Shalat Shubuh dan Shalat Isya Paling Berat Bagi Orang Munafik

Dua shalat yang memiliki keutamaan yang besar adalah shalat Shubuh dan Shalat Isya.Dua shalat inilah yang terasa berat bagi orang-orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً “Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shala Isya’ dan shalat Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437) Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657). Ibnu Hajar mengatakan bahwa semua shalat itu berat bagi orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى “Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas” (QS. At Taubah: 54). Akan tetapi, shalat ‘Isya dan shalat Shubuh lebih berat bagi orang munafik karena rasa malas yang menyebabkan enggan melakukannya. Karena shalat ‘Isya adalah waktu di mana orang-orang bersitirahat, sedangkan waktu Shubuh adalah waktu nikmatnya tidur. (Fathul Bari, 2: 141). Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Orang munafik itu shalat dalam keadaan riya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain). Di masa silam shala Shubuh dan shalat ‘Isya’ tersebut dilakukan dalam keadaan gelap sehingga mereka -orang munafik- tidak menghadirinya. Mereka enggan menghadiri kedua shalat tersebut. Namun untuk shalat lainnya, yaitu shalat Zhuhur, ‘Ashar dan Maghrib, mereka tetap hadir karena jama’ah yang lain melihat mereka. Dan mereka kala itu cari muka dengan amalan shalat mereka tersebut. Mereka hanyalah sedikit berdzikir kepada Allah. Di masa silam belum ada lampu listrik seperti saat ini. Sehingga menghadiri dua shalat itu terasa berat karena mereka tidak bisa memamerkan amalan mereka. Alasan lainnya karena shalat ‘Isya itu waktu istirahat, sedangkan shalat Shubuh waktu lelapnya tidur.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 82). Hanya Allah yang memberi hidayah untuk beramal shalih. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 05: 51 PM, menjelang Maghrib. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmeninggalkan shalat munafik shalat shubuh

Shalat Shubuh dan Shalat Isya Paling Berat Bagi Orang Munafik

Dua shalat yang memiliki keutamaan yang besar adalah shalat Shubuh dan Shalat Isya.Dua shalat inilah yang terasa berat bagi orang-orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً “Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shala Isya’ dan shalat Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437) Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657). Ibnu Hajar mengatakan bahwa semua shalat itu berat bagi orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى “Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas” (QS. At Taubah: 54). Akan tetapi, shalat ‘Isya dan shalat Shubuh lebih berat bagi orang munafik karena rasa malas yang menyebabkan enggan melakukannya. Karena shalat ‘Isya adalah waktu di mana orang-orang bersitirahat, sedangkan waktu Shubuh adalah waktu nikmatnya tidur. (Fathul Bari, 2: 141). Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Orang munafik itu shalat dalam keadaan riya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain). Di masa silam shala Shubuh dan shalat ‘Isya’ tersebut dilakukan dalam keadaan gelap sehingga mereka -orang munafik- tidak menghadirinya. Mereka enggan menghadiri kedua shalat tersebut. Namun untuk shalat lainnya, yaitu shalat Zhuhur, ‘Ashar dan Maghrib, mereka tetap hadir karena jama’ah yang lain melihat mereka. Dan mereka kala itu cari muka dengan amalan shalat mereka tersebut. Mereka hanyalah sedikit berdzikir kepada Allah. Di masa silam belum ada lampu listrik seperti saat ini. Sehingga menghadiri dua shalat itu terasa berat karena mereka tidak bisa memamerkan amalan mereka. Alasan lainnya karena shalat ‘Isya itu waktu istirahat, sedangkan shalat Shubuh waktu lelapnya tidur.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 82). Hanya Allah yang memberi hidayah untuk beramal shalih. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 05: 51 PM, menjelang Maghrib. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmeninggalkan shalat munafik shalat shubuh
Dua shalat yang memiliki keutamaan yang besar adalah shalat Shubuh dan Shalat Isya.Dua shalat inilah yang terasa berat bagi orang-orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً “Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shala Isya’ dan shalat Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437) Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657). Ibnu Hajar mengatakan bahwa semua shalat itu berat bagi orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى “Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas” (QS. At Taubah: 54). Akan tetapi, shalat ‘Isya dan shalat Shubuh lebih berat bagi orang munafik karena rasa malas yang menyebabkan enggan melakukannya. Karena shalat ‘Isya adalah waktu di mana orang-orang bersitirahat, sedangkan waktu Shubuh adalah waktu nikmatnya tidur. (Fathul Bari, 2: 141). Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Orang munafik itu shalat dalam keadaan riya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain). Di masa silam shala Shubuh dan shalat ‘Isya’ tersebut dilakukan dalam keadaan gelap sehingga mereka -orang munafik- tidak menghadirinya. Mereka enggan menghadiri kedua shalat tersebut. Namun untuk shalat lainnya, yaitu shalat Zhuhur, ‘Ashar dan Maghrib, mereka tetap hadir karena jama’ah yang lain melihat mereka. Dan mereka kala itu cari muka dengan amalan shalat mereka tersebut. Mereka hanyalah sedikit berdzikir kepada Allah. Di masa silam belum ada lampu listrik seperti saat ini. Sehingga menghadiri dua shalat itu terasa berat karena mereka tidak bisa memamerkan amalan mereka. Alasan lainnya karena shalat ‘Isya itu waktu istirahat, sedangkan shalat Shubuh waktu lelapnya tidur.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 82). Hanya Allah yang memberi hidayah untuk beramal shalih. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 05: 51 PM, menjelang Maghrib. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmeninggalkan shalat munafik shalat shubuh


Dua shalat yang memiliki keutamaan yang besar adalah shalat Shubuh dan Shalat Isya.Dua shalat inilah yang terasa berat bagi orang-orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً “Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shala Isya’ dan shalat Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437) Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657). Ibnu Hajar mengatakan bahwa semua shalat itu berat bagi orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى “Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas” (QS. At Taubah: 54). Akan tetapi, shalat ‘Isya dan shalat Shubuh lebih berat bagi orang munafik karena rasa malas yang menyebabkan enggan melakukannya. Karena shalat ‘Isya adalah waktu di mana orang-orang bersitirahat, sedangkan waktu Shubuh adalah waktu nikmatnya tidur. (Fathul Bari, 2: 141). Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Orang munafik itu shalat dalam keadaan riya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain). Di masa silam shala Shubuh dan shalat ‘Isya’ tersebut dilakukan dalam keadaan gelap sehingga mereka -orang munafik- tidak menghadirinya. Mereka enggan menghadiri kedua shalat tersebut. Namun untuk shalat lainnya, yaitu shalat Zhuhur, ‘Ashar dan Maghrib, mereka tetap hadir karena jama’ah yang lain melihat mereka. Dan mereka kala itu cari muka dengan amalan shalat mereka tersebut. Mereka hanyalah sedikit berdzikir kepada Allah. Di masa silam belum ada lampu listrik seperti saat ini. Sehingga menghadiri dua shalat itu terasa berat karena mereka tidak bisa memamerkan amalan mereka. Alasan lainnya karena shalat ‘Isya itu waktu istirahat, sedangkan shalat Shubuh waktu lelapnya tidur.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 82). Hanya Allah yang memberi hidayah untuk beramal shalih. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 05: 51 PM, menjelang Maghrib. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmeninggalkan shalat munafik shalat shubuh

Meninggalkan Shalat Ashar, Terhapuslah Amalnya

Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahaya meninggalkan satu shalat saja. Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Kata Al Muhallab, maknanya adalah meninggalkan dengan menyia-nyiakannya dan menganggap remeh keutamaan waktunya padahal mampu untuk menunaikannya. Lihat Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol, 3: 221. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Terhapusnya amalan tidaklah ditetapkan melainkan pada amalan yang termasuk dosa besar. Begitu shalat meninggalkan shalat Ashar lebih parah daripada meninggalkan shalat lainnya. Karena shalat Ashar disebut dengan shalat wustho[1] yang dikhususkan dalam perintah untuk dijaga. Shalat Ashar ini juga diwajibkan kepada orang sebelum kita di mana mereka melalaikan shalat ini. Jadi, siapa saja yang menjaga shalat Ashar, maka ia mendapatkan dua ganjaran.”  (Majmu’atul Fatawa, 22: 54). Ibnul Qayyim  berkata, “Yang nampak dari hadits, meninggalkan amalan itu ada dua macam. Pertama, meninggalkan secara total dengan tidak pernah mengerjakan shalat sama sekali, maka ini menjadikan amalnya batal seluruhnya. Kedua, meninggalkan pada hari tertentu, maka ini menjadikan amalnya batal pada hari tersebut. Jadi karena meninggalkan secara umum, maka amalnya batal secara umum. Lalu meninggalkan shalat tertentu, maka amalnya batal pada hari tertentu.” (Ash Shalah, hal. 59). Bagaimana amalan bisa terhapus selain menentang Islam (riddah)? Iya, ditunjukkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan disebutkan dari para sahabat bahwa kejelekan dapat menghapuskan amalan kebaikan. Begitu pula kebaikan dapat menghapuskan kejelekan. Sebagaimana dalam beberapa ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al Baqarah: 264). Lihatlah amalan kebaikan bisa batal dengan kejelekan. Dalam ayat lainnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat: 2). Amalan kejelekan dengan meninggikan suara melebihi suara nabi juga bisa menghapuskan amalan. Ini menunjukkan bahwa mungkin saja amalan kebaikan terhapus dengan kejelekan. (Idem, hal. 59) Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 11:44 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Allah Ta’ala berfirman, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى ” Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustho.” (QS. Al Baqarah: 238). Shalat wustho adalah shalat ‘Ashar sebagaimana disebutkan dalam hadits, شَغَلُونَا عَنِ الصَّلاَةِ الْوُسْطَى صَلاَةِ الْعَصْرِ “Mereka telah menyibukkan kami dari shalat wustho yaitu shalat Ashar.” (HR. Muslim no. 627, 628). Tagsmeninggalkan shalat

Meninggalkan Shalat Ashar, Terhapuslah Amalnya

Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahaya meninggalkan satu shalat saja. Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Kata Al Muhallab, maknanya adalah meninggalkan dengan menyia-nyiakannya dan menganggap remeh keutamaan waktunya padahal mampu untuk menunaikannya. Lihat Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol, 3: 221. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Terhapusnya amalan tidaklah ditetapkan melainkan pada amalan yang termasuk dosa besar. Begitu shalat meninggalkan shalat Ashar lebih parah daripada meninggalkan shalat lainnya. Karena shalat Ashar disebut dengan shalat wustho[1] yang dikhususkan dalam perintah untuk dijaga. Shalat Ashar ini juga diwajibkan kepada orang sebelum kita di mana mereka melalaikan shalat ini. Jadi, siapa saja yang menjaga shalat Ashar, maka ia mendapatkan dua ganjaran.”  (Majmu’atul Fatawa, 22: 54). Ibnul Qayyim  berkata, “Yang nampak dari hadits, meninggalkan amalan itu ada dua macam. Pertama, meninggalkan secara total dengan tidak pernah mengerjakan shalat sama sekali, maka ini menjadikan amalnya batal seluruhnya. Kedua, meninggalkan pada hari tertentu, maka ini menjadikan amalnya batal pada hari tersebut. Jadi karena meninggalkan secara umum, maka amalnya batal secara umum. Lalu meninggalkan shalat tertentu, maka amalnya batal pada hari tertentu.” (Ash Shalah, hal. 59). Bagaimana amalan bisa terhapus selain menentang Islam (riddah)? Iya, ditunjukkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan disebutkan dari para sahabat bahwa kejelekan dapat menghapuskan amalan kebaikan. Begitu pula kebaikan dapat menghapuskan kejelekan. Sebagaimana dalam beberapa ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al Baqarah: 264). Lihatlah amalan kebaikan bisa batal dengan kejelekan. Dalam ayat lainnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat: 2). Amalan kejelekan dengan meninggikan suara melebihi suara nabi juga bisa menghapuskan amalan. Ini menunjukkan bahwa mungkin saja amalan kebaikan terhapus dengan kejelekan. (Idem, hal. 59) Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 11:44 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Allah Ta’ala berfirman, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى ” Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustho.” (QS. Al Baqarah: 238). Shalat wustho adalah shalat ‘Ashar sebagaimana disebutkan dalam hadits, شَغَلُونَا عَنِ الصَّلاَةِ الْوُسْطَى صَلاَةِ الْعَصْرِ “Mereka telah menyibukkan kami dari shalat wustho yaitu shalat Ashar.” (HR. Muslim no. 627, 628). Tagsmeninggalkan shalat
Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahaya meninggalkan satu shalat saja. Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Kata Al Muhallab, maknanya adalah meninggalkan dengan menyia-nyiakannya dan menganggap remeh keutamaan waktunya padahal mampu untuk menunaikannya. Lihat Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol, 3: 221. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Terhapusnya amalan tidaklah ditetapkan melainkan pada amalan yang termasuk dosa besar. Begitu shalat meninggalkan shalat Ashar lebih parah daripada meninggalkan shalat lainnya. Karena shalat Ashar disebut dengan shalat wustho[1] yang dikhususkan dalam perintah untuk dijaga. Shalat Ashar ini juga diwajibkan kepada orang sebelum kita di mana mereka melalaikan shalat ini. Jadi, siapa saja yang menjaga shalat Ashar, maka ia mendapatkan dua ganjaran.”  (Majmu’atul Fatawa, 22: 54). Ibnul Qayyim  berkata, “Yang nampak dari hadits, meninggalkan amalan itu ada dua macam. Pertama, meninggalkan secara total dengan tidak pernah mengerjakan shalat sama sekali, maka ini menjadikan amalnya batal seluruhnya. Kedua, meninggalkan pada hari tertentu, maka ini menjadikan amalnya batal pada hari tersebut. Jadi karena meninggalkan secara umum, maka amalnya batal secara umum. Lalu meninggalkan shalat tertentu, maka amalnya batal pada hari tertentu.” (Ash Shalah, hal. 59). Bagaimana amalan bisa terhapus selain menentang Islam (riddah)? Iya, ditunjukkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan disebutkan dari para sahabat bahwa kejelekan dapat menghapuskan amalan kebaikan. Begitu pula kebaikan dapat menghapuskan kejelekan. Sebagaimana dalam beberapa ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al Baqarah: 264). Lihatlah amalan kebaikan bisa batal dengan kejelekan. Dalam ayat lainnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat: 2). Amalan kejelekan dengan meninggikan suara melebihi suara nabi juga bisa menghapuskan amalan. Ini menunjukkan bahwa mungkin saja amalan kebaikan terhapus dengan kejelekan. (Idem, hal. 59) Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 11:44 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Allah Ta’ala berfirman, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى ” Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustho.” (QS. Al Baqarah: 238). Shalat wustho adalah shalat ‘Ashar sebagaimana disebutkan dalam hadits, شَغَلُونَا عَنِ الصَّلاَةِ الْوُسْطَى صَلاَةِ الْعَصْرِ “Mereka telah menyibukkan kami dari shalat wustho yaitu shalat Ashar.” (HR. Muslim no. 627, 628). Tagsmeninggalkan shalat


Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahaya meninggalkan satu shalat saja. Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Kata Al Muhallab, maknanya adalah meninggalkan dengan menyia-nyiakannya dan menganggap remeh keutamaan waktunya padahal mampu untuk menunaikannya. Lihat Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol, 3: 221. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Terhapusnya amalan tidaklah ditetapkan melainkan pada amalan yang termasuk dosa besar. Begitu shalat meninggalkan shalat Ashar lebih parah daripada meninggalkan shalat lainnya. Karena shalat Ashar disebut dengan shalat wustho[1] yang dikhususkan dalam perintah untuk dijaga. Shalat Ashar ini juga diwajibkan kepada orang sebelum kita di mana mereka melalaikan shalat ini. Jadi, siapa saja yang menjaga shalat Ashar, maka ia mendapatkan dua ganjaran.”  (Majmu’atul Fatawa, 22: 54). Ibnul Qayyim  berkata, “Yang nampak dari hadits, meninggalkan amalan itu ada dua macam. Pertama, meninggalkan secara total dengan tidak pernah mengerjakan shalat sama sekali, maka ini menjadikan amalnya batal seluruhnya. Kedua, meninggalkan pada hari tertentu, maka ini menjadikan amalnya batal pada hari tersebut. Jadi karena meninggalkan secara umum, maka amalnya batal secara umum. Lalu meninggalkan shalat tertentu, maka amalnya batal pada hari tertentu.” (Ash Shalah, hal. 59). Bagaimana amalan bisa terhapus selain menentang Islam (riddah)? Iya, ditunjukkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan disebutkan dari para sahabat bahwa kejelekan dapat menghapuskan amalan kebaikan. Begitu pula kebaikan dapat menghapuskan kejelekan. Sebagaimana dalam beberapa ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al Baqarah: 264). Lihatlah amalan kebaikan bisa batal dengan kejelekan. Dalam ayat lainnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat: 2). Amalan kejelekan dengan meninggikan suara melebihi suara nabi juga bisa menghapuskan amalan. Ini menunjukkan bahwa mungkin saja amalan kebaikan terhapus dengan kejelekan. (Idem, hal. 59) Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 11:44 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Allah Ta’ala berfirman, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى ” Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustho.” (QS. Al Baqarah: 238). Shalat wustho adalah shalat ‘Ashar sebagaimana disebutkan dalam hadits, شَغَلُونَا عَنِ الصَّلاَةِ الْوُسْطَى صَلاَةِ الْعَصْرِ “Mereka telah menyibukkan kami dari shalat wustho yaitu shalat Ashar.” (HR. Muslim no. 627, 628). Tagsmeninggalkan shalat

Hukum Ari-Ari (Plasenta) Bayi untuk Obat dan Kosmetik

Ari-ari atau plasenta merupakan bagian dari tubuh bayi. Ternyata sebagian orang ada yang menggunakan plasenta bayi untuk kosmetik, kloning bahkan ada yang menggunakannya untuk obat. Bagaimana Islam menyikapi hal ini? Hukum asalnya, diharamkan menggunakan ari-ari (plasenta) bayi (manusia) untuk kosmetik dan pengobatan. Karena ari-ari adalah bagian dari sesuatu yang dimuliakan. Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam” (QS. Al Isra’: 70). Kalau ternyata tidak ada pengganti, lantas yang ada hanyalah menggunakan plasenta bayi tersebut, maka hanya dibolehkan untuk tujuan pengobatan, tidak untuk kosmetik karena alasan darurat. Al Khotib Asy Syarbini berkata, ” للمضطر أكل آدمي ميت إذا لم يجد ميتة غيره… لأن حُرمة الحي أعظم من حرمة الميت “Orang yang dalam keadaan darurat boleh memakan bangkai manusia jika tidak didapati bangkai lainnya. … Karena manusia ketika hidupnya lebih mulia daripada ketika matinya.” (Mughnil Muhtaj, 4: 413). Terserah di sini penggunaannya sebagai obat luar seperti salep atau sebagai obat yang diminum atau dengan injeksi ketika dalam keadaan darurat. Hal ini telah ada keputusan dari Al Majm’a Al Fiqhi Al Islami di bawah Robithoh Al ‘Alam Al Islami dalam dauroh ketigabelas 5/8/1412 H (bertepatan dengan 8 Februari 1992). Begitu pula dalam keadaan darurat, dibolehkan memindahkan kornea mata dan semacamnya. Sebagaimana terdapat keputusan dalam Majlis Al Fita’ kedua tahun 1404 H bahwa  kebutaan atau hilangnya penglihatan dianggap darurat bagi manusia. Menghilangkan darurat semisal ini dengan memindahkan kornea mata dari yang telah mati lalu dipasang pada yang hidup adalah suatu hal yang darurat. Hal ini masuk dalam kaedah yang disepakati oleh para ulama, الضرورات تبيح المحظورات “Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang.” الضرورة تُقدَّر بقدرها “Keadaan darurat diambil sesuai yang dibutuhkan.” لا يُنكر ارتكاب أخفِّ الضررين “Tidak diingkari pengambilan mudhorot (bahaya yang lebih ringan).” Namun perlu diperhatikan di sini mengenai jual beli atau perdagangan plasenta untuk tujuan pengobatan karena yang dijual adalah bagian tubuh manusia. Menjualnya berarti pertanda melecehkannya padahal Allah Ta’ala telah memuliakannya. Sebagai gantinya adalah harus diberi secara cuma-cuma untuk maksud memuliakan manusia. Tujuan lainnya, supaya tidak terjadi perdagangan yang diharamkan. Walaupun asalnya, bangkai manusia adalah suci karena manusia saat hidup dan matinya itu suci. Syamsuddin Muhammad Al Khottib mengatakan mengenai ayat (yang artinya) “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam“, bentuk pemuliaan pada manusia adalah ia tidak dihukumi najis ketika matinya baik manusia tersebut muslim atau selainnya. (Al Iqna’, 1: 170). Namun sikap yang lebih baik sebagai bentuk pemuliaan Allah pada manusia, maka tubuh mereka seperti ari-ari tidak digunakan untuk obat, kosmetik, dan kloning. Wallahu a’lam.   Referensi: Mughnil Muhtaj, Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan keempat, tahun 1431 H. Al Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’, Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al Khottib, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah. http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2796#.UpJ_xcS-3lU — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 07:15 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskesehatan

Hukum Ari-Ari (Plasenta) Bayi untuk Obat dan Kosmetik

Ari-ari atau plasenta merupakan bagian dari tubuh bayi. Ternyata sebagian orang ada yang menggunakan plasenta bayi untuk kosmetik, kloning bahkan ada yang menggunakannya untuk obat. Bagaimana Islam menyikapi hal ini? Hukum asalnya, diharamkan menggunakan ari-ari (plasenta) bayi (manusia) untuk kosmetik dan pengobatan. Karena ari-ari adalah bagian dari sesuatu yang dimuliakan. Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam” (QS. Al Isra’: 70). Kalau ternyata tidak ada pengganti, lantas yang ada hanyalah menggunakan plasenta bayi tersebut, maka hanya dibolehkan untuk tujuan pengobatan, tidak untuk kosmetik karena alasan darurat. Al Khotib Asy Syarbini berkata, ” للمضطر أكل آدمي ميت إذا لم يجد ميتة غيره… لأن حُرمة الحي أعظم من حرمة الميت “Orang yang dalam keadaan darurat boleh memakan bangkai manusia jika tidak didapati bangkai lainnya. … Karena manusia ketika hidupnya lebih mulia daripada ketika matinya.” (Mughnil Muhtaj, 4: 413). Terserah di sini penggunaannya sebagai obat luar seperti salep atau sebagai obat yang diminum atau dengan injeksi ketika dalam keadaan darurat. Hal ini telah ada keputusan dari Al Majm’a Al Fiqhi Al Islami di bawah Robithoh Al ‘Alam Al Islami dalam dauroh ketigabelas 5/8/1412 H (bertepatan dengan 8 Februari 1992). Begitu pula dalam keadaan darurat, dibolehkan memindahkan kornea mata dan semacamnya. Sebagaimana terdapat keputusan dalam Majlis Al Fita’ kedua tahun 1404 H bahwa  kebutaan atau hilangnya penglihatan dianggap darurat bagi manusia. Menghilangkan darurat semisal ini dengan memindahkan kornea mata dari yang telah mati lalu dipasang pada yang hidup adalah suatu hal yang darurat. Hal ini masuk dalam kaedah yang disepakati oleh para ulama, الضرورات تبيح المحظورات “Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang.” الضرورة تُقدَّر بقدرها “Keadaan darurat diambil sesuai yang dibutuhkan.” لا يُنكر ارتكاب أخفِّ الضررين “Tidak diingkari pengambilan mudhorot (bahaya yang lebih ringan).” Namun perlu diperhatikan di sini mengenai jual beli atau perdagangan plasenta untuk tujuan pengobatan karena yang dijual adalah bagian tubuh manusia. Menjualnya berarti pertanda melecehkannya padahal Allah Ta’ala telah memuliakannya. Sebagai gantinya adalah harus diberi secara cuma-cuma untuk maksud memuliakan manusia. Tujuan lainnya, supaya tidak terjadi perdagangan yang diharamkan. Walaupun asalnya, bangkai manusia adalah suci karena manusia saat hidup dan matinya itu suci. Syamsuddin Muhammad Al Khottib mengatakan mengenai ayat (yang artinya) “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam“, bentuk pemuliaan pada manusia adalah ia tidak dihukumi najis ketika matinya baik manusia tersebut muslim atau selainnya. (Al Iqna’, 1: 170). Namun sikap yang lebih baik sebagai bentuk pemuliaan Allah pada manusia, maka tubuh mereka seperti ari-ari tidak digunakan untuk obat, kosmetik, dan kloning. Wallahu a’lam.   Referensi: Mughnil Muhtaj, Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan keempat, tahun 1431 H. Al Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’, Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al Khottib, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah. http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2796#.UpJ_xcS-3lU — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 07:15 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskesehatan
Ari-ari atau plasenta merupakan bagian dari tubuh bayi. Ternyata sebagian orang ada yang menggunakan plasenta bayi untuk kosmetik, kloning bahkan ada yang menggunakannya untuk obat. Bagaimana Islam menyikapi hal ini? Hukum asalnya, diharamkan menggunakan ari-ari (plasenta) bayi (manusia) untuk kosmetik dan pengobatan. Karena ari-ari adalah bagian dari sesuatu yang dimuliakan. Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam” (QS. Al Isra’: 70). Kalau ternyata tidak ada pengganti, lantas yang ada hanyalah menggunakan plasenta bayi tersebut, maka hanya dibolehkan untuk tujuan pengobatan, tidak untuk kosmetik karena alasan darurat. Al Khotib Asy Syarbini berkata, ” للمضطر أكل آدمي ميت إذا لم يجد ميتة غيره… لأن حُرمة الحي أعظم من حرمة الميت “Orang yang dalam keadaan darurat boleh memakan bangkai manusia jika tidak didapati bangkai lainnya. … Karena manusia ketika hidupnya lebih mulia daripada ketika matinya.” (Mughnil Muhtaj, 4: 413). Terserah di sini penggunaannya sebagai obat luar seperti salep atau sebagai obat yang diminum atau dengan injeksi ketika dalam keadaan darurat. Hal ini telah ada keputusan dari Al Majm’a Al Fiqhi Al Islami di bawah Robithoh Al ‘Alam Al Islami dalam dauroh ketigabelas 5/8/1412 H (bertepatan dengan 8 Februari 1992). Begitu pula dalam keadaan darurat, dibolehkan memindahkan kornea mata dan semacamnya. Sebagaimana terdapat keputusan dalam Majlis Al Fita’ kedua tahun 1404 H bahwa  kebutaan atau hilangnya penglihatan dianggap darurat bagi manusia. Menghilangkan darurat semisal ini dengan memindahkan kornea mata dari yang telah mati lalu dipasang pada yang hidup adalah suatu hal yang darurat. Hal ini masuk dalam kaedah yang disepakati oleh para ulama, الضرورات تبيح المحظورات “Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang.” الضرورة تُقدَّر بقدرها “Keadaan darurat diambil sesuai yang dibutuhkan.” لا يُنكر ارتكاب أخفِّ الضررين “Tidak diingkari pengambilan mudhorot (bahaya yang lebih ringan).” Namun perlu diperhatikan di sini mengenai jual beli atau perdagangan plasenta untuk tujuan pengobatan karena yang dijual adalah bagian tubuh manusia. Menjualnya berarti pertanda melecehkannya padahal Allah Ta’ala telah memuliakannya. Sebagai gantinya adalah harus diberi secara cuma-cuma untuk maksud memuliakan manusia. Tujuan lainnya, supaya tidak terjadi perdagangan yang diharamkan. Walaupun asalnya, bangkai manusia adalah suci karena manusia saat hidup dan matinya itu suci. Syamsuddin Muhammad Al Khottib mengatakan mengenai ayat (yang artinya) “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam“, bentuk pemuliaan pada manusia adalah ia tidak dihukumi najis ketika matinya baik manusia tersebut muslim atau selainnya. (Al Iqna’, 1: 170). Namun sikap yang lebih baik sebagai bentuk pemuliaan Allah pada manusia, maka tubuh mereka seperti ari-ari tidak digunakan untuk obat, kosmetik, dan kloning. Wallahu a’lam.   Referensi: Mughnil Muhtaj, Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan keempat, tahun 1431 H. Al Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’, Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al Khottib, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah. http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2796#.UpJ_xcS-3lU — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 07:15 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskesehatan


Ari-ari atau plasenta merupakan bagian dari tubuh bayi. Ternyata sebagian orang ada yang menggunakan plasenta bayi untuk kosmetik, kloning bahkan ada yang menggunakannya untuk obat. Bagaimana Islam menyikapi hal ini? Hukum asalnya, diharamkan menggunakan ari-ari (plasenta) bayi (manusia) untuk kosmetik dan pengobatan. Karena ari-ari adalah bagian dari sesuatu yang dimuliakan. Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam” (QS. Al Isra’: 70). Kalau ternyata tidak ada pengganti, lantas yang ada hanyalah menggunakan plasenta bayi tersebut, maka hanya dibolehkan untuk tujuan pengobatan, tidak untuk kosmetik karena alasan darurat. Al Khotib Asy Syarbini berkata, ” للمضطر أكل آدمي ميت إذا لم يجد ميتة غيره… لأن حُرمة الحي أعظم من حرمة الميت “Orang yang dalam keadaan darurat boleh memakan bangkai manusia jika tidak didapati bangkai lainnya. … Karena manusia ketika hidupnya lebih mulia daripada ketika matinya.” (Mughnil Muhtaj, 4: 413). Terserah di sini penggunaannya sebagai obat luar seperti salep atau sebagai obat yang diminum atau dengan injeksi ketika dalam keadaan darurat. Hal ini telah ada keputusan dari Al Majm’a Al Fiqhi Al Islami di bawah Robithoh Al ‘Alam Al Islami dalam dauroh ketigabelas 5/8/1412 H (bertepatan dengan 8 Februari 1992). Begitu pula dalam keadaan darurat, dibolehkan memindahkan kornea mata dan semacamnya. Sebagaimana terdapat keputusan dalam Majlis Al Fita’ kedua tahun 1404 H bahwa  kebutaan atau hilangnya penglihatan dianggap darurat bagi manusia. Menghilangkan darurat semisal ini dengan memindahkan kornea mata dari yang telah mati lalu dipasang pada yang hidup adalah suatu hal yang darurat. Hal ini masuk dalam kaedah yang disepakati oleh para ulama, الضرورات تبيح المحظورات “Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang.” الضرورة تُقدَّر بقدرها “Keadaan darurat diambil sesuai yang dibutuhkan.” لا يُنكر ارتكاب أخفِّ الضررين “Tidak diingkari pengambilan mudhorot (bahaya yang lebih ringan).” Namun perlu diperhatikan di sini mengenai jual beli atau perdagangan plasenta untuk tujuan pengobatan karena yang dijual adalah bagian tubuh manusia. Menjualnya berarti pertanda melecehkannya padahal Allah Ta’ala telah memuliakannya. Sebagai gantinya adalah harus diberi secara cuma-cuma untuk maksud memuliakan manusia. Tujuan lainnya, supaya tidak terjadi perdagangan yang diharamkan. Walaupun asalnya, bangkai manusia adalah suci karena manusia saat hidup dan matinya itu suci. Syamsuddin Muhammad Al Khottib mengatakan mengenai ayat (yang artinya) “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam“, bentuk pemuliaan pada manusia adalah ia tidak dihukumi najis ketika matinya baik manusia tersebut muslim atau selainnya. (Al Iqna’, 1: 170). Namun sikap yang lebih baik sebagai bentuk pemuliaan Allah pada manusia, maka tubuh mereka seperti ari-ari tidak digunakan untuk obat, kosmetik, dan kloning. Wallahu a’lam.   Referensi: Mughnil Muhtaj, Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan keempat, tahun 1431 H. Al Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’, Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al Khottib, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah. http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2796#.UpJ_xcS-3lU — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 07:15 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskesehatan

Jin dan Setan itu Ada

Jin dan setan itu benar adanya. Siapa yang mengingkari keberadaan jin, berarti ia telah menyimpang dari akidah yang benar seperti golongan Mu’tazilah. Setan itu bagian dari jin. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada satu pun yang mengingkari keberadaan jin dari kaum muslimin. Tidak ada yang mengingkari pula bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pada kalangan jin. Dan mayoritas orang kafir pun menetapkan adanya jin. Adapun orang Yahudi dan Nashrani, mereka mengakui adanya jin sebagaimana kaum muslimin. Jika ada dari kalangan ahli kitab tersebut yang mengingkari keberadaan jin, maka sama halnya dengan sebagian kaum muslimin seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah. Akan tetapi mayoritas kaum muslimin mengakui adanya jin. Pengakuan seperti ini dikarenakan keberadaan jin itu secara mutawatir dari berita yang datang dari para nabi. Bahkan keyakinan terhadap jin sudah ma’lum bidh dhoruroh yaitu tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut[1].” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 10). Di tempat lain, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seluruh kelompok kaum muslimin mengakui keberadaan jin sebagaimana pula mayoritas kaum kafir dan sebagian besar ahli kitab, begitu pula kebanyakan orang musyrik Arab dan selain mereka dari keturunan Al Hadzil, Al Hind dan selain mereka yang merupakan keturunan Haam, begitu pula mayoritas penduduk Kan’an dan Yunan yang merupakan keturunan Yafits. Jadi mayoritas manusia mengakui adanya jin.” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 13). Beberapa dalil pendukung dari Al Qur’an, قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.” (QS. Al Jin: 1). Begitu pula dalam ayat dalam surat yang sama, وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6). Juga dalam ayat dalam surat lainnya, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al Ahqaf: 29). Dan masih banyak dalil lainnya dalam Al Qur’an yang menyebutkan keberadaan jin. Di samping itu banyak pula yang menyaksikan dan mendengar keberadaan jin. Namun yang menyaksikan tidak tahu kalau itu jin. Mereka mengklaim itu adalah arwah atau makhluk ghaib. Sebagai bukti pula bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan kalangan jin, mengajari mereka, dan membacakan Al Qur’an untuk mereka. Adapun yang menyatakan bahwa jin itu satu alam dengan malaikat, maka itu keliru. Karena alam kedua golongan tersebut berbeda. Malaikat tidak makan dan tidak minum, serta tidak durhaka pada perintah Allah dan hanya melakukan yang diperintahkan. Sedangkan jin itu ada yang pendusta, jin pun makan dan minum, dan durhaka pada perintah Allah. Setan itu satu golongan dengan jin sebagaimana disebutkan dalam ayat, إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ “Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya.” (QS. Al Kahfi: 50). Hanya Allah yang memberi taufik pada akidah yang benar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 04:11 PM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Al ma’lum minad diin bid dhoruroh bisa berarti: 1- Mujma’ ‘alaih, contoh wajibnya shalat lima waktu 2- Laa yasa’u ahadan jahluhu, tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut 3-Ushul wa qowa’id al islam, pokok dan landasan agama seperti rukun Islam yang lima (Penjelasan ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syibl dalam kajian Al Qowa’idul Arba’) Tagsaqidah iman setan

Jin dan Setan itu Ada

Jin dan setan itu benar adanya. Siapa yang mengingkari keberadaan jin, berarti ia telah menyimpang dari akidah yang benar seperti golongan Mu’tazilah. Setan itu bagian dari jin. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada satu pun yang mengingkari keberadaan jin dari kaum muslimin. Tidak ada yang mengingkari pula bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pada kalangan jin. Dan mayoritas orang kafir pun menetapkan adanya jin. Adapun orang Yahudi dan Nashrani, mereka mengakui adanya jin sebagaimana kaum muslimin. Jika ada dari kalangan ahli kitab tersebut yang mengingkari keberadaan jin, maka sama halnya dengan sebagian kaum muslimin seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah. Akan tetapi mayoritas kaum muslimin mengakui adanya jin. Pengakuan seperti ini dikarenakan keberadaan jin itu secara mutawatir dari berita yang datang dari para nabi. Bahkan keyakinan terhadap jin sudah ma’lum bidh dhoruroh yaitu tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut[1].” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 10). Di tempat lain, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seluruh kelompok kaum muslimin mengakui keberadaan jin sebagaimana pula mayoritas kaum kafir dan sebagian besar ahli kitab, begitu pula kebanyakan orang musyrik Arab dan selain mereka dari keturunan Al Hadzil, Al Hind dan selain mereka yang merupakan keturunan Haam, begitu pula mayoritas penduduk Kan’an dan Yunan yang merupakan keturunan Yafits. Jadi mayoritas manusia mengakui adanya jin.” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 13). Beberapa dalil pendukung dari Al Qur’an, قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.” (QS. Al Jin: 1). Begitu pula dalam ayat dalam surat yang sama, وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6). Juga dalam ayat dalam surat lainnya, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al Ahqaf: 29). Dan masih banyak dalil lainnya dalam Al Qur’an yang menyebutkan keberadaan jin. Di samping itu banyak pula yang menyaksikan dan mendengar keberadaan jin. Namun yang menyaksikan tidak tahu kalau itu jin. Mereka mengklaim itu adalah arwah atau makhluk ghaib. Sebagai bukti pula bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan kalangan jin, mengajari mereka, dan membacakan Al Qur’an untuk mereka. Adapun yang menyatakan bahwa jin itu satu alam dengan malaikat, maka itu keliru. Karena alam kedua golongan tersebut berbeda. Malaikat tidak makan dan tidak minum, serta tidak durhaka pada perintah Allah dan hanya melakukan yang diperintahkan. Sedangkan jin itu ada yang pendusta, jin pun makan dan minum, dan durhaka pada perintah Allah. Setan itu satu golongan dengan jin sebagaimana disebutkan dalam ayat, إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ “Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya.” (QS. Al Kahfi: 50). Hanya Allah yang memberi taufik pada akidah yang benar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 04:11 PM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Al ma’lum minad diin bid dhoruroh bisa berarti: 1- Mujma’ ‘alaih, contoh wajibnya shalat lima waktu 2- Laa yasa’u ahadan jahluhu, tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut 3-Ushul wa qowa’id al islam, pokok dan landasan agama seperti rukun Islam yang lima (Penjelasan ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syibl dalam kajian Al Qowa’idul Arba’) Tagsaqidah iman setan
Jin dan setan itu benar adanya. Siapa yang mengingkari keberadaan jin, berarti ia telah menyimpang dari akidah yang benar seperti golongan Mu’tazilah. Setan itu bagian dari jin. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada satu pun yang mengingkari keberadaan jin dari kaum muslimin. Tidak ada yang mengingkari pula bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pada kalangan jin. Dan mayoritas orang kafir pun menetapkan adanya jin. Adapun orang Yahudi dan Nashrani, mereka mengakui adanya jin sebagaimana kaum muslimin. Jika ada dari kalangan ahli kitab tersebut yang mengingkari keberadaan jin, maka sama halnya dengan sebagian kaum muslimin seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah. Akan tetapi mayoritas kaum muslimin mengakui adanya jin. Pengakuan seperti ini dikarenakan keberadaan jin itu secara mutawatir dari berita yang datang dari para nabi. Bahkan keyakinan terhadap jin sudah ma’lum bidh dhoruroh yaitu tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut[1].” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 10). Di tempat lain, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seluruh kelompok kaum muslimin mengakui keberadaan jin sebagaimana pula mayoritas kaum kafir dan sebagian besar ahli kitab, begitu pula kebanyakan orang musyrik Arab dan selain mereka dari keturunan Al Hadzil, Al Hind dan selain mereka yang merupakan keturunan Haam, begitu pula mayoritas penduduk Kan’an dan Yunan yang merupakan keturunan Yafits. Jadi mayoritas manusia mengakui adanya jin.” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 13). Beberapa dalil pendukung dari Al Qur’an, قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.” (QS. Al Jin: 1). Begitu pula dalam ayat dalam surat yang sama, وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6). Juga dalam ayat dalam surat lainnya, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al Ahqaf: 29). Dan masih banyak dalil lainnya dalam Al Qur’an yang menyebutkan keberadaan jin. Di samping itu banyak pula yang menyaksikan dan mendengar keberadaan jin. Namun yang menyaksikan tidak tahu kalau itu jin. Mereka mengklaim itu adalah arwah atau makhluk ghaib. Sebagai bukti pula bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan kalangan jin, mengajari mereka, dan membacakan Al Qur’an untuk mereka. Adapun yang menyatakan bahwa jin itu satu alam dengan malaikat, maka itu keliru. Karena alam kedua golongan tersebut berbeda. Malaikat tidak makan dan tidak minum, serta tidak durhaka pada perintah Allah dan hanya melakukan yang diperintahkan. Sedangkan jin itu ada yang pendusta, jin pun makan dan minum, dan durhaka pada perintah Allah. Setan itu satu golongan dengan jin sebagaimana disebutkan dalam ayat, إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ “Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya.” (QS. Al Kahfi: 50). Hanya Allah yang memberi taufik pada akidah yang benar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 04:11 PM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Al ma’lum minad diin bid dhoruroh bisa berarti: 1- Mujma’ ‘alaih, contoh wajibnya shalat lima waktu 2- Laa yasa’u ahadan jahluhu, tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut 3-Ushul wa qowa’id al islam, pokok dan landasan agama seperti rukun Islam yang lima (Penjelasan ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syibl dalam kajian Al Qowa’idul Arba’) Tagsaqidah iman setan


Jin dan setan itu benar adanya. Siapa yang mengingkari keberadaan jin, berarti ia telah menyimpang dari akidah yang benar seperti golongan Mu’tazilah. Setan itu bagian dari jin. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada satu pun yang mengingkari keberadaan jin dari kaum muslimin. Tidak ada yang mengingkari pula bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pada kalangan jin. Dan mayoritas orang kafir pun menetapkan adanya jin. Adapun orang Yahudi dan Nashrani, mereka mengakui adanya jin sebagaimana kaum muslimin. Jika ada dari kalangan ahli kitab tersebut yang mengingkari keberadaan jin, maka sama halnya dengan sebagian kaum muslimin seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah. Akan tetapi mayoritas kaum muslimin mengakui adanya jin. Pengakuan seperti ini dikarenakan keberadaan jin itu secara mutawatir dari berita yang datang dari para nabi. Bahkan keyakinan terhadap jin sudah ma’lum bidh dhoruroh yaitu tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut[1].” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 10). Di tempat lain, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seluruh kelompok kaum muslimin mengakui keberadaan jin sebagaimana pula mayoritas kaum kafir dan sebagian besar ahli kitab, begitu pula kebanyakan orang musyrik Arab dan selain mereka dari keturunan Al Hadzil, Al Hind dan selain mereka yang merupakan keturunan Haam, begitu pula mayoritas penduduk Kan’an dan Yunan yang merupakan keturunan Yafits. Jadi mayoritas manusia mengakui adanya jin.” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 13). Beberapa dalil pendukung dari Al Qur’an, قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.” (QS. Al Jin: 1). Begitu pula dalam ayat dalam surat yang sama, وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6). Juga dalam ayat dalam surat lainnya, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al Ahqaf: 29). Dan masih banyak dalil lainnya dalam Al Qur’an yang menyebutkan keberadaan jin. Di samping itu banyak pula yang menyaksikan dan mendengar keberadaan jin. Namun yang menyaksikan tidak tahu kalau itu jin. Mereka mengklaim itu adalah arwah atau makhluk ghaib. Sebagai bukti pula bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan kalangan jin, mengajari mereka, dan membacakan Al Qur’an untuk mereka. Adapun yang menyatakan bahwa jin itu satu alam dengan malaikat, maka itu keliru. Karena alam kedua golongan tersebut berbeda. Malaikat tidak makan dan tidak minum, serta tidak durhaka pada perintah Allah dan hanya melakukan yang diperintahkan. Sedangkan jin itu ada yang pendusta, jin pun makan dan minum, dan durhaka pada perintah Allah. Setan itu satu golongan dengan jin sebagaimana disebutkan dalam ayat, إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ “Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya.” (QS. Al Kahfi: 50). Hanya Allah yang memberi taufik pada akidah yang benar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 04:11 PM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Al ma’lum minad diin bid dhoruroh bisa berarti: 1- Mujma’ ‘alaih, contoh wajibnya shalat lima waktu 2- Laa yasa’u ahadan jahluhu, tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut 3-Ushul wa qowa’id al islam, pokok dan landasan agama seperti rukun Islam yang lima (Penjelasan ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syibl dalam kajian Al Qowa’idul Arba’) Tagsaqidah iman setan

Meninggalkan Shalat Penghapus Amalan

Adakah penghapus amalan? Kemarin telah kita bahas keutamaan shalat Shubuh dan Ashar, disebutkan mengenai shalat Ashar bahwa siapa yang meninggalkan shalat Ashar maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahwa meninggalkan shalat walau satu saja bisa merusak Islam seseorang. Diterangkan oleh Ibnul Qayyim: Penghapus amalan ada dua yaitu umum dan khusus. Penghapus amalan yang umum ada dua yaitu yang menghapuskan amalan kebaikan seluruhnya yaitu dengan murtad (melakukan pembatal keislaman atau keluar dari Islam) dan yang menghapuskan setiap kejelekan (dosa) yaitu dengan bertaubat. Penghapus amalan yang khusus yaitu antara kebaikan dan kejelekan itu menghapuskan satu dan lainnya. Ini adalah penghapus amalan yang bersifat parsial namun bersyarat. Perlu diketahui bahwa kekafiran dan iman itu bisa menghapuskan satu dan lainnya, begitu pula cabang kekafiran dan cabang keimanan bisa menghapuskan satu dan lainnya. Jika semakin besar cabang keimanan atau kekafiran tersebut, maka semakin banyak yang hilang dari cabang keimanan atau kekafiran tersebut. (Lihat Ash Shalah, hal. 60). Karena saking pentingnya shalat, meninggalkan satu shalat saja bisa menghapuskan amalan, seperti yang nabi sebutkan mengenai shalat Ashar, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Hati-hatilah, jangan sampai kita melakukan suatu amalan yang dapat menghapus amalan kita dan perbanyaklah terus amalan yang dapat menghapuskan dosa kita. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Muharram 1435 H, 07: 00 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagsmeninggalkan shalat

Meninggalkan Shalat Penghapus Amalan

Adakah penghapus amalan? Kemarin telah kita bahas keutamaan shalat Shubuh dan Ashar, disebutkan mengenai shalat Ashar bahwa siapa yang meninggalkan shalat Ashar maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahwa meninggalkan shalat walau satu saja bisa merusak Islam seseorang. Diterangkan oleh Ibnul Qayyim: Penghapus amalan ada dua yaitu umum dan khusus. Penghapus amalan yang umum ada dua yaitu yang menghapuskan amalan kebaikan seluruhnya yaitu dengan murtad (melakukan pembatal keislaman atau keluar dari Islam) dan yang menghapuskan setiap kejelekan (dosa) yaitu dengan bertaubat. Penghapus amalan yang khusus yaitu antara kebaikan dan kejelekan itu menghapuskan satu dan lainnya. Ini adalah penghapus amalan yang bersifat parsial namun bersyarat. Perlu diketahui bahwa kekafiran dan iman itu bisa menghapuskan satu dan lainnya, begitu pula cabang kekafiran dan cabang keimanan bisa menghapuskan satu dan lainnya. Jika semakin besar cabang keimanan atau kekafiran tersebut, maka semakin banyak yang hilang dari cabang keimanan atau kekafiran tersebut. (Lihat Ash Shalah, hal. 60). Karena saking pentingnya shalat, meninggalkan satu shalat saja bisa menghapuskan amalan, seperti yang nabi sebutkan mengenai shalat Ashar, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Hati-hatilah, jangan sampai kita melakukan suatu amalan yang dapat menghapus amalan kita dan perbanyaklah terus amalan yang dapat menghapuskan dosa kita. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Muharram 1435 H, 07: 00 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagsmeninggalkan shalat
Adakah penghapus amalan? Kemarin telah kita bahas keutamaan shalat Shubuh dan Ashar, disebutkan mengenai shalat Ashar bahwa siapa yang meninggalkan shalat Ashar maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahwa meninggalkan shalat walau satu saja bisa merusak Islam seseorang. Diterangkan oleh Ibnul Qayyim: Penghapus amalan ada dua yaitu umum dan khusus. Penghapus amalan yang umum ada dua yaitu yang menghapuskan amalan kebaikan seluruhnya yaitu dengan murtad (melakukan pembatal keislaman atau keluar dari Islam) dan yang menghapuskan setiap kejelekan (dosa) yaitu dengan bertaubat. Penghapus amalan yang khusus yaitu antara kebaikan dan kejelekan itu menghapuskan satu dan lainnya. Ini adalah penghapus amalan yang bersifat parsial namun bersyarat. Perlu diketahui bahwa kekafiran dan iman itu bisa menghapuskan satu dan lainnya, begitu pula cabang kekafiran dan cabang keimanan bisa menghapuskan satu dan lainnya. Jika semakin besar cabang keimanan atau kekafiran tersebut, maka semakin banyak yang hilang dari cabang keimanan atau kekafiran tersebut. (Lihat Ash Shalah, hal. 60). Karena saking pentingnya shalat, meninggalkan satu shalat saja bisa menghapuskan amalan, seperti yang nabi sebutkan mengenai shalat Ashar, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Hati-hatilah, jangan sampai kita melakukan suatu amalan yang dapat menghapus amalan kita dan perbanyaklah terus amalan yang dapat menghapuskan dosa kita. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Muharram 1435 H, 07: 00 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagsmeninggalkan shalat


Adakah penghapus amalan? Kemarin telah kita bahas keutamaan shalat Shubuh dan Ashar, disebutkan mengenai shalat Ashar bahwa siapa yang meninggalkan shalat Ashar maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahwa meninggalkan shalat walau satu saja bisa merusak Islam seseorang. Diterangkan oleh Ibnul Qayyim: Penghapus amalan ada dua yaitu umum dan khusus. Penghapus amalan yang umum ada dua yaitu yang menghapuskan amalan kebaikan seluruhnya yaitu dengan murtad (melakukan pembatal keislaman atau keluar dari Islam) dan yang menghapuskan setiap kejelekan (dosa) yaitu dengan bertaubat. Penghapus amalan yang khusus yaitu antara kebaikan dan kejelekan itu menghapuskan satu dan lainnya. Ini adalah penghapus amalan yang bersifat parsial namun bersyarat. Perlu diketahui bahwa kekafiran dan iman itu bisa menghapuskan satu dan lainnya, begitu pula cabang kekafiran dan cabang keimanan bisa menghapuskan satu dan lainnya. Jika semakin besar cabang keimanan atau kekafiran tersebut, maka semakin banyak yang hilang dari cabang keimanan atau kekafiran tersebut. (Lihat Ash Shalah, hal. 60). Karena saking pentingnya shalat, meninggalkan satu shalat saja bisa menghapuskan amalan, seperti yang nabi sebutkan mengenai shalat Ashar, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Hati-hatilah, jangan sampai kita melakukan suatu amalan yang dapat menghapus amalan kita dan perbanyaklah terus amalan yang dapat menghapuskan dosa kita. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Muharram 1435 H, 07: 00 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagsmeninggalkan shalat

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 4) – Para Imam Syi’ah Meninggal Bunuh Diri !!

Diantara sikap mengultuskan yang berlebihan kepada para imam adalah pernyataan kaum syi’ah bahwasanya para imam mengetahui ilmu ghoib.Dalam kitab Ushuul Al-Kaafi Al-Kulaini berkataباب أن الأئمة يعلمون علم ما كان وما يكون وأنه لا يخفى عليهم شيء“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang telah lalu, ilmu yang akan datang, dan bahwasanya tidak ada sesuatupun yang tersembunyi/samar bagi para imam” (Ushuul Al-Kaafi 1/316)Sungguh ini adalah derajat yang tinggi yang terkhususkan untuk Allah. Allah berfirman ; إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِSesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS Ali Imron : 5)رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِYa Tuhan Kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang Kami sembunyikan dan apa yang Kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS Ibrahim : 38)قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُKatakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah (QS An-Naml : 65). Bahkan yang lebih parah, Al-Kulaini berkata :باب أن الأئمة يعلمون متى يموتون وأنهم لا يموتون إلا باختيار منهم“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui kapan mereka meninggal, dan bahwasanya mereka tidaklah meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri” (Ushuul Al-Kaafi 1/313)Pernyataan bahwa para imam mengetahui ilmu ghoib, mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan mengetahui seluruh apa yang ada di langit dan di bumi…, bahkan mengetahui kapan mereka akan meninggal…bahkan mereka tidak meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri….Ini semua melazimkan kelaziman-kelaziman yang sangat buruk. Diantaranya :Berarti para imam telah meninggal dengan bunuh diri.Pertama : Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib yang meninggal dalam kondisi diracun, berarti ada dua kemungkinan yang ia hadapi.–         Kemungkinan pertama : Al-Hasan tidak mengetahui bahwa telah dihidangkan padanya racun, lalu iapun memakannya tanpa ia sadari. Dan ini menunjukkan bahwa beliau telah tertimpa musibah yang berat akan tetapi beliau radhiyallahu ‘anhu bersabar dalam menghadapi ujian tersebut, bahkan beliau menutup-nutupi siapa yang telah meracuni beliau. Inilah kepahlawanan dan kesabaran yang luar biasa yang sangat terpuji.–         Kemungkinan kedua : Al-Hasan telah mengetahui bahwa yang dihidangkan kepadanya adalah racun. Dan ini adalah konsekuensi dari keyakinan orang-orang Syi’ah bahwasanya para imam mengetahui masa depan  bahkan mengetahui semua yang ada di langit dan yang ada di bumi. Lantas jika ia telah mengetahui bahwa yang dihidangkan baginya adalah racun kemudian ia masih nekat mengonsumsinya…, bukankah ini merupakan tindakan konyol??, bukankah ini berarti ia telah mati bunuh diri??!!. Bahkan ia sengaja dan rela mati bunuh diri, karena menurut keyakinan kaum Syi’ah, para imamlah yang memilihi kematian mereka, karena mereka tidak akan meninggal kecuali dengan pilihan mereka. Kedua : Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhumaa, juga pada hekekatnya telah meninggal dengan bunuh diri.Karena ada dua kemungkinan pada kondisi beliau sebelum terbunuh syahid di Karbala :–         Kemungkinan pertama : Ia tidak mengetahui masa depan dan tidak mengetahui ilmu ghoib. Dan inilah yang benar, karena tindakan-tindakan yang beliau lakukan menunjukkan akan hal itu. Seperti (1) Beliau mengirim Muslim bin ‘Aqil ke Iroq untuk mengecek dan memastikan kondisi orang-orang yang hendak membaiat beliau. Kalau Al-Husain mengetahui seluruh apa yang terjadi, dan seluruh apa yang ada di langit dan di bumi, serta  mengetahui isi hati manusia, maka tidak perlu ia mengirim utusan untuk mengecek dan memastikan kondisi. (2) Beliau tidak tahu bahwasanya penduduk Iraq akan berkhianat kepada beliau, serta tidak tahu bahwasanya beliau akan terbunuh di Karbala, maka beliau radhiallahu ‘anhu tetap berangkat menuju Karbala, sehingga akhirnya beliau meninggal syahid di sana–         Kemungkinan kedua : Beliau telah mengetahui ilmu ghoib, mengetahui bahwasanya beliau akan dikhianati oleh para pengikutnya. Beliau juga mengetahui bahwasanya Muslim bin ‘Aqil yang ia utus akan dikhianati dan akan terbunuh sebelum beliau terbunuh. Beliau juga mengetahui bahwasanya beliau akan terbunuh bahkan akan tercabik-cabik di Karbala, lantas beliau tetap berangkat ke Karbala…??? Maka ini menunjukkan bahwa beliau hendak mati bunuh diri. Bahkan menunjukkan beliau hendak membunuh anak-anak beliau dan kerabat beliau, karenanya beliau mengajak mereka seluruhnya ke Karbala !!. Bukankah ini merupakan tindakan konyol??. Apalagi kematian tersebut atas pilihan beliau (menurut keyakinan Syi’ah)?? 

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 4) – Para Imam Syi’ah Meninggal Bunuh Diri !!

Diantara sikap mengultuskan yang berlebihan kepada para imam adalah pernyataan kaum syi’ah bahwasanya para imam mengetahui ilmu ghoib.Dalam kitab Ushuul Al-Kaafi Al-Kulaini berkataباب أن الأئمة يعلمون علم ما كان وما يكون وأنه لا يخفى عليهم شيء“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang telah lalu, ilmu yang akan datang, dan bahwasanya tidak ada sesuatupun yang tersembunyi/samar bagi para imam” (Ushuul Al-Kaafi 1/316)Sungguh ini adalah derajat yang tinggi yang terkhususkan untuk Allah. Allah berfirman ; إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِSesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS Ali Imron : 5)رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِYa Tuhan Kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang Kami sembunyikan dan apa yang Kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS Ibrahim : 38)قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُKatakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah (QS An-Naml : 65). Bahkan yang lebih parah, Al-Kulaini berkata :باب أن الأئمة يعلمون متى يموتون وأنهم لا يموتون إلا باختيار منهم“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui kapan mereka meninggal, dan bahwasanya mereka tidaklah meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri” (Ushuul Al-Kaafi 1/313)Pernyataan bahwa para imam mengetahui ilmu ghoib, mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan mengetahui seluruh apa yang ada di langit dan di bumi…, bahkan mengetahui kapan mereka akan meninggal…bahkan mereka tidak meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri….Ini semua melazimkan kelaziman-kelaziman yang sangat buruk. Diantaranya :Berarti para imam telah meninggal dengan bunuh diri.Pertama : Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib yang meninggal dalam kondisi diracun, berarti ada dua kemungkinan yang ia hadapi.–         Kemungkinan pertama : Al-Hasan tidak mengetahui bahwa telah dihidangkan padanya racun, lalu iapun memakannya tanpa ia sadari. Dan ini menunjukkan bahwa beliau telah tertimpa musibah yang berat akan tetapi beliau radhiyallahu ‘anhu bersabar dalam menghadapi ujian tersebut, bahkan beliau menutup-nutupi siapa yang telah meracuni beliau. Inilah kepahlawanan dan kesabaran yang luar biasa yang sangat terpuji.–         Kemungkinan kedua : Al-Hasan telah mengetahui bahwa yang dihidangkan kepadanya adalah racun. Dan ini adalah konsekuensi dari keyakinan orang-orang Syi’ah bahwasanya para imam mengetahui masa depan  bahkan mengetahui semua yang ada di langit dan yang ada di bumi. Lantas jika ia telah mengetahui bahwa yang dihidangkan baginya adalah racun kemudian ia masih nekat mengonsumsinya…, bukankah ini merupakan tindakan konyol??, bukankah ini berarti ia telah mati bunuh diri??!!. Bahkan ia sengaja dan rela mati bunuh diri, karena menurut keyakinan kaum Syi’ah, para imamlah yang memilihi kematian mereka, karena mereka tidak akan meninggal kecuali dengan pilihan mereka. Kedua : Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhumaa, juga pada hekekatnya telah meninggal dengan bunuh diri.Karena ada dua kemungkinan pada kondisi beliau sebelum terbunuh syahid di Karbala :–         Kemungkinan pertama : Ia tidak mengetahui masa depan dan tidak mengetahui ilmu ghoib. Dan inilah yang benar, karena tindakan-tindakan yang beliau lakukan menunjukkan akan hal itu. Seperti (1) Beliau mengirim Muslim bin ‘Aqil ke Iroq untuk mengecek dan memastikan kondisi orang-orang yang hendak membaiat beliau. Kalau Al-Husain mengetahui seluruh apa yang terjadi, dan seluruh apa yang ada di langit dan di bumi, serta  mengetahui isi hati manusia, maka tidak perlu ia mengirim utusan untuk mengecek dan memastikan kondisi. (2) Beliau tidak tahu bahwasanya penduduk Iraq akan berkhianat kepada beliau, serta tidak tahu bahwasanya beliau akan terbunuh di Karbala, maka beliau radhiallahu ‘anhu tetap berangkat menuju Karbala, sehingga akhirnya beliau meninggal syahid di sana–         Kemungkinan kedua : Beliau telah mengetahui ilmu ghoib, mengetahui bahwasanya beliau akan dikhianati oleh para pengikutnya. Beliau juga mengetahui bahwasanya Muslim bin ‘Aqil yang ia utus akan dikhianati dan akan terbunuh sebelum beliau terbunuh. Beliau juga mengetahui bahwasanya beliau akan terbunuh bahkan akan tercabik-cabik di Karbala, lantas beliau tetap berangkat ke Karbala…??? Maka ini menunjukkan bahwa beliau hendak mati bunuh diri. Bahkan menunjukkan beliau hendak membunuh anak-anak beliau dan kerabat beliau, karenanya beliau mengajak mereka seluruhnya ke Karbala !!. Bukankah ini merupakan tindakan konyol??. Apalagi kematian tersebut atas pilihan beliau (menurut keyakinan Syi’ah)?? 
Diantara sikap mengultuskan yang berlebihan kepada para imam adalah pernyataan kaum syi’ah bahwasanya para imam mengetahui ilmu ghoib.Dalam kitab Ushuul Al-Kaafi Al-Kulaini berkataباب أن الأئمة يعلمون علم ما كان وما يكون وأنه لا يخفى عليهم شيء“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang telah lalu, ilmu yang akan datang, dan bahwasanya tidak ada sesuatupun yang tersembunyi/samar bagi para imam” (Ushuul Al-Kaafi 1/316)Sungguh ini adalah derajat yang tinggi yang terkhususkan untuk Allah. Allah berfirman ; إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِSesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS Ali Imron : 5)رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِYa Tuhan Kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang Kami sembunyikan dan apa yang Kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS Ibrahim : 38)قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُKatakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah (QS An-Naml : 65). Bahkan yang lebih parah, Al-Kulaini berkata :باب أن الأئمة يعلمون متى يموتون وأنهم لا يموتون إلا باختيار منهم“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui kapan mereka meninggal, dan bahwasanya mereka tidaklah meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri” (Ushuul Al-Kaafi 1/313)Pernyataan bahwa para imam mengetahui ilmu ghoib, mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan mengetahui seluruh apa yang ada di langit dan di bumi…, bahkan mengetahui kapan mereka akan meninggal…bahkan mereka tidak meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri….Ini semua melazimkan kelaziman-kelaziman yang sangat buruk. Diantaranya :Berarti para imam telah meninggal dengan bunuh diri.Pertama : Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib yang meninggal dalam kondisi diracun, berarti ada dua kemungkinan yang ia hadapi.–         Kemungkinan pertama : Al-Hasan tidak mengetahui bahwa telah dihidangkan padanya racun, lalu iapun memakannya tanpa ia sadari. Dan ini menunjukkan bahwa beliau telah tertimpa musibah yang berat akan tetapi beliau radhiyallahu ‘anhu bersabar dalam menghadapi ujian tersebut, bahkan beliau menutup-nutupi siapa yang telah meracuni beliau. Inilah kepahlawanan dan kesabaran yang luar biasa yang sangat terpuji.–         Kemungkinan kedua : Al-Hasan telah mengetahui bahwa yang dihidangkan kepadanya adalah racun. Dan ini adalah konsekuensi dari keyakinan orang-orang Syi’ah bahwasanya para imam mengetahui masa depan  bahkan mengetahui semua yang ada di langit dan yang ada di bumi. Lantas jika ia telah mengetahui bahwa yang dihidangkan baginya adalah racun kemudian ia masih nekat mengonsumsinya…, bukankah ini merupakan tindakan konyol??, bukankah ini berarti ia telah mati bunuh diri??!!. Bahkan ia sengaja dan rela mati bunuh diri, karena menurut keyakinan kaum Syi’ah, para imamlah yang memilihi kematian mereka, karena mereka tidak akan meninggal kecuali dengan pilihan mereka. Kedua : Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhumaa, juga pada hekekatnya telah meninggal dengan bunuh diri.Karena ada dua kemungkinan pada kondisi beliau sebelum terbunuh syahid di Karbala :–         Kemungkinan pertama : Ia tidak mengetahui masa depan dan tidak mengetahui ilmu ghoib. Dan inilah yang benar, karena tindakan-tindakan yang beliau lakukan menunjukkan akan hal itu. Seperti (1) Beliau mengirim Muslim bin ‘Aqil ke Iroq untuk mengecek dan memastikan kondisi orang-orang yang hendak membaiat beliau. Kalau Al-Husain mengetahui seluruh apa yang terjadi, dan seluruh apa yang ada di langit dan di bumi, serta  mengetahui isi hati manusia, maka tidak perlu ia mengirim utusan untuk mengecek dan memastikan kondisi. (2) Beliau tidak tahu bahwasanya penduduk Iraq akan berkhianat kepada beliau, serta tidak tahu bahwasanya beliau akan terbunuh di Karbala, maka beliau radhiallahu ‘anhu tetap berangkat menuju Karbala, sehingga akhirnya beliau meninggal syahid di sana–         Kemungkinan kedua : Beliau telah mengetahui ilmu ghoib, mengetahui bahwasanya beliau akan dikhianati oleh para pengikutnya. Beliau juga mengetahui bahwasanya Muslim bin ‘Aqil yang ia utus akan dikhianati dan akan terbunuh sebelum beliau terbunuh. Beliau juga mengetahui bahwasanya beliau akan terbunuh bahkan akan tercabik-cabik di Karbala, lantas beliau tetap berangkat ke Karbala…??? Maka ini menunjukkan bahwa beliau hendak mati bunuh diri. Bahkan menunjukkan beliau hendak membunuh anak-anak beliau dan kerabat beliau, karenanya beliau mengajak mereka seluruhnya ke Karbala !!. Bukankah ini merupakan tindakan konyol??. Apalagi kematian tersebut atas pilihan beliau (menurut keyakinan Syi’ah)?? 


Diantara sikap mengultuskan yang berlebihan kepada para imam adalah pernyataan kaum syi’ah bahwasanya para imam mengetahui ilmu ghoib.Dalam kitab Ushuul Al-Kaafi Al-Kulaini berkataباب أن الأئمة يعلمون علم ما كان وما يكون وأنه لا يخفى عليهم شيء“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang telah lalu, ilmu yang akan datang, dan bahwasanya tidak ada sesuatupun yang tersembunyi/samar bagi para imam” (Ushuul Al-Kaafi 1/316)Sungguh ini adalah derajat yang tinggi yang terkhususkan untuk Allah. Allah berfirman ; إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِSesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS Ali Imron : 5)رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِYa Tuhan Kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang Kami sembunyikan dan apa yang Kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS Ibrahim : 38)قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُKatakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah (QS An-Naml : 65). Bahkan yang lebih parah, Al-Kulaini berkata :باب أن الأئمة يعلمون متى يموتون وأنهم لا يموتون إلا باختيار منهم“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui kapan mereka meninggal, dan bahwasanya mereka tidaklah meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri” (Ushuul Al-Kaafi 1/313)Pernyataan bahwa para imam mengetahui ilmu ghoib, mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan mengetahui seluruh apa yang ada di langit dan di bumi…, bahkan mengetahui kapan mereka akan meninggal…bahkan mereka tidak meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri….Ini semua melazimkan kelaziman-kelaziman yang sangat buruk. Diantaranya :Berarti para imam telah meninggal dengan bunuh diri.Pertama : Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib yang meninggal dalam kondisi diracun, berarti ada dua kemungkinan yang ia hadapi.–         Kemungkinan pertama : Al-Hasan tidak mengetahui bahwa telah dihidangkan padanya racun, lalu iapun memakannya tanpa ia sadari. Dan ini menunjukkan bahwa beliau telah tertimpa musibah yang berat akan tetapi beliau radhiyallahu ‘anhu bersabar dalam menghadapi ujian tersebut, bahkan beliau menutup-nutupi siapa yang telah meracuni beliau. Inilah kepahlawanan dan kesabaran yang luar biasa yang sangat terpuji.–         Kemungkinan kedua : Al-Hasan telah mengetahui bahwa yang dihidangkan kepadanya adalah racun. Dan ini adalah konsekuensi dari keyakinan orang-orang Syi’ah bahwasanya para imam mengetahui masa depan  bahkan mengetahui semua yang ada di langit dan yang ada di bumi. Lantas jika ia telah mengetahui bahwa yang dihidangkan baginya adalah racun kemudian ia masih nekat mengonsumsinya…, bukankah ini merupakan tindakan konyol??, bukankah ini berarti ia telah mati bunuh diri??!!. Bahkan ia sengaja dan rela mati bunuh diri, karena menurut keyakinan kaum Syi’ah, para imamlah yang memilihi kematian mereka, karena mereka tidak akan meninggal kecuali dengan pilihan mereka. Kedua : Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhumaa, juga pada hekekatnya telah meninggal dengan bunuh diri.Karena ada dua kemungkinan pada kondisi beliau sebelum terbunuh syahid di Karbala :–         Kemungkinan pertama : Ia tidak mengetahui masa depan dan tidak mengetahui ilmu ghoib. Dan inilah yang benar, karena tindakan-tindakan yang beliau lakukan menunjukkan akan hal itu. Seperti (1) Beliau mengirim Muslim bin ‘Aqil ke Iroq untuk mengecek dan memastikan kondisi orang-orang yang hendak membaiat beliau. Kalau Al-Husain mengetahui seluruh apa yang terjadi, dan seluruh apa yang ada di langit dan di bumi, serta  mengetahui isi hati manusia, maka tidak perlu ia mengirim utusan untuk mengecek dan memastikan kondisi. (2) Beliau tidak tahu bahwasanya penduduk Iraq akan berkhianat kepada beliau, serta tidak tahu bahwasanya beliau akan terbunuh di Karbala, maka beliau radhiallahu ‘anhu tetap berangkat menuju Karbala, sehingga akhirnya beliau meninggal syahid di sana–         Kemungkinan kedua : Beliau telah mengetahui ilmu ghoib, mengetahui bahwasanya beliau akan dikhianati oleh para pengikutnya. Beliau juga mengetahui bahwasanya Muslim bin ‘Aqil yang ia utus akan dikhianati dan akan terbunuh sebelum beliau terbunuh. Beliau juga mengetahui bahwasanya beliau akan terbunuh bahkan akan tercabik-cabik di Karbala, lantas beliau tetap berangkat ke Karbala…??? Maka ini menunjukkan bahwa beliau hendak mati bunuh diri. Bahkan menunjukkan beliau hendak membunuh anak-anak beliau dan kerabat beliau, karenanya beliau mengajak mereka seluruhnya ke Karbala !!. Bukankah ini merupakan tindakan konyol??. Apalagi kematian tersebut atas pilihan beliau (menurut keyakinan Syi’ah)?? 

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 3) – Para Imam Syi’ah Bisa Jadi Pilot Pesawat dan Masinis Kereta

Telah lalu penegasan Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaarul Anwaar :أقول : أما كونهم عالمين باللغات فالاخبار فيه قريبة من حد التواتر وبانضمام الاخبار العامة لايبقى فيه مجال شك ، وأما علمهم بالصناعات فعمومات الاخبار المستفيضة دالة عليه ، حيث ورد فيها أن الحجة لا يكون جاهلا في شئ يقول : لا أدري ، مع ماورد أن عندهم علم ما كان وما يكون وأن علوم جميع الانبياء وصل إليهم ، مع أن أكثر الصناعات منسوبة إلى الانبياء عليهم السلام ، وقد فسر تعليم الاسماء لادم عليه السلام بما يشمل جميع الصناعات .“Adapun kondisi para imam yang mengetahui bahasa-bahasa maka riwayat-riwayat tentang hal itu hampir mendekati mutawatir, ditambah dengan riwayat-riwayat umum yang tidak menyisakan lagi keraguan akan hal ini. Adapun ilmu mereka tentang keahlian-keahlian (keduniaan), maka keumuman riwayat yang banyak menunjukkan akan hal itu, karena telah datang dalam riwayat bahwasanya al-hujjah (imam) tidak boleh bodoh dalam sesuatu apapun yang ia berkata : “Aku tidak tahu”, disertai bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang lalu, ilmu masa depan, dan bahwasanya ilmu seluruh para nabi telah sampai kepada para imam. Padahal mayoritas keahlian-keahlian dinisbahkan kepada para nabi ‘alaihim as-salaam, dan telah ditafsirkan pengajaran nama-nama kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahilian-keahlian” (Bihaarul Anwaar 26/193) Al-Majlisi telah menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian dunia. Diantara dalil-dalil tersebut :Pertama : Para imam syi’ah jika ditanya tidak boleh mengatakan “Saya tidak tahu” !!!Kedua : Seluruh ilmu para Nabi sebelumnya terkumpulkan kepada para imam. Dan sebagaimana diketahui bahwasanya sebagian nabi memiliki keahlian-kahlian, seperti keahlian sebagai tukang kayu, keahlian dalam membuat senjata, dll. Sehingga seluruh keahlian para nabi sebelumnya telah dikuasai oleh para imam Syi’ah.Ketiga : Diantara para nabi yang dikuasai ilmunya adalah Nabi Adam ‘alaihis salaam. Padahal Allah telah berfirman tentang nabi Adam ;وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَDan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (QS Al-Baqoroh : 31)Menurut al-Majlisi “nama-nama” yang diajarkan kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahlian?!!Keempat : Para imam mengetahui seluruh ilmu masa lalu dan seluruh ilmu masa depan. Hal ini melazimkan seluruh keahlian yang dimiliki oleh manusia di masa lalu juga dikuasai oleh para imam. Demikian pula seluruh ilmu keahlian yang dikuasai di masa depan juga diketahui oleh para imam Syi’ah.Hal ini melazimkan bahwa para imam mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa depan, bahkan yang belum muncul di abad dua puluh satu ini. Keahlian-keahlian yang akan muncul pada tahun 2020 pun telah diketahui oleh sang imam. Tentunya para imam sangat mudah untuk menjadi tukang bengkel atau servis jam, atau jadi petani, atau bahkan jadi pilot dan supir kereta ??!!Bahkan disebutkan dalam riwayat-riwayat bahwasanya imam mahdi syi’ah (imam kedua belas yang sedang bersembunyai di Sirdab) terkadang keluar di tengah-tengah masyarakat dan masyarakat tidak mengenalnya, sebagaimana saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salam tidak mengenal Nabi Yusuf !!!.Maka mungkin saja imam Mahdi Syi’ah terkadang keluar menyamar sebagai pilot, sebagai kapten kapal, sebagai masinis kereta api, atau terkadang menjadi prajurit, atau komandan, atau bahkan jenderal !!!, namun orang-orang tidak menyadarinya !!!.Lantas jika para imam mengetahui keahlian seluruh masyarakat masa depan :–         Kenapa para imam tidak menciptakan senjata yang canggih untuk melawan para musuh??–         Kenapa imam mahdi (imam ke dua belas) harus takut keluar dari Sirdab, sementara dia bisa membuat senjata tercanggih yang sangat menghancurkan yang belum diciptakan di zaman ini ???–         Atau paling tidak kenapa para imam tidak mengajarkan teori perkebunan yang tercanggih di zaman mereka ??            Keyakinan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa lalu dan dimasa mendatang, menunjukkan bahwa para imam Syi’ah lebih hebat daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi ahli dalam segala hal pekerjaan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah salah dalam memberikan arahan kepada seorang sahabat yang berkebun korma, sehingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih berilmu tentang perkara dunia kalian”عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم مر بقوم يلقحون فقال لو لم تفعلوا لصلح قال فخرج شيصا فمر بهم فقال ما لنخلكم قالوا قلت كذا وكذا قال أنتم أعلم بأمر دنياكمDari Anas radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah kaum yang sedang mengawinkan kurma jantan dengan kurma betina. Maka Nabi berkata, “Kalau seandainya kalian tidak melakukannya maka akan baik”.  Maka keluarlah korma yang buruk, lalu Nabi melewati mereka maka beliau berkata, “Apa yang terjadi dengan korma kalian?” Mereka berkata, “Engkau berkata demikian dan demikian…”. Nabi berkata : “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR Muslim no 2363)Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih tahu tentang perkawinan dalam perkebunan kurma apalagi keahlian tekhnologi canggih… 

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 3) – Para Imam Syi’ah Bisa Jadi Pilot Pesawat dan Masinis Kereta

Telah lalu penegasan Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaarul Anwaar :أقول : أما كونهم عالمين باللغات فالاخبار فيه قريبة من حد التواتر وبانضمام الاخبار العامة لايبقى فيه مجال شك ، وأما علمهم بالصناعات فعمومات الاخبار المستفيضة دالة عليه ، حيث ورد فيها أن الحجة لا يكون جاهلا في شئ يقول : لا أدري ، مع ماورد أن عندهم علم ما كان وما يكون وأن علوم جميع الانبياء وصل إليهم ، مع أن أكثر الصناعات منسوبة إلى الانبياء عليهم السلام ، وقد فسر تعليم الاسماء لادم عليه السلام بما يشمل جميع الصناعات .“Adapun kondisi para imam yang mengetahui bahasa-bahasa maka riwayat-riwayat tentang hal itu hampir mendekati mutawatir, ditambah dengan riwayat-riwayat umum yang tidak menyisakan lagi keraguan akan hal ini. Adapun ilmu mereka tentang keahlian-keahlian (keduniaan), maka keumuman riwayat yang banyak menunjukkan akan hal itu, karena telah datang dalam riwayat bahwasanya al-hujjah (imam) tidak boleh bodoh dalam sesuatu apapun yang ia berkata : “Aku tidak tahu”, disertai bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang lalu, ilmu masa depan, dan bahwasanya ilmu seluruh para nabi telah sampai kepada para imam. Padahal mayoritas keahlian-keahlian dinisbahkan kepada para nabi ‘alaihim as-salaam, dan telah ditafsirkan pengajaran nama-nama kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahilian-keahlian” (Bihaarul Anwaar 26/193) Al-Majlisi telah menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian dunia. Diantara dalil-dalil tersebut :Pertama : Para imam syi’ah jika ditanya tidak boleh mengatakan “Saya tidak tahu” !!!Kedua : Seluruh ilmu para Nabi sebelumnya terkumpulkan kepada para imam. Dan sebagaimana diketahui bahwasanya sebagian nabi memiliki keahlian-kahlian, seperti keahlian sebagai tukang kayu, keahlian dalam membuat senjata, dll. Sehingga seluruh keahlian para nabi sebelumnya telah dikuasai oleh para imam Syi’ah.Ketiga : Diantara para nabi yang dikuasai ilmunya adalah Nabi Adam ‘alaihis salaam. Padahal Allah telah berfirman tentang nabi Adam ;وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَDan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (QS Al-Baqoroh : 31)Menurut al-Majlisi “nama-nama” yang diajarkan kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahlian?!!Keempat : Para imam mengetahui seluruh ilmu masa lalu dan seluruh ilmu masa depan. Hal ini melazimkan seluruh keahlian yang dimiliki oleh manusia di masa lalu juga dikuasai oleh para imam. Demikian pula seluruh ilmu keahlian yang dikuasai di masa depan juga diketahui oleh para imam Syi’ah.Hal ini melazimkan bahwa para imam mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa depan, bahkan yang belum muncul di abad dua puluh satu ini. Keahlian-keahlian yang akan muncul pada tahun 2020 pun telah diketahui oleh sang imam. Tentunya para imam sangat mudah untuk menjadi tukang bengkel atau servis jam, atau jadi petani, atau bahkan jadi pilot dan supir kereta ??!!Bahkan disebutkan dalam riwayat-riwayat bahwasanya imam mahdi syi’ah (imam kedua belas yang sedang bersembunyai di Sirdab) terkadang keluar di tengah-tengah masyarakat dan masyarakat tidak mengenalnya, sebagaimana saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salam tidak mengenal Nabi Yusuf !!!.Maka mungkin saja imam Mahdi Syi’ah terkadang keluar menyamar sebagai pilot, sebagai kapten kapal, sebagai masinis kereta api, atau terkadang menjadi prajurit, atau komandan, atau bahkan jenderal !!!, namun orang-orang tidak menyadarinya !!!.Lantas jika para imam mengetahui keahlian seluruh masyarakat masa depan :–         Kenapa para imam tidak menciptakan senjata yang canggih untuk melawan para musuh??–         Kenapa imam mahdi (imam ke dua belas) harus takut keluar dari Sirdab, sementara dia bisa membuat senjata tercanggih yang sangat menghancurkan yang belum diciptakan di zaman ini ???–         Atau paling tidak kenapa para imam tidak mengajarkan teori perkebunan yang tercanggih di zaman mereka ??            Keyakinan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa lalu dan dimasa mendatang, menunjukkan bahwa para imam Syi’ah lebih hebat daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi ahli dalam segala hal pekerjaan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah salah dalam memberikan arahan kepada seorang sahabat yang berkebun korma, sehingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih berilmu tentang perkara dunia kalian”عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم مر بقوم يلقحون فقال لو لم تفعلوا لصلح قال فخرج شيصا فمر بهم فقال ما لنخلكم قالوا قلت كذا وكذا قال أنتم أعلم بأمر دنياكمDari Anas radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah kaum yang sedang mengawinkan kurma jantan dengan kurma betina. Maka Nabi berkata, “Kalau seandainya kalian tidak melakukannya maka akan baik”.  Maka keluarlah korma yang buruk, lalu Nabi melewati mereka maka beliau berkata, “Apa yang terjadi dengan korma kalian?” Mereka berkata, “Engkau berkata demikian dan demikian…”. Nabi berkata : “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR Muslim no 2363)Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih tahu tentang perkawinan dalam perkebunan kurma apalagi keahlian tekhnologi canggih… 
Telah lalu penegasan Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaarul Anwaar :أقول : أما كونهم عالمين باللغات فالاخبار فيه قريبة من حد التواتر وبانضمام الاخبار العامة لايبقى فيه مجال شك ، وأما علمهم بالصناعات فعمومات الاخبار المستفيضة دالة عليه ، حيث ورد فيها أن الحجة لا يكون جاهلا في شئ يقول : لا أدري ، مع ماورد أن عندهم علم ما كان وما يكون وأن علوم جميع الانبياء وصل إليهم ، مع أن أكثر الصناعات منسوبة إلى الانبياء عليهم السلام ، وقد فسر تعليم الاسماء لادم عليه السلام بما يشمل جميع الصناعات .“Adapun kondisi para imam yang mengetahui bahasa-bahasa maka riwayat-riwayat tentang hal itu hampir mendekati mutawatir, ditambah dengan riwayat-riwayat umum yang tidak menyisakan lagi keraguan akan hal ini. Adapun ilmu mereka tentang keahlian-keahlian (keduniaan), maka keumuman riwayat yang banyak menunjukkan akan hal itu, karena telah datang dalam riwayat bahwasanya al-hujjah (imam) tidak boleh bodoh dalam sesuatu apapun yang ia berkata : “Aku tidak tahu”, disertai bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang lalu, ilmu masa depan, dan bahwasanya ilmu seluruh para nabi telah sampai kepada para imam. Padahal mayoritas keahlian-keahlian dinisbahkan kepada para nabi ‘alaihim as-salaam, dan telah ditafsirkan pengajaran nama-nama kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahilian-keahlian” (Bihaarul Anwaar 26/193) Al-Majlisi telah menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian dunia. Diantara dalil-dalil tersebut :Pertama : Para imam syi’ah jika ditanya tidak boleh mengatakan “Saya tidak tahu” !!!Kedua : Seluruh ilmu para Nabi sebelumnya terkumpulkan kepada para imam. Dan sebagaimana diketahui bahwasanya sebagian nabi memiliki keahlian-kahlian, seperti keahlian sebagai tukang kayu, keahlian dalam membuat senjata, dll. Sehingga seluruh keahlian para nabi sebelumnya telah dikuasai oleh para imam Syi’ah.Ketiga : Diantara para nabi yang dikuasai ilmunya adalah Nabi Adam ‘alaihis salaam. Padahal Allah telah berfirman tentang nabi Adam ;وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَDan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (QS Al-Baqoroh : 31)Menurut al-Majlisi “nama-nama” yang diajarkan kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahlian?!!Keempat : Para imam mengetahui seluruh ilmu masa lalu dan seluruh ilmu masa depan. Hal ini melazimkan seluruh keahlian yang dimiliki oleh manusia di masa lalu juga dikuasai oleh para imam. Demikian pula seluruh ilmu keahlian yang dikuasai di masa depan juga diketahui oleh para imam Syi’ah.Hal ini melazimkan bahwa para imam mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa depan, bahkan yang belum muncul di abad dua puluh satu ini. Keahlian-keahlian yang akan muncul pada tahun 2020 pun telah diketahui oleh sang imam. Tentunya para imam sangat mudah untuk menjadi tukang bengkel atau servis jam, atau jadi petani, atau bahkan jadi pilot dan supir kereta ??!!Bahkan disebutkan dalam riwayat-riwayat bahwasanya imam mahdi syi’ah (imam kedua belas yang sedang bersembunyai di Sirdab) terkadang keluar di tengah-tengah masyarakat dan masyarakat tidak mengenalnya, sebagaimana saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salam tidak mengenal Nabi Yusuf !!!.Maka mungkin saja imam Mahdi Syi’ah terkadang keluar menyamar sebagai pilot, sebagai kapten kapal, sebagai masinis kereta api, atau terkadang menjadi prajurit, atau komandan, atau bahkan jenderal !!!, namun orang-orang tidak menyadarinya !!!.Lantas jika para imam mengetahui keahlian seluruh masyarakat masa depan :–         Kenapa para imam tidak menciptakan senjata yang canggih untuk melawan para musuh??–         Kenapa imam mahdi (imam ke dua belas) harus takut keluar dari Sirdab, sementara dia bisa membuat senjata tercanggih yang sangat menghancurkan yang belum diciptakan di zaman ini ???–         Atau paling tidak kenapa para imam tidak mengajarkan teori perkebunan yang tercanggih di zaman mereka ??            Keyakinan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa lalu dan dimasa mendatang, menunjukkan bahwa para imam Syi’ah lebih hebat daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi ahli dalam segala hal pekerjaan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah salah dalam memberikan arahan kepada seorang sahabat yang berkebun korma, sehingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih berilmu tentang perkara dunia kalian”عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم مر بقوم يلقحون فقال لو لم تفعلوا لصلح قال فخرج شيصا فمر بهم فقال ما لنخلكم قالوا قلت كذا وكذا قال أنتم أعلم بأمر دنياكمDari Anas radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah kaum yang sedang mengawinkan kurma jantan dengan kurma betina. Maka Nabi berkata, “Kalau seandainya kalian tidak melakukannya maka akan baik”.  Maka keluarlah korma yang buruk, lalu Nabi melewati mereka maka beliau berkata, “Apa yang terjadi dengan korma kalian?” Mereka berkata, “Engkau berkata demikian dan demikian…”. Nabi berkata : “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR Muslim no 2363)Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih tahu tentang perkawinan dalam perkebunan kurma apalagi keahlian tekhnologi canggih… 


Telah lalu penegasan Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaarul Anwaar :أقول : أما كونهم عالمين باللغات فالاخبار فيه قريبة من حد التواتر وبانضمام الاخبار العامة لايبقى فيه مجال شك ، وأما علمهم بالصناعات فعمومات الاخبار المستفيضة دالة عليه ، حيث ورد فيها أن الحجة لا يكون جاهلا في شئ يقول : لا أدري ، مع ماورد أن عندهم علم ما كان وما يكون وأن علوم جميع الانبياء وصل إليهم ، مع أن أكثر الصناعات منسوبة إلى الانبياء عليهم السلام ، وقد فسر تعليم الاسماء لادم عليه السلام بما يشمل جميع الصناعات .“Adapun kondisi para imam yang mengetahui bahasa-bahasa maka riwayat-riwayat tentang hal itu hampir mendekati mutawatir, ditambah dengan riwayat-riwayat umum yang tidak menyisakan lagi keraguan akan hal ini. Adapun ilmu mereka tentang keahlian-keahlian (keduniaan), maka keumuman riwayat yang banyak menunjukkan akan hal itu, karena telah datang dalam riwayat bahwasanya al-hujjah (imam) tidak boleh bodoh dalam sesuatu apapun yang ia berkata : “Aku tidak tahu”, disertai bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang lalu, ilmu masa depan, dan bahwasanya ilmu seluruh para nabi telah sampai kepada para imam. Padahal mayoritas keahlian-keahlian dinisbahkan kepada para nabi ‘alaihim as-salaam, dan telah ditafsirkan pengajaran nama-nama kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahilian-keahlian” (Bihaarul Anwaar 26/193) Al-Majlisi telah menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian dunia. Diantara dalil-dalil tersebut :Pertama : Para imam syi’ah jika ditanya tidak boleh mengatakan “Saya tidak tahu” !!!Kedua : Seluruh ilmu para Nabi sebelumnya terkumpulkan kepada para imam. Dan sebagaimana diketahui bahwasanya sebagian nabi memiliki keahlian-kahlian, seperti keahlian sebagai tukang kayu, keahlian dalam membuat senjata, dll. Sehingga seluruh keahlian para nabi sebelumnya telah dikuasai oleh para imam Syi’ah.Ketiga : Diantara para nabi yang dikuasai ilmunya adalah Nabi Adam ‘alaihis salaam. Padahal Allah telah berfirman tentang nabi Adam ;وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَDan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (QS Al-Baqoroh : 31)Menurut al-Majlisi “nama-nama” yang diajarkan kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahlian?!!Keempat : Para imam mengetahui seluruh ilmu masa lalu dan seluruh ilmu masa depan. Hal ini melazimkan seluruh keahlian yang dimiliki oleh manusia di masa lalu juga dikuasai oleh para imam. Demikian pula seluruh ilmu keahlian yang dikuasai di masa depan juga diketahui oleh para imam Syi’ah.Hal ini melazimkan bahwa para imam mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa depan, bahkan yang belum muncul di abad dua puluh satu ini. Keahlian-keahlian yang akan muncul pada tahun 2020 pun telah diketahui oleh sang imam. Tentunya para imam sangat mudah untuk menjadi tukang bengkel atau servis jam, atau jadi petani, atau bahkan jadi pilot dan supir kereta ??!!Bahkan disebutkan dalam riwayat-riwayat bahwasanya imam mahdi syi’ah (imam kedua belas yang sedang bersembunyai di Sirdab) terkadang keluar di tengah-tengah masyarakat dan masyarakat tidak mengenalnya, sebagaimana saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salam tidak mengenal Nabi Yusuf !!!.Maka mungkin saja imam Mahdi Syi’ah terkadang keluar menyamar sebagai pilot, sebagai kapten kapal, sebagai masinis kereta api, atau terkadang menjadi prajurit, atau komandan, atau bahkan jenderal !!!, namun orang-orang tidak menyadarinya !!!.Lantas jika para imam mengetahui keahlian seluruh masyarakat masa depan :–         Kenapa para imam tidak menciptakan senjata yang canggih untuk melawan para musuh??–         Kenapa imam mahdi (imam ke dua belas) harus takut keluar dari Sirdab, sementara dia bisa membuat senjata tercanggih yang sangat menghancurkan yang belum diciptakan di zaman ini ???–         Atau paling tidak kenapa para imam tidak mengajarkan teori perkebunan yang tercanggih di zaman mereka ??            Keyakinan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa lalu dan dimasa mendatang, menunjukkan bahwa para imam Syi’ah lebih hebat daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi ahli dalam segala hal pekerjaan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah salah dalam memberikan arahan kepada seorang sahabat yang berkebun korma, sehingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih berilmu tentang perkara dunia kalian”عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم مر بقوم يلقحون فقال لو لم تفعلوا لصلح قال فخرج شيصا فمر بهم فقال ما لنخلكم قالوا قلت كذا وكذا قال أنتم أعلم بأمر دنياكمDari Anas radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah kaum yang sedang mengawinkan kurma jantan dengan kurma betina. Maka Nabi berkata, “Kalau seandainya kalian tidak melakukannya maka akan baik”.  Maka keluarlah korma yang buruk, lalu Nabi melewati mereka maka beliau berkata, “Apa yang terjadi dengan korma kalian?” Mereka berkata, “Engkau berkata demikian dan demikian…”. Nabi berkata : “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR Muslim no 2363)Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih tahu tentang perkawinan dalam perkebunan kurma apalagi keahlian tekhnologi canggih… 

Anak yang Berbakti Memberi Kepada Orang Tuanya Sebelum Orang Tuanya Meminta Kepadanya

Anak yang berbakti, memberi kepada orang tuanya sebelum orang tuanya meminta kepadanya…., terlebih lagi jika sang ana memiliki kelebihan harta…, hendaknya ia berusaha menjaga kehormatan dan harga diri orang tuanya… Karena…(1) Sebagian orang tua malu untuk meminta kepada anaknya…, sementara sang anak tidak pernah malu meminta kepada orang tua, terutama tatkala masih dibawah tanggungan orang tua. (2) Sebagian orang tua bahkan tetap berusaha memberi kepada anak-anaknya bukan meminta…, ini menunjukan bahwa jika orang tua meminta berarti ia telah berada dalam kondisi sangat membutuhkan…(3) Meskipun yang lebih utama adalah sang anak berusaha mengenal dan mencari-cari kebutuhan orang tuanya lalu memberinya sebelum orang tua meminta, akan tetapi tidak ada salahnya juga untuk bertanya kepada ayah dan ibunya, apa yang mereka berdua butuhkan ?(4) Sebagian orang tua tidak ingin tinggal santai dirumah anaknya, karena ia merasa masih kuat dan bisa bekerja serta merasa belum jompo. Akan tetapi sang anak jangan lupa terus untuk menawarkan agar orang tuanya bisa hidup bersamanya…tentunya dengan tawaran yang menyenangkan hati tanpa ada terkesan perendahan sedikitpun…Janganlah pernah pelit kepada orang tuamu yang pernah mengorbankan harta, waktu, bersusah payah untuk merawatmu…. Jika engkau dengan mudahnya berkorban demi anak-anakmu, itulah dahulu gambaran orang tuamu terhadapmu tatkala engkau masih dalam perawatannya.Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua

Anak yang Berbakti Memberi Kepada Orang Tuanya Sebelum Orang Tuanya Meminta Kepadanya

Anak yang berbakti, memberi kepada orang tuanya sebelum orang tuanya meminta kepadanya…., terlebih lagi jika sang ana memiliki kelebihan harta…, hendaknya ia berusaha menjaga kehormatan dan harga diri orang tuanya… Karena…(1) Sebagian orang tua malu untuk meminta kepada anaknya…, sementara sang anak tidak pernah malu meminta kepada orang tua, terutama tatkala masih dibawah tanggungan orang tua. (2) Sebagian orang tua bahkan tetap berusaha memberi kepada anak-anaknya bukan meminta…, ini menunjukan bahwa jika orang tua meminta berarti ia telah berada dalam kondisi sangat membutuhkan…(3) Meskipun yang lebih utama adalah sang anak berusaha mengenal dan mencari-cari kebutuhan orang tuanya lalu memberinya sebelum orang tua meminta, akan tetapi tidak ada salahnya juga untuk bertanya kepada ayah dan ibunya, apa yang mereka berdua butuhkan ?(4) Sebagian orang tua tidak ingin tinggal santai dirumah anaknya, karena ia merasa masih kuat dan bisa bekerja serta merasa belum jompo. Akan tetapi sang anak jangan lupa terus untuk menawarkan agar orang tuanya bisa hidup bersamanya…tentunya dengan tawaran yang menyenangkan hati tanpa ada terkesan perendahan sedikitpun…Janganlah pernah pelit kepada orang tuamu yang pernah mengorbankan harta, waktu, bersusah payah untuk merawatmu…. Jika engkau dengan mudahnya berkorban demi anak-anakmu, itulah dahulu gambaran orang tuamu terhadapmu tatkala engkau masih dalam perawatannya.Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua
Anak yang berbakti, memberi kepada orang tuanya sebelum orang tuanya meminta kepadanya…., terlebih lagi jika sang ana memiliki kelebihan harta…, hendaknya ia berusaha menjaga kehormatan dan harga diri orang tuanya… Karena…(1) Sebagian orang tua malu untuk meminta kepada anaknya…, sementara sang anak tidak pernah malu meminta kepada orang tua, terutama tatkala masih dibawah tanggungan orang tua. (2) Sebagian orang tua bahkan tetap berusaha memberi kepada anak-anaknya bukan meminta…, ini menunjukan bahwa jika orang tua meminta berarti ia telah berada dalam kondisi sangat membutuhkan…(3) Meskipun yang lebih utama adalah sang anak berusaha mengenal dan mencari-cari kebutuhan orang tuanya lalu memberinya sebelum orang tua meminta, akan tetapi tidak ada salahnya juga untuk bertanya kepada ayah dan ibunya, apa yang mereka berdua butuhkan ?(4) Sebagian orang tua tidak ingin tinggal santai dirumah anaknya, karena ia merasa masih kuat dan bisa bekerja serta merasa belum jompo. Akan tetapi sang anak jangan lupa terus untuk menawarkan agar orang tuanya bisa hidup bersamanya…tentunya dengan tawaran yang menyenangkan hati tanpa ada terkesan perendahan sedikitpun…Janganlah pernah pelit kepada orang tuamu yang pernah mengorbankan harta, waktu, bersusah payah untuk merawatmu…. Jika engkau dengan mudahnya berkorban demi anak-anakmu, itulah dahulu gambaran orang tuamu terhadapmu tatkala engkau masih dalam perawatannya.Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua


Anak yang berbakti, memberi kepada orang tuanya sebelum orang tuanya meminta kepadanya…., terlebih lagi jika sang ana memiliki kelebihan harta…, hendaknya ia berusaha menjaga kehormatan dan harga diri orang tuanya… Karena…(1) Sebagian orang tua malu untuk meminta kepada anaknya…, sementara sang anak tidak pernah malu meminta kepada orang tua, terutama tatkala masih dibawah tanggungan orang tua. (2) Sebagian orang tua bahkan tetap berusaha memberi kepada anak-anaknya bukan meminta…, ini menunjukan bahwa jika orang tua meminta berarti ia telah berada dalam kondisi sangat membutuhkan…(3) Meskipun yang lebih utama adalah sang anak berusaha mengenal dan mencari-cari kebutuhan orang tuanya lalu memberinya sebelum orang tua meminta, akan tetapi tidak ada salahnya juga untuk bertanya kepada ayah dan ibunya, apa yang mereka berdua butuhkan ?(4) Sebagian orang tua tidak ingin tinggal santai dirumah anaknya, karena ia merasa masih kuat dan bisa bekerja serta merasa belum jompo. Akan tetapi sang anak jangan lupa terus untuk menawarkan agar orang tuanya bisa hidup bersamanya…tentunya dengan tawaran yang menyenangkan hati tanpa ada terkesan perendahan sedikitpun…Janganlah pernah pelit kepada orang tuamu yang pernah mengorbankan harta, waktu, bersusah payah untuk merawatmu…. Jika engkau dengan mudahnya berkorban demi anak-anakmu, itulah dahulu gambaran orang tuamu terhadapmu tatkala engkau masih dalam perawatannya.Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua

Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar

Dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Shalat ”Ashar memiliki keutamaan yang besar. Namun sayang, tidak sedikit dari yang mengaku muslim yang meninggalkan shalat Shubuh, seringnya telat bahkan tidak bangun Shubuh dan lebih senang bermanja-manja dengan kasurnya. Begitu pula shalat ”Ashar banyak terlalu sibuk dengan aktivitas dunianya, lantas melalaikan shalat ini. Para petani ada yang berangkat sebelum ‘Ashar ke sawah dengan mudahnya pula ia meninggalkan shalat tersebut karena sesampai di rumah sudah waktu Maghrib. Kapan mau sadar untuk menjaga dua shalat ini? Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635). Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Shalat shubuh akan membuat seseorang mendapatkan perhatian Allah pada hari kiamat. Kenapa dikhususkan dua shalat ini? Karena berkumpulnya para malaikat malam dan siang di dua waktu tersebut. Inilah makna firman Allah Ta’ala, وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isro’: 78) (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3: 250, Asy Syamilah) Dalam hadits di atas disebutkan dengan fi’il madhi (kata kerja lampau) yaitu kata dakholal jannah (masuk surga). Yang dimaksud di sini adalah makna future (akan datang) yaitu ditekankan bahwa yang menjaga dua shalat  tersebut dijamin masuk surga. (Lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 2: 53) Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِى ذِمَّةِ اللَّهِ فَلاَ يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ “Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar.  Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 657) Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Ya Allah, mudahkanlah kami untuk rutin menjaga dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Ashar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Muharram 1435 H, 06:0 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskeutamaan shalat shalat shubuh

Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar

Dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Shalat ”Ashar memiliki keutamaan yang besar. Namun sayang, tidak sedikit dari yang mengaku muslim yang meninggalkan shalat Shubuh, seringnya telat bahkan tidak bangun Shubuh dan lebih senang bermanja-manja dengan kasurnya. Begitu pula shalat ”Ashar banyak terlalu sibuk dengan aktivitas dunianya, lantas melalaikan shalat ini. Para petani ada yang berangkat sebelum ‘Ashar ke sawah dengan mudahnya pula ia meninggalkan shalat tersebut karena sesampai di rumah sudah waktu Maghrib. Kapan mau sadar untuk menjaga dua shalat ini? Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635). Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Shalat shubuh akan membuat seseorang mendapatkan perhatian Allah pada hari kiamat. Kenapa dikhususkan dua shalat ini? Karena berkumpulnya para malaikat malam dan siang di dua waktu tersebut. Inilah makna firman Allah Ta’ala, وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isro’: 78) (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3: 250, Asy Syamilah) Dalam hadits di atas disebutkan dengan fi’il madhi (kata kerja lampau) yaitu kata dakholal jannah (masuk surga). Yang dimaksud di sini adalah makna future (akan datang) yaitu ditekankan bahwa yang menjaga dua shalat  tersebut dijamin masuk surga. (Lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 2: 53) Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِى ذِمَّةِ اللَّهِ فَلاَ يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ “Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar.  Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 657) Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Ya Allah, mudahkanlah kami untuk rutin menjaga dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Ashar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Muharram 1435 H, 06:0 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskeutamaan shalat shalat shubuh
Dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Shalat ”Ashar memiliki keutamaan yang besar. Namun sayang, tidak sedikit dari yang mengaku muslim yang meninggalkan shalat Shubuh, seringnya telat bahkan tidak bangun Shubuh dan lebih senang bermanja-manja dengan kasurnya. Begitu pula shalat ”Ashar banyak terlalu sibuk dengan aktivitas dunianya, lantas melalaikan shalat ini. Para petani ada yang berangkat sebelum ‘Ashar ke sawah dengan mudahnya pula ia meninggalkan shalat tersebut karena sesampai di rumah sudah waktu Maghrib. Kapan mau sadar untuk menjaga dua shalat ini? Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635). Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Shalat shubuh akan membuat seseorang mendapatkan perhatian Allah pada hari kiamat. Kenapa dikhususkan dua shalat ini? Karena berkumpulnya para malaikat malam dan siang di dua waktu tersebut. Inilah makna firman Allah Ta’ala, وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isro’: 78) (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3: 250, Asy Syamilah) Dalam hadits di atas disebutkan dengan fi’il madhi (kata kerja lampau) yaitu kata dakholal jannah (masuk surga). Yang dimaksud di sini adalah makna future (akan datang) yaitu ditekankan bahwa yang menjaga dua shalat  tersebut dijamin masuk surga. (Lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 2: 53) Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِى ذِمَّةِ اللَّهِ فَلاَ يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ “Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar.  Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 657) Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Ya Allah, mudahkanlah kami untuk rutin menjaga dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Ashar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Muharram 1435 H, 06:0 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskeutamaan shalat shalat shubuh


Dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Shalat ”Ashar memiliki keutamaan yang besar. Namun sayang, tidak sedikit dari yang mengaku muslim yang meninggalkan shalat Shubuh, seringnya telat bahkan tidak bangun Shubuh dan lebih senang bermanja-manja dengan kasurnya. Begitu pula shalat ”Ashar banyak terlalu sibuk dengan aktivitas dunianya, lantas melalaikan shalat ini. Para petani ada yang berangkat sebelum ‘Ashar ke sawah dengan mudahnya pula ia meninggalkan shalat tersebut karena sesampai di rumah sudah waktu Maghrib. Kapan mau sadar untuk menjaga dua shalat ini? Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635). Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Shalat shubuh akan membuat seseorang mendapatkan perhatian Allah pada hari kiamat. Kenapa dikhususkan dua shalat ini? Karena berkumpulnya para malaikat malam dan siang di dua waktu tersebut. Inilah makna firman Allah Ta’ala, وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isro’: 78) (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3: 250, Asy Syamilah) Dalam hadits di atas disebutkan dengan fi’il madhi (kata kerja lampau) yaitu kata dakholal jannah (masuk surga). Yang dimaksud di sini adalah makna future (akan datang) yaitu ditekankan bahwa yang menjaga dua shalat  tersebut dijamin masuk surga. (Lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 2: 53) Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِى ذِمَّةِ اللَّهِ فَلاَ يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ “Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar.  Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 657) Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Ya Allah, mudahkanlah kami untuk rutin menjaga dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Ashar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Muharram 1435 H, 06:0 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskeutamaan shalat shalat shubuh

Shalat Lima Waktu Menggugurkan Dosa

Shalat lima waktu ternyata bisa menggugurkan dosa. Ini di antara keutamaannya. Sungguh sangat disayangkan walau ada keutamaan ini, banyak di antara yang mengaku muslim meninggalkan shalat lima waktu dengan mudah dan menyepelekannya. Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ  لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ  Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.[1]” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ “Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa di antara semua itu selama tidak dilakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233). Dari ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ “Tidaklah seorang muslim ketika waktunya shalat wajib, lalu ia membaguskan wudhunya, ia khusyu’ dalam shalatnya, dan menyempurnakan ruku’, melaikankan itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak dilakukannya dosa besar, dan itu setiap masa semuanya.” (HR. Muslim no. 228). Kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, “Shalat yang menghapuskan dosa adalah yang ditunaikan secara sempurna dengan menghadirkan hati, anggota badan khusyu’ dan mengharapkan wajah Allah.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 234) Adapun mengenai dosa yang dimaafkan dengan amalan shalat, apakah dosa besar atau dosa kecil? Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Jumhur (mayoritas ulama) menganggap bahwa hadits tersebut dipahami yang dihapuskan hanyalah dosa kecil. Sedangkan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa dosa besar pun bisa dimaafkan, jadi bukan hanya dosa kecil.[2]   — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 18 Muharram 1435 H, 11: 00 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  [1] Yang dimaksud tepi siang adalah shalat Shubuh, Zhuhur dan ‘Ashar. Sedangkan shalat pada bagian permulaan malam adalah shalat Maghrib dan ‘Isya. Lihat Tafsir Al Jalalain, hal. 234. [2] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7: 487-501. Tagskeutamaan shalat

Shalat Lima Waktu Menggugurkan Dosa

Shalat lima waktu ternyata bisa menggugurkan dosa. Ini di antara keutamaannya. Sungguh sangat disayangkan walau ada keutamaan ini, banyak di antara yang mengaku muslim meninggalkan shalat lima waktu dengan mudah dan menyepelekannya. Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ  لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ  Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.[1]” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ “Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa di antara semua itu selama tidak dilakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233). Dari ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ “Tidaklah seorang muslim ketika waktunya shalat wajib, lalu ia membaguskan wudhunya, ia khusyu’ dalam shalatnya, dan menyempurnakan ruku’, melaikankan itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak dilakukannya dosa besar, dan itu setiap masa semuanya.” (HR. Muslim no. 228). Kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, “Shalat yang menghapuskan dosa adalah yang ditunaikan secara sempurna dengan menghadirkan hati, anggota badan khusyu’ dan mengharapkan wajah Allah.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 234) Adapun mengenai dosa yang dimaafkan dengan amalan shalat, apakah dosa besar atau dosa kecil? Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Jumhur (mayoritas ulama) menganggap bahwa hadits tersebut dipahami yang dihapuskan hanyalah dosa kecil. Sedangkan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa dosa besar pun bisa dimaafkan, jadi bukan hanya dosa kecil.[2]   — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 18 Muharram 1435 H, 11: 00 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  [1] Yang dimaksud tepi siang adalah shalat Shubuh, Zhuhur dan ‘Ashar. Sedangkan shalat pada bagian permulaan malam adalah shalat Maghrib dan ‘Isya. Lihat Tafsir Al Jalalain, hal. 234. [2] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7: 487-501. Tagskeutamaan shalat
Shalat lima waktu ternyata bisa menggugurkan dosa. Ini di antara keutamaannya. Sungguh sangat disayangkan walau ada keutamaan ini, banyak di antara yang mengaku muslim meninggalkan shalat lima waktu dengan mudah dan menyepelekannya. Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ  لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ  Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.[1]” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ “Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa di antara semua itu selama tidak dilakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233). Dari ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ “Tidaklah seorang muslim ketika waktunya shalat wajib, lalu ia membaguskan wudhunya, ia khusyu’ dalam shalatnya, dan menyempurnakan ruku’, melaikankan itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak dilakukannya dosa besar, dan itu setiap masa semuanya.” (HR. Muslim no. 228). Kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, “Shalat yang menghapuskan dosa adalah yang ditunaikan secara sempurna dengan menghadirkan hati, anggota badan khusyu’ dan mengharapkan wajah Allah.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 234) Adapun mengenai dosa yang dimaafkan dengan amalan shalat, apakah dosa besar atau dosa kecil? Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Jumhur (mayoritas ulama) menganggap bahwa hadits tersebut dipahami yang dihapuskan hanyalah dosa kecil. Sedangkan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa dosa besar pun bisa dimaafkan, jadi bukan hanya dosa kecil.[2]   — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 18 Muharram 1435 H, 11: 00 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  [1] Yang dimaksud tepi siang adalah shalat Shubuh, Zhuhur dan ‘Ashar. Sedangkan shalat pada bagian permulaan malam adalah shalat Maghrib dan ‘Isya. Lihat Tafsir Al Jalalain, hal. 234. [2] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7: 487-501. Tagskeutamaan shalat


Shalat lima waktu ternyata bisa menggugurkan dosa. Ini di antara keutamaannya. Sungguh sangat disayangkan walau ada keutamaan ini, banyak di antara yang mengaku muslim meninggalkan shalat lima waktu dengan mudah dan menyepelekannya. Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ  لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ  Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.[1]” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ “Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa di antara semua itu selama tidak dilakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233). Dari ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ “Tidaklah seorang muslim ketika waktunya shalat wajib, lalu ia membaguskan wudhunya, ia khusyu’ dalam shalatnya, dan menyempurnakan ruku’, melaikankan itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak dilakukannya dosa besar, dan itu setiap masa semuanya.” (HR. Muslim no. 228). Kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, “Shalat yang menghapuskan dosa adalah yang ditunaikan secara sempurna dengan menghadirkan hati, anggota badan khusyu’ dan mengharapkan wajah Allah.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 234) Adapun mengenai dosa yang dimaafkan dengan amalan shalat, apakah dosa besar atau dosa kecil? Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Jumhur (mayoritas ulama) menganggap bahwa hadits tersebut dipahami yang dihapuskan hanyalah dosa kecil. Sedangkan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa dosa besar pun bisa dimaafkan, jadi bukan hanya dosa kecil.[2]   — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 18 Muharram 1435 H, 11: 00 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  [1] Yang dimaksud tepi siang adalah shalat Shubuh, Zhuhur dan ‘Ashar. Sedangkan shalat pada bagian permulaan malam adalah shalat Maghrib dan ‘Isya. Lihat Tafsir Al Jalalain, hal. 234. [2] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7: 487-501. Tagskeutamaan shalat

Orang yang Rutin Shalat 5 Waktu Ibarat Orang yang Mandi di Sungai

Seandainya ada sebuah sungai di depan rumah, lalu mandi di sana setiap hari lima kali, bagaimana keadaan diri seseorang? Apakah ada tersisa kotoran di badannya? Tentu saja tidak. Inilah ibarat keutamaan shalat lima waktu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667) Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». قَالَ قَالَ الْحَسَنُ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدَّرَنِ “Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah suangi yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim no. 668). Dua hadits di atas menerangkan tentang keutamaan shalat lima waktu di mana dari shalat tersebut bisa diraih pengampunan dosa. Namun hal itu dengan syarat, shalat tersebut dikerjakan dengan sempurna memenuhi syarat, rukun, dan aturan-aturannya. Dari shalat tersebut bisa menghapuskan dosa kecil -menurut jumhur ulama-, sedangkan dosa besar mesti dengan taubat. Lihat Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Musthofa Al Bugho dkk, hal. 409. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Shalat yang bisa membersihkan kotoran dosa adalah shalat yang sempurna. Di dalam shalat tersebut dikerjakan secara sempurna, hati hadir dalam shalat dan seseorang yang shalat benar-benar bermunajat pada Allah. Jika demikian, setelah shalat, ia dapat apa yang ingin diraih yaitu pahala yang besar dan Allah menghapuskan kesalahannya.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 49). Hadits  di atas menunjukkan ibarat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat mudah, yaitu beliau gambarkan bahwa dosa bisa terhapus sebagaimana air sungai membersihkan kotoran. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus bisa menjaga shalat. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan selepas ‘Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1435 H, 15: 28 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  Tagskeutamaan shalat

Orang yang Rutin Shalat 5 Waktu Ibarat Orang yang Mandi di Sungai

Seandainya ada sebuah sungai di depan rumah, lalu mandi di sana setiap hari lima kali, bagaimana keadaan diri seseorang? Apakah ada tersisa kotoran di badannya? Tentu saja tidak. Inilah ibarat keutamaan shalat lima waktu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667) Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». قَالَ قَالَ الْحَسَنُ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدَّرَنِ “Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah suangi yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim no. 668). Dua hadits di atas menerangkan tentang keutamaan shalat lima waktu di mana dari shalat tersebut bisa diraih pengampunan dosa. Namun hal itu dengan syarat, shalat tersebut dikerjakan dengan sempurna memenuhi syarat, rukun, dan aturan-aturannya. Dari shalat tersebut bisa menghapuskan dosa kecil -menurut jumhur ulama-, sedangkan dosa besar mesti dengan taubat. Lihat Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Musthofa Al Bugho dkk, hal. 409. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Shalat yang bisa membersihkan kotoran dosa adalah shalat yang sempurna. Di dalam shalat tersebut dikerjakan secara sempurna, hati hadir dalam shalat dan seseorang yang shalat benar-benar bermunajat pada Allah. Jika demikian, setelah shalat, ia dapat apa yang ingin diraih yaitu pahala yang besar dan Allah menghapuskan kesalahannya.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 49). Hadits  di atas menunjukkan ibarat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat mudah, yaitu beliau gambarkan bahwa dosa bisa terhapus sebagaimana air sungai membersihkan kotoran. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus bisa menjaga shalat. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan selepas ‘Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1435 H, 15: 28 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  Tagskeutamaan shalat
Seandainya ada sebuah sungai di depan rumah, lalu mandi di sana setiap hari lima kali, bagaimana keadaan diri seseorang? Apakah ada tersisa kotoran di badannya? Tentu saja tidak. Inilah ibarat keutamaan shalat lima waktu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667) Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». قَالَ قَالَ الْحَسَنُ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدَّرَنِ “Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah suangi yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim no. 668). Dua hadits di atas menerangkan tentang keutamaan shalat lima waktu di mana dari shalat tersebut bisa diraih pengampunan dosa. Namun hal itu dengan syarat, shalat tersebut dikerjakan dengan sempurna memenuhi syarat, rukun, dan aturan-aturannya. Dari shalat tersebut bisa menghapuskan dosa kecil -menurut jumhur ulama-, sedangkan dosa besar mesti dengan taubat. Lihat Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Musthofa Al Bugho dkk, hal. 409. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Shalat yang bisa membersihkan kotoran dosa adalah shalat yang sempurna. Di dalam shalat tersebut dikerjakan secara sempurna, hati hadir dalam shalat dan seseorang yang shalat benar-benar bermunajat pada Allah. Jika demikian, setelah shalat, ia dapat apa yang ingin diraih yaitu pahala yang besar dan Allah menghapuskan kesalahannya.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 49). Hadits  di atas menunjukkan ibarat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat mudah, yaitu beliau gambarkan bahwa dosa bisa terhapus sebagaimana air sungai membersihkan kotoran. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus bisa menjaga shalat. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan selepas ‘Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1435 H, 15: 28 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  Tagskeutamaan shalat


Seandainya ada sebuah sungai di depan rumah, lalu mandi di sana setiap hari lima kali, bagaimana keadaan diri seseorang? Apakah ada tersisa kotoran di badannya? Tentu saja tidak. Inilah ibarat keutamaan shalat lima waktu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667) Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». قَالَ قَالَ الْحَسَنُ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدَّرَنِ “Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah suangi yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim no. 668). Dua hadits di atas menerangkan tentang keutamaan shalat lima waktu di mana dari shalat tersebut bisa diraih pengampunan dosa. Namun hal itu dengan syarat, shalat tersebut dikerjakan dengan sempurna memenuhi syarat, rukun, dan aturan-aturannya. Dari shalat tersebut bisa menghapuskan dosa kecil -menurut jumhur ulama-, sedangkan dosa besar mesti dengan taubat. Lihat Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Musthofa Al Bugho dkk, hal. 409. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Shalat yang bisa membersihkan kotoran dosa adalah shalat yang sempurna. Di dalam shalat tersebut dikerjakan secara sempurna, hati hadir dalam shalat dan seseorang yang shalat benar-benar bermunajat pada Allah. Jika demikian, setelah shalat, ia dapat apa yang ingin diraih yaitu pahala yang besar dan Allah menghapuskan kesalahannya.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 49). Hadits  di atas menunjukkan ibarat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat mudah, yaitu beliau gambarkan bahwa dosa bisa terhapus sebagaimana air sungai membersihkan kotoran. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus bisa menjaga shalat. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan selepas ‘Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1435 H, 15: 28 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  Tagskeutamaan shalat

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 2) – Periwayatan Keledai !!

Tidak diragukan lagi bahwa agama syi’ah adalah agama yang berisi kekonyolan, kontradiktif, khurofat, dan penuh dengan banyolan. Ini semua menunjukkan bahwa agama syi’ah bukan dari Islam akan tetapi hasil karya orang-orang yang ingin merusak Islam dari dalam.Berikut ini kami tampilkan banyolan-banyolan kaum syi’ah yang kami kumpulkan dari beberapa tulisan dari internet, disertai tambahan-tambahan dari kami.Di antara banyolan-banyolan tersebut adalah :Dalam kitab Al-Kaafi disebutkan : Amirul Mukminin (Ali bin Abi Tholib) menyebutkan bahwa hewan yang pertama kali meninggal tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal adalah ‘Ufair (himar tunggangan Nabi-pen). Ia memutuskan tali kekangnya lalu iapun lari hingga mendatangi sumur bani Khutmah di Quba’, lalu iapun melemparkan dirinya dalam sumur tersebut. Maka sumur tersebut menjadi kuburannya.Dan diriwayatkan bahwasanya Amiirul-Mukminiin (‘alaihis-salaam) berkata : “Sesungguhnya keledai itu (yaitu keledai tunggangan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Ufair-pen) berkata kepada Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa aalihi) : “Demi ayah, engkau, dan ibuku, sesungguhnya ayahku telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ayahnya : Bahwasannya ia pernah bersama Nuuh di dalam perahu. Maka Nuuh bangkit berdiri dan mengusap pantatnya, kemudian bersabda : ‘Akan muncul dari tulang sulbi keledai ini seekor keledai yang akan ditunggangi oleh pemimpin dan penutup para Nabi’. Dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai keledai itu” [selesai]. (Usul Al-Kaafi 1/293, [بَابُ مَا عِنْدَ الْأَئِمَّةِ مِنْ سِلَاحِ رَسُولِ اللَّهِ وَمَتَاعِهِ], hadits ke-9)Hadits aneh ini juga disebutkan oleh Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaar al-Anwaar 17/405 dalam bab (ما ظهر من إعجازه صلى الله عليه وسلم في الحيوانات) “Mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada hewan-hewan”Bahkan al-Majlisi menilai hadits ini adalah hadits yang shahih. Beliau berkata :ولا يَستبعِد من كلام الحمار مَن يؤمن بالقرآن وبكلام الهدهد والنمل وغيرهما“Orang yang beriman kepada Al-Qur’an, beriman dengan perkataan burung Hudhud dan perkataan semut, serta selain keduanya, tidak akan merasa aneh dengan perkataan himar” (sebagaimana dinukil oleh pentahqiq Ushul Al-Kaafi), Yaitu Al-Majlisi menguatkan keshahihan hadits ini. Silakan perhatikan dengan seksama……… bahwa seekor keledai telah memerankan diri layaknya seorang perawi hadits dengan menggunakan lafadh : haddatsanii abiy…dst. Tentu saja riwayat ini tidak akan kita temukan di kitab-kitab Ahlus-Sunnah. Ia terdapat dalam kitab Al-Kaafiy – kitab hadits paling valid menurut madzhab Syi’ah -.Si keledai, bapaknya keledai, sampai kakeknya keledai menjadi rantai periwayatan yang menghubungkan pengkhabaran dari Nabi Nuuh ‘alaihis-salaam sampai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.Yang aneh, hadits yang aneh ini dianggap sebagai mukjizat oleh Al-Khuu’iy – salah seorang fuqahaa’ Syi’ah kontemporer – saat menjelaskan hadits ini, ia berkata :انظروا إلى هذه المعجزة، نوح سلام الله عليه يخبر بمحمد عليه السلام، وبنبوته قبل ولادته بألوف السنين.“Lihatlah oleh kalian akan mu’jizat ini. Nuuh salaamullaah ‘alaihi mengkhabarkan Muhammad ‘alaihis-salaam dan tentang kenabiannya sebelum kelahirannya beribu-ribu tahun” [lihat Lillaahi Tsumma lit-Taariikh, hal. 15].Jika manusia – yang notabene makhluk yang dikaruniai akal – harus ditimbang dalam penyampaian riwayat, bagaimana statusnya jika ia seekor keledai ? Dan bagaimana bisa khabar aneh ini mengagumkan Al-Khuu’iy dan menganggapnya sebagai satu mu’jizat ? Dan mungkinkah ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu yang terkenal teliti, kritis, dan berilmu menyampaikan khabar ini ? Nampaknya, ini adalah kebohongan serius yang telah menyisip dalam kitab Al-Kaafiy karangan Al-Kulainiy. (http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/ketika-keledai-telah-menjadi-perawi.html)          Yang menjadi permasalahan bukanlah himar (keledai) yang berbicara, karena bahkan batu pernah memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini merupkan mukjizat Nabi, demikian juga hadits-hadits dalam Shahih Al-Bukhari yang menyebutkan bahwa sapi dan serigala bisa berbicara.Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah :–         Berapa umur himar/keledai tersebut?. Bukankah antara Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam hingga Nabi Nuuh ‘alaihis salam ribuan tahun??. Padahal sanad silsilah keluarga himar tersebut hanya 4 atau lima keledai. Jadi masing-masing keledai tersebut berumur ratusan tahun??!! Padahal umur himar biasanya berkisar antara 30 hingga 35 tahun, dan kalau panjang umur mungkin hingga 50 tahun??!–         Lalu para himar tersebut bergaya sebagaimana ahlul hadits !!!. Padahal di zaman Nabi belum ada model periwayatan hadits, belum ada istilah haddatsanaa dan juga akhbaronaa…. Istilah-istilah tersebut muncul dan masyhur di zaman periwayatan hadits, yaitu setelah berlalunya generasi para sahabat.–         Tentunya jika ada periwayatan dari hewan-hewan maka perlu ada buku yang menjelaskan tentang kedudukan para hewan tersebut, apakah sebagai perawi yang tsiqoh, ataukah dho’if, ataukah muttaham bi al-kadzib, dsb.–         Ternyata himar ini, serta ayahnya, kakeknya, hingga buyutnya yang ada di zaman Nabi Nuuh adalah himar-himar yang cerdas. Mereka bisa membedakan mana ayah dan mana kakeknya !!!. Akan tetapi saking pintarnya sang himar ternyata mati dengan membunuh dirinya, dengan menenggelamkan dirinya di sebuah sumur ??!!. Mestinya himar ini juga –yang ditunggangi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- tahu bahwa membunuh diri adalah dosa besar. Hadits ini memang ditolak oleh sebagian kaum syi’ah, setelah mengetahui kelucuan dan kekonyolan riwayat silsilah himar tersebut. Akan tetapi ternyata hadits ini disebutkan dalam kitab agama syi’ah yang paling valid dan otentik, yaitu kitab Ushuul Al-Kaafi, yang menurut Al-Mahdi bahwa kitab ini isinya seluruhnya adalah shahih. Karenanya kita dapati sebagian ulama syi’ah tetap membela keshahihan riwayat himar tersebut.

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 2) – Periwayatan Keledai !!

Tidak diragukan lagi bahwa agama syi’ah adalah agama yang berisi kekonyolan, kontradiktif, khurofat, dan penuh dengan banyolan. Ini semua menunjukkan bahwa agama syi’ah bukan dari Islam akan tetapi hasil karya orang-orang yang ingin merusak Islam dari dalam.Berikut ini kami tampilkan banyolan-banyolan kaum syi’ah yang kami kumpulkan dari beberapa tulisan dari internet, disertai tambahan-tambahan dari kami.Di antara banyolan-banyolan tersebut adalah :Dalam kitab Al-Kaafi disebutkan : Amirul Mukminin (Ali bin Abi Tholib) menyebutkan bahwa hewan yang pertama kali meninggal tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal adalah ‘Ufair (himar tunggangan Nabi-pen). Ia memutuskan tali kekangnya lalu iapun lari hingga mendatangi sumur bani Khutmah di Quba’, lalu iapun melemparkan dirinya dalam sumur tersebut. Maka sumur tersebut menjadi kuburannya.Dan diriwayatkan bahwasanya Amiirul-Mukminiin (‘alaihis-salaam) berkata : “Sesungguhnya keledai itu (yaitu keledai tunggangan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Ufair-pen) berkata kepada Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa aalihi) : “Demi ayah, engkau, dan ibuku, sesungguhnya ayahku telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ayahnya : Bahwasannya ia pernah bersama Nuuh di dalam perahu. Maka Nuuh bangkit berdiri dan mengusap pantatnya, kemudian bersabda : ‘Akan muncul dari tulang sulbi keledai ini seekor keledai yang akan ditunggangi oleh pemimpin dan penutup para Nabi’. Dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai keledai itu” [selesai]. (Usul Al-Kaafi 1/293, [بَابُ مَا عِنْدَ الْأَئِمَّةِ مِنْ سِلَاحِ رَسُولِ اللَّهِ وَمَتَاعِهِ], hadits ke-9)Hadits aneh ini juga disebutkan oleh Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaar al-Anwaar 17/405 dalam bab (ما ظهر من إعجازه صلى الله عليه وسلم في الحيوانات) “Mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada hewan-hewan”Bahkan al-Majlisi menilai hadits ini adalah hadits yang shahih. Beliau berkata :ولا يَستبعِد من كلام الحمار مَن يؤمن بالقرآن وبكلام الهدهد والنمل وغيرهما“Orang yang beriman kepada Al-Qur’an, beriman dengan perkataan burung Hudhud dan perkataan semut, serta selain keduanya, tidak akan merasa aneh dengan perkataan himar” (sebagaimana dinukil oleh pentahqiq Ushul Al-Kaafi), Yaitu Al-Majlisi menguatkan keshahihan hadits ini. Silakan perhatikan dengan seksama……… bahwa seekor keledai telah memerankan diri layaknya seorang perawi hadits dengan menggunakan lafadh : haddatsanii abiy…dst. Tentu saja riwayat ini tidak akan kita temukan di kitab-kitab Ahlus-Sunnah. Ia terdapat dalam kitab Al-Kaafiy – kitab hadits paling valid menurut madzhab Syi’ah -.Si keledai, bapaknya keledai, sampai kakeknya keledai menjadi rantai periwayatan yang menghubungkan pengkhabaran dari Nabi Nuuh ‘alaihis-salaam sampai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.Yang aneh, hadits yang aneh ini dianggap sebagai mukjizat oleh Al-Khuu’iy – salah seorang fuqahaa’ Syi’ah kontemporer – saat menjelaskan hadits ini, ia berkata :انظروا إلى هذه المعجزة، نوح سلام الله عليه يخبر بمحمد عليه السلام، وبنبوته قبل ولادته بألوف السنين.“Lihatlah oleh kalian akan mu’jizat ini. Nuuh salaamullaah ‘alaihi mengkhabarkan Muhammad ‘alaihis-salaam dan tentang kenabiannya sebelum kelahirannya beribu-ribu tahun” [lihat Lillaahi Tsumma lit-Taariikh, hal. 15].Jika manusia – yang notabene makhluk yang dikaruniai akal – harus ditimbang dalam penyampaian riwayat, bagaimana statusnya jika ia seekor keledai ? Dan bagaimana bisa khabar aneh ini mengagumkan Al-Khuu’iy dan menganggapnya sebagai satu mu’jizat ? Dan mungkinkah ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu yang terkenal teliti, kritis, dan berilmu menyampaikan khabar ini ? Nampaknya, ini adalah kebohongan serius yang telah menyisip dalam kitab Al-Kaafiy karangan Al-Kulainiy. (http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/ketika-keledai-telah-menjadi-perawi.html)          Yang menjadi permasalahan bukanlah himar (keledai) yang berbicara, karena bahkan batu pernah memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini merupkan mukjizat Nabi, demikian juga hadits-hadits dalam Shahih Al-Bukhari yang menyebutkan bahwa sapi dan serigala bisa berbicara.Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah :–         Berapa umur himar/keledai tersebut?. Bukankah antara Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam hingga Nabi Nuuh ‘alaihis salam ribuan tahun??. Padahal sanad silsilah keluarga himar tersebut hanya 4 atau lima keledai. Jadi masing-masing keledai tersebut berumur ratusan tahun??!! Padahal umur himar biasanya berkisar antara 30 hingga 35 tahun, dan kalau panjang umur mungkin hingga 50 tahun??!–         Lalu para himar tersebut bergaya sebagaimana ahlul hadits !!!. Padahal di zaman Nabi belum ada model periwayatan hadits, belum ada istilah haddatsanaa dan juga akhbaronaa…. Istilah-istilah tersebut muncul dan masyhur di zaman periwayatan hadits, yaitu setelah berlalunya generasi para sahabat.–         Tentunya jika ada periwayatan dari hewan-hewan maka perlu ada buku yang menjelaskan tentang kedudukan para hewan tersebut, apakah sebagai perawi yang tsiqoh, ataukah dho’if, ataukah muttaham bi al-kadzib, dsb.–         Ternyata himar ini, serta ayahnya, kakeknya, hingga buyutnya yang ada di zaman Nabi Nuuh adalah himar-himar yang cerdas. Mereka bisa membedakan mana ayah dan mana kakeknya !!!. Akan tetapi saking pintarnya sang himar ternyata mati dengan membunuh dirinya, dengan menenggelamkan dirinya di sebuah sumur ??!!. Mestinya himar ini juga –yang ditunggangi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- tahu bahwa membunuh diri adalah dosa besar. Hadits ini memang ditolak oleh sebagian kaum syi’ah, setelah mengetahui kelucuan dan kekonyolan riwayat silsilah himar tersebut. Akan tetapi ternyata hadits ini disebutkan dalam kitab agama syi’ah yang paling valid dan otentik, yaitu kitab Ushuul Al-Kaafi, yang menurut Al-Mahdi bahwa kitab ini isinya seluruhnya adalah shahih. Karenanya kita dapati sebagian ulama syi’ah tetap membela keshahihan riwayat himar tersebut.
Tidak diragukan lagi bahwa agama syi’ah adalah agama yang berisi kekonyolan, kontradiktif, khurofat, dan penuh dengan banyolan. Ini semua menunjukkan bahwa agama syi’ah bukan dari Islam akan tetapi hasil karya orang-orang yang ingin merusak Islam dari dalam.Berikut ini kami tampilkan banyolan-banyolan kaum syi’ah yang kami kumpulkan dari beberapa tulisan dari internet, disertai tambahan-tambahan dari kami.Di antara banyolan-banyolan tersebut adalah :Dalam kitab Al-Kaafi disebutkan : Amirul Mukminin (Ali bin Abi Tholib) menyebutkan bahwa hewan yang pertama kali meninggal tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal adalah ‘Ufair (himar tunggangan Nabi-pen). Ia memutuskan tali kekangnya lalu iapun lari hingga mendatangi sumur bani Khutmah di Quba’, lalu iapun melemparkan dirinya dalam sumur tersebut. Maka sumur tersebut menjadi kuburannya.Dan diriwayatkan bahwasanya Amiirul-Mukminiin (‘alaihis-salaam) berkata : “Sesungguhnya keledai itu (yaitu keledai tunggangan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Ufair-pen) berkata kepada Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa aalihi) : “Demi ayah, engkau, dan ibuku, sesungguhnya ayahku telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ayahnya : Bahwasannya ia pernah bersama Nuuh di dalam perahu. Maka Nuuh bangkit berdiri dan mengusap pantatnya, kemudian bersabda : ‘Akan muncul dari tulang sulbi keledai ini seekor keledai yang akan ditunggangi oleh pemimpin dan penutup para Nabi’. Dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai keledai itu” [selesai]. (Usul Al-Kaafi 1/293, [بَابُ مَا عِنْدَ الْأَئِمَّةِ مِنْ سِلَاحِ رَسُولِ اللَّهِ وَمَتَاعِهِ], hadits ke-9)Hadits aneh ini juga disebutkan oleh Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaar al-Anwaar 17/405 dalam bab (ما ظهر من إعجازه صلى الله عليه وسلم في الحيوانات) “Mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada hewan-hewan”Bahkan al-Majlisi menilai hadits ini adalah hadits yang shahih. Beliau berkata :ولا يَستبعِد من كلام الحمار مَن يؤمن بالقرآن وبكلام الهدهد والنمل وغيرهما“Orang yang beriman kepada Al-Qur’an, beriman dengan perkataan burung Hudhud dan perkataan semut, serta selain keduanya, tidak akan merasa aneh dengan perkataan himar” (sebagaimana dinukil oleh pentahqiq Ushul Al-Kaafi), Yaitu Al-Majlisi menguatkan keshahihan hadits ini. Silakan perhatikan dengan seksama……… bahwa seekor keledai telah memerankan diri layaknya seorang perawi hadits dengan menggunakan lafadh : haddatsanii abiy…dst. Tentu saja riwayat ini tidak akan kita temukan di kitab-kitab Ahlus-Sunnah. Ia terdapat dalam kitab Al-Kaafiy – kitab hadits paling valid menurut madzhab Syi’ah -.Si keledai, bapaknya keledai, sampai kakeknya keledai menjadi rantai periwayatan yang menghubungkan pengkhabaran dari Nabi Nuuh ‘alaihis-salaam sampai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.Yang aneh, hadits yang aneh ini dianggap sebagai mukjizat oleh Al-Khuu’iy – salah seorang fuqahaa’ Syi’ah kontemporer – saat menjelaskan hadits ini, ia berkata :انظروا إلى هذه المعجزة، نوح سلام الله عليه يخبر بمحمد عليه السلام، وبنبوته قبل ولادته بألوف السنين.“Lihatlah oleh kalian akan mu’jizat ini. Nuuh salaamullaah ‘alaihi mengkhabarkan Muhammad ‘alaihis-salaam dan tentang kenabiannya sebelum kelahirannya beribu-ribu tahun” [lihat Lillaahi Tsumma lit-Taariikh, hal. 15].Jika manusia – yang notabene makhluk yang dikaruniai akal – harus ditimbang dalam penyampaian riwayat, bagaimana statusnya jika ia seekor keledai ? Dan bagaimana bisa khabar aneh ini mengagumkan Al-Khuu’iy dan menganggapnya sebagai satu mu’jizat ? Dan mungkinkah ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu yang terkenal teliti, kritis, dan berilmu menyampaikan khabar ini ? Nampaknya, ini adalah kebohongan serius yang telah menyisip dalam kitab Al-Kaafiy karangan Al-Kulainiy. (http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/ketika-keledai-telah-menjadi-perawi.html)          Yang menjadi permasalahan bukanlah himar (keledai) yang berbicara, karena bahkan batu pernah memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini merupkan mukjizat Nabi, demikian juga hadits-hadits dalam Shahih Al-Bukhari yang menyebutkan bahwa sapi dan serigala bisa berbicara.Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah :–         Berapa umur himar/keledai tersebut?. Bukankah antara Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam hingga Nabi Nuuh ‘alaihis salam ribuan tahun??. Padahal sanad silsilah keluarga himar tersebut hanya 4 atau lima keledai. Jadi masing-masing keledai tersebut berumur ratusan tahun??!! Padahal umur himar biasanya berkisar antara 30 hingga 35 tahun, dan kalau panjang umur mungkin hingga 50 tahun??!–         Lalu para himar tersebut bergaya sebagaimana ahlul hadits !!!. Padahal di zaman Nabi belum ada model periwayatan hadits, belum ada istilah haddatsanaa dan juga akhbaronaa…. Istilah-istilah tersebut muncul dan masyhur di zaman periwayatan hadits, yaitu setelah berlalunya generasi para sahabat.–         Tentunya jika ada periwayatan dari hewan-hewan maka perlu ada buku yang menjelaskan tentang kedudukan para hewan tersebut, apakah sebagai perawi yang tsiqoh, ataukah dho’if, ataukah muttaham bi al-kadzib, dsb.–         Ternyata himar ini, serta ayahnya, kakeknya, hingga buyutnya yang ada di zaman Nabi Nuuh adalah himar-himar yang cerdas. Mereka bisa membedakan mana ayah dan mana kakeknya !!!. Akan tetapi saking pintarnya sang himar ternyata mati dengan membunuh dirinya, dengan menenggelamkan dirinya di sebuah sumur ??!!. Mestinya himar ini juga –yang ditunggangi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- tahu bahwa membunuh diri adalah dosa besar. Hadits ini memang ditolak oleh sebagian kaum syi’ah, setelah mengetahui kelucuan dan kekonyolan riwayat silsilah himar tersebut. Akan tetapi ternyata hadits ini disebutkan dalam kitab agama syi’ah yang paling valid dan otentik, yaitu kitab Ushuul Al-Kaafi, yang menurut Al-Mahdi bahwa kitab ini isinya seluruhnya adalah shahih. Karenanya kita dapati sebagian ulama syi’ah tetap membela keshahihan riwayat himar tersebut.


Tidak diragukan lagi bahwa agama syi’ah adalah agama yang berisi kekonyolan, kontradiktif, khurofat, dan penuh dengan banyolan. Ini semua menunjukkan bahwa agama syi’ah bukan dari Islam akan tetapi hasil karya orang-orang yang ingin merusak Islam dari dalam.Berikut ini kami tampilkan banyolan-banyolan kaum syi’ah yang kami kumpulkan dari beberapa tulisan dari internet, disertai tambahan-tambahan dari kami.Di antara banyolan-banyolan tersebut adalah :Dalam kitab Al-Kaafi disebutkan : Amirul Mukminin (Ali bin Abi Tholib) menyebutkan bahwa hewan yang pertama kali meninggal tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal adalah ‘Ufair (himar tunggangan Nabi-pen). Ia memutuskan tali kekangnya lalu iapun lari hingga mendatangi sumur bani Khutmah di Quba’, lalu iapun melemparkan dirinya dalam sumur tersebut. Maka sumur tersebut menjadi kuburannya.Dan diriwayatkan bahwasanya Amiirul-Mukminiin (‘alaihis-salaam) berkata : “Sesungguhnya keledai itu (yaitu keledai tunggangan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Ufair-pen) berkata kepada Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa aalihi) : “Demi ayah, engkau, dan ibuku, sesungguhnya ayahku telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ayahnya : Bahwasannya ia pernah bersama Nuuh di dalam perahu. Maka Nuuh bangkit berdiri dan mengusap pantatnya, kemudian bersabda : ‘Akan muncul dari tulang sulbi keledai ini seekor keledai yang akan ditunggangi oleh pemimpin dan penutup para Nabi’. Dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai keledai itu” [selesai]. (Usul Al-Kaafi 1/293, [بَابُ مَا عِنْدَ الْأَئِمَّةِ مِنْ سِلَاحِ رَسُولِ اللَّهِ وَمَتَاعِهِ], hadits ke-9)Hadits aneh ini juga disebutkan oleh Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaar al-Anwaar 17/405 dalam bab (ما ظهر من إعجازه صلى الله عليه وسلم في الحيوانات) “Mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada hewan-hewan”Bahkan al-Majlisi menilai hadits ini adalah hadits yang shahih. Beliau berkata :ولا يَستبعِد من كلام الحمار مَن يؤمن بالقرآن وبكلام الهدهد والنمل وغيرهما“Orang yang beriman kepada Al-Qur’an, beriman dengan perkataan burung Hudhud dan perkataan semut, serta selain keduanya, tidak akan merasa aneh dengan perkataan himar” (sebagaimana dinukil oleh pentahqiq Ushul Al-Kaafi), Yaitu Al-Majlisi menguatkan keshahihan hadits ini. Silakan perhatikan dengan seksama……… bahwa seekor keledai telah memerankan diri layaknya seorang perawi hadits dengan menggunakan lafadh : haddatsanii abiy…dst. Tentu saja riwayat ini tidak akan kita temukan di kitab-kitab Ahlus-Sunnah. Ia terdapat dalam kitab Al-Kaafiy – kitab hadits paling valid menurut madzhab Syi’ah -.Si keledai, bapaknya keledai, sampai kakeknya keledai menjadi rantai periwayatan yang menghubungkan pengkhabaran dari Nabi Nuuh ‘alaihis-salaam sampai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.Yang aneh, hadits yang aneh ini dianggap sebagai mukjizat oleh Al-Khuu’iy – salah seorang fuqahaa’ Syi’ah kontemporer – saat menjelaskan hadits ini, ia berkata :انظروا إلى هذه المعجزة، نوح سلام الله عليه يخبر بمحمد عليه السلام، وبنبوته قبل ولادته بألوف السنين.“Lihatlah oleh kalian akan mu’jizat ini. Nuuh salaamullaah ‘alaihi mengkhabarkan Muhammad ‘alaihis-salaam dan tentang kenabiannya sebelum kelahirannya beribu-ribu tahun” [lihat Lillaahi Tsumma lit-Taariikh, hal. 15].Jika manusia – yang notabene makhluk yang dikaruniai akal – harus ditimbang dalam penyampaian riwayat, bagaimana statusnya jika ia seekor keledai ? Dan bagaimana bisa khabar aneh ini mengagumkan Al-Khuu’iy dan menganggapnya sebagai satu mu’jizat ? Dan mungkinkah ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu yang terkenal teliti, kritis, dan berilmu menyampaikan khabar ini ? Nampaknya, ini adalah kebohongan serius yang telah menyisip dalam kitab Al-Kaafiy karangan Al-Kulainiy. (http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/ketika-keledai-telah-menjadi-perawi.html)          Yang menjadi permasalahan bukanlah himar (keledai) yang berbicara, karena bahkan batu pernah memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini merupkan mukjizat Nabi, demikian juga hadits-hadits dalam Shahih Al-Bukhari yang menyebutkan bahwa sapi dan serigala bisa berbicara.Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah :–         Berapa umur himar/keledai tersebut?. Bukankah antara Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam hingga Nabi Nuuh ‘alaihis salam ribuan tahun??. Padahal sanad silsilah keluarga himar tersebut hanya 4 atau lima keledai. Jadi masing-masing keledai tersebut berumur ratusan tahun??!! Padahal umur himar biasanya berkisar antara 30 hingga 35 tahun, dan kalau panjang umur mungkin hingga 50 tahun??!–         Lalu para himar tersebut bergaya sebagaimana ahlul hadits !!!. Padahal di zaman Nabi belum ada model periwayatan hadits, belum ada istilah haddatsanaa dan juga akhbaronaa…. Istilah-istilah tersebut muncul dan masyhur di zaman periwayatan hadits, yaitu setelah berlalunya generasi para sahabat.–         Tentunya jika ada periwayatan dari hewan-hewan maka perlu ada buku yang menjelaskan tentang kedudukan para hewan tersebut, apakah sebagai perawi yang tsiqoh, ataukah dho’if, ataukah muttaham bi al-kadzib, dsb.–         Ternyata himar ini, serta ayahnya, kakeknya, hingga buyutnya yang ada di zaman Nabi Nuuh adalah himar-himar yang cerdas. Mereka bisa membedakan mana ayah dan mana kakeknya !!!. Akan tetapi saking pintarnya sang himar ternyata mati dengan membunuh dirinya, dengan menenggelamkan dirinya di sebuah sumur ??!!. Mestinya himar ini juga –yang ditunggangi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- tahu bahwa membunuh diri adalah dosa besar. Hadits ini memang ditolak oleh sebagian kaum syi’ah, setelah mengetahui kelucuan dan kekonyolan riwayat silsilah himar tersebut. Akan tetapi ternyata hadits ini disebutkan dalam kitab agama syi’ah yang paling valid dan otentik, yaitu kitab Ushuul Al-Kaafi, yang menurut Al-Mahdi bahwa kitab ini isinya seluruhnya adalah shahih. Karenanya kita dapati sebagian ulama syi’ah tetap membela keshahihan riwayat himar tersebut.

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 1) – Para Imam Syi’ah Bisa Berbahasa Bugis, Sunda, dan Madura !!!

Merupakan perkara yang sangat menonjol pada agama syi’ah adalah sikap pengultusan terhadap imam-imam mereka yang 12, sehingga mengangkat mereka pada derajat yang lebih tinggi dari pada derajat para nabi.Ilmu Para Imam Syi’ah Lebih Hebat daripada Ilmu Para NabiTerlalu banyak pernyataan-pernyataan Syi’ah yang menunjukkan pengultusan mereka yang berlebihan terhadap para imam mereka. Diantaranya adalah pernyataan-pernyataan yang menunjukkan luasnya ilmu para imam, sampai-sampai ilmu  mereka menyamai bahkan melebih ilmu para Nabi.Diantara pernyataan mereka –sebagaiaman yang termaktub dalam kitab Ushuul Al-Kaafi (karya Al-Kulaini)-باب أن الأئمة ورثوا علم النبي وجميع الأنبياء والأوصياء الذين قبلهم“Bab : Bahwasanya para imam mewarisi ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan seluruh nabi dan orang-orang yang diwasiatkan sebelum mereka” (Ushuul Al-kaafi 1/280) Ini menunjukkan para imam lebih hebat dari kebanyakan nabi dan rasul, karena seluruh ilmu para nabi sebelumnya terkumpulkan pada para imam. Sementara tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa setiap nabi mengumpulkan ilmu seluruh nabi sebelumnya. Jikapun mengumpulkan ilmu seluruh nabi sebelumnya maka tidak ada dalil juga terkumpulkan ilmu seluruh nabi sesudahnya. Karenanya ilmu para imam lebih hebat dari ilmu mayoritas para nabi.Kehebatan ilmu para imam yang melebih ilmu para nabi ditegaskan juga dalam kitab Bihaarul Anwaar (jilid 26 hal 193-200). Al-Majlisi membuat sebuah bab yang ia beri judul :باب : أَنَّهُمْ أَعْلَمُ مِنَ الأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ“Bab : Bahwasanya para imam lebih berilmu dari pada para nabi ‘alaihim as-salaam” (Bihaarul Anwaar 26/193)Lalu al-Majlisi membawakan riwayat-riwayat yang mendukung bab ini, diantaranya ;Abu Abdillah (Imam Ja’far As-Shodiq) berkata :“Demi Robnya ka’bah –tiga kali- bahwasanya seandainya aku di antara Musa dan al-Khodir maka sungguh aku akan kabarkan kepada mereka berdua bahwasanya aku lebih berilmu dari pada mereka berdua. Dan sungguh aku akan mengabarkan kepada mereka ilmu yang tidak mereka berdua miliki” (Bihaarul Anwaar 26/196)Imam Al-Baaqir ‘alaihis salaam berkata : “Wahai Abdullah, apa pendapatmu tentang Ali, Musa, dan Isa?”. Aku (Abdullah As-Sammaan) berkata : “Aku yang harus aku katakan?”. Al-Baqir berkata : “Demi Allah, Ali lebih berilmu dari pada mereka berdua (Musa dan Isa)”. Lalu ia berkata, “Bukankah kalian berkata : Sesungguhnya ilmu Ali adalah ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Kami berkata : Benar, akan tetapi orang-orang mengingkari !” (Bihaarul Anwaar 26/198) Ilmu Para Imam Syi’ah Lebih Hebat daripada Ilmu Rasulullah           Meskipun dalam beberapa riwayat menunjukkan bahwa Ilmu Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu (imam pertama kaum Syi’ah) sama dengan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta kaum syi’ah terkadang masih canggung dan malu-malu untuk menyatakan bahwa ilmu para imam lebih tinggi daripada ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi banyak riwayat-riwayat yang lain yang menunjukkan bahwa para imam Syi’ah lebih tinggi ilmunya dari pada ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantara riwayat tersebut adalah :riwayat dari Abi Abdillah (imam Ja’far As-Shoodiq) dimana ia berkata :“Sesungguhnya Allah menciptakan para rasul ulul ‘azmi, dan Allah memuliakan mereka dengan ilmu, dan kami mewarisi ilmu para rasul ulul ‘azmi tersebut, dan Allah memuliakan kami di atas mereka pada ilmu mereka dan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ilmu yang mereka tidak ketahui. Ilmu kami adalah ilmu Rasulullah dan ilmu mereka (para rasul ulul ‘azmi)” (Bihaarul Anwaar 26/193).Lihatlah sangat jelas Syi’ah meyakini bahwa ilmu para imam mereka melebihi ilmu para nabi, dan juga melebihi ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena ilmu para imam tersusun dari (1) ilmu para rasul ulul ‘azmi (ditambah) (2) ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (ditambah) (3) ilmu yang tidak diketahui oleh para nabi.Selain itu terlalu banyak riwayat yang menunjukkan bahwa ilmu para imam lebih hebat daripada ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya :1) Riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa para imam mengetahui seluruh ilmu masa depan, sementara Nabi tidak mengetahui seluruh ilmu masa depan.Al-Majlisi membuat sebuah bab :“Bab : Bahwasanya para imam tidak terhalangi dari ilmu langit dan bumi, surga dan neraka, dan bahwasanya ditampakkan kepada mereka perbendaharaan langit dan bumi. Mereka mengetahui ilmu yang lalu, dan ilmu yang akan datang hingga hari kiamat” (Bihaarul Anwaar 26/109)2) Para imam mengetahui seluruh ilmu nabi dan rasul bahkan ilmu para malaikat.Al-Kulaini membuat sebuah bab :باب أن الأئمة يعلمون جميع العلوم التي خرجت إلى الملائكة والأنبياء والرسل“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui seluruh ilmu yang keluar kepada para malaikat, para nabi, dan para rasul” (Ushuul al-Kaafi 1/310)3) Para imam mengetahui isi hati manusia, apakah mereka beriman atau munafiq.Al-Majlisi berkata :“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui tentang hakekat iman dan hakekat kemunafikan orang-orang. Di sisi mereka ada kitab tertulis nama-nama penghuni surga dan nama-nama syi’ah (penolong) mereka, serta nama-nama musuh-musuh mereka” (Bihaarul Anwaar 26/117)Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui seluruh orang munafiq kecuali yang dikabarkan oleh Allah.Allah berfirman :وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الأعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍDi antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) kamilah yang mengetahui mereka. nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (QS At-Taubah : 101)4) Para imam syi’ah mengetahui seluruh bahasa manusia yang ada di dunia ini, sementara Nabi shalallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah demikian.Diantara banyolan kaum syi’ah adalah meyakini bahwa imam-imam mereka mengetahui seluruh bahasa. Karenanya para imam memiliki seluruh kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah, dan mereka mampu untuk membacanya.Tentunya kitab-kitab tersebut disusun dengan bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan bahasa masing-masing rasul dan kaumnya. Allah berfirman :وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْKami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS Ibrahim : 4)Para nabi berasal dari suku yang berbeda-beda, sehingga kitab-kitab yang diturunkan kepada merekapun menggunakan bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan bahasa para nabi tersebut. Nabi Musa ‘alaihis salaam, tidaklah beliau berbicara dengan bahasa Arab, akan tetapi dengan bahasa kaum bani Isra’il, sehingga kitab yang diturunkan kepada beliau –yaitu kitab At-Taurot- juga dengan bahasa tersebut. Ternyata kaum Syi’ah mengimani bahwa para imam mereka mengetahui bahasa-bahasa kitab-kitab tersebut, karena kitab-kitab para nabi tersebut berada bersama para imam dan dibaca oleh para imam.Al-Kulaini membawakan sebuah bab :باب أن الأئمة عندهم جميع الكتب التي نزلت من عند الله عز وجل وأنهم يعرفونها على اختلاف ألسنتها“Bab : Bahwasanya para imam di sisi mereka seluruh kitab-kitab yang turun dari sisi Allah azza wa jalla, dan bahwasanya mereka mengetahui kitab-kitab tersebut meskipun bahasanya berbeda-beda” (Ushuul Al-Kaafi 1/283)Al-Majlisi berkata“Bab : Bahwasanya di sisi para imam kitab-kitab para nabi, para imam membaca kitab-kitab tersebut meskipun bahasanya berbeda-beda” (Bihaarul Anwaar 26/180)                   Bahkan para imam Syi’ah bukan hanya mengerti bahasa kitab-kitab para nabi, bahkan juga menguasai seluruh bahasa dan berbicara dengan seluruh bahasa-bahasa tersebut. Al-Majlisi berkata :“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui seluruh lahjat dan bahasa, serta mereka berbicara dengan bahasa-bahasa tersebut” (Bihaarul Anwaar 26/190)Lalu Al-Majlisi menyebutkan riwayat-riwayat yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya :Al-Hasan bin Ali ‘alaihis salam berkata : “Sesungguhnya Allah memiliki dua kota, salah satunya di timur dan yang lainnya di barat. Pada kedua kota tersebut adalah pagar dari besi, dan pada setiap kota ada satu juga pintu yang terbuka dari emas. Dan pada kota tersebut ada 70 juta bahasa, masing-masing berbicara dengan bahasa yang berbeda. Dan aku mengetahui seluruh bahasa, dan apa yang ada pada kedua kota tersebut, apa yang ada di antara kedua kota tersebut, serta tidak ada di atas kedua kota tersebut hujjah (imam) selain aku dan saudaraku al-Husain” (Bihaarul Anwaal 26/192)Al-Harowi berkata : Imam Ar-Ridoo ‘alaihis salam berbicara dengan orang-orang dengan menggunakan bahasa mereka. Beliau –demi Allah- adalah orang yang paling fasih dan yang paling berilmu tentang seluruh dialek dan bahasa. Maka pada suatu hari aku berkata kepadanya : Wahai cucu Rasulullah, sungguh aku kagum dengan pengetahuanmu tentang bahasa-bahasa yang berbeda-beda?. Maka ia berkata : Wahai Abu As-Sholt, aku adalah Hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya, dan tidaklah boleh Allah mengangkat seorang hujjah atas suatu kaum yang hujjah tersebut tidak mengerti bahasa mereka. Tidakkah sampai kepadamu perkataan Amirul Mukiminin (Ali bin Abi Tholib) : Kami telah diberi Fashlul Khitoob?, bukankah Fashlul Khithoob kecuali adalah memahami bahasa-bahasa” (Bihaarul Anwaar 26/190)           Setelah menyebutkan riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa para imam mengetahui seluruh bahasa dan bisa berbicara dengan seluruh bahasa, lalu Al-Majlisi berkata :“Adapun kondisi para imam yang mengetahui bahasa-bahasa maka riwayat-riwayat tentang hal itu hampir mendekati mutawatir, ditambah dengan riwayat-riwayat umum yang tidak menyisakan lagi keraguan akan hal ini. Adapun ilmu mereka tentang keahl ian-keahlian (keduniaan), maka keumuman riwayat yang banyak menunjukkan akan hal itu, karena telah datang dalam riwayat bahwasanya al-hujjah (imam) tidak boleh bodoh dalam sesuatu apapun yang ia berkata : “Aku tidak tahu”, disertai bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang lalu, ilmu masa depan, dan bahwasanya ilmu seluruh para nabi telah sampai kepada para imam. Padahal mayoritas keahlian-keahlian dinisbahkan kepada para nabi ‘alaihim as-salaam, dan telah ditafsirkan pengajaran nama-nama kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahilian-keahlian” (Bihaarul Anwaar 26/193)           Karenanya para pembaca yang budiman, ternyata imam-imam mereka bisa berbicara dengan bahasa bugis dan bahasa sunda, bahkan bisa bahasa jawa dan bahasa Madura. Para imam sangat fasih untuk berkata, “mandre dan tindro“, juga fasih mengucapkan “monggo pinarak“, juga fasih mengucapkan “mangga..” serta mengucapkan “Da’rema…”Riwayat-riwayat Syi’ah yang disebutkan oleh Al-Majlisi menunjukkan bahwa para imam lebih hebat daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menguasai seluruh bahasa. Bahkan ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengerti bahasa Yahudi.Zaid bin Tsaabit radhiallahu ‘anhu berkataأَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَعَلَّمْتُ لَهُ كِتَابَ يَهُودَ، وَقَالَ: «إِنِّي وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابِي» فَتَعَلَّمْتُهُ، فَلَمْ يَمُرَّ بِي إِلَّا نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى حَذَقْتُهُ، فَكُنْتُ أَكْتُبُ لَهُ إِذَا كَتَبَ وَأَقْرَأُ لَهُ، إِذَا كُتِبَ إِلَيْهِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahakan aku, lalu aku mempelajari kitab kaum yahudi untuk beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh aku –demi Allah- tidak merasa aman dengan orang-orang yahudi atas tulisan-tulisanku”. Maka akupun mempelajari bahasa yahudi, dan tidak sampai setengah bulan maka aku telah menguasai bahasa tersebut. Maka akupun menulis untuk Nabi jika beliau menulis, dan aku membacakan untuk beliau jika ada tulisan dikirim kepada beliau” (HR Abu Dawud no 3645 dan dinyatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai Hasan Shahih)Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Sungguh aku –demi Allah- tidak merasa aman dengan orang-orang yahudi atas tulisan-tulisanku”, menunjukkan beliau tidak mengerti bahasa Yahudi, sehingga beliau khawatir kalau orang yahudi yang menuliskan untuk beliau atau membacakan tulisan yahudi untuk beliau maka ia tidak amanah dan melakukan perubahan. Maka Nabipun menyuruh Zaid bin Tsabit untuk belajar bahasa Yahudi sehingga jika Nabi hendak menulis surat dengan bahasa Yahudi maka Zaidlah yang menuliskannya, demikian juga jika ada surat datang dalam bahasa yahudi maka Zaidlah yang membacakannya.Jika ternyata Nabi mengetahui seluruh bahasa maka ini sungguh merupakan mukjizat yang sangat hebat yang bisa menjadikan orang-orang a’jam beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi mukjizat ini tidaklah masyhur.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 17-01-1435 H / 20-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 1) – Para Imam Syi’ah Bisa Berbahasa Bugis, Sunda, dan Madura !!!

Merupakan perkara yang sangat menonjol pada agama syi’ah adalah sikap pengultusan terhadap imam-imam mereka yang 12, sehingga mengangkat mereka pada derajat yang lebih tinggi dari pada derajat para nabi.Ilmu Para Imam Syi’ah Lebih Hebat daripada Ilmu Para NabiTerlalu banyak pernyataan-pernyataan Syi’ah yang menunjukkan pengultusan mereka yang berlebihan terhadap para imam mereka. Diantaranya adalah pernyataan-pernyataan yang menunjukkan luasnya ilmu para imam, sampai-sampai ilmu  mereka menyamai bahkan melebih ilmu para Nabi.Diantara pernyataan mereka –sebagaiaman yang termaktub dalam kitab Ushuul Al-Kaafi (karya Al-Kulaini)-باب أن الأئمة ورثوا علم النبي وجميع الأنبياء والأوصياء الذين قبلهم“Bab : Bahwasanya para imam mewarisi ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan seluruh nabi dan orang-orang yang diwasiatkan sebelum mereka” (Ushuul Al-kaafi 1/280) Ini menunjukkan para imam lebih hebat dari kebanyakan nabi dan rasul, karena seluruh ilmu para nabi sebelumnya terkumpulkan pada para imam. Sementara tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa setiap nabi mengumpulkan ilmu seluruh nabi sebelumnya. Jikapun mengumpulkan ilmu seluruh nabi sebelumnya maka tidak ada dalil juga terkumpulkan ilmu seluruh nabi sesudahnya. Karenanya ilmu para imam lebih hebat dari ilmu mayoritas para nabi.Kehebatan ilmu para imam yang melebih ilmu para nabi ditegaskan juga dalam kitab Bihaarul Anwaar (jilid 26 hal 193-200). Al-Majlisi membuat sebuah bab yang ia beri judul :باب : أَنَّهُمْ أَعْلَمُ مِنَ الأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ“Bab : Bahwasanya para imam lebih berilmu dari pada para nabi ‘alaihim as-salaam” (Bihaarul Anwaar 26/193)Lalu al-Majlisi membawakan riwayat-riwayat yang mendukung bab ini, diantaranya ;Abu Abdillah (Imam Ja’far As-Shodiq) berkata :“Demi Robnya ka’bah –tiga kali- bahwasanya seandainya aku di antara Musa dan al-Khodir maka sungguh aku akan kabarkan kepada mereka berdua bahwasanya aku lebih berilmu dari pada mereka berdua. Dan sungguh aku akan mengabarkan kepada mereka ilmu yang tidak mereka berdua miliki” (Bihaarul Anwaar 26/196)Imam Al-Baaqir ‘alaihis salaam berkata : “Wahai Abdullah, apa pendapatmu tentang Ali, Musa, dan Isa?”. Aku (Abdullah As-Sammaan) berkata : “Aku yang harus aku katakan?”. Al-Baqir berkata : “Demi Allah, Ali lebih berilmu dari pada mereka berdua (Musa dan Isa)”. Lalu ia berkata, “Bukankah kalian berkata : Sesungguhnya ilmu Ali adalah ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Kami berkata : Benar, akan tetapi orang-orang mengingkari !” (Bihaarul Anwaar 26/198) Ilmu Para Imam Syi’ah Lebih Hebat daripada Ilmu Rasulullah           Meskipun dalam beberapa riwayat menunjukkan bahwa Ilmu Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu (imam pertama kaum Syi’ah) sama dengan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta kaum syi’ah terkadang masih canggung dan malu-malu untuk menyatakan bahwa ilmu para imam lebih tinggi daripada ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi banyak riwayat-riwayat yang lain yang menunjukkan bahwa para imam Syi’ah lebih tinggi ilmunya dari pada ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantara riwayat tersebut adalah :riwayat dari Abi Abdillah (imam Ja’far As-Shoodiq) dimana ia berkata :“Sesungguhnya Allah menciptakan para rasul ulul ‘azmi, dan Allah memuliakan mereka dengan ilmu, dan kami mewarisi ilmu para rasul ulul ‘azmi tersebut, dan Allah memuliakan kami di atas mereka pada ilmu mereka dan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ilmu yang mereka tidak ketahui. Ilmu kami adalah ilmu Rasulullah dan ilmu mereka (para rasul ulul ‘azmi)” (Bihaarul Anwaar 26/193).Lihatlah sangat jelas Syi’ah meyakini bahwa ilmu para imam mereka melebihi ilmu para nabi, dan juga melebihi ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena ilmu para imam tersusun dari (1) ilmu para rasul ulul ‘azmi (ditambah) (2) ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (ditambah) (3) ilmu yang tidak diketahui oleh para nabi.Selain itu terlalu banyak riwayat yang menunjukkan bahwa ilmu para imam lebih hebat daripada ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya :1) Riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa para imam mengetahui seluruh ilmu masa depan, sementara Nabi tidak mengetahui seluruh ilmu masa depan.Al-Majlisi membuat sebuah bab :“Bab : Bahwasanya para imam tidak terhalangi dari ilmu langit dan bumi, surga dan neraka, dan bahwasanya ditampakkan kepada mereka perbendaharaan langit dan bumi. Mereka mengetahui ilmu yang lalu, dan ilmu yang akan datang hingga hari kiamat” (Bihaarul Anwaar 26/109)2) Para imam mengetahui seluruh ilmu nabi dan rasul bahkan ilmu para malaikat.Al-Kulaini membuat sebuah bab :باب أن الأئمة يعلمون جميع العلوم التي خرجت إلى الملائكة والأنبياء والرسل“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui seluruh ilmu yang keluar kepada para malaikat, para nabi, dan para rasul” (Ushuul al-Kaafi 1/310)3) Para imam mengetahui isi hati manusia, apakah mereka beriman atau munafiq.Al-Majlisi berkata :“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui tentang hakekat iman dan hakekat kemunafikan orang-orang. Di sisi mereka ada kitab tertulis nama-nama penghuni surga dan nama-nama syi’ah (penolong) mereka, serta nama-nama musuh-musuh mereka” (Bihaarul Anwaar 26/117)Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui seluruh orang munafiq kecuali yang dikabarkan oleh Allah.Allah berfirman :وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الأعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍDi antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) kamilah yang mengetahui mereka. nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (QS At-Taubah : 101)4) Para imam syi’ah mengetahui seluruh bahasa manusia yang ada di dunia ini, sementara Nabi shalallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah demikian.Diantara banyolan kaum syi’ah adalah meyakini bahwa imam-imam mereka mengetahui seluruh bahasa. Karenanya para imam memiliki seluruh kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah, dan mereka mampu untuk membacanya.Tentunya kitab-kitab tersebut disusun dengan bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan bahasa masing-masing rasul dan kaumnya. Allah berfirman :وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْKami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS Ibrahim : 4)Para nabi berasal dari suku yang berbeda-beda, sehingga kitab-kitab yang diturunkan kepada merekapun menggunakan bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan bahasa para nabi tersebut. Nabi Musa ‘alaihis salaam, tidaklah beliau berbicara dengan bahasa Arab, akan tetapi dengan bahasa kaum bani Isra’il, sehingga kitab yang diturunkan kepada beliau –yaitu kitab At-Taurot- juga dengan bahasa tersebut. Ternyata kaum Syi’ah mengimani bahwa para imam mereka mengetahui bahasa-bahasa kitab-kitab tersebut, karena kitab-kitab para nabi tersebut berada bersama para imam dan dibaca oleh para imam.Al-Kulaini membawakan sebuah bab :باب أن الأئمة عندهم جميع الكتب التي نزلت من عند الله عز وجل وأنهم يعرفونها على اختلاف ألسنتها“Bab : Bahwasanya para imam di sisi mereka seluruh kitab-kitab yang turun dari sisi Allah azza wa jalla, dan bahwasanya mereka mengetahui kitab-kitab tersebut meskipun bahasanya berbeda-beda” (Ushuul Al-Kaafi 1/283)Al-Majlisi berkata“Bab : Bahwasanya di sisi para imam kitab-kitab para nabi, para imam membaca kitab-kitab tersebut meskipun bahasanya berbeda-beda” (Bihaarul Anwaar 26/180)                   Bahkan para imam Syi’ah bukan hanya mengerti bahasa kitab-kitab para nabi, bahkan juga menguasai seluruh bahasa dan berbicara dengan seluruh bahasa-bahasa tersebut. Al-Majlisi berkata :“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui seluruh lahjat dan bahasa, serta mereka berbicara dengan bahasa-bahasa tersebut” (Bihaarul Anwaar 26/190)Lalu Al-Majlisi menyebutkan riwayat-riwayat yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya :Al-Hasan bin Ali ‘alaihis salam berkata : “Sesungguhnya Allah memiliki dua kota, salah satunya di timur dan yang lainnya di barat. Pada kedua kota tersebut adalah pagar dari besi, dan pada setiap kota ada satu juga pintu yang terbuka dari emas. Dan pada kota tersebut ada 70 juta bahasa, masing-masing berbicara dengan bahasa yang berbeda. Dan aku mengetahui seluruh bahasa, dan apa yang ada pada kedua kota tersebut, apa yang ada di antara kedua kota tersebut, serta tidak ada di atas kedua kota tersebut hujjah (imam) selain aku dan saudaraku al-Husain” (Bihaarul Anwaal 26/192)Al-Harowi berkata : Imam Ar-Ridoo ‘alaihis salam berbicara dengan orang-orang dengan menggunakan bahasa mereka. Beliau –demi Allah- adalah orang yang paling fasih dan yang paling berilmu tentang seluruh dialek dan bahasa. Maka pada suatu hari aku berkata kepadanya : Wahai cucu Rasulullah, sungguh aku kagum dengan pengetahuanmu tentang bahasa-bahasa yang berbeda-beda?. Maka ia berkata : Wahai Abu As-Sholt, aku adalah Hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya, dan tidaklah boleh Allah mengangkat seorang hujjah atas suatu kaum yang hujjah tersebut tidak mengerti bahasa mereka. Tidakkah sampai kepadamu perkataan Amirul Mukiminin (Ali bin Abi Tholib) : Kami telah diberi Fashlul Khitoob?, bukankah Fashlul Khithoob kecuali adalah memahami bahasa-bahasa” (Bihaarul Anwaar 26/190)           Setelah menyebutkan riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa para imam mengetahui seluruh bahasa dan bisa berbicara dengan seluruh bahasa, lalu Al-Majlisi berkata :“Adapun kondisi para imam yang mengetahui bahasa-bahasa maka riwayat-riwayat tentang hal itu hampir mendekati mutawatir, ditambah dengan riwayat-riwayat umum yang tidak menyisakan lagi keraguan akan hal ini. Adapun ilmu mereka tentang keahl ian-keahlian (keduniaan), maka keumuman riwayat yang banyak menunjukkan akan hal itu, karena telah datang dalam riwayat bahwasanya al-hujjah (imam) tidak boleh bodoh dalam sesuatu apapun yang ia berkata : “Aku tidak tahu”, disertai bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang lalu, ilmu masa depan, dan bahwasanya ilmu seluruh para nabi telah sampai kepada para imam. Padahal mayoritas keahlian-keahlian dinisbahkan kepada para nabi ‘alaihim as-salaam, dan telah ditafsirkan pengajaran nama-nama kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahilian-keahlian” (Bihaarul Anwaar 26/193)           Karenanya para pembaca yang budiman, ternyata imam-imam mereka bisa berbicara dengan bahasa bugis dan bahasa sunda, bahkan bisa bahasa jawa dan bahasa Madura. Para imam sangat fasih untuk berkata, “mandre dan tindro“, juga fasih mengucapkan “monggo pinarak“, juga fasih mengucapkan “mangga..” serta mengucapkan “Da’rema…”Riwayat-riwayat Syi’ah yang disebutkan oleh Al-Majlisi menunjukkan bahwa para imam lebih hebat daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menguasai seluruh bahasa. Bahkan ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengerti bahasa Yahudi.Zaid bin Tsaabit radhiallahu ‘anhu berkataأَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَعَلَّمْتُ لَهُ كِتَابَ يَهُودَ، وَقَالَ: «إِنِّي وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابِي» فَتَعَلَّمْتُهُ، فَلَمْ يَمُرَّ بِي إِلَّا نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى حَذَقْتُهُ، فَكُنْتُ أَكْتُبُ لَهُ إِذَا كَتَبَ وَأَقْرَأُ لَهُ، إِذَا كُتِبَ إِلَيْهِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahakan aku, lalu aku mempelajari kitab kaum yahudi untuk beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh aku –demi Allah- tidak merasa aman dengan orang-orang yahudi atas tulisan-tulisanku”. Maka akupun mempelajari bahasa yahudi, dan tidak sampai setengah bulan maka aku telah menguasai bahasa tersebut. Maka akupun menulis untuk Nabi jika beliau menulis, dan aku membacakan untuk beliau jika ada tulisan dikirim kepada beliau” (HR Abu Dawud no 3645 dan dinyatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai Hasan Shahih)Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Sungguh aku –demi Allah- tidak merasa aman dengan orang-orang yahudi atas tulisan-tulisanku”, menunjukkan beliau tidak mengerti bahasa Yahudi, sehingga beliau khawatir kalau orang yahudi yang menuliskan untuk beliau atau membacakan tulisan yahudi untuk beliau maka ia tidak amanah dan melakukan perubahan. Maka Nabipun menyuruh Zaid bin Tsabit untuk belajar bahasa Yahudi sehingga jika Nabi hendak menulis surat dengan bahasa Yahudi maka Zaidlah yang menuliskannya, demikian juga jika ada surat datang dalam bahasa yahudi maka Zaidlah yang membacakannya.Jika ternyata Nabi mengetahui seluruh bahasa maka ini sungguh merupakan mukjizat yang sangat hebat yang bisa menjadikan orang-orang a’jam beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi mukjizat ini tidaklah masyhur.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 17-01-1435 H / 20-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Merupakan perkara yang sangat menonjol pada agama syi’ah adalah sikap pengultusan terhadap imam-imam mereka yang 12, sehingga mengangkat mereka pada derajat yang lebih tinggi dari pada derajat para nabi.Ilmu Para Imam Syi’ah Lebih Hebat daripada Ilmu Para NabiTerlalu banyak pernyataan-pernyataan Syi’ah yang menunjukkan pengultusan mereka yang berlebihan terhadap para imam mereka. Diantaranya adalah pernyataan-pernyataan yang menunjukkan luasnya ilmu para imam, sampai-sampai ilmu  mereka menyamai bahkan melebih ilmu para Nabi.Diantara pernyataan mereka –sebagaiaman yang termaktub dalam kitab Ushuul Al-Kaafi (karya Al-Kulaini)-باب أن الأئمة ورثوا علم النبي وجميع الأنبياء والأوصياء الذين قبلهم“Bab : Bahwasanya para imam mewarisi ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan seluruh nabi dan orang-orang yang diwasiatkan sebelum mereka” (Ushuul Al-kaafi 1/280) Ini menunjukkan para imam lebih hebat dari kebanyakan nabi dan rasul, karena seluruh ilmu para nabi sebelumnya terkumpulkan pada para imam. Sementara tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa setiap nabi mengumpulkan ilmu seluruh nabi sebelumnya. Jikapun mengumpulkan ilmu seluruh nabi sebelumnya maka tidak ada dalil juga terkumpulkan ilmu seluruh nabi sesudahnya. Karenanya ilmu para imam lebih hebat dari ilmu mayoritas para nabi.Kehebatan ilmu para imam yang melebih ilmu para nabi ditegaskan juga dalam kitab Bihaarul Anwaar (jilid 26 hal 193-200). Al-Majlisi membuat sebuah bab yang ia beri judul :باب : أَنَّهُمْ أَعْلَمُ مِنَ الأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ“Bab : Bahwasanya para imam lebih berilmu dari pada para nabi ‘alaihim as-salaam” (Bihaarul Anwaar 26/193)Lalu al-Majlisi membawakan riwayat-riwayat yang mendukung bab ini, diantaranya ;Abu Abdillah (Imam Ja’far As-Shodiq) berkata :“Demi Robnya ka’bah –tiga kali- bahwasanya seandainya aku di antara Musa dan al-Khodir maka sungguh aku akan kabarkan kepada mereka berdua bahwasanya aku lebih berilmu dari pada mereka berdua. Dan sungguh aku akan mengabarkan kepada mereka ilmu yang tidak mereka berdua miliki” (Bihaarul Anwaar 26/196)Imam Al-Baaqir ‘alaihis salaam berkata : “Wahai Abdullah, apa pendapatmu tentang Ali, Musa, dan Isa?”. Aku (Abdullah As-Sammaan) berkata : “Aku yang harus aku katakan?”. Al-Baqir berkata : “Demi Allah, Ali lebih berilmu dari pada mereka berdua (Musa dan Isa)”. Lalu ia berkata, “Bukankah kalian berkata : Sesungguhnya ilmu Ali adalah ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Kami berkata : Benar, akan tetapi orang-orang mengingkari !” (Bihaarul Anwaar 26/198) Ilmu Para Imam Syi’ah Lebih Hebat daripada Ilmu Rasulullah           Meskipun dalam beberapa riwayat menunjukkan bahwa Ilmu Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu (imam pertama kaum Syi’ah) sama dengan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta kaum syi’ah terkadang masih canggung dan malu-malu untuk menyatakan bahwa ilmu para imam lebih tinggi daripada ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi banyak riwayat-riwayat yang lain yang menunjukkan bahwa para imam Syi’ah lebih tinggi ilmunya dari pada ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantara riwayat tersebut adalah :riwayat dari Abi Abdillah (imam Ja’far As-Shoodiq) dimana ia berkata :“Sesungguhnya Allah menciptakan para rasul ulul ‘azmi, dan Allah memuliakan mereka dengan ilmu, dan kami mewarisi ilmu para rasul ulul ‘azmi tersebut, dan Allah memuliakan kami di atas mereka pada ilmu mereka dan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ilmu yang mereka tidak ketahui. Ilmu kami adalah ilmu Rasulullah dan ilmu mereka (para rasul ulul ‘azmi)” (Bihaarul Anwaar 26/193).Lihatlah sangat jelas Syi’ah meyakini bahwa ilmu para imam mereka melebihi ilmu para nabi, dan juga melebihi ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena ilmu para imam tersusun dari (1) ilmu para rasul ulul ‘azmi (ditambah) (2) ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (ditambah) (3) ilmu yang tidak diketahui oleh para nabi.Selain itu terlalu banyak riwayat yang menunjukkan bahwa ilmu para imam lebih hebat daripada ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya :1) Riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa para imam mengetahui seluruh ilmu masa depan, sementara Nabi tidak mengetahui seluruh ilmu masa depan.Al-Majlisi membuat sebuah bab :“Bab : Bahwasanya para imam tidak terhalangi dari ilmu langit dan bumi, surga dan neraka, dan bahwasanya ditampakkan kepada mereka perbendaharaan langit dan bumi. Mereka mengetahui ilmu yang lalu, dan ilmu yang akan datang hingga hari kiamat” (Bihaarul Anwaar 26/109)2) Para imam mengetahui seluruh ilmu nabi dan rasul bahkan ilmu para malaikat.Al-Kulaini membuat sebuah bab :باب أن الأئمة يعلمون جميع العلوم التي خرجت إلى الملائكة والأنبياء والرسل“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui seluruh ilmu yang keluar kepada para malaikat, para nabi, dan para rasul” (Ushuul al-Kaafi 1/310)3) Para imam mengetahui isi hati manusia, apakah mereka beriman atau munafiq.Al-Majlisi berkata :“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui tentang hakekat iman dan hakekat kemunafikan orang-orang. Di sisi mereka ada kitab tertulis nama-nama penghuni surga dan nama-nama syi’ah (penolong) mereka, serta nama-nama musuh-musuh mereka” (Bihaarul Anwaar 26/117)Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui seluruh orang munafiq kecuali yang dikabarkan oleh Allah.Allah berfirman :وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الأعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍDi antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) kamilah yang mengetahui mereka. nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (QS At-Taubah : 101)4) Para imam syi’ah mengetahui seluruh bahasa manusia yang ada di dunia ini, sementara Nabi shalallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah demikian.Diantara banyolan kaum syi’ah adalah meyakini bahwa imam-imam mereka mengetahui seluruh bahasa. Karenanya para imam memiliki seluruh kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah, dan mereka mampu untuk membacanya.Tentunya kitab-kitab tersebut disusun dengan bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan bahasa masing-masing rasul dan kaumnya. Allah berfirman :وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْKami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS Ibrahim : 4)Para nabi berasal dari suku yang berbeda-beda, sehingga kitab-kitab yang diturunkan kepada merekapun menggunakan bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan bahasa para nabi tersebut. Nabi Musa ‘alaihis salaam, tidaklah beliau berbicara dengan bahasa Arab, akan tetapi dengan bahasa kaum bani Isra’il, sehingga kitab yang diturunkan kepada beliau –yaitu kitab At-Taurot- juga dengan bahasa tersebut. Ternyata kaum Syi’ah mengimani bahwa para imam mereka mengetahui bahasa-bahasa kitab-kitab tersebut, karena kitab-kitab para nabi tersebut berada bersama para imam dan dibaca oleh para imam.Al-Kulaini membawakan sebuah bab :باب أن الأئمة عندهم جميع الكتب التي نزلت من عند الله عز وجل وأنهم يعرفونها على اختلاف ألسنتها“Bab : Bahwasanya para imam di sisi mereka seluruh kitab-kitab yang turun dari sisi Allah azza wa jalla, dan bahwasanya mereka mengetahui kitab-kitab tersebut meskipun bahasanya berbeda-beda” (Ushuul Al-Kaafi 1/283)Al-Majlisi berkata“Bab : Bahwasanya di sisi para imam kitab-kitab para nabi, para imam membaca kitab-kitab tersebut meskipun bahasanya berbeda-beda” (Bihaarul Anwaar 26/180)                   Bahkan para imam Syi’ah bukan hanya mengerti bahasa kitab-kitab para nabi, bahkan juga menguasai seluruh bahasa dan berbicara dengan seluruh bahasa-bahasa tersebut. Al-Majlisi berkata :“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui seluruh lahjat dan bahasa, serta mereka berbicara dengan bahasa-bahasa tersebut” (Bihaarul Anwaar 26/190)Lalu Al-Majlisi menyebutkan riwayat-riwayat yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya :Al-Hasan bin Ali ‘alaihis salam berkata : “Sesungguhnya Allah memiliki dua kota, salah satunya di timur dan yang lainnya di barat. Pada kedua kota tersebut adalah pagar dari besi, dan pada setiap kota ada satu juga pintu yang terbuka dari emas. Dan pada kota tersebut ada 70 juta bahasa, masing-masing berbicara dengan bahasa yang berbeda. Dan aku mengetahui seluruh bahasa, dan apa yang ada pada kedua kota tersebut, apa yang ada di antara kedua kota tersebut, serta tidak ada di atas kedua kota tersebut hujjah (imam) selain aku dan saudaraku al-Husain” (Bihaarul Anwaal 26/192)Al-Harowi berkata : Imam Ar-Ridoo ‘alaihis salam berbicara dengan orang-orang dengan menggunakan bahasa mereka. Beliau –demi Allah- adalah orang yang paling fasih dan yang paling berilmu tentang seluruh dialek dan bahasa. Maka pada suatu hari aku berkata kepadanya : Wahai cucu Rasulullah, sungguh aku kagum dengan pengetahuanmu tentang bahasa-bahasa yang berbeda-beda?. Maka ia berkata : Wahai Abu As-Sholt, aku adalah Hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya, dan tidaklah boleh Allah mengangkat seorang hujjah atas suatu kaum yang hujjah tersebut tidak mengerti bahasa mereka. Tidakkah sampai kepadamu perkataan Amirul Mukiminin (Ali bin Abi Tholib) : Kami telah diberi Fashlul Khitoob?, bukankah Fashlul Khithoob kecuali adalah memahami bahasa-bahasa” (Bihaarul Anwaar 26/190)           Setelah menyebutkan riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa para imam mengetahui seluruh bahasa dan bisa berbicara dengan seluruh bahasa, lalu Al-Majlisi berkata :“Adapun kondisi para imam yang mengetahui bahasa-bahasa maka riwayat-riwayat tentang hal itu hampir mendekati mutawatir, ditambah dengan riwayat-riwayat umum yang tidak menyisakan lagi keraguan akan hal ini. Adapun ilmu mereka tentang keahl ian-keahlian (keduniaan), maka keumuman riwayat yang banyak menunjukkan akan hal itu, karena telah datang dalam riwayat bahwasanya al-hujjah (imam) tidak boleh bodoh dalam sesuatu apapun yang ia berkata : “Aku tidak tahu”, disertai bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang lalu, ilmu masa depan, dan bahwasanya ilmu seluruh para nabi telah sampai kepada para imam. Padahal mayoritas keahlian-keahlian dinisbahkan kepada para nabi ‘alaihim as-salaam, dan telah ditafsirkan pengajaran nama-nama kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahilian-keahlian” (Bihaarul Anwaar 26/193)           Karenanya para pembaca yang budiman, ternyata imam-imam mereka bisa berbicara dengan bahasa bugis dan bahasa sunda, bahkan bisa bahasa jawa dan bahasa Madura. Para imam sangat fasih untuk berkata, “mandre dan tindro“, juga fasih mengucapkan “monggo pinarak“, juga fasih mengucapkan “mangga..” serta mengucapkan “Da’rema…”Riwayat-riwayat Syi’ah yang disebutkan oleh Al-Majlisi menunjukkan bahwa para imam lebih hebat daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menguasai seluruh bahasa. Bahkan ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengerti bahasa Yahudi.Zaid bin Tsaabit radhiallahu ‘anhu berkataأَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَعَلَّمْتُ لَهُ كِتَابَ يَهُودَ، وَقَالَ: «إِنِّي وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابِي» فَتَعَلَّمْتُهُ، فَلَمْ يَمُرَّ بِي إِلَّا نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى حَذَقْتُهُ، فَكُنْتُ أَكْتُبُ لَهُ إِذَا كَتَبَ وَأَقْرَأُ لَهُ، إِذَا كُتِبَ إِلَيْهِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahakan aku, lalu aku mempelajari kitab kaum yahudi untuk beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh aku –demi Allah- tidak merasa aman dengan orang-orang yahudi atas tulisan-tulisanku”. Maka akupun mempelajari bahasa yahudi, dan tidak sampai setengah bulan maka aku telah menguasai bahasa tersebut. Maka akupun menulis untuk Nabi jika beliau menulis, dan aku membacakan untuk beliau jika ada tulisan dikirim kepada beliau” (HR Abu Dawud no 3645 dan dinyatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai Hasan Shahih)Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Sungguh aku –demi Allah- tidak merasa aman dengan orang-orang yahudi atas tulisan-tulisanku”, menunjukkan beliau tidak mengerti bahasa Yahudi, sehingga beliau khawatir kalau orang yahudi yang menuliskan untuk beliau atau membacakan tulisan yahudi untuk beliau maka ia tidak amanah dan melakukan perubahan. Maka Nabipun menyuruh Zaid bin Tsabit untuk belajar bahasa Yahudi sehingga jika Nabi hendak menulis surat dengan bahasa Yahudi maka Zaidlah yang menuliskannya, demikian juga jika ada surat datang dalam bahasa yahudi maka Zaidlah yang membacakannya.Jika ternyata Nabi mengetahui seluruh bahasa maka ini sungguh merupakan mukjizat yang sangat hebat yang bisa menjadikan orang-orang a’jam beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi mukjizat ini tidaklah masyhur.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 17-01-1435 H / 20-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Merupakan perkara yang sangat menonjol pada agama syi’ah adalah sikap pengultusan terhadap imam-imam mereka yang 12, sehingga mengangkat mereka pada derajat yang lebih tinggi dari pada derajat para nabi.Ilmu Para Imam Syi’ah Lebih Hebat daripada Ilmu Para NabiTerlalu banyak pernyataan-pernyataan Syi’ah yang menunjukkan pengultusan mereka yang berlebihan terhadap para imam mereka. Diantaranya adalah pernyataan-pernyataan yang menunjukkan luasnya ilmu para imam, sampai-sampai ilmu  mereka menyamai bahkan melebih ilmu para Nabi.Diantara pernyataan mereka –sebagaiaman yang termaktub dalam kitab Ushuul Al-Kaafi (karya Al-Kulaini)-باب أن الأئمة ورثوا علم النبي وجميع الأنبياء والأوصياء الذين قبلهم“Bab : Bahwasanya para imam mewarisi ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan seluruh nabi dan orang-orang yang diwasiatkan sebelum mereka” (Ushuul Al-kaafi 1/280) Ini menunjukkan para imam lebih hebat dari kebanyakan nabi dan rasul, karena seluruh ilmu para nabi sebelumnya terkumpulkan pada para imam. Sementara tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa setiap nabi mengumpulkan ilmu seluruh nabi sebelumnya. Jikapun mengumpulkan ilmu seluruh nabi sebelumnya maka tidak ada dalil juga terkumpulkan ilmu seluruh nabi sesudahnya. Karenanya ilmu para imam lebih hebat dari ilmu mayoritas para nabi.Kehebatan ilmu para imam yang melebih ilmu para nabi ditegaskan juga dalam kitab Bihaarul Anwaar (jilid 26 hal 193-200). Al-Majlisi membuat sebuah bab yang ia beri judul :باب : أَنَّهُمْ أَعْلَمُ مِنَ الأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ“Bab : Bahwasanya para imam lebih berilmu dari pada para nabi ‘alaihim as-salaam” (Bihaarul Anwaar 26/193)Lalu al-Majlisi membawakan riwayat-riwayat yang mendukung bab ini, diantaranya ;Abu Abdillah (Imam Ja’far As-Shodiq) berkata :“Demi Robnya ka’bah –tiga kali- bahwasanya seandainya aku di antara Musa dan al-Khodir maka sungguh aku akan kabarkan kepada mereka berdua bahwasanya aku lebih berilmu dari pada mereka berdua. Dan sungguh aku akan mengabarkan kepada mereka ilmu yang tidak mereka berdua miliki” (Bihaarul Anwaar 26/196)Imam Al-Baaqir ‘alaihis salaam berkata : “Wahai Abdullah, apa pendapatmu tentang Ali, Musa, dan Isa?”. Aku (Abdullah As-Sammaan) berkata : “Aku yang harus aku katakan?”. Al-Baqir berkata : “Demi Allah, Ali lebih berilmu dari pada mereka berdua (Musa dan Isa)”. Lalu ia berkata, “Bukankah kalian berkata : Sesungguhnya ilmu Ali adalah ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Kami berkata : Benar, akan tetapi orang-orang mengingkari !” (Bihaarul Anwaar 26/198) Ilmu Para Imam Syi’ah Lebih Hebat daripada Ilmu Rasulullah           Meskipun dalam beberapa riwayat menunjukkan bahwa Ilmu Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu (imam pertama kaum Syi’ah) sama dengan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta kaum syi’ah terkadang masih canggung dan malu-malu untuk menyatakan bahwa ilmu para imam lebih tinggi daripada ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi banyak riwayat-riwayat yang lain yang menunjukkan bahwa para imam Syi’ah lebih tinggi ilmunya dari pada ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantara riwayat tersebut adalah :riwayat dari Abi Abdillah (imam Ja’far As-Shoodiq) dimana ia berkata :“Sesungguhnya Allah menciptakan para rasul ulul ‘azmi, dan Allah memuliakan mereka dengan ilmu, dan kami mewarisi ilmu para rasul ulul ‘azmi tersebut, dan Allah memuliakan kami di atas mereka pada ilmu mereka dan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ilmu yang mereka tidak ketahui. Ilmu kami adalah ilmu Rasulullah dan ilmu mereka (para rasul ulul ‘azmi)” (Bihaarul Anwaar 26/193).Lihatlah sangat jelas Syi’ah meyakini bahwa ilmu para imam mereka melebihi ilmu para nabi, dan juga melebihi ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena ilmu para imam tersusun dari (1) ilmu para rasul ulul ‘azmi (ditambah) (2) ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (ditambah) (3) ilmu yang tidak diketahui oleh para nabi.Selain itu terlalu banyak riwayat yang menunjukkan bahwa ilmu para imam lebih hebat daripada ilmu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya :1) Riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa para imam mengetahui seluruh ilmu masa depan, sementara Nabi tidak mengetahui seluruh ilmu masa depan.Al-Majlisi membuat sebuah bab :“Bab : Bahwasanya para imam tidak terhalangi dari ilmu langit dan bumi, surga dan neraka, dan bahwasanya ditampakkan kepada mereka perbendaharaan langit dan bumi. Mereka mengetahui ilmu yang lalu, dan ilmu yang akan datang hingga hari kiamat” (Bihaarul Anwaar 26/109)2) Para imam mengetahui seluruh ilmu nabi dan rasul bahkan ilmu para malaikat.Al-Kulaini membuat sebuah bab :باب أن الأئمة يعلمون جميع العلوم التي خرجت إلى الملائكة والأنبياء والرسل“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui seluruh ilmu yang keluar kepada para malaikat, para nabi, dan para rasul” (Ushuul al-Kaafi 1/310)3) Para imam mengetahui isi hati manusia, apakah mereka beriman atau munafiq.Al-Majlisi berkata :“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui tentang hakekat iman dan hakekat kemunafikan orang-orang. Di sisi mereka ada kitab tertulis nama-nama penghuni surga dan nama-nama syi’ah (penolong) mereka, serta nama-nama musuh-musuh mereka” (Bihaarul Anwaar 26/117)Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui seluruh orang munafiq kecuali yang dikabarkan oleh Allah.Allah berfirman :وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الأعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍDi antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) kamilah yang mengetahui mereka. nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (QS At-Taubah : 101)4) Para imam syi’ah mengetahui seluruh bahasa manusia yang ada di dunia ini, sementara Nabi shalallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah demikian.Diantara banyolan kaum syi’ah adalah meyakini bahwa imam-imam mereka mengetahui seluruh bahasa. Karenanya para imam memiliki seluruh kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah, dan mereka mampu untuk membacanya.Tentunya kitab-kitab tersebut disusun dengan bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan bahasa masing-masing rasul dan kaumnya. Allah berfirman :وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْKami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS Ibrahim : 4)Para nabi berasal dari suku yang berbeda-beda, sehingga kitab-kitab yang diturunkan kepada merekapun menggunakan bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan bahasa para nabi tersebut. Nabi Musa ‘alaihis salaam, tidaklah beliau berbicara dengan bahasa Arab, akan tetapi dengan bahasa kaum bani Isra’il, sehingga kitab yang diturunkan kepada beliau –yaitu kitab At-Taurot- juga dengan bahasa tersebut. Ternyata kaum Syi’ah mengimani bahwa para imam mereka mengetahui bahasa-bahasa kitab-kitab tersebut, karena kitab-kitab para nabi tersebut berada bersama para imam dan dibaca oleh para imam.Al-Kulaini membawakan sebuah bab :باب أن الأئمة عندهم جميع الكتب التي نزلت من عند الله عز وجل وأنهم يعرفونها على اختلاف ألسنتها“Bab : Bahwasanya para imam di sisi mereka seluruh kitab-kitab yang turun dari sisi Allah azza wa jalla, dan bahwasanya mereka mengetahui kitab-kitab tersebut meskipun bahasanya berbeda-beda” (Ushuul Al-Kaafi 1/283)Al-Majlisi berkata“Bab : Bahwasanya di sisi para imam kitab-kitab para nabi, para imam membaca kitab-kitab tersebut meskipun bahasanya berbeda-beda” (Bihaarul Anwaar 26/180)                   Bahkan para imam Syi’ah bukan hanya mengerti bahasa kitab-kitab para nabi, bahkan juga menguasai seluruh bahasa dan berbicara dengan seluruh bahasa-bahasa tersebut. Al-Majlisi berkata :“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui seluruh lahjat dan bahasa, serta mereka berbicara dengan bahasa-bahasa tersebut” (Bihaarul Anwaar 26/190)Lalu Al-Majlisi menyebutkan riwayat-riwayat yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya :Al-Hasan bin Ali ‘alaihis salam berkata : “Sesungguhnya Allah memiliki dua kota, salah satunya di timur dan yang lainnya di barat. Pada kedua kota tersebut adalah pagar dari besi, dan pada setiap kota ada satu juga pintu yang terbuka dari emas. Dan pada kota tersebut ada 70 juta bahasa, masing-masing berbicara dengan bahasa yang berbeda. Dan aku mengetahui seluruh bahasa, dan apa yang ada pada kedua kota tersebut, apa yang ada di antara kedua kota tersebut, serta tidak ada di atas kedua kota tersebut hujjah (imam) selain aku dan saudaraku al-Husain” (Bihaarul Anwaal 26/192)Al-Harowi berkata : Imam Ar-Ridoo ‘alaihis salam berbicara dengan orang-orang dengan menggunakan bahasa mereka. Beliau –demi Allah- adalah orang yang paling fasih dan yang paling berilmu tentang seluruh dialek dan bahasa. Maka pada suatu hari aku berkata kepadanya : Wahai cucu Rasulullah, sungguh aku kagum dengan pengetahuanmu tentang bahasa-bahasa yang berbeda-beda?. Maka ia berkata : Wahai Abu As-Sholt, aku adalah Hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya, dan tidaklah boleh Allah mengangkat seorang hujjah atas suatu kaum yang hujjah tersebut tidak mengerti bahasa mereka. Tidakkah sampai kepadamu perkataan Amirul Mukiminin (Ali bin Abi Tholib) : Kami telah diberi Fashlul Khitoob?, bukankah Fashlul Khithoob kecuali adalah memahami bahasa-bahasa” (Bihaarul Anwaar 26/190)           Setelah menyebutkan riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa para imam mengetahui seluruh bahasa dan bisa berbicara dengan seluruh bahasa, lalu Al-Majlisi berkata :“Adapun kondisi para imam yang mengetahui bahasa-bahasa maka riwayat-riwayat tentang hal itu hampir mendekati mutawatir, ditambah dengan riwayat-riwayat umum yang tidak menyisakan lagi keraguan akan hal ini. Adapun ilmu mereka tentang keahl ian-keahlian (keduniaan), maka keumuman riwayat yang banyak menunjukkan akan hal itu, karena telah datang dalam riwayat bahwasanya al-hujjah (imam) tidak boleh bodoh dalam sesuatu apapun yang ia berkata : “Aku tidak tahu”, disertai bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang lalu, ilmu masa depan, dan bahwasanya ilmu seluruh para nabi telah sampai kepada para imam. Padahal mayoritas keahlian-keahlian dinisbahkan kepada para nabi ‘alaihim as-salaam, dan telah ditafsirkan pengajaran nama-nama kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahilian-keahlian” (Bihaarul Anwaar 26/193)           Karenanya para pembaca yang budiman, ternyata imam-imam mereka bisa berbicara dengan bahasa bugis dan bahasa sunda, bahkan bisa bahasa jawa dan bahasa Madura. Para imam sangat fasih untuk berkata, “mandre dan tindro“, juga fasih mengucapkan “monggo pinarak“, juga fasih mengucapkan “mangga..” serta mengucapkan “Da’rema…”Riwayat-riwayat Syi’ah yang disebutkan oleh Al-Majlisi menunjukkan bahwa para imam lebih hebat daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menguasai seluruh bahasa. Bahkan ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengerti bahasa Yahudi.Zaid bin Tsaabit radhiallahu ‘anhu berkataأَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَعَلَّمْتُ لَهُ كِتَابَ يَهُودَ، وَقَالَ: «إِنِّي وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابِي» فَتَعَلَّمْتُهُ، فَلَمْ يَمُرَّ بِي إِلَّا نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى حَذَقْتُهُ، فَكُنْتُ أَكْتُبُ لَهُ إِذَا كَتَبَ وَأَقْرَأُ لَهُ، إِذَا كُتِبَ إِلَيْهِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahakan aku, lalu aku mempelajari kitab kaum yahudi untuk beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh aku –demi Allah- tidak merasa aman dengan orang-orang yahudi atas tulisan-tulisanku”. Maka akupun mempelajari bahasa yahudi, dan tidak sampai setengah bulan maka aku telah menguasai bahasa tersebut. Maka akupun menulis untuk Nabi jika beliau menulis, dan aku membacakan untuk beliau jika ada tulisan dikirim kepada beliau” (HR Abu Dawud no 3645 dan dinyatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai Hasan Shahih)Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Sungguh aku –demi Allah- tidak merasa aman dengan orang-orang yahudi atas tulisan-tulisanku”, menunjukkan beliau tidak mengerti bahasa Yahudi, sehingga beliau khawatir kalau orang yahudi yang menuliskan untuk beliau atau membacakan tulisan yahudi untuk beliau maka ia tidak amanah dan melakukan perubahan. Maka Nabipun menyuruh Zaid bin Tsabit untuk belajar bahasa Yahudi sehingga jika Nabi hendak menulis surat dengan bahasa Yahudi maka Zaidlah yang menuliskannya, demikian juga jika ada surat datang dalam bahasa yahudi maka Zaidlah yang membacakannya.Jika ternyata Nabi mengetahui seluruh bahasa maka ini sungguh merupakan mukjizat yang sangat hebat yang bisa menjadikan orang-orang a’jam beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi mukjizat ini tidaklah masyhur.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 17-01-1435 H / 20-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Benarkah Shalat Dapat Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar?

Shalat adalah ibadah yang sudah diketahui diawali dengan takbir dan ditutup dengan salam. Shalat adalah rukun Islam yang sangat ditekankan setelah 2 kalimat syahadat. Di antara manfaat shalat adalah dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Namun benarkah hal itu? Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45). Perbuatan fahisyah yang dimaksud pada ayat di atas adalah perbuatan jelek yang disukai oleh jiwa semacam zina, liwath (homoseks dengan memasukkan kemaluan di dubur) dan semacamnya. Sedangkan yang namanya munkar adalah perbuatan selain fahisyah yang diingkari oleh akal dan fitrah. (Lihat Taisir Al Karimir Rahman karya Syaikh As Sa’di, hal. 632 dan Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 5: 45). Shalat Mencegah dari Perbuatan Mungkar dan Kesesatan Ibnu Mas’ud pernah ditanya mengenai seseorang yang biasa memperlama shalatnya. Maka kata beliau, إِنَّ الصَّلاَةَ لاَ تَنْفَعُ إِلاَّ مَنْ أَطَاعَهَا “Shalat tidaklah bermanfaat kecuali jika shalat tersebut membuat seseorang menjadi taat.” (HR. Ahmad dalam Az Zuhd, hal. 159 dengan sanad shahih dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 13: 298 dengan sanad hasan dari jalur Syaqiq dari Ibnu Mas’ud). Al Hasan berkata, مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ تَنْهَهُ عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ بِهَا مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا “Barangsiapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari dengan sanad yang shahih dari jalur Sa’id bin Abi ‘Urubah dari Qotadah dari Al Hasan) Abul ‘Aliyah pernah berkata, إِنَّ الصَّلاَةَ فِيْهَا ثَلاَثُ خِصَالٍ فَكُلُّ صَلاَةٍ لاَ يَكُوْنُ فِيْهَا شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الخَلاَل فَلَيْسَتْ بِصَلاَةٍ: الإِخْلاَصُ، وَالْخَشْيَةُ، وَذِكْرُ اللهِ. فَالإِخْلاَصُ يَأْمُرُهُ بِاْلمعْرُوْفِ، وَالخَشْيَةُ تَنْهَاهُ عَنِ المنْكَرِ، وَذِكْرُ القُرْآنِ يَأْمُرُهُ وَيَنْهَاهُ. “Dalam shalat ada tiga hal di mana jika tiga hal ini tidak ada maka tidak disebut shalat. Tiga hal tersebut adalah ikhlas, rasa takut dan dzikir pada Allah. Ikhlas itulah yang memerintahkan pada yang ma’ruf (kebaikan). Rasa takut itulah yang mencegah dari kemungkaran. Sedangkan dzikir melalui Al Qur’an yang memerintah dan melarang sesuatu.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 65). Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali hafizhohullah berkata, “Siapa yang merutinkan shalat dan mengerjakannya di waktunya, maka ia akan selamat dari kesesatan.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 232). Jika ada yang sampai berbuat kemungkaran, maka shalat pun bisa mencegahnya dari perbuatan tersebut. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِّي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ فُلاَنًا يُصَلِّيْ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحَ سَرِقَ؟ فَقَالَ: “إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُوْلُ “Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Ada seseorang yang biasa shalat di malam hari namun di pagi hari ia mencuri. Bagaimana seperti itu?” Beliau lantas berkata, “Shalat tersebut akan mencegah apa yang ia katakan.” (HR. Ahmad 2: 447, sanadnya shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Kapan Shalat Bisa Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar? Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Shalat bisa mencegah dari kemungkaran jika shalat tersebut dilakukan dalam bentuk sesempurna mungkin. Ternyata kita dapati bahwa hati kita tidaklah berubah dan tidak benci pada perbuatan fahisyah atau mungkar setelah shalat kita laksanakan atau keadaan kita tidak berubah menjadi lebih baik, mengapa demikian? Itu bisa jadi karena shalat kita bukanlah shalat yang dimaksud yaitu yang bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ingatlah bahwa firman Allah itu benar dan janji-Nya itu pasti yaitu shalat itu memang bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sebenarnya, shalat itu demikian yaitu jika engkau bertekad untuk bermaksiat atau hatimu condong pada maksiat, lalu engkau lakukan shalat, maka terhapuslah semua keinginan jelek tersebut. Namun tentu saja hal itu dengan syarat, shalat itu adalah shalat yang sempurna. Wajib kita meminta pada Allah agar kita diberi pertolongan untuk mendapat bentuk shalat seperti itu. Marilah kita sempurnakan shalat tersebut sesuai dengan kemampuan kita dengan memenuhi rukun, syarat, wajib, dan hal-hal yang menyempurnakan shalat. Karena memang shalat itu bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sebagian ulama salaf sampai berkata, jikalau shalat yang kita lakukan tidak mencegah dari yang mungkar, maka sungguh itu berarti kita semakin jauh dari Allah. Nas-alullah al ‘afiyah, kita mohon pada Allah keselamatan. Karena bisa jadi shalat yang kita lakukan tidak sesuai yang dituntut. Lihatlah para ulama salaf dahulu, ketika mereka masuk dalam shalat mereka, mereka tidak merasakan lagi apa-apa, semua hal di pikiran disingkirkan kecuali hanya sibuk bermunajat dengan Allah Ta’ala.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 45-46). Terhanyut dalam Shalat yang Khusyu’ Coba perhatikan bagaimana shalat dari para ulama salaf yang sangat konsentrasi ketika shalatnya. Ada seorang fuqoha tabi’in yang bernama ‘Urwah bin Zubair. Beliau terkena penyakit akilah pada sebagian anggota tubuhnya di mana penyakit tersebut dapat menggerogoti seluruh tubuh. Akibatnya, dokter memvonis anggota tubuh yang terkena akilah tersebut untuk diamputasi sehingga anggota tubuh yang lain tidak terpengaruh. Bayangkan saat itu belum ada obat bius supaya bisa menghilangkan kesadaran ketika diamputasi. Lalu ia katakan pada dokter untuk menunda sampai ia melakukan shalat. Tatkala ia melakukan shalatnya barulah kakinya diamputasi. Dan ia tidak merasakan apa-apa kala itu karena hatinya sedang sibuk bermunajat pada Allah. Demikianlah, hati jika sudah tersibukkan dengan sesuatu, maka tidak akan merasakan sesuatu yang terkena pada badan. Itu yang diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam Syarh Riyadhis Sholihin (5: 46) ketika melanjutkan penjelasan sebelumnya. Lihatlah shalat para ulama begitu sempurna, segala macam kesibukan dibuang jauh-jauh, hingga kakinya diamputasi pun, mereka tidak merasakan apa-apa karena sedang terhanyut dalam shalat. Itulah shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Bagaimana Bentuk Shalat yang Sempurna? Kata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin melanjutkan, “Ketika shalat, seharusnya seseorang mengkonsentrasikan diri untuk dekat pada Allah. Jangan sampai ia menoleh ke kanan dan ke kiri sebagaimana kebiasaan sebagian orang yang shalat. Jangan sampai terlintas di hati berbagai pikiran ketika sudah masuk dalam shalat.” (Idem) Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Bentuk shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar ditandai dengan menyempurnakan shalat yaitu memenuhi rukun, syarat, dan berusaha khusyu’ dalam shalat. Hal ini ditandai dengan hati yang bersih, iman yang bertambah, semangat melakukan kebaikan dan mempersedikit atau bahkan menihilkan tindak kejahatan. Lantas hal-hal tersebut terus dijaga, maka itulah yang dinamakan shalat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar. Inilah di antara manfaat  terbesar dan buah dari shalat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 632). Kesimpulannya dari judul yang disampaikan di awal. Shalat memang bisa mencegah dari perbuatan dosa dan maksiat, serta bisa mengajak pada kebaikan. Namun dengan syarat shalat tersebut dilakukan dengan: 1- Memenuhi rukun, syarat, wajib dan melakukan hal-hal sunnah yang menyempurnakan shalat. 2- Membuang jauh-jauh hal-hal di luar shalat ketika sedang melaksanakan shalat. 3- Tidak menoleh ke kanan dan ke kiri ketika sedang melaksanakan shalat. 4- Menghadirkan hati saat shalat dengan merenungi setiap ayat dan bacaan yang diucap. 5- Bersemangat dalam hati untuk melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jika ternyata tidak demikian shalat kita, maka patutlah kita mengoreksi diri. Dan tidak perlu jadikan shalat tersebut sebagai “kambing hitam”. Dari sahabat Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ “Barangsiapa yang mendapati kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapati selain dari itu, janganlah ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim no. 2577). Semoga kita dianugerahi bentuk shalat yang benar-benar dapat mencegah kita dari dosa dan maksiat serta mudah membawa kita pada kebajikan. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1435 H, 10: 28 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  Tagskeutamaan shalat

Benarkah Shalat Dapat Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar?

Shalat adalah ibadah yang sudah diketahui diawali dengan takbir dan ditutup dengan salam. Shalat adalah rukun Islam yang sangat ditekankan setelah 2 kalimat syahadat. Di antara manfaat shalat adalah dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Namun benarkah hal itu? Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45). Perbuatan fahisyah yang dimaksud pada ayat di atas adalah perbuatan jelek yang disukai oleh jiwa semacam zina, liwath (homoseks dengan memasukkan kemaluan di dubur) dan semacamnya. Sedangkan yang namanya munkar adalah perbuatan selain fahisyah yang diingkari oleh akal dan fitrah. (Lihat Taisir Al Karimir Rahman karya Syaikh As Sa’di, hal. 632 dan Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 5: 45). Shalat Mencegah dari Perbuatan Mungkar dan Kesesatan Ibnu Mas’ud pernah ditanya mengenai seseorang yang biasa memperlama shalatnya. Maka kata beliau, إِنَّ الصَّلاَةَ لاَ تَنْفَعُ إِلاَّ مَنْ أَطَاعَهَا “Shalat tidaklah bermanfaat kecuali jika shalat tersebut membuat seseorang menjadi taat.” (HR. Ahmad dalam Az Zuhd, hal. 159 dengan sanad shahih dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 13: 298 dengan sanad hasan dari jalur Syaqiq dari Ibnu Mas’ud). Al Hasan berkata, مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ تَنْهَهُ عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ بِهَا مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا “Barangsiapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari dengan sanad yang shahih dari jalur Sa’id bin Abi ‘Urubah dari Qotadah dari Al Hasan) Abul ‘Aliyah pernah berkata, إِنَّ الصَّلاَةَ فِيْهَا ثَلاَثُ خِصَالٍ فَكُلُّ صَلاَةٍ لاَ يَكُوْنُ فِيْهَا شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الخَلاَل فَلَيْسَتْ بِصَلاَةٍ: الإِخْلاَصُ، وَالْخَشْيَةُ، وَذِكْرُ اللهِ. فَالإِخْلاَصُ يَأْمُرُهُ بِاْلمعْرُوْفِ، وَالخَشْيَةُ تَنْهَاهُ عَنِ المنْكَرِ، وَذِكْرُ القُرْآنِ يَأْمُرُهُ وَيَنْهَاهُ. “Dalam shalat ada tiga hal di mana jika tiga hal ini tidak ada maka tidak disebut shalat. Tiga hal tersebut adalah ikhlas, rasa takut dan dzikir pada Allah. Ikhlas itulah yang memerintahkan pada yang ma’ruf (kebaikan). Rasa takut itulah yang mencegah dari kemungkaran. Sedangkan dzikir melalui Al Qur’an yang memerintah dan melarang sesuatu.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 65). Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali hafizhohullah berkata, “Siapa yang merutinkan shalat dan mengerjakannya di waktunya, maka ia akan selamat dari kesesatan.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 232). Jika ada yang sampai berbuat kemungkaran, maka shalat pun bisa mencegahnya dari perbuatan tersebut. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِّي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ فُلاَنًا يُصَلِّيْ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحَ سَرِقَ؟ فَقَالَ: “إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُوْلُ “Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Ada seseorang yang biasa shalat di malam hari namun di pagi hari ia mencuri. Bagaimana seperti itu?” Beliau lantas berkata, “Shalat tersebut akan mencegah apa yang ia katakan.” (HR. Ahmad 2: 447, sanadnya shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Kapan Shalat Bisa Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar? Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Shalat bisa mencegah dari kemungkaran jika shalat tersebut dilakukan dalam bentuk sesempurna mungkin. Ternyata kita dapati bahwa hati kita tidaklah berubah dan tidak benci pada perbuatan fahisyah atau mungkar setelah shalat kita laksanakan atau keadaan kita tidak berubah menjadi lebih baik, mengapa demikian? Itu bisa jadi karena shalat kita bukanlah shalat yang dimaksud yaitu yang bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ingatlah bahwa firman Allah itu benar dan janji-Nya itu pasti yaitu shalat itu memang bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sebenarnya, shalat itu demikian yaitu jika engkau bertekad untuk bermaksiat atau hatimu condong pada maksiat, lalu engkau lakukan shalat, maka terhapuslah semua keinginan jelek tersebut. Namun tentu saja hal itu dengan syarat, shalat itu adalah shalat yang sempurna. Wajib kita meminta pada Allah agar kita diberi pertolongan untuk mendapat bentuk shalat seperti itu. Marilah kita sempurnakan shalat tersebut sesuai dengan kemampuan kita dengan memenuhi rukun, syarat, wajib, dan hal-hal yang menyempurnakan shalat. Karena memang shalat itu bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sebagian ulama salaf sampai berkata, jikalau shalat yang kita lakukan tidak mencegah dari yang mungkar, maka sungguh itu berarti kita semakin jauh dari Allah. Nas-alullah al ‘afiyah, kita mohon pada Allah keselamatan. Karena bisa jadi shalat yang kita lakukan tidak sesuai yang dituntut. Lihatlah para ulama salaf dahulu, ketika mereka masuk dalam shalat mereka, mereka tidak merasakan lagi apa-apa, semua hal di pikiran disingkirkan kecuali hanya sibuk bermunajat dengan Allah Ta’ala.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 45-46). Terhanyut dalam Shalat yang Khusyu’ Coba perhatikan bagaimana shalat dari para ulama salaf yang sangat konsentrasi ketika shalatnya. Ada seorang fuqoha tabi’in yang bernama ‘Urwah bin Zubair. Beliau terkena penyakit akilah pada sebagian anggota tubuhnya di mana penyakit tersebut dapat menggerogoti seluruh tubuh. Akibatnya, dokter memvonis anggota tubuh yang terkena akilah tersebut untuk diamputasi sehingga anggota tubuh yang lain tidak terpengaruh. Bayangkan saat itu belum ada obat bius supaya bisa menghilangkan kesadaran ketika diamputasi. Lalu ia katakan pada dokter untuk menunda sampai ia melakukan shalat. Tatkala ia melakukan shalatnya barulah kakinya diamputasi. Dan ia tidak merasakan apa-apa kala itu karena hatinya sedang sibuk bermunajat pada Allah. Demikianlah, hati jika sudah tersibukkan dengan sesuatu, maka tidak akan merasakan sesuatu yang terkena pada badan. Itu yang diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam Syarh Riyadhis Sholihin (5: 46) ketika melanjutkan penjelasan sebelumnya. Lihatlah shalat para ulama begitu sempurna, segala macam kesibukan dibuang jauh-jauh, hingga kakinya diamputasi pun, mereka tidak merasakan apa-apa karena sedang terhanyut dalam shalat. Itulah shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Bagaimana Bentuk Shalat yang Sempurna? Kata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin melanjutkan, “Ketika shalat, seharusnya seseorang mengkonsentrasikan diri untuk dekat pada Allah. Jangan sampai ia menoleh ke kanan dan ke kiri sebagaimana kebiasaan sebagian orang yang shalat. Jangan sampai terlintas di hati berbagai pikiran ketika sudah masuk dalam shalat.” (Idem) Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Bentuk shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar ditandai dengan menyempurnakan shalat yaitu memenuhi rukun, syarat, dan berusaha khusyu’ dalam shalat. Hal ini ditandai dengan hati yang bersih, iman yang bertambah, semangat melakukan kebaikan dan mempersedikit atau bahkan menihilkan tindak kejahatan. Lantas hal-hal tersebut terus dijaga, maka itulah yang dinamakan shalat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar. Inilah di antara manfaat  terbesar dan buah dari shalat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 632). Kesimpulannya dari judul yang disampaikan di awal. Shalat memang bisa mencegah dari perbuatan dosa dan maksiat, serta bisa mengajak pada kebaikan. Namun dengan syarat shalat tersebut dilakukan dengan: 1- Memenuhi rukun, syarat, wajib dan melakukan hal-hal sunnah yang menyempurnakan shalat. 2- Membuang jauh-jauh hal-hal di luar shalat ketika sedang melaksanakan shalat. 3- Tidak menoleh ke kanan dan ke kiri ketika sedang melaksanakan shalat. 4- Menghadirkan hati saat shalat dengan merenungi setiap ayat dan bacaan yang diucap. 5- Bersemangat dalam hati untuk melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jika ternyata tidak demikian shalat kita, maka patutlah kita mengoreksi diri. Dan tidak perlu jadikan shalat tersebut sebagai “kambing hitam”. Dari sahabat Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ “Barangsiapa yang mendapati kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapati selain dari itu, janganlah ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim no. 2577). Semoga kita dianugerahi bentuk shalat yang benar-benar dapat mencegah kita dari dosa dan maksiat serta mudah membawa kita pada kebajikan. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1435 H, 10: 28 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  Tagskeutamaan shalat
Shalat adalah ibadah yang sudah diketahui diawali dengan takbir dan ditutup dengan salam. Shalat adalah rukun Islam yang sangat ditekankan setelah 2 kalimat syahadat. Di antara manfaat shalat adalah dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Namun benarkah hal itu? Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45). Perbuatan fahisyah yang dimaksud pada ayat di atas adalah perbuatan jelek yang disukai oleh jiwa semacam zina, liwath (homoseks dengan memasukkan kemaluan di dubur) dan semacamnya. Sedangkan yang namanya munkar adalah perbuatan selain fahisyah yang diingkari oleh akal dan fitrah. (Lihat Taisir Al Karimir Rahman karya Syaikh As Sa’di, hal. 632 dan Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 5: 45). Shalat Mencegah dari Perbuatan Mungkar dan Kesesatan Ibnu Mas’ud pernah ditanya mengenai seseorang yang biasa memperlama shalatnya. Maka kata beliau, إِنَّ الصَّلاَةَ لاَ تَنْفَعُ إِلاَّ مَنْ أَطَاعَهَا “Shalat tidaklah bermanfaat kecuali jika shalat tersebut membuat seseorang menjadi taat.” (HR. Ahmad dalam Az Zuhd, hal. 159 dengan sanad shahih dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 13: 298 dengan sanad hasan dari jalur Syaqiq dari Ibnu Mas’ud). Al Hasan berkata, مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ تَنْهَهُ عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ بِهَا مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا “Barangsiapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari dengan sanad yang shahih dari jalur Sa’id bin Abi ‘Urubah dari Qotadah dari Al Hasan) Abul ‘Aliyah pernah berkata, إِنَّ الصَّلاَةَ فِيْهَا ثَلاَثُ خِصَالٍ فَكُلُّ صَلاَةٍ لاَ يَكُوْنُ فِيْهَا شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الخَلاَل فَلَيْسَتْ بِصَلاَةٍ: الإِخْلاَصُ، وَالْخَشْيَةُ، وَذِكْرُ اللهِ. فَالإِخْلاَصُ يَأْمُرُهُ بِاْلمعْرُوْفِ، وَالخَشْيَةُ تَنْهَاهُ عَنِ المنْكَرِ، وَذِكْرُ القُرْآنِ يَأْمُرُهُ وَيَنْهَاهُ. “Dalam shalat ada tiga hal di mana jika tiga hal ini tidak ada maka tidak disebut shalat. Tiga hal tersebut adalah ikhlas, rasa takut dan dzikir pada Allah. Ikhlas itulah yang memerintahkan pada yang ma’ruf (kebaikan). Rasa takut itulah yang mencegah dari kemungkaran. Sedangkan dzikir melalui Al Qur’an yang memerintah dan melarang sesuatu.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 65). Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali hafizhohullah berkata, “Siapa yang merutinkan shalat dan mengerjakannya di waktunya, maka ia akan selamat dari kesesatan.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 232). Jika ada yang sampai berbuat kemungkaran, maka shalat pun bisa mencegahnya dari perbuatan tersebut. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِّي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ فُلاَنًا يُصَلِّيْ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحَ سَرِقَ؟ فَقَالَ: “إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُوْلُ “Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Ada seseorang yang biasa shalat di malam hari namun di pagi hari ia mencuri. Bagaimana seperti itu?” Beliau lantas berkata, “Shalat tersebut akan mencegah apa yang ia katakan.” (HR. Ahmad 2: 447, sanadnya shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Kapan Shalat Bisa Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar? Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Shalat bisa mencegah dari kemungkaran jika shalat tersebut dilakukan dalam bentuk sesempurna mungkin. Ternyata kita dapati bahwa hati kita tidaklah berubah dan tidak benci pada perbuatan fahisyah atau mungkar setelah shalat kita laksanakan atau keadaan kita tidak berubah menjadi lebih baik, mengapa demikian? Itu bisa jadi karena shalat kita bukanlah shalat yang dimaksud yaitu yang bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ingatlah bahwa firman Allah itu benar dan janji-Nya itu pasti yaitu shalat itu memang bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sebenarnya, shalat itu demikian yaitu jika engkau bertekad untuk bermaksiat atau hatimu condong pada maksiat, lalu engkau lakukan shalat, maka terhapuslah semua keinginan jelek tersebut. Namun tentu saja hal itu dengan syarat, shalat itu adalah shalat yang sempurna. Wajib kita meminta pada Allah agar kita diberi pertolongan untuk mendapat bentuk shalat seperti itu. Marilah kita sempurnakan shalat tersebut sesuai dengan kemampuan kita dengan memenuhi rukun, syarat, wajib, dan hal-hal yang menyempurnakan shalat. Karena memang shalat itu bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sebagian ulama salaf sampai berkata, jikalau shalat yang kita lakukan tidak mencegah dari yang mungkar, maka sungguh itu berarti kita semakin jauh dari Allah. Nas-alullah al ‘afiyah, kita mohon pada Allah keselamatan. Karena bisa jadi shalat yang kita lakukan tidak sesuai yang dituntut. Lihatlah para ulama salaf dahulu, ketika mereka masuk dalam shalat mereka, mereka tidak merasakan lagi apa-apa, semua hal di pikiran disingkirkan kecuali hanya sibuk bermunajat dengan Allah Ta’ala.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 45-46). Terhanyut dalam Shalat yang Khusyu’ Coba perhatikan bagaimana shalat dari para ulama salaf yang sangat konsentrasi ketika shalatnya. Ada seorang fuqoha tabi’in yang bernama ‘Urwah bin Zubair. Beliau terkena penyakit akilah pada sebagian anggota tubuhnya di mana penyakit tersebut dapat menggerogoti seluruh tubuh. Akibatnya, dokter memvonis anggota tubuh yang terkena akilah tersebut untuk diamputasi sehingga anggota tubuh yang lain tidak terpengaruh. Bayangkan saat itu belum ada obat bius supaya bisa menghilangkan kesadaran ketika diamputasi. Lalu ia katakan pada dokter untuk menunda sampai ia melakukan shalat. Tatkala ia melakukan shalatnya barulah kakinya diamputasi. Dan ia tidak merasakan apa-apa kala itu karena hatinya sedang sibuk bermunajat pada Allah. Demikianlah, hati jika sudah tersibukkan dengan sesuatu, maka tidak akan merasakan sesuatu yang terkena pada badan. Itu yang diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam Syarh Riyadhis Sholihin (5: 46) ketika melanjutkan penjelasan sebelumnya. Lihatlah shalat para ulama begitu sempurna, segala macam kesibukan dibuang jauh-jauh, hingga kakinya diamputasi pun, mereka tidak merasakan apa-apa karena sedang terhanyut dalam shalat. Itulah shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Bagaimana Bentuk Shalat yang Sempurna? Kata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin melanjutkan, “Ketika shalat, seharusnya seseorang mengkonsentrasikan diri untuk dekat pada Allah. Jangan sampai ia menoleh ke kanan dan ke kiri sebagaimana kebiasaan sebagian orang yang shalat. Jangan sampai terlintas di hati berbagai pikiran ketika sudah masuk dalam shalat.” (Idem) Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Bentuk shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar ditandai dengan menyempurnakan shalat yaitu memenuhi rukun, syarat, dan berusaha khusyu’ dalam shalat. Hal ini ditandai dengan hati yang bersih, iman yang bertambah, semangat melakukan kebaikan dan mempersedikit atau bahkan menihilkan tindak kejahatan. Lantas hal-hal tersebut terus dijaga, maka itulah yang dinamakan shalat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar. Inilah di antara manfaat  terbesar dan buah dari shalat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 632). Kesimpulannya dari judul yang disampaikan di awal. Shalat memang bisa mencegah dari perbuatan dosa dan maksiat, serta bisa mengajak pada kebaikan. Namun dengan syarat shalat tersebut dilakukan dengan: 1- Memenuhi rukun, syarat, wajib dan melakukan hal-hal sunnah yang menyempurnakan shalat. 2- Membuang jauh-jauh hal-hal di luar shalat ketika sedang melaksanakan shalat. 3- Tidak menoleh ke kanan dan ke kiri ketika sedang melaksanakan shalat. 4- Menghadirkan hati saat shalat dengan merenungi setiap ayat dan bacaan yang diucap. 5- Bersemangat dalam hati untuk melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jika ternyata tidak demikian shalat kita, maka patutlah kita mengoreksi diri. Dan tidak perlu jadikan shalat tersebut sebagai “kambing hitam”. Dari sahabat Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ “Barangsiapa yang mendapati kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapati selain dari itu, janganlah ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim no. 2577). Semoga kita dianugerahi bentuk shalat yang benar-benar dapat mencegah kita dari dosa dan maksiat serta mudah membawa kita pada kebajikan. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1435 H, 10: 28 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  Tagskeutamaan shalat


Shalat adalah ibadah yang sudah diketahui diawali dengan takbir dan ditutup dengan salam. Shalat adalah rukun Islam yang sangat ditekankan setelah 2 kalimat syahadat. Di antara manfaat shalat adalah dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Namun benarkah hal itu? Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45). Perbuatan fahisyah yang dimaksud pada ayat di atas adalah perbuatan jelek yang disukai oleh jiwa semacam zina, liwath (homoseks dengan memasukkan kemaluan di dubur) dan semacamnya. Sedangkan yang namanya munkar adalah perbuatan selain fahisyah yang diingkari oleh akal dan fitrah. (Lihat Taisir Al Karimir Rahman karya Syaikh As Sa’di, hal. 632 dan Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 5: 45). Shalat Mencegah dari Perbuatan Mungkar dan Kesesatan Ibnu Mas’ud pernah ditanya mengenai seseorang yang biasa memperlama shalatnya. Maka kata beliau, إِنَّ الصَّلاَةَ لاَ تَنْفَعُ إِلاَّ مَنْ أَطَاعَهَا “Shalat tidaklah bermanfaat kecuali jika shalat tersebut membuat seseorang menjadi taat.” (HR. Ahmad dalam Az Zuhd, hal. 159 dengan sanad shahih dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 13: 298 dengan sanad hasan dari jalur Syaqiq dari Ibnu Mas’ud). Al Hasan berkata, مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ تَنْهَهُ عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ بِهَا مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا “Barangsiapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari dengan sanad yang shahih dari jalur Sa’id bin Abi ‘Urubah dari Qotadah dari Al Hasan) Abul ‘Aliyah pernah berkata, إِنَّ الصَّلاَةَ فِيْهَا ثَلاَثُ خِصَالٍ فَكُلُّ صَلاَةٍ لاَ يَكُوْنُ فِيْهَا شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الخَلاَل فَلَيْسَتْ بِصَلاَةٍ: الإِخْلاَصُ، وَالْخَشْيَةُ، وَذِكْرُ اللهِ. فَالإِخْلاَصُ يَأْمُرُهُ بِاْلمعْرُوْفِ، وَالخَشْيَةُ تَنْهَاهُ عَنِ المنْكَرِ، وَذِكْرُ القُرْآنِ يَأْمُرُهُ وَيَنْهَاهُ. “Dalam shalat ada tiga hal di mana jika tiga hal ini tidak ada maka tidak disebut shalat. Tiga hal tersebut adalah ikhlas, rasa takut dan dzikir pada Allah. Ikhlas itulah yang memerintahkan pada yang ma’ruf (kebaikan). Rasa takut itulah yang mencegah dari kemungkaran. Sedangkan dzikir melalui Al Qur’an yang memerintah dan melarang sesuatu.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 65). Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali hafizhohullah berkata, “Siapa yang merutinkan shalat dan mengerjakannya di waktunya, maka ia akan selamat dari kesesatan.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 232). Jika ada yang sampai berbuat kemungkaran, maka shalat pun bisa mencegahnya dari perbuatan tersebut. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِّي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ فُلاَنًا يُصَلِّيْ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحَ سَرِقَ؟ فَقَالَ: “إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُوْلُ “Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Ada seseorang yang biasa shalat di malam hari namun di pagi hari ia mencuri. Bagaimana seperti itu?” Beliau lantas berkata, “Shalat tersebut akan mencegah apa yang ia katakan.” (HR. Ahmad 2: 447, sanadnya shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Kapan Shalat Bisa Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar? Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Shalat bisa mencegah dari kemungkaran jika shalat tersebut dilakukan dalam bentuk sesempurna mungkin. Ternyata kita dapati bahwa hati kita tidaklah berubah dan tidak benci pada perbuatan fahisyah atau mungkar setelah shalat kita laksanakan atau keadaan kita tidak berubah menjadi lebih baik, mengapa demikian? Itu bisa jadi karena shalat kita bukanlah shalat yang dimaksud yaitu yang bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ingatlah bahwa firman Allah itu benar dan janji-Nya itu pasti yaitu shalat itu memang bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sebenarnya, shalat itu demikian yaitu jika engkau bertekad untuk bermaksiat atau hatimu condong pada maksiat, lalu engkau lakukan shalat, maka terhapuslah semua keinginan jelek tersebut. Namun tentu saja hal itu dengan syarat, shalat itu adalah shalat yang sempurna. Wajib kita meminta pada Allah agar kita diberi pertolongan untuk mendapat bentuk shalat seperti itu. Marilah kita sempurnakan shalat tersebut sesuai dengan kemampuan kita dengan memenuhi rukun, syarat, wajib, dan hal-hal yang menyempurnakan shalat. Karena memang shalat itu bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sebagian ulama salaf sampai berkata, jikalau shalat yang kita lakukan tidak mencegah dari yang mungkar, maka sungguh itu berarti kita semakin jauh dari Allah. Nas-alullah al ‘afiyah, kita mohon pada Allah keselamatan. Karena bisa jadi shalat yang kita lakukan tidak sesuai yang dituntut. Lihatlah para ulama salaf dahulu, ketika mereka masuk dalam shalat mereka, mereka tidak merasakan lagi apa-apa, semua hal di pikiran disingkirkan kecuali hanya sibuk bermunajat dengan Allah Ta’ala.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 45-46). Terhanyut dalam Shalat yang Khusyu’ Coba perhatikan bagaimana shalat dari para ulama salaf yang sangat konsentrasi ketika shalatnya. Ada seorang fuqoha tabi’in yang bernama ‘Urwah bin Zubair. Beliau terkena penyakit akilah pada sebagian anggota tubuhnya di mana penyakit tersebut dapat menggerogoti seluruh tubuh. Akibatnya, dokter memvonis anggota tubuh yang terkena akilah tersebut untuk diamputasi sehingga anggota tubuh yang lain tidak terpengaruh. Bayangkan saat itu belum ada obat bius supaya bisa menghilangkan kesadaran ketika diamputasi. Lalu ia katakan pada dokter untuk menunda sampai ia melakukan shalat. Tatkala ia melakukan shalatnya barulah kakinya diamputasi. Dan ia tidak merasakan apa-apa kala itu karena hatinya sedang sibuk bermunajat pada Allah. Demikianlah, hati jika sudah tersibukkan dengan sesuatu, maka tidak akan merasakan sesuatu yang terkena pada badan. Itu yang diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam Syarh Riyadhis Sholihin (5: 46) ketika melanjutkan penjelasan sebelumnya. Lihatlah shalat para ulama begitu sempurna, segala macam kesibukan dibuang jauh-jauh, hingga kakinya diamputasi pun, mereka tidak merasakan apa-apa karena sedang terhanyut dalam shalat. Itulah shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Bagaimana Bentuk Shalat yang Sempurna? Kata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin melanjutkan, “Ketika shalat, seharusnya seseorang mengkonsentrasikan diri untuk dekat pada Allah. Jangan sampai ia menoleh ke kanan dan ke kiri sebagaimana kebiasaan sebagian orang yang shalat. Jangan sampai terlintas di hati berbagai pikiran ketika sudah masuk dalam shalat.” (Idem) Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Bentuk shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar ditandai dengan menyempurnakan shalat yaitu memenuhi rukun, syarat, dan berusaha khusyu’ dalam shalat. Hal ini ditandai dengan hati yang bersih, iman yang bertambah, semangat melakukan kebaikan dan mempersedikit atau bahkan menihilkan tindak kejahatan. Lantas hal-hal tersebut terus dijaga, maka itulah yang dinamakan shalat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar. Inilah di antara manfaat  terbesar dan buah dari shalat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 632). Kesimpulannya dari judul yang disampaikan di awal. Shalat memang bisa mencegah dari perbuatan dosa dan maksiat, serta bisa mengajak pada kebaikan. Namun dengan syarat shalat tersebut dilakukan dengan: 1- Memenuhi rukun, syarat, wajib dan melakukan hal-hal sunnah yang menyempurnakan shalat. 2- Membuang jauh-jauh hal-hal di luar shalat ketika sedang melaksanakan shalat. 3- Tidak menoleh ke kanan dan ke kiri ketika sedang melaksanakan shalat. 4- Menghadirkan hati saat shalat dengan merenungi setiap ayat dan bacaan yang diucap. 5- Bersemangat dalam hati untuk melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jika ternyata tidak demikian shalat kita, maka patutlah kita mengoreksi diri. Dan tidak perlu jadikan shalat tersebut sebagai “kambing hitam”. Dari sahabat Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ “Barangsiapa yang mendapati kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapati selain dari itu, janganlah ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim no. 2577). Semoga kita dianugerahi bentuk shalat yang benar-benar dapat mencegah kita dari dosa dan maksiat serta mudah membawa kita pada kebajikan. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1435 H, 10: 28 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  Tagskeutamaan shalat
Prev     Next