Begini Para Salaf Membaca Al-Qur’an pada Bulan Ramadhan

Oleh: Abdul Aziz Abu Yusuf Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an. Salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada manusia terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau.  Amma ba’du: Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengistimewakan bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya dengan memilihnya sebagai waktu diturunkannya Al-Qur’an Al-Azhim, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Disebutkan dalam As-Sunnah bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya kitab-kitab suci kepada para Nabi Alaihimussalam. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ “Suhuf Ibrahim ‘alaihissalam diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan. Taurat diturunkan setelah enam hari berlalu dari Ramadhan. Injil diturunkan setelah tiga belas hari berlalu dari Ramadhan. Al-Qur’an diturunkan setelah dua puluh empat hari berlalu dari Ramadhan.” (HR. Ahmad). Membaca Al-Qur’an Al-Azhim dianjurkan setiap saat, karena ia merupakan perniagaan yang menguntungkan, sebagaimana yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah merugi.” (QS. Fatir). Bagaimana tidak, sedangkan setiap hurufnya yang dibaca dibalas dengan satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, seperti yang telah disabdakan Nabi kita Shallallahu Alaihi Wa Sallam: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lām mīm itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lām satu huruf, dan mīm satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi).  Hanya saja, memperbanyak membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan menjadi tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan generasi awal, salafus shalih umat ini, karena ia merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya lalu mengajarinya (mudarasah) Al-Qur’an. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan lalu mengajarinya Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Al-Bukhari). Ibnu Rajab Rahimahullah dan ulama lainnya menyebutkan beberapa kisah bagaimana keadaan para Salaf membersamai Kitabullah pada bulan Ramadhan. Ibnu Rajab berkata: “Dulu beberapa Salaf mengkhatamkan Al-Qur’an pada salat tarawih setiap tiga hari sekali. Ada juga dari mereka yang mengkhatamkannya seminggu sekali, di antara mereka adalah Qatadah. Ada juga dari mereka yang mengkhatamkannya setiap sepuluh hari sekali. Sebagian mereka juga mengkhatamkan Al-Qur’an setiap malam pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.  Imam Asy-Syafi’i dulu mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali pada bulan Ramadhan, beliau membacanya di luar salat. Sedangkan Imam Malik apabila telah memasuki bulan Ramadhan, berhenti dari majelis periwayatan hadits dan diskusi dengan para ulama, kemudian beliau fokus membaca Al-Qur’an dari mushaf. Dulu Sufyan Ats-Tsauri apabila telah memasuki bulan Ramadhan, beliau berhenti dari segala ibadah (sunah) dan beralih membaca Al-Qur’an.” (Kitab Lathaif al-Ma’arif hlm. 318).  Imam An-Nawawi Rahimahullah juga menyebutkan tentang bagaimana para salaf membersamai Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Beliau berkata: “Sepantasnya seorang hamba senantiasa membaca Al-Qur’an dan banyak-banyak membacanya. Dulu para salaf radhiyallahu ‘anhum punya kebiasaan berbeda-beda dalam jangka waktu mengkhatamkannya. Diriwayatkan bahwa beberapa dari mereka yang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap lima hari sekali, beberapa yang empat hari sekali, dan banyak dari mereka yang tiga kali sehari, ada juga yang dua hari sekali, sehari sekali, dan ada yang dua kali sehari atau juga tiga kali sehari. Ada juga sebagian mereka yang khatam delapan kali sehari, empat kali pada siang hari dan empat kali pada malam harinya. Di antara mereka yang mengkhatamkan Al-Qur’an sekali sehari adalah Utsman bin Affan dan Tamim Ad-Dari Radhiyallahu ‘anhuma, Said bin Jubair, Mujahid, Asy-Syafi’i, dan masih banyak lagi. Lalu di antara orang yang mengkhatamkan tiga kali sehari adalah Salim bin Umar Radhiyallahu ‘anhu.” (Kitab At-Tibyan Fi Adab Hamalah Al-Qur’an 59-63). Tidak masalah mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari pada bulan Ramadhan, karena ini tidak termasuk larangan yang ada, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Rajab Rahimahullah: “Sebenarnya larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu jika dilakukan secara terus menerus, adapun jika hanya pada waktu-waktu yang utama seperti bulan Ramadhan atau di tempat-tempat mulia seperti Makkah, maka itu justru dianjurkan untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an agar dapat meraih keutamaan waktu dan tempat tersebut.” (Kitab Lathaif Al-Ma’arif”hlm. 319). Ini merupakan beberapa contoh bagaimana kesungguhan dan semangat para pendahulu kita dalam membaca Al-Qur’an secara umum atau pada bulan Ramadhan secara khusus. Tujuan dari penyebutan ini adalah untuk memantik semangat dalam meneladani mereka. Dan wahai engkau yang mencukupkan diri hanya dengan satu atau kali khatam pada bulan Ramadhan, lawanlah hawa nafsumu! Susullah kafilah orang-orang yang begitu antusias dalam membaca Kitab Tuhan mereka! Jadikanlah setiap Ramadhan yang engkau dapatkan selalu meningkat amalan dan tilawahmu daripada Ramadhan sebelumnya, karena engkau tidak tahu apakah akan mendapatkan Ramadhan berikutnya atau tidak. Ya Allah, limpahkanlah rezeki kepada kami tilawah Kitab-Mu yang mulia pada siang dan malam hari dalam bentuk yang Engkau ridhai, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/161684/حال-السلف-رحمهم-الله-مع-تلاوة-القرآن-في-رمضان/ Sumber artikel PDF 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 284 times, 1 visit(s) today Post Views: 167 QRIS donasi Yufid

Begini Para Salaf Membaca Al-Qur’an pada Bulan Ramadhan

Oleh: Abdul Aziz Abu Yusuf Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an. Salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada manusia terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau.  Amma ba’du: Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengistimewakan bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya dengan memilihnya sebagai waktu diturunkannya Al-Qur’an Al-Azhim, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Disebutkan dalam As-Sunnah bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya kitab-kitab suci kepada para Nabi Alaihimussalam. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ “Suhuf Ibrahim ‘alaihissalam diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan. Taurat diturunkan setelah enam hari berlalu dari Ramadhan. Injil diturunkan setelah tiga belas hari berlalu dari Ramadhan. Al-Qur’an diturunkan setelah dua puluh empat hari berlalu dari Ramadhan.” (HR. Ahmad). Membaca Al-Qur’an Al-Azhim dianjurkan setiap saat, karena ia merupakan perniagaan yang menguntungkan, sebagaimana yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah merugi.” (QS. Fatir). Bagaimana tidak, sedangkan setiap hurufnya yang dibaca dibalas dengan satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, seperti yang telah disabdakan Nabi kita Shallallahu Alaihi Wa Sallam: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lām mīm itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lām satu huruf, dan mīm satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi).  Hanya saja, memperbanyak membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan menjadi tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan generasi awal, salafus shalih umat ini, karena ia merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya lalu mengajarinya (mudarasah) Al-Qur’an. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan lalu mengajarinya Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Al-Bukhari). Ibnu Rajab Rahimahullah dan ulama lainnya menyebutkan beberapa kisah bagaimana keadaan para Salaf membersamai Kitabullah pada bulan Ramadhan. Ibnu Rajab berkata: “Dulu beberapa Salaf mengkhatamkan Al-Qur’an pada salat tarawih setiap tiga hari sekali. Ada juga dari mereka yang mengkhatamkannya seminggu sekali, di antara mereka adalah Qatadah. Ada juga dari mereka yang mengkhatamkannya setiap sepuluh hari sekali. Sebagian mereka juga mengkhatamkan Al-Qur’an setiap malam pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.  Imam Asy-Syafi’i dulu mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali pada bulan Ramadhan, beliau membacanya di luar salat. Sedangkan Imam Malik apabila telah memasuki bulan Ramadhan, berhenti dari majelis periwayatan hadits dan diskusi dengan para ulama, kemudian beliau fokus membaca Al-Qur’an dari mushaf. Dulu Sufyan Ats-Tsauri apabila telah memasuki bulan Ramadhan, beliau berhenti dari segala ibadah (sunah) dan beralih membaca Al-Qur’an.” (Kitab Lathaif al-Ma’arif hlm. 318).  Imam An-Nawawi Rahimahullah juga menyebutkan tentang bagaimana para salaf membersamai Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Beliau berkata: “Sepantasnya seorang hamba senantiasa membaca Al-Qur’an dan banyak-banyak membacanya. Dulu para salaf radhiyallahu ‘anhum punya kebiasaan berbeda-beda dalam jangka waktu mengkhatamkannya. Diriwayatkan bahwa beberapa dari mereka yang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap lima hari sekali, beberapa yang empat hari sekali, dan banyak dari mereka yang tiga kali sehari, ada juga yang dua hari sekali, sehari sekali, dan ada yang dua kali sehari atau juga tiga kali sehari. Ada juga sebagian mereka yang khatam delapan kali sehari, empat kali pada siang hari dan empat kali pada malam harinya. Di antara mereka yang mengkhatamkan Al-Qur’an sekali sehari adalah Utsman bin Affan dan Tamim Ad-Dari Radhiyallahu ‘anhuma, Said bin Jubair, Mujahid, Asy-Syafi’i, dan masih banyak lagi. Lalu di antara orang yang mengkhatamkan tiga kali sehari adalah Salim bin Umar Radhiyallahu ‘anhu.” (Kitab At-Tibyan Fi Adab Hamalah Al-Qur’an 59-63). Tidak masalah mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari pada bulan Ramadhan, karena ini tidak termasuk larangan yang ada, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Rajab Rahimahullah: “Sebenarnya larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu jika dilakukan secara terus menerus, adapun jika hanya pada waktu-waktu yang utama seperti bulan Ramadhan atau di tempat-tempat mulia seperti Makkah, maka itu justru dianjurkan untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an agar dapat meraih keutamaan waktu dan tempat tersebut.” (Kitab Lathaif Al-Ma’arif”hlm. 319). Ini merupakan beberapa contoh bagaimana kesungguhan dan semangat para pendahulu kita dalam membaca Al-Qur’an secara umum atau pada bulan Ramadhan secara khusus. Tujuan dari penyebutan ini adalah untuk memantik semangat dalam meneladani mereka. Dan wahai engkau yang mencukupkan diri hanya dengan satu atau kali khatam pada bulan Ramadhan, lawanlah hawa nafsumu! Susullah kafilah orang-orang yang begitu antusias dalam membaca Kitab Tuhan mereka! Jadikanlah setiap Ramadhan yang engkau dapatkan selalu meningkat amalan dan tilawahmu daripada Ramadhan sebelumnya, karena engkau tidak tahu apakah akan mendapatkan Ramadhan berikutnya atau tidak. Ya Allah, limpahkanlah rezeki kepada kami tilawah Kitab-Mu yang mulia pada siang dan malam hari dalam bentuk yang Engkau ridhai, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/161684/حال-السلف-رحمهم-الله-مع-تلاوة-القرآن-في-رمضان/ Sumber artikel PDF 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 284 times, 1 visit(s) today Post Views: 167 QRIS donasi Yufid
Oleh: Abdul Aziz Abu Yusuf Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an. Salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada manusia terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau.  Amma ba’du: Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengistimewakan bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya dengan memilihnya sebagai waktu diturunkannya Al-Qur’an Al-Azhim, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Disebutkan dalam As-Sunnah bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya kitab-kitab suci kepada para Nabi Alaihimussalam. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ “Suhuf Ibrahim ‘alaihissalam diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan. Taurat diturunkan setelah enam hari berlalu dari Ramadhan. Injil diturunkan setelah tiga belas hari berlalu dari Ramadhan. Al-Qur’an diturunkan setelah dua puluh empat hari berlalu dari Ramadhan.” (HR. Ahmad). Membaca Al-Qur’an Al-Azhim dianjurkan setiap saat, karena ia merupakan perniagaan yang menguntungkan, sebagaimana yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah merugi.” (QS. Fatir). Bagaimana tidak, sedangkan setiap hurufnya yang dibaca dibalas dengan satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, seperti yang telah disabdakan Nabi kita Shallallahu Alaihi Wa Sallam: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lām mīm itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lām satu huruf, dan mīm satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi).  Hanya saja, memperbanyak membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan menjadi tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan generasi awal, salafus shalih umat ini, karena ia merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya lalu mengajarinya (mudarasah) Al-Qur’an. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan lalu mengajarinya Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Al-Bukhari). Ibnu Rajab Rahimahullah dan ulama lainnya menyebutkan beberapa kisah bagaimana keadaan para Salaf membersamai Kitabullah pada bulan Ramadhan. Ibnu Rajab berkata: “Dulu beberapa Salaf mengkhatamkan Al-Qur’an pada salat tarawih setiap tiga hari sekali. Ada juga dari mereka yang mengkhatamkannya seminggu sekali, di antara mereka adalah Qatadah. Ada juga dari mereka yang mengkhatamkannya setiap sepuluh hari sekali. Sebagian mereka juga mengkhatamkan Al-Qur’an setiap malam pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.  Imam Asy-Syafi’i dulu mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali pada bulan Ramadhan, beliau membacanya di luar salat. Sedangkan Imam Malik apabila telah memasuki bulan Ramadhan, berhenti dari majelis periwayatan hadits dan diskusi dengan para ulama, kemudian beliau fokus membaca Al-Qur’an dari mushaf. Dulu Sufyan Ats-Tsauri apabila telah memasuki bulan Ramadhan, beliau berhenti dari segala ibadah (sunah) dan beralih membaca Al-Qur’an.” (Kitab Lathaif al-Ma’arif hlm. 318).  Imam An-Nawawi Rahimahullah juga menyebutkan tentang bagaimana para salaf membersamai Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Beliau berkata: “Sepantasnya seorang hamba senantiasa membaca Al-Qur’an dan banyak-banyak membacanya. Dulu para salaf radhiyallahu ‘anhum punya kebiasaan berbeda-beda dalam jangka waktu mengkhatamkannya. Diriwayatkan bahwa beberapa dari mereka yang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap lima hari sekali, beberapa yang empat hari sekali, dan banyak dari mereka yang tiga kali sehari, ada juga yang dua hari sekali, sehari sekali, dan ada yang dua kali sehari atau juga tiga kali sehari. Ada juga sebagian mereka yang khatam delapan kali sehari, empat kali pada siang hari dan empat kali pada malam harinya. Di antara mereka yang mengkhatamkan Al-Qur’an sekali sehari adalah Utsman bin Affan dan Tamim Ad-Dari Radhiyallahu ‘anhuma, Said bin Jubair, Mujahid, Asy-Syafi’i, dan masih banyak lagi. Lalu di antara orang yang mengkhatamkan tiga kali sehari adalah Salim bin Umar Radhiyallahu ‘anhu.” (Kitab At-Tibyan Fi Adab Hamalah Al-Qur’an 59-63). Tidak masalah mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari pada bulan Ramadhan, karena ini tidak termasuk larangan yang ada, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Rajab Rahimahullah: “Sebenarnya larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu jika dilakukan secara terus menerus, adapun jika hanya pada waktu-waktu yang utama seperti bulan Ramadhan atau di tempat-tempat mulia seperti Makkah, maka itu justru dianjurkan untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an agar dapat meraih keutamaan waktu dan tempat tersebut.” (Kitab Lathaif Al-Ma’arif”hlm. 319). Ini merupakan beberapa contoh bagaimana kesungguhan dan semangat para pendahulu kita dalam membaca Al-Qur’an secara umum atau pada bulan Ramadhan secara khusus. Tujuan dari penyebutan ini adalah untuk memantik semangat dalam meneladani mereka. Dan wahai engkau yang mencukupkan diri hanya dengan satu atau kali khatam pada bulan Ramadhan, lawanlah hawa nafsumu! Susullah kafilah orang-orang yang begitu antusias dalam membaca Kitab Tuhan mereka! Jadikanlah setiap Ramadhan yang engkau dapatkan selalu meningkat amalan dan tilawahmu daripada Ramadhan sebelumnya, karena engkau tidak tahu apakah akan mendapatkan Ramadhan berikutnya atau tidak. Ya Allah, limpahkanlah rezeki kepada kami tilawah Kitab-Mu yang mulia pada siang dan malam hari dalam bentuk yang Engkau ridhai, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/161684/حال-السلف-رحمهم-الله-مع-تلاوة-القرآن-في-رمضان/ Sumber artikel PDF 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 284 times, 1 visit(s) today Post Views: 167 QRIS donasi Yufid


Oleh: Abdul Aziz Abu Yusuf Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an. Salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada manusia terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau.  Amma ba’du: Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengistimewakan bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya dengan memilihnya sebagai waktu diturunkannya Al-Qur’an Al-Azhim, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Disebutkan dalam As-Sunnah bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya kitab-kitab suci kepada para Nabi Alaihimussalam. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ “Suhuf Ibrahim ‘alaihissalam diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan. Taurat diturunkan setelah enam hari berlalu dari Ramadhan. Injil diturunkan setelah tiga belas hari berlalu dari Ramadhan. Al-Qur’an diturunkan setelah dua puluh empat hari berlalu dari Ramadhan.” (HR. Ahmad). Membaca Al-Qur’an Al-Azhim dianjurkan setiap saat, karena ia merupakan perniagaan yang menguntungkan, sebagaimana yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah merugi.” (QS. Fatir). Bagaimana tidak, sedangkan setiap hurufnya yang dibaca dibalas dengan satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, seperti yang telah disabdakan Nabi kita Shallallahu Alaihi Wa Sallam: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lām mīm itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lām satu huruf, dan mīm satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi).  Hanya saja, memperbanyak membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan menjadi tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan generasi awal, salafus shalih umat ini, karena ia merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya lalu mengajarinya (mudarasah) Al-Qur’an. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan lalu mengajarinya Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Al-Bukhari). Ibnu Rajab Rahimahullah dan ulama lainnya menyebutkan beberapa kisah bagaimana keadaan para Salaf membersamai Kitabullah pada bulan Ramadhan. Ibnu Rajab berkata: “Dulu beberapa Salaf mengkhatamkan Al-Qur’an pada salat tarawih setiap tiga hari sekali. Ada juga dari mereka yang mengkhatamkannya seminggu sekali, di antara mereka adalah Qatadah. Ada juga dari mereka yang mengkhatamkannya setiap sepuluh hari sekali. Sebagian mereka juga mengkhatamkan Al-Qur’an setiap malam pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.  Imam Asy-Syafi’i dulu mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali pada bulan Ramadhan, beliau membacanya di luar salat. Sedangkan Imam Malik apabila telah memasuki bulan Ramadhan, berhenti dari majelis periwayatan hadits dan diskusi dengan para ulama, kemudian beliau fokus membaca Al-Qur’an dari mushaf. Dulu Sufyan Ats-Tsauri apabila telah memasuki bulan Ramadhan, beliau berhenti dari segala ibadah (sunah) dan beralih membaca Al-Qur’an.” (Kitab Lathaif al-Ma’arif hlm. 318).  Imam An-Nawawi Rahimahullah juga menyebutkan tentang bagaimana para salaf membersamai Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Beliau berkata: “Sepantasnya seorang hamba senantiasa membaca Al-Qur’an dan banyak-banyak membacanya. Dulu para salaf radhiyallahu ‘anhum punya kebiasaan berbeda-beda dalam jangka waktu mengkhatamkannya. Diriwayatkan bahwa beberapa dari mereka yang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap lima hari sekali, beberapa yang empat hari sekali, dan banyak dari mereka yang tiga kali sehari, ada juga yang dua hari sekali, sehari sekali, dan ada yang dua kali sehari atau juga tiga kali sehari. Ada juga sebagian mereka yang khatam delapan kali sehari, empat kali pada siang hari dan empat kali pada malam harinya. Di antara mereka yang mengkhatamkan Al-Qur’an sekali sehari adalah Utsman bin Affan dan Tamim Ad-Dari Radhiyallahu ‘anhuma, Said bin Jubair, Mujahid, Asy-Syafi’i, dan masih banyak lagi. Lalu di antara orang yang mengkhatamkan tiga kali sehari adalah Salim bin Umar Radhiyallahu ‘anhu.” (Kitab At-Tibyan Fi Adab Hamalah Al-Qur’an 59-63). Tidak masalah mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari pada bulan Ramadhan, karena ini tidak termasuk larangan yang ada, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Rajab Rahimahullah: “Sebenarnya larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu jika dilakukan secara terus menerus, adapun jika hanya pada waktu-waktu yang utama seperti bulan Ramadhan atau di tempat-tempat mulia seperti Makkah, maka itu justru dianjurkan untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an agar dapat meraih keutamaan waktu dan tempat tersebut.” (Kitab Lathaif Al-Ma’arif”hlm. 319). Ini merupakan beberapa contoh bagaimana kesungguhan dan semangat para pendahulu kita dalam membaca Al-Qur’an secara umum atau pada bulan Ramadhan secara khusus. Tujuan dari penyebutan ini adalah untuk memantik semangat dalam meneladani mereka. Dan wahai engkau yang mencukupkan diri hanya dengan satu atau kali khatam pada bulan Ramadhan, lawanlah hawa nafsumu! Susullah kafilah orang-orang yang begitu antusias dalam membaca Kitab Tuhan mereka! Jadikanlah setiap Ramadhan yang engkau dapatkan selalu meningkat amalan dan tilawahmu daripada Ramadhan sebelumnya, karena engkau tidak tahu apakah akan mendapatkan Ramadhan berikutnya atau tidak. Ya Allah, limpahkanlah rezeki kepada kami tilawah Kitab-Mu yang mulia pada siang dan malam hari dalam bentuk yang Engkau ridhai, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/161684/حال-السلف-رحمهم-الله-مع-تلاوة-القرآن-في-رمضان/ Sumber artikel PDF 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 284 times, 1 visit(s) today Post Views: 167 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

MENYIA-NYIAKAN PAHALA RAMADHAN? – Syaikh Hasan bin Abdul Hamid Bukhari Ramadhan

Keenam, di antara petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadan adalah perhatian besar terhadap Shalat Malam (Tarawih). Tentu kita tahu, beliau selalu menegakkan Shalat Malam di sepanjang tahun, benar bukan? Jika sepanjang tahun beliau selalu Shalat Malam, lalu apa bedanya saat Ramadan? ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah (jumlah rakaat) di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, Ramadan dan Shalat Malam di dalamnya adalah hal yang berbeda dibandingkan hari-hari lainnya dalam setahun. Mengapa demikian? Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan Shalat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wahai saudaraku, amalan dengan pahala sebesar ini, siapa yang mau menyia-nyiakannya?! ===== مِنْ هَدْيِهِ سَادِسًا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي رَمَضَانَ الِاعْتِنَاءُ بِالْقِيَامِ طَيِّبٌ، وَهُوَ كَانَ يَقُومُ طِيلَةَ السَّنَةِ، صَحَّ؟ كَانَ طِيلَةَ السَّنَةِ يَقُومُ اللَّيْلَ، مَا الْفَرْقُ؟ تَقُولُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لَكِنَّ رَمَضَانَ وَالْقِيَامَ فِيهِ شَيْءٌ مُخْتَلِفٌ عَنْ بَاقِي أَيَّامِ السَّنَةِ لِيش؟ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ يَا أَخِي، مَنْ يُفَرِّطُ فِي هَذَا؟

MENYIA-NYIAKAN PAHALA RAMADHAN? – Syaikh Hasan bin Abdul Hamid Bukhari Ramadhan

Keenam, di antara petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadan adalah perhatian besar terhadap Shalat Malam (Tarawih). Tentu kita tahu, beliau selalu menegakkan Shalat Malam di sepanjang tahun, benar bukan? Jika sepanjang tahun beliau selalu Shalat Malam, lalu apa bedanya saat Ramadan? ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah (jumlah rakaat) di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, Ramadan dan Shalat Malam di dalamnya adalah hal yang berbeda dibandingkan hari-hari lainnya dalam setahun. Mengapa demikian? Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan Shalat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wahai saudaraku, amalan dengan pahala sebesar ini, siapa yang mau menyia-nyiakannya?! ===== مِنْ هَدْيِهِ سَادِسًا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي رَمَضَانَ الِاعْتِنَاءُ بِالْقِيَامِ طَيِّبٌ، وَهُوَ كَانَ يَقُومُ طِيلَةَ السَّنَةِ، صَحَّ؟ كَانَ طِيلَةَ السَّنَةِ يَقُومُ اللَّيْلَ، مَا الْفَرْقُ؟ تَقُولُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لَكِنَّ رَمَضَانَ وَالْقِيَامَ فِيهِ شَيْءٌ مُخْتَلِفٌ عَنْ بَاقِي أَيَّامِ السَّنَةِ لِيش؟ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ يَا أَخِي، مَنْ يُفَرِّطُ فِي هَذَا؟
Keenam, di antara petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadan adalah perhatian besar terhadap Shalat Malam (Tarawih). Tentu kita tahu, beliau selalu menegakkan Shalat Malam di sepanjang tahun, benar bukan? Jika sepanjang tahun beliau selalu Shalat Malam, lalu apa bedanya saat Ramadan? ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah (jumlah rakaat) di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, Ramadan dan Shalat Malam di dalamnya adalah hal yang berbeda dibandingkan hari-hari lainnya dalam setahun. Mengapa demikian? Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan Shalat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wahai saudaraku, amalan dengan pahala sebesar ini, siapa yang mau menyia-nyiakannya?! ===== مِنْ هَدْيِهِ سَادِسًا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي رَمَضَانَ الِاعْتِنَاءُ بِالْقِيَامِ طَيِّبٌ، وَهُوَ كَانَ يَقُومُ طِيلَةَ السَّنَةِ، صَحَّ؟ كَانَ طِيلَةَ السَّنَةِ يَقُومُ اللَّيْلَ، مَا الْفَرْقُ؟ تَقُولُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لَكِنَّ رَمَضَانَ وَالْقِيَامَ فِيهِ شَيْءٌ مُخْتَلِفٌ عَنْ بَاقِي أَيَّامِ السَّنَةِ لِيش؟ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ يَا أَخِي، مَنْ يُفَرِّطُ فِي هَذَا؟


Keenam, di antara petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadan adalah perhatian besar terhadap Shalat Malam (Tarawih). Tentu kita tahu, beliau selalu menegakkan Shalat Malam di sepanjang tahun, benar bukan? Jika sepanjang tahun beliau selalu Shalat Malam, lalu apa bedanya saat Ramadan? ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah (jumlah rakaat) di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, Ramadan dan Shalat Malam di dalamnya adalah hal yang berbeda dibandingkan hari-hari lainnya dalam setahun. Mengapa demikian? Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan Shalat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wahai saudaraku, amalan dengan pahala sebesar ini, siapa yang mau menyia-nyiakannya?! ===== مِنْ هَدْيِهِ سَادِسًا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي رَمَضَانَ الِاعْتِنَاءُ بِالْقِيَامِ طَيِّبٌ، وَهُوَ كَانَ يَقُومُ طِيلَةَ السَّنَةِ، صَحَّ؟ كَانَ طِيلَةَ السَّنَةِ يَقُومُ اللَّيْلَ، مَا الْفَرْقُ؟ تَقُولُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لَكِنَّ رَمَضَانَ وَالْقِيَامَ فِيهِ شَيْءٌ مُخْتَلِفٌ عَنْ بَاقِي أَيَّامِ السَّنَةِ لِيش؟ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ يَا أَخِي، مَنْ يُفَرِّطُ فِي هَذَا؟

Jauh di Mata Dekat di Doa – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Saudara-saudara sekalian! Sesungguhnya puasa adalah kesempatan untuk berdoa, sebagaimana yang telah sering kami sampaikan. Kaum mukminin itu saling bersaudara. Maka, ingatlah saudara-saudara kalian, yang berada di berbagai negeri muslim. Doakanlah mereka yang sedang tertimpa musibah, baik itu musibah yang bersifat pribadi maupun umum. Mohonlah agar Allah segera mengangkat penderitaan mereka, mewujudkan rasa aman bagi mereka, serta menjauhkan mereka dari segala keburukan fitnah. Wahai saudara-saudaraku! Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jika Anda mengetahui adanya musibah di salah satu negeri kaum muslimin, tidak sepatutnya Anda berucap: “Negeri itu jauh dari kita.” Ingatlah, mereka adalah saudara Anda! Berdoalah untuk mereka! Seorang yang beriman senantiasa menginginkan kebaikan bagi kaum muslimin di mana pun mereka berada, dan membenci keburukan menimpa mereka di mana pun jua. Panjatkanlah doa, perbanyaklah doa untuk diri, keluarga, serta kerabat kalian. Juga untuk kaum muslimin dan muslimat, serta siapa pun dari kaum muslimin yang sedang diuji dengan musibah, baik secara khusus maupun umum. Doakanlah ia. Wahai saudaraku, Anda tidak pernah tahu, boleh jadi Anda menjadi perantara datangnya jalan keluar melalui doa tersebut. Sehingga kelak pada hari kiamat, Anda datang dengan membawa pahalanya dan karunia yang sangat agung. Saya memohon kepada Allah agar membimbing kita dalam ketaatan, serta menjadikan hari-hari kita sebagai amalan yang membela kita, bukan yang memberatkan kita. Allah Ta’ala Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita. ===== مَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ إِنَّ الصِّيَامَ فُرْصَةٌ لِلدُّعَاءِ كَمَا ذَكَرْنَا مِرَارًا وَالْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَتَذَكَّرُوا إِخْوَانَكُمْ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ ادْعُوا لِأَهْلِ الْبَلَاءِ الْبَلَاءِ الْعَامِّ وَالْبَلَاءِ الْخَاصِّ أَنْ يَدْفَعَ اللَّهُ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَأَنْ يُحَقِّقَ لَهُمُ الْأَمْنَ وَأَنْ يَدْفَعَ عَنْهُمْ شُرُورَ الْفِتَنِ الْمُؤْمِنُ يَا إِخْوَةُ أَخُو الْمُؤْمِنِ وَلَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ عَلِمْتَ بَلَاءً فِي دَوْلَةٍ مِنْ دُوَلِ الْمُسْلِمِينَ مَا يَنْبَغِي أَنْ تَقُولَ هَذِهِ الدَّوْلَةُ بَعِيدَةٌ عَنَّا هَؤُلَاءِ إِخْوَانُكَ ادْعُ لَهُمْ الْمُؤْمِنُ يُحِبُّ الْخَيْرَ لِلْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَيَكْرَهُ الشَّرَّ لَهُمْ فِي كُلِّ مَكَانٍ ادْعُوا وَأَكْثِرُوا مِنَ الدُّعَاءِ لَكُمْ وَلِأَهْلِيكُمْ وَلِأَقَارِبِكُمْ وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَمَنْ بِهِ بَلَاءٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَامٌّ وَخَاصٌّ ادْعُوا لَهُ مَا تَدْرِي يَا أَخِي لَعَلَّكَ أَنْ تَكُونَ سَبَبًا فِي التَّفْرِيجِ بِهَذِهِ الدَّعْوَةِ فَتَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِثَوَابِهَا وَعَظِيمِ الْفَضْلِ أَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَسْتَعْمِلَنَا فِي طَاعَتِهِ وَأَنْ يَجْعَلَ أَيَّامَنَا لَنَا لَا عَلَيْنَا وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Jauh di Mata Dekat di Doa – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Saudara-saudara sekalian! Sesungguhnya puasa adalah kesempatan untuk berdoa, sebagaimana yang telah sering kami sampaikan. Kaum mukminin itu saling bersaudara. Maka, ingatlah saudara-saudara kalian, yang berada di berbagai negeri muslim. Doakanlah mereka yang sedang tertimpa musibah, baik itu musibah yang bersifat pribadi maupun umum. Mohonlah agar Allah segera mengangkat penderitaan mereka, mewujudkan rasa aman bagi mereka, serta menjauhkan mereka dari segala keburukan fitnah. Wahai saudara-saudaraku! Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jika Anda mengetahui adanya musibah di salah satu negeri kaum muslimin, tidak sepatutnya Anda berucap: “Negeri itu jauh dari kita.” Ingatlah, mereka adalah saudara Anda! Berdoalah untuk mereka! Seorang yang beriman senantiasa menginginkan kebaikan bagi kaum muslimin di mana pun mereka berada, dan membenci keburukan menimpa mereka di mana pun jua. Panjatkanlah doa, perbanyaklah doa untuk diri, keluarga, serta kerabat kalian. Juga untuk kaum muslimin dan muslimat, serta siapa pun dari kaum muslimin yang sedang diuji dengan musibah, baik secara khusus maupun umum. Doakanlah ia. Wahai saudaraku, Anda tidak pernah tahu, boleh jadi Anda menjadi perantara datangnya jalan keluar melalui doa tersebut. Sehingga kelak pada hari kiamat, Anda datang dengan membawa pahalanya dan karunia yang sangat agung. Saya memohon kepada Allah agar membimbing kita dalam ketaatan, serta menjadikan hari-hari kita sebagai amalan yang membela kita, bukan yang memberatkan kita. Allah Ta’ala Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita. ===== مَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ إِنَّ الصِّيَامَ فُرْصَةٌ لِلدُّعَاءِ كَمَا ذَكَرْنَا مِرَارًا وَالْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَتَذَكَّرُوا إِخْوَانَكُمْ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ ادْعُوا لِأَهْلِ الْبَلَاءِ الْبَلَاءِ الْعَامِّ وَالْبَلَاءِ الْخَاصِّ أَنْ يَدْفَعَ اللَّهُ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَأَنْ يُحَقِّقَ لَهُمُ الْأَمْنَ وَأَنْ يَدْفَعَ عَنْهُمْ شُرُورَ الْفِتَنِ الْمُؤْمِنُ يَا إِخْوَةُ أَخُو الْمُؤْمِنِ وَلَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ عَلِمْتَ بَلَاءً فِي دَوْلَةٍ مِنْ دُوَلِ الْمُسْلِمِينَ مَا يَنْبَغِي أَنْ تَقُولَ هَذِهِ الدَّوْلَةُ بَعِيدَةٌ عَنَّا هَؤُلَاءِ إِخْوَانُكَ ادْعُ لَهُمْ الْمُؤْمِنُ يُحِبُّ الْخَيْرَ لِلْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَيَكْرَهُ الشَّرَّ لَهُمْ فِي كُلِّ مَكَانٍ ادْعُوا وَأَكْثِرُوا مِنَ الدُّعَاءِ لَكُمْ وَلِأَهْلِيكُمْ وَلِأَقَارِبِكُمْ وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَمَنْ بِهِ بَلَاءٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَامٌّ وَخَاصٌّ ادْعُوا لَهُ مَا تَدْرِي يَا أَخِي لَعَلَّكَ أَنْ تَكُونَ سَبَبًا فِي التَّفْرِيجِ بِهَذِهِ الدَّعْوَةِ فَتَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِثَوَابِهَا وَعَظِيمِ الْفَضْلِ أَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَسْتَعْمِلَنَا فِي طَاعَتِهِ وَأَنْ يَجْعَلَ أَيَّامَنَا لَنَا لَا عَلَيْنَا وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ
Saudara-saudara sekalian! Sesungguhnya puasa adalah kesempatan untuk berdoa, sebagaimana yang telah sering kami sampaikan. Kaum mukminin itu saling bersaudara. Maka, ingatlah saudara-saudara kalian, yang berada di berbagai negeri muslim. Doakanlah mereka yang sedang tertimpa musibah, baik itu musibah yang bersifat pribadi maupun umum. Mohonlah agar Allah segera mengangkat penderitaan mereka, mewujudkan rasa aman bagi mereka, serta menjauhkan mereka dari segala keburukan fitnah. Wahai saudara-saudaraku! Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jika Anda mengetahui adanya musibah di salah satu negeri kaum muslimin, tidak sepatutnya Anda berucap: “Negeri itu jauh dari kita.” Ingatlah, mereka adalah saudara Anda! Berdoalah untuk mereka! Seorang yang beriman senantiasa menginginkan kebaikan bagi kaum muslimin di mana pun mereka berada, dan membenci keburukan menimpa mereka di mana pun jua. Panjatkanlah doa, perbanyaklah doa untuk diri, keluarga, serta kerabat kalian. Juga untuk kaum muslimin dan muslimat, serta siapa pun dari kaum muslimin yang sedang diuji dengan musibah, baik secara khusus maupun umum. Doakanlah ia. Wahai saudaraku, Anda tidak pernah tahu, boleh jadi Anda menjadi perantara datangnya jalan keluar melalui doa tersebut. Sehingga kelak pada hari kiamat, Anda datang dengan membawa pahalanya dan karunia yang sangat agung. Saya memohon kepada Allah agar membimbing kita dalam ketaatan, serta menjadikan hari-hari kita sebagai amalan yang membela kita, bukan yang memberatkan kita. Allah Ta’ala Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita. ===== مَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ إِنَّ الصِّيَامَ فُرْصَةٌ لِلدُّعَاءِ كَمَا ذَكَرْنَا مِرَارًا وَالْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَتَذَكَّرُوا إِخْوَانَكُمْ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ ادْعُوا لِأَهْلِ الْبَلَاءِ الْبَلَاءِ الْعَامِّ وَالْبَلَاءِ الْخَاصِّ أَنْ يَدْفَعَ اللَّهُ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَأَنْ يُحَقِّقَ لَهُمُ الْأَمْنَ وَأَنْ يَدْفَعَ عَنْهُمْ شُرُورَ الْفِتَنِ الْمُؤْمِنُ يَا إِخْوَةُ أَخُو الْمُؤْمِنِ وَلَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ عَلِمْتَ بَلَاءً فِي دَوْلَةٍ مِنْ دُوَلِ الْمُسْلِمِينَ مَا يَنْبَغِي أَنْ تَقُولَ هَذِهِ الدَّوْلَةُ بَعِيدَةٌ عَنَّا هَؤُلَاءِ إِخْوَانُكَ ادْعُ لَهُمْ الْمُؤْمِنُ يُحِبُّ الْخَيْرَ لِلْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَيَكْرَهُ الشَّرَّ لَهُمْ فِي كُلِّ مَكَانٍ ادْعُوا وَأَكْثِرُوا مِنَ الدُّعَاءِ لَكُمْ وَلِأَهْلِيكُمْ وَلِأَقَارِبِكُمْ وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَمَنْ بِهِ بَلَاءٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَامٌّ وَخَاصٌّ ادْعُوا لَهُ مَا تَدْرِي يَا أَخِي لَعَلَّكَ أَنْ تَكُونَ سَبَبًا فِي التَّفْرِيجِ بِهَذِهِ الدَّعْوَةِ فَتَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِثَوَابِهَا وَعَظِيمِ الْفَضْلِ أَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَسْتَعْمِلَنَا فِي طَاعَتِهِ وَأَنْ يَجْعَلَ أَيَّامَنَا لَنَا لَا عَلَيْنَا وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ


Saudara-saudara sekalian! Sesungguhnya puasa adalah kesempatan untuk berdoa, sebagaimana yang telah sering kami sampaikan. Kaum mukminin itu saling bersaudara. Maka, ingatlah saudara-saudara kalian, yang berada di berbagai negeri muslim. Doakanlah mereka yang sedang tertimpa musibah, baik itu musibah yang bersifat pribadi maupun umum. Mohonlah agar Allah segera mengangkat penderitaan mereka, mewujudkan rasa aman bagi mereka, serta menjauhkan mereka dari segala keburukan fitnah. Wahai saudara-saudaraku! Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jika Anda mengetahui adanya musibah di salah satu negeri kaum muslimin, tidak sepatutnya Anda berucap: “Negeri itu jauh dari kita.” Ingatlah, mereka adalah saudara Anda! Berdoalah untuk mereka! Seorang yang beriman senantiasa menginginkan kebaikan bagi kaum muslimin di mana pun mereka berada, dan membenci keburukan menimpa mereka di mana pun jua. Panjatkanlah doa, perbanyaklah doa untuk diri, keluarga, serta kerabat kalian. Juga untuk kaum muslimin dan muslimat, serta siapa pun dari kaum muslimin yang sedang diuji dengan musibah, baik secara khusus maupun umum. Doakanlah ia. Wahai saudaraku, Anda tidak pernah tahu, boleh jadi Anda menjadi perantara datangnya jalan keluar melalui doa tersebut. Sehingga kelak pada hari kiamat, Anda datang dengan membawa pahalanya dan karunia yang sangat agung. Saya memohon kepada Allah agar membimbing kita dalam ketaatan, serta menjadikan hari-hari kita sebagai amalan yang membela kita, bukan yang memberatkan kita. Allah Ta’ala Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita. ===== مَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ إِنَّ الصِّيَامَ فُرْصَةٌ لِلدُّعَاءِ كَمَا ذَكَرْنَا مِرَارًا وَالْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَتَذَكَّرُوا إِخْوَانَكُمْ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ ادْعُوا لِأَهْلِ الْبَلَاءِ الْبَلَاءِ الْعَامِّ وَالْبَلَاءِ الْخَاصِّ أَنْ يَدْفَعَ اللَّهُ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَأَنْ يُحَقِّقَ لَهُمُ الْأَمْنَ وَأَنْ يَدْفَعَ عَنْهُمْ شُرُورَ الْفِتَنِ الْمُؤْمِنُ يَا إِخْوَةُ أَخُو الْمُؤْمِنِ وَلَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ عَلِمْتَ بَلَاءً فِي دَوْلَةٍ مِنْ دُوَلِ الْمُسْلِمِينَ مَا يَنْبَغِي أَنْ تَقُولَ هَذِهِ الدَّوْلَةُ بَعِيدَةٌ عَنَّا هَؤُلَاءِ إِخْوَانُكَ ادْعُ لَهُمْ الْمُؤْمِنُ يُحِبُّ الْخَيْرَ لِلْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَيَكْرَهُ الشَّرَّ لَهُمْ فِي كُلِّ مَكَانٍ ادْعُوا وَأَكْثِرُوا مِنَ الدُّعَاءِ لَكُمْ وَلِأَهْلِيكُمْ وَلِأَقَارِبِكُمْ وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَمَنْ بِهِ بَلَاءٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَامٌّ وَخَاصٌّ ادْعُوا لَهُ مَا تَدْرِي يَا أَخِي لَعَلَّكَ أَنْ تَكُونَ سَبَبًا فِي التَّفْرِيجِ بِهَذِهِ الدَّعْوَةِ فَتَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِثَوَابِهَا وَعَظِيمِ الْفَضْلِ أَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَسْتَعْمِلَنَا فِي طَاعَتِهِ وَأَنْ يَجْعَلَ أَيَّامَنَا لَنَا لَا عَلَيْنَا وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Waktu Tidur di Bulan Ramadan

Daftar Isi ToggleKebiasaan tidur Nabi ﷺUmumnya, Nabi ﷺ tidur di malam hari RamadanBolehkah tidur di pagi hari Ramadan?Kesimpulan hukum tidur pagiPenutupBulan Ramadan menuntut kita untuk memperbanyak amalan di sepanjang hari kita. Khususnya di 10 hari terakhir Ramadan, kita didorong dengan motivasi kuat untuk menghidupkan malam untuk mengejar lailatul qadar. Tentu hal ini akan mengorbankan waktu tidur kita di malam hari. Sehingga sebagian orang beralasan tidak bersemangat memaksimalkan 10 malam terakhir karena alasan kesibukan di siang hari. Namun, bagaimana Nabi dan para sahabatnya memposisikan tidur di perjuangan mencari lailatul qadar? Bukankah mereka juga memiliki pekerjaan di siang hari? Tentu ini perkara yang sangat penting diperbincangkan.Pada asalnya, tidak ada dalil yang tegas yang menjelaskan kapan waktu tidur yang tepat dan berapa lama durasinya. Namun, ada beberapa dalil yang dikumpulkan oleh para ulama sebagai pos waktu tidur dalam bulan Ramadan.Kebiasaan tidur Nabi ﷺDalam Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim rahimahullah berusaha menghimpun keterangan tidur Nabi ﷺ,“Siapa pun yang mengikuti sunahnya, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, akan mendapati bahwa beliau ﷺ biasa tidur pada tiga waktu: awal malam, akhir malam setelah salat witir dan sebelum fajar pada waktu sahur, serta tidur siang.”Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَيُحْيِى آخِرَهُ ثُمَّ إِنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى أَهْلِهِ قَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ يَنَامُ فَإِذَا كَانَ عِنْدَ النِّدَاءِ الأَوَّلِ – قَالَتْ – وَثَبَ – وَلاَ وَاللَّهِ مَا قَالَتْ قَامَ – فَأَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ – وَلاَ وَاللَّهِ مَا قَالَتِ اغْتَسَلَ. وَأَنَا أَعْلَمُ مَا تُرِيدُ – وَإِنْ لَمْ يَكُنْ جُنُبًا تَوَضَّأَ وُضُوءَ الرَّجُلِ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ صَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ“Rasulullah ﷺ biasa tidur di awal malam dan beliau menghidupkan akhir malam (dengan salat). Jika beliau memiliki hajat (baca: hubungan badan dengan istrinya), beliau menunaikan hajat tersebut, kemudian beliau tidur. Pada azan subuh pertama, beliau ﷺ duduk (‘Aisyah tidak mengatakan bahwa beliau bangun). Kemudian beliau ﷺ menuangkan air (‘Aisyah tidak mengatakan bahwa beliau mandi, dan aku mengetahui apa yang ‘Aisyah maksudkan). Jika beliau ﷺ tidak dalam keadaan junub, beliau berwudu seperti wudu seseorang yang hendak salat. Kemudian beliau salat dua rekaat.” (HR. Muslim no. 739)Umumnya, Nabi ﷺ tidur di malam hari RamadanAisyah radhiyallahu ‘anha berkata,وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ“Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ bangun menghidupkan malam dengan ibadah (seluruhnya) hingga pagi hari.” (HR. Muslim no. 746)Artinya, meskipun Nabi ﷺ banyak beribadah di malam hari, tetap Nabi ﷺ selalu ada waktu untuk tidur di malam hari. [1]Namun, untuk 10 hari terakhir Ramadan, kata Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadis lainnya,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“Kebiasaan Nabi ﷺ apabila beliau memasuki 10 hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maksud menghidupkan malam tersebut menurut banyak ulama adalah tidak tidur sama sekali dalam rangka beribadah.Salah satunya adalah apa yang diterangkan Syekh Bin Baz rahimahullah ketika ditanyai tentang hukum tidur, khususnya di bulan Ramadan. Beliau menjawab,“Tidak ada salahnya tidur siang dan malam jika tidak menyebabkan kelalaian dalam melaksanakan kewajiban atau melakukan perbuatan terlarang. Dianjurkan bagi seorang Muslim, baik yang berpuasa maupun tidak, untuk tidak begadang, dan segera tidur setelah Allah memberinya kesempatan untuk melaksanakan salat malam, kemudian bangun untuk sahur jika bertepatan dengan bulan Ramadan. Karena makan sahur adalah sunah, berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ, “Makanlah sahur, karena sahur itu penuh berkah.” (HR. Muslim) [2]Dari keterangan beliau, dapat kita simpulkan beberapa hal:Boleh tidur, baik di siang maupun malam hari Ramadan.Utamanya waktu tidur adalah di malam hari setelah melakukan salat malam; dan di bulan Ramadan, hal ini sudah terpenuhi dengan jemaah tarawih.Utamanya waktu bangun adalah di waktu sahur atau sedikit sebelumnya agar bisa menjalankan syariat makan sahur serta memperbanyak istigfar, zikir, dan doa di dalamnya.Kemudian Syekh melanjutkan fatwanya,“Orang yang berpuasa dan orang lain harus melaksanakan kelima salat berjemaah dan berhati-hati agar tidak terganggu oleh tidur atau hal lain. Orang yang berpuasa dan orang lain juga harus melaksanakan semua pekerjaan yang harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan untuk pemerintah atau pihak lain dan tidak terganggu oleh tidur atau hal lain. Demikian pula, ia harus berusaha mencari rezeki yang halal yang dibutuhkan oleh dirinya dan orang-orang yang ditanggungnya, dan tidak terganggu oleh tidur atau hal lain.” (Fatwa Syaikh Bin Baz, 4: 156) [3]Keterangan beliau itu dapat kita jadikan pegangan:Boleh tidur di waktu kapan saja asal tetap bisa menjaga salat lima waktu berjemaah dan berhati-hati dari terlewat waktunya. Artinya, wajib bangun sebelum prosesi salat berjemaah di setiap lima waktu tersebut.Tidak boleh seseorang tidur hingga melalaikan pekerjaannya dengan alasan ia bergadang untuk beramal. Karena bekerja dan mencari nafkah adalah hal yang wajib bagi dirinya.Singkatnya, tidur yang paling seimbang dan bermanfaat adalah tidur di paruh pertama malam dan seperenam malam terakhir, total delapan jam. Ini dianggap sebagai tidur yang paling seimbang oleh para dokter. Apapun yang melebihi atau kurang dari ini, maka akan mempengaruhi keadaan tubuh. Tidur yang tidak disukai adalah tidur di waktu magrib ke isya. Nabi Muhammad ﷺ tidak menyukai ini, dan hal ini tidak disukai baik secara agama maupun secara alami.Sebagaimana tidur berlebihan menyebabkan penyakit-penyakit ini, demikian pula penekanan dan pengabaian tidur menyebabkan penyakit-penyakit serius lainnya: temperamen yang buruk, kekeringan jiwa, penurunan kemampuan yang membantu pemahaman dan tindakan, dan penyakit-penyakit yang melemahkan yang tidak memberikan manfaat apa pun bagi seseorang, baik bagi hati maupun tubuh. Kehidupan hanya ada melalui keseimbangan, jadi siapa pun yang berpegang teguh padanya telah memperoleh bagiannya dari semua kebaikan. [4]Satu celah waktu yang banyak keterangannya adalah tidur siang, dan kemungkinan besar inilah yang digunakan Nabi Muhammad ﷺ untuk tidur selama sepuluh malam terakhir. Inilah yang diterangkan dalam pembahasan, “Kuncinya adalah tidur siang.”Satu waktu lainnya adalah waktu duha. Dinukil dari fatwa Syekh Bin Baz rahimahullah, beliau menukilkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha biasa tidur setelah matahari terbit,ويروى عن عائشة -رضي الله عنها- أنها كانت تنام بعد طلوع الشمس، تقرأ بعد الفجر فإذا طلعت الشمس استراحتDiriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha biasa tidur setelah matahari terbit, membaca (Al-Quran) setelah fajar, dan kemudian beristirahat ketika matahari terbit. [5]Dinukil pula oleh Syekh Masyhur Hasan Alu Salman, pakar hadis abad ini,وثبت عند ابن أبي شيبة في المصنف أن عائشة رضي عنها كانت تنام بعد طلوع الشمس، تبقى مستيقظة بعد الفجر إلى طلوع الشمسIbnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab Al-Musannaf bahwa Aisyah, semoga Allah meridainya, biasa tidur setelah matahari terbit, dan tetap terjaga setelah fajar hingga matahari terbit. [6]Baca juga: Sunah-Sunah Tidur yang Sering Dilalaikan Sebagian Kaum MusliminBolehkah tidur di pagi hari Ramadan?Pada asalnya, tidur di waktu pagi adalah sesuatu yang tercela. Para salaf sangat membeci perbuatan tersebut. Urwah mengatakan,إني لأسمع أن الرجل يتصبح فأزهد فيه“Sungguh jika aku mendengar bahwa seseorang itu tidur di waktu pagi, maka aku pun merasa tidak suka dengan dirinya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 5: 222 no. 25442 dengan sanad yang sahih)Namun, hukumnya berubah ketika memang ada kebutuhan. Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya berkata, “Namun jika ada seorang yang memilih untuk tidur setelah salat subuh agar bisa bekerja dengan penuh vitalitas, maka hukumnya adalah tidak mengapa, terutama jika tidak memungkinkan bagi orang tersebut untuk tidur siang dan hanya mungkin tidur di waktu pagi.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 2063)Kesimpulan hukum tidur pagiKesimpulannya, masalah ini luas, alhamdulillah, tetapi ini lebih baik: tidur jika perlu setelah matahari terbit, dan menghabiskan bagian awal hari untuk berzikir kepada Allah, membaca ilmu, atau kegiatan bermanfaat lainnya. Pernyataan ini juga dikeluarkan oleh Syekh Al-Khudhair yang menunjukkan tidak ada pengharaman tegas atas tidur setelah subuh, kecuali hanya kehilangan utama saja. [7] Dan diperbolehkan bahkan dianjurkan seorang itu tidur di waktu tersebut dalam rangka menguatkan diri untuk beramal di waktu yang lebih strategis.Kesimpulannya, lebih baik bagi seseorang untuk menggunakan waktu ini untuk hal-hal yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Jika ia tidur selama waktu tersebut untuk mendapatkan kekuatan dalam pekerjaannya, tidak ada salahnya, terutama jika ia tidak memungkinkan untuk tidur di waktu lain dalam sehari.Bahkan Umar radhiyallahu ‘anhu menaruh perhatian besar dan tidak mau mengganggu orang yang membutuhkan tidur pagi.من حديث أبي يزيد المديني قال : غدا عمر على صهيب فوجده متصبّحاً ، فقعد حتى استيقظ ، فقال صهيب : أمير المؤمنين قاعد على مقعدته ، وصهيب نائم متصبّح !! فقال له عمر : ما كنت أحب أن تدع نومة ترفق بكDari Abu Yazid al Madini, “Pada suatu pagi, Umar pergi ke rumah Shuhaib, namun Shuhaib sedang tidur pagi. Umar pun duduk menunggu sehingga Shuhaib bangun.” Ketika bangun, Shuhaib berkomentar, “Amir mukminin duduk menunggu, sedangkan Shuhaib tidur pagi.” Umar mengatakan, “Aku tidak suka jika kau tinggalkan tidur yang bermanfaat bagimu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 25454) [8]Riwayat ini bercocokan dengan keterangan Syekh Muhammad bin Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi rahimahullah, إذا كان قواماً لليل، ويريد أن ينام بعد صلاة الفجر حتى يكسب أعماله في النهار فلا حرج والأمر واسع“Jika dia adalah seseorang yang beribadah di malam hari dan ingin tidur setelah salat subuh agar dapat mencari nafkah di siang hari, maka tidak ada salahnya, dan masalah ini luas cakupannya.” (Syarah Zadul Mustaqni’, 1: 16) [9]Realita yang dipotret oleh Syekh ini sangat bercocokan dengan keadan pekerja di bulan Ramadan.Perlu diketahui bahwasanya beda level pembahasan antara tidur setelah subuh sebelum syuruq, dan tidur setelah syuruq. Adapun tidur setelah subuh, inilah waktu yang banyak riwayat mencelanya. Adapun tidur di waktu duha, maka sebagian lebih ringan; meskipun di waktu normal, hal ini juga tidak tepat karena dikaitkan dengan waktu umumnya orang-orang bekerja.PenutupKeadaan di bulan Ramadan yang penuh kesibukan kebaikan adalah hal yang patut disyukuri dengan berupaya memaksimalkannya. Namun, jangan sampai kita mengorbankan diri sendiri hingga sakit dan mengakibatkan Ramadan kita pun tidak maksimal. Tidur adalah perkara yang sangat penting bagi seorang manusia. Juga pekerjaan untuk mencari nafkah adalah hal yang penting untuk kita kerjakan. Maka, jagalah keseimbangan ini dengan meniti sunah Nabi ﷺ dalam perkara tersebut. [10]Baca juga: Bagaimanakah Tidurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] islamweb.net[2] Keterangan fatwa اللجنة الدائمة للبحوث العلمية (10:212)ا[3] islamqa.info[4] majles.alukah.net[5] binbaz.org.sa[6] meshhoor.com[7] shkhudheir.com[8] islamqa.info[9] shamela.ws[10] Sebagian pembahasan ini termuat dalam buku Productive Ramadan: The Ultimate Guide, yang ditulis dan dibahas oleh guru kami Ustaz Muhammad Rezki Hr, Ph.D. hafizhahullah.

Waktu Tidur di Bulan Ramadan

Daftar Isi ToggleKebiasaan tidur Nabi ﷺUmumnya, Nabi ﷺ tidur di malam hari RamadanBolehkah tidur di pagi hari Ramadan?Kesimpulan hukum tidur pagiPenutupBulan Ramadan menuntut kita untuk memperbanyak amalan di sepanjang hari kita. Khususnya di 10 hari terakhir Ramadan, kita didorong dengan motivasi kuat untuk menghidupkan malam untuk mengejar lailatul qadar. Tentu hal ini akan mengorbankan waktu tidur kita di malam hari. Sehingga sebagian orang beralasan tidak bersemangat memaksimalkan 10 malam terakhir karena alasan kesibukan di siang hari. Namun, bagaimana Nabi dan para sahabatnya memposisikan tidur di perjuangan mencari lailatul qadar? Bukankah mereka juga memiliki pekerjaan di siang hari? Tentu ini perkara yang sangat penting diperbincangkan.Pada asalnya, tidak ada dalil yang tegas yang menjelaskan kapan waktu tidur yang tepat dan berapa lama durasinya. Namun, ada beberapa dalil yang dikumpulkan oleh para ulama sebagai pos waktu tidur dalam bulan Ramadan.Kebiasaan tidur Nabi ﷺDalam Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim rahimahullah berusaha menghimpun keterangan tidur Nabi ﷺ,“Siapa pun yang mengikuti sunahnya, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, akan mendapati bahwa beliau ﷺ biasa tidur pada tiga waktu: awal malam, akhir malam setelah salat witir dan sebelum fajar pada waktu sahur, serta tidur siang.”Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَيُحْيِى آخِرَهُ ثُمَّ إِنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى أَهْلِهِ قَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ يَنَامُ فَإِذَا كَانَ عِنْدَ النِّدَاءِ الأَوَّلِ – قَالَتْ – وَثَبَ – وَلاَ وَاللَّهِ مَا قَالَتْ قَامَ – فَأَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ – وَلاَ وَاللَّهِ مَا قَالَتِ اغْتَسَلَ. وَأَنَا أَعْلَمُ مَا تُرِيدُ – وَإِنْ لَمْ يَكُنْ جُنُبًا تَوَضَّأَ وُضُوءَ الرَّجُلِ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ صَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ“Rasulullah ﷺ biasa tidur di awal malam dan beliau menghidupkan akhir malam (dengan salat). Jika beliau memiliki hajat (baca: hubungan badan dengan istrinya), beliau menunaikan hajat tersebut, kemudian beliau tidur. Pada azan subuh pertama, beliau ﷺ duduk (‘Aisyah tidak mengatakan bahwa beliau bangun). Kemudian beliau ﷺ menuangkan air (‘Aisyah tidak mengatakan bahwa beliau mandi, dan aku mengetahui apa yang ‘Aisyah maksudkan). Jika beliau ﷺ tidak dalam keadaan junub, beliau berwudu seperti wudu seseorang yang hendak salat. Kemudian beliau salat dua rekaat.” (HR. Muslim no. 739)Umumnya, Nabi ﷺ tidur di malam hari RamadanAisyah radhiyallahu ‘anha berkata,وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ“Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ bangun menghidupkan malam dengan ibadah (seluruhnya) hingga pagi hari.” (HR. Muslim no. 746)Artinya, meskipun Nabi ﷺ banyak beribadah di malam hari, tetap Nabi ﷺ selalu ada waktu untuk tidur di malam hari. [1]Namun, untuk 10 hari terakhir Ramadan, kata Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadis lainnya,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“Kebiasaan Nabi ﷺ apabila beliau memasuki 10 hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maksud menghidupkan malam tersebut menurut banyak ulama adalah tidak tidur sama sekali dalam rangka beribadah.Salah satunya adalah apa yang diterangkan Syekh Bin Baz rahimahullah ketika ditanyai tentang hukum tidur, khususnya di bulan Ramadan. Beliau menjawab,“Tidak ada salahnya tidur siang dan malam jika tidak menyebabkan kelalaian dalam melaksanakan kewajiban atau melakukan perbuatan terlarang. Dianjurkan bagi seorang Muslim, baik yang berpuasa maupun tidak, untuk tidak begadang, dan segera tidur setelah Allah memberinya kesempatan untuk melaksanakan salat malam, kemudian bangun untuk sahur jika bertepatan dengan bulan Ramadan. Karena makan sahur adalah sunah, berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ, “Makanlah sahur, karena sahur itu penuh berkah.” (HR. Muslim) [2]Dari keterangan beliau, dapat kita simpulkan beberapa hal:Boleh tidur, baik di siang maupun malam hari Ramadan.Utamanya waktu tidur adalah di malam hari setelah melakukan salat malam; dan di bulan Ramadan, hal ini sudah terpenuhi dengan jemaah tarawih.Utamanya waktu bangun adalah di waktu sahur atau sedikit sebelumnya agar bisa menjalankan syariat makan sahur serta memperbanyak istigfar, zikir, dan doa di dalamnya.Kemudian Syekh melanjutkan fatwanya,“Orang yang berpuasa dan orang lain harus melaksanakan kelima salat berjemaah dan berhati-hati agar tidak terganggu oleh tidur atau hal lain. Orang yang berpuasa dan orang lain juga harus melaksanakan semua pekerjaan yang harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan untuk pemerintah atau pihak lain dan tidak terganggu oleh tidur atau hal lain. Demikian pula, ia harus berusaha mencari rezeki yang halal yang dibutuhkan oleh dirinya dan orang-orang yang ditanggungnya, dan tidak terganggu oleh tidur atau hal lain.” (Fatwa Syaikh Bin Baz, 4: 156) [3]Keterangan beliau itu dapat kita jadikan pegangan:Boleh tidur di waktu kapan saja asal tetap bisa menjaga salat lima waktu berjemaah dan berhati-hati dari terlewat waktunya. Artinya, wajib bangun sebelum prosesi salat berjemaah di setiap lima waktu tersebut.Tidak boleh seseorang tidur hingga melalaikan pekerjaannya dengan alasan ia bergadang untuk beramal. Karena bekerja dan mencari nafkah adalah hal yang wajib bagi dirinya.Singkatnya, tidur yang paling seimbang dan bermanfaat adalah tidur di paruh pertama malam dan seperenam malam terakhir, total delapan jam. Ini dianggap sebagai tidur yang paling seimbang oleh para dokter. Apapun yang melebihi atau kurang dari ini, maka akan mempengaruhi keadaan tubuh. Tidur yang tidak disukai adalah tidur di waktu magrib ke isya. Nabi Muhammad ﷺ tidak menyukai ini, dan hal ini tidak disukai baik secara agama maupun secara alami.Sebagaimana tidur berlebihan menyebabkan penyakit-penyakit ini, demikian pula penekanan dan pengabaian tidur menyebabkan penyakit-penyakit serius lainnya: temperamen yang buruk, kekeringan jiwa, penurunan kemampuan yang membantu pemahaman dan tindakan, dan penyakit-penyakit yang melemahkan yang tidak memberikan manfaat apa pun bagi seseorang, baik bagi hati maupun tubuh. Kehidupan hanya ada melalui keseimbangan, jadi siapa pun yang berpegang teguh padanya telah memperoleh bagiannya dari semua kebaikan. [4]Satu celah waktu yang banyak keterangannya adalah tidur siang, dan kemungkinan besar inilah yang digunakan Nabi Muhammad ﷺ untuk tidur selama sepuluh malam terakhir. Inilah yang diterangkan dalam pembahasan, “Kuncinya adalah tidur siang.”Satu waktu lainnya adalah waktu duha. Dinukil dari fatwa Syekh Bin Baz rahimahullah, beliau menukilkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha biasa tidur setelah matahari terbit,ويروى عن عائشة -رضي الله عنها- أنها كانت تنام بعد طلوع الشمس، تقرأ بعد الفجر فإذا طلعت الشمس استراحتDiriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha biasa tidur setelah matahari terbit, membaca (Al-Quran) setelah fajar, dan kemudian beristirahat ketika matahari terbit. [5]Dinukil pula oleh Syekh Masyhur Hasan Alu Salman, pakar hadis abad ini,وثبت عند ابن أبي شيبة في المصنف أن عائشة رضي عنها كانت تنام بعد طلوع الشمس، تبقى مستيقظة بعد الفجر إلى طلوع الشمسIbnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab Al-Musannaf bahwa Aisyah, semoga Allah meridainya, biasa tidur setelah matahari terbit, dan tetap terjaga setelah fajar hingga matahari terbit. [6]Baca juga: Sunah-Sunah Tidur yang Sering Dilalaikan Sebagian Kaum MusliminBolehkah tidur di pagi hari Ramadan?Pada asalnya, tidur di waktu pagi adalah sesuatu yang tercela. Para salaf sangat membeci perbuatan tersebut. Urwah mengatakan,إني لأسمع أن الرجل يتصبح فأزهد فيه“Sungguh jika aku mendengar bahwa seseorang itu tidur di waktu pagi, maka aku pun merasa tidak suka dengan dirinya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 5: 222 no. 25442 dengan sanad yang sahih)Namun, hukumnya berubah ketika memang ada kebutuhan. Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya berkata, “Namun jika ada seorang yang memilih untuk tidur setelah salat subuh agar bisa bekerja dengan penuh vitalitas, maka hukumnya adalah tidak mengapa, terutama jika tidak memungkinkan bagi orang tersebut untuk tidur siang dan hanya mungkin tidur di waktu pagi.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 2063)Kesimpulan hukum tidur pagiKesimpulannya, masalah ini luas, alhamdulillah, tetapi ini lebih baik: tidur jika perlu setelah matahari terbit, dan menghabiskan bagian awal hari untuk berzikir kepada Allah, membaca ilmu, atau kegiatan bermanfaat lainnya. Pernyataan ini juga dikeluarkan oleh Syekh Al-Khudhair yang menunjukkan tidak ada pengharaman tegas atas tidur setelah subuh, kecuali hanya kehilangan utama saja. [7] Dan diperbolehkan bahkan dianjurkan seorang itu tidur di waktu tersebut dalam rangka menguatkan diri untuk beramal di waktu yang lebih strategis.Kesimpulannya, lebih baik bagi seseorang untuk menggunakan waktu ini untuk hal-hal yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Jika ia tidur selama waktu tersebut untuk mendapatkan kekuatan dalam pekerjaannya, tidak ada salahnya, terutama jika ia tidak memungkinkan untuk tidur di waktu lain dalam sehari.Bahkan Umar radhiyallahu ‘anhu menaruh perhatian besar dan tidak mau mengganggu orang yang membutuhkan tidur pagi.من حديث أبي يزيد المديني قال : غدا عمر على صهيب فوجده متصبّحاً ، فقعد حتى استيقظ ، فقال صهيب : أمير المؤمنين قاعد على مقعدته ، وصهيب نائم متصبّح !! فقال له عمر : ما كنت أحب أن تدع نومة ترفق بكDari Abu Yazid al Madini, “Pada suatu pagi, Umar pergi ke rumah Shuhaib, namun Shuhaib sedang tidur pagi. Umar pun duduk menunggu sehingga Shuhaib bangun.” Ketika bangun, Shuhaib berkomentar, “Amir mukminin duduk menunggu, sedangkan Shuhaib tidur pagi.” Umar mengatakan, “Aku tidak suka jika kau tinggalkan tidur yang bermanfaat bagimu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 25454) [8]Riwayat ini bercocokan dengan keterangan Syekh Muhammad bin Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi rahimahullah, إذا كان قواماً لليل، ويريد أن ينام بعد صلاة الفجر حتى يكسب أعماله في النهار فلا حرج والأمر واسع“Jika dia adalah seseorang yang beribadah di malam hari dan ingin tidur setelah salat subuh agar dapat mencari nafkah di siang hari, maka tidak ada salahnya, dan masalah ini luas cakupannya.” (Syarah Zadul Mustaqni’, 1: 16) [9]Realita yang dipotret oleh Syekh ini sangat bercocokan dengan keadan pekerja di bulan Ramadan.Perlu diketahui bahwasanya beda level pembahasan antara tidur setelah subuh sebelum syuruq, dan tidur setelah syuruq. Adapun tidur setelah subuh, inilah waktu yang banyak riwayat mencelanya. Adapun tidur di waktu duha, maka sebagian lebih ringan; meskipun di waktu normal, hal ini juga tidak tepat karena dikaitkan dengan waktu umumnya orang-orang bekerja.PenutupKeadaan di bulan Ramadan yang penuh kesibukan kebaikan adalah hal yang patut disyukuri dengan berupaya memaksimalkannya. Namun, jangan sampai kita mengorbankan diri sendiri hingga sakit dan mengakibatkan Ramadan kita pun tidak maksimal. Tidur adalah perkara yang sangat penting bagi seorang manusia. Juga pekerjaan untuk mencari nafkah adalah hal yang penting untuk kita kerjakan. Maka, jagalah keseimbangan ini dengan meniti sunah Nabi ﷺ dalam perkara tersebut. [10]Baca juga: Bagaimanakah Tidurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] islamweb.net[2] Keterangan fatwa اللجنة الدائمة للبحوث العلمية (10:212)ا[3] islamqa.info[4] majles.alukah.net[5] binbaz.org.sa[6] meshhoor.com[7] shkhudheir.com[8] islamqa.info[9] shamela.ws[10] Sebagian pembahasan ini termuat dalam buku Productive Ramadan: The Ultimate Guide, yang ditulis dan dibahas oleh guru kami Ustaz Muhammad Rezki Hr, Ph.D. hafizhahullah.
Daftar Isi ToggleKebiasaan tidur Nabi ﷺUmumnya, Nabi ﷺ tidur di malam hari RamadanBolehkah tidur di pagi hari Ramadan?Kesimpulan hukum tidur pagiPenutupBulan Ramadan menuntut kita untuk memperbanyak amalan di sepanjang hari kita. Khususnya di 10 hari terakhir Ramadan, kita didorong dengan motivasi kuat untuk menghidupkan malam untuk mengejar lailatul qadar. Tentu hal ini akan mengorbankan waktu tidur kita di malam hari. Sehingga sebagian orang beralasan tidak bersemangat memaksimalkan 10 malam terakhir karena alasan kesibukan di siang hari. Namun, bagaimana Nabi dan para sahabatnya memposisikan tidur di perjuangan mencari lailatul qadar? Bukankah mereka juga memiliki pekerjaan di siang hari? Tentu ini perkara yang sangat penting diperbincangkan.Pada asalnya, tidak ada dalil yang tegas yang menjelaskan kapan waktu tidur yang tepat dan berapa lama durasinya. Namun, ada beberapa dalil yang dikumpulkan oleh para ulama sebagai pos waktu tidur dalam bulan Ramadan.Kebiasaan tidur Nabi ﷺDalam Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim rahimahullah berusaha menghimpun keterangan tidur Nabi ﷺ,“Siapa pun yang mengikuti sunahnya, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, akan mendapati bahwa beliau ﷺ biasa tidur pada tiga waktu: awal malam, akhir malam setelah salat witir dan sebelum fajar pada waktu sahur, serta tidur siang.”Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَيُحْيِى آخِرَهُ ثُمَّ إِنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى أَهْلِهِ قَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ يَنَامُ فَإِذَا كَانَ عِنْدَ النِّدَاءِ الأَوَّلِ – قَالَتْ – وَثَبَ – وَلاَ وَاللَّهِ مَا قَالَتْ قَامَ – فَأَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ – وَلاَ وَاللَّهِ مَا قَالَتِ اغْتَسَلَ. وَأَنَا أَعْلَمُ مَا تُرِيدُ – وَإِنْ لَمْ يَكُنْ جُنُبًا تَوَضَّأَ وُضُوءَ الرَّجُلِ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ صَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ“Rasulullah ﷺ biasa tidur di awal malam dan beliau menghidupkan akhir malam (dengan salat). Jika beliau memiliki hajat (baca: hubungan badan dengan istrinya), beliau menunaikan hajat tersebut, kemudian beliau tidur. Pada azan subuh pertama, beliau ﷺ duduk (‘Aisyah tidak mengatakan bahwa beliau bangun). Kemudian beliau ﷺ menuangkan air (‘Aisyah tidak mengatakan bahwa beliau mandi, dan aku mengetahui apa yang ‘Aisyah maksudkan). Jika beliau ﷺ tidak dalam keadaan junub, beliau berwudu seperti wudu seseorang yang hendak salat. Kemudian beliau salat dua rekaat.” (HR. Muslim no. 739)Umumnya, Nabi ﷺ tidur di malam hari RamadanAisyah radhiyallahu ‘anha berkata,وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ“Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ bangun menghidupkan malam dengan ibadah (seluruhnya) hingga pagi hari.” (HR. Muslim no. 746)Artinya, meskipun Nabi ﷺ banyak beribadah di malam hari, tetap Nabi ﷺ selalu ada waktu untuk tidur di malam hari. [1]Namun, untuk 10 hari terakhir Ramadan, kata Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadis lainnya,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“Kebiasaan Nabi ﷺ apabila beliau memasuki 10 hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maksud menghidupkan malam tersebut menurut banyak ulama adalah tidak tidur sama sekali dalam rangka beribadah.Salah satunya adalah apa yang diterangkan Syekh Bin Baz rahimahullah ketika ditanyai tentang hukum tidur, khususnya di bulan Ramadan. Beliau menjawab,“Tidak ada salahnya tidur siang dan malam jika tidak menyebabkan kelalaian dalam melaksanakan kewajiban atau melakukan perbuatan terlarang. Dianjurkan bagi seorang Muslim, baik yang berpuasa maupun tidak, untuk tidak begadang, dan segera tidur setelah Allah memberinya kesempatan untuk melaksanakan salat malam, kemudian bangun untuk sahur jika bertepatan dengan bulan Ramadan. Karena makan sahur adalah sunah, berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ, “Makanlah sahur, karena sahur itu penuh berkah.” (HR. Muslim) [2]Dari keterangan beliau, dapat kita simpulkan beberapa hal:Boleh tidur, baik di siang maupun malam hari Ramadan.Utamanya waktu tidur adalah di malam hari setelah melakukan salat malam; dan di bulan Ramadan, hal ini sudah terpenuhi dengan jemaah tarawih.Utamanya waktu bangun adalah di waktu sahur atau sedikit sebelumnya agar bisa menjalankan syariat makan sahur serta memperbanyak istigfar, zikir, dan doa di dalamnya.Kemudian Syekh melanjutkan fatwanya,“Orang yang berpuasa dan orang lain harus melaksanakan kelima salat berjemaah dan berhati-hati agar tidak terganggu oleh tidur atau hal lain. Orang yang berpuasa dan orang lain juga harus melaksanakan semua pekerjaan yang harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan untuk pemerintah atau pihak lain dan tidak terganggu oleh tidur atau hal lain. Demikian pula, ia harus berusaha mencari rezeki yang halal yang dibutuhkan oleh dirinya dan orang-orang yang ditanggungnya, dan tidak terganggu oleh tidur atau hal lain.” (Fatwa Syaikh Bin Baz, 4: 156) [3]Keterangan beliau itu dapat kita jadikan pegangan:Boleh tidur di waktu kapan saja asal tetap bisa menjaga salat lima waktu berjemaah dan berhati-hati dari terlewat waktunya. Artinya, wajib bangun sebelum prosesi salat berjemaah di setiap lima waktu tersebut.Tidak boleh seseorang tidur hingga melalaikan pekerjaannya dengan alasan ia bergadang untuk beramal. Karena bekerja dan mencari nafkah adalah hal yang wajib bagi dirinya.Singkatnya, tidur yang paling seimbang dan bermanfaat adalah tidur di paruh pertama malam dan seperenam malam terakhir, total delapan jam. Ini dianggap sebagai tidur yang paling seimbang oleh para dokter. Apapun yang melebihi atau kurang dari ini, maka akan mempengaruhi keadaan tubuh. Tidur yang tidak disukai adalah tidur di waktu magrib ke isya. Nabi Muhammad ﷺ tidak menyukai ini, dan hal ini tidak disukai baik secara agama maupun secara alami.Sebagaimana tidur berlebihan menyebabkan penyakit-penyakit ini, demikian pula penekanan dan pengabaian tidur menyebabkan penyakit-penyakit serius lainnya: temperamen yang buruk, kekeringan jiwa, penurunan kemampuan yang membantu pemahaman dan tindakan, dan penyakit-penyakit yang melemahkan yang tidak memberikan manfaat apa pun bagi seseorang, baik bagi hati maupun tubuh. Kehidupan hanya ada melalui keseimbangan, jadi siapa pun yang berpegang teguh padanya telah memperoleh bagiannya dari semua kebaikan. [4]Satu celah waktu yang banyak keterangannya adalah tidur siang, dan kemungkinan besar inilah yang digunakan Nabi Muhammad ﷺ untuk tidur selama sepuluh malam terakhir. Inilah yang diterangkan dalam pembahasan, “Kuncinya adalah tidur siang.”Satu waktu lainnya adalah waktu duha. Dinukil dari fatwa Syekh Bin Baz rahimahullah, beliau menukilkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha biasa tidur setelah matahari terbit,ويروى عن عائشة -رضي الله عنها- أنها كانت تنام بعد طلوع الشمس، تقرأ بعد الفجر فإذا طلعت الشمس استراحتDiriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha biasa tidur setelah matahari terbit, membaca (Al-Quran) setelah fajar, dan kemudian beristirahat ketika matahari terbit. [5]Dinukil pula oleh Syekh Masyhur Hasan Alu Salman, pakar hadis abad ini,وثبت عند ابن أبي شيبة في المصنف أن عائشة رضي عنها كانت تنام بعد طلوع الشمس، تبقى مستيقظة بعد الفجر إلى طلوع الشمسIbnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab Al-Musannaf bahwa Aisyah, semoga Allah meridainya, biasa tidur setelah matahari terbit, dan tetap terjaga setelah fajar hingga matahari terbit. [6]Baca juga: Sunah-Sunah Tidur yang Sering Dilalaikan Sebagian Kaum MusliminBolehkah tidur di pagi hari Ramadan?Pada asalnya, tidur di waktu pagi adalah sesuatu yang tercela. Para salaf sangat membeci perbuatan tersebut. Urwah mengatakan,إني لأسمع أن الرجل يتصبح فأزهد فيه“Sungguh jika aku mendengar bahwa seseorang itu tidur di waktu pagi, maka aku pun merasa tidak suka dengan dirinya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 5: 222 no. 25442 dengan sanad yang sahih)Namun, hukumnya berubah ketika memang ada kebutuhan. Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya berkata, “Namun jika ada seorang yang memilih untuk tidur setelah salat subuh agar bisa bekerja dengan penuh vitalitas, maka hukumnya adalah tidak mengapa, terutama jika tidak memungkinkan bagi orang tersebut untuk tidur siang dan hanya mungkin tidur di waktu pagi.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 2063)Kesimpulan hukum tidur pagiKesimpulannya, masalah ini luas, alhamdulillah, tetapi ini lebih baik: tidur jika perlu setelah matahari terbit, dan menghabiskan bagian awal hari untuk berzikir kepada Allah, membaca ilmu, atau kegiatan bermanfaat lainnya. Pernyataan ini juga dikeluarkan oleh Syekh Al-Khudhair yang menunjukkan tidak ada pengharaman tegas atas tidur setelah subuh, kecuali hanya kehilangan utama saja. [7] Dan diperbolehkan bahkan dianjurkan seorang itu tidur di waktu tersebut dalam rangka menguatkan diri untuk beramal di waktu yang lebih strategis.Kesimpulannya, lebih baik bagi seseorang untuk menggunakan waktu ini untuk hal-hal yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Jika ia tidur selama waktu tersebut untuk mendapatkan kekuatan dalam pekerjaannya, tidak ada salahnya, terutama jika ia tidak memungkinkan untuk tidur di waktu lain dalam sehari.Bahkan Umar radhiyallahu ‘anhu menaruh perhatian besar dan tidak mau mengganggu orang yang membutuhkan tidur pagi.من حديث أبي يزيد المديني قال : غدا عمر على صهيب فوجده متصبّحاً ، فقعد حتى استيقظ ، فقال صهيب : أمير المؤمنين قاعد على مقعدته ، وصهيب نائم متصبّح !! فقال له عمر : ما كنت أحب أن تدع نومة ترفق بكDari Abu Yazid al Madini, “Pada suatu pagi, Umar pergi ke rumah Shuhaib, namun Shuhaib sedang tidur pagi. Umar pun duduk menunggu sehingga Shuhaib bangun.” Ketika bangun, Shuhaib berkomentar, “Amir mukminin duduk menunggu, sedangkan Shuhaib tidur pagi.” Umar mengatakan, “Aku tidak suka jika kau tinggalkan tidur yang bermanfaat bagimu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 25454) [8]Riwayat ini bercocokan dengan keterangan Syekh Muhammad bin Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi rahimahullah, إذا كان قواماً لليل، ويريد أن ينام بعد صلاة الفجر حتى يكسب أعماله في النهار فلا حرج والأمر واسع“Jika dia adalah seseorang yang beribadah di malam hari dan ingin tidur setelah salat subuh agar dapat mencari nafkah di siang hari, maka tidak ada salahnya, dan masalah ini luas cakupannya.” (Syarah Zadul Mustaqni’, 1: 16) [9]Realita yang dipotret oleh Syekh ini sangat bercocokan dengan keadan pekerja di bulan Ramadan.Perlu diketahui bahwasanya beda level pembahasan antara tidur setelah subuh sebelum syuruq, dan tidur setelah syuruq. Adapun tidur setelah subuh, inilah waktu yang banyak riwayat mencelanya. Adapun tidur di waktu duha, maka sebagian lebih ringan; meskipun di waktu normal, hal ini juga tidak tepat karena dikaitkan dengan waktu umumnya orang-orang bekerja.PenutupKeadaan di bulan Ramadan yang penuh kesibukan kebaikan adalah hal yang patut disyukuri dengan berupaya memaksimalkannya. Namun, jangan sampai kita mengorbankan diri sendiri hingga sakit dan mengakibatkan Ramadan kita pun tidak maksimal. Tidur adalah perkara yang sangat penting bagi seorang manusia. Juga pekerjaan untuk mencari nafkah adalah hal yang penting untuk kita kerjakan. Maka, jagalah keseimbangan ini dengan meniti sunah Nabi ﷺ dalam perkara tersebut. [10]Baca juga: Bagaimanakah Tidurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] islamweb.net[2] Keterangan fatwa اللجنة الدائمة للبحوث العلمية (10:212)ا[3] islamqa.info[4] majles.alukah.net[5] binbaz.org.sa[6] meshhoor.com[7] shkhudheir.com[8] islamqa.info[9] shamela.ws[10] Sebagian pembahasan ini termuat dalam buku Productive Ramadan: The Ultimate Guide, yang ditulis dan dibahas oleh guru kami Ustaz Muhammad Rezki Hr, Ph.D. hafizhahullah.


Daftar Isi ToggleKebiasaan tidur Nabi ﷺUmumnya, Nabi ﷺ tidur di malam hari RamadanBolehkah tidur di pagi hari Ramadan?Kesimpulan hukum tidur pagiPenutupBulan Ramadan menuntut kita untuk memperbanyak amalan di sepanjang hari kita. Khususnya di 10 hari terakhir Ramadan, kita didorong dengan motivasi kuat untuk menghidupkan malam untuk mengejar lailatul qadar. Tentu hal ini akan mengorbankan waktu tidur kita di malam hari. Sehingga sebagian orang beralasan tidak bersemangat memaksimalkan 10 malam terakhir karena alasan kesibukan di siang hari. Namun, bagaimana Nabi dan para sahabatnya memposisikan tidur di perjuangan mencari lailatul qadar? Bukankah mereka juga memiliki pekerjaan di siang hari? Tentu ini perkara yang sangat penting diperbincangkan.Pada asalnya, tidak ada dalil yang tegas yang menjelaskan kapan waktu tidur yang tepat dan berapa lama durasinya. Namun, ada beberapa dalil yang dikumpulkan oleh para ulama sebagai pos waktu tidur dalam bulan Ramadan.Kebiasaan tidur Nabi ﷺDalam Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim rahimahullah berusaha menghimpun keterangan tidur Nabi ﷺ,“Siapa pun yang mengikuti sunahnya, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, akan mendapati bahwa beliau ﷺ biasa tidur pada tiga waktu: awal malam, akhir malam setelah salat witir dan sebelum fajar pada waktu sahur, serta tidur siang.”Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَيُحْيِى آخِرَهُ ثُمَّ إِنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى أَهْلِهِ قَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ يَنَامُ فَإِذَا كَانَ عِنْدَ النِّدَاءِ الأَوَّلِ – قَالَتْ – وَثَبَ – وَلاَ وَاللَّهِ مَا قَالَتْ قَامَ – فَأَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ – وَلاَ وَاللَّهِ مَا قَالَتِ اغْتَسَلَ. وَأَنَا أَعْلَمُ مَا تُرِيدُ – وَإِنْ لَمْ يَكُنْ جُنُبًا تَوَضَّأَ وُضُوءَ الرَّجُلِ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ صَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ“Rasulullah ﷺ biasa tidur di awal malam dan beliau menghidupkan akhir malam (dengan salat). Jika beliau memiliki hajat (baca: hubungan badan dengan istrinya), beliau menunaikan hajat tersebut, kemudian beliau tidur. Pada azan subuh pertama, beliau ﷺ duduk (‘Aisyah tidak mengatakan bahwa beliau bangun). Kemudian beliau ﷺ menuangkan air (‘Aisyah tidak mengatakan bahwa beliau mandi, dan aku mengetahui apa yang ‘Aisyah maksudkan). Jika beliau ﷺ tidak dalam keadaan junub, beliau berwudu seperti wudu seseorang yang hendak salat. Kemudian beliau salat dua rekaat.” (HR. Muslim no. 739)Umumnya, Nabi ﷺ tidur di malam hari RamadanAisyah radhiyallahu ‘anha berkata,وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ“Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ bangun menghidupkan malam dengan ibadah (seluruhnya) hingga pagi hari.” (HR. Muslim no. 746)Artinya, meskipun Nabi ﷺ banyak beribadah di malam hari, tetap Nabi ﷺ selalu ada waktu untuk tidur di malam hari. [1]Namun, untuk 10 hari terakhir Ramadan, kata Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadis lainnya,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“Kebiasaan Nabi ﷺ apabila beliau memasuki 10 hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maksud menghidupkan malam tersebut menurut banyak ulama adalah tidak tidur sama sekali dalam rangka beribadah.Salah satunya adalah apa yang diterangkan Syekh Bin Baz rahimahullah ketika ditanyai tentang hukum tidur, khususnya di bulan Ramadan. Beliau menjawab,“Tidak ada salahnya tidur siang dan malam jika tidak menyebabkan kelalaian dalam melaksanakan kewajiban atau melakukan perbuatan terlarang. Dianjurkan bagi seorang Muslim, baik yang berpuasa maupun tidak, untuk tidak begadang, dan segera tidur setelah Allah memberinya kesempatan untuk melaksanakan salat malam, kemudian bangun untuk sahur jika bertepatan dengan bulan Ramadan. Karena makan sahur adalah sunah, berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ, “Makanlah sahur, karena sahur itu penuh berkah.” (HR. Muslim) [2]Dari keterangan beliau, dapat kita simpulkan beberapa hal:Boleh tidur, baik di siang maupun malam hari Ramadan.Utamanya waktu tidur adalah di malam hari setelah melakukan salat malam; dan di bulan Ramadan, hal ini sudah terpenuhi dengan jemaah tarawih.Utamanya waktu bangun adalah di waktu sahur atau sedikit sebelumnya agar bisa menjalankan syariat makan sahur serta memperbanyak istigfar, zikir, dan doa di dalamnya.Kemudian Syekh melanjutkan fatwanya,“Orang yang berpuasa dan orang lain harus melaksanakan kelima salat berjemaah dan berhati-hati agar tidak terganggu oleh tidur atau hal lain. Orang yang berpuasa dan orang lain juga harus melaksanakan semua pekerjaan yang harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan untuk pemerintah atau pihak lain dan tidak terganggu oleh tidur atau hal lain. Demikian pula, ia harus berusaha mencari rezeki yang halal yang dibutuhkan oleh dirinya dan orang-orang yang ditanggungnya, dan tidak terganggu oleh tidur atau hal lain.” (Fatwa Syaikh Bin Baz, 4: 156) [3]Keterangan beliau itu dapat kita jadikan pegangan:Boleh tidur di waktu kapan saja asal tetap bisa menjaga salat lima waktu berjemaah dan berhati-hati dari terlewat waktunya. Artinya, wajib bangun sebelum prosesi salat berjemaah di setiap lima waktu tersebut.Tidak boleh seseorang tidur hingga melalaikan pekerjaannya dengan alasan ia bergadang untuk beramal. Karena bekerja dan mencari nafkah adalah hal yang wajib bagi dirinya.Singkatnya, tidur yang paling seimbang dan bermanfaat adalah tidur di paruh pertama malam dan seperenam malam terakhir, total delapan jam. Ini dianggap sebagai tidur yang paling seimbang oleh para dokter. Apapun yang melebihi atau kurang dari ini, maka akan mempengaruhi keadaan tubuh. Tidur yang tidak disukai adalah tidur di waktu magrib ke isya. Nabi Muhammad ﷺ tidak menyukai ini, dan hal ini tidak disukai baik secara agama maupun secara alami.Sebagaimana tidur berlebihan menyebabkan penyakit-penyakit ini, demikian pula penekanan dan pengabaian tidur menyebabkan penyakit-penyakit serius lainnya: temperamen yang buruk, kekeringan jiwa, penurunan kemampuan yang membantu pemahaman dan tindakan, dan penyakit-penyakit yang melemahkan yang tidak memberikan manfaat apa pun bagi seseorang, baik bagi hati maupun tubuh. Kehidupan hanya ada melalui keseimbangan, jadi siapa pun yang berpegang teguh padanya telah memperoleh bagiannya dari semua kebaikan. [4]Satu celah waktu yang banyak keterangannya adalah tidur siang, dan kemungkinan besar inilah yang digunakan Nabi Muhammad ﷺ untuk tidur selama sepuluh malam terakhir. Inilah yang diterangkan dalam pembahasan, “Kuncinya adalah tidur siang.”Satu waktu lainnya adalah waktu duha. Dinukil dari fatwa Syekh Bin Baz rahimahullah, beliau menukilkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha biasa tidur setelah matahari terbit,ويروى عن عائشة -رضي الله عنها- أنها كانت تنام بعد طلوع الشمس، تقرأ بعد الفجر فإذا طلعت الشمس استراحتDiriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha biasa tidur setelah matahari terbit, membaca (Al-Quran) setelah fajar, dan kemudian beristirahat ketika matahari terbit. [5]Dinukil pula oleh Syekh Masyhur Hasan Alu Salman, pakar hadis abad ini,وثبت عند ابن أبي شيبة في المصنف أن عائشة رضي عنها كانت تنام بعد طلوع الشمس، تبقى مستيقظة بعد الفجر إلى طلوع الشمسIbnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab Al-Musannaf bahwa Aisyah, semoga Allah meridainya, biasa tidur setelah matahari terbit, dan tetap terjaga setelah fajar hingga matahari terbit. [6]Baca juga: Sunah-Sunah Tidur yang Sering Dilalaikan Sebagian Kaum MusliminBolehkah tidur di pagi hari Ramadan?Pada asalnya, tidur di waktu pagi adalah sesuatu yang tercela. Para salaf sangat membeci perbuatan tersebut. Urwah mengatakan,إني لأسمع أن الرجل يتصبح فأزهد فيه“Sungguh jika aku mendengar bahwa seseorang itu tidur di waktu pagi, maka aku pun merasa tidak suka dengan dirinya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 5: 222 no. 25442 dengan sanad yang sahih)Namun, hukumnya berubah ketika memang ada kebutuhan. Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya berkata, “Namun jika ada seorang yang memilih untuk tidur setelah salat subuh agar bisa bekerja dengan penuh vitalitas, maka hukumnya adalah tidak mengapa, terutama jika tidak memungkinkan bagi orang tersebut untuk tidur siang dan hanya mungkin tidur di waktu pagi.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 2063)Kesimpulan hukum tidur pagiKesimpulannya, masalah ini luas, alhamdulillah, tetapi ini lebih baik: tidur jika perlu setelah matahari terbit, dan menghabiskan bagian awal hari untuk berzikir kepada Allah, membaca ilmu, atau kegiatan bermanfaat lainnya. Pernyataan ini juga dikeluarkan oleh Syekh Al-Khudhair yang menunjukkan tidak ada pengharaman tegas atas tidur setelah subuh, kecuali hanya kehilangan utama saja. [7] Dan diperbolehkan bahkan dianjurkan seorang itu tidur di waktu tersebut dalam rangka menguatkan diri untuk beramal di waktu yang lebih strategis.Kesimpulannya, lebih baik bagi seseorang untuk menggunakan waktu ini untuk hal-hal yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Jika ia tidur selama waktu tersebut untuk mendapatkan kekuatan dalam pekerjaannya, tidak ada salahnya, terutama jika ia tidak memungkinkan untuk tidur di waktu lain dalam sehari.Bahkan Umar radhiyallahu ‘anhu menaruh perhatian besar dan tidak mau mengganggu orang yang membutuhkan tidur pagi.من حديث أبي يزيد المديني قال : غدا عمر على صهيب فوجده متصبّحاً ، فقعد حتى استيقظ ، فقال صهيب : أمير المؤمنين قاعد على مقعدته ، وصهيب نائم متصبّح !! فقال له عمر : ما كنت أحب أن تدع نومة ترفق بكDari Abu Yazid al Madini, “Pada suatu pagi, Umar pergi ke rumah Shuhaib, namun Shuhaib sedang tidur pagi. Umar pun duduk menunggu sehingga Shuhaib bangun.” Ketika bangun, Shuhaib berkomentar, “Amir mukminin duduk menunggu, sedangkan Shuhaib tidur pagi.” Umar mengatakan, “Aku tidak suka jika kau tinggalkan tidur yang bermanfaat bagimu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 25454) [8]Riwayat ini bercocokan dengan keterangan Syekh Muhammad bin Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi rahimahullah, إذا كان قواماً لليل، ويريد أن ينام بعد صلاة الفجر حتى يكسب أعماله في النهار فلا حرج والأمر واسع“Jika dia adalah seseorang yang beribadah di malam hari dan ingin tidur setelah salat subuh agar dapat mencari nafkah di siang hari, maka tidak ada salahnya, dan masalah ini luas cakupannya.” (Syarah Zadul Mustaqni’, 1: 16) [9]Realita yang dipotret oleh Syekh ini sangat bercocokan dengan keadan pekerja di bulan Ramadan.Perlu diketahui bahwasanya beda level pembahasan antara tidur setelah subuh sebelum syuruq, dan tidur setelah syuruq. Adapun tidur setelah subuh, inilah waktu yang banyak riwayat mencelanya. Adapun tidur di waktu duha, maka sebagian lebih ringan; meskipun di waktu normal, hal ini juga tidak tepat karena dikaitkan dengan waktu umumnya orang-orang bekerja.PenutupKeadaan di bulan Ramadan yang penuh kesibukan kebaikan adalah hal yang patut disyukuri dengan berupaya memaksimalkannya. Namun, jangan sampai kita mengorbankan diri sendiri hingga sakit dan mengakibatkan Ramadan kita pun tidak maksimal. Tidur adalah perkara yang sangat penting bagi seorang manusia. Juga pekerjaan untuk mencari nafkah adalah hal yang penting untuk kita kerjakan. Maka, jagalah keseimbangan ini dengan meniti sunah Nabi ﷺ dalam perkara tersebut. [10]Baca juga: Bagaimanakah Tidurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] islamweb.net[2] Keterangan fatwa اللجنة الدائمة للبحوث العلمية (10:212)ا[3] islamqa.info[4] majles.alukah.net[5] binbaz.org.sa[6] meshhoor.com[7] shkhudheir.com[8] islamqa.info[9] shamela.ws[10] Sebagian pembahasan ini termuat dalam buku Productive Ramadan: The Ultimate Guide, yang ditulis dan dibahas oleh guru kami Ustaz Muhammad Rezki Hr, Ph.D. hafizhahullah.

Mengapa Orang Beriman Pasti Diuji? Tafsir QS. Al-‘Ankabut Ayat 2–3

Banyak orang mengira bahwa setelah beriman hidup akan selalu mudah dan tanpa ujian. Padahal, Allah justru menjadikan ujian sebagai tanda kejujuran iman seorang hamba. Melalui ujian itulah tampak siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang hanya sekadar mengaku beriman.  Allah Ta’ala berfirman,أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)Dalam ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat di atas sebagai berikut.Allah Ta’ala memberitakan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk bagian dari hikmah tersebut adalah bahwa tidak setiap orang yang mengatakan, “Aku seorang mukmin” dan mengaku beriman, lalu dibiarkan begitu saja tanpa menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Tidak mungkin mereka akan dibiarkan berada dalam keadaan yang aman dari fitnah dan musibah, tanpa menghadapi sesuatu yang dapat mengguncang keimanan mereka dan cabang-cabangnya.Seandainya perkara itu seperti demikian, tentu tidak akan tampak perbedaan antara orang yang jujur dan orang yang dusta, antara yang benar dan yang batil.Akan tetapi, sunnah Allah dan kebiasaan-Nya terhadap umat-umat terdahulu dan juga terhadap umat ini adalah bahwa Dia akan menguji mereka dengan berbagai keadaan:dengan kesenangan dan kesusahan,dengan kemudahan dan kesulitan,dengan hal-hal yang mereka sukai maupun yang mereka benci,dengan kekayaan dan kemiskinan,serta dengan memberikan kesempatan kepada musuh untuk menguasai mereka pada waktu-waktu tertentu.Termasuk pula di antara ujian itu adalah perjuangan menghadapi musuh dengan ucapan dan perbuatan, serta berbagai bentuk cobaan lainnya.Semua ujian tersebut pada hakikatnya kembali kepada dua jenis fitnah:Fitnah syubhat, yaitu keraguan yang menentang akidah dan keyakinan.Fitnah syahwat, yaitu dorongan hawa nafsu yang menentang kehendak untuk taat.Barang siapa ketika datang syubhat, imannya tetap kokoh dan tidak goyah, lalu ia menolaknya dengan kebenaran yang ia miliki; dan ketika datang syahwat yang mengajak kepada maksiat dan dosa, atau yang memalingkannya dari perintah Allah dan Rasul-Nya, ia tetap bertindak sesuai dengan tuntunan iman dan berjuang melawan hawa nafsunya—maka hal itu menunjukkan kejujuran dan kebenaran imannya.Sebaliknya, barang siapa ketika datang syubhat hatinya dipenuhi keraguan dan kebimbangan, dan ketika datang syahwat ia terjerumus dalam maksiat atau meninggalkan kewajiban, maka hal itu menunjukkan lemahnya keimanan dan ketidakjujuran dalam pengakuannya.Manusia dalam perkara ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda, yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah.Karena itu kita memohon kepada Allah Ta’ala agar meneguhkan kita dengan ucapan yang kokoh di kehidupan dunia dan di akhirat, serta meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.Sesungguhnya ujian dan cobaan bagi jiwa manusia ibarat tungku api bagi logam, yang memisahkan antara kotoran dan kemurniannya, sehingga tampak mana yang buruk dan mana yang baik. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya sebagai berikut. Tentang firman Allah Ta’ala,أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?”Kalimat ini adalah pertanyaan dalam bentuk pengingkaran. Maksudnya, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada mereka.Sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي الْبَلَاءِ“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang paling baik setelah mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan ditambah.”Ayat ini serupa dengan firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal Allah belum menampakkan siapa di antara kalian yang berjihad dan siapa yang bersabar?” (QS. Āli ‘Imrān: 142)Ayat yang semakna juga terdapat dalam Surah At-Taubah, dan dalam Surah Al-Baqarah Allah berfirman:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan seperti yang dialami oleh orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan, serta diguncang dengan berbagai ujian, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itulah Allah berfirman di sini:وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”Maksudnya, agar tampak siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapa yang sebenarnya dusta dalam perkataan dan pengakuannya.Padahal Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengetahui segala sesuatu: apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan bahkan apa yang tidak terjadi—seandainya terjadi—bagaimana kejadiannya.Ini merupakan keyakinan yang disepakati oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.Karena itu, Ibnu ‘Abbas dan ulama lainnya menjelaskan ayat seperti firman Allah:إِلَّا لِنَعْلَمَ“agar Kami mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 143)Maksudnya adalah “agar Kami melihatnya secara nyata.”Sebab penglihatan berkaitan dengan sesuatu yang telah terjadi dan tampak nyata, sedangkan ilmu Allah lebih luas daripada penglihatan, karena ilmu-Nya meliputi sesuatu yang ada maupun yang belum ada. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang merasa heran ketika hidupnya dipenuhi ujian: masalah ekonomi, tekanan hidup, fitnah, atau kesulitan dalam berdakwah dan beragama. Padahal justru itulah tanda bahwa iman sedang ditempa dan diuji.Ujian bukanlah tanda bahwa Allah membenci seorang hamba. Justru sering kali ujian adalah cara Allah memurnikan iman, meninggikan derajat, dan membedakan antara iman yang jujur dan iman yang hanya di lisan.Karena itu, ketika ujian datang, jangan buru-buru berputus asa. Ingatlah bahwa ujian itu seperti tungku api yang memurnikan logam, sehingga tampak mana yang murni dan mana yang kotor. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَثَبِّتْنَا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ فِي الْإِيمَانِ.“Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Teguhkanlah kami dengan ucapan yang kokoh di dunia dan di akhirat, serta jadikan kami termasuk orang-orang yang jujur dalam iman.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfitnah syahwat fitnah syubhat hikmah ujian kejujuran iman nasihat islam renungan ayat renungan quran sabar dalam ujian tafsir al ankabut tafsir quran ujian hidup Ujian Iman

Mengapa Orang Beriman Pasti Diuji? Tafsir QS. Al-‘Ankabut Ayat 2–3

Banyak orang mengira bahwa setelah beriman hidup akan selalu mudah dan tanpa ujian. Padahal, Allah justru menjadikan ujian sebagai tanda kejujuran iman seorang hamba. Melalui ujian itulah tampak siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang hanya sekadar mengaku beriman.  Allah Ta’ala berfirman,أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)Dalam ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat di atas sebagai berikut.Allah Ta’ala memberitakan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk bagian dari hikmah tersebut adalah bahwa tidak setiap orang yang mengatakan, “Aku seorang mukmin” dan mengaku beriman, lalu dibiarkan begitu saja tanpa menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Tidak mungkin mereka akan dibiarkan berada dalam keadaan yang aman dari fitnah dan musibah, tanpa menghadapi sesuatu yang dapat mengguncang keimanan mereka dan cabang-cabangnya.Seandainya perkara itu seperti demikian, tentu tidak akan tampak perbedaan antara orang yang jujur dan orang yang dusta, antara yang benar dan yang batil.Akan tetapi, sunnah Allah dan kebiasaan-Nya terhadap umat-umat terdahulu dan juga terhadap umat ini adalah bahwa Dia akan menguji mereka dengan berbagai keadaan:dengan kesenangan dan kesusahan,dengan kemudahan dan kesulitan,dengan hal-hal yang mereka sukai maupun yang mereka benci,dengan kekayaan dan kemiskinan,serta dengan memberikan kesempatan kepada musuh untuk menguasai mereka pada waktu-waktu tertentu.Termasuk pula di antara ujian itu adalah perjuangan menghadapi musuh dengan ucapan dan perbuatan, serta berbagai bentuk cobaan lainnya.Semua ujian tersebut pada hakikatnya kembali kepada dua jenis fitnah:Fitnah syubhat, yaitu keraguan yang menentang akidah dan keyakinan.Fitnah syahwat, yaitu dorongan hawa nafsu yang menentang kehendak untuk taat.Barang siapa ketika datang syubhat, imannya tetap kokoh dan tidak goyah, lalu ia menolaknya dengan kebenaran yang ia miliki; dan ketika datang syahwat yang mengajak kepada maksiat dan dosa, atau yang memalingkannya dari perintah Allah dan Rasul-Nya, ia tetap bertindak sesuai dengan tuntunan iman dan berjuang melawan hawa nafsunya—maka hal itu menunjukkan kejujuran dan kebenaran imannya.Sebaliknya, barang siapa ketika datang syubhat hatinya dipenuhi keraguan dan kebimbangan, dan ketika datang syahwat ia terjerumus dalam maksiat atau meninggalkan kewajiban, maka hal itu menunjukkan lemahnya keimanan dan ketidakjujuran dalam pengakuannya.Manusia dalam perkara ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda, yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah.Karena itu kita memohon kepada Allah Ta’ala agar meneguhkan kita dengan ucapan yang kokoh di kehidupan dunia dan di akhirat, serta meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.Sesungguhnya ujian dan cobaan bagi jiwa manusia ibarat tungku api bagi logam, yang memisahkan antara kotoran dan kemurniannya, sehingga tampak mana yang buruk dan mana yang baik. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya sebagai berikut. Tentang firman Allah Ta’ala,أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?”Kalimat ini adalah pertanyaan dalam bentuk pengingkaran. Maksudnya, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada mereka.Sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي الْبَلَاءِ“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang paling baik setelah mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan ditambah.”Ayat ini serupa dengan firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal Allah belum menampakkan siapa di antara kalian yang berjihad dan siapa yang bersabar?” (QS. Āli ‘Imrān: 142)Ayat yang semakna juga terdapat dalam Surah At-Taubah, dan dalam Surah Al-Baqarah Allah berfirman:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan seperti yang dialami oleh orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan, serta diguncang dengan berbagai ujian, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itulah Allah berfirman di sini:وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”Maksudnya, agar tampak siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapa yang sebenarnya dusta dalam perkataan dan pengakuannya.Padahal Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengetahui segala sesuatu: apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan bahkan apa yang tidak terjadi—seandainya terjadi—bagaimana kejadiannya.Ini merupakan keyakinan yang disepakati oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.Karena itu, Ibnu ‘Abbas dan ulama lainnya menjelaskan ayat seperti firman Allah:إِلَّا لِنَعْلَمَ“agar Kami mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 143)Maksudnya adalah “agar Kami melihatnya secara nyata.”Sebab penglihatan berkaitan dengan sesuatu yang telah terjadi dan tampak nyata, sedangkan ilmu Allah lebih luas daripada penglihatan, karena ilmu-Nya meliputi sesuatu yang ada maupun yang belum ada. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang merasa heran ketika hidupnya dipenuhi ujian: masalah ekonomi, tekanan hidup, fitnah, atau kesulitan dalam berdakwah dan beragama. Padahal justru itulah tanda bahwa iman sedang ditempa dan diuji.Ujian bukanlah tanda bahwa Allah membenci seorang hamba. Justru sering kali ujian adalah cara Allah memurnikan iman, meninggikan derajat, dan membedakan antara iman yang jujur dan iman yang hanya di lisan.Karena itu, ketika ujian datang, jangan buru-buru berputus asa. Ingatlah bahwa ujian itu seperti tungku api yang memurnikan logam, sehingga tampak mana yang murni dan mana yang kotor. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَثَبِّتْنَا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ فِي الْإِيمَانِ.“Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Teguhkanlah kami dengan ucapan yang kokoh di dunia dan di akhirat, serta jadikan kami termasuk orang-orang yang jujur dalam iman.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfitnah syahwat fitnah syubhat hikmah ujian kejujuran iman nasihat islam renungan ayat renungan quran sabar dalam ujian tafsir al ankabut tafsir quran ujian hidup Ujian Iman
Banyak orang mengira bahwa setelah beriman hidup akan selalu mudah dan tanpa ujian. Padahal, Allah justru menjadikan ujian sebagai tanda kejujuran iman seorang hamba. Melalui ujian itulah tampak siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang hanya sekadar mengaku beriman.  Allah Ta’ala berfirman,أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)Dalam ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat di atas sebagai berikut.Allah Ta’ala memberitakan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk bagian dari hikmah tersebut adalah bahwa tidak setiap orang yang mengatakan, “Aku seorang mukmin” dan mengaku beriman, lalu dibiarkan begitu saja tanpa menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Tidak mungkin mereka akan dibiarkan berada dalam keadaan yang aman dari fitnah dan musibah, tanpa menghadapi sesuatu yang dapat mengguncang keimanan mereka dan cabang-cabangnya.Seandainya perkara itu seperti demikian, tentu tidak akan tampak perbedaan antara orang yang jujur dan orang yang dusta, antara yang benar dan yang batil.Akan tetapi, sunnah Allah dan kebiasaan-Nya terhadap umat-umat terdahulu dan juga terhadap umat ini adalah bahwa Dia akan menguji mereka dengan berbagai keadaan:dengan kesenangan dan kesusahan,dengan kemudahan dan kesulitan,dengan hal-hal yang mereka sukai maupun yang mereka benci,dengan kekayaan dan kemiskinan,serta dengan memberikan kesempatan kepada musuh untuk menguasai mereka pada waktu-waktu tertentu.Termasuk pula di antara ujian itu adalah perjuangan menghadapi musuh dengan ucapan dan perbuatan, serta berbagai bentuk cobaan lainnya.Semua ujian tersebut pada hakikatnya kembali kepada dua jenis fitnah:Fitnah syubhat, yaitu keraguan yang menentang akidah dan keyakinan.Fitnah syahwat, yaitu dorongan hawa nafsu yang menentang kehendak untuk taat.Barang siapa ketika datang syubhat, imannya tetap kokoh dan tidak goyah, lalu ia menolaknya dengan kebenaran yang ia miliki; dan ketika datang syahwat yang mengajak kepada maksiat dan dosa, atau yang memalingkannya dari perintah Allah dan Rasul-Nya, ia tetap bertindak sesuai dengan tuntunan iman dan berjuang melawan hawa nafsunya—maka hal itu menunjukkan kejujuran dan kebenaran imannya.Sebaliknya, barang siapa ketika datang syubhat hatinya dipenuhi keraguan dan kebimbangan, dan ketika datang syahwat ia terjerumus dalam maksiat atau meninggalkan kewajiban, maka hal itu menunjukkan lemahnya keimanan dan ketidakjujuran dalam pengakuannya.Manusia dalam perkara ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda, yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah.Karena itu kita memohon kepada Allah Ta’ala agar meneguhkan kita dengan ucapan yang kokoh di kehidupan dunia dan di akhirat, serta meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.Sesungguhnya ujian dan cobaan bagi jiwa manusia ibarat tungku api bagi logam, yang memisahkan antara kotoran dan kemurniannya, sehingga tampak mana yang buruk dan mana yang baik. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya sebagai berikut. Tentang firman Allah Ta’ala,أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?”Kalimat ini adalah pertanyaan dalam bentuk pengingkaran. Maksudnya, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada mereka.Sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي الْبَلَاءِ“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang paling baik setelah mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan ditambah.”Ayat ini serupa dengan firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal Allah belum menampakkan siapa di antara kalian yang berjihad dan siapa yang bersabar?” (QS. Āli ‘Imrān: 142)Ayat yang semakna juga terdapat dalam Surah At-Taubah, dan dalam Surah Al-Baqarah Allah berfirman:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan seperti yang dialami oleh orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan, serta diguncang dengan berbagai ujian, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itulah Allah berfirman di sini:وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”Maksudnya, agar tampak siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapa yang sebenarnya dusta dalam perkataan dan pengakuannya.Padahal Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengetahui segala sesuatu: apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan bahkan apa yang tidak terjadi—seandainya terjadi—bagaimana kejadiannya.Ini merupakan keyakinan yang disepakati oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.Karena itu, Ibnu ‘Abbas dan ulama lainnya menjelaskan ayat seperti firman Allah:إِلَّا لِنَعْلَمَ“agar Kami mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 143)Maksudnya adalah “agar Kami melihatnya secara nyata.”Sebab penglihatan berkaitan dengan sesuatu yang telah terjadi dan tampak nyata, sedangkan ilmu Allah lebih luas daripada penglihatan, karena ilmu-Nya meliputi sesuatu yang ada maupun yang belum ada. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang merasa heran ketika hidupnya dipenuhi ujian: masalah ekonomi, tekanan hidup, fitnah, atau kesulitan dalam berdakwah dan beragama. Padahal justru itulah tanda bahwa iman sedang ditempa dan diuji.Ujian bukanlah tanda bahwa Allah membenci seorang hamba. Justru sering kali ujian adalah cara Allah memurnikan iman, meninggikan derajat, dan membedakan antara iman yang jujur dan iman yang hanya di lisan.Karena itu, ketika ujian datang, jangan buru-buru berputus asa. Ingatlah bahwa ujian itu seperti tungku api yang memurnikan logam, sehingga tampak mana yang murni dan mana yang kotor. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَثَبِّتْنَا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ فِي الْإِيمَانِ.“Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Teguhkanlah kami dengan ucapan yang kokoh di dunia dan di akhirat, serta jadikan kami termasuk orang-orang yang jujur dalam iman.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfitnah syahwat fitnah syubhat hikmah ujian kejujuran iman nasihat islam renungan ayat renungan quran sabar dalam ujian tafsir al ankabut tafsir quran ujian hidup Ujian Iman


Banyak orang mengira bahwa setelah beriman hidup akan selalu mudah dan tanpa ujian. Padahal, Allah justru menjadikan ujian sebagai tanda kejujuran iman seorang hamba. Melalui ujian itulah tampak siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang hanya sekadar mengaku beriman.  Allah Ta’ala berfirman,أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)Dalam ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat di atas sebagai berikut.Allah Ta’ala memberitakan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk bagian dari hikmah tersebut adalah bahwa tidak setiap orang yang mengatakan, “Aku seorang mukmin” dan mengaku beriman, lalu dibiarkan begitu saja tanpa menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Tidak mungkin mereka akan dibiarkan berada dalam keadaan yang aman dari fitnah dan musibah, tanpa menghadapi sesuatu yang dapat mengguncang keimanan mereka dan cabang-cabangnya.Seandainya perkara itu seperti demikian, tentu tidak akan tampak perbedaan antara orang yang jujur dan orang yang dusta, antara yang benar dan yang batil.Akan tetapi, sunnah Allah dan kebiasaan-Nya terhadap umat-umat terdahulu dan juga terhadap umat ini adalah bahwa Dia akan menguji mereka dengan berbagai keadaan:dengan kesenangan dan kesusahan,dengan kemudahan dan kesulitan,dengan hal-hal yang mereka sukai maupun yang mereka benci,dengan kekayaan dan kemiskinan,serta dengan memberikan kesempatan kepada musuh untuk menguasai mereka pada waktu-waktu tertentu.Termasuk pula di antara ujian itu adalah perjuangan menghadapi musuh dengan ucapan dan perbuatan, serta berbagai bentuk cobaan lainnya.Semua ujian tersebut pada hakikatnya kembali kepada dua jenis fitnah:Fitnah syubhat, yaitu keraguan yang menentang akidah dan keyakinan.Fitnah syahwat, yaitu dorongan hawa nafsu yang menentang kehendak untuk taat.Barang siapa ketika datang syubhat, imannya tetap kokoh dan tidak goyah, lalu ia menolaknya dengan kebenaran yang ia miliki; dan ketika datang syahwat yang mengajak kepada maksiat dan dosa, atau yang memalingkannya dari perintah Allah dan Rasul-Nya, ia tetap bertindak sesuai dengan tuntunan iman dan berjuang melawan hawa nafsunya—maka hal itu menunjukkan kejujuran dan kebenaran imannya.Sebaliknya, barang siapa ketika datang syubhat hatinya dipenuhi keraguan dan kebimbangan, dan ketika datang syahwat ia terjerumus dalam maksiat atau meninggalkan kewajiban, maka hal itu menunjukkan lemahnya keimanan dan ketidakjujuran dalam pengakuannya.Manusia dalam perkara ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda, yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah.Karena itu kita memohon kepada Allah Ta’ala agar meneguhkan kita dengan ucapan yang kokoh di kehidupan dunia dan di akhirat, serta meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.Sesungguhnya ujian dan cobaan bagi jiwa manusia ibarat tungku api bagi logam, yang memisahkan antara kotoran dan kemurniannya, sehingga tampak mana yang buruk dan mana yang baik. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya sebagai berikut. Tentang firman Allah Ta’ala,أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?”Kalimat ini adalah pertanyaan dalam bentuk pengingkaran. Maksudnya, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada mereka.Sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي الْبَلَاءِ“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang paling baik setelah mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan ditambah.”Ayat ini serupa dengan firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal Allah belum menampakkan siapa di antara kalian yang berjihad dan siapa yang bersabar?” (QS. Āli ‘Imrān: 142)Ayat yang semakna juga terdapat dalam Surah At-Taubah, dan dalam Surah Al-Baqarah Allah berfirman:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan seperti yang dialami oleh orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan, serta diguncang dengan berbagai ujian, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itulah Allah berfirman di sini:وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”Maksudnya, agar tampak siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapa yang sebenarnya dusta dalam perkataan dan pengakuannya.Padahal Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengetahui segala sesuatu: apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan bahkan apa yang tidak terjadi—seandainya terjadi—bagaimana kejadiannya.Ini merupakan keyakinan yang disepakati oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.Karena itu, Ibnu ‘Abbas dan ulama lainnya menjelaskan ayat seperti firman Allah:إِلَّا لِنَعْلَمَ“agar Kami mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 143)Maksudnya adalah “agar Kami melihatnya secara nyata.”Sebab penglihatan berkaitan dengan sesuatu yang telah terjadi dan tampak nyata, sedangkan ilmu Allah lebih luas daripada penglihatan, karena ilmu-Nya meliputi sesuatu yang ada maupun yang belum ada. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang merasa heran ketika hidupnya dipenuhi ujian: masalah ekonomi, tekanan hidup, fitnah, atau kesulitan dalam berdakwah dan beragama. Padahal justru itulah tanda bahwa iman sedang ditempa dan diuji.Ujian bukanlah tanda bahwa Allah membenci seorang hamba. Justru sering kali ujian adalah cara Allah memurnikan iman, meninggikan derajat, dan membedakan antara iman yang jujur dan iman yang hanya di lisan.Karena itu, ketika ujian datang, jangan buru-buru berputus asa. Ingatlah bahwa ujian itu seperti tungku api yang memurnikan logam, sehingga tampak mana yang murni dan mana yang kotor. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَثَبِّتْنَا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ فِي الْإِيمَانِ.“Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Teguhkanlah kami dengan ucapan yang kokoh di dunia dan di akhirat, serta jadikan kami termasuk orang-orang yang jujur dalam iman.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfitnah syahwat fitnah syubhat hikmah ujian kejujuran iman nasihat islam renungan ayat renungan quran sabar dalam ujian tafsir al ankabut tafsir quran ujian hidup Ujian Iman

Tafsir Surah Al-Muthaffifin: Ancaman Keras bagi Orang yang Curang dalam Timbangan

Curang dalam takaran dan timbangan mungkin terlihat sepele di mata manusia, tetapi sangat besar dosanya di sisi Allah. Surah Al-Muthaffifin dibuka dengan ancaman keras bagi orang-orang yang mengambil haknya secara penuh, namun mengurangi hak orang lain. Ayat-ayat ini mengajarkan keadilan, kejujuran, dan sikap adil bukan hanya dalam muamalah, tetapi juga dalam setiap urusan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Ketiga 1.1. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini 2. Ayat Keempat – Keenam 2.1. Beratnya Hari Kiamat 2.2. Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari Kiamat 3. Ayat Ketujuh – Kedua Belas 4. Al-Fujjar dan Sijjin 5. Ayat Ketiga Belas – Kelima Belas 5.1. Raan yang Menutupi Hati 6. Ayat Keenam Belas – Ketujuh Belas 7. Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling Tinggi 8. Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh Delapan 9. Al-Abrar dan ‘Illiyyin 10. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh Dua 11. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh Enam 12. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan Sijjin  Ayat Pertama – KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (QS. Al-Muthaffifin: 2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:“Wailun” adalah kata yang menunjukkan azab dan ancaman keras.“Lil muthoffifin” yaitu bagi orang-orang yang berbuat curang dalam takaran dan timbangan.“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.”Allah menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang curang itu melalui firman-Nya:yaitu orang-orang yang apabila mereka mengambil takaran dari orang lain untuk hak yang menjadi milik mereka minta dipenuhi, mereka meminta dan mengambilnya secara penuh tanpa ada kekurangan sedikit pun.Sedangkan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, yakni ketika mereka harus memberikan hak orang lain yang menjadi tanggungan mereka melalui takaran atau timbangan, mereka mengurangi hak tersebut. Pengurangan itu bisa dengan menggunakan takaran atau timbangan yang kurang, atau tidak memenuhi takaran dan timbangan sebagaimana mestinya, atau dengan cara lain yang serupa.Perbuatan seperti ini termasuk mencuri harta orang lain dan tidak berlaku adil terhadap mereka.Apabila ancaman ini ditujukan kepada orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam takaran dan timbangan, maka orang yang merampas harta orang lain dengan paksa atau mencurinya secara terang-terangan, lebih pantas lagi mendapatkan ancaman tersebut daripada sekadar orang yang curang dalam takaran.Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa sebagaimana seseorang berhak mengambil dari orang lain apa yang menjadi haknya, maka ia juga wajib memberikan kepada orang lain seluruh hak mereka, baik dalam harta maupun dalam berbagai bentuk muamalah. Bahkan makna ini mencakup pula dalam perdebatan dan penyampaian pendapat. Sebagaimana lazimnya dua orang yang berdebat masing-masing berusaha mempertahankan dalil yang menguntungkan dirinya, maka ia juga wajib menjelaskan dalil yang menjadi hak lawannya yang mungkin belum diketahui. Ia harus menimbang dan memperhatikan dalil lawannya sebagaimana ia menimbang dalilnya sendiri. Pada titik inilah akan tampak apakah seseorang itu adil atau fanatik dan memaksakan diri, apakah ia rendah hati atau sombong, serta apakah ia berakal atau bodoh. Kita memohon kepada Allah taufik untuk meraih segala kebaikan. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini1. Spesifikasi Tidak Sesuai IklanMenjual produk dengan klaim kualitas tertentu (misalnya bahan premium, asli, organik), padahal kenyataannya kualitas di bawah standar yang dijanjikan.2. Manipulasi Berat Bersih (Netto)Mencantumkan berat bersih 1 kg, tetapi setelah ditimbang ulang ternyata kurang dari itu. Ini termasuk bentuk pengurangan takaran modern.3. Mengurangi Kualitas JasaDalam bisnis jasa, menerima pembayaran penuh tetapi layanan tidak diberikan sesuai kesepakatan, misalnya jam kerja dikurangi atau hasil kerja tidak sesuai kontrak.4. Markup Biaya Tanpa TransparansiMenambahkan biaya tersembunyi saat pembayaran (admin fee, service charge, biaya tambahan yang tidak dijelaskan di awal).5. Memanfaatkan Ketidaktahuan KonsumenMenjual barang dengan harga jauh di atas standar pasar kepada orang yang tidak memahami harga sebenarnya.6. Kecurangan dalam Laporan KeuanganMengurangi hak mitra, investor, atau karyawan dengan memanipulasi data laba dan pembagian hasil.7. Mengurangi Hak KaryawanMeminta kinerja penuh, tetapi gaji atau hak lembur tidak dibayarkan sesuai kesepakatan. Ayat Keempat – KeenamAllah Ta’ala berfirman,أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muthaffifin: 4)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ“pada suatu hari yang besar.” (QS. Al-Muthaffifin: 5)يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ“(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Allah juga menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka yang terus-menerus melakukan perbuatan itu. Allah berfirman dengan nada peringatan, “Tidakkah mereka menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari yang sangat besar, yaitu hari ketika seluruh manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?”Yang membuat mereka berani berbuat curang adalah karena mereka tidak beriman kepada hari akhir. Seandainya mereka benar-benar beriman dan menyadari bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan Allah, lalu dihisab atas segala sesuatu—baik yang kecil maupun yang besar—tentu mereka akan berhenti dari perbuatan tersebut dan segera bertobat darinya. Beratnya Hari KiamatImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Muthaffifin ayat keenam.Maksudnya, pada hari itu manusia berdiri dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, di suatu tempat yang sangat sulit, sempit, dan penuh kesusahan. Tempat itu terasa sangat berat bagi orang-orang yang berdosa. Mereka diliputi oleh kedahsyatan urusan Allah yang tidak sanggup ditanggung oleh kekuatan dan pancaindra manusia.Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai setengah telinganya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari melalui jalur Malik dan Abdullah bin ‘Aun, keduanya dari Nafi’. Juga diriwayatkan oleh Muslim melalui dua jalur tersebut. Demikian pula diriwayatkan oleh Shalih, Tsabit bin Kaisan, Ayyub bin Yahya, Abdullah dan Ubaidullah—keduanya putra Umar—serta Muhammad bin Ishaq, semuanya dari Nafi’, dari Ibnu Umar.Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ishaq mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Karena keagungan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat, hingga keringat benar-benar mengekang manusia sampai setengah telinga mereka.”Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan: Ibrahim bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ia berkata: Sulaim bin ‘Amir menceritakan kepadaku, Al-Miqdad—yakni Ibnu Al-Aswad Al-Kindi—berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apabila hari Kiamat terjadi, matahari didekatkan kepada para hamba hingga jaraknya sekitar satu mil atau dua mil.”Beliau bersabda, “Maka matahari itu membakar mereka, sehingga mereka tenggelam dalam keringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pinggangnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringatnya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Al-Hakam bin Musa dari Yahya bin Hamzah, dan oleh At-Tirmidzi melalui Suwaid dari Ibnu Al-Mubarak, keduanya dari Ibnu Jabir.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan bin Sawwar, dari Al-Laits bin Sa’d, dari Mu’awiyah bin Shalih, bahwa Abu Abdurrahman menceritakan kepadanya dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan pada hari Kiamat sejauh satu mil, dan panasnya ditambah sekian dan sekian. Binatang-binatang kecil pun mendidih karenanya sebagaimana air dalam kuali mendidih. Manusia berkeringat sesuai dengan kadar dosa mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai betis, ada yang sampai pertengahan tubuhnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringat.”Hadis ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu ‘Asyanah Hayy bin Yu’min, bahwa ia mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan ke bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai pertengahan betis, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pantat, ada yang sampai pinggang, ada yang sampai kedua bahu, ada yang sampai pertengahan mulutnya.”Beliau memberi isyarat dengan tangannya seakan-akan menutup mulutnya. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat seperti itu. “Dan ada pula yang keringatnya menutupi seluruh tubuhnya.” Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Hadis ini juga diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Disebutkan pula dalam sebuah hadis bahwa mereka berdiri selama tujuh puluh tahun tanpa berbicara. Ada yang mengatakan mereka berdiri selama tiga ratus tahun. Ada pula yang mengatakan empat puluh ribu tahun. Dan diputuskan perkara di antara mereka dalam kadar sepuluh ribu tahun, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’:“Pada suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu ‘Aun Az-Ziyadi mengabarkan kepada kami, Abdur Salam bin ‘Ajlan berkata: Aku mendengar Abu Yazid Al-Madani dari Abu Hurairah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Basyir Al-Ghifari,“Bagaimana keadaanmu pada hari ketika manusia berdiri selama tiga ratus tahun untuk Rabb seluruh alam—menurut hitungan hari dunia—tanpa datang kepada mereka kabar dari langit dan tanpa diperintahkan suatu perintah?”Basyir berkata, “Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.”Beliau bersabda,فَإِذَا أَوَيْتَ إِلَىٰ فِرَاشِكَ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ كَرْبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسُوءِ الْحِسَابِ.“Jika engkau berbaring di tempat tidurmu, maka berlindunglah kepada Allah dari kesusahan hari Kiamat dan dari buruknya hisab.”Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Abdur Salam.Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berlindung kepada Allah dari sempitnya tempat berdiri pada hari Kiamat.Dari Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa mereka berdiri selama empat puluh tahun dengan kepala terangkat ke langit, tidak seorang pun berbicara kepada mereka, dan keringat telah mengekang orang baik maupun orang jahat.Dari Ibnu Umar disebutkan bahwa mereka berdiri selama seratus tahun. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Dalam Sunan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, melalui hadis Zaid bin Al-Hubab dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Azhar bin Sa’id Al-Hawari, dari ‘Ashim bin Humaid, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka qiyamullail dengan bertakbir sepuluh kali, memuji sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali. Beliau juga berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.ALLĀHUMMAGHFIR LĪ, WAHDINĪ, WARZUQNĪ, WA ‘ĀFINĪ, WA A‘ŪDZU BIKA MIN ḌHĪQIL-MAQĀMI YAUMAL-QIYĀMAH.“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rezeki, dan sehatkanlah aku.” Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari KiamatAisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan tentang qiyamullail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa pembuka shalat beliau (doa iftitah) dengan doa dan zikir tersebut. Ia berkata:“Beliau bertakbir sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali.”Kemudian ia menyebutkan doa tersebut.Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا، وَضِيقِ الْقِيَامَةِALLĀHUMMA INNII A‘ŪDZU BIKA MIN DHIIQID-DUNYĀ, WA DHIIQIL-QIYĀMAH.“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan pada hari Kiamat.”(Diriwayatkan oleh Abu Dauud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab “Doa yang Dibaca Ketika Pagi Hari”, no. 5087; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Kitab Shalat ‘Idain, Bab Khutbah Hari Raya, no. 10623; juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah karya Ibnu As-Sunni, no. 759. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1356). Ayat Ketujuh – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin: 7)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ“Tahukah kamu apakah sijjin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 8)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Ialah) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ“(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muthaffifin: 11)وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.” (QS. Al-Muthaffifin: 12)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Maksudnya, kitab yang di dalamnya tertulis seluruh amal buruk mereka. Sijjīn adalah tempat yang sempit lagi menghimpit. Sijjīn merupakan kebalikan dari ‘Illiyyīn, yaitu tempat catatan amal orang-orang yang berbakti, sebagaimana akan dijelaskan nanti.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn adalah lapisan bumi yang paling bawah, tempat tinggal orang-orang durhaka dan tempat menetap mereka kelak di akhirat.(Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para pendusta itu adalah orang-orang yang mendustakan hari pembalasan, yaitu hari ketika Allah membalas manusia atas seluruh amal perbuatan mereka.“Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi banyak berbuat dosa.”Yakni orang yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, berpindah dari yang halal kepada yang haram. Ia adalah orang yang banyak berbuat dosa. Sikap melampaui batas itulah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat kedua belas:Maksudnya, ia adalah orang yang melampaui batas dalam perbuatannya: berani melakukan yang haram dan berlebihan dalam menikmati hal-hal yang sebenarnya mubah.Ia juga seorang yang banyak berdosa dalam ucapannya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari. Dan jika berselisih atau bertengkar, ia berlaku curang dan melampaui batas. Al-Fujjar dan SijjinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai Fujjar (Fajir) dan Sijjin sebagai berikut.Allah Ta’ala menegaskan dengan sebenar-benarnya bahwa catatan amal orang-orang durhaka berada di dalam Sijjīn, yaitu tempat yang menjadi tujuan dan tempat kembali mereka. Kata Sijjīn berasal dari kata sijn yang berarti penjara atau tempat yang sempit. Bentuk katanya menunjukkan makna yang sangat kuat, sebagaimana ungkapan dalam bahasa Arab seperti fasiq, syarīb, khamīr, atau sakīr yang menunjukkan sifat yang sangat melekat.Allah kemudian membesarkan perkara ini dengan firman-Nya: “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?” Maksudnya, Sijjīn adalah perkara yang sangat besar, sebuah penjara yang terus-menerus dan azab yang sangat pedih.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Hal ini disebutkan dalam hadis panjang dari Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan ruh orang kafir. Dalam hadis itu Allah berfirman tentang ruh orang kafir:“Catatlah kitabnya di dalam Sijjīn.”Disebutkan pula bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Ada pula yang mengatakan bahwa Sijjīn adalah sebuah batu besar di bawah bumi ketujuh, ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah sebuah sumur di dalam neraka Jahannam.Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadis tentang hal ini, namun hadis tersebut dinilai gharib dan munkar serta tidak sahih. Dalam riwayat itu disebutkan:“Al-Falaq adalah sebuah sumur di neraka Jahannam yang tertutup, sedangkan Sijjīn adalah sumur yang terbuka.”Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Sijjīn berasal dari kata penjara yang berarti sempit. Hal ini karena semua makhluk yang berada di tempat yang lebih rendah akan semakin sempit ruangnya, sedangkan yang berada di tempat yang lebih tinggi akan semakin luas.Langit yang tujuh masing-masing lebih luas dan lebih tinggi daripada yang di bawahnya. Demikian pula bumi yang berlapis-lapis, setiap lapisan lebih luas daripada yang berada di bawahnya, hingga akhirnya mencapai tempat yang paling rendah dan paling sempit, yaitu pusat bumi di lapisan bumi yang ketujuh.Karena tempat kembali orang-orang durhaka adalah neraka Jahannam yang berada pada tingkatan paling rendah, sebagaimana firman Allah:ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ • إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. At-Tin: 5–6)Maka Allah berfirman di sini:كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ • وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌSijjīn mengandung makna kesempitan dan kerendahan, sebagaimana firman Allah:وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan tangan terbelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqan: 13)“(Yaitu) kitab yang tertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)Firman Allah “kitab yang tertulis” bukanlah penjelasan dari ayat “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?”, melainkan penjelasan tentang catatan amal mereka yang telah ditetapkan menuju Sijjīn.Artinya, catatan itu telah tertulis dan ditetapkan dengan pasti, tidak akan bertambah dan tidak pula berkurang. Demikian penjelasan dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi.“Maka kecelakaan besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)Artinya, kebinasaan dan kehancuran pada hari kiamat bagi orang-orang yang mendustakan, ketika mereka benar-benar sampai kepada ancaman Allah berupa penjara dan azab yang menghinakan.Makna kata “wail” sebelumnya telah dijelaskan sebagai kebinasaan dan kehancuran, sebagaimana dalam ungkapan bahasa Arab: “Celaka bagi si fulan.”Demikian pula disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan, dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ النَّاسَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta agar membuat manusia tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” Ayat Ketiga Belas – Kelima BelasAllah Ta’ala berfirman,إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” (QS. Al-Muthaffifin: 13)كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Karena itulah, ketika “yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami”, — yakni ayat-ayat Kami yang menunjukkan kebenaran dan membuktikan kejujuran ajaran yang dibawa para rasul — dibacakan kepadanya, ia justru mendustakannya dan bersikap keras kepala.Ia berkata, itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu yakni ini hanyalah dongeng dan omong kosong orang-orang terdahulu, sekadar cerita umat-umat masa lampau. Ia menganggapnya bukan berasal dari Allah, semua itu diucapkannya karena kesombongan dan sikap membangkang terhadap kebenaran.Adapun orang yang bersikap adil dan jujur dalam menilai, serta tujuannya benar-benar mencari kebenaran yang nyata, maka ia tidak akan mendustakan Hari Pembalasan. Sebab Allah telah menegakkan baginya dalil-dalil yang tegas dan bukti-bukti yang terang, yang menjadikan kebenaran itu sebagai sesuatu yang pasti tanpa keraguan.Kebenaran itu bagi hati mereka laksana matahari bagi penglihatan: begitu jelas dan tak terbantahkan.Berbeda dengan orang yang hatinya telah tertutup oleh dosa-dosa yang ia lakukan, dan kemaksiatan telah menyelimutinya, sehingga kebenaran pun tidak lagi tampak jelas baginya.Karena itu, ia terhalang dari kebenaran. Sebagai balasan atas keadaan tersebut, ia pun dihalangi dari (melihat) Allah. Hal itu sebagaimana dahulu hatinya di dunia telah terhalang dari ayat-ayat Allah. Raan yang Menutupi HatiImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, apabila orang tersebut mendengar firman Allah yang disampaikan oleh Rasul, ia justru mendustakannya. Ia berprasangka buruk terhadap Al-Qur’an dan meyakini bahwa kitab itu hanyalah karangan yang dibuat-buat, yang dikumpulkan dari kisah-kisah dan catatan orang-orang zaman dahulu.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Dongeng orang-orang terdahulu.’” (QS. An-Nahl: 24)Dan firman-Nya:﴿وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾“Dan mereka berkata, ‘(Al-Qur’an itu hanyalah) dongeng orang-orang terdahulu yang dimintanya untuk dituliskan, lalu dibacakan kepadanya setiap pagi dan petang.’” (QS. Al-Furqan: 5)Demikianlah sikap orang-orang kafir: ketika kebenaran dibacakan kepada mereka, mereka menolaknya dan menuduhnya sebagai cerita rekaan dari masa lampau.Firman Allah Ta’ala:﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”Maksudnya, tidaklah benar seperti yang mereka sangkakan dan ucapkan, bahwa Al-Qur’an itu hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Bahkan Al-Qur’an adalah firman Allah, wahyu-Nya, dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya ﷺ.Akan tetapi, yang menghalangi hati mereka untuk beriman kepadanya adalah ran (karat/penutup) yang menyelimuti hati mereka akibat banyaknya dosa dan kesalahan yang mereka lakukan. Karena itulah Allah berfirman: Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.Adapun ran itu menimpa hati orang-orang kafir. Sedangkan bagi orang-orang saleh (al-abrar) ada ghaim (awan tipis), dan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabin) ada ghain (selubung yang lebih ringan lagi).Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Al-Qa‘qa‘ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ مِنْهَا صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat darinya, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu pun bertambah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’”Imam Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَهُوَ الرَّانُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, akan ditorehkan satu titik pada hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia kembali (berbuat dosa), maka titik itu akan ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang disebutkan Allah dalam firman-Nya.”Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan lafaz:«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, berhenti, dan memohon ampun, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Hasan al-Basri berkata, “Ia adalah dosa di atas dosa, hingga hati menjadi buta lalu mati.”Demikian pula dikatakan oleh Mujahid bin Jabr, Qatadah ibn Di’ama, Ibnu Zaid, dan selain mereka. Ayat Keenam Belas – Ketujuh BelasAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا۟ ٱلْجَحِيمِ“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (QS. Al-Muthaffifin: 16)ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ“Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”.” (QS. Al-Muthaffifin: 17) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Kemudian Allah berfirman,“Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.”Lalu dikatakan kepada mereka sebagai bentuk celaan dan teguran keras,“Inilah (azab) yang dahulu kalian dustakan.”Dalam ayat ini disebutkan tiga macam azab bagi mereka:Azab neraka Jahim.Azab berupa celaan dan teguran keras.Azab berupa terhalangnya mereka dari (melihat) Rabb semesta alam.Azab berupa terhalang dari Allah ini mengandung makna kemurkaan dan kemarahan-Nya kepada mereka. Azab ini bahkan lebih berat bagi mereka daripada azab api neraka.Sebaliknya, mafhum dari ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dan di surga. Mereka akan merasakan kenikmatan memandang-Nya yang jauh lebih agung daripada seluruh kenikmatan lainnya. Mereka bergembira dengan pembicaraan-Nya dan bersuka cita karena kedekatan dengan-Nya. Hal ini telah disebutkan oleh Allah dalam banyak ayat Al-Qur’an dan diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ.Dalam ayat-ayat ini juga terdapat peringatan keras agar menjauhi dosa. Sebab dosa-dosa itu menimbulkan karat pada hati dan menutupinya sedikit demi sedikit, hingga cahaya hati itu padam dan penglihatannya mati. Akibatnya, hakikat menjadi terbalik: kebatilan terlihat sebagai kebenaran, dan kebenaran tampak sebagai kebatilan. Ini merupakan salah satu bentuk hukuman akibat dosa.Baca juga: Syarhus Sunnah: Terhalang dari Melihat Wajah Allah Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling TinggiAllah Ta’ala juga berfirman:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.” (QS. Yunus: 26)Yang dimaksud al-ḥusnā adalah surga, sedangkan tambahan adalah melihat wajah Allah Yang Mahamulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:“Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah Tabāraka wa Ta‘ālā berfirman:‘Apakah kalian menginginkan sesuatu lagi agar Aku tambahkan kepada kalian?’Mereka menjawab:‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’Kemudian Allah membuka hijab-Nya. Maka tidak ada sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang Rabb mereka ‘Azza wa Jalla.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.”Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Jarīr bin ‘Abdillāh Al-Bajalī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Nabi ﷺ. Beliau melihat bulan pada malam keempat belas (bulan purnama), lalu beliau bersabda:‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan jelas sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya.’”Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa beberapa orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:“Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?”Beliau menjawab:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat bulan pada malam purnama?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bertanya lagi:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat matahari yang tidak tertutup awan?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bersabda:“Demikian pula kalian akan melihat-Nya.”Maksudnya, kalian akan melihat-Nya dengan penglihatan yang nyata tanpa kesulitan dan tanpa saling berdesakan.Selain itu masih banyak lagi hadits-hadits sahih tentang hal ini yang diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat. Hadits-hadits tersebut mencapai derajat mutawatir, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.Adapun melihat Allah di dunia, maka secara akal hal itu mungkin saja terjadi, tetapi secara syariat tidak terjadi. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika memperingatkan tentang Dajjal:“Ketahuilah bahwa tidak seorang pun dari kalian akan melihat Rabbnya hingga ia meninggal dunia. Dan di antara kedua mata Dajjal tertulis huruf ك ف ر yang dapat dibaca oleh setiap orang yang membenci amalnya.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits ini hasan sahih)Dalam masalah ini tidak ada perselisihan di kalangan Ahlus Sunnah, kecuali riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Rabbnya pada malam Mi‘raj. Namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Nabi ﷺ melihat cahaya, yaitu hijab-Nya.Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Dzarr radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata:“Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang apakah beliau melihat Rabbnya. Beliau menjawab:‘Aku melihat cahaya.’”Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim, Abu Dzarr berkata:“Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Apakah engkau melihat Rabbmu?’Beliau menjawab:‘Cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya!’”Bahwa cahaya itu merupakan hijab juga dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:“Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Amal malam diangkat kepada-Nya sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya hijab itu dibuka, niscaya sinar wajah-Nya akan membakar segala sesuatu yang dijangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya.”Yang dimaksud subuḥāt wajah-Nya adalah cahaya, keagungan, dan keindahan-Nya.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam syarahnya atas Shahih Muslim:“Ketahuilah bahwa mazhab Ahlus Sunnah secara keseluruhan menyatakan bahwa melihat Allah Ta’ala itu mungkin dan tidak mustahil secara akal. Mereka juga sepakat bahwa hal itu benar-benar terjadi di akhirat, dan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang kafir tidak.Sebaliknya, sebagian kelompok ahli bid‘ah seperti Mu‘tazilah, Khawarij, dan sebagian Murji’ah berpendapat bahwa tidak seorang pun dari makhluk dapat melihat Allah, dan bahwa melihat-Nya mustahil secara akal. Pendapat mereka ini merupakan kesalahan yang nyata dan kebodohan yang buruk.Dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, serta ijmak para sahabat dan generasi setelah mereka dari kalangan salaf umat ini telah sangat jelas menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala di akhirat. Riwayat tentang hal ini datang dari sekitar dua puluh sahabat Nabi ﷺ, dan ayat-ayat Al-Qur’an tentangnya juga sangat terkenal.Adapun berbagai keberatan yang diajukan oleh kelompok ahli bid‘ah, semuanya telah dijawab secara jelas dalam kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah.Adapun melihat Allah Ta’ala di dunia, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hal itu secara akal mungkin, tetapi mayoritas ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa hal tersebut tidak terjadi di dunia.”Selesai perkataan Imam An-Nawawi rahimahullah.Referensi: Fatwa Islamweb Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh DelapanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.” (QS. Al-Muthaffifin: 18)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ“Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 19)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Yaitu) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 20)يَشْهَدُهُ ٱلْمُقَرَّبُونَ“yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muthaffifin: 21)إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga).” (QS. Al-Muthaffifin: 22)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 23)تَعْرِفُ فِى وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ ٱلنَّعِيمِ“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Muthaffifin: 24)يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ“Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya).” (QS. Al-Muthaffifin: 25)خِتَٰمُهُۥ مِسْكٌ ۚ وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَٰفِسُونَ“laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسْنِيمٍ“Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim.” (QS. Al-Muthaffifin: 27)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ“(yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (QS. Al-Muthaffifin: 28) Al-Abrar dan ‘IlliyyinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Yang dimaksud al-abrār adalah orang-orang yang saleh, yang keadaannya berbeda dengan orang-orang yang durhaka (fujjar). Catatan amal mereka berada di ‘Illiyyīn, sebagai kebalikan dari Sijjīn yang menjadi tempat bagi orang-orang durhaka.Al-A‘masy meriwayatkan dari Syamr bin ‘Athiyyah, dari Hilal bin Yasaf, ia berkata:Ibnu ‘Abbas pernah bertanya kepada Ka‘b, sementara aku hadir di situ, tentang Sijjīn. Ka‘b menjawab:“Sijjīn adalah bumi ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang kafir.”Ibnu ‘Abbas juga bertanya kepadanya tentang ‘Illiyyīn. Ia menjawab:“‘Illiyyīn adalah langit ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang beriman.”Demikian pula dikatakan oleh sejumlah ulama lainnya bahwa ‘Illiyyīn berada di langit ketujuh.Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘IlliyyinBeliau berkata:“Maksudnya adalah surga.”Dalam riwayat Al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa maksudnya adalah amal-amal mereka berada di langit di sisi Allah. Demikian pula pendapat yang disampaikan oleh Adh-Dhahhak.Qatadah berkata:“‘Illiyyūn adalah sisi kanan ‘Arsy.”Sementara ulama lain mengatakan bahwa ‘Illiyyūn berada di dekat Sidhratul Muntaha.Pendapat yang paling jelas adalah bahwa kata ‘Illiyyīn berasal dari kata al-‘uluww (ketinggian). Setiap sesuatu yang semakin tinggi dan semakin terangkat, maka semakin besar dan semakin luas kedudukannya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ketika Allah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang durhaka (al-fujjār) berada di tempat yang paling bawah, paling sempit, dan paling rendah, maka Allah juga menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang yang berbakti (al-abrār) berada di tempat yang paling tinggi, paling luas, dan paling lapang.Dan catatan amal mereka yang tertulis itu disaksikan oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Yang dimaksud dengan mereka adalah para malaikat yang mulia, serta ruh para nabi, orang-orang yang sangat jujur dalam iman (ṣiddīqīn), dan para syuhada. Allah menyebut dan memuliakan mereka di hadapan penduduk langit yang tinggi.Adapun ‘Illiyyūn adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi.Setelah Allah menyebutkan catatan amal mereka, Allah kemudian menjelaskan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Kata ini merupakan istilah yang mencakup seluruh kenikmatan hati, ruh, dan tubuh.Mereka berada di atas dipan-dipan yang indah.عَلَى الْأَرَائِكِYaitu di atas tempat duduk atau dipan yang dihiasi dengan hamparan dan perhiasan yang indah.يُنْظَرُونَMereka memandang berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka, dan mereka juga memandang wajah Rabb mereka Yang Mahamulia.Allah berfirman:تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ“Engkau dapat melihat pada wajah mereka cahaya kenikmatan.”Artinya, tampak pada wajah mereka keindahan, kesegaran, dan kemilau kenikmatan. Sebab kenikmatan dan kegembiraan yang terus-menerus akan memancarkan cahaya, keindahan, dan keceriaan pada wajah mereka.Mereka diberi minum dari minuman yang sangat murni.يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍYaitu minuman yang termasuk yang paling baik dan paling lezat di antara berbagai minuman.Minuman itu tertutup rapat.خِتَامُهُ مِسْكٌPenutupnya adalah kasturi. Maksudnya bisa dua kemungkinan:Pertama, minuman itu tertutup rapat sehingga tidak tercampuri sesuatu pun yang dapat mengurangi kenikmatannya atau merusak rasanya. Penutup yang digunakan untuk menutupnya adalah kasturi.Kedua, maksudnya adalah bahwa bagian terakhir dari minuman dalam bejana yang mereka minum memiliki endapan berupa kasturi yang sangat harum. Padahal biasanya dalam kebiasaan di dunia, endapan seperti itu dibuang. Namun di surga justru menjadi sesuatu yang sangat berharga.Tentang kenikmatan yang agung ini Allah berfirman:وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.”Artinya, hendaklah manusia berlomba-lomba untuk meraihnya dengan amal-amal yang dapat mengantarkan kepada kenikmatan tersebut. Inilah sesuatu yang paling pantas diperebutkan oleh jiwa-jiwa yang mulia dan paling layak menjadi tujuan perlombaan orang-orang yang bersungguh-sungguh.Campuran minuman tersebut berasal dari Tasnīm.Tasnīm adalah sebuah mata air di surga.عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ“Mata air yang darinya diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah.”Minuman dari Tasnīm ini diminum secara murni oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Ia merupakan minuman paling tinggi dan paling mulia di surga. Karena itu minuman ini khusus bagi mereka yang memiliki kedudukan tertinggi di antara makhluk.Adapun bagi ashḥābul yamīn (golongan kanan), minuman tersebut diberikan dalam keadaan dicampur dengan rahiq dan minuman-minuman lezat lainnya. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh DuaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجْرَمُوا۟ كَانُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يَضْحَكُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muthaffifin: 29)وَإِذَا مَرُّوا۟ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ“Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muthaffifin: 30)وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمُ ٱنقَلَبُوا۟ فَكِهِينَ“Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” (QS. Al-Muthaffifin: 31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”.” (QS. Al-Muthaffifin: 32)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:Ketika Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang berdosa dan balasan bagi orang-orang beriman, serta menjelaskan perbedaan yang sangat besar di antara keduanya, Allah juga mengabarkan bahwa dahulu di dunia orang-orang berdosa selalu memperolok kaum mukmin. Mereka mengejek, menghina, dan menertawakan orang-orang beriman.Mereka saling memberi isyarat dengan mata ketika melewati kaum mukmin, sebagai bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka. Namun anehnya, meskipun berbuat demikian, mereka hidup dengan perasaan aman dan tenang, seakan-akan tidak ada sedikit pun rasa takut dalam hati mereka.Apabila mereka pulang kepada keluarga mereka—baik pada pagi maupun petang—mereka pulang dalam keadaan senang, gembira, dan merasa bangga dengan perbuatan mereka.Inilah salah satu bentuk kesombongan dan tipu daya yang paling besar. Mereka melakukan keburukan yang sangat parah, tetapi pada saat yang sama merasa aman dan tenteram di dunia. Seolah-olah mereka telah mendapatkan jaminan dan janji dari Allah bahwa mereka termasuk orang-orang yang berbahagia.Bahkan mereka berani memutuskan bahwa diri mereka berada di atas petunjuk, sementara orang-orang beriman dianggap sebagai orang-orang yang sesat. Ini merupakan kedustaan terhadap Allah dan keberanian berbicara tentang-Nya tanpa ilmu. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh EnamAllah Ta’ala berfirman,وَمَآ أُرْسِلُوا۟ عَلَيْهِمْ حَٰفِظِينَ“padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Muthaffifin: 33)فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muthaffifin: 34)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 35)هَلْ ثُوِّبَ ٱلْكُفَّارُ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 36)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang beriman.” Maksudnya, orang-orang kafir itu tidak diutus sebagai pengawas bagi kaum mukmin dan tidak pula ditugaskan untuk menjaga atau mencatat amal mereka. Lalu mengapa mereka begitu sibuk menuduh orang-orang beriman sebagai orang yang sesat? Sikap mereka itu hanyalah bentuk keras kepala, permusuhan, dan permainan yang tidak memiliki dasar ataupun bukti.“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” Karena itu, balasan mereka di akhirat sesuai dengan perbuatan mereka di dunia. Allah berfirman: “Pada hari ini”, yaitu pada hari kiamat, orang-orang beriman akan menertawakan orang-orang kafir ketika melihat mereka tenggelam dalam berbagai azab. Semua kedustaan dan anggapan yang dahulu mereka buat pun lenyap, sementara orang-orang beriman berada dalam ketenangan dan kebahagiaan yang sempurna.“Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Mereka berada di atas dipan-dipan yang dihiasi dengan indah, menikmati berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka. Mereka juga memandang kepada Rabb mereka Yang Maha Mulia.“Bukankah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?”Artinya, apakah mereka telah dibalas sesuai dengan perbuatan mereka? Ya, mereka telah dibalas dengan balasan yang setimpal. Dahulu di dunia mereka menertawakan orang-orang beriman dan menuduh mereka sesat. Maka di akhirat orang-orang beriman menertawakan mereka dan menyaksikan mereka berada dalam azab dan hukuman sebagai akibat dari kesesatan dan penyimpangan mereka.Itulah balasan yang adil dari Allah dan merupakan bagian dari hikmah-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan SijjinAspek‘IlliyyīnSijjīnPenyebutan dalam surahQS. Al-Muthaffifin: 18–21QS. Al-Muthaffifin: 7–9Siapa yang dicatat di sanaKitab al-abrār: catatan amal orang-orang yang berbakti, saleh, dan taatKitab al-fujjār: catatan amal orang-orang durhaka, fajir, dan banyak dosaKelompok yang terkaitAl-abrār, al-muqarrabūn, orang-orang berimanAl-fujjār, al-mukadzdzibūn, orang-orang yang melampaui batas dan berdosaMakna umumTempat yang tinggi, mulia, lapang, dan agungTempat yang rendah, sempit, menghimpit, dan menghinakanAsal makna kataDari kata al-‘uluww: tinggi, luhur, terangkatDari kata as-sijn / sijn: penjara, kurungan, tempat sempitNuansa maknaKemuliaan, ketinggian derajat, keluasan, kehormatanKehinaan, keterbatasan, kesempitan, hukumanPosisi secara maknawiTempat paling tinggi bagi catatan amal orang salehTempat paling rendah bagi catatan amal orang durhakaPenjelasan As-Sa‘diTempat catatan amal orang-orang berbakti di posisi paling tinggi, luas, dan lapangTempat catatan amal orang-orang durhaka di posisi paling bawah, sempit, dan rendahPenjelasan Ibnu KatsirKebalikan dari Sijjīn; menunjukkan ketinggian dan kemuliaanTempat kembali orang durhaka; menunjukkan penjara dan kesempitanLetak menurut sebagian ulamaDisebut berada di langit ketujuh, atau dekat tempat yang sangat tinggiDisebut berada di bawah bumi ketujuh, atau tempat paling rendahRiwayat dari Ka‘b yang dinukilRuh orang-orang beriman berada di ‘IlliyyīnRuh orang-orang kafir berada di SijjīnPendapat lain ulamaAda yang menafsirkan sebagai surga, atau tempat amal di sisi AllahAda yang menafsirkan sebagai sumur di Jahannam, batu besar, atau tempat sempit di bawahHubungannya dengan catatan amalCatatan amal orang saleh tersimpan dan dimuliakanCatatan amal orang durhaka tersimpan dan menjadi bukti keburukan merekaStatus kitabnyaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, terjagaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, dan telah ditetapkanSiapa yang menyaksikanYasyhaduhul muqarrabūn: disaksikan malaikat dan makhluk yang didekatkan kepada AllahTidak disebut disaksikan al-muqarrabūn; konteksnya lebih kepada ancaman dan kebinasaanArah balasanMengarah kepada na‘īm: kenikmatan, wajah berseri, dipan-dipan, minuman surgaMengarah kepada jahīm: neraka, celaan, kehinaan, dan tertutup dari RabbDampak akhir bagi pemilik kitabKemuliaan di akhirat, kedekatan dengan Allah, surga yang tinggiKehinaan di akhirat, azab, keterasingan, dan hukumanKeterkaitan dengan surga/nerakaSangat dekat maknanya dengan tingkatan surga tertinggiSangat dekat maknanya dengan dasar kehinaan dan tempat azabSifat ruangLuas, lapang, tinggi, muliaSempit, rendah, menghimpit, menekanSimbol ruhaniKebersihan amal, kejujuran, ketaatan, kemuliaan jiwaKedurhakaan, kefajiran, kecurangan, pengingkaran hari pembalasanHubungan dengan imanBuah dari iman, amal saleh, dan birr (kebajikan)Buah dari maksiat, kedustaan, melampaui batas, dan dosaHubungan dengan Hari AkhirMenunjukkan keselamatan dan keberuntungan pada hari pembalasanMenunjukkan kecelakaan dan kebinasaan pada hari pembalasanKontras utamanya dalam surahPuncak kemuliaan bagi orang baikPuncak kehinaan bagi orang jahatLawan maknaLawannya adalah SijjīnLawannya adalah ‘IlliyyīnPesan pendidikan imanBeramal saleh akan mengangkat derajat seseorangDosa dan kefajiran akan menjatuhkan seseorang ke derajat paling rendah Walhamdulilah,selesai sudah bahasan tafsir Surah Al-Muthaffifin. Semoga bermanfaat.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagstafsir al muthaffifin tafsir juz amma timbangan

Tafsir Surah Al-Muthaffifin: Ancaman Keras bagi Orang yang Curang dalam Timbangan

Curang dalam takaran dan timbangan mungkin terlihat sepele di mata manusia, tetapi sangat besar dosanya di sisi Allah. Surah Al-Muthaffifin dibuka dengan ancaman keras bagi orang-orang yang mengambil haknya secara penuh, namun mengurangi hak orang lain. Ayat-ayat ini mengajarkan keadilan, kejujuran, dan sikap adil bukan hanya dalam muamalah, tetapi juga dalam setiap urusan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Ketiga 1.1. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini 2. Ayat Keempat – Keenam 2.1. Beratnya Hari Kiamat 2.2. Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari Kiamat 3. Ayat Ketujuh – Kedua Belas 4. Al-Fujjar dan Sijjin 5. Ayat Ketiga Belas – Kelima Belas 5.1. Raan yang Menutupi Hati 6. Ayat Keenam Belas – Ketujuh Belas 7. Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling Tinggi 8. Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh Delapan 9. Al-Abrar dan ‘Illiyyin 10. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh Dua 11. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh Enam 12. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan Sijjin  Ayat Pertama – KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (QS. Al-Muthaffifin: 2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:“Wailun” adalah kata yang menunjukkan azab dan ancaman keras.“Lil muthoffifin” yaitu bagi orang-orang yang berbuat curang dalam takaran dan timbangan.“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.”Allah menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang curang itu melalui firman-Nya:yaitu orang-orang yang apabila mereka mengambil takaran dari orang lain untuk hak yang menjadi milik mereka minta dipenuhi, mereka meminta dan mengambilnya secara penuh tanpa ada kekurangan sedikit pun.Sedangkan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, yakni ketika mereka harus memberikan hak orang lain yang menjadi tanggungan mereka melalui takaran atau timbangan, mereka mengurangi hak tersebut. Pengurangan itu bisa dengan menggunakan takaran atau timbangan yang kurang, atau tidak memenuhi takaran dan timbangan sebagaimana mestinya, atau dengan cara lain yang serupa.Perbuatan seperti ini termasuk mencuri harta orang lain dan tidak berlaku adil terhadap mereka.Apabila ancaman ini ditujukan kepada orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam takaran dan timbangan, maka orang yang merampas harta orang lain dengan paksa atau mencurinya secara terang-terangan, lebih pantas lagi mendapatkan ancaman tersebut daripada sekadar orang yang curang dalam takaran.Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa sebagaimana seseorang berhak mengambil dari orang lain apa yang menjadi haknya, maka ia juga wajib memberikan kepada orang lain seluruh hak mereka, baik dalam harta maupun dalam berbagai bentuk muamalah. Bahkan makna ini mencakup pula dalam perdebatan dan penyampaian pendapat. Sebagaimana lazimnya dua orang yang berdebat masing-masing berusaha mempertahankan dalil yang menguntungkan dirinya, maka ia juga wajib menjelaskan dalil yang menjadi hak lawannya yang mungkin belum diketahui. Ia harus menimbang dan memperhatikan dalil lawannya sebagaimana ia menimbang dalilnya sendiri. Pada titik inilah akan tampak apakah seseorang itu adil atau fanatik dan memaksakan diri, apakah ia rendah hati atau sombong, serta apakah ia berakal atau bodoh. Kita memohon kepada Allah taufik untuk meraih segala kebaikan. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini1. Spesifikasi Tidak Sesuai IklanMenjual produk dengan klaim kualitas tertentu (misalnya bahan premium, asli, organik), padahal kenyataannya kualitas di bawah standar yang dijanjikan.2. Manipulasi Berat Bersih (Netto)Mencantumkan berat bersih 1 kg, tetapi setelah ditimbang ulang ternyata kurang dari itu. Ini termasuk bentuk pengurangan takaran modern.3. Mengurangi Kualitas JasaDalam bisnis jasa, menerima pembayaran penuh tetapi layanan tidak diberikan sesuai kesepakatan, misalnya jam kerja dikurangi atau hasil kerja tidak sesuai kontrak.4. Markup Biaya Tanpa TransparansiMenambahkan biaya tersembunyi saat pembayaran (admin fee, service charge, biaya tambahan yang tidak dijelaskan di awal).5. Memanfaatkan Ketidaktahuan KonsumenMenjual barang dengan harga jauh di atas standar pasar kepada orang yang tidak memahami harga sebenarnya.6. Kecurangan dalam Laporan KeuanganMengurangi hak mitra, investor, atau karyawan dengan memanipulasi data laba dan pembagian hasil.7. Mengurangi Hak KaryawanMeminta kinerja penuh, tetapi gaji atau hak lembur tidak dibayarkan sesuai kesepakatan. Ayat Keempat – KeenamAllah Ta’ala berfirman,أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muthaffifin: 4)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ“pada suatu hari yang besar.” (QS. Al-Muthaffifin: 5)يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ“(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Allah juga menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka yang terus-menerus melakukan perbuatan itu. Allah berfirman dengan nada peringatan, “Tidakkah mereka menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari yang sangat besar, yaitu hari ketika seluruh manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?”Yang membuat mereka berani berbuat curang adalah karena mereka tidak beriman kepada hari akhir. Seandainya mereka benar-benar beriman dan menyadari bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan Allah, lalu dihisab atas segala sesuatu—baik yang kecil maupun yang besar—tentu mereka akan berhenti dari perbuatan tersebut dan segera bertobat darinya. Beratnya Hari KiamatImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Muthaffifin ayat keenam.Maksudnya, pada hari itu manusia berdiri dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, di suatu tempat yang sangat sulit, sempit, dan penuh kesusahan. Tempat itu terasa sangat berat bagi orang-orang yang berdosa. Mereka diliputi oleh kedahsyatan urusan Allah yang tidak sanggup ditanggung oleh kekuatan dan pancaindra manusia.Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai setengah telinganya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari melalui jalur Malik dan Abdullah bin ‘Aun, keduanya dari Nafi’. Juga diriwayatkan oleh Muslim melalui dua jalur tersebut. Demikian pula diriwayatkan oleh Shalih, Tsabit bin Kaisan, Ayyub bin Yahya, Abdullah dan Ubaidullah—keduanya putra Umar—serta Muhammad bin Ishaq, semuanya dari Nafi’, dari Ibnu Umar.Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ishaq mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Karena keagungan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat, hingga keringat benar-benar mengekang manusia sampai setengah telinga mereka.”Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan: Ibrahim bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ia berkata: Sulaim bin ‘Amir menceritakan kepadaku, Al-Miqdad—yakni Ibnu Al-Aswad Al-Kindi—berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apabila hari Kiamat terjadi, matahari didekatkan kepada para hamba hingga jaraknya sekitar satu mil atau dua mil.”Beliau bersabda, “Maka matahari itu membakar mereka, sehingga mereka tenggelam dalam keringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pinggangnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringatnya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Al-Hakam bin Musa dari Yahya bin Hamzah, dan oleh At-Tirmidzi melalui Suwaid dari Ibnu Al-Mubarak, keduanya dari Ibnu Jabir.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan bin Sawwar, dari Al-Laits bin Sa’d, dari Mu’awiyah bin Shalih, bahwa Abu Abdurrahman menceritakan kepadanya dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan pada hari Kiamat sejauh satu mil, dan panasnya ditambah sekian dan sekian. Binatang-binatang kecil pun mendidih karenanya sebagaimana air dalam kuali mendidih. Manusia berkeringat sesuai dengan kadar dosa mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai betis, ada yang sampai pertengahan tubuhnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringat.”Hadis ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu ‘Asyanah Hayy bin Yu’min, bahwa ia mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan ke bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai pertengahan betis, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pantat, ada yang sampai pinggang, ada yang sampai kedua bahu, ada yang sampai pertengahan mulutnya.”Beliau memberi isyarat dengan tangannya seakan-akan menutup mulutnya. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat seperti itu. “Dan ada pula yang keringatnya menutupi seluruh tubuhnya.” Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Hadis ini juga diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Disebutkan pula dalam sebuah hadis bahwa mereka berdiri selama tujuh puluh tahun tanpa berbicara. Ada yang mengatakan mereka berdiri selama tiga ratus tahun. Ada pula yang mengatakan empat puluh ribu tahun. Dan diputuskan perkara di antara mereka dalam kadar sepuluh ribu tahun, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’:“Pada suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu ‘Aun Az-Ziyadi mengabarkan kepada kami, Abdur Salam bin ‘Ajlan berkata: Aku mendengar Abu Yazid Al-Madani dari Abu Hurairah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Basyir Al-Ghifari,“Bagaimana keadaanmu pada hari ketika manusia berdiri selama tiga ratus tahun untuk Rabb seluruh alam—menurut hitungan hari dunia—tanpa datang kepada mereka kabar dari langit dan tanpa diperintahkan suatu perintah?”Basyir berkata, “Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.”Beliau bersabda,فَإِذَا أَوَيْتَ إِلَىٰ فِرَاشِكَ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ كَرْبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسُوءِ الْحِسَابِ.“Jika engkau berbaring di tempat tidurmu, maka berlindunglah kepada Allah dari kesusahan hari Kiamat dan dari buruknya hisab.”Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Abdur Salam.Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berlindung kepada Allah dari sempitnya tempat berdiri pada hari Kiamat.Dari Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa mereka berdiri selama empat puluh tahun dengan kepala terangkat ke langit, tidak seorang pun berbicara kepada mereka, dan keringat telah mengekang orang baik maupun orang jahat.Dari Ibnu Umar disebutkan bahwa mereka berdiri selama seratus tahun. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Dalam Sunan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, melalui hadis Zaid bin Al-Hubab dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Azhar bin Sa’id Al-Hawari, dari ‘Ashim bin Humaid, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka qiyamullail dengan bertakbir sepuluh kali, memuji sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali. Beliau juga berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.ALLĀHUMMAGHFIR LĪ, WAHDINĪ, WARZUQNĪ, WA ‘ĀFINĪ, WA A‘ŪDZU BIKA MIN ḌHĪQIL-MAQĀMI YAUMAL-QIYĀMAH.“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rezeki, dan sehatkanlah aku.” Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari KiamatAisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan tentang qiyamullail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa pembuka shalat beliau (doa iftitah) dengan doa dan zikir tersebut. Ia berkata:“Beliau bertakbir sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali.”Kemudian ia menyebutkan doa tersebut.Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا، وَضِيقِ الْقِيَامَةِALLĀHUMMA INNII A‘ŪDZU BIKA MIN DHIIQID-DUNYĀ, WA DHIIQIL-QIYĀMAH.“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan pada hari Kiamat.”(Diriwayatkan oleh Abu Dauud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab “Doa yang Dibaca Ketika Pagi Hari”, no. 5087; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Kitab Shalat ‘Idain, Bab Khutbah Hari Raya, no. 10623; juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah karya Ibnu As-Sunni, no. 759. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1356). Ayat Ketujuh – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin: 7)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ“Tahukah kamu apakah sijjin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 8)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Ialah) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ“(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muthaffifin: 11)وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.” (QS. Al-Muthaffifin: 12)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Maksudnya, kitab yang di dalamnya tertulis seluruh amal buruk mereka. Sijjīn adalah tempat yang sempit lagi menghimpit. Sijjīn merupakan kebalikan dari ‘Illiyyīn, yaitu tempat catatan amal orang-orang yang berbakti, sebagaimana akan dijelaskan nanti.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn adalah lapisan bumi yang paling bawah, tempat tinggal orang-orang durhaka dan tempat menetap mereka kelak di akhirat.(Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para pendusta itu adalah orang-orang yang mendustakan hari pembalasan, yaitu hari ketika Allah membalas manusia atas seluruh amal perbuatan mereka.“Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi banyak berbuat dosa.”Yakni orang yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, berpindah dari yang halal kepada yang haram. Ia adalah orang yang banyak berbuat dosa. Sikap melampaui batas itulah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat kedua belas:Maksudnya, ia adalah orang yang melampaui batas dalam perbuatannya: berani melakukan yang haram dan berlebihan dalam menikmati hal-hal yang sebenarnya mubah.Ia juga seorang yang banyak berdosa dalam ucapannya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari. Dan jika berselisih atau bertengkar, ia berlaku curang dan melampaui batas. Al-Fujjar dan SijjinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai Fujjar (Fajir) dan Sijjin sebagai berikut.Allah Ta’ala menegaskan dengan sebenar-benarnya bahwa catatan amal orang-orang durhaka berada di dalam Sijjīn, yaitu tempat yang menjadi tujuan dan tempat kembali mereka. Kata Sijjīn berasal dari kata sijn yang berarti penjara atau tempat yang sempit. Bentuk katanya menunjukkan makna yang sangat kuat, sebagaimana ungkapan dalam bahasa Arab seperti fasiq, syarīb, khamīr, atau sakīr yang menunjukkan sifat yang sangat melekat.Allah kemudian membesarkan perkara ini dengan firman-Nya: “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?” Maksudnya, Sijjīn adalah perkara yang sangat besar, sebuah penjara yang terus-menerus dan azab yang sangat pedih.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Hal ini disebutkan dalam hadis panjang dari Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan ruh orang kafir. Dalam hadis itu Allah berfirman tentang ruh orang kafir:“Catatlah kitabnya di dalam Sijjīn.”Disebutkan pula bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Ada pula yang mengatakan bahwa Sijjīn adalah sebuah batu besar di bawah bumi ketujuh, ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah sebuah sumur di dalam neraka Jahannam.Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadis tentang hal ini, namun hadis tersebut dinilai gharib dan munkar serta tidak sahih. Dalam riwayat itu disebutkan:“Al-Falaq adalah sebuah sumur di neraka Jahannam yang tertutup, sedangkan Sijjīn adalah sumur yang terbuka.”Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Sijjīn berasal dari kata penjara yang berarti sempit. Hal ini karena semua makhluk yang berada di tempat yang lebih rendah akan semakin sempit ruangnya, sedangkan yang berada di tempat yang lebih tinggi akan semakin luas.Langit yang tujuh masing-masing lebih luas dan lebih tinggi daripada yang di bawahnya. Demikian pula bumi yang berlapis-lapis, setiap lapisan lebih luas daripada yang berada di bawahnya, hingga akhirnya mencapai tempat yang paling rendah dan paling sempit, yaitu pusat bumi di lapisan bumi yang ketujuh.Karena tempat kembali orang-orang durhaka adalah neraka Jahannam yang berada pada tingkatan paling rendah, sebagaimana firman Allah:ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ • إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. At-Tin: 5–6)Maka Allah berfirman di sini:كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ • وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌSijjīn mengandung makna kesempitan dan kerendahan, sebagaimana firman Allah:وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan tangan terbelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqan: 13)“(Yaitu) kitab yang tertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)Firman Allah “kitab yang tertulis” bukanlah penjelasan dari ayat “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?”, melainkan penjelasan tentang catatan amal mereka yang telah ditetapkan menuju Sijjīn.Artinya, catatan itu telah tertulis dan ditetapkan dengan pasti, tidak akan bertambah dan tidak pula berkurang. Demikian penjelasan dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi.“Maka kecelakaan besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)Artinya, kebinasaan dan kehancuran pada hari kiamat bagi orang-orang yang mendustakan, ketika mereka benar-benar sampai kepada ancaman Allah berupa penjara dan azab yang menghinakan.Makna kata “wail” sebelumnya telah dijelaskan sebagai kebinasaan dan kehancuran, sebagaimana dalam ungkapan bahasa Arab: “Celaka bagi si fulan.”Demikian pula disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan, dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ النَّاسَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta agar membuat manusia tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” Ayat Ketiga Belas – Kelima BelasAllah Ta’ala berfirman,إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” (QS. Al-Muthaffifin: 13)كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Karena itulah, ketika “yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami”, — yakni ayat-ayat Kami yang menunjukkan kebenaran dan membuktikan kejujuran ajaran yang dibawa para rasul — dibacakan kepadanya, ia justru mendustakannya dan bersikap keras kepala.Ia berkata, itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu yakni ini hanyalah dongeng dan omong kosong orang-orang terdahulu, sekadar cerita umat-umat masa lampau. Ia menganggapnya bukan berasal dari Allah, semua itu diucapkannya karena kesombongan dan sikap membangkang terhadap kebenaran.Adapun orang yang bersikap adil dan jujur dalam menilai, serta tujuannya benar-benar mencari kebenaran yang nyata, maka ia tidak akan mendustakan Hari Pembalasan. Sebab Allah telah menegakkan baginya dalil-dalil yang tegas dan bukti-bukti yang terang, yang menjadikan kebenaran itu sebagai sesuatu yang pasti tanpa keraguan.Kebenaran itu bagi hati mereka laksana matahari bagi penglihatan: begitu jelas dan tak terbantahkan.Berbeda dengan orang yang hatinya telah tertutup oleh dosa-dosa yang ia lakukan, dan kemaksiatan telah menyelimutinya, sehingga kebenaran pun tidak lagi tampak jelas baginya.Karena itu, ia terhalang dari kebenaran. Sebagai balasan atas keadaan tersebut, ia pun dihalangi dari (melihat) Allah. Hal itu sebagaimana dahulu hatinya di dunia telah terhalang dari ayat-ayat Allah. Raan yang Menutupi HatiImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, apabila orang tersebut mendengar firman Allah yang disampaikan oleh Rasul, ia justru mendustakannya. Ia berprasangka buruk terhadap Al-Qur’an dan meyakini bahwa kitab itu hanyalah karangan yang dibuat-buat, yang dikumpulkan dari kisah-kisah dan catatan orang-orang zaman dahulu.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Dongeng orang-orang terdahulu.’” (QS. An-Nahl: 24)Dan firman-Nya:﴿وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾“Dan mereka berkata, ‘(Al-Qur’an itu hanyalah) dongeng orang-orang terdahulu yang dimintanya untuk dituliskan, lalu dibacakan kepadanya setiap pagi dan petang.’” (QS. Al-Furqan: 5)Demikianlah sikap orang-orang kafir: ketika kebenaran dibacakan kepada mereka, mereka menolaknya dan menuduhnya sebagai cerita rekaan dari masa lampau.Firman Allah Ta’ala:﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”Maksudnya, tidaklah benar seperti yang mereka sangkakan dan ucapkan, bahwa Al-Qur’an itu hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Bahkan Al-Qur’an adalah firman Allah, wahyu-Nya, dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya ﷺ.Akan tetapi, yang menghalangi hati mereka untuk beriman kepadanya adalah ran (karat/penutup) yang menyelimuti hati mereka akibat banyaknya dosa dan kesalahan yang mereka lakukan. Karena itulah Allah berfirman: Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.Adapun ran itu menimpa hati orang-orang kafir. Sedangkan bagi orang-orang saleh (al-abrar) ada ghaim (awan tipis), dan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabin) ada ghain (selubung yang lebih ringan lagi).Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Al-Qa‘qa‘ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ مِنْهَا صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat darinya, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu pun bertambah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’”Imam Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَهُوَ الرَّانُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, akan ditorehkan satu titik pada hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia kembali (berbuat dosa), maka titik itu akan ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang disebutkan Allah dalam firman-Nya.”Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan lafaz:«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, berhenti, dan memohon ampun, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Hasan al-Basri berkata, “Ia adalah dosa di atas dosa, hingga hati menjadi buta lalu mati.”Demikian pula dikatakan oleh Mujahid bin Jabr, Qatadah ibn Di’ama, Ibnu Zaid, dan selain mereka. Ayat Keenam Belas – Ketujuh BelasAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا۟ ٱلْجَحِيمِ“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (QS. Al-Muthaffifin: 16)ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ“Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”.” (QS. Al-Muthaffifin: 17) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Kemudian Allah berfirman,“Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.”Lalu dikatakan kepada mereka sebagai bentuk celaan dan teguran keras,“Inilah (azab) yang dahulu kalian dustakan.”Dalam ayat ini disebutkan tiga macam azab bagi mereka:Azab neraka Jahim.Azab berupa celaan dan teguran keras.Azab berupa terhalangnya mereka dari (melihat) Rabb semesta alam.Azab berupa terhalang dari Allah ini mengandung makna kemurkaan dan kemarahan-Nya kepada mereka. Azab ini bahkan lebih berat bagi mereka daripada azab api neraka.Sebaliknya, mafhum dari ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dan di surga. Mereka akan merasakan kenikmatan memandang-Nya yang jauh lebih agung daripada seluruh kenikmatan lainnya. Mereka bergembira dengan pembicaraan-Nya dan bersuka cita karena kedekatan dengan-Nya. Hal ini telah disebutkan oleh Allah dalam banyak ayat Al-Qur’an dan diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ.Dalam ayat-ayat ini juga terdapat peringatan keras agar menjauhi dosa. Sebab dosa-dosa itu menimbulkan karat pada hati dan menutupinya sedikit demi sedikit, hingga cahaya hati itu padam dan penglihatannya mati. Akibatnya, hakikat menjadi terbalik: kebatilan terlihat sebagai kebenaran, dan kebenaran tampak sebagai kebatilan. Ini merupakan salah satu bentuk hukuman akibat dosa.Baca juga: Syarhus Sunnah: Terhalang dari Melihat Wajah Allah Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling TinggiAllah Ta’ala juga berfirman:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.” (QS. Yunus: 26)Yang dimaksud al-ḥusnā adalah surga, sedangkan tambahan adalah melihat wajah Allah Yang Mahamulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:“Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah Tabāraka wa Ta‘ālā berfirman:‘Apakah kalian menginginkan sesuatu lagi agar Aku tambahkan kepada kalian?’Mereka menjawab:‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’Kemudian Allah membuka hijab-Nya. Maka tidak ada sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang Rabb mereka ‘Azza wa Jalla.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.”Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Jarīr bin ‘Abdillāh Al-Bajalī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Nabi ﷺ. Beliau melihat bulan pada malam keempat belas (bulan purnama), lalu beliau bersabda:‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan jelas sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya.’”Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa beberapa orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:“Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?”Beliau menjawab:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat bulan pada malam purnama?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bertanya lagi:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat matahari yang tidak tertutup awan?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bersabda:“Demikian pula kalian akan melihat-Nya.”Maksudnya, kalian akan melihat-Nya dengan penglihatan yang nyata tanpa kesulitan dan tanpa saling berdesakan.Selain itu masih banyak lagi hadits-hadits sahih tentang hal ini yang diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat. Hadits-hadits tersebut mencapai derajat mutawatir, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.Adapun melihat Allah di dunia, maka secara akal hal itu mungkin saja terjadi, tetapi secara syariat tidak terjadi. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika memperingatkan tentang Dajjal:“Ketahuilah bahwa tidak seorang pun dari kalian akan melihat Rabbnya hingga ia meninggal dunia. Dan di antara kedua mata Dajjal tertulis huruf ك ف ر yang dapat dibaca oleh setiap orang yang membenci amalnya.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits ini hasan sahih)Dalam masalah ini tidak ada perselisihan di kalangan Ahlus Sunnah, kecuali riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Rabbnya pada malam Mi‘raj. Namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Nabi ﷺ melihat cahaya, yaitu hijab-Nya.Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Dzarr radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata:“Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang apakah beliau melihat Rabbnya. Beliau menjawab:‘Aku melihat cahaya.’”Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim, Abu Dzarr berkata:“Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Apakah engkau melihat Rabbmu?’Beliau menjawab:‘Cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya!’”Bahwa cahaya itu merupakan hijab juga dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:“Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Amal malam diangkat kepada-Nya sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya hijab itu dibuka, niscaya sinar wajah-Nya akan membakar segala sesuatu yang dijangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya.”Yang dimaksud subuḥāt wajah-Nya adalah cahaya, keagungan, dan keindahan-Nya.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam syarahnya atas Shahih Muslim:“Ketahuilah bahwa mazhab Ahlus Sunnah secara keseluruhan menyatakan bahwa melihat Allah Ta’ala itu mungkin dan tidak mustahil secara akal. Mereka juga sepakat bahwa hal itu benar-benar terjadi di akhirat, dan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang kafir tidak.Sebaliknya, sebagian kelompok ahli bid‘ah seperti Mu‘tazilah, Khawarij, dan sebagian Murji’ah berpendapat bahwa tidak seorang pun dari makhluk dapat melihat Allah, dan bahwa melihat-Nya mustahil secara akal. Pendapat mereka ini merupakan kesalahan yang nyata dan kebodohan yang buruk.Dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, serta ijmak para sahabat dan generasi setelah mereka dari kalangan salaf umat ini telah sangat jelas menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala di akhirat. Riwayat tentang hal ini datang dari sekitar dua puluh sahabat Nabi ﷺ, dan ayat-ayat Al-Qur’an tentangnya juga sangat terkenal.Adapun berbagai keberatan yang diajukan oleh kelompok ahli bid‘ah, semuanya telah dijawab secara jelas dalam kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah.Adapun melihat Allah Ta’ala di dunia, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hal itu secara akal mungkin, tetapi mayoritas ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa hal tersebut tidak terjadi di dunia.”Selesai perkataan Imam An-Nawawi rahimahullah.Referensi: Fatwa Islamweb Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh DelapanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.” (QS. Al-Muthaffifin: 18)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ“Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 19)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Yaitu) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 20)يَشْهَدُهُ ٱلْمُقَرَّبُونَ“yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muthaffifin: 21)إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga).” (QS. Al-Muthaffifin: 22)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 23)تَعْرِفُ فِى وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ ٱلنَّعِيمِ“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Muthaffifin: 24)يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ“Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya).” (QS. Al-Muthaffifin: 25)خِتَٰمُهُۥ مِسْكٌ ۚ وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَٰفِسُونَ“laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسْنِيمٍ“Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim.” (QS. Al-Muthaffifin: 27)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ“(yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (QS. Al-Muthaffifin: 28) Al-Abrar dan ‘IlliyyinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Yang dimaksud al-abrār adalah orang-orang yang saleh, yang keadaannya berbeda dengan orang-orang yang durhaka (fujjar). Catatan amal mereka berada di ‘Illiyyīn, sebagai kebalikan dari Sijjīn yang menjadi tempat bagi orang-orang durhaka.Al-A‘masy meriwayatkan dari Syamr bin ‘Athiyyah, dari Hilal bin Yasaf, ia berkata:Ibnu ‘Abbas pernah bertanya kepada Ka‘b, sementara aku hadir di situ, tentang Sijjīn. Ka‘b menjawab:“Sijjīn adalah bumi ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang kafir.”Ibnu ‘Abbas juga bertanya kepadanya tentang ‘Illiyyīn. Ia menjawab:“‘Illiyyīn adalah langit ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang beriman.”Demikian pula dikatakan oleh sejumlah ulama lainnya bahwa ‘Illiyyīn berada di langit ketujuh.Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘IlliyyinBeliau berkata:“Maksudnya adalah surga.”Dalam riwayat Al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa maksudnya adalah amal-amal mereka berada di langit di sisi Allah. Demikian pula pendapat yang disampaikan oleh Adh-Dhahhak.Qatadah berkata:“‘Illiyyūn adalah sisi kanan ‘Arsy.”Sementara ulama lain mengatakan bahwa ‘Illiyyūn berada di dekat Sidhratul Muntaha.Pendapat yang paling jelas adalah bahwa kata ‘Illiyyīn berasal dari kata al-‘uluww (ketinggian). Setiap sesuatu yang semakin tinggi dan semakin terangkat, maka semakin besar dan semakin luas kedudukannya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ketika Allah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang durhaka (al-fujjār) berada di tempat yang paling bawah, paling sempit, dan paling rendah, maka Allah juga menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang yang berbakti (al-abrār) berada di tempat yang paling tinggi, paling luas, dan paling lapang.Dan catatan amal mereka yang tertulis itu disaksikan oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Yang dimaksud dengan mereka adalah para malaikat yang mulia, serta ruh para nabi, orang-orang yang sangat jujur dalam iman (ṣiddīqīn), dan para syuhada. Allah menyebut dan memuliakan mereka di hadapan penduduk langit yang tinggi.Adapun ‘Illiyyūn adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi.Setelah Allah menyebutkan catatan amal mereka, Allah kemudian menjelaskan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Kata ini merupakan istilah yang mencakup seluruh kenikmatan hati, ruh, dan tubuh.Mereka berada di atas dipan-dipan yang indah.عَلَى الْأَرَائِكِYaitu di atas tempat duduk atau dipan yang dihiasi dengan hamparan dan perhiasan yang indah.يُنْظَرُونَMereka memandang berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka, dan mereka juga memandang wajah Rabb mereka Yang Mahamulia.Allah berfirman:تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ“Engkau dapat melihat pada wajah mereka cahaya kenikmatan.”Artinya, tampak pada wajah mereka keindahan, kesegaran, dan kemilau kenikmatan. Sebab kenikmatan dan kegembiraan yang terus-menerus akan memancarkan cahaya, keindahan, dan keceriaan pada wajah mereka.Mereka diberi minum dari minuman yang sangat murni.يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍYaitu minuman yang termasuk yang paling baik dan paling lezat di antara berbagai minuman.Minuman itu tertutup rapat.خِتَامُهُ مِسْكٌPenutupnya adalah kasturi. Maksudnya bisa dua kemungkinan:Pertama, minuman itu tertutup rapat sehingga tidak tercampuri sesuatu pun yang dapat mengurangi kenikmatannya atau merusak rasanya. Penutup yang digunakan untuk menutupnya adalah kasturi.Kedua, maksudnya adalah bahwa bagian terakhir dari minuman dalam bejana yang mereka minum memiliki endapan berupa kasturi yang sangat harum. Padahal biasanya dalam kebiasaan di dunia, endapan seperti itu dibuang. Namun di surga justru menjadi sesuatu yang sangat berharga.Tentang kenikmatan yang agung ini Allah berfirman:وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.”Artinya, hendaklah manusia berlomba-lomba untuk meraihnya dengan amal-amal yang dapat mengantarkan kepada kenikmatan tersebut. Inilah sesuatu yang paling pantas diperebutkan oleh jiwa-jiwa yang mulia dan paling layak menjadi tujuan perlombaan orang-orang yang bersungguh-sungguh.Campuran minuman tersebut berasal dari Tasnīm.Tasnīm adalah sebuah mata air di surga.عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ“Mata air yang darinya diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah.”Minuman dari Tasnīm ini diminum secara murni oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Ia merupakan minuman paling tinggi dan paling mulia di surga. Karena itu minuman ini khusus bagi mereka yang memiliki kedudukan tertinggi di antara makhluk.Adapun bagi ashḥābul yamīn (golongan kanan), minuman tersebut diberikan dalam keadaan dicampur dengan rahiq dan minuman-minuman lezat lainnya. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh DuaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجْرَمُوا۟ كَانُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يَضْحَكُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muthaffifin: 29)وَإِذَا مَرُّوا۟ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ“Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muthaffifin: 30)وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمُ ٱنقَلَبُوا۟ فَكِهِينَ“Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” (QS. Al-Muthaffifin: 31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”.” (QS. Al-Muthaffifin: 32)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:Ketika Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang berdosa dan balasan bagi orang-orang beriman, serta menjelaskan perbedaan yang sangat besar di antara keduanya, Allah juga mengabarkan bahwa dahulu di dunia orang-orang berdosa selalu memperolok kaum mukmin. Mereka mengejek, menghina, dan menertawakan orang-orang beriman.Mereka saling memberi isyarat dengan mata ketika melewati kaum mukmin, sebagai bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka. Namun anehnya, meskipun berbuat demikian, mereka hidup dengan perasaan aman dan tenang, seakan-akan tidak ada sedikit pun rasa takut dalam hati mereka.Apabila mereka pulang kepada keluarga mereka—baik pada pagi maupun petang—mereka pulang dalam keadaan senang, gembira, dan merasa bangga dengan perbuatan mereka.Inilah salah satu bentuk kesombongan dan tipu daya yang paling besar. Mereka melakukan keburukan yang sangat parah, tetapi pada saat yang sama merasa aman dan tenteram di dunia. Seolah-olah mereka telah mendapatkan jaminan dan janji dari Allah bahwa mereka termasuk orang-orang yang berbahagia.Bahkan mereka berani memutuskan bahwa diri mereka berada di atas petunjuk, sementara orang-orang beriman dianggap sebagai orang-orang yang sesat. Ini merupakan kedustaan terhadap Allah dan keberanian berbicara tentang-Nya tanpa ilmu. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh EnamAllah Ta’ala berfirman,وَمَآ أُرْسِلُوا۟ عَلَيْهِمْ حَٰفِظِينَ“padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Muthaffifin: 33)فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muthaffifin: 34)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 35)هَلْ ثُوِّبَ ٱلْكُفَّارُ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 36)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang beriman.” Maksudnya, orang-orang kafir itu tidak diutus sebagai pengawas bagi kaum mukmin dan tidak pula ditugaskan untuk menjaga atau mencatat amal mereka. Lalu mengapa mereka begitu sibuk menuduh orang-orang beriman sebagai orang yang sesat? Sikap mereka itu hanyalah bentuk keras kepala, permusuhan, dan permainan yang tidak memiliki dasar ataupun bukti.“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” Karena itu, balasan mereka di akhirat sesuai dengan perbuatan mereka di dunia. Allah berfirman: “Pada hari ini”, yaitu pada hari kiamat, orang-orang beriman akan menertawakan orang-orang kafir ketika melihat mereka tenggelam dalam berbagai azab. Semua kedustaan dan anggapan yang dahulu mereka buat pun lenyap, sementara orang-orang beriman berada dalam ketenangan dan kebahagiaan yang sempurna.“Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Mereka berada di atas dipan-dipan yang dihiasi dengan indah, menikmati berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka. Mereka juga memandang kepada Rabb mereka Yang Maha Mulia.“Bukankah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?”Artinya, apakah mereka telah dibalas sesuai dengan perbuatan mereka? Ya, mereka telah dibalas dengan balasan yang setimpal. Dahulu di dunia mereka menertawakan orang-orang beriman dan menuduh mereka sesat. Maka di akhirat orang-orang beriman menertawakan mereka dan menyaksikan mereka berada dalam azab dan hukuman sebagai akibat dari kesesatan dan penyimpangan mereka.Itulah balasan yang adil dari Allah dan merupakan bagian dari hikmah-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan SijjinAspek‘IlliyyīnSijjīnPenyebutan dalam surahQS. Al-Muthaffifin: 18–21QS. Al-Muthaffifin: 7–9Siapa yang dicatat di sanaKitab al-abrār: catatan amal orang-orang yang berbakti, saleh, dan taatKitab al-fujjār: catatan amal orang-orang durhaka, fajir, dan banyak dosaKelompok yang terkaitAl-abrār, al-muqarrabūn, orang-orang berimanAl-fujjār, al-mukadzdzibūn, orang-orang yang melampaui batas dan berdosaMakna umumTempat yang tinggi, mulia, lapang, dan agungTempat yang rendah, sempit, menghimpit, dan menghinakanAsal makna kataDari kata al-‘uluww: tinggi, luhur, terangkatDari kata as-sijn / sijn: penjara, kurungan, tempat sempitNuansa maknaKemuliaan, ketinggian derajat, keluasan, kehormatanKehinaan, keterbatasan, kesempitan, hukumanPosisi secara maknawiTempat paling tinggi bagi catatan amal orang salehTempat paling rendah bagi catatan amal orang durhakaPenjelasan As-Sa‘diTempat catatan amal orang-orang berbakti di posisi paling tinggi, luas, dan lapangTempat catatan amal orang-orang durhaka di posisi paling bawah, sempit, dan rendahPenjelasan Ibnu KatsirKebalikan dari Sijjīn; menunjukkan ketinggian dan kemuliaanTempat kembali orang durhaka; menunjukkan penjara dan kesempitanLetak menurut sebagian ulamaDisebut berada di langit ketujuh, atau dekat tempat yang sangat tinggiDisebut berada di bawah bumi ketujuh, atau tempat paling rendahRiwayat dari Ka‘b yang dinukilRuh orang-orang beriman berada di ‘IlliyyīnRuh orang-orang kafir berada di SijjīnPendapat lain ulamaAda yang menafsirkan sebagai surga, atau tempat amal di sisi AllahAda yang menafsirkan sebagai sumur di Jahannam, batu besar, atau tempat sempit di bawahHubungannya dengan catatan amalCatatan amal orang saleh tersimpan dan dimuliakanCatatan amal orang durhaka tersimpan dan menjadi bukti keburukan merekaStatus kitabnyaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, terjagaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, dan telah ditetapkanSiapa yang menyaksikanYasyhaduhul muqarrabūn: disaksikan malaikat dan makhluk yang didekatkan kepada AllahTidak disebut disaksikan al-muqarrabūn; konteksnya lebih kepada ancaman dan kebinasaanArah balasanMengarah kepada na‘īm: kenikmatan, wajah berseri, dipan-dipan, minuman surgaMengarah kepada jahīm: neraka, celaan, kehinaan, dan tertutup dari RabbDampak akhir bagi pemilik kitabKemuliaan di akhirat, kedekatan dengan Allah, surga yang tinggiKehinaan di akhirat, azab, keterasingan, dan hukumanKeterkaitan dengan surga/nerakaSangat dekat maknanya dengan tingkatan surga tertinggiSangat dekat maknanya dengan dasar kehinaan dan tempat azabSifat ruangLuas, lapang, tinggi, muliaSempit, rendah, menghimpit, menekanSimbol ruhaniKebersihan amal, kejujuran, ketaatan, kemuliaan jiwaKedurhakaan, kefajiran, kecurangan, pengingkaran hari pembalasanHubungan dengan imanBuah dari iman, amal saleh, dan birr (kebajikan)Buah dari maksiat, kedustaan, melampaui batas, dan dosaHubungan dengan Hari AkhirMenunjukkan keselamatan dan keberuntungan pada hari pembalasanMenunjukkan kecelakaan dan kebinasaan pada hari pembalasanKontras utamanya dalam surahPuncak kemuliaan bagi orang baikPuncak kehinaan bagi orang jahatLawan maknaLawannya adalah SijjīnLawannya adalah ‘IlliyyīnPesan pendidikan imanBeramal saleh akan mengangkat derajat seseorangDosa dan kefajiran akan menjatuhkan seseorang ke derajat paling rendah Walhamdulilah,selesai sudah bahasan tafsir Surah Al-Muthaffifin. Semoga bermanfaat.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagstafsir al muthaffifin tafsir juz amma timbangan
Curang dalam takaran dan timbangan mungkin terlihat sepele di mata manusia, tetapi sangat besar dosanya di sisi Allah. Surah Al-Muthaffifin dibuka dengan ancaman keras bagi orang-orang yang mengambil haknya secara penuh, namun mengurangi hak orang lain. Ayat-ayat ini mengajarkan keadilan, kejujuran, dan sikap adil bukan hanya dalam muamalah, tetapi juga dalam setiap urusan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Ketiga 1.1. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini 2. Ayat Keempat – Keenam 2.1. Beratnya Hari Kiamat 2.2. Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari Kiamat 3. Ayat Ketujuh – Kedua Belas 4. Al-Fujjar dan Sijjin 5. Ayat Ketiga Belas – Kelima Belas 5.1. Raan yang Menutupi Hati 6. Ayat Keenam Belas – Ketujuh Belas 7. Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling Tinggi 8. Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh Delapan 9. Al-Abrar dan ‘Illiyyin 10. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh Dua 11. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh Enam 12. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan Sijjin  Ayat Pertama – KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (QS. Al-Muthaffifin: 2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:“Wailun” adalah kata yang menunjukkan azab dan ancaman keras.“Lil muthoffifin” yaitu bagi orang-orang yang berbuat curang dalam takaran dan timbangan.“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.”Allah menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang curang itu melalui firman-Nya:yaitu orang-orang yang apabila mereka mengambil takaran dari orang lain untuk hak yang menjadi milik mereka minta dipenuhi, mereka meminta dan mengambilnya secara penuh tanpa ada kekurangan sedikit pun.Sedangkan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, yakni ketika mereka harus memberikan hak orang lain yang menjadi tanggungan mereka melalui takaran atau timbangan, mereka mengurangi hak tersebut. Pengurangan itu bisa dengan menggunakan takaran atau timbangan yang kurang, atau tidak memenuhi takaran dan timbangan sebagaimana mestinya, atau dengan cara lain yang serupa.Perbuatan seperti ini termasuk mencuri harta orang lain dan tidak berlaku adil terhadap mereka.Apabila ancaman ini ditujukan kepada orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam takaran dan timbangan, maka orang yang merampas harta orang lain dengan paksa atau mencurinya secara terang-terangan, lebih pantas lagi mendapatkan ancaman tersebut daripada sekadar orang yang curang dalam takaran.Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa sebagaimana seseorang berhak mengambil dari orang lain apa yang menjadi haknya, maka ia juga wajib memberikan kepada orang lain seluruh hak mereka, baik dalam harta maupun dalam berbagai bentuk muamalah. Bahkan makna ini mencakup pula dalam perdebatan dan penyampaian pendapat. Sebagaimana lazimnya dua orang yang berdebat masing-masing berusaha mempertahankan dalil yang menguntungkan dirinya, maka ia juga wajib menjelaskan dalil yang menjadi hak lawannya yang mungkin belum diketahui. Ia harus menimbang dan memperhatikan dalil lawannya sebagaimana ia menimbang dalilnya sendiri. Pada titik inilah akan tampak apakah seseorang itu adil atau fanatik dan memaksakan diri, apakah ia rendah hati atau sombong, serta apakah ia berakal atau bodoh. Kita memohon kepada Allah taufik untuk meraih segala kebaikan. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini1. Spesifikasi Tidak Sesuai IklanMenjual produk dengan klaim kualitas tertentu (misalnya bahan premium, asli, organik), padahal kenyataannya kualitas di bawah standar yang dijanjikan.2. Manipulasi Berat Bersih (Netto)Mencantumkan berat bersih 1 kg, tetapi setelah ditimbang ulang ternyata kurang dari itu. Ini termasuk bentuk pengurangan takaran modern.3. Mengurangi Kualitas JasaDalam bisnis jasa, menerima pembayaran penuh tetapi layanan tidak diberikan sesuai kesepakatan, misalnya jam kerja dikurangi atau hasil kerja tidak sesuai kontrak.4. Markup Biaya Tanpa TransparansiMenambahkan biaya tersembunyi saat pembayaran (admin fee, service charge, biaya tambahan yang tidak dijelaskan di awal).5. Memanfaatkan Ketidaktahuan KonsumenMenjual barang dengan harga jauh di atas standar pasar kepada orang yang tidak memahami harga sebenarnya.6. Kecurangan dalam Laporan KeuanganMengurangi hak mitra, investor, atau karyawan dengan memanipulasi data laba dan pembagian hasil.7. Mengurangi Hak KaryawanMeminta kinerja penuh, tetapi gaji atau hak lembur tidak dibayarkan sesuai kesepakatan. Ayat Keempat – KeenamAllah Ta’ala berfirman,أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muthaffifin: 4)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ“pada suatu hari yang besar.” (QS. Al-Muthaffifin: 5)يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ“(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Allah juga menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka yang terus-menerus melakukan perbuatan itu. Allah berfirman dengan nada peringatan, “Tidakkah mereka menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari yang sangat besar, yaitu hari ketika seluruh manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?”Yang membuat mereka berani berbuat curang adalah karena mereka tidak beriman kepada hari akhir. Seandainya mereka benar-benar beriman dan menyadari bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan Allah, lalu dihisab atas segala sesuatu—baik yang kecil maupun yang besar—tentu mereka akan berhenti dari perbuatan tersebut dan segera bertobat darinya. Beratnya Hari KiamatImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Muthaffifin ayat keenam.Maksudnya, pada hari itu manusia berdiri dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, di suatu tempat yang sangat sulit, sempit, dan penuh kesusahan. Tempat itu terasa sangat berat bagi orang-orang yang berdosa. Mereka diliputi oleh kedahsyatan urusan Allah yang tidak sanggup ditanggung oleh kekuatan dan pancaindra manusia.Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai setengah telinganya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari melalui jalur Malik dan Abdullah bin ‘Aun, keduanya dari Nafi’. Juga diriwayatkan oleh Muslim melalui dua jalur tersebut. Demikian pula diriwayatkan oleh Shalih, Tsabit bin Kaisan, Ayyub bin Yahya, Abdullah dan Ubaidullah—keduanya putra Umar—serta Muhammad bin Ishaq, semuanya dari Nafi’, dari Ibnu Umar.Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ishaq mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Karena keagungan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat, hingga keringat benar-benar mengekang manusia sampai setengah telinga mereka.”Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan: Ibrahim bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ia berkata: Sulaim bin ‘Amir menceritakan kepadaku, Al-Miqdad—yakni Ibnu Al-Aswad Al-Kindi—berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apabila hari Kiamat terjadi, matahari didekatkan kepada para hamba hingga jaraknya sekitar satu mil atau dua mil.”Beliau bersabda, “Maka matahari itu membakar mereka, sehingga mereka tenggelam dalam keringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pinggangnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringatnya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Al-Hakam bin Musa dari Yahya bin Hamzah, dan oleh At-Tirmidzi melalui Suwaid dari Ibnu Al-Mubarak, keduanya dari Ibnu Jabir.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan bin Sawwar, dari Al-Laits bin Sa’d, dari Mu’awiyah bin Shalih, bahwa Abu Abdurrahman menceritakan kepadanya dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan pada hari Kiamat sejauh satu mil, dan panasnya ditambah sekian dan sekian. Binatang-binatang kecil pun mendidih karenanya sebagaimana air dalam kuali mendidih. Manusia berkeringat sesuai dengan kadar dosa mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai betis, ada yang sampai pertengahan tubuhnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringat.”Hadis ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu ‘Asyanah Hayy bin Yu’min, bahwa ia mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan ke bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai pertengahan betis, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pantat, ada yang sampai pinggang, ada yang sampai kedua bahu, ada yang sampai pertengahan mulutnya.”Beliau memberi isyarat dengan tangannya seakan-akan menutup mulutnya. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat seperti itu. “Dan ada pula yang keringatnya menutupi seluruh tubuhnya.” Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Hadis ini juga diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Disebutkan pula dalam sebuah hadis bahwa mereka berdiri selama tujuh puluh tahun tanpa berbicara. Ada yang mengatakan mereka berdiri selama tiga ratus tahun. Ada pula yang mengatakan empat puluh ribu tahun. Dan diputuskan perkara di antara mereka dalam kadar sepuluh ribu tahun, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’:“Pada suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu ‘Aun Az-Ziyadi mengabarkan kepada kami, Abdur Salam bin ‘Ajlan berkata: Aku mendengar Abu Yazid Al-Madani dari Abu Hurairah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Basyir Al-Ghifari,“Bagaimana keadaanmu pada hari ketika manusia berdiri selama tiga ratus tahun untuk Rabb seluruh alam—menurut hitungan hari dunia—tanpa datang kepada mereka kabar dari langit dan tanpa diperintahkan suatu perintah?”Basyir berkata, “Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.”Beliau bersabda,فَإِذَا أَوَيْتَ إِلَىٰ فِرَاشِكَ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ كَرْبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسُوءِ الْحِسَابِ.“Jika engkau berbaring di tempat tidurmu, maka berlindunglah kepada Allah dari kesusahan hari Kiamat dan dari buruknya hisab.”Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Abdur Salam.Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berlindung kepada Allah dari sempitnya tempat berdiri pada hari Kiamat.Dari Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa mereka berdiri selama empat puluh tahun dengan kepala terangkat ke langit, tidak seorang pun berbicara kepada mereka, dan keringat telah mengekang orang baik maupun orang jahat.Dari Ibnu Umar disebutkan bahwa mereka berdiri selama seratus tahun. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Dalam Sunan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, melalui hadis Zaid bin Al-Hubab dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Azhar bin Sa’id Al-Hawari, dari ‘Ashim bin Humaid, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka qiyamullail dengan bertakbir sepuluh kali, memuji sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali. Beliau juga berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.ALLĀHUMMAGHFIR LĪ, WAHDINĪ, WARZUQNĪ, WA ‘ĀFINĪ, WA A‘ŪDZU BIKA MIN ḌHĪQIL-MAQĀMI YAUMAL-QIYĀMAH.“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rezeki, dan sehatkanlah aku.” Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari KiamatAisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan tentang qiyamullail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa pembuka shalat beliau (doa iftitah) dengan doa dan zikir tersebut. Ia berkata:“Beliau bertakbir sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali.”Kemudian ia menyebutkan doa tersebut.Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا، وَضِيقِ الْقِيَامَةِALLĀHUMMA INNII A‘ŪDZU BIKA MIN DHIIQID-DUNYĀ, WA DHIIQIL-QIYĀMAH.“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan pada hari Kiamat.”(Diriwayatkan oleh Abu Dauud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab “Doa yang Dibaca Ketika Pagi Hari”, no. 5087; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Kitab Shalat ‘Idain, Bab Khutbah Hari Raya, no. 10623; juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah karya Ibnu As-Sunni, no. 759. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1356). Ayat Ketujuh – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin: 7)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ“Tahukah kamu apakah sijjin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 8)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Ialah) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ“(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muthaffifin: 11)وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.” (QS. Al-Muthaffifin: 12)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Maksudnya, kitab yang di dalamnya tertulis seluruh amal buruk mereka. Sijjīn adalah tempat yang sempit lagi menghimpit. Sijjīn merupakan kebalikan dari ‘Illiyyīn, yaitu tempat catatan amal orang-orang yang berbakti, sebagaimana akan dijelaskan nanti.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn adalah lapisan bumi yang paling bawah, tempat tinggal orang-orang durhaka dan tempat menetap mereka kelak di akhirat.(Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para pendusta itu adalah orang-orang yang mendustakan hari pembalasan, yaitu hari ketika Allah membalas manusia atas seluruh amal perbuatan mereka.“Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi banyak berbuat dosa.”Yakni orang yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, berpindah dari yang halal kepada yang haram. Ia adalah orang yang banyak berbuat dosa. Sikap melampaui batas itulah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat kedua belas:Maksudnya, ia adalah orang yang melampaui batas dalam perbuatannya: berani melakukan yang haram dan berlebihan dalam menikmati hal-hal yang sebenarnya mubah.Ia juga seorang yang banyak berdosa dalam ucapannya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari. Dan jika berselisih atau bertengkar, ia berlaku curang dan melampaui batas. Al-Fujjar dan SijjinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai Fujjar (Fajir) dan Sijjin sebagai berikut.Allah Ta’ala menegaskan dengan sebenar-benarnya bahwa catatan amal orang-orang durhaka berada di dalam Sijjīn, yaitu tempat yang menjadi tujuan dan tempat kembali mereka. Kata Sijjīn berasal dari kata sijn yang berarti penjara atau tempat yang sempit. Bentuk katanya menunjukkan makna yang sangat kuat, sebagaimana ungkapan dalam bahasa Arab seperti fasiq, syarīb, khamīr, atau sakīr yang menunjukkan sifat yang sangat melekat.Allah kemudian membesarkan perkara ini dengan firman-Nya: “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?” Maksudnya, Sijjīn adalah perkara yang sangat besar, sebuah penjara yang terus-menerus dan azab yang sangat pedih.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Hal ini disebutkan dalam hadis panjang dari Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan ruh orang kafir. Dalam hadis itu Allah berfirman tentang ruh orang kafir:“Catatlah kitabnya di dalam Sijjīn.”Disebutkan pula bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Ada pula yang mengatakan bahwa Sijjīn adalah sebuah batu besar di bawah bumi ketujuh, ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah sebuah sumur di dalam neraka Jahannam.Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadis tentang hal ini, namun hadis tersebut dinilai gharib dan munkar serta tidak sahih. Dalam riwayat itu disebutkan:“Al-Falaq adalah sebuah sumur di neraka Jahannam yang tertutup, sedangkan Sijjīn adalah sumur yang terbuka.”Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Sijjīn berasal dari kata penjara yang berarti sempit. Hal ini karena semua makhluk yang berada di tempat yang lebih rendah akan semakin sempit ruangnya, sedangkan yang berada di tempat yang lebih tinggi akan semakin luas.Langit yang tujuh masing-masing lebih luas dan lebih tinggi daripada yang di bawahnya. Demikian pula bumi yang berlapis-lapis, setiap lapisan lebih luas daripada yang berada di bawahnya, hingga akhirnya mencapai tempat yang paling rendah dan paling sempit, yaitu pusat bumi di lapisan bumi yang ketujuh.Karena tempat kembali orang-orang durhaka adalah neraka Jahannam yang berada pada tingkatan paling rendah, sebagaimana firman Allah:ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ • إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. At-Tin: 5–6)Maka Allah berfirman di sini:كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ • وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌSijjīn mengandung makna kesempitan dan kerendahan, sebagaimana firman Allah:وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan tangan terbelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqan: 13)“(Yaitu) kitab yang tertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)Firman Allah “kitab yang tertulis” bukanlah penjelasan dari ayat “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?”, melainkan penjelasan tentang catatan amal mereka yang telah ditetapkan menuju Sijjīn.Artinya, catatan itu telah tertulis dan ditetapkan dengan pasti, tidak akan bertambah dan tidak pula berkurang. Demikian penjelasan dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi.“Maka kecelakaan besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)Artinya, kebinasaan dan kehancuran pada hari kiamat bagi orang-orang yang mendustakan, ketika mereka benar-benar sampai kepada ancaman Allah berupa penjara dan azab yang menghinakan.Makna kata “wail” sebelumnya telah dijelaskan sebagai kebinasaan dan kehancuran, sebagaimana dalam ungkapan bahasa Arab: “Celaka bagi si fulan.”Demikian pula disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan, dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ النَّاسَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta agar membuat manusia tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” Ayat Ketiga Belas – Kelima BelasAllah Ta’ala berfirman,إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” (QS. Al-Muthaffifin: 13)كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Karena itulah, ketika “yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami”, — yakni ayat-ayat Kami yang menunjukkan kebenaran dan membuktikan kejujuran ajaran yang dibawa para rasul — dibacakan kepadanya, ia justru mendustakannya dan bersikap keras kepala.Ia berkata, itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu yakni ini hanyalah dongeng dan omong kosong orang-orang terdahulu, sekadar cerita umat-umat masa lampau. Ia menganggapnya bukan berasal dari Allah, semua itu diucapkannya karena kesombongan dan sikap membangkang terhadap kebenaran.Adapun orang yang bersikap adil dan jujur dalam menilai, serta tujuannya benar-benar mencari kebenaran yang nyata, maka ia tidak akan mendustakan Hari Pembalasan. Sebab Allah telah menegakkan baginya dalil-dalil yang tegas dan bukti-bukti yang terang, yang menjadikan kebenaran itu sebagai sesuatu yang pasti tanpa keraguan.Kebenaran itu bagi hati mereka laksana matahari bagi penglihatan: begitu jelas dan tak terbantahkan.Berbeda dengan orang yang hatinya telah tertutup oleh dosa-dosa yang ia lakukan, dan kemaksiatan telah menyelimutinya, sehingga kebenaran pun tidak lagi tampak jelas baginya.Karena itu, ia terhalang dari kebenaran. Sebagai balasan atas keadaan tersebut, ia pun dihalangi dari (melihat) Allah. Hal itu sebagaimana dahulu hatinya di dunia telah terhalang dari ayat-ayat Allah. Raan yang Menutupi HatiImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, apabila orang tersebut mendengar firman Allah yang disampaikan oleh Rasul, ia justru mendustakannya. Ia berprasangka buruk terhadap Al-Qur’an dan meyakini bahwa kitab itu hanyalah karangan yang dibuat-buat, yang dikumpulkan dari kisah-kisah dan catatan orang-orang zaman dahulu.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Dongeng orang-orang terdahulu.’” (QS. An-Nahl: 24)Dan firman-Nya:﴿وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾“Dan mereka berkata, ‘(Al-Qur’an itu hanyalah) dongeng orang-orang terdahulu yang dimintanya untuk dituliskan, lalu dibacakan kepadanya setiap pagi dan petang.’” (QS. Al-Furqan: 5)Demikianlah sikap orang-orang kafir: ketika kebenaran dibacakan kepada mereka, mereka menolaknya dan menuduhnya sebagai cerita rekaan dari masa lampau.Firman Allah Ta’ala:﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”Maksudnya, tidaklah benar seperti yang mereka sangkakan dan ucapkan, bahwa Al-Qur’an itu hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Bahkan Al-Qur’an adalah firman Allah, wahyu-Nya, dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya ﷺ.Akan tetapi, yang menghalangi hati mereka untuk beriman kepadanya adalah ran (karat/penutup) yang menyelimuti hati mereka akibat banyaknya dosa dan kesalahan yang mereka lakukan. Karena itulah Allah berfirman: Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.Adapun ran itu menimpa hati orang-orang kafir. Sedangkan bagi orang-orang saleh (al-abrar) ada ghaim (awan tipis), dan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabin) ada ghain (selubung yang lebih ringan lagi).Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Al-Qa‘qa‘ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ مِنْهَا صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat darinya, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu pun bertambah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’”Imam Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَهُوَ الرَّانُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, akan ditorehkan satu titik pada hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia kembali (berbuat dosa), maka titik itu akan ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang disebutkan Allah dalam firman-Nya.”Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan lafaz:«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, berhenti, dan memohon ampun, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Hasan al-Basri berkata, “Ia adalah dosa di atas dosa, hingga hati menjadi buta lalu mati.”Demikian pula dikatakan oleh Mujahid bin Jabr, Qatadah ibn Di’ama, Ibnu Zaid, dan selain mereka. Ayat Keenam Belas – Ketujuh BelasAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا۟ ٱلْجَحِيمِ“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (QS. Al-Muthaffifin: 16)ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ“Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”.” (QS. Al-Muthaffifin: 17) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Kemudian Allah berfirman,“Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.”Lalu dikatakan kepada mereka sebagai bentuk celaan dan teguran keras,“Inilah (azab) yang dahulu kalian dustakan.”Dalam ayat ini disebutkan tiga macam azab bagi mereka:Azab neraka Jahim.Azab berupa celaan dan teguran keras.Azab berupa terhalangnya mereka dari (melihat) Rabb semesta alam.Azab berupa terhalang dari Allah ini mengandung makna kemurkaan dan kemarahan-Nya kepada mereka. Azab ini bahkan lebih berat bagi mereka daripada azab api neraka.Sebaliknya, mafhum dari ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dan di surga. Mereka akan merasakan kenikmatan memandang-Nya yang jauh lebih agung daripada seluruh kenikmatan lainnya. Mereka bergembira dengan pembicaraan-Nya dan bersuka cita karena kedekatan dengan-Nya. Hal ini telah disebutkan oleh Allah dalam banyak ayat Al-Qur’an dan diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ.Dalam ayat-ayat ini juga terdapat peringatan keras agar menjauhi dosa. Sebab dosa-dosa itu menimbulkan karat pada hati dan menutupinya sedikit demi sedikit, hingga cahaya hati itu padam dan penglihatannya mati. Akibatnya, hakikat menjadi terbalik: kebatilan terlihat sebagai kebenaran, dan kebenaran tampak sebagai kebatilan. Ini merupakan salah satu bentuk hukuman akibat dosa.Baca juga: Syarhus Sunnah: Terhalang dari Melihat Wajah Allah Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling TinggiAllah Ta’ala juga berfirman:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.” (QS. Yunus: 26)Yang dimaksud al-ḥusnā adalah surga, sedangkan tambahan adalah melihat wajah Allah Yang Mahamulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:“Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah Tabāraka wa Ta‘ālā berfirman:‘Apakah kalian menginginkan sesuatu lagi agar Aku tambahkan kepada kalian?’Mereka menjawab:‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’Kemudian Allah membuka hijab-Nya. Maka tidak ada sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang Rabb mereka ‘Azza wa Jalla.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.”Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Jarīr bin ‘Abdillāh Al-Bajalī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Nabi ﷺ. Beliau melihat bulan pada malam keempat belas (bulan purnama), lalu beliau bersabda:‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan jelas sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya.’”Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa beberapa orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:“Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?”Beliau menjawab:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat bulan pada malam purnama?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bertanya lagi:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat matahari yang tidak tertutup awan?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bersabda:“Demikian pula kalian akan melihat-Nya.”Maksudnya, kalian akan melihat-Nya dengan penglihatan yang nyata tanpa kesulitan dan tanpa saling berdesakan.Selain itu masih banyak lagi hadits-hadits sahih tentang hal ini yang diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat. Hadits-hadits tersebut mencapai derajat mutawatir, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.Adapun melihat Allah di dunia, maka secara akal hal itu mungkin saja terjadi, tetapi secara syariat tidak terjadi. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika memperingatkan tentang Dajjal:“Ketahuilah bahwa tidak seorang pun dari kalian akan melihat Rabbnya hingga ia meninggal dunia. Dan di antara kedua mata Dajjal tertulis huruf ك ف ر yang dapat dibaca oleh setiap orang yang membenci amalnya.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits ini hasan sahih)Dalam masalah ini tidak ada perselisihan di kalangan Ahlus Sunnah, kecuali riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Rabbnya pada malam Mi‘raj. Namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Nabi ﷺ melihat cahaya, yaitu hijab-Nya.Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Dzarr radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata:“Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang apakah beliau melihat Rabbnya. Beliau menjawab:‘Aku melihat cahaya.’”Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim, Abu Dzarr berkata:“Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Apakah engkau melihat Rabbmu?’Beliau menjawab:‘Cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya!’”Bahwa cahaya itu merupakan hijab juga dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:“Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Amal malam diangkat kepada-Nya sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya hijab itu dibuka, niscaya sinar wajah-Nya akan membakar segala sesuatu yang dijangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya.”Yang dimaksud subuḥāt wajah-Nya adalah cahaya, keagungan, dan keindahan-Nya.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam syarahnya atas Shahih Muslim:“Ketahuilah bahwa mazhab Ahlus Sunnah secara keseluruhan menyatakan bahwa melihat Allah Ta’ala itu mungkin dan tidak mustahil secara akal. Mereka juga sepakat bahwa hal itu benar-benar terjadi di akhirat, dan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang kafir tidak.Sebaliknya, sebagian kelompok ahli bid‘ah seperti Mu‘tazilah, Khawarij, dan sebagian Murji’ah berpendapat bahwa tidak seorang pun dari makhluk dapat melihat Allah, dan bahwa melihat-Nya mustahil secara akal. Pendapat mereka ini merupakan kesalahan yang nyata dan kebodohan yang buruk.Dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, serta ijmak para sahabat dan generasi setelah mereka dari kalangan salaf umat ini telah sangat jelas menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala di akhirat. Riwayat tentang hal ini datang dari sekitar dua puluh sahabat Nabi ﷺ, dan ayat-ayat Al-Qur’an tentangnya juga sangat terkenal.Adapun berbagai keberatan yang diajukan oleh kelompok ahli bid‘ah, semuanya telah dijawab secara jelas dalam kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah.Adapun melihat Allah Ta’ala di dunia, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hal itu secara akal mungkin, tetapi mayoritas ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa hal tersebut tidak terjadi di dunia.”Selesai perkataan Imam An-Nawawi rahimahullah.Referensi: Fatwa Islamweb Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh DelapanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.” (QS. Al-Muthaffifin: 18)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ“Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 19)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Yaitu) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 20)يَشْهَدُهُ ٱلْمُقَرَّبُونَ“yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muthaffifin: 21)إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga).” (QS. Al-Muthaffifin: 22)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 23)تَعْرِفُ فِى وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ ٱلنَّعِيمِ“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Muthaffifin: 24)يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ“Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya).” (QS. Al-Muthaffifin: 25)خِتَٰمُهُۥ مِسْكٌ ۚ وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَٰفِسُونَ“laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسْنِيمٍ“Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim.” (QS. Al-Muthaffifin: 27)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ“(yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (QS. Al-Muthaffifin: 28) Al-Abrar dan ‘IlliyyinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Yang dimaksud al-abrār adalah orang-orang yang saleh, yang keadaannya berbeda dengan orang-orang yang durhaka (fujjar). Catatan amal mereka berada di ‘Illiyyīn, sebagai kebalikan dari Sijjīn yang menjadi tempat bagi orang-orang durhaka.Al-A‘masy meriwayatkan dari Syamr bin ‘Athiyyah, dari Hilal bin Yasaf, ia berkata:Ibnu ‘Abbas pernah bertanya kepada Ka‘b, sementara aku hadir di situ, tentang Sijjīn. Ka‘b menjawab:“Sijjīn adalah bumi ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang kafir.”Ibnu ‘Abbas juga bertanya kepadanya tentang ‘Illiyyīn. Ia menjawab:“‘Illiyyīn adalah langit ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang beriman.”Demikian pula dikatakan oleh sejumlah ulama lainnya bahwa ‘Illiyyīn berada di langit ketujuh.Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘IlliyyinBeliau berkata:“Maksudnya adalah surga.”Dalam riwayat Al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa maksudnya adalah amal-amal mereka berada di langit di sisi Allah. Demikian pula pendapat yang disampaikan oleh Adh-Dhahhak.Qatadah berkata:“‘Illiyyūn adalah sisi kanan ‘Arsy.”Sementara ulama lain mengatakan bahwa ‘Illiyyūn berada di dekat Sidhratul Muntaha.Pendapat yang paling jelas adalah bahwa kata ‘Illiyyīn berasal dari kata al-‘uluww (ketinggian). Setiap sesuatu yang semakin tinggi dan semakin terangkat, maka semakin besar dan semakin luas kedudukannya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ketika Allah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang durhaka (al-fujjār) berada di tempat yang paling bawah, paling sempit, dan paling rendah, maka Allah juga menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang yang berbakti (al-abrār) berada di tempat yang paling tinggi, paling luas, dan paling lapang.Dan catatan amal mereka yang tertulis itu disaksikan oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Yang dimaksud dengan mereka adalah para malaikat yang mulia, serta ruh para nabi, orang-orang yang sangat jujur dalam iman (ṣiddīqīn), dan para syuhada. Allah menyebut dan memuliakan mereka di hadapan penduduk langit yang tinggi.Adapun ‘Illiyyūn adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi.Setelah Allah menyebutkan catatan amal mereka, Allah kemudian menjelaskan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Kata ini merupakan istilah yang mencakup seluruh kenikmatan hati, ruh, dan tubuh.Mereka berada di atas dipan-dipan yang indah.عَلَى الْأَرَائِكِYaitu di atas tempat duduk atau dipan yang dihiasi dengan hamparan dan perhiasan yang indah.يُنْظَرُونَMereka memandang berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka, dan mereka juga memandang wajah Rabb mereka Yang Mahamulia.Allah berfirman:تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ“Engkau dapat melihat pada wajah mereka cahaya kenikmatan.”Artinya, tampak pada wajah mereka keindahan, kesegaran, dan kemilau kenikmatan. Sebab kenikmatan dan kegembiraan yang terus-menerus akan memancarkan cahaya, keindahan, dan keceriaan pada wajah mereka.Mereka diberi minum dari minuman yang sangat murni.يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍYaitu minuman yang termasuk yang paling baik dan paling lezat di antara berbagai minuman.Minuman itu tertutup rapat.خِتَامُهُ مِسْكٌPenutupnya adalah kasturi. Maksudnya bisa dua kemungkinan:Pertama, minuman itu tertutup rapat sehingga tidak tercampuri sesuatu pun yang dapat mengurangi kenikmatannya atau merusak rasanya. Penutup yang digunakan untuk menutupnya adalah kasturi.Kedua, maksudnya adalah bahwa bagian terakhir dari minuman dalam bejana yang mereka minum memiliki endapan berupa kasturi yang sangat harum. Padahal biasanya dalam kebiasaan di dunia, endapan seperti itu dibuang. Namun di surga justru menjadi sesuatu yang sangat berharga.Tentang kenikmatan yang agung ini Allah berfirman:وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.”Artinya, hendaklah manusia berlomba-lomba untuk meraihnya dengan amal-amal yang dapat mengantarkan kepada kenikmatan tersebut. Inilah sesuatu yang paling pantas diperebutkan oleh jiwa-jiwa yang mulia dan paling layak menjadi tujuan perlombaan orang-orang yang bersungguh-sungguh.Campuran minuman tersebut berasal dari Tasnīm.Tasnīm adalah sebuah mata air di surga.عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ“Mata air yang darinya diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah.”Minuman dari Tasnīm ini diminum secara murni oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Ia merupakan minuman paling tinggi dan paling mulia di surga. Karena itu minuman ini khusus bagi mereka yang memiliki kedudukan tertinggi di antara makhluk.Adapun bagi ashḥābul yamīn (golongan kanan), minuman tersebut diberikan dalam keadaan dicampur dengan rahiq dan minuman-minuman lezat lainnya. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh DuaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجْرَمُوا۟ كَانُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يَضْحَكُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muthaffifin: 29)وَإِذَا مَرُّوا۟ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ“Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muthaffifin: 30)وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمُ ٱنقَلَبُوا۟ فَكِهِينَ“Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” (QS. Al-Muthaffifin: 31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”.” (QS. Al-Muthaffifin: 32)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:Ketika Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang berdosa dan balasan bagi orang-orang beriman, serta menjelaskan perbedaan yang sangat besar di antara keduanya, Allah juga mengabarkan bahwa dahulu di dunia orang-orang berdosa selalu memperolok kaum mukmin. Mereka mengejek, menghina, dan menertawakan orang-orang beriman.Mereka saling memberi isyarat dengan mata ketika melewati kaum mukmin, sebagai bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka. Namun anehnya, meskipun berbuat demikian, mereka hidup dengan perasaan aman dan tenang, seakan-akan tidak ada sedikit pun rasa takut dalam hati mereka.Apabila mereka pulang kepada keluarga mereka—baik pada pagi maupun petang—mereka pulang dalam keadaan senang, gembira, dan merasa bangga dengan perbuatan mereka.Inilah salah satu bentuk kesombongan dan tipu daya yang paling besar. Mereka melakukan keburukan yang sangat parah, tetapi pada saat yang sama merasa aman dan tenteram di dunia. Seolah-olah mereka telah mendapatkan jaminan dan janji dari Allah bahwa mereka termasuk orang-orang yang berbahagia.Bahkan mereka berani memutuskan bahwa diri mereka berada di atas petunjuk, sementara orang-orang beriman dianggap sebagai orang-orang yang sesat. Ini merupakan kedustaan terhadap Allah dan keberanian berbicara tentang-Nya tanpa ilmu. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh EnamAllah Ta’ala berfirman,وَمَآ أُرْسِلُوا۟ عَلَيْهِمْ حَٰفِظِينَ“padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Muthaffifin: 33)فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muthaffifin: 34)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 35)هَلْ ثُوِّبَ ٱلْكُفَّارُ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 36)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang beriman.” Maksudnya, orang-orang kafir itu tidak diutus sebagai pengawas bagi kaum mukmin dan tidak pula ditugaskan untuk menjaga atau mencatat amal mereka. Lalu mengapa mereka begitu sibuk menuduh orang-orang beriman sebagai orang yang sesat? Sikap mereka itu hanyalah bentuk keras kepala, permusuhan, dan permainan yang tidak memiliki dasar ataupun bukti.“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” Karena itu, balasan mereka di akhirat sesuai dengan perbuatan mereka di dunia. Allah berfirman: “Pada hari ini”, yaitu pada hari kiamat, orang-orang beriman akan menertawakan orang-orang kafir ketika melihat mereka tenggelam dalam berbagai azab. Semua kedustaan dan anggapan yang dahulu mereka buat pun lenyap, sementara orang-orang beriman berada dalam ketenangan dan kebahagiaan yang sempurna.“Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Mereka berada di atas dipan-dipan yang dihiasi dengan indah, menikmati berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka. Mereka juga memandang kepada Rabb mereka Yang Maha Mulia.“Bukankah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?”Artinya, apakah mereka telah dibalas sesuai dengan perbuatan mereka? Ya, mereka telah dibalas dengan balasan yang setimpal. Dahulu di dunia mereka menertawakan orang-orang beriman dan menuduh mereka sesat. Maka di akhirat orang-orang beriman menertawakan mereka dan menyaksikan mereka berada dalam azab dan hukuman sebagai akibat dari kesesatan dan penyimpangan mereka.Itulah balasan yang adil dari Allah dan merupakan bagian dari hikmah-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan SijjinAspek‘IlliyyīnSijjīnPenyebutan dalam surahQS. Al-Muthaffifin: 18–21QS. Al-Muthaffifin: 7–9Siapa yang dicatat di sanaKitab al-abrār: catatan amal orang-orang yang berbakti, saleh, dan taatKitab al-fujjār: catatan amal orang-orang durhaka, fajir, dan banyak dosaKelompok yang terkaitAl-abrār, al-muqarrabūn, orang-orang berimanAl-fujjār, al-mukadzdzibūn, orang-orang yang melampaui batas dan berdosaMakna umumTempat yang tinggi, mulia, lapang, dan agungTempat yang rendah, sempit, menghimpit, dan menghinakanAsal makna kataDari kata al-‘uluww: tinggi, luhur, terangkatDari kata as-sijn / sijn: penjara, kurungan, tempat sempitNuansa maknaKemuliaan, ketinggian derajat, keluasan, kehormatanKehinaan, keterbatasan, kesempitan, hukumanPosisi secara maknawiTempat paling tinggi bagi catatan amal orang salehTempat paling rendah bagi catatan amal orang durhakaPenjelasan As-Sa‘diTempat catatan amal orang-orang berbakti di posisi paling tinggi, luas, dan lapangTempat catatan amal orang-orang durhaka di posisi paling bawah, sempit, dan rendahPenjelasan Ibnu KatsirKebalikan dari Sijjīn; menunjukkan ketinggian dan kemuliaanTempat kembali orang durhaka; menunjukkan penjara dan kesempitanLetak menurut sebagian ulamaDisebut berada di langit ketujuh, atau dekat tempat yang sangat tinggiDisebut berada di bawah bumi ketujuh, atau tempat paling rendahRiwayat dari Ka‘b yang dinukilRuh orang-orang beriman berada di ‘IlliyyīnRuh orang-orang kafir berada di SijjīnPendapat lain ulamaAda yang menafsirkan sebagai surga, atau tempat amal di sisi AllahAda yang menafsirkan sebagai sumur di Jahannam, batu besar, atau tempat sempit di bawahHubungannya dengan catatan amalCatatan amal orang saleh tersimpan dan dimuliakanCatatan amal orang durhaka tersimpan dan menjadi bukti keburukan merekaStatus kitabnyaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, terjagaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, dan telah ditetapkanSiapa yang menyaksikanYasyhaduhul muqarrabūn: disaksikan malaikat dan makhluk yang didekatkan kepada AllahTidak disebut disaksikan al-muqarrabūn; konteksnya lebih kepada ancaman dan kebinasaanArah balasanMengarah kepada na‘īm: kenikmatan, wajah berseri, dipan-dipan, minuman surgaMengarah kepada jahīm: neraka, celaan, kehinaan, dan tertutup dari RabbDampak akhir bagi pemilik kitabKemuliaan di akhirat, kedekatan dengan Allah, surga yang tinggiKehinaan di akhirat, azab, keterasingan, dan hukumanKeterkaitan dengan surga/nerakaSangat dekat maknanya dengan tingkatan surga tertinggiSangat dekat maknanya dengan dasar kehinaan dan tempat azabSifat ruangLuas, lapang, tinggi, muliaSempit, rendah, menghimpit, menekanSimbol ruhaniKebersihan amal, kejujuran, ketaatan, kemuliaan jiwaKedurhakaan, kefajiran, kecurangan, pengingkaran hari pembalasanHubungan dengan imanBuah dari iman, amal saleh, dan birr (kebajikan)Buah dari maksiat, kedustaan, melampaui batas, dan dosaHubungan dengan Hari AkhirMenunjukkan keselamatan dan keberuntungan pada hari pembalasanMenunjukkan kecelakaan dan kebinasaan pada hari pembalasanKontras utamanya dalam surahPuncak kemuliaan bagi orang baikPuncak kehinaan bagi orang jahatLawan maknaLawannya adalah SijjīnLawannya adalah ‘IlliyyīnPesan pendidikan imanBeramal saleh akan mengangkat derajat seseorangDosa dan kefajiran akan menjatuhkan seseorang ke derajat paling rendah Walhamdulilah,selesai sudah bahasan tafsir Surah Al-Muthaffifin. Semoga bermanfaat.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagstafsir al muthaffifin tafsir juz amma timbangan


Curang dalam takaran dan timbangan mungkin terlihat sepele di mata manusia, tetapi sangat besar dosanya di sisi Allah. Surah Al-Muthaffifin dibuka dengan ancaman keras bagi orang-orang yang mengambil haknya secara penuh, namun mengurangi hak orang lain. Ayat-ayat ini mengajarkan keadilan, kejujuran, dan sikap adil bukan hanya dalam muamalah, tetapi juga dalam setiap urusan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Ketiga 1.1. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini 2. Ayat Keempat – Keenam 2.1. Beratnya Hari Kiamat 2.2. Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari Kiamat 3. Ayat Ketujuh – Kedua Belas 4. Al-Fujjar dan Sijjin 5. Ayat Ketiga Belas – Kelima Belas 5.1. Raan yang Menutupi Hati 6. Ayat Keenam Belas – Ketujuh Belas 7. Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling Tinggi 8. Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh Delapan 9. Al-Abrar dan ‘Illiyyin 10. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh Dua 11. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh Enam 12. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan Sijjin  Ayat Pertama – KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (QS. Al-Muthaffifin: 2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:“Wailun” adalah kata yang menunjukkan azab dan ancaman keras.“Lil muthoffifin” yaitu bagi orang-orang yang berbuat curang dalam takaran dan timbangan.“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.”Allah menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang curang itu melalui firman-Nya:yaitu orang-orang yang apabila mereka mengambil takaran dari orang lain untuk hak yang menjadi milik mereka minta dipenuhi, mereka meminta dan mengambilnya secara penuh tanpa ada kekurangan sedikit pun.Sedangkan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, yakni ketika mereka harus memberikan hak orang lain yang menjadi tanggungan mereka melalui takaran atau timbangan, mereka mengurangi hak tersebut. Pengurangan itu bisa dengan menggunakan takaran atau timbangan yang kurang, atau tidak memenuhi takaran dan timbangan sebagaimana mestinya, atau dengan cara lain yang serupa.Perbuatan seperti ini termasuk mencuri harta orang lain dan tidak berlaku adil terhadap mereka.Apabila ancaman ini ditujukan kepada orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam takaran dan timbangan, maka orang yang merampas harta orang lain dengan paksa atau mencurinya secara terang-terangan, lebih pantas lagi mendapatkan ancaman tersebut daripada sekadar orang yang curang dalam takaran.Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa sebagaimana seseorang berhak mengambil dari orang lain apa yang menjadi haknya, maka ia juga wajib memberikan kepada orang lain seluruh hak mereka, baik dalam harta maupun dalam berbagai bentuk muamalah. Bahkan makna ini mencakup pula dalam perdebatan dan penyampaian pendapat. Sebagaimana lazimnya dua orang yang berdebat masing-masing berusaha mempertahankan dalil yang menguntungkan dirinya, maka ia juga wajib menjelaskan dalil yang menjadi hak lawannya yang mungkin belum diketahui. Ia harus menimbang dan memperhatikan dalil lawannya sebagaimana ia menimbang dalilnya sendiri. Pada titik inilah akan tampak apakah seseorang itu adil atau fanatik dan memaksakan diri, apakah ia rendah hati atau sombong, serta apakah ia berakal atau bodoh. Kita memohon kepada Allah taufik untuk meraih segala kebaikan. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini1. Spesifikasi Tidak Sesuai IklanMenjual produk dengan klaim kualitas tertentu (misalnya bahan premium, asli, organik), padahal kenyataannya kualitas di bawah standar yang dijanjikan.2. Manipulasi Berat Bersih (Netto)Mencantumkan berat bersih 1 kg, tetapi setelah ditimbang ulang ternyata kurang dari itu. Ini termasuk bentuk pengurangan takaran modern.3. Mengurangi Kualitas JasaDalam bisnis jasa, menerima pembayaran penuh tetapi layanan tidak diberikan sesuai kesepakatan, misalnya jam kerja dikurangi atau hasil kerja tidak sesuai kontrak.4. Markup Biaya Tanpa TransparansiMenambahkan biaya tersembunyi saat pembayaran (admin fee, service charge, biaya tambahan yang tidak dijelaskan di awal).5. Memanfaatkan Ketidaktahuan KonsumenMenjual barang dengan harga jauh di atas standar pasar kepada orang yang tidak memahami harga sebenarnya.6. Kecurangan dalam Laporan KeuanganMengurangi hak mitra, investor, atau karyawan dengan memanipulasi data laba dan pembagian hasil.7. Mengurangi Hak KaryawanMeminta kinerja penuh, tetapi gaji atau hak lembur tidak dibayarkan sesuai kesepakatan. Ayat Keempat – KeenamAllah Ta’ala berfirman,أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muthaffifin: 4)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ“pada suatu hari yang besar.” (QS. Al-Muthaffifin: 5)يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ“(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Allah juga menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka yang terus-menerus melakukan perbuatan itu. Allah berfirman dengan nada peringatan, “Tidakkah mereka menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari yang sangat besar, yaitu hari ketika seluruh manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?”Yang membuat mereka berani berbuat curang adalah karena mereka tidak beriman kepada hari akhir. Seandainya mereka benar-benar beriman dan menyadari bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan Allah, lalu dihisab atas segala sesuatu—baik yang kecil maupun yang besar—tentu mereka akan berhenti dari perbuatan tersebut dan segera bertobat darinya. Beratnya Hari KiamatImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Muthaffifin ayat keenam.Maksudnya, pada hari itu manusia berdiri dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, di suatu tempat yang sangat sulit, sempit, dan penuh kesusahan. Tempat itu terasa sangat berat bagi orang-orang yang berdosa. Mereka diliputi oleh kedahsyatan urusan Allah yang tidak sanggup ditanggung oleh kekuatan dan pancaindra manusia.Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai setengah telinganya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari melalui jalur Malik dan Abdullah bin ‘Aun, keduanya dari Nafi’. Juga diriwayatkan oleh Muslim melalui dua jalur tersebut. Demikian pula diriwayatkan oleh Shalih, Tsabit bin Kaisan, Ayyub bin Yahya, Abdullah dan Ubaidullah—keduanya putra Umar—serta Muhammad bin Ishaq, semuanya dari Nafi’, dari Ibnu Umar.Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ishaq mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Karena keagungan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat, hingga keringat benar-benar mengekang manusia sampai setengah telinga mereka.”Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan: Ibrahim bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ia berkata: Sulaim bin ‘Amir menceritakan kepadaku, Al-Miqdad—yakni Ibnu Al-Aswad Al-Kindi—berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apabila hari Kiamat terjadi, matahari didekatkan kepada para hamba hingga jaraknya sekitar satu mil atau dua mil.”Beliau bersabda, “Maka matahari itu membakar mereka, sehingga mereka tenggelam dalam keringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pinggangnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringatnya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Al-Hakam bin Musa dari Yahya bin Hamzah, dan oleh At-Tirmidzi melalui Suwaid dari Ibnu Al-Mubarak, keduanya dari Ibnu Jabir.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan bin Sawwar, dari Al-Laits bin Sa’d, dari Mu’awiyah bin Shalih, bahwa Abu Abdurrahman menceritakan kepadanya dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan pada hari Kiamat sejauh satu mil, dan panasnya ditambah sekian dan sekian. Binatang-binatang kecil pun mendidih karenanya sebagaimana air dalam kuali mendidih. Manusia berkeringat sesuai dengan kadar dosa mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai betis, ada yang sampai pertengahan tubuhnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringat.”Hadis ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu ‘Asyanah Hayy bin Yu’min, bahwa ia mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan ke bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai pertengahan betis, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pantat, ada yang sampai pinggang, ada yang sampai kedua bahu, ada yang sampai pertengahan mulutnya.”Beliau memberi isyarat dengan tangannya seakan-akan menutup mulutnya. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat seperti itu. “Dan ada pula yang keringatnya menutupi seluruh tubuhnya.” Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Hadis ini juga diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Disebutkan pula dalam sebuah hadis bahwa mereka berdiri selama tujuh puluh tahun tanpa berbicara. Ada yang mengatakan mereka berdiri selama tiga ratus tahun. Ada pula yang mengatakan empat puluh ribu tahun. Dan diputuskan perkara di antara mereka dalam kadar sepuluh ribu tahun, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’:“Pada suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu ‘Aun Az-Ziyadi mengabarkan kepada kami, Abdur Salam bin ‘Ajlan berkata: Aku mendengar Abu Yazid Al-Madani dari Abu Hurairah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Basyir Al-Ghifari,“Bagaimana keadaanmu pada hari ketika manusia berdiri selama tiga ratus tahun untuk Rabb seluruh alam—menurut hitungan hari dunia—tanpa datang kepada mereka kabar dari langit dan tanpa diperintahkan suatu perintah?”Basyir berkata, “Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.”Beliau bersabda,فَإِذَا أَوَيْتَ إِلَىٰ فِرَاشِكَ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ كَرْبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسُوءِ الْحِسَابِ.“Jika engkau berbaring di tempat tidurmu, maka berlindunglah kepada Allah dari kesusahan hari Kiamat dan dari buruknya hisab.”Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Abdur Salam.Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berlindung kepada Allah dari sempitnya tempat berdiri pada hari Kiamat.Dari Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa mereka berdiri selama empat puluh tahun dengan kepala terangkat ke langit, tidak seorang pun berbicara kepada mereka, dan keringat telah mengekang orang baik maupun orang jahat.Dari Ibnu Umar disebutkan bahwa mereka berdiri selama seratus tahun. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Dalam Sunan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, melalui hadis Zaid bin Al-Hubab dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Azhar bin Sa’id Al-Hawari, dari ‘Ashim bin Humaid, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka qiyamullail dengan bertakbir sepuluh kali, memuji sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali. Beliau juga berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.ALLĀHUMMAGHFIR LĪ, WAHDINĪ, WARZUQNĪ, WA ‘ĀFINĪ, WA A‘ŪDZU BIKA MIN ḌHĪQIL-MAQĀMI YAUMAL-QIYĀMAH.“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rezeki, dan sehatkanlah aku.” Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari KiamatAisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan tentang qiyamullail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa pembuka shalat beliau (doa iftitah) dengan doa dan zikir tersebut. Ia berkata:“Beliau bertakbir sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali.”Kemudian ia menyebutkan doa tersebut.Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا، وَضِيقِ الْقِيَامَةِALLĀHUMMA INNII A‘ŪDZU BIKA MIN DHIIQID-DUNYĀ, WA DHIIQIL-QIYĀMAH.“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan pada hari Kiamat.”(Diriwayatkan oleh Abu Dauud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab “Doa yang Dibaca Ketika Pagi Hari”, no. 5087; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Kitab Shalat ‘Idain, Bab Khutbah Hari Raya, no. 10623; juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah karya Ibnu As-Sunni, no. 759. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1356). Ayat Ketujuh – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin: 7)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ“Tahukah kamu apakah sijjin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 8)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Ialah) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ“(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muthaffifin: 11)وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.” (QS. Al-Muthaffifin: 12)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Maksudnya, kitab yang di dalamnya tertulis seluruh amal buruk mereka. Sijjīn adalah tempat yang sempit lagi menghimpit. Sijjīn merupakan kebalikan dari ‘Illiyyīn, yaitu tempat catatan amal orang-orang yang berbakti, sebagaimana akan dijelaskan nanti.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn adalah lapisan bumi yang paling bawah, tempat tinggal orang-orang durhaka dan tempat menetap mereka kelak di akhirat.(Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para pendusta itu adalah orang-orang yang mendustakan hari pembalasan, yaitu hari ketika Allah membalas manusia atas seluruh amal perbuatan mereka.“Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi banyak berbuat dosa.”Yakni orang yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, berpindah dari yang halal kepada yang haram. Ia adalah orang yang banyak berbuat dosa. Sikap melampaui batas itulah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat kedua belas:Maksudnya, ia adalah orang yang melampaui batas dalam perbuatannya: berani melakukan yang haram dan berlebihan dalam menikmati hal-hal yang sebenarnya mubah.Ia juga seorang yang banyak berdosa dalam ucapannya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari. Dan jika berselisih atau bertengkar, ia berlaku curang dan melampaui batas. Al-Fujjar dan SijjinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai Fujjar (Fajir) dan Sijjin sebagai berikut.Allah Ta’ala menegaskan dengan sebenar-benarnya bahwa catatan amal orang-orang durhaka berada di dalam Sijjīn, yaitu tempat yang menjadi tujuan dan tempat kembali mereka. Kata Sijjīn berasal dari kata sijn yang berarti penjara atau tempat yang sempit. Bentuk katanya menunjukkan makna yang sangat kuat, sebagaimana ungkapan dalam bahasa Arab seperti fasiq, syarīb, khamīr, atau sakīr yang menunjukkan sifat yang sangat melekat.Allah kemudian membesarkan perkara ini dengan firman-Nya: “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?” Maksudnya, Sijjīn adalah perkara yang sangat besar, sebuah penjara yang terus-menerus dan azab yang sangat pedih.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Hal ini disebutkan dalam hadis panjang dari Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan ruh orang kafir. Dalam hadis itu Allah berfirman tentang ruh orang kafir:“Catatlah kitabnya di dalam Sijjīn.”Disebutkan pula bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Ada pula yang mengatakan bahwa Sijjīn adalah sebuah batu besar di bawah bumi ketujuh, ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah sebuah sumur di dalam neraka Jahannam.Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadis tentang hal ini, namun hadis tersebut dinilai gharib dan munkar serta tidak sahih. Dalam riwayat itu disebutkan:“Al-Falaq adalah sebuah sumur di neraka Jahannam yang tertutup, sedangkan Sijjīn adalah sumur yang terbuka.”Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Sijjīn berasal dari kata penjara yang berarti sempit. Hal ini karena semua makhluk yang berada di tempat yang lebih rendah akan semakin sempit ruangnya, sedangkan yang berada di tempat yang lebih tinggi akan semakin luas.Langit yang tujuh masing-masing lebih luas dan lebih tinggi daripada yang di bawahnya. Demikian pula bumi yang berlapis-lapis, setiap lapisan lebih luas daripada yang berada di bawahnya, hingga akhirnya mencapai tempat yang paling rendah dan paling sempit, yaitu pusat bumi di lapisan bumi yang ketujuh.Karena tempat kembali orang-orang durhaka adalah neraka Jahannam yang berada pada tingkatan paling rendah, sebagaimana firman Allah:ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ • إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. At-Tin: 5–6)Maka Allah berfirman di sini:كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ • وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌSijjīn mengandung makna kesempitan dan kerendahan, sebagaimana firman Allah:وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan tangan terbelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqan: 13)“(Yaitu) kitab yang tertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)Firman Allah “kitab yang tertulis” bukanlah penjelasan dari ayat “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?”, melainkan penjelasan tentang catatan amal mereka yang telah ditetapkan menuju Sijjīn.Artinya, catatan itu telah tertulis dan ditetapkan dengan pasti, tidak akan bertambah dan tidak pula berkurang. Demikian penjelasan dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi.“Maka kecelakaan besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)Artinya, kebinasaan dan kehancuran pada hari kiamat bagi orang-orang yang mendustakan, ketika mereka benar-benar sampai kepada ancaman Allah berupa penjara dan azab yang menghinakan.Makna kata “wail” sebelumnya telah dijelaskan sebagai kebinasaan dan kehancuran, sebagaimana dalam ungkapan bahasa Arab: “Celaka bagi si fulan.”Demikian pula disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan, dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ النَّاسَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta agar membuat manusia tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” Ayat Ketiga Belas – Kelima BelasAllah Ta’ala berfirman,إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” (QS. Al-Muthaffifin: 13)كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Karena itulah, ketika “yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami”, — yakni ayat-ayat Kami yang menunjukkan kebenaran dan membuktikan kejujuran ajaran yang dibawa para rasul — dibacakan kepadanya, ia justru mendustakannya dan bersikap keras kepala.Ia berkata, itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu yakni ini hanyalah dongeng dan omong kosong orang-orang terdahulu, sekadar cerita umat-umat masa lampau. Ia menganggapnya bukan berasal dari Allah, semua itu diucapkannya karena kesombongan dan sikap membangkang terhadap kebenaran.Adapun orang yang bersikap adil dan jujur dalam menilai, serta tujuannya benar-benar mencari kebenaran yang nyata, maka ia tidak akan mendustakan Hari Pembalasan. Sebab Allah telah menegakkan baginya dalil-dalil yang tegas dan bukti-bukti yang terang, yang menjadikan kebenaran itu sebagai sesuatu yang pasti tanpa keraguan.Kebenaran itu bagi hati mereka laksana matahari bagi penglihatan: begitu jelas dan tak terbantahkan.Berbeda dengan orang yang hatinya telah tertutup oleh dosa-dosa yang ia lakukan, dan kemaksiatan telah menyelimutinya, sehingga kebenaran pun tidak lagi tampak jelas baginya.Karena itu, ia terhalang dari kebenaran. Sebagai balasan atas keadaan tersebut, ia pun dihalangi dari (melihat) Allah. Hal itu sebagaimana dahulu hatinya di dunia telah terhalang dari ayat-ayat Allah. Raan yang Menutupi HatiImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, apabila orang tersebut mendengar firman Allah yang disampaikan oleh Rasul, ia justru mendustakannya. Ia berprasangka buruk terhadap Al-Qur’an dan meyakini bahwa kitab itu hanyalah karangan yang dibuat-buat, yang dikumpulkan dari kisah-kisah dan catatan orang-orang zaman dahulu.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Dongeng orang-orang terdahulu.’” (QS. An-Nahl: 24)Dan firman-Nya:﴿وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾“Dan mereka berkata, ‘(Al-Qur’an itu hanyalah) dongeng orang-orang terdahulu yang dimintanya untuk dituliskan, lalu dibacakan kepadanya setiap pagi dan petang.’” (QS. Al-Furqan: 5)Demikianlah sikap orang-orang kafir: ketika kebenaran dibacakan kepada mereka, mereka menolaknya dan menuduhnya sebagai cerita rekaan dari masa lampau.Firman Allah Ta’ala:﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”Maksudnya, tidaklah benar seperti yang mereka sangkakan dan ucapkan, bahwa Al-Qur’an itu hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Bahkan Al-Qur’an adalah firman Allah, wahyu-Nya, dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya ﷺ.Akan tetapi, yang menghalangi hati mereka untuk beriman kepadanya adalah ran (karat/penutup) yang menyelimuti hati mereka akibat banyaknya dosa dan kesalahan yang mereka lakukan. Karena itulah Allah berfirman: Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.Adapun ran itu menimpa hati orang-orang kafir. Sedangkan bagi orang-orang saleh (al-abrar) ada ghaim (awan tipis), dan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabin) ada ghain (selubung yang lebih ringan lagi).Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Al-Qa‘qa‘ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ مِنْهَا صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat darinya, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu pun bertambah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’”Imam Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَهُوَ الرَّانُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, akan ditorehkan satu titik pada hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia kembali (berbuat dosa), maka titik itu akan ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang disebutkan Allah dalam firman-Nya.”Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan lafaz:«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, berhenti, dan memohon ampun, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Hasan al-Basri berkata, “Ia adalah dosa di atas dosa, hingga hati menjadi buta lalu mati.”Demikian pula dikatakan oleh Mujahid bin Jabr, Qatadah ibn Di’ama, Ibnu Zaid, dan selain mereka. Ayat Keenam Belas – Ketujuh BelasAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا۟ ٱلْجَحِيمِ“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (QS. Al-Muthaffifin: 16)ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ“Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”.” (QS. Al-Muthaffifin: 17) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Kemudian Allah berfirman,“Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.”Lalu dikatakan kepada mereka sebagai bentuk celaan dan teguran keras,“Inilah (azab) yang dahulu kalian dustakan.”Dalam ayat ini disebutkan tiga macam azab bagi mereka:Azab neraka Jahim.Azab berupa celaan dan teguran keras.Azab berupa terhalangnya mereka dari (melihat) Rabb semesta alam.Azab berupa terhalang dari Allah ini mengandung makna kemurkaan dan kemarahan-Nya kepada mereka. Azab ini bahkan lebih berat bagi mereka daripada azab api neraka.Sebaliknya, mafhum dari ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dan di surga. Mereka akan merasakan kenikmatan memandang-Nya yang jauh lebih agung daripada seluruh kenikmatan lainnya. Mereka bergembira dengan pembicaraan-Nya dan bersuka cita karena kedekatan dengan-Nya. Hal ini telah disebutkan oleh Allah dalam banyak ayat Al-Qur’an dan diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ.Dalam ayat-ayat ini juga terdapat peringatan keras agar menjauhi dosa. Sebab dosa-dosa itu menimbulkan karat pada hati dan menutupinya sedikit demi sedikit, hingga cahaya hati itu padam dan penglihatannya mati. Akibatnya, hakikat menjadi terbalik: kebatilan terlihat sebagai kebenaran, dan kebenaran tampak sebagai kebatilan. Ini merupakan salah satu bentuk hukuman akibat dosa.Baca juga: Syarhus Sunnah: Terhalang dari Melihat Wajah Allah Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling TinggiAllah Ta’ala juga berfirman:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.” (QS. Yunus: 26)Yang dimaksud al-ḥusnā adalah surga, sedangkan tambahan adalah melihat wajah Allah Yang Mahamulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:“Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah Tabāraka wa Ta‘ālā berfirman:‘Apakah kalian menginginkan sesuatu lagi agar Aku tambahkan kepada kalian?’Mereka menjawab:‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’Kemudian Allah membuka hijab-Nya. Maka tidak ada sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang Rabb mereka ‘Azza wa Jalla.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.”Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Jarīr bin ‘Abdillāh Al-Bajalī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Nabi ﷺ. Beliau melihat bulan pada malam keempat belas (bulan purnama), lalu beliau bersabda:‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan jelas sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya.’”Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa beberapa orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:“Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?”Beliau menjawab:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat bulan pada malam purnama?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bertanya lagi:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat matahari yang tidak tertutup awan?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bersabda:“Demikian pula kalian akan melihat-Nya.”Maksudnya, kalian akan melihat-Nya dengan penglihatan yang nyata tanpa kesulitan dan tanpa saling berdesakan.Selain itu masih banyak lagi hadits-hadits sahih tentang hal ini yang diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat. Hadits-hadits tersebut mencapai derajat mutawatir, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.Adapun melihat Allah di dunia, maka secara akal hal itu mungkin saja terjadi, tetapi secara syariat tidak terjadi. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika memperingatkan tentang Dajjal:“Ketahuilah bahwa tidak seorang pun dari kalian akan melihat Rabbnya hingga ia meninggal dunia. Dan di antara kedua mata Dajjal tertulis huruf ك ف ر yang dapat dibaca oleh setiap orang yang membenci amalnya.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits ini hasan sahih)Dalam masalah ini tidak ada perselisihan di kalangan Ahlus Sunnah, kecuali riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Rabbnya pada malam Mi‘raj. Namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Nabi ﷺ melihat cahaya, yaitu hijab-Nya.Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Dzarr radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata:“Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang apakah beliau melihat Rabbnya. Beliau menjawab:‘Aku melihat cahaya.’”Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim, Abu Dzarr berkata:“Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Apakah engkau melihat Rabbmu?’Beliau menjawab:‘Cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya!’”Bahwa cahaya itu merupakan hijab juga dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:“Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Amal malam diangkat kepada-Nya sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya hijab itu dibuka, niscaya sinar wajah-Nya akan membakar segala sesuatu yang dijangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya.”Yang dimaksud subuḥāt wajah-Nya adalah cahaya, keagungan, dan keindahan-Nya.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam syarahnya atas Shahih Muslim:“Ketahuilah bahwa mazhab Ahlus Sunnah secara keseluruhan menyatakan bahwa melihat Allah Ta’ala itu mungkin dan tidak mustahil secara akal. Mereka juga sepakat bahwa hal itu benar-benar terjadi di akhirat, dan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang kafir tidak.Sebaliknya, sebagian kelompok ahli bid‘ah seperti Mu‘tazilah, Khawarij, dan sebagian Murji’ah berpendapat bahwa tidak seorang pun dari makhluk dapat melihat Allah, dan bahwa melihat-Nya mustahil secara akal. Pendapat mereka ini merupakan kesalahan yang nyata dan kebodohan yang buruk.Dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, serta ijmak para sahabat dan generasi setelah mereka dari kalangan salaf umat ini telah sangat jelas menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala di akhirat. Riwayat tentang hal ini datang dari sekitar dua puluh sahabat Nabi ﷺ, dan ayat-ayat Al-Qur’an tentangnya juga sangat terkenal.Adapun berbagai keberatan yang diajukan oleh kelompok ahli bid‘ah, semuanya telah dijawab secara jelas dalam kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah.Adapun melihat Allah Ta’ala di dunia, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hal itu secara akal mungkin, tetapi mayoritas ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa hal tersebut tidak terjadi di dunia.”Selesai perkataan Imam An-Nawawi rahimahullah.Referensi: Fatwa Islamweb Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh DelapanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.” (QS. Al-Muthaffifin: 18)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ“Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 19)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Yaitu) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 20)يَشْهَدُهُ ٱلْمُقَرَّبُونَ“yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muthaffifin: 21)إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga).” (QS. Al-Muthaffifin: 22)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 23)تَعْرِفُ فِى وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ ٱلنَّعِيمِ“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Muthaffifin: 24)يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ“Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya).” (QS. Al-Muthaffifin: 25)خِتَٰمُهُۥ مِسْكٌ ۚ وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَٰفِسُونَ“laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسْنِيمٍ“Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim.” (QS. Al-Muthaffifin: 27)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ“(yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (QS. Al-Muthaffifin: 28) Al-Abrar dan ‘IlliyyinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Yang dimaksud al-abrār adalah orang-orang yang saleh, yang keadaannya berbeda dengan orang-orang yang durhaka (fujjar). Catatan amal mereka berada di ‘Illiyyīn, sebagai kebalikan dari Sijjīn yang menjadi tempat bagi orang-orang durhaka.Al-A‘masy meriwayatkan dari Syamr bin ‘Athiyyah, dari Hilal bin Yasaf, ia berkata:Ibnu ‘Abbas pernah bertanya kepada Ka‘b, sementara aku hadir di situ, tentang Sijjīn. Ka‘b menjawab:“Sijjīn adalah bumi ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang kafir.”Ibnu ‘Abbas juga bertanya kepadanya tentang ‘Illiyyīn. Ia menjawab:“‘Illiyyīn adalah langit ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang beriman.”Demikian pula dikatakan oleh sejumlah ulama lainnya bahwa ‘Illiyyīn berada di langit ketujuh.Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘IlliyyinBeliau berkata:“Maksudnya adalah surga.”Dalam riwayat Al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa maksudnya adalah amal-amal mereka berada di langit di sisi Allah. Demikian pula pendapat yang disampaikan oleh Adh-Dhahhak.Qatadah berkata:“‘Illiyyūn adalah sisi kanan ‘Arsy.”Sementara ulama lain mengatakan bahwa ‘Illiyyūn berada di dekat Sidhratul Muntaha.Pendapat yang paling jelas adalah bahwa kata ‘Illiyyīn berasal dari kata al-‘uluww (ketinggian). Setiap sesuatu yang semakin tinggi dan semakin terangkat, maka semakin besar dan semakin luas kedudukannya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ketika Allah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang durhaka (al-fujjār) berada di tempat yang paling bawah, paling sempit, dan paling rendah, maka Allah juga menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang yang berbakti (al-abrār) berada di tempat yang paling tinggi, paling luas, dan paling lapang.Dan catatan amal mereka yang tertulis itu disaksikan oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Yang dimaksud dengan mereka adalah para malaikat yang mulia, serta ruh para nabi, orang-orang yang sangat jujur dalam iman (ṣiddīqīn), dan para syuhada. Allah menyebut dan memuliakan mereka di hadapan penduduk langit yang tinggi.Adapun ‘Illiyyūn adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi.Setelah Allah menyebutkan catatan amal mereka, Allah kemudian menjelaskan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Kata ini merupakan istilah yang mencakup seluruh kenikmatan hati, ruh, dan tubuh.Mereka berada di atas dipan-dipan yang indah.عَلَى الْأَرَائِكِYaitu di atas tempat duduk atau dipan yang dihiasi dengan hamparan dan perhiasan yang indah.يُنْظَرُونَMereka memandang berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka, dan mereka juga memandang wajah Rabb mereka Yang Mahamulia.Allah berfirman:تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ“Engkau dapat melihat pada wajah mereka cahaya kenikmatan.”Artinya, tampak pada wajah mereka keindahan, kesegaran, dan kemilau kenikmatan. Sebab kenikmatan dan kegembiraan yang terus-menerus akan memancarkan cahaya, keindahan, dan keceriaan pada wajah mereka.Mereka diberi minum dari minuman yang sangat murni.يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍYaitu minuman yang termasuk yang paling baik dan paling lezat di antara berbagai minuman.Minuman itu tertutup rapat.خِتَامُهُ مِسْكٌPenutupnya adalah kasturi. Maksudnya bisa dua kemungkinan:Pertama, minuman itu tertutup rapat sehingga tidak tercampuri sesuatu pun yang dapat mengurangi kenikmatannya atau merusak rasanya. Penutup yang digunakan untuk menutupnya adalah kasturi.Kedua, maksudnya adalah bahwa bagian terakhir dari minuman dalam bejana yang mereka minum memiliki endapan berupa kasturi yang sangat harum. Padahal biasanya dalam kebiasaan di dunia, endapan seperti itu dibuang. Namun di surga justru menjadi sesuatu yang sangat berharga.Tentang kenikmatan yang agung ini Allah berfirman:وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.”Artinya, hendaklah manusia berlomba-lomba untuk meraihnya dengan amal-amal yang dapat mengantarkan kepada kenikmatan tersebut. Inilah sesuatu yang paling pantas diperebutkan oleh jiwa-jiwa yang mulia dan paling layak menjadi tujuan perlombaan orang-orang yang bersungguh-sungguh.Campuran minuman tersebut berasal dari Tasnīm.Tasnīm adalah sebuah mata air di surga.عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ“Mata air yang darinya diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah.”Minuman dari Tasnīm ini diminum secara murni oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Ia merupakan minuman paling tinggi dan paling mulia di surga. Karena itu minuman ini khusus bagi mereka yang memiliki kedudukan tertinggi di antara makhluk.Adapun bagi ashḥābul yamīn (golongan kanan), minuman tersebut diberikan dalam keadaan dicampur dengan rahiq dan minuman-minuman lezat lainnya. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh DuaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجْرَمُوا۟ كَانُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يَضْحَكُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muthaffifin: 29)وَإِذَا مَرُّوا۟ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ“Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muthaffifin: 30)وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمُ ٱنقَلَبُوا۟ فَكِهِينَ“Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” (QS. Al-Muthaffifin: 31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”.” (QS. Al-Muthaffifin: 32)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:Ketika Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang berdosa dan balasan bagi orang-orang beriman, serta menjelaskan perbedaan yang sangat besar di antara keduanya, Allah juga mengabarkan bahwa dahulu di dunia orang-orang berdosa selalu memperolok kaum mukmin. Mereka mengejek, menghina, dan menertawakan orang-orang beriman.Mereka saling memberi isyarat dengan mata ketika melewati kaum mukmin, sebagai bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka. Namun anehnya, meskipun berbuat demikian, mereka hidup dengan perasaan aman dan tenang, seakan-akan tidak ada sedikit pun rasa takut dalam hati mereka.Apabila mereka pulang kepada keluarga mereka—baik pada pagi maupun petang—mereka pulang dalam keadaan senang, gembira, dan merasa bangga dengan perbuatan mereka.Inilah salah satu bentuk kesombongan dan tipu daya yang paling besar. Mereka melakukan keburukan yang sangat parah, tetapi pada saat yang sama merasa aman dan tenteram di dunia. Seolah-olah mereka telah mendapatkan jaminan dan janji dari Allah bahwa mereka termasuk orang-orang yang berbahagia.Bahkan mereka berani memutuskan bahwa diri mereka berada di atas petunjuk, sementara orang-orang beriman dianggap sebagai orang-orang yang sesat. Ini merupakan kedustaan terhadap Allah dan keberanian berbicara tentang-Nya tanpa ilmu. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh EnamAllah Ta’ala berfirman,وَمَآ أُرْسِلُوا۟ عَلَيْهِمْ حَٰفِظِينَ“padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Muthaffifin: 33)فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muthaffifin: 34)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 35)هَلْ ثُوِّبَ ٱلْكُفَّارُ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 36)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang beriman.” Maksudnya, orang-orang kafir itu tidak diutus sebagai pengawas bagi kaum mukmin dan tidak pula ditugaskan untuk menjaga atau mencatat amal mereka. Lalu mengapa mereka begitu sibuk menuduh orang-orang beriman sebagai orang yang sesat? Sikap mereka itu hanyalah bentuk keras kepala, permusuhan, dan permainan yang tidak memiliki dasar ataupun bukti.“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” Karena itu, balasan mereka di akhirat sesuai dengan perbuatan mereka di dunia. Allah berfirman: “Pada hari ini”, yaitu pada hari kiamat, orang-orang beriman akan menertawakan orang-orang kafir ketika melihat mereka tenggelam dalam berbagai azab. Semua kedustaan dan anggapan yang dahulu mereka buat pun lenyap, sementara orang-orang beriman berada dalam ketenangan dan kebahagiaan yang sempurna.“Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Mereka berada di atas dipan-dipan yang dihiasi dengan indah, menikmati berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka. Mereka juga memandang kepada Rabb mereka Yang Maha Mulia.“Bukankah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?”Artinya, apakah mereka telah dibalas sesuai dengan perbuatan mereka? Ya, mereka telah dibalas dengan balasan yang setimpal. Dahulu di dunia mereka menertawakan orang-orang beriman dan menuduh mereka sesat. Maka di akhirat orang-orang beriman menertawakan mereka dan menyaksikan mereka berada dalam azab dan hukuman sebagai akibat dari kesesatan dan penyimpangan mereka.Itulah balasan yang adil dari Allah dan merupakan bagian dari hikmah-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan SijjinAspek‘IlliyyīnSijjīnPenyebutan dalam surahQS. Al-Muthaffifin: 18–21QS. Al-Muthaffifin: 7–9Siapa yang dicatat di sanaKitab al-abrār: catatan amal orang-orang yang berbakti, saleh, dan taatKitab al-fujjār: catatan amal orang-orang durhaka, fajir, dan banyak dosaKelompok yang terkaitAl-abrār, al-muqarrabūn, orang-orang berimanAl-fujjār, al-mukadzdzibūn, orang-orang yang melampaui batas dan berdosaMakna umumTempat yang tinggi, mulia, lapang, dan agungTempat yang rendah, sempit, menghimpit, dan menghinakanAsal makna kataDari kata al-‘uluww: tinggi, luhur, terangkatDari kata as-sijn / sijn: penjara, kurungan, tempat sempitNuansa maknaKemuliaan, ketinggian derajat, keluasan, kehormatanKehinaan, keterbatasan, kesempitan, hukumanPosisi secara maknawiTempat paling tinggi bagi catatan amal orang salehTempat paling rendah bagi catatan amal orang durhakaPenjelasan As-Sa‘diTempat catatan amal orang-orang berbakti di posisi paling tinggi, luas, dan lapangTempat catatan amal orang-orang durhaka di posisi paling bawah, sempit, dan rendahPenjelasan Ibnu KatsirKebalikan dari Sijjīn; menunjukkan ketinggian dan kemuliaanTempat kembali orang durhaka; menunjukkan penjara dan kesempitanLetak menurut sebagian ulamaDisebut berada di langit ketujuh, atau dekat tempat yang sangat tinggiDisebut berada di bawah bumi ketujuh, atau tempat paling rendahRiwayat dari Ka‘b yang dinukilRuh orang-orang beriman berada di ‘IlliyyīnRuh orang-orang kafir berada di SijjīnPendapat lain ulamaAda yang menafsirkan sebagai surga, atau tempat amal di sisi AllahAda yang menafsirkan sebagai sumur di Jahannam, batu besar, atau tempat sempit di bawahHubungannya dengan catatan amalCatatan amal orang saleh tersimpan dan dimuliakanCatatan amal orang durhaka tersimpan dan menjadi bukti keburukan merekaStatus kitabnyaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, terjagaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, dan telah ditetapkanSiapa yang menyaksikanYasyhaduhul muqarrabūn: disaksikan malaikat dan makhluk yang didekatkan kepada AllahTidak disebut disaksikan al-muqarrabūn; konteksnya lebih kepada ancaman dan kebinasaanArah balasanMengarah kepada na‘īm: kenikmatan, wajah berseri, dipan-dipan, minuman surgaMengarah kepada jahīm: neraka, celaan, kehinaan, dan tertutup dari RabbDampak akhir bagi pemilik kitabKemuliaan di akhirat, kedekatan dengan Allah, surga yang tinggiKehinaan di akhirat, azab, keterasingan, dan hukumanKeterkaitan dengan surga/nerakaSangat dekat maknanya dengan tingkatan surga tertinggiSangat dekat maknanya dengan dasar kehinaan dan tempat azabSifat ruangLuas, lapang, tinggi, muliaSempit, rendah, menghimpit, menekanSimbol ruhaniKebersihan amal, kejujuran, ketaatan, kemuliaan jiwaKedurhakaan, kefajiran, kecurangan, pengingkaran hari pembalasanHubungan dengan imanBuah dari iman, amal saleh, dan birr (kebajikan)Buah dari maksiat, kedustaan, melampaui batas, dan dosaHubungan dengan Hari AkhirMenunjukkan keselamatan dan keberuntungan pada hari pembalasanMenunjukkan kecelakaan dan kebinasaan pada hari pembalasanKontras utamanya dalam surahPuncak kemuliaan bagi orang baikPuncak kehinaan bagi orang jahatLawan maknaLawannya adalah SijjīnLawannya adalah ‘IlliyyīnPesan pendidikan imanBeramal saleh akan mengangkat derajat seseorangDosa dan kefajiran akan menjatuhkan seseorang ke derajat paling rendah Walhamdulilah,selesai sudah bahasan tafsir Surah Al-Muthaffifin. Semoga bermanfaat.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagstafsir al muthaffifin tafsir juz amma timbangan

7 Sebab Manusia Menolak Dakwah Para Nabi (Tadabbur Surah Asy-Syu’ara Juz 19)

Surah Asy-Syu’ara dalam Juz 19 menghadirkan kisah para nabi dengan pola yang hampir sama: dakwah tauhid disampaikan, namun ditolak oleh kaumnya dengan alasan yang berulang. Penolakan itu ternyata bukan karena kurangnya bukti atau mukjizat, tetapi karena penyakit hati yang menghalangi manusia menerima kebenaran. Dengan mempelajari alasan-alasan penolakan tersebut, kita bisa bercermin agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di zaman modern ini. Berikut adalah 7 sebab utama penolakan dakwah para Nabi yang diabadikan dalam Juz 19, surah Asy-Syu’ara’: 1. Kisah Nabi Musa: Penolakan karena Senioritas (Ayat 18)Seringkali kebenaran ditolak hanya karena pembawanya dianggap “orang baru” atau dianggap memiliki utang budi di masa lalu. Firaun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa dengan mengungkit jasa pengasuhannya agar Musa merasa rendah diri.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 18) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Ketika Nabi Musa dan saudaranya datang kepada Fir‘aun lalu menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berdua, Fir‘aun tidak beriman dan tidak pula menjadi lunak hatinya. Bahkan ia justru menentang Musa.Ia berkata, “Bukankah kami telah memeliharamu di tengah-tengah kami sejak engkau masih bayi?” Maksudnya, bukankah kami telah memberikan berbagai kenikmatan kepadamu dan mengasuhmu sejak engkau masih bayi di dalam buaian, dan engkau terus berada dalam pemeliharaan kami.“Dan engkau tinggal bersama kami selama beberapa tahun dari umurmu.” Artinya, engkau hidup di tengah-tengah kami dalam waktu yang cukup lama dari masa hidupmu.Ibrah: Seringkali seseorang menolak kebenaran atau nasihat hanya karena merasa “lebih senior”, lebih tinggi jabatan, atau merasa telah berjasa kepada si pemberi nasihat. Mentalitas “Saya makan asam garam lebih dulu” atau “Kamu itu dulu saya yang bantu” sering menjadi penghalang masuknya hidayah dan kebenaran ke dalam hati. 2. Kisah Nabi Ibrahim: Belenggu Tradisi Nenek Moyang (Ayat 74)Penghalang hidayah yang paling klasik adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang. Ketika akal sehat telah lumpuh oleh kebiasaan lama, dalil sekuat apa pun akan mental karena dianggap menyalahi “warisan leluhur”.Allah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka pun berlindung dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang sesat. Mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal seperti ini.” Maka kami pun mengikuti mereka dalam hal tersebut, menempuh jalan mereka, serta menjaga dan melestarikan kebiasaan mereka.Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada mereka bahwa kalian dan nenek moyang kalian semuanya sama-sama menjadi pihak yang dipersalahkan dalam perkara ini. Pembicaraan dan bantahan yang beliau sampaikan berlaku untuk semuanya sekaligus.Ibrah: Masih banyak umat yang beragama hanya berdasarkan warisan luhur tanpa mau memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalimat “Ini sudah tradisi kami” atau “Guru kami tidak pernah bilang begitu” seringkali menutup pintu diskusi ilmiah. Padahal, beragama yang selamat adalah yang berlandaskan argumen yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan mayoritas. 3. Kisah Nabi Nuh: Memandang Rendah Status Sosial (Ayat 111)Kesombongan sosial membuat banyak orang enggan menerima kebenaran jika pengikut dakwah tersebut adalah orang-orang miskin atau rakyat jelata. Mereka merasa harga dirinya jatuh jika harus duduk sejajar dengan orang yang dianggap “hina”.Allah Ta’ala berfirman,۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?“.” (QS. Asy-Syu’ara’: 111)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka mengatakan hal itu sebagai penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh dan sebagai bentuk bantahan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, sementara yang mengikuti engkau hanyalah orang-orang yang rendah?” Maksudnya, bagaimana mungkin kami mengikuti engkau, sedangkan para pengikutmu hanyalah orang-orang dari kalangan bawah, yang mereka anggap sebagai orang-orang hina dan tidak terpandang.Dari ucapan ini tampak jelas kesombongan mereka terhadap kebenaran serta kebodohan mereka terhadap hakikat yang sebenarnya. Seandainya tujuan mereka benar-benar mencari kebenaran, tentu mereka akan berkata—jika memang memiliki keraguan terhadap dakwah Nabi Nuh—“Jelaskanlah kepada kami bukti kebenaran yang engkau bawa dengan cara-cara yang dapat menunjukkan kebenaran itu.”Jika mereka benar-benar mau merenung dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan mengetahui bahwa para pengikut Nabi Nuh justru merupakan orang-orang yang mulia: manusia terbaik, yang memiliki akal yang lurus dan akhlak yang mulia. Sedangkan orang yang sebenarnya hina adalah orang yang kehilangan fungsi akalnya, lalu menganggap baik menyembah batu-batu, rela bersujud kepadanya, berdoa kepadanya, namun menolak untuk tunduk kepada dakwah para rasul yang sempurna.Sebenarnya, hanya dengan memperhatikan ucapan batil dari salah satu pihak yang berselisih, seseorang sudah dapat mengetahui rusaknya argumen yang mereka miliki, tanpa harus terlebih dahulu menilai kebenaran pihak lawannya. Maka ketika kita mendengar bahwa kaum Nabi Nuh berkata dalam menolak dakwah beliau, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu hanyalah orang-orang yang rendah?”, dan mereka menjadikan alasan yang jelas-jelas rusak ini sebagai dasar penolakan mereka terhadap dakwah beliau, kita pun mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan keliru.Hal itu tetap jelas, sekalipun kita belum melihat berbagai mukjizat Nabi Nuh dan dakwah besar beliau yang menunjukkan dengan pasti kebenaran dan kejujuran beliau dalam menyampaikan risalah.Ibrah: Fenomena mengukur kebenaran dari “siapa pengikutnya” masih kental. Ada kecenderungan orang enggan mengaji atau bergabung dalam majelis ilmu tertentu hanya karena jamaahnya dianggap orang-orang kelas bawah, tidak modis, atau kurang bergengsi secara sosial. Kebenaran dinilai dari strata ekonomi, bukan dari substansi pesan yang disampaikan. 4. Kisah Nabi Hud: Tertipu oleh Kemewahan Fasilitas (Ayat 129)Kaum ‘Ad merasa bahwa kekuatan ekonomi dan kemegahan infrastruktur adalah bukti kesuksesan mutlak. Mereka merasa tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa “menciptakan surga” sendiri di dunia dengan bangunan-bangunan mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Artinya, kalian membuat berbagai bangunan besar, seperti kolam-kolam penampungan air dan tempat-tempat penyimpanan untuk kebutuhan hidup.“agar kalian dapat hidup kekal“, maksudnya, seakan-akan dengan semua itu kalian berharap dapat hidup kekal di dunia ini, padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jalan untuk hidup kekal selamanya.Ibrah: Di era kapitalisme ini, banyak yang merasa bahwa kesuksesan finansial dan pembangunan fisik (rumah mewah, kendaraan, teknologi) adalah tanda bahwa gaya hidup mereka sudah benar. Mereka merasa “aman” dan tidak butuh peringatan agama karena merasa dunia sudah berada di genggaman mereka, persis seperti kaum ‘Ad yang merasa kekal dengan bangunan-bangunannya. 5. Kisah Nabi Shalih: Fanatik kepada Pemimpin yang Salah (Ayat 151-152)Banyak kaum yang binasa bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, tapi karena mereka lebih memilih loyal kepada pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengajak pada kerusakan (maksiat) daripada mengikuti ajakan perbaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 151-152)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.”Maksudnya, janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang telah melewati batas yang benar.“(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sifat dan kebiasaannya membuat kerusakan di bumi dengan melakukan berbagai kemaksiatan serta mengajak orang lain kepada kemaksiatan tersebut. Kerusakan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung unsur perbaikan.Inilah bentuk kerusakan yang paling berbahaya, karena merupakan keburukan yang murni. Seolah-olah ada sekelompok orang yang siap menentang nabi mereka dan ditempatkan untuk mengajak manusia kepada jalan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi Shalih melarang kaumnya agar tidak tertipu oleh mereka.Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)Namun, nasihat dan larangan ini ternyata tidak memberikan pengaruh apa pun kepada mereka.Ibrah: Kita sering melihat masyarakat yang lebih patuh kepada tokoh publik atau influencer yang gaya hidupnya merusak moral (maksiat) daripada kepada nasihat ulama. Narasi yang dibawa para perusak ini sering dianggap lebih “keren” atau “modern”, sehingga banyak orang terjerumus dalam kerusakan kolektif karena mengikuti figur yang salah. 6. Kisah Nabi Luth: Pembelaan atas Nama Kebebasan Syahwat (Ayat 165-166)Ketika nafsu sudah menjadi tuhan, maka ajakan untuk kembali kepada fitrah akan dianggap sebagai ancaman. Kaum Nabi Luth menolak kebenaran karena mereka tidak ingin kesenangan menyimpangnya diganggu oleh aturan agama.Allah Ta’ala berfirman,أَتَأْتُونَ ٱلذُّكْرَانَ مِنَ ٱلْعَٰلَمِينَوَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Nabi Luth berkata kepada kaumnya, sementara mereka menjawab dengan perkataan yang sama seperti orang-orang sebelum mereka. Hati mereka serupa dalam kekafiran, sehingga ucapan mereka pun serupa.Selain melakukan kesyirikan, mereka juga melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di antara manusia. Mereka memilih berhubungan dengan sesama laki-laki—perbuatan yang kotor dan sangat tercela—serta berpaling dari pasangan yang Allah ciptakan untuk mereka dari kalangan wanita. Hal itu terjadi karena sikap berlebih-lebihan dan permusuhan mereka.Nabi Luth terus-menerus melarang mereka dari perbuatan tersebut, hingga mereka berkata:قَالُوا۟ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَٰلُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُخْرَجِينَ“Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. Asy-Syu’ara’: 167)Maksudnya, mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri mereka.Ketika Nabi Luth melihat mereka terus-menerus melakukan perbuatan itu, beliau berkata:قَالَ إِنِّى لِعَمَلِكُم مِّنَ ٱلْقَالِينَ“Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 168)Artinya, beliau sangat membenci perbuatan tersebut, melarangnya, dan memperingatkan manusia darinya.Ibrah: Tantangan ini sangat nyata dengan maraknya gerakan yang melegalkan penyimpangan seksual atas nama hak asasi atau kebebasan berekspresi. Dakwah yang mengajak pada fitrah dan kesucian sering dianggap kolot, “homofobik”, atau melanggar privasi, karena nafsu telah dijadikan standar kebenaran utama di atas syariat. 7. Kisah Nabi Syu’aib: Kerakusan dalam Bisnis dan Ekonomi (Ayat 181)Penyakit ekonomi berupa kecurangan dalam timbangan dan takaran menjadi sebab utama penolakan dakwah Nabi Syu’aib. Bagi mereka, kejujuran dalam berbisnis dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan maksimal.Allah Ta’ala berfirman,۞ أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 181)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Kaum tersebut—di samping melakukan kesyirikan—juga mengurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu Nabi Syu‘aib berkata kepada mereka: sempurnakanlah takaran itu, penuhilah dan lengkapilah sebagaimana mestinya.Janganlah kalian menjadi orang-orang yang merugikan orang lain, yaitu mereka yang mengurangi harta manusia dan merampasnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan.Ibrah: Dalam dunia bisnis modern, praktik curang seperti manipulasi timbangan digital, penipuan deskripsi produk di toko online, hingga skema investasi bodong masih merajalela. Ajakan untuk berbisnis secara syar’i sering ditolak dengan alasan “Kalau jujur, nanti tidak untung” atau “Semua orang juga melakukan cara yang sama”. Mengapa Hidayah Terhalang?Inti dari pembahasan ini adalah bahwa penolakan dakwah bukan karena kurangnya bukti (karena mukjizat selalu ada), melainkan karena penyakit-penyakit hati berikut ini:Kesombongan: Merasa lebih tinggi status sosial, jabatan, atau lebih senior sehingga enggan merunduk di hadapan kebenaran.Taklid Buta: Fanatik buta terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi nenek moyang tanpa mau menimbang dalil Al-Qur’an dan Sunnah.Cinta Dunia & Syahwat: Takut kehilangan kenyamanan dalam bermaksiat, kekuasaan, atau harta benda yang selama ini digenggam.Di akhir setiap kisah para Nabi dalam surat ini, Allah menyisipkan sebuah “kalimat kunci” yang sama sebagai peringatan bahwa bukti kekuasaan Allah sudah sangat nyata, namun hati yang tertutup tetap tidak akan melihatnya.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”Ayat ini diulang-ulang oleh Allah setelah menceritakan kisah:Nabi Musa (QS. Asy-Syu’ara: 67)Nabi Ibrahim (QS. Asy-Syu’ara: 103)Nabi Nuh (QS. Asy-Syu’ara: 121)Nabi Hud (QS. Asy-Syu’ara: 139)Nabi Shalih (QS. Asy-Syu’ara: 158)Nabi Luth (QS. Asy-Syu’ara: 174)Nabi Syu’aib (QS. Asy-Syu’ara: 190)Ini menunjukkan bahwa sejarah akan selalu berulang. Tugas kita sebagai hamba adalah terus menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, sembari memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari sifat-sifat kaum yang binasa tersebut. Nasihat PenutupPelajaran dari Surah Asy-Syu’ara menunjukkan bahwa penghalang terbesar hidayah bukanlah kurangnya dalil, tetapi hati yang tertutup oleh kesombongan, fanatisme, dan kecintaan berlebihan pada dunia. Sejarah umat terdahulu memperlihatkan bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena tidak memahami, tetapi karena enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah melekat dalam hidup mereka.Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda: ada yang menolak nasihat agama karena gengsi sosial, karena mengikuti tokoh populer, karena fanatik pada tradisi, atau karena takut kehilangan keuntungan dunia. Karena itu, setiap muslim perlu terus memeriksa hatinya agar tidak terjangkit penyakit yang sama seperti kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau dari arah yang tidak kita duga. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah para nabi ibrah al quran juz 19 kisah nabi dalam quran pelajaran al-quran penyakit hati renungan ayat renungan quran sebab menolak kebenaran surah asy syuara tadabbur quran tafsir quran

7 Sebab Manusia Menolak Dakwah Para Nabi (Tadabbur Surah Asy-Syu’ara Juz 19)

Surah Asy-Syu’ara dalam Juz 19 menghadirkan kisah para nabi dengan pola yang hampir sama: dakwah tauhid disampaikan, namun ditolak oleh kaumnya dengan alasan yang berulang. Penolakan itu ternyata bukan karena kurangnya bukti atau mukjizat, tetapi karena penyakit hati yang menghalangi manusia menerima kebenaran. Dengan mempelajari alasan-alasan penolakan tersebut, kita bisa bercermin agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di zaman modern ini. Berikut adalah 7 sebab utama penolakan dakwah para Nabi yang diabadikan dalam Juz 19, surah Asy-Syu’ara’: 1. Kisah Nabi Musa: Penolakan karena Senioritas (Ayat 18)Seringkali kebenaran ditolak hanya karena pembawanya dianggap “orang baru” atau dianggap memiliki utang budi di masa lalu. Firaun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa dengan mengungkit jasa pengasuhannya agar Musa merasa rendah diri.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 18) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Ketika Nabi Musa dan saudaranya datang kepada Fir‘aun lalu menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berdua, Fir‘aun tidak beriman dan tidak pula menjadi lunak hatinya. Bahkan ia justru menentang Musa.Ia berkata, “Bukankah kami telah memeliharamu di tengah-tengah kami sejak engkau masih bayi?” Maksudnya, bukankah kami telah memberikan berbagai kenikmatan kepadamu dan mengasuhmu sejak engkau masih bayi di dalam buaian, dan engkau terus berada dalam pemeliharaan kami.“Dan engkau tinggal bersama kami selama beberapa tahun dari umurmu.” Artinya, engkau hidup di tengah-tengah kami dalam waktu yang cukup lama dari masa hidupmu.Ibrah: Seringkali seseorang menolak kebenaran atau nasihat hanya karena merasa “lebih senior”, lebih tinggi jabatan, atau merasa telah berjasa kepada si pemberi nasihat. Mentalitas “Saya makan asam garam lebih dulu” atau “Kamu itu dulu saya yang bantu” sering menjadi penghalang masuknya hidayah dan kebenaran ke dalam hati. 2. Kisah Nabi Ibrahim: Belenggu Tradisi Nenek Moyang (Ayat 74)Penghalang hidayah yang paling klasik adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang. Ketika akal sehat telah lumpuh oleh kebiasaan lama, dalil sekuat apa pun akan mental karena dianggap menyalahi “warisan leluhur”.Allah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka pun berlindung dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang sesat. Mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal seperti ini.” Maka kami pun mengikuti mereka dalam hal tersebut, menempuh jalan mereka, serta menjaga dan melestarikan kebiasaan mereka.Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada mereka bahwa kalian dan nenek moyang kalian semuanya sama-sama menjadi pihak yang dipersalahkan dalam perkara ini. Pembicaraan dan bantahan yang beliau sampaikan berlaku untuk semuanya sekaligus.Ibrah: Masih banyak umat yang beragama hanya berdasarkan warisan luhur tanpa mau memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalimat “Ini sudah tradisi kami” atau “Guru kami tidak pernah bilang begitu” seringkali menutup pintu diskusi ilmiah. Padahal, beragama yang selamat adalah yang berlandaskan argumen yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan mayoritas. 3. Kisah Nabi Nuh: Memandang Rendah Status Sosial (Ayat 111)Kesombongan sosial membuat banyak orang enggan menerima kebenaran jika pengikut dakwah tersebut adalah orang-orang miskin atau rakyat jelata. Mereka merasa harga dirinya jatuh jika harus duduk sejajar dengan orang yang dianggap “hina”.Allah Ta’ala berfirman,۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?“.” (QS. Asy-Syu’ara’: 111)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka mengatakan hal itu sebagai penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh dan sebagai bentuk bantahan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, sementara yang mengikuti engkau hanyalah orang-orang yang rendah?” Maksudnya, bagaimana mungkin kami mengikuti engkau, sedangkan para pengikutmu hanyalah orang-orang dari kalangan bawah, yang mereka anggap sebagai orang-orang hina dan tidak terpandang.Dari ucapan ini tampak jelas kesombongan mereka terhadap kebenaran serta kebodohan mereka terhadap hakikat yang sebenarnya. Seandainya tujuan mereka benar-benar mencari kebenaran, tentu mereka akan berkata—jika memang memiliki keraguan terhadap dakwah Nabi Nuh—“Jelaskanlah kepada kami bukti kebenaran yang engkau bawa dengan cara-cara yang dapat menunjukkan kebenaran itu.”Jika mereka benar-benar mau merenung dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan mengetahui bahwa para pengikut Nabi Nuh justru merupakan orang-orang yang mulia: manusia terbaik, yang memiliki akal yang lurus dan akhlak yang mulia. Sedangkan orang yang sebenarnya hina adalah orang yang kehilangan fungsi akalnya, lalu menganggap baik menyembah batu-batu, rela bersujud kepadanya, berdoa kepadanya, namun menolak untuk tunduk kepada dakwah para rasul yang sempurna.Sebenarnya, hanya dengan memperhatikan ucapan batil dari salah satu pihak yang berselisih, seseorang sudah dapat mengetahui rusaknya argumen yang mereka miliki, tanpa harus terlebih dahulu menilai kebenaran pihak lawannya. Maka ketika kita mendengar bahwa kaum Nabi Nuh berkata dalam menolak dakwah beliau, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu hanyalah orang-orang yang rendah?”, dan mereka menjadikan alasan yang jelas-jelas rusak ini sebagai dasar penolakan mereka terhadap dakwah beliau, kita pun mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan keliru.Hal itu tetap jelas, sekalipun kita belum melihat berbagai mukjizat Nabi Nuh dan dakwah besar beliau yang menunjukkan dengan pasti kebenaran dan kejujuran beliau dalam menyampaikan risalah.Ibrah: Fenomena mengukur kebenaran dari “siapa pengikutnya” masih kental. Ada kecenderungan orang enggan mengaji atau bergabung dalam majelis ilmu tertentu hanya karena jamaahnya dianggap orang-orang kelas bawah, tidak modis, atau kurang bergengsi secara sosial. Kebenaran dinilai dari strata ekonomi, bukan dari substansi pesan yang disampaikan. 4. Kisah Nabi Hud: Tertipu oleh Kemewahan Fasilitas (Ayat 129)Kaum ‘Ad merasa bahwa kekuatan ekonomi dan kemegahan infrastruktur adalah bukti kesuksesan mutlak. Mereka merasa tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa “menciptakan surga” sendiri di dunia dengan bangunan-bangunan mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Artinya, kalian membuat berbagai bangunan besar, seperti kolam-kolam penampungan air dan tempat-tempat penyimpanan untuk kebutuhan hidup.“agar kalian dapat hidup kekal“, maksudnya, seakan-akan dengan semua itu kalian berharap dapat hidup kekal di dunia ini, padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jalan untuk hidup kekal selamanya.Ibrah: Di era kapitalisme ini, banyak yang merasa bahwa kesuksesan finansial dan pembangunan fisik (rumah mewah, kendaraan, teknologi) adalah tanda bahwa gaya hidup mereka sudah benar. Mereka merasa “aman” dan tidak butuh peringatan agama karena merasa dunia sudah berada di genggaman mereka, persis seperti kaum ‘Ad yang merasa kekal dengan bangunan-bangunannya. 5. Kisah Nabi Shalih: Fanatik kepada Pemimpin yang Salah (Ayat 151-152)Banyak kaum yang binasa bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, tapi karena mereka lebih memilih loyal kepada pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengajak pada kerusakan (maksiat) daripada mengikuti ajakan perbaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 151-152)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.”Maksudnya, janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang telah melewati batas yang benar.“(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sifat dan kebiasaannya membuat kerusakan di bumi dengan melakukan berbagai kemaksiatan serta mengajak orang lain kepada kemaksiatan tersebut. Kerusakan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung unsur perbaikan.Inilah bentuk kerusakan yang paling berbahaya, karena merupakan keburukan yang murni. Seolah-olah ada sekelompok orang yang siap menentang nabi mereka dan ditempatkan untuk mengajak manusia kepada jalan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi Shalih melarang kaumnya agar tidak tertipu oleh mereka.Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)Namun, nasihat dan larangan ini ternyata tidak memberikan pengaruh apa pun kepada mereka.Ibrah: Kita sering melihat masyarakat yang lebih patuh kepada tokoh publik atau influencer yang gaya hidupnya merusak moral (maksiat) daripada kepada nasihat ulama. Narasi yang dibawa para perusak ini sering dianggap lebih “keren” atau “modern”, sehingga banyak orang terjerumus dalam kerusakan kolektif karena mengikuti figur yang salah. 6. Kisah Nabi Luth: Pembelaan atas Nama Kebebasan Syahwat (Ayat 165-166)Ketika nafsu sudah menjadi tuhan, maka ajakan untuk kembali kepada fitrah akan dianggap sebagai ancaman. Kaum Nabi Luth menolak kebenaran karena mereka tidak ingin kesenangan menyimpangnya diganggu oleh aturan agama.Allah Ta’ala berfirman,أَتَأْتُونَ ٱلذُّكْرَانَ مِنَ ٱلْعَٰلَمِينَوَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Nabi Luth berkata kepada kaumnya, sementara mereka menjawab dengan perkataan yang sama seperti orang-orang sebelum mereka. Hati mereka serupa dalam kekafiran, sehingga ucapan mereka pun serupa.Selain melakukan kesyirikan, mereka juga melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di antara manusia. Mereka memilih berhubungan dengan sesama laki-laki—perbuatan yang kotor dan sangat tercela—serta berpaling dari pasangan yang Allah ciptakan untuk mereka dari kalangan wanita. Hal itu terjadi karena sikap berlebih-lebihan dan permusuhan mereka.Nabi Luth terus-menerus melarang mereka dari perbuatan tersebut, hingga mereka berkata:قَالُوا۟ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَٰلُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُخْرَجِينَ“Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. Asy-Syu’ara’: 167)Maksudnya, mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri mereka.Ketika Nabi Luth melihat mereka terus-menerus melakukan perbuatan itu, beliau berkata:قَالَ إِنِّى لِعَمَلِكُم مِّنَ ٱلْقَالِينَ“Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 168)Artinya, beliau sangat membenci perbuatan tersebut, melarangnya, dan memperingatkan manusia darinya.Ibrah: Tantangan ini sangat nyata dengan maraknya gerakan yang melegalkan penyimpangan seksual atas nama hak asasi atau kebebasan berekspresi. Dakwah yang mengajak pada fitrah dan kesucian sering dianggap kolot, “homofobik”, atau melanggar privasi, karena nafsu telah dijadikan standar kebenaran utama di atas syariat. 7. Kisah Nabi Syu’aib: Kerakusan dalam Bisnis dan Ekonomi (Ayat 181)Penyakit ekonomi berupa kecurangan dalam timbangan dan takaran menjadi sebab utama penolakan dakwah Nabi Syu’aib. Bagi mereka, kejujuran dalam berbisnis dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan maksimal.Allah Ta’ala berfirman,۞ أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 181)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Kaum tersebut—di samping melakukan kesyirikan—juga mengurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu Nabi Syu‘aib berkata kepada mereka: sempurnakanlah takaran itu, penuhilah dan lengkapilah sebagaimana mestinya.Janganlah kalian menjadi orang-orang yang merugikan orang lain, yaitu mereka yang mengurangi harta manusia dan merampasnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan.Ibrah: Dalam dunia bisnis modern, praktik curang seperti manipulasi timbangan digital, penipuan deskripsi produk di toko online, hingga skema investasi bodong masih merajalela. Ajakan untuk berbisnis secara syar’i sering ditolak dengan alasan “Kalau jujur, nanti tidak untung” atau “Semua orang juga melakukan cara yang sama”. Mengapa Hidayah Terhalang?Inti dari pembahasan ini adalah bahwa penolakan dakwah bukan karena kurangnya bukti (karena mukjizat selalu ada), melainkan karena penyakit-penyakit hati berikut ini:Kesombongan: Merasa lebih tinggi status sosial, jabatan, atau lebih senior sehingga enggan merunduk di hadapan kebenaran.Taklid Buta: Fanatik buta terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi nenek moyang tanpa mau menimbang dalil Al-Qur’an dan Sunnah.Cinta Dunia & Syahwat: Takut kehilangan kenyamanan dalam bermaksiat, kekuasaan, atau harta benda yang selama ini digenggam.Di akhir setiap kisah para Nabi dalam surat ini, Allah menyisipkan sebuah “kalimat kunci” yang sama sebagai peringatan bahwa bukti kekuasaan Allah sudah sangat nyata, namun hati yang tertutup tetap tidak akan melihatnya.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”Ayat ini diulang-ulang oleh Allah setelah menceritakan kisah:Nabi Musa (QS. Asy-Syu’ara: 67)Nabi Ibrahim (QS. Asy-Syu’ara: 103)Nabi Nuh (QS. Asy-Syu’ara: 121)Nabi Hud (QS. Asy-Syu’ara: 139)Nabi Shalih (QS. Asy-Syu’ara: 158)Nabi Luth (QS. Asy-Syu’ara: 174)Nabi Syu’aib (QS. Asy-Syu’ara: 190)Ini menunjukkan bahwa sejarah akan selalu berulang. Tugas kita sebagai hamba adalah terus menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, sembari memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari sifat-sifat kaum yang binasa tersebut. Nasihat PenutupPelajaran dari Surah Asy-Syu’ara menunjukkan bahwa penghalang terbesar hidayah bukanlah kurangnya dalil, tetapi hati yang tertutup oleh kesombongan, fanatisme, dan kecintaan berlebihan pada dunia. Sejarah umat terdahulu memperlihatkan bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena tidak memahami, tetapi karena enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah melekat dalam hidup mereka.Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda: ada yang menolak nasihat agama karena gengsi sosial, karena mengikuti tokoh populer, karena fanatik pada tradisi, atau karena takut kehilangan keuntungan dunia. Karena itu, setiap muslim perlu terus memeriksa hatinya agar tidak terjangkit penyakit yang sama seperti kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau dari arah yang tidak kita duga. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah para nabi ibrah al quran juz 19 kisah nabi dalam quran pelajaran al-quran penyakit hati renungan ayat renungan quran sebab menolak kebenaran surah asy syuara tadabbur quran tafsir quran
Surah Asy-Syu’ara dalam Juz 19 menghadirkan kisah para nabi dengan pola yang hampir sama: dakwah tauhid disampaikan, namun ditolak oleh kaumnya dengan alasan yang berulang. Penolakan itu ternyata bukan karena kurangnya bukti atau mukjizat, tetapi karena penyakit hati yang menghalangi manusia menerima kebenaran. Dengan mempelajari alasan-alasan penolakan tersebut, kita bisa bercermin agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di zaman modern ini. Berikut adalah 7 sebab utama penolakan dakwah para Nabi yang diabadikan dalam Juz 19, surah Asy-Syu’ara’: 1. Kisah Nabi Musa: Penolakan karena Senioritas (Ayat 18)Seringkali kebenaran ditolak hanya karena pembawanya dianggap “orang baru” atau dianggap memiliki utang budi di masa lalu. Firaun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa dengan mengungkit jasa pengasuhannya agar Musa merasa rendah diri.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 18) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Ketika Nabi Musa dan saudaranya datang kepada Fir‘aun lalu menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berdua, Fir‘aun tidak beriman dan tidak pula menjadi lunak hatinya. Bahkan ia justru menentang Musa.Ia berkata, “Bukankah kami telah memeliharamu di tengah-tengah kami sejak engkau masih bayi?” Maksudnya, bukankah kami telah memberikan berbagai kenikmatan kepadamu dan mengasuhmu sejak engkau masih bayi di dalam buaian, dan engkau terus berada dalam pemeliharaan kami.“Dan engkau tinggal bersama kami selama beberapa tahun dari umurmu.” Artinya, engkau hidup di tengah-tengah kami dalam waktu yang cukup lama dari masa hidupmu.Ibrah: Seringkali seseorang menolak kebenaran atau nasihat hanya karena merasa “lebih senior”, lebih tinggi jabatan, atau merasa telah berjasa kepada si pemberi nasihat. Mentalitas “Saya makan asam garam lebih dulu” atau “Kamu itu dulu saya yang bantu” sering menjadi penghalang masuknya hidayah dan kebenaran ke dalam hati. 2. Kisah Nabi Ibrahim: Belenggu Tradisi Nenek Moyang (Ayat 74)Penghalang hidayah yang paling klasik adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang. Ketika akal sehat telah lumpuh oleh kebiasaan lama, dalil sekuat apa pun akan mental karena dianggap menyalahi “warisan leluhur”.Allah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka pun berlindung dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang sesat. Mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal seperti ini.” Maka kami pun mengikuti mereka dalam hal tersebut, menempuh jalan mereka, serta menjaga dan melestarikan kebiasaan mereka.Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada mereka bahwa kalian dan nenek moyang kalian semuanya sama-sama menjadi pihak yang dipersalahkan dalam perkara ini. Pembicaraan dan bantahan yang beliau sampaikan berlaku untuk semuanya sekaligus.Ibrah: Masih banyak umat yang beragama hanya berdasarkan warisan luhur tanpa mau memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalimat “Ini sudah tradisi kami” atau “Guru kami tidak pernah bilang begitu” seringkali menutup pintu diskusi ilmiah. Padahal, beragama yang selamat adalah yang berlandaskan argumen yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan mayoritas. 3. Kisah Nabi Nuh: Memandang Rendah Status Sosial (Ayat 111)Kesombongan sosial membuat banyak orang enggan menerima kebenaran jika pengikut dakwah tersebut adalah orang-orang miskin atau rakyat jelata. Mereka merasa harga dirinya jatuh jika harus duduk sejajar dengan orang yang dianggap “hina”.Allah Ta’ala berfirman,۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?“.” (QS. Asy-Syu’ara’: 111)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka mengatakan hal itu sebagai penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh dan sebagai bentuk bantahan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, sementara yang mengikuti engkau hanyalah orang-orang yang rendah?” Maksudnya, bagaimana mungkin kami mengikuti engkau, sedangkan para pengikutmu hanyalah orang-orang dari kalangan bawah, yang mereka anggap sebagai orang-orang hina dan tidak terpandang.Dari ucapan ini tampak jelas kesombongan mereka terhadap kebenaran serta kebodohan mereka terhadap hakikat yang sebenarnya. Seandainya tujuan mereka benar-benar mencari kebenaran, tentu mereka akan berkata—jika memang memiliki keraguan terhadap dakwah Nabi Nuh—“Jelaskanlah kepada kami bukti kebenaran yang engkau bawa dengan cara-cara yang dapat menunjukkan kebenaran itu.”Jika mereka benar-benar mau merenung dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan mengetahui bahwa para pengikut Nabi Nuh justru merupakan orang-orang yang mulia: manusia terbaik, yang memiliki akal yang lurus dan akhlak yang mulia. Sedangkan orang yang sebenarnya hina adalah orang yang kehilangan fungsi akalnya, lalu menganggap baik menyembah batu-batu, rela bersujud kepadanya, berdoa kepadanya, namun menolak untuk tunduk kepada dakwah para rasul yang sempurna.Sebenarnya, hanya dengan memperhatikan ucapan batil dari salah satu pihak yang berselisih, seseorang sudah dapat mengetahui rusaknya argumen yang mereka miliki, tanpa harus terlebih dahulu menilai kebenaran pihak lawannya. Maka ketika kita mendengar bahwa kaum Nabi Nuh berkata dalam menolak dakwah beliau, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu hanyalah orang-orang yang rendah?”, dan mereka menjadikan alasan yang jelas-jelas rusak ini sebagai dasar penolakan mereka terhadap dakwah beliau, kita pun mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan keliru.Hal itu tetap jelas, sekalipun kita belum melihat berbagai mukjizat Nabi Nuh dan dakwah besar beliau yang menunjukkan dengan pasti kebenaran dan kejujuran beliau dalam menyampaikan risalah.Ibrah: Fenomena mengukur kebenaran dari “siapa pengikutnya” masih kental. Ada kecenderungan orang enggan mengaji atau bergabung dalam majelis ilmu tertentu hanya karena jamaahnya dianggap orang-orang kelas bawah, tidak modis, atau kurang bergengsi secara sosial. Kebenaran dinilai dari strata ekonomi, bukan dari substansi pesan yang disampaikan. 4. Kisah Nabi Hud: Tertipu oleh Kemewahan Fasilitas (Ayat 129)Kaum ‘Ad merasa bahwa kekuatan ekonomi dan kemegahan infrastruktur adalah bukti kesuksesan mutlak. Mereka merasa tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa “menciptakan surga” sendiri di dunia dengan bangunan-bangunan mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Artinya, kalian membuat berbagai bangunan besar, seperti kolam-kolam penampungan air dan tempat-tempat penyimpanan untuk kebutuhan hidup.“agar kalian dapat hidup kekal“, maksudnya, seakan-akan dengan semua itu kalian berharap dapat hidup kekal di dunia ini, padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jalan untuk hidup kekal selamanya.Ibrah: Di era kapitalisme ini, banyak yang merasa bahwa kesuksesan finansial dan pembangunan fisik (rumah mewah, kendaraan, teknologi) adalah tanda bahwa gaya hidup mereka sudah benar. Mereka merasa “aman” dan tidak butuh peringatan agama karena merasa dunia sudah berada di genggaman mereka, persis seperti kaum ‘Ad yang merasa kekal dengan bangunan-bangunannya. 5. Kisah Nabi Shalih: Fanatik kepada Pemimpin yang Salah (Ayat 151-152)Banyak kaum yang binasa bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, tapi karena mereka lebih memilih loyal kepada pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengajak pada kerusakan (maksiat) daripada mengikuti ajakan perbaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 151-152)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.”Maksudnya, janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang telah melewati batas yang benar.“(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sifat dan kebiasaannya membuat kerusakan di bumi dengan melakukan berbagai kemaksiatan serta mengajak orang lain kepada kemaksiatan tersebut. Kerusakan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung unsur perbaikan.Inilah bentuk kerusakan yang paling berbahaya, karena merupakan keburukan yang murni. Seolah-olah ada sekelompok orang yang siap menentang nabi mereka dan ditempatkan untuk mengajak manusia kepada jalan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi Shalih melarang kaumnya agar tidak tertipu oleh mereka.Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)Namun, nasihat dan larangan ini ternyata tidak memberikan pengaruh apa pun kepada mereka.Ibrah: Kita sering melihat masyarakat yang lebih patuh kepada tokoh publik atau influencer yang gaya hidupnya merusak moral (maksiat) daripada kepada nasihat ulama. Narasi yang dibawa para perusak ini sering dianggap lebih “keren” atau “modern”, sehingga banyak orang terjerumus dalam kerusakan kolektif karena mengikuti figur yang salah. 6. Kisah Nabi Luth: Pembelaan atas Nama Kebebasan Syahwat (Ayat 165-166)Ketika nafsu sudah menjadi tuhan, maka ajakan untuk kembali kepada fitrah akan dianggap sebagai ancaman. Kaum Nabi Luth menolak kebenaran karena mereka tidak ingin kesenangan menyimpangnya diganggu oleh aturan agama.Allah Ta’ala berfirman,أَتَأْتُونَ ٱلذُّكْرَانَ مِنَ ٱلْعَٰلَمِينَوَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Nabi Luth berkata kepada kaumnya, sementara mereka menjawab dengan perkataan yang sama seperti orang-orang sebelum mereka. Hati mereka serupa dalam kekafiran, sehingga ucapan mereka pun serupa.Selain melakukan kesyirikan, mereka juga melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di antara manusia. Mereka memilih berhubungan dengan sesama laki-laki—perbuatan yang kotor dan sangat tercela—serta berpaling dari pasangan yang Allah ciptakan untuk mereka dari kalangan wanita. Hal itu terjadi karena sikap berlebih-lebihan dan permusuhan mereka.Nabi Luth terus-menerus melarang mereka dari perbuatan tersebut, hingga mereka berkata:قَالُوا۟ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَٰلُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُخْرَجِينَ“Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. Asy-Syu’ara’: 167)Maksudnya, mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri mereka.Ketika Nabi Luth melihat mereka terus-menerus melakukan perbuatan itu, beliau berkata:قَالَ إِنِّى لِعَمَلِكُم مِّنَ ٱلْقَالِينَ“Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 168)Artinya, beliau sangat membenci perbuatan tersebut, melarangnya, dan memperingatkan manusia darinya.Ibrah: Tantangan ini sangat nyata dengan maraknya gerakan yang melegalkan penyimpangan seksual atas nama hak asasi atau kebebasan berekspresi. Dakwah yang mengajak pada fitrah dan kesucian sering dianggap kolot, “homofobik”, atau melanggar privasi, karena nafsu telah dijadikan standar kebenaran utama di atas syariat. 7. Kisah Nabi Syu’aib: Kerakusan dalam Bisnis dan Ekonomi (Ayat 181)Penyakit ekonomi berupa kecurangan dalam timbangan dan takaran menjadi sebab utama penolakan dakwah Nabi Syu’aib. Bagi mereka, kejujuran dalam berbisnis dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan maksimal.Allah Ta’ala berfirman,۞ أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 181)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Kaum tersebut—di samping melakukan kesyirikan—juga mengurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu Nabi Syu‘aib berkata kepada mereka: sempurnakanlah takaran itu, penuhilah dan lengkapilah sebagaimana mestinya.Janganlah kalian menjadi orang-orang yang merugikan orang lain, yaitu mereka yang mengurangi harta manusia dan merampasnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan.Ibrah: Dalam dunia bisnis modern, praktik curang seperti manipulasi timbangan digital, penipuan deskripsi produk di toko online, hingga skema investasi bodong masih merajalela. Ajakan untuk berbisnis secara syar’i sering ditolak dengan alasan “Kalau jujur, nanti tidak untung” atau “Semua orang juga melakukan cara yang sama”. Mengapa Hidayah Terhalang?Inti dari pembahasan ini adalah bahwa penolakan dakwah bukan karena kurangnya bukti (karena mukjizat selalu ada), melainkan karena penyakit-penyakit hati berikut ini:Kesombongan: Merasa lebih tinggi status sosial, jabatan, atau lebih senior sehingga enggan merunduk di hadapan kebenaran.Taklid Buta: Fanatik buta terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi nenek moyang tanpa mau menimbang dalil Al-Qur’an dan Sunnah.Cinta Dunia & Syahwat: Takut kehilangan kenyamanan dalam bermaksiat, kekuasaan, atau harta benda yang selama ini digenggam.Di akhir setiap kisah para Nabi dalam surat ini, Allah menyisipkan sebuah “kalimat kunci” yang sama sebagai peringatan bahwa bukti kekuasaan Allah sudah sangat nyata, namun hati yang tertutup tetap tidak akan melihatnya.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”Ayat ini diulang-ulang oleh Allah setelah menceritakan kisah:Nabi Musa (QS. Asy-Syu’ara: 67)Nabi Ibrahim (QS. Asy-Syu’ara: 103)Nabi Nuh (QS. Asy-Syu’ara: 121)Nabi Hud (QS. Asy-Syu’ara: 139)Nabi Shalih (QS. Asy-Syu’ara: 158)Nabi Luth (QS. Asy-Syu’ara: 174)Nabi Syu’aib (QS. Asy-Syu’ara: 190)Ini menunjukkan bahwa sejarah akan selalu berulang. Tugas kita sebagai hamba adalah terus menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, sembari memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari sifat-sifat kaum yang binasa tersebut. Nasihat PenutupPelajaran dari Surah Asy-Syu’ara menunjukkan bahwa penghalang terbesar hidayah bukanlah kurangnya dalil, tetapi hati yang tertutup oleh kesombongan, fanatisme, dan kecintaan berlebihan pada dunia. Sejarah umat terdahulu memperlihatkan bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena tidak memahami, tetapi karena enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah melekat dalam hidup mereka.Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda: ada yang menolak nasihat agama karena gengsi sosial, karena mengikuti tokoh populer, karena fanatik pada tradisi, atau karena takut kehilangan keuntungan dunia. Karena itu, setiap muslim perlu terus memeriksa hatinya agar tidak terjangkit penyakit yang sama seperti kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau dari arah yang tidak kita duga. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah para nabi ibrah al quran juz 19 kisah nabi dalam quran pelajaran al-quran penyakit hati renungan ayat renungan quran sebab menolak kebenaran surah asy syuara tadabbur quran tafsir quran


Surah Asy-Syu’ara dalam Juz 19 menghadirkan kisah para nabi dengan pola yang hampir sama: dakwah tauhid disampaikan, namun ditolak oleh kaumnya dengan alasan yang berulang. Penolakan itu ternyata bukan karena kurangnya bukti atau mukjizat, tetapi karena penyakit hati yang menghalangi manusia menerima kebenaran. Dengan mempelajari alasan-alasan penolakan tersebut, kita bisa bercermin agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di zaman modern ini. Berikut adalah 7 sebab utama penolakan dakwah para Nabi yang diabadikan dalam Juz 19, surah Asy-Syu’ara’: 1. Kisah Nabi Musa: Penolakan karena Senioritas (Ayat 18)Seringkali kebenaran ditolak hanya karena pembawanya dianggap “orang baru” atau dianggap memiliki utang budi di masa lalu. Firaun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa dengan mengungkit jasa pengasuhannya agar Musa merasa rendah diri.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 18) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Ketika Nabi Musa dan saudaranya datang kepada Fir‘aun lalu menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berdua, Fir‘aun tidak beriman dan tidak pula menjadi lunak hatinya. Bahkan ia justru menentang Musa.Ia berkata, “Bukankah kami telah memeliharamu di tengah-tengah kami sejak engkau masih bayi?” Maksudnya, bukankah kami telah memberikan berbagai kenikmatan kepadamu dan mengasuhmu sejak engkau masih bayi di dalam buaian, dan engkau terus berada dalam pemeliharaan kami.“Dan engkau tinggal bersama kami selama beberapa tahun dari umurmu.” Artinya, engkau hidup di tengah-tengah kami dalam waktu yang cukup lama dari masa hidupmu.Ibrah: Seringkali seseorang menolak kebenaran atau nasihat hanya karena merasa “lebih senior”, lebih tinggi jabatan, atau merasa telah berjasa kepada si pemberi nasihat. Mentalitas “Saya makan asam garam lebih dulu” atau “Kamu itu dulu saya yang bantu” sering menjadi penghalang masuknya hidayah dan kebenaran ke dalam hati. 2. Kisah Nabi Ibrahim: Belenggu Tradisi Nenek Moyang (Ayat 74)Penghalang hidayah yang paling klasik adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang. Ketika akal sehat telah lumpuh oleh kebiasaan lama, dalil sekuat apa pun akan mental karena dianggap menyalahi “warisan leluhur”.Allah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka pun berlindung dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang sesat. Mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal seperti ini.” Maka kami pun mengikuti mereka dalam hal tersebut, menempuh jalan mereka, serta menjaga dan melestarikan kebiasaan mereka.Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada mereka bahwa kalian dan nenek moyang kalian semuanya sama-sama menjadi pihak yang dipersalahkan dalam perkara ini. Pembicaraan dan bantahan yang beliau sampaikan berlaku untuk semuanya sekaligus.Ibrah: Masih banyak umat yang beragama hanya berdasarkan warisan luhur tanpa mau memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalimat “Ini sudah tradisi kami” atau “Guru kami tidak pernah bilang begitu” seringkali menutup pintu diskusi ilmiah. Padahal, beragama yang selamat adalah yang berlandaskan argumen yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan mayoritas. 3. Kisah Nabi Nuh: Memandang Rendah Status Sosial (Ayat 111)Kesombongan sosial membuat banyak orang enggan menerima kebenaran jika pengikut dakwah tersebut adalah orang-orang miskin atau rakyat jelata. Mereka merasa harga dirinya jatuh jika harus duduk sejajar dengan orang yang dianggap “hina”.Allah Ta’ala berfirman,۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?“.” (QS. Asy-Syu’ara’: 111)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka mengatakan hal itu sebagai penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh dan sebagai bentuk bantahan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, sementara yang mengikuti engkau hanyalah orang-orang yang rendah?” Maksudnya, bagaimana mungkin kami mengikuti engkau, sedangkan para pengikutmu hanyalah orang-orang dari kalangan bawah, yang mereka anggap sebagai orang-orang hina dan tidak terpandang.Dari ucapan ini tampak jelas kesombongan mereka terhadap kebenaran serta kebodohan mereka terhadap hakikat yang sebenarnya. Seandainya tujuan mereka benar-benar mencari kebenaran, tentu mereka akan berkata—jika memang memiliki keraguan terhadap dakwah Nabi Nuh—“Jelaskanlah kepada kami bukti kebenaran yang engkau bawa dengan cara-cara yang dapat menunjukkan kebenaran itu.”Jika mereka benar-benar mau merenung dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan mengetahui bahwa para pengikut Nabi Nuh justru merupakan orang-orang yang mulia: manusia terbaik, yang memiliki akal yang lurus dan akhlak yang mulia. Sedangkan orang yang sebenarnya hina adalah orang yang kehilangan fungsi akalnya, lalu menganggap baik menyembah batu-batu, rela bersujud kepadanya, berdoa kepadanya, namun menolak untuk tunduk kepada dakwah para rasul yang sempurna.Sebenarnya, hanya dengan memperhatikan ucapan batil dari salah satu pihak yang berselisih, seseorang sudah dapat mengetahui rusaknya argumen yang mereka miliki, tanpa harus terlebih dahulu menilai kebenaran pihak lawannya. Maka ketika kita mendengar bahwa kaum Nabi Nuh berkata dalam menolak dakwah beliau, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu hanyalah orang-orang yang rendah?”, dan mereka menjadikan alasan yang jelas-jelas rusak ini sebagai dasar penolakan mereka terhadap dakwah beliau, kita pun mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan keliru.Hal itu tetap jelas, sekalipun kita belum melihat berbagai mukjizat Nabi Nuh dan dakwah besar beliau yang menunjukkan dengan pasti kebenaran dan kejujuran beliau dalam menyampaikan risalah.Ibrah: Fenomena mengukur kebenaran dari “siapa pengikutnya” masih kental. Ada kecenderungan orang enggan mengaji atau bergabung dalam majelis ilmu tertentu hanya karena jamaahnya dianggap orang-orang kelas bawah, tidak modis, atau kurang bergengsi secara sosial. Kebenaran dinilai dari strata ekonomi, bukan dari substansi pesan yang disampaikan. 4. Kisah Nabi Hud: Tertipu oleh Kemewahan Fasilitas (Ayat 129)Kaum ‘Ad merasa bahwa kekuatan ekonomi dan kemegahan infrastruktur adalah bukti kesuksesan mutlak. Mereka merasa tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa “menciptakan surga” sendiri di dunia dengan bangunan-bangunan mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Artinya, kalian membuat berbagai bangunan besar, seperti kolam-kolam penampungan air dan tempat-tempat penyimpanan untuk kebutuhan hidup.“agar kalian dapat hidup kekal“, maksudnya, seakan-akan dengan semua itu kalian berharap dapat hidup kekal di dunia ini, padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jalan untuk hidup kekal selamanya.Ibrah: Di era kapitalisme ini, banyak yang merasa bahwa kesuksesan finansial dan pembangunan fisik (rumah mewah, kendaraan, teknologi) adalah tanda bahwa gaya hidup mereka sudah benar. Mereka merasa “aman” dan tidak butuh peringatan agama karena merasa dunia sudah berada di genggaman mereka, persis seperti kaum ‘Ad yang merasa kekal dengan bangunan-bangunannya. 5. Kisah Nabi Shalih: Fanatik kepada Pemimpin yang Salah (Ayat 151-152)Banyak kaum yang binasa bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, tapi karena mereka lebih memilih loyal kepada pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengajak pada kerusakan (maksiat) daripada mengikuti ajakan perbaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 151-152)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.”Maksudnya, janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang telah melewati batas yang benar.“(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sifat dan kebiasaannya membuat kerusakan di bumi dengan melakukan berbagai kemaksiatan serta mengajak orang lain kepada kemaksiatan tersebut. Kerusakan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung unsur perbaikan.Inilah bentuk kerusakan yang paling berbahaya, karena merupakan keburukan yang murni. Seolah-olah ada sekelompok orang yang siap menentang nabi mereka dan ditempatkan untuk mengajak manusia kepada jalan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi Shalih melarang kaumnya agar tidak tertipu oleh mereka.Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)Namun, nasihat dan larangan ini ternyata tidak memberikan pengaruh apa pun kepada mereka.Ibrah: Kita sering melihat masyarakat yang lebih patuh kepada tokoh publik atau influencer yang gaya hidupnya merusak moral (maksiat) daripada kepada nasihat ulama. Narasi yang dibawa para perusak ini sering dianggap lebih “keren” atau “modern”, sehingga banyak orang terjerumus dalam kerusakan kolektif karena mengikuti figur yang salah. 6. Kisah Nabi Luth: Pembelaan atas Nama Kebebasan Syahwat (Ayat 165-166)Ketika nafsu sudah menjadi tuhan, maka ajakan untuk kembali kepada fitrah akan dianggap sebagai ancaman. Kaum Nabi Luth menolak kebenaran karena mereka tidak ingin kesenangan menyimpangnya diganggu oleh aturan agama.Allah Ta’ala berfirman,أَتَأْتُونَ ٱلذُّكْرَانَ مِنَ ٱلْعَٰلَمِينَوَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Nabi Luth berkata kepada kaumnya, sementara mereka menjawab dengan perkataan yang sama seperti orang-orang sebelum mereka. Hati mereka serupa dalam kekafiran, sehingga ucapan mereka pun serupa.Selain melakukan kesyirikan, mereka juga melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di antara manusia. Mereka memilih berhubungan dengan sesama laki-laki—perbuatan yang kotor dan sangat tercela—serta berpaling dari pasangan yang Allah ciptakan untuk mereka dari kalangan wanita. Hal itu terjadi karena sikap berlebih-lebihan dan permusuhan mereka.Nabi Luth terus-menerus melarang mereka dari perbuatan tersebut, hingga mereka berkata:قَالُوا۟ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَٰلُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُخْرَجِينَ“Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. Asy-Syu’ara’: 167)Maksudnya, mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri mereka.Ketika Nabi Luth melihat mereka terus-menerus melakukan perbuatan itu, beliau berkata:قَالَ إِنِّى لِعَمَلِكُم مِّنَ ٱلْقَالِينَ“Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 168)Artinya, beliau sangat membenci perbuatan tersebut, melarangnya, dan memperingatkan manusia darinya.Ibrah: Tantangan ini sangat nyata dengan maraknya gerakan yang melegalkan penyimpangan seksual atas nama hak asasi atau kebebasan berekspresi. Dakwah yang mengajak pada fitrah dan kesucian sering dianggap kolot, “homofobik”, atau melanggar privasi, karena nafsu telah dijadikan standar kebenaran utama di atas syariat. 7. Kisah Nabi Syu’aib: Kerakusan dalam Bisnis dan Ekonomi (Ayat 181)Penyakit ekonomi berupa kecurangan dalam timbangan dan takaran menjadi sebab utama penolakan dakwah Nabi Syu’aib. Bagi mereka, kejujuran dalam berbisnis dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan maksimal.Allah Ta’ala berfirman,۞ أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 181)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Kaum tersebut—di samping melakukan kesyirikan—juga mengurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu Nabi Syu‘aib berkata kepada mereka: sempurnakanlah takaran itu, penuhilah dan lengkapilah sebagaimana mestinya.Janganlah kalian menjadi orang-orang yang merugikan orang lain, yaitu mereka yang mengurangi harta manusia dan merampasnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan.Ibrah: Dalam dunia bisnis modern, praktik curang seperti manipulasi timbangan digital, penipuan deskripsi produk di toko online, hingga skema investasi bodong masih merajalela. Ajakan untuk berbisnis secara syar’i sering ditolak dengan alasan “Kalau jujur, nanti tidak untung” atau “Semua orang juga melakukan cara yang sama”. Mengapa Hidayah Terhalang?Inti dari pembahasan ini adalah bahwa penolakan dakwah bukan karena kurangnya bukti (karena mukjizat selalu ada), melainkan karena penyakit-penyakit hati berikut ini:Kesombongan: Merasa lebih tinggi status sosial, jabatan, atau lebih senior sehingga enggan merunduk di hadapan kebenaran.Taklid Buta: Fanatik buta terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi nenek moyang tanpa mau menimbang dalil Al-Qur’an dan Sunnah.Cinta Dunia & Syahwat: Takut kehilangan kenyamanan dalam bermaksiat, kekuasaan, atau harta benda yang selama ini digenggam.Di akhir setiap kisah para Nabi dalam surat ini, Allah menyisipkan sebuah “kalimat kunci” yang sama sebagai peringatan bahwa bukti kekuasaan Allah sudah sangat nyata, namun hati yang tertutup tetap tidak akan melihatnya.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”Ayat ini diulang-ulang oleh Allah setelah menceritakan kisah:Nabi Musa (QS. Asy-Syu’ara: 67)Nabi Ibrahim (QS. Asy-Syu’ara: 103)Nabi Nuh (QS. Asy-Syu’ara: 121)Nabi Hud (QS. Asy-Syu’ara: 139)Nabi Shalih (QS. Asy-Syu’ara: 158)Nabi Luth (QS. Asy-Syu’ara: 174)Nabi Syu’aib (QS. Asy-Syu’ara: 190)Ini menunjukkan bahwa sejarah akan selalu berulang. Tugas kita sebagai hamba adalah terus menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, sembari memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari sifat-sifat kaum yang binasa tersebut. Nasihat PenutupPelajaran dari Surah Asy-Syu’ara menunjukkan bahwa penghalang terbesar hidayah bukanlah kurangnya dalil, tetapi hati yang tertutup oleh kesombongan, fanatisme, dan kecintaan berlebihan pada dunia. Sejarah umat terdahulu memperlihatkan bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena tidak memahami, tetapi karena enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah melekat dalam hidup mereka.Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda: ada yang menolak nasihat agama karena gengsi sosial, karena mengikuti tokoh populer, karena fanatik pada tradisi, atau karena takut kehilangan keuntungan dunia. Karena itu, setiap muslim perlu terus memeriksa hatinya agar tidak terjangkit penyakit yang sama seperti kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau dari arah yang tidak kita duga. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah para nabi ibrah al quran juz 19 kisah nabi dalam quran pelajaran al-quran penyakit hati renungan ayat renungan quran sebab menolak kebenaran surah asy syuara tadabbur quran tafsir quran

Fenomena “Balas Dendam Makan” Ketika Berbuka, Apakah Termasuk Isrāf?

Daftar Isi ToggleDefinisi isrāfHadis tentang larangan berlebihanPandangan ulama tentang isrāf dalam makanDampak isrāf dan hikmah laranganKesimpulan“Balas dendam makan” adalah istilah populer yang menggambarkan perilaku makan berlebihan saat berbuka puasa, seolah-olah ingin membalas penderitaan menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Fenomena ini ditandai dengan menyantap berbagai jenis makanan dan minuman dalam jumlah banyak, tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh atau dampak kesehatannya. Di balik niat memuaskan nafsu, muncul pertanyaan: bagaimana Islam memandang perilaku ini? Apakah termasuk pemborosan yang dilarang?Definisi isrāfIsrāf secara bahasa berarti melampaui batas atau berlebih-lebihan. Dalam terminologi syariat, isrāf adalah membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang semestinya (boleh), namun melebihi batas yang sepatutnya. Berbeda dengan tabdzīr, yaitu membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang tidak semestinya (haram) (At Ta’rīfāt, hal. 24). Seseorang bisa saja membelanjakan hartanya untuk makanan halal, namun jika berlebihan hingga melampaui batas kewajaran, ia telah jatuh dalam perangkap isrāf.Allah Ta’āla dengan tegas melarang perilaku isrāf dalam firman-Nya,يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Ayat ini menjadi landasan utama larangan isrāf dalam makan dan minum. Para ulama salaf memberikan perhatian khusus pada ayat ini. Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu menafsirkan, “Makanlah apa yang engkau kehendaki, dan pakailah apa yang engkau kehendaki, selama dua hal tidak mengenaimu: berlebih-lebihan (isrāf) atau kesombongan (makhilah).” (Tafsīr Ibnu Kaṡīr, 4: 560)Az-Zuhaili rahimahullāh memaknai isrāf sebagai tindakan melampaui batas alami manusia, seperti kenyang berlebihan sebab memenuhi kebutuhan lapar dan haus di luar batas cukup. (Tafsīr al-Munīr, 8: 184)Hadis tentang larangan berlebihanRasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan dalam makan melalui sabdanya yang sangat terkenal,مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ“Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah anak Adam mengkonsumsi beberapa suap makanan untuk menguatkan tulang rusuknya. Kalau memang tidak ada jalan lain (memakan lebih banyak), maka berikan sepertiga untuk (tempat) makanan, sepertiga untuk (tempat) minuman, dan sepertiga untuk (tempat) nafasnya.” (HR. Tirmidzi no. 2380, Ibnu Majah no. 3349)Hadis ini memberikan panduan proporsional yang sangat jelas: sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Balas dendam makan jelas bertentangan dengan petunjuk mulia ini.Pandangan ulama tentang isrāf dalam makanPara ulama salaf sangat memahami bahaya isrāf. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullāh berkata, “Kalau anda ingin badan sehat dan tidur sedikit, maka sedikitkan makanan anda.” (Al-Ju’ li Ibni Abi Dunya, no.97)Perkataan ini menunjukkan bahwa ulama salaf telah memahami korelasi antara pola makan dan kualitas ibadah.Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika ditanya, “Apakah seseorang akan memiliki hati yang lembut (mudah tersentuh) sementara dia dalam kondisi kenyang?” Beliau menjawab, “Saya tidak melihat itu.” (Manaqib Al-Imam Ahmad, hal. 412)Artinya, kekenyangan justru dapat mengeraskan hati dan melalaikan seseorang dari mengingat Allah.Syekh Abdullah Sirajuddin Al-Husaini dalam kitab Al-Shiyam mengingatkan, “Selayaknya bagi orang yang berpuasa untuk tidak makan berlebihan dan mencampur (mengonsumsi) berbagai makanan ketika berbuka dan ketika makan sahur. Sebaliknya, dia selayaknya sedang-sedang saja dalam segala urusannya.” (Al-Shiyam, hal. 25-26)Dampak isrāf dan hikmah laranganBalas dendam makan saat berbuka membawa dampak buruk, baik secara medis maupun spiritual:Pertama, mengganggu kesehatan. Makan berlebihan dapat menyebabkan mual, muntah, gangguan pencernaan, kembung, begah, hingga nyeri perut. Tubuh yang seharusnya beristirahat setelah seharian berpuasa, justru dipaksa bekerja ekstra.Kedua, melemahkan semangat ibadah. Kekenyangan menyebabkan rasa kantuk dan malas, sehingga salat tarawih dan ibadah malam menjadi terbengkalai. Padahal, Ramadan adalah bulan memperbanyak amal.Ketiga, mengurangi esensi puasa. Hakikat puasa adalah menahan hawa nafsu, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Balas dendam makan justru menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengendalikan nafsu.KesimpulanFenomena balas dendam makan saat berbuka adalah bentuk isrāf yang makruh dalam Islam, bahkan bisa berubah menjadi haram. Al-Qur’an dan hadis dengan tegas melarang berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Para ulama salaf dan kontemporer sepakat bahwa isrāf membawa dampak buruk bagi kesehatan, ibadah, dan pengelolaan harta.Puasa mengajarkan kita hidup sederhana dan mengendalikan hawa nafsu. Maka, mari jadikan momen berbuka sebagai waktu untuk bersyukur dengan makan secukupnya, bukan ajang balas dendam. Rasulullah ﷺ telah memberikan panduan sempurna: cukup beberapa suap saja untuk menegakkan tulang, atau jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.Semoga Allah menjauhkan kita dari perilaku isrāf dan menjadikan puasa kita sebagai sarana meraih ketakwaan. Wallahu Ta’ala a’lam.Semoga bermanfaat.Baca juga:Bagaimana Nabi Mengatur Makan di Bulan Ramadan?Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka Puasa***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id

Fenomena “Balas Dendam Makan” Ketika Berbuka, Apakah Termasuk Isrāf?

Daftar Isi ToggleDefinisi isrāfHadis tentang larangan berlebihanPandangan ulama tentang isrāf dalam makanDampak isrāf dan hikmah laranganKesimpulan“Balas dendam makan” adalah istilah populer yang menggambarkan perilaku makan berlebihan saat berbuka puasa, seolah-olah ingin membalas penderitaan menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Fenomena ini ditandai dengan menyantap berbagai jenis makanan dan minuman dalam jumlah banyak, tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh atau dampak kesehatannya. Di balik niat memuaskan nafsu, muncul pertanyaan: bagaimana Islam memandang perilaku ini? Apakah termasuk pemborosan yang dilarang?Definisi isrāfIsrāf secara bahasa berarti melampaui batas atau berlebih-lebihan. Dalam terminologi syariat, isrāf adalah membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang semestinya (boleh), namun melebihi batas yang sepatutnya. Berbeda dengan tabdzīr, yaitu membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang tidak semestinya (haram) (At Ta’rīfāt, hal. 24). Seseorang bisa saja membelanjakan hartanya untuk makanan halal, namun jika berlebihan hingga melampaui batas kewajaran, ia telah jatuh dalam perangkap isrāf.Allah Ta’āla dengan tegas melarang perilaku isrāf dalam firman-Nya,يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Ayat ini menjadi landasan utama larangan isrāf dalam makan dan minum. Para ulama salaf memberikan perhatian khusus pada ayat ini. Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu menafsirkan, “Makanlah apa yang engkau kehendaki, dan pakailah apa yang engkau kehendaki, selama dua hal tidak mengenaimu: berlebih-lebihan (isrāf) atau kesombongan (makhilah).” (Tafsīr Ibnu Kaṡīr, 4: 560)Az-Zuhaili rahimahullāh memaknai isrāf sebagai tindakan melampaui batas alami manusia, seperti kenyang berlebihan sebab memenuhi kebutuhan lapar dan haus di luar batas cukup. (Tafsīr al-Munīr, 8: 184)Hadis tentang larangan berlebihanRasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan dalam makan melalui sabdanya yang sangat terkenal,مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ“Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah anak Adam mengkonsumsi beberapa suap makanan untuk menguatkan tulang rusuknya. Kalau memang tidak ada jalan lain (memakan lebih banyak), maka berikan sepertiga untuk (tempat) makanan, sepertiga untuk (tempat) minuman, dan sepertiga untuk (tempat) nafasnya.” (HR. Tirmidzi no. 2380, Ibnu Majah no. 3349)Hadis ini memberikan panduan proporsional yang sangat jelas: sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Balas dendam makan jelas bertentangan dengan petunjuk mulia ini.Pandangan ulama tentang isrāf dalam makanPara ulama salaf sangat memahami bahaya isrāf. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullāh berkata, “Kalau anda ingin badan sehat dan tidur sedikit, maka sedikitkan makanan anda.” (Al-Ju’ li Ibni Abi Dunya, no.97)Perkataan ini menunjukkan bahwa ulama salaf telah memahami korelasi antara pola makan dan kualitas ibadah.Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika ditanya, “Apakah seseorang akan memiliki hati yang lembut (mudah tersentuh) sementara dia dalam kondisi kenyang?” Beliau menjawab, “Saya tidak melihat itu.” (Manaqib Al-Imam Ahmad, hal. 412)Artinya, kekenyangan justru dapat mengeraskan hati dan melalaikan seseorang dari mengingat Allah.Syekh Abdullah Sirajuddin Al-Husaini dalam kitab Al-Shiyam mengingatkan, “Selayaknya bagi orang yang berpuasa untuk tidak makan berlebihan dan mencampur (mengonsumsi) berbagai makanan ketika berbuka dan ketika makan sahur. Sebaliknya, dia selayaknya sedang-sedang saja dalam segala urusannya.” (Al-Shiyam, hal. 25-26)Dampak isrāf dan hikmah laranganBalas dendam makan saat berbuka membawa dampak buruk, baik secara medis maupun spiritual:Pertama, mengganggu kesehatan. Makan berlebihan dapat menyebabkan mual, muntah, gangguan pencernaan, kembung, begah, hingga nyeri perut. Tubuh yang seharusnya beristirahat setelah seharian berpuasa, justru dipaksa bekerja ekstra.Kedua, melemahkan semangat ibadah. Kekenyangan menyebabkan rasa kantuk dan malas, sehingga salat tarawih dan ibadah malam menjadi terbengkalai. Padahal, Ramadan adalah bulan memperbanyak amal.Ketiga, mengurangi esensi puasa. Hakikat puasa adalah menahan hawa nafsu, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Balas dendam makan justru menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengendalikan nafsu.KesimpulanFenomena balas dendam makan saat berbuka adalah bentuk isrāf yang makruh dalam Islam, bahkan bisa berubah menjadi haram. Al-Qur’an dan hadis dengan tegas melarang berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Para ulama salaf dan kontemporer sepakat bahwa isrāf membawa dampak buruk bagi kesehatan, ibadah, dan pengelolaan harta.Puasa mengajarkan kita hidup sederhana dan mengendalikan hawa nafsu. Maka, mari jadikan momen berbuka sebagai waktu untuk bersyukur dengan makan secukupnya, bukan ajang balas dendam. Rasulullah ﷺ telah memberikan panduan sempurna: cukup beberapa suap saja untuk menegakkan tulang, atau jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.Semoga Allah menjauhkan kita dari perilaku isrāf dan menjadikan puasa kita sebagai sarana meraih ketakwaan. Wallahu Ta’ala a’lam.Semoga bermanfaat.Baca juga:Bagaimana Nabi Mengatur Makan di Bulan Ramadan?Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka Puasa***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleDefinisi isrāfHadis tentang larangan berlebihanPandangan ulama tentang isrāf dalam makanDampak isrāf dan hikmah laranganKesimpulan“Balas dendam makan” adalah istilah populer yang menggambarkan perilaku makan berlebihan saat berbuka puasa, seolah-olah ingin membalas penderitaan menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Fenomena ini ditandai dengan menyantap berbagai jenis makanan dan minuman dalam jumlah banyak, tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh atau dampak kesehatannya. Di balik niat memuaskan nafsu, muncul pertanyaan: bagaimana Islam memandang perilaku ini? Apakah termasuk pemborosan yang dilarang?Definisi isrāfIsrāf secara bahasa berarti melampaui batas atau berlebih-lebihan. Dalam terminologi syariat, isrāf adalah membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang semestinya (boleh), namun melebihi batas yang sepatutnya. Berbeda dengan tabdzīr, yaitu membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang tidak semestinya (haram) (At Ta’rīfāt, hal. 24). Seseorang bisa saja membelanjakan hartanya untuk makanan halal, namun jika berlebihan hingga melampaui batas kewajaran, ia telah jatuh dalam perangkap isrāf.Allah Ta’āla dengan tegas melarang perilaku isrāf dalam firman-Nya,يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Ayat ini menjadi landasan utama larangan isrāf dalam makan dan minum. Para ulama salaf memberikan perhatian khusus pada ayat ini. Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu menafsirkan, “Makanlah apa yang engkau kehendaki, dan pakailah apa yang engkau kehendaki, selama dua hal tidak mengenaimu: berlebih-lebihan (isrāf) atau kesombongan (makhilah).” (Tafsīr Ibnu Kaṡīr, 4: 560)Az-Zuhaili rahimahullāh memaknai isrāf sebagai tindakan melampaui batas alami manusia, seperti kenyang berlebihan sebab memenuhi kebutuhan lapar dan haus di luar batas cukup. (Tafsīr al-Munīr, 8: 184)Hadis tentang larangan berlebihanRasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan dalam makan melalui sabdanya yang sangat terkenal,مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ“Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah anak Adam mengkonsumsi beberapa suap makanan untuk menguatkan tulang rusuknya. Kalau memang tidak ada jalan lain (memakan lebih banyak), maka berikan sepertiga untuk (tempat) makanan, sepertiga untuk (tempat) minuman, dan sepertiga untuk (tempat) nafasnya.” (HR. Tirmidzi no. 2380, Ibnu Majah no. 3349)Hadis ini memberikan panduan proporsional yang sangat jelas: sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Balas dendam makan jelas bertentangan dengan petunjuk mulia ini.Pandangan ulama tentang isrāf dalam makanPara ulama salaf sangat memahami bahaya isrāf. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullāh berkata, “Kalau anda ingin badan sehat dan tidur sedikit, maka sedikitkan makanan anda.” (Al-Ju’ li Ibni Abi Dunya, no.97)Perkataan ini menunjukkan bahwa ulama salaf telah memahami korelasi antara pola makan dan kualitas ibadah.Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika ditanya, “Apakah seseorang akan memiliki hati yang lembut (mudah tersentuh) sementara dia dalam kondisi kenyang?” Beliau menjawab, “Saya tidak melihat itu.” (Manaqib Al-Imam Ahmad, hal. 412)Artinya, kekenyangan justru dapat mengeraskan hati dan melalaikan seseorang dari mengingat Allah.Syekh Abdullah Sirajuddin Al-Husaini dalam kitab Al-Shiyam mengingatkan, “Selayaknya bagi orang yang berpuasa untuk tidak makan berlebihan dan mencampur (mengonsumsi) berbagai makanan ketika berbuka dan ketika makan sahur. Sebaliknya, dia selayaknya sedang-sedang saja dalam segala urusannya.” (Al-Shiyam, hal. 25-26)Dampak isrāf dan hikmah laranganBalas dendam makan saat berbuka membawa dampak buruk, baik secara medis maupun spiritual:Pertama, mengganggu kesehatan. Makan berlebihan dapat menyebabkan mual, muntah, gangguan pencernaan, kembung, begah, hingga nyeri perut. Tubuh yang seharusnya beristirahat setelah seharian berpuasa, justru dipaksa bekerja ekstra.Kedua, melemahkan semangat ibadah. Kekenyangan menyebabkan rasa kantuk dan malas, sehingga salat tarawih dan ibadah malam menjadi terbengkalai. Padahal, Ramadan adalah bulan memperbanyak amal.Ketiga, mengurangi esensi puasa. Hakikat puasa adalah menahan hawa nafsu, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Balas dendam makan justru menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengendalikan nafsu.KesimpulanFenomena balas dendam makan saat berbuka adalah bentuk isrāf yang makruh dalam Islam, bahkan bisa berubah menjadi haram. Al-Qur’an dan hadis dengan tegas melarang berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Para ulama salaf dan kontemporer sepakat bahwa isrāf membawa dampak buruk bagi kesehatan, ibadah, dan pengelolaan harta.Puasa mengajarkan kita hidup sederhana dan mengendalikan hawa nafsu. Maka, mari jadikan momen berbuka sebagai waktu untuk bersyukur dengan makan secukupnya, bukan ajang balas dendam. Rasulullah ﷺ telah memberikan panduan sempurna: cukup beberapa suap saja untuk menegakkan tulang, atau jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.Semoga Allah menjauhkan kita dari perilaku isrāf dan menjadikan puasa kita sebagai sarana meraih ketakwaan. Wallahu Ta’ala a’lam.Semoga bermanfaat.Baca juga:Bagaimana Nabi Mengatur Makan di Bulan Ramadan?Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka Puasa***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleDefinisi isrāfHadis tentang larangan berlebihanPandangan ulama tentang isrāf dalam makanDampak isrāf dan hikmah laranganKesimpulan“Balas dendam makan” adalah istilah populer yang menggambarkan perilaku makan berlebihan saat berbuka puasa, seolah-olah ingin membalas penderitaan menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Fenomena ini ditandai dengan menyantap berbagai jenis makanan dan minuman dalam jumlah banyak, tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh atau dampak kesehatannya. Di balik niat memuaskan nafsu, muncul pertanyaan: bagaimana Islam memandang perilaku ini? Apakah termasuk pemborosan yang dilarang?Definisi isrāfIsrāf secara bahasa berarti melampaui batas atau berlebih-lebihan. Dalam terminologi syariat, isrāf adalah membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang semestinya (boleh), namun melebihi batas yang sepatutnya. Berbeda dengan tabdzīr, yaitu membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang tidak semestinya (haram) (At Ta’rīfāt, hal. 24). Seseorang bisa saja membelanjakan hartanya untuk makanan halal, namun jika berlebihan hingga melampaui batas kewajaran, ia telah jatuh dalam perangkap isrāf.Allah Ta’āla dengan tegas melarang perilaku isrāf dalam firman-Nya,يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Ayat ini menjadi landasan utama larangan isrāf dalam makan dan minum. Para ulama salaf memberikan perhatian khusus pada ayat ini. Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu menafsirkan, “Makanlah apa yang engkau kehendaki, dan pakailah apa yang engkau kehendaki, selama dua hal tidak mengenaimu: berlebih-lebihan (isrāf) atau kesombongan (makhilah).” (Tafsīr Ibnu Kaṡīr, 4: 560)Az-Zuhaili rahimahullāh memaknai isrāf sebagai tindakan melampaui batas alami manusia, seperti kenyang berlebihan sebab memenuhi kebutuhan lapar dan haus di luar batas cukup. (Tafsīr al-Munīr, 8: 184)Hadis tentang larangan berlebihanRasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan dalam makan melalui sabdanya yang sangat terkenal,مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ“Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah anak Adam mengkonsumsi beberapa suap makanan untuk menguatkan tulang rusuknya. Kalau memang tidak ada jalan lain (memakan lebih banyak), maka berikan sepertiga untuk (tempat) makanan, sepertiga untuk (tempat) minuman, dan sepertiga untuk (tempat) nafasnya.” (HR. Tirmidzi no. 2380, Ibnu Majah no. 3349)Hadis ini memberikan panduan proporsional yang sangat jelas: sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Balas dendam makan jelas bertentangan dengan petunjuk mulia ini.Pandangan ulama tentang isrāf dalam makanPara ulama salaf sangat memahami bahaya isrāf. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullāh berkata, “Kalau anda ingin badan sehat dan tidur sedikit, maka sedikitkan makanan anda.” (Al-Ju’ li Ibni Abi Dunya, no.97)Perkataan ini menunjukkan bahwa ulama salaf telah memahami korelasi antara pola makan dan kualitas ibadah.Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika ditanya, “Apakah seseorang akan memiliki hati yang lembut (mudah tersentuh) sementara dia dalam kondisi kenyang?” Beliau menjawab, “Saya tidak melihat itu.” (Manaqib Al-Imam Ahmad, hal. 412)Artinya, kekenyangan justru dapat mengeraskan hati dan melalaikan seseorang dari mengingat Allah.Syekh Abdullah Sirajuddin Al-Husaini dalam kitab Al-Shiyam mengingatkan, “Selayaknya bagi orang yang berpuasa untuk tidak makan berlebihan dan mencampur (mengonsumsi) berbagai makanan ketika berbuka dan ketika makan sahur. Sebaliknya, dia selayaknya sedang-sedang saja dalam segala urusannya.” (Al-Shiyam, hal. 25-26)Dampak isrāf dan hikmah laranganBalas dendam makan saat berbuka membawa dampak buruk, baik secara medis maupun spiritual:Pertama, mengganggu kesehatan. Makan berlebihan dapat menyebabkan mual, muntah, gangguan pencernaan, kembung, begah, hingga nyeri perut. Tubuh yang seharusnya beristirahat setelah seharian berpuasa, justru dipaksa bekerja ekstra.Kedua, melemahkan semangat ibadah. Kekenyangan menyebabkan rasa kantuk dan malas, sehingga salat tarawih dan ibadah malam menjadi terbengkalai. Padahal, Ramadan adalah bulan memperbanyak amal.Ketiga, mengurangi esensi puasa. Hakikat puasa adalah menahan hawa nafsu, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Balas dendam makan justru menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengendalikan nafsu.KesimpulanFenomena balas dendam makan saat berbuka adalah bentuk isrāf yang makruh dalam Islam, bahkan bisa berubah menjadi haram. Al-Qur’an dan hadis dengan tegas melarang berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Para ulama salaf dan kontemporer sepakat bahwa isrāf membawa dampak buruk bagi kesehatan, ibadah, dan pengelolaan harta.Puasa mengajarkan kita hidup sederhana dan mengendalikan hawa nafsu. Maka, mari jadikan momen berbuka sebagai waktu untuk bersyukur dengan makan secukupnya, bukan ajang balas dendam. Rasulullah ﷺ telah memberikan panduan sempurna: cukup beberapa suap saja untuk menegakkan tulang, atau jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.Semoga Allah menjauhkan kita dari perilaku isrāf dan menjadikan puasa kita sebagai sarana meraih ketakwaan. Wallahu Ta’ala a’lam.Semoga bermanfaat.Baca juga:Bagaimana Nabi Mengatur Makan di Bulan Ramadan?Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka Puasa***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id

Salah Memilih Teman Berujung Penyesalan di Hari Kiamat

Salah satu sebab besar seseorang tersesat adalah karena salah memilih teman dekat. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang yang dahulu mengikuti ajakan teman yang menyesatkan. Ayat-ayat ini menjadi peringatan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memilih sahabat yang akan mempengaruhi jalan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27)يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 28)لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا “Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Dan pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya,” yaitu orang yang menzalimi dirinya dengan kesyirikan, kekufuran, dan mendustakan para rasul. Ia menggigit kedua tangannya karena penyesalan, kesedihan, dan rasa duka yang sangat mendalam.Ia berkata, “Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.” Maksudnya, sekiranya dahulu ia menempuh jalan bersama Rasul, yaitu dengan beriman kepadanya, membenarkannya, dan mengikuti ajarannya.Kemudian ia berkata, “Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.” Yang dimaksud dengan “si fulan” adalah setan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Ia menjadikannya sebagai teman dekat dan sahabat yang sangat dicintai, sehingga ia memusuhi orang-orang yang sebenarnya paling tulus menasihatinya, paling baik kepadanya, dan paling sayang kepadanya. Sebaliknya, ia justru berloyalitas kepada musuh terbesarnya, yaitu setan, yang kedekatannya tidak memberinya apa pun selain kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan.Ia berkata, “Sungguh ia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.” Maksudnya, setan menghiasinya dengan tipu daya dan bujuk rayunya sehingga ia tetap berada dalam kesesatan.“Dan setan itu selalu menjadi pengkhianat bagi manusia.” Ia menghiasi kebatilan agar tampak indah dan membuat kebenaran terlihat buruk. Ia menjanjikan berbagai angan-angan, tetapi kemudian meninggalkan manusia dan berlepas diri darinya. Hal itu sebagaimana perkataan setan kepada para pengikutnya ketika perkara telah diputuskan dan Allah telah selesai menghisab seluruh makhluk.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ“Dan setan berkata ketika perkara telah diputuskan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Aku tidak memiliki kekuasaan sedikit pun atas kalian, selain hanya mengajak kalian lalu kalian memenuhi ajakanku. Maka janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang dahulu kalian persekutukan denganku.’” (QS. Ibrahim: 22)Karena itu, hendaknya setiap hamba memperhatikan dirinya selama masih ada kesempatan, dan bersegera memperbaiki keadaan sebelum datang waktu ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Hendaknya ia menjalin loyalitas dengan orang-orang yang dengan loyalitas itu ia akan memperoleh kebahagiaan, dan memusuhi orang-orang yang permusuhannya justru bermanfaat baginya, sementara persahabatannya hanya membawa kerugian.Dan Allah-lah yang memberi taufik. Nasihat: Kiat Memilih Teman di Zaman SekarangAyat-ayat ini memberikan pelajaran besar bahwa teman dekat sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak orang tersesat bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena mengikuti lingkungan dan pergaulan yang salah.Beberapa kiat yang bisa dilakukan agar tidak menyesal seperti gambaran dalam ayat di atas:Pilih teman yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari ibadah.Lihat kebiasaan ibadahnya, karena seseorang biasanya mengikuti kebiasaan teman dekatnya.Utamakan teman yang jujur menasihati, bukan yang selalu membenarkan kesalahan kita.Batasi pergaulan dengan orang yang meremehkan agama, walaupun mereka tampak menyenangkan.Cari lingkungan majelis ilmu, karena di sana biasanya kita mendapatkan sahabat yang saleh.Realitas hari ini menunjukkan bahwa pengaruh teman tidak hanya datang dari pertemuan langsung, tetapi juga dari media sosial, komunitas digital, dan figur yang kita ikuti. Jika seseorang terus mengikuti orang-orang yang meremehkan agama, lambat laun hatinya akan terpengaruh.Karena itu, seorang Muslim hendaknya memilih sahabat yang membantunya menuju kebaikan, agar kelak di hari kiamat tidak menyesal sambil berkata: “Seandainya dahulu aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekat.”Baca juga: Manfaat Teman yang Baik —– Ahad, 19 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang teman Hikmah Al-Qur’an memilih teman nasihat islam pengaruh pergaulan peringatan hari kiamat pertemanan renungan ayat renungan quran tafsir al quran tafsir as-sa'di teman teman bergaul teman dalam islam teman dekat teman menyesatkan

Salah Memilih Teman Berujung Penyesalan di Hari Kiamat

Salah satu sebab besar seseorang tersesat adalah karena salah memilih teman dekat. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang yang dahulu mengikuti ajakan teman yang menyesatkan. Ayat-ayat ini menjadi peringatan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memilih sahabat yang akan mempengaruhi jalan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27)يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 28)لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا “Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Dan pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya,” yaitu orang yang menzalimi dirinya dengan kesyirikan, kekufuran, dan mendustakan para rasul. Ia menggigit kedua tangannya karena penyesalan, kesedihan, dan rasa duka yang sangat mendalam.Ia berkata, “Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.” Maksudnya, sekiranya dahulu ia menempuh jalan bersama Rasul, yaitu dengan beriman kepadanya, membenarkannya, dan mengikuti ajarannya.Kemudian ia berkata, “Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.” Yang dimaksud dengan “si fulan” adalah setan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Ia menjadikannya sebagai teman dekat dan sahabat yang sangat dicintai, sehingga ia memusuhi orang-orang yang sebenarnya paling tulus menasihatinya, paling baik kepadanya, dan paling sayang kepadanya. Sebaliknya, ia justru berloyalitas kepada musuh terbesarnya, yaitu setan, yang kedekatannya tidak memberinya apa pun selain kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan.Ia berkata, “Sungguh ia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.” Maksudnya, setan menghiasinya dengan tipu daya dan bujuk rayunya sehingga ia tetap berada dalam kesesatan.“Dan setan itu selalu menjadi pengkhianat bagi manusia.” Ia menghiasi kebatilan agar tampak indah dan membuat kebenaran terlihat buruk. Ia menjanjikan berbagai angan-angan, tetapi kemudian meninggalkan manusia dan berlepas diri darinya. Hal itu sebagaimana perkataan setan kepada para pengikutnya ketika perkara telah diputuskan dan Allah telah selesai menghisab seluruh makhluk.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ“Dan setan berkata ketika perkara telah diputuskan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Aku tidak memiliki kekuasaan sedikit pun atas kalian, selain hanya mengajak kalian lalu kalian memenuhi ajakanku. Maka janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang dahulu kalian persekutukan denganku.’” (QS. Ibrahim: 22)Karena itu, hendaknya setiap hamba memperhatikan dirinya selama masih ada kesempatan, dan bersegera memperbaiki keadaan sebelum datang waktu ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Hendaknya ia menjalin loyalitas dengan orang-orang yang dengan loyalitas itu ia akan memperoleh kebahagiaan, dan memusuhi orang-orang yang permusuhannya justru bermanfaat baginya, sementara persahabatannya hanya membawa kerugian.Dan Allah-lah yang memberi taufik. Nasihat: Kiat Memilih Teman di Zaman SekarangAyat-ayat ini memberikan pelajaran besar bahwa teman dekat sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak orang tersesat bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena mengikuti lingkungan dan pergaulan yang salah.Beberapa kiat yang bisa dilakukan agar tidak menyesal seperti gambaran dalam ayat di atas:Pilih teman yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari ibadah.Lihat kebiasaan ibadahnya, karena seseorang biasanya mengikuti kebiasaan teman dekatnya.Utamakan teman yang jujur menasihati, bukan yang selalu membenarkan kesalahan kita.Batasi pergaulan dengan orang yang meremehkan agama, walaupun mereka tampak menyenangkan.Cari lingkungan majelis ilmu, karena di sana biasanya kita mendapatkan sahabat yang saleh.Realitas hari ini menunjukkan bahwa pengaruh teman tidak hanya datang dari pertemuan langsung, tetapi juga dari media sosial, komunitas digital, dan figur yang kita ikuti. Jika seseorang terus mengikuti orang-orang yang meremehkan agama, lambat laun hatinya akan terpengaruh.Karena itu, seorang Muslim hendaknya memilih sahabat yang membantunya menuju kebaikan, agar kelak di hari kiamat tidak menyesal sambil berkata: “Seandainya dahulu aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekat.”Baca juga: Manfaat Teman yang Baik —– Ahad, 19 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang teman Hikmah Al-Qur’an memilih teman nasihat islam pengaruh pergaulan peringatan hari kiamat pertemanan renungan ayat renungan quran tafsir al quran tafsir as-sa'di teman teman bergaul teman dalam islam teman dekat teman menyesatkan
Salah satu sebab besar seseorang tersesat adalah karena salah memilih teman dekat. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang yang dahulu mengikuti ajakan teman yang menyesatkan. Ayat-ayat ini menjadi peringatan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memilih sahabat yang akan mempengaruhi jalan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27)يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 28)لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا “Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Dan pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya,” yaitu orang yang menzalimi dirinya dengan kesyirikan, kekufuran, dan mendustakan para rasul. Ia menggigit kedua tangannya karena penyesalan, kesedihan, dan rasa duka yang sangat mendalam.Ia berkata, “Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.” Maksudnya, sekiranya dahulu ia menempuh jalan bersama Rasul, yaitu dengan beriman kepadanya, membenarkannya, dan mengikuti ajarannya.Kemudian ia berkata, “Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.” Yang dimaksud dengan “si fulan” adalah setan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Ia menjadikannya sebagai teman dekat dan sahabat yang sangat dicintai, sehingga ia memusuhi orang-orang yang sebenarnya paling tulus menasihatinya, paling baik kepadanya, dan paling sayang kepadanya. Sebaliknya, ia justru berloyalitas kepada musuh terbesarnya, yaitu setan, yang kedekatannya tidak memberinya apa pun selain kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan.Ia berkata, “Sungguh ia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.” Maksudnya, setan menghiasinya dengan tipu daya dan bujuk rayunya sehingga ia tetap berada dalam kesesatan.“Dan setan itu selalu menjadi pengkhianat bagi manusia.” Ia menghiasi kebatilan agar tampak indah dan membuat kebenaran terlihat buruk. Ia menjanjikan berbagai angan-angan, tetapi kemudian meninggalkan manusia dan berlepas diri darinya. Hal itu sebagaimana perkataan setan kepada para pengikutnya ketika perkara telah diputuskan dan Allah telah selesai menghisab seluruh makhluk.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ“Dan setan berkata ketika perkara telah diputuskan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Aku tidak memiliki kekuasaan sedikit pun atas kalian, selain hanya mengajak kalian lalu kalian memenuhi ajakanku. Maka janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang dahulu kalian persekutukan denganku.’” (QS. Ibrahim: 22)Karena itu, hendaknya setiap hamba memperhatikan dirinya selama masih ada kesempatan, dan bersegera memperbaiki keadaan sebelum datang waktu ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Hendaknya ia menjalin loyalitas dengan orang-orang yang dengan loyalitas itu ia akan memperoleh kebahagiaan, dan memusuhi orang-orang yang permusuhannya justru bermanfaat baginya, sementara persahabatannya hanya membawa kerugian.Dan Allah-lah yang memberi taufik. Nasihat: Kiat Memilih Teman di Zaman SekarangAyat-ayat ini memberikan pelajaran besar bahwa teman dekat sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak orang tersesat bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena mengikuti lingkungan dan pergaulan yang salah.Beberapa kiat yang bisa dilakukan agar tidak menyesal seperti gambaran dalam ayat di atas:Pilih teman yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari ibadah.Lihat kebiasaan ibadahnya, karena seseorang biasanya mengikuti kebiasaan teman dekatnya.Utamakan teman yang jujur menasihati, bukan yang selalu membenarkan kesalahan kita.Batasi pergaulan dengan orang yang meremehkan agama, walaupun mereka tampak menyenangkan.Cari lingkungan majelis ilmu, karena di sana biasanya kita mendapatkan sahabat yang saleh.Realitas hari ini menunjukkan bahwa pengaruh teman tidak hanya datang dari pertemuan langsung, tetapi juga dari media sosial, komunitas digital, dan figur yang kita ikuti. Jika seseorang terus mengikuti orang-orang yang meremehkan agama, lambat laun hatinya akan terpengaruh.Karena itu, seorang Muslim hendaknya memilih sahabat yang membantunya menuju kebaikan, agar kelak di hari kiamat tidak menyesal sambil berkata: “Seandainya dahulu aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekat.”Baca juga: Manfaat Teman yang Baik —– Ahad, 19 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang teman Hikmah Al-Qur’an memilih teman nasihat islam pengaruh pergaulan peringatan hari kiamat pertemanan renungan ayat renungan quran tafsir al quran tafsir as-sa'di teman teman bergaul teman dalam islam teman dekat teman menyesatkan


Salah satu sebab besar seseorang tersesat adalah karena salah memilih teman dekat. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang yang dahulu mengikuti ajakan teman yang menyesatkan. Ayat-ayat ini menjadi peringatan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memilih sahabat yang akan mempengaruhi jalan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27)يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 28)لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا “Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Dan pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya,” yaitu orang yang menzalimi dirinya dengan kesyirikan, kekufuran, dan mendustakan para rasul. Ia menggigit kedua tangannya karena penyesalan, kesedihan, dan rasa duka yang sangat mendalam.Ia berkata, “Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.” Maksudnya, sekiranya dahulu ia menempuh jalan bersama Rasul, yaitu dengan beriman kepadanya, membenarkannya, dan mengikuti ajarannya.Kemudian ia berkata, “Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.” Yang dimaksud dengan “si fulan” adalah setan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Ia menjadikannya sebagai teman dekat dan sahabat yang sangat dicintai, sehingga ia memusuhi orang-orang yang sebenarnya paling tulus menasihatinya, paling baik kepadanya, dan paling sayang kepadanya. Sebaliknya, ia justru berloyalitas kepada musuh terbesarnya, yaitu setan, yang kedekatannya tidak memberinya apa pun selain kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan.Ia berkata, “Sungguh ia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.” Maksudnya, setan menghiasinya dengan tipu daya dan bujuk rayunya sehingga ia tetap berada dalam kesesatan.“Dan setan itu selalu menjadi pengkhianat bagi manusia.” Ia menghiasi kebatilan agar tampak indah dan membuat kebenaran terlihat buruk. Ia menjanjikan berbagai angan-angan, tetapi kemudian meninggalkan manusia dan berlepas diri darinya. Hal itu sebagaimana perkataan setan kepada para pengikutnya ketika perkara telah diputuskan dan Allah telah selesai menghisab seluruh makhluk.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ“Dan setan berkata ketika perkara telah diputuskan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Aku tidak memiliki kekuasaan sedikit pun atas kalian, selain hanya mengajak kalian lalu kalian memenuhi ajakanku. Maka janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang dahulu kalian persekutukan denganku.’” (QS. Ibrahim: 22)Karena itu, hendaknya setiap hamba memperhatikan dirinya selama masih ada kesempatan, dan bersegera memperbaiki keadaan sebelum datang waktu ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Hendaknya ia menjalin loyalitas dengan orang-orang yang dengan loyalitas itu ia akan memperoleh kebahagiaan, dan memusuhi orang-orang yang permusuhannya justru bermanfaat baginya, sementara persahabatannya hanya membawa kerugian.Dan Allah-lah yang memberi taufik. Nasihat: Kiat Memilih Teman di Zaman SekarangAyat-ayat ini memberikan pelajaran besar bahwa teman dekat sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak orang tersesat bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena mengikuti lingkungan dan pergaulan yang salah.Beberapa kiat yang bisa dilakukan agar tidak menyesal seperti gambaran dalam ayat di atas:Pilih teman yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari ibadah.Lihat kebiasaan ibadahnya, karena seseorang biasanya mengikuti kebiasaan teman dekatnya.Utamakan teman yang jujur menasihati, bukan yang selalu membenarkan kesalahan kita.Batasi pergaulan dengan orang yang meremehkan agama, walaupun mereka tampak menyenangkan.Cari lingkungan majelis ilmu, karena di sana biasanya kita mendapatkan sahabat yang saleh.Realitas hari ini menunjukkan bahwa pengaruh teman tidak hanya datang dari pertemuan langsung, tetapi juga dari media sosial, komunitas digital, dan figur yang kita ikuti. Jika seseorang terus mengikuti orang-orang yang meremehkan agama, lambat laun hatinya akan terpengaruh.Karena itu, seorang Muslim hendaknya memilih sahabat yang membantunya menuju kebaikan, agar kelak di hari kiamat tidak menyesal sambil berkata: “Seandainya dahulu aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekat.”Baca juga: Manfaat Teman yang Baik —– Ahad, 19 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang teman Hikmah Al-Qur’an memilih teman nasihat islam pengaruh pergaulan peringatan hari kiamat pertemanan renungan ayat renungan quran tafsir al quran tafsir as-sa'di teman teman bergaul teman dalam islam teman dekat teman menyesatkan

Ramadan dan Kesempatan Emas yang Sering Disia-Siakan

Daftar Isi ToggleKeutamaan amal di bulan RamadanKeutamaan Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanMenghargai waktu di bulan RamadanBulan Ramadan adalah musim kebaikan yang paling agung dalam kehidupan seorang muslim. Sebuah momentum besar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Ta’ala dan meningkatkan kualitas ibadah.Kesempatan berupa nyawa yang masih diberikan, kesehatan, ilmu, ekonomi, dan kemampuan yang dianugerahkan kepada Allah kepada kita sehingga kita mampu menjalani ibadah yang agung ini adalah nikmat yang sangat besar. Nikmat yang sungguh sangat dirindukan oleh orang-orang yang telah mendahului kita, yang mungkin mereka menginginkan kembali ke dunia untuk beramal sesaat saja. Inilah gambaran betapa bulan mulia ini amalan seorang hamba dilipatgandakan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, ia berkata, ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya ketika Ramadan datang, karena bulan ini adalah bulan keberkahan, ampunan, dan rahmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ“Apabila Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh. Jalan menuju kebaikan dibuka lebar, sementara penghalang-penghalang ketaatan dipersempit. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menyambut Ramadan dengan persiapan iman, ilmu, dan amal, sebagaimana seorang pedagang bersiap menghadapi musim keuntungan besar.Bahkan, kita bisa membayangkan bahwa bisa jadi ini merupakan kesempatan terakhir kita untuk beramal di bulan Ramadan. Tidak ada yang tahu, bisa jadi Ramadan tahun depan kita telah kembali ke asal (kubur) karena jatah hidup kita sampai disini.Maka, sangat layak bagi kita untuk benar-benar menjadikan momentum ‘akhir’ ini sebagai persembahan terbaik kita kepada Allah Ta’ala dengan segala amal saleh yang bisa kita kerjakan semaksimal yang kita mampu sesuai petunjuk sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Keutamaan amal di bulan RamadanSalah satu keistimewaan Ramadan adalah dilipatgandakannya pahala amal saleh. Bacalah sejarah umat-umat Nabi terdahulu, Allah Ta’ala memberikan mereka umur yang panjang hingga ratusan tahun. Sementara kita, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah batasi dalam rentang 60 – 70 tahun. Namun, Allah memberikan keistimewaan kepada kita berupa keberkahan dan pahala yang berlipat ganda atas amal saleh yang kita kerjakan pada bulan yang mulia ini dengan syarat adanya keikhlasan dan mengikuti petunjuk nabawi.Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَالَ اللَّهُ تَعَالَى كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“Allah Ta’ala berfirman: Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)Berbicara tentang keikhlasan, maka dalam amalan puasa ini, tuntutan terhadap keikhlasan seorang hamba untuk mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah; sangat dituntut. Demikianlah jika kita coba merenungi makna hadis di atas. Betapa amalan puasa menjadi spesial di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karenanya, inilah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah.Banyak amal ibadah yang dapat kita lakukan di bulan mulia ini, yang kadang terlihat ringan dikerjakan, tapi jika tidak didorong oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh ganjaran pahala dari Allah, maka akan terasa berat. Jika kita tidak membekali ilmu tentang kemuliaan amalan-amalan saleh ini, khususnya di bulan Ramadan, maka semua terasa biasa saja. Oleh sebab itu, mari bekali diri dengan ilmu, dan maksimalkan ibadah-ibadah mulia seperti: salat malam (tarawih), tilawah Al-Qur’an, sedekah, zikir, doa, i’tikaf, dan berbagai amalan ibadah lain sesuai petunjuk Nabi.Keutamaan Lailatul QadarDi antara keutamaan terbesar Ramadan adalah adanya Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Persiapkanlah diri untuk momentum agung yang setara dengan seribu bulan ini. Sungguh, tidak ada orang yang lebih rugi dari mereka yang tidak memaksimalkan dan memanfaatkan kesempatan beribadah pada malam Lailatul Qadar.Allah Ta’ala berfirman,لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)Saudaraku, bayangkan bahwa seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda,مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)Berdasarkan hadis tersebut, kita memahami bahwa satu malam ibadah dapat mengubah kehidupan seorang hamba selamanya. Di sinilah kesempatan bagi kita untuk ikhtiar mengimbangi amalan umat-umat Nabi terdahulu yang diberkahi dengan umur panjang. Sementara kita, meski tidak memiliki umur sepanjang mereka, tapi kita berkahi dengan keberkahan momentum ibadah seperti Ramadan dan Lailatul Qadar.Baca juga: Carilah Keutamaan Malam Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanDi bulan ini, iman yang benar tidak berhenti pada salat dan tilawah, namun melahirkan empati, kepedulian, dan kedermawanan. Dan teladan terbesar dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bukan hanya manusia paling dermawan, tetapi kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan.Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan, lalu mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an bersamanya. Sungguh, Rasulullah lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemui beliau setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Angin berhembus cepat, menyentuh siapa saja tanpa pilih kasih, dan memberi manfaat luas. Demikian pula sedekah Nabi: cepat, tepat, dan menjangkau banyak orang.Kedermawanan beliau lahir dari hati yang penuh keyakinan bahwa dunia hanyalah titipan, dan bahwa apa yang disedekahkan tidak pernah mengurangi harta, justru menambah keberkahan. Ramadan mempertemukan dua kekuatan besar dalam diri seorang mukmin: tilawah yang menghidupkan hati dan sedekah yang melembutkan jiwa. Maka, siapa yang benar-benar merasakan manisnya Ramadan, ia akan ringan tangan membantu sesama, memberi makan orang yang berbuka, memperhatikan fakir miskin, dan memperluas manfaat untuk orang lain. Inilah bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang melapangkan hati.Menghargai waktu di bulan RamadanRamadan adalah bulan yang singkat, namun nilainya sangat besar. Hari-harinya terbatas, malam-malamnya terhitung, dan setiap detiknya bernilai pahala. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar menjaga waktunya dari perkara sia-sia yang tidak mendekatkannya kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ“(Puasa itu) dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah: 184)Ungkapan “ayyāman ma‘dūdāt” menunjukkan betapa cepatnya hari-hari itu berlalu. Ramadan tidak lama. Ia datang sebentar, lalu pergi meninggalkan bekas. Bagi yang memanfaatkannya, ia meninggalkan pahala; bagi yang lalai, ia meninggalkan penyesalan. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, namun kini telah berada di alam kubur dan tidak lagi memiliki kesempatan untuk berpuasa satu hari pun.Karena memahami hal ini, para ulama Salaf sangat menjaga waktu mereka di bulan Ramadan. Mereka memperbanyak tilawah Al-Qur’an, bahkan sebagian dari mereka mengkhatamkannya berkali-kali. Mereka mengurangi pembicaraan yang tidak bermanfaat, menjauhi majelis sia-sia, dan memfokuskan diri pada salat, zikir, doa, serta i’tikaf. Imam Malik rahimahullah ketika memasuki Ramadan meninggalkan majelis hadis dan fokus membaca Al-Qur’an. Mereka sadar bahwa Ramadan adalah musim panen, bukan musim santai.Mereka memahami bahwa Ramadan adalah kesempatan yang mungkin tidak akan kembali. Seorang mukmin sejati tidak tertipu oleh panjangnya angan-angan. Ia menyadari bahwa bisa jadi ini adalah Ramadan terakhirnya. Oleh karena itu, ia berusaha agar tidak ada satu malam pun berlalu tanpa qiyamullail, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa tilawah, dan tidak ada satu kesempatan pun terlewat tanpa amal.Ramadan adalah karunia besar dari Allah Ta’ala. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Ada yang telah wafat sebelum ia datang, ada yang hidup tetapi tidak diberi kekuatan untuk beribadah secara optimal.Semata-mata bertemu dengan Ramadan adalah nikmat yang sangat agung. Namun, bertemu saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah diberi taufik untuk mengisinya dengan ketaatan. Sebab banyak orang yang hadir secara fisik di bulan Ramadan, tetapi hatinya lalai dan waktunya habis dalam perkara yang tidak bernilai akhirat.Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam beribadah. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ“Dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang berhasil memanfaatkan Ramadan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.Aamiin. Wallahu a’lam.Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Ramadan dan Kesempatan Emas yang Sering Disia-Siakan

Daftar Isi ToggleKeutamaan amal di bulan RamadanKeutamaan Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanMenghargai waktu di bulan RamadanBulan Ramadan adalah musim kebaikan yang paling agung dalam kehidupan seorang muslim. Sebuah momentum besar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Ta’ala dan meningkatkan kualitas ibadah.Kesempatan berupa nyawa yang masih diberikan, kesehatan, ilmu, ekonomi, dan kemampuan yang dianugerahkan kepada Allah kepada kita sehingga kita mampu menjalani ibadah yang agung ini adalah nikmat yang sangat besar. Nikmat yang sungguh sangat dirindukan oleh orang-orang yang telah mendahului kita, yang mungkin mereka menginginkan kembali ke dunia untuk beramal sesaat saja. Inilah gambaran betapa bulan mulia ini amalan seorang hamba dilipatgandakan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, ia berkata, ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya ketika Ramadan datang, karena bulan ini adalah bulan keberkahan, ampunan, dan rahmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ“Apabila Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh. Jalan menuju kebaikan dibuka lebar, sementara penghalang-penghalang ketaatan dipersempit. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menyambut Ramadan dengan persiapan iman, ilmu, dan amal, sebagaimana seorang pedagang bersiap menghadapi musim keuntungan besar.Bahkan, kita bisa membayangkan bahwa bisa jadi ini merupakan kesempatan terakhir kita untuk beramal di bulan Ramadan. Tidak ada yang tahu, bisa jadi Ramadan tahun depan kita telah kembali ke asal (kubur) karena jatah hidup kita sampai disini.Maka, sangat layak bagi kita untuk benar-benar menjadikan momentum ‘akhir’ ini sebagai persembahan terbaik kita kepada Allah Ta’ala dengan segala amal saleh yang bisa kita kerjakan semaksimal yang kita mampu sesuai petunjuk sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Keutamaan amal di bulan RamadanSalah satu keistimewaan Ramadan adalah dilipatgandakannya pahala amal saleh. Bacalah sejarah umat-umat Nabi terdahulu, Allah Ta’ala memberikan mereka umur yang panjang hingga ratusan tahun. Sementara kita, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah batasi dalam rentang 60 – 70 tahun. Namun, Allah memberikan keistimewaan kepada kita berupa keberkahan dan pahala yang berlipat ganda atas amal saleh yang kita kerjakan pada bulan yang mulia ini dengan syarat adanya keikhlasan dan mengikuti petunjuk nabawi.Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَالَ اللَّهُ تَعَالَى كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“Allah Ta’ala berfirman: Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)Berbicara tentang keikhlasan, maka dalam amalan puasa ini, tuntutan terhadap keikhlasan seorang hamba untuk mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah; sangat dituntut. Demikianlah jika kita coba merenungi makna hadis di atas. Betapa amalan puasa menjadi spesial di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karenanya, inilah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah.Banyak amal ibadah yang dapat kita lakukan di bulan mulia ini, yang kadang terlihat ringan dikerjakan, tapi jika tidak didorong oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh ganjaran pahala dari Allah, maka akan terasa berat. Jika kita tidak membekali ilmu tentang kemuliaan amalan-amalan saleh ini, khususnya di bulan Ramadan, maka semua terasa biasa saja. Oleh sebab itu, mari bekali diri dengan ilmu, dan maksimalkan ibadah-ibadah mulia seperti: salat malam (tarawih), tilawah Al-Qur’an, sedekah, zikir, doa, i’tikaf, dan berbagai amalan ibadah lain sesuai petunjuk Nabi.Keutamaan Lailatul QadarDi antara keutamaan terbesar Ramadan adalah adanya Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Persiapkanlah diri untuk momentum agung yang setara dengan seribu bulan ini. Sungguh, tidak ada orang yang lebih rugi dari mereka yang tidak memaksimalkan dan memanfaatkan kesempatan beribadah pada malam Lailatul Qadar.Allah Ta’ala berfirman,لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)Saudaraku, bayangkan bahwa seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda,مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)Berdasarkan hadis tersebut, kita memahami bahwa satu malam ibadah dapat mengubah kehidupan seorang hamba selamanya. Di sinilah kesempatan bagi kita untuk ikhtiar mengimbangi amalan umat-umat Nabi terdahulu yang diberkahi dengan umur panjang. Sementara kita, meski tidak memiliki umur sepanjang mereka, tapi kita berkahi dengan keberkahan momentum ibadah seperti Ramadan dan Lailatul Qadar.Baca juga: Carilah Keutamaan Malam Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanDi bulan ini, iman yang benar tidak berhenti pada salat dan tilawah, namun melahirkan empati, kepedulian, dan kedermawanan. Dan teladan terbesar dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bukan hanya manusia paling dermawan, tetapi kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan.Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan, lalu mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an bersamanya. Sungguh, Rasulullah lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemui beliau setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Angin berhembus cepat, menyentuh siapa saja tanpa pilih kasih, dan memberi manfaat luas. Demikian pula sedekah Nabi: cepat, tepat, dan menjangkau banyak orang.Kedermawanan beliau lahir dari hati yang penuh keyakinan bahwa dunia hanyalah titipan, dan bahwa apa yang disedekahkan tidak pernah mengurangi harta, justru menambah keberkahan. Ramadan mempertemukan dua kekuatan besar dalam diri seorang mukmin: tilawah yang menghidupkan hati dan sedekah yang melembutkan jiwa. Maka, siapa yang benar-benar merasakan manisnya Ramadan, ia akan ringan tangan membantu sesama, memberi makan orang yang berbuka, memperhatikan fakir miskin, dan memperluas manfaat untuk orang lain. Inilah bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang melapangkan hati.Menghargai waktu di bulan RamadanRamadan adalah bulan yang singkat, namun nilainya sangat besar. Hari-harinya terbatas, malam-malamnya terhitung, dan setiap detiknya bernilai pahala. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar menjaga waktunya dari perkara sia-sia yang tidak mendekatkannya kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ“(Puasa itu) dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah: 184)Ungkapan “ayyāman ma‘dūdāt” menunjukkan betapa cepatnya hari-hari itu berlalu. Ramadan tidak lama. Ia datang sebentar, lalu pergi meninggalkan bekas. Bagi yang memanfaatkannya, ia meninggalkan pahala; bagi yang lalai, ia meninggalkan penyesalan. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, namun kini telah berada di alam kubur dan tidak lagi memiliki kesempatan untuk berpuasa satu hari pun.Karena memahami hal ini, para ulama Salaf sangat menjaga waktu mereka di bulan Ramadan. Mereka memperbanyak tilawah Al-Qur’an, bahkan sebagian dari mereka mengkhatamkannya berkali-kali. Mereka mengurangi pembicaraan yang tidak bermanfaat, menjauhi majelis sia-sia, dan memfokuskan diri pada salat, zikir, doa, serta i’tikaf. Imam Malik rahimahullah ketika memasuki Ramadan meninggalkan majelis hadis dan fokus membaca Al-Qur’an. Mereka sadar bahwa Ramadan adalah musim panen, bukan musim santai.Mereka memahami bahwa Ramadan adalah kesempatan yang mungkin tidak akan kembali. Seorang mukmin sejati tidak tertipu oleh panjangnya angan-angan. Ia menyadari bahwa bisa jadi ini adalah Ramadan terakhirnya. Oleh karena itu, ia berusaha agar tidak ada satu malam pun berlalu tanpa qiyamullail, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa tilawah, dan tidak ada satu kesempatan pun terlewat tanpa amal.Ramadan adalah karunia besar dari Allah Ta’ala. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Ada yang telah wafat sebelum ia datang, ada yang hidup tetapi tidak diberi kekuatan untuk beribadah secara optimal.Semata-mata bertemu dengan Ramadan adalah nikmat yang sangat agung. Namun, bertemu saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah diberi taufik untuk mengisinya dengan ketaatan. Sebab banyak orang yang hadir secara fisik di bulan Ramadan, tetapi hatinya lalai dan waktunya habis dalam perkara yang tidak bernilai akhirat.Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam beribadah. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ“Dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang berhasil memanfaatkan Ramadan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.Aamiin. Wallahu a’lam.Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKeutamaan amal di bulan RamadanKeutamaan Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanMenghargai waktu di bulan RamadanBulan Ramadan adalah musim kebaikan yang paling agung dalam kehidupan seorang muslim. Sebuah momentum besar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Ta’ala dan meningkatkan kualitas ibadah.Kesempatan berupa nyawa yang masih diberikan, kesehatan, ilmu, ekonomi, dan kemampuan yang dianugerahkan kepada Allah kepada kita sehingga kita mampu menjalani ibadah yang agung ini adalah nikmat yang sangat besar. Nikmat yang sungguh sangat dirindukan oleh orang-orang yang telah mendahului kita, yang mungkin mereka menginginkan kembali ke dunia untuk beramal sesaat saja. Inilah gambaran betapa bulan mulia ini amalan seorang hamba dilipatgandakan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, ia berkata, ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya ketika Ramadan datang, karena bulan ini adalah bulan keberkahan, ampunan, dan rahmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ“Apabila Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh. Jalan menuju kebaikan dibuka lebar, sementara penghalang-penghalang ketaatan dipersempit. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menyambut Ramadan dengan persiapan iman, ilmu, dan amal, sebagaimana seorang pedagang bersiap menghadapi musim keuntungan besar.Bahkan, kita bisa membayangkan bahwa bisa jadi ini merupakan kesempatan terakhir kita untuk beramal di bulan Ramadan. Tidak ada yang tahu, bisa jadi Ramadan tahun depan kita telah kembali ke asal (kubur) karena jatah hidup kita sampai disini.Maka, sangat layak bagi kita untuk benar-benar menjadikan momentum ‘akhir’ ini sebagai persembahan terbaik kita kepada Allah Ta’ala dengan segala amal saleh yang bisa kita kerjakan semaksimal yang kita mampu sesuai petunjuk sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Keutamaan amal di bulan RamadanSalah satu keistimewaan Ramadan adalah dilipatgandakannya pahala amal saleh. Bacalah sejarah umat-umat Nabi terdahulu, Allah Ta’ala memberikan mereka umur yang panjang hingga ratusan tahun. Sementara kita, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah batasi dalam rentang 60 – 70 tahun. Namun, Allah memberikan keistimewaan kepada kita berupa keberkahan dan pahala yang berlipat ganda atas amal saleh yang kita kerjakan pada bulan yang mulia ini dengan syarat adanya keikhlasan dan mengikuti petunjuk nabawi.Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَالَ اللَّهُ تَعَالَى كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“Allah Ta’ala berfirman: Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)Berbicara tentang keikhlasan, maka dalam amalan puasa ini, tuntutan terhadap keikhlasan seorang hamba untuk mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah; sangat dituntut. Demikianlah jika kita coba merenungi makna hadis di atas. Betapa amalan puasa menjadi spesial di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karenanya, inilah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah.Banyak amal ibadah yang dapat kita lakukan di bulan mulia ini, yang kadang terlihat ringan dikerjakan, tapi jika tidak didorong oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh ganjaran pahala dari Allah, maka akan terasa berat. Jika kita tidak membekali ilmu tentang kemuliaan amalan-amalan saleh ini, khususnya di bulan Ramadan, maka semua terasa biasa saja. Oleh sebab itu, mari bekali diri dengan ilmu, dan maksimalkan ibadah-ibadah mulia seperti: salat malam (tarawih), tilawah Al-Qur’an, sedekah, zikir, doa, i’tikaf, dan berbagai amalan ibadah lain sesuai petunjuk Nabi.Keutamaan Lailatul QadarDi antara keutamaan terbesar Ramadan adalah adanya Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Persiapkanlah diri untuk momentum agung yang setara dengan seribu bulan ini. Sungguh, tidak ada orang yang lebih rugi dari mereka yang tidak memaksimalkan dan memanfaatkan kesempatan beribadah pada malam Lailatul Qadar.Allah Ta’ala berfirman,لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)Saudaraku, bayangkan bahwa seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda,مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)Berdasarkan hadis tersebut, kita memahami bahwa satu malam ibadah dapat mengubah kehidupan seorang hamba selamanya. Di sinilah kesempatan bagi kita untuk ikhtiar mengimbangi amalan umat-umat Nabi terdahulu yang diberkahi dengan umur panjang. Sementara kita, meski tidak memiliki umur sepanjang mereka, tapi kita berkahi dengan keberkahan momentum ibadah seperti Ramadan dan Lailatul Qadar.Baca juga: Carilah Keutamaan Malam Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanDi bulan ini, iman yang benar tidak berhenti pada salat dan tilawah, namun melahirkan empati, kepedulian, dan kedermawanan. Dan teladan terbesar dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bukan hanya manusia paling dermawan, tetapi kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan.Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan, lalu mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an bersamanya. Sungguh, Rasulullah lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemui beliau setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Angin berhembus cepat, menyentuh siapa saja tanpa pilih kasih, dan memberi manfaat luas. Demikian pula sedekah Nabi: cepat, tepat, dan menjangkau banyak orang.Kedermawanan beliau lahir dari hati yang penuh keyakinan bahwa dunia hanyalah titipan, dan bahwa apa yang disedekahkan tidak pernah mengurangi harta, justru menambah keberkahan. Ramadan mempertemukan dua kekuatan besar dalam diri seorang mukmin: tilawah yang menghidupkan hati dan sedekah yang melembutkan jiwa. Maka, siapa yang benar-benar merasakan manisnya Ramadan, ia akan ringan tangan membantu sesama, memberi makan orang yang berbuka, memperhatikan fakir miskin, dan memperluas manfaat untuk orang lain. Inilah bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang melapangkan hati.Menghargai waktu di bulan RamadanRamadan adalah bulan yang singkat, namun nilainya sangat besar. Hari-harinya terbatas, malam-malamnya terhitung, dan setiap detiknya bernilai pahala. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar menjaga waktunya dari perkara sia-sia yang tidak mendekatkannya kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ“(Puasa itu) dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah: 184)Ungkapan “ayyāman ma‘dūdāt” menunjukkan betapa cepatnya hari-hari itu berlalu. Ramadan tidak lama. Ia datang sebentar, lalu pergi meninggalkan bekas. Bagi yang memanfaatkannya, ia meninggalkan pahala; bagi yang lalai, ia meninggalkan penyesalan. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, namun kini telah berada di alam kubur dan tidak lagi memiliki kesempatan untuk berpuasa satu hari pun.Karena memahami hal ini, para ulama Salaf sangat menjaga waktu mereka di bulan Ramadan. Mereka memperbanyak tilawah Al-Qur’an, bahkan sebagian dari mereka mengkhatamkannya berkali-kali. Mereka mengurangi pembicaraan yang tidak bermanfaat, menjauhi majelis sia-sia, dan memfokuskan diri pada salat, zikir, doa, serta i’tikaf. Imam Malik rahimahullah ketika memasuki Ramadan meninggalkan majelis hadis dan fokus membaca Al-Qur’an. Mereka sadar bahwa Ramadan adalah musim panen, bukan musim santai.Mereka memahami bahwa Ramadan adalah kesempatan yang mungkin tidak akan kembali. Seorang mukmin sejati tidak tertipu oleh panjangnya angan-angan. Ia menyadari bahwa bisa jadi ini adalah Ramadan terakhirnya. Oleh karena itu, ia berusaha agar tidak ada satu malam pun berlalu tanpa qiyamullail, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa tilawah, dan tidak ada satu kesempatan pun terlewat tanpa amal.Ramadan adalah karunia besar dari Allah Ta’ala. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Ada yang telah wafat sebelum ia datang, ada yang hidup tetapi tidak diberi kekuatan untuk beribadah secara optimal.Semata-mata bertemu dengan Ramadan adalah nikmat yang sangat agung. Namun, bertemu saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah diberi taufik untuk mengisinya dengan ketaatan. Sebab banyak orang yang hadir secara fisik di bulan Ramadan, tetapi hatinya lalai dan waktunya habis dalam perkara yang tidak bernilai akhirat.Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam beribadah. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ“Dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang berhasil memanfaatkan Ramadan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.Aamiin. Wallahu a’lam.Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKeutamaan amal di bulan RamadanKeutamaan Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanMenghargai waktu di bulan RamadanBulan Ramadan adalah musim kebaikan yang paling agung dalam kehidupan seorang muslim. Sebuah momentum besar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Ta’ala dan meningkatkan kualitas ibadah.Kesempatan berupa nyawa yang masih diberikan, kesehatan, ilmu, ekonomi, dan kemampuan yang dianugerahkan kepada Allah kepada kita sehingga kita mampu menjalani ibadah yang agung ini adalah nikmat yang sangat besar. Nikmat yang sungguh sangat dirindukan oleh orang-orang yang telah mendahului kita, yang mungkin mereka menginginkan kembali ke dunia untuk beramal sesaat saja. Inilah gambaran betapa bulan mulia ini amalan seorang hamba dilipatgandakan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, ia berkata, ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya ketika Ramadan datang, karena bulan ini adalah bulan keberkahan, ampunan, dan rahmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ“Apabila Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh. Jalan menuju kebaikan dibuka lebar, sementara penghalang-penghalang ketaatan dipersempit. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menyambut Ramadan dengan persiapan iman, ilmu, dan amal, sebagaimana seorang pedagang bersiap menghadapi musim keuntungan besar.Bahkan, kita bisa membayangkan bahwa bisa jadi ini merupakan kesempatan terakhir kita untuk beramal di bulan Ramadan. Tidak ada yang tahu, bisa jadi Ramadan tahun depan kita telah kembali ke asal (kubur) karena jatah hidup kita sampai disini.Maka, sangat layak bagi kita untuk benar-benar menjadikan momentum ‘akhir’ ini sebagai persembahan terbaik kita kepada Allah Ta’ala dengan segala amal saleh yang bisa kita kerjakan semaksimal yang kita mampu sesuai petunjuk sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Keutamaan amal di bulan RamadanSalah satu keistimewaan Ramadan adalah dilipatgandakannya pahala amal saleh. Bacalah sejarah umat-umat Nabi terdahulu, Allah Ta’ala memberikan mereka umur yang panjang hingga ratusan tahun. Sementara kita, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah batasi dalam rentang 60 – 70 tahun. Namun, Allah memberikan keistimewaan kepada kita berupa keberkahan dan pahala yang berlipat ganda atas amal saleh yang kita kerjakan pada bulan yang mulia ini dengan syarat adanya keikhlasan dan mengikuti petunjuk nabawi.Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَالَ اللَّهُ تَعَالَى كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“Allah Ta’ala berfirman: Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)Berbicara tentang keikhlasan, maka dalam amalan puasa ini, tuntutan terhadap keikhlasan seorang hamba untuk mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah; sangat dituntut. Demikianlah jika kita coba merenungi makna hadis di atas. Betapa amalan puasa menjadi spesial di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karenanya, inilah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah.Banyak amal ibadah yang dapat kita lakukan di bulan mulia ini, yang kadang terlihat ringan dikerjakan, tapi jika tidak didorong oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh ganjaran pahala dari Allah, maka akan terasa berat. Jika kita tidak membekali ilmu tentang kemuliaan amalan-amalan saleh ini, khususnya di bulan Ramadan, maka semua terasa biasa saja. Oleh sebab itu, mari bekali diri dengan ilmu, dan maksimalkan ibadah-ibadah mulia seperti: salat malam (tarawih), tilawah Al-Qur’an, sedekah, zikir, doa, i’tikaf, dan berbagai amalan ibadah lain sesuai petunjuk Nabi.Keutamaan Lailatul QadarDi antara keutamaan terbesar Ramadan adalah adanya Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Persiapkanlah diri untuk momentum agung yang setara dengan seribu bulan ini. Sungguh, tidak ada orang yang lebih rugi dari mereka yang tidak memaksimalkan dan memanfaatkan kesempatan beribadah pada malam Lailatul Qadar.Allah Ta’ala berfirman,لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)Saudaraku, bayangkan bahwa seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda,مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)Berdasarkan hadis tersebut, kita memahami bahwa satu malam ibadah dapat mengubah kehidupan seorang hamba selamanya. Di sinilah kesempatan bagi kita untuk ikhtiar mengimbangi amalan umat-umat Nabi terdahulu yang diberkahi dengan umur panjang. Sementara kita, meski tidak memiliki umur sepanjang mereka, tapi kita berkahi dengan keberkahan momentum ibadah seperti Ramadan dan Lailatul Qadar.Baca juga: Carilah Keutamaan Malam Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanDi bulan ini, iman yang benar tidak berhenti pada salat dan tilawah, namun melahirkan empati, kepedulian, dan kedermawanan. Dan teladan terbesar dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bukan hanya manusia paling dermawan, tetapi kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan.Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan, lalu mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an bersamanya. Sungguh, Rasulullah lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemui beliau setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Angin berhembus cepat, menyentuh siapa saja tanpa pilih kasih, dan memberi manfaat luas. Demikian pula sedekah Nabi: cepat, tepat, dan menjangkau banyak orang.Kedermawanan beliau lahir dari hati yang penuh keyakinan bahwa dunia hanyalah titipan, dan bahwa apa yang disedekahkan tidak pernah mengurangi harta, justru menambah keberkahan. Ramadan mempertemukan dua kekuatan besar dalam diri seorang mukmin: tilawah yang menghidupkan hati dan sedekah yang melembutkan jiwa. Maka, siapa yang benar-benar merasakan manisnya Ramadan, ia akan ringan tangan membantu sesama, memberi makan orang yang berbuka, memperhatikan fakir miskin, dan memperluas manfaat untuk orang lain. Inilah bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang melapangkan hati.Menghargai waktu di bulan RamadanRamadan adalah bulan yang singkat, namun nilainya sangat besar. Hari-harinya terbatas, malam-malamnya terhitung, dan setiap detiknya bernilai pahala. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar menjaga waktunya dari perkara sia-sia yang tidak mendekatkannya kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ“(Puasa itu) dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah: 184)Ungkapan “ayyāman ma‘dūdāt” menunjukkan betapa cepatnya hari-hari itu berlalu. Ramadan tidak lama. Ia datang sebentar, lalu pergi meninggalkan bekas. Bagi yang memanfaatkannya, ia meninggalkan pahala; bagi yang lalai, ia meninggalkan penyesalan. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, namun kini telah berada di alam kubur dan tidak lagi memiliki kesempatan untuk berpuasa satu hari pun.Karena memahami hal ini, para ulama Salaf sangat menjaga waktu mereka di bulan Ramadan. Mereka memperbanyak tilawah Al-Qur’an, bahkan sebagian dari mereka mengkhatamkannya berkali-kali. Mereka mengurangi pembicaraan yang tidak bermanfaat, menjauhi majelis sia-sia, dan memfokuskan diri pada salat, zikir, doa, serta i’tikaf. Imam Malik rahimahullah ketika memasuki Ramadan meninggalkan majelis hadis dan fokus membaca Al-Qur’an. Mereka sadar bahwa Ramadan adalah musim panen, bukan musim santai.Mereka memahami bahwa Ramadan adalah kesempatan yang mungkin tidak akan kembali. Seorang mukmin sejati tidak tertipu oleh panjangnya angan-angan. Ia menyadari bahwa bisa jadi ini adalah Ramadan terakhirnya. Oleh karena itu, ia berusaha agar tidak ada satu malam pun berlalu tanpa qiyamullail, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa tilawah, dan tidak ada satu kesempatan pun terlewat tanpa amal.Ramadan adalah karunia besar dari Allah Ta’ala. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Ada yang telah wafat sebelum ia datang, ada yang hidup tetapi tidak diberi kekuatan untuk beribadah secara optimal.Semata-mata bertemu dengan Ramadan adalah nikmat yang sangat agung. Namun, bertemu saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah diberi taufik untuk mengisinya dengan ketaatan. Sebab banyak orang yang hadir secara fisik di bulan Ramadan, tetapi hatinya lalai dan waktunya habis dalam perkara yang tidak bernilai akhirat.Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam beribadah. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ“Dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang berhasil memanfaatkan Ramadan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.Aamiin. Wallahu a’lam.Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Kisah Nabi Yunus dalam Perut Ikan: Doa yang Menghilangkan Kesedihan

Kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam merupakan salah satu pelajaran besar tentang taubat, kesabaran, dan harapan kepada Allah. Ketika berada dalam kegelapan perut ikan dan lautan, beliau memanjatkan doa yang penuh pengakuan dan kerendahan diri. Dari kisah ini, Allah memberikan kabar gembira bahwa siapa pun yang beriman dan kembali kepada-Nya akan diselamatkan dari kesulitan.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’an 2. Perintah Bersabar bagi Rasulullah 3. Kesimpulan  Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.” (QS. Al-Anbiya’: 87)فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 88) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Maksudnya: ingatlah hamba dan rasul Kami yang bernama Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus. Ia disebut Dzun-Nun (pemilik ikan) karena peristiwa ketika ia ditelan oleh ikan besar. Sebutlah ia dengan sebutan yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala telah mengutusnya kepada kaumnya. Ia pun berdakwah kepada mereka, tetapi mereka tidak mau beriman. Maka Nabi Yunus memperingatkan mereka bahwa azab akan turun dalam waktu tertentu yang telah ia tetapkan bagi mereka.Ketika azab itu benar-benar datang dan mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri, mereka segera memohon kepada Allah, berseru dengan penuh penyesalan, dan bertaubat kepada-Nya. Lalu Allah mengangkat azab tersebut dari mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Tidak ada suatu negeri pun yang beriman lalu imannya itu bermanfaat baginya, selain kaum Yunus. Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan sampai waktu tertentu.” (QS. Yunus: 98)Baca juga: Mengapa Iman Saat Azab Tidak Diterima? Kisah Kaum Yunus dalam Tafsir QS. Yunus: 98Allah juga berfirman,وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ ۝ فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Dan Kami mengutusnya kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, maka Kami beri mereka kesenangan hidup sampai waktu tertentu.” (QS. Ash-Shaffat: 147–148)Kaum yang besar jumlahnya ini—yang beriman kepada dakwah Nabi Yunus—menjadi salah satu keutamaan besar bagi beliau.Namun Nabi Yunus ‘alaihis salam pernah pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya dan meninggalkan mereka sebelum ada perintah dari Allah. Ia seakan-akan “melarikan diri” dari Tuhannya karena suatu kesalahan yang dilakukannya. Kesalahan itu tidak disebutkan secara rinci oleh Allah dalam Al-Qur’an, dan tidak ada kebutuhan bagi kita untuk menentukan secara pasti bentuk kesalahan tersebut.Sebagaimana firman Allah,إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ ۝ وَهُوَ مُلِيمٌ“Ketika ia melarikan diri menuju kapal, sementara ia dalam keadaan melakukan sesuatu yang patut dicela.” (QS. Ash-Shaffat: 140–142)Yang tampak adalah bahwa beliau tergesa-gesa meninggalkan kaumnya karena marah kepada mereka, dan keluar dari tengah-tengah mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia menyangka bahwa Allah tidak akan menyempitkan dirinya, yaitu dengan menempatkannya dalam kesempitan seperti di dalam perut ikan, atau ia mengira bahwa dirinya akan luput dari ketentuan Allah.Tidak mengapa jika prasangka seperti ini sempat terlintas pada manusia yang paling sempurna sekalipun, selama prasangka itu tidak menetap dan tidak terus-menerus berada dalam hatinya.Kemudian Nabi Yunus menaiki sebuah kapal bersama beberapa orang. Mereka pun melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut, karena mereka khawatir kapal akan tenggelam jika semua orang tetap berada di atasnya.Baca juga: Hukum Hadiah Undian, Doorprize, dan Giveaway, Apakah Termasuk Judi?Undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dan membawanya ke dalam kegelapan lautan. Di dalam kegelapan itu ia berdoa,لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)Dalam doa itu Nabi Yunus mengakui kesempurnaan keesaan Allah dalam ibadah, mensucikan-Nya dari segala kekurangan, cacat, dan aib, serta mengakui kesalahan dan dosa yang ia lakukan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ“Maka Kami pun mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kesusahan.”Maksudnya, dari kesempitan dan penderitaan yang menimpanya.Kemudian Allah berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”Ayat ini merupakan janji dan kabar gembira bagi setiap orang beriman yang tertimpa kesulitan dan kesedihan. Allah Ta’ala akan menyelamatkannya dari kesulitan itu, menghilangkan kesusahannya, dan meringankan bebannya karena keimanannya, sebagaimana Allah telah menyelamatkan Nabi Yunus ‘alaihis salam.Baca juga: Mustajabnya Doa Dzun Nuun, Nabi Yunus Perintah Bersabar bagi RasulullahAllah Ta’ala berfirman,فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (QS. Al-Qalam: 48)لَّوْلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعْمَةٌ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلْعَرَآءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ“Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.” (QS. Al-Qalam: 49)فَٱجْتَبَٰهُ رَبُّهُۥ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Qalam: 50)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat ini.Setelah berbagai penentangan dari kaumnya, tidak ada yang tersisa bagi Rasul selain bersabar atas gangguan mereka, menanggung apa yang keluar dari mereka, serta terus melanjutkan dakwah kepada mereka.Karena itu Allah berfirman:فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ“Bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu.”Maksudnya, bersabarlah terhadap apa yang telah Allah tetapkan, baik secara ketetapan takdir (qadar) maupun ketetapan syariat.Ketetapan takdir disikapi dengan kesabaran, terutama ketika di dalamnya terdapat hal yang menyakitkan. Ia tidak disambut dengan kemarahan atau keluh kesah.Sedangkan ketetapan syariat disikapi dengan menerima, tunduk, dan melaksanakan sepenuhnya perintah Allah.Kemudian Allah berfirman:وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ“Dan janganlah engkau seperti pemilik ikan.”Yang dimaksud adalah Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Artinya, jangan sampai engkau menyerupainya dalam keadaan yang menyebabkan beliau berada di dalam perut ikan.Keadaan itu adalah ketika beliau tidak bersabar terhadap kaumnya dengan kesabaran yang seharusnya, lalu pergi meninggalkan mereka dalam keadaan marah kepada mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia kemudian menaiki kapal di laut.Ketika kapal itu menjadi terlalu berat dengan para penumpangnya, mereka melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut agar kapal menjadi lebih ringan. Ternyata undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dalam keadaan beliau telah melakukan sesuatu yang patut dicela.Allah berfirman:إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Ketika ia berdoa dalam keadaan sangat tertekan.”Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan yang menahannya, atau ketika ia berdoa dalam keadaan sangat sedih dan penuh kegelisahan. Ia berdoa dengan ucapan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”Lalu Allah mengabulkan doanya. Ikan itu pun memuntahkannya ke daratan yang kosong, sementara beliau dalam keadaan sakit. Kemudian Allah menumbuhkan untuknya sebuah pohon dari jenis yaqtin (sejenis tanaman labu) untuk menaunginya dan memulihkan tubuhnya.Baca juga: Doa Agar Segala Keinginan Terkabul, Bagus Dibaca Saat Menghadapi Kesulitan dan KesedihanImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-Qalam:Yang dimaksud adalah Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Hal itu terjadi ketika ia pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya. Lalu terjadilah apa yang terjadi: ia menaiki kapal di laut, kemudian seekor ikan menelannya. Ikan itu pun membawanya berkeliling di lautan dan dalam kegelapan gelombang laut yang dalam.Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa ketika Nabi Yunus mengucapkan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَucapan itu naik dan berkeliling di sekitar ‘Arsy. Para malaikat pun berkata, “Wahai Rabb kami, ini adalah suara yang lemah tetapi dikenal, berasal dari tempat yang asing.”Allah berfirman, “Apakah kalian tidak mengenalnya?”Mereka menjawab, “Tidak.”Allah berfirman, “Itu adalah Yunus.”Para malaikat berkata, “Wahai Rabb kami, bukankah dia hamba-Mu yang selalu diangkat amal salehnya dan doanya selalu dikabulkan?”Allah berfirman, “Benar.”Mereka berkata, “Tidakkah Engkau akan merahmati amalnya di waktu lapang, lalu menyelamatkannya dari kesulitan ini?”Maka Allah memerintahkan ikan tersebut untuk memuntahkannya ke daratan yang kosong. Karena itulah Allah berfirman:فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.”Imam Ahmad meriwayatkan: telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:«لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ: أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى»“Tidak pantas bagi siapa pun mengatakan: ‘Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.’”Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari melalui jalur Sufyan Ats-Tsauri, dan terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. KesimpulanKetika seorang hamba mengakui kesalahannya dan kembali kepada Allah dengan tulus, Allah akan membukakan jalan keluar dari kesulitan yang paling gelap sekalipun. Kisah Nabi Yunus juga mengajarkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan tauhid, tasbih, dan pengakuan dosa merupakan sebab datangnya pertolongan Allah.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 18 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa dzun nun doa nabi yunus doa saat kesulitan kisah nabi dalam quran kisah nabi yunus kisah nabi yunus dalam perut ikan renungan ayat renungan quran tafsir al anbiya 87 tafsir al qalam 48 tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir

Kisah Nabi Yunus dalam Perut Ikan: Doa yang Menghilangkan Kesedihan

Kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam merupakan salah satu pelajaran besar tentang taubat, kesabaran, dan harapan kepada Allah. Ketika berada dalam kegelapan perut ikan dan lautan, beliau memanjatkan doa yang penuh pengakuan dan kerendahan diri. Dari kisah ini, Allah memberikan kabar gembira bahwa siapa pun yang beriman dan kembali kepada-Nya akan diselamatkan dari kesulitan.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’an 2. Perintah Bersabar bagi Rasulullah 3. Kesimpulan  Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.” (QS. Al-Anbiya’: 87)فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 88) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Maksudnya: ingatlah hamba dan rasul Kami yang bernama Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus. Ia disebut Dzun-Nun (pemilik ikan) karena peristiwa ketika ia ditelan oleh ikan besar. Sebutlah ia dengan sebutan yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala telah mengutusnya kepada kaumnya. Ia pun berdakwah kepada mereka, tetapi mereka tidak mau beriman. Maka Nabi Yunus memperingatkan mereka bahwa azab akan turun dalam waktu tertentu yang telah ia tetapkan bagi mereka.Ketika azab itu benar-benar datang dan mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri, mereka segera memohon kepada Allah, berseru dengan penuh penyesalan, dan bertaubat kepada-Nya. Lalu Allah mengangkat azab tersebut dari mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Tidak ada suatu negeri pun yang beriman lalu imannya itu bermanfaat baginya, selain kaum Yunus. Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan sampai waktu tertentu.” (QS. Yunus: 98)Baca juga: Mengapa Iman Saat Azab Tidak Diterima? Kisah Kaum Yunus dalam Tafsir QS. Yunus: 98Allah juga berfirman,وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ ۝ فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Dan Kami mengutusnya kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, maka Kami beri mereka kesenangan hidup sampai waktu tertentu.” (QS. Ash-Shaffat: 147–148)Kaum yang besar jumlahnya ini—yang beriman kepada dakwah Nabi Yunus—menjadi salah satu keutamaan besar bagi beliau.Namun Nabi Yunus ‘alaihis salam pernah pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya dan meninggalkan mereka sebelum ada perintah dari Allah. Ia seakan-akan “melarikan diri” dari Tuhannya karena suatu kesalahan yang dilakukannya. Kesalahan itu tidak disebutkan secara rinci oleh Allah dalam Al-Qur’an, dan tidak ada kebutuhan bagi kita untuk menentukan secara pasti bentuk kesalahan tersebut.Sebagaimana firman Allah,إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ ۝ وَهُوَ مُلِيمٌ“Ketika ia melarikan diri menuju kapal, sementara ia dalam keadaan melakukan sesuatu yang patut dicela.” (QS. Ash-Shaffat: 140–142)Yang tampak adalah bahwa beliau tergesa-gesa meninggalkan kaumnya karena marah kepada mereka, dan keluar dari tengah-tengah mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia menyangka bahwa Allah tidak akan menyempitkan dirinya, yaitu dengan menempatkannya dalam kesempitan seperti di dalam perut ikan, atau ia mengira bahwa dirinya akan luput dari ketentuan Allah.Tidak mengapa jika prasangka seperti ini sempat terlintas pada manusia yang paling sempurna sekalipun, selama prasangka itu tidak menetap dan tidak terus-menerus berada dalam hatinya.Kemudian Nabi Yunus menaiki sebuah kapal bersama beberapa orang. Mereka pun melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut, karena mereka khawatir kapal akan tenggelam jika semua orang tetap berada di atasnya.Baca juga: Hukum Hadiah Undian, Doorprize, dan Giveaway, Apakah Termasuk Judi?Undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dan membawanya ke dalam kegelapan lautan. Di dalam kegelapan itu ia berdoa,لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)Dalam doa itu Nabi Yunus mengakui kesempurnaan keesaan Allah dalam ibadah, mensucikan-Nya dari segala kekurangan, cacat, dan aib, serta mengakui kesalahan dan dosa yang ia lakukan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ“Maka Kami pun mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kesusahan.”Maksudnya, dari kesempitan dan penderitaan yang menimpanya.Kemudian Allah berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”Ayat ini merupakan janji dan kabar gembira bagi setiap orang beriman yang tertimpa kesulitan dan kesedihan. Allah Ta’ala akan menyelamatkannya dari kesulitan itu, menghilangkan kesusahannya, dan meringankan bebannya karena keimanannya, sebagaimana Allah telah menyelamatkan Nabi Yunus ‘alaihis salam.Baca juga: Mustajabnya Doa Dzun Nuun, Nabi Yunus Perintah Bersabar bagi RasulullahAllah Ta’ala berfirman,فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (QS. Al-Qalam: 48)لَّوْلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعْمَةٌ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلْعَرَآءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ“Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.” (QS. Al-Qalam: 49)فَٱجْتَبَٰهُ رَبُّهُۥ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Qalam: 50)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat ini.Setelah berbagai penentangan dari kaumnya, tidak ada yang tersisa bagi Rasul selain bersabar atas gangguan mereka, menanggung apa yang keluar dari mereka, serta terus melanjutkan dakwah kepada mereka.Karena itu Allah berfirman:فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ“Bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu.”Maksudnya, bersabarlah terhadap apa yang telah Allah tetapkan, baik secara ketetapan takdir (qadar) maupun ketetapan syariat.Ketetapan takdir disikapi dengan kesabaran, terutama ketika di dalamnya terdapat hal yang menyakitkan. Ia tidak disambut dengan kemarahan atau keluh kesah.Sedangkan ketetapan syariat disikapi dengan menerima, tunduk, dan melaksanakan sepenuhnya perintah Allah.Kemudian Allah berfirman:وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ“Dan janganlah engkau seperti pemilik ikan.”Yang dimaksud adalah Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Artinya, jangan sampai engkau menyerupainya dalam keadaan yang menyebabkan beliau berada di dalam perut ikan.Keadaan itu adalah ketika beliau tidak bersabar terhadap kaumnya dengan kesabaran yang seharusnya, lalu pergi meninggalkan mereka dalam keadaan marah kepada mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia kemudian menaiki kapal di laut.Ketika kapal itu menjadi terlalu berat dengan para penumpangnya, mereka melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut agar kapal menjadi lebih ringan. Ternyata undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dalam keadaan beliau telah melakukan sesuatu yang patut dicela.Allah berfirman:إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Ketika ia berdoa dalam keadaan sangat tertekan.”Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan yang menahannya, atau ketika ia berdoa dalam keadaan sangat sedih dan penuh kegelisahan. Ia berdoa dengan ucapan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”Lalu Allah mengabulkan doanya. Ikan itu pun memuntahkannya ke daratan yang kosong, sementara beliau dalam keadaan sakit. Kemudian Allah menumbuhkan untuknya sebuah pohon dari jenis yaqtin (sejenis tanaman labu) untuk menaunginya dan memulihkan tubuhnya.Baca juga: Doa Agar Segala Keinginan Terkabul, Bagus Dibaca Saat Menghadapi Kesulitan dan KesedihanImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-Qalam:Yang dimaksud adalah Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Hal itu terjadi ketika ia pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya. Lalu terjadilah apa yang terjadi: ia menaiki kapal di laut, kemudian seekor ikan menelannya. Ikan itu pun membawanya berkeliling di lautan dan dalam kegelapan gelombang laut yang dalam.Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa ketika Nabi Yunus mengucapkan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَucapan itu naik dan berkeliling di sekitar ‘Arsy. Para malaikat pun berkata, “Wahai Rabb kami, ini adalah suara yang lemah tetapi dikenal, berasal dari tempat yang asing.”Allah berfirman, “Apakah kalian tidak mengenalnya?”Mereka menjawab, “Tidak.”Allah berfirman, “Itu adalah Yunus.”Para malaikat berkata, “Wahai Rabb kami, bukankah dia hamba-Mu yang selalu diangkat amal salehnya dan doanya selalu dikabulkan?”Allah berfirman, “Benar.”Mereka berkata, “Tidakkah Engkau akan merahmati amalnya di waktu lapang, lalu menyelamatkannya dari kesulitan ini?”Maka Allah memerintahkan ikan tersebut untuk memuntahkannya ke daratan yang kosong. Karena itulah Allah berfirman:فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.”Imam Ahmad meriwayatkan: telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:«لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ: أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى»“Tidak pantas bagi siapa pun mengatakan: ‘Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.’”Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari melalui jalur Sufyan Ats-Tsauri, dan terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. KesimpulanKetika seorang hamba mengakui kesalahannya dan kembali kepada Allah dengan tulus, Allah akan membukakan jalan keluar dari kesulitan yang paling gelap sekalipun. Kisah Nabi Yunus juga mengajarkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan tauhid, tasbih, dan pengakuan dosa merupakan sebab datangnya pertolongan Allah.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 18 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa dzun nun doa nabi yunus doa saat kesulitan kisah nabi dalam quran kisah nabi yunus kisah nabi yunus dalam perut ikan renungan ayat renungan quran tafsir al anbiya 87 tafsir al qalam 48 tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir
Kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam merupakan salah satu pelajaran besar tentang taubat, kesabaran, dan harapan kepada Allah. Ketika berada dalam kegelapan perut ikan dan lautan, beliau memanjatkan doa yang penuh pengakuan dan kerendahan diri. Dari kisah ini, Allah memberikan kabar gembira bahwa siapa pun yang beriman dan kembali kepada-Nya akan diselamatkan dari kesulitan.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’an 2. Perintah Bersabar bagi Rasulullah 3. Kesimpulan  Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.” (QS. Al-Anbiya’: 87)فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 88) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Maksudnya: ingatlah hamba dan rasul Kami yang bernama Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus. Ia disebut Dzun-Nun (pemilik ikan) karena peristiwa ketika ia ditelan oleh ikan besar. Sebutlah ia dengan sebutan yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala telah mengutusnya kepada kaumnya. Ia pun berdakwah kepada mereka, tetapi mereka tidak mau beriman. Maka Nabi Yunus memperingatkan mereka bahwa azab akan turun dalam waktu tertentu yang telah ia tetapkan bagi mereka.Ketika azab itu benar-benar datang dan mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri, mereka segera memohon kepada Allah, berseru dengan penuh penyesalan, dan bertaubat kepada-Nya. Lalu Allah mengangkat azab tersebut dari mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Tidak ada suatu negeri pun yang beriman lalu imannya itu bermanfaat baginya, selain kaum Yunus. Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan sampai waktu tertentu.” (QS. Yunus: 98)Baca juga: Mengapa Iman Saat Azab Tidak Diterima? Kisah Kaum Yunus dalam Tafsir QS. Yunus: 98Allah juga berfirman,وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ ۝ فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Dan Kami mengutusnya kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, maka Kami beri mereka kesenangan hidup sampai waktu tertentu.” (QS. Ash-Shaffat: 147–148)Kaum yang besar jumlahnya ini—yang beriman kepada dakwah Nabi Yunus—menjadi salah satu keutamaan besar bagi beliau.Namun Nabi Yunus ‘alaihis salam pernah pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya dan meninggalkan mereka sebelum ada perintah dari Allah. Ia seakan-akan “melarikan diri” dari Tuhannya karena suatu kesalahan yang dilakukannya. Kesalahan itu tidak disebutkan secara rinci oleh Allah dalam Al-Qur’an, dan tidak ada kebutuhan bagi kita untuk menentukan secara pasti bentuk kesalahan tersebut.Sebagaimana firman Allah,إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ ۝ وَهُوَ مُلِيمٌ“Ketika ia melarikan diri menuju kapal, sementara ia dalam keadaan melakukan sesuatu yang patut dicela.” (QS. Ash-Shaffat: 140–142)Yang tampak adalah bahwa beliau tergesa-gesa meninggalkan kaumnya karena marah kepada mereka, dan keluar dari tengah-tengah mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia menyangka bahwa Allah tidak akan menyempitkan dirinya, yaitu dengan menempatkannya dalam kesempitan seperti di dalam perut ikan, atau ia mengira bahwa dirinya akan luput dari ketentuan Allah.Tidak mengapa jika prasangka seperti ini sempat terlintas pada manusia yang paling sempurna sekalipun, selama prasangka itu tidak menetap dan tidak terus-menerus berada dalam hatinya.Kemudian Nabi Yunus menaiki sebuah kapal bersama beberapa orang. Mereka pun melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut, karena mereka khawatir kapal akan tenggelam jika semua orang tetap berada di atasnya.Baca juga: Hukum Hadiah Undian, Doorprize, dan Giveaway, Apakah Termasuk Judi?Undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dan membawanya ke dalam kegelapan lautan. Di dalam kegelapan itu ia berdoa,لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)Dalam doa itu Nabi Yunus mengakui kesempurnaan keesaan Allah dalam ibadah, mensucikan-Nya dari segala kekurangan, cacat, dan aib, serta mengakui kesalahan dan dosa yang ia lakukan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ“Maka Kami pun mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kesusahan.”Maksudnya, dari kesempitan dan penderitaan yang menimpanya.Kemudian Allah berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”Ayat ini merupakan janji dan kabar gembira bagi setiap orang beriman yang tertimpa kesulitan dan kesedihan. Allah Ta’ala akan menyelamatkannya dari kesulitan itu, menghilangkan kesusahannya, dan meringankan bebannya karena keimanannya, sebagaimana Allah telah menyelamatkan Nabi Yunus ‘alaihis salam.Baca juga: Mustajabnya Doa Dzun Nuun, Nabi Yunus Perintah Bersabar bagi RasulullahAllah Ta’ala berfirman,فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (QS. Al-Qalam: 48)لَّوْلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعْمَةٌ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلْعَرَآءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ“Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.” (QS. Al-Qalam: 49)فَٱجْتَبَٰهُ رَبُّهُۥ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Qalam: 50)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat ini.Setelah berbagai penentangan dari kaumnya, tidak ada yang tersisa bagi Rasul selain bersabar atas gangguan mereka, menanggung apa yang keluar dari mereka, serta terus melanjutkan dakwah kepada mereka.Karena itu Allah berfirman:فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ“Bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu.”Maksudnya, bersabarlah terhadap apa yang telah Allah tetapkan, baik secara ketetapan takdir (qadar) maupun ketetapan syariat.Ketetapan takdir disikapi dengan kesabaran, terutama ketika di dalamnya terdapat hal yang menyakitkan. Ia tidak disambut dengan kemarahan atau keluh kesah.Sedangkan ketetapan syariat disikapi dengan menerima, tunduk, dan melaksanakan sepenuhnya perintah Allah.Kemudian Allah berfirman:وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ“Dan janganlah engkau seperti pemilik ikan.”Yang dimaksud adalah Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Artinya, jangan sampai engkau menyerupainya dalam keadaan yang menyebabkan beliau berada di dalam perut ikan.Keadaan itu adalah ketika beliau tidak bersabar terhadap kaumnya dengan kesabaran yang seharusnya, lalu pergi meninggalkan mereka dalam keadaan marah kepada mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia kemudian menaiki kapal di laut.Ketika kapal itu menjadi terlalu berat dengan para penumpangnya, mereka melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut agar kapal menjadi lebih ringan. Ternyata undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dalam keadaan beliau telah melakukan sesuatu yang patut dicela.Allah berfirman:إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Ketika ia berdoa dalam keadaan sangat tertekan.”Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan yang menahannya, atau ketika ia berdoa dalam keadaan sangat sedih dan penuh kegelisahan. Ia berdoa dengan ucapan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”Lalu Allah mengabulkan doanya. Ikan itu pun memuntahkannya ke daratan yang kosong, sementara beliau dalam keadaan sakit. Kemudian Allah menumbuhkan untuknya sebuah pohon dari jenis yaqtin (sejenis tanaman labu) untuk menaunginya dan memulihkan tubuhnya.Baca juga: Doa Agar Segala Keinginan Terkabul, Bagus Dibaca Saat Menghadapi Kesulitan dan KesedihanImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-Qalam:Yang dimaksud adalah Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Hal itu terjadi ketika ia pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya. Lalu terjadilah apa yang terjadi: ia menaiki kapal di laut, kemudian seekor ikan menelannya. Ikan itu pun membawanya berkeliling di lautan dan dalam kegelapan gelombang laut yang dalam.Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa ketika Nabi Yunus mengucapkan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَucapan itu naik dan berkeliling di sekitar ‘Arsy. Para malaikat pun berkata, “Wahai Rabb kami, ini adalah suara yang lemah tetapi dikenal, berasal dari tempat yang asing.”Allah berfirman, “Apakah kalian tidak mengenalnya?”Mereka menjawab, “Tidak.”Allah berfirman, “Itu adalah Yunus.”Para malaikat berkata, “Wahai Rabb kami, bukankah dia hamba-Mu yang selalu diangkat amal salehnya dan doanya selalu dikabulkan?”Allah berfirman, “Benar.”Mereka berkata, “Tidakkah Engkau akan merahmati amalnya di waktu lapang, lalu menyelamatkannya dari kesulitan ini?”Maka Allah memerintahkan ikan tersebut untuk memuntahkannya ke daratan yang kosong. Karena itulah Allah berfirman:فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.”Imam Ahmad meriwayatkan: telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:«لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ: أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى»“Tidak pantas bagi siapa pun mengatakan: ‘Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.’”Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari melalui jalur Sufyan Ats-Tsauri, dan terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. KesimpulanKetika seorang hamba mengakui kesalahannya dan kembali kepada Allah dengan tulus, Allah akan membukakan jalan keluar dari kesulitan yang paling gelap sekalipun. Kisah Nabi Yunus juga mengajarkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan tauhid, tasbih, dan pengakuan dosa merupakan sebab datangnya pertolongan Allah.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 18 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa dzun nun doa nabi yunus doa saat kesulitan kisah nabi dalam quran kisah nabi yunus kisah nabi yunus dalam perut ikan renungan ayat renungan quran tafsir al anbiya 87 tafsir al qalam 48 tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir


Kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam merupakan salah satu pelajaran besar tentang taubat, kesabaran, dan harapan kepada Allah. Ketika berada dalam kegelapan perut ikan dan lautan, beliau memanjatkan doa yang penuh pengakuan dan kerendahan diri. Dari kisah ini, Allah memberikan kabar gembira bahwa siapa pun yang beriman dan kembali kepada-Nya akan diselamatkan dari kesulitan.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’an 2. Perintah Bersabar bagi Rasulullah 3. Kesimpulan  Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.” (QS. Al-Anbiya’: 87)فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 88) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Maksudnya: ingatlah hamba dan rasul Kami yang bernama Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus. Ia disebut Dzun-Nun (pemilik ikan) karena peristiwa ketika ia ditelan oleh ikan besar. Sebutlah ia dengan sebutan yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala telah mengutusnya kepada kaumnya. Ia pun berdakwah kepada mereka, tetapi mereka tidak mau beriman. Maka Nabi Yunus memperingatkan mereka bahwa azab akan turun dalam waktu tertentu yang telah ia tetapkan bagi mereka.Ketika azab itu benar-benar datang dan mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri, mereka segera memohon kepada Allah, berseru dengan penuh penyesalan, dan bertaubat kepada-Nya. Lalu Allah mengangkat azab tersebut dari mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Tidak ada suatu negeri pun yang beriman lalu imannya itu bermanfaat baginya, selain kaum Yunus. Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan sampai waktu tertentu.” (QS. Yunus: 98)Baca juga: Mengapa Iman Saat Azab Tidak Diterima? Kisah Kaum Yunus dalam Tafsir QS. Yunus: 98Allah juga berfirman,وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ ۝ فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Dan Kami mengutusnya kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, maka Kami beri mereka kesenangan hidup sampai waktu tertentu.” (QS. Ash-Shaffat: 147–148)Kaum yang besar jumlahnya ini—yang beriman kepada dakwah Nabi Yunus—menjadi salah satu keutamaan besar bagi beliau.Namun Nabi Yunus ‘alaihis salam pernah pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya dan meninggalkan mereka sebelum ada perintah dari Allah. Ia seakan-akan “melarikan diri” dari Tuhannya karena suatu kesalahan yang dilakukannya. Kesalahan itu tidak disebutkan secara rinci oleh Allah dalam Al-Qur’an, dan tidak ada kebutuhan bagi kita untuk menentukan secara pasti bentuk kesalahan tersebut.Sebagaimana firman Allah,إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ ۝ وَهُوَ مُلِيمٌ“Ketika ia melarikan diri menuju kapal, sementara ia dalam keadaan melakukan sesuatu yang patut dicela.” (QS. Ash-Shaffat: 140–142)Yang tampak adalah bahwa beliau tergesa-gesa meninggalkan kaumnya karena marah kepada mereka, dan keluar dari tengah-tengah mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia menyangka bahwa Allah tidak akan menyempitkan dirinya, yaitu dengan menempatkannya dalam kesempitan seperti di dalam perut ikan, atau ia mengira bahwa dirinya akan luput dari ketentuan Allah.Tidak mengapa jika prasangka seperti ini sempat terlintas pada manusia yang paling sempurna sekalipun, selama prasangka itu tidak menetap dan tidak terus-menerus berada dalam hatinya.Kemudian Nabi Yunus menaiki sebuah kapal bersama beberapa orang. Mereka pun melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut, karena mereka khawatir kapal akan tenggelam jika semua orang tetap berada di atasnya.Baca juga: Hukum Hadiah Undian, Doorprize, dan Giveaway, Apakah Termasuk Judi?Undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dan membawanya ke dalam kegelapan lautan. Di dalam kegelapan itu ia berdoa,لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)Dalam doa itu Nabi Yunus mengakui kesempurnaan keesaan Allah dalam ibadah, mensucikan-Nya dari segala kekurangan, cacat, dan aib, serta mengakui kesalahan dan dosa yang ia lakukan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ“Maka Kami pun mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kesusahan.”Maksudnya, dari kesempitan dan penderitaan yang menimpanya.Kemudian Allah berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”Ayat ini merupakan janji dan kabar gembira bagi setiap orang beriman yang tertimpa kesulitan dan kesedihan. Allah Ta’ala akan menyelamatkannya dari kesulitan itu, menghilangkan kesusahannya, dan meringankan bebannya karena keimanannya, sebagaimana Allah telah menyelamatkan Nabi Yunus ‘alaihis salam.Baca juga: Mustajabnya Doa Dzun Nuun, Nabi Yunus Perintah Bersabar bagi RasulullahAllah Ta’ala berfirman,فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (QS. Al-Qalam: 48)لَّوْلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعْمَةٌ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلْعَرَآءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ“Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.” (QS. Al-Qalam: 49)فَٱجْتَبَٰهُ رَبُّهُۥ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Qalam: 50)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat ini.Setelah berbagai penentangan dari kaumnya, tidak ada yang tersisa bagi Rasul selain bersabar atas gangguan mereka, menanggung apa yang keluar dari mereka, serta terus melanjutkan dakwah kepada mereka.Karena itu Allah berfirman:فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ“Bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu.”Maksudnya, bersabarlah terhadap apa yang telah Allah tetapkan, baik secara ketetapan takdir (qadar) maupun ketetapan syariat.Ketetapan takdir disikapi dengan kesabaran, terutama ketika di dalamnya terdapat hal yang menyakitkan. Ia tidak disambut dengan kemarahan atau keluh kesah.Sedangkan ketetapan syariat disikapi dengan menerima, tunduk, dan melaksanakan sepenuhnya perintah Allah.Kemudian Allah berfirman:وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ“Dan janganlah engkau seperti pemilik ikan.”Yang dimaksud adalah Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Artinya, jangan sampai engkau menyerupainya dalam keadaan yang menyebabkan beliau berada di dalam perut ikan.Keadaan itu adalah ketika beliau tidak bersabar terhadap kaumnya dengan kesabaran yang seharusnya, lalu pergi meninggalkan mereka dalam keadaan marah kepada mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia kemudian menaiki kapal di laut.Ketika kapal itu menjadi terlalu berat dengan para penumpangnya, mereka melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut agar kapal menjadi lebih ringan. Ternyata undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dalam keadaan beliau telah melakukan sesuatu yang patut dicela.Allah berfirman:إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Ketika ia berdoa dalam keadaan sangat tertekan.”Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan yang menahannya, atau ketika ia berdoa dalam keadaan sangat sedih dan penuh kegelisahan. Ia berdoa dengan ucapan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”Lalu Allah mengabulkan doanya. Ikan itu pun memuntahkannya ke daratan yang kosong, sementara beliau dalam keadaan sakit. Kemudian Allah menumbuhkan untuknya sebuah pohon dari jenis yaqtin (sejenis tanaman labu) untuk menaunginya dan memulihkan tubuhnya.Baca juga: Doa Agar Segala Keinginan Terkabul, Bagus Dibaca Saat Menghadapi Kesulitan dan KesedihanImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-Qalam:Yang dimaksud adalah Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Hal itu terjadi ketika ia pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya. Lalu terjadilah apa yang terjadi: ia menaiki kapal di laut, kemudian seekor ikan menelannya. Ikan itu pun membawanya berkeliling di lautan dan dalam kegelapan gelombang laut yang dalam.Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa ketika Nabi Yunus mengucapkan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَucapan itu naik dan berkeliling di sekitar ‘Arsy. Para malaikat pun berkata, “Wahai Rabb kami, ini adalah suara yang lemah tetapi dikenal, berasal dari tempat yang asing.”Allah berfirman, “Apakah kalian tidak mengenalnya?”Mereka menjawab, “Tidak.”Allah berfirman, “Itu adalah Yunus.”Para malaikat berkata, “Wahai Rabb kami, bukankah dia hamba-Mu yang selalu diangkat amal salehnya dan doanya selalu dikabulkan?”Allah berfirman, “Benar.”Mereka berkata, “Tidakkah Engkau akan merahmati amalnya di waktu lapang, lalu menyelamatkannya dari kesulitan ini?”Maka Allah memerintahkan ikan tersebut untuk memuntahkannya ke daratan yang kosong. Karena itulah Allah berfirman:فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.”Imam Ahmad meriwayatkan: telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:«لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ: أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى»“Tidak pantas bagi siapa pun mengatakan: ‘Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.’”Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari melalui jalur Sufyan Ats-Tsauri, dan terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. KesimpulanKetika seorang hamba mengakui kesalahannya dan kembali kepada Allah dengan tulus, Allah akan membukakan jalan keluar dari kesulitan yang paling gelap sekalipun. Kisah Nabi Yunus juga mengajarkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan tauhid, tasbih, dan pengakuan dosa merupakan sebab datangnya pertolongan Allah.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 18 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa dzun nun doa nabi yunus doa saat kesulitan kisah nabi dalam quran kisah nabi yunus kisah nabi yunus dalam perut ikan renungan ayat renungan quran tafsir al anbiya 87 tafsir al qalam 48 tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir

Rumah Tangga Penuh Masalah? Mungkin Ini Amalan Penting yang Anda Lupakan

Disebutkan dalam beberapa riwayat dari Imam Muslim dan selainnya, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita menjadikan rumah-rumah kita layaknya kuburan. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” Ini menunjukkan bahwa dianjurkan bagi seseorang untuk membaca Al-Qur’an di dalam rumahnya. Ada sebagian orang yang hanya membaca Al-Qur’an saat di masjid, tapi ia tidak membacanya ketika di rumah. Dan ini membuat dirinya melewatkan pahala, karena membaca Al-Qur’an di rumah ada pahala tersendiri. Ia juga melewatkan kebaikan bagi rumah tangganya, sehingga rumahnya dipenuhi keburukan, dimasuki oleh setan, serta didera berbagai macam masalah. Banyak orang yang datang menemui kami akhir-akhir ini, mereka mengeluh: “Wahai Syaikh, rumah tangga kami penuh dengan masalah.” Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah karena penghuni rumah tersebut tidak membaca Al-Qur’an di dalamnya. ===== جَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عِنْدَ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَنْ نَجْعَلَ بُيُوتَنَا مَقَابِرَ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ الْإِنْسَانُ الْقُرْآنَ فِي بَيْتِهِ بَعْضُ النَّاسِ لَا يَجْعَلُ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ لَا يَقْرَأُ فِي بَيْتِهِ وَهَذَا يُفَوِّتُ عَلَى نَفْسِهِ أَجْرًا لِأَنَّ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْبَيْتِ أَجْرًا وَيُفَوِّتُ عَلَى بَيْتِهِ الْخَيْرَ فَيَكْثُرُ فِيهِ الشَّرُّ وَقَدْ تَدْخُلُهُ الشَّيَاطِينُ وَقَدْ تَكُونُ فِيهِ مَشَاكِلُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَأْتُونَنَا هَذِهِ الْأَيَّام يَقُولُ يَا شَيْخُ أَنَا بَيْتِي كُلُّهُ مَشَاكِلُ قَدْ يَكُونُ مِنَ الْأَسْبَابِ أَنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ لَا يَقْرَأُونَ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ

Rumah Tangga Penuh Masalah? Mungkin Ini Amalan Penting yang Anda Lupakan

Disebutkan dalam beberapa riwayat dari Imam Muslim dan selainnya, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita menjadikan rumah-rumah kita layaknya kuburan. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” Ini menunjukkan bahwa dianjurkan bagi seseorang untuk membaca Al-Qur’an di dalam rumahnya. Ada sebagian orang yang hanya membaca Al-Qur’an saat di masjid, tapi ia tidak membacanya ketika di rumah. Dan ini membuat dirinya melewatkan pahala, karena membaca Al-Qur’an di rumah ada pahala tersendiri. Ia juga melewatkan kebaikan bagi rumah tangganya, sehingga rumahnya dipenuhi keburukan, dimasuki oleh setan, serta didera berbagai macam masalah. Banyak orang yang datang menemui kami akhir-akhir ini, mereka mengeluh: “Wahai Syaikh, rumah tangga kami penuh dengan masalah.” Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah karena penghuni rumah tersebut tidak membaca Al-Qur’an di dalamnya. ===== جَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عِنْدَ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَنْ نَجْعَلَ بُيُوتَنَا مَقَابِرَ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ الْإِنْسَانُ الْقُرْآنَ فِي بَيْتِهِ بَعْضُ النَّاسِ لَا يَجْعَلُ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ لَا يَقْرَأُ فِي بَيْتِهِ وَهَذَا يُفَوِّتُ عَلَى نَفْسِهِ أَجْرًا لِأَنَّ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْبَيْتِ أَجْرًا وَيُفَوِّتُ عَلَى بَيْتِهِ الْخَيْرَ فَيَكْثُرُ فِيهِ الشَّرُّ وَقَدْ تَدْخُلُهُ الشَّيَاطِينُ وَقَدْ تَكُونُ فِيهِ مَشَاكِلُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَأْتُونَنَا هَذِهِ الْأَيَّام يَقُولُ يَا شَيْخُ أَنَا بَيْتِي كُلُّهُ مَشَاكِلُ قَدْ يَكُونُ مِنَ الْأَسْبَابِ أَنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ لَا يَقْرَأُونَ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ
Disebutkan dalam beberapa riwayat dari Imam Muslim dan selainnya, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita menjadikan rumah-rumah kita layaknya kuburan. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” Ini menunjukkan bahwa dianjurkan bagi seseorang untuk membaca Al-Qur’an di dalam rumahnya. Ada sebagian orang yang hanya membaca Al-Qur’an saat di masjid, tapi ia tidak membacanya ketika di rumah. Dan ini membuat dirinya melewatkan pahala, karena membaca Al-Qur’an di rumah ada pahala tersendiri. Ia juga melewatkan kebaikan bagi rumah tangganya, sehingga rumahnya dipenuhi keburukan, dimasuki oleh setan, serta didera berbagai macam masalah. Banyak orang yang datang menemui kami akhir-akhir ini, mereka mengeluh: “Wahai Syaikh, rumah tangga kami penuh dengan masalah.” Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah karena penghuni rumah tersebut tidak membaca Al-Qur’an di dalamnya. ===== جَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عِنْدَ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَنْ نَجْعَلَ بُيُوتَنَا مَقَابِرَ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ الْإِنْسَانُ الْقُرْآنَ فِي بَيْتِهِ بَعْضُ النَّاسِ لَا يَجْعَلُ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ لَا يَقْرَأُ فِي بَيْتِهِ وَهَذَا يُفَوِّتُ عَلَى نَفْسِهِ أَجْرًا لِأَنَّ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْبَيْتِ أَجْرًا وَيُفَوِّتُ عَلَى بَيْتِهِ الْخَيْرَ فَيَكْثُرُ فِيهِ الشَّرُّ وَقَدْ تَدْخُلُهُ الشَّيَاطِينُ وَقَدْ تَكُونُ فِيهِ مَشَاكِلُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَأْتُونَنَا هَذِهِ الْأَيَّام يَقُولُ يَا شَيْخُ أَنَا بَيْتِي كُلُّهُ مَشَاكِلُ قَدْ يَكُونُ مِنَ الْأَسْبَابِ أَنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ لَا يَقْرَأُونَ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ


Disebutkan dalam beberapa riwayat dari Imam Muslim dan selainnya, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita menjadikan rumah-rumah kita layaknya kuburan. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” Ini menunjukkan bahwa dianjurkan bagi seseorang untuk membaca Al-Qur’an di dalam rumahnya. Ada sebagian orang yang hanya membaca Al-Qur’an saat di masjid, tapi ia tidak membacanya ketika di rumah. Dan ini membuat dirinya melewatkan pahala, karena membaca Al-Qur’an di rumah ada pahala tersendiri. Ia juga melewatkan kebaikan bagi rumah tangganya, sehingga rumahnya dipenuhi keburukan, dimasuki oleh setan, serta didera berbagai macam masalah. Banyak orang yang datang menemui kami akhir-akhir ini, mereka mengeluh: “Wahai Syaikh, rumah tangga kami penuh dengan masalah.” Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah karena penghuni rumah tersebut tidak membaca Al-Qur’an di dalamnya. ===== جَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عِنْدَ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَنْ نَجْعَلَ بُيُوتَنَا مَقَابِرَ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ الْإِنْسَانُ الْقُرْآنَ فِي بَيْتِهِ بَعْضُ النَّاسِ لَا يَجْعَلُ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ لَا يَقْرَأُ فِي بَيْتِهِ وَهَذَا يُفَوِّتُ عَلَى نَفْسِهِ أَجْرًا لِأَنَّ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْبَيْتِ أَجْرًا وَيُفَوِّتُ عَلَى بَيْتِهِ الْخَيْرَ فَيَكْثُرُ فِيهِ الشَّرُّ وَقَدْ تَدْخُلُهُ الشَّيَاطِينُ وَقَدْ تَكُونُ فِيهِ مَشَاكِلُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَأْتُونَنَا هَذِهِ الْأَيَّام يَقُولُ يَا شَيْخُ أَنَا بَيْتِي كُلُّهُ مَشَاكِلُ قَدْ يَكُونُ مِنَ الْأَسْبَابِ أَنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ لَا يَقْرَأُونَ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ

Bukan Cuma Sebelum Magrib! Inilah Waktu Doa Paling Mustajab Saat Puasa – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Saya awali dengan pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang saudara kita, dan saya merasa bahwa akan bermanfaat jika saya menjawabnya secara umum di sini. Pertanyaannya: Kapankah doa orang yang berpuasa itu tidak tertolak? Saya jawab bahwasanya diriwayatkan dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa orang yang berpuasa punya doa yang tidak tertolak. Orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak. Terdapat tambahan redaksi dalam sebagian riwayat yang derajatnya lemah: “…hingga ia berbuka.” Disebutkan pula dalam riwayat lemah lainnya: “…ketika ia berbuka.” Dan dalam riwayat lemah lainnya disebutkan: “…menjelang ia berbuka.” Adapun riwayat yang paling kuat dari riwayat-riwayat yang lemah ini adalah yang menggunakan redaksi: “…hingga ia berbuka.” Jadi, doa orang berpuasa yang tidak akan tertolak itu adalah selama ia masih dalam keadaan berpuasa, yaitu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Keutamaan doa ini tidaklah terbatas hanya pada waktu terbenamnya matahari (ketika berbuka), sebagaimana yang dipahami sebagian orang. Bisa setelah Subuh, di waktu Dhuha, setelah Zhuhur, maupun setelah Ashar. Namun, tidak diragukan lagi bahwa waktu-waktu terakhir dari amalan itu memiliki keistimewaan untuk berdoa, sebagaimana dalam shalat. Setelah seorang hamba mencurahkan segala upayanya dalam beramal, dan merasakan lelah hingga sampai pada ujung waktunya maka saat-saat terakhir itulah memiliki keistimewaan untuk berdoa. Oleh karena itu, sangat baik apabila orang yang berpuasa itu berdoa di penghujung waktu puasanya. Tetapi, janganlah mengkhususkan doa hanya pada waktu itu saja. Hendaknya seseorang memanjatkan doa yang bersifat umum, maupun doa yang bersifat khusus. Perbanyaklah berdoa kepada Allah, baik untuk umat Islam, para pemimpin, maupun para ulama. Juga untuk diri sendiri, keluarga, serta kedua orang tua, dengan segala doa yang mengandung kebaikan. ===== أَبْدَأُ بِسُؤَالٍ سَأَلَنِي إِيَّاهُ أَحَدُ الْإِخْوَةِ وَرَأَيْتُ أَنَّ مِنَ الْفَائِدَةِ أَنْ أُجِيبَ عَنْهُ جَوَابًا عَامًّا وَهُوَ مَتَى تَكُونُ دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ فَأَقُولُ ثَبَتَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ حِينَ يُفْطِرُ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَأَقْوَى هَذِهِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ إِذًا دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ هِيَ حَالَةَ كَوْنِهِ صَائِمًا مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْسَ هَذَا خَاصًّا بِوَقْتِ الْغُرُوبِ كَمَا يَفْهَمُ بَعْضُ النَّاسِ بَعْدَ الْفَجْرِ ضُحًى بَعْدَ الظُّهْرِ بَعْدَ الْعَصْرِ لَكِنْ لَا شَكَّ أَنَّ لِآخِرِ الْعَمَلِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ كَمَا فِي الصَّلَاةِ بَعْدَ أَنْ يَبْذُلَ الْعَبْدُ مَا يَبْذُلُ فِي الْعَمَلِ وَيَتْعَبُ حَتَّى يَأْتِيَ إِلَى آخِرِهِ فَإِنَّ لِآخِرِهِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ فَحَسَنٌ أَنْ يَدْعُوَ الصَّائِمُ عِنْدَ آخِرِ وَقْتِ صَوْمِهِ لَكِنْ لَا يُخَصَّصُ الدُّعَاءُ بِهَذَا الْوَقْتِ يَدْعُو الْإِنْسَانُ دُعَاءً عَامًّا وَيَدْعُو دُعَاءً خَاصًّا وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ لِلْأُمَّةِ وَلِوُلَاةِ الْأَمْرِ وَلِلْعُلَمَاءِ وَلِنَفْسِهِ وَلِأَهْلِهِ وَلِوَالِدَيْهِ بِمَا فِيهِ الْخَيْرُ

Bukan Cuma Sebelum Magrib! Inilah Waktu Doa Paling Mustajab Saat Puasa – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Saya awali dengan pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang saudara kita, dan saya merasa bahwa akan bermanfaat jika saya menjawabnya secara umum di sini. Pertanyaannya: Kapankah doa orang yang berpuasa itu tidak tertolak? Saya jawab bahwasanya diriwayatkan dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa orang yang berpuasa punya doa yang tidak tertolak. Orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak. Terdapat tambahan redaksi dalam sebagian riwayat yang derajatnya lemah: “…hingga ia berbuka.” Disebutkan pula dalam riwayat lemah lainnya: “…ketika ia berbuka.” Dan dalam riwayat lemah lainnya disebutkan: “…menjelang ia berbuka.” Adapun riwayat yang paling kuat dari riwayat-riwayat yang lemah ini adalah yang menggunakan redaksi: “…hingga ia berbuka.” Jadi, doa orang berpuasa yang tidak akan tertolak itu adalah selama ia masih dalam keadaan berpuasa, yaitu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Keutamaan doa ini tidaklah terbatas hanya pada waktu terbenamnya matahari (ketika berbuka), sebagaimana yang dipahami sebagian orang. Bisa setelah Subuh, di waktu Dhuha, setelah Zhuhur, maupun setelah Ashar. Namun, tidak diragukan lagi bahwa waktu-waktu terakhir dari amalan itu memiliki keistimewaan untuk berdoa, sebagaimana dalam shalat. Setelah seorang hamba mencurahkan segala upayanya dalam beramal, dan merasakan lelah hingga sampai pada ujung waktunya maka saat-saat terakhir itulah memiliki keistimewaan untuk berdoa. Oleh karena itu, sangat baik apabila orang yang berpuasa itu berdoa di penghujung waktu puasanya. Tetapi, janganlah mengkhususkan doa hanya pada waktu itu saja. Hendaknya seseorang memanjatkan doa yang bersifat umum, maupun doa yang bersifat khusus. Perbanyaklah berdoa kepada Allah, baik untuk umat Islam, para pemimpin, maupun para ulama. Juga untuk diri sendiri, keluarga, serta kedua orang tua, dengan segala doa yang mengandung kebaikan. ===== أَبْدَأُ بِسُؤَالٍ سَأَلَنِي إِيَّاهُ أَحَدُ الْإِخْوَةِ وَرَأَيْتُ أَنَّ مِنَ الْفَائِدَةِ أَنْ أُجِيبَ عَنْهُ جَوَابًا عَامًّا وَهُوَ مَتَى تَكُونُ دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ فَأَقُولُ ثَبَتَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ حِينَ يُفْطِرُ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَأَقْوَى هَذِهِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ إِذًا دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ هِيَ حَالَةَ كَوْنِهِ صَائِمًا مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْسَ هَذَا خَاصًّا بِوَقْتِ الْغُرُوبِ كَمَا يَفْهَمُ بَعْضُ النَّاسِ بَعْدَ الْفَجْرِ ضُحًى بَعْدَ الظُّهْرِ بَعْدَ الْعَصْرِ لَكِنْ لَا شَكَّ أَنَّ لِآخِرِ الْعَمَلِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ كَمَا فِي الصَّلَاةِ بَعْدَ أَنْ يَبْذُلَ الْعَبْدُ مَا يَبْذُلُ فِي الْعَمَلِ وَيَتْعَبُ حَتَّى يَأْتِيَ إِلَى آخِرِهِ فَإِنَّ لِآخِرِهِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ فَحَسَنٌ أَنْ يَدْعُوَ الصَّائِمُ عِنْدَ آخِرِ وَقْتِ صَوْمِهِ لَكِنْ لَا يُخَصَّصُ الدُّعَاءُ بِهَذَا الْوَقْتِ يَدْعُو الْإِنْسَانُ دُعَاءً عَامًّا وَيَدْعُو دُعَاءً خَاصًّا وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ لِلْأُمَّةِ وَلِوُلَاةِ الْأَمْرِ وَلِلْعُلَمَاءِ وَلِنَفْسِهِ وَلِأَهْلِهِ وَلِوَالِدَيْهِ بِمَا فِيهِ الْخَيْرُ
Saya awali dengan pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang saudara kita, dan saya merasa bahwa akan bermanfaat jika saya menjawabnya secara umum di sini. Pertanyaannya: Kapankah doa orang yang berpuasa itu tidak tertolak? Saya jawab bahwasanya diriwayatkan dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa orang yang berpuasa punya doa yang tidak tertolak. Orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak. Terdapat tambahan redaksi dalam sebagian riwayat yang derajatnya lemah: “…hingga ia berbuka.” Disebutkan pula dalam riwayat lemah lainnya: “…ketika ia berbuka.” Dan dalam riwayat lemah lainnya disebutkan: “…menjelang ia berbuka.” Adapun riwayat yang paling kuat dari riwayat-riwayat yang lemah ini adalah yang menggunakan redaksi: “…hingga ia berbuka.” Jadi, doa orang berpuasa yang tidak akan tertolak itu adalah selama ia masih dalam keadaan berpuasa, yaitu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Keutamaan doa ini tidaklah terbatas hanya pada waktu terbenamnya matahari (ketika berbuka), sebagaimana yang dipahami sebagian orang. Bisa setelah Subuh, di waktu Dhuha, setelah Zhuhur, maupun setelah Ashar. Namun, tidak diragukan lagi bahwa waktu-waktu terakhir dari amalan itu memiliki keistimewaan untuk berdoa, sebagaimana dalam shalat. Setelah seorang hamba mencurahkan segala upayanya dalam beramal, dan merasakan lelah hingga sampai pada ujung waktunya maka saat-saat terakhir itulah memiliki keistimewaan untuk berdoa. Oleh karena itu, sangat baik apabila orang yang berpuasa itu berdoa di penghujung waktu puasanya. Tetapi, janganlah mengkhususkan doa hanya pada waktu itu saja. Hendaknya seseorang memanjatkan doa yang bersifat umum, maupun doa yang bersifat khusus. Perbanyaklah berdoa kepada Allah, baik untuk umat Islam, para pemimpin, maupun para ulama. Juga untuk diri sendiri, keluarga, serta kedua orang tua, dengan segala doa yang mengandung kebaikan. ===== أَبْدَأُ بِسُؤَالٍ سَأَلَنِي إِيَّاهُ أَحَدُ الْإِخْوَةِ وَرَأَيْتُ أَنَّ مِنَ الْفَائِدَةِ أَنْ أُجِيبَ عَنْهُ جَوَابًا عَامًّا وَهُوَ مَتَى تَكُونُ دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ فَأَقُولُ ثَبَتَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ حِينَ يُفْطِرُ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَأَقْوَى هَذِهِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ إِذًا دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ هِيَ حَالَةَ كَوْنِهِ صَائِمًا مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْسَ هَذَا خَاصًّا بِوَقْتِ الْغُرُوبِ كَمَا يَفْهَمُ بَعْضُ النَّاسِ بَعْدَ الْفَجْرِ ضُحًى بَعْدَ الظُّهْرِ بَعْدَ الْعَصْرِ لَكِنْ لَا شَكَّ أَنَّ لِآخِرِ الْعَمَلِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ كَمَا فِي الصَّلَاةِ بَعْدَ أَنْ يَبْذُلَ الْعَبْدُ مَا يَبْذُلُ فِي الْعَمَلِ وَيَتْعَبُ حَتَّى يَأْتِيَ إِلَى آخِرِهِ فَإِنَّ لِآخِرِهِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ فَحَسَنٌ أَنْ يَدْعُوَ الصَّائِمُ عِنْدَ آخِرِ وَقْتِ صَوْمِهِ لَكِنْ لَا يُخَصَّصُ الدُّعَاءُ بِهَذَا الْوَقْتِ يَدْعُو الْإِنْسَانُ دُعَاءً عَامًّا وَيَدْعُو دُعَاءً خَاصًّا وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ لِلْأُمَّةِ وَلِوُلَاةِ الْأَمْرِ وَلِلْعُلَمَاءِ وَلِنَفْسِهِ وَلِأَهْلِهِ وَلِوَالِدَيْهِ بِمَا فِيهِ الْخَيْرُ


Saya awali dengan pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang saudara kita, dan saya merasa bahwa akan bermanfaat jika saya menjawabnya secara umum di sini. Pertanyaannya: Kapankah doa orang yang berpuasa itu tidak tertolak? Saya jawab bahwasanya diriwayatkan dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa orang yang berpuasa punya doa yang tidak tertolak. Orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak. Terdapat tambahan redaksi dalam sebagian riwayat yang derajatnya lemah: “…hingga ia berbuka.” Disebutkan pula dalam riwayat lemah lainnya: “…ketika ia berbuka.” Dan dalam riwayat lemah lainnya disebutkan: “…menjelang ia berbuka.” Adapun riwayat yang paling kuat dari riwayat-riwayat yang lemah ini adalah yang menggunakan redaksi: “…hingga ia berbuka.” Jadi, doa orang berpuasa yang tidak akan tertolak itu adalah selama ia masih dalam keadaan berpuasa, yaitu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Keutamaan doa ini tidaklah terbatas hanya pada waktu terbenamnya matahari (ketika berbuka), sebagaimana yang dipahami sebagian orang. Bisa setelah Subuh, di waktu Dhuha, setelah Zhuhur, maupun setelah Ashar. Namun, tidak diragukan lagi bahwa waktu-waktu terakhir dari amalan itu memiliki keistimewaan untuk berdoa, sebagaimana dalam shalat. Setelah seorang hamba mencurahkan segala upayanya dalam beramal, dan merasakan lelah hingga sampai pada ujung waktunya maka saat-saat terakhir itulah memiliki keistimewaan untuk berdoa. Oleh karena itu, sangat baik apabila orang yang berpuasa itu berdoa di penghujung waktu puasanya. Tetapi, janganlah mengkhususkan doa hanya pada waktu itu saja. Hendaknya seseorang memanjatkan doa yang bersifat umum, maupun doa yang bersifat khusus. Perbanyaklah berdoa kepada Allah, baik untuk umat Islam, para pemimpin, maupun para ulama. Juga untuk diri sendiri, keluarga, serta kedua orang tua, dengan segala doa yang mengandung kebaikan. ===== أَبْدَأُ بِسُؤَالٍ سَأَلَنِي إِيَّاهُ أَحَدُ الْإِخْوَةِ وَرَأَيْتُ أَنَّ مِنَ الْفَائِدَةِ أَنْ أُجِيبَ عَنْهُ جَوَابًا عَامًّا وَهُوَ مَتَى تَكُونُ دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ فَأَقُولُ ثَبَتَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ حِينَ يُفْطِرُ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَأَقْوَى هَذِهِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ إِذًا دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ هِيَ حَالَةَ كَوْنِهِ صَائِمًا مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْسَ هَذَا خَاصًّا بِوَقْتِ الْغُرُوبِ كَمَا يَفْهَمُ بَعْضُ النَّاسِ بَعْدَ الْفَجْرِ ضُحًى بَعْدَ الظُّهْرِ بَعْدَ الْعَصْرِ لَكِنْ لَا شَكَّ أَنَّ لِآخِرِ الْعَمَلِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ كَمَا فِي الصَّلَاةِ بَعْدَ أَنْ يَبْذُلَ الْعَبْدُ مَا يَبْذُلُ فِي الْعَمَلِ وَيَتْعَبُ حَتَّى يَأْتِيَ إِلَى آخِرِهِ فَإِنَّ لِآخِرِهِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ فَحَسَنٌ أَنْ يَدْعُوَ الصَّائِمُ عِنْدَ آخِرِ وَقْتِ صَوْمِهِ لَكِنْ لَا يُخَصَّصُ الدُّعَاءُ بِهَذَا الْوَقْتِ يَدْعُو الْإِنْسَانُ دُعَاءً عَامًّا وَيَدْعُو دُعَاءً خَاصًّا وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ لِلْأُمَّةِ وَلِوُلَاةِ الْأَمْرِ وَلِلْعُلَمَاءِ وَلِنَفْسِهِ وَلِأَهْلِهِ وَلِوَالِدَيْهِ بِمَا فِيهِ الْخَيْرُ

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 6): Tersesatnya Para Pemuda, Tak Berharganya Nyawa, dan Hilangnya Rasa Aman

Dampak lain dari fitnah adalah bahwa fitnah seringkali dijadikan sebab dan sarana untuk menjerumuskan para pemuda dan anak-anak di bawah umur ke dalam penyimpangan dengan memperdaya mereka lewat berbagai cara, media, dan pendekatan, hingga berujung pada dampak yang fatal dan akhir yang menyedihkan.Pada bagian ini, seorang pemuda hendaknya tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bentuk propaganda, slogan yang digaungkan, maupun ungkapan-ungkapan yang dirangkai secara indah. Sebaliknya, ketika ia diajak kepada suatu urusan, hendaknya ia merujuk kepada para alim ulama dari kalangan ahli ilmu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,البركةُ مع أكابركم“Keberkahan ada bersama orang-orang yang lebih tua di antara kalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no. 559, ath-Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Awsath no. 8991, dan al-Hakim [1: 131]. Al-Hakim mensahihkannya, adz-Dzahabi menyetujuinya, dan keduanya dikuatkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1778)Apabila seseorang diajak pada suatu jalan, arah, atau metode, maka hendaknya ia kembalikan kepada para alim ulama, ahli ilmu. Yaitu para ulama yang kokoh ilmunya, sangat teliti dalam perkara tersebut, yang telah kokoh pijakan mereka dalam ilmu, mempelajari dan mengkajinya, serta kokoh pijakan mereka ketika berfatwa, menjelaskan, mengarahkan, menasihati, dan mengajarkan ilmu. Mereka inilah yang hendaknya dirujuk dan ditanya.Namun, ketika fitnah bergejolak, sebagian pemuda sering terjerumus dan terseret secara bertahap hingga terjerumus ke dalam perkara-perkara besar dan masalah-masalah serius, bahkan membuat mereka tidak mungkin lagi menemukan jalan keluar.Dan biasanya, perkara itu berawal dari tokoh-tokoh kecil di kalangan para penggerak fitnah, melalui hal-hal yang tampak biasa dan dikenal, seperti sekelompok orang yang berkumpul lalu saling bersepakat atas perkara-perkara yang sudah umum dan disepakati. Kemudian mereka mengatakan, “Kita berkumpul untuk beriman kepada Allah dan para malaikat-Nya, menegakkan salat, serta menunaikan zakat, dan kita tunduk untuk hal tersebut.”Lalu mereka membumbui dengan kesesatan dan penyimpangan yang pada akhirnya membuat seorang pemuda merasa telah terikat oleh sebuah perjanjian (baiat); bahkan bisa jadi ia telah masuk ke dalam suatu kelompok, terlibat dalam organisasi tertentu, atau terikat dalam sebuah baiat, dan semacamnya.Ia pun mendapati dirinya berada pada suatu jalan yang membingungkan, dan bisa jadi sulit baginya untuk kembali kepada kebenaran karena ia telah melangkah cukup jauh atau tercuci otaknya dan didoktrin agar terus berada dalam penyimpangan tersebut. Namun, apabila seorang pemuda diberi hidayah atau taufik dan Allah menganugerahkan kepadanya pertolongan-Nya, niscaya ia akan terselamatkan dari penyimpangan itu. Perkara semacam ini sejatinya telah ada sejak dahulu.Pada masa generasi tabi‘in, Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir meriwayatkan sebuah kisah tentang dirinya ketika ia masih kecil. Ia berkata, “Kami pernah mendatangi Zaid bin Shauhan. Ia pun berkata, ‘Wahai hamba-hamba Allah, muliakanlah dan hormatilah. Sesungguhnya kami menjadi perantara bagi para hamba menuju Allah melalui dua perkara, yaitu rasa takut dan harapan.’”Zaid bin Shauhan dikenal sebagai seorang pemberi nasihat yang senantiasa menasihati, mengingatkan, menanamkan rasa takut kepada Allah, serta mengajak manusia untuk beribadah dan menaati Allah.Ia melanjutkan, “Suatu hari, aku mendatanginya lagi, sementara mereka sedang membuat sebuah tulisan atau perjanjian dan menyusun kalimat yang maknanya seperti ini: Sesungguhnya Allah adalah Rabb kami, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi kami, dan Al-Qur’an adalah pedoman hidup kami. Siapa pun yang bersama kami, ia adalah bagian dari kami; dan siapa pun yang menyelisihi kami, maka kami akan menghadapinya!” Tulisan tersebut disusun dengan kalimat-kalimat yang sekilas terkesan benar dan tidak bermasalah bagi kebanyakan orang.Ia melanjutkan lagi, “Tulisan tersebut kemudian dipertunjukkan kepada orang-orang, satu per satu. Setiap kali tulisan tersebut diajukan kepada seseorang, mereka bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai Fulan?’ Orang itu pun menjawab, ‘Ya, saya menyetujuinya.’ Sampai akhirnya giliran itu sampai kepadaku. Mereka pun bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai pemuda?’ (yakni terhadap perkara-perkara tersebut), Aku menjawab, ‘Tidak, aku tidak menyetujuinya.’ Zaid bin Shauhan berkata di hadapan orang-orang, ‘Jangan terburu-buru terhadap pemuda ini.’ Kemudian ia bertanya lagi kepadaku, ‘Apa yang akan kamu katakan, wahai pemuda?’ Aku pun menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan hukum kepadaku dalam Kitab-Nya. Karena itu, aku tidak akan membuat hukum baru selain hukum yang telah Allah tetapkan atasku dalam Kitab-Nya.’ Akhirnya, banyak dari kelompok tersebut kembali kepada kebenaran dari apa yang mereka setujui sebelumnya. Kelompok itu pun ‘zaha’a’ atau tersisa sekitar tiga puluh orang saja.” (Lihat Hilyatul Auliya’, 2: 204 dan Tarikh Dimasyq, 58: 313)Kesimpulannya, ketika fitnah bergejolak, seringkali yang menjadi korban adalah para pemuda maupun anak-anak di bawah umur. Mereka digiring untuk bergabung ke dalam organisasi-organiasi, kelompok-kelompok, baiat yang sesat dan menyimpang, dan semisalnya yang akhirnya berdampak buruk dan bahaya lainnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah darah kaum muslimin tak ada lagi harganya di mata mereka. Mereka tak segan untuk membunuh dan menumpahkan darah kaum muslimin, bahkan menghalalkan darah mereka yang bukan golongannnya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,في الفتنةِ لا ترونَ القتلَ شيئًا“Ketika fitnah itu bergejolak, pertumpahan darah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu (yang besar atau serius).” (HR. Ahmad no. 4871)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal sangat tegas dalam melarang keterlibatan dalam pembunuhan, perampokan, serta pelanggaran terhadap kehormatan manusia. Dalam hal ini, beliau memiliki sebuah ungkapan yang sangat agung dan indah, yang patut dihafal dan dijaga. Yaitu, bahwa ada seorang laki-laki yang menulis surat kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,اكتبْ إليَّ بالعلمِ“Tuliskanlah kepadaku tentang ilmu!”Ibnu ‘Umar pun menuliskannya untuk orang itu,إنَّ العلمَ كثيرٌ — يا ابنَ أخي — ولكن إنِ استطعتَ أن تلقى اللهَ خفيفَ الظهرِ من دماءِ المسلمينَ، خَميص البطنِ من أموالِهم، كافّ اللسانِ عن أعراضِهم، لازمًا لجماعتِهم، فافعلْ“Ilmu itu sangat banyak, wahai keponakanku. Namun, jika engkau mampu bertemu Allah tanpa memikul dosa darah kaum muslimin, tanpa memakan harta mereka, menjaga lisan dari merendahkan kehormatan mereka, dan tetap berpegang pada jamaah kaum muslimin—maka itulah yang utama.” (Lihat Tarikh Dimasyq, 31: 170 dan 52: 256; dan Siyar A‘lam an-Nubala’, 3: 222)Wasiat ini adalah di antara wasiat yang paling agung dan paling lengkap, karena di dalamnya menghimpun intisari semua ilmu dan kebaikan di dalamnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah hilangnya rasa aman. Padahal, rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada kaum muslimin. Sebagaimana firman-Nya,الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ“(Allah-lah) yang telah memberi mereka makanan sehingga terbebas dari kelaparan dan memberikan keamanan kepada mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 4)Rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar. Dengannya, manusia terjaga darah, harta, jiwa, dan kehormatannya, dan terjaga hak-hak yang lainnya. Semua itu termasuk nikmat yang sangat agung. Namun, ketika fitnah itu bergejolak, maka terjadilah pertumpahan darah, harta benda dirampas, nyawa melayang, anak-anak menjadi yatim, para wanita menjadi janda, dan berbagai dampak buruk lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5 LANJUT KE BAGIAN 7***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 41–44 dan hal. 47–50.

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 6): Tersesatnya Para Pemuda, Tak Berharganya Nyawa, dan Hilangnya Rasa Aman

Dampak lain dari fitnah adalah bahwa fitnah seringkali dijadikan sebab dan sarana untuk menjerumuskan para pemuda dan anak-anak di bawah umur ke dalam penyimpangan dengan memperdaya mereka lewat berbagai cara, media, dan pendekatan, hingga berujung pada dampak yang fatal dan akhir yang menyedihkan.Pada bagian ini, seorang pemuda hendaknya tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bentuk propaganda, slogan yang digaungkan, maupun ungkapan-ungkapan yang dirangkai secara indah. Sebaliknya, ketika ia diajak kepada suatu urusan, hendaknya ia merujuk kepada para alim ulama dari kalangan ahli ilmu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,البركةُ مع أكابركم“Keberkahan ada bersama orang-orang yang lebih tua di antara kalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no. 559, ath-Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Awsath no. 8991, dan al-Hakim [1: 131]. Al-Hakim mensahihkannya, adz-Dzahabi menyetujuinya, dan keduanya dikuatkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1778)Apabila seseorang diajak pada suatu jalan, arah, atau metode, maka hendaknya ia kembalikan kepada para alim ulama, ahli ilmu. Yaitu para ulama yang kokoh ilmunya, sangat teliti dalam perkara tersebut, yang telah kokoh pijakan mereka dalam ilmu, mempelajari dan mengkajinya, serta kokoh pijakan mereka ketika berfatwa, menjelaskan, mengarahkan, menasihati, dan mengajarkan ilmu. Mereka inilah yang hendaknya dirujuk dan ditanya.Namun, ketika fitnah bergejolak, sebagian pemuda sering terjerumus dan terseret secara bertahap hingga terjerumus ke dalam perkara-perkara besar dan masalah-masalah serius, bahkan membuat mereka tidak mungkin lagi menemukan jalan keluar.Dan biasanya, perkara itu berawal dari tokoh-tokoh kecil di kalangan para penggerak fitnah, melalui hal-hal yang tampak biasa dan dikenal, seperti sekelompok orang yang berkumpul lalu saling bersepakat atas perkara-perkara yang sudah umum dan disepakati. Kemudian mereka mengatakan, “Kita berkumpul untuk beriman kepada Allah dan para malaikat-Nya, menegakkan salat, serta menunaikan zakat, dan kita tunduk untuk hal tersebut.”Lalu mereka membumbui dengan kesesatan dan penyimpangan yang pada akhirnya membuat seorang pemuda merasa telah terikat oleh sebuah perjanjian (baiat); bahkan bisa jadi ia telah masuk ke dalam suatu kelompok, terlibat dalam organisasi tertentu, atau terikat dalam sebuah baiat, dan semacamnya.Ia pun mendapati dirinya berada pada suatu jalan yang membingungkan, dan bisa jadi sulit baginya untuk kembali kepada kebenaran karena ia telah melangkah cukup jauh atau tercuci otaknya dan didoktrin agar terus berada dalam penyimpangan tersebut. Namun, apabila seorang pemuda diberi hidayah atau taufik dan Allah menganugerahkan kepadanya pertolongan-Nya, niscaya ia akan terselamatkan dari penyimpangan itu. Perkara semacam ini sejatinya telah ada sejak dahulu.Pada masa generasi tabi‘in, Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir meriwayatkan sebuah kisah tentang dirinya ketika ia masih kecil. Ia berkata, “Kami pernah mendatangi Zaid bin Shauhan. Ia pun berkata, ‘Wahai hamba-hamba Allah, muliakanlah dan hormatilah. Sesungguhnya kami menjadi perantara bagi para hamba menuju Allah melalui dua perkara, yaitu rasa takut dan harapan.’”Zaid bin Shauhan dikenal sebagai seorang pemberi nasihat yang senantiasa menasihati, mengingatkan, menanamkan rasa takut kepada Allah, serta mengajak manusia untuk beribadah dan menaati Allah.Ia melanjutkan, “Suatu hari, aku mendatanginya lagi, sementara mereka sedang membuat sebuah tulisan atau perjanjian dan menyusun kalimat yang maknanya seperti ini: Sesungguhnya Allah adalah Rabb kami, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi kami, dan Al-Qur’an adalah pedoman hidup kami. Siapa pun yang bersama kami, ia adalah bagian dari kami; dan siapa pun yang menyelisihi kami, maka kami akan menghadapinya!” Tulisan tersebut disusun dengan kalimat-kalimat yang sekilas terkesan benar dan tidak bermasalah bagi kebanyakan orang.Ia melanjutkan lagi, “Tulisan tersebut kemudian dipertunjukkan kepada orang-orang, satu per satu. Setiap kali tulisan tersebut diajukan kepada seseorang, mereka bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai Fulan?’ Orang itu pun menjawab, ‘Ya, saya menyetujuinya.’ Sampai akhirnya giliran itu sampai kepadaku. Mereka pun bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai pemuda?’ (yakni terhadap perkara-perkara tersebut), Aku menjawab, ‘Tidak, aku tidak menyetujuinya.’ Zaid bin Shauhan berkata di hadapan orang-orang, ‘Jangan terburu-buru terhadap pemuda ini.’ Kemudian ia bertanya lagi kepadaku, ‘Apa yang akan kamu katakan, wahai pemuda?’ Aku pun menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan hukum kepadaku dalam Kitab-Nya. Karena itu, aku tidak akan membuat hukum baru selain hukum yang telah Allah tetapkan atasku dalam Kitab-Nya.’ Akhirnya, banyak dari kelompok tersebut kembali kepada kebenaran dari apa yang mereka setujui sebelumnya. Kelompok itu pun ‘zaha’a’ atau tersisa sekitar tiga puluh orang saja.” (Lihat Hilyatul Auliya’, 2: 204 dan Tarikh Dimasyq, 58: 313)Kesimpulannya, ketika fitnah bergejolak, seringkali yang menjadi korban adalah para pemuda maupun anak-anak di bawah umur. Mereka digiring untuk bergabung ke dalam organisasi-organiasi, kelompok-kelompok, baiat yang sesat dan menyimpang, dan semisalnya yang akhirnya berdampak buruk dan bahaya lainnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah darah kaum muslimin tak ada lagi harganya di mata mereka. Mereka tak segan untuk membunuh dan menumpahkan darah kaum muslimin, bahkan menghalalkan darah mereka yang bukan golongannnya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,في الفتنةِ لا ترونَ القتلَ شيئًا“Ketika fitnah itu bergejolak, pertumpahan darah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu (yang besar atau serius).” (HR. Ahmad no. 4871)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal sangat tegas dalam melarang keterlibatan dalam pembunuhan, perampokan, serta pelanggaran terhadap kehormatan manusia. Dalam hal ini, beliau memiliki sebuah ungkapan yang sangat agung dan indah, yang patut dihafal dan dijaga. Yaitu, bahwa ada seorang laki-laki yang menulis surat kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,اكتبْ إليَّ بالعلمِ“Tuliskanlah kepadaku tentang ilmu!”Ibnu ‘Umar pun menuliskannya untuk orang itu,إنَّ العلمَ كثيرٌ — يا ابنَ أخي — ولكن إنِ استطعتَ أن تلقى اللهَ خفيفَ الظهرِ من دماءِ المسلمينَ، خَميص البطنِ من أموالِهم، كافّ اللسانِ عن أعراضِهم، لازمًا لجماعتِهم، فافعلْ“Ilmu itu sangat banyak, wahai keponakanku. Namun, jika engkau mampu bertemu Allah tanpa memikul dosa darah kaum muslimin, tanpa memakan harta mereka, menjaga lisan dari merendahkan kehormatan mereka, dan tetap berpegang pada jamaah kaum muslimin—maka itulah yang utama.” (Lihat Tarikh Dimasyq, 31: 170 dan 52: 256; dan Siyar A‘lam an-Nubala’, 3: 222)Wasiat ini adalah di antara wasiat yang paling agung dan paling lengkap, karena di dalamnya menghimpun intisari semua ilmu dan kebaikan di dalamnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah hilangnya rasa aman. Padahal, rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada kaum muslimin. Sebagaimana firman-Nya,الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ“(Allah-lah) yang telah memberi mereka makanan sehingga terbebas dari kelaparan dan memberikan keamanan kepada mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 4)Rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar. Dengannya, manusia terjaga darah, harta, jiwa, dan kehormatannya, dan terjaga hak-hak yang lainnya. Semua itu termasuk nikmat yang sangat agung. Namun, ketika fitnah itu bergejolak, maka terjadilah pertumpahan darah, harta benda dirampas, nyawa melayang, anak-anak menjadi yatim, para wanita menjadi janda, dan berbagai dampak buruk lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5 LANJUT KE BAGIAN 7***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 41–44 dan hal. 47–50.
Dampak lain dari fitnah adalah bahwa fitnah seringkali dijadikan sebab dan sarana untuk menjerumuskan para pemuda dan anak-anak di bawah umur ke dalam penyimpangan dengan memperdaya mereka lewat berbagai cara, media, dan pendekatan, hingga berujung pada dampak yang fatal dan akhir yang menyedihkan.Pada bagian ini, seorang pemuda hendaknya tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bentuk propaganda, slogan yang digaungkan, maupun ungkapan-ungkapan yang dirangkai secara indah. Sebaliknya, ketika ia diajak kepada suatu urusan, hendaknya ia merujuk kepada para alim ulama dari kalangan ahli ilmu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,البركةُ مع أكابركم“Keberkahan ada bersama orang-orang yang lebih tua di antara kalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no. 559, ath-Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Awsath no. 8991, dan al-Hakim [1: 131]. Al-Hakim mensahihkannya, adz-Dzahabi menyetujuinya, dan keduanya dikuatkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1778)Apabila seseorang diajak pada suatu jalan, arah, atau metode, maka hendaknya ia kembalikan kepada para alim ulama, ahli ilmu. Yaitu para ulama yang kokoh ilmunya, sangat teliti dalam perkara tersebut, yang telah kokoh pijakan mereka dalam ilmu, mempelajari dan mengkajinya, serta kokoh pijakan mereka ketika berfatwa, menjelaskan, mengarahkan, menasihati, dan mengajarkan ilmu. Mereka inilah yang hendaknya dirujuk dan ditanya.Namun, ketika fitnah bergejolak, sebagian pemuda sering terjerumus dan terseret secara bertahap hingga terjerumus ke dalam perkara-perkara besar dan masalah-masalah serius, bahkan membuat mereka tidak mungkin lagi menemukan jalan keluar.Dan biasanya, perkara itu berawal dari tokoh-tokoh kecil di kalangan para penggerak fitnah, melalui hal-hal yang tampak biasa dan dikenal, seperti sekelompok orang yang berkumpul lalu saling bersepakat atas perkara-perkara yang sudah umum dan disepakati. Kemudian mereka mengatakan, “Kita berkumpul untuk beriman kepada Allah dan para malaikat-Nya, menegakkan salat, serta menunaikan zakat, dan kita tunduk untuk hal tersebut.”Lalu mereka membumbui dengan kesesatan dan penyimpangan yang pada akhirnya membuat seorang pemuda merasa telah terikat oleh sebuah perjanjian (baiat); bahkan bisa jadi ia telah masuk ke dalam suatu kelompok, terlibat dalam organisasi tertentu, atau terikat dalam sebuah baiat, dan semacamnya.Ia pun mendapati dirinya berada pada suatu jalan yang membingungkan, dan bisa jadi sulit baginya untuk kembali kepada kebenaran karena ia telah melangkah cukup jauh atau tercuci otaknya dan didoktrin agar terus berada dalam penyimpangan tersebut. Namun, apabila seorang pemuda diberi hidayah atau taufik dan Allah menganugerahkan kepadanya pertolongan-Nya, niscaya ia akan terselamatkan dari penyimpangan itu. Perkara semacam ini sejatinya telah ada sejak dahulu.Pada masa generasi tabi‘in, Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir meriwayatkan sebuah kisah tentang dirinya ketika ia masih kecil. Ia berkata, “Kami pernah mendatangi Zaid bin Shauhan. Ia pun berkata, ‘Wahai hamba-hamba Allah, muliakanlah dan hormatilah. Sesungguhnya kami menjadi perantara bagi para hamba menuju Allah melalui dua perkara, yaitu rasa takut dan harapan.’”Zaid bin Shauhan dikenal sebagai seorang pemberi nasihat yang senantiasa menasihati, mengingatkan, menanamkan rasa takut kepada Allah, serta mengajak manusia untuk beribadah dan menaati Allah.Ia melanjutkan, “Suatu hari, aku mendatanginya lagi, sementara mereka sedang membuat sebuah tulisan atau perjanjian dan menyusun kalimat yang maknanya seperti ini: Sesungguhnya Allah adalah Rabb kami, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi kami, dan Al-Qur’an adalah pedoman hidup kami. Siapa pun yang bersama kami, ia adalah bagian dari kami; dan siapa pun yang menyelisihi kami, maka kami akan menghadapinya!” Tulisan tersebut disusun dengan kalimat-kalimat yang sekilas terkesan benar dan tidak bermasalah bagi kebanyakan orang.Ia melanjutkan lagi, “Tulisan tersebut kemudian dipertunjukkan kepada orang-orang, satu per satu. Setiap kali tulisan tersebut diajukan kepada seseorang, mereka bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai Fulan?’ Orang itu pun menjawab, ‘Ya, saya menyetujuinya.’ Sampai akhirnya giliran itu sampai kepadaku. Mereka pun bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai pemuda?’ (yakni terhadap perkara-perkara tersebut), Aku menjawab, ‘Tidak, aku tidak menyetujuinya.’ Zaid bin Shauhan berkata di hadapan orang-orang, ‘Jangan terburu-buru terhadap pemuda ini.’ Kemudian ia bertanya lagi kepadaku, ‘Apa yang akan kamu katakan, wahai pemuda?’ Aku pun menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan hukum kepadaku dalam Kitab-Nya. Karena itu, aku tidak akan membuat hukum baru selain hukum yang telah Allah tetapkan atasku dalam Kitab-Nya.’ Akhirnya, banyak dari kelompok tersebut kembali kepada kebenaran dari apa yang mereka setujui sebelumnya. Kelompok itu pun ‘zaha’a’ atau tersisa sekitar tiga puluh orang saja.” (Lihat Hilyatul Auliya’, 2: 204 dan Tarikh Dimasyq, 58: 313)Kesimpulannya, ketika fitnah bergejolak, seringkali yang menjadi korban adalah para pemuda maupun anak-anak di bawah umur. Mereka digiring untuk bergabung ke dalam organisasi-organiasi, kelompok-kelompok, baiat yang sesat dan menyimpang, dan semisalnya yang akhirnya berdampak buruk dan bahaya lainnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah darah kaum muslimin tak ada lagi harganya di mata mereka. Mereka tak segan untuk membunuh dan menumpahkan darah kaum muslimin, bahkan menghalalkan darah mereka yang bukan golongannnya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,في الفتنةِ لا ترونَ القتلَ شيئًا“Ketika fitnah itu bergejolak, pertumpahan darah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu (yang besar atau serius).” (HR. Ahmad no. 4871)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal sangat tegas dalam melarang keterlibatan dalam pembunuhan, perampokan, serta pelanggaran terhadap kehormatan manusia. Dalam hal ini, beliau memiliki sebuah ungkapan yang sangat agung dan indah, yang patut dihafal dan dijaga. Yaitu, bahwa ada seorang laki-laki yang menulis surat kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,اكتبْ إليَّ بالعلمِ“Tuliskanlah kepadaku tentang ilmu!”Ibnu ‘Umar pun menuliskannya untuk orang itu,إنَّ العلمَ كثيرٌ — يا ابنَ أخي — ولكن إنِ استطعتَ أن تلقى اللهَ خفيفَ الظهرِ من دماءِ المسلمينَ، خَميص البطنِ من أموالِهم، كافّ اللسانِ عن أعراضِهم، لازمًا لجماعتِهم، فافعلْ“Ilmu itu sangat banyak, wahai keponakanku. Namun, jika engkau mampu bertemu Allah tanpa memikul dosa darah kaum muslimin, tanpa memakan harta mereka, menjaga lisan dari merendahkan kehormatan mereka, dan tetap berpegang pada jamaah kaum muslimin—maka itulah yang utama.” (Lihat Tarikh Dimasyq, 31: 170 dan 52: 256; dan Siyar A‘lam an-Nubala’, 3: 222)Wasiat ini adalah di antara wasiat yang paling agung dan paling lengkap, karena di dalamnya menghimpun intisari semua ilmu dan kebaikan di dalamnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah hilangnya rasa aman. Padahal, rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada kaum muslimin. Sebagaimana firman-Nya,الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ“(Allah-lah) yang telah memberi mereka makanan sehingga terbebas dari kelaparan dan memberikan keamanan kepada mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 4)Rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar. Dengannya, manusia terjaga darah, harta, jiwa, dan kehormatannya, dan terjaga hak-hak yang lainnya. Semua itu termasuk nikmat yang sangat agung. Namun, ketika fitnah itu bergejolak, maka terjadilah pertumpahan darah, harta benda dirampas, nyawa melayang, anak-anak menjadi yatim, para wanita menjadi janda, dan berbagai dampak buruk lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5 LANJUT KE BAGIAN 7***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 41–44 dan hal. 47–50.


Dampak lain dari fitnah adalah bahwa fitnah seringkali dijadikan sebab dan sarana untuk menjerumuskan para pemuda dan anak-anak di bawah umur ke dalam penyimpangan dengan memperdaya mereka lewat berbagai cara, media, dan pendekatan, hingga berujung pada dampak yang fatal dan akhir yang menyedihkan.Pada bagian ini, seorang pemuda hendaknya tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bentuk propaganda, slogan yang digaungkan, maupun ungkapan-ungkapan yang dirangkai secara indah. Sebaliknya, ketika ia diajak kepada suatu urusan, hendaknya ia merujuk kepada para alim ulama dari kalangan ahli ilmu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,البركةُ مع أكابركم“Keberkahan ada bersama orang-orang yang lebih tua di antara kalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no. 559, ath-Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Awsath no. 8991, dan al-Hakim [1: 131]. Al-Hakim mensahihkannya, adz-Dzahabi menyetujuinya, dan keduanya dikuatkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1778)Apabila seseorang diajak pada suatu jalan, arah, atau metode, maka hendaknya ia kembalikan kepada para alim ulama, ahli ilmu. Yaitu para ulama yang kokoh ilmunya, sangat teliti dalam perkara tersebut, yang telah kokoh pijakan mereka dalam ilmu, mempelajari dan mengkajinya, serta kokoh pijakan mereka ketika berfatwa, menjelaskan, mengarahkan, menasihati, dan mengajarkan ilmu. Mereka inilah yang hendaknya dirujuk dan ditanya.Namun, ketika fitnah bergejolak, sebagian pemuda sering terjerumus dan terseret secara bertahap hingga terjerumus ke dalam perkara-perkara besar dan masalah-masalah serius, bahkan membuat mereka tidak mungkin lagi menemukan jalan keluar.Dan biasanya, perkara itu berawal dari tokoh-tokoh kecil di kalangan para penggerak fitnah, melalui hal-hal yang tampak biasa dan dikenal, seperti sekelompok orang yang berkumpul lalu saling bersepakat atas perkara-perkara yang sudah umum dan disepakati. Kemudian mereka mengatakan, “Kita berkumpul untuk beriman kepada Allah dan para malaikat-Nya, menegakkan salat, serta menunaikan zakat, dan kita tunduk untuk hal tersebut.”Lalu mereka membumbui dengan kesesatan dan penyimpangan yang pada akhirnya membuat seorang pemuda merasa telah terikat oleh sebuah perjanjian (baiat); bahkan bisa jadi ia telah masuk ke dalam suatu kelompok, terlibat dalam organisasi tertentu, atau terikat dalam sebuah baiat, dan semacamnya.Ia pun mendapati dirinya berada pada suatu jalan yang membingungkan, dan bisa jadi sulit baginya untuk kembali kepada kebenaran karena ia telah melangkah cukup jauh atau tercuci otaknya dan didoktrin agar terus berada dalam penyimpangan tersebut. Namun, apabila seorang pemuda diberi hidayah atau taufik dan Allah menganugerahkan kepadanya pertolongan-Nya, niscaya ia akan terselamatkan dari penyimpangan itu. Perkara semacam ini sejatinya telah ada sejak dahulu.Pada masa generasi tabi‘in, Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir meriwayatkan sebuah kisah tentang dirinya ketika ia masih kecil. Ia berkata, “Kami pernah mendatangi Zaid bin Shauhan. Ia pun berkata, ‘Wahai hamba-hamba Allah, muliakanlah dan hormatilah. Sesungguhnya kami menjadi perantara bagi para hamba menuju Allah melalui dua perkara, yaitu rasa takut dan harapan.’”Zaid bin Shauhan dikenal sebagai seorang pemberi nasihat yang senantiasa menasihati, mengingatkan, menanamkan rasa takut kepada Allah, serta mengajak manusia untuk beribadah dan menaati Allah.Ia melanjutkan, “Suatu hari, aku mendatanginya lagi, sementara mereka sedang membuat sebuah tulisan atau perjanjian dan menyusun kalimat yang maknanya seperti ini: Sesungguhnya Allah adalah Rabb kami, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi kami, dan Al-Qur’an adalah pedoman hidup kami. Siapa pun yang bersama kami, ia adalah bagian dari kami; dan siapa pun yang menyelisihi kami, maka kami akan menghadapinya!” Tulisan tersebut disusun dengan kalimat-kalimat yang sekilas terkesan benar dan tidak bermasalah bagi kebanyakan orang.Ia melanjutkan lagi, “Tulisan tersebut kemudian dipertunjukkan kepada orang-orang, satu per satu. Setiap kali tulisan tersebut diajukan kepada seseorang, mereka bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai Fulan?’ Orang itu pun menjawab, ‘Ya, saya menyetujuinya.’ Sampai akhirnya giliran itu sampai kepadaku. Mereka pun bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai pemuda?’ (yakni terhadap perkara-perkara tersebut), Aku menjawab, ‘Tidak, aku tidak menyetujuinya.’ Zaid bin Shauhan berkata di hadapan orang-orang, ‘Jangan terburu-buru terhadap pemuda ini.’ Kemudian ia bertanya lagi kepadaku, ‘Apa yang akan kamu katakan, wahai pemuda?’ Aku pun menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan hukum kepadaku dalam Kitab-Nya. Karena itu, aku tidak akan membuat hukum baru selain hukum yang telah Allah tetapkan atasku dalam Kitab-Nya.’ Akhirnya, banyak dari kelompok tersebut kembali kepada kebenaran dari apa yang mereka setujui sebelumnya. Kelompok itu pun ‘zaha’a’ atau tersisa sekitar tiga puluh orang saja.” (Lihat Hilyatul Auliya’, 2: 204 dan Tarikh Dimasyq, 58: 313)Kesimpulannya, ketika fitnah bergejolak, seringkali yang menjadi korban adalah para pemuda maupun anak-anak di bawah umur. Mereka digiring untuk bergabung ke dalam organisasi-organiasi, kelompok-kelompok, baiat yang sesat dan menyimpang, dan semisalnya yang akhirnya berdampak buruk dan bahaya lainnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah darah kaum muslimin tak ada lagi harganya di mata mereka. Mereka tak segan untuk membunuh dan menumpahkan darah kaum muslimin, bahkan menghalalkan darah mereka yang bukan golongannnya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,في الفتنةِ لا ترونَ القتلَ شيئًا“Ketika fitnah itu bergejolak, pertumpahan darah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu (yang besar atau serius).” (HR. Ahmad no. 4871)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal sangat tegas dalam melarang keterlibatan dalam pembunuhan, perampokan, serta pelanggaran terhadap kehormatan manusia. Dalam hal ini, beliau memiliki sebuah ungkapan yang sangat agung dan indah, yang patut dihafal dan dijaga. Yaitu, bahwa ada seorang laki-laki yang menulis surat kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,اكتبْ إليَّ بالعلمِ“Tuliskanlah kepadaku tentang ilmu!”Ibnu ‘Umar pun menuliskannya untuk orang itu,إنَّ العلمَ كثيرٌ — يا ابنَ أخي — ولكن إنِ استطعتَ أن تلقى اللهَ خفيفَ الظهرِ من دماءِ المسلمينَ، خَميص البطنِ من أموالِهم، كافّ اللسانِ عن أعراضِهم، لازمًا لجماعتِهم، فافعلْ“Ilmu itu sangat banyak, wahai keponakanku. Namun, jika engkau mampu bertemu Allah tanpa memikul dosa darah kaum muslimin, tanpa memakan harta mereka, menjaga lisan dari merendahkan kehormatan mereka, dan tetap berpegang pada jamaah kaum muslimin—maka itulah yang utama.” (Lihat Tarikh Dimasyq, 31: 170 dan 52: 256; dan Siyar A‘lam an-Nubala’, 3: 222)Wasiat ini adalah di antara wasiat yang paling agung dan paling lengkap, karena di dalamnya menghimpun intisari semua ilmu dan kebaikan di dalamnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah hilangnya rasa aman. Padahal, rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada kaum muslimin. Sebagaimana firman-Nya,الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ“(Allah-lah) yang telah memberi mereka makanan sehingga terbebas dari kelaparan dan memberikan keamanan kepada mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 4)Rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar. Dengannya, manusia terjaga darah, harta, jiwa, dan kehormatannya, dan terjaga hak-hak yang lainnya. Semua itu termasuk nikmat yang sangat agung. Namun, ketika fitnah itu bergejolak, maka terjadilah pertumpahan darah, harta benda dirampas, nyawa melayang, anak-anak menjadi yatim, para wanita menjadi janda, dan berbagai dampak buruk lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5 LANJUT KE BAGIAN 7***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 41–44 dan hal. 47–50.
Prev     Next