Untaian Perkataan Ibnul Jauzi Rahimahullah Yang Menggetarkan Hati Para Da’i

Untaian perkataan Ibnul Jauzi rahimahullah yang menggetarkan hati para da’i, beliau berkata :((Sungguh suatu hari aku di majelisku maka aku melihat di sekitarku lebih dari 10 ribu hadirin, tidak seorangpun dari mereka kecuali trenyuh/luluh hatinya atau meneteskan air mata (*karena nasehat dan ceramahku). Akupun berkata pada jiwaku : Bagaimana nasibmu jika mereka seluruhnya selamat (*di akhirat) sedangkan engku celaka??. Maka akupun berucap dengan lisan perasaanku : Wahai Tuhanku…, wahai Tuhanku…jika kelak Engkau menetapkan untuk mengadzabku maka janganlah Engkau mengabarkan kepada mereka tentang tersiksanya aku… demi untuk menjaga kemuliaanMu bukan demi aku, agar mereka tidak berkata : Allah yang telah ditunjukan/diserukan oleh Ibnul Jauzi telah mengadzab Ibnul Jauzi)) lihat Soidul Khootir hal 78

Untaian Perkataan Ibnul Jauzi Rahimahullah Yang Menggetarkan Hati Para Da’i

Untaian perkataan Ibnul Jauzi rahimahullah yang menggetarkan hati para da’i, beliau berkata :((Sungguh suatu hari aku di majelisku maka aku melihat di sekitarku lebih dari 10 ribu hadirin, tidak seorangpun dari mereka kecuali trenyuh/luluh hatinya atau meneteskan air mata (*karena nasehat dan ceramahku). Akupun berkata pada jiwaku : Bagaimana nasibmu jika mereka seluruhnya selamat (*di akhirat) sedangkan engku celaka??. Maka akupun berucap dengan lisan perasaanku : Wahai Tuhanku…, wahai Tuhanku…jika kelak Engkau menetapkan untuk mengadzabku maka janganlah Engkau mengabarkan kepada mereka tentang tersiksanya aku… demi untuk menjaga kemuliaanMu bukan demi aku, agar mereka tidak berkata : Allah yang telah ditunjukan/diserukan oleh Ibnul Jauzi telah mengadzab Ibnul Jauzi)) lihat Soidul Khootir hal 78
Untaian perkataan Ibnul Jauzi rahimahullah yang menggetarkan hati para da’i, beliau berkata :((Sungguh suatu hari aku di majelisku maka aku melihat di sekitarku lebih dari 10 ribu hadirin, tidak seorangpun dari mereka kecuali trenyuh/luluh hatinya atau meneteskan air mata (*karena nasehat dan ceramahku). Akupun berkata pada jiwaku : Bagaimana nasibmu jika mereka seluruhnya selamat (*di akhirat) sedangkan engku celaka??. Maka akupun berucap dengan lisan perasaanku : Wahai Tuhanku…, wahai Tuhanku…jika kelak Engkau menetapkan untuk mengadzabku maka janganlah Engkau mengabarkan kepada mereka tentang tersiksanya aku… demi untuk menjaga kemuliaanMu bukan demi aku, agar mereka tidak berkata : Allah yang telah ditunjukan/diserukan oleh Ibnul Jauzi telah mengadzab Ibnul Jauzi)) lihat Soidul Khootir hal 78


Untaian perkataan Ibnul Jauzi rahimahullah yang menggetarkan hati para da’i, beliau berkata :((Sungguh suatu hari aku di majelisku maka aku melihat di sekitarku lebih dari 10 ribu hadirin, tidak seorangpun dari mereka kecuali trenyuh/luluh hatinya atau meneteskan air mata (*karena nasehat dan ceramahku). Akupun berkata pada jiwaku : Bagaimana nasibmu jika mereka seluruhnya selamat (*di akhirat) sedangkan engku celaka??. Maka akupun berucap dengan lisan perasaanku : Wahai Tuhanku…, wahai Tuhanku…jika kelak Engkau menetapkan untuk mengadzabku maka janganlah Engkau mengabarkan kepada mereka tentang tersiksanya aku… demi untuk menjaga kemuliaanMu bukan demi aku, agar mereka tidak berkata : Allah yang telah ditunjukan/diserukan oleh Ibnul Jauzi telah mengadzab Ibnul Jauzi)) lihat Soidul Khootir hal 78

Nasehat DR Said Aqiel Siradj, MA untuk Ketua PBNU Kiyai Haji Said Aqiel Siradj

Ilustrasi @unsplashCukup tersentak hati saya tatkala membaca pernyataan-pernyataan berani yang diungkapkan oleh Prof DR Kiyai Haji Said Aqiel Siradj, MA, sebagaimana yang diberitakan dalam www.voa-islam.com. Pernyataan-pernyataan tersebut adalah:Pertama : Pernyataan beliau bahwa syi’ah di Indonesia tidak berbahaya, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/06/16929/aneh-said-agil-siraj-bilang-syiah-di-indonesia-tidak-berbahaya/)Dan ternyata memang beliau pernah bertemu dan menyambut tokoh syi’ah Hasan Nasrullah, silahkan lihat (http://www.dp-news.com/pages/detail.aspx?articleid=57160). Demikian pula beliau pernah menjadi pembicara tingkat internasional di Teheran (pusatnya Syi’ah Roafidhoh) selama dua kali, pada tahun 1999 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Al-Islam al-din al-tasamuh (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Islam adalah agama toleransi), dan pada tahun 2000 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Huquq al-Insan fi al-Islam (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Hak-hak manusia dalam Islam). Silahkan lihat (http://nubinong.blogspot.com/2010/03/riwayat-hidup-prof-dr-kh-said-aqiel.html). Selain itu beliau juga memberi kata pengantar dan menganjurkan masyarakat muslim Indonesia untuk membaca sebuah buku yang berisi banyak kedustaan karya Idahram, yang dalam buku tersebut sang penulis (Idahram) berkata :  “Dalam Islam sedikitnya ada tujuh madzhab yang pernah dikenal, yaitu madzhab Imam Ja’far As-Shiddiq (madzhab Ahlul Bait), madzhab Imam Abu Hanifah An-Nu’man, madzhab Imam Malik ibnu Anas, madzhab Imam As-Syafii, madzhab Imam Ahmad Ibnu Hanbal, madzhab Syi’ah Imamiah, dan madzhab Dawud Azh-Zhahiri. Sedangkan madzhab salaf tidak pernah ada”Kedua : Penyamaan beliau antara trinitas ortodoks Kristen dengan tauhid Islam, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/counter/christology/2011/10/06/16278/koreksi-aqidah-kh-said-aqil-sirajd-jangan-samakan-tauhid-islam-dengan-trinitas-kristen/), lihat juga (http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2011/11/24/16804/santri-menggugat-kenuan-ketua-umum-pbnu-kh-said-aqiel-siradj)Ketiga : Pernyataan beliau bahwasanya salafy wahabi penebar terorisme, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/07/16943/ketum-pbnu-said-aqil-siradj-melempar-fitnah-ustadz-membalas-tausiyah/), lihat juga (http://nahimunkar.com/9926/kayak-bocah-bercerita-gendruwo-saja-said-agil-siradj-menuding-yayasan-yayasan-islam/)Beliau DR Said Aqiel Siroj telah menghabiskan banyak usia beliau untuk mendalami bidang aqidah di karajaan Arab Saudi. Dari S1 hingga S3 beliau menuntut ilmu di Arab Saudi dan di bidang ushuul ad-diin (aqidah).–         S1, beliau tempuh Universitas King Abdul Aziz, Jurusan Ushuluddin dan Dakwah, tamat 1982.–         S2 beliau tempuh Universitas Ummu al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, tamat 1987, dengan tesis yang berjudul رَسَائِلُ الرُّسُلِ وَأَثَرُهَا فِي انْحِرَافِ الْمَسِيْحِيَّةِ (Pengaruh Surat-Surat para rasul dalam Bibel terhadap penyimpangan Agama Kristen).–         S3 Universitas Ummu al-Qura, jurusan Aqidah/Filsafat Islam, tamat 1414 H (1994 M), dengan judul disertasi : صِلَةُ اللهِ بِالْكَوْنِ فِي التَّصَوُّفِ الْفَلْسَفِي (Hubungan antara Allah dan alam menurut perspektif tasawwuf falsafi), yang disertasi beliau ini dibimbing oleh dosen beliau yang bernama As-Syaikh DR. Mahmuud Ahmad KhofaajiDari sini kita tahu bahwasanya beliau ini adalah seorang yang pakar dalam bidang aqidah, baik dalam memahami kesesatan kaum Kristen maupun kesesatan kaum sufi.Berikut ini saya terjemahkan muqoddimah dari disertasi doktoral yang ditulis oleh Prof DR Said Aqiel Siraj (Desertasi tersebut bisa di download di http://resalty.waqfeya.com/index.php/category-96/thesis-51).Muqoddimah ini sangat layak untuk dibaca kembali oleh penulisnya sendiri, yang merupakan nasehat yang sangat indah bagi sang penulis sendiri dan juga kaum muslimin di tanah air, terutama kaum yang dipimpin oleh beliau sekarang. Hal ini mengingat dalam muqoddimah disertasi tersebut beliau (Prof DR Said Aqiel Siradj) telah mentaqrir dan menetapkan landasan-landasan aqidah salaf, karena memang desertasi tersebut beliau tulis untuk membantah kaum sufi. Terlebih lagi dalam desertasi tersebut beliau sering menukil perkataan-perkataan Ibnu Taimiyyah untuk membantah pemikiran sufiah. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin Indonesia.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Islam menolak segala bentuk kesyirikan, dan menolak perantara-perantara antara Allah dan manusia kecuali perantara kenabian dan kerasulan, dengan demikian Islam menetapkan keterpisahan yang sempurna antara Allah dan yang lainNya, antara Pencipta dan Makhluk, bahkan malaikat tidak terhubungkan dengan Allah melalui hubungan apapun selain hubungan yang tegak antara Allah dengan makhluk yang lain baik yang materi maupun ruh, yaitu hubungan antara makhluk dan Penciptanya, yaitu hubungan keterpisahan dan bukan hubungan ketersambungan”Komentar :Pernyataan Kiyai Haji Prof DR di atas persis sama dengan penjelasan Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdil Wahhaab rahimahumallah, bahwasanya Allah tidak butuh kepada washitoh (perantara) dalam penyembahan dan dalam meminta manfaat dan menolak mudhorot. Menjadikan washitoh (perantara) kepada Allah merupakan kesyirikan. Yang ada hanyalah perantaraan dalam hal risalah dan kenabian, yaitu para nabi dan para rasul merupakan perantara antara Allah dan manusia dalam menyampaikan risalah/wahyu Allah ta’alaa.Ibnu Taimiyyah berkata : “Dan hal ini merupakan perkara yang disepakati oleh seluruh pemeluk agama dari kalangan kaum muslimin, yahudi, dan nashrani, mereka menetapkan adanya perantara antara Allah dengan hamba-hambaNya. Perantara-perantara tersebut adalah para Rasul yang mereka menyampaikan dari Allah perintah Allah dan khabar dari Allah….”Beliau juga berkata, “Adapun jika yang dimaksudkan dengan perantara adalah bahwasanya harus ada perantara dalam mendatangkan manfaat-manfaat dan menolak kemudorotan, seperti perantara dalam mendatangkan rizki para hamba, dan pertolongan kepada mereka dan hidayah untuk mereka, yang mereka meminta hal-hal tersebut kepada perantara ini dan mengharap kepada perantara ini maka ini merupakan kesyirikan yang paling besar yang karena kesyirikan inilah Allah mengkafirkan kaum musyrikin (Arab), dimana mereka menjadikan selain Allah sebagai penolong-penolong mereka dan para pemberi syafaat kepada mereka” (Majmuu’ al-Fataawaa 1/122-123). Adapun perkataan Muhammad bin Abdil Wahhaab yang semakna dengan ini maka bisa dibaca di risalah beliau “Kasyf Asy-Syubhaat”DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Dan jika kita mengamati Al-Qur’aan Al-Kariim maka kita akan mendapati Al-Quran menekankan keterpisahan yang sempurna ini, maka tidak ada sesuatupun yang berfungsi sebagai suatu perantara antara Allah dan makhlukNya. Sebagaimana Al-Qur’an berkali-kali dan berulang-ulang menafikan sifat uluhiyah dari selain Allah ta’aala dengan penafian secara mutlak, dan menekankan bahwasanya para nabi dan para rasul mereka dari golongan manusia dan dari tabi’at manusia. Inilah yang ditetapkan oleh rukun Islam yang pertama yaitu Syahadah (Persaksian) bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Dan ini adalah syahadah penafian dan penetapan (itsbaat), menafikan secara mutlak uluhiah (ketuhanan) dari selain Allah dan tidak ditetapkan kecuali hanya untuk Allah semata, dan menetapkan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, dan Muhammad adalah manusia sebagaimana seluruh manusia (*yang lain). Dan seluruh perbedaan antara Muhammad dan mereka adalah beliau diberi wahyu aqidah tauhid”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said menekankan perkara yang sangat penting yaitu tentang aqidah yang benar terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau adalah manusia biasa sebagaimana seluruh manusia yang lain yang memiliki tabi’at manusia. Yang membedakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan manusia yang lain hanyalah Nabi telah diberi wahyu berupa aqidah tauhid. Hal ini tentunya bertentangan dengan keyakinan sebagian kaum sufi yang terlalu berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (silahkan lihat https://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/116-berlebih-lebihan-kepada-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-hingga-mengangkat-beliau-pada-derajat-ketuhanan)DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan aqidah tauhid yang dibawa oleh Islam menolak seluruh kesyirikan, sama saja apakah kesyirikan yang tegak di atas pendapat berbilangnya Tuhan atau kesyirikan yang dibangun di atas keimanan kepada adanya perantara-perantara antara Allah dan manusia. Dari situ maka hubungan antara Allah dengan alam –termasuk di dalamnya adalah manusia- adalah hubungan keterpisahan. Allah maha Esa tidak ada syarikat baginya, terpisah dari alam dengan keterpisahan yang sempurna dengan ke-Esa-anNya dalam Dzatnya, sifat-sifatNya, dan perbuatan-perbuatanNya, dan Allah tersucikan dari seluruh bentuk penyamaan dengan makhluk-makhlukNya.Aqidah ini dialah aqidah yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin, baik salaf mereka (*golongan terdahulu) maupun kholaf mereka (*golongan belakangan), kecuali sufiah filsafat, sebagaimana akan kita lihat di tengah lembaran-lembaran pembahasan ini”Komentar :Dalam paragraph ini kembali DR Said Aqiel menekankan bahwasanya Islam menolak segala bentuk kesyirikan. Dan bentuk-bentuk kesyirikan ada dua:Pertama : Dengan menjadikan Tuhan berbilang, sebagaimana trinitasnya kaum Nasrani, dan juga dewa-dewa Kaum Hindu.Kedua : Menjadikan perantara antara Allah dan manusia. Hal ini sebagaimana keysirikan kaum musyrikin Arab (silahkan lihat kembali : https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab)DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Kemudian Islam adalah berpegang teguh dengan perintah-perintah Allah dan perintah-perintah RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, dan meneladani kehidupan Rasulullah dan mengikuti jalan-jalan dan sunnah-sunnah yang telah ditempuh oleh para sahabatnya –semoga Allah meridhoi mereka–Allah berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat” (QS Al-Ahzaab : 21)Dan Allah ta’aala juga berfirman : “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah” (QS Al-Hasyr : 7)Allah juga berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)” (QS Al-Anfaal : 20)”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menekankan untuk mengikuti jalan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau mendoaakan para sahabat agar diridhoi oleh Allah. Dan ini tentunya bertentangan dengan aqidah Syi’ah yang justru berdoa agar Allah melaknat para sahabat dan juga mengkafirkan para sahabat.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : Dan perintah-perintah Allah dan RasulNya –demikian pula larangan-larangan Allah dan RasulNya- terjaga dalam Al-Qur’an Al-Kariim dan Sunnah-sunnah Nabi yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Aku meninggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan kedua perkara tersebut, yaitu kitabullah dan sunnah NabiNya”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan akan pentingnya berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah Nabi, yang keduanya merupakan sumber hukum kaum muslimin. Hal ini tentunya berbeda dengan:–         Keyakinan sebagian kaum sufi yang terkadang berdalil dengan kisah-kisah…yang tidak tahu juntrung keabsahannya. Tidak jarang berupa cerita-cerita karomah yang masih dipertanyakan akan kevalidannya lantas cerita-cerita tersebut dijadikan dalil utama sehingga ditolaklah pendalilan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah–         Sikap sebagian sufi yang taklid buta kepada gurunya, meskipun pemikiran-pemikiran gurunya bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga seakan-akan perkataan gurunya merupakan salah satu sumber hukumDR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mentarbiah (membina) para sahabatnya dibawah naungan dan petunjuk kitabullah dan sunnahnya, yaitu dengan tarbiah percontohan agar mereka menjadi teladan bagi orang-orang yang datang setelah mereka hingga hari kiamat. Maka mereka adalah praktek nyata (hidup) dari ajaran-ajaran Allah dan arahan-arahan RasulNya. Mereka berittiba’ dan meneladani serta tidak melakukan bid’ah dan mengada-ngadakan. Mereka adalah para wali-wali Allah yang tidak kawatir dan tidak bersedih. Mereka adalah teladan dan tolak ukur untuk mengenal al-haq (kebenaran) dari kebatilan, dan untuk membedakan petunjuk dari kesesatan“.Komentar :Dalam paragraf ini beliau menekankan kembali akan mulianya para sahabat dari beberapa sisi:Pertama : Para sahabat telah ditarbiyah/dibina dan dididik langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentunya guru sangat berpengaruh kepada murid-muridnyaKedua : Tarbiyah tersebut berdasarkan naungan dan cahaya al-Qur’an dan as-SunnahKetiga : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentarbiyah para sahabat dengan tarbiyah khusus yaitu tarbiyah percontohan, dengan maksud agar para sahabat menjadi contoh bagi generasi-generasi setelah merekaKeempat : Amalan para sahabat adalah praktek hidup/nyata terhadap ajaran Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hal ini tentu sangatlah jelas ditinjau dari beberapa sisi–         Para sahabatlah yang paham tentang maksud Allah dan RasulNya.–         Ayat-ayat al-Qur’an yang pertama kali mempraktekannya adalah para sahabat.–         Tatkala para sahabat menerapkan ayat-ayat Allah mereka dibimbing langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga jika mereka salah praktek, atau salah paham tentang Al-Qur’an maka akan ditegur langsung oleh Allah atau melalui Rasulullah yang merupakan guru dan pengawas merekaKelima : Para sahabat tidak melakukan bid’ah dan tidak mengadakan perkara-perkara baru dalam agama, akan tetapi mereka meneladani guru mereka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamKeenam : Para sahabat adalah wali-wali Allah…maka yang memusuhi dan membenci mereka…apalagi mengkafirkan mereka tentunya wali-wali syaitanKetujuh : (Dan ini merupakan poin yang terpenting) yaitu DR Said Aqiel menjelaskan bahwa para sahabat adalah tolak ukur kebenaran, sehingga terbedakan hak dari kebatilan, dan terbedakan petunjuk dari kesesatan.Sungguh ini adalah manhaj yang selalu dan senantiasa diserukan dan dipropagandakan oleh kaum wahabi (salafy) yaitu agar kembali kepada pemahaman dan manhaj para sahabat yang jauh dari bid’ah dan perkara-perkara baru dalam agama.Dan inilah juga yang selalu diserukan oleh kaum yang disebut-disebut oleh orang yang memusuhinya “Salafy wahabi” agar senantiasa mencintai para sahabat dan memusuhi orang-orang yang membenci (bahkan mengkafirkan) para sahabat seperti kaum syi’ah. Jika para sahabat yang sedemikian mulianya (sebagaimana penjabaran DR Said Aqiel diatas) itu saja dikafirkan maka bagaimana lagi dengan para pengikut mereka yang jauh dari kemuliaan para sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan dibawah cahaya al-kitab dan as-sunnah dan siroh Rasulullah serta amalan para sahabatnya ditimbang amalan-amalan kaum muslimin dan perkataan mereka. Maka apa yang ada sandarannya dan dalil maka dihukumi dengan amalan/perkataan yang sah dan benar. “Dan apa yang menyelisihi al-kitab dan as-sunnah dan tidak ada atsarnya dalam kehidupan para sahabat maka dihukumi dengan fasad (rusak) dan batil. Dan semua yang keluar dari manhaj ini maka sungguh telah sesat dan menyesatkan“.Komentar :Dalam paragraf ini kembali DR Said Aqiel menekankan akan pentingnya manhaj salaf yaitu manhaj yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat. Beliau juga kembali menegaskan bahwa seluruh perkataan/pendapat dan amal perbuatan manusia harus ditimbang di atas manhaj salaf ini. Jika ada suatu pemikiran atau amal perbuatan yang tidak diriwayatkan ada di masa kehidupan para sahabat maka pemikiran dan amal perbuatan tersebut batil. Ini merupakan seruan yang tegas dari beliau kepada kaum muslimin –terutama di Indonesia- untuk kembali menimbang amalan-amalan yang sering mereka lakukan. Apakah amalan-amalan tersebut pernah dilakukan dan diamalkan oleh para sahabat??, jika tidak pernah maka hal itu adalah batil dan sesat, bahkan pelakunya sesat dan menyesatkan.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan tatkala saya adalah salah seorang mahasiswa di jurusan Aqidah saya melihat bahwasanya merupakan kewajiban atas saya untuk mencari-cari/mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat dan jauh dari al-kitab dan as-sunnah. Dan telah beberapa lama saya menyelidiki manhaj-manhaj tersebut untuk saya jelaskan penyimpangan dan kesesatannya dan jauhnya manhaj tersebut dari Islam. Termasuk merupakan perkara yang menyusahkan dan menggelisahkan aku adalah apa yang aku dapati dari manhaj-manhaj para sufi ahli filsafat yang mereka telah jauh dari Islam, yaitu tentang pemahaman mereka tentang hubungan alam dengan penciptanya, dengan pemikiran-pemikiran mereka yang sesat berupa hulul dan ittihad dan wihdatul wujud (yiatu hulul/menempatinya Allah ke alam, dan ittihad/menyatunya alam dengan Allah, dan wihdah/kesatuan alam bersama Allah), yang hal itu melalui metode filsafat al-fanaa’ dan fanaa al-fanaa, dan seluruhnya merupakan pemikiran-pemikiran yang aneh dan muhdatsah (diada-adakan) serta menyusup di tengah-tengah masyarakat islami”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said Aqiel memaparkan bagaimana semangat beliau untuk bernahi mungkar. Beliau terpanggil bahkan beliau merasa wajib untuk mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat. Bahkan sangat menggelisahkan beliau kesesatan yang terdapat dalam manhaj kaum sufi philosofi, yang kesesatan ini merupakan perkara muhdats (bid’ah) yang telah menyusup dalam masyarakat islam.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan permulaan munculnya pemikiran filsafat sesat tersebut di akhir-akhir abad kedua hijriah. Lalu berkembang dengan pesat di tengah abad ketiga hijriah. Dimulai dari Jabir bin Hayyan dan Abu Hasyim dan Abduk hingga Ibnu ‘Arobi sang fhilosofi besar, Al-Ghunushy Al-Khothiir, dan melewati Dzu An-Nuun Al-Mishriy, Abi Yaziid Al-Busthoomy, Al-Hallaaj, Al-Junaid, An-Nafary, Al-Gozhaaly, lalu As-Sahrowardi yang terbunuh”.Komentar :Dalam paragaf ini beliau menjelaskan tentang tokoh-tokoh sufi filsafat yang memiliki pemahaman sesat wihdatul wujud. Yang diantara tokoh-tokoh tersebut ada yang digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia. Diantaranya adalah Ibnu ‘Arobi dan Al-Ghozali.Adapun Ibnu ‘Arobi maka DR Said Aqiel telah menjelaskan kesesatannya dalam disertasinya tersebut pada hal 446 hingga hal 450. Beliau menjelaskan tentang pemikiran Ibnu Arobi dalam dua kitabnya yang berisikan tentang pemikiran wihdatul wujud (bersatunya Allah dengan alam). Kitab yang pertama adalah kitab Al-Futuhaat Al-Makkiyah, yang dimana Ibnu Arobi mengaku bahwa apa yang dituliskannya dalam kitab tersebut adalah wahyu dan didikte oleh Allah. Adapun kitab yang kedua adalah Fushus Al-Hikam maka Ibnu Arobi mengaku bahwa kitab tersebut datangnya dari Rasulullah. Dalam kitab Fushus Al-Hikam inilah Ibnu Arobi mengatakan bahwa Fir’aun adalah orang beriman dan masuk surga !!, hal ini karena tatkala Fir’aun mengatakan :”Aku adalah Tuham kalian yang maha tinggi” menunjukan bahwa Fir’aun paham bahwasanya Allah telah bersatu dengan alam, telah bersatu dengan dirinya. Jadi perkataan Fir’aun tersebut adalah perkataan yang hak dan benarAdapun Abu Hamid Al-Ghozaali, maka kesesatannya tentang pemahaman wahdatul Wujud telah dijelaskan oleh DR Said Aqiel Siraj dalam disertasinya pada hal 168 hingga hal 172. Pemikiran wihdatul wujud Al-Ghozaali sangat nampak dalam kitabnya Ihyaa Uluumiddiin (yang kitab ini sangat digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia) dan kitabnya Misykaat al-Anwaar. Adapun bantahan terhadap pemikiran Al-Ghozali ini maka telah ditulis dengan panjang lebar oleh DR Said Aqiel dalam disertasinya dari hal 199 hingga hal 221. DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan merupakan perkara yang diketahui bahwasanya kaum muslimin di Indonesia menghadapi problematika-problematika besar baik problematika politik, ekonomi, sosial dan problematika aqidah. Di hadapan mereka musuh-musuh mereka yang menanti-nanti (*keburukan bagi) kaum muslimin berupa gerakan kristenisasi, sekuler, bathiniyah, dan sekte-sekte sesat –Syi’ah, Ahmadiyah, dan Bahaaiyah, lalu Sufiyah”Komentar :Pada paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan bahwasanya diantara musuh-musuh kaum muslimin Indonesia adalah gerakan kristenisasi dan sekuler. Selain itu juga sekte-sekte yang sesat seperti Syi’ah dan Ahmadiyah qodyaniah. Dan musuh kaum muslimin Indonesia yang terakhir beliau sebutkan adalah kaum sufi.Ini merupakan nasehat yang sangat penting dari beliau akan bahayanya kaum Syi’ah dan kaum Sufi, karena mereka adalah musuh-musuh yang senantiasa menanti-nanti keburukan kaum muslimin Indonesia.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan sufiyah di Indonesia sungguh telah sukses besar dalam menyebarkan ajaran-ajaran mereka yang sesat -meskipun kebanyakan mereka tidak beriman dengan aqidah hulul dan ittihad serta wihdatul wujud-. Dan ajaran sufiah ini senantiasa masih termasuk ajaran yang paling berbahaya yang tersebar di negeri Indonesia, hal ini disebabkan kejahilan kaum muslimin di Indonesia terhadap aqidah yang benar” Komentar :Pada paraghraf ini, beliau menyatakan bahwa kaum sufi telah sukses besar dalam menyebarkan pemahaman dan ajaran-ajaran mereka di Indonesia. Namun timbul pertanyaan di benak saya, “Siapakah kaum sufi dimaksud oleh beliau??, yang telah berhasil menyebarkan ajaran mereka ke penjuru Indoesia??”, Apakah maksud beliau gerakan Muhammadiah?, ataukah Persis?, ataukah NU (Nahdatul Ulama) yang sedang beliau pimpin sekarang ini?, ataukah yang lainnya?. Semoga beliau bisa menjelaskan hal ini, dan semoga para pembaca juga mungkin bisa membantu menjelaskan maksud beliau. Terlebih lagi ada tariqah mu’tabar yang berada di bawah naungan NU, lihat (http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/34341/Warta/Habib_Luthfy__Pengurus_Thoriqoh_jangan_Seperti_Krupuk___.html) dan (http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/17/thariqah-al-mutabarah-dari-waktu-ke-waktu/, dan http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/23/lambang-jam%E2%80%99iyyah-ahlith-thoriqoh-al-mu%E2%80%99tabarah-an-nahdliyyah/, serta lihat komentar DR Said Aqiel tentang tasawwuf di http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/34786/Buku/Urgensi_Tasawuf_di_Era_Globalisasi.html)Dan saya sangat setuju dengan pendapat beliau bahwa ajaran-ajaran sesat seperti ini tersebar disebabkan karena kejahilan kaum muslim di Indonesia terhadap akidah yang benar sehingga mudah mereka terjangkiti ajaran-ajaran sufiah.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Dikarenakan hal ini seluruhnya dan setelah aku menulis tesisku untuk meraih gelar Master di bidang aqidah tentang bantahan kepada Kristen maka aku memilih pembahasan desertasiku untuk meraih gelar Doktor tentang bantahan kepada sufiah, terukhususkan sufiah filsafat, dengan judul :“Hubungan Allah dengan alam menurut sufi filsafat, penelitian dan kritikan”DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan telah ditulis banyak pembahasan dan telah tersebar banyak risalah-risalah ilmiah seputar perkara ini, akan tetapi saya melihat perkaranya masih butuh untuk ditinjau kembali, dengan tinjauan islami dengan timbangan/tolak ukurnya yang benar dan analogi yang benar, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah, dan ditambah dengan manhaj para ulama salafus sholeh”Komentar :Pada paragraf ini beliau menegaskan kembali bahwasanya tolak ukur yang benar untuk digunakan dalam mengukur kebenaran yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah dengan manhaj Salaf.Setelah itu DR Sa’id Aqiel Siraj menyebutkan khuttoh bahas disertasinya lalu beliau berkata : “Adapun sisi kritikan maka saya memperhatikan manhaj/metode pengkritikan yang ilmiyah yang benar, maka saya mengkritik pendapat-pendapat mereka (kaum sufi) dan saya menjelaskan kebatilan pemikiran-pemikiran mereka dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dan dengan dalil akal yang shahih, dan dengan perkataan para ulama yang sholihin. Dan dalam hal ini saya berusaha untuk menjauh dari fanatisme/ta’asshub dan sikap tidak inshoof (tidak adil)”Komentar:Pada paragraf ini DR Said Aqiel Siroj menjelaskan bahwa beliau menjauhi sikap fanatik dan sikap tidak inshoof (adil) dalam menulis disertasinya. Karenanya saya sangat berharap para pembaca membaca disertasi yang ditulis beliau ini yang sarat dengan faedah dan jauh dari sikap fanatik buta tanpa dalil. Bahkan dalam paragraf ini beliau (DR Said Aqiel) menegaskan bahwa beliau menjelaskan kebatilan pemikiran sufi falsafi dengan berdasarkan perkataan ulama yang sholihin. Siapakah yang dimaksud oleh beliau dengan Ulama yang sholihin ini??. Jika para pembaca menelaah disertasi karya DR Said Aqiel Siroj ini maka para pembaca akan menemukan bahwasanya perkataan alim ulama yang paling dijadikan landasan oleh DR Said Aqiel dalam membatilkan pemikiran sufi falsafi adalah perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang dituduh sebagai dedengkotnya salafy. Jadi sangat jelas bahwasanya DR Said Aqiel menganggap Ibnu Taimiyyah adalah sosok alim ulama yang sholih, karenanya DR Said Aqiel menjadikan perkataan-perkataannya untuk membantah tokoh-tokoh sufi seperti Ibnu Arobi dan Al-Ghozali.DR Said Aqiel Siradj berkata : “Dan tujuanku dalam disertasiku ini adalah menampilkan dirosah/penelitian yang sungguh-sungguh dan teliti/detail dengan harapan untuk menampakan dan menjelaskan hakikat/kebenaran, yang selanjutnya adalah untuk membela kebenaran dan untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Maka aku meminta kepada Allah Azza wa Jalla untuk merealisasikan harapan tujuan desertasi ini dan agar memberi faedah kepada para pembacanya dan menjadikannya ikhlash karena mengharapkan wajahNya, dan aku beristighfar kepada Allah atas seluruh kesalahanku yang ada dalam disertasiku ini, dan aku bersyukur kepadaNya atas kebenaran yang Allah hidayahkan kepadaku, dan segala puji bagi Allah di permulaan dan di akhir, dan Dialah cukup bagiku, dan sebaik-baik tempat bertawakal, dan semoga shalawat dan shalam tercurahkan bagi sayyidinaa Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya”Komentar :Semoga artikel yang saya paparkan ini membantu mewujudkan terkabulnya harapan DR Said Aqiel Siroj, sehingga risalah disertasi yang bagus ini bisa dipetik faedahnya oleh para pembaca sekalian, khususnya kaum muslimin di Indonesia.Demikianlah muqoddimah yang ditulis oleh DR Said Aqiel Siraj di muqoddimah disertasi beliau dan sedikit komentar dari saya. Sungguh muqoddimah  yang sarat dengan penjelasan pokok-pokok usul aqidah Ahlus Sunnah yang dibangun di atas manhaj salaf.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 14-01-1433 H / 09 Desember 2011 MAbu Abdilmuhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Nasehat DR Said Aqiel Siradj, MA untuk Ketua PBNU Kiyai Haji Said Aqiel Siradj

Ilustrasi @unsplashCukup tersentak hati saya tatkala membaca pernyataan-pernyataan berani yang diungkapkan oleh Prof DR Kiyai Haji Said Aqiel Siradj, MA, sebagaimana yang diberitakan dalam www.voa-islam.com. Pernyataan-pernyataan tersebut adalah:Pertama : Pernyataan beliau bahwa syi’ah di Indonesia tidak berbahaya, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/06/16929/aneh-said-agil-siraj-bilang-syiah-di-indonesia-tidak-berbahaya/)Dan ternyata memang beliau pernah bertemu dan menyambut tokoh syi’ah Hasan Nasrullah, silahkan lihat (http://www.dp-news.com/pages/detail.aspx?articleid=57160). Demikian pula beliau pernah menjadi pembicara tingkat internasional di Teheran (pusatnya Syi’ah Roafidhoh) selama dua kali, pada tahun 1999 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Al-Islam al-din al-tasamuh (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Islam adalah agama toleransi), dan pada tahun 2000 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Huquq al-Insan fi al-Islam (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Hak-hak manusia dalam Islam). Silahkan lihat (http://nubinong.blogspot.com/2010/03/riwayat-hidup-prof-dr-kh-said-aqiel.html). Selain itu beliau juga memberi kata pengantar dan menganjurkan masyarakat muslim Indonesia untuk membaca sebuah buku yang berisi banyak kedustaan karya Idahram, yang dalam buku tersebut sang penulis (Idahram) berkata :  “Dalam Islam sedikitnya ada tujuh madzhab yang pernah dikenal, yaitu madzhab Imam Ja’far As-Shiddiq (madzhab Ahlul Bait), madzhab Imam Abu Hanifah An-Nu’man, madzhab Imam Malik ibnu Anas, madzhab Imam As-Syafii, madzhab Imam Ahmad Ibnu Hanbal, madzhab Syi’ah Imamiah, dan madzhab Dawud Azh-Zhahiri. Sedangkan madzhab salaf tidak pernah ada”Kedua : Penyamaan beliau antara trinitas ortodoks Kristen dengan tauhid Islam, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/counter/christology/2011/10/06/16278/koreksi-aqidah-kh-said-aqil-sirajd-jangan-samakan-tauhid-islam-dengan-trinitas-kristen/), lihat juga (http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2011/11/24/16804/santri-menggugat-kenuan-ketua-umum-pbnu-kh-said-aqiel-siradj)Ketiga : Pernyataan beliau bahwasanya salafy wahabi penebar terorisme, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/07/16943/ketum-pbnu-said-aqil-siradj-melempar-fitnah-ustadz-membalas-tausiyah/), lihat juga (http://nahimunkar.com/9926/kayak-bocah-bercerita-gendruwo-saja-said-agil-siradj-menuding-yayasan-yayasan-islam/)Beliau DR Said Aqiel Siroj telah menghabiskan banyak usia beliau untuk mendalami bidang aqidah di karajaan Arab Saudi. Dari S1 hingga S3 beliau menuntut ilmu di Arab Saudi dan di bidang ushuul ad-diin (aqidah).–         S1, beliau tempuh Universitas King Abdul Aziz, Jurusan Ushuluddin dan Dakwah, tamat 1982.–         S2 beliau tempuh Universitas Ummu al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, tamat 1987, dengan tesis yang berjudul رَسَائِلُ الرُّسُلِ وَأَثَرُهَا فِي انْحِرَافِ الْمَسِيْحِيَّةِ (Pengaruh Surat-Surat para rasul dalam Bibel terhadap penyimpangan Agama Kristen).–         S3 Universitas Ummu al-Qura, jurusan Aqidah/Filsafat Islam, tamat 1414 H (1994 M), dengan judul disertasi : صِلَةُ اللهِ بِالْكَوْنِ فِي التَّصَوُّفِ الْفَلْسَفِي (Hubungan antara Allah dan alam menurut perspektif tasawwuf falsafi), yang disertasi beliau ini dibimbing oleh dosen beliau yang bernama As-Syaikh DR. Mahmuud Ahmad KhofaajiDari sini kita tahu bahwasanya beliau ini adalah seorang yang pakar dalam bidang aqidah, baik dalam memahami kesesatan kaum Kristen maupun kesesatan kaum sufi.Berikut ini saya terjemahkan muqoddimah dari disertasi doktoral yang ditulis oleh Prof DR Said Aqiel Siraj (Desertasi tersebut bisa di download di http://resalty.waqfeya.com/index.php/category-96/thesis-51).Muqoddimah ini sangat layak untuk dibaca kembali oleh penulisnya sendiri, yang merupakan nasehat yang sangat indah bagi sang penulis sendiri dan juga kaum muslimin di tanah air, terutama kaum yang dipimpin oleh beliau sekarang. Hal ini mengingat dalam muqoddimah disertasi tersebut beliau (Prof DR Said Aqiel Siradj) telah mentaqrir dan menetapkan landasan-landasan aqidah salaf, karena memang desertasi tersebut beliau tulis untuk membantah kaum sufi. Terlebih lagi dalam desertasi tersebut beliau sering menukil perkataan-perkataan Ibnu Taimiyyah untuk membantah pemikiran sufiah. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin Indonesia.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Islam menolak segala bentuk kesyirikan, dan menolak perantara-perantara antara Allah dan manusia kecuali perantara kenabian dan kerasulan, dengan demikian Islam menetapkan keterpisahan yang sempurna antara Allah dan yang lainNya, antara Pencipta dan Makhluk, bahkan malaikat tidak terhubungkan dengan Allah melalui hubungan apapun selain hubungan yang tegak antara Allah dengan makhluk yang lain baik yang materi maupun ruh, yaitu hubungan antara makhluk dan Penciptanya, yaitu hubungan keterpisahan dan bukan hubungan ketersambungan”Komentar :Pernyataan Kiyai Haji Prof DR di atas persis sama dengan penjelasan Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdil Wahhaab rahimahumallah, bahwasanya Allah tidak butuh kepada washitoh (perantara) dalam penyembahan dan dalam meminta manfaat dan menolak mudhorot. Menjadikan washitoh (perantara) kepada Allah merupakan kesyirikan. Yang ada hanyalah perantaraan dalam hal risalah dan kenabian, yaitu para nabi dan para rasul merupakan perantara antara Allah dan manusia dalam menyampaikan risalah/wahyu Allah ta’alaa.Ibnu Taimiyyah berkata : “Dan hal ini merupakan perkara yang disepakati oleh seluruh pemeluk agama dari kalangan kaum muslimin, yahudi, dan nashrani, mereka menetapkan adanya perantara antara Allah dengan hamba-hambaNya. Perantara-perantara tersebut adalah para Rasul yang mereka menyampaikan dari Allah perintah Allah dan khabar dari Allah….”Beliau juga berkata, “Adapun jika yang dimaksudkan dengan perantara adalah bahwasanya harus ada perantara dalam mendatangkan manfaat-manfaat dan menolak kemudorotan, seperti perantara dalam mendatangkan rizki para hamba, dan pertolongan kepada mereka dan hidayah untuk mereka, yang mereka meminta hal-hal tersebut kepada perantara ini dan mengharap kepada perantara ini maka ini merupakan kesyirikan yang paling besar yang karena kesyirikan inilah Allah mengkafirkan kaum musyrikin (Arab), dimana mereka menjadikan selain Allah sebagai penolong-penolong mereka dan para pemberi syafaat kepada mereka” (Majmuu’ al-Fataawaa 1/122-123). Adapun perkataan Muhammad bin Abdil Wahhaab yang semakna dengan ini maka bisa dibaca di risalah beliau “Kasyf Asy-Syubhaat”DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Dan jika kita mengamati Al-Qur’aan Al-Kariim maka kita akan mendapati Al-Quran menekankan keterpisahan yang sempurna ini, maka tidak ada sesuatupun yang berfungsi sebagai suatu perantara antara Allah dan makhlukNya. Sebagaimana Al-Qur’an berkali-kali dan berulang-ulang menafikan sifat uluhiyah dari selain Allah ta’aala dengan penafian secara mutlak, dan menekankan bahwasanya para nabi dan para rasul mereka dari golongan manusia dan dari tabi’at manusia. Inilah yang ditetapkan oleh rukun Islam yang pertama yaitu Syahadah (Persaksian) bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Dan ini adalah syahadah penafian dan penetapan (itsbaat), menafikan secara mutlak uluhiah (ketuhanan) dari selain Allah dan tidak ditetapkan kecuali hanya untuk Allah semata, dan menetapkan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, dan Muhammad adalah manusia sebagaimana seluruh manusia (*yang lain). Dan seluruh perbedaan antara Muhammad dan mereka adalah beliau diberi wahyu aqidah tauhid”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said menekankan perkara yang sangat penting yaitu tentang aqidah yang benar terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau adalah manusia biasa sebagaimana seluruh manusia yang lain yang memiliki tabi’at manusia. Yang membedakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan manusia yang lain hanyalah Nabi telah diberi wahyu berupa aqidah tauhid. Hal ini tentunya bertentangan dengan keyakinan sebagian kaum sufi yang terlalu berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (silahkan lihat https://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/116-berlebih-lebihan-kepada-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-hingga-mengangkat-beliau-pada-derajat-ketuhanan)DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan aqidah tauhid yang dibawa oleh Islam menolak seluruh kesyirikan, sama saja apakah kesyirikan yang tegak di atas pendapat berbilangnya Tuhan atau kesyirikan yang dibangun di atas keimanan kepada adanya perantara-perantara antara Allah dan manusia. Dari situ maka hubungan antara Allah dengan alam –termasuk di dalamnya adalah manusia- adalah hubungan keterpisahan. Allah maha Esa tidak ada syarikat baginya, terpisah dari alam dengan keterpisahan yang sempurna dengan ke-Esa-anNya dalam Dzatnya, sifat-sifatNya, dan perbuatan-perbuatanNya, dan Allah tersucikan dari seluruh bentuk penyamaan dengan makhluk-makhlukNya.Aqidah ini dialah aqidah yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin, baik salaf mereka (*golongan terdahulu) maupun kholaf mereka (*golongan belakangan), kecuali sufiah filsafat, sebagaimana akan kita lihat di tengah lembaran-lembaran pembahasan ini”Komentar :Dalam paragraph ini kembali DR Said Aqiel menekankan bahwasanya Islam menolak segala bentuk kesyirikan. Dan bentuk-bentuk kesyirikan ada dua:Pertama : Dengan menjadikan Tuhan berbilang, sebagaimana trinitasnya kaum Nasrani, dan juga dewa-dewa Kaum Hindu.Kedua : Menjadikan perantara antara Allah dan manusia. Hal ini sebagaimana keysirikan kaum musyrikin Arab (silahkan lihat kembali : https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab)DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Kemudian Islam adalah berpegang teguh dengan perintah-perintah Allah dan perintah-perintah RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, dan meneladani kehidupan Rasulullah dan mengikuti jalan-jalan dan sunnah-sunnah yang telah ditempuh oleh para sahabatnya –semoga Allah meridhoi mereka–Allah berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat” (QS Al-Ahzaab : 21)Dan Allah ta’aala juga berfirman : “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah” (QS Al-Hasyr : 7)Allah juga berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)” (QS Al-Anfaal : 20)”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menekankan untuk mengikuti jalan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau mendoaakan para sahabat agar diridhoi oleh Allah. Dan ini tentunya bertentangan dengan aqidah Syi’ah yang justru berdoa agar Allah melaknat para sahabat dan juga mengkafirkan para sahabat.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : Dan perintah-perintah Allah dan RasulNya –demikian pula larangan-larangan Allah dan RasulNya- terjaga dalam Al-Qur’an Al-Kariim dan Sunnah-sunnah Nabi yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Aku meninggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan kedua perkara tersebut, yaitu kitabullah dan sunnah NabiNya”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan akan pentingnya berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah Nabi, yang keduanya merupakan sumber hukum kaum muslimin. Hal ini tentunya berbeda dengan:–         Keyakinan sebagian kaum sufi yang terkadang berdalil dengan kisah-kisah…yang tidak tahu juntrung keabsahannya. Tidak jarang berupa cerita-cerita karomah yang masih dipertanyakan akan kevalidannya lantas cerita-cerita tersebut dijadikan dalil utama sehingga ditolaklah pendalilan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah–         Sikap sebagian sufi yang taklid buta kepada gurunya, meskipun pemikiran-pemikiran gurunya bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga seakan-akan perkataan gurunya merupakan salah satu sumber hukumDR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mentarbiah (membina) para sahabatnya dibawah naungan dan petunjuk kitabullah dan sunnahnya, yaitu dengan tarbiah percontohan agar mereka menjadi teladan bagi orang-orang yang datang setelah mereka hingga hari kiamat. Maka mereka adalah praktek nyata (hidup) dari ajaran-ajaran Allah dan arahan-arahan RasulNya. Mereka berittiba’ dan meneladani serta tidak melakukan bid’ah dan mengada-ngadakan. Mereka adalah para wali-wali Allah yang tidak kawatir dan tidak bersedih. Mereka adalah teladan dan tolak ukur untuk mengenal al-haq (kebenaran) dari kebatilan, dan untuk membedakan petunjuk dari kesesatan“.Komentar :Dalam paragraf ini beliau menekankan kembali akan mulianya para sahabat dari beberapa sisi:Pertama : Para sahabat telah ditarbiyah/dibina dan dididik langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentunya guru sangat berpengaruh kepada murid-muridnyaKedua : Tarbiyah tersebut berdasarkan naungan dan cahaya al-Qur’an dan as-SunnahKetiga : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentarbiyah para sahabat dengan tarbiyah khusus yaitu tarbiyah percontohan, dengan maksud agar para sahabat menjadi contoh bagi generasi-generasi setelah merekaKeempat : Amalan para sahabat adalah praktek hidup/nyata terhadap ajaran Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hal ini tentu sangatlah jelas ditinjau dari beberapa sisi–         Para sahabatlah yang paham tentang maksud Allah dan RasulNya.–         Ayat-ayat al-Qur’an yang pertama kali mempraktekannya adalah para sahabat.–         Tatkala para sahabat menerapkan ayat-ayat Allah mereka dibimbing langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga jika mereka salah praktek, atau salah paham tentang Al-Qur’an maka akan ditegur langsung oleh Allah atau melalui Rasulullah yang merupakan guru dan pengawas merekaKelima : Para sahabat tidak melakukan bid’ah dan tidak mengadakan perkara-perkara baru dalam agama, akan tetapi mereka meneladani guru mereka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamKeenam : Para sahabat adalah wali-wali Allah…maka yang memusuhi dan membenci mereka…apalagi mengkafirkan mereka tentunya wali-wali syaitanKetujuh : (Dan ini merupakan poin yang terpenting) yaitu DR Said Aqiel menjelaskan bahwa para sahabat adalah tolak ukur kebenaran, sehingga terbedakan hak dari kebatilan, dan terbedakan petunjuk dari kesesatan.Sungguh ini adalah manhaj yang selalu dan senantiasa diserukan dan dipropagandakan oleh kaum wahabi (salafy) yaitu agar kembali kepada pemahaman dan manhaj para sahabat yang jauh dari bid’ah dan perkara-perkara baru dalam agama.Dan inilah juga yang selalu diserukan oleh kaum yang disebut-disebut oleh orang yang memusuhinya “Salafy wahabi” agar senantiasa mencintai para sahabat dan memusuhi orang-orang yang membenci (bahkan mengkafirkan) para sahabat seperti kaum syi’ah. Jika para sahabat yang sedemikian mulianya (sebagaimana penjabaran DR Said Aqiel diatas) itu saja dikafirkan maka bagaimana lagi dengan para pengikut mereka yang jauh dari kemuliaan para sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan dibawah cahaya al-kitab dan as-sunnah dan siroh Rasulullah serta amalan para sahabatnya ditimbang amalan-amalan kaum muslimin dan perkataan mereka. Maka apa yang ada sandarannya dan dalil maka dihukumi dengan amalan/perkataan yang sah dan benar. “Dan apa yang menyelisihi al-kitab dan as-sunnah dan tidak ada atsarnya dalam kehidupan para sahabat maka dihukumi dengan fasad (rusak) dan batil. Dan semua yang keluar dari manhaj ini maka sungguh telah sesat dan menyesatkan“.Komentar :Dalam paragraf ini kembali DR Said Aqiel menekankan akan pentingnya manhaj salaf yaitu manhaj yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat. Beliau juga kembali menegaskan bahwa seluruh perkataan/pendapat dan amal perbuatan manusia harus ditimbang di atas manhaj salaf ini. Jika ada suatu pemikiran atau amal perbuatan yang tidak diriwayatkan ada di masa kehidupan para sahabat maka pemikiran dan amal perbuatan tersebut batil. Ini merupakan seruan yang tegas dari beliau kepada kaum muslimin –terutama di Indonesia- untuk kembali menimbang amalan-amalan yang sering mereka lakukan. Apakah amalan-amalan tersebut pernah dilakukan dan diamalkan oleh para sahabat??, jika tidak pernah maka hal itu adalah batil dan sesat, bahkan pelakunya sesat dan menyesatkan.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan tatkala saya adalah salah seorang mahasiswa di jurusan Aqidah saya melihat bahwasanya merupakan kewajiban atas saya untuk mencari-cari/mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat dan jauh dari al-kitab dan as-sunnah. Dan telah beberapa lama saya menyelidiki manhaj-manhaj tersebut untuk saya jelaskan penyimpangan dan kesesatannya dan jauhnya manhaj tersebut dari Islam. Termasuk merupakan perkara yang menyusahkan dan menggelisahkan aku adalah apa yang aku dapati dari manhaj-manhaj para sufi ahli filsafat yang mereka telah jauh dari Islam, yaitu tentang pemahaman mereka tentang hubungan alam dengan penciptanya, dengan pemikiran-pemikiran mereka yang sesat berupa hulul dan ittihad dan wihdatul wujud (yiatu hulul/menempatinya Allah ke alam, dan ittihad/menyatunya alam dengan Allah, dan wihdah/kesatuan alam bersama Allah), yang hal itu melalui metode filsafat al-fanaa’ dan fanaa al-fanaa, dan seluruhnya merupakan pemikiran-pemikiran yang aneh dan muhdatsah (diada-adakan) serta menyusup di tengah-tengah masyarakat islami”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said Aqiel memaparkan bagaimana semangat beliau untuk bernahi mungkar. Beliau terpanggil bahkan beliau merasa wajib untuk mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat. Bahkan sangat menggelisahkan beliau kesesatan yang terdapat dalam manhaj kaum sufi philosofi, yang kesesatan ini merupakan perkara muhdats (bid’ah) yang telah menyusup dalam masyarakat islam.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan permulaan munculnya pemikiran filsafat sesat tersebut di akhir-akhir abad kedua hijriah. Lalu berkembang dengan pesat di tengah abad ketiga hijriah. Dimulai dari Jabir bin Hayyan dan Abu Hasyim dan Abduk hingga Ibnu ‘Arobi sang fhilosofi besar, Al-Ghunushy Al-Khothiir, dan melewati Dzu An-Nuun Al-Mishriy, Abi Yaziid Al-Busthoomy, Al-Hallaaj, Al-Junaid, An-Nafary, Al-Gozhaaly, lalu As-Sahrowardi yang terbunuh”.Komentar :Dalam paragaf ini beliau menjelaskan tentang tokoh-tokoh sufi filsafat yang memiliki pemahaman sesat wihdatul wujud. Yang diantara tokoh-tokoh tersebut ada yang digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia. Diantaranya adalah Ibnu ‘Arobi dan Al-Ghozali.Adapun Ibnu ‘Arobi maka DR Said Aqiel telah menjelaskan kesesatannya dalam disertasinya tersebut pada hal 446 hingga hal 450. Beliau menjelaskan tentang pemikiran Ibnu Arobi dalam dua kitabnya yang berisikan tentang pemikiran wihdatul wujud (bersatunya Allah dengan alam). Kitab yang pertama adalah kitab Al-Futuhaat Al-Makkiyah, yang dimana Ibnu Arobi mengaku bahwa apa yang dituliskannya dalam kitab tersebut adalah wahyu dan didikte oleh Allah. Adapun kitab yang kedua adalah Fushus Al-Hikam maka Ibnu Arobi mengaku bahwa kitab tersebut datangnya dari Rasulullah. Dalam kitab Fushus Al-Hikam inilah Ibnu Arobi mengatakan bahwa Fir’aun adalah orang beriman dan masuk surga !!, hal ini karena tatkala Fir’aun mengatakan :”Aku adalah Tuham kalian yang maha tinggi” menunjukan bahwa Fir’aun paham bahwasanya Allah telah bersatu dengan alam, telah bersatu dengan dirinya. Jadi perkataan Fir’aun tersebut adalah perkataan yang hak dan benarAdapun Abu Hamid Al-Ghozaali, maka kesesatannya tentang pemahaman wahdatul Wujud telah dijelaskan oleh DR Said Aqiel Siraj dalam disertasinya pada hal 168 hingga hal 172. Pemikiran wihdatul wujud Al-Ghozaali sangat nampak dalam kitabnya Ihyaa Uluumiddiin (yang kitab ini sangat digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia) dan kitabnya Misykaat al-Anwaar. Adapun bantahan terhadap pemikiran Al-Ghozali ini maka telah ditulis dengan panjang lebar oleh DR Said Aqiel dalam disertasinya dari hal 199 hingga hal 221. DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan merupakan perkara yang diketahui bahwasanya kaum muslimin di Indonesia menghadapi problematika-problematika besar baik problematika politik, ekonomi, sosial dan problematika aqidah. Di hadapan mereka musuh-musuh mereka yang menanti-nanti (*keburukan bagi) kaum muslimin berupa gerakan kristenisasi, sekuler, bathiniyah, dan sekte-sekte sesat –Syi’ah, Ahmadiyah, dan Bahaaiyah, lalu Sufiyah”Komentar :Pada paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan bahwasanya diantara musuh-musuh kaum muslimin Indonesia adalah gerakan kristenisasi dan sekuler. Selain itu juga sekte-sekte yang sesat seperti Syi’ah dan Ahmadiyah qodyaniah. Dan musuh kaum muslimin Indonesia yang terakhir beliau sebutkan adalah kaum sufi.Ini merupakan nasehat yang sangat penting dari beliau akan bahayanya kaum Syi’ah dan kaum Sufi, karena mereka adalah musuh-musuh yang senantiasa menanti-nanti keburukan kaum muslimin Indonesia.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan sufiyah di Indonesia sungguh telah sukses besar dalam menyebarkan ajaran-ajaran mereka yang sesat -meskipun kebanyakan mereka tidak beriman dengan aqidah hulul dan ittihad serta wihdatul wujud-. Dan ajaran sufiah ini senantiasa masih termasuk ajaran yang paling berbahaya yang tersebar di negeri Indonesia, hal ini disebabkan kejahilan kaum muslimin di Indonesia terhadap aqidah yang benar” Komentar :Pada paraghraf ini, beliau menyatakan bahwa kaum sufi telah sukses besar dalam menyebarkan pemahaman dan ajaran-ajaran mereka di Indonesia. Namun timbul pertanyaan di benak saya, “Siapakah kaum sufi dimaksud oleh beliau??, yang telah berhasil menyebarkan ajaran mereka ke penjuru Indoesia??”, Apakah maksud beliau gerakan Muhammadiah?, ataukah Persis?, ataukah NU (Nahdatul Ulama) yang sedang beliau pimpin sekarang ini?, ataukah yang lainnya?. Semoga beliau bisa menjelaskan hal ini, dan semoga para pembaca juga mungkin bisa membantu menjelaskan maksud beliau. Terlebih lagi ada tariqah mu’tabar yang berada di bawah naungan NU, lihat (http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/34341/Warta/Habib_Luthfy__Pengurus_Thoriqoh_jangan_Seperti_Krupuk___.html) dan (http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/17/thariqah-al-mutabarah-dari-waktu-ke-waktu/, dan http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/23/lambang-jam%E2%80%99iyyah-ahlith-thoriqoh-al-mu%E2%80%99tabarah-an-nahdliyyah/, serta lihat komentar DR Said Aqiel tentang tasawwuf di http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/34786/Buku/Urgensi_Tasawuf_di_Era_Globalisasi.html)Dan saya sangat setuju dengan pendapat beliau bahwa ajaran-ajaran sesat seperti ini tersebar disebabkan karena kejahilan kaum muslim di Indonesia terhadap akidah yang benar sehingga mudah mereka terjangkiti ajaran-ajaran sufiah.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Dikarenakan hal ini seluruhnya dan setelah aku menulis tesisku untuk meraih gelar Master di bidang aqidah tentang bantahan kepada Kristen maka aku memilih pembahasan desertasiku untuk meraih gelar Doktor tentang bantahan kepada sufiah, terukhususkan sufiah filsafat, dengan judul :“Hubungan Allah dengan alam menurut sufi filsafat, penelitian dan kritikan”DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan telah ditulis banyak pembahasan dan telah tersebar banyak risalah-risalah ilmiah seputar perkara ini, akan tetapi saya melihat perkaranya masih butuh untuk ditinjau kembali, dengan tinjauan islami dengan timbangan/tolak ukurnya yang benar dan analogi yang benar, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah, dan ditambah dengan manhaj para ulama salafus sholeh”Komentar :Pada paragraf ini beliau menegaskan kembali bahwasanya tolak ukur yang benar untuk digunakan dalam mengukur kebenaran yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah dengan manhaj Salaf.Setelah itu DR Sa’id Aqiel Siraj menyebutkan khuttoh bahas disertasinya lalu beliau berkata : “Adapun sisi kritikan maka saya memperhatikan manhaj/metode pengkritikan yang ilmiyah yang benar, maka saya mengkritik pendapat-pendapat mereka (kaum sufi) dan saya menjelaskan kebatilan pemikiran-pemikiran mereka dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dan dengan dalil akal yang shahih, dan dengan perkataan para ulama yang sholihin. Dan dalam hal ini saya berusaha untuk menjauh dari fanatisme/ta’asshub dan sikap tidak inshoof (tidak adil)”Komentar:Pada paragraf ini DR Said Aqiel Siroj menjelaskan bahwa beliau menjauhi sikap fanatik dan sikap tidak inshoof (adil) dalam menulis disertasinya. Karenanya saya sangat berharap para pembaca membaca disertasi yang ditulis beliau ini yang sarat dengan faedah dan jauh dari sikap fanatik buta tanpa dalil. Bahkan dalam paragraf ini beliau (DR Said Aqiel) menegaskan bahwa beliau menjelaskan kebatilan pemikiran sufi falsafi dengan berdasarkan perkataan ulama yang sholihin. Siapakah yang dimaksud oleh beliau dengan Ulama yang sholihin ini??. Jika para pembaca menelaah disertasi karya DR Said Aqiel Siroj ini maka para pembaca akan menemukan bahwasanya perkataan alim ulama yang paling dijadikan landasan oleh DR Said Aqiel dalam membatilkan pemikiran sufi falsafi adalah perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang dituduh sebagai dedengkotnya salafy. Jadi sangat jelas bahwasanya DR Said Aqiel menganggap Ibnu Taimiyyah adalah sosok alim ulama yang sholih, karenanya DR Said Aqiel menjadikan perkataan-perkataannya untuk membantah tokoh-tokoh sufi seperti Ibnu Arobi dan Al-Ghozali.DR Said Aqiel Siradj berkata : “Dan tujuanku dalam disertasiku ini adalah menampilkan dirosah/penelitian yang sungguh-sungguh dan teliti/detail dengan harapan untuk menampakan dan menjelaskan hakikat/kebenaran, yang selanjutnya adalah untuk membela kebenaran dan untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Maka aku meminta kepada Allah Azza wa Jalla untuk merealisasikan harapan tujuan desertasi ini dan agar memberi faedah kepada para pembacanya dan menjadikannya ikhlash karena mengharapkan wajahNya, dan aku beristighfar kepada Allah atas seluruh kesalahanku yang ada dalam disertasiku ini, dan aku bersyukur kepadaNya atas kebenaran yang Allah hidayahkan kepadaku, dan segala puji bagi Allah di permulaan dan di akhir, dan Dialah cukup bagiku, dan sebaik-baik tempat bertawakal, dan semoga shalawat dan shalam tercurahkan bagi sayyidinaa Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya”Komentar :Semoga artikel yang saya paparkan ini membantu mewujudkan terkabulnya harapan DR Said Aqiel Siroj, sehingga risalah disertasi yang bagus ini bisa dipetik faedahnya oleh para pembaca sekalian, khususnya kaum muslimin di Indonesia.Demikianlah muqoddimah yang ditulis oleh DR Said Aqiel Siraj di muqoddimah disertasi beliau dan sedikit komentar dari saya. Sungguh muqoddimah  yang sarat dengan penjelasan pokok-pokok usul aqidah Ahlus Sunnah yang dibangun di atas manhaj salaf.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 14-01-1433 H / 09 Desember 2011 MAbu Abdilmuhsin Firanda Andirjawww.firanda.com
Ilustrasi @unsplashCukup tersentak hati saya tatkala membaca pernyataan-pernyataan berani yang diungkapkan oleh Prof DR Kiyai Haji Said Aqiel Siradj, MA, sebagaimana yang diberitakan dalam www.voa-islam.com. Pernyataan-pernyataan tersebut adalah:Pertama : Pernyataan beliau bahwa syi’ah di Indonesia tidak berbahaya, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/06/16929/aneh-said-agil-siraj-bilang-syiah-di-indonesia-tidak-berbahaya/)Dan ternyata memang beliau pernah bertemu dan menyambut tokoh syi’ah Hasan Nasrullah, silahkan lihat (http://www.dp-news.com/pages/detail.aspx?articleid=57160). Demikian pula beliau pernah menjadi pembicara tingkat internasional di Teheran (pusatnya Syi’ah Roafidhoh) selama dua kali, pada tahun 1999 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Al-Islam al-din al-tasamuh (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Islam adalah agama toleransi), dan pada tahun 2000 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Huquq al-Insan fi al-Islam (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Hak-hak manusia dalam Islam). Silahkan lihat (http://nubinong.blogspot.com/2010/03/riwayat-hidup-prof-dr-kh-said-aqiel.html). Selain itu beliau juga memberi kata pengantar dan menganjurkan masyarakat muslim Indonesia untuk membaca sebuah buku yang berisi banyak kedustaan karya Idahram, yang dalam buku tersebut sang penulis (Idahram) berkata :  “Dalam Islam sedikitnya ada tujuh madzhab yang pernah dikenal, yaitu madzhab Imam Ja’far As-Shiddiq (madzhab Ahlul Bait), madzhab Imam Abu Hanifah An-Nu’man, madzhab Imam Malik ibnu Anas, madzhab Imam As-Syafii, madzhab Imam Ahmad Ibnu Hanbal, madzhab Syi’ah Imamiah, dan madzhab Dawud Azh-Zhahiri. Sedangkan madzhab salaf tidak pernah ada”Kedua : Penyamaan beliau antara trinitas ortodoks Kristen dengan tauhid Islam, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/counter/christology/2011/10/06/16278/koreksi-aqidah-kh-said-aqil-sirajd-jangan-samakan-tauhid-islam-dengan-trinitas-kristen/), lihat juga (http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2011/11/24/16804/santri-menggugat-kenuan-ketua-umum-pbnu-kh-said-aqiel-siradj)Ketiga : Pernyataan beliau bahwasanya salafy wahabi penebar terorisme, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/07/16943/ketum-pbnu-said-aqil-siradj-melempar-fitnah-ustadz-membalas-tausiyah/), lihat juga (http://nahimunkar.com/9926/kayak-bocah-bercerita-gendruwo-saja-said-agil-siradj-menuding-yayasan-yayasan-islam/)Beliau DR Said Aqiel Siroj telah menghabiskan banyak usia beliau untuk mendalami bidang aqidah di karajaan Arab Saudi. Dari S1 hingga S3 beliau menuntut ilmu di Arab Saudi dan di bidang ushuul ad-diin (aqidah).–         S1, beliau tempuh Universitas King Abdul Aziz, Jurusan Ushuluddin dan Dakwah, tamat 1982.–         S2 beliau tempuh Universitas Ummu al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, tamat 1987, dengan tesis yang berjudul رَسَائِلُ الرُّسُلِ وَأَثَرُهَا فِي انْحِرَافِ الْمَسِيْحِيَّةِ (Pengaruh Surat-Surat para rasul dalam Bibel terhadap penyimpangan Agama Kristen).–         S3 Universitas Ummu al-Qura, jurusan Aqidah/Filsafat Islam, tamat 1414 H (1994 M), dengan judul disertasi : صِلَةُ اللهِ بِالْكَوْنِ فِي التَّصَوُّفِ الْفَلْسَفِي (Hubungan antara Allah dan alam menurut perspektif tasawwuf falsafi), yang disertasi beliau ini dibimbing oleh dosen beliau yang bernama As-Syaikh DR. Mahmuud Ahmad KhofaajiDari sini kita tahu bahwasanya beliau ini adalah seorang yang pakar dalam bidang aqidah, baik dalam memahami kesesatan kaum Kristen maupun kesesatan kaum sufi.Berikut ini saya terjemahkan muqoddimah dari disertasi doktoral yang ditulis oleh Prof DR Said Aqiel Siraj (Desertasi tersebut bisa di download di http://resalty.waqfeya.com/index.php/category-96/thesis-51).Muqoddimah ini sangat layak untuk dibaca kembali oleh penulisnya sendiri, yang merupakan nasehat yang sangat indah bagi sang penulis sendiri dan juga kaum muslimin di tanah air, terutama kaum yang dipimpin oleh beliau sekarang. Hal ini mengingat dalam muqoddimah disertasi tersebut beliau (Prof DR Said Aqiel Siradj) telah mentaqrir dan menetapkan landasan-landasan aqidah salaf, karena memang desertasi tersebut beliau tulis untuk membantah kaum sufi. Terlebih lagi dalam desertasi tersebut beliau sering menukil perkataan-perkataan Ibnu Taimiyyah untuk membantah pemikiran sufiah. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin Indonesia.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Islam menolak segala bentuk kesyirikan, dan menolak perantara-perantara antara Allah dan manusia kecuali perantara kenabian dan kerasulan, dengan demikian Islam menetapkan keterpisahan yang sempurna antara Allah dan yang lainNya, antara Pencipta dan Makhluk, bahkan malaikat tidak terhubungkan dengan Allah melalui hubungan apapun selain hubungan yang tegak antara Allah dengan makhluk yang lain baik yang materi maupun ruh, yaitu hubungan antara makhluk dan Penciptanya, yaitu hubungan keterpisahan dan bukan hubungan ketersambungan”Komentar :Pernyataan Kiyai Haji Prof DR di atas persis sama dengan penjelasan Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdil Wahhaab rahimahumallah, bahwasanya Allah tidak butuh kepada washitoh (perantara) dalam penyembahan dan dalam meminta manfaat dan menolak mudhorot. Menjadikan washitoh (perantara) kepada Allah merupakan kesyirikan. Yang ada hanyalah perantaraan dalam hal risalah dan kenabian, yaitu para nabi dan para rasul merupakan perantara antara Allah dan manusia dalam menyampaikan risalah/wahyu Allah ta’alaa.Ibnu Taimiyyah berkata : “Dan hal ini merupakan perkara yang disepakati oleh seluruh pemeluk agama dari kalangan kaum muslimin, yahudi, dan nashrani, mereka menetapkan adanya perantara antara Allah dengan hamba-hambaNya. Perantara-perantara tersebut adalah para Rasul yang mereka menyampaikan dari Allah perintah Allah dan khabar dari Allah….”Beliau juga berkata, “Adapun jika yang dimaksudkan dengan perantara adalah bahwasanya harus ada perantara dalam mendatangkan manfaat-manfaat dan menolak kemudorotan, seperti perantara dalam mendatangkan rizki para hamba, dan pertolongan kepada mereka dan hidayah untuk mereka, yang mereka meminta hal-hal tersebut kepada perantara ini dan mengharap kepada perantara ini maka ini merupakan kesyirikan yang paling besar yang karena kesyirikan inilah Allah mengkafirkan kaum musyrikin (Arab), dimana mereka menjadikan selain Allah sebagai penolong-penolong mereka dan para pemberi syafaat kepada mereka” (Majmuu’ al-Fataawaa 1/122-123). Adapun perkataan Muhammad bin Abdil Wahhaab yang semakna dengan ini maka bisa dibaca di risalah beliau “Kasyf Asy-Syubhaat”DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Dan jika kita mengamati Al-Qur’aan Al-Kariim maka kita akan mendapati Al-Quran menekankan keterpisahan yang sempurna ini, maka tidak ada sesuatupun yang berfungsi sebagai suatu perantara antara Allah dan makhlukNya. Sebagaimana Al-Qur’an berkali-kali dan berulang-ulang menafikan sifat uluhiyah dari selain Allah ta’aala dengan penafian secara mutlak, dan menekankan bahwasanya para nabi dan para rasul mereka dari golongan manusia dan dari tabi’at manusia. Inilah yang ditetapkan oleh rukun Islam yang pertama yaitu Syahadah (Persaksian) bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Dan ini adalah syahadah penafian dan penetapan (itsbaat), menafikan secara mutlak uluhiah (ketuhanan) dari selain Allah dan tidak ditetapkan kecuali hanya untuk Allah semata, dan menetapkan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, dan Muhammad adalah manusia sebagaimana seluruh manusia (*yang lain). Dan seluruh perbedaan antara Muhammad dan mereka adalah beliau diberi wahyu aqidah tauhid”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said menekankan perkara yang sangat penting yaitu tentang aqidah yang benar terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau adalah manusia biasa sebagaimana seluruh manusia yang lain yang memiliki tabi’at manusia. Yang membedakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan manusia yang lain hanyalah Nabi telah diberi wahyu berupa aqidah tauhid. Hal ini tentunya bertentangan dengan keyakinan sebagian kaum sufi yang terlalu berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (silahkan lihat https://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/116-berlebih-lebihan-kepada-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-hingga-mengangkat-beliau-pada-derajat-ketuhanan)DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan aqidah tauhid yang dibawa oleh Islam menolak seluruh kesyirikan, sama saja apakah kesyirikan yang tegak di atas pendapat berbilangnya Tuhan atau kesyirikan yang dibangun di atas keimanan kepada adanya perantara-perantara antara Allah dan manusia. Dari situ maka hubungan antara Allah dengan alam –termasuk di dalamnya adalah manusia- adalah hubungan keterpisahan. Allah maha Esa tidak ada syarikat baginya, terpisah dari alam dengan keterpisahan yang sempurna dengan ke-Esa-anNya dalam Dzatnya, sifat-sifatNya, dan perbuatan-perbuatanNya, dan Allah tersucikan dari seluruh bentuk penyamaan dengan makhluk-makhlukNya.Aqidah ini dialah aqidah yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin, baik salaf mereka (*golongan terdahulu) maupun kholaf mereka (*golongan belakangan), kecuali sufiah filsafat, sebagaimana akan kita lihat di tengah lembaran-lembaran pembahasan ini”Komentar :Dalam paragraph ini kembali DR Said Aqiel menekankan bahwasanya Islam menolak segala bentuk kesyirikan. Dan bentuk-bentuk kesyirikan ada dua:Pertama : Dengan menjadikan Tuhan berbilang, sebagaimana trinitasnya kaum Nasrani, dan juga dewa-dewa Kaum Hindu.Kedua : Menjadikan perantara antara Allah dan manusia. Hal ini sebagaimana keysirikan kaum musyrikin Arab (silahkan lihat kembali : https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab)DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Kemudian Islam adalah berpegang teguh dengan perintah-perintah Allah dan perintah-perintah RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, dan meneladani kehidupan Rasulullah dan mengikuti jalan-jalan dan sunnah-sunnah yang telah ditempuh oleh para sahabatnya –semoga Allah meridhoi mereka–Allah berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat” (QS Al-Ahzaab : 21)Dan Allah ta’aala juga berfirman : “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah” (QS Al-Hasyr : 7)Allah juga berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)” (QS Al-Anfaal : 20)”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menekankan untuk mengikuti jalan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau mendoaakan para sahabat agar diridhoi oleh Allah. Dan ini tentunya bertentangan dengan aqidah Syi’ah yang justru berdoa agar Allah melaknat para sahabat dan juga mengkafirkan para sahabat.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : Dan perintah-perintah Allah dan RasulNya –demikian pula larangan-larangan Allah dan RasulNya- terjaga dalam Al-Qur’an Al-Kariim dan Sunnah-sunnah Nabi yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Aku meninggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan kedua perkara tersebut, yaitu kitabullah dan sunnah NabiNya”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan akan pentingnya berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah Nabi, yang keduanya merupakan sumber hukum kaum muslimin. Hal ini tentunya berbeda dengan:–         Keyakinan sebagian kaum sufi yang terkadang berdalil dengan kisah-kisah…yang tidak tahu juntrung keabsahannya. Tidak jarang berupa cerita-cerita karomah yang masih dipertanyakan akan kevalidannya lantas cerita-cerita tersebut dijadikan dalil utama sehingga ditolaklah pendalilan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah–         Sikap sebagian sufi yang taklid buta kepada gurunya, meskipun pemikiran-pemikiran gurunya bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga seakan-akan perkataan gurunya merupakan salah satu sumber hukumDR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mentarbiah (membina) para sahabatnya dibawah naungan dan petunjuk kitabullah dan sunnahnya, yaitu dengan tarbiah percontohan agar mereka menjadi teladan bagi orang-orang yang datang setelah mereka hingga hari kiamat. Maka mereka adalah praktek nyata (hidup) dari ajaran-ajaran Allah dan arahan-arahan RasulNya. Mereka berittiba’ dan meneladani serta tidak melakukan bid’ah dan mengada-ngadakan. Mereka adalah para wali-wali Allah yang tidak kawatir dan tidak bersedih. Mereka adalah teladan dan tolak ukur untuk mengenal al-haq (kebenaran) dari kebatilan, dan untuk membedakan petunjuk dari kesesatan“.Komentar :Dalam paragraf ini beliau menekankan kembali akan mulianya para sahabat dari beberapa sisi:Pertama : Para sahabat telah ditarbiyah/dibina dan dididik langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentunya guru sangat berpengaruh kepada murid-muridnyaKedua : Tarbiyah tersebut berdasarkan naungan dan cahaya al-Qur’an dan as-SunnahKetiga : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentarbiyah para sahabat dengan tarbiyah khusus yaitu tarbiyah percontohan, dengan maksud agar para sahabat menjadi contoh bagi generasi-generasi setelah merekaKeempat : Amalan para sahabat adalah praktek hidup/nyata terhadap ajaran Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hal ini tentu sangatlah jelas ditinjau dari beberapa sisi–         Para sahabatlah yang paham tentang maksud Allah dan RasulNya.–         Ayat-ayat al-Qur’an yang pertama kali mempraktekannya adalah para sahabat.–         Tatkala para sahabat menerapkan ayat-ayat Allah mereka dibimbing langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga jika mereka salah praktek, atau salah paham tentang Al-Qur’an maka akan ditegur langsung oleh Allah atau melalui Rasulullah yang merupakan guru dan pengawas merekaKelima : Para sahabat tidak melakukan bid’ah dan tidak mengadakan perkara-perkara baru dalam agama, akan tetapi mereka meneladani guru mereka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamKeenam : Para sahabat adalah wali-wali Allah…maka yang memusuhi dan membenci mereka…apalagi mengkafirkan mereka tentunya wali-wali syaitanKetujuh : (Dan ini merupakan poin yang terpenting) yaitu DR Said Aqiel menjelaskan bahwa para sahabat adalah tolak ukur kebenaran, sehingga terbedakan hak dari kebatilan, dan terbedakan petunjuk dari kesesatan.Sungguh ini adalah manhaj yang selalu dan senantiasa diserukan dan dipropagandakan oleh kaum wahabi (salafy) yaitu agar kembali kepada pemahaman dan manhaj para sahabat yang jauh dari bid’ah dan perkara-perkara baru dalam agama.Dan inilah juga yang selalu diserukan oleh kaum yang disebut-disebut oleh orang yang memusuhinya “Salafy wahabi” agar senantiasa mencintai para sahabat dan memusuhi orang-orang yang membenci (bahkan mengkafirkan) para sahabat seperti kaum syi’ah. Jika para sahabat yang sedemikian mulianya (sebagaimana penjabaran DR Said Aqiel diatas) itu saja dikafirkan maka bagaimana lagi dengan para pengikut mereka yang jauh dari kemuliaan para sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan dibawah cahaya al-kitab dan as-sunnah dan siroh Rasulullah serta amalan para sahabatnya ditimbang amalan-amalan kaum muslimin dan perkataan mereka. Maka apa yang ada sandarannya dan dalil maka dihukumi dengan amalan/perkataan yang sah dan benar. “Dan apa yang menyelisihi al-kitab dan as-sunnah dan tidak ada atsarnya dalam kehidupan para sahabat maka dihukumi dengan fasad (rusak) dan batil. Dan semua yang keluar dari manhaj ini maka sungguh telah sesat dan menyesatkan“.Komentar :Dalam paragraf ini kembali DR Said Aqiel menekankan akan pentingnya manhaj salaf yaitu manhaj yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat. Beliau juga kembali menegaskan bahwa seluruh perkataan/pendapat dan amal perbuatan manusia harus ditimbang di atas manhaj salaf ini. Jika ada suatu pemikiran atau amal perbuatan yang tidak diriwayatkan ada di masa kehidupan para sahabat maka pemikiran dan amal perbuatan tersebut batil. Ini merupakan seruan yang tegas dari beliau kepada kaum muslimin –terutama di Indonesia- untuk kembali menimbang amalan-amalan yang sering mereka lakukan. Apakah amalan-amalan tersebut pernah dilakukan dan diamalkan oleh para sahabat??, jika tidak pernah maka hal itu adalah batil dan sesat, bahkan pelakunya sesat dan menyesatkan.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan tatkala saya adalah salah seorang mahasiswa di jurusan Aqidah saya melihat bahwasanya merupakan kewajiban atas saya untuk mencari-cari/mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat dan jauh dari al-kitab dan as-sunnah. Dan telah beberapa lama saya menyelidiki manhaj-manhaj tersebut untuk saya jelaskan penyimpangan dan kesesatannya dan jauhnya manhaj tersebut dari Islam. Termasuk merupakan perkara yang menyusahkan dan menggelisahkan aku adalah apa yang aku dapati dari manhaj-manhaj para sufi ahli filsafat yang mereka telah jauh dari Islam, yaitu tentang pemahaman mereka tentang hubungan alam dengan penciptanya, dengan pemikiran-pemikiran mereka yang sesat berupa hulul dan ittihad dan wihdatul wujud (yiatu hulul/menempatinya Allah ke alam, dan ittihad/menyatunya alam dengan Allah, dan wihdah/kesatuan alam bersama Allah), yang hal itu melalui metode filsafat al-fanaa’ dan fanaa al-fanaa, dan seluruhnya merupakan pemikiran-pemikiran yang aneh dan muhdatsah (diada-adakan) serta menyusup di tengah-tengah masyarakat islami”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said Aqiel memaparkan bagaimana semangat beliau untuk bernahi mungkar. Beliau terpanggil bahkan beliau merasa wajib untuk mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat. Bahkan sangat menggelisahkan beliau kesesatan yang terdapat dalam manhaj kaum sufi philosofi, yang kesesatan ini merupakan perkara muhdats (bid’ah) yang telah menyusup dalam masyarakat islam.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan permulaan munculnya pemikiran filsafat sesat tersebut di akhir-akhir abad kedua hijriah. Lalu berkembang dengan pesat di tengah abad ketiga hijriah. Dimulai dari Jabir bin Hayyan dan Abu Hasyim dan Abduk hingga Ibnu ‘Arobi sang fhilosofi besar, Al-Ghunushy Al-Khothiir, dan melewati Dzu An-Nuun Al-Mishriy, Abi Yaziid Al-Busthoomy, Al-Hallaaj, Al-Junaid, An-Nafary, Al-Gozhaaly, lalu As-Sahrowardi yang terbunuh”.Komentar :Dalam paragaf ini beliau menjelaskan tentang tokoh-tokoh sufi filsafat yang memiliki pemahaman sesat wihdatul wujud. Yang diantara tokoh-tokoh tersebut ada yang digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia. Diantaranya adalah Ibnu ‘Arobi dan Al-Ghozali.Adapun Ibnu ‘Arobi maka DR Said Aqiel telah menjelaskan kesesatannya dalam disertasinya tersebut pada hal 446 hingga hal 450. Beliau menjelaskan tentang pemikiran Ibnu Arobi dalam dua kitabnya yang berisikan tentang pemikiran wihdatul wujud (bersatunya Allah dengan alam). Kitab yang pertama adalah kitab Al-Futuhaat Al-Makkiyah, yang dimana Ibnu Arobi mengaku bahwa apa yang dituliskannya dalam kitab tersebut adalah wahyu dan didikte oleh Allah. Adapun kitab yang kedua adalah Fushus Al-Hikam maka Ibnu Arobi mengaku bahwa kitab tersebut datangnya dari Rasulullah. Dalam kitab Fushus Al-Hikam inilah Ibnu Arobi mengatakan bahwa Fir’aun adalah orang beriman dan masuk surga !!, hal ini karena tatkala Fir’aun mengatakan :”Aku adalah Tuham kalian yang maha tinggi” menunjukan bahwa Fir’aun paham bahwasanya Allah telah bersatu dengan alam, telah bersatu dengan dirinya. Jadi perkataan Fir’aun tersebut adalah perkataan yang hak dan benarAdapun Abu Hamid Al-Ghozaali, maka kesesatannya tentang pemahaman wahdatul Wujud telah dijelaskan oleh DR Said Aqiel Siraj dalam disertasinya pada hal 168 hingga hal 172. Pemikiran wihdatul wujud Al-Ghozaali sangat nampak dalam kitabnya Ihyaa Uluumiddiin (yang kitab ini sangat digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia) dan kitabnya Misykaat al-Anwaar. Adapun bantahan terhadap pemikiran Al-Ghozali ini maka telah ditulis dengan panjang lebar oleh DR Said Aqiel dalam disertasinya dari hal 199 hingga hal 221. DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan merupakan perkara yang diketahui bahwasanya kaum muslimin di Indonesia menghadapi problematika-problematika besar baik problematika politik, ekonomi, sosial dan problematika aqidah. Di hadapan mereka musuh-musuh mereka yang menanti-nanti (*keburukan bagi) kaum muslimin berupa gerakan kristenisasi, sekuler, bathiniyah, dan sekte-sekte sesat –Syi’ah, Ahmadiyah, dan Bahaaiyah, lalu Sufiyah”Komentar :Pada paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan bahwasanya diantara musuh-musuh kaum muslimin Indonesia adalah gerakan kristenisasi dan sekuler. Selain itu juga sekte-sekte yang sesat seperti Syi’ah dan Ahmadiyah qodyaniah. Dan musuh kaum muslimin Indonesia yang terakhir beliau sebutkan adalah kaum sufi.Ini merupakan nasehat yang sangat penting dari beliau akan bahayanya kaum Syi’ah dan kaum Sufi, karena mereka adalah musuh-musuh yang senantiasa menanti-nanti keburukan kaum muslimin Indonesia.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan sufiyah di Indonesia sungguh telah sukses besar dalam menyebarkan ajaran-ajaran mereka yang sesat -meskipun kebanyakan mereka tidak beriman dengan aqidah hulul dan ittihad serta wihdatul wujud-. Dan ajaran sufiah ini senantiasa masih termasuk ajaran yang paling berbahaya yang tersebar di negeri Indonesia, hal ini disebabkan kejahilan kaum muslimin di Indonesia terhadap aqidah yang benar” Komentar :Pada paraghraf ini, beliau menyatakan bahwa kaum sufi telah sukses besar dalam menyebarkan pemahaman dan ajaran-ajaran mereka di Indonesia. Namun timbul pertanyaan di benak saya, “Siapakah kaum sufi dimaksud oleh beliau??, yang telah berhasil menyebarkan ajaran mereka ke penjuru Indoesia??”, Apakah maksud beliau gerakan Muhammadiah?, ataukah Persis?, ataukah NU (Nahdatul Ulama) yang sedang beliau pimpin sekarang ini?, ataukah yang lainnya?. Semoga beliau bisa menjelaskan hal ini, dan semoga para pembaca juga mungkin bisa membantu menjelaskan maksud beliau. Terlebih lagi ada tariqah mu’tabar yang berada di bawah naungan NU, lihat (http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/34341/Warta/Habib_Luthfy__Pengurus_Thoriqoh_jangan_Seperti_Krupuk___.html) dan (http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/17/thariqah-al-mutabarah-dari-waktu-ke-waktu/, dan http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/23/lambang-jam%E2%80%99iyyah-ahlith-thoriqoh-al-mu%E2%80%99tabarah-an-nahdliyyah/, serta lihat komentar DR Said Aqiel tentang tasawwuf di http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/34786/Buku/Urgensi_Tasawuf_di_Era_Globalisasi.html)Dan saya sangat setuju dengan pendapat beliau bahwa ajaran-ajaran sesat seperti ini tersebar disebabkan karena kejahilan kaum muslim di Indonesia terhadap akidah yang benar sehingga mudah mereka terjangkiti ajaran-ajaran sufiah.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Dikarenakan hal ini seluruhnya dan setelah aku menulis tesisku untuk meraih gelar Master di bidang aqidah tentang bantahan kepada Kristen maka aku memilih pembahasan desertasiku untuk meraih gelar Doktor tentang bantahan kepada sufiah, terukhususkan sufiah filsafat, dengan judul :“Hubungan Allah dengan alam menurut sufi filsafat, penelitian dan kritikan”DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan telah ditulis banyak pembahasan dan telah tersebar banyak risalah-risalah ilmiah seputar perkara ini, akan tetapi saya melihat perkaranya masih butuh untuk ditinjau kembali, dengan tinjauan islami dengan timbangan/tolak ukurnya yang benar dan analogi yang benar, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah, dan ditambah dengan manhaj para ulama salafus sholeh”Komentar :Pada paragraf ini beliau menegaskan kembali bahwasanya tolak ukur yang benar untuk digunakan dalam mengukur kebenaran yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah dengan manhaj Salaf.Setelah itu DR Sa’id Aqiel Siraj menyebutkan khuttoh bahas disertasinya lalu beliau berkata : “Adapun sisi kritikan maka saya memperhatikan manhaj/metode pengkritikan yang ilmiyah yang benar, maka saya mengkritik pendapat-pendapat mereka (kaum sufi) dan saya menjelaskan kebatilan pemikiran-pemikiran mereka dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dan dengan dalil akal yang shahih, dan dengan perkataan para ulama yang sholihin. Dan dalam hal ini saya berusaha untuk menjauh dari fanatisme/ta’asshub dan sikap tidak inshoof (tidak adil)”Komentar:Pada paragraf ini DR Said Aqiel Siroj menjelaskan bahwa beliau menjauhi sikap fanatik dan sikap tidak inshoof (adil) dalam menulis disertasinya. Karenanya saya sangat berharap para pembaca membaca disertasi yang ditulis beliau ini yang sarat dengan faedah dan jauh dari sikap fanatik buta tanpa dalil. Bahkan dalam paragraf ini beliau (DR Said Aqiel) menegaskan bahwa beliau menjelaskan kebatilan pemikiran sufi falsafi dengan berdasarkan perkataan ulama yang sholihin. Siapakah yang dimaksud oleh beliau dengan Ulama yang sholihin ini??. Jika para pembaca menelaah disertasi karya DR Said Aqiel Siroj ini maka para pembaca akan menemukan bahwasanya perkataan alim ulama yang paling dijadikan landasan oleh DR Said Aqiel dalam membatilkan pemikiran sufi falsafi adalah perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang dituduh sebagai dedengkotnya salafy. Jadi sangat jelas bahwasanya DR Said Aqiel menganggap Ibnu Taimiyyah adalah sosok alim ulama yang sholih, karenanya DR Said Aqiel menjadikan perkataan-perkataannya untuk membantah tokoh-tokoh sufi seperti Ibnu Arobi dan Al-Ghozali.DR Said Aqiel Siradj berkata : “Dan tujuanku dalam disertasiku ini adalah menampilkan dirosah/penelitian yang sungguh-sungguh dan teliti/detail dengan harapan untuk menampakan dan menjelaskan hakikat/kebenaran, yang selanjutnya adalah untuk membela kebenaran dan untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Maka aku meminta kepada Allah Azza wa Jalla untuk merealisasikan harapan tujuan desertasi ini dan agar memberi faedah kepada para pembacanya dan menjadikannya ikhlash karena mengharapkan wajahNya, dan aku beristighfar kepada Allah atas seluruh kesalahanku yang ada dalam disertasiku ini, dan aku bersyukur kepadaNya atas kebenaran yang Allah hidayahkan kepadaku, dan segala puji bagi Allah di permulaan dan di akhir, dan Dialah cukup bagiku, dan sebaik-baik tempat bertawakal, dan semoga shalawat dan shalam tercurahkan bagi sayyidinaa Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya”Komentar :Semoga artikel yang saya paparkan ini membantu mewujudkan terkabulnya harapan DR Said Aqiel Siroj, sehingga risalah disertasi yang bagus ini bisa dipetik faedahnya oleh para pembaca sekalian, khususnya kaum muslimin di Indonesia.Demikianlah muqoddimah yang ditulis oleh DR Said Aqiel Siraj di muqoddimah disertasi beliau dan sedikit komentar dari saya. Sungguh muqoddimah  yang sarat dengan penjelasan pokok-pokok usul aqidah Ahlus Sunnah yang dibangun di atas manhaj salaf.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 14-01-1433 H / 09 Desember 2011 MAbu Abdilmuhsin Firanda Andirjawww.firanda.com


Ilustrasi @unsplashCukup tersentak hati saya tatkala membaca pernyataan-pernyataan berani yang diungkapkan oleh Prof DR Kiyai Haji Said Aqiel Siradj, MA, sebagaimana yang diberitakan dalam www.voa-islam.com. Pernyataan-pernyataan tersebut adalah:Pertama : Pernyataan beliau bahwa syi’ah di Indonesia tidak berbahaya, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/06/16929/aneh-said-agil-siraj-bilang-syiah-di-indonesia-tidak-berbahaya/)Dan ternyata memang beliau pernah bertemu dan menyambut tokoh syi’ah Hasan Nasrullah, silahkan lihat (http://www.dp-news.com/pages/detail.aspx?articleid=57160). Demikian pula beliau pernah menjadi pembicara tingkat internasional di Teheran (pusatnya Syi’ah Roafidhoh) selama dua kali, pada tahun 1999 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Al-Islam al-din al-tasamuh (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Islam adalah agama toleransi), dan pada tahun 2000 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Huquq al-Insan fi al-Islam (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Hak-hak manusia dalam Islam). Silahkan lihat (http://nubinong.blogspot.com/2010/03/riwayat-hidup-prof-dr-kh-said-aqiel.html). Selain itu beliau juga memberi kata pengantar dan menganjurkan masyarakat muslim Indonesia untuk membaca sebuah buku yang berisi banyak kedustaan karya Idahram, yang dalam buku tersebut sang penulis (Idahram) berkata :  “Dalam Islam sedikitnya ada tujuh madzhab yang pernah dikenal, yaitu madzhab Imam Ja’far As-Shiddiq (madzhab Ahlul Bait), madzhab Imam Abu Hanifah An-Nu’man, madzhab Imam Malik ibnu Anas, madzhab Imam As-Syafii, madzhab Imam Ahmad Ibnu Hanbal, madzhab Syi’ah Imamiah, dan madzhab Dawud Azh-Zhahiri. Sedangkan madzhab salaf tidak pernah ada”Kedua : Penyamaan beliau antara trinitas ortodoks Kristen dengan tauhid Islam, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/counter/christology/2011/10/06/16278/koreksi-aqidah-kh-said-aqil-sirajd-jangan-samakan-tauhid-islam-dengan-trinitas-kristen/), lihat juga (http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2011/11/24/16804/santri-menggugat-kenuan-ketua-umum-pbnu-kh-said-aqiel-siradj)Ketiga : Pernyataan beliau bahwasanya salafy wahabi penebar terorisme, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/07/16943/ketum-pbnu-said-aqil-siradj-melempar-fitnah-ustadz-membalas-tausiyah/), lihat juga (http://nahimunkar.com/9926/kayak-bocah-bercerita-gendruwo-saja-said-agil-siradj-menuding-yayasan-yayasan-islam/)Beliau DR Said Aqiel Siroj telah menghabiskan banyak usia beliau untuk mendalami bidang aqidah di karajaan Arab Saudi. Dari S1 hingga S3 beliau menuntut ilmu di Arab Saudi dan di bidang ushuul ad-diin (aqidah).–         S1, beliau tempuh Universitas King Abdul Aziz, Jurusan Ushuluddin dan Dakwah, tamat 1982.–         S2 beliau tempuh Universitas Ummu al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, tamat 1987, dengan tesis yang berjudul رَسَائِلُ الرُّسُلِ وَأَثَرُهَا فِي انْحِرَافِ الْمَسِيْحِيَّةِ (Pengaruh Surat-Surat para rasul dalam Bibel terhadap penyimpangan Agama Kristen).–         S3 Universitas Ummu al-Qura, jurusan Aqidah/Filsafat Islam, tamat 1414 H (1994 M), dengan judul disertasi : صِلَةُ اللهِ بِالْكَوْنِ فِي التَّصَوُّفِ الْفَلْسَفِي (Hubungan antara Allah dan alam menurut perspektif tasawwuf falsafi), yang disertasi beliau ini dibimbing oleh dosen beliau yang bernama As-Syaikh DR. Mahmuud Ahmad KhofaajiDari sini kita tahu bahwasanya beliau ini adalah seorang yang pakar dalam bidang aqidah, baik dalam memahami kesesatan kaum Kristen maupun kesesatan kaum sufi.Berikut ini saya terjemahkan muqoddimah dari disertasi doktoral yang ditulis oleh Prof DR Said Aqiel Siraj (Desertasi tersebut bisa di download di http://resalty.waqfeya.com/index.php/category-96/thesis-51).Muqoddimah ini sangat layak untuk dibaca kembali oleh penulisnya sendiri, yang merupakan nasehat yang sangat indah bagi sang penulis sendiri dan juga kaum muslimin di tanah air, terutama kaum yang dipimpin oleh beliau sekarang. Hal ini mengingat dalam muqoddimah disertasi tersebut beliau (Prof DR Said Aqiel Siradj) telah mentaqrir dan menetapkan landasan-landasan aqidah salaf, karena memang desertasi tersebut beliau tulis untuk membantah kaum sufi. Terlebih lagi dalam desertasi tersebut beliau sering menukil perkataan-perkataan Ibnu Taimiyyah untuk membantah pemikiran sufiah. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin Indonesia.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Islam menolak segala bentuk kesyirikan, dan menolak perantara-perantara antara Allah dan manusia kecuali perantara kenabian dan kerasulan, dengan demikian Islam menetapkan keterpisahan yang sempurna antara Allah dan yang lainNya, antara Pencipta dan Makhluk, bahkan malaikat tidak terhubungkan dengan Allah melalui hubungan apapun selain hubungan yang tegak antara Allah dengan makhluk yang lain baik yang materi maupun ruh, yaitu hubungan antara makhluk dan Penciptanya, yaitu hubungan keterpisahan dan bukan hubungan ketersambungan”Komentar :Pernyataan Kiyai Haji Prof DR di atas persis sama dengan penjelasan Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdil Wahhaab rahimahumallah, bahwasanya Allah tidak butuh kepada washitoh (perantara) dalam penyembahan dan dalam meminta manfaat dan menolak mudhorot. Menjadikan washitoh (perantara) kepada Allah merupakan kesyirikan. Yang ada hanyalah perantaraan dalam hal risalah dan kenabian, yaitu para nabi dan para rasul merupakan perantara antara Allah dan manusia dalam menyampaikan risalah/wahyu Allah ta’alaa.Ibnu Taimiyyah berkata : “Dan hal ini merupakan perkara yang disepakati oleh seluruh pemeluk agama dari kalangan kaum muslimin, yahudi, dan nashrani, mereka menetapkan adanya perantara antara Allah dengan hamba-hambaNya. Perantara-perantara tersebut adalah para Rasul yang mereka menyampaikan dari Allah perintah Allah dan khabar dari Allah….”Beliau juga berkata, “Adapun jika yang dimaksudkan dengan perantara adalah bahwasanya harus ada perantara dalam mendatangkan manfaat-manfaat dan menolak kemudorotan, seperti perantara dalam mendatangkan rizki para hamba, dan pertolongan kepada mereka dan hidayah untuk mereka, yang mereka meminta hal-hal tersebut kepada perantara ini dan mengharap kepada perantara ini maka ini merupakan kesyirikan yang paling besar yang karena kesyirikan inilah Allah mengkafirkan kaum musyrikin (Arab), dimana mereka menjadikan selain Allah sebagai penolong-penolong mereka dan para pemberi syafaat kepada mereka” (Majmuu’ al-Fataawaa 1/122-123). Adapun perkataan Muhammad bin Abdil Wahhaab yang semakna dengan ini maka bisa dibaca di risalah beliau “Kasyf Asy-Syubhaat”DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Dan jika kita mengamati Al-Qur’aan Al-Kariim maka kita akan mendapati Al-Quran menekankan keterpisahan yang sempurna ini, maka tidak ada sesuatupun yang berfungsi sebagai suatu perantara antara Allah dan makhlukNya. Sebagaimana Al-Qur’an berkali-kali dan berulang-ulang menafikan sifat uluhiyah dari selain Allah ta’aala dengan penafian secara mutlak, dan menekankan bahwasanya para nabi dan para rasul mereka dari golongan manusia dan dari tabi’at manusia. Inilah yang ditetapkan oleh rukun Islam yang pertama yaitu Syahadah (Persaksian) bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Dan ini adalah syahadah penafian dan penetapan (itsbaat), menafikan secara mutlak uluhiah (ketuhanan) dari selain Allah dan tidak ditetapkan kecuali hanya untuk Allah semata, dan menetapkan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, dan Muhammad adalah manusia sebagaimana seluruh manusia (*yang lain). Dan seluruh perbedaan antara Muhammad dan mereka adalah beliau diberi wahyu aqidah tauhid”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said menekankan perkara yang sangat penting yaitu tentang aqidah yang benar terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau adalah manusia biasa sebagaimana seluruh manusia yang lain yang memiliki tabi’at manusia. Yang membedakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan manusia yang lain hanyalah Nabi telah diberi wahyu berupa aqidah tauhid. Hal ini tentunya bertentangan dengan keyakinan sebagian kaum sufi yang terlalu berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (silahkan lihat https://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/116-berlebih-lebihan-kepada-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-hingga-mengangkat-beliau-pada-derajat-ketuhanan)DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan aqidah tauhid yang dibawa oleh Islam menolak seluruh kesyirikan, sama saja apakah kesyirikan yang tegak di atas pendapat berbilangnya Tuhan atau kesyirikan yang dibangun di atas keimanan kepada adanya perantara-perantara antara Allah dan manusia. Dari situ maka hubungan antara Allah dengan alam –termasuk di dalamnya adalah manusia- adalah hubungan keterpisahan. Allah maha Esa tidak ada syarikat baginya, terpisah dari alam dengan keterpisahan yang sempurna dengan ke-Esa-anNya dalam Dzatnya, sifat-sifatNya, dan perbuatan-perbuatanNya, dan Allah tersucikan dari seluruh bentuk penyamaan dengan makhluk-makhlukNya.Aqidah ini dialah aqidah yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin, baik salaf mereka (*golongan terdahulu) maupun kholaf mereka (*golongan belakangan), kecuali sufiah filsafat, sebagaimana akan kita lihat di tengah lembaran-lembaran pembahasan ini”Komentar :Dalam paragraph ini kembali DR Said Aqiel menekankan bahwasanya Islam menolak segala bentuk kesyirikan. Dan bentuk-bentuk kesyirikan ada dua:Pertama : Dengan menjadikan Tuhan berbilang, sebagaimana trinitasnya kaum Nasrani, dan juga dewa-dewa Kaum Hindu.Kedua : Menjadikan perantara antara Allah dan manusia. Hal ini sebagaimana keysirikan kaum musyrikin Arab (silahkan lihat kembali : https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab)DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Kemudian Islam adalah berpegang teguh dengan perintah-perintah Allah dan perintah-perintah RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, dan meneladani kehidupan Rasulullah dan mengikuti jalan-jalan dan sunnah-sunnah yang telah ditempuh oleh para sahabatnya –semoga Allah meridhoi mereka–Allah berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat” (QS Al-Ahzaab : 21)Dan Allah ta’aala juga berfirman : “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah” (QS Al-Hasyr : 7)Allah juga berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)” (QS Al-Anfaal : 20)”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menekankan untuk mengikuti jalan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau mendoaakan para sahabat agar diridhoi oleh Allah. Dan ini tentunya bertentangan dengan aqidah Syi’ah yang justru berdoa agar Allah melaknat para sahabat dan juga mengkafirkan para sahabat.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : Dan perintah-perintah Allah dan RasulNya –demikian pula larangan-larangan Allah dan RasulNya- terjaga dalam Al-Qur’an Al-Kariim dan Sunnah-sunnah Nabi yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Aku meninggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan kedua perkara tersebut, yaitu kitabullah dan sunnah NabiNya”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan akan pentingnya berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah Nabi, yang keduanya merupakan sumber hukum kaum muslimin. Hal ini tentunya berbeda dengan:–         Keyakinan sebagian kaum sufi yang terkadang berdalil dengan kisah-kisah…yang tidak tahu juntrung keabsahannya. Tidak jarang berupa cerita-cerita karomah yang masih dipertanyakan akan kevalidannya lantas cerita-cerita tersebut dijadikan dalil utama sehingga ditolaklah pendalilan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah–         Sikap sebagian sufi yang taklid buta kepada gurunya, meskipun pemikiran-pemikiran gurunya bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga seakan-akan perkataan gurunya merupakan salah satu sumber hukumDR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mentarbiah (membina) para sahabatnya dibawah naungan dan petunjuk kitabullah dan sunnahnya, yaitu dengan tarbiah percontohan agar mereka menjadi teladan bagi orang-orang yang datang setelah mereka hingga hari kiamat. Maka mereka adalah praktek nyata (hidup) dari ajaran-ajaran Allah dan arahan-arahan RasulNya. Mereka berittiba’ dan meneladani serta tidak melakukan bid’ah dan mengada-ngadakan. Mereka adalah para wali-wali Allah yang tidak kawatir dan tidak bersedih. Mereka adalah teladan dan tolak ukur untuk mengenal al-haq (kebenaran) dari kebatilan, dan untuk membedakan petunjuk dari kesesatan“.Komentar :Dalam paragraf ini beliau menekankan kembali akan mulianya para sahabat dari beberapa sisi:Pertama : Para sahabat telah ditarbiyah/dibina dan dididik langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentunya guru sangat berpengaruh kepada murid-muridnyaKedua : Tarbiyah tersebut berdasarkan naungan dan cahaya al-Qur’an dan as-SunnahKetiga : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentarbiyah para sahabat dengan tarbiyah khusus yaitu tarbiyah percontohan, dengan maksud agar para sahabat menjadi contoh bagi generasi-generasi setelah merekaKeempat : Amalan para sahabat adalah praktek hidup/nyata terhadap ajaran Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hal ini tentu sangatlah jelas ditinjau dari beberapa sisi–         Para sahabatlah yang paham tentang maksud Allah dan RasulNya.–         Ayat-ayat al-Qur’an yang pertama kali mempraktekannya adalah para sahabat.–         Tatkala para sahabat menerapkan ayat-ayat Allah mereka dibimbing langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga jika mereka salah praktek, atau salah paham tentang Al-Qur’an maka akan ditegur langsung oleh Allah atau melalui Rasulullah yang merupakan guru dan pengawas merekaKelima : Para sahabat tidak melakukan bid’ah dan tidak mengadakan perkara-perkara baru dalam agama, akan tetapi mereka meneladani guru mereka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamKeenam : Para sahabat adalah wali-wali Allah…maka yang memusuhi dan membenci mereka…apalagi mengkafirkan mereka tentunya wali-wali syaitanKetujuh : (Dan ini merupakan poin yang terpenting) yaitu DR Said Aqiel menjelaskan bahwa para sahabat adalah tolak ukur kebenaran, sehingga terbedakan hak dari kebatilan, dan terbedakan petunjuk dari kesesatan.Sungguh ini adalah manhaj yang selalu dan senantiasa diserukan dan dipropagandakan oleh kaum wahabi (salafy) yaitu agar kembali kepada pemahaman dan manhaj para sahabat yang jauh dari bid’ah dan perkara-perkara baru dalam agama.Dan inilah juga yang selalu diserukan oleh kaum yang disebut-disebut oleh orang yang memusuhinya “Salafy wahabi” agar senantiasa mencintai para sahabat dan memusuhi orang-orang yang membenci (bahkan mengkafirkan) para sahabat seperti kaum syi’ah. Jika para sahabat yang sedemikian mulianya (sebagaimana penjabaran DR Said Aqiel diatas) itu saja dikafirkan maka bagaimana lagi dengan para pengikut mereka yang jauh dari kemuliaan para sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan dibawah cahaya al-kitab dan as-sunnah dan siroh Rasulullah serta amalan para sahabatnya ditimbang amalan-amalan kaum muslimin dan perkataan mereka. Maka apa yang ada sandarannya dan dalil maka dihukumi dengan amalan/perkataan yang sah dan benar. “Dan apa yang menyelisihi al-kitab dan as-sunnah dan tidak ada atsarnya dalam kehidupan para sahabat maka dihukumi dengan fasad (rusak) dan batil. Dan semua yang keluar dari manhaj ini maka sungguh telah sesat dan menyesatkan“.Komentar :Dalam paragraf ini kembali DR Said Aqiel menekankan akan pentingnya manhaj salaf yaitu manhaj yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat. Beliau juga kembali menegaskan bahwa seluruh perkataan/pendapat dan amal perbuatan manusia harus ditimbang di atas manhaj salaf ini. Jika ada suatu pemikiran atau amal perbuatan yang tidak diriwayatkan ada di masa kehidupan para sahabat maka pemikiran dan amal perbuatan tersebut batil. Ini merupakan seruan yang tegas dari beliau kepada kaum muslimin –terutama di Indonesia- untuk kembali menimbang amalan-amalan yang sering mereka lakukan. Apakah amalan-amalan tersebut pernah dilakukan dan diamalkan oleh para sahabat??, jika tidak pernah maka hal itu adalah batil dan sesat, bahkan pelakunya sesat dan menyesatkan.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan tatkala saya adalah salah seorang mahasiswa di jurusan Aqidah saya melihat bahwasanya merupakan kewajiban atas saya untuk mencari-cari/mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat dan jauh dari al-kitab dan as-sunnah. Dan telah beberapa lama saya menyelidiki manhaj-manhaj tersebut untuk saya jelaskan penyimpangan dan kesesatannya dan jauhnya manhaj tersebut dari Islam. Termasuk merupakan perkara yang menyusahkan dan menggelisahkan aku adalah apa yang aku dapati dari manhaj-manhaj para sufi ahli filsafat yang mereka telah jauh dari Islam, yaitu tentang pemahaman mereka tentang hubungan alam dengan penciptanya, dengan pemikiran-pemikiran mereka yang sesat berupa hulul dan ittihad dan wihdatul wujud (yiatu hulul/menempatinya Allah ke alam, dan ittihad/menyatunya alam dengan Allah, dan wihdah/kesatuan alam bersama Allah), yang hal itu melalui metode filsafat al-fanaa’ dan fanaa al-fanaa, dan seluruhnya merupakan pemikiran-pemikiran yang aneh dan muhdatsah (diada-adakan) serta menyusup di tengah-tengah masyarakat islami”Komentar :Dalam paragraf ini DR Said Aqiel memaparkan bagaimana semangat beliau untuk bernahi mungkar. Beliau terpanggil bahkan beliau merasa wajib untuk mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat. Bahkan sangat menggelisahkan beliau kesesatan yang terdapat dalam manhaj kaum sufi philosofi, yang kesesatan ini merupakan perkara muhdats (bid’ah) yang telah menyusup dalam masyarakat islam.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan permulaan munculnya pemikiran filsafat sesat tersebut di akhir-akhir abad kedua hijriah. Lalu berkembang dengan pesat di tengah abad ketiga hijriah. Dimulai dari Jabir bin Hayyan dan Abu Hasyim dan Abduk hingga Ibnu ‘Arobi sang fhilosofi besar, Al-Ghunushy Al-Khothiir, dan melewati Dzu An-Nuun Al-Mishriy, Abi Yaziid Al-Busthoomy, Al-Hallaaj, Al-Junaid, An-Nafary, Al-Gozhaaly, lalu As-Sahrowardi yang terbunuh”.Komentar :Dalam paragaf ini beliau menjelaskan tentang tokoh-tokoh sufi filsafat yang memiliki pemahaman sesat wihdatul wujud. Yang diantara tokoh-tokoh tersebut ada yang digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia. Diantaranya adalah Ibnu ‘Arobi dan Al-Ghozali.Adapun Ibnu ‘Arobi maka DR Said Aqiel telah menjelaskan kesesatannya dalam disertasinya tersebut pada hal 446 hingga hal 450. Beliau menjelaskan tentang pemikiran Ibnu Arobi dalam dua kitabnya yang berisikan tentang pemikiran wihdatul wujud (bersatunya Allah dengan alam). Kitab yang pertama adalah kitab Al-Futuhaat Al-Makkiyah, yang dimana Ibnu Arobi mengaku bahwa apa yang dituliskannya dalam kitab tersebut adalah wahyu dan didikte oleh Allah. Adapun kitab yang kedua adalah Fushus Al-Hikam maka Ibnu Arobi mengaku bahwa kitab tersebut datangnya dari Rasulullah. Dalam kitab Fushus Al-Hikam inilah Ibnu Arobi mengatakan bahwa Fir’aun adalah orang beriman dan masuk surga !!, hal ini karena tatkala Fir’aun mengatakan :”Aku adalah Tuham kalian yang maha tinggi” menunjukan bahwa Fir’aun paham bahwasanya Allah telah bersatu dengan alam, telah bersatu dengan dirinya. Jadi perkataan Fir’aun tersebut adalah perkataan yang hak dan benarAdapun Abu Hamid Al-Ghozaali, maka kesesatannya tentang pemahaman wahdatul Wujud telah dijelaskan oleh DR Said Aqiel Siraj dalam disertasinya pada hal 168 hingga hal 172. Pemikiran wihdatul wujud Al-Ghozaali sangat nampak dalam kitabnya Ihyaa Uluumiddiin (yang kitab ini sangat digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia) dan kitabnya Misykaat al-Anwaar. Adapun bantahan terhadap pemikiran Al-Ghozali ini maka telah ditulis dengan panjang lebar oleh DR Said Aqiel dalam disertasinya dari hal 199 hingga hal 221. DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan merupakan perkara yang diketahui bahwasanya kaum muslimin di Indonesia menghadapi problematika-problematika besar baik problematika politik, ekonomi, sosial dan problematika aqidah. Di hadapan mereka musuh-musuh mereka yang menanti-nanti (*keburukan bagi) kaum muslimin berupa gerakan kristenisasi, sekuler, bathiniyah, dan sekte-sekte sesat –Syi’ah, Ahmadiyah, dan Bahaaiyah, lalu Sufiyah”Komentar :Pada paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan bahwasanya diantara musuh-musuh kaum muslimin Indonesia adalah gerakan kristenisasi dan sekuler. Selain itu juga sekte-sekte yang sesat seperti Syi’ah dan Ahmadiyah qodyaniah. Dan musuh kaum muslimin Indonesia yang terakhir beliau sebutkan adalah kaum sufi.Ini merupakan nasehat yang sangat penting dari beliau akan bahayanya kaum Syi’ah dan kaum Sufi, karena mereka adalah musuh-musuh yang senantiasa menanti-nanti keburukan kaum muslimin Indonesia.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan sufiyah di Indonesia sungguh telah sukses besar dalam menyebarkan ajaran-ajaran mereka yang sesat -meskipun kebanyakan mereka tidak beriman dengan aqidah hulul dan ittihad serta wihdatul wujud-. Dan ajaran sufiah ini senantiasa masih termasuk ajaran yang paling berbahaya yang tersebar di negeri Indonesia, hal ini disebabkan kejahilan kaum muslimin di Indonesia terhadap aqidah yang benar” Komentar :Pada paraghraf ini, beliau menyatakan bahwa kaum sufi telah sukses besar dalam menyebarkan pemahaman dan ajaran-ajaran mereka di Indonesia. Namun timbul pertanyaan di benak saya, “Siapakah kaum sufi dimaksud oleh beliau??, yang telah berhasil menyebarkan ajaran mereka ke penjuru Indoesia??”, Apakah maksud beliau gerakan Muhammadiah?, ataukah Persis?, ataukah NU (Nahdatul Ulama) yang sedang beliau pimpin sekarang ini?, ataukah yang lainnya?. Semoga beliau bisa menjelaskan hal ini, dan semoga para pembaca juga mungkin bisa membantu menjelaskan maksud beliau. Terlebih lagi ada tariqah mu’tabar yang berada di bawah naungan NU, lihat (http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/34341/Warta/Habib_Luthfy__Pengurus_Thoriqoh_jangan_Seperti_Krupuk___.html) dan (http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/17/thariqah-al-mutabarah-dari-waktu-ke-waktu/, dan http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/23/lambang-jam%E2%80%99iyyah-ahlith-thoriqoh-al-mu%E2%80%99tabarah-an-nahdliyyah/, serta lihat komentar DR Said Aqiel tentang tasawwuf di http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/34786/Buku/Urgensi_Tasawuf_di_Era_Globalisasi.html)Dan saya sangat setuju dengan pendapat beliau bahwa ajaran-ajaran sesat seperti ini tersebar disebabkan karena kejahilan kaum muslim di Indonesia terhadap akidah yang benar sehingga mudah mereka terjangkiti ajaran-ajaran sufiah.DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :“Dikarenakan hal ini seluruhnya dan setelah aku menulis tesisku untuk meraih gelar Master di bidang aqidah tentang bantahan kepada Kristen maka aku memilih pembahasan desertasiku untuk meraih gelar Doktor tentang bantahan kepada sufiah, terukhususkan sufiah filsafat, dengan judul :“Hubungan Allah dengan alam menurut sufi filsafat, penelitian dan kritikan”DR Said Aqiel Siradj, MA berkata : “Dan telah ditulis banyak pembahasan dan telah tersebar banyak risalah-risalah ilmiah seputar perkara ini, akan tetapi saya melihat perkaranya masih butuh untuk ditinjau kembali, dengan tinjauan islami dengan timbangan/tolak ukurnya yang benar dan analogi yang benar, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah, dan ditambah dengan manhaj para ulama salafus sholeh”Komentar :Pada paragraf ini beliau menegaskan kembali bahwasanya tolak ukur yang benar untuk digunakan dalam mengukur kebenaran yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah dengan manhaj Salaf.Setelah itu DR Sa’id Aqiel Siraj menyebutkan khuttoh bahas disertasinya lalu beliau berkata : “Adapun sisi kritikan maka saya memperhatikan manhaj/metode pengkritikan yang ilmiyah yang benar, maka saya mengkritik pendapat-pendapat mereka (kaum sufi) dan saya menjelaskan kebatilan pemikiran-pemikiran mereka dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dan dengan dalil akal yang shahih, dan dengan perkataan para ulama yang sholihin. Dan dalam hal ini saya berusaha untuk menjauh dari fanatisme/ta’asshub dan sikap tidak inshoof (tidak adil)”Komentar:Pada paragraf ini DR Said Aqiel Siroj menjelaskan bahwa beliau menjauhi sikap fanatik dan sikap tidak inshoof (adil) dalam menulis disertasinya. Karenanya saya sangat berharap para pembaca membaca disertasi yang ditulis beliau ini yang sarat dengan faedah dan jauh dari sikap fanatik buta tanpa dalil. Bahkan dalam paragraf ini beliau (DR Said Aqiel) menegaskan bahwa beliau menjelaskan kebatilan pemikiran sufi falsafi dengan berdasarkan perkataan ulama yang sholihin. Siapakah yang dimaksud oleh beliau dengan Ulama yang sholihin ini??. Jika para pembaca menelaah disertasi karya DR Said Aqiel Siroj ini maka para pembaca akan menemukan bahwasanya perkataan alim ulama yang paling dijadikan landasan oleh DR Said Aqiel dalam membatilkan pemikiran sufi falsafi adalah perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang dituduh sebagai dedengkotnya salafy. Jadi sangat jelas bahwasanya DR Said Aqiel menganggap Ibnu Taimiyyah adalah sosok alim ulama yang sholih, karenanya DR Said Aqiel menjadikan perkataan-perkataannya untuk membantah tokoh-tokoh sufi seperti Ibnu Arobi dan Al-Ghozali.DR Said Aqiel Siradj berkata : “Dan tujuanku dalam disertasiku ini adalah menampilkan dirosah/penelitian yang sungguh-sungguh dan teliti/detail dengan harapan untuk menampakan dan menjelaskan hakikat/kebenaran, yang selanjutnya adalah untuk membela kebenaran dan untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Maka aku meminta kepada Allah Azza wa Jalla untuk merealisasikan harapan tujuan desertasi ini dan agar memberi faedah kepada para pembacanya dan menjadikannya ikhlash karena mengharapkan wajahNya, dan aku beristighfar kepada Allah atas seluruh kesalahanku yang ada dalam disertasiku ini, dan aku bersyukur kepadaNya atas kebenaran yang Allah hidayahkan kepadaku, dan segala puji bagi Allah di permulaan dan di akhir, dan Dialah cukup bagiku, dan sebaik-baik tempat bertawakal, dan semoga shalawat dan shalam tercurahkan bagi sayyidinaa Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya”Komentar :Semoga artikel yang saya paparkan ini membantu mewujudkan terkabulnya harapan DR Said Aqiel Siroj, sehingga risalah disertasi yang bagus ini bisa dipetik faedahnya oleh para pembaca sekalian, khususnya kaum muslimin di Indonesia.Demikianlah muqoddimah yang ditulis oleh DR Said Aqiel Siraj di muqoddimah disertasi beliau dan sedikit komentar dari saya. Sungguh muqoddimah  yang sarat dengan penjelasan pokok-pokok usul aqidah Ahlus Sunnah yang dibangun di atas manhaj salaf.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 14-01-1433 H / 09 Desember 2011 MAbu Abdilmuhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Cenderung Cinta Padanya

Untuk membuat seseorang akan tertarik pada kita, caranya adalah dengan mencari perhatiannya. Berbuatlah baik padanya, maka ia pun akan merasa diberi hati. Sehingga ia akan semakin lekat dan semakin menempel. Namun maksud tulisan ini bukanlah sebagai tips untuk muda-mudi yang hatinya sedang berbunga-bunga dengan kekasihnya. Tidak sama sekali, karena pacaran adalah jalan menuju zina dan jelas haramnya. Yang kami jelaskan di sini adalah tabiat hati yang cenderung akan menyukai orang yang berbuat baik padanya. Dan yang lebih terpenting adalah jika kecintaan tersebut dilandaskan cinta karena Allah. Cenderung Cinta Padanya Dalam sebuah atsar disebutkan, جبلت القلوب على حب من أحسن إليها وبغض من أساء إليها “Tabiat hati adalah cenderung mencintai orang yang berbuat baik padanya dan membenci orang yang berbuat jelek padanya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 2985, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 4: 131, Al Jami’ Ash Shogir 3580. As Suyuthi mengatakan hadits ini dho’if). Walaupun hadits ini dho’if, namun maknanya tepat dan benar. Cintailah Karena Allah Kecintaan seseorang pada orang yang suka berbuat baik padanya, itu memang boleh. Namun hendaklah kecintaan tersebut dibangun di atas kecintaan karena Allah. Artinya, standar kecintaan pada saudaranya seimbang dengan ketaatan saudaranya pada Allah. Jika saudaranya termasuk kalangan orang sholeh dan bertakwa, ia akan semakin cinta. Sebaliknya, cintanya akan semakin berkurang pada yang suka berbuat maksiat dan durhaka. Inilah maksud kecintaan karena Allah. Berarti kecintaan seseorang yang mencintai karena Allah akan berbeda pada pecandu rokok dan pada pemuda yang lisannya tidak pernah lepas dari dzikir. Kecintaan karena Allah itulah yang menuai kelezatan dan manisnya iman. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ “Tiga perkara yang seseorang akan merasakan manisnya iman : [1] ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya, [2] ia mencintai seseorang hanya karena Allah, [3] ia benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci bila dilemparkan dalam neraka.”  (HR. Bukhari no. 6941 dan Muslim no. 43) Begitu juga dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan mengenai tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tiada naungan selain dari-Nya. Di antara golongan tersebut adalah, وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ “Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031) Begitu pula dalam hadits Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْحُبُّ فِى اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِى اللَّهِ “Sesungguhnya amalan yang lebih dicintai Allah ‘azza wa jalla adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ahmad 5: 146 dan Abu Daud no. 4599. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirih, dilihat dari jalur lain) Akan Dikumpulkan Bersama Orang yang Dicintai Inilah di antara faedah besar seseorang mencintai saudaranya karena Allah atau termasuk dalam hal ini adalah mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639) Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari no. 3688) Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi no. 2385. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu Hajar berkata, “Maksud ‘sesungguhnya engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai’ adalah engkau akan didekatkan dengan mereka, begitu pula hal ini termasuk dalam golongan yang ia cintai. Bagaimana jika kedudukan di surga di antara mereka bertingkat-tingkat derajat? Apakah masih tetap dikatakan bersama? Jawabnya, tetap masih disebut bersama. Selama masih ada kesamaan, seperti sama-sama masuk surga, maka itu pun disebut bersama. Jadi tidak mesti bersama dalam segala sisi. Jika semuanya tadi masuk surga, itu sudah disebut bersama walau berbeda-beda derajat.” (Fathul Bari, 10: 555) Kecintaan yang Mubah Kecintaan biasa yang sifatnya mubah (baca: boleh-boleh saja) tidak menyebabkan kecintaan tersebut terbawa sampai akhirat. Derajat mereka akan tergantung pada amalnya dan sesuai karunia Allah Ta’ala. Patut direnungkan firman Allah Ta’ala, وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا “Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (QS. Thoha: 112) Intinya kecintaan yang bermanfaat adalah kecintaan karena Allah sebagaimana firman Allah Ta’ala, الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67)[1] Ya Allah, tumbuhkanlah rasa cinta kami terhadap sesama yang dilandasi kecintaan karena-Mu. Aamiin Ya Mujibbas Saa-ilin.   @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA 13 Muharram 1433 H www.rumaysho.com [1] Tulisan di atas dikembangkan dari tulisan pada link: http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=168325 Tagspacaran islami

Cenderung Cinta Padanya

Untuk membuat seseorang akan tertarik pada kita, caranya adalah dengan mencari perhatiannya. Berbuatlah baik padanya, maka ia pun akan merasa diberi hati. Sehingga ia akan semakin lekat dan semakin menempel. Namun maksud tulisan ini bukanlah sebagai tips untuk muda-mudi yang hatinya sedang berbunga-bunga dengan kekasihnya. Tidak sama sekali, karena pacaran adalah jalan menuju zina dan jelas haramnya. Yang kami jelaskan di sini adalah tabiat hati yang cenderung akan menyukai orang yang berbuat baik padanya. Dan yang lebih terpenting adalah jika kecintaan tersebut dilandaskan cinta karena Allah. Cenderung Cinta Padanya Dalam sebuah atsar disebutkan, جبلت القلوب على حب من أحسن إليها وبغض من أساء إليها “Tabiat hati adalah cenderung mencintai orang yang berbuat baik padanya dan membenci orang yang berbuat jelek padanya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 2985, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 4: 131, Al Jami’ Ash Shogir 3580. As Suyuthi mengatakan hadits ini dho’if). Walaupun hadits ini dho’if, namun maknanya tepat dan benar. Cintailah Karena Allah Kecintaan seseorang pada orang yang suka berbuat baik padanya, itu memang boleh. Namun hendaklah kecintaan tersebut dibangun di atas kecintaan karena Allah. Artinya, standar kecintaan pada saudaranya seimbang dengan ketaatan saudaranya pada Allah. Jika saudaranya termasuk kalangan orang sholeh dan bertakwa, ia akan semakin cinta. Sebaliknya, cintanya akan semakin berkurang pada yang suka berbuat maksiat dan durhaka. Inilah maksud kecintaan karena Allah. Berarti kecintaan seseorang yang mencintai karena Allah akan berbeda pada pecandu rokok dan pada pemuda yang lisannya tidak pernah lepas dari dzikir. Kecintaan karena Allah itulah yang menuai kelezatan dan manisnya iman. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ “Tiga perkara yang seseorang akan merasakan manisnya iman : [1] ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya, [2] ia mencintai seseorang hanya karena Allah, [3] ia benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci bila dilemparkan dalam neraka.”  (HR. Bukhari no. 6941 dan Muslim no. 43) Begitu juga dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan mengenai tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tiada naungan selain dari-Nya. Di antara golongan tersebut adalah, وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ “Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031) Begitu pula dalam hadits Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْحُبُّ فِى اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِى اللَّهِ “Sesungguhnya amalan yang lebih dicintai Allah ‘azza wa jalla adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ahmad 5: 146 dan Abu Daud no. 4599. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirih, dilihat dari jalur lain) Akan Dikumpulkan Bersama Orang yang Dicintai Inilah di antara faedah besar seseorang mencintai saudaranya karena Allah atau termasuk dalam hal ini adalah mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639) Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari no. 3688) Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi no. 2385. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu Hajar berkata, “Maksud ‘sesungguhnya engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai’ adalah engkau akan didekatkan dengan mereka, begitu pula hal ini termasuk dalam golongan yang ia cintai. Bagaimana jika kedudukan di surga di antara mereka bertingkat-tingkat derajat? Apakah masih tetap dikatakan bersama? Jawabnya, tetap masih disebut bersama. Selama masih ada kesamaan, seperti sama-sama masuk surga, maka itu pun disebut bersama. Jadi tidak mesti bersama dalam segala sisi. Jika semuanya tadi masuk surga, itu sudah disebut bersama walau berbeda-beda derajat.” (Fathul Bari, 10: 555) Kecintaan yang Mubah Kecintaan biasa yang sifatnya mubah (baca: boleh-boleh saja) tidak menyebabkan kecintaan tersebut terbawa sampai akhirat. Derajat mereka akan tergantung pada amalnya dan sesuai karunia Allah Ta’ala. Patut direnungkan firman Allah Ta’ala, وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا “Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (QS. Thoha: 112) Intinya kecintaan yang bermanfaat adalah kecintaan karena Allah sebagaimana firman Allah Ta’ala, الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67)[1] Ya Allah, tumbuhkanlah rasa cinta kami terhadap sesama yang dilandasi kecintaan karena-Mu. Aamiin Ya Mujibbas Saa-ilin.   @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA 13 Muharram 1433 H www.rumaysho.com [1] Tulisan di atas dikembangkan dari tulisan pada link: http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=168325 Tagspacaran islami
Untuk membuat seseorang akan tertarik pada kita, caranya adalah dengan mencari perhatiannya. Berbuatlah baik padanya, maka ia pun akan merasa diberi hati. Sehingga ia akan semakin lekat dan semakin menempel. Namun maksud tulisan ini bukanlah sebagai tips untuk muda-mudi yang hatinya sedang berbunga-bunga dengan kekasihnya. Tidak sama sekali, karena pacaran adalah jalan menuju zina dan jelas haramnya. Yang kami jelaskan di sini adalah tabiat hati yang cenderung akan menyukai orang yang berbuat baik padanya. Dan yang lebih terpenting adalah jika kecintaan tersebut dilandaskan cinta karena Allah. Cenderung Cinta Padanya Dalam sebuah atsar disebutkan, جبلت القلوب على حب من أحسن إليها وبغض من أساء إليها “Tabiat hati adalah cenderung mencintai orang yang berbuat baik padanya dan membenci orang yang berbuat jelek padanya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 2985, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 4: 131, Al Jami’ Ash Shogir 3580. As Suyuthi mengatakan hadits ini dho’if). Walaupun hadits ini dho’if, namun maknanya tepat dan benar. Cintailah Karena Allah Kecintaan seseorang pada orang yang suka berbuat baik padanya, itu memang boleh. Namun hendaklah kecintaan tersebut dibangun di atas kecintaan karena Allah. Artinya, standar kecintaan pada saudaranya seimbang dengan ketaatan saudaranya pada Allah. Jika saudaranya termasuk kalangan orang sholeh dan bertakwa, ia akan semakin cinta. Sebaliknya, cintanya akan semakin berkurang pada yang suka berbuat maksiat dan durhaka. Inilah maksud kecintaan karena Allah. Berarti kecintaan seseorang yang mencintai karena Allah akan berbeda pada pecandu rokok dan pada pemuda yang lisannya tidak pernah lepas dari dzikir. Kecintaan karena Allah itulah yang menuai kelezatan dan manisnya iman. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ “Tiga perkara yang seseorang akan merasakan manisnya iman : [1] ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya, [2] ia mencintai seseorang hanya karena Allah, [3] ia benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci bila dilemparkan dalam neraka.”  (HR. Bukhari no. 6941 dan Muslim no. 43) Begitu juga dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan mengenai tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tiada naungan selain dari-Nya. Di antara golongan tersebut adalah, وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ “Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031) Begitu pula dalam hadits Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْحُبُّ فِى اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِى اللَّهِ “Sesungguhnya amalan yang lebih dicintai Allah ‘azza wa jalla adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ahmad 5: 146 dan Abu Daud no. 4599. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirih, dilihat dari jalur lain) Akan Dikumpulkan Bersama Orang yang Dicintai Inilah di antara faedah besar seseorang mencintai saudaranya karena Allah atau termasuk dalam hal ini adalah mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639) Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari no. 3688) Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi no. 2385. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu Hajar berkata, “Maksud ‘sesungguhnya engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai’ adalah engkau akan didekatkan dengan mereka, begitu pula hal ini termasuk dalam golongan yang ia cintai. Bagaimana jika kedudukan di surga di antara mereka bertingkat-tingkat derajat? Apakah masih tetap dikatakan bersama? Jawabnya, tetap masih disebut bersama. Selama masih ada kesamaan, seperti sama-sama masuk surga, maka itu pun disebut bersama. Jadi tidak mesti bersama dalam segala sisi. Jika semuanya tadi masuk surga, itu sudah disebut bersama walau berbeda-beda derajat.” (Fathul Bari, 10: 555) Kecintaan yang Mubah Kecintaan biasa yang sifatnya mubah (baca: boleh-boleh saja) tidak menyebabkan kecintaan tersebut terbawa sampai akhirat. Derajat mereka akan tergantung pada amalnya dan sesuai karunia Allah Ta’ala. Patut direnungkan firman Allah Ta’ala, وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا “Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (QS. Thoha: 112) Intinya kecintaan yang bermanfaat adalah kecintaan karena Allah sebagaimana firman Allah Ta’ala, الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67)[1] Ya Allah, tumbuhkanlah rasa cinta kami terhadap sesama yang dilandasi kecintaan karena-Mu. Aamiin Ya Mujibbas Saa-ilin.   @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA 13 Muharram 1433 H www.rumaysho.com [1] Tulisan di atas dikembangkan dari tulisan pada link: http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=168325 Tagspacaran islami


Untuk membuat seseorang akan tertarik pada kita, caranya adalah dengan mencari perhatiannya. Berbuatlah baik padanya, maka ia pun akan merasa diberi hati. Sehingga ia akan semakin lekat dan semakin menempel. Namun maksud tulisan ini bukanlah sebagai tips untuk muda-mudi yang hatinya sedang berbunga-bunga dengan kekasihnya. Tidak sama sekali, karena pacaran adalah jalan menuju zina dan jelas haramnya. Yang kami jelaskan di sini adalah tabiat hati yang cenderung akan menyukai orang yang berbuat baik padanya. Dan yang lebih terpenting adalah jika kecintaan tersebut dilandaskan cinta karena Allah. Cenderung Cinta Padanya Dalam sebuah atsar disebutkan, جبلت القلوب على حب من أحسن إليها وبغض من أساء إليها “Tabiat hati adalah cenderung mencintai orang yang berbuat baik padanya dan membenci orang yang berbuat jelek padanya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 2985, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 4: 131, Al Jami’ Ash Shogir 3580. As Suyuthi mengatakan hadits ini dho’if). Walaupun hadits ini dho’if, namun maknanya tepat dan benar. Cintailah Karena Allah Kecintaan seseorang pada orang yang suka berbuat baik padanya, itu memang boleh. Namun hendaklah kecintaan tersebut dibangun di atas kecintaan karena Allah. Artinya, standar kecintaan pada saudaranya seimbang dengan ketaatan saudaranya pada Allah. Jika saudaranya termasuk kalangan orang sholeh dan bertakwa, ia akan semakin cinta. Sebaliknya, cintanya akan semakin berkurang pada yang suka berbuat maksiat dan durhaka. Inilah maksud kecintaan karena Allah. Berarti kecintaan seseorang yang mencintai karena Allah akan berbeda pada pecandu rokok dan pada pemuda yang lisannya tidak pernah lepas dari dzikir. Kecintaan karena Allah itulah yang menuai kelezatan dan manisnya iman. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ “Tiga perkara yang seseorang akan merasakan manisnya iman : [1] ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya, [2] ia mencintai seseorang hanya karena Allah, [3] ia benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci bila dilemparkan dalam neraka.”  (HR. Bukhari no. 6941 dan Muslim no. 43) Begitu juga dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan mengenai tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tiada naungan selain dari-Nya. Di antara golongan tersebut adalah, وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ “Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031) Begitu pula dalam hadits Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْحُبُّ فِى اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِى اللَّهِ “Sesungguhnya amalan yang lebih dicintai Allah ‘azza wa jalla adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ahmad 5: 146 dan Abu Daud no. 4599. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirih, dilihat dari jalur lain) Akan Dikumpulkan Bersama Orang yang Dicintai Inilah di antara faedah besar seseorang mencintai saudaranya karena Allah atau termasuk dalam hal ini adalah mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639) Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari no. 3688) Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi no. 2385. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu Hajar berkata, “Maksud ‘sesungguhnya engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai’ adalah engkau akan didekatkan dengan mereka, begitu pula hal ini termasuk dalam golongan yang ia cintai. Bagaimana jika kedudukan di surga di antara mereka bertingkat-tingkat derajat? Apakah masih tetap dikatakan bersama? Jawabnya, tetap masih disebut bersama. Selama masih ada kesamaan, seperti sama-sama masuk surga, maka itu pun disebut bersama. Jadi tidak mesti bersama dalam segala sisi. Jika semuanya tadi masuk surga, itu sudah disebut bersama walau berbeda-beda derajat.” (Fathul Bari, 10: 555) Kecintaan yang Mubah Kecintaan biasa yang sifatnya mubah (baca: boleh-boleh saja) tidak menyebabkan kecintaan tersebut terbawa sampai akhirat. Derajat mereka akan tergantung pada amalnya dan sesuai karunia Allah Ta’ala. Patut direnungkan firman Allah Ta’ala, وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا “Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (QS. Thoha: 112) Intinya kecintaan yang bermanfaat adalah kecintaan karena Allah sebagaimana firman Allah Ta’ala, الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67)[1] Ya Allah, tumbuhkanlah rasa cinta kami terhadap sesama yang dilandasi kecintaan karena-Mu. Aamiin Ya Mujibbas Saa-ilin.   @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA 13 Muharram 1433 H www.rumaysho.com [1] Tulisan di atas dikembangkan dari tulisan pada link: http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=168325 Tagspacaran islami

Apa yang Dimaksud Boros?

Jika kita membelanjakan harta untuk jalan kebaikan, maka itu bukanlah boros. Berbeda halnya dengan seseorang yang membelanjakan harta untuk hal yang sia-sia apalagi yang haram walau itu sedikit, tetap disebut boros. Untuk memahami apa yang dimaksud boros, simak dalam perkataan para ulama berikut. Daftar Isi tutup 1. Apa itu Boros? 2. Disebut Saudara Setan Apa itu Boros? Allah Ta’ala telah berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27). Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8: 474-475). Ibnul Jauzi berkata bahwa yang dimaksud boros ada dua pendapat di kalangan para ulama: Boros berarti menginfakkan harta bukan pada jalan yang benar. Ini dapat kita lihat dalam perkataan para pakar tafsir yang telah disebutkan di atas. Boros berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubazzir (orang yang boros) adalah orang yang menyalahgunakan, merusak dan menghambur-hamburkan harta.” (Zaadul Masiir, 5: 27-28) Disebut Saudara Setan Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauhi sikap boros  dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan”. Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Katsir juga mengatakan, “Disebut saudara setan karena orang yang boros dan menghambur-hamburkan harta akan mengantarkan pada meninggalkan ketaatan pada Allah dan terjerumus dalam maksiat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8: 475) Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa orang yang boros, mereka telah mengikuti jalan setan sehingga disebut dalam ayat mereka adalah saudara setan. (Tafsir Al Jalalain, 294) Syaikh As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Orang yang boros disebut temannya setan karena setan tidaklah mengajak selain pada sesuatu yang tercela. Setan mengajak manusia untuk pelit dan hidup boros atau berlebih-lebihan. Padahal Allah memerintahkan kita untuk bersikap sederhana dan pertengahan (tidak boros dan tidak terlalu pelit). Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. ” (QS. Al Furqan: 67). (Taisir Al Karimir Rohman, 456) Dengan merenungkan ayat ini, kita akan memahami bahwa membeli satu puntung rokok untuk dihisap atau membeli satu gelas wiski, itu disebut boros karena telah menyalurkan harta ke jalan yang keliru. Ya Allah, karuniakanlah pada kami sikap sederhana dalam hidup dan tidak tergiur pada gemerlapnya dunia. Aamiin.   @ Ummul Hamam, Riyadh KSA 13 Muharram 1432 H www.rumaysho.com Tagsboros

Apa yang Dimaksud Boros?

Jika kita membelanjakan harta untuk jalan kebaikan, maka itu bukanlah boros. Berbeda halnya dengan seseorang yang membelanjakan harta untuk hal yang sia-sia apalagi yang haram walau itu sedikit, tetap disebut boros. Untuk memahami apa yang dimaksud boros, simak dalam perkataan para ulama berikut. Daftar Isi tutup 1. Apa itu Boros? 2. Disebut Saudara Setan Apa itu Boros? Allah Ta’ala telah berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27). Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8: 474-475). Ibnul Jauzi berkata bahwa yang dimaksud boros ada dua pendapat di kalangan para ulama: Boros berarti menginfakkan harta bukan pada jalan yang benar. Ini dapat kita lihat dalam perkataan para pakar tafsir yang telah disebutkan di atas. Boros berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubazzir (orang yang boros) adalah orang yang menyalahgunakan, merusak dan menghambur-hamburkan harta.” (Zaadul Masiir, 5: 27-28) Disebut Saudara Setan Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauhi sikap boros  dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan”. Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Katsir juga mengatakan, “Disebut saudara setan karena orang yang boros dan menghambur-hamburkan harta akan mengantarkan pada meninggalkan ketaatan pada Allah dan terjerumus dalam maksiat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8: 475) Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa orang yang boros, mereka telah mengikuti jalan setan sehingga disebut dalam ayat mereka adalah saudara setan. (Tafsir Al Jalalain, 294) Syaikh As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Orang yang boros disebut temannya setan karena setan tidaklah mengajak selain pada sesuatu yang tercela. Setan mengajak manusia untuk pelit dan hidup boros atau berlebih-lebihan. Padahal Allah memerintahkan kita untuk bersikap sederhana dan pertengahan (tidak boros dan tidak terlalu pelit). Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. ” (QS. Al Furqan: 67). (Taisir Al Karimir Rohman, 456) Dengan merenungkan ayat ini, kita akan memahami bahwa membeli satu puntung rokok untuk dihisap atau membeli satu gelas wiski, itu disebut boros karena telah menyalurkan harta ke jalan yang keliru. Ya Allah, karuniakanlah pada kami sikap sederhana dalam hidup dan tidak tergiur pada gemerlapnya dunia. Aamiin.   @ Ummul Hamam, Riyadh KSA 13 Muharram 1432 H www.rumaysho.com Tagsboros
Jika kita membelanjakan harta untuk jalan kebaikan, maka itu bukanlah boros. Berbeda halnya dengan seseorang yang membelanjakan harta untuk hal yang sia-sia apalagi yang haram walau itu sedikit, tetap disebut boros. Untuk memahami apa yang dimaksud boros, simak dalam perkataan para ulama berikut. Daftar Isi tutup 1. Apa itu Boros? 2. Disebut Saudara Setan Apa itu Boros? Allah Ta’ala telah berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27). Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8: 474-475). Ibnul Jauzi berkata bahwa yang dimaksud boros ada dua pendapat di kalangan para ulama: Boros berarti menginfakkan harta bukan pada jalan yang benar. Ini dapat kita lihat dalam perkataan para pakar tafsir yang telah disebutkan di atas. Boros berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubazzir (orang yang boros) adalah orang yang menyalahgunakan, merusak dan menghambur-hamburkan harta.” (Zaadul Masiir, 5: 27-28) Disebut Saudara Setan Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauhi sikap boros  dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan”. Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Katsir juga mengatakan, “Disebut saudara setan karena orang yang boros dan menghambur-hamburkan harta akan mengantarkan pada meninggalkan ketaatan pada Allah dan terjerumus dalam maksiat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8: 475) Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa orang yang boros, mereka telah mengikuti jalan setan sehingga disebut dalam ayat mereka adalah saudara setan. (Tafsir Al Jalalain, 294) Syaikh As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Orang yang boros disebut temannya setan karena setan tidaklah mengajak selain pada sesuatu yang tercela. Setan mengajak manusia untuk pelit dan hidup boros atau berlebih-lebihan. Padahal Allah memerintahkan kita untuk bersikap sederhana dan pertengahan (tidak boros dan tidak terlalu pelit). Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. ” (QS. Al Furqan: 67). (Taisir Al Karimir Rohman, 456) Dengan merenungkan ayat ini, kita akan memahami bahwa membeli satu puntung rokok untuk dihisap atau membeli satu gelas wiski, itu disebut boros karena telah menyalurkan harta ke jalan yang keliru. Ya Allah, karuniakanlah pada kami sikap sederhana dalam hidup dan tidak tergiur pada gemerlapnya dunia. Aamiin.   @ Ummul Hamam, Riyadh KSA 13 Muharram 1432 H www.rumaysho.com Tagsboros


Jika kita membelanjakan harta untuk jalan kebaikan, maka itu bukanlah boros. Berbeda halnya dengan seseorang yang membelanjakan harta untuk hal yang sia-sia apalagi yang haram walau itu sedikit, tetap disebut boros. Untuk memahami apa yang dimaksud boros, simak dalam perkataan para ulama berikut. Daftar Isi tutup 1. Apa itu Boros? 2. Disebut Saudara Setan Apa itu Boros? Allah Ta’ala telah berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27). Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8: 474-475). Ibnul Jauzi berkata bahwa yang dimaksud boros ada dua pendapat di kalangan para ulama: Boros berarti menginfakkan harta bukan pada jalan yang benar. Ini dapat kita lihat dalam perkataan para pakar tafsir yang telah disebutkan di atas. Boros berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubazzir (orang yang boros) adalah orang yang menyalahgunakan, merusak dan menghambur-hamburkan harta.” (Zaadul Masiir, 5: 27-28) Disebut Saudara Setan Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauhi sikap boros  dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan”. Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Katsir juga mengatakan, “Disebut saudara setan karena orang yang boros dan menghambur-hamburkan harta akan mengantarkan pada meninggalkan ketaatan pada Allah dan terjerumus dalam maksiat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8: 475) Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa orang yang boros, mereka telah mengikuti jalan setan sehingga disebut dalam ayat mereka adalah saudara setan. (Tafsir Al Jalalain, 294) Syaikh As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Orang yang boros disebut temannya setan karena setan tidaklah mengajak selain pada sesuatu yang tercela. Setan mengajak manusia untuk pelit dan hidup boros atau berlebih-lebihan. Padahal Allah memerintahkan kita untuk bersikap sederhana dan pertengahan (tidak boros dan tidak terlalu pelit). Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. ” (QS. Al Furqan: 67). (Taisir Al Karimir Rohman, 456) Dengan merenungkan ayat ini, kita akan memahami bahwa membeli satu puntung rokok untuk dihisap atau membeli satu gelas wiski, itu disebut boros karena telah menyalurkan harta ke jalan yang keliru. Ya Allah, karuniakanlah pada kami sikap sederhana dalam hidup dan tidak tergiur pada gemerlapnya dunia. Aamiin.   @ Ummul Hamam, Riyadh KSA 13 Muharram 1432 H www.rumaysho.com Tagsboros

Hati Tertutup Karena Meninggalkan Shalat Jum’at

Tidak sedikit di antara kaum muslimin yang lalai akan kewajiban shalat Jum’at. Sampai seringkali meninggalkannya. Padahal shalat ini adalah kewajiban yang tidak perlu lagi disanksikan. Dalil pendukungnya pun dari Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Maka sudah barang tentu yang meninggalkannya akan menuai petaka yang menimpa jasad dan lebih parah lagi akan merusak hatinya. Kewajiban shalat Jum’at ditunjukkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.” (QS. Al Jum’ah: 9). Kata kebanyakan pakar tafsir, yang dimaksud ‘dzikrullah’ atau mengingat Allah di sini adalah shalat Jum’at. Sa’id bin Al Musayyib mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mendengar nasehat (khutbah) pada hari Jum’at. (Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 8: 265) Dikuatkan lagi dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ “(Shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dalam jama’ah kecuali bagi empat orang: budak yang dimiliki, wanita, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih) Begitu pula disebutkan dalam sabda lainnya, رَوَاحُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ “Pergi (shalat) Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah.” (HR. An Nasai no. 1371. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih) Lalu bagaimana jika seseorang meninggalkan shalat Jum’at? Apa akibat yang menimpa dirinya? Ulama terkemuka di Saudi Arabia yang berdomisili di kota Riyadh dan sangat mumpuni dalam hal aqidah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhohullah ditanya, “Apa akibat yang diperoleh orang yang tidak menghadiri shalat Jumat? Apa hadits yang menerangkan hal tersebut? Jawab Syaikh hafizhohullah, Shalat Jum’at adalah shalat yang wajib bagi orang yang tidak memiliki uzur. Barangsiapa meninggalkannya, ia terjerumus dalam dosa besar. Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena meremehkannya, hatinya akan tertutupi. Dan ia termasuk orang-orang yang lalai. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, keduanya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika beliau memegang tongkat di mimbarnya, لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ “Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat jumat menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim no. 865) Dalam hadits lain disebutkan, مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ “Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena lalai terhadap shalat tersebut, Allah akan tutupi hatinya.” (HR. Abu Daud no. 1052, An Nasai no. 1369, dan Ahmad 3: 424. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih). Ini akibat yang menimpa hati. Musibah ini lebih bahaya dari akibat yang menimpa jasad atau kulit seseorang. Sedangkan hukuman duniawi, hendaklah ulil amri (penguasa) memberi hukuman pula bagi orang yang meninggalkan shalat Jum’at tanpa ada uzur agar mencegah tindak kejahatan mereka. Hendaklah setiap muslim bertakwa pada Allah, janganlah sampai ia melalaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan. Jika seseorang lalai dalam demikian, maka ia akan menuai petaka dari Allah. Jagalah perintah Allah, niscaya pahala Allah akan diraih. Dan Allah akan beri karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki. [Sumber fatwa: ahlalhdeeth.com] Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. @ Ummul Hamam, Riyadh-KSA, 13 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Larangan Jual Beli Saat Shalat Jum’at Shalat Jum’at bagi Musafir Tagsmeninggalkan shalat shalat jumat

Hati Tertutup Karena Meninggalkan Shalat Jum’at

Tidak sedikit di antara kaum muslimin yang lalai akan kewajiban shalat Jum’at. Sampai seringkali meninggalkannya. Padahal shalat ini adalah kewajiban yang tidak perlu lagi disanksikan. Dalil pendukungnya pun dari Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Maka sudah barang tentu yang meninggalkannya akan menuai petaka yang menimpa jasad dan lebih parah lagi akan merusak hatinya. Kewajiban shalat Jum’at ditunjukkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.” (QS. Al Jum’ah: 9). Kata kebanyakan pakar tafsir, yang dimaksud ‘dzikrullah’ atau mengingat Allah di sini adalah shalat Jum’at. Sa’id bin Al Musayyib mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mendengar nasehat (khutbah) pada hari Jum’at. (Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 8: 265) Dikuatkan lagi dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ “(Shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dalam jama’ah kecuali bagi empat orang: budak yang dimiliki, wanita, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih) Begitu pula disebutkan dalam sabda lainnya, رَوَاحُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ “Pergi (shalat) Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah.” (HR. An Nasai no. 1371. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih) Lalu bagaimana jika seseorang meninggalkan shalat Jum’at? Apa akibat yang menimpa dirinya? Ulama terkemuka di Saudi Arabia yang berdomisili di kota Riyadh dan sangat mumpuni dalam hal aqidah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhohullah ditanya, “Apa akibat yang diperoleh orang yang tidak menghadiri shalat Jumat? Apa hadits yang menerangkan hal tersebut? Jawab Syaikh hafizhohullah, Shalat Jum’at adalah shalat yang wajib bagi orang yang tidak memiliki uzur. Barangsiapa meninggalkannya, ia terjerumus dalam dosa besar. Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena meremehkannya, hatinya akan tertutupi. Dan ia termasuk orang-orang yang lalai. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, keduanya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika beliau memegang tongkat di mimbarnya, لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ “Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat jumat menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim no. 865) Dalam hadits lain disebutkan, مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ “Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena lalai terhadap shalat tersebut, Allah akan tutupi hatinya.” (HR. Abu Daud no. 1052, An Nasai no. 1369, dan Ahmad 3: 424. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih). Ini akibat yang menimpa hati. Musibah ini lebih bahaya dari akibat yang menimpa jasad atau kulit seseorang. Sedangkan hukuman duniawi, hendaklah ulil amri (penguasa) memberi hukuman pula bagi orang yang meninggalkan shalat Jum’at tanpa ada uzur agar mencegah tindak kejahatan mereka. Hendaklah setiap muslim bertakwa pada Allah, janganlah sampai ia melalaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan. Jika seseorang lalai dalam demikian, maka ia akan menuai petaka dari Allah. Jagalah perintah Allah, niscaya pahala Allah akan diraih. Dan Allah akan beri karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki. [Sumber fatwa: ahlalhdeeth.com] Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. @ Ummul Hamam, Riyadh-KSA, 13 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Larangan Jual Beli Saat Shalat Jum’at Shalat Jum’at bagi Musafir Tagsmeninggalkan shalat shalat jumat
Tidak sedikit di antara kaum muslimin yang lalai akan kewajiban shalat Jum’at. Sampai seringkali meninggalkannya. Padahal shalat ini adalah kewajiban yang tidak perlu lagi disanksikan. Dalil pendukungnya pun dari Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Maka sudah barang tentu yang meninggalkannya akan menuai petaka yang menimpa jasad dan lebih parah lagi akan merusak hatinya. Kewajiban shalat Jum’at ditunjukkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.” (QS. Al Jum’ah: 9). Kata kebanyakan pakar tafsir, yang dimaksud ‘dzikrullah’ atau mengingat Allah di sini adalah shalat Jum’at. Sa’id bin Al Musayyib mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mendengar nasehat (khutbah) pada hari Jum’at. (Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 8: 265) Dikuatkan lagi dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ “(Shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dalam jama’ah kecuali bagi empat orang: budak yang dimiliki, wanita, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih) Begitu pula disebutkan dalam sabda lainnya, رَوَاحُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ “Pergi (shalat) Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah.” (HR. An Nasai no. 1371. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih) Lalu bagaimana jika seseorang meninggalkan shalat Jum’at? Apa akibat yang menimpa dirinya? Ulama terkemuka di Saudi Arabia yang berdomisili di kota Riyadh dan sangat mumpuni dalam hal aqidah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhohullah ditanya, “Apa akibat yang diperoleh orang yang tidak menghadiri shalat Jumat? Apa hadits yang menerangkan hal tersebut? Jawab Syaikh hafizhohullah, Shalat Jum’at adalah shalat yang wajib bagi orang yang tidak memiliki uzur. Barangsiapa meninggalkannya, ia terjerumus dalam dosa besar. Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena meremehkannya, hatinya akan tertutupi. Dan ia termasuk orang-orang yang lalai. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, keduanya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika beliau memegang tongkat di mimbarnya, لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ “Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat jumat menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim no. 865) Dalam hadits lain disebutkan, مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ “Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena lalai terhadap shalat tersebut, Allah akan tutupi hatinya.” (HR. Abu Daud no. 1052, An Nasai no. 1369, dan Ahmad 3: 424. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih). Ini akibat yang menimpa hati. Musibah ini lebih bahaya dari akibat yang menimpa jasad atau kulit seseorang. Sedangkan hukuman duniawi, hendaklah ulil amri (penguasa) memberi hukuman pula bagi orang yang meninggalkan shalat Jum’at tanpa ada uzur agar mencegah tindak kejahatan mereka. Hendaklah setiap muslim bertakwa pada Allah, janganlah sampai ia melalaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan. Jika seseorang lalai dalam demikian, maka ia akan menuai petaka dari Allah. Jagalah perintah Allah, niscaya pahala Allah akan diraih. Dan Allah akan beri karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki. [Sumber fatwa: ahlalhdeeth.com] Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. @ Ummul Hamam, Riyadh-KSA, 13 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Larangan Jual Beli Saat Shalat Jum’at Shalat Jum’at bagi Musafir Tagsmeninggalkan shalat shalat jumat


Tidak sedikit di antara kaum muslimin yang lalai akan kewajiban shalat Jum’at. Sampai seringkali meninggalkannya. Padahal shalat ini adalah kewajiban yang tidak perlu lagi disanksikan. Dalil pendukungnya pun dari Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Maka sudah barang tentu yang meninggalkannya akan menuai petaka yang menimpa jasad dan lebih parah lagi akan merusak hatinya. Kewajiban shalat Jum’at ditunjukkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.” (QS. Al Jum’ah: 9). Kata kebanyakan pakar tafsir, yang dimaksud ‘dzikrullah’ atau mengingat Allah di sini adalah shalat Jum’at. Sa’id bin Al Musayyib mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mendengar nasehat (khutbah) pada hari Jum’at. (Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 8: 265) Dikuatkan lagi dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ “(Shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dalam jama’ah kecuali bagi empat orang: budak yang dimiliki, wanita, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih) Begitu pula disebutkan dalam sabda lainnya, رَوَاحُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ “Pergi (shalat) Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah.” (HR. An Nasai no. 1371. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih) Lalu bagaimana jika seseorang meninggalkan shalat Jum’at? Apa akibat yang menimpa dirinya? Ulama terkemuka di Saudi Arabia yang berdomisili di kota Riyadh dan sangat mumpuni dalam hal aqidah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhohullah ditanya, “Apa akibat yang diperoleh orang yang tidak menghadiri shalat Jumat? Apa hadits yang menerangkan hal tersebut? Jawab Syaikh hafizhohullah, Shalat Jum’at adalah shalat yang wajib bagi orang yang tidak memiliki uzur. Barangsiapa meninggalkannya, ia terjerumus dalam dosa besar. Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena meremehkannya, hatinya akan tertutupi. Dan ia termasuk orang-orang yang lalai. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, keduanya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika beliau memegang tongkat di mimbarnya, لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ “Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat jumat menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim no. 865) Dalam hadits lain disebutkan, مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ “Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena lalai terhadap shalat tersebut, Allah akan tutupi hatinya.” (HR. Abu Daud no. 1052, An Nasai no. 1369, dan Ahmad 3: 424. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih). Ini akibat yang menimpa hati. Musibah ini lebih bahaya dari akibat yang menimpa jasad atau kulit seseorang. Sedangkan hukuman duniawi, hendaklah ulil amri (penguasa) memberi hukuman pula bagi orang yang meninggalkan shalat Jum’at tanpa ada uzur agar mencegah tindak kejahatan mereka. Hendaklah setiap muslim bertakwa pada Allah, janganlah sampai ia melalaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan. Jika seseorang lalai dalam demikian, maka ia akan menuai petaka dari Allah. Jagalah perintah Allah, niscaya pahala Allah akan diraih. Dan Allah akan beri karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki. [Sumber fatwa: ahlalhdeeth.com] Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. @ Ummul Hamam, Riyadh-KSA, 13 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Larangan Jual Beli Saat Shalat Jum’at Shalat Jum’at bagi Musafir Tagsmeninggalkan shalat shalat jumat

Model-Model Ujub

Telah lalu pembahasan tentang ujub karena amalan sholeh (lihat “Kenapa Mesti Ujub” dan “Berjihad Memerangi Ujub”). Disana ada bentuk-bentuk ujub yang lain sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Haamid Al-Gozaali rahimahullah dalam kitabnya Ihyaa’ Uluumiddiin. Beliau rahimahullah menyebutkan ada 8 model ujub, yaitu : Pertama : Ujub dengan nasab yang tinggiAl-Ghozaali rahimahullah berkata : “Ujub dengan nasab yang mulia, sebagaimana ujubnya Al-Haasyimiyah (*yang merupakan ahlul bait), sampai-sampai sebagian mereka menyangka bisa selamat dengan kemuliaan nasabnya dan dengan selamatnya leluhur mereka, dan ia telah diampuni dosa-dosanya. Dan sebagian mereka mengkhayal bahwasanya seluruh manusia adalah budak-budaknya.Obat ujub ini adalah hendaknya ia mengetahui bahwasanya jika ia menyelisihi perbuatan dan akhlak leluhurnya dan ia menyangka bahwa ia akan ikut serta mereka maka ia adalah orang jahil. Jika ia meneladani leluhurnya maka ujub bukanlah termasuk akhlak leluhurnya, akan tetapi yang merupakan akhlak leluhurnya adalah rasa khouf (takut), merendahkan diri, menghormati manusia, dan mencela nafsu/jiwa mereka. Sungguh mereka (para leluhur) telah mencapai kemuliaan dengan ketaatan dan ilmu serta akhlak-akhlak yang terpuji. Mereka tidak meraih kemuliaan dengan nasab, maka hendaknya ia menjadi mulia dengan perkara-perkara yang menjadikan para leluhurnya mulia.Sungguh ada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir yang telah menyamai mereka dan menyertai mereka dari sisi nasab dan kabilah (suku), akan tetapi mereka di sisi Allah lebih buruk dari pada anjing-anjing dan lebih hina dari pada babi-babi. Karenanya Allah berfirman :يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan”Yaitu tidak ada tingkatan-tingkatan pada nasab-nasab kalian karena kalian berkumpul pada asal yang satu/sama. Kemudian Allah menyebutkan faedah nasab, maka Allah berfirmanوَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا“Dan Kami menjadikan kalian berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”Kemudian Allah menjelaskan bahwasanya kemuliaan adalah karena ketakwaan bukan karena nasab, maka Allah berfirmanإِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kalian” (QS Al-Hujuroot : 13)Tatkala dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟ مَنْ أَكْيَسُ النَّاسِ؟ (Siapakah orang yang paling mulia?, siapakah orang yang paling cerdas?), maka Rasulullah tidak berkata, “Orang yang paling mulia adalah orang yang nasabnya berarah ke nasabku”, akan tetapi Nabi berkata,أَكْرَمُهُمْ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَشَدُّهُمْ لَهُ اسِتِعْدَادًا“Orang yang paling mulia adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling kencang persiapannya untuk kematian” (*Hadits ini dengan lafal : أَيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ أَفْضَلُ؟ “Orang mukmin manakah yang paling afdol?” diriwayatkan oleh Ibnu Majah no 4249 dan dihasankan oleh Al-‘Irooqi dalam Al-Mughni, dan dihasankan oleh Al-Albani. Dan lafal ini semakna dengan lafal مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟  “Siapakah orang yang paling mulia?”. Lafal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyaa dalam kitabnya Makaarim Al-Akhlaaq hal 18*-pen)…Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ كُلُّكُمْ بَنُوْ آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ“Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan jahiliyah, kalian seluruhnya anak keturunan Adam, dan Adam dari tanah” (*HR Abu Dawud no 5116 dan At-Thirmidzi no 3270 dan dishahihkan oleh Al-Albani).Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لاَ تَأْتِي النَّاسُ بِالأَعْماَلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتَأْتُوْنَ بِالدُّنْيَا تَحْمِلُوْنَهَا عَلى رِقَابِكُمْ تَقُوْلُوْنَ يَا مُحَّمَدُ يَا مُحَمَّدُ فَأَقُوْلُ هَكَذَا أَيْ أُعْرِضُ عَنْكُمْ“Wahai jama’ah suku Quraisy, janganlah orang-orang datang pada hari kiamat dengan membawa amal-amal sholeh sedangkan kalian kalian datang membawa dunia yang kalian pikul di atas leher-leher kalian, (lalu) kalian berkata : “Wahai Muhammad..wahai Muhammad !”, maka akupun berpaling dari kalian” (*HR At-Thobroni dan dinyatakan dho’if oleh Al-‘Irooqi dalam Al-Mughni ‘an haml Al-Asfaar)Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwasanya jika kaum suku Quraisy condong kepada dunia maka nasab Quraisy mereka tidak akan memberi manfaat bagi mereka.Tatkala turun firman Allahوَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ (٢١٤)“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS As-Syu’aroo : 214),Maka Nabipun memanggil rumpun-rumpun dari suku Quraisy hingga akhirnya beliau berkata :يَا فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ يَا صَفِيَّةُ بِنْتُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم اِعْمَلاَ لِأَنْفُسِكُمَا فَإِنِّي لاَ أُغْنِي عَنْكُمَا مِنَ اللهِ شَيْئًا“Wahai Fatimah putrid Muhammad, wahai Shofiyyah binti Abdil Muthholib bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya kalian berdua beramal sholeh untuk menyelamatkan kalian, karena sesungguhnya aku tidak bisa menolong kalian berdua sedikitpun” (HR Muslim no 206)Barangsiapa yang memahami perkara-perkara ini dan mengetahui bahwasanya kemuliaannya sesuai dengan kadar ketakwaannya dan kebiasaan leluhurnya/nenek moyangnya dahulu adalah tawaadlu’ maka ia akan meneladani mereka dalam ketakwaan dan ke-tawaadhu’-an, dan jika tidak maka ia telah mencela nasab dirinya sendiri dengan lisaan haal-nya bagaimanapun juga ia berafiliasi kepada leluhurnya namun tidak meniru mereka dalam sifat tawadhu’, ketakwaan, rasa khouf dan khawatir. (*yaitu sikapnya melazimkan ia mencela nasabnya meskipun lisannya mengaku menjunjung nasabnya-pen).(demikian perkataan Al-Gozali rahimahullah dalam Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/375-376)Kedua : Ujub terhadap keindahan tubuh dan parasnya.Al-Ghozaali berkata : “Yaitu ia ujub dengan badannya, tentang indahnya tubuh dan penampilannya serta sehat dan kuatnya tubuhnya, serta sepadannya bentuk tubuhnya dan indahnya paras, serta bagusnya suaranya. Secara global ia ujub dengan bentuk tubuhnya maka iapun melihat kepada indahnya dirinya dan lupa bahwa hal itu adalah nikmat dari Allah, serta lupa bahwa kenikmatan tersebut terancam untuk hilang dalam setiap saat.Obat untuk menyembuhkan ujub ini yaitu…merenungkan kotoran yang ada dalam tubuhnya…, dan ingat bahwasanya wajah-wajah yang indah dan tubuh-tubuh yang halus bagaimanapun akan hancur di tanah dan menjadi bau dalam kuburan hingga tabi’at manusiapun akan merasa jijik” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/374)Ketiga : Ujub dengan kekuatan.Al-Ghozali rahimahullah berkata, “Ujub dengan kekuatan, sebagaimana dihikayatkan dari kaum ‘Aad” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/374)Allah berfirman :فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ (١٥)Adapun kaum ‘Aad Maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” dan Apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) kami. (QS Fusshilat : 15)Keempat : Ujub dengan kecerdasan dan akalAl-Ghozali rahimahullah berkata : “Ujub dengan akal, kecerdasan, kecerdikan, dan kepandaian terhadap perkara-perkara yang pelik dari kemaslahatan agama dan dunia. Buah dari ujub ini adalah keras kepala dengan pendapatnya (*Silahkan lihat kembali tentang “NGEYEL” ) dan meninggalkan musyawarah, dan membodoh-bodohkan orang-orang yang menyelisihinya dan menyelisihi pendapatnya. Juga menyebabkan kurangnya ia mendengarkan para ulama, berpaling dari mereka karena merasa sudah cukup dengan pendapat, akal sendiri, dan merendahkan mereka.Obatnya adalah hendaknya ia bersyukur kepada Allah atas akal/kecerdasan yang telah Allah anugerahkan kepadanya, dan hendaknya ia merenungkan bahwasanya bisa saja dengan penyakit yang sangat ringan menyerang otaknya maka bagaimana akhirnya iapun menjadi orang yang terganggu dan gila sehingga jadi bahan tertawaan, maka hendaknya ia tidak merasa aman bahwa akalnya bisa dihilangkan oleh Allah jika ia ujub dengan akalnya lantas tidak menjalankan konsekuensi rasa syukur atas anugerah akalnya tersebut.Hendaknya ia merasa kurang akalnya dan sedikit ilmunya, dan hendaknya ia mengetahui bahwasanya ia tidak dianugerahi kecuali hanya sedikit ilmu. Meskipun ilmunya luas akan tetapi apa yang dia tidak ketahui dari perkara-perkara yang diketahui manusia lebih banyak dari apa yang diketahuinya, maka bagaimana lagi dengan ilmu dari Allah yang juga tidak diketahui oleh manusia?.Hendaknya ia mencurigai akalnya dan hendaknya ia melihat orang-orang dungu yang ta’jub dengan akal mereka padahal orang-orang menertawakan mereka, maka dia waspada jangan sampai ia termasuk orang-orang dungu tersebut tanpa dia sadari, karena seseorang yang akalnya pendek tidak sadar akan pendeknya akalnya, maka hendaknya ia mengetahui (*hakekat) kadar akalnya dari orang lain, bukan dari dirinya sendiri, dan mengetahui kadar akalnya dari musuh-musuhnya bukan dari teman-temannya, karena barangsiapa yang berbasa-basi dengannya akan memujinya sehingga akan menambah sikap ujubnya, padahal ia tidak memandang pada dirinya kecuali kebaikan, dan dia tidak sadar akan kebodohan dirinya, maka semakin bertambahlah ujubnya terhadap akalnya” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/375)Kelima : Ujub terhadap jumlah yang banyakAl-Ghozali rahimahullah berkata :“Ujub dengan jumlah yang banyak, baik banyaknya anak, atau banyaknya pembantu, keluarga, kerabat, banyaknya penolong maupun banyaknya pengikut. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang kafir :نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالا وَأَوْلادًا“Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu)” (QS Saba’ : 35)Sebagaimana juga yang dikatakan oleh kaum mukminin tatkala perang Hunain, “Kita tidak akan kalah pada hari ini karena sedikitnya pasukan”Obatnya penyakit ujub ini adalah…hendaknya ia merenungkan tentang lemahnya dirinya dan mereka (*yaitu banyaknya jumlah yang ia ujubkan-pen) juga lemah, dan seluruhnya adalah para hamba yang lemah yang tidak mampu memberikan kemanfaatan ataupun kemudhorotan bagi diri mereka sendiri.كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah” (QS Al-Baqoroh : 249)Lantas bagaimana ia bisa ujub dengan mereka (jumlah yang banyak tersebut)?, padahal mereka akan terpisah darinya, tatkala ia meninggal dan dikubur di dalam kuburannya dalam kondisi terhinakan, sendirian, tidak seorangpun yang akan menemaninya baik istri, anak, kerabat, sahabat, kabilah…, mereka semua menyerahkannya kepada kehancuran, kepada ular-ular, kalajengking, dan ulat-ulat. Mereka tidak akan bisa membantunya sama sekali justru pada saat dimana ia sangat membutuhkan mereka.Demikian pula mereka akan lari meninggalkannya tatkala hari kiamat..يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (٣٤)وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (٣٥)وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (٣٦)“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya” (QS Abasa : 34-36)Maka kebaikan apakah yang ada pada orang yang akan meninggalkanmu tatkala engkau dalam kondisi yang sangat kritis, dan dia lari darimu??, dan bagaimana engkau ujub dengannya? sementara tidak ada yang bisa membantumu di kuburan, pada hari kiamat, tatkala engkau berada di atas shiroth kecuali amalan sholehmu dan karunia Allah. Maka bagaimana engkau bersandar kepada orang yang tidak membantumu sementara engkau lupa karunia Dzat yang memiliki kemanfaatan dan menolak kemudhorotan dari dirimu dan berkuasa atas kematianmu dan kehidupanmu?Keenam : Ujub dengan hartaAl-Gozali rahimahullah berkata :“Ujub dengan harta sebagaimana firman Allah tentang si pemiliki dua kebun yang berkata :أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالا وَأَعَزُّ نَفَرًا (٣٤)“Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat” (QS Al-Kahfi : 34)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang yang kaya, lalu duduk di sampingnya seorang yang miskin, maka si kaya inipun mengumpulkan pakaiannya dan mau menjauh dari si miskin. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada si kaya :أَخَشِيْتَ أَنْ يَعْدُوَ إِلَيْكَ فَقْرُهُ“Apakah engkau takut kemiskinannya akan menular padamu?” (HR Ahmad dalam kitabnya Az-Zuhud)Si kaya melakukan demikian karena ia ujub dengan kekayaannya. Obat ujub ini adalah hendaknya dia merenungkan tentang akibat-akibat buruk dari harta, mengingat tentang betapa banyaknya hak-hak harta dan betapa besarnya bencana harta, dan hendaknya ia melihat kepada keutamaan orang-orang miskin dimana mereka lebih dahulu masuk surga pada hari kiamat, dan harta datang dan pergi tanpa tersisa, dan melihat bahwasanya diantara orang-orang yahudi ada yang hartanya lebih banyak daripada hartanya, dan hendaknya ia merenungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamبَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ فِي حُلَّةٍ لَهُ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ إِذْ أَمَرَ اللهُ الأَرْضَ فَأَخَذَتْهُ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“Tatkala ada seseorang yang berjalan dengan sombong dengan memakai pakaiannya (*yang indah) yang jiwanya dalam keadaan ujub maka Allah memerintahkan bumi sehingga menelannya, lalu iapun terombang-ambing dalam bumi hingga hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 5789 dan Muslim no 2088)Rasulullah mengisyaratkan tentang hukuman akibat ujub terhadap dirinya dan hartanya (*pakaiannya yang indah),Abu Dzar radhiallahu ‘anhu berkata:كُنْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ فَقَالَ لِي يَا أَبَا ذَرٍّ اِرْفَعْ رَأْسَكَ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا رَجُلٌ عَلَيْهِ ثِيَابٌ جِيَادٌ ثُمَّ قَالَ اِرْفَعْ رَأْسَكَ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا رَجُلٌ عَلَيْهِ ثِيَابٌ خلقة فَقَالَ لِي يَا أَبَا ذَرٍّ هَذَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ مِنْ قُرَابِ الْأَرْضِ مِثْلِ هَذَا“Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau masuk ke dalam masjid, lalu ia berkata kepadaku, “Wahai Abu Dzar angkatlah kepalamu!”, maka akupun mengangkat kepalaku tiba-tiba ada seorang yang memakai pakaian yang indah. Lalu Nabi berkata kepadaku, “Angkatlah kepalamu !”, maka akupun mengangkat kepalaku tiba-tiba ada seseorang yang memakai pakaian yang usang, maka Nabi berkata kepadaku, “Wahai Abu Dzar orang ini lebih baik di sisi Allah dari pada sepenuh bumi orang yang tadi” (HR Ibnu Hibba no 681, dan dishahihkan oleh Syu’aib Al-Arnauuth dan Al-Albani)Dan seluruh yang kami sebutkan dalam kitab Az-Zuhud, kitab Dzam ad-Dunya (mencela dunia), dan kitab Dzam Al-Maal (mencela harta) menjelaskan akan rendahnya orang-orang kaya dan mulianya orang-orang faqir di sisi Allah. Lantas bagaimana bisa terbayangkan ada seorang mukmin yang ujub dengan hartanya, akan tetapi seorang mukmin tidak akan lepas dari rasa takut karena tidak bisa menunaikan hak-hak harta dengan baik, yaitu mengambil harta dengan cara yang halal dan mengeluarkan harta sesuai pada tempatnya. Barangsiapa yang tidak melakukan demikian maka kesudahannya adalah pada kehinaan dan kebinasaan, maka bagaimana bisa ia ujub dengan hartanya?” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/377)Ketujuh : Ujub dengan pendapat yang salahAl-Ghozali rahimahullah berkata:“Allah berfirman :أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا“Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ?” (QS Faathir : 8)وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (١٠٤)“(Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini), sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (Qs Al-Kahfi : 104)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa ujub dengan pemikiran yang keliru akan mendominasi akhir umat ini. Karena hal ini maka binasalah umat-umat terdahulu tatkala mereka tercerai berai menjadi firqoh-firqoh, dan setiap firqoh ujub (ta’jub) dengan pemikirannya, dan..كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)” (QS Al-Mukminun : 53)Seluruh ahlul bid’ah dan seluruh pelaku kesesatan bersih keras di atas kesesatan dan bid’ah karena mereka ujub dengan pemikiran mereka, ujub dengan bid’ah, yaitu menganggap baik apa yang disetir oleh hawa nafsu dan syahwat disertai dengan persangkaan bahwa hal tersebut merupakan kebenaran.Obat untuk ujub ini lebih berat dari obat dari ujub-ujub yang lain, karena seorang pemilik pemikiran yang salah adalah bodoh dengan kesalahannya, kalau seandainya dia mengetahui kesalahannya tentunya dia akan meninggalkannya. Dan tidaklah bisa diobati penyakit yang tidak diketahui penyakitnya, dan kebodohan adalah penyakit yang tidak terdeteksi, maka jadilah sangat sulit untuk menyembuhkannya.Orang yang mengerti mampu untuk menjelaskan kepada orang yang bodoh akan hakekat kebodohannya dan mampu untuk menghilangkan kebodohan dari orang bodoh tersebut, kecuali jika orang yang bodoh tersebut ujub dengan pemikirannya dan kebodohannya, maka ia tidak akan memperhatikan penjelasan orang yang mengerti, bahkan ia akan menuduh orang yang mengerti tersebut. Maka sungguh Allah telah membuatnya terkuasai oleh bencana yang membinasakannya sementara dia menyangka bahwa bencana tersebut adalah kenikmatan…, lantas bagaimana mungkin mengobatinya??, bagaimana dia disuruh untuk kabur/lari dari perkara yang menurut keyakinannya adalah sebab kebahagiaannya.Akan tetapi cara pengobatan penyakitnya secara umum adalah hendaknya ia senantiasa mencurigai pemikirannya dan tidak terpedaya dengan pemikirannya tersebut kecuali jika ditunjukkan dengan dalil yang qot’i (pasti dan yakin) dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah atau dalil akal yang shahih yang telah memenuhi persyaratan dalil-dalil” (Ihyaa Uluumiddiin 3/378)Kedelapan : Ujub dengan bernasab/berafiliasi kepada para penguasa yang dzolim dan para pengikutnyaAl-Ghozali rahimahullah berkata :“Ujub dengan afiliasi kepada para penguasa yang dzolim dan anak buah mereka bukan dengan afiliasi kepada agama dan ilmu. Ini merupakan puncak kebodohan. Cara mengobatinya adalah hendaknya ia memikirkan tentang kerusakan dan kehinaan mereka, dan juga kedzoliman yang mereka lakukan kepada hamba-hamba Allah serta kerusakan terhadap agama Allah, dan mereka adalah orang-orang yang dimurkai di sisi Allah. Jika ia melihat kepada rupa mereka dalam api neraka dan bau busuk serta kotoran mereka di dalam neraka maka tentunya ia akan enggan dari mereka dan akan berlepas diri dari berafiliasi kepada mereka, bahkan akan mengingkari orang yang berafiliasi kepada mereka karena merasa jijik dan hina terhadap mereka. Kalau seandainya dinampakkan kehinaan dan kerendahan para penguasa tersebut pada hari kiamat, sementara orang-orang yang memusuhi mereka menuntut mereka sementara para malaikat memegang ubun-ubun mereka dan menyeret mereka di atas wajah-wajah mereka menuju neraka jahannam karena kedzoliman mereka kepada manusia, tentunya ia akan berlepas diri dari mereka. Dan jika ia  berafiliasi kepada anjing dan babi akan lebih ia sukai daripada berafiliasi kepada para penguasa tersebut. Maka wajib bagi anak keturunan para penguasa tersebut –jika dijaga oleh Allah dari perbuatan dzolim sebagaimana leluhur (ayah-ayah) mereka-  untuk bersyukur kepada Allah atas selamatnya agama mereka dan hendaknya mereka beristighfar untuk leluhur mereka jika leluhur mereka (para penguasa tersebut) adalah orang-orang Islam. Adapun ujub dengan bernasab/berafiliasi kepada leluhur mereka para penguasa tersebut maka itu merupakan murni kebodohan”. (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/376)Bersambung… Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 11-01-1433 H / 07 Desember 2011 MAbu Abdilmuhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Model-Model Ujub

Telah lalu pembahasan tentang ujub karena amalan sholeh (lihat “Kenapa Mesti Ujub” dan “Berjihad Memerangi Ujub”). Disana ada bentuk-bentuk ujub yang lain sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Haamid Al-Gozaali rahimahullah dalam kitabnya Ihyaa’ Uluumiddiin. Beliau rahimahullah menyebutkan ada 8 model ujub, yaitu : Pertama : Ujub dengan nasab yang tinggiAl-Ghozaali rahimahullah berkata : “Ujub dengan nasab yang mulia, sebagaimana ujubnya Al-Haasyimiyah (*yang merupakan ahlul bait), sampai-sampai sebagian mereka menyangka bisa selamat dengan kemuliaan nasabnya dan dengan selamatnya leluhur mereka, dan ia telah diampuni dosa-dosanya. Dan sebagian mereka mengkhayal bahwasanya seluruh manusia adalah budak-budaknya.Obat ujub ini adalah hendaknya ia mengetahui bahwasanya jika ia menyelisihi perbuatan dan akhlak leluhurnya dan ia menyangka bahwa ia akan ikut serta mereka maka ia adalah orang jahil. Jika ia meneladani leluhurnya maka ujub bukanlah termasuk akhlak leluhurnya, akan tetapi yang merupakan akhlak leluhurnya adalah rasa khouf (takut), merendahkan diri, menghormati manusia, dan mencela nafsu/jiwa mereka. Sungguh mereka (para leluhur) telah mencapai kemuliaan dengan ketaatan dan ilmu serta akhlak-akhlak yang terpuji. Mereka tidak meraih kemuliaan dengan nasab, maka hendaknya ia menjadi mulia dengan perkara-perkara yang menjadikan para leluhurnya mulia.Sungguh ada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir yang telah menyamai mereka dan menyertai mereka dari sisi nasab dan kabilah (suku), akan tetapi mereka di sisi Allah lebih buruk dari pada anjing-anjing dan lebih hina dari pada babi-babi. Karenanya Allah berfirman :يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan”Yaitu tidak ada tingkatan-tingkatan pada nasab-nasab kalian karena kalian berkumpul pada asal yang satu/sama. Kemudian Allah menyebutkan faedah nasab, maka Allah berfirmanوَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا“Dan Kami menjadikan kalian berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”Kemudian Allah menjelaskan bahwasanya kemuliaan adalah karena ketakwaan bukan karena nasab, maka Allah berfirmanإِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kalian” (QS Al-Hujuroot : 13)Tatkala dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟ مَنْ أَكْيَسُ النَّاسِ؟ (Siapakah orang yang paling mulia?, siapakah orang yang paling cerdas?), maka Rasulullah tidak berkata, “Orang yang paling mulia adalah orang yang nasabnya berarah ke nasabku”, akan tetapi Nabi berkata,أَكْرَمُهُمْ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَشَدُّهُمْ لَهُ اسِتِعْدَادًا“Orang yang paling mulia adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling kencang persiapannya untuk kematian” (*Hadits ini dengan lafal : أَيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ أَفْضَلُ؟ “Orang mukmin manakah yang paling afdol?” diriwayatkan oleh Ibnu Majah no 4249 dan dihasankan oleh Al-‘Irooqi dalam Al-Mughni, dan dihasankan oleh Al-Albani. Dan lafal ini semakna dengan lafal مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟  “Siapakah orang yang paling mulia?”. Lafal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyaa dalam kitabnya Makaarim Al-Akhlaaq hal 18*-pen)…Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ كُلُّكُمْ بَنُوْ آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ“Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan jahiliyah, kalian seluruhnya anak keturunan Adam, dan Adam dari tanah” (*HR Abu Dawud no 5116 dan At-Thirmidzi no 3270 dan dishahihkan oleh Al-Albani).Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لاَ تَأْتِي النَّاسُ بِالأَعْماَلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتَأْتُوْنَ بِالدُّنْيَا تَحْمِلُوْنَهَا عَلى رِقَابِكُمْ تَقُوْلُوْنَ يَا مُحَّمَدُ يَا مُحَمَّدُ فَأَقُوْلُ هَكَذَا أَيْ أُعْرِضُ عَنْكُمْ“Wahai jama’ah suku Quraisy, janganlah orang-orang datang pada hari kiamat dengan membawa amal-amal sholeh sedangkan kalian kalian datang membawa dunia yang kalian pikul di atas leher-leher kalian, (lalu) kalian berkata : “Wahai Muhammad..wahai Muhammad !”, maka akupun berpaling dari kalian” (*HR At-Thobroni dan dinyatakan dho’if oleh Al-‘Irooqi dalam Al-Mughni ‘an haml Al-Asfaar)Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwasanya jika kaum suku Quraisy condong kepada dunia maka nasab Quraisy mereka tidak akan memberi manfaat bagi mereka.Tatkala turun firman Allahوَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ (٢١٤)“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS As-Syu’aroo : 214),Maka Nabipun memanggil rumpun-rumpun dari suku Quraisy hingga akhirnya beliau berkata :يَا فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ يَا صَفِيَّةُ بِنْتُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم اِعْمَلاَ لِأَنْفُسِكُمَا فَإِنِّي لاَ أُغْنِي عَنْكُمَا مِنَ اللهِ شَيْئًا“Wahai Fatimah putrid Muhammad, wahai Shofiyyah binti Abdil Muthholib bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya kalian berdua beramal sholeh untuk menyelamatkan kalian, karena sesungguhnya aku tidak bisa menolong kalian berdua sedikitpun” (HR Muslim no 206)Barangsiapa yang memahami perkara-perkara ini dan mengetahui bahwasanya kemuliaannya sesuai dengan kadar ketakwaannya dan kebiasaan leluhurnya/nenek moyangnya dahulu adalah tawaadlu’ maka ia akan meneladani mereka dalam ketakwaan dan ke-tawaadhu’-an, dan jika tidak maka ia telah mencela nasab dirinya sendiri dengan lisaan haal-nya bagaimanapun juga ia berafiliasi kepada leluhurnya namun tidak meniru mereka dalam sifat tawadhu’, ketakwaan, rasa khouf dan khawatir. (*yaitu sikapnya melazimkan ia mencela nasabnya meskipun lisannya mengaku menjunjung nasabnya-pen).(demikian perkataan Al-Gozali rahimahullah dalam Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/375-376)Kedua : Ujub terhadap keindahan tubuh dan parasnya.Al-Ghozaali berkata : “Yaitu ia ujub dengan badannya, tentang indahnya tubuh dan penampilannya serta sehat dan kuatnya tubuhnya, serta sepadannya bentuk tubuhnya dan indahnya paras, serta bagusnya suaranya. Secara global ia ujub dengan bentuk tubuhnya maka iapun melihat kepada indahnya dirinya dan lupa bahwa hal itu adalah nikmat dari Allah, serta lupa bahwa kenikmatan tersebut terancam untuk hilang dalam setiap saat.Obat untuk menyembuhkan ujub ini yaitu…merenungkan kotoran yang ada dalam tubuhnya…, dan ingat bahwasanya wajah-wajah yang indah dan tubuh-tubuh yang halus bagaimanapun akan hancur di tanah dan menjadi bau dalam kuburan hingga tabi’at manusiapun akan merasa jijik” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/374)Ketiga : Ujub dengan kekuatan.Al-Ghozali rahimahullah berkata, “Ujub dengan kekuatan, sebagaimana dihikayatkan dari kaum ‘Aad” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/374)Allah berfirman :فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ (١٥)Adapun kaum ‘Aad Maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” dan Apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) kami. (QS Fusshilat : 15)Keempat : Ujub dengan kecerdasan dan akalAl-Ghozali rahimahullah berkata : “Ujub dengan akal, kecerdasan, kecerdikan, dan kepandaian terhadap perkara-perkara yang pelik dari kemaslahatan agama dan dunia. Buah dari ujub ini adalah keras kepala dengan pendapatnya (*Silahkan lihat kembali tentang “NGEYEL” ) dan meninggalkan musyawarah, dan membodoh-bodohkan orang-orang yang menyelisihinya dan menyelisihi pendapatnya. Juga menyebabkan kurangnya ia mendengarkan para ulama, berpaling dari mereka karena merasa sudah cukup dengan pendapat, akal sendiri, dan merendahkan mereka.Obatnya adalah hendaknya ia bersyukur kepada Allah atas akal/kecerdasan yang telah Allah anugerahkan kepadanya, dan hendaknya ia merenungkan bahwasanya bisa saja dengan penyakit yang sangat ringan menyerang otaknya maka bagaimana akhirnya iapun menjadi orang yang terganggu dan gila sehingga jadi bahan tertawaan, maka hendaknya ia tidak merasa aman bahwa akalnya bisa dihilangkan oleh Allah jika ia ujub dengan akalnya lantas tidak menjalankan konsekuensi rasa syukur atas anugerah akalnya tersebut.Hendaknya ia merasa kurang akalnya dan sedikit ilmunya, dan hendaknya ia mengetahui bahwasanya ia tidak dianugerahi kecuali hanya sedikit ilmu. Meskipun ilmunya luas akan tetapi apa yang dia tidak ketahui dari perkara-perkara yang diketahui manusia lebih banyak dari apa yang diketahuinya, maka bagaimana lagi dengan ilmu dari Allah yang juga tidak diketahui oleh manusia?.Hendaknya ia mencurigai akalnya dan hendaknya ia melihat orang-orang dungu yang ta’jub dengan akal mereka padahal orang-orang menertawakan mereka, maka dia waspada jangan sampai ia termasuk orang-orang dungu tersebut tanpa dia sadari, karena seseorang yang akalnya pendek tidak sadar akan pendeknya akalnya, maka hendaknya ia mengetahui (*hakekat) kadar akalnya dari orang lain, bukan dari dirinya sendiri, dan mengetahui kadar akalnya dari musuh-musuhnya bukan dari teman-temannya, karena barangsiapa yang berbasa-basi dengannya akan memujinya sehingga akan menambah sikap ujubnya, padahal ia tidak memandang pada dirinya kecuali kebaikan, dan dia tidak sadar akan kebodohan dirinya, maka semakin bertambahlah ujubnya terhadap akalnya” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/375)Kelima : Ujub terhadap jumlah yang banyakAl-Ghozali rahimahullah berkata :“Ujub dengan jumlah yang banyak, baik banyaknya anak, atau banyaknya pembantu, keluarga, kerabat, banyaknya penolong maupun banyaknya pengikut. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang kafir :نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالا وَأَوْلادًا“Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu)” (QS Saba’ : 35)Sebagaimana juga yang dikatakan oleh kaum mukminin tatkala perang Hunain, “Kita tidak akan kalah pada hari ini karena sedikitnya pasukan”Obatnya penyakit ujub ini adalah…hendaknya ia merenungkan tentang lemahnya dirinya dan mereka (*yaitu banyaknya jumlah yang ia ujubkan-pen) juga lemah, dan seluruhnya adalah para hamba yang lemah yang tidak mampu memberikan kemanfaatan ataupun kemudhorotan bagi diri mereka sendiri.كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah” (QS Al-Baqoroh : 249)Lantas bagaimana ia bisa ujub dengan mereka (jumlah yang banyak tersebut)?, padahal mereka akan terpisah darinya, tatkala ia meninggal dan dikubur di dalam kuburannya dalam kondisi terhinakan, sendirian, tidak seorangpun yang akan menemaninya baik istri, anak, kerabat, sahabat, kabilah…, mereka semua menyerahkannya kepada kehancuran, kepada ular-ular, kalajengking, dan ulat-ulat. Mereka tidak akan bisa membantunya sama sekali justru pada saat dimana ia sangat membutuhkan mereka.Demikian pula mereka akan lari meninggalkannya tatkala hari kiamat..يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (٣٤)وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (٣٥)وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (٣٦)“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya” (QS Abasa : 34-36)Maka kebaikan apakah yang ada pada orang yang akan meninggalkanmu tatkala engkau dalam kondisi yang sangat kritis, dan dia lari darimu??, dan bagaimana engkau ujub dengannya? sementara tidak ada yang bisa membantumu di kuburan, pada hari kiamat, tatkala engkau berada di atas shiroth kecuali amalan sholehmu dan karunia Allah. Maka bagaimana engkau bersandar kepada orang yang tidak membantumu sementara engkau lupa karunia Dzat yang memiliki kemanfaatan dan menolak kemudhorotan dari dirimu dan berkuasa atas kematianmu dan kehidupanmu?Keenam : Ujub dengan hartaAl-Gozali rahimahullah berkata :“Ujub dengan harta sebagaimana firman Allah tentang si pemiliki dua kebun yang berkata :أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالا وَأَعَزُّ نَفَرًا (٣٤)“Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat” (QS Al-Kahfi : 34)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang yang kaya, lalu duduk di sampingnya seorang yang miskin, maka si kaya inipun mengumpulkan pakaiannya dan mau menjauh dari si miskin. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada si kaya :أَخَشِيْتَ أَنْ يَعْدُوَ إِلَيْكَ فَقْرُهُ“Apakah engkau takut kemiskinannya akan menular padamu?” (HR Ahmad dalam kitabnya Az-Zuhud)Si kaya melakukan demikian karena ia ujub dengan kekayaannya. Obat ujub ini adalah hendaknya dia merenungkan tentang akibat-akibat buruk dari harta, mengingat tentang betapa banyaknya hak-hak harta dan betapa besarnya bencana harta, dan hendaknya ia melihat kepada keutamaan orang-orang miskin dimana mereka lebih dahulu masuk surga pada hari kiamat, dan harta datang dan pergi tanpa tersisa, dan melihat bahwasanya diantara orang-orang yahudi ada yang hartanya lebih banyak daripada hartanya, dan hendaknya ia merenungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamبَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ فِي حُلَّةٍ لَهُ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ إِذْ أَمَرَ اللهُ الأَرْضَ فَأَخَذَتْهُ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“Tatkala ada seseorang yang berjalan dengan sombong dengan memakai pakaiannya (*yang indah) yang jiwanya dalam keadaan ujub maka Allah memerintahkan bumi sehingga menelannya, lalu iapun terombang-ambing dalam bumi hingga hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 5789 dan Muslim no 2088)Rasulullah mengisyaratkan tentang hukuman akibat ujub terhadap dirinya dan hartanya (*pakaiannya yang indah),Abu Dzar radhiallahu ‘anhu berkata:كُنْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ فَقَالَ لِي يَا أَبَا ذَرٍّ اِرْفَعْ رَأْسَكَ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا رَجُلٌ عَلَيْهِ ثِيَابٌ جِيَادٌ ثُمَّ قَالَ اِرْفَعْ رَأْسَكَ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا رَجُلٌ عَلَيْهِ ثِيَابٌ خلقة فَقَالَ لِي يَا أَبَا ذَرٍّ هَذَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ مِنْ قُرَابِ الْأَرْضِ مِثْلِ هَذَا“Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau masuk ke dalam masjid, lalu ia berkata kepadaku, “Wahai Abu Dzar angkatlah kepalamu!”, maka akupun mengangkat kepalaku tiba-tiba ada seorang yang memakai pakaian yang indah. Lalu Nabi berkata kepadaku, “Angkatlah kepalamu !”, maka akupun mengangkat kepalaku tiba-tiba ada seseorang yang memakai pakaian yang usang, maka Nabi berkata kepadaku, “Wahai Abu Dzar orang ini lebih baik di sisi Allah dari pada sepenuh bumi orang yang tadi” (HR Ibnu Hibba no 681, dan dishahihkan oleh Syu’aib Al-Arnauuth dan Al-Albani)Dan seluruh yang kami sebutkan dalam kitab Az-Zuhud, kitab Dzam ad-Dunya (mencela dunia), dan kitab Dzam Al-Maal (mencela harta) menjelaskan akan rendahnya orang-orang kaya dan mulianya orang-orang faqir di sisi Allah. Lantas bagaimana bisa terbayangkan ada seorang mukmin yang ujub dengan hartanya, akan tetapi seorang mukmin tidak akan lepas dari rasa takut karena tidak bisa menunaikan hak-hak harta dengan baik, yaitu mengambil harta dengan cara yang halal dan mengeluarkan harta sesuai pada tempatnya. Barangsiapa yang tidak melakukan demikian maka kesudahannya adalah pada kehinaan dan kebinasaan, maka bagaimana bisa ia ujub dengan hartanya?” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/377)Ketujuh : Ujub dengan pendapat yang salahAl-Ghozali rahimahullah berkata:“Allah berfirman :أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا“Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ?” (QS Faathir : 8)وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (١٠٤)“(Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini), sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (Qs Al-Kahfi : 104)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa ujub dengan pemikiran yang keliru akan mendominasi akhir umat ini. Karena hal ini maka binasalah umat-umat terdahulu tatkala mereka tercerai berai menjadi firqoh-firqoh, dan setiap firqoh ujub (ta’jub) dengan pemikirannya, dan..كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)” (QS Al-Mukminun : 53)Seluruh ahlul bid’ah dan seluruh pelaku kesesatan bersih keras di atas kesesatan dan bid’ah karena mereka ujub dengan pemikiran mereka, ujub dengan bid’ah, yaitu menganggap baik apa yang disetir oleh hawa nafsu dan syahwat disertai dengan persangkaan bahwa hal tersebut merupakan kebenaran.Obat untuk ujub ini lebih berat dari obat dari ujub-ujub yang lain, karena seorang pemilik pemikiran yang salah adalah bodoh dengan kesalahannya, kalau seandainya dia mengetahui kesalahannya tentunya dia akan meninggalkannya. Dan tidaklah bisa diobati penyakit yang tidak diketahui penyakitnya, dan kebodohan adalah penyakit yang tidak terdeteksi, maka jadilah sangat sulit untuk menyembuhkannya.Orang yang mengerti mampu untuk menjelaskan kepada orang yang bodoh akan hakekat kebodohannya dan mampu untuk menghilangkan kebodohan dari orang bodoh tersebut, kecuali jika orang yang bodoh tersebut ujub dengan pemikirannya dan kebodohannya, maka ia tidak akan memperhatikan penjelasan orang yang mengerti, bahkan ia akan menuduh orang yang mengerti tersebut. Maka sungguh Allah telah membuatnya terkuasai oleh bencana yang membinasakannya sementara dia menyangka bahwa bencana tersebut adalah kenikmatan…, lantas bagaimana mungkin mengobatinya??, bagaimana dia disuruh untuk kabur/lari dari perkara yang menurut keyakinannya adalah sebab kebahagiaannya.Akan tetapi cara pengobatan penyakitnya secara umum adalah hendaknya ia senantiasa mencurigai pemikirannya dan tidak terpedaya dengan pemikirannya tersebut kecuali jika ditunjukkan dengan dalil yang qot’i (pasti dan yakin) dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah atau dalil akal yang shahih yang telah memenuhi persyaratan dalil-dalil” (Ihyaa Uluumiddiin 3/378)Kedelapan : Ujub dengan bernasab/berafiliasi kepada para penguasa yang dzolim dan para pengikutnyaAl-Ghozali rahimahullah berkata :“Ujub dengan afiliasi kepada para penguasa yang dzolim dan anak buah mereka bukan dengan afiliasi kepada agama dan ilmu. Ini merupakan puncak kebodohan. Cara mengobatinya adalah hendaknya ia memikirkan tentang kerusakan dan kehinaan mereka, dan juga kedzoliman yang mereka lakukan kepada hamba-hamba Allah serta kerusakan terhadap agama Allah, dan mereka adalah orang-orang yang dimurkai di sisi Allah. Jika ia melihat kepada rupa mereka dalam api neraka dan bau busuk serta kotoran mereka di dalam neraka maka tentunya ia akan enggan dari mereka dan akan berlepas diri dari berafiliasi kepada mereka, bahkan akan mengingkari orang yang berafiliasi kepada mereka karena merasa jijik dan hina terhadap mereka. Kalau seandainya dinampakkan kehinaan dan kerendahan para penguasa tersebut pada hari kiamat, sementara orang-orang yang memusuhi mereka menuntut mereka sementara para malaikat memegang ubun-ubun mereka dan menyeret mereka di atas wajah-wajah mereka menuju neraka jahannam karena kedzoliman mereka kepada manusia, tentunya ia akan berlepas diri dari mereka. Dan jika ia  berafiliasi kepada anjing dan babi akan lebih ia sukai daripada berafiliasi kepada para penguasa tersebut. Maka wajib bagi anak keturunan para penguasa tersebut –jika dijaga oleh Allah dari perbuatan dzolim sebagaimana leluhur (ayah-ayah) mereka-  untuk bersyukur kepada Allah atas selamatnya agama mereka dan hendaknya mereka beristighfar untuk leluhur mereka jika leluhur mereka (para penguasa tersebut) adalah orang-orang Islam. Adapun ujub dengan bernasab/berafiliasi kepada leluhur mereka para penguasa tersebut maka itu merupakan murni kebodohan”. (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/376)Bersambung… Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 11-01-1433 H / 07 Desember 2011 MAbu Abdilmuhsin Firanda Andirjawww.firanda.com
Telah lalu pembahasan tentang ujub karena amalan sholeh (lihat “Kenapa Mesti Ujub” dan “Berjihad Memerangi Ujub”). Disana ada bentuk-bentuk ujub yang lain sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Haamid Al-Gozaali rahimahullah dalam kitabnya Ihyaa’ Uluumiddiin. Beliau rahimahullah menyebutkan ada 8 model ujub, yaitu : Pertama : Ujub dengan nasab yang tinggiAl-Ghozaali rahimahullah berkata : “Ujub dengan nasab yang mulia, sebagaimana ujubnya Al-Haasyimiyah (*yang merupakan ahlul bait), sampai-sampai sebagian mereka menyangka bisa selamat dengan kemuliaan nasabnya dan dengan selamatnya leluhur mereka, dan ia telah diampuni dosa-dosanya. Dan sebagian mereka mengkhayal bahwasanya seluruh manusia adalah budak-budaknya.Obat ujub ini adalah hendaknya ia mengetahui bahwasanya jika ia menyelisihi perbuatan dan akhlak leluhurnya dan ia menyangka bahwa ia akan ikut serta mereka maka ia adalah orang jahil. Jika ia meneladani leluhurnya maka ujub bukanlah termasuk akhlak leluhurnya, akan tetapi yang merupakan akhlak leluhurnya adalah rasa khouf (takut), merendahkan diri, menghormati manusia, dan mencela nafsu/jiwa mereka. Sungguh mereka (para leluhur) telah mencapai kemuliaan dengan ketaatan dan ilmu serta akhlak-akhlak yang terpuji. Mereka tidak meraih kemuliaan dengan nasab, maka hendaknya ia menjadi mulia dengan perkara-perkara yang menjadikan para leluhurnya mulia.Sungguh ada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir yang telah menyamai mereka dan menyertai mereka dari sisi nasab dan kabilah (suku), akan tetapi mereka di sisi Allah lebih buruk dari pada anjing-anjing dan lebih hina dari pada babi-babi. Karenanya Allah berfirman :يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan”Yaitu tidak ada tingkatan-tingkatan pada nasab-nasab kalian karena kalian berkumpul pada asal yang satu/sama. Kemudian Allah menyebutkan faedah nasab, maka Allah berfirmanوَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا“Dan Kami menjadikan kalian berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”Kemudian Allah menjelaskan bahwasanya kemuliaan adalah karena ketakwaan bukan karena nasab, maka Allah berfirmanإِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kalian” (QS Al-Hujuroot : 13)Tatkala dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟ مَنْ أَكْيَسُ النَّاسِ؟ (Siapakah orang yang paling mulia?, siapakah orang yang paling cerdas?), maka Rasulullah tidak berkata, “Orang yang paling mulia adalah orang yang nasabnya berarah ke nasabku”, akan tetapi Nabi berkata,أَكْرَمُهُمْ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَشَدُّهُمْ لَهُ اسِتِعْدَادًا“Orang yang paling mulia adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling kencang persiapannya untuk kematian” (*Hadits ini dengan lafal : أَيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ أَفْضَلُ؟ “Orang mukmin manakah yang paling afdol?” diriwayatkan oleh Ibnu Majah no 4249 dan dihasankan oleh Al-‘Irooqi dalam Al-Mughni, dan dihasankan oleh Al-Albani. Dan lafal ini semakna dengan lafal مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟  “Siapakah orang yang paling mulia?”. Lafal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyaa dalam kitabnya Makaarim Al-Akhlaaq hal 18*-pen)…Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ كُلُّكُمْ بَنُوْ آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ“Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan jahiliyah, kalian seluruhnya anak keturunan Adam, dan Adam dari tanah” (*HR Abu Dawud no 5116 dan At-Thirmidzi no 3270 dan dishahihkan oleh Al-Albani).Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لاَ تَأْتِي النَّاسُ بِالأَعْماَلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتَأْتُوْنَ بِالدُّنْيَا تَحْمِلُوْنَهَا عَلى رِقَابِكُمْ تَقُوْلُوْنَ يَا مُحَّمَدُ يَا مُحَمَّدُ فَأَقُوْلُ هَكَذَا أَيْ أُعْرِضُ عَنْكُمْ“Wahai jama’ah suku Quraisy, janganlah orang-orang datang pada hari kiamat dengan membawa amal-amal sholeh sedangkan kalian kalian datang membawa dunia yang kalian pikul di atas leher-leher kalian, (lalu) kalian berkata : “Wahai Muhammad..wahai Muhammad !”, maka akupun berpaling dari kalian” (*HR At-Thobroni dan dinyatakan dho’if oleh Al-‘Irooqi dalam Al-Mughni ‘an haml Al-Asfaar)Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwasanya jika kaum suku Quraisy condong kepada dunia maka nasab Quraisy mereka tidak akan memberi manfaat bagi mereka.Tatkala turun firman Allahوَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ (٢١٤)“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS As-Syu’aroo : 214),Maka Nabipun memanggil rumpun-rumpun dari suku Quraisy hingga akhirnya beliau berkata :يَا فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ يَا صَفِيَّةُ بِنْتُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم اِعْمَلاَ لِأَنْفُسِكُمَا فَإِنِّي لاَ أُغْنِي عَنْكُمَا مِنَ اللهِ شَيْئًا“Wahai Fatimah putrid Muhammad, wahai Shofiyyah binti Abdil Muthholib bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya kalian berdua beramal sholeh untuk menyelamatkan kalian, karena sesungguhnya aku tidak bisa menolong kalian berdua sedikitpun” (HR Muslim no 206)Barangsiapa yang memahami perkara-perkara ini dan mengetahui bahwasanya kemuliaannya sesuai dengan kadar ketakwaannya dan kebiasaan leluhurnya/nenek moyangnya dahulu adalah tawaadlu’ maka ia akan meneladani mereka dalam ketakwaan dan ke-tawaadhu’-an, dan jika tidak maka ia telah mencela nasab dirinya sendiri dengan lisaan haal-nya bagaimanapun juga ia berafiliasi kepada leluhurnya namun tidak meniru mereka dalam sifat tawadhu’, ketakwaan, rasa khouf dan khawatir. (*yaitu sikapnya melazimkan ia mencela nasabnya meskipun lisannya mengaku menjunjung nasabnya-pen).(demikian perkataan Al-Gozali rahimahullah dalam Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/375-376)Kedua : Ujub terhadap keindahan tubuh dan parasnya.Al-Ghozaali berkata : “Yaitu ia ujub dengan badannya, tentang indahnya tubuh dan penampilannya serta sehat dan kuatnya tubuhnya, serta sepadannya bentuk tubuhnya dan indahnya paras, serta bagusnya suaranya. Secara global ia ujub dengan bentuk tubuhnya maka iapun melihat kepada indahnya dirinya dan lupa bahwa hal itu adalah nikmat dari Allah, serta lupa bahwa kenikmatan tersebut terancam untuk hilang dalam setiap saat.Obat untuk menyembuhkan ujub ini yaitu…merenungkan kotoran yang ada dalam tubuhnya…, dan ingat bahwasanya wajah-wajah yang indah dan tubuh-tubuh yang halus bagaimanapun akan hancur di tanah dan menjadi bau dalam kuburan hingga tabi’at manusiapun akan merasa jijik” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/374)Ketiga : Ujub dengan kekuatan.Al-Ghozali rahimahullah berkata, “Ujub dengan kekuatan, sebagaimana dihikayatkan dari kaum ‘Aad” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/374)Allah berfirman :فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ (١٥)Adapun kaum ‘Aad Maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” dan Apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) kami. (QS Fusshilat : 15)Keempat : Ujub dengan kecerdasan dan akalAl-Ghozali rahimahullah berkata : “Ujub dengan akal, kecerdasan, kecerdikan, dan kepandaian terhadap perkara-perkara yang pelik dari kemaslahatan agama dan dunia. Buah dari ujub ini adalah keras kepala dengan pendapatnya (*Silahkan lihat kembali tentang “NGEYEL” ) dan meninggalkan musyawarah, dan membodoh-bodohkan orang-orang yang menyelisihinya dan menyelisihi pendapatnya. Juga menyebabkan kurangnya ia mendengarkan para ulama, berpaling dari mereka karena merasa sudah cukup dengan pendapat, akal sendiri, dan merendahkan mereka.Obatnya adalah hendaknya ia bersyukur kepada Allah atas akal/kecerdasan yang telah Allah anugerahkan kepadanya, dan hendaknya ia merenungkan bahwasanya bisa saja dengan penyakit yang sangat ringan menyerang otaknya maka bagaimana akhirnya iapun menjadi orang yang terganggu dan gila sehingga jadi bahan tertawaan, maka hendaknya ia tidak merasa aman bahwa akalnya bisa dihilangkan oleh Allah jika ia ujub dengan akalnya lantas tidak menjalankan konsekuensi rasa syukur atas anugerah akalnya tersebut.Hendaknya ia merasa kurang akalnya dan sedikit ilmunya, dan hendaknya ia mengetahui bahwasanya ia tidak dianugerahi kecuali hanya sedikit ilmu. Meskipun ilmunya luas akan tetapi apa yang dia tidak ketahui dari perkara-perkara yang diketahui manusia lebih banyak dari apa yang diketahuinya, maka bagaimana lagi dengan ilmu dari Allah yang juga tidak diketahui oleh manusia?.Hendaknya ia mencurigai akalnya dan hendaknya ia melihat orang-orang dungu yang ta’jub dengan akal mereka padahal orang-orang menertawakan mereka, maka dia waspada jangan sampai ia termasuk orang-orang dungu tersebut tanpa dia sadari, karena seseorang yang akalnya pendek tidak sadar akan pendeknya akalnya, maka hendaknya ia mengetahui (*hakekat) kadar akalnya dari orang lain, bukan dari dirinya sendiri, dan mengetahui kadar akalnya dari musuh-musuhnya bukan dari teman-temannya, karena barangsiapa yang berbasa-basi dengannya akan memujinya sehingga akan menambah sikap ujubnya, padahal ia tidak memandang pada dirinya kecuali kebaikan, dan dia tidak sadar akan kebodohan dirinya, maka semakin bertambahlah ujubnya terhadap akalnya” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/375)Kelima : Ujub terhadap jumlah yang banyakAl-Ghozali rahimahullah berkata :“Ujub dengan jumlah yang banyak, baik banyaknya anak, atau banyaknya pembantu, keluarga, kerabat, banyaknya penolong maupun banyaknya pengikut. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang kafir :نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالا وَأَوْلادًا“Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu)” (QS Saba’ : 35)Sebagaimana juga yang dikatakan oleh kaum mukminin tatkala perang Hunain, “Kita tidak akan kalah pada hari ini karena sedikitnya pasukan”Obatnya penyakit ujub ini adalah…hendaknya ia merenungkan tentang lemahnya dirinya dan mereka (*yaitu banyaknya jumlah yang ia ujubkan-pen) juga lemah, dan seluruhnya adalah para hamba yang lemah yang tidak mampu memberikan kemanfaatan ataupun kemudhorotan bagi diri mereka sendiri.كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah” (QS Al-Baqoroh : 249)Lantas bagaimana ia bisa ujub dengan mereka (jumlah yang banyak tersebut)?, padahal mereka akan terpisah darinya, tatkala ia meninggal dan dikubur di dalam kuburannya dalam kondisi terhinakan, sendirian, tidak seorangpun yang akan menemaninya baik istri, anak, kerabat, sahabat, kabilah…, mereka semua menyerahkannya kepada kehancuran, kepada ular-ular, kalajengking, dan ulat-ulat. Mereka tidak akan bisa membantunya sama sekali justru pada saat dimana ia sangat membutuhkan mereka.Demikian pula mereka akan lari meninggalkannya tatkala hari kiamat..يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (٣٤)وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (٣٥)وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (٣٦)“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya” (QS Abasa : 34-36)Maka kebaikan apakah yang ada pada orang yang akan meninggalkanmu tatkala engkau dalam kondisi yang sangat kritis, dan dia lari darimu??, dan bagaimana engkau ujub dengannya? sementara tidak ada yang bisa membantumu di kuburan, pada hari kiamat, tatkala engkau berada di atas shiroth kecuali amalan sholehmu dan karunia Allah. Maka bagaimana engkau bersandar kepada orang yang tidak membantumu sementara engkau lupa karunia Dzat yang memiliki kemanfaatan dan menolak kemudhorotan dari dirimu dan berkuasa atas kematianmu dan kehidupanmu?Keenam : Ujub dengan hartaAl-Gozali rahimahullah berkata :“Ujub dengan harta sebagaimana firman Allah tentang si pemiliki dua kebun yang berkata :أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالا وَأَعَزُّ نَفَرًا (٣٤)“Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat” (QS Al-Kahfi : 34)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang yang kaya, lalu duduk di sampingnya seorang yang miskin, maka si kaya inipun mengumpulkan pakaiannya dan mau menjauh dari si miskin. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada si kaya :أَخَشِيْتَ أَنْ يَعْدُوَ إِلَيْكَ فَقْرُهُ“Apakah engkau takut kemiskinannya akan menular padamu?” (HR Ahmad dalam kitabnya Az-Zuhud)Si kaya melakukan demikian karena ia ujub dengan kekayaannya. Obat ujub ini adalah hendaknya dia merenungkan tentang akibat-akibat buruk dari harta, mengingat tentang betapa banyaknya hak-hak harta dan betapa besarnya bencana harta, dan hendaknya ia melihat kepada keutamaan orang-orang miskin dimana mereka lebih dahulu masuk surga pada hari kiamat, dan harta datang dan pergi tanpa tersisa, dan melihat bahwasanya diantara orang-orang yahudi ada yang hartanya lebih banyak daripada hartanya, dan hendaknya ia merenungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamبَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ فِي حُلَّةٍ لَهُ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ إِذْ أَمَرَ اللهُ الأَرْضَ فَأَخَذَتْهُ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“Tatkala ada seseorang yang berjalan dengan sombong dengan memakai pakaiannya (*yang indah) yang jiwanya dalam keadaan ujub maka Allah memerintahkan bumi sehingga menelannya, lalu iapun terombang-ambing dalam bumi hingga hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 5789 dan Muslim no 2088)Rasulullah mengisyaratkan tentang hukuman akibat ujub terhadap dirinya dan hartanya (*pakaiannya yang indah),Abu Dzar radhiallahu ‘anhu berkata:كُنْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ فَقَالَ لِي يَا أَبَا ذَرٍّ اِرْفَعْ رَأْسَكَ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا رَجُلٌ عَلَيْهِ ثِيَابٌ جِيَادٌ ثُمَّ قَالَ اِرْفَعْ رَأْسَكَ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا رَجُلٌ عَلَيْهِ ثِيَابٌ خلقة فَقَالَ لِي يَا أَبَا ذَرٍّ هَذَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ مِنْ قُرَابِ الْأَرْضِ مِثْلِ هَذَا“Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau masuk ke dalam masjid, lalu ia berkata kepadaku, “Wahai Abu Dzar angkatlah kepalamu!”, maka akupun mengangkat kepalaku tiba-tiba ada seorang yang memakai pakaian yang indah. Lalu Nabi berkata kepadaku, “Angkatlah kepalamu !”, maka akupun mengangkat kepalaku tiba-tiba ada seseorang yang memakai pakaian yang usang, maka Nabi berkata kepadaku, “Wahai Abu Dzar orang ini lebih baik di sisi Allah dari pada sepenuh bumi orang yang tadi” (HR Ibnu Hibba no 681, dan dishahihkan oleh Syu’aib Al-Arnauuth dan Al-Albani)Dan seluruh yang kami sebutkan dalam kitab Az-Zuhud, kitab Dzam ad-Dunya (mencela dunia), dan kitab Dzam Al-Maal (mencela harta) menjelaskan akan rendahnya orang-orang kaya dan mulianya orang-orang faqir di sisi Allah. Lantas bagaimana bisa terbayangkan ada seorang mukmin yang ujub dengan hartanya, akan tetapi seorang mukmin tidak akan lepas dari rasa takut karena tidak bisa menunaikan hak-hak harta dengan baik, yaitu mengambil harta dengan cara yang halal dan mengeluarkan harta sesuai pada tempatnya. Barangsiapa yang tidak melakukan demikian maka kesudahannya adalah pada kehinaan dan kebinasaan, maka bagaimana bisa ia ujub dengan hartanya?” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/377)Ketujuh : Ujub dengan pendapat yang salahAl-Ghozali rahimahullah berkata:“Allah berfirman :أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا“Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ?” (QS Faathir : 8)وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (١٠٤)“(Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini), sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (Qs Al-Kahfi : 104)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa ujub dengan pemikiran yang keliru akan mendominasi akhir umat ini. Karena hal ini maka binasalah umat-umat terdahulu tatkala mereka tercerai berai menjadi firqoh-firqoh, dan setiap firqoh ujub (ta’jub) dengan pemikirannya, dan..كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)” (QS Al-Mukminun : 53)Seluruh ahlul bid’ah dan seluruh pelaku kesesatan bersih keras di atas kesesatan dan bid’ah karena mereka ujub dengan pemikiran mereka, ujub dengan bid’ah, yaitu menganggap baik apa yang disetir oleh hawa nafsu dan syahwat disertai dengan persangkaan bahwa hal tersebut merupakan kebenaran.Obat untuk ujub ini lebih berat dari obat dari ujub-ujub yang lain, karena seorang pemilik pemikiran yang salah adalah bodoh dengan kesalahannya, kalau seandainya dia mengetahui kesalahannya tentunya dia akan meninggalkannya. Dan tidaklah bisa diobati penyakit yang tidak diketahui penyakitnya, dan kebodohan adalah penyakit yang tidak terdeteksi, maka jadilah sangat sulit untuk menyembuhkannya.Orang yang mengerti mampu untuk menjelaskan kepada orang yang bodoh akan hakekat kebodohannya dan mampu untuk menghilangkan kebodohan dari orang bodoh tersebut, kecuali jika orang yang bodoh tersebut ujub dengan pemikirannya dan kebodohannya, maka ia tidak akan memperhatikan penjelasan orang yang mengerti, bahkan ia akan menuduh orang yang mengerti tersebut. Maka sungguh Allah telah membuatnya terkuasai oleh bencana yang membinasakannya sementara dia menyangka bahwa bencana tersebut adalah kenikmatan…, lantas bagaimana mungkin mengobatinya??, bagaimana dia disuruh untuk kabur/lari dari perkara yang menurut keyakinannya adalah sebab kebahagiaannya.Akan tetapi cara pengobatan penyakitnya secara umum adalah hendaknya ia senantiasa mencurigai pemikirannya dan tidak terpedaya dengan pemikirannya tersebut kecuali jika ditunjukkan dengan dalil yang qot’i (pasti dan yakin) dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah atau dalil akal yang shahih yang telah memenuhi persyaratan dalil-dalil” (Ihyaa Uluumiddiin 3/378)Kedelapan : Ujub dengan bernasab/berafiliasi kepada para penguasa yang dzolim dan para pengikutnyaAl-Ghozali rahimahullah berkata :“Ujub dengan afiliasi kepada para penguasa yang dzolim dan anak buah mereka bukan dengan afiliasi kepada agama dan ilmu. Ini merupakan puncak kebodohan. Cara mengobatinya adalah hendaknya ia memikirkan tentang kerusakan dan kehinaan mereka, dan juga kedzoliman yang mereka lakukan kepada hamba-hamba Allah serta kerusakan terhadap agama Allah, dan mereka adalah orang-orang yang dimurkai di sisi Allah. Jika ia melihat kepada rupa mereka dalam api neraka dan bau busuk serta kotoran mereka di dalam neraka maka tentunya ia akan enggan dari mereka dan akan berlepas diri dari berafiliasi kepada mereka, bahkan akan mengingkari orang yang berafiliasi kepada mereka karena merasa jijik dan hina terhadap mereka. Kalau seandainya dinampakkan kehinaan dan kerendahan para penguasa tersebut pada hari kiamat, sementara orang-orang yang memusuhi mereka menuntut mereka sementara para malaikat memegang ubun-ubun mereka dan menyeret mereka di atas wajah-wajah mereka menuju neraka jahannam karena kedzoliman mereka kepada manusia, tentunya ia akan berlepas diri dari mereka. Dan jika ia  berafiliasi kepada anjing dan babi akan lebih ia sukai daripada berafiliasi kepada para penguasa tersebut. Maka wajib bagi anak keturunan para penguasa tersebut –jika dijaga oleh Allah dari perbuatan dzolim sebagaimana leluhur (ayah-ayah) mereka-  untuk bersyukur kepada Allah atas selamatnya agama mereka dan hendaknya mereka beristighfar untuk leluhur mereka jika leluhur mereka (para penguasa tersebut) adalah orang-orang Islam. Adapun ujub dengan bernasab/berafiliasi kepada leluhur mereka para penguasa tersebut maka itu merupakan murni kebodohan”. (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/376)Bersambung… Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 11-01-1433 H / 07 Desember 2011 MAbu Abdilmuhsin Firanda Andirjawww.firanda.com


Telah lalu pembahasan tentang ujub karena amalan sholeh (lihat “Kenapa Mesti Ujub” dan “Berjihad Memerangi Ujub”). Disana ada bentuk-bentuk ujub yang lain sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Haamid Al-Gozaali rahimahullah dalam kitabnya Ihyaa’ Uluumiddiin. Beliau rahimahullah menyebutkan ada 8 model ujub, yaitu : Pertama : Ujub dengan nasab yang tinggiAl-Ghozaali rahimahullah berkata : “Ujub dengan nasab yang mulia, sebagaimana ujubnya Al-Haasyimiyah (*yang merupakan ahlul bait), sampai-sampai sebagian mereka menyangka bisa selamat dengan kemuliaan nasabnya dan dengan selamatnya leluhur mereka, dan ia telah diampuni dosa-dosanya. Dan sebagian mereka mengkhayal bahwasanya seluruh manusia adalah budak-budaknya.Obat ujub ini adalah hendaknya ia mengetahui bahwasanya jika ia menyelisihi perbuatan dan akhlak leluhurnya dan ia menyangka bahwa ia akan ikut serta mereka maka ia adalah orang jahil. Jika ia meneladani leluhurnya maka ujub bukanlah termasuk akhlak leluhurnya, akan tetapi yang merupakan akhlak leluhurnya adalah rasa khouf (takut), merendahkan diri, menghormati manusia, dan mencela nafsu/jiwa mereka. Sungguh mereka (para leluhur) telah mencapai kemuliaan dengan ketaatan dan ilmu serta akhlak-akhlak yang terpuji. Mereka tidak meraih kemuliaan dengan nasab, maka hendaknya ia menjadi mulia dengan perkara-perkara yang menjadikan para leluhurnya mulia.Sungguh ada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir yang telah menyamai mereka dan menyertai mereka dari sisi nasab dan kabilah (suku), akan tetapi mereka di sisi Allah lebih buruk dari pada anjing-anjing dan lebih hina dari pada babi-babi. Karenanya Allah berfirman :يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan”Yaitu tidak ada tingkatan-tingkatan pada nasab-nasab kalian karena kalian berkumpul pada asal yang satu/sama. Kemudian Allah menyebutkan faedah nasab, maka Allah berfirmanوَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا“Dan Kami menjadikan kalian berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”Kemudian Allah menjelaskan bahwasanya kemuliaan adalah karena ketakwaan bukan karena nasab, maka Allah berfirmanإِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kalian” (QS Al-Hujuroot : 13)Tatkala dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟ مَنْ أَكْيَسُ النَّاسِ؟ (Siapakah orang yang paling mulia?, siapakah orang yang paling cerdas?), maka Rasulullah tidak berkata, “Orang yang paling mulia adalah orang yang nasabnya berarah ke nasabku”, akan tetapi Nabi berkata,أَكْرَمُهُمْ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَشَدُّهُمْ لَهُ اسِتِعْدَادًا“Orang yang paling mulia adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling kencang persiapannya untuk kematian” (*Hadits ini dengan lafal : أَيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ أَفْضَلُ؟ “Orang mukmin manakah yang paling afdol?” diriwayatkan oleh Ibnu Majah no 4249 dan dihasankan oleh Al-‘Irooqi dalam Al-Mughni, dan dihasankan oleh Al-Albani. Dan lafal ini semakna dengan lafal مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟  “Siapakah orang yang paling mulia?”. Lafal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyaa dalam kitabnya Makaarim Al-Akhlaaq hal 18*-pen)…Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ كُلُّكُمْ بَنُوْ آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ“Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan jahiliyah, kalian seluruhnya anak keturunan Adam, dan Adam dari tanah” (*HR Abu Dawud no 5116 dan At-Thirmidzi no 3270 dan dishahihkan oleh Al-Albani).Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لاَ تَأْتِي النَّاسُ بِالأَعْماَلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتَأْتُوْنَ بِالدُّنْيَا تَحْمِلُوْنَهَا عَلى رِقَابِكُمْ تَقُوْلُوْنَ يَا مُحَّمَدُ يَا مُحَمَّدُ فَأَقُوْلُ هَكَذَا أَيْ أُعْرِضُ عَنْكُمْ“Wahai jama’ah suku Quraisy, janganlah orang-orang datang pada hari kiamat dengan membawa amal-amal sholeh sedangkan kalian kalian datang membawa dunia yang kalian pikul di atas leher-leher kalian, (lalu) kalian berkata : “Wahai Muhammad..wahai Muhammad !”, maka akupun berpaling dari kalian” (*HR At-Thobroni dan dinyatakan dho’if oleh Al-‘Irooqi dalam Al-Mughni ‘an haml Al-Asfaar)Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwasanya jika kaum suku Quraisy condong kepada dunia maka nasab Quraisy mereka tidak akan memberi manfaat bagi mereka.Tatkala turun firman Allahوَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ (٢١٤)“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS As-Syu’aroo : 214),Maka Nabipun memanggil rumpun-rumpun dari suku Quraisy hingga akhirnya beliau berkata :يَا فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ يَا صَفِيَّةُ بِنْتُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم اِعْمَلاَ لِأَنْفُسِكُمَا فَإِنِّي لاَ أُغْنِي عَنْكُمَا مِنَ اللهِ شَيْئًا“Wahai Fatimah putrid Muhammad, wahai Shofiyyah binti Abdil Muthholib bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya kalian berdua beramal sholeh untuk menyelamatkan kalian, karena sesungguhnya aku tidak bisa menolong kalian berdua sedikitpun” (HR Muslim no 206)Barangsiapa yang memahami perkara-perkara ini dan mengetahui bahwasanya kemuliaannya sesuai dengan kadar ketakwaannya dan kebiasaan leluhurnya/nenek moyangnya dahulu adalah tawaadlu’ maka ia akan meneladani mereka dalam ketakwaan dan ke-tawaadhu’-an, dan jika tidak maka ia telah mencela nasab dirinya sendiri dengan lisaan haal-nya bagaimanapun juga ia berafiliasi kepada leluhurnya namun tidak meniru mereka dalam sifat tawadhu’, ketakwaan, rasa khouf dan khawatir. (*yaitu sikapnya melazimkan ia mencela nasabnya meskipun lisannya mengaku menjunjung nasabnya-pen).(demikian perkataan Al-Gozali rahimahullah dalam Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/375-376)Kedua : Ujub terhadap keindahan tubuh dan parasnya.Al-Ghozaali berkata : “Yaitu ia ujub dengan badannya, tentang indahnya tubuh dan penampilannya serta sehat dan kuatnya tubuhnya, serta sepadannya bentuk tubuhnya dan indahnya paras, serta bagusnya suaranya. Secara global ia ujub dengan bentuk tubuhnya maka iapun melihat kepada indahnya dirinya dan lupa bahwa hal itu adalah nikmat dari Allah, serta lupa bahwa kenikmatan tersebut terancam untuk hilang dalam setiap saat.Obat untuk menyembuhkan ujub ini yaitu…merenungkan kotoran yang ada dalam tubuhnya…, dan ingat bahwasanya wajah-wajah yang indah dan tubuh-tubuh yang halus bagaimanapun akan hancur di tanah dan menjadi bau dalam kuburan hingga tabi’at manusiapun akan merasa jijik” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/374)Ketiga : Ujub dengan kekuatan.Al-Ghozali rahimahullah berkata, “Ujub dengan kekuatan, sebagaimana dihikayatkan dari kaum ‘Aad” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/374)Allah berfirman :فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ (١٥)Adapun kaum ‘Aad Maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” dan Apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) kami. (QS Fusshilat : 15)Keempat : Ujub dengan kecerdasan dan akalAl-Ghozali rahimahullah berkata : “Ujub dengan akal, kecerdasan, kecerdikan, dan kepandaian terhadap perkara-perkara yang pelik dari kemaslahatan agama dan dunia. Buah dari ujub ini adalah keras kepala dengan pendapatnya (*Silahkan lihat kembali tentang “NGEYEL” ) dan meninggalkan musyawarah, dan membodoh-bodohkan orang-orang yang menyelisihinya dan menyelisihi pendapatnya. Juga menyebabkan kurangnya ia mendengarkan para ulama, berpaling dari mereka karena merasa sudah cukup dengan pendapat, akal sendiri, dan merendahkan mereka.Obatnya adalah hendaknya ia bersyukur kepada Allah atas akal/kecerdasan yang telah Allah anugerahkan kepadanya, dan hendaknya ia merenungkan bahwasanya bisa saja dengan penyakit yang sangat ringan menyerang otaknya maka bagaimana akhirnya iapun menjadi orang yang terganggu dan gila sehingga jadi bahan tertawaan, maka hendaknya ia tidak merasa aman bahwa akalnya bisa dihilangkan oleh Allah jika ia ujub dengan akalnya lantas tidak menjalankan konsekuensi rasa syukur atas anugerah akalnya tersebut.Hendaknya ia merasa kurang akalnya dan sedikit ilmunya, dan hendaknya ia mengetahui bahwasanya ia tidak dianugerahi kecuali hanya sedikit ilmu. Meskipun ilmunya luas akan tetapi apa yang dia tidak ketahui dari perkara-perkara yang diketahui manusia lebih banyak dari apa yang diketahuinya, maka bagaimana lagi dengan ilmu dari Allah yang juga tidak diketahui oleh manusia?.Hendaknya ia mencurigai akalnya dan hendaknya ia melihat orang-orang dungu yang ta’jub dengan akal mereka padahal orang-orang menertawakan mereka, maka dia waspada jangan sampai ia termasuk orang-orang dungu tersebut tanpa dia sadari, karena seseorang yang akalnya pendek tidak sadar akan pendeknya akalnya, maka hendaknya ia mengetahui (*hakekat) kadar akalnya dari orang lain, bukan dari dirinya sendiri, dan mengetahui kadar akalnya dari musuh-musuhnya bukan dari teman-temannya, karena barangsiapa yang berbasa-basi dengannya akan memujinya sehingga akan menambah sikap ujubnya, padahal ia tidak memandang pada dirinya kecuali kebaikan, dan dia tidak sadar akan kebodohan dirinya, maka semakin bertambahlah ujubnya terhadap akalnya” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/375)Kelima : Ujub terhadap jumlah yang banyakAl-Ghozali rahimahullah berkata :“Ujub dengan jumlah yang banyak, baik banyaknya anak, atau banyaknya pembantu, keluarga, kerabat, banyaknya penolong maupun banyaknya pengikut. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang kafir :نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالا وَأَوْلادًا“Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu)” (QS Saba’ : 35)Sebagaimana juga yang dikatakan oleh kaum mukminin tatkala perang Hunain, “Kita tidak akan kalah pada hari ini karena sedikitnya pasukan”Obatnya penyakit ujub ini adalah…hendaknya ia merenungkan tentang lemahnya dirinya dan mereka (*yaitu banyaknya jumlah yang ia ujubkan-pen) juga lemah, dan seluruhnya adalah para hamba yang lemah yang tidak mampu memberikan kemanfaatan ataupun kemudhorotan bagi diri mereka sendiri.كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah” (QS Al-Baqoroh : 249)Lantas bagaimana ia bisa ujub dengan mereka (jumlah yang banyak tersebut)?, padahal mereka akan terpisah darinya, tatkala ia meninggal dan dikubur di dalam kuburannya dalam kondisi terhinakan, sendirian, tidak seorangpun yang akan menemaninya baik istri, anak, kerabat, sahabat, kabilah…, mereka semua menyerahkannya kepada kehancuran, kepada ular-ular, kalajengking, dan ulat-ulat. Mereka tidak akan bisa membantunya sama sekali justru pada saat dimana ia sangat membutuhkan mereka.Demikian pula mereka akan lari meninggalkannya tatkala hari kiamat..يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (٣٤)وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (٣٥)وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (٣٦)“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya” (QS Abasa : 34-36)Maka kebaikan apakah yang ada pada orang yang akan meninggalkanmu tatkala engkau dalam kondisi yang sangat kritis, dan dia lari darimu??, dan bagaimana engkau ujub dengannya? sementara tidak ada yang bisa membantumu di kuburan, pada hari kiamat, tatkala engkau berada di atas shiroth kecuali amalan sholehmu dan karunia Allah. Maka bagaimana engkau bersandar kepada orang yang tidak membantumu sementara engkau lupa karunia Dzat yang memiliki kemanfaatan dan menolak kemudhorotan dari dirimu dan berkuasa atas kematianmu dan kehidupanmu?Keenam : Ujub dengan hartaAl-Gozali rahimahullah berkata :“Ujub dengan harta sebagaimana firman Allah tentang si pemiliki dua kebun yang berkata :أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالا وَأَعَزُّ نَفَرًا (٣٤)“Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat” (QS Al-Kahfi : 34)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang yang kaya, lalu duduk di sampingnya seorang yang miskin, maka si kaya inipun mengumpulkan pakaiannya dan mau menjauh dari si miskin. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada si kaya :أَخَشِيْتَ أَنْ يَعْدُوَ إِلَيْكَ فَقْرُهُ“Apakah engkau takut kemiskinannya akan menular padamu?” (HR Ahmad dalam kitabnya Az-Zuhud)Si kaya melakukan demikian karena ia ujub dengan kekayaannya. Obat ujub ini adalah hendaknya dia merenungkan tentang akibat-akibat buruk dari harta, mengingat tentang betapa banyaknya hak-hak harta dan betapa besarnya bencana harta, dan hendaknya ia melihat kepada keutamaan orang-orang miskin dimana mereka lebih dahulu masuk surga pada hari kiamat, dan harta datang dan pergi tanpa tersisa, dan melihat bahwasanya diantara orang-orang yahudi ada yang hartanya lebih banyak daripada hartanya, dan hendaknya ia merenungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamبَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ فِي حُلَّةٍ لَهُ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ إِذْ أَمَرَ اللهُ الأَرْضَ فَأَخَذَتْهُ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“Tatkala ada seseorang yang berjalan dengan sombong dengan memakai pakaiannya (*yang indah) yang jiwanya dalam keadaan ujub maka Allah memerintahkan bumi sehingga menelannya, lalu iapun terombang-ambing dalam bumi hingga hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 5789 dan Muslim no 2088)Rasulullah mengisyaratkan tentang hukuman akibat ujub terhadap dirinya dan hartanya (*pakaiannya yang indah),Abu Dzar radhiallahu ‘anhu berkata:كُنْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ فَقَالَ لِي يَا أَبَا ذَرٍّ اِرْفَعْ رَأْسَكَ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا رَجُلٌ عَلَيْهِ ثِيَابٌ جِيَادٌ ثُمَّ قَالَ اِرْفَعْ رَأْسَكَ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا رَجُلٌ عَلَيْهِ ثِيَابٌ خلقة فَقَالَ لِي يَا أَبَا ذَرٍّ هَذَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ مِنْ قُرَابِ الْأَرْضِ مِثْلِ هَذَا“Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau masuk ke dalam masjid, lalu ia berkata kepadaku, “Wahai Abu Dzar angkatlah kepalamu!”, maka akupun mengangkat kepalaku tiba-tiba ada seorang yang memakai pakaian yang indah. Lalu Nabi berkata kepadaku, “Angkatlah kepalamu !”, maka akupun mengangkat kepalaku tiba-tiba ada seseorang yang memakai pakaian yang usang, maka Nabi berkata kepadaku, “Wahai Abu Dzar orang ini lebih baik di sisi Allah dari pada sepenuh bumi orang yang tadi” (HR Ibnu Hibba no 681, dan dishahihkan oleh Syu’aib Al-Arnauuth dan Al-Albani)Dan seluruh yang kami sebutkan dalam kitab Az-Zuhud, kitab Dzam ad-Dunya (mencela dunia), dan kitab Dzam Al-Maal (mencela harta) menjelaskan akan rendahnya orang-orang kaya dan mulianya orang-orang faqir di sisi Allah. Lantas bagaimana bisa terbayangkan ada seorang mukmin yang ujub dengan hartanya, akan tetapi seorang mukmin tidak akan lepas dari rasa takut karena tidak bisa menunaikan hak-hak harta dengan baik, yaitu mengambil harta dengan cara yang halal dan mengeluarkan harta sesuai pada tempatnya. Barangsiapa yang tidak melakukan demikian maka kesudahannya adalah pada kehinaan dan kebinasaan, maka bagaimana bisa ia ujub dengan hartanya?” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/377)Ketujuh : Ujub dengan pendapat yang salahAl-Ghozali rahimahullah berkata:“Allah berfirman :أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا“Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ?” (QS Faathir : 8)وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (١٠٤)“(Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini), sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (Qs Al-Kahfi : 104)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa ujub dengan pemikiran yang keliru akan mendominasi akhir umat ini. Karena hal ini maka binasalah umat-umat terdahulu tatkala mereka tercerai berai menjadi firqoh-firqoh, dan setiap firqoh ujub (ta’jub) dengan pemikirannya, dan..كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)” (QS Al-Mukminun : 53)Seluruh ahlul bid’ah dan seluruh pelaku kesesatan bersih keras di atas kesesatan dan bid’ah karena mereka ujub dengan pemikiran mereka, ujub dengan bid’ah, yaitu menganggap baik apa yang disetir oleh hawa nafsu dan syahwat disertai dengan persangkaan bahwa hal tersebut merupakan kebenaran.Obat untuk ujub ini lebih berat dari obat dari ujub-ujub yang lain, karena seorang pemilik pemikiran yang salah adalah bodoh dengan kesalahannya, kalau seandainya dia mengetahui kesalahannya tentunya dia akan meninggalkannya. Dan tidaklah bisa diobati penyakit yang tidak diketahui penyakitnya, dan kebodohan adalah penyakit yang tidak terdeteksi, maka jadilah sangat sulit untuk menyembuhkannya.Orang yang mengerti mampu untuk menjelaskan kepada orang yang bodoh akan hakekat kebodohannya dan mampu untuk menghilangkan kebodohan dari orang bodoh tersebut, kecuali jika orang yang bodoh tersebut ujub dengan pemikirannya dan kebodohannya, maka ia tidak akan memperhatikan penjelasan orang yang mengerti, bahkan ia akan menuduh orang yang mengerti tersebut. Maka sungguh Allah telah membuatnya terkuasai oleh bencana yang membinasakannya sementara dia menyangka bahwa bencana tersebut adalah kenikmatan…, lantas bagaimana mungkin mengobatinya??, bagaimana dia disuruh untuk kabur/lari dari perkara yang menurut keyakinannya adalah sebab kebahagiaannya.Akan tetapi cara pengobatan penyakitnya secara umum adalah hendaknya ia senantiasa mencurigai pemikirannya dan tidak terpedaya dengan pemikirannya tersebut kecuali jika ditunjukkan dengan dalil yang qot’i (pasti dan yakin) dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah atau dalil akal yang shahih yang telah memenuhi persyaratan dalil-dalil” (Ihyaa Uluumiddiin 3/378)Kedelapan : Ujub dengan bernasab/berafiliasi kepada para penguasa yang dzolim dan para pengikutnyaAl-Ghozali rahimahullah berkata :“Ujub dengan afiliasi kepada para penguasa yang dzolim dan anak buah mereka bukan dengan afiliasi kepada agama dan ilmu. Ini merupakan puncak kebodohan. Cara mengobatinya adalah hendaknya ia memikirkan tentang kerusakan dan kehinaan mereka, dan juga kedzoliman yang mereka lakukan kepada hamba-hamba Allah serta kerusakan terhadap agama Allah, dan mereka adalah orang-orang yang dimurkai di sisi Allah. Jika ia melihat kepada rupa mereka dalam api neraka dan bau busuk serta kotoran mereka di dalam neraka maka tentunya ia akan enggan dari mereka dan akan berlepas diri dari berafiliasi kepada mereka, bahkan akan mengingkari orang yang berafiliasi kepada mereka karena merasa jijik dan hina terhadap mereka. Kalau seandainya dinampakkan kehinaan dan kerendahan para penguasa tersebut pada hari kiamat, sementara orang-orang yang memusuhi mereka menuntut mereka sementara para malaikat memegang ubun-ubun mereka dan menyeret mereka di atas wajah-wajah mereka menuju neraka jahannam karena kedzoliman mereka kepada manusia, tentunya ia akan berlepas diri dari mereka. Dan jika ia  berafiliasi kepada anjing dan babi akan lebih ia sukai daripada berafiliasi kepada para penguasa tersebut. Maka wajib bagi anak keturunan para penguasa tersebut –jika dijaga oleh Allah dari perbuatan dzolim sebagaimana leluhur (ayah-ayah) mereka-  untuk bersyukur kepada Allah atas selamatnya agama mereka dan hendaknya mereka beristighfar untuk leluhur mereka jika leluhur mereka (para penguasa tersebut) adalah orang-orang Islam. Adapun ujub dengan bernasab/berafiliasi kepada leluhur mereka para penguasa tersebut maka itu merupakan murni kebodohan”. (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/376)Bersambung… Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 11-01-1433 H / 07 Desember 2011 MAbu Abdilmuhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Antara Suami dan Ibu

Seringkali seorang istri tatkala berbuat baik, tunduk dan patuh kepada ayah dan ibunya maka ia merasa telah benar-benar beramal sholeh, maka bisakah ia menghadirkan perasaan ini tatkala ia tunduk, patuh, dan berbuat baik kepada suaminya?. Tatkala ia berbakti kepada suaminya seakan-akan ia berbakti kepada kedua ibunya?? Seringkali seorang istri merasa telah terjerumus dalam dosa besar tatkala tidak patuh dan tatkala menyakiti hati kedua orangnya, maka apakah ia juga merasakan telah terjerumus dalam dosa besar tatkala tidak patuh, tidak taat, serta tatkala menyakiti dan menyedihkan hati suaminya?. Bukankah para ulama telah menjelaskan bahwa seorang istri harus lebih berbakti kepada suaminya daripada kedua orang tuanya?? Semoga Allah menjadikan para istri-istri sholehah lebih semangat dalam berbakti kepada suami-suami mereka…sungguh keridhoan suami-suami mereka adalah kunci untuk membuka pintu-pintu surga, aamiiin

Antara Suami dan Ibu

Seringkali seorang istri tatkala berbuat baik, tunduk dan patuh kepada ayah dan ibunya maka ia merasa telah benar-benar beramal sholeh, maka bisakah ia menghadirkan perasaan ini tatkala ia tunduk, patuh, dan berbuat baik kepada suaminya?. Tatkala ia berbakti kepada suaminya seakan-akan ia berbakti kepada kedua ibunya?? Seringkali seorang istri merasa telah terjerumus dalam dosa besar tatkala tidak patuh dan tatkala menyakiti hati kedua orangnya, maka apakah ia juga merasakan telah terjerumus dalam dosa besar tatkala tidak patuh, tidak taat, serta tatkala menyakiti dan menyedihkan hati suaminya?. Bukankah para ulama telah menjelaskan bahwa seorang istri harus lebih berbakti kepada suaminya daripada kedua orang tuanya?? Semoga Allah menjadikan para istri-istri sholehah lebih semangat dalam berbakti kepada suami-suami mereka…sungguh keridhoan suami-suami mereka adalah kunci untuk membuka pintu-pintu surga, aamiiin
Seringkali seorang istri tatkala berbuat baik, tunduk dan patuh kepada ayah dan ibunya maka ia merasa telah benar-benar beramal sholeh, maka bisakah ia menghadirkan perasaan ini tatkala ia tunduk, patuh, dan berbuat baik kepada suaminya?. Tatkala ia berbakti kepada suaminya seakan-akan ia berbakti kepada kedua ibunya?? Seringkali seorang istri merasa telah terjerumus dalam dosa besar tatkala tidak patuh dan tatkala menyakiti hati kedua orangnya, maka apakah ia juga merasakan telah terjerumus dalam dosa besar tatkala tidak patuh, tidak taat, serta tatkala menyakiti dan menyedihkan hati suaminya?. Bukankah para ulama telah menjelaskan bahwa seorang istri harus lebih berbakti kepada suaminya daripada kedua orang tuanya?? Semoga Allah menjadikan para istri-istri sholehah lebih semangat dalam berbakti kepada suami-suami mereka…sungguh keridhoan suami-suami mereka adalah kunci untuk membuka pintu-pintu surga, aamiiin


Seringkali seorang istri tatkala berbuat baik, tunduk dan patuh kepada ayah dan ibunya maka ia merasa telah benar-benar beramal sholeh, maka bisakah ia menghadirkan perasaan ini tatkala ia tunduk, patuh, dan berbuat baik kepada suaminya?. Tatkala ia berbakti kepada suaminya seakan-akan ia berbakti kepada kedua ibunya?? Seringkali seorang istri merasa telah terjerumus dalam dosa besar tatkala tidak patuh dan tatkala menyakiti hati kedua orangnya, maka apakah ia juga merasakan telah terjerumus dalam dosa besar tatkala tidak patuh, tidak taat, serta tatkala menyakiti dan menyedihkan hati suaminya?. Bukankah para ulama telah menjelaskan bahwa seorang istri harus lebih berbakti kepada suaminya daripada kedua orang tuanya?? Semoga Allah menjadikan para istri-istri sholehah lebih semangat dalam berbakti kepada suami-suami mereka…sungguh keridhoan suami-suami mereka adalah kunci untuk membuka pintu-pintu surga, aamiiin

Halalkah Belalang?

Di desa kami, di Gunung Kidul pada musim tertentu ada yang sering menjual walang atau belalang. Halalkah belalang? Para ulama menjelaskan, boleh memakan belalang walau sudah menjadi bangkai. Binatang ini halal sebagaimana terdapat dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ “Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.”  (HR. Ahmad 2:97 dan Ibnu Majah no. 3314. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Bagaimana cara menyembelih belalang tadi? Jawabnya, belalang tadi jika mati dengan sendirinya, sudahlah halal sehingga tidak butuh pada penyembelihan khusus karena bangkainya saja suci. Imam Nawawi berkata, ويحل السمك والجراد من غير ذكاة “Ikan dan belalang itu halal dimakan walau tidak lewat proses penyembelihan.” Lalu beliau rahimahullah berkata, “Dan tidak mungkin berdasarkan kebiasaan untuk menyembelih ikan dan belalang, maka penyembelihan keduanya tidak diperlukan.” (Al Majmu’, 9: 72) [Faedah dari bahasan islamweb.net] Wallahu a’lam. @ Ummul Hamam, Riyadh KSA in the blessed morning Yauma ‘Asyura, 10 Muharram 1433 H www.rumayhso.com Baca Juga: Halalkah Bekicot dan Keong? Hukum Ulat dalam Makanan

Halalkah Belalang?

Di desa kami, di Gunung Kidul pada musim tertentu ada yang sering menjual walang atau belalang. Halalkah belalang? Para ulama menjelaskan, boleh memakan belalang walau sudah menjadi bangkai. Binatang ini halal sebagaimana terdapat dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ “Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.”  (HR. Ahmad 2:97 dan Ibnu Majah no. 3314. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Bagaimana cara menyembelih belalang tadi? Jawabnya, belalang tadi jika mati dengan sendirinya, sudahlah halal sehingga tidak butuh pada penyembelihan khusus karena bangkainya saja suci. Imam Nawawi berkata, ويحل السمك والجراد من غير ذكاة “Ikan dan belalang itu halal dimakan walau tidak lewat proses penyembelihan.” Lalu beliau rahimahullah berkata, “Dan tidak mungkin berdasarkan kebiasaan untuk menyembelih ikan dan belalang, maka penyembelihan keduanya tidak diperlukan.” (Al Majmu’, 9: 72) [Faedah dari bahasan islamweb.net] Wallahu a’lam. @ Ummul Hamam, Riyadh KSA in the blessed morning Yauma ‘Asyura, 10 Muharram 1433 H www.rumayhso.com Baca Juga: Halalkah Bekicot dan Keong? Hukum Ulat dalam Makanan
Di desa kami, di Gunung Kidul pada musim tertentu ada yang sering menjual walang atau belalang. Halalkah belalang? Para ulama menjelaskan, boleh memakan belalang walau sudah menjadi bangkai. Binatang ini halal sebagaimana terdapat dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ “Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.”  (HR. Ahmad 2:97 dan Ibnu Majah no. 3314. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Bagaimana cara menyembelih belalang tadi? Jawabnya, belalang tadi jika mati dengan sendirinya, sudahlah halal sehingga tidak butuh pada penyembelihan khusus karena bangkainya saja suci. Imam Nawawi berkata, ويحل السمك والجراد من غير ذكاة “Ikan dan belalang itu halal dimakan walau tidak lewat proses penyembelihan.” Lalu beliau rahimahullah berkata, “Dan tidak mungkin berdasarkan kebiasaan untuk menyembelih ikan dan belalang, maka penyembelihan keduanya tidak diperlukan.” (Al Majmu’, 9: 72) [Faedah dari bahasan islamweb.net] Wallahu a’lam. @ Ummul Hamam, Riyadh KSA in the blessed morning Yauma ‘Asyura, 10 Muharram 1433 H www.rumayhso.com Baca Juga: Halalkah Bekicot dan Keong? Hukum Ulat dalam Makanan


Di desa kami, di Gunung Kidul pada musim tertentu ada yang sering menjual walang atau belalang. Halalkah belalang? Para ulama menjelaskan, boleh memakan belalang walau sudah menjadi bangkai. Binatang ini halal sebagaimana terdapat dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ “Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.”  (HR. Ahmad 2:97 dan Ibnu Majah no. 3314. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Bagaimana cara menyembelih belalang tadi? Jawabnya, belalang tadi jika mati dengan sendirinya, sudahlah halal sehingga tidak butuh pada penyembelihan khusus karena bangkainya saja suci. Imam Nawawi berkata, ويحل السمك والجراد من غير ذكاة “Ikan dan belalang itu halal dimakan walau tidak lewat proses penyembelihan.” Lalu beliau rahimahullah berkata, “Dan tidak mungkin berdasarkan kebiasaan untuk menyembelih ikan dan belalang, maka penyembelihan keduanya tidak diperlukan.” (Al Majmu’, 9: 72) [Faedah dari bahasan islamweb.net] Wallahu a’lam. @ Ummul Hamam, Riyadh KSA in the blessed morning Yauma ‘Asyura, 10 Muharram 1433 H www.rumayhso.com Baca Juga: Halalkah Bekicot dan Keong? Hukum Ulat dalam Makanan

Sujud Aneh Orang Syi’ah pada Tanah dari Karbala

Ini salah satu kebiasaan orang Syi’ah di mana mereka melakukan perbuatan yang sangat aneh. Mereka dapati tanah di tanah Karbala’, lalu mereka kumpulkan dan ketika shalat tanah tersebut dijadikan sebagai tempat sujud. Tanah tersebut disebut at turbah al husainiyyah karena di Karbala mereka mengenang kematian Husain dengan melakukan perbuatan mencabik-cabik dan memotong-motong kulit mereka sendiri. Hal ini dilakukan pada hari Asyura (10 Muharram) saat ini. Perbuatan yang jelas melampaui batas dalam rangka mengenang kematian Husain dengan rasa penuh kesedihan. Mengenang seperti ini jelas termasuk perbuatan yang diharamkan dan dinilai bid’ah. Lalu bagaimana hukum sujud dengan tanah dari Karbala’? Berikut pandangan ulama mengenai perbuatan Rafidhah (baca: Syi’ah) ini. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, mufti di Kerajaan Saudi Arabia di masa silam ditanya, “Bolehkah shalat di tanah dan apa faedahnya di pertengahan shalat?” Syaikh rahimahullah menjawab, Sepertinya si penanya memaksudkan tanah yang biasa jadi kebiasaan orang syi’ah yaitu yang diklaim berasal dari Karbala’, lalu mereka sujud pada tanah tersebut. Perlu diketahui bahwa perbuatan semacam ini tidak ada tuntunannya dalam Islam (baca: bid’ah) dan tidak boleh shalat pada tanah tersebut. Akan tetapi, shalat yang dilakukan tidaklah batal. Jika ia meletakkan dahi dan hidungnya pada tanah tersebut, shalatnya tidaklah batal. Perbuatan tersebut sekali lagi adalah bid’ah, tidak boleh dilakukan. Inilah di antara amalan yang mengada-ada dari orang Syi’ah dan mereka terlalu berlebih-lebihan dalam hal itu. Semoga Allah memberi kita petunjuk dan melindungi kita dari godaan setan yang akan menjerumuskan kita dalam bid’ah semacam ini. Perlu diketahui bahwa seorang mukmin tidak perlu capek-capek memindahkan tanah dari satu tempat ke tempat lain. Hendaklah seorang mukmin shalat sesuai kemudahan yang ia dapati. Jika didapati kulit, maka ia shalat di atasnya. Jika didapati pasir, hendaklah ia shalat di atas pasir. Jika di masjid terdapat karpet, hendaklah ia shalat di atas karpet tersebut dan tidak perlu bersusah payah membawa batu, tanah, potongan kayu atau selainnya. Bersusah payah sujud di atas benda-benda tadi adalah bagian dari bid’ah yang tidak ada asal-usulnya. [Diterjemahkan dari web resmi Syaikh Ibnu Baz: http://www.binbaz.org.sa/mat/14698] @ Sabic Lab in the afternoon Riyadh, KSA, 9 Muharram 1432 H www.rumaysho.com Baca Juga: Kelakuan Sesat Syi’ah di Hari ‘Asyura Shalat di Belakang Orang Syi’ah Tagscara sujud

Sujud Aneh Orang Syi’ah pada Tanah dari Karbala

Ini salah satu kebiasaan orang Syi’ah di mana mereka melakukan perbuatan yang sangat aneh. Mereka dapati tanah di tanah Karbala’, lalu mereka kumpulkan dan ketika shalat tanah tersebut dijadikan sebagai tempat sujud. Tanah tersebut disebut at turbah al husainiyyah karena di Karbala mereka mengenang kematian Husain dengan melakukan perbuatan mencabik-cabik dan memotong-motong kulit mereka sendiri. Hal ini dilakukan pada hari Asyura (10 Muharram) saat ini. Perbuatan yang jelas melampaui batas dalam rangka mengenang kematian Husain dengan rasa penuh kesedihan. Mengenang seperti ini jelas termasuk perbuatan yang diharamkan dan dinilai bid’ah. Lalu bagaimana hukum sujud dengan tanah dari Karbala’? Berikut pandangan ulama mengenai perbuatan Rafidhah (baca: Syi’ah) ini. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, mufti di Kerajaan Saudi Arabia di masa silam ditanya, “Bolehkah shalat di tanah dan apa faedahnya di pertengahan shalat?” Syaikh rahimahullah menjawab, Sepertinya si penanya memaksudkan tanah yang biasa jadi kebiasaan orang syi’ah yaitu yang diklaim berasal dari Karbala’, lalu mereka sujud pada tanah tersebut. Perlu diketahui bahwa perbuatan semacam ini tidak ada tuntunannya dalam Islam (baca: bid’ah) dan tidak boleh shalat pada tanah tersebut. Akan tetapi, shalat yang dilakukan tidaklah batal. Jika ia meletakkan dahi dan hidungnya pada tanah tersebut, shalatnya tidaklah batal. Perbuatan tersebut sekali lagi adalah bid’ah, tidak boleh dilakukan. Inilah di antara amalan yang mengada-ada dari orang Syi’ah dan mereka terlalu berlebih-lebihan dalam hal itu. Semoga Allah memberi kita petunjuk dan melindungi kita dari godaan setan yang akan menjerumuskan kita dalam bid’ah semacam ini. Perlu diketahui bahwa seorang mukmin tidak perlu capek-capek memindahkan tanah dari satu tempat ke tempat lain. Hendaklah seorang mukmin shalat sesuai kemudahan yang ia dapati. Jika didapati kulit, maka ia shalat di atasnya. Jika didapati pasir, hendaklah ia shalat di atas pasir. Jika di masjid terdapat karpet, hendaklah ia shalat di atas karpet tersebut dan tidak perlu bersusah payah membawa batu, tanah, potongan kayu atau selainnya. Bersusah payah sujud di atas benda-benda tadi adalah bagian dari bid’ah yang tidak ada asal-usulnya. [Diterjemahkan dari web resmi Syaikh Ibnu Baz: http://www.binbaz.org.sa/mat/14698] @ Sabic Lab in the afternoon Riyadh, KSA, 9 Muharram 1432 H www.rumaysho.com Baca Juga: Kelakuan Sesat Syi’ah di Hari ‘Asyura Shalat di Belakang Orang Syi’ah Tagscara sujud
Ini salah satu kebiasaan orang Syi’ah di mana mereka melakukan perbuatan yang sangat aneh. Mereka dapati tanah di tanah Karbala’, lalu mereka kumpulkan dan ketika shalat tanah tersebut dijadikan sebagai tempat sujud. Tanah tersebut disebut at turbah al husainiyyah karena di Karbala mereka mengenang kematian Husain dengan melakukan perbuatan mencabik-cabik dan memotong-motong kulit mereka sendiri. Hal ini dilakukan pada hari Asyura (10 Muharram) saat ini. Perbuatan yang jelas melampaui batas dalam rangka mengenang kematian Husain dengan rasa penuh kesedihan. Mengenang seperti ini jelas termasuk perbuatan yang diharamkan dan dinilai bid’ah. Lalu bagaimana hukum sujud dengan tanah dari Karbala’? Berikut pandangan ulama mengenai perbuatan Rafidhah (baca: Syi’ah) ini. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, mufti di Kerajaan Saudi Arabia di masa silam ditanya, “Bolehkah shalat di tanah dan apa faedahnya di pertengahan shalat?” Syaikh rahimahullah menjawab, Sepertinya si penanya memaksudkan tanah yang biasa jadi kebiasaan orang syi’ah yaitu yang diklaim berasal dari Karbala’, lalu mereka sujud pada tanah tersebut. Perlu diketahui bahwa perbuatan semacam ini tidak ada tuntunannya dalam Islam (baca: bid’ah) dan tidak boleh shalat pada tanah tersebut. Akan tetapi, shalat yang dilakukan tidaklah batal. Jika ia meletakkan dahi dan hidungnya pada tanah tersebut, shalatnya tidaklah batal. Perbuatan tersebut sekali lagi adalah bid’ah, tidak boleh dilakukan. Inilah di antara amalan yang mengada-ada dari orang Syi’ah dan mereka terlalu berlebih-lebihan dalam hal itu. Semoga Allah memberi kita petunjuk dan melindungi kita dari godaan setan yang akan menjerumuskan kita dalam bid’ah semacam ini. Perlu diketahui bahwa seorang mukmin tidak perlu capek-capek memindahkan tanah dari satu tempat ke tempat lain. Hendaklah seorang mukmin shalat sesuai kemudahan yang ia dapati. Jika didapati kulit, maka ia shalat di atasnya. Jika didapati pasir, hendaklah ia shalat di atas pasir. Jika di masjid terdapat karpet, hendaklah ia shalat di atas karpet tersebut dan tidak perlu bersusah payah membawa batu, tanah, potongan kayu atau selainnya. Bersusah payah sujud di atas benda-benda tadi adalah bagian dari bid’ah yang tidak ada asal-usulnya. [Diterjemahkan dari web resmi Syaikh Ibnu Baz: http://www.binbaz.org.sa/mat/14698] @ Sabic Lab in the afternoon Riyadh, KSA, 9 Muharram 1432 H www.rumaysho.com Baca Juga: Kelakuan Sesat Syi’ah di Hari ‘Asyura Shalat di Belakang Orang Syi’ah Tagscara sujud


Ini salah satu kebiasaan orang Syi’ah di mana mereka melakukan perbuatan yang sangat aneh. Mereka dapati tanah di tanah Karbala’, lalu mereka kumpulkan dan ketika shalat tanah tersebut dijadikan sebagai tempat sujud. Tanah tersebut disebut at turbah al husainiyyah karena di Karbala mereka mengenang kematian Husain dengan melakukan perbuatan mencabik-cabik dan memotong-motong kulit mereka sendiri. Hal ini dilakukan pada hari Asyura (10 Muharram) saat ini. Perbuatan yang jelas melampaui batas dalam rangka mengenang kematian Husain dengan rasa penuh kesedihan. Mengenang seperti ini jelas termasuk perbuatan yang diharamkan dan dinilai bid’ah. Lalu bagaimana hukum sujud dengan tanah dari Karbala’? Berikut pandangan ulama mengenai perbuatan Rafidhah (baca: Syi’ah) ini. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, mufti di Kerajaan Saudi Arabia di masa silam ditanya, “Bolehkah shalat di tanah dan apa faedahnya di pertengahan shalat?” Syaikh rahimahullah menjawab, Sepertinya si penanya memaksudkan tanah yang biasa jadi kebiasaan orang syi’ah yaitu yang diklaim berasal dari Karbala’, lalu mereka sujud pada tanah tersebut. Perlu diketahui bahwa perbuatan semacam ini tidak ada tuntunannya dalam Islam (baca: bid’ah) dan tidak boleh shalat pada tanah tersebut. Akan tetapi, shalat yang dilakukan tidaklah batal. Jika ia meletakkan dahi dan hidungnya pada tanah tersebut, shalatnya tidaklah batal. Perbuatan tersebut sekali lagi adalah bid’ah, tidak boleh dilakukan. Inilah di antara amalan yang mengada-ada dari orang Syi’ah dan mereka terlalu berlebih-lebihan dalam hal itu. Semoga Allah memberi kita petunjuk dan melindungi kita dari godaan setan yang akan menjerumuskan kita dalam bid’ah semacam ini. Perlu diketahui bahwa seorang mukmin tidak perlu capek-capek memindahkan tanah dari satu tempat ke tempat lain. Hendaklah seorang mukmin shalat sesuai kemudahan yang ia dapati. Jika didapati kulit, maka ia shalat di atasnya. Jika didapati pasir, hendaklah ia shalat di atas pasir. Jika di masjid terdapat karpet, hendaklah ia shalat di atas karpet tersebut dan tidak perlu bersusah payah membawa batu, tanah, potongan kayu atau selainnya. Bersusah payah sujud di atas benda-benda tadi adalah bagian dari bid’ah yang tidak ada asal-usulnya. [Diterjemahkan dari web resmi Syaikh Ibnu Baz: http://www.binbaz.org.sa/mat/14698] @ Sabic Lab in the afternoon Riyadh, KSA, 9 Muharram 1432 H www.rumaysho.com Baca Juga: Kelakuan Sesat Syi’ah di Hari ‘Asyura Shalat di Belakang Orang Syi’ah Tagscara sujud

Video Khutbah Jumat: Hikmah dalam Berdakwah

06DecVideo Khutbah Jumat: Hikmah dalam BerdakwahDecember 6, 2011Khutbah Jumat, Pilihan Redaksi Video ini merupakan rekaman Khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. di Ma’had Syaikh Jamilurrahman As-Salafy, Yogyakarta pada 2 Desember 2011. Tema khutbah yang beliau sampaikan adalah Hikmah dalam Berdakwah. Semoga bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Sumber: Yufid.TV Video www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Video Khutbah Jumat: Hikmah dalam Berdakwah

06DecVideo Khutbah Jumat: Hikmah dalam BerdakwahDecember 6, 2011Khutbah Jumat, Pilihan Redaksi Video ini merupakan rekaman Khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. di Ma’had Syaikh Jamilurrahman As-Salafy, Yogyakarta pada 2 Desember 2011. Tema khutbah yang beliau sampaikan adalah Hikmah dalam Berdakwah. Semoga bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Sumber: Yufid.TV Video www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
06DecVideo Khutbah Jumat: Hikmah dalam BerdakwahDecember 6, 2011Khutbah Jumat, Pilihan Redaksi Video ini merupakan rekaman Khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. di Ma’had Syaikh Jamilurrahman As-Salafy, Yogyakarta pada 2 Desember 2011. Tema khutbah yang beliau sampaikan adalah Hikmah dalam Berdakwah. Semoga bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Sumber: Yufid.TV Video www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


06DecVideo Khutbah Jumat: Hikmah dalam BerdakwahDecember 6, 2011Khutbah Jumat, Pilihan Redaksi Video ini merupakan rekaman Khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. di Ma’had Syaikh Jamilurrahman As-Salafy, Yogyakarta pada 2 Desember 2011. Tema khutbah yang beliau sampaikan adalah Hikmah dalam Berdakwah. Semoga bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Sumber: Yufid.TV Video www.tunasilmu.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Apakah Syi’ah itu Kafir?

Bismillah … Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Perlu dipahami bahwa tidaklah semua orang yang bersaksi laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), wa anna Muhammadar Rosulullah (bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya) disebut sebagai seorang muslim. Orang munafik pun mengaku demikian, namun itu tidak cukup. Allah Ta’ala menyifati mereka, إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An Nisa’: 145). Seseorang bisa disebut bukan muslim jika ia melakukan pembatal keislaman semacam kesyirikan, kemunafikan dan mencaci maki diinul Islam.  Nah, sekarang saatnya kita meninjau golongan Rafidhah yang ma’ruf dengan Syi’ah, apakah mereka termasuk muslim? Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanya, “Kami sangat butuh penjelasan mengenai beberapa kelompok Syi’ah. Kami mohon bisa dijelaskan mengenai aqidah mereka?” Jawaban beliau rahimahullah, Perlu diketahui bahwa Syi’ah terdiri dari berbagai macam kelompok, tidak bisa kita menjabarkan satu per satu di waktu yang singkat ini. Ringkasnya, di antara mereka ada yang kafir, yaitu yang menyembah ‘Ali (bin Abi Tholib) dan mereka menyembah ‘Ali. Ada juga di antara mereka yang menyembah Fatimah, Husain dan selainnya. Di antara kelompok Syi’ah ada yang berpendapat bahwa Jibril ‘alaihis salam telah berkhianat. Kata mereka, seharusnya kenabian diserahkan kepada ‘Ali dan bukan pada Muhammad. Ada juga kelompok yang disebut Imamiyyah atau dikenal dengan Rafidhah Itsna ‘Asyariyah, yaitu ‘ubad ‘Ali, di mana mereka berkata bahwa imam mereka lebih mulia dari para malaikat dan para nabi. Syi’ah memiliki golongan yang banyak, ada yang kafir dan ada yang tidak kafir. Golongan yang kesesatannya tidak separah lainnya yaitu yang mengatakan bahwa ‘Ali lebih utama dari Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman. Keyakinan seperti ini jelas keliru dan telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan para sahabat). Akan tetapi, golongan ini tidaklah kafir. Intinya, kesesatan kelompok Syi’ah bertingkat-tingkat. Siapa saja yang ingin mengetahui secara jelas tentang mereka, silakan merujuk pada kalam para ulama semisal dalam kitab Al Khuthuth Al ‘Aridhoh karya Muhyiddin Al Khotib dan Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Buku lainnya lagi seperti Syi’ah was Sunnah karya Ihsan Ilahi Zhohir dan berbagai kita lainnya yang amat banyak yang telah mengulas kesesatan dan kejelekan mereka. Semoga Allah memberikan kita keselamatan. Golongan yang paling sesat dari mereka di antaranya adalah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah An Nashiriyyah, yang disebut Rafidhah. Mereka bisa disebut Rafidhah (artinya: menolak) karena mereka menolak Zaid bin ‘Ali ketika Zaid menolak berlepas diri dari Abu Bakr dan ‘Umar. Lantas Rafidhah menyelisihi dan menolak Zaid. Jika di antara orang Syi’ah ada yang mengklaim dirinya sebagai muslim, maka mereka adalah muslim. Namun perlu dibuktikan klaim mereka. Siapa saja yang beribadah pada Allah semata (tidak berbuat syirik, pen), membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman pada wahyu yang diturunkan pada beliau, ia adalah muslim. Jika ia mengklaim dirinya muslim, namun ia menyembah Husain, menyembah Fatimah, menyembah Badawi, menyembah ‘Aidarus dan selainnya, maka jelas ia bukan muslim. Kita mohon pada Allah keselamatan. Begitu pula jika di antara  mereka ada yang mencela Islam atau meninggalkan shalat, walau ia mengatakan bahwa ia muslim, hakekatnya ia bukan muslim. Atau di antara mereka ada yang mengolok-olok Islam, mengolok-olok ajaran shalat, zakat, puasa atau mengolok-olok Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendustakan beliau, atau mengatakan bahwa beliau itu bodoh, atau menyatakan bahwa risalah Muhammad belumlah sempurna atau beliau tidak menyampaikan ajaran Islam dengan jelas, maka itu semua menunjukkan kekufuran. Nas-alullah al ‘aafiyah, kita mohon kepada Allah keselamatan. [Diterjemahkan dari website resmi Syaikh Ibnu Baz: http://www.binbaz.org.sa/mat/4170] Alhamdulillahilladzi bin ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumma innaa nas-aluka ‘ilman naafi’a. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat.   @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA Yauma tasu’a, 9 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Akidah Sesat Syi’ah Tentang Allah Shalat di Belakang Orang Syi’ah Tagsloyal non muslim

Apakah Syi’ah itu Kafir?

Bismillah … Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Perlu dipahami bahwa tidaklah semua orang yang bersaksi laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), wa anna Muhammadar Rosulullah (bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya) disebut sebagai seorang muslim. Orang munafik pun mengaku demikian, namun itu tidak cukup. Allah Ta’ala menyifati mereka, إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An Nisa’: 145). Seseorang bisa disebut bukan muslim jika ia melakukan pembatal keislaman semacam kesyirikan, kemunafikan dan mencaci maki diinul Islam.  Nah, sekarang saatnya kita meninjau golongan Rafidhah yang ma’ruf dengan Syi’ah, apakah mereka termasuk muslim? Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanya, “Kami sangat butuh penjelasan mengenai beberapa kelompok Syi’ah. Kami mohon bisa dijelaskan mengenai aqidah mereka?” Jawaban beliau rahimahullah, Perlu diketahui bahwa Syi’ah terdiri dari berbagai macam kelompok, tidak bisa kita menjabarkan satu per satu di waktu yang singkat ini. Ringkasnya, di antara mereka ada yang kafir, yaitu yang menyembah ‘Ali (bin Abi Tholib) dan mereka menyembah ‘Ali. Ada juga di antara mereka yang menyembah Fatimah, Husain dan selainnya. Di antara kelompok Syi’ah ada yang berpendapat bahwa Jibril ‘alaihis salam telah berkhianat. Kata mereka, seharusnya kenabian diserahkan kepada ‘Ali dan bukan pada Muhammad. Ada juga kelompok yang disebut Imamiyyah atau dikenal dengan Rafidhah Itsna ‘Asyariyah, yaitu ‘ubad ‘Ali, di mana mereka berkata bahwa imam mereka lebih mulia dari para malaikat dan para nabi. Syi’ah memiliki golongan yang banyak, ada yang kafir dan ada yang tidak kafir. Golongan yang kesesatannya tidak separah lainnya yaitu yang mengatakan bahwa ‘Ali lebih utama dari Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman. Keyakinan seperti ini jelas keliru dan telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan para sahabat). Akan tetapi, golongan ini tidaklah kafir. Intinya, kesesatan kelompok Syi’ah bertingkat-tingkat. Siapa saja yang ingin mengetahui secara jelas tentang mereka, silakan merujuk pada kalam para ulama semisal dalam kitab Al Khuthuth Al ‘Aridhoh karya Muhyiddin Al Khotib dan Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Buku lainnya lagi seperti Syi’ah was Sunnah karya Ihsan Ilahi Zhohir dan berbagai kita lainnya yang amat banyak yang telah mengulas kesesatan dan kejelekan mereka. Semoga Allah memberikan kita keselamatan. Golongan yang paling sesat dari mereka di antaranya adalah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah An Nashiriyyah, yang disebut Rafidhah. Mereka bisa disebut Rafidhah (artinya: menolak) karena mereka menolak Zaid bin ‘Ali ketika Zaid menolak berlepas diri dari Abu Bakr dan ‘Umar. Lantas Rafidhah menyelisihi dan menolak Zaid. Jika di antara orang Syi’ah ada yang mengklaim dirinya sebagai muslim, maka mereka adalah muslim. Namun perlu dibuktikan klaim mereka. Siapa saja yang beribadah pada Allah semata (tidak berbuat syirik, pen), membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman pada wahyu yang diturunkan pada beliau, ia adalah muslim. Jika ia mengklaim dirinya muslim, namun ia menyembah Husain, menyembah Fatimah, menyembah Badawi, menyembah ‘Aidarus dan selainnya, maka jelas ia bukan muslim. Kita mohon pada Allah keselamatan. Begitu pula jika di antara  mereka ada yang mencela Islam atau meninggalkan shalat, walau ia mengatakan bahwa ia muslim, hakekatnya ia bukan muslim. Atau di antara mereka ada yang mengolok-olok Islam, mengolok-olok ajaran shalat, zakat, puasa atau mengolok-olok Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendustakan beliau, atau mengatakan bahwa beliau itu bodoh, atau menyatakan bahwa risalah Muhammad belumlah sempurna atau beliau tidak menyampaikan ajaran Islam dengan jelas, maka itu semua menunjukkan kekufuran. Nas-alullah al ‘aafiyah, kita mohon kepada Allah keselamatan. [Diterjemahkan dari website resmi Syaikh Ibnu Baz: http://www.binbaz.org.sa/mat/4170] Alhamdulillahilladzi bin ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumma innaa nas-aluka ‘ilman naafi’a. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat.   @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA Yauma tasu’a, 9 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Akidah Sesat Syi’ah Tentang Allah Shalat di Belakang Orang Syi’ah Tagsloyal non muslim
Bismillah … Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Perlu dipahami bahwa tidaklah semua orang yang bersaksi laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), wa anna Muhammadar Rosulullah (bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya) disebut sebagai seorang muslim. Orang munafik pun mengaku demikian, namun itu tidak cukup. Allah Ta’ala menyifati mereka, إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An Nisa’: 145). Seseorang bisa disebut bukan muslim jika ia melakukan pembatal keislaman semacam kesyirikan, kemunafikan dan mencaci maki diinul Islam.  Nah, sekarang saatnya kita meninjau golongan Rafidhah yang ma’ruf dengan Syi’ah, apakah mereka termasuk muslim? Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanya, “Kami sangat butuh penjelasan mengenai beberapa kelompok Syi’ah. Kami mohon bisa dijelaskan mengenai aqidah mereka?” Jawaban beliau rahimahullah, Perlu diketahui bahwa Syi’ah terdiri dari berbagai macam kelompok, tidak bisa kita menjabarkan satu per satu di waktu yang singkat ini. Ringkasnya, di antara mereka ada yang kafir, yaitu yang menyembah ‘Ali (bin Abi Tholib) dan mereka menyembah ‘Ali. Ada juga di antara mereka yang menyembah Fatimah, Husain dan selainnya. Di antara kelompok Syi’ah ada yang berpendapat bahwa Jibril ‘alaihis salam telah berkhianat. Kata mereka, seharusnya kenabian diserahkan kepada ‘Ali dan bukan pada Muhammad. Ada juga kelompok yang disebut Imamiyyah atau dikenal dengan Rafidhah Itsna ‘Asyariyah, yaitu ‘ubad ‘Ali, di mana mereka berkata bahwa imam mereka lebih mulia dari para malaikat dan para nabi. Syi’ah memiliki golongan yang banyak, ada yang kafir dan ada yang tidak kafir. Golongan yang kesesatannya tidak separah lainnya yaitu yang mengatakan bahwa ‘Ali lebih utama dari Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman. Keyakinan seperti ini jelas keliru dan telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan para sahabat). Akan tetapi, golongan ini tidaklah kafir. Intinya, kesesatan kelompok Syi’ah bertingkat-tingkat. Siapa saja yang ingin mengetahui secara jelas tentang mereka, silakan merujuk pada kalam para ulama semisal dalam kitab Al Khuthuth Al ‘Aridhoh karya Muhyiddin Al Khotib dan Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Buku lainnya lagi seperti Syi’ah was Sunnah karya Ihsan Ilahi Zhohir dan berbagai kita lainnya yang amat banyak yang telah mengulas kesesatan dan kejelekan mereka. Semoga Allah memberikan kita keselamatan. Golongan yang paling sesat dari mereka di antaranya adalah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah An Nashiriyyah, yang disebut Rafidhah. Mereka bisa disebut Rafidhah (artinya: menolak) karena mereka menolak Zaid bin ‘Ali ketika Zaid menolak berlepas diri dari Abu Bakr dan ‘Umar. Lantas Rafidhah menyelisihi dan menolak Zaid. Jika di antara orang Syi’ah ada yang mengklaim dirinya sebagai muslim, maka mereka adalah muslim. Namun perlu dibuktikan klaim mereka. Siapa saja yang beribadah pada Allah semata (tidak berbuat syirik, pen), membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman pada wahyu yang diturunkan pada beliau, ia adalah muslim. Jika ia mengklaim dirinya muslim, namun ia menyembah Husain, menyembah Fatimah, menyembah Badawi, menyembah ‘Aidarus dan selainnya, maka jelas ia bukan muslim. Kita mohon pada Allah keselamatan. Begitu pula jika di antara  mereka ada yang mencela Islam atau meninggalkan shalat, walau ia mengatakan bahwa ia muslim, hakekatnya ia bukan muslim. Atau di antara mereka ada yang mengolok-olok Islam, mengolok-olok ajaran shalat, zakat, puasa atau mengolok-olok Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendustakan beliau, atau mengatakan bahwa beliau itu bodoh, atau menyatakan bahwa risalah Muhammad belumlah sempurna atau beliau tidak menyampaikan ajaran Islam dengan jelas, maka itu semua menunjukkan kekufuran. Nas-alullah al ‘aafiyah, kita mohon kepada Allah keselamatan. [Diterjemahkan dari website resmi Syaikh Ibnu Baz: http://www.binbaz.org.sa/mat/4170] Alhamdulillahilladzi bin ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumma innaa nas-aluka ‘ilman naafi’a. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat.   @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA Yauma tasu’a, 9 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Akidah Sesat Syi’ah Tentang Allah Shalat di Belakang Orang Syi’ah Tagsloyal non muslim


Bismillah … Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Perlu dipahami bahwa tidaklah semua orang yang bersaksi laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), wa anna Muhammadar Rosulullah (bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya) disebut sebagai seorang muslim. Orang munafik pun mengaku demikian, namun itu tidak cukup. Allah Ta’ala menyifati mereka, إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An Nisa’: 145). Seseorang bisa disebut bukan muslim jika ia melakukan pembatal keislaman semacam kesyirikan, kemunafikan dan mencaci maki diinul Islam.  Nah, sekarang saatnya kita meninjau golongan Rafidhah yang ma’ruf dengan Syi’ah, apakah mereka termasuk muslim? Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanya, “Kami sangat butuh penjelasan mengenai beberapa kelompok Syi’ah. Kami mohon bisa dijelaskan mengenai aqidah mereka?” Jawaban beliau rahimahullah, Perlu diketahui bahwa Syi’ah terdiri dari berbagai macam kelompok, tidak bisa kita menjabarkan satu per satu di waktu yang singkat ini. Ringkasnya, di antara mereka ada yang kafir, yaitu yang menyembah ‘Ali (bin Abi Tholib) dan mereka menyembah ‘Ali. Ada juga di antara mereka yang menyembah Fatimah, Husain dan selainnya. Di antara kelompok Syi’ah ada yang berpendapat bahwa Jibril ‘alaihis salam telah berkhianat. Kata mereka, seharusnya kenabian diserahkan kepada ‘Ali dan bukan pada Muhammad. Ada juga kelompok yang disebut Imamiyyah atau dikenal dengan Rafidhah Itsna ‘Asyariyah, yaitu ‘ubad ‘Ali, di mana mereka berkata bahwa imam mereka lebih mulia dari para malaikat dan para nabi. Syi’ah memiliki golongan yang banyak, ada yang kafir dan ada yang tidak kafir. Golongan yang kesesatannya tidak separah lainnya yaitu yang mengatakan bahwa ‘Ali lebih utama dari Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman. Keyakinan seperti ini jelas keliru dan telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan para sahabat). Akan tetapi, golongan ini tidaklah kafir. Intinya, kesesatan kelompok Syi’ah bertingkat-tingkat. Siapa saja yang ingin mengetahui secara jelas tentang mereka, silakan merujuk pada kalam para ulama semisal dalam kitab Al Khuthuth Al ‘Aridhoh karya Muhyiddin Al Khotib dan Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Buku lainnya lagi seperti Syi’ah was Sunnah karya Ihsan Ilahi Zhohir dan berbagai kita lainnya yang amat banyak yang telah mengulas kesesatan dan kejelekan mereka. Semoga Allah memberikan kita keselamatan. Golongan yang paling sesat dari mereka di antaranya adalah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah An Nashiriyyah, yang disebut Rafidhah. Mereka bisa disebut Rafidhah (artinya: menolak) karena mereka menolak Zaid bin ‘Ali ketika Zaid menolak berlepas diri dari Abu Bakr dan ‘Umar. Lantas Rafidhah menyelisihi dan menolak Zaid. Jika di antara orang Syi’ah ada yang mengklaim dirinya sebagai muslim, maka mereka adalah muslim. Namun perlu dibuktikan klaim mereka. Siapa saja yang beribadah pada Allah semata (tidak berbuat syirik, pen), membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman pada wahyu yang diturunkan pada beliau, ia adalah muslim. Jika ia mengklaim dirinya muslim, namun ia menyembah Husain, menyembah Fatimah, menyembah Badawi, menyembah ‘Aidarus dan selainnya, maka jelas ia bukan muslim. Kita mohon pada Allah keselamatan. Begitu pula jika di antara  mereka ada yang mencela Islam atau meninggalkan shalat, walau ia mengatakan bahwa ia muslim, hakekatnya ia bukan muslim. Atau di antara mereka ada yang mengolok-olok Islam, mengolok-olok ajaran shalat, zakat, puasa atau mengolok-olok Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendustakan beliau, atau mengatakan bahwa beliau itu bodoh, atau menyatakan bahwa risalah Muhammad belumlah sempurna atau beliau tidak menyampaikan ajaran Islam dengan jelas, maka itu semua menunjukkan kekufuran. Nas-alullah al ‘aafiyah, kita mohon kepada Allah keselamatan. [Diterjemahkan dari website resmi Syaikh Ibnu Baz: http://www.binbaz.org.sa/mat/4170] Alhamdulillahilladzi bin ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumma innaa nas-aluka ‘ilman naafi’a. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat.   @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA Yauma tasu’a, 9 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Akidah Sesat Syi’ah Tentang Allah Shalat di Belakang Orang Syi’ah Tagsloyal non muslim

4 Kiat Sukses Menghafal Al Qur’an

Ada faedah berharga yang baru saja kami peroleh di pagi ini yang berisi kalam-kalam ulama mengenai kiat sukses menghafal Al Qur’an. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, نحن نحفظ في اليوم خمس آيات و لا نجاوزهن حتي نعلم تفسيرهن فسيأتي أقوام  يحفظون القرآن كله لا يعملون به يقيمون حروفه و لا يقيمون حدوده “Kami menghafalkan Al Qur’an dalam sehari sebanyak lima ayat dan kami tidaklah menambah lebih dari itu sampai kami menguasai tafsir ayat-ayat tersebut. Sungguh akan datang kaum di mana mereka menghafalkan Al Qur’an seluruhnya, namun mereka tidak mengamalkannya. Mereka begitu mantap menguasai huruf-hurufnya, namun mereka tidak memahami aturan-aturan dalam Al Qur’an.” Inilah di antara kiat menghafalkan Al Qur’an, kuasai pula tafsirnya. Hal ini akan membuat hafalan kita lebih mantap dan lebih khusyu’ ketika membacanya terutama dalam shalat. Kiat utama lainnya untuk menghafal Al Qur’an sebagaimana ketika Imam Malik ditanya, كيف نحفظ؟ “Bagaimana kita bisa menghafal Al Qur’an?” بالتكرار “Banyak mengulang-ngulang”, jawab beliau. Imam Ahmad ditanya, ما أسرع الوسيلة للحفظ “Bagaimana cara yang paling cepat untuk menghafalkan Al Qur’an?” الزام الحسنات و دع السيئات Imam Ahmad menjawab, “Kiat paling cepat untuk menghafal Al Qur’an adalah rajin lakukan amalan baik dan tinggalkan maksiat.” Ibnu Mas’ud berkata, الحفظ علي قدر النية “Menghafal itu tergantung kesungguhan niat seseorang.” Ada empat kiat sederhana agar mudah menghafal Al Qur’an dari pelajaran di atas: Bulatkan niat untuk menjadi penghafal Al Qur’an dan ikhlaskan niat hanya karena Allah. Banyak mengulang Gemar beramal dan tinggalkan maksiat Kuasai tafsir setiap ayat yang telah dihafal Perkataan para ulama di atas dapat disimak pada penjelasan pada video berikut: http://www.youtube.com/watch?v=8whG7QEjgQ4&feature=g-vrec Moga Allah memudahkan kita menjadi penghafal Al Qur’an dan menjadi kekasih yang dekat di sisi-Nya. Faedah di pagi hari saat masuk ke Lab Sabic Riyadh, KSA, Hari Tasu’ah, 9 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah dari Sopir Taxi yang Rajin Menghafalkan Al Qur’an Prioritaskan Menghafalkan Al Qur’an Tagsadab al quran

4 Kiat Sukses Menghafal Al Qur’an

Ada faedah berharga yang baru saja kami peroleh di pagi ini yang berisi kalam-kalam ulama mengenai kiat sukses menghafal Al Qur’an. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, نحن نحفظ في اليوم خمس آيات و لا نجاوزهن حتي نعلم تفسيرهن فسيأتي أقوام  يحفظون القرآن كله لا يعملون به يقيمون حروفه و لا يقيمون حدوده “Kami menghafalkan Al Qur’an dalam sehari sebanyak lima ayat dan kami tidaklah menambah lebih dari itu sampai kami menguasai tafsir ayat-ayat tersebut. Sungguh akan datang kaum di mana mereka menghafalkan Al Qur’an seluruhnya, namun mereka tidak mengamalkannya. Mereka begitu mantap menguasai huruf-hurufnya, namun mereka tidak memahami aturan-aturan dalam Al Qur’an.” Inilah di antara kiat menghafalkan Al Qur’an, kuasai pula tafsirnya. Hal ini akan membuat hafalan kita lebih mantap dan lebih khusyu’ ketika membacanya terutama dalam shalat. Kiat utama lainnya untuk menghafal Al Qur’an sebagaimana ketika Imam Malik ditanya, كيف نحفظ؟ “Bagaimana kita bisa menghafal Al Qur’an?” بالتكرار “Banyak mengulang-ngulang”, jawab beliau. Imam Ahmad ditanya, ما أسرع الوسيلة للحفظ “Bagaimana cara yang paling cepat untuk menghafalkan Al Qur’an?” الزام الحسنات و دع السيئات Imam Ahmad menjawab, “Kiat paling cepat untuk menghafal Al Qur’an adalah rajin lakukan amalan baik dan tinggalkan maksiat.” Ibnu Mas’ud berkata, الحفظ علي قدر النية “Menghafal itu tergantung kesungguhan niat seseorang.” Ada empat kiat sederhana agar mudah menghafal Al Qur’an dari pelajaran di atas: Bulatkan niat untuk menjadi penghafal Al Qur’an dan ikhlaskan niat hanya karena Allah. Banyak mengulang Gemar beramal dan tinggalkan maksiat Kuasai tafsir setiap ayat yang telah dihafal Perkataan para ulama di atas dapat disimak pada penjelasan pada video berikut: http://www.youtube.com/watch?v=8whG7QEjgQ4&feature=g-vrec Moga Allah memudahkan kita menjadi penghafal Al Qur’an dan menjadi kekasih yang dekat di sisi-Nya. Faedah di pagi hari saat masuk ke Lab Sabic Riyadh, KSA, Hari Tasu’ah, 9 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah dari Sopir Taxi yang Rajin Menghafalkan Al Qur’an Prioritaskan Menghafalkan Al Qur’an Tagsadab al quran
Ada faedah berharga yang baru saja kami peroleh di pagi ini yang berisi kalam-kalam ulama mengenai kiat sukses menghafal Al Qur’an. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, نحن نحفظ في اليوم خمس آيات و لا نجاوزهن حتي نعلم تفسيرهن فسيأتي أقوام  يحفظون القرآن كله لا يعملون به يقيمون حروفه و لا يقيمون حدوده “Kami menghafalkan Al Qur’an dalam sehari sebanyak lima ayat dan kami tidaklah menambah lebih dari itu sampai kami menguasai tafsir ayat-ayat tersebut. Sungguh akan datang kaum di mana mereka menghafalkan Al Qur’an seluruhnya, namun mereka tidak mengamalkannya. Mereka begitu mantap menguasai huruf-hurufnya, namun mereka tidak memahami aturan-aturan dalam Al Qur’an.” Inilah di antara kiat menghafalkan Al Qur’an, kuasai pula tafsirnya. Hal ini akan membuat hafalan kita lebih mantap dan lebih khusyu’ ketika membacanya terutama dalam shalat. Kiat utama lainnya untuk menghafal Al Qur’an sebagaimana ketika Imam Malik ditanya, كيف نحفظ؟ “Bagaimana kita bisa menghafal Al Qur’an?” بالتكرار “Banyak mengulang-ngulang”, jawab beliau. Imam Ahmad ditanya, ما أسرع الوسيلة للحفظ “Bagaimana cara yang paling cepat untuk menghafalkan Al Qur’an?” الزام الحسنات و دع السيئات Imam Ahmad menjawab, “Kiat paling cepat untuk menghafal Al Qur’an adalah rajin lakukan amalan baik dan tinggalkan maksiat.” Ibnu Mas’ud berkata, الحفظ علي قدر النية “Menghafal itu tergantung kesungguhan niat seseorang.” Ada empat kiat sederhana agar mudah menghafal Al Qur’an dari pelajaran di atas: Bulatkan niat untuk menjadi penghafal Al Qur’an dan ikhlaskan niat hanya karena Allah. Banyak mengulang Gemar beramal dan tinggalkan maksiat Kuasai tafsir setiap ayat yang telah dihafal Perkataan para ulama di atas dapat disimak pada penjelasan pada video berikut: http://www.youtube.com/watch?v=8whG7QEjgQ4&feature=g-vrec Moga Allah memudahkan kita menjadi penghafal Al Qur’an dan menjadi kekasih yang dekat di sisi-Nya. Faedah di pagi hari saat masuk ke Lab Sabic Riyadh, KSA, Hari Tasu’ah, 9 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah dari Sopir Taxi yang Rajin Menghafalkan Al Qur’an Prioritaskan Menghafalkan Al Qur’an Tagsadab al quran


Ada faedah berharga yang baru saja kami peroleh di pagi ini yang berisi kalam-kalam ulama mengenai kiat sukses menghafal Al Qur’an. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, نحن نحفظ في اليوم خمس آيات و لا نجاوزهن حتي نعلم تفسيرهن فسيأتي أقوام  يحفظون القرآن كله لا يعملون به يقيمون حروفه و لا يقيمون حدوده “Kami menghafalkan Al Qur’an dalam sehari sebanyak lima ayat dan kami tidaklah menambah lebih dari itu sampai kami menguasai tafsir ayat-ayat tersebut. Sungguh akan datang kaum di mana mereka menghafalkan Al Qur’an seluruhnya, namun mereka tidak mengamalkannya. Mereka begitu mantap menguasai huruf-hurufnya, namun mereka tidak memahami aturan-aturan dalam Al Qur’an.” Inilah di antara kiat menghafalkan Al Qur’an, kuasai pula tafsirnya. Hal ini akan membuat hafalan kita lebih mantap dan lebih khusyu’ ketika membacanya terutama dalam shalat. Kiat utama lainnya untuk menghafal Al Qur’an sebagaimana ketika Imam Malik ditanya, كيف نحفظ؟ “Bagaimana kita bisa menghafal Al Qur’an?” بالتكرار “Banyak mengulang-ngulang”, jawab beliau. Imam Ahmad ditanya, ما أسرع الوسيلة للحفظ “Bagaimana cara yang paling cepat untuk menghafalkan Al Qur’an?” الزام الحسنات و دع السيئات Imam Ahmad menjawab, “Kiat paling cepat untuk menghafal Al Qur’an adalah rajin lakukan amalan baik dan tinggalkan maksiat.” Ibnu Mas’ud berkata, الحفظ علي قدر النية “Menghafal itu tergantung kesungguhan niat seseorang.” Ada empat kiat sederhana agar mudah menghafal Al Qur’an dari pelajaran di atas: Bulatkan niat untuk menjadi penghafal Al Qur’an dan ikhlaskan niat hanya karena Allah. Banyak mengulang Gemar beramal dan tinggalkan maksiat Kuasai tafsir setiap ayat yang telah dihafal Perkataan para ulama di atas dapat disimak pada penjelasan pada video berikut: http://www.youtube.com/watch?v=8whG7QEjgQ4&feature=g-vrec Moga Allah memudahkan kita menjadi penghafal Al Qur’an dan menjadi kekasih yang dekat di sisi-Nya. Faedah di pagi hari saat masuk ke Lab Sabic Riyadh, KSA, Hari Tasu’ah, 9 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Faedah dari Sopir Taxi yang Rajin Menghafalkan Al Qur’an Prioritaskan Menghafalkan Al Qur’an Tagsadab al quran

Berniat Puasa Asyura Sekaligus Qodho’ Puasa

Sebagian wanita barangkali ada yang masih mempunyai utang puasa (qodho’). Karena berhubung besok adalah hari Asyura (10 Muharram), ada yang berniat untuk berpuasa Asyura sekaligus berniat puasa qodho’. Apakah hal ini dibolehkan? Ada penjelasan yang kami peroleh dari web saaid.net dari Dr. Mihron Mahir ‘Utsman di mana beliau menjelaskan: يصح أن يصوم المسلم في عاشوراء ويريد بذلك القضاء، ولكنه لن يكون عاشوراء وإنما هو القضاء. وكل عملين مقصودَين لا يمكن تشريك النية فيهما، بل لابد من الإتيان بهما. ولا بأس من أن يصوم عاشوراء ثم يصوم القضاء بعده، ولو تيسر صوم القضاء أولاً فهذا أولى. Sah-sah saja jika seseorang berniat ‘puasa di hari ‘Asyura (10 Muharram) dan yang dia niatkan adalah qodho’ puasa. Akan tetapi tidak bisa dijadikan puasa ‘Asyura itu sendiri sebagai qodho’ puasa. Perlu dipahami bahwa dua amalan tersebut punya maksud tersendiri, tidak mungkin niat di antara keduanya dijadikan satu.  Yang tepat adalah melakukan puasa Asyura sendiri dan qodho’ puasa tersendiri. Dan tidak mengapa jika seseorang melakukan puasa Asyura (puasa sunnah), kemudian di waktu lain baru ia mengqodho’ puasanya. Namun jika ia mendahulukan puasa qodho’ terlebih dahulu, itu lebih utama. [Link pembahasan:  http://www.saaid.net/Doat/mehran/107.htm] Dari penjelasan beliau di atas, yang tepat adalah jika ingin mengqodho’ puasa pada hari Asyura, tetap berniat puasa qodho’. Moga Allah beri ganjaran pula puasa ‘Asyura karena ia melakukan qodho’ puasa tersebut di hari yang mulia. Namun jika yang dilakukan adalah niatan puasa ‘Asyura, maka puasa qodho’ tidaklah bisa tercakup di dalamnya. Pahami baik-baik hal ini. Wallahu a’lam. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. @ Ummul Hamam, Riyadh KSA Yauma tasu’a, 9 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Musa Menang, Firaun Tenggelam di Hari Asyura Bingung dengan Ketetapan Puasa Asyura Tagsmuharram puasa asyura qadha puasa

Berniat Puasa Asyura Sekaligus Qodho’ Puasa

Sebagian wanita barangkali ada yang masih mempunyai utang puasa (qodho’). Karena berhubung besok adalah hari Asyura (10 Muharram), ada yang berniat untuk berpuasa Asyura sekaligus berniat puasa qodho’. Apakah hal ini dibolehkan? Ada penjelasan yang kami peroleh dari web saaid.net dari Dr. Mihron Mahir ‘Utsman di mana beliau menjelaskan: يصح أن يصوم المسلم في عاشوراء ويريد بذلك القضاء، ولكنه لن يكون عاشوراء وإنما هو القضاء. وكل عملين مقصودَين لا يمكن تشريك النية فيهما، بل لابد من الإتيان بهما. ولا بأس من أن يصوم عاشوراء ثم يصوم القضاء بعده، ولو تيسر صوم القضاء أولاً فهذا أولى. Sah-sah saja jika seseorang berniat ‘puasa di hari ‘Asyura (10 Muharram) dan yang dia niatkan adalah qodho’ puasa. Akan tetapi tidak bisa dijadikan puasa ‘Asyura itu sendiri sebagai qodho’ puasa. Perlu dipahami bahwa dua amalan tersebut punya maksud tersendiri, tidak mungkin niat di antara keduanya dijadikan satu.  Yang tepat adalah melakukan puasa Asyura sendiri dan qodho’ puasa tersendiri. Dan tidak mengapa jika seseorang melakukan puasa Asyura (puasa sunnah), kemudian di waktu lain baru ia mengqodho’ puasanya. Namun jika ia mendahulukan puasa qodho’ terlebih dahulu, itu lebih utama. [Link pembahasan:  http://www.saaid.net/Doat/mehran/107.htm] Dari penjelasan beliau di atas, yang tepat adalah jika ingin mengqodho’ puasa pada hari Asyura, tetap berniat puasa qodho’. Moga Allah beri ganjaran pula puasa ‘Asyura karena ia melakukan qodho’ puasa tersebut di hari yang mulia. Namun jika yang dilakukan adalah niatan puasa ‘Asyura, maka puasa qodho’ tidaklah bisa tercakup di dalamnya. Pahami baik-baik hal ini. Wallahu a’lam. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. @ Ummul Hamam, Riyadh KSA Yauma tasu’a, 9 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Musa Menang, Firaun Tenggelam di Hari Asyura Bingung dengan Ketetapan Puasa Asyura Tagsmuharram puasa asyura qadha puasa
Sebagian wanita barangkali ada yang masih mempunyai utang puasa (qodho’). Karena berhubung besok adalah hari Asyura (10 Muharram), ada yang berniat untuk berpuasa Asyura sekaligus berniat puasa qodho’. Apakah hal ini dibolehkan? Ada penjelasan yang kami peroleh dari web saaid.net dari Dr. Mihron Mahir ‘Utsman di mana beliau menjelaskan: يصح أن يصوم المسلم في عاشوراء ويريد بذلك القضاء، ولكنه لن يكون عاشوراء وإنما هو القضاء. وكل عملين مقصودَين لا يمكن تشريك النية فيهما، بل لابد من الإتيان بهما. ولا بأس من أن يصوم عاشوراء ثم يصوم القضاء بعده، ولو تيسر صوم القضاء أولاً فهذا أولى. Sah-sah saja jika seseorang berniat ‘puasa di hari ‘Asyura (10 Muharram) dan yang dia niatkan adalah qodho’ puasa. Akan tetapi tidak bisa dijadikan puasa ‘Asyura itu sendiri sebagai qodho’ puasa. Perlu dipahami bahwa dua amalan tersebut punya maksud tersendiri, tidak mungkin niat di antara keduanya dijadikan satu.  Yang tepat adalah melakukan puasa Asyura sendiri dan qodho’ puasa tersendiri. Dan tidak mengapa jika seseorang melakukan puasa Asyura (puasa sunnah), kemudian di waktu lain baru ia mengqodho’ puasanya. Namun jika ia mendahulukan puasa qodho’ terlebih dahulu, itu lebih utama. [Link pembahasan:  http://www.saaid.net/Doat/mehran/107.htm] Dari penjelasan beliau di atas, yang tepat adalah jika ingin mengqodho’ puasa pada hari Asyura, tetap berniat puasa qodho’. Moga Allah beri ganjaran pula puasa ‘Asyura karena ia melakukan qodho’ puasa tersebut di hari yang mulia. Namun jika yang dilakukan adalah niatan puasa ‘Asyura, maka puasa qodho’ tidaklah bisa tercakup di dalamnya. Pahami baik-baik hal ini. Wallahu a’lam. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. @ Ummul Hamam, Riyadh KSA Yauma tasu’a, 9 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Musa Menang, Firaun Tenggelam di Hari Asyura Bingung dengan Ketetapan Puasa Asyura Tagsmuharram puasa asyura qadha puasa


Sebagian wanita barangkali ada yang masih mempunyai utang puasa (qodho’). Karena berhubung besok adalah hari Asyura (10 Muharram), ada yang berniat untuk berpuasa Asyura sekaligus berniat puasa qodho’. Apakah hal ini dibolehkan? Ada penjelasan yang kami peroleh dari web saaid.net dari Dr. Mihron Mahir ‘Utsman di mana beliau menjelaskan: يصح أن يصوم المسلم في عاشوراء ويريد بذلك القضاء، ولكنه لن يكون عاشوراء وإنما هو القضاء. وكل عملين مقصودَين لا يمكن تشريك النية فيهما، بل لابد من الإتيان بهما. ولا بأس من أن يصوم عاشوراء ثم يصوم القضاء بعده، ولو تيسر صوم القضاء أولاً فهذا أولى. Sah-sah saja jika seseorang berniat ‘puasa di hari ‘Asyura (10 Muharram) dan yang dia niatkan adalah qodho’ puasa. Akan tetapi tidak bisa dijadikan puasa ‘Asyura itu sendiri sebagai qodho’ puasa. Perlu dipahami bahwa dua amalan tersebut punya maksud tersendiri, tidak mungkin niat di antara keduanya dijadikan satu.  Yang tepat adalah melakukan puasa Asyura sendiri dan qodho’ puasa tersendiri. Dan tidak mengapa jika seseorang melakukan puasa Asyura (puasa sunnah), kemudian di waktu lain baru ia mengqodho’ puasanya. Namun jika ia mendahulukan puasa qodho’ terlebih dahulu, itu lebih utama. [Link pembahasan:  http://www.saaid.net/Doat/mehran/107.htm] Dari penjelasan beliau di atas, yang tepat adalah jika ingin mengqodho’ puasa pada hari Asyura, tetap berniat puasa qodho’. Moga Allah beri ganjaran pula puasa ‘Asyura karena ia melakukan qodho’ puasa tersebut di hari yang mulia. Namun jika yang dilakukan adalah niatan puasa ‘Asyura, maka puasa qodho’ tidaklah bisa tercakup di dalamnya. Pahami baik-baik hal ini. Wallahu a’lam. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. @ Ummul Hamam, Riyadh KSA Yauma tasu’a, 9 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Musa Menang, Firaun Tenggelam di Hari Asyura Bingung dengan Ketetapan Puasa Asyura Tagsmuharram puasa asyura qadha puasa

Apakah Monyet Halal?

Kita telah mengetahui bahwa hewan buas adalah termasuk hewan yang diharamkan. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap binatang buas yang bertaring, maka memakannya adalah haram.” (HR. Muslim no. 1933). Bagaimana dengan hukum memakan monyet, kera dan sebangsanya? Halal ataukah haram? Para ulama sepakat bahwa monyet termasuk binatang buas, ditambah lagi monyet dinilai sebagai hewan yang khobits (kotor) sehingga dihukumi haram. Ibnu Qudamah dalam Al Mughni menyebutkan, ‘Umar, ‘Atho’, Mujahid, Makhul, Al Hasan Al Bashri melarang memakan monyet dan tidak boleh memperjual belikan binatang tersebut. Ibnu ‘Abdil Barr berkata, “Aku tidak mengetahui di antara para ulama ada yang menyelisihi pendapat bahwa monyet itu tidak boleh dimakan dan tidak boleh diperjualbelikan.” Diriwayatkan dari Asy Sya’bi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang (mengonsumsi) daging monyet. Kenapa dilarang? Karena monyet termasuk hewan buas, sehingga binatang tersebut termasuk dalam keumuman hadits larangan memakan hewan buas. Ditambah lagi monyet adalah binatang yang buruk sehingga monyet termasuk binatang khobits (kotor) dan diharamkan.” (Al Mughni, terbitan Darul Fikr, 11: 66) Wallahu a’lam bish showwab. @ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 5 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Hewan Yang Diharamkan Dalam Hadits Nabawi Hukum Hewan yang Hidup di Dua Alam

Apakah Monyet Halal?

Kita telah mengetahui bahwa hewan buas adalah termasuk hewan yang diharamkan. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap binatang buas yang bertaring, maka memakannya adalah haram.” (HR. Muslim no. 1933). Bagaimana dengan hukum memakan monyet, kera dan sebangsanya? Halal ataukah haram? Para ulama sepakat bahwa monyet termasuk binatang buas, ditambah lagi monyet dinilai sebagai hewan yang khobits (kotor) sehingga dihukumi haram. Ibnu Qudamah dalam Al Mughni menyebutkan, ‘Umar, ‘Atho’, Mujahid, Makhul, Al Hasan Al Bashri melarang memakan monyet dan tidak boleh memperjual belikan binatang tersebut. Ibnu ‘Abdil Barr berkata, “Aku tidak mengetahui di antara para ulama ada yang menyelisihi pendapat bahwa monyet itu tidak boleh dimakan dan tidak boleh diperjualbelikan.” Diriwayatkan dari Asy Sya’bi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang (mengonsumsi) daging monyet. Kenapa dilarang? Karena monyet termasuk hewan buas, sehingga binatang tersebut termasuk dalam keumuman hadits larangan memakan hewan buas. Ditambah lagi monyet adalah binatang yang buruk sehingga monyet termasuk binatang khobits (kotor) dan diharamkan.” (Al Mughni, terbitan Darul Fikr, 11: 66) Wallahu a’lam bish showwab. @ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 5 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Hewan Yang Diharamkan Dalam Hadits Nabawi Hukum Hewan yang Hidup di Dua Alam
Kita telah mengetahui bahwa hewan buas adalah termasuk hewan yang diharamkan. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap binatang buas yang bertaring, maka memakannya adalah haram.” (HR. Muslim no. 1933). Bagaimana dengan hukum memakan monyet, kera dan sebangsanya? Halal ataukah haram? Para ulama sepakat bahwa monyet termasuk binatang buas, ditambah lagi monyet dinilai sebagai hewan yang khobits (kotor) sehingga dihukumi haram. Ibnu Qudamah dalam Al Mughni menyebutkan, ‘Umar, ‘Atho’, Mujahid, Makhul, Al Hasan Al Bashri melarang memakan monyet dan tidak boleh memperjual belikan binatang tersebut. Ibnu ‘Abdil Barr berkata, “Aku tidak mengetahui di antara para ulama ada yang menyelisihi pendapat bahwa monyet itu tidak boleh dimakan dan tidak boleh diperjualbelikan.” Diriwayatkan dari Asy Sya’bi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang (mengonsumsi) daging monyet. Kenapa dilarang? Karena monyet termasuk hewan buas, sehingga binatang tersebut termasuk dalam keumuman hadits larangan memakan hewan buas. Ditambah lagi monyet adalah binatang yang buruk sehingga monyet termasuk binatang khobits (kotor) dan diharamkan.” (Al Mughni, terbitan Darul Fikr, 11: 66) Wallahu a’lam bish showwab. @ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 5 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Hewan Yang Diharamkan Dalam Hadits Nabawi Hukum Hewan yang Hidup di Dua Alam


Kita telah mengetahui bahwa hewan buas adalah termasuk hewan yang diharamkan. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap binatang buas yang bertaring, maka memakannya adalah haram.” (HR. Muslim no. 1933). Bagaimana dengan hukum memakan monyet, kera dan sebangsanya? Halal ataukah haram? Para ulama sepakat bahwa monyet termasuk binatang buas, ditambah lagi monyet dinilai sebagai hewan yang khobits (kotor) sehingga dihukumi haram. Ibnu Qudamah dalam Al Mughni menyebutkan, ‘Umar, ‘Atho’, Mujahid, Makhul, Al Hasan Al Bashri melarang memakan monyet dan tidak boleh memperjual belikan binatang tersebut. Ibnu ‘Abdil Barr berkata, “Aku tidak mengetahui di antara para ulama ada yang menyelisihi pendapat bahwa monyet itu tidak boleh dimakan dan tidak boleh diperjualbelikan.” Diriwayatkan dari Asy Sya’bi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang (mengonsumsi) daging monyet. Kenapa dilarang? Karena monyet termasuk hewan buas, sehingga binatang tersebut termasuk dalam keumuman hadits larangan memakan hewan buas. Ditambah lagi monyet adalah binatang yang buruk sehingga monyet termasuk binatang khobits (kotor) dan diharamkan.” (Al Mughni, terbitan Darul Fikr, 11: 66) Wallahu a’lam bish showwab. @ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 5 Muharram 1433 H www.rumaysho.com Baca Juga: Hewan Yang Diharamkan Dalam Hadits Nabawi Hukum Hewan yang Hidup di Dua Alam
Prev     Next