Boikot Mc Donald

Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, seorang ulama senior di Saudi Arabia ditanya, “Assalamu ’alaikum wa rahmatullah. Di Perancis, sebagian imam masjid memerintahkan untuk memboikot beberapa produk Amerika setelah penyerangan mereka. Contoh produk yang diboikot adalah Mc Donald dan sebaikan produk Perancis yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Sebagian orang ada yang mendukung dan ada yang menolak seruan tersebut. Kami mohon fatwa dari Anda, apakah kami boleh melakukan boikot? Semoga Allah membalas kebaikanmu. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah. Jawab: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah. Sebenarnya boikot itu menjadi hak penguasa dan ulama yang di tangan mereka keluar fatwa-fatwa krusial dalam masalah yang berkaitan dengan banyak orang. Ulama yang mengeluarkan fatwa tersebut seperti Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama (kedua lembaga ini berisi ulama-ulama kompeten dalam mengeluarkan fatwa). Menurutku, boikot barulah ada jika telah muncul fatwa dari lembaga semacam Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama, yang di mana keduanya berada di bawah naungan penguasa. Karena perkara boikot sekali lagi adalah perkara yang menyangkut banyak orang dan bukan perkara khusus. Tidak boleh hanya kalangan individual saja yang memberanikan untuk berfatwa semacam itu. Fatwa semacam itu tidak perlu diamalkan karena hanya muncul dari segelintir orang. Wallahu a’lam. Sumber fatwa: http://al-obeikan.com/show_fatwa/511.html Moga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Riyadh-KSA, 14 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Pemboikotan dari Orang Quraisy Tak Perlu Boikot atau Lariskan Produk Saudara Muslim? Tagsboikot

Boikot Mc Donald

Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, seorang ulama senior di Saudi Arabia ditanya, “Assalamu ’alaikum wa rahmatullah. Di Perancis, sebagian imam masjid memerintahkan untuk memboikot beberapa produk Amerika setelah penyerangan mereka. Contoh produk yang diboikot adalah Mc Donald dan sebaikan produk Perancis yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Sebagian orang ada yang mendukung dan ada yang menolak seruan tersebut. Kami mohon fatwa dari Anda, apakah kami boleh melakukan boikot? Semoga Allah membalas kebaikanmu. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah. Jawab: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah. Sebenarnya boikot itu menjadi hak penguasa dan ulama yang di tangan mereka keluar fatwa-fatwa krusial dalam masalah yang berkaitan dengan banyak orang. Ulama yang mengeluarkan fatwa tersebut seperti Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama (kedua lembaga ini berisi ulama-ulama kompeten dalam mengeluarkan fatwa). Menurutku, boikot barulah ada jika telah muncul fatwa dari lembaga semacam Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama, yang di mana keduanya berada di bawah naungan penguasa. Karena perkara boikot sekali lagi adalah perkara yang menyangkut banyak orang dan bukan perkara khusus. Tidak boleh hanya kalangan individual saja yang memberanikan untuk berfatwa semacam itu. Fatwa semacam itu tidak perlu diamalkan karena hanya muncul dari segelintir orang. Wallahu a’lam. Sumber fatwa: http://al-obeikan.com/show_fatwa/511.html Moga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Riyadh-KSA, 14 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Pemboikotan dari Orang Quraisy Tak Perlu Boikot atau Lariskan Produk Saudara Muslim? Tagsboikot
Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, seorang ulama senior di Saudi Arabia ditanya, “Assalamu ’alaikum wa rahmatullah. Di Perancis, sebagian imam masjid memerintahkan untuk memboikot beberapa produk Amerika setelah penyerangan mereka. Contoh produk yang diboikot adalah Mc Donald dan sebaikan produk Perancis yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Sebagian orang ada yang mendukung dan ada yang menolak seruan tersebut. Kami mohon fatwa dari Anda, apakah kami boleh melakukan boikot? Semoga Allah membalas kebaikanmu. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah. Jawab: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah. Sebenarnya boikot itu menjadi hak penguasa dan ulama yang di tangan mereka keluar fatwa-fatwa krusial dalam masalah yang berkaitan dengan banyak orang. Ulama yang mengeluarkan fatwa tersebut seperti Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama (kedua lembaga ini berisi ulama-ulama kompeten dalam mengeluarkan fatwa). Menurutku, boikot barulah ada jika telah muncul fatwa dari lembaga semacam Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama, yang di mana keduanya berada di bawah naungan penguasa. Karena perkara boikot sekali lagi adalah perkara yang menyangkut banyak orang dan bukan perkara khusus. Tidak boleh hanya kalangan individual saja yang memberanikan untuk berfatwa semacam itu. Fatwa semacam itu tidak perlu diamalkan karena hanya muncul dari segelintir orang. Wallahu a’lam. Sumber fatwa: http://al-obeikan.com/show_fatwa/511.html Moga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Riyadh-KSA, 14 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Pemboikotan dari Orang Quraisy Tak Perlu Boikot atau Lariskan Produk Saudara Muslim? Tagsboikot


Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, seorang ulama senior di Saudi Arabia ditanya, “Assalamu ’alaikum wa rahmatullah. Di Perancis, sebagian imam masjid memerintahkan untuk memboikot beberapa produk Amerika setelah penyerangan mereka. Contoh produk yang diboikot adalah Mc Donald dan sebaikan produk Perancis yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Sebagian orang ada yang mendukung dan ada yang menolak seruan tersebut. Kami mohon fatwa dari Anda, apakah kami boleh melakukan boikot? Semoga Allah membalas kebaikanmu. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah. Jawab: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah. Sebenarnya boikot itu menjadi hak penguasa dan ulama yang di tangan mereka keluar fatwa-fatwa krusial dalam masalah yang berkaitan dengan banyak orang. Ulama yang mengeluarkan fatwa tersebut seperti Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama (kedua lembaga ini berisi ulama-ulama kompeten dalam mengeluarkan fatwa). Menurutku, boikot barulah ada jika telah muncul fatwa dari lembaga semacam Al Majami’ Al Fiqhiyyah dan Hay-ah Kibaril ‘Ulama, yang di mana keduanya berada di bawah naungan penguasa. Karena perkara boikot sekali lagi adalah perkara yang menyangkut banyak orang dan bukan perkara khusus. Tidak boleh hanya kalangan individual saja yang memberanikan untuk berfatwa semacam itu. Fatwa semacam itu tidak perlu diamalkan karena hanya muncul dari segelintir orang. Wallahu a’lam. Sumber fatwa: http://al-obeikan.com/show_fatwa/511.html Moga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Riyadh-KSA, 14 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Pemboikotan dari Orang Quraisy Tak Perlu Boikot atau Lariskan Produk Saudara Muslim? Tagsboikot

Zina, Ujung-Ujungnya Penuh Penyesalan

Awal zina adalah rasa khawatir, ujungnya adalah penyesalan …. Ketika kami membuka tafsir tentang ayat berikut, وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71) “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka Sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71); lalu kami menemukan perkataan Luqman kepada anaknya yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, أن لقمان كان يقول: يا بني، إياك والزنى، فإن أوله مخافة، وآخره ندامة. Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku. Hati-hatilah dengan zina. Di awal zina, selalu penuh rasa khawatir. Ujung-ujungnya akan penuh penyesalan. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326) Memang betul apa yang diutarakan oleh Luqman, seorang yang sholeh. Dan itu sesuai realita. Awal zina dipenuhi rasa khawatir. Coba lihat saja apa yang dilakukan oleh orang yang hendak berzina. Awalnya mereka berusaha tidak terlihat orang lain. Khawatir ada yang melihat perbuatan dosa mereka. Ujung-ujungnya dipenuhi rasa penyesalan. Karena bisa jadi si wanita hamil. Si laki dituntut tanggung jawab. Akhirnya pusing kepayang karena perut si wanita yang makin besar dan sulit ditutupi. Akhirnya yang ada adalah rasa malu. Naik ke pelaminan pun sudah dicap “jelek” karena terpaksa “Married because an accident”. Dari sini, sudah seharusnya yang berhubungan tidak halal itu merenungkan bahwa awalnya Anda bisa merasakan senang karena itu sudah dihiasi oleh setan. Setan telah memperindah masa-masa pacaran Anda sehingga yang haram disangka sah-sah saja. Yang belum sah untuk berdua-duaan atau berjabat tangan dianggap biasa saja. Itu semua tipu daya setan. Ketika pacar Anda sudah menawari hubungan layaknya pasangan suami istri, lihatlah apa ujung-ujungnya yang terjadi? Awalnya selalu ada rasa khawatir. Diri si wanita akan dihiasi lagi oleh setan, “Bukti cinta kekasih saya adalah ini, iya butuh akan true love”. True love yang dimaksud sang pacar adalah berzina. Maka lihatlah akhir dari kisah zina Anda nantinya. Penyesalan, penyesalan, sedih …. Itu yang Anda akan rasakan. True love tentu saja dibuktikan dengan cara yang benar. True love bukan ditempuh dengan cara yang Allah haramkan. Islam memiliki jalan tersendiri sehingga tidak membuat terjerumus dalam zina. Segala jalan menuju zina dengan berdua-duaan baik yang langsung tatap muka atau sekedar sms-an, janji ketemuan (nge-date), menatap wajah wanita yang bukan mahrom dan berjabat tangan itu semua terlarang karena termasuk dalam keumuman larangan Allah, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32) So … Mulai saat ini, Anda silakan memilih, mau menempuh jalan selamat ataukah jalan yang awalnya barangkali happy namun akan didapati ujung yang penuh penyesalan. Silakan Anda menaruh pilihan. Wallahu waliyyut taufiq. — Riyadh-KSA, 17th Rajab 1432 H (19/06/2011) Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi Anda yang minat dengan satu paket buku karya Ustadz M. Abduh Tuasikal, silakan pesan melalui: Costumer Service/ SMS: +62 852 00 171 222 WhatsApp: +62 8222 739 9227 Blackberry: 2AF1727A, 7A78C851 Kirim format pesan: paket buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Paket tersebut berisi 5 buku terbaru karya beliau: (1) Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran kecil seharga Rp.6.000,-, (2) 2- Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran besar seharga Rp.10.000,-, (3) Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi) seharga Rp.14.000,-, (4) Panduan Amal Shalih di Musim Hujan seharga Rp.12.000,-, (5) Mengenal Bid’ah Lebih Dekat seharga Rp.13.000,-. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagspacaran islami seks zina

Zina, Ujung-Ujungnya Penuh Penyesalan

Awal zina adalah rasa khawatir, ujungnya adalah penyesalan …. Ketika kami membuka tafsir tentang ayat berikut, وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71) “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka Sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71); lalu kami menemukan perkataan Luqman kepada anaknya yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, أن لقمان كان يقول: يا بني، إياك والزنى، فإن أوله مخافة، وآخره ندامة. Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku. Hati-hatilah dengan zina. Di awal zina, selalu penuh rasa khawatir. Ujung-ujungnya akan penuh penyesalan. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326) Memang betul apa yang diutarakan oleh Luqman, seorang yang sholeh. Dan itu sesuai realita. Awal zina dipenuhi rasa khawatir. Coba lihat saja apa yang dilakukan oleh orang yang hendak berzina. Awalnya mereka berusaha tidak terlihat orang lain. Khawatir ada yang melihat perbuatan dosa mereka. Ujung-ujungnya dipenuhi rasa penyesalan. Karena bisa jadi si wanita hamil. Si laki dituntut tanggung jawab. Akhirnya pusing kepayang karena perut si wanita yang makin besar dan sulit ditutupi. Akhirnya yang ada adalah rasa malu. Naik ke pelaminan pun sudah dicap “jelek” karena terpaksa “Married because an accident”. Dari sini, sudah seharusnya yang berhubungan tidak halal itu merenungkan bahwa awalnya Anda bisa merasakan senang karena itu sudah dihiasi oleh setan. Setan telah memperindah masa-masa pacaran Anda sehingga yang haram disangka sah-sah saja. Yang belum sah untuk berdua-duaan atau berjabat tangan dianggap biasa saja. Itu semua tipu daya setan. Ketika pacar Anda sudah menawari hubungan layaknya pasangan suami istri, lihatlah apa ujung-ujungnya yang terjadi? Awalnya selalu ada rasa khawatir. Diri si wanita akan dihiasi lagi oleh setan, “Bukti cinta kekasih saya adalah ini, iya butuh akan true love”. True love yang dimaksud sang pacar adalah berzina. Maka lihatlah akhir dari kisah zina Anda nantinya. Penyesalan, penyesalan, sedih …. Itu yang Anda akan rasakan. True love tentu saja dibuktikan dengan cara yang benar. True love bukan ditempuh dengan cara yang Allah haramkan. Islam memiliki jalan tersendiri sehingga tidak membuat terjerumus dalam zina. Segala jalan menuju zina dengan berdua-duaan baik yang langsung tatap muka atau sekedar sms-an, janji ketemuan (nge-date), menatap wajah wanita yang bukan mahrom dan berjabat tangan itu semua terlarang karena termasuk dalam keumuman larangan Allah, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32) So … Mulai saat ini, Anda silakan memilih, mau menempuh jalan selamat ataukah jalan yang awalnya barangkali happy namun akan didapati ujung yang penuh penyesalan. Silakan Anda menaruh pilihan. Wallahu waliyyut taufiq. — Riyadh-KSA, 17th Rajab 1432 H (19/06/2011) Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi Anda yang minat dengan satu paket buku karya Ustadz M. Abduh Tuasikal, silakan pesan melalui: Costumer Service/ SMS: +62 852 00 171 222 WhatsApp: +62 8222 739 9227 Blackberry: 2AF1727A, 7A78C851 Kirim format pesan: paket buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Paket tersebut berisi 5 buku terbaru karya beliau: (1) Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran kecil seharga Rp.6.000,-, (2) 2- Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran besar seharga Rp.10.000,-, (3) Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi) seharga Rp.14.000,-, (4) Panduan Amal Shalih di Musim Hujan seharga Rp.12.000,-, (5) Mengenal Bid’ah Lebih Dekat seharga Rp.13.000,-. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagspacaran islami seks zina
Awal zina adalah rasa khawatir, ujungnya adalah penyesalan …. Ketika kami membuka tafsir tentang ayat berikut, وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71) “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka Sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71); lalu kami menemukan perkataan Luqman kepada anaknya yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, أن لقمان كان يقول: يا بني، إياك والزنى، فإن أوله مخافة، وآخره ندامة. Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku. Hati-hatilah dengan zina. Di awal zina, selalu penuh rasa khawatir. Ujung-ujungnya akan penuh penyesalan. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326) Memang betul apa yang diutarakan oleh Luqman, seorang yang sholeh. Dan itu sesuai realita. Awal zina dipenuhi rasa khawatir. Coba lihat saja apa yang dilakukan oleh orang yang hendak berzina. Awalnya mereka berusaha tidak terlihat orang lain. Khawatir ada yang melihat perbuatan dosa mereka. Ujung-ujungnya dipenuhi rasa penyesalan. Karena bisa jadi si wanita hamil. Si laki dituntut tanggung jawab. Akhirnya pusing kepayang karena perut si wanita yang makin besar dan sulit ditutupi. Akhirnya yang ada adalah rasa malu. Naik ke pelaminan pun sudah dicap “jelek” karena terpaksa “Married because an accident”. Dari sini, sudah seharusnya yang berhubungan tidak halal itu merenungkan bahwa awalnya Anda bisa merasakan senang karena itu sudah dihiasi oleh setan. Setan telah memperindah masa-masa pacaran Anda sehingga yang haram disangka sah-sah saja. Yang belum sah untuk berdua-duaan atau berjabat tangan dianggap biasa saja. Itu semua tipu daya setan. Ketika pacar Anda sudah menawari hubungan layaknya pasangan suami istri, lihatlah apa ujung-ujungnya yang terjadi? Awalnya selalu ada rasa khawatir. Diri si wanita akan dihiasi lagi oleh setan, “Bukti cinta kekasih saya adalah ini, iya butuh akan true love”. True love yang dimaksud sang pacar adalah berzina. Maka lihatlah akhir dari kisah zina Anda nantinya. Penyesalan, penyesalan, sedih …. Itu yang Anda akan rasakan. True love tentu saja dibuktikan dengan cara yang benar. True love bukan ditempuh dengan cara yang Allah haramkan. Islam memiliki jalan tersendiri sehingga tidak membuat terjerumus dalam zina. Segala jalan menuju zina dengan berdua-duaan baik yang langsung tatap muka atau sekedar sms-an, janji ketemuan (nge-date), menatap wajah wanita yang bukan mahrom dan berjabat tangan itu semua terlarang karena termasuk dalam keumuman larangan Allah, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32) So … Mulai saat ini, Anda silakan memilih, mau menempuh jalan selamat ataukah jalan yang awalnya barangkali happy namun akan didapati ujung yang penuh penyesalan. Silakan Anda menaruh pilihan. Wallahu waliyyut taufiq. — Riyadh-KSA, 17th Rajab 1432 H (19/06/2011) Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi Anda yang minat dengan satu paket buku karya Ustadz M. Abduh Tuasikal, silakan pesan melalui: Costumer Service/ SMS: +62 852 00 171 222 WhatsApp: +62 8222 739 9227 Blackberry: 2AF1727A, 7A78C851 Kirim format pesan: paket buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Paket tersebut berisi 5 buku terbaru karya beliau: (1) Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran kecil seharga Rp.6.000,-, (2) 2- Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran besar seharga Rp.10.000,-, (3) Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi) seharga Rp.14.000,-, (4) Panduan Amal Shalih di Musim Hujan seharga Rp.12.000,-, (5) Mengenal Bid’ah Lebih Dekat seharga Rp.13.000,-. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagspacaran islami seks zina


Awal zina adalah rasa khawatir, ujungnya adalah penyesalan …. Ketika kami membuka tafsir tentang ayat berikut, وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71) “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka Sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71); lalu kami menemukan perkataan Luqman kepada anaknya yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, أن لقمان كان يقول: يا بني، إياك والزنى، فإن أوله مخافة، وآخره ندامة. Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku. Hati-hatilah dengan zina. Di awal zina, selalu penuh rasa khawatir. Ujung-ujungnya akan penuh penyesalan. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326) Memang betul apa yang diutarakan oleh Luqman, seorang yang sholeh. Dan itu sesuai realita. Awal zina dipenuhi rasa khawatir. Coba lihat saja apa yang dilakukan oleh orang yang hendak berzina. Awalnya mereka berusaha tidak terlihat orang lain. Khawatir ada yang melihat perbuatan dosa mereka. Ujung-ujungnya dipenuhi rasa penyesalan. Karena bisa jadi si wanita hamil. Si laki dituntut tanggung jawab. Akhirnya pusing kepayang karena perut si wanita yang makin besar dan sulit ditutupi. Akhirnya yang ada adalah rasa malu. Naik ke pelaminan pun sudah dicap “jelek” karena terpaksa “Married because an accident”. Dari sini, sudah seharusnya yang berhubungan tidak halal itu merenungkan bahwa awalnya Anda bisa merasakan senang karena itu sudah dihiasi oleh setan. Setan telah memperindah masa-masa pacaran Anda sehingga yang haram disangka sah-sah saja. Yang belum sah untuk berdua-duaan atau berjabat tangan dianggap biasa saja. Itu semua tipu daya setan. Ketika pacar Anda sudah menawari hubungan layaknya pasangan suami istri, lihatlah apa ujung-ujungnya yang terjadi? Awalnya selalu ada rasa khawatir. Diri si wanita akan dihiasi lagi oleh setan, “Bukti cinta kekasih saya adalah ini, iya butuh akan true love”. True love yang dimaksud sang pacar adalah berzina. Maka lihatlah akhir dari kisah zina Anda nantinya. Penyesalan, penyesalan, sedih …. Itu yang Anda akan rasakan. True love tentu saja dibuktikan dengan cara yang benar. True love bukan ditempuh dengan cara yang Allah haramkan. Islam memiliki jalan tersendiri sehingga tidak membuat terjerumus dalam zina. Segala jalan menuju zina dengan berdua-duaan baik yang langsung tatap muka atau sekedar sms-an, janji ketemuan (nge-date), menatap wajah wanita yang bukan mahrom dan berjabat tangan itu semua terlarang karena termasuk dalam keumuman larangan Allah, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32) So … Mulai saat ini, Anda silakan memilih, mau menempuh jalan selamat ataukah jalan yang awalnya barangkali happy namun akan didapati ujung yang penuh penyesalan. Silakan Anda menaruh pilihan. Wallahu waliyyut taufiq. — Riyadh-KSA, 17th Rajab 1432 H (19/06/2011) Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi Anda yang minat dengan satu paket buku karya Ustadz M. Abduh Tuasikal, silakan pesan melalui: Costumer Service/ SMS: +62 852 00 171 222 WhatsApp: +62 8222 739 9227 Blackberry: 2AF1727A, 7A78C851 Kirim format pesan: paket buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Paket tersebut berisi 5 buku terbaru karya beliau: (1) Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran kecil seharga Rp.6.000,-, (2) 2- Dzikir Pagi Petang Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur – ukuran besar seharga Rp.10.000,-, (3) Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi) seharga Rp.14.000,-, (4) Panduan Amal Shalih di Musim Hujan seharga Rp.12.000,-, (5) Mengenal Bid’ah Lebih Dekat seharga Rp.13.000,-. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagspacaran islami seks zina

Langkah Kuliah Teknik di KSU Riyadh

“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya”, inilah nasehat indah dari Imam Asy Syafi’i. Setiap pemuda yang telah merasakan nikmatnya menimba ilmu agama, sangat ingin belajar ke jenjang lebih tinggi dengan langsung duduk di majelis para ulama. Betapa rindunya mereka untuk menginjakkan kaki di tanah Arab karena di negeri inilah gudangnya ilmu diin. Sampai pun dia adalah seorang engineer, juga pasti menginginkannya. Untuk berbagai tips kuliah di tanah Arab (Saudi Arabia) khususnya di kota Riyadh, para pembaca bisa menempuh langkah sebagaimana yang kami jalani. Nyambi belajar engineer, saudara bisa merasakan pula duduk di majelis ilmu para ulama di sore harinya. Pagi harinya sibuk kuliah, sore harinya duduk di majelis kibar ulama. Ulama di kota Riyadh sudah ma’ruf amatlah banyak. Lihat saja, mulai dari ulama Al Lajnah Ad Daimah, seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan dan ulama yang ditunjuk dalam kumpulan ulama besar (Hay-ah Kibar Ulama) bermukim di kota Riyadh. Bahkan Anda bisa berangkat ke majelis ulama (seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan) dengan tanpa biaya, langsung dijemput oleh bus dari Sakan (asrama mahasiswa). Setiap shubuh, Anda bisa menyetorkan hafalan Al Qur’an layaknya orang yang belajar di pondok pesantren. Walaupun seorang Engineer, moga bisa juga menjadi Hafizh Al Qur’an dengan izin Allah, serta bisa memiliki ilmu agama yang mumpuni sebagai modal dakwah. Di kota Riyadh pun, Anda bisa memperoleh buku-buku agama gratis dari berbagai yayasan, bahkan sampai diberi 6 kardus seperti yang biasa diberi Al Lajnah Ad Daimah. Sebagai motivasi, lihatlah nasehat ulama berikut tentang lezatnya menimba ilmu agama di samping kesibukan Anda sehari-hari menggeluti ilmu dunia dan aktivitas dunia. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ . “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).” ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ ، الْعِلْمُ يَحْرُسُك وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ ، وَالْعِلْمُ يَزْكُو بِالْإِنْفَاقِ “Ilmu (agama) itu lebih baik dari harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta mesti engkau menjaganya. Harta akan berkurang ketika dinafkahkan, namun ilmu malah bertambah ketika diinfakkan.” Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, مَجْلِسُ فِقْهٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً “Majelis ilmu lebih baik dari ibadah 60 tahun lamanya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ “Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan, طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ “Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.” Dalam perkataan lainnya, Imam Asy Syafi’i berkata, لَيْسَ بَعْدَ الْفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ “Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.” Imam Asy Syafi’i berkata pula, مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ “Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” Maksudnya adalah ilmu sangat dibutuhkan untuk memperoleh dunia dan akherat. Langkah-langkah untuk diterima di Jami’ah Malik Su’ud (King Saud University) cukup sederhana. Modal utama sebenarnya adalah tawakkal, banyak doa dan mengeluarkan effort yang kuat untuk bisa diterima. Masuk ke sini tanpa tes. Cukup dengan IP di atas 3.00 (untuk IP skala 4.00), lalu bermodal bahasa Inggris yang lumayan (TOEFL di atas 500) dan menguasai bahasa Arab untuk modal percakapan sehari-hari, maka itu sudah jadi modal besar Anda bisa masuk Jami’ah Malik Su’ud. Sebagai tambahan, alangkah bagusnya bisa mendapatkan tazkiyah (rekomendasi) dari dosen di jenjang S1 dahulu. Untuk submit application, silakan klik link berikut: https://dgs.ksu.edu.sa/DGS1/Login.aspx. Lalu setelah itu kirim copy-an persyaratan yang ada via email ke departemen yang dituju (through Chairman, Graduate Academic Chair, etc). Contohnya bagi yang tertarik masuk jurusan Teknik Kimia KSU, silakan membuka link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Engineering/faculty-research/our-faculty/department/chemical-engineering.htm Jurusan-jurusan lainnya, silakan lihat link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Pages/default.aspx. Persyaratan yang diajukan ke ketua jurusan atau dosen di jurusan yang dituju, ini wajib agar berkasnya bisa diurus lebih lanjut dari jurusan sampai ke tingkat universitas. Berikut persyaratan untuk jenjang Master: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee Untuk program PhD: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee 8. TOEFL (500 pt) 9. GRE, Analytical part, (700 pt) Benefit yang akan Anda rasakan jika memilih kuliah di KSU: Free tuition fee Monthly reward Individual housing allowance Three times daily-subsidised meals Health Insurance Annual ticket round trip Funded research and sophisticated equipments Free international subscribed journal Comprehensive library High speed free internet access Hajj and Umroh opportunity Coba jika Anda kuliah di Eropa, Amerika, atau di Jepang, pernahkah merasakan benefit di atas. Kuliah sudah gratis, dapat uang saku sekitar 2,5 juta rupiah (belum lagi jika Anda diterima sebagai researcher yang dapat gaji total sekitar 5 juta rupiah). Mudah berhaji dan umroh. Makanan pun mudah dicari yang halal, bahkan mahasiswa mendapat subsidi dari kampus ketika makan di kantin. Beda jika Anda menaruh pilihan kuliah di negeri non muslim, yang kuliah kadang harus cari utangan. Untuk makan dan shalat saja sulit. Di sini pun Anda akan mendapatkan tiket liburan gratis (round way) sekali setiap tahunnya. Sekali lagi, coba bandingkan dengan kuliah di Eropa. Kesulitan-kesulitan yang kami hadapi selama ini sebelum diterima di KSU atau ketika menjalani kuliah: 1. Birokrasi yang sering telat dan rumit. Oleh karena itu, ketika apply harus bersabar. Birokrasi makin bertambah ribet jika Anda tidak punya modal bahasa Arab sehingga sulit untuk komunikasi dengan pegawai yg rata-rata belum bisa berbahasa Inggris. Sudah kami tekankan di atas, agar tidak menyesal jika diterima di sini, kuasailah Bahasa Arab sebelum ber’azam ke tanah Arab. Tetapi tidak perlu khawatir, jika kita berkomunikasi dengan dosen atau dengan pegawai rumah sakit, atau di instansi-instansi tertentu, mereka sudah punya kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni. Yang jadi masalah adalah dengan pegawai administrasi, terutama pegawai Arab. 2. Pegawai Arab kurang bisa tepati janji, jadi kita harus terus menagih janji mereka. Seandainya ada yang ajukan apply, lalu dosen atau pegawainya katakan diterima 100%, maka jangan dulu mudah percaya. Jadi harus ditagih terus dan cross check ulang. 3. Penerimaan gaji untuk awal tahun pelajaran biasanya telat 1-2 bulan. Namun untuk 2 bulan berikut biasa sudah dirapel gaji untuk beberapa bulan sekaligus. Jadi harus punya modal uang selama beberapa bulan awal di sini, mungkin sekitar 2000 riyal (5 juta rupiah). Tetapi insya Allah, nantinya akan dapat ganti yang lebih baik. 4. Jika mengajukan apply ke dosen atau via website, kadang kurang mendapatkan respon. Oleh karena itu, ikuti saran kami: a. Kontak dahulu mahasiswa Indonesia yang kuliah di KSU sesuai jurusan yang Anda tuju. b. Mahasiswa tersebut yang akan hubungkan Anda dengan dosen yang berminat mencari mahasiswa. c. Setelah itu, akan lebih mudah untuk pengurusan apply selanjutnya karena akan diberitahukan cara apply oleh dosen atau mahasiswa tadi. Moga info ini bermanfaat dan silakan disebar pada rekan-rekan lainnya yang tertarik untuk melanjutkan S2 atau S3. Masih banyak jalan menuju tanah Arab untuk menimba ilmu agama, namun yang kami sampaikan di atas adalah salah satu dari seribu cara yang ada. Tiga modal untuk bisa melangkahkan kaki kuliah di KSU: (1) Tawakkal, menyandarkan hati pada Allah, (2) Banyak berdo’a, jangan pernah putus asa, (3) Butuh great effort, tidak bisa hanya separuh-paruh. Untuk melihat keadaan di kampus teknik KSU, silakan kunjungi link di sini. Semoga Allah memberi berbagai kemudahan bagi kita dalam berilmu, beramal dan berdakwah serta diberi keistiqomahan hingga akhir hayat.   KSU, Riyadh-KSA, 16th Rajab 1432 H (18/06/2011) www.rumaysho.com Tagsbahasa inggris kuliah

Langkah Kuliah Teknik di KSU Riyadh

“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya”, inilah nasehat indah dari Imam Asy Syafi’i. Setiap pemuda yang telah merasakan nikmatnya menimba ilmu agama, sangat ingin belajar ke jenjang lebih tinggi dengan langsung duduk di majelis para ulama. Betapa rindunya mereka untuk menginjakkan kaki di tanah Arab karena di negeri inilah gudangnya ilmu diin. Sampai pun dia adalah seorang engineer, juga pasti menginginkannya. Untuk berbagai tips kuliah di tanah Arab (Saudi Arabia) khususnya di kota Riyadh, para pembaca bisa menempuh langkah sebagaimana yang kami jalani. Nyambi belajar engineer, saudara bisa merasakan pula duduk di majelis ilmu para ulama di sore harinya. Pagi harinya sibuk kuliah, sore harinya duduk di majelis kibar ulama. Ulama di kota Riyadh sudah ma’ruf amatlah banyak. Lihat saja, mulai dari ulama Al Lajnah Ad Daimah, seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan dan ulama yang ditunjuk dalam kumpulan ulama besar (Hay-ah Kibar Ulama) bermukim di kota Riyadh. Bahkan Anda bisa berangkat ke majelis ulama (seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan) dengan tanpa biaya, langsung dijemput oleh bus dari Sakan (asrama mahasiswa). Setiap shubuh, Anda bisa menyetorkan hafalan Al Qur’an layaknya orang yang belajar di pondok pesantren. Walaupun seorang Engineer, moga bisa juga menjadi Hafizh Al Qur’an dengan izin Allah, serta bisa memiliki ilmu agama yang mumpuni sebagai modal dakwah. Di kota Riyadh pun, Anda bisa memperoleh buku-buku agama gratis dari berbagai yayasan, bahkan sampai diberi 6 kardus seperti yang biasa diberi Al Lajnah Ad Daimah. Sebagai motivasi, lihatlah nasehat ulama berikut tentang lezatnya menimba ilmu agama di samping kesibukan Anda sehari-hari menggeluti ilmu dunia dan aktivitas dunia. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ . “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).” ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ ، الْعِلْمُ يَحْرُسُك وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ ، وَالْعِلْمُ يَزْكُو بِالْإِنْفَاقِ “Ilmu (agama) itu lebih baik dari harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta mesti engkau menjaganya. Harta akan berkurang ketika dinafkahkan, namun ilmu malah bertambah ketika diinfakkan.” Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, مَجْلِسُ فِقْهٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً “Majelis ilmu lebih baik dari ibadah 60 tahun lamanya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ “Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan, طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ “Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.” Dalam perkataan lainnya, Imam Asy Syafi’i berkata, لَيْسَ بَعْدَ الْفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ “Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.” Imam Asy Syafi’i berkata pula, مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ “Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” Maksudnya adalah ilmu sangat dibutuhkan untuk memperoleh dunia dan akherat. Langkah-langkah untuk diterima di Jami’ah Malik Su’ud (King Saud University) cukup sederhana. Modal utama sebenarnya adalah tawakkal, banyak doa dan mengeluarkan effort yang kuat untuk bisa diterima. Masuk ke sini tanpa tes. Cukup dengan IP di atas 3.00 (untuk IP skala 4.00), lalu bermodal bahasa Inggris yang lumayan (TOEFL di atas 500) dan menguasai bahasa Arab untuk modal percakapan sehari-hari, maka itu sudah jadi modal besar Anda bisa masuk Jami’ah Malik Su’ud. Sebagai tambahan, alangkah bagusnya bisa mendapatkan tazkiyah (rekomendasi) dari dosen di jenjang S1 dahulu. Untuk submit application, silakan klik link berikut: https://dgs.ksu.edu.sa/DGS1/Login.aspx. Lalu setelah itu kirim copy-an persyaratan yang ada via email ke departemen yang dituju (through Chairman, Graduate Academic Chair, etc). Contohnya bagi yang tertarik masuk jurusan Teknik Kimia KSU, silakan membuka link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Engineering/faculty-research/our-faculty/department/chemical-engineering.htm Jurusan-jurusan lainnya, silakan lihat link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Pages/default.aspx. Persyaratan yang diajukan ke ketua jurusan atau dosen di jurusan yang dituju, ini wajib agar berkasnya bisa diurus lebih lanjut dari jurusan sampai ke tingkat universitas. Berikut persyaratan untuk jenjang Master: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee Untuk program PhD: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee 8. TOEFL (500 pt) 9. GRE, Analytical part, (700 pt) Benefit yang akan Anda rasakan jika memilih kuliah di KSU: Free tuition fee Monthly reward Individual housing allowance Three times daily-subsidised meals Health Insurance Annual ticket round trip Funded research and sophisticated equipments Free international subscribed journal Comprehensive library High speed free internet access Hajj and Umroh opportunity Coba jika Anda kuliah di Eropa, Amerika, atau di Jepang, pernahkah merasakan benefit di atas. Kuliah sudah gratis, dapat uang saku sekitar 2,5 juta rupiah (belum lagi jika Anda diterima sebagai researcher yang dapat gaji total sekitar 5 juta rupiah). Mudah berhaji dan umroh. Makanan pun mudah dicari yang halal, bahkan mahasiswa mendapat subsidi dari kampus ketika makan di kantin. Beda jika Anda menaruh pilihan kuliah di negeri non muslim, yang kuliah kadang harus cari utangan. Untuk makan dan shalat saja sulit. Di sini pun Anda akan mendapatkan tiket liburan gratis (round way) sekali setiap tahunnya. Sekali lagi, coba bandingkan dengan kuliah di Eropa. Kesulitan-kesulitan yang kami hadapi selama ini sebelum diterima di KSU atau ketika menjalani kuliah: 1. Birokrasi yang sering telat dan rumit. Oleh karena itu, ketika apply harus bersabar. Birokrasi makin bertambah ribet jika Anda tidak punya modal bahasa Arab sehingga sulit untuk komunikasi dengan pegawai yg rata-rata belum bisa berbahasa Inggris. Sudah kami tekankan di atas, agar tidak menyesal jika diterima di sini, kuasailah Bahasa Arab sebelum ber’azam ke tanah Arab. Tetapi tidak perlu khawatir, jika kita berkomunikasi dengan dosen atau dengan pegawai rumah sakit, atau di instansi-instansi tertentu, mereka sudah punya kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni. Yang jadi masalah adalah dengan pegawai administrasi, terutama pegawai Arab. 2. Pegawai Arab kurang bisa tepati janji, jadi kita harus terus menagih janji mereka. Seandainya ada yang ajukan apply, lalu dosen atau pegawainya katakan diterima 100%, maka jangan dulu mudah percaya. Jadi harus ditagih terus dan cross check ulang. 3. Penerimaan gaji untuk awal tahun pelajaran biasanya telat 1-2 bulan. Namun untuk 2 bulan berikut biasa sudah dirapel gaji untuk beberapa bulan sekaligus. Jadi harus punya modal uang selama beberapa bulan awal di sini, mungkin sekitar 2000 riyal (5 juta rupiah). Tetapi insya Allah, nantinya akan dapat ganti yang lebih baik. 4. Jika mengajukan apply ke dosen atau via website, kadang kurang mendapatkan respon. Oleh karena itu, ikuti saran kami: a. Kontak dahulu mahasiswa Indonesia yang kuliah di KSU sesuai jurusan yang Anda tuju. b. Mahasiswa tersebut yang akan hubungkan Anda dengan dosen yang berminat mencari mahasiswa. c. Setelah itu, akan lebih mudah untuk pengurusan apply selanjutnya karena akan diberitahukan cara apply oleh dosen atau mahasiswa tadi. Moga info ini bermanfaat dan silakan disebar pada rekan-rekan lainnya yang tertarik untuk melanjutkan S2 atau S3. Masih banyak jalan menuju tanah Arab untuk menimba ilmu agama, namun yang kami sampaikan di atas adalah salah satu dari seribu cara yang ada. Tiga modal untuk bisa melangkahkan kaki kuliah di KSU: (1) Tawakkal, menyandarkan hati pada Allah, (2) Banyak berdo’a, jangan pernah putus asa, (3) Butuh great effort, tidak bisa hanya separuh-paruh. Untuk melihat keadaan di kampus teknik KSU, silakan kunjungi link di sini. Semoga Allah memberi berbagai kemudahan bagi kita dalam berilmu, beramal dan berdakwah serta diberi keistiqomahan hingga akhir hayat.   KSU, Riyadh-KSA, 16th Rajab 1432 H (18/06/2011) www.rumaysho.com Tagsbahasa inggris kuliah
“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya”, inilah nasehat indah dari Imam Asy Syafi’i. Setiap pemuda yang telah merasakan nikmatnya menimba ilmu agama, sangat ingin belajar ke jenjang lebih tinggi dengan langsung duduk di majelis para ulama. Betapa rindunya mereka untuk menginjakkan kaki di tanah Arab karena di negeri inilah gudangnya ilmu diin. Sampai pun dia adalah seorang engineer, juga pasti menginginkannya. Untuk berbagai tips kuliah di tanah Arab (Saudi Arabia) khususnya di kota Riyadh, para pembaca bisa menempuh langkah sebagaimana yang kami jalani. Nyambi belajar engineer, saudara bisa merasakan pula duduk di majelis ilmu para ulama di sore harinya. Pagi harinya sibuk kuliah, sore harinya duduk di majelis kibar ulama. Ulama di kota Riyadh sudah ma’ruf amatlah banyak. Lihat saja, mulai dari ulama Al Lajnah Ad Daimah, seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan dan ulama yang ditunjuk dalam kumpulan ulama besar (Hay-ah Kibar Ulama) bermukim di kota Riyadh. Bahkan Anda bisa berangkat ke majelis ulama (seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan) dengan tanpa biaya, langsung dijemput oleh bus dari Sakan (asrama mahasiswa). Setiap shubuh, Anda bisa menyetorkan hafalan Al Qur’an layaknya orang yang belajar di pondok pesantren. Walaupun seorang Engineer, moga bisa juga menjadi Hafizh Al Qur’an dengan izin Allah, serta bisa memiliki ilmu agama yang mumpuni sebagai modal dakwah. Di kota Riyadh pun, Anda bisa memperoleh buku-buku agama gratis dari berbagai yayasan, bahkan sampai diberi 6 kardus seperti yang biasa diberi Al Lajnah Ad Daimah. Sebagai motivasi, lihatlah nasehat ulama berikut tentang lezatnya menimba ilmu agama di samping kesibukan Anda sehari-hari menggeluti ilmu dunia dan aktivitas dunia. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ . “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).” ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ ، الْعِلْمُ يَحْرُسُك وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ ، وَالْعِلْمُ يَزْكُو بِالْإِنْفَاقِ “Ilmu (agama) itu lebih baik dari harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta mesti engkau menjaganya. Harta akan berkurang ketika dinafkahkan, namun ilmu malah bertambah ketika diinfakkan.” Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, مَجْلِسُ فِقْهٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً “Majelis ilmu lebih baik dari ibadah 60 tahun lamanya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ “Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan, طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ “Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.” Dalam perkataan lainnya, Imam Asy Syafi’i berkata, لَيْسَ بَعْدَ الْفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ “Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.” Imam Asy Syafi’i berkata pula, مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ “Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” Maksudnya adalah ilmu sangat dibutuhkan untuk memperoleh dunia dan akherat. Langkah-langkah untuk diterima di Jami’ah Malik Su’ud (King Saud University) cukup sederhana. Modal utama sebenarnya adalah tawakkal, banyak doa dan mengeluarkan effort yang kuat untuk bisa diterima. Masuk ke sini tanpa tes. Cukup dengan IP di atas 3.00 (untuk IP skala 4.00), lalu bermodal bahasa Inggris yang lumayan (TOEFL di atas 500) dan menguasai bahasa Arab untuk modal percakapan sehari-hari, maka itu sudah jadi modal besar Anda bisa masuk Jami’ah Malik Su’ud. Sebagai tambahan, alangkah bagusnya bisa mendapatkan tazkiyah (rekomendasi) dari dosen di jenjang S1 dahulu. Untuk submit application, silakan klik link berikut: https://dgs.ksu.edu.sa/DGS1/Login.aspx. Lalu setelah itu kirim copy-an persyaratan yang ada via email ke departemen yang dituju (through Chairman, Graduate Academic Chair, etc). Contohnya bagi yang tertarik masuk jurusan Teknik Kimia KSU, silakan membuka link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Engineering/faculty-research/our-faculty/department/chemical-engineering.htm Jurusan-jurusan lainnya, silakan lihat link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Pages/default.aspx. Persyaratan yang diajukan ke ketua jurusan atau dosen di jurusan yang dituju, ini wajib agar berkasnya bisa diurus lebih lanjut dari jurusan sampai ke tingkat universitas. Berikut persyaratan untuk jenjang Master: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee Untuk program PhD: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee 8. TOEFL (500 pt) 9. GRE, Analytical part, (700 pt) Benefit yang akan Anda rasakan jika memilih kuliah di KSU: Free tuition fee Monthly reward Individual housing allowance Three times daily-subsidised meals Health Insurance Annual ticket round trip Funded research and sophisticated equipments Free international subscribed journal Comprehensive library High speed free internet access Hajj and Umroh opportunity Coba jika Anda kuliah di Eropa, Amerika, atau di Jepang, pernahkah merasakan benefit di atas. Kuliah sudah gratis, dapat uang saku sekitar 2,5 juta rupiah (belum lagi jika Anda diterima sebagai researcher yang dapat gaji total sekitar 5 juta rupiah). Mudah berhaji dan umroh. Makanan pun mudah dicari yang halal, bahkan mahasiswa mendapat subsidi dari kampus ketika makan di kantin. Beda jika Anda menaruh pilihan kuliah di negeri non muslim, yang kuliah kadang harus cari utangan. Untuk makan dan shalat saja sulit. Di sini pun Anda akan mendapatkan tiket liburan gratis (round way) sekali setiap tahunnya. Sekali lagi, coba bandingkan dengan kuliah di Eropa. Kesulitan-kesulitan yang kami hadapi selama ini sebelum diterima di KSU atau ketika menjalani kuliah: 1. Birokrasi yang sering telat dan rumit. Oleh karena itu, ketika apply harus bersabar. Birokrasi makin bertambah ribet jika Anda tidak punya modal bahasa Arab sehingga sulit untuk komunikasi dengan pegawai yg rata-rata belum bisa berbahasa Inggris. Sudah kami tekankan di atas, agar tidak menyesal jika diterima di sini, kuasailah Bahasa Arab sebelum ber’azam ke tanah Arab. Tetapi tidak perlu khawatir, jika kita berkomunikasi dengan dosen atau dengan pegawai rumah sakit, atau di instansi-instansi tertentu, mereka sudah punya kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni. Yang jadi masalah adalah dengan pegawai administrasi, terutama pegawai Arab. 2. Pegawai Arab kurang bisa tepati janji, jadi kita harus terus menagih janji mereka. Seandainya ada yang ajukan apply, lalu dosen atau pegawainya katakan diterima 100%, maka jangan dulu mudah percaya. Jadi harus ditagih terus dan cross check ulang. 3. Penerimaan gaji untuk awal tahun pelajaran biasanya telat 1-2 bulan. Namun untuk 2 bulan berikut biasa sudah dirapel gaji untuk beberapa bulan sekaligus. Jadi harus punya modal uang selama beberapa bulan awal di sini, mungkin sekitar 2000 riyal (5 juta rupiah). Tetapi insya Allah, nantinya akan dapat ganti yang lebih baik. 4. Jika mengajukan apply ke dosen atau via website, kadang kurang mendapatkan respon. Oleh karena itu, ikuti saran kami: a. Kontak dahulu mahasiswa Indonesia yang kuliah di KSU sesuai jurusan yang Anda tuju. b. Mahasiswa tersebut yang akan hubungkan Anda dengan dosen yang berminat mencari mahasiswa. c. Setelah itu, akan lebih mudah untuk pengurusan apply selanjutnya karena akan diberitahukan cara apply oleh dosen atau mahasiswa tadi. Moga info ini bermanfaat dan silakan disebar pada rekan-rekan lainnya yang tertarik untuk melanjutkan S2 atau S3. Masih banyak jalan menuju tanah Arab untuk menimba ilmu agama, namun yang kami sampaikan di atas adalah salah satu dari seribu cara yang ada. Tiga modal untuk bisa melangkahkan kaki kuliah di KSU: (1) Tawakkal, menyandarkan hati pada Allah, (2) Banyak berdo’a, jangan pernah putus asa, (3) Butuh great effort, tidak bisa hanya separuh-paruh. Untuk melihat keadaan di kampus teknik KSU, silakan kunjungi link di sini. Semoga Allah memberi berbagai kemudahan bagi kita dalam berilmu, beramal dan berdakwah serta diberi keistiqomahan hingga akhir hayat.   KSU, Riyadh-KSA, 16th Rajab 1432 H (18/06/2011) www.rumaysho.com Tagsbahasa inggris kuliah


“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya”, inilah nasehat indah dari Imam Asy Syafi’i. Setiap pemuda yang telah merasakan nikmatnya menimba ilmu agama, sangat ingin belajar ke jenjang lebih tinggi dengan langsung duduk di majelis para ulama. Betapa rindunya mereka untuk menginjakkan kaki di tanah Arab karena di negeri inilah gudangnya ilmu diin. Sampai pun dia adalah seorang engineer, juga pasti menginginkannya. Untuk berbagai tips kuliah di tanah Arab (Saudi Arabia) khususnya di kota Riyadh, para pembaca bisa menempuh langkah sebagaimana yang kami jalani. Nyambi belajar engineer, saudara bisa merasakan pula duduk di majelis ilmu para ulama di sore harinya. Pagi harinya sibuk kuliah, sore harinya duduk di majelis kibar ulama. Ulama di kota Riyadh sudah ma’ruf amatlah banyak. Lihat saja, mulai dari ulama Al Lajnah Ad Daimah, seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan dan ulama yang ditunjuk dalam kumpulan ulama besar (Hay-ah Kibar Ulama) bermukim di kota Riyadh. Bahkan Anda bisa berangkat ke majelis ulama (seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan) dengan tanpa biaya, langsung dijemput oleh bus dari Sakan (asrama mahasiswa). Setiap shubuh, Anda bisa menyetorkan hafalan Al Qur’an layaknya orang yang belajar di pondok pesantren. Walaupun seorang Engineer, moga bisa juga menjadi Hafizh Al Qur’an dengan izin Allah, serta bisa memiliki ilmu agama yang mumpuni sebagai modal dakwah. Di kota Riyadh pun, Anda bisa memperoleh buku-buku agama gratis dari berbagai yayasan, bahkan sampai diberi 6 kardus seperti yang biasa diberi Al Lajnah Ad Daimah. Sebagai motivasi, lihatlah nasehat ulama berikut tentang lezatnya menimba ilmu agama di samping kesibukan Anda sehari-hari menggeluti ilmu dunia dan aktivitas dunia. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ . “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).” ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ ، الْعِلْمُ يَحْرُسُك وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ ، وَالْعِلْمُ يَزْكُو بِالْإِنْفَاقِ “Ilmu (agama) itu lebih baik dari harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta mesti engkau menjaganya. Harta akan berkurang ketika dinafkahkan, namun ilmu malah bertambah ketika diinfakkan.” Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, مَجْلِسُ فِقْهٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً “Majelis ilmu lebih baik dari ibadah 60 tahun lamanya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ “Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.” Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan, طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ “Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.” Dalam perkataan lainnya, Imam Asy Syafi’i berkata, لَيْسَ بَعْدَ الْفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ “Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.” Imam Asy Syafi’i berkata pula, مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ “Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” Maksudnya adalah ilmu sangat dibutuhkan untuk memperoleh dunia dan akherat. Langkah-langkah untuk diterima di Jami’ah Malik Su’ud (King Saud University) cukup sederhana. Modal utama sebenarnya adalah tawakkal, banyak doa dan mengeluarkan effort yang kuat untuk bisa diterima. Masuk ke sini tanpa tes. Cukup dengan IP di atas 3.00 (untuk IP skala 4.00), lalu bermodal bahasa Inggris yang lumayan (TOEFL di atas 500) dan menguasai bahasa Arab untuk modal percakapan sehari-hari, maka itu sudah jadi modal besar Anda bisa masuk Jami’ah Malik Su’ud. Sebagai tambahan, alangkah bagusnya bisa mendapatkan tazkiyah (rekomendasi) dari dosen di jenjang S1 dahulu. Untuk submit application, silakan klik link berikut: https://dgs.ksu.edu.sa/DGS1/Login.aspx. Lalu setelah itu kirim copy-an persyaratan yang ada via email ke departemen yang dituju (through Chairman, Graduate Academic Chair, etc). Contohnya bagi yang tertarik masuk jurusan Teknik Kimia KSU, silakan membuka link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Engineering/faculty-research/our-faculty/department/chemical-engineering.htm Jurusan-jurusan lainnya, silakan lihat link berikut: http://colleges.ksu.edu.sa/Pages/default.aspx. Persyaratan yang diajukan ke ketua jurusan atau dosen di jurusan yang dituju, ini wajib agar berkasnya bisa diurus lebih lanjut dari jurusan sampai ke tingkat universitas. Berikut persyaratan untuk jenjang Master: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee Untuk program PhD: 1. Application form for admission should be filled with all required data 2. ID card or passport for non-Saudis 3. The graduate certificate of last degree held by applicant 4. The academic degree transcript 5. Academic recommendations (at least two) 6. Curriculum Vitae 7. A written undertaking of approval from employer, if applicant is an employee 8. TOEFL (500 pt) 9. GRE, Analytical part, (700 pt) Benefit yang akan Anda rasakan jika memilih kuliah di KSU: Free tuition fee Monthly reward Individual housing allowance Three times daily-subsidised meals Health Insurance Annual ticket round trip Funded research and sophisticated equipments Free international subscribed journal Comprehensive library High speed free internet access Hajj and Umroh opportunity Coba jika Anda kuliah di Eropa, Amerika, atau di Jepang, pernahkah merasakan benefit di atas. Kuliah sudah gratis, dapat uang saku sekitar 2,5 juta rupiah (belum lagi jika Anda diterima sebagai researcher yang dapat gaji total sekitar 5 juta rupiah). Mudah berhaji dan umroh. Makanan pun mudah dicari yang halal, bahkan mahasiswa mendapat subsidi dari kampus ketika makan di kantin. Beda jika Anda menaruh pilihan kuliah di negeri non muslim, yang kuliah kadang harus cari utangan. Untuk makan dan shalat saja sulit. Di sini pun Anda akan mendapatkan tiket liburan gratis (round way) sekali setiap tahunnya. Sekali lagi, coba bandingkan dengan kuliah di Eropa. Kesulitan-kesulitan yang kami hadapi selama ini sebelum diterima di KSU atau ketika menjalani kuliah: 1. Birokrasi yang sering telat dan rumit. Oleh karena itu, ketika apply harus bersabar. Birokrasi makin bertambah ribet jika Anda tidak punya modal bahasa Arab sehingga sulit untuk komunikasi dengan pegawai yg rata-rata belum bisa berbahasa Inggris. Sudah kami tekankan di atas, agar tidak menyesal jika diterima di sini, kuasailah Bahasa Arab sebelum ber’azam ke tanah Arab. Tetapi tidak perlu khawatir, jika kita berkomunikasi dengan dosen atau dengan pegawai rumah sakit, atau di instansi-instansi tertentu, mereka sudah punya kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni. Yang jadi masalah adalah dengan pegawai administrasi, terutama pegawai Arab. 2. Pegawai Arab kurang bisa tepati janji, jadi kita harus terus menagih janji mereka. Seandainya ada yang ajukan apply, lalu dosen atau pegawainya katakan diterima 100%, maka jangan dulu mudah percaya. Jadi harus ditagih terus dan cross check ulang. 3. Penerimaan gaji untuk awal tahun pelajaran biasanya telat 1-2 bulan. Namun untuk 2 bulan berikut biasa sudah dirapel gaji untuk beberapa bulan sekaligus. Jadi harus punya modal uang selama beberapa bulan awal di sini, mungkin sekitar 2000 riyal (5 juta rupiah). Tetapi insya Allah, nantinya akan dapat ganti yang lebih baik. 4. Jika mengajukan apply ke dosen atau via website, kadang kurang mendapatkan respon. Oleh karena itu, ikuti saran kami: a. Kontak dahulu mahasiswa Indonesia yang kuliah di KSU sesuai jurusan yang Anda tuju. b. Mahasiswa tersebut yang akan hubungkan Anda dengan dosen yang berminat mencari mahasiswa. c. Setelah itu, akan lebih mudah untuk pengurusan apply selanjutnya karena akan diberitahukan cara apply oleh dosen atau mahasiswa tadi. Moga info ini bermanfaat dan silakan disebar pada rekan-rekan lainnya yang tertarik untuk melanjutkan S2 atau S3. Masih banyak jalan menuju tanah Arab untuk menimba ilmu agama, namun yang kami sampaikan di atas adalah salah satu dari seribu cara yang ada. Tiga modal untuk bisa melangkahkan kaki kuliah di KSU: (1) Tawakkal, menyandarkan hati pada Allah, (2) Banyak berdo’a, jangan pernah putus asa, (3) Butuh great effort, tidak bisa hanya separuh-paruh. Untuk melihat keadaan di kampus teknik KSU, silakan kunjungi link di sini. Semoga Allah memberi berbagai kemudahan bagi kita dalam berilmu, beramal dan berdakwah serta diberi keistiqomahan hingga akhir hayat.   KSU, Riyadh-KSA, 16th Rajab 1432 H (18/06/2011) www.rumaysho.com Tagsbahasa inggris kuliah

Waktu Amat Berharga Dibanding Menonton Bola

Sungguh sayang waktu yang amat berharga harus disia-siakan untuk menonton bola. Seharusnya seorang muslim bersemangat untuk memanfaatkan waktunya dalam kebaikan. Hendaklah ia menyibukkan waktunya untuk banyak mengingat Allah, terus melakukan ketaatan kepada-Nya, dan mencari ilmu agama yang bermanfaat untuknya. Ingatlah nasehat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang, اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ  ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok, 4/341, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Ingatlah pula bahwa setiap orang akan ditanya mengenai kebaikan dan kejelekan yang ia lakukan dan semuanya akan diperhitungkan (dihisab). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Syaikhuna –Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan-, ulama senior dan anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia ditanya, “Apa hukum menonton pertandingan sepakbola dan selainnya?” Jawaban Syaikh hafizhohullah, Ketahuilah bahwa waktu manusia amatlah berharga. Janganlah sampai waktu tersebut disia-siakan hanya dengan menonton pertandingan bola. Karena aktivitas semacam itu sungguh melalaikan dari mengingat Allah. Awalnya hanya menonton, namun kadang sampai menyeret seseorang untuk melakukannya keesokan harinya sehingga waktunya terbuang sia-sia. Menonton semacam itu sungguh membuat kita lalai dari amalan yang lebih bermanfaat. Jadinya kita seringnya melakukan hal yang tidak berfaedah. [As-ilah Al Manahij Al Jadiidah, Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, hal. 132] Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Fawaid berkata, اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا “Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.” Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan setiap nafas dan waktu kita dalam hal yang bermanfaat dalam urusan dunia dan akhirat kita. Moga Allah menjauhkan kita dari sifat sering menyia-nyiakan waktu dan umur kita. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (17/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Taruhan Bola, Apakah Judi? Tagsmanajemen waktu

Waktu Amat Berharga Dibanding Menonton Bola

Sungguh sayang waktu yang amat berharga harus disia-siakan untuk menonton bola. Seharusnya seorang muslim bersemangat untuk memanfaatkan waktunya dalam kebaikan. Hendaklah ia menyibukkan waktunya untuk banyak mengingat Allah, terus melakukan ketaatan kepada-Nya, dan mencari ilmu agama yang bermanfaat untuknya. Ingatlah nasehat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang, اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ  ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok, 4/341, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Ingatlah pula bahwa setiap orang akan ditanya mengenai kebaikan dan kejelekan yang ia lakukan dan semuanya akan diperhitungkan (dihisab). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Syaikhuna –Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan-, ulama senior dan anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia ditanya, “Apa hukum menonton pertandingan sepakbola dan selainnya?” Jawaban Syaikh hafizhohullah, Ketahuilah bahwa waktu manusia amatlah berharga. Janganlah sampai waktu tersebut disia-siakan hanya dengan menonton pertandingan bola. Karena aktivitas semacam itu sungguh melalaikan dari mengingat Allah. Awalnya hanya menonton, namun kadang sampai menyeret seseorang untuk melakukannya keesokan harinya sehingga waktunya terbuang sia-sia. Menonton semacam itu sungguh membuat kita lalai dari amalan yang lebih bermanfaat. Jadinya kita seringnya melakukan hal yang tidak berfaedah. [As-ilah Al Manahij Al Jadiidah, Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, hal. 132] Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Fawaid berkata, اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا “Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.” Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan setiap nafas dan waktu kita dalam hal yang bermanfaat dalam urusan dunia dan akhirat kita. Moga Allah menjauhkan kita dari sifat sering menyia-nyiakan waktu dan umur kita. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (17/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Taruhan Bola, Apakah Judi? Tagsmanajemen waktu
Sungguh sayang waktu yang amat berharga harus disia-siakan untuk menonton bola. Seharusnya seorang muslim bersemangat untuk memanfaatkan waktunya dalam kebaikan. Hendaklah ia menyibukkan waktunya untuk banyak mengingat Allah, terus melakukan ketaatan kepada-Nya, dan mencari ilmu agama yang bermanfaat untuknya. Ingatlah nasehat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang, اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ  ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok, 4/341, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Ingatlah pula bahwa setiap orang akan ditanya mengenai kebaikan dan kejelekan yang ia lakukan dan semuanya akan diperhitungkan (dihisab). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Syaikhuna –Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan-, ulama senior dan anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia ditanya, “Apa hukum menonton pertandingan sepakbola dan selainnya?” Jawaban Syaikh hafizhohullah, Ketahuilah bahwa waktu manusia amatlah berharga. Janganlah sampai waktu tersebut disia-siakan hanya dengan menonton pertandingan bola. Karena aktivitas semacam itu sungguh melalaikan dari mengingat Allah. Awalnya hanya menonton, namun kadang sampai menyeret seseorang untuk melakukannya keesokan harinya sehingga waktunya terbuang sia-sia. Menonton semacam itu sungguh membuat kita lalai dari amalan yang lebih bermanfaat. Jadinya kita seringnya melakukan hal yang tidak berfaedah. [As-ilah Al Manahij Al Jadiidah, Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, hal. 132] Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Fawaid berkata, اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا “Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.” Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan setiap nafas dan waktu kita dalam hal yang bermanfaat dalam urusan dunia dan akhirat kita. Moga Allah menjauhkan kita dari sifat sering menyia-nyiakan waktu dan umur kita. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (17/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Taruhan Bola, Apakah Judi? Tagsmanajemen waktu


Sungguh sayang waktu yang amat berharga harus disia-siakan untuk menonton bola. Seharusnya seorang muslim bersemangat untuk memanfaatkan waktunya dalam kebaikan. Hendaklah ia menyibukkan waktunya untuk banyak mengingat Allah, terus melakukan ketaatan kepada-Nya, dan mencari ilmu agama yang bermanfaat untuknya. Ingatlah nasehat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang, اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ  ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok, 4/341, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Ingatlah pula bahwa setiap orang akan ditanya mengenai kebaikan dan kejelekan yang ia lakukan dan semuanya akan diperhitungkan (dihisab). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Syaikhuna –Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan-, ulama senior dan anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia ditanya, “Apa hukum menonton pertandingan sepakbola dan selainnya?” Jawaban Syaikh hafizhohullah, Ketahuilah bahwa waktu manusia amatlah berharga. Janganlah sampai waktu tersebut disia-siakan hanya dengan menonton pertandingan bola. Karena aktivitas semacam itu sungguh melalaikan dari mengingat Allah. Awalnya hanya menonton, namun kadang sampai menyeret seseorang untuk melakukannya keesokan harinya sehingga waktunya terbuang sia-sia. Menonton semacam itu sungguh membuat kita lalai dari amalan yang lebih bermanfaat. Jadinya kita seringnya melakukan hal yang tidak berfaedah. [As-ilah Al Manahij Al Jadiidah, Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, hal. 132] Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Fawaid berkata, اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا “Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.” Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan setiap nafas dan waktu kita dalam hal yang bermanfaat dalam urusan dunia dan akhirat kita. Moga Allah menjauhkan kita dari sifat sering menyia-nyiakan waktu dan umur kita. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (17/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Taruhan Bola, Apakah Judi? Tagsmanajemen waktu

Tafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 2)

17JunTafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 2)June 17, 2011Pilihan Redaksi, Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Alquran “رَبِّ الْعَالَمِينَ” · Makna Rabbul ‘alamin Rabb adalah dzat yang terkumpul pada dirinya tiga sifat sekaligus; pencipta (al-khâliq), pemilik/penguasa (al-mâlik) dan pengatur (al-mudabbir) [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/142-143) dan Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 14)]. Tidak setiap pencipta sesuatu pasti akan memilikinya. Contohnya: para tukang batu dan tukang kayu yang membangun rumah di suatu real estate, mereka yang menciptakan dan membangun rumah tersebut, namun demikian mereka bukanlah pemiliknya. Juga tidak setiap pemilik sesuatu ialah yang menciptakannya. Seperti kita yang memiliki sepeda motor, jelas bukan kita yang membuat dan menciptakannya, kita hanya terima jadi dari dealer motor. Begitu pula tidak setiap pengatur sesuatu, dialah yang memilikinya. Seperti tukang parkir yang mengatur berbagai jenis motor dan mobil, dari yang paling mewah sampai yang paling butut, kendaraan-kendaraan tersebut bukanlah miliknya. Namun Allah ‘azza wa jalla tidak demikian. Dialah yang terkumpul dalam diri-Nya secara mutlak tiga sifat sekaligus; pencipta, penguasa/ pemilik dan pengatur. Kalimat “secara mutlak” perlu digarisbawahi; karena terkadang ada yang mengklaim memiliki tiga sifat tersebut dalam dirinya, namun tatkala kita cermati ternyata hal itu hanya bersifat parsial. Seperti orang yang menciptakan komputer, dia pula yang memiliki dan mengaturnya. Namun, ketiga sifat tersebut hanya berlaku pada komputer saja. Adapun barang-barang lainnya, maka bisa dipastikan, orang itu hanya memiliki salah satu sifat dari tiga sifat tersebut di atas. Adapun Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang menggabungkan tiga sifat itu secara mutlak! Mengapa? Karena Dialah Rabbul ‘âlamîn, yakni: Yang Menciptakan, Menguasai dan Mengatur seluruh alam semesta. Kata al-‘âlamûn maknanya adalah: segala sesuatu selain Allah ta’ala, berupa langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya serta yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/144-145) dan Tafsîr al-Qurthuby (I/213-214)]. Andaikan makna al-‘âlamûn adalah apa yang tersebut di atas, kita bisa membayangkan betapa banyak ciptaan Allah, betapa besar kekuasaan-Nya dan betapa luas wilayah yang diatur-Nya. Berikut sedikit kupasan tentang tiga sifat di atas: · Allah sebagai Pencipta alam semesta. Secara fitrah, seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir, sepakat bahwa Allah-lah Sang Pencipta. Dalam Alquran diceritakan, “وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ” Artinya: “Sungguh jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka (orang kafir), ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (Q.S. Luqman: 25 dan az-Zumar: 38). Namun demikian, ada orang yang fitrahnya sudah rusak atau bahkan mati, sehingga mengingkari hal tersebut. Salah satu contohnya apa yang dikisahkan Imam Abu al-Qasim at-Taimy dalam kitabnya: Al-Hujjah fî Bayân al-Mahajjah, tentang seorang ateis yang mengklaim bisa menciptakan makhluk hidup tanpa ‘campur tangan’ Allah ta’ala. Ia memasukkan sekerat daging dalam sebuah toples, lalu ia tutup rapat. Beberapa hari kemudian, muncullah belatung-belatung di daging tersebut, katanya, “Akulah pencipta makhluk-makhluk kecil ini!”. Seorang ulama ingin memberi pelajaran kepada ateis tersebut. Ia berkata, “Sang pencipta sesuatu, pasti ia akan mengetahui betul seluk-beluk ciptaannya. Sebagaimana diiisyaratkan Allah ta’ala, “أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ” Artinya: ‘Apakah pantas yang menciptakan tidak mengetahui?’ (Q.S. Al-Mulk: 14). Jika engkau mengklaim dirimu sebagai pencipta belatung-belatung tersebut, tolong beritahu aku: berapa jumlah mereka, mana yang jantan dan mana yang betina, mana yang bapak, serta mana yang anak?!” Si ateis tadi pun terperanjat, lalu tertunduk diam seribu kata. Andaikan memang betul, bahwa orang tersebut memang bisa menciptakan belatung, itupun tidak lantas menjadikan ia berhak untuk bersikap congkak. Hanya dengan menciptakan hewan kecil yang menjijikkan, ia berlaku sombong?! Alangkah naifnya! Adapun Allah jalla wa ‘ala Dialah yang menciptakan seluruh makhluk tanpa terkecuali! Seorang ulama abad keempat; Imam Abu asy-Syaikh al-Ashbahâni (w. 369 H) menulis sebuah buku bagus berjudul Kitâb al-‘Azhamah. Dalam kitab setebal lima jilid ini, beliau berusaha mengupas keagungan Allah dan sebagian ciptaan-Nya. Beliau mengajak kita untuk bertafakur dan merenungi keagungan ‘Arsy Allah, para malaikat, langit, matahari, bulan, bintang, awan, hujan, halilintar, kilat, angin, bumi, laut, gunung, pepohonan, binatang dan lain sebagainya. Sekadar contoh: kehebatan penciptaan langit dan tetumbuhan. Allah menceritakan bagaimana langit dibangun tanpa memakai tiang satupun! “اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا” Artinya: “Allah yang mengangkat langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat.” (Q.S. Ar-Ra’du: 2). Allah juga mengajak kita berpikir bagaimana tetumbuhan yang berbagai macam bentuknya dan amat beragam buah, warna dan rasanya, ternyata semua disiram dengan satu jenis air! “وَفِي الأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاء وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ” Artinya: “Di bumi terdapat tempat-tempat yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama. Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasa. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.”. (Q.S. Ar-Ra’du: 4). Di akhir ayat di atas, Allah menjelaskan buah dari tafakur akan ciptaan-Nya; yakni agar kita menyadari akan kebesaran Allah jalla wa ‘ala. · Allah sebagai pemilik dan penguasa alam semesta. Kepemilikan dan kekuasaan Allah atas alam semesta ini bersifat mutlak dan sempurna. Dialah yang memerintah dan melarang, memberi balasan kebajikan dan menghukum, memberi dan menahan pemberian, memuliakan dan menghinakan, mengangkat dan menjatuhkan, menghidupkan dan mematikan, serta murka dan ridha. Dia pula yang mengampuni dosa, menolong orang yang tertimpa musibah, membantu orang yang terzalimi, membalas orang yang menzalimi, mengayakan orang miskin dan memiskinkan orang kaya, memberi orang yang meminta, serta perbuatan-perbuatan lain yang menunjukkan kekuasaan hakiki dan kepemilikan mutlak Allah jalla wa ‘ala [Lihat: Juhûd al-Imâm Ibn Qayyim al-Jauziyyah fî Taqrîr Tauhîd al-Asmâ’ wa ash-Shifât karya Dr. Walîd bin Muhammad al-‘Aliy (II/1295-1296)]. Tentunya, ini berbeda dengan kekuasaan manusia yang seringkali hanya bersifat semu atau formalitas belaka. Seperti seorang yang dipasang sebagai penguasa suatu daerah, namun pada kenyataannya, ternyata bukan dia yang menguasai daerah tersebut, dia hanyalah boneka. Sedangkan yang berkuasa di pasar adalah preman pasar, yang berkuasa di suatu komunitas tertentu adalah tokoh agama yang dikarismatikkan, yang berkuasa di salah satu bagian daerahnya adalah konglomerat, begitu seterusnya. Allah sebagai pengatur alam semesta. Dikisahkan bahwa suatu hari, Imam Abu Hanifah diajak berdebat oleh para ahli kalam yang kebetulan mereka mengingkari adanya pencipta dan pengatur alam semesta. Sebelum berdebat, Imam Abu Hanifah berkata, “Sebelum membahas permasalahan ini, saya ingin bertanya, ‘Percayakah kalian bahwa di sungai Dijlah (sungai di kota Baghdad), ada sebuah perahu yang memuat sendiri ke atasnya berbagai jenis bahan pangan dan yang lainnya, berlayar sendiri dari satu tepi ke tepi lainnya, serta menurunkan barang-barang yang ada di atasnya juga dengan sendirinya. Tanpa ada seorangpun yang menaikinya?’” Serta merta mereka menjawab, “Mustahil! Itu tidak mungkin terjadi!” “Andaikan itu mustahil terjadi atas sebuah perahu. Mungkinkah itu terjadi atas seluruh alam semesta ini, langit dan buminya??!” [Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahawiyyah karya Imam Ibn Abi al-‘Izz (I/135)]. Allah ta’ala berfirman, “خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى” Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan tujuan) benar, Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam, serta mengatur matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” (Q.S. Az-Zumar: 5). Belum lagi adanya pergantian musim sepanjang tahun. Bahkan, adanya pengaturan sistem dalam tubuh kita sendiri! Semisal pemasukan bahan makanan, pencernaan, pengolahan, penyerapan sari yang dibutuhkan tubuh, lalu pembuangan sisanya. Juga adanya pemfilteran racun-racun dalam darah secara rutin oleh ginjal. Ditambah pertahanan darah putih dari virus-virus yang masuk ke dalam tubuh. Dan masih banyak fenomena pengaturan lainnya dalam tubuh kita. “وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ” Artinya: “Dan (juga) dalam dirimu sendiri. Maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzariyat: 21). · Pelajaran berharga dari merenungi makna Rabbul ‘alamin Dengan menghayati nama Allah ini, yakni Rabbul ‘âlamîn kita akan memetik banyak pelajaran berharga sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan dunia yang fana ini. Di antara buah keimanan kita akan nama Allah ini: Dalam segala permasalahan, kesulitan, musibah dan yang semisal, kita hanya akan kembali kepada Allah jalla wa ‘ala; sebab di tangan-Nyalah segala sesuatu. Dialah Penguasa semua jagad raya ini dan Pemiliknya. Bukan kembali kepada para makhluk-Nya, apalagi kepada para dukun dan paranormal! Kita akan terjauh dari sifat sombong. Terkadang tatkala berhasil menciptakan sesuatu yang tidak bisa diciptakan orang lain, entah itu suatu penemuan ilmiah elektronik, peternakan, pertanian, atau apa saja, timbul dalam hati kita perasaan sombong; sebab merasa bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Andaikan bertafakur akan keagungan ciptaan Allah, kita akan sadar betapa kecilnya kita, sebab yang menciptakan penemu karya ilmiah tersebut, yakni kita sendiri, ternyata adalah Allah! Bukan hanya itu, Allah pulalah yang menciptakan penemu teori Relativitas; salah satu ilmuwan terbesar yang pernah dimiliki bumi; Albert Einstein. Allah juga yang menciptakan penemu komputer; John von Neumann. Dan Allah pula yang menciptakan segalanya, termasuk di dalamnya para pencipta dan penemu hal-hal yang menakjubkan di muka bumi. Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.Tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Tafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 2)

17JunTafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 2)June 17, 2011Pilihan Redaksi, Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Alquran “رَبِّ الْعَالَمِينَ” · Makna Rabbul ‘alamin Rabb adalah dzat yang terkumpul pada dirinya tiga sifat sekaligus; pencipta (al-khâliq), pemilik/penguasa (al-mâlik) dan pengatur (al-mudabbir) [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/142-143) dan Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 14)]. Tidak setiap pencipta sesuatu pasti akan memilikinya. Contohnya: para tukang batu dan tukang kayu yang membangun rumah di suatu real estate, mereka yang menciptakan dan membangun rumah tersebut, namun demikian mereka bukanlah pemiliknya. Juga tidak setiap pemilik sesuatu ialah yang menciptakannya. Seperti kita yang memiliki sepeda motor, jelas bukan kita yang membuat dan menciptakannya, kita hanya terima jadi dari dealer motor. Begitu pula tidak setiap pengatur sesuatu, dialah yang memilikinya. Seperti tukang parkir yang mengatur berbagai jenis motor dan mobil, dari yang paling mewah sampai yang paling butut, kendaraan-kendaraan tersebut bukanlah miliknya. Namun Allah ‘azza wa jalla tidak demikian. Dialah yang terkumpul dalam diri-Nya secara mutlak tiga sifat sekaligus; pencipta, penguasa/ pemilik dan pengatur. Kalimat “secara mutlak” perlu digarisbawahi; karena terkadang ada yang mengklaim memiliki tiga sifat tersebut dalam dirinya, namun tatkala kita cermati ternyata hal itu hanya bersifat parsial. Seperti orang yang menciptakan komputer, dia pula yang memiliki dan mengaturnya. Namun, ketiga sifat tersebut hanya berlaku pada komputer saja. Adapun barang-barang lainnya, maka bisa dipastikan, orang itu hanya memiliki salah satu sifat dari tiga sifat tersebut di atas. Adapun Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang menggabungkan tiga sifat itu secara mutlak! Mengapa? Karena Dialah Rabbul ‘âlamîn, yakni: Yang Menciptakan, Menguasai dan Mengatur seluruh alam semesta. Kata al-‘âlamûn maknanya adalah: segala sesuatu selain Allah ta’ala, berupa langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya serta yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/144-145) dan Tafsîr al-Qurthuby (I/213-214)]. Andaikan makna al-‘âlamûn adalah apa yang tersebut di atas, kita bisa membayangkan betapa banyak ciptaan Allah, betapa besar kekuasaan-Nya dan betapa luas wilayah yang diatur-Nya. Berikut sedikit kupasan tentang tiga sifat di atas: · Allah sebagai Pencipta alam semesta. Secara fitrah, seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir, sepakat bahwa Allah-lah Sang Pencipta. Dalam Alquran diceritakan, “وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ” Artinya: “Sungguh jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka (orang kafir), ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (Q.S. Luqman: 25 dan az-Zumar: 38). Namun demikian, ada orang yang fitrahnya sudah rusak atau bahkan mati, sehingga mengingkari hal tersebut. Salah satu contohnya apa yang dikisahkan Imam Abu al-Qasim at-Taimy dalam kitabnya: Al-Hujjah fî Bayân al-Mahajjah, tentang seorang ateis yang mengklaim bisa menciptakan makhluk hidup tanpa ‘campur tangan’ Allah ta’ala. Ia memasukkan sekerat daging dalam sebuah toples, lalu ia tutup rapat. Beberapa hari kemudian, muncullah belatung-belatung di daging tersebut, katanya, “Akulah pencipta makhluk-makhluk kecil ini!”. Seorang ulama ingin memberi pelajaran kepada ateis tersebut. Ia berkata, “Sang pencipta sesuatu, pasti ia akan mengetahui betul seluk-beluk ciptaannya. Sebagaimana diiisyaratkan Allah ta’ala, “أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ” Artinya: ‘Apakah pantas yang menciptakan tidak mengetahui?’ (Q.S. Al-Mulk: 14). Jika engkau mengklaim dirimu sebagai pencipta belatung-belatung tersebut, tolong beritahu aku: berapa jumlah mereka, mana yang jantan dan mana yang betina, mana yang bapak, serta mana yang anak?!” Si ateis tadi pun terperanjat, lalu tertunduk diam seribu kata. Andaikan memang betul, bahwa orang tersebut memang bisa menciptakan belatung, itupun tidak lantas menjadikan ia berhak untuk bersikap congkak. Hanya dengan menciptakan hewan kecil yang menjijikkan, ia berlaku sombong?! Alangkah naifnya! Adapun Allah jalla wa ‘ala Dialah yang menciptakan seluruh makhluk tanpa terkecuali! Seorang ulama abad keempat; Imam Abu asy-Syaikh al-Ashbahâni (w. 369 H) menulis sebuah buku bagus berjudul Kitâb al-‘Azhamah. Dalam kitab setebal lima jilid ini, beliau berusaha mengupas keagungan Allah dan sebagian ciptaan-Nya. Beliau mengajak kita untuk bertafakur dan merenungi keagungan ‘Arsy Allah, para malaikat, langit, matahari, bulan, bintang, awan, hujan, halilintar, kilat, angin, bumi, laut, gunung, pepohonan, binatang dan lain sebagainya. Sekadar contoh: kehebatan penciptaan langit dan tetumbuhan. Allah menceritakan bagaimana langit dibangun tanpa memakai tiang satupun! “اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا” Artinya: “Allah yang mengangkat langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat.” (Q.S. Ar-Ra’du: 2). Allah juga mengajak kita berpikir bagaimana tetumbuhan yang berbagai macam bentuknya dan amat beragam buah, warna dan rasanya, ternyata semua disiram dengan satu jenis air! “وَفِي الأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاء وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ” Artinya: “Di bumi terdapat tempat-tempat yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama. Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasa. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.”. (Q.S. Ar-Ra’du: 4). Di akhir ayat di atas, Allah menjelaskan buah dari tafakur akan ciptaan-Nya; yakni agar kita menyadari akan kebesaran Allah jalla wa ‘ala. · Allah sebagai pemilik dan penguasa alam semesta. Kepemilikan dan kekuasaan Allah atas alam semesta ini bersifat mutlak dan sempurna. Dialah yang memerintah dan melarang, memberi balasan kebajikan dan menghukum, memberi dan menahan pemberian, memuliakan dan menghinakan, mengangkat dan menjatuhkan, menghidupkan dan mematikan, serta murka dan ridha. Dia pula yang mengampuni dosa, menolong orang yang tertimpa musibah, membantu orang yang terzalimi, membalas orang yang menzalimi, mengayakan orang miskin dan memiskinkan orang kaya, memberi orang yang meminta, serta perbuatan-perbuatan lain yang menunjukkan kekuasaan hakiki dan kepemilikan mutlak Allah jalla wa ‘ala [Lihat: Juhûd al-Imâm Ibn Qayyim al-Jauziyyah fî Taqrîr Tauhîd al-Asmâ’ wa ash-Shifât karya Dr. Walîd bin Muhammad al-‘Aliy (II/1295-1296)]. Tentunya, ini berbeda dengan kekuasaan manusia yang seringkali hanya bersifat semu atau formalitas belaka. Seperti seorang yang dipasang sebagai penguasa suatu daerah, namun pada kenyataannya, ternyata bukan dia yang menguasai daerah tersebut, dia hanyalah boneka. Sedangkan yang berkuasa di pasar adalah preman pasar, yang berkuasa di suatu komunitas tertentu adalah tokoh agama yang dikarismatikkan, yang berkuasa di salah satu bagian daerahnya adalah konglomerat, begitu seterusnya. Allah sebagai pengatur alam semesta. Dikisahkan bahwa suatu hari, Imam Abu Hanifah diajak berdebat oleh para ahli kalam yang kebetulan mereka mengingkari adanya pencipta dan pengatur alam semesta. Sebelum berdebat, Imam Abu Hanifah berkata, “Sebelum membahas permasalahan ini, saya ingin bertanya, ‘Percayakah kalian bahwa di sungai Dijlah (sungai di kota Baghdad), ada sebuah perahu yang memuat sendiri ke atasnya berbagai jenis bahan pangan dan yang lainnya, berlayar sendiri dari satu tepi ke tepi lainnya, serta menurunkan barang-barang yang ada di atasnya juga dengan sendirinya. Tanpa ada seorangpun yang menaikinya?’” Serta merta mereka menjawab, “Mustahil! Itu tidak mungkin terjadi!” “Andaikan itu mustahil terjadi atas sebuah perahu. Mungkinkah itu terjadi atas seluruh alam semesta ini, langit dan buminya??!” [Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahawiyyah karya Imam Ibn Abi al-‘Izz (I/135)]. Allah ta’ala berfirman, “خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى” Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan tujuan) benar, Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam, serta mengatur matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” (Q.S. Az-Zumar: 5). Belum lagi adanya pergantian musim sepanjang tahun. Bahkan, adanya pengaturan sistem dalam tubuh kita sendiri! Semisal pemasukan bahan makanan, pencernaan, pengolahan, penyerapan sari yang dibutuhkan tubuh, lalu pembuangan sisanya. Juga adanya pemfilteran racun-racun dalam darah secara rutin oleh ginjal. Ditambah pertahanan darah putih dari virus-virus yang masuk ke dalam tubuh. Dan masih banyak fenomena pengaturan lainnya dalam tubuh kita. “وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ” Artinya: “Dan (juga) dalam dirimu sendiri. Maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzariyat: 21). · Pelajaran berharga dari merenungi makna Rabbul ‘alamin Dengan menghayati nama Allah ini, yakni Rabbul ‘âlamîn kita akan memetik banyak pelajaran berharga sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan dunia yang fana ini. Di antara buah keimanan kita akan nama Allah ini: Dalam segala permasalahan, kesulitan, musibah dan yang semisal, kita hanya akan kembali kepada Allah jalla wa ‘ala; sebab di tangan-Nyalah segala sesuatu. Dialah Penguasa semua jagad raya ini dan Pemiliknya. Bukan kembali kepada para makhluk-Nya, apalagi kepada para dukun dan paranormal! Kita akan terjauh dari sifat sombong. Terkadang tatkala berhasil menciptakan sesuatu yang tidak bisa diciptakan orang lain, entah itu suatu penemuan ilmiah elektronik, peternakan, pertanian, atau apa saja, timbul dalam hati kita perasaan sombong; sebab merasa bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Andaikan bertafakur akan keagungan ciptaan Allah, kita akan sadar betapa kecilnya kita, sebab yang menciptakan penemu karya ilmiah tersebut, yakni kita sendiri, ternyata adalah Allah! Bukan hanya itu, Allah pulalah yang menciptakan penemu teori Relativitas; salah satu ilmuwan terbesar yang pernah dimiliki bumi; Albert Einstein. Allah juga yang menciptakan penemu komputer; John von Neumann. Dan Allah pula yang menciptakan segalanya, termasuk di dalamnya para pencipta dan penemu hal-hal yang menakjubkan di muka bumi. Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.Tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
17JunTafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 2)June 17, 2011Pilihan Redaksi, Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Alquran “رَبِّ الْعَالَمِينَ” · Makna Rabbul ‘alamin Rabb adalah dzat yang terkumpul pada dirinya tiga sifat sekaligus; pencipta (al-khâliq), pemilik/penguasa (al-mâlik) dan pengatur (al-mudabbir) [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/142-143) dan Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 14)]. Tidak setiap pencipta sesuatu pasti akan memilikinya. Contohnya: para tukang batu dan tukang kayu yang membangun rumah di suatu real estate, mereka yang menciptakan dan membangun rumah tersebut, namun demikian mereka bukanlah pemiliknya. Juga tidak setiap pemilik sesuatu ialah yang menciptakannya. Seperti kita yang memiliki sepeda motor, jelas bukan kita yang membuat dan menciptakannya, kita hanya terima jadi dari dealer motor. Begitu pula tidak setiap pengatur sesuatu, dialah yang memilikinya. Seperti tukang parkir yang mengatur berbagai jenis motor dan mobil, dari yang paling mewah sampai yang paling butut, kendaraan-kendaraan tersebut bukanlah miliknya. Namun Allah ‘azza wa jalla tidak demikian. Dialah yang terkumpul dalam diri-Nya secara mutlak tiga sifat sekaligus; pencipta, penguasa/ pemilik dan pengatur. Kalimat “secara mutlak” perlu digarisbawahi; karena terkadang ada yang mengklaim memiliki tiga sifat tersebut dalam dirinya, namun tatkala kita cermati ternyata hal itu hanya bersifat parsial. Seperti orang yang menciptakan komputer, dia pula yang memiliki dan mengaturnya. Namun, ketiga sifat tersebut hanya berlaku pada komputer saja. Adapun barang-barang lainnya, maka bisa dipastikan, orang itu hanya memiliki salah satu sifat dari tiga sifat tersebut di atas. Adapun Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang menggabungkan tiga sifat itu secara mutlak! Mengapa? Karena Dialah Rabbul ‘âlamîn, yakni: Yang Menciptakan, Menguasai dan Mengatur seluruh alam semesta. Kata al-‘âlamûn maknanya adalah: segala sesuatu selain Allah ta’ala, berupa langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya serta yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/144-145) dan Tafsîr al-Qurthuby (I/213-214)]. Andaikan makna al-‘âlamûn adalah apa yang tersebut di atas, kita bisa membayangkan betapa banyak ciptaan Allah, betapa besar kekuasaan-Nya dan betapa luas wilayah yang diatur-Nya. Berikut sedikit kupasan tentang tiga sifat di atas: · Allah sebagai Pencipta alam semesta. Secara fitrah, seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir, sepakat bahwa Allah-lah Sang Pencipta. Dalam Alquran diceritakan, “وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ” Artinya: “Sungguh jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka (orang kafir), ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (Q.S. Luqman: 25 dan az-Zumar: 38). Namun demikian, ada orang yang fitrahnya sudah rusak atau bahkan mati, sehingga mengingkari hal tersebut. Salah satu contohnya apa yang dikisahkan Imam Abu al-Qasim at-Taimy dalam kitabnya: Al-Hujjah fî Bayân al-Mahajjah, tentang seorang ateis yang mengklaim bisa menciptakan makhluk hidup tanpa ‘campur tangan’ Allah ta’ala. Ia memasukkan sekerat daging dalam sebuah toples, lalu ia tutup rapat. Beberapa hari kemudian, muncullah belatung-belatung di daging tersebut, katanya, “Akulah pencipta makhluk-makhluk kecil ini!”. Seorang ulama ingin memberi pelajaran kepada ateis tersebut. Ia berkata, “Sang pencipta sesuatu, pasti ia akan mengetahui betul seluk-beluk ciptaannya. Sebagaimana diiisyaratkan Allah ta’ala, “أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ” Artinya: ‘Apakah pantas yang menciptakan tidak mengetahui?’ (Q.S. Al-Mulk: 14). Jika engkau mengklaim dirimu sebagai pencipta belatung-belatung tersebut, tolong beritahu aku: berapa jumlah mereka, mana yang jantan dan mana yang betina, mana yang bapak, serta mana yang anak?!” Si ateis tadi pun terperanjat, lalu tertunduk diam seribu kata. Andaikan memang betul, bahwa orang tersebut memang bisa menciptakan belatung, itupun tidak lantas menjadikan ia berhak untuk bersikap congkak. Hanya dengan menciptakan hewan kecil yang menjijikkan, ia berlaku sombong?! Alangkah naifnya! Adapun Allah jalla wa ‘ala Dialah yang menciptakan seluruh makhluk tanpa terkecuali! Seorang ulama abad keempat; Imam Abu asy-Syaikh al-Ashbahâni (w. 369 H) menulis sebuah buku bagus berjudul Kitâb al-‘Azhamah. Dalam kitab setebal lima jilid ini, beliau berusaha mengupas keagungan Allah dan sebagian ciptaan-Nya. Beliau mengajak kita untuk bertafakur dan merenungi keagungan ‘Arsy Allah, para malaikat, langit, matahari, bulan, bintang, awan, hujan, halilintar, kilat, angin, bumi, laut, gunung, pepohonan, binatang dan lain sebagainya. Sekadar contoh: kehebatan penciptaan langit dan tetumbuhan. Allah menceritakan bagaimana langit dibangun tanpa memakai tiang satupun! “اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا” Artinya: “Allah yang mengangkat langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat.” (Q.S. Ar-Ra’du: 2). Allah juga mengajak kita berpikir bagaimana tetumbuhan yang berbagai macam bentuknya dan amat beragam buah, warna dan rasanya, ternyata semua disiram dengan satu jenis air! “وَفِي الأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاء وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ” Artinya: “Di bumi terdapat tempat-tempat yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama. Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasa. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.”. (Q.S. Ar-Ra’du: 4). Di akhir ayat di atas, Allah menjelaskan buah dari tafakur akan ciptaan-Nya; yakni agar kita menyadari akan kebesaran Allah jalla wa ‘ala. · Allah sebagai pemilik dan penguasa alam semesta. Kepemilikan dan kekuasaan Allah atas alam semesta ini bersifat mutlak dan sempurna. Dialah yang memerintah dan melarang, memberi balasan kebajikan dan menghukum, memberi dan menahan pemberian, memuliakan dan menghinakan, mengangkat dan menjatuhkan, menghidupkan dan mematikan, serta murka dan ridha. Dia pula yang mengampuni dosa, menolong orang yang tertimpa musibah, membantu orang yang terzalimi, membalas orang yang menzalimi, mengayakan orang miskin dan memiskinkan orang kaya, memberi orang yang meminta, serta perbuatan-perbuatan lain yang menunjukkan kekuasaan hakiki dan kepemilikan mutlak Allah jalla wa ‘ala [Lihat: Juhûd al-Imâm Ibn Qayyim al-Jauziyyah fî Taqrîr Tauhîd al-Asmâ’ wa ash-Shifât karya Dr. Walîd bin Muhammad al-‘Aliy (II/1295-1296)]. Tentunya, ini berbeda dengan kekuasaan manusia yang seringkali hanya bersifat semu atau formalitas belaka. Seperti seorang yang dipasang sebagai penguasa suatu daerah, namun pada kenyataannya, ternyata bukan dia yang menguasai daerah tersebut, dia hanyalah boneka. Sedangkan yang berkuasa di pasar adalah preman pasar, yang berkuasa di suatu komunitas tertentu adalah tokoh agama yang dikarismatikkan, yang berkuasa di salah satu bagian daerahnya adalah konglomerat, begitu seterusnya. Allah sebagai pengatur alam semesta. Dikisahkan bahwa suatu hari, Imam Abu Hanifah diajak berdebat oleh para ahli kalam yang kebetulan mereka mengingkari adanya pencipta dan pengatur alam semesta. Sebelum berdebat, Imam Abu Hanifah berkata, “Sebelum membahas permasalahan ini, saya ingin bertanya, ‘Percayakah kalian bahwa di sungai Dijlah (sungai di kota Baghdad), ada sebuah perahu yang memuat sendiri ke atasnya berbagai jenis bahan pangan dan yang lainnya, berlayar sendiri dari satu tepi ke tepi lainnya, serta menurunkan barang-barang yang ada di atasnya juga dengan sendirinya. Tanpa ada seorangpun yang menaikinya?’” Serta merta mereka menjawab, “Mustahil! Itu tidak mungkin terjadi!” “Andaikan itu mustahil terjadi atas sebuah perahu. Mungkinkah itu terjadi atas seluruh alam semesta ini, langit dan buminya??!” [Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahawiyyah karya Imam Ibn Abi al-‘Izz (I/135)]. Allah ta’ala berfirman, “خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى” Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan tujuan) benar, Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam, serta mengatur matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” (Q.S. Az-Zumar: 5). Belum lagi adanya pergantian musim sepanjang tahun. Bahkan, adanya pengaturan sistem dalam tubuh kita sendiri! Semisal pemasukan bahan makanan, pencernaan, pengolahan, penyerapan sari yang dibutuhkan tubuh, lalu pembuangan sisanya. Juga adanya pemfilteran racun-racun dalam darah secara rutin oleh ginjal. Ditambah pertahanan darah putih dari virus-virus yang masuk ke dalam tubuh. Dan masih banyak fenomena pengaturan lainnya dalam tubuh kita. “وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ” Artinya: “Dan (juga) dalam dirimu sendiri. Maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzariyat: 21). · Pelajaran berharga dari merenungi makna Rabbul ‘alamin Dengan menghayati nama Allah ini, yakni Rabbul ‘âlamîn kita akan memetik banyak pelajaran berharga sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan dunia yang fana ini. Di antara buah keimanan kita akan nama Allah ini: Dalam segala permasalahan, kesulitan, musibah dan yang semisal, kita hanya akan kembali kepada Allah jalla wa ‘ala; sebab di tangan-Nyalah segala sesuatu. Dialah Penguasa semua jagad raya ini dan Pemiliknya. Bukan kembali kepada para makhluk-Nya, apalagi kepada para dukun dan paranormal! Kita akan terjauh dari sifat sombong. Terkadang tatkala berhasil menciptakan sesuatu yang tidak bisa diciptakan orang lain, entah itu suatu penemuan ilmiah elektronik, peternakan, pertanian, atau apa saja, timbul dalam hati kita perasaan sombong; sebab merasa bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Andaikan bertafakur akan keagungan ciptaan Allah, kita akan sadar betapa kecilnya kita, sebab yang menciptakan penemu karya ilmiah tersebut, yakni kita sendiri, ternyata adalah Allah! Bukan hanya itu, Allah pulalah yang menciptakan penemu teori Relativitas; salah satu ilmuwan terbesar yang pernah dimiliki bumi; Albert Einstein. Allah juga yang menciptakan penemu komputer; John von Neumann. Dan Allah pula yang menciptakan segalanya, termasuk di dalamnya para pencipta dan penemu hal-hal yang menakjubkan di muka bumi. Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.Tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


17JunTafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 2)June 17, 2011Pilihan Redaksi, Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Alquran “رَبِّ الْعَالَمِينَ” · Makna Rabbul ‘alamin Rabb adalah dzat yang terkumpul pada dirinya tiga sifat sekaligus; pencipta (al-khâliq), pemilik/penguasa (al-mâlik) dan pengatur (al-mudabbir) [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/142-143) dan Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 14)]. Tidak setiap pencipta sesuatu pasti akan memilikinya. Contohnya: para tukang batu dan tukang kayu yang membangun rumah di suatu real estate, mereka yang menciptakan dan membangun rumah tersebut, namun demikian mereka bukanlah pemiliknya. Juga tidak setiap pemilik sesuatu ialah yang menciptakannya. Seperti kita yang memiliki sepeda motor, jelas bukan kita yang membuat dan menciptakannya, kita hanya terima jadi dari dealer motor. Begitu pula tidak setiap pengatur sesuatu, dialah yang memilikinya. Seperti tukang parkir yang mengatur berbagai jenis motor dan mobil, dari yang paling mewah sampai yang paling butut, kendaraan-kendaraan tersebut bukanlah miliknya. Namun Allah ‘azza wa jalla tidak demikian. Dialah yang terkumpul dalam diri-Nya secara mutlak tiga sifat sekaligus; pencipta, penguasa/ pemilik dan pengatur. Kalimat “secara mutlak” perlu digarisbawahi; karena terkadang ada yang mengklaim memiliki tiga sifat tersebut dalam dirinya, namun tatkala kita cermati ternyata hal itu hanya bersifat parsial. Seperti orang yang menciptakan komputer, dia pula yang memiliki dan mengaturnya. Namun, ketiga sifat tersebut hanya berlaku pada komputer saja. Adapun barang-barang lainnya, maka bisa dipastikan, orang itu hanya memiliki salah satu sifat dari tiga sifat tersebut di atas. Adapun Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang menggabungkan tiga sifat itu secara mutlak! Mengapa? Karena Dialah Rabbul ‘âlamîn, yakni: Yang Menciptakan, Menguasai dan Mengatur seluruh alam semesta. Kata al-‘âlamûn maknanya adalah: segala sesuatu selain Allah ta’ala, berupa langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya serta yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/144-145) dan Tafsîr al-Qurthuby (I/213-214)]. Andaikan makna al-‘âlamûn adalah apa yang tersebut di atas, kita bisa membayangkan betapa banyak ciptaan Allah, betapa besar kekuasaan-Nya dan betapa luas wilayah yang diatur-Nya. Berikut sedikit kupasan tentang tiga sifat di atas: · Allah sebagai Pencipta alam semesta. Secara fitrah, seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir, sepakat bahwa Allah-lah Sang Pencipta. Dalam Alquran diceritakan, “وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ” Artinya: “Sungguh jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka (orang kafir), ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (Q.S. Luqman: 25 dan az-Zumar: 38). Namun demikian, ada orang yang fitrahnya sudah rusak atau bahkan mati, sehingga mengingkari hal tersebut. Salah satu contohnya apa yang dikisahkan Imam Abu al-Qasim at-Taimy dalam kitabnya: Al-Hujjah fî Bayân al-Mahajjah, tentang seorang ateis yang mengklaim bisa menciptakan makhluk hidup tanpa ‘campur tangan’ Allah ta’ala. Ia memasukkan sekerat daging dalam sebuah toples, lalu ia tutup rapat. Beberapa hari kemudian, muncullah belatung-belatung di daging tersebut, katanya, “Akulah pencipta makhluk-makhluk kecil ini!”. Seorang ulama ingin memberi pelajaran kepada ateis tersebut. Ia berkata, “Sang pencipta sesuatu, pasti ia akan mengetahui betul seluk-beluk ciptaannya. Sebagaimana diiisyaratkan Allah ta’ala, “أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ” Artinya: ‘Apakah pantas yang menciptakan tidak mengetahui?’ (Q.S. Al-Mulk: 14). Jika engkau mengklaim dirimu sebagai pencipta belatung-belatung tersebut, tolong beritahu aku: berapa jumlah mereka, mana yang jantan dan mana yang betina, mana yang bapak, serta mana yang anak?!” Si ateis tadi pun terperanjat, lalu tertunduk diam seribu kata. Andaikan memang betul, bahwa orang tersebut memang bisa menciptakan belatung, itupun tidak lantas menjadikan ia berhak untuk bersikap congkak. Hanya dengan menciptakan hewan kecil yang menjijikkan, ia berlaku sombong?! Alangkah naifnya! Adapun Allah jalla wa ‘ala Dialah yang menciptakan seluruh makhluk tanpa terkecuali! Seorang ulama abad keempat; Imam Abu asy-Syaikh al-Ashbahâni (w. 369 H) menulis sebuah buku bagus berjudul Kitâb al-‘Azhamah. Dalam kitab setebal lima jilid ini, beliau berusaha mengupas keagungan Allah dan sebagian ciptaan-Nya. Beliau mengajak kita untuk bertafakur dan merenungi keagungan ‘Arsy Allah, para malaikat, langit, matahari, bulan, bintang, awan, hujan, halilintar, kilat, angin, bumi, laut, gunung, pepohonan, binatang dan lain sebagainya. Sekadar contoh: kehebatan penciptaan langit dan tetumbuhan. Allah menceritakan bagaimana langit dibangun tanpa memakai tiang satupun! “اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا” Artinya: “Allah yang mengangkat langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat.” (Q.S. Ar-Ra’du: 2). Allah juga mengajak kita berpikir bagaimana tetumbuhan yang berbagai macam bentuknya dan amat beragam buah, warna dan rasanya, ternyata semua disiram dengan satu jenis air! “وَفِي الأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاء وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ” Artinya: “Di bumi terdapat tempat-tempat yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama. Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasa. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.”. (Q.S. Ar-Ra’du: 4). Di akhir ayat di atas, Allah menjelaskan buah dari tafakur akan ciptaan-Nya; yakni agar kita menyadari akan kebesaran Allah jalla wa ‘ala. · Allah sebagai pemilik dan penguasa alam semesta. Kepemilikan dan kekuasaan Allah atas alam semesta ini bersifat mutlak dan sempurna. Dialah yang memerintah dan melarang, memberi balasan kebajikan dan menghukum, memberi dan menahan pemberian, memuliakan dan menghinakan, mengangkat dan menjatuhkan, menghidupkan dan mematikan, serta murka dan ridha. Dia pula yang mengampuni dosa, menolong orang yang tertimpa musibah, membantu orang yang terzalimi, membalas orang yang menzalimi, mengayakan orang miskin dan memiskinkan orang kaya, memberi orang yang meminta, serta perbuatan-perbuatan lain yang menunjukkan kekuasaan hakiki dan kepemilikan mutlak Allah jalla wa ‘ala [Lihat: Juhûd al-Imâm Ibn Qayyim al-Jauziyyah fî Taqrîr Tauhîd al-Asmâ’ wa ash-Shifât karya Dr. Walîd bin Muhammad al-‘Aliy (II/1295-1296)]. Tentunya, ini berbeda dengan kekuasaan manusia yang seringkali hanya bersifat semu atau formalitas belaka. Seperti seorang yang dipasang sebagai penguasa suatu daerah, namun pada kenyataannya, ternyata bukan dia yang menguasai daerah tersebut, dia hanyalah boneka. Sedangkan yang berkuasa di pasar adalah preman pasar, yang berkuasa di suatu komunitas tertentu adalah tokoh agama yang dikarismatikkan, yang berkuasa di salah satu bagian daerahnya adalah konglomerat, begitu seterusnya. Allah sebagai pengatur alam semesta. Dikisahkan bahwa suatu hari, Imam Abu Hanifah diajak berdebat oleh para ahli kalam yang kebetulan mereka mengingkari adanya pencipta dan pengatur alam semesta. Sebelum berdebat, Imam Abu Hanifah berkata, “Sebelum membahas permasalahan ini, saya ingin bertanya, ‘Percayakah kalian bahwa di sungai Dijlah (sungai di kota Baghdad), ada sebuah perahu yang memuat sendiri ke atasnya berbagai jenis bahan pangan dan yang lainnya, berlayar sendiri dari satu tepi ke tepi lainnya, serta menurunkan barang-barang yang ada di atasnya juga dengan sendirinya. Tanpa ada seorangpun yang menaikinya?’” Serta merta mereka menjawab, “Mustahil! Itu tidak mungkin terjadi!” “Andaikan itu mustahil terjadi atas sebuah perahu. Mungkinkah itu terjadi atas seluruh alam semesta ini, langit dan buminya??!” [Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahawiyyah karya Imam Ibn Abi al-‘Izz (I/135)]. Allah ta’ala berfirman, “خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى” Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan tujuan) benar, Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam, serta mengatur matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” (Q.S. Az-Zumar: 5). Belum lagi adanya pergantian musim sepanjang tahun. Bahkan, adanya pengaturan sistem dalam tubuh kita sendiri! Semisal pemasukan bahan makanan, pencernaan, pengolahan, penyerapan sari yang dibutuhkan tubuh, lalu pembuangan sisanya. Juga adanya pemfilteran racun-racun dalam darah secara rutin oleh ginjal. Ditambah pertahanan darah putih dari virus-virus yang masuk ke dalam tubuh. Dan masih banyak fenomena pengaturan lainnya dalam tubuh kita. “وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ” Artinya: “Dan (juga) dalam dirimu sendiri. Maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzariyat: 21). · Pelajaran berharga dari merenungi makna Rabbul ‘alamin Dengan menghayati nama Allah ini, yakni Rabbul ‘âlamîn kita akan memetik banyak pelajaran berharga sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan dunia yang fana ini. Di antara buah keimanan kita akan nama Allah ini: Dalam segala permasalahan, kesulitan, musibah dan yang semisal, kita hanya akan kembali kepada Allah jalla wa ‘ala; sebab di tangan-Nyalah segala sesuatu. Dialah Penguasa semua jagad raya ini dan Pemiliknya. Bukan kembali kepada para makhluk-Nya, apalagi kepada para dukun dan paranormal! Kita akan terjauh dari sifat sombong. Terkadang tatkala berhasil menciptakan sesuatu yang tidak bisa diciptakan orang lain, entah itu suatu penemuan ilmiah elektronik, peternakan, pertanian, atau apa saja, timbul dalam hati kita perasaan sombong; sebab merasa bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Andaikan bertafakur akan keagungan ciptaan Allah, kita akan sadar betapa kecilnya kita, sebab yang menciptakan penemu karya ilmiah tersebut, yakni kita sendiri, ternyata adalah Allah! Bukan hanya itu, Allah pulalah yang menciptakan penemu teori Relativitas; salah satu ilmuwan terbesar yang pernah dimiliki bumi; Albert Einstein. Allah juga yang menciptakan penemu komputer; John von Neumann. Dan Allah pula yang menciptakan segalanya, termasuk di dalamnya para pencipta dan penemu hal-hal yang menakjubkan di muka bumi. Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.Tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

3 Sifat Khawarij

Syaikhuna Syaikh Sholeh Al Fauzan ditanya, “Apakah di zaman ini ada yang masih membawa pemikiran Khawarij?”   Jawab beliau hafizhohullah, Ya Subhanallah .. Memang benar masih ada di zaman ini. Tidakkah perbuatan seperti ini adalah perbuatan Khawarij?! Yaitu mengkafirkan kaum muslimin. Yang lebih kejam lagi karena pemikiran semacam itu sampai-sampai mereka tega membunuh kaum muslimin dan benar-benar melampaui batas. Inilah madzhab Khawarij. Ada 3 sifat utama mereka: Mengkafirkan kaum muslimin Keluar dari taat pada penguasa Menghalalkan darah kaum muslimin Inilah model pemikiran Khawarij. Seandainya ada yang dalam hatinya pemikiran semacam itu, namun tidak ditunjukkan dalam ucapan dan perbuatan, tetap ia disebut Khawarij dalam aqidahnya dan pemikirannya. [Dinukil dari Fatawa Asy Syar’iyyah fil Qodhoya Al ‘Ashriyyah, hal. 86] *** Fatwa Syaikh Sholeh Al Fauzan di atas menunjukkan bagaimana Khawarij di zaman ini masih ada, bahkan akan terus bermunculan. Kami sengaja mengangkat fatwa tersebut untuk menunjukkan bahwa fenomena pemboman, teror dan kekerasan yang terjadi di negeri kita, tidak lepas dari peran Khawarij. Sifat mereka amat keras, jauh dari ulama, sehingga bertindak seenaknya. Mereka begitu mudah mengkafirkan penguasa. Bahkan para polisi dan tentara sebagai kaki tangan penguasa disebut para pembela thoghut. Maka wajar jika para Khawarij pernah melakukan teror bom bunuh diri di masjid kepolisian di hari barokah, hari Jumat. Itulah latar belakang mereka bisa melakukan pemboman. Awalnya dari pengkafiran, ujung-ujungnya adalah pengeboman. Salah satu pemimpin besar mereka saat ini telah divonis 15 tahun penjara. Walaupun di balik jeruji, namun pemikirannya tidak bisa terkungkung karena pemikiran rusak Khawarij telah menyebar ke mana-mana khususnya di kalangan para pemuda. Benarlah kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِى آخِرِ الزَّمَانِ ، حُدَّاثُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ “Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Iman mereka tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama mereka seperti terlepasnya anak panah dari busurnya“. (Muttafaqun ‘alaih). Tugas kita adalah belajar dan belajar serta terus dekat pada para ulama sehingga kita bisa benar dalam meniti jalan yang ditunjuki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ‘ummah, generasi emas dari umat ini. Semoga Allah menjauhkan kita dari pemikiran menyimpang dan menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Tagskhawarij ngebom

3 Sifat Khawarij

Syaikhuna Syaikh Sholeh Al Fauzan ditanya, “Apakah di zaman ini ada yang masih membawa pemikiran Khawarij?”   Jawab beliau hafizhohullah, Ya Subhanallah .. Memang benar masih ada di zaman ini. Tidakkah perbuatan seperti ini adalah perbuatan Khawarij?! Yaitu mengkafirkan kaum muslimin. Yang lebih kejam lagi karena pemikiran semacam itu sampai-sampai mereka tega membunuh kaum muslimin dan benar-benar melampaui batas. Inilah madzhab Khawarij. Ada 3 sifat utama mereka: Mengkafirkan kaum muslimin Keluar dari taat pada penguasa Menghalalkan darah kaum muslimin Inilah model pemikiran Khawarij. Seandainya ada yang dalam hatinya pemikiran semacam itu, namun tidak ditunjukkan dalam ucapan dan perbuatan, tetap ia disebut Khawarij dalam aqidahnya dan pemikirannya. [Dinukil dari Fatawa Asy Syar’iyyah fil Qodhoya Al ‘Ashriyyah, hal. 86] *** Fatwa Syaikh Sholeh Al Fauzan di atas menunjukkan bagaimana Khawarij di zaman ini masih ada, bahkan akan terus bermunculan. Kami sengaja mengangkat fatwa tersebut untuk menunjukkan bahwa fenomena pemboman, teror dan kekerasan yang terjadi di negeri kita, tidak lepas dari peran Khawarij. Sifat mereka amat keras, jauh dari ulama, sehingga bertindak seenaknya. Mereka begitu mudah mengkafirkan penguasa. Bahkan para polisi dan tentara sebagai kaki tangan penguasa disebut para pembela thoghut. Maka wajar jika para Khawarij pernah melakukan teror bom bunuh diri di masjid kepolisian di hari barokah, hari Jumat. Itulah latar belakang mereka bisa melakukan pemboman. Awalnya dari pengkafiran, ujung-ujungnya adalah pengeboman. Salah satu pemimpin besar mereka saat ini telah divonis 15 tahun penjara. Walaupun di balik jeruji, namun pemikirannya tidak bisa terkungkung karena pemikiran rusak Khawarij telah menyebar ke mana-mana khususnya di kalangan para pemuda. Benarlah kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِى آخِرِ الزَّمَانِ ، حُدَّاثُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ “Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Iman mereka tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama mereka seperti terlepasnya anak panah dari busurnya“. (Muttafaqun ‘alaih). Tugas kita adalah belajar dan belajar serta terus dekat pada para ulama sehingga kita bisa benar dalam meniti jalan yang ditunjuki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ‘ummah, generasi emas dari umat ini. Semoga Allah menjauhkan kita dari pemikiran menyimpang dan menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Tagskhawarij ngebom
Syaikhuna Syaikh Sholeh Al Fauzan ditanya, “Apakah di zaman ini ada yang masih membawa pemikiran Khawarij?”   Jawab beliau hafizhohullah, Ya Subhanallah .. Memang benar masih ada di zaman ini. Tidakkah perbuatan seperti ini adalah perbuatan Khawarij?! Yaitu mengkafirkan kaum muslimin. Yang lebih kejam lagi karena pemikiran semacam itu sampai-sampai mereka tega membunuh kaum muslimin dan benar-benar melampaui batas. Inilah madzhab Khawarij. Ada 3 sifat utama mereka: Mengkafirkan kaum muslimin Keluar dari taat pada penguasa Menghalalkan darah kaum muslimin Inilah model pemikiran Khawarij. Seandainya ada yang dalam hatinya pemikiran semacam itu, namun tidak ditunjukkan dalam ucapan dan perbuatan, tetap ia disebut Khawarij dalam aqidahnya dan pemikirannya. [Dinukil dari Fatawa Asy Syar’iyyah fil Qodhoya Al ‘Ashriyyah, hal. 86] *** Fatwa Syaikh Sholeh Al Fauzan di atas menunjukkan bagaimana Khawarij di zaman ini masih ada, bahkan akan terus bermunculan. Kami sengaja mengangkat fatwa tersebut untuk menunjukkan bahwa fenomena pemboman, teror dan kekerasan yang terjadi di negeri kita, tidak lepas dari peran Khawarij. Sifat mereka amat keras, jauh dari ulama, sehingga bertindak seenaknya. Mereka begitu mudah mengkafirkan penguasa. Bahkan para polisi dan tentara sebagai kaki tangan penguasa disebut para pembela thoghut. Maka wajar jika para Khawarij pernah melakukan teror bom bunuh diri di masjid kepolisian di hari barokah, hari Jumat. Itulah latar belakang mereka bisa melakukan pemboman. Awalnya dari pengkafiran, ujung-ujungnya adalah pengeboman. Salah satu pemimpin besar mereka saat ini telah divonis 15 tahun penjara. Walaupun di balik jeruji, namun pemikirannya tidak bisa terkungkung karena pemikiran rusak Khawarij telah menyebar ke mana-mana khususnya di kalangan para pemuda. Benarlah kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِى آخِرِ الزَّمَانِ ، حُدَّاثُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ “Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Iman mereka tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama mereka seperti terlepasnya anak panah dari busurnya“. (Muttafaqun ‘alaih). Tugas kita adalah belajar dan belajar serta terus dekat pada para ulama sehingga kita bisa benar dalam meniti jalan yang ditunjuki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ‘ummah, generasi emas dari umat ini. Semoga Allah menjauhkan kita dari pemikiran menyimpang dan menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Tagskhawarij ngebom


Syaikhuna Syaikh Sholeh Al Fauzan ditanya, “Apakah di zaman ini ada yang masih membawa pemikiran Khawarij?”   Jawab beliau hafizhohullah, Ya Subhanallah .. Memang benar masih ada di zaman ini. Tidakkah perbuatan seperti ini adalah perbuatan Khawarij?! Yaitu mengkafirkan kaum muslimin. Yang lebih kejam lagi karena pemikiran semacam itu sampai-sampai mereka tega membunuh kaum muslimin dan benar-benar melampaui batas. Inilah madzhab Khawarij. Ada 3 sifat utama mereka: Mengkafirkan kaum muslimin Keluar dari taat pada penguasa Menghalalkan darah kaum muslimin Inilah model pemikiran Khawarij. Seandainya ada yang dalam hatinya pemikiran semacam itu, namun tidak ditunjukkan dalam ucapan dan perbuatan, tetap ia disebut Khawarij dalam aqidahnya dan pemikirannya. [Dinukil dari Fatawa Asy Syar’iyyah fil Qodhoya Al ‘Ashriyyah, hal. 86] *** Fatwa Syaikh Sholeh Al Fauzan di atas menunjukkan bagaimana Khawarij di zaman ini masih ada, bahkan akan terus bermunculan. Kami sengaja mengangkat fatwa tersebut untuk menunjukkan bahwa fenomena pemboman, teror dan kekerasan yang terjadi di negeri kita, tidak lepas dari peran Khawarij. Sifat mereka amat keras, jauh dari ulama, sehingga bertindak seenaknya. Mereka begitu mudah mengkafirkan penguasa. Bahkan para polisi dan tentara sebagai kaki tangan penguasa disebut para pembela thoghut. Maka wajar jika para Khawarij pernah melakukan teror bom bunuh diri di masjid kepolisian di hari barokah, hari Jumat. Itulah latar belakang mereka bisa melakukan pemboman. Awalnya dari pengkafiran, ujung-ujungnya adalah pengeboman. Salah satu pemimpin besar mereka saat ini telah divonis 15 tahun penjara. Walaupun di balik jeruji, namun pemikirannya tidak bisa terkungkung karena pemikiran rusak Khawarij telah menyebar ke mana-mana khususnya di kalangan para pemuda. Benarlah kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِى آخِرِ الزَّمَانِ ، حُدَّاثُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ “Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Iman mereka tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama mereka seperti terlepasnya anak panah dari busurnya“. (Muttafaqun ‘alaih). Tugas kita adalah belajar dan belajar serta terus dekat pada para ulama sehingga kita bisa benar dalam meniti jalan yang ditunjuki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ‘ummah, generasi emas dari umat ini. Semoga Allah menjauhkan kita dari pemikiran menyimpang dan menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (16/06/2011) www.rumaysho.com Tagskhawarij ngebom

Aturan Islam dalam Olahraga Sepakbola

Di antara olah raga yang digandrungi para pria adalah bermain sepakbola. Di setiap penjuru negeri, dari kota hingga desa, menggemari olahraga yang satu ini. Dalam Islam, olahraga sepakbola asalnya boleh. Namun tentu saja kita mesti memperhatikan aturan Islam tentang olahraga yang satu ini. Olahraga sepakbola itu boleh dengan beberapa ketentuan[1]: Daftar Isi tutup Pertama: Tidak membuka aurat. Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Keenam: Jangan mudah emosi Pertama: Tidak membuka aurat. Aurat pria adalah antara pusar hingga lutut. Artinya antara pusar dan lutut tidak boleh dipandang. Lutut sendiri tidak termasuk aurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ “Karena di antara pusar dan lutut adalah aurat.”[2] Oleh karena itu, yang ingin bermain sepakbola hendaknya tidak mengenakan celana yang pendek sehingga kelihatan pahanya. Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, ulama senior di Saudi Arabia ditanya mengenai hukum bermain sepakbola oleh orang awam dan kapan terlarang, lalu apa batasan pakaian yang dibolehkan. Beliau hafizhohullah menjawab, “Bermain sepakbola itu boleh. Akan tetapi harus menutup aurat antara pusar dan lutut, wallahu a’lam.”[3] Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Alasannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membolehkan musabaqoh (perlombaan) dengan taruhan pada perkara tertentu saja. Perkara tersebut adalah yang dapat menegakkan islam, yaitu sebagai sarana untuk latihan berjihad. Perlombaan dengan taruhan yang dibolehkan disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ “Tidak ada taruhan kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.”[4] Sebagian ulama memperluas lagi perlombaan yang dibolehkan (dengan taruhan) yaitu perlombaan menghafal Al Qur’an, hadits dan berbagai macam ilmu agama. Karena menghafal di sini dalam rangka menjaga langgengnya ajaran Islam sehingga bernilai sama dengan lomba pacuan kuda atau lomba memanah. Lihat bahasan rumaysho.com lainnya tentang taruhan dalam lomba di sini. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Ini juga harus diperhatikan karena pria punya kewajiban shalat dan punya kewajiban berjama’ah di masjid. Jika shalat disia-siakan, maka perkara lainnya akan lebih dilalaikan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“[5] Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Tujuan bermain pun jelas untuk melatih fisik, membugarkan badan sebagaimana kita melakukan olahraga-olahraga lainnya. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Bermain bola haruslah memperhatikan waktu. Jangan sampai waktu kita jadi sia-sia karena seringnya bermain bola setiap saat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”[6] Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian. Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[7] Sangat baik sekali jika waktu senggang kita diisi dengan ibadah, menghafal Kitabullah, mempelajari Islam dan kegiatan manfaat lainnya. Baca artikel tentang hukum begadang karena nonton bola di sini. Keenam: Jangan mudah emosi Sebagai tambahan, ketika bermain sepakbola hendaklah menjaga amarah, jangan mudah emosi dan pandai-pandai menjaga lisan dari cacian. Karena sudah barang tentu kita akan mendapatkan perlakuan kasar dari teman bermain baik disengaja maupun tidak. Namun kita jangan sampai berbalik berlaku kasar. Teruslah berakhlak mulia. Dan tunjukkan bahwa Anda adalah seorang muslim yang baik dengan membalas kejelekan malah dengan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35 “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35). Sahabat yg mulia, Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.” Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”[8] Sehingga bermain bola pun butuh sikap sabar. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 13 Rajab 1432 H (15/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Hukum Menonton Pertandingan Bola [1] Syarat-syarat tersebut kami kembangkan dari tulisan pada link: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=19616 [2] HR. Ahmad 2/187, Al Baihaqi 2/229. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan. [3] Lihat fatwa Syaikh Al ‘Ubaikan dalam situs resmi beliau: http://al-obeikan.com/show_fatwa/1068.html [4] HR. Tirmidzi no. 1700, An Nasai no. 3585, Abu Daud no. 2574, Ibnu Majah no. 2878. Dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani [5] Ash Sholah, Ibnul Qayyim, hal. 12, terbitan Dar Al Imam Ahmad. [6] HR. Tirmidzi no. 2318, shahih lighoirihi kata Syaikh Al Albani. [7] Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, hal. 33, Darul ‘Aqidah. [8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/243, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.

Aturan Islam dalam Olahraga Sepakbola

Di antara olah raga yang digandrungi para pria adalah bermain sepakbola. Di setiap penjuru negeri, dari kota hingga desa, menggemari olahraga yang satu ini. Dalam Islam, olahraga sepakbola asalnya boleh. Namun tentu saja kita mesti memperhatikan aturan Islam tentang olahraga yang satu ini. Olahraga sepakbola itu boleh dengan beberapa ketentuan[1]: Daftar Isi tutup Pertama: Tidak membuka aurat. Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Keenam: Jangan mudah emosi Pertama: Tidak membuka aurat. Aurat pria adalah antara pusar hingga lutut. Artinya antara pusar dan lutut tidak boleh dipandang. Lutut sendiri tidak termasuk aurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ “Karena di antara pusar dan lutut adalah aurat.”[2] Oleh karena itu, yang ingin bermain sepakbola hendaknya tidak mengenakan celana yang pendek sehingga kelihatan pahanya. Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, ulama senior di Saudi Arabia ditanya mengenai hukum bermain sepakbola oleh orang awam dan kapan terlarang, lalu apa batasan pakaian yang dibolehkan. Beliau hafizhohullah menjawab, “Bermain sepakbola itu boleh. Akan tetapi harus menutup aurat antara pusar dan lutut, wallahu a’lam.”[3] Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Alasannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membolehkan musabaqoh (perlombaan) dengan taruhan pada perkara tertentu saja. Perkara tersebut adalah yang dapat menegakkan islam, yaitu sebagai sarana untuk latihan berjihad. Perlombaan dengan taruhan yang dibolehkan disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ “Tidak ada taruhan kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.”[4] Sebagian ulama memperluas lagi perlombaan yang dibolehkan (dengan taruhan) yaitu perlombaan menghafal Al Qur’an, hadits dan berbagai macam ilmu agama. Karena menghafal di sini dalam rangka menjaga langgengnya ajaran Islam sehingga bernilai sama dengan lomba pacuan kuda atau lomba memanah. Lihat bahasan rumaysho.com lainnya tentang taruhan dalam lomba di sini. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Ini juga harus diperhatikan karena pria punya kewajiban shalat dan punya kewajiban berjama’ah di masjid. Jika shalat disia-siakan, maka perkara lainnya akan lebih dilalaikan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“[5] Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Tujuan bermain pun jelas untuk melatih fisik, membugarkan badan sebagaimana kita melakukan olahraga-olahraga lainnya. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Bermain bola haruslah memperhatikan waktu. Jangan sampai waktu kita jadi sia-sia karena seringnya bermain bola setiap saat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”[6] Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian. Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[7] Sangat baik sekali jika waktu senggang kita diisi dengan ibadah, menghafal Kitabullah, mempelajari Islam dan kegiatan manfaat lainnya. Baca artikel tentang hukum begadang karena nonton bola di sini. Keenam: Jangan mudah emosi Sebagai tambahan, ketika bermain sepakbola hendaklah menjaga amarah, jangan mudah emosi dan pandai-pandai menjaga lisan dari cacian. Karena sudah barang tentu kita akan mendapatkan perlakuan kasar dari teman bermain baik disengaja maupun tidak. Namun kita jangan sampai berbalik berlaku kasar. Teruslah berakhlak mulia. Dan tunjukkan bahwa Anda adalah seorang muslim yang baik dengan membalas kejelekan malah dengan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35 “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35). Sahabat yg mulia, Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.” Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”[8] Sehingga bermain bola pun butuh sikap sabar. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 13 Rajab 1432 H (15/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Hukum Menonton Pertandingan Bola [1] Syarat-syarat tersebut kami kembangkan dari tulisan pada link: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=19616 [2] HR. Ahmad 2/187, Al Baihaqi 2/229. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan. [3] Lihat fatwa Syaikh Al ‘Ubaikan dalam situs resmi beliau: http://al-obeikan.com/show_fatwa/1068.html [4] HR. Tirmidzi no. 1700, An Nasai no. 3585, Abu Daud no. 2574, Ibnu Majah no. 2878. Dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani [5] Ash Sholah, Ibnul Qayyim, hal. 12, terbitan Dar Al Imam Ahmad. [6] HR. Tirmidzi no. 2318, shahih lighoirihi kata Syaikh Al Albani. [7] Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, hal. 33, Darul ‘Aqidah. [8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/243, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.
Di antara olah raga yang digandrungi para pria adalah bermain sepakbola. Di setiap penjuru negeri, dari kota hingga desa, menggemari olahraga yang satu ini. Dalam Islam, olahraga sepakbola asalnya boleh. Namun tentu saja kita mesti memperhatikan aturan Islam tentang olahraga yang satu ini. Olahraga sepakbola itu boleh dengan beberapa ketentuan[1]: Daftar Isi tutup Pertama: Tidak membuka aurat. Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Keenam: Jangan mudah emosi Pertama: Tidak membuka aurat. Aurat pria adalah antara pusar hingga lutut. Artinya antara pusar dan lutut tidak boleh dipandang. Lutut sendiri tidak termasuk aurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ “Karena di antara pusar dan lutut adalah aurat.”[2] Oleh karena itu, yang ingin bermain sepakbola hendaknya tidak mengenakan celana yang pendek sehingga kelihatan pahanya. Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, ulama senior di Saudi Arabia ditanya mengenai hukum bermain sepakbola oleh orang awam dan kapan terlarang, lalu apa batasan pakaian yang dibolehkan. Beliau hafizhohullah menjawab, “Bermain sepakbola itu boleh. Akan tetapi harus menutup aurat antara pusar dan lutut, wallahu a’lam.”[3] Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Alasannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membolehkan musabaqoh (perlombaan) dengan taruhan pada perkara tertentu saja. Perkara tersebut adalah yang dapat menegakkan islam, yaitu sebagai sarana untuk latihan berjihad. Perlombaan dengan taruhan yang dibolehkan disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ “Tidak ada taruhan kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.”[4] Sebagian ulama memperluas lagi perlombaan yang dibolehkan (dengan taruhan) yaitu perlombaan menghafal Al Qur’an, hadits dan berbagai macam ilmu agama. Karena menghafal di sini dalam rangka menjaga langgengnya ajaran Islam sehingga bernilai sama dengan lomba pacuan kuda atau lomba memanah. Lihat bahasan rumaysho.com lainnya tentang taruhan dalam lomba di sini. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Ini juga harus diperhatikan karena pria punya kewajiban shalat dan punya kewajiban berjama’ah di masjid. Jika shalat disia-siakan, maka perkara lainnya akan lebih dilalaikan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“[5] Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Tujuan bermain pun jelas untuk melatih fisik, membugarkan badan sebagaimana kita melakukan olahraga-olahraga lainnya. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Bermain bola haruslah memperhatikan waktu. Jangan sampai waktu kita jadi sia-sia karena seringnya bermain bola setiap saat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”[6] Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian. Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[7] Sangat baik sekali jika waktu senggang kita diisi dengan ibadah, menghafal Kitabullah, mempelajari Islam dan kegiatan manfaat lainnya. Baca artikel tentang hukum begadang karena nonton bola di sini. Keenam: Jangan mudah emosi Sebagai tambahan, ketika bermain sepakbola hendaklah menjaga amarah, jangan mudah emosi dan pandai-pandai menjaga lisan dari cacian. Karena sudah barang tentu kita akan mendapatkan perlakuan kasar dari teman bermain baik disengaja maupun tidak. Namun kita jangan sampai berbalik berlaku kasar. Teruslah berakhlak mulia. Dan tunjukkan bahwa Anda adalah seorang muslim yang baik dengan membalas kejelekan malah dengan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35 “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35). Sahabat yg mulia, Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.” Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”[8] Sehingga bermain bola pun butuh sikap sabar. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 13 Rajab 1432 H (15/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Hukum Menonton Pertandingan Bola [1] Syarat-syarat tersebut kami kembangkan dari tulisan pada link: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=19616 [2] HR. Ahmad 2/187, Al Baihaqi 2/229. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan. [3] Lihat fatwa Syaikh Al ‘Ubaikan dalam situs resmi beliau: http://al-obeikan.com/show_fatwa/1068.html [4] HR. Tirmidzi no. 1700, An Nasai no. 3585, Abu Daud no. 2574, Ibnu Majah no. 2878. Dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani [5] Ash Sholah, Ibnul Qayyim, hal. 12, terbitan Dar Al Imam Ahmad. [6] HR. Tirmidzi no. 2318, shahih lighoirihi kata Syaikh Al Albani. [7] Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, hal. 33, Darul ‘Aqidah. [8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/243, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.


Di antara olah raga yang digandrungi para pria adalah bermain sepakbola. Di setiap penjuru negeri, dari kota hingga desa, menggemari olahraga yang satu ini. Dalam Islam, olahraga sepakbola asalnya boleh. Namun tentu saja kita mesti memperhatikan aturan Islam tentang olahraga yang satu ini. Olahraga sepakbola itu boleh dengan beberapa ketentuan[1]: Daftar Isi tutup Pertama: Tidak membuka aurat. Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Keenam: Jangan mudah emosi Pertama: Tidak membuka aurat. Aurat pria adalah antara pusar hingga lutut. Artinya antara pusar dan lutut tidak boleh dipandang. Lutut sendiri tidak termasuk aurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ “Karena di antara pusar dan lutut adalah aurat.”[2] Oleh karena itu, yang ingin bermain sepakbola hendaknya tidak mengenakan celana yang pendek sehingga kelihatan pahanya. Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, ulama senior di Saudi Arabia ditanya mengenai hukum bermain sepakbola oleh orang awam dan kapan terlarang, lalu apa batasan pakaian yang dibolehkan. Beliau hafizhohullah menjawab, “Bermain sepakbola itu boleh. Akan tetapi harus menutup aurat antara pusar dan lutut, wallahu a’lam.”[3] Kedua: Bermain bola tidak dengan taruhan. Alasannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membolehkan musabaqoh (perlombaan) dengan taruhan pada perkara tertentu saja. Perkara tersebut adalah yang dapat menegakkan islam, yaitu sebagai sarana untuk latihan berjihad. Perlombaan dengan taruhan yang dibolehkan disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ “Tidak ada taruhan kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.”[4] Sebagian ulama memperluas lagi perlombaan yang dibolehkan (dengan taruhan) yaitu perlombaan menghafal Al Qur’an, hadits dan berbagai macam ilmu agama. Karena menghafal di sini dalam rangka menjaga langgengnya ajaran Islam sehingga bernilai sama dengan lomba pacuan kuda atau lomba memanah. Lihat bahasan rumaysho.com lainnya tentang taruhan dalam lomba di sini. Ketiga: Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Ini juga harus diperhatikan karena pria punya kewajiban shalat dan punya kewajiban berjama’ah di masjid. Jika shalat disia-siakan, maka perkara lainnya akan lebih dilalaikan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“[5] Keempat: Tujuan bermain sepakbola adalah untuk membugarkan badan. Tujuan bermain pun jelas untuk melatih fisik, membugarkan badan sebagaimana kita melakukan olahraga-olahraga lainnya. Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu Bermain bola haruslah memperhatikan waktu. Jangan sampai waktu kita jadi sia-sia karena seringnya bermain bola setiap saat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”[6] Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian. Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[7] Sangat baik sekali jika waktu senggang kita diisi dengan ibadah, menghafal Kitabullah, mempelajari Islam dan kegiatan manfaat lainnya. Baca artikel tentang hukum begadang karena nonton bola di sini. Keenam: Jangan mudah emosi Sebagai tambahan, ketika bermain sepakbola hendaklah menjaga amarah, jangan mudah emosi dan pandai-pandai menjaga lisan dari cacian. Karena sudah barang tentu kita akan mendapatkan perlakuan kasar dari teman bermain baik disengaja maupun tidak. Namun kita jangan sampai berbalik berlaku kasar. Teruslah berakhlak mulia. Dan tunjukkan bahwa Anda adalah seorang muslim yang baik dengan membalas kejelekan malah dengan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35 “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35). Sahabat yg mulia, Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.” Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”[8] Sehingga bermain bola pun butuh sikap sabar. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 13 Rajab 1432 H (15/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Hukum Memakai Kaos Bola Bersimbolkan Salib Hukum Menonton Pertandingan Bola [1] Syarat-syarat tersebut kami kembangkan dari tulisan pada link: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=19616 [2] HR. Ahmad 2/187, Al Baihaqi 2/229. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan. [3] Lihat fatwa Syaikh Al ‘Ubaikan dalam situs resmi beliau: http://al-obeikan.com/show_fatwa/1068.html [4] HR. Tirmidzi no. 1700, An Nasai no. 3585, Abu Daud no. 2574, Ibnu Majah no. 2878. Dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani [5] Ash Sholah, Ibnul Qayyim, hal. 12, terbitan Dar Al Imam Ahmad. [6] HR. Tirmidzi no. 2318, shahih lighoirihi kata Syaikh Al Albani. [7] Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, hal. 33, Darul ‘Aqidah. [8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/243, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.

Berdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 2)

15JunBerdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 2)June 15, 2011Akhlak, Belajar Islam, Pilihan Redaksi Perintah untuk Berakhlak Mulia Sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya. Begitu banyak dalil dalam al-Quran maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya: Firman Allah ta’ala tatkala memuji Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ” Artinya: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Q.S. Al-Qalam: 4). Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ” “Berakhlak mulialah dengan para manusia.” (H.R. Tirmidzy (hal. 449 no. 1987) dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan sahih). Apa itu Akhlak Mulia? Banyak definisi yang ditawarkan para ulama, di antara yang penulis anggap cukup mewakili: “بَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالُ الْأَذَى” “Akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri tatkala disakiti.” [Lihat: Ikhtiyar al-Ûlâ fî Syarh Hadîts al-Mala’ al-A’lâ karya Imam Ibn Rajab, sebagaimana dalam Majmû’ Rasâ’il al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbaly (IV/44) dan Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/318-319)]. Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam: Melakukan kebaikan kepada orang lain. Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya. Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain. Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal. Menahan diri tatkala disakiti. Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa. -bersambung insya Allah– Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Berdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 2)

15JunBerdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 2)June 15, 2011Akhlak, Belajar Islam, Pilihan Redaksi Perintah untuk Berakhlak Mulia Sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya. Begitu banyak dalil dalam al-Quran maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya: Firman Allah ta’ala tatkala memuji Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ” Artinya: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Q.S. Al-Qalam: 4). Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ” “Berakhlak mulialah dengan para manusia.” (H.R. Tirmidzy (hal. 449 no. 1987) dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan sahih). Apa itu Akhlak Mulia? Banyak definisi yang ditawarkan para ulama, di antara yang penulis anggap cukup mewakili: “بَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالُ الْأَذَى” “Akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri tatkala disakiti.” [Lihat: Ikhtiyar al-Ûlâ fî Syarh Hadîts al-Mala’ al-A’lâ karya Imam Ibn Rajab, sebagaimana dalam Majmû’ Rasâ’il al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbaly (IV/44) dan Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/318-319)]. Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam: Melakukan kebaikan kepada orang lain. Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya. Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain. Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal. Menahan diri tatkala disakiti. Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa. -bersambung insya Allah– Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
15JunBerdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 2)June 15, 2011Akhlak, Belajar Islam, Pilihan Redaksi Perintah untuk Berakhlak Mulia Sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya. Begitu banyak dalil dalam al-Quran maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya: Firman Allah ta’ala tatkala memuji Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ” Artinya: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Q.S. Al-Qalam: 4). Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ” “Berakhlak mulialah dengan para manusia.” (H.R. Tirmidzy (hal. 449 no. 1987) dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan sahih). Apa itu Akhlak Mulia? Banyak definisi yang ditawarkan para ulama, di antara yang penulis anggap cukup mewakili: “بَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالُ الْأَذَى” “Akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri tatkala disakiti.” [Lihat: Ikhtiyar al-Ûlâ fî Syarh Hadîts al-Mala’ al-A’lâ karya Imam Ibn Rajab, sebagaimana dalam Majmû’ Rasâ’il al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbaly (IV/44) dan Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/318-319)]. Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam: Melakukan kebaikan kepada orang lain. Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya. Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain. Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal. Menahan diri tatkala disakiti. Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa. -bersambung insya Allah– Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


15JunBerdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 2)June 15, 2011Akhlak, Belajar Islam, Pilihan Redaksi Perintah untuk Berakhlak Mulia Sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya. Begitu banyak dalil dalam al-Quran maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya: Firman Allah ta’ala tatkala memuji Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ” Artinya: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Q.S. Al-Qalam: 4). Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ” “Berakhlak mulialah dengan para manusia.” (H.R. Tirmidzy (hal. 449 no. 1987) dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan sahih). Apa itu Akhlak Mulia? Banyak definisi yang ditawarkan para ulama, di antara yang penulis anggap cukup mewakili: “بَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالُ الْأَذَى” “Akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri tatkala disakiti.” [Lihat: Ikhtiyar al-Ûlâ fî Syarh Hadîts al-Mala’ al-A’lâ karya Imam Ibn Rajab, sebagaimana dalam Majmû’ Rasâ’il al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbaly (IV/44) dan Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/318-319)]. Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam: Melakukan kebaikan kepada orang lain. Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya. Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain. Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal. Menahan diri tatkala disakiti. Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa. -bersambung insya Allah– Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Berdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 1)

14JunBerdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 1)June 14, 2011Akhlak, Belajar Islam, Pilihan Redaksi Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah renungan dari sepenggal kisah nyata Beberapa saat lalu, penulis diceritai adik ipar kisah seorang mantan preman yang mendapatkan hidayah mengenal manhaj salaf. Katanya, dulu ketika masih preman, ia amat dibenci masyarakat kampungnya; karena ke-rese-annya; gemar mabuk, berjudi, mengganggu orang lain dan seabrek perilaku negatif lain yang merugikan masyarakat. Namun, tidak ada seorangpun yang berani menegurnya; karena takut mendapatkan hadiah bogem mentah. Dengan berjalannya waktu, Allah ta’ala berkenan mengaruniakan hidayah kepada orang tersebut. Dia mengenal ajaran Ahlus Sunnah dan intens dengan manhaj salaf. Namun demikian, setelah ia berubah menjadi orang yang salih dan alim, ia tidak kemudian disenangi masyarakatnya, malahan mereka tetap membencinya. Padahal ia tidak lagi mempraktikkan tindak-tindak kepremanannya yang dulu. Bahkan, kalau dulu masyarakatnya tidak berani menegurnya, sekarang malah berani memarahinya, bahkan menyidangnya pula. Apa pasalnya? Ternyata kebencian tersebut dipicu dari sikap kaku dan keras orang tersebut, juga kekurangpiawaiannya dalam membawa diri di masyarakat. Dulu dibenci karena kepremanannya, sekarang dibenci karena ‘kesalihan’nya… Haruskah orang yang menganut manhaj salaf dibenci masyarakatnya? Apakah itu merupakan sebuah resiko yang tidak terelakkan? Adakah kiat khusus untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalisirnya? Memang betul seorang yang teguh memegang kebenaran, ia akan menghadapi tantangan. Sedangkan di zaman Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam dan kurun ulama salaf saja, ada tantangan bagi pengusung kebenaran, apalagi di akhir zaman ini, di mana kejahatan lebih mendominasi dunia dibanding kebaikan. Namun yang perlu menjadi catatan di sini, apakah kebencian yang muncul di banyak masyarakat kepada para pengikut manhaj salaf, murni diakibatkan kekokohan mereka dalam berpegang teguh terhadap prinsip, atau dikarenakan kekurangbisaan mereka dalam membawa diri, kekurangpiawaian dalam menjelaskan prinsip dan kekurangpandaian dalam menetralisir pandangan miring masyarakat terhadap prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dengan penerapan akhlak mulia? Atau mungkin juga karena enggan melakukan sesuatu yang dikira terlarang, padahal sebenarnya boleh atau justru disyariatkan? Berdasarkan pengamatan terbatas penulis, juga kisah-kisah nyata yang masuk, nampaknya faktor terakhir lebih dominan. Dalam makalah sederhana ini, dengan memohon taufik dari Allah semata, penulis berusaha memaparkan peran besar akhlak mulia dalam meredam kebencian masyarakat terhadap pengusung kebenaran, bahkan dalam menarik mereka untuk mengikuti kebenaran tersebut. -bersambung insya Allah– Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Berdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 1)

14JunBerdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 1)June 14, 2011Akhlak, Belajar Islam, Pilihan Redaksi Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah renungan dari sepenggal kisah nyata Beberapa saat lalu, penulis diceritai adik ipar kisah seorang mantan preman yang mendapatkan hidayah mengenal manhaj salaf. Katanya, dulu ketika masih preman, ia amat dibenci masyarakat kampungnya; karena ke-rese-annya; gemar mabuk, berjudi, mengganggu orang lain dan seabrek perilaku negatif lain yang merugikan masyarakat. Namun, tidak ada seorangpun yang berani menegurnya; karena takut mendapatkan hadiah bogem mentah. Dengan berjalannya waktu, Allah ta’ala berkenan mengaruniakan hidayah kepada orang tersebut. Dia mengenal ajaran Ahlus Sunnah dan intens dengan manhaj salaf. Namun demikian, setelah ia berubah menjadi orang yang salih dan alim, ia tidak kemudian disenangi masyarakatnya, malahan mereka tetap membencinya. Padahal ia tidak lagi mempraktikkan tindak-tindak kepremanannya yang dulu. Bahkan, kalau dulu masyarakatnya tidak berani menegurnya, sekarang malah berani memarahinya, bahkan menyidangnya pula. Apa pasalnya? Ternyata kebencian tersebut dipicu dari sikap kaku dan keras orang tersebut, juga kekurangpiawaiannya dalam membawa diri di masyarakat. Dulu dibenci karena kepremanannya, sekarang dibenci karena ‘kesalihan’nya… Haruskah orang yang menganut manhaj salaf dibenci masyarakatnya? Apakah itu merupakan sebuah resiko yang tidak terelakkan? Adakah kiat khusus untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalisirnya? Memang betul seorang yang teguh memegang kebenaran, ia akan menghadapi tantangan. Sedangkan di zaman Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam dan kurun ulama salaf saja, ada tantangan bagi pengusung kebenaran, apalagi di akhir zaman ini, di mana kejahatan lebih mendominasi dunia dibanding kebaikan. Namun yang perlu menjadi catatan di sini, apakah kebencian yang muncul di banyak masyarakat kepada para pengikut manhaj salaf, murni diakibatkan kekokohan mereka dalam berpegang teguh terhadap prinsip, atau dikarenakan kekurangbisaan mereka dalam membawa diri, kekurangpiawaian dalam menjelaskan prinsip dan kekurangpandaian dalam menetralisir pandangan miring masyarakat terhadap prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dengan penerapan akhlak mulia? Atau mungkin juga karena enggan melakukan sesuatu yang dikira terlarang, padahal sebenarnya boleh atau justru disyariatkan? Berdasarkan pengamatan terbatas penulis, juga kisah-kisah nyata yang masuk, nampaknya faktor terakhir lebih dominan. Dalam makalah sederhana ini, dengan memohon taufik dari Allah semata, penulis berusaha memaparkan peran besar akhlak mulia dalam meredam kebencian masyarakat terhadap pengusung kebenaran, bahkan dalam menarik mereka untuk mengikuti kebenaran tersebut. -bersambung insya Allah– Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
14JunBerdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 1)June 14, 2011Akhlak, Belajar Islam, Pilihan Redaksi Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah renungan dari sepenggal kisah nyata Beberapa saat lalu, penulis diceritai adik ipar kisah seorang mantan preman yang mendapatkan hidayah mengenal manhaj salaf. Katanya, dulu ketika masih preman, ia amat dibenci masyarakat kampungnya; karena ke-rese-annya; gemar mabuk, berjudi, mengganggu orang lain dan seabrek perilaku negatif lain yang merugikan masyarakat. Namun, tidak ada seorangpun yang berani menegurnya; karena takut mendapatkan hadiah bogem mentah. Dengan berjalannya waktu, Allah ta’ala berkenan mengaruniakan hidayah kepada orang tersebut. Dia mengenal ajaran Ahlus Sunnah dan intens dengan manhaj salaf. Namun demikian, setelah ia berubah menjadi orang yang salih dan alim, ia tidak kemudian disenangi masyarakatnya, malahan mereka tetap membencinya. Padahal ia tidak lagi mempraktikkan tindak-tindak kepremanannya yang dulu. Bahkan, kalau dulu masyarakatnya tidak berani menegurnya, sekarang malah berani memarahinya, bahkan menyidangnya pula. Apa pasalnya? Ternyata kebencian tersebut dipicu dari sikap kaku dan keras orang tersebut, juga kekurangpiawaiannya dalam membawa diri di masyarakat. Dulu dibenci karena kepremanannya, sekarang dibenci karena ‘kesalihan’nya… Haruskah orang yang menganut manhaj salaf dibenci masyarakatnya? Apakah itu merupakan sebuah resiko yang tidak terelakkan? Adakah kiat khusus untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalisirnya? Memang betul seorang yang teguh memegang kebenaran, ia akan menghadapi tantangan. Sedangkan di zaman Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam dan kurun ulama salaf saja, ada tantangan bagi pengusung kebenaran, apalagi di akhir zaman ini, di mana kejahatan lebih mendominasi dunia dibanding kebaikan. Namun yang perlu menjadi catatan di sini, apakah kebencian yang muncul di banyak masyarakat kepada para pengikut manhaj salaf, murni diakibatkan kekokohan mereka dalam berpegang teguh terhadap prinsip, atau dikarenakan kekurangbisaan mereka dalam membawa diri, kekurangpiawaian dalam menjelaskan prinsip dan kekurangpandaian dalam menetralisir pandangan miring masyarakat terhadap prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dengan penerapan akhlak mulia? Atau mungkin juga karena enggan melakukan sesuatu yang dikira terlarang, padahal sebenarnya boleh atau justru disyariatkan? Berdasarkan pengamatan terbatas penulis, juga kisah-kisah nyata yang masuk, nampaknya faktor terakhir lebih dominan. Dalam makalah sederhana ini, dengan memohon taufik dari Allah semata, penulis berusaha memaparkan peran besar akhlak mulia dalam meredam kebencian masyarakat terhadap pengusung kebenaran, bahkan dalam menarik mereka untuk mengikuti kebenaran tersebut. -bersambung insya Allah– Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


14JunBerdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 1)June 14, 2011Akhlak, Belajar Islam, Pilihan Redaksi Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah renungan dari sepenggal kisah nyata Beberapa saat lalu, penulis diceritai adik ipar kisah seorang mantan preman yang mendapatkan hidayah mengenal manhaj salaf. Katanya, dulu ketika masih preman, ia amat dibenci masyarakat kampungnya; karena ke-rese-annya; gemar mabuk, berjudi, mengganggu orang lain dan seabrek perilaku negatif lain yang merugikan masyarakat. Namun, tidak ada seorangpun yang berani menegurnya; karena takut mendapatkan hadiah bogem mentah. Dengan berjalannya waktu, Allah ta’ala berkenan mengaruniakan hidayah kepada orang tersebut. Dia mengenal ajaran Ahlus Sunnah dan intens dengan manhaj salaf. Namun demikian, setelah ia berubah menjadi orang yang salih dan alim, ia tidak kemudian disenangi masyarakatnya, malahan mereka tetap membencinya. Padahal ia tidak lagi mempraktikkan tindak-tindak kepremanannya yang dulu. Bahkan, kalau dulu masyarakatnya tidak berani menegurnya, sekarang malah berani memarahinya, bahkan menyidangnya pula. Apa pasalnya? Ternyata kebencian tersebut dipicu dari sikap kaku dan keras orang tersebut, juga kekurangpiawaiannya dalam membawa diri di masyarakat. Dulu dibenci karena kepremanannya, sekarang dibenci karena ‘kesalihan’nya… Haruskah orang yang menganut manhaj salaf dibenci masyarakatnya? Apakah itu merupakan sebuah resiko yang tidak terelakkan? Adakah kiat khusus untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalisirnya? Memang betul seorang yang teguh memegang kebenaran, ia akan menghadapi tantangan. Sedangkan di zaman Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam dan kurun ulama salaf saja, ada tantangan bagi pengusung kebenaran, apalagi di akhir zaman ini, di mana kejahatan lebih mendominasi dunia dibanding kebaikan. Namun yang perlu menjadi catatan di sini, apakah kebencian yang muncul di banyak masyarakat kepada para pengikut manhaj salaf, murni diakibatkan kekokohan mereka dalam berpegang teguh terhadap prinsip, atau dikarenakan kekurangbisaan mereka dalam membawa diri, kekurangpiawaian dalam menjelaskan prinsip dan kekurangpandaian dalam menetralisir pandangan miring masyarakat terhadap prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dengan penerapan akhlak mulia? Atau mungkin juga karena enggan melakukan sesuatu yang dikira terlarang, padahal sebenarnya boleh atau justru disyariatkan? Berdasarkan pengamatan terbatas penulis, juga kisah-kisah nyata yang masuk, nampaknya faktor terakhir lebih dominan. Dalam makalah sederhana ini, dengan memohon taufik dari Allah semata, penulis berusaha memaparkan peran besar akhlak mulia dalam meredam kebencian masyarakat terhadap pengusung kebenaran, bahkan dalam menarik mereka untuk mengikuti kebenaran tersebut. -bersambung insya Allah– Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Top 10 Website Islami

Saat ini ada banyak sekali website Islami yang sekarang ada di jagat maya Indonesia. Ribuan bahkan mungkin puluhan ribu website/blog Islami di Indonesia ini. Alhamdulillaah, ini adalah sebuah nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanda bangkitnya dakwah Islam di dunia pada umumnya, dan di Indonesia pada khususnya. Dan website-website tersebut, terbagi dalam berbagai kategori dan tema masing-masing. Alhamdulillaah. Namun dengan banyaknya website yang tersedia tersebut, hal ini menjadi sebuah kebingungan tersendiri bagi banyak orang, terutama mengenai mana website Islami yang terbaik dan terlengkap berdasar kategori masing-masingnya. Karenanya, berikut kami mencoba untuk memilihkan 10 website Islami berbahasa Indonesia terbaik dalam kategorinya masing-masing, untuk membantu Anda semua. Daftar Isi tutup 1. Artikel Islami : Muslim.or.id 2. Artikel Muslimah : Muslimah.or.id 3. Search Engine Islami : Yufid.com 4. Download Video Ceramah : Yufid.tv 5. Download Audio Ceramah : Kajian.net 6. Download Umum (software, ebook, dll) : IslamDownload.net 7. Wirausaha/Bisnis Islami : PengusahaMuslim.com 8. Tanya-Jawab Islami : KonsultasiSyariah.com 9. Belajar Bahasa Arab : BadarOnline.com 10. Facebook Page : Facebook.com/Rumaysho 1. Artikel Islami : Muslim.or.id Muslim.or.id adalah sebuah website umum yang berisikan ribuan artikel Islami yang bermanfaat. Kelebihan dari website yang satu ini dibanding website lainnya adalah cara penulisan artikelnya yang ilmiah (penuh dalil, dengan penyebutan sumbernya) dan gaya bahasa yang ringan. Mudah untuk difahami bahkan untuk yang baru belajar Islam. Sebenarnya ada lagi yang cukup bagus, yaitu Almanhaj.or.id. Kalau yang satu ini lebih simple, hanya saja kurang interaktif. Jadi, kami masih lebih memilih muslim.or.id. 2. Artikel Muslimah : Muslimah.or.id Website yang satu ini adalah “saudari kandung” dari website muslim.or.id. Sama seperti “saudara kandung”-nya, website ini pun menyajikan artikel-artikel Ilmiah Islami untuk para pembacanya. Satu hal yang membedakan dengan muslim.or.id adalah, website muslimah.or.id ini lebih ditujukan untuk muslimah. Bagi Anda para wanita, insyaaAllah bisa menarik berbagai manfaat dari website ini. 3. Search Engine Islami : Yufid.com Pernah bingung mencari artikel Islami di internet? Tidak dapat artikel yang diinginkan walau sudah lama “googling”? Coba Yufid.com! Website yang satu ini merupakan sebuah “simple search engine” khusus untuk artikel-artikel Islami. Anda bisa manfaatkan web ini untuk mendapat hasil pencarian artikel Islami secara cepat, akurat dan mudah, insyaaAllah. 4. Download Video Ceramah : Yufid.tv Yufid.tv adalah sebuah website yang menyediakan berbagai rekaman ceramah asatidz (ustadz-ustadz) dari seluruh Indonesia dalam bentuk video. Walau bukan website download rekaman ceramah pertama di Indonesia, menurut kami hingga saat artikel ini ditulis, Yufid.tv adalah yang terbaik dari beberapa segi : isi materinya, dan juga desainnya. 5. Download Audio Ceramah : Kajian.net Kajian.net, seperti namanya, menyediakan berbagai rekaman kajian-kajian (ceramah) Islami yang bisa Anda download dengan gratis. Rekaman-rekamannya didapatkan dari berbagai ceramah ustadz-ustadz di berbagai daerah. Cocok didengar sambil bekerja/belajar, maupun untuk teman di perjalanan. 6. Download Umum (software, ebook, dll) : IslamDownload.net Salah satu website yang “paling lengkap” dan juga “paling tua” umurnya di Indonesia (sejak tahun 2007), dalam kategori download Islami umum. Di website yang satu ini tersedia lebih dari 2.500+ file Islami yang bisa Anda download, manfaatkan, dan Anda sebarkan ulang. 7. Wirausaha/Bisnis Islami : PengusahaMuslim.com Islam tidak hanya mengajarkan tentang ‘Aqidah, Syari’ah (Fikih), Tafsir Qur’an, Hadits dan berbagai “Ilmu Akhirat” saja. Akan tetapi, Islam juga mengatur berbagai masalah terkait kehidupan manusia di dunia yang lainnya. Salah satunya, peraturan tentang bisnis secara Islami. Untuk Anda yang tertarik, bisa dicoba untuk berkunjung ke website ini. 8. Tanya-Jawab Islami : KonsultasiSyariah.com Jika Anda pernah punya pertanyaan terkait Islam yang membuat Anda bingung akan jawabannya? Di saat seperti itu, Anda perlu untuk mencari jawabannya dengan bertanya kepada seorang ustadz/seorang ulama. Akan tetapi persoalannya, bagaimana kalau tidak ada ustadz/ulama yang bisa ditanyai di sekitar Anda? Jika Anda berada di dalam kondisi seperti itu, mungkin website KonsultasiSyariah.com ini bisa menjadi salah satu solusinya. Di dalamnya ada banyak sekali artikel tanya-jawab seputar masalah Agama Islam yang insyaaAllah sangat bermanfaat. Siapa tahu salah satu pertanyaan yang “bersarang” di benak Anda sudah ada jawabannya di sana. 9. Belajar Bahasa Arab : BadarOnline.com Bahasa Arab adalah bahasa Qur’an. Bahasa Arab adalah bahasa Hadits. Bahasa Arab adalah bahasa Islam. Betapa pentingnya bahasa Arab! Jika Anda pernah berminat untuk belajar bahasa Arab namun memiliki kendala jarak dan waktu untuk belajar “tatap muka” dengan seorang guru, atau sudah belajar tatap muka di tempat lain dan ingin menambah ilmu Anda tentang bahasa Arab, situs ini bisa Anda coba. 10. Facebook Page : Facebook.com/Rumaysho Rumaysho namanya. Sebuah Facebook (FB) Page yang berisi khusus tentang dakwah Islami. Saat ini, halaman ini sudah memiliki setidaknya 520.000+ penggemar. Alhamdulillaah wa subhaanAllah. Salah satu yang membuat FB Page ini bernilai “lebih” dari website lainnya, adalah rutinnya update yang dilakukan dan ilmiahnya pembahasan yang dibawakan. Dan hal itulah salah satu hal yang membuat kami menganggap FB Page ini yang terbaik di Indonesia, untuk saat ini. Untuk yang terakhir, sebenarnya kurang tepat jika disebut sebagai “website”, karena pada faktanya yang satu ini berupa “Facebook Page”. Namun karena Facebook Page yang satu ini adalah sebuah “halaman resmi” dari website Rumaysho.com, kami memasukkannya dalam kategori “website”. Demikianlah 10 website Islami terbaik berdasar kategori masing-masing. Semoga bermanfaat, dan mohon disebarkan kepada teman/saudara Anda yang lainnya. Semoga menjadi amal shalih (pahala) bagi Anda. Wassalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh. Sumber:  https://islamdownload.net/65030-top-10-website-islami.html Dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Baca Juga: 3 Manfaat Besar Berkunjung ke Website Islam Website Para Ustadz

Top 10 Website Islami

Saat ini ada banyak sekali website Islami yang sekarang ada di jagat maya Indonesia. Ribuan bahkan mungkin puluhan ribu website/blog Islami di Indonesia ini. Alhamdulillaah, ini adalah sebuah nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanda bangkitnya dakwah Islam di dunia pada umumnya, dan di Indonesia pada khususnya. Dan website-website tersebut, terbagi dalam berbagai kategori dan tema masing-masing. Alhamdulillaah. Namun dengan banyaknya website yang tersedia tersebut, hal ini menjadi sebuah kebingungan tersendiri bagi banyak orang, terutama mengenai mana website Islami yang terbaik dan terlengkap berdasar kategori masing-masingnya. Karenanya, berikut kami mencoba untuk memilihkan 10 website Islami berbahasa Indonesia terbaik dalam kategorinya masing-masing, untuk membantu Anda semua. Daftar Isi tutup 1. Artikel Islami : Muslim.or.id 2. Artikel Muslimah : Muslimah.or.id 3. Search Engine Islami : Yufid.com 4. Download Video Ceramah : Yufid.tv 5. Download Audio Ceramah : Kajian.net 6. Download Umum (software, ebook, dll) : IslamDownload.net 7. Wirausaha/Bisnis Islami : PengusahaMuslim.com 8. Tanya-Jawab Islami : KonsultasiSyariah.com 9. Belajar Bahasa Arab : BadarOnline.com 10. Facebook Page : Facebook.com/Rumaysho 1. Artikel Islami : Muslim.or.id Muslim.or.id adalah sebuah website umum yang berisikan ribuan artikel Islami yang bermanfaat. Kelebihan dari website yang satu ini dibanding website lainnya adalah cara penulisan artikelnya yang ilmiah (penuh dalil, dengan penyebutan sumbernya) dan gaya bahasa yang ringan. Mudah untuk difahami bahkan untuk yang baru belajar Islam. Sebenarnya ada lagi yang cukup bagus, yaitu Almanhaj.or.id. Kalau yang satu ini lebih simple, hanya saja kurang interaktif. Jadi, kami masih lebih memilih muslim.or.id. 2. Artikel Muslimah : Muslimah.or.id Website yang satu ini adalah “saudari kandung” dari website muslim.or.id. Sama seperti “saudara kandung”-nya, website ini pun menyajikan artikel-artikel Ilmiah Islami untuk para pembacanya. Satu hal yang membedakan dengan muslim.or.id adalah, website muslimah.or.id ini lebih ditujukan untuk muslimah. Bagi Anda para wanita, insyaaAllah bisa menarik berbagai manfaat dari website ini. 3. Search Engine Islami : Yufid.com Pernah bingung mencari artikel Islami di internet? Tidak dapat artikel yang diinginkan walau sudah lama “googling”? Coba Yufid.com! Website yang satu ini merupakan sebuah “simple search engine” khusus untuk artikel-artikel Islami. Anda bisa manfaatkan web ini untuk mendapat hasil pencarian artikel Islami secara cepat, akurat dan mudah, insyaaAllah. 4. Download Video Ceramah : Yufid.tv Yufid.tv adalah sebuah website yang menyediakan berbagai rekaman ceramah asatidz (ustadz-ustadz) dari seluruh Indonesia dalam bentuk video. Walau bukan website download rekaman ceramah pertama di Indonesia, menurut kami hingga saat artikel ini ditulis, Yufid.tv adalah yang terbaik dari beberapa segi : isi materinya, dan juga desainnya. 5. Download Audio Ceramah : Kajian.net Kajian.net, seperti namanya, menyediakan berbagai rekaman kajian-kajian (ceramah) Islami yang bisa Anda download dengan gratis. Rekaman-rekamannya didapatkan dari berbagai ceramah ustadz-ustadz di berbagai daerah. Cocok didengar sambil bekerja/belajar, maupun untuk teman di perjalanan. 6. Download Umum (software, ebook, dll) : IslamDownload.net Salah satu website yang “paling lengkap” dan juga “paling tua” umurnya di Indonesia (sejak tahun 2007), dalam kategori download Islami umum. Di website yang satu ini tersedia lebih dari 2.500+ file Islami yang bisa Anda download, manfaatkan, dan Anda sebarkan ulang. 7. Wirausaha/Bisnis Islami : PengusahaMuslim.com Islam tidak hanya mengajarkan tentang ‘Aqidah, Syari’ah (Fikih), Tafsir Qur’an, Hadits dan berbagai “Ilmu Akhirat” saja. Akan tetapi, Islam juga mengatur berbagai masalah terkait kehidupan manusia di dunia yang lainnya. Salah satunya, peraturan tentang bisnis secara Islami. Untuk Anda yang tertarik, bisa dicoba untuk berkunjung ke website ini. 8. Tanya-Jawab Islami : KonsultasiSyariah.com Jika Anda pernah punya pertanyaan terkait Islam yang membuat Anda bingung akan jawabannya? Di saat seperti itu, Anda perlu untuk mencari jawabannya dengan bertanya kepada seorang ustadz/seorang ulama. Akan tetapi persoalannya, bagaimana kalau tidak ada ustadz/ulama yang bisa ditanyai di sekitar Anda? Jika Anda berada di dalam kondisi seperti itu, mungkin website KonsultasiSyariah.com ini bisa menjadi salah satu solusinya. Di dalamnya ada banyak sekali artikel tanya-jawab seputar masalah Agama Islam yang insyaaAllah sangat bermanfaat. Siapa tahu salah satu pertanyaan yang “bersarang” di benak Anda sudah ada jawabannya di sana. 9. Belajar Bahasa Arab : BadarOnline.com Bahasa Arab adalah bahasa Qur’an. Bahasa Arab adalah bahasa Hadits. Bahasa Arab adalah bahasa Islam. Betapa pentingnya bahasa Arab! Jika Anda pernah berminat untuk belajar bahasa Arab namun memiliki kendala jarak dan waktu untuk belajar “tatap muka” dengan seorang guru, atau sudah belajar tatap muka di tempat lain dan ingin menambah ilmu Anda tentang bahasa Arab, situs ini bisa Anda coba. 10. Facebook Page : Facebook.com/Rumaysho Rumaysho namanya. Sebuah Facebook (FB) Page yang berisi khusus tentang dakwah Islami. Saat ini, halaman ini sudah memiliki setidaknya 520.000+ penggemar. Alhamdulillaah wa subhaanAllah. Salah satu yang membuat FB Page ini bernilai “lebih” dari website lainnya, adalah rutinnya update yang dilakukan dan ilmiahnya pembahasan yang dibawakan. Dan hal itulah salah satu hal yang membuat kami menganggap FB Page ini yang terbaik di Indonesia, untuk saat ini. Untuk yang terakhir, sebenarnya kurang tepat jika disebut sebagai “website”, karena pada faktanya yang satu ini berupa “Facebook Page”. Namun karena Facebook Page yang satu ini adalah sebuah “halaman resmi” dari website Rumaysho.com, kami memasukkannya dalam kategori “website”. Demikianlah 10 website Islami terbaik berdasar kategori masing-masing. Semoga bermanfaat, dan mohon disebarkan kepada teman/saudara Anda yang lainnya. Semoga menjadi amal shalih (pahala) bagi Anda. Wassalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh. Sumber:  https://islamdownload.net/65030-top-10-website-islami.html Dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Baca Juga: 3 Manfaat Besar Berkunjung ke Website Islam Website Para Ustadz
Saat ini ada banyak sekali website Islami yang sekarang ada di jagat maya Indonesia. Ribuan bahkan mungkin puluhan ribu website/blog Islami di Indonesia ini. Alhamdulillaah, ini adalah sebuah nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanda bangkitnya dakwah Islam di dunia pada umumnya, dan di Indonesia pada khususnya. Dan website-website tersebut, terbagi dalam berbagai kategori dan tema masing-masing. Alhamdulillaah. Namun dengan banyaknya website yang tersedia tersebut, hal ini menjadi sebuah kebingungan tersendiri bagi banyak orang, terutama mengenai mana website Islami yang terbaik dan terlengkap berdasar kategori masing-masingnya. Karenanya, berikut kami mencoba untuk memilihkan 10 website Islami berbahasa Indonesia terbaik dalam kategorinya masing-masing, untuk membantu Anda semua. Daftar Isi tutup 1. Artikel Islami : Muslim.or.id 2. Artikel Muslimah : Muslimah.or.id 3. Search Engine Islami : Yufid.com 4. Download Video Ceramah : Yufid.tv 5. Download Audio Ceramah : Kajian.net 6. Download Umum (software, ebook, dll) : IslamDownload.net 7. Wirausaha/Bisnis Islami : PengusahaMuslim.com 8. Tanya-Jawab Islami : KonsultasiSyariah.com 9. Belajar Bahasa Arab : BadarOnline.com 10. Facebook Page : Facebook.com/Rumaysho 1. Artikel Islami : Muslim.or.id Muslim.or.id adalah sebuah website umum yang berisikan ribuan artikel Islami yang bermanfaat. Kelebihan dari website yang satu ini dibanding website lainnya adalah cara penulisan artikelnya yang ilmiah (penuh dalil, dengan penyebutan sumbernya) dan gaya bahasa yang ringan. Mudah untuk difahami bahkan untuk yang baru belajar Islam. Sebenarnya ada lagi yang cukup bagus, yaitu Almanhaj.or.id. Kalau yang satu ini lebih simple, hanya saja kurang interaktif. Jadi, kami masih lebih memilih muslim.or.id. 2. Artikel Muslimah : Muslimah.or.id Website yang satu ini adalah “saudari kandung” dari website muslim.or.id. Sama seperti “saudara kandung”-nya, website ini pun menyajikan artikel-artikel Ilmiah Islami untuk para pembacanya. Satu hal yang membedakan dengan muslim.or.id adalah, website muslimah.or.id ini lebih ditujukan untuk muslimah. Bagi Anda para wanita, insyaaAllah bisa menarik berbagai manfaat dari website ini. 3. Search Engine Islami : Yufid.com Pernah bingung mencari artikel Islami di internet? Tidak dapat artikel yang diinginkan walau sudah lama “googling”? Coba Yufid.com! Website yang satu ini merupakan sebuah “simple search engine” khusus untuk artikel-artikel Islami. Anda bisa manfaatkan web ini untuk mendapat hasil pencarian artikel Islami secara cepat, akurat dan mudah, insyaaAllah. 4. Download Video Ceramah : Yufid.tv Yufid.tv adalah sebuah website yang menyediakan berbagai rekaman ceramah asatidz (ustadz-ustadz) dari seluruh Indonesia dalam bentuk video. Walau bukan website download rekaman ceramah pertama di Indonesia, menurut kami hingga saat artikel ini ditulis, Yufid.tv adalah yang terbaik dari beberapa segi : isi materinya, dan juga desainnya. 5. Download Audio Ceramah : Kajian.net Kajian.net, seperti namanya, menyediakan berbagai rekaman kajian-kajian (ceramah) Islami yang bisa Anda download dengan gratis. Rekaman-rekamannya didapatkan dari berbagai ceramah ustadz-ustadz di berbagai daerah. Cocok didengar sambil bekerja/belajar, maupun untuk teman di perjalanan. 6. Download Umum (software, ebook, dll) : IslamDownload.net Salah satu website yang “paling lengkap” dan juga “paling tua” umurnya di Indonesia (sejak tahun 2007), dalam kategori download Islami umum. Di website yang satu ini tersedia lebih dari 2.500+ file Islami yang bisa Anda download, manfaatkan, dan Anda sebarkan ulang. 7. Wirausaha/Bisnis Islami : PengusahaMuslim.com Islam tidak hanya mengajarkan tentang ‘Aqidah, Syari’ah (Fikih), Tafsir Qur’an, Hadits dan berbagai “Ilmu Akhirat” saja. Akan tetapi, Islam juga mengatur berbagai masalah terkait kehidupan manusia di dunia yang lainnya. Salah satunya, peraturan tentang bisnis secara Islami. Untuk Anda yang tertarik, bisa dicoba untuk berkunjung ke website ini. 8. Tanya-Jawab Islami : KonsultasiSyariah.com Jika Anda pernah punya pertanyaan terkait Islam yang membuat Anda bingung akan jawabannya? Di saat seperti itu, Anda perlu untuk mencari jawabannya dengan bertanya kepada seorang ustadz/seorang ulama. Akan tetapi persoalannya, bagaimana kalau tidak ada ustadz/ulama yang bisa ditanyai di sekitar Anda? Jika Anda berada di dalam kondisi seperti itu, mungkin website KonsultasiSyariah.com ini bisa menjadi salah satu solusinya. Di dalamnya ada banyak sekali artikel tanya-jawab seputar masalah Agama Islam yang insyaaAllah sangat bermanfaat. Siapa tahu salah satu pertanyaan yang “bersarang” di benak Anda sudah ada jawabannya di sana. 9. Belajar Bahasa Arab : BadarOnline.com Bahasa Arab adalah bahasa Qur’an. Bahasa Arab adalah bahasa Hadits. Bahasa Arab adalah bahasa Islam. Betapa pentingnya bahasa Arab! Jika Anda pernah berminat untuk belajar bahasa Arab namun memiliki kendala jarak dan waktu untuk belajar “tatap muka” dengan seorang guru, atau sudah belajar tatap muka di tempat lain dan ingin menambah ilmu Anda tentang bahasa Arab, situs ini bisa Anda coba. 10. Facebook Page : Facebook.com/Rumaysho Rumaysho namanya. Sebuah Facebook (FB) Page yang berisi khusus tentang dakwah Islami. Saat ini, halaman ini sudah memiliki setidaknya 520.000+ penggemar. Alhamdulillaah wa subhaanAllah. Salah satu yang membuat FB Page ini bernilai “lebih” dari website lainnya, adalah rutinnya update yang dilakukan dan ilmiahnya pembahasan yang dibawakan. Dan hal itulah salah satu hal yang membuat kami menganggap FB Page ini yang terbaik di Indonesia, untuk saat ini. Untuk yang terakhir, sebenarnya kurang tepat jika disebut sebagai “website”, karena pada faktanya yang satu ini berupa “Facebook Page”. Namun karena Facebook Page yang satu ini adalah sebuah “halaman resmi” dari website Rumaysho.com, kami memasukkannya dalam kategori “website”. Demikianlah 10 website Islami terbaik berdasar kategori masing-masing. Semoga bermanfaat, dan mohon disebarkan kepada teman/saudara Anda yang lainnya. Semoga menjadi amal shalih (pahala) bagi Anda. Wassalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh. Sumber:  https://islamdownload.net/65030-top-10-website-islami.html Dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Baca Juga: 3 Manfaat Besar Berkunjung ke Website Islam Website Para Ustadz


Saat ini ada banyak sekali website Islami yang sekarang ada di jagat maya Indonesia. Ribuan bahkan mungkin puluhan ribu website/blog Islami di Indonesia ini. Alhamdulillaah, ini adalah sebuah nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanda bangkitnya dakwah Islam di dunia pada umumnya, dan di Indonesia pada khususnya. Dan website-website tersebut, terbagi dalam berbagai kategori dan tema masing-masing. Alhamdulillaah. Namun dengan banyaknya website yang tersedia tersebut, hal ini menjadi sebuah kebingungan tersendiri bagi banyak orang, terutama mengenai mana website Islami yang terbaik dan terlengkap berdasar kategori masing-masingnya. Karenanya, berikut kami mencoba untuk memilihkan 10 website Islami berbahasa Indonesia terbaik dalam kategorinya masing-masing, untuk membantu Anda semua. Daftar Isi tutup 1. Artikel Islami : Muslim.or.id 2. Artikel Muslimah : Muslimah.or.id 3. Search Engine Islami : Yufid.com 4. Download Video Ceramah : Yufid.tv 5. Download Audio Ceramah : Kajian.net 6. Download Umum (software, ebook, dll) : IslamDownload.net 7. Wirausaha/Bisnis Islami : PengusahaMuslim.com 8. Tanya-Jawab Islami : KonsultasiSyariah.com 9. Belajar Bahasa Arab : BadarOnline.com 10. Facebook Page : Facebook.com/Rumaysho 1. Artikel Islami : Muslim.or.id Muslim.or.id adalah sebuah website umum yang berisikan ribuan artikel Islami yang bermanfaat. Kelebihan dari website yang satu ini dibanding website lainnya adalah cara penulisan artikelnya yang ilmiah (penuh dalil, dengan penyebutan sumbernya) dan gaya bahasa yang ringan. Mudah untuk difahami bahkan untuk yang baru belajar Islam. Sebenarnya ada lagi yang cukup bagus, yaitu Almanhaj.or.id. Kalau yang satu ini lebih simple, hanya saja kurang interaktif. Jadi, kami masih lebih memilih muslim.or.id. 2. Artikel Muslimah : Muslimah.or.id Website yang satu ini adalah “saudari kandung” dari website muslim.or.id. Sama seperti “saudara kandung”-nya, website ini pun menyajikan artikel-artikel Ilmiah Islami untuk para pembacanya. Satu hal yang membedakan dengan muslim.or.id adalah, website muslimah.or.id ini lebih ditujukan untuk muslimah. Bagi Anda para wanita, insyaaAllah bisa menarik berbagai manfaat dari website ini. 3. Search Engine Islami : Yufid.com Pernah bingung mencari artikel Islami di internet? Tidak dapat artikel yang diinginkan walau sudah lama “googling”? Coba Yufid.com! Website yang satu ini merupakan sebuah “simple search engine” khusus untuk artikel-artikel Islami. Anda bisa manfaatkan web ini untuk mendapat hasil pencarian artikel Islami secara cepat, akurat dan mudah, insyaaAllah. 4. Download Video Ceramah : Yufid.tv Yufid.tv adalah sebuah website yang menyediakan berbagai rekaman ceramah asatidz (ustadz-ustadz) dari seluruh Indonesia dalam bentuk video. Walau bukan website download rekaman ceramah pertama di Indonesia, menurut kami hingga saat artikel ini ditulis, Yufid.tv adalah yang terbaik dari beberapa segi : isi materinya, dan juga desainnya. 5. Download Audio Ceramah : Kajian.net Kajian.net, seperti namanya, menyediakan berbagai rekaman kajian-kajian (ceramah) Islami yang bisa Anda download dengan gratis. Rekaman-rekamannya didapatkan dari berbagai ceramah ustadz-ustadz di berbagai daerah. Cocok didengar sambil bekerja/belajar, maupun untuk teman di perjalanan. 6. Download Umum (software, ebook, dll) : IslamDownload.net Salah satu website yang “paling lengkap” dan juga “paling tua” umurnya di Indonesia (sejak tahun 2007), dalam kategori download Islami umum. Di website yang satu ini tersedia lebih dari 2.500+ file Islami yang bisa Anda download, manfaatkan, dan Anda sebarkan ulang. 7. Wirausaha/Bisnis Islami : PengusahaMuslim.com Islam tidak hanya mengajarkan tentang ‘Aqidah, Syari’ah (Fikih), Tafsir Qur’an, Hadits dan berbagai “Ilmu Akhirat” saja. Akan tetapi, Islam juga mengatur berbagai masalah terkait kehidupan manusia di dunia yang lainnya. Salah satunya, peraturan tentang bisnis secara Islami. Untuk Anda yang tertarik, bisa dicoba untuk berkunjung ke website ini. 8. Tanya-Jawab Islami : KonsultasiSyariah.com Jika Anda pernah punya pertanyaan terkait Islam yang membuat Anda bingung akan jawabannya? Di saat seperti itu, Anda perlu untuk mencari jawabannya dengan bertanya kepada seorang ustadz/seorang ulama. Akan tetapi persoalannya, bagaimana kalau tidak ada ustadz/ulama yang bisa ditanyai di sekitar Anda? Jika Anda berada di dalam kondisi seperti itu, mungkin website KonsultasiSyariah.com ini bisa menjadi salah satu solusinya. Di dalamnya ada banyak sekali artikel tanya-jawab seputar masalah Agama Islam yang insyaaAllah sangat bermanfaat. Siapa tahu salah satu pertanyaan yang “bersarang” di benak Anda sudah ada jawabannya di sana. 9. Belajar Bahasa Arab : BadarOnline.com Bahasa Arab adalah bahasa Qur’an. Bahasa Arab adalah bahasa Hadits. Bahasa Arab adalah bahasa Islam. Betapa pentingnya bahasa Arab! Jika Anda pernah berminat untuk belajar bahasa Arab namun memiliki kendala jarak dan waktu untuk belajar “tatap muka” dengan seorang guru, atau sudah belajar tatap muka di tempat lain dan ingin menambah ilmu Anda tentang bahasa Arab, situs ini bisa Anda coba. 10. Facebook Page : Facebook.com/Rumaysho Rumaysho namanya. Sebuah Facebook (FB) Page yang berisi khusus tentang dakwah Islami. Saat ini, halaman ini sudah memiliki setidaknya 520.000+ penggemar. Alhamdulillaah wa subhaanAllah. Salah satu yang membuat FB Page ini bernilai “lebih” dari website lainnya, adalah rutinnya update yang dilakukan dan ilmiahnya pembahasan yang dibawakan. Dan hal itulah salah satu hal yang membuat kami menganggap FB Page ini yang terbaik di Indonesia, untuk saat ini. Untuk yang terakhir, sebenarnya kurang tepat jika disebut sebagai “website”, karena pada faktanya yang satu ini berupa “Facebook Page”. Namun karena Facebook Page yang satu ini adalah sebuah “halaman resmi” dari website Rumaysho.com, kami memasukkannya dalam kategori “website”. Demikianlah 10 website Islami terbaik berdasar kategori masing-masing. Semoga bermanfaat, dan mohon disebarkan kepada teman/saudara Anda yang lainnya. Semoga menjadi amal shalih (pahala) bagi Anda. Wassalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh. Sumber:  https://islamdownload.net/65030-top-10-website-islami.html Dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Baca Juga: 3 Manfaat Besar Berkunjung ke Website Islam Website Para Ustadz

Tafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 1)

13JunTafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 1)June 13, 2011Pilihan Redaksi, Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Alquran TAFSIR SURAT AL-FATIHAH Ayat Pertama: “بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ” Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.” Tafsir ayat ini sudah dipaparkan ketika kita membahas tentang basmalah, silahkan bisa dirujuk di Silsilah Materi Kajian Tafsir No: 5 (Pembahasan ini menyusul insya Allah -admin). Ayat Kedua: “الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ” Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.” ___________________________________ “الْحَمْدُ للّهِ” • Makna al-hamdu Dalam bahasa Arab, kata al-hamdu berarti: pujian yang sempurna [Al-Muharrar al-Wajîz karya Ibn ‘Athiyyah (I/66) dan Tafsîr al-Qurthubi (I/205)]. Fungsi penambahan huruf alif dan lam dalam kata ini adalah untuk menunjukkan adanya makna istighrâq (pencakupan segala jenis pujian). Jadi, hanya Allah jalla wa ‘azza sajalah yang berhak mendapatkan segala jenis pujian; sebab Dialah pemilik nama-nama yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji [Lihat: Tafsîr ath-Thabari (I/138), Tafsîr al-Qurthubi (I/205), ad-Dur al-Mashûn karya as-Samîn al-Halabi (I/37), Tafsîr Ibn Katsîr (I/131), Tafsîr Sûrah al-Fâtihah (hal 39) dan Adhwâ’ al-Bayân karya asy-Syinqîthi (I/47)]. Karenanya, kita dapatkan bahwa di antara redaksi doa yang dipanjatkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ”. “Ya Allah, milik-Mu-lah pujian seluruhnya.” [H.R. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim]. Kata al-hamdu bukanlah sembarang pujian, namun merupakan pujian yang diiringi pengagungan dan rasa cinta terhadap yang dipuji. Kita mengagungkan Allah karena kesempurnaan dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Dan kita juga mencintai Allah, sebab limpahan kenikmatan-Nya yang tak terhitung jumlahnya. Adapun pujian yang kosong dari pengagungan dan rasa cinta, tidaklah dinamakan al-hamdu, namun dinamakan al-mad-hu (sanjungan). Terkadang kita dapatkan ada yang menyanjung orang lain, dan motifnya adalah: harapan untuk mendapatkan harta duniawi dari yang disanjungnya. Seperti peminta-minta yang menyanjung orang kaya supaya diberi uang, atau bawahan yang berkarakter ABS (Asal Babe Seneng), yang selalu menyanjung-nyanjung atasannya karena mengincar kenaikan pangkat atau penambahan gaji. Ada pula yang menyanjung orang lain, dikarenakan rasa takut akan kelalimannya. Seperti para penyair yang menyampaikan puisi-puisi pujian di hadapan para penguasa; karena khawatir jika tidak melakukannya akan disiksa oleh mereka. Semua sanjungan di atas tidak dinamakan al-hamdu. Sedangkan pujian seorang mukmin kepada Allah, maka pujian yang diiringi pengagungan dan rasa cinta [Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma, oleh Syaikh Ibn ‘Utsaimîn (hal. 14)]. • Mengapa kita memuji Allah? Ketika menjelaskan makna kalimat alhamdulillâh Imam ath-Thabari (w. 310 H) memaparkan mengapa kita harus memuji Allah tabaraka wa ta’ala, “Makna alhamdulillâh adalah: syukur murni hanya untuk Allah, bukan untuk sesembahan lain-Nya atau makhluk-Nya. Sebab Allah telah melimpahkan kepada para hamba-Nya kenikmatan yang tidak mungkin terhitung jumlahnya. Dia telah mencurahkan rezeki duniawi, serta kenikmatan hidup padahal Allah tidaklah berkewajiban melakukan itu semua. Dia juga telah menyehatkan tubuh kita sehingga kita mudah untuk melakukan ketaatan pada-Nya dan menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Bukan hanya itu, Allah juga mengajak dan memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang mengantarkan kepada kekekalan di kampung keabadian; surga-Nya. Maka hanya Allahlah yang berhak mendapatkan segala pujian di awal dan di akhir.” [Tafsîr ath-Thabari (I/135)]. • Kemampuan untuk memuji Allah adalah nikmat Pujian seorang hamba terhadap Rabb-nya merupakan salah satu nikmat Allah paling besar untuk para hamba-Nya. Bahkan, nikmat tersebut lebih besar dibandingkan nikmat-nikmat Allah lainnya, seperti rezeki, keselamatan, kesehatan, tempat tinggal, keturunan dan yang semisal berupa kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya [Lihat: Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr, karya Syaikh Abdurrazzâq al-Badr (I/256)]. Sebagaimana diisyaratkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ”. “Andaikan setiap hamba mendapatkan kenikmatan dari Allah, ia mengucapkan alhamdulillâh; niscaya apa yang ia berikan (berupa pujian terhadap Allah) lebih utama dibandingkan apa yang ia terima (berupa kenikmatan Allah tersebut).” [H.R. Ibn Majah dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani]. Andaikan ucapan kita alhamdulillâh merupakan nikmat dari Allah, bahkan merupakan kenikmatan yang paling besar, berarti ini pun menuntut kita untuk memuji Allah atas kenikmatan besar yang dilimpahkan-Nya tersebut. Bakr bin Abdullah al-Muzani (w. 106 H) berkata, “ماَ قَالَ عَبْدٌ قَطّ: الْحَمْدُ للهِ؛ إِلاَّ وَجَبَتْ عَلَيْهِ نِعْمَةٌ بِقَوْلِهِ الْحَمْدُ للهِ، فَمَا جَزَاءُ تِلْكَ النِّعْمَةِ؟ جَزَاؤُهَا أَنْ يَقُوْلَ: الْحَمْدُ للهِ، فَحَازَ أُخْرَى، وَلاَ تَنْفَدُ نِعَمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ”. “Tidaklah seorang hamba mengucapkan alhamdulillâh melainkan itu dianggap sebagai suatu kenikmatan untuknya. Lantas bagaimanakah kita membalas kenikmatan tersebut? Balasannya adalah dengan mengucapkan kembali alhamdulillâh. Sehingga ia mendapatkan kenikmatan kembali. Dan kenikmatan Allah tidak ada habisnya.” [Diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dun-ya dalam asy-Syukr (hal. 17)]. Semoga Allah ta’ala berkenan membantu kita untuk senantiasa memuji-Nya, amien. • Allah memuji diri-Nya sendiri dan melarang para hamba-Nya untuk memuji diri mereka sendiri Imam Ibn al-‘Arabi (w. 543 H) menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah memuji diri-Nya dan memulai kitab suci-Nya dengan pujian terhadap-Nya. Namun, Dia tidak mengizinkan para hamba-Nya untuk memuji diri sendiri, bahkan dalam al-Quran Allah melarang kita untuk melakukan tindakan tersebut, sebagaimana dalam firman-Nya, “فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى”. Artinya: “Janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32). Allah ta’ala juga melarang untuk mendengarkan dan ‘ge er‘ dengan pujian orang lain pada kita, serta memerintahkan kita untuk menolak pujian tersebut. Sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “إِذَا رَأَيْتُمْ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمْ التُّرَابَ”. Artinya: “Andaikan kalian melihat orang-orang yang suka memuji; maka tebarkanlah debu di muka mereka.” [Dalam Tafsîr-nya (VI/409), Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa para pemuji yang dicela dalam hadits di atas adalah: mereka yang memuji orang lain di hadapannya, dengan pujian yang pada hakikatnya tidak ada dalam diri yang dipujinya, dengan tujuan meraup kepentingan duniawi darinya, atau menjerumuskannya ke dalam sifat sombong. Adapun memuji orang lain lantaran adanya sifat-sifat terpuji dalam dirinya, dengan tujuan untuk memotivasi agar meneruskan sifat terpuji tersebut, juga memberi semangat pada orang lain agar mencontohnya; maka ini tidak tercela. Itu semua kembali kepada niat masing-masing. “Allah mengetahui siapa yang berbuat kerusakan dan siapa yang berbuat kebaikan“. QS. Al-Baqarah: 220]. (H.R. Muslim dari al-Miqdâd). Mengapa Allah memuji diri-Nya dan melarang para hamba-Nya untuk memuji diri sendiri? Ada tiga jawaban yang disebutkan para ulama: 1. Sebagaimana telah maklum bahwa dalam agama Islam, kita diperintahkan untuk memuji Allah. Bagaimana cara memuji-Nya? Di ayat inilah Allah mengajari kita cara memuji-Nya; yaitu dengan mengucapkan “alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn“. Jadi Allah memuji diri-Nya dengan tujuan mengajari kita bagaimana cara kita memuji-Nya. 2. Ayat tersebut sebenarnya bermakna perintah dari Allah kepada para hamba-Nya untuk memuji-Nya. Sehingga makna ayat tersebut adalah: “Ucapkanlah alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn!”. 3. Memuji diri sendiri terlarang karena menyebabkan tumbuhnya kesombongan dalam jiwa, padahal para hamba adalah makhluk yang lemah dari segala sisinya, sehingga tidak berhak untuk sombong sama sekali. Adapun Allah ta’ala, Dia adalah dzat yang berhak memperoleh segala macam bentuk pujian; karena Dia memiliki kesempurnaan dari segala sisi [Lihat: Ahkâm al-Qur’ân (I/24-25) dan periksa pula: Tafsîr ath-Thabari (I/139), serta Tafsîr al-Qurthubi (I/207-209)]. === Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.Tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Tafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 1)

13JunTafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 1)June 13, 2011Pilihan Redaksi, Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Alquran TAFSIR SURAT AL-FATIHAH Ayat Pertama: “بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ” Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.” Tafsir ayat ini sudah dipaparkan ketika kita membahas tentang basmalah, silahkan bisa dirujuk di Silsilah Materi Kajian Tafsir No: 5 (Pembahasan ini menyusul insya Allah -admin). Ayat Kedua: “الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ” Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.” ___________________________________ “الْحَمْدُ للّهِ” • Makna al-hamdu Dalam bahasa Arab, kata al-hamdu berarti: pujian yang sempurna [Al-Muharrar al-Wajîz karya Ibn ‘Athiyyah (I/66) dan Tafsîr al-Qurthubi (I/205)]. Fungsi penambahan huruf alif dan lam dalam kata ini adalah untuk menunjukkan adanya makna istighrâq (pencakupan segala jenis pujian). Jadi, hanya Allah jalla wa ‘azza sajalah yang berhak mendapatkan segala jenis pujian; sebab Dialah pemilik nama-nama yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji [Lihat: Tafsîr ath-Thabari (I/138), Tafsîr al-Qurthubi (I/205), ad-Dur al-Mashûn karya as-Samîn al-Halabi (I/37), Tafsîr Ibn Katsîr (I/131), Tafsîr Sûrah al-Fâtihah (hal 39) dan Adhwâ’ al-Bayân karya asy-Syinqîthi (I/47)]. Karenanya, kita dapatkan bahwa di antara redaksi doa yang dipanjatkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ”. “Ya Allah, milik-Mu-lah pujian seluruhnya.” [H.R. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim]. Kata al-hamdu bukanlah sembarang pujian, namun merupakan pujian yang diiringi pengagungan dan rasa cinta terhadap yang dipuji. Kita mengagungkan Allah karena kesempurnaan dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Dan kita juga mencintai Allah, sebab limpahan kenikmatan-Nya yang tak terhitung jumlahnya. Adapun pujian yang kosong dari pengagungan dan rasa cinta, tidaklah dinamakan al-hamdu, namun dinamakan al-mad-hu (sanjungan). Terkadang kita dapatkan ada yang menyanjung orang lain, dan motifnya adalah: harapan untuk mendapatkan harta duniawi dari yang disanjungnya. Seperti peminta-minta yang menyanjung orang kaya supaya diberi uang, atau bawahan yang berkarakter ABS (Asal Babe Seneng), yang selalu menyanjung-nyanjung atasannya karena mengincar kenaikan pangkat atau penambahan gaji. Ada pula yang menyanjung orang lain, dikarenakan rasa takut akan kelalimannya. Seperti para penyair yang menyampaikan puisi-puisi pujian di hadapan para penguasa; karena khawatir jika tidak melakukannya akan disiksa oleh mereka. Semua sanjungan di atas tidak dinamakan al-hamdu. Sedangkan pujian seorang mukmin kepada Allah, maka pujian yang diiringi pengagungan dan rasa cinta [Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma, oleh Syaikh Ibn ‘Utsaimîn (hal. 14)]. • Mengapa kita memuji Allah? Ketika menjelaskan makna kalimat alhamdulillâh Imam ath-Thabari (w. 310 H) memaparkan mengapa kita harus memuji Allah tabaraka wa ta’ala, “Makna alhamdulillâh adalah: syukur murni hanya untuk Allah, bukan untuk sesembahan lain-Nya atau makhluk-Nya. Sebab Allah telah melimpahkan kepada para hamba-Nya kenikmatan yang tidak mungkin terhitung jumlahnya. Dia telah mencurahkan rezeki duniawi, serta kenikmatan hidup padahal Allah tidaklah berkewajiban melakukan itu semua. Dia juga telah menyehatkan tubuh kita sehingga kita mudah untuk melakukan ketaatan pada-Nya dan menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Bukan hanya itu, Allah juga mengajak dan memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang mengantarkan kepada kekekalan di kampung keabadian; surga-Nya. Maka hanya Allahlah yang berhak mendapatkan segala pujian di awal dan di akhir.” [Tafsîr ath-Thabari (I/135)]. • Kemampuan untuk memuji Allah adalah nikmat Pujian seorang hamba terhadap Rabb-nya merupakan salah satu nikmat Allah paling besar untuk para hamba-Nya. Bahkan, nikmat tersebut lebih besar dibandingkan nikmat-nikmat Allah lainnya, seperti rezeki, keselamatan, kesehatan, tempat tinggal, keturunan dan yang semisal berupa kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya [Lihat: Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr, karya Syaikh Abdurrazzâq al-Badr (I/256)]. Sebagaimana diisyaratkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ”. “Andaikan setiap hamba mendapatkan kenikmatan dari Allah, ia mengucapkan alhamdulillâh; niscaya apa yang ia berikan (berupa pujian terhadap Allah) lebih utama dibandingkan apa yang ia terima (berupa kenikmatan Allah tersebut).” [H.R. Ibn Majah dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani]. Andaikan ucapan kita alhamdulillâh merupakan nikmat dari Allah, bahkan merupakan kenikmatan yang paling besar, berarti ini pun menuntut kita untuk memuji Allah atas kenikmatan besar yang dilimpahkan-Nya tersebut. Bakr bin Abdullah al-Muzani (w. 106 H) berkata, “ماَ قَالَ عَبْدٌ قَطّ: الْحَمْدُ للهِ؛ إِلاَّ وَجَبَتْ عَلَيْهِ نِعْمَةٌ بِقَوْلِهِ الْحَمْدُ للهِ، فَمَا جَزَاءُ تِلْكَ النِّعْمَةِ؟ جَزَاؤُهَا أَنْ يَقُوْلَ: الْحَمْدُ للهِ، فَحَازَ أُخْرَى، وَلاَ تَنْفَدُ نِعَمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ”. “Tidaklah seorang hamba mengucapkan alhamdulillâh melainkan itu dianggap sebagai suatu kenikmatan untuknya. Lantas bagaimanakah kita membalas kenikmatan tersebut? Balasannya adalah dengan mengucapkan kembali alhamdulillâh. Sehingga ia mendapatkan kenikmatan kembali. Dan kenikmatan Allah tidak ada habisnya.” [Diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dun-ya dalam asy-Syukr (hal. 17)]. Semoga Allah ta’ala berkenan membantu kita untuk senantiasa memuji-Nya, amien. • Allah memuji diri-Nya sendiri dan melarang para hamba-Nya untuk memuji diri mereka sendiri Imam Ibn al-‘Arabi (w. 543 H) menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah memuji diri-Nya dan memulai kitab suci-Nya dengan pujian terhadap-Nya. Namun, Dia tidak mengizinkan para hamba-Nya untuk memuji diri sendiri, bahkan dalam al-Quran Allah melarang kita untuk melakukan tindakan tersebut, sebagaimana dalam firman-Nya, “فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى”. Artinya: “Janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32). Allah ta’ala juga melarang untuk mendengarkan dan ‘ge er‘ dengan pujian orang lain pada kita, serta memerintahkan kita untuk menolak pujian tersebut. Sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “إِذَا رَأَيْتُمْ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمْ التُّرَابَ”. Artinya: “Andaikan kalian melihat orang-orang yang suka memuji; maka tebarkanlah debu di muka mereka.” [Dalam Tafsîr-nya (VI/409), Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa para pemuji yang dicela dalam hadits di atas adalah: mereka yang memuji orang lain di hadapannya, dengan pujian yang pada hakikatnya tidak ada dalam diri yang dipujinya, dengan tujuan meraup kepentingan duniawi darinya, atau menjerumuskannya ke dalam sifat sombong. Adapun memuji orang lain lantaran adanya sifat-sifat terpuji dalam dirinya, dengan tujuan untuk memotivasi agar meneruskan sifat terpuji tersebut, juga memberi semangat pada orang lain agar mencontohnya; maka ini tidak tercela. Itu semua kembali kepada niat masing-masing. “Allah mengetahui siapa yang berbuat kerusakan dan siapa yang berbuat kebaikan“. QS. Al-Baqarah: 220]. (H.R. Muslim dari al-Miqdâd). Mengapa Allah memuji diri-Nya dan melarang para hamba-Nya untuk memuji diri sendiri? Ada tiga jawaban yang disebutkan para ulama: 1. Sebagaimana telah maklum bahwa dalam agama Islam, kita diperintahkan untuk memuji Allah. Bagaimana cara memuji-Nya? Di ayat inilah Allah mengajari kita cara memuji-Nya; yaitu dengan mengucapkan “alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn“. Jadi Allah memuji diri-Nya dengan tujuan mengajari kita bagaimana cara kita memuji-Nya. 2. Ayat tersebut sebenarnya bermakna perintah dari Allah kepada para hamba-Nya untuk memuji-Nya. Sehingga makna ayat tersebut adalah: “Ucapkanlah alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn!”. 3. Memuji diri sendiri terlarang karena menyebabkan tumbuhnya kesombongan dalam jiwa, padahal para hamba adalah makhluk yang lemah dari segala sisinya, sehingga tidak berhak untuk sombong sama sekali. Adapun Allah ta’ala, Dia adalah dzat yang berhak memperoleh segala macam bentuk pujian; karena Dia memiliki kesempurnaan dari segala sisi [Lihat: Ahkâm al-Qur’ân (I/24-25) dan periksa pula: Tafsîr ath-Thabari (I/139), serta Tafsîr al-Qurthubi (I/207-209)]. === Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.Tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
13JunTafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 1)June 13, 2011Pilihan Redaksi, Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Alquran TAFSIR SURAT AL-FATIHAH Ayat Pertama: “بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ” Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.” Tafsir ayat ini sudah dipaparkan ketika kita membahas tentang basmalah, silahkan bisa dirujuk di Silsilah Materi Kajian Tafsir No: 5 (Pembahasan ini menyusul insya Allah -admin). Ayat Kedua: “الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ” Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.” ___________________________________ “الْحَمْدُ للّهِ” • Makna al-hamdu Dalam bahasa Arab, kata al-hamdu berarti: pujian yang sempurna [Al-Muharrar al-Wajîz karya Ibn ‘Athiyyah (I/66) dan Tafsîr al-Qurthubi (I/205)]. Fungsi penambahan huruf alif dan lam dalam kata ini adalah untuk menunjukkan adanya makna istighrâq (pencakupan segala jenis pujian). Jadi, hanya Allah jalla wa ‘azza sajalah yang berhak mendapatkan segala jenis pujian; sebab Dialah pemilik nama-nama yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji [Lihat: Tafsîr ath-Thabari (I/138), Tafsîr al-Qurthubi (I/205), ad-Dur al-Mashûn karya as-Samîn al-Halabi (I/37), Tafsîr Ibn Katsîr (I/131), Tafsîr Sûrah al-Fâtihah (hal 39) dan Adhwâ’ al-Bayân karya asy-Syinqîthi (I/47)]. Karenanya, kita dapatkan bahwa di antara redaksi doa yang dipanjatkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ”. “Ya Allah, milik-Mu-lah pujian seluruhnya.” [H.R. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim]. Kata al-hamdu bukanlah sembarang pujian, namun merupakan pujian yang diiringi pengagungan dan rasa cinta terhadap yang dipuji. Kita mengagungkan Allah karena kesempurnaan dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Dan kita juga mencintai Allah, sebab limpahan kenikmatan-Nya yang tak terhitung jumlahnya. Adapun pujian yang kosong dari pengagungan dan rasa cinta, tidaklah dinamakan al-hamdu, namun dinamakan al-mad-hu (sanjungan). Terkadang kita dapatkan ada yang menyanjung orang lain, dan motifnya adalah: harapan untuk mendapatkan harta duniawi dari yang disanjungnya. Seperti peminta-minta yang menyanjung orang kaya supaya diberi uang, atau bawahan yang berkarakter ABS (Asal Babe Seneng), yang selalu menyanjung-nyanjung atasannya karena mengincar kenaikan pangkat atau penambahan gaji. Ada pula yang menyanjung orang lain, dikarenakan rasa takut akan kelalimannya. Seperti para penyair yang menyampaikan puisi-puisi pujian di hadapan para penguasa; karena khawatir jika tidak melakukannya akan disiksa oleh mereka. Semua sanjungan di atas tidak dinamakan al-hamdu. Sedangkan pujian seorang mukmin kepada Allah, maka pujian yang diiringi pengagungan dan rasa cinta [Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma, oleh Syaikh Ibn ‘Utsaimîn (hal. 14)]. • Mengapa kita memuji Allah? Ketika menjelaskan makna kalimat alhamdulillâh Imam ath-Thabari (w. 310 H) memaparkan mengapa kita harus memuji Allah tabaraka wa ta’ala, “Makna alhamdulillâh adalah: syukur murni hanya untuk Allah, bukan untuk sesembahan lain-Nya atau makhluk-Nya. Sebab Allah telah melimpahkan kepada para hamba-Nya kenikmatan yang tidak mungkin terhitung jumlahnya. Dia telah mencurahkan rezeki duniawi, serta kenikmatan hidup padahal Allah tidaklah berkewajiban melakukan itu semua. Dia juga telah menyehatkan tubuh kita sehingga kita mudah untuk melakukan ketaatan pada-Nya dan menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Bukan hanya itu, Allah juga mengajak dan memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang mengantarkan kepada kekekalan di kampung keabadian; surga-Nya. Maka hanya Allahlah yang berhak mendapatkan segala pujian di awal dan di akhir.” [Tafsîr ath-Thabari (I/135)]. • Kemampuan untuk memuji Allah adalah nikmat Pujian seorang hamba terhadap Rabb-nya merupakan salah satu nikmat Allah paling besar untuk para hamba-Nya. Bahkan, nikmat tersebut lebih besar dibandingkan nikmat-nikmat Allah lainnya, seperti rezeki, keselamatan, kesehatan, tempat tinggal, keturunan dan yang semisal berupa kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya [Lihat: Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr, karya Syaikh Abdurrazzâq al-Badr (I/256)]. Sebagaimana diisyaratkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ”. “Andaikan setiap hamba mendapatkan kenikmatan dari Allah, ia mengucapkan alhamdulillâh; niscaya apa yang ia berikan (berupa pujian terhadap Allah) lebih utama dibandingkan apa yang ia terima (berupa kenikmatan Allah tersebut).” [H.R. Ibn Majah dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani]. Andaikan ucapan kita alhamdulillâh merupakan nikmat dari Allah, bahkan merupakan kenikmatan yang paling besar, berarti ini pun menuntut kita untuk memuji Allah atas kenikmatan besar yang dilimpahkan-Nya tersebut. Bakr bin Abdullah al-Muzani (w. 106 H) berkata, “ماَ قَالَ عَبْدٌ قَطّ: الْحَمْدُ للهِ؛ إِلاَّ وَجَبَتْ عَلَيْهِ نِعْمَةٌ بِقَوْلِهِ الْحَمْدُ للهِ، فَمَا جَزَاءُ تِلْكَ النِّعْمَةِ؟ جَزَاؤُهَا أَنْ يَقُوْلَ: الْحَمْدُ للهِ، فَحَازَ أُخْرَى، وَلاَ تَنْفَدُ نِعَمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ”. “Tidaklah seorang hamba mengucapkan alhamdulillâh melainkan itu dianggap sebagai suatu kenikmatan untuknya. Lantas bagaimanakah kita membalas kenikmatan tersebut? Balasannya adalah dengan mengucapkan kembali alhamdulillâh. Sehingga ia mendapatkan kenikmatan kembali. Dan kenikmatan Allah tidak ada habisnya.” [Diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dun-ya dalam asy-Syukr (hal. 17)]. Semoga Allah ta’ala berkenan membantu kita untuk senantiasa memuji-Nya, amien. • Allah memuji diri-Nya sendiri dan melarang para hamba-Nya untuk memuji diri mereka sendiri Imam Ibn al-‘Arabi (w. 543 H) menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah memuji diri-Nya dan memulai kitab suci-Nya dengan pujian terhadap-Nya. Namun, Dia tidak mengizinkan para hamba-Nya untuk memuji diri sendiri, bahkan dalam al-Quran Allah melarang kita untuk melakukan tindakan tersebut, sebagaimana dalam firman-Nya, “فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى”. Artinya: “Janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32). Allah ta’ala juga melarang untuk mendengarkan dan ‘ge er‘ dengan pujian orang lain pada kita, serta memerintahkan kita untuk menolak pujian tersebut. Sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “إِذَا رَأَيْتُمْ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمْ التُّرَابَ”. Artinya: “Andaikan kalian melihat orang-orang yang suka memuji; maka tebarkanlah debu di muka mereka.” [Dalam Tafsîr-nya (VI/409), Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa para pemuji yang dicela dalam hadits di atas adalah: mereka yang memuji orang lain di hadapannya, dengan pujian yang pada hakikatnya tidak ada dalam diri yang dipujinya, dengan tujuan meraup kepentingan duniawi darinya, atau menjerumuskannya ke dalam sifat sombong. Adapun memuji orang lain lantaran adanya sifat-sifat terpuji dalam dirinya, dengan tujuan untuk memotivasi agar meneruskan sifat terpuji tersebut, juga memberi semangat pada orang lain agar mencontohnya; maka ini tidak tercela. Itu semua kembali kepada niat masing-masing. “Allah mengetahui siapa yang berbuat kerusakan dan siapa yang berbuat kebaikan“. QS. Al-Baqarah: 220]. (H.R. Muslim dari al-Miqdâd). Mengapa Allah memuji diri-Nya dan melarang para hamba-Nya untuk memuji diri sendiri? Ada tiga jawaban yang disebutkan para ulama: 1. Sebagaimana telah maklum bahwa dalam agama Islam, kita diperintahkan untuk memuji Allah. Bagaimana cara memuji-Nya? Di ayat inilah Allah mengajari kita cara memuji-Nya; yaitu dengan mengucapkan “alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn“. Jadi Allah memuji diri-Nya dengan tujuan mengajari kita bagaimana cara kita memuji-Nya. 2. Ayat tersebut sebenarnya bermakna perintah dari Allah kepada para hamba-Nya untuk memuji-Nya. Sehingga makna ayat tersebut adalah: “Ucapkanlah alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn!”. 3. Memuji diri sendiri terlarang karena menyebabkan tumbuhnya kesombongan dalam jiwa, padahal para hamba adalah makhluk yang lemah dari segala sisinya, sehingga tidak berhak untuk sombong sama sekali. Adapun Allah ta’ala, Dia adalah dzat yang berhak memperoleh segala macam bentuk pujian; karena Dia memiliki kesempurnaan dari segala sisi [Lihat: Ahkâm al-Qur’ân (I/24-25) dan periksa pula: Tafsîr ath-Thabari (I/139), serta Tafsîr al-Qurthubi (I/207-209)]. === Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.Tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


13JunTafsir Surat Al-Fatihah (05): Ayat Kedua (Bag. 1)June 13, 2011Pilihan Redaksi, Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Alquran TAFSIR SURAT AL-FATIHAH Ayat Pertama: “بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ” Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.” Tafsir ayat ini sudah dipaparkan ketika kita membahas tentang basmalah, silahkan bisa dirujuk di Silsilah Materi Kajian Tafsir No: 5 (Pembahasan ini menyusul insya Allah -admin). Ayat Kedua: “الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ” Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.” ___________________________________ “الْحَمْدُ للّهِ” • Makna al-hamdu Dalam bahasa Arab, kata al-hamdu berarti: pujian yang sempurna [Al-Muharrar al-Wajîz karya Ibn ‘Athiyyah (I/66) dan Tafsîr al-Qurthubi (I/205)]. Fungsi penambahan huruf alif dan lam dalam kata ini adalah untuk menunjukkan adanya makna istighrâq (pencakupan segala jenis pujian). Jadi, hanya Allah jalla wa ‘azza sajalah yang berhak mendapatkan segala jenis pujian; sebab Dialah pemilik nama-nama yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji [Lihat: Tafsîr ath-Thabari (I/138), Tafsîr al-Qurthubi (I/205), ad-Dur al-Mashûn karya as-Samîn al-Halabi (I/37), Tafsîr Ibn Katsîr (I/131), Tafsîr Sûrah al-Fâtihah (hal 39) dan Adhwâ’ al-Bayân karya asy-Syinqîthi (I/47)]. Karenanya, kita dapatkan bahwa di antara redaksi doa yang dipanjatkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ”. “Ya Allah, milik-Mu-lah pujian seluruhnya.” [H.R. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim]. Kata al-hamdu bukanlah sembarang pujian, namun merupakan pujian yang diiringi pengagungan dan rasa cinta terhadap yang dipuji. Kita mengagungkan Allah karena kesempurnaan dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Dan kita juga mencintai Allah, sebab limpahan kenikmatan-Nya yang tak terhitung jumlahnya. Adapun pujian yang kosong dari pengagungan dan rasa cinta, tidaklah dinamakan al-hamdu, namun dinamakan al-mad-hu (sanjungan). Terkadang kita dapatkan ada yang menyanjung orang lain, dan motifnya adalah: harapan untuk mendapatkan harta duniawi dari yang disanjungnya. Seperti peminta-minta yang menyanjung orang kaya supaya diberi uang, atau bawahan yang berkarakter ABS (Asal Babe Seneng), yang selalu menyanjung-nyanjung atasannya karena mengincar kenaikan pangkat atau penambahan gaji. Ada pula yang menyanjung orang lain, dikarenakan rasa takut akan kelalimannya. Seperti para penyair yang menyampaikan puisi-puisi pujian di hadapan para penguasa; karena khawatir jika tidak melakukannya akan disiksa oleh mereka. Semua sanjungan di atas tidak dinamakan al-hamdu. Sedangkan pujian seorang mukmin kepada Allah, maka pujian yang diiringi pengagungan dan rasa cinta [Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma, oleh Syaikh Ibn ‘Utsaimîn (hal. 14)]. • Mengapa kita memuji Allah? Ketika menjelaskan makna kalimat alhamdulillâh Imam ath-Thabari (w. 310 H) memaparkan mengapa kita harus memuji Allah tabaraka wa ta’ala, “Makna alhamdulillâh adalah: syukur murni hanya untuk Allah, bukan untuk sesembahan lain-Nya atau makhluk-Nya. Sebab Allah telah melimpahkan kepada para hamba-Nya kenikmatan yang tidak mungkin terhitung jumlahnya. Dia telah mencurahkan rezeki duniawi, serta kenikmatan hidup padahal Allah tidaklah berkewajiban melakukan itu semua. Dia juga telah menyehatkan tubuh kita sehingga kita mudah untuk melakukan ketaatan pada-Nya dan menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Bukan hanya itu, Allah juga mengajak dan memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang mengantarkan kepada kekekalan di kampung keabadian; surga-Nya. Maka hanya Allahlah yang berhak mendapatkan segala pujian di awal dan di akhir.” [Tafsîr ath-Thabari (I/135)]. • Kemampuan untuk memuji Allah adalah nikmat Pujian seorang hamba terhadap Rabb-nya merupakan salah satu nikmat Allah paling besar untuk para hamba-Nya. Bahkan, nikmat tersebut lebih besar dibandingkan nikmat-nikmat Allah lainnya, seperti rezeki, keselamatan, kesehatan, tempat tinggal, keturunan dan yang semisal berupa kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya [Lihat: Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr, karya Syaikh Abdurrazzâq al-Badr (I/256)]. Sebagaimana diisyaratkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ”. “Andaikan setiap hamba mendapatkan kenikmatan dari Allah, ia mengucapkan alhamdulillâh; niscaya apa yang ia berikan (berupa pujian terhadap Allah) lebih utama dibandingkan apa yang ia terima (berupa kenikmatan Allah tersebut).” [H.R. Ibn Majah dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani]. Andaikan ucapan kita alhamdulillâh merupakan nikmat dari Allah, bahkan merupakan kenikmatan yang paling besar, berarti ini pun menuntut kita untuk memuji Allah atas kenikmatan besar yang dilimpahkan-Nya tersebut. Bakr bin Abdullah al-Muzani (w. 106 H) berkata, “ماَ قَالَ عَبْدٌ قَطّ: الْحَمْدُ للهِ؛ إِلاَّ وَجَبَتْ عَلَيْهِ نِعْمَةٌ بِقَوْلِهِ الْحَمْدُ للهِ، فَمَا جَزَاءُ تِلْكَ النِّعْمَةِ؟ جَزَاؤُهَا أَنْ يَقُوْلَ: الْحَمْدُ للهِ، فَحَازَ أُخْرَى، وَلاَ تَنْفَدُ نِعَمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ”. “Tidaklah seorang hamba mengucapkan alhamdulillâh melainkan itu dianggap sebagai suatu kenikmatan untuknya. Lantas bagaimanakah kita membalas kenikmatan tersebut? Balasannya adalah dengan mengucapkan kembali alhamdulillâh. Sehingga ia mendapatkan kenikmatan kembali. Dan kenikmatan Allah tidak ada habisnya.” [Diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dun-ya dalam asy-Syukr (hal. 17)]. Semoga Allah ta’ala berkenan membantu kita untuk senantiasa memuji-Nya, amien. • Allah memuji diri-Nya sendiri dan melarang para hamba-Nya untuk memuji diri mereka sendiri Imam Ibn al-‘Arabi (w. 543 H) menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah memuji diri-Nya dan memulai kitab suci-Nya dengan pujian terhadap-Nya. Namun, Dia tidak mengizinkan para hamba-Nya untuk memuji diri sendiri, bahkan dalam al-Quran Allah melarang kita untuk melakukan tindakan tersebut, sebagaimana dalam firman-Nya, “فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى”. Artinya: “Janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32). Allah ta’ala juga melarang untuk mendengarkan dan ‘ge er‘ dengan pujian orang lain pada kita, serta memerintahkan kita untuk menolak pujian tersebut. Sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “إِذَا رَأَيْتُمْ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمْ التُّرَابَ”. Artinya: “Andaikan kalian melihat orang-orang yang suka memuji; maka tebarkanlah debu di muka mereka.” [Dalam Tafsîr-nya (VI/409), Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa para pemuji yang dicela dalam hadits di atas adalah: mereka yang memuji orang lain di hadapannya, dengan pujian yang pada hakikatnya tidak ada dalam diri yang dipujinya, dengan tujuan meraup kepentingan duniawi darinya, atau menjerumuskannya ke dalam sifat sombong. Adapun memuji orang lain lantaran adanya sifat-sifat terpuji dalam dirinya, dengan tujuan untuk memotivasi agar meneruskan sifat terpuji tersebut, juga memberi semangat pada orang lain agar mencontohnya; maka ini tidak tercela. Itu semua kembali kepada niat masing-masing. “Allah mengetahui siapa yang berbuat kerusakan dan siapa yang berbuat kebaikan“. QS. Al-Baqarah: 220]. (H.R. Muslim dari al-Miqdâd). Mengapa Allah memuji diri-Nya dan melarang para hamba-Nya untuk memuji diri sendiri? Ada tiga jawaban yang disebutkan para ulama: 1. Sebagaimana telah maklum bahwa dalam agama Islam, kita diperintahkan untuk memuji Allah. Bagaimana cara memuji-Nya? Di ayat inilah Allah mengajari kita cara memuji-Nya; yaitu dengan mengucapkan “alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn“. Jadi Allah memuji diri-Nya dengan tujuan mengajari kita bagaimana cara kita memuji-Nya. 2. Ayat tersebut sebenarnya bermakna perintah dari Allah kepada para hamba-Nya untuk memuji-Nya. Sehingga makna ayat tersebut adalah: “Ucapkanlah alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn!”. 3. Memuji diri sendiri terlarang karena menyebabkan tumbuhnya kesombongan dalam jiwa, padahal para hamba adalah makhluk yang lemah dari segala sisinya, sehingga tidak berhak untuk sombong sama sekali. Adapun Allah ta’ala, Dia adalah dzat yang berhak memperoleh segala macam bentuk pujian; karena Dia memiliki kesempurnaan dari segala sisi [Lihat: Ahkâm al-Qur’ân (I/24-25) dan periksa pula: Tafsîr ath-Thabari (I/139), serta Tafsîr al-Qurthubi (I/207-209)]. === Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.Tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Suami Sejati ( bag 18), “Hukum Mengkonsumsi Obat Anti Hamil”

Sesungguhnya banyak anak merupakan perkara yang dituntut oleh syari’at. Dan disyariatkannya nikah adalah untuk menjaga diri dari perbuatan zina dan untuk memperbanyak keturunan. [Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/298 no 3205]عن مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ “إِنِّي أَصَبْتُ امرأةً ذاتَ حَسَبِ وجمالِ وإنها لا تَلِدُ أَفَأَتَزَوَّجُهَا؟”، قال: “لا”. ثم أتاه الثانية فنهاه ثم أتاه الثالثة فقال: “تََزَوَجُوْا الوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَDari Ma’qil bin Yasar berkata, “Datang seorang pria kepada Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dan berkata, “Aku menemukan seorang wanita yang cantik dan memiliki martabat tinggi namun ia mandul apakah aku menikahinya?”, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam menjawab, “Jangan !”, kemudian pria itu datang menemui Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam kedua kalinya dan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam tetap melarangnya, kemudian ia menemui Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam yang ketiga kalinya maka Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan umat-umat yang lain” [HR Abu Dawud 2/220 no 2050 dan ini adalah lafalnya, Ibnu Hibban 9/363,364, An-Nasaai 6/65, berkata Syaikh Al-Albani , “Hasan Shahih”] عن أنس بن مالك قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِAnas bin Malik berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat ”[1]Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, ((Sesungguhnya banyaknya umat merupakan kejayaan bagi umat tersebut. Waspadalah kalian terhadap perkataan para sekularisme yang berkata, “Banyaknya umat mengakibatkan kemiskinan dan pengangguran”. Bahkan jumlah yang banyak merupakan kemuliaan yang Allah karuniakan kepada bani Israil sebagaimana dalam firmanNya,وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيراًDan Kami jadikan kelompok yang lebih besar. (QS. 17:6)Dan nabi Syu’aib mengingatkan kaumnya dengan karunia ini, beliau berkataوَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْDan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. (QS. 7:86)Maka banyaknya umat merupakan kejayaan, terutama jika bumi tempat mereka tinggal subur dan penuh dengan kekayaan alam yang bisa dimanfaatkan untuk perindustrian. Banyaknya penduduk sama sekali bukanlah merupakan sebab kemiskinan dan pengangguran.Namun yang sangat disayangkan sebagian orang sengaja memilih wanita yang mandul, wanita yang seperti ini lebih disukai oleh mereka daripada wanita yang subur. Mereka berusaha agar istri-istri mereka tidak melahirkan kecuali setelah empat atau lima tahun setelah pernikahan, dan yang semisalnya. Ini merupakan kesalahan karena hal ini menyelisihi tujuan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam. Terkadang mereka berkata, “Jika engkau merawat anak yang banyak maka engkau akan kesulitan”, maka kita katakan, “Jika kalian berprasangka baik kepada Allah maka Allah akan menolong kalian”.Mereka juga terkadang berkata, “Harta milik kami hanya sedikit”, maka kita katakan kepada mereka,وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَاDan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya (QS. 11:6)Dan terkadang seseorang melihat bahwa rezekinya dilapangkan jika ia memperoleh seorang anak. Seorang pedagang yang aku percayai pernah berkata, “Semenjak aku menikah Allah membukakan pintu rezeki bagiku. Tatkala aku kelahiran anakku si fulan maka dibukakan bagiku pintu rezeki yang lain”. Dan ini jelas diketahui bersama karena Allah berfirman وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya (QS. 11:6)Allah juga berfirmanوَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ (الأنعام : 151 )Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka (QS. 6:151)وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُم إنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْءاً كَبِيراً (الإسراء : 31 )Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. (QS. 17:31)Allah juga berfirmanإِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. (QS. 24:32)Intinya bahwasanya pernyataan bahwa banyaknya anak merupakan sebab kemiskinan merupkan pernyataan yang keliru…)) [Asy-Syarhul Mumti’ XII/18]Berikut ini beberapa perkara yang berkaitan dengan permasalahan ini–  Membatasi kelahiran anak –tanpa ada kondisi darurat- hukumnya adalah haram karena bertentangan dengan tujuan syari’at dan tujuan nikah yaitu untuk menjaga diri dan memperbanyak keturunan, serta menunjukkan sikap berburuk sangka kepada Allah yang luas rizki-Nya bagi orang yang membatasi kelahiran karena takut miskin. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/298 no 3205)–  Ada perbedaan antara membatasi kelahiran dengan mengatur angka kelahiran. Membatasi angka kelahiran maksudnya adalah memberhentikan kelahiran hingga pada jumlah tertentu. Misalnya hingga dua anak cukup, atau tiga, atau lima, dengan alasan untuk menjaga ekonomi keluarga atau karena benci dengan jumlah anak yang banyak. Adapun pengaturan angka kelahiran melakukan sebuah amalan (misalnya mengkonsumsi obat anti hamil) dalam rangka menunda kehamilan hingga waktu tertentu hingga sang wanita kembali kekuatannya dan semangatnya kemudian kembali hamil dan meninggalkan penggunaan obat anti hamil. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/299 no 5040)Dalil-dalil akan bolehnya pengaturan kelahiran karena ada kebutuhan diantaranya: Dahulu para sahabat radhiyallahu ‘anhum mereka malakukan ‘azal di zaman Nabi. Dan tidak diragukan lagi bahwa ‘azal biasanya mencegah kehamilan (Penjelasan Syaikh Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ XII/18). Firman Allahوَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍDan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (QS. 22:78) Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ Tidak boleh menimbulkan bahaya (pada diri sendiri) dan tidak boleh membahayakan (orang lain) (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/294 no 443)–   Pengaturan kelahiran diperbolehkan jika karena kebutuhan seperti seorang wanita yang proses melahirkannya tidak normal sehingga harus melakukan operasi untuk mengeluarkan sang anak, atau karena ada kemaslahatan tertentu yang dipandang oleh kedua pasangan. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/307). Demikian juga misalnya karena kondisi tubuh sang wanita yang kurang sehat atau kurus misalnya sehingga dikhawatirkan akan sakit jika sering melahirkan maka tidak mengapa. Adapun mengkonsumsi obat anti hamil dengan niat agar tubuh sang wanita tetap cantik maka hal ini tidak diperbolehkan. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/293 no 443)–    Boleh bagi seorang wanita mengkonsumsi obat anti hamil pada masa menyusui anaknya dikarenakan kawatir ada bahaya yang menimpa sang anak atau sang wanita itu sendiri (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/321 no 3843)–   Adapun menggunakan obat anti hamil dengan alasan untuk mendidik anak maka ini tidak diperbolehkan (Fatwa Syaikh Bin Baaz dalam Majmu’ fataawa wa maqoolaat mutanawwi’ah XXI/193)Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya, “Seorang lelaki memiliki delapan anak dari dua orang istri dan dia semangat untuk mendidik anak-anaknya sesuai dengan pendidikan Islami. Dia berkata, “Sesungguhnya keburukan yang banyak timbul di zaman ini menjadikan seseorang benar-benar berjihad dalam mendidik anak-anak, dan butuh memiliki kesabaran yang tinggi”. Apakah boleh penggunaan obat anti hamil atau yang lainnya untuk memberhentikan proses kehamilan dalam jangka waktu tertentu, atau tidak boleh?”Maka Al-Lajnah Ad-Daimah menjawab, “Masa depan adalah perkara yang gaib dan tidak ada yang mengetahui yang gaib melainkan Allah. Seseorang tidak tahu manakah dari anak-anaknya yang baik. Apakah anak-anaknya yang ia telah berusaha mendidiknya dengan baik ataukah anak-anaknya yang akan dikaruniai oleh Allah setelah itu baik putra maupun putri??. Maka wajib bagi seorang muslim untuk bertawakal kepada Allah dan menyerahkan segara urusannya kepada Allah dan janganlah dia dan istrinya mengkonsumsi sesuatu yang mencegah kehamilan seperti suntikan atau pil atau minuman tertentu dan yang semisalnya. Bisa jadi Allah menganugerahkan kepadanya di masa mendatang anak-anak yang menyebabkan ia mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dan bisa jadi Allah melapangkan rizkinya karena tawakalnya kepada-Nya. Bisa jadi Allah menganugerahkan kepadanya anak-anak (di masa mendatang) yang seluruhnya memberi manfaat kepadanya baik di dunia maupun di akhirat serta Allah menjaga mereka dari fitnah dan kejelekan-kejelekan para hamba…”. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/301 no 2114)–    Disyaratkan obat anti hamil yang dikonsumsi oleh sang wanita tidak membahayakan semisal bahaya yang ingin dihindari. Karena bahaya tidak boleh ditolak dengan bahaya yang semisalnya. Penggunaan sebagian obat-obat anti hamil bisa mengakibatkan tidak teraturnya waktu haidh, atau merusak rahim, atau timbul tekanan dalam darah, atau bahaya-bahaya yang lainnya. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/294 no 443)–   Sang wanita yang menggunakan obat anti hamil karena kebutuhan harus meminta idzin kepada suaminya. Dan jika memang kebutuhannya sesuai dengan syari’at maka wajib bagi sang suami untuk mengidzinkannya. Adapun jika kebutuhan tersebut tidak sesuai dengan syari’at maka wajib bagi sang suami untuk tidak mengidzinkannya. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/295 no 443)Renungan penutup……Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, “Hendaknya seseorang tatkala bermuamalah dengan baik terhadap istrinya tidak hanya mengharapkan kebahagiaan di dunia saja berupa ketenangan dan kenikmatan. Akan tetapi hendaknya ia juga berniat untuk beribadah kepada Allah dengan menunaikan kewajiban-kewajibannya. Hal ini sering dilalaikan oleh kita. Banyak orang yang bersikap baik terhadap istrinya namun niatnya hanya untuk menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangganya dengan sebaik mungkin namun mereka lupa untuk meniatkan amal mereka itu untuk beribadah kepada Allah. Ini sering dilupakan…dan syaitan berperan untuk menjadikan mereka lupa akan hal ini. Oleh karena itu hendaknya tatkala engkau bersikap baik terhadap istrimu hendaknya engkau berniat bahwasanya engkau sedang menjalankan perintah Allahوَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (النساء : 19 )Dan pergaullah mereka dengan baik. (QS. 4:19)”[Asy-Syarhul Mumti’ XII/383]الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُوَصَلَى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَSelesai di tulis di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,Ahad 22 Februari 2006 MSelesai muroja’ah kembali 4 April 2006 Mwww.firanda.comDaftar Pustaka1.      Shahih Al-Bukhori, tahqiq DR Mushthofa Dib Al-Bagho, terbitan Dar Ibni Katsir2.      Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fu’ad Abdil Baqi, terbitan Dar Ihya At-Turots Al-‘Arobi3.      Sunan Abu Dawud, tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdilhamid, terbitan Darul Fikr4.      Sunan At-Thirmidzi, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dan yang lainnya, Dar Ihya’ At-Turots, Beiruut5.      Sunan Ibnu Majah, tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baaqi, Darul Fikr6.      Al-Ihsan fi taqriib Shahih Ibnu Hibban, karya al-Amin ‘Ala-uddin al-Farisi, tahqiq Syu’aib al-Arna-uth, cetakan kedua, Mu-assasah ar-Risalah.7.      Al-Mustadrak ‘alas Shahihain, karya Abu ‘Abdillah al-Hakim an-Naisabuuri, tahqiq Musthafa ‘Abdul Qadir ‘Atha’, cetakan pertama, Darul Kutub al-‘Ilmiyyah.8.      Musnad Imam Ahmad, terbitan Maimaniah9.      Silsilah al-Ahadits as-Shahihah, Syaikh al-Abani, Maktabatul Ma’arif.10.  Tafsir At-Thabari, Muhammad bin Jarir at-Thabari, Darul Fikr.11.  Tafsir Al-Qurthubi, Abu Abdillah Muhmmad bin Abdillah Al-Anshori Al-Qurthubi, Dar As-Sya’b, Al-Qohiroh Ruuhul M’aani, Abul Fadhl Al-Aluusii, Dar Ihyaa’ At-Tuorts Al-‘Arobi Ad-Dur Al-Mantsur, Jalaluddin As-Suyuthi, Darul Fikr Al-Kasysyaaf, karya Az-Zamkhsyari Al-Mu’tazili, tahqiq Abdurrozaq Al-Mahdi, Darul Ihyaa’ At-Turots Al-‘Arobi At-Tafsiir Al-Kabiir, Fakhruddiin Ar-Roozi, cetakan pertama Darl Kutub Al-‘Ilmiyyah Zaadul Masiir, karya Ibnul Jauzi, Al-Maktab Al-Islami, cetakan ketiga Al-Muharror Al-Wajiiz fi Tafsiir Al-Kitab Al-‘Aziz, Abdul Haq Al-Andalusi, tahqiq Abdus Salam Abdus Syafi Muhammad, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah cetakan pertama Tafsir Ibnu Katsir, Darul Fikr Tafsir Al-Baghowi, tahqiq Kholid bin Abdurrahman Al-‘Ak, Darul Ma’rifah20.  Taisir Al-Karimir Rohman, Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di, cetakan pertama, Muassasah Ar-Risalah21.  Adlwaa’ul Bayaan, Syaikh Muhammad Al-Amiin Asy-Syingqithy, tahqiq Maktab Al-Buhuts wad Dirosaat, Darul Fikr Ahkamul Qur’an, Abu Bakar Ibnul ‘Arobi, tahqiq Muhammad Abdul Qodir ‘Atoo, Darul Fikr23.  Fat-hul Bari, Ibnu Hajar, tahqiq Muhibbuddin Khathib, Darul Ma’rifah.24.  ‘Umdatul Qori, karya Badruddin Muhammad bin Ahmad al-‘Aini (855 H), Daar Ihyaa’ at-Turats.25.  Al-Minhaj syarh shahih Muslim, An-Nawawi, cetakan kedua, Dar Ihya’ At-Turots26.  ‘Aunul Ma’bud, Syamsul Haqq al-Azhim Abadi, Darul Fikr. Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarokfuri, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi Nailul Author, karya As-Syaukani, Darul Jil Beiruth29.  Faidhul Qodiir, Abdurro’uuf Al-Munaawii, cetakan pertama Maktabah Tijaariyah (Mesir) Syarh Az-Zarqooni ‘Ala Muwattho’ Al-Imam Malik,, Muhammad bin Abdul Baaqi bin Yusuf Az-Zarqoni, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cetakan pertama Mirqootul Mafatiih syarh Misykaatul Mashobiih, Ali bin Sulthoon Muhmaad Al-Qoori, tahqiq Jamal ‘Iitaani, cetakan pertama, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, Abdullah bin Abdirrahman Ali Bassaam, cetakan kedua Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah, Darul Fikr, cetakan pertama Bada’i As-Shona’i, ‘Alauddin Al-Kisaai, Darul Kitab Al-‘Arobi, cetakan kedua Al-Umm, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Darl Ma’rifah cetakan kedua Kifaayatul Akhyaar, Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini Asy-Syafi’i, tahqiq Ali Abdul Hamid Baltaji, Darul Khoir cetakan pertama Masyariqol Anwaar, Al-Qodhi ‘Iyaadh, Maktabah Al-‘Atiqoh As-Siroh An-Nabawiah As-Shahihah, Doktor Akrom Dhiyaa’ Al-‘Umari, cetakan ke-5, Maktabah Al-‘Ubaikan Al-Mau’idzoh Al-Hasanah fi Al-Akhlaq Al-Hasanah, Abdulmalik bin Ahmad Romadhoni Al-Qoul Mufiid, Syaikh Ibnu Utsaimin Adabuz Zifaaf, Syaikh Al-Albani42.  Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, tahqiq ‘Amirul Al-Jazzaar dan Anwaarul Baaz, Darul Wafa’ (dengan ihaalah kepada cetakan lama mu’tamad).43.  Zadul Ma’ad fi Hady Khairil ‘Ibad, Ibnul Qayyim, tahqiq Syu’aib Al-Arnauth, cetakan ke-14, Mu-assasah ar-Risalah.44.  Al-Asaaliib Al-Mustambathoh min ta’aamul Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam ma’a Zaujaatihi wa Atsaaruha At-Tarbawiyah, Husain bin ‘Ali bin Maani’ Al-‘Umari, risalah ilmiah S245.  Al-Asaaliib An-Nabawiyah fi Mu’aalajati Al-Musykilaat Az-Zaujiyah, DR Abdus Samii’ Al-Aniis, cetakan pertama, Dar Ibnul Jauzi46.  Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil buhuts Al-‘Ilmiyah wal ifta’. Disusun oleh Ahmad bin Abdurrozaaq Ad-Duwaisy, cetakan Riasah Idarotil buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’47.  Majmu’ fatwa wa maqoolaat mutanawwi’ah, Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, disusun oleh DR Muhammad Sa’ad Asy-Syuwai’ir, cetakan Riasah Idarotil buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’48.  Majallah Al-Ashoolah no 46, terbitan Markaz Al-Imam Al-Albani49.  Ceramah Syaikh Ibnu Utsaimin (Syarh Bulughul Maram, kitab An-Nikaah)50.  Ceramah Syaikh Sholeh Fauzan Ali Fauzan (Syarh Bulughul Maram, kitab An-Nikaah)51.  Ceramah Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad (Syarh Sunan Abu Dawud)52.  Ceramah Syaikh Sulthon Al-‘Uwayyid yang berjudul Risalah ila Az-Zaujain53.  Ceramah Syaikh Muhammad Mukhtaar As-Syinqithi yang berjudul Fiqhul Usroh54.  Ceramah Syaikh Abu Ishaaq Al-Huwaini yang berjudul “Lailah fi bait An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”55.  Lisaanul ‘Arob, Ibnu Manzhur, cetakan pertama, Dar Shodir[1] HR Ibnu Hibban 9/338. Berkata Ibnu Hajar, “Adapun hadits “Sesungguhnya aku berbangga dengan kalian” maka hadits tersebut shahih dari hadits Anas…dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dan disebutkan oleh Imam As-Syafi’i secara بلاغا (balagan) dari hadits Ibnu Umar dengan lafal تَنَاكَحُوْا تَكَاثَرُوْا فَإِنِّي أُبَاهِي بِكُمُ الأُمَمَ “Menikahlah dan beranak banyaklah kalian karena sesungguhnya aku berbangga dengan (jumlah) kalian”, dan dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dari hadits Abu Umamah dengan lafal تَزَوَّجُوْا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ وَلاَ تَكُوْنُوْا كَرُهْبَانِيَةِ النَّصَارَى “Menikahlah sesungguhnya aku memebanggakan (jumlah) kalian dihadapan umat-umat yang lain dan janganlah kalian seperti kerahiban orang-orang Nasrani…” (Fathul Bari 9/111). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ no 1784

Suami Sejati ( bag 18), “Hukum Mengkonsumsi Obat Anti Hamil”

Sesungguhnya banyak anak merupakan perkara yang dituntut oleh syari’at. Dan disyariatkannya nikah adalah untuk menjaga diri dari perbuatan zina dan untuk memperbanyak keturunan. [Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/298 no 3205]عن مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ “إِنِّي أَصَبْتُ امرأةً ذاتَ حَسَبِ وجمالِ وإنها لا تَلِدُ أَفَأَتَزَوَّجُهَا؟”، قال: “لا”. ثم أتاه الثانية فنهاه ثم أتاه الثالثة فقال: “تََزَوَجُوْا الوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَDari Ma’qil bin Yasar berkata, “Datang seorang pria kepada Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dan berkata, “Aku menemukan seorang wanita yang cantik dan memiliki martabat tinggi namun ia mandul apakah aku menikahinya?”, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam menjawab, “Jangan !”, kemudian pria itu datang menemui Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam kedua kalinya dan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam tetap melarangnya, kemudian ia menemui Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam yang ketiga kalinya maka Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan umat-umat yang lain” [HR Abu Dawud 2/220 no 2050 dan ini adalah lafalnya, Ibnu Hibban 9/363,364, An-Nasaai 6/65, berkata Syaikh Al-Albani , “Hasan Shahih”] عن أنس بن مالك قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِAnas bin Malik berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat ”[1]Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, ((Sesungguhnya banyaknya umat merupakan kejayaan bagi umat tersebut. Waspadalah kalian terhadap perkataan para sekularisme yang berkata, “Banyaknya umat mengakibatkan kemiskinan dan pengangguran”. Bahkan jumlah yang banyak merupakan kemuliaan yang Allah karuniakan kepada bani Israil sebagaimana dalam firmanNya,وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيراًDan Kami jadikan kelompok yang lebih besar. (QS. 17:6)Dan nabi Syu’aib mengingatkan kaumnya dengan karunia ini, beliau berkataوَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْDan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. (QS. 7:86)Maka banyaknya umat merupakan kejayaan, terutama jika bumi tempat mereka tinggal subur dan penuh dengan kekayaan alam yang bisa dimanfaatkan untuk perindustrian. Banyaknya penduduk sama sekali bukanlah merupakan sebab kemiskinan dan pengangguran.Namun yang sangat disayangkan sebagian orang sengaja memilih wanita yang mandul, wanita yang seperti ini lebih disukai oleh mereka daripada wanita yang subur. Mereka berusaha agar istri-istri mereka tidak melahirkan kecuali setelah empat atau lima tahun setelah pernikahan, dan yang semisalnya. Ini merupakan kesalahan karena hal ini menyelisihi tujuan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam. Terkadang mereka berkata, “Jika engkau merawat anak yang banyak maka engkau akan kesulitan”, maka kita katakan, “Jika kalian berprasangka baik kepada Allah maka Allah akan menolong kalian”.Mereka juga terkadang berkata, “Harta milik kami hanya sedikit”, maka kita katakan kepada mereka,وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَاDan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya (QS. 11:6)Dan terkadang seseorang melihat bahwa rezekinya dilapangkan jika ia memperoleh seorang anak. Seorang pedagang yang aku percayai pernah berkata, “Semenjak aku menikah Allah membukakan pintu rezeki bagiku. Tatkala aku kelahiran anakku si fulan maka dibukakan bagiku pintu rezeki yang lain”. Dan ini jelas diketahui bersama karena Allah berfirman وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya (QS. 11:6)Allah juga berfirmanوَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ (الأنعام : 151 )Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka (QS. 6:151)وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُم إنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْءاً كَبِيراً (الإسراء : 31 )Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. (QS. 17:31)Allah juga berfirmanإِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. (QS. 24:32)Intinya bahwasanya pernyataan bahwa banyaknya anak merupakan sebab kemiskinan merupkan pernyataan yang keliru…)) [Asy-Syarhul Mumti’ XII/18]Berikut ini beberapa perkara yang berkaitan dengan permasalahan ini–  Membatasi kelahiran anak –tanpa ada kondisi darurat- hukumnya adalah haram karena bertentangan dengan tujuan syari’at dan tujuan nikah yaitu untuk menjaga diri dan memperbanyak keturunan, serta menunjukkan sikap berburuk sangka kepada Allah yang luas rizki-Nya bagi orang yang membatasi kelahiran karena takut miskin. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/298 no 3205)–  Ada perbedaan antara membatasi kelahiran dengan mengatur angka kelahiran. Membatasi angka kelahiran maksudnya adalah memberhentikan kelahiran hingga pada jumlah tertentu. Misalnya hingga dua anak cukup, atau tiga, atau lima, dengan alasan untuk menjaga ekonomi keluarga atau karena benci dengan jumlah anak yang banyak. Adapun pengaturan angka kelahiran melakukan sebuah amalan (misalnya mengkonsumsi obat anti hamil) dalam rangka menunda kehamilan hingga waktu tertentu hingga sang wanita kembali kekuatannya dan semangatnya kemudian kembali hamil dan meninggalkan penggunaan obat anti hamil. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/299 no 5040)Dalil-dalil akan bolehnya pengaturan kelahiran karena ada kebutuhan diantaranya: Dahulu para sahabat radhiyallahu ‘anhum mereka malakukan ‘azal di zaman Nabi. Dan tidak diragukan lagi bahwa ‘azal biasanya mencegah kehamilan (Penjelasan Syaikh Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ XII/18). Firman Allahوَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍDan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (QS. 22:78) Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ Tidak boleh menimbulkan bahaya (pada diri sendiri) dan tidak boleh membahayakan (orang lain) (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/294 no 443)–   Pengaturan kelahiran diperbolehkan jika karena kebutuhan seperti seorang wanita yang proses melahirkannya tidak normal sehingga harus melakukan operasi untuk mengeluarkan sang anak, atau karena ada kemaslahatan tertentu yang dipandang oleh kedua pasangan. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/307). Demikian juga misalnya karena kondisi tubuh sang wanita yang kurang sehat atau kurus misalnya sehingga dikhawatirkan akan sakit jika sering melahirkan maka tidak mengapa. Adapun mengkonsumsi obat anti hamil dengan niat agar tubuh sang wanita tetap cantik maka hal ini tidak diperbolehkan. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/293 no 443)–    Boleh bagi seorang wanita mengkonsumsi obat anti hamil pada masa menyusui anaknya dikarenakan kawatir ada bahaya yang menimpa sang anak atau sang wanita itu sendiri (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/321 no 3843)–   Adapun menggunakan obat anti hamil dengan alasan untuk mendidik anak maka ini tidak diperbolehkan (Fatwa Syaikh Bin Baaz dalam Majmu’ fataawa wa maqoolaat mutanawwi’ah XXI/193)Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya, “Seorang lelaki memiliki delapan anak dari dua orang istri dan dia semangat untuk mendidik anak-anaknya sesuai dengan pendidikan Islami. Dia berkata, “Sesungguhnya keburukan yang banyak timbul di zaman ini menjadikan seseorang benar-benar berjihad dalam mendidik anak-anak, dan butuh memiliki kesabaran yang tinggi”. Apakah boleh penggunaan obat anti hamil atau yang lainnya untuk memberhentikan proses kehamilan dalam jangka waktu tertentu, atau tidak boleh?”Maka Al-Lajnah Ad-Daimah menjawab, “Masa depan adalah perkara yang gaib dan tidak ada yang mengetahui yang gaib melainkan Allah. Seseorang tidak tahu manakah dari anak-anaknya yang baik. Apakah anak-anaknya yang ia telah berusaha mendidiknya dengan baik ataukah anak-anaknya yang akan dikaruniai oleh Allah setelah itu baik putra maupun putri??. Maka wajib bagi seorang muslim untuk bertawakal kepada Allah dan menyerahkan segara urusannya kepada Allah dan janganlah dia dan istrinya mengkonsumsi sesuatu yang mencegah kehamilan seperti suntikan atau pil atau minuman tertentu dan yang semisalnya. Bisa jadi Allah menganugerahkan kepadanya di masa mendatang anak-anak yang menyebabkan ia mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dan bisa jadi Allah melapangkan rizkinya karena tawakalnya kepada-Nya. Bisa jadi Allah menganugerahkan kepadanya anak-anak (di masa mendatang) yang seluruhnya memberi manfaat kepadanya baik di dunia maupun di akhirat serta Allah menjaga mereka dari fitnah dan kejelekan-kejelekan para hamba…”. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/301 no 2114)–    Disyaratkan obat anti hamil yang dikonsumsi oleh sang wanita tidak membahayakan semisal bahaya yang ingin dihindari. Karena bahaya tidak boleh ditolak dengan bahaya yang semisalnya. Penggunaan sebagian obat-obat anti hamil bisa mengakibatkan tidak teraturnya waktu haidh, atau merusak rahim, atau timbul tekanan dalam darah, atau bahaya-bahaya yang lainnya. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/294 no 443)–   Sang wanita yang menggunakan obat anti hamil karena kebutuhan harus meminta idzin kepada suaminya. Dan jika memang kebutuhannya sesuai dengan syari’at maka wajib bagi sang suami untuk mengidzinkannya. Adapun jika kebutuhan tersebut tidak sesuai dengan syari’at maka wajib bagi sang suami untuk tidak mengidzinkannya. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/295 no 443)Renungan penutup……Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, “Hendaknya seseorang tatkala bermuamalah dengan baik terhadap istrinya tidak hanya mengharapkan kebahagiaan di dunia saja berupa ketenangan dan kenikmatan. Akan tetapi hendaknya ia juga berniat untuk beribadah kepada Allah dengan menunaikan kewajiban-kewajibannya. Hal ini sering dilalaikan oleh kita. Banyak orang yang bersikap baik terhadap istrinya namun niatnya hanya untuk menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangganya dengan sebaik mungkin namun mereka lupa untuk meniatkan amal mereka itu untuk beribadah kepada Allah. Ini sering dilupakan…dan syaitan berperan untuk menjadikan mereka lupa akan hal ini. Oleh karena itu hendaknya tatkala engkau bersikap baik terhadap istrimu hendaknya engkau berniat bahwasanya engkau sedang menjalankan perintah Allahوَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (النساء : 19 )Dan pergaullah mereka dengan baik. (QS. 4:19)”[Asy-Syarhul Mumti’ XII/383]الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُوَصَلَى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَSelesai di tulis di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,Ahad 22 Februari 2006 MSelesai muroja’ah kembali 4 April 2006 Mwww.firanda.comDaftar Pustaka1.      Shahih Al-Bukhori, tahqiq DR Mushthofa Dib Al-Bagho, terbitan Dar Ibni Katsir2.      Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fu’ad Abdil Baqi, terbitan Dar Ihya At-Turots Al-‘Arobi3.      Sunan Abu Dawud, tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdilhamid, terbitan Darul Fikr4.      Sunan At-Thirmidzi, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dan yang lainnya, Dar Ihya’ At-Turots, Beiruut5.      Sunan Ibnu Majah, tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baaqi, Darul Fikr6.      Al-Ihsan fi taqriib Shahih Ibnu Hibban, karya al-Amin ‘Ala-uddin al-Farisi, tahqiq Syu’aib al-Arna-uth, cetakan kedua, Mu-assasah ar-Risalah.7.      Al-Mustadrak ‘alas Shahihain, karya Abu ‘Abdillah al-Hakim an-Naisabuuri, tahqiq Musthafa ‘Abdul Qadir ‘Atha’, cetakan pertama, Darul Kutub al-‘Ilmiyyah.8.      Musnad Imam Ahmad, terbitan Maimaniah9.      Silsilah al-Ahadits as-Shahihah, Syaikh al-Abani, Maktabatul Ma’arif.10.  Tafsir At-Thabari, Muhammad bin Jarir at-Thabari, Darul Fikr.11.  Tafsir Al-Qurthubi, Abu Abdillah Muhmmad bin Abdillah Al-Anshori Al-Qurthubi, Dar As-Sya’b, Al-Qohiroh Ruuhul M’aani, Abul Fadhl Al-Aluusii, Dar Ihyaa’ At-Tuorts Al-‘Arobi Ad-Dur Al-Mantsur, Jalaluddin As-Suyuthi, Darul Fikr Al-Kasysyaaf, karya Az-Zamkhsyari Al-Mu’tazili, tahqiq Abdurrozaq Al-Mahdi, Darul Ihyaa’ At-Turots Al-‘Arobi At-Tafsiir Al-Kabiir, Fakhruddiin Ar-Roozi, cetakan pertama Darl Kutub Al-‘Ilmiyyah Zaadul Masiir, karya Ibnul Jauzi, Al-Maktab Al-Islami, cetakan ketiga Al-Muharror Al-Wajiiz fi Tafsiir Al-Kitab Al-‘Aziz, Abdul Haq Al-Andalusi, tahqiq Abdus Salam Abdus Syafi Muhammad, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah cetakan pertama Tafsir Ibnu Katsir, Darul Fikr Tafsir Al-Baghowi, tahqiq Kholid bin Abdurrahman Al-‘Ak, Darul Ma’rifah20.  Taisir Al-Karimir Rohman, Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di, cetakan pertama, Muassasah Ar-Risalah21.  Adlwaa’ul Bayaan, Syaikh Muhammad Al-Amiin Asy-Syingqithy, tahqiq Maktab Al-Buhuts wad Dirosaat, Darul Fikr Ahkamul Qur’an, Abu Bakar Ibnul ‘Arobi, tahqiq Muhammad Abdul Qodir ‘Atoo, Darul Fikr23.  Fat-hul Bari, Ibnu Hajar, tahqiq Muhibbuddin Khathib, Darul Ma’rifah.24.  ‘Umdatul Qori, karya Badruddin Muhammad bin Ahmad al-‘Aini (855 H), Daar Ihyaa’ at-Turats.25.  Al-Minhaj syarh shahih Muslim, An-Nawawi, cetakan kedua, Dar Ihya’ At-Turots26.  ‘Aunul Ma’bud, Syamsul Haqq al-Azhim Abadi, Darul Fikr. Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarokfuri, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi Nailul Author, karya As-Syaukani, Darul Jil Beiruth29.  Faidhul Qodiir, Abdurro’uuf Al-Munaawii, cetakan pertama Maktabah Tijaariyah (Mesir) Syarh Az-Zarqooni ‘Ala Muwattho’ Al-Imam Malik,, Muhammad bin Abdul Baaqi bin Yusuf Az-Zarqoni, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cetakan pertama Mirqootul Mafatiih syarh Misykaatul Mashobiih, Ali bin Sulthoon Muhmaad Al-Qoori, tahqiq Jamal ‘Iitaani, cetakan pertama, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, Abdullah bin Abdirrahman Ali Bassaam, cetakan kedua Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah, Darul Fikr, cetakan pertama Bada’i As-Shona’i, ‘Alauddin Al-Kisaai, Darul Kitab Al-‘Arobi, cetakan kedua Al-Umm, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Darl Ma’rifah cetakan kedua Kifaayatul Akhyaar, Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini Asy-Syafi’i, tahqiq Ali Abdul Hamid Baltaji, Darul Khoir cetakan pertama Masyariqol Anwaar, Al-Qodhi ‘Iyaadh, Maktabah Al-‘Atiqoh As-Siroh An-Nabawiah As-Shahihah, Doktor Akrom Dhiyaa’ Al-‘Umari, cetakan ke-5, Maktabah Al-‘Ubaikan Al-Mau’idzoh Al-Hasanah fi Al-Akhlaq Al-Hasanah, Abdulmalik bin Ahmad Romadhoni Al-Qoul Mufiid, Syaikh Ibnu Utsaimin Adabuz Zifaaf, Syaikh Al-Albani42.  Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, tahqiq ‘Amirul Al-Jazzaar dan Anwaarul Baaz, Darul Wafa’ (dengan ihaalah kepada cetakan lama mu’tamad).43.  Zadul Ma’ad fi Hady Khairil ‘Ibad, Ibnul Qayyim, tahqiq Syu’aib Al-Arnauth, cetakan ke-14, Mu-assasah ar-Risalah.44.  Al-Asaaliib Al-Mustambathoh min ta’aamul Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam ma’a Zaujaatihi wa Atsaaruha At-Tarbawiyah, Husain bin ‘Ali bin Maani’ Al-‘Umari, risalah ilmiah S245.  Al-Asaaliib An-Nabawiyah fi Mu’aalajati Al-Musykilaat Az-Zaujiyah, DR Abdus Samii’ Al-Aniis, cetakan pertama, Dar Ibnul Jauzi46.  Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil buhuts Al-‘Ilmiyah wal ifta’. Disusun oleh Ahmad bin Abdurrozaaq Ad-Duwaisy, cetakan Riasah Idarotil buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’47.  Majmu’ fatwa wa maqoolaat mutanawwi’ah, Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, disusun oleh DR Muhammad Sa’ad Asy-Syuwai’ir, cetakan Riasah Idarotil buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’48.  Majallah Al-Ashoolah no 46, terbitan Markaz Al-Imam Al-Albani49.  Ceramah Syaikh Ibnu Utsaimin (Syarh Bulughul Maram, kitab An-Nikaah)50.  Ceramah Syaikh Sholeh Fauzan Ali Fauzan (Syarh Bulughul Maram, kitab An-Nikaah)51.  Ceramah Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad (Syarh Sunan Abu Dawud)52.  Ceramah Syaikh Sulthon Al-‘Uwayyid yang berjudul Risalah ila Az-Zaujain53.  Ceramah Syaikh Muhammad Mukhtaar As-Syinqithi yang berjudul Fiqhul Usroh54.  Ceramah Syaikh Abu Ishaaq Al-Huwaini yang berjudul “Lailah fi bait An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”55.  Lisaanul ‘Arob, Ibnu Manzhur, cetakan pertama, Dar Shodir[1] HR Ibnu Hibban 9/338. Berkata Ibnu Hajar, “Adapun hadits “Sesungguhnya aku berbangga dengan kalian” maka hadits tersebut shahih dari hadits Anas…dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dan disebutkan oleh Imam As-Syafi’i secara بلاغا (balagan) dari hadits Ibnu Umar dengan lafal تَنَاكَحُوْا تَكَاثَرُوْا فَإِنِّي أُبَاهِي بِكُمُ الأُمَمَ “Menikahlah dan beranak banyaklah kalian karena sesungguhnya aku berbangga dengan (jumlah) kalian”, dan dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dari hadits Abu Umamah dengan lafal تَزَوَّجُوْا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ وَلاَ تَكُوْنُوْا كَرُهْبَانِيَةِ النَّصَارَى “Menikahlah sesungguhnya aku memebanggakan (jumlah) kalian dihadapan umat-umat yang lain dan janganlah kalian seperti kerahiban orang-orang Nasrani…” (Fathul Bari 9/111). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ no 1784
Sesungguhnya banyak anak merupakan perkara yang dituntut oleh syari’at. Dan disyariatkannya nikah adalah untuk menjaga diri dari perbuatan zina dan untuk memperbanyak keturunan. [Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/298 no 3205]عن مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ “إِنِّي أَصَبْتُ امرأةً ذاتَ حَسَبِ وجمالِ وإنها لا تَلِدُ أَفَأَتَزَوَّجُهَا؟”، قال: “لا”. ثم أتاه الثانية فنهاه ثم أتاه الثالثة فقال: “تََزَوَجُوْا الوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَDari Ma’qil bin Yasar berkata, “Datang seorang pria kepada Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dan berkata, “Aku menemukan seorang wanita yang cantik dan memiliki martabat tinggi namun ia mandul apakah aku menikahinya?”, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam menjawab, “Jangan !”, kemudian pria itu datang menemui Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam kedua kalinya dan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam tetap melarangnya, kemudian ia menemui Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam yang ketiga kalinya maka Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan umat-umat yang lain” [HR Abu Dawud 2/220 no 2050 dan ini adalah lafalnya, Ibnu Hibban 9/363,364, An-Nasaai 6/65, berkata Syaikh Al-Albani , “Hasan Shahih”] عن أنس بن مالك قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِAnas bin Malik berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat ”[1]Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, ((Sesungguhnya banyaknya umat merupakan kejayaan bagi umat tersebut. Waspadalah kalian terhadap perkataan para sekularisme yang berkata, “Banyaknya umat mengakibatkan kemiskinan dan pengangguran”. Bahkan jumlah yang banyak merupakan kemuliaan yang Allah karuniakan kepada bani Israil sebagaimana dalam firmanNya,وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيراًDan Kami jadikan kelompok yang lebih besar. (QS. 17:6)Dan nabi Syu’aib mengingatkan kaumnya dengan karunia ini, beliau berkataوَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْDan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. (QS. 7:86)Maka banyaknya umat merupakan kejayaan, terutama jika bumi tempat mereka tinggal subur dan penuh dengan kekayaan alam yang bisa dimanfaatkan untuk perindustrian. Banyaknya penduduk sama sekali bukanlah merupakan sebab kemiskinan dan pengangguran.Namun yang sangat disayangkan sebagian orang sengaja memilih wanita yang mandul, wanita yang seperti ini lebih disukai oleh mereka daripada wanita yang subur. Mereka berusaha agar istri-istri mereka tidak melahirkan kecuali setelah empat atau lima tahun setelah pernikahan, dan yang semisalnya. Ini merupakan kesalahan karena hal ini menyelisihi tujuan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam. Terkadang mereka berkata, “Jika engkau merawat anak yang banyak maka engkau akan kesulitan”, maka kita katakan, “Jika kalian berprasangka baik kepada Allah maka Allah akan menolong kalian”.Mereka juga terkadang berkata, “Harta milik kami hanya sedikit”, maka kita katakan kepada mereka,وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَاDan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya (QS. 11:6)Dan terkadang seseorang melihat bahwa rezekinya dilapangkan jika ia memperoleh seorang anak. Seorang pedagang yang aku percayai pernah berkata, “Semenjak aku menikah Allah membukakan pintu rezeki bagiku. Tatkala aku kelahiran anakku si fulan maka dibukakan bagiku pintu rezeki yang lain”. Dan ini jelas diketahui bersama karena Allah berfirman وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya (QS. 11:6)Allah juga berfirmanوَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ (الأنعام : 151 )Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka (QS. 6:151)وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُم إنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْءاً كَبِيراً (الإسراء : 31 )Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. (QS. 17:31)Allah juga berfirmanإِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. (QS. 24:32)Intinya bahwasanya pernyataan bahwa banyaknya anak merupakan sebab kemiskinan merupkan pernyataan yang keliru…)) [Asy-Syarhul Mumti’ XII/18]Berikut ini beberapa perkara yang berkaitan dengan permasalahan ini–  Membatasi kelahiran anak –tanpa ada kondisi darurat- hukumnya adalah haram karena bertentangan dengan tujuan syari’at dan tujuan nikah yaitu untuk menjaga diri dan memperbanyak keturunan, serta menunjukkan sikap berburuk sangka kepada Allah yang luas rizki-Nya bagi orang yang membatasi kelahiran karena takut miskin. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/298 no 3205)–  Ada perbedaan antara membatasi kelahiran dengan mengatur angka kelahiran. Membatasi angka kelahiran maksudnya adalah memberhentikan kelahiran hingga pada jumlah tertentu. Misalnya hingga dua anak cukup, atau tiga, atau lima, dengan alasan untuk menjaga ekonomi keluarga atau karena benci dengan jumlah anak yang banyak. Adapun pengaturan angka kelahiran melakukan sebuah amalan (misalnya mengkonsumsi obat anti hamil) dalam rangka menunda kehamilan hingga waktu tertentu hingga sang wanita kembali kekuatannya dan semangatnya kemudian kembali hamil dan meninggalkan penggunaan obat anti hamil. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/299 no 5040)Dalil-dalil akan bolehnya pengaturan kelahiran karena ada kebutuhan diantaranya: Dahulu para sahabat radhiyallahu ‘anhum mereka malakukan ‘azal di zaman Nabi. Dan tidak diragukan lagi bahwa ‘azal biasanya mencegah kehamilan (Penjelasan Syaikh Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ XII/18). Firman Allahوَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍDan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (QS. 22:78) Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ Tidak boleh menimbulkan bahaya (pada diri sendiri) dan tidak boleh membahayakan (orang lain) (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/294 no 443)–   Pengaturan kelahiran diperbolehkan jika karena kebutuhan seperti seorang wanita yang proses melahirkannya tidak normal sehingga harus melakukan operasi untuk mengeluarkan sang anak, atau karena ada kemaslahatan tertentu yang dipandang oleh kedua pasangan. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/307). Demikian juga misalnya karena kondisi tubuh sang wanita yang kurang sehat atau kurus misalnya sehingga dikhawatirkan akan sakit jika sering melahirkan maka tidak mengapa. Adapun mengkonsumsi obat anti hamil dengan niat agar tubuh sang wanita tetap cantik maka hal ini tidak diperbolehkan. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/293 no 443)–    Boleh bagi seorang wanita mengkonsumsi obat anti hamil pada masa menyusui anaknya dikarenakan kawatir ada bahaya yang menimpa sang anak atau sang wanita itu sendiri (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/321 no 3843)–   Adapun menggunakan obat anti hamil dengan alasan untuk mendidik anak maka ini tidak diperbolehkan (Fatwa Syaikh Bin Baaz dalam Majmu’ fataawa wa maqoolaat mutanawwi’ah XXI/193)Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya, “Seorang lelaki memiliki delapan anak dari dua orang istri dan dia semangat untuk mendidik anak-anaknya sesuai dengan pendidikan Islami. Dia berkata, “Sesungguhnya keburukan yang banyak timbul di zaman ini menjadikan seseorang benar-benar berjihad dalam mendidik anak-anak, dan butuh memiliki kesabaran yang tinggi”. Apakah boleh penggunaan obat anti hamil atau yang lainnya untuk memberhentikan proses kehamilan dalam jangka waktu tertentu, atau tidak boleh?”Maka Al-Lajnah Ad-Daimah menjawab, “Masa depan adalah perkara yang gaib dan tidak ada yang mengetahui yang gaib melainkan Allah. Seseorang tidak tahu manakah dari anak-anaknya yang baik. Apakah anak-anaknya yang ia telah berusaha mendidiknya dengan baik ataukah anak-anaknya yang akan dikaruniai oleh Allah setelah itu baik putra maupun putri??. Maka wajib bagi seorang muslim untuk bertawakal kepada Allah dan menyerahkan segara urusannya kepada Allah dan janganlah dia dan istrinya mengkonsumsi sesuatu yang mencegah kehamilan seperti suntikan atau pil atau minuman tertentu dan yang semisalnya. Bisa jadi Allah menganugerahkan kepadanya di masa mendatang anak-anak yang menyebabkan ia mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dan bisa jadi Allah melapangkan rizkinya karena tawakalnya kepada-Nya. Bisa jadi Allah menganugerahkan kepadanya anak-anak (di masa mendatang) yang seluruhnya memberi manfaat kepadanya baik di dunia maupun di akhirat serta Allah menjaga mereka dari fitnah dan kejelekan-kejelekan para hamba…”. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/301 no 2114)–    Disyaratkan obat anti hamil yang dikonsumsi oleh sang wanita tidak membahayakan semisal bahaya yang ingin dihindari. Karena bahaya tidak boleh ditolak dengan bahaya yang semisalnya. Penggunaan sebagian obat-obat anti hamil bisa mengakibatkan tidak teraturnya waktu haidh, atau merusak rahim, atau timbul tekanan dalam darah, atau bahaya-bahaya yang lainnya. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/294 no 443)–   Sang wanita yang menggunakan obat anti hamil karena kebutuhan harus meminta idzin kepada suaminya. Dan jika memang kebutuhannya sesuai dengan syari’at maka wajib bagi sang suami untuk mengidzinkannya. Adapun jika kebutuhan tersebut tidak sesuai dengan syari’at maka wajib bagi sang suami untuk tidak mengidzinkannya. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/295 no 443)Renungan penutup……Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, “Hendaknya seseorang tatkala bermuamalah dengan baik terhadap istrinya tidak hanya mengharapkan kebahagiaan di dunia saja berupa ketenangan dan kenikmatan. Akan tetapi hendaknya ia juga berniat untuk beribadah kepada Allah dengan menunaikan kewajiban-kewajibannya. Hal ini sering dilalaikan oleh kita. Banyak orang yang bersikap baik terhadap istrinya namun niatnya hanya untuk menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangganya dengan sebaik mungkin namun mereka lupa untuk meniatkan amal mereka itu untuk beribadah kepada Allah. Ini sering dilupakan…dan syaitan berperan untuk menjadikan mereka lupa akan hal ini. Oleh karena itu hendaknya tatkala engkau bersikap baik terhadap istrimu hendaknya engkau berniat bahwasanya engkau sedang menjalankan perintah Allahوَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (النساء : 19 )Dan pergaullah mereka dengan baik. (QS. 4:19)”[Asy-Syarhul Mumti’ XII/383]الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُوَصَلَى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَSelesai di tulis di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,Ahad 22 Februari 2006 MSelesai muroja’ah kembali 4 April 2006 Mwww.firanda.comDaftar Pustaka1.      Shahih Al-Bukhori, tahqiq DR Mushthofa Dib Al-Bagho, terbitan Dar Ibni Katsir2.      Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fu’ad Abdil Baqi, terbitan Dar Ihya At-Turots Al-‘Arobi3.      Sunan Abu Dawud, tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdilhamid, terbitan Darul Fikr4.      Sunan At-Thirmidzi, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dan yang lainnya, Dar Ihya’ At-Turots, Beiruut5.      Sunan Ibnu Majah, tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baaqi, Darul Fikr6.      Al-Ihsan fi taqriib Shahih Ibnu Hibban, karya al-Amin ‘Ala-uddin al-Farisi, tahqiq Syu’aib al-Arna-uth, cetakan kedua, Mu-assasah ar-Risalah.7.      Al-Mustadrak ‘alas Shahihain, karya Abu ‘Abdillah al-Hakim an-Naisabuuri, tahqiq Musthafa ‘Abdul Qadir ‘Atha’, cetakan pertama, Darul Kutub al-‘Ilmiyyah.8.      Musnad Imam Ahmad, terbitan Maimaniah9.      Silsilah al-Ahadits as-Shahihah, Syaikh al-Abani, Maktabatul Ma’arif.10.  Tafsir At-Thabari, Muhammad bin Jarir at-Thabari, Darul Fikr.11.  Tafsir Al-Qurthubi, Abu Abdillah Muhmmad bin Abdillah Al-Anshori Al-Qurthubi, Dar As-Sya’b, Al-Qohiroh Ruuhul M’aani, Abul Fadhl Al-Aluusii, Dar Ihyaa’ At-Tuorts Al-‘Arobi Ad-Dur Al-Mantsur, Jalaluddin As-Suyuthi, Darul Fikr Al-Kasysyaaf, karya Az-Zamkhsyari Al-Mu’tazili, tahqiq Abdurrozaq Al-Mahdi, Darul Ihyaa’ At-Turots Al-‘Arobi At-Tafsiir Al-Kabiir, Fakhruddiin Ar-Roozi, cetakan pertama Darl Kutub Al-‘Ilmiyyah Zaadul Masiir, karya Ibnul Jauzi, Al-Maktab Al-Islami, cetakan ketiga Al-Muharror Al-Wajiiz fi Tafsiir Al-Kitab Al-‘Aziz, Abdul Haq Al-Andalusi, tahqiq Abdus Salam Abdus Syafi Muhammad, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah cetakan pertama Tafsir Ibnu Katsir, Darul Fikr Tafsir Al-Baghowi, tahqiq Kholid bin Abdurrahman Al-‘Ak, Darul Ma’rifah20.  Taisir Al-Karimir Rohman, Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di, cetakan pertama, Muassasah Ar-Risalah21.  Adlwaa’ul Bayaan, Syaikh Muhammad Al-Amiin Asy-Syingqithy, tahqiq Maktab Al-Buhuts wad Dirosaat, Darul Fikr Ahkamul Qur’an, Abu Bakar Ibnul ‘Arobi, tahqiq Muhammad Abdul Qodir ‘Atoo, Darul Fikr23.  Fat-hul Bari, Ibnu Hajar, tahqiq Muhibbuddin Khathib, Darul Ma’rifah.24.  ‘Umdatul Qori, karya Badruddin Muhammad bin Ahmad al-‘Aini (855 H), Daar Ihyaa’ at-Turats.25.  Al-Minhaj syarh shahih Muslim, An-Nawawi, cetakan kedua, Dar Ihya’ At-Turots26.  ‘Aunul Ma’bud, Syamsul Haqq al-Azhim Abadi, Darul Fikr. Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarokfuri, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi Nailul Author, karya As-Syaukani, Darul Jil Beiruth29.  Faidhul Qodiir, Abdurro’uuf Al-Munaawii, cetakan pertama Maktabah Tijaariyah (Mesir) Syarh Az-Zarqooni ‘Ala Muwattho’ Al-Imam Malik,, Muhammad bin Abdul Baaqi bin Yusuf Az-Zarqoni, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cetakan pertama Mirqootul Mafatiih syarh Misykaatul Mashobiih, Ali bin Sulthoon Muhmaad Al-Qoori, tahqiq Jamal ‘Iitaani, cetakan pertama, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, Abdullah bin Abdirrahman Ali Bassaam, cetakan kedua Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah, Darul Fikr, cetakan pertama Bada’i As-Shona’i, ‘Alauddin Al-Kisaai, Darul Kitab Al-‘Arobi, cetakan kedua Al-Umm, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Darl Ma’rifah cetakan kedua Kifaayatul Akhyaar, Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini Asy-Syafi’i, tahqiq Ali Abdul Hamid Baltaji, Darul Khoir cetakan pertama Masyariqol Anwaar, Al-Qodhi ‘Iyaadh, Maktabah Al-‘Atiqoh As-Siroh An-Nabawiah As-Shahihah, Doktor Akrom Dhiyaa’ Al-‘Umari, cetakan ke-5, Maktabah Al-‘Ubaikan Al-Mau’idzoh Al-Hasanah fi Al-Akhlaq Al-Hasanah, Abdulmalik bin Ahmad Romadhoni Al-Qoul Mufiid, Syaikh Ibnu Utsaimin Adabuz Zifaaf, Syaikh Al-Albani42.  Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, tahqiq ‘Amirul Al-Jazzaar dan Anwaarul Baaz, Darul Wafa’ (dengan ihaalah kepada cetakan lama mu’tamad).43.  Zadul Ma’ad fi Hady Khairil ‘Ibad, Ibnul Qayyim, tahqiq Syu’aib Al-Arnauth, cetakan ke-14, Mu-assasah ar-Risalah.44.  Al-Asaaliib Al-Mustambathoh min ta’aamul Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam ma’a Zaujaatihi wa Atsaaruha At-Tarbawiyah, Husain bin ‘Ali bin Maani’ Al-‘Umari, risalah ilmiah S245.  Al-Asaaliib An-Nabawiyah fi Mu’aalajati Al-Musykilaat Az-Zaujiyah, DR Abdus Samii’ Al-Aniis, cetakan pertama, Dar Ibnul Jauzi46.  Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil buhuts Al-‘Ilmiyah wal ifta’. Disusun oleh Ahmad bin Abdurrozaaq Ad-Duwaisy, cetakan Riasah Idarotil buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’47.  Majmu’ fatwa wa maqoolaat mutanawwi’ah, Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, disusun oleh DR Muhammad Sa’ad Asy-Syuwai’ir, cetakan Riasah Idarotil buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’48.  Majallah Al-Ashoolah no 46, terbitan Markaz Al-Imam Al-Albani49.  Ceramah Syaikh Ibnu Utsaimin (Syarh Bulughul Maram, kitab An-Nikaah)50.  Ceramah Syaikh Sholeh Fauzan Ali Fauzan (Syarh Bulughul Maram, kitab An-Nikaah)51.  Ceramah Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad (Syarh Sunan Abu Dawud)52.  Ceramah Syaikh Sulthon Al-‘Uwayyid yang berjudul Risalah ila Az-Zaujain53.  Ceramah Syaikh Muhammad Mukhtaar As-Syinqithi yang berjudul Fiqhul Usroh54.  Ceramah Syaikh Abu Ishaaq Al-Huwaini yang berjudul “Lailah fi bait An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”55.  Lisaanul ‘Arob, Ibnu Manzhur, cetakan pertama, Dar Shodir[1] HR Ibnu Hibban 9/338. Berkata Ibnu Hajar, “Adapun hadits “Sesungguhnya aku berbangga dengan kalian” maka hadits tersebut shahih dari hadits Anas…dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dan disebutkan oleh Imam As-Syafi’i secara بلاغا (balagan) dari hadits Ibnu Umar dengan lafal تَنَاكَحُوْا تَكَاثَرُوْا فَإِنِّي أُبَاهِي بِكُمُ الأُمَمَ “Menikahlah dan beranak banyaklah kalian karena sesungguhnya aku berbangga dengan (jumlah) kalian”, dan dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dari hadits Abu Umamah dengan lafal تَزَوَّجُوْا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ وَلاَ تَكُوْنُوْا كَرُهْبَانِيَةِ النَّصَارَى “Menikahlah sesungguhnya aku memebanggakan (jumlah) kalian dihadapan umat-umat yang lain dan janganlah kalian seperti kerahiban orang-orang Nasrani…” (Fathul Bari 9/111). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ no 1784


Sesungguhnya banyak anak merupakan perkara yang dituntut oleh syari’at. Dan disyariatkannya nikah adalah untuk menjaga diri dari perbuatan zina dan untuk memperbanyak keturunan. [Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/298 no 3205]عن مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ “إِنِّي أَصَبْتُ امرأةً ذاتَ حَسَبِ وجمالِ وإنها لا تَلِدُ أَفَأَتَزَوَّجُهَا؟”، قال: “لا”. ثم أتاه الثانية فنهاه ثم أتاه الثالثة فقال: “تََزَوَجُوْا الوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَDari Ma’qil bin Yasar berkata, “Datang seorang pria kepada Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dan berkata, “Aku menemukan seorang wanita yang cantik dan memiliki martabat tinggi namun ia mandul apakah aku menikahinya?”, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam menjawab, “Jangan !”, kemudian pria itu datang menemui Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam kedua kalinya dan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam tetap melarangnya, kemudian ia menemui Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam yang ketiga kalinya maka Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan umat-umat yang lain” [HR Abu Dawud 2/220 no 2050 dan ini adalah lafalnya, Ibnu Hibban 9/363,364, An-Nasaai 6/65, berkata Syaikh Al-Albani , “Hasan Shahih”] عن أنس بن مالك قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِAnas bin Malik berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat ”[1]Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, ((Sesungguhnya banyaknya umat merupakan kejayaan bagi umat tersebut. Waspadalah kalian terhadap perkataan para sekularisme yang berkata, “Banyaknya umat mengakibatkan kemiskinan dan pengangguran”. Bahkan jumlah yang banyak merupakan kemuliaan yang Allah karuniakan kepada bani Israil sebagaimana dalam firmanNya,وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيراًDan Kami jadikan kelompok yang lebih besar. (QS. 17:6)Dan nabi Syu’aib mengingatkan kaumnya dengan karunia ini, beliau berkataوَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْDan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. (QS. 7:86)Maka banyaknya umat merupakan kejayaan, terutama jika bumi tempat mereka tinggal subur dan penuh dengan kekayaan alam yang bisa dimanfaatkan untuk perindustrian. Banyaknya penduduk sama sekali bukanlah merupakan sebab kemiskinan dan pengangguran.Namun yang sangat disayangkan sebagian orang sengaja memilih wanita yang mandul, wanita yang seperti ini lebih disukai oleh mereka daripada wanita yang subur. Mereka berusaha agar istri-istri mereka tidak melahirkan kecuali setelah empat atau lima tahun setelah pernikahan, dan yang semisalnya. Ini merupakan kesalahan karena hal ini menyelisihi tujuan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam. Terkadang mereka berkata, “Jika engkau merawat anak yang banyak maka engkau akan kesulitan”, maka kita katakan, “Jika kalian berprasangka baik kepada Allah maka Allah akan menolong kalian”.Mereka juga terkadang berkata, “Harta milik kami hanya sedikit”, maka kita katakan kepada mereka,وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَاDan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya (QS. 11:6)Dan terkadang seseorang melihat bahwa rezekinya dilapangkan jika ia memperoleh seorang anak. Seorang pedagang yang aku percayai pernah berkata, “Semenjak aku menikah Allah membukakan pintu rezeki bagiku. Tatkala aku kelahiran anakku si fulan maka dibukakan bagiku pintu rezeki yang lain”. Dan ini jelas diketahui bersama karena Allah berfirman وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya (QS. 11:6)Allah juga berfirmanوَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ (الأنعام : 151 )Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka (QS. 6:151)وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُم إنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْءاً كَبِيراً (الإسراء : 31 )Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. (QS. 17:31)Allah juga berfirmanإِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. (QS. 24:32)Intinya bahwasanya pernyataan bahwa banyaknya anak merupakan sebab kemiskinan merupkan pernyataan yang keliru…)) [Asy-Syarhul Mumti’ XII/18]Berikut ini beberapa perkara yang berkaitan dengan permasalahan ini–  Membatasi kelahiran anak –tanpa ada kondisi darurat- hukumnya adalah haram karena bertentangan dengan tujuan syari’at dan tujuan nikah yaitu untuk menjaga diri dan memperbanyak keturunan, serta menunjukkan sikap berburuk sangka kepada Allah yang luas rizki-Nya bagi orang yang membatasi kelahiran karena takut miskin. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/298 no 3205)–  Ada perbedaan antara membatasi kelahiran dengan mengatur angka kelahiran. Membatasi angka kelahiran maksudnya adalah memberhentikan kelahiran hingga pada jumlah tertentu. Misalnya hingga dua anak cukup, atau tiga, atau lima, dengan alasan untuk menjaga ekonomi keluarga atau karena benci dengan jumlah anak yang banyak. Adapun pengaturan angka kelahiran melakukan sebuah amalan (misalnya mengkonsumsi obat anti hamil) dalam rangka menunda kehamilan hingga waktu tertentu hingga sang wanita kembali kekuatannya dan semangatnya kemudian kembali hamil dan meninggalkan penggunaan obat anti hamil. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/299 no 5040)Dalil-dalil akan bolehnya pengaturan kelahiran karena ada kebutuhan diantaranya: Dahulu para sahabat radhiyallahu ‘anhum mereka malakukan ‘azal di zaman Nabi. Dan tidak diragukan lagi bahwa ‘azal biasanya mencegah kehamilan (Penjelasan Syaikh Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ XII/18). Firman Allahوَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍDan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (QS. 22:78) Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ Tidak boleh menimbulkan bahaya (pada diri sendiri) dan tidak boleh membahayakan (orang lain) (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/294 no 443)–   Pengaturan kelahiran diperbolehkan jika karena kebutuhan seperti seorang wanita yang proses melahirkannya tidak normal sehingga harus melakukan operasi untuk mengeluarkan sang anak, atau karena ada kemaslahatan tertentu yang dipandang oleh kedua pasangan. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/307). Demikian juga misalnya karena kondisi tubuh sang wanita yang kurang sehat atau kurus misalnya sehingga dikhawatirkan akan sakit jika sering melahirkan maka tidak mengapa. Adapun mengkonsumsi obat anti hamil dengan niat agar tubuh sang wanita tetap cantik maka hal ini tidak diperbolehkan. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/293 no 443)–    Boleh bagi seorang wanita mengkonsumsi obat anti hamil pada masa menyusui anaknya dikarenakan kawatir ada bahaya yang menimpa sang anak atau sang wanita itu sendiri (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/321 no 3843)–   Adapun menggunakan obat anti hamil dengan alasan untuk mendidik anak maka ini tidak diperbolehkan (Fatwa Syaikh Bin Baaz dalam Majmu’ fataawa wa maqoolaat mutanawwi’ah XXI/193)Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya, “Seorang lelaki memiliki delapan anak dari dua orang istri dan dia semangat untuk mendidik anak-anaknya sesuai dengan pendidikan Islami. Dia berkata, “Sesungguhnya keburukan yang banyak timbul di zaman ini menjadikan seseorang benar-benar berjihad dalam mendidik anak-anak, dan butuh memiliki kesabaran yang tinggi”. Apakah boleh penggunaan obat anti hamil atau yang lainnya untuk memberhentikan proses kehamilan dalam jangka waktu tertentu, atau tidak boleh?”Maka Al-Lajnah Ad-Daimah menjawab, “Masa depan adalah perkara yang gaib dan tidak ada yang mengetahui yang gaib melainkan Allah. Seseorang tidak tahu manakah dari anak-anaknya yang baik. Apakah anak-anaknya yang ia telah berusaha mendidiknya dengan baik ataukah anak-anaknya yang akan dikaruniai oleh Allah setelah itu baik putra maupun putri??. Maka wajib bagi seorang muslim untuk bertawakal kepada Allah dan menyerahkan segara urusannya kepada Allah dan janganlah dia dan istrinya mengkonsumsi sesuatu yang mencegah kehamilan seperti suntikan atau pil atau minuman tertentu dan yang semisalnya. Bisa jadi Allah menganugerahkan kepadanya di masa mendatang anak-anak yang menyebabkan ia mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dan bisa jadi Allah melapangkan rizkinya karena tawakalnya kepada-Nya. Bisa jadi Allah menganugerahkan kepadanya anak-anak (di masa mendatang) yang seluruhnya memberi manfaat kepadanya baik di dunia maupun di akhirat serta Allah menjaga mereka dari fitnah dan kejelekan-kejelekan para hamba…”. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/301 no 2114)–    Disyaratkan obat anti hamil yang dikonsumsi oleh sang wanita tidak membahayakan semisal bahaya yang ingin dihindari. Karena bahaya tidak boleh ditolak dengan bahaya yang semisalnya. Penggunaan sebagian obat-obat anti hamil bisa mengakibatkan tidak teraturnya waktu haidh, atau merusak rahim, atau timbul tekanan dalam darah, atau bahaya-bahaya yang lainnya. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/294 no 443)–   Sang wanita yang menggunakan obat anti hamil karena kebutuhan harus meminta idzin kepada suaminya. Dan jika memang kebutuhannya sesuai dengan syari’at maka wajib bagi sang suami untuk mengidzinkannya. Adapun jika kebutuhan tersebut tidak sesuai dengan syari’at maka wajib bagi sang suami untuk tidak mengidzinkannya. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah XIX/295 no 443)Renungan penutup……Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, “Hendaknya seseorang tatkala bermuamalah dengan baik terhadap istrinya tidak hanya mengharapkan kebahagiaan di dunia saja berupa ketenangan dan kenikmatan. Akan tetapi hendaknya ia juga berniat untuk beribadah kepada Allah dengan menunaikan kewajiban-kewajibannya. Hal ini sering dilalaikan oleh kita. Banyak orang yang bersikap baik terhadap istrinya namun niatnya hanya untuk menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangganya dengan sebaik mungkin namun mereka lupa untuk meniatkan amal mereka itu untuk beribadah kepada Allah. Ini sering dilupakan…dan syaitan berperan untuk menjadikan mereka lupa akan hal ini. Oleh karena itu hendaknya tatkala engkau bersikap baik terhadap istrimu hendaknya engkau berniat bahwasanya engkau sedang menjalankan perintah Allahوَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (النساء : 19 )Dan pergaullah mereka dengan baik. (QS. 4:19)”[Asy-Syarhul Mumti’ XII/383]الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُوَصَلَى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَSelesai di tulis di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,Ahad 22 Februari 2006 MSelesai muroja’ah kembali 4 April 2006 Mwww.firanda.comDaftar Pustaka1.      Shahih Al-Bukhori, tahqiq DR Mushthofa Dib Al-Bagho, terbitan Dar Ibni Katsir2.      Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fu’ad Abdil Baqi, terbitan Dar Ihya At-Turots Al-‘Arobi3.      Sunan Abu Dawud, tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdilhamid, terbitan Darul Fikr4.      Sunan At-Thirmidzi, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dan yang lainnya, Dar Ihya’ At-Turots, Beiruut5.      Sunan Ibnu Majah, tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baaqi, Darul Fikr6.      Al-Ihsan fi taqriib Shahih Ibnu Hibban, karya al-Amin ‘Ala-uddin al-Farisi, tahqiq Syu’aib al-Arna-uth, cetakan kedua, Mu-assasah ar-Risalah.7.      Al-Mustadrak ‘alas Shahihain, karya Abu ‘Abdillah al-Hakim an-Naisabuuri, tahqiq Musthafa ‘Abdul Qadir ‘Atha’, cetakan pertama, Darul Kutub al-‘Ilmiyyah.8.      Musnad Imam Ahmad, terbitan Maimaniah9.      Silsilah al-Ahadits as-Shahihah, Syaikh al-Abani, Maktabatul Ma’arif.10.  Tafsir At-Thabari, Muhammad bin Jarir at-Thabari, Darul Fikr.11.  Tafsir Al-Qurthubi, Abu Abdillah Muhmmad bin Abdillah Al-Anshori Al-Qurthubi, Dar As-Sya’b, Al-Qohiroh Ruuhul M’aani, Abul Fadhl Al-Aluusii, Dar Ihyaa’ At-Tuorts Al-‘Arobi Ad-Dur Al-Mantsur, Jalaluddin As-Suyuthi, Darul Fikr Al-Kasysyaaf, karya Az-Zamkhsyari Al-Mu’tazili, tahqiq Abdurrozaq Al-Mahdi, Darul Ihyaa’ At-Turots Al-‘Arobi At-Tafsiir Al-Kabiir, Fakhruddiin Ar-Roozi, cetakan pertama Darl Kutub Al-‘Ilmiyyah Zaadul Masiir, karya Ibnul Jauzi, Al-Maktab Al-Islami, cetakan ketiga Al-Muharror Al-Wajiiz fi Tafsiir Al-Kitab Al-‘Aziz, Abdul Haq Al-Andalusi, tahqiq Abdus Salam Abdus Syafi Muhammad, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah cetakan pertama Tafsir Ibnu Katsir, Darul Fikr Tafsir Al-Baghowi, tahqiq Kholid bin Abdurrahman Al-‘Ak, Darul Ma’rifah20.  Taisir Al-Karimir Rohman, Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di, cetakan pertama, Muassasah Ar-Risalah21.  Adlwaa’ul Bayaan, Syaikh Muhammad Al-Amiin Asy-Syingqithy, tahqiq Maktab Al-Buhuts wad Dirosaat, Darul Fikr Ahkamul Qur’an, Abu Bakar Ibnul ‘Arobi, tahqiq Muhammad Abdul Qodir ‘Atoo, Darul Fikr23.  Fat-hul Bari, Ibnu Hajar, tahqiq Muhibbuddin Khathib, Darul Ma’rifah.24.  ‘Umdatul Qori, karya Badruddin Muhammad bin Ahmad al-‘Aini (855 H), Daar Ihyaa’ at-Turats.25.  Al-Minhaj syarh shahih Muslim, An-Nawawi, cetakan kedua, Dar Ihya’ At-Turots26.  ‘Aunul Ma’bud, Syamsul Haqq al-Azhim Abadi, Darul Fikr. Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarokfuri, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi Nailul Author, karya As-Syaukani, Darul Jil Beiruth29.  Faidhul Qodiir, Abdurro’uuf Al-Munaawii, cetakan pertama Maktabah Tijaariyah (Mesir) Syarh Az-Zarqooni ‘Ala Muwattho’ Al-Imam Malik,, Muhammad bin Abdul Baaqi bin Yusuf Az-Zarqoni, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cetakan pertama Mirqootul Mafatiih syarh Misykaatul Mashobiih, Ali bin Sulthoon Muhmaad Al-Qoori, tahqiq Jamal ‘Iitaani, cetakan pertama, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, Abdullah bin Abdirrahman Ali Bassaam, cetakan kedua Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah, Darul Fikr, cetakan pertama Bada’i As-Shona’i, ‘Alauddin Al-Kisaai, Darul Kitab Al-‘Arobi, cetakan kedua Al-Umm, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Darl Ma’rifah cetakan kedua Kifaayatul Akhyaar, Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini Asy-Syafi’i, tahqiq Ali Abdul Hamid Baltaji, Darul Khoir cetakan pertama Masyariqol Anwaar, Al-Qodhi ‘Iyaadh, Maktabah Al-‘Atiqoh As-Siroh An-Nabawiah As-Shahihah, Doktor Akrom Dhiyaa’ Al-‘Umari, cetakan ke-5, Maktabah Al-‘Ubaikan Al-Mau’idzoh Al-Hasanah fi Al-Akhlaq Al-Hasanah, Abdulmalik bin Ahmad Romadhoni Al-Qoul Mufiid, Syaikh Ibnu Utsaimin Adabuz Zifaaf, Syaikh Al-Albani42.  Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, tahqiq ‘Amirul Al-Jazzaar dan Anwaarul Baaz, Darul Wafa’ (dengan ihaalah kepada cetakan lama mu’tamad).43.  Zadul Ma’ad fi Hady Khairil ‘Ibad, Ibnul Qayyim, tahqiq Syu’aib Al-Arnauth, cetakan ke-14, Mu-assasah ar-Risalah.44.  Al-Asaaliib Al-Mustambathoh min ta’aamul Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam ma’a Zaujaatihi wa Atsaaruha At-Tarbawiyah, Husain bin ‘Ali bin Maani’ Al-‘Umari, risalah ilmiah S245.  Al-Asaaliib An-Nabawiyah fi Mu’aalajati Al-Musykilaat Az-Zaujiyah, DR Abdus Samii’ Al-Aniis, cetakan pertama, Dar Ibnul Jauzi46.  Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil buhuts Al-‘Ilmiyah wal ifta’. Disusun oleh Ahmad bin Abdurrozaaq Ad-Duwaisy, cetakan Riasah Idarotil buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’47.  Majmu’ fatwa wa maqoolaat mutanawwi’ah, Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, disusun oleh DR Muhammad Sa’ad Asy-Syuwai’ir, cetakan Riasah Idarotil buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’48.  Majallah Al-Ashoolah no 46, terbitan Markaz Al-Imam Al-Albani49.  Ceramah Syaikh Ibnu Utsaimin (Syarh Bulughul Maram, kitab An-Nikaah)50.  Ceramah Syaikh Sholeh Fauzan Ali Fauzan (Syarh Bulughul Maram, kitab An-Nikaah)51.  Ceramah Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad (Syarh Sunan Abu Dawud)52.  Ceramah Syaikh Sulthon Al-‘Uwayyid yang berjudul Risalah ila Az-Zaujain53.  Ceramah Syaikh Muhammad Mukhtaar As-Syinqithi yang berjudul Fiqhul Usroh54.  Ceramah Syaikh Abu Ishaaq Al-Huwaini yang berjudul “Lailah fi bait An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”55.  Lisaanul ‘Arob, Ibnu Manzhur, cetakan pertama, Dar Shodir[1] HR Ibnu Hibban 9/338. Berkata Ibnu Hajar, “Adapun hadits “Sesungguhnya aku berbangga dengan kalian” maka hadits tersebut shahih dari hadits Anas…dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dan disebutkan oleh Imam As-Syafi’i secara بلاغا (balagan) dari hadits Ibnu Umar dengan lafal تَنَاكَحُوْا تَكَاثَرُوْا فَإِنِّي أُبَاهِي بِكُمُ الأُمَمَ “Menikahlah dan beranak banyaklah kalian karena sesungguhnya aku berbangga dengan (jumlah) kalian”, dan dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dari hadits Abu Umamah dengan lafal تَزَوَّجُوْا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ وَلاَ تَكُوْنُوْا كَرُهْبَانِيَةِ النَّصَارَى “Menikahlah sesungguhnya aku memebanggakan (jumlah) kalian dihadapan umat-umat yang lain dan janganlah kalian seperti kerahiban orang-orang Nasrani…” (Fathul Bari 9/111). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ no 1784

Iman, Tanda Allah Cinta

Sebagian kita menyangka bahwa harta adalah segalanya. Dengan harta pun semuanya makin mudah. Bersyukur memang jika kita berharta, apalagi jika kita dapat menyalurkan harta tersebut pada jalan kebaikan. Namun bagaimana jika kita luput dari dunia. Harta kita barangkali amblas, hilang, dirampas. Sebenarnya, itu pun patut kita syukuri jika Allah masih memberi kita iman. Ingatlah keimanan itu begitu berharga karena iman hanya spesial untuk orang beriman. Iman hanya diberikan kepada hamba yang Allah pilih. Iman hanya terkhusus bagi siapa yang Allah cinta. Bedanya dengan harta, orang kafir pun bisa mendapatkan bagiannya.  Lihat saja jajaran orang kaya di dunia, mulai dari Biil Gates dan Roman Abramovich. Orang beriman dan orang yang sangat kufur sekali pun sama-sama diberi harta. Sedangkan bagaimana dengan iman? Iman hanya ada pada sisi orang beriman. Maka inilah yang patut kita sykuri. Meskipun dunia tidak kita dapat, kita harus tetap bersyukur masih ada sedikit harta yang Allah beri. Meskipun harta kita terbatas, masih ada iman yang begitu berharga yang masih kita rasakan nikmatnya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ ، وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ “Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.”[1] Syukurilah yang sedikit karena masih ada iman, nikmat tiada tara yang Allah beri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.”[2] Iman begitu berharga. Jika para raja tahu nikmatnya iman di dada, pasti mereka akan mencabutnya. Para salaf mengatakan, لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ “Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”[3] Teruslah bersyukur, maka akan diberi tambahan nikmat. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7) Sebenarnya kita sudah mendapatkan dunia seisinya saat kita diberi rasa aman, diberi kesehatan badan dan diberi nikmat makan oleh Allah. Dengan nikmat-nikmat yang terus kita dapat setiap harinya, maka meskipun kurang harta, masih tetap kita harus bersyukur karena dunia seisinya sebenarnya telah kita raih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا “Barangsiapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan badan, dan diberi makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.”[4] Jadilah orang yang qonaah, selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.”[5] Iman dan takwa itu begitu berharga. Oleh karenanya, selalu mintalah pada Allah iman dan takwa. Meski hidup pas-pasan, jangan sampai iman ini digadaikan hanya karena sesuap nasi atau indomie. Mohonlah pada Allah, jangan sampai iman ini hilang di saat malaikat maut mencabut nyawa kita. Iman dan takwa itulah tanda Allah cinta. Sedangkan harta belum tentu tanda Allah cinta pada hamba. Ya Allah, anugerahkanlah pada kami iman, takwa dan sifat qonaah. Aamiin Yaa Mujibas Saailin. Riyadh-KSA, close to the time of Maghrib, 11st Rajab 1432 H (12/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Akan Dicintai Allah Jika Dua Sifat Ini Dimiliki Ujian dan Musibah Tanda Allah Cinta [1] Diriwayatkan oleh Al Maruzi dalam Zawaiduz Zuhd, Ibnu Abi Syaibah 3/294, Al Bukhari dalam Adabul Mufrod 279, sanadnya shahih kata Syaikh ‘Ali Al Halabi dalam tahqiq beliau terhadapa kitab Ad Daa’ wad Dawaa’ Ibnul Qayyim [2] HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667 [3] Shahih Al Wabilush Shoyyib, antara hal. 91-96, terbitan Dar Ibnul Jauziy. [4] HR. Tirmidzi no. 2346. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan [5] HR. Muslim no. 1054 Tagscinta iman

Iman, Tanda Allah Cinta

Sebagian kita menyangka bahwa harta adalah segalanya. Dengan harta pun semuanya makin mudah. Bersyukur memang jika kita berharta, apalagi jika kita dapat menyalurkan harta tersebut pada jalan kebaikan. Namun bagaimana jika kita luput dari dunia. Harta kita barangkali amblas, hilang, dirampas. Sebenarnya, itu pun patut kita syukuri jika Allah masih memberi kita iman. Ingatlah keimanan itu begitu berharga karena iman hanya spesial untuk orang beriman. Iman hanya diberikan kepada hamba yang Allah pilih. Iman hanya terkhusus bagi siapa yang Allah cinta. Bedanya dengan harta, orang kafir pun bisa mendapatkan bagiannya.  Lihat saja jajaran orang kaya di dunia, mulai dari Biil Gates dan Roman Abramovich. Orang beriman dan orang yang sangat kufur sekali pun sama-sama diberi harta. Sedangkan bagaimana dengan iman? Iman hanya ada pada sisi orang beriman. Maka inilah yang patut kita sykuri. Meskipun dunia tidak kita dapat, kita harus tetap bersyukur masih ada sedikit harta yang Allah beri. Meskipun harta kita terbatas, masih ada iman yang begitu berharga yang masih kita rasakan nikmatnya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ ، وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ “Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.”[1] Syukurilah yang sedikit karena masih ada iman, nikmat tiada tara yang Allah beri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.”[2] Iman begitu berharga. Jika para raja tahu nikmatnya iman di dada, pasti mereka akan mencabutnya. Para salaf mengatakan, لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ “Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”[3] Teruslah bersyukur, maka akan diberi tambahan nikmat. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7) Sebenarnya kita sudah mendapatkan dunia seisinya saat kita diberi rasa aman, diberi kesehatan badan dan diberi nikmat makan oleh Allah. Dengan nikmat-nikmat yang terus kita dapat setiap harinya, maka meskipun kurang harta, masih tetap kita harus bersyukur karena dunia seisinya sebenarnya telah kita raih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا “Barangsiapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan badan, dan diberi makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.”[4] Jadilah orang yang qonaah, selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.”[5] Iman dan takwa itu begitu berharga. Oleh karenanya, selalu mintalah pada Allah iman dan takwa. Meski hidup pas-pasan, jangan sampai iman ini digadaikan hanya karena sesuap nasi atau indomie. Mohonlah pada Allah, jangan sampai iman ini hilang di saat malaikat maut mencabut nyawa kita. Iman dan takwa itulah tanda Allah cinta. Sedangkan harta belum tentu tanda Allah cinta pada hamba. Ya Allah, anugerahkanlah pada kami iman, takwa dan sifat qonaah. Aamiin Yaa Mujibas Saailin. Riyadh-KSA, close to the time of Maghrib, 11st Rajab 1432 H (12/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Akan Dicintai Allah Jika Dua Sifat Ini Dimiliki Ujian dan Musibah Tanda Allah Cinta [1] Diriwayatkan oleh Al Maruzi dalam Zawaiduz Zuhd, Ibnu Abi Syaibah 3/294, Al Bukhari dalam Adabul Mufrod 279, sanadnya shahih kata Syaikh ‘Ali Al Halabi dalam tahqiq beliau terhadapa kitab Ad Daa’ wad Dawaa’ Ibnul Qayyim [2] HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667 [3] Shahih Al Wabilush Shoyyib, antara hal. 91-96, terbitan Dar Ibnul Jauziy. [4] HR. Tirmidzi no. 2346. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan [5] HR. Muslim no. 1054 Tagscinta iman
Sebagian kita menyangka bahwa harta adalah segalanya. Dengan harta pun semuanya makin mudah. Bersyukur memang jika kita berharta, apalagi jika kita dapat menyalurkan harta tersebut pada jalan kebaikan. Namun bagaimana jika kita luput dari dunia. Harta kita barangkali amblas, hilang, dirampas. Sebenarnya, itu pun patut kita syukuri jika Allah masih memberi kita iman. Ingatlah keimanan itu begitu berharga karena iman hanya spesial untuk orang beriman. Iman hanya diberikan kepada hamba yang Allah pilih. Iman hanya terkhusus bagi siapa yang Allah cinta. Bedanya dengan harta, orang kafir pun bisa mendapatkan bagiannya.  Lihat saja jajaran orang kaya di dunia, mulai dari Biil Gates dan Roman Abramovich. Orang beriman dan orang yang sangat kufur sekali pun sama-sama diberi harta. Sedangkan bagaimana dengan iman? Iman hanya ada pada sisi orang beriman. Maka inilah yang patut kita sykuri. Meskipun dunia tidak kita dapat, kita harus tetap bersyukur masih ada sedikit harta yang Allah beri. Meskipun harta kita terbatas, masih ada iman yang begitu berharga yang masih kita rasakan nikmatnya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ ، وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ “Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.”[1] Syukurilah yang sedikit karena masih ada iman, nikmat tiada tara yang Allah beri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.”[2] Iman begitu berharga. Jika para raja tahu nikmatnya iman di dada, pasti mereka akan mencabutnya. Para salaf mengatakan, لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ “Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”[3] Teruslah bersyukur, maka akan diberi tambahan nikmat. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7) Sebenarnya kita sudah mendapatkan dunia seisinya saat kita diberi rasa aman, diberi kesehatan badan dan diberi nikmat makan oleh Allah. Dengan nikmat-nikmat yang terus kita dapat setiap harinya, maka meskipun kurang harta, masih tetap kita harus bersyukur karena dunia seisinya sebenarnya telah kita raih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا “Barangsiapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan badan, dan diberi makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.”[4] Jadilah orang yang qonaah, selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.”[5] Iman dan takwa itu begitu berharga. Oleh karenanya, selalu mintalah pada Allah iman dan takwa. Meski hidup pas-pasan, jangan sampai iman ini digadaikan hanya karena sesuap nasi atau indomie. Mohonlah pada Allah, jangan sampai iman ini hilang di saat malaikat maut mencabut nyawa kita. Iman dan takwa itulah tanda Allah cinta. Sedangkan harta belum tentu tanda Allah cinta pada hamba. Ya Allah, anugerahkanlah pada kami iman, takwa dan sifat qonaah. Aamiin Yaa Mujibas Saailin. Riyadh-KSA, close to the time of Maghrib, 11st Rajab 1432 H (12/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Akan Dicintai Allah Jika Dua Sifat Ini Dimiliki Ujian dan Musibah Tanda Allah Cinta [1] Diriwayatkan oleh Al Maruzi dalam Zawaiduz Zuhd, Ibnu Abi Syaibah 3/294, Al Bukhari dalam Adabul Mufrod 279, sanadnya shahih kata Syaikh ‘Ali Al Halabi dalam tahqiq beliau terhadapa kitab Ad Daa’ wad Dawaa’ Ibnul Qayyim [2] HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667 [3] Shahih Al Wabilush Shoyyib, antara hal. 91-96, terbitan Dar Ibnul Jauziy. [4] HR. Tirmidzi no. 2346. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan [5] HR. Muslim no. 1054 Tagscinta iman


Sebagian kita menyangka bahwa harta adalah segalanya. Dengan harta pun semuanya makin mudah. Bersyukur memang jika kita berharta, apalagi jika kita dapat menyalurkan harta tersebut pada jalan kebaikan. Namun bagaimana jika kita luput dari dunia. Harta kita barangkali amblas, hilang, dirampas. Sebenarnya, itu pun patut kita syukuri jika Allah masih memberi kita iman. Ingatlah keimanan itu begitu berharga karena iman hanya spesial untuk orang beriman. Iman hanya diberikan kepada hamba yang Allah pilih. Iman hanya terkhusus bagi siapa yang Allah cinta. Bedanya dengan harta, orang kafir pun bisa mendapatkan bagiannya.  Lihat saja jajaran orang kaya di dunia, mulai dari Biil Gates dan Roman Abramovich. Orang beriman dan orang yang sangat kufur sekali pun sama-sama diberi harta. Sedangkan bagaimana dengan iman? Iman hanya ada pada sisi orang beriman. Maka inilah yang patut kita sykuri. Meskipun dunia tidak kita dapat, kita harus tetap bersyukur masih ada sedikit harta yang Allah beri. Meskipun harta kita terbatas, masih ada iman yang begitu berharga yang masih kita rasakan nikmatnya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ ، وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ “Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.”[1] Syukurilah yang sedikit karena masih ada iman, nikmat tiada tara yang Allah beri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.”[2] Iman begitu berharga. Jika para raja tahu nikmatnya iman di dada, pasti mereka akan mencabutnya. Para salaf mengatakan, لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ “Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”[3] Teruslah bersyukur, maka akan diberi tambahan nikmat. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7) Sebenarnya kita sudah mendapatkan dunia seisinya saat kita diberi rasa aman, diberi kesehatan badan dan diberi nikmat makan oleh Allah. Dengan nikmat-nikmat yang terus kita dapat setiap harinya, maka meskipun kurang harta, masih tetap kita harus bersyukur karena dunia seisinya sebenarnya telah kita raih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا “Barangsiapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan badan, dan diberi makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.”[4] Jadilah orang yang qonaah, selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.”[5] Iman dan takwa itu begitu berharga. Oleh karenanya, selalu mintalah pada Allah iman dan takwa. Meski hidup pas-pasan, jangan sampai iman ini digadaikan hanya karena sesuap nasi atau indomie. Mohonlah pada Allah, jangan sampai iman ini hilang di saat malaikat maut mencabut nyawa kita. Iman dan takwa itulah tanda Allah cinta. Sedangkan harta belum tentu tanda Allah cinta pada hamba. Ya Allah, anugerahkanlah pada kami iman, takwa dan sifat qonaah. Aamiin Yaa Mujibas Saailin. Riyadh-KSA, close to the time of Maghrib, 11st Rajab 1432 H (12/06/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Akan Dicintai Allah Jika Dua Sifat Ini Dimiliki Ujian dan Musibah Tanda Allah Cinta [1] Diriwayatkan oleh Al Maruzi dalam Zawaiduz Zuhd, Ibnu Abi Syaibah 3/294, Al Bukhari dalam Adabul Mufrod 279, sanadnya shahih kata Syaikh ‘Ali Al Halabi dalam tahqiq beliau terhadapa kitab Ad Daa’ wad Dawaa’ Ibnul Qayyim [2] HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667 [3] Shahih Al Wabilush Shoyyib, antara hal. 91-96, terbitan Dar Ibnul Jauziy. [4] HR. Tirmidzi no. 2346. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan [5] HR. Muslim no. 1054 Tagscinta iman

Kaedah Suci dan Najis dari Asy Syaukani

Kami sangat tertarik sekali dengan Fiqh Imam Besar Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani. Pernah kami bahas dalam suatu majelis tentang fiqih thoharoh dari kitab Asy Syaukani “Ad Daroril Madhiyah“. Sedikit faedah yang kami peroleh sengaja kami tuangkan dalam tulisan ini. Faedah pertama: فَإِنَّ أَصْلَ عُنْصُرِ المَاءِ طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ بِلاَ نِزَاعٍ “Hukum asal dari air adalah suci dan mensucikan, kaedah ini tidak diperselisihkan (oleh para ulama).” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 9) Faedah kedua: ولا يقدح في ذلك التخفيف في تطهيرهما في بعض الأحوال “Jika ada berbagai macam cara dalam menyucikan (kotoran dan kencing manusia) sampai ada cara menyucikan yang ringan, maka itu tidak mencacati bahwa kotoran dan kencing manusia itu najis.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 21). Maksudnya, adalah bagaimana pun cara pembersihan najis selama itu diperintahkan untuk dibersihkan atau dicuci dalam nash (dalil), maka itu menunjukkan najisnya. Sebagaimana yang terjadi pada kencing manusia, kadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh menyiram seperti yang terjadi pada kencing Arab Badui yang nakal kencing di masjid Nabi. Kadang pula kencing diperingan cukup diperciki sebagaimana hal ini berlaku pada kencing bayi laki-laki. Namun kedua kasus ini tetap menunjukkan najisnya kencing. Faedah ketiga: الأصل في كل شئ أنه طاهر “Asal segala sesuatu adalah suci.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 23) Faedah keempat: لأن القول بنجاسته يستلزم تعبد العباد بحكم من الأحكام والأصل عدم ذلك والبراءة قاضية بأنه لا تكليف بالمحتمل حتى يثبت ثبوتا ينقل عن ذلك “Jika dikatakan bahwa sesuatu itu najis, maka ini berarti membebani hamba dengan suatu hukum. Oleh karenanya, hukum asalnya, seseorang hamba terbebas dari beban dan seorang hamba tidak dibebani kewajiban dengan sesuatu yang masih kemungkinan (muhtamal) najis atau tidaknya sampai ada dalil yang menyatakan dengan jelas bahwa itu najis.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 23) Moga Allah mudahkan untuk menggali faedah lainnya.   Referensi: Ad Daroril Madhiyah, Asy Syaukani, terbitan Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H   Panggang-Gunung Kidul, 17 Maret 2010 www.rumaysho.com Tagsasy syaukani najis suci

Kaedah Suci dan Najis dari Asy Syaukani

Kami sangat tertarik sekali dengan Fiqh Imam Besar Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani. Pernah kami bahas dalam suatu majelis tentang fiqih thoharoh dari kitab Asy Syaukani “Ad Daroril Madhiyah“. Sedikit faedah yang kami peroleh sengaja kami tuangkan dalam tulisan ini. Faedah pertama: فَإِنَّ أَصْلَ عُنْصُرِ المَاءِ طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ بِلاَ نِزَاعٍ “Hukum asal dari air adalah suci dan mensucikan, kaedah ini tidak diperselisihkan (oleh para ulama).” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 9) Faedah kedua: ولا يقدح في ذلك التخفيف في تطهيرهما في بعض الأحوال “Jika ada berbagai macam cara dalam menyucikan (kotoran dan kencing manusia) sampai ada cara menyucikan yang ringan, maka itu tidak mencacati bahwa kotoran dan kencing manusia itu najis.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 21). Maksudnya, adalah bagaimana pun cara pembersihan najis selama itu diperintahkan untuk dibersihkan atau dicuci dalam nash (dalil), maka itu menunjukkan najisnya. Sebagaimana yang terjadi pada kencing manusia, kadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh menyiram seperti yang terjadi pada kencing Arab Badui yang nakal kencing di masjid Nabi. Kadang pula kencing diperingan cukup diperciki sebagaimana hal ini berlaku pada kencing bayi laki-laki. Namun kedua kasus ini tetap menunjukkan najisnya kencing. Faedah ketiga: الأصل في كل شئ أنه طاهر “Asal segala sesuatu adalah suci.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 23) Faedah keempat: لأن القول بنجاسته يستلزم تعبد العباد بحكم من الأحكام والأصل عدم ذلك والبراءة قاضية بأنه لا تكليف بالمحتمل حتى يثبت ثبوتا ينقل عن ذلك “Jika dikatakan bahwa sesuatu itu najis, maka ini berarti membebani hamba dengan suatu hukum. Oleh karenanya, hukum asalnya, seseorang hamba terbebas dari beban dan seorang hamba tidak dibebani kewajiban dengan sesuatu yang masih kemungkinan (muhtamal) najis atau tidaknya sampai ada dalil yang menyatakan dengan jelas bahwa itu najis.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 23) Moga Allah mudahkan untuk menggali faedah lainnya.   Referensi: Ad Daroril Madhiyah, Asy Syaukani, terbitan Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H   Panggang-Gunung Kidul, 17 Maret 2010 www.rumaysho.com Tagsasy syaukani najis suci
Kami sangat tertarik sekali dengan Fiqh Imam Besar Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani. Pernah kami bahas dalam suatu majelis tentang fiqih thoharoh dari kitab Asy Syaukani “Ad Daroril Madhiyah“. Sedikit faedah yang kami peroleh sengaja kami tuangkan dalam tulisan ini. Faedah pertama: فَإِنَّ أَصْلَ عُنْصُرِ المَاءِ طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ بِلاَ نِزَاعٍ “Hukum asal dari air adalah suci dan mensucikan, kaedah ini tidak diperselisihkan (oleh para ulama).” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 9) Faedah kedua: ولا يقدح في ذلك التخفيف في تطهيرهما في بعض الأحوال “Jika ada berbagai macam cara dalam menyucikan (kotoran dan kencing manusia) sampai ada cara menyucikan yang ringan, maka itu tidak mencacati bahwa kotoran dan kencing manusia itu najis.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 21). Maksudnya, adalah bagaimana pun cara pembersihan najis selama itu diperintahkan untuk dibersihkan atau dicuci dalam nash (dalil), maka itu menunjukkan najisnya. Sebagaimana yang terjadi pada kencing manusia, kadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh menyiram seperti yang terjadi pada kencing Arab Badui yang nakal kencing di masjid Nabi. Kadang pula kencing diperingan cukup diperciki sebagaimana hal ini berlaku pada kencing bayi laki-laki. Namun kedua kasus ini tetap menunjukkan najisnya kencing. Faedah ketiga: الأصل في كل شئ أنه طاهر “Asal segala sesuatu adalah suci.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 23) Faedah keempat: لأن القول بنجاسته يستلزم تعبد العباد بحكم من الأحكام والأصل عدم ذلك والبراءة قاضية بأنه لا تكليف بالمحتمل حتى يثبت ثبوتا ينقل عن ذلك “Jika dikatakan bahwa sesuatu itu najis, maka ini berarti membebani hamba dengan suatu hukum. Oleh karenanya, hukum asalnya, seseorang hamba terbebas dari beban dan seorang hamba tidak dibebani kewajiban dengan sesuatu yang masih kemungkinan (muhtamal) najis atau tidaknya sampai ada dalil yang menyatakan dengan jelas bahwa itu najis.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 23) Moga Allah mudahkan untuk menggali faedah lainnya.   Referensi: Ad Daroril Madhiyah, Asy Syaukani, terbitan Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H   Panggang-Gunung Kidul, 17 Maret 2010 www.rumaysho.com Tagsasy syaukani najis suci


Kami sangat tertarik sekali dengan Fiqh Imam Besar Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani. Pernah kami bahas dalam suatu majelis tentang fiqih thoharoh dari kitab Asy Syaukani “Ad Daroril Madhiyah“. Sedikit faedah yang kami peroleh sengaja kami tuangkan dalam tulisan ini. Faedah pertama: فَإِنَّ أَصْلَ عُنْصُرِ المَاءِ طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ بِلاَ نِزَاعٍ “Hukum asal dari air adalah suci dan mensucikan, kaedah ini tidak diperselisihkan (oleh para ulama).” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 9) Faedah kedua: ولا يقدح في ذلك التخفيف في تطهيرهما في بعض الأحوال “Jika ada berbagai macam cara dalam menyucikan (kotoran dan kencing manusia) sampai ada cara menyucikan yang ringan, maka itu tidak mencacati bahwa kotoran dan kencing manusia itu najis.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 21). Maksudnya, adalah bagaimana pun cara pembersihan najis selama itu diperintahkan untuk dibersihkan atau dicuci dalam nash (dalil), maka itu menunjukkan najisnya. Sebagaimana yang terjadi pada kencing manusia, kadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh menyiram seperti yang terjadi pada kencing Arab Badui yang nakal kencing di masjid Nabi. Kadang pula kencing diperingan cukup diperciki sebagaimana hal ini berlaku pada kencing bayi laki-laki. Namun kedua kasus ini tetap menunjukkan najisnya kencing. Faedah ketiga: الأصل في كل شئ أنه طاهر “Asal segala sesuatu adalah suci.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 23) Faedah keempat: لأن القول بنجاسته يستلزم تعبد العباد بحكم من الأحكام والأصل عدم ذلك والبراءة قاضية بأنه لا تكليف بالمحتمل حتى يثبت ثبوتا ينقل عن ذلك “Jika dikatakan bahwa sesuatu itu najis, maka ini berarti membebani hamba dengan suatu hukum. Oleh karenanya, hukum asalnya, seseorang hamba terbebas dari beban dan seorang hamba tidak dibebani kewajiban dengan sesuatu yang masih kemungkinan (muhtamal) najis atau tidaknya sampai ada dalil yang menyatakan dengan jelas bahwa itu najis.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 23) Moga Allah mudahkan untuk menggali faedah lainnya.   Referensi: Ad Daroril Madhiyah, Asy Syaukani, terbitan Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H   Panggang-Gunung Kidul, 17 Maret 2010 www.rumaysho.com Tagsasy syaukani najis suci
Prev     Next