدْ تَعِبَتْ … أَيْنَ الطَّرِيقُ إِلَى حَمَّامِ مِنْجَابِ ثُمَّ قَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَجَعَلَ يَهْذِي بِالْغِنَاءِ وَيَقُولُ: تَاتِنَا تِنِنْتَا. حَتَّى قَضَى وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا يَنْفَعُنِي مَا تَقُولُ وَلَمْ أَدَعْ مَعْصِيَةً إِلَّا رَكِبْتُهَا؟ ثُمَّ قَضَى وَلَمْ يَقُلْهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا يُغْنِي عَنِّي، وَمَا أَعْرِفُ أَنِّي صَلَّيْتُ لِلَّهِ صَلَاةً؟ ثُمَّ قَضَى وَلَمْ يَقُلْهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: هُوَ كَافِرٌ بِمَا تَقُولُ. وَقَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَقُولَهَا لِسَانِي يُمْسِكُ عَنْهَا. وَأَخْبَرَنِي مَنْ حَضَرَ بَعْضَ الشَّحَّاذِينَ عِنْدَ مَوْتِهِ، فَجَعَلَ يَقُولُ: لِلَّهِ، فِلْسٌ لِلَّهِ. حَتَّى قَضَى. وَأَخْبَرَنِي بَعْضُ التُّجَّارِ عَنْ قَرَابَةٍ لَهُ أَنَّهُ احْتُضِرَ وَهُوَ عِنْدَهُ، وَجَعَلُوا يُلَقِّنُونَهُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَهُوَ يَقُولُ: هَذِهِ الْقِطْعَةُ رَخِيصَةٌ، هَذَا مُشْتَرٍ جَيِّدٌ، هَذِهِ كَذَا. حَتَّى قَضَى. وَسُبْحَانَ اللَّهِ! كَمْ شَاهَدَ النَّاسُ مِنْ هَذَا عِبَرًا؟ وَالَّذِي يَخْفَى عَلَيْهِمْ مِنْ أَحْوَالِ الْمُحْتَضِرِينَ أَعْظَمُ وَأَعْظَمُ. فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ فِي حَالِ حُضُورِ ذِهْنِهِ وَقُوَّتِهِ وَكَمَالِ إِدْرَاكِهِ قَدْ تَمَكَّنَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ، وَاسْتَعْمَلَهُ فِيمَا يُرِيدُهُ مِنْ مَعَاصِي اللَّهِ، وَقَدْ أَغْفَلَ قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَعَطَّلَ لِسَانَهُ عَنْ ذِكْرِهِ وَجَوَارِحَهُ عَنْ طَاعَتِهِ، فَكَيْفَ الظَّنُّ بِهِ عِنْدَ سُقُوطِ قُوَاهُ وَاشْتِغَالِ قَلْبِهِ وَنَفَسِهِ بِمَا هُوَ فِيهِ مِنْ أَلَمِ النَّزْعِ؟ وَجَمَعَ الشَّيْطَانُ لَهُ كُلَّ قُوَّتِهِ وَهِمَّتِهِ، وَحَشَدَ عَلَيْهِ بِجَمِيعِ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ لِيَنَالَ مِنْهُ فُرْصَتَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ آخِرُ الْعَمَلِ، فَأَقْوَى مَا يَكُونُ عَلَيْهِ شَيْطَانُهُ ذَلِكَ الْوَقْتِ، وَأَضْعَفُ مَا يَكُونُ هُوَ فِي تِلْك الْحَالِ، فَمَنْ تُرَى يَسْلَمُ عَلَى ذَلِكَ؟ فَهُنَاكَ {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ} [سُورَةُ إِبْرَاهِيمَ: ٢٧] . فَكَيْفَ يُوَفَّقُ بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ مَنْ أَغْفَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِهِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا. فَبَعِيدٌ مَنْ قَلْبُهُ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، غَافِلٌ عَنْهُ مُتَعَبِّدٌ لِهَوَاهُ أَسِيرٌ لِشَهَوَاتِهِ، وَلِسَانُهُ يَابِسٌ مِنْ ذِكْرِهِ، وَجَوَارِحُهُ مُعَطَّلَةٌ مِنْ طَاعَتِهِ مُشْتَغِلَةٌ بِمَعْصِيَتِهِ – أَنْ يُوَفَّقَ لِلْخَاتِمَةِ بِالْحُسْنَى. وَلَقَدْ قَطَعَ خَوْفُ الْخَاتِمَةِ ظُهُورَ الْمُتَّقِينَ، وَكَأَنَّ الْمُسِيئِينَ الظَّالِمِينَ قَدْ أَخَذُوا تَوْقِيعًا بِالْأَمَانِ {أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ – سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَلِكَ زَعِيمٌ} [سُورَةُ الْقَلَمِ: ٣٩ – ٤٠] كَمَا قِيلَ: يَا آمِنًا مِنْ قَبِيحِ الْفِعْلِ مِنْهُ أَهَلْ … أَتَاكَ تَوْقِيعُ أَمْنٍ أَنْتَ تَمْلِكُهُ جَمَعْتَ شَيْئَيْنِ أَمْنًا وَاتِّبَاعَ هَوًى … هَذَا وَإِحْدَاهُمَا فِي الْمَرْءِ تُهْلِكُهُ وَالْمُحْسِنُونَ عَلَى دَرْبِ الْمَخَاوِفِ قَدْ … سَارُوا وَذَلِكَ دَرْبٌ لَسْتَ تَسْلُكُهُ فَرَّطْتَ فِي الزَّرْعِ وَقْتَ الْبَذْرِ مِنْ سَفَهٍ … فَكَيْفَ عِنْدَ حَصَادِ النَّاسِ تُدْرِكُهُ هَذَا وَأَعْجَبُ شَيْءٍ مِنْكَ زُهْدُكَ فِي … دَارِ الْبَقَاءِ بِعَيْشٍ سَوْفَ تَتْرُكُهُ مَنِ السَّفِيهُ إِذًا بِاللَّهِ أَنْتَ أَمِ الْ … مَغْبُونُ فِي الْبَيْعِ غَبْنًا سَوْفَ يُدْرِكُهُ Ada satu perkara yang lebih menakutkan, lebih berat, dan lebih pahit daripada semua pembahasan sebelumnya, yaitu pengkhianatan hati dan lisan pada saat sakaratul maut, ketika seseorang bersiap meninggalkan dunia dan berpindah menghadap Allah Ta‘ala. Pada saat yang sangat genting itu, bisa saja seseorang tidak mampu mengucapkan syahadat. Banyak orang yang menyaksikan kejadian semacam ini. Ada yang ketika dikatakan kepadanya, “Ucapkanlah lā ilāha illallāh,” ia menjawab, “Ah… ah… aku tidak sanggup mengucapkannya.” Ada pula yang ketika diminta membaca syahadat malah berkata: “Shāh rukh, aku menang darimu!” Lalu ia meninggal. Yang lain, ketika diminta mengucapkan syahadat, ia malah melantunkan bait syair: “Wahai wanita yang dulu pernah bertanya kepadaku saat kelelahan: ke mana arah menuju pemandian Minjāb?” Setelah itu ia wafat. Ada pula yang ketika didorong untuk mengucapkan syahadat malah mengigau dengan nyanyian: “Tātinā tinintā…” Ia terus bernyanyi hingga meninggal. Ada yang berkata: “Untuk apa ucapan itu? Tidak ada maksiat kecuali sudah aku lakukan.” Lalu ia meninggal tanpa sempat mengucapkan syahadat. Ada pula yang berkata: “Untuk apa ini? Aku bahkan tidak tahu apakah pernah sekali saja aku shalat.” Lalu ia meninggal. Ada pula yang tegas berkata: “Ia (syahadat) adalah kekafiran bagiku.” Lalu ia meninggal. Ada pula yang berkata: “Setiap kali aku akan mengucapkannya, lidahku seperti terkunci dan tidak mau mengucapkannya.” Seseorang mengabarkan kepada Ibnul Qayyim tentang seorang pengemis yang ketika sakaratul maut terus menerus berkata: “Untuk Allah… satu uang receh untuk Allah…” Ia terus mengulanginya hingga meninggal. Seorang pedagang juga menceritakan bahwa kerabatnya saat sakaratul maut mereka talqin dengan kalimat syahadat, namun yang keluar dari lisannya adalah: “Barang ini murah… yang itu pembeli bagus… ini kualitas baik… itu sekian harganya…” Ia terus berbicara tentang transaksi hingga wafat. Subḥānallāh… berapa banyak pelajaran seperti ini yang disaksikan manusia? Dan apa yang tidak mereka saksikan—dari keadaan orang-orang yang sekarat—lebih mengerikan lagi. Jika pada saat seseorang sehat, sadar, dan kuat, setan sudah menguasainya dan menjadikannya alat untuk bermaksiat kepada Allah; jika hatinya lalai dari zikir, lisannya tidak digunakan untuk mengingat Allah, dan anggota tubuhnya tidak dipakai untuk taat, maka bagaimana keadaannya saat kekuatan tubuh melemah, dan hatinya sibuk menahan rasa sakit sakaratul maut? Saat itu setan mengumpulkan seluruh kekuatannya, mengerahkan seluruh tipu dayanya untuk merebut kesempatan terakhir. Itulah akhir amal, dan setan pada saat itu berada di puncak kemampuan menyerang, sementara manusia berada pada titik terlemahnya. Siapa yang mungkin selamat dari keadaan seberat itu? Pada saat itulah firman Allah berlaku: ﴿ يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ﴾ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) “Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh (syahadat) di dunia dan akhirat…” Bagaimana mungkin seseorang diberi husnul khatimah bila Allah tidak memberinya taufik? Bagaimana mungkin ia mendapatkan penutup kehidupan yang indah jika hatinya jauh dari Allah, lalai dari zikir, mengikuti hawa nafsu, tunduk kepada syahwat, lisannya kering dari zikir, dan anggota tubuhnya sibuk bermaksiat? Sangat jauh—sangat jauh—harapan bagi orang seperti itu mendapatkan akhir yang baik. Ketakutan terhadap buruknya akhir hidup benar-benar menundukkan punggung para muttaqin. Namun para pelaku maksiat bertingkah seolah mereka telah mendapat “surat jaminan keselamatan”, sebagaimana celaan Allah: ﴿ أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ * سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴾ “Atau apakah kamu memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?” (QS. Al-Qalam: 39–40) “Apakah kalian memiliki perjanjian yang kuat dari Kami sampai Hari Kiamat bahwa kalian akan mendapatkan apa pun yang kalian inginkan? Tanyakan kepada mereka: siapakah yang menjamin semua itu?” Lalu Ibnul Qayyim menutup dengan syair peringatan: Wahai yang merasa aman dari buruknya perbuatan, Apakah engkau punya jaminan keselamatan yang kau pegang? Engkau kumpulkan dua hal: rasa aman dan mengikuti hawa nafsu, padahal salah satunya saja dapat menghancurkan manusia. Orang-orang yang berbuat baik berjalan di jalan penuh rasa takut, sedangkan engkau tidak menapakinya. Engkau menyia-nyiakan musim menanam karena kebodohan, bagaimana mungkin engkau memperoleh panen saat orang lain memetik hasilnya? Paling mengherankan darimu: engkau tidak peduli terhadap negeri akhirat, demi hidup dunia yang akan segera kau tinggalkan. Siapa yang lebih bodoh—dirimu, atau orang yang rugi dalam perdagangan dan kerugiannya akan tampak jelas kelak?   Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore.    –   Diupdate pada Rabu, 5 Jumadilakhir 1447 H, 26 November 2025 di Darush Sholihin Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs

Dampak Buruk Maksiat: Pelajaran dari Ibnul Qayyim

Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat.   Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 46. Maksiat Membuat Musuh Kita Makin Berani 1.7. 47. Maksiat akan Mengkhianati Seseorang Saat Ia Membutuhkan Dirinya Sendiri Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟ Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66) Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi? Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini. وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ. Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81) وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ. Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82)   Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat Maksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut: 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ. Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut. وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ. Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.” وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِي Imam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya: “Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84)   2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki Dari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ “Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِ Takwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85)   3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا. Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa. Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab: إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِ وَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ. “Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.” Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya.   4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, : الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ. Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah. Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri. Sebagian ulama salaf pernah berkata, إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي. “Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85)   5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟ Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit. Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86) Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala, { وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ } “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.” Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin   46. Maksiat Membuat Musuh Kita Makin Berani Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَصْلٌ الْمَعَاصِي تُجَرِّئُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْدَاءَهُ وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تُجَرِّئُ عَلَى الْعَبْدِ مَا لَمْ يَكُنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ مِنْ أَصْنَافِ الْمَخْلُوقَاتِ، فَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينَ بِالْأَذَى وَالْإِغْوَاءِ وَالْوَسْوَسَةِ وَالتَّخْوِيفِ وَالتَّحْزِينِ، وَإِنْسَائِهِ مَا بِهِ مَصْلَحَتُهُ فِي ذِكْرِهِ، وَمَضَرَّتُهُ فِي نِسْيَانِهِ، فَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ حَتَّى تَؤُزَّهُ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ أَزًّا. وَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ شَيَاطِينُ الْإِنْسِ بِمَا تَقْدِرُ عَلَيْهِ مِنَ الْأَذَى فِي غَيْبَتِهِ وَحُضُورِهِ، وَيَجْتَرِئُ عَلَيْهِ أَهْلُهُ وَخَدَمُهُ وَأَوْلَادُهُ وَجِيرَانُهُ حَتَّى الْحَيَوَانُ الْبَهِيمُ. Termasuk di antara hukuman akibat maksiat adalah bahwa maksiat menjadikan makhluk lain berani kepada seseorang, yang sebelumnya tidak akan berani mengganggunya. Akibatnya, setan menjadi berani mengganggunya — dengan cara menyakitinya, menyesatkannya, membisikkan waswas, menakut-nakuti, dan membuatnya bersedih. Setan juga membuatnya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya jika diingat, dan mengingat hal-hal yang justru membahayakannya. Akhirnya, setan terus menggoda dan menyeretnya ke dalam maksiat kepada Allah dengan dorongan yang kuat. Demikian pula, setan dari kalangan manusia menjadi berani mengganggunya — baik ketika ia hadir maupun tidak hadir — dengan segala bentuk gangguan yang mampu mereka lakukan. Bahkan keluarganya sendiri, para pelayan, anak-anak, dan tetangganya pun berani kepadanya, hingga hewan tunggangan atau binatang peliharaannya ikut berani melawannya. قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ امْرَأَتِي وَدَابَّتِي. وَكَذَلِكَ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ أَوْلِيَاءُ الْأَمْرِ بِالْعُقُوبَةِ الَّتِي إِنْ عَدَلُوا فِيهَا أَقَامُوا عَلَيْهِ حُدُودَ اللَّهِ، وَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ نَفْسُهُ فَتَتَأَسَّدُ عَلَيْهِ وَتَصْعُبُ عَلَيْهِ، فَلَوْ أَرَادَهَا لِخَيْرٍ لَمْ تُطَاوِعْهُ وَلَمْ تَنْقَدْ لَهُ، وَتَسُوقُهُ إِلَى مَا فِيهِ هَلَاكُهُ، شَاءَ أَمْ أَبِي. وَذَلِكَ لِأَنَّ الطَّاعَةَ حِصْنُ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الَّذِي مَنْ دَخَلَهُ كَانَ مِنَ الْآمِنِينَ، فَإِذَا فَارَقَ الْحِصْنَ اجْتَرَأَ عَلَيْهِ قُطَّاعُ الطَّرِيقِ وَغَيْرُهُمْ، وَعَلَى حَسَبِ اجْتِرَائِهِ عَلَى مَعَاصِي اللَّهِ يَكُونُ اجْتِرَاءُ هَذِهِ الْآفَاتِ وَالنُّفُوسِ عَلَيْهِ، وَلَيْسَ لَهُ شَيْءٌ يَرُدُّ عَنْهُ. فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ وَطَاعَتَهُ وَالصَّدَقَةَ وَإِرْشَادَ الْجَاهِلِ، وَالْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ – وِقَايَةٌ تَرُدُّ عَنِ الْعَبْدِ، بِمَنْزِلَةِ الْقُوَّةِ الَّتِي تَرُدُّ الْمَرَضَ وَتُقَاوِمُهُ، فَإِذَا سَقَطَتِ الْقُوَّةُ غَلَبَ وَارِدُ الْمَرَضِ فَكَانَ الْهَلَاكُ، فَلَابُدَّ لِلْعَبْدِ مِنْ شَيْءٍ يَرُدُّ عَنْهُ، فَإِنَّ مُوجِبَ السَّيِّئَاتِ وَالْحَسَنَاتِ تَتَدَافَعُ وَيَكُونُ الْحُكْمُ لِلْغَالِبِ كَمَا تَقَدَّمَ، وَكُلَّمَا قَوِيَ جَانِبُ الْحَسَنَاتِ كَانَ الرَّدُّ أَقْوَى كَمَا تَقَدَّمَ، فَإِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا، وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، فَبِحَسَبِ قُوَّةِ الْإِيمَانِ يَكُونُ الدَّفْعُ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ. Sebagian salaf berkata, “Sungguh, aku pernah bermaksiat kepada Allah, dan aku merasakan akibatnya pada akhlak istriku dan pada hewan tungganganku.” Begitu juga para penguasa menjadi berani menimpakan hukuman kepadanya; jika mereka bersikap adil, tentu mereka hanya menegakkan hukuman dari Allah atas dirinya. Bahkan dirinya sendiri menjadi berani melawannya — jiwanya menjadi liar dan sulit dikendalikan. Ketika ia mengajaknya kepada kebaikan, jiwanya enggan taat dan tidak mau tunduk. Namun, justru ia menyeret dirinya kepada sesuatu yang membinasakan, entah ia mau atau tidak mau. Hal itu terjadi karena ketaatan adalah benteng Allah Ta‘ālā. Barang siapa masuk ke dalam benteng itu, ia akan aman. Namun, jika seseorang keluar dari benteng tersebut, maka para perampok dan musuh akan berani menyerangnya. Seberapa besar seseorang berani bermaksiat kepada Allah, sebesar itu pula makhluk lain akan berani mengganggunya. Dan ia tidak memiliki pelindung apa pun yang bisa menolak bahaya tersebut. Sesungguhnya zikir kepada Allah, ketaatan, sedekah, mengajar orang yang tidak tahu, amar makruf nahi mungkar — semuanya adalah perisai yang melindungi hamba dari gangguan, sebagaimana kekuatan tubuh yang melawan dan menolak penyakit. Jika kekuatan itu hilang, maka penyakit akan menang dan menyebabkan kehancuran. Begitu pula, hati manusia memerlukan sesuatu yang menolak keburukan dari dirinya. Karena dampak buruk dan baik selalu saling menolak; yang menang adalah yang lebih kuat. Semakin kuat amal saleh dan kebaikan seseorang, semakin kuat pula pertahanan dan perlindungan Allah baginya. Sebagaimana firman Allah: إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ḥajj: 38) Dan iman itu terdiri dari ucapan dan perbuatan. Maka, sesuai dengan kadar kekuatan iman seseorang, sebesar itu pula Allah akan menolak bahaya dari dirinya. Allah-lah tempat meminta pertolongan.   47. Maksiat akan Mengkhianati Seseorang Saat Ia Membutuhkan Dirinya Sendiri Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَخُونُ الْعَبْدَ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ، فَإِنَّ كُلَّ أَحَدٍ يَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْفَعُهُ وَمَا يَضُرُّهُ فِي مَعَاشِهِ وَمَعَادِهِ، وَأَعْلَمُ النَّاسِ أَعْرَفُهُمْ بِذَلِكَ عَلَى التَّفْصِيلِ، وَأَقْوَاهُمْ وَأَكْيَسُهُمْ مَنْ قَوِيَ عَلَى نَفْسِهِ وَإِرَادَتِهِ، فَاسْتَعْمَلَهَا فِيمَا يَنْفَعُهُ وَكَفَّهَا عَمَّا يَضُرُّهُ، وَفِي ذَلِكَ تَتَفَاوَتُ مَعَارِفُ النَّاسِ وَهِمَمُهُمْ وَمَنَازِلُهُمْ، فَأَعْرَفُهُمْ مَنْ كَانَ عَارِفًا بِأَسْبَابِ السَّعَادَةِ وَالشَّقَاوَةِ، وَأَرْشَدُهُمْ مَنْ آثَرَ هَذِهِ عَلَى هَذِهِ، كَمَا أَنَّ أَسْفَهَهُمْ مَنْ عَكَسَ الْأَمْرَ. وَالْمَعَاصِي تَخُونُ الْعَبْدَ أَحْوَجَ مَا كَانَ إِلَى نَفْسِهِ فِي تَحْصِيلِ هَذَا الْعِلْمِ، وَإِيثَارِ الْحَظِّ الْأَشْرَفِ الْعَالِي الدَّائِمِ عَلَى الْحَظِّ الْخَسِيسِ الْأَدْنَى الْمُنْقَطِعِ، فَتَحْجُبُهُ الذُّنُوبُ عَنْ كَمَالِ هَذَا الْعِلْمِ، وَعَنْ الِاشْتِغَالِ بِمَا هُوَ أَوْلَى بِهِ، وَأَنْفَعُ لَهُ فِي الدَّارَيْنِ. فَإِذَا وَقَعَ مَكْرُوهٌ وَاحْتَاجَ إِلَى التَّخَلُّصِ مِنْهُ، خَانَهُ قَلْبُهُ وَنَفْسُهُ وَجَوَارِحُهُ، وَكَانَ بِمَنْزِلَةِ رَجُلٍ مَعَهُ سَيْفٌ قَدْ غَشِيَهُ الصَّدَأُ وَلَزِمَ قِرَابَهُ، بِحَيْثُ لَا يَنْجَذِبُ مَعَ صَاحِبِهِ إِذَا جَذَبَهُ، فَعَرَضَ لَهُ عَدُوٌّ يُرِيدُ قَتْلَهُ، فَوَضَعَ يَدِهِ عَلَى قَائِمِ سَيْفِهِ وَاجْتَهَدَ لِيُخْرِجَهُ، فَلَمْ يَخْرُجْ مَعَهُ، فَدَهَمَهُ الْعَدُوُّ وَظَفِرَ بِهِ. كَذَلِكَ الْقَلْبُ يَصْدَأُ بِالذُّنُوبِ وَيَصِيرُ مُثْخَنًا بِالْمَرَضِ، فَإِذَا احْتَاجَ إِلَى مُحَارَبَةِ الْعَدُوِّ لَمْ يَجِدْ مَعَهُ مِنْهُ شَيْئًا، وَالْعَبْدُ إِنَّمَا يُحَارِبُ وَيُصَاوِلُ وَيُقْدِمُ بِقَلْبِهِ، وَالْجَوَارِحُ تَبَعٌ لِلْقَلْبِ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَ مَلِكِهَا قُوَّةٌ يَدْفَعُ بِهَا، فَمَا الظَّنُّ بِهَا؟ وَكَذَلِكَ النَّفْسُ فَإِنَّهَا تَخْبُثُ بِالشَّهَوَاتِ وَالْمَعَاصِي وَتَضْعُفُ، أَعْنِي النَّفْسَ الْمُطْمَئِنَّةَ، وَإِنْ كَانَتِ الْأَمَّارَةُ تَقْوَى وَتَتَأَسَّدُ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ هَذِهِ ضَعُفَتْ تِلْكَ، فَيَبْقَى الْحُكْمُ وَالتَّصَرُّفُ لِلْأَمَّارَةِ. وَرُبَّمَا مَاتَتْ نَفْسُهُ الْمُطْمَئِنَّةُ مَوْتًا لَا يُرْتَجَى مَعَهُ حَيَاةٌ يَنْتَفِعُ بِهَا، بَلْ حَيَاتُهُ حَيَاةٌ يُدْرِكُ بِهَا الْأَلَمَ فَقَطْ. وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا وَقَعَ فِي شِدَّةٍ أَوْ كُرْبَةٍ أَوْ بَلِيَّةٍ خَانَهُ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ وَجَوَارِحُهُ عَمَّا هُوَ أَنْفَعُ شَيْءٍ لَهُ، فَلَا يَنْجَذِبُ قَلْبُهُ لِلتَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالْإِنَابَةِ إِلَيْهِ وَالْجَمْعِيَّةِ عَلَيْهِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّذَلُّلِ وَالِانْكِسَارِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَلَا يُطَاوِعُهُ لِسَانُهُ لِذِكْرِهِ، وَإِنْ ذَكَرَهُ بِلِسَانِهِ لَمْ يَجْمَعْ بَيْنَ قَلْبِهِ وَلِسَانِهِ، فَيَنْحَبِسُ الْقَلْبُ عَلَى اللِّسَانِ بِحَيْثُ يُؤَثِّرُ الذِّكْرُ، وَلَا يَنْحَبِسُ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ عَلَى الذِّكْرِ، بَلْ إِنْ ذَكَرَ أَوْ دَعَا ذَكَرَ بِقَلْبٍ لَاهٍ سَاهٍ غَافِلٍ، وَلَوْ أَرَادَ مِنْ جَوَارِحِهِ أَنْ تُعِينَهُ بِطَاعَةٍ تَدْفَعُ عَنْهُ لَمْ تَنْقَدْ لَهُ وَلَمْ تُطَاوِعْهُ. وَهَذَا كُلُّهُ أَثَرُ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي كَمَنْ لَهُ جُنْدٌ يَدْفَعُ عَنْهُ الْأَعْدَاءَ، فَأَهْمَلَ جُنْدَهُ، وَضَيَّعَهُمْ، وَأَضْعَفَهُمْ، وَقَطَعَ أَخْبَارَهُمْ، ثُمَّ أَرَادَ مِنْهُمْ عِنْدَ هُجُومِ الْعَدُوِّ عَلَيْهِ أَنْ يَسْتَفْرِغُوا وُسْعَهُمْ فِي الدَّفْعِ عَنْهُ بِغَيْرِ قُوَّةٍ. Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat akan mengkhianati seseorang di saat ia paling membutuhkan dirinya sendiri. Setiap manusia membutuhkan kemampuan untuk mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakan dirinya—baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Orang yang paling berilmu adalah mereka yang paling paham secara rinci tentang perkara yang membawa kebahagiaan dan perkara yang menyebabkan kesengsaraan. Sementara itu, orang yang paling kuat dan cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan diri dan kehendaknya: menggunakan diri untuk hal-hal yang bermanfaat dan menahan diri dari hal-hal yang merugikan. Dalam hal inilah manusia berbeda-beda tingkat pengetahuan, ambisi, dan kedudukannya. Orang yang paling berbahagia adalah mereka yang memahami secara mendalam sebab-sebab kebahagiaan dan sebab-sebab kesengsaraan, lalu memilih jalan kebahagiaan. Sebaliknya, orang yang paling bodoh adalah mereka yang justru memilih sebaliknya. Maksiat akan mengkhianati seseorang pada saat ia membutuhkan ilmu yang benar—ilmu tentang bagaimana memilih kenikmatan yang lebih tinggi, lebih mulia, dan abadi, daripada kesenangan rendah yang sebentar dan menjerumuskan. Dosa-dosa menutupi hati dari kesempurnaan ilmu ini, dan menghalanginya dari kesibukan yang lebih utama serta lebih bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Ketika seseorang tertimpa musibah dan ia membutuhkan jalan keluar, maka hatinya, jiwanya, dan anggota tubuhnya justru mengkhianatinya. Ia seperti seorang laki-laki yang memiliki pedang, tetapi pedang itu berkarat dan melekat kuat pada sarungnya sampai-sampai tidak dapat ditarik. Padahal musuh sudah di depan mata. Ia berusaha keras menarik pedangnya, tetapi pedang itu tak bergeming, hingga musuh menyerangnya dan mengalahkannya. Demikian pula hati—hati dapat berkarat karena dosa, dipenuhi penyakit. Ketika ia perlu melawan musuh (godaan, syahwat, bisikan setan), ia tidak lagi memiliki kekuatan. Padahal pertempuran sejati dilakukan oleh hati; anggota tubuh hanyalah pengikutnya. Jika “raja”—yaitu hati—lemah dan tidak mampu memimpin, bagaimana mungkin pasukannya (anggota tubuh) dapat bertahan? Demikian juga jiwa (an-nafs). Jiwa yang tenteram menjadi kotor dan lemah karena syahwat dan maksiat, sementara jiwa yang memerintahkan pada keburukan justru semakin kuat dan beringas. Semakin kuat bagian yang buruk ini, semakin lemah bagian yang baik. Bahkan, bisa jadi jiwa yang tenteram itu benar-benar mati—mati tanpa harapan hidup yang bermanfaat. Hidupnya hanya sebatas merasakan sakit, tanpa kemampuan memperoleh kebaikan. Intinya: ketika hamba berada dalam kesulitan, musibah, atau ujian, maka hatinya, lisannya, dan anggota tubuhnya akan mengkhianatinya dari sesuatu yang paling bermanfaat baginya. Hatinya tidak mampu tertarik untuk bertawakal kepada Allah, kembali kepada-Nya, bermunajat, merendah, dan tunduk sepenuhnya kepada-Nya. Lidahnya pun tidak mudah mengucapkan dzikir. Kalaupun berdzikir, lisannya bergerak tetapi tidak diiringi hati. Dzikir itu tidak memberikan pengaruh apa-apa karena hati dan lisan tidak bersatu. Bahkan bila ia ingin menggerakkan anggota tubuhnya untuk melakukan ketaatan yang dapat menolongnya, tubuhnya tidak mau patuh. Semua ini adalah pengaruh dari dosa dan maksiat. Ia seperti seseorang yang memiliki pasukan untuk membelanya dari musuh, tetapi ia menelantarkan pasukan itu, melemahkannya, memutus hubungan, dan tidak pernah melatihnya. Lalu ketika musuh menyerang, ia berharap pasukan itu bertempur sekuat tenaga padahal mereka tak lagi memiliki kemampuan apa-apa. Pengkhianatan Hati dan Lisan pada Sakratul Maut Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, هَذَا، وَثَمَّ أَمْرٌ أَخْوَفُ مِنْ ذَلِكَ وَأَدْهَى مِنْهُ وَأَمَرُّ، وَهُوَ أَنْ يَخُونَهُ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ وَالِانْتِقَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، فَرُبَّمَا تَعَذَّرَ عَلَيْهِ النُّطْقُ بِالشَّهَادَةِ، كَمَا شَاهَدَ النَّاسُ كَثِيرًا مِنَ الْمُحْتَضَرِينَ أَصَابَهُمْ ذَلِكَ، حَتَّى قِيلَ لِبَعْضِهِمْ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: آهْ آهْ، لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقُولَهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: شَاهْ رُخْ، غَلَبْتُكَ. ثُمَّ قَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: يَا رُبَّ قَائِلَةٍ يَوْمًا وَقَدْ تَعِبَتْ … أَيْنَ الطَّرِيقُ إِلَى حَمَّامِ مِنْجَابِ ثُمَّ قَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَجَعَلَ يَهْذِي بِالْغِنَاءِ وَيَقُولُ: تَاتِنَا تِنِنْتَا. حَتَّى قَضَى وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا يَنْفَعُنِي مَا تَقُولُ وَلَمْ أَدَعْ مَعْصِيَةً إِلَّا رَكِبْتُهَا؟ ثُمَّ قَضَى وَلَمْ يَقُلْهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا يُغْنِي عَنِّي، وَمَا أَعْرِفُ أَنِّي صَلَّيْتُ لِلَّهِ صَلَاةً؟ ثُمَّ قَضَى وَلَمْ يَقُلْهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: هُوَ كَافِرٌ بِمَا تَقُولُ. وَقَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَقُولَهَا لِسَانِي يُمْسِكُ عَنْهَا. وَأَخْبَرَنِي مَنْ حَضَرَ بَعْضَ الشَّحَّاذِينَ عِنْدَ مَوْتِهِ، فَجَعَلَ يَقُولُ: لِلَّهِ، فِلْسٌ لِلَّهِ. حَتَّى قَضَى. وَأَخْبَرَنِي بَعْضُ التُّجَّارِ عَنْ قَرَابَةٍ لَهُ أَنَّهُ احْتُضِرَ وَهُوَ عِنْدَهُ، وَجَعَلُوا يُلَقِّنُونَهُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَهُوَ يَقُولُ: هَذِهِ الْقِطْعَةُ رَخِيصَةٌ، هَذَا مُشْتَرٍ جَيِّدٌ، هَذِهِ كَذَا. حَتَّى قَضَى. وَسُبْحَانَ اللَّهِ! كَمْ شَاهَدَ النَّاسُ مِنْ هَذَا عِبَرًا؟ وَالَّذِي يَخْفَى عَلَيْهِمْ مِنْ أَحْوَالِ الْمُحْتَضِرِينَ أَعْظَمُ وَأَعْظَمُ. فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ فِي حَالِ حُضُورِ ذِهْنِهِ وَقُوَّتِهِ وَكَمَالِ إِدْرَاكِهِ قَدْ تَمَكَّنَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ، وَاسْتَعْمَلَهُ فِيمَا يُرِيدُهُ مِنْ مَعَاصِي اللَّهِ، وَقَدْ أَغْفَلَ قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَعَطَّلَ لِسَانَهُ عَنْ ذِكْرِهِ وَجَوَارِحَهُ عَنْ طَاعَتِهِ، فَكَيْفَ الظَّنُّ بِهِ عِنْدَ سُقُوطِ قُوَاهُ وَاشْتِغَالِ قَلْبِهِ وَنَفَسِهِ بِمَا هُوَ فِيهِ مِنْ أَلَمِ النَّزْعِ؟ وَجَمَعَ الشَّيْطَانُ لَهُ كُلَّ قُوَّتِهِ وَهِمَّتِهِ، وَحَشَدَ عَلَيْهِ بِجَمِيعِ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ لِيَنَالَ مِنْهُ فُرْصَتَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ آخِرُ الْعَمَلِ، فَأَقْوَى مَا يَكُونُ عَلَيْهِ شَيْطَانُهُ ذَلِكَ الْوَقْتِ، وَأَضْعَفُ مَا يَكُونُ هُوَ فِي تِلْك الْحَالِ، فَمَنْ تُرَى يَسْلَمُ عَلَى ذَلِكَ؟ فَهُنَاكَ {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ} [سُورَةُ إِبْرَاهِيمَ: ٢٧] . فَكَيْفَ يُوَفَّقُ بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ مَنْ أَغْفَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِهِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا. فَبَعِيدٌ مَنْ قَلْبُهُ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، غَافِلٌ عَنْهُ مُتَعَبِّدٌ لِهَوَاهُ أَسِيرٌ لِشَهَوَاتِهِ، وَلِسَانُهُ يَابِسٌ مِنْ ذِكْرِهِ، وَجَوَارِحُهُ مُعَطَّلَةٌ مِنْ طَاعَتِهِ مُشْتَغِلَةٌ بِمَعْصِيَتِهِ – أَنْ يُوَفَّقَ لِلْخَاتِمَةِ بِالْحُسْنَى. وَلَقَدْ قَطَعَ خَوْفُ الْخَاتِمَةِ ظُهُورَ الْمُتَّقِينَ، وَكَأَنَّ الْمُسِيئِينَ الظَّالِمِينَ قَدْ أَخَذُوا تَوْقِيعًا بِالْأَمَانِ {أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ – سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَلِكَ زَعِيمٌ} [سُورَةُ الْقَلَمِ: ٣٩ – ٤٠] كَمَا قِيلَ: يَا آمِنًا مِنْ قَبِيحِ الْفِعْلِ مِنْهُ أَهَلْ … أَتَاكَ تَوْقِيعُ أَمْنٍ أَنْتَ تَمْلِكُهُ جَمَعْتَ شَيْئَيْنِ أَمْنًا وَاتِّبَاعَ هَوًى … هَذَا وَإِحْدَاهُمَا فِي الْمَرْءِ تُهْلِكُهُ وَالْمُحْسِنُونَ عَلَى دَرْبِ الْمَخَاوِفِ قَدْ … سَارُوا وَذَلِكَ دَرْبٌ لَسْتَ تَسْلُكُهُ فَرَّطْتَ فِي الزَّرْعِ وَقْتَ الْبَذْرِ مِنْ سَفَهٍ … فَكَيْفَ عِنْدَ حَصَادِ النَّاسِ تُدْرِكُهُ هَذَا وَأَعْجَبُ شَيْءٍ مِنْكَ زُهْدُكَ فِي … دَارِ الْبَقَاءِ بِعَيْشٍ سَوْفَ تَتْرُكُهُ مَنِ السَّفِيهُ إِذًا بِاللَّهِ أَنْتَ أَمِ الْ … مَغْبُونُ فِي الْبَيْعِ غَبْنًا سَوْفَ يُدْرِكُهُ Ada satu perkara yang lebih menakutkan, lebih berat, dan lebih pahit daripada semua pembahasan sebelumnya, yaitu pengkhianatan hati dan lisan pada saat sakaratul maut, ketika seseorang bersiap meninggalkan dunia dan berpindah menghadap Allah Ta‘ala. Pada saat yang sangat genting itu, bisa saja seseorang tidak mampu mengucapkan syahadat. Banyak orang yang menyaksikan kejadian semacam ini. Ada yang ketika dikatakan kepadanya, “Ucapkanlah lā ilāha illallāh,” ia menjawab, “Ah… ah… aku tidak sanggup mengucapkannya.” Ada pula yang ketika diminta membaca syahadat malah berkata: “Shāh rukh, aku menang darimu!” Lalu ia meninggal. Yang lain, ketika diminta mengucapkan syahadat, ia malah melantunkan bait syair: “Wahai wanita yang dulu pernah bertanya kepadaku saat kelelahan: ke mana arah menuju pemandian Minjāb?” Setelah itu ia wafat. Ada pula yang ketika didorong untuk mengucapkan syahadat malah mengigau dengan nyanyian: “Tātinā tinintā…” Ia terus bernyanyi hingga meninggal. Ada yang berkata: “Untuk apa ucapan itu? Tidak ada maksiat kecuali sudah aku lakukan.” Lalu ia meninggal tanpa sempat mengucapkan syahadat. Ada pula yang berkata: “Untuk apa ini? Aku bahkan tidak tahu apakah pernah sekali saja aku shalat.” Lalu ia meninggal. Ada pula yang tegas berkata: “Ia (syahadat) adalah kekafiran bagiku.” Lalu ia meninggal. Ada pula yang berkata: “Setiap kali aku akan mengucapkannya, lidahku seperti terkunci dan tidak mau mengucapkannya.” Seseorang mengabarkan kepada Ibnul Qayyim tentang seorang pengemis yang ketika sakaratul maut terus menerus berkata: “Untuk Allah… satu uang receh untuk Allah…” Ia terus mengulanginya hingga meninggal. Seorang pedagang juga menceritakan bahwa kerabatnya saat sakaratul maut mereka talqin dengan kalimat syahadat, namun yang keluar dari lisannya adalah: “Barang ini murah… yang itu pembeli bagus… ini kualitas baik… itu sekian harganya…” Ia terus berbicara tentang transaksi hingga wafat. Subḥānallāh… berapa banyak pelajaran seperti ini yang disaksikan manusia? Dan apa yang tidak mereka saksikan—dari keadaan orang-orang yang sekarat—lebih mengerikan lagi. Jika pada saat seseorang sehat, sadar, dan kuat, setan sudah menguasainya dan menjadikannya alat untuk bermaksiat kepada Allah; jika hatinya lalai dari zikir, lisannya tidak digunakan untuk mengingat Allah, dan anggota tubuhnya tidak dipakai untuk taat, maka bagaimana keadaannya saat kekuatan tubuh melemah, dan hatinya sibuk menahan rasa sakit sakaratul maut? Saat itu setan mengumpulkan seluruh kekuatannya, mengerahkan seluruh tipu dayanya untuk merebut kesempatan terakhir. Itulah akhir amal, dan setan pada saat itu berada di puncak kemampuan menyerang, sementara manusia berada pada titik terlemahnya. Siapa yang mungkin selamat dari keadaan seberat itu? Pada saat itulah firman Allah berlaku: ﴿ يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ﴾ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) “Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh (syahadat) di dunia dan akhirat…” Bagaimana mungkin seseorang diberi husnul khatimah bila Allah tidak memberinya taufik? Bagaimana mungkin ia mendapatkan penutup kehidupan yang indah jika hatinya jauh dari Allah, lalai dari zikir, mengikuti hawa nafsu, tunduk kepada syahwat, lisannya kering dari zikir, dan anggota tubuhnya sibuk bermaksiat? Sangat jauh—sangat jauh—harapan bagi orang seperti itu mendapatkan akhir yang baik. Ketakutan terhadap buruknya akhir hidup benar-benar menundukkan punggung para muttaqin. Namun para pelaku maksiat bertingkah seolah mereka telah mendapat “surat jaminan keselamatan”, sebagaimana celaan Allah: ﴿ أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ * سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴾ “Atau apakah kamu memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?” (QS. Al-Qalam: 39–40) “Apakah kalian memiliki perjanjian yang kuat dari Kami sampai Hari Kiamat bahwa kalian akan mendapatkan apa pun yang kalian inginkan? Tanyakan kepada mereka: siapakah yang menjamin semua itu?” Lalu Ibnul Qayyim menutup dengan syair peringatan: Wahai yang merasa aman dari buruknya perbuatan, Apakah engkau punya jaminan keselamatan yang kau pegang? Engkau kumpulkan dua hal: rasa aman dan mengikuti hawa nafsu, padahal salah satunya saja dapat menghancurkan manusia. Orang-orang yang berbuat baik berjalan di jalan penuh rasa takut, sedangkan engkau tidak menapakinya. Engkau menyia-nyiakan musim menanam karena kebodohan, bagaimana mungkin engkau memperoleh panen saat orang lain memetik hasilnya? Paling mengherankan darimu: engkau tidak peduli terhadap negeri akhirat, demi hidup dunia yang akan segera kau tinggalkan. Siapa yang lebih bodoh—dirimu, atau orang yang rugi dalam perdagangan dan kerugiannya akan tampak jelas kelak?   Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore.    –   Diupdate pada Rabu, 5 Jumadilakhir 1447 H, 26 November 2025 di Darush Sholihin Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs
Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat.   Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 46. Maksiat Membuat Musuh Kita Makin Berani 1.7. 47. Maksiat akan Mengkhianati Seseorang Saat Ia Membutuhkan Dirinya Sendiri Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟ Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66) Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi? Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini. وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ. Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81) وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ. Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82)   Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat Maksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut: 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ. Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut. وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ. Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.” وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِي Imam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya: “Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84)   2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki Dari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ “Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِ Takwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85)   3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا. Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa. Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab: إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِ وَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ. “Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.” Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya.   4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, : الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ. Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah. Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri. Sebagian ulama salaf pernah berkata, إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي. “Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85)   5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟ Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit. Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86) Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala, { وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ } “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.” Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin   46. Maksiat Membuat Musuh Kita Makin Berani Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَصْلٌ الْمَعَاصِي تُجَرِّئُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْدَاءَهُ وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تُجَرِّئُ عَلَى الْعَبْدِ مَا لَمْ يَكُنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ مِنْ أَصْنَافِ الْمَخْلُوقَاتِ، فَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينَ بِالْأَذَى وَالْإِغْوَاءِ وَالْوَسْوَسَةِ وَالتَّخْوِيفِ وَالتَّحْزِينِ، وَإِنْسَائِهِ مَا بِهِ مَصْلَحَتُهُ فِي ذِكْرِهِ، وَمَضَرَّتُهُ فِي نِسْيَانِهِ، فَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ حَتَّى تَؤُزَّهُ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ أَزًّا. وَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ شَيَاطِينُ الْإِنْسِ بِمَا تَقْدِرُ عَلَيْهِ مِنَ الْأَذَى فِي غَيْبَتِهِ وَحُضُورِهِ، وَيَجْتَرِئُ عَلَيْهِ أَهْلُهُ وَخَدَمُهُ وَأَوْلَادُهُ وَجِيرَانُهُ حَتَّى الْحَيَوَانُ الْبَهِيمُ. Termasuk di antara hukuman akibat maksiat adalah bahwa maksiat menjadikan makhluk lain berani kepada seseorang, yang sebelumnya tidak akan berani mengganggunya. Akibatnya, setan menjadi berani mengganggunya — dengan cara menyakitinya, menyesatkannya, membisikkan waswas, menakut-nakuti, dan membuatnya bersedih. Setan juga membuatnya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya jika diingat, dan mengingat hal-hal yang justru membahayakannya. Akhirnya, setan terus menggoda dan menyeretnya ke dalam maksiat kepada Allah dengan dorongan yang kuat. Demikian pula, setan dari kalangan manusia menjadi berani mengganggunya — baik ketika ia hadir maupun tidak hadir — dengan segala bentuk gangguan yang mampu mereka lakukan. Bahkan keluarganya sendiri, para pelayan, anak-anak, dan tetangganya pun berani kepadanya, hingga hewan tunggangan atau binatang peliharaannya ikut berani melawannya. قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ امْرَأَتِي وَدَابَّتِي. وَكَذَلِكَ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ أَوْلِيَاءُ الْأَمْرِ بِالْعُقُوبَةِ الَّتِي إِنْ عَدَلُوا فِيهَا أَقَامُوا عَلَيْهِ حُدُودَ اللَّهِ، وَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ نَفْسُهُ فَتَتَأَسَّدُ عَلَيْهِ وَتَصْعُبُ عَلَيْهِ، فَلَوْ أَرَادَهَا لِخَيْرٍ لَمْ تُطَاوِعْهُ وَلَمْ تَنْقَدْ لَهُ، وَتَسُوقُهُ إِلَى مَا فِيهِ هَلَاكُهُ، شَاءَ أَمْ أَبِي. وَذَلِكَ لِأَنَّ الطَّاعَةَ حِصْنُ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الَّذِي مَنْ دَخَلَهُ كَانَ مِنَ الْآمِنِينَ، فَإِذَا فَارَقَ الْحِصْنَ اجْتَرَأَ عَلَيْهِ قُطَّاعُ الطَّرِيقِ وَغَيْرُهُمْ، وَعَلَى حَسَبِ اجْتِرَائِهِ عَلَى مَعَاصِي اللَّهِ يَكُونُ اجْتِرَاءُ هَذِهِ الْآفَاتِ وَالنُّفُوسِ عَلَيْهِ، وَلَيْسَ لَهُ شَيْءٌ يَرُدُّ عَنْهُ. فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ وَطَاعَتَهُ وَالصَّدَقَةَ وَإِرْشَادَ الْجَاهِلِ، وَالْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ – وِقَايَةٌ تَرُدُّ عَنِ الْعَبْدِ، بِمَنْزِلَةِ الْقُوَّةِ الَّتِي تَرُدُّ الْمَرَضَ وَتُقَاوِمُهُ، فَإِذَا سَقَطَتِ الْقُوَّةُ غَلَبَ وَارِدُ الْمَرَضِ فَكَانَ الْهَلَاكُ، فَلَابُدَّ لِلْعَبْدِ مِنْ شَيْءٍ يَرُدُّ عَنْهُ، فَإِنَّ مُوجِبَ السَّيِّئَاتِ وَالْحَسَنَاتِ تَتَدَافَعُ وَيَكُونُ الْحُكْمُ لِلْغَالِبِ كَمَا تَقَدَّمَ، وَكُلَّمَا قَوِيَ جَانِبُ الْحَسَنَاتِ كَانَ الرَّدُّ أَقْوَى كَمَا تَقَدَّمَ، فَإِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا، وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، فَبِحَسَبِ قُوَّةِ الْإِيمَانِ يَكُونُ الدَّفْعُ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ. Sebagian salaf berkata, “Sungguh, aku pernah bermaksiat kepada Allah, dan aku merasakan akibatnya pada akhlak istriku dan pada hewan tungganganku.” Begitu juga para penguasa menjadi berani menimpakan hukuman kepadanya; jika mereka bersikap adil, tentu mereka hanya menegakkan hukuman dari Allah atas dirinya. Bahkan dirinya sendiri menjadi berani melawannya — jiwanya menjadi liar dan sulit dikendalikan. Ketika ia mengajaknya kepada kebaikan, jiwanya enggan taat dan tidak mau tunduk. Namun, justru ia menyeret dirinya kepada sesuatu yang membinasakan, entah ia mau atau tidak mau. Hal itu terjadi karena ketaatan adalah benteng Allah Ta‘ālā. Barang siapa masuk ke dalam benteng itu, ia akan aman. Namun, jika seseorang keluar dari benteng tersebut, maka para perampok dan musuh akan berani menyerangnya. Seberapa besar seseorang berani bermaksiat kepada Allah, sebesar itu pula makhluk lain akan berani mengganggunya. Dan ia tidak memiliki pelindung apa pun yang bisa menolak bahaya tersebut. Sesungguhnya zikir kepada Allah, ketaatan, sedekah, mengajar orang yang tidak tahu, amar makruf nahi mungkar — semuanya adalah perisai yang melindungi hamba dari gangguan, sebagaimana kekuatan tubuh yang melawan dan menolak penyakit. Jika kekuatan itu hilang, maka penyakit akan menang dan menyebabkan kehancuran. Begitu pula, hati manusia memerlukan sesuatu yang menolak keburukan dari dirinya. Karena dampak buruk dan baik selalu saling menolak; yang menang adalah yang lebih kuat. Semakin kuat amal saleh dan kebaikan seseorang, semakin kuat pula pertahanan dan perlindungan Allah baginya. Sebagaimana firman Allah: إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ḥajj: 38) Dan iman itu terdiri dari ucapan dan perbuatan. Maka, sesuai dengan kadar kekuatan iman seseorang, sebesar itu pula Allah akan menolak bahaya dari dirinya. Allah-lah tempat meminta pertolongan.   47. Maksiat akan Mengkhianati Seseorang Saat Ia Membutuhkan Dirinya Sendiri Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَخُونُ الْعَبْدَ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ، فَإِنَّ كُلَّ أَحَدٍ يَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْفَعُهُ وَمَا يَضُرُّهُ فِي مَعَاشِهِ وَمَعَادِهِ، وَأَعْلَمُ النَّاسِ أَعْرَفُهُمْ بِذَلِكَ عَلَى التَّفْصِيلِ، وَأَقْوَاهُمْ وَأَكْيَسُهُمْ مَنْ قَوِيَ عَلَى نَفْسِهِ وَإِرَادَتِهِ، فَاسْتَعْمَلَهَا فِيمَا يَنْفَعُهُ وَكَفَّهَا عَمَّا يَضُرُّهُ، وَفِي ذَلِكَ تَتَفَاوَتُ مَعَارِفُ النَّاسِ وَهِمَمُهُمْ وَمَنَازِلُهُمْ، فَأَعْرَفُهُمْ مَنْ كَانَ عَارِفًا بِأَسْبَابِ السَّعَادَةِ وَالشَّقَاوَةِ، وَأَرْشَدُهُمْ مَنْ آثَرَ هَذِهِ عَلَى هَذِهِ، كَمَا أَنَّ أَسْفَهَهُمْ مَنْ عَكَسَ الْأَمْرَ. وَالْمَعَاصِي تَخُونُ الْعَبْدَ أَحْوَجَ مَا كَانَ إِلَى نَفْسِهِ فِي تَحْصِيلِ هَذَا الْعِلْمِ، وَإِيثَارِ الْحَظِّ الْأَشْرَفِ الْعَالِي الدَّائِمِ عَلَى الْحَظِّ الْخَسِيسِ الْأَدْنَى الْمُنْقَطِعِ، فَتَحْجُبُهُ الذُّنُوبُ عَنْ كَمَالِ هَذَا الْعِلْمِ، وَعَنْ الِاشْتِغَالِ بِمَا هُوَ أَوْلَى بِهِ، وَأَنْفَعُ لَهُ فِي الدَّارَيْنِ. فَإِذَا وَقَعَ مَكْرُوهٌ وَاحْتَاجَ إِلَى التَّخَلُّصِ مِنْهُ، خَانَهُ قَلْبُهُ وَنَفْسُهُ وَجَوَارِحُهُ، وَكَانَ بِمَنْزِلَةِ رَجُلٍ مَعَهُ سَيْفٌ قَدْ غَشِيَهُ الصَّدَأُ وَلَزِمَ قِرَابَهُ، بِحَيْثُ لَا يَنْجَذِبُ مَعَ صَاحِبِهِ إِذَا جَذَبَهُ، فَعَرَضَ لَهُ عَدُوٌّ يُرِيدُ قَتْلَهُ، فَوَضَعَ يَدِهِ عَلَى قَائِمِ سَيْفِهِ وَاجْتَهَدَ لِيُخْرِجَهُ، فَلَمْ يَخْرُجْ مَعَهُ، فَدَهَمَهُ الْعَدُوُّ وَظَفِرَ بِهِ. كَذَلِكَ الْقَلْبُ يَصْدَأُ بِالذُّنُوبِ وَيَصِيرُ مُثْخَنًا بِالْمَرَضِ، فَإِذَا احْتَاجَ إِلَى مُحَارَبَةِ الْعَدُوِّ لَمْ يَجِدْ مَعَهُ مِنْهُ شَيْئًا، وَالْعَبْدُ إِنَّمَا يُحَارِبُ وَيُصَاوِلُ وَيُقْدِمُ بِقَلْبِهِ، وَالْجَوَارِحُ تَبَعٌ لِلْقَلْبِ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَ مَلِكِهَا قُوَّةٌ يَدْفَعُ بِهَا، فَمَا الظَّنُّ بِهَا؟ وَكَذَلِكَ النَّفْسُ فَإِنَّهَا تَخْبُثُ بِالشَّهَوَاتِ وَالْمَعَاصِي وَتَضْعُفُ، أَعْنِي النَّفْسَ الْمُطْمَئِنَّةَ، وَإِنْ كَانَتِ الْأَمَّارَةُ تَقْوَى وَتَتَأَسَّدُ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ هَذِهِ ضَعُفَتْ تِلْكَ، فَيَبْقَى الْحُكْمُ وَالتَّصَرُّفُ لِلْأَمَّارَةِ. وَرُبَّمَا مَاتَتْ نَفْسُهُ الْمُطْمَئِنَّةُ مَوْتًا لَا يُرْتَجَى مَعَهُ حَيَاةٌ يَنْتَفِعُ بِهَا، بَلْ حَيَاتُهُ حَيَاةٌ يُدْرِكُ بِهَا الْأَلَمَ فَقَطْ. وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا وَقَعَ فِي شِدَّةٍ أَوْ كُرْبَةٍ أَوْ بَلِيَّةٍ خَانَهُ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ وَجَوَارِحُهُ عَمَّا هُوَ أَنْفَعُ شَيْءٍ لَهُ، فَلَا يَنْجَذِبُ قَلْبُهُ لِلتَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالْإِنَابَةِ إِلَيْهِ وَالْجَمْعِيَّةِ عَلَيْهِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّذَلُّلِ وَالِانْكِسَارِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَلَا يُطَاوِعُهُ لِسَانُهُ لِذِكْرِهِ، وَإِنْ ذَكَرَهُ بِلِسَانِهِ لَمْ يَجْمَعْ بَيْنَ قَلْبِهِ وَلِسَانِهِ، فَيَنْحَبِسُ الْقَلْبُ عَلَى اللِّسَانِ بِحَيْثُ يُؤَثِّرُ الذِّكْرُ، وَلَا يَنْحَبِسُ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ عَلَى الذِّكْرِ، بَلْ إِنْ ذَكَرَ أَوْ دَعَا ذَكَرَ بِقَلْبٍ لَاهٍ سَاهٍ غَافِلٍ، وَلَوْ أَرَادَ مِنْ جَوَارِحِهِ أَنْ تُعِينَهُ بِطَاعَةٍ تَدْفَعُ عَنْهُ لَمْ تَنْقَدْ لَهُ وَلَمْ تُطَاوِعْهُ. وَهَذَا كُلُّهُ أَثَرُ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي كَمَنْ لَهُ جُنْدٌ يَدْفَعُ عَنْهُ الْأَعْدَاءَ، فَأَهْمَلَ جُنْدَهُ، وَضَيَّعَهُمْ، وَأَضْعَفَهُمْ، وَقَطَعَ أَخْبَارَهُمْ، ثُمَّ أَرَادَ مِنْهُمْ عِنْدَ هُجُومِ الْعَدُوِّ عَلَيْهِ أَنْ يَسْتَفْرِغُوا وُسْعَهُمْ فِي الدَّفْعِ عَنْهُ بِغَيْرِ قُوَّةٍ. Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat akan mengkhianati seseorang di saat ia paling membutuhkan dirinya sendiri. Setiap manusia membutuhkan kemampuan untuk mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakan dirinya—baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Orang yang paling berilmu adalah mereka yang paling paham secara rinci tentang perkara yang membawa kebahagiaan dan perkara yang menyebabkan kesengsaraan. Sementara itu, orang yang paling kuat dan cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan diri dan kehendaknya: menggunakan diri untuk hal-hal yang bermanfaat dan menahan diri dari hal-hal yang merugikan. Dalam hal inilah manusia berbeda-beda tingkat pengetahuan, ambisi, dan kedudukannya. Orang yang paling berbahagia adalah mereka yang memahami secara mendalam sebab-sebab kebahagiaan dan sebab-sebab kesengsaraan, lalu memilih jalan kebahagiaan. Sebaliknya, orang yang paling bodoh adalah mereka yang justru memilih sebaliknya. Maksiat akan mengkhianati seseorang pada saat ia membutuhkan ilmu yang benar—ilmu tentang bagaimana memilih kenikmatan yang lebih tinggi, lebih mulia, dan abadi, daripada kesenangan rendah yang sebentar dan menjerumuskan. Dosa-dosa menutupi hati dari kesempurnaan ilmu ini, dan menghalanginya dari kesibukan yang lebih utama serta lebih bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Ketika seseorang tertimpa musibah dan ia membutuhkan jalan keluar, maka hatinya, jiwanya, dan anggota tubuhnya justru mengkhianatinya. Ia seperti seorang laki-laki yang memiliki pedang, tetapi pedang itu berkarat dan melekat kuat pada sarungnya sampai-sampai tidak dapat ditarik. Padahal musuh sudah di depan mata. Ia berusaha keras menarik pedangnya, tetapi pedang itu tak bergeming, hingga musuh menyerangnya dan mengalahkannya. Demikian pula hati—hati dapat berkarat karena dosa, dipenuhi penyakit. Ketika ia perlu melawan musuh (godaan, syahwat, bisikan setan), ia tidak lagi memiliki kekuatan. Padahal pertempuran sejati dilakukan oleh hati; anggota tubuh hanyalah pengikutnya. Jika “raja”—yaitu hati—lemah dan tidak mampu memimpin, bagaimana mungkin pasukannya (anggota tubuh) dapat bertahan? Demikian juga jiwa (an-nafs). Jiwa yang tenteram menjadi kotor dan lemah karena syahwat dan maksiat, sementara jiwa yang memerintahkan pada keburukan justru semakin kuat dan beringas. Semakin kuat bagian yang buruk ini, semakin lemah bagian yang baik. Bahkan, bisa jadi jiwa yang tenteram itu benar-benar mati—mati tanpa harapan hidup yang bermanfaat. Hidupnya hanya sebatas merasakan sakit, tanpa kemampuan memperoleh kebaikan. Intinya: ketika hamba berada dalam kesulitan, musibah, atau ujian, maka hatinya, lisannya, dan anggota tubuhnya akan mengkhianatinya dari sesuatu yang paling bermanfaat baginya. Hatinya tidak mampu tertarik untuk bertawakal kepada Allah, kembali kepada-Nya, bermunajat, merendah, dan tunduk sepenuhnya kepada-Nya. Lidahnya pun tidak mudah mengucapkan dzikir. Kalaupun berdzikir, lisannya bergerak tetapi tidak diiringi hati. Dzikir itu tidak memberikan pengaruh apa-apa karena hati dan lisan tidak bersatu. Bahkan bila ia ingin menggerakkan anggota tubuhnya untuk melakukan ketaatan yang dapat menolongnya, tubuhnya tidak mau patuh. Semua ini adalah pengaruh dari dosa dan maksiat. Ia seperti seseorang yang memiliki pasukan untuk membelanya dari musuh, tetapi ia menelantarkan pasukan itu, melemahkannya, memutus hubungan, dan tidak pernah melatihnya. Lalu ketika musuh menyerang, ia berharap pasukan itu bertempur sekuat tenaga padahal mereka tak lagi memiliki kemampuan apa-apa. Pengkhianatan Hati dan Lisan pada Sakratul Maut Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, هَذَا، وَثَمَّ أَمْرٌ أَخْوَفُ مِنْ ذَلِكَ وَأَدْهَى مِنْهُ وَأَمَرُّ، وَهُوَ أَنْ يَخُونَهُ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ وَالِانْتِقَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، فَرُبَّمَا تَعَذَّرَ عَلَيْهِ النُّطْقُ بِالشَّهَادَةِ، كَمَا شَاهَدَ النَّاسُ كَثِيرًا مِنَ الْمُحْتَضَرِينَ أَصَابَهُمْ ذَلِكَ، حَتَّى قِيلَ لِبَعْضِهِمْ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: آهْ آهْ، لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقُولَهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: شَاهْ رُخْ، غَلَبْتُكَ. ثُمَّ قَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: يَا رُبَّ قَائِلَةٍ يَوْمًا وَقَدْ تَعِبَتْ … أَيْنَ الطَّرِيقُ إِلَى حَمَّامِ مِنْجَابِ ثُمَّ قَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَجَعَلَ يَهْذِي بِالْغِنَاءِ وَيَقُولُ: تَاتِنَا تِنِنْتَا. حَتَّى قَضَى وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا يَنْفَعُنِي مَا تَقُولُ وَلَمْ أَدَعْ مَعْصِيَةً إِلَّا رَكِبْتُهَا؟ ثُمَّ قَضَى وَلَمْ يَقُلْهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا يُغْنِي عَنِّي، وَمَا أَعْرِفُ أَنِّي صَلَّيْتُ لِلَّهِ صَلَاةً؟ ثُمَّ قَضَى وَلَمْ يَقُلْهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: هُوَ كَافِرٌ بِمَا تَقُولُ. وَقَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَقُولَهَا لِسَانِي يُمْسِكُ عَنْهَا. وَأَخْبَرَنِي مَنْ حَضَرَ بَعْضَ الشَّحَّاذِينَ عِنْدَ مَوْتِهِ، فَجَعَلَ يَقُولُ: لِلَّهِ، فِلْسٌ لِلَّهِ. حَتَّى قَضَى. وَأَخْبَرَنِي بَعْضُ التُّجَّارِ عَنْ قَرَابَةٍ لَهُ أَنَّهُ احْتُضِرَ وَهُوَ عِنْدَهُ، وَجَعَلُوا يُلَقِّنُونَهُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَهُوَ يَقُولُ: هَذِهِ الْقِطْعَةُ رَخِيصَةٌ، هَذَا مُشْتَرٍ جَيِّدٌ، هَذِهِ كَذَا. حَتَّى قَضَى. وَسُبْحَانَ اللَّهِ! كَمْ شَاهَدَ النَّاسُ مِنْ هَذَا عِبَرًا؟ وَالَّذِي يَخْفَى عَلَيْهِمْ مِنْ أَحْوَالِ الْمُحْتَضِرِينَ أَعْظَمُ وَأَعْظَمُ. فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ فِي حَالِ حُضُورِ ذِهْنِهِ وَقُوَّتِهِ وَكَمَالِ إِدْرَاكِهِ قَدْ تَمَكَّنَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ، وَاسْتَعْمَلَهُ فِيمَا يُرِيدُهُ مِنْ مَعَاصِي اللَّهِ، وَقَدْ أَغْفَلَ قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَعَطَّلَ لِسَانَهُ عَنْ ذِكْرِهِ وَجَوَارِحَهُ عَنْ طَاعَتِهِ، فَكَيْفَ الظَّنُّ بِهِ عِنْدَ سُقُوطِ قُوَاهُ وَاشْتِغَالِ قَلْبِهِ وَنَفَسِهِ بِمَا هُوَ فِيهِ مِنْ أَلَمِ النَّزْعِ؟ وَجَمَعَ الشَّيْطَانُ لَهُ كُلَّ قُوَّتِهِ وَهِمَّتِهِ، وَحَشَدَ عَلَيْهِ بِجَمِيعِ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ لِيَنَالَ مِنْهُ فُرْصَتَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ آخِرُ الْعَمَلِ، فَأَقْوَى مَا يَكُونُ عَلَيْهِ شَيْطَانُهُ ذَلِكَ الْوَقْتِ، وَأَضْعَفُ مَا يَكُونُ هُوَ فِي تِلْك الْحَالِ، فَمَنْ تُرَى يَسْلَمُ عَلَى ذَلِكَ؟ فَهُنَاكَ {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ} [سُورَةُ إِبْرَاهِيمَ: ٢٧] . فَكَيْفَ يُوَفَّقُ بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ مَنْ أَغْفَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِهِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا. فَبَعِيدٌ مَنْ قَلْبُهُ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، غَافِلٌ عَنْهُ مُتَعَبِّدٌ لِهَوَاهُ أَسِيرٌ لِشَهَوَاتِهِ، وَلِسَانُهُ يَابِسٌ مِنْ ذِكْرِهِ، وَجَوَارِحُهُ مُعَطَّلَةٌ مِنْ طَاعَتِهِ مُشْتَغِلَةٌ بِمَعْصِيَتِهِ – أَنْ يُوَفَّقَ لِلْخَاتِمَةِ بِالْحُسْنَى. وَلَقَدْ قَطَعَ خَوْفُ الْخَاتِمَةِ ظُهُورَ الْمُتَّقِينَ، وَكَأَنَّ الْمُسِيئِينَ الظَّالِمِينَ قَدْ أَخَذُوا تَوْقِيعًا بِالْأَمَانِ {أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ – سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَلِكَ زَعِيمٌ} [سُورَةُ الْقَلَمِ: ٣٩ – ٤٠] كَمَا قِيلَ: يَا آمِنًا مِنْ قَبِيحِ الْفِعْلِ مِنْهُ أَهَلْ … أَتَاكَ تَوْقِيعُ أَمْنٍ أَنْتَ تَمْلِكُهُ جَمَعْتَ شَيْئَيْنِ أَمْنًا وَاتِّبَاعَ هَوًى … هَذَا وَإِحْدَاهُمَا فِي الْمَرْءِ تُهْلِكُهُ وَالْمُحْسِنُونَ عَلَى دَرْبِ الْمَخَاوِفِ قَدْ … سَارُوا وَذَلِكَ دَرْبٌ لَسْتَ تَسْلُكُهُ فَرَّطْتَ فِي الزَّرْعِ وَقْتَ الْبَذْرِ مِنْ سَفَهٍ … فَكَيْفَ عِنْدَ حَصَادِ النَّاسِ تُدْرِكُهُ هَذَا وَأَعْجَبُ شَيْءٍ مِنْكَ زُهْدُكَ فِي … دَارِ الْبَقَاءِ بِعَيْشٍ سَوْفَ تَتْرُكُهُ مَنِ السَّفِيهُ إِذًا بِاللَّهِ أَنْتَ أَمِ الْ … مَغْبُونُ فِي الْبَيْعِ غَبْنًا سَوْفَ يُدْرِكُهُ Ada satu perkara yang lebih menakutkan, lebih berat, dan lebih pahit daripada semua pembahasan sebelumnya, yaitu pengkhianatan hati dan lisan pada saat sakaratul maut, ketika seseorang bersiap meninggalkan dunia dan berpindah menghadap Allah Ta‘ala. Pada saat yang sangat genting itu, bisa saja seseorang tidak mampu mengucapkan syahadat. Banyak orang yang menyaksikan kejadian semacam ini. Ada yang ketika dikatakan kepadanya, “Ucapkanlah lā ilāha illallāh,” ia menjawab, “Ah… ah… aku tidak sanggup mengucapkannya.” Ada pula yang ketika diminta membaca syahadat malah berkata: “Shāh rukh, aku menang darimu!” Lalu ia meninggal. Yang lain, ketika diminta mengucapkan syahadat, ia malah melantunkan bait syair: “Wahai wanita yang dulu pernah bertanya kepadaku saat kelelahan: ke mana arah menuju pemandian Minjāb?” Setelah itu ia wafat. Ada pula yang ketika didorong untuk mengucapkan syahadat malah mengigau dengan nyanyian: “Tātinā tinintā…” Ia terus bernyanyi hingga meninggal. Ada yang berkata: “Untuk apa ucapan itu? Tidak ada maksiat kecuali sudah aku lakukan.” Lalu ia meninggal tanpa sempat mengucapkan syahadat. Ada pula yang berkata: “Untuk apa ini? Aku bahkan tidak tahu apakah pernah sekali saja aku shalat.” Lalu ia meninggal. Ada pula yang tegas berkata: “Ia (syahadat) adalah kekafiran bagiku.” Lalu ia meninggal. Ada pula yang berkata: “Setiap kali aku akan mengucapkannya, lidahku seperti terkunci dan tidak mau mengucapkannya.” Seseorang mengabarkan kepada Ibnul Qayyim tentang seorang pengemis yang ketika sakaratul maut terus menerus berkata: “Untuk Allah… satu uang receh untuk Allah…” Ia terus mengulanginya hingga meninggal. Seorang pedagang juga menceritakan bahwa kerabatnya saat sakaratul maut mereka talqin dengan kalimat syahadat, namun yang keluar dari lisannya adalah: “Barang ini murah… yang itu pembeli bagus… ini kualitas baik… itu sekian harganya…” Ia terus berbicara tentang transaksi hingga wafat. Subḥānallāh… berapa banyak pelajaran seperti ini yang disaksikan manusia? Dan apa yang tidak mereka saksikan—dari keadaan orang-orang yang sekarat—lebih mengerikan lagi. Jika pada saat seseorang sehat, sadar, dan kuat, setan sudah menguasainya dan menjadikannya alat untuk bermaksiat kepada Allah; jika hatinya lalai dari zikir, lisannya tidak digunakan untuk mengingat Allah, dan anggota tubuhnya tidak dipakai untuk taat, maka bagaimana keadaannya saat kekuatan tubuh melemah, dan hatinya sibuk menahan rasa sakit sakaratul maut? Saat itu setan mengumpulkan seluruh kekuatannya, mengerahkan seluruh tipu dayanya untuk merebut kesempatan terakhir. Itulah akhir amal, dan setan pada saat itu berada di puncak kemampuan menyerang, sementara manusia berada pada titik terlemahnya. Siapa yang mungkin selamat dari keadaan seberat itu? Pada saat itulah firman Allah berlaku: ﴿ يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ﴾ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) “Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh (syahadat) di dunia dan akhirat…” Bagaimana mungkin seseorang diberi husnul khatimah bila Allah tidak memberinya taufik? Bagaimana mungkin ia mendapatkan penutup kehidupan yang indah jika hatinya jauh dari Allah, lalai dari zikir, mengikuti hawa nafsu, tunduk kepada syahwat, lisannya kering dari zikir, dan anggota tubuhnya sibuk bermaksiat? Sangat jauh—sangat jauh—harapan bagi orang seperti itu mendapatkan akhir yang baik. Ketakutan terhadap buruknya akhir hidup benar-benar menundukkan punggung para muttaqin. Namun para pelaku maksiat bertingkah seolah mereka telah mendapat “surat jaminan keselamatan”, sebagaimana celaan Allah: ﴿ أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ * سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴾ “Atau apakah kamu memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?” (QS. Al-Qalam: 39–40) “Apakah kalian memiliki perjanjian yang kuat dari Kami sampai Hari Kiamat bahwa kalian akan mendapatkan apa pun yang kalian inginkan? Tanyakan kepada mereka: siapakah yang menjamin semua itu?” Lalu Ibnul Qayyim menutup dengan syair peringatan: Wahai yang merasa aman dari buruknya perbuatan, Apakah engkau punya jaminan keselamatan yang kau pegang? Engkau kumpulkan dua hal: rasa aman dan mengikuti hawa nafsu, padahal salah satunya saja dapat menghancurkan manusia. Orang-orang yang berbuat baik berjalan di jalan penuh rasa takut, sedangkan engkau tidak menapakinya. Engkau menyia-nyiakan musim menanam karena kebodohan, bagaimana mungkin engkau memperoleh panen saat orang lain memetik hasilnya? Paling mengherankan darimu: engkau tidak peduli terhadap negeri akhirat, demi hidup dunia yang akan segera kau tinggalkan. Siapa yang lebih bodoh—dirimu, atau orang yang rugi dalam perdagangan dan kerugiannya akan tampak jelas kelak?   Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore.    –   Diupdate pada Rabu, 5 Jumadilakhir 1447 H, 26 November 2025 di Darush Sholihin Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs


Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat.   Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 46. Maksiat Membuat Musuh Kita Makin Berani 1.7. 47. Maksiat akan Mengkhianati Seseorang Saat Ia Membutuhkan Dirinya Sendiri Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟ Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66) Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi? Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini. وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ. Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81) وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ. Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82)   Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat Maksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut: 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ. Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut. وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ. Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.” وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِي Imam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya: “Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84)   2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki Dari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ “Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِ Takwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85)   3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا. Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa. Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab: إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِ وَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ. “Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.” Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya.   4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, : الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ. Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah. Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri. Sebagian ulama salaf pernah berkata, إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي. “Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85)   5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟ Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit. Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86) Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala, { وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ } “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.” Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin   46. Maksiat Membuat Musuh Kita Makin Berani Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَصْلٌ الْمَعَاصِي تُجَرِّئُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْدَاءَهُ وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تُجَرِّئُ عَلَى الْعَبْدِ مَا لَمْ يَكُنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ مِنْ أَصْنَافِ الْمَخْلُوقَاتِ، فَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينَ بِالْأَذَى وَالْإِغْوَاءِ وَالْوَسْوَسَةِ وَالتَّخْوِيفِ وَالتَّحْزِينِ، وَإِنْسَائِهِ مَا بِهِ مَصْلَحَتُهُ فِي ذِكْرِهِ، وَمَضَرَّتُهُ فِي نِسْيَانِهِ، فَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ حَتَّى تَؤُزَّهُ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ أَزًّا. وَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ شَيَاطِينُ الْإِنْسِ بِمَا تَقْدِرُ عَلَيْهِ مِنَ الْأَذَى فِي غَيْبَتِهِ وَحُضُورِهِ، وَيَجْتَرِئُ عَلَيْهِ أَهْلُهُ وَخَدَمُهُ وَأَوْلَادُهُ وَجِيرَانُهُ حَتَّى الْحَيَوَانُ الْبَهِيمُ. Termasuk di antara hukuman akibat maksiat adalah bahwa maksiat menjadikan makhluk lain berani kepada seseorang, yang sebelumnya tidak akan berani mengganggunya. Akibatnya, setan menjadi berani mengganggunya — dengan cara menyakitinya, menyesatkannya, membisikkan waswas, menakut-nakuti, dan membuatnya bersedih. Setan juga membuatnya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya jika diingat, dan mengingat hal-hal yang justru membahayakannya. Akhirnya, setan terus menggoda dan menyeretnya ke dalam maksiat kepada Allah dengan dorongan yang kuat. Demikian pula, setan dari kalangan manusia menjadi berani mengganggunya — baik ketika ia hadir maupun tidak hadir — dengan segala bentuk gangguan yang mampu mereka lakukan. Bahkan keluarganya sendiri, para pelayan, anak-anak, dan tetangganya pun berani kepadanya, hingga hewan tunggangan atau binatang peliharaannya ikut berani melawannya. قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ امْرَأَتِي وَدَابَّتِي. وَكَذَلِكَ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ أَوْلِيَاءُ الْأَمْرِ بِالْعُقُوبَةِ الَّتِي إِنْ عَدَلُوا فِيهَا أَقَامُوا عَلَيْهِ حُدُودَ اللَّهِ، وَتَجْتَرِئُ عَلَيْهِ نَفْسُهُ فَتَتَأَسَّدُ عَلَيْهِ وَتَصْعُبُ عَلَيْهِ، فَلَوْ أَرَادَهَا لِخَيْرٍ لَمْ تُطَاوِعْهُ وَلَمْ تَنْقَدْ لَهُ، وَتَسُوقُهُ إِلَى مَا فِيهِ هَلَاكُهُ، شَاءَ أَمْ أَبِي. وَذَلِكَ لِأَنَّ الطَّاعَةَ حِصْنُ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الَّذِي مَنْ دَخَلَهُ كَانَ مِنَ الْآمِنِينَ، فَإِذَا فَارَقَ الْحِصْنَ اجْتَرَأَ عَلَيْهِ قُطَّاعُ الطَّرِيقِ وَغَيْرُهُمْ، وَعَلَى حَسَبِ اجْتِرَائِهِ عَلَى مَعَاصِي اللَّهِ يَكُونُ اجْتِرَاءُ هَذِهِ الْآفَاتِ وَالنُّفُوسِ عَلَيْهِ، وَلَيْسَ لَهُ شَيْءٌ يَرُدُّ عَنْهُ. فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ وَطَاعَتَهُ وَالصَّدَقَةَ وَإِرْشَادَ الْجَاهِلِ، وَالْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ – وِقَايَةٌ تَرُدُّ عَنِ الْعَبْدِ، بِمَنْزِلَةِ الْقُوَّةِ الَّتِي تَرُدُّ الْمَرَضَ وَتُقَاوِمُهُ، فَإِذَا سَقَطَتِ الْقُوَّةُ غَلَبَ وَارِدُ الْمَرَضِ فَكَانَ الْهَلَاكُ، فَلَابُدَّ لِلْعَبْدِ مِنْ شَيْءٍ يَرُدُّ عَنْهُ، فَإِنَّ مُوجِبَ السَّيِّئَاتِ وَالْحَسَنَاتِ تَتَدَافَعُ وَيَكُونُ الْحُكْمُ لِلْغَالِبِ كَمَا تَقَدَّمَ، وَكُلَّمَا قَوِيَ جَانِبُ الْحَسَنَاتِ كَانَ الرَّدُّ أَقْوَى كَمَا تَقَدَّمَ، فَإِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا، وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، فَبِحَسَبِ قُوَّةِ الْإِيمَانِ يَكُونُ الدَّفْعُ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ. Sebagian salaf berkata, “Sungguh, aku pernah bermaksiat kepada Allah, dan aku merasakan akibatnya pada akhlak istriku dan pada hewan tungganganku.” Begitu juga para penguasa menjadi berani menimpakan hukuman kepadanya; jika mereka bersikap adil, tentu mereka hanya menegakkan hukuman dari Allah atas dirinya. Bahkan dirinya sendiri menjadi berani melawannya — jiwanya menjadi liar dan sulit dikendalikan. Ketika ia mengajaknya kepada kebaikan, jiwanya enggan taat dan tidak mau tunduk. Namun, justru ia menyeret dirinya kepada sesuatu yang membinasakan, entah ia mau atau tidak mau. Hal itu terjadi karena ketaatan adalah benteng Allah Ta‘ālā. Barang siapa masuk ke dalam benteng itu, ia akan aman. Namun, jika seseorang keluar dari benteng tersebut, maka para perampok dan musuh akan berani menyerangnya. Seberapa besar seseorang berani bermaksiat kepada Allah, sebesar itu pula makhluk lain akan berani mengganggunya. Dan ia tidak memiliki pelindung apa pun yang bisa menolak bahaya tersebut. Sesungguhnya zikir kepada Allah, ketaatan, sedekah, mengajar orang yang tidak tahu, amar makruf nahi mungkar — semuanya adalah perisai yang melindungi hamba dari gangguan, sebagaimana kekuatan tubuh yang melawan dan menolak penyakit. Jika kekuatan itu hilang, maka penyakit akan menang dan menyebabkan kehancuran. Begitu pula, hati manusia memerlukan sesuatu yang menolak keburukan dari dirinya. Karena dampak buruk dan baik selalu saling menolak; yang menang adalah yang lebih kuat. Semakin kuat amal saleh dan kebaikan seseorang, semakin kuat pula pertahanan dan perlindungan Allah baginya. Sebagaimana firman Allah: إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ḥajj: 38) Dan iman itu terdiri dari ucapan dan perbuatan. Maka, sesuai dengan kadar kekuatan iman seseorang, sebesar itu pula Allah akan menolak bahaya dari dirinya. Allah-lah tempat meminta pertolongan.   47. Maksiat akan Mengkhianati Seseorang Saat Ia Membutuhkan Dirinya Sendiri Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَخُونُ الْعَبْدَ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ، فَإِنَّ كُلَّ أَحَدٍ يَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْفَعُهُ وَمَا يَضُرُّهُ فِي مَعَاشِهِ وَمَعَادِهِ، وَأَعْلَمُ النَّاسِ أَعْرَفُهُمْ بِذَلِكَ عَلَى التَّفْصِيلِ، وَأَقْوَاهُمْ وَأَكْيَسُهُمْ مَنْ قَوِيَ عَلَى نَفْسِهِ وَإِرَادَتِهِ، فَاسْتَعْمَلَهَا فِيمَا يَنْفَعُهُ وَكَفَّهَا عَمَّا يَضُرُّهُ، وَفِي ذَلِكَ تَتَفَاوَتُ مَعَارِفُ النَّاسِ وَهِمَمُهُمْ وَمَنَازِلُهُمْ، فَأَعْرَفُهُمْ مَنْ كَانَ عَارِفًا بِأَسْبَابِ السَّعَادَةِ وَالشَّقَاوَةِ، وَأَرْشَدُهُمْ مَنْ آثَرَ هَذِهِ عَلَى هَذِهِ، كَمَا أَنَّ أَسْفَهَهُمْ مَنْ عَكَسَ الْأَمْرَ. وَالْمَعَاصِي تَخُونُ الْعَبْدَ أَحْوَجَ مَا كَانَ إِلَى نَفْسِهِ فِي تَحْصِيلِ هَذَا الْعِلْمِ، وَإِيثَارِ الْحَظِّ الْأَشْرَفِ الْعَالِي الدَّائِمِ عَلَى الْحَظِّ الْخَسِيسِ الْأَدْنَى الْمُنْقَطِعِ، فَتَحْجُبُهُ الذُّنُوبُ عَنْ كَمَالِ هَذَا الْعِلْمِ، وَعَنْ الِاشْتِغَالِ بِمَا هُوَ أَوْلَى بِهِ، وَأَنْفَعُ لَهُ فِي الدَّارَيْنِ. فَإِذَا وَقَعَ مَكْرُوهٌ وَاحْتَاجَ إِلَى التَّخَلُّصِ مِنْهُ، خَانَهُ قَلْبُهُ وَنَفْسُهُ وَجَوَارِحُهُ، وَكَانَ بِمَنْزِلَةِ رَجُلٍ مَعَهُ سَيْفٌ قَدْ غَشِيَهُ الصَّدَأُ وَلَزِمَ قِرَابَهُ، بِحَيْثُ لَا يَنْجَذِبُ مَعَ صَاحِبِهِ إِذَا جَذَبَهُ، فَعَرَضَ لَهُ عَدُوٌّ يُرِيدُ قَتْلَهُ، فَوَضَعَ يَدِهِ عَلَى قَائِمِ سَيْفِهِ وَاجْتَهَدَ لِيُخْرِجَهُ، فَلَمْ يَخْرُجْ مَعَهُ، فَدَهَمَهُ الْعَدُوُّ وَظَفِرَ بِهِ. كَذَلِكَ الْقَلْبُ يَصْدَأُ بِالذُّنُوبِ وَيَصِيرُ مُثْخَنًا بِالْمَرَضِ، فَإِذَا احْتَاجَ إِلَى مُحَارَبَةِ الْعَدُوِّ لَمْ يَجِدْ مَعَهُ مِنْهُ شَيْئًا، وَالْعَبْدُ إِنَّمَا يُحَارِبُ وَيُصَاوِلُ وَيُقْدِمُ بِقَلْبِهِ، وَالْجَوَارِحُ تَبَعٌ لِلْقَلْبِ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَ مَلِكِهَا قُوَّةٌ يَدْفَعُ بِهَا، فَمَا الظَّنُّ بِهَا؟ وَكَذَلِكَ النَّفْسُ فَإِنَّهَا تَخْبُثُ بِالشَّهَوَاتِ وَالْمَعَاصِي وَتَضْعُفُ، أَعْنِي النَّفْسَ الْمُطْمَئِنَّةَ، وَإِنْ كَانَتِ الْأَمَّارَةُ تَقْوَى وَتَتَأَسَّدُ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ هَذِهِ ضَعُفَتْ تِلْكَ، فَيَبْقَى الْحُكْمُ وَالتَّصَرُّفُ لِلْأَمَّارَةِ. وَرُبَّمَا مَاتَتْ نَفْسُهُ الْمُطْمَئِنَّةُ مَوْتًا لَا يُرْتَجَى مَعَهُ حَيَاةٌ يَنْتَفِعُ بِهَا، بَلْ حَيَاتُهُ حَيَاةٌ يُدْرِكُ بِهَا الْأَلَمَ فَقَطْ. وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا وَقَعَ فِي شِدَّةٍ أَوْ كُرْبَةٍ أَوْ بَلِيَّةٍ خَانَهُ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ وَجَوَارِحُهُ عَمَّا هُوَ أَنْفَعُ شَيْءٍ لَهُ، فَلَا يَنْجَذِبُ قَلْبُهُ لِلتَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالْإِنَابَةِ إِلَيْهِ وَالْجَمْعِيَّةِ عَلَيْهِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّذَلُّلِ وَالِانْكِسَارِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَلَا يُطَاوِعُهُ لِسَانُهُ لِذِكْرِهِ، وَإِنْ ذَكَرَهُ بِلِسَانِهِ لَمْ يَجْمَعْ بَيْنَ قَلْبِهِ وَلِسَانِهِ، فَيَنْحَبِسُ الْقَلْبُ عَلَى اللِّسَانِ بِحَيْثُ يُؤَثِّرُ الذِّكْرُ، وَلَا يَنْحَبِسُ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ عَلَى الذِّكْرِ، بَلْ إِنْ ذَكَرَ أَوْ دَعَا ذَكَرَ بِقَلْبٍ لَاهٍ سَاهٍ غَافِلٍ، وَلَوْ أَرَادَ مِنْ جَوَارِحِهِ أَنْ تُعِينَهُ بِطَاعَةٍ تَدْفَعُ عَنْهُ لَمْ تَنْقَدْ لَهُ وَلَمْ تُطَاوِعْهُ. وَهَذَا كُلُّهُ أَثَرُ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي كَمَنْ لَهُ جُنْدٌ يَدْفَعُ عَنْهُ الْأَعْدَاءَ، فَأَهْمَلَ جُنْدَهُ، وَضَيَّعَهُمْ، وَأَضْعَفَهُمْ، وَقَطَعَ أَخْبَارَهُمْ، ثُمَّ أَرَادَ مِنْهُمْ عِنْدَ هُجُومِ الْعَدُوِّ عَلَيْهِ أَنْ يَسْتَفْرِغُوا وُسْعَهُمْ فِي الدَّفْعِ عَنْهُ بِغَيْرِ قُوَّةٍ. Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat akan mengkhianati seseorang di saat ia paling membutuhkan dirinya sendiri. Setiap manusia membutuhkan kemampuan untuk mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakan dirinya—baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Orang yang paling berilmu adalah mereka yang paling paham secara rinci tentang perkara yang membawa kebahagiaan dan perkara yang menyebabkan kesengsaraan. Sementara itu, orang yang paling kuat dan cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan diri dan kehendaknya: menggunakan diri untuk hal-hal yang bermanfaat dan menahan diri dari hal-hal yang merugikan. Dalam hal inilah manusia berbeda-beda tingkat pengetahuan, ambisi, dan kedudukannya. Orang yang paling berbahagia adalah mereka yang memahami secara mendalam sebab-sebab kebahagiaan dan sebab-sebab kesengsaraan, lalu memilih jalan kebahagiaan. Sebaliknya, orang yang paling bodoh adalah mereka yang justru memilih sebaliknya. Maksiat akan mengkhianati seseorang pada saat ia membutuhkan ilmu yang benar—ilmu tentang bagaimana memilih kenikmatan yang lebih tinggi, lebih mulia, dan abadi, daripada kesenangan rendah yang sebentar dan menjerumuskan. Dosa-dosa menutupi hati dari kesempurnaan ilmu ini, dan menghalanginya dari kesibukan yang lebih utama serta lebih bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Ketika seseorang tertimpa musibah dan ia membutuhkan jalan keluar, maka hatinya, jiwanya, dan anggota tubuhnya justru mengkhianatinya. Ia seperti seorang laki-laki yang memiliki pedang, tetapi pedang itu berkarat dan melekat kuat pada sarungnya sampai-sampai tidak dapat ditarik. Padahal musuh sudah di depan mata. Ia berusaha keras menarik pedangnya, tetapi pedang itu tak bergeming, hingga musuh menyerangnya dan mengalahkannya. Demikian pula hati—hati dapat berkarat karena dosa, dipenuhi penyakit. Ketika ia perlu melawan musuh (godaan, syahwat, bisikan setan), ia tidak lagi memiliki kekuatan. Padahal pertempuran sejati dilakukan oleh hati; anggota tubuh hanyalah pengikutnya. Jika “raja”—yaitu hati—lemah dan tidak mampu memimpin, bagaimana mungkin pasukannya (anggota tubuh) dapat bertahan? Demikian juga jiwa (an-nafs). Jiwa yang tenteram menjadi kotor dan lemah karena syahwat dan maksiat, sementara jiwa yang memerintahkan pada keburukan justru semakin kuat dan beringas. Semakin kuat bagian yang buruk ini, semakin lemah bagian yang baik. Bahkan, bisa jadi jiwa yang tenteram itu benar-benar mati—mati tanpa harapan hidup yang bermanfaat. Hidupnya hanya sebatas merasakan sakit, tanpa kemampuan memperoleh kebaikan. Intinya: ketika hamba berada dalam kesulitan, musibah, atau ujian, maka hatinya, lisannya, dan anggota tubuhnya akan mengkhianatinya dari sesuatu yang paling bermanfaat baginya. Hatinya tidak mampu tertarik untuk bertawakal kepada Allah, kembali kepada-Nya, bermunajat, merendah, dan tunduk sepenuhnya kepada-Nya. Lidahnya pun tidak mudah mengucapkan dzikir. Kalaupun berdzikir, lisannya bergerak tetapi tidak diiringi hati. Dzikir itu tidak memberikan pengaruh apa-apa karena hati dan lisan tidak bersatu. Bahkan bila ia ingin menggerakkan anggota tubuhnya untuk melakukan ketaatan yang dapat menolongnya, tubuhnya tidak mau patuh. Semua ini adalah pengaruh dari dosa dan maksiat. Ia seperti seseorang yang memiliki pasukan untuk membelanya dari musuh, tetapi ia menelantarkan pasukan itu, melemahkannya, memutus hubungan, dan tidak pernah melatihnya. Lalu ketika musuh menyerang, ia berharap pasukan itu bertempur sekuat tenaga padahal mereka tak lagi memiliki kemampuan apa-apa. Pengkhianatan Hati dan Lisan pada Sakratul Maut Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, هَذَا، وَثَمَّ أَمْرٌ أَخْوَفُ مِنْ ذَلِكَ وَأَدْهَى مِنْهُ وَأَمَرُّ، وَهُوَ أَنْ يَخُونَهُ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ وَالِانْتِقَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، فَرُبَّمَا تَعَذَّرَ عَلَيْهِ النُّطْقُ بِالشَّهَادَةِ، كَمَا شَاهَدَ النَّاسُ كَثِيرًا مِنَ الْمُحْتَضَرِينَ أَصَابَهُمْ ذَلِكَ، حَتَّى قِيلَ لِبَعْضِهِمْ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: آهْ آهْ، لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقُولَهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: شَاهْ رُخْ، غَلَبْتُكَ. ثُمَّ قَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ: يَا رُبَّ قَائِلَةٍ يَوْمًا وَقَدْ تَعِبَتْ … أَيْنَ الطَّرِيقُ إِلَى حَمَّامِ مِنْجَابِ ثُمَّ قَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَجَعَلَ يَهْذِي بِالْغِنَاءِ وَيَقُولُ: تَاتِنَا تِنِنْتَا. حَتَّى قَضَى وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا يَنْفَعُنِي مَا تَقُولُ وَلَمْ أَدَعْ مَعْصِيَةً إِلَّا رَكِبْتُهَا؟ ثُمَّ قَضَى وَلَمْ يَقُلْهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا يُغْنِي عَنِّي، وَمَا أَعْرِفُ أَنِّي صَلَّيْتُ لِلَّهِ صَلَاةً؟ ثُمَّ قَضَى وَلَمْ يَقُلْهَا. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: هُوَ كَافِرٌ بِمَا تَقُولُ. وَقَضَى. وَقِيلَ لِآخَرَ ذَلِكَ، فَقَالَ: كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَقُولَهَا لِسَانِي يُمْسِكُ عَنْهَا. وَأَخْبَرَنِي مَنْ حَضَرَ بَعْضَ الشَّحَّاذِينَ عِنْدَ مَوْتِهِ، فَجَعَلَ يَقُولُ: لِلَّهِ، فِلْسٌ لِلَّهِ. حَتَّى قَضَى. وَأَخْبَرَنِي بَعْضُ التُّجَّارِ عَنْ قَرَابَةٍ لَهُ أَنَّهُ احْتُضِرَ وَهُوَ عِنْدَهُ، وَجَعَلُوا يُلَقِّنُونَهُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَهُوَ يَقُولُ: هَذِهِ الْقِطْعَةُ رَخِيصَةٌ، هَذَا مُشْتَرٍ جَيِّدٌ، هَذِهِ كَذَا. حَتَّى قَضَى. وَسُبْحَانَ اللَّهِ! كَمْ شَاهَدَ النَّاسُ مِنْ هَذَا عِبَرًا؟ وَالَّذِي يَخْفَى عَلَيْهِمْ مِنْ أَحْوَالِ الْمُحْتَضِرِينَ أَعْظَمُ وَأَعْظَمُ. فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ فِي حَالِ حُضُورِ ذِهْنِهِ وَقُوَّتِهِ وَكَمَالِ إِدْرَاكِهِ قَدْ تَمَكَّنَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ، وَاسْتَعْمَلَهُ فِيمَا يُرِيدُهُ مِنْ مَعَاصِي اللَّهِ، وَقَدْ أَغْفَلَ قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَعَطَّلَ لِسَانَهُ عَنْ ذِكْرِهِ وَجَوَارِحَهُ عَنْ طَاعَتِهِ، فَكَيْفَ الظَّنُّ بِهِ عِنْدَ سُقُوطِ قُوَاهُ وَاشْتِغَالِ قَلْبِهِ وَنَفَسِهِ بِمَا هُوَ فِيهِ مِنْ أَلَمِ النَّزْعِ؟ وَجَمَعَ الشَّيْطَانُ لَهُ كُلَّ قُوَّتِهِ وَهِمَّتِهِ، وَحَشَدَ عَلَيْهِ بِجَمِيعِ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ لِيَنَالَ مِنْهُ فُرْصَتَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ آخِرُ الْعَمَلِ، فَأَقْوَى مَا يَكُونُ عَلَيْهِ شَيْطَانُهُ ذَلِكَ الْوَقْتِ، وَأَضْعَفُ مَا يَكُونُ هُوَ فِي تِلْك الْحَالِ، فَمَنْ تُرَى يَسْلَمُ عَلَى ذَلِكَ؟ فَهُنَاكَ {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ} [سُورَةُ إِبْرَاهِيمَ: ٢٧] . فَكَيْفَ يُوَفَّقُ بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ مَنْ أَغْفَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِهِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا. فَبَعِيدٌ مَنْ قَلْبُهُ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، غَافِلٌ عَنْهُ مُتَعَبِّدٌ لِهَوَاهُ أَسِيرٌ لِشَهَوَاتِهِ، وَلِسَانُهُ يَابِسٌ مِنْ ذِكْرِهِ، وَجَوَارِحُهُ مُعَطَّلَةٌ مِنْ طَاعَتِهِ مُشْتَغِلَةٌ بِمَعْصِيَتِهِ – أَنْ يُوَفَّقَ لِلْخَاتِمَةِ بِالْحُسْنَى. وَلَقَدْ قَطَعَ خَوْفُ الْخَاتِمَةِ ظُهُورَ الْمُتَّقِينَ، وَكَأَنَّ الْمُسِيئِينَ الظَّالِمِينَ قَدْ أَخَذُوا تَوْقِيعًا بِالْأَمَانِ {أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ – سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَلِكَ زَعِيمٌ} [سُورَةُ الْقَلَمِ: ٣٩ – ٤٠] كَمَا قِيلَ: يَا آمِنًا مِنْ قَبِيحِ الْفِعْلِ مِنْهُ أَهَلْ … أَتَاكَ تَوْقِيعُ أَمْنٍ أَنْتَ تَمْلِكُهُ جَمَعْتَ شَيْئَيْنِ أَمْنًا وَاتِّبَاعَ هَوًى … هَذَا وَإِحْدَاهُمَا فِي الْمَرْءِ تُهْلِكُهُ وَالْمُحْسِنُونَ عَلَى دَرْبِ الْمَخَاوِفِ قَدْ … سَارُوا وَذَلِكَ دَرْبٌ لَسْتَ تَسْلُكُهُ فَرَّطْتَ فِي الزَّرْعِ وَقْتَ الْبَذْرِ مِنْ سَفَهٍ … فَكَيْفَ عِنْدَ حَصَادِ النَّاسِ تُدْرِكُهُ هَذَا وَأَعْجَبُ شَيْءٍ مِنْكَ زُهْدُكَ فِي … دَارِ الْبَقَاءِ بِعَيْشٍ سَوْفَ تَتْرُكُهُ مَنِ السَّفِيهُ إِذًا بِاللَّهِ أَنْتَ أَمِ الْ … مَغْبُونُ فِي الْبَيْعِ غَبْنًا سَوْفَ يُدْرِكُهُ Ada satu perkara yang lebih menakutkan, lebih berat, dan lebih pahit daripada semua pembahasan sebelumnya, yaitu pengkhianatan hati dan lisan pada saat sakaratul maut, ketika seseorang bersiap meninggalkan dunia dan berpindah menghadap Allah Ta‘ala. Pada saat yang sangat genting itu, bisa saja seseorang tidak mampu mengucapkan syahadat. Banyak orang yang menyaksikan kejadian semacam ini. Ada yang ketika dikatakan kepadanya, “Ucapkanlah lā ilāha illallāh,” ia menjawab, “Ah… ah… aku tidak sanggup mengucapkannya.” Ada pula yang ketika diminta membaca syahadat malah berkata: “Shāh rukh, aku menang darimu!” Lalu ia meninggal. Yang lain, ketika diminta mengucapkan syahadat, ia malah melantunkan bait syair: “Wahai wanita yang dulu pernah bertanya kepadaku saat kelelahan: ke mana arah menuju pemandian Minjāb?” Setelah itu ia wafat. Ada pula yang ketika didorong untuk mengucapkan syahadat malah mengigau dengan nyanyian: “Tātinā tinintā…” Ia terus bernyanyi hingga meninggal. Ada yang berkata: “Untuk apa ucapan itu? Tidak ada maksiat kecuali sudah aku lakukan.” Lalu ia meninggal tanpa sempat mengucapkan syahadat. Ada pula yang berkata: “Untuk apa ini? Aku bahkan tidak tahu apakah pernah sekali saja aku shalat.” Lalu ia meninggal. Ada pula yang tegas berkata: “Ia (syahadat) adalah kekafiran bagiku.” Lalu ia meninggal. Ada pula yang berkata: “Setiap kali aku akan mengucapkannya, lidahku seperti terkunci dan tidak mau mengucapkannya.” Seseorang mengabarkan kepada Ibnul Qayyim tentang seorang pengemis yang ketika sakaratul maut terus menerus berkata: “Untuk Allah… satu uang receh untuk Allah…” Ia terus mengulanginya hingga meninggal. Seorang pedagang juga menceritakan bahwa kerabatnya saat sakaratul maut mereka talqin dengan kalimat syahadat, namun yang keluar dari lisannya adalah: “Barang ini murah… yang itu pembeli bagus… ini kualitas baik… itu sekian harganya…” Ia terus berbicara tentang transaksi hingga wafat. Subḥānallāh… berapa banyak pelajaran seperti ini yang disaksikan manusia? Dan apa yang tidak mereka saksikan—dari keadaan orang-orang yang sekarat—lebih mengerikan lagi. Jika pada saat seseorang sehat, sadar, dan kuat, setan sudah menguasainya dan menjadikannya alat untuk bermaksiat kepada Allah; jika hatinya lalai dari zikir, lisannya tidak digunakan untuk mengingat Allah, dan anggota tubuhnya tidak dipakai untuk taat, maka bagaimana keadaannya saat kekuatan tubuh melemah, dan hatinya sibuk menahan rasa sakit sakaratul maut? Saat itu setan mengumpulkan seluruh kekuatannya, mengerahkan seluruh tipu dayanya untuk merebut kesempatan terakhir. Itulah akhir amal, dan setan pada saat itu berada di puncak kemampuan menyerang, sementara manusia berada pada titik terlemahnya. Siapa yang mungkin selamat dari keadaan seberat itu? Pada saat itulah firman Allah berlaku: ﴿ يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ﴾ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) “Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh (syahadat) di dunia dan akhirat…” Bagaimana mungkin seseorang diberi husnul khatimah bila Allah tidak memberinya taufik? Bagaimana mungkin ia mendapatkan penutup kehidupan yang indah jika hatinya jauh dari Allah, lalai dari zikir, mengikuti hawa nafsu, tunduk kepada syahwat, lisannya kering dari zikir, dan anggota tubuhnya sibuk bermaksiat? Sangat jauh—sangat jauh—harapan bagi orang seperti itu mendapatkan akhir yang baik. Ketakutan terhadap buruknya akhir hidup benar-benar menundukkan punggung para muttaqin. Namun para pelaku maksiat bertingkah seolah mereka telah mendapat “surat jaminan keselamatan”, sebagaimana celaan Allah: ﴿ أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ * سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴾ “Atau apakah kamu memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?” (QS. Al-Qalam: 39–40) “Apakah kalian memiliki perjanjian yang kuat dari Kami sampai Hari Kiamat bahwa kalian akan mendapatkan apa pun yang kalian inginkan? Tanyakan kepada mereka: siapakah yang menjamin semua itu?” Lalu Ibnul Qayyim menutup dengan syair peringatan: Wahai yang merasa aman dari buruknya perbuatan, Apakah engkau punya jaminan keselamatan yang kau pegang? Engkau kumpulkan dua hal: rasa aman dan mengikuti hawa nafsu, padahal salah satunya saja dapat menghancurkan manusia. Orang-orang yang berbuat baik berjalan di jalan penuh rasa takut, sedangkan engkau tidak menapakinya. Engkau menyia-nyiakan musim menanam karena kebodohan, bagaimana mungkin engkau memperoleh panen saat orang lain memetik hasilnya? Paling mengherankan darimu: engkau tidak peduli terhadap negeri akhirat, demi hidup dunia yang akan segera kau tinggalkan. Siapa yang lebih bodoh—dirimu, atau orang yang rugi dalam perdagangan dan kerugiannya akan tampak jelas kelak?   Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore.    –   Diupdate pada Rabu, 5 Jumadilakhir 1447 H, 26 November 2025 di Darush Sholihin Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs

Inspirasi 2 Menit: Allah Bukakan Pintu Surga Dunia Lewat Dua Hal Ini – Apa Saja?

Di sini ada pembahasan yang sangat singkat. Saya wasiatkan kepada para hadirin, yang mayoritasnya anak muda, agar membiasakan diri sejak usia muda dan di awal perjalanan hidupnya untuk menetapkan wirid dari Al-Qur’an. Juga menetapkan wirid dari shalat. Hendaklah wirid tersebut dikhususkan pada malam hari. Karena Shalat Malam amat penting bagi penuntut ilmu. Sebab, Subhanallah! Shalat Malam termasuk sebesar-besar sebab yang membantu seseorang tetap teguh dalam agama. Shalat Malam termasuk faktor terbesar untuk menjaga keteguhan dalam beragama. Ia juga salah satu sarana terbesar bagi seseorang untuk merasa dekat dengan Allah Jalla wa ‘Ala. Kalian tentu tahu riwayat dari seorang ulama Salaf yang berkata: “Di dunia ini ada surga, siapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.” Kenikmatan dunia yang paling agung ada dua: shalat dan ilmu. Sedangkan ilmu yang paling agung adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan kenikmatan ibadah yang terbesar. Bahkan, ia juga merupakan kenikmatan dunia terbesar. Siapa yang dibukakan jalan untuk mengamalkan dua ibadah ini, maka dialah orang yang bahagia. Oleh sebab itu, saya katakan kepada penuntut ilmu—terlebih selama ia masih muda— biasakan dirimu memiliki wirid ini. Saya tidak mengatakan, “Berlebih-lebihlah!” Juga tidak saya katakan, “Paksalah dirimu!” Karena Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullahu Ta’ala pernah berkata: “Aku berjuang melatih diriku untuk Shalat Malam selama dua puluh tahun, hingga akhirnya aku menikmatinya selama dua puluh tahun.” Maksudnya, ini adalah latihan. Seseorang harus melatih diri setahap demi setahap, hingga mencapai tingkat yang diinginkan. Maka, latihlah dirimu dari sisi waktu pelaksanaannya dan jumlah rakaatnya. Ini berkaitan dengan Shalat Malam. Lalu, shalat di siang hari juga harus kamu beri porsi. Kalian telah ketahui sendiri, saya sebelumnya sempat menyebut tentang Shalat Dhuha. Dalam mazhab Hambali terdapat dua pendapat mengenai Shalat Dhuha. Pendapat yang masyhur menyatakan: Shalat Dhuha disunnahkan secara mutlak. Namun, lebih utama jika dilakukan selang-seling. Artinya, terkadang dikerjakan, terkadang ditinggalkan. Karena Aisyah menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat ini. Penafian Aisyah radhiyallahu ‘anha ini paling tidak dapat diartikan terkadang shalat ini ditinggalkan. Pendapat kedua—yang dipilih Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dan didukung oleh riwayat dalam Musnad Imam Ahmad— menyatakan bahwa Shalat Dhuha hanya disunnahkan bagi orang yang tidak mengerjakan Shalat Malam, yaitu Shalat Witir. Dalam Al-Musnad terdapat riwayat yang mendukung hal ini, dalam beberapa redaksi hadis. Bahwa Shalat Dhuha ini bisa menjadi ganti atas Shalat Witir. Maka, jika suatu hari kamu terlewatkan dari Shalat Witir, atau memang kebiasaanmu tidak mengerjakan Shalat Witir, maka janganlah melewatkan Shalat Dhuha. ===== وَهُنَا مَسْأَلَةٌ قَصِيرَةٌ جِدًّا أُوْصِي الْحَاضِرِينَ أَغْلَبُهُمْ مِنَ الشَّبَابِ أَنْ يُعَوِّدَ نَفْسَهُ فِي صِغَرِ سِنِّهِ وَحَدَاثَةِ أَمْرِهِ عَلَى أَنْ يَجْعَلَ لَهُ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وِرْدًا مِنَ الصَّلَاةِ وَلْيَكُنْ ذَلِكَ الْوِرْدُ فِي اللَّيْلِ خَاصَّةً فَإِنَّ صَلَاةَ اللَّيْلِ خَاصَّةً مُهِمَّةٌ لِطَالِبِ الْعِلْمِ فَإِنَّهَا سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ عَلَى الثَّبَاتِ فِي الدِّيْنِ صَلَاةُ اللَّيْلِ هَذِهِ مِنَ الْأَسْبَابِ الْعَظِيمَةِ عَلَى الثَّبَاتِ فِي الدِّيْنِ وَهِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَأْنَسُ بِهِ الْمَرْءُ بِرَبِّه جَلَّ وَعَلَا وَتَعْلَمُونَ مَا جَاءَ فِي بَعْضِ الْأَخْبَارِ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الدُّنْيَا أَمْرَانِ الصَّلَاةُ وَالْعِلْمُ وَأَعْظَمُ الْعِلْمِ الْقُرْآنُ هَذِهِ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الْعِبَادَاتِ بَلْ هِيَ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الدُّنْيَا فَمَنْ فُتِحَ عَلَيْهِ فِيهِمَا فَإِنَّهُ السَّعِيدُ وَلِذَا أَنَا أَقُولُ لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَخَاصَّةً مَا دَامَ شَابًّا عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى أَنْ تَجْعَلَ لَكَ وِرْدًا لَا أَقُولُ بَالِغْ وَلَا أَقُولُ شُدَّ عَلَى نَفْسِكَ فَإِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى كَانَ يَقُولُ جَاهَدْتُ نَفْسِي فِي قِيَامِ اللَّيْلِ عِشْرِينَ سَنَةً فَارْتَاحَتْ عِشْرِينَ سَنَةً فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذِهِ الدُّرْبَةُ فَيَتَدَرَّبُ الْمَرْءُ دَرَجَةً فَدَرَجَةً حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَا يَرْغَبُهُ وَلِذَلِكَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ دُرْبَةً فِي الْوَقْتِ وَاجْعَلْ لَكَ دُرْبَةً فِي الْعَدَدِ هَذَا قِيَامُ اللَّيْلِ صَلاَةُ النَّهَارِ كَذَلِكَ اجْعَلْ لَكَ حَظًّا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ وَأَشَرْتُ قَبْلَ قَلِيْلٍ إِشَارَةً لِمَسْأَلَةِ صَلَاةِ الضُّحَى الضُّحَى فِيهَا رِوَايَتَانِ فِي الْمَذْهَبِ مَشْهُورُ الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ صَلَاةُ الضُّحَى مُطْلَقًا لَكِنْ يُسْتَحَبُّ أَنْ تُصَلَّى غِبًّا يَعْنِي تُصَلَّى أَحْيَانًا وَتُتْرَكُ أَحْيَانًا لِأَنَّ عَائِشَةَ ذَكَرَتْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يُصَلِّيهَا وَنَفْيُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى أَقَلِّ الْأَحْوَالِ عَلَى التَّرْكِ أَحْيَانًا وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ وَهِيَ اخْتِيَارُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّيْنِ وَيَدُلُّ لَهَا رِوَايَةٌ عِنْدَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي الْمُسْنَدِ أَنَّ صَلَاةَ الضُّحَى إِنَّمَا تُسْتَحَبُّ لِمَنْ تَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ وَهُوَ الْوِتْرُ وَقَدْ جَاءَ فِي الْمُسْنَدِ مَا يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ فِي بَعْضِ أَلْفَاظِ الْحَدِيثِ فَإِنَّهَا تَكُونُ مُجْزِئَةً عَنِ الْوِتْرِ وَلِذَا فَإِنْ جَاءَكَ يَوْمٌ فَفَوَّتَّ الْوِتْرَ أَوْ كَانَتْ عَادَتُكَ تَفْوِيتُ الْوِتْرِ فَلَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الضُّحَى

Inspirasi 2 Menit: Allah Bukakan Pintu Surga Dunia Lewat Dua Hal Ini – Apa Saja?

Di sini ada pembahasan yang sangat singkat. Saya wasiatkan kepada para hadirin, yang mayoritasnya anak muda, agar membiasakan diri sejak usia muda dan di awal perjalanan hidupnya untuk menetapkan wirid dari Al-Qur’an. Juga menetapkan wirid dari shalat. Hendaklah wirid tersebut dikhususkan pada malam hari. Karena Shalat Malam amat penting bagi penuntut ilmu. Sebab, Subhanallah! Shalat Malam termasuk sebesar-besar sebab yang membantu seseorang tetap teguh dalam agama. Shalat Malam termasuk faktor terbesar untuk menjaga keteguhan dalam beragama. Ia juga salah satu sarana terbesar bagi seseorang untuk merasa dekat dengan Allah Jalla wa ‘Ala. Kalian tentu tahu riwayat dari seorang ulama Salaf yang berkata: “Di dunia ini ada surga, siapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.” Kenikmatan dunia yang paling agung ada dua: shalat dan ilmu. Sedangkan ilmu yang paling agung adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan kenikmatan ibadah yang terbesar. Bahkan, ia juga merupakan kenikmatan dunia terbesar. Siapa yang dibukakan jalan untuk mengamalkan dua ibadah ini, maka dialah orang yang bahagia. Oleh sebab itu, saya katakan kepada penuntut ilmu—terlebih selama ia masih muda— biasakan dirimu memiliki wirid ini. Saya tidak mengatakan, “Berlebih-lebihlah!” Juga tidak saya katakan, “Paksalah dirimu!” Karena Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullahu Ta’ala pernah berkata: “Aku berjuang melatih diriku untuk Shalat Malam selama dua puluh tahun, hingga akhirnya aku menikmatinya selama dua puluh tahun.” Maksudnya, ini adalah latihan. Seseorang harus melatih diri setahap demi setahap, hingga mencapai tingkat yang diinginkan. Maka, latihlah dirimu dari sisi waktu pelaksanaannya dan jumlah rakaatnya. Ini berkaitan dengan Shalat Malam. Lalu, shalat di siang hari juga harus kamu beri porsi. Kalian telah ketahui sendiri, saya sebelumnya sempat menyebut tentang Shalat Dhuha. Dalam mazhab Hambali terdapat dua pendapat mengenai Shalat Dhuha. Pendapat yang masyhur menyatakan: Shalat Dhuha disunnahkan secara mutlak. Namun, lebih utama jika dilakukan selang-seling. Artinya, terkadang dikerjakan, terkadang ditinggalkan. Karena Aisyah menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat ini. Penafian Aisyah radhiyallahu ‘anha ini paling tidak dapat diartikan terkadang shalat ini ditinggalkan. Pendapat kedua—yang dipilih Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dan didukung oleh riwayat dalam Musnad Imam Ahmad— menyatakan bahwa Shalat Dhuha hanya disunnahkan bagi orang yang tidak mengerjakan Shalat Malam, yaitu Shalat Witir. Dalam Al-Musnad terdapat riwayat yang mendukung hal ini, dalam beberapa redaksi hadis. Bahwa Shalat Dhuha ini bisa menjadi ganti atas Shalat Witir. Maka, jika suatu hari kamu terlewatkan dari Shalat Witir, atau memang kebiasaanmu tidak mengerjakan Shalat Witir, maka janganlah melewatkan Shalat Dhuha. ===== وَهُنَا مَسْأَلَةٌ قَصِيرَةٌ جِدًّا أُوْصِي الْحَاضِرِينَ أَغْلَبُهُمْ مِنَ الشَّبَابِ أَنْ يُعَوِّدَ نَفْسَهُ فِي صِغَرِ سِنِّهِ وَحَدَاثَةِ أَمْرِهِ عَلَى أَنْ يَجْعَلَ لَهُ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وِرْدًا مِنَ الصَّلَاةِ وَلْيَكُنْ ذَلِكَ الْوِرْدُ فِي اللَّيْلِ خَاصَّةً فَإِنَّ صَلَاةَ اللَّيْلِ خَاصَّةً مُهِمَّةٌ لِطَالِبِ الْعِلْمِ فَإِنَّهَا سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ عَلَى الثَّبَاتِ فِي الدِّيْنِ صَلَاةُ اللَّيْلِ هَذِهِ مِنَ الْأَسْبَابِ الْعَظِيمَةِ عَلَى الثَّبَاتِ فِي الدِّيْنِ وَهِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَأْنَسُ بِهِ الْمَرْءُ بِرَبِّه جَلَّ وَعَلَا وَتَعْلَمُونَ مَا جَاءَ فِي بَعْضِ الْأَخْبَارِ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الدُّنْيَا أَمْرَانِ الصَّلَاةُ وَالْعِلْمُ وَأَعْظَمُ الْعِلْمِ الْقُرْآنُ هَذِهِ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الْعِبَادَاتِ بَلْ هِيَ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الدُّنْيَا فَمَنْ فُتِحَ عَلَيْهِ فِيهِمَا فَإِنَّهُ السَّعِيدُ وَلِذَا أَنَا أَقُولُ لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَخَاصَّةً مَا دَامَ شَابًّا عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى أَنْ تَجْعَلَ لَكَ وِرْدًا لَا أَقُولُ بَالِغْ وَلَا أَقُولُ شُدَّ عَلَى نَفْسِكَ فَإِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى كَانَ يَقُولُ جَاهَدْتُ نَفْسِي فِي قِيَامِ اللَّيْلِ عِشْرِينَ سَنَةً فَارْتَاحَتْ عِشْرِينَ سَنَةً فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذِهِ الدُّرْبَةُ فَيَتَدَرَّبُ الْمَرْءُ دَرَجَةً فَدَرَجَةً حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَا يَرْغَبُهُ وَلِذَلِكَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ دُرْبَةً فِي الْوَقْتِ وَاجْعَلْ لَكَ دُرْبَةً فِي الْعَدَدِ هَذَا قِيَامُ اللَّيْلِ صَلاَةُ النَّهَارِ كَذَلِكَ اجْعَلْ لَكَ حَظًّا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ وَأَشَرْتُ قَبْلَ قَلِيْلٍ إِشَارَةً لِمَسْأَلَةِ صَلَاةِ الضُّحَى الضُّحَى فِيهَا رِوَايَتَانِ فِي الْمَذْهَبِ مَشْهُورُ الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ صَلَاةُ الضُّحَى مُطْلَقًا لَكِنْ يُسْتَحَبُّ أَنْ تُصَلَّى غِبًّا يَعْنِي تُصَلَّى أَحْيَانًا وَتُتْرَكُ أَحْيَانًا لِأَنَّ عَائِشَةَ ذَكَرَتْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يُصَلِّيهَا وَنَفْيُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى أَقَلِّ الْأَحْوَالِ عَلَى التَّرْكِ أَحْيَانًا وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ وَهِيَ اخْتِيَارُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّيْنِ وَيَدُلُّ لَهَا رِوَايَةٌ عِنْدَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي الْمُسْنَدِ أَنَّ صَلَاةَ الضُّحَى إِنَّمَا تُسْتَحَبُّ لِمَنْ تَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ وَهُوَ الْوِتْرُ وَقَدْ جَاءَ فِي الْمُسْنَدِ مَا يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ فِي بَعْضِ أَلْفَاظِ الْحَدِيثِ فَإِنَّهَا تَكُونُ مُجْزِئَةً عَنِ الْوِتْرِ وَلِذَا فَإِنْ جَاءَكَ يَوْمٌ فَفَوَّتَّ الْوِتْرَ أَوْ كَانَتْ عَادَتُكَ تَفْوِيتُ الْوِتْرِ فَلَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الضُّحَى
Di sini ada pembahasan yang sangat singkat. Saya wasiatkan kepada para hadirin, yang mayoritasnya anak muda, agar membiasakan diri sejak usia muda dan di awal perjalanan hidupnya untuk menetapkan wirid dari Al-Qur’an. Juga menetapkan wirid dari shalat. Hendaklah wirid tersebut dikhususkan pada malam hari. Karena Shalat Malam amat penting bagi penuntut ilmu. Sebab, Subhanallah! Shalat Malam termasuk sebesar-besar sebab yang membantu seseorang tetap teguh dalam agama. Shalat Malam termasuk faktor terbesar untuk menjaga keteguhan dalam beragama. Ia juga salah satu sarana terbesar bagi seseorang untuk merasa dekat dengan Allah Jalla wa ‘Ala. Kalian tentu tahu riwayat dari seorang ulama Salaf yang berkata: “Di dunia ini ada surga, siapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.” Kenikmatan dunia yang paling agung ada dua: shalat dan ilmu. Sedangkan ilmu yang paling agung adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan kenikmatan ibadah yang terbesar. Bahkan, ia juga merupakan kenikmatan dunia terbesar. Siapa yang dibukakan jalan untuk mengamalkan dua ibadah ini, maka dialah orang yang bahagia. Oleh sebab itu, saya katakan kepada penuntut ilmu—terlebih selama ia masih muda— biasakan dirimu memiliki wirid ini. Saya tidak mengatakan, “Berlebih-lebihlah!” Juga tidak saya katakan, “Paksalah dirimu!” Karena Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullahu Ta’ala pernah berkata: “Aku berjuang melatih diriku untuk Shalat Malam selama dua puluh tahun, hingga akhirnya aku menikmatinya selama dua puluh tahun.” Maksudnya, ini adalah latihan. Seseorang harus melatih diri setahap demi setahap, hingga mencapai tingkat yang diinginkan. Maka, latihlah dirimu dari sisi waktu pelaksanaannya dan jumlah rakaatnya. Ini berkaitan dengan Shalat Malam. Lalu, shalat di siang hari juga harus kamu beri porsi. Kalian telah ketahui sendiri, saya sebelumnya sempat menyebut tentang Shalat Dhuha. Dalam mazhab Hambali terdapat dua pendapat mengenai Shalat Dhuha. Pendapat yang masyhur menyatakan: Shalat Dhuha disunnahkan secara mutlak. Namun, lebih utama jika dilakukan selang-seling. Artinya, terkadang dikerjakan, terkadang ditinggalkan. Karena Aisyah menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat ini. Penafian Aisyah radhiyallahu ‘anha ini paling tidak dapat diartikan terkadang shalat ini ditinggalkan. Pendapat kedua—yang dipilih Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dan didukung oleh riwayat dalam Musnad Imam Ahmad— menyatakan bahwa Shalat Dhuha hanya disunnahkan bagi orang yang tidak mengerjakan Shalat Malam, yaitu Shalat Witir. Dalam Al-Musnad terdapat riwayat yang mendukung hal ini, dalam beberapa redaksi hadis. Bahwa Shalat Dhuha ini bisa menjadi ganti atas Shalat Witir. Maka, jika suatu hari kamu terlewatkan dari Shalat Witir, atau memang kebiasaanmu tidak mengerjakan Shalat Witir, maka janganlah melewatkan Shalat Dhuha. ===== وَهُنَا مَسْأَلَةٌ قَصِيرَةٌ جِدًّا أُوْصِي الْحَاضِرِينَ أَغْلَبُهُمْ مِنَ الشَّبَابِ أَنْ يُعَوِّدَ نَفْسَهُ فِي صِغَرِ سِنِّهِ وَحَدَاثَةِ أَمْرِهِ عَلَى أَنْ يَجْعَلَ لَهُ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وِرْدًا مِنَ الصَّلَاةِ وَلْيَكُنْ ذَلِكَ الْوِرْدُ فِي اللَّيْلِ خَاصَّةً فَإِنَّ صَلَاةَ اللَّيْلِ خَاصَّةً مُهِمَّةٌ لِطَالِبِ الْعِلْمِ فَإِنَّهَا سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ عَلَى الثَّبَاتِ فِي الدِّيْنِ صَلَاةُ اللَّيْلِ هَذِهِ مِنَ الْأَسْبَابِ الْعَظِيمَةِ عَلَى الثَّبَاتِ فِي الدِّيْنِ وَهِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَأْنَسُ بِهِ الْمَرْءُ بِرَبِّه جَلَّ وَعَلَا وَتَعْلَمُونَ مَا جَاءَ فِي بَعْضِ الْأَخْبَارِ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الدُّنْيَا أَمْرَانِ الصَّلَاةُ وَالْعِلْمُ وَأَعْظَمُ الْعِلْمِ الْقُرْآنُ هَذِهِ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الْعِبَادَاتِ بَلْ هِيَ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الدُّنْيَا فَمَنْ فُتِحَ عَلَيْهِ فِيهِمَا فَإِنَّهُ السَّعِيدُ وَلِذَا أَنَا أَقُولُ لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَخَاصَّةً مَا دَامَ شَابًّا عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى أَنْ تَجْعَلَ لَكَ وِرْدًا لَا أَقُولُ بَالِغْ وَلَا أَقُولُ شُدَّ عَلَى نَفْسِكَ فَإِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى كَانَ يَقُولُ جَاهَدْتُ نَفْسِي فِي قِيَامِ اللَّيْلِ عِشْرِينَ سَنَةً فَارْتَاحَتْ عِشْرِينَ سَنَةً فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذِهِ الدُّرْبَةُ فَيَتَدَرَّبُ الْمَرْءُ دَرَجَةً فَدَرَجَةً حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَا يَرْغَبُهُ وَلِذَلِكَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ دُرْبَةً فِي الْوَقْتِ وَاجْعَلْ لَكَ دُرْبَةً فِي الْعَدَدِ هَذَا قِيَامُ اللَّيْلِ صَلاَةُ النَّهَارِ كَذَلِكَ اجْعَلْ لَكَ حَظًّا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ وَأَشَرْتُ قَبْلَ قَلِيْلٍ إِشَارَةً لِمَسْأَلَةِ صَلَاةِ الضُّحَى الضُّحَى فِيهَا رِوَايَتَانِ فِي الْمَذْهَبِ مَشْهُورُ الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ صَلَاةُ الضُّحَى مُطْلَقًا لَكِنْ يُسْتَحَبُّ أَنْ تُصَلَّى غِبًّا يَعْنِي تُصَلَّى أَحْيَانًا وَتُتْرَكُ أَحْيَانًا لِأَنَّ عَائِشَةَ ذَكَرَتْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يُصَلِّيهَا وَنَفْيُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى أَقَلِّ الْأَحْوَالِ عَلَى التَّرْكِ أَحْيَانًا وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ وَهِيَ اخْتِيَارُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّيْنِ وَيَدُلُّ لَهَا رِوَايَةٌ عِنْدَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي الْمُسْنَدِ أَنَّ صَلَاةَ الضُّحَى إِنَّمَا تُسْتَحَبُّ لِمَنْ تَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ وَهُوَ الْوِتْرُ وَقَدْ جَاءَ فِي الْمُسْنَدِ مَا يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ فِي بَعْضِ أَلْفَاظِ الْحَدِيثِ فَإِنَّهَا تَكُونُ مُجْزِئَةً عَنِ الْوِتْرِ وَلِذَا فَإِنْ جَاءَكَ يَوْمٌ فَفَوَّتَّ الْوِتْرَ أَوْ كَانَتْ عَادَتُكَ تَفْوِيتُ الْوِتْرِ فَلَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الضُّحَى


Di sini ada pembahasan yang sangat singkat. Saya wasiatkan kepada para hadirin, yang mayoritasnya anak muda, agar membiasakan diri sejak usia muda dan di awal perjalanan hidupnya untuk menetapkan wirid dari Al-Qur’an. Juga menetapkan wirid dari shalat. Hendaklah wirid tersebut dikhususkan pada malam hari. Karena Shalat Malam amat penting bagi penuntut ilmu. Sebab, Subhanallah! Shalat Malam termasuk sebesar-besar sebab yang membantu seseorang tetap teguh dalam agama. Shalat Malam termasuk faktor terbesar untuk menjaga keteguhan dalam beragama. Ia juga salah satu sarana terbesar bagi seseorang untuk merasa dekat dengan Allah Jalla wa ‘Ala. Kalian tentu tahu riwayat dari seorang ulama Salaf yang berkata: “Di dunia ini ada surga, siapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.” Kenikmatan dunia yang paling agung ada dua: shalat dan ilmu. Sedangkan ilmu yang paling agung adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan kenikmatan ibadah yang terbesar. Bahkan, ia juga merupakan kenikmatan dunia terbesar. Siapa yang dibukakan jalan untuk mengamalkan dua ibadah ini, maka dialah orang yang bahagia. Oleh sebab itu, saya katakan kepada penuntut ilmu—terlebih selama ia masih muda— biasakan dirimu memiliki wirid ini. Saya tidak mengatakan, “Berlebih-lebihlah!” Juga tidak saya katakan, “Paksalah dirimu!” Karena Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullahu Ta’ala pernah berkata: “Aku berjuang melatih diriku untuk Shalat Malam selama dua puluh tahun, hingga akhirnya aku menikmatinya selama dua puluh tahun.” Maksudnya, ini adalah latihan. Seseorang harus melatih diri setahap demi setahap, hingga mencapai tingkat yang diinginkan. Maka, latihlah dirimu dari sisi waktu pelaksanaannya dan jumlah rakaatnya. Ini berkaitan dengan Shalat Malam. Lalu, shalat di siang hari juga harus kamu beri porsi. Kalian telah ketahui sendiri, saya sebelumnya sempat menyebut tentang Shalat Dhuha. Dalam mazhab Hambali terdapat dua pendapat mengenai Shalat Dhuha. Pendapat yang masyhur menyatakan: Shalat Dhuha disunnahkan secara mutlak. Namun, lebih utama jika dilakukan selang-seling. Artinya, terkadang dikerjakan, terkadang ditinggalkan. Karena Aisyah menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat ini. Penafian Aisyah radhiyallahu ‘anha ini paling tidak dapat diartikan terkadang shalat ini ditinggalkan. Pendapat kedua—yang dipilih Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dan didukung oleh riwayat dalam Musnad Imam Ahmad— menyatakan bahwa Shalat Dhuha hanya disunnahkan bagi orang yang tidak mengerjakan Shalat Malam, yaitu Shalat Witir. Dalam Al-Musnad terdapat riwayat yang mendukung hal ini, dalam beberapa redaksi hadis. Bahwa Shalat Dhuha ini bisa menjadi ganti atas Shalat Witir. Maka, jika suatu hari kamu terlewatkan dari Shalat Witir, atau memang kebiasaanmu tidak mengerjakan Shalat Witir, maka janganlah melewatkan Shalat Dhuha. ===== وَهُنَا مَسْأَلَةٌ قَصِيرَةٌ جِدًّا أُوْصِي الْحَاضِرِينَ أَغْلَبُهُمْ مِنَ الشَّبَابِ أَنْ يُعَوِّدَ نَفْسَهُ فِي صِغَرِ سِنِّهِ وَحَدَاثَةِ أَمْرِهِ عَلَى أَنْ يَجْعَلَ لَهُ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وِرْدًا مِنَ الصَّلَاةِ وَلْيَكُنْ ذَلِكَ الْوِرْدُ فِي اللَّيْلِ خَاصَّةً فَإِنَّ صَلَاةَ اللَّيْلِ خَاصَّةً مُهِمَّةٌ لِطَالِبِ الْعِلْمِ فَإِنَّهَا سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ عَلَى الثَّبَاتِ فِي الدِّيْنِ صَلَاةُ اللَّيْلِ هَذِهِ مِنَ الْأَسْبَابِ الْعَظِيمَةِ عَلَى الثَّبَاتِ فِي الدِّيْنِ وَهِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَأْنَسُ بِهِ الْمَرْءُ بِرَبِّه جَلَّ وَعَلَا وَتَعْلَمُونَ مَا جَاءَ فِي بَعْضِ الْأَخْبَارِ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الدُّنْيَا أَمْرَانِ الصَّلَاةُ وَالْعِلْمُ وَأَعْظَمُ الْعِلْمِ الْقُرْآنُ هَذِهِ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الْعِبَادَاتِ بَلْ هِيَ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الدُّنْيَا فَمَنْ فُتِحَ عَلَيْهِ فِيهِمَا فَإِنَّهُ السَّعِيدُ وَلِذَا أَنَا أَقُولُ لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَخَاصَّةً مَا دَامَ شَابًّا عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى أَنْ تَجْعَلَ لَكَ وِرْدًا لَا أَقُولُ بَالِغْ وَلَا أَقُولُ شُدَّ عَلَى نَفْسِكَ فَإِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى كَانَ يَقُولُ جَاهَدْتُ نَفْسِي فِي قِيَامِ اللَّيْلِ عِشْرِينَ سَنَةً فَارْتَاحَتْ عِشْرِينَ سَنَةً فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذِهِ الدُّرْبَةُ فَيَتَدَرَّبُ الْمَرْءُ دَرَجَةً فَدَرَجَةً حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَا يَرْغَبُهُ وَلِذَلِكَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ دُرْبَةً فِي الْوَقْتِ وَاجْعَلْ لَكَ دُرْبَةً فِي الْعَدَدِ هَذَا قِيَامُ اللَّيْلِ صَلاَةُ النَّهَارِ كَذَلِكَ اجْعَلْ لَكَ حَظًّا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ وَأَشَرْتُ قَبْلَ قَلِيْلٍ إِشَارَةً لِمَسْأَلَةِ صَلَاةِ الضُّحَى الضُّحَى فِيهَا رِوَايَتَانِ فِي الْمَذْهَبِ مَشْهُورُ الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ صَلَاةُ الضُّحَى مُطْلَقًا لَكِنْ يُسْتَحَبُّ أَنْ تُصَلَّى غِبًّا يَعْنِي تُصَلَّى أَحْيَانًا وَتُتْرَكُ أَحْيَانًا لِأَنَّ عَائِشَةَ ذَكَرَتْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يُصَلِّيهَا وَنَفْيُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى أَقَلِّ الْأَحْوَالِ عَلَى التَّرْكِ أَحْيَانًا وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ وَهِيَ اخْتِيَارُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّيْنِ وَيَدُلُّ لَهَا رِوَايَةٌ عِنْدَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي الْمُسْنَدِ أَنَّ صَلَاةَ الضُّحَى إِنَّمَا تُسْتَحَبُّ لِمَنْ تَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ وَهُوَ الْوِتْرُ وَقَدْ جَاءَ فِي الْمُسْنَدِ مَا يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ فِي بَعْضِ أَلْفَاظِ الْحَدِيثِ فَإِنَّهَا تَكُونُ مُجْزِئَةً عَنِ الْوِتْرِ وَلِذَا فَإِنْ جَاءَكَ يَوْمٌ فَفَوَّتَّ الْوِتْرَ أَوْ كَانَتْ عَادَتُكَ تَفْوِيتُ الْوِتْرِ فَلَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الضُّحَى

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 11): At-Tatsabbut dan At-Tabayyun

Daftar Isi ToggleMakna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunPerintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)KesimpulanDakwah adalah seruan mulia kepada Allah ﷻ. Ia hendaknya di atas ilmu yang kokoh (tsabit) dan tidak ada keraguan di dalamnya. Begitupula, dakwah adalah bagian dari amar maruf nahi munkar. Termasuk dalam fikih amar maruf nahi munkar adalah memastikan perkara itu benar-benar maruf untuk diserukan, serta memastikan perkara itu adalah kemungkaran yang perlu ditentang. Medan dakwah tidak akan pernah lepas dari urusan tersebut.Banyak sekali perselisihan terjadi salah satunya datang dari pintu ini: ketergesa-gesaan. Misalnya, seorang dai mendapatkan kabar tidak baik dari orang lain –semisal murid atau rekannya– tentang si fulan. Kabar tersebut belum dipastikan kebenarannya. Tetapi, karena tersulut emosi atau karena semangatnya untuk amar maruf nahi munkar, kemudian ia pun merespons kabar itu dengan tulisan ataupun ceramahnya ke hadapan publik. Akhirnya, sampailah respons tersebut kepada si fulan, dan ternyata tidak benarlah kabar tersebut. Maka, keadaan ini tentu menyakitkan bagi si fulan. Bisa jadi dengan hal demikian, si fulan pun bangkit membalas respons tersebut. Akhirnya, terjadilah perselisihan di medan dakwah yang tidak diharapkan. Jika landasan perselisihannya demikian, maka mudah kita ketahui bahwa ini perselisihan yang tidak lagi ilmiah, melainkan berlandaskan emosi semata.Contoh di atas adalah keadaan umum yang bisa terjadi kepada siapa saja. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjalankan dakwah di atas manhaj at-tatsabbut. InsyaAllah, kita akan mengenalnya dalam artikel ini, semoga menjadi jalan untuk kita mengamalkannya di keseharian.Makna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)At-tatsabbut (التَّثَبُّتُ) adalah mashdar dari kata tatsabbata (تَثَبَّت), berarti yakin memastikan. Secara bahasa, tatsabbut berarti,التَّأنِّي في الأمرِ وعَدَمُ الاستعجالِ فيه“Berhati-hati dalam suatu urusan dan tidak tergesa-gesa di dalamnya.”Contoh penggunaannya adalah kalimat, “تَثَبَّت في رأيِه وأمرِه”, maknanya adalah apabila seseorang tidak terburu-buru dan bersikap tenang dalam memutuskan. Dan dikatakan pula, “استَثْبَت في أمرِه”; maknanya yaitu apabila ia meminta pendapat, berkonsultasi, dan meneliti suatu perkara. Berdasarkan makna bahasa, at-tatsabbut adalah sikap tenang dalam memutuskan. At-tatsabbut dicapai dengan seseorang itu meneliti dan berkonsultasi dengan orang lain ketika memutuskan suatu perkara.Secara istilah, at-tatsabbut didefinisikan para ulama sebagai berikut,“At-tatsabbut adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam setiap keadaan ketika seseorang menghadapi sesuatu yang menimbulkan keraguan, hingga perkara itu menjadi jelas baginya dan ia dapat melihat mana yang benar, tepat, dan hakikatnya. Termasuk di dalamnya mengerahkan usaha untuk mengetahui keadaan sebenarnya dari perkara yang dihadapi.” (Fathul Qadir, 5: 71; karya Asy-Syaukani, dinukilkan dalam Taisir Karimir Rahman li As-Sa’di) [1]Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunDalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Terdapat dua qiraah pada kalimat “فَتَبَيَّنُوٓا۟”, yakni di qiraah lain digunakan kata “فتَّثَبُّت”. Para ulama berbeda pendapat tentang kedua qiraah ini. Ada yang mengatakan maknanya sama, yakni orang-orang yang mutatsabbit (bersikap tsabbut) itu sama dengan orang yang mutabayyin (melakukan tabayyun), dan sebaliknya. Namun, banyak ulama lainnya yang menerangkan perbedaannya. [2]Abu Ali Al-Farisi misalnya mengatakan bahwa tatsabbut adalah lawan al-iqdam (tergesa-gesa), sehingga maknanya adalah menahan diri untuk meneliti terlebih dahulu. Sedangkan tabayyun adalah upaya aktif paling maksimal dalam memastikan sesuatu.Menurut Abu al-Najm al-Nasafi, “At-tabayyun dan al-istibanah adalah mengenali dan memeriksa hingga menjadi diketahui, sementara at-tatsabbut dan al-istitsbat adalah bersikap tenang dan merenung hingga sesuatu itu tampak jelas.”Menurut Asy-Syaukani,المرادُ من التَّبَيُّنِ التَّعرُّفُ والتَّفحُّصُ، ومن التَّثَبُّتِ: الأناةُ وعَدَمُ العَجَلةِ، والتَّبصُّرُ في الأمرِ الواقِعِ والخبَرِ الوارِدِ حتَّى يتَّضِحَ ويَظهَرَ“Maksud tabayyun adalah mengenali dan menyelidiki, sedangkan tatsabbut adalah tenang, tidak tergesa-gesa, dan meneliti berita yang terjadi dan informasi yang dilaporkan sampai jelas dan tampak hakikatnya.” (Fathul Qadir, 5: 71)Maka, dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut lebih kepada tindakan tenang dan tidak tergesa-gesa dalam meneliti masalah. Sedangkan tabayyun adalah tindakan aktif mencari informasi untuk memvalidasi kabar tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut wa tabayyun dapat diartikan sebagai wait and crosscheck.Perintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)Ketika suatu perkara belum jelas atau belum meyakinkan bagi seseorang, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai ilmu. Allah ﷻ melarang kita mengikuti sesuatu yang kita belum tahu ilmunya. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menafsirkan,ولا تتبع ما ليس لك به علم، بل تثبت في كل ما تقوله وتفعله، فلا تظن ذلك يذهب لا لك ولا عليك“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau punya ilmu tentangnya. Namun bersikaplah tatsabbut (teliti dan berhati-hati) dalam setiap yang engkau katakan dan lakukan. Janganlah engkau menyangka bahwa hal itu akan berlalu begitu saja, tanpa ada (konsekuensi) untukmu maupun atasmu.” (Taisir Karimir Rahman dalam Tafsir QS. Al-Isra: 36) [3]Maknanya, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk melakukan crosscheck atas berita yang kita terima. Benar-benar kita lakukan penelitian yang penuh kehati-hatian terhadap apa yang kita terima serta apa yang kita keluarkan. Paling minimum adalah melakukan tatsabbut, yakni tidak terburu-buru memberikan respons, sampai ada kabar lain yang memvalidasi. Juga diperingatkan bahwa semua perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban, dan Allah ﷻ tidak akan lalai dengan itu. Dalam Tafsir al-Muyassar dijelaskan,ولا تتبع -أيها الإنسان- ما لا تعلم، بل تأكَّد وتثبَّت. إن الإنسان مسؤول عما استعمَل فيه سمعه وبصره وفؤاده، فإذا استعمَلها في الخير نال الثواب، وإذا استعملها في الشر نال العقاب.“Wahai manusia, janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Mestinya, engkau pastikan dan ber-tatsabbut (teliti dan kaji lebih lanjut). Sesungguhnya manusia akan ditanya tentang penggunaan pendengaran, mata, dan hatinya. Jika ia gunakan dalam kebaikan, ia akan mendapat pahala. Jika ia gunakan dalam keburukan, ia akan mendapatkan siksaan.” (Tafsir Al-Muyassar QS. Al-Isra: 36 via tafsir.app)Dalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwasanya Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada para sahabat untuk melakukan penelitian secara mendetail atas suatu kabar. Sebagaimana perintah itu dihimpun dalam sabda beliau ﷺ,التأني من الله و العجلة من الشيطان“Ketelitian datangnya dari Allah ﷻ, dan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya, 3: 1054 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra. Sanadnya dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 4: 404) [4]Fasik dalam ayat ini meliputi sumber beritanya, yakni orangnya fasik dan juga kabarnya fasik meskipun dari orang yang beriman. [5] Jadi, potensi rusaknya informasi itu bisa meliputi penyampainya maupun berita yang disampaikan. Hal ini bisa saja dikarenakan kurangnya tatsabbut yang mungkin dilakukan oleh orang beriman yang saleh sekalipun. Atau bisa saja karena lemahnya ingatan seseorang dalam meriwayatkan. Apalagi di zaman ini, betapa banyak orang yang kurang dalam kemampuan menghafalnya, tidak hanya teks, tapi juga konteks pengkabarannya.Oleh karena itu, Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya,بل الواجب عند خبر الفاسق، التثبت والتبين، فإن دلت الدلائل والقرائن على صدقه، عمل به وصدق، وإن دلت على كذبه، كذب، ولم يعمل به“Maka yang wajib ketika menerima berita dari orang fasik adalah ber-tatsabbut dan ber-tabayyun. Apabila bukti dan indikasi menunjukkan bahwa ia benar, maka beritanya diterima dan dibenarkan. Namun, jika bukti menunjukkan bahwa ia berdusta, maka beritanya didustakan dan tidak diamalkan.”Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu, “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 94)Abu Musa Al-Maturidi rahimahullah berkata berkaitan dengan tafsir ayat ini,فيه الأمرُ بالتَّثَبُّتِ عِندَ الشُّبهةِ، والنَّهيُ عن الإقدامِ عِندَها، وهكذا الواجِبُ على المُؤمِنِ الوقوفُ عِندَ اعتراضِ الشُّبهةِ في كُلِّ فِعلٍ وكُلِّ خَبرٍ“Di dalam (perkataan itu) terdapat perintah untuk ber-tatsabbut (meneliti dan berhati-hati) ketika muncul syubhat, dan larangan untuk maju (bertindak) ketika ada syubhat. Demikianlah kewajiban seorang mukmin: berhenti (tidak terburu-buru) ketika syubhat muncul dalam setiap perbuatan dan setiap berita.” (Tafsir Al-Maturidi, 3: 331) [6]Perintah tatsabbut juga ditekankan dalam kasus fitnah yang besar, yakni dalam fitnah haditsul ifki yang terjadi kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Allah ﷻ berfirman,إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah, itu perkara yang besar.” (QS. An-Nur: 15)KesimpulanPenggalian terhadap asas dakwah yakni bersikap tatsabbut menunjukkan kepada adanya kesamaan dengan tabayyun. Tumpang tindih penggunaan istilah tatsabbut dengan tabayyun dalam beberapa ayat dan tafsir menunjukkan fungsi yang sama dari kedua kata tersebut. Akan tetapi, secara terperinci dapat kita ketahui bahwa tatsabbut dan tabayyun adalah dua aktivitas yang berbeda.Kita dapati bahwasanya ada banyak keadaan dimana seorang muslim diwajibkan untuk tidak reaktif terhadap segala berita dan kejadian yang datang. Dalam beragam perintah tersebut, Allah ﷻ memerintahkan agar menahan diri, lalu meneliti kevalidan dari perkara tersebut. Lebih jauh lagi, seorang muslim didorong untuk tabayyun, yakni tidak sekadar aktif menggali validitas berita, tetapi juga konteks yang menyebabkan hal itu terjadi. InsyaAllah dalam tulisan selanjutnya, kita akan mempelajari bagaimana dampak dari meninggalkan tatsabbut wa tabayyun serta praktiknya dalam kehidupan.[Bersambung]Kembali ke bagian 10***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[2] Keterangan selanjutnya masih dinukil dari Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[3] https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura17-aya36.html[4] Dalam Tafsir Ibnu Katsir yang kami dapati menggunakan lafal التبين. Namun, perbedaan ini tidak terlalu mengubah makna. Maksud dari hadis tetap benar, yakni kehati-hatian adalah perkara yang menjadi syariat agama ini.[5] Keterangan ini disandarkan kepada Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, dinukilkan dari salah satu ceramah Ustad M. Nuzul Dzikri, hafizhahumallah.[6] Nukilan bisa dicek di tautan ini.

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 11): At-Tatsabbut dan At-Tabayyun

Daftar Isi ToggleMakna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunPerintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)KesimpulanDakwah adalah seruan mulia kepada Allah ﷻ. Ia hendaknya di atas ilmu yang kokoh (tsabit) dan tidak ada keraguan di dalamnya. Begitupula, dakwah adalah bagian dari amar maruf nahi munkar. Termasuk dalam fikih amar maruf nahi munkar adalah memastikan perkara itu benar-benar maruf untuk diserukan, serta memastikan perkara itu adalah kemungkaran yang perlu ditentang. Medan dakwah tidak akan pernah lepas dari urusan tersebut.Banyak sekali perselisihan terjadi salah satunya datang dari pintu ini: ketergesa-gesaan. Misalnya, seorang dai mendapatkan kabar tidak baik dari orang lain –semisal murid atau rekannya– tentang si fulan. Kabar tersebut belum dipastikan kebenarannya. Tetapi, karena tersulut emosi atau karena semangatnya untuk amar maruf nahi munkar, kemudian ia pun merespons kabar itu dengan tulisan ataupun ceramahnya ke hadapan publik. Akhirnya, sampailah respons tersebut kepada si fulan, dan ternyata tidak benarlah kabar tersebut. Maka, keadaan ini tentu menyakitkan bagi si fulan. Bisa jadi dengan hal demikian, si fulan pun bangkit membalas respons tersebut. Akhirnya, terjadilah perselisihan di medan dakwah yang tidak diharapkan. Jika landasan perselisihannya demikian, maka mudah kita ketahui bahwa ini perselisihan yang tidak lagi ilmiah, melainkan berlandaskan emosi semata.Contoh di atas adalah keadaan umum yang bisa terjadi kepada siapa saja. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjalankan dakwah di atas manhaj at-tatsabbut. InsyaAllah, kita akan mengenalnya dalam artikel ini, semoga menjadi jalan untuk kita mengamalkannya di keseharian.Makna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)At-tatsabbut (التَّثَبُّتُ) adalah mashdar dari kata tatsabbata (تَثَبَّت), berarti yakin memastikan. Secara bahasa, tatsabbut berarti,التَّأنِّي في الأمرِ وعَدَمُ الاستعجالِ فيه“Berhati-hati dalam suatu urusan dan tidak tergesa-gesa di dalamnya.”Contoh penggunaannya adalah kalimat, “تَثَبَّت في رأيِه وأمرِه”, maknanya adalah apabila seseorang tidak terburu-buru dan bersikap tenang dalam memutuskan. Dan dikatakan pula, “استَثْبَت في أمرِه”; maknanya yaitu apabila ia meminta pendapat, berkonsultasi, dan meneliti suatu perkara. Berdasarkan makna bahasa, at-tatsabbut adalah sikap tenang dalam memutuskan. At-tatsabbut dicapai dengan seseorang itu meneliti dan berkonsultasi dengan orang lain ketika memutuskan suatu perkara.Secara istilah, at-tatsabbut didefinisikan para ulama sebagai berikut,“At-tatsabbut adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam setiap keadaan ketika seseorang menghadapi sesuatu yang menimbulkan keraguan, hingga perkara itu menjadi jelas baginya dan ia dapat melihat mana yang benar, tepat, dan hakikatnya. Termasuk di dalamnya mengerahkan usaha untuk mengetahui keadaan sebenarnya dari perkara yang dihadapi.” (Fathul Qadir, 5: 71; karya Asy-Syaukani, dinukilkan dalam Taisir Karimir Rahman li As-Sa’di) [1]Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunDalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Terdapat dua qiraah pada kalimat “فَتَبَيَّنُوٓا۟”, yakni di qiraah lain digunakan kata “فتَّثَبُّت”. Para ulama berbeda pendapat tentang kedua qiraah ini. Ada yang mengatakan maknanya sama, yakni orang-orang yang mutatsabbit (bersikap tsabbut) itu sama dengan orang yang mutabayyin (melakukan tabayyun), dan sebaliknya. Namun, banyak ulama lainnya yang menerangkan perbedaannya. [2]Abu Ali Al-Farisi misalnya mengatakan bahwa tatsabbut adalah lawan al-iqdam (tergesa-gesa), sehingga maknanya adalah menahan diri untuk meneliti terlebih dahulu. Sedangkan tabayyun adalah upaya aktif paling maksimal dalam memastikan sesuatu.Menurut Abu al-Najm al-Nasafi, “At-tabayyun dan al-istibanah adalah mengenali dan memeriksa hingga menjadi diketahui, sementara at-tatsabbut dan al-istitsbat adalah bersikap tenang dan merenung hingga sesuatu itu tampak jelas.”Menurut Asy-Syaukani,المرادُ من التَّبَيُّنِ التَّعرُّفُ والتَّفحُّصُ، ومن التَّثَبُّتِ: الأناةُ وعَدَمُ العَجَلةِ، والتَّبصُّرُ في الأمرِ الواقِعِ والخبَرِ الوارِدِ حتَّى يتَّضِحَ ويَظهَرَ“Maksud tabayyun adalah mengenali dan menyelidiki, sedangkan tatsabbut adalah tenang, tidak tergesa-gesa, dan meneliti berita yang terjadi dan informasi yang dilaporkan sampai jelas dan tampak hakikatnya.” (Fathul Qadir, 5: 71)Maka, dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut lebih kepada tindakan tenang dan tidak tergesa-gesa dalam meneliti masalah. Sedangkan tabayyun adalah tindakan aktif mencari informasi untuk memvalidasi kabar tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut wa tabayyun dapat diartikan sebagai wait and crosscheck.Perintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)Ketika suatu perkara belum jelas atau belum meyakinkan bagi seseorang, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai ilmu. Allah ﷻ melarang kita mengikuti sesuatu yang kita belum tahu ilmunya. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menafsirkan,ولا تتبع ما ليس لك به علم، بل تثبت في كل ما تقوله وتفعله، فلا تظن ذلك يذهب لا لك ولا عليك“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau punya ilmu tentangnya. Namun bersikaplah tatsabbut (teliti dan berhati-hati) dalam setiap yang engkau katakan dan lakukan. Janganlah engkau menyangka bahwa hal itu akan berlalu begitu saja, tanpa ada (konsekuensi) untukmu maupun atasmu.” (Taisir Karimir Rahman dalam Tafsir QS. Al-Isra: 36) [3]Maknanya, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk melakukan crosscheck atas berita yang kita terima. Benar-benar kita lakukan penelitian yang penuh kehati-hatian terhadap apa yang kita terima serta apa yang kita keluarkan. Paling minimum adalah melakukan tatsabbut, yakni tidak terburu-buru memberikan respons, sampai ada kabar lain yang memvalidasi. Juga diperingatkan bahwa semua perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban, dan Allah ﷻ tidak akan lalai dengan itu. Dalam Tafsir al-Muyassar dijelaskan,ولا تتبع -أيها الإنسان- ما لا تعلم، بل تأكَّد وتثبَّت. إن الإنسان مسؤول عما استعمَل فيه سمعه وبصره وفؤاده، فإذا استعمَلها في الخير نال الثواب، وإذا استعملها في الشر نال العقاب.“Wahai manusia, janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Mestinya, engkau pastikan dan ber-tatsabbut (teliti dan kaji lebih lanjut). Sesungguhnya manusia akan ditanya tentang penggunaan pendengaran, mata, dan hatinya. Jika ia gunakan dalam kebaikan, ia akan mendapat pahala. Jika ia gunakan dalam keburukan, ia akan mendapatkan siksaan.” (Tafsir Al-Muyassar QS. Al-Isra: 36 via tafsir.app)Dalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwasanya Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada para sahabat untuk melakukan penelitian secara mendetail atas suatu kabar. Sebagaimana perintah itu dihimpun dalam sabda beliau ﷺ,التأني من الله و العجلة من الشيطان“Ketelitian datangnya dari Allah ﷻ, dan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya, 3: 1054 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra. Sanadnya dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 4: 404) [4]Fasik dalam ayat ini meliputi sumber beritanya, yakni orangnya fasik dan juga kabarnya fasik meskipun dari orang yang beriman. [5] Jadi, potensi rusaknya informasi itu bisa meliputi penyampainya maupun berita yang disampaikan. Hal ini bisa saja dikarenakan kurangnya tatsabbut yang mungkin dilakukan oleh orang beriman yang saleh sekalipun. Atau bisa saja karena lemahnya ingatan seseorang dalam meriwayatkan. Apalagi di zaman ini, betapa banyak orang yang kurang dalam kemampuan menghafalnya, tidak hanya teks, tapi juga konteks pengkabarannya.Oleh karena itu, Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya,بل الواجب عند خبر الفاسق، التثبت والتبين، فإن دلت الدلائل والقرائن على صدقه، عمل به وصدق، وإن دلت على كذبه، كذب، ولم يعمل به“Maka yang wajib ketika menerima berita dari orang fasik adalah ber-tatsabbut dan ber-tabayyun. Apabila bukti dan indikasi menunjukkan bahwa ia benar, maka beritanya diterima dan dibenarkan. Namun, jika bukti menunjukkan bahwa ia berdusta, maka beritanya didustakan dan tidak diamalkan.”Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu, “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 94)Abu Musa Al-Maturidi rahimahullah berkata berkaitan dengan tafsir ayat ini,فيه الأمرُ بالتَّثَبُّتِ عِندَ الشُّبهةِ، والنَّهيُ عن الإقدامِ عِندَها، وهكذا الواجِبُ على المُؤمِنِ الوقوفُ عِندَ اعتراضِ الشُّبهةِ في كُلِّ فِعلٍ وكُلِّ خَبرٍ“Di dalam (perkataan itu) terdapat perintah untuk ber-tatsabbut (meneliti dan berhati-hati) ketika muncul syubhat, dan larangan untuk maju (bertindak) ketika ada syubhat. Demikianlah kewajiban seorang mukmin: berhenti (tidak terburu-buru) ketika syubhat muncul dalam setiap perbuatan dan setiap berita.” (Tafsir Al-Maturidi, 3: 331) [6]Perintah tatsabbut juga ditekankan dalam kasus fitnah yang besar, yakni dalam fitnah haditsul ifki yang terjadi kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Allah ﷻ berfirman,إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah, itu perkara yang besar.” (QS. An-Nur: 15)KesimpulanPenggalian terhadap asas dakwah yakni bersikap tatsabbut menunjukkan kepada adanya kesamaan dengan tabayyun. Tumpang tindih penggunaan istilah tatsabbut dengan tabayyun dalam beberapa ayat dan tafsir menunjukkan fungsi yang sama dari kedua kata tersebut. Akan tetapi, secara terperinci dapat kita ketahui bahwa tatsabbut dan tabayyun adalah dua aktivitas yang berbeda.Kita dapati bahwasanya ada banyak keadaan dimana seorang muslim diwajibkan untuk tidak reaktif terhadap segala berita dan kejadian yang datang. Dalam beragam perintah tersebut, Allah ﷻ memerintahkan agar menahan diri, lalu meneliti kevalidan dari perkara tersebut. Lebih jauh lagi, seorang muslim didorong untuk tabayyun, yakni tidak sekadar aktif menggali validitas berita, tetapi juga konteks yang menyebabkan hal itu terjadi. InsyaAllah dalam tulisan selanjutnya, kita akan mempelajari bagaimana dampak dari meninggalkan tatsabbut wa tabayyun serta praktiknya dalam kehidupan.[Bersambung]Kembali ke bagian 10***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[2] Keterangan selanjutnya masih dinukil dari Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[3] https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura17-aya36.html[4] Dalam Tafsir Ibnu Katsir yang kami dapati menggunakan lafal التبين. Namun, perbedaan ini tidak terlalu mengubah makna. Maksud dari hadis tetap benar, yakni kehati-hatian adalah perkara yang menjadi syariat agama ini.[5] Keterangan ini disandarkan kepada Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, dinukilkan dari salah satu ceramah Ustad M. Nuzul Dzikri, hafizhahumallah.[6] Nukilan bisa dicek di tautan ini.
Daftar Isi ToggleMakna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunPerintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)KesimpulanDakwah adalah seruan mulia kepada Allah ﷻ. Ia hendaknya di atas ilmu yang kokoh (tsabit) dan tidak ada keraguan di dalamnya. Begitupula, dakwah adalah bagian dari amar maruf nahi munkar. Termasuk dalam fikih amar maruf nahi munkar adalah memastikan perkara itu benar-benar maruf untuk diserukan, serta memastikan perkara itu adalah kemungkaran yang perlu ditentang. Medan dakwah tidak akan pernah lepas dari urusan tersebut.Banyak sekali perselisihan terjadi salah satunya datang dari pintu ini: ketergesa-gesaan. Misalnya, seorang dai mendapatkan kabar tidak baik dari orang lain –semisal murid atau rekannya– tentang si fulan. Kabar tersebut belum dipastikan kebenarannya. Tetapi, karena tersulut emosi atau karena semangatnya untuk amar maruf nahi munkar, kemudian ia pun merespons kabar itu dengan tulisan ataupun ceramahnya ke hadapan publik. Akhirnya, sampailah respons tersebut kepada si fulan, dan ternyata tidak benarlah kabar tersebut. Maka, keadaan ini tentu menyakitkan bagi si fulan. Bisa jadi dengan hal demikian, si fulan pun bangkit membalas respons tersebut. Akhirnya, terjadilah perselisihan di medan dakwah yang tidak diharapkan. Jika landasan perselisihannya demikian, maka mudah kita ketahui bahwa ini perselisihan yang tidak lagi ilmiah, melainkan berlandaskan emosi semata.Contoh di atas adalah keadaan umum yang bisa terjadi kepada siapa saja. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjalankan dakwah di atas manhaj at-tatsabbut. InsyaAllah, kita akan mengenalnya dalam artikel ini, semoga menjadi jalan untuk kita mengamalkannya di keseharian.Makna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)At-tatsabbut (التَّثَبُّتُ) adalah mashdar dari kata tatsabbata (تَثَبَّت), berarti yakin memastikan. Secara bahasa, tatsabbut berarti,التَّأنِّي في الأمرِ وعَدَمُ الاستعجالِ فيه“Berhati-hati dalam suatu urusan dan tidak tergesa-gesa di dalamnya.”Contoh penggunaannya adalah kalimat, “تَثَبَّت في رأيِه وأمرِه”, maknanya adalah apabila seseorang tidak terburu-buru dan bersikap tenang dalam memutuskan. Dan dikatakan pula, “استَثْبَت في أمرِه”; maknanya yaitu apabila ia meminta pendapat, berkonsultasi, dan meneliti suatu perkara. Berdasarkan makna bahasa, at-tatsabbut adalah sikap tenang dalam memutuskan. At-tatsabbut dicapai dengan seseorang itu meneliti dan berkonsultasi dengan orang lain ketika memutuskan suatu perkara.Secara istilah, at-tatsabbut didefinisikan para ulama sebagai berikut,“At-tatsabbut adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam setiap keadaan ketika seseorang menghadapi sesuatu yang menimbulkan keraguan, hingga perkara itu menjadi jelas baginya dan ia dapat melihat mana yang benar, tepat, dan hakikatnya. Termasuk di dalamnya mengerahkan usaha untuk mengetahui keadaan sebenarnya dari perkara yang dihadapi.” (Fathul Qadir, 5: 71; karya Asy-Syaukani, dinukilkan dalam Taisir Karimir Rahman li As-Sa’di) [1]Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunDalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Terdapat dua qiraah pada kalimat “فَتَبَيَّنُوٓا۟”, yakni di qiraah lain digunakan kata “فتَّثَبُّت”. Para ulama berbeda pendapat tentang kedua qiraah ini. Ada yang mengatakan maknanya sama, yakni orang-orang yang mutatsabbit (bersikap tsabbut) itu sama dengan orang yang mutabayyin (melakukan tabayyun), dan sebaliknya. Namun, banyak ulama lainnya yang menerangkan perbedaannya. [2]Abu Ali Al-Farisi misalnya mengatakan bahwa tatsabbut adalah lawan al-iqdam (tergesa-gesa), sehingga maknanya adalah menahan diri untuk meneliti terlebih dahulu. Sedangkan tabayyun adalah upaya aktif paling maksimal dalam memastikan sesuatu.Menurut Abu al-Najm al-Nasafi, “At-tabayyun dan al-istibanah adalah mengenali dan memeriksa hingga menjadi diketahui, sementara at-tatsabbut dan al-istitsbat adalah bersikap tenang dan merenung hingga sesuatu itu tampak jelas.”Menurut Asy-Syaukani,المرادُ من التَّبَيُّنِ التَّعرُّفُ والتَّفحُّصُ، ومن التَّثَبُّتِ: الأناةُ وعَدَمُ العَجَلةِ، والتَّبصُّرُ في الأمرِ الواقِعِ والخبَرِ الوارِدِ حتَّى يتَّضِحَ ويَظهَرَ“Maksud tabayyun adalah mengenali dan menyelidiki, sedangkan tatsabbut adalah tenang, tidak tergesa-gesa, dan meneliti berita yang terjadi dan informasi yang dilaporkan sampai jelas dan tampak hakikatnya.” (Fathul Qadir, 5: 71)Maka, dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut lebih kepada tindakan tenang dan tidak tergesa-gesa dalam meneliti masalah. Sedangkan tabayyun adalah tindakan aktif mencari informasi untuk memvalidasi kabar tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut wa tabayyun dapat diartikan sebagai wait and crosscheck.Perintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)Ketika suatu perkara belum jelas atau belum meyakinkan bagi seseorang, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai ilmu. Allah ﷻ melarang kita mengikuti sesuatu yang kita belum tahu ilmunya. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menafsirkan,ولا تتبع ما ليس لك به علم، بل تثبت في كل ما تقوله وتفعله، فلا تظن ذلك يذهب لا لك ولا عليك“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau punya ilmu tentangnya. Namun bersikaplah tatsabbut (teliti dan berhati-hati) dalam setiap yang engkau katakan dan lakukan. Janganlah engkau menyangka bahwa hal itu akan berlalu begitu saja, tanpa ada (konsekuensi) untukmu maupun atasmu.” (Taisir Karimir Rahman dalam Tafsir QS. Al-Isra: 36) [3]Maknanya, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk melakukan crosscheck atas berita yang kita terima. Benar-benar kita lakukan penelitian yang penuh kehati-hatian terhadap apa yang kita terima serta apa yang kita keluarkan. Paling minimum adalah melakukan tatsabbut, yakni tidak terburu-buru memberikan respons, sampai ada kabar lain yang memvalidasi. Juga diperingatkan bahwa semua perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban, dan Allah ﷻ tidak akan lalai dengan itu. Dalam Tafsir al-Muyassar dijelaskan,ولا تتبع -أيها الإنسان- ما لا تعلم، بل تأكَّد وتثبَّت. إن الإنسان مسؤول عما استعمَل فيه سمعه وبصره وفؤاده، فإذا استعمَلها في الخير نال الثواب، وإذا استعملها في الشر نال العقاب.“Wahai manusia, janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Mestinya, engkau pastikan dan ber-tatsabbut (teliti dan kaji lebih lanjut). Sesungguhnya manusia akan ditanya tentang penggunaan pendengaran, mata, dan hatinya. Jika ia gunakan dalam kebaikan, ia akan mendapat pahala. Jika ia gunakan dalam keburukan, ia akan mendapatkan siksaan.” (Tafsir Al-Muyassar QS. Al-Isra: 36 via tafsir.app)Dalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwasanya Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada para sahabat untuk melakukan penelitian secara mendetail atas suatu kabar. Sebagaimana perintah itu dihimpun dalam sabda beliau ﷺ,التأني من الله و العجلة من الشيطان“Ketelitian datangnya dari Allah ﷻ, dan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya, 3: 1054 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra. Sanadnya dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 4: 404) [4]Fasik dalam ayat ini meliputi sumber beritanya, yakni orangnya fasik dan juga kabarnya fasik meskipun dari orang yang beriman. [5] Jadi, potensi rusaknya informasi itu bisa meliputi penyampainya maupun berita yang disampaikan. Hal ini bisa saja dikarenakan kurangnya tatsabbut yang mungkin dilakukan oleh orang beriman yang saleh sekalipun. Atau bisa saja karena lemahnya ingatan seseorang dalam meriwayatkan. Apalagi di zaman ini, betapa banyak orang yang kurang dalam kemampuan menghafalnya, tidak hanya teks, tapi juga konteks pengkabarannya.Oleh karena itu, Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya,بل الواجب عند خبر الفاسق، التثبت والتبين، فإن دلت الدلائل والقرائن على صدقه، عمل به وصدق، وإن دلت على كذبه، كذب، ولم يعمل به“Maka yang wajib ketika menerima berita dari orang fasik adalah ber-tatsabbut dan ber-tabayyun. Apabila bukti dan indikasi menunjukkan bahwa ia benar, maka beritanya diterima dan dibenarkan. Namun, jika bukti menunjukkan bahwa ia berdusta, maka beritanya didustakan dan tidak diamalkan.”Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu, “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 94)Abu Musa Al-Maturidi rahimahullah berkata berkaitan dengan tafsir ayat ini,فيه الأمرُ بالتَّثَبُّتِ عِندَ الشُّبهةِ، والنَّهيُ عن الإقدامِ عِندَها، وهكذا الواجِبُ على المُؤمِنِ الوقوفُ عِندَ اعتراضِ الشُّبهةِ في كُلِّ فِعلٍ وكُلِّ خَبرٍ“Di dalam (perkataan itu) terdapat perintah untuk ber-tatsabbut (meneliti dan berhati-hati) ketika muncul syubhat, dan larangan untuk maju (bertindak) ketika ada syubhat. Demikianlah kewajiban seorang mukmin: berhenti (tidak terburu-buru) ketika syubhat muncul dalam setiap perbuatan dan setiap berita.” (Tafsir Al-Maturidi, 3: 331) [6]Perintah tatsabbut juga ditekankan dalam kasus fitnah yang besar, yakni dalam fitnah haditsul ifki yang terjadi kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Allah ﷻ berfirman,إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah, itu perkara yang besar.” (QS. An-Nur: 15)KesimpulanPenggalian terhadap asas dakwah yakni bersikap tatsabbut menunjukkan kepada adanya kesamaan dengan tabayyun. Tumpang tindih penggunaan istilah tatsabbut dengan tabayyun dalam beberapa ayat dan tafsir menunjukkan fungsi yang sama dari kedua kata tersebut. Akan tetapi, secara terperinci dapat kita ketahui bahwa tatsabbut dan tabayyun adalah dua aktivitas yang berbeda.Kita dapati bahwasanya ada banyak keadaan dimana seorang muslim diwajibkan untuk tidak reaktif terhadap segala berita dan kejadian yang datang. Dalam beragam perintah tersebut, Allah ﷻ memerintahkan agar menahan diri, lalu meneliti kevalidan dari perkara tersebut. Lebih jauh lagi, seorang muslim didorong untuk tabayyun, yakni tidak sekadar aktif menggali validitas berita, tetapi juga konteks yang menyebabkan hal itu terjadi. InsyaAllah dalam tulisan selanjutnya, kita akan mempelajari bagaimana dampak dari meninggalkan tatsabbut wa tabayyun serta praktiknya dalam kehidupan.[Bersambung]Kembali ke bagian 10***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[2] Keterangan selanjutnya masih dinukil dari Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[3] https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura17-aya36.html[4] Dalam Tafsir Ibnu Katsir yang kami dapati menggunakan lafal التبين. Namun, perbedaan ini tidak terlalu mengubah makna. Maksud dari hadis tetap benar, yakni kehati-hatian adalah perkara yang menjadi syariat agama ini.[5] Keterangan ini disandarkan kepada Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, dinukilkan dari salah satu ceramah Ustad M. Nuzul Dzikri, hafizhahumallah.[6] Nukilan bisa dicek di tautan ini.


Daftar Isi ToggleMakna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunPerintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)KesimpulanDakwah adalah seruan mulia kepada Allah ﷻ. Ia hendaknya di atas ilmu yang kokoh (tsabit) dan tidak ada keraguan di dalamnya. Begitupula, dakwah adalah bagian dari amar maruf nahi munkar. Termasuk dalam fikih amar maruf nahi munkar adalah memastikan perkara itu benar-benar maruf untuk diserukan, serta memastikan perkara itu adalah kemungkaran yang perlu ditentang. Medan dakwah tidak akan pernah lepas dari urusan tersebut.Banyak sekali perselisihan terjadi salah satunya datang dari pintu ini: ketergesa-gesaan. Misalnya, seorang dai mendapatkan kabar tidak baik dari orang lain –semisal murid atau rekannya– tentang si fulan. Kabar tersebut belum dipastikan kebenarannya. Tetapi, karena tersulut emosi atau karena semangatnya untuk amar maruf nahi munkar, kemudian ia pun merespons kabar itu dengan tulisan ataupun ceramahnya ke hadapan publik. Akhirnya, sampailah respons tersebut kepada si fulan, dan ternyata tidak benarlah kabar tersebut. Maka, keadaan ini tentu menyakitkan bagi si fulan. Bisa jadi dengan hal demikian, si fulan pun bangkit membalas respons tersebut. Akhirnya, terjadilah perselisihan di medan dakwah yang tidak diharapkan. Jika landasan perselisihannya demikian, maka mudah kita ketahui bahwa ini perselisihan yang tidak lagi ilmiah, melainkan berlandaskan emosi semata.Contoh di atas adalah keadaan umum yang bisa terjadi kepada siapa saja. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjalankan dakwah di atas manhaj at-tatsabbut. InsyaAllah, kita akan mengenalnya dalam artikel ini, semoga menjadi jalan untuk kita mengamalkannya di keseharian.Makna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)At-tatsabbut (التَّثَبُّتُ) adalah mashdar dari kata tatsabbata (تَثَبَّت), berarti yakin memastikan. Secara bahasa, tatsabbut berarti,التَّأنِّي في الأمرِ وعَدَمُ الاستعجالِ فيه“Berhati-hati dalam suatu urusan dan tidak tergesa-gesa di dalamnya.”Contoh penggunaannya adalah kalimat, “تَثَبَّت في رأيِه وأمرِه”, maknanya adalah apabila seseorang tidak terburu-buru dan bersikap tenang dalam memutuskan. Dan dikatakan pula, “استَثْبَت في أمرِه”; maknanya yaitu apabila ia meminta pendapat, berkonsultasi, dan meneliti suatu perkara. Berdasarkan makna bahasa, at-tatsabbut adalah sikap tenang dalam memutuskan. At-tatsabbut dicapai dengan seseorang itu meneliti dan berkonsultasi dengan orang lain ketika memutuskan suatu perkara.Secara istilah, at-tatsabbut didefinisikan para ulama sebagai berikut,“At-tatsabbut adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam setiap keadaan ketika seseorang menghadapi sesuatu yang menimbulkan keraguan, hingga perkara itu menjadi jelas baginya dan ia dapat melihat mana yang benar, tepat, dan hakikatnya. Termasuk di dalamnya mengerahkan usaha untuk mengetahui keadaan sebenarnya dari perkara yang dihadapi.” (Fathul Qadir, 5: 71; karya Asy-Syaukani, dinukilkan dalam Taisir Karimir Rahman li As-Sa’di) [1]Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunDalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Terdapat dua qiraah pada kalimat “فَتَبَيَّنُوٓا۟”, yakni di qiraah lain digunakan kata “فتَّثَبُّت”. Para ulama berbeda pendapat tentang kedua qiraah ini. Ada yang mengatakan maknanya sama, yakni orang-orang yang mutatsabbit (bersikap tsabbut) itu sama dengan orang yang mutabayyin (melakukan tabayyun), dan sebaliknya. Namun, banyak ulama lainnya yang menerangkan perbedaannya. [2]Abu Ali Al-Farisi misalnya mengatakan bahwa tatsabbut adalah lawan al-iqdam (tergesa-gesa), sehingga maknanya adalah menahan diri untuk meneliti terlebih dahulu. Sedangkan tabayyun adalah upaya aktif paling maksimal dalam memastikan sesuatu.Menurut Abu al-Najm al-Nasafi, “At-tabayyun dan al-istibanah adalah mengenali dan memeriksa hingga menjadi diketahui, sementara at-tatsabbut dan al-istitsbat adalah bersikap tenang dan merenung hingga sesuatu itu tampak jelas.”Menurut Asy-Syaukani,المرادُ من التَّبَيُّنِ التَّعرُّفُ والتَّفحُّصُ، ومن التَّثَبُّتِ: الأناةُ وعَدَمُ العَجَلةِ، والتَّبصُّرُ في الأمرِ الواقِعِ والخبَرِ الوارِدِ حتَّى يتَّضِحَ ويَظهَرَ“Maksud tabayyun adalah mengenali dan menyelidiki, sedangkan tatsabbut adalah tenang, tidak tergesa-gesa, dan meneliti berita yang terjadi dan informasi yang dilaporkan sampai jelas dan tampak hakikatnya.” (Fathul Qadir, 5: 71)Maka, dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut lebih kepada tindakan tenang dan tidak tergesa-gesa dalam meneliti masalah. Sedangkan tabayyun adalah tindakan aktif mencari informasi untuk memvalidasi kabar tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut wa tabayyun dapat diartikan sebagai wait and crosscheck.Perintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)Ketika suatu perkara belum jelas atau belum meyakinkan bagi seseorang, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai ilmu. Allah ﷻ melarang kita mengikuti sesuatu yang kita belum tahu ilmunya. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menafsirkan,ولا تتبع ما ليس لك به علم، بل تثبت في كل ما تقوله وتفعله، فلا تظن ذلك يذهب لا لك ولا عليك“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau punya ilmu tentangnya. Namun bersikaplah tatsabbut (teliti dan berhati-hati) dalam setiap yang engkau katakan dan lakukan. Janganlah engkau menyangka bahwa hal itu akan berlalu begitu saja, tanpa ada (konsekuensi) untukmu maupun atasmu.” (Taisir Karimir Rahman dalam Tafsir QS. Al-Isra: 36) [3]Maknanya, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk melakukan crosscheck atas berita yang kita terima. Benar-benar kita lakukan penelitian yang penuh kehati-hatian terhadap apa yang kita terima serta apa yang kita keluarkan. Paling minimum adalah melakukan tatsabbut, yakni tidak terburu-buru memberikan respons, sampai ada kabar lain yang memvalidasi. Juga diperingatkan bahwa semua perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban, dan Allah ﷻ tidak akan lalai dengan itu. Dalam Tafsir al-Muyassar dijelaskan,ولا تتبع -أيها الإنسان- ما لا تعلم، بل تأكَّد وتثبَّت. إن الإنسان مسؤول عما استعمَل فيه سمعه وبصره وفؤاده، فإذا استعمَلها في الخير نال الثواب، وإذا استعملها في الشر نال العقاب.“Wahai manusia, janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Mestinya, engkau pastikan dan ber-tatsabbut (teliti dan kaji lebih lanjut). Sesungguhnya manusia akan ditanya tentang penggunaan pendengaran, mata, dan hatinya. Jika ia gunakan dalam kebaikan, ia akan mendapat pahala. Jika ia gunakan dalam keburukan, ia akan mendapatkan siksaan.” (Tafsir Al-Muyassar QS. Al-Isra: 36 via tafsir.app)Dalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwasanya Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada para sahabat untuk melakukan penelitian secara mendetail atas suatu kabar. Sebagaimana perintah itu dihimpun dalam sabda beliau ﷺ,التأني من الله و العجلة من الشيطان“Ketelitian datangnya dari Allah ﷻ, dan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya, 3: 1054 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra. Sanadnya dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 4: 404) [4]Fasik dalam ayat ini meliputi sumber beritanya, yakni orangnya fasik dan juga kabarnya fasik meskipun dari orang yang beriman. [5] Jadi, potensi rusaknya informasi itu bisa meliputi penyampainya maupun berita yang disampaikan. Hal ini bisa saja dikarenakan kurangnya tatsabbut yang mungkin dilakukan oleh orang beriman yang saleh sekalipun. Atau bisa saja karena lemahnya ingatan seseorang dalam meriwayatkan. Apalagi di zaman ini, betapa banyak orang yang kurang dalam kemampuan menghafalnya, tidak hanya teks, tapi juga konteks pengkabarannya.Oleh karena itu, Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya,بل الواجب عند خبر الفاسق، التثبت والتبين، فإن دلت الدلائل والقرائن على صدقه، عمل به وصدق، وإن دلت على كذبه، كذب، ولم يعمل به“Maka yang wajib ketika menerima berita dari orang fasik adalah ber-tatsabbut dan ber-tabayyun. Apabila bukti dan indikasi menunjukkan bahwa ia benar, maka beritanya diterima dan dibenarkan. Namun, jika bukti menunjukkan bahwa ia berdusta, maka beritanya didustakan dan tidak diamalkan.”Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu, “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 94)Abu Musa Al-Maturidi rahimahullah berkata berkaitan dengan tafsir ayat ini,فيه الأمرُ بالتَّثَبُّتِ عِندَ الشُّبهةِ، والنَّهيُ عن الإقدامِ عِندَها، وهكذا الواجِبُ على المُؤمِنِ الوقوفُ عِندَ اعتراضِ الشُّبهةِ في كُلِّ فِعلٍ وكُلِّ خَبرٍ“Di dalam (perkataan itu) terdapat perintah untuk ber-tatsabbut (meneliti dan berhati-hati) ketika muncul syubhat, dan larangan untuk maju (bertindak) ketika ada syubhat. Demikianlah kewajiban seorang mukmin: berhenti (tidak terburu-buru) ketika syubhat muncul dalam setiap perbuatan dan setiap berita.” (Tafsir Al-Maturidi, 3: 331) [6]Perintah tatsabbut juga ditekankan dalam kasus fitnah yang besar, yakni dalam fitnah haditsul ifki yang terjadi kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Allah ﷻ berfirman,إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah, itu perkara yang besar.” (QS. An-Nur: 15)KesimpulanPenggalian terhadap asas dakwah yakni bersikap tatsabbut menunjukkan kepada adanya kesamaan dengan tabayyun. Tumpang tindih penggunaan istilah tatsabbut dengan tabayyun dalam beberapa ayat dan tafsir menunjukkan fungsi yang sama dari kedua kata tersebut. Akan tetapi, secara terperinci dapat kita ketahui bahwa tatsabbut dan tabayyun adalah dua aktivitas yang berbeda.Kita dapati bahwasanya ada banyak keadaan dimana seorang muslim diwajibkan untuk tidak reaktif terhadap segala berita dan kejadian yang datang. Dalam beragam perintah tersebut, Allah ﷻ memerintahkan agar menahan diri, lalu meneliti kevalidan dari perkara tersebut. Lebih jauh lagi, seorang muslim didorong untuk tabayyun, yakni tidak sekadar aktif menggali validitas berita, tetapi juga konteks yang menyebabkan hal itu terjadi. InsyaAllah dalam tulisan selanjutnya, kita akan mempelajari bagaimana dampak dari meninggalkan tatsabbut wa tabayyun serta praktiknya dalam kehidupan.[Bersambung]Kembali ke bagian 10***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[2] Keterangan selanjutnya masih dinukil dari Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[3] https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura17-aya36.html[4] Dalam Tafsir Ibnu Katsir yang kami dapati menggunakan lafal التبين. Namun, perbedaan ini tidak terlalu mengubah makna. Maksud dari hadis tetap benar, yakni kehati-hatian adalah perkara yang menjadi syariat agama ini.[5] Keterangan ini disandarkan kepada Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, dinukilkan dari salah satu ceramah Ustad M. Nuzul Dzikri, hafizhahumallah.[6] Nukilan bisa dicek di tautan ini.

Fikih Riba (Bag. 3): Hikmah Diharamkannya Riba

Menjadi hal yang tidak lagi tabu akan riba dan hukumnya. Namun, bagi sebagian orang sulit untuk meninggalkan riba. Mereka beralasan dengan berbagai macam alasan bagaimana caranya riba bisa menjadi halal “menurut mereka”. Seakan ilmu yang didengar, dibaca, dan mereka peroleh hanya sebatas pengetahuan belaka. Sehingga larangan-larangan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tetap diterjang dan tidak mereka pedulikan, yang penting keuntungan dapat diperoleh dan dapat mereka nikmati.Ketahuilah, bahwasanya transaksi riba sama saja dengan mengundang azab Allah Ta’ala. Tidakkah mereka ingin mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إذا ظهرَ الزِّنا و الرِّبا في قَريةٍ ، فقد أَحَلُّوا بأنفسِهم عذابَ اللهِ“Apabila pada suatu kampung (tempat) telah tampak perbuatan zina dan riba, maka sejatinya mereka mengundang azab Allah untuk diri mereka sendiri.” (HR. Al-Hakim dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Dikarenakan maksiat dan dosa adalah pokok segala musibah dan keburukan di dunia dan akhirat, keduanya sebagai sebab terjadinya azab. Karenanya, pada hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dua perbuatan yang termasuk dosa besar, yaitu zina dan riba.Peringatan tentang riba pada hadis ini tertuju paling utama kepada pemberi pinjaman, peminjam, dan masyarakat yang menyaksikan praktek transaksi riba tersebut dan rida terhadap praktek tersebut dan tidak berusaha untuk mencegahnya. Hal tersebut diambil dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, “pada suatu kampung”.Yakni, jika transaksi riba telah meluas pada suatu kaum, kemudian mereka tidak menindak perbuatan tersebut, sejatinya mereka sedang bersama-sama untuk mengundang azab Allah Ta’ala ke tempat mereka. Sehingga yang paling utama adalah keberkahan akan dicabut dari tempat tersebut.Terlebih saat ini riba dibuat seolah-olah menarik dan tidak ada keharaman padanya. Dinamakanlah riba dengan “bunga”, seolah-olah tidak ada keharaman padanya dan berbentuk kesenangan ketika memperoleh “bunga”. Terkadang penggunaan kata “biaya adminstrasi” pun ikut serta dalam pengelabuan dari hakikat riba yang sesungguhnya.Oleh karena itu, para ulama menyebutkan sebuah kaidah untuk membantah hal-hal tersebut. Kaidah tersebut berbunyi,العِبْرَةُ بِالْحَقَائِقِ وَالْمَعَانِي لَا بِالْأَلْفَاظِ وَالْمَبَانِي“Yang menjadi patokan dalam suatu hal adalah hakikat dan makna sesungguhnya, bukan pada lafal (istilah) dan struktur kata-kata.” Sehingga yang menjadi patokan atau timbangan adalah bukan dari kata-kata (nama atau istilah) yang disampaikan, melainkan dari hakikatnya. Jika hakikatnya haram, maka bagaimanapun kata-kata digunakan untuk mengelabui, maka hukumnya tetaplah haram. Dari hal ini, dapat diketahui bahwasanya tidak mungkin Allah Ta’ala dan Rasul-Nya mengharamkan sesuatu kecuali terdapat hikmah dari hal tersebut.Hikmah diharamkannya ribaTerdapat banyak hikmah diharamkannya riba, di antaranya [1],Riba mengandung kezaliman yang jelas dan nyata. Terlebih dalam permasalahan riba dari utang-piutang, padanya terdapat perbuatan berupa mengambil harta orang lain tanpa adanya barang yang ditukar. Dari riba, pasti akan ada pihak yang dirugikan. Jika dalam hal utang piutang, tentu peminjam yang akan dirugikan, karena pinjamannya yang akan terus meningkat. Sedangkan pemberi pinjaman hanya menikmati hasil dari kelipatan riba yang diderita oleh peminjam.Riba mendidik manusia untuk bermalas-malasan dan tidak ingin berusaha dengan mencari rezeki yang halal. Karena cukup baginya menitipkan hartanya pada suatu tempat, kemudian riba berjalan padanya, sehingga ia akan mendapatkan keuntungan yang tetap. Dibandingkan ia harus berusaha dan bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halal.Oleh karena itu, orang-orang yang memakan riba ia akan terdidik dengan pola hidup yang demikian. Lama-kelamaan, tanpa sadar hartanya akan hancur dan tidak ada keberkahan sedikitpun dari setiap nominal yang bertambah.Riba dapat menghilangkan kebiasaan berbuat baik kepada sesama manusia. Di sisi lain, riba pun dapat menutup pintu tolong-menolong dan berbuat baik. Riba dapat mengantarkan kepada berkumpulnya harta pada tangan orang-orang tertentu, atau yang dikenal dengan istilah plutonomi.Dampaknya, yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Hal ini berangkat dari buruknya sistem transaksi riba. Kesenjangan ekonomi pun akan terus meningkat dan masyarakat akan terbagi menjadi dua, golongan yang kaya dan golongan yang miskin.Di dalam Al-Qur’an, tidak lah terdapat ayat dari tahdzir (peringatan) terhadap riba, kecuali sebelumnya atau sesudahnya terdapat ayat yang berisikan anjuran untuk bersedekah, berinfak, dan tidak melupakan kebutuhan orang-orang fakir. Sehingga dari hal tersebut dapat diambil sebuah pelajaran, bahwa harta seharusnya tidak hanya berputar pada orang-orang kaya saja; dan orang-orang yang kuat tidak semena-mena dengan orang-orang yang lemah. Begitupun yang kaya tidak semena-mena dengan yang orang-orang yang miskin.Riba merupakan salah satu penyebab tersebarnya pengangguran dan meluasnya fenomena tersebut di kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan karena pemilik modal lebih memilih untuk meminjamkan uang mereka dengan sistem riba daripada menginvestasikannya dalam proyek-proyek industri, pertanian, atau perdagangan. Akibatnya, peluang kerja menjadi lebih sedikit, sehingga pengangguran semakin meluas di masyarakat yang banyak terdapat praktik riba.Hal ini juga terbukti dari penderitaan yang dialami oleh negara-negara Barat yang menghadapi masalah pengangguran, meskipun mereka maju dalam teknologi dan industri. Beberapa penulis Barat telah menyampaikan fakta ini dan menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama meningkatnya pengangguran di masyarakat adalah meluasnya praktib riba.Riba merupakan di antara penyebab tinggi atau mahalnya harga-harga barang. Hal ini dikarenakan apabila pemilik modal menginvestasikan uangnya dalam industri, pertanian, atau dalam pembelian suatu properti, ia tidak akan rela menjual properti tersebut atau barang yang dihasilkannya, kecuali dengan keuntungan yang lebih besar daripada presentase riba. Semakin tinggi presentase riba, semakin mahal pula harga-harga. Oleh karena itu, riba adalah salah satu penyebab utama naiknya harga-harga.Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah dari terlarangnya riba. Pada akhirnya, riba diharamkan dikarenakan padanya terdapat mafsadat (kerusakan) dan madharat (bahaya). Tidak hanya merugikan person saja, namun riba dapat merugikan masyarakat, bahkan satu negara terkena dampaknya. Bukan suatu kedustaan jika dikatakan, dampak kerugian dari riba adalah dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 2***Depok, 28 Jumadal Ula 1447/ 18 November 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Diringkas dari video yang disampaikan oleh Syekh Sa’ad Al-Khatslan hafizahullah. 

Fikih Riba (Bag. 3): Hikmah Diharamkannya Riba

Menjadi hal yang tidak lagi tabu akan riba dan hukumnya. Namun, bagi sebagian orang sulit untuk meninggalkan riba. Mereka beralasan dengan berbagai macam alasan bagaimana caranya riba bisa menjadi halal “menurut mereka”. Seakan ilmu yang didengar, dibaca, dan mereka peroleh hanya sebatas pengetahuan belaka. Sehingga larangan-larangan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tetap diterjang dan tidak mereka pedulikan, yang penting keuntungan dapat diperoleh dan dapat mereka nikmati.Ketahuilah, bahwasanya transaksi riba sama saja dengan mengundang azab Allah Ta’ala. Tidakkah mereka ingin mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إذا ظهرَ الزِّنا و الرِّبا في قَريةٍ ، فقد أَحَلُّوا بأنفسِهم عذابَ اللهِ“Apabila pada suatu kampung (tempat) telah tampak perbuatan zina dan riba, maka sejatinya mereka mengundang azab Allah untuk diri mereka sendiri.” (HR. Al-Hakim dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Dikarenakan maksiat dan dosa adalah pokok segala musibah dan keburukan di dunia dan akhirat, keduanya sebagai sebab terjadinya azab. Karenanya, pada hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dua perbuatan yang termasuk dosa besar, yaitu zina dan riba.Peringatan tentang riba pada hadis ini tertuju paling utama kepada pemberi pinjaman, peminjam, dan masyarakat yang menyaksikan praktek transaksi riba tersebut dan rida terhadap praktek tersebut dan tidak berusaha untuk mencegahnya. Hal tersebut diambil dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, “pada suatu kampung”.Yakni, jika transaksi riba telah meluas pada suatu kaum, kemudian mereka tidak menindak perbuatan tersebut, sejatinya mereka sedang bersama-sama untuk mengundang azab Allah Ta’ala ke tempat mereka. Sehingga yang paling utama adalah keberkahan akan dicabut dari tempat tersebut.Terlebih saat ini riba dibuat seolah-olah menarik dan tidak ada keharaman padanya. Dinamakanlah riba dengan “bunga”, seolah-olah tidak ada keharaman padanya dan berbentuk kesenangan ketika memperoleh “bunga”. Terkadang penggunaan kata “biaya adminstrasi” pun ikut serta dalam pengelabuan dari hakikat riba yang sesungguhnya.Oleh karena itu, para ulama menyebutkan sebuah kaidah untuk membantah hal-hal tersebut. Kaidah tersebut berbunyi,العِبْرَةُ بِالْحَقَائِقِ وَالْمَعَانِي لَا بِالْأَلْفَاظِ وَالْمَبَانِي“Yang menjadi patokan dalam suatu hal adalah hakikat dan makna sesungguhnya, bukan pada lafal (istilah) dan struktur kata-kata.” Sehingga yang menjadi patokan atau timbangan adalah bukan dari kata-kata (nama atau istilah) yang disampaikan, melainkan dari hakikatnya. Jika hakikatnya haram, maka bagaimanapun kata-kata digunakan untuk mengelabui, maka hukumnya tetaplah haram. Dari hal ini, dapat diketahui bahwasanya tidak mungkin Allah Ta’ala dan Rasul-Nya mengharamkan sesuatu kecuali terdapat hikmah dari hal tersebut.Hikmah diharamkannya ribaTerdapat banyak hikmah diharamkannya riba, di antaranya [1],Riba mengandung kezaliman yang jelas dan nyata. Terlebih dalam permasalahan riba dari utang-piutang, padanya terdapat perbuatan berupa mengambil harta orang lain tanpa adanya barang yang ditukar. Dari riba, pasti akan ada pihak yang dirugikan. Jika dalam hal utang piutang, tentu peminjam yang akan dirugikan, karena pinjamannya yang akan terus meningkat. Sedangkan pemberi pinjaman hanya menikmati hasil dari kelipatan riba yang diderita oleh peminjam.Riba mendidik manusia untuk bermalas-malasan dan tidak ingin berusaha dengan mencari rezeki yang halal. Karena cukup baginya menitipkan hartanya pada suatu tempat, kemudian riba berjalan padanya, sehingga ia akan mendapatkan keuntungan yang tetap. Dibandingkan ia harus berusaha dan bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halal.Oleh karena itu, orang-orang yang memakan riba ia akan terdidik dengan pola hidup yang demikian. Lama-kelamaan, tanpa sadar hartanya akan hancur dan tidak ada keberkahan sedikitpun dari setiap nominal yang bertambah.Riba dapat menghilangkan kebiasaan berbuat baik kepada sesama manusia. Di sisi lain, riba pun dapat menutup pintu tolong-menolong dan berbuat baik. Riba dapat mengantarkan kepada berkumpulnya harta pada tangan orang-orang tertentu, atau yang dikenal dengan istilah plutonomi.Dampaknya, yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Hal ini berangkat dari buruknya sistem transaksi riba. Kesenjangan ekonomi pun akan terus meningkat dan masyarakat akan terbagi menjadi dua, golongan yang kaya dan golongan yang miskin.Di dalam Al-Qur’an, tidak lah terdapat ayat dari tahdzir (peringatan) terhadap riba, kecuali sebelumnya atau sesudahnya terdapat ayat yang berisikan anjuran untuk bersedekah, berinfak, dan tidak melupakan kebutuhan orang-orang fakir. Sehingga dari hal tersebut dapat diambil sebuah pelajaran, bahwa harta seharusnya tidak hanya berputar pada orang-orang kaya saja; dan orang-orang yang kuat tidak semena-mena dengan orang-orang yang lemah. Begitupun yang kaya tidak semena-mena dengan yang orang-orang yang miskin.Riba merupakan salah satu penyebab tersebarnya pengangguran dan meluasnya fenomena tersebut di kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan karena pemilik modal lebih memilih untuk meminjamkan uang mereka dengan sistem riba daripada menginvestasikannya dalam proyek-proyek industri, pertanian, atau perdagangan. Akibatnya, peluang kerja menjadi lebih sedikit, sehingga pengangguran semakin meluas di masyarakat yang banyak terdapat praktik riba.Hal ini juga terbukti dari penderitaan yang dialami oleh negara-negara Barat yang menghadapi masalah pengangguran, meskipun mereka maju dalam teknologi dan industri. Beberapa penulis Barat telah menyampaikan fakta ini dan menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama meningkatnya pengangguran di masyarakat adalah meluasnya praktib riba.Riba merupakan di antara penyebab tinggi atau mahalnya harga-harga barang. Hal ini dikarenakan apabila pemilik modal menginvestasikan uangnya dalam industri, pertanian, atau dalam pembelian suatu properti, ia tidak akan rela menjual properti tersebut atau barang yang dihasilkannya, kecuali dengan keuntungan yang lebih besar daripada presentase riba. Semakin tinggi presentase riba, semakin mahal pula harga-harga. Oleh karena itu, riba adalah salah satu penyebab utama naiknya harga-harga.Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah dari terlarangnya riba. Pada akhirnya, riba diharamkan dikarenakan padanya terdapat mafsadat (kerusakan) dan madharat (bahaya). Tidak hanya merugikan person saja, namun riba dapat merugikan masyarakat, bahkan satu negara terkena dampaknya. Bukan suatu kedustaan jika dikatakan, dampak kerugian dari riba adalah dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 2***Depok, 28 Jumadal Ula 1447/ 18 November 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Diringkas dari video yang disampaikan oleh Syekh Sa’ad Al-Khatslan hafizahullah. 
Menjadi hal yang tidak lagi tabu akan riba dan hukumnya. Namun, bagi sebagian orang sulit untuk meninggalkan riba. Mereka beralasan dengan berbagai macam alasan bagaimana caranya riba bisa menjadi halal “menurut mereka”. Seakan ilmu yang didengar, dibaca, dan mereka peroleh hanya sebatas pengetahuan belaka. Sehingga larangan-larangan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tetap diterjang dan tidak mereka pedulikan, yang penting keuntungan dapat diperoleh dan dapat mereka nikmati.Ketahuilah, bahwasanya transaksi riba sama saja dengan mengundang azab Allah Ta’ala. Tidakkah mereka ingin mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إذا ظهرَ الزِّنا و الرِّبا في قَريةٍ ، فقد أَحَلُّوا بأنفسِهم عذابَ اللهِ“Apabila pada suatu kampung (tempat) telah tampak perbuatan zina dan riba, maka sejatinya mereka mengundang azab Allah untuk diri mereka sendiri.” (HR. Al-Hakim dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Dikarenakan maksiat dan dosa adalah pokok segala musibah dan keburukan di dunia dan akhirat, keduanya sebagai sebab terjadinya azab. Karenanya, pada hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dua perbuatan yang termasuk dosa besar, yaitu zina dan riba.Peringatan tentang riba pada hadis ini tertuju paling utama kepada pemberi pinjaman, peminjam, dan masyarakat yang menyaksikan praktek transaksi riba tersebut dan rida terhadap praktek tersebut dan tidak berusaha untuk mencegahnya. Hal tersebut diambil dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, “pada suatu kampung”.Yakni, jika transaksi riba telah meluas pada suatu kaum, kemudian mereka tidak menindak perbuatan tersebut, sejatinya mereka sedang bersama-sama untuk mengundang azab Allah Ta’ala ke tempat mereka. Sehingga yang paling utama adalah keberkahan akan dicabut dari tempat tersebut.Terlebih saat ini riba dibuat seolah-olah menarik dan tidak ada keharaman padanya. Dinamakanlah riba dengan “bunga”, seolah-olah tidak ada keharaman padanya dan berbentuk kesenangan ketika memperoleh “bunga”. Terkadang penggunaan kata “biaya adminstrasi” pun ikut serta dalam pengelabuan dari hakikat riba yang sesungguhnya.Oleh karena itu, para ulama menyebutkan sebuah kaidah untuk membantah hal-hal tersebut. Kaidah tersebut berbunyi,العِبْرَةُ بِالْحَقَائِقِ وَالْمَعَانِي لَا بِالْأَلْفَاظِ وَالْمَبَانِي“Yang menjadi patokan dalam suatu hal adalah hakikat dan makna sesungguhnya, bukan pada lafal (istilah) dan struktur kata-kata.” Sehingga yang menjadi patokan atau timbangan adalah bukan dari kata-kata (nama atau istilah) yang disampaikan, melainkan dari hakikatnya. Jika hakikatnya haram, maka bagaimanapun kata-kata digunakan untuk mengelabui, maka hukumnya tetaplah haram. Dari hal ini, dapat diketahui bahwasanya tidak mungkin Allah Ta’ala dan Rasul-Nya mengharamkan sesuatu kecuali terdapat hikmah dari hal tersebut.Hikmah diharamkannya ribaTerdapat banyak hikmah diharamkannya riba, di antaranya [1],Riba mengandung kezaliman yang jelas dan nyata. Terlebih dalam permasalahan riba dari utang-piutang, padanya terdapat perbuatan berupa mengambil harta orang lain tanpa adanya barang yang ditukar. Dari riba, pasti akan ada pihak yang dirugikan. Jika dalam hal utang piutang, tentu peminjam yang akan dirugikan, karena pinjamannya yang akan terus meningkat. Sedangkan pemberi pinjaman hanya menikmati hasil dari kelipatan riba yang diderita oleh peminjam.Riba mendidik manusia untuk bermalas-malasan dan tidak ingin berusaha dengan mencari rezeki yang halal. Karena cukup baginya menitipkan hartanya pada suatu tempat, kemudian riba berjalan padanya, sehingga ia akan mendapatkan keuntungan yang tetap. Dibandingkan ia harus berusaha dan bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halal.Oleh karena itu, orang-orang yang memakan riba ia akan terdidik dengan pola hidup yang demikian. Lama-kelamaan, tanpa sadar hartanya akan hancur dan tidak ada keberkahan sedikitpun dari setiap nominal yang bertambah.Riba dapat menghilangkan kebiasaan berbuat baik kepada sesama manusia. Di sisi lain, riba pun dapat menutup pintu tolong-menolong dan berbuat baik. Riba dapat mengantarkan kepada berkumpulnya harta pada tangan orang-orang tertentu, atau yang dikenal dengan istilah plutonomi.Dampaknya, yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Hal ini berangkat dari buruknya sistem transaksi riba. Kesenjangan ekonomi pun akan terus meningkat dan masyarakat akan terbagi menjadi dua, golongan yang kaya dan golongan yang miskin.Di dalam Al-Qur’an, tidak lah terdapat ayat dari tahdzir (peringatan) terhadap riba, kecuali sebelumnya atau sesudahnya terdapat ayat yang berisikan anjuran untuk bersedekah, berinfak, dan tidak melupakan kebutuhan orang-orang fakir. Sehingga dari hal tersebut dapat diambil sebuah pelajaran, bahwa harta seharusnya tidak hanya berputar pada orang-orang kaya saja; dan orang-orang yang kuat tidak semena-mena dengan orang-orang yang lemah. Begitupun yang kaya tidak semena-mena dengan yang orang-orang yang miskin.Riba merupakan salah satu penyebab tersebarnya pengangguran dan meluasnya fenomena tersebut di kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan karena pemilik modal lebih memilih untuk meminjamkan uang mereka dengan sistem riba daripada menginvestasikannya dalam proyek-proyek industri, pertanian, atau perdagangan. Akibatnya, peluang kerja menjadi lebih sedikit, sehingga pengangguran semakin meluas di masyarakat yang banyak terdapat praktik riba.Hal ini juga terbukti dari penderitaan yang dialami oleh negara-negara Barat yang menghadapi masalah pengangguran, meskipun mereka maju dalam teknologi dan industri. Beberapa penulis Barat telah menyampaikan fakta ini dan menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama meningkatnya pengangguran di masyarakat adalah meluasnya praktib riba.Riba merupakan di antara penyebab tinggi atau mahalnya harga-harga barang. Hal ini dikarenakan apabila pemilik modal menginvestasikan uangnya dalam industri, pertanian, atau dalam pembelian suatu properti, ia tidak akan rela menjual properti tersebut atau barang yang dihasilkannya, kecuali dengan keuntungan yang lebih besar daripada presentase riba. Semakin tinggi presentase riba, semakin mahal pula harga-harga. Oleh karena itu, riba adalah salah satu penyebab utama naiknya harga-harga.Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah dari terlarangnya riba. Pada akhirnya, riba diharamkan dikarenakan padanya terdapat mafsadat (kerusakan) dan madharat (bahaya). Tidak hanya merugikan person saja, namun riba dapat merugikan masyarakat, bahkan satu negara terkena dampaknya. Bukan suatu kedustaan jika dikatakan, dampak kerugian dari riba adalah dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 2***Depok, 28 Jumadal Ula 1447/ 18 November 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Diringkas dari video yang disampaikan oleh Syekh Sa’ad Al-Khatslan hafizahullah. 


Menjadi hal yang tidak lagi tabu akan riba dan hukumnya. Namun, bagi sebagian orang sulit untuk meninggalkan riba. Mereka beralasan dengan berbagai macam alasan bagaimana caranya riba bisa menjadi halal “menurut mereka”. Seakan ilmu yang didengar, dibaca, dan mereka peroleh hanya sebatas pengetahuan belaka. Sehingga larangan-larangan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tetap diterjang dan tidak mereka pedulikan, yang penting keuntungan dapat diperoleh dan dapat mereka nikmati.Ketahuilah, bahwasanya transaksi riba sama saja dengan mengundang azab Allah Ta’ala. Tidakkah mereka ingin mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إذا ظهرَ الزِّنا و الرِّبا في قَريةٍ ، فقد أَحَلُّوا بأنفسِهم عذابَ اللهِ“Apabila pada suatu kampung (tempat) telah tampak perbuatan zina dan riba, maka sejatinya mereka mengundang azab Allah untuk diri mereka sendiri.” (HR. Al-Hakim dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Dikarenakan maksiat dan dosa adalah pokok segala musibah dan keburukan di dunia dan akhirat, keduanya sebagai sebab terjadinya azab. Karenanya, pada hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dua perbuatan yang termasuk dosa besar, yaitu zina dan riba.Peringatan tentang riba pada hadis ini tertuju paling utama kepada pemberi pinjaman, peminjam, dan masyarakat yang menyaksikan praktek transaksi riba tersebut dan rida terhadap praktek tersebut dan tidak berusaha untuk mencegahnya. Hal tersebut diambil dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, “pada suatu kampung”.Yakni, jika transaksi riba telah meluas pada suatu kaum, kemudian mereka tidak menindak perbuatan tersebut, sejatinya mereka sedang bersama-sama untuk mengundang azab Allah Ta’ala ke tempat mereka. Sehingga yang paling utama adalah keberkahan akan dicabut dari tempat tersebut.Terlebih saat ini riba dibuat seolah-olah menarik dan tidak ada keharaman padanya. Dinamakanlah riba dengan “bunga”, seolah-olah tidak ada keharaman padanya dan berbentuk kesenangan ketika memperoleh “bunga”. Terkadang penggunaan kata “biaya adminstrasi” pun ikut serta dalam pengelabuan dari hakikat riba yang sesungguhnya.Oleh karena itu, para ulama menyebutkan sebuah kaidah untuk membantah hal-hal tersebut. Kaidah tersebut berbunyi,العِبْرَةُ بِالْحَقَائِقِ وَالْمَعَانِي لَا بِالْأَلْفَاظِ وَالْمَبَانِي“Yang menjadi patokan dalam suatu hal adalah hakikat dan makna sesungguhnya, bukan pada lafal (istilah) dan struktur kata-kata.” Sehingga yang menjadi patokan atau timbangan adalah bukan dari kata-kata (nama atau istilah) yang disampaikan, melainkan dari hakikatnya. Jika hakikatnya haram, maka bagaimanapun kata-kata digunakan untuk mengelabui, maka hukumnya tetaplah haram. Dari hal ini, dapat diketahui bahwasanya tidak mungkin Allah Ta’ala dan Rasul-Nya mengharamkan sesuatu kecuali terdapat hikmah dari hal tersebut.Hikmah diharamkannya ribaTerdapat banyak hikmah diharamkannya riba, di antaranya [1],Riba mengandung kezaliman yang jelas dan nyata. Terlebih dalam permasalahan riba dari utang-piutang, padanya terdapat perbuatan berupa mengambil harta orang lain tanpa adanya barang yang ditukar. Dari riba, pasti akan ada pihak yang dirugikan. Jika dalam hal utang piutang, tentu peminjam yang akan dirugikan, karena pinjamannya yang akan terus meningkat. Sedangkan pemberi pinjaman hanya menikmati hasil dari kelipatan riba yang diderita oleh peminjam.Riba mendidik manusia untuk bermalas-malasan dan tidak ingin berusaha dengan mencari rezeki yang halal. Karena cukup baginya menitipkan hartanya pada suatu tempat, kemudian riba berjalan padanya, sehingga ia akan mendapatkan keuntungan yang tetap. Dibandingkan ia harus berusaha dan bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halal.Oleh karena itu, orang-orang yang memakan riba ia akan terdidik dengan pola hidup yang demikian. Lama-kelamaan, tanpa sadar hartanya akan hancur dan tidak ada keberkahan sedikitpun dari setiap nominal yang bertambah.Riba dapat menghilangkan kebiasaan berbuat baik kepada sesama manusia. Di sisi lain, riba pun dapat menutup pintu tolong-menolong dan berbuat baik. Riba dapat mengantarkan kepada berkumpulnya harta pada tangan orang-orang tertentu, atau yang dikenal dengan istilah plutonomi.Dampaknya, yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Hal ini berangkat dari buruknya sistem transaksi riba. Kesenjangan ekonomi pun akan terus meningkat dan masyarakat akan terbagi menjadi dua, golongan yang kaya dan golongan yang miskin.Di dalam Al-Qur’an, tidak lah terdapat ayat dari tahdzir (peringatan) terhadap riba, kecuali sebelumnya atau sesudahnya terdapat ayat yang berisikan anjuran untuk bersedekah, berinfak, dan tidak melupakan kebutuhan orang-orang fakir. Sehingga dari hal tersebut dapat diambil sebuah pelajaran, bahwa harta seharusnya tidak hanya berputar pada orang-orang kaya saja; dan orang-orang yang kuat tidak semena-mena dengan orang-orang yang lemah. Begitupun yang kaya tidak semena-mena dengan yang orang-orang yang miskin.Riba merupakan salah satu penyebab tersebarnya pengangguran dan meluasnya fenomena tersebut di kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan karena pemilik modal lebih memilih untuk meminjamkan uang mereka dengan sistem riba daripada menginvestasikannya dalam proyek-proyek industri, pertanian, atau perdagangan. Akibatnya, peluang kerja menjadi lebih sedikit, sehingga pengangguran semakin meluas di masyarakat yang banyak terdapat praktik riba.Hal ini juga terbukti dari penderitaan yang dialami oleh negara-negara Barat yang menghadapi masalah pengangguran, meskipun mereka maju dalam teknologi dan industri. Beberapa penulis Barat telah menyampaikan fakta ini dan menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama meningkatnya pengangguran di masyarakat adalah meluasnya praktib riba.Riba merupakan di antara penyebab tinggi atau mahalnya harga-harga barang. Hal ini dikarenakan apabila pemilik modal menginvestasikan uangnya dalam industri, pertanian, atau dalam pembelian suatu properti, ia tidak akan rela menjual properti tersebut atau barang yang dihasilkannya, kecuali dengan keuntungan yang lebih besar daripada presentase riba. Semakin tinggi presentase riba, semakin mahal pula harga-harga. Oleh karena itu, riba adalah salah satu penyebab utama naiknya harga-harga.Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah dari terlarangnya riba. Pada akhirnya, riba diharamkan dikarenakan padanya terdapat mafsadat (kerusakan) dan madharat (bahaya). Tidak hanya merugikan person saja, namun riba dapat merugikan masyarakat, bahkan satu negara terkena dampaknya. Bukan suatu kedustaan jika dikatakan, dampak kerugian dari riba adalah dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 2***Depok, 28 Jumadal Ula 1447/ 18 November 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Diringkas dari video yang disampaikan oleh Syekh Sa’ad Al-Khatslan hafizahullah. 

Sakaratul Maut dan Penyesalan atas Kesempatan yang Luput

سكرة الموت وحسرة الفوت Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين؛ أما بعد: فالموت نهاية كل حيٍّ؛ قال الله عز وجل: ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ﴾ [آل عمران: 185]، والموت من أعظم المصائب التي تصيب الإنسان في دنياه؛ قال الإمام القرطبي رحمه الله: “الموت من أعظم المصائب”، وقد سماه الله تعالى مصيبة في قوله: ﴿ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ ﴾ [المائدة: 106]، فالموت هو المصيبة العظمى، والرزية الكبرى؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “وأعظم الشدائد التي تنزل بالعبد في الدنيا الموت، وما بعده أشد منه إن لم يكن مصير العبد إلى خير”. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Kematian adalah akhir bagi setiap makhluk hidup. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Kematian merupakan musibah terbesar yang menimpa manusia di dunia. Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata, “Kematian merupakan salah satu musibah terbesar.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menyebut kematian sebagai musibah, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya: فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ “lalu kamu ditimpa musibah kematian” (QS. Al-Maidah: 106). Kematian merupakan musibah teragung dan bencana terbesar. Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Musibah terbesar yang menimpa seorang hamba di dunia adalah kematian. Adapun setelahnya dapat menjadi musibah yang lebih besar jika tempat kesudahannya tidak baik (neraka).” للموت سكرات؛ فقد ثبت في الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه لما تغشَّاه الموت، كانت بين يديه ركوة أو علبة من الماء، فجعل يدخل يديه في الماء، ويمسح بهما وجهه، ويقول: ((لا إله إلا الله، إن للموت سكرات))، فالموت له سكرات شديدة، ولهذا قالت أم المؤمنين عائشة رضي الله عنهما: ((ما أغبط أحدًا بهون موتٍ، بعد الذي رأيت من شدة موت النبي صلى الله عليه وسلم))؛ [أخرجه الترمذي]. Kematian akan diawali dengan sakarat. Diriwayatkan dalam “Ash-Shahih” dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, bahwa ketika kematian mulai meliputinya, terdapat wadah air di depan beliau. Kemudian beliau mencelupkan kedua tangan beliau ke dalam air lalu mengusapkannya ke wajahnya, seraya bersabda, “Laa ilaaha illallah! Sungguh kematian itu ada sekaratnya!” Jadi kematian itu ada sekaratnya yang begitu berat. Oleh sebab itu, Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Saya tidak pernah lagi merasa iri terhadap seorang pun yang kematiannya mudah, setelah saya menyaksikan beratnya kematian yang dialami Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.” (HR. At-Tirmidzi). قال الإمام القرطبي رحمه الله: “يُروَى أن الحسن البصري دخل على مريض يعوده، فوجده في سكرات الموت، فنظر إلى كربه، وشدة ما نزل به، فرجع إلى أهله، بغير اللون الذي خرج به من عندهم، فقالوا له: الطعام يرحمك الله، فقال: يا أهلاه عليكم بطعامكم وشرابكم، فوالله لقد رأيت مصرعًا لا أزال أعمل له حتى ألقاه”. وروى ابن أبي الدنيا بإسناده عنه، أنه قال: “أشد ما يكون الموت على العبد، إذا بلغت الروحُ التراقي… فعند ذلك يضطربُ ويعلو نَفَسُهُ، ثم بكى الحسن البصري رحمه الله”. Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata, “Dikisahkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri pernah menjenguk orang sakit, dan mendapatinya sedang mengalami sakaratul maut. Beliau melihat musibah dan kesulitan yang sedang ia alami, sehingga beliau segera kembali pulang ke keluarganya dengan wajah yang berbeda dari wajahnya ketika pergi. Keluarganya berkata kepadanya, ‘Makanlah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatimu!’ Beliau menjawab, ‘Wahai keluargaku! Nikmati saja makanan dan minuman kalian! Karena demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, aku baru saja melihat kematian yang aku terus beramal untuk mempersiapkan kedatangannya, hingga aku berjumpa dengannya.” Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dari jalurnya dari Al-Hasan Al-Bashri bahwa ia pernah berkata, “Hal terberat bagi seorang hamba ketika meninggal dunia adalah saat nyawa sampai di kerongkongan, ketika itu napasnya akan berderu.” Lalu Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah menangis. والعبد الموفق المسدد من لا يجمع على نفسه: سكرة الموت، وحسرة الفوت بتفريطه في طاعة الله، فبعض الناس تجتمع عليه سكرة الموت، وحسرة الفوت؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “قال الحسن: اتقِ الله يا ابن آدم، لا يجتمع عليك خصلتين، سكرة الموت، وحسرة الفوت”. Hamba yang mendapat taufik dan petunjuk adalah orang yang tidak mengumpulkan dalam dirinya beratnya sakaratul maut dan penyesalan atas kesempatan yang terlewat, akibat kelalaiannya terhadap ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada sebagian orang yang memang mendapat sakaratul maut sekaligus penyesalan atas terlewatnya kesempatan. Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata bahwa Hasan berkata, “Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, wahai anak Adam! Jangan sampai terkumpul pada dirimu sakaratul maut dan penyesalan atas kesempatan yang terlewat!” وقال ابن السماك: “احذر السكرة والحسرة أن يفجأك الموتُ، وأنت على الغرة، فلا يصف واصف قدر ما تلقى ولا قدر ما ترى”. Ibnu As-Sammak berkata, “Berhati-hatilah terhadap sakaratul maut dan penyesalan, yaitu kematian menghampirimu secara tiba-tiba ketika kamu sedang dalam kelalaian, sehingga orang-orang tidak dapat menggambarkan betapa beratnya apa yang kamu temui dan saksikan!” قال الله عز وجل: ﴿ حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴾ [المؤمنون: 99، 100]؛ قال العلامة عبدالرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله: “يخبر تعالى عن حال من حضره الموت من المفرطين الظالمين أنه يندم في تلك الحال، إذا رأى مآله وشاهد قبح أعماله، فيطلب الرجعة إلى الدنيا، لا للتمتع بلذاتها واقتطاف شهواتها، وإنما ذلك ليقول: ﴿ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ﴾ [المؤمنون: 100] من العمل وفرطت في جنب الله. وقال الله سبحانه وتعالى: ﴿ وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴾ [المنافقون: 10، 11]. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mu’minun: 99-100). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang-orang lalai dan zalim yang dijemput oleh kematian, bahwa ia akan menyesal saat itu apabila telah melihat tempat kembalinya dan menyaksikan buruknya amalan-amalannya, sehingga ia memohon untuk dikembalikan ke dunia, bukan untuk bersenang-senang dengan kenikmatannya dan melampiaskan syahwat-syahwatnya, tapi untuk ucapan mereka, ‘agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.’ Yakni amal saleh yang telah aku lalaikan.” Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.” Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Munafiqun: 10-11). يتحسر المفرط على ما فرط، ويسأل الرجعة التي هي محال، ليعمل صالحًا بأداء المأمورات واجتناب المنهيات، لينجو من العذاب؛ قال الحافظ ابن كثير رحمه الله: “فكل مفرط يندم عند الاحتضار، ويسأل طول المدة، ولو شيئًا يسيرًا، ليستعتب ويستدرك ما فاته، وهيهات”. Orang yang lalai akan menyesal atas kelalaiannya dan meminta agar dapat kembali ke dunia – padahal itu mustahil – agar dapat beramal shaleh dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga ia dapat selamat dari azab. Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Setiap orang yang lalai akan menyesal saat kematian menghampirinya, dan memohon waktu tambahan meskipun hanya sejenak, agar ia dapat mengganti dan mengejar apa yang telah ia lewatkan. Namun, itu tidak mungkin.” فالبِدار البدار قبل الندم والحسرة؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “واعلم أن الإنسان ما دام يؤملُ الحياة، فإنه لا ينقطع أمله من الدنيا، وقد لا تسمح له نفسه بالإقلاع عن لذاتها وشهواتها من المعاصي وغيرها، ويُرجيه الشيطان التوبة في آخر عمره، فإذا تيقن الموت، وأيس من الحياة، أفاق من سكرته بشهوات الدنيا، فندم حينئذٍ على تفريطه ندامة يكادُ يقتل نفسه، وطلب الرجعة إلى الدنيا ليتوب ويعمل صالحًا، فلا يجابُ إلى شيءٍ من ذلك، فيجتمعُ عليه سكرة الموت مع حسرة الفوت”. Oleh sebab itu, bersegeralah sebelum datang penyesalan dan kekecewaan! Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa selagi manusia itu masih berharap hidup, harapannya terhadap dunia tidak akan putus. Dan terkadang, jiwanya tidak mengizinkannya untuk melepaskan diri dari kenikmatan dan syahwat duniawi yang berupa kemaksiatan dan lain sebagainya. Setan akan mengajaknya untuk menunda tobat hingga akhir umurnya. Lalu ketika kematian benar-benar telah menjadi hal pasti baginya dan telah putus asa dari kehidupan, ia tersadar dari mabuk dunianya, sehingga ketika itu ia menyesal atas kelalaiannya dengan penyesalan yang hampir membinasakan. Ia lalu memohon agar dikembalikan ke dunia agar dapat bertobat dan beramal saleh, tapi itu sama sekali tidak akan dikabulkan, sehingga terkumpul pada dirinya sakaratul maut dan penyesalan atas kesempatan yang luput. فحريٌّ بكل مسلم أن يكثر من ذكر الموت، وأن يستعد له؛ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أكثروا ذكر هاذم اللذات))؛ يعني: الموت؛ [أخرجه الترمذي]؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “الواجب على المؤمن الاستعداد للموت وما بعده في حالة الصحة بالتقوى والأعمال الصالحة؛ قال الله عز وجل: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ * وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴾ [الحشر: 18، 19]”. Oleh karenanya, hendaklah setiap muslim banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan.” Yakni kematian. (HR. At-Tirmidzi).  Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Wajib bagi setiap mukmin untuk menyiapkan diri dalam menyambut kematian dan peristiwa-peristiwa setelahnya ketika ia masih dalam keadaan sehat, dengan bertakwa dan beramal shaleh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ * وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18-19). فالحذر من الغفلة عن الموت؛ قال الإمام ابن قدامة المقدسي رحمه الله: “خطر الموت عظيم، وإنما غفل الناس عنه لقلة فكرهم وذكرهم له، ومن بذكره منهم إنما يذكره بقلب غافل؛ فلهذا لا ينجع فيه ذكر الموت، والطريق إلى ذلك أن يفرغ العبد قلبه لذكر الموت كالذي يريد أن يسافر إلى مفازة مخطرة، أو يركب البحر، فإنه لا يتفكر إلا في ذلك، وأنفع طريق في ذلك ذكر أشكاله وأقرانه الذين مضوا قبله، فيذكر موتهم ومصارعهم تحت الثرى”، وقال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “غاية أمنية الموتى في قبورهم حياة ساعة يستدركون فيها ما فاتهم من توبة وعمل صالح، وأهل الدنيا يفرطون في حياتهم، فتذهب أعمارهم في الغفلة ضياعًا، ومنهم من يقطعها بالمعاصي”. Janganlah lalai dari kematian. Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Rahimahullah berkata, “Bahaya kematian amat besar. Sedangkan manusia lalai darinya karena begitu jarang mereka memikirkan dan mengingatnya, adapun orang yang mengingatnya, juga mengingatnya dengan hati yang lalai. Oleh sebab itu, mengingat mati tidak memberi pengaruh kepadanya. Cara agar itu menjadi bermanfaat adalah dengan memfokuskan hati untuk mengingat kematian, seperti orang yang hendak melakukan perjalanan melalui padang pasir yang mematikan atau menyeberangi lautan, ia tidak akan memikirkan hal lain selain perjalanannya itu. kemudian cara terbaiknya adalah dengan merenungi orang-orang sebaya dan semisalnya yang telah pergi mendahului, merenungi kematian dan tempat kesudahan mereka di bawah tanah.” Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Puncak keinginan orang-orang mati di alam kubur mereka adalah dapat kembali hidup sejenak untuk mengejar apa yang dulu telah mereka lewatkan yang berupa tobat dan amal saleh. Sedangkan orang-orang yang masih hidup justru melalaikan kehidupan mereka, sehingga umur mereka terbuang sia-sia dalam kelalaian, dan bahkan sebagian mereka menggunakannya dalam kemaksiatan.” فهل من مستفيق من غفلته، ومفيق من سكرته، وخائف من صرعته، قبل أن يقول عند مفارقة هذا العالم: ﴿ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي ﴾ [الفجر: 24]، و﴿ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ ﴾ [الزمر: 56]؟! قال العلامة ابن القيم رحمه الله: والعجب كل العجب من غفلة من تُعد لحظاته، وتُحصى عليه أنفاسه، ومطايا الليل والنهار تسرع به، ولا يتفكر إلى أين يُحمل، ولا أي منزل يُنقل. Adakah orang yang bangun dari kelalaiannya, tersadar dari mabuknya, dan takut dari kematiannya sebelum ia berucap saat berpisah dengan alam dunia ini, “Duhai sekiranya dulu aku mengerjakan (kebaikan) untuk hidupku (di akhirat) ini!” (QS. Al-Fajr: 24), atau berseru, “Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menjalankan kewajiban dari Allah.” (QS. Az-Zumar: 56). Syaikh Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Sungguh-sungguh mengherankan, lalainya orang yang umur singkatnya terhitung, nafas-nafasnya terbilang, serta siang dan malamnya begitu cepat hilang, sedangkan ia tidak memikirkan ke mana kelak ia akan dibawa dan ke rumah mana ia akan dipindahkan?!” وإذا نزل بأحدهم الموت قلِق لخراب ذاته وذهاب لذاته، لا لما سبق من جناياته، ولا لسوء منقلبه بعد مماته، فإن خطرت على قلب أحدهم خطرة من ذلك، اعتمد على العفو والرحمة، كأنه يتقين أن ذلك نصيبه ولا بد. فلو أن العاقل أحضر ذهنه، واستحضر عقله، وسار بفكره، وأنعم النظر وتأمل الآيات – لفهِم المراد من إيجاده، ولنظرت عين الراحل إلى الطريق، ولأخذ المسافر في التزود، والمريض في التداوي. Apabila salah satu dari mereka telah dihampiri kematian, ia sedih karena hancur sudah kenikmatannya, bukan karena dosa-dosa yang telah ia lakukan atau buruknya tempat kembali setelah kematian. Namun, apabila terlintas dalam hati salah satu dari mereka pikiran-pikiran tentang ini, ia segera mengandalkan ampunan dan rahmat Tuhan, seakan-akan ia yakin bahwa ia memang berhak mendapatkannya. Seandainya orang berakal menggunakan pikirannya, menghadirkan akalnya, konsisten melakukannya, serta memperdalam penghayatannya, niscaya ia akan memahami maksud dari penciptaannya, dan pasti orang itu melihat jalan yang harus ia tempuh, musafir itu akan menyiapkan bekal, dan orang sakit itu akan mencari penawar. والحازم يعد لما يجوز أن يأتي، فما الظن بأمر متيقن؟ فرحم الله عبدًا ذُكِّر فاتعظ، واستمع فانزجر، اللهم أكرمنا بالخاتمة الحسنة. Orang yang serius akan menyiapkan diri atas sesuatu yang mungkin terjadi, apalagi atas sesuatu yang pasti terjadi. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati hamba yang apabila diingatkan akan teringat dan apabila mendengar nasihat akan tersadar. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami husnul khatimah, akhir kehidupan yang baik! Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/150830/سكرة-الموت-وحسرة-الفوت/ Sumber artikel PDF 🔍 Tulisan In Shaa Allah, Ayat Kursi Gambar, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Catur Haram, Cewek Tidur Ngangkang Visited 18 times, 5 visit(s) today Post Views: 5 QRIS donasi Yufid

Sakaratul Maut dan Penyesalan atas Kesempatan yang Luput

سكرة الموت وحسرة الفوت Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين؛ أما بعد: فالموت نهاية كل حيٍّ؛ قال الله عز وجل: ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ﴾ [آل عمران: 185]، والموت من أعظم المصائب التي تصيب الإنسان في دنياه؛ قال الإمام القرطبي رحمه الله: “الموت من أعظم المصائب”، وقد سماه الله تعالى مصيبة في قوله: ﴿ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ ﴾ [المائدة: 106]، فالموت هو المصيبة العظمى، والرزية الكبرى؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “وأعظم الشدائد التي تنزل بالعبد في الدنيا الموت، وما بعده أشد منه إن لم يكن مصير العبد إلى خير”. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Kematian adalah akhir bagi setiap makhluk hidup. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Kematian merupakan musibah terbesar yang menimpa manusia di dunia. Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata, “Kematian merupakan salah satu musibah terbesar.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menyebut kematian sebagai musibah, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya: فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ “lalu kamu ditimpa musibah kematian” (QS. Al-Maidah: 106). Kematian merupakan musibah teragung dan bencana terbesar. Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Musibah terbesar yang menimpa seorang hamba di dunia adalah kematian. Adapun setelahnya dapat menjadi musibah yang lebih besar jika tempat kesudahannya tidak baik (neraka).” للموت سكرات؛ فقد ثبت في الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه لما تغشَّاه الموت، كانت بين يديه ركوة أو علبة من الماء، فجعل يدخل يديه في الماء، ويمسح بهما وجهه، ويقول: ((لا إله إلا الله، إن للموت سكرات))، فالموت له سكرات شديدة، ولهذا قالت أم المؤمنين عائشة رضي الله عنهما: ((ما أغبط أحدًا بهون موتٍ، بعد الذي رأيت من شدة موت النبي صلى الله عليه وسلم))؛ [أخرجه الترمذي]. Kematian akan diawali dengan sakarat. Diriwayatkan dalam “Ash-Shahih” dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, bahwa ketika kematian mulai meliputinya, terdapat wadah air di depan beliau. Kemudian beliau mencelupkan kedua tangan beliau ke dalam air lalu mengusapkannya ke wajahnya, seraya bersabda, “Laa ilaaha illallah! Sungguh kematian itu ada sekaratnya!” Jadi kematian itu ada sekaratnya yang begitu berat. Oleh sebab itu, Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Saya tidak pernah lagi merasa iri terhadap seorang pun yang kematiannya mudah, setelah saya menyaksikan beratnya kematian yang dialami Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.” (HR. At-Tirmidzi). قال الإمام القرطبي رحمه الله: “يُروَى أن الحسن البصري دخل على مريض يعوده، فوجده في سكرات الموت، فنظر إلى كربه، وشدة ما نزل به، فرجع إلى أهله، بغير اللون الذي خرج به من عندهم، فقالوا له: الطعام يرحمك الله، فقال: يا أهلاه عليكم بطعامكم وشرابكم، فوالله لقد رأيت مصرعًا لا أزال أعمل له حتى ألقاه”. وروى ابن أبي الدنيا بإسناده عنه، أنه قال: “أشد ما يكون الموت على العبد، إذا بلغت الروحُ التراقي… فعند ذلك يضطربُ ويعلو نَفَسُهُ، ثم بكى الحسن البصري رحمه الله”. Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata, “Dikisahkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri pernah menjenguk orang sakit, dan mendapatinya sedang mengalami sakaratul maut. Beliau melihat musibah dan kesulitan yang sedang ia alami, sehingga beliau segera kembali pulang ke keluarganya dengan wajah yang berbeda dari wajahnya ketika pergi. Keluarganya berkata kepadanya, ‘Makanlah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatimu!’ Beliau menjawab, ‘Wahai keluargaku! Nikmati saja makanan dan minuman kalian! Karena demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, aku baru saja melihat kematian yang aku terus beramal untuk mempersiapkan kedatangannya, hingga aku berjumpa dengannya.” Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dari jalurnya dari Al-Hasan Al-Bashri bahwa ia pernah berkata, “Hal terberat bagi seorang hamba ketika meninggal dunia adalah saat nyawa sampai di kerongkongan, ketika itu napasnya akan berderu.” Lalu Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah menangis. والعبد الموفق المسدد من لا يجمع على نفسه: سكرة الموت، وحسرة الفوت بتفريطه في طاعة الله، فبعض الناس تجتمع عليه سكرة الموت، وحسرة الفوت؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “قال الحسن: اتقِ الله يا ابن آدم، لا يجتمع عليك خصلتين، سكرة الموت، وحسرة الفوت”. Hamba yang mendapat taufik dan petunjuk adalah orang yang tidak mengumpulkan dalam dirinya beratnya sakaratul maut dan penyesalan atas kesempatan yang terlewat, akibat kelalaiannya terhadap ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada sebagian orang yang memang mendapat sakaratul maut sekaligus penyesalan atas terlewatnya kesempatan. Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata bahwa Hasan berkata, “Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, wahai anak Adam! Jangan sampai terkumpul pada dirimu sakaratul maut dan penyesalan atas kesempatan yang terlewat!” وقال ابن السماك: “احذر السكرة والحسرة أن يفجأك الموتُ، وأنت على الغرة، فلا يصف واصف قدر ما تلقى ولا قدر ما ترى”. Ibnu As-Sammak berkata, “Berhati-hatilah terhadap sakaratul maut dan penyesalan, yaitu kematian menghampirimu secara tiba-tiba ketika kamu sedang dalam kelalaian, sehingga orang-orang tidak dapat menggambarkan betapa beratnya apa yang kamu temui dan saksikan!” قال الله عز وجل: ﴿ حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴾ [المؤمنون: 99، 100]؛ قال العلامة عبدالرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله: “يخبر تعالى عن حال من حضره الموت من المفرطين الظالمين أنه يندم في تلك الحال، إذا رأى مآله وشاهد قبح أعماله، فيطلب الرجعة إلى الدنيا، لا للتمتع بلذاتها واقتطاف شهواتها، وإنما ذلك ليقول: ﴿ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ﴾ [المؤمنون: 100] من العمل وفرطت في جنب الله. وقال الله سبحانه وتعالى: ﴿ وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴾ [المنافقون: 10، 11]. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mu’minun: 99-100). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang-orang lalai dan zalim yang dijemput oleh kematian, bahwa ia akan menyesal saat itu apabila telah melihat tempat kembalinya dan menyaksikan buruknya amalan-amalannya, sehingga ia memohon untuk dikembalikan ke dunia, bukan untuk bersenang-senang dengan kenikmatannya dan melampiaskan syahwat-syahwatnya, tapi untuk ucapan mereka, ‘agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.’ Yakni amal saleh yang telah aku lalaikan.” Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.” Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Munafiqun: 10-11). يتحسر المفرط على ما فرط، ويسأل الرجعة التي هي محال، ليعمل صالحًا بأداء المأمورات واجتناب المنهيات، لينجو من العذاب؛ قال الحافظ ابن كثير رحمه الله: “فكل مفرط يندم عند الاحتضار، ويسأل طول المدة، ولو شيئًا يسيرًا، ليستعتب ويستدرك ما فاته، وهيهات”. Orang yang lalai akan menyesal atas kelalaiannya dan meminta agar dapat kembali ke dunia – padahal itu mustahil – agar dapat beramal shaleh dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga ia dapat selamat dari azab. Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Setiap orang yang lalai akan menyesal saat kematian menghampirinya, dan memohon waktu tambahan meskipun hanya sejenak, agar ia dapat mengganti dan mengejar apa yang telah ia lewatkan. Namun, itu tidak mungkin.” فالبِدار البدار قبل الندم والحسرة؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “واعلم أن الإنسان ما دام يؤملُ الحياة، فإنه لا ينقطع أمله من الدنيا، وقد لا تسمح له نفسه بالإقلاع عن لذاتها وشهواتها من المعاصي وغيرها، ويُرجيه الشيطان التوبة في آخر عمره، فإذا تيقن الموت، وأيس من الحياة، أفاق من سكرته بشهوات الدنيا، فندم حينئذٍ على تفريطه ندامة يكادُ يقتل نفسه، وطلب الرجعة إلى الدنيا ليتوب ويعمل صالحًا، فلا يجابُ إلى شيءٍ من ذلك، فيجتمعُ عليه سكرة الموت مع حسرة الفوت”. Oleh sebab itu, bersegeralah sebelum datang penyesalan dan kekecewaan! Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa selagi manusia itu masih berharap hidup, harapannya terhadap dunia tidak akan putus. Dan terkadang, jiwanya tidak mengizinkannya untuk melepaskan diri dari kenikmatan dan syahwat duniawi yang berupa kemaksiatan dan lain sebagainya. Setan akan mengajaknya untuk menunda tobat hingga akhir umurnya. Lalu ketika kematian benar-benar telah menjadi hal pasti baginya dan telah putus asa dari kehidupan, ia tersadar dari mabuk dunianya, sehingga ketika itu ia menyesal atas kelalaiannya dengan penyesalan yang hampir membinasakan. Ia lalu memohon agar dikembalikan ke dunia agar dapat bertobat dan beramal saleh, tapi itu sama sekali tidak akan dikabulkan, sehingga terkumpul pada dirinya sakaratul maut dan penyesalan atas kesempatan yang luput. فحريٌّ بكل مسلم أن يكثر من ذكر الموت، وأن يستعد له؛ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أكثروا ذكر هاذم اللذات))؛ يعني: الموت؛ [أخرجه الترمذي]؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “الواجب على المؤمن الاستعداد للموت وما بعده في حالة الصحة بالتقوى والأعمال الصالحة؛ قال الله عز وجل: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ * وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴾ [الحشر: 18، 19]”. Oleh karenanya, hendaklah setiap muslim banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan.” Yakni kematian. (HR. At-Tirmidzi).  Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Wajib bagi setiap mukmin untuk menyiapkan diri dalam menyambut kematian dan peristiwa-peristiwa setelahnya ketika ia masih dalam keadaan sehat, dengan bertakwa dan beramal shaleh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ * وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18-19). فالحذر من الغفلة عن الموت؛ قال الإمام ابن قدامة المقدسي رحمه الله: “خطر الموت عظيم، وإنما غفل الناس عنه لقلة فكرهم وذكرهم له، ومن بذكره منهم إنما يذكره بقلب غافل؛ فلهذا لا ينجع فيه ذكر الموت، والطريق إلى ذلك أن يفرغ العبد قلبه لذكر الموت كالذي يريد أن يسافر إلى مفازة مخطرة، أو يركب البحر، فإنه لا يتفكر إلا في ذلك، وأنفع طريق في ذلك ذكر أشكاله وأقرانه الذين مضوا قبله، فيذكر موتهم ومصارعهم تحت الثرى”، وقال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “غاية أمنية الموتى في قبورهم حياة ساعة يستدركون فيها ما فاتهم من توبة وعمل صالح، وأهل الدنيا يفرطون في حياتهم، فتذهب أعمارهم في الغفلة ضياعًا، ومنهم من يقطعها بالمعاصي”. Janganlah lalai dari kematian. Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Rahimahullah berkata, “Bahaya kematian amat besar. Sedangkan manusia lalai darinya karena begitu jarang mereka memikirkan dan mengingatnya, adapun orang yang mengingatnya, juga mengingatnya dengan hati yang lalai. Oleh sebab itu, mengingat mati tidak memberi pengaruh kepadanya. Cara agar itu menjadi bermanfaat adalah dengan memfokuskan hati untuk mengingat kematian, seperti orang yang hendak melakukan perjalanan melalui padang pasir yang mematikan atau menyeberangi lautan, ia tidak akan memikirkan hal lain selain perjalanannya itu. kemudian cara terbaiknya adalah dengan merenungi orang-orang sebaya dan semisalnya yang telah pergi mendahului, merenungi kematian dan tempat kesudahan mereka di bawah tanah.” Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Puncak keinginan orang-orang mati di alam kubur mereka adalah dapat kembali hidup sejenak untuk mengejar apa yang dulu telah mereka lewatkan yang berupa tobat dan amal saleh. Sedangkan orang-orang yang masih hidup justru melalaikan kehidupan mereka, sehingga umur mereka terbuang sia-sia dalam kelalaian, dan bahkan sebagian mereka menggunakannya dalam kemaksiatan.” فهل من مستفيق من غفلته، ومفيق من سكرته، وخائف من صرعته، قبل أن يقول عند مفارقة هذا العالم: ﴿ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي ﴾ [الفجر: 24]، و﴿ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ ﴾ [الزمر: 56]؟! قال العلامة ابن القيم رحمه الله: والعجب كل العجب من غفلة من تُعد لحظاته، وتُحصى عليه أنفاسه، ومطايا الليل والنهار تسرع به، ولا يتفكر إلى أين يُحمل، ولا أي منزل يُنقل. Adakah orang yang bangun dari kelalaiannya, tersadar dari mabuknya, dan takut dari kematiannya sebelum ia berucap saat berpisah dengan alam dunia ini, “Duhai sekiranya dulu aku mengerjakan (kebaikan) untuk hidupku (di akhirat) ini!” (QS. Al-Fajr: 24), atau berseru, “Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menjalankan kewajiban dari Allah.” (QS. Az-Zumar: 56). Syaikh Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Sungguh-sungguh mengherankan, lalainya orang yang umur singkatnya terhitung, nafas-nafasnya terbilang, serta siang dan malamnya begitu cepat hilang, sedangkan ia tidak memikirkan ke mana kelak ia akan dibawa dan ke rumah mana ia akan dipindahkan?!” وإذا نزل بأحدهم الموت قلِق لخراب ذاته وذهاب لذاته، لا لما سبق من جناياته، ولا لسوء منقلبه بعد مماته، فإن خطرت على قلب أحدهم خطرة من ذلك، اعتمد على العفو والرحمة، كأنه يتقين أن ذلك نصيبه ولا بد. فلو أن العاقل أحضر ذهنه، واستحضر عقله، وسار بفكره، وأنعم النظر وتأمل الآيات – لفهِم المراد من إيجاده، ولنظرت عين الراحل إلى الطريق، ولأخذ المسافر في التزود، والمريض في التداوي. Apabila salah satu dari mereka telah dihampiri kematian, ia sedih karena hancur sudah kenikmatannya, bukan karena dosa-dosa yang telah ia lakukan atau buruknya tempat kembali setelah kematian. Namun, apabila terlintas dalam hati salah satu dari mereka pikiran-pikiran tentang ini, ia segera mengandalkan ampunan dan rahmat Tuhan, seakan-akan ia yakin bahwa ia memang berhak mendapatkannya. Seandainya orang berakal menggunakan pikirannya, menghadirkan akalnya, konsisten melakukannya, serta memperdalam penghayatannya, niscaya ia akan memahami maksud dari penciptaannya, dan pasti orang itu melihat jalan yang harus ia tempuh, musafir itu akan menyiapkan bekal, dan orang sakit itu akan mencari penawar. والحازم يعد لما يجوز أن يأتي، فما الظن بأمر متيقن؟ فرحم الله عبدًا ذُكِّر فاتعظ، واستمع فانزجر، اللهم أكرمنا بالخاتمة الحسنة. Orang yang serius akan menyiapkan diri atas sesuatu yang mungkin terjadi, apalagi atas sesuatu yang pasti terjadi. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati hamba yang apabila diingatkan akan teringat dan apabila mendengar nasihat akan tersadar. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami husnul khatimah, akhir kehidupan yang baik! Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/150830/سكرة-الموت-وحسرة-الفوت/ Sumber artikel PDF 🔍 Tulisan In Shaa Allah, Ayat Kursi Gambar, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Catur Haram, Cewek Tidur Ngangkang Visited 18 times, 5 visit(s) today Post Views: 5 QRIS donasi Yufid
سكرة الموت وحسرة الفوت Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين؛ أما بعد: فالموت نهاية كل حيٍّ؛ قال الله عز وجل: ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ﴾ [آل عمران: 185]، والموت من أعظم المصائب التي تصيب الإنسان في دنياه؛ قال الإمام القرطبي رحمه الله: “الموت من أعظم المصائب”، وقد سماه الله تعالى مصيبة في قوله: ﴿ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ ﴾ [المائدة: 106]، فالموت هو المصيبة العظمى، والرزية الكبرى؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “وأعظم الشدائد التي تنزل بالعبد في الدنيا الموت، وما بعده أشد منه إن لم يكن مصير العبد إلى خير”. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Kematian adalah akhir bagi setiap makhluk hidup. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Kematian merupakan musibah terbesar yang menimpa manusia di dunia. Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata, “Kematian merupakan salah satu musibah terbesar.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menyebut kematian sebagai musibah, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya: فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ “lalu kamu ditimpa musibah kematian” (QS. Al-Maidah: 106). Kematian merupakan musibah teragung dan bencana terbesar. Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Musibah terbesar yang menimpa seorang hamba di dunia adalah kematian. Adapun setelahnya dapat menjadi musibah yang lebih besar jika tempat kesudahannya tidak baik (neraka).” للموت سكرات؛ فقد ثبت في الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه لما تغشَّاه الموت، كانت بين يديه ركوة أو علبة من الماء، فجعل يدخل يديه في الماء، ويمسح بهما وجهه، ويقول: ((لا إله إلا الله، إن للموت سكرات))، فالموت له سكرات شديدة، ولهذا قالت أم المؤمنين عائشة رضي الله عنهما: ((ما أغبط أحدًا بهون موتٍ، بعد الذي رأيت من شدة موت النبي صلى الله عليه وسلم))؛ [أخرجه الترمذي]. Kematian akan diawali dengan sakarat. Diriwayatkan dalam “Ash-Shahih” dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, bahwa ketika kematian mulai meliputinya, terdapat wadah air di depan beliau. Kemudian beliau mencelupkan kedua tangan beliau ke dalam air lalu mengusapkannya ke wajahnya, seraya bersabda, “Laa ilaaha illallah! Sungguh kematian itu ada sekaratnya!” Jadi kematian itu ada sekaratnya yang begitu berat. Oleh sebab itu, Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Saya tidak pernah lagi merasa iri terhadap seorang pun yang kematiannya mudah, setelah saya menyaksikan beratnya kematian yang dialami Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.” (HR. At-Tirmidzi). قال الإمام القرطبي رحمه الله: “يُروَى أن الحسن البصري دخل على مريض يعوده، فوجده في سكرات الموت، فنظر إلى كربه، وشدة ما نزل به، فرجع إلى أهله، بغير اللون الذي خرج به من عندهم، فقالوا له: الطعام يرحمك الله، فقال: يا أهلاه عليكم بطعامكم وشرابكم، فوالله لقد رأيت مصرعًا لا أزال أعمل له حتى ألقاه”. وروى ابن أبي الدنيا بإسناده عنه، أنه قال: “أشد ما يكون الموت على العبد، إذا بلغت الروحُ التراقي… فعند ذلك يضطربُ ويعلو نَفَسُهُ، ثم بكى الحسن البصري رحمه الله”. Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata, “Dikisahkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri pernah menjenguk orang sakit, dan mendapatinya sedang mengalami sakaratul maut. Beliau melihat musibah dan kesulitan yang sedang ia alami, sehingga beliau segera kembali pulang ke keluarganya dengan wajah yang berbeda dari wajahnya ketika pergi. Keluarganya berkata kepadanya, ‘Makanlah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatimu!’ Beliau menjawab, ‘Wahai keluargaku! Nikmati saja makanan dan minuman kalian! Karena demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, aku baru saja melihat kematian yang aku terus beramal untuk mempersiapkan kedatangannya, hingga aku berjumpa dengannya.” Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dari jalurnya dari Al-Hasan Al-Bashri bahwa ia pernah berkata, “Hal terberat bagi seorang hamba ketika meninggal dunia adalah saat nyawa sampai di kerongkongan, ketika itu napasnya akan berderu.” Lalu Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah menangis. والعبد الموفق المسدد من لا يجمع على نفسه: سكرة الموت، وحسرة الفوت بتفريطه في طاعة الله، فبعض الناس تجتمع عليه سكرة الموت، وحسرة الفوت؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “قال الحسن: اتقِ الله يا ابن آدم، لا يجتمع عليك خصلتين، سكرة الموت، وحسرة الفوت”. Hamba yang mendapat taufik dan petunjuk adalah orang yang tidak mengumpulkan dalam dirinya beratnya sakaratul maut dan penyesalan atas kesempatan yang terlewat, akibat kelalaiannya terhadap ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada sebagian orang yang memang mendapat sakaratul maut sekaligus penyesalan atas terlewatnya kesempatan. Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata bahwa Hasan berkata, “Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, wahai anak Adam! Jangan sampai terkumpul pada dirimu sakaratul maut dan penyesalan atas kesempatan yang terlewat!” وقال ابن السماك: “احذر السكرة والحسرة أن يفجأك الموتُ، وأنت على الغرة، فلا يصف واصف قدر ما تلقى ولا قدر ما ترى”. Ibnu As-Sammak berkata, “Berhati-hatilah terhadap sakaratul maut dan penyesalan, yaitu kematian menghampirimu secara tiba-tiba ketika kamu sedang dalam kelalaian, sehingga orang-orang tidak dapat menggambarkan betapa beratnya apa yang kamu temui dan saksikan!” قال الله عز وجل: ﴿ حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴾ [المؤمنون: 99، 100]؛ قال العلامة عبدالرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله: “يخبر تعالى عن حال من حضره الموت من المفرطين الظالمين أنه يندم في تلك الحال، إذا رأى مآله وشاهد قبح أعماله، فيطلب الرجعة إلى الدنيا، لا للتمتع بلذاتها واقتطاف شهواتها، وإنما ذلك ليقول: ﴿ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ﴾ [المؤمنون: 100] من العمل وفرطت في جنب الله. وقال الله سبحانه وتعالى: ﴿ وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴾ [المنافقون: 10، 11]. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mu’minun: 99-100). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang-orang lalai dan zalim yang dijemput oleh kematian, bahwa ia akan menyesal saat itu apabila telah melihat tempat kembalinya dan menyaksikan buruknya amalan-amalannya, sehingga ia memohon untuk dikembalikan ke dunia, bukan untuk bersenang-senang dengan kenikmatannya dan melampiaskan syahwat-syahwatnya, tapi untuk ucapan mereka, ‘agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.’ Yakni amal saleh yang telah aku lalaikan.” Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.” Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Munafiqun: 10-11). يتحسر المفرط على ما فرط، ويسأل الرجعة التي هي محال، ليعمل صالحًا بأداء المأمورات واجتناب المنهيات، لينجو من العذاب؛ قال الحافظ ابن كثير رحمه الله: “فكل مفرط يندم عند الاحتضار، ويسأل طول المدة، ولو شيئًا يسيرًا، ليستعتب ويستدرك ما فاته، وهيهات”. Orang yang lalai akan menyesal atas kelalaiannya dan meminta agar dapat kembali ke dunia – padahal itu mustahil – agar dapat beramal shaleh dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga ia dapat selamat dari azab. Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Setiap orang yang lalai akan menyesal saat kematian menghampirinya, dan memohon waktu tambahan meskipun hanya sejenak, agar ia dapat mengganti dan mengejar apa yang telah ia lewatkan. Namun, itu tidak mungkin.” فالبِدار البدار قبل الندم والحسرة؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “واعلم أن الإنسان ما دام يؤملُ الحياة، فإنه لا ينقطع أمله من الدنيا، وقد لا تسمح له نفسه بالإقلاع عن لذاتها وشهواتها من المعاصي وغيرها، ويُرجيه الشيطان التوبة في آخر عمره، فإذا تيقن الموت، وأيس من الحياة، أفاق من سكرته بشهوات الدنيا، فندم حينئذٍ على تفريطه ندامة يكادُ يقتل نفسه، وطلب الرجعة إلى الدنيا ليتوب ويعمل صالحًا، فلا يجابُ إلى شيءٍ من ذلك، فيجتمعُ عليه سكرة الموت مع حسرة الفوت”. Oleh sebab itu, bersegeralah sebelum datang penyesalan dan kekecewaan! Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa selagi manusia itu masih berharap hidup, harapannya terhadap dunia tidak akan putus. Dan terkadang, jiwanya tidak mengizinkannya untuk melepaskan diri dari kenikmatan dan syahwat duniawi yang berupa kemaksiatan dan lain sebagainya. Setan akan mengajaknya untuk menunda tobat hingga akhir umurnya. Lalu ketika kematian benar-benar telah menjadi hal pasti baginya dan telah putus asa dari kehidupan, ia tersadar dari mabuk dunianya, sehingga ketika itu ia menyesal atas kelalaiannya dengan penyesalan yang hampir membinasakan. Ia lalu memohon agar dikembalikan ke dunia agar dapat bertobat dan beramal saleh, tapi itu sama sekali tidak akan dikabulkan, sehingga terkumpul pada dirinya sakaratul maut dan penyesalan atas kesempatan yang luput. فحريٌّ بكل مسلم أن يكثر من ذكر الموت، وأن يستعد له؛ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أكثروا ذكر هاذم اللذات))؛ يعني: الموت؛ [أخرجه الترمذي]؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “الواجب على المؤمن الاستعداد للموت وما بعده في حالة الصحة بالتقوى والأعمال الصالحة؛ قال الله عز وجل: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ * وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴾ [الحشر: 18، 19]”. Oleh karenanya, hendaklah setiap muslim banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan.” Yakni kematian. (HR. At-Tirmidzi).  Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Wajib bagi setiap mukmin untuk menyiapkan diri dalam menyambut kematian dan peristiwa-peristiwa setelahnya ketika ia masih dalam keadaan sehat, dengan bertakwa dan beramal shaleh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ * وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18-19). فالحذر من الغفلة عن الموت؛ قال الإمام ابن قدامة المقدسي رحمه الله: “خطر الموت عظيم، وإنما غفل الناس عنه لقلة فكرهم وذكرهم له، ومن بذكره منهم إنما يذكره بقلب غافل؛ فلهذا لا ينجع فيه ذكر الموت، والطريق إلى ذلك أن يفرغ العبد قلبه لذكر الموت كالذي يريد أن يسافر إلى مفازة مخطرة، أو يركب البحر، فإنه لا يتفكر إلا في ذلك، وأنفع طريق في ذلك ذكر أشكاله وأقرانه الذين مضوا قبله، فيذكر موتهم ومصارعهم تحت الثرى”، وقال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “غاية أمنية الموتى في قبورهم حياة ساعة يستدركون فيها ما فاتهم من توبة وعمل صالح، وأهل الدنيا يفرطون في حياتهم، فتذهب أعمارهم في الغفلة ضياعًا، ومنهم من يقطعها بالمعاصي”. Janganlah lalai dari kematian. Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Rahimahullah berkata, “Bahaya kematian amat besar. Sedangkan manusia lalai darinya karena begitu jarang mereka memikirkan dan mengingatnya, adapun orang yang mengingatnya, juga mengingatnya dengan hati yang lalai. Oleh sebab itu, mengingat mati tidak memberi pengaruh kepadanya. Cara agar itu menjadi bermanfaat adalah dengan memfokuskan hati untuk mengingat kematian, seperti orang yang hendak melakukan perjalanan melalui padang pasir yang mematikan atau menyeberangi lautan, ia tidak akan memikirkan hal lain selain perjalanannya itu. kemudian cara terbaiknya adalah dengan merenungi orang-orang sebaya dan semisalnya yang telah pergi mendahului, merenungi kematian dan tempat kesudahan mereka di bawah tanah.” Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Puncak keinginan orang-orang mati di alam kubur mereka adalah dapat kembali hidup sejenak untuk mengejar apa yang dulu telah mereka lewatkan yang berupa tobat dan amal saleh. Sedangkan orang-orang yang masih hidup justru melalaikan kehidupan mereka, sehingga umur mereka terbuang sia-sia dalam kelalaian, dan bahkan sebagian mereka menggunakannya dalam kemaksiatan.” فهل من مستفيق من غفلته، ومفيق من سكرته، وخائف من صرعته، قبل أن يقول عند مفارقة هذا العالم: ﴿ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي ﴾ [الفجر: 24]، و﴿ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ ﴾ [الزمر: 56]؟! قال العلامة ابن القيم رحمه الله: والعجب كل العجب من غفلة من تُعد لحظاته، وتُحصى عليه أنفاسه، ومطايا الليل والنهار تسرع به، ولا يتفكر إلى أين يُحمل، ولا أي منزل يُنقل. Adakah orang yang bangun dari kelalaiannya, tersadar dari mabuknya, dan takut dari kematiannya sebelum ia berucap saat berpisah dengan alam dunia ini, “Duhai sekiranya dulu aku mengerjakan (kebaikan) untuk hidupku (di akhirat) ini!” (QS. Al-Fajr: 24), atau berseru, “Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menjalankan kewajiban dari Allah.” (QS. Az-Zumar: 56). Syaikh Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Sungguh-sungguh mengherankan, lalainya orang yang umur singkatnya terhitung, nafas-nafasnya terbilang, serta siang dan malamnya begitu cepat hilang, sedangkan ia tidak memikirkan ke mana kelak ia akan dibawa dan ke rumah mana ia akan dipindahkan?!” وإذا نزل بأحدهم الموت قلِق لخراب ذاته وذهاب لذاته، لا لما سبق من جناياته، ولا لسوء منقلبه بعد مماته، فإن خطرت على قلب أحدهم خطرة من ذلك، اعتمد على العفو والرحمة، كأنه يتقين أن ذلك نصيبه ولا بد. فلو أن العاقل أحضر ذهنه، واستحضر عقله، وسار بفكره، وأنعم النظر وتأمل الآيات – لفهِم المراد من إيجاده، ولنظرت عين الراحل إلى الطريق، ولأخذ المسافر في التزود، والمريض في التداوي. Apabila salah satu dari mereka telah dihampiri kematian, ia sedih karena hancur sudah kenikmatannya, bukan karena dosa-dosa yang telah ia lakukan atau buruknya tempat kembali setelah kematian. Namun, apabila terlintas dalam hati salah satu dari mereka pikiran-pikiran tentang ini, ia segera mengandalkan ampunan dan rahmat Tuhan, seakan-akan ia yakin bahwa ia memang berhak mendapatkannya. Seandainya orang berakal menggunakan pikirannya, menghadirkan akalnya, konsisten melakukannya, serta memperdalam penghayatannya, niscaya ia akan memahami maksud dari penciptaannya, dan pasti orang itu melihat jalan yang harus ia tempuh, musafir itu akan menyiapkan bekal, dan orang sakit itu akan mencari penawar. والحازم يعد لما يجوز أن يأتي، فما الظن بأمر متيقن؟ فرحم الله عبدًا ذُكِّر فاتعظ، واستمع فانزجر، اللهم أكرمنا بالخاتمة الحسنة. Orang yang serius akan menyiapkan diri atas sesuatu yang mungkin terjadi, apalagi atas sesuatu yang pasti terjadi. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati hamba yang apabila diingatkan akan teringat dan apabila mendengar nasihat akan tersadar. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami husnul khatimah, akhir kehidupan yang baik! Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/150830/سكرة-الموت-وحسرة-الفوت/ Sumber artikel PDF 🔍 Tulisan In Shaa Allah, Ayat Kursi Gambar, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Catur Haram, Cewek Tidur Ngangkang Visited 18 times, 5 visit(s) today Post Views: 5 QRIS donasi Yufid


سكرة الموت وحسرة الفوت Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين؛ أما بعد: فالموت نهاية كل حيٍّ؛ قال الله عز وجل: ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ﴾ [آل عمران: 185]، والموت من أعظم المصائب التي تصيب الإنسان في دنياه؛ قال الإمام القرطبي رحمه الله: “الموت من أعظم المصائب”، وقد سماه الله تعالى مصيبة في قوله: ﴿ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ ﴾ [المائدة: 106]، فالموت هو المصيبة العظمى، والرزية الكبرى؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “وأعظم الشدائد التي تنزل بالعبد في الدنيا الموت، وما بعده أشد منه إن لم يكن مصير العبد إلى خير”. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Kematian adalah akhir bagi setiap makhluk hidup. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Kematian merupakan musibah terbesar yang menimpa manusia di dunia. Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata, “Kematian merupakan salah satu musibah terbesar.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menyebut kematian sebagai musibah, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya: فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ “lalu kamu ditimpa musibah kematian” (QS. Al-Maidah: 106). Kematian merupakan musibah teragung dan bencana terbesar. Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Musibah terbesar yang menimpa seorang hamba di dunia adalah kematian. Adapun setelahnya dapat menjadi musibah yang lebih besar jika tempat kesudahannya tidak baik (neraka).” للموت سكرات؛ فقد ثبت في الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه لما تغشَّاه الموت، كانت بين يديه ركوة أو علبة من الماء، فجعل يدخل يديه في الماء، ويمسح بهما وجهه، ويقول: ((لا إله إلا الله، إن للموت سكرات))، فالموت له سكرات شديدة، ولهذا قالت أم المؤمنين عائشة رضي الله عنهما: ((ما أغبط أحدًا بهون موتٍ، بعد الذي رأيت من شدة موت النبي صلى الله عليه وسلم))؛ [أخرجه الترمذي]. Kematian akan diawali dengan sakarat. Diriwayatkan dalam “Ash-Shahih” dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, bahwa ketika kematian mulai meliputinya, terdapat wadah air di depan beliau. Kemudian beliau mencelupkan kedua tangan beliau ke dalam air lalu mengusapkannya ke wajahnya, seraya bersabda, “Laa ilaaha illallah! Sungguh kematian itu ada sekaratnya!” Jadi kematian itu ada sekaratnya yang begitu berat. Oleh sebab itu, Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Saya tidak pernah lagi merasa iri terhadap seorang pun yang kematiannya mudah, setelah saya menyaksikan beratnya kematian yang dialami Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.” (HR. At-Tirmidzi). قال الإمام القرطبي رحمه الله: “يُروَى أن الحسن البصري دخل على مريض يعوده، فوجده في سكرات الموت، فنظر إلى كربه، وشدة ما نزل به، فرجع إلى أهله، بغير اللون الذي خرج به من عندهم، فقالوا له: الطعام يرحمك الله، فقال: يا أهلاه عليكم بطعامكم وشرابكم، فوالله لقد رأيت مصرعًا لا أزال أعمل له حتى ألقاه”. وروى ابن أبي الدنيا بإسناده عنه، أنه قال: “أشد ما يكون الموت على العبد، إذا بلغت الروحُ التراقي… فعند ذلك يضطربُ ويعلو نَفَسُهُ، ثم بكى الحسن البصري رحمه الله”. Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata, “Dikisahkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri pernah menjenguk orang sakit, dan mendapatinya sedang mengalami sakaratul maut. Beliau melihat musibah dan kesulitan yang sedang ia alami, sehingga beliau segera kembali pulang ke keluarganya dengan wajah yang berbeda dari wajahnya ketika pergi. Keluarganya berkata kepadanya, ‘Makanlah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatimu!’ Beliau menjawab, ‘Wahai keluargaku! Nikmati saja makanan dan minuman kalian! Karena demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, aku baru saja melihat kematian yang aku terus beramal untuk mempersiapkan kedatangannya, hingga aku berjumpa dengannya.” Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dari jalurnya dari Al-Hasan Al-Bashri bahwa ia pernah berkata, “Hal terberat bagi seorang hamba ketika meninggal dunia adalah saat nyawa sampai di kerongkongan, ketika itu napasnya akan berderu.” Lalu Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah menangis. والعبد الموفق المسدد من لا يجمع على نفسه: سكرة الموت، وحسرة الفوت بتفريطه في طاعة الله، فبعض الناس تجتمع عليه سكرة الموت، وحسرة الفوت؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “قال الحسن: اتقِ الله يا ابن آدم، لا يجتمع عليك خصلتين، سكرة الموت، وحسرة الفوت”. Hamba yang mendapat taufik dan petunjuk adalah orang yang tidak mengumpulkan dalam dirinya beratnya sakaratul maut dan penyesalan atas kesempatan yang terlewat, akibat kelalaiannya terhadap ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada sebagian orang yang memang mendapat sakaratul maut sekaligus penyesalan atas terlewatnya kesempatan. Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata bahwa Hasan berkata, “Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, wahai anak Adam! Jangan sampai terkumpul pada dirimu sakaratul maut dan penyesalan atas kesempatan yang terlewat!” وقال ابن السماك: “احذر السكرة والحسرة أن يفجأك الموتُ، وأنت على الغرة، فلا يصف واصف قدر ما تلقى ولا قدر ما ترى”. Ibnu As-Sammak berkata, “Berhati-hatilah terhadap sakaratul maut dan penyesalan, yaitu kematian menghampirimu secara tiba-tiba ketika kamu sedang dalam kelalaian, sehingga orang-orang tidak dapat menggambarkan betapa beratnya apa yang kamu temui dan saksikan!” قال الله عز وجل: ﴿ حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴾ [المؤمنون: 99، 100]؛ قال العلامة عبدالرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله: “يخبر تعالى عن حال من حضره الموت من المفرطين الظالمين أنه يندم في تلك الحال، إذا رأى مآله وشاهد قبح أعماله، فيطلب الرجعة إلى الدنيا، لا للتمتع بلذاتها واقتطاف شهواتها، وإنما ذلك ليقول: ﴿ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ﴾ [المؤمنون: 100] من العمل وفرطت في جنب الله. وقال الله سبحانه وتعالى: ﴿ وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴾ [المنافقون: 10، 11]. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mu’minun: 99-100). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang-orang lalai dan zalim yang dijemput oleh kematian, bahwa ia akan menyesal saat itu apabila telah melihat tempat kembalinya dan menyaksikan buruknya amalan-amalannya, sehingga ia memohon untuk dikembalikan ke dunia, bukan untuk bersenang-senang dengan kenikmatannya dan melampiaskan syahwat-syahwatnya, tapi untuk ucapan mereka, ‘agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.’ Yakni amal saleh yang telah aku lalaikan.” Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.” Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Munafiqun: 10-11). يتحسر المفرط على ما فرط، ويسأل الرجعة التي هي محال، ليعمل صالحًا بأداء المأمورات واجتناب المنهيات، لينجو من العذاب؛ قال الحافظ ابن كثير رحمه الله: “فكل مفرط يندم عند الاحتضار، ويسأل طول المدة، ولو شيئًا يسيرًا، ليستعتب ويستدرك ما فاته، وهيهات”. Orang yang lalai akan menyesal atas kelalaiannya dan meminta agar dapat kembali ke dunia – padahal itu mustahil – agar dapat beramal shaleh dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga ia dapat selamat dari azab. Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Setiap orang yang lalai akan menyesal saat kematian menghampirinya, dan memohon waktu tambahan meskipun hanya sejenak, agar ia dapat mengganti dan mengejar apa yang telah ia lewatkan. Namun, itu tidak mungkin.” فالبِدار البدار قبل الندم والحسرة؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “واعلم أن الإنسان ما دام يؤملُ الحياة، فإنه لا ينقطع أمله من الدنيا، وقد لا تسمح له نفسه بالإقلاع عن لذاتها وشهواتها من المعاصي وغيرها، ويُرجيه الشيطان التوبة في آخر عمره، فإذا تيقن الموت، وأيس من الحياة، أفاق من سكرته بشهوات الدنيا، فندم حينئذٍ على تفريطه ندامة يكادُ يقتل نفسه، وطلب الرجعة إلى الدنيا ليتوب ويعمل صالحًا، فلا يجابُ إلى شيءٍ من ذلك، فيجتمعُ عليه سكرة الموت مع حسرة الفوت”. Oleh sebab itu, bersegeralah sebelum datang penyesalan dan kekecewaan! Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa selagi manusia itu masih berharap hidup, harapannya terhadap dunia tidak akan putus. Dan terkadang, jiwanya tidak mengizinkannya untuk melepaskan diri dari kenikmatan dan syahwat duniawi yang berupa kemaksiatan dan lain sebagainya. Setan akan mengajaknya untuk menunda tobat hingga akhir umurnya. Lalu ketika kematian benar-benar telah menjadi hal pasti baginya dan telah putus asa dari kehidupan, ia tersadar dari mabuk dunianya, sehingga ketika itu ia menyesal atas kelalaiannya dengan penyesalan yang hampir membinasakan. Ia lalu memohon agar dikembalikan ke dunia agar dapat bertobat dan beramal saleh, tapi itu sama sekali tidak akan dikabulkan, sehingga terkumpul pada dirinya sakaratul maut dan penyesalan atas kesempatan yang luput. فحريٌّ بكل مسلم أن يكثر من ذكر الموت، وأن يستعد له؛ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أكثروا ذكر هاذم اللذات))؛ يعني: الموت؛ [أخرجه الترمذي]؛ قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “الواجب على المؤمن الاستعداد للموت وما بعده في حالة الصحة بالتقوى والأعمال الصالحة؛ قال الله عز وجل: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ * وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴾ [الحشر: 18، 19]”. Oleh karenanya, hendaklah setiap muslim banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan.” Yakni kematian. (HR. At-Tirmidzi).  Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Wajib bagi setiap mukmin untuk menyiapkan diri dalam menyambut kematian dan peristiwa-peristiwa setelahnya ketika ia masih dalam keadaan sehat, dengan bertakwa dan beramal shaleh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ * وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18-19). فالحذر من الغفلة عن الموت؛ قال الإمام ابن قدامة المقدسي رحمه الله: “خطر الموت عظيم، وإنما غفل الناس عنه لقلة فكرهم وذكرهم له، ومن بذكره منهم إنما يذكره بقلب غافل؛ فلهذا لا ينجع فيه ذكر الموت، والطريق إلى ذلك أن يفرغ العبد قلبه لذكر الموت كالذي يريد أن يسافر إلى مفازة مخطرة، أو يركب البحر، فإنه لا يتفكر إلا في ذلك، وأنفع طريق في ذلك ذكر أشكاله وأقرانه الذين مضوا قبله، فيذكر موتهم ومصارعهم تحت الثرى”، وقال الحافظ ابن رجب رحمه الله: “غاية أمنية الموتى في قبورهم حياة ساعة يستدركون فيها ما فاتهم من توبة وعمل صالح، وأهل الدنيا يفرطون في حياتهم، فتذهب أعمارهم في الغفلة ضياعًا، ومنهم من يقطعها بالمعاصي”. Janganlah lalai dari kematian. Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Rahimahullah berkata, “Bahaya kematian amat besar. Sedangkan manusia lalai darinya karena begitu jarang mereka memikirkan dan mengingatnya, adapun orang yang mengingatnya, juga mengingatnya dengan hati yang lalai. Oleh sebab itu, mengingat mati tidak memberi pengaruh kepadanya. Cara agar itu menjadi bermanfaat adalah dengan memfokuskan hati untuk mengingat kematian, seperti orang yang hendak melakukan perjalanan melalui padang pasir yang mematikan atau menyeberangi lautan, ia tidak akan memikirkan hal lain selain perjalanannya itu. kemudian cara terbaiknya adalah dengan merenungi orang-orang sebaya dan semisalnya yang telah pergi mendahului, merenungi kematian dan tempat kesudahan mereka di bawah tanah.” Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Puncak keinginan orang-orang mati di alam kubur mereka adalah dapat kembali hidup sejenak untuk mengejar apa yang dulu telah mereka lewatkan yang berupa tobat dan amal saleh. Sedangkan orang-orang yang masih hidup justru melalaikan kehidupan mereka, sehingga umur mereka terbuang sia-sia dalam kelalaian, dan bahkan sebagian mereka menggunakannya dalam kemaksiatan.” فهل من مستفيق من غفلته، ومفيق من سكرته، وخائف من صرعته، قبل أن يقول عند مفارقة هذا العالم: ﴿ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي ﴾ [الفجر: 24]، و﴿ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ ﴾ [الزمر: 56]؟! قال العلامة ابن القيم رحمه الله: والعجب كل العجب من غفلة من تُعد لحظاته، وتُحصى عليه أنفاسه، ومطايا الليل والنهار تسرع به، ولا يتفكر إلى أين يُحمل، ولا أي منزل يُنقل. Adakah orang yang bangun dari kelalaiannya, tersadar dari mabuknya, dan takut dari kematiannya sebelum ia berucap saat berpisah dengan alam dunia ini, “Duhai sekiranya dulu aku mengerjakan (kebaikan) untuk hidupku (di akhirat) ini!” (QS. Al-Fajr: 24), atau berseru, “Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menjalankan kewajiban dari Allah.” (QS. Az-Zumar: 56). Syaikh Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Sungguh-sungguh mengherankan, lalainya orang yang umur singkatnya terhitung, nafas-nafasnya terbilang, serta siang dan malamnya begitu cepat hilang, sedangkan ia tidak memikirkan ke mana kelak ia akan dibawa dan ke rumah mana ia akan dipindahkan?!” وإذا نزل بأحدهم الموت قلِق لخراب ذاته وذهاب لذاته، لا لما سبق من جناياته، ولا لسوء منقلبه بعد مماته، فإن خطرت على قلب أحدهم خطرة من ذلك، اعتمد على العفو والرحمة، كأنه يتقين أن ذلك نصيبه ولا بد. فلو أن العاقل أحضر ذهنه، واستحضر عقله، وسار بفكره، وأنعم النظر وتأمل الآيات – لفهِم المراد من إيجاده، ولنظرت عين الراحل إلى الطريق، ولأخذ المسافر في التزود، والمريض في التداوي. Apabila salah satu dari mereka telah dihampiri kematian, ia sedih karena hancur sudah kenikmatannya, bukan karena dosa-dosa yang telah ia lakukan atau buruknya tempat kembali setelah kematian. Namun, apabila terlintas dalam hati salah satu dari mereka pikiran-pikiran tentang ini, ia segera mengandalkan ampunan dan rahmat Tuhan, seakan-akan ia yakin bahwa ia memang berhak mendapatkannya. Seandainya orang berakal menggunakan pikirannya, menghadirkan akalnya, konsisten melakukannya, serta memperdalam penghayatannya, niscaya ia akan memahami maksud dari penciptaannya, dan pasti orang itu melihat jalan yang harus ia tempuh, musafir itu akan menyiapkan bekal, dan orang sakit itu akan mencari penawar. والحازم يعد لما يجوز أن يأتي، فما الظن بأمر متيقن؟ فرحم الله عبدًا ذُكِّر فاتعظ، واستمع فانزجر، اللهم أكرمنا بالخاتمة الحسنة. Orang yang serius akan menyiapkan diri atas sesuatu yang mungkin terjadi, apalagi atas sesuatu yang pasti terjadi. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati hamba yang apabila diingatkan akan teringat dan apabila mendengar nasihat akan tersadar. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami husnul khatimah, akhir kehidupan yang baik! Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/150830/سكرة-الموت-وحسرة-الفوت/ Sumber artikel PDF 🔍 Tulisan In Shaa Allah, Ayat Kursi Gambar, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Catur Haram, Cewek Tidur Ngangkang Visited 18 times, 5 visit(s) today Post Views: 5 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Iblis, Fir’aun, Qarun Jatuh Karena 3 Kata Ini – Jangan Sampai Kamu Ikut! – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Seorang hamba wajib waspada terhadap bahaya ucapan yang mengandung kata “saya”, “milikku”, dan “ada padaku”. Karena ketiga ungkapan ini menjadi ujian bagi Iblis, Fir’aun, dan Qarun. Iblis berkata, “Saya lebih baik daripadanya!” (QS.Shad: 76). Fir’aun berkata, “Kerajaan Mesir milikku.” (QS. Az-Zukhruf: 51). Qarun berkata, “Harta ini diberikan kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashas: 78). Penggunaan kata “saya” yang paling baik adalah ucapan seperti: “Saya hamba yang penuh dosa dan salah,” dan semisalnya. Kata “milikku” yang baik digunakan dalam kalimat seperti: “Aku memiliki dosa, kemiskinan, dan kefakiran.” Dan kata “ada padaku” dalam doa Nabi: “Ampunilah aku, baik dalam kesungguhan maupun candaanku, dalam kekeliruan maupun kesengajaanku, sebab semua itu ada padaku.” (HR. Muslim). Ini merupakan ucapan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. bahwa seorang hamba harus berhati-hati terhadap kata-kata yang mengandung makna kesombongan, keangkuhan, dan lain sebagainya. Seperti ungkapan “saya”, “milikku”, dan “ada padaku”. Karena kata-kata ini diucapkan oleh sejumlah orang zalim dan pelaku dosa. Seperti Iblis yang berkata, “Saya lebih baik daripadanya!” (QS.Shad: 76). Fir’aun berkata, “Kerajaan Mesir milikku.” (QS. Az-Zukhruf: 51). Qarun berkata, “Harta ini diberikan kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashas: 78). Sebaliknya, seorang muslim hendaknya bersikap rendah hati dan tidak memakai kata-kata tersebut untuk menunjukkan kebanggaan atau kesombongan. Ia senantiasa bersikap tawadhu (rendah hati). Kecuali ia menggunakan kata-kata itu untuk kalimat yang menunjukkan kerendahan hati. Misalnya dengan berkata: “Saya hamba yang penuh dosa dan salah.” Atau: “Aku memiliki dosa dan kekurangan,” dan semacamnya. Atau berkata seperti yang ada dalam hadis: “Ampunilah seluruh dosaku…“Ampunilah seluruh dosaku, baik yang disengaja maupun tidak, yang serius maupun bercanda. Semua itu ada padaku.” (HR. Muslim). Maka, ini adalah ucapan yang baik. Namun, jika seseorang menggunakannya untuk tujuan menyombongkan diri, maka itu tercela. Bahkan ketika memaparkan masalah-masalah yang diperselisihkan para ulama. Ketika penuntut ilmu menguatkan salah satu pendapat, hendaknya dia menggunakan kalimat yang menyiratkan kerendahan hati. Jangan mengatakan, “Menurutku inilah pendapat yang lebih tepat!” Atau, “Menurut pandanganku inilah yang benar!” Hendaknya ia menghindari kalimat-kalimat seperti itu. Namun, lebih baik ia mengucapkan: “Sepertinya yang benar, wallahu a’lam adalah…” “Semoga pendapat yang lebih benar adalah ini…” atau “Sepertinya yang lebih kuat adalah ini…” Hendaknya menggunakan kalimat yang mencerminkan kerendahan hati, serta menjauhi kalimat-kalimat yang menunjukkan kesombongan dan pengagungan diri. ===== لِيَحْذَرِ الْعَبْدُ كُلَّ الْحَذَرِ مِنْ طُغْيَانِ أَنَا وَلِيْ وَعِنْدِيْ فَإِنَّ هَذِهِ الْأَلْفَاظَ الثَّلَاثَةَ اُبْتُلِيَ بِهَا إِبْلِيسُ وَفِرْعَوْنُ وَقَارُونُ إِبْلِيسُ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ وَفِرْعَوْنُ قَالَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَقَارُونُ قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي وَأَحْسَنُ مَا وُضِعَتْ أَنَا فِي قَوْلِ الْعَبْدِ أَنَا الْعَبْدُ الْمُذْنِبُ الْمُخْطِئُ وَنَحْوِهِ وَلِي فِي قَوْلِهِ لِيَ الذَّنْبُ وَلِيَ الْمَسْكَنَةُ وَلِيَ الْفَقْرُ وَعِنْدِي فِي قَوْلِ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي وَخَطَئِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِيْ هَذَا مِنْ كَلَامِ الْإِمَامِ ابْنِ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّ الْعَبْدَ يَحْذَرُ مِنَ الْأَلْفَاظِ الَّتِي تُفِيدُ التَّفَاخُرَ وَالتَّعَاظُمَ وَنَحْوَ ذَلِكَ مِثْلُ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ أَنَا وَلِيْ وَعِنْدِيْ لِأَنَّ هَذِهِ ذُكِرَتْ عَنْ بَعْضِ الطُّغَاةِ وَالْمُجْرِمِيْنَ مِثْلُ إِبْلِيسَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ فِرْعَوْنُ قَالَ لِي مُلْكُ مِصْرَ قَارُونُ قَالَ إِنَّمَا أُوتِيْتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي وَإِنَّمَا الْمُسْلِمُ يَتَوَاضَعُ وَلَا يَأْتِي بِهَذِهِ الْأَلْفَاظِ الَّتِي فِيهَا شَيْءٌ مِنَ الْفَخْرِ وَالْخُيَلَاءِ وَإِنَّمَا يَتَوَاضَعُ إِلَّا إِذَا أَتَى بِهَا عَلَى سَبِيلِ التَّوَاضُع كَأَنْ يَقُولَ أَنَا الْعَبْدُ الْمُذْنِبُ الْمُخْطِئُ مَثَلًا أَوْ لِيَ الذَّنْبُ أَوْ الْمَسْكَنَةُ وَنَحْوِ ذَلِكَ أَوْ يَقُولُ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ خَطَئِي وَجِدِّي وَهَزْلِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي فَهَذَا أَمْرٌ حَسَنٌ لَكِنْ أَنْ يَأْتِيَ بِهَا عَلَى سَبِيلِ التَّفَاخُرِ فَهَذَا مَذْمُومٌ حَتَّى فِي عَرْضِ الْمَسَائِلِ الْخِلَافِيَّةِ عِنْدَمَا يُرَجِّحُ طَالِبُ الْعِلْمِ يَنْبَغِي أَنْ يَأْتِيَ بِعِبَارَةٍ فِيهَا تَوَاضُعٌ فَلَا يَقُولُ الرَّاجِحُ عِنْدِي الَّذِي يَظْهَرُ لِي يَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ وَإِنَّمَا يَقُولُ الْأَقْرَبُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَوْ لَعَلَّ الرَّاجِحَ كَذَا أَوْ الَّذِي يَظْهَرُ كَذَا فَيَأْتِي بِعِبَارَةٍ فِيهَا تَوَاضُعٌ وَيَبْتَعِدُ عَنْ أَلْفَاظِ التَّفْخِيمِ وَالتَّعْظِيمِ

Iblis, Fir’aun, Qarun Jatuh Karena 3 Kata Ini – Jangan Sampai Kamu Ikut! – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Seorang hamba wajib waspada terhadap bahaya ucapan yang mengandung kata “saya”, “milikku”, dan “ada padaku”. Karena ketiga ungkapan ini menjadi ujian bagi Iblis, Fir’aun, dan Qarun. Iblis berkata, “Saya lebih baik daripadanya!” (QS.Shad: 76). Fir’aun berkata, “Kerajaan Mesir milikku.” (QS. Az-Zukhruf: 51). Qarun berkata, “Harta ini diberikan kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashas: 78). Penggunaan kata “saya” yang paling baik adalah ucapan seperti: “Saya hamba yang penuh dosa dan salah,” dan semisalnya. Kata “milikku” yang baik digunakan dalam kalimat seperti: “Aku memiliki dosa, kemiskinan, dan kefakiran.” Dan kata “ada padaku” dalam doa Nabi: “Ampunilah aku, baik dalam kesungguhan maupun candaanku, dalam kekeliruan maupun kesengajaanku, sebab semua itu ada padaku.” (HR. Muslim). Ini merupakan ucapan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. bahwa seorang hamba harus berhati-hati terhadap kata-kata yang mengandung makna kesombongan, keangkuhan, dan lain sebagainya. Seperti ungkapan “saya”, “milikku”, dan “ada padaku”. Karena kata-kata ini diucapkan oleh sejumlah orang zalim dan pelaku dosa. Seperti Iblis yang berkata, “Saya lebih baik daripadanya!” (QS.Shad: 76). Fir’aun berkata, “Kerajaan Mesir milikku.” (QS. Az-Zukhruf: 51). Qarun berkata, “Harta ini diberikan kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashas: 78). Sebaliknya, seorang muslim hendaknya bersikap rendah hati dan tidak memakai kata-kata tersebut untuk menunjukkan kebanggaan atau kesombongan. Ia senantiasa bersikap tawadhu (rendah hati). Kecuali ia menggunakan kata-kata itu untuk kalimat yang menunjukkan kerendahan hati. Misalnya dengan berkata: “Saya hamba yang penuh dosa dan salah.” Atau: “Aku memiliki dosa dan kekurangan,” dan semacamnya. Atau berkata seperti yang ada dalam hadis: “Ampunilah seluruh dosaku…“Ampunilah seluruh dosaku, baik yang disengaja maupun tidak, yang serius maupun bercanda. Semua itu ada padaku.” (HR. Muslim). Maka, ini adalah ucapan yang baik. Namun, jika seseorang menggunakannya untuk tujuan menyombongkan diri, maka itu tercela. Bahkan ketika memaparkan masalah-masalah yang diperselisihkan para ulama. Ketika penuntut ilmu menguatkan salah satu pendapat, hendaknya dia menggunakan kalimat yang menyiratkan kerendahan hati. Jangan mengatakan, “Menurutku inilah pendapat yang lebih tepat!” Atau, “Menurut pandanganku inilah yang benar!” Hendaknya ia menghindari kalimat-kalimat seperti itu. Namun, lebih baik ia mengucapkan: “Sepertinya yang benar, wallahu a’lam adalah…” “Semoga pendapat yang lebih benar adalah ini…” atau “Sepertinya yang lebih kuat adalah ini…” Hendaknya menggunakan kalimat yang mencerminkan kerendahan hati, serta menjauhi kalimat-kalimat yang menunjukkan kesombongan dan pengagungan diri. ===== لِيَحْذَرِ الْعَبْدُ كُلَّ الْحَذَرِ مِنْ طُغْيَانِ أَنَا وَلِيْ وَعِنْدِيْ فَإِنَّ هَذِهِ الْأَلْفَاظَ الثَّلَاثَةَ اُبْتُلِيَ بِهَا إِبْلِيسُ وَفِرْعَوْنُ وَقَارُونُ إِبْلِيسُ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ وَفِرْعَوْنُ قَالَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَقَارُونُ قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي وَأَحْسَنُ مَا وُضِعَتْ أَنَا فِي قَوْلِ الْعَبْدِ أَنَا الْعَبْدُ الْمُذْنِبُ الْمُخْطِئُ وَنَحْوِهِ وَلِي فِي قَوْلِهِ لِيَ الذَّنْبُ وَلِيَ الْمَسْكَنَةُ وَلِيَ الْفَقْرُ وَعِنْدِي فِي قَوْلِ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي وَخَطَئِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِيْ هَذَا مِنْ كَلَامِ الْإِمَامِ ابْنِ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّ الْعَبْدَ يَحْذَرُ مِنَ الْأَلْفَاظِ الَّتِي تُفِيدُ التَّفَاخُرَ وَالتَّعَاظُمَ وَنَحْوَ ذَلِكَ مِثْلُ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ أَنَا وَلِيْ وَعِنْدِيْ لِأَنَّ هَذِهِ ذُكِرَتْ عَنْ بَعْضِ الطُّغَاةِ وَالْمُجْرِمِيْنَ مِثْلُ إِبْلِيسَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ فِرْعَوْنُ قَالَ لِي مُلْكُ مِصْرَ قَارُونُ قَالَ إِنَّمَا أُوتِيْتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي وَإِنَّمَا الْمُسْلِمُ يَتَوَاضَعُ وَلَا يَأْتِي بِهَذِهِ الْأَلْفَاظِ الَّتِي فِيهَا شَيْءٌ مِنَ الْفَخْرِ وَالْخُيَلَاءِ وَإِنَّمَا يَتَوَاضَعُ إِلَّا إِذَا أَتَى بِهَا عَلَى سَبِيلِ التَّوَاضُع كَأَنْ يَقُولَ أَنَا الْعَبْدُ الْمُذْنِبُ الْمُخْطِئُ مَثَلًا أَوْ لِيَ الذَّنْبُ أَوْ الْمَسْكَنَةُ وَنَحْوِ ذَلِكَ أَوْ يَقُولُ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ خَطَئِي وَجِدِّي وَهَزْلِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي فَهَذَا أَمْرٌ حَسَنٌ لَكِنْ أَنْ يَأْتِيَ بِهَا عَلَى سَبِيلِ التَّفَاخُرِ فَهَذَا مَذْمُومٌ حَتَّى فِي عَرْضِ الْمَسَائِلِ الْخِلَافِيَّةِ عِنْدَمَا يُرَجِّحُ طَالِبُ الْعِلْمِ يَنْبَغِي أَنْ يَأْتِيَ بِعِبَارَةٍ فِيهَا تَوَاضُعٌ فَلَا يَقُولُ الرَّاجِحُ عِنْدِي الَّذِي يَظْهَرُ لِي يَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ وَإِنَّمَا يَقُولُ الْأَقْرَبُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَوْ لَعَلَّ الرَّاجِحَ كَذَا أَوْ الَّذِي يَظْهَرُ كَذَا فَيَأْتِي بِعِبَارَةٍ فِيهَا تَوَاضُعٌ وَيَبْتَعِدُ عَنْ أَلْفَاظِ التَّفْخِيمِ وَالتَّعْظِيمِ
Seorang hamba wajib waspada terhadap bahaya ucapan yang mengandung kata “saya”, “milikku”, dan “ada padaku”. Karena ketiga ungkapan ini menjadi ujian bagi Iblis, Fir’aun, dan Qarun. Iblis berkata, “Saya lebih baik daripadanya!” (QS.Shad: 76). Fir’aun berkata, “Kerajaan Mesir milikku.” (QS. Az-Zukhruf: 51). Qarun berkata, “Harta ini diberikan kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashas: 78). Penggunaan kata “saya” yang paling baik adalah ucapan seperti: “Saya hamba yang penuh dosa dan salah,” dan semisalnya. Kata “milikku” yang baik digunakan dalam kalimat seperti: “Aku memiliki dosa, kemiskinan, dan kefakiran.” Dan kata “ada padaku” dalam doa Nabi: “Ampunilah aku, baik dalam kesungguhan maupun candaanku, dalam kekeliruan maupun kesengajaanku, sebab semua itu ada padaku.” (HR. Muslim). Ini merupakan ucapan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. bahwa seorang hamba harus berhati-hati terhadap kata-kata yang mengandung makna kesombongan, keangkuhan, dan lain sebagainya. Seperti ungkapan “saya”, “milikku”, dan “ada padaku”. Karena kata-kata ini diucapkan oleh sejumlah orang zalim dan pelaku dosa. Seperti Iblis yang berkata, “Saya lebih baik daripadanya!” (QS.Shad: 76). Fir’aun berkata, “Kerajaan Mesir milikku.” (QS. Az-Zukhruf: 51). Qarun berkata, “Harta ini diberikan kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashas: 78). Sebaliknya, seorang muslim hendaknya bersikap rendah hati dan tidak memakai kata-kata tersebut untuk menunjukkan kebanggaan atau kesombongan. Ia senantiasa bersikap tawadhu (rendah hati). Kecuali ia menggunakan kata-kata itu untuk kalimat yang menunjukkan kerendahan hati. Misalnya dengan berkata: “Saya hamba yang penuh dosa dan salah.” Atau: “Aku memiliki dosa dan kekurangan,” dan semacamnya. Atau berkata seperti yang ada dalam hadis: “Ampunilah seluruh dosaku…“Ampunilah seluruh dosaku, baik yang disengaja maupun tidak, yang serius maupun bercanda. Semua itu ada padaku.” (HR. Muslim). Maka, ini adalah ucapan yang baik. Namun, jika seseorang menggunakannya untuk tujuan menyombongkan diri, maka itu tercela. Bahkan ketika memaparkan masalah-masalah yang diperselisihkan para ulama. Ketika penuntut ilmu menguatkan salah satu pendapat, hendaknya dia menggunakan kalimat yang menyiratkan kerendahan hati. Jangan mengatakan, “Menurutku inilah pendapat yang lebih tepat!” Atau, “Menurut pandanganku inilah yang benar!” Hendaknya ia menghindari kalimat-kalimat seperti itu. Namun, lebih baik ia mengucapkan: “Sepertinya yang benar, wallahu a’lam adalah…” “Semoga pendapat yang lebih benar adalah ini…” atau “Sepertinya yang lebih kuat adalah ini…” Hendaknya menggunakan kalimat yang mencerminkan kerendahan hati, serta menjauhi kalimat-kalimat yang menunjukkan kesombongan dan pengagungan diri. ===== لِيَحْذَرِ الْعَبْدُ كُلَّ الْحَذَرِ مِنْ طُغْيَانِ أَنَا وَلِيْ وَعِنْدِيْ فَإِنَّ هَذِهِ الْأَلْفَاظَ الثَّلَاثَةَ اُبْتُلِيَ بِهَا إِبْلِيسُ وَفِرْعَوْنُ وَقَارُونُ إِبْلِيسُ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ وَفِرْعَوْنُ قَالَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَقَارُونُ قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي وَأَحْسَنُ مَا وُضِعَتْ أَنَا فِي قَوْلِ الْعَبْدِ أَنَا الْعَبْدُ الْمُذْنِبُ الْمُخْطِئُ وَنَحْوِهِ وَلِي فِي قَوْلِهِ لِيَ الذَّنْبُ وَلِيَ الْمَسْكَنَةُ وَلِيَ الْفَقْرُ وَعِنْدِي فِي قَوْلِ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي وَخَطَئِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِيْ هَذَا مِنْ كَلَامِ الْإِمَامِ ابْنِ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّ الْعَبْدَ يَحْذَرُ مِنَ الْأَلْفَاظِ الَّتِي تُفِيدُ التَّفَاخُرَ وَالتَّعَاظُمَ وَنَحْوَ ذَلِكَ مِثْلُ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ أَنَا وَلِيْ وَعِنْدِيْ لِأَنَّ هَذِهِ ذُكِرَتْ عَنْ بَعْضِ الطُّغَاةِ وَالْمُجْرِمِيْنَ مِثْلُ إِبْلِيسَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ فِرْعَوْنُ قَالَ لِي مُلْكُ مِصْرَ قَارُونُ قَالَ إِنَّمَا أُوتِيْتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي وَإِنَّمَا الْمُسْلِمُ يَتَوَاضَعُ وَلَا يَأْتِي بِهَذِهِ الْأَلْفَاظِ الَّتِي فِيهَا شَيْءٌ مِنَ الْفَخْرِ وَالْخُيَلَاءِ وَإِنَّمَا يَتَوَاضَعُ إِلَّا إِذَا أَتَى بِهَا عَلَى سَبِيلِ التَّوَاضُع كَأَنْ يَقُولَ أَنَا الْعَبْدُ الْمُذْنِبُ الْمُخْطِئُ مَثَلًا أَوْ لِيَ الذَّنْبُ أَوْ الْمَسْكَنَةُ وَنَحْوِ ذَلِكَ أَوْ يَقُولُ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ خَطَئِي وَجِدِّي وَهَزْلِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي فَهَذَا أَمْرٌ حَسَنٌ لَكِنْ أَنْ يَأْتِيَ بِهَا عَلَى سَبِيلِ التَّفَاخُرِ فَهَذَا مَذْمُومٌ حَتَّى فِي عَرْضِ الْمَسَائِلِ الْخِلَافِيَّةِ عِنْدَمَا يُرَجِّحُ طَالِبُ الْعِلْمِ يَنْبَغِي أَنْ يَأْتِيَ بِعِبَارَةٍ فِيهَا تَوَاضُعٌ فَلَا يَقُولُ الرَّاجِحُ عِنْدِي الَّذِي يَظْهَرُ لِي يَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ وَإِنَّمَا يَقُولُ الْأَقْرَبُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَوْ لَعَلَّ الرَّاجِحَ كَذَا أَوْ الَّذِي يَظْهَرُ كَذَا فَيَأْتِي بِعِبَارَةٍ فِيهَا تَوَاضُعٌ وَيَبْتَعِدُ عَنْ أَلْفَاظِ التَّفْخِيمِ وَالتَّعْظِيمِ


Seorang hamba wajib waspada terhadap bahaya ucapan yang mengandung kata “saya”, “milikku”, dan “ada padaku”. Karena ketiga ungkapan ini menjadi ujian bagi Iblis, Fir’aun, dan Qarun. Iblis berkata, “Saya lebih baik daripadanya!” (QS.Shad: 76). Fir’aun berkata, “Kerajaan Mesir milikku.” (QS. Az-Zukhruf: 51). Qarun berkata, “Harta ini diberikan kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashas: 78). Penggunaan kata “saya” yang paling baik adalah ucapan seperti: “Saya hamba yang penuh dosa dan salah,” dan semisalnya. Kata “milikku” yang baik digunakan dalam kalimat seperti: “Aku memiliki dosa, kemiskinan, dan kefakiran.” Dan kata “ada padaku” dalam doa Nabi: “Ampunilah aku, baik dalam kesungguhan maupun candaanku, dalam kekeliruan maupun kesengajaanku, sebab semua itu ada padaku.” (HR. Muslim). Ini merupakan ucapan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. bahwa seorang hamba harus berhati-hati terhadap kata-kata yang mengandung makna kesombongan, keangkuhan, dan lain sebagainya. Seperti ungkapan “saya”, “milikku”, dan “ada padaku”. Karena kata-kata ini diucapkan oleh sejumlah orang zalim dan pelaku dosa. Seperti Iblis yang berkata, “Saya lebih baik daripadanya!” (QS.Shad: 76). Fir’aun berkata, “Kerajaan Mesir milikku.” (QS. Az-Zukhruf: 51). Qarun berkata, “Harta ini diberikan kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashas: 78). Sebaliknya, seorang muslim hendaknya bersikap rendah hati dan tidak memakai kata-kata tersebut untuk menunjukkan kebanggaan atau kesombongan. Ia senantiasa bersikap tawadhu (rendah hati). Kecuali ia menggunakan kata-kata itu untuk kalimat yang menunjukkan kerendahan hati. Misalnya dengan berkata: “Saya hamba yang penuh dosa dan salah.” Atau: “Aku memiliki dosa dan kekurangan,” dan semacamnya. Atau berkata seperti yang ada dalam hadis: “Ampunilah seluruh dosaku…“Ampunilah seluruh dosaku, baik yang disengaja maupun tidak, yang serius maupun bercanda. Semua itu ada padaku.” (HR. Muslim). Maka, ini adalah ucapan yang baik. Namun, jika seseorang menggunakannya untuk tujuan menyombongkan diri, maka itu tercela. Bahkan ketika memaparkan masalah-masalah yang diperselisihkan para ulama. Ketika penuntut ilmu menguatkan salah satu pendapat, hendaknya dia menggunakan kalimat yang menyiratkan kerendahan hati. Jangan mengatakan, “Menurutku inilah pendapat yang lebih tepat!” Atau, “Menurut pandanganku inilah yang benar!” Hendaknya ia menghindari kalimat-kalimat seperti itu. Namun, lebih baik ia mengucapkan: “Sepertinya yang benar, wallahu a’lam adalah…” “Semoga pendapat yang lebih benar adalah ini…” atau “Sepertinya yang lebih kuat adalah ini…” Hendaknya menggunakan kalimat yang mencerminkan kerendahan hati, serta menjauhi kalimat-kalimat yang menunjukkan kesombongan dan pengagungan diri. ===== لِيَحْذَرِ الْعَبْدُ كُلَّ الْحَذَرِ مِنْ طُغْيَانِ أَنَا وَلِيْ وَعِنْدِيْ فَإِنَّ هَذِهِ الْأَلْفَاظَ الثَّلَاثَةَ اُبْتُلِيَ بِهَا إِبْلِيسُ وَفِرْعَوْنُ وَقَارُونُ إِبْلِيسُ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ وَفِرْعَوْنُ قَالَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَقَارُونُ قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي وَأَحْسَنُ مَا وُضِعَتْ أَنَا فِي قَوْلِ الْعَبْدِ أَنَا الْعَبْدُ الْمُذْنِبُ الْمُخْطِئُ وَنَحْوِهِ وَلِي فِي قَوْلِهِ لِيَ الذَّنْبُ وَلِيَ الْمَسْكَنَةُ وَلِيَ الْفَقْرُ وَعِنْدِي فِي قَوْلِ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي وَخَطَئِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِيْ هَذَا مِنْ كَلَامِ الْإِمَامِ ابْنِ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّ الْعَبْدَ يَحْذَرُ مِنَ الْأَلْفَاظِ الَّتِي تُفِيدُ التَّفَاخُرَ وَالتَّعَاظُمَ وَنَحْوَ ذَلِكَ مِثْلُ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ أَنَا وَلِيْ وَعِنْدِيْ لِأَنَّ هَذِهِ ذُكِرَتْ عَنْ بَعْضِ الطُّغَاةِ وَالْمُجْرِمِيْنَ مِثْلُ إِبْلِيسَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ فِرْعَوْنُ قَالَ لِي مُلْكُ مِصْرَ قَارُونُ قَالَ إِنَّمَا أُوتِيْتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي وَإِنَّمَا الْمُسْلِمُ يَتَوَاضَعُ وَلَا يَأْتِي بِهَذِهِ الْأَلْفَاظِ الَّتِي فِيهَا شَيْءٌ مِنَ الْفَخْرِ وَالْخُيَلَاءِ وَإِنَّمَا يَتَوَاضَعُ إِلَّا إِذَا أَتَى بِهَا عَلَى سَبِيلِ التَّوَاضُع كَأَنْ يَقُولَ أَنَا الْعَبْدُ الْمُذْنِبُ الْمُخْطِئُ مَثَلًا أَوْ لِيَ الذَّنْبُ أَوْ الْمَسْكَنَةُ وَنَحْوِ ذَلِكَ أَوْ يَقُولُ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ خَطَئِي وَجِدِّي وَهَزْلِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي فَهَذَا أَمْرٌ حَسَنٌ لَكِنْ أَنْ يَأْتِيَ بِهَا عَلَى سَبِيلِ التَّفَاخُرِ فَهَذَا مَذْمُومٌ حَتَّى فِي عَرْضِ الْمَسَائِلِ الْخِلَافِيَّةِ عِنْدَمَا يُرَجِّحُ طَالِبُ الْعِلْمِ يَنْبَغِي أَنْ يَأْتِيَ بِعِبَارَةٍ فِيهَا تَوَاضُعٌ فَلَا يَقُولُ الرَّاجِحُ عِنْدِي الَّذِي يَظْهَرُ لِي يَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ وَإِنَّمَا يَقُولُ الْأَقْرَبُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَوْ لَعَلَّ الرَّاجِحَ كَذَا أَوْ الَّذِي يَظْهَرُ كَذَا فَيَأْتِي بِعِبَارَةٍ فِيهَا تَوَاضُعٌ وَيَبْتَعِدُ عَنْ أَلْفَاظِ التَّفْخِيمِ وَالتَّعْظِيمِ

Ternyata Shalat Witir Punya Tiga Level – Kamu di Level Mana? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan NasehatUlama

Shalat Witir bagi seorang Muslim memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah yang paling utama, yaitu melaksanakan Shalat Witir pada sepertiga malam terakhir. Shalat dua rakaat-dua rakaat, lalu mengakhirinya dengan satu rakaat. Tingkatan kedua: melaksanakannya sebelum tidur. Jika ia tidak mampu bangun pada akhir malam, atau khawatir tidak terbangun di akhir malam, maka hendaklah dia melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Inilah yang diwasiatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sebagian Sahabat, seperti Abu Hurairah. Karena Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sering kali begadang untuk menjaga hafalan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau khawatir tidak terbangun di akhir malam. Sehingga beliau melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Karenanya, beliau berkata, “Sahabat terkasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan tiga hal kepadaku…” Salah satunya: “…agar aku berwitir sebelum tidur.” Demikian pula Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, karena keteguhannya dan sikap hati-hati, beliau berwitir sebelum tidur sebab khawatir tidak terbangun di akhir malam. Karena di zaman itu mereka tidak punya alarm, jam, atau perangkat semacamnya. Sedangkan Umar bin Khattab mendirikan Shalat Witir di akhir malam. Adapun Abu Bakar mengamalkan yang lebih aman. Mungkin Abu Bakar juga shalat di akhir malam, tapi tanpa berwitir lagi, karena beliau berwitir sebelum tidur sebagai bentuk kehati-hatian. Jadi, ada sebagian Sahabat yang mendirikan Shalat Witir sebelum tidur. Kemudian jika tingkat pertama dan kedua tidak bisa dia lakukan, dia bisa menerapkan tingkatan ketiga, yaitu mendirikan Shalat Witir, langsung setelah Shalat Isya. Kesimpulannya, Shalat Witir punya tiga tingkatan: Tingkatan pertama, ini yang paling sempurna dan utama, adalah melakukannya pada sepertiga malam terakhir. Tingkatan kedua: sebelum tidur. Tingkatan ketiga: setelah Shalat Isya. Seorang muslim hendaknya selalu bersemangat menjalankan Shalat Witir. Sebab, ini adalah sunnah muakkadah yang sangat ditekankan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya saat safar. Beliau selalu menjaganya, baik ketika mukim maupun dalam perjalanan. Maka setiap muslim wajib berusaha melaksanakannya, meskipun tidak mampu mengerjakannya di akhir malam atau sebelum tidur. Dia tetap dapat melaksanakan Shalat Witir setelah Shalat Isya. ===== تَكُونُ صَلَاةُ الْوَتْرِ بِالنِّسْبَةِ لِلْمُسْلِمِ عَلَى ثَلَاثِ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَفْضَلُ أَنْ يَجْعَلَ صَلَاةَ الْوِتْرِ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي مَثْنَى مَثْنَى ثُمَّ يُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ وَالدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَجْعَلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنَامَ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ يَخْشَى مِنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ لَنْ يَقُومَ مِن آخِرِ اللَّيْلِ فَيُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ وَهَذَا قَدْ وَصَّى بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ الصَّحَابَةِ كَأَبِي هُرَيْرَةَ فَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَسْهَرُ لِأَجْلِ تَعَاهُدِ مَا حَفِظَهُ مِنْ أَحَادِيثَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَكَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ وَلِهَذَا قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَنْ أُوْتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ وَأَيْضًا وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ شِدَّةِ حَزْمِهِ وَاحْتِيَاطِهِ أَنَّهُ كَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ لِأَنَّهُ يَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَلَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مُنَبِّهَاتٌ أَوْ سَاعَاتٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ وَكَانَ عُمَرُ يَقُومُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَأَبُو بَكْرٍ أَخَذَ بِالْأَحْوَطِ وَرُبَّمَا أَنَّهُ يَقُومُ لَكِنَّهُ لَا يُوتِرُ لَكِنْ كَانَ يُوتِرُ احْتِيَاطًا قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَكَانَ إِذًا بَعْضُ الصَّحَابَةِ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَإِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ لَا هَذَا وَلَا ذَاكَ انْتَقَلَ لِلْمَرْتَبَةِ الثَّالِثَةِ وَهُوَ أَنْ يُوتِرَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَإِذًا الْوِتْرُ لَهُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَكْمَلُ وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُونَ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ الدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ الدَّرَجَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَى صَلَاةِ الْوِتْرِ فَإِنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ جِدًّاحَتَّى إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَدَعَهَا فِي السَّفَرِ كَانَ يُحَافِظُ عَلَيْهَا سَفَرًا وَحَضَرًا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا حَتَّى لَوْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ يُصَلِّي صَلَاةَ الْوِتْرِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ

Ternyata Shalat Witir Punya Tiga Level – Kamu di Level Mana? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan NasehatUlama

Shalat Witir bagi seorang Muslim memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah yang paling utama, yaitu melaksanakan Shalat Witir pada sepertiga malam terakhir. Shalat dua rakaat-dua rakaat, lalu mengakhirinya dengan satu rakaat. Tingkatan kedua: melaksanakannya sebelum tidur. Jika ia tidak mampu bangun pada akhir malam, atau khawatir tidak terbangun di akhir malam, maka hendaklah dia melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Inilah yang diwasiatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sebagian Sahabat, seperti Abu Hurairah. Karena Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sering kali begadang untuk menjaga hafalan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau khawatir tidak terbangun di akhir malam. Sehingga beliau melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Karenanya, beliau berkata, “Sahabat terkasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan tiga hal kepadaku…” Salah satunya: “…agar aku berwitir sebelum tidur.” Demikian pula Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, karena keteguhannya dan sikap hati-hati, beliau berwitir sebelum tidur sebab khawatir tidak terbangun di akhir malam. Karena di zaman itu mereka tidak punya alarm, jam, atau perangkat semacamnya. Sedangkan Umar bin Khattab mendirikan Shalat Witir di akhir malam. Adapun Abu Bakar mengamalkan yang lebih aman. Mungkin Abu Bakar juga shalat di akhir malam, tapi tanpa berwitir lagi, karena beliau berwitir sebelum tidur sebagai bentuk kehati-hatian. Jadi, ada sebagian Sahabat yang mendirikan Shalat Witir sebelum tidur. Kemudian jika tingkat pertama dan kedua tidak bisa dia lakukan, dia bisa menerapkan tingkatan ketiga, yaitu mendirikan Shalat Witir, langsung setelah Shalat Isya. Kesimpulannya, Shalat Witir punya tiga tingkatan: Tingkatan pertama, ini yang paling sempurna dan utama, adalah melakukannya pada sepertiga malam terakhir. Tingkatan kedua: sebelum tidur. Tingkatan ketiga: setelah Shalat Isya. Seorang muslim hendaknya selalu bersemangat menjalankan Shalat Witir. Sebab, ini adalah sunnah muakkadah yang sangat ditekankan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya saat safar. Beliau selalu menjaganya, baik ketika mukim maupun dalam perjalanan. Maka setiap muslim wajib berusaha melaksanakannya, meskipun tidak mampu mengerjakannya di akhir malam atau sebelum tidur. Dia tetap dapat melaksanakan Shalat Witir setelah Shalat Isya. ===== تَكُونُ صَلَاةُ الْوَتْرِ بِالنِّسْبَةِ لِلْمُسْلِمِ عَلَى ثَلَاثِ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَفْضَلُ أَنْ يَجْعَلَ صَلَاةَ الْوِتْرِ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي مَثْنَى مَثْنَى ثُمَّ يُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ وَالدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَجْعَلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنَامَ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ يَخْشَى مِنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ لَنْ يَقُومَ مِن آخِرِ اللَّيْلِ فَيُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ وَهَذَا قَدْ وَصَّى بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ الصَّحَابَةِ كَأَبِي هُرَيْرَةَ فَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَسْهَرُ لِأَجْلِ تَعَاهُدِ مَا حَفِظَهُ مِنْ أَحَادِيثَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَكَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ وَلِهَذَا قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَنْ أُوْتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ وَأَيْضًا وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ شِدَّةِ حَزْمِهِ وَاحْتِيَاطِهِ أَنَّهُ كَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ لِأَنَّهُ يَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَلَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مُنَبِّهَاتٌ أَوْ سَاعَاتٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ وَكَانَ عُمَرُ يَقُومُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَأَبُو بَكْرٍ أَخَذَ بِالْأَحْوَطِ وَرُبَّمَا أَنَّهُ يَقُومُ لَكِنَّهُ لَا يُوتِرُ لَكِنْ كَانَ يُوتِرُ احْتِيَاطًا قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَكَانَ إِذًا بَعْضُ الصَّحَابَةِ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَإِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ لَا هَذَا وَلَا ذَاكَ انْتَقَلَ لِلْمَرْتَبَةِ الثَّالِثَةِ وَهُوَ أَنْ يُوتِرَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَإِذًا الْوِتْرُ لَهُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَكْمَلُ وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُونَ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ الدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ الدَّرَجَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَى صَلَاةِ الْوِتْرِ فَإِنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ جِدًّاحَتَّى إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَدَعَهَا فِي السَّفَرِ كَانَ يُحَافِظُ عَلَيْهَا سَفَرًا وَحَضَرًا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا حَتَّى لَوْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ يُصَلِّي صَلَاةَ الْوِتْرِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ
Shalat Witir bagi seorang Muslim memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah yang paling utama, yaitu melaksanakan Shalat Witir pada sepertiga malam terakhir. Shalat dua rakaat-dua rakaat, lalu mengakhirinya dengan satu rakaat. Tingkatan kedua: melaksanakannya sebelum tidur. Jika ia tidak mampu bangun pada akhir malam, atau khawatir tidak terbangun di akhir malam, maka hendaklah dia melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Inilah yang diwasiatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sebagian Sahabat, seperti Abu Hurairah. Karena Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sering kali begadang untuk menjaga hafalan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau khawatir tidak terbangun di akhir malam. Sehingga beliau melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Karenanya, beliau berkata, “Sahabat terkasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan tiga hal kepadaku…” Salah satunya: “…agar aku berwitir sebelum tidur.” Demikian pula Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, karena keteguhannya dan sikap hati-hati, beliau berwitir sebelum tidur sebab khawatir tidak terbangun di akhir malam. Karena di zaman itu mereka tidak punya alarm, jam, atau perangkat semacamnya. Sedangkan Umar bin Khattab mendirikan Shalat Witir di akhir malam. Adapun Abu Bakar mengamalkan yang lebih aman. Mungkin Abu Bakar juga shalat di akhir malam, tapi tanpa berwitir lagi, karena beliau berwitir sebelum tidur sebagai bentuk kehati-hatian. Jadi, ada sebagian Sahabat yang mendirikan Shalat Witir sebelum tidur. Kemudian jika tingkat pertama dan kedua tidak bisa dia lakukan, dia bisa menerapkan tingkatan ketiga, yaitu mendirikan Shalat Witir, langsung setelah Shalat Isya. Kesimpulannya, Shalat Witir punya tiga tingkatan: Tingkatan pertama, ini yang paling sempurna dan utama, adalah melakukannya pada sepertiga malam terakhir. Tingkatan kedua: sebelum tidur. Tingkatan ketiga: setelah Shalat Isya. Seorang muslim hendaknya selalu bersemangat menjalankan Shalat Witir. Sebab, ini adalah sunnah muakkadah yang sangat ditekankan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya saat safar. Beliau selalu menjaganya, baik ketika mukim maupun dalam perjalanan. Maka setiap muslim wajib berusaha melaksanakannya, meskipun tidak mampu mengerjakannya di akhir malam atau sebelum tidur. Dia tetap dapat melaksanakan Shalat Witir setelah Shalat Isya. ===== تَكُونُ صَلَاةُ الْوَتْرِ بِالنِّسْبَةِ لِلْمُسْلِمِ عَلَى ثَلَاثِ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَفْضَلُ أَنْ يَجْعَلَ صَلَاةَ الْوِتْرِ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي مَثْنَى مَثْنَى ثُمَّ يُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ وَالدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَجْعَلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنَامَ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ يَخْشَى مِنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ لَنْ يَقُومَ مِن آخِرِ اللَّيْلِ فَيُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ وَهَذَا قَدْ وَصَّى بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ الصَّحَابَةِ كَأَبِي هُرَيْرَةَ فَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَسْهَرُ لِأَجْلِ تَعَاهُدِ مَا حَفِظَهُ مِنْ أَحَادِيثَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَكَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ وَلِهَذَا قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَنْ أُوْتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ وَأَيْضًا وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ شِدَّةِ حَزْمِهِ وَاحْتِيَاطِهِ أَنَّهُ كَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ لِأَنَّهُ يَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَلَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مُنَبِّهَاتٌ أَوْ سَاعَاتٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ وَكَانَ عُمَرُ يَقُومُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَأَبُو بَكْرٍ أَخَذَ بِالْأَحْوَطِ وَرُبَّمَا أَنَّهُ يَقُومُ لَكِنَّهُ لَا يُوتِرُ لَكِنْ كَانَ يُوتِرُ احْتِيَاطًا قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَكَانَ إِذًا بَعْضُ الصَّحَابَةِ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَإِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ لَا هَذَا وَلَا ذَاكَ انْتَقَلَ لِلْمَرْتَبَةِ الثَّالِثَةِ وَهُوَ أَنْ يُوتِرَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَإِذًا الْوِتْرُ لَهُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَكْمَلُ وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُونَ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ الدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ الدَّرَجَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَى صَلَاةِ الْوِتْرِ فَإِنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ جِدًّاحَتَّى إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَدَعَهَا فِي السَّفَرِ كَانَ يُحَافِظُ عَلَيْهَا سَفَرًا وَحَضَرًا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا حَتَّى لَوْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ يُصَلِّي صَلَاةَ الْوِتْرِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ


Shalat Witir bagi seorang Muslim memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah yang paling utama, yaitu melaksanakan Shalat Witir pada sepertiga malam terakhir. Shalat dua rakaat-dua rakaat, lalu mengakhirinya dengan satu rakaat. Tingkatan kedua: melaksanakannya sebelum tidur. Jika ia tidak mampu bangun pada akhir malam, atau khawatir tidak terbangun di akhir malam, maka hendaklah dia melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Inilah yang diwasiatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sebagian Sahabat, seperti Abu Hurairah. Karena Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sering kali begadang untuk menjaga hafalan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau khawatir tidak terbangun di akhir malam. Sehingga beliau melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Karenanya, beliau berkata, “Sahabat terkasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan tiga hal kepadaku…” Salah satunya: “…agar aku berwitir sebelum tidur.” Demikian pula Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, karena keteguhannya dan sikap hati-hati, beliau berwitir sebelum tidur sebab khawatir tidak terbangun di akhir malam. Karena di zaman itu mereka tidak punya alarm, jam, atau perangkat semacamnya. Sedangkan Umar bin Khattab mendirikan Shalat Witir di akhir malam. Adapun Abu Bakar mengamalkan yang lebih aman. Mungkin Abu Bakar juga shalat di akhir malam, tapi tanpa berwitir lagi, karena beliau berwitir sebelum tidur sebagai bentuk kehati-hatian. Jadi, ada sebagian Sahabat yang mendirikan Shalat Witir sebelum tidur. Kemudian jika tingkat pertama dan kedua tidak bisa dia lakukan, dia bisa menerapkan tingkatan ketiga, yaitu mendirikan Shalat Witir, langsung setelah Shalat Isya. Kesimpulannya, Shalat Witir punya tiga tingkatan: Tingkatan pertama, ini yang paling sempurna dan utama, adalah melakukannya pada sepertiga malam terakhir. Tingkatan kedua: sebelum tidur. Tingkatan ketiga: setelah Shalat Isya. Seorang muslim hendaknya selalu bersemangat menjalankan Shalat Witir. Sebab, ini adalah sunnah muakkadah yang sangat ditekankan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya saat safar. Beliau selalu menjaganya, baik ketika mukim maupun dalam perjalanan. Maka setiap muslim wajib berusaha melaksanakannya, meskipun tidak mampu mengerjakannya di akhir malam atau sebelum tidur. Dia tetap dapat melaksanakan Shalat Witir setelah Shalat Isya. ===== تَكُونُ صَلَاةُ الْوَتْرِ بِالنِّسْبَةِ لِلْمُسْلِمِ عَلَى ثَلَاثِ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَفْضَلُ أَنْ يَجْعَلَ صَلَاةَ الْوِتْرِ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي مَثْنَى مَثْنَى ثُمَّ يُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ وَالدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَجْعَلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنَامَ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ يَخْشَى مِنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ لَنْ يَقُومَ مِن آخِرِ اللَّيْلِ فَيُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ وَهَذَا قَدْ وَصَّى بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ الصَّحَابَةِ كَأَبِي هُرَيْرَةَ فَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَسْهَرُ لِأَجْلِ تَعَاهُدِ مَا حَفِظَهُ مِنْ أَحَادِيثَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَكَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ وَلِهَذَا قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَنْ أُوْتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ وَأَيْضًا وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ شِدَّةِ حَزْمِهِ وَاحْتِيَاطِهِ أَنَّهُ كَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ لِأَنَّهُ يَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَلَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مُنَبِّهَاتٌ أَوْ سَاعَاتٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ وَكَانَ عُمَرُ يَقُومُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَأَبُو بَكْرٍ أَخَذَ بِالْأَحْوَطِ وَرُبَّمَا أَنَّهُ يَقُومُ لَكِنَّهُ لَا يُوتِرُ لَكِنْ كَانَ يُوتِرُ احْتِيَاطًا قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَكَانَ إِذًا بَعْضُ الصَّحَابَةِ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَإِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ لَا هَذَا وَلَا ذَاكَ انْتَقَلَ لِلْمَرْتَبَةِ الثَّالِثَةِ وَهُوَ أَنْ يُوتِرَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَإِذًا الْوِتْرُ لَهُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَكْمَلُ وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُونَ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ الدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ الدَّرَجَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَى صَلَاةِ الْوِتْرِ فَإِنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ جِدًّاحَتَّى إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَدَعَهَا فِي السَّفَرِ كَانَ يُحَافِظُ عَلَيْهَا سَفَرًا وَحَضَرًا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا حَتَّى لَوْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ يُصَلِّي صَلَاةَ الْوِتْرِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ

Teks Khotbah Jumat: Meneladani Amanah Nabi dalam Kehidupan Sehari-Hari

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat sekalian,Pertama-tama, khatib mengajak diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian. Marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah serta meninggalkan dosa dan kemaksiatan kepada-Nya. Dengan ketakwaan inilah, wahai jemaah sekalian, Allah akan memberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang kita hadapi dan memberikan rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 2-3)Tema khotbah kita hari ini adalah mengenai amanah, sebuah akhlak agung yang menjadi ciri utama seorang muslim. Allah mengulang pembahasan amanah dalam banyak ayat, dan Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai salah satu tanda keimanan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)Ayat ini mencakup semua bentuk amanah, baik itu dalam hal harta, jabatan, janji, pekerjaan, keluarga, hingga waktu yang telah Allah berikan kepada kita. Apakah harta yang kita miliki bersumber dari sesuatu yang halal? Apakah harta tersebut telah kita pergunakan sebagaimana mestinya? Dalam hal pekerjaan, apakah kita sudah amanah dengan kontrak kerja yang ada? Apakah kita tidak terlambat di dalam menunaikannya? Apakah umur dan waktu yang telah Allah berikan kepada kita benar-benar telah kita manfaatkan sebaik-baiknya? Ataukah justru lebih banyak diisi dengan hal-hal sia-sia?Sungguh di hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban kita akan semua amanah tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لا تَزولُ قَدَمَا عَبْدٍ يومَ القيامةِ، حتَّى يُسأَلَ عن عُمُرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن عِلْمِه؛ فيم فعَلَ فيه؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسَبَه؟ وفيم أنفَقَه؟ وعن جِسمِه؛ فيمَ أبلاه؟“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya, kemana dia habiskan; tentang ilmunya, bagaimana dia mengamalkannya; tentang hartanya, dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi no. 2417)Sungguh, menjadi pribadi yang bertanggungjawab penuh atas setiap amanah yang berada di pundaknya merupakan sebuah keharusan bagi setiap muslim. Karena amanah merupakan salah satu ciri keimanan dalam diri seseorang. Allah menyebutkan ciri-ciri orang beriman dalam surah Al-Mu’minun,وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ“Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)Allah Ta’ala juga memperingatkan kita semua agar jangan sampai mengkhianati amanah yang telah Allah dan Nabi-Nya berikan kepada kita serta mengkhianati amanah yang telah diberikan orang lain kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul serta mengkhianati amanah-amanah kalian.” (QS. Al-Anfal: 27)Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita semua pastilah memikul amanah, dan kita semua harus bertanggungjawab atas amanah yang kita pikul. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ فالأميرُ الذي على الناسِ راعٍ عليهم وهو مسؤولٌ عنهم والرجلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ وهو مسؤولٌ عنهم والمرأةُ راعيةٌ على بيتِ بعلها وولدِهِ وهي مسؤولةٌ عنهم وعبدُ الرجلِ راعٍ على بيتِ سيدِهِ وهو مسؤولٌ عنهُ ألا فكلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang menangani urusan umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atasnya. Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Mereka yang tidak mau menjalankan amanah yang telah diberikan kepadanya dan mengkhianatinya, dikhawatirkan mereka akan terjatuh ke dalam salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان“Tanda orang munafik itu ada tiga: bila bicara, ia dusta; bila berjanji, ia menyelisihi; dan bila diberikan kepercayaan, ia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)Sungguh ini harus menjadi perhatian setiap muslim. Bahwa tindakan khianat terhadap amanah yang ada dapat mengantarkannya kepada perbuatan kemunafikan. Yang telah jelas bagi kita semua bahwa orang-orang munafik akan menempati neraka paling dalam, waliyyadzu billah. Semoga Allah Ta’ala menanamkan kepada kita akhlak amanah, menguatkan kita untuk istikamah di dalam melaksanakannya dan menghindarkan kita dari akhlak tidak terpuji.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُJemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Sungguh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah puncak keteladanan dalam amanah. Orang Quraisy memanggil beliau dengan gelar Al-Amîn jauh sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Bahkan ketika semua orang memusuhi beliau, mereka tetap menitipkan barang mereka kepada beliau.Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah, beliau meminta Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk tinggal terlebih dahulu di Makkah beberapa hari hanya untuk mengembalikan barang-barang orang Quraisy yang masih beliau simpan. Padahal mereka adalah musuh yang hendak membunuh beliau. Sungguh, ini adalah bentuk keteladanan nyata yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Jemaah yang dimuliakan Allah, sungguh amanah adalah akhlak yang berat yang harus diperjuangkan dan tidak boleh disepelekan. Bahkan langit dan bumi, dua makhluk Allah yang sangat besar sekalipun, mereka tidak sanggup untuk memikulnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)Ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan,الْأَمَانَةُ أَدَاءُ الصلاة وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصِدْقُ الْحَدِيثِ وَقَضَاءُ الدَّيْنِ وَالْعَدْلُ فِي الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَأَشَدُّ مِنْ هَذَا كُلِّهِ الْوَدَائِعُ“Amanah (di sini) maksudnya adalah melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, menunaikan haji ke Baitullah, berkata jujur, membayar utang, berlaku adil dalam takaran dan timbangan, dan yang paling berat dari semua itu adalah menjaga titipan.” (Tafsir Al-Baghawi, 6: 380)Begitu beratnya amanah ini, sampai-sampai Ibnu Mas’ud juga mengatakan bahwa yang pertama kali Allah cabut dari umat Islam adalah sifat amanah,أوَّلُ ما تَفْقِدُونَ مِنْ دينِكُمُ الأمَانَةُ وآخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِينِكُمُ الصَّلَاةُ“Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah salat.” (Diriwayatkan oleh Al-Wahidi dalam kitabnya, At-Tafsiir Al-Wasiith no. 556)Tidak mengherankan jika kita dapati di zaman sekarang, seorang muslim yang dengan mudahnya menyepelekan amanah yang dipikulnya. Baik itu amanah yang menyangkut hak Allah Ta’ala berupa kewajiban salat dan hal-hal lainnya, ataupun amanah yang menyangkut hak manusia.Betapa banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan salat, tidak jujur dalam bermuamalah, tidak membayar utang, tidak amanah dalam pekerjaan, bahkan tidak amanah dalam keluarganya, waliyaadzu billah.Jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan limpahan karunia dari Allah.Sudah sepatutnya bagi kita semua untuk mengoreksi kembali, apakah kita sudah menjadi hamba Allah yang amanah? Mengerjakan seluruh kewajiban yang telah Allah bebankan kepada kita. Sebagai kepala keluarga apakah kita sudah menjadi kepala keluarga yang menunaikan hak-hak anggota keluarga kita? Apakah kita sudah amanah dalam pekerjaan kita? Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga martabat kaum muslimin dengan menjaga kualitas amanah kita.إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، َللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَBaca juga: Menjalani Kehidupan dengan Tawaduk***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

Teks Khotbah Jumat: Meneladani Amanah Nabi dalam Kehidupan Sehari-Hari

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat sekalian,Pertama-tama, khatib mengajak diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian. Marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah serta meninggalkan dosa dan kemaksiatan kepada-Nya. Dengan ketakwaan inilah, wahai jemaah sekalian, Allah akan memberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang kita hadapi dan memberikan rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 2-3)Tema khotbah kita hari ini adalah mengenai amanah, sebuah akhlak agung yang menjadi ciri utama seorang muslim. Allah mengulang pembahasan amanah dalam banyak ayat, dan Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai salah satu tanda keimanan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)Ayat ini mencakup semua bentuk amanah, baik itu dalam hal harta, jabatan, janji, pekerjaan, keluarga, hingga waktu yang telah Allah berikan kepada kita. Apakah harta yang kita miliki bersumber dari sesuatu yang halal? Apakah harta tersebut telah kita pergunakan sebagaimana mestinya? Dalam hal pekerjaan, apakah kita sudah amanah dengan kontrak kerja yang ada? Apakah kita tidak terlambat di dalam menunaikannya? Apakah umur dan waktu yang telah Allah berikan kepada kita benar-benar telah kita manfaatkan sebaik-baiknya? Ataukah justru lebih banyak diisi dengan hal-hal sia-sia?Sungguh di hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban kita akan semua amanah tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لا تَزولُ قَدَمَا عَبْدٍ يومَ القيامةِ، حتَّى يُسأَلَ عن عُمُرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن عِلْمِه؛ فيم فعَلَ فيه؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسَبَه؟ وفيم أنفَقَه؟ وعن جِسمِه؛ فيمَ أبلاه؟“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya, kemana dia habiskan; tentang ilmunya, bagaimana dia mengamalkannya; tentang hartanya, dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi no. 2417)Sungguh, menjadi pribadi yang bertanggungjawab penuh atas setiap amanah yang berada di pundaknya merupakan sebuah keharusan bagi setiap muslim. Karena amanah merupakan salah satu ciri keimanan dalam diri seseorang. Allah menyebutkan ciri-ciri orang beriman dalam surah Al-Mu’minun,وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ“Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)Allah Ta’ala juga memperingatkan kita semua agar jangan sampai mengkhianati amanah yang telah Allah dan Nabi-Nya berikan kepada kita serta mengkhianati amanah yang telah diberikan orang lain kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul serta mengkhianati amanah-amanah kalian.” (QS. Al-Anfal: 27)Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita semua pastilah memikul amanah, dan kita semua harus bertanggungjawab atas amanah yang kita pikul. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ فالأميرُ الذي على الناسِ راعٍ عليهم وهو مسؤولٌ عنهم والرجلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ وهو مسؤولٌ عنهم والمرأةُ راعيةٌ على بيتِ بعلها وولدِهِ وهي مسؤولةٌ عنهم وعبدُ الرجلِ راعٍ على بيتِ سيدِهِ وهو مسؤولٌ عنهُ ألا فكلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang menangani urusan umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atasnya. Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Mereka yang tidak mau menjalankan amanah yang telah diberikan kepadanya dan mengkhianatinya, dikhawatirkan mereka akan terjatuh ke dalam salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان“Tanda orang munafik itu ada tiga: bila bicara, ia dusta; bila berjanji, ia menyelisihi; dan bila diberikan kepercayaan, ia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)Sungguh ini harus menjadi perhatian setiap muslim. Bahwa tindakan khianat terhadap amanah yang ada dapat mengantarkannya kepada perbuatan kemunafikan. Yang telah jelas bagi kita semua bahwa orang-orang munafik akan menempati neraka paling dalam, waliyyadzu billah. Semoga Allah Ta’ala menanamkan kepada kita akhlak amanah, menguatkan kita untuk istikamah di dalam melaksanakannya dan menghindarkan kita dari akhlak tidak terpuji.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُJemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Sungguh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah puncak keteladanan dalam amanah. Orang Quraisy memanggil beliau dengan gelar Al-Amîn jauh sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Bahkan ketika semua orang memusuhi beliau, mereka tetap menitipkan barang mereka kepada beliau.Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah, beliau meminta Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk tinggal terlebih dahulu di Makkah beberapa hari hanya untuk mengembalikan barang-barang orang Quraisy yang masih beliau simpan. Padahal mereka adalah musuh yang hendak membunuh beliau. Sungguh, ini adalah bentuk keteladanan nyata yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Jemaah yang dimuliakan Allah, sungguh amanah adalah akhlak yang berat yang harus diperjuangkan dan tidak boleh disepelekan. Bahkan langit dan bumi, dua makhluk Allah yang sangat besar sekalipun, mereka tidak sanggup untuk memikulnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)Ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan,الْأَمَانَةُ أَدَاءُ الصلاة وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصِدْقُ الْحَدِيثِ وَقَضَاءُ الدَّيْنِ وَالْعَدْلُ فِي الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَأَشَدُّ مِنْ هَذَا كُلِّهِ الْوَدَائِعُ“Amanah (di sini) maksudnya adalah melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, menunaikan haji ke Baitullah, berkata jujur, membayar utang, berlaku adil dalam takaran dan timbangan, dan yang paling berat dari semua itu adalah menjaga titipan.” (Tafsir Al-Baghawi, 6: 380)Begitu beratnya amanah ini, sampai-sampai Ibnu Mas’ud juga mengatakan bahwa yang pertama kali Allah cabut dari umat Islam adalah sifat amanah,أوَّلُ ما تَفْقِدُونَ مِنْ دينِكُمُ الأمَانَةُ وآخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِينِكُمُ الصَّلَاةُ“Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah salat.” (Diriwayatkan oleh Al-Wahidi dalam kitabnya, At-Tafsiir Al-Wasiith no. 556)Tidak mengherankan jika kita dapati di zaman sekarang, seorang muslim yang dengan mudahnya menyepelekan amanah yang dipikulnya. Baik itu amanah yang menyangkut hak Allah Ta’ala berupa kewajiban salat dan hal-hal lainnya, ataupun amanah yang menyangkut hak manusia.Betapa banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan salat, tidak jujur dalam bermuamalah, tidak membayar utang, tidak amanah dalam pekerjaan, bahkan tidak amanah dalam keluarganya, waliyaadzu billah.Jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan limpahan karunia dari Allah.Sudah sepatutnya bagi kita semua untuk mengoreksi kembali, apakah kita sudah menjadi hamba Allah yang amanah? Mengerjakan seluruh kewajiban yang telah Allah bebankan kepada kita. Sebagai kepala keluarga apakah kita sudah menjadi kepala keluarga yang menunaikan hak-hak anggota keluarga kita? Apakah kita sudah amanah dalam pekerjaan kita? Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga martabat kaum muslimin dengan menjaga kualitas amanah kita.إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، َللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَBaca juga: Menjalani Kehidupan dengan Tawaduk***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat sekalian,Pertama-tama, khatib mengajak diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian. Marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah serta meninggalkan dosa dan kemaksiatan kepada-Nya. Dengan ketakwaan inilah, wahai jemaah sekalian, Allah akan memberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang kita hadapi dan memberikan rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 2-3)Tema khotbah kita hari ini adalah mengenai amanah, sebuah akhlak agung yang menjadi ciri utama seorang muslim. Allah mengulang pembahasan amanah dalam banyak ayat, dan Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai salah satu tanda keimanan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)Ayat ini mencakup semua bentuk amanah, baik itu dalam hal harta, jabatan, janji, pekerjaan, keluarga, hingga waktu yang telah Allah berikan kepada kita. Apakah harta yang kita miliki bersumber dari sesuatu yang halal? Apakah harta tersebut telah kita pergunakan sebagaimana mestinya? Dalam hal pekerjaan, apakah kita sudah amanah dengan kontrak kerja yang ada? Apakah kita tidak terlambat di dalam menunaikannya? Apakah umur dan waktu yang telah Allah berikan kepada kita benar-benar telah kita manfaatkan sebaik-baiknya? Ataukah justru lebih banyak diisi dengan hal-hal sia-sia?Sungguh di hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban kita akan semua amanah tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لا تَزولُ قَدَمَا عَبْدٍ يومَ القيامةِ، حتَّى يُسأَلَ عن عُمُرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن عِلْمِه؛ فيم فعَلَ فيه؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسَبَه؟ وفيم أنفَقَه؟ وعن جِسمِه؛ فيمَ أبلاه؟“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya, kemana dia habiskan; tentang ilmunya, bagaimana dia mengamalkannya; tentang hartanya, dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi no. 2417)Sungguh, menjadi pribadi yang bertanggungjawab penuh atas setiap amanah yang berada di pundaknya merupakan sebuah keharusan bagi setiap muslim. Karena amanah merupakan salah satu ciri keimanan dalam diri seseorang. Allah menyebutkan ciri-ciri orang beriman dalam surah Al-Mu’minun,وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ“Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)Allah Ta’ala juga memperingatkan kita semua agar jangan sampai mengkhianati amanah yang telah Allah dan Nabi-Nya berikan kepada kita serta mengkhianati amanah yang telah diberikan orang lain kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul serta mengkhianati amanah-amanah kalian.” (QS. Al-Anfal: 27)Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita semua pastilah memikul amanah, dan kita semua harus bertanggungjawab atas amanah yang kita pikul. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ فالأميرُ الذي على الناسِ راعٍ عليهم وهو مسؤولٌ عنهم والرجلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ وهو مسؤولٌ عنهم والمرأةُ راعيةٌ على بيتِ بعلها وولدِهِ وهي مسؤولةٌ عنهم وعبدُ الرجلِ راعٍ على بيتِ سيدِهِ وهو مسؤولٌ عنهُ ألا فكلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang menangani urusan umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atasnya. Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Mereka yang tidak mau menjalankan amanah yang telah diberikan kepadanya dan mengkhianatinya, dikhawatirkan mereka akan terjatuh ke dalam salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان“Tanda orang munafik itu ada tiga: bila bicara, ia dusta; bila berjanji, ia menyelisihi; dan bila diberikan kepercayaan, ia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)Sungguh ini harus menjadi perhatian setiap muslim. Bahwa tindakan khianat terhadap amanah yang ada dapat mengantarkannya kepada perbuatan kemunafikan. Yang telah jelas bagi kita semua bahwa orang-orang munafik akan menempati neraka paling dalam, waliyyadzu billah. Semoga Allah Ta’ala menanamkan kepada kita akhlak amanah, menguatkan kita untuk istikamah di dalam melaksanakannya dan menghindarkan kita dari akhlak tidak terpuji.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُJemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Sungguh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah puncak keteladanan dalam amanah. Orang Quraisy memanggil beliau dengan gelar Al-Amîn jauh sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Bahkan ketika semua orang memusuhi beliau, mereka tetap menitipkan barang mereka kepada beliau.Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah, beliau meminta Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk tinggal terlebih dahulu di Makkah beberapa hari hanya untuk mengembalikan barang-barang orang Quraisy yang masih beliau simpan. Padahal mereka adalah musuh yang hendak membunuh beliau. Sungguh, ini adalah bentuk keteladanan nyata yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Jemaah yang dimuliakan Allah, sungguh amanah adalah akhlak yang berat yang harus diperjuangkan dan tidak boleh disepelekan. Bahkan langit dan bumi, dua makhluk Allah yang sangat besar sekalipun, mereka tidak sanggup untuk memikulnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)Ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan,الْأَمَانَةُ أَدَاءُ الصلاة وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصِدْقُ الْحَدِيثِ وَقَضَاءُ الدَّيْنِ وَالْعَدْلُ فِي الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَأَشَدُّ مِنْ هَذَا كُلِّهِ الْوَدَائِعُ“Amanah (di sini) maksudnya adalah melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, menunaikan haji ke Baitullah, berkata jujur, membayar utang, berlaku adil dalam takaran dan timbangan, dan yang paling berat dari semua itu adalah menjaga titipan.” (Tafsir Al-Baghawi, 6: 380)Begitu beratnya amanah ini, sampai-sampai Ibnu Mas’ud juga mengatakan bahwa yang pertama kali Allah cabut dari umat Islam adalah sifat amanah,أوَّلُ ما تَفْقِدُونَ مِنْ دينِكُمُ الأمَانَةُ وآخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِينِكُمُ الصَّلَاةُ“Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah salat.” (Diriwayatkan oleh Al-Wahidi dalam kitabnya, At-Tafsiir Al-Wasiith no. 556)Tidak mengherankan jika kita dapati di zaman sekarang, seorang muslim yang dengan mudahnya menyepelekan amanah yang dipikulnya. Baik itu amanah yang menyangkut hak Allah Ta’ala berupa kewajiban salat dan hal-hal lainnya, ataupun amanah yang menyangkut hak manusia.Betapa banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan salat, tidak jujur dalam bermuamalah, tidak membayar utang, tidak amanah dalam pekerjaan, bahkan tidak amanah dalam keluarganya, waliyaadzu billah.Jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan limpahan karunia dari Allah.Sudah sepatutnya bagi kita semua untuk mengoreksi kembali, apakah kita sudah menjadi hamba Allah yang amanah? Mengerjakan seluruh kewajiban yang telah Allah bebankan kepada kita. Sebagai kepala keluarga apakah kita sudah menjadi kepala keluarga yang menunaikan hak-hak anggota keluarga kita? Apakah kita sudah amanah dalam pekerjaan kita? Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga martabat kaum muslimin dengan menjaga kualitas amanah kita.إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، َللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَBaca juga: Menjalani Kehidupan dengan Tawaduk***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat sekalian,Pertama-tama, khatib mengajak diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian. Marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah serta meninggalkan dosa dan kemaksiatan kepada-Nya. Dengan ketakwaan inilah, wahai jemaah sekalian, Allah akan memberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang kita hadapi dan memberikan rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 2-3)Tema khotbah kita hari ini adalah mengenai amanah, sebuah akhlak agung yang menjadi ciri utama seorang muslim. Allah mengulang pembahasan amanah dalam banyak ayat, dan Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai salah satu tanda keimanan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)Ayat ini mencakup semua bentuk amanah, baik itu dalam hal harta, jabatan, janji, pekerjaan, keluarga, hingga waktu yang telah Allah berikan kepada kita. Apakah harta yang kita miliki bersumber dari sesuatu yang halal? Apakah harta tersebut telah kita pergunakan sebagaimana mestinya? Dalam hal pekerjaan, apakah kita sudah amanah dengan kontrak kerja yang ada? Apakah kita tidak terlambat di dalam menunaikannya? Apakah umur dan waktu yang telah Allah berikan kepada kita benar-benar telah kita manfaatkan sebaik-baiknya? Ataukah justru lebih banyak diisi dengan hal-hal sia-sia?Sungguh di hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban kita akan semua amanah tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لا تَزولُ قَدَمَا عَبْدٍ يومَ القيامةِ، حتَّى يُسأَلَ عن عُمُرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن عِلْمِه؛ فيم فعَلَ فيه؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسَبَه؟ وفيم أنفَقَه؟ وعن جِسمِه؛ فيمَ أبلاه؟“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya, kemana dia habiskan; tentang ilmunya, bagaimana dia mengamalkannya; tentang hartanya, dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi no. 2417)Sungguh, menjadi pribadi yang bertanggungjawab penuh atas setiap amanah yang berada di pundaknya merupakan sebuah keharusan bagi setiap muslim. Karena amanah merupakan salah satu ciri keimanan dalam diri seseorang. Allah menyebutkan ciri-ciri orang beriman dalam surah Al-Mu’minun,وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ“Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)Allah Ta’ala juga memperingatkan kita semua agar jangan sampai mengkhianati amanah yang telah Allah dan Nabi-Nya berikan kepada kita serta mengkhianati amanah yang telah diberikan orang lain kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul serta mengkhianati amanah-amanah kalian.” (QS. Al-Anfal: 27)Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita semua pastilah memikul amanah, dan kita semua harus bertanggungjawab atas amanah yang kita pikul. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ فالأميرُ الذي على الناسِ راعٍ عليهم وهو مسؤولٌ عنهم والرجلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ وهو مسؤولٌ عنهم والمرأةُ راعيةٌ على بيتِ بعلها وولدِهِ وهي مسؤولةٌ عنهم وعبدُ الرجلِ راعٍ على بيتِ سيدِهِ وهو مسؤولٌ عنهُ ألا فكلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang menangani urusan umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atasnya. Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Mereka yang tidak mau menjalankan amanah yang telah diberikan kepadanya dan mengkhianatinya, dikhawatirkan mereka akan terjatuh ke dalam salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان“Tanda orang munafik itu ada tiga: bila bicara, ia dusta; bila berjanji, ia menyelisihi; dan bila diberikan kepercayaan, ia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)Sungguh ini harus menjadi perhatian setiap muslim. Bahwa tindakan khianat terhadap amanah yang ada dapat mengantarkannya kepada perbuatan kemunafikan. Yang telah jelas bagi kita semua bahwa orang-orang munafik akan menempati neraka paling dalam, waliyyadzu billah. Semoga Allah Ta’ala menanamkan kepada kita akhlak amanah, menguatkan kita untuk istikamah di dalam melaksanakannya dan menghindarkan kita dari akhlak tidak terpuji.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُJemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Sungguh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah puncak keteladanan dalam amanah. Orang Quraisy memanggil beliau dengan gelar Al-Amîn jauh sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Bahkan ketika semua orang memusuhi beliau, mereka tetap menitipkan barang mereka kepada beliau.Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah, beliau meminta Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk tinggal terlebih dahulu di Makkah beberapa hari hanya untuk mengembalikan barang-barang orang Quraisy yang masih beliau simpan. Padahal mereka adalah musuh yang hendak membunuh beliau. Sungguh, ini adalah bentuk keteladanan nyata yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Jemaah yang dimuliakan Allah, sungguh amanah adalah akhlak yang berat yang harus diperjuangkan dan tidak boleh disepelekan. Bahkan langit dan bumi, dua makhluk Allah yang sangat besar sekalipun, mereka tidak sanggup untuk memikulnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)Ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan,الْأَمَانَةُ أَدَاءُ الصلاة وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصِدْقُ الْحَدِيثِ وَقَضَاءُ الدَّيْنِ وَالْعَدْلُ فِي الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَأَشَدُّ مِنْ هَذَا كُلِّهِ الْوَدَائِعُ“Amanah (di sini) maksudnya adalah melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, menunaikan haji ke Baitullah, berkata jujur, membayar utang, berlaku adil dalam takaran dan timbangan, dan yang paling berat dari semua itu adalah menjaga titipan.” (Tafsir Al-Baghawi, 6: 380)Begitu beratnya amanah ini, sampai-sampai Ibnu Mas’ud juga mengatakan bahwa yang pertama kali Allah cabut dari umat Islam adalah sifat amanah,أوَّلُ ما تَفْقِدُونَ مِنْ دينِكُمُ الأمَانَةُ وآخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِينِكُمُ الصَّلَاةُ“Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah salat.” (Diriwayatkan oleh Al-Wahidi dalam kitabnya, At-Tafsiir Al-Wasiith no. 556)Tidak mengherankan jika kita dapati di zaman sekarang, seorang muslim yang dengan mudahnya menyepelekan amanah yang dipikulnya. Baik itu amanah yang menyangkut hak Allah Ta’ala berupa kewajiban salat dan hal-hal lainnya, ataupun amanah yang menyangkut hak manusia.Betapa banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan salat, tidak jujur dalam bermuamalah, tidak membayar utang, tidak amanah dalam pekerjaan, bahkan tidak amanah dalam keluarganya, waliyaadzu billah.Jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan limpahan karunia dari Allah.Sudah sepatutnya bagi kita semua untuk mengoreksi kembali, apakah kita sudah menjadi hamba Allah yang amanah? Mengerjakan seluruh kewajiban yang telah Allah bebankan kepada kita. Sebagai kepala keluarga apakah kita sudah menjadi kepala keluarga yang menunaikan hak-hak anggota keluarga kita? Apakah kita sudah amanah dalam pekerjaan kita? Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga martabat kaum muslimin dengan menjaga kualitas amanah kita.إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، َللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَBaca juga: Menjalani Kehidupan dengan Tawaduk***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

Pengasuhan yang Keliru dan Efek Kerusakannya terhadap Anak

التربية الخاطئة.. وتدمير الأبناء تربية الأبناء من أشد ما يقاسيه الإنسان ويعانيه في واقعنا المعاصر.. ذلك أن العملية التربوية عملية معقدة جدا، ومهمة أيضا جدا.. إذ هي بناء للعقول، وتزكية للنفوس، وتهذيب للأخلاق، وإثراء للعلوم والفهوم، جنبا إلى جنب مع بناء الأبدان والأجسام، فهي عملية بناء متكامل بناء عقدي، وبناء علمي، وبناء خلقي، وبناء نفسي، وبناء جسدي. Pengasuhan anak termasuk perkara yang menjadi beban berat bagi banyak orang pada zaman kita sekarang. Hal ini karena proses pengasuhan merupakan proses yang sangat kompleks dan urgen. Sebab pengasuhan merupakan pembangun akal, pembersih jiwa, pelurus akhlak, dan pembekal ilmu dan wawasan yang berjalan sejajar dengan pembangun jasmani. Ia merupakan proses pembangunan yang menyeluruh, dari sisi akidah, keilmuan, akhlak, mental, dan badan. والتربية في زمننا علم وفن، وإذا لم نحاول أن نتعلم فنون التربية فربما ندمر أبناءنا من غير قصد من خلال ممارسات نمارسها دون انتباه لخطرها وأثرها على الأولاد ـ ولو كان على المدى البعيد ـ فتتراكم في عقولهم ومخيلتهم، وتترك ندبا في نفوسهم، ثم في نهاية الأمر نفاجأ بأن أبناءنا صاروا مشوهين نفسيا وتربويا وأخلاقيا، ومع مرور الوقت تبدأ هذه المشاكل في الظهور، وتحتاج إلى سرعة التدخل في العلاج وإلا ازداد الأمر سوءا، وكانت العاقبة غير محمودة. Pengasuhan pada zaman kita ini menjadi disiplin ilmu tersendiri. Apabila kita tidak berusaha mempelajari keterampilan-keterampilan dalam pengasuhan, bisa jadi kita akan merusak anak-anak kita tanpa disadari melalui kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan tanpa mengetahui bahaya dan pengaruhnya terhadap anak-anak, meskipun baru terasa dalam jangka panjang. Pola-pola asuh yang salah itu terus menumpuk dalam akal pikiran mereka dan meninggalkan bekas dalam jiwa mereka, lalu pada akhirnya kita dikejutkan dengan anak-anak kita yang cacat secara mental, pengasuhan, dan akhlak. Seiring berjalannya waktu, masalah-masalah tersebut akan mulai muncul, dan membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat, dan jika tidak, maka masalah ini akan semakin memburuk dan akibatnya tidak diharapkan. والحقيقة أن هذه العاهات التربوية والتشوهات النفسية ـ وربما الاختلالات الأخلاقية ـ وراءها أسباب وتصرفات كان مبتداها من البيت وسببها من الوالدين أنفسهما. Pada hakikatnya, cacat-cacat pengasuhan dan gangguan-gangguan mental – mungkin juga kerusakan-kerusakan akhlak – dilatarbelakangi oleh sebab-sebab dan perlakuan-perlakuan yang berawal dari rumah tangga dan orang tua itu sendiri. كيف تدمر أبناءك!!! هناك ممارسات بالفعل تؤدي إلى تدمير الأولاد نفسيا، وانحرافهم أخلاقيا، وتؤدي إلى خلل وعلل في العملية التربوية.. فمن هذه الممارسات: Bagaimana kamu merusak anak-anakmu?! Ada banyak pola asuh yang memang dapat merusak mental anak-anak, menyebabkan penyimpangan akhlak mereka, dan menimbulkan gangguan dan ketidakseimbangan dalam proses pengasuhan. Di antara pola-pola asuh ini adalah: ـ كثرة الصراخ ورفع الصوت: يؤدّي الصراخ الدائم على الأطفال إلى نظرة الطفل السلبية لذاته، وفقدان الثقة بنفسه، وعدم احترام الذات، ويُشعِر الأطفال بأنّ الوالدين ليسا بجانبهم، كما يولّد الصراخ تحديًّا بين الطفل ووالديه، يؤدّي في نهاية المطاف إلى انفصال الطفل عاطفيًّا عن والديه، وبعده الدائم عن محيط وجودهما، مما يساهم في تكسير الروابط العائليّة، والركون إلى الوحدة والعزلة، وربما تطور إلى مشاكل أخرى ككثرة القلق والتوتّر، والاكتئاب. Pertama: Banyak berteriak dan meninggikan suara Teriakan yang selalu dilontarkan ke anak-anak dapat menyebabkan mereka memandang rendah diri mereka, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak menghargai diri sendiri, serta membuat mereka merasa orang tua mereka tidak berada di pihak mereka. Teriakan juga akan melahirkan permusuhan antara anak dan kedua orang tuanya. Pada akhirnya itu akan memutus koneksi perasaan antara anak dan kedua orang tua, dan menjauhkannya dari lingkup figur mereka berdua secara berkelanjutan. Ini tentu akan berperan dalam merusak hubungan kekeluargaan, kecondongan pada sikap suka menyendiri, dan bisa jadi akan berlanjut menjadi masalah-masalah lain seperti sering merasa cemas, gelisah, dan stres. ـ الضرب والعنف الجسدي: وهو من أسوأ أساليب التربية وأكثرها انتشارا للأسف، وهو معاقبة الطفل بدنيا بالضرب كلما خالف أو أخطأ، وعواقب هذا الأسلوب سلبية للغالية، فهي إما أن تخلق طفلا كارها لكل من حوله، وعدوانيا كثير الرغبة في الانتقام.. أو طفلا شديد الانطوائية والانعزال عن الآخرين، قليل الثقة جدا بنفسه شديد الخوف من أي محاولة للعمل خوف الفشل، وربما يصبح شخصا شديد القسوة والصرامة شديد العنف مع أبنائه عند كبره، وفي تعاملاته مع الآخرين. Kedua: Pukulan dan kekerasan fisik lainnya Ini merupakan cara pengasuhan yang paling buruk, tetapi sayangnya menjadi cara yang juga paling banyak dipakai, yaitu menghukum anak secara fisik dengan pukulan setiap kali ia melanggar aturan atau berbuat salah. Efek dari cara ini sangat buruk, karena dapat membentuk jiwa anak yang membenci terhadap setiap orang yang di sekelilingnya, agresif, dan pendendam, atau menjadi anak yang minder, suka menyendiri, pesimis terhadap diri sendiri, dan takut mencoba karena takut gagal. Terkadang juga menjadi orang yang sangat keras dan kaku terhadap anak-anaknya kelak di masa depan dan ketika berinteraksi dengan orang lain. ـ السيطرة والتسلط: بإلزام الطفل بالنشاطات والمهام التي حددها الآباء فقط، ومنعه عن القيام بالنشاط الذي يرغب فيه دون مبرر، وفي الغالب يرتبط هذا السلوك التربوي بالعقاب النفسي أو البدني، وربما زاد التسلط فيمنع من نوع الدراسة الذي يرغبه ويرغم على ما كان يتمناه الأب أو كان يتمناه وفشل فيه فيريد أن يعوض فشله في أبنائه. والأطفال الذين تعرضوا لهذا الأسلوب التربوي يغلب عليهم الخوف والخجل، والتبعية والخضوع للآخرين، ويكونون غير قادرين على التفكير والإبداع، ولا حتى إبداء الرأي في المواضيع العامة والمناقشات مع الأصحاب، والنتاج إنسان بلا هوية ولا شخصية. Ketiga: Otoriter dan terlalu dominan Yakni dengan memaksa anak mengikuti kegiatan-kegiatan dan tugas-tugas yang hanya ditentukan oleh orang tua saja, dan melarang tanpa alasan aktivitas-aktivitas yang disukai anak. Sering kali, pola asuh seperti ini berkaitan kuat dengan hukuman fisik dan non-fisik.  Terkadang sikap otoritatif ini sangat besar, hingga melarang suatu pelajaran yang disukai anak dan memaksa anak untuk melakukan apa yang diinginkan orang tua atau yang dulu diinginkan orang tua lalu mereka gagal, sehingga mereka ingin mengganti kegagalan itu melalui anak-anak mereka. Anak yang memperoleh pola asuh seperti ini sering kali memiliki kecenderungan penakut, minder, mudah terpengaruh dan tunduk kepada orang lain, tidak mampu berpikir dengan bebas dan kreatif, dan bahkan tidak mampu mengungkapkan pendapat di tempat-tempat umum atau dalam diskusi dengan teman-temannya. Sehingga hasilnya adalah manusia yang tidak berkarakter dan krisis identitas. ـ الشجار الدائم وعدم الاحترام المتبادل بين الزوجين: مع تبادل الصراخ والشتائم ربما، وأحيانا يتطور إلى نوع من الضرب، وهذا له أثر مدمر على الطفل: فهو يؤدي إلى مشاكل نفسية كالقلق والخوف والاكتئاب وفقدان الثقة بالنفس وربما مشاعر الكره نحو أحد والديه إذا رأى أنه مظلوم وهو يكن له محبة كبيرة. ومن الناحية الصحية: يعيش في قلق دائم مما يؤثر على دماغ الطفل ويسهم في تأخر نمو قدراته العقلية، وأحيانا حالات من التبول اللاإرادي نتيجة الخوف أو الهواجس التي تنتج عن وجوده بهذه الأجواء المشحونة. وكذلك يرسخ في عقلية الأطفال أفكارا مغلوطة عن مفهوم الزواج والحياة الأسرية، وهذا سيؤثر على حياتهم العاطفية والاجتماعية في الحال والمستقبل. وهذه المشاكل تؤثر سلبا أيضا على المستوى الدراسي للأطفال، وتؤدي إلى تأخرهم العلمي وتدني مستوى التحصيل، وقد وجد أن أكثر الذين تفلتوا من كراسي الدراسة كانوا يعيشون في أسر غير مستقرة، أو انفصل فيها الأبوان. Keempat: Pertengkaran dan tidak saling menghormati antara suami dan istri Terkadang hal ini juga disertai dengan saling lempar teriakan dan celaan, bahkan terkadang menjurus pada kekerasan fisik. Ini tentu memberi efek destruktif terhadap anak, karena dapat menyebabkan masalah-masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan, stres, kehilangan kepercayaan diri, dan terkadang merasa benci kepada salah satu orang tuanya jika ia merasa terzalimi dan memendam rasa cintanya. Dari sisi kesehatan, anak itu akan hidup dalam kegalauan terus-menerus yang akan berpengaruh pada otaknya dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan akal. Terkadang juga diiringi dengan kasus mengompol akibat ketakutan atau kecemasan yang bersumber dari keberadaannya dalam suasana penuh ketegangan tersebut. Kondisi ini juga menanamkan pemahaman-pemahaman keliru pada akal anak tentang konsep pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Tentu ini akan berpengaruh pada kehidupan mereka secara emosional dan sosial di masa kini dan masa depan. Masalah-masalah ini akan berpengaruh negatif juga pada bidang akademik anak, menyebabkan kesenjangan keilmuan, dan penurunan nilai akademiknya. Dan mayoritas orang yang meninggalkan kursi pendidikan adalah mereka yang hidup di keluarga yang tidak kondusif atau terjadi perceraian di antara orang tua mereka. ـ النقد الدائم: وممارسة الألم النفسي بدوام البحث عن الأخطاء، والتركيز على السلبيات دون الإيجابيات، والتقليل من شأنه ومن أفكاره واهتماماته.. وهذا يفقده ثقته بنفسه، وعدم القدرة على القيام بأي تصرف خوفا من توجيه النقد له، وينتج لنا إنسانا مترددا، خائفا، انطوائيا في الغالب قليل التفاعل مع الآخرين. Kelima: Kritik yang berlebihan Termasuk juga kebiasaan memberi luka psikologis dengan mencari-cari kesalahan, fokus kepada hal-hal negatif – alih-alih yang positif, meremehkan pribadinya, pemikirannya, dan ketertarikannya. Ini semua dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri, tidak mampu melakukan tugas apa pun karena takut mendapat kritik. Pola asuh ini akan menghasilkan manusia yang plin-plan, minder, dan sering kali rendah hubungan sosialnya dengan orang lain. ـ المقارنة الدائمة بينه وبين الأطفال الآخرين: حيث يظن البعض أن هذا من باب التحفيز لبذل الجهد ومحاولة التفوق، ولكنه في الغالب ما يكون محبطا، ويؤدي إلى زعزعة ثقة الطفل بنفسه، لعدم مراعاة القدرات الفردية والملكات والخصائص بين الأطفال بعضهم وبعض.. وربما يؤدي أيضا إلى الحسد والكراهية لهؤلاء الأطفال الذين يقارنونه بهم، وربما العدائية والعدوانية تجاههم. Keenam: Selalu membandingkan anak dengan anak lain Sebagian orang menganggap ini sebagai bagian dari motivasi agar anak mau mengerahkan usaha dan berjuang untuk lebih berprestasi. Namun, lebih seringnya justru menjadi penurun semangat dan menggoyahkan kepercayaan diri anak tersebut, karena pola asuh seperti ini tidak mengindahkan karakteristik, keterampilan, dan ciri khas antara satu anak dengan anak lain. Bisa jadi, pola asuh ini juga menimbulkan kedengkian dan kebencian terhadap anak-anak yang menjadi pembanding tersebut, atau bahkan permusuhan dan perselisihan terhadap mereka. ـ العناية الزائدة والدلال المفرط: وتلبية جميع الطلبات والرغبات، والقيام عنه بجميع المهام والواجبات.. وعدم المحاسبة على التقصير والأخطاء. وعواقب هذه التربية إنسان غير مسؤول، ضعيف الشخصية أناني اتكالي إلى الغاية، غير قادر على اقتحام المواقف وتحمل المسؤولية. Ketujuh: Berlebihan dalam memanja dan memberi perhatian Juga memenuhi segala permintaan dan keinginan anak, melakukan semua tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan anak, dan tidak memberi hukuman terhadap kelalaian dan kesalahan anak.  Hasil dari pengasuhan seperti ini adalah terbentuk manusia yang tidak bertanggung jawab, memiliki karakter yang lemah, egois, dan sangat bergantung kepada orang lain, serta tidak mampu menghadapi momen-momen genting dan mengemban tanggung jawab. ختاما إن التربية تحتاج إلى الوعي والاهتمام، والملاحظة الدائمة للأخطاء التربوية وما يصاحبها من آثار على الأطفال، ومعالجة ذلك أولا بأول، وتصحيح المسار التربوي؛ ليخرج أبناؤنا على ما نرغب وما نحب وما ينبغي أن يكونوا عليه، نافعين لأنفسهم ولدينهم وأوطانهم، والاستعانة أولا وآخرا بالله تعالى والدعاء بالتوفيق. penutup Pengasuhan membutuhkan kesadaran dan perhatian, pengawasan berkelanjutan terhadap kesalahan-kesalahan pola asuh dan efek-efek negatif yang menyertainya pada anak, menangani itu semua dengan sigap, dan meluruskan pola asuh ke jalan yang benar, agar anak-anak kita tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan, harapkan, dan mereka menjadi sebagaimana yang seharusnya, bermanfaat bagi diri, agama, dan negara mereka. Dan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita memohon pertolongan dan taufik-Nya. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/244546/التربية-الخاطئة-وتدمير-الأبناء Sumber artikel PDF 🔍 Tulisan In Shaa Allah, Ayat Kursi Gambar, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Catur Haram, Cewek Tidur Ngangkang Visited 36 times, 1 visit(s) today Post Views: 13 QRIS donasi Yufid

Pengasuhan yang Keliru dan Efek Kerusakannya terhadap Anak

التربية الخاطئة.. وتدمير الأبناء تربية الأبناء من أشد ما يقاسيه الإنسان ويعانيه في واقعنا المعاصر.. ذلك أن العملية التربوية عملية معقدة جدا، ومهمة أيضا جدا.. إذ هي بناء للعقول، وتزكية للنفوس، وتهذيب للأخلاق، وإثراء للعلوم والفهوم، جنبا إلى جنب مع بناء الأبدان والأجسام، فهي عملية بناء متكامل بناء عقدي، وبناء علمي، وبناء خلقي، وبناء نفسي، وبناء جسدي. Pengasuhan anak termasuk perkara yang menjadi beban berat bagi banyak orang pada zaman kita sekarang. Hal ini karena proses pengasuhan merupakan proses yang sangat kompleks dan urgen. Sebab pengasuhan merupakan pembangun akal, pembersih jiwa, pelurus akhlak, dan pembekal ilmu dan wawasan yang berjalan sejajar dengan pembangun jasmani. Ia merupakan proses pembangunan yang menyeluruh, dari sisi akidah, keilmuan, akhlak, mental, dan badan. والتربية في زمننا علم وفن، وإذا لم نحاول أن نتعلم فنون التربية فربما ندمر أبناءنا من غير قصد من خلال ممارسات نمارسها دون انتباه لخطرها وأثرها على الأولاد ـ ولو كان على المدى البعيد ـ فتتراكم في عقولهم ومخيلتهم، وتترك ندبا في نفوسهم، ثم في نهاية الأمر نفاجأ بأن أبناءنا صاروا مشوهين نفسيا وتربويا وأخلاقيا، ومع مرور الوقت تبدأ هذه المشاكل في الظهور، وتحتاج إلى سرعة التدخل في العلاج وإلا ازداد الأمر سوءا، وكانت العاقبة غير محمودة. Pengasuhan pada zaman kita ini menjadi disiplin ilmu tersendiri. Apabila kita tidak berusaha mempelajari keterampilan-keterampilan dalam pengasuhan, bisa jadi kita akan merusak anak-anak kita tanpa disadari melalui kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan tanpa mengetahui bahaya dan pengaruhnya terhadap anak-anak, meskipun baru terasa dalam jangka panjang. Pola-pola asuh yang salah itu terus menumpuk dalam akal pikiran mereka dan meninggalkan bekas dalam jiwa mereka, lalu pada akhirnya kita dikejutkan dengan anak-anak kita yang cacat secara mental, pengasuhan, dan akhlak. Seiring berjalannya waktu, masalah-masalah tersebut akan mulai muncul, dan membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat, dan jika tidak, maka masalah ini akan semakin memburuk dan akibatnya tidak diharapkan. والحقيقة أن هذه العاهات التربوية والتشوهات النفسية ـ وربما الاختلالات الأخلاقية ـ وراءها أسباب وتصرفات كان مبتداها من البيت وسببها من الوالدين أنفسهما. Pada hakikatnya, cacat-cacat pengasuhan dan gangguan-gangguan mental – mungkin juga kerusakan-kerusakan akhlak – dilatarbelakangi oleh sebab-sebab dan perlakuan-perlakuan yang berawal dari rumah tangga dan orang tua itu sendiri. كيف تدمر أبناءك!!! هناك ممارسات بالفعل تؤدي إلى تدمير الأولاد نفسيا، وانحرافهم أخلاقيا، وتؤدي إلى خلل وعلل في العملية التربوية.. فمن هذه الممارسات: Bagaimana kamu merusak anak-anakmu?! Ada banyak pola asuh yang memang dapat merusak mental anak-anak, menyebabkan penyimpangan akhlak mereka, dan menimbulkan gangguan dan ketidakseimbangan dalam proses pengasuhan. Di antara pola-pola asuh ini adalah: ـ كثرة الصراخ ورفع الصوت: يؤدّي الصراخ الدائم على الأطفال إلى نظرة الطفل السلبية لذاته، وفقدان الثقة بنفسه، وعدم احترام الذات، ويُشعِر الأطفال بأنّ الوالدين ليسا بجانبهم، كما يولّد الصراخ تحديًّا بين الطفل ووالديه، يؤدّي في نهاية المطاف إلى انفصال الطفل عاطفيًّا عن والديه، وبعده الدائم عن محيط وجودهما، مما يساهم في تكسير الروابط العائليّة، والركون إلى الوحدة والعزلة، وربما تطور إلى مشاكل أخرى ككثرة القلق والتوتّر، والاكتئاب. Pertama: Banyak berteriak dan meninggikan suara Teriakan yang selalu dilontarkan ke anak-anak dapat menyebabkan mereka memandang rendah diri mereka, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak menghargai diri sendiri, serta membuat mereka merasa orang tua mereka tidak berada di pihak mereka. Teriakan juga akan melahirkan permusuhan antara anak dan kedua orang tuanya. Pada akhirnya itu akan memutus koneksi perasaan antara anak dan kedua orang tua, dan menjauhkannya dari lingkup figur mereka berdua secara berkelanjutan. Ini tentu akan berperan dalam merusak hubungan kekeluargaan, kecondongan pada sikap suka menyendiri, dan bisa jadi akan berlanjut menjadi masalah-masalah lain seperti sering merasa cemas, gelisah, dan stres. ـ الضرب والعنف الجسدي: وهو من أسوأ أساليب التربية وأكثرها انتشارا للأسف، وهو معاقبة الطفل بدنيا بالضرب كلما خالف أو أخطأ، وعواقب هذا الأسلوب سلبية للغالية، فهي إما أن تخلق طفلا كارها لكل من حوله، وعدوانيا كثير الرغبة في الانتقام.. أو طفلا شديد الانطوائية والانعزال عن الآخرين، قليل الثقة جدا بنفسه شديد الخوف من أي محاولة للعمل خوف الفشل، وربما يصبح شخصا شديد القسوة والصرامة شديد العنف مع أبنائه عند كبره، وفي تعاملاته مع الآخرين. Kedua: Pukulan dan kekerasan fisik lainnya Ini merupakan cara pengasuhan yang paling buruk, tetapi sayangnya menjadi cara yang juga paling banyak dipakai, yaitu menghukum anak secara fisik dengan pukulan setiap kali ia melanggar aturan atau berbuat salah. Efek dari cara ini sangat buruk, karena dapat membentuk jiwa anak yang membenci terhadap setiap orang yang di sekelilingnya, agresif, dan pendendam, atau menjadi anak yang minder, suka menyendiri, pesimis terhadap diri sendiri, dan takut mencoba karena takut gagal. Terkadang juga menjadi orang yang sangat keras dan kaku terhadap anak-anaknya kelak di masa depan dan ketika berinteraksi dengan orang lain. ـ السيطرة والتسلط: بإلزام الطفل بالنشاطات والمهام التي حددها الآباء فقط، ومنعه عن القيام بالنشاط الذي يرغب فيه دون مبرر، وفي الغالب يرتبط هذا السلوك التربوي بالعقاب النفسي أو البدني، وربما زاد التسلط فيمنع من نوع الدراسة الذي يرغبه ويرغم على ما كان يتمناه الأب أو كان يتمناه وفشل فيه فيريد أن يعوض فشله في أبنائه. والأطفال الذين تعرضوا لهذا الأسلوب التربوي يغلب عليهم الخوف والخجل، والتبعية والخضوع للآخرين، ويكونون غير قادرين على التفكير والإبداع، ولا حتى إبداء الرأي في المواضيع العامة والمناقشات مع الأصحاب، والنتاج إنسان بلا هوية ولا شخصية. Ketiga: Otoriter dan terlalu dominan Yakni dengan memaksa anak mengikuti kegiatan-kegiatan dan tugas-tugas yang hanya ditentukan oleh orang tua saja, dan melarang tanpa alasan aktivitas-aktivitas yang disukai anak. Sering kali, pola asuh seperti ini berkaitan kuat dengan hukuman fisik dan non-fisik.  Terkadang sikap otoritatif ini sangat besar, hingga melarang suatu pelajaran yang disukai anak dan memaksa anak untuk melakukan apa yang diinginkan orang tua atau yang dulu diinginkan orang tua lalu mereka gagal, sehingga mereka ingin mengganti kegagalan itu melalui anak-anak mereka. Anak yang memperoleh pola asuh seperti ini sering kali memiliki kecenderungan penakut, minder, mudah terpengaruh dan tunduk kepada orang lain, tidak mampu berpikir dengan bebas dan kreatif, dan bahkan tidak mampu mengungkapkan pendapat di tempat-tempat umum atau dalam diskusi dengan teman-temannya. Sehingga hasilnya adalah manusia yang tidak berkarakter dan krisis identitas. ـ الشجار الدائم وعدم الاحترام المتبادل بين الزوجين: مع تبادل الصراخ والشتائم ربما، وأحيانا يتطور إلى نوع من الضرب، وهذا له أثر مدمر على الطفل: فهو يؤدي إلى مشاكل نفسية كالقلق والخوف والاكتئاب وفقدان الثقة بالنفس وربما مشاعر الكره نحو أحد والديه إذا رأى أنه مظلوم وهو يكن له محبة كبيرة. ومن الناحية الصحية: يعيش في قلق دائم مما يؤثر على دماغ الطفل ويسهم في تأخر نمو قدراته العقلية، وأحيانا حالات من التبول اللاإرادي نتيجة الخوف أو الهواجس التي تنتج عن وجوده بهذه الأجواء المشحونة. وكذلك يرسخ في عقلية الأطفال أفكارا مغلوطة عن مفهوم الزواج والحياة الأسرية، وهذا سيؤثر على حياتهم العاطفية والاجتماعية في الحال والمستقبل. وهذه المشاكل تؤثر سلبا أيضا على المستوى الدراسي للأطفال، وتؤدي إلى تأخرهم العلمي وتدني مستوى التحصيل، وقد وجد أن أكثر الذين تفلتوا من كراسي الدراسة كانوا يعيشون في أسر غير مستقرة، أو انفصل فيها الأبوان. Keempat: Pertengkaran dan tidak saling menghormati antara suami dan istri Terkadang hal ini juga disertai dengan saling lempar teriakan dan celaan, bahkan terkadang menjurus pada kekerasan fisik. Ini tentu memberi efek destruktif terhadap anak, karena dapat menyebabkan masalah-masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan, stres, kehilangan kepercayaan diri, dan terkadang merasa benci kepada salah satu orang tuanya jika ia merasa terzalimi dan memendam rasa cintanya. Dari sisi kesehatan, anak itu akan hidup dalam kegalauan terus-menerus yang akan berpengaruh pada otaknya dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan akal. Terkadang juga diiringi dengan kasus mengompol akibat ketakutan atau kecemasan yang bersumber dari keberadaannya dalam suasana penuh ketegangan tersebut. Kondisi ini juga menanamkan pemahaman-pemahaman keliru pada akal anak tentang konsep pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Tentu ini akan berpengaruh pada kehidupan mereka secara emosional dan sosial di masa kini dan masa depan. Masalah-masalah ini akan berpengaruh negatif juga pada bidang akademik anak, menyebabkan kesenjangan keilmuan, dan penurunan nilai akademiknya. Dan mayoritas orang yang meninggalkan kursi pendidikan adalah mereka yang hidup di keluarga yang tidak kondusif atau terjadi perceraian di antara orang tua mereka. ـ النقد الدائم: وممارسة الألم النفسي بدوام البحث عن الأخطاء، والتركيز على السلبيات دون الإيجابيات، والتقليل من شأنه ومن أفكاره واهتماماته.. وهذا يفقده ثقته بنفسه، وعدم القدرة على القيام بأي تصرف خوفا من توجيه النقد له، وينتج لنا إنسانا مترددا، خائفا، انطوائيا في الغالب قليل التفاعل مع الآخرين. Kelima: Kritik yang berlebihan Termasuk juga kebiasaan memberi luka psikologis dengan mencari-cari kesalahan, fokus kepada hal-hal negatif – alih-alih yang positif, meremehkan pribadinya, pemikirannya, dan ketertarikannya. Ini semua dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri, tidak mampu melakukan tugas apa pun karena takut mendapat kritik. Pola asuh ini akan menghasilkan manusia yang plin-plan, minder, dan sering kali rendah hubungan sosialnya dengan orang lain. ـ المقارنة الدائمة بينه وبين الأطفال الآخرين: حيث يظن البعض أن هذا من باب التحفيز لبذل الجهد ومحاولة التفوق، ولكنه في الغالب ما يكون محبطا، ويؤدي إلى زعزعة ثقة الطفل بنفسه، لعدم مراعاة القدرات الفردية والملكات والخصائص بين الأطفال بعضهم وبعض.. وربما يؤدي أيضا إلى الحسد والكراهية لهؤلاء الأطفال الذين يقارنونه بهم، وربما العدائية والعدوانية تجاههم. Keenam: Selalu membandingkan anak dengan anak lain Sebagian orang menganggap ini sebagai bagian dari motivasi agar anak mau mengerahkan usaha dan berjuang untuk lebih berprestasi. Namun, lebih seringnya justru menjadi penurun semangat dan menggoyahkan kepercayaan diri anak tersebut, karena pola asuh seperti ini tidak mengindahkan karakteristik, keterampilan, dan ciri khas antara satu anak dengan anak lain. Bisa jadi, pola asuh ini juga menimbulkan kedengkian dan kebencian terhadap anak-anak yang menjadi pembanding tersebut, atau bahkan permusuhan dan perselisihan terhadap mereka. ـ العناية الزائدة والدلال المفرط: وتلبية جميع الطلبات والرغبات، والقيام عنه بجميع المهام والواجبات.. وعدم المحاسبة على التقصير والأخطاء. وعواقب هذه التربية إنسان غير مسؤول، ضعيف الشخصية أناني اتكالي إلى الغاية، غير قادر على اقتحام المواقف وتحمل المسؤولية. Ketujuh: Berlebihan dalam memanja dan memberi perhatian Juga memenuhi segala permintaan dan keinginan anak, melakukan semua tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan anak, dan tidak memberi hukuman terhadap kelalaian dan kesalahan anak.  Hasil dari pengasuhan seperti ini adalah terbentuk manusia yang tidak bertanggung jawab, memiliki karakter yang lemah, egois, dan sangat bergantung kepada orang lain, serta tidak mampu menghadapi momen-momen genting dan mengemban tanggung jawab. ختاما إن التربية تحتاج إلى الوعي والاهتمام، والملاحظة الدائمة للأخطاء التربوية وما يصاحبها من آثار على الأطفال، ومعالجة ذلك أولا بأول، وتصحيح المسار التربوي؛ ليخرج أبناؤنا على ما نرغب وما نحب وما ينبغي أن يكونوا عليه، نافعين لأنفسهم ولدينهم وأوطانهم، والاستعانة أولا وآخرا بالله تعالى والدعاء بالتوفيق. penutup Pengasuhan membutuhkan kesadaran dan perhatian, pengawasan berkelanjutan terhadap kesalahan-kesalahan pola asuh dan efek-efek negatif yang menyertainya pada anak, menangani itu semua dengan sigap, dan meluruskan pola asuh ke jalan yang benar, agar anak-anak kita tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan, harapkan, dan mereka menjadi sebagaimana yang seharusnya, bermanfaat bagi diri, agama, dan negara mereka. Dan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita memohon pertolongan dan taufik-Nya. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/244546/التربية-الخاطئة-وتدمير-الأبناء Sumber artikel PDF 🔍 Tulisan In Shaa Allah, Ayat Kursi Gambar, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Catur Haram, Cewek Tidur Ngangkang Visited 36 times, 1 visit(s) today Post Views: 13 QRIS donasi Yufid
التربية الخاطئة.. وتدمير الأبناء تربية الأبناء من أشد ما يقاسيه الإنسان ويعانيه في واقعنا المعاصر.. ذلك أن العملية التربوية عملية معقدة جدا، ومهمة أيضا جدا.. إذ هي بناء للعقول، وتزكية للنفوس، وتهذيب للأخلاق، وإثراء للعلوم والفهوم، جنبا إلى جنب مع بناء الأبدان والأجسام، فهي عملية بناء متكامل بناء عقدي، وبناء علمي، وبناء خلقي، وبناء نفسي، وبناء جسدي. Pengasuhan anak termasuk perkara yang menjadi beban berat bagi banyak orang pada zaman kita sekarang. Hal ini karena proses pengasuhan merupakan proses yang sangat kompleks dan urgen. Sebab pengasuhan merupakan pembangun akal, pembersih jiwa, pelurus akhlak, dan pembekal ilmu dan wawasan yang berjalan sejajar dengan pembangun jasmani. Ia merupakan proses pembangunan yang menyeluruh, dari sisi akidah, keilmuan, akhlak, mental, dan badan. والتربية في زمننا علم وفن، وإذا لم نحاول أن نتعلم فنون التربية فربما ندمر أبناءنا من غير قصد من خلال ممارسات نمارسها دون انتباه لخطرها وأثرها على الأولاد ـ ولو كان على المدى البعيد ـ فتتراكم في عقولهم ومخيلتهم، وتترك ندبا في نفوسهم، ثم في نهاية الأمر نفاجأ بأن أبناءنا صاروا مشوهين نفسيا وتربويا وأخلاقيا، ومع مرور الوقت تبدأ هذه المشاكل في الظهور، وتحتاج إلى سرعة التدخل في العلاج وإلا ازداد الأمر سوءا، وكانت العاقبة غير محمودة. Pengasuhan pada zaman kita ini menjadi disiplin ilmu tersendiri. Apabila kita tidak berusaha mempelajari keterampilan-keterampilan dalam pengasuhan, bisa jadi kita akan merusak anak-anak kita tanpa disadari melalui kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan tanpa mengetahui bahaya dan pengaruhnya terhadap anak-anak, meskipun baru terasa dalam jangka panjang. Pola-pola asuh yang salah itu terus menumpuk dalam akal pikiran mereka dan meninggalkan bekas dalam jiwa mereka, lalu pada akhirnya kita dikejutkan dengan anak-anak kita yang cacat secara mental, pengasuhan, dan akhlak. Seiring berjalannya waktu, masalah-masalah tersebut akan mulai muncul, dan membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat, dan jika tidak, maka masalah ini akan semakin memburuk dan akibatnya tidak diharapkan. والحقيقة أن هذه العاهات التربوية والتشوهات النفسية ـ وربما الاختلالات الأخلاقية ـ وراءها أسباب وتصرفات كان مبتداها من البيت وسببها من الوالدين أنفسهما. Pada hakikatnya, cacat-cacat pengasuhan dan gangguan-gangguan mental – mungkin juga kerusakan-kerusakan akhlak – dilatarbelakangi oleh sebab-sebab dan perlakuan-perlakuan yang berawal dari rumah tangga dan orang tua itu sendiri. كيف تدمر أبناءك!!! هناك ممارسات بالفعل تؤدي إلى تدمير الأولاد نفسيا، وانحرافهم أخلاقيا، وتؤدي إلى خلل وعلل في العملية التربوية.. فمن هذه الممارسات: Bagaimana kamu merusak anak-anakmu?! Ada banyak pola asuh yang memang dapat merusak mental anak-anak, menyebabkan penyimpangan akhlak mereka, dan menimbulkan gangguan dan ketidakseimbangan dalam proses pengasuhan. Di antara pola-pola asuh ini adalah: ـ كثرة الصراخ ورفع الصوت: يؤدّي الصراخ الدائم على الأطفال إلى نظرة الطفل السلبية لذاته، وفقدان الثقة بنفسه، وعدم احترام الذات، ويُشعِر الأطفال بأنّ الوالدين ليسا بجانبهم، كما يولّد الصراخ تحديًّا بين الطفل ووالديه، يؤدّي في نهاية المطاف إلى انفصال الطفل عاطفيًّا عن والديه، وبعده الدائم عن محيط وجودهما، مما يساهم في تكسير الروابط العائليّة، والركون إلى الوحدة والعزلة، وربما تطور إلى مشاكل أخرى ككثرة القلق والتوتّر، والاكتئاب. Pertama: Banyak berteriak dan meninggikan suara Teriakan yang selalu dilontarkan ke anak-anak dapat menyebabkan mereka memandang rendah diri mereka, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak menghargai diri sendiri, serta membuat mereka merasa orang tua mereka tidak berada di pihak mereka. Teriakan juga akan melahirkan permusuhan antara anak dan kedua orang tuanya. Pada akhirnya itu akan memutus koneksi perasaan antara anak dan kedua orang tua, dan menjauhkannya dari lingkup figur mereka berdua secara berkelanjutan. Ini tentu akan berperan dalam merusak hubungan kekeluargaan, kecondongan pada sikap suka menyendiri, dan bisa jadi akan berlanjut menjadi masalah-masalah lain seperti sering merasa cemas, gelisah, dan stres. ـ الضرب والعنف الجسدي: وهو من أسوأ أساليب التربية وأكثرها انتشارا للأسف، وهو معاقبة الطفل بدنيا بالضرب كلما خالف أو أخطأ، وعواقب هذا الأسلوب سلبية للغالية، فهي إما أن تخلق طفلا كارها لكل من حوله، وعدوانيا كثير الرغبة في الانتقام.. أو طفلا شديد الانطوائية والانعزال عن الآخرين، قليل الثقة جدا بنفسه شديد الخوف من أي محاولة للعمل خوف الفشل، وربما يصبح شخصا شديد القسوة والصرامة شديد العنف مع أبنائه عند كبره، وفي تعاملاته مع الآخرين. Kedua: Pukulan dan kekerasan fisik lainnya Ini merupakan cara pengasuhan yang paling buruk, tetapi sayangnya menjadi cara yang juga paling banyak dipakai, yaitu menghukum anak secara fisik dengan pukulan setiap kali ia melanggar aturan atau berbuat salah. Efek dari cara ini sangat buruk, karena dapat membentuk jiwa anak yang membenci terhadap setiap orang yang di sekelilingnya, agresif, dan pendendam, atau menjadi anak yang minder, suka menyendiri, pesimis terhadap diri sendiri, dan takut mencoba karena takut gagal. Terkadang juga menjadi orang yang sangat keras dan kaku terhadap anak-anaknya kelak di masa depan dan ketika berinteraksi dengan orang lain. ـ السيطرة والتسلط: بإلزام الطفل بالنشاطات والمهام التي حددها الآباء فقط، ومنعه عن القيام بالنشاط الذي يرغب فيه دون مبرر، وفي الغالب يرتبط هذا السلوك التربوي بالعقاب النفسي أو البدني، وربما زاد التسلط فيمنع من نوع الدراسة الذي يرغبه ويرغم على ما كان يتمناه الأب أو كان يتمناه وفشل فيه فيريد أن يعوض فشله في أبنائه. والأطفال الذين تعرضوا لهذا الأسلوب التربوي يغلب عليهم الخوف والخجل، والتبعية والخضوع للآخرين، ويكونون غير قادرين على التفكير والإبداع، ولا حتى إبداء الرأي في المواضيع العامة والمناقشات مع الأصحاب، والنتاج إنسان بلا هوية ولا شخصية. Ketiga: Otoriter dan terlalu dominan Yakni dengan memaksa anak mengikuti kegiatan-kegiatan dan tugas-tugas yang hanya ditentukan oleh orang tua saja, dan melarang tanpa alasan aktivitas-aktivitas yang disukai anak. Sering kali, pola asuh seperti ini berkaitan kuat dengan hukuman fisik dan non-fisik.  Terkadang sikap otoritatif ini sangat besar, hingga melarang suatu pelajaran yang disukai anak dan memaksa anak untuk melakukan apa yang diinginkan orang tua atau yang dulu diinginkan orang tua lalu mereka gagal, sehingga mereka ingin mengganti kegagalan itu melalui anak-anak mereka. Anak yang memperoleh pola asuh seperti ini sering kali memiliki kecenderungan penakut, minder, mudah terpengaruh dan tunduk kepada orang lain, tidak mampu berpikir dengan bebas dan kreatif, dan bahkan tidak mampu mengungkapkan pendapat di tempat-tempat umum atau dalam diskusi dengan teman-temannya. Sehingga hasilnya adalah manusia yang tidak berkarakter dan krisis identitas. ـ الشجار الدائم وعدم الاحترام المتبادل بين الزوجين: مع تبادل الصراخ والشتائم ربما، وأحيانا يتطور إلى نوع من الضرب، وهذا له أثر مدمر على الطفل: فهو يؤدي إلى مشاكل نفسية كالقلق والخوف والاكتئاب وفقدان الثقة بالنفس وربما مشاعر الكره نحو أحد والديه إذا رأى أنه مظلوم وهو يكن له محبة كبيرة. ومن الناحية الصحية: يعيش في قلق دائم مما يؤثر على دماغ الطفل ويسهم في تأخر نمو قدراته العقلية، وأحيانا حالات من التبول اللاإرادي نتيجة الخوف أو الهواجس التي تنتج عن وجوده بهذه الأجواء المشحونة. وكذلك يرسخ في عقلية الأطفال أفكارا مغلوطة عن مفهوم الزواج والحياة الأسرية، وهذا سيؤثر على حياتهم العاطفية والاجتماعية في الحال والمستقبل. وهذه المشاكل تؤثر سلبا أيضا على المستوى الدراسي للأطفال، وتؤدي إلى تأخرهم العلمي وتدني مستوى التحصيل، وقد وجد أن أكثر الذين تفلتوا من كراسي الدراسة كانوا يعيشون في أسر غير مستقرة، أو انفصل فيها الأبوان. Keempat: Pertengkaran dan tidak saling menghormati antara suami dan istri Terkadang hal ini juga disertai dengan saling lempar teriakan dan celaan, bahkan terkadang menjurus pada kekerasan fisik. Ini tentu memberi efek destruktif terhadap anak, karena dapat menyebabkan masalah-masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan, stres, kehilangan kepercayaan diri, dan terkadang merasa benci kepada salah satu orang tuanya jika ia merasa terzalimi dan memendam rasa cintanya. Dari sisi kesehatan, anak itu akan hidup dalam kegalauan terus-menerus yang akan berpengaruh pada otaknya dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan akal. Terkadang juga diiringi dengan kasus mengompol akibat ketakutan atau kecemasan yang bersumber dari keberadaannya dalam suasana penuh ketegangan tersebut. Kondisi ini juga menanamkan pemahaman-pemahaman keliru pada akal anak tentang konsep pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Tentu ini akan berpengaruh pada kehidupan mereka secara emosional dan sosial di masa kini dan masa depan. Masalah-masalah ini akan berpengaruh negatif juga pada bidang akademik anak, menyebabkan kesenjangan keilmuan, dan penurunan nilai akademiknya. Dan mayoritas orang yang meninggalkan kursi pendidikan adalah mereka yang hidup di keluarga yang tidak kondusif atau terjadi perceraian di antara orang tua mereka. ـ النقد الدائم: وممارسة الألم النفسي بدوام البحث عن الأخطاء، والتركيز على السلبيات دون الإيجابيات، والتقليل من شأنه ومن أفكاره واهتماماته.. وهذا يفقده ثقته بنفسه، وعدم القدرة على القيام بأي تصرف خوفا من توجيه النقد له، وينتج لنا إنسانا مترددا، خائفا، انطوائيا في الغالب قليل التفاعل مع الآخرين. Kelima: Kritik yang berlebihan Termasuk juga kebiasaan memberi luka psikologis dengan mencari-cari kesalahan, fokus kepada hal-hal negatif – alih-alih yang positif, meremehkan pribadinya, pemikirannya, dan ketertarikannya. Ini semua dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri, tidak mampu melakukan tugas apa pun karena takut mendapat kritik. Pola asuh ini akan menghasilkan manusia yang plin-plan, minder, dan sering kali rendah hubungan sosialnya dengan orang lain. ـ المقارنة الدائمة بينه وبين الأطفال الآخرين: حيث يظن البعض أن هذا من باب التحفيز لبذل الجهد ومحاولة التفوق، ولكنه في الغالب ما يكون محبطا، ويؤدي إلى زعزعة ثقة الطفل بنفسه، لعدم مراعاة القدرات الفردية والملكات والخصائص بين الأطفال بعضهم وبعض.. وربما يؤدي أيضا إلى الحسد والكراهية لهؤلاء الأطفال الذين يقارنونه بهم، وربما العدائية والعدوانية تجاههم. Keenam: Selalu membandingkan anak dengan anak lain Sebagian orang menganggap ini sebagai bagian dari motivasi agar anak mau mengerahkan usaha dan berjuang untuk lebih berprestasi. Namun, lebih seringnya justru menjadi penurun semangat dan menggoyahkan kepercayaan diri anak tersebut, karena pola asuh seperti ini tidak mengindahkan karakteristik, keterampilan, dan ciri khas antara satu anak dengan anak lain. Bisa jadi, pola asuh ini juga menimbulkan kedengkian dan kebencian terhadap anak-anak yang menjadi pembanding tersebut, atau bahkan permusuhan dan perselisihan terhadap mereka. ـ العناية الزائدة والدلال المفرط: وتلبية جميع الطلبات والرغبات، والقيام عنه بجميع المهام والواجبات.. وعدم المحاسبة على التقصير والأخطاء. وعواقب هذه التربية إنسان غير مسؤول، ضعيف الشخصية أناني اتكالي إلى الغاية، غير قادر على اقتحام المواقف وتحمل المسؤولية. Ketujuh: Berlebihan dalam memanja dan memberi perhatian Juga memenuhi segala permintaan dan keinginan anak, melakukan semua tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan anak, dan tidak memberi hukuman terhadap kelalaian dan kesalahan anak.  Hasil dari pengasuhan seperti ini adalah terbentuk manusia yang tidak bertanggung jawab, memiliki karakter yang lemah, egois, dan sangat bergantung kepada orang lain, serta tidak mampu menghadapi momen-momen genting dan mengemban tanggung jawab. ختاما إن التربية تحتاج إلى الوعي والاهتمام، والملاحظة الدائمة للأخطاء التربوية وما يصاحبها من آثار على الأطفال، ومعالجة ذلك أولا بأول، وتصحيح المسار التربوي؛ ليخرج أبناؤنا على ما نرغب وما نحب وما ينبغي أن يكونوا عليه، نافعين لأنفسهم ولدينهم وأوطانهم، والاستعانة أولا وآخرا بالله تعالى والدعاء بالتوفيق. penutup Pengasuhan membutuhkan kesadaran dan perhatian, pengawasan berkelanjutan terhadap kesalahan-kesalahan pola asuh dan efek-efek negatif yang menyertainya pada anak, menangani itu semua dengan sigap, dan meluruskan pola asuh ke jalan yang benar, agar anak-anak kita tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan, harapkan, dan mereka menjadi sebagaimana yang seharusnya, bermanfaat bagi diri, agama, dan negara mereka. Dan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita memohon pertolongan dan taufik-Nya. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/244546/التربية-الخاطئة-وتدمير-الأبناء Sumber artikel PDF 🔍 Tulisan In Shaa Allah, Ayat Kursi Gambar, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Catur Haram, Cewek Tidur Ngangkang Visited 36 times, 1 visit(s) today Post Views: 13 QRIS donasi Yufid


التربية الخاطئة.. وتدمير الأبناء تربية الأبناء من أشد ما يقاسيه الإنسان ويعانيه في واقعنا المعاصر.. ذلك أن العملية التربوية عملية معقدة جدا، ومهمة أيضا جدا.. إذ هي بناء للعقول، وتزكية للنفوس، وتهذيب للأخلاق، وإثراء للعلوم والفهوم، جنبا إلى جنب مع بناء الأبدان والأجسام، فهي عملية بناء متكامل بناء عقدي، وبناء علمي، وبناء خلقي، وبناء نفسي، وبناء جسدي. Pengasuhan anak termasuk perkara yang menjadi beban berat bagi banyak orang pada zaman kita sekarang. Hal ini karena proses pengasuhan merupakan proses yang sangat kompleks dan urgen. Sebab pengasuhan merupakan pembangun akal, pembersih jiwa, pelurus akhlak, dan pembekal ilmu dan wawasan yang berjalan sejajar dengan pembangun jasmani. Ia merupakan proses pembangunan yang menyeluruh, dari sisi akidah, keilmuan, akhlak, mental, dan badan. والتربية في زمننا علم وفن، وإذا لم نحاول أن نتعلم فنون التربية فربما ندمر أبناءنا من غير قصد من خلال ممارسات نمارسها دون انتباه لخطرها وأثرها على الأولاد ـ ولو كان على المدى البعيد ـ فتتراكم في عقولهم ومخيلتهم، وتترك ندبا في نفوسهم، ثم في نهاية الأمر نفاجأ بأن أبناءنا صاروا مشوهين نفسيا وتربويا وأخلاقيا، ومع مرور الوقت تبدأ هذه المشاكل في الظهور، وتحتاج إلى سرعة التدخل في العلاج وإلا ازداد الأمر سوءا، وكانت العاقبة غير محمودة. Pengasuhan pada zaman kita ini menjadi disiplin ilmu tersendiri. Apabila kita tidak berusaha mempelajari keterampilan-keterampilan dalam pengasuhan, bisa jadi kita akan merusak anak-anak kita tanpa disadari melalui kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan tanpa mengetahui bahaya dan pengaruhnya terhadap anak-anak, meskipun baru terasa dalam jangka panjang. Pola-pola asuh yang salah itu terus menumpuk dalam akal pikiran mereka dan meninggalkan bekas dalam jiwa mereka, lalu pada akhirnya kita dikejutkan dengan anak-anak kita yang cacat secara mental, pengasuhan, dan akhlak. Seiring berjalannya waktu, masalah-masalah tersebut akan mulai muncul, dan membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat, dan jika tidak, maka masalah ini akan semakin memburuk dan akibatnya tidak diharapkan. والحقيقة أن هذه العاهات التربوية والتشوهات النفسية ـ وربما الاختلالات الأخلاقية ـ وراءها أسباب وتصرفات كان مبتداها من البيت وسببها من الوالدين أنفسهما. Pada hakikatnya, cacat-cacat pengasuhan dan gangguan-gangguan mental – mungkin juga kerusakan-kerusakan akhlak – dilatarbelakangi oleh sebab-sebab dan perlakuan-perlakuan yang berawal dari rumah tangga dan orang tua itu sendiri. كيف تدمر أبناءك!!! هناك ممارسات بالفعل تؤدي إلى تدمير الأولاد نفسيا، وانحرافهم أخلاقيا، وتؤدي إلى خلل وعلل في العملية التربوية.. فمن هذه الممارسات: Bagaimana kamu merusak anak-anakmu?! Ada banyak pola asuh yang memang dapat merusak mental anak-anak, menyebabkan penyimpangan akhlak mereka, dan menimbulkan gangguan dan ketidakseimbangan dalam proses pengasuhan. Di antara pola-pola asuh ini adalah: ـ كثرة الصراخ ورفع الصوت: يؤدّي الصراخ الدائم على الأطفال إلى نظرة الطفل السلبية لذاته، وفقدان الثقة بنفسه، وعدم احترام الذات، ويُشعِر الأطفال بأنّ الوالدين ليسا بجانبهم، كما يولّد الصراخ تحديًّا بين الطفل ووالديه، يؤدّي في نهاية المطاف إلى انفصال الطفل عاطفيًّا عن والديه، وبعده الدائم عن محيط وجودهما، مما يساهم في تكسير الروابط العائليّة، والركون إلى الوحدة والعزلة، وربما تطور إلى مشاكل أخرى ككثرة القلق والتوتّر، والاكتئاب. Pertama: Banyak berteriak dan meninggikan suara Teriakan yang selalu dilontarkan ke anak-anak dapat menyebabkan mereka memandang rendah diri mereka, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak menghargai diri sendiri, serta membuat mereka merasa orang tua mereka tidak berada di pihak mereka. Teriakan juga akan melahirkan permusuhan antara anak dan kedua orang tuanya. Pada akhirnya itu akan memutus koneksi perasaan antara anak dan kedua orang tua, dan menjauhkannya dari lingkup figur mereka berdua secara berkelanjutan. Ini tentu akan berperan dalam merusak hubungan kekeluargaan, kecondongan pada sikap suka menyendiri, dan bisa jadi akan berlanjut menjadi masalah-masalah lain seperti sering merasa cemas, gelisah, dan stres. ـ الضرب والعنف الجسدي: وهو من أسوأ أساليب التربية وأكثرها انتشارا للأسف، وهو معاقبة الطفل بدنيا بالضرب كلما خالف أو أخطأ، وعواقب هذا الأسلوب سلبية للغالية، فهي إما أن تخلق طفلا كارها لكل من حوله، وعدوانيا كثير الرغبة في الانتقام.. أو طفلا شديد الانطوائية والانعزال عن الآخرين، قليل الثقة جدا بنفسه شديد الخوف من أي محاولة للعمل خوف الفشل، وربما يصبح شخصا شديد القسوة والصرامة شديد العنف مع أبنائه عند كبره، وفي تعاملاته مع الآخرين. Kedua: Pukulan dan kekerasan fisik lainnya Ini merupakan cara pengasuhan yang paling buruk, tetapi sayangnya menjadi cara yang juga paling banyak dipakai, yaitu menghukum anak secara fisik dengan pukulan setiap kali ia melanggar aturan atau berbuat salah. Efek dari cara ini sangat buruk, karena dapat membentuk jiwa anak yang membenci terhadap setiap orang yang di sekelilingnya, agresif, dan pendendam, atau menjadi anak yang minder, suka menyendiri, pesimis terhadap diri sendiri, dan takut mencoba karena takut gagal. Terkadang juga menjadi orang yang sangat keras dan kaku terhadap anak-anaknya kelak di masa depan dan ketika berinteraksi dengan orang lain. ـ السيطرة والتسلط: بإلزام الطفل بالنشاطات والمهام التي حددها الآباء فقط، ومنعه عن القيام بالنشاط الذي يرغب فيه دون مبرر، وفي الغالب يرتبط هذا السلوك التربوي بالعقاب النفسي أو البدني، وربما زاد التسلط فيمنع من نوع الدراسة الذي يرغبه ويرغم على ما كان يتمناه الأب أو كان يتمناه وفشل فيه فيريد أن يعوض فشله في أبنائه. والأطفال الذين تعرضوا لهذا الأسلوب التربوي يغلب عليهم الخوف والخجل، والتبعية والخضوع للآخرين، ويكونون غير قادرين على التفكير والإبداع، ولا حتى إبداء الرأي في المواضيع العامة والمناقشات مع الأصحاب، والنتاج إنسان بلا هوية ولا شخصية. Ketiga: Otoriter dan terlalu dominan Yakni dengan memaksa anak mengikuti kegiatan-kegiatan dan tugas-tugas yang hanya ditentukan oleh orang tua saja, dan melarang tanpa alasan aktivitas-aktivitas yang disukai anak. Sering kali, pola asuh seperti ini berkaitan kuat dengan hukuman fisik dan non-fisik.  Terkadang sikap otoritatif ini sangat besar, hingga melarang suatu pelajaran yang disukai anak dan memaksa anak untuk melakukan apa yang diinginkan orang tua atau yang dulu diinginkan orang tua lalu mereka gagal, sehingga mereka ingin mengganti kegagalan itu melalui anak-anak mereka. Anak yang memperoleh pola asuh seperti ini sering kali memiliki kecenderungan penakut, minder, mudah terpengaruh dan tunduk kepada orang lain, tidak mampu berpikir dengan bebas dan kreatif, dan bahkan tidak mampu mengungkapkan pendapat di tempat-tempat umum atau dalam diskusi dengan teman-temannya. Sehingga hasilnya adalah manusia yang tidak berkarakter dan krisis identitas. ـ الشجار الدائم وعدم الاحترام المتبادل بين الزوجين: مع تبادل الصراخ والشتائم ربما، وأحيانا يتطور إلى نوع من الضرب، وهذا له أثر مدمر على الطفل: فهو يؤدي إلى مشاكل نفسية كالقلق والخوف والاكتئاب وفقدان الثقة بالنفس وربما مشاعر الكره نحو أحد والديه إذا رأى أنه مظلوم وهو يكن له محبة كبيرة. ومن الناحية الصحية: يعيش في قلق دائم مما يؤثر على دماغ الطفل ويسهم في تأخر نمو قدراته العقلية، وأحيانا حالات من التبول اللاإرادي نتيجة الخوف أو الهواجس التي تنتج عن وجوده بهذه الأجواء المشحونة. وكذلك يرسخ في عقلية الأطفال أفكارا مغلوطة عن مفهوم الزواج والحياة الأسرية، وهذا سيؤثر على حياتهم العاطفية والاجتماعية في الحال والمستقبل. وهذه المشاكل تؤثر سلبا أيضا على المستوى الدراسي للأطفال، وتؤدي إلى تأخرهم العلمي وتدني مستوى التحصيل، وقد وجد أن أكثر الذين تفلتوا من كراسي الدراسة كانوا يعيشون في أسر غير مستقرة، أو انفصل فيها الأبوان. Keempat: Pertengkaran dan tidak saling menghormati antara suami dan istri Terkadang hal ini juga disertai dengan saling lempar teriakan dan celaan, bahkan terkadang menjurus pada kekerasan fisik. Ini tentu memberi efek destruktif terhadap anak, karena dapat menyebabkan masalah-masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan, stres, kehilangan kepercayaan diri, dan terkadang merasa benci kepada salah satu orang tuanya jika ia merasa terzalimi dan memendam rasa cintanya. Dari sisi kesehatan, anak itu akan hidup dalam kegalauan terus-menerus yang akan berpengaruh pada otaknya dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan akal. Terkadang juga diiringi dengan kasus mengompol akibat ketakutan atau kecemasan yang bersumber dari keberadaannya dalam suasana penuh ketegangan tersebut. Kondisi ini juga menanamkan pemahaman-pemahaman keliru pada akal anak tentang konsep pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Tentu ini akan berpengaruh pada kehidupan mereka secara emosional dan sosial di masa kini dan masa depan. Masalah-masalah ini akan berpengaruh negatif juga pada bidang akademik anak, menyebabkan kesenjangan keilmuan, dan penurunan nilai akademiknya. Dan mayoritas orang yang meninggalkan kursi pendidikan adalah mereka yang hidup di keluarga yang tidak kondusif atau terjadi perceraian di antara orang tua mereka. ـ النقد الدائم: وممارسة الألم النفسي بدوام البحث عن الأخطاء، والتركيز على السلبيات دون الإيجابيات، والتقليل من شأنه ومن أفكاره واهتماماته.. وهذا يفقده ثقته بنفسه، وعدم القدرة على القيام بأي تصرف خوفا من توجيه النقد له، وينتج لنا إنسانا مترددا، خائفا، انطوائيا في الغالب قليل التفاعل مع الآخرين. Kelima: Kritik yang berlebihan Termasuk juga kebiasaan memberi luka psikologis dengan mencari-cari kesalahan, fokus kepada hal-hal negatif – alih-alih yang positif, meremehkan pribadinya, pemikirannya, dan ketertarikannya. Ini semua dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri, tidak mampu melakukan tugas apa pun karena takut mendapat kritik. Pola asuh ini akan menghasilkan manusia yang plin-plan, minder, dan sering kali rendah hubungan sosialnya dengan orang lain. ـ المقارنة الدائمة بينه وبين الأطفال الآخرين: حيث يظن البعض أن هذا من باب التحفيز لبذل الجهد ومحاولة التفوق، ولكنه في الغالب ما يكون محبطا، ويؤدي إلى زعزعة ثقة الطفل بنفسه، لعدم مراعاة القدرات الفردية والملكات والخصائص بين الأطفال بعضهم وبعض.. وربما يؤدي أيضا إلى الحسد والكراهية لهؤلاء الأطفال الذين يقارنونه بهم، وربما العدائية والعدوانية تجاههم. Keenam: Selalu membandingkan anak dengan anak lain Sebagian orang menganggap ini sebagai bagian dari motivasi agar anak mau mengerahkan usaha dan berjuang untuk lebih berprestasi. Namun, lebih seringnya justru menjadi penurun semangat dan menggoyahkan kepercayaan diri anak tersebut, karena pola asuh seperti ini tidak mengindahkan karakteristik, keterampilan, dan ciri khas antara satu anak dengan anak lain. Bisa jadi, pola asuh ini juga menimbulkan kedengkian dan kebencian terhadap anak-anak yang menjadi pembanding tersebut, atau bahkan permusuhan dan perselisihan terhadap mereka. ـ العناية الزائدة والدلال المفرط: وتلبية جميع الطلبات والرغبات، والقيام عنه بجميع المهام والواجبات.. وعدم المحاسبة على التقصير والأخطاء. وعواقب هذه التربية إنسان غير مسؤول، ضعيف الشخصية أناني اتكالي إلى الغاية، غير قادر على اقتحام المواقف وتحمل المسؤولية. Ketujuh: Berlebihan dalam memanja dan memberi perhatian Juga memenuhi segala permintaan dan keinginan anak, melakukan semua tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan anak, dan tidak memberi hukuman terhadap kelalaian dan kesalahan anak.  Hasil dari pengasuhan seperti ini adalah terbentuk manusia yang tidak bertanggung jawab, memiliki karakter yang lemah, egois, dan sangat bergantung kepada orang lain, serta tidak mampu menghadapi momen-momen genting dan mengemban tanggung jawab. ختاما إن التربية تحتاج إلى الوعي والاهتمام، والملاحظة الدائمة للأخطاء التربوية وما يصاحبها من آثار على الأطفال، ومعالجة ذلك أولا بأول، وتصحيح المسار التربوي؛ ليخرج أبناؤنا على ما نرغب وما نحب وما ينبغي أن يكونوا عليه، نافعين لأنفسهم ولدينهم وأوطانهم، والاستعانة أولا وآخرا بالله تعالى والدعاء بالتوفيق. penutup Pengasuhan membutuhkan kesadaran dan perhatian, pengawasan berkelanjutan terhadap kesalahan-kesalahan pola asuh dan efek-efek negatif yang menyertainya pada anak, menangani itu semua dengan sigap, dan meluruskan pola asuh ke jalan yang benar, agar anak-anak kita tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan, harapkan, dan mereka menjadi sebagaimana yang seharusnya, bermanfaat bagi diri, agama, dan negara mereka. Dan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita memohon pertolongan dan taufik-Nya. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/244546/التربية-الخاطئة-وتدمير-الأبناء Sumber artikel PDF 🔍 Tulisan In Shaa Allah, Ayat Kursi Gambar, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Catur Haram, Cewek Tidur Ngangkang Visited 36 times, 1 visit(s) today Post Views: 13 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengenal Keluarga Rasulullah: Hasyim dan Abdul Muththalib

Daftar Isi ToggleMengenal Hasyim (هاشم)Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiKisah penemuan sumur ZamzamPeristiwa pasukan bergajahSetiap Nabi memiliki nasab yang mulia, demikian pula Rasulullah Muhammad ﷺ. Beliau berasal dari garis keturunan yang terhormat di tengah masyarakat Arab. Nenek moyang terdekat beliau adalah ayah, kakek, dan kakek buyut yang juga dikenal karena kemuliaan akhlak serta kedudukan mereka. Pada kesempatan ini, kita akan menelusuri kisah keluarga Rasulullah ﷺ agar kita semakin mengenal betapa agung nasab beliau dan bagaimana keluarga beliau turut berperan dalam masyarakat pada zamannya.Mengenal Hasyim (هاشم)Hasyim mendapat tugas menyediakan air minum (siqāyah) dan jamuan makan (rifādah) bagi jemaah haji. Latar belakang penunjukan Hasyim dapat dilihat pada artikel di tautan ini. Hasyim dikenal sebagai orang kaya dan memiliki kemuliaan yang agung. Ia adalah pelopor penyedia tsarīd (roti yang dicampur kuah daging) kepada jemaah haji di Makkah. Nama aslinya adalah ‘Amr (عمرو). Ia dijuluki Hasyim lantaran aktivitasnya meremahkan roti untuk jamuan jemaah haji. Hasyim juga orang pertama yang menetapkan dua perjalanan dagang kabilah Quraisy, yaitu perjalanan di musim dingin dan musim panas.Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Hasyim hendak bepergian ke Syam sebagai pedagang. Ketika ia singgah di Yatsrib, ia menikahi Salma binti ‘Amr (سلمى بنت عمرو), salah seorang wanita dari Bani ‘Adi bin Najjar (عدي بن النجار) dan menetap di sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Syam dalam keadaan istrinya tengah mengandung anaknya. Malangnya, Hasyim kemudian meninggal di Ghaza (غزة). Anaknya tersebut lalu lahir pada tahun 497 M dan diberi nama Syaibah (شيبة), lantaran adanya uban di kepalanya sejak kecil. Syaibah dibesarkan di Yatsrib tanpa sepengetahuan keluarga Hasyim di Makkah. Selain Syaibah, Hasyim juga memiliki tiga anak laki-laki dan lima anak perempuan.Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiSepeninggal Hasyim, tugas siyāqah dan rifādah berpindah kepada saudaranya, al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf (المطلب بن عبد مناف). Al-Muthtalib adalah seseorang yang taat dan memiliki keutamaan di antara kaum Quraisy. Ketika Syaibah tumbuh remaja, kabar tersebut sampai kepada al-Muththalib. Ia pun berangkat ke Yatsrib untuk menjemputnya. Saat bertemu dengan Syaibah, ia menangis, memeluknya, dan membawanya ke Makkah. Awalnya, ibu Syaibah enggan melepaskan Syaibah, namun al-Muthtalib berkata, “Syaibah hanya akan pergi ke negeri ayahnya, ke tanah suci Allah.” Akhirnya, ibunya mengizinkan Syaibah untuk pergi. Ketika al-Muththalib sampai ke Makkah dengan membonceng Syaibah, orang-orang menyangka ia adalah budak milik al-Muththalib. Sehingga disebutlah “Abdul Muththalib”. Al-Muththalib membantah mereka dan menyatakan bahwa ia adalah anak dari Hasyim. Syaibah tinggal bersama al-Muththalib sampai dewasa.Tatkala al-Muththalib meninggal, kepemimpinan berpindah kepada Abdul Muththalib. Ia meneruskan tradisi mulia leluhurnya dan mendapatkan kedudukan terhormat di tengah kaumnya melebihi para pendahulunya. Dua peristiwa paling penting pada masa kepemimpinannya adalah penggalian kembali sumur Zamzam dan peristiwa pasukan bergajah.Kisah penemuan sumur ZamzamSuatu ketika, Abdul Muththalib bermimpi diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam. Posisi sumur Zamzam tergambarkan di dalam mimpinya. Lantas ia segera bangun dan mulai menggali hingga menemukannya. Selain air Zamzam, ia juga menemukan benda-benda peninggalan kabilah Jurhum yang terkubur tatkala mereka diusir dari Makkah.Benda-benda peninggalan tersebut berupa banyak pedang dan baju zirah, serta dua patung rusa dari emas. Pedang-pedang temuan itu lalu dijadikan pintu Ka’bah, dua patung rusa ditempelkan di pintu Ka’bah, dan air Zamzam dibagikan untuk jemaah haji.Ketika sumur Zamzam ditemukan, kaum Quraisy berselisih dengan Abdul Muththalib. Mereka ingin berkongsi terkait air Zamzam ini. Namun, Abdul Muththalib menolak dan menyatakan bahwa ini adalah perkara yang dikhususkan untuknya. Kaum Quraisy tidak menyerah lalu membawa perkara ini kepada seorang dukun wanita dari Bani Sa’d untuk diadili. Di tengah perjalanan ke dukun itu, Allah memperlihatkan tanda yang menegaskan bahwa Zamzam adalah kekhususan Abdul Muththalib. Akhirnya, kaum Quraisy tidak jadi melakukannya. Pada saat itu, Abdul Muththalib bernazar jika ia memiliki sepuluh anak laki-laki dan mereka telah cukup kuat untuk melindungiku, niscaya ia benar-benar akan menyembelih salah satu anaknya itu di Ka’bah.Peristiwa pasukan bergajahPeristiwa pasukan bergajah diawali dengan adanya tokoh bernama Abrahah (أبرهة), seorang wakil Raja Najasyi di Yaman. Ketika Abrahah melihat bahwa bangsa Arab berhaji ke Ka’bah, ia juga mendirikan gereja besar di Shan’a’ (صنعاء). Ia berambisi mengalihkan arah ibadah bangsa Arab dari Ka’bah ke gereja buatannya. Kabar tersebut terdengar oleh seorang lelaki dari Bani Kinanah (بني كنانة) dan membuatnya marah. Akhirnya, ia masuk ke gereja pada malam hari lalu mengotori kiblat gereja dengan tinja.Tatkala Abrahah mengetahui kejadian tersebut, ia sangat murka dan bertekad akan menghancurkan Ka’bah. Ia berangkat dengan pasukan besar berjumlah sekitar enam puluh ribu orang serta membawa gajah-gajah besar, termasuk seekor gajah terbesar yang menjadi tunggangannya sendiri. Pasukan tersebut terus bergerak hingga tiba di Wadi Muhassir (وادي محسر), daerah antara Muzdalifah (المزدلفة) dan Mina (منى). Sesampainya di sana, gajah tersebut menderum enggan bergerak menuju Ka’bah. Setiap kali gajah diarahkan ke selain Ka’bah, ia segera bangkit dan berlari. Namun, jika gajah diarahkan menuju Ka’bah, ia kembali menderum tidak bergerak.Di saat itulah Allah mengutus burung berbondong-bondong yang melempari pasukan itu dengan batu dari tanah terbakar sehingga Allah menjadikannya bagaikan dedaunan yang dimakan ulat. Setiap burung membawa tiga buah batu sebesar biji kacang. Pasukan yang terkena batu tersebut pasti anggota badannya terputus dan binasa. Pasukan itu berlarian dan saling bertubrukan di setiap jalan. Adapun Abrahah, Allah menimpakan kepadanya suatu penyakit yang menyebabkan ujung-ujung jarinya rontok. Ia berusaha kembali ke Shan’a’ dalam keadaan sangat lemah bagaikan anak burung dan berakhir dengan dadanya yang terbelah dan jantungnya keluar lalu mati.Pada peristiwa tersebut, orang-orang Quraisy mengungsi ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung karena takut terkena murka pasukan Abrahah. Namun, setelah Allah menurunkan azab kepada pasukan tersebut, mereka kembali ke rumah-rumah mereka dengan aman. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharam, 55 hari sebelum lahirnya Nabi Muhammad ﷺ, bertepatan dengan akhir Februari atau awal Maret tahun 571 M.Dari kisah Hasyim dan Abdul Muththalib, kita melihat bagaimana Allah menjaga garis keturunan Rasulullah ﷺ dengan penuh kehormatan. Keduanya bukan sekadar tokoh dalam sejarah, melainkan bagian dari rencana Ilahi untuk menyiapkan datangnya Nabi terakhir. Setelah dua sosok agung ini, kisah keluarga Rasulullah ﷺ berlanjut kepada sang ayahanda, Abdullah bin Abdul Muththalib.Baca juga: Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi: Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri dengan perubahan.

Mengenal Keluarga Rasulullah: Hasyim dan Abdul Muththalib

Daftar Isi ToggleMengenal Hasyim (هاشم)Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiKisah penemuan sumur ZamzamPeristiwa pasukan bergajahSetiap Nabi memiliki nasab yang mulia, demikian pula Rasulullah Muhammad ﷺ. Beliau berasal dari garis keturunan yang terhormat di tengah masyarakat Arab. Nenek moyang terdekat beliau adalah ayah, kakek, dan kakek buyut yang juga dikenal karena kemuliaan akhlak serta kedudukan mereka. Pada kesempatan ini, kita akan menelusuri kisah keluarga Rasulullah ﷺ agar kita semakin mengenal betapa agung nasab beliau dan bagaimana keluarga beliau turut berperan dalam masyarakat pada zamannya.Mengenal Hasyim (هاشم)Hasyim mendapat tugas menyediakan air minum (siqāyah) dan jamuan makan (rifādah) bagi jemaah haji. Latar belakang penunjukan Hasyim dapat dilihat pada artikel di tautan ini. Hasyim dikenal sebagai orang kaya dan memiliki kemuliaan yang agung. Ia adalah pelopor penyedia tsarīd (roti yang dicampur kuah daging) kepada jemaah haji di Makkah. Nama aslinya adalah ‘Amr (عمرو). Ia dijuluki Hasyim lantaran aktivitasnya meremahkan roti untuk jamuan jemaah haji. Hasyim juga orang pertama yang menetapkan dua perjalanan dagang kabilah Quraisy, yaitu perjalanan di musim dingin dan musim panas.Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Hasyim hendak bepergian ke Syam sebagai pedagang. Ketika ia singgah di Yatsrib, ia menikahi Salma binti ‘Amr (سلمى بنت عمرو), salah seorang wanita dari Bani ‘Adi bin Najjar (عدي بن النجار) dan menetap di sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Syam dalam keadaan istrinya tengah mengandung anaknya. Malangnya, Hasyim kemudian meninggal di Ghaza (غزة). Anaknya tersebut lalu lahir pada tahun 497 M dan diberi nama Syaibah (شيبة), lantaran adanya uban di kepalanya sejak kecil. Syaibah dibesarkan di Yatsrib tanpa sepengetahuan keluarga Hasyim di Makkah. Selain Syaibah, Hasyim juga memiliki tiga anak laki-laki dan lima anak perempuan.Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiSepeninggal Hasyim, tugas siyāqah dan rifādah berpindah kepada saudaranya, al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf (المطلب بن عبد مناف). Al-Muthtalib adalah seseorang yang taat dan memiliki keutamaan di antara kaum Quraisy. Ketika Syaibah tumbuh remaja, kabar tersebut sampai kepada al-Muththalib. Ia pun berangkat ke Yatsrib untuk menjemputnya. Saat bertemu dengan Syaibah, ia menangis, memeluknya, dan membawanya ke Makkah. Awalnya, ibu Syaibah enggan melepaskan Syaibah, namun al-Muthtalib berkata, “Syaibah hanya akan pergi ke negeri ayahnya, ke tanah suci Allah.” Akhirnya, ibunya mengizinkan Syaibah untuk pergi. Ketika al-Muththalib sampai ke Makkah dengan membonceng Syaibah, orang-orang menyangka ia adalah budak milik al-Muththalib. Sehingga disebutlah “Abdul Muththalib”. Al-Muththalib membantah mereka dan menyatakan bahwa ia adalah anak dari Hasyim. Syaibah tinggal bersama al-Muththalib sampai dewasa.Tatkala al-Muththalib meninggal, kepemimpinan berpindah kepada Abdul Muththalib. Ia meneruskan tradisi mulia leluhurnya dan mendapatkan kedudukan terhormat di tengah kaumnya melebihi para pendahulunya. Dua peristiwa paling penting pada masa kepemimpinannya adalah penggalian kembali sumur Zamzam dan peristiwa pasukan bergajah.Kisah penemuan sumur ZamzamSuatu ketika, Abdul Muththalib bermimpi diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam. Posisi sumur Zamzam tergambarkan di dalam mimpinya. Lantas ia segera bangun dan mulai menggali hingga menemukannya. Selain air Zamzam, ia juga menemukan benda-benda peninggalan kabilah Jurhum yang terkubur tatkala mereka diusir dari Makkah.Benda-benda peninggalan tersebut berupa banyak pedang dan baju zirah, serta dua patung rusa dari emas. Pedang-pedang temuan itu lalu dijadikan pintu Ka’bah, dua patung rusa ditempelkan di pintu Ka’bah, dan air Zamzam dibagikan untuk jemaah haji.Ketika sumur Zamzam ditemukan, kaum Quraisy berselisih dengan Abdul Muththalib. Mereka ingin berkongsi terkait air Zamzam ini. Namun, Abdul Muththalib menolak dan menyatakan bahwa ini adalah perkara yang dikhususkan untuknya. Kaum Quraisy tidak menyerah lalu membawa perkara ini kepada seorang dukun wanita dari Bani Sa’d untuk diadili. Di tengah perjalanan ke dukun itu, Allah memperlihatkan tanda yang menegaskan bahwa Zamzam adalah kekhususan Abdul Muththalib. Akhirnya, kaum Quraisy tidak jadi melakukannya. Pada saat itu, Abdul Muththalib bernazar jika ia memiliki sepuluh anak laki-laki dan mereka telah cukup kuat untuk melindungiku, niscaya ia benar-benar akan menyembelih salah satu anaknya itu di Ka’bah.Peristiwa pasukan bergajahPeristiwa pasukan bergajah diawali dengan adanya tokoh bernama Abrahah (أبرهة), seorang wakil Raja Najasyi di Yaman. Ketika Abrahah melihat bahwa bangsa Arab berhaji ke Ka’bah, ia juga mendirikan gereja besar di Shan’a’ (صنعاء). Ia berambisi mengalihkan arah ibadah bangsa Arab dari Ka’bah ke gereja buatannya. Kabar tersebut terdengar oleh seorang lelaki dari Bani Kinanah (بني كنانة) dan membuatnya marah. Akhirnya, ia masuk ke gereja pada malam hari lalu mengotori kiblat gereja dengan tinja.Tatkala Abrahah mengetahui kejadian tersebut, ia sangat murka dan bertekad akan menghancurkan Ka’bah. Ia berangkat dengan pasukan besar berjumlah sekitar enam puluh ribu orang serta membawa gajah-gajah besar, termasuk seekor gajah terbesar yang menjadi tunggangannya sendiri. Pasukan tersebut terus bergerak hingga tiba di Wadi Muhassir (وادي محسر), daerah antara Muzdalifah (المزدلفة) dan Mina (منى). Sesampainya di sana, gajah tersebut menderum enggan bergerak menuju Ka’bah. Setiap kali gajah diarahkan ke selain Ka’bah, ia segera bangkit dan berlari. Namun, jika gajah diarahkan menuju Ka’bah, ia kembali menderum tidak bergerak.Di saat itulah Allah mengutus burung berbondong-bondong yang melempari pasukan itu dengan batu dari tanah terbakar sehingga Allah menjadikannya bagaikan dedaunan yang dimakan ulat. Setiap burung membawa tiga buah batu sebesar biji kacang. Pasukan yang terkena batu tersebut pasti anggota badannya terputus dan binasa. Pasukan itu berlarian dan saling bertubrukan di setiap jalan. Adapun Abrahah, Allah menimpakan kepadanya suatu penyakit yang menyebabkan ujung-ujung jarinya rontok. Ia berusaha kembali ke Shan’a’ dalam keadaan sangat lemah bagaikan anak burung dan berakhir dengan dadanya yang terbelah dan jantungnya keluar lalu mati.Pada peristiwa tersebut, orang-orang Quraisy mengungsi ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung karena takut terkena murka pasukan Abrahah. Namun, setelah Allah menurunkan azab kepada pasukan tersebut, mereka kembali ke rumah-rumah mereka dengan aman. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharam, 55 hari sebelum lahirnya Nabi Muhammad ﷺ, bertepatan dengan akhir Februari atau awal Maret tahun 571 M.Dari kisah Hasyim dan Abdul Muththalib, kita melihat bagaimana Allah menjaga garis keturunan Rasulullah ﷺ dengan penuh kehormatan. Keduanya bukan sekadar tokoh dalam sejarah, melainkan bagian dari rencana Ilahi untuk menyiapkan datangnya Nabi terakhir. Setelah dua sosok agung ini, kisah keluarga Rasulullah ﷺ berlanjut kepada sang ayahanda, Abdullah bin Abdul Muththalib.Baca juga: Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi: Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri dengan perubahan.
Daftar Isi ToggleMengenal Hasyim (هاشم)Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiKisah penemuan sumur ZamzamPeristiwa pasukan bergajahSetiap Nabi memiliki nasab yang mulia, demikian pula Rasulullah Muhammad ﷺ. Beliau berasal dari garis keturunan yang terhormat di tengah masyarakat Arab. Nenek moyang terdekat beliau adalah ayah, kakek, dan kakek buyut yang juga dikenal karena kemuliaan akhlak serta kedudukan mereka. Pada kesempatan ini, kita akan menelusuri kisah keluarga Rasulullah ﷺ agar kita semakin mengenal betapa agung nasab beliau dan bagaimana keluarga beliau turut berperan dalam masyarakat pada zamannya.Mengenal Hasyim (هاشم)Hasyim mendapat tugas menyediakan air minum (siqāyah) dan jamuan makan (rifādah) bagi jemaah haji. Latar belakang penunjukan Hasyim dapat dilihat pada artikel di tautan ini. Hasyim dikenal sebagai orang kaya dan memiliki kemuliaan yang agung. Ia adalah pelopor penyedia tsarīd (roti yang dicampur kuah daging) kepada jemaah haji di Makkah. Nama aslinya adalah ‘Amr (عمرو). Ia dijuluki Hasyim lantaran aktivitasnya meremahkan roti untuk jamuan jemaah haji. Hasyim juga orang pertama yang menetapkan dua perjalanan dagang kabilah Quraisy, yaitu perjalanan di musim dingin dan musim panas.Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Hasyim hendak bepergian ke Syam sebagai pedagang. Ketika ia singgah di Yatsrib, ia menikahi Salma binti ‘Amr (سلمى بنت عمرو), salah seorang wanita dari Bani ‘Adi bin Najjar (عدي بن النجار) dan menetap di sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Syam dalam keadaan istrinya tengah mengandung anaknya. Malangnya, Hasyim kemudian meninggal di Ghaza (غزة). Anaknya tersebut lalu lahir pada tahun 497 M dan diberi nama Syaibah (شيبة), lantaran adanya uban di kepalanya sejak kecil. Syaibah dibesarkan di Yatsrib tanpa sepengetahuan keluarga Hasyim di Makkah. Selain Syaibah, Hasyim juga memiliki tiga anak laki-laki dan lima anak perempuan.Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiSepeninggal Hasyim, tugas siyāqah dan rifādah berpindah kepada saudaranya, al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf (المطلب بن عبد مناف). Al-Muthtalib adalah seseorang yang taat dan memiliki keutamaan di antara kaum Quraisy. Ketika Syaibah tumbuh remaja, kabar tersebut sampai kepada al-Muththalib. Ia pun berangkat ke Yatsrib untuk menjemputnya. Saat bertemu dengan Syaibah, ia menangis, memeluknya, dan membawanya ke Makkah. Awalnya, ibu Syaibah enggan melepaskan Syaibah, namun al-Muthtalib berkata, “Syaibah hanya akan pergi ke negeri ayahnya, ke tanah suci Allah.” Akhirnya, ibunya mengizinkan Syaibah untuk pergi. Ketika al-Muththalib sampai ke Makkah dengan membonceng Syaibah, orang-orang menyangka ia adalah budak milik al-Muththalib. Sehingga disebutlah “Abdul Muththalib”. Al-Muththalib membantah mereka dan menyatakan bahwa ia adalah anak dari Hasyim. Syaibah tinggal bersama al-Muththalib sampai dewasa.Tatkala al-Muththalib meninggal, kepemimpinan berpindah kepada Abdul Muththalib. Ia meneruskan tradisi mulia leluhurnya dan mendapatkan kedudukan terhormat di tengah kaumnya melebihi para pendahulunya. Dua peristiwa paling penting pada masa kepemimpinannya adalah penggalian kembali sumur Zamzam dan peristiwa pasukan bergajah.Kisah penemuan sumur ZamzamSuatu ketika, Abdul Muththalib bermimpi diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam. Posisi sumur Zamzam tergambarkan di dalam mimpinya. Lantas ia segera bangun dan mulai menggali hingga menemukannya. Selain air Zamzam, ia juga menemukan benda-benda peninggalan kabilah Jurhum yang terkubur tatkala mereka diusir dari Makkah.Benda-benda peninggalan tersebut berupa banyak pedang dan baju zirah, serta dua patung rusa dari emas. Pedang-pedang temuan itu lalu dijadikan pintu Ka’bah, dua patung rusa ditempelkan di pintu Ka’bah, dan air Zamzam dibagikan untuk jemaah haji.Ketika sumur Zamzam ditemukan, kaum Quraisy berselisih dengan Abdul Muththalib. Mereka ingin berkongsi terkait air Zamzam ini. Namun, Abdul Muththalib menolak dan menyatakan bahwa ini adalah perkara yang dikhususkan untuknya. Kaum Quraisy tidak menyerah lalu membawa perkara ini kepada seorang dukun wanita dari Bani Sa’d untuk diadili. Di tengah perjalanan ke dukun itu, Allah memperlihatkan tanda yang menegaskan bahwa Zamzam adalah kekhususan Abdul Muththalib. Akhirnya, kaum Quraisy tidak jadi melakukannya. Pada saat itu, Abdul Muththalib bernazar jika ia memiliki sepuluh anak laki-laki dan mereka telah cukup kuat untuk melindungiku, niscaya ia benar-benar akan menyembelih salah satu anaknya itu di Ka’bah.Peristiwa pasukan bergajahPeristiwa pasukan bergajah diawali dengan adanya tokoh bernama Abrahah (أبرهة), seorang wakil Raja Najasyi di Yaman. Ketika Abrahah melihat bahwa bangsa Arab berhaji ke Ka’bah, ia juga mendirikan gereja besar di Shan’a’ (صنعاء). Ia berambisi mengalihkan arah ibadah bangsa Arab dari Ka’bah ke gereja buatannya. Kabar tersebut terdengar oleh seorang lelaki dari Bani Kinanah (بني كنانة) dan membuatnya marah. Akhirnya, ia masuk ke gereja pada malam hari lalu mengotori kiblat gereja dengan tinja.Tatkala Abrahah mengetahui kejadian tersebut, ia sangat murka dan bertekad akan menghancurkan Ka’bah. Ia berangkat dengan pasukan besar berjumlah sekitar enam puluh ribu orang serta membawa gajah-gajah besar, termasuk seekor gajah terbesar yang menjadi tunggangannya sendiri. Pasukan tersebut terus bergerak hingga tiba di Wadi Muhassir (وادي محسر), daerah antara Muzdalifah (المزدلفة) dan Mina (منى). Sesampainya di sana, gajah tersebut menderum enggan bergerak menuju Ka’bah. Setiap kali gajah diarahkan ke selain Ka’bah, ia segera bangkit dan berlari. Namun, jika gajah diarahkan menuju Ka’bah, ia kembali menderum tidak bergerak.Di saat itulah Allah mengutus burung berbondong-bondong yang melempari pasukan itu dengan batu dari tanah terbakar sehingga Allah menjadikannya bagaikan dedaunan yang dimakan ulat. Setiap burung membawa tiga buah batu sebesar biji kacang. Pasukan yang terkena batu tersebut pasti anggota badannya terputus dan binasa. Pasukan itu berlarian dan saling bertubrukan di setiap jalan. Adapun Abrahah, Allah menimpakan kepadanya suatu penyakit yang menyebabkan ujung-ujung jarinya rontok. Ia berusaha kembali ke Shan’a’ dalam keadaan sangat lemah bagaikan anak burung dan berakhir dengan dadanya yang terbelah dan jantungnya keluar lalu mati.Pada peristiwa tersebut, orang-orang Quraisy mengungsi ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung karena takut terkena murka pasukan Abrahah. Namun, setelah Allah menurunkan azab kepada pasukan tersebut, mereka kembali ke rumah-rumah mereka dengan aman. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharam, 55 hari sebelum lahirnya Nabi Muhammad ﷺ, bertepatan dengan akhir Februari atau awal Maret tahun 571 M.Dari kisah Hasyim dan Abdul Muththalib, kita melihat bagaimana Allah menjaga garis keturunan Rasulullah ﷺ dengan penuh kehormatan. Keduanya bukan sekadar tokoh dalam sejarah, melainkan bagian dari rencana Ilahi untuk menyiapkan datangnya Nabi terakhir. Setelah dua sosok agung ini, kisah keluarga Rasulullah ﷺ berlanjut kepada sang ayahanda, Abdullah bin Abdul Muththalib.Baca juga: Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi: Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri dengan perubahan.


Daftar Isi ToggleMengenal Hasyim (هاشم)Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiKisah penemuan sumur ZamzamPeristiwa pasukan bergajahSetiap Nabi memiliki nasab yang mulia, demikian pula Rasulullah Muhammad ﷺ. Beliau berasal dari garis keturunan yang terhormat di tengah masyarakat Arab. Nenek moyang terdekat beliau adalah ayah, kakek, dan kakek buyut yang juga dikenal karena kemuliaan akhlak serta kedudukan mereka. Pada kesempatan ini, kita akan menelusuri kisah keluarga Rasulullah ﷺ agar kita semakin mengenal betapa agung nasab beliau dan bagaimana keluarga beliau turut berperan dalam masyarakat pada zamannya.Mengenal Hasyim (هاشم)Hasyim mendapat tugas menyediakan air minum (siqāyah) dan jamuan makan (rifādah) bagi jemaah haji. Latar belakang penunjukan Hasyim dapat dilihat pada artikel di tautan ini. Hasyim dikenal sebagai orang kaya dan memiliki kemuliaan yang agung. Ia adalah pelopor penyedia tsarīd (roti yang dicampur kuah daging) kepada jemaah haji di Makkah. Nama aslinya adalah ‘Amr (عمرو). Ia dijuluki Hasyim lantaran aktivitasnya meremahkan roti untuk jamuan jemaah haji. Hasyim juga orang pertama yang menetapkan dua perjalanan dagang kabilah Quraisy, yaitu perjalanan di musim dingin dan musim panas.Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Hasyim hendak bepergian ke Syam sebagai pedagang. Ketika ia singgah di Yatsrib, ia menikahi Salma binti ‘Amr (سلمى بنت عمرو), salah seorang wanita dari Bani ‘Adi bin Najjar (عدي بن النجار) dan menetap di sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Syam dalam keadaan istrinya tengah mengandung anaknya. Malangnya, Hasyim kemudian meninggal di Ghaza (غزة). Anaknya tersebut lalu lahir pada tahun 497 M dan diberi nama Syaibah (شيبة), lantaran adanya uban di kepalanya sejak kecil. Syaibah dibesarkan di Yatsrib tanpa sepengetahuan keluarga Hasyim di Makkah. Selain Syaibah, Hasyim juga memiliki tiga anak laki-laki dan lima anak perempuan.Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiSepeninggal Hasyim, tugas siyāqah dan rifādah berpindah kepada saudaranya, al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf (المطلب بن عبد مناف). Al-Muthtalib adalah seseorang yang taat dan memiliki keutamaan di antara kaum Quraisy. Ketika Syaibah tumbuh remaja, kabar tersebut sampai kepada al-Muththalib. Ia pun berangkat ke Yatsrib untuk menjemputnya. Saat bertemu dengan Syaibah, ia menangis, memeluknya, dan membawanya ke Makkah. Awalnya, ibu Syaibah enggan melepaskan Syaibah, namun al-Muthtalib berkata, “Syaibah hanya akan pergi ke negeri ayahnya, ke tanah suci Allah.” Akhirnya, ibunya mengizinkan Syaibah untuk pergi. Ketika al-Muththalib sampai ke Makkah dengan membonceng Syaibah, orang-orang menyangka ia adalah budak milik al-Muththalib. Sehingga disebutlah “Abdul Muththalib”. Al-Muththalib membantah mereka dan menyatakan bahwa ia adalah anak dari Hasyim. Syaibah tinggal bersama al-Muththalib sampai dewasa.Tatkala al-Muththalib meninggal, kepemimpinan berpindah kepada Abdul Muththalib. Ia meneruskan tradisi mulia leluhurnya dan mendapatkan kedudukan terhormat di tengah kaumnya melebihi para pendahulunya. Dua peristiwa paling penting pada masa kepemimpinannya adalah penggalian kembali sumur Zamzam dan peristiwa pasukan bergajah.Kisah penemuan sumur ZamzamSuatu ketika, Abdul Muththalib bermimpi diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam. Posisi sumur Zamzam tergambarkan di dalam mimpinya. Lantas ia segera bangun dan mulai menggali hingga menemukannya. Selain air Zamzam, ia juga menemukan benda-benda peninggalan kabilah Jurhum yang terkubur tatkala mereka diusir dari Makkah.Benda-benda peninggalan tersebut berupa banyak pedang dan baju zirah, serta dua patung rusa dari emas. Pedang-pedang temuan itu lalu dijadikan pintu Ka’bah, dua patung rusa ditempelkan di pintu Ka’bah, dan air Zamzam dibagikan untuk jemaah haji.Ketika sumur Zamzam ditemukan, kaum Quraisy berselisih dengan Abdul Muththalib. Mereka ingin berkongsi terkait air Zamzam ini. Namun, Abdul Muththalib menolak dan menyatakan bahwa ini adalah perkara yang dikhususkan untuknya. Kaum Quraisy tidak menyerah lalu membawa perkara ini kepada seorang dukun wanita dari Bani Sa’d untuk diadili. Di tengah perjalanan ke dukun itu, Allah memperlihatkan tanda yang menegaskan bahwa Zamzam adalah kekhususan Abdul Muththalib. Akhirnya, kaum Quraisy tidak jadi melakukannya. Pada saat itu, Abdul Muththalib bernazar jika ia memiliki sepuluh anak laki-laki dan mereka telah cukup kuat untuk melindungiku, niscaya ia benar-benar akan menyembelih salah satu anaknya itu di Ka’bah.Peristiwa pasukan bergajahPeristiwa pasukan bergajah diawali dengan adanya tokoh bernama Abrahah (أبرهة), seorang wakil Raja Najasyi di Yaman. Ketika Abrahah melihat bahwa bangsa Arab berhaji ke Ka’bah, ia juga mendirikan gereja besar di Shan’a’ (صنعاء). Ia berambisi mengalihkan arah ibadah bangsa Arab dari Ka’bah ke gereja buatannya. Kabar tersebut terdengar oleh seorang lelaki dari Bani Kinanah (بني كنانة) dan membuatnya marah. Akhirnya, ia masuk ke gereja pada malam hari lalu mengotori kiblat gereja dengan tinja.Tatkala Abrahah mengetahui kejadian tersebut, ia sangat murka dan bertekad akan menghancurkan Ka’bah. Ia berangkat dengan pasukan besar berjumlah sekitar enam puluh ribu orang serta membawa gajah-gajah besar, termasuk seekor gajah terbesar yang menjadi tunggangannya sendiri. Pasukan tersebut terus bergerak hingga tiba di Wadi Muhassir (وادي محسر), daerah antara Muzdalifah (المزدلفة) dan Mina (منى). Sesampainya di sana, gajah tersebut menderum enggan bergerak menuju Ka’bah. Setiap kali gajah diarahkan ke selain Ka’bah, ia segera bangkit dan berlari. Namun, jika gajah diarahkan menuju Ka’bah, ia kembali menderum tidak bergerak.Di saat itulah Allah mengutus burung berbondong-bondong yang melempari pasukan itu dengan batu dari tanah terbakar sehingga Allah menjadikannya bagaikan dedaunan yang dimakan ulat. Setiap burung membawa tiga buah batu sebesar biji kacang. Pasukan yang terkena batu tersebut pasti anggota badannya terputus dan binasa. Pasukan itu berlarian dan saling bertubrukan di setiap jalan. Adapun Abrahah, Allah menimpakan kepadanya suatu penyakit yang menyebabkan ujung-ujung jarinya rontok. Ia berusaha kembali ke Shan’a’ dalam keadaan sangat lemah bagaikan anak burung dan berakhir dengan dadanya yang terbelah dan jantungnya keluar lalu mati.Pada peristiwa tersebut, orang-orang Quraisy mengungsi ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung karena takut terkena murka pasukan Abrahah. Namun, setelah Allah menurunkan azab kepada pasukan tersebut, mereka kembali ke rumah-rumah mereka dengan aman. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharam, 55 hari sebelum lahirnya Nabi Muhammad ﷺ, bertepatan dengan akhir Februari atau awal Maret tahun 571 M.Dari kisah Hasyim dan Abdul Muththalib, kita melihat bagaimana Allah menjaga garis keturunan Rasulullah ﷺ dengan penuh kehormatan. Keduanya bukan sekadar tokoh dalam sejarah, melainkan bagian dari rencana Ilahi untuk menyiapkan datangnya Nabi terakhir. Setelah dua sosok agung ini, kisah keluarga Rasulullah ﷺ berlanjut kepada sang ayahanda, Abdullah bin Abdul Muththalib.Baca juga: Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi: Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri dengan perubahan.

Penjelasan Mudah & Ringkas Tentang Waktu Shalat Malam – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Telah kita ketahui bahwa Shalat Malam, selain Shalat Fardhu dan Shalat Sunnah Rawatib, terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah shalat yang dikerjakan di antara waktu Maghrib dan Isya. Ini merupakan sunnah yang bisa dikerjakan sesekali. Yakni seorang mukmin mendirikan shalat setelah selesai Shalat Maghrib beberapa rakaat yang mencakup seluruh waktu antara Maghrib dan Isya, atau sebagian waktunya, antara Maghrib dan Isya. Mengerjakan shalat ini sesekali termasuk sunnah yang shahih, yang diriwayatkan dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan secara shahih pula bahwa para Sahabat dan generasi salaf biasa melaksanakannya. Adapun jenis kedua adalah Shalat Qiyamul Lail, dan termasuk di dalamnya Shalat Witir. Yaitu seorang mukmin laki-laki atau perempuan mendirikan shalat di antara waktu setelah Shalat Isya hingga azan Subuh. Permulaan waktu shalat ini adalah setelah Shalat Isya. Maka, siapa yang telah melaksanakan Shalat Isya, waktu Qiyamul Lail baginya telah dimulai. Bahkan jika ia menjamak Shalat Isya dengan Shalat Maghrib, selama ia memang termasuk orang yang diperbolehkan menjamak, maka waktu Qiyamul Lail dan Witir tetap berlaku baginya. Waktu tersebut berlangsung hingga muazin mengumandangkan azan Subuh, azan yang menjadi tanda berhentinya makan dan minum bagi orang yang berpuasa, yaitu saat fajar shadiq muncul. Inilah yang dijelaskan oleh As-Sunnah: “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Apabila salah seorang dari kalian khawatir waktu Subuh tiba, maka hendaklah ia menyempurnakannya dengan Shalat Witir, meskipun hanya satu rakaat.” Dahulu, sebagian salaf tetap mengerjakan Shalat Witir meskipun azan Subuh telah berkumandang. Namun, berdasarkan dalil yang paling kuat—dan Allah lebih mengetahui—dari As-Sunnah, bahwa waktu Qiyamul Lail, termasuk Witir, berakhir dengan terbitnya fajar shadiq. Selain itu, shalat Qiyamul Lail memiliki waktu qadha (menggantinya karena waktunya telah berlalu) bagi orang yang terlewat mendirikannya di malam hari. Waktu qadha tersebut adalah antara saat matahari telah naik setinggi tombak hingga tiba waktu Shalat Zhuhur. Inilah waktu untuk mengqadha Shalat Qiyamul Lail. Qiyamul Lail merupakan ibadah yang mulia, besar sekali pahalanya, sangat agung pengaruhnya, serta hasil dan faedahnya penuh berkah. Ia ditegaskan dalam Kitabullah, dan dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui amalan beliau, karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam konsisten mengerjakan Qiyamul Lail, baik ketika sedang mukim atau safar, dalam keadaan sehat maupun sakit. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau. Shalat Malam juga ditegaskan melalui lisan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. ====== قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي اللَّيْلِ غَيْرَ الْفَرِيضَةِ وَغَيْرَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ نَوْعَانِ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَهَذِهِ سُنَّةٌ تُفْعَلُ أَحْيَانًا أَنْ يُصَلِّيَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ رَكَعَاتٍ يَسْتَوْعِبُ بِهَا مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ أَوْ بَعْضَ الْوَقْتِ مِمَّا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ هَذِهِ فِعْلُهَا أَحْيَانًا سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ وَالسَّلَفَ كَانُوا يَفْعَلُونَهَا وَأَنَّ النَّوْعَ الثَّانِي هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَمِنْهُ الْوِتْرُ وَهُوَ أَنْ يُصَلِّي الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُؤْمِنَةُ مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَذَانِ الْفَجْرِ فَأَوَّلُ وَقْتِ هَذِهِ الصَّلَاةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ وَقْتُ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي حَقِّهِ حَتَّى لَوْ كَانَ قَدْ صَلَّاهَا جَمْعًا مَعَ الْمَغْرِبِ إِنْ كَانَ مِمَّنْ لَهُ أَنْ يَجْمَعَ فَإِنَّ وَقْتَ الْقِيَامِ وَالْوِتْرِ يَدْخُلُ فِي حَقِّهِ إِلَى أَنْ يُؤَذِّنَ الْمُؤَذِّنُ لِلْفَجْرِ الْأَذَانُ الَّذِي يَكُونُ مَعَهُ الْإِمْسَاكُ لِلصَّائِمِ إِذَا طَلَعَ الفَجْرُ الصَّادِقُ هَذَا الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ السُّنَّةُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الْفَجْرَ فَلْيُوتِرْ وَلَوْ بِرَكْعَةٍ وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يُوتِرُونَ وَلَوْ أَذَّنَ الْفَجْر إِلَّا أَنَّ الَّذِي يَظْهَرُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ مِنْ دَلَالَاتِ السُّنَّةِ أَنَّ وَقْتَ قِيَامِ اللَّيْلِ بِمَا فِيهِ الْوِتْرُ يَنْتَهِي بِطُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ ثُمَّ إِنَّ هَذَا الْقِيَامَ لِلَّيْلِ لَهُ وَقْتُ قَضَاءٍ لِمَنْ فَاتَهُ وِرْدُهُ مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مَا بَيْنَ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ قَيْدَ رُمْحٍ إِلَى صَلَاةِ الظُّهْرِ فَهَذَا وَقْتُ قَضَاءِ قِيَامِ اللَّيْلِ وَقِيَامُ اللَّيْلِ عِبَادَةٌ شَرِيفَةٌ كَبِيرَةٌ أُجُورُهَا عَظِيمَةٌ ثِمَارُهَا مُبَارَكَةٌ عَوَائِدُهِا وَفَوَائِدُهَا ثَبَتَتْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَبِسُنَّة النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِعْلِيَّةِ حَيْثُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوَاظِبُ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ حَضَرًا وَسَفَرًاصَحِيحًا وَمَرِيضًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَثَبَتَتْ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَوْلِيَّةِ

Penjelasan Mudah & Ringkas Tentang Waktu Shalat Malam – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Telah kita ketahui bahwa Shalat Malam, selain Shalat Fardhu dan Shalat Sunnah Rawatib, terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah shalat yang dikerjakan di antara waktu Maghrib dan Isya. Ini merupakan sunnah yang bisa dikerjakan sesekali. Yakni seorang mukmin mendirikan shalat setelah selesai Shalat Maghrib beberapa rakaat yang mencakup seluruh waktu antara Maghrib dan Isya, atau sebagian waktunya, antara Maghrib dan Isya. Mengerjakan shalat ini sesekali termasuk sunnah yang shahih, yang diriwayatkan dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan secara shahih pula bahwa para Sahabat dan generasi salaf biasa melaksanakannya. Adapun jenis kedua adalah Shalat Qiyamul Lail, dan termasuk di dalamnya Shalat Witir. Yaitu seorang mukmin laki-laki atau perempuan mendirikan shalat di antara waktu setelah Shalat Isya hingga azan Subuh. Permulaan waktu shalat ini adalah setelah Shalat Isya. Maka, siapa yang telah melaksanakan Shalat Isya, waktu Qiyamul Lail baginya telah dimulai. Bahkan jika ia menjamak Shalat Isya dengan Shalat Maghrib, selama ia memang termasuk orang yang diperbolehkan menjamak, maka waktu Qiyamul Lail dan Witir tetap berlaku baginya. Waktu tersebut berlangsung hingga muazin mengumandangkan azan Subuh, azan yang menjadi tanda berhentinya makan dan minum bagi orang yang berpuasa, yaitu saat fajar shadiq muncul. Inilah yang dijelaskan oleh As-Sunnah: “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Apabila salah seorang dari kalian khawatir waktu Subuh tiba, maka hendaklah ia menyempurnakannya dengan Shalat Witir, meskipun hanya satu rakaat.” Dahulu, sebagian salaf tetap mengerjakan Shalat Witir meskipun azan Subuh telah berkumandang. Namun, berdasarkan dalil yang paling kuat—dan Allah lebih mengetahui—dari As-Sunnah, bahwa waktu Qiyamul Lail, termasuk Witir, berakhir dengan terbitnya fajar shadiq. Selain itu, shalat Qiyamul Lail memiliki waktu qadha (menggantinya karena waktunya telah berlalu) bagi orang yang terlewat mendirikannya di malam hari. Waktu qadha tersebut adalah antara saat matahari telah naik setinggi tombak hingga tiba waktu Shalat Zhuhur. Inilah waktu untuk mengqadha Shalat Qiyamul Lail. Qiyamul Lail merupakan ibadah yang mulia, besar sekali pahalanya, sangat agung pengaruhnya, serta hasil dan faedahnya penuh berkah. Ia ditegaskan dalam Kitabullah, dan dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui amalan beliau, karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam konsisten mengerjakan Qiyamul Lail, baik ketika sedang mukim atau safar, dalam keadaan sehat maupun sakit. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau. Shalat Malam juga ditegaskan melalui lisan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. ====== قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي اللَّيْلِ غَيْرَ الْفَرِيضَةِ وَغَيْرَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ نَوْعَانِ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَهَذِهِ سُنَّةٌ تُفْعَلُ أَحْيَانًا أَنْ يُصَلِّيَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ رَكَعَاتٍ يَسْتَوْعِبُ بِهَا مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ أَوْ بَعْضَ الْوَقْتِ مِمَّا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ هَذِهِ فِعْلُهَا أَحْيَانًا سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ وَالسَّلَفَ كَانُوا يَفْعَلُونَهَا وَأَنَّ النَّوْعَ الثَّانِي هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَمِنْهُ الْوِتْرُ وَهُوَ أَنْ يُصَلِّي الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُؤْمِنَةُ مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَذَانِ الْفَجْرِ فَأَوَّلُ وَقْتِ هَذِهِ الصَّلَاةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ وَقْتُ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي حَقِّهِ حَتَّى لَوْ كَانَ قَدْ صَلَّاهَا جَمْعًا مَعَ الْمَغْرِبِ إِنْ كَانَ مِمَّنْ لَهُ أَنْ يَجْمَعَ فَإِنَّ وَقْتَ الْقِيَامِ وَالْوِتْرِ يَدْخُلُ فِي حَقِّهِ إِلَى أَنْ يُؤَذِّنَ الْمُؤَذِّنُ لِلْفَجْرِ الْأَذَانُ الَّذِي يَكُونُ مَعَهُ الْإِمْسَاكُ لِلصَّائِمِ إِذَا طَلَعَ الفَجْرُ الصَّادِقُ هَذَا الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ السُّنَّةُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الْفَجْرَ فَلْيُوتِرْ وَلَوْ بِرَكْعَةٍ وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يُوتِرُونَ وَلَوْ أَذَّنَ الْفَجْر إِلَّا أَنَّ الَّذِي يَظْهَرُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ مِنْ دَلَالَاتِ السُّنَّةِ أَنَّ وَقْتَ قِيَامِ اللَّيْلِ بِمَا فِيهِ الْوِتْرُ يَنْتَهِي بِطُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ ثُمَّ إِنَّ هَذَا الْقِيَامَ لِلَّيْلِ لَهُ وَقْتُ قَضَاءٍ لِمَنْ فَاتَهُ وِرْدُهُ مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مَا بَيْنَ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ قَيْدَ رُمْحٍ إِلَى صَلَاةِ الظُّهْرِ فَهَذَا وَقْتُ قَضَاءِ قِيَامِ اللَّيْلِ وَقِيَامُ اللَّيْلِ عِبَادَةٌ شَرِيفَةٌ كَبِيرَةٌ أُجُورُهَا عَظِيمَةٌ ثِمَارُهَا مُبَارَكَةٌ عَوَائِدُهِا وَفَوَائِدُهَا ثَبَتَتْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَبِسُنَّة النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِعْلِيَّةِ حَيْثُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوَاظِبُ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ حَضَرًا وَسَفَرًاصَحِيحًا وَمَرِيضًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَثَبَتَتْ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَوْلِيَّةِ
Telah kita ketahui bahwa Shalat Malam, selain Shalat Fardhu dan Shalat Sunnah Rawatib, terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah shalat yang dikerjakan di antara waktu Maghrib dan Isya. Ini merupakan sunnah yang bisa dikerjakan sesekali. Yakni seorang mukmin mendirikan shalat setelah selesai Shalat Maghrib beberapa rakaat yang mencakup seluruh waktu antara Maghrib dan Isya, atau sebagian waktunya, antara Maghrib dan Isya. Mengerjakan shalat ini sesekali termasuk sunnah yang shahih, yang diriwayatkan dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan secara shahih pula bahwa para Sahabat dan generasi salaf biasa melaksanakannya. Adapun jenis kedua adalah Shalat Qiyamul Lail, dan termasuk di dalamnya Shalat Witir. Yaitu seorang mukmin laki-laki atau perempuan mendirikan shalat di antara waktu setelah Shalat Isya hingga azan Subuh. Permulaan waktu shalat ini adalah setelah Shalat Isya. Maka, siapa yang telah melaksanakan Shalat Isya, waktu Qiyamul Lail baginya telah dimulai. Bahkan jika ia menjamak Shalat Isya dengan Shalat Maghrib, selama ia memang termasuk orang yang diperbolehkan menjamak, maka waktu Qiyamul Lail dan Witir tetap berlaku baginya. Waktu tersebut berlangsung hingga muazin mengumandangkan azan Subuh, azan yang menjadi tanda berhentinya makan dan minum bagi orang yang berpuasa, yaitu saat fajar shadiq muncul. Inilah yang dijelaskan oleh As-Sunnah: “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Apabila salah seorang dari kalian khawatir waktu Subuh tiba, maka hendaklah ia menyempurnakannya dengan Shalat Witir, meskipun hanya satu rakaat.” Dahulu, sebagian salaf tetap mengerjakan Shalat Witir meskipun azan Subuh telah berkumandang. Namun, berdasarkan dalil yang paling kuat—dan Allah lebih mengetahui—dari As-Sunnah, bahwa waktu Qiyamul Lail, termasuk Witir, berakhir dengan terbitnya fajar shadiq. Selain itu, shalat Qiyamul Lail memiliki waktu qadha (menggantinya karena waktunya telah berlalu) bagi orang yang terlewat mendirikannya di malam hari. Waktu qadha tersebut adalah antara saat matahari telah naik setinggi tombak hingga tiba waktu Shalat Zhuhur. Inilah waktu untuk mengqadha Shalat Qiyamul Lail. Qiyamul Lail merupakan ibadah yang mulia, besar sekali pahalanya, sangat agung pengaruhnya, serta hasil dan faedahnya penuh berkah. Ia ditegaskan dalam Kitabullah, dan dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui amalan beliau, karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam konsisten mengerjakan Qiyamul Lail, baik ketika sedang mukim atau safar, dalam keadaan sehat maupun sakit. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau. Shalat Malam juga ditegaskan melalui lisan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. ====== قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي اللَّيْلِ غَيْرَ الْفَرِيضَةِ وَغَيْرَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ نَوْعَانِ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَهَذِهِ سُنَّةٌ تُفْعَلُ أَحْيَانًا أَنْ يُصَلِّيَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ رَكَعَاتٍ يَسْتَوْعِبُ بِهَا مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ أَوْ بَعْضَ الْوَقْتِ مِمَّا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ هَذِهِ فِعْلُهَا أَحْيَانًا سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ وَالسَّلَفَ كَانُوا يَفْعَلُونَهَا وَأَنَّ النَّوْعَ الثَّانِي هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَمِنْهُ الْوِتْرُ وَهُوَ أَنْ يُصَلِّي الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُؤْمِنَةُ مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَذَانِ الْفَجْرِ فَأَوَّلُ وَقْتِ هَذِهِ الصَّلَاةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ وَقْتُ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي حَقِّهِ حَتَّى لَوْ كَانَ قَدْ صَلَّاهَا جَمْعًا مَعَ الْمَغْرِبِ إِنْ كَانَ مِمَّنْ لَهُ أَنْ يَجْمَعَ فَإِنَّ وَقْتَ الْقِيَامِ وَالْوِتْرِ يَدْخُلُ فِي حَقِّهِ إِلَى أَنْ يُؤَذِّنَ الْمُؤَذِّنُ لِلْفَجْرِ الْأَذَانُ الَّذِي يَكُونُ مَعَهُ الْإِمْسَاكُ لِلصَّائِمِ إِذَا طَلَعَ الفَجْرُ الصَّادِقُ هَذَا الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ السُّنَّةُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الْفَجْرَ فَلْيُوتِرْ وَلَوْ بِرَكْعَةٍ وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يُوتِرُونَ وَلَوْ أَذَّنَ الْفَجْر إِلَّا أَنَّ الَّذِي يَظْهَرُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ مِنْ دَلَالَاتِ السُّنَّةِ أَنَّ وَقْتَ قِيَامِ اللَّيْلِ بِمَا فِيهِ الْوِتْرُ يَنْتَهِي بِطُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ ثُمَّ إِنَّ هَذَا الْقِيَامَ لِلَّيْلِ لَهُ وَقْتُ قَضَاءٍ لِمَنْ فَاتَهُ وِرْدُهُ مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مَا بَيْنَ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ قَيْدَ رُمْحٍ إِلَى صَلَاةِ الظُّهْرِ فَهَذَا وَقْتُ قَضَاءِ قِيَامِ اللَّيْلِ وَقِيَامُ اللَّيْلِ عِبَادَةٌ شَرِيفَةٌ كَبِيرَةٌ أُجُورُهَا عَظِيمَةٌ ثِمَارُهَا مُبَارَكَةٌ عَوَائِدُهِا وَفَوَائِدُهَا ثَبَتَتْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَبِسُنَّة النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِعْلِيَّةِ حَيْثُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوَاظِبُ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ حَضَرًا وَسَفَرًاصَحِيحًا وَمَرِيضًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَثَبَتَتْ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَوْلِيَّةِ


Telah kita ketahui bahwa Shalat Malam, selain Shalat Fardhu dan Shalat Sunnah Rawatib, terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah shalat yang dikerjakan di antara waktu Maghrib dan Isya. Ini merupakan sunnah yang bisa dikerjakan sesekali. Yakni seorang mukmin mendirikan shalat setelah selesai Shalat Maghrib beberapa rakaat yang mencakup seluruh waktu antara Maghrib dan Isya, atau sebagian waktunya, antara Maghrib dan Isya. Mengerjakan shalat ini sesekali termasuk sunnah yang shahih, yang diriwayatkan dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan secara shahih pula bahwa para Sahabat dan generasi salaf biasa melaksanakannya. Adapun jenis kedua adalah Shalat Qiyamul Lail, dan termasuk di dalamnya Shalat Witir. Yaitu seorang mukmin laki-laki atau perempuan mendirikan shalat di antara waktu setelah Shalat Isya hingga azan Subuh. Permulaan waktu shalat ini adalah setelah Shalat Isya. Maka, siapa yang telah melaksanakan Shalat Isya, waktu Qiyamul Lail baginya telah dimulai. Bahkan jika ia menjamak Shalat Isya dengan Shalat Maghrib, selama ia memang termasuk orang yang diperbolehkan menjamak, maka waktu Qiyamul Lail dan Witir tetap berlaku baginya. Waktu tersebut berlangsung hingga muazin mengumandangkan azan Subuh, azan yang menjadi tanda berhentinya makan dan minum bagi orang yang berpuasa, yaitu saat fajar shadiq muncul. Inilah yang dijelaskan oleh As-Sunnah: “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Apabila salah seorang dari kalian khawatir waktu Subuh tiba, maka hendaklah ia menyempurnakannya dengan Shalat Witir, meskipun hanya satu rakaat.” Dahulu, sebagian salaf tetap mengerjakan Shalat Witir meskipun azan Subuh telah berkumandang. Namun, berdasarkan dalil yang paling kuat—dan Allah lebih mengetahui—dari As-Sunnah, bahwa waktu Qiyamul Lail, termasuk Witir, berakhir dengan terbitnya fajar shadiq. Selain itu, shalat Qiyamul Lail memiliki waktu qadha (menggantinya karena waktunya telah berlalu) bagi orang yang terlewat mendirikannya di malam hari. Waktu qadha tersebut adalah antara saat matahari telah naik setinggi tombak hingga tiba waktu Shalat Zhuhur. Inilah waktu untuk mengqadha Shalat Qiyamul Lail. Qiyamul Lail merupakan ibadah yang mulia, besar sekali pahalanya, sangat agung pengaruhnya, serta hasil dan faedahnya penuh berkah. Ia ditegaskan dalam Kitabullah, dan dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui amalan beliau, karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam konsisten mengerjakan Qiyamul Lail, baik ketika sedang mukim atau safar, dalam keadaan sehat maupun sakit. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau. Shalat Malam juga ditegaskan melalui lisan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. ====== قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي اللَّيْلِ غَيْرَ الْفَرِيضَةِ وَغَيْرَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ نَوْعَانِ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَهَذِهِ سُنَّةٌ تُفْعَلُ أَحْيَانًا أَنْ يُصَلِّيَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ رَكَعَاتٍ يَسْتَوْعِبُ بِهَا مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ أَوْ بَعْضَ الْوَقْتِ مِمَّا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ هَذِهِ فِعْلُهَا أَحْيَانًا سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ وَالسَّلَفَ كَانُوا يَفْعَلُونَهَا وَأَنَّ النَّوْعَ الثَّانِي هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَمِنْهُ الْوِتْرُ وَهُوَ أَنْ يُصَلِّي الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُؤْمِنَةُ مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَذَانِ الْفَجْرِ فَأَوَّلُ وَقْتِ هَذِهِ الصَّلَاةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ وَقْتُ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي حَقِّهِ حَتَّى لَوْ كَانَ قَدْ صَلَّاهَا جَمْعًا مَعَ الْمَغْرِبِ إِنْ كَانَ مِمَّنْ لَهُ أَنْ يَجْمَعَ فَإِنَّ وَقْتَ الْقِيَامِ وَالْوِتْرِ يَدْخُلُ فِي حَقِّهِ إِلَى أَنْ يُؤَذِّنَ الْمُؤَذِّنُ لِلْفَجْرِ الْأَذَانُ الَّذِي يَكُونُ مَعَهُ الْإِمْسَاكُ لِلصَّائِمِ إِذَا طَلَعَ الفَجْرُ الصَّادِقُ هَذَا الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ السُّنَّةُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الْفَجْرَ فَلْيُوتِرْ وَلَوْ بِرَكْعَةٍ وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يُوتِرُونَ وَلَوْ أَذَّنَ الْفَجْر إِلَّا أَنَّ الَّذِي يَظْهَرُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ مِنْ دَلَالَاتِ السُّنَّةِ أَنَّ وَقْتَ قِيَامِ اللَّيْلِ بِمَا فِيهِ الْوِتْرُ يَنْتَهِي بِطُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ ثُمَّ إِنَّ هَذَا الْقِيَامَ لِلَّيْلِ لَهُ وَقْتُ قَضَاءٍ لِمَنْ فَاتَهُ وِرْدُهُ مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مَا بَيْنَ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ قَيْدَ رُمْحٍ إِلَى صَلَاةِ الظُّهْرِ فَهَذَا وَقْتُ قَضَاءِ قِيَامِ اللَّيْلِ وَقِيَامُ اللَّيْلِ عِبَادَةٌ شَرِيفَةٌ كَبِيرَةٌ أُجُورُهَا عَظِيمَةٌ ثِمَارُهَا مُبَارَكَةٌ عَوَائِدُهِا وَفَوَائِدُهَا ثَبَتَتْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَبِسُنَّة النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِعْلِيَّةِ حَيْثُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوَاظِبُ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ حَضَرًا وَسَفَرًاصَحِيحًا وَمَرِيضًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَثَبَتَتْ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَوْلِيَّةِ

Menjadi Uwais Al-Qarni di Zaman Modern

Daftar Isi ToggleTeladan abadi dari hati yang tulusFaidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanKeikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratAmal tersembunyi lebih berat di timbanganDoa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahMeneladani Uwais di zaman modernBerbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiMenjaga keikhlasan dalam beramalHidup sederhana dan tawadukMendahulukan rida Allah di atas rida manusiaPelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuDi antara sekian banyak tokoh teladan dalam sejarah Islam, ada satu nama yang mungkin tidak setenar Abu Bakar, Umar, atau Ali, namun harum di langit karena keikhlasan dan bakti kepada orang tuanya yang luar biasa. Dialah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang tak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi disebut secara khusus oleh beliau karena baktinya yang luar biasa kepada ibunya.Uwais hidup di Yaman. Ia bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan ulama besar yang dikenal banyak orang. Ia hanyalah lelaki sederhana yang seluruh hidupnya diabdikan untuk merawat ibunya yang sakit. Ketika keinginannya untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu besar, sang ibu yang sudah tua renta dan sakit menahannya untuk tidak pergi jauh. Uwais pun memilih tinggal dan berbakti. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan seorang ibu.Dari pilihan itulah lahir kemuliaan yang menggetarkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَفْوَاجِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki bernama Uwais bin ‘Amir bersama rombongan dari Yaman, dari suku Murad, kemudian dari Qarn. Dahulu ia menderita penyakit kulit, lalu Allah sembuhkan kecuali sebesar satu dirham. Ia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah agar ia memohonkan ampunan untuk kalian.” (HR. Muslim)Bayangkan, seorang lelaki miskin yang tidak dikenal manusia, tetapi disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dimuliakan oleh Allah. Setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun mencari sosok ini. Ia ingin memastikan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika bertemu rombongan dari Yaman, Umar bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?”Dan ketika akhirnya berjumpa dengannya, Umar berkata, “Mintalah ampunan kepada Allah untukku, wahai Uwais.”MasyaaAllah, seorang khalifah yang agung meminta doa dari seorang lelaki yang bahkan tidak dikenal manusia. Itulah bukti kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang ikhlas dan berbakti kepada ibunya.Teladan abadi dari hati yang tulusUwais Al-Qarni mengajarkan kepada dunia bahwa kemuliaan tidak diukur dari pangkat, kekayaan, atau popularitas. Kemuliaan sejati ada dalam hati yang ikhlas dan amal yang tulus karena Allah. Ia tidak ingin dikenal manusia, bahkan ketika orang-orang mulai mengetahui keutamaannya, ia pun mengasingkan diri agar amalnya tetap tersembunyi.Dalam sebuah riwayat disebutkan, setelah kisahnya tersebar, Uwais meninggalkan tempat tinggalnya dan menjauh dari keramaian. Ia takut kemuliaan yang Allah berikan berubah menjadi ujian kesombongan. Begitulah hati seorang hamba yang benar-benar mengenal Allah, ia takut amalnya rusak hanya karena dikenal manusia.Faidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanUwais tidak meninggalkan ibunya demi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memilih rida ibunya daripada kesempatan yang tampak begitu mulia. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan sang ibu.Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)Keikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratUwais tidak pernah beramal untuk dilihat. Ia tidak dikenal manusia, bahkan ia menghindar dari popularitas. Amal yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi itulah yang Allah muliakan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Amal tersembunyi lebih berat di timbanganUwais tidak meninggalkan karya besar yang dikenal sejarah, tapi amalnya mengguncang langit. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,تَرْكُ العَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا“Meninggalkan amal karena takut dilihat manusia adalah riya’, dan beramal karena ingin dilihat manusia adalah syirik. Keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” [1]Doa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi bahwa jika Uwais bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkannya. Itu karena doa yang keluar dari hati yang bersih dan ikhlas. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Mā’idah: 27)Meneladani Uwais di zaman modernMenjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern tentu tidak berarti kita harus hidup miskin atau mengasingkan diri. Maknanya jauh lebih dalam: meneladani ketulusan, kesederhanaan, dan bakti yang penuh cinta kepada orang tua.Berbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiDi tengah kesibukan pekerjaan, kuliah, dan aktivitas dunia, jangan pernah lupakan jasa orang tua. Banyak di antara kita mampu menyenangkan dunia, tapi lupa menyenangkan hati ibu dan ayahnya.Uwais mengajarkan, tidak ada ibadah yang lebih tinggi nilainya setelah tauhid selain berbakti kepada orang tua. Uwais tidak pernah meninggikan suara kepada ibunya. Ia berkhidmat dengan penuh cinta dan sabar. Maka hari ini, teleponlah orang tuamu dengan lembut, datangi mereka, berikan waktu terbaikmu. Itu jalan ke surga.Menjaga keikhlasan dalam beramalDunia hari ini mudah membuat kita tergoda untuk beramal demi pengakuan. Kebaikan yang terekam kamera, sedekah yang diumumkan di media sosial, semua bisa menjadi jebakan yang halus. Padahal amal yang diterima Allah hanyalah amal yang murni karena-Nya. Uwais tidak dikenal di bumi, tapi dikenal di langit karena amalnya hanya untuk Allah.Hidup sederhana dan tawadukKesederhanaan bukan berarti kekurangan, tapi kebebasan dari belenggu dunia. Sederhana dalam berpakaian, dalam gaya hidup, dalam tutur kata. Hal inilah yang menenangkan hati dan mendekatkan diri kita kepada Allah.Mendahulukan rida Allah di atas rida manusiaDi era modern, banyak orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan pahala. Uwais menunjukkan sebaliknya: ia memilih kehilangan dunia daripada kehilangan rida Allah. Ia lebih senang tidak dikenal manusia, asalkan dikenal oleh Rabb-nya.Pelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuKisah Uwais Al-Qarni bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang berbakti, tetapi juga tentang keikhlasan yang murni dan cinta yang tulus kepada Allah. Ia tidak mengejar pujian manusia, tidak menulis sejarah untuk dikenang, tapi Allah sendiri yang menulis namanya di hati para hamba yang mencintai kebaikan.Betapa banyak orang hari ini yang mengejar popularitas, tapi dilupakan setelah mati. Sedangkan Uwais, tanpa meninggalkan harta atau karya duniawi, tetap dikenang hingga kini karena hatinya yang bersih dan amalnya yang ikhlas.Menjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern adalah menjadi hamba yang berbakti tanpa pamrih, beramal tanpa pamer, dan mencintai Allah tanpa syarat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukan tentang seberapa banyak orang mengenalmu, tapi tentang seberapa besar Allah mencintaimu. Maka, mari kita berusaha menjadi “Uwais” di masa kini, seorang anak yang lembut pada orang tua, hamba yang ikhlas dalam beramal, dan manusia yang tidak mencari sorotan dunia, tapi mencari rida Allah semata.Uwais Al-Qarni telah pergi, tapi jejaknya masih hidup dalam hati orang-orang yang mencintai keikhlasan. Ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati bukanlah tentang dikenal di bumi, melainkan dikenal di langit. Ia tidak menulis sejarah dengan tinta, tapi dengan air mata dan doa yang tulus. Ia tidak meninggalkan monumen, tapi meninggalkan pelajaran abadi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas seperti Uwais yang beramal tanpa ingin terlihat, berbakti tanpa mengharap balasan, dan dicintai Allah meski tak dikenal manusia. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Biografi Imam Asy-Syaukani***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 32.

Menjadi Uwais Al-Qarni di Zaman Modern

Daftar Isi ToggleTeladan abadi dari hati yang tulusFaidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanKeikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratAmal tersembunyi lebih berat di timbanganDoa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahMeneladani Uwais di zaman modernBerbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiMenjaga keikhlasan dalam beramalHidup sederhana dan tawadukMendahulukan rida Allah di atas rida manusiaPelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuDi antara sekian banyak tokoh teladan dalam sejarah Islam, ada satu nama yang mungkin tidak setenar Abu Bakar, Umar, atau Ali, namun harum di langit karena keikhlasan dan bakti kepada orang tuanya yang luar biasa. Dialah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang tak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi disebut secara khusus oleh beliau karena baktinya yang luar biasa kepada ibunya.Uwais hidup di Yaman. Ia bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan ulama besar yang dikenal banyak orang. Ia hanyalah lelaki sederhana yang seluruh hidupnya diabdikan untuk merawat ibunya yang sakit. Ketika keinginannya untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu besar, sang ibu yang sudah tua renta dan sakit menahannya untuk tidak pergi jauh. Uwais pun memilih tinggal dan berbakti. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan seorang ibu.Dari pilihan itulah lahir kemuliaan yang menggetarkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَفْوَاجِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki bernama Uwais bin ‘Amir bersama rombongan dari Yaman, dari suku Murad, kemudian dari Qarn. Dahulu ia menderita penyakit kulit, lalu Allah sembuhkan kecuali sebesar satu dirham. Ia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah agar ia memohonkan ampunan untuk kalian.” (HR. Muslim)Bayangkan, seorang lelaki miskin yang tidak dikenal manusia, tetapi disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dimuliakan oleh Allah. Setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun mencari sosok ini. Ia ingin memastikan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika bertemu rombongan dari Yaman, Umar bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?”Dan ketika akhirnya berjumpa dengannya, Umar berkata, “Mintalah ampunan kepada Allah untukku, wahai Uwais.”MasyaaAllah, seorang khalifah yang agung meminta doa dari seorang lelaki yang bahkan tidak dikenal manusia. Itulah bukti kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang ikhlas dan berbakti kepada ibunya.Teladan abadi dari hati yang tulusUwais Al-Qarni mengajarkan kepada dunia bahwa kemuliaan tidak diukur dari pangkat, kekayaan, atau popularitas. Kemuliaan sejati ada dalam hati yang ikhlas dan amal yang tulus karena Allah. Ia tidak ingin dikenal manusia, bahkan ketika orang-orang mulai mengetahui keutamaannya, ia pun mengasingkan diri agar amalnya tetap tersembunyi.Dalam sebuah riwayat disebutkan, setelah kisahnya tersebar, Uwais meninggalkan tempat tinggalnya dan menjauh dari keramaian. Ia takut kemuliaan yang Allah berikan berubah menjadi ujian kesombongan. Begitulah hati seorang hamba yang benar-benar mengenal Allah, ia takut amalnya rusak hanya karena dikenal manusia.Faidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanUwais tidak meninggalkan ibunya demi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memilih rida ibunya daripada kesempatan yang tampak begitu mulia. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan sang ibu.Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)Keikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratUwais tidak pernah beramal untuk dilihat. Ia tidak dikenal manusia, bahkan ia menghindar dari popularitas. Amal yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi itulah yang Allah muliakan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Amal tersembunyi lebih berat di timbanganUwais tidak meninggalkan karya besar yang dikenal sejarah, tapi amalnya mengguncang langit. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,تَرْكُ العَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا“Meninggalkan amal karena takut dilihat manusia adalah riya’, dan beramal karena ingin dilihat manusia adalah syirik. Keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” [1]Doa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi bahwa jika Uwais bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkannya. Itu karena doa yang keluar dari hati yang bersih dan ikhlas. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Mā’idah: 27)Meneladani Uwais di zaman modernMenjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern tentu tidak berarti kita harus hidup miskin atau mengasingkan diri. Maknanya jauh lebih dalam: meneladani ketulusan, kesederhanaan, dan bakti yang penuh cinta kepada orang tua.Berbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiDi tengah kesibukan pekerjaan, kuliah, dan aktivitas dunia, jangan pernah lupakan jasa orang tua. Banyak di antara kita mampu menyenangkan dunia, tapi lupa menyenangkan hati ibu dan ayahnya.Uwais mengajarkan, tidak ada ibadah yang lebih tinggi nilainya setelah tauhid selain berbakti kepada orang tua. Uwais tidak pernah meninggikan suara kepada ibunya. Ia berkhidmat dengan penuh cinta dan sabar. Maka hari ini, teleponlah orang tuamu dengan lembut, datangi mereka, berikan waktu terbaikmu. Itu jalan ke surga.Menjaga keikhlasan dalam beramalDunia hari ini mudah membuat kita tergoda untuk beramal demi pengakuan. Kebaikan yang terekam kamera, sedekah yang diumumkan di media sosial, semua bisa menjadi jebakan yang halus. Padahal amal yang diterima Allah hanyalah amal yang murni karena-Nya. Uwais tidak dikenal di bumi, tapi dikenal di langit karena amalnya hanya untuk Allah.Hidup sederhana dan tawadukKesederhanaan bukan berarti kekurangan, tapi kebebasan dari belenggu dunia. Sederhana dalam berpakaian, dalam gaya hidup, dalam tutur kata. Hal inilah yang menenangkan hati dan mendekatkan diri kita kepada Allah.Mendahulukan rida Allah di atas rida manusiaDi era modern, banyak orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan pahala. Uwais menunjukkan sebaliknya: ia memilih kehilangan dunia daripada kehilangan rida Allah. Ia lebih senang tidak dikenal manusia, asalkan dikenal oleh Rabb-nya.Pelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuKisah Uwais Al-Qarni bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang berbakti, tetapi juga tentang keikhlasan yang murni dan cinta yang tulus kepada Allah. Ia tidak mengejar pujian manusia, tidak menulis sejarah untuk dikenang, tapi Allah sendiri yang menulis namanya di hati para hamba yang mencintai kebaikan.Betapa banyak orang hari ini yang mengejar popularitas, tapi dilupakan setelah mati. Sedangkan Uwais, tanpa meninggalkan harta atau karya duniawi, tetap dikenang hingga kini karena hatinya yang bersih dan amalnya yang ikhlas.Menjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern adalah menjadi hamba yang berbakti tanpa pamrih, beramal tanpa pamer, dan mencintai Allah tanpa syarat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukan tentang seberapa banyak orang mengenalmu, tapi tentang seberapa besar Allah mencintaimu. Maka, mari kita berusaha menjadi “Uwais” di masa kini, seorang anak yang lembut pada orang tua, hamba yang ikhlas dalam beramal, dan manusia yang tidak mencari sorotan dunia, tapi mencari rida Allah semata.Uwais Al-Qarni telah pergi, tapi jejaknya masih hidup dalam hati orang-orang yang mencintai keikhlasan. Ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati bukanlah tentang dikenal di bumi, melainkan dikenal di langit. Ia tidak menulis sejarah dengan tinta, tapi dengan air mata dan doa yang tulus. Ia tidak meninggalkan monumen, tapi meninggalkan pelajaran abadi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas seperti Uwais yang beramal tanpa ingin terlihat, berbakti tanpa mengharap balasan, dan dicintai Allah meski tak dikenal manusia. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Biografi Imam Asy-Syaukani***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 32.
Daftar Isi ToggleTeladan abadi dari hati yang tulusFaidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanKeikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratAmal tersembunyi lebih berat di timbanganDoa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahMeneladani Uwais di zaman modernBerbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiMenjaga keikhlasan dalam beramalHidup sederhana dan tawadukMendahulukan rida Allah di atas rida manusiaPelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuDi antara sekian banyak tokoh teladan dalam sejarah Islam, ada satu nama yang mungkin tidak setenar Abu Bakar, Umar, atau Ali, namun harum di langit karena keikhlasan dan bakti kepada orang tuanya yang luar biasa. Dialah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang tak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi disebut secara khusus oleh beliau karena baktinya yang luar biasa kepada ibunya.Uwais hidup di Yaman. Ia bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan ulama besar yang dikenal banyak orang. Ia hanyalah lelaki sederhana yang seluruh hidupnya diabdikan untuk merawat ibunya yang sakit. Ketika keinginannya untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu besar, sang ibu yang sudah tua renta dan sakit menahannya untuk tidak pergi jauh. Uwais pun memilih tinggal dan berbakti. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan seorang ibu.Dari pilihan itulah lahir kemuliaan yang menggetarkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَفْوَاجِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki bernama Uwais bin ‘Amir bersama rombongan dari Yaman, dari suku Murad, kemudian dari Qarn. Dahulu ia menderita penyakit kulit, lalu Allah sembuhkan kecuali sebesar satu dirham. Ia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah agar ia memohonkan ampunan untuk kalian.” (HR. Muslim)Bayangkan, seorang lelaki miskin yang tidak dikenal manusia, tetapi disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dimuliakan oleh Allah. Setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun mencari sosok ini. Ia ingin memastikan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika bertemu rombongan dari Yaman, Umar bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?”Dan ketika akhirnya berjumpa dengannya, Umar berkata, “Mintalah ampunan kepada Allah untukku, wahai Uwais.”MasyaaAllah, seorang khalifah yang agung meminta doa dari seorang lelaki yang bahkan tidak dikenal manusia. Itulah bukti kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang ikhlas dan berbakti kepada ibunya.Teladan abadi dari hati yang tulusUwais Al-Qarni mengajarkan kepada dunia bahwa kemuliaan tidak diukur dari pangkat, kekayaan, atau popularitas. Kemuliaan sejati ada dalam hati yang ikhlas dan amal yang tulus karena Allah. Ia tidak ingin dikenal manusia, bahkan ketika orang-orang mulai mengetahui keutamaannya, ia pun mengasingkan diri agar amalnya tetap tersembunyi.Dalam sebuah riwayat disebutkan, setelah kisahnya tersebar, Uwais meninggalkan tempat tinggalnya dan menjauh dari keramaian. Ia takut kemuliaan yang Allah berikan berubah menjadi ujian kesombongan. Begitulah hati seorang hamba yang benar-benar mengenal Allah, ia takut amalnya rusak hanya karena dikenal manusia.Faidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanUwais tidak meninggalkan ibunya demi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memilih rida ibunya daripada kesempatan yang tampak begitu mulia. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan sang ibu.Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)Keikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratUwais tidak pernah beramal untuk dilihat. Ia tidak dikenal manusia, bahkan ia menghindar dari popularitas. Amal yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi itulah yang Allah muliakan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Amal tersembunyi lebih berat di timbanganUwais tidak meninggalkan karya besar yang dikenal sejarah, tapi amalnya mengguncang langit. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,تَرْكُ العَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا“Meninggalkan amal karena takut dilihat manusia adalah riya’, dan beramal karena ingin dilihat manusia adalah syirik. Keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” [1]Doa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi bahwa jika Uwais bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkannya. Itu karena doa yang keluar dari hati yang bersih dan ikhlas. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Mā’idah: 27)Meneladani Uwais di zaman modernMenjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern tentu tidak berarti kita harus hidup miskin atau mengasingkan diri. Maknanya jauh lebih dalam: meneladani ketulusan, kesederhanaan, dan bakti yang penuh cinta kepada orang tua.Berbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiDi tengah kesibukan pekerjaan, kuliah, dan aktivitas dunia, jangan pernah lupakan jasa orang tua. Banyak di antara kita mampu menyenangkan dunia, tapi lupa menyenangkan hati ibu dan ayahnya.Uwais mengajarkan, tidak ada ibadah yang lebih tinggi nilainya setelah tauhid selain berbakti kepada orang tua. Uwais tidak pernah meninggikan suara kepada ibunya. Ia berkhidmat dengan penuh cinta dan sabar. Maka hari ini, teleponlah orang tuamu dengan lembut, datangi mereka, berikan waktu terbaikmu. Itu jalan ke surga.Menjaga keikhlasan dalam beramalDunia hari ini mudah membuat kita tergoda untuk beramal demi pengakuan. Kebaikan yang terekam kamera, sedekah yang diumumkan di media sosial, semua bisa menjadi jebakan yang halus. Padahal amal yang diterima Allah hanyalah amal yang murni karena-Nya. Uwais tidak dikenal di bumi, tapi dikenal di langit karena amalnya hanya untuk Allah.Hidup sederhana dan tawadukKesederhanaan bukan berarti kekurangan, tapi kebebasan dari belenggu dunia. Sederhana dalam berpakaian, dalam gaya hidup, dalam tutur kata. Hal inilah yang menenangkan hati dan mendekatkan diri kita kepada Allah.Mendahulukan rida Allah di atas rida manusiaDi era modern, banyak orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan pahala. Uwais menunjukkan sebaliknya: ia memilih kehilangan dunia daripada kehilangan rida Allah. Ia lebih senang tidak dikenal manusia, asalkan dikenal oleh Rabb-nya.Pelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuKisah Uwais Al-Qarni bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang berbakti, tetapi juga tentang keikhlasan yang murni dan cinta yang tulus kepada Allah. Ia tidak mengejar pujian manusia, tidak menulis sejarah untuk dikenang, tapi Allah sendiri yang menulis namanya di hati para hamba yang mencintai kebaikan.Betapa banyak orang hari ini yang mengejar popularitas, tapi dilupakan setelah mati. Sedangkan Uwais, tanpa meninggalkan harta atau karya duniawi, tetap dikenang hingga kini karena hatinya yang bersih dan amalnya yang ikhlas.Menjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern adalah menjadi hamba yang berbakti tanpa pamrih, beramal tanpa pamer, dan mencintai Allah tanpa syarat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukan tentang seberapa banyak orang mengenalmu, tapi tentang seberapa besar Allah mencintaimu. Maka, mari kita berusaha menjadi “Uwais” di masa kini, seorang anak yang lembut pada orang tua, hamba yang ikhlas dalam beramal, dan manusia yang tidak mencari sorotan dunia, tapi mencari rida Allah semata.Uwais Al-Qarni telah pergi, tapi jejaknya masih hidup dalam hati orang-orang yang mencintai keikhlasan. Ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati bukanlah tentang dikenal di bumi, melainkan dikenal di langit. Ia tidak menulis sejarah dengan tinta, tapi dengan air mata dan doa yang tulus. Ia tidak meninggalkan monumen, tapi meninggalkan pelajaran abadi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas seperti Uwais yang beramal tanpa ingin terlihat, berbakti tanpa mengharap balasan, dan dicintai Allah meski tak dikenal manusia. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Biografi Imam Asy-Syaukani***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 32.


Daftar Isi ToggleTeladan abadi dari hati yang tulusFaidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanKeikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratAmal tersembunyi lebih berat di timbanganDoa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahMeneladani Uwais di zaman modernBerbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiMenjaga keikhlasan dalam beramalHidup sederhana dan tawadukMendahulukan rida Allah di atas rida manusiaPelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuDi antara sekian banyak tokoh teladan dalam sejarah Islam, ada satu nama yang mungkin tidak setenar Abu Bakar, Umar, atau Ali, namun harum di langit karena keikhlasan dan bakti kepada orang tuanya yang luar biasa. Dialah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang tak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi disebut secara khusus oleh beliau karena baktinya yang luar biasa kepada ibunya.Uwais hidup di Yaman. Ia bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan ulama besar yang dikenal banyak orang. Ia hanyalah lelaki sederhana yang seluruh hidupnya diabdikan untuk merawat ibunya yang sakit. Ketika keinginannya untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu besar, sang ibu yang sudah tua renta dan sakit menahannya untuk tidak pergi jauh. Uwais pun memilih tinggal dan berbakti. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan seorang ibu.Dari pilihan itulah lahir kemuliaan yang menggetarkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَفْوَاجِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki bernama Uwais bin ‘Amir bersama rombongan dari Yaman, dari suku Murad, kemudian dari Qarn. Dahulu ia menderita penyakit kulit, lalu Allah sembuhkan kecuali sebesar satu dirham. Ia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah agar ia memohonkan ampunan untuk kalian.” (HR. Muslim)Bayangkan, seorang lelaki miskin yang tidak dikenal manusia, tetapi disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dimuliakan oleh Allah. Setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun mencari sosok ini. Ia ingin memastikan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika bertemu rombongan dari Yaman, Umar bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?”Dan ketika akhirnya berjumpa dengannya, Umar berkata, “Mintalah ampunan kepada Allah untukku, wahai Uwais.”MasyaaAllah, seorang khalifah yang agung meminta doa dari seorang lelaki yang bahkan tidak dikenal manusia. Itulah bukti kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang ikhlas dan berbakti kepada ibunya.Teladan abadi dari hati yang tulusUwais Al-Qarni mengajarkan kepada dunia bahwa kemuliaan tidak diukur dari pangkat, kekayaan, atau popularitas. Kemuliaan sejati ada dalam hati yang ikhlas dan amal yang tulus karena Allah. Ia tidak ingin dikenal manusia, bahkan ketika orang-orang mulai mengetahui keutamaannya, ia pun mengasingkan diri agar amalnya tetap tersembunyi.Dalam sebuah riwayat disebutkan, setelah kisahnya tersebar, Uwais meninggalkan tempat tinggalnya dan menjauh dari keramaian. Ia takut kemuliaan yang Allah berikan berubah menjadi ujian kesombongan. Begitulah hati seorang hamba yang benar-benar mengenal Allah, ia takut amalnya rusak hanya karena dikenal manusia.Faidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanUwais tidak meninggalkan ibunya demi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memilih rida ibunya daripada kesempatan yang tampak begitu mulia. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan sang ibu.Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)Keikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratUwais tidak pernah beramal untuk dilihat. Ia tidak dikenal manusia, bahkan ia menghindar dari popularitas. Amal yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi itulah yang Allah muliakan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Amal tersembunyi lebih berat di timbanganUwais tidak meninggalkan karya besar yang dikenal sejarah, tapi amalnya mengguncang langit. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,تَرْكُ العَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا“Meninggalkan amal karena takut dilihat manusia adalah riya’, dan beramal karena ingin dilihat manusia adalah syirik. Keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” [1]Doa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi bahwa jika Uwais bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkannya. Itu karena doa yang keluar dari hati yang bersih dan ikhlas. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Mā’idah: 27)Meneladani Uwais di zaman modernMenjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern tentu tidak berarti kita harus hidup miskin atau mengasingkan diri. Maknanya jauh lebih dalam: meneladani ketulusan, kesederhanaan, dan bakti yang penuh cinta kepada orang tua.Berbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiDi tengah kesibukan pekerjaan, kuliah, dan aktivitas dunia, jangan pernah lupakan jasa orang tua. Banyak di antara kita mampu menyenangkan dunia, tapi lupa menyenangkan hati ibu dan ayahnya.Uwais mengajarkan, tidak ada ibadah yang lebih tinggi nilainya setelah tauhid selain berbakti kepada orang tua. Uwais tidak pernah meninggikan suara kepada ibunya. Ia berkhidmat dengan penuh cinta dan sabar. Maka hari ini, teleponlah orang tuamu dengan lembut, datangi mereka, berikan waktu terbaikmu. Itu jalan ke surga.Menjaga keikhlasan dalam beramalDunia hari ini mudah membuat kita tergoda untuk beramal demi pengakuan. Kebaikan yang terekam kamera, sedekah yang diumumkan di media sosial, semua bisa menjadi jebakan yang halus. Padahal amal yang diterima Allah hanyalah amal yang murni karena-Nya. Uwais tidak dikenal di bumi, tapi dikenal di langit karena amalnya hanya untuk Allah.Hidup sederhana dan tawadukKesederhanaan bukan berarti kekurangan, tapi kebebasan dari belenggu dunia. Sederhana dalam berpakaian, dalam gaya hidup, dalam tutur kata. Hal inilah yang menenangkan hati dan mendekatkan diri kita kepada Allah.Mendahulukan rida Allah di atas rida manusiaDi era modern, banyak orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan pahala. Uwais menunjukkan sebaliknya: ia memilih kehilangan dunia daripada kehilangan rida Allah. Ia lebih senang tidak dikenal manusia, asalkan dikenal oleh Rabb-nya.Pelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuKisah Uwais Al-Qarni bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang berbakti, tetapi juga tentang keikhlasan yang murni dan cinta yang tulus kepada Allah. Ia tidak mengejar pujian manusia, tidak menulis sejarah untuk dikenang, tapi Allah sendiri yang menulis namanya di hati para hamba yang mencintai kebaikan.Betapa banyak orang hari ini yang mengejar popularitas, tapi dilupakan setelah mati. Sedangkan Uwais, tanpa meninggalkan harta atau karya duniawi, tetap dikenang hingga kini karena hatinya yang bersih dan amalnya yang ikhlas.Menjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern adalah menjadi hamba yang berbakti tanpa pamrih, beramal tanpa pamer, dan mencintai Allah tanpa syarat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukan tentang seberapa banyak orang mengenalmu, tapi tentang seberapa besar Allah mencintaimu. Maka, mari kita berusaha menjadi “Uwais” di masa kini, seorang anak yang lembut pada orang tua, hamba yang ikhlas dalam beramal, dan manusia yang tidak mencari sorotan dunia, tapi mencari rida Allah semata.Uwais Al-Qarni telah pergi, tapi jejaknya masih hidup dalam hati orang-orang yang mencintai keikhlasan. Ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati bukanlah tentang dikenal di bumi, melainkan dikenal di langit. Ia tidak menulis sejarah dengan tinta, tapi dengan air mata dan doa yang tulus. Ia tidak meninggalkan monumen, tapi meninggalkan pelajaran abadi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas seperti Uwais yang beramal tanpa ingin terlihat, berbakti tanpa mengharap balasan, dan dicintai Allah meski tak dikenal manusia. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Biografi Imam Asy-Syaukani***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 32.

Dalam Hal Apa Kita Menghabiskan Umur?

أين تفنى أعمارنا؟! Oleh: Tsamir Abdul Ghani Faiq Sabainah ثامر عبدالغني فائق سباعنه قال الرسول صلى الله عليه وسلم: ((لا تزول قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسأل عن أربع: عمره فيم أفناه؟ وجسمه فيم أبلاه؟ وعلمه فيم عمل فيه؟ ومالُه فيم اكتسبَه وفيم أنفقه؟)). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat, hingga ia ditanya tentang empat perkara: umurnya dalam hal apa ia habiskan? Badannya dalam hal apa ia pakai? Ilmunya mana yang telah ia amalkan? Dan hartanya dari mana ia dapatkan dan ia belanjakan?” عمرنا فيم أفنيناه؟ كيف قضيناه وكيف مضى؟ عمرنا وعملنا في هذا العمر كيف كان؟ كيف انقضت سنو العمر؟ سواء قصر هذا العمر أم طال؛ قال تعالى: ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴾ [آل عمران: 185]. Dalam hal apa kita habiskan umur kita? Bagaimana kita menggunakannya? Bagaimana umur kita berlalu? Bagaimana dulu umur kita dan amalan kita semasa hidup? Bagaimana tahun-tahun umur kita berlalu, baik itu panjang maupun singkat? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185). حقيقة واقعه لا يُنكرها عاقل، الكل سيموت، الذكر والأنثى، الغني والفقير، الحر والعبد، العالم والجاهل، الكل سيَفنى عمره، ويُغادر هذه الحياة الدنيا، الكل سيموت ولن يُخلَّد أحد، الجميع سيذوق طعم الموت، لكن الموت ليس النهاية؛ إنما هو انتقال من محطة إلى محطة أخرى، ومِن مرحلة إلى مرحلة، فالدنيا دار عمل، والآخرة دار جزاء وحساب، وسنُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وكيف انقضى؟ وأين كان؟ وفي أي عمل فنيَ وانتهى؟ Sebuah kenyataan yang tidak akan ada orang berakal yang menyangkalnya, bahwa semua orang pasti akan mati, baik itu laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, merdeka atau budak, orang berilmu atau bodoh, kelak semua akan habis umurnya dan meninggalkan kehidupan dunia ini. Semua pasti akan meninggal dunia, tidak akan ada yang hidup kekal. Semua akan mencicipi rasa kematian. Namun, kematian bukanlah akhir segalanya, tapi ia hanyalah perpindahan dari satu perhentian menuju perhentian lain, dari satu tahap menuju tahap lain. Dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat pembalasan dan perhitungan. Kita semua akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, bagaimana ia habis? Di mana dihabiskan? Dan dalam amalan apa ia habis? ماذا قدمتُ في سني عمري؟ قال تعالى: ﴿ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴾ [الكهف: 110] العمل الصالح هو المطلوب، العمل الصالح النافع لا حدود له، ويَشمل جميع مجالات الحياة في النفس، في الأسرة، في الوظيفة، والعمل الصالح يشمل العبادة والأخلاق والمعاملات بين الناس؛ يقول الرسول صلى الله عليه وسلم: ((يتبع الميت ثلاثة: أهله وماله وعمله، فيرجع اثنان ويبقى واحد، يرجع أهله وماله، ويبقى عمله)). Apa yang Telah Saya Perbuat dalam Tahun-Tahun Umurku? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Amal saleh merupakan tuntutan. Amal saleh yang bermanfaat tidak ada batasnya, mencakup setiap sektor kehidupan, baik itu yang berkaitan dengan diri sendiri, keluarga, maupun pekerjaan. Amal saleh melingkupi ibadah, akhlak, dan interaksi sesama manusia. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:  يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ “Ada tiga perkara yang mengantar mayit (ke kuburannya): keluarganya, hartanya, dan amalannya. Kemudian dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap bersamanya: keluarga dan hartanya akan kembali, dan amalannya akan tetap bersamanya.”  يرجع المال والأراضي والبيوت والممتلكات التي قضينا أعمارنا في جمعها، تَرجع ويبقى العمل. يبقى العمل، سواء كان صالحًا أم طالحًا، عمل خير أو شر، عملًا للدنيا أو للآخرة، فقط يبقى العمل الذي قضينا أعمارنا الفانية في هذا العمل؛ قال تعالى في سورة الزلزلة: ﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴾ [الزلزلة: 7، 8]. Akan kembali pulang harta, tanah, dan segala harta benda yang dulu ia habiskan umurnya untuk mengumpulkannya, semua kembali dan hanya tersisa amalan yang menemaninya. Yang tetap bersamanya hanyalah amal perbuatan, baik itu amalan saleh atau buruk, perbuatan baik atau buruk, amalan untuk dunia atau untuk akhirat. Hanya amalan yang tersisa, yang dulu kita habiskan umur kita untuk mengerjakannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Az-Zalzalah: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8). العمر الذي أفنيناه في العمل سيُجنى يوم الحساب، وتوزن هذه الأعمال، وسيكون هذا العمل هو الأساسَ للنجاة في الآخرة، والفوز برضوان الله تعالى في جنة عرضها السماوات والأرض، وفي المقابل العمل الفاسد والضار الذي يقود صاحبه إلى جهنم وبئس المصير. Umur yang dulu kita habiskan untuk mengerjakan amalan itu akan dimintai pertanggungjawabannya pada Hari Perhitungan, dan amalan-amalan itu akan ditimbang. Amalan-amalan itu akan menjadi dasar penentu keselamatan di akhirat, dan keberhasilan meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di surga yang seluas langit dan bumi. Di sisi lain, amal keburukan akan menggiring pelakunya menuju neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. أعمارنا فيمَ أفنيناها؟! في كل السنين التي مضت، كم حفظتَ من القرآن الكريم؟ عمرنا سيفنى فكم مرةً ختمنا القرآن الكريم؟ كم من إنسان دعوناه للصلاة والصلاح؟ كم من ليلة قمناها في سبيل الله؟ كم من تسبيحة أو دعاء أو ذكر لله في كل أيام عمرنا الماضي؟ Dalam hal apa kita habiskan umur kita?!  Dalam setiap tahun yang berlalu, berapa ayat Al-Qur’an Al-Karim yang telah kita hafal?  Umur kita yang pasti akan habis ini, berapa kali kita telah mengkhatamkan Al-Qur’an di dalamnya? Berapa orang yang telah kita ajak untuk melaksanakan salat dan mengamalkan amal saleh?  Berapa malam yang telah kita pakai untuk berjuang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?  Berapa tasbih, doa, dan zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah kita lantunkan di hari-hari dalam umur kita yang telah berlalu? لا تنتظر الغد… لا تنتظر الصباح… لا تنتظر الصحَّة… لا تنتظر المال… أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمَنكِبَي عبدالله بن عمر رضي الله عنهما فقال: ((كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل))، وكان ابن عمر يقول: “إذا أمسيتَ فلا تَنتظِر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك” فإذا كنا لا نضمن أعمارنا بين صباح ومساء، فكيف بنا أن نضمن عمرنا لسنوات؟! Janganlah menunggu hari esok! Janganlah menunggu datang pagi! Janganlah menunggu sehat! Janganlah menunggu ada uang! Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menarik kedua pundak Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, lalu bersabda: “Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau musafir!”  Ibnu Umar juga pernah berkata: “Apabila kamu berada di waktu sore, janganlah menunggu pagi! Dan apabila kamu berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore! Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu dan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu!” Apabila kita tidak dapat menjamin umur kita antara pagi dan sore, bagaimana kita dapat menjamin umur kita hingga bertahun-tahun?! سيأتي اليوم الذي نُسأل فيه عن أعمارنا فيم أفنيناها؟ كيف مضت وانتهت… بعمل نافع أو عمل ضار؟ وبضدِّها تتميَّز الأشياء، فالخير يُقابله الشرُّ، والعدل يُقابله الظلم، والصلاح يقابله الفساد، والكرم يقابله البخل، والصدق يُقابله الكذب، والفضيلة تقابلها الرذيلة، ورضا الله يقابله غضبه، وعليك أن تختار أي الخيارين تختار، وفي أي الطريقين ستسير، وأين ستمضي؟ هل ستختار درب الخير والعطاء وستُفني عمرك بالخير والإصلاح وكسب الحسنات؟ أو ستقضيه في السر وكسب السيئات؟ قال تعالى: ﴿ فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ﴾ [يس: 54]. Akan datang hari ketika kita ditanya tentang umur kita, kita gunakan untuk apa? Bagaimana ia berlalu dan dihabiskan? Apakah dengan amal kebaikan atau keburukan? Segala hal akan tampak dengan kebalikannya. Kebaikan adalah lawan keburukan, keadilan lawannya kezaliman, perbaikan lawannya perusakan, kemurahan hati lawannya kebakhilan, kejujuran lawannya kedustaan, kemuliaan lawannya kehinaan, dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala lawannya kemurkaan-Nya, dan dua hal itu kamu dapat memilih mana yang kamu inginkan? Jalan mana yang ingin kamu tapaki, dan di mana kamu akan berlalu? Apakah kamu ingin memilih jalan kebaikan dan pengabdian, dan menghabiskan umurmu dalam kebajikan, perbaikan, dan untuk mendapatkan pahala? Atau justru kamu ingin menghabiskannya dalam keburukan dan mendapatkan dosa-dosa? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Pada hari itu tidak ada sama sekali orang yang dirugikan sedikit pun. Kamu tidak akan diberi balasan, kecuali atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yasin: 54). اليوم الخيار لك، وعليك أن تَختار كيف سيَفنى عمرُك، وتذكَّر دائمًا أنك ستُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وأين قضيته؟ وماذا فعلتَ فيه؟ وكيف مضى؟ Hari ini, pilihannya ada di tanganmu, dan kamu harus memilih bagaimana akan menghabiskan umur. Namun, harus selalu kamu perhatikan bahwa kamu akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, di mana kamu menghabiskannya? Apa saja yang kamu perbuat di dalamnya? Dan bagaimana umur itu berlalu? Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/102517/أين-تفنى-أعمارنا؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Tulisan In Shaa Allah, Ayat Kursi Gambar, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Catur Haram, Cewek Tidur Ngangkang Visited 47 times, 3 visit(s) today Post Views: 14 QRIS donasi Yufid

Dalam Hal Apa Kita Menghabiskan Umur?

أين تفنى أعمارنا؟! Oleh: Tsamir Abdul Ghani Faiq Sabainah ثامر عبدالغني فائق سباعنه قال الرسول صلى الله عليه وسلم: ((لا تزول قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسأل عن أربع: عمره فيم أفناه؟ وجسمه فيم أبلاه؟ وعلمه فيم عمل فيه؟ ومالُه فيم اكتسبَه وفيم أنفقه؟)). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat, hingga ia ditanya tentang empat perkara: umurnya dalam hal apa ia habiskan? Badannya dalam hal apa ia pakai? Ilmunya mana yang telah ia amalkan? Dan hartanya dari mana ia dapatkan dan ia belanjakan?” عمرنا فيم أفنيناه؟ كيف قضيناه وكيف مضى؟ عمرنا وعملنا في هذا العمر كيف كان؟ كيف انقضت سنو العمر؟ سواء قصر هذا العمر أم طال؛ قال تعالى: ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴾ [آل عمران: 185]. Dalam hal apa kita habiskan umur kita? Bagaimana kita menggunakannya? Bagaimana umur kita berlalu? Bagaimana dulu umur kita dan amalan kita semasa hidup? Bagaimana tahun-tahun umur kita berlalu, baik itu panjang maupun singkat? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185). حقيقة واقعه لا يُنكرها عاقل، الكل سيموت، الذكر والأنثى، الغني والفقير، الحر والعبد، العالم والجاهل، الكل سيَفنى عمره، ويُغادر هذه الحياة الدنيا، الكل سيموت ولن يُخلَّد أحد، الجميع سيذوق طعم الموت، لكن الموت ليس النهاية؛ إنما هو انتقال من محطة إلى محطة أخرى، ومِن مرحلة إلى مرحلة، فالدنيا دار عمل، والآخرة دار جزاء وحساب، وسنُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وكيف انقضى؟ وأين كان؟ وفي أي عمل فنيَ وانتهى؟ Sebuah kenyataan yang tidak akan ada orang berakal yang menyangkalnya, bahwa semua orang pasti akan mati, baik itu laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, merdeka atau budak, orang berilmu atau bodoh, kelak semua akan habis umurnya dan meninggalkan kehidupan dunia ini. Semua pasti akan meninggal dunia, tidak akan ada yang hidup kekal. Semua akan mencicipi rasa kematian. Namun, kematian bukanlah akhir segalanya, tapi ia hanyalah perpindahan dari satu perhentian menuju perhentian lain, dari satu tahap menuju tahap lain. Dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat pembalasan dan perhitungan. Kita semua akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, bagaimana ia habis? Di mana dihabiskan? Dan dalam amalan apa ia habis? ماذا قدمتُ في سني عمري؟ قال تعالى: ﴿ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴾ [الكهف: 110] العمل الصالح هو المطلوب، العمل الصالح النافع لا حدود له، ويَشمل جميع مجالات الحياة في النفس، في الأسرة، في الوظيفة، والعمل الصالح يشمل العبادة والأخلاق والمعاملات بين الناس؛ يقول الرسول صلى الله عليه وسلم: ((يتبع الميت ثلاثة: أهله وماله وعمله، فيرجع اثنان ويبقى واحد، يرجع أهله وماله، ويبقى عمله)). Apa yang Telah Saya Perbuat dalam Tahun-Tahun Umurku? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Amal saleh merupakan tuntutan. Amal saleh yang bermanfaat tidak ada batasnya, mencakup setiap sektor kehidupan, baik itu yang berkaitan dengan diri sendiri, keluarga, maupun pekerjaan. Amal saleh melingkupi ibadah, akhlak, dan interaksi sesama manusia. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:  يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ “Ada tiga perkara yang mengantar mayit (ke kuburannya): keluarganya, hartanya, dan amalannya. Kemudian dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap bersamanya: keluarga dan hartanya akan kembali, dan amalannya akan tetap bersamanya.”  يرجع المال والأراضي والبيوت والممتلكات التي قضينا أعمارنا في جمعها، تَرجع ويبقى العمل. يبقى العمل، سواء كان صالحًا أم طالحًا، عمل خير أو شر، عملًا للدنيا أو للآخرة، فقط يبقى العمل الذي قضينا أعمارنا الفانية في هذا العمل؛ قال تعالى في سورة الزلزلة: ﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴾ [الزلزلة: 7، 8]. Akan kembali pulang harta, tanah, dan segala harta benda yang dulu ia habiskan umurnya untuk mengumpulkannya, semua kembali dan hanya tersisa amalan yang menemaninya. Yang tetap bersamanya hanyalah amal perbuatan, baik itu amalan saleh atau buruk, perbuatan baik atau buruk, amalan untuk dunia atau untuk akhirat. Hanya amalan yang tersisa, yang dulu kita habiskan umur kita untuk mengerjakannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Az-Zalzalah: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8). العمر الذي أفنيناه في العمل سيُجنى يوم الحساب، وتوزن هذه الأعمال، وسيكون هذا العمل هو الأساسَ للنجاة في الآخرة، والفوز برضوان الله تعالى في جنة عرضها السماوات والأرض، وفي المقابل العمل الفاسد والضار الذي يقود صاحبه إلى جهنم وبئس المصير. Umur yang dulu kita habiskan untuk mengerjakan amalan itu akan dimintai pertanggungjawabannya pada Hari Perhitungan, dan amalan-amalan itu akan ditimbang. Amalan-amalan itu akan menjadi dasar penentu keselamatan di akhirat, dan keberhasilan meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di surga yang seluas langit dan bumi. Di sisi lain, amal keburukan akan menggiring pelakunya menuju neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. أعمارنا فيمَ أفنيناها؟! في كل السنين التي مضت، كم حفظتَ من القرآن الكريم؟ عمرنا سيفنى فكم مرةً ختمنا القرآن الكريم؟ كم من إنسان دعوناه للصلاة والصلاح؟ كم من ليلة قمناها في سبيل الله؟ كم من تسبيحة أو دعاء أو ذكر لله في كل أيام عمرنا الماضي؟ Dalam hal apa kita habiskan umur kita?!  Dalam setiap tahun yang berlalu, berapa ayat Al-Qur’an Al-Karim yang telah kita hafal?  Umur kita yang pasti akan habis ini, berapa kali kita telah mengkhatamkan Al-Qur’an di dalamnya? Berapa orang yang telah kita ajak untuk melaksanakan salat dan mengamalkan amal saleh?  Berapa malam yang telah kita pakai untuk berjuang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?  Berapa tasbih, doa, dan zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah kita lantunkan di hari-hari dalam umur kita yang telah berlalu? لا تنتظر الغد… لا تنتظر الصباح… لا تنتظر الصحَّة… لا تنتظر المال… أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمَنكِبَي عبدالله بن عمر رضي الله عنهما فقال: ((كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل))، وكان ابن عمر يقول: “إذا أمسيتَ فلا تَنتظِر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك” فإذا كنا لا نضمن أعمارنا بين صباح ومساء، فكيف بنا أن نضمن عمرنا لسنوات؟! Janganlah menunggu hari esok! Janganlah menunggu datang pagi! Janganlah menunggu sehat! Janganlah menunggu ada uang! Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menarik kedua pundak Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, lalu bersabda: “Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau musafir!”  Ibnu Umar juga pernah berkata: “Apabila kamu berada di waktu sore, janganlah menunggu pagi! Dan apabila kamu berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore! Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu dan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu!” Apabila kita tidak dapat menjamin umur kita antara pagi dan sore, bagaimana kita dapat menjamin umur kita hingga bertahun-tahun?! سيأتي اليوم الذي نُسأل فيه عن أعمارنا فيم أفنيناها؟ كيف مضت وانتهت… بعمل نافع أو عمل ضار؟ وبضدِّها تتميَّز الأشياء، فالخير يُقابله الشرُّ، والعدل يُقابله الظلم، والصلاح يقابله الفساد، والكرم يقابله البخل، والصدق يُقابله الكذب، والفضيلة تقابلها الرذيلة، ورضا الله يقابله غضبه، وعليك أن تختار أي الخيارين تختار، وفي أي الطريقين ستسير، وأين ستمضي؟ هل ستختار درب الخير والعطاء وستُفني عمرك بالخير والإصلاح وكسب الحسنات؟ أو ستقضيه في السر وكسب السيئات؟ قال تعالى: ﴿ فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ﴾ [يس: 54]. Akan datang hari ketika kita ditanya tentang umur kita, kita gunakan untuk apa? Bagaimana ia berlalu dan dihabiskan? Apakah dengan amal kebaikan atau keburukan? Segala hal akan tampak dengan kebalikannya. Kebaikan adalah lawan keburukan, keadilan lawannya kezaliman, perbaikan lawannya perusakan, kemurahan hati lawannya kebakhilan, kejujuran lawannya kedustaan, kemuliaan lawannya kehinaan, dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala lawannya kemurkaan-Nya, dan dua hal itu kamu dapat memilih mana yang kamu inginkan? Jalan mana yang ingin kamu tapaki, dan di mana kamu akan berlalu? Apakah kamu ingin memilih jalan kebaikan dan pengabdian, dan menghabiskan umurmu dalam kebajikan, perbaikan, dan untuk mendapatkan pahala? Atau justru kamu ingin menghabiskannya dalam keburukan dan mendapatkan dosa-dosa? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Pada hari itu tidak ada sama sekali orang yang dirugikan sedikit pun. Kamu tidak akan diberi balasan, kecuali atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yasin: 54). اليوم الخيار لك، وعليك أن تَختار كيف سيَفنى عمرُك، وتذكَّر دائمًا أنك ستُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وأين قضيته؟ وماذا فعلتَ فيه؟ وكيف مضى؟ Hari ini, pilihannya ada di tanganmu, dan kamu harus memilih bagaimana akan menghabiskan umur. Namun, harus selalu kamu perhatikan bahwa kamu akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, di mana kamu menghabiskannya? Apa saja yang kamu perbuat di dalamnya? Dan bagaimana umur itu berlalu? Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/102517/أين-تفنى-أعمارنا؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Tulisan In Shaa Allah, Ayat Kursi Gambar, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Catur Haram, Cewek Tidur Ngangkang Visited 47 times, 3 visit(s) today Post Views: 14 QRIS donasi Yufid
أين تفنى أعمارنا؟! Oleh: Tsamir Abdul Ghani Faiq Sabainah ثامر عبدالغني فائق سباعنه قال الرسول صلى الله عليه وسلم: ((لا تزول قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسأل عن أربع: عمره فيم أفناه؟ وجسمه فيم أبلاه؟ وعلمه فيم عمل فيه؟ ومالُه فيم اكتسبَه وفيم أنفقه؟)). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat, hingga ia ditanya tentang empat perkara: umurnya dalam hal apa ia habiskan? Badannya dalam hal apa ia pakai? Ilmunya mana yang telah ia amalkan? Dan hartanya dari mana ia dapatkan dan ia belanjakan?” عمرنا فيم أفنيناه؟ كيف قضيناه وكيف مضى؟ عمرنا وعملنا في هذا العمر كيف كان؟ كيف انقضت سنو العمر؟ سواء قصر هذا العمر أم طال؛ قال تعالى: ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴾ [آل عمران: 185]. Dalam hal apa kita habiskan umur kita? Bagaimana kita menggunakannya? Bagaimana umur kita berlalu? Bagaimana dulu umur kita dan amalan kita semasa hidup? Bagaimana tahun-tahun umur kita berlalu, baik itu panjang maupun singkat? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185). حقيقة واقعه لا يُنكرها عاقل، الكل سيموت، الذكر والأنثى، الغني والفقير، الحر والعبد، العالم والجاهل، الكل سيَفنى عمره، ويُغادر هذه الحياة الدنيا، الكل سيموت ولن يُخلَّد أحد، الجميع سيذوق طعم الموت، لكن الموت ليس النهاية؛ إنما هو انتقال من محطة إلى محطة أخرى، ومِن مرحلة إلى مرحلة، فالدنيا دار عمل، والآخرة دار جزاء وحساب، وسنُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وكيف انقضى؟ وأين كان؟ وفي أي عمل فنيَ وانتهى؟ Sebuah kenyataan yang tidak akan ada orang berakal yang menyangkalnya, bahwa semua orang pasti akan mati, baik itu laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, merdeka atau budak, orang berilmu atau bodoh, kelak semua akan habis umurnya dan meninggalkan kehidupan dunia ini. Semua pasti akan meninggal dunia, tidak akan ada yang hidup kekal. Semua akan mencicipi rasa kematian. Namun, kematian bukanlah akhir segalanya, tapi ia hanyalah perpindahan dari satu perhentian menuju perhentian lain, dari satu tahap menuju tahap lain. Dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat pembalasan dan perhitungan. Kita semua akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, bagaimana ia habis? Di mana dihabiskan? Dan dalam amalan apa ia habis? ماذا قدمتُ في سني عمري؟ قال تعالى: ﴿ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴾ [الكهف: 110] العمل الصالح هو المطلوب، العمل الصالح النافع لا حدود له، ويَشمل جميع مجالات الحياة في النفس، في الأسرة، في الوظيفة، والعمل الصالح يشمل العبادة والأخلاق والمعاملات بين الناس؛ يقول الرسول صلى الله عليه وسلم: ((يتبع الميت ثلاثة: أهله وماله وعمله، فيرجع اثنان ويبقى واحد، يرجع أهله وماله، ويبقى عمله)). Apa yang Telah Saya Perbuat dalam Tahun-Tahun Umurku? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Amal saleh merupakan tuntutan. Amal saleh yang bermanfaat tidak ada batasnya, mencakup setiap sektor kehidupan, baik itu yang berkaitan dengan diri sendiri, keluarga, maupun pekerjaan. Amal saleh melingkupi ibadah, akhlak, dan interaksi sesama manusia. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:  يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ “Ada tiga perkara yang mengantar mayit (ke kuburannya): keluarganya, hartanya, dan amalannya. Kemudian dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap bersamanya: keluarga dan hartanya akan kembali, dan amalannya akan tetap bersamanya.”  يرجع المال والأراضي والبيوت والممتلكات التي قضينا أعمارنا في جمعها، تَرجع ويبقى العمل. يبقى العمل، سواء كان صالحًا أم طالحًا، عمل خير أو شر، عملًا للدنيا أو للآخرة، فقط يبقى العمل الذي قضينا أعمارنا الفانية في هذا العمل؛ قال تعالى في سورة الزلزلة: ﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴾ [الزلزلة: 7، 8]. Akan kembali pulang harta, tanah, dan segala harta benda yang dulu ia habiskan umurnya untuk mengumpulkannya, semua kembali dan hanya tersisa amalan yang menemaninya. Yang tetap bersamanya hanyalah amal perbuatan, baik itu amalan saleh atau buruk, perbuatan baik atau buruk, amalan untuk dunia atau untuk akhirat. Hanya amalan yang tersisa, yang dulu kita habiskan umur kita untuk mengerjakannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Az-Zalzalah: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8). العمر الذي أفنيناه في العمل سيُجنى يوم الحساب، وتوزن هذه الأعمال، وسيكون هذا العمل هو الأساسَ للنجاة في الآخرة، والفوز برضوان الله تعالى في جنة عرضها السماوات والأرض، وفي المقابل العمل الفاسد والضار الذي يقود صاحبه إلى جهنم وبئس المصير. Umur yang dulu kita habiskan untuk mengerjakan amalan itu akan dimintai pertanggungjawabannya pada Hari Perhitungan, dan amalan-amalan itu akan ditimbang. Amalan-amalan itu akan menjadi dasar penentu keselamatan di akhirat, dan keberhasilan meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di surga yang seluas langit dan bumi. Di sisi lain, amal keburukan akan menggiring pelakunya menuju neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. أعمارنا فيمَ أفنيناها؟! في كل السنين التي مضت، كم حفظتَ من القرآن الكريم؟ عمرنا سيفنى فكم مرةً ختمنا القرآن الكريم؟ كم من إنسان دعوناه للصلاة والصلاح؟ كم من ليلة قمناها في سبيل الله؟ كم من تسبيحة أو دعاء أو ذكر لله في كل أيام عمرنا الماضي؟ Dalam hal apa kita habiskan umur kita?!  Dalam setiap tahun yang berlalu, berapa ayat Al-Qur’an Al-Karim yang telah kita hafal?  Umur kita yang pasti akan habis ini, berapa kali kita telah mengkhatamkan Al-Qur’an di dalamnya? Berapa orang yang telah kita ajak untuk melaksanakan salat dan mengamalkan amal saleh?  Berapa malam yang telah kita pakai untuk berjuang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?  Berapa tasbih, doa, dan zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah kita lantunkan di hari-hari dalam umur kita yang telah berlalu? لا تنتظر الغد… لا تنتظر الصباح… لا تنتظر الصحَّة… لا تنتظر المال… أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمَنكِبَي عبدالله بن عمر رضي الله عنهما فقال: ((كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل))، وكان ابن عمر يقول: “إذا أمسيتَ فلا تَنتظِر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك” فإذا كنا لا نضمن أعمارنا بين صباح ومساء، فكيف بنا أن نضمن عمرنا لسنوات؟! Janganlah menunggu hari esok! Janganlah menunggu datang pagi! Janganlah menunggu sehat! Janganlah menunggu ada uang! Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menarik kedua pundak Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, lalu bersabda: “Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau musafir!”  Ibnu Umar juga pernah berkata: “Apabila kamu berada di waktu sore, janganlah menunggu pagi! Dan apabila kamu berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore! Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu dan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu!” Apabila kita tidak dapat menjamin umur kita antara pagi dan sore, bagaimana kita dapat menjamin umur kita hingga bertahun-tahun?! سيأتي اليوم الذي نُسأل فيه عن أعمارنا فيم أفنيناها؟ كيف مضت وانتهت… بعمل نافع أو عمل ضار؟ وبضدِّها تتميَّز الأشياء، فالخير يُقابله الشرُّ، والعدل يُقابله الظلم، والصلاح يقابله الفساد، والكرم يقابله البخل، والصدق يُقابله الكذب، والفضيلة تقابلها الرذيلة، ورضا الله يقابله غضبه، وعليك أن تختار أي الخيارين تختار، وفي أي الطريقين ستسير، وأين ستمضي؟ هل ستختار درب الخير والعطاء وستُفني عمرك بالخير والإصلاح وكسب الحسنات؟ أو ستقضيه في السر وكسب السيئات؟ قال تعالى: ﴿ فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ﴾ [يس: 54]. Akan datang hari ketika kita ditanya tentang umur kita, kita gunakan untuk apa? Bagaimana ia berlalu dan dihabiskan? Apakah dengan amal kebaikan atau keburukan? Segala hal akan tampak dengan kebalikannya. Kebaikan adalah lawan keburukan, keadilan lawannya kezaliman, perbaikan lawannya perusakan, kemurahan hati lawannya kebakhilan, kejujuran lawannya kedustaan, kemuliaan lawannya kehinaan, dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala lawannya kemurkaan-Nya, dan dua hal itu kamu dapat memilih mana yang kamu inginkan? Jalan mana yang ingin kamu tapaki, dan di mana kamu akan berlalu? Apakah kamu ingin memilih jalan kebaikan dan pengabdian, dan menghabiskan umurmu dalam kebajikan, perbaikan, dan untuk mendapatkan pahala? Atau justru kamu ingin menghabiskannya dalam keburukan dan mendapatkan dosa-dosa? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Pada hari itu tidak ada sama sekali orang yang dirugikan sedikit pun. Kamu tidak akan diberi balasan, kecuali atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yasin: 54). اليوم الخيار لك، وعليك أن تَختار كيف سيَفنى عمرُك، وتذكَّر دائمًا أنك ستُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وأين قضيته؟ وماذا فعلتَ فيه؟ وكيف مضى؟ Hari ini, pilihannya ada di tanganmu, dan kamu harus memilih bagaimana akan menghabiskan umur. Namun, harus selalu kamu perhatikan bahwa kamu akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, di mana kamu menghabiskannya? Apa saja yang kamu perbuat di dalamnya? Dan bagaimana umur itu berlalu? Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/102517/أين-تفنى-أعمارنا؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Tulisan In Shaa Allah, Ayat Kursi Gambar, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Catur Haram, Cewek Tidur Ngangkang Visited 47 times, 3 visit(s) today Post Views: 14 QRIS donasi Yufid


أين تفنى أعمارنا؟! Oleh: Tsamir Abdul Ghani Faiq Sabainah ثامر عبدالغني فائق سباعنه قال الرسول صلى الله عليه وسلم: ((لا تزول قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسأل عن أربع: عمره فيم أفناه؟ وجسمه فيم أبلاه؟ وعلمه فيم عمل فيه؟ ومالُه فيم اكتسبَه وفيم أنفقه؟)). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat, hingga ia ditanya tentang empat perkara: umurnya dalam hal apa ia habiskan? Badannya dalam hal apa ia pakai? Ilmunya mana yang telah ia amalkan? Dan hartanya dari mana ia dapatkan dan ia belanjakan?” عمرنا فيم أفنيناه؟ كيف قضيناه وكيف مضى؟ عمرنا وعملنا في هذا العمر كيف كان؟ كيف انقضت سنو العمر؟ سواء قصر هذا العمر أم طال؛ قال تعالى: ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴾ [آل عمران: 185]. Dalam hal apa kita habiskan umur kita? Bagaimana kita menggunakannya? Bagaimana umur kita berlalu? Bagaimana dulu umur kita dan amalan kita semasa hidup? Bagaimana tahun-tahun umur kita berlalu, baik itu panjang maupun singkat? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185). حقيقة واقعه لا يُنكرها عاقل، الكل سيموت، الذكر والأنثى، الغني والفقير، الحر والعبد، العالم والجاهل، الكل سيَفنى عمره، ويُغادر هذه الحياة الدنيا، الكل سيموت ولن يُخلَّد أحد، الجميع سيذوق طعم الموت، لكن الموت ليس النهاية؛ إنما هو انتقال من محطة إلى محطة أخرى، ومِن مرحلة إلى مرحلة، فالدنيا دار عمل، والآخرة دار جزاء وحساب، وسنُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وكيف انقضى؟ وأين كان؟ وفي أي عمل فنيَ وانتهى؟ Sebuah kenyataan yang tidak akan ada orang berakal yang menyangkalnya, bahwa semua orang pasti akan mati, baik itu laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, merdeka atau budak, orang berilmu atau bodoh, kelak semua akan habis umurnya dan meninggalkan kehidupan dunia ini. Semua pasti akan meninggal dunia, tidak akan ada yang hidup kekal. Semua akan mencicipi rasa kematian. Namun, kematian bukanlah akhir segalanya, tapi ia hanyalah perpindahan dari satu perhentian menuju perhentian lain, dari satu tahap menuju tahap lain. Dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat pembalasan dan perhitungan. Kita semua akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, bagaimana ia habis? Di mana dihabiskan? Dan dalam amalan apa ia habis? ماذا قدمتُ في سني عمري؟ قال تعالى: ﴿ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴾ [الكهف: 110] العمل الصالح هو المطلوب، العمل الصالح النافع لا حدود له، ويَشمل جميع مجالات الحياة في النفس، في الأسرة، في الوظيفة، والعمل الصالح يشمل العبادة والأخلاق والمعاملات بين الناس؛ يقول الرسول صلى الله عليه وسلم: ((يتبع الميت ثلاثة: أهله وماله وعمله، فيرجع اثنان ويبقى واحد، يرجع أهله وماله، ويبقى عمله)). Apa yang Telah Saya Perbuat dalam Tahun-Tahun Umurku? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Amal saleh merupakan tuntutan. Amal saleh yang bermanfaat tidak ada batasnya, mencakup setiap sektor kehidupan, baik itu yang berkaitan dengan diri sendiri, keluarga, maupun pekerjaan. Amal saleh melingkupi ibadah, akhlak, dan interaksi sesama manusia. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:  يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ “Ada tiga perkara yang mengantar mayit (ke kuburannya): keluarganya, hartanya, dan amalannya. Kemudian dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap bersamanya: keluarga dan hartanya akan kembali, dan amalannya akan tetap bersamanya.”  يرجع المال والأراضي والبيوت والممتلكات التي قضينا أعمارنا في جمعها، تَرجع ويبقى العمل. يبقى العمل، سواء كان صالحًا أم طالحًا، عمل خير أو شر، عملًا للدنيا أو للآخرة، فقط يبقى العمل الذي قضينا أعمارنا الفانية في هذا العمل؛ قال تعالى في سورة الزلزلة: ﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴾ [الزلزلة: 7، 8]. Akan kembali pulang harta, tanah, dan segala harta benda yang dulu ia habiskan umurnya untuk mengumpulkannya, semua kembali dan hanya tersisa amalan yang menemaninya. Yang tetap bersamanya hanyalah amal perbuatan, baik itu amalan saleh atau buruk, perbuatan baik atau buruk, amalan untuk dunia atau untuk akhirat. Hanya amalan yang tersisa, yang dulu kita habiskan umur kita untuk mengerjakannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Az-Zalzalah: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8). العمر الذي أفنيناه في العمل سيُجنى يوم الحساب، وتوزن هذه الأعمال، وسيكون هذا العمل هو الأساسَ للنجاة في الآخرة، والفوز برضوان الله تعالى في جنة عرضها السماوات والأرض، وفي المقابل العمل الفاسد والضار الذي يقود صاحبه إلى جهنم وبئس المصير. Umur yang dulu kita habiskan untuk mengerjakan amalan itu akan dimintai pertanggungjawabannya pada Hari Perhitungan, dan amalan-amalan itu akan ditimbang. Amalan-amalan itu akan menjadi dasar penentu keselamatan di akhirat, dan keberhasilan meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di surga yang seluas langit dan bumi. Di sisi lain, amal keburukan akan menggiring pelakunya menuju neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. أعمارنا فيمَ أفنيناها؟! في كل السنين التي مضت، كم حفظتَ من القرآن الكريم؟ عمرنا سيفنى فكم مرةً ختمنا القرآن الكريم؟ كم من إنسان دعوناه للصلاة والصلاح؟ كم من ليلة قمناها في سبيل الله؟ كم من تسبيحة أو دعاء أو ذكر لله في كل أيام عمرنا الماضي؟ Dalam hal apa kita habiskan umur kita?!  Dalam setiap tahun yang berlalu, berapa ayat Al-Qur’an Al-Karim yang telah kita hafal?  Umur kita yang pasti akan habis ini, berapa kali kita telah mengkhatamkan Al-Qur’an di dalamnya? Berapa orang yang telah kita ajak untuk melaksanakan salat dan mengamalkan amal saleh?  Berapa malam yang telah kita pakai untuk berjuang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?  Berapa tasbih, doa, dan zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah kita lantunkan di hari-hari dalam umur kita yang telah berlalu? لا تنتظر الغد… لا تنتظر الصباح… لا تنتظر الصحَّة… لا تنتظر المال… أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمَنكِبَي عبدالله بن عمر رضي الله عنهما فقال: ((كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل))، وكان ابن عمر يقول: “إذا أمسيتَ فلا تَنتظِر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك” فإذا كنا لا نضمن أعمارنا بين صباح ومساء، فكيف بنا أن نضمن عمرنا لسنوات؟! Janganlah menunggu hari esok! Janganlah menunggu datang pagi! Janganlah menunggu sehat! Janganlah menunggu ada uang! Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menarik kedua pundak Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, lalu bersabda: “Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau musafir!”  Ibnu Umar juga pernah berkata: “Apabila kamu berada di waktu sore, janganlah menunggu pagi! Dan apabila kamu berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore! Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu dan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu!” Apabila kita tidak dapat menjamin umur kita antara pagi dan sore, bagaimana kita dapat menjamin umur kita hingga bertahun-tahun?! سيأتي اليوم الذي نُسأل فيه عن أعمارنا فيم أفنيناها؟ كيف مضت وانتهت… بعمل نافع أو عمل ضار؟ وبضدِّها تتميَّز الأشياء، فالخير يُقابله الشرُّ، والعدل يُقابله الظلم، والصلاح يقابله الفساد، والكرم يقابله البخل، والصدق يُقابله الكذب، والفضيلة تقابلها الرذيلة، ورضا الله يقابله غضبه، وعليك أن تختار أي الخيارين تختار، وفي أي الطريقين ستسير، وأين ستمضي؟ هل ستختار درب الخير والعطاء وستُفني عمرك بالخير والإصلاح وكسب الحسنات؟ أو ستقضيه في السر وكسب السيئات؟ قال تعالى: ﴿ فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ﴾ [يس: 54]. Akan datang hari ketika kita ditanya tentang umur kita, kita gunakan untuk apa? Bagaimana ia berlalu dan dihabiskan? Apakah dengan amal kebaikan atau keburukan? Segala hal akan tampak dengan kebalikannya. Kebaikan adalah lawan keburukan, keadilan lawannya kezaliman, perbaikan lawannya perusakan, kemurahan hati lawannya kebakhilan, kejujuran lawannya kedustaan, kemuliaan lawannya kehinaan, dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala lawannya kemurkaan-Nya, dan dua hal itu kamu dapat memilih mana yang kamu inginkan? Jalan mana yang ingin kamu tapaki, dan di mana kamu akan berlalu? Apakah kamu ingin memilih jalan kebaikan dan pengabdian, dan menghabiskan umurmu dalam kebajikan, perbaikan, dan untuk mendapatkan pahala? Atau justru kamu ingin menghabiskannya dalam keburukan dan mendapatkan dosa-dosa? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Pada hari itu tidak ada sama sekali orang yang dirugikan sedikit pun. Kamu tidak akan diberi balasan, kecuali atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yasin: 54). اليوم الخيار لك، وعليك أن تَختار كيف سيَفنى عمرُك، وتذكَّر دائمًا أنك ستُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وأين قضيته؟ وماذا فعلتَ فيه؟ وكيف مضى؟ Hari ini, pilihannya ada di tanganmu, dan kamu harus memilih bagaimana akan menghabiskan umur. Namun, harus selalu kamu perhatikan bahwa kamu akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, di mana kamu menghabiskannya? Apa saja yang kamu perbuat di dalamnya? Dan bagaimana umur itu berlalu? Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/102517/أين-تفنى-أعمارنا؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Tulisan In Shaa Allah, Ayat Kursi Gambar, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Catur Haram, Cewek Tidur Ngangkang Visited 47 times, 3 visit(s) today Post Views: 14 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next