Wajib Bai’at pada Pemimpin

Setiap rakyat wajib berbai’at kepada pemimpinnya. Yang dimaksud bai’at adalah berjanji setia untuk menjalankan dan taat setiap perintah penguasa selain dalam perkara maksiat. Bai’at di sini bukanlah pada golongan atau partai tertentu seperti yang dilakukan sebagian saudara kita. Namun yang dimaksud bai’at dalam Islam adalah pada pemimpin kaum muslimin yang sah. Perhatikan hadits no. 664 yang dibawakan oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin dengan judul bab, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.” Berikut hadits yang dimaksud. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ كُنَّا إِذَا بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ يَقُولُ لَنَا « فِيمَا اسْتَطَعْتَ » Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Dahulu kami berbai’at pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar (menerima perintah) dan taat pada pemimpin kaum muslimin. Beliau bersabda pada kami, “Hendaklah engkau taat semampu engkau.” (HR. Bukhari no. 7202 dan Muslim no. 1709). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Wajib berbai’at kepada pemimpin kaum muslimin. Bai’at yang dimaksud adalah berjanji setia untuk mendengar (menerima) dan taat. 2- Ketaatan pada pemimpin tergantung pada kemampuan. Jika pemimpin mengeluarkan perintah pada kaum muslimin di luar kemampuan mereka, maka tidak ada kewajiban taat. 3- Hendaklah setiap pemimpin berkasih sayang kepada rakyatnya, tidak memberatkan mereka dalam perintah. Sudah semestinya setiap pemimpin mengambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat, hanya Allah yang memberi taufik. — Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 654-655. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Soeta Airport saat safar menuju Papua, 10.59 pm, 26 Dzulhijjah 1434 H — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsaqidah iman pemimpin

Wajib Bai’at pada Pemimpin

Setiap rakyat wajib berbai’at kepada pemimpinnya. Yang dimaksud bai’at adalah berjanji setia untuk menjalankan dan taat setiap perintah penguasa selain dalam perkara maksiat. Bai’at di sini bukanlah pada golongan atau partai tertentu seperti yang dilakukan sebagian saudara kita. Namun yang dimaksud bai’at dalam Islam adalah pada pemimpin kaum muslimin yang sah. Perhatikan hadits no. 664 yang dibawakan oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin dengan judul bab, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.” Berikut hadits yang dimaksud. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ كُنَّا إِذَا بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ يَقُولُ لَنَا « فِيمَا اسْتَطَعْتَ » Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Dahulu kami berbai’at pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar (menerima perintah) dan taat pada pemimpin kaum muslimin. Beliau bersabda pada kami, “Hendaklah engkau taat semampu engkau.” (HR. Bukhari no. 7202 dan Muslim no. 1709). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Wajib berbai’at kepada pemimpin kaum muslimin. Bai’at yang dimaksud adalah berjanji setia untuk mendengar (menerima) dan taat. 2- Ketaatan pada pemimpin tergantung pada kemampuan. Jika pemimpin mengeluarkan perintah pada kaum muslimin di luar kemampuan mereka, maka tidak ada kewajiban taat. 3- Hendaklah setiap pemimpin berkasih sayang kepada rakyatnya, tidak memberatkan mereka dalam perintah. Sudah semestinya setiap pemimpin mengambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat, hanya Allah yang memberi taufik. — Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 654-655. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Soeta Airport saat safar menuju Papua, 10.59 pm, 26 Dzulhijjah 1434 H — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsaqidah iman pemimpin
Setiap rakyat wajib berbai’at kepada pemimpinnya. Yang dimaksud bai’at adalah berjanji setia untuk menjalankan dan taat setiap perintah penguasa selain dalam perkara maksiat. Bai’at di sini bukanlah pada golongan atau partai tertentu seperti yang dilakukan sebagian saudara kita. Namun yang dimaksud bai’at dalam Islam adalah pada pemimpin kaum muslimin yang sah. Perhatikan hadits no. 664 yang dibawakan oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin dengan judul bab, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.” Berikut hadits yang dimaksud. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ كُنَّا إِذَا بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ يَقُولُ لَنَا « فِيمَا اسْتَطَعْتَ » Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Dahulu kami berbai’at pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar (menerima perintah) dan taat pada pemimpin kaum muslimin. Beliau bersabda pada kami, “Hendaklah engkau taat semampu engkau.” (HR. Bukhari no. 7202 dan Muslim no. 1709). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Wajib berbai’at kepada pemimpin kaum muslimin. Bai’at yang dimaksud adalah berjanji setia untuk mendengar (menerima) dan taat. 2- Ketaatan pada pemimpin tergantung pada kemampuan. Jika pemimpin mengeluarkan perintah pada kaum muslimin di luar kemampuan mereka, maka tidak ada kewajiban taat. 3- Hendaklah setiap pemimpin berkasih sayang kepada rakyatnya, tidak memberatkan mereka dalam perintah. Sudah semestinya setiap pemimpin mengambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat, hanya Allah yang memberi taufik. — Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 654-655. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Soeta Airport saat safar menuju Papua, 10.59 pm, 26 Dzulhijjah 1434 H — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsaqidah iman pemimpin


Setiap rakyat wajib berbai’at kepada pemimpinnya. Yang dimaksud bai’at adalah berjanji setia untuk menjalankan dan taat setiap perintah penguasa selain dalam perkara maksiat. Bai’at di sini bukanlah pada golongan atau partai tertentu seperti yang dilakukan sebagian saudara kita. Namun yang dimaksud bai’at dalam Islam adalah pada pemimpin kaum muslimin yang sah. Perhatikan hadits no. 664 yang dibawakan oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin dengan judul bab, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.” Berikut hadits yang dimaksud. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ كُنَّا إِذَا بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ يَقُولُ لَنَا « فِيمَا اسْتَطَعْتَ » Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Dahulu kami berbai’at pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar (menerima perintah) dan taat pada pemimpin kaum muslimin. Beliau bersabda pada kami, “Hendaklah engkau taat semampu engkau.” (HR. Bukhari no. 7202 dan Muslim no. 1709). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Wajib berbai’at kepada pemimpin kaum muslimin. Bai’at yang dimaksud adalah berjanji setia untuk mendengar (menerima) dan taat. 2- Ketaatan pada pemimpin tergantung pada kemampuan. Jika pemimpin mengeluarkan perintah pada kaum muslimin di luar kemampuan mereka, maka tidak ada kewajiban taat. 3- Hendaklah setiap pemimpin berkasih sayang kepada rakyatnya, tidak memberatkan mereka dalam perintah. Sudah semestinya setiap pemimpin mengambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat, hanya Allah yang memberi taufik. — Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 654-655. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Soeta Airport saat safar menuju Papua, 10.59 pm, 26 Dzulhijjah 1434 H — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsaqidah iman pemimpin

SERBA SERBI POLIGAMI

Tidak diragukan bahwa syari’at poligami merupakan syari’at yang mulia yang diturunkan oleh Pencipta seluruh manusia baik para lelaki maupun para wanita, Pencipta yang lebih mengetahui kemaslahatan makhluk yang Ia ciptakan. Akan tetapi kenyataannya praktik poligami tidak semudah yang dibayangkan…Berikut ini kumpulan tulisan-tulisan ringan tentang poligami (sebagian besar tulisan ini telah dipublish sebelumnya di firanda.com):  PERTAMA : Rintihan Poligami (seakan-akan poligami berkata):(1) Mereka memusuhiku…padahal aku datang dari sisi Rob mereka.. Jika yang memerangiku orang-orang kafir yang membenci Muhammad dan umatnya maka aku tdk peduli…akan tetapi ternyata yg memerangiku para wanita muslimah…, bahkan para wanita yang rajin mengikuti pengajian??, bahkan para wanita yang merupakan panitia pengajian??(2) Orang-orang kafir terus memusuhiku, menghinaku sebagaimana sikap mereka terhadap hukum waris yg mereka anggap tdk adil, karena jika mereka berhasil menikamku maka jatuhlah syari’at Muhammad dan kenabiannya dihadapan mereka…Apakah mereka lupa bahwa Nabi-nabi mereka Dawud dan Sulaiman-disebutkan dalam injil mereka- juga berpoligami?(3) Bukankah kebanyakan mereka -sekarang ini- juga berpoligami bahkan lbh dari 4 wanita?, hanya saja tanpa pernikahan resmi (alias zina?), tanpa ada pengingkaran sama sekali dari mereka?, lantas poligami yg penuh aturan kenapa harus mereka ingkari?(4) Aku adalah anugrah yang Allah turunkan bagi hamba-hambaNya…akan tetapi banyak yang tidak menyadarinya…atau tdk mau menyadarinya…Bahkan aku adalah mukjizat Allah, karena aku memperhatikan kemaslahatan umum…bukan hanya kemaslahatan pribadi. Boleh jadi istri pertama merasa mendapatkan kemudorotan atau merasa dizolimi akan tetapi masih terlalu banyak janda…perawan tua…bahkan perawan muda…yg menanti-nanti kehadiranku?? Bukankah :–         Jumlah para wanita lebih banyak dari jumlah para lelaki?–         Selain sedikit, ternyata tidak semua lelaki dewasa siap menikah?, ia harus mempersiapkan ekonomi dan mentalnya. Berbeda dgn wanita, jika sudah baligh maka siap menunggu lamaran menyapa…–         Selain sedikit, aktivitas kerjaan para lelaki lebih menantang kepada kematian…, berbeda dengan aktivitas para wanita yang kebanyakan di rumah…–         Para lelaki juga tidak ada liburnya, tidak ada haid dan nifas yg berkepanjangan, selalu produktif.(5) Bukankah dgn kehadiranku banyak permasalahan sosial yg bisa diatasi?, mengurangi praktik seksual yang salah dan haram? Bukankah dengan kehadiranku akan memperbanyak kelahiran umat dan pasukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?, sukakah anda menyenangkan hati Nabi pada hari kiamat kelak yang bangga dengan banyaknya umatnya dihadapan umat-umat dan nabi-nabi yang lain?(6) Wahai para wanita muslimah…sungguh ANEH…–         Sebagian wanita memilih lebih baik diracun (suaminya berzina) daripada dimadu (suaminya berpoligami)…Ini adalah tanda rusaknya fitroh sang wanita… Ia tdk mau membagi cinta kekasihnya kepada sahabatnya sesama muslimah…egois ia kedepankan daripada sikap perhatian terhadap sesama muslimah…Akan tetapi ternyata ia mampu untuk membuang ego-nya tatkala cinta kekasihnya dibagikan kepada para wanita pelacur…!!!–         Sebagian wanita memandang bahwa jika ia dipoligami berarti ia tdk sukses dan telah gagal dalam melayani suami !!, atau merasa suaminya tdk lagi mencintainya…ini adlh kelaziman yg tdk lazim !!!. Bukankah Aisyah adalah istri yg paling dicintai Nabi? Ternyata setelah menikahi Aisyah, Nabi masih menikah lagi dgn sekitar 7 wanita yg lain(7) Sebagian wanita menghujatku… padahal aku tidak pernah bersalah…yang bersalah adalah para lelaki yang tidak bertanggung jawab dalam menjalaniku… (8) Wahai ukhti… Jika engkau tidak sudi denganku… Maka janganlah kau benci diriku…jangan pula kau ajak suamimu untuk memusuhiku…apalagi berkampanye kepada para ibu-ibu untuk memusuhiku….ingatlah aku datang dari Robmu…, jangan kau bantu propaganda orang-orang kafir yg membenci syariat Robmu. Doakan saja semoga para lelaki bisa menjalaniku dengan baik. KEDUA : Bersyukurlah agar ditambah…          Barang siapa yang mensyukuri nikmat Allah maka Allah akan menambah nikmatnya. Karenanya diantara kiat agar seorang lelaki bisa bertambah jumlah istrinya maka hendaknya ia banyak-banyak bersyukur dengan istri pertamanya. Hendaknya ia mensyukuri nikmat istri pertamanya dengan memenuhi hak-haknya…, mendidiknya…, membahagiakannya…Jika ia telah berusaha bersyukur dengan sebaik-baiknya, maka bisa jadi Allah akan menambahkan baginya istri yang baru. Karenanya para lelaki yang sulit untuk poligami maka jangan-jangan karena kurang bersyukur….??!!Yang menyedihkan adalah seorang suami yang tatkala hidup susah dan miskin maka istrinya begitu setia dan juga ikut bekerja bersusah payah menjalani kehidupan yang penuh penderitaan bersamanya, namun tatkala sang suami berhasil menjadi seorang yang berkecukupan maka sang suami langsung poligami bahkan malah kurang memperhatikan kondisi istri pertamanya….seakan-akan ia lupa bahwa uang yang diperolehnya bukan semata usahanya, akan tetapi juga akibat andil istrinya yang bekerja keras membantunya…Diantara pertanyaan aneh yang pernah ditanyakan kepada saya adalah ada seorang lelaki yang dinafkahi oleh istrinya. Suatu saat sang suami pinjam uang kepada istrinya….ternyata uang tersebut digunakan untuk berpoligami !!? KETIGA : Jadi Kambing atau Serigala??Seorang praktisi poligami berkata : “Tatkala aku berpoligami aku menyangka diriku seperti seekor serigala yang selalu siap menyantap dua ekor kambing betina. Ternyata setelah menjalankan poligami maka aku seperti kambing diantara dua serigala yang senantiasa siap menerkam” Maksudnya : setiap hari ia menjadi bulan-bulanan diantara kedua istrinya, diantara omelan dan tuntutan kedua istrinya….Di sisi lain ada praktisi lain yang berkata : Semenjak aku berpoligami maka kedua istriku bertambah sayang kepadaku, karena keduanya selalu berlomba untuk memberikan kepuasan terbaik bagiku…. (Kalau ini benar-benar manjadi serigali diantara dua kambing betina) KEEMPAT : Nasehat Seorang Wanita Yang Mendahulukan akal daripada perasaannyawanita (A) menasehati wanita (B) sahabatnya.B : Pokoknya kalau suamiku poligami aku akan minta cerai darinyaA : Kenapa engkau harus minta cerai?B : Pokoknya aku tidak mau dimaduA : Kalau kamu sudah dicerai kamu mau nikah lagi?B : Tentu, pokoknya aku tdk mau dipoligamiA : Kalau kamu sudah jadi janda biasanya hanya laku untuk jadi istri keduaB : Iya sihA : Kalau gitu lebih baik kamu jangan minta cerai kalau toh akhirnya harus jadi istri kedua juga. Lebih baik kamu tetap bersama suamimu dan statusmu tetap menjadi istri pertamaB : Iya juga sih…. KELIMA : Lebih mudah meminta maaf daripada meminta izin !!!Itulah ucapan yang dilontarkan oleh seorang Doktor Fikih Lulusan Universitas Islam Madinah yang berasal dari Malaysia. Apa maksudnya…?Beliau menjelaskan bahwa jika seseorang ingin poligami lalu meminta izin dari istrinya maka bisa jadi puluhan tahun izin tidak akan ia dapatkan dari istrinya. Lebih mudah baginya jika ia langsung poligami lalu setelah itu meminta maaf kepada istrinya. Maka biasanya meskipun dengan sangat berat, akhirnya istrinya pun akan memaafkan, meskipun agak lama….Tentu pernyataan sang Doktor ini akan menimbulkan kontroversi diantara kalangan para wanita… KEENAM : Suami atau Istri Yang Penakut ??Sebagian para suami begitu bersemangat untuk membaca atau mengikuti kajian-kajian yang bertema poligami. Selain berniat untuk menambah ilmu, demikian juga untuk memotivasi diri berpoligami, serta untuk menghilangkan “Rasa Takut” yang selalu mengahtui. Namun kebanyakan mereka setelah mengahdiri kajian-kajian tersebut, ternyata tetap saja ….PENAKUT….Meskipun sebenarnya lafal “penakut” tersebut kurang tepat. Lafal yang lebih tepat adalah “Terlalu Sayang Sama Istri…” atau “Tidak tega menyakiti dan menyedihkan istri…”. Meskipun kenyataan yang ada memang sempat terungkap ancaman-ancaman yang mengerikan dari sebagian istri seperti “Kalau kamu poligami maka akan saya ulek kamu…”, ada juga yang berkata, “Akan kucincang kamu…”, atau ada yg berkata, “Akan kujadikan sate kamu” Akan tetapi toh, pada hakekatnya itu hanyalah ancaman seorang istri yang sangat mencintai suaminya, dan sangat ketakutan jika ditinggal suaminya. Jadi sang istrilah yang “Penakut”. Wallahu A’lamSemoga Allah menjadikan anda dan istri anda pasangan yang harmonis, di dunia sebelum dikumpulkan di surga…aamiin KETUJUH : Ta’ad (singkatan dari ta’addud)Sekelompok suami berkumpul dan berbicara tentang poligami (ta’addud). Namun mereka takut ketahuan istri-istri mereka yg sering mencuri dengar pembicaraan mereka dari dalam rumah, maka para suami tersebut sepakat untuk menyingkat kata ta’addud menjadi ta’ad (yang sekilas terdengar menjadi ta’at) agar disangka oleh istri-istri mereka bahwa mereka sedang membicarakan tentang keta’atan kepada Allah dan bukan tentang poligami. Diantara pembicaraan mereka adalah : Kita harus ta’at….Kalau kita ta’at maka sebaiknya diam-diam lebih baik (lebih ikhlas) dan lebih selamat…Kita harus mendukung ta’at…Demikianlah pembicaraan mereka…tentang ta’ad sementara dud nya tdk pernah mereka ucapkan karena takut ketahuan(Demikian tutur salah seorang dari kumpulan para suami tersebut kepada saya) KEDELAPAN : Seorang Guru Matematika Berbicara tentang Poligamidi salah satu stasiun TV Arab seorang guru matematika berkata : Kalau dipikir, fungsi seorang istri untuk benar-benar melayani suami dalam setahun kira-kira hanya seratus hari (sepertiga tahun) Hal ini disimpulkan dari 365 hari (setahun) – (dikurangi) masa haid (7×12) – waktu ziarohnya ke rumah ortunya/kerabatnya – masa sakitnya – kalau hamil? – masa nifasnya –…. Intinya ada waktu-waktu yg istri tdk bisa melayani suami dgn baik, yang membuktikan butuhnya wanita/istri yg lain dalam memenuhi kekosongan tersebut.Akan tetapi…., kami guru matematika hanya menghitung, yang mempraktekan poligami adalah guru agama (ustadz) bukan guru matematika.., (Ini hanya tuturan sang guru matematika, bisa jadi teori dan penjumlahan yg ia utarakan tdk disetujui) KESEMBILAN : Nasehat bagi wanita yang takut dipoligamiUkhti Muslimah…Ketahuilah…, bahwa sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala tidak akan membiarkan hambaNya berkata “Kami telah beriman” begitu saja…, karena pengakuan itu membutuhkan bukti dalam kehidupan… Ukhtii…. Jika sekiranya suatu saat engkau diuji dengan poligami atau hal itu saat ini sedang engkau hadapi…kemudian engkau memaksakan suamimu memilih alternatif yang kau sodorkan….Tinggalkan maduku…, Abaikan dan campakan dia…Atau… Berpisahlah dariku !!!Pilihan ini pada hekekatnya adalah beban dan resiko bagi orang yang selama ini engkau cintai. Tak terbayangkah olehmu, jika ia mengambil pilihan kedua…lalu ia meninggalkanmu…??, apakah itu menyelesaikan permasalahan hidupmu??, ataukah itu hanya menimbulkan permasalahan-permasalahan yang baru dalam hidupmu??Mungkin engkau berkata, “Biarkanlah itu terjadi…”Ukhtii muslimah…Memang kau tidak pernah takut menjalani dan menghadapi kehidupan tanpa suami.., maka kutanyakan kepada hati kecilmu…kutanyakan kepada imanmu… kutanyakan kepada akal sehatmu…, Manakah yang lebih baik, membagi cinta dan kebahagiaan yang ada, ataukah mencampakkannya…?Jika kau katakan bahwa :“Lebih baik tak bersuami dari pada membagi cinta kepada yang lain…”.Maka kukatakan kepadamu, “Mungkin engkau tegar dalam kesendirianmu, namun…tidakkah kau risaukan nasib anak-anakmu..??”Kau mungkin tidak akan mengabaikan mereka…, namun ketahuilah, bahwa kasih dan sayang tidak dapat dibeli dengan harta dunia. Anak-anakmu tetap membutuhkan belaian kasih sayang ayah mereka…, membutuhkan kebersamaanmu dan suamimu. Aku yakin engkau tahu itu…namun kau sengaja tidak ingin mengerti karena keegoisan cintamu !!Ukhtii fillah…Aku bertanya kepadamu…, apakah manfaat dan faedah jika engkau menerima madumu sebagai racun dalam kehidupanmu…?? Sehingga engkau menjalani hidup bersama suamimu hampir-hampir tanpa cinta dan kerinduan.. Dan tatkala suamimu bersama madumu…kau tinggal dalam kesendirian dengan penuh dendam dan permusuhanmu…Apakah kehidupan seperti ini membahagiakanmu??, apakah kehidupan seperti ini menambah cinta suamimu kepadamu..??Engkau menjadi wanita yang hidup tanpa cinta…, tanpa perasaan…tanpa kerinduan…, tersiksa…, gelisah.., dendam yang membara…, deraian tangisan yang tak kunjung henti…, engkau seperti wanita yang hidup dalam kematian… Semua itu…karena kau telah menjadikan madumu sebagai racun cinta dan kebahagiaanmu. Kau meneguknya bersama kemarahan dan kebencian…perlahan-lahan racun itu menjalar ke seluruh tubuhmu…. Dan jika tidak memakan jasadmu maka akan memakan hatimu KESEPULUH : Puisi PoligamiRayuan SUAMI :Istriku…, jika engkau bumi, akulah mentari… Aku menyinari kamu Dan dikau selalu mengharapkan hangatnya sinarku… Lalu terbesik dlm hatiku…bukankah Tuhan menciptakan aku bukan hanya untuk bumi?? Ternyata ada planet-planet lain yang juga mengharap hangatnya sinarku JADI… Relakanlah aku menyinari planet lain, merasakan hangatnya sinarku, merasakan faedah keberadaanku, karena sudah kodrati..dan Tuhan pun tak marah… Balasan Puisi sang ISTRI :Suamiku, bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya, aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet yang pernah Tuhan ciptakan karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran, dan akupun juga tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu TAPIIIIIIII.. Bila kau hanya sejengkal lilin yang berkekuatan 5 watt, jangan bermimpi menyinari planet lain!!! Karena kamar kita yang kecil pun belum sanggup kau terangi… KESEBELAS : Poligami Sunnah Terindah…Istri : Mas..mas, buat apa kamu poligami…???Suami : Demi menjalankan sunnah bu…Istri : Sunnah itu masih banyak…, wong kamu jarang sholat malam, jarang puasa sunnah, jarang berinfak, lantas kenapa kamu malah memilihi sunnah poligami dan tidak mengerjakan sunnah-sunnah yang lain…??!Suami : Karena poligami adalah sunnah terindah…!!! KEDUA BELAS : Poligami Menambah Kecintaan Pada Istri PertamaSuami : Istriku… yakinlah jika aku berpoligami maka aku akan semakin cinta kepadamu…Istri : Mas-mas kamu kalau nggombal kok ngawur gitu… Kalau kamu kawin lagi berarti cintamu kepadaku kamu bagi dua !!!, bagaimana kok bisa semakin cinta kepadaku??, yang benar adalah cintamu semakin luntur kepadakuSuami : Itu tidak benar istriku…kalau aku hanya sama kamu terus aku kawatir akan muncul kebosanan…adapun jika aku berpoligami maka akan ada variasi dalam kehidupanku, sehingga jika aku berada di madumu maka kerinduanku kepadamu akan semakin menggebu-gebu !! KETIGA BELAS : Istriku Selalu Siap Jika Aku berpoligami !!Seorang lelaki berkata, “Istriku selalu siap jika aku akan berpoligami !!”Temannya nyeletuk : “Wah hebat sekali istrimu…, gimana cara kamu mendidiknya…”Sang lelaki berkata, “Maksudku…istriku senantiasa siap membawa pentungan kalau aku berpoligami …!!”  KEEMPAT BELAS : Guntur dan Gledek Terus, tapi Tak Pernah Hujan…Kenyataan yang ada, banyak lelaki yang hobinya membicarakan poligami…, bahkan sebagian suami begitu semangat dan juga menunjukkan semangatnya untuk berpoligami. Semangatnya begitu menggelegar…akan tetapi kenyataannya ia tidak pernah bisa dan selalu takut untuk berpoligami.Orang seperti ini selalu menggelegar semangatnya seperti guntur dan halilintar akan tetapi…tidak pernah turun hujannya !!!Justru sebagian suami yang pendiam, jarang atau hampir tidak pernah membicarakan poligami…akan tetapi tiba-tiba ia telah menggandeng istri keduanya…(Diam-diam menghanyutkan…)Nah anda termasuk guntur dan gledek tapi tak pernah hujan…, ataukah termasuk air yang diam tapi menghanyutkan ??!!. Ataukah anda adalah guntur yang segera menurunkan hujan ??? KEEMPAT BELAS : Saya Juga Mau !!!          Sekelompok ibu-ibu pengajian mendatangi seorang ustadz yang sudah cukup berumur. Mereka dengan begitu semangatnya mengeluhkan kepada sang ustadz tentang kondisi suami-suami mereka yang ingin berpoligami. Maka sang ustadz lalu berkata, “Kenapa ibu-ibu?, suami ibu-ibu ingin poligami ??, wah saya juga mau !!!”Maka segera buyarlah para ibu-ibu tersebut kecewa mendengar jawaban sang ustadz. Penutup : Poligami adalah syari’at yang mulia, akan tetapi tidak semua lelaki bisa dan mampu serta dewasa dan bijak dalam menjalankannya. Barang siapa yang tidak adil dalam menjalankan poligami maka ia akan dipermalukan oleh Allah pada hari kiamat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :من كان له امرأتان فمال إلى إحداهما جاء يوم القيامة وشقه مائل“Barang siapa yang memiliki dua istri lalu ia condong kepada salah satunya maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam kondisi badannya miring”Namun ditengah buruknya praktek poligami oleh sebagian suami, maka barang siapa yang bisa menerapkan poligami dengan baik maka semoga ia bisa menjadi teladan dan motivator bagi yang lainnya. Ia telah menghidupkan sunnah yang mulai ditinggalkan. 

SERBA SERBI POLIGAMI

Tidak diragukan bahwa syari’at poligami merupakan syari’at yang mulia yang diturunkan oleh Pencipta seluruh manusia baik para lelaki maupun para wanita, Pencipta yang lebih mengetahui kemaslahatan makhluk yang Ia ciptakan. Akan tetapi kenyataannya praktik poligami tidak semudah yang dibayangkan…Berikut ini kumpulan tulisan-tulisan ringan tentang poligami (sebagian besar tulisan ini telah dipublish sebelumnya di firanda.com):  PERTAMA : Rintihan Poligami (seakan-akan poligami berkata):(1) Mereka memusuhiku…padahal aku datang dari sisi Rob mereka.. Jika yang memerangiku orang-orang kafir yang membenci Muhammad dan umatnya maka aku tdk peduli…akan tetapi ternyata yg memerangiku para wanita muslimah…, bahkan para wanita yang rajin mengikuti pengajian??, bahkan para wanita yang merupakan panitia pengajian??(2) Orang-orang kafir terus memusuhiku, menghinaku sebagaimana sikap mereka terhadap hukum waris yg mereka anggap tdk adil, karena jika mereka berhasil menikamku maka jatuhlah syari’at Muhammad dan kenabiannya dihadapan mereka…Apakah mereka lupa bahwa Nabi-nabi mereka Dawud dan Sulaiman-disebutkan dalam injil mereka- juga berpoligami?(3) Bukankah kebanyakan mereka -sekarang ini- juga berpoligami bahkan lbh dari 4 wanita?, hanya saja tanpa pernikahan resmi (alias zina?), tanpa ada pengingkaran sama sekali dari mereka?, lantas poligami yg penuh aturan kenapa harus mereka ingkari?(4) Aku adalah anugrah yang Allah turunkan bagi hamba-hambaNya…akan tetapi banyak yang tidak menyadarinya…atau tdk mau menyadarinya…Bahkan aku adalah mukjizat Allah, karena aku memperhatikan kemaslahatan umum…bukan hanya kemaslahatan pribadi. Boleh jadi istri pertama merasa mendapatkan kemudorotan atau merasa dizolimi akan tetapi masih terlalu banyak janda…perawan tua…bahkan perawan muda…yg menanti-nanti kehadiranku?? Bukankah :–         Jumlah para wanita lebih banyak dari jumlah para lelaki?–         Selain sedikit, ternyata tidak semua lelaki dewasa siap menikah?, ia harus mempersiapkan ekonomi dan mentalnya. Berbeda dgn wanita, jika sudah baligh maka siap menunggu lamaran menyapa…–         Selain sedikit, aktivitas kerjaan para lelaki lebih menantang kepada kematian…, berbeda dengan aktivitas para wanita yang kebanyakan di rumah…–         Para lelaki juga tidak ada liburnya, tidak ada haid dan nifas yg berkepanjangan, selalu produktif.(5) Bukankah dgn kehadiranku banyak permasalahan sosial yg bisa diatasi?, mengurangi praktik seksual yang salah dan haram? Bukankah dengan kehadiranku akan memperbanyak kelahiran umat dan pasukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?, sukakah anda menyenangkan hati Nabi pada hari kiamat kelak yang bangga dengan banyaknya umatnya dihadapan umat-umat dan nabi-nabi yang lain?(6) Wahai para wanita muslimah…sungguh ANEH…–         Sebagian wanita memilih lebih baik diracun (suaminya berzina) daripada dimadu (suaminya berpoligami)…Ini adalah tanda rusaknya fitroh sang wanita… Ia tdk mau membagi cinta kekasihnya kepada sahabatnya sesama muslimah…egois ia kedepankan daripada sikap perhatian terhadap sesama muslimah…Akan tetapi ternyata ia mampu untuk membuang ego-nya tatkala cinta kekasihnya dibagikan kepada para wanita pelacur…!!!–         Sebagian wanita memandang bahwa jika ia dipoligami berarti ia tdk sukses dan telah gagal dalam melayani suami !!, atau merasa suaminya tdk lagi mencintainya…ini adlh kelaziman yg tdk lazim !!!. Bukankah Aisyah adalah istri yg paling dicintai Nabi? Ternyata setelah menikahi Aisyah, Nabi masih menikah lagi dgn sekitar 7 wanita yg lain(7) Sebagian wanita menghujatku… padahal aku tidak pernah bersalah…yang bersalah adalah para lelaki yang tidak bertanggung jawab dalam menjalaniku… (8) Wahai ukhti… Jika engkau tidak sudi denganku… Maka janganlah kau benci diriku…jangan pula kau ajak suamimu untuk memusuhiku…apalagi berkampanye kepada para ibu-ibu untuk memusuhiku….ingatlah aku datang dari Robmu…, jangan kau bantu propaganda orang-orang kafir yg membenci syariat Robmu. Doakan saja semoga para lelaki bisa menjalaniku dengan baik. KEDUA : Bersyukurlah agar ditambah…          Barang siapa yang mensyukuri nikmat Allah maka Allah akan menambah nikmatnya. Karenanya diantara kiat agar seorang lelaki bisa bertambah jumlah istrinya maka hendaknya ia banyak-banyak bersyukur dengan istri pertamanya. Hendaknya ia mensyukuri nikmat istri pertamanya dengan memenuhi hak-haknya…, mendidiknya…, membahagiakannya…Jika ia telah berusaha bersyukur dengan sebaik-baiknya, maka bisa jadi Allah akan menambahkan baginya istri yang baru. Karenanya para lelaki yang sulit untuk poligami maka jangan-jangan karena kurang bersyukur….??!!Yang menyedihkan adalah seorang suami yang tatkala hidup susah dan miskin maka istrinya begitu setia dan juga ikut bekerja bersusah payah menjalani kehidupan yang penuh penderitaan bersamanya, namun tatkala sang suami berhasil menjadi seorang yang berkecukupan maka sang suami langsung poligami bahkan malah kurang memperhatikan kondisi istri pertamanya….seakan-akan ia lupa bahwa uang yang diperolehnya bukan semata usahanya, akan tetapi juga akibat andil istrinya yang bekerja keras membantunya…Diantara pertanyaan aneh yang pernah ditanyakan kepada saya adalah ada seorang lelaki yang dinafkahi oleh istrinya. Suatu saat sang suami pinjam uang kepada istrinya….ternyata uang tersebut digunakan untuk berpoligami !!? KETIGA : Jadi Kambing atau Serigala??Seorang praktisi poligami berkata : “Tatkala aku berpoligami aku menyangka diriku seperti seekor serigala yang selalu siap menyantap dua ekor kambing betina. Ternyata setelah menjalankan poligami maka aku seperti kambing diantara dua serigala yang senantiasa siap menerkam” Maksudnya : setiap hari ia menjadi bulan-bulanan diantara kedua istrinya, diantara omelan dan tuntutan kedua istrinya….Di sisi lain ada praktisi lain yang berkata : Semenjak aku berpoligami maka kedua istriku bertambah sayang kepadaku, karena keduanya selalu berlomba untuk memberikan kepuasan terbaik bagiku…. (Kalau ini benar-benar manjadi serigali diantara dua kambing betina) KEEMPAT : Nasehat Seorang Wanita Yang Mendahulukan akal daripada perasaannyawanita (A) menasehati wanita (B) sahabatnya.B : Pokoknya kalau suamiku poligami aku akan minta cerai darinyaA : Kenapa engkau harus minta cerai?B : Pokoknya aku tidak mau dimaduA : Kalau kamu sudah dicerai kamu mau nikah lagi?B : Tentu, pokoknya aku tdk mau dipoligamiA : Kalau kamu sudah jadi janda biasanya hanya laku untuk jadi istri keduaB : Iya sihA : Kalau gitu lebih baik kamu jangan minta cerai kalau toh akhirnya harus jadi istri kedua juga. Lebih baik kamu tetap bersama suamimu dan statusmu tetap menjadi istri pertamaB : Iya juga sih…. KELIMA : Lebih mudah meminta maaf daripada meminta izin !!!Itulah ucapan yang dilontarkan oleh seorang Doktor Fikih Lulusan Universitas Islam Madinah yang berasal dari Malaysia. Apa maksudnya…?Beliau menjelaskan bahwa jika seseorang ingin poligami lalu meminta izin dari istrinya maka bisa jadi puluhan tahun izin tidak akan ia dapatkan dari istrinya. Lebih mudah baginya jika ia langsung poligami lalu setelah itu meminta maaf kepada istrinya. Maka biasanya meskipun dengan sangat berat, akhirnya istrinya pun akan memaafkan, meskipun agak lama….Tentu pernyataan sang Doktor ini akan menimbulkan kontroversi diantara kalangan para wanita… KEENAM : Suami atau Istri Yang Penakut ??Sebagian para suami begitu bersemangat untuk membaca atau mengikuti kajian-kajian yang bertema poligami. Selain berniat untuk menambah ilmu, demikian juga untuk memotivasi diri berpoligami, serta untuk menghilangkan “Rasa Takut” yang selalu mengahtui. Namun kebanyakan mereka setelah mengahdiri kajian-kajian tersebut, ternyata tetap saja ….PENAKUT….Meskipun sebenarnya lafal “penakut” tersebut kurang tepat. Lafal yang lebih tepat adalah “Terlalu Sayang Sama Istri…” atau “Tidak tega menyakiti dan menyedihkan istri…”. Meskipun kenyataan yang ada memang sempat terungkap ancaman-ancaman yang mengerikan dari sebagian istri seperti “Kalau kamu poligami maka akan saya ulek kamu…”, ada juga yang berkata, “Akan kucincang kamu…”, atau ada yg berkata, “Akan kujadikan sate kamu” Akan tetapi toh, pada hakekatnya itu hanyalah ancaman seorang istri yang sangat mencintai suaminya, dan sangat ketakutan jika ditinggal suaminya. Jadi sang istrilah yang “Penakut”. Wallahu A’lamSemoga Allah menjadikan anda dan istri anda pasangan yang harmonis, di dunia sebelum dikumpulkan di surga…aamiin KETUJUH : Ta’ad (singkatan dari ta’addud)Sekelompok suami berkumpul dan berbicara tentang poligami (ta’addud). Namun mereka takut ketahuan istri-istri mereka yg sering mencuri dengar pembicaraan mereka dari dalam rumah, maka para suami tersebut sepakat untuk menyingkat kata ta’addud menjadi ta’ad (yang sekilas terdengar menjadi ta’at) agar disangka oleh istri-istri mereka bahwa mereka sedang membicarakan tentang keta’atan kepada Allah dan bukan tentang poligami. Diantara pembicaraan mereka adalah : Kita harus ta’at….Kalau kita ta’at maka sebaiknya diam-diam lebih baik (lebih ikhlas) dan lebih selamat…Kita harus mendukung ta’at…Demikianlah pembicaraan mereka…tentang ta’ad sementara dud nya tdk pernah mereka ucapkan karena takut ketahuan(Demikian tutur salah seorang dari kumpulan para suami tersebut kepada saya) KEDELAPAN : Seorang Guru Matematika Berbicara tentang Poligamidi salah satu stasiun TV Arab seorang guru matematika berkata : Kalau dipikir, fungsi seorang istri untuk benar-benar melayani suami dalam setahun kira-kira hanya seratus hari (sepertiga tahun) Hal ini disimpulkan dari 365 hari (setahun) – (dikurangi) masa haid (7×12) – waktu ziarohnya ke rumah ortunya/kerabatnya – masa sakitnya – kalau hamil? – masa nifasnya –…. Intinya ada waktu-waktu yg istri tdk bisa melayani suami dgn baik, yang membuktikan butuhnya wanita/istri yg lain dalam memenuhi kekosongan tersebut.Akan tetapi…., kami guru matematika hanya menghitung, yang mempraktekan poligami adalah guru agama (ustadz) bukan guru matematika.., (Ini hanya tuturan sang guru matematika, bisa jadi teori dan penjumlahan yg ia utarakan tdk disetujui) KESEMBILAN : Nasehat bagi wanita yang takut dipoligamiUkhti Muslimah…Ketahuilah…, bahwa sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala tidak akan membiarkan hambaNya berkata “Kami telah beriman” begitu saja…, karena pengakuan itu membutuhkan bukti dalam kehidupan… Ukhtii…. Jika sekiranya suatu saat engkau diuji dengan poligami atau hal itu saat ini sedang engkau hadapi…kemudian engkau memaksakan suamimu memilih alternatif yang kau sodorkan….Tinggalkan maduku…, Abaikan dan campakan dia…Atau… Berpisahlah dariku !!!Pilihan ini pada hekekatnya adalah beban dan resiko bagi orang yang selama ini engkau cintai. Tak terbayangkah olehmu, jika ia mengambil pilihan kedua…lalu ia meninggalkanmu…??, apakah itu menyelesaikan permasalahan hidupmu??, ataukah itu hanya menimbulkan permasalahan-permasalahan yang baru dalam hidupmu??Mungkin engkau berkata, “Biarkanlah itu terjadi…”Ukhtii muslimah…Memang kau tidak pernah takut menjalani dan menghadapi kehidupan tanpa suami.., maka kutanyakan kepada hati kecilmu…kutanyakan kepada imanmu… kutanyakan kepada akal sehatmu…, Manakah yang lebih baik, membagi cinta dan kebahagiaan yang ada, ataukah mencampakkannya…?Jika kau katakan bahwa :“Lebih baik tak bersuami dari pada membagi cinta kepada yang lain…”.Maka kukatakan kepadamu, “Mungkin engkau tegar dalam kesendirianmu, namun…tidakkah kau risaukan nasib anak-anakmu..??”Kau mungkin tidak akan mengabaikan mereka…, namun ketahuilah, bahwa kasih dan sayang tidak dapat dibeli dengan harta dunia. Anak-anakmu tetap membutuhkan belaian kasih sayang ayah mereka…, membutuhkan kebersamaanmu dan suamimu. Aku yakin engkau tahu itu…namun kau sengaja tidak ingin mengerti karena keegoisan cintamu !!Ukhtii fillah…Aku bertanya kepadamu…, apakah manfaat dan faedah jika engkau menerima madumu sebagai racun dalam kehidupanmu…?? Sehingga engkau menjalani hidup bersama suamimu hampir-hampir tanpa cinta dan kerinduan.. Dan tatkala suamimu bersama madumu…kau tinggal dalam kesendirian dengan penuh dendam dan permusuhanmu…Apakah kehidupan seperti ini membahagiakanmu??, apakah kehidupan seperti ini menambah cinta suamimu kepadamu..??Engkau menjadi wanita yang hidup tanpa cinta…, tanpa perasaan…tanpa kerinduan…, tersiksa…, gelisah.., dendam yang membara…, deraian tangisan yang tak kunjung henti…, engkau seperti wanita yang hidup dalam kematian… Semua itu…karena kau telah menjadikan madumu sebagai racun cinta dan kebahagiaanmu. Kau meneguknya bersama kemarahan dan kebencian…perlahan-lahan racun itu menjalar ke seluruh tubuhmu…. Dan jika tidak memakan jasadmu maka akan memakan hatimu KESEPULUH : Puisi PoligamiRayuan SUAMI :Istriku…, jika engkau bumi, akulah mentari… Aku menyinari kamu Dan dikau selalu mengharapkan hangatnya sinarku… Lalu terbesik dlm hatiku…bukankah Tuhan menciptakan aku bukan hanya untuk bumi?? Ternyata ada planet-planet lain yang juga mengharap hangatnya sinarku JADI… Relakanlah aku menyinari planet lain, merasakan hangatnya sinarku, merasakan faedah keberadaanku, karena sudah kodrati..dan Tuhan pun tak marah… Balasan Puisi sang ISTRI :Suamiku, bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya, aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet yang pernah Tuhan ciptakan karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran, dan akupun juga tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu TAPIIIIIIII.. Bila kau hanya sejengkal lilin yang berkekuatan 5 watt, jangan bermimpi menyinari planet lain!!! Karena kamar kita yang kecil pun belum sanggup kau terangi… KESEBELAS : Poligami Sunnah Terindah…Istri : Mas..mas, buat apa kamu poligami…???Suami : Demi menjalankan sunnah bu…Istri : Sunnah itu masih banyak…, wong kamu jarang sholat malam, jarang puasa sunnah, jarang berinfak, lantas kenapa kamu malah memilihi sunnah poligami dan tidak mengerjakan sunnah-sunnah yang lain…??!Suami : Karena poligami adalah sunnah terindah…!!! KEDUA BELAS : Poligami Menambah Kecintaan Pada Istri PertamaSuami : Istriku… yakinlah jika aku berpoligami maka aku akan semakin cinta kepadamu…Istri : Mas-mas kamu kalau nggombal kok ngawur gitu… Kalau kamu kawin lagi berarti cintamu kepadaku kamu bagi dua !!!, bagaimana kok bisa semakin cinta kepadaku??, yang benar adalah cintamu semakin luntur kepadakuSuami : Itu tidak benar istriku…kalau aku hanya sama kamu terus aku kawatir akan muncul kebosanan…adapun jika aku berpoligami maka akan ada variasi dalam kehidupanku, sehingga jika aku berada di madumu maka kerinduanku kepadamu akan semakin menggebu-gebu !! KETIGA BELAS : Istriku Selalu Siap Jika Aku berpoligami !!Seorang lelaki berkata, “Istriku selalu siap jika aku akan berpoligami !!”Temannya nyeletuk : “Wah hebat sekali istrimu…, gimana cara kamu mendidiknya…”Sang lelaki berkata, “Maksudku…istriku senantiasa siap membawa pentungan kalau aku berpoligami …!!”  KEEMPAT BELAS : Guntur dan Gledek Terus, tapi Tak Pernah Hujan…Kenyataan yang ada, banyak lelaki yang hobinya membicarakan poligami…, bahkan sebagian suami begitu semangat dan juga menunjukkan semangatnya untuk berpoligami. Semangatnya begitu menggelegar…akan tetapi kenyataannya ia tidak pernah bisa dan selalu takut untuk berpoligami.Orang seperti ini selalu menggelegar semangatnya seperti guntur dan halilintar akan tetapi…tidak pernah turun hujannya !!!Justru sebagian suami yang pendiam, jarang atau hampir tidak pernah membicarakan poligami…akan tetapi tiba-tiba ia telah menggandeng istri keduanya…(Diam-diam menghanyutkan…)Nah anda termasuk guntur dan gledek tapi tak pernah hujan…, ataukah termasuk air yang diam tapi menghanyutkan ??!!. Ataukah anda adalah guntur yang segera menurunkan hujan ??? KEEMPAT BELAS : Saya Juga Mau !!!          Sekelompok ibu-ibu pengajian mendatangi seorang ustadz yang sudah cukup berumur. Mereka dengan begitu semangatnya mengeluhkan kepada sang ustadz tentang kondisi suami-suami mereka yang ingin berpoligami. Maka sang ustadz lalu berkata, “Kenapa ibu-ibu?, suami ibu-ibu ingin poligami ??, wah saya juga mau !!!”Maka segera buyarlah para ibu-ibu tersebut kecewa mendengar jawaban sang ustadz. Penutup : Poligami adalah syari’at yang mulia, akan tetapi tidak semua lelaki bisa dan mampu serta dewasa dan bijak dalam menjalankannya. Barang siapa yang tidak adil dalam menjalankan poligami maka ia akan dipermalukan oleh Allah pada hari kiamat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :من كان له امرأتان فمال إلى إحداهما جاء يوم القيامة وشقه مائل“Barang siapa yang memiliki dua istri lalu ia condong kepada salah satunya maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam kondisi badannya miring”Namun ditengah buruknya praktek poligami oleh sebagian suami, maka barang siapa yang bisa menerapkan poligami dengan baik maka semoga ia bisa menjadi teladan dan motivator bagi yang lainnya. Ia telah menghidupkan sunnah yang mulai ditinggalkan. 
Tidak diragukan bahwa syari’at poligami merupakan syari’at yang mulia yang diturunkan oleh Pencipta seluruh manusia baik para lelaki maupun para wanita, Pencipta yang lebih mengetahui kemaslahatan makhluk yang Ia ciptakan. Akan tetapi kenyataannya praktik poligami tidak semudah yang dibayangkan…Berikut ini kumpulan tulisan-tulisan ringan tentang poligami (sebagian besar tulisan ini telah dipublish sebelumnya di firanda.com):  PERTAMA : Rintihan Poligami (seakan-akan poligami berkata):(1) Mereka memusuhiku…padahal aku datang dari sisi Rob mereka.. Jika yang memerangiku orang-orang kafir yang membenci Muhammad dan umatnya maka aku tdk peduli…akan tetapi ternyata yg memerangiku para wanita muslimah…, bahkan para wanita yang rajin mengikuti pengajian??, bahkan para wanita yang merupakan panitia pengajian??(2) Orang-orang kafir terus memusuhiku, menghinaku sebagaimana sikap mereka terhadap hukum waris yg mereka anggap tdk adil, karena jika mereka berhasil menikamku maka jatuhlah syari’at Muhammad dan kenabiannya dihadapan mereka…Apakah mereka lupa bahwa Nabi-nabi mereka Dawud dan Sulaiman-disebutkan dalam injil mereka- juga berpoligami?(3) Bukankah kebanyakan mereka -sekarang ini- juga berpoligami bahkan lbh dari 4 wanita?, hanya saja tanpa pernikahan resmi (alias zina?), tanpa ada pengingkaran sama sekali dari mereka?, lantas poligami yg penuh aturan kenapa harus mereka ingkari?(4) Aku adalah anugrah yang Allah turunkan bagi hamba-hambaNya…akan tetapi banyak yang tidak menyadarinya…atau tdk mau menyadarinya…Bahkan aku adalah mukjizat Allah, karena aku memperhatikan kemaslahatan umum…bukan hanya kemaslahatan pribadi. Boleh jadi istri pertama merasa mendapatkan kemudorotan atau merasa dizolimi akan tetapi masih terlalu banyak janda…perawan tua…bahkan perawan muda…yg menanti-nanti kehadiranku?? Bukankah :–         Jumlah para wanita lebih banyak dari jumlah para lelaki?–         Selain sedikit, ternyata tidak semua lelaki dewasa siap menikah?, ia harus mempersiapkan ekonomi dan mentalnya. Berbeda dgn wanita, jika sudah baligh maka siap menunggu lamaran menyapa…–         Selain sedikit, aktivitas kerjaan para lelaki lebih menantang kepada kematian…, berbeda dengan aktivitas para wanita yang kebanyakan di rumah…–         Para lelaki juga tidak ada liburnya, tidak ada haid dan nifas yg berkepanjangan, selalu produktif.(5) Bukankah dgn kehadiranku banyak permasalahan sosial yg bisa diatasi?, mengurangi praktik seksual yang salah dan haram? Bukankah dengan kehadiranku akan memperbanyak kelahiran umat dan pasukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?, sukakah anda menyenangkan hati Nabi pada hari kiamat kelak yang bangga dengan banyaknya umatnya dihadapan umat-umat dan nabi-nabi yang lain?(6) Wahai para wanita muslimah…sungguh ANEH…–         Sebagian wanita memilih lebih baik diracun (suaminya berzina) daripada dimadu (suaminya berpoligami)…Ini adalah tanda rusaknya fitroh sang wanita… Ia tdk mau membagi cinta kekasihnya kepada sahabatnya sesama muslimah…egois ia kedepankan daripada sikap perhatian terhadap sesama muslimah…Akan tetapi ternyata ia mampu untuk membuang ego-nya tatkala cinta kekasihnya dibagikan kepada para wanita pelacur…!!!–         Sebagian wanita memandang bahwa jika ia dipoligami berarti ia tdk sukses dan telah gagal dalam melayani suami !!, atau merasa suaminya tdk lagi mencintainya…ini adlh kelaziman yg tdk lazim !!!. Bukankah Aisyah adalah istri yg paling dicintai Nabi? Ternyata setelah menikahi Aisyah, Nabi masih menikah lagi dgn sekitar 7 wanita yg lain(7) Sebagian wanita menghujatku… padahal aku tidak pernah bersalah…yang bersalah adalah para lelaki yang tidak bertanggung jawab dalam menjalaniku… (8) Wahai ukhti… Jika engkau tidak sudi denganku… Maka janganlah kau benci diriku…jangan pula kau ajak suamimu untuk memusuhiku…apalagi berkampanye kepada para ibu-ibu untuk memusuhiku….ingatlah aku datang dari Robmu…, jangan kau bantu propaganda orang-orang kafir yg membenci syariat Robmu. Doakan saja semoga para lelaki bisa menjalaniku dengan baik. KEDUA : Bersyukurlah agar ditambah…          Barang siapa yang mensyukuri nikmat Allah maka Allah akan menambah nikmatnya. Karenanya diantara kiat agar seorang lelaki bisa bertambah jumlah istrinya maka hendaknya ia banyak-banyak bersyukur dengan istri pertamanya. Hendaknya ia mensyukuri nikmat istri pertamanya dengan memenuhi hak-haknya…, mendidiknya…, membahagiakannya…Jika ia telah berusaha bersyukur dengan sebaik-baiknya, maka bisa jadi Allah akan menambahkan baginya istri yang baru. Karenanya para lelaki yang sulit untuk poligami maka jangan-jangan karena kurang bersyukur….??!!Yang menyedihkan adalah seorang suami yang tatkala hidup susah dan miskin maka istrinya begitu setia dan juga ikut bekerja bersusah payah menjalani kehidupan yang penuh penderitaan bersamanya, namun tatkala sang suami berhasil menjadi seorang yang berkecukupan maka sang suami langsung poligami bahkan malah kurang memperhatikan kondisi istri pertamanya….seakan-akan ia lupa bahwa uang yang diperolehnya bukan semata usahanya, akan tetapi juga akibat andil istrinya yang bekerja keras membantunya…Diantara pertanyaan aneh yang pernah ditanyakan kepada saya adalah ada seorang lelaki yang dinafkahi oleh istrinya. Suatu saat sang suami pinjam uang kepada istrinya….ternyata uang tersebut digunakan untuk berpoligami !!? KETIGA : Jadi Kambing atau Serigala??Seorang praktisi poligami berkata : “Tatkala aku berpoligami aku menyangka diriku seperti seekor serigala yang selalu siap menyantap dua ekor kambing betina. Ternyata setelah menjalankan poligami maka aku seperti kambing diantara dua serigala yang senantiasa siap menerkam” Maksudnya : setiap hari ia menjadi bulan-bulanan diantara kedua istrinya, diantara omelan dan tuntutan kedua istrinya….Di sisi lain ada praktisi lain yang berkata : Semenjak aku berpoligami maka kedua istriku bertambah sayang kepadaku, karena keduanya selalu berlomba untuk memberikan kepuasan terbaik bagiku…. (Kalau ini benar-benar manjadi serigali diantara dua kambing betina) KEEMPAT : Nasehat Seorang Wanita Yang Mendahulukan akal daripada perasaannyawanita (A) menasehati wanita (B) sahabatnya.B : Pokoknya kalau suamiku poligami aku akan minta cerai darinyaA : Kenapa engkau harus minta cerai?B : Pokoknya aku tidak mau dimaduA : Kalau kamu sudah dicerai kamu mau nikah lagi?B : Tentu, pokoknya aku tdk mau dipoligamiA : Kalau kamu sudah jadi janda biasanya hanya laku untuk jadi istri keduaB : Iya sihA : Kalau gitu lebih baik kamu jangan minta cerai kalau toh akhirnya harus jadi istri kedua juga. Lebih baik kamu tetap bersama suamimu dan statusmu tetap menjadi istri pertamaB : Iya juga sih…. KELIMA : Lebih mudah meminta maaf daripada meminta izin !!!Itulah ucapan yang dilontarkan oleh seorang Doktor Fikih Lulusan Universitas Islam Madinah yang berasal dari Malaysia. Apa maksudnya…?Beliau menjelaskan bahwa jika seseorang ingin poligami lalu meminta izin dari istrinya maka bisa jadi puluhan tahun izin tidak akan ia dapatkan dari istrinya. Lebih mudah baginya jika ia langsung poligami lalu setelah itu meminta maaf kepada istrinya. Maka biasanya meskipun dengan sangat berat, akhirnya istrinya pun akan memaafkan, meskipun agak lama….Tentu pernyataan sang Doktor ini akan menimbulkan kontroversi diantara kalangan para wanita… KEENAM : Suami atau Istri Yang Penakut ??Sebagian para suami begitu bersemangat untuk membaca atau mengikuti kajian-kajian yang bertema poligami. Selain berniat untuk menambah ilmu, demikian juga untuk memotivasi diri berpoligami, serta untuk menghilangkan “Rasa Takut” yang selalu mengahtui. Namun kebanyakan mereka setelah mengahdiri kajian-kajian tersebut, ternyata tetap saja ….PENAKUT….Meskipun sebenarnya lafal “penakut” tersebut kurang tepat. Lafal yang lebih tepat adalah “Terlalu Sayang Sama Istri…” atau “Tidak tega menyakiti dan menyedihkan istri…”. Meskipun kenyataan yang ada memang sempat terungkap ancaman-ancaman yang mengerikan dari sebagian istri seperti “Kalau kamu poligami maka akan saya ulek kamu…”, ada juga yang berkata, “Akan kucincang kamu…”, atau ada yg berkata, “Akan kujadikan sate kamu” Akan tetapi toh, pada hakekatnya itu hanyalah ancaman seorang istri yang sangat mencintai suaminya, dan sangat ketakutan jika ditinggal suaminya. Jadi sang istrilah yang “Penakut”. Wallahu A’lamSemoga Allah menjadikan anda dan istri anda pasangan yang harmonis, di dunia sebelum dikumpulkan di surga…aamiin KETUJUH : Ta’ad (singkatan dari ta’addud)Sekelompok suami berkumpul dan berbicara tentang poligami (ta’addud). Namun mereka takut ketahuan istri-istri mereka yg sering mencuri dengar pembicaraan mereka dari dalam rumah, maka para suami tersebut sepakat untuk menyingkat kata ta’addud menjadi ta’ad (yang sekilas terdengar menjadi ta’at) agar disangka oleh istri-istri mereka bahwa mereka sedang membicarakan tentang keta’atan kepada Allah dan bukan tentang poligami. Diantara pembicaraan mereka adalah : Kita harus ta’at….Kalau kita ta’at maka sebaiknya diam-diam lebih baik (lebih ikhlas) dan lebih selamat…Kita harus mendukung ta’at…Demikianlah pembicaraan mereka…tentang ta’ad sementara dud nya tdk pernah mereka ucapkan karena takut ketahuan(Demikian tutur salah seorang dari kumpulan para suami tersebut kepada saya) KEDELAPAN : Seorang Guru Matematika Berbicara tentang Poligamidi salah satu stasiun TV Arab seorang guru matematika berkata : Kalau dipikir, fungsi seorang istri untuk benar-benar melayani suami dalam setahun kira-kira hanya seratus hari (sepertiga tahun) Hal ini disimpulkan dari 365 hari (setahun) – (dikurangi) masa haid (7×12) – waktu ziarohnya ke rumah ortunya/kerabatnya – masa sakitnya – kalau hamil? – masa nifasnya –…. Intinya ada waktu-waktu yg istri tdk bisa melayani suami dgn baik, yang membuktikan butuhnya wanita/istri yg lain dalam memenuhi kekosongan tersebut.Akan tetapi…., kami guru matematika hanya menghitung, yang mempraktekan poligami adalah guru agama (ustadz) bukan guru matematika.., (Ini hanya tuturan sang guru matematika, bisa jadi teori dan penjumlahan yg ia utarakan tdk disetujui) KESEMBILAN : Nasehat bagi wanita yang takut dipoligamiUkhti Muslimah…Ketahuilah…, bahwa sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala tidak akan membiarkan hambaNya berkata “Kami telah beriman” begitu saja…, karena pengakuan itu membutuhkan bukti dalam kehidupan… Ukhtii…. Jika sekiranya suatu saat engkau diuji dengan poligami atau hal itu saat ini sedang engkau hadapi…kemudian engkau memaksakan suamimu memilih alternatif yang kau sodorkan….Tinggalkan maduku…, Abaikan dan campakan dia…Atau… Berpisahlah dariku !!!Pilihan ini pada hekekatnya adalah beban dan resiko bagi orang yang selama ini engkau cintai. Tak terbayangkah olehmu, jika ia mengambil pilihan kedua…lalu ia meninggalkanmu…??, apakah itu menyelesaikan permasalahan hidupmu??, ataukah itu hanya menimbulkan permasalahan-permasalahan yang baru dalam hidupmu??Mungkin engkau berkata, “Biarkanlah itu terjadi…”Ukhtii muslimah…Memang kau tidak pernah takut menjalani dan menghadapi kehidupan tanpa suami.., maka kutanyakan kepada hati kecilmu…kutanyakan kepada imanmu… kutanyakan kepada akal sehatmu…, Manakah yang lebih baik, membagi cinta dan kebahagiaan yang ada, ataukah mencampakkannya…?Jika kau katakan bahwa :“Lebih baik tak bersuami dari pada membagi cinta kepada yang lain…”.Maka kukatakan kepadamu, “Mungkin engkau tegar dalam kesendirianmu, namun…tidakkah kau risaukan nasib anak-anakmu..??”Kau mungkin tidak akan mengabaikan mereka…, namun ketahuilah, bahwa kasih dan sayang tidak dapat dibeli dengan harta dunia. Anak-anakmu tetap membutuhkan belaian kasih sayang ayah mereka…, membutuhkan kebersamaanmu dan suamimu. Aku yakin engkau tahu itu…namun kau sengaja tidak ingin mengerti karena keegoisan cintamu !!Ukhtii fillah…Aku bertanya kepadamu…, apakah manfaat dan faedah jika engkau menerima madumu sebagai racun dalam kehidupanmu…?? Sehingga engkau menjalani hidup bersama suamimu hampir-hampir tanpa cinta dan kerinduan.. Dan tatkala suamimu bersama madumu…kau tinggal dalam kesendirian dengan penuh dendam dan permusuhanmu…Apakah kehidupan seperti ini membahagiakanmu??, apakah kehidupan seperti ini menambah cinta suamimu kepadamu..??Engkau menjadi wanita yang hidup tanpa cinta…, tanpa perasaan…tanpa kerinduan…, tersiksa…, gelisah.., dendam yang membara…, deraian tangisan yang tak kunjung henti…, engkau seperti wanita yang hidup dalam kematian… Semua itu…karena kau telah menjadikan madumu sebagai racun cinta dan kebahagiaanmu. Kau meneguknya bersama kemarahan dan kebencian…perlahan-lahan racun itu menjalar ke seluruh tubuhmu…. Dan jika tidak memakan jasadmu maka akan memakan hatimu KESEPULUH : Puisi PoligamiRayuan SUAMI :Istriku…, jika engkau bumi, akulah mentari… Aku menyinari kamu Dan dikau selalu mengharapkan hangatnya sinarku… Lalu terbesik dlm hatiku…bukankah Tuhan menciptakan aku bukan hanya untuk bumi?? Ternyata ada planet-planet lain yang juga mengharap hangatnya sinarku JADI… Relakanlah aku menyinari planet lain, merasakan hangatnya sinarku, merasakan faedah keberadaanku, karena sudah kodrati..dan Tuhan pun tak marah… Balasan Puisi sang ISTRI :Suamiku, bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya, aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet yang pernah Tuhan ciptakan karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran, dan akupun juga tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu TAPIIIIIIII.. Bila kau hanya sejengkal lilin yang berkekuatan 5 watt, jangan bermimpi menyinari planet lain!!! Karena kamar kita yang kecil pun belum sanggup kau terangi… KESEBELAS : Poligami Sunnah Terindah…Istri : Mas..mas, buat apa kamu poligami…???Suami : Demi menjalankan sunnah bu…Istri : Sunnah itu masih banyak…, wong kamu jarang sholat malam, jarang puasa sunnah, jarang berinfak, lantas kenapa kamu malah memilihi sunnah poligami dan tidak mengerjakan sunnah-sunnah yang lain…??!Suami : Karena poligami adalah sunnah terindah…!!! KEDUA BELAS : Poligami Menambah Kecintaan Pada Istri PertamaSuami : Istriku… yakinlah jika aku berpoligami maka aku akan semakin cinta kepadamu…Istri : Mas-mas kamu kalau nggombal kok ngawur gitu… Kalau kamu kawin lagi berarti cintamu kepadaku kamu bagi dua !!!, bagaimana kok bisa semakin cinta kepadaku??, yang benar adalah cintamu semakin luntur kepadakuSuami : Itu tidak benar istriku…kalau aku hanya sama kamu terus aku kawatir akan muncul kebosanan…adapun jika aku berpoligami maka akan ada variasi dalam kehidupanku, sehingga jika aku berada di madumu maka kerinduanku kepadamu akan semakin menggebu-gebu !! KETIGA BELAS : Istriku Selalu Siap Jika Aku berpoligami !!Seorang lelaki berkata, “Istriku selalu siap jika aku akan berpoligami !!”Temannya nyeletuk : “Wah hebat sekali istrimu…, gimana cara kamu mendidiknya…”Sang lelaki berkata, “Maksudku…istriku senantiasa siap membawa pentungan kalau aku berpoligami …!!”  KEEMPAT BELAS : Guntur dan Gledek Terus, tapi Tak Pernah Hujan…Kenyataan yang ada, banyak lelaki yang hobinya membicarakan poligami…, bahkan sebagian suami begitu semangat dan juga menunjukkan semangatnya untuk berpoligami. Semangatnya begitu menggelegar…akan tetapi kenyataannya ia tidak pernah bisa dan selalu takut untuk berpoligami.Orang seperti ini selalu menggelegar semangatnya seperti guntur dan halilintar akan tetapi…tidak pernah turun hujannya !!!Justru sebagian suami yang pendiam, jarang atau hampir tidak pernah membicarakan poligami…akan tetapi tiba-tiba ia telah menggandeng istri keduanya…(Diam-diam menghanyutkan…)Nah anda termasuk guntur dan gledek tapi tak pernah hujan…, ataukah termasuk air yang diam tapi menghanyutkan ??!!. Ataukah anda adalah guntur yang segera menurunkan hujan ??? KEEMPAT BELAS : Saya Juga Mau !!!          Sekelompok ibu-ibu pengajian mendatangi seorang ustadz yang sudah cukup berumur. Mereka dengan begitu semangatnya mengeluhkan kepada sang ustadz tentang kondisi suami-suami mereka yang ingin berpoligami. Maka sang ustadz lalu berkata, “Kenapa ibu-ibu?, suami ibu-ibu ingin poligami ??, wah saya juga mau !!!”Maka segera buyarlah para ibu-ibu tersebut kecewa mendengar jawaban sang ustadz. Penutup : Poligami adalah syari’at yang mulia, akan tetapi tidak semua lelaki bisa dan mampu serta dewasa dan bijak dalam menjalankannya. Barang siapa yang tidak adil dalam menjalankan poligami maka ia akan dipermalukan oleh Allah pada hari kiamat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :من كان له امرأتان فمال إلى إحداهما جاء يوم القيامة وشقه مائل“Barang siapa yang memiliki dua istri lalu ia condong kepada salah satunya maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam kondisi badannya miring”Namun ditengah buruknya praktek poligami oleh sebagian suami, maka barang siapa yang bisa menerapkan poligami dengan baik maka semoga ia bisa menjadi teladan dan motivator bagi yang lainnya. Ia telah menghidupkan sunnah yang mulai ditinggalkan. 


Tidak diragukan bahwa syari’at poligami merupakan syari’at yang mulia yang diturunkan oleh Pencipta seluruh manusia baik para lelaki maupun para wanita, Pencipta yang lebih mengetahui kemaslahatan makhluk yang Ia ciptakan. Akan tetapi kenyataannya praktik poligami tidak semudah yang dibayangkan…Berikut ini kumpulan tulisan-tulisan ringan tentang poligami (sebagian besar tulisan ini telah dipublish sebelumnya di firanda.com):  PERTAMA : Rintihan Poligami (seakan-akan poligami berkata):(1) Mereka memusuhiku…padahal aku datang dari sisi Rob mereka.. Jika yang memerangiku orang-orang kafir yang membenci Muhammad dan umatnya maka aku tdk peduli…akan tetapi ternyata yg memerangiku para wanita muslimah…, bahkan para wanita yang rajin mengikuti pengajian??, bahkan para wanita yang merupakan panitia pengajian??(2) Orang-orang kafir terus memusuhiku, menghinaku sebagaimana sikap mereka terhadap hukum waris yg mereka anggap tdk adil, karena jika mereka berhasil menikamku maka jatuhlah syari’at Muhammad dan kenabiannya dihadapan mereka…Apakah mereka lupa bahwa Nabi-nabi mereka Dawud dan Sulaiman-disebutkan dalam injil mereka- juga berpoligami?(3) Bukankah kebanyakan mereka -sekarang ini- juga berpoligami bahkan lbh dari 4 wanita?, hanya saja tanpa pernikahan resmi (alias zina?), tanpa ada pengingkaran sama sekali dari mereka?, lantas poligami yg penuh aturan kenapa harus mereka ingkari?(4) Aku adalah anugrah yang Allah turunkan bagi hamba-hambaNya…akan tetapi banyak yang tidak menyadarinya…atau tdk mau menyadarinya…Bahkan aku adalah mukjizat Allah, karena aku memperhatikan kemaslahatan umum…bukan hanya kemaslahatan pribadi. Boleh jadi istri pertama merasa mendapatkan kemudorotan atau merasa dizolimi akan tetapi masih terlalu banyak janda…perawan tua…bahkan perawan muda…yg menanti-nanti kehadiranku?? Bukankah :–         Jumlah para wanita lebih banyak dari jumlah para lelaki?–         Selain sedikit, ternyata tidak semua lelaki dewasa siap menikah?, ia harus mempersiapkan ekonomi dan mentalnya. Berbeda dgn wanita, jika sudah baligh maka siap menunggu lamaran menyapa…–         Selain sedikit, aktivitas kerjaan para lelaki lebih menantang kepada kematian…, berbeda dengan aktivitas para wanita yang kebanyakan di rumah…–         Para lelaki juga tidak ada liburnya, tidak ada haid dan nifas yg berkepanjangan, selalu produktif.(5) Bukankah dgn kehadiranku banyak permasalahan sosial yg bisa diatasi?, mengurangi praktik seksual yang salah dan haram? Bukankah dengan kehadiranku akan memperbanyak kelahiran umat dan pasukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?, sukakah anda menyenangkan hati Nabi pada hari kiamat kelak yang bangga dengan banyaknya umatnya dihadapan umat-umat dan nabi-nabi yang lain?(6) Wahai para wanita muslimah…sungguh ANEH…–         Sebagian wanita memilih lebih baik diracun (suaminya berzina) daripada dimadu (suaminya berpoligami)…Ini adalah tanda rusaknya fitroh sang wanita… Ia tdk mau membagi cinta kekasihnya kepada sahabatnya sesama muslimah…egois ia kedepankan daripada sikap perhatian terhadap sesama muslimah…Akan tetapi ternyata ia mampu untuk membuang ego-nya tatkala cinta kekasihnya dibagikan kepada para wanita pelacur…!!!–         Sebagian wanita memandang bahwa jika ia dipoligami berarti ia tdk sukses dan telah gagal dalam melayani suami !!, atau merasa suaminya tdk lagi mencintainya…ini adlh kelaziman yg tdk lazim !!!. Bukankah Aisyah adalah istri yg paling dicintai Nabi? Ternyata setelah menikahi Aisyah, Nabi masih menikah lagi dgn sekitar 7 wanita yg lain(7) Sebagian wanita menghujatku… padahal aku tidak pernah bersalah…yang bersalah adalah para lelaki yang tidak bertanggung jawab dalam menjalaniku… (8) Wahai ukhti… Jika engkau tidak sudi denganku… Maka janganlah kau benci diriku…jangan pula kau ajak suamimu untuk memusuhiku…apalagi berkampanye kepada para ibu-ibu untuk memusuhiku….ingatlah aku datang dari Robmu…, jangan kau bantu propaganda orang-orang kafir yg membenci syariat Robmu. Doakan saja semoga para lelaki bisa menjalaniku dengan baik. KEDUA : Bersyukurlah agar ditambah…          Barang siapa yang mensyukuri nikmat Allah maka Allah akan menambah nikmatnya. Karenanya diantara kiat agar seorang lelaki bisa bertambah jumlah istrinya maka hendaknya ia banyak-banyak bersyukur dengan istri pertamanya. Hendaknya ia mensyukuri nikmat istri pertamanya dengan memenuhi hak-haknya…, mendidiknya…, membahagiakannya…Jika ia telah berusaha bersyukur dengan sebaik-baiknya, maka bisa jadi Allah akan menambahkan baginya istri yang baru. Karenanya para lelaki yang sulit untuk poligami maka jangan-jangan karena kurang bersyukur….??!!Yang menyedihkan adalah seorang suami yang tatkala hidup susah dan miskin maka istrinya begitu setia dan juga ikut bekerja bersusah payah menjalani kehidupan yang penuh penderitaan bersamanya, namun tatkala sang suami berhasil menjadi seorang yang berkecukupan maka sang suami langsung poligami bahkan malah kurang memperhatikan kondisi istri pertamanya….seakan-akan ia lupa bahwa uang yang diperolehnya bukan semata usahanya, akan tetapi juga akibat andil istrinya yang bekerja keras membantunya…Diantara pertanyaan aneh yang pernah ditanyakan kepada saya adalah ada seorang lelaki yang dinafkahi oleh istrinya. Suatu saat sang suami pinjam uang kepada istrinya….ternyata uang tersebut digunakan untuk berpoligami !!? KETIGA : Jadi Kambing atau Serigala??Seorang praktisi poligami berkata : “Tatkala aku berpoligami aku menyangka diriku seperti seekor serigala yang selalu siap menyantap dua ekor kambing betina. Ternyata setelah menjalankan poligami maka aku seperti kambing diantara dua serigala yang senantiasa siap menerkam” Maksudnya : setiap hari ia menjadi bulan-bulanan diantara kedua istrinya, diantara omelan dan tuntutan kedua istrinya….Di sisi lain ada praktisi lain yang berkata : Semenjak aku berpoligami maka kedua istriku bertambah sayang kepadaku, karena keduanya selalu berlomba untuk memberikan kepuasan terbaik bagiku…. (Kalau ini benar-benar manjadi serigali diantara dua kambing betina) KEEMPAT : Nasehat Seorang Wanita Yang Mendahulukan akal daripada perasaannyawanita (A) menasehati wanita (B) sahabatnya.B : Pokoknya kalau suamiku poligami aku akan minta cerai darinyaA : Kenapa engkau harus minta cerai?B : Pokoknya aku tidak mau dimaduA : Kalau kamu sudah dicerai kamu mau nikah lagi?B : Tentu, pokoknya aku tdk mau dipoligamiA : Kalau kamu sudah jadi janda biasanya hanya laku untuk jadi istri keduaB : Iya sihA : Kalau gitu lebih baik kamu jangan minta cerai kalau toh akhirnya harus jadi istri kedua juga. Lebih baik kamu tetap bersama suamimu dan statusmu tetap menjadi istri pertamaB : Iya juga sih…. KELIMA : Lebih mudah meminta maaf daripada meminta izin !!!Itulah ucapan yang dilontarkan oleh seorang Doktor Fikih Lulusan Universitas Islam Madinah yang berasal dari Malaysia. Apa maksudnya…?Beliau menjelaskan bahwa jika seseorang ingin poligami lalu meminta izin dari istrinya maka bisa jadi puluhan tahun izin tidak akan ia dapatkan dari istrinya. Lebih mudah baginya jika ia langsung poligami lalu setelah itu meminta maaf kepada istrinya. Maka biasanya meskipun dengan sangat berat, akhirnya istrinya pun akan memaafkan, meskipun agak lama….Tentu pernyataan sang Doktor ini akan menimbulkan kontroversi diantara kalangan para wanita… KEENAM : Suami atau Istri Yang Penakut ??Sebagian para suami begitu bersemangat untuk membaca atau mengikuti kajian-kajian yang bertema poligami. Selain berniat untuk menambah ilmu, demikian juga untuk memotivasi diri berpoligami, serta untuk menghilangkan “Rasa Takut” yang selalu mengahtui. Namun kebanyakan mereka setelah mengahdiri kajian-kajian tersebut, ternyata tetap saja ….PENAKUT….Meskipun sebenarnya lafal “penakut” tersebut kurang tepat. Lafal yang lebih tepat adalah “Terlalu Sayang Sama Istri…” atau “Tidak tega menyakiti dan menyedihkan istri…”. Meskipun kenyataan yang ada memang sempat terungkap ancaman-ancaman yang mengerikan dari sebagian istri seperti “Kalau kamu poligami maka akan saya ulek kamu…”, ada juga yang berkata, “Akan kucincang kamu…”, atau ada yg berkata, “Akan kujadikan sate kamu” Akan tetapi toh, pada hakekatnya itu hanyalah ancaman seorang istri yang sangat mencintai suaminya, dan sangat ketakutan jika ditinggal suaminya. Jadi sang istrilah yang “Penakut”. Wallahu A’lamSemoga Allah menjadikan anda dan istri anda pasangan yang harmonis, di dunia sebelum dikumpulkan di surga…aamiin KETUJUH : Ta’ad (singkatan dari ta’addud)Sekelompok suami berkumpul dan berbicara tentang poligami (ta’addud). Namun mereka takut ketahuan istri-istri mereka yg sering mencuri dengar pembicaraan mereka dari dalam rumah, maka para suami tersebut sepakat untuk menyingkat kata ta’addud menjadi ta’ad (yang sekilas terdengar menjadi ta’at) agar disangka oleh istri-istri mereka bahwa mereka sedang membicarakan tentang keta’atan kepada Allah dan bukan tentang poligami. Diantara pembicaraan mereka adalah : Kita harus ta’at….Kalau kita ta’at maka sebaiknya diam-diam lebih baik (lebih ikhlas) dan lebih selamat…Kita harus mendukung ta’at…Demikianlah pembicaraan mereka…tentang ta’ad sementara dud nya tdk pernah mereka ucapkan karena takut ketahuan(Demikian tutur salah seorang dari kumpulan para suami tersebut kepada saya) KEDELAPAN : Seorang Guru Matematika Berbicara tentang Poligamidi salah satu stasiun TV Arab seorang guru matematika berkata : Kalau dipikir, fungsi seorang istri untuk benar-benar melayani suami dalam setahun kira-kira hanya seratus hari (sepertiga tahun) Hal ini disimpulkan dari 365 hari (setahun) – (dikurangi) masa haid (7×12) – waktu ziarohnya ke rumah ortunya/kerabatnya – masa sakitnya – kalau hamil? – masa nifasnya –…. Intinya ada waktu-waktu yg istri tdk bisa melayani suami dgn baik, yang membuktikan butuhnya wanita/istri yg lain dalam memenuhi kekosongan tersebut.Akan tetapi…., kami guru matematika hanya menghitung, yang mempraktekan poligami adalah guru agama (ustadz) bukan guru matematika.., (Ini hanya tuturan sang guru matematika, bisa jadi teori dan penjumlahan yg ia utarakan tdk disetujui) KESEMBILAN : Nasehat bagi wanita yang takut dipoligamiUkhti Muslimah…Ketahuilah…, bahwa sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala tidak akan membiarkan hambaNya berkata “Kami telah beriman” begitu saja…, karena pengakuan itu membutuhkan bukti dalam kehidupan… Ukhtii…. Jika sekiranya suatu saat engkau diuji dengan poligami atau hal itu saat ini sedang engkau hadapi…kemudian engkau memaksakan suamimu memilih alternatif yang kau sodorkan….Tinggalkan maduku…, Abaikan dan campakan dia…Atau… Berpisahlah dariku !!!Pilihan ini pada hekekatnya adalah beban dan resiko bagi orang yang selama ini engkau cintai. Tak terbayangkah olehmu, jika ia mengambil pilihan kedua…lalu ia meninggalkanmu…??, apakah itu menyelesaikan permasalahan hidupmu??, ataukah itu hanya menimbulkan permasalahan-permasalahan yang baru dalam hidupmu??Mungkin engkau berkata, “Biarkanlah itu terjadi…”Ukhtii muslimah…Memang kau tidak pernah takut menjalani dan menghadapi kehidupan tanpa suami.., maka kutanyakan kepada hati kecilmu…kutanyakan kepada imanmu… kutanyakan kepada akal sehatmu…, Manakah yang lebih baik, membagi cinta dan kebahagiaan yang ada, ataukah mencampakkannya…?Jika kau katakan bahwa :“Lebih baik tak bersuami dari pada membagi cinta kepada yang lain…”.Maka kukatakan kepadamu, “Mungkin engkau tegar dalam kesendirianmu, namun…tidakkah kau risaukan nasib anak-anakmu..??”Kau mungkin tidak akan mengabaikan mereka…, namun ketahuilah, bahwa kasih dan sayang tidak dapat dibeli dengan harta dunia. Anak-anakmu tetap membutuhkan belaian kasih sayang ayah mereka…, membutuhkan kebersamaanmu dan suamimu. Aku yakin engkau tahu itu…namun kau sengaja tidak ingin mengerti karena keegoisan cintamu !!Ukhtii fillah…Aku bertanya kepadamu…, apakah manfaat dan faedah jika engkau menerima madumu sebagai racun dalam kehidupanmu…?? Sehingga engkau menjalani hidup bersama suamimu hampir-hampir tanpa cinta dan kerinduan.. Dan tatkala suamimu bersama madumu…kau tinggal dalam kesendirian dengan penuh dendam dan permusuhanmu…Apakah kehidupan seperti ini membahagiakanmu??, apakah kehidupan seperti ini menambah cinta suamimu kepadamu..??Engkau menjadi wanita yang hidup tanpa cinta…, tanpa perasaan…tanpa kerinduan…, tersiksa…, gelisah.., dendam yang membara…, deraian tangisan yang tak kunjung henti…, engkau seperti wanita yang hidup dalam kematian… Semua itu…karena kau telah menjadikan madumu sebagai racun cinta dan kebahagiaanmu. Kau meneguknya bersama kemarahan dan kebencian…perlahan-lahan racun itu menjalar ke seluruh tubuhmu…. Dan jika tidak memakan jasadmu maka akan memakan hatimu KESEPULUH : Puisi PoligamiRayuan SUAMI :Istriku…, jika engkau bumi, akulah mentari… Aku menyinari kamu Dan dikau selalu mengharapkan hangatnya sinarku… Lalu terbesik dlm hatiku…bukankah Tuhan menciptakan aku bukan hanya untuk bumi?? Ternyata ada planet-planet lain yang juga mengharap hangatnya sinarku JADI… Relakanlah aku menyinari planet lain, merasakan hangatnya sinarku, merasakan faedah keberadaanku, karena sudah kodrati..dan Tuhan pun tak marah… Balasan Puisi sang ISTRI :Suamiku, bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya, aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet yang pernah Tuhan ciptakan karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran, dan akupun juga tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu TAPIIIIIIII.. Bila kau hanya sejengkal lilin yang berkekuatan 5 watt, jangan bermimpi menyinari planet lain!!! Karena kamar kita yang kecil pun belum sanggup kau terangi… KESEBELAS : Poligami Sunnah Terindah…Istri : Mas..mas, buat apa kamu poligami…???Suami : Demi menjalankan sunnah bu…Istri : Sunnah itu masih banyak…, wong kamu jarang sholat malam, jarang puasa sunnah, jarang berinfak, lantas kenapa kamu malah memilihi sunnah poligami dan tidak mengerjakan sunnah-sunnah yang lain…??!Suami : Karena poligami adalah sunnah terindah…!!! KEDUA BELAS : Poligami Menambah Kecintaan Pada Istri PertamaSuami : Istriku… yakinlah jika aku berpoligami maka aku akan semakin cinta kepadamu…Istri : Mas-mas kamu kalau nggombal kok ngawur gitu… Kalau kamu kawin lagi berarti cintamu kepadaku kamu bagi dua !!!, bagaimana kok bisa semakin cinta kepadaku??, yang benar adalah cintamu semakin luntur kepadakuSuami : Itu tidak benar istriku…kalau aku hanya sama kamu terus aku kawatir akan muncul kebosanan…adapun jika aku berpoligami maka akan ada variasi dalam kehidupanku, sehingga jika aku berada di madumu maka kerinduanku kepadamu akan semakin menggebu-gebu !! KETIGA BELAS : Istriku Selalu Siap Jika Aku berpoligami !!Seorang lelaki berkata, “Istriku selalu siap jika aku akan berpoligami !!”Temannya nyeletuk : “Wah hebat sekali istrimu…, gimana cara kamu mendidiknya…”Sang lelaki berkata, “Maksudku…istriku senantiasa siap membawa pentungan kalau aku berpoligami …!!”  KEEMPAT BELAS : Guntur dan Gledek Terus, tapi Tak Pernah Hujan…Kenyataan yang ada, banyak lelaki yang hobinya membicarakan poligami…, bahkan sebagian suami begitu semangat dan juga menunjukkan semangatnya untuk berpoligami. Semangatnya begitu menggelegar…akan tetapi kenyataannya ia tidak pernah bisa dan selalu takut untuk berpoligami.Orang seperti ini selalu menggelegar semangatnya seperti guntur dan halilintar akan tetapi…tidak pernah turun hujannya !!!Justru sebagian suami yang pendiam, jarang atau hampir tidak pernah membicarakan poligami…akan tetapi tiba-tiba ia telah menggandeng istri keduanya…(Diam-diam menghanyutkan…)Nah anda termasuk guntur dan gledek tapi tak pernah hujan…, ataukah termasuk air yang diam tapi menghanyutkan ??!!. Ataukah anda adalah guntur yang segera menurunkan hujan ??? KEEMPAT BELAS : Saya Juga Mau !!!          Sekelompok ibu-ibu pengajian mendatangi seorang ustadz yang sudah cukup berumur. Mereka dengan begitu semangatnya mengeluhkan kepada sang ustadz tentang kondisi suami-suami mereka yang ingin berpoligami. Maka sang ustadz lalu berkata, “Kenapa ibu-ibu?, suami ibu-ibu ingin poligami ??, wah saya juga mau !!!”Maka segera buyarlah para ibu-ibu tersebut kecewa mendengar jawaban sang ustadz. Penutup : Poligami adalah syari’at yang mulia, akan tetapi tidak semua lelaki bisa dan mampu serta dewasa dan bijak dalam menjalankannya. Barang siapa yang tidak adil dalam menjalankan poligami maka ia akan dipermalukan oleh Allah pada hari kiamat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :من كان له امرأتان فمال إلى إحداهما جاء يوم القيامة وشقه مائل“Barang siapa yang memiliki dua istri lalu ia condong kepada salah satunya maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam kondisi badannya miring”Namun ditengah buruknya praktek poligami oleh sebagian suami, maka barang siapa yang bisa menerapkan poligami dengan baik maka semoga ia bisa menjadi teladan dan motivator bagi yang lainnya. Ia telah menghidupkan sunnah yang mulai ditinggalkan. 

Pengertian Ilmu yang Bermanfaat

Pengertian Ilmu yang Bermanfaat Al-Hafidz Ibnu Rajab mendefinisikan al-Ilmu an-Nafi’ (ilmu yang manfaat) sebagai berikut, ضبط نصوص الكتاب والسنة وفهم معانيها والتقيد في ذلك بالمأثور عن الصحابة والتابعين وتابعيهم في معاني القرآن والحديث “Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan seksama dalil-dalil al-Qur’an dan Sunah, yang disesuikan dengan keterangan dari para sahabat, para Tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dalam memahami kandungan Al Qur-an dan Hadis. Kemudian beliau melanjutkan, وفيما ورد عنهم من الكلام في مسائل الحلال والحرام. والزهد. والرقائق. والمعارف Termasuk beberapa keterangan dari mereka dalam masalah halal-haram, zuhud, amalan hati (pensucian jiwa), pengenalan (tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah). (Fadhlu ‘ilmis salaf ‘ala ‘ilmil khalaf, hlm. 6). Semua metode kajian dalam memahami al-Quran dan sunah yang tidak pernah diajarkan oleh para sahabat, tabi’in, maupun tabi’ tabi’in (orang-orang yang mengikuti petunjuk sahabat), bukanlah ilmu nafi’.

Pengertian Ilmu yang Bermanfaat

Pengertian Ilmu yang Bermanfaat Al-Hafidz Ibnu Rajab mendefinisikan al-Ilmu an-Nafi’ (ilmu yang manfaat) sebagai berikut, ضبط نصوص الكتاب والسنة وفهم معانيها والتقيد في ذلك بالمأثور عن الصحابة والتابعين وتابعيهم في معاني القرآن والحديث “Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan seksama dalil-dalil al-Qur’an dan Sunah, yang disesuikan dengan keterangan dari para sahabat, para Tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dalam memahami kandungan Al Qur-an dan Hadis. Kemudian beliau melanjutkan, وفيما ورد عنهم من الكلام في مسائل الحلال والحرام. والزهد. والرقائق. والمعارف Termasuk beberapa keterangan dari mereka dalam masalah halal-haram, zuhud, amalan hati (pensucian jiwa), pengenalan (tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah). (Fadhlu ‘ilmis salaf ‘ala ‘ilmil khalaf, hlm. 6). Semua metode kajian dalam memahami al-Quran dan sunah yang tidak pernah diajarkan oleh para sahabat, tabi’in, maupun tabi’ tabi’in (orang-orang yang mengikuti petunjuk sahabat), bukanlah ilmu nafi’.
Pengertian Ilmu yang Bermanfaat Al-Hafidz Ibnu Rajab mendefinisikan al-Ilmu an-Nafi’ (ilmu yang manfaat) sebagai berikut, ضبط نصوص الكتاب والسنة وفهم معانيها والتقيد في ذلك بالمأثور عن الصحابة والتابعين وتابعيهم في معاني القرآن والحديث “Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan seksama dalil-dalil al-Qur’an dan Sunah, yang disesuikan dengan keterangan dari para sahabat, para Tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dalam memahami kandungan Al Qur-an dan Hadis. Kemudian beliau melanjutkan, وفيما ورد عنهم من الكلام في مسائل الحلال والحرام. والزهد. والرقائق. والمعارف Termasuk beberapa keterangan dari mereka dalam masalah halal-haram, zuhud, amalan hati (pensucian jiwa), pengenalan (tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah). (Fadhlu ‘ilmis salaf ‘ala ‘ilmil khalaf, hlm. 6). Semua metode kajian dalam memahami al-Quran dan sunah yang tidak pernah diajarkan oleh para sahabat, tabi’in, maupun tabi’ tabi’in (orang-orang yang mengikuti petunjuk sahabat), bukanlah ilmu nafi’.


Pengertian Ilmu yang Bermanfaat Al-Hafidz Ibnu Rajab mendefinisikan al-Ilmu an-Nafi’ (ilmu yang manfaat) sebagai berikut, ضبط نصوص الكتاب والسنة وفهم معانيها والتقيد في ذلك بالمأثور عن الصحابة والتابعين وتابعيهم في معاني القرآن والحديث “Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan seksama dalil-dalil al-Qur’an dan Sunah, yang disesuikan dengan keterangan dari para sahabat, para Tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dalam memahami kandungan Al Qur-an dan Hadis. Kemudian beliau melanjutkan, وفيما ورد عنهم من الكلام في مسائل الحلال والحرام. والزهد. والرقائق. والمعارف Termasuk beberapa keterangan dari mereka dalam masalah halal-haram, zuhud, amalan hati (pensucian jiwa), pengenalan (tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah). (Fadhlu ‘ilmis salaf ‘ala ‘ilmil khalaf, hlm. 6). Semua metode kajian dalam memahami al-Quran dan sunah yang tidak pernah diajarkan oleh para sahabat, tabi’in, maupun tabi’ tabi’in (orang-orang yang mengikuti petunjuk sahabat), bukanlah ilmu nafi’.

Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat

Tatkala senang dan tidak suka, tetap wajib taat terhadap keputusan dan perintah kaum muslimin. Beda dengan sikap sebagian golongan yang enggan taat pada pemimpinnya, lebih mementingkan kepentingan individu dan golongan dibanding persatuan kaum muslimin. Padahal mentaati pemimpin atau penguasa demi terjaganya kemaslahatan bersama lebih pantas diutamakan.   Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin pada hadits no. 663 dengan judul bab yang beliau bawakan, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.” Berikut hadits yang beliau bawa. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ » Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839).   Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Wajib mentaati pemimpin atau imam kaum muslimin dalam segala perkara, baik dalam keadaan suka maupun tidak suka. 2- Tidak boleh mentaati penguasa dalam hal maksiat, tidak ada ketaatan dalam bermaksiat pada Allah. 3- Setiap muslim wajib mengenyampingkan kepentingan individu dan kelompok, lalu memilih perkara yang lebih menyatukan kaum muslimin. Semoga faedah dari hadits di atas bermanfaat bagi kita sekalian. Semoga bisa diamalkan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1:654.     Disusun @ Soeta Airport saat safar menuju Papua, 10.47 pm, 26 Dzulhijjah 1434 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaqidah iman maksiat pemimpin

Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat

Tatkala senang dan tidak suka, tetap wajib taat terhadap keputusan dan perintah kaum muslimin. Beda dengan sikap sebagian golongan yang enggan taat pada pemimpinnya, lebih mementingkan kepentingan individu dan golongan dibanding persatuan kaum muslimin. Padahal mentaati pemimpin atau penguasa demi terjaganya kemaslahatan bersama lebih pantas diutamakan.   Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin pada hadits no. 663 dengan judul bab yang beliau bawakan, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.” Berikut hadits yang beliau bawa. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ » Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839).   Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Wajib mentaati pemimpin atau imam kaum muslimin dalam segala perkara, baik dalam keadaan suka maupun tidak suka. 2- Tidak boleh mentaati penguasa dalam hal maksiat, tidak ada ketaatan dalam bermaksiat pada Allah. 3- Setiap muslim wajib mengenyampingkan kepentingan individu dan kelompok, lalu memilih perkara yang lebih menyatukan kaum muslimin. Semoga faedah dari hadits di atas bermanfaat bagi kita sekalian. Semoga bisa diamalkan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1:654.     Disusun @ Soeta Airport saat safar menuju Papua, 10.47 pm, 26 Dzulhijjah 1434 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaqidah iman maksiat pemimpin
Tatkala senang dan tidak suka, tetap wajib taat terhadap keputusan dan perintah kaum muslimin. Beda dengan sikap sebagian golongan yang enggan taat pada pemimpinnya, lebih mementingkan kepentingan individu dan golongan dibanding persatuan kaum muslimin. Padahal mentaati pemimpin atau penguasa demi terjaganya kemaslahatan bersama lebih pantas diutamakan.   Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin pada hadits no. 663 dengan judul bab yang beliau bawakan, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.” Berikut hadits yang beliau bawa. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ » Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839).   Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Wajib mentaati pemimpin atau imam kaum muslimin dalam segala perkara, baik dalam keadaan suka maupun tidak suka. 2- Tidak boleh mentaati penguasa dalam hal maksiat, tidak ada ketaatan dalam bermaksiat pada Allah. 3- Setiap muslim wajib mengenyampingkan kepentingan individu dan kelompok, lalu memilih perkara yang lebih menyatukan kaum muslimin. Semoga faedah dari hadits di atas bermanfaat bagi kita sekalian. Semoga bisa diamalkan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1:654.     Disusun @ Soeta Airport saat safar menuju Papua, 10.47 pm, 26 Dzulhijjah 1434 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaqidah iman maksiat pemimpin


Tatkala senang dan tidak suka, tetap wajib taat terhadap keputusan dan perintah kaum muslimin. Beda dengan sikap sebagian golongan yang enggan taat pada pemimpinnya, lebih mementingkan kepentingan individu dan golongan dibanding persatuan kaum muslimin. Padahal mentaati pemimpin atau penguasa demi terjaganya kemaslahatan bersama lebih pantas diutamakan.   Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin pada hadits no. 663 dengan judul bab yang beliau bawakan, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.” Berikut hadits yang beliau bawa. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ » Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839).   Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Wajib mentaati pemimpin atau imam kaum muslimin dalam segala perkara, baik dalam keadaan suka maupun tidak suka. 2- Tidak boleh mentaati penguasa dalam hal maksiat, tidak ada ketaatan dalam bermaksiat pada Allah. 3- Setiap muslim wajib mengenyampingkan kepentingan individu dan kelompok, lalu memilih perkara yang lebih menyatukan kaum muslimin. Semoga faedah dari hadits di atas bermanfaat bagi kita sekalian. Semoga bisa diamalkan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1:654.     Disusun @ Soeta Airport saat safar menuju Papua, 10.47 pm, 26 Dzulhijjah 1434 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaqidah iman maksiat pemimpin

Semangat Para Sahabat dalam Meraih Surga

Lihatlah semangat para sahabat dalam meraih surga dan bersemangat melakukan kebaikan. Hadits berikut ini dibawakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Sholihin pada Bab “Bersegera dalam Kebaikan dan Motivasi untuk Melakukannya Tanpa Menunda-nunda“, pada hadits no. 89. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ أُحُدٍ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فَأَيْنَ أَنَا قَالَ « فِى الْجَنَّةِ » فَأَلْقَى تَمَرَاتٍ فِى يَدِهِ ، ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ “Ada seseorang yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Uhud, “Bagaimana jika aku terbunuh, di manakah aku?” Beliau bersabda, “Engkau di surga.” Ia pun melempar kurma yang ada di tangannya, lantas ia berperang hingga akhirnya terbunuh. (HR. Bukhari no. 4046 dan Muslim no. 1899). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Hadits di atas mengajarkan untuk bersegera dalam kebaikan dan tidak terlalu sibuk dengan hal-hal yang sia-sia dan melalaikan dari mengingat Allah. 2- Dianjurkan bertanya bagi yang tidak tahu. 3- Para sahabat begitu cinta pada surga dan mereka semangat untuk memasukinya. 4- Sahabat begitu zuhud terhadap dunia dan lebih suka untuk mati syahid di jalan Allah. 5- Siapa saja yang mati syahid di jalan Allah, maka ia termasuk penduduk surga selama ia selamat dari berbagai utang. Semoga faedah di atas bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 151-152. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Hotel Syari’ah Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta, sehabis ‘Isya’, 26 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsiman surga

Semangat Para Sahabat dalam Meraih Surga

Lihatlah semangat para sahabat dalam meraih surga dan bersemangat melakukan kebaikan. Hadits berikut ini dibawakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Sholihin pada Bab “Bersegera dalam Kebaikan dan Motivasi untuk Melakukannya Tanpa Menunda-nunda“, pada hadits no. 89. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ أُحُدٍ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فَأَيْنَ أَنَا قَالَ « فِى الْجَنَّةِ » فَأَلْقَى تَمَرَاتٍ فِى يَدِهِ ، ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ “Ada seseorang yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Uhud, “Bagaimana jika aku terbunuh, di manakah aku?” Beliau bersabda, “Engkau di surga.” Ia pun melempar kurma yang ada di tangannya, lantas ia berperang hingga akhirnya terbunuh. (HR. Bukhari no. 4046 dan Muslim no. 1899). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Hadits di atas mengajarkan untuk bersegera dalam kebaikan dan tidak terlalu sibuk dengan hal-hal yang sia-sia dan melalaikan dari mengingat Allah. 2- Dianjurkan bertanya bagi yang tidak tahu. 3- Para sahabat begitu cinta pada surga dan mereka semangat untuk memasukinya. 4- Sahabat begitu zuhud terhadap dunia dan lebih suka untuk mati syahid di jalan Allah. 5- Siapa saja yang mati syahid di jalan Allah, maka ia termasuk penduduk surga selama ia selamat dari berbagai utang. Semoga faedah di atas bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 151-152. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Hotel Syari’ah Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta, sehabis ‘Isya’, 26 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsiman surga
Lihatlah semangat para sahabat dalam meraih surga dan bersemangat melakukan kebaikan. Hadits berikut ini dibawakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Sholihin pada Bab “Bersegera dalam Kebaikan dan Motivasi untuk Melakukannya Tanpa Menunda-nunda“, pada hadits no. 89. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ أُحُدٍ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فَأَيْنَ أَنَا قَالَ « فِى الْجَنَّةِ » فَأَلْقَى تَمَرَاتٍ فِى يَدِهِ ، ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ “Ada seseorang yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Uhud, “Bagaimana jika aku terbunuh, di manakah aku?” Beliau bersabda, “Engkau di surga.” Ia pun melempar kurma yang ada di tangannya, lantas ia berperang hingga akhirnya terbunuh. (HR. Bukhari no. 4046 dan Muslim no. 1899). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Hadits di atas mengajarkan untuk bersegera dalam kebaikan dan tidak terlalu sibuk dengan hal-hal yang sia-sia dan melalaikan dari mengingat Allah. 2- Dianjurkan bertanya bagi yang tidak tahu. 3- Para sahabat begitu cinta pada surga dan mereka semangat untuk memasukinya. 4- Sahabat begitu zuhud terhadap dunia dan lebih suka untuk mati syahid di jalan Allah. 5- Siapa saja yang mati syahid di jalan Allah, maka ia termasuk penduduk surga selama ia selamat dari berbagai utang. Semoga faedah di atas bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 151-152. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Hotel Syari’ah Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta, sehabis ‘Isya’, 26 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsiman surga


Lihatlah semangat para sahabat dalam meraih surga dan bersemangat melakukan kebaikan. Hadits berikut ini dibawakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Sholihin pada Bab “Bersegera dalam Kebaikan dan Motivasi untuk Melakukannya Tanpa Menunda-nunda“, pada hadits no. 89. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ أُحُدٍ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فَأَيْنَ أَنَا قَالَ « فِى الْجَنَّةِ » فَأَلْقَى تَمَرَاتٍ فِى يَدِهِ ، ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ “Ada seseorang yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Uhud, “Bagaimana jika aku terbunuh, di manakah aku?” Beliau bersabda, “Engkau di surga.” Ia pun melempar kurma yang ada di tangannya, lantas ia berperang hingga akhirnya terbunuh. (HR. Bukhari no. 4046 dan Muslim no. 1899). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Hadits di atas mengajarkan untuk bersegera dalam kebaikan dan tidak terlalu sibuk dengan hal-hal yang sia-sia dan melalaikan dari mengingat Allah. 2- Dianjurkan bertanya bagi yang tidak tahu. 3- Para sahabat begitu cinta pada surga dan mereka semangat untuk memasukinya. 4- Sahabat begitu zuhud terhadap dunia dan lebih suka untuk mati syahid di jalan Allah. 5- Siapa saja yang mati syahid di jalan Allah, maka ia termasuk penduduk surga selama ia selamat dari berbagai utang. Semoga faedah di atas bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 151-152. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Hotel Syari’ah Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta, sehabis ‘Isya’, 26 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsiman surga

Ibadah Ringan yang Nilainya Istimewa

Ibadah Ringan yang Nilainya Istimewa Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَخَلَ السُّوقَ، فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ Siapa yang masuk pasar, kemudian dia membaca: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Maka Allah akan mencatat untuknya 1 juta pahala, menghapurkan darinya 1 juta dosa, dan mengangkat 1 juta derajatnya. (HR. Turmudzi 3428, Ibn asadsrefre efregftt Majah 2235 dan dinilai hasan oleh al-Albani) Mengapa dzikir masuk pasar ini pahalanya sangat besar? Karena dzikir ini dibaca pada saat umumnya orang lupa Allah. Orang ini masuk pasar dengan berdzikir, di tengah banyak orang lupa dengan akhirat, sehingga dia menjadi hamba yang istimewa. Perbanyak dzikir, di saat banyak orang lupa dzikir.

Ibadah Ringan yang Nilainya Istimewa

Ibadah Ringan yang Nilainya Istimewa Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَخَلَ السُّوقَ، فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ Siapa yang masuk pasar, kemudian dia membaca: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Maka Allah akan mencatat untuknya 1 juta pahala, menghapurkan darinya 1 juta dosa, dan mengangkat 1 juta derajatnya. (HR. Turmudzi 3428, Ibn asadsrefre efregftt Majah 2235 dan dinilai hasan oleh al-Albani) Mengapa dzikir masuk pasar ini pahalanya sangat besar? Karena dzikir ini dibaca pada saat umumnya orang lupa Allah. Orang ini masuk pasar dengan berdzikir, di tengah banyak orang lupa dengan akhirat, sehingga dia menjadi hamba yang istimewa. Perbanyak dzikir, di saat banyak orang lupa dzikir.
Ibadah Ringan yang Nilainya Istimewa Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَخَلَ السُّوقَ، فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ Siapa yang masuk pasar, kemudian dia membaca: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Maka Allah akan mencatat untuknya 1 juta pahala, menghapurkan darinya 1 juta dosa, dan mengangkat 1 juta derajatnya. (HR. Turmudzi 3428, Ibn asadsrefre efregftt Majah 2235 dan dinilai hasan oleh al-Albani) Mengapa dzikir masuk pasar ini pahalanya sangat besar? Karena dzikir ini dibaca pada saat umumnya orang lupa Allah. Orang ini masuk pasar dengan berdzikir, di tengah banyak orang lupa dengan akhirat, sehingga dia menjadi hamba yang istimewa. Perbanyak dzikir, di saat banyak orang lupa dzikir.


Ibadah Ringan yang Nilainya Istimewa Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَخَلَ السُّوقَ، فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ Siapa yang masuk pasar, kemudian dia membaca: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Maka Allah akan mencatat untuknya 1 juta pahala, menghapurkan darinya 1 juta dosa, dan mengangkat 1 juta derajatnya. (HR. Turmudzi 3428, Ibn asadsrefre efregftt Majah 2235 dan dinilai hasan oleh al-Albani) Mengapa dzikir masuk pasar ini pahalanya sangat besar? Karena dzikir ini dibaca pada saat umumnya orang lupa Allah. Orang ini masuk pasar dengan berdzikir, di tengah banyak orang lupa dengan akhirat, sehingga dia menjadi hamba yang istimewa. Perbanyak dzikir, di saat banyak orang lupa dzikir.

Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ ”Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?” Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ooh.. orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!? Tapi ternyata jawabannya bukan demikian. Jawaban beliau, أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ ”Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya atau dari dalam dirinya.” (HR. Ahmad 8858, Bukhari 99 dan yang lainnya). Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ ”Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?” Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ooh.. orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!? Tapi ternyata jawabannya bukan demikian. Jawaban beliau, أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ ”Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya atau dari dalam dirinya.” (HR. Ahmad 8858, Bukhari 99 dan yang lainnya). Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ ”Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?” Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ooh.. orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!? Tapi ternyata jawabannya bukan demikian. Jawaban beliau, أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ ”Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya atau dari dalam dirinya.” (HR. Ahmad 8858, Bukhari 99 dan yang lainnya). Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ ”Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?” Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ooh.. orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!? Tapi ternyata jawabannya bukan demikian. Jawaban beliau, أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ ”Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya atau dari dalam dirinya.” (HR. Ahmad 8858, Bukhari 99 dan yang lainnya). Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan

Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan Allah menceritakan keadaan para sahabat, وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ Bagaimana mungkin kalian menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? (QS. Ali Imran: 101) Allah menjamin para sahabat yang berada di sekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menjadi kafir, karena dua hal: Mereka selalu mempelajari al-Quran Ada pembimbing, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengan mereka. Banyak orang jadi sesat, karena dia malas belajar, dan tidak mau bergaul dengan orang yang berilmu. Suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik – seorang gubernur – memasuki kota Bashrah untuk menemui Hasan al-Bashri. Sebelum berjumpa dengan Hasan al-Bashri, beliau menemui Khalid bin Shafwan di kota itu, yang kenal dengan Hasan al-Bashri. Beliaupun tanya-tanya tentang kepribadian Hasan al-Bashri. Si Khalid pun bercerita tentang Hasan al-Bashri. Dia sampaikan bagaimana zuhudnya Hasan, wara’nya beliau, keluasan ilmunya, dan berbagai kelebihan Hasan al-Bashri. Mendengar keterangan ini, Sang gubernur langsung komentar, كيف يضل قوم فيهم مثل الحسن البصري “Bagaimana mungkin masyarakat jadi sesat, sementara di tengah-tengah mereka ada orang seperti Hasan al-Bashri.”

Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan

Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan Allah menceritakan keadaan para sahabat, وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ Bagaimana mungkin kalian menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? (QS. Ali Imran: 101) Allah menjamin para sahabat yang berada di sekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menjadi kafir, karena dua hal: Mereka selalu mempelajari al-Quran Ada pembimbing, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengan mereka. Banyak orang jadi sesat, karena dia malas belajar, dan tidak mau bergaul dengan orang yang berilmu. Suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik – seorang gubernur – memasuki kota Bashrah untuk menemui Hasan al-Bashri. Sebelum berjumpa dengan Hasan al-Bashri, beliau menemui Khalid bin Shafwan di kota itu, yang kenal dengan Hasan al-Bashri. Beliaupun tanya-tanya tentang kepribadian Hasan al-Bashri. Si Khalid pun bercerita tentang Hasan al-Bashri. Dia sampaikan bagaimana zuhudnya Hasan, wara’nya beliau, keluasan ilmunya, dan berbagai kelebihan Hasan al-Bashri. Mendengar keterangan ini, Sang gubernur langsung komentar, كيف يضل قوم فيهم مثل الحسن البصري “Bagaimana mungkin masyarakat jadi sesat, sementara di tengah-tengah mereka ada orang seperti Hasan al-Bashri.”
Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan Allah menceritakan keadaan para sahabat, وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ Bagaimana mungkin kalian menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? (QS. Ali Imran: 101) Allah menjamin para sahabat yang berada di sekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menjadi kafir, karena dua hal: Mereka selalu mempelajari al-Quran Ada pembimbing, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengan mereka. Banyak orang jadi sesat, karena dia malas belajar, dan tidak mau bergaul dengan orang yang berilmu. Suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik – seorang gubernur – memasuki kota Bashrah untuk menemui Hasan al-Bashri. Sebelum berjumpa dengan Hasan al-Bashri, beliau menemui Khalid bin Shafwan di kota itu, yang kenal dengan Hasan al-Bashri. Beliaupun tanya-tanya tentang kepribadian Hasan al-Bashri. Si Khalid pun bercerita tentang Hasan al-Bashri. Dia sampaikan bagaimana zuhudnya Hasan, wara’nya beliau, keluasan ilmunya, dan berbagai kelebihan Hasan al-Bashri. Mendengar keterangan ini, Sang gubernur langsung komentar, كيف يضل قوم فيهم مثل الحسن البصري “Bagaimana mungkin masyarakat jadi sesat, sementara di tengah-tengah mereka ada orang seperti Hasan al-Bashri.”


Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan Allah menceritakan keadaan para sahabat, وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ Bagaimana mungkin kalian menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? (QS. Ali Imran: 101) Allah menjamin para sahabat yang berada di sekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menjadi kafir, karena dua hal: Mereka selalu mempelajari al-Quran Ada pembimbing, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengan mereka. Banyak orang jadi sesat, karena dia malas belajar, dan tidak mau bergaul dengan orang yang berilmu. Suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik – seorang gubernur – memasuki kota Bashrah untuk menemui Hasan al-Bashri. Sebelum berjumpa dengan Hasan al-Bashri, beliau menemui Khalid bin Shafwan di kota itu, yang kenal dengan Hasan al-Bashri. Beliaupun tanya-tanya tentang kepribadian Hasan al-Bashri. Si Khalid pun bercerita tentang Hasan al-Bashri. Dia sampaikan bagaimana zuhudnya Hasan, wara’nya beliau, keluasan ilmunya, dan berbagai kelebihan Hasan al-Bashri. Mendengar keterangan ini, Sang gubernur langsung komentar, كيف يضل قوم فيهم مثل الحسن البصري “Bagaimana mungkin masyarakat jadi sesat, sementara di tengah-tengah mereka ada orang seperti Hasan al-Bashri.”

Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi

Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi Tidak ada satupun nabi yang Allah utus, kecuali mereka dimusuhi oleh sebagian kaumnya. يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang Rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Yasin: 30) Di ayat lain, Allah berfirman, وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ ( ) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. ( ) dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Az-Zukhruf: 6 – 7) Karena itu, jika ada gerakan dakwah yang memiliki prinsip: toleransi sepenuhnya kepada masyarakat, sampaikan yang tidak bertentangan dengan prinsip & kebiasaan masyarakat jangan sampaikan masalah khilafiyah jangan membuat masyarakat memusuhi dakwah, dan seterusnya. Bisa dipastikan ini dakwah yang tidak sesuai dengan prinsip dakwah para nabi. Dakwah bukan mencari musuh, dan bukan pula mencari penggemar. Dakwah adalah menyampaikan kebenaran, dan bagian dari sunatullah, pasti dimusuhi pasukan iblis.

Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi

Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi Tidak ada satupun nabi yang Allah utus, kecuali mereka dimusuhi oleh sebagian kaumnya. يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang Rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Yasin: 30) Di ayat lain, Allah berfirman, وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ ( ) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. ( ) dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Az-Zukhruf: 6 – 7) Karena itu, jika ada gerakan dakwah yang memiliki prinsip: toleransi sepenuhnya kepada masyarakat, sampaikan yang tidak bertentangan dengan prinsip & kebiasaan masyarakat jangan sampaikan masalah khilafiyah jangan membuat masyarakat memusuhi dakwah, dan seterusnya. Bisa dipastikan ini dakwah yang tidak sesuai dengan prinsip dakwah para nabi. Dakwah bukan mencari musuh, dan bukan pula mencari penggemar. Dakwah adalah menyampaikan kebenaran, dan bagian dari sunatullah, pasti dimusuhi pasukan iblis.
Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi Tidak ada satupun nabi yang Allah utus, kecuali mereka dimusuhi oleh sebagian kaumnya. يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang Rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Yasin: 30) Di ayat lain, Allah berfirman, وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ ( ) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. ( ) dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Az-Zukhruf: 6 – 7) Karena itu, jika ada gerakan dakwah yang memiliki prinsip: toleransi sepenuhnya kepada masyarakat, sampaikan yang tidak bertentangan dengan prinsip & kebiasaan masyarakat jangan sampaikan masalah khilafiyah jangan membuat masyarakat memusuhi dakwah, dan seterusnya. Bisa dipastikan ini dakwah yang tidak sesuai dengan prinsip dakwah para nabi. Dakwah bukan mencari musuh, dan bukan pula mencari penggemar. Dakwah adalah menyampaikan kebenaran, dan bagian dari sunatullah, pasti dimusuhi pasukan iblis.


Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi Tidak ada satupun nabi yang Allah utus, kecuali mereka dimusuhi oleh sebagian kaumnya. يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang Rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Yasin: 30) Di ayat lain, Allah berfirman, وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ ( ) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. ( ) dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Az-Zukhruf: 6 – 7) Karena itu, jika ada gerakan dakwah yang memiliki prinsip: toleransi sepenuhnya kepada masyarakat, sampaikan yang tidak bertentangan dengan prinsip & kebiasaan masyarakat jangan sampaikan masalah khilafiyah jangan membuat masyarakat memusuhi dakwah, dan seterusnya. Bisa dipastikan ini dakwah yang tidak sesuai dengan prinsip dakwah para nabi. Dakwah bukan mencari musuh, dan bukan pula mencari penggemar. Dakwah adalah menyampaikan kebenaran, dan bagian dari sunatullah, pasti dimusuhi pasukan iblis.

Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat

Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat Ketika Adam dimasukkan ke dalam surga, beliau mendapat jaminan: Tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang, karena tidak memiliki pakaian. فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى ( ) إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. ( ) Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. (QS. Thaha: 117 – 118) Banyak orang koar-koar memperjuangkan anti kemiskinan, perangi kelaparan. Tapi mereka kurang semangat memerangi ’penampakan’ aurat, atau bahkan menjadi pendukungnya. Nikmat makanan dirasakan oleh manusia dan binatang. Nikmat menutup aurat, tidak bisa dirasakan oleh ’binatang’ [dalam tanda kutip].

Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat

Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat Ketika Adam dimasukkan ke dalam surga, beliau mendapat jaminan: Tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang, karena tidak memiliki pakaian. فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى ( ) إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. ( ) Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. (QS. Thaha: 117 – 118) Banyak orang koar-koar memperjuangkan anti kemiskinan, perangi kelaparan. Tapi mereka kurang semangat memerangi ’penampakan’ aurat, atau bahkan menjadi pendukungnya. Nikmat makanan dirasakan oleh manusia dan binatang. Nikmat menutup aurat, tidak bisa dirasakan oleh ’binatang’ [dalam tanda kutip].
Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat Ketika Adam dimasukkan ke dalam surga, beliau mendapat jaminan: Tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang, karena tidak memiliki pakaian. فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى ( ) إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. ( ) Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. (QS. Thaha: 117 – 118) Banyak orang koar-koar memperjuangkan anti kemiskinan, perangi kelaparan. Tapi mereka kurang semangat memerangi ’penampakan’ aurat, atau bahkan menjadi pendukungnya. Nikmat makanan dirasakan oleh manusia dan binatang. Nikmat menutup aurat, tidak bisa dirasakan oleh ’binatang’ [dalam tanda kutip].


Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat Ketika Adam dimasukkan ke dalam surga, beliau mendapat jaminan: Tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang, karena tidak memiliki pakaian. فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى ( ) إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. ( ) Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. (QS. Thaha: 117 – 118) Banyak orang koar-koar memperjuangkan anti kemiskinan, perangi kelaparan. Tapi mereka kurang semangat memerangi ’penampakan’ aurat, atau bahkan menjadi pendukungnya. Nikmat makanan dirasakan oleh manusia dan binatang. Nikmat menutup aurat, tidak bisa dirasakan oleh ’binatang’ [dalam tanda kutip].

Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat

Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat Allah menyebut orang yang sesat, sebagai orang yang lalai dalam berdzikir, dan suka mengikuti hawa nafsu. وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28) hfyn hgyt gtyuji Untuk melindungi diri dari pemikiran sesat, perbanyak dzikir dan membaca al-Quran. Pernahkah kita saksikan ada acara khataman al-Quran yang diselenggarakan JIL? Adakah tokoh JIL yang ngaku paling ’ilmiah’ itu, yang hafal al-Quran?

Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat

Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat Allah menyebut orang yang sesat, sebagai orang yang lalai dalam berdzikir, dan suka mengikuti hawa nafsu. وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28) hfyn hgyt gtyuji Untuk melindungi diri dari pemikiran sesat, perbanyak dzikir dan membaca al-Quran. Pernahkah kita saksikan ada acara khataman al-Quran yang diselenggarakan JIL? Adakah tokoh JIL yang ngaku paling ’ilmiah’ itu, yang hafal al-Quran?
Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat Allah menyebut orang yang sesat, sebagai orang yang lalai dalam berdzikir, dan suka mengikuti hawa nafsu. وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28) hfyn hgyt gtyuji Untuk melindungi diri dari pemikiran sesat, perbanyak dzikir dan membaca al-Quran. Pernahkah kita saksikan ada acara khataman al-Quran yang diselenggarakan JIL? Adakah tokoh JIL yang ngaku paling ’ilmiah’ itu, yang hafal al-Quran?


Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat Allah menyebut orang yang sesat, sebagai orang yang lalai dalam berdzikir, dan suka mengikuti hawa nafsu. وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28) hfyn hgyt gtyuji Untuk melindungi diri dari pemikiran sesat, perbanyak dzikir dan membaca al-Quran. Pernahkah kita saksikan ada acara khataman al-Quran yang diselenggarakan JIL? Adakah tokoh JIL yang ngaku paling ’ilmiah’ itu, yang hafal al-Quran?

Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya

Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya Orang bodoh, untuk menutupi kebodohannya, dia membodohkan orang lain. Di QS. Al-Baqarah: 67, Allah menceritakan, Ketika Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi, mereka menganggap perintah Musa ini sbg tindakan kebodohan. Padahal bani Israil yg bodoh, krn tidak tahu rahasia dibalik perintah nabinya. Mereka membodohkan Musa untuk menutuppi kebodohannya. وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (Ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya (bani Israil): “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh”.

Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya

Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya Orang bodoh, untuk menutupi kebodohannya, dia membodohkan orang lain. Di QS. Al-Baqarah: 67, Allah menceritakan, Ketika Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi, mereka menganggap perintah Musa ini sbg tindakan kebodohan. Padahal bani Israil yg bodoh, krn tidak tahu rahasia dibalik perintah nabinya. Mereka membodohkan Musa untuk menutuppi kebodohannya. وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (Ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya (bani Israil): “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh”.
Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya Orang bodoh, untuk menutupi kebodohannya, dia membodohkan orang lain. Di QS. Al-Baqarah: 67, Allah menceritakan, Ketika Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi, mereka menganggap perintah Musa ini sbg tindakan kebodohan. Padahal bani Israil yg bodoh, krn tidak tahu rahasia dibalik perintah nabinya. Mereka membodohkan Musa untuk menutuppi kebodohannya. وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (Ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya (bani Israil): “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh”.


Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya Orang bodoh, untuk menutupi kebodohannya, dia membodohkan orang lain. Di QS. Al-Baqarah: 67, Allah menceritakan, Ketika Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi, mereka menganggap perintah Musa ini sbg tindakan kebodohan. Padahal bani Israil yg bodoh, krn tidak tahu rahasia dibalik perintah nabinya. Mereka membodohkan Musa untuk menutuppi kebodohannya. وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (Ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya (bani Israil): “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh”.

Dzikir Istimewa yang Membuat Doa Mustajab

Dzikir Istimewa yang Membuat Doa Mustajab Dari ‘Ubadah bin Shamit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن تَعارَّ من الليل فقال: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، ثم قال: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي – أو دعا – استُجِيبَ له، فإنْ توضأ وصلى قُبِلتْ صلاتُه “Barangsiapa yang terjaga di malam hari ketika tidur, kemudian dia membaca: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي kemudian dia mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku”, atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya” (HR. Bukhari 1103, Abu Dawud 5060, Tirmidzi 3414 & Ibnu Majah 3878) Dzikir di atas sangat ringan, namun membuat doa yang dipanjatkan ketika itu menjadi mustajab. Karena dzikir ini hanya mungkin diucapkan oleh orang yang hatinya selalu bergantung kepada Allah. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah mampu dilakukan oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir kepada Allah, sehingga zikir tersebut menjadi kebiasaan dirinya sewaktu tidur dan terjaga. Sehingga Allah memuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya. (Fathul Baari, 3/40).

Dzikir Istimewa yang Membuat Doa Mustajab

Dzikir Istimewa yang Membuat Doa Mustajab Dari ‘Ubadah bin Shamit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن تَعارَّ من الليل فقال: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، ثم قال: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي – أو دعا – استُجِيبَ له، فإنْ توضأ وصلى قُبِلتْ صلاتُه “Barangsiapa yang terjaga di malam hari ketika tidur, kemudian dia membaca: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي kemudian dia mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku”, atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya” (HR. Bukhari 1103, Abu Dawud 5060, Tirmidzi 3414 & Ibnu Majah 3878) Dzikir di atas sangat ringan, namun membuat doa yang dipanjatkan ketika itu menjadi mustajab. Karena dzikir ini hanya mungkin diucapkan oleh orang yang hatinya selalu bergantung kepada Allah. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah mampu dilakukan oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir kepada Allah, sehingga zikir tersebut menjadi kebiasaan dirinya sewaktu tidur dan terjaga. Sehingga Allah memuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya. (Fathul Baari, 3/40).
Dzikir Istimewa yang Membuat Doa Mustajab Dari ‘Ubadah bin Shamit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن تَعارَّ من الليل فقال: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، ثم قال: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي – أو دعا – استُجِيبَ له، فإنْ توضأ وصلى قُبِلتْ صلاتُه “Barangsiapa yang terjaga di malam hari ketika tidur, kemudian dia membaca: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي kemudian dia mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku”, atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya” (HR. Bukhari 1103, Abu Dawud 5060, Tirmidzi 3414 & Ibnu Majah 3878) Dzikir di atas sangat ringan, namun membuat doa yang dipanjatkan ketika itu menjadi mustajab. Karena dzikir ini hanya mungkin diucapkan oleh orang yang hatinya selalu bergantung kepada Allah. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah mampu dilakukan oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir kepada Allah, sehingga zikir tersebut menjadi kebiasaan dirinya sewaktu tidur dan terjaga. Sehingga Allah memuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya. (Fathul Baari, 3/40).


Dzikir Istimewa yang Membuat Doa Mustajab Dari ‘Ubadah bin Shamit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن تَعارَّ من الليل فقال: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، ثم قال: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي – أو دعا – استُجِيبَ له، فإنْ توضأ وصلى قُبِلتْ صلاتُه “Barangsiapa yang terjaga di malam hari ketika tidur, kemudian dia membaca: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي kemudian dia mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku”, atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya” (HR. Bukhari 1103, Abu Dawud 5060, Tirmidzi 3414 & Ibnu Majah 3878) Dzikir di atas sangat ringan, namun membuat doa yang dipanjatkan ketika itu menjadi mustajab. Karena dzikir ini hanya mungkin diucapkan oleh orang yang hatinya selalu bergantung kepada Allah. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah mampu dilakukan oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir kepada Allah, sehingga zikir tersebut menjadi kebiasaan dirinya sewaktu tidur dan terjaga. Sehingga Allah memuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya. (Fathul Baari, 3/40).

Idrus Ramli Nekat Berdusta Demi Menuduh Firanda Berdusta

Alhamdulillah saya tidak pernah berusaha –sekalipun- untuk mencari-cari kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli, meskipun konon saya dengar beliau sering berdusta, wallahu A’lam akan kebenaran isu tersebut. Akan tetapi kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli tanpa sengaja diungkap oleh seorang pengikutnya yang membuat sebuah status yang mengesankan bahwa saya seorang pendusta. (silahkan lihat di https://www.facebook.com/Virusan/posts/570136863056995?comment_id=4459533&offset=0&total_comments=63¬if_t=mentions_comment)Dari situ saya jadi tahu ternyata al-Ustadz Idrus Ramli nekat berdusta untuk menjatuhkan saya sehingga menuduh saya berdusta !!!!Dalam artikelnya yang berjudul ((Menjawab Dusta Firanda Yang Anti Tahlilan)) Al-Ustadz Idrus Ramli berkata : ((KRITIKAN DR FIRANDA:Ustadz Muhamad Idrus Ramli telah menyebutkan takhrij atsar ini dengan baik. Akan tetapi perlu pembahasan dari dua sisi, sisi keabsahan atsar ini, dan sisi kandungan atsar ini. PERTAMA: Keabsahan Atsar IniAtsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus.TANGGAPAN: “Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut:)) (silahkan lihat http://www.idrusramli.com/2013/menjawab-dusta-firanda-yang-anti-tahlilan/)Tanggapan :    Coba para pembaca perhatikan bagaimana trik al-Ustadz Idrus Ramli dalam berdusta. Pertama kali ia menukil perkataan saya sbb :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.)) Setelah itu iapun membantah perkataan tersebut dengan berkata ((Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut)), demikian perkataan sang ustadz.    Anehnya al-Ustadz Idrus Ramli tidak mencantumkan link artikel saya tersebut, karena barang siapa yang mengecek langsung artikel saya maka akan sangat ketahuan dusta sang ustadz. Adapun murid-murid sang ustadz (sebagaimana yang telah mengungkap kedustaaan sang ustadz) ternyata langsung menelan mentah-mentah vonis sang ustadz sebagai kebenaran untuk mengejek saya tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu….!!!Mari kita lihat apa sesungguhnya yang telah saya tuliskan dalam artikel saya, yaitu sebagai berikut :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-‘Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Imam Ahmad berkata: Telah menyampaikan kepada kami Hasyim bin Al-Qoosim, telah menyampaikan kepada kami al-Asyja’iy, dari Sufyan berkata, Thowus telah berkata: “Sesungguhnya mayat-mayat diuji dalam kuburan mereka tujuh hari, maka mereka (para salaf-pen) suka untuk bersedekah makanan atas nama mayat-mayat tersebut pada hari-hari tersebut.”Dan dari jalan Al-Imam Ahmad bin Hanbal juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa’ (4/11) sebagaimana berikut ini:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus….)) (silahkan baca di https://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/423-dalil-bolehnya-tahlilan)Silahkan para pembaca menilai…, sangat jelas sekali saya menukil perkataan Ibnu Hajar dengan mencantumkan scan bukunya, lalu setelah itu saya menukil perkataan Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Awliyaa’ yang saya juga mencantumkan scan kitabnya, setelah baru saya berkomentar sbb :  ((Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309)…..dst)) Antara perkataan saya dengan perkataan Ibnu Hajar ada perkataan Abu Nu’aim (disertai scan kitabnya). Lantas ternyata Idrus Ramli melakukan trik dustanya –dalam menukil perkataan saya- dengan sengaja menghapuskan perkataan Abu Nu’aim, sehingga seakan-akan saya telah berdusta atas nama Ibnu Hajar. Wallahul Musta’aan. Kalau Idrus Ramli pintar sedikit harusnya dia menuduh saya telah berdusta atas nama Abu Nu’aim bukan atas nama Ibnu Hajar (karena komentar saya saya tuliskan setelah menukil perkataan Abu Nu’aim bukan setelah menukil perkataan Ibnu Hajar), agar trik dustanya lebih keren dikit. !!! Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 25-12-1434 H / 30 Oktober 2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  

Idrus Ramli Nekat Berdusta Demi Menuduh Firanda Berdusta

Alhamdulillah saya tidak pernah berusaha –sekalipun- untuk mencari-cari kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli, meskipun konon saya dengar beliau sering berdusta, wallahu A’lam akan kebenaran isu tersebut. Akan tetapi kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli tanpa sengaja diungkap oleh seorang pengikutnya yang membuat sebuah status yang mengesankan bahwa saya seorang pendusta. (silahkan lihat di https://www.facebook.com/Virusan/posts/570136863056995?comment_id=4459533&offset=0&total_comments=63¬if_t=mentions_comment)Dari situ saya jadi tahu ternyata al-Ustadz Idrus Ramli nekat berdusta untuk menjatuhkan saya sehingga menuduh saya berdusta !!!!Dalam artikelnya yang berjudul ((Menjawab Dusta Firanda Yang Anti Tahlilan)) Al-Ustadz Idrus Ramli berkata : ((KRITIKAN DR FIRANDA:Ustadz Muhamad Idrus Ramli telah menyebutkan takhrij atsar ini dengan baik. Akan tetapi perlu pembahasan dari dua sisi, sisi keabsahan atsar ini, dan sisi kandungan atsar ini. PERTAMA: Keabsahan Atsar IniAtsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus.TANGGAPAN: “Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut:)) (silahkan lihat http://www.idrusramli.com/2013/menjawab-dusta-firanda-yang-anti-tahlilan/)Tanggapan :    Coba para pembaca perhatikan bagaimana trik al-Ustadz Idrus Ramli dalam berdusta. Pertama kali ia menukil perkataan saya sbb :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.)) Setelah itu iapun membantah perkataan tersebut dengan berkata ((Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut)), demikian perkataan sang ustadz.    Anehnya al-Ustadz Idrus Ramli tidak mencantumkan link artikel saya tersebut, karena barang siapa yang mengecek langsung artikel saya maka akan sangat ketahuan dusta sang ustadz. Adapun murid-murid sang ustadz (sebagaimana yang telah mengungkap kedustaaan sang ustadz) ternyata langsung menelan mentah-mentah vonis sang ustadz sebagai kebenaran untuk mengejek saya tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu….!!!Mari kita lihat apa sesungguhnya yang telah saya tuliskan dalam artikel saya, yaitu sebagai berikut :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-‘Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Imam Ahmad berkata: Telah menyampaikan kepada kami Hasyim bin Al-Qoosim, telah menyampaikan kepada kami al-Asyja’iy, dari Sufyan berkata, Thowus telah berkata: “Sesungguhnya mayat-mayat diuji dalam kuburan mereka tujuh hari, maka mereka (para salaf-pen) suka untuk bersedekah makanan atas nama mayat-mayat tersebut pada hari-hari tersebut.”Dan dari jalan Al-Imam Ahmad bin Hanbal juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa’ (4/11) sebagaimana berikut ini:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus….)) (silahkan baca di https://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/423-dalil-bolehnya-tahlilan)Silahkan para pembaca menilai…, sangat jelas sekali saya menukil perkataan Ibnu Hajar dengan mencantumkan scan bukunya, lalu setelah itu saya menukil perkataan Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Awliyaa’ yang saya juga mencantumkan scan kitabnya, setelah baru saya berkomentar sbb :  ((Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309)…..dst)) Antara perkataan saya dengan perkataan Ibnu Hajar ada perkataan Abu Nu’aim (disertai scan kitabnya). Lantas ternyata Idrus Ramli melakukan trik dustanya –dalam menukil perkataan saya- dengan sengaja menghapuskan perkataan Abu Nu’aim, sehingga seakan-akan saya telah berdusta atas nama Ibnu Hajar. Wallahul Musta’aan. Kalau Idrus Ramli pintar sedikit harusnya dia menuduh saya telah berdusta atas nama Abu Nu’aim bukan atas nama Ibnu Hajar (karena komentar saya saya tuliskan setelah menukil perkataan Abu Nu’aim bukan setelah menukil perkataan Ibnu Hajar), agar trik dustanya lebih keren dikit. !!! Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 25-12-1434 H / 30 Oktober 2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  
Alhamdulillah saya tidak pernah berusaha –sekalipun- untuk mencari-cari kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli, meskipun konon saya dengar beliau sering berdusta, wallahu A’lam akan kebenaran isu tersebut. Akan tetapi kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli tanpa sengaja diungkap oleh seorang pengikutnya yang membuat sebuah status yang mengesankan bahwa saya seorang pendusta. (silahkan lihat di https://www.facebook.com/Virusan/posts/570136863056995?comment_id=4459533&offset=0&total_comments=63¬if_t=mentions_comment)Dari situ saya jadi tahu ternyata al-Ustadz Idrus Ramli nekat berdusta untuk menjatuhkan saya sehingga menuduh saya berdusta !!!!Dalam artikelnya yang berjudul ((Menjawab Dusta Firanda Yang Anti Tahlilan)) Al-Ustadz Idrus Ramli berkata : ((KRITIKAN DR FIRANDA:Ustadz Muhamad Idrus Ramli telah menyebutkan takhrij atsar ini dengan baik. Akan tetapi perlu pembahasan dari dua sisi, sisi keabsahan atsar ini, dan sisi kandungan atsar ini. PERTAMA: Keabsahan Atsar IniAtsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus.TANGGAPAN: “Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut:)) (silahkan lihat http://www.idrusramli.com/2013/menjawab-dusta-firanda-yang-anti-tahlilan/)Tanggapan :    Coba para pembaca perhatikan bagaimana trik al-Ustadz Idrus Ramli dalam berdusta. Pertama kali ia menukil perkataan saya sbb :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.)) Setelah itu iapun membantah perkataan tersebut dengan berkata ((Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut)), demikian perkataan sang ustadz.    Anehnya al-Ustadz Idrus Ramli tidak mencantumkan link artikel saya tersebut, karena barang siapa yang mengecek langsung artikel saya maka akan sangat ketahuan dusta sang ustadz. Adapun murid-murid sang ustadz (sebagaimana yang telah mengungkap kedustaaan sang ustadz) ternyata langsung menelan mentah-mentah vonis sang ustadz sebagai kebenaran untuk mengejek saya tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu….!!!Mari kita lihat apa sesungguhnya yang telah saya tuliskan dalam artikel saya, yaitu sebagai berikut :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-‘Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Imam Ahmad berkata: Telah menyampaikan kepada kami Hasyim bin Al-Qoosim, telah menyampaikan kepada kami al-Asyja’iy, dari Sufyan berkata, Thowus telah berkata: “Sesungguhnya mayat-mayat diuji dalam kuburan mereka tujuh hari, maka mereka (para salaf-pen) suka untuk bersedekah makanan atas nama mayat-mayat tersebut pada hari-hari tersebut.”Dan dari jalan Al-Imam Ahmad bin Hanbal juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa’ (4/11) sebagaimana berikut ini:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus….)) (silahkan baca di https://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/423-dalil-bolehnya-tahlilan)Silahkan para pembaca menilai…, sangat jelas sekali saya menukil perkataan Ibnu Hajar dengan mencantumkan scan bukunya, lalu setelah itu saya menukil perkataan Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Awliyaa’ yang saya juga mencantumkan scan kitabnya, setelah baru saya berkomentar sbb :  ((Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309)…..dst)) Antara perkataan saya dengan perkataan Ibnu Hajar ada perkataan Abu Nu’aim (disertai scan kitabnya). Lantas ternyata Idrus Ramli melakukan trik dustanya –dalam menukil perkataan saya- dengan sengaja menghapuskan perkataan Abu Nu’aim, sehingga seakan-akan saya telah berdusta atas nama Ibnu Hajar. Wallahul Musta’aan. Kalau Idrus Ramli pintar sedikit harusnya dia menuduh saya telah berdusta atas nama Abu Nu’aim bukan atas nama Ibnu Hajar (karena komentar saya saya tuliskan setelah menukil perkataan Abu Nu’aim bukan setelah menukil perkataan Ibnu Hajar), agar trik dustanya lebih keren dikit. !!! Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 25-12-1434 H / 30 Oktober 2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  


Alhamdulillah saya tidak pernah berusaha –sekalipun- untuk mencari-cari kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli, meskipun konon saya dengar beliau sering berdusta, wallahu A’lam akan kebenaran isu tersebut. Akan tetapi kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli tanpa sengaja diungkap oleh seorang pengikutnya yang membuat sebuah status yang mengesankan bahwa saya seorang pendusta. (silahkan lihat di https://www.facebook.com/Virusan/posts/570136863056995?comment_id=4459533&offset=0&total_comments=63&notif_t=mentions_comment)Dari situ saya jadi tahu ternyata al-Ustadz Idrus Ramli nekat berdusta untuk menjatuhkan saya sehingga menuduh saya berdusta !!!!Dalam artikelnya yang berjudul ((Menjawab Dusta Firanda Yang Anti Tahlilan)) Al-Ustadz Idrus Ramli berkata : ((KRITIKAN DR FIRANDA:Ustadz Muhamad Idrus Ramli telah menyebutkan takhrij atsar ini dengan baik. Akan tetapi perlu pembahasan dari dua sisi, sisi keabsahan atsar ini, dan sisi kandungan atsar ini. PERTAMA: Keabsahan Atsar IniAtsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus.TANGGAPAN: “Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut:)) (silahkan lihat http://www.idrusramli.com/2013/menjawab-dusta-firanda-yang-anti-tahlilan/)Tanggapan :    Coba para pembaca perhatikan bagaimana trik al-Ustadz Idrus Ramli dalam berdusta. Pertama kali ia menukil perkataan saya sbb :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.)) Setelah itu iapun membantah perkataan tersebut dengan berkata ((Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut)), demikian perkataan sang ustadz.    Anehnya al-Ustadz Idrus Ramli tidak mencantumkan link artikel saya tersebut, karena barang siapa yang mengecek langsung artikel saya maka akan sangat ketahuan dusta sang ustadz. Adapun murid-murid sang ustadz (sebagaimana yang telah mengungkap kedustaaan sang ustadz) ternyata langsung menelan mentah-mentah vonis sang ustadz sebagai kebenaran untuk mengejek saya tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu….!!!Mari kita lihat apa sesungguhnya yang telah saya tuliskan dalam artikel saya, yaitu sebagai berikut :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-‘Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Imam Ahmad berkata: Telah menyampaikan kepada kami Hasyim bin Al-Qoosim, telah menyampaikan kepada kami al-Asyja’iy, dari Sufyan berkata, Thowus telah berkata: “Sesungguhnya mayat-mayat diuji dalam kuburan mereka tujuh hari, maka mereka (para salaf-pen) suka untuk bersedekah makanan atas nama mayat-mayat tersebut pada hari-hari tersebut.”Dan dari jalan Al-Imam Ahmad bin Hanbal juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa’ (4/11) sebagaimana berikut ini:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus….)) (silahkan baca di https://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/423-dalil-bolehnya-tahlilan)Silahkan para pembaca menilai…, sangat jelas sekali saya menukil perkataan Ibnu Hajar dengan mencantumkan scan bukunya, lalu setelah itu saya menukil perkataan Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Awliyaa’ yang saya juga mencantumkan scan kitabnya, setelah baru saya berkomentar sbb :  ((Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309)…..dst)) Antara perkataan saya dengan perkataan Ibnu Hajar ada perkataan Abu Nu’aim (disertai scan kitabnya). Lantas ternyata Idrus Ramli melakukan trik dustanya –dalam menukil perkataan saya- dengan sengaja menghapuskan perkataan Abu Nu’aim, sehingga seakan-akan saya telah berdusta atas nama Ibnu Hajar. Wallahul Musta’aan. Kalau Idrus Ramli pintar sedikit harusnya dia menuduh saya telah berdusta atas nama Abu Nu’aim bukan atas nama Ibnu Hajar (karena komentar saya saya tuliskan setelah menukil perkataan Abu Nu’aim bukan setelah menukil perkataan Ibnu Hajar), agar trik dustanya lebih keren dikit. !!! Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 25-12-1434 H / 30 Oktober 2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  
Prev     Next