Hadis untuk Para Aparat & Sebangsanya

Dari Hisyam bin Hakim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا ”Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia.” (HR. Muslim 2613) Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa, اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ Ya Allah, siapapun di antara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, lalu dia menyusahkan rakyatnya (dengan birokrasi) maka susahkanlah hidupnya. Dan siapa diantara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, dan dia memudahkan mereka maka mudahkanlah hidupnya. (HR. Ahmad 24622 dan Muslim 1828)

Hadis untuk Para Aparat & Sebangsanya

Dari Hisyam bin Hakim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا ”Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia.” (HR. Muslim 2613) Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa, اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ Ya Allah, siapapun di antara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, lalu dia menyusahkan rakyatnya (dengan birokrasi) maka susahkanlah hidupnya. Dan siapa diantara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, dan dia memudahkan mereka maka mudahkanlah hidupnya. (HR. Ahmad 24622 dan Muslim 1828)
Dari Hisyam bin Hakim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا ”Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia.” (HR. Muslim 2613) Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa, اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ Ya Allah, siapapun di antara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, lalu dia menyusahkan rakyatnya (dengan birokrasi) maka susahkanlah hidupnya. Dan siapa diantara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, dan dia memudahkan mereka maka mudahkanlah hidupnya. (HR. Ahmad 24622 dan Muslim 1828)


Dari Hisyam bin Hakim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا ”Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia.” (HR. Muslim 2613) Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa, اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ Ya Allah, siapapun di antara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, lalu dia menyusahkan rakyatnya (dengan birokrasi) maka susahkanlah hidupnya. Dan siapa diantara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, dan dia memudahkan mereka maka mudahkanlah hidupnya. (HR. Ahmad 24622 dan Muslim 1828)

Wabah Asbun

29NovWabah AsbunNovember 29, 2013Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Nasihat dan Faidah Asal bunyi, atau sering diringkas dengan istilah “asbun”, kerap dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Banyak orang terjangkiti virus ini, namun tidak merasa bahwa dirinya sedang menderita sakit. Padahal penyakit yang satu ini efek bahayanya luar biasa. Dampak negatifnya akan terasa bukan hanya di dunia saja, tapi juga akan terbawa hingga ke akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا؛ يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ”. “Terkadang seorang hamba mengucapkan suatu kalimat tanpa ia perhatikan dampaknya, ternyata mengakibatkan dirinya terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat”. HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi Muslim. Banyak praktek asbun yang harus kita waspadai. Di antara yang paling berbahaya adalah berbicara tentang hukum agama tanpa ilmu. Allah ta’ala menegaskan, “قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَالْإِثْمَ، وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ، وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا، وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ”. Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), “Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar. Dan (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu. Juga (mengharamkan) kalian untuk berbicara tentang (hukum) Allah yang tidak kalian ketahui”. QS. Al-A’raf (7): 33. Jika dalam dunia medis dikenal adanya mal praktek, dalam ranah keulamaan pun juga ada hal serupa. Bahkan sejak empat belas abad lalu, Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam sudah mengisyaratkan akan adanya fenomena tersebut, “إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا”. “Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan”. HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, dengan redaksi Bukhari. Di antara praktek asbun yang belakangan ini cukup mewabah, bahkan di antara mereka yang berpenampilan alim: memfitnah sesama muslim. Dengan berbekal gosip, mereka merusak kehormatan para ulama, ustadz dan saudara-saudara mereka seakidah. Hanya kepada Allah saja kita mengadu… Padahal, jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ؛ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ”. “Barang siapa membicarakan mukmin dengan sesuatu yang tidak benar adanya; niscaya Allah akan benamkan dia ke dalam kubangan nanahnya para penghuni neraka, hingga ia bertaubat dari perkataan tersebut“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany. Masih ada berbagai contoh lain praktek asbun. Maka berhati-hatilah! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Muharram 1435 / 21 November 2013 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Wabah Asbun

29NovWabah AsbunNovember 29, 2013Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Nasihat dan Faidah Asal bunyi, atau sering diringkas dengan istilah “asbun”, kerap dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Banyak orang terjangkiti virus ini, namun tidak merasa bahwa dirinya sedang menderita sakit. Padahal penyakit yang satu ini efek bahayanya luar biasa. Dampak negatifnya akan terasa bukan hanya di dunia saja, tapi juga akan terbawa hingga ke akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا؛ يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ”. “Terkadang seorang hamba mengucapkan suatu kalimat tanpa ia perhatikan dampaknya, ternyata mengakibatkan dirinya terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat”. HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi Muslim. Banyak praktek asbun yang harus kita waspadai. Di antara yang paling berbahaya adalah berbicara tentang hukum agama tanpa ilmu. Allah ta’ala menegaskan, “قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَالْإِثْمَ، وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ، وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا، وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ”. Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), “Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar. Dan (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu. Juga (mengharamkan) kalian untuk berbicara tentang (hukum) Allah yang tidak kalian ketahui”. QS. Al-A’raf (7): 33. Jika dalam dunia medis dikenal adanya mal praktek, dalam ranah keulamaan pun juga ada hal serupa. Bahkan sejak empat belas abad lalu, Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam sudah mengisyaratkan akan adanya fenomena tersebut, “إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا”. “Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan”. HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, dengan redaksi Bukhari. Di antara praktek asbun yang belakangan ini cukup mewabah, bahkan di antara mereka yang berpenampilan alim: memfitnah sesama muslim. Dengan berbekal gosip, mereka merusak kehormatan para ulama, ustadz dan saudara-saudara mereka seakidah. Hanya kepada Allah saja kita mengadu… Padahal, jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ؛ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ”. “Barang siapa membicarakan mukmin dengan sesuatu yang tidak benar adanya; niscaya Allah akan benamkan dia ke dalam kubangan nanahnya para penghuni neraka, hingga ia bertaubat dari perkataan tersebut“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany. Masih ada berbagai contoh lain praktek asbun. Maka berhati-hatilah! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Muharram 1435 / 21 November 2013 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
29NovWabah AsbunNovember 29, 2013Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Nasihat dan Faidah Asal bunyi, atau sering diringkas dengan istilah “asbun”, kerap dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Banyak orang terjangkiti virus ini, namun tidak merasa bahwa dirinya sedang menderita sakit. Padahal penyakit yang satu ini efek bahayanya luar biasa. Dampak negatifnya akan terasa bukan hanya di dunia saja, tapi juga akan terbawa hingga ke akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا؛ يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ”. “Terkadang seorang hamba mengucapkan suatu kalimat tanpa ia perhatikan dampaknya, ternyata mengakibatkan dirinya terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat”. HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi Muslim. Banyak praktek asbun yang harus kita waspadai. Di antara yang paling berbahaya adalah berbicara tentang hukum agama tanpa ilmu. Allah ta’ala menegaskan, “قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَالْإِثْمَ، وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ، وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا، وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ”. Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), “Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar. Dan (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu. Juga (mengharamkan) kalian untuk berbicara tentang (hukum) Allah yang tidak kalian ketahui”. QS. Al-A’raf (7): 33. Jika dalam dunia medis dikenal adanya mal praktek, dalam ranah keulamaan pun juga ada hal serupa. Bahkan sejak empat belas abad lalu, Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam sudah mengisyaratkan akan adanya fenomena tersebut, “إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا”. “Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan”. HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, dengan redaksi Bukhari. Di antara praktek asbun yang belakangan ini cukup mewabah, bahkan di antara mereka yang berpenampilan alim: memfitnah sesama muslim. Dengan berbekal gosip, mereka merusak kehormatan para ulama, ustadz dan saudara-saudara mereka seakidah. Hanya kepada Allah saja kita mengadu… Padahal, jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ؛ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ”. “Barang siapa membicarakan mukmin dengan sesuatu yang tidak benar adanya; niscaya Allah akan benamkan dia ke dalam kubangan nanahnya para penghuni neraka, hingga ia bertaubat dari perkataan tersebut“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany. Masih ada berbagai contoh lain praktek asbun. Maka berhati-hatilah! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Muharram 1435 / 21 November 2013 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


29NovWabah AsbunNovember 29, 2013Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Nasihat dan Faidah Asal bunyi, atau sering diringkas dengan istilah “asbun”, kerap dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Banyak orang terjangkiti virus ini, namun tidak merasa bahwa dirinya sedang menderita sakit. Padahal penyakit yang satu ini efek bahayanya luar biasa. Dampak negatifnya akan terasa bukan hanya di dunia saja, tapi juga akan terbawa hingga ke akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا؛ يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ”. “Terkadang seorang hamba mengucapkan suatu kalimat tanpa ia perhatikan dampaknya, ternyata mengakibatkan dirinya terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat”. HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi Muslim. Banyak praktek asbun yang harus kita waspadai. Di antara yang paling berbahaya adalah berbicara tentang hukum agama tanpa ilmu. Allah ta’ala menegaskan, “قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَالْإِثْمَ، وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ، وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا، وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ”. Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), “Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar. Dan (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu. Juga (mengharamkan) kalian untuk berbicara tentang (hukum) Allah yang tidak kalian ketahui”. QS. Al-A’raf (7): 33. Jika dalam dunia medis dikenal adanya mal praktek, dalam ranah keulamaan pun juga ada hal serupa. Bahkan sejak empat belas abad lalu, Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam sudah mengisyaratkan akan adanya fenomena tersebut, “إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا”. “Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan”. HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, dengan redaksi Bukhari. Di antara praktek asbun yang belakangan ini cukup mewabah, bahkan di antara mereka yang berpenampilan alim: memfitnah sesama muslim. Dengan berbekal gosip, mereka merusak kehormatan para ulama, ustadz dan saudara-saudara mereka seakidah. Hanya kepada Allah saja kita mengadu… Padahal, jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ؛ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ”. “Barang siapa membicarakan mukmin dengan sesuatu yang tidak benar adanya; niscaya Allah akan benamkan dia ke dalam kubangan nanahnya para penghuni neraka, hingga ia bertaubat dari perkataan tersebut“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany. Masih ada berbagai contoh lain praktek asbun. Maka berhati-hatilah! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Muharram 1435 / 21 November 2013 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Tipe Manusia yang Sangat Allah Benci

Manusia yang Sangat Allah Benci Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ Allah sangat membenci orang Ja’dzari, Jawwadz, suka teriak di pasar, bangkai di malam hari, keledai di siang hari, pinter masalah dunia, dan bodoh masalah akhirat. (HR. Ibnu Hibban 72 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) 7 Karakter yang Allah benci: Ja’dzari: keras lagi sombong (suka menghina) Jawwadz: rakus lagi pelit Suka teriak di pasar karena rebutan hak Bangkai di malam hari, karena tidur sampai pagi Keledai di siang hari, karena yang dipikirkan hanya makan Pinter masalah dunia Bodoh masalah akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari sifat yang sangat mengerikan ini.

Tipe Manusia yang Sangat Allah Benci

Manusia yang Sangat Allah Benci Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ Allah sangat membenci orang Ja’dzari, Jawwadz, suka teriak di pasar, bangkai di malam hari, keledai di siang hari, pinter masalah dunia, dan bodoh masalah akhirat. (HR. Ibnu Hibban 72 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) 7 Karakter yang Allah benci: Ja’dzari: keras lagi sombong (suka menghina) Jawwadz: rakus lagi pelit Suka teriak di pasar karena rebutan hak Bangkai di malam hari, karena tidur sampai pagi Keledai di siang hari, karena yang dipikirkan hanya makan Pinter masalah dunia Bodoh masalah akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari sifat yang sangat mengerikan ini.
Manusia yang Sangat Allah Benci Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ Allah sangat membenci orang Ja’dzari, Jawwadz, suka teriak di pasar, bangkai di malam hari, keledai di siang hari, pinter masalah dunia, dan bodoh masalah akhirat. (HR. Ibnu Hibban 72 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) 7 Karakter yang Allah benci: Ja’dzari: keras lagi sombong (suka menghina) Jawwadz: rakus lagi pelit Suka teriak di pasar karena rebutan hak Bangkai di malam hari, karena tidur sampai pagi Keledai di siang hari, karena yang dipikirkan hanya makan Pinter masalah dunia Bodoh masalah akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari sifat yang sangat mengerikan ini.


Manusia yang Sangat Allah Benci Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ Allah sangat membenci orang Ja’dzari, Jawwadz, suka teriak di pasar, bangkai di malam hari, keledai di siang hari, pinter masalah dunia, dan bodoh masalah akhirat. (HR. Ibnu Hibban 72 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) 7 Karakter yang Allah benci: Ja’dzari: keras lagi sombong (suka menghina) Jawwadz: rakus lagi pelit Suka teriak di pasar karena rebutan hak Bangkai di malam hari, karena tidur sampai pagi Keledai di siang hari, karena yang dipikirkan hanya makan Pinter masalah dunia Bodoh masalah akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari sifat yang sangat mengerikan ini.

Menolak Kebenaran, Umumnya Karena tidak Paham

Menolak Kebenaran, Umumnya Karena tidak Paham Jika seseorang memahami dengan seksama, dia tidak akan menolak kebenaran. Umumnya mereka yang menolak kebenaran, karena tidak memberi ruang sejenak bagi akalnya untuk merenungkan kebenaran itu. بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, dan belum datang kepada mereka ancaman. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). (QS. Yunus: 39). Setelah mereka menyadari diri mereka salah, mereka enggan untuk kembali dan mencabut sikapnya, karena sombong.

Menolak Kebenaran, Umumnya Karena tidak Paham

Menolak Kebenaran, Umumnya Karena tidak Paham Jika seseorang memahami dengan seksama, dia tidak akan menolak kebenaran. Umumnya mereka yang menolak kebenaran, karena tidak memberi ruang sejenak bagi akalnya untuk merenungkan kebenaran itu. بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, dan belum datang kepada mereka ancaman. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). (QS. Yunus: 39). Setelah mereka menyadari diri mereka salah, mereka enggan untuk kembali dan mencabut sikapnya, karena sombong.
Menolak Kebenaran, Umumnya Karena tidak Paham Jika seseorang memahami dengan seksama, dia tidak akan menolak kebenaran. Umumnya mereka yang menolak kebenaran, karena tidak memberi ruang sejenak bagi akalnya untuk merenungkan kebenaran itu. بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, dan belum datang kepada mereka ancaman. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). (QS. Yunus: 39). Setelah mereka menyadari diri mereka salah, mereka enggan untuk kembali dan mencabut sikapnya, karena sombong.


Menolak Kebenaran, Umumnya Karena tidak Paham Jika seseorang memahami dengan seksama, dia tidak akan menolak kebenaran. Umumnya mereka yang menolak kebenaran, karena tidak memberi ruang sejenak bagi akalnya untuk merenungkan kebenaran itu. بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, dan belum datang kepada mereka ancaman. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). (QS. Yunus: 39). Setelah mereka menyadari diri mereka salah, mereka enggan untuk kembali dan mencabut sikapnya, karena sombong.

Berdoa tanpa Meminta

Berdoa tanpa Meminta Ketika Nabi Yunus ‘alaihis salam berada di puncak kesedihannya, beliau berdoa kepada Allah, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ”Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87). Adakah beliau meminta sesuatu dalam doa itu? Tidak. Namun simak pengaruhnya dalam lanjutan ayat, فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ ”Maka Kami ijabahi doanya, dan kami selamatkan dia dari kesedihannya, dan demikian pula kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya: 88). Nabi Yunus ‘alaihissalaam tidak meminta apapun dalam doa itu. Beliau hanya memuji Allah dengan pujian yang paling dicintai-Nya. Begitu mendengar pujian ini dari dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan di tengah kegelapan malam; Allah langsung mengijabahinya seketika, dan mengeluarkannya dari perut ikan. Mari kita bandingkan dengan hadis berikut, Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sebaik-baik doa, adalah doa di hari Arafah. Dan sebaik-baik doa yang kupanjatkan dan dipanjatkan oleh para nabi sebelumku adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلىَ كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ “Tiada ilah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya. MilikNya semua kerajaan, dan bagiNya segala pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Turmudzi 3585 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1536) Imam Sufyan bin Uyainah -guru besar Imam Syafi’i- pernah ditanya tentang hadis qudsi: ’Allah berfirman, ”Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan memuji-Ku sehingga tidak sempat mengajukan permohonan kepada-Ku, Aku akan berikan nikmat yang lebih baik dari pada yang diharapkan orang yang meminta.’ Bagaimana dzikir bisa menjadi doa? Maksud pertanyaan orang itu. Imam Sufyan-pun menjawab dengan menyitir sebait sya’ir yang diucapkan Umayyah bin Abi Shalt saat minta santunan kepada Abdullah bin Jud’an yang terkenal dermawan: أأذكرُ حاجتي أم قد كفاني حياؤكَ إنَّ شيمتَكَ الحياءُ إذا أثنى عليك المرءً يوماً كفاهُ من تعرضك الثَّناءُ كريمٌ لا يُغيرُه صباحٌ عن الخُلُقِ الجميل ولا مساء Perlukah kusebut hajatku, ataukah rasa malu cukup bagimu, karena engkau memang pemalu? Bila seseorang menyanjungmu di suatu hari cukuplah itu baginya, daripada harus meminta Si dermawan yang sifat kedermawannya tidak pernah berubah siang dan sore hari Begitu mendengar syair tadi, Ibnu Jud’an langsung menyantuninya. Sufyan bin Uyainah berkomentar, “Jikalau manusia saja cukup dipuji agar dia memberi, lantas bagaimana dengan Sang Pencipta yang Maha Mulia tiada tara?” (al-Mujalasah wa Jawahir al-Ilm, no. 49).

Berdoa tanpa Meminta

Berdoa tanpa Meminta Ketika Nabi Yunus ‘alaihis salam berada di puncak kesedihannya, beliau berdoa kepada Allah, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ”Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87). Adakah beliau meminta sesuatu dalam doa itu? Tidak. Namun simak pengaruhnya dalam lanjutan ayat, فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ ”Maka Kami ijabahi doanya, dan kami selamatkan dia dari kesedihannya, dan demikian pula kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya: 88). Nabi Yunus ‘alaihissalaam tidak meminta apapun dalam doa itu. Beliau hanya memuji Allah dengan pujian yang paling dicintai-Nya. Begitu mendengar pujian ini dari dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan di tengah kegelapan malam; Allah langsung mengijabahinya seketika, dan mengeluarkannya dari perut ikan. Mari kita bandingkan dengan hadis berikut, Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sebaik-baik doa, adalah doa di hari Arafah. Dan sebaik-baik doa yang kupanjatkan dan dipanjatkan oleh para nabi sebelumku adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلىَ كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ “Tiada ilah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya. MilikNya semua kerajaan, dan bagiNya segala pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Turmudzi 3585 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1536) Imam Sufyan bin Uyainah -guru besar Imam Syafi’i- pernah ditanya tentang hadis qudsi: ’Allah berfirman, ”Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan memuji-Ku sehingga tidak sempat mengajukan permohonan kepada-Ku, Aku akan berikan nikmat yang lebih baik dari pada yang diharapkan orang yang meminta.’ Bagaimana dzikir bisa menjadi doa? Maksud pertanyaan orang itu. Imam Sufyan-pun menjawab dengan menyitir sebait sya’ir yang diucapkan Umayyah bin Abi Shalt saat minta santunan kepada Abdullah bin Jud’an yang terkenal dermawan: أأذكرُ حاجتي أم قد كفاني حياؤكَ إنَّ شيمتَكَ الحياءُ إذا أثنى عليك المرءً يوماً كفاهُ من تعرضك الثَّناءُ كريمٌ لا يُغيرُه صباحٌ عن الخُلُقِ الجميل ولا مساء Perlukah kusebut hajatku, ataukah rasa malu cukup bagimu, karena engkau memang pemalu? Bila seseorang menyanjungmu di suatu hari cukuplah itu baginya, daripada harus meminta Si dermawan yang sifat kedermawannya tidak pernah berubah siang dan sore hari Begitu mendengar syair tadi, Ibnu Jud’an langsung menyantuninya. Sufyan bin Uyainah berkomentar, “Jikalau manusia saja cukup dipuji agar dia memberi, lantas bagaimana dengan Sang Pencipta yang Maha Mulia tiada tara?” (al-Mujalasah wa Jawahir al-Ilm, no. 49).
Berdoa tanpa Meminta Ketika Nabi Yunus ‘alaihis salam berada di puncak kesedihannya, beliau berdoa kepada Allah, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ”Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87). Adakah beliau meminta sesuatu dalam doa itu? Tidak. Namun simak pengaruhnya dalam lanjutan ayat, فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ ”Maka Kami ijabahi doanya, dan kami selamatkan dia dari kesedihannya, dan demikian pula kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya: 88). Nabi Yunus ‘alaihissalaam tidak meminta apapun dalam doa itu. Beliau hanya memuji Allah dengan pujian yang paling dicintai-Nya. Begitu mendengar pujian ini dari dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan di tengah kegelapan malam; Allah langsung mengijabahinya seketika, dan mengeluarkannya dari perut ikan. Mari kita bandingkan dengan hadis berikut, Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sebaik-baik doa, adalah doa di hari Arafah. Dan sebaik-baik doa yang kupanjatkan dan dipanjatkan oleh para nabi sebelumku adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلىَ كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ “Tiada ilah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya. MilikNya semua kerajaan, dan bagiNya segala pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Turmudzi 3585 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1536) Imam Sufyan bin Uyainah -guru besar Imam Syafi’i- pernah ditanya tentang hadis qudsi: ’Allah berfirman, ”Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan memuji-Ku sehingga tidak sempat mengajukan permohonan kepada-Ku, Aku akan berikan nikmat yang lebih baik dari pada yang diharapkan orang yang meminta.’ Bagaimana dzikir bisa menjadi doa? Maksud pertanyaan orang itu. Imam Sufyan-pun menjawab dengan menyitir sebait sya’ir yang diucapkan Umayyah bin Abi Shalt saat minta santunan kepada Abdullah bin Jud’an yang terkenal dermawan: أأذكرُ حاجتي أم قد كفاني حياؤكَ إنَّ شيمتَكَ الحياءُ إذا أثنى عليك المرءً يوماً كفاهُ من تعرضك الثَّناءُ كريمٌ لا يُغيرُه صباحٌ عن الخُلُقِ الجميل ولا مساء Perlukah kusebut hajatku, ataukah rasa malu cukup bagimu, karena engkau memang pemalu? Bila seseorang menyanjungmu di suatu hari cukuplah itu baginya, daripada harus meminta Si dermawan yang sifat kedermawannya tidak pernah berubah siang dan sore hari Begitu mendengar syair tadi, Ibnu Jud’an langsung menyantuninya. Sufyan bin Uyainah berkomentar, “Jikalau manusia saja cukup dipuji agar dia memberi, lantas bagaimana dengan Sang Pencipta yang Maha Mulia tiada tara?” (al-Mujalasah wa Jawahir al-Ilm, no. 49).


Berdoa tanpa Meminta Ketika Nabi Yunus ‘alaihis salam berada di puncak kesedihannya, beliau berdoa kepada Allah, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ”Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87). Adakah beliau meminta sesuatu dalam doa itu? Tidak. Namun simak pengaruhnya dalam lanjutan ayat, فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ ”Maka Kami ijabahi doanya, dan kami selamatkan dia dari kesedihannya, dan demikian pula kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya: 88). Nabi Yunus ‘alaihissalaam tidak meminta apapun dalam doa itu. Beliau hanya memuji Allah dengan pujian yang paling dicintai-Nya. Begitu mendengar pujian ini dari dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan di tengah kegelapan malam; Allah langsung mengijabahinya seketika, dan mengeluarkannya dari perut ikan. Mari kita bandingkan dengan hadis berikut, Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sebaik-baik doa, adalah doa di hari Arafah. Dan sebaik-baik doa yang kupanjatkan dan dipanjatkan oleh para nabi sebelumku adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلىَ كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ “Tiada ilah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya. MilikNya semua kerajaan, dan bagiNya segala pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Turmudzi 3585 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1536) Imam Sufyan bin Uyainah -guru besar Imam Syafi’i- pernah ditanya tentang hadis qudsi: ’Allah berfirman, ”Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan memuji-Ku sehingga tidak sempat mengajukan permohonan kepada-Ku, Aku akan berikan nikmat yang lebih baik dari pada yang diharapkan orang yang meminta.’ Bagaimana dzikir bisa menjadi doa? Maksud pertanyaan orang itu. Imam Sufyan-pun menjawab dengan menyitir sebait sya’ir yang diucapkan Umayyah bin Abi Shalt saat minta santunan kepada Abdullah bin Jud’an yang terkenal dermawan: أأذكرُ حاجتي أم قد كفاني حياؤكَ إنَّ شيمتَكَ الحياءُ إذا أثنى عليك المرءً يوماً كفاهُ من تعرضك الثَّناءُ كريمٌ لا يُغيرُه صباحٌ عن الخُلُقِ الجميل ولا مساء Perlukah kusebut hajatku, ataukah rasa malu cukup bagimu, karena engkau memang pemalu? Bila seseorang menyanjungmu di suatu hari cukuplah itu baginya, daripada harus meminta Si dermawan yang sifat kedermawannya tidak pernah berubah siang dan sore hari Begitu mendengar syair tadi, Ibnu Jud’an langsung menyantuninya. Sufyan bin Uyainah berkomentar, “Jikalau manusia saja cukup dipuji agar dia memberi, lantas bagaimana dengan Sang Pencipta yang Maha Mulia tiada tara?” (al-Mujalasah wa Jawahir al-Ilm, no. 49).

ANTARA DOKTER DAN USTADZ

Jika menjadi dokter beresiko…, maka demikian juga menjadi da’i/ustadz maka lebih sangat beresiko. Jika sang dokter salah memberi resep bisa semakin memperparah derita pasien atau bahkan menyebabkannya meninggal…maka demikian juga jika ustadz salah memberi fatwa…tergesa-gesa…tidak menganalisa terlebih dahulu…maka bisa menyesatkan di dunia dan di akhirat menyebabkan penderitaan di akhirat.Maka sungguh wajar jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang para ustadz yang demikian : فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا“Mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” (HR Al-Bukhari no 100 dan Muslim no 2673)Maka jika masyarakat marah tatkala melihat dokter yang materialistis (padahal dokter bekerja mencari penghasilan…) apalagi sampai salah memberi resep…Maka masyarakat lebih utama untuk marah kepada ustadz yang materialistis (yang memasang tarif, apalagi tarif yang tinggi…!!!), apalagi sampai berfatwa menyesatkan umat atau membela firqoh sesat…!!Tentunya seorang dai/ustadz yang telah berusaha dan berijtihad lantas salah dalam fatwanya, maka ustadz seperti ini seharusnya dimaafkan oleh masyarakat. Maka demikian pula seorang dokter yang sudah berusaha menganalisa penyakit, bahkan mungkin bermusyawarah dengan para dokter yang lain, kemudian ternyata salah memberi resep atau salah mengambil tindakan, maka dokter ini bukan hanya dimaafkan akan tetapi juga dihargai atas usahanya, sebagaimana ustadz yang salah berfatwa namun dibangun diatas ijtihad dan usaha, maka ia mendapatkan satu pahala. Jika Ustadz tidak ada yang maksum, maka terlebih lagi dokter tidak ada yang analisanya selalu tepat dan benar !!!, Apalagi kesembuhan hanya dari Allah…sebagaimana hidayah hanya milikNya…

ANTARA DOKTER DAN USTADZ

Jika menjadi dokter beresiko…, maka demikian juga menjadi da’i/ustadz maka lebih sangat beresiko. Jika sang dokter salah memberi resep bisa semakin memperparah derita pasien atau bahkan menyebabkannya meninggal…maka demikian juga jika ustadz salah memberi fatwa…tergesa-gesa…tidak menganalisa terlebih dahulu…maka bisa menyesatkan di dunia dan di akhirat menyebabkan penderitaan di akhirat.Maka sungguh wajar jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang para ustadz yang demikian : فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا“Mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” (HR Al-Bukhari no 100 dan Muslim no 2673)Maka jika masyarakat marah tatkala melihat dokter yang materialistis (padahal dokter bekerja mencari penghasilan…) apalagi sampai salah memberi resep…Maka masyarakat lebih utama untuk marah kepada ustadz yang materialistis (yang memasang tarif, apalagi tarif yang tinggi…!!!), apalagi sampai berfatwa menyesatkan umat atau membela firqoh sesat…!!Tentunya seorang dai/ustadz yang telah berusaha dan berijtihad lantas salah dalam fatwanya, maka ustadz seperti ini seharusnya dimaafkan oleh masyarakat. Maka demikian pula seorang dokter yang sudah berusaha menganalisa penyakit, bahkan mungkin bermusyawarah dengan para dokter yang lain, kemudian ternyata salah memberi resep atau salah mengambil tindakan, maka dokter ini bukan hanya dimaafkan akan tetapi juga dihargai atas usahanya, sebagaimana ustadz yang salah berfatwa namun dibangun diatas ijtihad dan usaha, maka ia mendapatkan satu pahala. Jika Ustadz tidak ada yang maksum, maka terlebih lagi dokter tidak ada yang analisanya selalu tepat dan benar !!!, Apalagi kesembuhan hanya dari Allah…sebagaimana hidayah hanya milikNya…
Jika menjadi dokter beresiko…, maka demikian juga menjadi da’i/ustadz maka lebih sangat beresiko. Jika sang dokter salah memberi resep bisa semakin memperparah derita pasien atau bahkan menyebabkannya meninggal…maka demikian juga jika ustadz salah memberi fatwa…tergesa-gesa…tidak menganalisa terlebih dahulu…maka bisa menyesatkan di dunia dan di akhirat menyebabkan penderitaan di akhirat.Maka sungguh wajar jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang para ustadz yang demikian : فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا“Mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” (HR Al-Bukhari no 100 dan Muslim no 2673)Maka jika masyarakat marah tatkala melihat dokter yang materialistis (padahal dokter bekerja mencari penghasilan…) apalagi sampai salah memberi resep…Maka masyarakat lebih utama untuk marah kepada ustadz yang materialistis (yang memasang tarif, apalagi tarif yang tinggi…!!!), apalagi sampai berfatwa menyesatkan umat atau membela firqoh sesat…!!Tentunya seorang dai/ustadz yang telah berusaha dan berijtihad lantas salah dalam fatwanya, maka ustadz seperti ini seharusnya dimaafkan oleh masyarakat. Maka demikian pula seorang dokter yang sudah berusaha menganalisa penyakit, bahkan mungkin bermusyawarah dengan para dokter yang lain, kemudian ternyata salah memberi resep atau salah mengambil tindakan, maka dokter ini bukan hanya dimaafkan akan tetapi juga dihargai atas usahanya, sebagaimana ustadz yang salah berfatwa namun dibangun diatas ijtihad dan usaha, maka ia mendapatkan satu pahala. Jika Ustadz tidak ada yang maksum, maka terlebih lagi dokter tidak ada yang analisanya selalu tepat dan benar !!!, Apalagi kesembuhan hanya dari Allah…sebagaimana hidayah hanya milikNya…


Jika menjadi dokter beresiko…, maka demikian juga menjadi da’i/ustadz maka lebih sangat beresiko. Jika sang dokter salah memberi resep bisa semakin memperparah derita pasien atau bahkan menyebabkannya meninggal…maka demikian juga jika ustadz salah memberi fatwa…tergesa-gesa…tidak menganalisa terlebih dahulu…maka bisa menyesatkan di dunia dan di akhirat menyebabkan penderitaan di akhirat.Maka sungguh wajar jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang para ustadz yang demikian : فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا“Mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” (HR Al-Bukhari no 100 dan Muslim no 2673)Maka jika masyarakat marah tatkala melihat dokter yang materialistis (padahal dokter bekerja mencari penghasilan…) apalagi sampai salah memberi resep…Maka masyarakat lebih utama untuk marah kepada ustadz yang materialistis (yang memasang tarif, apalagi tarif yang tinggi…!!!), apalagi sampai berfatwa menyesatkan umat atau membela firqoh sesat…!!Tentunya seorang dai/ustadz yang telah berusaha dan berijtihad lantas salah dalam fatwanya, maka ustadz seperti ini seharusnya dimaafkan oleh masyarakat. Maka demikian pula seorang dokter yang sudah berusaha menganalisa penyakit, bahkan mungkin bermusyawarah dengan para dokter yang lain, kemudian ternyata salah memberi resep atau salah mengambil tindakan, maka dokter ini bukan hanya dimaafkan akan tetapi juga dihargai atas usahanya, sebagaimana ustadz yang salah berfatwa namun dibangun diatas ijtihad dan usaha, maka ia mendapatkan satu pahala. Jika Ustadz tidak ada yang maksum, maka terlebih lagi dokter tidak ada yang analisanya selalu tepat dan benar !!!, Apalagi kesembuhan hanya dari Allah…sebagaimana hidayah hanya milikNya…

Kisah Mereka yang Tidak Mau Bersyukur

Ada kisah tiga orang dari Bani Israil, ketiganya diberi ujian harta oleh Allah. Ketiganya sama-sama sukses, namun dua orang enggan bersyukur dan menganggap nikmat adalah karena hasil usahanya. Sedangkan satunya lagi benar-benar hamba yang pandai bersyukur dan ia pun menyandarkan nikmat pada Allah. Kisah Tiga Orang Bani Israil: Berpenyakit Kulit, Kebotakan dan Buta Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ ثَلاَثَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى، فَأَرَادَ اللهُ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ، فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا، “Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita penyakit kulit[1], punya penyakit kebotakan (sebagian rambut kepalanya botak, -pen) dan orang buta. Kemudian Allah Ta’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat. فَأَتَى اْلأَبْرَصَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: لَوْنٌ حَسَنٌ، وَجِلْدٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسَ بِهِ، قَالَ: فَمَسَحَهُ، فَذَهَبْ عَنْهُ قَذَرُهُ، فَأُعْطِيَ لَوْنًا حَسَنًا وَجِلْدًا حَسَنًا، قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: اْلإِبِلُ أَوِ الْبَقَرُ – شّكٌّ إِسْحَاقُ – فَأُعْطِيَ نَاقَة  عُشْرَاءَ، فَقَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا. Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit kulit dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah.  Malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Ia menjawab, “Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, dan ia pun didoakan, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.” قَالَ: فَأَتَى اْلأَقْرَعَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: شَعْرٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ بِهِ، فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ قَذَرُهُ، وَأُعْطِيَ شَعْرًا حَسَنًا، فَقَالَ: أَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: الْبَقَرُ أَوِ اْلإِبِلُ، فَأُعْطِيَ بَقَرَةً حَامِلاً، قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا. Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang yang punya penyakit kebotakan, dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat tadi bertanya lagi kepadanya, “Harta apakah yang kamu senangi?” Ia menjawab, “Sapi atau unta.” Maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting dan didoakan, “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.” فَأَتَى اْلأَعْمَى، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: أَنْ يُرِدِ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي فَأَبْصَرَ بِهِ النَّاسَ، فَمَسَحَهُ، فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ بَصَرَهُ، قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: الْغَنَمَ، فَأُعْطِيَ شَاةً وَالِدًا. Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang.” Maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Ia menjawab: “Kambing.” Maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting. فَأُنْتِجَ هَذَانِ وَوَلَّدَ هَذَا، فَكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنَ اْلإِبِلِ، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْبَقَر، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْغَنَمِ. Lalu berkembangbiaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata selanjutnya, ثُمَّ إِنَّهُ أَتَى اْلأَبْرَصَ فِي صُوْرَتِهِ وَهَيْئَتِهِ، قَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحُسْنَ وَالْجِلْدَ الْحُسْنَ وَالْمَالَ، بَعِيْرًا أَتَبَلَّغُ بِهِ فِي سَفَرِي، فَقَالَ: الْحُقُوْقُ كَثِيْرَةٌ، فَقَالَ لَهُ: كَأَنِّي أَعْرَفْكَ! أَلَمْ تَكُنْ أَبْرَصَ يَقْذَرُكَ النَّاسُ، فَقِيْرًا فَأَعْطَاكَ اللهُ الْمَالَ؟، فَقَالَ: إِنَّمَا وَرَثْتُ هَذَا الْمَالَ كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كاَذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ. “Kemudian, datanglah Malaikat itu kepada orang  yang sebelumnya menderita penyakit kulit, dengan menyerupai dirinya (yakni di saat ia masih dalam keadaan berpenyakit kulit, -pen), dan berkata kepadanya, “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.” Tetapi dijawab, “Hak-hak (tanggunganku) masih banyak.” Malaikat tadi berkata kepadanya, “Sepertinya aku pernah mengenal Anda, bukankah Anda ini dulu orang yang menderita penyakit kulit, yang orang-orang pun jijik melihat anda, lagi pula anda miskin, kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan?” Dia malah menjawab, “Harta kekayaan ini aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Maka  malaikat tadi berkata kepadanya, “Jika Anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.” قَالَ: وَأَتَى اْلأَقْرَعَ فِي صُوْرَتِهِ، فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِهَذَا، وَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَ مَا رَدَّ عَلَيْهِ هَذَا، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ. Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berpenyakit kebotakan, dengan menyerupai dirinya (di saat masih berpenyakit itu), dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakit kulit, serta ditolaknya sebagaimana ia telah ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata, “Jika Anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan Anda seperti keadaan semula.” قَالَ: وَأَتَى اْلأَعْمَى فِي صُوْرَتِهِ، فَقَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ وَابْنُ سَبِيْلٍ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالِ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا فِي سَفَرِي، فَقَالَ: قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي، فَخَذَ مَا شِئْتَ، وَدَعْ مَا شِئْتَ، فَوَاللهِ لاَ أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ بِشَيْءٍ أَخَذْتَهُ للهُ، فَقَالَ: أَمْسِكْ مَالَكَ، فَإِنَّمَا ابْتُلِيْتُمْ، فَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْكَ وَسَخَطُ عَلَى صَاحِبَيْكَ Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu (di saat ia masih buta), dan berkata kepadanya, “Aku adalah orang yang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan Anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan Anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.” Maka orang itu menjawab, “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang Anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak Anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit Anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.” Maka malaikat tadi berkata, “Peganglah kekayaan Anda, karena sesungguhnya kalian ini hanya diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada Anda, dan murka kepada kedua teman Anda.” (HR. Bukhari no. 3464 dan Muslim no. 2964). Tanda Tidak Syukur: Mengatakan Nikmat adalah Karena Memang Pantas Ia Dapat Allah Ta’ala berfirman, وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya.” Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. ” (QS. Fusshilat: 50) قال مجاهد : هذا بعملي ، وأنا محقوق به . وقال ابن عباس : يريد من عندي . وقوله : { قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي } [ القصص : 78 ] . قال قتادة : على علم مني بوجوه المكاسب . وقال آخرون : على علم من الله أني له أهل ، وهذا معنى قول مجاهد : أوتيته على شرف . Mujahid mengatakan bahwa orang yang mendapatkan rahmat tersebut mengatakan, “Ini adalah karena ilmuku. Akulah yang berhak mendapatkannya.” Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa orang tersebut mengatakan, “Ini karena hasil jerih payahku.” Atau ia berkata sebagaimana yang dikatakan Karun, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al Qoshosh: 78) Qotadah berkata, “Rahmat ini kuperoleh karena ilmu dan jerih payahku.” Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ini adalah ilmu dari Allah namun kuperoleh karena memang aku pantas mendapatkannya. Ini semakna dengan perkata Mujahid, ia diberi karena kemuliaan dirinya. (Dinukil dari Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad At Tamimi) Pelajaran dari Kisah Hadits di atas menunjukkan bahwa di antara tanda kurangnya iman dan tauhid yaitu jika seseorang mengganggap bahwa nikmat dan rezeki didapat karena hasil kerja kerasnya atau Allah memang pantas memberi padanya. Seharusnya seorang mukmin mengakui nikmat Allah secara lahir dan batin, lalu ia memuji Allah atas nikmat tersebut. Nikmat tersebut hendaklah disandarkan pada Allah, juga nikmat tersebut dimanfaatkan untuk ketaatan. Sekaligus hal ini mengajarkan pada kita untuk tidak terlalu berbangga diri dan takjub. (Dinukil dari Al Qoulus Sadid karya Syaikh As Sa’di). Moga orang yang berakal bisa mengambil pelajaran. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Taman Mini Indonesia Indah saat Expo Komunitas Pengusaha Muslim 2013, 25 Muharram 1435 H, 07: 51 PM. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera!   [1] Dalam Al Mu’jam Al Wasith disebutkan yang dimaksud barosh (absrosh) adalah, بياض يقع في الجسد لعلة “Putih belang-belang di badan karena penyakit.” Tagssyukur waktu

Kisah Mereka yang Tidak Mau Bersyukur

Ada kisah tiga orang dari Bani Israil, ketiganya diberi ujian harta oleh Allah. Ketiganya sama-sama sukses, namun dua orang enggan bersyukur dan menganggap nikmat adalah karena hasil usahanya. Sedangkan satunya lagi benar-benar hamba yang pandai bersyukur dan ia pun menyandarkan nikmat pada Allah. Kisah Tiga Orang Bani Israil: Berpenyakit Kulit, Kebotakan dan Buta Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ ثَلاَثَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى، فَأَرَادَ اللهُ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ، فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا، “Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita penyakit kulit[1], punya penyakit kebotakan (sebagian rambut kepalanya botak, -pen) dan orang buta. Kemudian Allah Ta’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat. فَأَتَى اْلأَبْرَصَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: لَوْنٌ حَسَنٌ، وَجِلْدٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسَ بِهِ، قَالَ: فَمَسَحَهُ، فَذَهَبْ عَنْهُ قَذَرُهُ، فَأُعْطِيَ لَوْنًا حَسَنًا وَجِلْدًا حَسَنًا، قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: اْلإِبِلُ أَوِ الْبَقَرُ – شّكٌّ إِسْحَاقُ – فَأُعْطِيَ نَاقَة  عُشْرَاءَ، فَقَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا. Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit kulit dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah.  Malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Ia menjawab, “Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, dan ia pun didoakan, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.” قَالَ: فَأَتَى اْلأَقْرَعَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: شَعْرٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ بِهِ، فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ قَذَرُهُ، وَأُعْطِيَ شَعْرًا حَسَنًا، فَقَالَ: أَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: الْبَقَرُ أَوِ اْلإِبِلُ، فَأُعْطِيَ بَقَرَةً حَامِلاً، قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا. Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang yang punya penyakit kebotakan, dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat tadi bertanya lagi kepadanya, “Harta apakah yang kamu senangi?” Ia menjawab, “Sapi atau unta.” Maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting dan didoakan, “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.” فَأَتَى اْلأَعْمَى، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: أَنْ يُرِدِ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي فَأَبْصَرَ بِهِ النَّاسَ، فَمَسَحَهُ، فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ بَصَرَهُ، قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: الْغَنَمَ، فَأُعْطِيَ شَاةً وَالِدًا. Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang.” Maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Ia menjawab: “Kambing.” Maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting. فَأُنْتِجَ هَذَانِ وَوَلَّدَ هَذَا، فَكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنَ اْلإِبِلِ، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْبَقَر، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْغَنَمِ. Lalu berkembangbiaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata selanjutnya, ثُمَّ إِنَّهُ أَتَى اْلأَبْرَصَ فِي صُوْرَتِهِ وَهَيْئَتِهِ، قَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحُسْنَ وَالْجِلْدَ الْحُسْنَ وَالْمَالَ، بَعِيْرًا أَتَبَلَّغُ بِهِ فِي سَفَرِي، فَقَالَ: الْحُقُوْقُ كَثِيْرَةٌ، فَقَالَ لَهُ: كَأَنِّي أَعْرَفْكَ! أَلَمْ تَكُنْ أَبْرَصَ يَقْذَرُكَ النَّاسُ، فَقِيْرًا فَأَعْطَاكَ اللهُ الْمَالَ؟، فَقَالَ: إِنَّمَا وَرَثْتُ هَذَا الْمَالَ كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كاَذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ. “Kemudian, datanglah Malaikat itu kepada orang  yang sebelumnya menderita penyakit kulit, dengan menyerupai dirinya (yakni di saat ia masih dalam keadaan berpenyakit kulit, -pen), dan berkata kepadanya, “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.” Tetapi dijawab, “Hak-hak (tanggunganku) masih banyak.” Malaikat tadi berkata kepadanya, “Sepertinya aku pernah mengenal Anda, bukankah Anda ini dulu orang yang menderita penyakit kulit, yang orang-orang pun jijik melihat anda, lagi pula anda miskin, kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan?” Dia malah menjawab, “Harta kekayaan ini aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Maka  malaikat tadi berkata kepadanya, “Jika Anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.” قَالَ: وَأَتَى اْلأَقْرَعَ فِي صُوْرَتِهِ، فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِهَذَا، وَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَ مَا رَدَّ عَلَيْهِ هَذَا، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ. Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berpenyakit kebotakan, dengan menyerupai dirinya (di saat masih berpenyakit itu), dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakit kulit, serta ditolaknya sebagaimana ia telah ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata, “Jika Anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan Anda seperti keadaan semula.” قَالَ: وَأَتَى اْلأَعْمَى فِي صُوْرَتِهِ، فَقَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ وَابْنُ سَبِيْلٍ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالِ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا فِي سَفَرِي، فَقَالَ: قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي، فَخَذَ مَا شِئْتَ، وَدَعْ مَا شِئْتَ، فَوَاللهِ لاَ أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ بِشَيْءٍ أَخَذْتَهُ للهُ، فَقَالَ: أَمْسِكْ مَالَكَ، فَإِنَّمَا ابْتُلِيْتُمْ، فَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْكَ وَسَخَطُ عَلَى صَاحِبَيْكَ Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu (di saat ia masih buta), dan berkata kepadanya, “Aku adalah orang yang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan Anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan Anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.” Maka orang itu menjawab, “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang Anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak Anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit Anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.” Maka malaikat tadi berkata, “Peganglah kekayaan Anda, karena sesungguhnya kalian ini hanya diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada Anda, dan murka kepada kedua teman Anda.” (HR. Bukhari no. 3464 dan Muslim no. 2964). Tanda Tidak Syukur: Mengatakan Nikmat adalah Karena Memang Pantas Ia Dapat Allah Ta’ala berfirman, وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya.” Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. ” (QS. Fusshilat: 50) قال مجاهد : هذا بعملي ، وأنا محقوق به . وقال ابن عباس : يريد من عندي . وقوله : { قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي } [ القصص : 78 ] . قال قتادة : على علم مني بوجوه المكاسب . وقال آخرون : على علم من الله أني له أهل ، وهذا معنى قول مجاهد : أوتيته على شرف . Mujahid mengatakan bahwa orang yang mendapatkan rahmat tersebut mengatakan, “Ini adalah karena ilmuku. Akulah yang berhak mendapatkannya.” Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa orang tersebut mengatakan, “Ini karena hasil jerih payahku.” Atau ia berkata sebagaimana yang dikatakan Karun, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al Qoshosh: 78) Qotadah berkata, “Rahmat ini kuperoleh karena ilmu dan jerih payahku.” Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ini adalah ilmu dari Allah namun kuperoleh karena memang aku pantas mendapatkannya. Ini semakna dengan perkata Mujahid, ia diberi karena kemuliaan dirinya. (Dinukil dari Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad At Tamimi) Pelajaran dari Kisah Hadits di atas menunjukkan bahwa di antara tanda kurangnya iman dan tauhid yaitu jika seseorang mengganggap bahwa nikmat dan rezeki didapat karena hasil kerja kerasnya atau Allah memang pantas memberi padanya. Seharusnya seorang mukmin mengakui nikmat Allah secara lahir dan batin, lalu ia memuji Allah atas nikmat tersebut. Nikmat tersebut hendaklah disandarkan pada Allah, juga nikmat tersebut dimanfaatkan untuk ketaatan. Sekaligus hal ini mengajarkan pada kita untuk tidak terlalu berbangga diri dan takjub. (Dinukil dari Al Qoulus Sadid karya Syaikh As Sa’di). Moga orang yang berakal bisa mengambil pelajaran. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Taman Mini Indonesia Indah saat Expo Komunitas Pengusaha Muslim 2013, 25 Muharram 1435 H, 07: 51 PM. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera!   [1] Dalam Al Mu’jam Al Wasith disebutkan yang dimaksud barosh (absrosh) adalah, بياض يقع في الجسد لعلة “Putih belang-belang di badan karena penyakit.” Tagssyukur waktu
Ada kisah tiga orang dari Bani Israil, ketiganya diberi ujian harta oleh Allah. Ketiganya sama-sama sukses, namun dua orang enggan bersyukur dan menganggap nikmat adalah karena hasil usahanya. Sedangkan satunya lagi benar-benar hamba yang pandai bersyukur dan ia pun menyandarkan nikmat pada Allah. Kisah Tiga Orang Bani Israil: Berpenyakit Kulit, Kebotakan dan Buta Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ ثَلاَثَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى، فَأَرَادَ اللهُ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ، فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا، “Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita penyakit kulit[1], punya penyakit kebotakan (sebagian rambut kepalanya botak, -pen) dan orang buta. Kemudian Allah Ta’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat. فَأَتَى اْلأَبْرَصَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: لَوْنٌ حَسَنٌ، وَجِلْدٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسَ بِهِ، قَالَ: فَمَسَحَهُ، فَذَهَبْ عَنْهُ قَذَرُهُ، فَأُعْطِيَ لَوْنًا حَسَنًا وَجِلْدًا حَسَنًا، قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: اْلإِبِلُ أَوِ الْبَقَرُ – شّكٌّ إِسْحَاقُ – فَأُعْطِيَ نَاقَة  عُشْرَاءَ، فَقَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا. Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit kulit dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah.  Malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Ia menjawab, “Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, dan ia pun didoakan, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.” قَالَ: فَأَتَى اْلأَقْرَعَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: شَعْرٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ بِهِ، فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ قَذَرُهُ، وَأُعْطِيَ شَعْرًا حَسَنًا، فَقَالَ: أَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: الْبَقَرُ أَوِ اْلإِبِلُ، فَأُعْطِيَ بَقَرَةً حَامِلاً، قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا. Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang yang punya penyakit kebotakan, dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat tadi bertanya lagi kepadanya, “Harta apakah yang kamu senangi?” Ia menjawab, “Sapi atau unta.” Maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting dan didoakan, “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.” فَأَتَى اْلأَعْمَى، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: أَنْ يُرِدِ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي فَأَبْصَرَ بِهِ النَّاسَ، فَمَسَحَهُ، فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ بَصَرَهُ، قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: الْغَنَمَ، فَأُعْطِيَ شَاةً وَالِدًا. Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang.” Maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Ia menjawab: “Kambing.” Maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting. فَأُنْتِجَ هَذَانِ وَوَلَّدَ هَذَا، فَكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنَ اْلإِبِلِ، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْبَقَر، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْغَنَمِ. Lalu berkembangbiaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata selanjutnya, ثُمَّ إِنَّهُ أَتَى اْلأَبْرَصَ فِي صُوْرَتِهِ وَهَيْئَتِهِ، قَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحُسْنَ وَالْجِلْدَ الْحُسْنَ وَالْمَالَ، بَعِيْرًا أَتَبَلَّغُ بِهِ فِي سَفَرِي، فَقَالَ: الْحُقُوْقُ كَثِيْرَةٌ، فَقَالَ لَهُ: كَأَنِّي أَعْرَفْكَ! أَلَمْ تَكُنْ أَبْرَصَ يَقْذَرُكَ النَّاسُ، فَقِيْرًا فَأَعْطَاكَ اللهُ الْمَالَ؟، فَقَالَ: إِنَّمَا وَرَثْتُ هَذَا الْمَالَ كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كاَذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ. “Kemudian, datanglah Malaikat itu kepada orang  yang sebelumnya menderita penyakit kulit, dengan menyerupai dirinya (yakni di saat ia masih dalam keadaan berpenyakit kulit, -pen), dan berkata kepadanya, “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.” Tetapi dijawab, “Hak-hak (tanggunganku) masih banyak.” Malaikat tadi berkata kepadanya, “Sepertinya aku pernah mengenal Anda, bukankah Anda ini dulu orang yang menderita penyakit kulit, yang orang-orang pun jijik melihat anda, lagi pula anda miskin, kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan?” Dia malah menjawab, “Harta kekayaan ini aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Maka  malaikat tadi berkata kepadanya, “Jika Anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.” قَالَ: وَأَتَى اْلأَقْرَعَ فِي صُوْرَتِهِ، فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِهَذَا، وَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَ مَا رَدَّ عَلَيْهِ هَذَا، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ. Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berpenyakit kebotakan, dengan menyerupai dirinya (di saat masih berpenyakit itu), dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakit kulit, serta ditolaknya sebagaimana ia telah ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata, “Jika Anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan Anda seperti keadaan semula.” قَالَ: وَأَتَى اْلأَعْمَى فِي صُوْرَتِهِ، فَقَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ وَابْنُ سَبِيْلٍ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالِ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا فِي سَفَرِي، فَقَالَ: قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي، فَخَذَ مَا شِئْتَ، وَدَعْ مَا شِئْتَ، فَوَاللهِ لاَ أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ بِشَيْءٍ أَخَذْتَهُ للهُ، فَقَالَ: أَمْسِكْ مَالَكَ، فَإِنَّمَا ابْتُلِيْتُمْ، فَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْكَ وَسَخَطُ عَلَى صَاحِبَيْكَ Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu (di saat ia masih buta), dan berkata kepadanya, “Aku adalah orang yang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan Anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan Anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.” Maka orang itu menjawab, “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang Anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak Anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit Anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.” Maka malaikat tadi berkata, “Peganglah kekayaan Anda, karena sesungguhnya kalian ini hanya diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada Anda, dan murka kepada kedua teman Anda.” (HR. Bukhari no. 3464 dan Muslim no. 2964). Tanda Tidak Syukur: Mengatakan Nikmat adalah Karena Memang Pantas Ia Dapat Allah Ta’ala berfirman, وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya.” Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. ” (QS. Fusshilat: 50) قال مجاهد : هذا بعملي ، وأنا محقوق به . وقال ابن عباس : يريد من عندي . وقوله : { قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي } [ القصص : 78 ] . قال قتادة : على علم مني بوجوه المكاسب . وقال آخرون : على علم من الله أني له أهل ، وهذا معنى قول مجاهد : أوتيته على شرف . Mujahid mengatakan bahwa orang yang mendapatkan rahmat tersebut mengatakan, “Ini adalah karena ilmuku. Akulah yang berhak mendapatkannya.” Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa orang tersebut mengatakan, “Ini karena hasil jerih payahku.” Atau ia berkata sebagaimana yang dikatakan Karun, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al Qoshosh: 78) Qotadah berkata, “Rahmat ini kuperoleh karena ilmu dan jerih payahku.” Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ini adalah ilmu dari Allah namun kuperoleh karena memang aku pantas mendapatkannya. Ini semakna dengan perkata Mujahid, ia diberi karena kemuliaan dirinya. (Dinukil dari Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad At Tamimi) Pelajaran dari Kisah Hadits di atas menunjukkan bahwa di antara tanda kurangnya iman dan tauhid yaitu jika seseorang mengganggap bahwa nikmat dan rezeki didapat karena hasil kerja kerasnya atau Allah memang pantas memberi padanya. Seharusnya seorang mukmin mengakui nikmat Allah secara lahir dan batin, lalu ia memuji Allah atas nikmat tersebut. Nikmat tersebut hendaklah disandarkan pada Allah, juga nikmat tersebut dimanfaatkan untuk ketaatan. Sekaligus hal ini mengajarkan pada kita untuk tidak terlalu berbangga diri dan takjub. (Dinukil dari Al Qoulus Sadid karya Syaikh As Sa’di). Moga orang yang berakal bisa mengambil pelajaran. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Taman Mini Indonesia Indah saat Expo Komunitas Pengusaha Muslim 2013, 25 Muharram 1435 H, 07: 51 PM. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera!   [1] Dalam Al Mu’jam Al Wasith disebutkan yang dimaksud barosh (absrosh) adalah, بياض يقع في الجسد لعلة “Putih belang-belang di badan karena penyakit.” Tagssyukur waktu


Ada kisah tiga orang dari Bani Israil, ketiganya diberi ujian harta oleh Allah. Ketiganya sama-sama sukses, namun dua orang enggan bersyukur dan menganggap nikmat adalah karena hasil usahanya. Sedangkan satunya lagi benar-benar hamba yang pandai bersyukur dan ia pun menyandarkan nikmat pada Allah. Kisah Tiga Orang Bani Israil: Berpenyakit Kulit, Kebotakan dan Buta Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ ثَلاَثَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى، فَأَرَادَ اللهُ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ، فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا، “Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita penyakit kulit[1], punya penyakit kebotakan (sebagian rambut kepalanya botak, -pen) dan orang buta. Kemudian Allah Ta’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat. فَأَتَى اْلأَبْرَصَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: لَوْنٌ حَسَنٌ، وَجِلْدٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسَ بِهِ، قَالَ: فَمَسَحَهُ، فَذَهَبْ عَنْهُ قَذَرُهُ، فَأُعْطِيَ لَوْنًا حَسَنًا وَجِلْدًا حَسَنًا، قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: اْلإِبِلُ أَوِ الْبَقَرُ – شّكٌّ إِسْحَاقُ – فَأُعْطِيَ نَاقَة  عُشْرَاءَ، فَقَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا. Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit kulit dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah.  Malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Ia menjawab, “Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, dan ia pun didoakan, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.” قَالَ: فَأَتَى اْلأَقْرَعَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: شَعْرٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ بِهِ، فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ قَذَرُهُ، وَأُعْطِيَ شَعْرًا حَسَنًا، فَقَالَ: أَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: الْبَقَرُ أَوِ اْلإِبِلُ، فَأُعْطِيَ بَقَرَةً حَامِلاً، قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا. Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang yang punya penyakit kebotakan, dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat tadi bertanya lagi kepadanya, “Harta apakah yang kamu senangi?” Ia menjawab, “Sapi atau unta.” Maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting dan didoakan, “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.” فَأَتَى اْلأَعْمَى، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: أَنْ يُرِدِ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي فَأَبْصَرَ بِهِ النَّاسَ، فَمَسَحَهُ، فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ بَصَرَهُ، قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: الْغَنَمَ، فَأُعْطِيَ شَاةً وَالِدًا. Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang.” Maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Ia menjawab: “Kambing.” Maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting. فَأُنْتِجَ هَذَانِ وَوَلَّدَ هَذَا، فَكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنَ اْلإِبِلِ، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْبَقَر، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْغَنَمِ. Lalu berkembangbiaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata selanjutnya, ثُمَّ إِنَّهُ أَتَى اْلأَبْرَصَ فِي صُوْرَتِهِ وَهَيْئَتِهِ، قَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحُسْنَ وَالْجِلْدَ الْحُسْنَ وَالْمَالَ، بَعِيْرًا أَتَبَلَّغُ بِهِ فِي سَفَرِي، فَقَالَ: الْحُقُوْقُ كَثِيْرَةٌ، فَقَالَ لَهُ: كَأَنِّي أَعْرَفْكَ! أَلَمْ تَكُنْ أَبْرَصَ يَقْذَرُكَ النَّاسُ، فَقِيْرًا فَأَعْطَاكَ اللهُ الْمَالَ؟، فَقَالَ: إِنَّمَا وَرَثْتُ هَذَا الْمَالَ كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كاَذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ. “Kemudian, datanglah Malaikat itu kepada orang  yang sebelumnya menderita penyakit kulit, dengan menyerupai dirinya (yakni di saat ia masih dalam keadaan berpenyakit kulit, -pen), dan berkata kepadanya, “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.” Tetapi dijawab, “Hak-hak (tanggunganku) masih banyak.” Malaikat tadi berkata kepadanya, “Sepertinya aku pernah mengenal Anda, bukankah Anda ini dulu orang yang menderita penyakit kulit, yang orang-orang pun jijik melihat anda, lagi pula anda miskin, kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan?” Dia malah menjawab, “Harta kekayaan ini aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Maka  malaikat tadi berkata kepadanya, “Jika Anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.” قَالَ: وَأَتَى اْلأَقْرَعَ فِي صُوْرَتِهِ، فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِهَذَا، وَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَ مَا رَدَّ عَلَيْهِ هَذَا، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ. Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berpenyakit kebotakan, dengan menyerupai dirinya (di saat masih berpenyakit itu), dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakit kulit, serta ditolaknya sebagaimana ia telah ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata, “Jika Anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan Anda seperti keadaan semula.” قَالَ: وَأَتَى اْلأَعْمَى فِي صُوْرَتِهِ، فَقَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ وَابْنُ سَبِيْلٍ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالِ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا فِي سَفَرِي، فَقَالَ: قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي، فَخَذَ مَا شِئْتَ، وَدَعْ مَا شِئْتَ، فَوَاللهِ لاَ أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ بِشَيْءٍ أَخَذْتَهُ للهُ، فَقَالَ: أَمْسِكْ مَالَكَ، فَإِنَّمَا ابْتُلِيْتُمْ، فَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْكَ وَسَخَطُ عَلَى صَاحِبَيْكَ Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu (di saat ia masih buta), dan berkata kepadanya, “Aku adalah orang yang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan Anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan Anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.” Maka orang itu menjawab, “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang Anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak Anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit Anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.” Maka malaikat tadi berkata, “Peganglah kekayaan Anda, karena sesungguhnya kalian ini hanya diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada Anda, dan murka kepada kedua teman Anda.” (HR. Bukhari no. 3464 dan Muslim no. 2964). Tanda Tidak Syukur: Mengatakan Nikmat adalah Karena Memang Pantas Ia Dapat Allah Ta’ala berfirman, وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya.” Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. ” (QS. Fusshilat: 50) قال مجاهد : هذا بعملي ، وأنا محقوق به . وقال ابن عباس : يريد من عندي . وقوله : { قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي } [ القصص : 78 ] . قال قتادة : على علم مني بوجوه المكاسب . وقال آخرون : على علم من الله أني له أهل ، وهذا معنى قول مجاهد : أوتيته على شرف . Mujahid mengatakan bahwa orang yang mendapatkan rahmat tersebut mengatakan, “Ini adalah karena ilmuku. Akulah yang berhak mendapatkannya.” Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa orang tersebut mengatakan, “Ini karena hasil jerih payahku.” Atau ia berkata sebagaimana yang dikatakan Karun, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al Qoshosh: 78) Qotadah berkata, “Rahmat ini kuperoleh karena ilmu dan jerih payahku.” Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ini adalah ilmu dari Allah namun kuperoleh karena memang aku pantas mendapatkannya. Ini semakna dengan perkata Mujahid, ia diberi karena kemuliaan dirinya. (Dinukil dari Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad At Tamimi) Pelajaran dari Kisah Hadits di atas menunjukkan bahwa di antara tanda kurangnya iman dan tauhid yaitu jika seseorang mengganggap bahwa nikmat dan rezeki didapat karena hasil kerja kerasnya atau Allah memang pantas memberi padanya. Seharusnya seorang mukmin mengakui nikmat Allah secara lahir dan batin, lalu ia memuji Allah atas nikmat tersebut. Nikmat tersebut hendaklah disandarkan pada Allah, juga nikmat tersebut dimanfaatkan untuk ketaatan. Sekaligus hal ini mengajarkan pada kita untuk tidak terlalu berbangga diri dan takjub. (Dinukil dari Al Qoulus Sadid karya Syaikh As Sa’di). Moga orang yang berakal bisa mengambil pelajaran. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Taman Mini Indonesia Indah saat Expo Komunitas Pengusaha Muslim 2013, 25 Muharram 1435 H, 07: 51 PM. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera!   [1] Dalam Al Mu’jam Al Wasith disebutkan yang dimaksud barosh (absrosh) adalah, بياض يقع في الجسد لعلة “Putih belang-belang di badan karena penyakit.” Tagssyukur waktu

Hati-hati Memberikan Jawaban yang Salah

Hati-hati Memberikan Jawaban yang Salah Orang yang memberikan jawaban yang salah di luar ijtihad, kemudian dia menyesal maka taubatnya tidak diterima hingga dia menjelaskan kepada masyarakat tentang kesalahannya dan kebenaran yang sejatinya. إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ. إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan MENERANGKAN (KEBENARAN), maka terhadap mereka Itulah aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 159 – 160) Hati-hati menyebarkan kesesatan. Taubatnya tidak bisa diterima hingga dia menjelaskan kebatilannya dan kebenaran yang sejatinya.

Hati-hati Memberikan Jawaban yang Salah

Hati-hati Memberikan Jawaban yang Salah Orang yang memberikan jawaban yang salah di luar ijtihad, kemudian dia menyesal maka taubatnya tidak diterima hingga dia menjelaskan kepada masyarakat tentang kesalahannya dan kebenaran yang sejatinya. إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ. إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan MENERANGKAN (KEBENARAN), maka terhadap mereka Itulah aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 159 – 160) Hati-hati menyebarkan kesesatan. Taubatnya tidak bisa diterima hingga dia menjelaskan kebatilannya dan kebenaran yang sejatinya.
Hati-hati Memberikan Jawaban yang Salah Orang yang memberikan jawaban yang salah di luar ijtihad, kemudian dia menyesal maka taubatnya tidak diterima hingga dia menjelaskan kepada masyarakat tentang kesalahannya dan kebenaran yang sejatinya. إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ. إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan MENERANGKAN (KEBENARAN), maka terhadap mereka Itulah aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 159 – 160) Hati-hati menyebarkan kesesatan. Taubatnya tidak bisa diterima hingga dia menjelaskan kebatilannya dan kebenaran yang sejatinya.


Hati-hati Memberikan Jawaban yang Salah Orang yang memberikan jawaban yang salah di luar ijtihad, kemudian dia menyesal maka taubatnya tidak diterima hingga dia menjelaskan kepada masyarakat tentang kesalahannya dan kebenaran yang sejatinya. إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ. إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan MENERANGKAN (KEBENARAN), maka terhadap mereka Itulah aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 159 – 160) Hati-hati menyebarkan kesesatan. Taubatnya tidak bisa diterima hingga dia menjelaskan kebatilannya dan kebenaran yang sejatinya.

Pengaruh Orang Jahat di Tengah Masyarakat

Pengaruh Orang Jahat di Tengah Masyarakat Kota Hijr adalah kota tempat tinggal kaum tsamud, umat Nabi Soleh ’alaihis salam. Ketika Nabi Soleh berdakwah di kota ini, ada 9 orang yang bersekongkol untuk menghalangi dakwah beliau. Sekalipun mereka hanya sembilan orang, namun jumlah yang sedikit ini bisa membinasakan seluruh kaum Nabi Soleh. Berkat jasa besar mereka, kaum Tsamud berani melawan Nabinya. وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ “Di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (QS. An-Naml: 48) Hati-hati dengan keberadaan orang jahat di lingkungan kita. Bisa jadi, dia menjadi sebab kerusakan masyarakat di lingkungan anda.

Pengaruh Orang Jahat di Tengah Masyarakat

Pengaruh Orang Jahat di Tengah Masyarakat Kota Hijr adalah kota tempat tinggal kaum tsamud, umat Nabi Soleh ’alaihis salam. Ketika Nabi Soleh berdakwah di kota ini, ada 9 orang yang bersekongkol untuk menghalangi dakwah beliau. Sekalipun mereka hanya sembilan orang, namun jumlah yang sedikit ini bisa membinasakan seluruh kaum Nabi Soleh. Berkat jasa besar mereka, kaum Tsamud berani melawan Nabinya. وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ “Di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (QS. An-Naml: 48) Hati-hati dengan keberadaan orang jahat di lingkungan kita. Bisa jadi, dia menjadi sebab kerusakan masyarakat di lingkungan anda.
Pengaruh Orang Jahat di Tengah Masyarakat Kota Hijr adalah kota tempat tinggal kaum tsamud, umat Nabi Soleh ’alaihis salam. Ketika Nabi Soleh berdakwah di kota ini, ada 9 orang yang bersekongkol untuk menghalangi dakwah beliau. Sekalipun mereka hanya sembilan orang, namun jumlah yang sedikit ini bisa membinasakan seluruh kaum Nabi Soleh. Berkat jasa besar mereka, kaum Tsamud berani melawan Nabinya. وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ “Di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (QS. An-Naml: 48) Hati-hati dengan keberadaan orang jahat di lingkungan kita. Bisa jadi, dia menjadi sebab kerusakan masyarakat di lingkungan anda.


Pengaruh Orang Jahat di Tengah Masyarakat Kota Hijr adalah kota tempat tinggal kaum tsamud, umat Nabi Soleh ’alaihis salam. Ketika Nabi Soleh berdakwah di kota ini, ada 9 orang yang bersekongkol untuk menghalangi dakwah beliau. Sekalipun mereka hanya sembilan orang, namun jumlah yang sedikit ini bisa membinasakan seluruh kaum Nabi Soleh. Berkat jasa besar mereka, kaum Tsamud berani melawan Nabinya. وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ “Di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (QS. An-Naml: 48) Hati-hati dengan keberadaan orang jahat di lingkungan kita. Bisa jadi, dia menjadi sebab kerusakan masyarakat di lingkungan anda.

Kebenaran Harus Bersabar

Kebenaran Harus Bersabar Memiliki aqidah dan manhaj yang benar, bukan jaminan mendapat kemenangan. Kebenaran yang dijanjikan akan mendapatkan kemenangan adalah kebenaran yang bersabar. Sedikit yang penyabar, itulah yang akan mengalahkan kebatilan yang dalam jumlah besar. كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ “Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249).

Kebenaran Harus Bersabar

Kebenaran Harus Bersabar Memiliki aqidah dan manhaj yang benar, bukan jaminan mendapat kemenangan. Kebenaran yang dijanjikan akan mendapatkan kemenangan adalah kebenaran yang bersabar. Sedikit yang penyabar, itulah yang akan mengalahkan kebatilan yang dalam jumlah besar. كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ “Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249).
Kebenaran Harus Bersabar Memiliki aqidah dan manhaj yang benar, bukan jaminan mendapat kemenangan. Kebenaran yang dijanjikan akan mendapatkan kemenangan adalah kebenaran yang bersabar. Sedikit yang penyabar, itulah yang akan mengalahkan kebatilan yang dalam jumlah besar. كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ “Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249).


Kebenaran Harus Bersabar Memiliki aqidah dan manhaj yang benar, bukan jaminan mendapat kemenangan. Kebenaran yang dijanjikan akan mendapatkan kemenangan adalah kebenaran yang bersabar. Sedikit yang penyabar, itulah yang akan mengalahkan kebatilan yang dalam jumlah besar. كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ “Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249).

Rela Mati Demi Riya

Rela Mati Demi Riya Neraka dinyalakan pertama kali karena tiga orang ini. Orang-orang yang ketika hidupnya dianggap sangat soleh, namun semuanya sirna karena ternyata amalnya hanya untuk riya. Menampakkan amal soleh, agar dirinya dikenal baik oleh masyarakatnya. Diantaranya seorang mujahid, إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ Manusia yang pertama kali dihisab di hari kiamat adalah seseorang yang mati di medan jihad. Dia dibawa ke hadapan Rabbnya. Allah menyebutkan berbagai kenikmatan yang telah diberikan kepadanya dan orang inipun mengakuinya. Selanjutnya Allah bertanya, ‘Amal apa yang kau perbuatan dengan berbagai nikmat itu?’ ‘Aku berperang di jalan-Mu, hingga aku mati syahid.’ Jawab orang ini. Allah berfirman, ’Kau dusta. Kau berperang agar kau dikenal sebagai seorang pemberani. Dan masyarakatpun telah menyebutmu sebagai seorang pemberani.’ Kemudian orang ini diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke neraka. (HR. Muslim 1905) Anda bisa perhatikan, orang ini rela menyumbangkan nyawanya demi nama baik dan riya dalam beribadah.

Rela Mati Demi Riya

Rela Mati Demi Riya Neraka dinyalakan pertama kali karena tiga orang ini. Orang-orang yang ketika hidupnya dianggap sangat soleh, namun semuanya sirna karena ternyata amalnya hanya untuk riya. Menampakkan amal soleh, agar dirinya dikenal baik oleh masyarakatnya. Diantaranya seorang mujahid, إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ Manusia yang pertama kali dihisab di hari kiamat adalah seseorang yang mati di medan jihad. Dia dibawa ke hadapan Rabbnya. Allah menyebutkan berbagai kenikmatan yang telah diberikan kepadanya dan orang inipun mengakuinya. Selanjutnya Allah bertanya, ‘Amal apa yang kau perbuatan dengan berbagai nikmat itu?’ ‘Aku berperang di jalan-Mu, hingga aku mati syahid.’ Jawab orang ini. Allah berfirman, ’Kau dusta. Kau berperang agar kau dikenal sebagai seorang pemberani. Dan masyarakatpun telah menyebutmu sebagai seorang pemberani.’ Kemudian orang ini diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke neraka. (HR. Muslim 1905) Anda bisa perhatikan, orang ini rela menyumbangkan nyawanya demi nama baik dan riya dalam beribadah.
Rela Mati Demi Riya Neraka dinyalakan pertama kali karena tiga orang ini. Orang-orang yang ketika hidupnya dianggap sangat soleh, namun semuanya sirna karena ternyata amalnya hanya untuk riya. Menampakkan amal soleh, agar dirinya dikenal baik oleh masyarakatnya. Diantaranya seorang mujahid, إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ Manusia yang pertama kali dihisab di hari kiamat adalah seseorang yang mati di medan jihad. Dia dibawa ke hadapan Rabbnya. Allah menyebutkan berbagai kenikmatan yang telah diberikan kepadanya dan orang inipun mengakuinya. Selanjutnya Allah bertanya, ‘Amal apa yang kau perbuatan dengan berbagai nikmat itu?’ ‘Aku berperang di jalan-Mu, hingga aku mati syahid.’ Jawab orang ini. Allah berfirman, ’Kau dusta. Kau berperang agar kau dikenal sebagai seorang pemberani. Dan masyarakatpun telah menyebutmu sebagai seorang pemberani.’ Kemudian orang ini diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke neraka. (HR. Muslim 1905) Anda bisa perhatikan, orang ini rela menyumbangkan nyawanya demi nama baik dan riya dalam beribadah.


Rela Mati Demi Riya Neraka dinyalakan pertama kali karena tiga orang ini. Orang-orang yang ketika hidupnya dianggap sangat soleh, namun semuanya sirna karena ternyata amalnya hanya untuk riya. Menampakkan amal soleh, agar dirinya dikenal baik oleh masyarakatnya. Diantaranya seorang mujahid, إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ Manusia yang pertama kali dihisab di hari kiamat adalah seseorang yang mati di medan jihad. Dia dibawa ke hadapan Rabbnya. Allah menyebutkan berbagai kenikmatan yang telah diberikan kepadanya dan orang inipun mengakuinya. Selanjutnya Allah bertanya, ‘Amal apa yang kau perbuatan dengan berbagai nikmat itu?’ ‘Aku berperang di jalan-Mu, hingga aku mati syahid.’ Jawab orang ini. Allah berfirman, ’Kau dusta. Kau berperang agar kau dikenal sebagai seorang pemberani. Dan masyarakatpun telah menyebutmu sebagai seorang pemberani.’ Kemudian orang ini diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke neraka. (HR. Muslim 1905) Anda bisa perhatikan, orang ini rela menyumbangkan nyawanya demi nama baik dan riya dalam beribadah.

BERSIKAP ADIL SAAT BERSELISIH

Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz   Sumber segala kebaikan adalah ilmu dan keadilan. Sumber segala keburukan adalah kebodohan dan kedzaliman. Merupakan harapan semua muslim untuk tidak berbuat dzalim dan tidak didzalimi orang lain. Diantara doa keluar rumah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,“اللَّهُم اني أعوذُ بِكَ أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ، أو أَزلَّ أو أُزَلَّ، أو أَظْلِمَ أو أُظلَمَ، أو أجهَل أو يُجْهَل عَلىَّ”yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu jangan sampai aku sesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan orang, berbuat dzalim atau didzalimi orang lain, berbuat jail atau dijaili orang lain” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan lainnya). Kedzaliman sering terjadi saat berselisih baik dalam masalah warisan, masalah rumah tangga antara suami istri, mengenai hutang piutang, saat berbisnis, saat bekerja di kantor, saat berambisi memperoleh kedudukan dan jabatan, saat belajar di sekolah dan bahkan kedzaliman bisa terjadi dan dilakukan oleh para dai dan ustadz!Sering manusia tidak berbuat adil. Ia menilai orang lain dengan cita-citanya sedangkan menilai dirinya dengan realitanya. Ia menuntut kesempurnaan dari orang lain. Adapun untuk dirinya ia banyak memaklumi. Ia berkata, “saya sedang berusaha…”, “manusia tempatnya salah dan khilaf” dan lain lain. Ya Allah Yang Maha Mengetahui karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat… Ya Allah Yang Maha Adil berilah taufikMu kepada kami agar kami dapat bersikap adil. Ya Allah Yang Maha Bijaksana berikanlah untuk kami sikap hikmah.Mendzalimi orang lain bahayanya besar dan banyak. Allah tidak memberi hidayah, tidak melindungi dan tidak menolong orang dzalim, orang yang dzalim akan mendapatkan kerugian, disegerakan hukumannya di dunia, Allah mengabulkan doa orang yang didzalimi. Kedzaliman, kegelapan di hari kiamat dan pelakunya mendapatkan ancaman adzab yang pedih di akhirat. Sedangkan orang yang didzalimi akan mendapatkan kebaikan yang banyak jika ia sabar dan bertakwa  kepada Allah.Manusia sering tidak obyektif dan tidak adil dalam menyikapi perselisihan  dengan saudaranya, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Banyak orang ketika berselisih meyakini bahwa dirinya didzalimi, lawannya sebagai orang dzalim sepenuhnya, padahal pada umumnya tidak begitu. Sesungguhnya dia di pihak yang benar dalam satu sisi, tapi di sisi yang lain dia juga memiliki kesalahan dan melakukan kedzaliman. Lawannya memang salah dan melakukan kedzaliman, tapi di sisi lain ada benarnya. Hanya saja cintamu kepada dunia yang membuat engkau buta dan tuli. Manusia pada umumnya mempunyai naluri cinta kepada dirinya sendiri, sehingga dia melihat dirinya baik dan benar. Dia benci kepada lawannya maka yang dia lihat hanya keburukannya saja. Bahkan semakin kuat cintanya kepada diri sendiri sehingga ia melihat keburukan dirinya sebagai kebaikan. Allah berfirman yang artinya, “Maka apakah orang yang dihiasi baginya akan keburukan amalnya, maka dia meyakininya sebagai perbuatan baik (sama dengan orang yang tidak tertipu?…)” (Surah Faathir 8). Semakin kuat kebencian kepada lawannya sehingga ia melihat kebaikan lawannya sebagai keburukan…” (Dari buku Ighatsatul Lahafan Min Mashayidisy Syaithan juz 2 hal 193) Semoga Allah menghiasi akhlak kita dengan sikap adil.Apabila kita berselisih dengan orang lain, kita harus segera menyelesaikannya dan meminta maaf selagi kita dan dia masih hidup, selagi belum terlambat, sebelum datangnya penyesalan agar terhindar dari hukuman di dunia dan siksa di akhirat nanti. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Siapa yang merasa pernah berbuat kedzaliman kepada saudaranya  hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut kadar kedzalimannya, dan jika tidak mempunyai kebaikan, maka diambilkan dari keburukan orang yang didzalimi untuk ditanggungkan kepadanya.” (Bukhari)Semoga Allah melembutkan hati kita dan mengumpulkan kita semua di atas petunjuk dan kebenaran, amin. 

BERSIKAP ADIL SAAT BERSELISIH

Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz   Sumber segala kebaikan adalah ilmu dan keadilan. Sumber segala keburukan adalah kebodohan dan kedzaliman. Merupakan harapan semua muslim untuk tidak berbuat dzalim dan tidak didzalimi orang lain. Diantara doa keluar rumah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,“اللَّهُم اني أعوذُ بِكَ أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ، أو أَزلَّ أو أُزَلَّ، أو أَظْلِمَ أو أُظلَمَ، أو أجهَل أو يُجْهَل عَلىَّ”yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu jangan sampai aku sesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan orang, berbuat dzalim atau didzalimi orang lain, berbuat jail atau dijaili orang lain” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan lainnya). Kedzaliman sering terjadi saat berselisih baik dalam masalah warisan, masalah rumah tangga antara suami istri, mengenai hutang piutang, saat berbisnis, saat bekerja di kantor, saat berambisi memperoleh kedudukan dan jabatan, saat belajar di sekolah dan bahkan kedzaliman bisa terjadi dan dilakukan oleh para dai dan ustadz!Sering manusia tidak berbuat adil. Ia menilai orang lain dengan cita-citanya sedangkan menilai dirinya dengan realitanya. Ia menuntut kesempurnaan dari orang lain. Adapun untuk dirinya ia banyak memaklumi. Ia berkata, “saya sedang berusaha…”, “manusia tempatnya salah dan khilaf” dan lain lain. Ya Allah Yang Maha Mengetahui karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat… Ya Allah Yang Maha Adil berilah taufikMu kepada kami agar kami dapat bersikap adil. Ya Allah Yang Maha Bijaksana berikanlah untuk kami sikap hikmah.Mendzalimi orang lain bahayanya besar dan banyak. Allah tidak memberi hidayah, tidak melindungi dan tidak menolong orang dzalim, orang yang dzalim akan mendapatkan kerugian, disegerakan hukumannya di dunia, Allah mengabulkan doa orang yang didzalimi. Kedzaliman, kegelapan di hari kiamat dan pelakunya mendapatkan ancaman adzab yang pedih di akhirat. Sedangkan orang yang didzalimi akan mendapatkan kebaikan yang banyak jika ia sabar dan bertakwa  kepada Allah.Manusia sering tidak obyektif dan tidak adil dalam menyikapi perselisihan  dengan saudaranya, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Banyak orang ketika berselisih meyakini bahwa dirinya didzalimi, lawannya sebagai orang dzalim sepenuhnya, padahal pada umumnya tidak begitu. Sesungguhnya dia di pihak yang benar dalam satu sisi, tapi di sisi yang lain dia juga memiliki kesalahan dan melakukan kedzaliman. Lawannya memang salah dan melakukan kedzaliman, tapi di sisi lain ada benarnya. Hanya saja cintamu kepada dunia yang membuat engkau buta dan tuli. Manusia pada umumnya mempunyai naluri cinta kepada dirinya sendiri, sehingga dia melihat dirinya baik dan benar. Dia benci kepada lawannya maka yang dia lihat hanya keburukannya saja. Bahkan semakin kuat cintanya kepada diri sendiri sehingga ia melihat keburukan dirinya sebagai kebaikan. Allah berfirman yang artinya, “Maka apakah orang yang dihiasi baginya akan keburukan amalnya, maka dia meyakininya sebagai perbuatan baik (sama dengan orang yang tidak tertipu?…)” (Surah Faathir 8). Semakin kuat kebencian kepada lawannya sehingga ia melihat kebaikan lawannya sebagai keburukan…” (Dari buku Ighatsatul Lahafan Min Mashayidisy Syaithan juz 2 hal 193) Semoga Allah menghiasi akhlak kita dengan sikap adil.Apabila kita berselisih dengan orang lain, kita harus segera menyelesaikannya dan meminta maaf selagi kita dan dia masih hidup, selagi belum terlambat, sebelum datangnya penyesalan agar terhindar dari hukuman di dunia dan siksa di akhirat nanti. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Siapa yang merasa pernah berbuat kedzaliman kepada saudaranya  hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut kadar kedzalimannya, dan jika tidak mempunyai kebaikan, maka diambilkan dari keburukan orang yang didzalimi untuk ditanggungkan kepadanya.” (Bukhari)Semoga Allah melembutkan hati kita dan mengumpulkan kita semua di atas petunjuk dan kebenaran, amin. 
Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz   Sumber segala kebaikan adalah ilmu dan keadilan. Sumber segala keburukan adalah kebodohan dan kedzaliman. Merupakan harapan semua muslim untuk tidak berbuat dzalim dan tidak didzalimi orang lain. Diantara doa keluar rumah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,“اللَّهُم اني أعوذُ بِكَ أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ، أو أَزلَّ أو أُزَلَّ، أو أَظْلِمَ أو أُظلَمَ، أو أجهَل أو يُجْهَل عَلىَّ”yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu jangan sampai aku sesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan orang, berbuat dzalim atau didzalimi orang lain, berbuat jail atau dijaili orang lain” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan lainnya). Kedzaliman sering terjadi saat berselisih baik dalam masalah warisan, masalah rumah tangga antara suami istri, mengenai hutang piutang, saat berbisnis, saat bekerja di kantor, saat berambisi memperoleh kedudukan dan jabatan, saat belajar di sekolah dan bahkan kedzaliman bisa terjadi dan dilakukan oleh para dai dan ustadz!Sering manusia tidak berbuat adil. Ia menilai orang lain dengan cita-citanya sedangkan menilai dirinya dengan realitanya. Ia menuntut kesempurnaan dari orang lain. Adapun untuk dirinya ia banyak memaklumi. Ia berkata, “saya sedang berusaha…”, “manusia tempatnya salah dan khilaf” dan lain lain. Ya Allah Yang Maha Mengetahui karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat… Ya Allah Yang Maha Adil berilah taufikMu kepada kami agar kami dapat bersikap adil. Ya Allah Yang Maha Bijaksana berikanlah untuk kami sikap hikmah.Mendzalimi orang lain bahayanya besar dan banyak. Allah tidak memberi hidayah, tidak melindungi dan tidak menolong orang dzalim, orang yang dzalim akan mendapatkan kerugian, disegerakan hukumannya di dunia, Allah mengabulkan doa orang yang didzalimi. Kedzaliman, kegelapan di hari kiamat dan pelakunya mendapatkan ancaman adzab yang pedih di akhirat. Sedangkan orang yang didzalimi akan mendapatkan kebaikan yang banyak jika ia sabar dan bertakwa  kepada Allah.Manusia sering tidak obyektif dan tidak adil dalam menyikapi perselisihan  dengan saudaranya, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Banyak orang ketika berselisih meyakini bahwa dirinya didzalimi, lawannya sebagai orang dzalim sepenuhnya, padahal pada umumnya tidak begitu. Sesungguhnya dia di pihak yang benar dalam satu sisi, tapi di sisi yang lain dia juga memiliki kesalahan dan melakukan kedzaliman. Lawannya memang salah dan melakukan kedzaliman, tapi di sisi lain ada benarnya. Hanya saja cintamu kepada dunia yang membuat engkau buta dan tuli. Manusia pada umumnya mempunyai naluri cinta kepada dirinya sendiri, sehingga dia melihat dirinya baik dan benar. Dia benci kepada lawannya maka yang dia lihat hanya keburukannya saja. Bahkan semakin kuat cintanya kepada diri sendiri sehingga ia melihat keburukan dirinya sebagai kebaikan. Allah berfirman yang artinya, “Maka apakah orang yang dihiasi baginya akan keburukan amalnya, maka dia meyakininya sebagai perbuatan baik (sama dengan orang yang tidak tertipu?…)” (Surah Faathir 8). Semakin kuat kebencian kepada lawannya sehingga ia melihat kebaikan lawannya sebagai keburukan…” (Dari buku Ighatsatul Lahafan Min Mashayidisy Syaithan juz 2 hal 193) Semoga Allah menghiasi akhlak kita dengan sikap adil.Apabila kita berselisih dengan orang lain, kita harus segera menyelesaikannya dan meminta maaf selagi kita dan dia masih hidup, selagi belum terlambat, sebelum datangnya penyesalan agar terhindar dari hukuman di dunia dan siksa di akhirat nanti. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Siapa yang merasa pernah berbuat kedzaliman kepada saudaranya  hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut kadar kedzalimannya, dan jika tidak mempunyai kebaikan, maka diambilkan dari keburukan orang yang didzalimi untuk ditanggungkan kepadanya.” (Bukhari)Semoga Allah melembutkan hati kita dan mengumpulkan kita semua di atas petunjuk dan kebenaran, amin. 


Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz   Sumber segala kebaikan adalah ilmu dan keadilan. Sumber segala keburukan adalah kebodohan dan kedzaliman. Merupakan harapan semua muslim untuk tidak berbuat dzalim dan tidak didzalimi orang lain. Diantara doa keluar rumah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,“اللَّهُم اني أعوذُ بِكَ أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ، أو أَزلَّ أو أُزَلَّ، أو أَظْلِمَ أو أُظلَمَ، أو أجهَل أو يُجْهَل عَلىَّ”yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu jangan sampai aku sesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan orang, berbuat dzalim atau didzalimi orang lain, berbuat jail atau dijaili orang lain” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan lainnya). Kedzaliman sering terjadi saat berselisih baik dalam masalah warisan, masalah rumah tangga antara suami istri, mengenai hutang piutang, saat berbisnis, saat bekerja di kantor, saat berambisi memperoleh kedudukan dan jabatan, saat belajar di sekolah dan bahkan kedzaliman bisa terjadi dan dilakukan oleh para dai dan ustadz!Sering manusia tidak berbuat adil. Ia menilai orang lain dengan cita-citanya sedangkan menilai dirinya dengan realitanya. Ia menuntut kesempurnaan dari orang lain. Adapun untuk dirinya ia banyak memaklumi. Ia berkata, “saya sedang berusaha…”, “manusia tempatnya salah dan khilaf” dan lain lain. Ya Allah Yang Maha Mengetahui karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat… Ya Allah Yang Maha Adil berilah taufikMu kepada kami agar kami dapat bersikap adil. Ya Allah Yang Maha Bijaksana berikanlah untuk kami sikap hikmah.Mendzalimi orang lain bahayanya besar dan banyak. Allah tidak memberi hidayah, tidak melindungi dan tidak menolong orang dzalim, orang yang dzalim akan mendapatkan kerugian, disegerakan hukumannya di dunia, Allah mengabulkan doa orang yang didzalimi. Kedzaliman, kegelapan di hari kiamat dan pelakunya mendapatkan ancaman adzab yang pedih di akhirat. Sedangkan orang yang didzalimi akan mendapatkan kebaikan yang banyak jika ia sabar dan bertakwa  kepada Allah.Manusia sering tidak obyektif dan tidak adil dalam menyikapi perselisihan  dengan saudaranya, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Banyak orang ketika berselisih meyakini bahwa dirinya didzalimi, lawannya sebagai orang dzalim sepenuhnya, padahal pada umumnya tidak begitu. Sesungguhnya dia di pihak yang benar dalam satu sisi, tapi di sisi yang lain dia juga memiliki kesalahan dan melakukan kedzaliman. Lawannya memang salah dan melakukan kedzaliman, tapi di sisi lain ada benarnya. Hanya saja cintamu kepada dunia yang membuat engkau buta dan tuli. Manusia pada umumnya mempunyai naluri cinta kepada dirinya sendiri, sehingga dia melihat dirinya baik dan benar. Dia benci kepada lawannya maka yang dia lihat hanya keburukannya saja. Bahkan semakin kuat cintanya kepada diri sendiri sehingga ia melihat keburukan dirinya sebagai kebaikan. Allah berfirman yang artinya, “Maka apakah orang yang dihiasi baginya akan keburukan amalnya, maka dia meyakininya sebagai perbuatan baik (sama dengan orang yang tidak tertipu?…)” (Surah Faathir 8). Semakin kuat kebencian kepada lawannya sehingga ia melihat kebaikan lawannya sebagai keburukan…” (Dari buku Ighatsatul Lahafan Min Mashayidisy Syaithan juz 2 hal 193) Semoga Allah menghiasi akhlak kita dengan sikap adil.Apabila kita berselisih dengan orang lain, kita harus segera menyelesaikannya dan meminta maaf selagi kita dan dia masih hidup, selagi belum terlambat, sebelum datangnya penyesalan agar terhindar dari hukuman di dunia dan siksa di akhirat nanti. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Siapa yang merasa pernah berbuat kedzaliman kepada saudaranya  hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut kadar kedzalimannya, dan jika tidak mempunyai kebaikan, maka diambilkan dari keburukan orang yang didzalimi untuk ditanggungkan kepadanya.” (Bukhari)Semoga Allah melembutkan hati kita dan mengumpulkan kita semua di atas petunjuk dan kebenaran, amin. 

ENGKAU TIDAK MALU??

إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”فَكَيْف أُجِيْبُ يَا وَيْحِي وَمَنْ ذَا سَوْفَ يَحْمِيْني؟Maka bagaimana aku menjawab?? Sungguh celaka diriku siapakah yang akan membelaku??أُُسَلِّي النَّفْسَ بِالآمَالِ مِنْ حينٍ إِلَى حِيْنِي…Kuhibur diriku dengan harapan dan angan-angan dari waktu ke waktu hingga saat ini… وَأَنْسَى مَا وَرَاءَ الْمَوْتِ مَاذَا بَعْدُ تَكْفِيْنِيSementara kulupakan sesudah kematian, apa bekal yang cukup buatku…??كَأَنِّي قَدْ ضَمِنْتُ الْعَيْشَ لَيْسَ الْمَوْتُ يَأْتِيْنِيSeakan-akan aku telah menjamin kehidupanku, dan kematian tidak akan datang menjemputku…وَجَائَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ الشَّدِيْدَةِ مَنْ سَيَحْمِيْنِي؟؟Dan tiba-tiba datang sakaratul maut yang sangat keras, lantas siapakah yang akan menjagaku..??نَظَرْتُ إِلَى الْوُجُوْهِ أَلَيْسَ مْنُهُمْ مَنْ سَيَفْدِيْنِي؟Kulihat wajah-wajah yang melayatku, siapakah diantara mereka yang akan menebusku/menolongku…??سَأُُسْأَلُ مَا الَّذِي قَدَّمْتُ فِي دُنْيَايَ يُنْجِيْنِيAku akan ditanya, apakah yang telah aku amalkan di dunia yang bisa menyelamatkan aku…??فَكَيْفَ إِجَابَتِي مِنْ بعدُ ماَ فَرَّطْتُ فِي دِيْنِيBagaimana jawabanku setelah kelalaianku pada agamaku…وَيَا وَيْحِي أَلَمِ أَسْمَعْ كَلاَمَ اللهِ يَدْعُوْنِي؟؟Sungguh celaka diriku…apakah aku tidak mendengar firman Allah menyeruku…??أَلَمِ أَسْمَعْ بِمَا قَدْ جَاءِ فِي قَافٍ وَيـَاسِيْنِApakah aku tidak mendengar ayat-ayat yang datang dalam surat Qoof dan surat Yaasiin??أَلَمْ أَسْمَعْ بِيَوْمِ الْحَشْرِ يَوْمَ الْجَمْعِ وَالدِّيْنِApakah aku tidak mendengar tentang hari kebangkitan…hari manusia dikumpulkan…hari pembalasan..??أَلَمْ أَسْمَعْ مُنَادِيَ الْمَوْتِ يَدْعُوْنِي يُنَادِيْنِيApakah aku tidak mendengar penyeru kematian memanggilku dan menyeruku…??فَيَا رَبَّاهُ عَبْدٌ تَائِبٌ مَنْ ذَا سَيَأَوِيْنِي ؟Wahai Robku…hambaMu bertaubat…siapakah yang akan mengasihiku…??سِوَى رَبٍّ غَفُوْرٍ وَاسِعٍ للحقِ يَهْدِيْنِيSelain Rabb yang Maha Pengampun Maha Pemberi karunia…yang menunjukan aku kepada kebanaran….أَتَيْتُ إِلَيْكَ فَارْحَمْنِي وَثَقِّلِ فِي مَوَازِيْنِيAku mendatangiMu…maka sayangilah aku….beratkanlah timbangan kebaikanku…وَخَفِّفْ فِي جَزَائِي أَنْتَ أَرْجَـى مَنْ يُجَازِيْنِيDan ringankanlah dalam memberi pembalasan kepadaku, sungguh Engkaulah Yang paling aku harapkan dari yang memberi balasan kepadaku…{youtube}KrkxPM_Feao{/youtube}Ibnu Rojab Al-Hanbali meriwayatkan dengan sanadnya (dalam kitab Adz-Dzail Tobabaqoot Al-Hanaabilah) :Abu Haamid Al-Khulqooniy berkata : “Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal : Bagaimana menurutmu tentang untaian qosidah?”.Beliau berkata : “Seperti apa?”Aku berkata : Seperti engkau berkata :إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka Ahmadpun menutup pintu dan beliapun mengulang-ngulangi perkataanإَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka akupun keluar dang meninggalkannya” (Adz-Dzail ‘Ala Tobaqoot Al-Hanabilah 1/299, tahqiq : DR Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin, Maktabah Al-‘Ubaikan, cetakan pertama, tahun 1425 H/2005 M) 

ENGKAU TIDAK MALU??

إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”فَكَيْف أُجِيْبُ يَا وَيْحِي وَمَنْ ذَا سَوْفَ يَحْمِيْني؟Maka bagaimana aku menjawab?? Sungguh celaka diriku siapakah yang akan membelaku??أُُسَلِّي النَّفْسَ بِالآمَالِ مِنْ حينٍ إِلَى حِيْنِي…Kuhibur diriku dengan harapan dan angan-angan dari waktu ke waktu hingga saat ini… وَأَنْسَى مَا وَرَاءَ الْمَوْتِ مَاذَا بَعْدُ تَكْفِيْنِيSementara kulupakan sesudah kematian, apa bekal yang cukup buatku…??كَأَنِّي قَدْ ضَمِنْتُ الْعَيْشَ لَيْسَ الْمَوْتُ يَأْتِيْنِيSeakan-akan aku telah menjamin kehidupanku, dan kematian tidak akan datang menjemputku…وَجَائَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ الشَّدِيْدَةِ مَنْ سَيَحْمِيْنِي؟؟Dan tiba-tiba datang sakaratul maut yang sangat keras, lantas siapakah yang akan menjagaku..??نَظَرْتُ إِلَى الْوُجُوْهِ أَلَيْسَ مْنُهُمْ مَنْ سَيَفْدِيْنِي؟Kulihat wajah-wajah yang melayatku, siapakah diantara mereka yang akan menebusku/menolongku…??سَأُُسْأَلُ مَا الَّذِي قَدَّمْتُ فِي دُنْيَايَ يُنْجِيْنِيAku akan ditanya, apakah yang telah aku amalkan di dunia yang bisa menyelamatkan aku…??فَكَيْفَ إِجَابَتِي مِنْ بعدُ ماَ فَرَّطْتُ فِي دِيْنِيBagaimana jawabanku setelah kelalaianku pada agamaku…وَيَا وَيْحِي أَلَمِ أَسْمَعْ كَلاَمَ اللهِ يَدْعُوْنِي؟؟Sungguh celaka diriku…apakah aku tidak mendengar firman Allah menyeruku…??أَلَمِ أَسْمَعْ بِمَا قَدْ جَاءِ فِي قَافٍ وَيـَاسِيْنِApakah aku tidak mendengar ayat-ayat yang datang dalam surat Qoof dan surat Yaasiin??أَلَمْ أَسْمَعْ بِيَوْمِ الْحَشْرِ يَوْمَ الْجَمْعِ وَالدِّيْنِApakah aku tidak mendengar tentang hari kebangkitan…hari manusia dikumpulkan…hari pembalasan..??أَلَمْ أَسْمَعْ مُنَادِيَ الْمَوْتِ يَدْعُوْنِي يُنَادِيْنِيApakah aku tidak mendengar penyeru kematian memanggilku dan menyeruku…??فَيَا رَبَّاهُ عَبْدٌ تَائِبٌ مَنْ ذَا سَيَأَوِيْنِي ؟Wahai Robku…hambaMu bertaubat…siapakah yang akan mengasihiku…??سِوَى رَبٍّ غَفُوْرٍ وَاسِعٍ للحقِ يَهْدِيْنِيSelain Rabb yang Maha Pengampun Maha Pemberi karunia…yang menunjukan aku kepada kebanaran….أَتَيْتُ إِلَيْكَ فَارْحَمْنِي وَثَقِّلِ فِي مَوَازِيْنِيAku mendatangiMu…maka sayangilah aku….beratkanlah timbangan kebaikanku…وَخَفِّفْ فِي جَزَائِي أَنْتَ أَرْجَـى مَنْ يُجَازِيْنِيDan ringankanlah dalam memberi pembalasan kepadaku, sungguh Engkaulah Yang paling aku harapkan dari yang memberi balasan kepadaku…{youtube}KrkxPM_Feao{/youtube}Ibnu Rojab Al-Hanbali meriwayatkan dengan sanadnya (dalam kitab Adz-Dzail Tobabaqoot Al-Hanaabilah) :Abu Haamid Al-Khulqooniy berkata : “Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal : Bagaimana menurutmu tentang untaian qosidah?”.Beliau berkata : “Seperti apa?”Aku berkata : Seperti engkau berkata :إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka Ahmadpun menutup pintu dan beliapun mengulang-ngulangi perkataanإَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka akupun keluar dang meninggalkannya” (Adz-Dzail ‘Ala Tobaqoot Al-Hanabilah 1/299, tahqiq : DR Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin, Maktabah Al-‘Ubaikan, cetakan pertama, tahun 1425 H/2005 M) 
إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”فَكَيْف أُجِيْبُ يَا وَيْحِي وَمَنْ ذَا سَوْفَ يَحْمِيْني؟Maka bagaimana aku menjawab?? Sungguh celaka diriku siapakah yang akan membelaku??أُُسَلِّي النَّفْسَ بِالآمَالِ مِنْ حينٍ إِلَى حِيْنِي…Kuhibur diriku dengan harapan dan angan-angan dari waktu ke waktu hingga saat ini… وَأَنْسَى مَا وَرَاءَ الْمَوْتِ مَاذَا بَعْدُ تَكْفِيْنِيSementara kulupakan sesudah kematian, apa bekal yang cukup buatku…??كَأَنِّي قَدْ ضَمِنْتُ الْعَيْشَ لَيْسَ الْمَوْتُ يَأْتِيْنِيSeakan-akan aku telah menjamin kehidupanku, dan kematian tidak akan datang menjemputku…وَجَائَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ الشَّدِيْدَةِ مَنْ سَيَحْمِيْنِي؟؟Dan tiba-tiba datang sakaratul maut yang sangat keras, lantas siapakah yang akan menjagaku..??نَظَرْتُ إِلَى الْوُجُوْهِ أَلَيْسَ مْنُهُمْ مَنْ سَيَفْدِيْنِي؟Kulihat wajah-wajah yang melayatku, siapakah diantara mereka yang akan menebusku/menolongku…??سَأُُسْأَلُ مَا الَّذِي قَدَّمْتُ فِي دُنْيَايَ يُنْجِيْنِيAku akan ditanya, apakah yang telah aku amalkan di dunia yang bisa menyelamatkan aku…??فَكَيْفَ إِجَابَتِي مِنْ بعدُ ماَ فَرَّطْتُ فِي دِيْنِيBagaimana jawabanku setelah kelalaianku pada agamaku…وَيَا وَيْحِي أَلَمِ أَسْمَعْ كَلاَمَ اللهِ يَدْعُوْنِي؟؟Sungguh celaka diriku…apakah aku tidak mendengar firman Allah menyeruku…??أَلَمِ أَسْمَعْ بِمَا قَدْ جَاءِ فِي قَافٍ وَيـَاسِيْنِApakah aku tidak mendengar ayat-ayat yang datang dalam surat Qoof dan surat Yaasiin??أَلَمْ أَسْمَعْ بِيَوْمِ الْحَشْرِ يَوْمَ الْجَمْعِ وَالدِّيْنِApakah aku tidak mendengar tentang hari kebangkitan…hari manusia dikumpulkan…hari pembalasan..??أَلَمْ أَسْمَعْ مُنَادِيَ الْمَوْتِ يَدْعُوْنِي يُنَادِيْنِيApakah aku tidak mendengar penyeru kematian memanggilku dan menyeruku…??فَيَا رَبَّاهُ عَبْدٌ تَائِبٌ مَنْ ذَا سَيَأَوِيْنِي ؟Wahai Robku…hambaMu bertaubat…siapakah yang akan mengasihiku…??سِوَى رَبٍّ غَفُوْرٍ وَاسِعٍ للحقِ يَهْدِيْنِيSelain Rabb yang Maha Pengampun Maha Pemberi karunia…yang menunjukan aku kepada kebanaran….أَتَيْتُ إِلَيْكَ فَارْحَمْنِي وَثَقِّلِ فِي مَوَازِيْنِيAku mendatangiMu…maka sayangilah aku….beratkanlah timbangan kebaikanku…وَخَفِّفْ فِي جَزَائِي أَنْتَ أَرْجَـى مَنْ يُجَازِيْنِيDan ringankanlah dalam memberi pembalasan kepadaku, sungguh Engkaulah Yang paling aku harapkan dari yang memberi balasan kepadaku…{youtube}KrkxPM_Feao{/youtube}Ibnu Rojab Al-Hanbali meriwayatkan dengan sanadnya (dalam kitab Adz-Dzail Tobabaqoot Al-Hanaabilah) :Abu Haamid Al-Khulqooniy berkata : “Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal : Bagaimana menurutmu tentang untaian qosidah?”.Beliau berkata : “Seperti apa?”Aku berkata : Seperti engkau berkata :إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka Ahmadpun menutup pintu dan beliapun mengulang-ngulangi perkataanإَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka akupun keluar dang meninggalkannya” (Adz-Dzail ‘Ala Tobaqoot Al-Hanabilah 1/299, tahqiq : DR Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin, Maktabah Al-‘Ubaikan, cetakan pertama, tahun 1425 H/2005 M) 


إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”فَكَيْف أُجِيْبُ يَا وَيْحِي وَمَنْ ذَا سَوْفَ يَحْمِيْني؟Maka bagaimana aku menjawab?? Sungguh celaka diriku siapakah yang akan membelaku??أُُسَلِّي النَّفْسَ بِالآمَالِ مِنْ حينٍ إِلَى حِيْنِي…Kuhibur diriku dengan harapan dan angan-angan dari waktu ke waktu hingga saat ini… وَأَنْسَى مَا وَرَاءَ الْمَوْتِ مَاذَا بَعْدُ تَكْفِيْنِيSementara kulupakan sesudah kematian, apa bekal yang cukup buatku…??كَأَنِّي قَدْ ضَمِنْتُ الْعَيْشَ لَيْسَ الْمَوْتُ يَأْتِيْنِيSeakan-akan aku telah menjamin kehidupanku, dan kematian tidak akan datang menjemputku…وَجَائَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ الشَّدِيْدَةِ مَنْ سَيَحْمِيْنِي؟؟Dan tiba-tiba datang sakaratul maut yang sangat keras, lantas siapakah yang akan menjagaku..??نَظَرْتُ إِلَى الْوُجُوْهِ أَلَيْسَ مْنُهُمْ مَنْ سَيَفْدِيْنِي؟Kulihat wajah-wajah yang melayatku, siapakah diantara mereka yang akan menebusku/menolongku…??سَأُُسْأَلُ مَا الَّذِي قَدَّمْتُ فِي دُنْيَايَ يُنْجِيْنِيAku akan ditanya, apakah yang telah aku amalkan di dunia yang bisa menyelamatkan aku…??فَكَيْفَ إِجَابَتِي مِنْ بعدُ ماَ فَرَّطْتُ فِي دِيْنِيBagaimana jawabanku setelah kelalaianku pada agamaku…وَيَا وَيْحِي أَلَمِ أَسْمَعْ كَلاَمَ اللهِ يَدْعُوْنِي؟؟Sungguh celaka diriku…apakah aku tidak mendengar firman Allah menyeruku…??أَلَمِ أَسْمَعْ بِمَا قَدْ جَاءِ فِي قَافٍ وَيـَاسِيْنِApakah aku tidak mendengar ayat-ayat yang datang dalam surat Qoof dan surat Yaasiin??أَلَمْ أَسْمَعْ بِيَوْمِ الْحَشْرِ يَوْمَ الْجَمْعِ وَالدِّيْنِApakah aku tidak mendengar tentang hari kebangkitan…hari manusia dikumpulkan…hari pembalasan..??أَلَمْ أَسْمَعْ مُنَادِيَ الْمَوْتِ يَدْعُوْنِي يُنَادِيْنِيApakah aku tidak mendengar penyeru kematian memanggilku dan menyeruku…??فَيَا رَبَّاهُ عَبْدٌ تَائِبٌ مَنْ ذَا سَيَأَوِيْنِي ؟Wahai Robku…hambaMu bertaubat…siapakah yang akan mengasihiku…??سِوَى رَبٍّ غَفُوْرٍ وَاسِعٍ للحقِ يَهْدِيْنِيSelain Rabb yang Maha Pengampun Maha Pemberi karunia…yang menunjukan aku kepada kebanaran….أَتَيْتُ إِلَيْكَ فَارْحَمْنِي وَثَقِّلِ فِي مَوَازِيْنِيAku mendatangiMu…maka sayangilah aku….beratkanlah timbangan kebaikanku…وَخَفِّفْ فِي جَزَائِي أَنْتَ أَرْجَـى مَنْ يُجَازِيْنِيDan ringankanlah dalam memberi pembalasan kepadaku, sungguh Engkaulah Yang paling aku harapkan dari yang memberi balasan kepadaku…{youtube}KrkxPM_Feao{/youtube}Ibnu Rojab Al-Hanbali meriwayatkan dengan sanadnya (dalam kitab Adz-Dzail Tobabaqoot Al-Hanaabilah) :Abu Haamid Al-Khulqooniy berkata : “Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal : Bagaimana menurutmu tentang untaian qosidah?”.Beliau berkata : “Seperti apa?”Aku berkata : Seperti engkau berkata :إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka Ahmadpun menutup pintu dan beliapun mengulang-ngulangi perkataanإَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka akupun keluar dang meninggalkannya” (Adz-Dzail ‘Ala Tobaqoot Al-Hanabilah 1/299, tahqiq : DR Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin, Maktabah Al-‘Ubaikan, cetakan pertama, tahun 1425 H/2005 M) 

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 6) – Hakekat Imam Mahdi versi Syi’ah

Sesungguhnya Imam Mahdi Syi’ah adalah Imam yang sangat ganas dan haus darah ahlus sunnah. Berikut ini ciri-ciri imam Mahdi versi Syi’ah sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab mereka : Pertama : Imam Mahdi diutus sebagai pembawa kesengsaraan. Abdurrahim Al-Qoshiir berkata : Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata kepadaku : “Adapun jika telah datang al-Qooim (Al-Mahdi) maka Al-Humairoo’ (Aisyah radhiallahu ‘anhaa-pen) akan dikembalikan (dihidupkan kembali) agar dicambuk dengan hukum had oleh Al-Mahdi, sebagai bentuk balas dendam demi putri Muhammad Fathimah ‘alaihas salaam”Aku berkata : Kenapa Al-Mahdi mencambuknya dengan hukum had?”. Abu Ja’far berkata : “Karena ia telah berdusta tentang Ibu Ibrahim shallallahu ‘alaihi”. Aku berkata : “Kenapa Allah mengakhirkan hukumannya untuk Al-Qoim (al-Mahdi)?”. Abu Ja’far berkata : “Sesungguhnya Allah tabaaroka wa ta’aala mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat, dan Allah mengutus al-Qooim (Al-Mahdi) sebagai kesengsaraan/penderitaan” (Bihaarul Anwaar 52/114-115)Adapun Imam Mahdi Ahlus Sunnah diutus membawa rahmat dan kasih sayang sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai rahmat untuk alam semesta. Kedua : Imam Mahdi diutus untuk menegakkan hukum had bagi Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anhaa, sebagaimana jelas dalam riwayat di atas. Dan ini sungguh merupakan kekonyolan kaum Syi’ah, jika memang Aisyah telah melakukan kesalahan,–         Lantas kenapa hukuman hadnya ditunda??. Jika alasannya tidak mungkin ditegakan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Nabi diutus membawa rahmat, maka lantas kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegakan hukum had kepada yang lainnya??. Bahkan Nabi berkata :إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang terpandang (bernasab mulia) mencuri diantara mereka maka mereka biarkan, dan jika ada orang lemah yang mencuri maka mereka tegakkan hukum had kepadanya. Demi Allah jika seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri maka aku akan potong tangannya” (HR Al-Bukhari no 3475 dan Muslim no 1688)–         Jika tidak memungkinkan ditegakan hukum had untuk Aisyah di zaman Nabi, lantas kenapa Ali tatkala menjadi Khalifah tidak menegakkan hukum had tersebut??!!. Bukankah Ali adalah imam pertama menurut syiah?? Ketiga : Imam Mahdi mengeluarkan jasad Abu Bakar dan Umar dari kuburan mereka berdua lalu menyalib keduanya.Ni’matullahi al-Jazaairi membawakan dialog yang panjang antara al-Mufadhol dan As-Shoodiq hingga pada :Al-Mufaddhol berkata, “Wahai tuanku, ke manakah al-Mahdi akan berjalan?”, Ia (as-Shodiq) berkata, “Ia pergi ke kota kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jika ia telah sampai ke Madinah maka ia memiliki kedudukan yang menakjubkan. Nampaklah kegembiran kaum mukminin dan kehinaan orang-orang kafir”. Al-Mufaddhol berkata, “Tuanku, apakah itu?”. Ia (as-Shodiq) berkata, “al-Mahdi pergi ke kuburan kakeknya dan berkata, “Wahai manusia, ini adalah kuburan kakekku?”, mereka berkata, “Benar, wahai Mahdi Alu Muhammad”. Ia berkata, “Siapakah yang bersamanya di kuburan?”, mereka mengatakan, “Kedua sahabatnya Abu Bakar dan Umar”. Maka Mahdi berkata –padahal ia lebih tahu-, “Siapa Abu Bakar dan Umar?, bagaimana kok di antara manusia mereka berdua bisa dikuburkan bersama kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam?, jangan-jangan yang dikuburkan bukanlah mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Wahai Mahdi ali Muhammad, yang ada di sini mereka berdua, bukan yang lain, dan mereka berdua dikuburkan bersama Nabi karena mereka berdua adalah khalifah Rasulullah, dan mereka berdua adalah ayah mertua dari dua istri Rasulullah”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian mengenal mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Iya, kami mengenal sifat-sifat mereka berdua”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian ragu tentang dikuburkannya mereka berdua di sini?’, orang-orang berkata, “Tidak”. Lalu setelah tiga hari al-Mahdi memerintahkan untuk menggali kuburan mereka berdua dan mengeluarkan keduanya. Maka keduanya (Abu Bakar dan Umar) pun dikeluarkan masih segar sebagaimana bentuk mereka berdua di dunia, lalu Mahdi membuka kafan keduanya, lalu memerintahkan untuk mengangkat keduanya di atas pohon yang kering, lalu keduanya disalib di atas pohon tersebut, maka pohon tersebut bergerak dan mengeluarkan dedaunan serta meninggi dan memanjang cabang-cabangnya. Maka orang-orang yang ragupun –dari kalangan yang berwalaa’ kepada mereka berdua- berkata, “Demi Allah sungguh ini benar-benar merupakan kemuliaan, sungguh kami telah beruntung mencintai mereka berdua dan berwala’ kepada mereka berdua”. Maka tersebarlah kabar mereka berdua, maka setiap orang yang memiliki rasa cinta kepada mereka berdua –meskipun hanya sebesar biji sawi- maka datang ke kota Madinah, lalu merekapun terfitnah dengan keduanya (Abu Bakar dan Umar). Lalu seorang penyeru Mahdi berseru, “Kedua orang ini adalah telah bersahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka barangsiapa yang mencintai mereka berdua maka hendaknya berkumpul di suatu tempat, dan barang siapa yang membenci mereka berdua agar berkumpul juga di suatu tempat”. Maka manusiapun terbagi menjadi dua golongan, antara yang berwala dan yang membenci. Maka Mahdipun menunjukkan kepada para pecinta keduanya bahwa ia berbaroah (berlepas diri) dari mereka berdua. Maka mereka berkata, “Wahai Mahdi, kami tidak pernah berlepas diri dari mereka berdua, dan kami tidak pernah mengetahui bahwasanya ternyata mereka berdua memiliki kemuliaan seperti ini, maka bagaimana bisa kami berlepas diri dari mereka berdua, padahal kami telah melihat apa yang telah kami saksikan dari mereka berdua sekarang ini berupa cahaya mereka berdua, segarnya mereka berdua, serta hidupnya pohon yang kering dikarenakan mereka berdua?, bahkan demi Allah justru kami berlepas diri dari engkau dan dari orang-orang yang beriman kepadamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada mereka berdua dan dari orang-orang yang menyalib mereka berdua dan mengeluarkan mereka berdua dan melakukan apa yang telah dilakukan kepada keduanya”.Maka Mahdipun memerintahkan angin yang menjadikan mereka seperti batang-batang korma yang tumbang, lalu Mahdi memerintahkan untuk menurunkan mereka berdua lalu menghidupkan mereka berdua dengan izin Allah, lalu memerintahkan manusia untuk berkumpul lalu mahdi menegakan qisos kepada mereka…”  (al-Anwaar an-Nu’maniyah 2/52)Al-Majlisi meriwayatkan :“Dari Muhamad bin Sinan berkata, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam berkata kepada Umar : “Wahai orang yang terpedaya, sesunguhnya aku tidak melihatmu kecuali akan terbunuh di dunia oleh seorang budaknya Umu Mu’amar, engkau telah memberi hukuman kepadanya secara dzolim dan ia akan membunuhmu dengan taufiq (*dari Allah), maka iapun akan masuk surga karena membunuhmu meskipun engkau tidak suka. Dan sesunguhnya bagimu dan bagi sahabatmu yang engkau menggantikan kedudukanya (*yaitu Abu Bakar) sebuah salib dan pencabik-cabikan, engkau berdua akan dikeluarkan dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi, maka kalian berdua akan disalib di atas batang kurma yang kering maka keluarlah daun dari batang kering tersebut, hal ini menjadikan orang-orang yang berwala kepadamu terfitnah”.Umar berkata, “Dan siapakah yang akan melakukan hal ini wahai Abul Hasan?”Ali berkata, “Sebuah kaum yang telah memisahkan antara pedang-pedang dan sarung-sarungnya, maka akan didatangkan api yang telah dinyalakan untuk Ibrahim ‘alaihis salaam, dan akan datang Jarjis, Daniel, dan seluruh Nabi dan shidiiq, lalu darang angin yang akan menerbangkan/menghancurkan kalian di lautan” (Bihaarul Anwaar 30/276-277) Keempat : Al-Mahdi (versi Syi’ah) akan membunuh bangsa Arab.Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Jauhilah Arab, karena sesungguhnya mereka memiliki khabar yang buruk. Sesungguhnya tidak seorangpun dari Arab yang keluar bersama Al-Qooim (Al-Mahdi)” (Bihaarul Anwaar 52/333)Entah kenapa Imam-Imam Syi’ah begitu benci kepada orang Arab, hingga imam Abu Abdillah Ja’far As-Shoodiq mewashiatkan untuk menjauhi orang Arab??. Apakah karena syi’ah adalah agamanya orang Persia yang hasad kepada kaum muslimin yang asal agama mereka dari Arab??!!. Sampai-sampai orang-orang Arab di akhir zaman kafir seluruhnya, karena tidak seorangpun dari mereka yang mengikuti Imam Mahdinya Syi’ah !!Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Dan sesungguhnya Al-Qooim (Al-Mahdi) berjalan di bangsa Arab dengan apa yang ada pada al-Jafr merah”. Aku berkata : “Apa itu jafr merah?”. Abu Abdillah lalu melewatkan telunjuknya ke lehernya lalu berkata : “Demikian” yaitu penyembelihan” (Bihaarul Anwaar 52/313)Dalam riwayat yang lain Abu Abdillah berkata :“Tidak ada yang tersisa antara kami dengan bangsa Arab kecuali penyembelihan” –dan ia memberi isyarat dengan tangannya ke lehernya- (Bihaarul Anwaar 52/249)Betapa sadisnya Imam Mahdi Syi’ah yang akan menyembelih bangsa Arab ??!! Kelima : Al-Mahdi akan menghancurkan seluruh masjid yang mulia, termasuk masjidil haram dan masjid nabawiAbu Ja’far ‘alaihis salaam berkata :“Jika telah muncul al-Qooim (Al-Mahdi) maka ia akan berjalan menuju Kufah lalu ia menghancurkan di sana 4 mesjid, dan tidak ada satu mesjidpun di atas muka bumi yang memiliki kemuliaan kecuali ia hancurkan…” (Bihaarul Anwaar 52/339)Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Al-Qooim (Al-Mahdi) menghancurkan al-Masjid al-Harom hingga ia mengembalikannya rata hingga dasarnya, dan menghancurkan masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga dasarnya, dan ia mengembalikan ka’bah pada tempatnya dan menegakannya di atas pondasinya, dan ia memotong tangan-tangan Bani Syaibah para pencuri, lalu ia menggantungkan tangan-tangan mereka tersebut di Ka’bah” (Bihaarul Anwaar 52/333) Keenam : Mahdi nya Syi’ah akan berhukum dengan Alu DawudAl-Kulaini dalam kitabnya Ushuul Al-Kaafi membuat sebuah bab :“Bab : Para imam jika muncul perkara mereka maka mereka akan berhukum dengan hukum nabi Dawud dan keluarga Dawud…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Lalu setelah itu al-Kulaini membawakan beberapa riwayat yang menunjukkan akan hal ini. Diantaranya :Abu Abdillah berkata :“Wahai Abu ‘Ubaidah, jika muncul al-Qooim (al-Mahdi) dari keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia akan berhukum dengan hukum Dawud dan Sulaiman…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Abu Abdillah juga berkata“Tidaklah akan sirna dunia ini hingga keluar seorang lelaki dariku, yang berhukum dengan hukum Alu Dawud, dan tidak bertanya bayyinah, ia memberikan setiap jiwa haknya” (Ushuul Al-Kaafi 1/463, dan juga disebutkan oleh Al-Majlisi di Bihaarul Anwaar 52/320) Ketujuh : Mahdi Syi’ah membangkitkan pengikutnya dari Bani IsrailAl-Majlisi menyebutkan riwayat :Abu Abdillah ‘alaihis salam berkata : “Jika muncul Al-Qooim dari keluarga Muhammad maka ia akan mengeluarkan dari atas Ka’bah 27 orang, 25 lelaki dari kaum nabi Musa yang mereka telah berhukum dengan kebenaran dan keadilah, 7 orang dari yang masuk di goa (ashabul kahfi), dan Yuysya’ (bin Nuun) yang diberikan washiat oleh Musa, seorang lelaki mukmin dari keluarga Fir’aun, Salman Al-Faarisi, Abu Dujaanah Al-Anshoori dan Malik Al-Asytar” (Bihaarul Anwaar 52/346)

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 6) – Hakekat Imam Mahdi versi Syi’ah

Sesungguhnya Imam Mahdi Syi’ah adalah Imam yang sangat ganas dan haus darah ahlus sunnah. Berikut ini ciri-ciri imam Mahdi versi Syi’ah sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab mereka : Pertama : Imam Mahdi diutus sebagai pembawa kesengsaraan. Abdurrahim Al-Qoshiir berkata : Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata kepadaku : “Adapun jika telah datang al-Qooim (Al-Mahdi) maka Al-Humairoo’ (Aisyah radhiallahu ‘anhaa-pen) akan dikembalikan (dihidupkan kembali) agar dicambuk dengan hukum had oleh Al-Mahdi, sebagai bentuk balas dendam demi putri Muhammad Fathimah ‘alaihas salaam”Aku berkata : Kenapa Al-Mahdi mencambuknya dengan hukum had?”. Abu Ja’far berkata : “Karena ia telah berdusta tentang Ibu Ibrahim shallallahu ‘alaihi”. Aku berkata : “Kenapa Allah mengakhirkan hukumannya untuk Al-Qoim (al-Mahdi)?”. Abu Ja’far berkata : “Sesungguhnya Allah tabaaroka wa ta’aala mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat, dan Allah mengutus al-Qooim (Al-Mahdi) sebagai kesengsaraan/penderitaan” (Bihaarul Anwaar 52/114-115)Adapun Imam Mahdi Ahlus Sunnah diutus membawa rahmat dan kasih sayang sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai rahmat untuk alam semesta. Kedua : Imam Mahdi diutus untuk menegakkan hukum had bagi Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anhaa, sebagaimana jelas dalam riwayat di atas. Dan ini sungguh merupakan kekonyolan kaum Syi’ah, jika memang Aisyah telah melakukan kesalahan,–         Lantas kenapa hukuman hadnya ditunda??. Jika alasannya tidak mungkin ditegakan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Nabi diutus membawa rahmat, maka lantas kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegakan hukum had kepada yang lainnya??. Bahkan Nabi berkata :إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang terpandang (bernasab mulia) mencuri diantara mereka maka mereka biarkan, dan jika ada orang lemah yang mencuri maka mereka tegakkan hukum had kepadanya. Demi Allah jika seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri maka aku akan potong tangannya” (HR Al-Bukhari no 3475 dan Muslim no 1688)–         Jika tidak memungkinkan ditegakan hukum had untuk Aisyah di zaman Nabi, lantas kenapa Ali tatkala menjadi Khalifah tidak menegakkan hukum had tersebut??!!. Bukankah Ali adalah imam pertama menurut syiah?? Ketiga : Imam Mahdi mengeluarkan jasad Abu Bakar dan Umar dari kuburan mereka berdua lalu menyalib keduanya.Ni’matullahi al-Jazaairi membawakan dialog yang panjang antara al-Mufadhol dan As-Shoodiq hingga pada :Al-Mufaddhol berkata, “Wahai tuanku, ke manakah al-Mahdi akan berjalan?”, Ia (as-Shodiq) berkata, “Ia pergi ke kota kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jika ia telah sampai ke Madinah maka ia memiliki kedudukan yang menakjubkan. Nampaklah kegembiran kaum mukminin dan kehinaan orang-orang kafir”. Al-Mufaddhol berkata, “Tuanku, apakah itu?”. Ia (as-Shodiq) berkata, “al-Mahdi pergi ke kuburan kakeknya dan berkata, “Wahai manusia, ini adalah kuburan kakekku?”, mereka berkata, “Benar, wahai Mahdi Alu Muhammad”. Ia berkata, “Siapakah yang bersamanya di kuburan?”, mereka mengatakan, “Kedua sahabatnya Abu Bakar dan Umar”. Maka Mahdi berkata –padahal ia lebih tahu-, “Siapa Abu Bakar dan Umar?, bagaimana kok di antara manusia mereka berdua bisa dikuburkan bersama kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam?, jangan-jangan yang dikuburkan bukanlah mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Wahai Mahdi ali Muhammad, yang ada di sini mereka berdua, bukan yang lain, dan mereka berdua dikuburkan bersama Nabi karena mereka berdua adalah khalifah Rasulullah, dan mereka berdua adalah ayah mertua dari dua istri Rasulullah”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian mengenal mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Iya, kami mengenal sifat-sifat mereka berdua”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian ragu tentang dikuburkannya mereka berdua di sini?’, orang-orang berkata, “Tidak”. Lalu setelah tiga hari al-Mahdi memerintahkan untuk menggali kuburan mereka berdua dan mengeluarkan keduanya. Maka keduanya (Abu Bakar dan Umar) pun dikeluarkan masih segar sebagaimana bentuk mereka berdua di dunia, lalu Mahdi membuka kafan keduanya, lalu memerintahkan untuk mengangkat keduanya di atas pohon yang kering, lalu keduanya disalib di atas pohon tersebut, maka pohon tersebut bergerak dan mengeluarkan dedaunan serta meninggi dan memanjang cabang-cabangnya. Maka orang-orang yang ragupun –dari kalangan yang berwalaa’ kepada mereka berdua- berkata, “Demi Allah sungguh ini benar-benar merupakan kemuliaan, sungguh kami telah beruntung mencintai mereka berdua dan berwala’ kepada mereka berdua”. Maka tersebarlah kabar mereka berdua, maka setiap orang yang memiliki rasa cinta kepada mereka berdua –meskipun hanya sebesar biji sawi- maka datang ke kota Madinah, lalu merekapun terfitnah dengan keduanya (Abu Bakar dan Umar). Lalu seorang penyeru Mahdi berseru, “Kedua orang ini adalah telah bersahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka barangsiapa yang mencintai mereka berdua maka hendaknya berkumpul di suatu tempat, dan barang siapa yang membenci mereka berdua agar berkumpul juga di suatu tempat”. Maka manusiapun terbagi menjadi dua golongan, antara yang berwala dan yang membenci. Maka Mahdipun menunjukkan kepada para pecinta keduanya bahwa ia berbaroah (berlepas diri) dari mereka berdua. Maka mereka berkata, “Wahai Mahdi, kami tidak pernah berlepas diri dari mereka berdua, dan kami tidak pernah mengetahui bahwasanya ternyata mereka berdua memiliki kemuliaan seperti ini, maka bagaimana bisa kami berlepas diri dari mereka berdua, padahal kami telah melihat apa yang telah kami saksikan dari mereka berdua sekarang ini berupa cahaya mereka berdua, segarnya mereka berdua, serta hidupnya pohon yang kering dikarenakan mereka berdua?, bahkan demi Allah justru kami berlepas diri dari engkau dan dari orang-orang yang beriman kepadamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada mereka berdua dan dari orang-orang yang menyalib mereka berdua dan mengeluarkan mereka berdua dan melakukan apa yang telah dilakukan kepada keduanya”.Maka Mahdipun memerintahkan angin yang menjadikan mereka seperti batang-batang korma yang tumbang, lalu Mahdi memerintahkan untuk menurunkan mereka berdua lalu menghidupkan mereka berdua dengan izin Allah, lalu memerintahkan manusia untuk berkumpul lalu mahdi menegakan qisos kepada mereka…”  (al-Anwaar an-Nu’maniyah 2/52)Al-Majlisi meriwayatkan :“Dari Muhamad bin Sinan berkata, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam berkata kepada Umar : “Wahai orang yang terpedaya, sesunguhnya aku tidak melihatmu kecuali akan terbunuh di dunia oleh seorang budaknya Umu Mu’amar, engkau telah memberi hukuman kepadanya secara dzolim dan ia akan membunuhmu dengan taufiq (*dari Allah), maka iapun akan masuk surga karena membunuhmu meskipun engkau tidak suka. Dan sesunguhnya bagimu dan bagi sahabatmu yang engkau menggantikan kedudukanya (*yaitu Abu Bakar) sebuah salib dan pencabik-cabikan, engkau berdua akan dikeluarkan dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi, maka kalian berdua akan disalib di atas batang kurma yang kering maka keluarlah daun dari batang kering tersebut, hal ini menjadikan orang-orang yang berwala kepadamu terfitnah”.Umar berkata, “Dan siapakah yang akan melakukan hal ini wahai Abul Hasan?”Ali berkata, “Sebuah kaum yang telah memisahkan antara pedang-pedang dan sarung-sarungnya, maka akan didatangkan api yang telah dinyalakan untuk Ibrahim ‘alaihis salaam, dan akan datang Jarjis, Daniel, dan seluruh Nabi dan shidiiq, lalu darang angin yang akan menerbangkan/menghancurkan kalian di lautan” (Bihaarul Anwaar 30/276-277) Keempat : Al-Mahdi (versi Syi’ah) akan membunuh bangsa Arab.Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Jauhilah Arab, karena sesungguhnya mereka memiliki khabar yang buruk. Sesungguhnya tidak seorangpun dari Arab yang keluar bersama Al-Qooim (Al-Mahdi)” (Bihaarul Anwaar 52/333)Entah kenapa Imam-Imam Syi’ah begitu benci kepada orang Arab, hingga imam Abu Abdillah Ja’far As-Shoodiq mewashiatkan untuk menjauhi orang Arab??. Apakah karena syi’ah adalah agamanya orang Persia yang hasad kepada kaum muslimin yang asal agama mereka dari Arab??!!. Sampai-sampai orang-orang Arab di akhir zaman kafir seluruhnya, karena tidak seorangpun dari mereka yang mengikuti Imam Mahdinya Syi’ah !!Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Dan sesungguhnya Al-Qooim (Al-Mahdi) berjalan di bangsa Arab dengan apa yang ada pada al-Jafr merah”. Aku berkata : “Apa itu jafr merah?”. Abu Abdillah lalu melewatkan telunjuknya ke lehernya lalu berkata : “Demikian” yaitu penyembelihan” (Bihaarul Anwaar 52/313)Dalam riwayat yang lain Abu Abdillah berkata :“Tidak ada yang tersisa antara kami dengan bangsa Arab kecuali penyembelihan” –dan ia memberi isyarat dengan tangannya ke lehernya- (Bihaarul Anwaar 52/249)Betapa sadisnya Imam Mahdi Syi’ah yang akan menyembelih bangsa Arab ??!! Kelima : Al-Mahdi akan menghancurkan seluruh masjid yang mulia, termasuk masjidil haram dan masjid nabawiAbu Ja’far ‘alaihis salaam berkata :“Jika telah muncul al-Qooim (Al-Mahdi) maka ia akan berjalan menuju Kufah lalu ia menghancurkan di sana 4 mesjid, dan tidak ada satu mesjidpun di atas muka bumi yang memiliki kemuliaan kecuali ia hancurkan…” (Bihaarul Anwaar 52/339)Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Al-Qooim (Al-Mahdi) menghancurkan al-Masjid al-Harom hingga ia mengembalikannya rata hingga dasarnya, dan menghancurkan masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga dasarnya, dan ia mengembalikan ka’bah pada tempatnya dan menegakannya di atas pondasinya, dan ia memotong tangan-tangan Bani Syaibah para pencuri, lalu ia menggantungkan tangan-tangan mereka tersebut di Ka’bah” (Bihaarul Anwaar 52/333) Keenam : Mahdi nya Syi’ah akan berhukum dengan Alu DawudAl-Kulaini dalam kitabnya Ushuul Al-Kaafi membuat sebuah bab :“Bab : Para imam jika muncul perkara mereka maka mereka akan berhukum dengan hukum nabi Dawud dan keluarga Dawud…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Lalu setelah itu al-Kulaini membawakan beberapa riwayat yang menunjukkan akan hal ini. Diantaranya :Abu Abdillah berkata :“Wahai Abu ‘Ubaidah, jika muncul al-Qooim (al-Mahdi) dari keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia akan berhukum dengan hukum Dawud dan Sulaiman…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Abu Abdillah juga berkata“Tidaklah akan sirna dunia ini hingga keluar seorang lelaki dariku, yang berhukum dengan hukum Alu Dawud, dan tidak bertanya bayyinah, ia memberikan setiap jiwa haknya” (Ushuul Al-Kaafi 1/463, dan juga disebutkan oleh Al-Majlisi di Bihaarul Anwaar 52/320) Ketujuh : Mahdi Syi’ah membangkitkan pengikutnya dari Bani IsrailAl-Majlisi menyebutkan riwayat :Abu Abdillah ‘alaihis salam berkata : “Jika muncul Al-Qooim dari keluarga Muhammad maka ia akan mengeluarkan dari atas Ka’bah 27 orang, 25 lelaki dari kaum nabi Musa yang mereka telah berhukum dengan kebenaran dan keadilah, 7 orang dari yang masuk di goa (ashabul kahfi), dan Yuysya’ (bin Nuun) yang diberikan washiat oleh Musa, seorang lelaki mukmin dari keluarga Fir’aun, Salman Al-Faarisi, Abu Dujaanah Al-Anshoori dan Malik Al-Asytar” (Bihaarul Anwaar 52/346)
Sesungguhnya Imam Mahdi Syi’ah adalah Imam yang sangat ganas dan haus darah ahlus sunnah. Berikut ini ciri-ciri imam Mahdi versi Syi’ah sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab mereka : Pertama : Imam Mahdi diutus sebagai pembawa kesengsaraan. Abdurrahim Al-Qoshiir berkata : Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata kepadaku : “Adapun jika telah datang al-Qooim (Al-Mahdi) maka Al-Humairoo’ (Aisyah radhiallahu ‘anhaa-pen) akan dikembalikan (dihidupkan kembali) agar dicambuk dengan hukum had oleh Al-Mahdi, sebagai bentuk balas dendam demi putri Muhammad Fathimah ‘alaihas salaam”Aku berkata : Kenapa Al-Mahdi mencambuknya dengan hukum had?”. Abu Ja’far berkata : “Karena ia telah berdusta tentang Ibu Ibrahim shallallahu ‘alaihi”. Aku berkata : “Kenapa Allah mengakhirkan hukumannya untuk Al-Qoim (al-Mahdi)?”. Abu Ja’far berkata : “Sesungguhnya Allah tabaaroka wa ta’aala mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat, dan Allah mengutus al-Qooim (Al-Mahdi) sebagai kesengsaraan/penderitaan” (Bihaarul Anwaar 52/114-115)Adapun Imam Mahdi Ahlus Sunnah diutus membawa rahmat dan kasih sayang sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai rahmat untuk alam semesta. Kedua : Imam Mahdi diutus untuk menegakkan hukum had bagi Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anhaa, sebagaimana jelas dalam riwayat di atas. Dan ini sungguh merupakan kekonyolan kaum Syi’ah, jika memang Aisyah telah melakukan kesalahan,–         Lantas kenapa hukuman hadnya ditunda??. Jika alasannya tidak mungkin ditegakan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Nabi diutus membawa rahmat, maka lantas kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegakan hukum had kepada yang lainnya??. Bahkan Nabi berkata :إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang terpandang (bernasab mulia) mencuri diantara mereka maka mereka biarkan, dan jika ada orang lemah yang mencuri maka mereka tegakkan hukum had kepadanya. Demi Allah jika seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri maka aku akan potong tangannya” (HR Al-Bukhari no 3475 dan Muslim no 1688)–         Jika tidak memungkinkan ditegakan hukum had untuk Aisyah di zaman Nabi, lantas kenapa Ali tatkala menjadi Khalifah tidak menegakkan hukum had tersebut??!!. Bukankah Ali adalah imam pertama menurut syiah?? Ketiga : Imam Mahdi mengeluarkan jasad Abu Bakar dan Umar dari kuburan mereka berdua lalu menyalib keduanya.Ni’matullahi al-Jazaairi membawakan dialog yang panjang antara al-Mufadhol dan As-Shoodiq hingga pada :Al-Mufaddhol berkata, “Wahai tuanku, ke manakah al-Mahdi akan berjalan?”, Ia (as-Shodiq) berkata, “Ia pergi ke kota kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jika ia telah sampai ke Madinah maka ia memiliki kedudukan yang menakjubkan. Nampaklah kegembiran kaum mukminin dan kehinaan orang-orang kafir”. Al-Mufaddhol berkata, “Tuanku, apakah itu?”. Ia (as-Shodiq) berkata, “al-Mahdi pergi ke kuburan kakeknya dan berkata, “Wahai manusia, ini adalah kuburan kakekku?”, mereka berkata, “Benar, wahai Mahdi Alu Muhammad”. Ia berkata, “Siapakah yang bersamanya di kuburan?”, mereka mengatakan, “Kedua sahabatnya Abu Bakar dan Umar”. Maka Mahdi berkata –padahal ia lebih tahu-, “Siapa Abu Bakar dan Umar?, bagaimana kok di antara manusia mereka berdua bisa dikuburkan bersama kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam?, jangan-jangan yang dikuburkan bukanlah mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Wahai Mahdi ali Muhammad, yang ada di sini mereka berdua, bukan yang lain, dan mereka berdua dikuburkan bersama Nabi karena mereka berdua adalah khalifah Rasulullah, dan mereka berdua adalah ayah mertua dari dua istri Rasulullah”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian mengenal mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Iya, kami mengenal sifat-sifat mereka berdua”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian ragu tentang dikuburkannya mereka berdua di sini?’, orang-orang berkata, “Tidak”. Lalu setelah tiga hari al-Mahdi memerintahkan untuk menggali kuburan mereka berdua dan mengeluarkan keduanya. Maka keduanya (Abu Bakar dan Umar) pun dikeluarkan masih segar sebagaimana bentuk mereka berdua di dunia, lalu Mahdi membuka kafan keduanya, lalu memerintahkan untuk mengangkat keduanya di atas pohon yang kering, lalu keduanya disalib di atas pohon tersebut, maka pohon tersebut bergerak dan mengeluarkan dedaunan serta meninggi dan memanjang cabang-cabangnya. Maka orang-orang yang ragupun –dari kalangan yang berwalaa’ kepada mereka berdua- berkata, “Demi Allah sungguh ini benar-benar merupakan kemuliaan, sungguh kami telah beruntung mencintai mereka berdua dan berwala’ kepada mereka berdua”. Maka tersebarlah kabar mereka berdua, maka setiap orang yang memiliki rasa cinta kepada mereka berdua –meskipun hanya sebesar biji sawi- maka datang ke kota Madinah, lalu merekapun terfitnah dengan keduanya (Abu Bakar dan Umar). Lalu seorang penyeru Mahdi berseru, “Kedua orang ini adalah telah bersahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka barangsiapa yang mencintai mereka berdua maka hendaknya berkumpul di suatu tempat, dan barang siapa yang membenci mereka berdua agar berkumpul juga di suatu tempat”. Maka manusiapun terbagi menjadi dua golongan, antara yang berwala dan yang membenci. Maka Mahdipun menunjukkan kepada para pecinta keduanya bahwa ia berbaroah (berlepas diri) dari mereka berdua. Maka mereka berkata, “Wahai Mahdi, kami tidak pernah berlepas diri dari mereka berdua, dan kami tidak pernah mengetahui bahwasanya ternyata mereka berdua memiliki kemuliaan seperti ini, maka bagaimana bisa kami berlepas diri dari mereka berdua, padahal kami telah melihat apa yang telah kami saksikan dari mereka berdua sekarang ini berupa cahaya mereka berdua, segarnya mereka berdua, serta hidupnya pohon yang kering dikarenakan mereka berdua?, bahkan demi Allah justru kami berlepas diri dari engkau dan dari orang-orang yang beriman kepadamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada mereka berdua dan dari orang-orang yang menyalib mereka berdua dan mengeluarkan mereka berdua dan melakukan apa yang telah dilakukan kepada keduanya”.Maka Mahdipun memerintahkan angin yang menjadikan mereka seperti batang-batang korma yang tumbang, lalu Mahdi memerintahkan untuk menurunkan mereka berdua lalu menghidupkan mereka berdua dengan izin Allah, lalu memerintahkan manusia untuk berkumpul lalu mahdi menegakan qisos kepada mereka…”  (al-Anwaar an-Nu’maniyah 2/52)Al-Majlisi meriwayatkan :“Dari Muhamad bin Sinan berkata, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam berkata kepada Umar : “Wahai orang yang terpedaya, sesunguhnya aku tidak melihatmu kecuali akan terbunuh di dunia oleh seorang budaknya Umu Mu’amar, engkau telah memberi hukuman kepadanya secara dzolim dan ia akan membunuhmu dengan taufiq (*dari Allah), maka iapun akan masuk surga karena membunuhmu meskipun engkau tidak suka. Dan sesunguhnya bagimu dan bagi sahabatmu yang engkau menggantikan kedudukanya (*yaitu Abu Bakar) sebuah salib dan pencabik-cabikan, engkau berdua akan dikeluarkan dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi, maka kalian berdua akan disalib di atas batang kurma yang kering maka keluarlah daun dari batang kering tersebut, hal ini menjadikan orang-orang yang berwala kepadamu terfitnah”.Umar berkata, “Dan siapakah yang akan melakukan hal ini wahai Abul Hasan?”Ali berkata, “Sebuah kaum yang telah memisahkan antara pedang-pedang dan sarung-sarungnya, maka akan didatangkan api yang telah dinyalakan untuk Ibrahim ‘alaihis salaam, dan akan datang Jarjis, Daniel, dan seluruh Nabi dan shidiiq, lalu darang angin yang akan menerbangkan/menghancurkan kalian di lautan” (Bihaarul Anwaar 30/276-277) Keempat : Al-Mahdi (versi Syi’ah) akan membunuh bangsa Arab.Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Jauhilah Arab, karena sesungguhnya mereka memiliki khabar yang buruk. Sesungguhnya tidak seorangpun dari Arab yang keluar bersama Al-Qooim (Al-Mahdi)” (Bihaarul Anwaar 52/333)Entah kenapa Imam-Imam Syi’ah begitu benci kepada orang Arab, hingga imam Abu Abdillah Ja’far As-Shoodiq mewashiatkan untuk menjauhi orang Arab??. Apakah karena syi’ah adalah agamanya orang Persia yang hasad kepada kaum muslimin yang asal agama mereka dari Arab??!!. Sampai-sampai orang-orang Arab di akhir zaman kafir seluruhnya, karena tidak seorangpun dari mereka yang mengikuti Imam Mahdinya Syi’ah !!Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Dan sesungguhnya Al-Qooim (Al-Mahdi) berjalan di bangsa Arab dengan apa yang ada pada al-Jafr merah”. Aku berkata : “Apa itu jafr merah?”. Abu Abdillah lalu melewatkan telunjuknya ke lehernya lalu berkata : “Demikian” yaitu penyembelihan” (Bihaarul Anwaar 52/313)Dalam riwayat yang lain Abu Abdillah berkata :“Tidak ada yang tersisa antara kami dengan bangsa Arab kecuali penyembelihan” –dan ia memberi isyarat dengan tangannya ke lehernya- (Bihaarul Anwaar 52/249)Betapa sadisnya Imam Mahdi Syi’ah yang akan menyembelih bangsa Arab ??!! Kelima : Al-Mahdi akan menghancurkan seluruh masjid yang mulia, termasuk masjidil haram dan masjid nabawiAbu Ja’far ‘alaihis salaam berkata :“Jika telah muncul al-Qooim (Al-Mahdi) maka ia akan berjalan menuju Kufah lalu ia menghancurkan di sana 4 mesjid, dan tidak ada satu mesjidpun di atas muka bumi yang memiliki kemuliaan kecuali ia hancurkan…” (Bihaarul Anwaar 52/339)Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Al-Qooim (Al-Mahdi) menghancurkan al-Masjid al-Harom hingga ia mengembalikannya rata hingga dasarnya, dan menghancurkan masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga dasarnya, dan ia mengembalikan ka’bah pada tempatnya dan menegakannya di atas pondasinya, dan ia memotong tangan-tangan Bani Syaibah para pencuri, lalu ia menggantungkan tangan-tangan mereka tersebut di Ka’bah” (Bihaarul Anwaar 52/333) Keenam : Mahdi nya Syi’ah akan berhukum dengan Alu DawudAl-Kulaini dalam kitabnya Ushuul Al-Kaafi membuat sebuah bab :“Bab : Para imam jika muncul perkara mereka maka mereka akan berhukum dengan hukum nabi Dawud dan keluarga Dawud…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Lalu setelah itu al-Kulaini membawakan beberapa riwayat yang menunjukkan akan hal ini. Diantaranya :Abu Abdillah berkata :“Wahai Abu ‘Ubaidah, jika muncul al-Qooim (al-Mahdi) dari keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia akan berhukum dengan hukum Dawud dan Sulaiman…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Abu Abdillah juga berkata“Tidaklah akan sirna dunia ini hingga keluar seorang lelaki dariku, yang berhukum dengan hukum Alu Dawud, dan tidak bertanya bayyinah, ia memberikan setiap jiwa haknya” (Ushuul Al-Kaafi 1/463, dan juga disebutkan oleh Al-Majlisi di Bihaarul Anwaar 52/320) Ketujuh : Mahdi Syi’ah membangkitkan pengikutnya dari Bani IsrailAl-Majlisi menyebutkan riwayat :Abu Abdillah ‘alaihis salam berkata : “Jika muncul Al-Qooim dari keluarga Muhammad maka ia akan mengeluarkan dari atas Ka’bah 27 orang, 25 lelaki dari kaum nabi Musa yang mereka telah berhukum dengan kebenaran dan keadilah, 7 orang dari yang masuk di goa (ashabul kahfi), dan Yuysya’ (bin Nuun) yang diberikan washiat oleh Musa, seorang lelaki mukmin dari keluarga Fir’aun, Salman Al-Faarisi, Abu Dujaanah Al-Anshoori dan Malik Al-Asytar” (Bihaarul Anwaar 52/346)


Sesungguhnya Imam Mahdi Syi’ah adalah Imam yang sangat ganas dan haus darah ahlus sunnah. Berikut ini ciri-ciri imam Mahdi versi Syi’ah sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab mereka : Pertama : Imam Mahdi diutus sebagai pembawa kesengsaraan. Abdurrahim Al-Qoshiir berkata : Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata kepadaku : “Adapun jika telah datang al-Qooim (Al-Mahdi) maka Al-Humairoo’ (Aisyah radhiallahu ‘anhaa-pen) akan dikembalikan (dihidupkan kembali) agar dicambuk dengan hukum had oleh Al-Mahdi, sebagai bentuk balas dendam demi putri Muhammad Fathimah ‘alaihas salaam”Aku berkata : Kenapa Al-Mahdi mencambuknya dengan hukum had?”. Abu Ja’far berkata : “Karena ia telah berdusta tentang Ibu Ibrahim shallallahu ‘alaihi”. Aku berkata : “Kenapa Allah mengakhirkan hukumannya untuk Al-Qoim (al-Mahdi)?”. Abu Ja’far berkata : “Sesungguhnya Allah tabaaroka wa ta’aala mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat, dan Allah mengutus al-Qooim (Al-Mahdi) sebagai kesengsaraan/penderitaan” (Bihaarul Anwaar 52/114-115)Adapun Imam Mahdi Ahlus Sunnah diutus membawa rahmat dan kasih sayang sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai rahmat untuk alam semesta. Kedua : Imam Mahdi diutus untuk menegakkan hukum had bagi Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anhaa, sebagaimana jelas dalam riwayat di atas. Dan ini sungguh merupakan kekonyolan kaum Syi’ah, jika memang Aisyah telah melakukan kesalahan,–         Lantas kenapa hukuman hadnya ditunda??. Jika alasannya tidak mungkin ditegakan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Nabi diutus membawa rahmat, maka lantas kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegakan hukum had kepada yang lainnya??. Bahkan Nabi berkata :إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang terpandang (bernasab mulia) mencuri diantara mereka maka mereka biarkan, dan jika ada orang lemah yang mencuri maka mereka tegakkan hukum had kepadanya. Demi Allah jika seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri maka aku akan potong tangannya” (HR Al-Bukhari no 3475 dan Muslim no 1688)–         Jika tidak memungkinkan ditegakan hukum had untuk Aisyah di zaman Nabi, lantas kenapa Ali tatkala menjadi Khalifah tidak menegakkan hukum had tersebut??!!. Bukankah Ali adalah imam pertama menurut syiah?? Ketiga : Imam Mahdi mengeluarkan jasad Abu Bakar dan Umar dari kuburan mereka berdua lalu menyalib keduanya.Ni’matullahi al-Jazaairi membawakan dialog yang panjang antara al-Mufadhol dan As-Shoodiq hingga pada :Al-Mufaddhol berkata, “Wahai tuanku, ke manakah al-Mahdi akan berjalan?”, Ia (as-Shodiq) berkata, “Ia pergi ke kota kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jika ia telah sampai ke Madinah maka ia memiliki kedudukan yang menakjubkan. Nampaklah kegembiran kaum mukminin dan kehinaan orang-orang kafir”. Al-Mufaddhol berkata, “Tuanku, apakah itu?”. Ia (as-Shodiq) berkata, “al-Mahdi pergi ke kuburan kakeknya dan berkata, “Wahai manusia, ini adalah kuburan kakekku?”, mereka berkata, “Benar, wahai Mahdi Alu Muhammad”. Ia berkata, “Siapakah yang bersamanya di kuburan?”, mereka mengatakan, “Kedua sahabatnya Abu Bakar dan Umar”. Maka Mahdi berkata –padahal ia lebih tahu-, “Siapa Abu Bakar dan Umar?, bagaimana kok di antara manusia mereka berdua bisa dikuburkan bersama kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam?, jangan-jangan yang dikuburkan bukanlah mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Wahai Mahdi ali Muhammad, yang ada di sini mereka berdua, bukan yang lain, dan mereka berdua dikuburkan bersama Nabi karena mereka berdua adalah khalifah Rasulullah, dan mereka berdua adalah ayah mertua dari dua istri Rasulullah”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian mengenal mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Iya, kami mengenal sifat-sifat mereka berdua”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian ragu tentang dikuburkannya mereka berdua di sini?’, orang-orang berkata, “Tidak”. Lalu setelah tiga hari al-Mahdi memerintahkan untuk menggali kuburan mereka berdua dan mengeluarkan keduanya. Maka keduanya (Abu Bakar dan Umar) pun dikeluarkan masih segar sebagaimana bentuk mereka berdua di dunia, lalu Mahdi membuka kafan keduanya, lalu memerintahkan untuk mengangkat keduanya di atas pohon yang kering, lalu keduanya disalib di atas pohon tersebut, maka pohon tersebut bergerak dan mengeluarkan dedaunan serta meninggi dan memanjang cabang-cabangnya. Maka orang-orang yang ragupun –dari kalangan yang berwalaa’ kepada mereka berdua- berkata, “Demi Allah sungguh ini benar-benar merupakan kemuliaan, sungguh kami telah beruntung mencintai mereka berdua dan berwala’ kepada mereka berdua”. Maka tersebarlah kabar mereka berdua, maka setiap orang yang memiliki rasa cinta kepada mereka berdua –meskipun hanya sebesar biji sawi- maka datang ke kota Madinah, lalu merekapun terfitnah dengan keduanya (Abu Bakar dan Umar). Lalu seorang penyeru Mahdi berseru, “Kedua orang ini adalah telah bersahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka barangsiapa yang mencintai mereka berdua maka hendaknya berkumpul di suatu tempat, dan barang siapa yang membenci mereka berdua agar berkumpul juga di suatu tempat”. Maka manusiapun terbagi menjadi dua golongan, antara yang berwala dan yang membenci. Maka Mahdipun menunjukkan kepada para pecinta keduanya bahwa ia berbaroah (berlepas diri) dari mereka berdua. Maka mereka berkata, “Wahai Mahdi, kami tidak pernah berlepas diri dari mereka berdua, dan kami tidak pernah mengetahui bahwasanya ternyata mereka berdua memiliki kemuliaan seperti ini, maka bagaimana bisa kami berlepas diri dari mereka berdua, padahal kami telah melihat apa yang telah kami saksikan dari mereka berdua sekarang ini berupa cahaya mereka berdua, segarnya mereka berdua, serta hidupnya pohon yang kering dikarenakan mereka berdua?, bahkan demi Allah justru kami berlepas diri dari engkau dan dari orang-orang yang beriman kepadamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada mereka berdua dan dari orang-orang yang menyalib mereka berdua dan mengeluarkan mereka berdua dan melakukan apa yang telah dilakukan kepada keduanya”.Maka Mahdipun memerintahkan angin yang menjadikan mereka seperti batang-batang korma yang tumbang, lalu Mahdi memerintahkan untuk menurunkan mereka berdua lalu menghidupkan mereka berdua dengan izin Allah, lalu memerintahkan manusia untuk berkumpul lalu mahdi menegakan qisos kepada mereka…”  (al-Anwaar an-Nu’maniyah 2/52)Al-Majlisi meriwayatkan :“Dari Muhamad bin Sinan berkata, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam berkata kepada Umar : “Wahai orang yang terpedaya, sesunguhnya aku tidak melihatmu kecuali akan terbunuh di dunia oleh seorang budaknya Umu Mu’amar, engkau telah memberi hukuman kepadanya secara dzolim dan ia akan membunuhmu dengan taufiq (*dari Allah), maka iapun akan masuk surga karena membunuhmu meskipun engkau tidak suka. Dan sesunguhnya bagimu dan bagi sahabatmu yang engkau menggantikan kedudukanya (*yaitu Abu Bakar) sebuah salib dan pencabik-cabikan, engkau berdua akan dikeluarkan dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi, maka kalian berdua akan disalib di atas batang kurma yang kering maka keluarlah daun dari batang kering tersebut, hal ini menjadikan orang-orang yang berwala kepadamu terfitnah”.Umar berkata, “Dan siapakah yang akan melakukan hal ini wahai Abul Hasan?”Ali berkata, “Sebuah kaum yang telah memisahkan antara pedang-pedang dan sarung-sarungnya, maka akan didatangkan api yang telah dinyalakan untuk Ibrahim ‘alaihis salaam, dan akan datang Jarjis, Daniel, dan seluruh Nabi dan shidiiq, lalu darang angin yang akan menerbangkan/menghancurkan kalian di lautan” (Bihaarul Anwaar 30/276-277) Keempat : Al-Mahdi (versi Syi’ah) akan membunuh bangsa Arab.Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Jauhilah Arab, karena sesungguhnya mereka memiliki khabar yang buruk. Sesungguhnya tidak seorangpun dari Arab yang keluar bersama Al-Qooim (Al-Mahdi)” (Bihaarul Anwaar 52/333)Entah kenapa Imam-Imam Syi’ah begitu benci kepada orang Arab, hingga imam Abu Abdillah Ja’far As-Shoodiq mewashiatkan untuk menjauhi orang Arab??. Apakah karena syi’ah adalah agamanya orang Persia yang hasad kepada kaum muslimin yang asal agama mereka dari Arab??!!. Sampai-sampai orang-orang Arab di akhir zaman kafir seluruhnya, karena tidak seorangpun dari mereka yang mengikuti Imam Mahdinya Syi’ah !!Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Dan sesungguhnya Al-Qooim (Al-Mahdi) berjalan di bangsa Arab dengan apa yang ada pada al-Jafr merah”. Aku berkata : “Apa itu jafr merah?”. Abu Abdillah lalu melewatkan telunjuknya ke lehernya lalu berkata : “Demikian” yaitu penyembelihan” (Bihaarul Anwaar 52/313)Dalam riwayat yang lain Abu Abdillah berkata :“Tidak ada yang tersisa antara kami dengan bangsa Arab kecuali penyembelihan” –dan ia memberi isyarat dengan tangannya ke lehernya- (Bihaarul Anwaar 52/249)Betapa sadisnya Imam Mahdi Syi’ah yang akan menyembelih bangsa Arab ??!! Kelima : Al-Mahdi akan menghancurkan seluruh masjid yang mulia, termasuk masjidil haram dan masjid nabawiAbu Ja’far ‘alaihis salaam berkata :“Jika telah muncul al-Qooim (Al-Mahdi) maka ia akan berjalan menuju Kufah lalu ia menghancurkan di sana 4 mesjid, dan tidak ada satu mesjidpun di atas muka bumi yang memiliki kemuliaan kecuali ia hancurkan…” (Bihaarul Anwaar 52/339)Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Al-Qooim (Al-Mahdi) menghancurkan al-Masjid al-Harom hingga ia mengembalikannya rata hingga dasarnya, dan menghancurkan masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga dasarnya, dan ia mengembalikan ka’bah pada tempatnya dan menegakannya di atas pondasinya, dan ia memotong tangan-tangan Bani Syaibah para pencuri, lalu ia menggantungkan tangan-tangan mereka tersebut di Ka’bah” (Bihaarul Anwaar 52/333) Keenam : Mahdi nya Syi’ah akan berhukum dengan Alu DawudAl-Kulaini dalam kitabnya Ushuul Al-Kaafi membuat sebuah bab :“Bab : Para imam jika muncul perkara mereka maka mereka akan berhukum dengan hukum nabi Dawud dan keluarga Dawud…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Lalu setelah itu al-Kulaini membawakan beberapa riwayat yang menunjukkan akan hal ini. Diantaranya :Abu Abdillah berkata :“Wahai Abu ‘Ubaidah, jika muncul al-Qooim (al-Mahdi) dari keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia akan berhukum dengan hukum Dawud dan Sulaiman…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Abu Abdillah juga berkata“Tidaklah akan sirna dunia ini hingga keluar seorang lelaki dariku, yang berhukum dengan hukum Alu Dawud, dan tidak bertanya bayyinah, ia memberikan setiap jiwa haknya” (Ushuul Al-Kaafi 1/463, dan juga disebutkan oleh Al-Majlisi di Bihaarul Anwaar 52/320) Ketujuh : Mahdi Syi’ah membangkitkan pengikutnya dari Bani IsrailAl-Majlisi menyebutkan riwayat :Abu Abdillah ‘alaihis salam berkata : “Jika muncul Al-Qooim dari keluarga Muhammad maka ia akan mengeluarkan dari atas Ka’bah 27 orang, 25 lelaki dari kaum nabi Musa yang mereka telah berhukum dengan kebenaran dan keadilah, 7 orang dari yang masuk di goa (ashabul kahfi), dan Yuysya’ (bin Nuun) yang diberikan washiat oleh Musa, seorang lelaki mukmin dari keluarga Fir’aun, Salman Al-Faarisi, Abu Dujaanah Al-Anshoori dan Malik Al-Asytar” (Bihaarul Anwaar 52/346)
Prev     Next