Tafsir Surah Al-A’la: Keagungan Penciptaan, Hidayah, dan Kemudahan dalam Islam

Surah Al-A’la mengandung pesan-pesan mendalam tentang keagungan penciptaan Allah, kepastian takdir, dan kemudahan dalam beragama. Dalam surah ini, Allah mengingatkan manusia untuk menyucikan-Nya, memahami hikmah kehidupan, serta mengutamakan akhirat dibanding dunia. Ayat-ayatnya juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan membawa kebahagiaan sejati bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Tafsir Ayat 1-5: Keagungan Allah dalam PenciptaanAllah Ta’ala berfirman,سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَىٰ“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi,”ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ“Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),”وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ“Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,”وَٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ ٱلْمَرْعَىٰ“Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,”فَجَعَلَهُۥ غُثَآءً أَحْوَىٰ“Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.” (QS. Al-A’la: 1-5) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,Allah memerintahkan untuk bertasbih kepada-Nya, yang mencakup mengingat-Nya, beribadah kepada-Nya, tunduk pada keagungan-Nya, dan merendahkan diri di hadapan kebesaran-Nya. Tasbih ini harus sesuai dengan keagungan Allah, yaitu dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah, yang lebih tinggi daripada segala nama karena memiliki makna yang sempurna dan mulia. Juga dengan mengingat perbuatan-Nya, seperti menciptakan makhluk dan menyempurnakan mereka, yakni menciptakan mereka dengan penuh ketelitian dan keindahan.Allah juga yang menentukan segala sesuatu dengan takdir-Nya, dan membimbing seluruh makhluk sesuai dengan ketetapan tersebut. Ini adalah bentuk hidayah umum dari Allah, di mana Dia membimbing setiap makhluk kepada kemaslahatan mereka masing-masing.Sebagai salah satu bentuk nikmat duniawi-Nya, Allah berfirman: “Dan Dia-lah yang mengeluarkan rerumputan.” Artinya, Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia menumbuhkan berbagai jenis tanaman dan rerumputan yang melimpah, yang menjadi tempat makan bagi manusia, hewan ternak, dan seluruh makhluk hidup.Namun, setelah tanaman itu mencapai puncak pertumbuhannya, ia mulai layu dan kering. Allah menjadikannya “ghutsā’an ahwā”, yaitu dedaunan yang hitam, hancur, dan lapuk, yang menandakan kefanaan dan perubahan dalam kehidupan dunia.Kesimpulan dari penjelasan Syaikh As-Sa’di:Perintah untuk Bertasbih – Allah memerintahkan manusia untuk menyucikan-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah dan mengingat kebesaran serta perbuatan-Nya.Kesempurnaan Penciptaan Allah – Allah menciptakan makhluk dengan penuh ketelitian dan kesempurnaan.Takdir dan Hidayah Allah – Setiap makhluk diberikan takdir dan petunjuk sesuai dengan maslahatnya masing-masing.Nikmat Duniawi Allah – Allah menumbuhkan tanaman sebagai rezeki bagi manusia dan hewan.Fana-nya Dunia – Segala sesuatu di dunia mengalami perubahan dan kehancuran, mengingatkan manusia akan kefanaan dunia dan kekekalan akhirat. Tafsir Ayat 6-8: Diberi Taufik ke Jalan yang MudahAllah Ta’ala berfirman,سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰٓ“Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.”إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّهُۥ يَعْلَمُ ٱلْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ“kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.”وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ“dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah.” (QS. Al-A’laa: 6-8) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,Dan di dalamnya disebutkan nikmat-nikmat-Nya yang bersifat agama. Oleh karena itu, Allah menyebut nikmat paling utama dan sumber segala nikmat, yaitu Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:“Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (wahai Muhammad), maka engkau tidak akan lupa.”Artinya, Kami akan menjaga wahyu yang Kami berikan kepadamu, menanamkannya dalam hatimu, sehingga engkau tidak akan melupakannya. Ini adalah kabar gembira besar dari Allah kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Allah akan mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak akan ia lupakan.“Kecuali apa yang Allah kehendaki,”yakni, jika dalam kebijaksanaan-Nya, Allah berkehendak membuatnya lupa demi suatu hikmah besar yang bermanfaat.“Sesungguhnya Dia mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.”Termasuk dalam hal ini, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia menetapkan syariat sesuai dengan kehendak-Nya dan mengatur segala sesuatu dengan kebijaksanaan-Nya.“Dan Kami akan memudahkanmu menuju kemudahan.”Ini juga merupakan kabar gembira besar bahwa Allah akan memudahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala urusannya serta menjadikan syariat dan agama ini sebagai sesuatu yang mudah dan ringan bagi umat manusia.Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di:Al-Qur’an sebagai Nikmat Terbesar – Al-Qur’an adalah nikmat utama yang harus disyukuri dengan membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan.Pemeliharaan Wahyu oleh Allah – Allah menjaga wahyu-Nya dan menjamin bahwa Rasulullah ﷺ tidak akan melupakannya kecuali jika ada hikmah di baliknya.Ilmu Sejati dari Allah – Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diberikan oleh Allah, sehingga kita harus senantiasa memohon kepada-Nya agar diberi ilmu yang berguna.Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu – Allah mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi, serta menetapkan syariat berdasarkan kebijaksanaan dan kebaikan bagi hamba-Nya.Kemudahan dalam Islam – Islam adalah agama yang mudah dan penuh kemudahan, di mana segala aturan dibuat untuk kebaikan manusia dan bukan untuk menyulitkan mereka.Bertawakal kepada Allah – Kita harus berserah diri kepada Allah dalam setiap urusan, karena Dia telah menjanjikan kemudahan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Tafsir Ayat 9-13: Berilah PeringatanAllah Ta’ala berfirman,فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكْرَىٰ“oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat,“سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ“orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.”وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلْأَشْقَى“dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.“ٱلَّذِى يَصْلَى ٱلنَّارَ ٱلْكُبْرَىٰ“(Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).”ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ“Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (QS. Al-A’laa: 9-13) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,“Maka berilah peringatan!” Yaitu, sampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya “jika peringatan itu bermanfaat,” yakni selama peringatan itu diterima dan nasihat masih bisa didengar, baik peringatan itu menghasilkan manfaat sepenuhnya maupun hanya sebagian darinya.Ayat ini juga memberikan pemahaman bahwa jika peringatan tidak bermanfaat—misalnya jika peringatan justru memperburuk keadaan atau mengurangi kebaikan—maka tidak diperintahkan untuk memberikan peringatan, bahkan bisa menjadi sesuatu yang dilarang. Dengan demikian, manusia terbagi menjadi dua kelompok dalam menerima peringatan: yang mengambil manfaat dan yang tidak mengambil manfaat.Bagi mereka yang mengambil manfaat, Allah menyebutkan mereka dalam firman-Nya:“Akan menerima peringatan orang yang takut kepada Allah.”Yakni, orang yang memiliki rasa takut kepada Allah serta keyakinan bahwa ia akan dibalas atas amal perbuatannya. Rasa takut kepada Allah ini mendorong seseorang untuk menjauhi maksiat dan berusaha melakukan amal kebaikan.Sedangkan bagi mereka yang tidak mengambil manfaat, Allah menyebutkan dalam firman-Nya:“Dan akan menjauhinya orang yang paling celaka, yang akan memasuki neraka yang besar.”Yakni, mereka yang menghindari peringatan ini adalah orang-orang yang paling sengsara, yang akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala, yang apinya membakar hingga menembus hati.“Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup.”Maksudnya, mereka akan merasakan azab yang sangat pedih tanpa henti, tanpa ada istirahat atau jeda dari siksaan tersebut. Bahkan mereka akan berharap untuk mati agar terbebas dari penderitaan, tetapi keinginan itu tidak akan pernah terwujud. Sebagaimana firman Allah,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا۟ وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِى كُلَّ كَفُورٍ“Tidak akan diputuskan kematian bagi mereka sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.” (QS. Fathir: 36).Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di:Pentingnya Memberikan Peringatan – Perintah untuk menyampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya diberikan selama peringatan tersebut bermanfaat dan masih bisa diterima.Peringatan Tidak Selalu Wajib – Jika peringatan justru menyebabkan keburukan atau mengurangi kebaikan, maka tidak diperintahkan untuk menyampaikannya, bahkan bisa menjadi sesuatu yang terlarang.Manusia Terbagi dalam Menerima Peringatan – Ada dua kelompok manusia dalam menerima peringatan: mereka yang mengambil manfaat darinya dan mereka yang menolaknya.Orang yang Mendapat Manfaat dari Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah dan yakin akan balasan-Nya, sehingga peringatan mendorong mereka untuk menjauhi maksiat dan melakukan kebaikan.Orang yang Menolak Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang paling celaka, yang berpaling dari kebenaran dan akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.Azab di Neraka Sangat Pedih dan Kekal – Penghuni neraka akan mengalami siksaan tanpa henti, tidak mati sehingga terbebas dari azab, dan tidak hidup dalam keadaan yang layak, melainkan dalam penderitaan abadi. Tafsir Ayat 14-19: Berilah PeringatanAllah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).”وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ“dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.”بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.”وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”إِنَّ هَٰذَا لَفِى ٱلصُّحُفِ ٱلْأُولَىٰ“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu.”صُحُفِ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ“(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS. Al-A’laa: 14-19) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.”Artinya, telah berhasil dan meraih kemenangan orang yang membersihkan dirinya dari kesyirikan, kezaliman, serta akhlak yang buruk.“Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.”Maksudnya, ia senantiasa mengingat Allah, hatinya dipenuhi dengan dzikir kepada-Nya, sehingga hal itu mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang diridhai Allah, terutama shalat, yang merupakan tolok ukur keimanan seseorang.Inilah makna utama dari ayat yang mulia ini. Adapun tafsiran yang menyebut bahwa “menyucikan diri” berarti mengeluarkan zakat fitrah, dan “mengingat nama Tuhannya, lalu shalat” maksudnya adalah shalat Idul Fitri, maka meskipun hal ini termasuk dalam cakupan makna ayat dan merupakan salah satu bentuk penerapannya, namun bukanlah satu-satunya makna yang dimaksud.“Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.”“Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia,”yakni, kalian lebih mendahulukan dunia dibandingkan akhirat, serta memilih kenikmatan dunia yang fana, penuh kekurangan, dan bercampur kepahitan, daripada kenikmatan akhirat yang abadi.“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”Akhirat jauh lebih baik dari dunia dalam segala aspek yang diinginkan manusia. Akhirat adalah negeri keabadian, kebahagiaan yang murni, dan tanpa kesulitan, sedangkan dunia hanyalah tempat yang sementara dan penuh kefanaan. Orang beriman yang berakal tidak akan memilih sesuatu yang lebih rendah dibandingkan sesuatu yang lebih mulia, serta tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan abadi. Kecintaan terhadap dunia dan mengutamakannya di atas akhirat adalah akar dari segala dosa dan kesalahan.“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.”Apa yang disebutkan dalam surah yang mulia ini—berupa perintah-perintah yang baik dan berita-berita yang benar—juga telah termaktub dalam kitab-kitab suci sebelumnya, yaitu dalam kitab Ibrahim dan Musa, dua di antara rasul-rasul yang paling mulia setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hukum-hukum ini bersifat universal dan berlaku dalam setiap syariat, karena semuanya mengandung maslahat bagi kehidupan dunia dan akhirat, serta relevan di setiap zaman dan tempat.Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di:Keberuntungan bagi Orang yang Menyucikan Diri – Orang yang sukses dan meraih kemenangan adalah mereka yang membersihkan diri dari kesyirikan, kezaliman, dan akhlak yang buruk.Dzikir dan Shalat sebagai Tolok Ukur Keimanan – Mengingat Allah dengan hati yang dipenuhi dzikir mendorong seseorang untuk beramal saleh, terutama shalat, yang menjadi indikator utama keimanan seseorang.Makna Luas dari Menyucikan Diri – Menyucikan diri tidak hanya terbatas pada zakat fitrah, dan mengingat Allah tidak hanya merujuk pada shalat Idul Fitri, melainkan memiliki makna yang lebih luas mencakup penyucian hati dan ibadah secara keseluruhan.Kecenderungan Manusia Mengutamakan Dunia – Banyak manusia lebih memilih kenikmatan dunia yang sementara, meskipun penuh kekurangan, daripada kebahagiaan akhirat yang abadi.Akhirat Lebih Baik dan Kekal – Kehidupan akhirat jauh lebih baik dalam segala aspek dan lebih kekal, sedangkan dunia bersifat fana dan penuh ujian. Orang beriman tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan yang abadi.Peringatan Ini Sudah Ada dalam Kitab-Kitab Terdahulu – Pesan-pesan ini tidak hanya terdapat dalam Al-Qur’an tetapi juga telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu, seperti kitab Ibrahim dan Musa, karena hukum-hukum ini bersifat universal dan relevan di setiap zaman dan tempat. PenutupSurah Al-A’la menegaskan bahwa Allah telah menetapkan hidayah bagi setiap makhluk sesuai dengan fitrahnya, baik secara naluriah maupun melalui wahyu, sehingga segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, hanya dalam surah ini Allah secara langsung menjanjikan kemudahan dalam menjalankan agama-Nya bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya, menjadikan Islam sebagai jalan hidup yang penuh berkah dan kemudahan.Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna.–13 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com TagsAkhirat Lebih Baik Hidayah dalam Islam Hikmah Al-Qur’an Islam yang Mudah Keagungan Ciptaan Allah Kelebihan Surah Al-A’la Kemudahan dalam Beragama Keutamaan Bertasbih Keutamaan Surah Al-A’la Makna Ayat Al-Qur’an Makna Surah Al-A’la Pentingnya Mengingat Allah tafsir al-qur’an tafsir juz amma Tafsir Surah Al-A’la tafsir syaikh as-sa’di

Tafsir Surah Al-A’la: Keagungan Penciptaan, Hidayah, dan Kemudahan dalam Islam

Surah Al-A’la mengandung pesan-pesan mendalam tentang keagungan penciptaan Allah, kepastian takdir, dan kemudahan dalam beragama. Dalam surah ini, Allah mengingatkan manusia untuk menyucikan-Nya, memahami hikmah kehidupan, serta mengutamakan akhirat dibanding dunia. Ayat-ayatnya juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan membawa kebahagiaan sejati bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Tafsir Ayat 1-5: Keagungan Allah dalam PenciptaanAllah Ta’ala berfirman,سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَىٰ“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi,”ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ“Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),”وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ“Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,”وَٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ ٱلْمَرْعَىٰ“Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,”فَجَعَلَهُۥ غُثَآءً أَحْوَىٰ“Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.” (QS. Al-A’la: 1-5) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,Allah memerintahkan untuk bertasbih kepada-Nya, yang mencakup mengingat-Nya, beribadah kepada-Nya, tunduk pada keagungan-Nya, dan merendahkan diri di hadapan kebesaran-Nya. Tasbih ini harus sesuai dengan keagungan Allah, yaitu dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah, yang lebih tinggi daripada segala nama karena memiliki makna yang sempurna dan mulia. Juga dengan mengingat perbuatan-Nya, seperti menciptakan makhluk dan menyempurnakan mereka, yakni menciptakan mereka dengan penuh ketelitian dan keindahan.Allah juga yang menentukan segala sesuatu dengan takdir-Nya, dan membimbing seluruh makhluk sesuai dengan ketetapan tersebut. Ini adalah bentuk hidayah umum dari Allah, di mana Dia membimbing setiap makhluk kepada kemaslahatan mereka masing-masing.Sebagai salah satu bentuk nikmat duniawi-Nya, Allah berfirman: “Dan Dia-lah yang mengeluarkan rerumputan.” Artinya, Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia menumbuhkan berbagai jenis tanaman dan rerumputan yang melimpah, yang menjadi tempat makan bagi manusia, hewan ternak, dan seluruh makhluk hidup.Namun, setelah tanaman itu mencapai puncak pertumbuhannya, ia mulai layu dan kering. Allah menjadikannya “ghutsā’an ahwā”, yaitu dedaunan yang hitam, hancur, dan lapuk, yang menandakan kefanaan dan perubahan dalam kehidupan dunia.Kesimpulan dari penjelasan Syaikh As-Sa’di:Perintah untuk Bertasbih – Allah memerintahkan manusia untuk menyucikan-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah dan mengingat kebesaran serta perbuatan-Nya.Kesempurnaan Penciptaan Allah – Allah menciptakan makhluk dengan penuh ketelitian dan kesempurnaan.Takdir dan Hidayah Allah – Setiap makhluk diberikan takdir dan petunjuk sesuai dengan maslahatnya masing-masing.Nikmat Duniawi Allah – Allah menumbuhkan tanaman sebagai rezeki bagi manusia dan hewan.Fana-nya Dunia – Segala sesuatu di dunia mengalami perubahan dan kehancuran, mengingatkan manusia akan kefanaan dunia dan kekekalan akhirat. Tafsir Ayat 6-8: Diberi Taufik ke Jalan yang MudahAllah Ta’ala berfirman,سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰٓ“Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.”إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّهُۥ يَعْلَمُ ٱلْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ“kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.”وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ“dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah.” (QS. Al-A’laa: 6-8) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,Dan di dalamnya disebutkan nikmat-nikmat-Nya yang bersifat agama. Oleh karena itu, Allah menyebut nikmat paling utama dan sumber segala nikmat, yaitu Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:“Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (wahai Muhammad), maka engkau tidak akan lupa.”Artinya, Kami akan menjaga wahyu yang Kami berikan kepadamu, menanamkannya dalam hatimu, sehingga engkau tidak akan melupakannya. Ini adalah kabar gembira besar dari Allah kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Allah akan mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak akan ia lupakan.“Kecuali apa yang Allah kehendaki,”yakni, jika dalam kebijaksanaan-Nya, Allah berkehendak membuatnya lupa demi suatu hikmah besar yang bermanfaat.“Sesungguhnya Dia mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.”Termasuk dalam hal ini, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia menetapkan syariat sesuai dengan kehendak-Nya dan mengatur segala sesuatu dengan kebijaksanaan-Nya.“Dan Kami akan memudahkanmu menuju kemudahan.”Ini juga merupakan kabar gembira besar bahwa Allah akan memudahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala urusannya serta menjadikan syariat dan agama ini sebagai sesuatu yang mudah dan ringan bagi umat manusia.Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di:Al-Qur’an sebagai Nikmat Terbesar – Al-Qur’an adalah nikmat utama yang harus disyukuri dengan membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan.Pemeliharaan Wahyu oleh Allah – Allah menjaga wahyu-Nya dan menjamin bahwa Rasulullah ﷺ tidak akan melupakannya kecuali jika ada hikmah di baliknya.Ilmu Sejati dari Allah – Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diberikan oleh Allah, sehingga kita harus senantiasa memohon kepada-Nya agar diberi ilmu yang berguna.Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu – Allah mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi, serta menetapkan syariat berdasarkan kebijaksanaan dan kebaikan bagi hamba-Nya.Kemudahan dalam Islam – Islam adalah agama yang mudah dan penuh kemudahan, di mana segala aturan dibuat untuk kebaikan manusia dan bukan untuk menyulitkan mereka.Bertawakal kepada Allah – Kita harus berserah diri kepada Allah dalam setiap urusan, karena Dia telah menjanjikan kemudahan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Tafsir Ayat 9-13: Berilah PeringatanAllah Ta’ala berfirman,فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكْرَىٰ“oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat,“سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ“orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.”وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلْأَشْقَى“dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.“ٱلَّذِى يَصْلَى ٱلنَّارَ ٱلْكُبْرَىٰ“(Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).”ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ“Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (QS. Al-A’laa: 9-13) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,“Maka berilah peringatan!” Yaitu, sampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya “jika peringatan itu bermanfaat,” yakni selama peringatan itu diterima dan nasihat masih bisa didengar, baik peringatan itu menghasilkan manfaat sepenuhnya maupun hanya sebagian darinya.Ayat ini juga memberikan pemahaman bahwa jika peringatan tidak bermanfaat—misalnya jika peringatan justru memperburuk keadaan atau mengurangi kebaikan—maka tidak diperintahkan untuk memberikan peringatan, bahkan bisa menjadi sesuatu yang dilarang. Dengan demikian, manusia terbagi menjadi dua kelompok dalam menerima peringatan: yang mengambil manfaat dan yang tidak mengambil manfaat.Bagi mereka yang mengambil manfaat, Allah menyebutkan mereka dalam firman-Nya:“Akan menerima peringatan orang yang takut kepada Allah.”Yakni, orang yang memiliki rasa takut kepada Allah serta keyakinan bahwa ia akan dibalas atas amal perbuatannya. Rasa takut kepada Allah ini mendorong seseorang untuk menjauhi maksiat dan berusaha melakukan amal kebaikan.Sedangkan bagi mereka yang tidak mengambil manfaat, Allah menyebutkan dalam firman-Nya:“Dan akan menjauhinya orang yang paling celaka, yang akan memasuki neraka yang besar.”Yakni, mereka yang menghindari peringatan ini adalah orang-orang yang paling sengsara, yang akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala, yang apinya membakar hingga menembus hati.“Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup.”Maksudnya, mereka akan merasakan azab yang sangat pedih tanpa henti, tanpa ada istirahat atau jeda dari siksaan tersebut. Bahkan mereka akan berharap untuk mati agar terbebas dari penderitaan, tetapi keinginan itu tidak akan pernah terwujud. Sebagaimana firman Allah,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا۟ وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِى كُلَّ كَفُورٍ“Tidak akan diputuskan kematian bagi mereka sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.” (QS. Fathir: 36).Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di:Pentingnya Memberikan Peringatan – Perintah untuk menyampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya diberikan selama peringatan tersebut bermanfaat dan masih bisa diterima.Peringatan Tidak Selalu Wajib – Jika peringatan justru menyebabkan keburukan atau mengurangi kebaikan, maka tidak diperintahkan untuk menyampaikannya, bahkan bisa menjadi sesuatu yang terlarang.Manusia Terbagi dalam Menerima Peringatan – Ada dua kelompok manusia dalam menerima peringatan: mereka yang mengambil manfaat darinya dan mereka yang menolaknya.Orang yang Mendapat Manfaat dari Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah dan yakin akan balasan-Nya, sehingga peringatan mendorong mereka untuk menjauhi maksiat dan melakukan kebaikan.Orang yang Menolak Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang paling celaka, yang berpaling dari kebenaran dan akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.Azab di Neraka Sangat Pedih dan Kekal – Penghuni neraka akan mengalami siksaan tanpa henti, tidak mati sehingga terbebas dari azab, dan tidak hidup dalam keadaan yang layak, melainkan dalam penderitaan abadi. Tafsir Ayat 14-19: Berilah PeringatanAllah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).”وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ“dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.”بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.”وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”إِنَّ هَٰذَا لَفِى ٱلصُّحُفِ ٱلْأُولَىٰ“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu.”صُحُفِ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ“(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS. Al-A’laa: 14-19) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.”Artinya, telah berhasil dan meraih kemenangan orang yang membersihkan dirinya dari kesyirikan, kezaliman, serta akhlak yang buruk.“Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.”Maksudnya, ia senantiasa mengingat Allah, hatinya dipenuhi dengan dzikir kepada-Nya, sehingga hal itu mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang diridhai Allah, terutama shalat, yang merupakan tolok ukur keimanan seseorang.Inilah makna utama dari ayat yang mulia ini. Adapun tafsiran yang menyebut bahwa “menyucikan diri” berarti mengeluarkan zakat fitrah, dan “mengingat nama Tuhannya, lalu shalat” maksudnya adalah shalat Idul Fitri, maka meskipun hal ini termasuk dalam cakupan makna ayat dan merupakan salah satu bentuk penerapannya, namun bukanlah satu-satunya makna yang dimaksud.“Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.”“Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia,”yakni, kalian lebih mendahulukan dunia dibandingkan akhirat, serta memilih kenikmatan dunia yang fana, penuh kekurangan, dan bercampur kepahitan, daripada kenikmatan akhirat yang abadi.“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”Akhirat jauh lebih baik dari dunia dalam segala aspek yang diinginkan manusia. Akhirat adalah negeri keabadian, kebahagiaan yang murni, dan tanpa kesulitan, sedangkan dunia hanyalah tempat yang sementara dan penuh kefanaan. Orang beriman yang berakal tidak akan memilih sesuatu yang lebih rendah dibandingkan sesuatu yang lebih mulia, serta tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan abadi. Kecintaan terhadap dunia dan mengutamakannya di atas akhirat adalah akar dari segala dosa dan kesalahan.“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.”Apa yang disebutkan dalam surah yang mulia ini—berupa perintah-perintah yang baik dan berita-berita yang benar—juga telah termaktub dalam kitab-kitab suci sebelumnya, yaitu dalam kitab Ibrahim dan Musa, dua di antara rasul-rasul yang paling mulia setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hukum-hukum ini bersifat universal dan berlaku dalam setiap syariat, karena semuanya mengandung maslahat bagi kehidupan dunia dan akhirat, serta relevan di setiap zaman dan tempat.Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di:Keberuntungan bagi Orang yang Menyucikan Diri – Orang yang sukses dan meraih kemenangan adalah mereka yang membersihkan diri dari kesyirikan, kezaliman, dan akhlak yang buruk.Dzikir dan Shalat sebagai Tolok Ukur Keimanan – Mengingat Allah dengan hati yang dipenuhi dzikir mendorong seseorang untuk beramal saleh, terutama shalat, yang menjadi indikator utama keimanan seseorang.Makna Luas dari Menyucikan Diri – Menyucikan diri tidak hanya terbatas pada zakat fitrah, dan mengingat Allah tidak hanya merujuk pada shalat Idul Fitri, melainkan memiliki makna yang lebih luas mencakup penyucian hati dan ibadah secara keseluruhan.Kecenderungan Manusia Mengutamakan Dunia – Banyak manusia lebih memilih kenikmatan dunia yang sementara, meskipun penuh kekurangan, daripada kebahagiaan akhirat yang abadi.Akhirat Lebih Baik dan Kekal – Kehidupan akhirat jauh lebih baik dalam segala aspek dan lebih kekal, sedangkan dunia bersifat fana dan penuh ujian. Orang beriman tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan yang abadi.Peringatan Ini Sudah Ada dalam Kitab-Kitab Terdahulu – Pesan-pesan ini tidak hanya terdapat dalam Al-Qur’an tetapi juga telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu, seperti kitab Ibrahim dan Musa, karena hukum-hukum ini bersifat universal dan relevan di setiap zaman dan tempat. PenutupSurah Al-A’la menegaskan bahwa Allah telah menetapkan hidayah bagi setiap makhluk sesuai dengan fitrahnya, baik secara naluriah maupun melalui wahyu, sehingga segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, hanya dalam surah ini Allah secara langsung menjanjikan kemudahan dalam menjalankan agama-Nya bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya, menjadikan Islam sebagai jalan hidup yang penuh berkah dan kemudahan.Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna.–13 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com TagsAkhirat Lebih Baik Hidayah dalam Islam Hikmah Al-Qur’an Islam yang Mudah Keagungan Ciptaan Allah Kelebihan Surah Al-A’la Kemudahan dalam Beragama Keutamaan Bertasbih Keutamaan Surah Al-A’la Makna Ayat Al-Qur’an Makna Surah Al-A’la Pentingnya Mengingat Allah tafsir al-qur’an tafsir juz amma Tafsir Surah Al-A’la tafsir syaikh as-sa’di
Surah Al-A’la mengandung pesan-pesan mendalam tentang keagungan penciptaan Allah, kepastian takdir, dan kemudahan dalam beragama. Dalam surah ini, Allah mengingatkan manusia untuk menyucikan-Nya, memahami hikmah kehidupan, serta mengutamakan akhirat dibanding dunia. Ayat-ayatnya juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan membawa kebahagiaan sejati bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Tafsir Ayat 1-5: Keagungan Allah dalam PenciptaanAllah Ta’ala berfirman,سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَىٰ“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi,”ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ“Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),”وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ“Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,”وَٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ ٱلْمَرْعَىٰ“Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,”فَجَعَلَهُۥ غُثَآءً أَحْوَىٰ“Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.” (QS. Al-A’la: 1-5) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,Allah memerintahkan untuk bertasbih kepada-Nya, yang mencakup mengingat-Nya, beribadah kepada-Nya, tunduk pada keagungan-Nya, dan merendahkan diri di hadapan kebesaran-Nya. Tasbih ini harus sesuai dengan keagungan Allah, yaitu dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah, yang lebih tinggi daripada segala nama karena memiliki makna yang sempurna dan mulia. Juga dengan mengingat perbuatan-Nya, seperti menciptakan makhluk dan menyempurnakan mereka, yakni menciptakan mereka dengan penuh ketelitian dan keindahan.Allah juga yang menentukan segala sesuatu dengan takdir-Nya, dan membimbing seluruh makhluk sesuai dengan ketetapan tersebut. Ini adalah bentuk hidayah umum dari Allah, di mana Dia membimbing setiap makhluk kepada kemaslahatan mereka masing-masing.Sebagai salah satu bentuk nikmat duniawi-Nya, Allah berfirman: “Dan Dia-lah yang mengeluarkan rerumputan.” Artinya, Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia menumbuhkan berbagai jenis tanaman dan rerumputan yang melimpah, yang menjadi tempat makan bagi manusia, hewan ternak, dan seluruh makhluk hidup.Namun, setelah tanaman itu mencapai puncak pertumbuhannya, ia mulai layu dan kering. Allah menjadikannya “ghutsā’an ahwā”, yaitu dedaunan yang hitam, hancur, dan lapuk, yang menandakan kefanaan dan perubahan dalam kehidupan dunia.Kesimpulan dari penjelasan Syaikh As-Sa’di:Perintah untuk Bertasbih – Allah memerintahkan manusia untuk menyucikan-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah dan mengingat kebesaran serta perbuatan-Nya.Kesempurnaan Penciptaan Allah – Allah menciptakan makhluk dengan penuh ketelitian dan kesempurnaan.Takdir dan Hidayah Allah – Setiap makhluk diberikan takdir dan petunjuk sesuai dengan maslahatnya masing-masing.Nikmat Duniawi Allah – Allah menumbuhkan tanaman sebagai rezeki bagi manusia dan hewan.Fana-nya Dunia – Segala sesuatu di dunia mengalami perubahan dan kehancuran, mengingatkan manusia akan kefanaan dunia dan kekekalan akhirat. Tafsir Ayat 6-8: Diberi Taufik ke Jalan yang MudahAllah Ta’ala berfirman,سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰٓ“Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.”إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّهُۥ يَعْلَمُ ٱلْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ“kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.”وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ“dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah.” (QS. Al-A’laa: 6-8) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,Dan di dalamnya disebutkan nikmat-nikmat-Nya yang bersifat agama. Oleh karena itu, Allah menyebut nikmat paling utama dan sumber segala nikmat, yaitu Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:“Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (wahai Muhammad), maka engkau tidak akan lupa.”Artinya, Kami akan menjaga wahyu yang Kami berikan kepadamu, menanamkannya dalam hatimu, sehingga engkau tidak akan melupakannya. Ini adalah kabar gembira besar dari Allah kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Allah akan mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak akan ia lupakan.“Kecuali apa yang Allah kehendaki,”yakni, jika dalam kebijaksanaan-Nya, Allah berkehendak membuatnya lupa demi suatu hikmah besar yang bermanfaat.“Sesungguhnya Dia mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.”Termasuk dalam hal ini, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia menetapkan syariat sesuai dengan kehendak-Nya dan mengatur segala sesuatu dengan kebijaksanaan-Nya.“Dan Kami akan memudahkanmu menuju kemudahan.”Ini juga merupakan kabar gembira besar bahwa Allah akan memudahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala urusannya serta menjadikan syariat dan agama ini sebagai sesuatu yang mudah dan ringan bagi umat manusia.Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di:Al-Qur’an sebagai Nikmat Terbesar – Al-Qur’an adalah nikmat utama yang harus disyukuri dengan membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan.Pemeliharaan Wahyu oleh Allah – Allah menjaga wahyu-Nya dan menjamin bahwa Rasulullah ﷺ tidak akan melupakannya kecuali jika ada hikmah di baliknya.Ilmu Sejati dari Allah – Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diberikan oleh Allah, sehingga kita harus senantiasa memohon kepada-Nya agar diberi ilmu yang berguna.Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu – Allah mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi, serta menetapkan syariat berdasarkan kebijaksanaan dan kebaikan bagi hamba-Nya.Kemudahan dalam Islam – Islam adalah agama yang mudah dan penuh kemudahan, di mana segala aturan dibuat untuk kebaikan manusia dan bukan untuk menyulitkan mereka.Bertawakal kepada Allah – Kita harus berserah diri kepada Allah dalam setiap urusan, karena Dia telah menjanjikan kemudahan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Tafsir Ayat 9-13: Berilah PeringatanAllah Ta’ala berfirman,فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكْرَىٰ“oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat,“سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ“orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.”وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلْأَشْقَى“dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.“ٱلَّذِى يَصْلَى ٱلنَّارَ ٱلْكُبْرَىٰ“(Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).”ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ“Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (QS. Al-A’laa: 9-13) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,“Maka berilah peringatan!” Yaitu, sampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya “jika peringatan itu bermanfaat,” yakni selama peringatan itu diterima dan nasihat masih bisa didengar, baik peringatan itu menghasilkan manfaat sepenuhnya maupun hanya sebagian darinya.Ayat ini juga memberikan pemahaman bahwa jika peringatan tidak bermanfaat—misalnya jika peringatan justru memperburuk keadaan atau mengurangi kebaikan—maka tidak diperintahkan untuk memberikan peringatan, bahkan bisa menjadi sesuatu yang dilarang. Dengan demikian, manusia terbagi menjadi dua kelompok dalam menerima peringatan: yang mengambil manfaat dan yang tidak mengambil manfaat.Bagi mereka yang mengambil manfaat, Allah menyebutkan mereka dalam firman-Nya:“Akan menerima peringatan orang yang takut kepada Allah.”Yakni, orang yang memiliki rasa takut kepada Allah serta keyakinan bahwa ia akan dibalas atas amal perbuatannya. Rasa takut kepada Allah ini mendorong seseorang untuk menjauhi maksiat dan berusaha melakukan amal kebaikan.Sedangkan bagi mereka yang tidak mengambil manfaat, Allah menyebutkan dalam firman-Nya:“Dan akan menjauhinya orang yang paling celaka, yang akan memasuki neraka yang besar.”Yakni, mereka yang menghindari peringatan ini adalah orang-orang yang paling sengsara, yang akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala, yang apinya membakar hingga menembus hati.“Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup.”Maksudnya, mereka akan merasakan azab yang sangat pedih tanpa henti, tanpa ada istirahat atau jeda dari siksaan tersebut. Bahkan mereka akan berharap untuk mati agar terbebas dari penderitaan, tetapi keinginan itu tidak akan pernah terwujud. Sebagaimana firman Allah,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا۟ وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِى كُلَّ كَفُورٍ“Tidak akan diputuskan kematian bagi mereka sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.” (QS. Fathir: 36).Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di:Pentingnya Memberikan Peringatan – Perintah untuk menyampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya diberikan selama peringatan tersebut bermanfaat dan masih bisa diterima.Peringatan Tidak Selalu Wajib – Jika peringatan justru menyebabkan keburukan atau mengurangi kebaikan, maka tidak diperintahkan untuk menyampaikannya, bahkan bisa menjadi sesuatu yang terlarang.Manusia Terbagi dalam Menerima Peringatan – Ada dua kelompok manusia dalam menerima peringatan: mereka yang mengambil manfaat darinya dan mereka yang menolaknya.Orang yang Mendapat Manfaat dari Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah dan yakin akan balasan-Nya, sehingga peringatan mendorong mereka untuk menjauhi maksiat dan melakukan kebaikan.Orang yang Menolak Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang paling celaka, yang berpaling dari kebenaran dan akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.Azab di Neraka Sangat Pedih dan Kekal – Penghuni neraka akan mengalami siksaan tanpa henti, tidak mati sehingga terbebas dari azab, dan tidak hidup dalam keadaan yang layak, melainkan dalam penderitaan abadi. Tafsir Ayat 14-19: Berilah PeringatanAllah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).”وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ“dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.”بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.”وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”إِنَّ هَٰذَا لَفِى ٱلصُّحُفِ ٱلْأُولَىٰ“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu.”صُحُفِ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ“(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS. Al-A’laa: 14-19) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.”Artinya, telah berhasil dan meraih kemenangan orang yang membersihkan dirinya dari kesyirikan, kezaliman, serta akhlak yang buruk.“Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.”Maksudnya, ia senantiasa mengingat Allah, hatinya dipenuhi dengan dzikir kepada-Nya, sehingga hal itu mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang diridhai Allah, terutama shalat, yang merupakan tolok ukur keimanan seseorang.Inilah makna utama dari ayat yang mulia ini. Adapun tafsiran yang menyebut bahwa “menyucikan diri” berarti mengeluarkan zakat fitrah, dan “mengingat nama Tuhannya, lalu shalat” maksudnya adalah shalat Idul Fitri, maka meskipun hal ini termasuk dalam cakupan makna ayat dan merupakan salah satu bentuk penerapannya, namun bukanlah satu-satunya makna yang dimaksud.“Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.”“Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia,”yakni, kalian lebih mendahulukan dunia dibandingkan akhirat, serta memilih kenikmatan dunia yang fana, penuh kekurangan, dan bercampur kepahitan, daripada kenikmatan akhirat yang abadi.“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”Akhirat jauh lebih baik dari dunia dalam segala aspek yang diinginkan manusia. Akhirat adalah negeri keabadian, kebahagiaan yang murni, dan tanpa kesulitan, sedangkan dunia hanyalah tempat yang sementara dan penuh kefanaan. Orang beriman yang berakal tidak akan memilih sesuatu yang lebih rendah dibandingkan sesuatu yang lebih mulia, serta tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan abadi. Kecintaan terhadap dunia dan mengutamakannya di atas akhirat adalah akar dari segala dosa dan kesalahan.“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.”Apa yang disebutkan dalam surah yang mulia ini—berupa perintah-perintah yang baik dan berita-berita yang benar—juga telah termaktub dalam kitab-kitab suci sebelumnya, yaitu dalam kitab Ibrahim dan Musa, dua di antara rasul-rasul yang paling mulia setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hukum-hukum ini bersifat universal dan berlaku dalam setiap syariat, karena semuanya mengandung maslahat bagi kehidupan dunia dan akhirat, serta relevan di setiap zaman dan tempat.Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di:Keberuntungan bagi Orang yang Menyucikan Diri – Orang yang sukses dan meraih kemenangan adalah mereka yang membersihkan diri dari kesyirikan, kezaliman, dan akhlak yang buruk.Dzikir dan Shalat sebagai Tolok Ukur Keimanan – Mengingat Allah dengan hati yang dipenuhi dzikir mendorong seseorang untuk beramal saleh, terutama shalat, yang menjadi indikator utama keimanan seseorang.Makna Luas dari Menyucikan Diri – Menyucikan diri tidak hanya terbatas pada zakat fitrah, dan mengingat Allah tidak hanya merujuk pada shalat Idul Fitri, melainkan memiliki makna yang lebih luas mencakup penyucian hati dan ibadah secara keseluruhan.Kecenderungan Manusia Mengutamakan Dunia – Banyak manusia lebih memilih kenikmatan dunia yang sementara, meskipun penuh kekurangan, daripada kebahagiaan akhirat yang abadi.Akhirat Lebih Baik dan Kekal – Kehidupan akhirat jauh lebih baik dalam segala aspek dan lebih kekal, sedangkan dunia bersifat fana dan penuh ujian. Orang beriman tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan yang abadi.Peringatan Ini Sudah Ada dalam Kitab-Kitab Terdahulu – Pesan-pesan ini tidak hanya terdapat dalam Al-Qur’an tetapi juga telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu, seperti kitab Ibrahim dan Musa, karena hukum-hukum ini bersifat universal dan relevan di setiap zaman dan tempat. PenutupSurah Al-A’la menegaskan bahwa Allah telah menetapkan hidayah bagi setiap makhluk sesuai dengan fitrahnya, baik secara naluriah maupun melalui wahyu, sehingga segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, hanya dalam surah ini Allah secara langsung menjanjikan kemudahan dalam menjalankan agama-Nya bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya, menjadikan Islam sebagai jalan hidup yang penuh berkah dan kemudahan.Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna.–13 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com TagsAkhirat Lebih Baik Hidayah dalam Islam Hikmah Al-Qur’an Islam yang Mudah Keagungan Ciptaan Allah Kelebihan Surah Al-A’la Kemudahan dalam Beragama Keutamaan Bertasbih Keutamaan Surah Al-A’la Makna Ayat Al-Qur’an Makna Surah Al-A’la Pentingnya Mengingat Allah tafsir al-qur’an tafsir juz amma Tafsir Surah Al-A’la tafsir syaikh as-sa’di


Surah Al-A’la mengandung pesan-pesan mendalam tentang keagungan penciptaan Allah, kepastian takdir, dan kemudahan dalam beragama. Dalam surah ini, Allah mengingatkan manusia untuk menyucikan-Nya, memahami hikmah kehidupan, serta mengutamakan akhirat dibanding dunia. Ayat-ayatnya juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan membawa kebahagiaan sejati bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Tafsir Ayat 1-5: Keagungan Allah dalam PenciptaanAllah Ta’ala berfirman,سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَىٰ“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi,”ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ“Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),”وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ“Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,”وَٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ ٱلْمَرْعَىٰ“Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,”فَجَعَلَهُۥ غُثَآءً أَحْوَىٰ“Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.” (QS. Al-A’la: 1-5) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,Allah memerintahkan untuk bertasbih kepada-Nya, yang mencakup mengingat-Nya, beribadah kepada-Nya, tunduk pada keagungan-Nya, dan merendahkan diri di hadapan kebesaran-Nya. Tasbih ini harus sesuai dengan keagungan Allah, yaitu dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah, yang lebih tinggi daripada segala nama karena memiliki makna yang sempurna dan mulia. Juga dengan mengingat perbuatan-Nya, seperti menciptakan makhluk dan menyempurnakan mereka, yakni menciptakan mereka dengan penuh ketelitian dan keindahan.Allah juga yang menentukan segala sesuatu dengan takdir-Nya, dan membimbing seluruh makhluk sesuai dengan ketetapan tersebut. Ini adalah bentuk hidayah umum dari Allah, di mana Dia membimbing setiap makhluk kepada kemaslahatan mereka masing-masing.Sebagai salah satu bentuk nikmat duniawi-Nya, Allah berfirman: “Dan Dia-lah yang mengeluarkan rerumputan.” Artinya, Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia menumbuhkan berbagai jenis tanaman dan rerumputan yang melimpah, yang menjadi tempat makan bagi manusia, hewan ternak, dan seluruh makhluk hidup.Namun, setelah tanaman itu mencapai puncak pertumbuhannya, ia mulai layu dan kering. Allah menjadikannya “ghutsā’an ahwā”, yaitu dedaunan yang hitam, hancur, dan lapuk, yang menandakan kefanaan dan perubahan dalam kehidupan dunia.Kesimpulan dari penjelasan Syaikh As-Sa’di:Perintah untuk Bertasbih – Allah memerintahkan manusia untuk menyucikan-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah dan mengingat kebesaran serta perbuatan-Nya.Kesempurnaan Penciptaan Allah – Allah menciptakan makhluk dengan penuh ketelitian dan kesempurnaan.Takdir dan Hidayah Allah – Setiap makhluk diberikan takdir dan petunjuk sesuai dengan maslahatnya masing-masing.Nikmat Duniawi Allah – Allah menumbuhkan tanaman sebagai rezeki bagi manusia dan hewan.Fana-nya Dunia – Segala sesuatu di dunia mengalami perubahan dan kehancuran, mengingatkan manusia akan kefanaan dunia dan kekekalan akhirat. Tafsir Ayat 6-8: Diberi Taufik ke Jalan yang MudahAllah Ta’ala berfirman,سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰٓ“Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.”إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّهُۥ يَعْلَمُ ٱلْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ“kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.”وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ“dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah.” (QS. Al-A’laa: 6-8) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,Dan di dalamnya disebutkan nikmat-nikmat-Nya yang bersifat agama. Oleh karena itu, Allah menyebut nikmat paling utama dan sumber segala nikmat, yaitu Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:“Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (wahai Muhammad), maka engkau tidak akan lupa.”Artinya, Kami akan menjaga wahyu yang Kami berikan kepadamu, menanamkannya dalam hatimu, sehingga engkau tidak akan melupakannya. Ini adalah kabar gembira besar dari Allah kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Allah akan mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak akan ia lupakan.“Kecuali apa yang Allah kehendaki,”yakni, jika dalam kebijaksanaan-Nya, Allah berkehendak membuatnya lupa demi suatu hikmah besar yang bermanfaat.“Sesungguhnya Dia mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.”Termasuk dalam hal ini, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia menetapkan syariat sesuai dengan kehendak-Nya dan mengatur segala sesuatu dengan kebijaksanaan-Nya.“Dan Kami akan memudahkanmu menuju kemudahan.”Ini juga merupakan kabar gembira besar bahwa Allah akan memudahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala urusannya serta menjadikan syariat dan agama ini sebagai sesuatu yang mudah dan ringan bagi umat manusia.Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di:Al-Qur’an sebagai Nikmat Terbesar – Al-Qur’an adalah nikmat utama yang harus disyukuri dengan membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan.Pemeliharaan Wahyu oleh Allah – Allah menjaga wahyu-Nya dan menjamin bahwa Rasulullah ﷺ tidak akan melupakannya kecuali jika ada hikmah di baliknya.Ilmu Sejati dari Allah – Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diberikan oleh Allah, sehingga kita harus senantiasa memohon kepada-Nya agar diberi ilmu yang berguna.Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu – Allah mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi, serta menetapkan syariat berdasarkan kebijaksanaan dan kebaikan bagi hamba-Nya.Kemudahan dalam Islam – Islam adalah agama yang mudah dan penuh kemudahan, di mana segala aturan dibuat untuk kebaikan manusia dan bukan untuk menyulitkan mereka.Bertawakal kepada Allah – Kita harus berserah diri kepada Allah dalam setiap urusan, karena Dia telah menjanjikan kemudahan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Tafsir Ayat 9-13: Berilah PeringatanAllah Ta’ala berfirman,فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكْرَىٰ“oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat,“سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ“orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.”وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلْأَشْقَى“dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.“ٱلَّذِى يَصْلَى ٱلنَّارَ ٱلْكُبْرَىٰ“(Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).”ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ“Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (QS. Al-A’laa: 9-13) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,“Maka berilah peringatan!” Yaitu, sampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya “jika peringatan itu bermanfaat,” yakni selama peringatan itu diterima dan nasihat masih bisa didengar, baik peringatan itu menghasilkan manfaat sepenuhnya maupun hanya sebagian darinya.Ayat ini juga memberikan pemahaman bahwa jika peringatan tidak bermanfaat—misalnya jika peringatan justru memperburuk keadaan atau mengurangi kebaikan—maka tidak diperintahkan untuk memberikan peringatan, bahkan bisa menjadi sesuatu yang dilarang. Dengan demikian, manusia terbagi menjadi dua kelompok dalam menerima peringatan: yang mengambil manfaat dan yang tidak mengambil manfaat.Bagi mereka yang mengambil manfaat, Allah menyebutkan mereka dalam firman-Nya:“Akan menerima peringatan orang yang takut kepada Allah.”Yakni, orang yang memiliki rasa takut kepada Allah serta keyakinan bahwa ia akan dibalas atas amal perbuatannya. Rasa takut kepada Allah ini mendorong seseorang untuk menjauhi maksiat dan berusaha melakukan amal kebaikan.Sedangkan bagi mereka yang tidak mengambil manfaat, Allah menyebutkan dalam firman-Nya:“Dan akan menjauhinya orang yang paling celaka, yang akan memasuki neraka yang besar.”Yakni, mereka yang menghindari peringatan ini adalah orang-orang yang paling sengsara, yang akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala, yang apinya membakar hingga menembus hati.“Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup.”Maksudnya, mereka akan merasakan azab yang sangat pedih tanpa henti, tanpa ada istirahat atau jeda dari siksaan tersebut. Bahkan mereka akan berharap untuk mati agar terbebas dari penderitaan, tetapi keinginan itu tidak akan pernah terwujud. Sebagaimana firman Allah,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا۟ وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِى كُلَّ كَفُورٍ“Tidak akan diputuskan kematian bagi mereka sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.” (QS. Fathir: 36).Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di:Pentingnya Memberikan Peringatan – Perintah untuk menyampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya diberikan selama peringatan tersebut bermanfaat dan masih bisa diterima.Peringatan Tidak Selalu Wajib – Jika peringatan justru menyebabkan keburukan atau mengurangi kebaikan, maka tidak diperintahkan untuk menyampaikannya, bahkan bisa menjadi sesuatu yang terlarang.Manusia Terbagi dalam Menerima Peringatan – Ada dua kelompok manusia dalam menerima peringatan: mereka yang mengambil manfaat darinya dan mereka yang menolaknya.Orang yang Mendapat Manfaat dari Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah dan yakin akan balasan-Nya, sehingga peringatan mendorong mereka untuk menjauhi maksiat dan melakukan kebaikan.Orang yang Menolak Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang paling celaka, yang berpaling dari kebenaran dan akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.Azab di Neraka Sangat Pedih dan Kekal – Penghuni neraka akan mengalami siksaan tanpa henti, tidak mati sehingga terbebas dari azab, dan tidak hidup dalam keadaan yang layak, melainkan dalam penderitaan abadi. Tafsir Ayat 14-19: Berilah PeringatanAllah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).”وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ“dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.”بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.”وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”إِنَّ هَٰذَا لَفِى ٱلصُّحُفِ ٱلْأُولَىٰ“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu.”صُحُفِ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ“(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS. Al-A’laa: 14-19) Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’diSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.”Artinya, telah berhasil dan meraih kemenangan orang yang membersihkan dirinya dari kesyirikan, kezaliman, serta akhlak yang buruk.“Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.”Maksudnya, ia senantiasa mengingat Allah, hatinya dipenuhi dengan dzikir kepada-Nya, sehingga hal itu mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang diridhai Allah, terutama shalat, yang merupakan tolok ukur keimanan seseorang.Inilah makna utama dari ayat yang mulia ini. Adapun tafsiran yang menyebut bahwa “menyucikan diri” berarti mengeluarkan zakat fitrah, dan “mengingat nama Tuhannya, lalu shalat” maksudnya adalah shalat Idul Fitri, maka meskipun hal ini termasuk dalam cakupan makna ayat dan merupakan salah satu bentuk penerapannya, namun bukanlah satu-satunya makna yang dimaksud.“Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.”“Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia,”yakni, kalian lebih mendahulukan dunia dibandingkan akhirat, serta memilih kenikmatan dunia yang fana, penuh kekurangan, dan bercampur kepahitan, daripada kenikmatan akhirat yang abadi.“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”Akhirat jauh lebih baik dari dunia dalam segala aspek yang diinginkan manusia. Akhirat adalah negeri keabadian, kebahagiaan yang murni, dan tanpa kesulitan, sedangkan dunia hanyalah tempat yang sementara dan penuh kefanaan. Orang beriman yang berakal tidak akan memilih sesuatu yang lebih rendah dibandingkan sesuatu yang lebih mulia, serta tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan abadi. Kecintaan terhadap dunia dan mengutamakannya di atas akhirat adalah akar dari segala dosa dan kesalahan.“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.”Apa yang disebutkan dalam surah yang mulia ini—berupa perintah-perintah yang baik dan berita-berita yang benar—juga telah termaktub dalam kitab-kitab suci sebelumnya, yaitu dalam kitab Ibrahim dan Musa, dua di antara rasul-rasul yang paling mulia setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hukum-hukum ini bersifat universal dan berlaku dalam setiap syariat, karena semuanya mengandung maslahat bagi kehidupan dunia dan akhirat, serta relevan di setiap zaman dan tempat.Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di:Keberuntungan bagi Orang yang Menyucikan Diri – Orang yang sukses dan meraih kemenangan adalah mereka yang membersihkan diri dari kesyirikan, kezaliman, dan akhlak yang buruk.Dzikir dan Shalat sebagai Tolok Ukur Keimanan – Mengingat Allah dengan hati yang dipenuhi dzikir mendorong seseorang untuk beramal saleh, terutama shalat, yang menjadi indikator utama keimanan seseorang.Makna Luas dari Menyucikan Diri – Menyucikan diri tidak hanya terbatas pada zakat fitrah, dan mengingat Allah tidak hanya merujuk pada shalat Idul Fitri, melainkan memiliki makna yang lebih luas mencakup penyucian hati dan ibadah secara keseluruhan.Kecenderungan Manusia Mengutamakan Dunia – Banyak manusia lebih memilih kenikmatan dunia yang sementara, meskipun penuh kekurangan, daripada kebahagiaan akhirat yang abadi.Akhirat Lebih Baik dan Kekal – Kehidupan akhirat jauh lebih baik dalam segala aspek dan lebih kekal, sedangkan dunia bersifat fana dan penuh ujian. Orang beriman tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan yang abadi.Peringatan Ini Sudah Ada dalam Kitab-Kitab Terdahulu – Pesan-pesan ini tidak hanya terdapat dalam Al-Qur’an tetapi juga telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu, seperti kitab Ibrahim dan Musa, karena hukum-hukum ini bersifat universal dan relevan di setiap zaman dan tempat. PenutupSurah Al-A’la menegaskan bahwa Allah telah menetapkan hidayah bagi setiap makhluk sesuai dengan fitrahnya, baik secara naluriah maupun melalui wahyu, sehingga segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, hanya dalam surah ini Allah secara langsung menjanjikan kemudahan dalam menjalankan agama-Nya bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya, menjadikan Islam sebagai jalan hidup yang penuh berkah dan kemudahan.Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna.–13 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush SholihinDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.rumaysho.com TagsAkhirat Lebih Baik Hidayah dalam Islam Hikmah Al-Qur’an Islam yang Mudah Keagungan Ciptaan Allah Kelebihan Surah Al-A’la Kemudahan dalam Beragama Keutamaan Bertasbih Keutamaan Surah Al-A’la Makna Ayat Al-Qur’an Makna Surah Al-A’la Pentingnya Mengingat Allah tafsir al-qur’an tafsir juz amma Tafsir Surah Al-A’la tafsir syaikh as-sa’di

Tafsir Surah Al-A’la: Keagungan Penciptaan, Hidayah, dan Kemudahan dalam Islam

Surah Al-A’la mengandung pesan-pesan mendalam tentang keagungan penciptaan Allah, kepastian takdir, dan kemudahan dalam beragama. Dalam surah ini, Allah mengingatkan manusia untuk menyucikan-Nya, memahami hikmah kehidupan, serta mengutamakan akhirat dibanding dunia. Ayat-ayatnya juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan membawa kebahagiaan sejati bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya.   Tafsir Ayat 1-5: Keagungan Allah dalam Penciptaan Allah Ta’ala berfirman, سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَىٰ “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi,” ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ “Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),” وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ “Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,” وَٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ ٱلْمَرْعَىٰ “Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,” فَجَعَلَهُۥ غُثَآءً أَحْوَىٰ “Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.” (QS. Al-A’la: 1-5)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, Allah memerintahkan untuk bertasbih kepada-Nya, yang mencakup mengingat-Nya, beribadah kepada-Nya, tunduk pada keagungan-Nya, dan merendahkan diri di hadapan kebesaran-Nya. Tasbih ini harus sesuai dengan keagungan Allah, yaitu dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah, yang lebih tinggi daripada segala nama karena memiliki makna yang sempurna dan mulia. Juga dengan mengingat perbuatan-Nya, seperti menciptakan makhluk dan menyempurnakan mereka, yakni menciptakan mereka dengan penuh ketelitian dan keindahan. Allah juga yang menentukan segala sesuatu dengan takdir-Nya, dan membimbing seluruh makhluk sesuai dengan ketetapan tersebut. Ini adalah bentuk hidayah umum dari Allah, di mana Dia membimbing setiap makhluk kepada kemaslahatan mereka masing-masing. Sebagai salah satu bentuk nikmat duniawi-Nya, Allah berfirman: “Dan Dia-lah yang mengeluarkan rerumputan.” Artinya, Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia menumbuhkan berbagai jenis tanaman dan rerumputan yang melimpah, yang menjadi tempat makan bagi manusia, hewan ternak, dan seluruh makhluk hidup. Namun, setelah tanaman itu mencapai puncak pertumbuhannya, ia mulai layu dan kering. Allah menjadikannya “ghutsā’an ahwā”, yaitu dedaunan yang hitam, hancur, dan lapuk, yang menandakan kefanaan dan perubahan dalam kehidupan dunia. Kesimpulan dari penjelasan Syaikh As-Sa’di: Perintah untuk Bertasbih – Allah memerintahkan manusia untuk menyucikan-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah dan mengingat kebesaran serta perbuatan-Nya. Kesempurnaan Penciptaan Allah – Allah menciptakan makhluk dengan penuh ketelitian dan kesempurnaan. Takdir dan Hidayah Allah – Setiap makhluk diberikan takdir dan petunjuk sesuai dengan maslahatnya masing-masing. Nikmat Duniawi Allah – Allah menumbuhkan tanaman sebagai rezeki bagi manusia dan hewan. Fana-nya Dunia – Segala sesuatu di dunia mengalami perubahan dan kehancuran, mengingatkan manusia akan kefanaan dunia dan kekekalan akhirat.   Tafsir Ayat 6-8: Diberi Taufik ke Jalan yang Mudah Allah Ta’ala berfirman, سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰٓ “Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.” إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّهُۥ يَعْلَمُ ٱلْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ “kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ “dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah.” (QS. Al-A’laa: 6-8)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, Dan di dalamnya disebutkan nikmat-nikmat-Nya yang bersifat agama. Oleh karena itu, Allah menyebut nikmat paling utama dan sumber segala nikmat, yaitu Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (wahai Muhammad), maka engkau tidak akan lupa.” Artinya, Kami akan menjaga wahyu yang Kami berikan kepadamu, menanamkannya dalam hatimu, sehingga engkau tidak akan melupakannya. Ini adalah kabar gembira besar dari Allah kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Allah akan mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak akan ia lupakan. “Kecuali apa yang Allah kehendaki,” yakni, jika dalam kebijaksanaan-Nya, Allah berkehendak membuatnya lupa demi suatu hikmah besar yang bermanfaat. “Sesungguhnya Dia mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.” Termasuk dalam hal ini, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia menetapkan syariat sesuai dengan kehendak-Nya dan mengatur segala sesuatu dengan kebijaksanaan-Nya. “Dan Kami akan memudahkanmu menuju kemudahan.” Ini juga merupakan kabar gembira besar bahwa Allah akan memudahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala urusannya serta menjadikan syariat dan agama ini sebagai sesuatu yang mudah dan ringan bagi umat manusia. Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di: Al-Qur’an sebagai Nikmat Terbesar – Al-Qur’an adalah nikmat utama yang harus disyukuri dengan membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan. Pemeliharaan Wahyu oleh Allah – Allah menjaga wahyu-Nya dan menjamin bahwa Rasulullah ﷺ tidak akan melupakannya kecuali jika ada hikmah di baliknya. Ilmu Sejati dari Allah – Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diberikan oleh Allah, sehingga kita harus senantiasa memohon kepada-Nya agar diberi ilmu yang berguna. Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu – Allah mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi, serta menetapkan syariat berdasarkan kebijaksanaan dan kebaikan bagi hamba-Nya. Kemudahan dalam Islam – Islam adalah agama yang mudah dan penuh kemudahan, di mana segala aturan dibuat untuk kebaikan manusia dan bukan untuk menyulitkan mereka. Bertawakal kepada Allah – Kita harus berserah diri kepada Allah dalam setiap urusan, karena Dia telah menjanjikan kemudahan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya.   Tafsir Ayat 9-13: Berilah Peringatan Allah Ta’ala berfirman, فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكْرَىٰ “oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat,“ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ “orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلْأَشْقَى “dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.“ ٱلَّذِى يَصْلَى ٱلنَّارَ ٱلْكُبْرَىٰ “(Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).” ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ “Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (QS. Al-A’laa: 9-13)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Maka berilah peringatan!” Yaitu, sampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya “jika peringatan itu bermanfaat,” yakni selama peringatan itu diterima dan nasihat masih bisa didengar, baik peringatan itu menghasilkan manfaat sepenuhnya maupun hanya sebagian darinya. Ayat ini juga memberikan pemahaman bahwa jika peringatan tidak bermanfaat—misalnya jika peringatan justru memperburuk keadaan atau mengurangi kebaikan—maka tidak diperintahkan untuk memberikan peringatan, bahkan bisa menjadi sesuatu yang dilarang. Dengan demikian, manusia terbagi menjadi dua kelompok dalam menerima peringatan: yang mengambil manfaat dan yang tidak mengambil manfaat. Bagi mereka yang mengambil manfaat, Allah menyebutkan mereka dalam firman-Nya: “Akan menerima peringatan orang yang takut kepada Allah.” Yakni, orang yang memiliki rasa takut kepada Allah serta keyakinan bahwa ia akan dibalas atas amal perbuatannya. Rasa takut kepada Allah ini mendorong seseorang untuk menjauhi maksiat dan berusaha melakukan amal kebaikan. Sedangkan bagi mereka yang tidak mengambil manfaat, Allah menyebutkan dalam firman-Nya: “Dan akan menjauhinya orang yang paling celaka, yang akan memasuki neraka yang besar.” Yakni, mereka yang menghindari peringatan ini adalah orang-orang yang paling sengsara, yang akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala, yang apinya membakar hingga menembus hati. “Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup.” Maksudnya, mereka akan merasakan azab yang sangat pedih tanpa henti, tanpa ada istirahat atau jeda dari siksaan tersebut. Bahkan mereka akan berharap untuk mati agar terbebas dari penderitaan, tetapi keinginan itu tidak akan pernah terwujud. Sebagaimana firman Allah, وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا۟ وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِى كُلَّ كَفُورٍ “Tidak akan diputuskan kematian bagi mereka sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.” (QS. Fathir: 36). Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di: Pentingnya Memberikan Peringatan – Perintah untuk menyampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya diberikan selama peringatan tersebut bermanfaat dan masih bisa diterima. Peringatan Tidak Selalu Wajib – Jika peringatan justru menyebabkan keburukan atau mengurangi kebaikan, maka tidak diperintahkan untuk menyampaikannya, bahkan bisa menjadi sesuatu yang terlarang. Manusia Terbagi dalam Menerima Peringatan – Ada dua kelompok manusia dalam menerima peringatan: mereka yang mengambil manfaat darinya dan mereka yang menolaknya. Orang yang Mendapat Manfaat dari Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah dan yakin akan balasan-Nya, sehingga peringatan mendorong mereka untuk menjauhi maksiat dan melakukan kebaikan. Orang yang Menolak Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang paling celaka, yang berpaling dari kebenaran dan akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Azab di Neraka Sangat Pedih dan Kekal – Penghuni neraka akan mengalami siksaan tanpa henti, tidak mati sehingga terbebas dari azab, dan tidak hidup dalam keadaan yang layak, melainkan dalam penderitaan abadi.   Tafsir Ayat 14-19: Berilah Peringatan Allah Ta’ala berfirman, قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).” وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.” وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” إِنَّ هَٰذَا لَفِى ٱلصُّحُفِ ٱلْأُولَىٰ “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu.” صُحُفِ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ “(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS. Al-A’laa: 14-19)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.” Artinya, telah berhasil dan meraih kemenangan orang yang membersihkan dirinya dari kesyirikan, kezaliman, serta akhlak yang buruk. “Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” Maksudnya, ia senantiasa mengingat Allah, hatinya dipenuhi dengan dzikir kepada-Nya, sehingga hal itu mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang diridhai Allah, terutama shalat, yang merupakan tolok ukur keimanan seseorang. Inilah makna utama dari ayat yang mulia ini. Adapun tafsiran yang menyebut bahwa “menyucikan diri” berarti mengeluarkan zakat fitrah, dan “mengingat nama Tuhannya, lalu shalat” maksudnya adalah shalat Idul Fitri, maka meskipun hal ini termasuk dalam cakupan makna ayat dan merupakan salah satu bentuk penerapannya, namun bukanlah satu-satunya makna yang dimaksud. “Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” “Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia,” yakni, kalian lebih mendahulukan dunia dibandingkan akhirat, serta memilih kenikmatan dunia yang fana, penuh kekurangan, dan bercampur kepahitan, daripada kenikmatan akhirat yang abadi. “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” Akhirat jauh lebih baik dari dunia dalam segala aspek yang diinginkan manusia. Akhirat adalah negeri keabadian, kebahagiaan yang murni, dan tanpa kesulitan, sedangkan dunia hanyalah tempat yang sementara dan penuh kefanaan. Orang beriman yang berakal tidak akan memilih sesuatu yang lebih rendah dibandingkan sesuatu yang lebih mulia, serta tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan abadi. Kecintaan terhadap dunia dan mengutamakannya di atas akhirat adalah akar dari segala dosa dan kesalahan. “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” Apa yang disebutkan dalam surah yang mulia ini—berupa perintah-perintah yang baik dan berita-berita yang benar—juga telah termaktub dalam kitab-kitab suci sebelumnya, yaitu dalam kitab Ibrahim dan Musa, dua di antara rasul-rasul yang paling mulia setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hukum-hukum ini bersifat universal dan berlaku dalam setiap syariat, karena semuanya mengandung maslahat bagi kehidupan dunia dan akhirat, serta relevan di setiap zaman dan tempat. Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di: Keberuntungan bagi Orang yang Menyucikan Diri – Orang yang sukses dan meraih kemenangan adalah mereka yang membersihkan diri dari kesyirikan, kezaliman, dan akhlak yang buruk. Dzikir dan Shalat sebagai Tolok Ukur Keimanan – Mengingat Allah dengan hati yang dipenuhi dzikir mendorong seseorang untuk beramal saleh, terutama shalat, yang menjadi indikator utama keimanan seseorang. Makna Luas dari Menyucikan Diri – Menyucikan diri tidak hanya terbatas pada zakat fitrah, dan mengingat Allah tidak hanya merujuk pada shalat Idul Fitri, melainkan memiliki makna yang lebih luas mencakup penyucian hati dan ibadah secara keseluruhan. Kecenderungan Manusia Mengutamakan Dunia – Banyak manusia lebih memilih kenikmatan dunia yang sementara, meskipun penuh kekurangan, daripada kebahagiaan akhirat yang abadi. Akhirat Lebih Baik dan Kekal – Kehidupan akhirat jauh lebih baik dalam segala aspek dan lebih kekal, sedangkan dunia bersifat fana dan penuh ujian. Orang beriman tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan yang abadi. Peringatan Ini Sudah Ada dalam Kitab-Kitab Terdahulu – Pesan-pesan ini tidak hanya terdapat dalam Al-Qur’an tetapi juga telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu, seperti kitab Ibrahim dan Musa, karena hukum-hukum ini bersifat universal dan relevan di setiap zaman dan tempat.   Penutup Surah Al-A’la menegaskan bahwa Allah telah menetapkan hidayah bagi setiap makhluk sesuai dengan fitrahnya, baik secara naluriah maupun melalui wahyu, sehingga segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, hanya dalam surah ini Allah secara langsung menjanjikan kemudahan dalam menjalankan agama-Nya bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya, menjadikan Islam sebagai jalan hidup yang penuh berkah dan kemudahan. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna. – 13 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com TagsAkhirat Lebih Baik Hidayah dalam Islam Hikmah Al-Qur’an Islam yang Mudah Keagungan Ciptaan Allah Kelebihan Surah Al-A’la Kemudahan dalam Beragama Keutamaan Bertasbih Keutamaan Surah Al-A’la Makna Ayat Al-Qur’an Makna Surah Al-A’la Pentingnya Mengingat Allah tafsir al-qur’an tafsir juz amma Tafsir Surah Al-A’la tafsir syaikh as-sa’di

Tafsir Surah Al-A’la: Keagungan Penciptaan, Hidayah, dan Kemudahan dalam Islam

Surah Al-A’la mengandung pesan-pesan mendalam tentang keagungan penciptaan Allah, kepastian takdir, dan kemudahan dalam beragama. Dalam surah ini, Allah mengingatkan manusia untuk menyucikan-Nya, memahami hikmah kehidupan, serta mengutamakan akhirat dibanding dunia. Ayat-ayatnya juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan membawa kebahagiaan sejati bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya.   Tafsir Ayat 1-5: Keagungan Allah dalam Penciptaan Allah Ta’ala berfirman, سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَىٰ “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi,” ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ “Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),” وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ “Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,” وَٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ ٱلْمَرْعَىٰ “Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,” فَجَعَلَهُۥ غُثَآءً أَحْوَىٰ “Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.” (QS. Al-A’la: 1-5)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, Allah memerintahkan untuk bertasbih kepada-Nya, yang mencakup mengingat-Nya, beribadah kepada-Nya, tunduk pada keagungan-Nya, dan merendahkan diri di hadapan kebesaran-Nya. Tasbih ini harus sesuai dengan keagungan Allah, yaitu dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah, yang lebih tinggi daripada segala nama karena memiliki makna yang sempurna dan mulia. Juga dengan mengingat perbuatan-Nya, seperti menciptakan makhluk dan menyempurnakan mereka, yakni menciptakan mereka dengan penuh ketelitian dan keindahan. Allah juga yang menentukan segala sesuatu dengan takdir-Nya, dan membimbing seluruh makhluk sesuai dengan ketetapan tersebut. Ini adalah bentuk hidayah umum dari Allah, di mana Dia membimbing setiap makhluk kepada kemaslahatan mereka masing-masing. Sebagai salah satu bentuk nikmat duniawi-Nya, Allah berfirman: “Dan Dia-lah yang mengeluarkan rerumputan.” Artinya, Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia menumbuhkan berbagai jenis tanaman dan rerumputan yang melimpah, yang menjadi tempat makan bagi manusia, hewan ternak, dan seluruh makhluk hidup. Namun, setelah tanaman itu mencapai puncak pertumbuhannya, ia mulai layu dan kering. Allah menjadikannya “ghutsā’an ahwā”, yaitu dedaunan yang hitam, hancur, dan lapuk, yang menandakan kefanaan dan perubahan dalam kehidupan dunia. Kesimpulan dari penjelasan Syaikh As-Sa’di: Perintah untuk Bertasbih – Allah memerintahkan manusia untuk menyucikan-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah dan mengingat kebesaran serta perbuatan-Nya. Kesempurnaan Penciptaan Allah – Allah menciptakan makhluk dengan penuh ketelitian dan kesempurnaan. Takdir dan Hidayah Allah – Setiap makhluk diberikan takdir dan petunjuk sesuai dengan maslahatnya masing-masing. Nikmat Duniawi Allah – Allah menumbuhkan tanaman sebagai rezeki bagi manusia dan hewan. Fana-nya Dunia – Segala sesuatu di dunia mengalami perubahan dan kehancuran, mengingatkan manusia akan kefanaan dunia dan kekekalan akhirat.   Tafsir Ayat 6-8: Diberi Taufik ke Jalan yang Mudah Allah Ta’ala berfirman, سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰٓ “Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.” إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّهُۥ يَعْلَمُ ٱلْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ “kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ “dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah.” (QS. Al-A’laa: 6-8)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, Dan di dalamnya disebutkan nikmat-nikmat-Nya yang bersifat agama. Oleh karena itu, Allah menyebut nikmat paling utama dan sumber segala nikmat, yaitu Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (wahai Muhammad), maka engkau tidak akan lupa.” Artinya, Kami akan menjaga wahyu yang Kami berikan kepadamu, menanamkannya dalam hatimu, sehingga engkau tidak akan melupakannya. Ini adalah kabar gembira besar dari Allah kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Allah akan mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak akan ia lupakan. “Kecuali apa yang Allah kehendaki,” yakni, jika dalam kebijaksanaan-Nya, Allah berkehendak membuatnya lupa demi suatu hikmah besar yang bermanfaat. “Sesungguhnya Dia mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.” Termasuk dalam hal ini, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia menetapkan syariat sesuai dengan kehendak-Nya dan mengatur segala sesuatu dengan kebijaksanaan-Nya. “Dan Kami akan memudahkanmu menuju kemudahan.” Ini juga merupakan kabar gembira besar bahwa Allah akan memudahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala urusannya serta menjadikan syariat dan agama ini sebagai sesuatu yang mudah dan ringan bagi umat manusia. Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di: Al-Qur’an sebagai Nikmat Terbesar – Al-Qur’an adalah nikmat utama yang harus disyukuri dengan membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan. Pemeliharaan Wahyu oleh Allah – Allah menjaga wahyu-Nya dan menjamin bahwa Rasulullah ﷺ tidak akan melupakannya kecuali jika ada hikmah di baliknya. Ilmu Sejati dari Allah – Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diberikan oleh Allah, sehingga kita harus senantiasa memohon kepada-Nya agar diberi ilmu yang berguna. Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu – Allah mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi, serta menetapkan syariat berdasarkan kebijaksanaan dan kebaikan bagi hamba-Nya. Kemudahan dalam Islam – Islam adalah agama yang mudah dan penuh kemudahan, di mana segala aturan dibuat untuk kebaikan manusia dan bukan untuk menyulitkan mereka. Bertawakal kepada Allah – Kita harus berserah diri kepada Allah dalam setiap urusan, karena Dia telah menjanjikan kemudahan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya.   Tafsir Ayat 9-13: Berilah Peringatan Allah Ta’ala berfirman, فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكْرَىٰ “oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat,“ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ “orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلْأَشْقَى “dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.“ ٱلَّذِى يَصْلَى ٱلنَّارَ ٱلْكُبْرَىٰ “(Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).” ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ “Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (QS. Al-A’laa: 9-13)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Maka berilah peringatan!” Yaitu, sampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya “jika peringatan itu bermanfaat,” yakni selama peringatan itu diterima dan nasihat masih bisa didengar, baik peringatan itu menghasilkan manfaat sepenuhnya maupun hanya sebagian darinya. Ayat ini juga memberikan pemahaman bahwa jika peringatan tidak bermanfaat—misalnya jika peringatan justru memperburuk keadaan atau mengurangi kebaikan—maka tidak diperintahkan untuk memberikan peringatan, bahkan bisa menjadi sesuatu yang dilarang. Dengan demikian, manusia terbagi menjadi dua kelompok dalam menerima peringatan: yang mengambil manfaat dan yang tidak mengambil manfaat. Bagi mereka yang mengambil manfaat, Allah menyebutkan mereka dalam firman-Nya: “Akan menerima peringatan orang yang takut kepada Allah.” Yakni, orang yang memiliki rasa takut kepada Allah serta keyakinan bahwa ia akan dibalas atas amal perbuatannya. Rasa takut kepada Allah ini mendorong seseorang untuk menjauhi maksiat dan berusaha melakukan amal kebaikan. Sedangkan bagi mereka yang tidak mengambil manfaat, Allah menyebutkan dalam firman-Nya: “Dan akan menjauhinya orang yang paling celaka, yang akan memasuki neraka yang besar.” Yakni, mereka yang menghindari peringatan ini adalah orang-orang yang paling sengsara, yang akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala, yang apinya membakar hingga menembus hati. “Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup.” Maksudnya, mereka akan merasakan azab yang sangat pedih tanpa henti, tanpa ada istirahat atau jeda dari siksaan tersebut. Bahkan mereka akan berharap untuk mati agar terbebas dari penderitaan, tetapi keinginan itu tidak akan pernah terwujud. Sebagaimana firman Allah, وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا۟ وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِى كُلَّ كَفُورٍ “Tidak akan diputuskan kematian bagi mereka sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.” (QS. Fathir: 36). Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di: Pentingnya Memberikan Peringatan – Perintah untuk menyampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya diberikan selama peringatan tersebut bermanfaat dan masih bisa diterima. Peringatan Tidak Selalu Wajib – Jika peringatan justru menyebabkan keburukan atau mengurangi kebaikan, maka tidak diperintahkan untuk menyampaikannya, bahkan bisa menjadi sesuatu yang terlarang. Manusia Terbagi dalam Menerima Peringatan – Ada dua kelompok manusia dalam menerima peringatan: mereka yang mengambil manfaat darinya dan mereka yang menolaknya. Orang yang Mendapat Manfaat dari Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah dan yakin akan balasan-Nya, sehingga peringatan mendorong mereka untuk menjauhi maksiat dan melakukan kebaikan. Orang yang Menolak Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang paling celaka, yang berpaling dari kebenaran dan akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Azab di Neraka Sangat Pedih dan Kekal – Penghuni neraka akan mengalami siksaan tanpa henti, tidak mati sehingga terbebas dari azab, dan tidak hidup dalam keadaan yang layak, melainkan dalam penderitaan abadi.   Tafsir Ayat 14-19: Berilah Peringatan Allah Ta’ala berfirman, قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).” وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.” وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” إِنَّ هَٰذَا لَفِى ٱلصُّحُفِ ٱلْأُولَىٰ “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu.” صُحُفِ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ “(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS. Al-A’laa: 14-19)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.” Artinya, telah berhasil dan meraih kemenangan orang yang membersihkan dirinya dari kesyirikan, kezaliman, serta akhlak yang buruk. “Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” Maksudnya, ia senantiasa mengingat Allah, hatinya dipenuhi dengan dzikir kepada-Nya, sehingga hal itu mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang diridhai Allah, terutama shalat, yang merupakan tolok ukur keimanan seseorang. Inilah makna utama dari ayat yang mulia ini. Adapun tafsiran yang menyebut bahwa “menyucikan diri” berarti mengeluarkan zakat fitrah, dan “mengingat nama Tuhannya, lalu shalat” maksudnya adalah shalat Idul Fitri, maka meskipun hal ini termasuk dalam cakupan makna ayat dan merupakan salah satu bentuk penerapannya, namun bukanlah satu-satunya makna yang dimaksud. “Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” “Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia,” yakni, kalian lebih mendahulukan dunia dibandingkan akhirat, serta memilih kenikmatan dunia yang fana, penuh kekurangan, dan bercampur kepahitan, daripada kenikmatan akhirat yang abadi. “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” Akhirat jauh lebih baik dari dunia dalam segala aspek yang diinginkan manusia. Akhirat adalah negeri keabadian, kebahagiaan yang murni, dan tanpa kesulitan, sedangkan dunia hanyalah tempat yang sementara dan penuh kefanaan. Orang beriman yang berakal tidak akan memilih sesuatu yang lebih rendah dibandingkan sesuatu yang lebih mulia, serta tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan abadi. Kecintaan terhadap dunia dan mengutamakannya di atas akhirat adalah akar dari segala dosa dan kesalahan. “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” Apa yang disebutkan dalam surah yang mulia ini—berupa perintah-perintah yang baik dan berita-berita yang benar—juga telah termaktub dalam kitab-kitab suci sebelumnya, yaitu dalam kitab Ibrahim dan Musa, dua di antara rasul-rasul yang paling mulia setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hukum-hukum ini bersifat universal dan berlaku dalam setiap syariat, karena semuanya mengandung maslahat bagi kehidupan dunia dan akhirat, serta relevan di setiap zaman dan tempat. Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di: Keberuntungan bagi Orang yang Menyucikan Diri – Orang yang sukses dan meraih kemenangan adalah mereka yang membersihkan diri dari kesyirikan, kezaliman, dan akhlak yang buruk. Dzikir dan Shalat sebagai Tolok Ukur Keimanan – Mengingat Allah dengan hati yang dipenuhi dzikir mendorong seseorang untuk beramal saleh, terutama shalat, yang menjadi indikator utama keimanan seseorang. Makna Luas dari Menyucikan Diri – Menyucikan diri tidak hanya terbatas pada zakat fitrah, dan mengingat Allah tidak hanya merujuk pada shalat Idul Fitri, melainkan memiliki makna yang lebih luas mencakup penyucian hati dan ibadah secara keseluruhan. Kecenderungan Manusia Mengutamakan Dunia – Banyak manusia lebih memilih kenikmatan dunia yang sementara, meskipun penuh kekurangan, daripada kebahagiaan akhirat yang abadi. Akhirat Lebih Baik dan Kekal – Kehidupan akhirat jauh lebih baik dalam segala aspek dan lebih kekal, sedangkan dunia bersifat fana dan penuh ujian. Orang beriman tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan yang abadi. Peringatan Ini Sudah Ada dalam Kitab-Kitab Terdahulu – Pesan-pesan ini tidak hanya terdapat dalam Al-Qur’an tetapi juga telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu, seperti kitab Ibrahim dan Musa, karena hukum-hukum ini bersifat universal dan relevan di setiap zaman dan tempat.   Penutup Surah Al-A’la menegaskan bahwa Allah telah menetapkan hidayah bagi setiap makhluk sesuai dengan fitrahnya, baik secara naluriah maupun melalui wahyu, sehingga segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, hanya dalam surah ini Allah secara langsung menjanjikan kemudahan dalam menjalankan agama-Nya bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya, menjadikan Islam sebagai jalan hidup yang penuh berkah dan kemudahan. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna. – 13 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com TagsAkhirat Lebih Baik Hidayah dalam Islam Hikmah Al-Qur’an Islam yang Mudah Keagungan Ciptaan Allah Kelebihan Surah Al-A’la Kemudahan dalam Beragama Keutamaan Bertasbih Keutamaan Surah Al-A’la Makna Ayat Al-Qur’an Makna Surah Al-A’la Pentingnya Mengingat Allah tafsir al-qur’an tafsir juz amma Tafsir Surah Al-A’la tafsir syaikh as-sa’di
Surah Al-A’la mengandung pesan-pesan mendalam tentang keagungan penciptaan Allah, kepastian takdir, dan kemudahan dalam beragama. Dalam surah ini, Allah mengingatkan manusia untuk menyucikan-Nya, memahami hikmah kehidupan, serta mengutamakan akhirat dibanding dunia. Ayat-ayatnya juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan membawa kebahagiaan sejati bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya.   Tafsir Ayat 1-5: Keagungan Allah dalam Penciptaan Allah Ta’ala berfirman, سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَىٰ “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi,” ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ “Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),” وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ “Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,” وَٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ ٱلْمَرْعَىٰ “Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,” فَجَعَلَهُۥ غُثَآءً أَحْوَىٰ “Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.” (QS. Al-A’la: 1-5)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, Allah memerintahkan untuk bertasbih kepada-Nya, yang mencakup mengingat-Nya, beribadah kepada-Nya, tunduk pada keagungan-Nya, dan merendahkan diri di hadapan kebesaran-Nya. Tasbih ini harus sesuai dengan keagungan Allah, yaitu dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah, yang lebih tinggi daripada segala nama karena memiliki makna yang sempurna dan mulia. Juga dengan mengingat perbuatan-Nya, seperti menciptakan makhluk dan menyempurnakan mereka, yakni menciptakan mereka dengan penuh ketelitian dan keindahan. Allah juga yang menentukan segala sesuatu dengan takdir-Nya, dan membimbing seluruh makhluk sesuai dengan ketetapan tersebut. Ini adalah bentuk hidayah umum dari Allah, di mana Dia membimbing setiap makhluk kepada kemaslahatan mereka masing-masing. Sebagai salah satu bentuk nikmat duniawi-Nya, Allah berfirman: “Dan Dia-lah yang mengeluarkan rerumputan.” Artinya, Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia menumbuhkan berbagai jenis tanaman dan rerumputan yang melimpah, yang menjadi tempat makan bagi manusia, hewan ternak, dan seluruh makhluk hidup. Namun, setelah tanaman itu mencapai puncak pertumbuhannya, ia mulai layu dan kering. Allah menjadikannya “ghutsā’an ahwā”, yaitu dedaunan yang hitam, hancur, dan lapuk, yang menandakan kefanaan dan perubahan dalam kehidupan dunia. Kesimpulan dari penjelasan Syaikh As-Sa’di: Perintah untuk Bertasbih – Allah memerintahkan manusia untuk menyucikan-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah dan mengingat kebesaran serta perbuatan-Nya. Kesempurnaan Penciptaan Allah – Allah menciptakan makhluk dengan penuh ketelitian dan kesempurnaan. Takdir dan Hidayah Allah – Setiap makhluk diberikan takdir dan petunjuk sesuai dengan maslahatnya masing-masing. Nikmat Duniawi Allah – Allah menumbuhkan tanaman sebagai rezeki bagi manusia dan hewan. Fana-nya Dunia – Segala sesuatu di dunia mengalami perubahan dan kehancuran, mengingatkan manusia akan kefanaan dunia dan kekekalan akhirat.   Tafsir Ayat 6-8: Diberi Taufik ke Jalan yang Mudah Allah Ta’ala berfirman, سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰٓ “Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.” إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّهُۥ يَعْلَمُ ٱلْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ “kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ “dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah.” (QS. Al-A’laa: 6-8)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, Dan di dalamnya disebutkan nikmat-nikmat-Nya yang bersifat agama. Oleh karena itu, Allah menyebut nikmat paling utama dan sumber segala nikmat, yaitu Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (wahai Muhammad), maka engkau tidak akan lupa.” Artinya, Kami akan menjaga wahyu yang Kami berikan kepadamu, menanamkannya dalam hatimu, sehingga engkau tidak akan melupakannya. Ini adalah kabar gembira besar dari Allah kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Allah akan mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak akan ia lupakan. “Kecuali apa yang Allah kehendaki,” yakni, jika dalam kebijaksanaan-Nya, Allah berkehendak membuatnya lupa demi suatu hikmah besar yang bermanfaat. “Sesungguhnya Dia mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.” Termasuk dalam hal ini, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia menetapkan syariat sesuai dengan kehendak-Nya dan mengatur segala sesuatu dengan kebijaksanaan-Nya. “Dan Kami akan memudahkanmu menuju kemudahan.” Ini juga merupakan kabar gembira besar bahwa Allah akan memudahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala urusannya serta menjadikan syariat dan agama ini sebagai sesuatu yang mudah dan ringan bagi umat manusia. Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di: Al-Qur’an sebagai Nikmat Terbesar – Al-Qur’an adalah nikmat utama yang harus disyukuri dengan membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan. Pemeliharaan Wahyu oleh Allah – Allah menjaga wahyu-Nya dan menjamin bahwa Rasulullah ﷺ tidak akan melupakannya kecuali jika ada hikmah di baliknya. Ilmu Sejati dari Allah – Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diberikan oleh Allah, sehingga kita harus senantiasa memohon kepada-Nya agar diberi ilmu yang berguna. Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu – Allah mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi, serta menetapkan syariat berdasarkan kebijaksanaan dan kebaikan bagi hamba-Nya. Kemudahan dalam Islam – Islam adalah agama yang mudah dan penuh kemudahan, di mana segala aturan dibuat untuk kebaikan manusia dan bukan untuk menyulitkan mereka. Bertawakal kepada Allah – Kita harus berserah diri kepada Allah dalam setiap urusan, karena Dia telah menjanjikan kemudahan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya.   Tafsir Ayat 9-13: Berilah Peringatan Allah Ta’ala berfirman, فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكْرَىٰ “oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat,“ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ “orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلْأَشْقَى “dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.“ ٱلَّذِى يَصْلَى ٱلنَّارَ ٱلْكُبْرَىٰ “(Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).” ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ “Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (QS. Al-A’laa: 9-13)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Maka berilah peringatan!” Yaitu, sampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya “jika peringatan itu bermanfaat,” yakni selama peringatan itu diterima dan nasihat masih bisa didengar, baik peringatan itu menghasilkan manfaat sepenuhnya maupun hanya sebagian darinya. Ayat ini juga memberikan pemahaman bahwa jika peringatan tidak bermanfaat—misalnya jika peringatan justru memperburuk keadaan atau mengurangi kebaikan—maka tidak diperintahkan untuk memberikan peringatan, bahkan bisa menjadi sesuatu yang dilarang. Dengan demikian, manusia terbagi menjadi dua kelompok dalam menerima peringatan: yang mengambil manfaat dan yang tidak mengambil manfaat. Bagi mereka yang mengambil manfaat, Allah menyebutkan mereka dalam firman-Nya: “Akan menerima peringatan orang yang takut kepada Allah.” Yakni, orang yang memiliki rasa takut kepada Allah serta keyakinan bahwa ia akan dibalas atas amal perbuatannya. Rasa takut kepada Allah ini mendorong seseorang untuk menjauhi maksiat dan berusaha melakukan amal kebaikan. Sedangkan bagi mereka yang tidak mengambil manfaat, Allah menyebutkan dalam firman-Nya: “Dan akan menjauhinya orang yang paling celaka, yang akan memasuki neraka yang besar.” Yakni, mereka yang menghindari peringatan ini adalah orang-orang yang paling sengsara, yang akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala, yang apinya membakar hingga menembus hati. “Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup.” Maksudnya, mereka akan merasakan azab yang sangat pedih tanpa henti, tanpa ada istirahat atau jeda dari siksaan tersebut. Bahkan mereka akan berharap untuk mati agar terbebas dari penderitaan, tetapi keinginan itu tidak akan pernah terwujud. Sebagaimana firman Allah, وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا۟ وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِى كُلَّ كَفُورٍ “Tidak akan diputuskan kematian bagi mereka sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.” (QS. Fathir: 36). Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di: Pentingnya Memberikan Peringatan – Perintah untuk menyampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya diberikan selama peringatan tersebut bermanfaat dan masih bisa diterima. Peringatan Tidak Selalu Wajib – Jika peringatan justru menyebabkan keburukan atau mengurangi kebaikan, maka tidak diperintahkan untuk menyampaikannya, bahkan bisa menjadi sesuatu yang terlarang. Manusia Terbagi dalam Menerima Peringatan – Ada dua kelompok manusia dalam menerima peringatan: mereka yang mengambil manfaat darinya dan mereka yang menolaknya. Orang yang Mendapat Manfaat dari Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah dan yakin akan balasan-Nya, sehingga peringatan mendorong mereka untuk menjauhi maksiat dan melakukan kebaikan. Orang yang Menolak Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang paling celaka, yang berpaling dari kebenaran dan akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Azab di Neraka Sangat Pedih dan Kekal – Penghuni neraka akan mengalami siksaan tanpa henti, tidak mati sehingga terbebas dari azab, dan tidak hidup dalam keadaan yang layak, melainkan dalam penderitaan abadi.   Tafsir Ayat 14-19: Berilah Peringatan Allah Ta’ala berfirman, قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).” وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.” وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” إِنَّ هَٰذَا لَفِى ٱلصُّحُفِ ٱلْأُولَىٰ “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu.” صُحُفِ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ “(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS. Al-A’laa: 14-19)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.” Artinya, telah berhasil dan meraih kemenangan orang yang membersihkan dirinya dari kesyirikan, kezaliman, serta akhlak yang buruk. “Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” Maksudnya, ia senantiasa mengingat Allah, hatinya dipenuhi dengan dzikir kepada-Nya, sehingga hal itu mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang diridhai Allah, terutama shalat, yang merupakan tolok ukur keimanan seseorang. Inilah makna utama dari ayat yang mulia ini. Adapun tafsiran yang menyebut bahwa “menyucikan diri” berarti mengeluarkan zakat fitrah, dan “mengingat nama Tuhannya, lalu shalat” maksudnya adalah shalat Idul Fitri, maka meskipun hal ini termasuk dalam cakupan makna ayat dan merupakan salah satu bentuk penerapannya, namun bukanlah satu-satunya makna yang dimaksud. “Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” “Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia,” yakni, kalian lebih mendahulukan dunia dibandingkan akhirat, serta memilih kenikmatan dunia yang fana, penuh kekurangan, dan bercampur kepahitan, daripada kenikmatan akhirat yang abadi. “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” Akhirat jauh lebih baik dari dunia dalam segala aspek yang diinginkan manusia. Akhirat adalah negeri keabadian, kebahagiaan yang murni, dan tanpa kesulitan, sedangkan dunia hanyalah tempat yang sementara dan penuh kefanaan. Orang beriman yang berakal tidak akan memilih sesuatu yang lebih rendah dibandingkan sesuatu yang lebih mulia, serta tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan abadi. Kecintaan terhadap dunia dan mengutamakannya di atas akhirat adalah akar dari segala dosa dan kesalahan. “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” Apa yang disebutkan dalam surah yang mulia ini—berupa perintah-perintah yang baik dan berita-berita yang benar—juga telah termaktub dalam kitab-kitab suci sebelumnya, yaitu dalam kitab Ibrahim dan Musa, dua di antara rasul-rasul yang paling mulia setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hukum-hukum ini bersifat universal dan berlaku dalam setiap syariat, karena semuanya mengandung maslahat bagi kehidupan dunia dan akhirat, serta relevan di setiap zaman dan tempat. Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di: Keberuntungan bagi Orang yang Menyucikan Diri – Orang yang sukses dan meraih kemenangan adalah mereka yang membersihkan diri dari kesyirikan, kezaliman, dan akhlak yang buruk. Dzikir dan Shalat sebagai Tolok Ukur Keimanan – Mengingat Allah dengan hati yang dipenuhi dzikir mendorong seseorang untuk beramal saleh, terutama shalat, yang menjadi indikator utama keimanan seseorang. Makna Luas dari Menyucikan Diri – Menyucikan diri tidak hanya terbatas pada zakat fitrah, dan mengingat Allah tidak hanya merujuk pada shalat Idul Fitri, melainkan memiliki makna yang lebih luas mencakup penyucian hati dan ibadah secara keseluruhan. Kecenderungan Manusia Mengutamakan Dunia – Banyak manusia lebih memilih kenikmatan dunia yang sementara, meskipun penuh kekurangan, daripada kebahagiaan akhirat yang abadi. Akhirat Lebih Baik dan Kekal – Kehidupan akhirat jauh lebih baik dalam segala aspek dan lebih kekal, sedangkan dunia bersifat fana dan penuh ujian. Orang beriman tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan yang abadi. Peringatan Ini Sudah Ada dalam Kitab-Kitab Terdahulu – Pesan-pesan ini tidak hanya terdapat dalam Al-Qur’an tetapi juga telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu, seperti kitab Ibrahim dan Musa, karena hukum-hukum ini bersifat universal dan relevan di setiap zaman dan tempat.   Penutup Surah Al-A’la menegaskan bahwa Allah telah menetapkan hidayah bagi setiap makhluk sesuai dengan fitrahnya, baik secara naluriah maupun melalui wahyu, sehingga segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, hanya dalam surah ini Allah secara langsung menjanjikan kemudahan dalam menjalankan agama-Nya bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya, menjadikan Islam sebagai jalan hidup yang penuh berkah dan kemudahan. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna. – 13 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com TagsAkhirat Lebih Baik Hidayah dalam Islam Hikmah Al-Qur’an Islam yang Mudah Keagungan Ciptaan Allah Kelebihan Surah Al-A’la Kemudahan dalam Beragama Keutamaan Bertasbih Keutamaan Surah Al-A’la Makna Ayat Al-Qur’an Makna Surah Al-A’la Pentingnya Mengingat Allah tafsir al-qur’an tafsir juz amma Tafsir Surah Al-A’la tafsir syaikh as-sa’di


Surah Al-A’la mengandung pesan-pesan mendalam tentang keagungan penciptaan Allah, kepastian takdir, dan kemudahan dalam beragama. Dalam surah ini, Allah mengingatkan manusia untuk menyucikan-Nya, memahami hikmah kehidupan, serta mengutamakan akhirat dibanding dunia. Ayat-ayatnya juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan membawa kebahagiaan sejati bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya.   Tafsir Ayat 1-5: Keagungan Allah dalam Penciptaan Allah Ta’ala berfirman, سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَىٰ “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi,” ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ “Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),” وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ “Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,” وَٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ ٱلْمَرْعَىٰ “Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,” فَجَعَلَهُۥ غُثَآءً أَحْوَىٰ “Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.” (QS. Al-A’la: 1-5)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, Allah memerintahkan untuk bertasbih kepada-Nya, yang mencakup mengingat-Nya, beribadah kepada-Nya, tunduk pada keagungan-Nya, dan merendahkan diri di hadapan kebesaran-Nya. Tasbih ini harus sesuai dengan keagungan Allah, yaitu dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah, yang lebih tinggi daripada segala nama karena memiliki makna yang sempurna dan mulia. Juga dengan mengingat perbuatan-Nya, seperti menciptakan makhluk dan menyempurnakan mereka, yakni menciptakan mereka dengan penuh ketelitian dan keindahan. Allah juga yang menentukan segala sesuatu dengan takdir-Nya, dan membimbing seluruh makhluk sesuai dengan ketetapan tersebut. Ini adalah bentuk hidayah umum dari Allah, di mana Dia membimbing setiap makhluk kepada kemaslahatan mereka masing-masing. Sebagai salah satu bentuk nikmat duniawi-Nya, Allah berfirman: “Dan Dia-lah yang mengeluarkan rerumputan.” Artinya, Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia menumbuhkan berbagai jenis tanaman dan rerumputan yang melimpah, yang menjadi tempat makan bagi manusia, hewan ternak, dan seluruh makhluk hidup. Namun, setelah tanaman itu mencapai puncak pertumbuhannya, ia mulai layu dan kering. Allah menjadikannya “ghutsā’an ahwā”, yaitu dedaunan yang hitam, hancur, dan lapuk, yang menandakan kefanaan dan perubahan dalam kehidupan dunia. Kesimpulan dari penjelasan Syaikh As-Sa’di: Perintah untuk Bertasbih – Allah memerintahkan manusia untuk menyucikan-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah dan mengingat kebesaran serta perbuatan-Nya. Kesempurnaan Penciptaan Allah – Allah menciptakan makhluk dengan penuh ketelitian dan kesempurnaan. Takdir dan Hidayah Allah – Setiap makhluk diberikan takdir dan petunjuk sesuai dengan maslahatnya masing-masing. Nikmat Duniawi Allah – Allah menumbuhkan tanaman sebagai rezeki bagi manusia dan hewan. Fana-nya Dunia – Segala sesuatu di dunia mengalami perubahan dan kehancuran, mengingatkan manusia akan kefanaan dunia dan kekekalan akhirat.   Tafsir Ayat 6-8: Diberi Taufik ke Jalan yang Mudah Allah Ta’ala berfirman, سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰٓ “Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.” إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّهُۥ يَعْلَمُ ٱلْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ “kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ “dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah.” (QS. Al-A’laa: 6-8)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, Dan di dalamnya disebutkan nikmat-nikmat-Nya yang bersifat agama. Oleh karena itu, Allah menyebut nikmat paling utama dan sumber segala nikmat, yaitu Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (wahai Muhammad), maka engkau tidak akan lupa.” Artinya, Kami akan menjaga wahyu yang Kami berikan kepadamu, menanamkannya dalam hatimu, sehingga engkau tidak akan melupakannya. Ini adalah kabar gembira besar dari Allah kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Allah akan mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak akan ia lupakan. “Kecuali apa yang Allah kehendaki,” yakni, jika dalam kebijaksanaan-Nya, Allah berkehendak membuatnya lupa demi suatu hikmah besar yang bermanfaat. “Sesungguhnya Dia mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.” Termasuk dalam hal ini, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia menetapkan syariat sesuai dengan kehendak-Nya dan mengatur segala sesuatu dengan kebijaksanaan-Nya. “Dan Kami akan memudahkanmu menuju kemudahan.” Ini juga merupakan kabar gembira besar bahwa Allah akan memudahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala urusannya serta menjadikan syariat dan agama ini sebagai sesuatu yang mudah dan ringan bagi umat manusia. Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di: Al-Qur’an sebagai Nikmat Terbesar – Al-Qur’an adalah nikmat utama yang harus disyukuri dengan membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan. Pemeliharaan Wahyu oleh Allah – Allah menjaga wahyu-Nya dan menjamin bahwa Rasulullah ﷺ tidak akan melupakannya kecuali jika ada hikmah di baliknya. Ilmu Sejati dari Allah – Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diberikan oleh Allah, sehingga kita harus senantiasa memohon kepada-Nya agar diberi ilmu yang berguna. Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu – Allah mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi, serta menetapkan syariat berdasarkan kebijaksanaan dan kebaikan bagi hamba-Nya. Kemudahan dalam Islam – Islam adalah agama yang mudah dan penuh kemudahan, di mana segala aturan dibuat untuk kebaikan manusia dan bukan untuk menyulitkan mereka. Bertawakal kepada Allah – Kita harus berserah diri kepada Allah dalam setiap urusan, karena Dia telah menjanjikan kemudahan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya.   Tafsir Ayat 9-13: Berilah Peringatan Allah Ta’ala berfirman, فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكْرَىٰ “oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat,“ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ “orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلْأَشْقَى “dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.“ ٱلَّذِى يَصْلَى ٱلنَّارَ ٱلْكُبْرَىٰ “(Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).” ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ “Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (QS. Al-A’laa: 9-13)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Maka berilah peringatan!” Yaitu, sampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya “jika peringatan itu bermanfaat,” yakni selama peringatan itu diterima dan nasihat masih bisa didengar, baik peringatan itu menghasilkan manfaat sepenuhnya maupun hanya sebagian darinya. Ayat ini juga memberikan pemahaman bahwa jika peringatan tidak bermanfaat—misalnya jika peringatan justru memperburuk keadaan atau mengurangi kebaikan—maka tidak diperintahkan untuk memberikan peringatan, bahkan bisa menjadi sesuatu yang dilarang. Dengan demikian, manusia terbagi menjadi dua kelompok dalam menerima peringatan: yang mengambil manfaat dan yang tidak mengambil manfaat. Bagi mereka yang mengambil manfaat, Allah menyebutkan mereka dalam firman-Nya: “Akan menerima peringatan orang yang takut kepada Allah.” Yakni, orang yang memiliki rasa takut kepada Allah serta keyakinan bahwa ia akan dibalas atas amal perbuatannya. Rasa takut kepada Allah ini mendorong seseorang untuk menjauhi maksiat dan berusaha melakukan amal kebaikan. Sedangkan bagi mereka yang tidak mengambil manfaat, Allah menyebutkan dalam firman-Nya: “Dan akan menjauhinya orang yang paling celaka, yang akan memasuki neraka yang besar.” Yakni, mereka yang menghindari peringatan ini adalah orang-orang yang paling sengsara, yang akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala, yang apinya membakar hingga menembus hati. “Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup.” Maksudnya, mereka akan merasakan azab yang sangat pedih tanpa henti, tanpa ada istirahat atau jeda dari siksaan tersebut. Bahkan mereka akan berharap untuk mati agar terbebas dari penderitaan, tetapi keinginan itu tidak akan pernah terwujud. Sebagaimana firman Allah, وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا۟ وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِى كُلَّ كَفُورٍ “Tidak akan diputuskan kematian bagi mereka sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.” (QS. Fathir: 36). Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di: Pentingnya Memberikan Peringatan – Perintah untuk menyampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya diberikan selama peringatan tersebut bermanfaat dan masih bisa diterima. Peringatan Tidak Selalu Wajib – Jika peringatan justru menyebabkan keburukan atau mengurangi kebaikan, maka tidak diperintahkan untuk menyampaikannya, bahkan bisa menjadi sesuatu yang terlarang. Manusia Terbagi dalam Menerima Peringatan – Ada dua kelompok manusia dalam menerima peringatan: mereka yang mengambil manfaat darinya dan mereka yang menolaknya. Orang yang Mendapat Manfaat dari Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah dan yakin akan balasan-Nya, sehingga peringatan mendorong mereka untuk menjauhi maksiat dan melakukan kebaikan. Orang yang Menolak Peringatan – Mereka adalah orang-orang yang paling celaka, yang berpaling dari kebenaran dan akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Azab di Neraka Sangat Pedih dan Kekal – Penghuni neraka akan mengalami siksaan tanpa henti, tidak mati sehingga terbebas dari azab, dan tidak hidup dalam keadaan yang layak, melainkan dalam penderitaan abadi.   Tafsir Ayat 14-19: Berilah Peringatan Allah Ta’ala berfirman, قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).” وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.” وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” إِنَّ هَٰذَا لَفِى ٱلصُّحُفِ ٱلْأُولَىٰ “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu.” صُحُفِ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ “(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS. Al-A’laa: 14-19)   Makna Ayat Menurut Syaikh As-Sa’di Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.” Artinya, telah berhasil dan meraih kemenangan orang yang membersihkan dirinya dari kesyirikan, kezaliman, serta akhlak yang buruk. “Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” Maksudnya, ia senantiasa mengingat Allah, hatinya dipenuhi dengan dzikir kepada-Nya, sehingga hal itu mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang diridhai Allah, terutama shalat, yang merupakan tolok ukur keimanan seseorang. Inilah makna utama dari ayat yang mulia ini. Adapun tafsiran yang menyebut bahwa “menyucikan diri” berarti mengeluarkan zakat fitrah, dan “mengingat nama Tuhannya, lalu shalat” maksudnya adalah shalat Idul Fitri, maka meskipun hal ini termasuk dalam cakupan makna ayat dan merupakan salah satu bentuk penerapannya, namun bukanlah satu-satunya makna yang dimaksud. “Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” “Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia,” yakni, kalian lebih mendahulukan dunia dibandingkan akhirat, serta memilih kenikmatan dunia yang fana, penuh kekurangan, dan bercampur kepahitan, daripada kenikmatan akhirat yang abadi. “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” Akhirat jauh lebih baik dari dunia dalam segala aspek yang diinginkan manusia. Akhirat adalah negeri keabadian, kebahagiaan yang murni, dan tanpa kesulitan, sedangkan dunia hanyalah tempat yang sementara dan penuh kefanaan. Orang beriman yang berakal tidak akan memilih sesuatu yang lebih rendah dibandingkan sesuatu yang lebih mulia, serta tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan abadi. Kecintaan terhadap dunia dan mengutamakannya di atas akhirat adalah akar dari segala dosa dan kesalahan. “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” Apa yang disebutkan dalam surah yang mulia ini—berupa perintah-perintah yang baik dan berita-berita yang benar—juga telah termaktub dalam kitab-kitab suci sebelumnya, yaitu dalam kitab Ibrahim dan Musa, dua di antara rasul-rasul yang paling mulia setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hukum-hukum ini bersifat universal dan berlaku dalam setiap syariat, karena semuanya mengandung maslahat bagi kehidupan dunia dan akhirat, serta relevan di setiap zaman dan tempat. Kesimpulan dari Penjelasan Syaikh As-Sa’di: Keberuntungan bagi Orang yang Menyucikan Diri – Orang yang sukses dan meraih kemenangan adalah mereka yang membersihkan diri dari kesyirikan, kezaliman, dan akhlak yang buruk. Dzikir dan Shalat sebagai Tolok Ukur Keimanan – Mengingat Allah dengan hati yang dipenuhi dzikir mendorong seseorang untuk beramal saleh, terutama shalat, yang menjadi indikator utama keimanan seseorang. Makna Luas dari Menyucikan Diri – Menyucikan diri tidak hanya terbatas pada zakat fitrah, dan mengingat Allah tidak hanya merujuk pada shalat Idul Fitri, melainkan memiliki makna yang lebih luas mencakup penyucian hati dan ibadah secara keseluruhan. Kecenderungan Manusia Mengutamakan Dunia – Banyak manusia lebih memilih kenikmatan dunia yang sementara, meskipun penuh kekurangan, daripada kebahagiaan akhirat yang abadi. Akhirat Lebih Baik dan Kekal – Kehidupan akhirat jauh lebih baik dalam segala aspek dan lebih kekal, sedangkan dunia bersifat fana dan penuh ujian. Orang beriman tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan yang abadi. Peringatan Ini Sudah Ada dalam Kitab-Kitab Terdahulu – Pesan-pesan ini tidak hanya terdapat dalam Al-Qur’an tetapi juga telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu, seperti kitab Ibrahim dan Musa, karena hukum-hukum ini bersifat universal dan relevan di setiap zaman dan tempat.   Penutup Surah Al-A’la menegaskan bahwa Allah telah menetapkan hidayah bagi setiap makhluk sesuai dengan fitrahnya, baik secara naluriah maupun melalui wahyu, sehingga segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, hanya dalam surah ini Allah secara langsung menjanjikan kemudahan dalam menjalankan agama-Nya bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya, menjadikan Islam sebagai jalan hidup yang penuh berkah dan kemudahan. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah segala kebaikan menjadi sempurna. – 13 Ramadhan 1446 H @ Pesantren Darush Sholihin Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com TagsAkhirat Lebih Baik Hidayah dalam Islam Hikmah Al-Qur’an Islam yang Mudah Keagungan Ciptaan Allah Kelebihan Surah Al-A’la Kemudahan dalam Beragama Keutamaan Bertasbih Keutamaan Surah Al-A’la Makna Ayat Al-Qur’an Makna Surah Al-A’la Pentingnya Mengingat Allah tafsir al-qur’an tafsir juz amma Tafsir Surah Al-A’la tafsir syaikh as-sa’di

Mengerikan! Inilah Akibatnya Jika Sengaja Tidak Puasa di Ramadan – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf

Teruntuk orang yang membatalkan puasanya atau tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Mungkin ada orang yang memang dari awal harinya sudah tidak berpuasa Ramadhan. Ada juga yang berpuasa, lalu jika ia merasa berat sedikit saja, ia membatalkan puasanya. Ini perkara yang sangat besar dan berbahaya, saudaraku! Perkara ini bersinggungan langsung dengan salah satu rukun Islam. Puasa merupakan rukun apa, saudara-saudara? (Rukun Islam). Islam dibangun di atas lima rukun. Rukun keempat adalah puasa pada bulan Ramadhan. Tidak boleh seseorang meremehkan salah satu rukun utama Islam dan menggampangkannya. Namun, jika ada orang yang tidak berpuasa di masa lalunya, ia wajib mengqadha (mengganti puasanya di hari lain) dan bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga Allah menerima tobatnya. Ini perkara yang sangat serius, saudara-saudara! Sampai-sampai sebagian ulama berkata: jika seseorang sama sekali tidak berpuasa maka tidak berguna lagi baginya, meskipun ia menggantinya dengan berpuasa setahun penuh. Diriwayatkan (secara makna), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa uzur atau sakit, maka puasa setahun penuh tidak dapat menggantinya, meskipun ia tetap berpuasa.” (Hadis ini dhaif menurut Syaikh Bin Baz). Namun, berdasarkan fatwa mayoritas ulama, ia harus mengqadha puasanya, baik itu karena ia tidak berpuasa sekali atau memang tidak berpuasa dari awal hari. Dia juga harus bertobat dan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam riwayat an-Nasa’i, dari Abu Umamah, (disampaikan secara makna) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua sosok yang datang kepadaku (dalam mimpi) ketika aku tertidur. Lalu mereka berdua memegang kedua lenganku dan membawaku pergi. Sampailah kami tiba di tempat orang-orang yang digantung dengan tumit mereka. Sudut mulut mereka robek hingga mengucurkan darah. Aku pun bertanya: ‘Siapa mereka itu?’ Dua sosok itu menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum waktunya berbuka.’” Kita berlindung kepada Allah dari kemurkaan-Nya. Tidak boleh seseorang meremehkan dan menggampangkan perkara ini, saudara-saudara! Kita wajib menyadarkan para pemuda, baik laki-laki maupun perempuan, tentang masalah ini dan bahayanya! Tidak boleh ada sikap meremehkan dalam masalah ini! Meskipun–alhamdulillah–fenomena ini tidak banyak terjadi di masyarakat kita. Namun, kita harus tetap memperingatkan hal seperti ini. Para pemuda harus dididik dengan benar tentang hal ini. Sebagaimana disebutkan bahwa puasa mengajarkan seseorang untuk merasa selalu diawasi oleh Allah. Di zaman sekarang, seorang anak bisa masuk ke kamarnya dengan membawa gadgetnya. Lalu ia menjelajahi seluruh dunia, hanya dalam genggamannya. Ia bisa mendengar segala sesuatu dan melihat segala sesuatu. Siapa yang dapat mencegahnya? Ada yang bisa mencegahnya? Tidak ada, kecuali jika Allah sendiri yang menjaganya dengan penjagaan-Nya! Namun, salah satu cara menjaga mereka adalah dengan mendidik mereka bahwa Allah selalu mengawasi mereka. Jika suatu hari engkau sedang sendiri, jangan katakan: “Aku sendirian di sini…” Tapi katakanlah: “Ada yang selalu mengawasi diriku…” Jangan pernah mengira Allah lalai walau sekejap. Tak ada yang tersembunyi dari-Nya. Tak ada yang luput dari pandangan-Nya. ==== وَإِلَى كُلِّ مَنْ كَانَ يُفْطِرُ يَا إِخْوَانِي فِي رَمَضَانَ أَوْ كَانَ لَا يَصُومُ فِي رَمَضَانَ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يُمْكِنُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ لَا يَصُومُ أَصْلًا وَبَعْضُهُمْ يَصُومُ ثُمَّ إِذَا أَحَسَّ بِأَيِّ جُهْدٍ يُفْطِرُ الْأَمْرُ كَبِيرٌ وَخَطِيرٌ يَا إِخْوَانُ وَالْأَمْرُ يَمَسُّ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ الصِّيَامُ رُكْنُ إِيشْ يَا إِخْوَانُ؟ بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ رَابِعُهَا صِيَامُ رَمَضَانَ وَلَا يَجُوزُ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَهَاوَنَ بِرُكْنٍ رَكِيْنٍ مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ وَأَنْ يَتَسَاهَلَ فِيهِ وَإِذَا حَدَثَ أَنَّ إِنْسَانًا أَفْطَرَ فِيْمَا مَضَى فَيَجِبُ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَالتَّوْبَةُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ الْأَمْرُ خَطِيرٌ يَا إِخْوَانُ حَتَّى إِنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ إِذَا لَمْ يَصُمْ أَصْلًا لَا يُفِيدُهُ أَنْ يَقْضِيَ وَلَوْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ وَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَفْطَرَ فِي رَمَضَانَ عَامِدًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَلَوْ صَامَهُ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْفَتْوَى عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِأَنَّهُ يَقْضِي سَوَاءٌ أَفْطَرَ أَوْ لَمْ يَعُدْ الصِّيَامَ أَصْلًا وَيَتُوبُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيُنِيْبُ إِلَيْهِ قَدْ وَرَدَ عِنْدَ النَّسَائِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَانِي رَجُلَانِ وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ فَانْطَلَقَا بِي فَأَتَيْنَا إِلَى رِجَالٍ مُعَلَّقِيْنَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةً أَشْدَاقُهُمْ يَسِيلُ مِنْهَا الدَّمُ قُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَا هَؤُلَاءِ الَّذِيْنَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ الصِّيَامِ نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَتَهَاوَنَ فِي هَذَا الْأَمْرِ يَا إِخْوَانُ وَأَنْ يَتَسَاهَلَ وَالْوَاجِبُ تَوْعِيَّةُ الشَّبَابِ النَّاشِئَةِ الْأَوْلَادِ وَالْبَنَاتِ حَوْلَ هَذَا الْأَمْرِ وَخُطُورَتِهِ وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ التَّسَاهُلُ الْحَمْدُ لِلَّهِ يَعْنِي هَذَا لَا يُمَثِّلُ ظَاهِرَةً فِي مُجْتَمَعِنَا لَكِنْ عَلَى كُلِّ حَالٍ يُنَبَّهُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ وَيُرَبَّى النَّاشِئَةُ عَلَيْهَا يَا إِخْوَانُ وَكَمَا ذُكِرَ أَنَّ الصِّيَامَ فِيهِ تَرْبِيَةٌ لِلْمُرَاقَبَةِ مُرَاقَبَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْآنَ يَعْنِي يَدْخُلُ الْأَوْلَادُ فِي غُرَفِهِمْ وَيَأْخُذُ جِهَازَهُ يَلُفُّ الْعَالَمَ بِأَكْمَلِهِ يَسْمَعُ كُلَّ شَيْءٍ وَيَرَى كُلَّ شَيْءٍ مَنْ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَمْنَعَهُ؟ أَحَدٌ يَسْتَطِيعُ؟ إِلَّا أَنْ يَحْفَظَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِحِفْظِهِ لَكِنْ مِنْ أَسْبَابِ الْوِقَايَةِ يَا إِخْوَانُ تَرْبِيَتُهُمْ عَلَى مُرَاقَبَةِ رَبِّهِمْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ إِذَا مَا خَلَوْتَ الدَّهْرَ يَوْمًا فَلَا تَقُلْ خَلَوْتُ وَلَكِنْ قُلْ عَلَيَّ رَقِيْبُ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ يَغْفَلُ سَاعَةً وَلَا أَنَّ مَا يَخْفَى عَلَيْهِ يَغِيْبُ

Mengerikan! Inilah Akibatnya Jika Sengaja Tidak Puasa di Ramadan – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf

Teruntuk orang yang membatalkan puasanya atau tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Mungkin ada orang yang memang dari awal harinya sudah tidak berpuasa Ramadhan. Ada juga yang berpuasa, lalu jika ia merasa berat sedikit saja, ia membatalkan puasanya. Ini perkara yang sangat besar dan berbahaya, saudaraku! Perkara ini bersinggungan langsung dengan salah satu rukun Islam. Puasa merupakan rukun apa, saudara-saudara? (Rukun Islam). Islam dibangun di atas lima rukun. Rukun keempat adalah puasa pada bulan Ramadhan. Tidak boleh seseorang meremehkan salah satu rukun utama Islam dan menggampangkannya. Namun, jika ada orang yang tidak berpuasa di masa lalunya, ia wajib mengqadha (mengganti puasanya di hari lain) dan bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga Allah menerima tobatnya. Ini perkara yang sangat serius, saudara-saudara! Sampai-sampai sebagian ulama berkata: jika seseorang sama sekali tidak berpuasa maka tidak berguna lagi baginya, meskipun ia menggantinya dengan berpuasa setahun penuh. Diriwayatkan (secara makna), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa uzur atau sakit, maka puasa setahun penuh tidak dapat menggantinya, meskipun ia tetap berpuasa.” (Hadis ini dhaif menurut Syaikh Bin Baz). Namun, berdasarkan fatwa mayoritas ulama, ia harus mengqadha puasanya, baik itu karena ia tidak berpuasa sekali atau memang tidak berpuasa dari awal hari. Dia juga harus bertobat dan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam riwayat an-Nasa’i, dari Abu Umamah, (disampaikan secara makna) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua sosok yang datang kepadaku (dalam mimpi) ketika aku tertidur. Lalu mereka berdua memegang kedua lenganku dan membawaku pergi. Sampailah kami tiba di tempat orang-orang yang digantung dengan tumit mereka. Sudut mulut mereka robek hingga mengucurkan darah. Aku pun bertanya: ‘Siapa mereka itu?’ Dua sosok itu menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum waktunya berbuka.’” Kita berlindung kepada Allah dari kemurkaan-Nya. Tidak boleh seseorang meremehkan dan menggampangkan perkara ini, saudara-saudara! Kita wajib menyadarkan para pemuda, baik laki-laki maupun perempuan, tentang masalah ini dan bahayanya! Tidak boleh ada sikap meremehkan dalam masalah ini! Meskipun–alhamdulillah–fenomena ini tidak banyak terjadi di masyarakat kita. Namun, kita harus tetap memperingatkan hal seperti ini. Para pemuda harus dididik dengan benar tentang hal ini. Sebagaimana disebutkan bahwa puasa mengajarkan seseorang untuk merasa selalu diawasi oleh Allah. Di zaman sekarang, seorang anak bisa masuk ke kamarnya dengan membawa gadgetnya. Lalu ia menjelajahi seluruh dunia, hanya dalam genggamannya. Ia bisa mendengar segala sesuatu dan melihat segala sesuatu. Siapa yang dapat mencegahnya? Ada yang bisa mencegahnya? Tidak ada, kecuali jika Allah sendiri yang menjaganya dengan penjagaan-Nya! Namun, salah satu cara menjaga mereka adalah dengan mendidik mereka bahwa Allah selalu mengawasi mereka. Jika suatu hari engkau sedang sendiri, jangan katakan: “Aku sendirian di sini…” Tapi katakanlah: “Ada yang selalu mengawasi diriku…” Jangan pernah mengira Allah lalai walau sekejap. Tak ada yang tersembunyi dari-Nya. Tak ada yang luput dari pandangan-Nya. ==== وَإِلَى كُلِّ مَنْ كَانَ يُفْطِرُ يَا إِخْوَانِي فِي رَمَضَانَ أَوْ كَانَ لَا يَصُومُ فِي رَمَضَانَ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يُمْكِنُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ لَا يَصُومُ أَصْلًا وَبَعْضُهُمْ يَصُومُ ثُمَّ إِذَا أَحَسَّ بِأَيِّ جُهْدٍ يُفْطِرُ الْأَمْرُ كَبِيرٌ وَخَطِيرٌ يَا إِخْوَانُ وَالْأَمْرُ يَمَسُّ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ الصِّيَامُ رُكْنُ إِيشْ يَا إِخْوَانُ؟ بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ رَابِعُهَا صِيَامُ رَمَضَانَ وَلَا يَجُوزُ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَهَاوَنَ بِرُكْنٍ رَكِيْنٍ مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ وَأَنْ يَتَسَاهَلَ فِيهِ وَإِذَا حَدَثَ أَنَّ إِنْسَانًا أَفْطَرَ فِيْمَا مَضَى فَيَجِبُ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَالتَّوْبَةُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ الْأَمْرُ خَطِيرٌ يَا إِخْوَانُ حَتَّى إِنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ إِذَا لَمْ يَصُمْ أَصْلًا لَا يُفِيدُهُ أَنْ يَقْضِيَ وَلَوْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ وَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَفْطَرَ فِي رَمَضَانَ عَامِدًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَلَوْ صَامَهُ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْفَتْوَى عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِأَنَّهُ يَقْضِي سَوَاءٌ أَفْطَرَ أَوْ لَمْ يَعُدْ الصِّيَامَ أَصْلًا وَيَتُوبُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيُنِيْبُ إِلَيْهِ قَدْ وَرَدَ عِنْدَ النَّسَائِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَانِي رَجُلَانِ وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ فَانْطَلَقَا بِي فَأَتَيْنَا إِلَى رِجَالٍ مُعَلَّقِيْنَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةً أَشْدَاقُهُمْ يَسِيلُ مِنْهَا الدَّمُ قُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَا هَؤُلَاءِ الَّذِيْنَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ الصِّيَامِ نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَتَهَاوَنَ فِي هَذَا الْأَمْرِ يَا إِخْوَانُ وَأَنْ يَتَسَاهَلَ وَالْوَاجِبُ تَوْعِيَّةُ الشَّبَابِ النَّاشِئَةِ الْأَوْلَادِ وَالْبَنَاتِ حَوْلَ هَذَا الْأَمْرِ وَخُطُورَتِهِ وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ التَّسَاهُلُ الْحَمْدُ لِلَّهِ يَعْنِي هَذَا لَا يُمَثِّلُ ظَاهِرَةً فِي مُجْتَمَعِنَا لَكِنْ عَلَى كُلِّ حَالٍ يُنَبَّهُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ وَيُرَبَّى النَّاشِئَةُ عَلَيْهَا يَا إِخْوَانُ وَكَمَا ذُكِرَ أَنَّ الصِّيَامَ فِيهِ تَرْبِيَةٌ لِلْمُرَاقَبَةِ مُرَاقَبَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْآنَ يَعْنِي يَدْخُلُ الْأَوْلَادُ فِي غُرَفِهِمْ وَيَأْخُذُ جِهَازَهُ يَلُفُّ الْعَالَمَ بِأَكْمَلِهِ يَسْمَعُ كُلَّ شَيْءٍ وَيَرَى كُلَّ شَيْءٍ مَنْ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَمْنَعَهُ؟ أَحَدٌ يَسْتَطِيعُ؟ إِلَّا أَنْ يَحْفَظَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِحِفْظِهِ لَكِنْ مِنْ أَسْبَابِ الْوِقَايَةِ يَا إِخْوَانُ تَرْبِيَتُهُمْ عَلَى مُرَاقَبَةِ رَبِّهِمْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ إِذَا مَا خَلَوْتَ الدَّهْرَ يَوْمًا فَلَا تَقُلْ خَلَوْتُ وَلَكِنْ قُلْ عَلَيَّ رَقِيْبُ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ يَغْفَلُ سَاعَةً وَلَا أَنَّ مَا يَخْفَى عَلَيْهِ يَغِيْبُ
Teruntuk orang yang membatalkan puasanya atau tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Mungkin ada orang yang memang dari awal harinya sudah tidak berpuasa Ramadhan. Ada juga yang berpuasa, lalu jika ia merasa berat sedikit saja, ia membatalkan puasanya. Ini perkara yang sangat besar dan berbahaya, saudaraku! Perkara ini bersinggungan langsung dengan salah satu rukun Islam. Puasa merupakan rukun apa, saudara-saudara? (Rukun Islam). Islam dibangun di atas lima rukun. Rukun keempat adalah puasa pada bulan Ramadhan. Tidak boleh seseorang meremehkan salah satu rukun utama Islam dan menggampangkannya. Namun, jika ada orang yang tidak berpuasa di masa lalunya, ia wajib mengqadha (mengganti puasanya di hari lain) dan bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga Allah menerima tobatnya. Ini perkara yang sangat serius, saudara-saudara! Sampai-sampai sebagian ulama berkata: jika seseorang sama sekali tidak berpuasa maka tidak berguna lagi baginya, meskipun ia menggantinya dengan berpuasa setahun penuh. Diriwayatkan (secara makna), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa uzur atau sakit, maka puasa setahun penuh tidak dapat menggantinya, meskipun ia tetap berpuasa.” (Hadis ini dhaif menurut Syaikh Bin Baz). Namun, berdasarkan fatwa mayoritas ulama, ia harus mengqadha puasanya, baik itu karena ia tidak berpuasa sekali atau memang tidak berpuasa dari awal hari. Dia juga harus bertobat dan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam riwayat an-Nasa’i, dari Abu Umamah, (disampaikan secara makna) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua sosok yang datang kepadaku (dalam mimpi) ketika aku tertidur. Lalu mereka berdua memegang kedua lenganku dan membawaku pergi. Sampailah kami tiba di tempat orang-orang yang digantung dengan tumit mereka. Sudut mulut mereka robek hingga mengucurkan darah. Aku pun bertanya: ‘Siapa mereka itu?’ Dua sosok itu menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum waktunya berbuka.’” Kita berlindung kepada Allah dari kemurkaan-Nya. Tidak boleh seseorang meremehkan dan menggampangkan perkara ini, saudara-saudara! Kita wajib menyadarkan para pemuda, baik laki-laki maupun perempuan, tentang masalah ini dan bahayanya! Tidak boleh ada sikap meremehkan dalam masalah ini! Meskipun–alhamdulillah–fenomena ini tidak banyak terjadi di masyarakat kita. Namun, kita harus tetap memperingatkan hal seperti ini. Para pemuda harus dididik dengan benar tentang hal ini. Sebagaimana disebutkan bahwa puasa mengajarkan seseorang untuk merasa selalu diawasi oleh Allah. Di zaman sekarang, seorang anak bisa masuk ke kamarnya dengan membawa gadgetnya. Lalu ia menjelajahi seluruh dunia, hanya dalam genggamannya. Ia bisa mendengar segala sesuatu dan melihat segala sesuatu. Siapa yang dapat mencegahnya? Ada yang bisa mencegahnya? Tidak ada, kecuali jika Allah sendiri yang menjaganya dengan penjagaan-Nya! Namun, salah satu cara menjaga mereka adalah dengan mendidik mereka bahwa Allah selalu mengawasi mereka. Jika suatu hari engkau sedang sendiri, jangan katakan: “Aku sendirian di sini…” Tapi katakanlah: “Ada yang selalu mengawasi diriku…” Jangan pernah mengira Allah lalai walau sekejap. Tak ada yang tersembunyi dari-Nya. Tak ada yang luput dari pandangan-Nya. ==== وَإِلَى كُلِّ مَنْ كَانَ يُفْطِرُ يَا إِخْوَانِي فِي رَمَضَانَ أَوْ كَانَ لَا يَصُومُ فِي رَمَضَانَ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يُمْكِنُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ لَا يَصُومُ أَصْلًا وَبَعْضُهُمْ يَصُومُ ثُمَّ إِذَا أَحَسَّ بِأَيِّ جُهْدٍ يُفْطِرُ الْأَمْرُ كَبِيرٌ وَخَطِيرٌ يَا إِخْوَانُ وَالْأَمْرُ يَمَسُّ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ الصِّيَامُ رُكْنُ إِيشْ يَا إِخْوَانُ؟ بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ رَابِعُهَا صِيَامُ رَمَضَانَ وَلَا يَجُوزُ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَهَاوَنَ بِرُكْنٍ رَكِيْنٍ مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ وَأَنْ يَتَسَاهَلَ فِيهِ وَإِذَا حَدَثَ أَنَّ إِنْسَانًا أَفْطَرَ فِيْمَا مَضَى فَيَجِبُ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَالتَّوْبَةُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ الْأَمْرُ خَطِيرٌ يَا إِخْوَانُ حَتَّى إِنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ إِذَا لَمْ يَصُمْ أَصْلًا لَا يُفِيدُهُ أَنْ يَقْضِيَ وَلَوْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ وَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَفْطَرَ فِي رَمَضَانَ عَامِدًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَلَوْ صَامَهُ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْفَتْوَى عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِأَنَّهُ يَقْضِي سَوَاءٌ أَفْطَرَ أَوْ لَمْ يَعُدْ الصِّيَامَ أَصْلًا وَيَتُوبُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيُنِيْبُ إِلَيْهِ قَدْ وَرَدَ عِنْدَ النَّسَائِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَانِي رَجُلَانِ وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ فَانْطَلَقَا بِي فَأَتَيْنَا إِلَى رِجَالٍ مُعَلَّقِيْنَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةً أَشْدَاقُهُمْ يَسِيلُ مِنْهَا الدَّمُ قُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَا هَؤُلَاءِ الَّذِيْنَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ الصِّيَامِ نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَتَهَاوَنَ فِي هَذَا الْأَمْرِ يَا إِخْوَانُ وَأَنْ يَتَسَاهَلَ وَالْوَاجِبُ تَوْعِيَّةُ الشَّبَابِ النَّاشِئَةِ الْأَوْلَادِ وَالْبَنَاتِ حَوْلَ هَذَا الْأَمْرِ وَخُطُورَتِهِ وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ التَّسَاهُلُ الْحَمْدُ لِلَّهِ يَعْنِي هَذَا لَا يُمَثِّلُ ظَاهِرَةً فِي مُجْتَمَعِنَا لَكِنْ عَلَى كُلِّ حَالٍ يُنَبَّهُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ وَيُرَبَّى النَّاشِئَةُ عَلَيْهَا يَا إِخْوَانُ وَكَمَا ذُكِرَ أَنَّ الصِّيَامَ فِيهِ تَرْبِيَةٌ لِلْمُرَاقَبَةِ مُرَاقَبَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْآنَ يَعْنِي يَدْخُلُ الْأَوْلَادُ فِي غُرَفِهِمْ وَيَأْخُذُ جِهَازَهُ يَلُفُّ الْعَالَمَ بِأَكْمَلِهِ يَسْمَعُ كُلَّ شَيْءٍ وَيَرَى كُلَّ شَيْءٍ مَنْ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَمْنَعَهُ؟ أَحَدٌ يَسْتَطِيعُ؟ إِلَّا أَنْ يَحْفَظَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِحِفْظِهِ لَكِنْ مِنْ أَسْبَابِ الْوِقَايَةِ يَا إِخْوَانُ تَرْبِيَتُهُمْ عَلَى مُرَاقَبَةِ رَبِّهِمْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ إِذَا مَا خَلَوْتَ الدَّهْرَ يَوْمًا فَلَا تَقُلْ خَلَوْتُ وَلَكِنْ قُلْ عَلَيَّ رَقِيْبُ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ يَغْفَلُ سَاعَةً وَلَا أَنَّ مَا يَخْفَى عَلَيْهِ يَغِيْبُ


Teruntuk orang yang membatalkan puasanya atau tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Mungkin ada orang yang memang dari awal harinya sudah tidak berpuasa Ramadhan. Ada juga yang berpuasa, lalu jika ia merasa berat sedikit saja, ia membatalkan puasanya. Ini perkara yang sangat besar dan berbahaya, saudaraku! Perkara ini bersinggungan langsung dengan salah satu rukun Islam. Puasa merupakan rukun apa, saudara-saudara? (Rukun Islam). Islam dibangun di atas lima rukun. Rukun keempat adalah puasa pada bulan Ramadhan. Tidak boleh seseorang meremehkan salah satu rukun utama Islam dan menggampangkannya. Namun, jika ada orang yang tidak berpuasa di masa lalunya, ia wajib mengqadha (mengganti puasanya di hari lain) dan bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga Allah menerima tobatnya. Ini perkara yang sangat serius, saudara-saudara! Sampai-sampai sebagian ulama berkata: jika seseorang sama sekali tidak berpuasa maka tidak berguna lagi baginya, meskipun ia menggantinya dengan berpuasa setahun penuh. Diriwayatkan (secara makna), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa uzur atau sakit, maka puasa setahun penuh tidak dapat menggantinya, meskipun ia tetap berpuasa.” (Hadis ini dhaif menurut Syaikh Bin Baz). Namun, berdasarkan fatwa mayoritas ulama, ia harus mengqadha puasanya, baik itu karena ia tidak berpuasa sekali atau memang tidak berpuasa dari awal hari. Dia juga harus bertobat dan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam riwayat an-Nasa’i, dari Abu Umamah, (disampaikan secara makna) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua sosok yang datang kepadaku (dalam mimpi) ketika aku tertidur. Lalu mereka berdua memegang kedua lenganku dan membawaku pergi. Sampailah kami tiba di tempat orang-orang yang digantung dengan tumit mereka. Sudut mulut mereka robek hingga mengucurkan darah. Aku pun bertanya: ‘Siapa mereka itu?’ Dua sosok itu menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum waktunya berbuka.’” Kita berlindung kepada Allah dari kemurkaan-Nya. Tidak boleh seseorang meremehkan dan menggampangkan perkara ini, saudara-saudara! Kita wajib menyadarkan para pemuda, baik laki-laki maupun perempuan, tentang masalah ini dan bahayanya! Tidak boleh ada sikap meremehkan dalam masalah ini! Meskipun–alhamdulillah–fenomena ini tidak banyak terjadi di masyarakat kita. Namun, kita harus tetap memperingatkan hal seperti ini. Para pemuda harus dididik dengan benar tentang hal ini. Sebagaimana disebutkan bahwa puasa mengajarkan seseorang untuk merasa selalu diawasi oleh Allah. Di zaman sekarang, seorang anak bisa masuk ke kamarnya dengan membawa gadgetnya. Lalu ia menjelajahi seluruh dunia, hanya dalam genggamannya. Ia bisa mendengar segala sesuatu dan melihat segala sesuatu. Siapa yang dapat mencegahnya? Ada yang bisa mencegahnya? Tidak ada, kecuali jika Allah sendiri yang menjaganya dengan penjagaan-Nya! Namun, salah satu cara menjaga mereka adalah dengan mendidik mereka bahwa Allah selalu mengawasi mereka. Jika suatu hari engkau sedang sendiri, jangan katakan: “Aku sendirian di sini…” Tapi katakanlah: “Ada yang selalu mengawasi diriku…” Jangan pernah mengira Allah lalai walau sekejap. Tak ada yang tersembunyi dari-Nya. Tak ada yang luput dari pandangan-Nya. ==== وَإِلَى كُلِّ مَنْ كَانَ يُفْطِرُ يَا إِخْوَانِي فِي رَمَضَانَ أَوْ كَانَ لَا يَصُومُ فِي رَمَضَانَ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يُمْكِنُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ لَا يَصُومُ أَصْلًا وَبَعْضُهُمْ يَصُومُ ثُمَّ إِذَا أَحَسَّ بِأَيِّ جُهْدٍ يُفْطِرُ الْأَمْرُ كَبِيرٌ وَخَطِيرٌ يَا إِخْوَانُ وَالْأَمْرُ يَمَسُّ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ الصِّيَامُ رُكْنُ إِيشْ يَا إِخْوَانُ؟ بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ رَابِعُهَا صِيَامُ رَمَضَانَ وَلَا يَجُوزُ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَهَاوَنَ بِرُكْنٍ رَكِيْنٍ مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ وَأَنْ يَتَسَاهَلَ فِيهِ وَإِذَا حَدَثَ أَنَّ إِنْسَانًا أَفْطَرَ فِيْمَا مَضَى فَيَجِبُ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَالتَّوْبَةُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ الْأَمْرُ خَطِيرٌ يَا إِخْوَانُ حَتَّى إِنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ إِذَا لَمْ يَصُمْ أَصْلًا لَا يُفِيدُهُ أَنْ يَقْضِيَ وَلَوْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ وَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَفْطَرَ فِي رَمَضَانَ عَامِدًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَلَوْ صَامَهُ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْفَتْوَى عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِأَنَّهُ يَقْضِي سَوَاءٌ أَفْطَرَ أَوْ لَمْ يَعُدْ الصِّيَامَ أَصْلًا وَيَتُوبُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيُنِيْبُ إِلَيْهِ قَدْ وَرَدَ عِنْدَ النَّسَائِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَانِي رَجُلَانِ وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ فَانْطَلَقَا بِي فَأَتَيْنَا إِلَى رِجَالٍ مُعَلَّقِيْنَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةً أَشْدَاقُهُمْ يَسِيلُ مِنْهَا الدَّمُ قُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَا هَؤُلَاءِ الَّذِيْنَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ الصِّيَامِ نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَتَهَاوَنَ فِي هَذَا الْأَمْرِ يَا إِخْوَانُ وَأَنْ يَتَسَاهَلَ وَالْوَاجِبُ تَوْعِيَّةُ الشَّبَابِ النَّاشِئَةِ الْأَوْلَادِ وَالْبَنَاتِ حَوْلَ هَذَا الْأَمْرِ وَخُطُورَتِهِ وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ التَّسَاهُلُ الْحَمْدُ لِلَّهِ يَعْنِي هَذَا لَا يُمَثِّلُ ظَاهِرَةً فِي مُجْتَمَعِنَا لَكِنْ عَلَى كُلِّ حَالٍ يُنَبَّهُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ وَيُرَبَّى النَّاشِئَةُ عَلَيْهَا يَا إِخْوَانُ وَكَمَا ذُكِرَ أَنَّ الصِّيَامَ فِيهِ تَرْبِيَةٌ لِلْمُرَاقَبَةِ مُرَاقَبَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْآنَ يَعْنِي يَدْخُلُ الْأَوْلَادُ فِي غُرَفِهِمْ وَيَأْخُذُ جِهَازَهُ يَلُفُّ الْعَالَمَ بِأَكْمَلِهِ يَسْمَعُ كُلَّ شَيْءٍ وَيَرَى كُلَّ شَيْءٍ مَنْ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَمْنَعَهُ؟ أَحَدٌ يَسْتَطِيعُ؟ إِلَّا أَنْ يَحْفَظَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِحِفْظِهِ لَكِنْ مِنْ أَسْبَابِ الْوِقَايَةِ يَا إِخْوَانُ تَرْبِيَتُهُمْ عَلَى مُرَاقَبَةِ رَبِّهِمْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ إِذَا مَا خَلَوْتَ الدَّهْرَ يَوْمًا فَلَا تَقُلْ خَلَوْتُ وَلَكِنْ قُلْ عَلَيَّ رَقِيْبُ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ يَغْفَلُ سَاعَةً وَلَا أَنَّ مَا يَخْفَى عَلَيْهِ يَغِيْبُ

Ternyata, Ini Alasan Hidup Kita Kurang Berkah – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Saudaraku, bersungguh-sungguhlah untuk membaca al-Quran, di Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Kita tidak hanya memerlukan al-Quran, tapi–demi Allah–kita sangat bergantung kepadanya. Kita perlu sekali untuk mendidik generasi muda kita di atas ajaran al-Quran. Kita sebagai orang tua, juga harus membiasakan diri membacanya, wahai saudaraku. Karena Tuhan kita berfirman: “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad), penuh dengan berkah…” (QS. Shad: 29). Dalam 4 ayat, al-Quran disifati sebagai Kitab yang penuh berkah. Pada ayat tadi (QS.Shad ayat 29). Juga ayat di surah al-Anbiya: “Dan ini (al-Quran) adalah peringatan yang penuh berkah…” (QS. al-Anbiya: 50). Lalu dua ayat dalam surat al-An’am: “Dan ini adalah Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah…” (QS. al-An’am: 92 dan 155). Apa yang dapat kita perhatikan pada sifat “penuh berkah” yang disebutkan dalam ayat-ayat ini? Perhatikan ayat: “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad), penuh dengan berkah…” (QS. Shad: 29). Perhatikanlah tadabur ini, wahai saudaraku. “Dan ini (al-Quran) adalah peringatan yang penuh berkah, yang Kami turunkan…” (QS. al-Anbiya: 50). “Dan ini adalah Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah…” (QS. al-An’am: 92 dan 155). Apa yang dapat kalian perhatikan dari ayat ini? Silakan! Apakah ini jawaban dari pertanyaan tadi? Bukan, maksud saya, apa yang kalian simpulkan dari susunan ayat tersebut? Perhatikan lagi: “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad), penuh dengan berkah…” (QS. Shad: 29). Ya, keberkahannya bersifat mutlak, bagus! Allah tidak berfirman bahwa al-Quran ini hanya membawa berkah kepadamu, keluargamu, rumahmu, atau hanya kepada hatimu. Tidak disebutkan bahwa keberkahannya hanya untuk agamamu, duniamu, atau akhiratmu. Tidak! Penyebutan secara mutlak ini menunjukkan apa? Menunjukkan bahwa keberkahannya tidak terbatas, tidak terhitung, dan tidak bisa dikurung dalam batasan! Demi Allah, kita tidak perlu memperdebatkan apakah al-Quran itu penuh berkah atau tidak, wahai saudaraku. Allah memberkahi seorang hamba melalui al-Quran—di hatinya, di imannya, dalam agamanya, di segala urusannya, di seluruh kehidupannya. Bahkan, Allah memberkahi waktunya dan amal perbuatannya. Allah juga memberkahinya dalam keturunannya, anak-anaknya. Maka, bersemangatlah membaca al-Quran, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Hendaknya setiap kita memiliki wirid harian dari al-Quran, wahai saudaraku, membacanya setiap hari. Lisannya senantiasa melafalkannya, dan telinganya senantiasa mendengarnya, hingga al-Quran itu meresap ke dalam hatinya, agar dapat memberi pengaruh padanya. Namun, bacalah dengan penuh perenungan (tadabur). Semoga Allah memberkahi kalian! ==== وَاجْتَهِدُوا يَا إِخْوَانِي فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِ رَمَضَانَ نَحْنُ يَا إِخْوَانُ لَسْنَا مُحْتَاجِينَ لِلْقُرْآنِ بَلْ وَاللَّهِ مُضْطَرِّيْنَ إِلَيْهِ مُضْطَرُّوْنَ إِلَيْهِ أَنْ نُرَبِّيَ عَلَيْهِ يَا إِخْوَانُ شَبَابَنَا وَأَنْ نَقْرَأَهُ نَحْنُ الْآبَاءُ نَقْرَأَهُ يَا إِخْوَانُ لِأَنَّ رَبَّنَا قَالَ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ فِي أَرْبَعِ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ وُصِفَ بِأَنَّهُ مُبَارَكٌ هَذِهِ الْآيَةُ آيَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَهَٰذَا ذِكْرٌ مُّبَارَكٌ أَنزَلْنَاهُ وَآيَتَانِ فِي الْأَنْعَامِ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مَاذَا الَّذِي يُلَاحَظُ يَا إِخْوَانِي فِي وَصْفِهِ بِالْبَرَكَةِ فِي هَذَهِ الآيَاتِ؟ تَأَمَّلُوا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ تَرَى هَذَا التَّدَبُّرَ يَا إِخْوَانُ وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مَاذَا تُلَاحِظُونَ؟ تَفَضَّلْ يَعْنِي هَذَا إِجَابَةٌ عَنِ السُّؤَالِ يَعْنِي؟ لَا أَنَا قَصْدِيْ مَاذَا تَلْحَظُ فِي سِيَاقِ الْآيَةِ؟ تَأَمَّلْ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ أَيْ نَعَمْ بَرَكَةٌ مُطْلَقَةٌ جَمِيلٌ لَمْ يَقُلِ اللَّهُ تَعَالَى مُبَارَكًا عَلَيْكَ عَلَى بَيْتِكَ عَلَى أَهْلِكَ عَلَى قَلْبِكَ فِي دِينِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي آخِرَتِكَ لَا وَهَذَا الْإِطْلَاقُ يَدُلُّ عَلَى أَيْش؟ عَلَى أَنَّ الْبَرَكَةَ لَا حَدَّ لَهَا وَلَا عَدَّ وَلاَ حَصْرَ وَاللَّهِ إِنَّهُ لَسْتُمْ بِحَاجَةٍ إِلَى أَنْ نُنَاقِشَهُ يَا إِخْوَانِي إِنَّهُ مُبَارَكٌ يُبَارِكُ اللَّهُ عَلَى الْإِنْسَانِ يَا إِخْوَانِي فِي قَلْبِهِ فِي إِيْمَانِهِ فِي دِينِهِ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَشُؤُونِهِ حَتَّى يُبَارِكَ اللَّهُ لَهُ فِي أَوْقَاتِهِ وَفِي أَعْمَالِهِ وَيُبَارَكُ لَهُ فِي عَقِبِهِ وَفِي ذُرِّيَّتِهِ فَاحْرِصُوا عَلَى قِرَاءَتِهِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِ رَمَضَانَ وَلْيَكُنْ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَّا يَا إِخْوَانِي وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَقْرَأُهُ كُلَّ يَوْمٍ يَتَحَرَّكُ بِهِ لِسَانُهُ يَسْمَعُهُ بِأُذُنِهِ وَيَصِلُ إِلَى قَلْبِهِ فَيَكُونُ لَهُ الْأَثَرُ لَكِنْ اقْرَؤُوْهُ بِتَدَبُّرٍ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Ternyata, Ini Alasan Hidup Kita Kurang Berkah – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Saudaraku, bersungguh-sungguhlah untuk membaca al-Quran, di Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Kita tidak hanya memerlukan al-Quran, tapi–demi Allah–kita sangat bergantung kepadanya. Kita perlu sekali untuk mendidik generasi muda kita di atas ajaran al-Quran. Kita sebagai orang tua, juga harus membiasakan diri membacanya, wahai saudaraku. Karena Tuhan kita berfirman: “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad), penuh dengan berkah…” (QS. Shad: 29). Dalam 4 ayat, al-Quran disifati sebagai Kitab yang penuh berkah. Pada ayat tadi (QS.Shad ayat 29). Juga ayat di surah al-Anbiya: “Dan ini (al-Quran) adalah peringatan yang penuh berkah…” (QS. al-Anbiya: 50). Lalu dua ayat dalam surat al-An’am: “Dan ini adalah Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah…” (QS. al-An’am: 92 dan 155). Apa yang dapat kita perhatikan pada sifat “penuh berkah” yang disebutkan dalam ayat-ayat ini? Perhatikan ayat: “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad), penuh dengan berkah…” (QS. Shad: 29). Perhatikanlah tadabur ini, wahai saudaraku. “Dan ini (al-Quran) adalah peringatan yang penuh berkah, yang Kami turunkan…” (QS. al-Anbiya: 50). “Dan ini adalah Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah…” (QS. al-An’am: 92 dan 155). Apa yang dapat kalian perhatikan dari ayat ini? Silakan! Apakah ini jawaban dari pertanyaan tadi? Bukan, maksud saya, apa yang kalian simpulkan dari susunan ayat tersebut? Perhatikan lagi: “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad), penuh dengan berkah…” (QS. Shad: 29). Ya, keberkahannya bersifat mutlak, bagus! Allah tidak berfirman bahwa al-Quran ini hanya membawa berkah kepadamu, keluargamu, rumahmu, atau hanya kepada hatimu. Tidak disebutkan bahwa keberkahannya hanya untuk agamamu, duniamu, atau akhiratmu. Tidak! Penyebutan secara mutlak ini menunjukkan apa? Menunjukkan bahwa keberkahannya tidak terbatas, tidak terhitung, dan tidak bisa dikurung dalam batasan! Demi Allah, kita tidak perlu memperdebatkan apakah al-Quran itu penuh berkah atau tidak, wahai saudaraku. Allah memberkahi seorang hamba melalui al-Quran—di hatinya, di imannya, dalam agamanya, di segala urusannya, di seluruh kehidupannya. Bahkan, Allah memberkahi waktunya dan amal perbuatannya. Allah juga memberkahinya dalam keturunannya, anak-anaknya. Maka, bersemangatlah membaca al-Quran, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Hendaknya setiap kita memiliki wirid harian dari al-Quran, wahai saudaraku, membacanya setiap hari. Lisannya senantiasa melafalkannya, dan telinganya senantiasa mendengarnya, hingga al-Quran itu meresap ke dalam hatinya, agar dapat memberi pengaruh padanya. Namun, bacalah dengan penuh perenungan (tadabur). Semoga Allah memberkahi kalian! ==== وَاجْتَهِدُوا يَا إِخْوَانِي فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِ رَمَضَانَ نَحْنُ يَا إِخْوَانُ لَسْنَا مُحْتَاجِينَ لِلْقُرْآنِ بَلْ وَاللَّهِ مُضْطَرِّيْنَ إِلَيْهِ مُضْطَرُّوْنَ إِلَيْهِ أَنْ نُرَبِّيَ عَلَيْهِ يَا إِخْوَانُ شَبَابَنَا وَأَنْ نَقْرَأَهُ نَحْنُ الْآبَاءُ نَقْرَأَهُ يَا إِخْوَانُ لِأَنَّ رَبَّنَا قَالَ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ فِي أَرْبَعِ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ وُصِفَ بِأَنَّهُ مُبَارَكٌ هَذِهِ الْآيَةُ آيَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَهَٰذَا ذِكْرٌ مُّبَارَكٌ أَنزَلْنَاهُ وَآيَتَانِ فِي الْأَنْعَامِ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مَاذَا الَّذِي يُلَاحَظُ يَا إِخْوَانِي فِي وَصْفِهِ بِالْبَرَكَةِ فِي هَذَهِ الآيَاتِ؟ تَأَمَّلُوا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ تَرَى هَذَا التَّدَبُّرَ يَا إِخْوَانُ وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مَاذَا تُلَاحِظُونَ؟ تَفَضَّلْ يَعْنِي هَذَا إِجَابَةٌ عَنِ السُّؤَالِ يَعْنِي؟ لَا أَنَا قَصْدِيْ مَاذَا تَلْحَظُ فِي سِيَاقِ الْآيَةِ؟ تَأَمَّلْ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ أَيْ نَعَمْ بَرَكَةٌ مُطْلَقَةٌ جَمِيلٌ لَمْ يَقُلِ اللَّهُ تَعَالَى مُبَارَكًا عَلَيْكَ عَلَى بَيْتِكَ عَلَى أَهْلِكَ عَلَى قَلْبِكَ فِي دِينِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي آخِرَتِكَ لَا وَهَذَا الْإِطْلَاقُ يَدُلُّ عَلَى أَيْش؟ عَلَى أَنَّ الْبَرَكَةَ لَا حَدَّ لَهَا وَلَا عَدَّ وَلاَ حَصْرَ وَاللَّهِ إِنَّهُ لَسْتُمْ بِحَاجَةٍ إِلَى أَنْ نُنَاقِشَهُ يَا إِخْوَانِي إِنَّهُ مُبَارَكٌ يُبَارِكُ اللَّهُ عَلَى الْإِنْسَانِ يَا إِخْوَانِي فِي قَلْبِهِ فِي إِيْمَانِهِ فِي دِينِهِ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَشُؤُونِهِ حَتَّى يُبَارِكَ اللَّهُ لَهُ فِي أَوْقَاتِهِ وَفِي أَعْمَالِهِ وَيُبَارَكُ لَهُ فِي عَقِبِهِ وَفِي ذُرِّيَّتِهِ فَاحْرِصُوا عَلَى قِرَاءَتِهِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِ رَمَضَانَ وَلْيَكُنْ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَّا يَا إِخْوَانِي وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَقْرَأُهُ كُلَّ يَوْمٍ يَتَحَرَّكُ بِهِ لِسَانُهُ يَسْمَعُهُ بِأُذُنِهِ وَيَصِلُ إِلَى قَلْبِهِ فَيَكُونُ لَهُ الْأَثَرُ لَكِنْ اقْرَؤُوْهُ بِتَدَبُّرٍ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ
Saudaraku, bersungguh-sungguhlah untuk membaca al-Quran, di Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Kita tidak hanya memerlukan al-Quran, tapi–demi Allah–kita sangat bergantung kepadanya. Kita perlu sekali untuk mendidik generasi muda kita di atas ajaran al-Quran. Kita sebagai orang tua, juga harus membiasakan diri membacanya, wahai saudaraku. Karena Tuhan kita berfirman: “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad), penuh dengan berkah…” (QS. Shad: 29). Dalam 4 ayat, al-Quran disifati sebagai Kitab yang penuh berkah. Pada ayat tadi (QS.Shad ayat 29). Juga ayat di surah al-Anbiya: “Dan ini (al-Quran) adalah peringatan yang penuh berkah…” (QS. al-Anbiya: 50). Lalu dua ayat dalam surat al-An’am: “Dan ini adalah Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah…” (QS. al-An’am: 92 dan 155). Apa yang dapat kita perhatikan pada sifat “penuh berkah” yang disebutkan dalam ayat-ayat ini? Perhatikan ayat: “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad), penuh dengan berkah…” (QS. Shad: 29). Perhatikanlah tadabur ini, wahai saudaraku. “Dan ini (al-Quran) adalah peringatan yang penuh berkah, yang Kami turunkan…” (QS. al-Anbiya: 50). “Dan ini adalah Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah…” (QS. al-An’am: 92 dan 155). Apa yang dapat kalian perhatikan dari ayat ini? Silakan! Apakah ini jawaban dari pertanyaan tadi? Bukan, maksud saya, apa yang kalian simpulkan dari susunan ayat tersebut? Perhatikan lagi: “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad), penuh dengan berkah…” (QS. Shad: 29). Ya, keberkahannya bersifat mutlak, bagus! Allah tidak berfirman bahwa al-Quran ini hanya membawa berkah kepadamu, keluargamu, rumahmu, atau hanya kepada hatimu. Tidak disebutkan bahwa keberkahannya hanya untuk agamamu, duniamu, atau akhiratmu. Tidak! Penyebutan secara mutlak ini menunjukkan apa? Menunjukkan bahwa keberkahannya tidak terbatas, tidak terhitung, dan tidak bisa dikurung dalam batasan! Demi Allah, kita tidak perlu memperdebatkan apakah al-Quran itu penuh berkah atau tidak, wahai saudaraku. Allah memberkahi seorang hamba melalui al-Quran—di hatinya, di imannya, dalam agamanya, di segala urusannya, di seluruh kehidupannya. Bahkan, Allah memberkahi waktunya dan amal perbuatannya. Allah juga memberkahinya dalam keturunannya, anak-anaknya. Maka, bersemangatlah membaca al-Quran, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Hendaknya setiap kita memiliki wirid harian dari al-Quran, wahai saudaraku, membacanya setiap hari. Lisannya senantiasa melafalkannya, dan telinganya senantiasa mendengarnya, hingga al-Quran itu meresap ke dalam hatinya, agar dapat memberi pengaruh padanya. Namun, bacalah dengan penuh perenungan (tadabur). Semoga Allah memberkahi kalian! ==== وَاجْتَهِدُوا يَا إِخْوَانِي فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِ رَمَضَانَ نَحْنُ يَا إِخْوَانُ لَسْنَا مُحْتَاجِينَ لِلْقُرْآنِ بَلْ وَاللَّهِ مُضْطَرِّيْنَ إِلَيْهِ مُضْطَرُّوْنَ إِلَيْهِ أَنْ نُرَبِّيَ عَلَيْهِ يَا إِخْوَانُ شَبَابَنَا وَأَنْ نَقْرَأَهُ نَحْنُ الْآبَاءُ نَقْرَأَهُ يَا إِخْوَانُ لِأَنَّ رَبَّنَا قَالَ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ فِي أَرْبَعِ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ وُصِفَ بِأَنَّهُ مُبَارَكٌ هَذِهِ الْآيَةُ آيَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَهَٰذَا ذِكْرٌ مُّبَارَكٌ أَنزَلْنَاهُ وَآيَتَانِ فِي الْأَنْعَامِ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مَاذَا الَّذِي يُلَاحَظُ يَا إِخْوَانِي فِي وَصْفِهِ بِالْبَرَكَةِ فِي هَذَهِ الآيَاتِ؟ تَأَمَّلُوا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ تَرَى هَذَا التَّدَبُّرَ يَا إِخْوَانُ وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مَاذَا تُلَاحِظُونَ؟ تَفَضَّلْ يَعْنِي هَذَا إِجَابَةٌ عَنِ السُّؤَالِ يَعْنِي؟ لَا أَنَا قَصْدِيْ مَاذَا تَلْحَظُ فِي سِيَاقِ الْآيَةِ؟ تَأَمَّلْ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ أَيْ نَعَمْ بَرَكَةٌ مُطْلَقَةٌ جَمِيلٌ لَمْ يَقُلِ اللَّهُ تَعَالَى مُبَارَكًا عَلَيْكَ عَلَى بَيْتِكَ عَلَى أَهْلِكَ عَلَى قَلْبِكَ فِي دِينِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي آخِرَتِكَ لَا وَهَذَا الْإِطْلَاقُ يَدُلُّ عَلَى أَيْش؟ عَلَى أَنَّ الْبَرَكَةَ لَا حَدَّ لَهَا وَلَا عَدَّ وَلاَ حَصْرَ وَاللَّهِ إِنَّهُ لَسْتُمْ بِحَاجَةٍ إِلَى أَنْ نُنَاقِشَهُ يَا إِخْوَانِي إِنَّهُ مُبَارَكٌ يُبَارِكُ اللَّهُ عَلَى الْإِنْسَانِ يَا إِخْوَانِي فِي قَلْبِهِ فِي إِيْمَانِهِ فِي دِينِهِ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَشُؤُونِهِ حَتَّى يُبَارِكَ اللَّهُ لَهُ فِي أَوْقَاتِهِ وَفِي أَعْمَالِهِ وَيُبَارَكُ لَهُ فِي عَقِبِهِ وَفِي ذُرِّيَّتِهِ فَاحْرِصُوا عَلَى قِرَاءَتِهِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِ رَمَضَانَ وَلْيَكُنْ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَّا يَا إِخْوَانِي وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَقْرَأُهُ كُلَّ يَوْمٍ يَتَحَرَّكُ بِهِ لِسَانُهُ يَسْمَعُهُ بِأُذُنِهِ وَيَصِلُ إِلَى قَلْبِهِ فَيَكُونُ لَهُ الْأَثَرُ لَكِنْ اقْرَؤُوْهُ بِتَدَبُّرٍ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ


Saudaraku, bersungguh-sungguhlah untuk membaca al-Quran, di Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Kita tidak hanya memerlukan al-Quran, tapi–demi Allah–kita sangat bergantung kepadanya. Kita perlu sekali untuk mendidik generasi muda kita di atas ajaran al-Quran. Kita sebagai orang tua, juga harus membiasakan diri membacanya, wahai saudaraku. Karena Tuhan kita berfirman: “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad), penuh dengan berkah…” (QS. Shad: 29). Dalam 4 ayat, al-Quran disifati sebagai Kitab yang penuh berkah. Pada ayat tadi (QS.Shad ayat 29). Juga ayat di surah al-Anbiya: “Dan ini (al-Quran) adalah peringatan yang penuh berkah…” (QS. al-Anbiya: 50). Lalu dua ayat dalam surat al-An’am: “Dan ini adalah Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah…” (QS. al-An’am: 92 dan 155). Apa yang dapat kita perhatikan pada sifat “penuh berkah” yang disebutkan dalam ayat-ayat ini? Perhatikan ayat: “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad), penuh dengan berkah…” (QS. Shad: 29). Perhatikanlah tadabur ini, wahai saudaraku. “Dan ini (al-Quran) adalah peringatan yang penuh berkah, yang Kami turunkan…” (QS. al-Anbiya: 50). “Dan ini adalah Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah…” (QS. al-An’am: 92 dan 155). Apa yang dapat kalian perhatikan dari ayat ini? Silakan! Apakah ini jawaban dari pertanyaan tadi? Bukan, maksud saya, apa yang kalian simpulkan dari susunan ayat tersebut? Perhatikan lagi: “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad), penuh dengan berkah…” (QS. Shad: 29). Ya, keberkahannya bersifat mutlak, bagus! Allah tidak berfirman bahwa al-Quran ini hanya membawa berkah kepadamu, keluargamu, rumahmu, atau hanya kepada hatimu. Tidak disebutkan bahwa keberkahannya hanya untuk agamamu, duniamu, atau akhiratmu. Tidak! Penyebutan secara mutlak ini menunjukkan apa? Menunjukkan bahwa keberkahannya tidak terbatas, tidak terhitung, dan tidak bisa dikurung dalam batasan! Demi Allah, kita tidak perlu memperdebatkan apakah al-Quran itu penuh berkah atau tidak, wahai saudaraku. Allah memberkahi seorang hamba melalui al-Quran—di hatinya, di imannya, dalam agamanya, di segala urusannya, di seluruh kehidupannya. Bahkan, Allah memberkahi waktunya dan amal perbuatannya. Allah juga memberkahinya dalam keturunannya, anak-anaknya. Maka, bersemangatlah membaca al-Quran, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Hendaknya setiap kita memiliki wirid harian dari al-Quran, wahai saudaraku, membacanya setiap hari. Lisannya senantiasa melafalkannya, dan telinganya senantiasa mendengarnya, hingga al-Quran itu meresap ke dalam hatinya, agar dapat memberi pengaruh padanya. Namun, bacalah dengan penuh perenungan (tadabur). Semoga Allah memberkahi kalian! ==== وَاجْتَهِدُوا يَا إِخْوَانِي فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِ رَمَضَانَ نَحْنُ يَا إِخْوَانُ لَسْنَا مُحْتَاجِينَ لِلْقُرْآنِ بَلْ وَاللَّهِ مُضْطَرِّيْنَ إِلَيْهِ مُضْطَرُّوْنَ إِلَيْهِ أَنْ نُرَبِّيَ عَلَيْهِ يَا إِخْوَانُ شَبَابَنَا وَأَنْ نَقْرَأَهُ نَحْنُ الْآبَاءُ نَقْرَأَهُ يَا إِخْوَانُ لِأَنَّ رَبَّنَا قَالَ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ فِي أَرْبَعِ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ وُصِفَ بِأَنَّهُ مُبَارَكٌ هَذِهِ الْآيَةُ آيَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَهَٰذَا ذِكْرٌ مُّبَارَكٌ أَنزَلْنَاهُ وَآيَتَانِ فِي الْأَنْعَامِ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مَاذَا الَّذِي يُلَاحَظُ يَا إِخْوَانِي فِي وَصْفِهِ بِالْبَرَكَةِ فِي هَذَهِ الآيَاتِ؟ تَأَمَّلُوا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ تَرَى هَذَا التَّدَبُّرَ يَا إِخْوَانُ وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مَاذَا تُلَاحِظُونَ؟ تَفَضَّلْ يَعْنِي هَذَا إِجَابَةٌ عَنِ السُّؤَالِ يَعْنِي؟ لَا أَنَا قَصْدِيْ مَاذَا تَلْحَظُ فِي سِيَاقِ الْآيَةِ؟ تَأَمَّلْ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ أَيْ نَعَمْ بَرَكَةٌ مُطْلَقَةٌ جَمِيلٌ لَمْ يَقُلِ اللَّهُ تَعَالَى مُبَارَكًا عَلَيْكَ عَلَى بَيْتِكَ عَلَى أَهْلِكَ عَلَى قَلْبِكَ فِي دِينِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي آخِرَتِكَ لَا وَهَذَا الْإِطْلَاقُ يَدُلُّ عَلَى أَيْش؟ عَلَى أَنَّ الْبَرَكَةَ لَا حَدَّ لَهَا وَلَا عَدَّ وَلاَ حَصْرَ وَاللَّهِ إِنَّهُ لَسْتُمْ بِحَاجَةٍ إِلَى أَنْ نُنَاقِشَهُ يَا إِخْوَانِي إِنَّهُ مُبَارَكٌ يُبَارِكُ اللَّهُ عَلَى الْإِنْسَانِ يَا إِخْوَانِي فِي قَلْبِهِ فِي إِيْمَانِهِ فِي دِينِهِ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَشُؤُونِهِ حَتَّى يُبَارِكَ اللَّهُ لَهُ فِي أَوْقَاتِهِ وَفِي أَعْمَالِهِ وَيُبَارَكُ لَهُ فِي عَقِبِهِ وَفِي ذُرِّيَّتِهِ فَاحْرِصُوا عَلَى قِرَاءَتِهِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِ رَمَضَانَ وَلْيَكُنْ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَّا يَا إِخْوَانِي وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَقْرَأُهُ كُلَّ يَوْمٍ يَتَحَرَّكُ بِهِ لِسَانُهُ يَسْمَعُهُ بِأُذُنِهِ وَيَصِلُ إِلَى قَلْبِهِ فَيَكُونُ لَهُ الْأَثَرُ لَكِنْ اقْرَؤُوْهُ بِتَدَبُّرٍ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Fatwa Ulama: Hukum Berenang Bagi Orang yang Berpuasa di Bulan Ramadan

Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus   Pertanyaan: Apa hukum berenang bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadan? Wajazakumullah khairan. Jawaban: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Berenang -pada dasarnya- tidak termasuk hal-hal yang membatalkan puasa. Hukumnya sama seperti mandi secara umum bagi orang yang berpuasa, baik mandi di dalam kamar mandi, kolam, bak air, atau sejenisnya, meskipun tujuannya hanya untuk mendinginkan badan. Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam pembahasan babnya yang berjudul, ‘Bab Mandinya Orang yang Berpuasa’, telah menyebutkannya secara umum, yang mencakup mandi sunnah, wajib, dan mubah. [1] Dan yang menunjukkan kebolehan mandi (secara mubah) adalah dalil asal yang membolehkannya serta atsar-atsar yang mauquf (riwayat yang berhenti pada sahabat). Di antaranya adalah atsar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang berkata, ‘Sesungguhnya aku memiliki bak air (abzan), dan jika aku merasa kepanasan, aku akan menceburkan diri ke dalamnya meskipun aku sedang berpuasa.’ [2] Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ‘Al-Abzan -dengan mem-fathah-kan hamzah (أ), menyukunkan ba (ب), mem-fathah-kan za (ز), dan diikuti nun (ن)- adalah batu yang dilubangi menyerupai bak air. Kata ini berasal dari bahasa Persia; karena itulah ia tidak di-tashrif (tidak berubah bentuk). Sepertinya al-abzan itu penuh dengan air, sehingga Anas -jika merasa kepanasan- masuk ke dalamnya untuk mendinginkan badan.’ [3] Berenang diperbolehkan jika tempatnya aman dari kemungkaran-kemungkaran yang biasanya menyertainya, seperti tampaknya aurat, terbukanya bagian tubuh yang seharusnya tertutup, atau melihat hal-hal yang diharamkan. Jika tidak aman dari hal-hal tersebut, maka berenang menjadi haram karena faktor-faktor ini, bukan karena aktivitas berenang itu sendiri. Selanjutnya, jika dia adalah seorang penyelam yang mencari nafkah melalui pekerjaannya menyelam -baik untuk memperbaiki kapal, mengelas, atau tujuan lainnya- dan pekerjaannya tersebut bertepatan dengan bulan Ramadan, maka wajib baginya berhati-hati agar air tidak masuk ke dalam tubuhnya. Jika air masuk ke tenggorokannya melalui mulut atau hidung tanpa sengaja atau tanpa kelalaian, maka puasanya tetap sah tanpa makruh. Adapun jika menyelam di air atau berenang di dalamnya dilakukan untuk bersenang-senang, mendinginkan badan, berolahraga, atau sekadar bermain-main dan berlebihan, tanpa adanya motivasi kebutuhan seperti pekerjaan, mencari nafkah, penyelamatan (seperti pekerjaan Search and Rescue [SAR]-pent.), atau sejenisnya, maka jika dia seorang perenang yang tidak khawatir air akan masuk ke tenggorokannya sehingga dapat memastikan menjaga puasanya, hal itu diperbolehkan baginya sebagaimana telah dijelaskan dalam penjelasan sebelumnya. Adapun jika dia seorang perenang yang khawatir bahwa berenang akan menyebabkan air masuk ke dalam tenggorokannya, maka berenang tidak diperbolehkan baginya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu, وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا “Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (menghirup air ke hidung saat wudu), kecuali jika kamu sedang berpuasa.” [4] Dalam kedua kondisi ini -baik ketika ada kekhawatiran air masuk ke tenggorokan maupun ketika aman dari hal tersebut- jika air masuk ke dalam perutnya tanpa sengaja atau tanpa disengaja, maka puasanya tetap sah meskipun makruh. Ini berbeda dengan pendapat mayoritas ulama (jumhur) yang menyatakan bahwa puasanya batal dan wajib baginya mengqadha (mengganti) puasa tersebut. Puasa dianggap sah karena kejadian ini dianggap serupa dengan masuknya debu jalanan, tepung yang terhirup saat mengayak, atau seekor lalat yang terbang masuk ke tenggorokan. Dengan ini, kasus ini berbeda dengan orang yang sengaja memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya. [5] Hukum makruh ditetapkan baginya karena motivasi berenangnya di bulan Ramadan bukanlah karena kebutuhan atau darurat. Oleh karena itu, berenang dimakruhkan baginya karena kekhawatiran air masuk ke tenggorokannya. Al-Hasan (Al-Bashri) dan Asy-Sya’bi telah memakruhkan seseorang untuk berendam dalam air karena khawatir air akan masuk ke telinganya. [6] Hal ini juga agar dia tidak membiarkan dirinya terjerumus dalam perbedaan pendapat ulama tentang hukumnya, terutama dalam hal yang mengandung unsur bermain-main dan berlebihan tanpa kebutuhan atau kedaruratan. Ini (perlu diperhatikan), dan seorang yang berpuasa hendaknya memanfaatkan bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Dia harus bersungguh-sungguh dalam beribadah, melakukan ketaatan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Dia juga harus menjauhi semua pelanggaran, kemungkaran, dan hal-hal yang dilarang. Dia harus berusaha melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunianya dan akhiratnya. Dia harus berusaha memanfaatkan waktunya untuk melakukan apa yang dicintai dan diridai oleh Allah. Dia juga harus menjaga dirinya dari hal-hal yang sia-sia, permainan, canda tawa yang berlebihan, perbuatan yang merusak muruah (harga diri), serta perbuatan-perbuatan lain yang sebaiknya ditinggalkan, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, karena hal-hal tersebut dapat menyia-nyiakan umur yang seharusnya digunakan untuk tujuan penciptaannya. Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Baca juga: Hukum Makanan Khusus pada Hari Raya Bid‘ah *** Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1063 Penerjemah: Fauzan Hidayat Artikel Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Lihat Fath al-Bari, karya Ibnu Hajar (4: 153). [2] Disebutkan secara mu’allaq (tanpa sanad lengkap) oleh Al-Bukhari dalam kitab As-Shaum (Puasa), bab ‘Mandinya Orang yang Berpuasa’ (4: 153). Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (4: 154) berkata, ‘Qasim bin Tsabit meriwayatkannya dengan sanad lengkap dalam kitabnya, Gharib al-Hadits.’ [3] Fath al-Bari, karya Ibnu Hajar (4: 154). [4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam “At-Thaharah”, bab tentang istintsar (mengeluarkan air dari hidung) (no. 142), dan dalam “As-Shaum”, bab tentang orang yang berpuasa menyiram air karena kehausan dan berlebihan dalam istinsyaq (no. 2366); At-Tirmidzi dalam “As-Shaum”, bab tentang larangan berlebihan dalam istinsyaq bagi orang yang berpuasa (no. 788); An-Nasa’i dalam “At-Thaharah”, bab tentang berlebihan dalam istinsyaq (no. 87); dan Ibnu Majah dalam “At-Thaharah”, bab tentang berlebihan dalam istinsyaq dan istintsar (no. 407), dari hadis Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Al-Irwa'” (4: 85, no. 935) [5] Lihat Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah (3: 108-109) dan Al-Majmu’, karya An-Nawawi (6: 326). [6] Lihat Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah (3: 109).

Fatwa Ulama: Hukum Berenang Bagi Orang yang Berpuasa di Bulan Ramadan

Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus   Pertanyaan: Apa hukum berenang bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadan? Wajazakumullah khairan. Jawaban: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Berenang -pada dasarnya- tidak termasuk hal-hal yang membatalkan puasa. Hukumnya sama seperti mandi secara umum bagi orang yang berpuasa, baik mandi di dalam kamar mandi, kolam, bak air, atau sejenisnya, meskipun tujuannya hanya untuk mendinginkan badan. Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam pembahasan babnya yang berjudul, ‘Bab Mandinya Orang yang Berpuasa’, telah menyebutkannya secara umum, yang mencakup mandi sunnah, wajib, dan mubah. [1] Dan yang menunjukkan kebolehan mandi (secara mubah) adalah dalil asal yang membolehkannya serta atsar-atsar yang mauquf (riwayat yang berhenti pada sahabat). Di antaranya adalah atsar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang berkata, ‘Sesungguhnya aku memiliki bak air (abzan), dan jika aku merasa kepanasan, aku akan menceburkan diri ke dalamnya meskipun aku sedang berpuasa.’ [2] Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ‘Al-Abzan -dengan mem-fathah-kan hamzah (أ), menyukunkan ba (ب), mem-fathah-kan za (ز), dan diikuti nun (ن)- adalah batu yang dilubangi menyerupai bak air. Kata ini berasal dari bahasa Persia; karena itulah ia tidak di-tashrif (tidak berubah bentuk). Sepertinya al-abzan itu penuh dengan air, sehingga Anas -jika merasa kepanasan- masuk ke dalamnya untuk mendinginkan badan.’ [3] Berenang diperbolehkan jika tempatnya aman dari kemungkaran-kemungkaran yang biasanya menyertainya, seperti tampaknya aurat, terbukanya bagian tubuh yang seharusnya tertutup, atau melihat hal-hal yang diharamkan. Jika tidak aman dari hal-hal tersebut, maka berenang menjadi haram karena faktor-faktor ini, bukan karena aktivitas berenang itu sendiri. Selanjutnya, jika dia adalah seorang penyelam yang mencari nafkah melalui pekerjaannya menyelam -baik untuk memperbaiki kapal, mengelas, atau tujuan lainnya- dan pekerjaannya tersebut bertepatan dengan bulan Ramadan, maka wajib baginya berhati-hati agar air tidak masuk ke dalam tubuhnya. Jika air masuk ke tenggorokannya melalui mulut atau hidung tanpa sengaja atau tanpa kelalaian, maka puasanya tetap sah tanpa makruh. Adapun jika menyelam di air atau berenang di dalamnya dilakukan untuk bersenang-senang, mendinginkan badan, berolahraga, atau sekadar bermain-main dan berlebihan, tanpa adanya motivasi kebutuhan seperti pekerjaan, mencari nafkah, penyelamatan (seperti pekerjaan Search and Rescue [SAR]-pent.), atau sejenisnya, maka jika dia seorang perenang yang tidak khawatir air akan masuk ke tenggorokannya sehingga dapat memastikan menjaga puasanya, hal itu diperbolehkan baginya sebagaimana telah dijelaskan dalam penjelasan sebelumnya. Adapun jika dia seorang perenang yang khawatir bahwa berenang akan menyebabkan air masuk ke dalam tenggorokannya, maka berenang tidak diperbolehkan baginya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu, وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا “Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (menghirup air ke hidung saat wudu), kecuali jika kamu sedang berpuasa.” [4] Dalam kedua kondisi ini -baik ketika ada kekhawatiran air masuk ke tenggorokan maupun ketika aman dari hal tersebut- jika air masuk ke dalam perutnya tanpa sengaja atau tanpa disengaja, maka puasanya tetap sah meskipun makruh. Ini berbeda dengan pendapat mayoritas ulama (jumhur) yang menyatakan bahwa puasanya batal dan wajib baginya mengqadha (mengganti) puasa tersebut. Puasa dianggap sah karena kejadian ini dianggap serupa dengan masuknya debu jalanan, tepung yang terhirup saat mengayak, atau seekor lalat yang terbang masuk ke tenggorokan. Dengan ini, kasus ini berbeda dengan orang yang sengaja memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya. [5] Hukum makruh ditetapkan baginya karena motivasi berenangnya di bulan Ramadan bukanlah karena kebutuhan atau darurat. Oleh karena itu, berenang dimakruhkan baginya karena kekhawatiran air masuk ke tenggorokannya. Al-Hasan (Al-Bashri) dan Asy-Sya’bi telah memakruhkan seseorang untuk berendam dalam air karena khawatir air akan masuk ke telinganya. [6] Hal ini juga agar dia tidak membiarkan dirinya terjerumus dalam perbedaan pendapat ulama tentang hukumnya, terutama dalam hal yang mengandung unsur bermain-main dan berlebihan tanpa kebutuhan atau kedaruratan. Ini (perlu diperhatikan), dan seorang yang berpuasa hendaknya memanfaatkan bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Dia harus bersungguh-sungguh dalam beribadah, melakukan ketaatan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Dia juga harus menjauhi semua pelanggaran, kemungkaran, dan hal-hal yang dilarang. Dia harus berusaha melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunianya dan akhiratnya. Dia harus berusaha memanfaatkan waktunya untuk melakukan apa yang dicintai dan diridai oleh Allah. Dia juga harus menjaga dirinya dari hal-hal yang sia-sia, permainan, canda tawa yang berlebihan, perbuatan yang merusak muruah (harga diri), serta perbuatan-perbuatan lain yang sebaiknya ditinggalkan, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, karena hal-hal tersebut dapat menyia-nyiakan umur yang seharusnya digunakan untuk tujuan penciptaannya. Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Baca juga: Hukum Makanan Khusus pada Hari Raya Bid‘ah *** Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1063 Penerjemah: Fauzan Hidayat Artikel Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Lihat Fath al-Bari, karya Ibnu Hajar (4: 153). [2] Disebutkan secara mu’allaq (tanpa sanad lengkap) oleh Al-Bukhari dalam kitab As-Shaum (Puasa), bab ‘Mandinya Orang yang Berpuasa’ (4: 153). Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (4: 154) berkata, ‘Qasim bin Tsabit meriwayatkannya dengan sanad lengkap dalam kitabnya, Gharib al-Hadits.’ [3] Fath al-Bari, karya Ibnu Hajar (4: 154). [4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam “At-Thaharah”, bab tentang istintsar (mengeluarkan air dari hidung) (no. 142), dan dalam “As-Shaum”, bab tentang orang yang berpuasa menyiram air karena kehausan dan berlebihan dalam istinsyaq (no. 2366); At-Tirmidzi dalam “As-Shaum”, bab tentang larangan berlebihan dalam istinsyaq bagi orang yang berpuasa (no. 788); An-Nasa’i dalam “At-Thaharah”, bab tentang berlebihan dalam istinsyaq (no. 87); dan Ibnu Majah dalam “At-Thaharah”, bab tentang berlebihan dalam istinsyaq dan istintsar (no. 407), dari hadis Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Al-Irwa'” (4: 85, no. 935) [5] Lihat Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah (3: 108-109) dan Al-Majmu’, karya An-Nawawi (6: 326). [6] Lihat Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah (3: 109).
Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus   Pertanyaan: Apa hukum berenang bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadan? Wajazakumullah khairan. Jawaban: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Berenang -pada dasarnya- tidak termasuk hal-hal yang membatalkan puasa. Hukumnya sama seperti mandi secara umum bagi orang yang berpuasa, baik mandi di dalam kamar mandi, kolam, bak air, atau sejenisnya, meskipun tujuannya hanya untuk mendinginkan badan. Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam pembahasan babnya yang berjudul, ‘Bab Mandinya Orang yang Berpuasa’, telah menyebutkannya secara umum, yang mencakup mandi sunnah, wajib, dan mubah. [1] Dan yang menunjukkan kebolehan mandi (secara mubah) adalah dalil asal yang membolehkannya serta atsar-atsar yang mauquf (riwayat yang berhenti pada sahabat). Di antaranya adalah atsar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang berkata, ‘Sesungguhnya aku memiliki bak air (abzan), dan jika aku merasa kepanasan, aku akan menceburkan diri ke dalamnya meskipun aku sedang berpuasa.’ [2] Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ‘Al-Abzan -dengan mem-fathah-kan hamzah (أ), menyukunkan ba (ب), mem-fathah-kan za (ز), dan diikuti nun (ن)- adalah batu yang dilubangi menyerupai bak air. Kata ini berasal dari bahasa Persia; karena itulah ia tidak di-tashrif (tidak berubah bentuk). Sepertinya al-abzan itu penuh dengan air, sehingga Anas -jika merasa kepanasan- masuk ke dalamnya untuk mendinginkan badan.’ [3] Berenang diperbolehkan jika tempatnya aman dari kemungkaran-kemungkaran yang biasanya menyertainya, seperti tampaknya aurat, terbukanya bagian tubuh yang seharusnya tertutup, atau melihat hal-hal yang diharamkan. Jika tidak aman dari hal-hal tersebut, maka berenang menjadi haram karena faktor-faktor ini, bukan karena aktivitas berenang itu sendiri. Selanjutnya, jika dia adalah seorang penyelam yang mencari nafkah melalui pekerjaannya menyelam -baik untuk memperbaiki kapal, mengelas, atau tujuan lainnya- dan pekerjaannya tersebut bertepatan dengan bulan Ramadan, maka wajib baginya berhati-hati agar air tidak masuk ke dalam tubuhnya. Jika air masuk ke tenggorokannya melalui mulut atau hidung tanpa sengaja atau tanpa kelalaian, maka puasanya tetap sah tanpa makruh. Adapun jika menyelam di air atau berenang di dalamnya dilakukan untuk bersenang-senang, mendinginkan badan, berolahraga, atau sekadar bermain-main dan berlebihan, tanpa adanya motivasi kebutuhan seperti pekerjaan, mencari nafkah, penyelamatan (seperti pekerjaan Search and Rescue [SAR]-pent.), atau sejenisnya, maka jika dia seorang perenang yang tidak khawatir air akan masuk ke tenggorokannya sehingga dapat memastikan menjaga puasanya, hal itu diperbolehkan baginya sebagaimana telah dijelaskan dalam penjelasan sebelumnya. Adapun jika dia seorang perenang yang khawatir bahwa berenang akan menyebabkan air masuk ke dalam tenggorokannya, maka berenang tidak diperbolehkan baginya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu, وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا “Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (menghirup air ke hidung saat wudu), kecuali jika kamu sedang berpuasa.” [4] Dalam kedua kondisi ini -baik ketika ada kekhawatiran air masuk ke tenggorokan maupun ketika aman dari hal tersebut- jika air masuk ke dalam perutnya tanpa sengaja atau tanpa disengaja, maka puasanya tetap sah meskipun makruh. Ini berbeda dengan pendapat mayoritas ulama (jumhur) yang menyatakan bahwa puasanya batal dan wajib baginya mengqadha (mengganti) puasa tersebut. Puasa dianggap sah karena kejadian ini dianggap serupa dengan masuknya debu jalanan, tepung yang terhirup saat mengayak, atau seekor lalat yang terbang masuk ke tenggorokan. Dengan ini, kasus ini berbeda dengan orang yang sengaja memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya. [5] Hukum makruh ditetapkan baginya karena motivasi berenangnya di bulan Ramadan bukanlah karena kebutuhan atau darurat. Oleh karena itu, berenang dimakruhkan baginya karena kekhawatiran air masuk ke tenggorokannya. Al-Hasan (Al-Bashri) dan Asy-Sya’bi telah memakruhkan seseorang untuk berendam dalam air karena khawatir air akan masuk ke telinganya. [6] Hal ini juga agar dia tidak membiarkan dirinya terjerumus dalam perbedaan pendapat ulama tentang hukumnya, terutama dalam hal yang mengandung unsur bermain-main dan berlebihan tanpa kebutuhan atau kedaruratan. Ini (perlu diperhatikan), dan seorang yang berpuasa hendaknya memanfaatkan bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Dia harus bersungguh-sungguh dalam beribadah, melakukan ketaatan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Dia juga harus menjauhi semua pelanggaran, kemungkaran, dan hal-hal yang dilarang. Dia harus berusaha melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunianya dan akhiratnya. Dia harus berusaha memanfaatkan waktunya untuk melakukan apa yang dicintai dan diridai oleh Allah. Dia juga harus menjaga dirinya dari hal-hal yang sia-sia, permainan, canda tawa yang berlebihan, perbuatan yang merusak muruah (harga diri), serta perbuatan-perbuatan lain yang sebaiknya ditinggalkan, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, karena hal-hal tersebut dapat menyia-nyiakan umur yang seharusnya digunakan untuk tujuan penciptaannya. Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Baca juga: Hukum Makanan Khusus pada Hari Raya Bid‘ah *** Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1063 Penerjemah: Fauzan Hidayat Artikel Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Lihat Fath al-Bari, karya Ibnu Hajar (4: 153). [2] Disebutkan secara mu’allaq (tanpa sanad lengkap) oleh Al-Bukhari dalam kitab As-Shaum (Puasa), bab ‘Mandinya Orang yang Berpuasa’ (4: 153). Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (4: 154) berkata, ‘Qasim bin Tsabit meriwayatkannya dengan sanad lengkap dalam kitabnya, Gharib al-Hadits.’ [3] Fath al-Bari, karya Ibnu Hajar (4: 154). [4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam “At-Thaharah”, bab tentang istintsar (mengeluarkan air dari hidung) (no. 142), dan dalam “As-Shaum”, bab tentang orang yang berpuasa menyiram air karena kehausan dan berlebihan dalam istinsyaq (no. 2366); At-Tirmidzi dalam “As-Shaum”, bab tentang larangan berlebihan dalam istinsyaq bagi orang yang berpuasa (no. 788); An-Nasa’i dalam “At-Thaharah”, bab tentang berlebihan dalam istinsyaq (no. 87); dan Ibnu Majah dalam “At-Thaharah”, bab tentang berlebihan dalam istinsyaq dan istintsar (no. 407), dari hadis Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Al-Irwa'” (4: 85, no. 935) [5] Lihat Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah (3: 108-109) dan Al-Majmu’, karya An-Nawawi (6: 326). [6] Lihat Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah (3: 109).


Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus   Pertanyaan: Apa hukum berenang bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadan? Wajazakumullah khairan. Jawaban: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Berenang -pada dasarnya- tidak termasuk hal-hal yang membatalkan puasa. Hukumnya sama seperti mandi secara umum bagi orang yang berpuasa, baik mandi di dalam kamar mandi, kolam, bak air, atau sejenisnya, meskipun tujuannya hanya untuk mendinginkan badan. Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam pembahasan babnya yang berjudul, ‘Bab Mandinya Orang yang Berpuasa’, telah menyebutkannya secara umum, yang mencakup mandi sunnah, wajib, dan mubah. [1] Dan yang menunjukkan kebolehan mandi (secara mubah) adalah dalil asal yang membolehkannya serta atsar-atsar yang mauquf (riwayat yang berhenti pada sahabat). Di antaranya adalah atsar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang berkata, ‘Sesungguhnya aku memiliki bak air (abzan), dan jika aku merasa kepanasan, aku akan menceburkan diri ke dalamnya meskipun aku sedang berpuasa.’ [2] Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ‘Al-Abzan -dengan mem-fathah-kan hamzah (أ), menyukunkan ba (ب), mem-fathah-kan za (ز), dan diikuti nun (ن)- adalah batu yang dilubangi menyerupai bak air. Kata ini berasal dari bahasa Persia; karena itulah ia tidak di-tashrif (tidak berubah bentuk). Sepertinya al-abzan itu penuh dengan air, sehingga Anas -jika merasa kepanasan- masuk ke dalamnya untuk mendinginkan badan.’ [3] Berenang diperbolehkan jika tempatnya aman dari kemungkaran-kemungkaran yang biasanya menyertainya, seperti tampaknya aurat, terbukanya bagian tubuh yang seharusnya tertutup, atau melihat hal-hal yang diharamkan. Jika tidak aman dari hal-hal tersebut, maka berenang menjadi haram karena faktor-faktor ini, bukan karena aktivitas berenang itu sendiri. Selanjutnya, jika dia adalah seorang penyelam yang mencari nafkah melalui pekerjaannya menyelam -baik untuk memperbaiki kapal, mengelas, atau tujuan lainnya- dan pekerjaannya tersebut bertepatan dengan bulan Ramadan, maka wajib baginya berhati-hati agar air tidak masuk ke dalam tubuhnya. Jika air masuk ke tenggorokannya melalui mulut atau hidung tanpa sengaja atau tanpa kelalaian, maka puasanya tetap sah tanpa makruh. Adapun jika menyelam di air atau berenang di dalamnya dilakukan untuk bersenang-senang, mendinginkan badan, berolahraga, atau sekadar bermain-main dan berlebihan, tanpa adanya motivasi kebutuhan seperti pekerjaan, mencari nafkah, penyelamatan (seperti pekerjaan Search and Rescue [SAR]-pent.), atau sejenisnya, maka jika dia seorang perenang yang tidak khawatir air akan masuk ke tenggorokannya sehingga dapat memastikan menjaga puasanya, hal itu diperbolehkan baginya sebagaimana telah dijelaskan dalam penjelasan sebelumnya. Adapun jika dia seorang perenang yang khawatir bahwa berenang akan menyebabkan air masuk ke dalam tenggorokannya, maka berenang tidak diperbolehkan baginya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu, وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا “Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (menghirup air ke hidung saat wudu), kecuali jika kamu sedang berpuasa.” [4] Dalam kedua kondisi ini -baik ketika ada kekhawatiran air masuk ke tenggorokan maupun ketika aman dari hal tersebut- jika air masuk ke dalam perutnya tanpa sengaja atau tanpa disengaja, maka puasanya tetap sah meskipun makruh. Ini berbeda dengan pendapat mayoritas ulama (jumhur) yang menyatakan bahwa puasanya batal dan wajib baginya mengqadha (mengganti) puasa tersebut. Puasa dianggap sah karena kejadian ini dianggap serupa dengan masuknya debu jalanan, tepung yang terhirup saat mengayak, atau seekor lalat yang terbang masuk ke tenggorokan. Dengan ini, kasus ini berbeda dengan orang yang sengaja memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya. [5] Hukum makruh ditetapkan baginya karena motivasi berenangnya di bulan Ramadan bukanlah karena kebutuhan atau darurat. Oleh karena itu, berenang dimakruhkan baginya karena kekhawatiran air masuk ke tenggorokannya. Al-Hasan (Al-Bashri) dan Asy-Sya’bi telah memakruhkan seseorang untuk berendam dalam air karena khawatir air akan masuk ke telinganya. [6] Hal ini juga agar dia tidak membiarkan dirinya terjerumus dalam perbedaan pendapat ulama tentang hukumnya, terutama dalam hal yang mengandung unsur bermain-main dan berlebihan tanpa kebutuhan atau kedaruratan. Ini (perlu diperhatikan), dan seorang yang berpuasa hendaknya memanfaatkan bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Dia harus bersungguh-sungguh dalam beribadah, melakukan ketaatan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Dia juga harus menjauhi semua pelanggaran, kemungkaran, dan hal-hal yang dilarang. Dia harus berusaha melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunianya dan akhiratnya. Dia harus berusaha memanfaatkan waktunya untuk melakukan apa yang dicintai dan diridai oleh Allah. Dia juga harus menjaga dirinya dari hal-hal yang sia-sia, permainan, canda tawa yang berlebihan, perbuatan yang merusak muruah (harga diri), serta perbuatan-perbuatan lain yang sebaiknya ditinggalkan, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, karena hal-hal tersebut dapat menyia-nyiakan umur yang seharusnya digunakan untuk tujuan penciptaannya. Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Baca juga: Hukum Makanan Khusus pada Hari Raya Bid‘ah *** Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1063 Penerjemah: Fauzan Hidayat Artikel Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Lihat Fath al-Bari, karya Ibnu Hajar (4: 153). [2] Disebutkan secara mu’allaq (tanpa sanad lengkap) oleh Al-Bukhari dalam kitab As-Shaum (Puasa), bab ‘Mandinya Orang yang Berpuasa’ (4: 153). Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (4: 154) berkata, ‘Qasim bin Tsabit meriwayatkannya dengan sanad lengkap dalam kitabnya, Gharib al-Hadits.’ [3] Fath al-Bari, karya Ibnu Hajar (4: 154). [4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam “At-Thaharah”, bab tentang istintsar (mengeluarkan air dari hidung) (no. 142), dan dalam “As-Shaum”, bab tentang orang yang berpuasa menyiram air karena kehausan dan berlebihan dalam istinsyaq (no. 2366); At-Tirmidzi dalam “As-Shaum”, bab tentang larangan berlebihan dalam istinsyaq bagi orang yang berpuasa (no. 788); An-Nasa’i dalam “At-Thaharah”, bab tentang berlebihan dalam istinsyaq (no. 87); dan Ibnu Majah dalam “At-Thaharah”, bab tentang berlebihan dalam istinsyaq dan istintsar (no. 407), dari hadis Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Al-Irwa'” (4: 85, no. 935) [5] Lihat Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah (3: 108-109) dan Al-Majmu’, karya An-Nawawi (6: 326). [6] Lihat Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah (3: 109).

Fatwa Ulama: Dianjurkan Menceritakan Nikmat, namun Bagaimana jika Terkena Penyakit ‘Ain?

Fatwa Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid   Pertanyaan: Di antara karunia Allah kepada saya, Dia telah memuliakan saya dengan banyak hal istimewa dalam hidup saya, berupa keberhasilan dalam pekerjaan, agama, dan kehidupan saya secara umum. Seringkali saya ingin menceritakan tentang hal-hal baik dan kemudahan dari Allah ini kepada teman-teman saya. Namun, saya takut akan hasad, khususnya karena banyak dari mereka yang saat ini keadaannya sedang kurang baik. Karenanya, saya khawatir salah satu dari mereka akan hasad kepada saya. Maaf karena mengatakan hal ini, namun demikianlah hakikat yang terbukti ada dalam syariat kita yang lurus. Apakah pandangan ini teranggap sebagai bentuk lemahnya iman? Bagaimana jika saya lupa membaca zikir pada suatu pagi atau sore?   Jawaban: Alhamdulillah. Pertama: Perlu diketahui bahwa tahadduts bini’matillah (menceritakan nikmat Allah kepada orang lain) adalah termasuk hak anda atas nikmat tersebut, juga salah satu bentuk mengakui kebaikan dari Sang Pemberi nikmat, yakni Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).” (QS. Ad-Dhuha: 11) Dari Abu Nadhrah, ia berkata, “Sejumlah ulama kaum muslimin berpendapat bahwa salah satu bentuk mensyukuri nikmat adalah dengan menceritakannya.” [1] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perbedaan antara menceritakan nikmat Allah (mutahaddits bin ni’mah) dan membanggakannya (al-fakhru bin ni’am), yaitu: orang yang menceritakan nikmat adalah orang yang menceritakan sifat-sifat Pemberinya, kemurahan, serta kebaikan-Nya yang sempurna, memuji-Nya dengan menampakkan dan menceritakan nikmat tersebut dalam keadaan bersyukur kepada-Nya, menyebarkan semua yang Allah berikan kepadanya dengan tujuan menampakkan sifat-sifat Allah, memuji-Nya, dan mendorong jiwa untuk meminta hanya kepada-Nya dan bukan kepada selain-Nya, serta untuk mencintai dan berharap kepada-Nya. Sehingga ia menjadi orang yang berharap kepada Allah dengan menampakkan berbagai nikmat-Nya, menyebarkannya, dan menceritakannya. Adapun membanggakan nikmat (yang tercela, pen) adalah ketika seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain karena mendapat nikmat tersebut, menunjukkan kepada mereka bahwa dia lebih mulia dan agung dari mereka, lalu ia menundukkan kepala mereka, memperbudak hati mereka, dan menarik hati mereka untuk mengagungkan dan melayani dirinya. An-Nu’man bin Basyir berkata, “Sesungguhnya setan memiliki banyak perangkap (mashali) dan jeratan, di antara perangkap dan jeratannya adalah angkuh karena mendapat beragam nikmat dari Allah, sombong kepada hamba-hamba Allah, dan membanggakan pemberian Allah tanpa mengagungkan Zat Allah.” [2] Ibnu Al-Atsir berkata, “Al-mashali itu serupa dengan asy-syarak (perangkap), bentuk mufradnya (tunggalnya) adalah mushlat, yaitu perhiasan dan syahwat dunia yang menggairahkan manusia.” [3] Kedua: Memuji nikmat yang khusus diberikan Allah kepada salah seorang hamba-Nya, jika dengan menceritakannya dikhawatirkan akan menimbulkan mafsadat seperti hasad, kebencian, atau yang semisalnya, maka bisa dialihkan dengan memuji Allah dan menyebutkan nikmat-Nya secara umum saja. As-Sa’di rahimahullah berkata, “Ini (perintah untuk menceritakan nikmat) mencakup nikmat-nikmat agama maupun dunia. Makna (فَحَدِّثْ) adalah pujilah Allah dengan sebab nikmat tersebut, dan khususkan dengan menyebutkannya jika ada maslahat. Jika tidak, maka ceritakanlah nikmat-nikmat Allah secara umum, karena menceritakan nikmat Allah dapat memotivasi untuk mensyukurinya, dan membuat hati mencintai Zat yang memberikan nikmat tersebut, karena hati diciptakan untuk mencintai siapa yang berbuat baik.” [4] Al-Munawi rahimahullah menjelaskan makna hadis, .. والتحدث بنعمة الله شكر ، وتركها كفر “… dan menceritakan nikmat Allah adalah syukur, dan meninggalkannya adalah kufur.” [5] dengan berkata, “Hadis ini berlaku selama tidak menimbulkan bahaya seperti hasad. Jika tidak, maka menyembunyikannya lebih utama.” [6] Tetapi, hal di atas berlaku jika ada indikasi dan tanda-tanda kuat tentang kekhawatiran tersebut. Jika tidak, maka pada dasarnya kita berprasangka baik kepada sesama muslim, menyerahkan segala urusan kepada Allah, dan bertawakal kepada-Nya dalam meraih banyak kebaikan dan menghindari berbagai mudarat. Nasihat untuk anda agar membentengi diri dengan berzikir kepada Allah, dan membaca wirid-wirid yang disyariatkan saat pagi dan petang, serta membentengi diri dengan ruqyah syar’iyyah, terutama Al-Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan An-Nas). Dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib dari ayahnya, dia berkata, “Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di jalan kota Makkah, lalu aku mendapat kesempatan berdua dengan beliau. Aku mendekati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau berkata, ‘Ucapkanlah.’ Aku bertanya, ‘Apa yang harus aku ucapkan?’ Beliau berkata, ‘Ucapkanlah.’ Aku bertanya, ‘Apa yang harus aku ucapkan?’ Beliau berkata, ‘Ucapkanlah A’udzu bi rabbil falaq…’ hingga selesai. Kemudian beliau berkata, ‘Ucapkanlah A’udzu bi rabbin naas…’ hingga selesai. Kemudian beliau berkata, ‘Manusia tidak pernah berlindung dengan sesuatu yang lebih utama dari keduanya.'” [7] Syekh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjauhi kejahatan orang yang hasad dan ‘ain (mata jahat) adalah dengan: Pertama, bertawakal kepada Allah ‘Azza Wajalla dan tidak menghiraukan hal-hal tersebut, tidak mempedulikannya, dan berpaling darinya. Kedua, mengamalkan wirid-wirid yang bermanfaat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, karena keduanya adalah pelindung terbaik bagi manusia, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ayat kursi bahwa barangsiapa membacanya di malam hari, maka akan tetap ada penjagaan dari Allah baginya dan setan tidak akan mendekatinya hingga pagi hari.” [8] Ketiga: Jika pada suatu hari anda lupa membaca rangkaian zikir pagi atau petang, maka anda dapat mengerjakannya kapan pun anda mengingatnya. Jika waktunya telah berlalu sampai memasuki awal siang atau malam, maka tidak mengapa insyaAllah, semoga anda tetap mendapatkan berkahnya karena rutin mengamalkan zikir pagi dan petang di sebagian besar waktu anda. Tetapi, kami mengingatkan anda bahwa ruqyah syar’iyyah tidak terbatas pada zikir pagi dan petang saja, melainkan bisa dilakukan kapan pun. Kami juga memberitahu anda, bahwa anda dapat mengganti zikir yang terlewat dengan berbagai zikir dan tasbih serta membaca Al-Qur’an, yang mana seluruhnya tidak terikat waktu pagi maupun sore. Kami menyarankan anda untuk mempelajari buku Al-Wabilus Shayyib minal Kalim At-Thayyib, karya Al-Imam Ibnu Al-Qayyim, dan Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar, karya Syekh Abdul Razzaq Al-Abbad. Wallahu a’lam. -Fatwa Selesai- [9] Baca juga: Nikmat Dekat dengan Ahli Ilmu *** Penerjemah: Reza Mahendra Artikel: Muslim.or.id   Referensi: [1] Tafsir Ath-Thabari, 24: 489. [2] Ar-Ruh, hal. 312. [3] An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits, 3: 95. [4] Tafsir As-Sa’di, hal. 928. [5] Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Zawa’id Al-Musnad no. 18449, bagian lafaz yang dinukil dinilai daif oleh Syu’aib Al-Arnauth. [6] Faidh Al-Qadir, 3: 369. [7] HR. An-Nasa’i no. 5429, dinilai sahih oleh Al-Albani. [8] Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 13: 274-275. [9] Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab (IslamQA) asuhan Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah, pertanyaan no. 137984, https://islamqa.info/amp/ar/answers/137984 (dengan sedikit penyesuaian dalam alih bahasa oleh penerjemah).

Fatwa Ulama: Dianjurkan Menceritakan Nikmat, namun Bagaimana jika Terkena Penyakit ‘Ain?

Fatwa Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid   Pertanyaan: Di antara karunia Allah kepada saya, Dia telah memuliakan saya dengan banyak hal istimewa dalam hidup saya, berupa keberhasilan dalam pekerjaan, agama, dan kehidupan saya secara umum. Seringkali saya ingin menceritakan tentang hal-hal baik dan kemudahan dari Allah ini kepada teman-teman saya. Namun, saya takut akan hasad, khususnya karena banyak dari mereka yang saat ini keadaannya sedang kurang baik. Karenanya, saya khawatir salah satu dari mereka akan hasad kepada saya. Maaf karena mengatakan hal ini, namun demikianlah hakikat yang terbukti ada dalam syariat kita yang lurus. Apakah pandangan ini teranggap sebagai bentuk lemahnya iman? Bagaimana jika saya lupa membaca zikir pada suatu pagi atau sore?   Jawaban: Alhamdulillah. Pertama: Perlu diketahui bahwa tahadduts bini’matillah (menceritakan nikmat Allah kepada orang lain) adalah termasuk hak anda atas nikmat tersebut, juga salah satu bentuk mengakui kebaikan dari Sang Pemberi nikmat, yakni Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).” (QS. Ad-Dhuha: 11) Dari Abu Nadhrah, ia berkata, “Sejumlah ulama kaum muslimin berpendapat bahwa salah satu bentuk mensyukuri nikmat adalah dengan menceritakannya.” [1] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perbedaan antara menceritakan nikmat Allah (mutahaddits bin ni’mah) dan membanggakannya (al-fakhru bin ni’am), yaitu: orang yang menceritakan nikmat adalah orang yang menceritakan sifat-sifat Pemberinya, kemurahan, serta kebaikan-Nya yang sempurna, memuji-Nya dengan menampakkan dan menceritakan nikmat tersebut dalam keadaan bersyukur kepada-Nya, menyebarkan semua yang Allah berikan kepadanya dengan tujuan menampakkan sifat-sifat Allah, memuji-Nya, dan mendorong jiwa untuk meminta hanya kepada-Nya dan bukan kepada selain-Nya, serta untuk mencintai dan berharap kepada-Nya. Sehingga ia menjadi orang yang berharap kepada Allah dengan menampakkan berbagai nikmat-Nya, menyebarkannya, dan menceritakannya. Adapun membanggakan nikmat (yang tercela, pen) adalah ketika seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain karena mendapat nikmat tersebut, menunjukkan kepada mereka bahwa dia lebih mulia dan agung dari mereka, lalu ia menundukkan kepala mereka, memperbudak hati mereka, dan menarik hati mereka untuk mengagungkan dan melayani dirinya. An-Nu’man bin Basyir berkata, “Sesungguhnya setan memiliki banyak perangkap (mashali) dan jeratan, di antara perangkap dan jeratannya adalah angkuh karena mendapat beragam nikmat dari Allah, sombong kepada hamba-hamba Allah, dan membanggakan pemberian Allah tanpa mengagungkan Zat Allah.” [2] Ibnu Al-Atsir berkata, “Al-mashali itu serupa dengan asy-syarak (perangkap), bentuk mufradnya (tunggalnya) adalah mushlat, yaitu perhiasan dan syahwat dunia yang menggairahkan manusia.” [3] Kedua: Memuji nikmat yang khusus diberikan Allah kepada salah seorang hamba-Nya, jika dengan menceritakannya dikhawatirkan akan menimbulkan mafsadat seperti hasad, kebencian, atau yang semisalnya, maka bisa dialihkan dengan memuji Allah dan menyebutkan nikmat-Nya secara umum saja. As-Sa’di rahimahullah berkata, “Ini (perintah untuk menceritakan nikmat) mencakup nikmat-nikmat agama maupun dunia. Makna (فَحَدِّثْ) adalah pujilah Allah dengan sebab nikmat tersebut, dan khususkan dengan menyebutkannya jika ada maslahat. Jika tidak, maka ceritakanlah nikmat-nikmat Allah secara umum, karena menceritakan nikmat Allah dapat memotivasi untuk mensyukurinya, dan membuat hati mencintai Zat yang memberikan nikmat tersebut, karena hati diciptakan untuk mencintai siapa yang berbuat baik.” [4] Al-Munawi rahimahullah menjelaskan makna hadis, .. والتحدث بنعمة الله شكر ، وتركها كفر “… dan menceritakan nikmat Allah adalah syukur, dan meninggalkannya adalah kufur.” [5] dengan berkata, “Hadis ini berlaku selama tidak menimbulkan bahaya seperti hasad. Jika tidak, maka menyembunyikannya lebih utama.” [6] Tetapi, hal di atas berlaku jika ada indikasi dan tanda-tanda kuat tentang kekhawatiran tersebut. Jika tidak, maka pada dasarnya kita berprasangka baik kepada sesama muslim, menyerahkan segala urusan kepada Allah, dan bertawakal kepada-Nya dalam meraih banyak kebaikan dan menghindari berbagai mudarat. Nasihat untuk anda agar membentengi diri dengan berzikir kepada Allah, dan membaca wirid-wirid yang disyariatkan saat pagi dan petang, serta membentengi diri dengan ruqyah syar’iyyah, terutama Al-Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan An-Nas). Dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib dari ayahnya, dia berkata, “Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di jalan kota Makkah, lalu aku mendapat kesempatan berdua dengan beliau. Aku mendekati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau berkata, ‘Ucapkanlah.’ Aku bertanya, ‘Apa yang harus aku ucapkan?’ Beliau berkata, ‘Ucapkanlah.’ Aku bertanya, ‘Apa yang harus aku ucapkan?’ Beliau berkata, ‘Ucapkanlah A’udzu bi rabbil falaq…’ hingga selesai. Kemudian beliau berkata, ‘Ucapkanlah A’udzu bi rabbin naas…’ hingga selesai. Kemudian beliau berkata, ‘Manusia tidak pernah berlindung dengan sesuatu yang lebih utama dari keduanya.'” [7] Syekh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjauhi kejahatan orang yang hasad dan ‘ain (mata jahat) adalah dengan: Pertama, bertawakal kepada Allah ‘Azza Wajalla dan tidak menghiraukan hal-hal tersebut, tidak mempedulikannya, dan berpaling darinya. Kedua, mengamalkan wirid-wirid yang bermanfaat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, karena keduanya adalah pelindung terbaik bagi manusia, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ayat kursi bahwa barangsiapa membacanya di malam hari, maka akan tetap ada penjagaan dari Allah baginya dan setan tidak akan mendekatinya hingga pagi hari.” [8] Ketiga: Jika pada suatu hari anda lupa membaca rangkaian zikir pagi atau petang, maka anda dapat mengerjakannya kapan pun anda mengingatnya. Jika waktunya telah berlalu sampai memasuki awal siang atau malam, maka tidak mengapa insyaAllah, semoga anda tetap mendapatkan berkahnya karena rutin mengamalkan zikir pagi dan petang di sebagian besar waktu anda. Tetapi, kami mengingatkan anda bahwa ruqyah syar’iyyah tidak terbatas pada zikir pagi dan petang saja, melainkan bisa dilakukan kapan pun. Kami juga memberitahu anda, bahwa anda dapat mengganti zikir yang terlewat dengan berbagai zikir dan tasbih serta membaca Al-Qur’an, yang mana seluruhnya tidak terikat waktu pagi maupun sore. Kami menyarankan anda untuk mempelajari buku Al-Wabilus Shayyib minal Kalim At-Thayyib, karya Al-Imam Ibnu Al-Qayyim, dan Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar, karya Syekh Abdul Razzaq Al-Abbad. Wallahu a’lam. -Fatwa Selesai- [9] Baca juga: Nikmat Dekat dengan Ahli Ilmu *** Penerjemah: Reza Mahendra Artikel: Muslim.or.id   Referensi: [1] Tafsir Ath-Thabari, 24: 489. [2] Ar-Ruh, hal. 312. [3] An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits, 3: 95. [4] Tafsir As-Sa’di, hal. 928. [5] Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Zawa’id Al-Musnad no. 18449, bagian lafaz yang dinukil dinilai daif oleh Syu’aib Al-Arnauth. [6] Faidh Al-Qadir, 3: 369. [7] HR. An-Nasa’i no. 5429, dinilai sahih oleh Al-Albani. [8] Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 13: 274-275. [9] Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab (IslamQA) asuhan Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah, pertanyaan no. 137984, https://islamqa.info/amp/ar/answers/137984 (dengan sedikit penyesuaian dalam alih bahasa oleh penerjemah).
Fatwa Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid   Pertanyaan: Di antara karunia Allah kepada saya, Dia telah memuliakan saya dengan banyak hal istimewa dalam hidup saya, berupa keberhasilan dalam pekerjaan, agama, dan kehidupan saya secara umum. Seringkali saya ingin menceritakan tentang hal-hal baik dan kemudahan dari Allah ini kepada teman-teman saya. Namun, saya takut akan hasad, khususnya karena banyak dari mereka yang saat ini keadaannya sedang kurang baik. Karenanya, saya khawatir salah satu dari mereka akan hasad kepada saya. Maaf karena mengatakan hal ini, namun demikianlah hakikat yang terbukti ada dalam syariat kita yang lurus. Apakah pandangan ini teranggap sebagai bentuk lemahnya iman? Bagaimana jika saya lupa membaca zikir pada suatu pagi atau sore?   Jawaban: Alhamdulillah. Pertama: Perlu diketahui bahwa tahadduts bini’matillah (menceritakan nikmat Allah kepada orang lain) adalah termasuk hak anda atas nikmat tersebut, juga salah satu bentuk mengakui kebaikan dari Sang Pemberi nikmat, yakni Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).” (QS. Ad-Dhuha: 11) Dari Abu Nadhrah, ia berkata, “Sejumlah ulama kaum muslimin berpendapat bahwa salah satu bentuk mensyukuri nikmat adalah dengan menceritakannya.” [1] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perbedaan antara menceritakan nikmat Allah (mutahaddits bin ni’mah) dan membanggakannya (al-fakhru bin ni’am), yaitu: orang yang menceritakan nikmat adalah orang yang menceritakan sifat-sifat Pemberinya, kemurahan, serta kebaikan-Nya yang sempurna, memuji-Nya dengan menampakkan dan menceritakan nikmat tersebut dalam keadaan bersyukur kepada-Nya, menyebarkan semua yang Allah berikan kepadanya dengan tujuan menampakkan sifat-sifat Allah, memuji-Nya, dan mendorong jiwa untuk meminta hanya kepada-Nya dan bukan kepada selain-Nya, serta untuk mencintai dan berharap kepada-Nya. Sehingga ia menjadi orang yang berharap kepada Allah dengan menampakkan berbagai nikmat-Nya, menyebarkannya, dan menceritakannya. Adapun membanggakan nikmat (yang tercela, pen) adalah ketika seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain karena mendapat nikmat tersebut, menunjukkan kepada mereka bahwa dia lebih mulia dan agung dari mereka, lalu ia menundukkan kepala mereka, memperbudak hati mereka, dan menarik hati mereka untuk mengagungkan dan melayani dirinya. An-Nu’man bin Basyir berkata, “Sesungguhnya setan memiliki banyak perangkap (mashali) dan jeratan, di antara perangkap dan jeratannya adalah angkuh karena mendapat beragam nikmat dari Allah, sombong kepada hamba-hamba Allah, dan membanggakan pemberian Allah tanpa mengagungkan Zat Allah.” [2] Ibnu Al-Atsir berkata, “Al-mashali itu serupa dengan asy-syarak (perangkap), bentuk mufradnya (tunggalnya) adalah mushlat, yaitu perhiasan dan syahwat dunia yang menggairahkan manusia.” [3] Kedua: Memuji nikmat yang khusus diberikan Allah kepada salah seorang hamba-Nya, jika dengan menceritakannya dikhawatirkan akan menimbulkan mafsadat seperti hasad, kebencian, atau yang semisalnya, maka bisa dialihkan dengan memuji Allah dan menyebutkan nikmat-Nya secara umum saja. As-Sa’di rahimahullah berkata, “Ini (perintah untuk menceritakan nikmat) mencakup nikmat-nikmat agama maupun dunia. Makna (فَحَدِّثْ) adalah pujilah Allah dengan sebab nikmat tersebut, dan khususkan dengan menyebutkannya jika ada maslahat. Jika tidak, maka ceritakanlah nikmat-nikmat Allah secara umum, karena menceritakan nikmat Allah dapat memotivasi untuk mensyukurinya, dan membuat hati mencintai Zat yang memberikan nikmat tersebut, karena hati diciptakan untuk mencintai siapa yang berbuat baik.” [4] Al-Munawi rahimahullah menjelaskan makna hadis, .. والتحدث بنعمة الله شكر ، وتركها كفر “… dan menceritakan nikmat Allah adalah syukur, dan meninggalkannya adalah kufur.” [5] dengan berkata, “Hadis ini berlaku selama tidak menimbulkan bahaya seperti hasad. Jika tidak, maka menyembunyikannya lebih utama.” [6] Tetapi, hal di atas berlaku jika ada indikasi dan tanda-tanda kuat tentang kekhawatiran tersebut. Jika tidak, maka pada dasarnya kita berprasangka baik kepada sesama muslim, menyerahkan segala urusan kepada Allah, dan bertawakal kepada-Nya dalam meraih banyak kebaikan dan menghindari berbagai mudarat. Nasihat untuk anda agar membentengi diri dengan berzikir kepada Allah, dan membaca wirid-wirid yang disyariatkan saat pagi dan petang, serta membentengi diri dengan ruqyah syar’iyyah, terutama Al-Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan An-Nas). Dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib dari ayahnya, dia berkata, “Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di jalan kota Makkah, lalu aku mendapat kesempatan berdua dengan beliau. Aku mendekati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau berkata, ‘Ucapkanlah.’ Aku bertanya, ‘Apa yang harus aku ucapkan?’ Beliau berkata, ‘Ucapkanlah.’ Aku bertanya, ‘Apa yang harus aku ucapkan?’ Beliau berkata, ‘Ucapkanlah A’udzu bi rabbil falaq…’ hingga selesai. Kemudian beliau berkata, ‘Ucapkanlah A’udzu bi rabbin naas…’ hingga selesai. Kemudian beliau berkata, ‘Manusia tidak pernah berlindung dengan sesuatu yang lebih utama dari keduanya.'” [7] Syekh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjauhi kejahatan orang yang hasad dan ‘ain (mata jahat) adalah dengan: Pertama, bertawakal kepada Allah ‘Azza Wajalla dan tidak menghiraukan hal-hal tersebut, tidak mempedulikannya, dan berpaling darinya. Kedua, mengamalkan wirid-wirid yang bermanfaat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, karena keduanya adalah pelindung terbaik bagi manusia, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ayat kursi bahwa barangsiapa membacanya di malam hari, maka akan tetap ada penjagaan dari Allah baginya dan setan tidak akan mendekatinya hingga pagi hari.” [8] Ketiga: Jika pada suatu hari anda lupa membaca rangkaian zikir pagi atau petang, maka anda dapat mengerjakannya kapan pun anda mengingatnya. Jika waktunya telah berlalu sampai memasuki awal siang atau malam, maka tidak mengapa insyaAllah, semoga anda tetap mendapatkan berkahnya karena rutin mengamalkan zikir pagi dan petang di sebagian besar waktu anda. Tetapi, kami mengingatkan anda bahwa ruqyah syar’iyyah tidak terbatas pada zikir pagi dan petang saja, melainkan bisa dilakukan kapan pun. Kami juga memberitahu anda, bahwa anda dapat mengganti zikir yang terlewat dengan berbagai zikir dan tasbih serta membaca Al-Qur’an, yang mana seluruhnya tidak terikat waktu pagi maupun sore. Kami menyarankan anda untuk mempelajari buku Al-Wabilus Shayyib minal Kalim At-Thayyib, karya Al-Imam Ibnu Al-Qayyim, dan Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar, karya Syekh Abdul Razzaq Al-Abbad. Wallahu a’lam. -Fatwa Selesai- [9] Baca juga: Nikmat Dekat dengan Ahli Ilmu *** Penerjemah: Reza Mahendra Artikel: Muslim.or.id   Referensi: [1] Tafsir Ath-Thabari, 24: 489. [2] Ar-Ruh, hal. 312. [3] An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits, 3: 95. [4] Tafsir As-Sa’di, hal. 928. [5] Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Zawa’id Al-Musnad no. 18449, bagian lafaz yang dinukil dinilai daif oleh Syu’aib Al-Arnauth. [6] Faidh Al-Qadir, 3: 369. [7] HR. An-Nasa’i no. 5429, dinilai sahih oleh Al-Albani. [8] Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 13: 274-275. [9] Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab (IslamQA) asuhan Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah, pertanyaan no. 137984, https://islamqa.info/amp/ar/answers/137984 (dengan sedikit penyesuaian dalam alih bahasa oleh penerjemah).


Fatwa Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid   Pertanyaan: Di antara karunia Allah kepada saya, Dia telah memuliakan saya dengan banyak hal istimewa dalam hidup saya, berupa keberhasilan dalam pekerjaan, agama, dan kehidupan saya secara umum. Seringkali saya ingin menceritakan tentang hal-hal baik dan kemudahan dari Allah ini kepada teman-teman saya. Namun, saya takut akan hasad, khususnya karena banyak dari mereka yang saat ini keadaannya sedang kurang baik. Karenanya, saya khawatir salah satu dari mereka akan hasad kepada saya. Maaf karena mengatakan hal ini, namun demikianlah hakikat yang terbukti ada dalam syariat kita yang lurus. Apakah pandangan ini teranggap sebagai bentuk lemahnya iman? Bagaimana jika saya lupa membaca zikir pada suatu pagi atau sore?   Jawaban: Alhamdulillah. Pertama: Perlu diketahui bahwa tahadduts bini’matillah (menceritakan nikmat Allah kepada orang lain) adalah termasuk hak anda atas nikmat tersebut, juga salah satu bentuk mengakui kebaikan dari Sang Pemberi nikmat, yakni Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).” (QS. Ad-Dhuha: 11) Dari Abu Nadhrah, ia berkata, “Sejumlah ulama kaum muslimin berpendapat bahwa salah satu bentuk mensyukuri nikmat adalah dengan menceritakannya.” [1] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perbedaan antara menceritakan nikmat Allah (mutahaddits bin ni’mah) dan membanggakannya (al-fakhru bin ni’am), yaitu: orang yang menceritakan nikmat adalah orang yang menceritakan sifat-sifat Pemberinya, kemurahan, serta kebaikan-Nya yang sempurna, memuji-Nya dengan menampakkan dan menceritakan nikmat tersebut dalam keadaan bersyukur kepada-Nya, menyebarkan semua yang Allah berikan kepadanya dengan tujuan menampakkan sifat-sifat Allah, memuji-Nya, dan mendorong jiwa untuk meminta hanya kepada-Nya dan bukan kepada selain-Nya, serta untuk mencintai dan berharap kepada-Nya. Sehingga ia menjadi orang yang berharap kepada Allah dengan menampakkan berbagai nikmat-Nya, menyebarkannya, dan menceritakannya. Adapun membanggakan nikmat (yang tercela, pen) adalah ketika seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain karena mendapat nikmat tersebut, menunjukkan kepada mereka bahwa dia lebih mulia dan agung dari mereka, lalu ia menundukkan kepala mereka, memperbudak hati mereka, dan menarik hati mereka untuk mengagungkan dan melayani dirinya. An-Nu’man bin Basyir berkata, “Sesungguhnya setan memiliki banyak perangkap (mashali) dan jeratan, di antara perangkap dan jeratannya adalah angkuh karena mendapat beragam nikmat dari Allah, sombong kepada hamba-hamba Allah, dan membanggakan pemberian Allah tanpa mengagungkan Zat Allah.” [2] Ibnu Al-Atsir berkata, “Al-mashali itu serupa dengan asy-syarak (perangkap), bentuk mufradnya (tunggalnya) adalah mushlat, yaitu perhiasan dan syahwat dunia yang menggairahkan manusia.” [3] Kedua: Memuji nikmat yang khusus diberikan Allah kepada salah seorang hamba-Nya, jika dengan menceritakannya dikhawatirkan akan menimbulkan mafsadat seperti hasad, kebencian, atau yang semisalnya, maka bisa dialihkan dengan memuji Allah dan menyebutkan nikmat-Nya secara umum saja. As-Sa’di rahimahullah berkata, “Ini (perintah untuk menceritakan nikmat) mencakup nikmat-nikmat agama maupun dunia. Makna (فَحَدِّثْ) adalah pujilah Allah dengan sebab nikmat tersebut, dan khususkan dengan menyebutkannya jika ada maslahat. Jika tidak, maka ceritakanlah nikmat-nikmat Allah secara umum, karena menceritakan nikmat Allah dapat memotivasi untuk mensyukurinya, dan membuat hati mencintai Zat yang memberikan nikmat tersebut, karena hati diciptakan untuk mencintai siapa yang berbuat baik.” [4] Al-Munawi rahimahullah menjelaskan makna hadis, .. والتحدث بنعمة الله شكر ، وتركها كفر “… dan menceritakan nikmat Allah adalah syukur, dan meninggalkannya adalah kufur.” [5] dengan berkata, “Hadis ini berlaku selama tidak menimbulkan bahaya seperti hasad. Jika tidak, maka menyembunyikannya lebih utama.” [6] Tetapi, hal di atas berlaku jika ada indikasi dan tanda-tanda kuat tentang kekhawatiran tersebut. Jika tidak, maka pada dasarnya kita berprasangka baik kepada sesama muslim, menyerahkan segala urusan kepada Allah, dan bertawakal kepada-Nya dalam meraih banyak kebaikan dan menghindari berbagai mudarat. Nasihat untuk anda agar membentengi diri dengan berzikir kepada Allah, dan membaca wirid-wirid yang disyariatkan saat pagi dan petang, serta membentengi diri dengan ruqyah syar’iyyah, terutama Al-Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan An-Nas). Dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib dari ayahnya, dia berkata, “Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di jalan kota Makkah, lalu aku mendapat kesempatan berdua dengan beliau. Aku mendekati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau berkata, ‘Ucapkanlah.’ Aku bertanya, ‘Apa yang harus aku ucapkan?’ Beliau berkata, ‘Ucapkanlah.’ Aku bertanya, ‘Apa yang harus aku ucapkan?’ Beliau berkata, ‘Ucapkanlah A’udzu bi rabbil falaq…’ hingga selesai. Kemudian beliau berkata, ‘Ucapkanlah A’udzu bi rabbin naas…’ hingga selesai. Kemudian beliau berkata, ‘Manusia tidak pernah berlindung dengan sesuatu yang lebih utama dari keduanya.'” [7] Syekh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjauhi kejahatan orang yang hasad dan ‘ain (mata jahat) adalah dengan: Pertama, bertawakal kepada Allah ‘Azza Wajalla dan tidak menghiraukan hal-hal tersebut, tidak mempedulikannya, dan berpaling darinya. Kedua, mengamalkan wirid-wirid yang bermanfaat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, karena keduanya adalah pelindung terbaik bagi manusia, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ayat kursi bahwa barangsiapa membacanya di malam hari, maka akan tetap ada penjagaan dari Allah baginya dan setan tidak akan mendekatinya hingga pagi hari.” [8] Ketiga: Jika pada suatu hari anda lupa membaca rangkaian zikir pagi atau petang, maka anda dapat mengerjakannya kapan pun anda mengingatnya. Jika waktunya telah berlalu sampai memasuki awal siang atau malam, maka tidak mengapa insyaAllah, semoga anda tetap mendapatkan berkahnya karena rutin mengamalkan zikir pagi dan petang di sebagian besar waktu anda. Tetapi, kami mengingatkan anda bahwa ruqyah syar’iyyah tidak terbatas pada zikir pagi dan petang saja, melainkan bisa dilakukan kapan pun. Kami juga memberitahu anda, bahwa anda dapat mengganti zikir yang terlewat dengan berbagai zikir dan tasbih serta membaca Al-Qur’an, yang mana seluruhnya tidak terikat waktu pagi maupun sore. Kami menyarankan anda untuk mempelajari buku Al-Wabilus Shayyib minal Kalim At-Thayyib, karya Al-Imam Ibnu Al-Qayyim, dan Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar, karya Syekh Abdul Razzaq Al-Abbad. Wallahu a’lam. -Fatwa Selesai- [9] Baca juga: Nikmat Dekat dengan Ahli Ilmu *** Penerjemah: Reza Mahendra Artikel: Muslim.or.id   Referensi: [1] Tafsir Ath-Thabari, 24: 489. [2] Ar-Ruh, hal. 312. [3] An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits, 3: 95. [4] Tafsir As-Sa’di, hal. 928. [5] Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Zawa’id Al-Musnad no. 18449, bagian lafaz yang dinukil dinilai daif oleh Syu’aib Al-Arnauth. [6] Faidh Al-Qadir, 3: 369. [7] HR. An-Nasa’i no. 5429, dinilai sahih oleh Al-Albani. [8] Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 13: 274-275. [9] Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab (IslamQA) asuhan Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah, pertanyaan no. 137984, https://islamqa.info/amp/ar/answers/137984 (dengan sedikit penyesuaian dalam alih bahasa oleh penerjemah).

Jin Saja Takjub Mendengarnya Lalu Dapat Hidayah, Mengapa Manusia Tidak? – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Pertanyaan: Apa sebab terbesar yang mengantarkan seseorang kepada hidayah, wahai saudara-saudaraku? Jawabannya: Kitabullah (al-Quran). Pertanyaan kedua: Apa sebab terbesar untuk bisa teguh di atas hidayah? Jawabannya juga: Kitabullah (al-Quran). Apa dalilnya? Katakanlah (Muhammad), “Malaikat Jibril menurunkannya (al-Quran) dari Tuhanmu dengan kebenaran…” Siapa yang bisa melanjutkan ayatnya? “…untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman, serta menjadi petunjuk dan kabar gembira untuk orang yang beriman.” (QS. an-Nahl: 102). Keteguhan dan hidayah, semuanya ada di dalam al-Quran, wahai saudara-saudaraku. Maka bersungguh-sungguhlah dalam membaca al-Quran dengan penuh perenungan (tadabur), agar ia menjadi sebab hidayah bagi kalian, dan menjadi sebab keteguhan kalian di atas hidayah. Pada zaman yang penuh dengan gejolak, badai pemikiran, dan berbagai godaan, hadirlah firman Allah Yang Maha Agung sebagai sebab terbesar hidayah bagi seluruh manusia. Bahkan bagi orang-orang kafir, wahai saudara-saudara! Kalian sendiri bisa melihat dalam berbagai video singkat: Ada seorang kafir yang mendengar bacaan al-Quran, padahal ia tidak memahami artinya, tapi justru itu menjadi sebab keislamannya. Saya ceritakan sebuah kisah yang dikisahkan oleh seorang guru kami—semoga Allah merahmatinya—tentang peristiwa di sebuah negeri. Beliau bercerita: Dulu ada seorang tokoh besar dari kalangan Nasrani, yang menjadi penghubung antara negerinya dan Vatikan. Ia sering bolak-balik antara kedua tempat itu. Namanya disebutkan—mungkin Ibrahim, Ishaq, atau nama lainnya. Ia menjadi perantara antara dua pihak ini. Suatu hari, ketika Allah menghendaki kebaikan untuknya; ia turun dari pesawat, lalu naik taksi. Lalu ia mendengar seorang qari (pembaca al-Quran) membaca ayat: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Quran).’ Lalu mereka berkata: ‘Kami mendengarkan bacaan al-Quran yang menakjubkan…’” (QS. al-Jinn: 1). Lanjutkan ayatnya! “…yang memberi petunjuk kepada kebenaran.” Yaitu al-Quran. Jin saja merasa takjub dengan al-Quran ketika pertama kali mereka mendengarnya. Mereka pun berkata: “Al-Quran memberi petunjuk kepada kebenaran, sehingga kami beriman kepadanya.” (QS. al-Jinn: 2). Maka orang Nasrani tadi pun terkejut dan bertanya dalam hatinya: “Jin saja takjub dengan firman Allah dan mendapatkan hidayah darinya lalu mengapa kami, manusia, tidak merasa takjub dan tidak mendapatkan hidayah darinya?” Ayat ini menjadi sebab dia masuk Islam. Maka carilah hidayah di tempat yang paling agung—yaitu dalam al-Quran. Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. “Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian pelajaran (al-Quran) dari Tuhan kalian sebagai penyembuh bagi penyakit yang terdapat dalam dada, petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57). Lanjutkan ayat ini! Semoga Allah membalas kebaikan bagi orang yang ikut berpartisipasi. “Katakanlah (Hai Muhammad): ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu hendaklah mereka bergembiraItu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58). Bagi siapa saja yang mencari kebahagiaan, yang mendambakan ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman, maka semua itu ada dalam al-Quran. “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira…” Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia. Al-Quran ini adalah petunjuk bagi seluruh manusia. Mungkin ada yang bertanya-tanya: Pada awal surah al-Baqarah disebutkan: Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. “Alif Laam Miim. Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” Bagaimana mungkin di sini disebutkan: al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa, tapi di ayat lain: petunjuk bagi seluruh manusia? Jawabannya adalah: Ada dua jenis hidayah. Adapun al-Quran sebagai petunjuk dan panduan, maka itu berlaku untuk seluruh manusia. Hidayah panduan dan petunjuk bagi seluruh manusia. Sedangkan hidayah dalam bentuk ilham, taufik, dan bimbingan menuju kebaikan, maka itu hanya diberikan kepada orang-orang yang bertakwa. ==== سُؤَالٌ مَا أَعْظَمُ سَبَبٍ لِلْهِدَايَةِ يَا إِخْوَانِي؟ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سُؤَالٌ ثَانٍ مَا أَعْظَمُ سَبَبٍ لِلثَّبَاتِ عَلَى الْهِدَايَةِ؟ كِتَابُ اللَّهِ القُرْآنُ وَالدَّلِيلُ؟ قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ مَنْ يُكَمِّلُ؟ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ الثَّبَاتُ وَالْهُدَى كُلُّهُ فِي كِتَابِ اللَّهِ يَا إِخْوَانُ فَاحْرِصُوا يَا إِخْوَانُ عَلَى قِرَاءَةِ كِتَابِ اللَّهِ بِتَدَبُّرٍ حَتَّى يَكُونَ سَبَبًا لِهِدَايَتِكُمْ وَسَبَبًا لِثُبُوتِكُمْ عَلَى الْهِدَايَةِ فِي وَقْتٍ كَثُرَتْ فِيهِ الزَّعَازِعُ وَالزَّوَابِعُ وَالمُؤَثِّرَاتُ يَأْتِي كَلَامُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِيَكُونَ أَعْظَمَ سَبَبٍ لِهِدَايَةِ الْبَشَرِ جَمِيعًا حَتَّى الْكُفَّارِ يَا إِخْوَانُ وَتَرَوْنَ أَنْتُمْ يَا إِخْوَانِي فِي مَقَاطِعَ كَافِرٌ يَسْمَعُ كَلَامًا يُتْلَى وَهُوَ لَا يَعْقِلُهُ لَا يَعْرِفُ اللُّغَةَ وَمَعَ ذَلِكَ يَكُونُ سَبَبًا فِي إِسْلَامِهِ وَأَنَا أَذْكُرُ لَكُمْ يَا إِخْوَانِي قِصَّةً ذَكَرَهَا أَحَدُ أَسَاتِذَتِنَا يَرْحَمُهُ اللَّهُ فِي إِحْدَى الْبِلَادِ يَقُولُ كَانَ رَجُلٌ كَبِيرٌ مِنْ كِبَارِ النَّصَارَى وَكَانَ حَلْقَةُ الْوَصْلِ بَيْنَ بَلَدِهِ وَبَيْنَ الْفَاتِيْكَانِ يَتَرَدَّدُ بَيْنَهُمَا وَيُسَمِّيهِ بِاسْمِهِ إِبْرَاهِيمُ أَوْ إِسْحَاقُ أَوْ كَذَا يَذْهَبُ بَيْنَهُمَا يَوْمٌ مِنَ الْأَيَّامِ لَمَّا أَرَادَ اللَّهُ لَهُ الْخَيْرَ نَزَلَ مِنَ الطَّائِرَةِ وَرَكِبَ سَيَّارَةَ تَكْسِي فَسَمِعَ قَارِئًا يَقْرَأُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا أَكْمِلُوا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ الْقُرْآنُ عَجِبَتِ الْجِنُّ مِنَ الْقُرْآنِ لَمَّا سَمِعُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَقَالُوا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ فَعَجِبَ الرَّجُلُ وَسَأَلَ نَفْسَهُ الْجِنُِّ يَعْجَبُونَ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ وَيَهْتَدُونَ بِهِ وَنَحْنُ الْبَشَرُ لَا نَعْجَبُ وَلَا نَهْتَدِي؟ فَكَانَتْ هَذِهِ الْآيَةُ سَبَبًا فِي دُخُولِهِ فِي الْإِسْلَامِ فَاطْلُبُوا الْهِدَايَةَ فِي أَعْظَمِ مَظَانِّهَا وَهُوَ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ أَكْمِلُوا جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا الَّذِينَ يُشَارِكُونَنِي قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ إِلَى كُلِّ مَنْ يَنْشُدُ الْفَرَحَ وَيَطْلُبُ الرَّاحَةَ وَالسَّكِينَةَ وَالطُّمَأْنِينَةَ هِيَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُدًى لِلنَّاسِ هَذَا الْقُرْآنُ هُدًى لِكُلِّ النَّاسِ وَلَكِنْ قَدْ يَقُولُ قَائِلٌ فِي أَوَّلِ السُّورَةِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الم ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ طَيِّبٌ كَيْفَ هُنَا هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ وَهُنَا هُدًى لِلنَّاسِ لِكُلِّ النَّاسِ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا فِي نَوْعَيْ الْهِدَايَةِ فَفِي الدَّلَالَةِ وَالْإِرْشَادِ هِدَايَةٌ لِمَنْ؟ لِكُلِّ النَّاسِ هِدَايَةُ الْإِرْشَادِ وَالدَّلَالَةِ لِكُلِّ النَّاسِ وَأَمَّا هِدَايَةُ الْإِلْهَامِ وَالتَّوْفِيقِ وَالتَّسْدِيدِ فَإِنَّمَا تَكُونُ لِمَنْ؟ لِلْمُتَّقِيْنَ

Jin Saja Takjub Mendengarnya Lalu Dapat Hidayah, Mengapa Manusia Tidak? – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Pertanyaan: Apa sebab terbesar yang mengantarkan seseorang kepada hidayah, wahai saudara-saudaraku? Jawabannya: Kitabullah (al-Quran). Pertanyaan kedua: Apa sebab terbesar untuk bisa teguh di atas hidayah? Jawabannya juga: Kitabullah (al-Quran). Apa dalilnya? Katakanlah (Muhammad), “Malaikat Jibril menurunkannya (al-Quran) dari Tuhanmu dengan kebenaran…” Siapa yang bisa melanjutkan ayatnya? “…untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman, serta menjadi petunjuk dan kabar gembira untuk orang yang beriman.” (QS. an-Nahl: 102). Keteguhan dan hidayah, semuanya ada di dalam al-Quran, wahai saudara-saudaraku. Maka bersungguh-sungguhlah dalam membaca al-Quran dengan penuh perenungan (tadabur), agar ia menjadi sebab hidayah bagi kalian, dan menjadi sebab keteguhan kalian di atas hidayah. Pada zaman yang penuh dengan gejolak, badai pemikiran, dan berbagai godaan, hadirlah firman Allah Yang Maha Agung sebagai sebab terbesar hidayah bagi seluruh manusia. Bahkan bagi orang-orang kafir, wahai saudara-saudara! Kalian sendiri bisa melihat dalam berbagai video singkat: Ada seorang kafir yang mendengar bacaan al-Quran, padahal ia tidak memahami artinya, tapi justru itu menjadi sebab keislamannya. Saya ceritakan sebuah kisah yang dikisahkan oleh seorang guru kami—semoga Allah merahmatinya—tentang peristiwa di sebuah negeri. Beliau bercerita: Dulu ada seorang tokoh besar dari kalangan Nasrani, yang menjadi penghubung antara negerinya dan Vatikan. Ia sering bolak-balik antara kedua tempat itu. Namanya disebutkan—mungkin Ibrahim, Ishaq, atau nama lainnya. Ia menjadi perantara antara dua pihak ini. Suatu hari, ketika Allah menghendaki kebaikan untuknya; ia turun dari pesawat, lalu naik taksi. Lalu ia mendengar seorang qari (pembaca al-Quran) membaca ayat: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Quran).’ Lalu mereka berkata: ‘Kami mendengarkan bacaan al-Quran yang menakjubkan…’” (QS. al-Jinn: 1). Lanjutkan ayatnya! “…yang memberi petunjuk kepada kebenaran.” Yaitu al-Quran. Jin saja merasa takjub dengan al-Quran ketika pertama kali mereka mendengarnya. Mereka pun berkata: “Al-Quran memberi petunjuk kepada kebenaran, sehingga kami beriman kepadanya.” (QS. al-Jinn: 2). Maka orang Nasrani tadi pun terkejut dan bertanya dalam hatinya: “Jin saja takjub dengan firman Allah dan mendapatkan hidayah darinya lalu mengapa kami, manusia, tidak merasa takjub dan tidak mendapatkan hidayah darinya?” Ayat ini menjadi sebab dia masuk Islam. Maka carilah hidayah di tempat yang paling agung—yaitu dalam al-Quran. Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. “Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian pelajaran (al-Quran) dari Tuhan kalian sebagai penyembuh bagi penyakit yang terdapat dalam dada, petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57). Lanjutkan ayat ini! Semoga Allah membalas kebaikan bagi orang yang ikut berpartisipasi. “Katakanlah (Hai Muhammad): ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu hendaklah mereka bergembiraItu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58). Bagi siapa saja yang mencari kebahagiaan, yang mendambakan ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman, maka semua itu ada dalam al-Quran. “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira…” Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia. Al-Quran ini adalah petunjuk bagi seluruh manusia. Mungkin ada yang bertanya-tanya: Pada awal surah al-Baqarah disebutkan: Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. “Alif Laam Miim. Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” Bagaimana mungkin di sini disebutkan: al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa, tapi di ayat lain: petunjuk bagi seluruh manusia? Jawabannya adalah: Ada dua jenis hidayah. Adapun al-Quran sebagai petunjuk dan panduan, maka itu berlaku untuk seluruh manusia. Hidayah panduan dan petunjuk bagi seluruh manusia. Sedangkan hidayah dalam bentuk ilham, taufik, dan bimbingan menuju kebaikan, maka itu hanya diberikan kepada orang-orang yang bertakwa. ==== سُؤَالٌ مَا أَعْظَمُ سَبَبٍ لِلْهِدَايَةِ يَا إِخْوَانِي؟ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سُؤَالٌ ثَانٍ مَا أَعْظَمُ سَبَبٍ لِلثَّبَاتِ عَلَى الْهِدَايَةِ؟ كِتَابُ اللَّهِ القُرْآنُ وَالدَّلِيلُ؟ قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ مَنْ يُكَمِّلُ؟ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ الثَّبَاتُ وَالْهُدَى كُلُّهُ فِي كِتَابِ اللَّهِ يَا إِخْوَانُ فَاحْرِصُوا يَا إِخْوَانُ عَلَى قِرَاءَةِ كِتَابِ اللَّهِ بِتَدَبُّرٍ حَتَّى يَكُونَ سَبَبًا لِهِدَايَتِكُمْ وَسَبَبًا لِثُبُوتِكُمْ عَلَى الْهِدَايَةِ فِي وَقْتٍ كَثُرَتْ فِيهِ الزَّعَازِعُ وَالزَّوَابِعُ وَالمُؤَثِّرَاتُ يَأْتِي كَلَامُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِيَكُونَ أَعْظَمَ سَبَبٍ لِهِدَايَةِ الْبَشَرِ جَمِيعًا حَتَّى الْكُفَّارِ يَا إِخْوَانُ وَتَرَوْنَ أَنْتُمْ يَا إِخْوَانِي فِي مَقَاطِعَ كَافِرٌ يَسْمَعُ كَلَامًا يُتْلَى وَهُوَ لَا يَعْقِلُهُ لَا يَعْرِفُ اللُّغَةَ وَمَعَ ذَلِكَ يَكُونُ سَبَبًا فِي إِسْلَامِهِ وَأَنَا أَذْكُرُ لَكُمْ يَا إِخْوَانِي قِصَّةً ذَكَرَهَا أَحَدُ أَسَاتِذَتِنَا يَرْحَمُهُ اللَّهُ فِي إِحْدَى الْبِلَادِ يَقُولُ كَانَ رَجُلٌ كَبِيرٌ مِنْ كِبَارِ النَّصَارَى وَكَانَ حَلْقَةُ الْوَصْلِ بَيْنَ بَلَدِهِ وَبَيْنَ الْفَاتِيْكَانِ يَتَرَدَّدُ بَيْنَهُمَا وَيُسَمِّيهِ بِاسْمِهِ إِبْرَاهِيمُ أَوْ إِسْحَاقُ أَوْ كَذَا يَذْهَبُ بَيْنَهُمَا يَوْمٌ مِنَ الْأَيَّامِ لَمَّا أَرَادَ اللَّهُ لَهُ الْخَيْرَ نَزَلَ مِنَ الطَّائِرَةِ وَرَكِبَ سَيَّارَةَ تَكْسِي فَسَمِعَ قَارِئًا يَقْرَأُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا أَكْمِلُوا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ الْقُرْآنُ عَجِبَتِ الْجِنُّ مِنَ الْقُرْآنِ لَمَّا سَمِعُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَقَالُوا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ فَعَجِبَ الرَّجُلُ وَسَأَلَ نَفْسَهُ الْجِنُِّ يَعْجَبُونَ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ وَيَهْتَدُونَ بِهِ وَنَحْنُ الْبَشَرُ لَا نَعْجَبُ وَلَا نَهْتَدِي؟ فَكَانَتْ هَذِهِ الْآيَةُ سَبَبًا فِي دُخُولِهِ فِي الْإِسْلَامِ فَاطْلُبُوا الْهِدَايَةَ فِي أَعْظَمِ مَظَانِّهَا وَهُوَ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ أَكْمِلُوا جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا الَّذِينَ يُشَارِكُونَنِي قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ إِلَى كُلِّ مَنْ يَنْشُدُ الْفَرَحَ وَيَطْلُبُ الرَّاحَةَ وَالسَّكِينَةَ وَالطُّمَأْنِينَةَ هِيَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُدًى لِلنَّاسِ هَذَا الْقُرْآنُ هُدًى لِكُلِّ النَّاسِ وَلَكِنْ قَدْ يَقُولُ قَائِلٌ فِي أَوَّلِ السُّورَةِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الم ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ طَيِّبٌ كَيْفَ هُنَا هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ وَهُنَا هُدًى لِلنَّاسِ لِكُلِّ النَّاسِ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا فِي نَوْعَيْ الْهِدَايَةِ فَفِي الدَّلَالَةِ وَالْإِرْشَادِ هِدَايَةٌ لِمَنْ؟ لِكُلِّ النَّاسِ هِدَايَةُ الْإِرْشَادِ وَالدَّلَالَةِ لِكُلِّ النَّاسِ وَأَمَّا هِدَايَةُ الْإِلْهَامِ وَالتَّوْفِيقِ وَالتَّسْدِيدِ فَإِنَّمَا تَكُونُ لِمَنْ؟ لِلْمُتَّقِيْنَ
Pertanyaan: Apa sebab terbesar yang mengantarkan seseorang kepada hidayah, wahai saudara-saudaraku? Jawabannya: Kitabullah (al-Quran). Pertanyaan kedua: Apa sebab terbesar untuk bisa teguh di atas hidayah? Jawabannya juga: Kitabullah (al-Quran). Apa dalilnya? Katakanlah (Muhammad), “Malaikat Jibril menurunkannya (al-Quran) dari Tuhanmu dengan kebenaran…” Siapa yang bisa melanjutkan ayatnya? “…untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman, serta menjadi petunjuk dan kabar gembira untuk orang yang beriman.” (QS. an-Nahl: 102). Keteguhan dan hidayah, semuanya ada di dalam al-Quran, wahai saudara-saudaraku. Maka bersungguh-sungguhlah dalam membaca al-Quran dengan penuh perenungan (tadabur), agar ia menjadi sebab hidayah bagi kalian, dan menjadi sebab keteguhan kalian di atas hidayah. Pada zaman yang penuh dengan gejolak, badai pemikiran, dan berbagai godaan, hadirlah firman Allah Yang Maha Agung sebagai sebab terbesar hidayah bagi seluruh manusia. Bahkan bagi orang-orang kafir, wahai saudara-saudara! Kalian sendiri bisa melihat dalam berbagai video singkat: Ada seorang kafir yang mendengar bacaan al-Quran, padahal ia tidak memahami artinya, tapi justru itu menjadi sebab keislamannya. Saya ceritakan sebuah kisah yang dikisahkan oleh seorang guru kami—semoga Allah merahmatinya—tentang peristiwa di sebuah negeri. Beliau bercerita: Dulu ada seorang tokoh besar dari kalangan Nasrani, yang menjadi penghubung antara negerinya dan Vatikan. Ia sering bolak-balik antara kedua tempat itu. Namanya disebutkan—mungkin Ibrahim, Ishaq, atau nama lainnya. Ia menjadi perantara antara dua pihak ini. Suatu hari, ketika Allah menghendaki kebaikan untuknya; ia turun dari pesawat, lalu naik taksi. Lalu ia mendengar seorang qari (pembaca al-Quran) membaca ayat: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Quran).’ Lalu mereka berkata: ‘Kami mendengarkan bacaan al-Quran yang menakjubkan…’” (QS. al-Jinn: 1). Lanjutkan ayatnya! “…yang memberi petunjuk kepada kebenaran.” Yaitu al-Quran. Jin saja merasa takjub dengan al-Quran ketika pertama kali mereka mendengarnya. Mereka pun berkata: “Al-Quran memberi petunjuk kepada kebenaran, sehingga kami beriman kepadanya.” (QS. al-Jinn: 2). Maka orang Nasrani tadi pun terkejut dan bertanya dalam hatinya: “Jin saja takjub dengan firman Allah dan mendapatkan hidayah darinya lalu mengapa kami, manusia, tidak merasa takjub dan tidak mendapatkan hidayah darinya?” Ayat ini menjadi sebab dia masuk Islam. Maka carilah hidayah di tempat yang paling agung—yaitu dalam al-Quran. Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. “Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian pelajaran (al-Quran) dari Tuhan kalian sebagai penyembuh bagi penyakit yang terdapat dalam dada, petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57). Lanjutkan ayat ini! Semoga Allah membalas kebaikan bagi orang yang ikut berpartisipasi. “Katakanlah (Hai Muhammad): ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu hendaklah mereka bergembiraItu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58). Bagi siapa saja yang mencari kebahagiaan, yang mendambakan ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman, maka semua itu ada dalam al-Quran. “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira…” Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia. Al-Quran ini adalah petunjuk bagi seluruh manusia. Mungkin ada yang bertanya-tanya: Pada awal surah al-Baqarah disebutkan: Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. “Alif Laam Miim. Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” Bagaimana mungkin di sini disebutkan: al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa, tapi di ayat lain: petunjuk bagi seluruh manusia? Jawabannya adalah: Ada dua jenis hidayah. Adapun al-Quran sebagai petunjuk dan panduan, maka itu berlaku untuk seluruh manusia. Hidayah panduan dan petunjuk bagi seluruh manusia. Sedangkan hidayah dalam bentuk ilham, taufik, dan bimbingan menuju kebaikan, maka itu hanya diberikan kepada orang-orang yang bertakwa. ==== سُؤَالٌ مَا أَعْظَمُ سَبَبٍ لِلْهِدَايَةِ يَا إِخْوَانِي؟ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سُؤَالٌ ثَانٍ مَا أَعْظَمُ سَبَبٍ لِلثَّبَاتِ عَلَى الْهِدَايَةِ؟ كِتَابُ اللَّهِ القُرْآنُ وَالدَّلِيلُ؟ قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ مَنْ يُكَمِّلُ؟ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ الثَّبَاتُ وَالْهُدَى كُلُّهُ فِي كِتَابِ اللَّهِ يَا إِخْوَانُ فَاحْرِصُوا يَا إِخْوَانُ عَلَى قِرَاءَةِ كِتَابِ اللَّهِ بِتَدَبُّرٍ حَتَّى يَكُونَ سَبَبًا لِهِدَايَتِكُمْ وَسَبَبًا لِثُبُوتِكُمْ عَلَى الْهِدَايَةِ فِي وَقْتٍ كَثُرَتْ فِيهِ الزَّعَازِعُ وَالزَّوَابِعُ وَالمُؤَثِّرَاتُ يَأْتِي كَلَامُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِيَكُونَ أَعْظَمَ سَبَبٍ لِهِدَايَةِ الْبَشَرِ جَمِيعًا حَتَّى الْكُفَّارِ يَا إِخْوَانُ وَتَرَوْنَ أَنْتُمْ يَا إِخْوَانِي فِي مَقَاطِعَ كَافِرٌ يَسْمَعُ كَلَامًا يُتْلَى وَهُوَ لَا يَعْقِلُهُ لَا يَعْرِفُ اللُّغَةَ وَمَعَ ذَلِكَ يَكُونُ سَبَبًا فِي إِسْلَامِهِ وَأَنَا أَذْكُرُ لَكُمْ يَا إِخْوَانِي قِصَّةً ذَكَرَهَا أَحَدُ أَسَاتِذَتِنَا يَرْحَمُهُ اللَّهُ فِي إِحْدَى الْبِلَادِ يَقُولُ كَانَ رَجُلٌ كَبِيرٌ مِنْ كِبَارِ النَّصَارَى وَكَانَ حَلْقَةُ الْوَصْلِ بَيْنَ بَلَدِهِ وَبَيْنَ الْفَاتِيْكَانِ يَتَرَدَّدُ بَيْنَهُمَا وَيُسَمِّيهِ بِاسْمِهِ إِبْرَاهِيمُ أَوْ إِسْحَاقُ أَوْ كَذَا يَذْهَبُ بَيْنَهُمَا يَوْمٌ مِنَ الْأَيَّامِ لَمَّا أَرَادَ اللَّهُ لَهُ الْخَيْرَ نَزَلَ مِنَ الطَّائِرَةِ وَرَكِبَ سَيَّارَةَ تَكْسِي فَسَمِعَ قَارِئًا يَقْرَأُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا أَكْمِلُوا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ الْقُرْآنُ عَجِبَتِ الْجِنُّ مِنَ الْقُرْآنِ لَمَّا سَمِعُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَقَالُوا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ فَعَجِبَ الرَّجُلُ وَسَأَلَ نَفْسَهُ الْجِنُِّ يَعْجَبُونَ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ وَيَهْتَدُونَ بِهِ وَنَحْنُ الْبَشَرُ لَا نَعْجَبُ وَلَا نَهْتَدِي؟ فَكَانَتْ هَذِهِ الْآيَةُ سَبَبًا فِي دُخُولِهِ فِي الْإِسْلَامِ فَاطْلُبُوا الْهِدَايَةَ فِي أَعْظَمِ مَظَانِّهَا وَهُوَ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ أَكْمِلُوا جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا الَّذِينَ يُشَارِكُونَنِي قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ إِلَى كُلِّ مَنْ يَنْشُدُ الْفَرَحَ وَيَطْلُبُ الرَّاحَةَ وَالسَّكِينَةَ وَالطُّمَأْنِينَةَ هِيَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُدًى لِلنَّاسِ هَذَا الْقُرْآنُ هُدًى لِكُلِّ النَّاسِ وَلَكِنْ قَدْ يَقُولُ قَائِلٌ فِي أَوَّلِ السُّورَةِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الم ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ طَيِّبٌ كَيْفَ هُنَا هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ وَهُنَا هُدًى لِلنَّاسِ لِكُلِّ النَّاسِ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا فِي نَوْعَيْ الْهِدَايَةِ فَفِي الدَّلَالَةِ وَالْإِرْشَادِ هِدَايَةٌ لِمَنْ؟ لِكُلِّ النَّاسِ هِدَايَةُ الْإِرْشَادِ وَالدَّلَالَةِ لِكُلِّ النَّاسِ وَأَمَّا هِدَايَةُ الْإِلْهَامِ وَالتَّوْفِيقِ وَالتَّسْدِيدِ فَإِنَّمَا تَكُونُ لِمَنْ؟ لِلْمُتَّقِيْنَ


Pertanyaan: Apa sebab terbesar yang mengantarkan seseorang kepada hidayah, wahai saudara-saudaraku? Jawabannya: Kitabullah (al-Quran). Pertanyaan kedua: Apa sebab terbesar untuk bisa teguh di atas hidayah? Jawabannya juga: Kitabullah (al-Quran). Apa dalilnya? Katakanlah (Muhammad), “Malaikat Jibril menurunkannya (al-Quran) dari Tuhanmu dengan kebenaran…” Siapa yang bisa melanjutkan ayatnya? “…untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman, serta menjadi petunjuk dan kabar gembira untuk orang yang beriman.” (QS. an-Nahl: 102). Keteguhan dan hidayah, semuanya ada di dalam al-Quran, wahai saudara-saudaraku. Maka bersungguh-sungguhlah dalam membaca al-Quran dengan penuh perenungan (tadabur), agar ia menjadi sebab hidayah bagi kalian, dan menjadi sebab keteguhan kalian di atas hidayah. Pada zaman yang penuh dengan gejolak, badai pemikiran, dan berbagai godaan, hadirlah firman Allah Yang Maha Agung sebagai sebab terbesar hidayah bagi seluruh manusia. Bahkan bagi orang-orang kafir, wahai saudara-saudara! Kalian sendiri bisa melihat dalam berbagai video singkat: Ada seorang kafir yang mendengar bacaan al-Quran, padahal ia tidak memahami artinya, tapi justru itu menjadi sebab keislamannya. Saya ceritakan sebuah kisah yang dikisahkan oleh seorang guru kami—semoga Allah merahmatinya—tentang peristiwa di sebuah negeri. Beliau bercerita: Dulu ada seorang tokoh besar dari kalangan Nasrani, yang menjadi penghubung antara negerinya dan Vatikan. Ia sering bolak-balik antara kedua tempat itu. Namanya disebutkan—mungkin Ibrahim, Ishaq, atau nama lainnya. Ia menjadi perantara antara dua pihak ini. Suatu hari, ketika Allah menghendaki kebaikan untuknya; ia turun dari pesawat, lalu naik taksi. Lalu ia mendengar seorang qari (pembaca al-Quran) membaca ayat: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Quran).’ Lalu mereka berkata: ‘Kami mendengarkan bacaan al-Quran yang menakjubkan…’” (QS. al-Jinn: 1). Lanjutkan ayatnya! “…yang memberi petunjuk kepada kebenaran.” Yaitu al-Quran. Jin saja merasa takjub dengan al-Quran ketika pertama kali mereka mendengarnya. Mereka pun berkata: “Al-Quran memberi petunjuk kepada kebenaran, sehingga kami beriman kepadanya.” (QS. al-Jinn: 2). Maka orang Nasrani tadi pun terkejut dan bertanya dalam hatinya: “Jin saja takjub dengan firman Allah dan mendapatkan hidayah darinya lalu mengapa kami, manusia, tidak merasa takjub dan tidak mendapatkan hidayah darinya?” Ayat ini menjadi sebab dia masuk Islam. Maka carilah hidayah di tempat yang paling agung—yaitu dalam al-Quran. Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. “Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian pelajaran (al-Quran) dari Tuhan kalian sebagai penyembuh bagi penyakit yang terdapat dalam dada, petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57). Lanjutkan ayat ini! Semoga Allah membalas kebaikan bagi orang yang ikut berpartisipasi. “Katakanlah (Hai Muhammad): ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu hendaklah mereka bergembiraItu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58). Bagi siapa saja yang mencari kebahagiaan, yang mendambakan ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman, maka semua itu ada dalam al-Quran. “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira…” Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia. Al-Quran ini adalah petunjuk bagi seluruh manusia. Mungkin ada yang bertanya-tanya: Pada awal surah al-Baqarah disebutkan: Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. “Alif Laam Miim. Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” Bagaimana mungkin di sini disebutkan: al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa, tapi di ayat lain: petunjuk bagi seluruh manusia? Jawabannya adalah: Ada dua jenis hidayah. Adapun al-Quran sebagai petunjuk dan panduan, maka itu berlaku untuk seluruh manusia. Hidayah panduan dan petunjuk bagi seluruh manusia. Sedangkan hidayah dalam bentuk ilham, taufik, dan bimbingan menuju kebaikan, maka itu hanya diberikan kepada orang-orang yang bertakwa. ==== سُؤَالٌ مَا أَعْظَمُ سَبَبٍ لِلْهِدَايَةِ يَا إِخْوَانِي؟ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سُؤَالٌ ثَانٍ مَا أَعْظَمُ سَبَبٍ لِلثَّبَاتِ عَلَى الْهِدَايَةِ؟ كِتَابُ اللَّهِ القُرْآنُ وَالدَّلِيلُ؟ قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ مَنْ يُكَمِّلُ؟ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ الثَّبَاتُ وَالْهُدَى كُلُّهُ فِي كِتَابِ اللَّهِ يَا إِخْوَانُ فَاحْرِصُوا يَا إِخْوَانُ عَلَى قِرَاءَةِ كِتَابِ اللَّهِ بِتَدَبُّرٍ حَتَّى يَكُونَ سَبَبًا لِهِدَايَتِكُمْ وَسَبَبًا لِثُبُوتِكُمْ عَلَى الْهِدَايَةِ فِي وَقْتٍ كَثُرَتْ فِيهِ الزَّعَازِعُ وَالزَّوَابِعُ وَالمُؤَثِّرَاتُ يَأْتِي كَلَامُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِيَكُونَ أَعْظَمَ سَبَبٍ لِهِدَايَةِ الْبَشَرِ جَمِيعًا حَتَّى الْكُفَّارِ يَا إِخْوَانُ وَتَرَوْنَ أَنْتُمْ يَا إِخْوَانِي فِي مَقَاطِعَ كَافِرٌ يَسْمَعُ كَلَامًا يُتْلَى وَهُوَ لَا يَعْقِلُهُ لَا يَعْرِفُ اللُّغَةَ وَمَعَ ذَلِكَ يَكُونُ سَبَبًا فِي إِسْلَامِهِ وَأَنَا أَذْكُرُ لَكُمْ يَا إِخْوَانِي قِصَّةً ذَكَرَهَا أَحَدُ أَسَاتِذَتِنَا يَرْحَمُهُ اللَّهُ فِي إِحْدَى الْبِلَادِ يَقُولُ كَانَ رَجُلٌ كَبِيرٌ مِنْ كِبَارِ النَّصَارَى وَكَانَ حَلْقَةُ الْوَصْلِ بَيْنَ بَلَدِهِ وَبَيْنَ الْفَاتِيْكَانِ يَتَرَدَّدُ بَيْنَهُمَا وَيُسَمِّيهِ بِاسْمِهِ إِبْرَاهِيمُ أَوْ إِسْحَاقُ أَوْ كَذَا يَذْهَبُ بَيْنَهُمَا يَوْمٌ مِنَ الْأَيَّامِ لَمَّا أَرَادَ اللَّهُ لَهُ الْخَيْرَ نَزَلَ مِنَ الطَّائِرَةِ وَرَكِبَ سَيَّارَةَ تَكْسِي فَسَمِعَ قَارِئًا يَقْرَأُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا أَكْمِلُوا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ الْقُرْآنُ عَجِبَتِ الْجِنُّ مِنَ الْقُرْآنِ لَمَّا سَمِعُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَقَالُوا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ فَعَجِبَ الرَّجُلُ وَسَأَلَ نَفْسَهُ الْجِنُِّ يَعْجَبُونَ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ وَيَهْتَدُونَ بِهِ وَنَحْنُ الْبَشَرُ لَا نَعْجَبُ وَلَا نَهْتَدِي؟ فَكَانَتْ هَذِهِ الْآيَةُ سَبَبًا فِي دُخُولِهِ فِي الْإِسْلَامِ فَاطْلُبُوا الْهِدَايَةَ فِي أَعْظَمِ مَظَانِّهَا وَهُوَ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ أَكْمِلُوا جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا الَّذِينَ يُشَارِكُونَنِي قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ إِلَى كُلِّ مَنْ يَنْشُدُ الْفَرَحَ وَيَطْلُبُ الرَّاحَةَ وَالسَّكِينَةَ وَالطُّمَأْنِينَةَ هِيَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُدًى لِلنَّاسِ هَذَا الْقُرْآنُ هُدًى لِكُلِّ النَّاسِ وَلَكِنْ قَدْ يَقُولُ قَائِلٌ فِي أَوَّلِ السُّورَةِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الم ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ طَيِّبٌ كَيْفَ هُنَا هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ وَهُنَا هُدًى لِلنَّاسِ لِكُلِّ النَّاسِ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا فِي نَوْعَيْ الْهِدَايَةِ فَفِي الدَّلَالَةِ وَالْإِرْشَادِ هِدَايَةٌ لِمَنْ؟ لِكُلِّ النَّاسِ هِدَايَةُ الْإِرْشَادِ وَالدَّلَالَةِ لِكُلِّ النَّاسِ وَأَمَّا هِدَايَةُ الْإِلْهَامِ وَالتَّوْفِيقِ وَالتَّسْدِيدِ فَإِنَّمَا تَكُونُ لِمَنْ؟ لِلْمُتَّقِيْنَ

Hadis: Hierarki dan Dimensi Keimanan

Daftar Isi Toggle Dimensi hati (batin) dan lisan (ucapan)Dimensi perbuatan (zahir)Dimensi hati (batin) Di antara hal yang diyakini oleh ahli sunah waljamaah -yang berpegang dan berpedoman utama dalam beragama pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dengan jalan yang dilalui para salaf saleh terdahulu- adalah bahwa keimanan seorang hamba itu dinamis dan tidak statis, selalu mengalami fluktuasi naik-turun, bertambah-berkurang, bahkan keimanan memiliki hierarki amalan-amalan, dan hal ini sudah menjadi suatu keharusan untuk dipahami dengan betul dalam pembahasan iman karena inilah yang dibawakan oleh Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang menjadi landasan pemahaman ini adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia bersabda, الإِيمانُ بضْعٌ وسَبْعُونَ، أوْ بضْعٌ وسِتُّونَ، شُعْبَةً، فأفْضَلُها قَوْلُ لا إلَهَ إلّا اللَّهُ، وأَدْناها إماطَةُ الأذى عَنِ الطَّرِيقِ، والْحَياءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمانِ “Iman memiliki beberapa cabang (tingkatan) sejumlah tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Lailahaillallah’ (tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah), sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan bahaya dari jalan. Selain itu, rasa malu (al-haya’) merupakan salah satu cabang iman.” (HR. Muslim no. 35) Mari kita bedah hadis ini. Jumlah cabang bagian dan tingkatan iman berdasarkan hadis adalah tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian bukanlah suatu permasalahan yang harus didalami lebih daripada substansi hadisnya. Karena substansi hadis di atas adalah bahwa iman tidaklah berada pada satu tingkatan dan aspek saja, bahkan antara seorang yang beriman dengan orang beriman lainnya ada perbedaan kualitas dan tingkat keimanan. Untuk itu, fokus yang akan dibahas di sini adalah terkait hierarki dalam keimanan yang mencakup aspek multi dimensi. Mengambil contoh yang disuratkan dalam nash hadis, bahwa dari yang tujuh puluh atau enam puluh sekian cabang tingkatan itu, ada tiga tingkatan keimanan yang disebutkan, yaitu: Pertama: Tingkat tertinggi adalah Ucapan “La ilaha illallah” (tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah); Kedua: Tingkat terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan; dan Ketiga: Rasa malu sebagai salah satu cabang yang tentunya berada di bawah ucapan “La ilaha illallah” dan di atas menyingkirkan gangguan dari jalan. Tiap-tiap dari tingkatan yang disebutkan itu meliputi suatu dimensi keimanan, dan ini termasuk salah satu kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu perkataannya, yang kemudian diriwayatkan menjadi sebuah hadis, memiliki lafaz yang pendek, ringan, tetapi maknanya mendalam, singkat, padat, berisi, dan sudah cukup mewakili. Dimensi hati (batin) dan lisan (ucapan) Diwakili oleh cabang tingkat teratas dalam hierarki keimanan, yaitu ucapan “Lailahaillallah”. Perkataan (al-qaul) jika disebutkan, maka ia pada dasarnya mencakup dua hal: keyakinan batin yang terpatri dalam hati dan pengucapan oleh lisan secara verbal. Kedua dimensi inilah yang tercakup dalam pemaknaan ucapan “Lailahaillallah”. Titel kalimat tauhid ini sebagai cabang tertinggi dalam hierarki keimanan menyiratkan bahwa hal-hal lain dalam agama ini dari ibadah dan lainnya pun termasuk ke dalam kategori “iman” dengan posisi di bawah “Lailahaillallah”. Kalimat ini tentunya dipenuhi dengan keberkahan dan banyak sekali keutamaan yang bisa menjadi sebuah pembahasan panjang jika diulik lebih dalam, tetapi mari kita sebutkan beberapa di antaranya, seperti: Pertama: Bahwa para rasul ‘alaihimussalam membuka dakwah mereka dengan kalimat ini. Allah Ta’ala berfirman, وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah dengan hak) selain Aku, maka sembahlah Aku!’” (QS. Al-Anbiya: 25) Senada dengan ini, Kedua: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadisnya pernah menyampaikan bahwa kalimat tauhid inilah, kalimat paling utama yang pernah ia shallallahu ‘alaihi wasallam dan para rasul sebelumnya ucapkan. Sebagaimana hadis dari Nabi yang diriwayatkan oleh Sahabat Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, أفضَلُ ما قُلْتُ أنا والنبيُّونَ من قَبْلي: لا إلهَ إلّا اللهُ “Hal paling agung yang pernah aku dan para nabi terdahulu ucapkan adalah, ‘La ilaha illallah’.” (Hasan, diriwayatkan oleh Malik no. 726, Abdurrazzaq no. 8125, dan Baihaqi no. 8464) Ketiga: Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, أفضلُ الذِّكرِ لا إلهَ إلّا اللهُ وأفضَلُ الدُّعاءِ الحمدُ للهِ “Zikir yang paling utama adalah ‘Lailahaillallah’ dan doa yang paling utama adalah ‘alhamdulillah’.” (HR. Ibnu Hibban no. 846 dalam “Shahih”-nya, Tirmidzi no. 3383, Ibnu Majah no. 3800, dan Hakim no. 1834) Keempat: Hadis yang disebutkan di awal pun sudah cukup menunjukkan betapa kalimat tauhid ini punya keutamaan yang besar, ditunjukkan oleh Nabi dengan disebutkannya dan ditempatkannya di cabang tertinggi dalam hierarki keimanan. Hal ini juga menunjukkan bahwa perhatian terhadap tauhid, terkhusus pemahaman, pemaknaan, dan pengamalannya sudah sepatutnya diposisikan dalam prioritas tinggi dibandingkan amalan dan perkara agama yang selainnya. Baca juga: Membangun Kokohnya Iman dan Amal Dimensi perbuatan (zahir) Kalau ada cabang tingkat teratas dan paling utama, berarti ada pula yang paling bawah dan ringannya. Dalam hal ini adalah “menyingkirkan gangguan dari jalan” yang mewakili dimensi perbuatan atau amalan zahir yang termasuk ke dalam cakupan keimanan. Disebutkannya poin ini menunjukan bahwa iman itu bukan hanya keyakinan saja, atau bukan hanya ucapan di lisan saja, tetapi juga ada amalan-amalan zahir yang dilakukan oleh anggota tubuh yang termasuk dalam iman. “Menyingkirkan gangguan dari jalan” juga memiliki hikmah berupa anjuran dan urgensi berbuat kebaikan kepada sesama hamba Allah dengan bagaimanapun bentuk kebaikannya, semudah dan sebisa yang dapat dilakukan. Seperti menyingkirkan gangguan yang terkesan remeh dan ringan, terlebih bukan suatu amalan yang bersifat ritual keagamaan, tetapi justru sesuatu yang remeh dan ringan itu mendapat posisi dalam cabang keimanan dan berarti memiliki nilai kemuliaan tersendiri di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu saja dengan catatan kebaikan yang tetap tidak menyelisihi syariat. Mengapa yang disebutkan dalam hadis adalah “menyingkirkan gangguan dari jalan”? Beberapa poin yang mungkin bisa menjawab di antaranya, Pertama: Mewakili dimensi amalan bil jawarih (dengan anggota tubuh) atau zahir, Kedua: Karena ini adalah amalan remeh dan ringan di mata manusia, tetapi bernilai di sisi Allah, Ketiga: Karena tidak semua orang bisa melakukan ini. Setidaknya ada tiga tipe orang yang berkaitan dengan gangguan di jalan, yaitu: 1) Orang yang menaruh atau membuat gangguan di jalan, 2) Orang yang membiarkan saja gangguan yang ada di jalan, dan 3) Orang yang menyingkirkan gangguan yang ada di jalan, dan tipe inilah yang mendapat predikat kemuliaan. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan hadis lain yang senada dengan pembahasan ini, بيْنَما رَجُلٌ يَمْشِي بطَرِيقٍ، وجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ على الطَّرِيقِ، فأخَذَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ له، فَغَفَرَ له. “Suatu ketika seorang lelaki sedang berjalan dan menemukan sebatang ranting berduri. Ia lalu mengambilnya, dan Allah pun menyambut perbuatannya dengan syukur dan mengampuni segala dosanya.” (HR. Bukhari no. 2472 dalam “Shahih”-nya dan Muslim no. 1914) Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan bahwa kemudian Allah memasukkan orang tersebut ke dalam surga. Jika hanya sekadar menyingkirkan gangguan dari jalan saja sudah termasuk ke dalam cakupan cabang keimanan dan bahkan bisa menjadi sebab diampuninya dosa sampai pada akhirnya dimasukkan ke dalam surga, bagaimana dengan amalan-amalan lain yang bersifat ritual dan telah jelas anjuran ataupun perintahnya serta tata cara dan keutamaannya? Tentu saja lebih utama. Ini berarti bahwa perbuatan dan amalan zahir juga termasuk ke dalam iman. Dimensi hati (batin) Hal lain yang termasuk ke dalam keimanan dan berada dalam cabang tingkatan keimanan adalah rasa malu yang mewakili dimensi hati (batin) dan posisinya antara kalimat tauhid dan menyingkirkan gangguan dari jalan. Disebutkannya rasa malu (al-haya’) sebagai salah satu cabang keimanan menunjukkan bahwa rasa malu adalah bagian penting dari keimanan, khususnya dalam ranah batin. Ketika tertanam kuat dalam hati, maka ia akan berfungsi sebagai penghalang dari perbuatan tercela dan pendorong untuk melakukan kebaikan. Jika sifat ini hilang, seseorang tidak lagi memiliki batasan moral dan menjadi rentan terhadap segala bentuk keburukan. Inilah hal yang perlu digarisbawahi dalam perkara malu serta korelasinya dengan iman, bahwa hilangnya rasa malu adalah awal dari kehancuran moral, selaras dengan nasihat kenabian terdahulu dalam hadis yang diriwayatkan dari sahabat Uqbah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّ ممّا أدْرَكَ النّاسُ مِن كَلامِ النُّبُوَّةِ الأُولى: إذا لَمْ تَسْتَحْيِ فاصْنَعْ ما شِئْتَ “Sesungguhnya salah satu warisan ucapan kenabian terdahulu yang masih dijumpai manusia adalah ‘Jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka silakan lakukan apa saja yang engkau mau.’” Pembahasan tentang cabang, tingkatan, atau hierarki keimanan adalah hal yang sangat krusial untuk diketahui setiap muslim. Bahwa iman memiliki tingkatan, sehingga tidak sama antara satu hal yang memiliki nilai keimanan dengan hal lainnya. Bahwa iman adalah keyakinan multidimensi, mencakup dimensi hati, lisan, dan anggota tubuh. Bahwa iman seseorang bisa mengalami pasang-surut, bertambah-berkurang, sehingga harus selalu dijaga dan tidak ditinggalkan begitu saja. Seorang sahabat bernama Umair bin Habib Al-Khathmi radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Iman itu dapat bertambah (menguat) dan berkurang (melemah).” Ia kemudian melanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari seseorang tentang bagaimana iman bertambah dan berkurang, “Saat kami terus-menerus mengingat Allah, memuji, dan mensucikan-Nya, betapa iman kami tumbuh. Namun, ketika kami terjerumus dalam kelengahan dan kelalaian, iman kami pun surut.” Keimanan sebagai realitas spiritual setiap muslim, kestabilannya sangat dipengaruhi oleh usahanya menjaga hati, pikiran, dan amal tetap terpaut kepada Allah.[1] Sekian, wallahu a’lam bis-shawab. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad. Baca juga: Letak Pentingnya Tauhid dan Keimanan *** Penulis: Abdurrahman Waridi Sarpad Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Disadur dari: Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, Ahadits Al-Iman, hal. 51-58.

Hadis: Hierarki dan Dimensi Keimanan

Daftar Isi Toggle Dimensi hati (batin) dan lisan (ucapan)Dimensi perbuatan (zahir)Dimensi hati (batin) Di antara hal yang diyakini oleh ahli sunah waljamaah -yang berpegang dan berpedoman utama dalam beragama pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dengan jalan yang dilalui para salaf saleh terdahulu- adalah bahwa keimanan seorang hamba itu dinamis dan tidak statis, selalu mengalami fluktuasi naik-turun, bertambah-berkurang, bahkan keimanan memiliki hierarki amalan-amalan, dan hal ini sudah menjadi suatu keharusan untuk dipahami dengan betul dalam pembahasan iman karena inilah yang dibawakan oleh Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang menjadi landasan pemahaman ini adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia bersabda, الإِيمانُ بضْعٌ وسَبْعُونَ، أوْ بضْعٌ وسِتُّونَ، شُعْبَةً، فأفْضَلُها قَوْلُ لا إلَهَ إلّا اللَّهُ، وأَدْناها إماطَةُ الأذى عَنِ الطَّرِيقِ، والْحَياءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمانِ “Iman memiliki beberapa cabang (tingkatan) sejumlah tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Lailahaillallah’ (tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah), sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan bahaya dari jalan. Selain itu, rasa malu (al-haya’) merupakan salah satu cabang iman.” (HR. Muslim no. 35) Mari kita bedah hadis ini. Jumlah cabang bagian dan tingkatan iman berdasarkan hadis adalah tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian bukanlah suatu permasalahan yang harus didalami lebih daripada substansi hadisnya. Karena substansi hadis di atas adalah bahwa iman tidaklah berada pada satu tingkatan dan aspek saja, bahkan antara seorang yang beriman dengan orang beriman lainnya ada perbedaan kualitas dan tingkat keimanan. Untuk itu, fokus yang akan dibahas di sini adalah terkait hierarki dalam keimanan yang mencakup aspek multi dimensi. Mengambil contoh yang disuratkan dalam nash hadis, bahwa dari yang tujuh puluh atau enam puluh sekian cabang tingkatan itu, ada tiga tingkatan keimanan yang disebutkan, yaitu: Pertama: Tingkat tertinggi adalah Ucapan “La ilaha illallah” (tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah); Kedua: Tingkat terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan; dan Ketiga: Rasa malu sebagai salah satu cabang yang tentunya berada di bawah ucapan “La ilaha illallah” dan di atas menyingkirkan gangguan dari jalan. Tiap-tiap dari tingkatan yang disebutkan itu meliputi suatu dimensi keimanan, dan ini termasuk salah satu kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu perkataannya, yang kemudian diriwayatkan menjadi sebuah hadis, memiliki lafaz yang pendek, ringan, tetapi maknanya mendalam, singkat, padat, berisi, dan sudah cukup mewakili. Dimensi hati (batin) dan lisan (ucapan) Diwakili oleh cabang tingkat teratas dalam hierarki keimanan, yaitu ucapan “Lailahaillallah”. Perkataan (al-qaul) jika disebutkan, maka ia pada dasarnya mencakup dua hal: keyakinan batin yang terpatri dalam hati dan pengucapan oleh lisan secara verbal. Kedua dimensi inilah yang tercakup dalam pemaknaan ucapan “Lailahaillallah”. Titel kalimat tauhid ini sebagai cabang tertinggi dalam hierarki keimanan menyiratkan bahwa hal-hal lain dalam agama ini dari ibadah dan lainnya pun termasuk ke dalam kategori “iman” dengan posisi di bawah “Lailahaillallah”. Kalimat ini tentunya dipenuhi dengan keberkahan dan banyak sekali keutamaan yang bisa menjadi sebuah pembahasan panjang jika diulik lebih dalam, tetapi mari kita sebutkan beberapa di antaranya, seperti: Pertama: Bahwa para rasul ‘alaihimussalam membuka dakwah mereka dengan kalimat ini. Allah Ta’ala berfirman, وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah dengan hak) selain Aku, maka sembahlah Aku!’” (QS. Al-Anbiya: 25) Senada dengan ini, Kedua: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadisnya pernah menyampaikan bahwa kalimat tauhid inilah, kalimat paling utama yang pernah ia shallallahu ‘alaihi wasallam dan para rasul sebelumnya ucapkan. Sebagaimana hadis dari Nabi yang diriwayatkan oleh Sahabat Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, أفضَلُ ما قُلْتُ أنا والنبيُّونَ من قَبْلي: لا إلهَ إلّا اللهُ “Hal paling agung yang pernah aku dan para nabi terdahulu ucapkan adalah, ‘La ilaha illallah’.” (Hasan, diriwayatkan oleh Malik no. 726, Abdurrazzaq no. 8125, dan Baihaqi no. 8464) Ketiga: Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, أفضلُ الذِّكرِ لا إلهَ إلّا اللهُ وأفضَلُ الدُّعاءِ الحمدُ للهِ “Zikir yang paling utama adalah ‘Lailahaillallah’ dan doa yang paling utama adalah ‘alhamdulillah’.” (HR. Ibnu Hibban no. 846 dalam “Shahih”-nya, Tirmidzi no. 3383, Ibnu Majah no. 3800, dan Hakim no. 1834) Keempat: Hadis yang disebutkan di awal pun sudah cukup menunjukkan betapa kalimat tauhid ini punya keutamaan yang besar, ditunjukkan oleh Nabi dengan disebutkannya dan ditempatkannya di cabang tertinggi dalam hierarki keimanan. Hal ini juga menunjukkan bahwa perhatian terhadap tauhid, terkhusus pemahaman, pemaknaan, dan pengamalannya sudah sepatutnya diposisikan dalam prioritas tinggi dibandingkan amalan dan perkara agama yang selainnya. Baca juga: Membangun Kokohnya Iman dan Amal Dimensi perbuatan (zahir) Kalau ada cabang tingkat teratas dan paling utama, berarti ada pula yang paling bawah dan ringannya. Dalam hal ini adalah “menyingkirkan gangguan dari jalan” yang mewakili dimensi perbuatan atau amalan zahir yang termasuk ke dalam cakupan keimanan. Disebutkannya poin ini menunjukan bahwa iman itu bukan hanya keyakinan saja, atau bukan hanya ucapan di lisan saja, tetapi juga ada amalan-amalan zahir yang dilakukan oleh anggota tubuh yang termasuk dalam iman. “Menyingkirkan gangguan dari jalan” juga memiliki hikmah berupa anjuran dan urgensi berbuat kebaikan kepada sesama hamba Allah dengan bagaimanapun bentuk kebaikannya, semudah dan sebisa yang dapat dilakukan. Seperti menyingkirkan gangguan yang terkesan remeh dan ringan, terlebih bukan suatu amalan yang bersifat ritual keagamaan, tetapi justru sesuatu yang remeh dan ringan itu mendapat posisi dalam cabang keimanan dan berarti memiliki nilai kemuliaan tersendiri di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu saja dengan catatan kebaikan yang tetap tidak menyelisihi syariat. Mengapa yang disebutkan dalam hadis adalah “menyingkirkan gangguan dari jalan”? Beberapa poin yang mungkin bisa menjawab di antaranya, Pertama: Mewakili dimensi amalan bil jawarih (dengan anggota tubuh) atau zahir, Kedua: Karena ini adalah amalan remeh dan ringan di mata manusia, tetapi bernilai di sisi Allah, Ketiga: Karena tidak semua orang bisa melakukan ini. Setidaknya ada tiga tipe orang yang berkaitan dengan gangguan di jalan, yaitu: 1) Orang yang menaruh atau membuat gangguan di jalan, 2) Orang yang membiarkan saja gangguan yang ada di jalan, dan 3) Orang yang menyingkirkan gangguan yang ada di jalan, dan tipe inilah yang mendapat predikat kemuliaan. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan hadis lain yang senada dengan pembahasan ini, بيْنَما رَجُلٌ يَمْشِي بطَرِيقٍ، وجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ على الطَّرِيقِ، فأخَذَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ له، فَغَفَرَ له. “Suatu ketika seorang lelaki sedang berjalan dan menemukan sebatang ranting berduri. Ia lalu mengambilnya, dan Allah pun menyambut perbuatannya dengan syukur dan mengampuni segala dosanya.” (HR. Bukhari no. 2472 dalam “Shahih”-nya dan Muslim no. 1914) Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan bahwa kemudian Allah memasukkan orang tersebut ke dalam surga. Jika hanya sekadar menyingkirkan gangguan dari jalan saja sudah termasuk ke dalam cakupan cabang keimanan dan bahkan bisa menjadi sebab diampuninya dosa sampai pada akhirnya dimasukkan ke dalam surga, bagaimana dengan amalan-amalan lain yang bersifat ritual dan telah jelas anjuran ataupun perintahnya serta tata cara dan keutamaannya? Tentu saja lebih utama. Ini berarti bahwa perbuatan dan amalan zahir juga termasuk ke dalam iman. Dimensi hati (batin) Hal lain yang termasuk ke dalam keimanan dan berada dalam cabang tingkatan keimanan adalah rasa malu yang mewakili dimensi hati (batin) dan posisinya antara kalimat tauhid dan menyingkirkan gangguan dari jalan. Disebutkannya rasa malu (al-haya’) sebagai salah satu cabang keimanan menunjukkan bahwa rasa malu adalah bagian penting dari keimanan, khususnya dalam ranah batin. Ketika tertanam kuat dalam hati, maka ia akan berfungsi sebagai penghalang dari perbuatan tercela dan pendorong untuk melakukan kebaikan. Jika sifat ini hilang, seseorang tidak lagi memiliki batasan moral dan menjadi rentan terhadap segala bentuk keburukan. Inilah hal yang perlu digarisbawahi dalam perkara malu serta korelasinya dengan iman, bahwa hilangnya rasa malu adalah awal dari kehancuran moral, selaras dengan nasihat kenabian terdahulu dalam hadis yang diriwayatkan dari sahabat Uqbah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّ ممّا أدْرَكَ النّاسُ مِن كَلامِ النُّبُوَّةِ الأُولى: إذا لَمْ تَسْتَحْيِ فاصْنَعْ ما شِئْتَ “Sesungguhnya salah satu warisan ucapan kenabian terdahulu yang masih dijumpai manusia adalah ‘Jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka silakan lakukan apa saja yang engkau mau.’” Pembahasan tentang cabang, tingkatan, atau hierarki keimanan adalah hal yang sangat krusial untuk diketahui setiap muslim. Bahwa iman memiliki tingkatan, sehingga tidak sama antara satu hal yang memiliki nilai keimanan dengan hal lainnya. Bahwa iman adalah keyakinan multidimensi, mencakup dimensi hati, lisan, dan anggota tubuh. Bahwa iman seseorang bisa mengalami pasang-surut, bertambah-berkurang, sehingga harus selalu dijaga dan tidak ditinggalkan begitu saja. Seorang sahabat bernama Umair bin Habib Al-Khathmi radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Iman itu dapat bertambah (menguat) dan berkurang (melemah).” Ia kemudian melanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari seseorang tentang bagaimana iman bertambah dan berkurang, “Saat kami terus-menerus mengingat Allah, memuji, dan mensucikan-Nya, betapa iman kami tumbuh. Namun, ketika kami terjerumus dalam kelengahan dan kelalaian, iman kami pun surut.” Keimanan sebagai realitas spiritual setiap muslim, kestabilannya sangat dipengaruhi oleh usahanya menjaga hati, pikiran, dan amal tetap terpaut kepada Allah.[1] Sekian, wallahu a’lam bis-shawab. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad. Baca juga: Letak Pentingnya Tauhid dan Keimanan *** Penulis: Abdurrahman Waridi Sarpad Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Disadur dari: Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, Ahadits Al-Iman, hal. 51-58.
Daftar Isi Toggle Dimensi hati (batin) dan lisan (ucapan)Dimensi perbuatan (zahir)Dimensi hati (batin) Di antara hal yang diyakini oleh ahli sunah waljamaah -yang berpegang dan berpedoman utama dalam beragama pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dengan jalan yang dilalui para salaf saleh terdahulu- adalah bahwa keimanan seorang hamba itu dinamis dan tidak statis, selalu mengalami fluktuasi naik-turun, bertambah-berkurang, bahkan keimanan memiliki hierarki amalan-amalan, dan hal ini sudah menjadi suatu keharusan untuk dipahami dengan betul dalam pembahasan iman karena inilah yang dibawakan oleh Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang menjadi landasan pemahaman ini adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia bersabda, الإِيمانُ بضْعٌ وسَبْعُونَ، أوْ بضْعٌ وسِتُّونَ، شُعْبَةً، فأفْضَلُها قَوْلُ لا إلَهَ إلّا اللَّهُ، وأَدْناها إماطَةُ الأذى عَنِ الطَّرِيقِ، والْحَياءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمانِ “Iman memiliki beberapa cabang (tingkatan) sejumlah tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Lailahaillallah’ (tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah), sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan bahaya dari jalan. Selain itu, rasa malu (al-haya’) merupakan salah satu cabang iman.” (HR. Muslim no. 35) Mari kita bedah hadis ini. Jumlah cabang bagian dan tingkatan iman berdasarkan hadis adalah tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian bukanlah suatu permasalahan yang harus didalami lebih daripada substansi hadisnya. Karena substansi hadis di atas adalah bahwa iman tidaklah berada pada satu tingkatan dan aspek saja, bahkan antara seorang yang beriman dengan orang beriman lainnya ada perbedaan kualitas dan tingkat keimanan. Untuk itu, fokus yang akan dibahas di sini adalah terkait hierarki dalam keimanan yang mencakup aspek multi dimensi. Mengambil contoh yang disuratkan dalam nash hadis, bahwa dari yang tujuh puluh atau enam puluh sekian cabang tingkatan itu, ada tiga tingkatan keimanan yang disebutkan, yaitu: Pertama: Tingkat tertinggi adalah Ucapan “La ilaha illallah” (tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah); Kedua: Tingkat terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan; dan Ketiga: Rasa malu sebagai salah satu cabang yang tentunya berada di bawah ucapan “La ilaha illallah” dan di atas menyingkirkan gangguan dari jalan. Tiap-tiap dari tingkatan yang disebutkan itu meliputi suatu dimensi keimanan, dan ini termasuk salah satu kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu perkataannya, yang kemudian diriwayatkan menjadi sebuah hadis, memiliki lafaz yang pendek, ringan, tetapi maknanya mendalam, singkat, padat, berisi, dan sudah cukup mewakili. Dimensi hati (batin) dan lisan (ucapan) Diwakili oleh cabang tingkat teratas dalam hierarki keimanan, yaitu ucapan “Lailahaillallah”. Perkataan (al-qaul) jika disebutkan, maka ia pada dasarnya mencakup dua hal: keyakinan batin yang terpatri dalam hati dan pengucapan oleh lisan secara verbal. Kedua dimensi inilah yang tercakup dalam pemaknaan ucapan “Lailahaillallah”. Titel kalimat tauhid ini sebagai cabang tertinggi dalam hierarki keimanan menyiratkan bahwa hal-hal lain dalam agama ini dari ibadah dan lainnya pun termasuk ke dalam kategori “iman” dengan posisi di bawah “Lailahaillallah”. Kalimat ini tentunya dipenuhi dengan keberkahan dan banyak sekali keutamaan yang bisa menjadi sebuah pembahasan panjang jika diulik lebih dalam, tetapi mari kita sebutkan beberapa di antaranya, seperti: Pertama: Bahwa para rasul ‘alaihimussalam membuka dakwah mereka dengan kalimat ini. Allah Ta’ala berfirman, وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah dengan hak) selain Aku, maka sembahlah Aku!’” (QS. Al-Anbiya: 25) Senada dengan ini, Kedua: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadisnya pernah menyampaikan bahwa kalimat tauhid inilah, kalimat paling utama yang pernah ia shallallahu ‘alaihi wasallam dan para rasul sebelumnya ucapkan. Sebagaimana hadis dari Nabi yang diriwayatkan oleh Sahabat Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, أفضَلُ ما قُلْتُ أنا والنبيُّونَ من قَبْلي: لا إلهَ إلّا اللهُ “Hal paling agung yang pernah aku dan para nabi terdahulu ucapkan adalah, ‘La ilaha illallah’.” (Hasan, diriwayatkan oleh Malik no. 726, Abdurrazzaq no. 8125, dan Baihaqi no. 8464) Ketiga: Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, أفضلُ الذِّكرِ لا إلهَ إلّا اللهُ وأفضَلُ الدُّعاءِ الحمدُ للهِ “Zikir yang paling utama adalah ‘Lailahaillallah’ dan doa yang paling utama adalah ‘alhamdulillah’.” (HR. Ibnu Hibban no. 846 dalam “Shahih”-nya, Tirmidzi no. 3383, Ibnu Majah no. 3800, dan Hakim no. 1834) Keempat: Hadis yang disebutkan di awal pun sudah cukup menunjukkan betapa kalimat tauhid ini punya keutamaan yang besar, ditunjukkan oleh Nabi dengan disebutkannya dan ditempatkannya di cabang tertinggi dalam hierarki keimanan. Hal ini juga menunjukkan bahwa perhatian terhadap tauhid, terkhusus pemahaman, pemaknaan, dan pengamalannya sudah sepatutnya diposisikan dalam prioritas tinggi dibandingkan amalan dan perkara agama yang selainnya. Baca juga: Membangun Kokohnya Iman dan Amal Dimensi perbuatan (zahir) Kalau ada cabang tingkat teratas dan paling utama, berarti ada pula yang paling bawah dan ringannya. Dalam hal ini adalah “menyingkirkan gangguan dari jalan” yang mewakili dimensi perbuatan atau amalan zahir yang termasuk ke dalam cakupan keimanan. Disebutkannya poin ini menunjukan bahwa iman itu bukan hanya keyakinan saja, atau bukan hanya ucapan di lisan saja, tetapi juga ada amalan-amalan zahir yang dilakukan oleh anggota tubuh yang termasuk dalam iman. “Menyingkirkan gangguan dari jalan” juga memiliki hikmah berupa anjuran dan urgensi berbuat kebaikan kepada sesama hamba Allah dengan bagaimanapun bentuk kebaikannya, semudah dan sebisa yang dapat dilakukan. Seperti menyingkirkan gangguan yang terkesan remeh dan ringan, terlebih bukan suatu amalan yang bersifat ritual keagamaan, tetapi justru sesuatu yang remeh dan ringan itu mendapat posisi dalam cabang keimanan dan berarti memiliki nilai kemuliaan tersendiri di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu saja dengan catatan kebaikan yang tetap tidak menyelisihi syariat. Mengapa yang disebutkan dalam hadis adalah “menyingkirkan gangguan dari jalan”? Beberapa poin yang mungkin bisa menjawab di antaranya, Pertama: Mewakili dimensi amalan bil jawarih (dengan anggota tubuh) atau zahir, Kedua: Karena ini adalah amalan remeh dan ringan di mata manusia, tetapi bernilai di sisi Allah, Ketiga: Karena tidak semua orang bisa melakukan ini. Setidaknya ada tiga tipe orang yang berkaitan dengan gangguan di jalan, yaitu: 1) Orang yang menaruh atau membuat gangguan di jalan, 2) Orang yang membiarkan saja gangguan yang ada di jalan, dan 3) Orang yang menyingkirkan gangguan yang ada di jalan, dan tipe inilah yang mendapat predikat kemuliaan. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan hadis lain yang senada dengan pembahasan ini, بيْنَما رَجُلٌ يَمْشِي بطَرِيقٍ، وجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ على الطَّرِيقِ، فأخَذَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ له، فَغَفَرَ له. “Suatu ketika seorang lelaki sedang berjalan dan menemukan sebatang ranting berduri. Ia lalu mengambilnya, dan Allah pun menyambut perbuatannya dengan syukur dan mengampuni segala dosanya.” (HR. Bukhari no. 2472 dalam “Shahih”-nya dan Muslim no. 1914) Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan bahwa kemudian Allah memasukkan orang tersebut ke dalam surga. Jika hanya sekadar menyingkirkan gangguan dari jalan saja sudah termasuk ke dalam cakupan cabang keimanan dan bahkan bisa menjadi sebab diampuninya dosa sampai pada akhirnya dimasukkan ke dalam surga, bagaimana dengan amalan-amalan lain yang bersifat ritual dan telah jelas anjuran ataupun perintahnya serta tata cara dan keutamaannya? Tentu saja lebih utama. Ini berarti bahwa perbuatan dan amalan zahir juga termasuk ke dalam iman. Dimensi hati (batin) Hal lain yang termasuk ke dalam keimanan dan berada dalam cabang tingkatan keimanan adalah rasa malu yang mewakili dimensi hati (batin) dan posisinya antara kalimat tauhid dan menyingkirkan gangguan dari jalan. Disebutkannya rasa malu (al-haya’) sebagai salah satu cabang keimanan menunjukkan bahwa rasa malu adalah bagian penting dari keimanan, khususnya dalam ranah batin. Ketika tertanam kuat dalam hati, maka ia akan berfungsi sebagai penghalang dari perbuatan tercela dan pendorong untuk melakukan kebaikan. Jika sifat ini hilang, seseorang tidak lagi memiliki batasan moral dan menjadi rentan terhadap segala bentuk keburukan. Inilah hal yang perlu digarisbawahi dalam perkara malu serta korelasinya dengan iman, bahwa hilangnya rasa malu adalah awal dari kehancuran moral, selaras dengan nasihat kenabian terdahulu dalam hadis yang diriwayatkan dari sahabat Uqbah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّ ممّا أدْرَكَ النّاسُ مِن كَلامِ النُّبُوَّةِ الأُولى: إذا لَمْ تَسْتَحْيِ فاصْنَعْ ما شِئْتَ “Sesungguhnya salah satu warisan ucapan kenabian terdahulu yang masih dijumpai manusia adalah ‘Jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka silakan lakukan apa saja yang engkau mau.’” Pembahasan tentang cabang, tingkatan, atau hierarki keimanan adalah hal yang sangat krusial untuk diketahui setiap muslim. Bahwa iman memiliki tingkatan, sehingga tidak sama antara satu hal yang memiliki nilai keimanan dengan hal lainnya. Bahwa iman adalah keyakinan multidimensi, mencakup dimensi hati, lisan, dan anggota tubuh. Bahwa iman seseorang bisa mengalami pasang-surut, bertambah-berkurang, sehingga harus selalu dijaga dan tidak ditinggalkan begitu saja. Seorang sahabat bernama Umair bin Habib Al-Khathmi radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Iman itu dapat bertambah (menguat) dan berkurang (melemah).” Ia kemudian melanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari seseorang tentang bagaimana iman bertambah dan berkurang, “Saat kami terus-menerus mengingat Allah, memuji, dan mensucikan-Nya, betapa iman kami tumbuh. Namun, ketika kami terjerumus dalam kelengahan dan kelalaian, iman kami pun surut.” Keimanan sebagai realitas spiritual setiap muslim, kestabilannya sangat dipengaruhi oleh usahanya menjaga hati, pikiran, dan amal tetap terpaut kepada Allah.[1] Sekian, wallahu a’lam bis-shawab. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad. Baca juga: Letak Pentingnya Tauhid dan Keimanan *** Penulis: Abdurrahman Waridi Sarpad Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Disadur dari: Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, Ahadits Al-Iman, hal. 51-58.


Daftar Isi Toggle Dimensi hati (batin) dan lisan (ucapan)Dimensi perbuatan (zahir)Dimensi hati (batin) Di antara hal yang diyakini oleh ahli sunah waljamaah -yang berpegang dan berpedoman utama dalam beragama pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dengan jalan yang dilalui para salaf saleh terdahulu- adalah bahwa keimanan seorang hamba itu dinamis dan tidak statis, selalu mengalami fluktuasi naik-turun, bertambah-berkurang, bahkan keimanan memiliki hierarki amalan-amalan, dan hal ini sudah menjadi suatu keharusan untuk dipahami dengan betul dalam pembahasan iman karena inilah yang dibawakan oleh Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang menjadi landasan pemahaman ini adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia bersabda, الإِيمانُ بضْعٌ وسَبْعُونَ، أوْ بضْعٌ وسِتُّونَ، شُعْبَةً، فأفْضَلُها قَوْلُ لا إلَهَ إلّا اللَّهُ، وأَدْناها إماطَةُ الأذى عَنِ الطَّرِيقِ، والْحَياءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمانِ “Iman memiliki beberapa cabang (tingkatan) sejumlah tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Lailahaillallah’ (tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah), sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan bahaya dari jalan. Selain itu, rasa malu (al-haya’) merupakan salah satu cabang iman.” (HR. Muslim no. 35) Mari kita bedah hadis ini. Jumlah cabang bagian dan tingkatan iman berdasarkan hadis adalah tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian bukanlah suatu permasalahan yang harus didalami lebih daripada substansi hadisnya. Karena substansi hadis di atas adalah bahwa iman tidaklah berada pada satu tingkatan dan aspek saja, bahkan antara seorang yang beriman dengan orang beriman lainnya ada perbedaan kualitas dan tingkat keimanan. Untuk itu, fokus yang akan dibahas di sini adalah terkait hierarki dalam keimanan yang mencakup aspek multi dimensi. Mengambil contoh yang disuratkan dalam nash hadis, bahwa dari yang tujuh puluh atau enam puluh sekian cabang tingkatan itu, ada tiga tingkatan keimanan yang disebutkan, yaitu: Pertama: Tingkat tertinggi adalah Ucapan “La ilaha illallah” (tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah); Kedua: Tingkat terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan; dan Ketiga: Rasa malu sebagai salah satu cabang yang tentunya berada di bawah ucapan “La ilaha illallah” dan di atas menyingkirkan gangguan dari jalan. Tiap-tiap dari tingkatan yang disebutkan itu meliputi suatu dimensi keimanan, dan ini termasuk salah satu kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu perkataannya, yang kemudian diriwayatkan menjadi sebuah hadis, memiliki lafaz yang pendek, ringan, tetapi maknanya mendalam, singkat, padat, berisi, dan sudah cukup mewakili. Dimensi hati (batin) dan lisan (ucapan) Diwakili oleh cabang tingkat teratas dalam hierarki keimanan, yaitu ucapan “Lailahaillallah”. Perkataan (al-qaul) jika disebutkan, maka ia pada dasarnya mencakup dua hal: keyakinan batin yang terpatri dalam hati dan pengucapan oleh lisan secara verbal. Kedua dimensi inilah yang tercakup dalam pemaknaan ucapan “Lailahaillallah”. Titel kalimat tauhid ini sebagai cabang tertinggi dalam hierarki keimanan menyiratkan bahwa hal-hal lain dalam agama ini dari ibadah dan lainnya pun termasuk ke dalam kategori “iman” dengan posisi di bawah “Lailahaillallah”. Kalimat ini tentunya dipenuhi dengan keberkahan dan banyak sekali keutamaan yang bisa menjadi sebuah pembahasan panjang jika diulik lebih dalam, tetapi mari kita sebutkan beberapa di antaranya, seperti: Pertama: Bahwa para rasul ‘alaihimussalam membuka dakwah mereka dengan kalimat ini. Allah Ta’ala berfirman, وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah dengan hak) selain Aku, maka sembahlah Aku!’” (QS. Al-Anbiya: 25) Senada dengan ini, Kedua: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadisnya pernah menyampaikan bahwa kalimat tauhid inilah, kalimat paling utama yang pernah ia shallallahu ‘alaihi wasallam dan para rasul sebelumnya ucapkan. Sebagaimana hadis dari Nabi yang diriwayatkan oleh Sahabat Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, أفضَلُ ما قُلْتُ أنا والنبيُّونَ من قَبْلي: لا إلهَ إلّا اللهُ “Hal paling agung yang pernah aku dan para nabi terdahulu ucapkan adalah, ‘La ilaha illallah’.” (Hasan, diriwayatkan oleh Malik no. 726, Abdurrazzaq no. 8125, dan Baihaqi no. 8464) Ketiga: Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, أفضلُ الذِّكرِ لا إلهَ إلّا اللهُ وأفضَلُ الدُّعاءِ الحمدُ للهِ “Zikir yang paling utama adalah ‘Lailahaillallah’ dan doa yang paling utama adalah ‘alhamdulillah’.” (HR. Ibnu Hibban no. 846 dalam “Shahih”-nya, Tirmidzi no. 3383, Ibnu Majah no. 3800, dan Hakim no. 1834) Keempat: Hadis yang disebutkan di awal pun sudah cukup menunjukkan betapa kalimat tauhid ini punya keutamaan yang besar, ditunjukkan oleh Nabi dengan disebutkannya dan ditempatkannya di cabang tertinggi dalam hierarki keimanan. Hal ini juga menunjukkan bahwa perhatian terhadap tauhid, terkhusus pemahaman, pemaknaan, dan pengamalannya sudah sepatutnya diposisikan dalam prioritas tinggi dibandingkan amalan dan perkara agama yang selainnya. Baca juga: Membangun Kokohnya Iman dan Amal Dimensi perbuatan (zahir) Kalau ada cabang tingkat teratas dan paling utama, berarti ada pula yang paling bawah dan ringannya. Dalam hal ini adalah “menyingkirkan gangguan dari jalan” yang mewakili dimensi perbuatan atau amalan zahir yang termasuk ke dalam cakupan keimanan. Disebutkannya poin ini menunjukan bahwa iman itu bukan hanya keyakinan saja, atau bukan hanya ucapan di lisan saja, tetapi juga ada amalan-amalan zahir yang dilakukan oleh anggota tubuh yang termasuk dalam iman. “Menyingkirkan gangguan dari jalan” juga memiliki hikmah berupa anjuran dan urgensi berbuat kebaikan kepada sesama hamba Allah dengan bagaimanapun bentuk kebaikannya, semudah dan sebisa yang dapat dilakukan. Seperti menyingkirkan gangguan yang terkesan remeh dan ringan, terlebih bukan suatu amalan yang bersifat ritual keagamaan, tetapi justru sesuatu yang remeh dan ringan itu mendapat posisi dalam cabang keimanan dan berarti memiliki nilai kemuliaan tersendiri di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu saja dengan catatan kebaikan yang tetap tidak menyelisihi syariat. Mengapa yang disebutkan dalam hadis adalah “menyingkirkan gangguan dari jalan”? Beberapa poin yang mungkin bisa menjawab di antaranya, Pertama: Mewakili dimensi amalan bil jawarih (dengan anggota tubuh) atau zahir, Kedua: Karena ini adalah amalan remeh dan ringan di mata manusia, tetapi bernilai di sisi Allah, Ketiga: Karena tidak semua orang bisa melakukan ini. Setidaknya ada tiga tipe orang yang berkaitan dengan gangguan di jalan, yaitu: 1) Orang yang menaruh atau membuat gangguan di jalan, 2) Orang yang membiarkan saja gangguan yang ada di jalan, dan 3) Orang yang menyingkirkan gangguan yang ada di jalan, dan tipe inilah yang mendapat predikat kemuliaan. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan hadis lain yang senada dengan pembahasan ini, بيْنَما رَجُلٌ يَمْشِي بطَرِيقٍ، وجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ على الطَّرِيقِ، فأخَذَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ له، فَغَفَرَ له. “Suatu ketika seorang lelaki sedang berjalan dan menemukan sebatang ranting berduri. Ia lalu mengambilnya, dan Allah pun menyambut perbuatannya dengan syukur dan mengampuni segala dosanya.” (HR. Bukhari no. 2472 dalam “Shahih”-nya dan Muslim no. 1914) Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan bahwa kemudian Allah memasukkan orang tersebut ke dalam surga. Jika hanya sekadar menyingkirkan gangguan dari jalan saja sudah termasuk ke dalam cakupan cabang keimanan dan bahkan bisa menjadi sebab diampuninya dosa sampai pada akhirnya dimasukkan ke dalam surga, bagaimana dengan amalan-amalan lain yang bersifat ritual dan telah jelas anjuran ataupun perintahnya serta tata cara dan keutamaannya? Tentu saja lebih utama. Ini berarti bahwa perbuatan dan amalan zahir juga termasuk ke dalam iman. Dimensi hati (batin) Hal lain yang termasuk ke dalam keimanan dan berada dalam cabang tingkatan keimanan adalah rasa malu yang mewakili dimensi hati (batin) dan posisinya antara kalimat tauhid dan menyingkirkan gangguan dari jalan. Disebutkannya rasa malu (al-haya’) sebagai salah satu cabang keimanan menunjukkan bahwa rasa malu adalah bagian penting dari keimanan, khususnya dalam ranah batin. Ketika tertanam kuat dalam hati, maka ia akan berfungsi sebagai penghalang dari perbuatan tercela dan pendorong untuk melakukan kebaikan. Jika sifat ini hilang, seseorang tidak lagi memiliki batasan moral dan menjadi rentan terhadap segala bentuk keburukan. Inilah hal yang perlu digarisbawahi dalam perkara malu serta korelasinya dengan iman, bahwa hilangnya rasa malu adalah awal dari kehancuran moral, selaras dengan nasihat kenabian terdahulu dalam hadis yang diriwayatkan dari sahabat Uqbah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّ ممّا أدْرَكَ النّاسُ مِن كَلامِ النُّبُوَّةِ الأُولى: إذا لَمْ تَسْتَحْيِ فاصْنَعْ ما شِئْتَ “Sesungguhnya salah satu warisan ucapan kenabian terdahulu yang masih dijumpai manusia adalah ‘Jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka silakan lakukan apa saja yang engkau mau.’” Pembahasan tentang cabang, tingkatan, atau hierarki keimanan adalah hal yang sangat krusial untuk diketahui setiap muslim. Bahwa iman memiliki tingkatan, sehingga tidak sama antara satu hal yang memiliki nilai keimanan dengan hal lainnya. Bahwa iman adalah keyakinan multidimensi, mencakup dimensi hati, lisan, dan anggota tubuh. Bahwa iman seseorang bisa mengalami pasang-surut, bertambah-berkurang, sehingga harus selalu dijaga dan tidak ditinggalkan begitu saja. Seorang sahabat bernama Umair bin Habib Al-Khathmi radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Iman itu dapat bertambah (menguat) dan berkurang (melemah).” Ia kemudian melanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari seseorang tentang bagaimana iman bertambah dan berkurang, “Saat kami terus-menerus mengingat Allah, memuji, dan mensucikan-Nya, betapa iman kami tumbuh. Namun, ketika kami terjerumus dalam kelengahan dan kelalaian, iman kami pun surut.” Keimanan sebagai realitas spiritual setiap muslim, kestabilannya sangat dipengaruhi oleh usahanya menjaga hati, pikiran, dan amal tetap terpaut kepada Allah.[1] Sekian, wallahu a’lam bis-shawab. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad. Baca juga: Letak Pentingnya Tauhid dan Keimanan *** Penulis: Abdurrahman Waridi Sarpad Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Disadur dari: Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, Ahadits Al-Iman, hal. 51-58.

Jangan Ngaku Beriman Sebelum Hawa Nafsumu Mengikuti Ini – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Penulis rahimahullah berkata: Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” Imam an-Nawawi berkata, “Hadis ini sahih. Kami meriwayatkannya dalam kitab al-Hujjah dengan sanad yang sahih.” Imam an-Nawawi menilai hadis ini sebagai hadis sahih dalam kitab al-Hujjah fi Bayan al-Mahajjah, karya Abu Fath Ibrahim al-Maqdisi asy-Syafi’i rahimahullah. Kitab tersebut disusun berdasarkan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Namun, Ibnu Rajab–rahimahullah–dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wal-Hikam berkata: “Menilai hadis ini sahih, tidak tepat ditinjau dari berbagai aspek.” Lalu beliau menyebutkan beberapa alasan. Syaikh Ibnu Baz mengatakan: “Hadis ini lemah, tetapi maknanya tidak diragukan lagi kebenarannya.” “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” Ahmad Salamah, tahukah engkau apa makna asal dari kata hawa? Maknanya adalah kecondongan kepada sesuatu yang menyelisihi kebenaran. Itulah makna asal dari kata hawa. Namun, terkadang kata hawa juga digunakan untuk merujuk pada kecenderungan dan cinta. Pernahkah Anda mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya atau bersabda sesuatu tentang hawa nafsu? Pertanyaan ini pernah diajukan seorang Tabi’in kepada Shafwan bin Assal radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu. Ia menjawab: “Hawa nafsu berarti cinta… hawa nafsu berarti cinta.” Jadi, tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga kecondongan hati, cinta, dan hawa nafsunya tunduk kepada risalah yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, siapa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, pasti ia juga mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia juga membenci apa saja yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, Ia akan ridha terhadap apa yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun akan murka terhadap apa yang membuat Allah dan Rasul-Nya murka. Ketika seseorang terjerumus dalam kemaksiatan, itu menunjukkan adanya kekurangan dalam apa? Kekurangan dalam kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun, tidak bisa dikatakan bahwa orang yang bermaksiat berarti tidak mencintai Allah. Tidaklah demikian. Dikisahkan, dulu ada seseorang yang dicambuk karena meminum khamr. Salah seorang Sahabat pun berkata: “Semoga Allah melaknatnya! Betapa sering ia dicambuk karena minum khamr!” Nabi lalu bersabda: “Janganlah kamu melaknatnya!” Perhatikan, wahai saudara-saudaraku, perasaan seseorang harus dikendalikan dengan aturan syariat. Kemudian Nabi melanjutkan: “Sesungguhnya aku tahu bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Padahal, orang itu minum khamr. Namun, tidak diragukan bahwa terjatuh dalam kemaksiatan adalah tanda kurangnya kecintaan seseorang kepada Allah. Karena, seandainya ia mencintai Allah dengan cinta yang sempurna …niscaya ia akan mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan membenci apa yang dibenci oleh-Nya. Ada tiga perkara yang jika seseorang memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. Ia mencintai seseorang hanya karena Allah. Cinta kepada Allah adalah fondasi utama. Lalu dari cinta itu bercabanglah kecintaan kepada orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Juga kecintaan terhadap segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Kesimpulannya, seseorang tidak bisa mencapai keimanan yang sempurna, wahai saudaraku, sampai kecenderungan dan hawa nafsunya sejalan dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ قَالَ النَّوَوِيُّ حَدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَيْنَاهُ فِي كِتَابِ الْحُجَّةِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ النَّوَوِيُّ صَحَّحَ هَذَا الْحَدِيثَ فِي كِتَابِ الْحُجَّةُ فِي بَيَانِ الْمَحَجَّةِ لِأَبِي فَتْحٍ إِبْرَاهِيمَ الْمَقْدِسِيِّ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَالْكِتَابُ عَلَى أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ لَكِنْ ابْنُ رَجَبٍ فِي جَامِعِ الْعُلُوْمِ وَالْحِكَمِ كَانَ يَقُولُ رَحِمَهُ اللَّهُ يَعْنِي تَصْحِيحُهُ بَعِيدٌ مِنْ وُجُوهٍ وَذَكَرَ عِدَّةَ أَوْجُهٍ الشَّيْخُ ابْنُ بَازٍ يَقُولُ هَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ لَكِنْ مَعْنَاهُ لَا شَكَّ صَحِيحٌ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ الْأَصْلُ فِي الْهَوَى يَا أَحْمَدُ سَلَامَةَ يُطْلَقُ عَلَى مَاذَا؟ الْمَيْلُ إِلَى خِلَافِ الْحَقِّ هَذَا الْأَصْلُ فِيهِ وَقَدْ يُطْلَقُ عَلَى الْمَيْلِ وَالْمَحَبَّةِ هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُ أَوْ يَقُولُ فِي الْهَوَى شَيْئًا يَقُولُهُ أَحَدُ التَّابِعِيْنَ لِصَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ يَعْنِي الْهَوَى الْمَحَبَّةُ الْهَوَى الْمَحَبَّةُ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ مَيْلُهُ وَمَحَبَّتُهُ وَهَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ أَحَبَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أَحَبَّ مَا أَحَبَّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَكَرِهَ مَا كَرِهَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَرَضِيَ بِمَا رَضِيَ بِهِ اللَّهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَخِطَ مَا يُسْخِطُ اللَّهَ تَعَالَى وَرَسُولَهُ فَإِنَّ وُقُوعَ الْإِنْسَانِ فِي الْمَعَاصِي نَقْصٌ فِي مَاذَا؟ فِي مَحَبَّتِهِ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ لَا يُقَالُ كَوْنُ الإِنْسَانِ عَاصٍ فَهُوَ لَا يُحِبُّ اللَّهَ لَا وَقَدْ جِيءَ بِرَجُلٍ يُجْلَدُ فِي الْخَمْرِ فَقَالَ أَحَدُ الصَّحَابَةِ لَعَنَهُ اللَّهُ مَا أَكْثَرَ مَا يُجْلَدُ فِي الْخَمْرِ قَالَ لَا تَلْعَنْهُ شُوفُوا يَا إِخْوَانَ الْعَوَاطِفُ تُضْبَطُ بِحُدُودِ الشَّرْعِ فَإِنِّي عَلِمْتُهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مَعَ أَنَّهُ يَشْرَبُ الْخَمْرَ لَكِنْ لَا شَكَّ أَنَّ وُقُوعَ الْإِنْسَانِ فِي الْمَعَاصِي نَقْصٌ فِي مَحَبَّتِه إِذْ لَو أَحَبَّ اللَّهَ مَحَبَّةً كَامِلَة أَحَبَّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَأَبْغَضَ مَا يُبْغِضُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ هَذَا يَعْنِي إِلَّا لِلهِ مَحَبَّةُ اللَّهِ أَصْلٌ لَكِنَّهَا تَفَرَّعَتْ وَامْتَدَّتْ إِلَى مَحَبَّةِ مَنْ يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَحَبَّةِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَرَسُولُهُ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ لَا يُؤْمِنُ الْإِنْسَانُ الْإِيمَانُ الْوَاجِبُ يَا إِخْوَانُ حَتَّى يَكُونَ مَيْلُهُ وَهَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جَاءَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Jangan Ngaku Beriman Sebelum Hawa Nafsumu Mengikuti Ini – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Penulis rahimahullah berkata: Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” Imam an-Nawawi berkata, “Hadis ini sahih. Kami meriwayatkannya dalam kitab al-Hujjah dengan sanad yang sahih.” Imam an-Nawawi menilai hadis ini sebagai hadis sahih dalam kitab al-Hujjah fi Bayan al-Mahajjah, karya Abu Fath Ibrahim al-Maqdisi asy-Syafi’i rahimahullah. Kitab tersebut disusun berdasarkan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Namun, Ibnu Rajab–rahimahullah–dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wal-Hikam berkata: “Menilai hadis ini sahih, tidak tepat ditinjau dari berbagai aspek.” Lalu beliau menyebutkan beberapa alasan. Syaikh Ibnu Baz mengatakan: “Hadis ini lemah, tetapi maknanya tidak diragukan lagi kebenarannya.” “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” Ahmad Salamah, tahukah engkau apa makna asal dari kata hawa? Maknanya adalah kecondongan kepada sesuatu yang menyelisihi kebenaran. Itulah makna asal dari kata hawa. Namun, terkadang kata hawa juga digunakan untuk merujuk pada kecenderungan dan cinta. Pernahkah Anda mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya atau bersabda sesuatu tentang hawa nafsu? Pertanyaan ini pernah diajukan seorang Tabi’in kepada Shafwan bin Assal radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu. Ia menjawab: “Hawa nafsu berarti cinta… hawa nafsu berarti cinta.” Jadi, tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga kecondongan hati, cinta, dan hawa nafsunya tunduk kepada risalah yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, siapa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, pasti ia juga mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia juga membenci apa saja yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, Ia akan ridha terhadap apa yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun akan murka terhadap apa yang membuat Allah dan Rasul-Nya murka. Ketika seseorang terjerumus dalam kemaksiatan, itu menunjukkan adanya kekurangan dalam apa? Kekurangan dalam kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun, tidak bisa dikatakan bahwa orang yang bermaksiat berarti tidak mencintai Allah. Tidaklah demikian. Dikisahkan, dulu ada seseorang yang dicambuk karena meminum khamr. Salah seorang Sahabat pun berkata: “Semoga Allah melaknatnya! Betapa sering ia dicambuk karena minum khamr!” Nabi lalu bersabda: “Janganlah kamu melaknatnya!” Perhatikan, wahai saudara-saudaraku, perasaan seseorang harus dikendalikan dengan aturan syariat. Kemudian Nabi melanjutkan: “Sesungguhnya aku tahu bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Padahal, orang itu minum khamr. Namun, tidak diragukan bahwa terjatuh dalam kemaksiatan adalah tanda kurangnya kecintaan seseorang kepada Allah. Karena, seandainya ia mencintai Allah dengan cinta yang sempurna …niscaya ia akan mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan membenci apa yang dibenci oleh-Nya. Ada tiga perkara yang jika seseorang memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. Ia mencintai seseorang hanya karena Allah. Cinta kepada Allah adalah fondasi utama. Lalu dari cinta itu bercabanglah kecintaan kepada orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Juga kecintaan terhadap segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Kesimpulannya, seseorang tidak bisa mencapai keimanan yang sempurna, wahai saudaraku, sampai kecenderungan dan hawa nafsunya sejalan dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ قَالَ النَّوَوِيُّ حَدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَيْنَاهُ فِي كِتَابِ الْحُجَّةِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ النَّوَوِيُّ صَحَّحَ هَذَا الْحَدِيثَ فِي كِتَابِ الْحُجَّةُ فِي بَيَانِ الْمَحَجَّةِ لِأَبِي فَتْحٍ إِبْرَاهِيمَ الْمَقْدِسِيِّ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَالْكِتَابُ عَلَى أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ لَكِنْ ابْنُ رَجَبٍ فِي جَامِعِ الْعُلُوْمِ وَالْحِكَمِ كَانَ يَقُولُ رَحِمَهُ اللَّهُ يَعْنِي تَصْحِيحُهُ بَعِيدٌ مِنْ وُجُوهٍ وَذَكَرَ عِدَّةَ أَوْجُهٍ الشَّيْخُ ابْنُ بَازٍ يَقُولُ هَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ لَكِنْ مَعْنَاهُ لَا شَكَّ صَحِيحٌ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ الْأَصْلُ فِي الْهَوَى يَا أَحْمَدُ سَلَامَةَ يُطْلَقُ عَلَى مَاذَا؟ الْمَيْلُ إِلَى خِلَافِ الْحَقِّ هَذَا الْأَصْلُ فِيهِ وَقَدْ يُطْلَقُ عَلَى الْمَيْلِ وَالْمَحَبَّةِ هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُ أَوْ يَقُولُ فِي الْهَوَى شَيْئًا يَقُولُهُ أَحَدُ التَّابِعِيْنَ لِصَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ يَعْنِي الْهَوَى الْمَحَبَّةُ الْهَوَى الْمَحَبَّةُ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ مَيْلُهُ وَمَحَبَّتُهُ وَهَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ أَحَبَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أَحَبَّ مَا أَحَبَّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَكَرِهَ مَا كَرِهَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَرَضِيَ بِمَا رَضِيَ بِهِ اللَّهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَخِطَ مَا يُسْخِطُ اللَّهَ تَعَالَى وَرَسُولَهُ فَإِنَّ وُقُوعَ الْإِنْسَانِ فِي الْمَعَاصِي نَقْصٌ فِي مَاذَا؟ فِي مَحَبَّتِهِ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ لَا يُقَالُ كَوْنُ الإِنْسَانِ عَاصٍ فَهُوَ لَا يُحِبُّ اللَّهَ لَا وَقَدْ جِيءَ بِرَجُلٍ يُجْلَدُ فِي الْخَمْرِ فَقَالَ أَحَدُ الصَّحَابَةِ لَعَنَهُ اللَّهُ مَا أَكْثَرَ مَا يُجْلَدُ فِي الْخَمْرِ قَالَ لَا تَلْعَنْهُ شُوفُوا يَا إِخْوَانَ الْعَوَاطِفُ تُضْبَطُ بِحُدُودِ الشَّرْعِ فَإِنِّي عَلِمْتُهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مَعَ أَنَّهُ يَشْرَبُ الْخَمْرَ لَكِنْ لَا شَكَّ أَنَّ وُقُوعَ الْإِنْسَانِ فِي الْمَعَاصِي نَقْصٌ فِي مَحَبَّتِه إِذْ لَو أَحَبَّ اللَّهَ مَحَبَّةً كَامِلَة أَحَبَّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَأَبْغَضَ مَا يُبْغِضُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ هَذَا يَعْنِي إِلَّا لِلهِ مَحَبَّةُ اللَّهِ أَصْلٌ لَكِنَّهَا تَفَرَّعَتْ وَامْتَدَّتْ إِلَى مَحَبَّةِ مَنْ يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَحَبَّةِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَرَسُولُهُ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ لَا يُؤْمِنُ الْإِنْسَانُ الْإِيمَانُ الْوَاجِبُ يَا إِخْوَانُ حَتَّى يَكُونَ مَيْلُهُ وَهَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جَاءَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Penulis rahimahullah berkata: Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” Imam an-Nawawi berkata, “Hadis ini sahih. Kami meriwayatkannya dalam kitab al-Hujjah dengan sanad yang sahih.” Imam an-Nawawi menilai hadis ini sebagai hadis sahih dalam kitab al-Hujjah fi Bayan al-Mahajjah, karya Abu Fath Ibrahim al-Maqdisi asy-Syafi’i rahimahullah. Kitab tersebut disusun berdasarkan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Namun, Ibnu Rajab–rahimahullah–dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wal-Hikam berkata: “Menilai hadis ini sahih, tidak tepat ditinjau dari berbagai aspek.” Lalu beliau menyebutkan beberapa alasan. Syaikh Ibnu Baz mengatakan: “Hadis ini lemah, tetapi maknanya tidak diragukan lagi kebenarannya.” “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” Ahmad Salamah, tahukah engkau apa makna asal dari kata hawa? Maknanya adalah kecondongan kepada sesuatu yang menyelisihi kebenaran. Itulah makna asal dari kata hawa. Namun, terkadang kata hawa juga digunakan untuk merujuk pada kecenderungan dan cinta. Pernahkah Anda mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya atau bersabda sesuatu tentang hawa nafsu? Pertanyaan ini pernah diajukan seorang Tabi’in kepada Shafwan bin Assal radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu. Ia menjawab: “Hawa nafsu berarti cinta… hawa nafsu berarti cinta.” Jadi, tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga kecondongan hati, cinta, dan hawa nafsunya tunduk kepada risalah yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, siapa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, pasti ia juga mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia juga membenci apa saja yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, Ia akan ridha terhadap apa yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun akan murka terhadap apa yang membuat Allah dan Rasul-Nya murka. Ketika seseorang terjerumus dalam kemaksiatan, itu menunjukkan adanya kekurangan dalam apa? Kekurangan dalam kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun, tidak bisa dikatakan bahwa orang yang bermaksiat berarti tidak mencintai Allah. Tidaklah demikian. Dikisahkan, dulu ada seseorang yang dicambuk karena meminum khamr. Salah seorang Sahabat pun berkata: “Semoga Allah melaknatnya! Betapa sering ia dicambuk karena minum khamr!” Nabi lalu bersabda: “Janganlah kamu melaknatnya!” Perhatikan, wahai saudara-saudaraku, perasaan seseorang harus dikendalikan dengan aturan syariat. Kemudian Nabi melanjutkan: “Sesungguhnya aku tahu bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Padahal, orang itu minum khamr. Namun, tidak diragukan bahwa terjatuh dalam kemaksiatan adalah tanda kurangnya kecintaan seseorang kepada Allah. Karena, seandainya ia mencintai Allah dengan cinta yang sempurna …niscaya ia akan mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan membenci apa yang dibenci oleh-Nya. Ada tiga perkara yang jika seseorang memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. Ia mencintai seseorang hanya karena Allah. Cinta kepada Allah adalah fondasi utama. Lalu dari cinta itu bercabanglah kecintaan kepada orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Juga kecintaan terhadap segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Kesimpulannya, seseorang tidak bisa mencapai keimanan yang sempurna, wahai saudaraku, sampai kecenderungan dan hawa nafsunya sejalan dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ قَالَ النَّوَوِيُّ حَدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَيْنَاهُ فِي كِتَابِ الْحُجَّةِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ النَّوَوِيُّ صَحَّحَ هَذَا الْحَدِيثَ فِي كِتَابِ الْحُجَّةُ فِي بَيَانِ الْمَحَجَّةِ لِأَبِي فَتْحٍ إِبْرَاهِيمَ الْمَقْدِسِيِّ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَالْكِتَابُ عَلَى أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ لَكِنْ ابْنُ رَجَبٍ فِي جَامِعِ الْعُلُوْمِ وَالْحِكَمِ كَانَ يَقُولُ رَحِمَهُ اللَّهُ يَعْنِي تَصْحِيحُهُ بَعِيدٌ مِنْ وُجُوهٍ وَذَكَرَ عِدَّةَ أَوْجُهٍ الشَّيْخُ ابْنُ بَازٍ يَقُولُ هَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ لَكِنْ مَعْنَاهُ لَا شَكَّ صَحِيحٌ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ الْأَصْلُ فِي الْهَوَى يَا أَحْمَدُ سَلَامَةَ يُطْلَقُ عَلَى مَاذَا؟ الْمَيْلُ إِلَى خِلَافِ الْحَقِّ هَذَا الْأَصْلُ فِيهِ وَقَدْ يُطْلَقُ عَلَى الْمَيْلِ وَالْمَحَبَّةِ هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُ أَوْ يَقُولُ فِي الْهَوَى شَيْئًا يَقُولُهُ أَحَدُ التَّابِعِيْنَ لِصَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ يَعْنِي الْهَوَى الْمَحَبَّةُ الْهَوَى الْمَحَبَّةُ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ مَيْلُهُ وَمَحَبَّتُهُ وَهَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ أَحَبَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أَحَبَّ مَا أَحَبَّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَكَرِهَ مَا كَرِهَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَرَضِيَ بِمَا رَضِيَ بِهِ اللَّهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَخِطَ مَا يُسْخِطُ اللَّهَ تَعَالَى وَرَسُولَهُ فَإِنَّ وُقُوعَ الْإِنْسَانِ فِي الْمَعَاصِي نَقْصٌ فِي مَاذَا؟ فِي مَحَبَّتِهِ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ لَا يُقَالُ كَوْنُ الإِنْسَانِ عَاصٍ فَهُوَ لَا يُحِبُّ اللَّهَ لَا وَقَدْ جِيءَ بِرَجُلٍ يُجْلَدُ فِي الْخَمْرِ فَقَالَ أَحَدُ الصَّحَابَةِ لَعَنَهُ اللَّهُ مَا أَكْثَرَ مَا يُجْلَدُ فِي الْخَمْرِ قَالَ لَا تَلْعَنْهُ شُوفُوا يَا إِخْوَانَ الْعَوَاطِفُ تُضْبَطُ بِحُدُودِ الشَّرْعِ فَإِنِّي عَلِمْتُهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مَعَ أَنَّهُ يَشْرَبُ الْخَمْرَ لَكِنْ لَا شَكَّ أَنَّ وُقُوعَ الْإِنْسَانِ فِي الْمَعَاصِي نَقْصٌ فِي مَحَبَّتِه إِذْ لَو أَحَبَّ اللَّهَ مَحَبَّةً كَامِلَة أَحَبَّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَأَبْغَضَ مَا يُبْغِضُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ هَذَا يَعْنِي إِلَّا لِلهِ مَحَبَّةُ اللَّهِ أَصْلٌ لَكِنَّهَا تَفَرَّعَتْ وَامْتَدَّتْ إِلَى مَحَبَّةِ مَنْ يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَحَبَّةِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَرَسُولُهُ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ لَا يُؤْمِنُ الْإِنْسَانُ الْإِيمَانُ الْوَاجِبُ يَا إِخْوَانُ حَتَّى يَكُونَ مَيْلُهُ وَهَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جَاءَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


Penulis rahimahullah berkata: Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” Imam an-Nawawi berkata, “Hadis ini sahih. Kami meriwayatkannya dalam kitab al-Hujjah dengan sanad yang sahih.” Imam an-Nawawi menilai hadis ini sebagai hadis sahih dalam kitab al-Hujjah fi Bayan al-Mahajjah, karya Abu Fath Ibrahim al-Maqdisi asy-Syafi’i rahimahullah. Kitab tersebut disusun berdasarkan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Namun, Ibnu Rajab–rahimahullah–dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wal-Hikam berkata: “Menilai hadis ini sahih, tidak tepat ditinjau dari berbagai aspek.” Lalu beliau menyebutkan beberapa alasan. Syaikh Ibnu Baz mengatakan: “Hadis ini lemah, tetapi maknanya tidak diragukan lagi kebenarannya.” “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” Ahmad Salamah, tahukah engkau apa makna asal dari kata hawa? Maknanya adalah kecondongan kepada sesuatu yang menyelisihi kebenaran. Itulah makna asal dari kata hawa. Namun, terkadang kata hawa juga digunakan untuk merujuk pada kecenderungan dan cinta. Pernahkah Anda mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya atau bersabda sesuatu tentang hawa nafsu? Pertanyaan ini pernah diajukan seorang Tabi’in kepada Shafwan bin Assal radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu. Ia menjawab: “Hawa nafsu berarti cinta… hawa nafsu berarti cinta.” Jadi, tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga kecondongan hati, cinta, dan hawa nafsunya tunduk kepada risalah yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, siapa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, pasti ia juga mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia juga membenci apa saja yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, Ia akan ridha terhadap apa yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun akan murka terhadap apa yang membuat Allah dan Rasul-Nya murka. Ketika seseorang terjerumus dalam kemaksiatan, itu menunjukkan adanya kekurangan dalam apa? Kekurangan dalam kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun, tidak bisa dikatakan bahwa orang yang bermaksiat berarti tidak mencintai Allah. Tidaklah demikian. Dikisahkan, dulu ada seseorang yang dicambuk karena meminum khamr. Salah seorang Sahabat pun berkata: “Semoga Allah melaknatnya! Betapa sering ia dicambuk karena minum khamr!” Nabi lalu bersabda: “Janganlah kamu melaknatnya!” Perhatikan, wahai saudara-saudaraku, perasaan seseorang harus dikendalikan dengan aturan syariat. Kemudian Nabi melanjutkan: “Sesungguhnya aku tahu bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Padahal, orang itu minum khamr. Namun, tidak diragukan bahwa terjatuh dalam kemaksiatan adalah tanda kurangnya kecintaan seseorang kepada Allah. Karena, seandainya ia mencintai Allah dengan cinta yang sempurna …niscaya ia akan mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan membenci apa yang dibenci oleh-Nya. Ada tiga perkara yang jika seseorang memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. Ia mencintai seseorang hanya karena Allah. Cinta kepada Allah adalah fondasi utama. Lalu dari cinta itu bercabanglah kecintaan kepada orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Juga kecintaan terhadap segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Kesimpulannya, seseorang tidak bisa mencapai keimanan yang sempurna, wahai saudaraku, sampai kecenderungan dan hawa nafsunya sejalan dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ قَالَ النَّوَوِيُّ حَدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَيْنَاهُ فِي كِتَابِ الْحُجَّةِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ النَّوَوِيُّ صَحَّحَ هَذَا الْحَدِيثَ فِي كِتَابِ الْحُجَّةُ فِي بَيَانِ الْمَحَجَّةِ لِأَبِي فَتْحٍ إِبْرَاهِيمَ الْمَقْدِسِيِّ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَالْكِتَابُ عَلَى أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ لَكِنْ ابْنُ رَجَبٍ فِي جَامِعِ الْعُلُوْمِ وَالْحِكَمِ كَانَ يَقُولُ رَحِمَهُ اللَّهُ يَعْنِي تَصْحِيحُهُ بَعِيدٌ مِنْ وُجُوهٍ وَذَكَرَ عِدَّةَ أَوْجُهٍ الشَّيْخُ ابْنُ بَازٍ يَقُولُ هَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ لَكِنْ مَعْنَاهُ لَا شَكَّ صَحِيحٌ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ الْأَصْلُ فِي الْهَوَى يَا أَحْمَدُ سَلَامَةَ يُطْلَقُ عَلَى مَاذَا؟ الْمَيْلُ إِلَى خِلَافِ الْحَقِّ هَذَا الْأَصْلُ فِيهِ وَقَدْ يُطْلَقُ عَلَى الْمَيْلِ وَالْمَحَبَّةِ هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُ أَوْ يَقُولُ فِي الْهَوَى شَيْئًا يَقُولُهُ أَحَدُ التَّابِعِيْنَ لِصَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ يَعْنِي الْهَوَى الْمَحَبَّةُ الْهَوَى الْمَحَبَّةُ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ مَيْلُهُ وَمَحَبَّتُهُ وَهَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ أَحَبَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أَحَبَّ مَا أَحَبَّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَكَرِهَ مَا كَرِهَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَرَضِيَ بِمَا رَضِيَ بِهِ اللَّهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَخِطَ مَا يُسْخِطُ اللَّهَ تَعَالَى وَرَسُولَهُ فَإِنَّ وُقُوعَ الْإِنْسَانِ فِي الْمَعَاصِي نَقْصٌ فِي مَاذَا؟ فِي مَحَبَّتِهِ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ لَا يُقَالُ كَوْنُ الإِنْسَانِ عَاصٍ فَهُوَ لَا يُحِبُّ اللَّهَ لَا وَقَدْ جِيءَ بِرَجُلٍ يُجْلَدُ فِي الْخَمْرِ فَقَالَ أَحَدُ الصَّحَابَةِ لَعَنَهُ اللَّهُ مَا أَكْثَرَ مَا يُجْلَدُ فِي الْخَمْرِ قَالَ لَا تَلْعَنْهُ شُوفُوا يَا إِخْوَانَ الْعَوَاطِفُ تُضْبَطُ بِحُدُودِ الشَّرْعِ فَإِنِّي عَلِمْتُهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مَعَ أَنَّهُ يَشْرَبُ الْخَمْرَ لَكِنْ لَا شَكَّ أَنَّ وُقُوعَ الْإِنْسَانِ فِي الْمَعَاصِي نَقْصٌ فِي مَحَبَّتِه إِذْ لَو أَحَبَّ اللَّهَ مَحَبَّةً كَامِلَة أَحَبَّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَأَبْغَضَ مَا يُبْغِضُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ هَذَا يَعْنِي إِلَّا لِلهِ مَحَبَّةُ اللَّهِ أَصْلٌ لَكِنَّهَا تَفَرَّعَتْ وَامْتَدَّتْ إِلَى مَحَبَّةِ مَنْ يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَحَبَّةِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَرَسُولُهُ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ لَا يُؤْمِنُ الْإِنْسَانُ الْإِيمَانُ الْوَاجِبُ يَا إِخْوَانُ حَتَّى يَكُونَ مَيْلُهُ وَهَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جَاءَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kebanyakan Orang Menyesal di Akhir Hidupnya karena Hal Ini – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Saudara-saudara, orang yang lebih mementingkan dunia adalah orang yang cacat pada pikiran, pandangan, dan akalnya. Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh mereka (orang-orang kafir) itu mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan di belakang mereka hari yang berat (akhirat).” (QS. al-Insan: 27). Allah menyebut dunia itu: cepat berlalu. Betapa cepat berlalu hari-hari dan tahun-tahunnya, saudara-saudara!Dunia begitu cepat berlalu. Allah juga berfirman–sebagaimana telah kita bahas: “Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, Kami segerakan baginya apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki…” (QS. al-Isra: 18). Jika dunia yang diberikan sesuai dengan kehendak Allah, maka manusia tidak akan mendapatkan kecuali yang telah Allah tetapkan baginya. Allah juga berfirman: “Sekali-kali janganlah. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan mengabaikan (kehidupan) akhirat.” (QS. al-Qiyamah: 20 – 21). Allah juga berfirman: “Bagaimana menurutmu jika Kami berikan kenikmatan hidup kepada mereka beberapa tahun? Kemudian, datang azab yang diancamkan kepada mereka? Niscaya kenikmatan yang mereka rasakan tidak berguna baginya.” (QS. asy-Syu’ara: 205 – 207). Orang yang diberi kenikmatan di dunia,dan dibukakan baginya harta-harta dunia ini, andai setelah itu ia didatangi berbagai hal yang biasa datang kepadanya di dunia,misalkan, datang kepadanya penyakit,ia akan berharap tidak punya harta dunia sedikit pun,demi kesehatannya bisa kembali, atau ia mati saja. Lalu ia akan meninggalkan dunia ini bagi penerusnya.Sedangkan ia harus menanggung hisab, balasan, dan azabnya.Laa quwwata illaa billaah! Allah Ta’ala berfirman: “Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya janji yang baik (surga) lalu dia memperolehnya sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kesenangan hidup duniawi kemudian pada hari Kiamat dia termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?” (QS. al-Qashash: 61). Allah juga berfirman: “Jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh bolak-balik perjalanan orang-orang kafir di seluruh negeri. Semua itu hanyalah kesenangan sementara,lalu tempat kembali mereka ialah neraka Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ali Imran: 196 – 197). Intinya, seorang insan hendaklah memperhatikan dan merenungi keadaan dunia. Jangan sampai dunia menjadi tujuannya. Di dunia ada berbagai hal yang indah, tidak diragukan lagi. Apa hal paling indah di dunia, saudara-saudara? Apa yang kalian lakukan sekarang ini: menuntut ilmu dan beribadah, serta menginfakkan harta yang ada di tangan seorang insan, untuk disalurkan ke berbagai bidang kebaikan. Saudara-saudara, harta tidak tercela dari sisi zatnya.Namun yang tercela adalah apa yang dilakukan pemiliknya terhadap harta itu. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa sebaik-baik harta adalah yang dimiliki orang beriman, yang dipakai untuk memberi makan anak yatim, orang miskin, dan musafir yang kehabisan bekal. Dan barang siapa yang mengambilnya dengan cara yang tidak benar, maka ia seperti orang yang makan tapi tidak pernah kenyang, dan harta akan menjadi saksi yang menuntutnya pada hari kiamat. Hal terbaik yang ada di dunia adalah ia menjadi tempat menanam; di sana ditanam amal-amal saleh. Kelak, setiap orang akan dibalas atas amalannya; orang-orang yang menanam akan memanen apa yang telah mereka tanam. Jika mereka berbuat baik, sesungguhnya mereka berbuat baik terhadap diri sendiri. Jika mereka berbuat buruk, maka betapa buruknya apa yang mereka perbuat. Maka, perhatikanlah dunia, dan renungkan apa yang terjadi padanya, juga para penghuninya yang terdahulu dan di zaman ini. Rabb kalian telah memerintahkan ini: “Demikianlah Allah menjelaskan bagi kalian ayat-ayat-Nya, agar kalian berpikir tentang dunia dan akhirat…” (QS. al-Baqarah: 219 – 220). Sehingga ketika kamu telah mengenal hakikat dunia, kamu akan memberikannya sesuatu sesuai dengan kadar yang layak baginya. Begitupula ketika seorang hamba telah mengenal akhirat, ia akan memberikan untuknya apa yang Allah mudahkan baginya, serta apa yang dapat membantunya, berupa keimanan dan amal saleh. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua menuju kebaikan, dan mengaruniakan kepada kita semua tobat kepada-Nya. Serta mengaruniakan kepada kita semua ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Semoga Allah memberkahi kalian, saudara-saudara! ==== وَمَنْ يُؤْثِرُ الدُّنْيَا يَا إِخْوَانِي قَاصِرٌ فِي فِكْرِهِ وَنَظَرِهِ وَفِي عَقْلِهِ قَالَ تَعَالَى إِنَّ هَٰؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا وَصَفَهَا بِأَنَّهَا عَاجِلَةٌ وَمَا أَسْرَعَ مَا تَمُرُّ يَا إِخْوَانِي أَيَّامُهَا أَعْوَامُهَا الْعَاجِلَةُ وَقَالَ مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ – كَمَا مَرَّ بِنَا – عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيْدُ إِذَا كَانَتْ هَذِهِ إِرَادَتُهُ فَلَنْ يَأْتِيَهُ إِلَّا مَا قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ وَقَالَ كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَتَذَرُوْنَ الْآخِرَةَ وَقَالَ أَفَرَأَيْتَ إِن مَّتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ ثُمَّ جَاءَهُم مَّا كَانُوا يُوعَدُونَ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُم مَّا كَانُوا يُمَتَّعُونَ هَذَا الَّذِي مُتِّعَ فِي الدُّنْيَا وَفُتِحَتْ لَهُ خَيْرَاتُهَا تَأْتِيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ مَا يَأْتِيهِ فِي الدُّنْيَا يَأْتِيْهِ مَرَضٌ ثُمَّ يَتَمَنَّى أَنْ لَوْ كَانَ لَا يَمْلِكُ مِنَ الدُّنْيَا شَيْئًا حَتَّى تَعُودَ عَلَيْهِ صِحَّتُهُ أَوْ يَمُوتَ وَيَتْرُكُ هَذِهِ الدُّنْيَا لِمَنْ وَرَاءَهُ وَيَقْدُمُ هُوَ عَلَى حِسَابِهَا وَجَزَائِهَا وَعَذَابِهَا وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ تَعَالَى أَفَمَن وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيهِ كَمَن مَّتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ وَقَالَ لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ الْمَقْصُودُ هُوَ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَتَأَمَّلُ فِي الدُّنْيَا يَا إِخْوَانُ وَيُفَكِّرُ فِيهَا وَلَا تَكُنْ غَايَتَهُ الدُّنْيَا فِيهَا أَشْيَاءُ جَمِيلَةٌ لاَ شَكَّ وَأَجْمَلُ مَا فِيهَا مَا هُوَ يَا إِخْوَانُ؟ أَنْتُمْ بِصَدَدِهَا طَلَبُ الْعِلْمِ وَالْعِبَادَةُ وَإِنْفَاقُ مَا يَكُونُ فِي يَدِ الْإِنْسَانِ مِنْ خَيْرَاتِهَا فِي طُرُقِ الْخَيْرِ مَا يُذَمُّ يَا إِخْوَانِي الْمَالُ بِذَاتِهِ وَإِنَّمَا يُذَمُّ بِمَا يَعْمَلُ بِهِ صَاحِبُهُ وَإِلَّا فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنِعْمَ هُوَ الصَّاحِبُ الْمُؤْمِنُ مَا أَطْعَمَ مِنْهُ الْيَتِيمَ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ كَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَيَكُونُ شَهِيدًا عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَحْسَنُ مَا فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا مَزْرَعَةٌ تَزْرَعُ فِيهَا الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ وَغَدًا تُوَفَّى النُّفُوسُ مَا كَسَبَتْ وَيَحْصُدُ الزَّارِعُونَ مَا زَرَعُوا إِنْ أَحْسَنُوا أَحْسَنُوا لِأَنْفُسِهِمْ وَإِنْ أَسَاءُوا فَبِئْسَ مَا صَنَعُوا فَتَأَمَّلُوا يَا إِخْوَانِي فِي الدُّنْيَا وَفَكِّرُوا فِي صَنِيعِهَا فِي أَهْلِهَا الْأَوَّلِيْنَ وَالْمَوْجُوْدِيْنَ فِي هَذَا الزَّمَانِ وَرَبُّكُمْ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ حَتَّى إِذَا عَرَفْتَ الدُّنْيَا أُعْطِيتَهَا شَيْئًا لِمَا تَسْتَحِقُّ وَحَتَّى إِذَا عَرَفَ الْعَبْدُ الْآخِرَةَ يَا إِخْوَانُ أَعْطَاهَا مَا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ وَمَا يُعِينُهُ عَلَيْهِ مِنَ الْإِيمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ وَفَّقَ اللَّهُ جَمِيعًا لِلْخَيْرِ وَرَزَقَنَا وَإِيَّاكُمْ الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ وَرَزَقَنَا جَمِيعًا الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ يَا إِخْوَانُ

Kebanyakan Orang Menyesal di Akhir Hidupnya karena Hal Ini – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Saudara-saudara, orang yang lebih mementingkan dunia adalah orang yang cacat pada pikiran, pandangan, dan akalnya. Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh mereka (orang-orang kafir) itu mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan di belakang mereka hari yang berat (akhirat).” (QS. al-Insan: 27). Allah menyebut dunia itu: cepat berlalu. Betapa cepat berlalu hari-hari dan tahun-tahunnya, saudara-saudara!Dunia begitu cepat berlalu. Allah juga berfirman–sebagaimana telah kita bahas: “Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, Kami segerakan baginya apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki…” (QS. al-Isra: 18). Jika dunia yang diberikan sesuai dengan kehendak Allah, maka manusia tidak akan mendapatkan kecuali yang telah Allah tetapkan baginya. Allah juga berfirman: “Sekali-kali janganlah. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan mengabaikan (kehidupan) akhirat.” (QS. al-Qiyamah: 20 – 21). Allah juga berfirman: “Bagaimana menurutmu jika Kami berikan kenikmatan hidup kepada mereka beberapa tahun? Kemudian, datang azab yang diancamkan kepada mereka? Niscaya kenikmatan yang mereka rasakan tidak berguna baginya.” (QS. asy-Syu’ara: 205 – 207). Orang yang diberi kenikmatan di dunia,dan dibukakan baginya harta-harta dunia ini, andai setelah itu ia didatangi berbagai hal yang biasa datang kepadanya di dunia,misalkan, datang kepadanya penyakit,ia akan berharap tidak punya harta dunia sedikit pun,demi kesehatannya bisa kembali, atau ia mati saja. Lalu ia akan meninggalkan dunia ini bagi penerusnya.Sedangkan ia harus menanggung hisab, balasan, dan azabnya.Laa quwwata illaa billaah! Allah Ta’ala berfirman: “Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya janji yang baik (surga) lalu dia memperolehnya sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kesenangan hidup duniawi kemudian pada hari Kiamat dia termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?” (QS. al-Qashash: 61). Allah juga berfirman: “Jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh bolak-balik perjalanan orang-orang kafir di seluruh negeri. Semua itu hanyalah kesenangan sementara,lalu tempat kembali mereka ialah neraka Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ali Imran: 196 – 197). Intinya, seorang insan hendaklah memperhatikan dan merenungi keadaan dunia. Jangan sampai dunia menjadi tujuannya. Di dunia ada berbagai hal yang indah, tidak diragukan lagi. Apa hal paling indah di dunia, saudara-saudara? Apa yang kalian lakukan sekarang ini: menuntut ilmu dan beribadah, serta menginfakkan harta yang ada di tangan seorang insan, untuk disalurkan ke berbagai bidang kebaikan. Saudara-saudara, harta tidak tercela dari sisi zatnya.Namun yang tercela adalah apa yang dilakukan pemiliknya terhadap harta itu. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa sebaik-baik harta adalah yang dimiliki orang beriman, yang dipakai untuk memberi makan anak yatim, orang miskin, dan musafir yang kehabisan bekal. Dan barang siapa yang mengambilnya dengan cara yang tidak benar, maka ia seperti orang yang makan tapi tidak pernah kenyang, dan harta akan menjadi saksi yang menuntutnya pada hari kiamat. Hal terbaik yang ada di dunia adalah ia menjadi tempat menanam; di sana ditanam amal-amal saleh. Kelak, setiap orang akan dibalas atas amalannya; orang-orang yang menanam akan memanen apa yang telah mereka tanam. Jika mereka berbuat baik, sesungguhnya mereka berbuat baik terhadap diri sendiri. Jika mereka berbuat buruk, maka betapa buruknya apa yang mereka perbuat. Maka, perhatikanlah dunia, dan renungkan apa yang terjadi padanya, juga para penghuninya yang terdahulu dan di zaman ini. Rabb kalian telah memerintahkan ini: “Demikianlah Allah menjelaskan bagi kalian ayat-ayat-Nya, agar kalian berpikir tentang dunia dan akhirat…” (QS. al-Baqarah: 219 – 220). Sehingga ketika kamu telah mengenal hakikat dunia, kamu akan memberikannya sesuatu sesuai dengan kadar yang layak baginya. Begitupula ketika seorang hamba telah mengenal akhirat, ia akan memberikan untuknya apa yang Allah mudahkan baginya, serta apa yang dapat membantunya, berupa keimanan dan amal saleh. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua menuju kebaikan, dan mengaruniakan kepada kita semua tobat kepada-Nya. Serta mengaruniakan kepada kita semua ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Semoga Allah memberkahi kalian, saudara-saudara! ==== وَمَنْ يُؤْثِرُ الدُّنْيَا يَا إِخْوَانِي قَاصِرٌ فِي فِكْرِهِ وَنَظَرِهِ وَفِي عَقْلِهِ قَالَ تَعَالَى إِنَّ هَٰؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا وَصَفَهَا بِأَنَّهَا عَاجِلَةٌ وَمَا أَسْرَعَ مَا تَمُرُّ يَا إِخْوَانِي أَيَّامُهَا أَعْوَامُهَا الْعَاجِلَةُ وَقَالَ مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ – كَمَا مَرَّ بِنَا – عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيْدُ إِذَا كَانَتْ هَذِهِ إِرَادَتُهُ فَلَنْ يَأْتِيَهُ إِلَّا مَا قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ وَقَالَ كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَتَذَرُوْنَ الْآخِرَةَ وَقَالَ أَفَرَأَيْتَ إِن مَّتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ ثُمَّ جَاءَهُم مَّا كَانُوا يُوعَدُونَ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُم مَّا كَانُوا يُمَتَّعُونَ هَذَا الَّذِي مُتِّعَ فِي الدُّنْيَا وَفُتِحَتْ لَهُ خَيْرَاتُهَا تَأْتِيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ مَا يَأْتِيهِ فِي الدُّنْيَا يَأْتِيْهِ مَرَضٌ ثُمَّ يَتَمَنَّى أَنْ لَوْ كَانَ لَا يَمْلِكُ مِنَ الدُّنْيَا شَيْئًا حَتَّى تَعُودَ عَلَيْهِ صِحَّتُهُ أَوْ يَمُوتَ وَيَتْرُكُ هَذِهِ الدُّنْيَا لِمَنْ وَرَاءَهُ وَيَقْدُمُ هُوَ عَلَى حِسَابِهَا وَجَزَائِهَا وَعَذَابِهَا وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ تَعَالَى أَفَمَن وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيهِ كَمَن مَّتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ وَقَالَ لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ الْمَقْصُودُ هُوَ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَتَأَمَّلُ فِي الدُّنْيَا يَا إِخْوَانُ وَيُفَكِّرُ فِيهَا وَلَا تَكُنْ غَايَتَهُ الدُّنْيَا فِيهَا أَشْيَاءُ جَمِيلَةٌ لاَ شَكَّ وَأَجْمَلُ مَا فِيهَا مَا هُوَ يَا إِخْوَانُ؟ أَنْتُمْ بِصَدَدِهَا طَلَبُ الْعِلْمِ وَالْعِبَادَةُ وَإِنْفَاقُ مَا يَكُونُ فِي يَدِ الْإِنْسَانِ مِنْ خَيْرَاتِهَا فِي طُرُقِ الْخَيْرِ مَا يُذَمُّ يَا إِخْوَانِي الْمَالُ بِذَاتِهِ وَإِنَّمَا يُذَمُّ بِمَا يَعْمَلُ بِهِ صَاحِبُهُ وَإِلَّا فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنِعْمَ هُوَ الصَّاحِبُ الْمُؤْمِنُ مَا أَطْعَمَ مِنْهُ الْيَتِيمَ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ كَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَيَكُونُ شَهِيدًا عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَحْسَنُ مَا فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا مَزْرَعَةٌ تَزْرَعُ فِيهَا الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ وَغَدًا تُوَفَّى النُّفُوسُ مَا كَسَبَتْ وَيَحْصُدُ الزَّارِعُونَ مَا زَرَعُوا إِنْ أَحْسَنُوا أَحْسَنُوا لِأَنْفُسِهِمْ وَإِنْ أَسَاءُوا فَبِئْسَ مَا صَنَعُوا فَتَأَمَّلُوا يَا إِخْوَانِي فِي الدُّنْيَا وَفَكِّرُوا فِي صَنِيعِهَا فِي أَهْلِهَا الْأَوَّلِيْنَ وَالْمَوْجُوْدِيْنَ فِي هَذَا الزَّمَانِ وَرَبُّكُمْ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ حَتَّى إِذَا عَرَفْتَ الدُّنْيَا أُعْطِيتَهَا شَيْئًا لِمَا تَسْتَحِقُّ وَحَتَّى إِذَا عَرَفَ الْعَبْدُ الْآخِرَةَ يَا إِخْوَانُ أَعْطَاهَا مَا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ وَمَا يُعِينُهُ عَلَيْهِ مِنَ الْإِيمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ وَفَّقَ اللَّهُ جَمِيعًا لِلْخَيْرِ وَرَزَقَنَا وَإِيَّاكُمْ الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ وَرَزَقَنَا جَمِيعًا الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ يَا إِخْوَانُ
Saudara-saudara, orang yang lebih mementingkan dunia adalah orang yang cacat pada pikiran, pandangan, dan akalnya. Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh mereka (orang-orang kafir) itu mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan di belakang mereka hari yang berat (akhirat).” (QS. al-Insan: 27). Allah menyebut dunia itu: cepat berlalu. Betapa cepat berlalu hari-hari dan tahun-tahunnya, saudara-saudara!Dunia begitu cepat berlalu. Allah juga berfirman–sebagaimana telah kita bahas: “Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, Kami segerakan baginya apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki…” (QS. al-Isra: 18). Jika dunia yang diberikan sesuai dengan kehendak Allah, maka manusia tidak akan mendapatkan kecuali yang telah Allah tetapkan baginya. Allah juga berfirman: “Sekali-kali janganlah. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan mengabaikan (kehidupan) akhirat.” (QS. al-Qiyamah: 20 – 21). Allah juga berfirman: “Bagaimana menurutmu jika Kami berikan kenikmatan hidup kepada mereka beberapa tahun? Kemudian, datang azab yang diancamkan kepada mereka? Niscaya kenikmatan yang mereka rasakan tidak berguna baginya.” (QS. asy-Syu’ara: 205 – 207). Orang yang diberi kenikmatan di dunia,dan dibukakan baginya harta-harta dunia ini, andai setelah itu ia didatangi berbagai hal yang biasa datang kepadanya di dunia,misalkan, datang kepadanya penyakit,ia akan berharap tidak punya harta dunia sedikit pun,demi kesehatannya bisa kembali, atau ia mati saja. Lalu ia akan meninggalkan dunia ini bagi penerusnya.Sedangkan ia harus menanggung hisab, balasan, dan azabnya.Laa quwwata illaa billaah! Allah Ta’ala berfirman: “Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya janji yang baik (surga) lalu dia memperolehnya sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kesenangan hidup duniawi kemudian pada hari Kiamat dia termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?” (QS. al-Qashash: 61). Allah juga berfirman: “Jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh bolak-balik perjalanan orang-orang kafir di seluruh negeri. Semua itu hanyalah kesenangan sementara,lalu tempat kembali mereka ialah neraka Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ali Imran: 196 – 197). Intinya, seorang insan hendaklah memperhatikan dan merenungi keadaan dunia. Jangan sampai dunia menjadi tujuannya. Di dunia ada berbagai hal yang indah, tidak diragukan lagi. Apa hal paling indah di dunia, saudara-saudara? Apa yang kalian lakukan sekarang ini: menuntut ilmu dan beribadah, serta menginfakkan harta yang ada di tangan seorang insan, untuk disalurkan ke berbagai bidang kebaikan. Saudara-saudara, harta tidak tercela dari sisi zatnya.Namun yang tercela adalah apa yang dilakukan pemiliknya terhadap harta itu. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa sebaik-baik harta adalah yang dimiliki orang beriman, yang dipakai untuk memberi makan anak yatim, orang miskin, dan musafir yang kehabisan bekal. Dan barang siapa yang mengambilnya dengan cara yang tidak benar, maka ia seperti orang yang makan tapi tidak pernah kenyang, dan harta akan menjadi saksi yang menuntutnya pada hari kiamat. Hal terbaik yang ada di dunia adalah ia menjadi tempat menanam; di sana ditanam amal-amal saleh. Kelak, setiap orang akan dibalas atas amalannya; orang-orang yang menanam akan memanen apa yang telah mereka tanam. Jika mereka berbuat baik, sesungguhnya mereka berbuat baik terhadap diri sendiri. Jika mereka berbuat buruk, maka betapa buruknya apa yang mereka perbuat. Maka, perhatikanlah dunia, dan renungkan apa yang terjadi padanya, juga para penghuninya yang terdahulu dan di zaman ini. Rabb kalian telah memerintahkan ini: “Demikianlah Allah menjelaskan bagi kalian ayat-ayat-Nya, agar kalian berpikir tentang dunia dan akhirat…” (QS. al-Baqarah: 219 – 220). Sehingga ketika kamu telah mengenal hakikat dunia, kamu akan memberikannya sesuatu sesuai dengan kadar yang layak baginya. Begitupula ketika seorang hamba telah mengenal akhirat, ia akan memberikan untuknya apa yang Allah mudahkan baginya, serta apa yang dapat membantunya, berupa keimanan dan amal saleh. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua menuju kebaikan, dan mengaruniakan kepada kita semua tobat kepada-Nya. Serta mengaruniakan kepada kita semua ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Semoga Allah memberkahi kalian, saudara-saudara! ==== وَمَنْ يُؤْثِرُ الدُّنْيَا يَا إِخْوَانِي قَاصِرٌ فِي فِكْرِهِ وَنَظَرِهِ وَفِي عَقْلِهِ قَالَ تَعَالَى إِنَّ هَٰؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا وَصَفَهَا بِأَنَّهَا عَاجِلَةٌ وَمَا أَسْرَعَ مَا تَمُرُّ يَا إِخْوَانِي أَيَّامُهَا أَعْوَامُهَا الْعَاجِلَةُ وَقَالَ مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ – كَمَا مَرَّ بِنَا – عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيْدُ إِذَا كَانَتْ هَذِهِ إِرَادَتُهُ فَلَنْ يَأْتِيَهُ إِلَّا مَا قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ وَقَالَ كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَتَذَرُوْنَ الْآخِرَةَ وَقَالَ أَفَرَأَيْتَ إِن مَّتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ ثُمَّ جَاءَهُم مَّا كَانُوا يُوعَدُونَ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُم مَّا كَانُوا يُمَتَّعُونَ هَذَا الَّذِي مُتِّعَ فِي الدُّنْيَا وَفُتِحَتْ لَهُ خَيْرَاتُهَا تَأْتِيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ مَا يَأْتِيهِ فِي الدُّنْيَا يَأْتِيْهِ مَرَضٌ ثُمَّ يَتَمَنَّى أَنْ لَوْ كَانَ لَا يَمْلِكُ مِنَ الدُّنْيَا شَيْئًا حَتَّى تَعُودَ عَلَيْهِ صِحَّتُهُ أَوْ يَمُوتَ وَيَتْرُكُ هَذِهِ الدُّنْيَا لِمَنْ وَرَاءَهُ وَيَقْدُمُ هُوَ عَلَى حِسَابِهَا وَجَزَائِهَا وَعَذَابِهَا وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ تَعَالَى أَفَمَن وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيهِ كَمَن مَّتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ وَقَالَ لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ الْمَقْصُودُ هُوَ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَتَأَمَّلُ فِي الدُّنْيَا يَا إِخْوَانُ وَيُفَكِّرُ فِيهَا وَلَا تَكُنْ غَايَتَهُ الدُّنْيَا فِيهَا أَشْيَاءُ جَمِيلَةٌ لاَ شَكَّ وَأَجْمَلُ مَا فِيهَا مَا هُوَ يَا إِخْوَانُ؟ أَنْتُمْ بِصَدَدِهَا طَلَبُ الْعِلْمِ وَالْعِبَادَةُ وَإِنْفَاقُ مَا يَكُونُ فِي يَدِ الْإِنْسَانِ مِنْ خَيْرَاتِهَا فِي طُرُقِ الْخَيْرِ مَا يُذَمُّ يَا إِخْوَانِي الْمَالُ بِذَاتِهِ وَإِنَّمَا يُذَمُّ بِمَا يَعْمَلُ بِهِ صَاحِبُهُ وَإِلَّا فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنِعْمَ هُوَ الصَّاحِبُ الْمُؤْمِنُ مَا أَطْعَمَ مِنْهُ الْيَتِيمَ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ كَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَيَكُونُ شَهِيدًا عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَحْسَنُ مَا فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا مَزْرَعَةٌ تَزْرَعُ فِيهَا الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ وَغَدًا تُوَفَّى النُّفُوسُ مَا كَسَبَتْ وَيَحْصُدُ الزَّارِعُونَ مَا زَرَعُوا إِنْ أَحْسَنُوا أَحْسَنُوا لِأَنْفُسِهِمْ وَإِنْ أَسَاءُوا فَبِئْسَ مَا صَنَعُوا فَتَأَمَّلُوا يَا إِخْوَانِي فِي الدُّنْيَا وَفَكِّرُوا فِي صَنِيعِهَا فِي أَهْلِهَا الْأَوَّلِيْنَ وَالْمَوْجُوْدِيْنَ فِي هَذَا الزَّمَانِ وَرَبُّكُمْ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ حَتَّى إِذَا عَرَفْتَ الدُّنْيَا أُعْطِيتَهَا شَيْئًا لِمَا تَسْتَحِقُّ وَحَتَّى إِذَا عَرَفَ الْعَبْدُ الْآخِرَةَ يَا إِخْوَانُ أَعْطَاهَا مَا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ وَمَا يُعِينُهُ عَلَيْهِ مِنَ الْإِيمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ وَفَّقَ اللَّهُ جَمِيعًا لِلْخَيْرِ وَرَزَقَنَا وَإِيَّاكُمْ الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ وَرَزَقَنَا جَمِيعًا الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ يَا إِخْوَانُ


Saudara-saudara, orang yang lebih mementingkan dunia adalah orang yang cacat pada pikiran, pandangan, dan akalnya. Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh mereka (orang-orang kafir) itu mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan di belakang mereka hari yang berat (akhirat).” (QS. al-Insan: 27). Allah menyebut dunia itu: cepat berlalu. Betapa cepat berlalu hari-hari dan tahun-tahunnya, saudara-saudara!Dunia begitu cepat berlalu. Allah juga berfirman–sebagaimana telah kita bahas: “Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, Kami segerakan baginya apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki…” (QS. al-Isra: 18). Jika dunia yang diberikan sesuai dengan kehendak Allah, maka manusia tidak akan mendapatkan kecuali yang telah Allah tetapkan baginya. Allah juga berfirman: “Sekali-kali janganlah. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan mengabaikan (kehidupan) akhirat.” (QS. al-Qiyamah: 20 – 21). Allah juga berfirman: “Bagaimana menurutmu jika Kami berikan kenikmatan hidup kepada mereka beberapa tahun? Kemudian, datang azab yang diancamkan kepada mereka? Niscaya kenikmatan yang mereka rasakan tidak berguna baginya.” (QS. asy-Syu’ara: 205 – 207). Orang yang diberi kenikmatan di dunia,dan dibukakan baginya harta-harta dunia ini, andai setelah itu ia didatangi berbagai hal yang biasa datang kepadanya di dunia,misalkan, datang kepadanya penyakit,ia akan berharap tidak punya harta dunia sedikit pun,demi kesehatannya bisa kembali, atau ia mati saja. Lalu ia akan meninggalkan dunia ini bagi penerusnya.Sedangkan ia harus menanggung hisab, balasan, dan azabnya.Laa quwwata illaa billaah! Allah Ta’ala berfirman: “Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya janji yang baik (surga) lalu dia memperolehnya sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kesenangan hidup duniawi kemudian pada hari Kiamat dia termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?” (QS. al-Qashash: 61). Allah juga berfirman: “Jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh bolak-balik perjalanan orang-orang kafir di seluruh negeri. Semua itu hanyalah kesenangan sementara,lalu tempat kembali mereka ialah neraka Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ali Imran: 196 – 197). Intinya, seorang insan hendaklah memperhatikan dan merenungi keadaan dunia. Jangan sampai dunia menjadi tujuannya. Di dunia ada berbagai hal yang indah, tidak diragukan lagi. Apa hal paling indah di dunia, saudara-saudara? Apa yang kalian lakukan sekarang ini: menuntut ilmu dan beribadah, serta menginfakkan harta yang ada di tangan seorang insan, untuk disalurkan ke berbagai bidang kebaikan. Saudara-saudara, harta tidak tercela dari sisi zatnya.Namun yang tercela adalah apa yang dilakukan pemiliknya terhadap harta itu. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa sebaik-baik harta adalah yang dimiliki orang beriman, yang dipakai untuk memberi makan anak yatim, orang miskin, dan musafir yang kehabisan bekal. Dan barang siapa yang mengambilnya dengan cara yang tidak benar, maka ia seperti orang yang makan tapi tidak pernah kenyang, dan harta akan menjadi saksi yang menuntutnya pada hari kiamat. Hal terbaik yang ada di dunia adalah ia menjadi tempat menanam; di sana ditanam amal-amal saleh. Kelak, setiap orang akan dibalas atas amalannya; orang-orang yang menanam akan memanen apa yang telah mereka tanam. Jika mereka berbuat baik, sesungguhnya mereka berbuat baik terhadap diri sendiri. Jika mereka berbuat buruk, maka betapa buruknya apa yang mereka perbuat. Maka, perhatikanlah dunia, dan renungkan apa yang terjadi padanya, juga para penghuninya yang terdahulu dan di zaman ini. Rabb kalian telah memerintahkan ini: “Demikianlah Allah menjelaskan bagi kalian ayat-ayat-Nya, agar kalian berpikir tentang dunia dan akhirat…” (QS. al-Baqarah: 219 – 220). Sehingga ketika kamu telah mengenal hakikat dunia, kamu akan memberikannya sesuatu sesuai dengan kadar yang layak baginya. Begitupula ketika seorang hamba telah mengenal akhirat, ia akan memberikan untuknya apa yang Allah mudahkan baginya, serta apa yang dapat membantunya, berupa keimanan dan amal saleh. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua menuju kebaikan, dan mengaruniakan kepada kita semua tobat kepada-Nya. Serta mengaruniakan kepada kita semua ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Semoga Allah memberkahi kalian, saudara-saudara! ==== وَمَنْ يُؤْثِرُ الدُّنْيَا يَا إِخْوَانِي قَاصِرٌ فِي فِكْرِهِ وَنَظَرِهِ وَفِي عَقْلِهِ قَالَ تَعَالَى إِنَّ هَٰؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا وَصَفَهَا بِأَنَّهَا عَاجِلَةٌ وَمَا أَسْرَعَ مَا تَمُرُّ يَا إِخْوَانِي أَيَّامُهَا أَعْوَامُهَا الْعَاجِلَةُ وَقَالَ مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ – كَمَا مَرَّ بِنَا – عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيْدُ إِذَا كَانَتْ هَذِهِ إِرَادَتُهُ فَلَنْ يَأْتِيَهُ إِلَّا مَا قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ وَقَالَ كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَتَذَرُوْنَ الْآخِرَةَ وَقَالَ أَفَرَأَيْتَ إِن مَّتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ ثُمَّ جَاءَهُم مَّا كَانُوا يُوعَدُونَ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُم مَّا كَانُوا يُمَتَّعُونَ هَذَا الَّذِي مُتِّعَ فِي الدُّنْيَا وَفُتِحَتْ لَهُ خَيْرَاتُهَا تَأْتِيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ مَا يَأْتِيهِ فِي الدُّنْيَا يَأْتِيْهِ مَرَضٌ ثُمَّ يَتَمَنَّى أَنْ لَوْ كَانَ لَا يَمْلِكُ مِنَ الدُّنْيَا شَيْئًا حَتَّى تَعُودَ عَلَيْهِ صِحَّتُهُ أَوْ يَمُوتَ وَيَتْرُكُ هَذِهِ الدُّنْيَا لِمَنْ وَرَاءَهُ وَيَقْدُمُ هُوَ عَلَى حِسَابِهَا وَجَزَائِهَا وَعَذَابِهَا وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ تَعَالَى أَفَمَن وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيهِ كَمَن مَّتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ وَقَالَ لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ الْمَقْصُودُ هُوَ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَتَأَمَّلُ فِي الدُّنْيَا يَا إِخْوَانُ وَيُفَكِّرُ فِيهَا وَلَا تَكُنْ غَايَتَهُ الدُّنْيَا فِيهَا أَشْيَاءُ جَمِيلَةٌ لاَ شَكَّ وَأَجْمَلُ مَا فِيهَا مَا هُوَ يَا إِخْوَانُ؟ أَنْتُمْ بِصَدَدِهَا طَلَبُ الْعِلْمِ وَالْعِبَادَةُ وَإِنْفَاقُ مَا يَكُونُ فِي يَدِ الْإِنْسَانِ مِنْ خَيْرَاتِهَا فِي طُرُقِ الْخَيْرِ مَا يُذَمُّ يَا إِخْوَانِي الْمَالُ بِذَاتِهِ وَإِنَّمَا يُذَمُّ بِمَا يَعْمَلُ بِهِ صَاحِبُهُ وَإِلَّا فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنِعْمَ هُوَ الصَّاحِبُ الْمُؤْمِنُ مَا أَطْعَمَ مِنْهُ الْيَتِيمَ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ كَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَيَكُونُ شَهِيدًا عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَحْسَنُ مَا فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا مَزْرَعَةٌ تَزْرَعُ فِيهَا الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ وَغَدًا تُوَفَّى النُّفُوسُ مَا كَسَبَتْ وَيَحْصُدُ الزَّارِعُونَ مَا زَرَعُوا إِنْ أَحْسَنُوا أَحْسَنُوا لِأَنْفُسِهِمْ وَإِنْ أَسَاءُوا فَبِئْسَ مَا صَنَعُوا فَتَأَمَّلُوا يَا إِخْوَانِي فِي الدُّنْيَا وَفَكِّرُوا فِي صَنِيعِهَا فِي أَهْلِهَا الْأَوَّلِيْنَ وَالْمَوْجُوْدِيْنَ فِي هَذَا الزَّمَانِ وَرَبُّكُمْ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ حَتَّى إِذَا عَرَفْتَ الدُّنْيَا أُعْطِيتَهَا شَيْئًا لِمَا تَسْتَحِقُّ وَحَتَّى إِذَا عَرَفَ الْعَبْدُ الْآخِرَةَ يَا إِخْوَانُ أَعْطَاهَا مَا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ وَمَا يُعِينُهُ عَلَيْهِ مِنَ الْإِيمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ وَفَّقَ اللَّهُ جَمِيعًا لِلْخَيْرِ وَرَزَقَنَا وَإِيَّاكُمْ الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ وَرَزَقَنَا جَمِيعًا الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ يَا إِخْوَانُ

Hukum Zakat Uang Kertas: Penggabungan dengan Emas dan Perak untuk Melengkapi Nisab

Banyak yang bertanya, apakah uang kertas termasuk dalam kategori harta yang wajib dizakati? Para ulama terdahulu tidak membahasnya karena belum dikenal pada zaman mereka. Namun, bagaimana hukumnya jika uang kertas digabungkan dengan emas dan perak untuk melengkapi nisab?   Daftar Isi tutup 1. Uang Kertas dalam Kajian Fikih 2. Penggabungan Emas dan Perak dalam Nisab Zakat 3. Zakat Uang Kertas: Keputusan Majelis Ulama 4. Perhitungan Haul dan Nisab dalam Zakat Uang 5. Cara Mengeluarkan Zakat Emas dan Uang 6. Kesimpulan Uang Kertas dalam Kajian Fikih Uang kertas tidak dikenal pada masa para ulama terdahulu, sehingga mereka tidak membahas hukumnya secara langsung. Dalam “Penelitian dari Hai’ah Kibar Al-Ulama” (Dewan Ulama Senior) di Kerajaan Arab Saudi (1/61), disebutkan: “Uang kertas tidak dikenal oleh para ulama Islam terdahulu karena belum digunakan pada zaman mereka, sehingga kita tidak menemukan seorang pun dari mereka yang membahas hukumnya.” (Selesai). Namun, pada zaman mereka telah ada emas, perak, dan barang dagangan yang dijadikan alat transaksi. Oleh karena itu, para ulama membahas hukum-hukum terkait harta-harta tersebut, termasuk mengenai penggabungan emas dan perak untuk melengkapi nisab zakat.   Penggabungan Emas dan Perak dalam Nisab Zakat Dalam “Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah” (23/268-269) disebutkan bahwa mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, satu riwayat dari Imam Ahmad, serta pendapat Ats-Tsauri dan Al-Auza’i berpendapat bahwa emas dan perak dapat digabungkan satu sama lain untuk melengkapi nisab. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki 15 mitsqal emas dan 150 dirham perak, maka ia tetap wajib mengeluarkan zakat dari kedua harta tersebut. Begitu pula, jika seseorang memiliki emas yang mencapai nisab sementara peraknya kurang dari nisab, maka keduanya tetap wajib dizakati. Para ulama berargumen bahwa manfaat emas dan perak itu sama, yaitu sebagai alat transaksi dan perhiasan. Namun, mazhab Syafi’i, satu riwayat lain dari Imam Ahmad, serta pendapat Abu Ubaid, Ibnu Abi Laila, dan Abu Tsaur berpendapat bahwa zakat tidak wajib atas salah satu jenis harta tersebut sampai ia mencapai nisabnya sendiri-sendiri. Mereka berdalil dengan hadits: وَلاَ فِى أَقَلَّ مِنْ عِشْرِينَ مِثْقَالاً مِنَ الذَّهَبِ شَىْءٌ وَلاَ فِى أَقَلَّ مِنْ مِائَتَىْ دِرْهَمٍ شَىْءٌ “Tidak ada zakat jika emas kurang dari 20 mitsqol dan tidak ada zakat jika kurang dari 200 dirham.” (HR. Ad-Daruquthni, 2:93. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih sebagaimana dalam Al Irwa’ no. 815). Di sini emas dan perak dibedakan dan tidak disatukan nisabnya. Adapun stok barang dagangan (عروض التجارة), maka nilainya digabungkan dengan emas atau perak untuk melengkapi nisab keduanya. Ibnu Qudamah berkata, “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini.” (Selesai).   Zakat Uang Kertas: Keputusan Majelis Ulama Pendapat yang menyatakan bahwa uang kertas dapat digabungkan dengan emas dan perak untuk melengkapi nisab merupakan keputusan yang telah disepakati oleh Majma’ Al-Fiqhi yang berafiliasi dengan Rabithah Al-‘Alam Al-Islami (Liga Muslim Dunia), serta oleh Hai’ah Kibar Al-Ulama di Kerajaan Arab Saudi. Pendapat ini juga merupakan fatwa dari Lajnah Da’imah Lil Ifta’ (Komite Tetap untuk Fatwa) di Arab Saudi. Dalam “Keputusan Majma’ Al-Fiqhi” disebutkan: “Zakat atas uang kertas wajib dikeluarkan jika nilainya mencapai nisab terkecil dari emas atau perak, atau jika nilainya melengkapi nisab dengan harta lainnya seperti emas, perak, atau barang dagangan yang diperjualbelikan.” (Keputusan 6, hlm. 101). Sementara dalam “Keputusan Hai’ah Kibar Al-Ulama” di Arab Saudi (1/88) dinyatakan: “Karena sifat tsamaniyyah (fungsi sebagai alat tukar) pada uang kertas sangat jelas, maka Dewan Ulama Senior dengan suara mayoritas menetapkan bahwa uang kertas dianggap sebagai mata uang yang berdiri sendiri, sebagaimana status mata uang pada emas, perak, dan lainnya. Oleh karena itu, zakatnya wajib dikeluarkan jika nilainya mencapai nisab terkecil dari emas atau perak, atau jika nilainya melengkapi nisab dengan harta lainnya yang bernilai.” Dalam “Fatawa Lajnah Da’imah – Jilid Kedua” (8/324) dijelaskan bahwa jika seseorang memiliki emas yang belum mencapai nisab, ia dapat menggabungkannya dengan uang kertas atau barang dagangan untuk melengkapi nisab dan wajib mengeluarkan zakatnya. Baca juga: Kenapa Zakat Mata Uang Menggunakan Nisab Perak?   Perhitungan Haul dan Nisab dalam Zakat Uang Penggabungan harta untuk melengkapi nisab tidak berarti penggabungan haul. Setiap jenis harta memiliki perhitungan haulnya sendiri, sehingga zakat tidak wajib dikeluarkan sebelum haulnya tercapai, kecuali jika pemiliknya ingin mempercepat pembayaran zakat. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki emas yang mencapai nisab pada bulan Muharram, kemudian ia memperoleh uang sebesar seribu riyal (yang nilainya kurang dari nisab) pada bulan Jumadil Awal, maka zakat wajib dikeluarkan atas uang tersebut karena nilainya mencapai nisab setelah digabungkan dengan emas. Namun, haul zakatnya tetap dihitung dari bulan Jumadil Awal, kecuali jika pemiliknya ingin mengeluarkan zakatnya lebih awal pada bulan Muharram. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Contoh lain: seseorang memiliki harta yang mencapai nisab pada bulan Muharram, lalu ia memperoleh warisan pada bulan Jumadil Akhir berupa uang seratus dirham yang nilainya kurang dari nisab. Zakat tetap wajib atas seratus dirham tersebut meskipun jumlahnya kurang dari nisab, karena ia telah memiliki harta lain yang mencapai nisab. Akan tetapi, haul seratus dirham itu dihitung dari bulan Jumadil Akhir, bukan dari Muharram, karena ia digabungkan dalam nisab, tetapi tidak dalam haul.” (Selesai dari Syarh Al-Mumti’ (6/22)). Cara Mengeluarkan Zakat Emas dan Uang Jika emas digabungkan dengan uang, maka diperbolehkan untuk mengeluarkan zakat dalam bentuk emas, atau dengan menilai emas dan membayarkan zakat dalam bentuk uang. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Jika kita mengatakan bahwa nisab emas dapat digabungkan dengan perak, dan nilai barang dagangan dapat digabungkan dengan emas atau perak, maka apakah zakat harus dikeluarkan dari setiap jenis harta sesuai dengan jenisnya, atau boleh dari salah satunya saja?” “Menurut mazhab Hanbali, zakat harus dikeluarkan dari setiap jenis harta sesuai dengan jenisnya. Jadi, zakat emas dikeluarkan dalam bentuk emas, dan zakat perak dalam bentuk perak. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa tidak mengapa jika zakat dikeluarkan dari salah satu jenis saja, yaitu dengan nilai yang setara.”(Selesai dari Syarh Al-Mumti’ (6/103)). Kesimpulan Jelas bahwa tidak ada kontradiksi dalam masalah ini. Penggabungan harta hanya berlaku untuk melengkapi nisab, tetapi tidak berlaku dalam perhitungan haul, kecuali jika pemiliknya memilih untuk menyamakannya. Dengan demikian, zakat wajib dikeluarkan jika uang kertas yang dimiliki mencapai nisab terkecil dari emas atau perak, atau jika digabungkan dengan harta lainnya hingga nisabnya sempurna. Wallahu A’lam.   Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 537539 Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 220039   –   Senin dinihari, 17 Ramadhan 1446 H, 17 Maret 2025 @ Darush Sholihin Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara bayar zakat fatwa zakat uang harta yang dizakati harta zakat hukum zakat uang keutamaan bayar zakat nisab zakat emas nisab zakat perak nishab zakat panduan zakat penggabungan nisab zakat perhitungan zakat uang Zakat zakat emas dan perak zakat perdagangan zakat uang dalam Islam zakat uang kertas

Hukum Zakat Uang Kertas: Penggabungan dengan Emas dan Perak untuk Melengkapi Nisab

Banyak yang bertanya, apakah uang kertas termasuk dalam kategori harta yang wajib dizakati? Para ulama terdahulu tidak membahasnya karena belum dikenal pada zaman mereka. Namun, bagaimana hukumnya jika uang kertas digabungkan dengan emas dan perak untuk melengkapi nisab?   Daftar Isi tutup 1. Uang Kertas dalam Kajian Fikih 2. Penggabungan Emas dan Perak dalam Nisab Zakat 3. Zakat Uang Kertas: Keputusan Majelis Ulama 4. Perhitungan Haul dan Nisab dalam Zakat Uang 5. Cara Mengeluarkan Zakat Emas dan Uang 6. Kesimpulan Uang Kertas dalam Kajian Fikih Uang kertas tidak dikenal pada masa para ulama terdahulu, sehingga mereka tidak membahas hukumnya secara langsung. Dalam “Penelitian dari Hai’ah Kibar Al-Ulama” (Dewan Ulama Senior) di Kerajaan Arab Saudi (1/61), disebutkan: “Uang kertas tidak dikenal oleh para ulama Islam terdahulu karena belum digunakan pada zaman mereka, sehingga kita tidak menemukan seorang pun dari mereka yang membahas hukumnya.” (Selesai). Namun, pada zaman mereka telah ada emas, perak, dan barang dagangan yang dijadikan alat transaksi. Oleh karena itu, para ulama membahas hukum-hukum terkait harta-harta tersebut, termasuk mengenai penggabungan emas dan perak untuk melengkapi nisab zakat.   Penggabungan Emas dan Perak dalam Nisab Zakat Dalam “Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah” (23/268-269) disebutkan bahwa mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, satu riwayat dari Imam Ahmad, serta pendapat Ats-Tsauri dan Al-Auza’i berpendapat bahwa emas dan perak dapat digabungkan satu sama lain untuk melengkapi nisab. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki 15 mitsqal emas dan 150 dirham perak, maka ia tetap wajib mengeluarkan zakat dari kedua harta tersebut. Begitu pula, jika seseorang memiliki emas yang mencapai nisab sementara peraknya kurang dari nisab, maka keduanya tetap wajib dizakati. Para ulama berargumen bahwa manfaat emas dan perak itu sama, yaitu sebagai alat transaksi dan perhiasan. Namun, mazhab Syafi’i, satu riwayat lain dari Imam Ahmad, serta pendapat Abu Ubaid, Ibnu Abi Laila, dan Abu Tsaur berpendapat bahwa zakat tidak wajib atas salah satu jenis harta tersebut sampai ia mencapai nisabnya sendiri-sendiri. Mereka berdalil dengan hadits: وَلاَ فِى أَقَلَّ مِنْ عِشْرِينَ مِثْقَالاً مِنَ الذَّهَبِ شَىْءٌ وَلاَ فِى أَقَلَّ مِنْ مِائَتَىْ دِرْهَمٍ شَىْءٌ “Tidak ada zakat jika emas kurang dari 20 mitsqol dan tidak ada zakat jika kurang dari 200 dirham.” (HR. Ad-Daruquthni, 2:93. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih sebagaimana dalam Al Irwa’ no. 815). Di sini emas dan perak dibedakan dan tidak disatukan nisabnya. Adapun stok barang dagangan (عروض التجارة), maka nilainya digabungkan dengan emas atau perak untuk melengkapi nisab keduanya. Ibnu Qudamah berkata, “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini.” (Selesai).   Zakat Uang Kertas: Keputusan Majelis Ulama Pendapat yang menyatakan bahwa uang kertas dapat digabungkan dengan emas dan perak untuk melengkapi nisab merupakan keputusan yang telah disepakati oleh Majma’ Al-Fiqhi yang berafiliasi dengan Rabithah Al-‘Alam Al-Islami (Liga Muslim Dunia), serta oleh Hai’ah Kibar Al-Ulama di Kerajaan Arab Saudi. Pendapat ini juga merupakan fatwa dari Lajnah Da’imah Lil Ifta’ (Komite Tetap untuk Fatwa) di Arab Saudi. Dalam “Keputusan Majma’ Al-Fiqhi” disebutkan: “Zakat atas uang kertas wajib dikeluarkan jika nilainya mencapai nisab terkecil dari emas atau perak, atau jika nilainya melengkapi nisab dengan harta lainnya seperti emas, perak, atau barang dagangan yang diperjualbelikan.” (Keputusan 6, hlm. 101). Sementara dalam “Keputusan Hai’ah Kibar Al-Ulama” di Arab Saudi (1/88) dinyatakan: “Karena sifat tsamaniyyah (fungsi sebagai alat tukar) pada uang kertas sangat jelas, maka Dewan Ulama Senior dengan suara mayoritas menetapkan bahwa uang kertas dianggap sebagai mata uang yang berdiri sendiri, sebagaimana status mata uang pada emas, perak, dan lainnya. Oleh karena itu, zakatnya wajib dikeluarkan jika nilainya mencapai nisab terkecil dari emas atau perak, atau jika nilainya melengkapi nisab dengan harta lainnya yang bernilai.” Dalam “Fatawa Lajnah Da’imah – Jilid Kedua” (8/324) dijelaskan bahwa jika seseorang memiliki emas yang belum mencapai nisab, ia dapat menggabungkannya dengan uang kertas atau barang dagangan untuk melengkapi nisab dan wajib mengeluarkan zakatnya. Baca juga: Kenapa Zakat Mata Uang Menggunakan Nisab Perak?   Perhitungan Haul dan Nisab dalam Zakat Uang Penggabungan harta untuk melengkapi nisab tidak berarti penggabungan haul. Setiap jenis harta memiliki perhitungan haulnya sendiri, sehingga zakat tidak wajib dikeluarkan sebelum haulnya tercapai, kecuali jika pemiliknya ingin mempercepat pembayaran zakat. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki emas yang mencapai nisab pada bulan Muharram, kemudian ia memperoleh uang sebesar seribu riyal (yang nilainya kurang dari nisab) pada bulan Jumadil Awal, maka zakat wajib dikeluarkan atas uang tersebut karena nilainya mencapai nisab setelah digabungkan dengan emas. Namun, haul zakatnya tetap dihitung dari bulan Jumadil Awal, kecuali jika pemiliknya ingin mengeluarkan zakatnya lebih awal pada bulan Muharram. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Contoh lain: seseorang memiliki harta yang mencapai nisab pada bulan Muharram, lalu ia memperoleh warisan pada bulan Jumadil Akhir berupa uang seratus dirham yang nilainya kurang dari nisab. Zakat tetap wajib atas seratus dirham tersebut meskipun jumlahnya kurang dari nisab, karena ia telah memiliki harta lain yang mencapai nisab. Akan tetapi, haul seratus dirham itu dihitung dari bulan Jumadil Akhir, bukan dari Muharram, karena ia digabungkan dalam nisab, tetapi tidak dalam haul.” (Selesai dari Syarh Al-Mumti’ (6/22)). Cara Mengeluarkan Zakat Emas dan Uang Jika emas digabungkan dengan uang, maka diperbolehkan untuk mengeluarkan zakat dalam bentuk emas, atau dengan menilai emas dan membayarkan zakat dalam bentuk uang. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Jika kita mengatakan bahwa nisab emas dapat digabungkan dengan perak, dan nilai barang dagangan dapat digabungkan dengan emas atau perak, maka apakah zakat harus dikeluarkan dari setiap jenis harta sesuai dengan jenisnya, atau boleh dari salah satunya saja?” “Menurut mazhab Hanbali, zakat harus dikeluarkan dari setiap jenis harta sesuai dengan jenisnya. Jadi, zakat emas dikeluarkan dalam bentuk emas, dan zakat perak dalam bentuk perak. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa tidak mengapa jika zakat dikeluarkan dari salah satu jenis saja, yaitu dengan nilai yang setara.”(Selesai dari Syarh Al-Mumti’ (6/103)). Kesimpulan Jelas bahwa tidak ada kontradiksi dalam masalah ini. Penggabungan harta hanya berlaku untuk melengkapi nisab, tetapi tidak berlaku dalam perhitungan haul, kecuali jika pemiliknya memilih untuk menyamakannya. Dengan demikian, zakat wajib dikeluarkan jika uang kertas yang dimiliki mencapai nisab terkecil dari emas atau perak, atau jika digabungkan dengan harta lainnya hingga nisabnya sempurna. Wallahu A’lam.   Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 537539 Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 220039   –   Senin dinihari, 17 Ramadhan 1446 H, 17 Maret 2025 @ Darush Sholihin Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara bayar zakat fatwa zakat uang harta yang dizakati harta zakat hukum zakat uang keutamaan bayar zakat nisab zakat emas nisab zakat perak nishab zakat panduan zakat penggabungan nisab zakat perhitungan zakat uang Zakat zakat emas dan perak zakat perdagangan zakat uang dalam Islam zakat uang kertas
Banyak yang bertanya, apakah uang kertas termasuk dalam kategori harta yang wajib dizakati? Para ulama terdahulu tidak membahasnya karena belum dikenal pada zaman mereka. Namun, bagaimana hukumnya jika uang kertas digabungkan dengan emas dan perak untuk melengkapi nisab?   Daftar Isi tutup 1. Uang Kertas dalam Kajian Fikih 2. Penggabungan Emas dan Perak dalam Nisab Zakat 3. Zakat Uang Kertas: Keputusan Majelis Ulama 4. Perhitungan Haul dan Nisab dalam Zakat Uang 5. Cara Mengeluarkan Zakat Emas dan Uang 6. Kesimpulan Uang Kertas dalam Kajian Fikih Uang kertas tidak dikenal pada masa para ulama terdahulu, sehingga mereka tidak membahas hukumnya secara langsung. Dalam “Penelitian dari Hai’ah Kibar Al-Ulama” (Dewan Ulama Senior) di Kerajaan Arab Saudi (1/61), disebutkan: “Uang kertas tidak dikenal oleh para ulama Islam terdahulu karena belum digunakan pada zaman mereka, sehingga kita tidak menemukan seorang pun dari mereka yang membahas hukumnya.” (Selesai). Namun, pada zaman mereka telah ada emas, perak, dan barang dagangan yang dijadikan alat transaksi. Oleh karena itu, para ulama membahas hukum-hukum terkait harta-harta tersebut, termasuk mengenai penggabungan emas dan perak untuk melengkapi nisab zakat.   Penggabungan Emas dan Perak dalam Nisab Zakat Dalam “Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah” (23/268-269) disebutkan bahwa mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, satu riwayat dari Imam Ahmad, serta pendapat Ats-Tsauri dan Al-Auza’i berpendapat bahwa emas dan perak dapat digabungkan satu sama lain untuk melengkapi nisab. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki 15 mitsqal emas dan 150 dirham perak, maka ia tetap wajib mengeluarkan zakat dari kedua harta tersebut. Begitu pula, jika seseorang memiliki emas yang mencapai nisab sementara peraknya kurang dari nisab, maka keduanya tetap wajib dizakati. Para ulama berargumen bahwa manfaat emas dan perak itu sama, yaitu sebagai alat transaksi dan perhiasan. Namun, mazhab Syafi’i, satu riwayat lain dari Imam Ahmad, serta pendapat Abu Ubaid, Ibnu Abi Laila, dan Abu Tsaur berpendapat bahwa zakat tidak wajib atas salah satu jenis harta tersebut sampai ia mencapai nisabnya sendiri-sendiri. Mereka berdalil dengan hadits: وَلاَ فِى أَقَلَّ مِنْ عِشْرِينَ مِثْقَالاً مِنَ الذَّهَبِ شَىْءٌ وَلاَ فِى أَقَلَّ مِنْ مِائَتَىْ دِرْهَمٍ شَىْءٌ “Tidak ada zakat jika emas kurang dari 20 mitsqol dan tidak ada zakat jika kurang dari 200 dirham.” (HR. Ad-Daruquthni, 2:93. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih sebagaimana dalam Al Irwa’ no. 815). Di sini emas dan perak dibedakan dan tidak disatukan nisabnya. Adapun stok barang dagangan (عروض التجارة), maka nilainya digabungkan dengan emas atau perak untuk melengkapi nisab keduanya. Ibnu Qudamah berkata, “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini.” (Selesai).   Zakat Uang Kertas: Keputusan Majelis Ulama Pendapat yang menyatakan bahwa uang kertas dapat digabungkan dengan emas dan perak untuk melengkapi nisab merupakan keputusan yang telah disepakati oleh Majma’ Al-Fiqhi yang berafiliasi dengan Rabithah Al-‘Alam Al-Islami (Liga Muslim Dunia), serta oleh Hai’ah Kibar Al-Ulama di Kerajaan Arab Saudi. Pendapat ini juga merupakan fatwa dari Lajnah Da’imah Lil Ifta’ (Komite Tetap untuk Fatwa) di Arab Saudi. Dalam “Keputusan Majma’ Al-Fiqhi” disebutkan: “Zakat atas uang kertas wajib dikeluarkan jika nilainya mencapai nisab terkecil dari emas atau perak, atau jika nilainya melengkapi nisab dengan harta lainnya seperti emas, perak, atau barang dagangan yang diperjualbelikan.” (Keputusan 6, hlm. 101). Sementara dalam “Keputusan Hai’ah Kibar Al-Ulama” di Arab Saudi (1/88) dinyatakan: “Karena sifat tsamaniyyah (fungsi sebagai alat tukar) pada uang kertas sangat jelas, maka Dewan Ulama Senior dengan suara mayoritas menetapkan bahwa uang kertas dianggap sebagai mata uang yang berdiri sendiri, sebagaimana status mata uang pada emas, perak, dan lainnya. Oleh karena itu, zakatnya wajib dikeluarkan jika nilainya mencapai nisab terkecil dari emas atau perak, atau jika nilainya melengkapi nisab dengan harta lainnya yang bernilai.” Dalam “Fatawa Lajnah Da’imah – Jilid Kedua” (8/324) dijelaskan bahwa jika seseorang memiliki emas yang belum mencapai nisab, ia dapat menggabungkannya dengan uang kertas atau barang dagangan untuk melengkapi nisab dan wajib mengeluarkan zakatnya. Baca juga: Kenapa Zakat Mata Uang Menggunakan Nisab Perak?   Perhitungan Haul dan Nisab dalam Zakat Uang Penggabungan harta untuk melengkapi nisab tidak berarti penggabungan haul. Setiap jenis harta memiliki perhitungan haulnya sendiri, sehingga zakat tidak wajib dikeluarkan sebelum haulnya tercapai, kecuali jika pemiliknya ingin mempercepat pembayaran zakat. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki emas yang mencapai nisab pada bulan Muharram, kemudian ia memperoleh uang sebesar seribu riyal (yang nilainya kurang dari nisab) pada bulan Jumadil Awal, maka zakat wajib dikeluarkan atas uang tersebut karena nilainya mencapai nisab setelah digabungkan dengan emas. Namun, haul zakatnya tetap dihitung dari bulan Jumadil Awal, kecuali jika pemiliknya ingin mengeluarkan zakatnya lebih awal pada bulan Muharram. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Contoh lain: seseorang memiliki harta yang mencapai nisab pada bulan Muharram, lalu ia memperoleh warisan pada bulan Jumadil Akhir berupa uang seratus dirham yang nilainya kurang dari nisab. Zakat tetap wajib atas seratus dirham tersebut meskipun jumlahnya kurang dari nisab, karena ia telah memiliki harta lain yang mencapai nisab. Akan tetapi, haul seratus dirham itu dihitung dari bulan Jumadil Akhir, bukan dari Muharram, karena ia digabungkan dalam nisab, tetapi tidak dalam haul.” (Selesai dari Syarh Al-Mumti’ (6/22)). Cara Mengeluarkan Zakat Emas dan Uang Jika emas digabungkan dengan uang, maka diperbolehkan untuk mengeluarkan zakat dalam bentuk emas, atau dengan menilai emas dan membayarkan zakat dalam bentuk uang. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Jika kita mengatakan bahwa nisab emas dapat digabungkan dengan perak, dan nilai barang dagangan dapat digabungkan dengan emas atau perak, maka apakah zakat harus dikeluarkan dari setiap jenis harta sesuai dengan jenisnya, atau boleh dari salah satunya saja?” “Menurut mazhab Hanbali, zakat harus dikeluarkan dari setiap jenis harta sesuai dengan jenisnya. Jadi, zakat emas dikeluarkan dalam bentuk emas, dan zakat perak dalam bentuk perak. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa tidak mengapa jika zakat dikeluarkan dari salah satu jenis saja, yaitu dengan nilai yang setara.”(Selesai dari Syarh Al-Mumti’ (6/103)). Kesimpulan Jelas bahwa tidak ada kontradiksi dalam masalah ini. Penggabungan harta hanya berlaku untuk melengkapi nisab, tetapi tidak berlaku dalam perhitungan haul, kecuali jika pemiliknya memilih untuk menyamakannya. Dengan demikian, zakat wajib dikeluarkan jika uang kertas yang dimiliki mencapai nisab terkecil dari emas atau perak, atau jika digabungkan dengan harta lainnya hingga nisabnya sempurna. Wallahu A’lam.   Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 537539 Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 220039   –   Senin dinihari, 17 Ramadhan 1446 H, 17 Maret 2025 @ Darush Sholihin Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara bayar zakat fatwa zakat uang harta yang dizakati harta zakat hukum zakat uang keutamaan bayar zakat nisab zakat emas nisab zakat perak nishab zakat panduan zakat penggabungan nisab zakat perhitungan zakat uang Zakat zakat emas dan perak zakat perdagangan zakat uang dalam Islam zakat uang kertas


Banyak yang bertanya, apakah uang kertas termasuk dalam kategori harta yang wajib dizakati? Para ulama terdahulu tidak membahasnya karena belum dikenal pada zaman mereka. Namun, bagaimana hukumnya jika uang kertas digabungkan dengan emas dan perak untuk melengkapi nisab?   Daftar Isi tutup 1. Uang Kertas dalam Kajian Fikih 2. Penggabungan Emas dan Perak dalam Nisab Zakat 3. Zakat Uang Kertas: Keputusan Majelis Ulama 4. Perhitungan Haul dan Nisab dalam Zakat Uang 5. Cara Mengeluarkan Zakat Emas dan Uang 6. Kesimpulan Uang Kertas dalam Kajian Fikih Uang kertas tidak dikenal pada masa para ulama terdahulu, sehingga mereka tidak membahas hukumnya secara langsung. Dalam “Penelitian dari Hai’ah Kibar Al-Ulama” (Dewan Ulama Senior) di Kerajaan Arab Saudi (1/61), disebutkan: “Uang kertas tidak dikenal oleh para ulama Islam terdahulu karena belum digunakan pada zaman mereka, sehingga kita tidak menemukan seorang pun dari mereka yang membahas hukumnya.” (Selesai). Namun, pada zaman mereka telah ada emas, perak, dan barang dagangan yang dijadikan alat transaksi. Oleh karena itu, para ulama membahas hukum-hukum terkait harta-harta tersebut, termasuk mengenai penggabungan emas dan perak untuk melengkapi nisab zakat.   Penggabungan Emas dan Perak dalam Nisab Zakat Dalam “Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah” (23/268-269) disebutkan bahwa mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, satu riwayat dari Imam Ahmad, serta pendapat Ats-Tsauri dan Al-Auza’i berpendapat bahwa emas dan perak dapat digabungkan satu sama lain untuk melengkapi nisab. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki 15 mitsqal emas dan 150 dirham perak, maka ia tetap wajib mengeluarkan zakat dari kedua harta tersebut. Begitu pula, jika seseorang memiliki emas yang mencapai nisab sementara peraknya kurang dari nisab, maka keduanya tetap wajib dizakati. Para ulama berargumen bahwa manfaat emas dan perak itu sama, yaitu sebagai alat transaksi dan perhiasan. Namun, mazhab Syafi’i, satu riwayat lain dari Imam Ahmad, serta pendapat Abu Ubaid, Ibnu Abi Laila, dan Abu Tsaur berpendapat bahwa zakat tidak wajib atas salah satu jenis harta tersebut sampai ia mencapai nisabnya sendiri-sendiri. Mereka berdalil dengan hadits: وَلاَ فِى أَقَلَّ مِنْ عِشْرِينَ مِثْقَالاً مِنَ الذَّهَبِ شَىْءٌ وَلاَ فِى أَقَلَّ مِنْ مِائَتَىْ دِرْهَمٍ شَىْءٌ “Tidak ada zakat jika emas kurang dari 20 mitsqol dan tidak ada zakat jika kurang dari 200 dirham.” (HR. Ad-Daruquthni, 2:93. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih sebagaimana dalam Al Irwa’ no. 815). Di sini emas dan perak dibedakan dan tidak disatukan nisabnya. Adapun stok barang dagangan (عروض التجارة), maka nilainya digabungkan dengan emas atau perak untuk melengkapi nisab keduanya. Ibnu Qudamah berkata, “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini.” (Selesai).   Zakat Uang Kertas: Keputusan Majelis Ulama Pendapat yang menyatakan bahwa uang kertas dapat digabungkan dengan emas dan perak untuk melengkapi nisab merupakan keputusan yang telah disepakati oleh Majma’ Al-Fiqhi yang berafiliasi dengan Rabithah Al-‘Alam Al-Islami (Liga Muslim Dunia), serta oleh Hai’ah Kibar Al-Ulama di Kerajaan Arab Saudi. Pendapat ini juga merupakan fatwa dari Lajnah Da’imah Lil Ifta’ (Komite Tetap untuk Fatwa) di Arab Saudi. Dalam “Keputusan Majma’ Al-Fiqhi” disebutkan: “Zakat atas uang kertas wajib dikeluarkan jika nilainya mencapai nisab terkecil dari emas atau perak, atau jika nilainya melengkapi nisab dengan harta lainnya seperti emas, perak, atau barang dagangan yang diperjualbelikan.” (Keputusan 6, hlm. 101). Sementara dalam “Keputusan Hai’ah Kibar Al-Ulama” di Arab Saudi (1/88) dinyatakan: “Karena sifat tsamaniyyah (fungsi sebagai alat tukar) pada uang kertas sangat jelas, maka Dewan Ulama Senior dengan suara mayoritas menetapkan bahwa uang kertas dianggap sebagai mata uang yang berdiri sendiri, sebagaimana status mata uang pada emas, perak, dan lainnya. Oleh karena itu, zakatnya wajib dikeluarkan jika nilainya mencapai nisab terkecil dari emas atau perak, atau jika nilainya melengkapi nisab dengan harta lainnya yang bernilai.” Dalam “Fatawa Lajnah Da’imah – Jilid Kedua” (8/324) dijelaskan bahwa jika seseorang memiliki emas yang belum mencapai nisab, ia dapat menggabungkannya dengan uang kertas atau barang dagangan untuk melengkapi nisab dan wajib mengeluarkan zakatnya. Baca juga: Kenapa Zakat Mata Uang Menggunakan Nisab Perak?   Perhitungan Haul dan Nisab dalam Zakat Uang Penggabungan harta untuk melengkapi nisab tidak berarti penggabungan haul. Setiap jenis harta memiliki perhitungan haulnya sendiri, sehingga zakat tidak wajib dikeluarkan sebelum haulnya tercapai, kecuali jika pemiliknya ingin mempercepat pembayaran zakat. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki emas yang mencapai nisab pada bulan Muharram, kemudian ia memperoleh uang sebesar seribu riyal (yang nilainya kurang dari nisab) pada bulan Jumadil Awal, maka zakat wajib dikeluarkan atas uang tersebut karena nilainya mencapai nisab setelah digabungkan dengan emas. Namun, haul zakatnya tetap dihitung dari bulan Jumadil Awal, kecuali jika pemiliknya ingin mengeluarkan zakatnya lebih awal pada bulan Muharram. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Contoh lain: seseorang memiliki harta yang mencapai nisab pada bulan Muharram, lalu ia memperoleh warisan pada bulan Jumadil Akhir berupa uang seratus dirham yang nilainya kurang dari nisab. Zakat tetap wajib atas seratus dirham tersebut meskipun jumlahnya kurang dari nisab, karena ia telah memiliki harta lain yang mencapai nisab. Akan tetapi, haul seratus dirham itu dihitung dari bulan Jumadil Akhir, bukan dari Muharram, karena ia digabungkan dalam nisab, tetapi tidak dalam haul.” (Selesai dari Syarh Al-Mumti’ (6/22)). Cara Mengeluarkan Zakat Emas dan Uang Jika emas digabungkan dengan uang, maka diperbolehkan untuk mengeluarkan zakat dalam bentuk emas, atau dengan menilai emas dan membayarkan zakat dalam bentuk uang. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Jika kita mengatakan bahwa nisab emas dapat digabungkan dengan perak, dan nilai barang dagangan dapat digabungkan dengan emas atau perak, maka apakah zakat harus dikeluarkan dari setiap jenis harta sesuai dengan jenisnya, atau boleh dari salah satunya saja?” “Menurut mazhab Hanbali, zakat harus dikeluarkan dari setiap jenis harta sesuai dengan jenisnya. Jadi, zakat emas dikeluarkan dalam bentuk emas, dan zakat perak dalam bentuk perak. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa tidak mengapa jika zakat dikeluarkan dari salah satu jenis saja, yaitu dengan nilai yang setara.”(Selesai dari Syarh Al-Mumti’ (6/103)). Kesimpulan Jelas bahwa tidak ada kontradiksi dalam masalah ini. Penggabungan harta hanya berlaku untuk melengkapi nisab, tetapi tidak berlaku dalam perhitungan haul, kecuali jika pemiliknya memilih untuk menyamakannya. Dengan demikian, zakat wajib dikeluarkan jika uang kertas yang dimiliki mencapai nisab terkecil dari emas atau perak, atau jika digabungkan dengan harta lainnya hingga nisabnya sempurna. Wallahu A’lam.   Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 537539 Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 220039   –   Senin dinihari, 17 Ramadhan 1446 H, 17 Maret 2025 @ Darush Sholihin Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara bayar zakat fatwa zakat uang harta yang dizakati harta zakat hukum zakat uang keutamaan bayar zakat nisab zakat emas nisab zakat perak nishab zakat panduan zakat penggabungan nisab zakat perhitungan zakat uang Zakat zakat emas dan perak zakat perdagangan zakat uang dalam Islam zakat uang kertas

Doa Minta agar Berbagai Nikmat Tidak Hilang – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Dunia cepat sekali berubah-ubah. Tidak akan terus-menerus dalam satu keadaan. Terkadang ada orang kaya, lalu tidak lama setelah itu ia jatuh miskin. Terkadang juga sebaliknya. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya konsisten mengucapkan doa yang agung ini. Doa ini senantiasa diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu senantiasa mengucapkan doa: ALLAAHUMMA INNII A-‘UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK WA FUJAA-ATI NIQMATIK WA JAMII-‘I SAKHOTIK(Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya kenikmatan-Mu yang ada padaku dari berubahnya kesehatan yang Engkau karuniakan kepadaku menjadi penyakit dari azab-Mu yang datang secara tiba-tiba dan dari seluruh kemurkaan-Mu). Perhatikanlah doa yang agung dan lengkap ini: “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya kenikmatan-Mu yang ada padaku.” Karena manusia diberi oleh Allah banyak kenikmatan, dan ia meminta kepada Allah agar kenikmatan ini terus ada dan tidak lenyap. “…dan berubahnya kesehatan yang Engkau karuniakan kepadaku menjadi penyakit.” Karena manusia diberi kesehatan oleh Allah, dan ini adalah salah satu kenikmatan yang paling besar, sehingga ia berdoa agar selalu sehat, dan tidak berubah menjadi sakit. “…dari azab-Mu yang datang secara tiba-tiba, serta dari seluruh kemurkaan-Mu.” Karena selayaknya manusia takut apabila Allah murka terhadapnya, atau mengazabnya dengan cara yang tidak ia sadari. Sehingga ia memohon perlindungan kepada Allah dari azab-Nya yang datang tiba-tiba dan seluruh kemurkaan-Nya. Perhatikanlah doa yang agung dan lengkap ini, yang selayaknya selalu dibaca oleh seorang muslim, dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan doa ini setiap hari: ALLAAHUMMA INNII A-‘UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK WA FUJAA-ATI NIQMATIK WA JAMII-‘I SAKHOTIK ==== الدُّنْيَا سَرِيعَةُ التَّقَلُّبِ لَا تَدُوْمُ عَلَى حَالٍ فَقَدْ يُصْبِحُ الإِنْسَانُ غَنِيًّا ثُمَّ مَا أَنْ يَلْبَثَ إِلَّا وَيُصْبِحُ فَقِيرًا وَقَدْ يَكُونُ الْعَكْسَ وَلِهَذَا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى هَذَا الدُّعَاءِ الْعَظِيمِ الَّذِي كَانَ يَدْعُو بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو وَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ فَانْظُرْ إِلَى هَذَا الدُّعَاءِ الْعَظِيمِ الْجَامِعِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يُنْعِمُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِنِعَمٍ عَظِيمَةٍ وَيَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ تَدُومَ هَذِهِ النِّعَمُ وَأَلَّا تَزُوْلَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يُنْعِمُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِالْعَافِيَةِ وَهِيَ مِنْ أَعْظَمِ وَأَجَلِّ النِّعَمِ فَيَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ تَدُومَ الْعَافِيَةُ وَأَنْ لَا تَتَحَوَّلَ إِلَى ضِدِّهَا وَمِنْ فُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَخْشَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَسْخَطُ عَلَيْهِ أَوْ يَنْقِمُ عَلَيْهِ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُ فَيَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنْ فُجَاءَةِ نِقْمَتِهِ وَمِنْ جَمِيعِ سَخَطِهِ فَانْظُرْ إِلَى هَذَا الدُّعَاءِ الْعَظِيمِ الْجَامِعِ الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَيْهِ وَأَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ كُلَّ يَوْمٍ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

Doa Minta agar Berbagai Nikmat Tidak Hilang – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Dunia cepat sekali berubah-ubah. Tidak akan terus-menerus dalam satu keadaan. Terkadang ada orang kaya, lalu tidak lama setelah itu ia jatuh miskin. Terkadang juga sebaliknya. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya konsisten mengucapkan doa yang agung ini. Doa ini senantiasa diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu senantiasa mengucapkan doa: ALLAAHUMMA INNII A-‘UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK WA FUJAA-ATI NIQMATIK WA JAMII-‘I SAKHOTIK(Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya kenikmatan-Mu yang ada padaku dari berubahnya kesehatan yang Engkau karuniakan kepadaku menjadi penyakit dari azab-Mu yang datang secara tiba-tiba dan dari seluruh kemurkaan-Mu). Perhatikanlah doa yang agung dan lengkap ini: “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya kenikmatan-Mu yang ada padaku.” Karena manusia diberi oleh Allah banyak kenikmatan, dan ia meminta kepada Allah agar kenikmatan ini terus ada dan tidak lenyap. “…dan berubahnya kesehatan yang Engkau karuniakan kepadaku menjadi penyakit.” Karena manusia diberi kesehatan oleh Allah, dan ini adalah salah satu kenikmatan yang paling besar, sehingga ia berdoa agar selalu sehat, dan tidak berubah menjadi sakit. “…dari azab-Mu yang datang secara tiba-tiba, serta dari seluruh kemurkaan-Mu.” Karena selayaknya manusia takut apabila Allah murka terhadapnya, atau mengazabnya dengan cara yang tidak ia sadari. Sehingga ia memohon perlindungan kepada Allah dari azab-Nya yang datang tiba-tiba dan seluruh kemurkaan-Nya. Perhatikanlah doa yang agung dan lengkap ini, yang selayaknya selalu dibaca oleh seorang muslim, dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan doa ini setiap hari: ALLAAHUMMA INNII A-‘UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK WA FUJAA-ATI NIQMATIK WA JAMII-‘I SAKHOTIK ==== الدُّنْيَا سَرِيعَةُ التَّقَلُّبِ لَا تَدُوْمُ عَلَى حَالٍ فَقَدْ يُصْبِحُ الإِنْسَانُ غَنِيًّا ثُمَّ مَا أَنْ يَلْبَثَ إِلَّا وَيُصْبِحُ فَقِيرًا وَقَدْ يَكُونُ الْعَكْسَ وَلِهَذَا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى هَذَا الدُّعَاءِ الْعَظِيمِ الَّذِي كَانَ يَدْعُو بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو وَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ فَانْظُرْ إِلَى هَذَا الدُّعَاءِ الْعَظِيمِ الْجَامِعِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يُنْعِمُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِنِعَمٍ عَظِيمَةٍ وَيَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ تَدُومَ هَذِهِ النِّعَمُ وَأَلَّا تَزُوْلَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يُنْعِمُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِالْعَافِيَةِ وَهِيَ مِنْ أَعْظَمِ وَأَجَلِّ النِّعَمِ فَيَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ تَدُومَ الْعَافِيَةُ وَأَنْ لَا تَتَحَوَّلَ إِلَى ضِدِّهَا وَمِنْ فُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَخْشَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَسْخَطُ عَلَيْهِ أَوْ يَنْقِمُ عَلَيْهِ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُ فَيَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنْ فُجَاءَةِ نِقْمَتِهِ وَمِنْ جَمِيعِ سَخَطِهِ فَانْظُرْ إِلَى هَذَا الدُّعَاءِ الْعَظِيمِ الْجَامِعِ الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَيْهِ وَأَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ كُلَّ يَوْمٍ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
Dunia cepat sekali berubah-ubah. Tidak akan terus-menerus dalam satu keadaan. Terkadang ada orang kaya, lalu tidak lama setelah itu ia jatuh miskin. Terkadang juga sebaliknya. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya konsisten mengucapkan doa yang agung ini. Doa ini senantiasa diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu senantiasa mengucapkan doa: ALLAAHUMMA INNII A-‘UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK WA FUJAA-ATI NIQMATIK WA JAMII-‘I SAKHOTIK(Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya kenikmatan-Mu yang ada padaku dari berubahnya kesehatan yang Engkau karuniakan kepadaku menjadi penyakit dari azab-Mu yang datang secara tiba-tiba dan dari seluruh kemurkaan-Mu). Perhatikanlah doa yang agung dan lengkap ini: “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya kenikmatan-Mu yang ada padaku.” Karena manusia diberi oleh Allah banyak kenikmatan, dan ia meminta kepada Allah agar kenikmatan ini terus ada dan tidak lenyap. “…dan berubahnya kesehatan yang Engkau karuniakan kepadaku menjadi penyakit.” Karena manusia diberi kesehatan oleh Allah, dan ini adalah salah satu kenikmatan yang paling besar, sehingga ia berdoa agar selalu sehat, dan tidak berubah menjadi sakit. “…dari azab-Mu yang datang secara tiba-tiba, serta dari seluruh kemurkaan-Mu.” Karena selayaknya manusia takut apabila Allah murka terhadapnya, atau mengazabnya dengan cara yang tidak ia sadari. Sehingga ia memohon perlindungan kepada Allah dari azab-Nya yang datang tiba-tiba dan seluruh kemurkaan-Nya. Perhatikanlah doa yang agung dan lengkap ini, yang selayaknya selalu dibaca oleh seorang muslim, dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan doa ini setiap hari: ALLAAHUMMA INNII A-‘UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK WA FUJAA-ATI NIQMATIK WA JAMII-‘I SAKHOTIK ==== الدُّنْيَا سَرِيعَةُ التَّقَلُّبِ لَا تَدُوْمُ عَلَى حَالٍ فَقَدْ يُصْبِحُ الإِنْسَانُ غَنِيًّا ثُمَّ مَا أَنْ يَلْبَثَ إِلَّا وَيُصْبِحُ فَقِيرًا وَقَدْ يَكُونُ الْعَكْسَ وَلِهَذَا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى هَذَا الدُّعَاءِ الْعَظِيمِ الَّذِي كَانَ يَدْعُو بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو وَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ فَانْظُرْ إِلَى هَذَا الدُّعَاءِ الْعَظِيمِ الْجَامِعِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يُنْعِمُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِنِعَمٍ عَظِيمَةٍ وَيَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ تَدُومَ هَذِهِ النِّعَمُ وَأَلَّا تَزُوْلَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يُنْعِمُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِالْعَافِيَةِ وَهِيَ مِنْ أَعْظَمِ وَأَجَلِّ النِّعَمِ فَيَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ تَدُومَ الْعَافِيَةُ وَأَنْ لَا تَتَحَوَّلَ إِلَى ضِدِّهَا وَمِنْ فُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَخْشَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَسْخَطُ عَلَيْهِ أَوْ يَنْقِمُ عَلَيْهِ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُ فَيَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنْ فُجَاءَةِ نِقْمَتِهِ وَمِنْ جَمِيعِ سَخَطِهِ فَانْظُرْ إِلَى هَذَا الدُّعَاءِ الْعَظِيمِ الْجَامِعِ الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَيْهِ وَأَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ كُلَّ يَوْمٍ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ


Dunia cepat sekali berubah-ubah. Tidak akan terus-menerus dalam satu keadaan. Terkadang ada orang kaya, lalu tidak lama setelah itu ia jatuh miskin. Terkadang juga sebaliknya. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya konsisten mengucapkan doa yang agung ini. Doa ini senantiasa diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu senantiasa mengucapkan doa: ALLAAHUMMA INNII A-‘UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK WA FUJAA-ATI NIQMATIK WA JAMII-‘I SAKHOTIK(Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya kenikmatan-Mu yang ada padaku dari berubahnya kesehatan yang Engkau karuniakan kepadaku menjadi penyakit dari azab-Mu yang datang secara tiba-tiba dan dari seluruh kemurkaan-Mu). Perhatikanlah doa yang agung dan lengkap ini: “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya kenikmatan-Mu yang ada padaku.” Karena manusia diberi oleh Allah banyak kenikmatan, dan ia meminta kepada Allah agar kenikmatan ini terus ada dan tidak lenyap. “…dan berubahnya kesehatan yang Engkau karuniakan kepadaku menjadi penyakit.” Karena manusia diberi kesehatan oleh Allah, dan ini adalah salah satu kenikmatan yang paling besar, sehingga ia berdoa agar selalu sehat, dan tidak berubah menjadi sakit. “…dari azab-Mu yang datang secara tiba-tiba, serta dari seluruh kemurkaan-Mu.” Karena selayaknya manusia takut apabila Allah murka terhadapnya, atau mengazabnya dengan cara yang tidak ia sadari. Sehingga ia memohon perlindungan kepada Allah dari azab-Nya yang datang tiba-tiba dan seluruh kemurkaan-Nya. Perhatikanlah doa yang agung dan lengkap ini, yang selayaknya selalu dibaca oleh seorang muslim, dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan doa ini setiap hari: ALLAAHUMMA INNII A-‘UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK WA FUJAA-ATI NIQMATIK WA JAMII-‘I SAKHOTIK ==== الدُّنْيَا سَرِيعَةُ التَّقَلُّبِ لَا تَدُوْمُ عَلَى حَالٍ فَقَدْ يُصْبِحُ الإِنْسَانُ غَنِيًّا ثُمَّ مَا أَنْ يَلْبَثَ إِلَّا وَيُصْبِحُ فَقِيرًا وَقَدْ يَكُونُ الْعَكْسَ وَلِهَذَا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى هَذَا الدُّعَاءِ الْعَظِيمِ الَّذِي كَانَ يَدْعُو بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو وَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ فَانْظُرْ إِلَى هَذَا الدُّعَاءِ الْعَظِيمِ الْجَامِعِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يُنْعِمُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِنِعَمٍ عَظِيمَةٍ وَيَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ تَدُومَ هَذِهِ النِّعَمُ وَأَلَّا تَزُوْلَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يُنْعِمُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِالْعَافِيَةِ وَهِيَ مِنْ أَعْظَمِ وَأَجَلِّ النِّعَمِ فَيَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ تَدُومَ الْعَافِيَةُ وَأَنْ لَا تَتَحَوَّلَ إِلَى ضِدِّهَا وَمِنْ فُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَخْشَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَسْخَطُ عَلَيْهِ أَوْ يَنْقِمُ عَلَيْهِ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُ فَيَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنْ فُجَاءَةِ نِقْمَتِهِ وَمِنْ جَمِيعِ سَخَطِهِ فَانْظُرْ إِلَى هَذَا الدُّعَاءِ الْعَظِيمِ الْجَامِعِ الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَيْهِ وَأَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ كُلَّ يَوْمٍ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

Panen Pahala dengan 9 Amal Saleh Ini di Bulan Ramadhan – Syaikh Sa’ad asy-Syatsri #NasehatUlama

Ummu Muhammad dari Arab Saudi bertanya: “Wahai Syaikh, kami tengah menyambut musim yang agung, salah satu musim ketaatan, di mana pahala amal kebaikan dilipatgandakan, yaitu bulan Ramadhan.” Ia bertanya tentang amal-amal saleh yang dapat dilakukan di bulan Ramadhan. Segala bentuk ketaatan akan dilipatgandakan pahalanya di bulan Ramadhan. Saya akan menyebutkan beberapa contohnya: [PERTAMA]Menjaga puasa dari perbuatan sia-sia, ucapan kotor, membicarakan orang lain, ghibah, dan namimah, termasuk amal saleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak membutuhkannya untuk meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari). [KEDUA]Memperbanyak membaca al-Quran. Allah Ta’ala berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk itu, serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)…” (QS. al-Baqarah: 185). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Puasa dan al-Quran akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada Hari Kiamat.” (HR. Ahmad). Membaca al-Quran tidak hanya dianjurkan pada siang hari. Namun, pada malam hari juga dianjurkan untuk banyak membaca al-Quran. Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertadarus al-Quran dengan Jibril pada setiap malam di bulan Ramadhan. Oleh sebab itu, dianjurkan mengadakan majelis-majelis ilmu untuk mempelajari dan membaca al-Quran pada malam-malam bulan Ramadhan, dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [KETIGA]Memperbanyak berzikir kepada Allah, siang dan malam. [KEEMPAT]Memperbanyak berdoa, mengadukan permasalahan dan keperluan kepada Rabb semesta alam. [KELIMA]Mendirikan Shalat Malam pada bulan Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mendirikan Shalat Malam di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala…” maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari). [KEENAM]Bersedekah dan berdonasi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan pada bulan Ramadhan, ketika malaikat Jibril menemuinya untuk bertadarus al-Quran bersamanya. [KETUJUH]Memperbaiki akhlak dan memperlakukan orang lain dengan baik. [KEDELAPAN]Mengunjungi orang yang Anda cintai karena Allah, dan bersilaturahmi. [KESEMBILAN]Berbakti kepada kedua orang tua. Semua ini adalah amal saleh, yang pahalanya akan dilipatgandakan di bulan Ramadhan. ==== أُمُّ مُحَمَّدٍ مِنَ السُّعُودِيَّةِ سَأَلَتْ شَيْخَنَا وَنَحْنُ مُقْبِلُونَ عَلَى مَوْسِمٍ عَظِيمٍ مِنْ مَوَاسِمِ الطَّاعَاتِ تَتَضَاعَفُ فِيهِ الْحَسَنَاتُ شَهْرِ رَمَضَانَ سَأَلَتْ عَنِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فِي رَمَضَانَ كُلُّ طَاعَةٍ مِنَ الطَّاعَاتِ فَإِنَّهُ يُضَاعَفُ أَجْرُهَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سَأَذْكُرُ لِذَلِكَ نَمَاذِجَ حِفْظُ الصِّيَامِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَالْحَدِيثِ فِي الْآخَرِيْنَ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ عَمَلٌ صَالِحٌ قَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَهَكَذَا مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَقَدْ قَالَ تَعَالَى شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالْقُرْآنُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِالنَّهَارِ دُونَ اللَّيْلِ بَلْ حَتَّى فِي اللَّيْلِ يُسْتَحَبُّ الْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ قَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدَارِسُ جِبْرِيلَ كُلَّ لَيْلَةٍ مِنْ لَيَالِي رَمَضَانَ وَلِذَا يُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ حَلَقَاتٌ عِلْمِيَّةٌ لِمُدَارِسَةِ الْقُرْآنُ وَقِرَاءَتِهِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ اقْتِدَاءً بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا لَيْلًا وَنَهَارًا وَمِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْإِكْثَارُ مِنَ الدُّعَاءِ وَعَرْضِ الْمَسَائِلِ وَالْحَوَائِجِ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَمِنْ ذَلِكَ صَلَاةُ نَافِلَةِ رَمَضَانَ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمِنْ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الصَّدَقَةُ وَالْبَذْلُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسَهُ الْقُرْآنَ فَهَكَذَا أَيْضًا حُسْنُ الْخُلُقِ وَالتَّعَامُلِ مَعَ الْآخَرِيْنَ زِيَارَةُ مَنْ تُحِبُّهُمْ فِي اللَّهِ وَصِلَةُ الأَرْحَامِ وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ هَذِهِ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ فَيُضَاعَفُ فِيهَا أَجْرُ الْإِنْسَانِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ

Panen Pahala dengan 9 Amal Saleh Ini di Bulan Ramadhan – Syaikh Sa’ad asy-Syatsri #NasehatUlama

Ummu Muhammad dari Arab Saudi bertanya: “Wahai Syaikh, kami tengah menyambut musim yang agung, salah satu musim ketaatan, di mana pahala amal kebaikan dilipatgandakan, yaitu bulan Ramadhan.” Ia bertanya tentang amal-amal saleh yang dapat dilakukan di bulan Ramadhan. Segala bentuk ketaatan akan dilipatgandakan pahalanya di bulan Ramadhan. Saya akan menyebutkan beberapa contohnya: [PERTAMA]Menjaga puasa dari perbuatan sia-sia, ucapan kotor, membicarakan orang lain, ghibah, dan namimah, termasuk amal saleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak membutuhkannya untuk meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari). [KEDUA]Memperbanyak membaca al-Quran. Allah Ta’ala berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk itu, serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)…” (QS. al-Baqarah: 185). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Puasa dan al-Quran akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada Hari Kiamat.” (HR. Ahmad). Membaca al-Quran tidak hanya dianjurkan pada siang hari. Namun, pada malam hari juga dianjurkan untuk banyak membaca al-Quran. Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertadarus al-Quran dengan Jibril pada setiap malam di bulan Ramadhan. Oleh sebab itu, dianjurkan mengadakan majelis-majelis ilmu untuk mempelajari dan membaca al-Quran pada malam-malam bulan Ramadhan, dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [KETIGA]Memperbanyak berzikir kepada Allah, siang dan malam. [KEEMPAT]Memperbanyak berdoa, mengadukan permasalahan dan keperluan kepada Rabb semesta alam. [KELIMA]Mendirikan Shalat Malam pada bulan Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mendirikan Shalat Malam di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala…” maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari). [KEENAM]Bersedekah dan berdonasi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan pada bulan Ramadhan, ketika malaikat Jibril menemuinya untuk bertadarus al-Quran bersamanya. [KETUJUH]Memperbaiki akhlak dan memperlakukan orang lain dengan baik. [KEDELAPAN]Mengunjungi orang yang Anda cintai karena Allah, dan bersilaturahmi. [KESEMBILAN]Berbakti kepada kedua orang tua. Semua ini adalah amal saleh, yang pahalanya akan dilipatgandakan di bulan Ramadhan. ==== أُمُّ مُحَمَّدٍ مِنَ السُّعُودِيَّةِ سَأَلَتْ شَيْخَنَا وَنَحْنُ مُقْبِلُونَ عَلَى مَوْسِمٍ عَظِيمٍ مِنْ مَوَاسِمِ الطَّاعَاتِ تَتَضَاعَفُ فِيهِ الْحَسَنَاتُ شَهْرِ رَمَضَانَ سَأَلَتْ عَنِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فِي رَمَضَانَ كُلُّ طَاعَةٍ مِنَ الطَّاعَاتِ فَإِنَّهُ يُضَاعَفُ أَجْرُهَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سَأَذْكُرُ لِذَلِكَ نَمَاذِجَ حِفْظُ الصِّيَامِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَالْحَدِيثِ فِي الْآخَرِيْنَ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ عَمَلٌ صَالِحٌ قَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَهَكَذَا مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَقَدْ قَالَ تَعَالَى شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالْقُرْآنُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِالنَّهَارِ دُونَ اللَّيْلِ بَلْ حَتَّى فِي اللَّيْلِ يُسْتَحَبُّ الْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ قَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدَارِسُ جِبْرِيلَ كُلَّ لَيْلَةٍ مِنْ لَيَالِي رَمَضَانَ وَلِذَا يُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ حَلَقَاتٌ عِلْمِيَّةٌ لِمُدَارِسَةِ الْقُرْآنُ وَقِرَاءَتِهِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ اقْتِدَاءً بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا لَيْلًا وَنَهَارًا وَمِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْإِكْثَارُ مِنَ الدُّعَاءِ وَعَرْضِ الْمَسَائِلِ وَالْحَوَائِجِ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَمِنْ ذَلِكَ صَلَاةُ نَافِلَةِ رَمَضَانَ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمِنْ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الصَّدَقَةُ وَالْبَذْلُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسَهُ الْقُرْآنَ فَهَكَذَا أَيْضًا حُسْنُ الْخُلُقِ وَالتَّعَامُلِ مَعَ الْآخَرِيْنَ زِيَارَةُ مَنْ تُحِبُّهُمْ فِي اللَّهِ وَصِلَةُ الأَرْحَامِ وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ هَذِهِ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ فَيُضَاعَفُ فِيهَا أَجْرُ الْإِنْسَانِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ
Ummu Muhammad dari Arab Saudi bertanya: “Wahai Syaikh, kami tengah menyambut musim yang agung, salah satu musim ketaatan, di mana pahala amal kebaikan dilipatgandakan, yaitu bulan Ramadhan.” Ia bertanya tentang amal-amal saleh yang dapat dilakukan di bulan Ramadhan. Segala bentuk ketaatan akan dilipatgandakan pahalanya di bulan Ramadhan. Saya akan menyebutkan beberapa contohnya: [PERTAMA]Menjaga puasa dari perbuatan sia-sia, ucapan kotor, membicarakan orang lain, ghibah, dan namimah, termasuk amal saleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak membutuhkannya untuk meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari). [KEDUA]Memperbanyak membaca al-Quran. Allah Ta’ala berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk itu, serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)…” (QS. al-Baqarah: 185). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Puasa dan al-Quran akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada Hari Kiamat.” (HR. Ahmad). Membaca al-Quran tidak hanya dianjurkan pada siang hari. Namun, pada malam hari juga dianjurkan untuk banyak membaca al-Quran. Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertadarus al-Quran dengan Jibril pada setiap malam di bulan Ramadhan. Oleh sebab itu, dianjurkan mengadakan majelis-majelis ilmu untuk mempelajari dan membaca al-Quran pada malam-malam bulan Ramadhan, dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [KETIGA]Memperbanyak berzikir kepada Allah, siang dan malam. [KEEMPAT]Memperbanyak berdoa, mengadukan permasalahan dan keperluan kepada Rabb semesta alam. [KELIMA]Mendirikan Shalat Malam pada bulan Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mendirikan Shalat Malam di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala…” maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari). [KEENAM]Bersedekah dan berdonasi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan pada bulan Ramadhan, ketika malaikat Jibril menemuinya untuk bertadarus al-Quran bersamanya. [KETUJUH]Memperbaiki akhlak dan memperlakukan orang lain dengan baik. [KEDELAPAN]Mengunjungi orang yang Anda cintai karena Allah, dan bersilaturahmi. [KESEMBILAN]Berbakti kepada kedua orang tua. Semua ini adalah amal saleh, yang pahalanya akan dilipatgandakan di bulan Ramadhan. ==== أُمُّ مُحَمَّدٍ مِنَ السُّعُودِيَّةِ سَأَلَتْ شَيْخَنَا وَنَحْنُ مُقْبِلُونَ عَلَى مَوْسِمٍ عَظِيمٍ مِنْ مَوَاسِمِ الطَّاعَاتِ تَتَضَاعَفُ فِيهِ الْحَسَنَاتُ شَهْرِ رَمَضَانَ سَأَلَتْ عَنِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فِي رَمَضَانَ كُلُّ طَاعَةٍ مِنَ الطَّاعَاتِ فَإِنَّهُ يُضَاعَفُ أَجْرُهَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سَأَذْكُرُ لِذَلِكَ نَمَاذِجَ حِفْظُ الصِّيَامِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَالْحَدِيثِ فِي الْآخَرِيْنَ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ عَمَلٌ صَالِحٌ قَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَهَكَذَا مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَقَدْ قَالَ تَعَالَى شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالْقُرْآنُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِالنَّهَارِ دُونَ اللَّيْلِ بَلْ حَتَّى فِي اللَّيْلِ يُسْتَحَبُّ الْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ قَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدَارِسُ جِبْرِيلَ كُلَّ لَيْلَةٍ مِنْ لَيَالِي رَمَضَانَ وَلِذَا يُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ حَلَقَاتٌ عِلْمِيَّةٌ لِمُدَارِسَةِ الْقُرْآنُ وَقِرَاءَتِهِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ اقْتِدَاءً بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا لَيْلًا وَنَهَارًا وَمِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْإِكْثَارُ مِنَ الدُّعَاءِ وَعَرْضِ الْمَسَائِلِ وَالْحَوَائِجِ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَمِنْ ذَلِكَ صَلَاةُ نَافِلَةِ رَمَضَانَ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمِنْ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الصَّدَقَةُ وَالْبَذْلُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسَهُ الْقُرْآنَ فَهَكَذَا أَيْضًا حُسْنُ الْخُلُقِ وَالتَّعَامُلِ مَعَ الْآخَرِيْنَ زِيَارَةُ مَنْ تُحِبُّهُمْ فِي اللَّهِ وَصِلَةُ الأَرْحَامِ وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ هَذِهِ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ فَيُضَاعَفُ فِيهَا أَجْرُ الْإِنْسَانِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ


Ummu Muhammad dari Arab Saudi bertanya: “Wahai Syaikh, kami tengah menyambut musim yang agung, salah satu musim ketaatan, di mana pahala amal kebaikan dilipatgandakan, yaitu bulan Ramadhan.” Ia bertanya tentang amal-amal saleh yang dapat dilakukan di bulan Ramadhan. Segala bentuk ketaatan akan dilipatgandakan pahalanya di bulan Ramadhan. Saya akan menyebutkan beberapa contohnya: [PERTAMA]Menjaga puasa dari perbuatan sia-sia, ucapan kotor, membicarakan orang lain, ghibah, dan namimah, termasuk amal saleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak membutuhkannya untuk meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari). [KEDUA]Memperbanyak membaca al-Quran. Allah Ta’ala berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk itu, serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)…” (QS. al-Baqarah: 185). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Puasa dan al-Quran akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada Hari Kiamat.” (HR. Ahmad). Membaca al-Quran tidak hanya dianjurkan pada siang hari. Namun, pada malam hari juga dianjurkan untuk banyak membaca al-Quran. Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertadarus al-Quran dengan Jibril pada setiap malam di bulan Ramadhan. Oleh sebab itu, dianjurkan mengadakan majelis-majelis ilmu untuk mempelajari dan membaca al-Quran pada malam-malam bulan Ramadhan, dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [KETIGA]Memperbanyak berzikir kepada Allah, siang dan malam. [KEEMPAT]Memperbanyak berdoa, mengadukan permasalahan dan keperluan kepada Rabb semesta alam. [KELIMA]Mendirikan Shalat Malam pada bulan Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mendirikan Shalat Malam di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala…” maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari). [KEENAM]Bersedekah dan berdonasi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan pada bulan Ramadhan, ketika malaikat Jibril menemuinya untuk bertadarus al-Quran bersamanya. [KETUJUH]Memperbaiki akhlak dan memperlakukan orang lain dengan baik. [KEDELAPAN]Mengunjungi orang yang Anda cintai karena Allah, dan bersilaturahmi. [KESEMBILAN]Berbakti kepada kedua orang tua. Semua ini adalah amal saleh, yang pahalanya akan dilipatgandakan di bulan Ramadhan. ==== أُمُّ مُحَمَّدٍ مِنَ السُّعُودِيَّةِ سَأَلَتْ شَيْخَنَا وَنَحْنُ مُقْبِلُونَ عَلَى مَوْسِمٍ عَظِيمٍ مِنْ مَوَاسِمِ الطَّاعَاتِ تَتَضَاعَفُ فِيهِ الْحَسَنَاتُ شَهْرِ رَمَضَانَ سَأَلَتْ عَنِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فِي رَمَضَانَ كُلُّ طَاعَةٍ مِنَ الطَّاعَاتِ فَإِنَّهُ يُضَاعَفُ أَجْرُهَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سَأَذْكُرُ لِذَلِكَ نَمَاذِجَ حِفْظُ الصِّيَامِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَالْحَدِيثِ فِي الْآخَرِيْنَ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ عَمَلٌ صَالِحٌ قَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَهَكَذَا مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَقَدْ قَالَ تَعَالَى شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالْقُرْآنُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِالنَّهَارِ دُونَ اللَّيْلِ بَلْ حَتَّى فِي اللَّيْلِ يُسْتَحَبُّ الْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ قَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدَارِسُ جِبْرِيلَ كُلَّ لَيْلَةٍ مِنْ لَيَالِي رَمَضَانَ وَلِذَا يُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ حَلَقَاتٌ عِلْمِيَّةٌ لِمُدَارِسَةِ الْقُرْآنُ وَقِرَاءَتِهِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ اقْتِدَاءً بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا لَيْلًا وَنَهَارًا وَمِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْإِكْثَارُ مِنَ الدُّعَاءِ وَعَرْضِ الْمَسَائِلِ وَالْحَوَائِجِ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَمِنْ ذَلِكَ صَلَاةُ نَافِلَةِ رَمَضَانَ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمِنْ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الصَّدَقَةُ وَالْبَذْلُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسَهُ الْقُرْآنَ فَهَكَذَا أَيْضًا حُسْنُ الْخُلُقِ وَالتَّعَامُلِ مَعَ الْآخَرِيْنَ زِيَارَةُ مَنْ تُحِبُّهُمْ فِي اللَّهِ وَصِلَةُ الأَرْحَامِ وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ هَذِهِ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ فَيُضَاعَفُ فِيهَا أَجْرُ الْإِنْسَانِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ

Berat Beramal di Bulan Ramadan? Lihat Kondisi Hatimu!

Bulan Ramadan merupakan waktu yang penuh berkah dan rahmat, di mana umat Islam diberi kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Namun, bagi sebagian orang, menjalankan ibadah di bulan ini bisa terasa berat. Ada yang merasa sulit untuk menjalani puasa, salat tarawih, atau bahkan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Mengapa demikian? Mungkin jawabannya terletak pada kondisi hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada kondisi hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564) Dari hadis di atas, dapat kita ketahui bahwa yang menjadi standar kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala adalah bagaimana kondisi hatinya, baik atau tidak. Ramadan merupakan salah satu momen yang paling pas bagi kita untuk mengevaluasi kondisi hati. Kita tidak bisa melihat secara langsung atau secara fisik bagaimana kondisi hati, apakah kotor ataukah bersih, apakah sehat ataukah sakit, tidak bisa kita lihat dengan mata kepala. Namun, kita bisa menilainya, bagaimana cara kita menilainya, terkhusus di bulan Ramadan? Yaitu, dengan melihat bagaimana kondisi kita ketika mengetahui banyak pilihan beramal di bulan Ramadan. Orang-orang yang hatinya bersih akan mudah dan ringan melakukan berbagai amal ketaatan tersebut. Sedangkan bagi orang-orang yang merasa berat untuk beramal saleh di bulan Ramadan, padahal Allah sudah bentangkan seluas-luasnya pilihan untuk beramal di bulan Ramadan, maka itu adalah salah satu tanda kondisi hati yang kotor. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن العبد إذا أخطأ خطيئة نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإذا هو نزع واستغفر وتاب سقل قلبه وإن عاد زيد فيها حتى تعلو قلبه، وهو الران الذي ذكر الله { كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون } “Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tetapi, jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14)” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi) Baca juga: Cara Mendapatkan Pahala tanpa Beramal Tatkala seseorang sudah asyik bermaksiat terus menerus, maka akan tertutup dan terkunci hatinya. Apabila hati telah terkunci, maka akan berat untuk melakukan berbagai amal ketaatan. Ada dua contoh yang paling mudah untuk kita mengevaluasi kondisi hati kita di bulan Ramadan. Pertama, bagaimana kita merespon salat malam di bulan Ramadan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Bilal, يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة “Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985. Lihat Shahih Al Jami’ no. 7892) Salat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang mengistirahatkan. Hal ini sebagaimana anak sekolah. Ketika ia sedang melaksanakan mata pelajaran, maka yang ia tunggu adalah waktu istirahat. Saat ia sudah masuk waktu istirahat, ia ingin berlama-lama di waktu istirahat tersebut dan tidak ingin segera kembali ke mata pelajaran berikutnya. Demikianlah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau merasa senang dan merasa penyejuk hati beliau itu ada di dalam salat. Hal ini tentu berbeda dengan orang-orang yang kondisi hatinya kotor dan tidak sehat, sehingga teramat berat bagi mereka untuk mengerjakan salat. Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Al-Hasan Al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id, semalaman aku dalam keadaan sehat, lalu aku ingin melakukan salat malam dan aku telah menyiapkan kebutuhan untuk bersuci, tapi mengapa aku tidak dapat bangun?” Al-Hasan menjawab, “Dosa-dosamu mengikatmu.” (Lihat Ihya’u ‘Ulumid Din, 1: 313) Kedua, bagaimana semangat kita dalam membaca Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَانِ “Bulan Ramadan yang di dalamnya (mulai) diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang hak dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185) Ayat ini menegaskan bahwa bulan Ramadan bukan hanya sekadar bulan puasa, tetapi juga bulan yang penuh dengan petunjuk dan hikmah, yang salah satunya adalah penurunan Al-Qur’an sebagai wahyu untuk umat manusia. Oleh karena itu, bulan Ramadan menjadi saat yang sangat tepat bagi umat Islam untuk lebih mendalami, membaca, dan mengamalkan Al-Qur’an. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengatakan, لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Andai hatimu benar-benar bersih, niscaya engkau tidak akan pernah bosan untuk membaca firman-firman Allah.” (Lihat Az-Zuhd karya Imam Ahmad no. 686 dan Ighasat Al-Lahfan min Mashayid Asy-Syayathin, 1: 64) Seandainya hati kita adalah hati yang bersih, maka dia tidak akan pernah merasa kenyang dari membaca firman Allah Ta’ala dan tidak akan pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah bacaan Al-Qur’an. Maka, jika kita mendapati kondisi kita tidak bersemangat dalam melaksanakan salat atau membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan ini, maka perlu kita curigai keadaan dan kondisi hati kita yang sedang tertawan oleh kotoran-kotoran dosa. Supaya hati tersebut kembali bersih dan sehat, adalah dengan memperbanyak istigfar, memohon ampunan kepada Allah Ta’ala, dan bertobat kepada-Nya. Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagi kita semua untuk melaksanakan dalam berbagai ketaatan terkhusus di bulan yang suci, bulan Ramadan. Baca juga: Tidak Berlebihan dalam Beramal Itu Lebih Utama *** Penulis: Arif Muhammad N Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Disarikan dari Kultum Ustadz Muhammad Rezki Hr melalui link: https://www.youtube.com/live/833nV71GeB0?si=pyQ_jIhI-TP9ByZC

Berat Beramal di Bulan Ramadan? Lihat Kondisi Hatimu!

Bulan Ramadan merupakan waktu yang penuh berkah dan rahmat, di mana umat Islam diberi kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Namun, bagi sebagian orang, menjalankan ibadah di bulan ini bisa terasa berat. Ada yang merasa sulit untuk menjalani puasa, salat tarawih, atau bahkan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Mengapa demikian? Mungkin jawabannya terletak pada kondisi hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada kondisi hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564) Dari hadis di atas, dapat kita ketahui bahwa yang menjadi standar kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala adalah bagaimana kondisi hatinya, baik atau tidak. Ramadan merupakan salah satu momen yang paling pas bagi kita untuk mengevaluasi kondisi hati. Kita tidak bisa melihat secara langsung atau secara fisik bagaimana kondisi hati, apakah kotor ataukah bersih, apakah sehat ataukah sakit, tidak bisa kita lihat dengan mata kepala. Namun, kita bisa menilainya, bagaimana cara kita menilainya, terkhusus di bulan Ramadan? Yaitu, dengan melihat bagaimana kondisi kita ketika mengetahui banyak pilihan beramal di bulan Ramadan. Orang-orang yang hatinya bersih akan mudah dan ringan melakukan berbagai amal ketaatan tersebut. Sedangkan bagi orang-orang yang merasa berat untuk beramal saleh di bulan Ramadan, padahal Allah sudah bentangkan seluas-luasnya pilihan untuk beramal di bulan Ramadan, maka itu adalah salah satu tanda kondisi hati yang kotor. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن العبد إذا أخطأ خطيئة نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإذا هو نزع واستغفر وتاب سقل قلبه وإن عاد زيد فيها حتى تعلو قلبه، وهو الران الذي ذكر الله { كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون } “Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tetapi, jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14)” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi) Baca juga: Cara Mendapatkan Pahala tanpa Beramal Tatkala seseorang sudah asyik bermaksiat terus menerus, maka akan tertutup dan terkunci hatinya. Apabila hati telah terkunci, maka akan berat untuk melakukan berbagai amal ketaatan. Ada dua contoh yang paling mudah untuk kita mengevaluasi kondisi hati kita di bulan Ramadan. Pertama, bagaimana kita merespon salat malam di bulan Ramadan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Bilal, يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة “Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985. Lihat Shahih Al Jami’ no. 7892) Salat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang mengistirahatkan. Hal ini sebagaimana anak sekolah. Ketika ia sedang melaksanakan mata pelajaran, maka yang ia tunggu adalah waktu istirahat. Saat ia sudah masuk waktu istirahat, ia ingin berlama-lama di waktu istirahat tersebut dan tidak ingin segera kembali ke mata pelajaran berikutnya. Demikianlah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau merasa senang dan merasa penyejuk hati beliau itu ada di dalam salat. Hal ini tentu berbeda dengan orang-orang yang kondisi hatinya kotor dan tidak sehat, sehingga teramat berat bagi mereka untuk mengerjakan salat. Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Al-Hasan Al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id, semalaman aku dalam keadaan sehat, lalu aku ingin melakukan salat malam dan aku telah menyiapkan kebutuhan untuk bersuci, tapi mengapa aku tidak dapat bangun?” Al-Hasan menjawab, “Dosa-dosamu mengikatmu.” (Lihat Ihya’u ‘Ulumid Din, 1: 313) Kedua, bagaimana semangat kita dalam membaca Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَانِ “Bulan Ramadan yang di dalamnya (mulai) diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang hak dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185) Ayat ini menegaskan bahwa bulan Ramadan bukan hanya sekadar bulan puasa, tetapi juga bulan yang penuh dengan petunjuk dan hikmah, yang salah satunya adalah penurunan Al-Qur’an sebagai wahyu untuk umat manusia. Oleh karena itu, bulan Ramadan menjadi saat yang sangat tepat bagi umat Islam untuk lebih mendalami, membaca, dan mengamalkan Al-Qur’an. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengatakan, لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Andai hatimu benar-benar bersih, niscaya engkau tidak akan pernah bosan untuk membaca firman-firman Allah.” (Lihat Az-Zuhd karya Imam Ahmad no. 686 dan Ighasat Al-Lahfan min Mashayid Asy-Syayathin, 1: 64) Seandainya hati kita adalah hati yang bersih, maka dia tidak akan pernah merasa kenyang dari membaca firman Allah Ta’ala dan tidak akan pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah bacaan Al-Qur’an. Maka, jika kita mendapati kondisi kita tidak bersemangat dalam melaksanakan salat atau membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan ini, maka perlu kita curigai keadaan dan kondisi hati kita yang sedang tertawan oleh kotoran-kotoran dosa. Supaya hati tersebut kembali bersih dan sehat, adalah dengan memperbanyak istigfar, memohon ampunan kepada Allah Ta’ala, dan bertobat kepada-Nya. Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagi kita semua untuk melaksanakan dalam berbagai ketaatan terkhusus di bulan yang suci, bulan Ramadan. Baca juga: Tidak Berlebihan dalam Beramal Itu Lebih Utama *** Penulis: Arif Muhammad N Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Disarikan dari Kultum Ustadz Muhammad Rezki Hr melalui link: https://www.youtube.com/live/833nV71GeB0?si=pyQ_jIhI-TP9ByZC
Bulan Ramadan merupakan waktu yang penuh berkah dan rahmat, di mana umat Islam diberi kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Namun, bagi sebagian orang, menjalankan ibadah di bulan ini bisa terasa berat. Ada yang merasa sulit untuk menjalani puasa, salat tarawih, atau bahkan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Mengapa demikian? Mungkin jawabannya terletak pada kondisi hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada kondisi hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564) Dari hadis di atas, dapat kita ketahui bahwa yang menjadi standar kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala adalah bagaimana kondisi hatinya, baik atau tidak. Ramadan merupakan salah satu momen yang paling pas bagi kita untuk mengevaluasi kondisi hati. Kita tidak bisa melihat secara langsung atau secara fisik bagaimana kondisi hati, apakah kotor ataukah bersih, apakah sehat ataukah sakit, tidak bisa kita lihat dengan mata kepala. Namun, kita bisa menilainya, bagaimana cara kita menilainya, terkhusus di bulan Ramadan? Yaitu, dengan melihat bagaimana kondisi kita ketika mengetahui banyak pilihan beramal di bulan Ramadan. Orang-orang yang hatinya bersih akan mudah dan ringan melakukan berbagai amal ketaatan tersebut. Sedangkan bagi orang-orang yang merasa berat untuk beramal saleh di bulan Ramadan, padahal Allah sudah bentangkan seluas-luasnya pilihan untuk beramal di bulan Ramadan, maka itu adalah salah satu tanda kondisi hati yang kotor. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن العبد إذا أخطأ خطيئة نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإذا هو نزع واستغفر وتاب سقل قلبه وإن عاد زيد فيها حتى تعلو قلبه، وهو الران الذي ذكر الله { كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون } “Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tetapi, jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14)” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi) Baca juga: Cara Mendapatkan Pahala tanpa Beramal Tatkala seseorang sudah asyik bermaksiat terus menerus, maka akan tertutup dan terkunci hatinya. Apabila hati telah terkunci, maka akan berat untuk melakukan berbagai amal ketaatan. Ada dua contoh yang paling mudah untuk kita mengevaluasi kondisi hati kita di bulan Ramadan. Pertama, bagaimana kita merespon salat malam di bulan Ramadan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Bilal, يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة “Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985. Lihat Shahih Al Jami’ no. 7892) Salat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang mengistirahatkan. Hal ini sebagaimana anak sekolah. Ketika ia sedang melaksanakan mata pelajaran, maka yang ia tunggu adalah waktu istirahat. Saat ia sudah masuk waktu istirahat, ia ingin berlama-lama di waktu istirahat tersebut dan tidak ingin segera kembali ke mata pelajaran berikutnya. Demikianlah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau merasa senang dan merasa penyejuk hati beliau itu ada di dalam salat. Hal ini tentu berbeda dengan orang-orang yang kondisi hatinya kotor dan tidak sehat, sehingga teramat berat bagi mereka untuk mengerjakan salat. Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Al-Hasan Al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id, semalaman aku dalam keadaan sehat, lalu aku ingin melakukan salat malam dan aku telah menyiapkan kebutuhan untuk bersuci, tapi mengapa aku tidak dapat bangun?” Al-Hasan menjawab, “Dosa-dosamu mengikatmu.” (Lihat Ihya’u ‘Ulumid Din, 1: 313) Kedua, bagaimana semangat kita dalam membaca Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَانِ “Bulan Ramadan yang di dalamnya (mulai) diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang hak dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185) Ayat ini menegaskan bahwa bulan Ramadan bukan hanya sekadar bulan puasa, tetapi juga bulan yang penuh dengan petunjuk dan hikmah, yang salah satunya adalah penurunan Al-Qur’an sebagai wahyu untuk umat manusia. Oleh karena itu, bulan Ramadan menjadi saat yang sangat tepat bagi umat Islam untuk lebih mendalami, membaca, dan mengamalkan Al-Qur’an. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengatakan, لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Andai hatimu benar-benar bersih, niscaya engkau tidak akan pernah bosan untuk membaca firman-firman Allah.” (Lihat Az-Zuhd karya Imam Ahmad no. 686 dan Ighasat Al-Lahfan min Mashayid Asy-Syayathin, 1: 64) Seandainya hati kita adalah hati yang bersih, maka dia tidak akan pernah merasa kenyang dari membaca firman Allah Ta’ala dan tidak akan pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah bacaan Al-Qur’an. Maka, jika kita mendapati kondisi kita tidak bersemangat dalam melaksanakan salat atau membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan ini, maka perlu kita curigai keadaan dan kondisi hati kita yang sedang tertawan oleh kotoran-kotoran dosa. Supaya hati tersebut kembali bersih dan sehat, adalah dengan memperbanyak istigfar, memohon ampunan kepada Allah Ta’ala, dan bertobat kepada-Nya. Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagi kita semua untuk melaksanakan dalam berbagai ketaatan terkhusus di bulan yang suci, bulan Ramadan. Baca juga: Tidak Berlebihan dalam Beramal Itu Lebih Utama *** Penulis: Arif Muhammad N Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Disarikan dari Kultum Ustadz Muhammad Rezki Hr melalui link: https://www.youtube.com/live/833nV71GeB0?si=pyQ_jIhI-TP9ByZC


Bulan Ramadan merupakan waktu yang penuh berkah dan rahmat, di mana umat Islam diberi kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Namun, bagi sebagian orang, menjalankan ibadah di bulan ini bisa terasa berat. Ada yang merasa sulit untuk menjalani puasa, salat tarawih, atau bahkan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Mengapa demikian? Mungkin jawabannya terletak pada kondisi hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada kondisi hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564) Dari hadis di atas, dapat kita ketahui bahwa yang menjadi standar kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala adalah bagaimana kondisi hatinya, baik atau tidak. Ramadan merupakan salah satu momen yang paling pas bagi kita untuk mengevaluasi kondisi hati. Kita tidak bisa melihat secara langsung atau secara fisik bagaimana kondisi hati, apakah kotor ataukah bersih, apakah sehat ataukah sakit, tidak bisa kita lihat dengan mata kepala. Namun, kita bisa menilainya, bagaimana cara kita menilainya, terkhusus di bulan Ramadan? Yaitu, dengan melihat bagaimana kondisi kita ketika mengetahui banyak pilihan beramal di bulan Ramadan. Orang-orang yang hatinya bersih akan mudah dan ringan melakukan berbagai amal ketaatan tersebut. Sedangkan bagi orang-orang yang merasa berat untuk beramal saleh di bulan Ramadan, padahal Allah sudah bentangkan seluas-luasnya pilihan untuk beramal di bulan Ramadan, maka itu adalah salah satu tanda kondisi hati yang kotor. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن العبد إذا أخطأ خطيئة نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإذا هو نزع واستغفر وتاب سقل قلبه وإن عاد زيد فيها حتى تعلو قلبه، وهو الران الذي ذكر الله { كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون } “Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tetapi, jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14)” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi) Baca juga: Cara Mendapatkan Pahala tanpa Beramal Tatkala seseorang sudah asyik bermaksiat terus menerus, maka akan tertutup dan terkunci hatinya. Apabila hati telah terkunci, maka akan berat untuk melakukan berbagai amal ketaatan. Ada dua contoh yang paling mudah untuk kita mengevaluasi kondisi hati kita di bulan Ramadan. Pertama, bagaimana kita merespon salat malam di bulan Ramadan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Bilal, يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة “Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985. Lihat Shahih Al Jami’ no. 7892) Salat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang mengistirahatkan. Hal ini sebagaimana anak sekolah. Ketika ia sedang melaksanakan mata pelajaran, maka yang ia tunggu adalah waktu istirahat. Saat ia sudah masuk waktu istirahat, ia ingin berlama-lama di waktu istirahat tersebut dan tidak ingin segera kembali ke mata pelajaran berikutnya. Demikianlah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau merasa senang dan merasa penyejuk hati beliau itu ada di dalam salat. Hal ini tentu berbeda dengan orang-orang yang kondisi hatinya kotor dan tidak sehat, sehingga teramat berat bagi mereka untuk mengerjakan salat. Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Al-Hasan Al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id, semalaman aku dalam keadaan sehat, lalu aku ingin melakukan salat malam dan aku telah menyiapkan kebutuhan untuk bersuci, tapi mengapa aku tidak dapat bangun?” Al-Hasan menjawab, “Dosa-dosamu mengikatmu.” (Lihat Ihya’u ‘Ulumid Din, 1: 313) Kedua, bagaimana semangat kita dalam membaca Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَانِ “Bulan Ramadan yang di dalamnya (mulai) diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang hak dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185) Ayat ini menegaskan bahwa bulan Ramadan bukan hanya sekadar bulan puasa, tetapi juga bulan yang penuh dengan petunjuk dan hikmah, yang salah satunya adalah penurunan Al-Qur’an sebagai wahyu untuk umat manusia. Oleh karena itu, bulan Ramadan menjadi saat yang sangat tepat bagi umat Islam untuk lebih mendalami, membaca, dan mengamalkan Al-Qur’an. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengatakan, لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Andai hatimu benar-benar bersih, niscaya engkau tidak akan pernah bosan untuk membaca firman-firman Allah.” (Lihat Az-Zuhd karya Imam Ahmad no. 686 dan Ighasat Al-Lahfan min Mashayid Asy-Syayathin, 1: 64) Seandainya hati kita adalah hati yang bersih, maka dia tidak akan pernah merasa kenyang dari membaca firman Allah Ta’ala dan tidak akan pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah bacaan Al-Qur’an. Maka, jika kita mendapati kondisi kita tidak bersemangat dalam melaksanakan salat atau membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan ini, maka perlu kita curigai keadaan dan kondisi hati kita yang sedang tertawan oleh kotoran-kotoran dosa. Supaya hati tersebut kembali bersih dan sehat, adalah dengan memperbanyak istigfar, memohon ampunan kepada Allah Ta’ala, dan bertobat kepada-Nya. Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagi kita semua untuk melaksanakan dalam berbagai ketaatan terkhusus di bulan yang suci, bulan Ramadan. Baca juga: Tidak Berlebihan dalam Beramal Itu Lebih Utama *** Penulis: Arif Muhammad N Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Disarikan dari Kultum Ustadz Muhammad Rezki Hr melalui link: https://www.youtube.com/live/833nV71GeB0?si=pyQ_jIhI-TP9ByZC
Prev     Next