Keutamaan Puasa Asyura

Apa saja keutamaan puasa Asyura? Puasa Asyura ini dilakukan pada hari kesepuluh dari bulan Muharram dan lebih baik jika ditambahkan pada hari kesembilan. Berikut beberapa keutamaan puasa Asyura yang semestinya kita tahu sehingga semangat melakukan puasa tersebut. 1- Puasa di bulan Muharram adalah sebaik-baik puasa. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163). Muharram disebut syahrullah yaitu bulan Allah, itu menunjukkan kemuliaan bulan tersebut. Ath Thibiy mengatakan bahwa yang dimaksud dengan puasa di syahrullah yaitu puasa Asyura. Sedangkan Al Qori mengatakan bahwa hadits di atas yang dimaksudkan adalah seluruh bulan Muharram. Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 2: 532. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa bulan Muharram adalah bulan yang paling afdhol untuk berpuasa. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 50. Hadits di atas menunjukkan keutamaan puasa di bulan Muharram secara umum, termasuk di dalamnya adalah puasa Asyura. 2- Puasa Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata, وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162). Kata Imam Nawawi rahimahullah, yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil sebagaimana beliau penerangkan masalah pengampunan dosa ini dalam pembahasan wudhu. Namun diharapkan dosa besar pun bisa diperingan dengan amalan tersebut. Jika tidak, amalan tersebut bisa meninggikan derajat seseorang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat secara mutlak setiap dosa bisa terhapus dengan amalan seperti puasa Asyura. Lihat Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 487-501 3- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah) Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan, فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ “Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134) Kenapa sebaiknya menambahkan dengan hari kesembilan untuk berpuasa? Kata Imam Nawawi rahimahullah, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 14. Tahun ini (1436 H), tanggal 9 dan 10 Muharram jatuh pada hari Ahad dan Senin (2 dan 3 November 2014). Semoga kita bisa menjalaninya dan jangan lupa sampaikan pada istri, anak, kerabat dan rekan-rekan muslim lainnya. Hanya Allah yang memberi taufik untuk beramal shalih. Referensi: Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H. Majmu’ Al Fatawa, Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim (Ibnu Taimiyah), terbitan Darul Wafa dan Dar Ibni Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H. Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Al Hafizh Abu ‘Ulaa Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri, terbitan Darus Salam, cetakan pertama, tahun 1432 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Muharram 1435 H menjelang Zhuhur. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsasyura muharram puasa asyura

Keutamaan Puasa Asyura

Apa saja keutamaan puasa Asyura? Puasa Asyura ini dilakukan pada hari kesepuluh dari bulan Muharram dan lebih baik jika ditambahkan pada hari kesembilan. Berikut beberapa keutamaan puasa Asyura yang semestinya kita tahu sehingga semangat melakukan puasa tersebut. 1- Puasa di bulan Muharram adalah sebaik-baik puasa. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163). Muharram disebut syahrullah yaitu bulan Allah, itu menunjukkan kemuliaan bulan tersebut. Ath Thibiy mengatakan bahwa yang dimaksud dengan puasa di syahrullah yaitu puasa Asyura. Sedangkan Al Qori mengatakan bahwa hadits di atas yang dimaksudkan adalah seluruh bulan Muharram. Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 2: 532. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa bulan Muharram adalah bulan yang paling afdhol untuk berpuasa. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 50. Hadits di atas menunjukkan keutamaan puasa di bulan Muharram secara umum, termasuk di dalamnya adalah puasa Asyura. 2- Puasa Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata, وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162). Kata Imam Nawawi rahimahullah, yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil sebagaimana beliau penerangkan masalah pengampunan dosa ini dalam pembahasan wudhu. Namun diharapkan dosa besar pun bisa diperingan dengan amalan tersebut. Jika tidak, amalan tersebut bisa meninggikan derajat seseorang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat secara mutlak setiap dosa bisa terhapus dengan amalan seperti puasa Asyura. Lihat Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 487-501 3- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah) Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan, فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ “Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134) Kenapa sebaiknya menambahkan dengan hari kesembilan untuk berpuasa? Kata Imam Nawawi rahimahullah, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 14. Tahun ini (1436 H), tanggal 9 dan 10 Muharram jatuh pada hari Ahad dan Senin (2 dan 3 November 2014). Semoga kita bisa menjalaninya dan jangan lupa sampaikan pada istri, anak, kerabat dan rekan-rekan muslim lainnya. Hanya Allah yang memberi taufik untuk beramal shalih. Referensi: Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H. Majmu’ Al Fatawa, Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim (Ibnu Taimiyah), terbitan Darul Wafa dan Dar Ibni Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H. Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Al Hafizh Abu ‘Ulaa Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri, terbitan Darus Salam, cetakan pertama, tahun 1432 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Muharram 1435 H menjelang Zhuhur. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsasyura muharram puasa asyura
Apa saja keutamaan puasa Asyura? Puasa Asyura ini dilakukan pada hari kesepuluh dari bulan Muharram dan lebih baik jika ditambahkan pada hari kesembilan. Berikut beberapa keutamaan puasa Asyura yang semestinya kita tahu sehingga semangat melakukan puasa tersebut. 1- Puasa di bulan Muharram adalah sebaik-baik puasa. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163). Muharram disebut syahrullah yaitu bulan Allah, itu menunjukkan kemuliaan bulan tersebut. Ath Thibiy mengatakan bahwa yang dimaksud dengan puasa di syahrullah yaitu puasa Asyura. Sedangkan Al Qori mengatakan bahwa hadits di atas yang dimaksudkan adalah seluruh bulan Muharram. Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 2: 532. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa bulan Muharram adalah bulan yang paling afdhol untuk berpuasa. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 50. Hadits di atas menunjukkan keutamaan puasa di bulan Muharram secara umum, termasuk di dalamnya adalah puasa Asyura. 2- Puasa Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata, وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162). Kata Imam Nawawi rahimahullah, yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil sebagaimana beliau penerangkan masalah pengampunan dosa ini dalam pembahasan wudhu. Namun diharapkan dosa besar pun bisa diperingan dengan amalan tersebut. Jika tidak, amalan tersebut bisa meninggikan derajat seseorang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat secara mutlak setiap dosa bisa terhapus dengan amalan seperti puasa Asyura. Lihat Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 487-501 3- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah) Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan, فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ “Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134) Kenapa sebaiknya menambahkan dengan hari kesembilan untuk berpuasa? Kata Imam Nawawi rahimahullah, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 14. Tahun ini (1436 H), tanggal 9 dan 10 Muharram jatuh pada hari Ahad dan Senin (2 dan 3 November 2014). Semoga kita bisa menjalaninya dan jangan lupa sampaikan pada istri, anak, kerabat dan rekan-rekan muslim lainnya. Hanya Allah yang memberi taufik untuk beramal shalih. Referensi: Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H. Majmu’ Al Fatawa, Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim (Ibnu Taimiyah), terbitan Darul Wafa dan Dar Ibni Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H. Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Al Hafizh Abu ‘Ulaa Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri, terbitan Darus Salam, cetakan pertama, tahun 1432 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Muharram 1435 H menjelang Zhuhur. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsasyura muharram puasa asyura


Apa saja keutamaan puasa Asyura? Puasa Asyura ini dilakukan pada hari kesepuluh dari bulan Muharram dan lebih baik jika ditambahkan pada hari kesembilan. Berikut beberapa keutamaan puasa Asyura yang semestinya kita tahu sehingga semangat melakukan puasa tersebut. 1- Puasa di bulan Muharram adalah sebaik-baik puasa. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163). Muharram disebut syahrullah yaitu bulan Allah, itu menunjukkan kemuliaan bulan tersebut. Ath Thibiy mengatakan bahwa yang dimaksud dengan puasa di syahrullah yaitu puasa Asyura. Sedangkan Al Qori mengatakan bahwa hadits di atas yang dimaksudkan adalah seluruh bulan Muharram. Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 2: 532. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa bulan Muharram adalah bulan yang paling afdhol untuk berpuasa. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 50. Hadits di atas menunjukkan keutamaan puasa di bulan Muharram secara umum, termasuk di dalamnya adalah puasa Asyura. 2- Puasa Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata, وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162). Kata Imam Nawawi rahimahullah, yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil sebagaimana beliau penerangkan masalah pengampunan dosa ini dalam pembahasan wudhu. Namun diharapkan dosa besar pun bisa diperingan dengan amalan tersebut. Jika tidak, amalan tersebut bisa meninggikan derajat seseorang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat secara mutlak setiap dosa bisa terhapus dengan amalan seperti puasa Asyura. Lihat Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 487-501 3- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah) Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan, فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ “Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134) Kenapa sebaiknya menambahkan dengan hari kesembilan untuk berpuasa? Kata Imam Nawawi rahimahullah, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 14. Tahun ini (1436 H), tanggal 9 dan 10 Muharram jatuh pada hari Ahad dan Senin (2 dan 3 November 2014). Semoga kita bisa menjalaninya dan jangan lupa sampaikan pada istri, anak, kerabat dan rekan-rekan muslim lainnya. Hanya Allah yang memberi taufik untuk beramal shalih. Referensi: Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H. Majmu’ Al Fatawa, Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim (Ibnu Taimiyah), terbitan Darul Wafa dan Dar Ibni Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H. Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Al Hafizh Abu ‘Ulaa Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri, terbitan Darus Salam, cetakan pertama, tahun 1432 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Muharram 1435 H menjelang Zhuhur. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsasyura muharram puasa asyura

Kaedah Fikih (12): Hukum Asal Hubungan Biologis

Perzinaan adalah suatu hal yang diharamkan. Karenan halalnya kemaluan wanita lain haruslah lewat akad nikah. Inilah ajaran Islam yang punya maksud untuk menjaga kesucian wanita dan tidak bercampurnya nasab.    Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, الأصل في الأبضاع واللحوم والنفس للمعصوم تحريمها حتى يجيء الحل فافهم هداك الله ما يحل Hukum asal hubungan biologis dan daging, begitu pula darah dan harta orang yang terjaga adalah haram sampai datang dalil yang menunjukkan halalnya, maka pahamilah apa yang telah didiktekan rahimahullah mengutarakan bahwa hukum asal hubungan biologis adalah haram. Beliau menggunakan istilah budh’i (abdho’) dalam bait sya’ir beliau di atas. Namun istilah budh’i itu sendiri mencakup tiga makna: 1- Budh’i bermakna kemaluan. Maksudnya di sini adalah hukum asal kemaluan orang lain adalah haram sampai ada dalil yang membolehkannya. Dalil dari statement tersebut adalah firman Allah Ta’ala, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. ” (QS. Al Mu’minun: 5-7) Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَاتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ “Bertakwalah pada Allah terhadap para wanita karena kalian telah mengambil mereka dengan perlindungan dari Allah, kalian telah meminta kehalalan kemaluan mereka dengan kalimat Allah.” (HR. Muslim no. 1218) Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa asalnya kemaluan wanita diharamkan sampai dihalalkan dengan kalimat Allah, maksudnya adalah lewat akad nikah. Derivat dari hal di atas, diharamkan menyetubuhi wanita jika hanya ada keraguan (bukan yakin), begitu pula jika hanya ada syubhat. 2- Budh’i bermakna jima’ (hubungan intim). Jika asal kemaluan adalah diharamkan, demikian pula jima’. 3- Budh’i bermakna akad nikah. Para ulama berpendapat bahwa hukum asal akad nikah adalah haram. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah As Suyuthi dalam Al Asybah wan Nazhoir. Dan ini yang menjadi pendapat Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di sebagaimana dalam bait sya’irnya. Namun yang lebih tepat, hukum asal akad nikah adalah boleh dan halal. Beberapa dalil yang menunjukkan hal ini, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu” (QS. Al Maidah: 1).  Dan akad nikah termasuk bagian dari ayat ini. Maka asalnya, akad nikah itu sah dan boleh sampai ada dalil yang menyatakan rusaknya. Allah Ta’ala berfirman, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan …” (QS. An Nisa’: 23). Dalam ayat ini, Allah telah membatasi mana saja wanita-wanita yang haram dinikahi. Ini menunjukkan bahwa selain wanita-wanita yang disebutkan halal untuk dinikahi. Dalam ayat selanjutnya disebutkan, وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ “Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian” (QS. An Nisa’: 24). Dalil-dalil ini menunjukkan asal akad nikah adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Beberapa kaedah fikih yang pernah dibahas sebelumnya di Rumaysho.Com: Kaedah fikih: Kesulitan Mendatangkan Kemudahan. Kaedah fikih: Hukum Asal Tanah Pakaian dan Batu.   Referensi: Syarh Al Manzhumatus Sa’diyah fil Qowa’id Al Fiqhiyyah, -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Dar Kanuz Isybiliya, cetakan kedua, 1426 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Muharram 1435 H Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom   — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan karya Ustadz Abduh Tuasikal. Tagshubungan intim kaedah fikih

Kaedah Fikih (12): Hukum Asal Hubungan Biologis

Perzinaan adalah suatu hal yang diharamkan. Karenan halalnya kemaluan wanita lain haruslah lewat akad nikah. Inilah ajaran Islam yang punya maksud untuk menjaga kesucian wanita dan tidak bercampurnya nasab.    Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, الأصل في الأبضاع واللحوم والنفس للمعصوم تحريمها حتى يجيء الحل فافهم هداك الله ما يحل Hukum asal hubungan biologis dan daging, begitu pula darah dan harta orang yang terjaga adalah haram sampai datang dalil yang menunjukkan halalnya, maka pahamilah apa yang telah didiktekan rahimahullah mengutarakan bahwa hukum asal hubungan biologis adalah haram. Beliau menggunakan istilah budh’i (abdho’) dalam bait sya’ir beliau di atas. Namun istilah budh’i itu sendiri mencakup tiga makna: 1- Budh’i bermakna kemaluan. Maksudnya di sini adalah hukum asal kemaluan orang lain adalah haram sampai ada dalil yang membolehkannya. Dalil dari statement tersebut adalah firman Allah Ta’ala, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. ” (QS. Al Mu’minun: 5-7) Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَاتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ “Bertakwalah pada Allah terhadap para wanita karena kalian telah mengambil mereka dengan perlindungan dari Allah, kalian telah meminta kehalalan kemaluan mereka dengan kalimat Allah.” (HR. Muslim no. 1218) Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa asalnya kemaluan wanita diharamkan sampai dihalalkan dengan kalimat Allah, maksudnya adalah lewat akad nikah. Derivat dari hal di atas, diharamkan menyetubuhi wanita jika hanya ada keraguan (bukan yakin), begitu pula jika hanya ada syubhat. 2- Budh’i bermakna jima’ (hubungan intim). Jika asal kemaluan adalah diharamkan, demikian pula jima’. 3- Budh’i bermakna akad nikah. Para ulama berpendapat bahwa hukum asal akad nikah adalah haram. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah As Suyuthi dalam Al Asybah wan Nazhoir. Dan ini yang menjadi pendapat Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di sebagaimana dalam bait sya’irnya. Namun yang lebih tepat, hukum asal akad nikah adalah boleh dan halal. Beberapa dalil yang menunjukkan hal ini, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu” (QS. Al Maidah: 1).  Dan akad nikah termasuk bagian dari ayat ini. Maka asalnya, akad nikah itu sah dan boleh sampai ada dalil yang menyatakan rusaknya. Allah Ta’ala berfirman, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan …” (QS. An Nisa’: 23). Dalam ayat ini, Allah telah membatasi mana saja wanita-wanita yang haram dinikahi. Ini menunjukkan bahwa selain wanita-wanita yang disebutkan halal untuk dinikahi. Dalam ayat selanjutnya disebutkan, وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ “Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian” (QS. An Nisa’: 24). Dalil-dalil ini menunjukkan asal akad nikah adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Beberapa kaedah fikih yang pernah dibahas sebelumnya di Rumaysho.Com: Kaedah fikih: Kesulitan Mendatangkan Kemudahan. Kaedah fikih: Hukum Asal Tanah Pakaian dan Batu.   Referensi: Syarh Al Manzhumatus Sa’diyah fil Qowa’id Al Fiqhiyyah, -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Dar Kanuz Isybiliya, cetakan kedua, 1426 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Muharram 1435 H Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom   — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan karya Ustadz Abduh Tuasikal. Tagshubungan intim kaedah fikih
Perzinaan adalah suatu hal yang diharamkan. Karenan halalnya kemaluan wanita lain haruslah lewat akad nikah. Inilah ajaran Islam yang punya maksud untuk menjaga kesucian wanita dan tidak bercampurnya nasab.    Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, الأصل في الأبضاع واللحوم والنفس للمعصوم تحريمها حتى يجيء الحل فافهم هداك الله ما يحل Hukum asal hubungan biologis dan daging, begitu pula darah dan harta orang yang terjaga adalah haram sampai datang dalil yang menunjukkan halalnya, maka pahamilah apa yang telah didiktekan rahimahullah mengutarakan bahwa hukum asal hubungan biologis adalah haram. Beliau menggunakan istilah budh’i (abdho’) dalam bait sya’ir beliau di atas. Namun istilah budh’i itu sendiri mencakup tiga makna: 1- Budh’i bermakna kemaluan. Maksudnya di sini adalah hukum asal kemaluan orang lain adalah haram sampai ada dalil yang membolehkannya. Dalil dari statement tersebut adalah firman Allah Ta’ala, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. ” (QS. Al Mu’minun: 5-7) Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَاتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ “Bertakwalah pada Allah terhadap para wanita karena kalian telah mengambil mereka dengan perlindungan dari Allah, kalian telah meminta kehalalan kemaluan mereka dengan kalimat Allah.” (HR. Muslim no. 1218) Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa asalnya kemaluan wanita diharamkan sampai dihalalkan dengan kalimat Allah, maksudnya adalah lewat akad nikah. Derivat dari hal di atas, diharamkan menyetubuhi wanita jika hanya ada keraguan (bukan yakin), begitu pula jika hanya ada syubhat. 2- Budh’i bermakna jima’ (hubungan intim). Jika asal kemaluan adalah diharamkan, demikian pula jima’. 3- Budh’i bermakna akad nikah. Para ulama berpendapat bahwa hukum asal akad nikah adalah haram. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah As Suyuthi dalam Al Asybah wan Nazhoir. Dan ini yang menjadi pendapat Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di sebagaimana dalam bait sya’irnya. Namun yang lebih tepat, hukum asal akad nikah adalah boleh dan halal. Beberapa dalil yang menunjukkan hal ini, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu” (QS. Al Maidah: 1).  Dan akad nikah termasuk bagian dari ayat ini. Maka asalnya, akad nikah itu sah dan boleh sampai ada dalil yang menyatakan rusaknya. Allah Ta’ala berfirman, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan …” (QS. An Nisa’: 23). Dalam ayat ini, Allah telah membatasi mana saja wanita-wanita yang haram dinikahi. Ini menunjukkan bahwa selain wanita-wanita yang disebutkan halal untuk dinikahi. Dalam ayat selanjutnya disebutkan, وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ “Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian” (QS. An Nisa’: 24). Dalil-dalil ini menunjukkan asal akad nikah adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Beberapa kaedah fikih yang pernah dibahas sebelumnya di Rumaysho.Com: Kaedah fikih: Kesulitan Mendatangkan Kemudahan. Kaedah fikih: Hukum Asal Tanah Pakaian dan Batu.   Referensi: Syarh Al Manzhumatus Sa’diyah fil Qowa’id Al Fiqhiyyah, -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Dar Kanuz Isybiliya, cetakan kedua, 1426 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Muharram 1435 H Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom   — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan karya Ustadz Abduh Tuasikal. Tagshubungan intim kaedah fikih


Perzinaan adalah suatu hal yang diharamkan. Karenan halalnya kemaluan wanita lain haruslah lewat akad nikah. Inilah ajaran Islam yang punya maksud untuk menjaga kesucian wanita dan tidak bercampurnya nasab.    Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, الأصل في الأبضاع واللحوم والنفس للمعصوم تحريمها حتى يجيء الحل فافهم هداك الله ما يحل Hukum asal hubungan biologis dan daging, begitu pula darah dan harta orang yang terjaga adalah haram sampai datang dalil yang menunjukkan halalnya, maka pahamilah apa yang telah didiktekan rahimahullah mengutarakan bahwa hukum asal hubungan biologis adalah haram. Beliau menggunakan istilah budh’i (abdho’) dalam bait sya’ir beliau di atas. Namun istilah budh’i itu sendiri mencakup tiga makna: 1- Budh’i bermakna kemaluan. Maksudnya di sini adalah hukum asal kemaluan orang lain adalah haram sampai ada dalil yang membolehkannya. Dalil dari statement tersebut adalah firman Allah Ta’ala, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. ” (QS. Al Mu’minun: 5-7) Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَاتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ “Bertakwalah pada Allah terhadap para wanita karena kalian telah mengambil mereka dengan perlindungan dari Allah, kalian telah meminta kehalalan kemaluan mereka dengan kalimat Allah.” (HR. Muslim no. 1218) Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa asalnya kemaluan wanita diharamkan sampai dihalalkan dengan kalimat Allah, maksudnya adalah lewat akad nikah. Derivat dari hal di atas, diharamkan menyetubuhi wanita jika hanya ada keraguan (bukan yakin), begitu pula jika hanya ada syubhat. 2- Budh’i bermakna jima’ (hubungan intim). Jika asal kemaluan adalah diharamkan, demikian pula jima’. 3- Budh’i bermakna akad nikah. Para ulama berpendapat bahwa hukum asal akad nikah adalah haram. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah As Suyuthi dalam Al Asybah wan Nazhoir. Dan ini yang menjadi pendapat Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di sebagaimana dalam bait sya’irnya. Namun yang lebih tepat, hukum asal akad nikah adalah boleh dan halal. Beberapa dalil yang menunjukkan hal ini, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu” (QS. Al Maidah: 1).  Dan akad nikah termasuk bagian dari ayat ini. Maka asalnya, akad nikah itu sah dan boleh sampai ada dalil yang menyatakan rusaknya. Allah Ta’ala berfirman, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan …” (QS. An Nisa’: 23). Dalam ayat ini, Allah telah membatasi mana saja wanita-wanita yang haram dinikahi. Ini menunjukkan bahwa selain wanita-wanita yang disebutkan halal untuk dinikahi. Dalam ayat selanjutnya disebutkan, وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ “Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian” (QS. An Nisa’: 24). Dalil-dalil ini menunjukkan asal akad nikah adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Beberapa kaedah fikih yang pernah dibahas sebelumnya di Rumaysho.Com: Kaedah fikih: Kesulitan Mendatangkan Kemudahan. Kaedah fikih: Hukum Asal Tanah Pakaian dan Batu.   Referensi: Syarh Al Manzhumatus Sa’diyah fil Qowa’id Al Fiqhiyyah, -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Dar Kanuz Isybiliya, cetakan kedua, 1426 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Muharram 1435 H Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom   — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan karya Ustadz Abduh Tuasikal. Tagshubungan intim kaedah fikih

Pasar Murah Mengatasi Kristenisasi untuk 2000 KK di Desa Girisekar

Gunungkidul, 6 Muharram 1435 H: Next Pasar Murah nanti -insya Allah- diadakan di Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta di mana Pesantren Darush Sholihin berada. Sudah beberapa kali, pasar murah diadakan di sekitar Pesantren Darush Sholihin, terutama di Dusun Warak, Girisekar. Saat ini, untuk memperluas dakwah dan membuat warga di dusun lain di Desa Girisekar tertarik untuk mengaji Islam, Pesantren DS kembali ingin mengadakan Pasar Murah. Ditambah pasar murah ini dapat membantu meringankan beban warga Desa Girisekar yang rata-rata miskin. Tujuan lain dari pasar murah ini adalah untuk mengatasi Kristenisasi dan mengatasi semakin kuatnya orang Nashrani untuk menguasai Desa Girisekar. Terbukti hingga saat ini, dengan mayoritas umat Islam di Desa Girisekar namun ada dua gereja yang sudah sejak lama berdiri megah yaitu Gereja Kristen Jawa dan Gereja Katholik. Ditambah lagi yang mengepalai Desa Girisekar adalah seorang Nashrani dan tahta selanjutnya di desa akan jadi rebutan antara Muslim dan Nasharani pada pemilihan kepada desa tahun depan. Itulah yang memotivasi pihak Pesantren untuk memperkuat dakwah di desa ini. Insya Allah, pasar murah tersebut akan diadakan dua hari untuk kurang lebih 2000 KK dari 9 dusun, yaitu pada Sabtu, 16 November 2013 dan Ahad, 17 November 2013. Diadakan dua hari karena jumlah KK yang begitu banyak dan rencana pasar murah tersebut dibagi pada empat wilayah: 1- Pesantren Darush Sholihin Warak untuk Dusun Warak, Krambil dan Sawah. 2- Balai Desa Girisekar untuk Dusun Mbali, Mendak dan Blimbing. 3- Salah satu masjid di daerah Pejenan dan Jerukan. 4- Masjid di daerah Waru. Karena begitu banyaknya jumlah KK, dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Dibutuhkan sekitar 70 juta rupiah dari paket sembako seharga Rp.35.000,-. Paket tersebut berisi 5 sembako: 1 kg beras, 1/2 L minyak goreng, 1/2 kg gula pasir, 1 bungkus teh jawa dan 5 bungkus indomie. Pakte ini dijual kembali seharga Rp.10.000,- di mana pendapat tersebut akan digunakan untuk keperluan pembangunan Pesantren Darush Sholihin. Bagi yang ingin turut serta dalam donasi ini, silakan kirimkan donasinya via rekening Pesantren Darush Sholihin: (1) BCA: 8610123881, (2) BSM: 3107011155, (3) BNI Syari’ah: 0194475165, (4)BRI: 0029-01-101480-50-9, semuanya atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama donatur, alamat, besar donasi, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan transfer. Konfirmasi ini harus ada untuk membedakan dengan donasi lainnya yang disalurkan melalui Pesantren Darush Sholihin. Contoh sms konfirmasi: Rini Rahmawati#Jogja# Rp.300.000#BSM#10 Nov 2013#pasar murah. Konfirmasi berita, silakan hubungi Ustadz M. Abduh Tuasikal: 0812 2601 4555. Yang membantu dalam kebaikan akan mendapatkan pahala yang sama dengan pelaku kebaikan tersebut. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ “Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala semisal pelakunya.” (HR. Muslim no. 1893). Semoga Allah membalas kebaikan para muhsinin yang telah sudi membantu dalam kebaikan ini. Moga Allah memberkahi rezekinya.     Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal — Warak, Girisekar, 6 Muharram 1435 H Info DarushSholihin.Com   — Laporan Donasi Pemasukan Pasar Murah (hingga 17 November 2013)     Total Donasi 77,677,010     No Nama Besar Donasi Bank Tgl Transfer 1 Eko # Banjarmasin 100,000 BSM 10-Nov 2 Hartoyo # Depok 100,000 BSM 10-Nov 3 Hamba Allah # Jember  100,000 BSM 10-Nov 4 Isra 500,000 BCA 10-Nov 5 Awaluddin Yamin # Kendari 500,000 BNI 11-Nov 6 Agus Ghozy # Banyuwangi 100,000 BCA 11-Nov 7 Sutrisno # Lampung 150,000 BCA 11-Nov 8 Ariyanto # Muara Enim 100,000 BSM 11-Nov 9 Asrul # Makassar 200,000 BRI 11-Nov 10 Atim # Jkt 500,000 BCA 11-Nov 11 Vinny Anwar # Jkt 1,500,000 BCA 11-Nov 12 Achmad N # Jkt 75,000 BSM 11-Nov 13 Abu Nabhan # Cakung Jkt 105,000 BSM 11-Nov 14 Hamba Alloh # Bekasi 300,000 BSM 11-Nov 15 Siti Aisyah # Bjm 100,000 BCA 11-Nov 16 Rina Kuncoro 200,000   11-Nov 17 Rimbo # Jakarta 500,000 BNI 11-Nov 18 Dani # Depok 1,000,000 BNI 11-Nov 19 Asri # Batulicin 500,000 BSM 11-Nov 20 Herliy / Erli # UI Depok 150,000 BNI 11-Nov 21 Ani Adiati 500,000 BNI 11-Nov 22 Tyan Heryadi 150,000 BNI 11-Nov 23 Alex Mansur 1,000,000 BCA 11-Nov 24 Abdullah # Jakarta 200,000 BSM 11-Nov 25 Abdullah # Jakarta 105,000 BRI 11-Nov 26 Daruddin # Pontianak 200,000 BCA 11-Nov 27 Riri Kartika # Probolinggo 100,000 BRI 11-Nov 28 Hamba Allah -Tegal 600,000 BRI 11-Nov 29 Bambang Sunarko # Jakarta 300,000 BCA 11-Nov 30 Hamba Allah # Jakarta 500,010 BNI 11-Nov 31 Abu Naufal # Oman 500,000 BNI 11-Nov 32 Mirna Oemar 1,000,000 BCA 12-Nov 33 Agus Rachman # Depok 500,000 BSM 12-Nov 34 Amrinda Gusti # Padang 200,000 BSM 12-Nov 35 Yuditiar # Surabaya 100,000 BRI 12-Nov 36 Dwi # Bekasi 70,000 BRI 12-Nov 37 Hamba Allah # 08181471 ** 100,000 BCA 12-Nov 38 Lalas Surastri # Jakarta 200,000 BRI 12-Nov 39 Iis # Bekasi 250,000 BCA 12-Nov 40 Naya # Jakarta 200,000 BCA 12-Nov 41 Didiet # Probolinggo 100,000 BNI 12-Nov 42 Merlin Fainiri# Jakarta 1,500,000 BCA 12-Nov 43 Puput # Jogja 200,000 BSM 12-Nov 44 Hamba Allah # Jakarta 400,000 BCA 12-Nov 45 Hamba Allah # 0813473432 ** 1,000,000 BNI 12-Nov 46 Abu Yahya # Kediri 500,000 BNI 12-Nov 47 Hamba Allah # Tebet 350,000 BRI 12-Nov 48 Erick Suryawan # Jakarta 500,000 BSM 12-Nov 49 Yuli Rosdiana # Jkt 170,000 BSM 12-Nov 50 Dian Mardiyanti 350,000 BRI 12-Nov 51 Abu Umar # Jakarta 500,000 BSM 12-Nov 52 Hamba Allah # Sultra 100,000 BNI 12-Nov 53 Mayalia A # Jakarta 500,000 BSM 12-Nov 54 Ernayanti # Jak-Ut 350,000 BCA 12-Nov 55 Wiwiek Margono 250,000 BCA 13-Nov 56 Abu Fafa 1,000,000 BCA 13-Nov 57 Ummu Akmal # Jakarta 300,000 BCA 13-Nov 58 R. Yati 500,000 BSM 13-Nov 59 Nuropik Arief # Yogyakarta 500,000 BCA 13-Nov 60 Abu Dipta # PTK 200,000   13-Nov 61 Anton Sumartono # Dumai 1,000,000   13-Nov 62 Sutrimo Wicaksono  # Pekalongan  150,000   13-Nov 63 Susanta # Jakarta 100,000 BCA 13-Nov 64 Ismet Ismail # Bogor 200,000 BCA 13-Nov 65 Taslim # Cirebon 1,000,000 BSM 13-Nov 66 Wardiman # Purwosari 200,000 BRI 13-Nov 67 Asmana # Tangerang 100,000 BCA 13-Nov 68 PT. Bahana Jaya Trasindo # Surabaya 1,000,000 BCA 13-Nov 69 Ismaniar  500,000 BSM 13-Nov 70 Ummu Mufidah # Surabaya 1,000,000 BNI 13-Nov 71 Luh Nyoman Lucy # Jakarta 100,000 BSM 13-Nov 72 Juhamzah # Jakarta 100,000 BCA 13-Nov 73 Sigit # Bekasi 500,000 BCA 13-Nov 74 Abdullah # Bekasi 300,000 BSM 13-Nov 75 Saif # Cimahi 750,000 BRI 13-Nov 76 Ros Suryati Wilson # Jakarta 500,000 BSM 13-Nov 77 Abdullah # Cilacap 3,000,000 BSM 13-Nov 78 Hamba Allah # Jogja 500,000 BNI 13-Nov 79 Rahmat Wijaya # Depok 1,000,000 BNI 13-Nov 80 Dwi Novitasari Anggraini # Bogor 50,000 BNI 13-Nov 81 Etik Suryantina # Padang 500,000 BCA 13-Nov 82 Febriana # Tangerang 200,000 BRI 13-Nov 83 Umi Salamah (Heru Trianto) # Jogja 1,000,000 BCA 13-Nov 84 Abu Najla # Cakung 200,000 BCA 13-Nov 85 Nurhayati # Jakarta 500,000 BRI 13-Nov 86 Sri Asliani # Bekasi 150,000 BCA 13-Nov 87 Zulkifli # Jakarta 150,000 BSM 13-Nov 88 Nur Lailin # Jakarta 100,000 BCA 13-Nov 89 Suzy Ummu Ifed # Jakarta 1,000,000 BCA 13-Nov 90 Fitri Yeni # Palembang 100,000 BSM 13-Nov 91 Hamba Allah # Jakarta 1,000,000 BSM 13-Nov 92 Iskandar Abu Syamil 300,000 BCA 14-Nov 93 Fiqhi Aulia # Bintaro JKT 152,000 BCA 14-Nov 94 Harits # Jakarta 200,000 BRI 14-Nov 95 Erlina Budiastuti # Jakarta 200,000 BRI 14-Nov 96 Arief # Jakarta 200,000 BSM 14-Nov 97 Alif # Banyumas 2,000,000 BSM 14-Nov 98 Arina # Jogja 40,000 BRI 14-Nov 99 Abdulloh # Jogja 250,000 BSM 14-Nov 100 Abu Nasywa # Bogor 500,000 BSM 14-Nov 101 Irina Kuntoadji  500,000 BCA 14-Nov 102 Fauziah Armas # Jakarta 100,000   14-Nov 103 Akhmad N # Palembang 200,000 BSM 14-Nov 104 Asmarina # Bogor 500,000 BSM 14-Nov 105 Hamba Allah # Singapura 1,000,000 BCA 14-Nov 106 EL # Abu Dhabi 1,000,000 BSM 14-Nov 107 Ahmad Thamrin Somad # Jakarta 500,000 BCA 14-Nov 108 Musriati # Balipapan 200,000 BNI 14-Nov 109 Nur # Bekasi 300,000 BCA 14-Nov 110 Farried Thabrani # Jogja 300,000 BCA 14-Nov 111 Sari # Bogor 300,000 BRI 14-Nov 112 Halim # Medan 200,000 BNI 14-Nov 113 Apriyanto Abu Sidiq # Depok 400,000 BSM 14-Nov 114 Yanie Indriani 1,000,000 BSM 14-Nov 115 Ummu Namira Shabrina # Semarang 1,500,000 BNI 14-Nov 116 Indria W # Jakarta 200,000 BSM 14-Nov 117 Sigit Wahyu Widodo # Tangerang 100,000 BCA 14-Nov 118 Ayu Natalina 500,000 BSM 14-Nov 119 Hamba Allah # Bogor 200,000 BSM 14-Nov 120 Henny Ummu Ratu 1,000,000 BRI 14-Nov 121 Santy # Jakarta 100,000 BCA 15-Nov 122 Ade Khairani # Jakarta 500,000 BCA 15-Nov 123 Mukhsin Jalil  1,000,000 BCA 15-Nov 124 Abu Muhammad # Semarang 350,000 BSM 15-Nov 125 Abu Azzam # Papua 250,000 BSM 15-Nov 126 Nelly # Pekanbaru 300,000 BNI 15-Nov 127 Hendra Irawan # Depok 200,000 BCA 15-Nov 128 Putriadji # Jakarta 100,000 BCA 15-Nov 129 Ika Parwanti # Tangsel 300,000 BSM 15-Nov 130 Drs Soewarno # Tangsel 250,000 BSM 15-Nov 131 Triana Citrawati # Jakarta 200,000 BCA 15-Nov 132 Farika Lahan # Bantul 1,000,000 BSM 15-Nov 133 Ummu Latifah 2,000,000 BCA 15-Nov 134 Hamba Allah # Bekasi 200,000 BRI 15-Nov 135 Riska Widya # Balikpapan 150,000 BNI 15-Nov 136 Alex Mansur 2,000,000 BSM 15-Nov 137 Rusdinah # Ummu Aisyah 530,000   15-Nov 138 HambaAllah  100,000 BSM 15-Nov 139 Nur Chasanah AF 500,000 BRI 15-Nov 140 Kyosi # Jogja  100,000 BCA 15-Nov 141 MT As Sunnah 1,000,000 BRI 15-Nov 142 Hamba Allah # Jakarta 5,000,000 BCA 15-Nov 143 Erry Fuad # Jakarta 250,000     144 Rosita # Jakarta 150,000 BSM 15-Nov 145 Dewi # Bekasi  200,000 BSM 15-Nov 146 Nilasari # Cabe Tangsel 100,000 BNI 15-Nov 147 Anefi Noviar # Jakarta 140,000 BSM 15-Nov 148 Fanny Nd Indah # Jakarta 250,000 BCA 15-Nov 149 Hamba Allah # 08164231582 200,000 BCA 15-Nov 150 Hamba Allah # Jakarta 200,000 BSM 16-Nov 151 Hamba Alloh # Bantul  100,000 BSM 16-Nov 152 Susiana # Sragen 100,000 BRI 15-Nov 153 D. Puspita 300,000 BSM 15-Nov 154 Hamba Alloh # Bekasi  4,500,000 BCA 16-Nov 155 Firmansyah # Jakarta 210,000 BCA 13-Nov 156 Jeni Amalia # Jakarta 1,000,000 BCA 15-Nov 157 Andy Sudarwanto # BNI Syariah 100,000 BNI 16-Nov 158 Sri Murni # Jakarta 100,000 BCA 16-Nov 159 Abdurrahman Rizki # Jakarta 30,000 BNI 16-Nov Bagi yang ada salah nama atau namanya belum tercantum dalam data donasi di atas, silakan laporkan via sms ke no 0815 680 7937 (Pesantren DS). Semoga Allah menerima amalan setiap muhsinin sekalian. Tagsgunungkidul kristenisasi pasar murah

Pasar Murah Mengatasi Kristenisasi untuk 2000 KK di Desa Girisekar

Gunungkidul, 6 Muharram 1435 H: Next Pasar Murah nanti -insya Allah- diadakan di Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta di mana Pesantren Darush Sholihin berada. Sudah beberapa kali, pasar murah diadakan di sekitar Pesantren Darush Sholihin, terutama di Dusun Warak, Girisekar. Saat ini, untuk memperluas dakwah dan membuat warga di dusun lain di Desa Girisekar tertarik untuk mengaji Islam, Pesantren DS kembali ingin mengadakan Pasar Murah. Ditambah pasar murah ini dapat membantu meringankan beban warga Desa Girisekar yang rata-rata miskin. Tujuan lain dari pasar murah ini adalah untuk mengatasi Kristenisasi dan mengatasi semakin kuatnya orang Nashrani untuk menguasai Desa Girisekar. Terbukti hingga saat ini, dengan mayoritas umat Islam di Desa Girisekar namun ada dua gereja yang sudah sejak lama berdiri megah yaitu Gereja Kristen Jawa dan Gereja Katholik. Ditambah lagi yang mengepalai Desa Girisekar adalah seorang Nashrani dan tahta selanjutnya di desa akan jadi rebutan antara Muslim dan Nasharani pada pemilihan kepada desa tahun depan. Itulah yang memotivasi pihak Pesantren untuk memperkuat dakwah di desa ini. Insya Allah, pasar murah tersebut akan diadakan dua hari untuk kurang lebih 2000 KK dari 9 dusun, yaitu pada Sabtu, 16 November 2013 dan Ahad, 17 November 2013. Diadakan dua hari karena jumlah KK yang begitu banyak dan rencana pasar murah tersebut dibagi pada empat wilayah: 1- Pesantren Darush Sholihin Warak untuk Dusun Warak, Krambil dan Sawah. 2- Balai Desa Girisekar untuk Dusun Mbali, Mendak dan Blimbing. 3- Salah satu masjid di daerah Pejenan dan Jerukan. 4- Masjid di daerah Waru. Karena begitu banyaknya jumlah KK, dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Dibutuhkan sekitar 70 juta rupiah dari paket sembako seharga Rp.35.000,-. Paket tersebut berisi 5 sembako: 1 kg beras, 1/2 L minyak goreng, 1/2 kg gula pasir, 1 bungkus teh jawa dan 5 bungkus indomie. Pakte ini dijual kembali seharga Rp.10.000,- di mana pendapat tersebut akan digunakan untuk keperluan pembangunan Pesantren Darush Sholihin. Bagi yang ingin turut serta dalam donasi ini, silakan kirimkan donasinya via rekening Pesantren Darush Sholihin: (1) BCA: 8610123881, (2) BSM: 3107011155, (3) BNI Syari’ah: 0194475165, (4)BRI: 0029-01-101480-50-9, semuanya atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama donatur, alamat, besar donasi, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan transfer. Konfirmasi ini harus ada untuk membedakan dengan donasi lainnya yang disalurkan melalui Pesantren Darush Sholihin. Contoh sms konfirmasi: Rini Rahmawati#Jogja# Rp.300.000#BSM#10 Nov 2013#pasar murah. Konfirmasi berita, silakan hubungi Ustadz M. Abduh Tuasikal: 0812 2601 4555. Yang membantu dalam kebaikan akan mendapatkan pahala yang sama dengan pelaku kebaikan tersebut. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ “Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala semisal pelakunya.” (HR. Muslim no. 1893). Semoga Allah membalas kebaikan para muhsinin yang telah sudi membantu dalam kebaikan ini. Moga Allah memberkahi rezekinya.     Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal — Warak, Girisekar, 6 Muharram 1435 H Info DarushSholihin.Com   — Laporan Donasi Pemasukan Pasar Murah (hingga 17 November 2013)     Total Donasi 77,677,010     No Nama Besar Donasi Bank Tgl Transfer 1 Eko # Banjarmasin 100,000 BSM 10-Nov 2 Hartoyo # Depok 100,000 BSM 10-Nov 3 Hamba Allah # Jember  100,000 BSM 10-Nov 4 Isra 500,000 BCA 10-Nov 5 Awaluddin Yamin # Kendari 500,000 BNI 11-Nov 6 Agus Ghozy # Banyuwangi 100,000 BCA 11-Nov 7 Sutrisno # Lampung 150,000 BCA 11-Nov 8 Ariyanto # Muara Enim 100,000 BSM 11-Nov 9 Asrul # Makassar 200,000 BRI 11-Nov 10 Atim # Jkt 500,000 BCA 11-Nov 11 Vinny Anwar # Jkt 1,500,000 BCA 11-Nov 12 Achmad N # Jkt 75,000 BSM 11-Nov 13 Abu Nabhan # Cakung Jkt 105,000 BSM 11-Nov 14 Hamba Alloh # Bekasi 300,000 BSM 11-Nov 15 Siti Aisyah # Bjm 100,000 BCA 11-Nov 16 Rina Kuncoro 200,000   11-Nov 17 Rimbo # Jakarta 500,000 BNI 11-Nov 18 Dani # Depok 1,000,000 BNI 11-Nov 19 Asri # Batulicin 500,000 BSM 11-Nov 20 Herliy / Erli # UI Depok 150,000 BNI 11-Nov 21 Ani Adiati 500,000 BNI 11-Nov 22 Tyan Heryadi 150,000 BNI 11-Nov 23 Alex Mansur 1,000,000 BCA 11-Nov 24 Abdullah # Jakarta 200,000 BSM 11-Nov 25 Abdullah # Jakarta 105,000 BRI 11-Nov 26 Daruddin # Pontianak 200,000 BCA 11-Nov 27 Riri Kartika # Probolinggo 100,000 BRI 11-Nov 28 Hamba Allah -Tegal 600,000 BRI 11-Nov 29 Bambang Sunarko # Jakarta 300,000 BCA 11-Nov 30 Hamba Allah # Jakarta 500,010 BNI 11-Nov 31 Abu Naufal # Oman 500,000 BNI 11-Nov 32 Mirna Oemar 1,000,000 BCA 12-Nov 33 Agus Rachman # Depok 500,000 BSM 12-Nov 34 Amrinda Gusti # Padang 200,000 BSM 12-Nov 35 Yuditiar # Surabaya 100,000 BRI 12-Nov 36 Dwi # Bekasi 70,000 BRI 12-Nov 37 Hamba Allah # 08181471 ** 100,000 BCA 12-Nov 38 Lalas Surastri # Jakarta 200,000 BRI 12-Nov 39 Iis # Bekasi 250,000 BCA 12-Nov 40 Naya # Jakarta 200,000 BCA 12-Nov 41 Didiet # Probolinggo 100,000 BNI 12-Nov 42 Merlin Fainiri# Jakarta 1,500,000 BCA 12-Nov 43 Puput # Jogja 200,000 BSM 12-Nov 44 Hamba Allah # Jakarta 400,000 BCA 12-Nov 45 Hamba Allah # 0813473432 ** 1,000,000 BNI 12-Nov 46 Abu Yahya # Kediri 500,000 BNI 12-Nov 47 Hamba Allah # Tebet 350,000 BRI 12-Nov 48 Erick Suryawan # Jakarta 500,000 BSM 12-Nov 49 Yuli Rosdiana # Jkt 170,000 BSM 12-Nov 50 Dian Mardiyanti 350,000 BRI 12-Nov 51 Abu Umar # Jakarta 500,000 BSM 12-Nov 52 Hamba Allah # Sultra 100,000 BNI 12-Nov 53 Mayalia A # Jakarta 500,000 BSM 12-Nov 54 Ernayanti # Jak-Ut 350,000 BCA 12-Nov 55 Wiwiek Margono 250,000 BCA 13-Nov 56 Abu Fafa 1,000,000 BCA 13-Nov 57 Ummu Akmal # Jakarta 300,000 BCA 13-Nov 58 R. Yati 500,000 BSM 13-Nov 59 Nuropik Arief # Yogyakarta 500,000 BCA 13-Nov 60 Abu Dipta # PTK 200,000   13-Nov 61 Anton Sumartono # Dumai 1,000,000   13-Nov 62 Sutrimo Wicaksono  # Pekalongan  150,000   13-Nov 63 Susanta # Jakarta 100,000 BCA 13-Nov 64 Ismet Ismail # Bogor 200,000 BCA 13-Nov 65 Taslim # Cirebon 1,000,000 BSM 13-Nov 66 Wardiman # Purwosari 200,000 BRI 13-Nov 67 Asmana # Tangerang 100,000 BCA 13-Nov 68 PT. Bahana Jaya Trasindo # Surabaya 1,000,000 BCA 13-Nov 69 Ismaniar  500,000 BSM 13-Nov 70 Ummu Mufidah # Surabaya 1,000,000 BNI 13-Nov 71 Luh Nyoman Lucy # Jakarta 100,000 BSM 13-Nov 72 Juhamzah # Jakarta 100,000 BCA 13-Nov 73 Sigit # Bekasi 500,000 BCA 13-Nov 74 Abdullah # Bekasi 300,000 BSM 13-Nov 75 Saif # Cimahi 750,000 BRI 13-Nov 76 Ros Suryati Wilson # Jakarta 500,000 BSM 13-Nov 77 Abdullah # Cilacap 3,000,000 BSM 13-Nov 78 Hamba Allah # Jogja 500,000 BNI 13-Nov 79 Rahmat Wijaya # Depok 1,000,000 BNI 13-Nov 80 Dwi Novitasari Anggraini # Bogor 50,000 BNI 13-Nov 81 Etik Suryantina # Padang 500,000 BCA 13-Nov 82 Febriana # Tangerang 200,000 BRI 13-Nov 83 Umi Salamah (Heru Trianto) # Jogja 1,000,000 BCA 13-Nov 84 Abu Najla # Cakung 200,000 BCA 13-Nov 85 Nurhayati # Jakarta 500,000 BRI 13-Nov 86 Sri Asliani # Bekasi 150,000 BCA 13-Nov 87 Zulkifli # Jakarta 150,000 BSM 13-Nov 88 Nur Lailin # Jakarta 100,000 BCA 13-Nov 89 Suzy Ummu Ifed # Jakarta 1,000,000 BCA 13-Nov 90 Fitri Yeni # Palembang 100,000 BSM 13-Nov 91 Hamba Allah # Jakarta 1,000,000 BSM 13-Nov 92 Iskandar Abu Syamil 300,000 BCA 14-Nov 93 Fiqhi Aulia # Bintaro JKT 152,000 BCA 14-Nov 94 Harits # Jakarta 200,000 BRI 14-Nov 95 Erlina Budiastuti # Jakarta 200,000 BRI 14-Nov 96 Arief # Jakarta 200,000 BSM 14-Nov 97 Alif # Banyumas 2,000,000 BSM 14-Nov 98 Arina # Jogja 40,000 BRI 14-Nov 99 Abdulloh # Jogja 250,000 BSM 14-Nov 100 Abu Nasywa # Bogor 500,000 BSM 14-Nov 101 Irina Kuntoadji  500,000 BCA 14-Nov 102 Fauziah Armas # Jakarta 100,000   14-Nov 103 Akhmad N # Palembang 200,000 BSM 14-Nov 104 Asmarina # Bogor 500,000 BSM 14-Nov 105 Hamba Allah # Singapura 1,000,000 BCA 14-Nov 106 EL # Abu Dhabi 1,000,000 BSM 14-Nov 107 Ahmad Thamrin Somad # Jakarta 500,000 BCA 14-Nov 108 Musriati # Balipapan 200,000 BNI 14-Nov 109 Nur # Bekasi 300,000 BCA 14-Nov 110 Farried Thabrani # Jogja 300,000 BCA 14-Nov 111 Sari # Bogor 300,000 BRI 14-Nov 112 Halim # Medan 200,000 BNI 14-Nov 113 Apriyanto Abu Sidiq # Depok 400,000 BSM 14-Nov 114 Yanie Indriani 1,000,000 BSM 14-Nov 115 Ummu Namira Shabrina # Semarang 1,500,000 BNI 14-Nov 116 Indria W # Jakarta 200,000 BSM 14-Nov 117 Sigit Wahyu Widodo # Tangerang 100,000 BCA 14-Nov 118 Ayu Natalina 500,000 BSM 14-Nov 119 Hamba Allah # Bogor 200,000 BSM 14-Nov 120 Henny Ummu Ratu 1,000,000 BRI 14-Nov 121 Santy # Jakarta 100,000 BCA 15-Nov 122 Ade Khairani # Jakarta 500,000 BCA 15-Nov 123 Mukhsin Jalil  1,000,000 BCA 15-Nov 124 Abu Muhammad # Semarang 350,000 BSM 15-Nov 125 Abu Azzam # Papua 250,000 BSM 15-Nov 126 Nelly # Pekanbaru 300,000 BNI 15-Nov 127 Hendra Irawan # Depok 200,000 BCA 15-Nov 128 Putriadji # Jakarta 100,000 BCA 15-Nov 129 Ika Parwanti # Tangsel 300,000 BSM 15-Nov 130 Drs Soewarno # Tangsel 250,000 BSM 15-Nov 131 Triana Citrawati # Jakarta 200,000 BCA 15-Nov 132 Farika Lahan # Bantul 1,000,000 BSM 15-Nov 133 Ummu Latifah 2,000,000 BCA 15-Nov 134 Hamba Allah # Bekasi 200,000 BRI 15-Nov 135 Riska Widya # Balikpapan 150,000 BNI 15-Nov 136 Alex Mansur 2,000,000 BSM 15-Nov 137 Rusdinah # Ummu Aisyah 530,000   15-Nov 138 HambaAllah  100,000 BSM 15-Nov 139 Nur Chasanah AF 500,000 BRI 15-Nov 140 Kyosi # Jogja  100,000 BCA 15-Nov 141 MT As Sunnah 1,000,000 BRI 15-Nov 142 Hamba Allah # Jakarta 5,000,000 BCA 15-Nov 143 Erry Fuad # Jakarta 250,000     144 Rosita # Jakarta 150,000 BSM 15-Nov 145 Dewi # Bekasi  200,000 BSM 15-Nov 146 Nilasari # Cabe Tangsel 100,000 BNI 15-Nov 147 Anefi Noviar # Jakarta 140,000 BSM 15-Nov 148 Fanny Nd Indah # Jakarta 250,000 BCA 15-Nov 149 Hamba Allah # 08164231582 200,000 BCA 15-Nov 150 Hamba Allah # Jakarta 200,000 BSM 16-Nov 151 Hamba Alloh # Bantul  100,000 BSM 16-Nov 152 Susiana # Sragen 100,000 BRI 15-Nov 153 D. Puspita 300,000 BSM 15-Nov 154 Hamba Alloh # Bekasi  4,500,000 BCA 16-Nov 155 Firmansyah # Jakarta 210,000 BCA 13-Nov 156 Jeni Amalia # Jakarta 1,000,000 BCA 15-Nov 157 Andy Sudarwanto # BNI Syariah 100,000 BNI 16-Nov 158 Sri Murni # Jakarta 100,000 BCA 16-Nov 159 Abdurrahman Rizki # Jakarta 30,000 BNI 16-Nov Bagi yang ada salah nama atau namanya belum tercantum dalam data donasi di atas, silakan laporkan via sms ke no 0815 680 7937 (Pesantren DS). Semoga Allah menerima amalan setiap muhsinin sekalian. Tagsgunungkidul kristenisasi pasar murah
Gunungkidul, 6 Muharram 1435 H: Next Pasar Murah nanti -insya Allah- diadakan di Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta di mana Pesantren Darush Sholihin berada. Sudah beberapa kali, pasar murah diadakan di sekitar Pesantren Darush Sholihin, terutama di Dusun Warak, Girisekar. Saat ini, untuk memperluas dakwah dan membuat warga di dusun lain di Desa Girisekar tertarik untuk mengaji Islam, Pesantren DS kembali ingin mengadakan Pasar Murah. Ditambah pasar murah ini dapat membantu meringankan beban warga Desa Girisekar yang rata-rata miskin. Tujuan lain dari pasar murah ini adalah untuk mengatasi Kristenisasi dan mengatasi semakin kuatnya orang Nashrani untuk menguasai Desa Girisekar. Terbukti hingga saat ini, dengan mayoritas umat Islam di Desa Girisekar namun ada dua gereja yang sudah sejak lama berdiri megah yaitu Gereja Kristen Jawa dan Gereja Katholik. Ditambah lagi yang mengepalai Desa Girisekar adalah seorang Nashrani dan tahta selanjutnya di desa akan jadi rebutan antara Muslim dan Nasharani pada pemilihan kepada desa tahun depan. Itulah yang memotivasi pihak Pesantren untuk memperkuat dakwah di desa ini. Insya Allah, pasar murah tersebut akan diadakan dua hari untuk kurang lebih 2000 KK dari 9 dusun, yaitu pada Sabtu, 16 November 2013 dan Ahad, 17 November 2013. Diadakan dua hari karena jumlah KK yang begitu banyak dan rencana pasar murah tersebut dibagi pada empat wilayah: 1- Pesantren Darush Sholihin Warak untuk Dusun Warak, Krambil dan Sawah. 2- Balai Desa Girisekar untuk Dusun Mbali, Mendak dan Blimbing. 3- Salah satu masjid di daerah Pejenan dan Jerukan. 4- Masjid di daerah Waru. Karena begitu banyaknya jumlah KK, dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Dibutuhkan sekitar 70 juta rupiah dari paket sembako seharga Rp.35.000,-. Paket tersebut berisi 5 sembako: 1 kg beras, 1/2 L minyak goreng, 1/2 kg gula pasir, 1 bungkus teh jawa dan 5 bungkus indomie. Pakte ini dijual kembali seharga Rp.10.000,- di mana pendapat tersebut akan digunakan untuk keperluan pembangunan Pesantren Darush Sholihin. Bagi yang ingin turut serta dalam donasi ini, silakan kirimkan donasinya via rekening Pesantren Darush Sholihin: (1) BCA: 8610123881, (2) BSM: 3107011155, (3) BNI Syari’ah: 0194475165, (4)BRI: 0029-01-101480-50-9, semuanya atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama donatur, alamat, besar donasi, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan transfer. Konfirmasi ini harus ada untuk membedakan dengan donasi lainnya yang disalurkan melalui Pesantren Darush Sholihin. Contoh sms konfirmasi: Rini Rahmawati#Jogja# Rp.300.000#BSM#10 Nov 2013#pasar murah. Konfirmasi berita, silakan hubungi Ustadz M. Abduh Tuasikal: 0812 2601 4555. Yang membantu dalam kebaikan akan mendapatkan pahala yang sama dengan pelaku kebaikan tersebut. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ “Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala semisal pelakunya.” (HR. Muslim no. 1893). Semoga Allah membalas kebaikan para muhsinin yang telah sudi membantu dalam kebaikan ini. Moga Allah memberkahi rezekinya.     Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal — Warak, Girisekar, 6 Muharram 1435 H Info DarushSholihin.Com   — Laporan Donasi Pemasukan Pasar Murah (hingga 17 November 2013)     Total Donasi 77,677,010     No Nama Besar Donasi Bank Tgl Transfer 1 Eko # Banjarmasin 100,000 BSM 10-Nov 2 Hartoyo # Depok 100,000 BSM 10-Nov 3 Hamba Allah # Jember  100,000 BSM 10-Nov 4 Isra 500,000 BCA 10-Nov 5 Awaluddin Yamin # Kendari 500,000 BNI 11-Nov 6 Agus Ghozy # Banyuwangi 100,000 BCA 11-Nov 7 Sutrisno # Lampung 150,000 BCA 11-Nov 8 Ariyanto # Muara Enim 100,000 BSM 11-Nov 9 Asrul # Makassar 200,000 BRI 11-Nov 10 Atim # Jkt 500,000 BCA 11-Nov 11 Vinny Anwar # Jkt 1,500,000 BCA 11-Nov 12 Achmad N # Jkt 75,000 BSM 11-Nov 13 Abu Nabhan # Cakung Jkt 105,000 BSM 11-Nov 14 Hamba Alloh # Bekasi 300,000 BSM 11-Nov 15 Siti Aisyah # Bjm 100,000 BCA 11-Nov 16 Rina Kuncoro 200,000   11-Nov 17 Rimbo # Jakarta 500,000 BNI 11-Nov 18 Dani # Depok 1,000,000 BNI 11-Nov 19 Asri # Batulicin 500,000 BSM 11-Nov 20 Herliy / Erli # UI Depok 150,000 BNI 11-Nov 21 Ani Adiati 500,000 BNI 11-Nov 22 Tyan Heryadi 150,000 BNI 11-Nov 23 Alex Mansur 1,000,000 BCA 11-Nov 24 Abdullah # Jakarta 200,000 BSM 11-Nov 25 Abdullah # Jakarta 105,000 BRI 11-Nov 26 Daruddin # Pontianak 200,000 BCA 11-Nov 27 Riri Kartika # Probolinggo 100,000 BRI 11-Nov 28 Hamba Allah -Tegal 600,000 BRI 11-Nov 29 Bambang Sunarko # Jakarta 300,000 BCA 11-Nov 30 Hamba Allah # Jakarta 500,010 BNI 11-Nov 31 Abu Naufal # Oman 500,000 BNI 11-Nov 32 Mirna Oemar 1,000,000 BCA 12-Nov 33 Agus Rachman # Depok 500,000 BSM 12-Nov 34 Amrinda Gusti # Padang 200,000 BSM 12-Nov 35 Yuditiar # Surabaya 100,000 BRI 12-Nov 36 Dwi # Bekasi 70,000 BRI 12-Nov 37 Hamba Allah # 08181471 ** 100,000 BCA 12-Nov 38 Lalas Surastri # Jakarta 200,000 BRI 12-Nov 39 Iis # Bekasi 250,000 BCA 12-Nov 40 Naya # Jakarta 200,000 BCA 12-Nov 41 Didiet # Probolinggo 100,000 BNI 12-Nov 42 Merlin Fainiri# Jakarta 1,500,000 BCA 12-Nov 43 Puput # Jogja 200,000 BSM 12-Nov 44 Hamba Allah # Jakarta 400,000 BCA 12-Nov 45 Hamba Allah # 0813473432 ** 1,000,000 BNI 12-Nov 46 Abu Yahya # Kediri 500,000 BNI 12-Nov 47 Hamba Allah # Tebet 350,000 BRI 12-Nov 48 Erick Suryawan # Jakarta 500,000 BSM 12-Nov 49 Yuli Rosdiana # Jkt 170,000 BSM 12-Nov 50 Dian Mardiyanti 350,000 BRI 12-Nov 51 Abu Umar # Jakarta 500,000 BSM 12-Nov 52 Hamba Allah # Sultra 100,000 BNI 12-Nov 53 Mayalia A # Jakarta 500,000 BSM 12-Nov 54 Ernayanti # Jak-Ut 350,000 BCA 12-Nov 55 Wiwiek Margono 250,000 BCA 13-Nov 56 Abu Fafa 1,000,000 BCA 13-Nov 57 Ummu Akmal # Jakarta 300,000 BCA 13-Nov 58 R. Yati 500,000 BSM 13-Nov 59 Nuropik Arief # Yogyakarta 500,000 BCA 13-Nov 60 Abu Dipta # PTK 200,000   13-Nov 61 Anton Sumartono # Dumai 1,000,000   13-Nov 62 Sutrimo Wicaksono  # Pekalongan  150,000   13-Nov 63 Susanta # Jakarta 100,000 BCA 13-Nov 64 Ismet Ismail # Bogor 200,000 BCA 13-Nov 65 Taslim # Cirebon 1,000,000 BSM 13-Nov 66 Wardiman # Purwosari 200,000 BRI 13-Nov 67 Asmana # Tangerang 100,000 BCA 13-Nov 68 PT. Bahana Jaya Trasindo # Surabaya 1,000,000 BCA 13-Nov 69 Ismaniar  500,000 BSM 13-Nov 70 Ummu Mufidah # Surabaya 1,000,000 BNI 13-Nov 71 Luh Nyoman Lucy # Jakarta 100,000 BSM 13-Nov 72 Juhamzah # Jakarta 100,000 BCA 13-Nov 73 Sigit # Bekasi 500,000 BCA 13-Nov 74 Abdullah # Bekasi 300,000 BSM 13-Nov 75 Saif # Cimahi 750,000 BRI 13-Nov 76 Ros Suryati Wilson # Jakarta 500,000 BSM 13-Nov 77 Abdullah # Cilacap 3,000,000 BSM 13-Nov 78 Hamba Allah # Jogja 500,000 BNI 13-Nov 79 Rahmat Wijaya # Depok 1,000,000 BNI 13-Nov 80 Dwi Novitasari Anggraini # Bogor 50,000 BNI 13-Nov 81 Etik Suryantina # Padang 500,000 BCA 13-Nov 82 Febriana # Tangerang 200,000 BRI 13-Nov 83 Umi Salamah (Heru Trianto) # Jogja 1,000,000 BCA 13-Nov 84 Abu Najla # Cakung 200,000 BCA 13-Nov 85 Nurhayati # Jakarta 500,000 BRI 13-Nov 86 Sri Asliani # Bekasi 150,000 BCA 13-Nov 87 Zulkifli # Jakarta 150,000 BSM 13-Nov 88 Nur Lailin # Jakarta 100,000 BCA 13-Nov 89 Suzy Ummu Ifed # Jakarta 1,000,000 BCA 13-Nov 90 Fitri Yeni # Palembang 100,000 BSM 13-Nov 91 Hamba Allah # Jakarta 1,000,000 BSM 13-Nov 92 Iskandar Abu Syamil 300,000 BCA 14-Nov 93 Fiqhi Aulia # Bintaro JKT 152,000 BCA 14-Nov 94 Harits # Jakarta 200,000 BRI 14-Nov 95 Erlina Budiastuti # Jakarta 200,000 BRI 14-Nov 96 Arief # Jakarta 200,000 BSM 14-Nov 97 Alif # Banyumas 2,000,000 BSM 14-Nov 98 Arina # Jogja 40,000 BRI 14-Nov 99 Abdulloh # Jogja 250,000 BSM 14-Nov 100 Abu Nasywa # Bogor 500,000 BSM 14-Nov 101 Irina Kuntoadji  500,000 BCA 14-Nov 102 Fauziah Armas # Jakarta 100,000   14-Nov 103 Akhmad N # Palembang 200,000 BSM 14-Nov 104 Asmarina # Bogor 500,000 BSM 14-Nov 105 Hamba Allah # Singapura 1,000,000 BCA 14-Nov 106 EL # Abu Dhabi 1,000,000 BSM 14-Nov 107 Ahmad Thamrin Somad # Jakarta 500,000 BCA 14-Nov 108 Musriati # Balipapan 200,000 BNI 14-Nov 109 Nur # Bekasi 300,000 BCA 14-Nov 110 Farried Thabrani # Jogja 300,000 BCA 14-Nov 111 Sari # Bogor 300,000 BRI 14-Nov 112 Halim # Medan 200,000 BNI 14-Nov 113 Apriyanto Abu Sidiq # Depok 400,000 BSM 14-Nov 114 Yanie Indriani 1,000,000 BSM 14-Nov 115 Ummu Namira Shabrina # Semarang 1,500,000 BNI 14-Nov 116 Indria W # Jakarta 200,000 BSM 14-Nov 117 Sigit Wahyu Widodo # Tangerang 100,000 BCA 14-Nov 118 Ayu Natalina 500,000 BSM 14-Nov 119 Hamba Allah # Bogor 200,000 BSM 14-Nov 120 Henny Ummu Ratu 1,000,000 BRI 14-Nov 121 Santy # Jakarta 100,000 BCA 15-Nov 122 Ade Khairani # Jakarta 500,000 BCA 15-Nov 123 Mukhsin Jalil  1,000,000 BCA 15-Nov 124 Abu Muhammad # Semarang 350,000 BSM 15-Nov 125 Abu Azzam # Papua 250,000 BSM 15-Nov 126 Nelly # Pekanbaru 300,000 BNI 15-Nov 127 Hendra Irawan # Depok 200,000 BCA 15-Nov 128 Putriadji # Jakarta 100,000 BCA 15-Nov 129 Ika Parwanti # Tangsel 300,000 BSM 15-Nov 130 Drs Soewarno # Tangsel 250,000 BSM 15-Nov 131 Triana Citrawati # Jakarta 200,000 BCA 15-Nov 132 Farika Lahan # Bantul 1,000,000 BSM 15-Nov 133 Ummu Latifah 2,000,000 BCA 15-Nov 134 Hamba Allah # Bekasi 200,000 BRI 15-Nov 135 Riska Widya # Balikpapan 150,000 BNI 15-Nov 136 Alex Mansur 2,000,000 BSM 15-Nov 137 Rusdinah # Ummu Aisyah 530,000   15-Nov 138 HambaAllah  100,000 BSM 15-Nov 139 Nur Chasanah AF 500,000 BRI 15-Nov 140 Kyosi # Jogja  100,000 BCA 15-Nov 141 MT As Sunnah 1,000,000 BRI 15-Nov 142 Hamba Allah # Jakarta 5,000,000 BCA 15-Nov 143 Erry Fuad # Jakarta 250,000     144 Rosita # Jakarta 150,000 BSM 15-Nov 145 Dewi # Bekasi  200,000 BSM 15-Nov 146 Nilasari # Cabe Tangsel 100,000 BNI 15-Nov 147 Anefi Noviar # Jakarta 140,000 BSM 15-Nov 148 Fanny Nd Indah # Jakarta 250,000 BCA 15-Nov 149 Hamba Allah # 08164231582 200,000 BCA 15-Nov 150 Hamba Allah # Jakarta 200,000 BSM 16-Nov 151 Hamba Alloh # Bantul  100,000 BSM 16-Nov 152 Susiana # Sragen 100,000 BRI 15-Nov 153 D. Puspita 300,000 BSM 15-Nov 154 Hamba Alloh # Bekasi  4,500,000 BCA 16-Nov 155 Firmansyah # Jakarta 210,000 BCA 13-Nov 156 Jeni Amalia # Jakarta 1,000,000 BCA 15-Nov 157 Andy Sudarwanto # BNI Syariah 100,000 BNI 16-Nov 158 Sri Murni # Jakarta 100,000 BCA 16-Nov 159 Abdurrahman Rizki # Jakarta 30,000 BNI 16-Nov Bagi yang ada salah nama atau namanya belum tercantum dalam data donasi di atas, silakan laporkan via sms ke no 0815 680 7937 (Pesantren DS). Semoga Allah menerima amalan setiap muhsinin sekalian. Tagsgunungkidul kristenisasi pasar murah


Gunungkidul, 6 Muharram 1435 H: Next Pasar Murah nanti -insya Allah- diadakan di Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta di mana Pesantren Darush Sholihin berada. Sudah beberapa kali, pasar murah diadakan di sekitar Pesantren Darush Sholihin, terutama di Dusun Warak, Girisekar. Saat ini, untuk memperluas dakwah dan membuat warga di dusun lain di Desa Girisekar tertarik untuk mengaji Islam, Pesantren DS kembali ingin mengadakan Pasar Murah. Ditambah pasar murah ini dapat membantu meringankan beban warga Desa Girisekar yang rata-rata miskin. Tujuan lain dari pasar murah ini adalah untuk mengatasi Kristenisasi dan mengatasi semakin kuatnya orang Nashrani untuk menguasai Desa Girisekar. Terbukti hingga saat ini, dengan mayoritas umat Islam di Desa Girisekar namun ada dua gereja yang sudah sejak lama berdiri megah yaitu Gereja Kristen Jawa dan Gereja Katholik. Ditambah lagi yang mengepalai Desa Girisekar adalah seorang Nashrani dan tahta selanjutnya di desa akan jadi rebutan antara Muslim dan Nasharani pada pemilihan kepada desa tahun depan. Itulah yang memotivasi pihak Pesantren untuk memperkuat dakwah di desa ini. Insya Allah, pasar murah tersebut akan diadakan dua hari untuk kurang lebih 2000 KK dari 9 dusun, yaitu pada Sabtu, 16 November 2013 dan Ahad, 17 November 2013. Diadakan dua hari karena jumlah KK yang begitu banyak dan rencana pasar murah tersebut dibagi pada empat wilayah: 1- Pesantren Darush Sholihin Warak untuk Dusun Warak, Krambil dan Sawah. 2- Balai Desa Girisekar untuk Dusun Mbali, Mendak dan Blimbing. 3- Salah satu masjid di daerah Pejenan dan Jerukan. 4- Masjid di daerah Waru. Karena begitu banyaknya jumlah KK, dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Dibutuhkan sekitar 70 juta rupiah dari paket sembako seharga Rp.35.000,-. Paket tersebut berisi 5 sembako: 1 kg beras, 1/2 L minyak goreng, 1/2 kg gula pasir, 1 bungkus teh jawa dan 5 bungkus indomie. Pakte ini dijual kembali seharga Rp.10.000,- di mana pendapat tersebut akan digunakan untuk keperluan pembangunan Pesantren Darush Sholihin. Bagi yang ingin turut serta dalam donasi ini, silakan kirimkan donasinya via rekening Pesantren Darush Sholihin: (1) BCA: 8610123881, (2) BSM: 3107011155, (3) BNI Syari’ah: 0194475165, (4)BRI: 0029-01-101480-50-9, semuanya atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama donatur, alamat, besar donasi, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan transfer. Konfirmasi ini harus ada untuk membedakan dengan donasi lainnya yang disalurkan melalui Pesantren Darush Sholihin. Contoh sms konfirmasi: Rini Rahmawati#Jogja# Rp.300.000#BSM#10 Nov 2013#pasar murah. Konfirmasi berita, silakan hubungi Ustadz M. Abduh Tuasikal: 0812 2601 4555. Yang membantu dalam kebaikan akan mendapatkan pahala yang sama dengan pelaku kebaikan tersebut. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ “Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala semisal pelakunya.” (HR. Muslim no. 1893). Semoga Allah membalas kebaikan para muhsinin yang telah sudi membantu dalam kebaikan ini. Moga Allah memberkahi rezekinya.     Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal — Warak, Girisekar, 6 Muharram 1435 H Info DarushSholihin.Com   — Laporan Donasi Pemasukan Pasar Murah (hingga 17 November 2013)     Total Donasi 77,677,010     No Nama Besar Donasi Bank Tgl Transfer 1 Eko # Banjarmasin 100,000 BSM 10-Nov 2 Hartoyo # Depok 100,000 BSM 10-Nov 3 Hamba Allah # Jember  100,000 BSM 10-Nov 4 Isra 500,000 BCA 10-Nov 5 Awaluddin Yamin # Kendari 500,000 BNI 11-Nov 6 Agus Ghozy # Banyuwangi 100,000 BCA 11-Nov 7 Sutrisno # Lampung 150,000 BCA 11-Nov 8 Ariyanto # Muara Enim 100,000 BSM 11-Nov 9 Asrul # Makassar 200,000 BRI 11-Nov 10 Atim # Jkt 500,000 BCA 11-Nov 11 Vinny Anwar # Jkt 1,500,000 BCA 11-Nov 12 Achmad N # Jkt 75,000 BSM 11-Nov 13 Abu Nabhan # Cakung Jkt 105,000 BSM 11-Nov 14 Hamba Alloh # Bekasi 300,000 BSM 11-Nov 15 Siti Aisyah # Bjm 100,000 BCA 11-Nov 16 Rina Kuncoro 200,000   11-Nov 17 Rimbo # Jakarta 500,000 BNI 11-Nov 18 Dani # Depok 1,000,000 BNI 11-Nov 19 Asri # Batulicin 500,000 BSM 11-Nov 20 Herliy / Erli # UI Depok 150,000 BNI 11-Nov 21 Ani Adiati 500,000 BNI 11-Nov 22 Tyan Heryadi 150,000 BNI 11-Nov 23 Alex Mansur 1,000,000 BCA 11-Nov 24 Abdullah # Jakarta 200,000 BSM 11-Nov 25 Abdullah # Jakarta 105,000 BRI 11-Nov 26 Daruddin # Pontianak 200,000 BCA 11-Nov 27 Riri Kartika # Probolinggo 100,000 BRI 11-Nov 28 Hamba Allah -Tegal 600,000 BRI 11-Nov 29 Bambang Sunarko # Jakarta 300,000 BCA 11-Nov 30 Hamba Allah # Jakarta 500,010 BNI 11-Nov 31 Abu Naufal # Oman 500,000 BNI 11-Nov 32 Mirna Oemar 1,000,000 BCA 12-Nov 33 Agus Rachman # Depok 500,000 BSM 12-Nov 34 Amrinda Gusti # Padang 200,000 BSM 12-Nov 35 Yuditiar # Surabaya 100,000 BRI 12-Nov 36 Dwi # Bekasi 70,000 BRI 12-Nov 37 Hamba Allah # 08181471 ** 100,000 BCA 12-Nov 38 Lalas Surastri # Jakarta 200,000 BRI 12-Nov 39 Iis # Bekasi 250,000 BCA 12-Nov 40 Naya # Jakarta 200,000 BCA 12-Nov 41 Didiet # Probolinggo 100,000 BNI 12-Nov 42 Merlin Fainiri# Jakarta 1,500,000 BCA 12-Nov 43 Puput # Jogja 200,000 BSM 12-Nov 44 Hamba Allah # Jakarta 400,000 BCA 12-Nov 45 Hamba Allah # 0813473432 ** 1,000,000 BNI 12-Nov 46 Abu Yahya # Kediri 500,000 BNI 12-Nov 47 Hamba Allah # Tebet 350,000 BRI 12-Nov 48 Erick Suryawan # Jakarta 500,000 BSM 12-Nov 49 Yuli Rosdiana # Jkt 170,000 BSM 12-Nov 50 Dian Mardiyanti 350,000 BRI 12-Nov 51 Abu Umar # Jakarta 500,000 BSM 12-Nov 52 Hamba Allah # Sultra 100,000 BNI 12-Nov 53 Mayalia A # Jakarta 500,000 BSM 12-Nov 54 Ernayanti # Jak-Ut 350,000 BCA 12-Nov 55 Wiwiek Margono 250,000 BCA 13-Nov 56 Abu Fafa 1,000,000 BCA 13-Nov 57 Ummu Akmal # Jakarta 300,000 BCA 13-Nov 58 R. Yati 500,000 BSM 13-Nov 59 Nuropik Arief # Yogyakarta 500,000 BCA 13-Nov 60 Abu Dipta # PTK 200,000   13-Nov 61 Anton Sumartono # Dumai 1,000,000   13-Nov 62 Sutrimo Wicaksono  # Pekalongan  150,000   13-Nov 63 Susanta # Jakarta 100,000 BCA 13-Nov 64 Ismet Ismail # Bogor 200,000 BCA 13-Nov 65 Taslim # Cirebon 1,000,000 BSM 13-Nov 66 Wardiman # Purwosari 200,000 BRI 13-Nov 67 Asmana # Tangerang 100,000 BCA 13-Nov 68 PT. Bahana Jaya Trasindo # Surabaya 1,000,000 BCA 13-Nov 69 Ismaniar  500,000 BSM 13-Nov 70 Ummu Mufidah # Surabaya 1,000,000 BNI 13-Nov 71 Luh Nyoman Lucy # Jakarta 100,000 BSM 13-Nov 72 Juhamzah # Jakarta 100,000 BCA 13-Nov 73 Sigit # Bekasi 500,000 BCA 13-Nov 74 Abdullah # Bekasi 300,000 BSM 13-Nov 75 Saif # Cimahi 750,000 BRI 13-Nov 76 Ros Suryati Wilson # Jakarta 500,000 BSM 13-Nov 77 Abdullah # Cilacap 3,000,000 BSM 13-Nov 78 Hamba Allah # Jogja 500,000 BNI 13-Nov 79 Rahmat Wijaya # Depok 1,000,000 BNI 13-Nov 80 Dwi Novitasari Anggraini # Bogor 50,000 BNI 13-Nov 81 Etik Suryantina # Padang 500,000 BCA 13-Nov 82 Febriana # Tangerang 200,000 BRI 13-Nov 83 Umi Salamah (Heru Trianto) # Jogja 1,000,000 BCA 13-Nov 84 Abu Najla # Cakung 200,000 BCA 13-Nov 85 Nurhayati # Jakarta 500,000 BRI 13-Nov 86 Sri Asliani # Bekasi 150,000 BCA 13-Nov 87 Zulkifli # Jakarta 150,000 BSM 13-Nov 88 Nur Lailin # Jakarta 100,000 BCA 13-Nov 89 Suzy Ummu Ifed # Jakarta 1,000,000 BCA 13-Nov 90 Fitri Yeni # Palembang 100,000 BSM 13-Nov 91 Hamba Allah # Jakarta 1,000,000 BSM 13-Nov 92 Iskandar Abu Syamil 300,000 BCA 14-Nov 93 Fiqhi Aulia # Bintaro JKT 152,000 BCA 14-Nov 94 Harits # Jakarta 200,000 BRI 14-Nov 95 Erlina Budiastuti # Jakarta 200,000 BRI 14-Nov 96 Arief # Jakarta 200,000 BSM 14-Nov 97 Alif # Banyumas 2,000,000 BSM 14-Nov 98 Arina # Jogja 40,000 BRI 14-Nov 99 Abdulloh # Jogja 250,000 BSM 14-Nov 100 Abu Nasywa # Bogor 500,000 BSM 14-Nov 101 Irina Kuntoadji  500,000 BCA 14-Nov 102 Fauziah Armas # Jakarta 100,000   14-Nov 103 Akhmad N # Palembang 200,000 BSM 14-Nov 104 Asmarina # Bogor 500,000 BSM 14-Nov 105 Hamba Allah # Singapura 1,000,000 BCA 14-Nov 106 EL # Abu Dhabi 1,000,000 BSM 14-Nov 107 Ahmad Thamrin Somad # Jakarta 500,000 BCA 14-Nov 108 Musriati # Balipapan 200,000 BNI 14-Nov 109 Nur # Bekasi 300,000 BCA 14-Nov 110 Farried Thabrani # Jogja 300,000 BCA 14-Nov 111 Sari # Bogor 300,000 BRI 14-Nov 112 Halim # Medan 200,000 BNI 14-Nov 113 Apriyanto Abu Sidiq # Depok 400,000 BSM 14-Nov 114 Yanie Indriani 1,000,000 BSM 14-Nov 115 Ummu Namira Shabrina # Semarang 1,500,000 BNI 14-Nov 116 Indria W # Jakarta 200,000 BSM 14-Nov 117 Sigit Wahyu Widodo # Tangerang 100,000 BCA 14-Nov 118 Ayu Natalina 500,000 BSM 14-Nov 119 Hamba Allah # Bogor 200,000 BSM 14-Nov 120 Henny Ummu Ratu 1,000,000 BRI 14-Nov 121 Santy # Jakarta 100,000 BCA 15-Nov 122 Ade Khairani # Jakarta 500,000 BCA 15-Nov 123 Mukhsin Jalil  1,000,000 BCA 15-Nov 124 Abu Muhammad # Semarang 350,000 BSM 15-Nov 125 Abu Azzam # Papua 250,000 BSM 15-Nov 126 Nelly # Pekanbaru 300,000 BNI 15-Nov 127 Hendra Irawan # Depok 200,000 BCA 15-Nov 128 Putriadji # Jakarta 100,000 BCA 15-Nov 129 Ika Parwanti # Tangsel 300,000 BSM 15-Nov 130 Drs Soewarno # Tangsel 250,000 BSM 15-Nov 131 Triana Citrawati # Jakarta 200,000 BCA 15-Nov 132 Farika Lahan # Bantul 1,000,000 BSM 15-Nov 133 Ummu Latifah 2,000,000 BCA 15-Nov 134 Hamba Allah # Bekasi 200,000 BRI 15-Nov 135 Riska Widya # Balikpapan 150,000 BNI 15-Nov 136 Alex Mansur 2,000,000 BSM 15-Nov 137 Rusdinah # Ummu Aisyah 530,000   15-Nov 138 HambaAllah  100,000 BSM 15-Nov 139 Nur Chasanah AF 500,000 BRI 15-Nov 140 Kyosi # Jogja  100,000 BCA 15-Nov 141 MT As Sunnah 1,000,000 BRI 15-Nov 142 Hamba Allah # Jakarta 5,000,000 BCA 15-Nov 143 Erry Fuad # Jakarta 250,000     144 Rosita # Jakarta 150,000 BSM 15-Nov 145 Dewi # Bekasi  200,000 BSM 15-Nov 146 Nilasari # Cabe Tangsel 100,000 BNI 15-Nov 147 Anefi Noviar # Jakarta 140,000 BSM 15-Nov 148 Fanny Nd Indah # Jakarta 250,000 BCA 15-Nov 149 Hamba Allah # 08164231582 200,000 BCA 15-Nov 150 Hamba Allah # Jakarta 200,000 BSM 16-Nov 151 Hamba Alloh # Bantul  100,000 BSM 16-Nov 152 Susiana # Sragen 100,000 BRI 15-Nov 153 D. Puspita 300,000 BSM 15-Nov 154 Hamba Alloh # Bekasi  4,500,000 BCA 16-Nov 155 Firmansyah # Jakarta 210,000 BCA 13-Nov 156 Jeni Amalia # Jakarta 1,000,000 BCA 15-Nov 157 Andy Sudarwanto # BNI Syariah 100,000 BNI 16-Nov 158 Sri Murni # Jakarta 100,000 BCA 16-Nov 159 Abdurrahman Rizki # Jakarta 30,000 BNI 16-Nov Bagi yang ada salah nama atau namanya belum tercantum dalam data donasi di atas, silakan laporkan via sms ke no 0815 680 7937 (Pesantren DS). Semoga Allah menerima amalan setiap muhsinin sekalian. Tagsgunungkidul kristenisasi pasar murah

Anak Penyejuk Mata

Apa yang dimaksud anak penyejuk mata? Ini pun berlaku pada istri di mana orang yang beriman selalu meminta istri dan anaknya selalu menjadi penyejuk mata baginya, maksudnya adalah ia meminta pada Allah agar mereka itu taat pada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Dan orang orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqon: 74). Apa yang dimaksud dengan keturunan yang menjadi penyejuk mata? Ibnu ‘Abbas berkata, يعنون من يعمل بالطاعة، فتقرُّ به أعينهم في الدنيا والآخرة. “Yaitu mereka (ibadurrahman) meminta agar mendapatkan keturunan yang gemar beramal ketaatan sehingga sejuklah mata mereka di dunia dan akhirat.” ‘Ikrimah berkata, لم يريدوا بذلك صباحة ولا جمالا ولكن أرادوا أن يكونوا مطيعين. “Yaitu mereka (orang yang beriman) tidaklah menginginkan keturunan yang memiriki paras cantik, akan tetapi yang mereka inginkan adalah keturunan yang taat.” Al Hasan Al Bashri ditanya mengenai ayat di atas. Beliau pun berkata, أن يُري الله العبد المسلم من زوجته، ومن أخيه، ومن حميمه طاعة الله. لا والله ما شيء أقر لعين المسلم من أن يرى ولدا، أو ولد ولد، أو أخا، أو حميما مطيعا لله عز وجل. “Yang ingin dilihat Allah pada hamba muslim dari istri, saudara, dan sahabat karibnya adalah mereka semua taat pada Allah. Wallahi, demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan pandangan mata seorang muslim melebihi ketaatan pada Allah yang ia lihat pada anak, cucu, saudara dan sahabat karibnya.” Ibnu Juraij berkata mengenai ayat tersebut, “Hamba beriman meminta pada Allah agar keturunannya dapat beribadah dan memperbagus ibadahnya kepada Allah, tidak berbuat maksiat dan tindak kejahatan.” ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam  berkata, “Orang beriman meminta kepada Allah agar istri-istrinya dan keturunannya mendapatkan hidayah Islam.” Beberapa perkataan di atas dinukil dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Menyejukkan mata orang tua adalah ketika melihat anak dalam keadaan taat kepada Allah, berilmu, beramal. Ini do’a kebaikannya pada anak dan istrinya, namun itu juga termasuk do’a untuknya. Karena istri dan anak yang menjadi penyejuk mata akan kembali manfaatnya pada suami. Inilah yang dijadikan karunia untuk suami.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 587). Dalam tafsir Al Jalalain (hal. 377) disebutkan, “Menjadi penyejuk mata bagi kami dengan melihat anak dan istri dalam keadaan taat pada Allah.” Sangat dianjurkan sekali jika seorang muslim memperbanyak do’a ini untuk memperbaiki istri, keturunan dan dirinya sendiri. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Tidak cukup dengan usaha yang baik dan memberikan lingkungan yang baik pada anak. Agar anak-anak kita menjadi penyejuk mata teruslah meminta dalam do’a-do’a kita. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 5: 615-616. Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. Tafsir Al Jalalain, Jalaluddin As Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli, terbitan Darus Salam, cetakan kedua, tahun 1422 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul 5 Muharram 1435 H Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan karya Ustadz Abduh Tuasikal. Tagspendidikan anak

Anak Penyejuk Mata

Apa yang dimaksud anak penyejuk mata? Ini pun berlaku pada istri di mana orang yang beriman selalu meminta istri dan anaknya selalu menjadi penyejuk mata baginya, maksudnya adalah ia meminta pada Allah agar mereka itu taat pada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Dan orang orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqon: 74). Apa yang dimaksud dengan keturunan yang menjadi penyejuk mata? Ibnu ‘Abbas berkata, يعنون من يعمل بالطاعة، فتقرُّ به أعينهم في الدنيا والآخرة. “Yaitu mereka (ibadurrahman) meminta agar mendapatkan keturunan yang gemar beramal ketaatan sehingga sejuklah mata mereka di dunia dan akhirat.” ‘Ikrimah berkata, لم يريدوا بذلك صباحة ولا جمالا ولكن أرادوا أن يكونوا مطيعين. “Yaitu mereka (orang yang beriman) tidaklah menginginkan keturunan yang memiriki paras cantik, akan tetapi yang mereka inginkan adalah keturunan yang taat.” Al Hasan Al Bashri ditanya mengenai ayat di atas. Beliau pun berkata, أن يُري الله العبد المسلم من زوجته، ومن أخيه، ومن حميمه طاعة الله. لا والله ما شيء أقر لعين المسلم من أن يرى ولدا، أو ولد ولد، أو أخا، أو حميما مطيعا لله عز وجل. “Yang ingin dilihat Allah pada hamba muslim dari istri, saudara, dan sahabat karibnya adalah mereka semua taat pada Allah. Wallahi, demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan pandangan mata seorang muslim melebihi ketaatan pada Allah yang ia lihat pada anak, cucu, saudara dan sahabat karibnya.” Ibnu Juraij berkata mengenai ayat tersebut, “Hamba beriman meminta pada Allah agar keturunannya dapat beribadah dan memperbagus ibadahnya kepada Allah, tidak berbuat maksiat dan tindak kejahatan.” ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam  berkata, “Orang beriman meminta kepada Allah agar istri-istrinya dan keturunannya mendapatkan hidayah Islam.” Beberapa perkataan di atas dinukil dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Menyejukkan mata orang tua adalah ketika melihat anak dalam keadaan taat kepada Allah, berilmu, beramal. Ini do’a kebaikannya pada anak dan istrinya, namun itu juga termasuk do’a untuknya. Karena istri dan anak yang menjadi penyejuk mata akan kembali manfaatnya pada suami. Inilah yang dijadikan karunia untuk suami.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 587). Dalam tafsir Al Jalalain (hal. 377) disebutkan, “Menjadi penyejuk mata bagi kami dengan melihat anak dan istri dalam keadaan taat pada Allah.” Sangat dianjurkan sekali jika seorang muslim memperbanyak do’a ini untuk memperbaiki istri, keturunan dan dirinya sendiri. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Tidak cukup dengan usaha yang baik dan memberikan lingkungan yang baik pada anak. Agar anak-anak kita menjadi penyejuk mata teruslah meminta dalam do’a-do’a kita. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 5: 615-616. Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. Tafsir Al Jalalain, Jalaluddin As Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli, terbitan Darus Salam, cetakan kedua, tahun 1422 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul 5 Muharram 1435 H Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan karya Ustadz Abduh Tuasikal. Tagspendidikan anak
Apa yang dimaksud anak penyejuk mata? Ini pun berlaku pada istri di mana orang yang beriman selalu meminta istri dan anaknya selalu menjadi penyejuk mata baginya, maksudnya adalah ia meminta pada Allah agar mereka itu taat pada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Dan orang orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqon: 74). Apa yang dimaksud dengan keturunan yang menjadi penyejuk mata? Ibnu ‘Abbas berkata, يعنون من يعمل بالطاعة، فتقرُّ به أعينهم في الدنيا والآخرة. “Yaitu mereka (ibadurrahman) meminta agar mendapatkan keturunan yang gemar beramal ketaatan sehingga sejuklah mata mereka di dunia dan akhirat.” ‘Ikrimah berkata, لم يريدوا بذلك صباحة ولا جمالا ولكن أرادوا أن يكونوا مطيعين. “Yaitu mereka (orang yang beriman) tidaklah menginginkan keturunan yang memiriki paras cantik, akan tetapi yang mereka inginkan adalah keturunan yang taat.” Al Hasan Al Bashri ditanya mengenai ayat di atas. Beliau pun berkata, أن يُري الله العبد المسلم من زوجته، ومن أخيه، ومن حميمه طاعة الله. لا والله ما شيء أقر لعين المسلم من أن يرى ولدا، أو ولد ولد، أو أخا، أو حميما مطيعا لله عز وجل. “Yang ingin dilihat Allah pada hamba muslim dari istri, saudara, dan sahabat karibnya adalah mereka semua taat pada Allah. Wallahi, demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan pandangan mata seorang muslim melebihi ketaatan pada Allah yang ia lihat pada anak, cucu, saudara dan sahabat karibnya.” Ibnu Juraij berkata mengenai ayat tersebut, “Hamba beriman meminta pada Allah agar keturunannya dapat beribadah dan memperbagus ibadahnya kepada Allah, tidak berbuat maksiat dan tindak kejahatan.” ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam  berkata, “Orang beriman meminta kepada Allah agar istri-istrinya dan keturunannya mendapatkan hidayah Islam.” Beberapa perkataan di atas dinukil dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Menyejukkan mata orang tua adalah ketika melihat anak dalam keadaan taat kepada Allah, berilmu, beramal. Ini do’a kebaikannya pada anak dan istrinya, namun itu juga termasuk do’a untuknya. Karena istri dan anak yang menjadi penyejuk mata akan kembali manfaatnya pada suami. Inilah yang dijadikan karunia untuk suami.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 587). Dalam tafsir Al Jalalain (hal. 377) disebutkan, “Menjadi penyejuk mata bagi kami dengan melihat anak dan istri dalam keadaan taat pada Allah.” Sangat dianjurkan sekali jika seorang muslim memperbanyak do’a ini untuk memperbaiki istri, keturunan dan dirinya sendiri. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Tidak cukup dengan usaha yang baik dan memberikan lingkungan yang baik pada anak. Agar anak-anak kita menjadi penyejuk mata teruslah meminta dalam do’a-do’a kita. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 5: 615-616. Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. Tafsir Al Jalalain, Jalaluddin As Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli, terbitan Darus Salam, cetakan kedua, tahun 1422 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul 5 Muharram 1435 H Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan karya Ustadz Abduh Tuasikal. Tagspendidikan anak


Apa yang dimaksud anak penyejuk mata? Ini pun berlaku pada istri di mana orang yang beriman selalu meminta istri dan anaknya selalu menjadi penyejuk mata baginya, maksudnya adalah ia meminta pada Allah agar mereka itu taat pada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Dan orang orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqon: 74). Apa yang dimaksud dengan keturunan yang menjadi penyejuk mata? Ibnu ‘Abbas berkata, يعنون من يعمل بالطاعة، فتقرُّ به أعينهم في الدنيا والآخرة. “Yaitu mereka (ibadurrahman) meminta agar mendapatkan keturunan yang gemar beramal ketaatan sehingga sejuklah mata mereka di dunia dan akhirat.” ‘Ikrimah berkata, لم يريدوا بذلك صباحة ولا جمالا ولكن أرادوا أن يكونوا مطيعين. “Yaitu mereka (orang yang beriman) tidaklah menginginkan keturunan yang memiriki paras cantik, akan tetapi yang mereka inginkan adalah keturunan yang taat.” Al Hasan Al Bashri ditanya mengenai ayat di atas. Beliau pun berkata, أن يُري الله العبد المسلم من زوجته، ومن أخيه، ومن حميمه طاعة الله. لا والله ما شيء أقر لعين المسلم من أن يرى ولدا، أو ولد ولد، أو أخا، أو حميما مطيعا لله عز وجل. “Yang ingin dilihat Allah pada hamba muslim dari istri, saudara, dan sahabat karibnya adalah mereka semua taat pada Allah. Wallahi, demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan pandangan mata seorang muslim melebihi ketaatan pada Allah yang ia lihat pada anak, cucu, saudara dan sahabat karibnya.” Ibnu Juraij berkata mengenai ayat tersebut, “Hamba beriman meminta pada Allah agar keturunannya dapat beribadah dan memperbagus ibadahnya kepada Allah, tidak berbuat maksiat dan tindak kejahatan.” ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam  berkata, “Orang beriman meminta kepada Allah agar istri-istrinya dan keturunannya mendapatkan hidayah Islam.” Beberapa perkataan di atas dinukil dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Menyejukkan mata orang tua adalah ketika melihat anak dalam keadaan taat kepada Allah, berilmu, beramal. Ini do’a kebaikannya pada anak dan istrinya, namun itu juga termasuk do’a untuknya. Karena istri dan anak yang menjadi penyejuk mata akan kembali manfaatnya pada suami. Inilah yang dijadikan karunia untuk suami.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 587). Dalam tafsir Al Jalalain (hal. 377) disebutkan, “Menjadi penyejuk mata bagi kami dengan melihat anak dan istri dalam keadaan taat pada Allah.” Sangat dianjurkan sekali jika seorang muslim memperbanyak do’a ini untuk memperbaiki istri, keturunan dan dirinya sendiri. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Tidak cukup dengan usaha yang baik dan memberikan lingkungan yang baik pada anak. Agar anak-anak kita menjadi penyejuk mata teruslah meminta dalam do’a-do’a kita. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 5: 615-616. Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. Tafsir Al Jalalain, Jalaluddin As Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli, terbitan Darus Salam, cetakan kedua, tahun 1422 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul 5 Muharram 1435 H Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan karya Ustadz Abduh Tuasikal. Tagspendidikan anak

APA SETELAH HAJI ?

Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz Segala puji bagi Allah yang telah memilih jamaah haji sekalian sebagai tamu-tamuNya. Ini merupakan karunia Allah yang sangat besar, dimana jutaan umat Islam yang ingin datang ke tanah suci menunaikan ibadah haji tapi masih belum dapat izin dari Allah, ada saja halangan yang datang. Adapun jamaah sekalian telah mendapatkan kemudahan dari Allah sehingga dapat merampungkan seluruh manasik haji dari mulai umrah sampai tawaf wada, semoga Allah mencatatnya sebagai haji yang mabrur diampuni segala dosa kita dan agar jamaah haji diberi perlindungan dan keselamatan dalam perjalanan pulang ke tanah air, amin! Para ulama kita menyebutkan tanda-tanda haji yang mabrur, diantaranya Imam Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: Haji yang mabrur adalah agar ia pulang dari ibadah haji menjadi orang yang zuhud dalam kehidupan dunia dan cinta akhirat. Allah berfirman yang artinya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupa bagianmu di dunia”. (Surat Al-Qashash: 77)  Orang yang zuhud bukan berarti orang yang hanya beribadah di masjid dan tidak mau bekerja mencari harta untuk nafkah anak dan isteri tapi orang yang zuhud orang yang tidak diperbudak oleh hartanya, dunia boleh berada di tangannya tidak di hatinya, aktifitasnya dalam kehidupan dunia tidak melalaikannya dari ingat kepada Allah, melaksanakan shalat yang lima waktu tepat pada waktunya, tidak memutuskan silaturahmi, tetap rajin menuntut ilmu islam lalu mengamalkan dan menda’wahkannya, tidak melupakan tanggung jawab mendidik isteri dan anak-anak. Orang yang zuhud adalah orang yang penghasilannya dari yang halal, bukan dari hasil renten, riba, suap, korupsi, mencuri, judi, pungli, memeras, menipu, memakan hak orang lain. Semoga Allah mengaruniakan kita semua rezeki yang halal, baik dan berkah serta dijauhkan dari segala pendapatan yang haram, amin! Ada lagi yang mengatakan diantara tanda haji yang mabrur adalah setelah pulang dari menunaikan ibadah haji, ia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menjadi lebih baik dalam hal tauhid. Jika ada diantara jamaah haji yang sebelum hajinya masih suka pergi ke dukun untuk minta kekayaan, anak, jodoh, cepat naik pangkat dan lain-lain maka setelah kita haji dan bertaubat kepada Allah hendaklah kita tinggalkan hal tersebut karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir dengan apa yang telah diturunkan kepada Muhammad”.(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` No. 2006) Barangsiapa yang sebelum ia haji, suka menyembelih sapi atau lainnya untuk dijadikan sebagai tumbal atau sesajen maka sekarang harus meninggalkannya dan menyembelih kurban hanya untuk Allah karena Allah berfirman yang artinya: “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah” (Surat Al- Kautsar 2) “Katakanlah sesungguhnya shalatku, sesembelihanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Rabbul Alamin tidak ada sekutu baginya” (Surat Al-An’aam: 162) Barangsiapa yang sebelum ia haji, masih mempercayai ramalan bintang maka tinggalkanlah dan bertawakallah kepada Allah semata. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih mengkeramatkan keris dan jimat-jimat, maka sekarang musnahkanlah segala jimat yang kita miliki. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih suka meruwat bumi untuk menghindarkan bencana, maka sekarang bertaubatlah dan tinggalkan upacara syirik itu, bergantunglah kepada Allah karena yang dapat menghindarkan bencana hanya Allah semata. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih mengkeramatkan sapi yang dikeluarkan setiap tanggal sepuluh Muharram bahkan berebut untuk memperoleh kotorannya yang dianggap dapat memberikan berkah, maka ketahuilah itu adalah perbuatan syirik. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih meyakini bahwa nasib sial akan menimpanya jika bepergian hari Selasa atau Sabtu juga untuk menentukan waktu pernikahan harus dihitung secara cermat karena kalau tidak pas harinya akan menimbulkan kesialan, maka itu semua adalah syirik. Allah tidak mengampuni dosa syirik kecuali jika pelakunya bertaubat, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat. Allah mengharamkan surga bagi orang yang berbuat syirik. Adapun orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kesyirikan maka mereka mendapatkan keamanan dan hidayah dari Allah Taala. Hendaklah jamaah haji memperbaiki ibadahnya kepada Allah, shalat yang lima waktu jangan sampai ditinggalkan, zakat maal harus dikeluarkan dan shaum di bulan Ramadhan harus dijalankan. Segala ibadah kita laksanakan dengan penuh rasa cinta kepada Allah yang telah memberikan kepada kita nikmat yang tidak terhingga. Kita siap korbankan harta, tenaga dan waktu kita demi menggapai ridha Allah. Hendaklah kita perbaiki muamalah kita dengan orang tua yang telah melahirkan dan mendidik kita sejak kecil. Jangan sampai kita menyakiti hati mereka dan hendaklah selalu berbakti dan memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Jika orang tua kita telah meninggal dunia hendaklah kita selalu mendoakan untuk mereka. Bagi para suami hendaklah perbaiki muamalah dengan isterinya jangan mudah marah dan membentak isterinya jika berbuat kesalahan. Lakukanlah hal-hal yang menyenangkan isteri selama tidak bertentangan dengan syariat. Didiklah isteri dengan nasehat, membawanya ke majelis ta’lim, membelikannya buku dan kaset ceramah yang bermanfaat. Juga didiklah isteri dengan memberi keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya dan saya adalah orang yang paling baik diantara kalian terhadap keluargaku”. Bagi para isteri perbaikilah muamalah dengan suami jadilah isteri yang taat.. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila wanita shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan memelihara kemaluannya, maka ia masuk surga dari pintu-pintu mana saja yang ia mau”.Ketaatan kepada suami dalam hal yang makruf saja adapun dalam hal maksiat tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah Al-Khaliq. Ketika suami baru datang dari pekerjaan janganlah disambut dengan berbagai macam problem dan hal-hal yang tidak menyenangkan tetapi sambutlah dengan senyum, sediakanlah makan dan minum serta biarkanlah suami untuk istirahat dulu setelah itu barulah sampaikan segala problem yang ada niscaya suami sudah lebih siap untuk mendengarkannya. Bagi para orang tua perbaikilah dalam pendidikan terhadap anak-anak, mereka merupakan amanat yang kelak kita akan diminta pertanggungjawabannya di hari akhir. Didiklah mereka dengan memberikan contoh yang baik, sekolahkanlah mereka di tempat yang baik, awasilah pergaulan mereka. Selalulah berdoa kepada Allah agar melindungi dan menjaga mereka dari segala kejahatan dan keburukan karena doa orang tua untuk anaknya insya Allah mustajab. Bagi kaum muslimah perbaikilah dalam hal berbusana, tutuplah aurat anda dan jangan diperlihatkan kepada laki-laki yang bukan mahramnya. Allah berfirman: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, (Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka). Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Surat Al-Ahzab: 59) “Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.(Surat An-Nuur: 31) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah saya lihat keduanya (sebelum ini), (pertama) suatu kaum yang memiliki cambuk bagaikan ekor sapi yang digunakannya untuk memukul manusia dan (kedua) wanita yang berpakaian tapi telanjang berjalan berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau surga padahal bau surga itu tercium dari jarak yang sekian dan sekian jauhnya”. (Hadits Shahih, Riwayat Muslim) Masih banyak diantara jamaah haji wanita yang berpakaian tapi telanjang, belum sempurna menutup auratnya, masih ada yang terlihat lehernya, terlihat lengannya, menutup aurat dengan pakaian yang ketat sehingga membentuk lekak lekuk tubuhnya, berpakaian dengan bahan yang tipis dan transparan sehingga terlihat kulitnya, pada hakekatnya mereka masih telanjang dan diancam tidak masuk surga. Hendaklah jamaah haji wanita menjadi sadar setelah menangis dan memohon ampun kepada Allah pada saat wuquf di Arafah, apakah kita ulangi kembali dosa-dosa kita? Hendaklah jamaah haji wanita menjadi teladan bagi kaum muslimah di tanah air yang sedang dilanda dekadensi akhlak dan moral, didiklah puteri-puteri kita agar berbusana muslimah, nasehatilah mereka agar tidak keluar rumah dengan menggunakan celana pendek, celana yang sangat ketat dan perutnya terlihat, innaalillahi wa innaa ilaihi rajiuun. Hendaklah jamaah haji wanita berdandan dan bersolek mempercantik diri, tetapi untuk siapa? Bukan untuk orang-orang diluar rumah tapi untuk suami di rumah, kenyataan yang ada banyak dari kaum muslimah berdandan ketika keluar rumah padahal dilarang oleh Allah yang kita cintai, Allah berfirman: “Dan hendaklah kamu (isteri-isteri nabi) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu”. (Surat Al-Ahzab: 33) Ayat ini berlaku juga untuk segenap kaum muslimah dan mukminah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa seorang wanita yang pergi keluar rumah dengan menggunakan parfum sehingga tercium oleh laki-laki lain, maka sesungguhnya ia itu pelacur. Setiap hari kita berdoa memohon hidayah kepada Allah, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mempelajari jalan-jalan hidayah berupa ilmu yang bermanfaat karena masih banyak diantara jalan-jalan hidayah yang belum kita ketahui dibandingkan yang sudah kita ketahui. Jangan kita menganggap ini adalah hal yang baru kita dengar, kami sudah terbiasa dengan adat kami dan dalih-dalih lainnya yang tidak bisa diterima oleh syariat. Allah berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: lkutilah apa yang telah diturunkan Allah mereka menjawab: Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Surat Al-Baqarah: 170) Dan firmanNya: “Dan tidaklah boleh bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (Surat Al-Ahzab: 36) Hendaklah kita semua memperbaiki diri dalam hal tanggung jawab kita memperbaiki masyarakat. Bentengi aqidah umat dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dengan saling nasehat menasehati untuk menepati kebenaran dan nasehat menasehati untuk menetapi kesabaran, dengan saling bekerjasama dalam hal kebaikan dan taqwa. Tidak sedikit umat Islam di Indonesia murtad dari agamanya disebabkan kelengahan dan kelalaian kita. Benar sebab mereka murtad adalah karena lemah iman ditambah lagi dengan lemah ekonomi, tapi apakah boleh kita diam dan berpangku tangan? Tidak, kita harus berbuat sesuai dengan kemampuan kita. Apabila kita tidak bisa mendidik mereka karena keterbatasan ilmu kita, ajaklah mereka untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, bagikan buletin dan buku-buku Islam, pinjamkan kaset-kaset ceramah yang bermanfaat. Jika mereka malas bekerja berilah motivasi, jika mereka nganggur carikanlah pekerjaan untuk mereka, jika puteri-puteri kita sudah dewasa carikanlah untuk mereka suami yang baik keislamannya jangan kita biarkan mereka menikah dengan laki-laki kafir. Apabila anda sebagai pejabat janganlah anda menghalangi dan mempersulit orang-orang yang ikhlas mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan tidak berbuat syirik, untuk mengikuti sunnah Nabi dan tidak berbuat bid’ah. Bagi orang tua yang mempunyai anak puteri memakai jilbab atau cadar dukunglah mereka dan banggalah terhadap anak anda yang taat kepada Allah, semoga Allah menghiasi puteri anda dengan akhlak yang baik pula. Bagi jamaah haji yang memiliki kelebihan harta dapat beramal jariyah dengan membelikan kitab-kitab yang bermanfaat untuk ustadz-ustadz yang ada di tanah air. Dan masih banyak amal-amal lainnya yang dapat kita lakukan dalam upaya kita memperbaiki diri dan masyarakat.

APA SETELAH HAJI ?

Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz Segala puji bagi Allah yang telah memilih jamaah haji sekalian sebagai tamu-tamuNya. Ini merupakan karunia Allah yang sangat besar, dimana jutaan umat Islam yang ingin datang ke tanah suci menunaikan ibadah haji tapi masih belum dapat izin dari Allah, ada saja halangan yang datang. Adapun jamaah sekalian telah mendapatkan kemudahan dari Allah sehingga dapat merampungkan seluruh manasik haji dari mulai umrah sampai tawaf wada, semoga Allah mencatatnya sebagai haji yang mabrur diampuni segala dosa kita dan agar jamaah haji diberi perlindungan dan keselamatan dalam perjalanan pulang ke tanah air, amin! Para ulama kita menyebutkan tanda-tanda haji yang mabrur, diantaranya Imam Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: Haji yang mabrur adalah agar ia pulang dari ibadah haji menjadi orang yang zuhud dalam kehidupan dunia dan cinta akhirat. Allah berfirman yang artinya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupa bagianmu di dunia”. (Surat Al-Qashash: 77)  Orang yang zuhud bukan berarti orang yang hanya beribadah di masjid dan tidak mau bekerja mencari harta untuk nafkah anak dan isteri tapi orang yang zuhud orang yang tidak diperbudak oleh hartanya, dunia boleh berada di tangannya tidak di hatinya, aktifitasnya dalam kehidupan dunia tidak melalaikannya dari ingat kepada Allah, melaksanakan shalat yang lima waktu tepat pada waktunya, tidak memutuskan silaturahmi, tetap rajin menuntut ilmu islam lalu mengamalkan dan menda’wahkannya, tidak melupakan tanggung jawab mendidik isteri dan anak-anak. Orang yang zuhud adalah orang yang penghasilannya dari yang halal, bukan dari hasil renten, riba, suap, korupsi, mencuri, judi, pungli, memeras, menipu, memakan hak orang lain. Semoga Allah mengaruniakan kita semua rezeki yang halal, baik dan berkah serta dijauhkan dari segala pendapatan yang haram, amin! Ada lagi yang mengatakan diantara tanda haji yang mabrur adalah setelah pulang dari menunaikan ibadah haji, ia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menjadi lebih baik dalam hal tauhid. Jika ada diantara jamaah haji yang sebelum hajinya masih suka pergi ke dukun untuk minta kekayaan, anak, jodoh, cepat naik pangkat dan lain-lain maka setelah kita haji dan bertaubat kepada Allah hendaklah kita tinggalkan hal tersebut karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir dengan apa yang telah diturunkan kepada Muhammad”.(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` No. 2006) Barangsiapa yang sebelum ia haji, suka menyembelih sapi atau lainnya untuk dijadikan sebagai tumbal atau sesajen maka sekarang harus meninggalkannya dan menyembelih kurban hanya untuk Allah karena Allah berfirman yang artinya: “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah” (Surat Al- Kautsar 2) “Katakanlah sesungguhnya shalatku, sesembelihanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Rabbul Alamin tidak ada sekutu baginya” (Surat Al-An’aam: 162) Barangsiapa yang sebelum ia haji, masih mempercayai ramalan bintang maka tinggalkanlah dan bertawakallah kepada Allah semata. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih mengkeramatkan keris dan jimat-jimat, maka sekarang musnahkanlah segala jimat yang kita miliki. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih suka meruwat bumi untuk menghindarkan bencana, maka sekarang bertaubatlah dan tinggalkan upacara syirik itu, bergantunglah kepada Allah karena yang dapat menghindarkan bencana hanya Allah semata. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih mengkeramatkan sapi yang dikeluarkan setiap tanggal sepuluh Muharram bahkan berebut untuk memperoleh kotorannya yang dianggap dapat memberikan berkah, maka ketahuilah itu adalah perbuatan syirik. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih meyakini bahwa nasib sial akan menimpanya jika bepergian hari Selasa atau Sabtu juga untuk menentukan waktu pernikahan harus dihitung secara cermat karena kalau tidak pas harinya akan menimbulkan kesialan, maka itu semua adalah syirik. Allah tidak mengampuni dosa syirik kecuali jika pelakunya bertaubat, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat. Allah mengharamkan surga bagi orang yang berbuat syirik. Adapun orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kesyirikan maka mereka mendapatkan keamanan dan hidayah dari Allah Taala. Hendaklah jamaah haji memperbaiki ibadahnya kepada Allah, shalat yang lima waktu jangan sampai ditinggalkan, zakat maal harus dikeluarkan dan shaum di bulan Ramadhan harus dijalankan. Segala ibadah kita laksanakan dengan penuh rasa cinta kepada Allah yang telah memberikan kepada kita nikmat yang tidak terhingga. Kita siap korbankan harta, tenaga dan waktu kita demi menggapai ridha Allah. Hendaklah kita perbaiki muamalah kita dengan orang tua yang telah melahirkan dan mendidik kita sejak kecil. Jangan sampai kita menyakiti hati mereka dan hendaklah selalu berbakti dan memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Jika orang tua kita telah meninggal dunia hendaklah kita selalu mendoakan untuk mereka. Bagi para suami hendaklah perbaiki muamalah dengan isterinya jangan mudah marah dan membentak isterinya jika berbuat kesalahan. Lakukanlah hal-hal yang menyenangkan isteri selama tidak bertentangan dengan syariat. Didiklah isteri dengan nasehat, membawanya ke majelis ta’lim, membelikannya buku dan kaset ceramah yang bermanfaat. Juga didiklah isteri dengan memberi keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya dan saya adalah orang yang paling baik diantara kalian terhadap keluargaku”. Bagi para isteri perbaikilah muamalah dengan suami jadilah isteri yang taat.. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila wanita shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan memelihara kemaluannya, maka ia masuk surga dari pintu-pintu mana saja yang ia mau”.Ketaatan kepada suami dalam hal yang makruf saja adapun dalam hal maksiat tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah Al-Khaliq. Ketika suami baru datang dari pekerjaan janganlah disambut dengan berbagai macam problem dan hal-hal yang tidak menyenangkan tetapi sambutlah dengan senyum, sediakanlah makan dan minum serta biarkanlah suami untuk istirahat dulu setelah itu barulah sampaikan segala problem yang ada niscaya suami sudah lebih siap untuk mendengarkannya. Bagi para orang tua perbaikilah dalam pendidikan terhadap anak-anak, mereka merupakan amanat yang kelak kita akan diminta pertanggungjawabannya di hari akhir. Didiklah mereka dengan memberikan contoh yang baik, sekolahkanlah mereka di tempat yang baik, awasilah pergaulan mereka. Selalulah berdoa kepada Allah agar melindungi dan menjaga mereka dari segala kejahatan dan keburukan karena doa orang tua untuk anaknya insya Allah mustajab. Bagi kaum muslimah perbaikilah dalam hal berbusana, tutuplah aurat anda dan jangan diperlihatkan kepada laki-laki yang bukan mahramnya. Allah berfirman: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, (Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka). Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Surat Al-Ahzab: 59) “Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.(Surat An-Nuur: 31) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah saya lihat keduanya (sebelum ini), (pertama) suatu kaum yang memiliki cambuk bagaikan ekor sapi yang digunakannya untuk memukul manusia dan (kedua) wanita yang berpakaian tapi telanjang berjalan berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau surga padahal bau surga itu tercium dari jarak yang sekian dan sekian jauhnya”. (Hadits Shahih, Riwayat Muslim) Masih banyak diantara jamaah haji wanita yang berpakaian tapi telanjang, belum sempurna menutup auratnya, masih ada yang terlihat lehernya, terlihat lengannya, menutup aurat dengan pakaian yang ketat sehingga membentuk lekak lekuk tubuhnya, berpakaian dengan bahan yang tipis dan transparan sehingga terlihat kulitnya, pada hakekatnya mereka masih telanjang dan diancam tidak masuk surga. Hendaklah jamaah haji wanita menjadi sadar setelah menangis dan memohon ampun kepada Allah pada saat wuquf di Arafah, apakah kita ulangi kembali dosa-dosa kita? Hendaklah jamaah haji wanita menjadi teladan bagi kaum muslimah di tanah air yang sedang dilanda dekadensi akhlak dan moral, didiklah puteri-puteri kita agar berbusana muslimah, nasehatilah mereka agar tidak keluar rumah dengan menggunakan celana pendek, celana yang sangat ketat dan perutnya terlihat, innaalillahi wa innaa ilaihi rajiuun. Hendaklah jamaah haji wanita berdandan dan bersolek mempercantik diri, tetapi untuk siapa? Bukan untuk orang-orang diluar rumah tapi untuk suami di rumah, kenyataan yang ada banyak dari kaum muslimah berdandan ketika keluar rumah padahal dilarang oleh Allah yang kita cintai, Allah berfirman: “Dan hendaklah kamu (isteri-isteri nabi) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu”. (Surat Al-Ahzab: 33) Ayat ini berlaku juga untuk segenap kaum muslimah dan mukminah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa seorang wanita yang pergi keluar rumah dengan menggunakan parfum sehingga tercium oleh laki-laki lain, maka sesungguhnya ia itu pelacur. Setiap hari kita berdoa memohon hidayah kepada Allah, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mempelajari jalan-jalan hidayah berupa ilmu yang bermanfaat karena masih banyak diantara jalan-jalan hidayah yang belum kita ketahui dibandingkan yang sudah kita ketahui. Jangan kita menganggap ini adalah hal yang baru kita dengar, kami sudah terbiasa dengan adat kami dan dalih-dalih lainnya yang tidak bisa diterima oleh syariat. Allah berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: lkutilah apa yang telah diturunkan Allah mereka menjawab: Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Surat Al-Baqarah: 170) Dan firmanNya: “Dan tidaklah boleh bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (Surat Al-Ahzab: 36) Hendaklah kita semua memperbaiki diri dalam hal tanggung jawab kita memperbaiki masyarakat. Bentengi aqidah umat dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dengan saling nasehat menasehati untuk menepati kebenaran dan nasehat menasehati untuk menetapi kesabaran, dengan saling bekerjasama dalam hal kebaikan dan taqwa. Tidak sedikit umat Islam di Indonesia murtad dari agamanya disebabkan kelengahan dan kelalaian kita. Benar sebab mereka murtad adalah karena lemah iman ditambah lagi dengan lemah ekonomi, tapi apakah boleh kita diam dan berpangku tangan? Tidak, kita harus berbuat sesuai dengan kemampuan kita. Apabila kita tidak bisa mendidik mereka karena keterbatasan ilmu kita, ajaklah mereka untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, bagikan buletin dan buku-buku Islam, pinjamkan kaset-kaset ceramah yang bermanfaat. Jika mereka malas bekerja berilah motivasi, jika mereka nganggur carikanlah pekerjaan untuk mereka, jika puteri-puteri kita sudah dewasa carikanlah untuk mereka suami yang baik keislamannya jangan kita biarkan mereka menikah dengan laki-laki kafir. Apabila anda sebagai pejabat janganlah anda menghalangi dan mempersulit orang-orang yang ikhlas mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan tidak berbuat syirik, untuk mengikuti sunnah Nabi dan tidak berbuat bid’ah. Bagi orang tua yang mempunyai anak puteri memakai jilbab atau cadar dukunglah mereka dan banggalah terhadap anak anda yang taat kepada Allah, semoga Allah menghiasi puteri anda dengan akhlak yang baik pula. Bagi jamaah haji yang memiliki kelebihan harta dapat beramal jariyah dengan membelikan kitab-kitab yang bermanfaat untuk ustadz-ustadz yang ada di tanah air. Dan masih banyak amal-amal lainnya yang dapat kita lakukan dalam upaya kita memperbaiki diri dan masyarakat.
Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz Segala puji bagi Allah yang telah memilih jamaah haji sekalian sebagai tamu-tamuNya. Ini merupakan karunia Allah yang sangat besar, dimana jutaan umat Islam yang ingin datang ke tanah suci menunaikan ibadah haji tapi masih belum dapat izin dari Allah, ada saja halangan yang datang. Adapun jamaah sekalian telah mendapatkan kemudahan dari Allah sehingga dapat merampungkan seluruh manasik haji dari mulai umrah sampai tawaf wada, semoga Allah mencatatnya sebagai haji yang mabrur diampuni segala dosa kita dan agar jamaah haji diberi perlindungan dan keselamatan dalam perjalanan pulang ke tanah air, amin! Para ulama kita menyebutkan tanda-tanda haji yang mabrur, diantaranya Imam Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: Haji yang mabrur adalah agar ia pulang dari ibadah haji menjadi orang yang zuhud dalam kehidupan dunia dan cinta akhirat. Allah berfirman yang artinya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupa bagianmu di dunia”. (Surat Al-Qashash: 77)  Orang yang zuhud bukan berarti orang yang hanya beribadah di masjid dan tidak mau bekerja mencari harta untuk nafkah anak dan isteri tapi orang yang zuhud orang yang tidak diperbudak oleh hartanya, dunia boleh berada di tangannya tidak di hatinya, aktifitasnya dalam kehidupan dunia tidak melalaikannya dari ingat kepada Allah, melaksanakan shalat yang lima waktu tepat pada waktunya, tidak memutuskan silaturahmi, tetap rajin menuntut ilmu islam lalu mengamalkan dan menda’wahkannya, tidak melupakan tanggung jawab mendidik isteri dan anak-anak. Orang yang zuhud adalah orang yang penghasilannya dari yang halal, bukan dari hasil renten, riba, suap, korupsi, mencuri, judi, pungli, memeras, menipu, memakan hak orang lain. Semoga Allah mengaruniakan kita semua rezeki yang halal, baik dan berkah serta dijauhkan dari segala pendapatan yang haram, amin! Ada lagi yang mengatakan diantara tanda haji yang mabrur adalah setelah pulang dari menunaikan ibadah haji, ia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menjadi lebih baik dalam hal tauhid. Jika ada diantara jamaah haji yang sebelum hajinya masih suka pergi ke dukun untuk minta kekayaan, anak, jodoh, cepat naik pangkat dan lain-lain maka setelah kita haji dan bertaubat kepada Allah hendaklah kita tinggalkan hal tersebut karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir dengan apa yang telah diturunkan kepada Muhammad”.(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` No. 2006) Barangsiapa yang sebelum ia haji, suka menyembelih sapi atau lainnya untuk dijadikan sebagai tumbal atau sesajen maka sekarang harus meninggalkannya dan menyembelih kurban hanya untuk Allah karena Allah berfirman yang artinya: “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah” (Surat Al- Kautsar 2) “Katakanlah sesungguhnya shalatku, sesembelihanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Rabbul Alamin tidak ada sekutu baginya” (Surat Al-An’aam: 162) Barangsiapa yang sebelum ia haji, masih mempercayai ramalan bintang maka tinggalkanlah dan bertawakallah kepada Allah semata. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih mengkeramatkan keris dan jimat-jimat, maka sekarang musnahkanlah segala jimat yang kita miliki. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih suka meruwat bumi untuk menghindarkan bencana, maka sekarang bertaubatlah dan tinggalkan upacara syirik itu, bergantunglah kepada Allah karena yang dapat menghindarkan bencana hanya Allah semata. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih mengkeramatkan sapi yang dikeluarkan setiap tanggal sepuluh Muharram bahkan berebut untuk memperoleh kotorannya yang dianggap dapat memberikan berkah, maka ketahuilah itu adalah perbuatan syirik. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih meyakini bahwa nasib sial akan menimpanya jika bepergian hari Selasa atau Sabtu juga untuk menentukan waktu pernikahan harus dihitung secara cermat karena kalau tidak pas harinya akan menimbulkan kesialan, maka itu semua adalah syirik. Allah tidak mengampuni dosa syirik kecuali jika pelakunya bertaubat, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat. Allah mengharamkan surga bagi orang yang berbuat syirik. Adapun orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kesyirikan maka mereka mendapatkan keamanan dan hidayah dari Allah Taala. Hendaklah jamaah haji memperbaiki ibadahnya kepada Allah, shalat yang lima waktu jangan sampai ditinggalkan, zakat maal harus dikeluarkan dan shaum di bulan Ramadhan harus dijalankan. Segala ibadah kita laksanakan dengan penuh rasa cinta kepada Allah yang telah memberikan kepada kita nikmat yang tidak terhingga. Kita siap korbankan harta, tenaga dan waktu kita demi menggapai ridha Allah. Hendaklah kita perbaiki muamalah kita dengan orang tua yang telah melahirkan dan mendidik kita sejak kecil. Jangan sampai kita menyakiti hati mereka dan hendaklah selalu berbakti dan memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Jika orang tua kita telah meninggal dunia hendaklah kita selalu mendoakan untuk mereka. Bagi para suami hendaklah perbaiki muamalah dengan isterinya jangan mudah marah dan membentak isterinya jika berbuat kesalahan. Lakukanlah hal-hal yang menyenangkan isteri selama tidak bertentangan dengan syariat. Didiklah isteri dengan nasehat, membawanya ke majelis ta’lim, membelikannya buku dan kaset ceramah yang bermanfaat. Juga didiklah isteri dengan memberi keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya dan saya adalah orang yang paling baik diantara kalian terhadap keluargaku”. Bagi para isteri perbaikilah muamalah dengan suami jadilah isteri yang taat.. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila wanita shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan memelihara kemaluannya, maka ia masuk surga dari pintu-pintu mana saja yang ia mau”.Ketaatan kepada suami dalam hal yang makruf saja adapun dalam hal maksiat tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah Al-Khaliq. Ketika suami baru datang dari pekerjaan janganlah disambut dengan berbagai macam problem dan hal-hal yang tidak menyenangkan tetapi sambutlah dengan senyum, sediakanlah makan dan minum serta biarkanlah suami untuk istirahat dulu setelah itu barulah sampaikan segala problem yang ada niscaya suami sudah lebih siap untuk mendengarkannya. Bagi para orang tua perbaikilah dalam pendidikan terhadap anak-anak, mereka merupakan amanat yang kelak kita akan diminta pertanggungjawabannya di hari akhir. Didiklah mereka dengan memberikan contoh yang baik, sekolahkanlah mereka di tempat yang baik, awasilah pergaulan mereka. Selalulah berdoa kepada Allah agar melindungi dan menjaga mereka dari segala kejahatan dan keburukan karena doa orang tua untuk anaknya insya Allah mustajab. Bagi kaum muslimah perbaikilah dalam hal berbusana, tutuplah aurat anda dan jangan diperlihatkan kepada laki-laki yang bukan mahramnya. Allah berfirman: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, (Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka). Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Surat Al-Ahzab: 59) “Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.(Surat An-Nuur: 31) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah saya lihat keduanya (sebelum ini), (pertama) suatu kaum yang memiliki cambuk bagaikan ekor sapi yang digunakannya untuk memukul manusia dan (kedua) wanita yang berpakaian tapi telanjang berjalan berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau surga padahal bau surga itu tercium dari jarak yang sekian dan sekian jauhnya”. (Hadits Shahih, Riwayat Muslim) Masih banyak diantara jamaah haji wanita yang berpakaian tapi telanjang, belum sempurna menutup auratnya, masih ada yang terlihat lehernya, terlihat lengannya, menutup aurat dengan pakaian yang ketat sehingga membentuk lekak lekuk tubuhnya, berpakaian dengan bahan yang tipis dan transparan sehingga terlihat kulitnya, pada hakekatnya mereka masih telanjang dan diancam tidak masuk surga. Hendaklah jamaah haji wanita menjadi sadar setelah menangis dan memohon ampun kepada Allah pada saat wuquf di Arafah, apakah kita ulangi kembali dosa-dosa kita? Hendaklah jamaah haji wanita menjadi teladan bagi kaum muslimah di tanah air yang sedang dilanda dekadensi akhlak dan moral, didiklah puteri-puteri kita agar berbusana muslimah, nasehatilah mereka agar tidak keluar rumah dengan menggunakan celana pendek, celana yang sangat ketat dan perutnya terlihat, innaalillahi wa innaa ilaihi rajiuun. Hendaklah jamaah haji wanita berdandan dan bersolek mempercantik diri, tetapi untuk siapa? Bukan untuk orang-orang diluar rumah tapi untuk suami di rumah, kenyataan yang ada banyak dari kaum muslimah berdandan ketika keluar rumah padahal dilarang oleh Allah yang kita cintai, Allah berfirman: “Dan hendaklah kamu (isteri-isteri nabi) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu”. (Surat Al-Ahzab: 33) Ayat ini berlaku juga untuk segenap kaum muslimah dan mukminah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa seorang wanita yang pergi keluar rumah dengan menggunakan parfum sehingga tercium oleh laki-laki lain, maka sesungguhnya ia itu pelacur. Setiap hari kita berdoa memohon hidayah kepada Allah, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mempelajari jalan-jalan hidayah berupa ilmu yang bermanfaat karena masih banyak diantara jalan-jalan hidayah yang belum kita ketahui dibandingkan yang sudah kita ketahui. Jangan kita menganggap ini adalah hal yang baru kita dengar, kami sudah terbiasa dengan adat kami dan dalih-dalih lainnya yang tidak bisa diterima oleh syariat. Allah berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: lkutilah apa yang telah diturunkan Allah mereka menjawab: Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Surat Al-Baqarah: 170) Dan firmanNya: “Dan tidaklah boleh bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (Surat Al-Ahzab: 36) Hendaklah kita semua memperbaiki diri dalam hal tanggung jawab kita memperbaiki masyarakat. Bentengi aqidah umat dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dengan saling nasehat menasehati untuk menepati kebenaran dan nasehat menasehati untuk menetapi kesabaran, dengan saling bekerjasama dalam hal kebaikan dan taqwa. Tidak sedikit umat Islam di Indonesia murtad dari agamanya disebabkan kelengahan dan kelalaian kita. Benar sebab mereka murtad adalah karena lemah iman ditambah lagi dengan lemah ekonomi, tapi apakah boleh kita diam dan berpangku tangan? Tidak, kita harus berbuat sesuai dengan kemampuan kita. Apabila kita tidak bisa mendidik mereka karena keterbatasan ilmu kita, ajaklah mereka untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, bagikan buletin dan buku-buku Islam, pinjamkan kaset-kaset ceramah yang bermanfaat. Jika mereka malas bekerja berilah motivasi, jika mereka nganggur carikanlah pekerjaan untuk mereka, jika puteri-puteri kita sudah dewasa carikanlah untuk mereka suami yang baik keislamannya jangan kita biarkan mereka menikah dengan laki-laki kafir. Apabila anda sebagai pejabat janganlah anda menghalangi dan mempersulit orang-orang yang ikhlas mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan tidak berbuat syirik, untuk mengikuti sunnah Nabi dan tidak berbuat bid’ah. Bagi orang tua yang mempunyai anak puteri memakai jilbab atau cadar dukunglah mereka dan banggalah terhadap anak anda yang taat kepada Allah, semoga Allah menghiasi puteri anda dengan akhlak yang baik pula. Bagi jamaah haji yang memiliki kelebihan harta dapat beramal jariyah dengan membelikan kitab-kitab yang bermanfaat untuk ustadz-ustadz yang ada di tanah air. Dan masih banyak amal-amal lainnya yang dapat kita lakukan dalam upaya kita memperbaiki diri dan masyarakat.


Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz Segala puji bagi Allah yang telah memilih jamaah haji sekalian sebagai tamu-tamuNya. Ini merupakan karunia Allah yang sangat besar, dimana jutaan umat Islam yang ingin datang ke tanah suci menunaikan ibadah haji tapi masih belum dapat izin dari Allah, ada saja halangan yang datang. Adapun jamaah sekalian telah mendapatkan kemudahan dari Allah sehingga dapat merampungkan seluruh manasik haji dari mulai umrah sampai tawaf wada, semoga Allah mencatatnya sebagai haji yang mabrur diampuni segala dosa kita dan agar jamaah haji diberi perlindungan dan keselamatan dalam perjalanan pulang ke tanah air, amin! Para ulama kita menyebutkan tanda-tanda haji yang mabrur, diantaranya Imam Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: Haji yang mabrur adalah agar ia pulang dari ibadah haji menjadi orang yang zuhud dalam kehidupan dunia dan cinta akhirat. Allah berfirman yang artinya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupa bagianmu di dunia”. (Surat Al-Qashash: 77)  Orang yang zuhud bukan berarti orang yang hanya beribadah di masjid dan tidak mau bekerja mencari harta untuk nafkah anak dan isteri tapi orang yang zuhud orang yang tidak diperbudak oleh hartanya, dunia boleh berada di tangannya tidak di hatinya, aktifitasnya dalam kehidupan dunia tidak melalaikannya dari ingat kepada Allah, melaksanakan shalat yang lima waktu tepat pada waktunya, tidak memutuskan silaturahmi, tetap rajin menuntut ilmu islam lalu mengamalkan dan menda’wahkannya, tidak melupakan tanggung jawab mendidik isteri dan anak-anak. Orang yang zuhud adalah orang yang penghasilannya dari yang halal, bukan dari hasil renten, riba, suap, korupsi, mencuri, judi, pungli, memeras, menipu, memakan hak orang lain. Semoga Allah mengaruniakan kita semua rezeki yang halal, baik dan berkah serta dijauhkan dari segala pendapatan yang haram, amin! Ada lagi yang mengatakan diantara tanda haji yang mabrur adalah setelah pulang dari menunaikan ibadah haji, ia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menjadi lebih baik dalam hal tauhid. Jika ada diantara jamaah haji yang sebelum hajinya masih suka pergi ke dukun untuk minta kekayaan, anak, jodoh, cepat naik pangkat dan lain-lain maka setelah kita haji dan bertaubat kepada Allah hendaklah kita tinggalkan hal tersebut karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir dengan apa yang telah diturunkan kepada Muhammad”.(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` No. 2006) Barangsiapa yang sebelum ia haji, suka menyembelih sapi atau lainnya untuk dijadikan sebagai tumbal atau sesajen maka sekarang harus meninggalkannya dan menyembelih kurban hanya untuk Allah karena Allah berfirman yang artinya: “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah” (Surat Al- Kautsar 2) “Katakanlah sesungguhnya shalatku, sesembelihanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Rabbul Alamin tidak ada sekutu baginya” (Surat Al-An’aam: 162) Barangsiapa yang sebelum ia haji, masih mempercayai ramalan bintang maka tinggalkanlah dan bertawakallah kepada Allah semata. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih mengkeramatkan keris dan jimat-jimat, maka sekarang musnahkanlah segala jimat yang kita miliki. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih suka meruwat bumi untuk menghindarkan bencana, maka sekarang bertaubatlah dan tinggalkan upacara syirik itu, bergantunglah kepada Allah karena yang dapat menghindarkan bencana hanya Allah semata. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih mengkeramatkan sapi yang dikeluarkan setiap tanggal sepuluh Muharram bahkan berebut untuk memperoleh kotorannya yang dianggap dapat memberikan berkah, maka ketahuilah itu adalah perbuatan syirik. Barangsiapa yang sebelum hajinya masih meyakini bahwa nasib sial akan menimpanya jika bepergian hari Selasa atau Sabtu juga untuk menentukan waktu pernikahan harus dihitung secara cermat karena kalau tidak pas harinya akan menimbulkan kesialan, maka itu semua adalah syirik. Allah tidak mengampuni dosa syirik kecuali jika pelakunya bertaubat, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat. Allah mengharamkan surga bagi orang yang berbuat syirik. Adapun orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kesyirikan maka mereka mendapatkan keamanan dan hidayah dari Allah Taala. Hendaklah jamaah haji memperbaiki ibadahnya kepada Allah, shalat yang lima waktu jangan sampai ditinggalkan, zakat maal harus dikeluarkan dan shaum di bulan Ramadhan harus dijalankan. Segala ibadah kita laksanakan dengan penuh rasa cinta kepada Allah yang telah memberikan kepada kita nikmat yang tidak terhingga. Kita siap korbankan harta, tenaga dan waktu kita demi menggapai ridha Allah. Hendaklah kita perbaiki muamalah kita dengan orang tua yang telah melahirkan dan mendidik kita sejak kecil. Jangan sampai kita menyakiti hati mereka dan hendaklah selalu berbakti dan memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Jika orang tua kita telah meninggal dunia hendaklah kita selalu mendoakan untuk mereka. Bagi para suami hendaklah perbaiki muamalah dengan isterinya jangan mudah marah dan membentak isterinya jika berbuat kesalahan. Lakukanlah hal-hal yang menyenangkan isteri selama tidak bertentangan dengan syariat. Didiklah isteri dengan nasehat, membawanya ke majelis ta’lim, membelikannya buku dan kaset ceramah yang bermanfaat. Juga didiklah isteri dengan memberi keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya dan saya adalah orang yang paling baik diantara kalian terhadap keluargaku”. Bagi para isteri perbaikilah muamalah dengan suami jadilah isteri yang taat.. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila wanita shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan memelihara kemaluannya, maka ia masuk surga dari pintu-pintu mana saja yang ia mau”.Ketaatan kepada suami dalam hal yang makruf saja adapun dalam hal maksiat tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah Al-Khaliq. Ketika suami baru datang dari pekerjaan janganlah disambut dengan berbagai macam problem dan hal-hal yang tidak menyenangkan tetapi sambutlah dengan senyum, sediakanlah makan dan minum serta biarkanlah suami untuk istirahat dulu setelah itu barulah sampaikan segala problem yang ada niscaya suami sudah lebih siap untuk mendengarkannya. Bagi para orang tua perbaikilah dalam pendidikan terhadap anak-anak, mereka merupakan amanat yang kelak kita akan diminta pertanggungjawabannya di hari akhir. Didiklah mereka dengan memberikan contoh yang baik, sekolahkanlah mereka di tempat yang baik, awasilah pergaulan mereka. Selalulah berdoa kepada Allah agar melindungi dan menjaga mereka dari segala kejahatan dan keburukan karena doa orang tua untuk anaknya insya Allah mustajab. Bagi kaum muslimah perbaikilah dalam hal berbusana, tutuplah aurat anda dan jangan diperlihatkan kepada laki-laki yang bukan mahramnya. Allah berfirman: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, (Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka). Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Surat Al-Ahzab: 59) “Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.(Surat An-Nuur: 31) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah saya lihat keduanya (sebelum ini), (pertama) suatu kaum yang memiliki cambuk bagaikan ekor sapi yang digunakannya untuk memukul manusia dan (kedua) wanita yang berpakaian tapi telanjang berjalan berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau surga padahal bau surga itu tercium dari jarak yang sekian dan sekian jauhnya”. (Hadits Shahih, Riwayat Muslim) Masih banyak diantara jamaah haji wanita yang berpakaian tapi telanjang, belum sempurna menutup auratnya, masih ada yang terlihat lehernya, terlihat lengannya, menutup aurat dengan pakaian yang ketat sehingga membentuk lekak lekuk tubuhnya, berpakaian dengan bahan yang tipis dan transparan sehingga terlihat kulitnya, pada hakekatnya mereka masih telanjang dan diancam tidak masuk surga. Hendaklah jamaah haji wanita menjadi sadar setelah menangis dan memohon ampun kepada Allah pada saat wuquf di Arafah, apakah kita ulangi kembali dosa-dosa kita? Hendaklah jamaah haji wanita menjadi teladan bagi kaum muslimah di tanah air yang sedang dilanda dekadensi akhlak dan moral, didiklah puteri-puteri kita agar berbusana muslimah, nasehatilah mereka agar tidak keluar rumah dengan menggunakan celana pendek, celana yang sangat ketat dan perutnya terlihat, innaalillahi wa innaa ilaihi rajiuun. Hendaklah jamaah haji wanita berdandan dan bersolek mempercantik diri, tetapi untuk siapa? Bukan untuk orang-orang diluar rumah tapi untuk suami di rumah, kenyataan yang ada banyak dari kaum muslimah berdandan ketika keluar rumah padahal dilarang oleh Allah yang kita cintai, Allah berfirman: “Dan hendaklah kamu (isteri-isteri nabi) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu”. (Surat Al-Ahzab: 33) Ayat ini berlaku juga untuk segenap kaum muslimah dan mukminah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa seorang wanita yang pergi keluar rumah dengan menggunakan parfum sehingga tercium oleh laki-laki lain, maka sesungguhnya ia itu pelacur. Setiap hari kita berdoa memohon hidayah kepada Allah, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mempelajari jalan-jalan hidayah berupa ilmu yang bermanfaat karena masih banyak diantara jalan-jalan hidayah yang belum kita ketahui dibandingkan yang sudah kita ketahui. Jangan kita menganggap ini adalah hal yang baru kita dengar, kami sudah terbiasa dengan adat kami dan dalih-dalih lainnya yang tidak bisa diterima oleh syariat. Allah berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: lkutilah apa yang telah diturunkan Allah mereka menjawab: Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Surat Al-Baqarah: 170) Dan firmanNya: “Dan tidaklah boleh bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (Surat Al-Ahzab: 36) Hendaklah kita semua memperbaiki diri dalam hal tanggung jawab kita memperbaiki masyarakat. Bentengi aqidah umat dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dengan saling nasehat menasehati untuk menepati kebenaran dan nasehat menasehati untuk menetapi kesabaran, dengan saling bekerjasama dalam hal kebaikan dan taqwa. Tidak sedikit umat Islam di Indonesia murtad dari agamanya disebabkan kelengahan dan kelalaian kita. Benar sebab mereka murtad adalah karena lemah iman ditambah lagi dengan lemah ekonomi, tapi apakah boleh kita diam dan berpangku tangan? Tidak, kita harus berbuat sesuai dengan kemampuan kita. Apabila kita tidak bisa mendidik mereka karena keterbatasan ilmu kita, ajaklah mereka untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, bagikan buletin dan buku-buku Islam, pinjamkan kaset-kaset ceramah yang bermanfaat. Jika mereka malas bekerja berilah motivasi, jika mereka nganggur carikanlah pekerjaan untuk mereka, jika puteri-puteri kita sudah dewasa carikanlah untuk mereka suami yang baik keislamannya jangan kita biarkan mereka menikah dengan laki-laki kafir. Apabila anda sebagai pejabat janganlah anda menghalangi dan mempersulit orang-orang yang ikhlas mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan tidak berbuat syirik, untuk mengikuti sunnah Nabi dan tidak berbuat bid’ah. Bagi orang tua yang mempunyai anak puteri memakai jilbab atau cadar dukunglah mereka dan banggalah terhadap anak anda yang taat kepada Allah, semoga Allah menghiasi puteri anda dengan akhlak yang baik pula. Bagi jamaah haji yang memiliki kelebihan harta dapat beramal jariyah dengan membelikan kitab-kitab yang bermanfaat untuk ustadz-ustadz yang ada di tanah air. Dan masih banyak amal-amal lainnya yang dapat kita lakukan dalam upaya kita memperbaiki diri dan masyarakat.

Hukum Safar pada Hari Jum’at

Pada hari Jum’at bolehkah melakukan safar? Ataukah ada larangan khusus kala itu baik di pagi hari atau di siang harinya? Dalam kitab Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim telah menyinggung hal ini. Beliau berbicara saat menjelaskan keistimewaan hari Jum’at sebagai berikut. Tidak boleh bersafar pada hari Jum’at yaitu bagi yang telah terkena kewajiban Jum’at yaitu sebelum shalat Jum’at dilaksanakan setelah masuk waktunya. Adapun bersafar sebelum shalat Jum’at, ada tiga pendapat di kalangan ulama. Ada beberapa pendapat juga dari Imam Ahmad dalam masalah ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa tidak boleh. Pendapat kedua mengatakan boleh. Pendapat ketiga mengatakan hanya boleh untuk jihad. Dalam madzhab Syafi’i, diharamkan memulai safar pada hari Jum’at setelah waktu zawal (saat matahari tergelincir ke arah barat, karena saat itu sudah masuk waktu shalat Jum’at, -pen). Adapun untuk safar ketaatan yang dilakukan saat itu, salah satu pendapat Syafi’iyah menyatakan haram seperti pendapat Imam Nawawi. Sedangkan pendapat kedua dari Ar Rofi’i mengatakan bolehnya. Adapun safar yang dilakukan sebelum waktu zawal, ada dua pendapat dari Imam Syafi’i. Pendapat beliau yang qodim (yang lama ketika di Irak, -pen) membolehkan safar saat itu. Sedangkan pendapat beliau yang jadid (yang baru ketika di Mesir, -pen) tidak membolehkan hal tersebut sebagaimana larangan safar setelah zawal (setelah masuk waktu Jum’atan, -pen). Sedangkan ulama Malikiiyah berpendapat bahwa tidak boleh seorang pun bersafar pada hari Jum’at setelah zawal sampai ia melaksanakan shalat Jum’at. Namun tidak masalah jika ia bersafar sebelum zawal. Namun pendapat yang terpilih adalah sebaiknya tidak bersafar bagi seorang mukim pada hari Jum’at hingga ia menunaikan shalat Jum’at. Adapun Imam Abu Hanifah berpendapat masih bolehnya safar pada hari Jum’at secara mutlak. Lihat Zaadul Ma’ad, 1: 370-371. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukum bersafar pada hari Jum’at? Apa hukumnya menerbangkan pesawat langsung setelah adzan Jum’at?” Jawab beliau rahimahullah, “Jika diseru untuk shalat yaitu shalat Jum’at, maka diharamkan untuk bersafar bagi yang wajib Jum’at. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. ” (QS. Al Jumu’ah: 9). Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersegera shalat Jum’at dan meninggalkan jual beli. Begitu pula safar pada hari Jum’at termasuk di dalamnya. Karena safar menghalangi untuk menghadiri shalat Jum’at sebagaimana jual beli pun demikian. Akan tetapi jika ia khawatir ketinggalan rombongan dan tidak bisa menggapai tujuannya, maka ia bersafar saat itu dalam keadaan darurat. Adapun safar sebelum adzan Jum’at, maka asalnya boleh. Sebagian ulama memakruhkannya karena khawatir luput dari keutamaan hari Jum’at. Adapun waktu pesawat take off setelah adzan secara langsung, jika bisa ditunda, maka lebih baik ditunda. Namun jika pesawat tersebut tidak bisa ditunda perjalanannya, maka ketika itu termasuk udzur dan bisa terbang saat itu. Diambil fatwa di atas dari Majmu’ Fatawa wa Rasail karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin jilid ke-16, dalam Kitab Shalat Jum’at. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, tahun 1425 H. http://ar.islamway.net/fatwa/9416 — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Muharram 1435 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. TagsSafar shalat jumat

Hukum Safar pada Hari Jum’at

Pada hari Jum’at bolehkah melakukan safar? Ataukah ada larangan khusus kala itu baik di pagi hari atau di siang harinya? Dalam kitab Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim telah menyinggung hal ini. Beliau berbicara saat menjelaskan keistimewaan hari Jum’at sebagai berikut. Tidak boleh bersafar pada hari Jum’at yaitu bagi yang telah terkena kewajiban Jum’at yaitu sebelum shalat Jum’at dilaksanakan setelah masuk waktunya. Adapun bersafar sebelum shalat Jum’at, ada tiga pendapat di kalangan ulama. Ada beberapa pendapat juga dari Imam Ahmad dalam masalah ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa tidak boleh. Pendapat kedua mengatakan boleh. Pendapat ketiga mengatakan hanya boleh untuk jihad. Dalam madzhab Syafi’i, diharamkan memulai safar pada hari Jum’at setelah waktu zawal (saat matahari tergelincir ke arah barat, karena saat itu sudah masuk waktu shalat Jum’at, -pen). Adapun untuk safar ketaatan yang dilakukan saat itu, salah satu pendapat Syafi’iyah menyatakan haram seperti pendapat Imam Nawawi. Sedangkan pendapat kedua dari Ar Rofi’i mengatakan bolehnya. Adapun safar yang dilakukan sebelum waktu zawal, ada dua pendapat dari Imam Syafi’i. Pendapat beliau yang qodim (yang lama ketika di Irak, -pen) membolehkan safar saat itu. Sedangkan pendapat beliau yang jadid (yang baru ketika di Mesir, -pen) tidak membolehkan hal tersebut sebagaimana larangan safar setelah zawal (setelah masuk waktu Jum’atan, -pen). Sedangkan ulama Malikiiyah berpendapat bahwa tidak boleh seorang pun bersafar pada hari Jum’at setelah zawal sampai ia melaksanakan shalat Jum’at. Namun tidak masalah jika ia bersafar sebelum zawal. Namun pendapat yang terpilih adalah sebaiknya tidak bersafar bagi seorang mukim pada hari Jum’at hingga ia menunaikan shalat Jum’at. Adapun Imam Abu Hanifah berpendapat masih bolehnya safar pada hari Jum’at secara mutlak. Lihat Zaadul Ma’ad, 1: 370-371. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukum bersafar pada hari Jum’at? Apa hukumnya menerbangkan pesawat langsung setelah adzan Jum’at?” Jawab beliau rahimahullah, “Jika diseru untuk shalat yaitu shalat Jum’at, maka diharamkan untuk bersafar bagi yang wajib Jum’at. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. ” (QS. Al Jumu’ah: 9). Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersegera shalat Jum’at dan meninggalkan jual beli. Begitu pula safar pada hari Jum’at termasuk di dalamnya. Karena safar menghalangi untuk menghadiri shalat Jum’at sebagaimana jual beli pun demikian. Akan tetapi jika ia khawatir ketinggalan rombongan dan tidak bisa menggapai tujuannya, maka ia bersafar saat itu dalam keadaan darurat. Adapun safar sebelum adzan Jum’at, maka asalnya boleh. Sebagian ulama memakruhkannya karena khawatir luput dari keutamaan hari Jum’at. Adapun waktu pesawat take off setelah adzan secara langsung, jika bisa ditunda, maka lebih baik ditunda. Namun jika pesawat tersebut tidak bisa ditunda perjalanannya, maka ketika itu termasuk udzur dan bisa terbang saat itu. Diambil fatwa di atas dari Majmu’ Fatawa wa Rasail karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin jilid ke-16, dalam Kitab Shalat Jum’at. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, tahun 1425 H. http://ar.islamway.net/fatwa/9416 — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Muharram 1435 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. TagsSafar shalat jumat
Pada hari Jum’at bolehkah melakukan safar? Ataukah ada larangan khusus kala itu baik di pagi hari atau di siang harinya? Dalam kitab Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim telah menyinggung hal ini. Beliau berbicara saat menjelaskan keistimewaan hari Jum’at sebagai berikut. Tidak boleh bersafar pada hari Jum’at yaitu bagi yang telah terkena kewajiban Jum’at yaitu sebelum shalat Jum’at dilaksanakan setelah masuk waktunya. Adapun bersafar sebelum shalat Jum’at, ada tiga pendapat di kalangan ulama. Ada beberapa pendapat juga dari Imam Ahmad dalam masalah ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa tidak boleh. Pendapat kedua mengatakan boleh. Pendapat ketiga mengatakan hanya boleh untuk jihad. Dalam madzhab Syafi’i, diharamkan memulai safar pada hari Jum’at setelah waktu zawal (saat matahari tergelincir ke arah barat, karena saat itu sudah masuk waktu shalat Jum’at, -pen). Adapun untuk safar ketaatan yang dilakukan saat itu, salah satu pendapat Syafi’iyah menyatakan haram seperti pendapat Imam Nawawi. Sedangkan pendapat kedua dari Ar Rofi’i mengatakan bolehnya. Adapun safar yang dilakukan sebelum waktu zawal, ada dua pendapat dari Imam Syafi’i. Pendapat beliau yang qodim (yang lama ketika di Irak, -pen) membolehkan safar saat itu. Sedangkan pendapat beliau yang jadid (yang baru ketika di Mesir, -pen) tidak membolehkan hal tersebut sebagaimana larangan safar setelah zawal (setelah masuk waktu Jum’atan, -pen). Sedangkan ulama Malikiiyah berpendapat bahwa tidak boleh seorang pun bersafar pada hari Jum’at setelah zawal sampai ia melaksanakan shalat Jum’at. Namun tidak masalah jika ia bersafar sebelum zawal. Namun pendapat yang terpilih adalah sebaiknya tidak bersafar bagi seorang mukim pada hari Jum’at hingga ia menunaikan shalat Jum’at. Adapun Imam Abu Hanifah berpendapat masih bolehnya safar pada hari Jum’at secara mutlak. Lihat Zaadul Ma’ad, 1: 370-371. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukum bersafar pada hari Jum’at? Apa hukumnya menerbangkan pesawat langsung setelah adzan Jum’at?” Jawab beliau rahimahullah, “Jika diseru untuk shalat yaitu shalat Jum’at, maka diharamkan untuk bersafar bagi yang wajib Jum’at. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. ” (QS. Al Jumu’ah: 9). Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersegera shalat Jum’at dan meninggalkan jual beli. Begitu pula safar pada hari Jum’at termasuk di dalamnya. Karena safar menghalangi untuk menghadiri shalat Jum’at sebagaimana jual beli pun demikian. Akan tetapi jika ia khawatir ketinggalan rombongan dan tidak bisa menggapai tujuannya, maka ia bersafar saat itu dalam keadaan darurat. Adapun safar sebelum adzan Jum’at, maka asalnya boleh. Sebagian ulama memakruhkannya karena khawatir luput dari keutamaan hari Jum’at. Adapun waktu pesawat take off setelah adzan secara langsung, jika bisa ditunda, maka lebih baik ditunda. Namun jika pesawat tersebut tidak bisa ditunda perjalanannya, maka ketika itu termasuk udzur dan bisa terbang saat itu. Diambil fatwa di atas dari Majmu’ Fatawa wa Rasail karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin jilid ke-16, dalam Kitab Shalat Jum’at. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, tahun 1425 H. http://ar.islamway.net/fatwa/9416 — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Muharram 1435 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. TagsSafar shalat jumat


Pada hari Jum’at bolehkah melakukan safar? Ataukah ada larangan khusus kala itu baik di pagi hari atau di siang harinya? Dalam kitab Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim telah menyinggung hal ini. Beliau berbicara saat menjelaskan keistimewaan hari Jum’at sebagai berikut. Tidak boleh bersafar pada hari Jum’at yaitu bagi yang telah terkena kewajiban Jum’at yaitu sebelum shalat Jum’at dilaksanakan setelah masuk waktunya. Adapun bersafar sebelum shalat Jum’at, ada tiga pendapat di kalangan ulama. Ada beberapa pendapat juga dari Imam Ahmad dalam masalah ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa tidak boleh. Pendapat kedua mengatakan boleh. Pendapat ketiga mengatakan hanya boleh untuk jihad. Dalam madzhab Syafi’i, diharamkan memulai safar pada hari Jum’at setelah waktu zawal (saat matahari tergelincir ke arah barat, karena saat itu sudah masuk waktu shalat Jum’at, -pen). Adapun untuk safar ketaatan yang dilakukan saat itu, salah satu pendapat Syafi’iyah menyatakan haram seperti pendapat Imam Nawawi. Sedangkan pendapat kedua dari Ar Rofi’i mengatakan bolehnya. Adapun safar yang dilakukan sebelum waktu zawal, ada dua pendapat dari Imam Syafi’i. Pendapat beliau yang qodim (yang lama ketika di Irak, -pen) membolehkan safar saat itu. Sedangkan pendapat beliau yang jadid (yang baru ketika di Mesir, -pen) tidak membolehkan hal tersebut sebagaimana larangan safar setelah zawal (setelah masuk waktu Jum’atan, -pen). Sedangkan ulama Malikiiyah berpendapat bahwa tidak boleh seorang pun bersafar pada hari Jum’at setelah zawal sampai ia melaksanakan shalat Jum’at. Namun tidak masalah jika ia bersafar sebelum zawal. Namun pendapat yang terpilih adalah sebaiknya tidak bersafar bagi seorang mukim pada hari Jum’at hingga ia menunaikan shalat Jum’at. Adapun Imam Abu Hanifah berpendapat masih bolehnya safar pada hari Jum’at secara mutlak. Lihat Zaadul Ma’ad, 1: 370-371. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukum bersafar pada hari Jum’at? Apa hukumnya menerbangkan pesawat langsung setelah adzan Jum’at?” Jawab beliau rahimahullah, “Jika diseru untuk shalat yaitu shalat Jum’at, maka diharamkan untuk bersafar bagi yang wajib Jum’at. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. ” (QS. Al Jumu’ah: 9). Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersegera shalat Jum’at dan meninggalkan jual beli. Begitu pula safar pada hari Jum’at termasuk di dalamnya. Karena safar menghalangi untuk menghadiri shalat Jum’at sebagaimana jual beli pun demikian. Akan tetapi jika ia khawatir ketinggalan rombongan dan tidak bisa menggapai tujuannya, maka ia bersafar saat itu dalam keadaan darurat. Adapun safar sebelum adzan Jum’at, maka asalnya boleh. Sebagian ulama memakruhkannya karena khawatir luput dari keutamaan hari Jum’at. Adapun waktu pesawat take off setelah adzan secara langsung, jika bisa ditunda, maka lebih baik ditunda. Namun jika pesawat tersebut tidak bisa ditunda perjalanannya, maka ketika itu termasuk udzur dan bisa terbang saat itu. Diambil fatwa di atas dari Majmu’ Fatawa wa Rasail karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin jilid ke-16, dalam Kitab Shalat Jum’at. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, tahun 1425 H. http://ar.islamway.net/fatwa/9416 — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Muharram 1435 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. TagsSafar shalat jumat

Syi’ah Menyakiti Nabi dan Ahlul Bait

Ternyata Syi’ah pun menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul bait. Tidak percaya? Perhatikan perkataan mereka dalam kitab mereka sendiri. Syi’ah berkata, “‘Ali bin Abi Tholib lebih pemberani dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Nabi sendiri tidak diberikan keberanian sama sekali.” Lihat: Kitab Al Anwar An Nu’maniyyah karya Ni’matullah Al Jazairi, 1: 17. Syi’ah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki anak perempuan selain Fatimah. Adapun Ruqoyyah, Ummu Kultsum, Zainab hanyalah anak tiri.” Lihat: Dairotul Ma’arif Al Islamiyah Asy Syi’iyah, 1: 27. Syi’ah berkata, “Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma, ia merendahkan orang mukmin karena ia mau saja berbai’at kepada Mu’awiyah.” Lihat: Rijalul Al Kissyi karya Al Kissyi, hal. 103. Di antara ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikafirkan adalah Al ‘Abbas. Mengenai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib ini sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurunkan dua ayat padanya. Ayat pertama, وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). ” (QS. Al Isra’: 72). Dan juga firman Allah, وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ “Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu” (QS. Hud: 34). Kedua ayat ini kata Syi’ah diturunkan pada paman Nabi, Al ‘Abbas. Inilah yang disebutkan oleh Muhammad bin Al Hasan Ath Thusiy dalam dalam kitab beliau yang ma’ruf Rijalul Kissyi, hal. 127. Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesesatan Syi’ah. Hanya Allah yang memberi taufik.    Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 16-17. Asy Syi’ah Al Itsna Asyariyah wa Takfiruhum li ‘Umumil Muslimin, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 74. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Muharram 1435 H Tagssyi'ah

Syi’ah Menyakiti Nabi dan Ahlul Bait

Ternyata Syi’ah pun menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul bait. Tidak percaya? Perhatikan perkataan mereka dalam kitab mereka sendiri. Syi’ah berkata, “‘Ali bin Abi Tholib lebih pemberani dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Nabi sendiri tidak diberikan keberanian sama sekali.” Lihat: Kitab Al Anwar An Nu’maniyyah karya Ni’matullah Al Jazairi, 1: 17. Syi’ah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki anak perempuan selain Fatimah. Adapun Ruqoyyah, Ummu Kultsum, Zainab hanyalah anak tiri.” Lihat: Dairotul Ma’arif Al Islamiyah Asy Syi’iyah, 1: 27. Syi’ah berkata, “Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma, ia merendahkan orang mukmin karena ia mau saja berbai’at kepada Mu’awiyah.” Lihat: Rijalul Al Kissyi karya Al Kissyi, hal. 103. Di antara ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikafirkan adalah Al ‘Abbas. Mengenai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib ini sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurunkan dua ayat padanya. Ayat pertama, وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). ” (QS. Al Isra’: 72). Dan juga firman Allah, وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ “Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu” (QS. Hud: 34). Kedua ayat ini kata Syi’ah diturunkan pada paman Nabi, Al ‘Abbas. Inilah yang disebutkan oleh Muhammad bin Al Hasan Ath Thusiy dalam dalam kitab beliau yang ma’ruf Rijalul Kissyi, hal. 127. Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesesatan Syi’ah. Hanya Allah yang memberi taufik.    Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 16-17. Asy Syi’ah Al Itsna Asyariyah wa Takfiruhum li ‘Umumil Muslimin, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 74. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Muharram 1435 H Tagssyi'ah
Ternyata Syi’ah pun menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul bait. Tidak percaya? Perhatikan perkataan mereka dalam kitab mereka sendiri. Syi’ah berkata, “‘Ali bin Abi Tholib lebih pemberani dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Nabi sendiri tidak diberikan keberanian sama sekali.” Lihat: Kitab Al Anwar An Nu’maniyyah karya Ni’matullah Al Jazairi, 1: 17. Syi’ah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki anak perempuan selain Fatimah. Adapun Ruqoyyah, Ummu Kultsum, Zainab hanyalah anak tiri.” Lihat: Dairotul Ma’arif Al Islamiyah Asy Syi’iyah, 1: 27. Syi’ah berkata, “Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma, ia merendahkan orang mukmin karena ia mau saja berbai’at kepada Mu’awiyah.” Lihat: Rijalul Al Kissyi karya Al Kissyi, hal. 103. Di antara ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikafirkan adalah Al ‘Abbas. Mengenai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib ini sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurunkan dua ayat padanya. Ayat pertama, وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). ” (QS. Al Isra’: 72). Dan juga firman Allah, وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ “Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu” (QS. Hud: 34). Kedua ayat ini kata Syi’ah diturunkan pada paman Nabi, Al ‘Abbas. Inilah yang disebutkan oleh Muhammad bin Al Hasan Ath Thusiy dalam dalam kitab beliau yang ma’ruf Rijalul Kissyi, hal. 127. Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesesatan Syi’ah. Hanya Allah yang memberi taufik.    Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 16-17. Asy Syi’ah Al Itsna Asyariyah wa Takfiruhum li ‘Umumil Muslimin, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 74. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Muharram 1435 H Tagssyi'ah


Ternyata Syi’ah pun menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul bait. Tidak percaya? Perhatikan perkataan mereka dalam kitab mereka sendiri. Syi’ah berkata, “‘Ali bin Abi Tholib lebih pemberani dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Nabi sendiri tidak diberikan keberanian sama sekali.” Lihat: Kitab Al Anwar An Nu’maniyyah karya Ni’matullah Al Jazairi, 1: 17. Syi’ah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki anak perempuan selain Fatimah. Adapun Ruqoyyah, Ummu Kultsum, Zainab hanyalah anak tiri.” Lihat: Dairotul Ma’arif Al Islamiyah Asy Syi’iyah, 1: 27. Syi’ah berkata, “Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma, ia merendahkan orang mukmin karena ia mau saja berbai’at kepada Mu’awiyah.” Lihat: Rijalul Al Kissyi karya Al Kissyi, hal. 103. Di antara ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikafirkan adalah Al ‘Abbas. Mengenai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib ini sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurunkan dua ayat padanya. Ayat pertama, وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). ” (QS. Al Isra’: 72). Dan juga firman Allah, وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ “Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu” (QS. Hud: 34). Kedua ayat ini kata Syi’ah diturunkan pada paman Nabi, Al ‘Abbas. Inilah yang disebutkan oleh Muhammad bin Al Hasan Ath Thusiy dalam dalam kitab beliau yang ma’ruf Rijalul Kissyi, hal. 127. Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesesatan Syi’ah. Hanya Allah yang memberi taufik.    Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 16-17. Asy Syi’ah Al Itsna Asyariyah wa Takfiruhum li ‘Umumil Muslimin, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 74. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Muharram 1435 H Tagssyi'ah

Bantahan untuk Orang Musyrik (7): Sebab Orang Musyrik Diperangi

Kenapa sampai orang musyrik diperangi? Apa karena mereka menyembah berhala? Atau karena mereka menyekutukan Allah dalam ibadah yang ini disebut syirik? Syirik ini yang masih terus laris manis hingga saat ini, semacam kita lihat dari berbagai tradisi ruwatan, bersih desa yang ada di beberapa daerah. Jika diletelusuri, tradisi syirik yang masih dipertahankan semacam ini yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang musyrik. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah kembali melanjutkan perkataan beliau sebelumnya, “Kemudian di antara mereka ada yang menyembah malaikat karena keshalihan dan kedekatan malaikat dengan Allah. Mereka melakukan demikian supaya malaikat memberi syafa’at pada mereka. Selain itu yang disembah juga adalah orang shalih seperti Laatta atau seorang Nabi semisal ‘Isa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka karena kesyirikan tersebut. Beliau mendakwahi mereka untuk memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja, Allah tidak dipersekutukan dengan yang lainnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin: 18). لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka” (QS. Ar Ro’du: 14). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka agar supaya menjadikan seluruh ibadah hanya untuk Allah, semua do’a hanya ditujukan pada-Nya, seluruh sembelihan disajikan untuk Allah, begitu pula ibadah nazar hanyalah untuk-Nya, juga istighotsah yaitu meminta diangkat musibah ditujukan pada Allah, serta ibadah lainnya ditujukan pada Allah. Engkau tahu bahwa mengakui tauhid rububiyah (mengakui Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta) semata tidaklah memasukkan seseorang dalam Islam. Ketahui pula bahwa jika maksud dalam ibadah adalah malaikat, para nabi, para wali lalu dimintailah syafa’at dan maksud ibadah pada mereka supaya mendekatkan diri pada Allah, itulah sebenarnya sebab darah dan harta mereka jadi halal. Ketahui pula bahwa tauhid inilah yang dibawa oleh para Rasul dan inilah yang ditentang orang-orang musyrik.” Demikian yang dikatakan selanjutnya oleh Syaikh Muhammad dalam kitab beliau Kasyfu Syubuhaat. Sesembahan Orang Musyrik Kembali pada Dua Alasan Jika kita melihat dari apa yang dijelaskan oleh Syaikh rahimahullah di atas, malaikat itu disembah karena dua alasan: (1) ia adalah ruh yang suci, shalih dan tidak berbuat maksiat, (2) kedekatan malaikat dengan Allah. Di setiap waktu, orang-orang musyrik menyembah sesembahan mereka dengan alasan yang sama seperti di atas yaitu karena ruhnya yang suci dan kedekatannya dengan Allah. Inilah hakekat syirik dari masa ke masa yaitu kembali kepada dua hal tersebut pada yang disembah. Lalu apa tujuannya meminta kepada malaikat dan ruh yang shalih serta dekat pada Allah tersebut? Kita dapat ambil pelajaran bahwa meminta pada malaikat dan lainnya bukanlah karena mereka bisa memberi apa yang diminta secara langsung. Namun meminta pada mereka karena mereka dapat memberikan syafa’at di sisi Allah dan karena mereka begitu dekat pada Allah sehingga permintaan mereka tidak mungkin ditolak.  Inilah yang nyata terjadi pada orang-orang musyrik di masa silam sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Jadi bukanlah yang dimaksud adalah orang musyrik di masa silam disebut berbuat syirik karena mereka meminta pada selain Allah secara langsung. Itu bukanlah syarat. Namun tujuan orang musyrik dalam beribadah pada selain Allah adalah untuk mendekatkan diri mereka pada Allah. Itulah yang nyata terjadi saat ini pada pengagum ritual atau tradisi syirik sebagaimana yang kami maksudkan di awal tulisan ini. Jadi kesyirikan yang terjadi pada sesembahan yang beragam mulai dari orang shalih yang telah mati, para nabi, Husain, Zainab, Badawi, ‘Abdul Qodir Al Jailani, semuanya disembah karena alasan keshalihan dan kedekatan diri mereka pada Allah. Rasul Memerangi Orang Musyrik Kenapa Rasul sampai memerangi orang Quraisy? Jawabnya, karena mereka telah berbuat syirik. Karena mereka telah beribadah kepada selain Allah dengan menjadikan mereka sebagai perantara atau bertawassul pada mereka. Jadi bukanlah mereka meminta kepada orang shalih dan selain Allah secara langsung. Lihatlah kesyirikan yang terjadi di masa silam seperti yang disebutkan dalam ayat, مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Inilah sebab mengapa sampai Rasul memerangi mereka. Ini berarti kita diperintahkan untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Sedangkan kesyirikan itu sudah teramat jelas yaitu memalingkan salah satu ibadah pada selain Allah. Siapa saja yang berbuat syirik, maka terhapuslah amalnya walaupun ia makhluk yang paling mulia. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66) “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az Zumar: 65-66). Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Kitab Kasyfu Syubuhat, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, naskah bersanad dari guru kami Syaikh Sholih bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi, dalam Muqorrorot Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi, cetakan ketiga, 1434 H. Syarh Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, terbitan Maktabah Darul Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Warung Nasi Goreng saat dinner, 3 Muharram 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagskasyfu syubuhaat

Bantahan untuk Orang Musyrik (7): Sebab Orang Musyrik Diperangi

Kenapa sampai orang musyrik diperangi? Apa karena mereka menyembah berhala? Atau karena mereka menyekutukan Allah dalam ibadah yang ini disebut syirik? Syirik ini yang masih terus laris manis hingga saat ini, semacam kita lihat dari berbagai tradisi ruwatan, bersih desa yang ada di beberapa daerah. Jika diletelusuri, tradisi syirik yang masih dipertahankan semacam ini yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang musyrik. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah kembali melanjutkan perkataan beliau sebelumnya, “Kemudian di antara mereka ada yang menyembah malaikat karena keshalihan dan kedekatan malaikat dengan Allah. Mereka melakukan demikian supaya malaikat memberi syafa’at pada mereka. Selain itu yang disembah juga adalah orang shalih seperti Laatta atau seorang Nabi semisal ‘Isa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka karena kesyirikan tersebut. Beliau mendakwahi mereka untuk memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja, Allah tidak dipersekutukan dengan yang lainnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin: 18). لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka” (QS. Ar Ro’du: 14). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka agar supaya menjadikan seluruh ibadah hanya untuk Allah, semua do’a hanya ditujukan pada-Nya, seluruh sembelihan disajikan untuk Allah, begitu pula ibadah nazar hanyalah untuk-Nya, juga istighotsah yaitu meminta diangkat musibah ditujukan pada Allah, serta ibadah lainnya ditujukan pada Allah. Engkau tahu bahwa mengakui tauhid rububiyah (mengakui Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta) semata tidaklah memasukkan seseorang dalam Islam. Ketahui pula bahwa jika maksud dalam ibadah adalah malaikat, para nabi, para wali lalu dimintailah syafa’at dan maksud ibadah pada mereka supaya mendekatkan diri pada Allah, itulah sebenarnya sebab darah dan harta mereka jadi halal. Ketahui pula bahwa tauhid inilah yang dibawa oleh para Rasul dan inilah yang ditentang orang-orang musyrik.” Demikian yang dikatakan selanjutnya oleh Syaikh Muhammad dalam kitab beliau Kasyfu Syubuhaat. Sesembahan Orang Musyrik Kembali pada Dua Alasan Jika kita melihat dari apa yang dijelaskan oleh Syaikh rahimahullah di atas, malaikat itu disembah karena dua alasan: (1) ia adalah ruh yang suci, shalih dan tidak berbuat maksiat, (2) kedekatan malaikat dengan Allah. Di setiap waktu, orang-orang musyrik menyembah sesembahan mereka dengan alasan yang sama seperti di atas yaitu karena ruhnya yang suci dan kedekatannya dengan Allah. Inilah hakekat syirik dari masa ke masa yaitu kembali kepada dua hal tersebut pada yang disembah. Lalu apa tujuannya meminta kepada malaikat dan ruh yang shalih serta dekat pada Allah tersebut? Kita dapat ambil pelajaran bahwa meminta pada malaikat dan lainnya bukanlah karena mereka bisa memberi apa yang diminta secara langsung. Namun meminta pada mereka karena mereka dapat memberikan syafa’at di sisi Allah dan karena mereka begitu dekat pada Allah sehingga permintaan mereka tidak mungkin ditolak.  Inilah yang nyata terjadi pada orang-orang musyrik di masa silam sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Jadi bukanlah yang dimaksud adalah orang musyrik di masa silam disebut berbuat syirik karena mereka meminta pada selain Allah secara langsung. Itu bukanlah syarat. Namun tujuan orang musyrik dalam beribadah pada selain Allah adalah untuk mendekatkan diri mereka pada Allah. Itulah yang nyata terjadi saat ini pada pengagum ritual atau tradisi syirik sebagaimana yang kami maksudkan di awal tulisan ini. Jadi kesyirikan yang terjadi pada sesembahan yang beragam mulai dari orang shalih yang telah mati, para nabi, Husain, Zainab, Badawi, ‘Abdul Qodir Al Jailani, semuanya disembah karena alasan keshalihan dan kedekatan diri mereka pada Allah. Rasul Memerangi Orang Musyrik Kenapa Rasul sampai memerangi orang Quraisy? Jawabnya, karena mereka telah berbuat syirik. Karena mereka telah beribadah kepada selain Allah dengan menjadikan mereka sebagai perantara atau bertawassul pada mereka. Jadi bukanlah mereka meminta kepada orang shalih dan selain Allah secara langsung. Lihatlah kesyirikan yang terjadi di masa silam seperti yang disebutkan dalam ayat, مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Inilah sebab mengapa sampai Rasul memerangi mereka. Ini berarti kita diperintahkan untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Sedangkan kesyirikan itu sudah teramat jelas yaitu memalingkan salah satu ibadah pada selain Allah. Siapa saja yang berbuat syirik, maka terhapuslah amalnya walaupun ia makhluk yang paling mulia. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66) “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az Zumar: 65-66). Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Kitab Kasyfu Syubuhat, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, naskah bersanad dari guru kami Syaikh Sholih bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi, dalam Muqorrorot Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi, cetakan ketiga, 1434 H. Syarh Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, terbitan Maktabah Darul Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Warung Nasi Goreng saat dinner, 3 Muharram 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagskasyfu syubuhaat
Kenapa sampai orang musyrik diperangi? Apa karena mereka menyembah berhala? Atau karena mereka menyekutukan Allah dalam ibadah yang ini disebut syirik? Syirik ini yang masih terus laris manis hingga saat ini, semacam kita lihat dari berbagai tradisi ruwatan, bersih desa yang ada di beberapa daerah. Jika diletelusuri, tradisi syirik yang masih dipertahankan semacam ini yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang musyrik. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah kembali melanjutkan perkataan beliau sebelumnya, “Kemudian di antara mereka ada yang menyembah malaikat karena keshalihan dan kedekatan malaikat dengan Allah. Mereka melakukan demikian supaya malaikat memberi syafa’at pada mereka. Selain itu yang disembah juga adalah orang shalih seperti Laatta atau seorang Nabi semisal ‘Isa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka karena kesyirikan tersebut. Beliau mendakwahi mereka untuk memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja, Allah tidak dipersekutukan dengan yang lainnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin: 18). لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka” (QS. Ar Ro’du: 14). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka agar supaya menjadikan seluruh ibadah hanya untuk Allah, semua do’a hanya ditujukan pada-Nya, seluruh sembelihan disajikan untuk Allah, begitu pula ibadah nazar hanyalah untuk-Nya, juga istighotsah yaitu meminta diangkat musibah ditujukan pada Allah, serta ibadah lainnya ditujukan pada Allah. Engkau tahu bahwa mengakui tauhid rububiyah (mengakui Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta) semata tidaklah memasukkan seseorang dalam Islam. Ketahui pula bahwa jika maksud dalam ibadah adalah malaikat, para nabi, para wali lalu dimintailah syafa’at dan maksud ibadah pada mereka supaya mendekatkan diri pada Allah, itulah sebenarnya sebab darah dan harta mereka jadi halal. Ketahui pula bahwa tauhid inilah yang dibawa oleh para Rasul dan inilah yang ditentang orang-orang musyrik.” Demikian yang dikatakan selanjutnya oleh Syaikh Muhammad dalam kitab beliau Kasyfu Syubuhaat. Sesembahan Orang Musyrik Kembali pada Dua Alasan Jika kita melihat dari apa yang dijelaskan oleh Syaikh rahimahullah di atas, malaikat itu disembah karena dua alasan: (1) ia adalah ruh yang suci, shalih dan tidak berbuat maksiat, (2) kedekatan malaikat dengan Allah. Di setiap waktu, orang-orang musyrik menyembah sesembahan mereka dengan alasan yang sama seperti di atas yaitu karena ruhnya yang suci dan kedekatannya dengan Allah. Inilah hakekat syirik dari masa ke masa yaitu kembali kepada dua hal tersebut pada yang disembah. Lalu apa tujuannya meminta kepada malaikat dan ruh yang shalih serta dekat pada Allah tersebut? Kita dapat ambil pelajaran bahwa meminta pada malaikat dan lainnya bukanlah karena mereka bisa memberi apa yang diminta secara langsung. Namun meminta pada mereka karena mereka dapat memberikan syafa’at di sisi Allah dan karena mereka begitu dekat pada Allah sehingga permintaan mereka tidak mungkin ditolak.  Inilah yang nyata terjadi pada orang-orang musyrik di masa silam sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Jadi bukanlah yang dimaksud adalah orang musyrik di masa silam disebut berbuat syirik karena mereka meminta pada selain Allah secara langsung. Itu bukanlah syarat. Namun tujuan orang musyrik dalam beribadah pada selain Allah adalah untuk mendekatkan diri mereka pada Allah. Itulah yang nyata terjadi saat ini pada pengagum ritual atau tradisi syirik sebagaimana yang kami maksudkan di awal tulisan ini. Jadi kesyirikan yang terjadi pada sesembahan yang beragam mulai dari orang shalih yang telah mati, para nabi, Husain, Zainab, Badawi, ‘Abdul Qodir Al Jailani, semuanya disembah karena alasan keshalihan dan kedekatan diri mereka pada Allah. Rasul Memerangi Orang Musyrik Kenapa Rasul sampai memerangi orang Quraisy? Jawabnya, karena mereka telah berbuat syirik. Karena mereka telah beribadah kepada selain Allah dengan menjadikan mereka sebagai perantara atau bertawassul pada mereka. Jadi bukanlah mereka meminta kepada orang shalih dan selain Allah secara langsung. Lihatlah kesyirikan yang terjadi di masa silam seperti yang disebutkan dalam ayat, مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Inilah sebab mengapa sampai Rasul memerangi mereka. Ini berarti kita diperintahkan untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Sedangkan kesyirikan itu sudah teramat jelas yaitu memalingkan salah satu ibadah pada selain Allah. Siapa saja yang berbuat syirik, maka terhapuslah amalnya walaupun ia makhluk yang paling mulia. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66) “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az Zumar: 65-66). Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Kitab Kasyfu Syubuhat, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, naskah bersanad dari guru kami Syaikh Sholih bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi, dalam Muqorrorot Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi, cetakan ketiga, 1434 H. Syarh Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, terbitan Maktabah Darul Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Warung Nasi Goreng saat dinner, 3 Muharram 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagskasyfu syubuhaat


Kenapa sampai orang musyrik diperangi? Apa karena mereka menyembah berhala? Atau karena mereka menyekutukan Allah dalam ibadah yang ini disebut syirik? Syirik ini yang masih terus laris manis hingga saat ini, semacam kita lihat dari berbagai tradisi ruwatan, bersih desa yang ada di beberapa daerah. Jika diletelusuri, tradisi syirik yang masih dipertahankan semacam ini yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang musyrik. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah kembali melanjutkan perkataan beliau sebelumnya, “Kemudian di antara mereka ada yang menyembah malaikat karena keshalihan dan kedekatan malaikat dengan Allah. Mereka melakukan demikian supaya malaikat memberi syafa’at pada mereka. Selain itu yang disembah juga adalah orang shalih seperti Laatta atau seorang Nabi semisal ‘Isa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka karena kesyirikan tersebut. Beliau mendakwahi mereka untuk memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja, Allah tidak dipersekutukan dengan yang lainnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin: 18). لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka” (QS. Ar Ro’du: 14). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka agar supaya menjadikan seluruh ibadah hanya untuk Allah, semua do’a hanya ditujukan pada-Nya, seluruh sembelihan disajikan untuk Allah, begitu pula ibadah nazar hanyalah untuk-Nya, juga istighotsah yaitu meminta diangkat musibah ditujukan pada Allah, serta ibadah lainnya ditujukan pada Allah. Engkau tahu bahwa mengakui tauhid rububiyah (mengakui Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta) semata tidaklah memasukkan seseorang dalam Islam. Ketahui pula bahwa jika maksud dalam ibadah adalah malaikat, para nabi, para wali lalu dimintailah syafa’at dan maksud ibadah pada mereka supaya mendekatkan diri pada Allah, itulah sebenarnya sebab darah dan harta mereka jadi halal. Ketahui pula bahwa tauhid inilah yang dibawa oleh para Rasul dan inilah yang ditentang orang-orang musyrik.” Demikian yang dikatakan selanjutnya oleh Syaikh Muhammad dalam kitab beliau Kasyfu Syubuhaat. Sesembahan Orang Musyrik Kembali pada Dua Alasan Jika kita melihat dari apa yang dijelaskan oleh Syaikh rahimahullah di atas, malaikat itu disembah karena dua alasan: (1) ia adalah ruh yang suci, shalih dan tidak berbuat maksiat, (2) kedekatan malaikat dengan Allah. Di setiap waktu, orang-orang musyrik menyembah sesembahan mereka dengan alasan yang sama seperti di atas yaitu karena ruhnya yang suci dan kedekatannya dengan Allah. Inilah hakekat syirik dari masa ke masa yaitu kembali kepada dua hal tersebut pada yang disembah. Lalu apa tujuannya meminta kepada malaikat dan ruh yang shalih serta dekat pada Allah tersebut? Kita dapat ambil pelajaran bahwa meminta pada malaikat dan lainnya bukanlah karena mereka bisa memberi apa yang diminta secara langsung. Namun meminta pada mereka karena mereka dapat memberikan syafa’at di sisi Allah dan karena mereka begitu dekat pada Allah sehingga permintaan mereka tidak mungkin ditolak.  Inilah yang nyata terjadi pada orang-orang musyrik di masa silam sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Jadi bukanlah yang dimaksud adalah orang musyrik di masa silam disebut berbuat syirik karena mereka meminta pada selain Allah secara langsung. Itu bukanlah syarat. Namun tujuan orang musyrik dalam beribadah pada selain Allah adalah untuk mendekatkan diri mereka pada Allah. Itulah yang nyata terjadi saat ini pada pengagum ritual atau tradisi syirik sebagaimana yang kami maksudkan di awal tulisan ini. Jadi kesyirikan yang terjadi pada sesembahan yang beragam mulai dari orang shalih yang telah mati, para nabi, Husain, Zainab, Badawi, ‘Abdul Qodir Al Jailani, semuanya disembah karena alasan keshalihan dan kedekatan diri mereka pada Allah. Rasul Memerangi Orang Musyrik Kenapa Rasul sampai memerangi orang Quraisy? Jawabnya, karena mereka telah berbuat syirik. Karena mereka telah beribadah kepada selain Allah dengan menjadikan mereka sebagai perantara atau bertawassul pada mereka. Jadi bukanlah mereka meminta kepada orang shalih dan selain Allah secara langsung. Lihatlah kesyirikan yang terjadi di masa silam seperti yang disebutkan dalam ayat, مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Inilah sebab mengapa sampai Rasul memerangi mereka. Ini berarti kita diperintahkan untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Sedangkan kesyirikan itu sudah teramat jelas yaitu memalingkan salah satu ibadah pada selain Allah. Siapa saja yang berbuat syirik, maka terhapuslah amalnya walaupun ia makhluk yang paling mulia. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66) “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az Zumar: 65-66). Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Kitab Kasyfu Syubuhat, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, naskah bersanad dari guru kami Syaikh Sholih bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi, dalam Muqorrorot Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi, cetakan ketiga, 1434 H. Syarh Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, terbitan Maktabah Darul Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Warung Nasi Goreng saat dinner, 3 Muharram 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagskasyfu syubuhaat

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 10)? – Tanggapan untuk Al-Ustadz bag 2

Kesebelas : Al-Ustadz berkata ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu. Namun, sehari setelah itu, tepatnya pada 4 Oktober 2013, Ustadz Firanda mengeluarkan tulisan baru dengan judul, “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan.” Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya))Kritikan : Ya ustadz, ana rasa tidak perlu antum menilai hati seseorang dengan sikap suudzon. Perkataan antum ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu…)). Apalagi antum berkata “saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini”. Ini murni bentuk suudzon, demi Allah waktu saya mengirim surat meminta antum untuk menerjemahkan surat Sykh Al-Fauzan, saya memang belum membantah dan belum menulis satu hurufpun. Setelah saya mengirim surat kepada antum baru saya membantah antum, dan saya rasa 1 hari sudah cukup bagi saya untuk menyusun bantahan tersebut. Bukankah bisa dilihat dalam web saya, hampir setiap hari saya membuat artikel, bahkan terkadang dalam sehari bisa 2 artikel…., kenapa antum suudzon kepada isi hati ana, apalagi mengkait-kaitkan dengan perkataan antum ((saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini))?? Apalagi antum menuduh ana berbuat makar dengan perkataan antum ((serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya)). Tidak perlulah antum menebak isi hati orang, apalagi dengan sikap suudzon. Baarokallahu fiik Kedua belas : Perkataan al-Ustadz ((Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya))Saya rasa al-Ustadz mungkin berfikir kembali tentang perkataan beliau ((Siapa saja)). Karena saya mendapati banyak yang membaca tulisan saya memberi tanda “like” kepada tulisan saya. Sebagai contoh dalam tulisan saya (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv) yang me “like” berjumlah 7000. Bukan maksud saya banyak merupakan ukuran kebenaran akan tetapi mungkin juga yang me “like” tersebut juga orang-orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya seperti firanda, sehingga mereka me”like”. Tolong nasehati mereka al-Ustadz, agar mereka bisa berakal panjang dan baik pemahaman serta bagus bahasa arabnya seperti antum. Baarokallahu fiik Ketiga belas : al-Ustadz berkata ((, beberapa kali Ustadz Firanda menukil dari situs http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/ yang dikelola oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby dan pengikutnya.Mungkin kebanyakan ulama, yang men-tahdzir situs tersebut, tidak dianggap oleh Ustadz Firanda. Akan  tetapi, guru kami, Syaikh Shalih bin Sa’d As-Suhaimy hafizhahullâh -yang merupakan salah seorang ulama besar Madinah dan masih dianggap sebagai rujukan oleh Ustadz Firanda-, telah men-tahdzir situs tersebut dan menyebutnya sebagai situs-situs masybûhah ‘bersyubhat, tidak jelas’))Kritikan saya dari beberapa sisi :–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi bukanlah termasuk jajaran ulama kibar di Madinah (bukan bermaksud merendahkan beliau, akan tetapi mendudukan seseorang pada kedudukan sesungguhnya). Beliau pernah ditanya siapakah ulama?, maka jawaban beliau : Ulama adalah seperti Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbaad dan Syaikh Ali Nashir Al-Faqihi.–         Diantara tawadhu Syaikh Sholeh As-Suhaimi beliau sering membaca karya-karya Syaikh Abdurrozzaq, bahkan sebagian karya syaikh Abdurrozzaq diajarkan oleh Syaikh Sholeh As-Suhaimi di masjid nabawi–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi dauroh di kebun teh lawang yang diselenggarakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib dari Al-Irsyad Surabaya, yang dianggap hizbi oleh Jama’ah Tahdzir.–         Yang menakjubkan jika Kholid Bawazir (yang dianggap dedengkot sumber dana hizbi oleh Jama’ah Tahdzir) jika datang ke kota Madinah maka para masyayikh semuanya ingin menjamu beliau, baik Syaikh Sholeh As-Suhaimi, Syaikh Abdurrozzaq, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili, dan juga Syaikh Abdus Salam As-Suhaimi. Bahkan saya yang termasuk mengantar beliau ke rumah sebagian masyaikh tersebut. Jadi Kholid Bawazir ini dianggap hizbi oleh Jama’ah tahdzir, tapi dianggap tamu mulia oleh para masyayikh???. Saya rasa lebih enak dihormati oleh masyayikh dari pada dihormati jama’ah tahdzir–         Yang lebih menakjubkan lagi ternyata Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi di Radiorodja…(https://archive.org/details/KajianIslamRadioRodja756Am_32), seharusnya sekarang al-Ustadz Dzulqornain yang selalu bolak-balik ke Madinah memperingatkan para masyayikh tersebut agar tidak ditipu oleh ustadz-ustadz Rodja sebagaimana Syaikh Robi yang menyatakan bahwa Syaikh Abdurrozzaq ditipu oleh pihak Radiorodja.–         Lantas apakah sahab.net salamat dari kritikan ulama??–         Apakah al-ustadz punya standar ganda, hanya memakai perkataan Syaikh Sholeh as-Suhaimi jika diperlukan?? Anehnya juga jama’ah tahdzir mengadakan pengajian dengan judul lihat (http://ahlussunnahslipi.com/kajian-ilmiyyah-jadilah-seorang-salafy-sejati-bersama-al-ustadz-muhammad-umar-as-sewed/), dengan membahas kitab “Kun Salafiyan ‘Alal Jaddah” karya Asy-Syaikh DR. Abdussalam bin Salim As-Suhaimi. Ternyata…sang penulis kitab sendiri Asy-Syaikh DR Abdussalam As-Suhaimi pernah mengisi langsung bukunya tersebut di radiorodja beberapa tahun yang silam??. (silahkan dengar di http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Syaikh%20Dr%20Abdus%20Salam%20bin%20Salim%20A%20Suhaimi/Jadilah%20Salafy%20Sejati)Rupanya Radiorodja sudah berusaha menjadi salafy sejati lebih dahulu dari pada Jama’ah tahdzir yang ketinggalan zaman, dan yang bahas bukan penulis aslinya. Yang penulis buku ngisi di Radiorodja dan dauroh yang diadakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib, akan tetapi al-Ustadz dari Jama’ah tahdzir yang membahas kitab tersebut ternyata menghzibikan dan membid’ahkan radiorodja dan penyelenggara dauroh. Kita ikut siapa ya?, ikut penulis kitab, atau sang ustadz yang mencoba memahami isi kitab tersebut?? Keempat belas : Al-Ustadz berkata ((Ustadz Firanda berkata, “Permasalahan mengenai Ihyaa At-Turoots telah saya bahas dengan panjang lebar, diantara perkataan saya ((…Demikian juga tatkala kita menghadapi permasalahan mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots. Karena inilah yang menjadi permasalahan utama, bukan masalah apakah yayasan Ihyaa At-Turoots ini hizbi atau tidak, karena mayoritas yang ditahdziir dan dikatakan sururi adalah orang-orang yang tidak mengambil dana sama sekali, akan tetapi kena getahnya terseret arus tahdzir gaya MLM, yaitu barang siapa yang tidak mentahdziir si fulan maka dia juga sururi??!!. Jika kita sepakat bahwasanya Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbi maka apakah yang mengambil dana otomatis menjadi sururi?,inilah permasalahannya.!!.”Tuduhan dusta ini sudah pernah Saya jawab sebagai berikut,“Sekali lagi, Saya memberi waktu bagi Ustadz Firanda guna mendatangkan bukti tentang tuduhan yang jauh dari kejujuran dan kebenaran di atas.Telah diketahui dari Saya, bahkan kadang sebagian kawan-kawan Saya sendiri mempermasalahkan sikap Saya, bahwa Saya memandang boleh mengambil dana dari Yayasan Ihyâ` At-Turâts apabila Yayasan Ihyâ` At-Turâts memberi tanpa syarat dan ketentuan.))Kritikan :Al-Ustadz menuduh saya berdusta…, dimana letak dustanya??. Perkatan yang saya yang dinukil oleh Al-Ustadz terdapat di  (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv). Perkataan saya tersebut bahkan saya jelaskan saya menukilnya dari artikel saya yang lain tatkala membantah al-Ustadz Askari ((https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/101-salah-kaprah-tentang-hajr-boikot-terhadap-ahlul-bidah-seri-6-tahdziir-dan-tabdii-berantai-ala-mlm-awas-sururi)).Lantas dimana letak dusta saya??. Sudah menjadi perkara yang maklum dan mutawatir kalau teman-teman antum dari jama’ah tahdzir mentabdi’ karena mengambil dana dari at-Turots, bahkan jika tidak mentahdzir maka akan ikut ditahdziiir….ala MLM. Ini adalah hala yang mutawatir wahai ustadz??. Lantas dimana kebohongan saya??. Saya kasih waktu buat ustadz agar bisa menjelaskan dan mendatangkan bukti !!!.Adapun jika ustadz mentahdzir Iyhaa At-Turoots bukan karena masalah dana, maka itu madzhab al-Ustadz sendiri??, saya sedang membantah madzhab MLM yang dianut oleh jama’ah Tahdzir.Sekarang saya bertanya kepada al-Ustadz, apakah al-Ustadz tidak menganut madzhab tahdzir MLM??. (semoga tidak). Akan tetapi, Kita kembali ke PERMASALAHAN INTI !!!, kenapa al-Ustadz mentahdzir Radiorodja, Ustadz Yazid Jawas dll, bahkan pernah al-Ustadz mengumpulkan tanda tangan sembilan ustadz untuk mentahdzir atau mentabdi’ para ustadz, diantaranya al-Ustadz Yazid !!!. Masihkah al-Ustadz ingat dengan selebaran tanda tangan tersebut??.Lupakah antum wahai al-Ustadz dengan pernyataan yang antum tanda tangani, ((Karena itu kami berlepas diri dari Yazid Jawas, Abu Nida, Aunur Rofiq Ghufron, Ahmas Faiz (majallah As-Sunnah), dan yang semisalnya yang masih jelas pembelaan dan hubungannya dengan yayasan Ihyaa At-Turhats dan yayasan As-Shofwa))Berikut fotokopi peranyataan antum dan kawan-kawan :Jika antum tidak bermadzhab MLM lantas apakah antum tidak pernah mentahdzir ustadz-ustadz diluar jama’ah tahdzir??. (semoga tidak pernah, dan semoga antum bukan bermadzhab MLM). Baarokallahu fiikum.Saya juga meminta al-Ustadz al-Fadil untuk menjawab pernyataan saya ((Al-Ustadz berkata ((Yang menyedihkan, kami melihat sejumlah orang-orang Radio dan TV Rodja sikap fanatisme yang batil dan tercela serta marah terhadap orang-orang yang mentahdzir dan berbicara dengan kebenaran tentang Yayasan Ihyaa At-Turoots Al-Kuwaitiyah. Diantara mereka adalah Penanya al-Akh Firanda, ia telah menulis sebuah buku yang dicetak yang ia dengan semangat dalam buku tersebut membela Yayasan Ihyaa’ At-Turoots Al-Kuwaitiyah))…Lalu sayapun berkata ((Adapun saya marah dengan fanatis yang batil dan tercela jika ada orang yang membantah Ihyaa At-Turoots, maka ini merupakan kedustaan wahai ustadz. Bahkan saya mempersilahkan antum dan para sahabat antum untuk membantah Yayasan Ihyaa At-Turoots dengan sepuas antum. Akan tetapi yang menjadikan saya tidak suka adalah menjadikan pembahasan At-Turots sebagai sarana untuk mentabdi’ para ustadz dan juga menyesatkan Radio Rodja. Karenanya coba al-Ustadz kembali membaca buku saya tersebut, semuanya terfokus pada sikap ahlus sunnah yang benar dalam menghadapi permasalahan khilafiyah diantara para ulama. Karenanya saya sering menyatakan bahwa bantahan yang ditulis oleh ustadz Askari adalah tidak nyambung, karena pembahasan saya bukanlah utamanya tertuju pada sesatnya yayasan Ihyaa At-Turoorts, akan tetapi apakah bermu’amalah dengan yayasan tersebut menjadikan seseorang otomatis menjadi sesat?? Sururi?? Hizbi?? Mubtadi’??. Itu yang saya bahas. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua…)) Kelima Belas : Perkataan al-Ustadz ((Saya bersama beberapa ikhwan yang datang dari Indonesia pernah berjumpa dengan sejumlah mahasiswa Jamî’ah Islamiyyah Madinah -seingat Saya adalah bahwa hampir seluruh mahasiswa pasca sarjana hadir, kecuali Ustadz Firanda-, di rumah Syaikh Muhammad bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh.))Kritikan :Wahai al-Ustadz, bukankah anda adalah seorang muhaddits yang hebat, yang mengkerdilan Syaikh Ali Hasan murid ahli hadits abad ini??. Dan bukankah antum tahu tentang makna dan persyaratan “Tsiqoh” menurut ahli hadits??, yaitu memiliki hapalan yang kuat??Kok bisa antum mengatakan ana tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Bukankah ana yang protes terhadap Syaikh tatkala itu dihadapan antum??. Ana berkata kepada syaikh : “Sebagian ustadz kami telah bermuamalah dengan at-Turots bertahun-tahun lamanya dan kami tidak melihat tanda-tanda hizbiyah pada mereka??”. Saya juga berkata, “Syaikh kita menghukumi seseorang dengan melihat kondisi mereka sekarang ataukah dengan melihat kondisi mereka masa depan?”. Syaikh menjawab ((Syaikh menjawab, “Mereka pasti akan berjabat tangan dengan sufiyah, aku sudah pengalaman, janggutku sudah putih” (kira-kira itu jawaban syaikh).))Wahai al-Muhaddits al-Ustadz Dzulqoranin, kejadian ini kenapa bisa anda lupakan, kehadiranku kenapa hilang dari ingatanmu??, silahkan anda bertanya kepada Hasan Rasyid?, ataukah anda bertanya kepada segenap mahasiswa madinah !!!. saya rasa ingatan mereka masih hangat….Tapi ya namanya manusia, meskipun muhaddits sekaliber antumpun masih memungkinkan lupa dan salah nukil… Keenam belas : Perkataan al-ustadz ((Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullâh maupun ayah beliau yang mulia, Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullâh, tidak pernah marah terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan dan penyimpangan Ihyâ` At-Turâts.))Kritikan : Ya al-Ustadz, sudah saya katakan bahwa kalau hanya sekedar mengkritik maka tidak menjadi masalah, silahkan mereka mengkritik. Akan tetapi tatkala kritikan tersebut menjadi bahan untuk mentahdzir dan mentabdi’ apalagi ala MLM maka ini jelas membuat marah para masyayikh. Bukankah saya sudah nukilkan berulang-ulang kritikan Syaikh Abdul Muhsin terhadap orang-orang yang mengkritik Yayasan Ihyaa At-Turots, agar mereka tahu diri dan melihat kedudukan mereka. Karena Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin juga mengisi di Yayasan Ihyaa At-Turots dan tidak mentahdzir apalagi membid’ahkan??. Berikut saya nukil lagi perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad :التحذير من فتنة التجريح والتبديع من بعض أهل السنة في هذا العصروقريبٌ من بدعة امتحان الناس بالأشخاص ما حصل في هذا الزمان من افتتان فئة قليلة من أهل السنَّة بتجريح بعض إخوانهم من أهل السنة وتبديعهم، وما ترتَّب على ذلك من هجر وتقاطع بينهم وقطع لطريق الإفادة منهم، وذلك التجريح والتبديع منه ما يكون مبنيًّا على ظنِّ ما ليس ببدعة بدعة، ومن أمثلة ذلك أنَّ الشيخين الجليلين عبد العزيز بن باز وابن عثيمين ـ رحمهما الله ـ قد أفتيا جماعة بدخولها في أمر رأيَا المصلحة في ذلك الدخول، ومِمَّن لم يُعجبهم ذلك المفتَى به تلك الفئة القليلة، فعابت تلك الجماعة بذلك، ولَم يقف الأمر عند هذا الحدِّ، بل انتقل العيب إلى مَن يتعاون معها بإلقاء المحاضرات، ووصفه بأنَّه مُميِّع لمنهج السلف، مع أنَّ هذين الشيخين الجليلين كانا يُلقيان المحاضرات على تلك الجماعة عن طريق الهاتف((Peringatan terahadap fitnah tajrih dan tabdi’ dari sebagian ahlus sunnah di zaman ini :“Yang mirip dengan bid’ah menguji orang-orang (termasuk ahlus sunnah atau hizbi-pen) dengan sosok-sosok tertentu (yaitu dengan sosok syaikh-syaikh tertentu-pen), apa yang terjadi di zaman ini, dari fitnah segelintir kecil dari ahlus sunnah dengan mentajrih sebagian saudara-saudara mereka dari ahlus sunnah serta mentabdi’ mereka. Demikian juga dampak yang timbul seperti saling memboikot dan menghajr diantara mereka dan tidak bolehnya mengambil faedah dari merekaDan sikap tajrih dan tabdi’ tersebut diantaranya ada yang dibangun di atas menyangka suatu yang bukan bid’ah sebagai bid’ah. Dan diantara contohnya adalah dua orang syaikh yang mulia Abdul Aziz bin Baas dan Ibnu Utsaimin rahimahumallahu telah berfatwa kepada suatu jama’ah untuk masuk dalam suatu perkara, kedua syaikh ini melihat adalah kemaslahatan untuk masuk dalam perkara tersebut. Diantara yang tidak suka dengan fatwa ini adalah segelintir kecil kelompok tersebut, maka merekapun mencela jama’ah tersebut. Bahkan perkaranya tidak berhenti hingga disini, bahkan celaan berpindah kepada siapa saja yang berta’awun (bekerjasama) dengan jama’ah tersebut berupa menyampaikan pengajian-pengajian, dan para penyampai pengajian tersebut disifati dengan mumayyi’ (lemah) terhadap manhaj salaf. Padahal kedua syaikh yang mulia tersebut (Syaikh Bin Baaz dan Ibnu Utsaimin) telah mengisi pengajian di jama’ah tersebut melalui telephon”)) (Al-Hats ‘alaa Ittiba As-Sunnah hal 26).Jama’ah yang dimaksud oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad adalah Yayasan Ihyaa At-Turots di Kuwait.Wahai al-ustadz, jelas ini merupakan bentuk pengingkaran dari Syaikh Abdul Muhsin atas sikap Jama’ah Tahdzir…. Lantas apakah kemarahan  syaikh harus diungkapkan dengan model marah-marah seperti jama’ah tahdzir seperti mengatakan “Berakal pendek”, “kambing terbang” “pembuat makar”,  dll ??!! Ketujuh belas : Perkataan al-ustadz ((Orang-orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda memang akan sulit memahami keagungan syariat membela agama dari segala penyimpangan sehingga tahdzir terhadap kesalahan-kesalahan jelas Rodja ditanggapi sangat jelek oleh Ustadz Firanda dengan ucapan))Ini yang saya harapkan dari Al-Ustadz, mentahdzir Radiorodja dengan kesalahan-kesalahan yang jelas. Tolong sebutkan kesalahan-kesalahan yang jelas tersebut wahai ustadz !! ditunggu !!.Adapun mengenai diputarnya clip video Syaikh Muhammad al-Arifi maka penjelasannya sebagai berikut :–         Yang memutar tersebut adalah salah seorang kru rodja bagian IT yang memasukan video tersebut tanpa sepengetahuan para ustadz. Berangkat dari husnudzon kru tersebut bahwa syaikh adalah adalah para dai ahlus sunnah karena tidak ada tabdi’ atau tahdzir yang masyhur sebelumnya.–         Lagipula sudah dilarang untuk diputar lagi klip tersebut, bukan karena tahdziran para jama’ah tahdzir, akan tetapi karena ada seorang ustadz yang melihat lantas mengingatkan. Jadi waktu al-Ustadz dzulqornain mentahdzir rodja video tersebut sudah tidak diputar. Kedelapan belas : Al-Ustadz dengan bangga berkata ((Alhamdulillah, Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar))Kritikan :Kalimat ringkas tahdziran tersebut isinya sebagai berikut :((“Saya tidak menasehatkan mendengarkan atau melihat TV Rodja, karena adanya orang-orang didalam radio ini, sebagian manhajnya tidak benar, dan sebagiannya tidak jelas, dan Alhamdulillah fasilitas untuk belajar agama sudah sangat banyak dimasa ini”))Inilah kalimat ringkas yang dibanggakan oleh al-Ustadz, padahal :–         Bukankah al-Ustadz memaksudkan tahdziran ini untuk para penuntut ilmu, adapun orang awam boleh mendengar rodja karena rodja ibarat orang fajir tapi memberi manfaat bagi orang awam??–         Bukankah yang seharusnya adalah sebaliknya : Justru orang awam yang tidak boleh mendengar rodja karena banyak syubhat dan orang awam tidak mengerti syubhat?. Justru para penuntut ilmu boleh mendengar rodja karena mereka mengerti syubhat??!!. Oleh karenanya fatwa Al-Muhaddits Al-ustadz al-Fadil Dzulqornain saya rasa terbalik, maaf !!–         Kalau memang orang awam boleh mendengar rodja lantas kenapa justru tahdziran ini tersebar di orang-orang awam??–         Bahkan tersebar dan ditangkap dengan senang oleh ahlul bid’ah??Yang terakhir : Tentunya tahdziran agar bermanfaat adalah dengan kejelasan bukan dengan kalimat ringkas yang kabur maknanya dan tidak jelas. Karenanya saya minta al-Ustadz untuk menjelaskan maksud perkataan tahdzirannya?Siapakah saja pengisi rodja yang sebagian manhajnya tidak benar dan sebagiannya tidak jelas??Apa ketidak benaran dan ketidak jelasan tersebut??, ditunggu masukannya al-Ustadz !!Saya tutup tanggapan ini dengan berita menarik dari artikel yang saya baca (wallahu A’lam dengan kebenarannya, dan sangat dimohon para ikhwan Jama’ah Tahdzir untuk mengecek kebenaran berita tersebut)- ternyata warga Dammaj tempat al-Ustadz Dzulqornain belajar telah menerima bantuan dari Yayasan Ihyaa At-Thurats. (silahkan lihat di http://gemaislam.com/berita/indonesia-news-menuitem/1610-bantuan-dana-yayasan-ihya-at-turats-kuwait-mengalir-untuk-warga-dammaj)Demikian pula ternyata Syaikh Muhammad ‘Umar Bazmuul duduk bareng dalam satu seminar keislaman bersama pimpinan Yayasan Ihyaa At-Turoots Kuwait, Thaariq Al-‘Iisaa :http://www.youtube.com/watch?v=HodznN8pEEIBagaimana ?. Apakah saudara-saduara kita dari Jama’ah Tahdziir mau mentahdzir Syaikh Bazmuul karena bermajelis dengan ahlul-bid’ah…., ataukah ada standar ganda??Akhukum Fillah Abu AbdilMuhsin Firanda.  

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 10)? – Tanggapan untuk Al-Ustadz bag 2

Kesebelas : Al-Ustadz berkata ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu. Namun, sehari setelah itu, tepatnya pada 4 Oktober 2013, Ustadz Firanda mengeluarkan tulisan baru dengan judul, “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan.” Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya))Kritikan : Ya ustadz, ana rasa tidak perlu antum menilai hati seseorang dengan sikap suudzon. Perkataan antum ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu…)). Apalagi antum berkata “saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini”. Ini murni bentuk suudzon, demi Allah waktu saya mengirim surat meminta antum untuk menerjemahkan surat Sykh Al-Fauzan, saya memang belum membantah dan belum menulis satu hurufpun. Setelah saya mengirim surat kepada antum baru saya membantah antum, dan saya rasa 1 hari sudah cukup bagi saya untuk menyusun bantahan tersebut. Bukankah bisa dilihat dalam web saya, hampir setiap hari saya membuat artikel, bahkan terkadang dalam sehari bisa 2 artikel…., kenapa antum suudzon kepada isi hati ana, apalagi mengkait-kaitkan dengan perkataan antum ((saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini))?? Apalagi antum menuduh ana berbuat makar dengan perkataan antum ((serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya)). Tidak perlulah antum menebak isi hati orang, apalagi dengan sikap suudzon. Baarokallahu fiik Kedua belas : Perkataan al-Ustadz ((Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya))Saya rasa al-Ustadz mungkin berfikir kembali tentang perkataan beliau ((Siapa saja)). Karena saya mendapati banyak yang membaca tulisan saya memberi tanda “like” kepada tulisan saya. Sebagai contoh dalam tulisan saya (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv) yang me “like” berjumlah 7000. Bukan maksud saya banyak merupakan ukuran kebenaran akan tetapi mungkin juga yang me “like” tersebut juga orang-orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya seperti firanda, sehingga mereka me”like”. Tolong nasehati mereka al-Ustadz, agar mereka bisa berakal panjang dan baik pemahaman serta bagus bahasa arabnya seperti antum. Baarokallahu fiik Ketiga belas : al-Ustadz berkata ((, beberapa kali Ustadz Firanda menukil dari situs http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/ yang dikelola oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby dan pengikutnya.Mungkin kebanyakan ulama, yang men-tahdzir situs tersebut, tidak dianggap oleh Ustadz Firanda. Akan  tetapi, guru kami, Syaikh Shalih bin Sa’d As-Suhaimy hafizhahullâh -yang merupakan salah seorang ulama besar Madinah dan masih dianggap sebagai rujukan oleh Ustadz Firanda-, telah men-tahdzir situs tersebut dan menyebutnya sebagai situs-situs masybûhah ‘bersyubhat, tidak jelas’))Kritikan saya dari beberapa sisi :–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi bukanlah termasuk jajaran ulama kibar di Madinah (bukan bermaksud merendahkan beliau, akan tetapi mendudukan seseorang pada kedudukan sesungguhnya). Beliau pernah ditanya siapakah ulama?, maka jawaban beliau : Ulama adalah seperti Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbaad dan Syaikh Ali Nashir Al-Faqihi.–         Diantara tawadhu Syaikh Sholeh As-Suhaimi beliau sering membaca karya-karya Syaikh Abdurrozzaq, bahkan sebagian karya syaikh Abdurrozzaq diajarkan oleh Syaikh Sholeh As-Suhaimi di masjid nabawi–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi dauroh di kebun teh lawang yang diselenggarakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib dari Al-Irsyad Surabaya, yang dianggap hizbi oleh Jama’ah Tahdzir.–         Yang menakjubkan jika Kholid Bawazir (yang dianggap dedengkot sumber dana hizbi oleh Jama’ah Tahdzir) jika datang ke kota Madinah maka para masyayikh semuanya ingin menjamu beliau, baik Syaikh Sholeh As-Suhaimi, Syaikh Abdurrozzaq, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili, dan juga Syaikh Abdus Salam As-Suhaimi. Bahkan saya yang termasuk mengantar beliau ke rumah sebagian masyaikh tersebut. Jadi Kholid Bawazir ini dianggap hizbi oleh Jama’ah tahdzir, tapi dianggap tamu mulia oleh para masyayikh???. Saya rasa lebih enak dihormati oleh masyayikh dari pada dihormati jama’ah tahdzir–         Yang lebih menakjubkan lagi ternyata Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi di Radiorodja…(https://archive.org/details/KajianIslamRadioRodja756Am_32), seharusnya sekarang al-Ustadz Dzulqornain yang selalu bolak-balik ke Madinah memperingatkan para masyayikh tersebut agar tidak ditipu oleh ustadz-ustadz Rodja sebagaimana Syaikh Robi yang menyatakan bahwa Syaikh Abdurrozzaq ditipu oleh pihak Radiorodja.–         Lantas apakah sahab.net salamat dari kritikan ulama??–         Apakah al-ustadz punya standar ganda, hanya memakai perkataan Syaikh Sholeh as-Suhaimi jika diperlukan?? Anehnya juga jama’ah tahdzir mengadakan pengajian dengan judul lihat (http://ahlussunnahslipi.com/kajian-ilmiyyah-jadilah-seorang-salafy-sejati-bersama-al-ustadz-muhammad-umar-as-sewed/), dengan membahas kitab “Kun Salafiyan ‘Alal Jaddah” karya Asy-Syaikh DR. Abdussalam bin Salim As-Suhaimi. Ternyata…sang penulis kitab sendiri Asy-Syaikh DR Abdussalam As-Suhaimi pernah mengisi langsung bukunya tersebut di radiorodja beberapa tahun yang silam??. (silahkan dengar di http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Syaikh%20Dr%20Abdus%20Salam%20bin%20Salim%20A%20Suhaimi/Jadilah%20Salafy%20Sejati)Rupanya Radiorodja sudah berusaha menjadi salafy sejati lebih dahulu dari pada Jama’ah tahdzir yang ketinggalan zaman, dan yang bahas bukan penulis aslinya. Yang penulis buku ngisi di Radiorodja dan dauroh yang diadakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib, akan tetapi al-Ustadz dari Jama’ah tahdzir yang membahas kitab tersebut ternyata menghzibikan dan membid’ahkan radiorodja dan penyelenggara dauroh. Kita ikut siapa ya?, ikut penulis kitab, atau sang ustadz yang mencoba memahami isi kitab tersebut?? Keempat belas : Al-Ustadz berkata ((Ustadz Firanda berkata, “Permasalahan mengenai Ihyaa At-Turoots telah saya bahas dengan panjang lebar, diantara perkataan saya ((…Demikian juga tatkala kita menghadapi permasalahan mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots. Karena inilah yang menjadi permasalahan utama, bukan masalah apakah yayasan Ihyaa At-Turoots ini hizbi atau tidak, karena mayoritas yang ditahdziir dan dikatakan sururi adalah orang-orang yang tidak mengambil dana sama sekali, akan tetapi kena getahnya terseret arus tahdzir gaya MLM, yaitu barang siapa yang tidak mentahdziir si fulan maka dia juga sururi??!!. Jika kita sepakat bahwasanya Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbi maka apakah yang mengambil dana otomatis menjadi sururi?,inilah permasalahannya.!!.”Tuduhan dusta ini sudah pernah Saya jawab sebagai berikut,“Sekali lagi, Saya memberi waktu bagi Ustadz Firanda guna mendatangkan bukti tentang tuduhan yang jauh dari kejujuran dan kebenaran di atas.Telah diketahui dari Saya, bahkan kadang sebagian kawan-kawan Saya sendiri mempermasalahkan sikap Saya, bahwa Saya memandang boleh mengambil dana dari Yayasan Ihyâ` At-Turâts apabila Yayasan Ihyâ` At-Turâts memberi tanpa syarat dan ketentuan.))Kritikan :Al-Ustadz menuduh saya berdusta…, dimana letak dustanya??. Perkatan yang saya yang dinukil oleh Al-Ustadz terdapat di  (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv). Perkataan saya tersebut bahkan saya jelaskan saya menukilnya dari artikel saya yang lain tatkala membantah al-Ustadz Askari ((https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/101-salah-kaprah-tentang-hajr-boikot-terhadap-ahlul-bidah-seri-6-tahdziir-dan-tabdii-berantai-ala-mlm-awas-sururi)).Lantas dimana letak dusta saya??. Sudah menjadi perkara yang maklum dan mutawatir kalau teman-teman antum dari jama’ah tahdzir mentabdi’ karena mengambil dana dari at-Turots, bahkan jika tidak mentahdzir maka akan ikut ditahdziiir….ala MLM. Ini adalah hala yang mutawatir wahai ustadz??. Lantas dimana kebohongan saya??. Saya kasih waktu buat ustadz agar bisa menjelaskan dan mendatangkan bukti !!!.Adapun jika ustadz mentahdzir Iyhaa At-Turoots bukan karena masalah dana, maka itu madzhab al-Ustadz sendiri??, saya sedang membantah madzhab MLM yang dianut oleh jama’ah Tahdzir.Sekarang saya bertanya kepada al-Ustadz, apakah al-Ustadz tidak menganut madzhab tahdzir MLM??. (semoga tidak). Akan tetapi, Kita kembali ke PERMASALAHAN INTI !!!, kenapa al-Ustadz mentahdzir Radiorodja, Ustadz Yazid Jawas dll, bahkan pernah al-Ustadz mengumpulkan tanda tangan sembilan ustadz untuk mentahdzir atau mentabdi’ para ustadz, diantaranya al-Ustadz Yazid !!!. Masihkah al-Ustadz ingat dengan selebaran tanda tangan tersebut??.Lupakah antum wahai al-Ustadz dengan pernyataan yang antum tanda tangani, ((Karena itu kami berlepas diri dari Yazid Jawas, Abu Nida, Aunur Rofiq Ghufron, Ahmas Faiz (majallah As-Sunnah), dan yang semisalnya yang masih jelas pembelaan dan hubungannya dengan yayasan Ihyaa At-Turhats dan yayasan As-Shofwa))Berikut fotokopi peranyataan antum dan kawan-kawan :Jika antum tidak bermadzhab MLM lantas apakah antum tidak pernah mentahdzir ustadz-ustadz diluar jama’ah tahdzir??. (semoga tidak pernah, dan semoga antum bukan bermadzhab MLM). Baarokallahu fiikum.Saya juga meminta al-Ustadz al-Fadil untuk menjawab pernyataan saya ((Al-Ustadz berkata ((Yang menyedihkan, kami melihat sejumlah orang-orang Radio dan TV Rodja sikap fanatisme yang batil dan tercela serta marah terhadap orang-orang yang mentahdzir dan berbicara dengan kebenaran tentang Yayasan Ihyaa At-Turoots Al-Kuwaitiyah. Diantara mereka adalah Penanya al-Akh Firanda, ia telah menulis sebuah buku yang dicetak yang ia dengan semangat dalam buku tersebut membela Yayasan Ihyaa’ At-Turoots Al-Kuwaitiyah))…Lalu sayapun berkata ((Adapun saya marah dengan fanatis yang batil dan tercela jika ada orang yang membantah Ihyaa At-Turoots, maka ini merupakan kedustaan wahai ustadz. Bahkan saya mempersilahkan antum dan para sahabat antum untuk membantah Yayasan Ihyaa At-Turoots dengan sepuas antum. Akan tetapi yang menjadikan saya tidak suka adalah menjadikan pembahasan At-Turots sebagai sarana untuk mentabdi’ para ustadz dan juga menyesatkan Radio Rodja. Karenanya coba al-Ustadz kembali membaca buku saya tersebut, semuanya terfokus pada sikap ahlus sunnah yang benar dalam menghadapi permasalahan khilafiyah diantara para ulama. Karenanya saya sering menyatakan bahwa bantahan yang ditulis oleh ustadz Askari adalah tidak nyambung, karena pembahasan saya bukanlah utamanya tertuju pada sesatnya yayasan Ihyaa At-Turoorts, akan tetapi apakah bermu’amalah dengan yayasan tersebut menjadikan seseorang otomatis menjadi sesat?? Sururi?? Hizbi?? Mubtadi’??. Itu yang saya bahas. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua…)) Kelima Belas : Perkataan al-Ustadz ((Saya bersama beberapa ikhwan yang datang dari Indonesia pernah berjumpa dengan sejumlah mahasiswa Jamî’ah Islamiyyah Madinah -seingat Saya adalah bahwa hampir seluruh mahasiswa pasca sarjana hadir, kecuali Ustadz Firanda-, di rumah Syaikh Muhammad bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh.))Kritikan :Wahai al-Ustadz, bukankah anda adalah seorang muhaddits yang hebat, yang mengkerdilan Syaikh Ali Hasan murid ahli hadits abad ini??. Dan bukankah antum tahu tentang makna dan persyaratan “Tsiqoh” menurut ahli hadits??, yaitu memiliki hapalan yang kuat??Kok bisa antum mengatakan ana tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Bukankah ana yang protes terhadap Syaikh tatkala itu dihadapan antum??. Ana berkata kepada syaikh : “Sebagian ustadz kami telah bermuamalah dengan at-Turots bertahun-tahun lamanya dan kami tidak melihat tanda-tanda hizbiyah pada mereka??”. Saya juga berkata, “Syaikh kita menghukumi seseorang dengan melihat kondisi mereka sekarang ataukah dengan melihat kondisi mereka masa depan?”. Syaikh menjawab ((Syaikh menjawab, “Mereka pasti akan berjabat tangan dengan sufiyah, aku sudah pengalaman, janggutku sudah putih” (kira-kira itu jawaban syaikh).))Wahai al-Muhaddits al-Ustadz Dzulqoranin, kejadian ini kenapa bisa anda lupakan, kehadiranku kenapa hilang dari ingatanmu??, silahkan anda bertanya kepada Hasan Rasyid?, ataukah anda bertanya kepada segenap mahasiswa madinah !!!. saya rasa ingatan mereka masih hangat….Tapi ya namanya manusia, meskipun muhaddits sekaliber antumpun masih memungkinkan lupa dan salah nukil… Keenam belas : Perkataan al-ustadz ((Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullâh maupun ayah beliau yang mulia, Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullâh, tidak pernah marah terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan dan penyimpangan Ihyâ` At-Turâts.))Kritikan : Ya al-Ustadz, sudah saya katakan bahwa kalau hanya sekedar mengkritik maka tidak menjadi masalah, silahkan mereka mengkritik. Akan tetapi tatkala kritikan tersebut menjadi bahan untuk mentahdzir dan mentabdi’ apalagi ala MLM maka ini jelas membuat marah para masyayikh. Bukankah saya sudah nukilkan berulang-ulang kritikan Syaikh Abdul Muhsin terhadap orang-orang yang mengkritik Yayasan Ihyaa At-Turots, agar mereka tahu diri dan melihat kedudukan mereka. Karena Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin juga mengisi di Yayasan Ihyaa At-Turots dan tidak mentahdzir apalagi membid’ahkan??. Berikut saya nukil lagi perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad :التحذير من فتنة التجريح والتبديع من بعض أهل السنة في هذا العصروقريبٌ من بدعة امتحان الناس بالأشخاص ما حصل في هذا الزمان من افتتان فئة قليلة من أهل السنَّة بتجريح بعض إخوانهم من أهل السنة وتبديعهم، وما ترتَّب على ذلك من هجر وتقاطع بينهم وقطع لطريق الإفادة منهم، وذلك التجريح والتبديع منه ما يكون مبنيًّا على ظنِّ ما ليس ببدعة بدعة، ومن أمثلة ذلك أنَّ الشيخين الجليلين عبد العزيز بن باز وابن عثيمين ـ رحمهما الله ـ قد أفتيا جماعة بدخولها في أمر رأيَا المصلحة في ذلك الدخول، ومِمَّن لم يُعجبهم ذلك المفتَى به تلك الفئة القليلة، فعابت تلك الجماعة بذلك، ولَم يقف الأمر عند هذا الحدِّ، بل انتقل العيب إلى مَن يتعاون معها بإلقاء المحاضرات، ووصفه بأنَّه مُميِّع لمنهج السلف، مع أنَّ هذين الشيخين الجليلين كانا يُلقيان المحاضرات على تلك الجماعة عن طريق الهاتف((Peringatan terahadap fitnah tajrih dan tabdi’ dari sebagian ahlus sunnah di zaman ini :“Yang mirip dengan bid’ah menguji orang-orang (termasuk ahlus sunnah atau hizbi-pen) dengan sosok-sosok tertentu (yaitu dengan sosok syaikh-syaikh tertentu-pen), apa yang terjadi di zaman ini, dari fitnah segelintir kecil dari ahlus sunnah dengan mentajrih sebagian saudara-saudara mereka dari ahlus sunnah serta mentabdi’ mereka. Demikian juga dampak yang timbul seperti saling memboikot dan menghajr diantara mereka dan tidak bolehnya mengambil faedah dari merekaDan sikap tajrih dan tabdi’ tersebut diantaranya ada yang dibangun di atas menyangka suatu yang bukan bid’ah sebagai bid’ah. Dan diantara contohnya adalah dua orang syaikh yang mulia Abdul Aziz bin Baas dan Ibnu Utsaimin rahimahumallahu telah berfatwa kepada suatu jama’ah untuk masuk dalam suatu perkara, kedua syaikh ini melihat adalah kemaslahatan untuk masuk dalam perkara tersebut. Diantara yang tidak suka dengan fatwa ini adalah segelintir kecil kelompok tersebut, maka merekapun mencela jama’ah tersebut. Bahkan perkaranya tidak berhenti hingga disini, bahkan celaan berpindah kepada siapa saja yang berta’awun (bekerjasama) dengan jama’ah tersebut berupa menyampaikan pengajian-pengajian, dan para penyampai pengajian tersebut disifati dengan mumayyi’ (lemah) terhadap manhaj salaf. Padahal kedua syaikh yang mulia tersebut (Syaikh Bin Baaz dan Ibnu Utsaimin) telah mengisi pengajian di jama’ah tersebut melalui telephon”)) (Al-Hats ‘alaa Ittiba As-Sunnah hal 26).Jama’ah yang dimaksud oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad adalah Yayasan Ihyaa At-Turots di Kuwait.Wahai al-ustadz, jelas ini merupakan bentuk pengingkaran dari Syaikh Abdul Muhsin atas sikap Jama’ah Tahdzir…. Lantas apakah kemarahan  syaikh harus diungkapkan dengan model marah-marah seperti jama’ah tahdzir seperti mengatakan “Berakal pendek”, “kambing terbang” “pembuat makar”,  dll ??!! Ketujuh belas : Perkataan al-ustadz ((Orang-orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda memang akan sulit memahami keagungan syariat membela agama dari segala penyimpangan sehingga tahdzir terhadap kesalahan-kesalahan jelas Rodja ditanggapi sangat jelek oleh Ustadz Firanda dengan ucapan))Ini yang saya harapkan dari Al-Ustadz, mentahdzir Radiorodja dengan kesalahan-kesalahan yang jelas. Tolong sebutkan kesalahan-kesalahan yang jelas tersebut wahai ustadz !! ditunggu !!.Adapun mengenai diputarnya clip video Syaikh Muhammad al-Arifi maka penjelasannya sebagai berikut :–         Yang memutar tersebut adalah salah seorang kru rodja bagian IT yang memasukan video tersebut tanpa sepengetahuan para ustadz. Berangkat dari husnudzon kru tersebut bahwa syaikh adalah adalah para dai ahlus sunnah karena tidak ada tabdi’ atau tahdzir yang masyhur sebelumnya.–         Lagipula sudah dilarang untuk diputar lagi klip tersebut, bukan karena tahdziran para jama’ah tahdzir, akan tetapi karena ada seorang ustadz yang melihat lantas mengingatkan. Jadi waktu al-Ustadz dzulqornain mentahdzir rodja video tersebut sudah tidak diputar. Kedelapan belas : Al-Ustadz dengan bangga berkata ((Alhamdulillah, Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar))Kritikan :Kalimat ringkas tahdziran tersebut isinya sebagai berikut :((“Saya tidak menasehatkan mendengarkan atau melihat TV Rodja, karena adanya orang-orang didalam radio ini, sebagian manhajnya tidak benar, dan sebagiannya tidak jelas, dan Alhamdulillah fasilitas untuk belajar agama sudah sangat banyak dimasa ini”))Inilah kalimat ringkas yang dibanggakan oleh al-Ustadz, padahal :–         Bukankah al-Ustadz memaksudkan tahdziran ini untuk para penuntut ilmu, adapun orang awam boleh mendengar rodja karena rodja ibarat orang fajir tapi memberi manfaat bagi orang awam??–         Bukankah yang seharusnya adalah sebaliknya : Justru orang awam yang tidak boleh mendengar rodja karena banyak syubhat dan orang awam tidak mengerti syubhat?. Justru para penuntut ilmu boleh mendengar rodja karena mereka mengerti syubhat??!!. Oleh karenanya fatwa Al-Muhaddits Al-ustadz al-Fadil Dzulqornain saya rasa terbalik, maaf !!–         Kalau memang orang awam boleh mendengar rodja lantas kenapa justru tahdziran ini tersebar di orang-orang awam??–         Bahkan tersebar dan ditangkap dengan senang oleh ahlul bid’ah??Yang terakhir : Tentunya tahdziran agar bermanfaat adalah dengan kejelasan bukan dengan kalimat ringkas yang kabur maknanya dan tidak jelas. Karenanya saya minta al-Ustadz untuk menjelaskan maksud perkataan tahdzirannya?Siapakah saja pengisi rodja yang sebagian manhajnya tidak benar dan sebagiannya tidak jelas??Apa ketidak benaran dan ketidak jelasan tersebut??, ditunggu masukannya al-Ustadz !!Saya tutup tanggapan ini dengan berita menarik dari artikel yang saya baca (wallahu A’lam dengan kebenarannya, dan sangat dimohon para ikhwan Jama’ah Tahdzir untuk mengecek kebenaran berita tersebut)- ternyata warga Dammaj tempat al-Ustadz Dzulqornain belajar telah menerima bantuan dari Yayasan Ihyaa At-Thurats. (silahkan lihat di http://gemaislam.com/berita/indonesia-news-menuitem/1610-bantuan-dana-yayasan-ihya-at-turats-kuwait-mengalir-untuk-warga-dammaj)Demikian pula ternyata Syaikh Muhammad ‘Umar Bazmuul duduk bareng dalam satu seminar keislaman bersama pimpinan Yayasan Ihyaa At-Turoots Kuwait, Thaariq Al-‘Iisaa :http://www.youtube.com/watch?v=HodznN8pEEIBagaimana ?. Apakah saudara-saduara kita dari Jama’ah Tahdziir mau mentahdzir Syaikh Bazmuul karena bermajelis dengan ahlul-bid’ah…., ataukah ada standar ganda??Akhukum Fillah Abu AbdilMuhsin Firanda.  
Kesebelas : Al-Ustadz berkata ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu. Namun, sehari setelah itu, tepatnya pada 4 Oktober 2013, Ustadz Firanda mengeluarkan tulisan baru dengan judul, “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan.” Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya))Kritikan : Ya ustadz, ana rasa tidak perlu antum menilai hati seseorang dengan sikap suudzon. Perkataan antum ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu…)). Apalagi antum berkata “saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini”. Ini murni bentuk suudzon, demi Allah waktu saya mengirim surat meminta antum untuk menerjemahkan surat Sykh Al-Fauzan, saya memang belum membantah dan belum menulis satu hurufpun. Setelah saya mengirim surat kepada antum baru saya membantah antum, dan saya rasa 1 hari sudah cukup bagi saya untuk menyusun bantahan tersebut. Bukankah bisa dilihat dalam web saya, hampir setiap hari saya membuat artikel, bahkan terkadang dalam sehari bisa 2 artikel…., kenapa antum suudzon kepada isi hati ana, apalagi mengkait-kaitkan dengan perkataan antum ((saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini))?? Apalagi antum menuduh ana berbuat makar dengan perkataan antum ((serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya)). Tidak perlulah antum menebak isi hati orang, apalagi dengan sikap suudzon. Baarokallahu fiik Kedua belas : Perkataan al-Ustadz ((Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya))Saya rasa al-Ustadz mungkin berfikir kembali tentang perkataan beliau ((Siapa saja)). Karena saya mendapati banyak yang membaca tulisan saya memberi tanda “like” kepada tulisan saya. Sebagai contoh dalam tulisan saya (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv) yang me “like” berjumlah 7000. Bukan maksud saya banyak merupakan ukuran kebenaran akan tetapi mungkin juga yang me “like” tersebut juga orang-orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya seperti firanda, sehingga mereka me”like”. Tolong nasehati mereka al-Ustadz, agar mereka bisa berakal panjang dan baik pemahaman serta bagus bahasa arabnya seperti antum. Baarokallahu fiik Ketiga belas : al-Ustadz berkata ((, beberapa kali Ustadz Firanda menukil dari situs http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/ yang dikelola oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby dan pengikutnya.Mungkin kebanyakan ulama, yang men-tahdzir situs tersebut, tidak dianggap oleh Ustadz Firanda. Akan  tetapi, guru kami, Syaikh Shalih bin Sa’d As-Suhaimy hafizhahullâh -yang merupakan salah seorang ulama besar Madinah dan masih dianggap sebagai rujukan oleh Ustadz Firanda-, telah men-tahdzir situs tersebut dan menyebutnya sebagai situs-situs masybûhah ‘bersyubhat, tidak jelas’))Kritikan saya dari beberapa sisi :–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi bukanlah termasuk jajaran ulama kibar di Madinah (bukan bermaksud merendahkan beliau, akan tetapi mendudukan seseorang pada kedudukan sesungguhnya). Beliau pernah ditanya siapakah ulama?, maka jawaban beliau : Ulama adalah seperti Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbaad dan Syaikh Ali Nashir Al-Faqihi.–         Diantara tawadhu Syaikh Sholeh As-Suhaimi beliau sering membaca karya-karya Syaikh Abdurrozzaq, bahkan sebagian karya syaikh Abdurrozzaq diajarkan oleh Syaikh Sholeh As-Suhaimi di masjid nabawi–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi dauroh di kebun teh lawang yang diselenggarakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib dari Al-Irsyad Surabaya, yang dianggap hizbi oleh Jama’ah Tahdzir.–         Yang menakjubkan jika Kholid Bawazir (yang dianggap dedengkot sumber dana hizbi oleh Jama’ah Tahdzir) jika datang ke kota Madinah maka para masyayikh semuanya ingin menjamu beliau, baik Syaikh Sholeh As-Suhaimi, Syaikh Abdurrozzaq, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili, dan juga Syaikh Abdus Salam As-Suhaimi. Bahkan saya yang termasuk mengantar beliau ke rumah sebagian masyaikh tersebut. Jadi Kholid Bawazir ini dianggap hizbi oleh Jama’ah tahdzir, tapi dianggap tamu mulia oleh para masyayikh???. Saya rasa lebih enak dihormati oleh masyayikh dari pada dihormati jama’ah tahdzir–         Yang lebih menakjubkan lagi ternyata Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi di Radiorodja…(https://archive.org/details/KajianIslamRadioRodja756Am_32), seharusnya sekarang al-Ustadz Dzulqornain yang selalu bolak-balik ke Madinah memperingatkan para masyayikh tersebut agar tidak ditipu oleh ustadz-ustadz Rodja sebagaimana Syaikh Robi yang menyatakan bahwa Syaikh Abdurrozzaq ditipu oleh pihak Radiorodja.–         Lantas apakah sahab.net salamat dari kritikan ulama??–         Apakah al-ustadz punya standar ganda, hanya memakai perkataan Syaikh Sholeh as-Suhaimi jika diperlukan?? Anehnya juga jama’ah tahdzir mengadakan pengajian dengan judul lihat (http://ahlussunnahslipi.com/kajian-ilmiyyah-jadilah-seorang-salafy-sejati-bersama-al-ustadz-muhammad-umar-as-sewed/), dengan membahas kitab “Kun Salafiyan ‘Alal Jaddah” karya Asy-Syaikh DR. Abdussalam bin Salim As-Suhaimi. Ternyata…sang penulis kitab sendiri Asy-Syaikh DR Abdussalam As-Suhaimi pernah mengisi langsung bukunya tersebut di radiorodja beberapa tahun yang silam??. (silahkan dengar di http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Syaikh%20Dr%20Abdus%20Salam%20bin%20Salim%20A%20Suhaimi/Jadilah%20Salafy%20Sejati)Rupanya Radiorodja sudah berusaha menjadi salafy sejati lebih dahulu dari pada Jama’ah tahdzir yang ketinggalan zaman, dan yang bahas bukan penulis aslinya. Yang penulis buku ngisi di Radiorodja dan dauroh yang diadakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib, akan tetapi al-Ustadz dari Jama’ah tahdzir yang membahas kitab tersebut ternyata menghzibikan dan membid’ahkan radiorodja dan penyelenggara dauroh. Kita ikut siapa ya?, ikut penulis kitab, atau sang ustadz yang mencoba memahami isi kitab tersebut?? Keempat belas : Al-Ustadz berkata ((Ustadz Firanda berkata, “Permasalahan mengenai Ihyaa At-Turoots telah saya bahas dengan panjang lebar, diantara perkataan saya ((…Demikian juga tatkala kita menghadapi permasalahan mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots. Karena inilah yang menjadi permasalahan utama, bukan masalah apakah yayasan Ihyaa At-Turoots ini hizbi atau tidak, karena mayoritas yang ditahdziir dan dikatakan sururi adalah orang-orang yang tidak mengambil dana sama sekali, akan tetapi kena getahnya terseret arus tahdzir gaya MLM, yaitu barang siapa yang tidak mentahdziir si fulan maka dia juga sururi??!!. Jika kita sepakat bahwasanya Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbi maka apakah yang mengambil dana otomatis menjadi sururi?,inilah permasalahannya.!!.”Tuduhan dusta ini sudah pernah Saya jawab sebagai berikut,“Sekali lagi, Saya memberi waktu bagi Ustadz Firanda guna mendatangkan bukti tentang tuduhan yang jauh dari kejujuran dan kebenaran di atas.Telah diketahui dari Saya, bahkan kadang sebagian kawan-kawan Saya sendiri mempermasalahkan sikap Saya, bahwa Saya memandang boleh mengambil dana dari Yayasan Ihyâ` At-Turâts apabila Yayasan Ihyâ` At-Turâts memberi tanpa syarat dan ketentuan.))Kritikan :Al-Ustadz menuduh saya berdusta…, dimana letak dustanya??. Perkatan yang saya yang dinukil oleh Al-Ustadz terdapat di  (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv). Perkataan saya tersebut bahkan saya jelaskan saya menukilnya dari artikel saya yang lain tatkala membantah al-Ustadz Askari ((https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/101-salah-kaprah-tentang-hajr-boikot-terhadap-ahlul-bidah-seri-6-tahdziir-dan-tabdii-berantai-ala-mlm-awas-sururi)).Lantas dimana letak dusta saya??. Sudah menjadi perkara yang maklum dan mutawatir kalau teman-teman antum dari jama’ah tahdzir mentabdi’ karena mengambil dana dari at-Turots, bahkan jika tidak mentahdzir maka akan ikut ditahdziiir….ala MLM. Ini adalah hala yang mutawatir wahai ustadz??. Lantas dimana kebohongan saya??. Saya kasih waktu buat ustadz agar bisa menjelaskan dan mendatangkan bukti !!!.Adapun jika ustadz mentahdzir Iyhaa At-Turoots bukan karena masalah dana, maka itu madzhab al-Ustadz sendiri??, saya sedang membantah madzhab MLM yang dianut oleh jama’ah Tahdzir.Sekarang saya bertanya kepada al-Ustadz, apakah al-Ustadz tidak menganut madzhab tahdzir MLM??. (semoga tidak). Akan tetapi, Kita kembali ke PERMASALAHAN INTI !!!, kenapa al-Ustadz mentahdzir Radiorodja, Ustadz Yazid Jawas dll, bahkan pernah al-Ustadz mengumpulkan tanda tangan sembilan ustadz untuk mentahdzir atau mentabdi’ para ustadz, diantaranya al-Ustadz Yazid !!!. Masihkah al-Ustadz ingat dengan selebaran tanda tangan tersebut??.Lupakah antum wahai al-Ustadz dengan pernyataan yang antum tanda tangani, ((Karena itu kami berlepas diri dari Yazid Jawas, Abu Nida, Aunur Rofiq Ghufron, Ahmas Faiz (majallah As-Sunnah), dan yang semisalnya yang masih jelas pembelaan dan hubungannya dengan yayasan Ihyaa At-Turhats dan yayasan As-Shofwa))Berikut fotokopi peranyataan antum dan kawan-kawan :Jika antum tidak bermadzhab MLM lantas apakah antum tidak pernah mentahdzir ustadz-ustadz diluar jama’ah tahdzir??. (semoga tidak pernah, dan semoga antum bukan bermadzhab MLM). Baarokallahu fiikum.Saya juga meminta al-Ustadz al-Fadil untuk menjawab pernyataan saya ((Al-Ustadz berkata ((Yang menyedihkan, kami melihat sejumlah orang-orang Radio dan TV Rodja sikap fanatisme yang batil dan tercela serta marah terhadap orang-orang yang mentahdzir dan berbicara dengan kebenaran tentang Yayasan Ihyaa At-Turoots Al-Kuwaitiyah. Diantara mereka adalah Penanya al-Akh Firanda, ia telah menulis sebuah buku yang dicetak yang ia dengan semangat dalam buku tersebut membela Yayasan Ihyaa’ At-Turoots Al-Kuwaitiyah))…Lalu sayapun berkata ((Adapun saya marah dengan fanatis yang batil dan tercela jika ada orang yang membantah Ihyaa At-Turoots, maka ini merupakan kedustaan wahai ustadz. Bahkan saya mempersilahkan antum dan para sahabat antum untuk membantah Yayasan Ihyaa At-Turoots dengan sepuas antum. Akan tetapi yang menjadikan saya tidak suka adalah menjadikan pembahasan At-Turots sebagai sarana untuk mentabdi’ para ustadz dan juga menyesatkan Radio Rodja. Karenanya coba al-Ustadz kembali membaca buku saya tersebut, semuanya terfokus pada sikap ahlus sunnah yang benar dalam menghadapi permasalahan khilafiyah diantara para ulama. Karenanya saya sering menyatakan bahwa bantahan yang ditulis oleh ustadz Askari adalah tidak nyambung, karena pembahasan saya bukanlah utamanya tertuju pada sesatnya yayasan Ihyaa At-Turoorts, akan tetapi apakah bermu’amalah dengan yayasan tersebut menjadikan seseorang otomatis menjadi sesat?? Sururi?? Hizbi?? Mubtadi’??. Itu yang saya bahas. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua…)) Kelima Belas : Perkataan al-Ustadz ((Saya bersama beberapa ikhwan yang datang dari Indonesia pernah berjumpa dengan sejumlah mahasiswa Jamî’ah Islamiyyah Madinah -seingat Saya adalah bahwa hampir seluruh mahasiswa pasca sarjana hadir, kecuali Ustadz Firanda-, di rumah Syaikh Muhammad bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh.))Kritikan :Wahai al-Ustadz, bukankah anda adalah seorang muhaddits yang hebat, yang mengkerdilan Syaikh Ali Hasan murid ahli hadits abad ini??. Dan bukankah antum tahu tentang makna dan persyaratan “Tsiqoh” menurut ahli hadits??, yaitu memiliki hapalan yang kuat??Kok bisa antum mengatakan ana tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Bukankah ana yang protes terhadap Syaikh tatkala itu dihadapan antum??. Ana berkata kepada syaikh : “Sebagian ustadz kami telah bermuamalah dengan at-Turots bertahun-tahun lamanya dan kami tidak melihat tanda-tanda hizbiyah pada mereka??”. Saya juga berkata, “Syaikh kita menghukumi seseorang dengan melihat kondisi mereka sekarang ataukah dengan melihat kondisi mereka masa depan?”. Syaikh menjawab ((Syaikh menjawab, “Mereka pasti akan berjabat tangan dengan sufiyah, aku sudah pengalaman, janggutku sudah putih” (kira-kira itu jawaban syaikh).))Wahai al-Muhaddits al-Ustadz Dzulqoranin, kejadian ini kenapa bisa anda lupakan, kehadiranku kenapa hilang dari ingatanmu??, silahkan anda bertanya kepada Hasan Rasyid?, ataukah anda bertanya kepada segenap mahasiswa madinah !!!. saya rasa ingatan mereka masih hangat….Tapi ya namanya manusia, meskipun muhaddits sekaliber antumpun masih memungkinkan lupa dan salah nukil… Keenam belas : Perkataan al-ustadz ((Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullâh maupun ayah beliau yang mulia, Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullâh, tidak pernah marah terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan dan penyimpangan Ihyâ` At-Turâts.))Kritikan : Ya al-Ustadz, sudah saya katakan bahwa kalau hanya sekedar mengkritik maka tidak menjadi masalah, silahkan mereka mengkritik. Akan tetapi tatkala kritikan tersebut menjadi bahan untuk mentahdzir dan mentabdi’ apalagi ala MLM maka ini jelas membuat marah para masyayikh. Bukankah saya sudah nukilkan berulang-ulang kritikan Syaikh Abdul Muhsin terhadap orang-orang yang mengkritik Yayasan Ihyaa At-Turots, agar mereka tahu diri dan melihat kedudukan mereka. Karena Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin juga mengisi di Yayasan Ihyaa At-Turots dan tidak mentahdzir apalagi membid’ahkan??. Berikut saya nukil lagi perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad :التحذير من فتنة التجريح والتبديع من بعض أهل السنة في هذا العصروقريبٌ من بدعة امتحان الناس بالأشخاص ما حصل في هذا الزمان من افتتان فئة قليلة من أهل السنَّة بتجريح بعض إخوانهم من أهل السنة وتبديعهم، وما ترتَّب على ذلك من هجر وتقاطع بينهم وقطع لطريق الإفادة منهم، وذلك التجريح والتبديع منه ما يكون مبنيًّا على ظنِّ ما ليس ببدعة بدعة، ومن أمثلة ذلك أنَّ الشيخين الجليلين عبد العزيز بن باز وابن عثيمين ـ رحمهما الله ـ قد أفتيا جماعة بدخولها في أمر رأيَا المصلحة في ذلك الدخول، ومِمَّن لم يُعجبهم ذلك المفتَى به تلك الفئة القليلة، فعابت تلك الجماعة بذلك، ولَم يقف الأمر عند هذا الحدِّ، بل انتقل العيب إلى مَن يتعاون معها بإلقاء المحاضرات، ووصفه بأنَّه مُميِّع لمنهج السلف، مع أنَّ هذين الشيخين الجليلين كانا يُلقيان المحاضرات على تلك الجماعة عن طريق الهاتف((Peringatan terahadap fitnah tajrih dan tabdi’ dari sebagian ahlus sunnah di zaman ini :“Yang mirip dengan bid’ah menguji orang-orang (termasuk ahlus sunnah atau hizbi-pen) dengan sosok-sosok tertentu (yaitu dengan sosok syaikh-syaikh tertentu-pen), apa yang terjadi di zaman ini, dari fitnah segelintir kecil dari ahlus sunnah dengan mentajrih sebagian saudara-saudara mereka dari ahlus sunnah serta mentabdi’ mereka. Demikian juga dampak yang timbul seperti saling memboikot dan menghajr diantara mereka dan tidak bolehnya mengambil faedah dari merekaDan sikap tajrih dan tabdi’ tersebut diantaranya ada yang dibangun di atas menyangka suatu yang bukan bid’ah sebagai bid’ah. Dan diantara contohnya adalah dua orang syaikh yang mulia Abdul Aziz bin Baas dan Ibnu Utsaimin rahimahumallahu telah berfatwa kepada suatu jama’ah untuk masuk dalam suatu perkara, kedua syaikh ini melihat adalah kemaslahatan untuk masuk dalam perkara tersebut. Diantara yang tidak suka dengan fatwa ini adalah segelintir kecil kelompok tersebut, maka merekapun mencela jama’ah tersebut. Bahkan perkaranya tidak berhenti hingga disini, bahkan celaan berpindah kepada siapa saja yang berta’awun (bekerjasama) dengan jama’ah tersebut berupa menyampaikan pengajian-pengajian, dan para penyampai pengajian tersebut disifati dengan mumayyi’ (lemah) terhadap manhaj salaf. Padahal kedua syaikh yang mulia tersebut (Syaikh Bin Baaz dan Ibnu Utsaimin) telah mengisi pengajian di jama’ah tersebut melalui telephon”)) (Al-Hats ‘alaa Ittiba As-Sunnah hal 26).Jama’ah yang dimaksud oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad adalah Yayasan Ihyaa At-Turots di Kuwait.Wahai al-ustadz, jelas ini merupakan bentuk pengingkaran dari Syaikh Abdul Muhsin atas sikap Jama’ah Tahdzir…. Lantas apakah kemarahan  syaikh harus diungkapkan dengan model marah-marah seperti jama’ah tahdzir seperti mengatakan “Berakal pendek”, “kambing terbang” “pembuat makar”,  dll ??!! Ketujuh belas : Perkataan al-ustadz ((Orang-orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda memang akan sulit memahami keagungan syariat membela agama dari segala penyimpangan sehingga tahdzir terhadap kesalahan-kesalahan jelas Rodja ditanggapi sangat jelek oleh Ustadz Firanda dengan ucapan))Ini yang saya harapkan dari Al-Ustadz, mentahdzir Radiorodja dengan kesalahan-kesalahan yang jelas. Tolong sebutkan kesalahan-kesalahan yang jelas tersebut wahai ustadz !! ditunggu !!.Adapun mengenai diputarnya clip video Syaikh Muhammad al-Arifi maka penjelasannya sebagai berikut :–         Yang memutar tersebut adalah salah seorang kru rodja bagian IT yang memasukan video tersebut tanpa sepengetahuan para ustadz. Berangkat dari husnudzon kru tersebut bahwa syaikh adalah adalah para dai ahlus sunnah karena tidak ada tabdi’ atau tahdzir yang masyhur sebelumnya.–         Lagipula sudah dilarang untuk diputar lagi klip tersebut, bukan karena tahdziran para jama’ah tahdzir, akan tetapi karena ada seorang ustadz yang melihat lantas mengingatkan. Jadi waktu al-Ustadz dzulqornain mentahdzir rodja video tersebut sudah tidak diputar. Kedelapan belas : Al-Ustadz dengan bangga berkata ((Alhamdulillah, Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar))Kritikan :Kalimat ringkas tahdziran tersebut isinya sebagai berikut :((“Saya tidak menasehatkan mendengarkan atau melihat TV Rodja, karena adanya orang-orang didalam radio ini, sebagian manhajnya tidak benar, dan sebagiannya tidak jelas, dan Alhamdulillah fasilitas untuk belajar agama sudah sangat banyak dimasa ini”))Inilah kalimat ringkas yang dibanggakan oleh al-Ustadz, padahal :–         Bukankah al-Ustadz memaksudkan tahdziran ini untuk para penuntut ilmu, adapun orang awam boleh mendengar rodja karena rodja ibarat orang fajir tapi memberi manfaat bagi orang awam??–         Bukankah yang seharusnya adalah sebaliknya : Justru orang awam yang tidak boleh mendengar rodja karena banyak syubhat dan orang awam tidak mengerti syubhat?. Justru para penuntut ilmu boleh mendengar rodja karena mereka mengerti syubhat??!!. Oleh karenanya fatwa Al-Muhaddits Al-ustadz al-Fadil Dzulqornain saya rasa terbalik, maaf !!–         Kalau memang orang awam boleh mendengar rodja lantas kenapa justru tahdziran ini tersebar di orang-orang awam??–         Bahkan tersebar dan ditangkap dengan senang oleh ahlul bid’ah??Yang terakhir : Tentunya tahdziran agar bermanfaat adalah dengan kejelasan bukan dengan kalimat ringkas yang kabur maknanya dan tidak jelas. Karenanya saya minta al-Ustadz untuk menjelaskan maksud perkataan tahdzirannya?Siapakah saja pengisi rodja yang sebagian manhajnya tidak benar dan sebagiannya tidak jelas??Apa ketidak benaran dan ketidak jelasan tersebut??, ditunggu masukannya al-Ustadz !!Saya tutup tanggapan ini dengan berita menarik dari artikel yang saya baca (wallahu A’lam dengan kebenarannya, dan sangat dimohon para ikhwan Jama’ah Tahdzir untuk mengecek kebenaran berita tersebut)- ternyata warga Dammaj tempat al-Ustadz Dzulqornain belajar telah menerima bantuan dari Yayasan Ihyaa At-Thurats. (silahkan lihat di http://gemaislam.com/berita/indonesia-news-menuitem/1610-bantuan-dana-yayasan-ihya-at-turats-kuwait-mengalir-untuk-warga-dammaj)Demikian pula ternyata Syaikh Muhammad ‘Umar Bazmuul duduk bareng dalam satu seminar keislaman bersama pimpinan Yayasan Ihyaa At-Turoots Kuwait, Thaariq Al-‘Iisaa :http://www.youtube.com/watch?v=HodznN8pEEIBagaimana ?. Apakah saudara-saduara kita dari Jama’ah Tahdziir mau mentahdzir Syaikh Bazmuul karena bermajelis dengan ahlul-bid’ah…., ataukah ada standar ganda??Akhukum Fillah Abu AbdilMuhsin Firanda.  


Kesebelas : Al-Ustadz berkata ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu. Namun, sehari setelah itu, tepatnya pada 4 Oktober 2013, Ustadz Firanda mengeluarkan tulisan baru dengan judul, “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan.” Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya))Kritikan : Ya ustadz, ana rasa tidak perlu antum menilai hati seseorang dengan sikap suudzon. Perkataan antum ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu…)). Apalagi antum berkata “saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini”. Ini murni bentuk suudzon, demi Allah waktu saya mengirim surat meminta antum untuk menerjemahkan surat Sykh Al-Fauzan, saya memang belum membantah dan belum menulis satu hurufpun. Setelah saya mengirim surat kepada antum baru saya membantah antum, dan saya rasa 1 hari sudah cukup bagi saya untuk menyusun bantahan tersebut. Bukankah bisa dilihat dalam web saya, hampir setiap hari saya membuat artikel, bahkan terkadang dalam sehari bisa 2 artikel…., kenapa antum suudzon kepada isi hati ana, apalagi mengkait-kaitkan dengan perkataan antum ((saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini))?? Apalagi antum menuduh ana berbuat makar dengan perkataan antum ((serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya)). Tidak perlulah antum menebak isi hati orang, apalagi dengan sikap suudzon. Baarokallahu fiik Kedua belas : Perkataan al-Ustadz ((Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya))Saya rasa al-Ustadz mungkin berfikir kembali tentang perkataan beliau ((Siapa saja)). Karena saya mendapati banyak yang membaca tulisan saya memberi tanda “like” kepada tulisan saya. Sebagai contoh dalam tulisan saya (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv) yang me “like” berjumlah 7000. Bukan maksud saya banyak merupakan ukuran kebenaran akan tetapi mungkin juga yang me “like” tersebut juga orang-orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya seperti firanda, sehingga mereka me”like”. Tolong nasehati mereka al-Ustadz, agar mereka bisa berakal panjang dan baik pemahaman serta bagus bahasa arabnya seperti antum. Baarokallahu fiik Ketiga belas : al-Ustadz berkata ((, beberapa kali Ustadz Firanda menukil dari situs http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/ yang dikelola oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby dan pengikutnya.Mungkin kebanyakan ulama, yang men-tahdzir situs tersebut, tidak dianggap oleh Ustadz Firanda. Akan  tetapi, guru kami, Syaikh Shalih bin Sa’d As-Suhaimy hafizhahullâh -yang merupakan salah seorang ulama besar Madinah dan masih dianggap sebagai rujukan oleh Ustadz Firanda-, telah men-tahdzir situs tersebut dan menyebutnya sebagai situs-situs masybûhah ‘bersyubhat, tidak jelas’))Kritikan saya dari beberapa sisi :–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi bukanlah termasuk jajaran ulama kibar di Madinah (bukan bermaksud merendahkan beliau, akan tetapi mendudukan seseorang pada kedudukan sesungguhnya). Beliau pernah ditanya siapakah ulama?, maka jawaban beliau : Ulama adalah seperti Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbaad dan Syaikh Ali Nashir Al-Faqihi.–         Diantara tawadhu Syaikh Sholeh As-Suhaimi beliau sering membaca karya-karya Syaikh Abdurrozzaq, bahkan sebagian karya syaikh Abdurrozzaq diajarkan oleh Syaikh Sholeh As-Suhaimi di masjid nabawi–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi dauroh di kebun teh lawang yang diselenggarakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib dari Al-Irsyad Surabaya, yang dianggap hizbi oleh Jama’ah Tahdzir.–         Yang menakjubkan jika Kholid Bawazir (yang dianggap dedengkot sumber dana hizbi oleh Jama’ah Tahdzir) jika datang ke kota Madinah maka para masyayikh semuanya ingin menjamu beliau, baik Syaikh Sholeh As-Suhaimi, Syaikh Abdurrozzaq, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili, dan juga Syaikh Abdus Salam As-Suhaimi. Bahkan saya yang termasuk mengantar beliau ke rumah sebagian masyaikh tersebut. Jadi Kholid Bawazir ini dianggap hizbi oleh Jama’ah tahdzir, tapi dianggap tamu mulia oleh para masyayikh???. Saya rasa lebih enak dihormati oleh masyayikh dari pada dihormati jama’ah tahdzir–         Yang lebih menakjubkan lagi ternyata Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi di Radiorodja…(https://archive.org/details/KajianIslamRadioRodja756Am_32), seharusnya sekarang al-Ustadz Dzulqornain yang selalu bolak-balik ke Madinah memperingatkan para masyayikh tersebut agar tidak ditipu oleh ustadz-ustadz Rodja sebagaimana Syaikh Robi yang menyatakan bahwa Syaikh Abdurrozzaq ditipu oleh pihak Radiorodja.–         Lantas apakah sahab.net salamat dari kritikan ulama??–         Apakah al-ustadz punya standar ganda, hanya memakai perkataan Syaikh Sholeh as-Suhaimi jika diperlukan?? Anehnya juga jama’ah tahdzir mengadakan pengajian dengan judul lihat (http://ahlussunnahslipi.com/kajian-ilmiyyah-jadilah-seorang-salafy-sejati-bersama-al-ustadz-muhammad-umar-as-sewed/), dengan membahas kitab “Kun Salafiyan ‘Alal Jaddah” karya Asy-Syaikh DR. Abdussalam bin Salim As-Suhaimi. Ternyata…sang penulis kitab sendiri Asy-Syaikh DR Abdussalam As-Suhaimi pernah mengisi langsung bukunya tersebut di radiorodja beberapa tahun yang silam??. (silahkan dengar di http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Syaikh%20Dr%20Abdus%20Salam%20bin%20Salim%20A%20Suhaimi/Jadilah%20Salafy%20Sejati)Rupanya Radiorodja sudah berusaha menjadi salafy sejati lebih dahulu dari pada Jama’ah tahdzir yang ketinggalan zaman, dan yang bahas bukan penulis aslinya. Yang penulis buku ngisi di Radiorodja dan dauroh yang diadakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib, akan tetapi al-Ustadz dari Jama’ah tahdzir yang membahas kitab tersebut ternyata menghzibikan dan membid’ahkan radiorodja dan penyelenggara dauroh. Kita ikut siapa ya?, ikut penulis kitab, atau sang ustadz yang mencoba memahami isi kitab tersebut?? Keempat belas : Al-Ustadz berkata ((Ustadz Firanda berkata, “Permasalahan mengenai Ihyaa At-Turoots telah saya bahas dengan panjang lebar, diantara perkataan saya ((…Demikian juga tatkala kita menghadapi permasalahan mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots. Karena inilah yang menjadi permasalahan utama, bukan masalah apakah yayasan Ihyaa At-Turoots ini hizbi atau tidak, karena mayoritas yang ditahdziir dan dikatakan sururi adalah orang-orang yang tidak mengambil dana sama sekali, akan tetapi kena getahnya terseret arus tahdzir gaya MLM, yaitu barang siapa yang tidak mentahdziir si fulan maka dia juga sururi??!!. Jika kita sepakat bahwasanya Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbi maka apakah yang mengambil dana otomatis menjadi sururi?,inilah permasalahannya.!!.”Tuduhan dusta ini sudah pernah Saya jawab sebagai berikut,“Sekali lagi, Saya memberi waktu bagi Ustadz Firanda guna mendatangkan bukti tentang tuduhan yang jauh dari kejujuran dan kebenaran di atas.Telah diketahui dari Saya, bahkan kadang sebagian kawan-kawan Saya sendiri mempermasalahkan sikap Saya, bahwa Saya memandang boleh mengambil dana dari Yayasan Ihyâ` At-Turâts apabila Yayasan Ihyâ` At-Turâts memberi tanpa syarat dan ketentuan.))Kritikan :Al-Ustadz menuduh saya berdusta…, dimana letak dustanya??. Perkatan yang saya yang dinukil oleh Al-Ustadz terdapat di  (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv). Perkataan saya tersebut bahkan saya jelaskan saya menukilnya dari artikel saya yang lain tatkala membantah al-Ustadz Askari ((https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/101-salah-kaprah-tentang-hajr-boikot-terhadap-ahlul-bidah-seri-6-tahdziir-dan-tabdii-berantai-ala-mlm-awas-sururi)).Lantas dimana letak dusta saya??. Sudah menjadi perkara yang maklum dan mutawatir kalau teman-teman antum dari jama’ah tahdzir mentabdi’ karena mengambil dana dari at-Turots, bahkan jika tidak mentahdzir maka akan ikut ditahdziiir….ala MLM. Ini adalah hala yang mutawatir wahai ustadz??. Lantas dimana kebohongan saya??. Saya kasih waktu buat ustadz agar bisa menjelaskan dan mendatangkan bukti !!!.Adapun jika ustadz mentahdzir Iyhaa At-Turoots bukan karena masalah dana, maka itu madzhab al-Ustadz sendiri??, saya sedang membantah madzhab MLM yang dianut oleh jama’ah Tahdzir.Sekarang saya bertanya kepada al-Ustadz, apakah al-Ustadz tidak menganut madzhab tahdzir MLM??. (semoga tidak). Akan tetapi, Kita kembali ke PERMASALAHAN INTI !!!, kenapa al-Ustadz mentahdzir Radiorodja, Ustadz Yazid Jawas dll, bahkan pernah al-Ustadz mengumpulkan tanda tangan sembilan ustadz untuk mentahdzir atau mentabdi’ para ustadz, diantaranya al-Ustadz Yazid !!!. Masihkah al-Ustadz ingat dengan selebaran tanda tangan tersebut??.Lupakah antum wahai al-Ustadz dengan pernyataan yang antum tanda tangani, ((Karena itu kami berlepas diri dari Yazid Jawas, Abu Nida, Aunur Rofiq Ghufron, Ahmas Faiz (majallah As-Sunnah), dan yang semisalnya yang masih jelas pembelaan dan hubungannya dengan yayasan Ihyaa At-Turhats dan yayasan As-Shofwa))Berikut fotokopi peranyataan antum dan kawan-kawan :Jika antum tidak bermadzhab MLM lantas apakah antum tidak pernah mentahdzir ustadz-ustadz diluar jama’ah tahdzir??. (semoga tidak pernah, dan semoga antum bukan bermadzhab MLM). Baarokallahu fiikum.Saya juga meminta al-Ustadz al-Fadil untuk menjawab pernyataan saya ((Al-Ustadz berkata ((Yang menyedihkan, kami melihat sejumlah orang-orang Radio dan TV Rodja sikap fanatisme yang batil dan tercela serta marah terhadap orang-orang yang mentahdzir dan berbicara dengan kebenaran tentang Yayasan Ihyaa At-Turoots Al-Kuwaitiyah. Diantara mereka adalah Penanya al-Akh Firanda, ia telah menulis sebuah buku yang dicetak yang ia dengan semangat dalam buku tersebut membela Yayasan Ihyaa’ At-Turoots Al-Kuwaitiyah))…Lalu sayapun berkata ((Adapun saya marah dengan fanatis yang batil dan tercela jika ada orang yang membantah Ihyaa At-Turoots, maka ini merupakan kedustaan wahai ustadz. Bahkan saya mempersilahkan antum dan para sahabat antum untuk membantah Yayasan Ihyaa At-Turoots dengan sepuas antum. Akan tetapi yang menjadikan saya tidak suka adalah menjadikan pembahasan At-Turots sebagai sarana untuk mentabdi’ para ustadz dan juga menyesatkan Radio Rodja. Karenanya coba al-Ustadz kembali membaca buku saya tersebut, semuanya terfokus pada sikap ahlus sunnah yang benar dalam menghadapi permasalahan khilafiyah diantara para ulama. Karenanya saya sering menyatakan bahwa bantahan yang ditulis oleh ustadz Askari adalah tidak nyambung, karena pembahasan saya bukanlah utamanya tertuju pada sesatnya yayasan Ihyaa At-Turoorts, akan tetapi apakah bermu’amalah dengan yayasan tersebut menjadikan seseorang otomatis menjadi sesat?? Sururi?? Hizbi?? Mubtadi’??. Itu yang saya bahas. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua…)) Kelima Belas : Perkataan al-Ustadz ((Saya bersama beberapa ikhwan yang datang dari Indonesia pernah berjumpa dengan sejumlah mahasiswa Jamî’ah Islamiyyah Madinah -seingat Saya adalah bahwa hampir seluruh mahasiswa pasca sarjana hadir, kecuali Ustadz Firanda-, di rumah Syaikh Muhammad bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh.))Kritikan :Wahai al-Ustadz, bukankah anda adalah seorang muhaddits yang hebat, yang mengkerdilan Syaikh Ali Hasan murid ahli hadits abad ini??. Dan bukankah antum tahu tentang makna dan persyaratan “Tsiqoh” menurut ahli hadits??, yaitu memiliki hapalan yang kuat??Kok bisa antum mengatakan ana tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Bukankah ana yang protes terhadap Syaikh tatkala itu dihadapan antum??. Ana berkata kepada syaikh : “Sebagian ustadz kami telah bermuamalah dengan at-Turots bertahun-tahun lamanya dan kami tidak melihat tanda-tanda hizbiyah pada mereka??”. Saya juga berkata, “Syaikh kita menghukumi seseorang dengan melihat kondisi mereka sekarang ataukah dengan melihat kondisi mereka masa depan?”. Syaikh menjawab ((Syaikh menjawab, “Mereka pasti akan berjabat tangan dengan sufiyah, aku sudah pengalaman, janggutku sudah putih” (kira-kira itu jawaban syaikh).))Wahai al-Muhaddits al-Ustadz Dzulqoranin, kejadian ini kenapa bisa anda lupakan, kehadiranku kenapa hilang dari ingatanmu??, silahkan anda bertanya kepada Hasan Rasyid?, ataukah anda bertanya kepada segenap mahasiswa madinah !!!. saya rasa ingatan mereka masih hangat….Tapi ya namanya manusia, meskipun muhaddits sekaliber antumpun masih memungkinkan lupa dan salah nukil… Keenam belas : Perkataan al-ustadz ((Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullâh maupun ayah beliau yang mulia, Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullâh, tidak pernah marah terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan dan penyimpangan Ihyâ` At-Turâts.))Kritikan : Ya al-Ustadz, sudah saya katakan bahwa kalau hanya sekedar mengkritik maka tidak menjadi masalah, silahkan mereka mengkritik. Akan tetapi tatkala kritikan tersebut menjadi bahan untuk mentahdzir dan mentabdi’ apalagi ala MLM maka ini jelas membuat marah para masyayikh. Bukankah saya sudah nukilkan berulang-ulang kritikan Syaikh Abdul Muhsin terhadap orang-orang yang mengkritik Yayasan Ihyaa At-Turots, agar mereka tahu diri dan melihat kedudukan mereka. Karena Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin juga mengisi di Yayasan Ihyaa At-Turots dan tidak mentahdzir apalagi membid’ahkan??. Berikut saya nukil lagi perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad :التحذير من فتنة التجريح والتبديع من بعض أهل السنة في هذا العصروقريبٌ من بدعة امتحان الناس بالأشخاص ما حصل في هذا الزمان من افتتان فئة قليلة من أهل السنَّة بتجريح بعض إخوانهم من أهل السنة وتبديعهم، وما ترتَّب على ذلك من هجر وتقاطع بينهم وقطع لطريق الإفادة منهم، وذلك التجريح والتبديع منه ما يكون مبنيًّا على ظنِّ ما ليس ببدعة بدعة، ومن أمثلة ذلك أنَّ الشيخين الجليلين عبد العزيز بن باز وابن عثيمين ـ رحمهما الله ـ قد أفتيا جماعة بدخولها في أمر رأيَا المصلحة في ذلك الدخول، ومِمَّن لم يُعجبهم ذلك المفتَى به تلك الفئة القليلة، فعابت تلك الجماعة بذلك، ولَم يقف الأمر عند هذا الحدِّ، بل انتقل العيب إلى مَن يتعاون معها بإلقاء المحاضرات، ووصفه بأنَّه مُميِّع لمنهج السلف، مع أنَّ هذين الشيخين الجليلين كانا يُلقيان المحاضرات على تلك الجماعة عن طريق الهاتف((Peringatan terahadap fitnah tajrih dan tabdi’ dari sebagian ahlus sunnah di zaman ini :“Yang mirip dengan bid’ah menguji orang-orang (termasuk ahlus sunnah atau hizbi-pen) dengan sosok-sosok tertentu (yaitu dengan sosok syaikh-syaikh tertentu-pen), apa yang terjadi di zaman ini, dari fitnah segelintir kecil dari ahlus sunnah dengan mentajrih sebagian saudara-saudara mereka dari ahlus sunnah serta mentabdi’ mereka. Demikian juga dampak yang timbul seperti saling memboikot dan menghajr diantara mereka dan tidak bolehnya mengambil faedah dari merekaDan sikap tajrih dan tabdi’ tersebut diantaranya ada yang dibangun di atas menyangka suatu yang bukan bid’ah sebagai bid’ah. Dan diantara contohnya adalah dua orang syaikh yang mulia Abdul Aziz bin Baas dan Ibnu Utsaimin rahimahumallahu telah berfatwa kepada suatu jama’ah untuk masuk dalam suatu perkara, kedua syaikh ini melihat adalah kemaslahatan untuk masuk dalam perkara tersebut. Diantara yang tidak suka dengan fatwa ini adalah segelintir kecil kelompok tersebut, maka merekapun mencela jama’ah tersebut. Bahkan perkaranya tidak berhenti hingga disini, bahkan celaan berpindah kepada siapa saja yang berta’awun (bekerjasama) dengan jama’ah tersebut berupa menyampaikan pengajian-pengajian, dan para penyampai pengajian tersebut disifati dengan mumayyi’ (lemah) terhadap manhaj salaf. Padahal kedua syaikh yang mulia tersebut (Syaikh Bin Baaz dan Ibnu Utsaimin) telah mengisi pengajian di jama’ah tersebut melalui telephon”)) (Al-Hats ‘alaa Ittiba As-Sunnah hal 26).Jama’ah yang dimaksud oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad adalah Yayasan Ihyaa At-Turots di Kuwait.Wahai al-ustadz, jelas ini merupakan bentuk pengingkaran dari Syaikh Abdul Muhsin atas sikap Jama’ah Tahdzir…. Lantas apakah kemarahan  syaikh harus diungkapkan dengan model marah-marah seperti jama’ah tahdzir seperti mengatakan “Berakal pendek”, “kambing terbang” “pembuat makar”,  dll ??!! Ketujuh belas : Perkataan al-ustadz ((Orang-orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda memang akan sulit memahami keagungan syariat membela agama dari segala penyimpangan sehingga tahdzir terhadap kesalahan-kesalahan jelas Rodja ditanggapi sangat jelek oleh Ustadz Firanda dengan ucapan))Ini yang saya harapkan dari Al-Ustadz, mentahdzir Radiorodja dengan kesalahan-kesalahan yang jelas. Tolong sebutkan kesalahan-kesalahan yang jelas tersebut wahai ustadz !! ditunggu !!.Adapun mengenai diputarnya clip video Syaikh Muhammad al-Arifi maka penjelasannya sebagai berikut :–         Yang memutar tersebut adalah salah seorang kru rodja bagian IT yang memasukan video tersebut tanpa sepengetahuan para ustadz. Berangkat dari husnudzon kru tersebut bahwa syaikh adalah adalah para dai ahlus sunnah karena tidak ada tabdi’ atau tahdzir yang masyhur sebelumnya.–         Lagipula sudah dilarang untuk diputar lagi klip tersebut, bukan karena tahdziran para jama’ah tahdzir, akan tetapi karena ada seorang ustadz yang melihat lantas mengingatkan. Jadi waktu al-Ustadz dzulqornain mentahdzir rodja video tersebut sudah tidak diputar. Kedelapan belas : Al-Ustadz dengan bangga berkata ((Alhamdulillah, Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar))Kritikan :Kalimat ringkas tahdziran tersebut isinya sebagai berikut :((“Saya tidak menasehatkan mendengarkan atau melihat TV Rodja, karena adanya orang-orang didalam radio ini, sebagian manhajnya tidak benar, dan sebagiannya tidak jelas, dan Alhamdulillah fasilitas untuk belajar agama sudah sangat banyak dimasa ini”))Inilah kalimat ringkas yang dibanggakan oleh al-Ustadz, padahal :–         Bukankah al-Ustadz memaksudkan tahdziran ini untuk para penuntut ilmu, adapun orang awam boleh mendengar rodja karena rodja ibarat orang fajir tapi memberi manfaat bagi orang awam??–         Bukankah yang seharusnya adalah sebaliknya : Justru orang awam yang tidak boleh mendengar rodja karena banyak syubhat dan orang awam tidak mengerti syubhat?. Justru para penuntut ilmu boleh mendengar rodja karena mereka mengerti syubhat??!!. Oleh karenanya fatwa Al-Muhaddits Al-ustadz al-Fadil Dzulqornain saya rasa terbalik, maaf !!–         Kalau memang orang awam boleh mendengar rodja lantas kenapa justru tahdziran ini tersebar di orang-orang awam??–         Bahkan tersebar dan ditangkap dengan senang oleh ahlul bid’ah??Yang terakhir : Tentunya tahdziran agar bermanfaat adalah dengan kejelasan bukan dengan kalimat ringkas yang kabur maknanya dan tidak jelas. Karenanya saya minta al-Ustadz untuk menjelaskan maksud perkataan tahdzirannya?Siapakah saja pengisi rodja yang sebagian manhajnya tidak benar dan sebagiannya tidak jelas??Apa ketidak benaran dan ketidak jelasan tersebut??, ditunggu masukannya al-Ustadz !!Saya tutup tanggapan ini dengan berita menarik dari artikel yang saya baca (wallahu A’lam dengan kebenarannya, dan sangat dimohon para ikhwan Jama’ah Tahdzir untuk mengecek kebenaran berita tersebut)- ternyata warga Dammaj tempat al-Ustadz Dzulqornain belajar telah menerima bantuan dari Yayasan Ihyaa At-Thurats. (silahkan lihat di http://gemaislam.com/berita/indonesia-news-menuitem/1610-bantuan-dana-yayasan-ihya-at-turats-kuwait-mengalir-untuk-warga-dammaj)Demikian pula ternyata Syaikh Muhammad ‘Umar Bazmuul duduk bareng dalam satu seminar keislaman bersama pimpinan Yayasan Ihyaa At-Turoots Kuwait, Thaariq Al-‘Iisaa :http://www.youtube.com/watch?v=HodznN8pEEIBagaimana ?. Apakah saudara-saduara kita dari Jama’ah Tahdziir mau mentahdzir Syaikh Bazmuul karena bermajelis dengan ahlul-bid’ah…., ataukah ada standar ganda??Akhukum Fillah Abu AbdilMuhsin Firanda.  

YESUS SEORANG TUHAN ?? (bag 3) – Pernyataan-Pernyataan Yesus Yang Menunjukkan Ia Adalah Manusia

Pertama : Yesus Menyebut Dirinya Sebagai GuruDalam Injil Matius edisi bahasa Indonesia (23 : 7-10) : ((Mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebutkan siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias)). Al-kitab versi Indonesia yang saya jadikan patokan adalah terbitan “Lembaga Al-Kitab Indonesia, Jakarta 2006, yang dikutip dari ALKITAB terjemahan baru (TB) LAI 1974Ternyata terjemahan injil dalam bahasa Indonesia kurang pas dengan injil dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab.Kalimat (Rabimu) dan (pemimpin) dalam injil edisi bahasa Inggris diterjemahkan dengan “your Master” (gurumu). Sebagaimana berikut : {23:7} And greetings in the markets, and to be called of men, Rabbi, Rabbi. {23:8} But be not ye called Rabbi: for one is your Master, [even] Christ; and all ye are brethren. {23:9} And call no [man] your father upon the earth: for one is your Father, which is in heaven. {23:10} Neither be ye called masters: for one is your Master, [even] Christ. (The King James Version of The Holy Bible, hal 572)Demikian juga ternyata terjemahan inggris sesuai dengan al-kitab dalam versi Arab, yang diterjemahkan dengan kata مُعَلِّمَكُمْ (gurumu):وَالتَّحِيَّاتِ فِي الأَسْوَاقِ، وَأَنْ يَدْعُوَهُمُ النَّاسُ: سَيِّدِي سَيِّدِي، وَأَمَّا أَنْتُمْ فَلاَ تُدْعَوْا سَيِّدِي، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُ، وَأَنْتُمْ جَمِيعًا إِخْوَةٌ، وَلاَ تَدْعُوا لَكُمْ أَبًا عَلَى الأَرْضِ، لأَنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ الَّذِي فِي السَّمَاوَاتِ، وَلاَ تُدْعَوْا مُعَلِّمِينَ، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُDalam terjemahan inggris dan Arab sangat jelas bahwa Yesus menamakan dirinya sebagai “Guru”. Yesus tidak menamakan dirinya sebagai Tuhan.Terjemahan Injil versi bahasa Arab dan Inggris sebagai berikut : ((Dan adapun kalian maka janganlah kalian dipanggil dengan tuanku, karena guru kalian satu yatu Al-Masih, dan kalian seluruhnya adalah bersaudara. Dan jangan kalian memanggil siapapun di atas muka bumi ini “bapa”, karena “Bapa” kalian hanya satu yang ada di langit/surga. Dan janganlah kalian dipanggil “para guru”, karena guru kalian satu yaitu Al-Masih))Sangat jelas dalam nas injil ini bahwa :–         Yesus membedakan antara dirinya dengan Bapa, dirinya sebagai guru, dan Bapa yang di langit sebagai tuhan dan esa. Jadi sangat jelas bahwa tugas Yesus adalah sebagai guru, dan ini sebagaimana tugas para nabi yang lainnya. Allah berfirman tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam :كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS Al-Baqoroh : 151)–         Yesus juga melarang murid-muridnya untuk memanggil siapapun di atas muka bumi ini dengan panggilan “Bapa”. Karena yang hanya berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa” adalah Allah yang ada di surga. Ini sangat jelas adalah pentauhidan Allah, dan Yesus tidak berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa”. Hal ini didukung dengan banyaknya nas dalam injil yang menyebutkan bahwa murid-murid Yesus memanggil Yesus dengan “guru”. Diantaranya :–         Matius versi Indonesia (19 : 16) : ((Ada seseorang datang kepada Yesus, dan berkata : “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?. Jawab Yesus : “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik. Tetapi jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah))Ternyata versi inggris dan versi Arab berbeda, dalam versi Indonesia ada kata-kata penting yang terhapus.Berikut versi Inggris dan Arab(({19:16} And, behold, one came and said unto him, Good Master, what good thing shall I do, that I may have eternal life? {19:17} And he said unto him, Why callest thou me good? [there is] none good but one, [that is,] God: but if thou wilt enter into life, keep the commandments.))((وإذا واحد تقدم وقال له “أيها المعلم الصالح، أي صلاح أعمل لتكون لي الحياة الأبدية؟”، فقال له “لماذا تدعوني صالحا ليس أحد صالحا إلا واحد وهو الله. ولكن إن أردت تدخل الحياة فاحفظ الوصايا))Artinya : ((Dan ada seseorang datang dan berkata kepada Yesus : “Wahai Guru yang baik, kebaikan apakah yang aku kerjakan agar aku mendapatkan kehidupan yang abadi?”. Maka Yesus berkata kepadanya : “Kenapa engkau memanggilku dengan “baik”, tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Allah. Akan tetapi jika engkau ingin masuk dalam kehidupan maka jagalah washiat-washiat))Bandingkanlah antara terjemahan versi Indonesia yang telah menghilangkan kalimat yang ditebalkan dan digaris bawahi. Padahal dalam versi Inggris dan Arab ada perkataan Yesus (([there is] none good but one, [that is,] God/لَيْسَ أَحَدٌ صَالِحًا إِلاَّ وَاحِدٌ وَهُوَ اللهُ/Tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Tuhan/Allah))–         Markus (9 : 38) : ((Kata Yohanes kepada Yesus : “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu karena ia bukan pengikut kita”))–         Markus (10 : 35) : ((Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya : “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan Kami”))–         Lukas (5 : 5) : ((Simon menjawab : “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”))–         Lukas (17 : 12-13) : ((Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak : “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”)) Kedua : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Adalah Utusan/Rasul          Ada nas-nas dalam injil-injil yang menunjukkan bahwa Yesus hanyalah seorang utusan Allah. Dan yang mengutus tentunya bukan yang diutus, sebagaimana hal jelas diketahui.–         Yohanes (13 : 20) : ((Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus aku))Pernyataan Yesus ini menunjukkan beliau adalah rasul/utusan Allah, maka mentaatinya sama dengan mentaati Allah yang mengutusnya. Dan ini sama dengan firman Allahمَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ      “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS An-Nisaa : 80)–         Matius (15 : 24) : ((Jawab Yesus : “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil)). Ini menunjukkan pengakuan Yesus bahwasanya beliau adalah seorang utusan. Kalau seandainya ia adalah tuhan maka bagaimana ia diutus??. Nas ini juga merupakan dalil bahwasanya risalah Yesus hanya khusus untuk Bani Israil–         Yohanes (3 : 34) : ((Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas))–         Yohanes (5 : 30) : Yesus berkata ((Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menurut kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku))–         Yohanes (5 : 37) : ((Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku))–         Yohanes (11 : 41-42) : Tatkala Yesus melakukan salah satu mukjizat menghidupkan orang mati maka : ((Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucapkan syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku“)). Sangat jelas Yesus bersyukur kepada Allah karena telah memberikannya kemampuan untuk melakukan mukjizat tersebut, karena kalau tidak ada bantuan Allah maka ia hanyalah manusia biasa yang tidak bisa melakukan mukjizat apapun. Ia melakukan mukjizat ini (menghidupkan orang mati) agar kaumnya mau percaya bahwa ia diutus oleh Allah. Dan inilah faedah mukjizat-mukjizat yang berlaku pada para rasul Allah yang lainnya. Ketiga : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Manusia Dan Anak Manusia          Lebih dari 70 nas-nas dalam injil yang menunjukan Yesus adalah manusia dan juga anak manusia. Diantara nas-nas tersebut :–         Matius (8 : 20) : ((Yesus berkata kepadanya : “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya))–         Matius (11 : 19) : ((Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum))–         Markus (9 : 12) : ((Jawab Yesus : “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan?))–         Yohanes (1 : 51) : ((Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia))Dan nas-nas di atas sangat tegas dan jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Manusia dan anak seorang manusia. Ia adalah seorang rasul, ia tidak menyampaikan kepada murid-muridnya kecuali kebenaran sebagaimana yang ia dengar dari Tuhannya Allah. Keempat : Yesus Berteriak Memanggil Bapa          Perkataan terakhir yang diucapkan oleh Yesus tatkala ia disalib –sebagaimana persangkaan kaum Kristen- menunjukkan akan kelemahannya dan ketidak mampuannya serta menunjukkan penghambaannya kepada Allah. Dalam injil Matius (27 : 46) : ((Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabkhtani?” Artinya : Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?))Ini adalah ucapan terakhir Yesus sebelum wafatnya beliau –jika benar- maka menunjukkan akan keterpisahan yang sempurna antara Yang Meninggalkan dengan Yang Ditinggalkan. Dan tentunya semua orang yang berakal tahu bahwa yang meninggalkan bukanlah yang ditinggalkan.Jika Yesus adalah Allah dalam dzat yang satu, kalau begitu siapakah yang diajak berbicara oleh Yesus dalam teriakan suaranya yang nyaring tersebut??, siapakah yang telah meninggalkan Yesus??. Apakah Yesus berteriak-teriak berbicara dengan dirinya sendiri, dan menganggap dirinya telah meninggalkan dirinya sendiri??, tentu ini adalah kegilaan tanpa diragukan lagi !!Dalam injil Lukas (23 : 46) : ((Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan Nyawa-Nya))Ini adalah bentuk pengakuan yang jelas dari Yesus bahwasanya ia hanyalah seorang manusia dan makhluk ciptaan yang menyerhakan ruhnya kepada Allah. Bagaimana bisa dikatakan ia adalah tuhan??!!Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 05-01-1435 H / 08-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

YESUS SEORANG TUHAN ?? (bag 3) – Pernyataan-Pernyataan Yesus Yang Menunjukkan Ia Adalah Manusia

Pertama : Yesus Menyebut Dirinya Sebagai GuruDalam Injil Matius edisi bahasa Indonesia (23 : 7-10) : ((Mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebutkan siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias)). Al-kitab versi Indonesia yang saya jadikan patokan adalah terbitan “Lembaga Al-Kitab Indonesia, Jakarta 2006, yang dikutip dari ALKITAB terjemahan baru (TB) LAI 1974Ternyata terjemahan injil dalam bahasa Indonesia kurang pas dengan injil dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab.Kalimat (Rabimu) dan (pemimpin) dalam injil edisi bahasa Inggris diterjemahkan dengan “your Master” (gurumu). Sebagaimana berikut : {23:7} And greetings in the markets, and to be called of men, Rabbi, Rabbi. {23:8} But be not ye called Rabbi: for one is your Master, [even] Christ; and all ye are brethren. {23:9} And call no [man] your father upon the earth: for one is your Father, which is in heaven. {23:10} Neither be ye called masters: for one is your Master, [even] Christ. (The King James Version of The Holy Bible, hal 572)Demikian juga ternyata terjemahan inggris sesuai dengan al-kitab dalam versi Arab, yang diterjemahkan dengan kata مُعَلِّمَكُمْ (gurumu):وَالتَّحِيَّاتِ فِي الأَسْوَاقِ، وَأَنْ يَدْعُوَهُمُ النَّاسُ: سَيِّدِي سَيِّدِي، وَأَمَّا أَنْتُمْ فَلاَ تُدْعَوْا سَيِّدِي، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُ، وَأَنْتُمْ جَمِيعًا إِخْوَةٌ، وَلاَ تَدْعُوا لَكُمْ أَبًا عَلَى الأَرْضِ، لأَنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ الَّذِي فِي السَّمَاوَاتِ، وَلاَ تُدْعَوْا مُعَلِّمِينَ، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُDalam terjemahan inggris dan Arab sangat jelas bahwa Yesus menamakan dirinya sebagai “Guru”. Yesus tidak menamakan dirinya sebagai Tuhan.Terjemahan Injil versi bahasa Arab dan Inggris sebagai berikut : ((Dan adapun kalian maka janganlah kalian dipanggil dengan tuanku, karena guru kalian satu yatu Al-Masih, dan kalian seluruhnya adalah bersaudara. Dan jangan kalian memanggil siapapun di atas muka bumi ini “bapa”, karena “Bapa” kalian hanya satu yang ada di langit/surga. Dan janganlah kalian dipanggil “para guru”, karena guru kalian satu yaitu Al-Masih))Sangat jelas dalam nas injil ini bahwa :–         Yesus membedakan antara dirinya dengan Bapa, dirinya sebagai guru, dan Bapa yang di langit sebagai tuhan dan esa. Jadi sangat jelas bahwa tugas Yesus adalah sebagai guru, dan ini sebagaimana tugas para nabi yang lainnya. Allah berfirman tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam :كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS Al-Baqoroh : 151)–         Yesus juga melarang murid-muridnya untuk memanggil siapapun di atas muka bumi ini dengan panggilan “Bapa”. Karena yang hanya berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa” adalah Allah yang ada di surga. Ini sangat jelas adalah pentauhidan Allah, dan Yesus tidak berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa”. Hal ini didukung dengan banyaknya nas dalam injil yang menyebutkan bahwa murid-murid Yesus memanggil Yesus dengan “guru”. Diantaranya :–         Matius versi Indonesia (19 : 16) : ((Ada seseorang datang kepada Yesus, dan berkata : “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?. Jawab Yesus : “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik. Tetapi jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah))Ternyata versi inggris dan versi Arab berbeda, dalam versi Indonesia ada kata-kata penting yang terhapus.Berikut versi Inggris dan Arab(({19:16} And, behold, one came and said unto him, Good Master, what good thing shall I do, that I may have eternal life? {19:17} And he said unto him, Why callest thou me good? [there is] none good but one, [that is,] God: but if thou wilt enter into life, keep the commandments.))((وإذا واحد تقدم وقال له “أيها المعلم الصالح، أي صلاح أعمل لتكون لي الحياة الأبدية؟”، فقال له “لماذا تدعوني صالحا ليس أحد صالحا إلا واحد وهو الله. ولكن إن أردت تدخل الحياة فاحفظ الوصايا))Artinya : ((Dan ada seseorang datang dan berkata kepada Yesus : “Wahai Guru yang baik, kebaikan apakah yang aku kerjakan agar aku mendapatkan kehidupan yang abadi?”. Maka Yesus berkata kepadanya : “Kenapa engkau memanggilku dengan “baik”, tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Allah. Akan tetapi jika engkau ingin masuk dalam kehidupan maka jagalah washiat-washiat))Bandingkanlah antara terjemahan versi Indonesia yang telah menghilangkan kalimat yang ditebalkan dan digaris bawahi. Padahal dalam versi Inggris dan Arab ada perkataan Yesus (([there is] none good but one, [that is,] God/لَيْسَ أَحَدٌ صَالِحًا إِلاَّ وَاحِدٌ وَهُوَ اللهُ/Tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Tuhan/Allah))–         Markus (9 : 38) : ((Kata Yohanes kepada Yesus : “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu karena ia bukan pengikut kita”))–         Markus (10 : 35) : ((Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya : “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan Kami”))–         Lukas (5 : 5) : ((Simon menjawab : “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”))–         Lukas (17 : 12-13) : ((Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak : “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”)) Kedua : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Adalah Utusan/Rasul          Ada nas-nas dalam injil-injil yang menunjukkan bahwa Yesus hanyalah seorang utusan Allah. Dan yang mengutus tentunya bukan yang diutus, sebagaimana hal jelas diketahui.–         Yohanes (13 : 20) : ((Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus aku))Pernyataan Yesus ini menunjukkan beliau adalah rasul/utusan Allah, maka mentaatinya sama dengan mentaati Allah yang mengutusnya. Dan ini sama dengan firman Allahمَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ      “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS An-Nisaa : 80)–         Matius (15 : 24) : ((Jawab Yesus : “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil)). Ini menunjukkan pengakuan Yesus bahwasanya beliau adalah seorang utusan. Kalau seandainya ia adalah tuhan maka bagaimana ia diutus??. Nas ini juga merupakan dalil bahwasanya risalah Yesus hanya khusus untuk Bani Israil–         Yohanes (3 : 34) : ((Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas))–         Yohanes (5 : 30) : Yesus berkata ((Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menurut kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku))–         Yohanes (5 : 37) : ((Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku))–         Yohanes (11 : 41-42) : Tatkala Yesus melakukan salah satu mukjizat menghidupkan orang mati maka : ((Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucapkan syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku“)). Sangat jelas Yesus bersyukur kepada Allah karena telah memberikannya kemampuan untuk melakukan mukjizat tersebut, karena kalau tidak ada bantuan Allah maka ia hanyalah manusia biasa yang tidak bisa melakukan mukjizat apapun. Ia melakukan mukjizat ini (menghidupkan orang mati) agar kaumnya mau percaya bahwa ia diutus oleh Allah. Dan inilah faedah mukjizat-mukjizat yang berlaku pada para rasul Allah yang lainnya. Ketiga : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Manusia Dan Anak Manusia          Lebih dari 70 nas-nas dalam injil yang menunjukan Yesus adalah manusia dan juga anak manusia. Diantara nas-nas tersebut :–         Matius (8 : 20) : ((Yesus berkata kepadanya : “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya))–         Matius (11 : 19) : ((Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum))–         Markus (9 : 12) : ((Jawab Yesus : “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan?))–         Yohanes (1 : 51) : ((Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia))Dan nas-nas di atas sangat tegas dan jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Manusia dan anak seorang manusia. Ia adalah seorang rasul, ia tidak menyampaikan kepada murid-muridnya kecuali kebenaran sebagaimana yang ia dengar dari Tuhannya Allah. Keempat : Yesus Berteriak Memanggil Bapa          Perkataan terakhir yang diucapkan oleh Yesus tatkala ia disalib –sebagaimana persangkaan kaum Kristen- menunjukkan akan kelemahannya dan ketidak mampuannya serta menunjukkan penghambaannya kepada Allah. Dalam injil Matius (27 : 46) : ((Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabkhtani?” Artinya : Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?))Ini adalah ucapan terakhir Yesus sebelum wafatnya beliau –jika benar- maka menunjukkan akan keterpisahan yang sempurna antara Yang Meninggalkan dengan Yang Ditinggalkan. Dan tentunya semua orang yang berakal tahu bahwa yang meninggalkan bukanlah yang ditinggalkan.Jika Yesus adalah Allah dalam dzat yang satu, kalau begitu siapakah yang diajak berbicara oleh Yesus dalam teriakan suaranya yang nyaring tersebut??, siapakah yang telah meninggalkan Yesus??. Apakah Yesus berteriak-teriak berbicara dengan dirinya sendiri, dan menganggap dirinya telah meninggalkan dirinya sendiri??, tentu ini adalah kegilaan tanpa diragukan lagi !!Dalam injil Lukas (23 : 46) : ((Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan Nyawa-Nya))Ini adalah bentuk pengakuan yang jelas dari Yesus bahwasanya ia hanyalah seorang manusia dan makhluk ciptaan yang menyerhakan ruhnya kepada Allah. Bagaimana bisa dikatakan ia adalah tuhan??!!Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 05-01-1435 H / 08-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Pertama : Yesus Menyebut Dirinya Sebagai GuruDalam Injil Matius edisi bahasa Indonesia (23 : 7-10) : ((Mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebutkan siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias)). Al-kitab versi Indonesia yang saya jadikan patokan adalah terbitan “Lembaga Al-Kitab Indonesia, Jakarta 2006, yang dikutip dari ALKITAB terjemahan baru (TB) LAI 1974Ternyata terjemahan injil dalam bahasa Indonesia kurang pas dengan injil dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab.Kalimat (Rabimu) dan (pemimpin) dalam injil edisi bahasa Inggris diterjemahkan dengan “your Master” (gurumu). Sebagaimana berikut : {23:7} And greetings in the markets, and to be called of men, Rabbi, Rabbi. {23:8} But be not ye called Rabbi: for one is your Master, [even] Christ; and all ye are brethren. {23:9} And call no [man] your father upon the earth: for one is your Father, which is in heaven. {23:10} Neither be ye called masters: for one is your Master, [even] Christ. (The King James Version of The Holy Bible, hal 572)Demikian juga ternyata terjemahan inggris sesuai dengan al-kitab dalam versi Arab, yang diterjemahkan dengan kata مُعَلِّمَكُمْ (gurumu):وَالتَّحِيَّاتِ فِي الأَسْوَاقِ، وَأَنْ يَدْعُوَهُمُ النَّاسُ: سَيِّدِي سَيِّدِي، وَأَمَّا أَنْتُمْ فَلاَ تُدْعَوْا سَيِّدِي، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُ، وَأَنْتُمْ جَمِيعًا إِخْوَةٌ، وَلاَ تَدْعُوا لَكُمْ أَبًا عَلَى الأَرْضِ، لأَنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ الَّذِي فِي السَّمَاوَاتِ، وَلاَ تُدْعَوْا مُعَلِّمِينَ، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُDalam terjemahan inggris dan Arab sangat jelas bahwa Yesus menamakan dirinya sebagai “Guru”. Yesus tidak menamakan dirinya sebagai Tuhan.Terjemahan Injil versi bahasa Arab dan Inggris sebagai berikut : ((Dan adapun kalian maka janganlah kalian dipanggil dengan tuanku, karena guru kalian satu yatu Al-Masih, dan kalian seluruhnya adalah bersaudara. Dan jangan kalian memanggil siapapun di atas muka bumi ini “bapa”, karena “Bapa” kalian hanya satu yang ada di langit/surga. Dan janganlah kalian dipanggil “para guru”, karena guru kalian satu yaitu Al-Masih))Sangat jelas dalam nas injil ini bahwa :–         Yesus membedakan antara dirinya dengan Bapa, dirinya sebagai guru, dan Bapa yang di langit sebagai tuhan dan esa. Jadi sangat jelas bahwa tugas Yesus adalah sebagai guru, dan ini sebagaimana tugas para nabi yang lainnya. Allah berfirman tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam :كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS Al-Baqoroh : 151)–         Yesus juga melarang murid-muridnya untuk memanggil siapapun di atas muka bumi ini dengan panggilan “Bapa”. Karena yang hanya berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa” adalah Allah yang ada di surga. Ini sangat jelas adalah pentauhidan Allah, dan Yesus tidak berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa”. Hal ini didukung dengan banyaknya nas dalam injil yang menyebutkan bahwa murid-murid Yesus memanggil Yesus dengan “guru”. Diantaranya :–         Matius versi Indonesia (19 : 16) : ((Ada seseorang datang kepada Yesus, dan berkata : “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?. Jawab Yesus : “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik. Tetapi jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah))Ternyata versi inggris dan versi Arab berbeda, dalam versi Indonesia ada kata-kata penting yang terhapus.Berikut versi Inggris dan Arab(({19:16} And, behold, one came and said unto him, Good Master, what good thing shall I do, that I may have eternal life? {19:17} And he said unto him, Why callest thou me good? [there is] none good but one, [that is,] God: but if thou wilt enter into life, keep the commandments.))((وإذا واحد تقدم وقال له “أيها المعلم الصالح، أي صلاح أعمل لتكون لي الحياة الأبدية؟”، فقال له “لماذا تدعوني صالحا ليس أحد صالحا إلا واحد وهو الله. ولكن إن أردت تدخل الحياة فاحفظ الوصايا))Artinya : ((Dan ada seseorang datang dan berkata kepada Yesus : “Wahai Guru yang baik, kebaikan apakah yang aku kerjakan agar aku mendapatkan kehidupan yang abadi?”. Maka Yesus berkata kepadanya : “Kenapa engkau memanggilku dengan “baik”, tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Allah. Akan tetapi jika engkau ingin masuk dalam kehidupan maka jagalah washiat-washiat))Bandingkanlah antara terjemahan versi Indonesia yang telah menghilangkan kalimat yang ditebalkan dan digaris bawahi. Padahal dalam versi Inggris dan Arab ada perkataan Yesus (([there is] none good but one, [that is,] God/لَيْسَ أَحَدٌ صَالِحًا إِلاَّ وَاحِدٌ وَهُوَ اللهُ/Tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Tuhan/Allah))–         Markus (9 : 38) : ((Kata Yohanes kepada Yesus : “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu karena ia bukan pengikut kita”))–         Markus (10 : 35) : ((Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya : “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan Kami”))–         Lukas (5 : 5) : ((Simon menjawab : “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”))–         Lukas (17 : 12-13) : ((Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak : “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”)) Kedua : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Adalah Utusan/Rasul          Ada nas-nas dalam injil-injil yang menunjukkan bahwa Yesus hanyalah seorang utusan Allah. Dan yang mengutus tentunya bukan yang diutus, sebagaimana hal jelas diketahui.–         Yohanes (13 : 20) : ((Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus aku))Pernyataan Yesus ini menunjukkan beliau adalah rasul/utusan Allah, maka mentaatinya sama dengan mentaati Allah yang mengutusnya. Dan ini sama dengan firman Allahمَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ      “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS An-Nisaa : 80)–         Matius (15 : 24) : ((Jawab Yesus : “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil)). Ini menunjukkan pengakuan Yesus bahwasanya beliau adalah seorang utusan. Kalau seandainya ia adalah tuhan maka bagaimana ia diutus??. Nas ini juga merupakan dalil bahwasanya risalah Yesus hanya khusus untuk Bani Israil–         Yohanes (3 : 34) : ((Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas))–         Yohanes (5 : 30) : Yesus berkata ((Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menurut kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku))–         Yohanes (5 : 37) : ((Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku))–         Yohanes (11 : 41-42) : Tatkala Yesus melakukan salah satu mukjizat menghidupkan orang mati maka : ((Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucapkan syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku“)). Sangat jelas Yesus bersyukur kepada Allah karena telah memberikannya kemampuan untuk melakukan mukjizat tersebut, karena kalau tidak ada bantuan Allah maka ia hanyalah manusia biasa yang tidak bisa melakukan mukjizat apapun. Ia melakukan mukjizat ini (menghidupkan orang mati) agar kaumnya mau percaya bahwa ia diutus oleh Allah. Dan inilah faedah mukjizat-mukjizat yang berlaku pada para rasul Allah yang lainnya. Ketiga : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Manusia Dan Anak Manusia          Lebih dari 70 nas-nas dalam injil yang menunjukan Yesus adalah manusia dan juga anak manusia. Diantara nas-nas tersebut :–         Matius (8 : 20) : ((Yesus berkata kepadanya : “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya))–         Matius (11 : 19) : ((Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum))–         Markus (9 : 12) : ((Jawab Yesus : “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan?))–         Yohanes (1 : 51) : ((Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia))Dan nas-nas di atas sangat tegas dan jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Manusia dan anak seorang manusia. Ia adalah seorang rasul, ia tidak menyampaikan kepada murid-muridnya kecuali kebenaran sebagaimana yang ia dengar dari Tuhannya Allah. Keempat : Yesus Berteriak Memanggil Bapa          Perkataan terakhir yang diucapkan oleh Yesus tatkala ia disalib –sebagaimana persangkaan kaum Kristen- menunjukkan akan kelemahannya dan ketidak mampuannya serta menunjukkan penghambaannya kepada Allah. Dalam injil Matius (27 : 46) : ((Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabkhtani?” Artinya : Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?))Ini adalah ucapan terakhir Yesus sebelum wafatnya beliau –jika benar- maka menunjukkan akan keterpisahan yang sempurna antara Yang Meninggalkan dengan Yang Ditinggalkan. Dan tentunya semua orang yang berakal tahu bahwa yang meninggalkan bukanlah yang ditinggalkan.Jika Yesus adalah Allah dalam dzat yang satu, kalau begitu siapakah yang diajak berbicara oleh Yesus dalam teriakan suaranya yang nyaring tersebut??, siapakah yang telah meninggalkan Yesus??. Apakah Yesus berteriak-teriak berbicara dengan dirinya sendiri, dan menganggap dirinya telah meninggalkan dirinya sendiri??, tentu ini adalah kegilaan tanpa diragukan lagi !!Dalam injil Lukas (23 : 46) : ((Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan Nyawa-Nya))Ini adalah bentuk pengakuan yang jelas dari Yesus bahwasanya ia hanyalah seorang manusia dan makhluk ciptaan yang menyerhakan ruhnya kepada Allah. Bagaimana bisa dikatakan ia adalah tuhan??!!Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 05-01-1435 H / 08-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Pertama : Yesus Menyebut Dirinya Sebagai GuruDalam Injil Matius edisi bahasa Indonesia (23 : 7-10) : ((Mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebutkan siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias)). Al-kitab versi Indonesia yang saya jadikan patokan adalah terbitan “Lembaga Al-Kitab Indonesia, Jakarta 2006, yang dikutip dari ALKITAB terjemahan baru (TB) LAI 1974Ternyata terjemahan injil dalam bahasa Indonesia kurang pas dengan injil dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab.Kalimat (Rabimu) dan (pemimpin) dalam injil edisi bahasa Inggris diterjemahkan dengan “your Master” (gurumu). Sebagaimana berikut : {23:7} And greetings in the markets, and to be called of men, Rabbi, Rabbi. {23:8} But be not ye called Rabbi: for one is your Master, [even] Christ; and all ye are brethren. {23:9} And call no [man] your father upon the earth: for one is your Father, which is in heaven. {23:10} Neither be ye called masters: for one is your Master, [even] Christ. (The King James Version of The Holy Bible, hal 572)Demikian juga ternyata terjemahan inggris sesuai dengan al-kitab dalam versi Arab, yang diterjemahkan dengan kata مُعَلِّمَكُمْ (gurumu):وَالتَّحِيَّاتِ فِي الأَسْوَاقِ، وَأَنْ يَدْعُوَهُمُ النَّاسُ: سَيِّدِي سَيِّدِي، وَأَمَّا أَنْتُمْ فَلاَ تُدْعَوْا سَيِّدِي، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُ، وَأَنْتُمْ جَمِيعًا إِخْوَةٌ، وَلاَ تَدْعُوا لَكُمْ أَبًا عَلَى الأَرْضِ، لأَنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ الَّذِي فِي السَّمَاوَاتِ، وَلاَ تُدْعَوْا مُعَلِّمِينَ، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُDalam terjemahan inggris dan Arab sangat jelas bahwa Yesus menamakan dirinya sebagai “Guru”. Yesus tidak menamakan dirinya sebagai Tuhan.Terjemahan Injil versi bahasa Arab dan Inggris sebagai berikut : ((Dan adapun kalian maka janganlah kalian dipanggil dengan tuanku, karena guru kalian satu yatu Al-Masih, dan kalian seluruhnya adalah bersaudara. Dan jangan kalian memanggil siapapun di atas muka bumi ini “bapa”, karena “Bapa” kalian hanya satu yang ada di langit/surga. Dan janganlah kalian dipanggil “para guru”, karena guru kalian satu yaitu Al-Masih))Sangat jelas dalam nas injil ini bahwa :–         Yesus membedakan antara dirinya dengan Bapa, dirinya sebagai guru, dan Bapa yang di langit sebagai tuhan dan esa. Jadi sangat jelas bahwa tugas Yesus adalah sebagai guru, dan ini sebagaimana tugas para nabi yang lainnya. Allah berfirman tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam :كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS Al-Baqoroh : 151)–         Yesus juga melarang murid-muridnya untuk memanggil siapapun di atas muka bumi ini dengan panggilan “Bapa”. Karena yang hanya berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa” adalah Allah yang ada di surga. Ini sangat jelas adalah pentauhidan Allah, dan Yesus tidak berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa”. Hal ini didukung dengan banyaknya nas dalam injil yang menyebutkan bahwa murid-murid Yesus memanggil Yesus dengan “guru”. Diantaranya :–         Matius versi Indonesia (19 : 16) : ((Ada seseorang datang kepada Yesus, dan berkata : “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?. Jawab Yesus : “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik. Tetapi jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah))Ternyata versi inggris dan versi Arab berbeda, dalam versi Indonesia ada kata-kata penting yang terhapus.Berikut versi Inggris dan Arab(({19:16} And, behold, one came and said unto him, Good Master, what good thing shall I do, that I may have eternal life? {19:17} And he said unto him, Why callest thou me good? [there is] none good but one, [that is,] God: but if thou wilt enter into life, keep the commandments.))((وإذا واحد تقدم وقال له “أيها المعلم الصالح، أي صلاح أعمل لتكون لي الحياة الأبدية؟”، فقال له “لماذا تدعوني صالحا ليس أحد صالحا إلا واحد وهو الله. ولكن إن أردت تدخل الحياة فاحفظ الوصايا))Artinya : ((Dan ada seseorang datang dan berkata kepada Yesus : “Wahai Guru yang baik, kebaikan apakah yang aku kerjakan agar aku mendapatkan kehidupan yang abadi?”. Maka Yesus berkata kepadanya : “Kenapa engkau memanggilku dengan “baik”, tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Allah. Akan tetapi jika engkau ingin masuk dalam kehidupan maka jagalah washiat-washiat))Bandingkanlah antara terjemahan versi Indonesia yang telah menghilangkan kalimat yang ditebalkan dan digaris bawahi. Padahal dalam versi Inggris dan Arab ada perkataan Yesus (([there is] none good but one, [that is,] God/لَيْسَ أَحَدٌ صَالِحًا إِلاَّ وَاحِدٌ وَهُوَ اللهُ/Tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Tuhan/Allah))–         Markus (9 : 38) : ((Kata Yohanes kepada Yesus : “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu karena ia bukan pengikut kita”))–         Markus (10 : 35) : ((Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya : “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan Kami”))–         Lukas (5 : 5) : ((Simon menjawab : “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”))–         Lukas (17 : 12-13) : ((Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak : “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”)) Kedua : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Adalah Utusan/Rasul          Ada nas-nas dalam injil-injil yang menunjukkan bahwa Yesus hanyalah seorang utusan Allah. Dan yang mengutus tentunya bukan yang diutus, sebagaimana hal jelas diketahui.–         Yohanes (13 : 20) : ((Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus aku))Pernyataan Yesus ini menunjukkan beliau adalah rasul/utusan Allah, maka mentaatinya sama dengan mentaati Allah yang mengutusnya. Dan ini sama dengan firman Allahمَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ      “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS An-Nisaa : 80)–         Matius (15 : 24) : ((Jawab Yesus : “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil)). Ini menunjukkan pengakuan Yesus bahwasanya beliau adalah seorang utusan. Kalau seandainya ia adalah tuhan maka bagaimana ia diutus??. Nas ini juga merupakan dalil bahwasanya risalah Yesus hanya khusus untuk Bani Israil–         Yohanes (3 : 34) : ((Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas))–         Yohanes (5 : 30) : Yesus berkata ((Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menurut kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku))–         Yohanes (5 : 37) : ((Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku))–         Yohanes (11 : 41-42) : Tatkala Yesus melakukan salah satu mukjizat menghidupkan orang mati maka : ((Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucapkan syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku“)). Sangat jelas Yesus bersyukur kepada Allah karena telah memberikannya kemampuan untuk melakukan mukjizat tersebut, karena kalau tidak ada bantuan Allah maka ia hanyalah manusia biasa yang tidak bisa melakukan mukjizat apapun. Ia melakukan mukjizat ini (menghidupkan orang mati) agar kaumnya mau percaya bahwa ia diutus oleh Allah. Dan inilah faedah mukjizat-mukjizat yang berlaku pada para rasul Allah yang lainnya. Ketiga : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Manusia Dan Anak Manusia          Lebih dari 70 nas-nas dalam injil yang menunjukan Yesus adalah manusia dan juga anak manusia. Diantara nas-nas tersebut :–         Matius (8 : 20) : ((Yesus berkata kepadanya : “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya))–         Matius (11 : 19) : ((Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum))–         Markus (9 : 12) : ((Jawab Yesus : “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan?))–         Yohanes (1 : 51) : ((Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia))Dan nas-nas di atas sangat tegas dan jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Manusia dan anak seorang manusia. Ia adalah seorang rasul, ia tidak menyampaikan kepada murid-muridnya kecuali kebenaran sebagaimana yang ia dengar dari Tuhannya Allah. Keempat : Yesus Berteriak Memanggil Bapa          Perkataan terakhir yang diucapkan oleh Yesus tatkala ia disalib –sebagaimana persangkaan kaum Kristen- menunjukkan akan kelemahannya dan ketidak mampuannya serta menunjukkan penghambaannya kepada Allah. Dalam injil Matius (27 : 46) : ((Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabkhtani?” Artinya : Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?))Ini adalah ucapan terakhir Yesus sebelum wafatnya beliau –jika benar- maka menunjukkan akan keterpisahan yang sempurna antara Yang Meninggalkan dengan Yang Ditinggalkan. Dan tentunya semua orang yang berakal tahu bahwa yang meninggalkan bukanlah yang ditinggalkan.Jika Yesus adalah Allah dalam dzat yang satu, kalau begitu siapakah yang diajak berbicara oleh Yesus dalam teriakan suaranya yang nyaring tersebut??, siapakah yang telah meninggalkan Yesus??. Apakah Yesus berteriak-teriak berbicara dengan dirinya sendiri, dan menganggap dirinya telah meninggalkan dirinya sendiri??, tentu ini adalah kegilaan tanpa diragukan lagi !!Dalam injil Lukas (23 : 46) : ((Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan Nyawa-Nya))Ini adalah bentuk pengakuan yang jelas dari Yesus bahwasanya ia hanyalah seorang manusia dan makhluk ciptaan yang menyerhakan ruhnya kepada Allah. Bagaimana bisa dikatakan ia adalah tuhan??!!Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 05-01-1435 H / 08-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 9)? – Tanggapan Buat Al-Ustadz Dzulqornain hafizohulloh

Meskipun bukan pada permasalahan ini akan tetapi ini sebagai tanggapan atas kritikan ustadz Dzulqornain yang ingin menepis kenistaan pemikiran saya.  :Pertama : Perkataan beliau ((Ana telah mengingatkan antum masalah Abu Nida, tapi masih saja hal yang sama berulang dengan keberadaan Syaikh Sa’ad memberi ceramah di Jamilurrahman, seakan-akan tidak ada kecemburuan terhadap suatu hal yang membahayakan dakwah salafiyah. Wallahul Musta’an.)). Hal ini telah ana jelaskan dalam tulisan ana di (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan“) dan. Dan Syaikh Sa’ad maupun sykh Abdurrozzaq tidak pernah ceramah di jamilurrahman. Akan tetapi Ustadz Abu Nida sendiri yang langsung mengundang Syaikh Sa’ad ke pondok Bin Baaz. Kalau memang jamilurahan dan pondok Bin Baaz sesat tolong antum nasehati Syaikh Sa’ad. Sekalian juga nasehati beliau yang nekat mengisi kajian berbarengan dengan Syaikh Ali Hasan Baarokallahu fiik  Kedua : Perkataan al-Ustadz ((Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar, dan Saya tidak perlu membuat bantahan untuk Ustadz Firanda lagi karena memang dari awal Saya tidak pernah berselera untuk melayaninya.))Ini menunjukkan memang al-Ustadz sepakat dengan Syaikh Robi’ dan juga syaikh-syaikhnya yang lain untuk bahagia mentahdzir radiorodja. Tapi anehnya ustadz mengatakan bahwa tahdziran tersebut diperuntukan bukan untuk orang awam, orang awam sebaiknya mendengar rodja. Namun ternyata tahdziran tersebut justru tersebar ke orang awam. Ketiga :  Perkataan al-Ustadz ((Tentang sebagian penyelenggara umrah gratis di Madinah yang merupakan asuhan pihak yang bermanhaj tidak jelas, Saya mempertanyakan mengapa Ustadz Firanda menjadi penerjemah bagi sebagian orang sururiyyin yang merupakan syaikh pemandu acara umrah itu? Sebagian Ustadz menjawab, “Itu hanya Firanda. Kami tidak ikut di dalamnya, dan kami telah mengingatkan Firanda tentang hal tersebut.”))Kritikan :–         Ini adalah umroh yang diadakan oleh Maktab Jaliyaat di Madinah. Dan saya kebetulan tatkala itu menjadi dai di Maktab tersebut, dan tentunya maktab ini dibawah naungan pemerintah, dan dibawah naungan mudir Jami’ah Islamiyah serta Imam al-Masjid Nabawi Asy-Syaikh DR. Abdul Muhsin Al-Qoosim, dan juga sempat di Isyrof oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr. Jika dinilai manhajnya tidak jelas..yaa itu terserah al-Ustadz.–         Dari mana ustadz mendapatkan info ini?? Ternyata dari muridnya (anggota Jama’ah Tahdzir) yang juga ikut serta dalam umroh tersebut. Saya jadi bingung, muridnya ini ikut menikmati umroh gratis, lantas ikut memberi info untuk mencela umroh yang ia ikuti juga??!!–         Siapa Syaikh Sururi yang saya terjemahkan tersebut??, tolong sebutkan siapa namanya dan apa sururiahnya?? Agar ustadz tidak dituduh suka menuduh tanpa bukti.–         Ceramah apa yang saya terjemahkan??, ternyata ceramah tentang adab umroh dan ikhlas dalam beribadah?? Keempat : Al-Ustadz berkata ((ada sedikit kesalahan terjemah dari Ustadz Firanda, yaitu ucapan Syaikh,الشيخ : تعاونوا مع ذي القرنين، هو رجل طيب وإن كان كما تقول أنه متشدد شويOleh Ustadz Firanda diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqornan, ia adalah orang yang baik, meskipun dia agak keras -sebagaimana kau katakan- “.”Seharusnya diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqarnain, ia adalah orang yang baik. Kalau pada (Dzulqarnain) memang terdapat hal seperti apa yang kamu katakan, sesungguhnya dia agak keras.”.”Saya kira semua orang bisa membedakan antara dua ibarat.Kalau menurut terjemahan Ustadz Firanda, Syaikh sudah menyetujui laporan Ustadz Firanda dan menghukumi Dzulqarnain sebagai orang yang agak keras.Kalau menurut terjemahan Saya, Syaikh masih menunggu kepastian kebenaran laporan Ustadz Firanda. Andaikata laporan tersebut benar, berarti Dzulqarnain agak keras)).Kritikan : Saya rasa semua orang bisa menilai siapa yang salah menerjemah. Kalau terjemah versi al-Ustadz maka seharusnya Syaikh berkata فإنه متشدد, dengan tambahan huru faa. Meskipun al-Ustadz telah menasehati saya untuk belajar kembali bahasa Arab, maka saya katakan “Mari kita berdua bersama-sama belajar bahasa Arab” Kelima : Al-Ustadz berkata : ((Ustadz Firanda menyebutkan salah satu jawaban Saya:“Tanya:Ustadz ana punya majalah yang di kelola oleh dai-dai ihya At-Turats, tapi dalam masalah ekonomi saja. Bolehkah mengambil ilmu ekonomi dari mereka?Jawab:“Ini Masalah mengambil ilmu dari ahlul Bid’ah atau orang-orang yang mendukung  at-Turats, berada diatas pemikiran mereka, ini adalah dai-dai yang tidak berjalan diatas jalan Sunnah, maka tidak boleh seorang mengambil dari ilmu Sunnah dalam bidang apapun dari orang-orang yang tidak berada diatas sunnah, Bukan berartinya seluruh yang disebut ahlul Bid’ah itu pasti salah, tidak, tapi para Ulama Sepakat untuk memboikot ahlul bid’ah dan tidak menganjurkan manusia belajar, sebab mungkin saja ada hal-hal yang mereka masukkan disela-sela pembahasan mereka yang lain dianggap bagus.Kemudian dari sisi yang kedua mengenai masalah ilmu ekonomi sekarang, semua orang ingin bicara masalah ekonomi, semuanya ngambil dari para ulama ahlussunnah, ngapain ngambil dari orang-orang yang bermasalah, ilmu apa saja ada dari kalangan para ulama ahlussunnah, ada diterangkan dan tidak perlu seseorang menjatuhkan dirinya kedalam bahaya“”Kemudian Ustadz Firanda berkomentar,“Majalah yang dimaksud oleh penanya tentunya majalah yang sudah tersohor, yaitu majalah “Pengusaha Muslim”. Apakah majalah tersebut dikelola oleh para dai Ihyaa At-Turoots??, tentunya ini sebuah kebohongan nyata di siang bolong. Majalah ini sama sekali tidak dibantu oleh yayasan Ihyaa At-Turoots, bahkan dibiayai oleh seorang sahabat saya, seorang pengusaha, yang tentu ia tidak ingin disebutkan namanya di sini. –semoga Allah menjaga keikhlasannya-”TanggapanDalam pertanyaan tersebut, nama majalah tidak disebutkan. Oleh karena itu, dari mana beliau mengetahui maksud Saya dan maksud si Penanya?))Krtikan :–         Jika bukan majalah “Pengusaha Muslim” lantas majalah apa dong yang khusus ekonomi?, apakah al-Ustadz tidak tahu waqi’ medan dakwah di Indonesia??.–         Ternyata juga majalah pengusaha muslim tidak dikelola oleh dai-dai Ihyaa At-Turots. (Kecuali yang dimaksud dengan dengan dai at-Turots adalah yang tidak semanhaj dengan Jama’ah Tahdzir). Seharusnya al-Ustadz –sebagai ustad yang mengerti tentang medan dakwah- bertanya ; Majalah apakah itu?, siapa dai-dainya?–         Jawaban ustadz juga menunjukan semua da’i at-turots adalah ahul bid’ah, tidak berjalan di atas sunnah, apakah benar demikian?–         Thoyyib jika memang al-Ustadz tidak memaksudkan majalah pengusaha muslim sekarang saya bertanya “Apa hukumnya membaca majalah pengusaha muslim” Keenam : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak bisa memahami dari mana Ustadz Firanda menyangka bahwa Syaikh Shalih memuji Ihyâ` At-Turâts. Dari tanya-jawab yang disebutkan, tidak ada pujian Syaikh Shalih terhadap Ihyâ` At-Turâts. Yang ada hanyalah ucapan Syaikh, “Yang membantu kalian, ambillah bantuannya dan manfaatkan bantuan tersebut”. Semua orang memahami bahwa pembolehan mengambil dana bukanlah pujian))Krtikan : Berikut pujian beliau, al-‘Allâmah Shâlih Fauzân al-Fauzân hafizhahullâhu :فقد اطلعت على نسخة من منهج جمعية إحياء التراث الاسلامي للدعوة والتوجيه فوجدته منهج صحيحا يتماشى مع الكتاب والسنة وما تحتاجه الأمة فجزى الله القائمين على هذه الجمعية خير جزاء وأمدهم بنصره وتوفيقه .“Saya telah menelaah nuskhah (copy) yang berisi manhaj Perhimpunan Ihyâ` at-Turâts al-Islâmî lid-Da’wah wat-Taujîh dan saya dapati sebagai suatu manhaj yang benar, yang berjalan selaras di atas al-Kitâb (al-Qur`ân) dan as-Sunnah, dan dibutuhkan oleh umat. Semoga Allôh memberi balasan kepada para pengurus perhimpunan ini dengan sebaik-baik balasan, dan semoga Allôh menolong mereka dengan pertolongan dan taufiq-Nya.”اطلعت على كثير من المشاريع الخيرية التي تقوم بها الجمعية وإني قد سررت بذلك وأسال الله لهم التوفيق والسداد .“Saya telah melihat banyak dari proyek-proyek sosial yang dilaksanakan oleh jum’iyah (Ihyâ`ut Turâts), dan saya merasa gembira dengan hal tersebut. Saya mohon kepada Allôh agar memberikan taufîq dan kelurusan bagi mereka.Adapun link nya telah ana cantumkan di (http://www.turathkw.com/topics/current/index.php?cat_id=13)Al-Ustadz Dzulqornain tatkala ana berdialog langsung dengan beliau, ia menyatakan bahwa Syaikh Sholeh Al-Fauzan mengetahui penyimpangan Ihyaa At-Turots, maka saya berkata, “Jika Syaikh tahu lantas kenapa beliu tidak mentahdzir?, malah memuji?, malah membolehkan ambil dana??. Tolong datangkan satu saja tahdziran syaikh sholeh Al-Fauzan terhadap At-Turots???Akui saja kalau al-ustadz berbeda dengan syaikh Sholeh Al-Fauzan tentang masalah at-Turots.Dan jika firanda ternyata kurang akal…, maka berarti boleh dong firanda bertaqlid kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzan?? Juga bertaqlid kepada Syaikh Abdul Muhsin dan Syaikh Abdurrozzaq?? Kenapa mesti sewot !! Ketujuh : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak mengetahui Syaikh Al-Fauzan Menyalahkan keritikan saya terhadap Rodja. Juga ada kalam dari Syaikh Rabi’))Kritikan : Al-Ustadz seharusnya paham sindiran Syaikh Sholeh Al-Fauzan dalam jawabannya untuk tidak sibuk mencela yayasan dan para dai ??. Jadi maksud Syaikh Sholeh Al-Fauzan apa kalau bagitu??, ini bukan kritikan terhadap antum??.Demikian juga hal ini menunjukan al-Ustadz setuju dengan tahdzir Syaikh Robi terhadap Radiorodja, sebagaimana yang digembirakan oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh dan al-Ustadz Askari. Dan mengenai hal ini telah saya kritik. Kedelapan : Perkataan al-Ustadz ((Amatlah mengherankan bila seseorang yang merasa dirinya sangat berilmu, sudah berada pada kedudukan ulama))Kritikan : Alhamdulillah mudah-mudahan saya tidak merasa demikian. Maaf, dimanakah saya pernah menyatakan demikian?. Adapun kalau saya mengkritik Syaikh Robi’ maka telah saya jelaskan berulang-ulang 2 kesalahan fatal syaikh Robi’. Dan saya masih menunggu pembelaan al-Ustadz Dzulqornain cs terhadap Syaikh Robi’, sebagai masukan bagi saya.Ataukah tidak sebalikan al-Ustdaz yang malah merasa berilmu yang sangat nampak dari perendahannya (tanpa bantahan) kepada Syaikh Ali Hasan?? Kesembilan : Mengenai Radiorodja ibarat orang fajir?. Saya telah mengambil dzohir perkataan al-Ustadz bahwa radiorodja Fajir. Ini kesalahan saya, ternyata maksud al-Ustadz bukanlah makna dzohirnya.Akan tetapi mengkiaskan radiorodja dengan orang fajir bagaimanapun tetap bermakna konotasi negatif, meskipun tidak melazimkan para pengisi radiorodja adalah orang-orang fajir, tapi intinya ada nilai kesamaan atau yang disebut dengan ‘illah jaami’ah. Nah saya sekarang ingin bertanya kepada ustadz, lantas apa sisi al-ustadz menyamakan radiorodja dengan orang fajir? Kesepuluh : Al-Ustadz menyatakan Syaikh Muhammad Hasan diputar videonya di Radiorodja, serta syaikh-syaikh menyimpang yang lain…, bukankah ini kedustaan al-Ustadz?. Kalau bukan dusta tolong datangkan buktinya. Selain itu siapa lagi syaikh-syaikh yang menyimpang selain Syaikh al-Arifi yang diputar videonya di Radiorodja?Terakhir kita masih menunggu apa sih kritikan utama yang mendasari al-Ustadz begitu semangat mentahdzir Radiorodja??. Kita ingin bukti yang nyata bukan yang dipaksa-paksakan apalagi kedustaan, hingga nantinya bisa menjadi masukan bagi Radiorodja. Toh Radiorodja pasti ada kesalahannya, namanya orang berdakwah dan banyak ceramah pasti tergelincir…akan tetapi tolong jelaskan ketergelinciran radiorodja?? Demikian dulu catatan ringan atas tanggapan al-Ustadz Dzulqornain, akan tetapi semua catatan tersebut bukan masalah pokok dan inti. Saya lebih tertarik untuk membahas masalah manhaj yang saya utarakan, seperti aqidah syaikh Robi’ bahwa wajib membenci mubtadi’ muslim 100 persen, dan para salaf dahulu menghajr tanpa melihat maslahat. Ini yang saya lebih nantikan, karena inilah yang sangat berpengaruh pada sifat keras saudara-saudara kita dari jama’ah tahdzir. Demikian juga kesalahan firanda dalam persalahan muwaazanah, itu juga sangat saya nantikan, dan saya harap al-Ustadz Dzulqornain mendahulukan permasalahan ilmiyah ini setelah permasalahan Syaikh Robi’ agar dialog menjadi focus, bukan katanya dan katanya…Karena kalau hanya sekedar katanya dan katanya tentang al-ustadz Dzulqornain maka banyak info yang telah masuk kepada saya, hanya saja tidak pantas untuk saya sampaikan di forum ini karena tidak berkaitan dengan pembahasan ilmiyah.Sungguh tanggapan berupa pembentukan opini maka mungkin saya tidak berminat lagi. Baarokallahu fiikum.Atau jika al-Ustadz Dzulqornain berkenan maka saya mengajak Al-Ustadz berdialog terbuka bisa disiarkan secara live dan diikuti oleh seluruh salafiyin…, atau jika berkenan juga kita majukan di meja persidangan karena al-Ustadz telah mencemarkan nama baik Radiorodja!!. Sungguh saya melihat manfaat yang dilakukan oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili tatkala menantang Syaikh Muhammad bin hadi untuk berdialog terbuka secara live, akan tetapi tidak ditanggapi oleh beliau. Akhirnya Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily  mengadukan syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkholi, sehingga sekarang fedahnya adalah Syaikh Muhammad pun terdiam dan tidak lagi sibuk mentahdzir beliau, karena setiap tahdziran yang tanpa hujjah akan menjadi boomerang bagi beliau.Semoga Allah menyatukan hati-hati para salafiyin, menjadikan mereka tersibukan untuk membantah ahlul bid’ah bukan untuk mencari-cari kesalahan-kesalahan saudara-saudaranya, lalu mentahdzir dan mentabdi’.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 03-01-1435 H / 06-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 9)? – Tanggapan Buat Al-Ustadz Dzulqornain hafizohulloh

Meskipun bukan pada permasalahan ini akan tetapi ini sebagai tanggapan atas kritikan ustadz Dzulqornain yang ingin menepis kenistaan pemikiran saya.  :Pertama : Perkataan beliau ((Ana telah mengingatkan antum masalah Abu Nida, tapi masih saja hal yang sama berulang dengan keberadaan Syaikh Sa’ad memberi ceramah di Jamilurrahman, seakan-akan tidak ada kecemburuan terhadap suatu hal yang membahayakan dakwah salafiyah. Wallahul Musta’an.)). Hal ini telah ana jelaskan dalam tulisan ana di (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan“) dan. Dan Syaikh Sa’ad maupun sykh Abdurrozzaq tidak pernah ceramah di jamilurrahman. Akan tetapi Ustadz Abu Nida sendiri yang langsung mengundang Syaikh Sa’ad ke pondok Bin Baaz. Kalau memang jamilurahan dan pondok Bin Baaz sesat tolong antum nasehati Syaikh Sa’ad. Sekalian juga nasehati beliau yang nekat mengisi kajian berbarengan dengan Syaikh Ali Hasan Baarokallahu fiik  Kedua : Perkataan al-Ustadz ((Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar, dan Saya tidak perlu membuat bantahan untuk Ustadz Firanda lagi karena memang dari awal Saya tidak pernah berselera untuk melayaninya.))Ini menunjukkan memang al-Ustadz sepakat dengan Syaikh Robi’ dan juga syaikh-syaikhnya yang lain untuk bahagia mentahdzir radiorodja. Tapi anehnya ustadz mengatakan bahwa tahdziran tersebut diperuntukan bukan untuk orang awam, orang awam sebaiknya mendengar rodja. Namun ternyata tahdziran tersebut justru tersebar ke orang awam. Ketiga :  Perkataan al-Ustadz ((Tentang sebagian penyelenggara umrah gratis di Madinah yang merupakan asuhan pihak yang bermanhaj tidak jelas, Saya mempertanyakan mengapa Ustadz Firanda menjadi penerjemah bagi sebagian orang sururiyyin yang merupakan syaikh pemandu acara umrah itu? Sebagian Ustadz menjawab, “Itu hanya Firanda. Kami tidak ikut di dalamnya, dan kami telah mengingatkan Firanda tentang hal tersebut.”))Kritikan :–         Ini adalah umroh yang diadakan oleh Maktab Jaliyaat di Madinah. Dan saya kebetulan tatkala itu menjadi dai di Maktab tersebut, dan tentunya maktab ini dibawah naungan pemerintah, dan dibawah naungan mudir Jami’ah Islamiyah serta Imam al-Masjid Nabawi Asy-Syaikh DR. Abdul Muhsin Al-Qoosim, dan juga sempat di Isyrof oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr. Jika dinilai manhajnya tidak jelas..yaa itu terserah al-Ustadz.–         Dari mana ustadz mendapatkan info ini?? Ternyata dari muridnya (anggota Jama’ah Tahdzir) yang juga ikut serta dalam umroh tersebut. Saya jadi bingung, muridnya ini ikut menikmati umroh gratis, lantas ikut memberi info untuk mencela umroh yang ia ikuti juga??!!–         Siapa Syaikh Sururi yang saya terjemahkan tersebut??, tolong sebutkan siapa namanya dan apa sururiahnya?? Agar ustadz tidak dituduh suka menuduh tanpa bukti.–         Ceramah apa yang saya terjemahkan??, ternyata ceramah tentang adab umroh dan ikhlas dalam beribadah?? Keempat : Al-Ustadz berkata ((ada sedikit kesalahan terjemah dari Ustadz Firanda, yaitu ucapan Syaikh,الشيخ : تعاونوا مع ذي القرنين، هو رجل طيب وإن كان كما تقول أنه متشدد شويOleh Ustadz Firanda diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqornan, ia adalah orang yang baik, meskipun dia agak keras -sebagaimana kau katakan- “.”Seharusnya diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqarnain, ia adalah orang yang baik. Kalau pada (Dzulqarnain) memang terdapat hal seperti apa yang kamu katakan, sesungguhnya dia agak keras.”.”Saya kira semua orang bisa membedakan antara dua ibarat.Kalau menurut terjemahan Ustadz Firanda, Syaikh sudah menyetujui laporan Ustadz Firanda dan menghukumi Dzulqarnain sebagai orang yang agak keras.Kalau menurut terjemahan Saya, Syaikh masih menunggu kepastian kebenaran laporan Ustadz Firanda. Andaikata laporan tersebut benar, berarti Dzulqarnain agak keras)).Kritikan : Saya rasa semua orang bisa menilai siapa yang salah menerjemah. Kalau terjemah versi al-Ustadz maka seharusnya Syaikh berkata فإنه متشدد, dengan tambahan huru faa. Meskipun al-Ustadz telah menasehati saya untuk belajar kembali bahasa Arab, maka saya katakan “Mari kita berdua bersama-sama belajar bahasa Arab” Kelima : Al-Ustadz berkata : ((Ustadz Firanda menyebutkan salah satu jawaban Saya:“Tanya:Ustadz ana punya majalah yang di kelola oleh dai-dai ihya At-Turats, tapi dalam masalah ekonomi saja. Bolehkah mengambil ilmu ekonomi dari mereka?Jawab:“Ini Masalah mengambil ilmu dari ahlul Bid’ah atau orang-orang yang mendukung  at-Turats, berada diatas pemikiran mereka, ini adalah dai-dai yang tidak berjalan diatas jalan Sunnah, maka tidak boleh seorang mengambil dari ilmu Sunnah dalam bidang apapun dari orang-orang yang tidak berada diatas sunnah, Bukan berartinya seluruh yang disebut ahlul Bid’ah itu pasti salah, tidak, tapi para Ulama Sepakat untuk memboikot ahlul bid’ah dan tidak menganjurkan manusia belajar, sebab mungkin saja ada hal-hal yang mereka masukkan disela-sela pembahasan mereka yang lain dianggap bagus.Kemudian dari sisi yang kedua mengenai masalah ilmu ekonomi sekarang, semua orang ingin bicara masalah ekonomi, semuanya ngambil dari para ulama ahlussunnah, ngapain ngambil dari orang-orang yang bermasalah, ilmu apa saja ada dari kalangan para ulama ahlussunnah, ada diterangkan dan tidak perlu seseorang menjatuhkan dirinya kedalam bahaya“”Kemudian Ustadz Firanda berkomentar,“Majalah yang dimaksud oleh penanya tentunya majalah yang sudah tersohor, yaitu majalah “Pengusaha Muslim”. Apakah majalah tersebut dikelola oleh para dai Ihyaa At-Turoots??, tentunya ini sebuah kebohongan nyata di siang bolong. Majalah ini sama sekali tidak dibantu oleh yayasan Ihyaa At-Turoots, bahkan dibiayai oleh seorang sahabat saya, seorang pengusaha, yang tentu ia tidak ingin disebutkan namanya di sini. –semoga Allah menjaga keikhlasannya-”TanggapanDalam pertanyaan tersebut, nama majalah tidak disebutkan. Oleh karena itu, dari mana beliau mengetahui maksud Saya dan maksud si Penanya?))Krtikan :–         Jika bukan majalah “Pengusaha Muslim” lantas majalah apa dong yang khusus ekonomi?, apakah al-Ustadz tidak tahu waqi’ medan dakwah di Indonesia??.–         Ternyata juga majalah pengusaha muslim tidak dikelola oleh dai-dai Ihyaa At-Turots. (Kecuali yang dimaksud dengan dengan dai at-Turots adalah yang tidak semanhaj dengan Jama’ah Tahdzir). Seharusnya al-Ustadz –sebagai ustad yang mengerti tentang medan dakwah- bertanya ; Majalah apakah itu?, siapa dai-dainya?–         Jawaban ustadz juga menunjukan semua da’i at-turots adalah ahul bid’ah, tidak berjalan di atas sunnah, apakah benar demikian?–         Thoyyib jika memang al-Ustadz tidak memaksudkan majalah pengusaha muslim sekarang saya bertanya “Apa hukumnya membaca majalah pengusaha muslim” Keenam : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak bisa memahami dari mana Ustadz Firanda menyangka bahwa Syaikh Shalih memuji Ihyâ` At-Turâts. Dari tanya-jawab yang disebutkan, tidak ada pujian Syaikh Shalih terhadap Ihyâ` At-Turâts. Yang ada hanyalah ucapan Syaikh, “Yang membantu kalian, ambillah bantuannya dan manfaatkan bantuan tersebut”. Semua orang memahami bahwa pembolehan mengambil dana bukanlah pujian))Krtikan : Berikut pujian beliau, al-‘Allâmah Shâlih Fauzân al-Fauzân hafizhahullâhu :فقد اطلعت على نسخة من منهج جمعية إحياء التراث الاسلامي للدعوة والتوجيه فوجدته منهج صحيحا يتماشى مع الكتاب والسنة وما تحتاجه الأمة فجزى الله القائمين على هذه الجمعية خير جزاء وأمدهم بنصره وتوفيقه .“Saya telah menelaah nuskhah (copy) yang berisi manhaj Perhimpunan Ihyâ` at-Turâts al-Islâmî lid-Da’wah wat-Taujîh dan saya dapati sebagai suatu manhaj yang benar, yang berjalan selaras di atas al-Kitâb (al-Qur`ân) dan as-Sunnah, dan dibutuhkan oleh umat. Semoga Allôh memberi balasan kepada para pengurus perhimpunan ini dengan sebaik-baik balasan, dan semoga Allôh menolong mereka dengan pertolongan dan taufiq-Nya.”اطلعت على كثير من المشاريع الخيرية التي تقوم بها الجمعية وإني قد سررت بذلك وأسال الله لهم التوفيق والسداد .“Saya telah melihat banyak dari proyek-proyek sosial yang dilaksanakan oleh jum’iyah (Ihyâ`ut Turâts), dan saya merasa gembira dengan hal tersebut. Saya mohon kepada Allôh agar memberikan taufîq dan kelurusan bagi mereka.Adapun link nya telah ana cantumkan di (http://www.turathkw.com/topics/current/index.php?cat_id=13)Al-Ustadz Dzulqornain tatkala ana berdialog langsung dengan beliau, ia menyatakan bahwa Syaikh Sholeh Al-Fauzan mengetahui penyimpangan Ihyaa At-Turots, maka saya berkata, “Jika Syaikh tahu lantas kenapa beliu tidak mentahdzir?, malah memuji?, malah membolehkan ambil dana??. Tolong datangkan satu saja tahdziran syaikh sholeh Al-Fauzan terhadap At-Turots???Akui saja kalau al-ustadz berbeda dengan syaikh Sholeh Al-Fauzan tentang masalah at-Turots.Dan jika firanda ternyata kurang akal…, maka berarti boleh dong firanda bertaqlid kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzan?? Juga bertaqlid kepada Syaikh Abdul Muhsin dan Syaikh Abdurrozzaq?? Kenapa mesti sewot !! Ketujuh : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak mengetahui Syaikh Al-Fauzan Menyalahkan keritikan saya terhadap Rodja. Juga ada kalam dari Syaikh Rabi’))Kritikan : Al-Ustadz seharusnya paham sindiran Syaikh Sholeh Al-Fauzan dalam jawabannya untuk tidak sibuk mencela yayasan dan para dai ??. Jadi maksud Syaikh Sholeh Al-Fauzan apa kalau bagitu??, ini bukan kritikan terhadap antum??.Demikian juga hal ini menunjukan al-Ustadz setuju dengan tahdzir Syaikh Robi terhadap Radiorodja, sebagaimana yang digembirakan oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh dan al-Ustadz Askari. Dan mengenai hal ini telah saya kritik. Kedelapan : Perkataan al-Ustadz ((Amatlah mengherankan bila seseorang yang merasa dirinya sangat berilmu, sudah berada pada kedudukan ulama))Kritikan : Alhamdulillah mudah-mudahan saya tidak merasa demikian. Maaf, dimanakah saya pernah menyatakan demikian?. Adapun kalau saya mengkritik Syaikh Robi’ maka telah saya jelaskan berulang-ulang 2 kesalahan fatal syaikh Robi’. Dan saya masih menunggu pembelaan al-Ustadz Dzulqornain cs terhadap Syaikh Robi’, sebagai masukan bagi saya.Ataukah tidak sebalikan al-Ustdaz yang malah merasa berilmu yang sangat nampak dari perendahannya (tanpa bantahan) kepada Syaikh Ali Hasan?? Kesembilan : Mengenai Radiorodja ibarat orang fajir?. Saya telah mengambil dzohir perkataan al-Ustadz bahwa radiorodja Fajir. Ini kesalahan saya, ternyata maksud al-Ustadz bukanlah makna dzohirnya.Akan tetapi mengkiaskan radiorodja dengan orang fajir bagaimanapun tetap bermakna konotasi negatif, meskipun tidak melazimkan para pengisi radiorodja adalah orang-orang fajir, tapi intinya ada nilai kesamaan atau yang disebut dengan ‘illah jaami’ah. Nah saya sekarang ingin bertanya kepada ustadz, lantas apa sisi al-ustadz menyamakan radiorodja dengan orang fajir? Kesepuluh : Al-Ustadz menyatakan Syaikh Muhammad Hasan diputar videonya di Radiorodja, serta syaikh-syaikh menyimpang yang lain…, bukankah ini kedustaan al-Ustadz?. Kalau bukan dusta tolong datangkan buktinya. Selain itu siapa lagi syaikh-syaikh yang menyimpang selain Syaikh al-Arifi yang diputar videonya di Radiorodja?Terakhir kita masih menunggu apa sih kritikan utama yang mendasari al-Ustadz begitu semangat mentahdzir Radiorodja??. Kita ingin bukti yang nyata bukan yang dipaksa-paksakan apalagi kedustaan, hingga nantinya bisa menjadi masukan bagi Radiorodja. Toh Radiorodja pasti ada kesalahannya, namanya orang berdakwah dan banyak ceramah pasti tergelincir…akan tetapi tolong jelaskan ketergelinciran radiorodja?? Demikian dulu catatan ringan atas tanggapan al-Ustadz Dzulqornain, akan tetapi semua catatan tersebut bukan masalah pokok dan inti. Saya lebih tertarik untuk membahas masalah manhaj yang saya utarakan, seperti aqidah syaikh Robi’ bahwa wajib membenci mubtadi’ muslim 100 persen, dan para salaf dahulu menghajr tanpa melihat maslahat. Ini yang saya lebih nantikan, karena inilah yang sangat berpengaruh pada sifat keras saudara-saudara kita dari jama’ah tahdzir. Demikian juga kesalahan firanda dalam persalahan muwaazanah, itu juga sangat saya nantikan, dan saya harap al-Ustadz Dzulqornain mendahulukan permasalahan ilmiyah ini setelah permasalahan Syaikh Robi’ agar dialog menjadi focus, bukan katanya dan katanya…Karena kalau hanya sekedar katanya dan katanya tentang al-ustadz Dzulqornain maka banyak info yang telah masuk kepada saya, hanya saja tidak pantas untuk saya sampaikan di forum ini karena tidak berkaitan dengan pembahasan ilmiyah.Sungguh tanggapan berupa pembentukan opini maka mungkin saya tidak berminat lagi. Baarokallahu fiikum.Atau jika al-Ustadz Dzulqornain berkenan maka saya mengajak Al-Ustadz berdialog terbuka bisa disiarkan secara live dan diikuti oleh seluruh salafiyin…, atau jika berkenan juga kita majukan di meja persidangan karena al-Ustadz telah mencemarkan nama baik Radiorodja!!. Sungguh saya melihat manfaat yang dilakukan oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili tatkala menantang Syaikh Muhammad bin hadi untuk berdialog terbuka secara live, akan tetapi tidak ditanggapi oleh beliau. Akhirnya Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily  mengadukan syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkholi, sehingga sekarang fedahnya adalah Syaikh Muhammad pun terdiam dan tidak lagi sibuk mentahdzir beliau, karena setiap tahdziran yang tanpa hujjah akan menjadi boomerang bagi beliau.Semoga Allah menyatukan hati-hati para salafiyin, menjadikan mereka tersibukan untuk membantah ahlul bid’ah bukan untuk mencari-cari kesalahan-kesalahan saudara-saudaranya, lalu mentahdzir dan mentabdi’.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 03-01-1435 H / 06-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  
Meskipun bukan pada permasalahan ini akan tetapi ini sebagai tanggapan atas kritikan ustadz Dzulqornain yang ingin menepis kenistaan pemikiran saya.  :Pertama : Perkataan beliau ((Ana telah mengingatkan antum masalah Abu Nida, tapi masih saja hal yang sama berulang dengan keberadaan Syaikh Sa’ad memberi ceramah di Jamilurrahman, seakan-akan tidak ada kecemburuan terhadap suatu hal yang membahayakan dakwah salafiyah. Wallahul Musta’an.)). Hal ini telah ana jelaskan dalam tulisan ana di (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan“) dan. Dan Syaikh Sa’ad maupun sykh Abdurrozzaq tidak pernah ceramah di jamilurrahman. Akan tetapi Ustadz Abu Nida sendiri yang langsung mengundang Syaikh Sa’ad ke pondok Bin Baaz. Kalau memang jamilurahan dan pondok Bin Baaz sesat tolong antum nasehati Syaikh Sa’ad. Sekalian juga nasehati beliau yang nekat mengisi kajian berbarengan dengan Syaikh Ali Hasan Baarokallahu fiik  Kedua : Perkataan al-Ustadz ((Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar, dan Saya tidak perlu membuat bantahan untuk Ustadz Firanda lagi karena memang dari awal Saya tidak pernah berselera untuk melayaninya.))Ini menunjukkan memang al-Ustadz sepakat dengan Syaikh Robi’ dan juga syaikh-syaikhnya yang lain untuk bahagia mentahdzir radiorodja. Tapi anehnya ustadz mengatakan bahwa tahdziran tersebut diperuntukan bukan untuk orang awam, orang awam sebaiknya mendengar rodja. Namun ternyata tahdziran tersebut justru tersebar ke orang awam. Ketiga :  Perkataan al-Ustadz ((Tentang sebagian penyelenggara umrah gratis di Madinah yang merupakan asuhan pihak yang bermanhaj tidak jelas, Saya mempertanyakan mengapa Ustadz Firanda menjadi penerjemah bagi sebagian orang sururiyyin yang merupakan syaikh pemandu acara umrah itu? Sebagian Ustadz menjawab, “Itu hanya Firanda. Kami tidak ikut di dalamnya, dan kami telah mengingatkan Firanda tentang hal tersebut.”))Kritikan :–         Ini adalah umroh yang diadakan oleh Maktab Jaliyaat di Madinah. Dan saya kebetulan tatkala itu menjadi dai di Maktab tersebut, dan tentunya maktab ini dibawah naungan pemerintah, dan dibawah naungan mudir Jami’ah Islamiyah serta Imam al-Masjid Nabawi Asy-Syaikh DR. Abdul Muhsin Al-Qoosim, dan juga sempat di Isyrof oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr. Jika dinilai manhajnya tidak jelas..yaa itu terserah al-Ustadz.–         Dari mana ustadz mendapatkan info ini?? Ternyata dari muridnya (anggota Jama’ah Tahdzir) yang juga ikut serta dalam umroh tersebut. Saya jadi bingung, muridnya ini ikut menikmati umroh gratis, lantas ikut memberi info untuk mencela umroh yang ia ikuti juga??!!–         Siapa Syaikh Sururi yang saya terjemahkan tersebut??, tolong sebutkan siapa namanya dan apa sururiahnya?? Agar ustadz tidak dituduh suka menuduh tanpa bukti.–         Ceramah apa yang saya terjemahkan??, ternyata ceramah tentang adab umroh dan ikhlas dalam beribadah?? Keempat : Al-Ustadz berkata ((ada sedikit kesalahan terjemah dari Ustadz Firanda, yaitu ucapan Syaikh,الشيخ : تعاونوا مع ذي القرنين، هو رجل طيب وإن كان كما تقول أنه متشدد شويOleh Ustadz Firanda diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqornan, ia adalah orang yang baik, meskipun dia agak keras -sebagaimana kau katakan- “.”Seharusnya diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqarnain, ia adalah orang yang baik. Kalau pada (Dzulqarnain) memang terdapat hal seperti apa yang kamu katakan, sesungguhnya dia agak keras.”.”Saya kira semua orang bisa membedakan antara dua ibarat.Kalau menurut terjemahan Ustadz Firanda, Syaikh sudah menyetujui laporan Ustadz Firanda dan menghukumi Dzulqarnain sebagai orang yang agak keras.Kalau menurut terjemahan Saya, Syaikh masih menunggu kepastian kebenaran laporan Ustadz Firanda. Andaikata laporan tersebut benar, berarti Dzulqarnain agak keras)).Kritikan : Saya rasa semua orang bisa menilai siapa yang salah menerjemah. Kalau terjemah versi al-Ustadz maka seharusnya Syaikh berkata فإنه متشدد, dengan tambahan huru faa. Meskipun al-Ustadz telah menasehati saya untuk belajar kembali bahasa Arab, maka saya katakan “Mari kita berdua bersama-sama belajar bahasa Arab” Kelima : Al-Ustadz berkata : ((Ustadz Firanda menyebutkan salah satu jawaban Saya:“Tanya:Ustadz ana punya majalah yang di kelola oleh dai-dai ihya At-Turats, tapi dalam masalah ekonomi saja. Bolehkah mengambil ilmu ekonomi dari mereka?Jawab:“Ini Masalah mengambil ilmu dari ahlul Bid’ah atau orang-orang yang mendukung  at-Turats, berada diatas pemikiran mereka, ini adalah dai-dai yang tidak berjalan diatas jalan Sunnah, maka tidak boleh seorang mengambil dari ilmu Sunnah dalam bidang apapun dari orang-orang yang tidak berada diatas sunnah, Bukan berartinya seluruh yang disebut ahlul Bid’ah itu pasti salah, tidak, tapi para Ulama Sepakat untuk memboikot ahlul bid’ah dan tidak menganjurkan manusia belajar, sebab mungkin saja ada hal-hal yang mereka masukkan disela-sela pembahasan mereka yang lain dianggap bagus.Kemudian dari sisi yang kedua mengenai masalah ilmu ekonomi sekarang, semua orang ingin bicara masalah ekonomi, semuanya ngambil dari para ulama ahlussunnah, ngapain ngambil dari orang-orang yang bermasalah, ilmu apa saja ada dari kalangan para ulama ahlussunnah, ada diterangkan dan tidak perlu seseorang menjatuhkan dirinya kedalam bahaya“”Kemudian Ustadz Firanda berkomentar,“Majalah yang dimaksud oleh penanya tentunya majalah yang sudah tersohor, yaitu majalah “Pengusaha Muslim”. Apakah majalah tersebut dikelola oleh para dai Ihyaa At-Turoots??, tentunya ini sebuah kebohongan nyata di siang bolong. Majalah ini sama sekali tidak dibantu oleh yayasan Ihyaa At-Turoots, bahkan dibiayai oleh seorang sahabat saya, seorang pengusaha, yang tentu ia tidak ingin disebutkan namanya di sini. –semoga Allah menjaga keikhlasannya-”TanggapanDalam pertanyaan tersebut, nama majalah tidak disebutkan. Oleh karena itu, dari mana beliau mengetahui maksud Saya dan maksud si Penanya?))Krtikan :–         Jika bukan majalah “Pengusaha Muslim” lantas majalah apa dong yang khusus ekonomi?, apakah al-Ustadz tidak tahu waqi’ medan dakwah di Indonesia??.–         Ternyata juga majalah pengusaha muslim tidak dikelola oleh dai-dai Ihyaa At-Turots. (Kecuali yang dimaksud dengan dengan dai at-Turots adalah yang tidak semanhaj dengan Jama’ah Tahdzir). Seharusnya al-Ustadz –sebagai ustad yang mengerti tentang medan dakwah- bertanya ; Majalah apakah itu?, siapa dai-dainya?–         Jawaban ustadz juga menunjukan semua da’i at-turots adalah ahul bid’ah, tidak berjalan di atas sunnah, apakah benar demikian?–         Thoyyib jika memang al-Ustadz tidak memaksudkan majalah pengusaha muslim sekarang saya bertanya “Apa hukumnya membaca majalah pengusaha muslim” Keenam : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak bisa memahami dari mana Ustadz Firanda menyangka bahwa Syaikh Shalih memuji Ihyâ` At-Turâts. Dari tanya-jawab yang disebutkan, tidak ada pujian Syaikh Shalih terhadap Ihyâ` At-Turâts. Yang ada hanyalah ucapan Syaikh, “Yang membantu kalian, ambillah bantuannya dan manfaatkan bantuan tersebut”. Semua orang memahami bahwa pembolehan mengambil dana bukanlah pujian))Krtikan : Berikut pujian beliau, al-‘Allâmah Shâlih Fauzân al-Fauzân hafizhahullâhu :فقد اطلعت على نسخة من منهج جمعية إحياء التراث الاسلامي للدعوة والتوجيه فوجدته منهج صحيحا يتماشى مع الكتاب والسنة وما تحتاجه الأمة فجزى الله القائمين على هذه الجمعية خير جزاء وأمدهم بنصره وتوفيقه .“Saya telah menelaah nuskhah (copy) yang berisi manhaj Perhimpunan Ihyâ` at-Turâts al-Islâmî lid-Da’wah wat-Taujîh dan saya dapati sebagai suatu manhaj yang benar, yang berjalan selaras di atas al-Kitâb (al-Qur`ân) dan as-Sunnah, dan dibutuhkan oleh umat. Semoga Allôh memberi balasan kepada para pengurus perhimpunan ini dengan sebaik-baik balasan, dan semoga Allôh menolong mereka dengan pertolongan dan taufiq-Nya.”اطلعت على كثير من المشاريع الخيرية التي تقوم بها الجمعية وإني قد سررت بذلك وأسال الله لهم التوفيق والسداد .“Saya telah melihat banyak dari proyek-proyek sosial yang dilaksanakan oleh jum’iyah (Ihyâ`ut Turâts), dan saya merasa gembira dengan hal tersebut. Saya mohon kepada Allôh agar memberikan taufîq dan kelurusan bagi mereka.Adapun link nya telah ana cantumkan di (http://www.turathkw.com/topics/current/index.php?cat_id=13)Al-Ustadz Dzulqornain tatkala ana berdialog langsung dengan beliau, ia menyatakan bahwa Syaikh Sholeh Al-Fauzan mengetahui penyimpangan Ihyaa At-Turots, maka saya berkata, “Jika Syaikh tahu lantas kenapa beliu tidak mentahdzir?, malah memuji?, malah membolehkan ambil dana??. Tolong datangkan satu saja tahdziran syaikh sholeh Al-Fauzan terhadap At-Turots???Akui saja kalau al-ustadz berbeda dengan syaikh Sholeh Al-Fauzan tentang masalah at-Turots.Dan jika firanda ternyata kurang akal…, maka berarti boleh dong firanda bertaqlid kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzan?? Juga bertaqlid kepada Syaikh Abdul Muhsin dan Syaikh Abdurrozzaq?? Kenapa mesti sewot !! Ketujuh : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak mengetahui Syaikh Al-Fauzan Menyalahkan keritikan saya terhadap Rodja. Juga ada kalam dari Syaikh Rabi’))Kritikan : Al-Ustadz seharusnya paham sindiran Syaikh Sholeh Al-Fauzan dalam jawabannya untuk tidak sibuk mencela yayasan dan para dai ??. Jadi maksud Syaikh Sholeh Al-Fauzan apa kalau bagitu??, ini bukan kritikan terhadap antum??.Demikian juga hal ini menunjukan al-Ustadz setuju dengan tahdzir Syaikh Robi terhadap Radiorodja, sebagaimana yang digembirakan oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh dan al-Ustadz Askari. Dan mengenai hal ini telah saya kritik. Kedelapan : Perkataan al-Ustadz ((Amatlah mengherankan bila seseorang yang merasa dirinya sangat berilmu, sudah berada pada kedudukan ulama))Kritikan : Alhamdulillah mudah-mudahan saya tidak merasa demikian. Maaf, dimanakah saya pernah menyatakan demikian?. Adapun kalau saya mengkritik Syaikh Robi’ maka telah saya jelaskan berulang-ulang 2 kesalahan fatal syaikh Robi’. Dan saya masih menunggu pembelaan al-Ustadz Dzulqornain cs terhadap Syaikh Robi’, sebagai masukan bagi saya.Ataukah tidak sebalikan al-Ustdaz yang malah merasa berilmu yang sangat nampak dari perendahannya (tanpa bantahan) kepada Syaikh Ali Hasan?? Kesembilan : Mengenai Radiorodja ibarat orang fajir?. Saya telah mengambil dzohir perkataan al-Ustadz bahwa radiorodja Fajir. Ini kesalahan saya, ternyata maksud al-Ustadz bukanlah makna dzohirnya.Akan tetapi mengkiaskan radiorodja dengan orang fajir bagaimanapun tetap bermakna konotasi negatif, meskipun tidak melazimkan para pengisi radiorodja adalah orang-orang fajir, tapi intinya ada nilai kesamaan atau yang disebut dengan ‘illah jaami’ah. Nah saya sekarang ingin bertanya kepada ustadz, lantas apa sisi al-ustadz menyamakan radiorodja dengan orang fajir? Kesepuluh : Al-Ustadz menyatakan Syaikh Muhammad Hasan diputar videonya di Radiorodja, serta syaikh-syaikh menyimpang yang lain…, bukankah ini kedustaan al-Ustadz?. Kalau bukan dusta tolong datangkan buktinya. Selain itu siapa lagi syaikh-syaikh yang menyimpang selain Syaikh al-Arifi yang diputar videonya di Radiorodja?Terakhir kita masih menunggu apa sih kritikan utama yang mendasari al-Ustadz begitu semangat mentahdzir Radiorodja??. Kita ingin bukti yang nyata bukan yang dipaksa-paksakan apalagi kedustaan, hingga nantinya bisa menjadi masukan bagi Radiorodja. Toh Radiorodja pasti ada kesalahannya, namanya orang berdakwah dan banyak ceramah pasti tergelincir…akan tetapi tolong jelaskan ketergelinciran radiorodja?? Demikian dulu catatan ringan atas tanggapan al-Ustadz Dzulqornain, akan tetapi semua catatan tersebut bukan masalah pokok dan inti. Saya lebih tertarik untuk membahas masalah manhaj yang saya utarakan, seperti aqidah syaikh Robi’ bahwa wajib membenci mubtadi’ muslim 100 persen, dan para salaf dahulu menghajr tanpa melihat maslahat. Ini yang saya lebih nantikan, karena inilah yang sangat berpengaruh pada sifat keras saudara-saudara kita dari jama’ah tahdzir. Demikian juga kesalahan firanda dalam persalahan muwaazanah, itu juga sangat saya nantikan, dan saya harap al-Ustadz Dzulqornain mendahulukan permasalahan ilmiyah ini setelah permasalahan Syaikh Robi’ agar dialog menjadi focus, bukan katanya dan katanya…Karena kalau hanya sekedar katanya dan katanya tentang al-ustadz Dzulqornain maka banyak info yang telah masuk kepada saya, hanya saja tidak pantas untuk saya sampaikan di forum ini karena tidak berkaitan dengan pembahasan ilmiyah.Sungguh tanggapan berupa pembentukan opini maka mungkin saya tidak berminat lagi. Baarokallahu fiikum.Atau jika al-Ustadz Dzulqornain berkenan maka saya mengajak Al-Ustadz berdialog terbuka bisa disiarkan secara live dan diikuti oleh seluruh salafiyin…, atau jika berkenan juga kita majukan di meja persidangan karena al-Ustadz telah mencemarkan nama baik Radiorodja!!. Sungguh saya melihat manfaat yang dilakukan oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili tatkala menantang Syaikh Muhammad bin hadi untuk berdialog terbuka secara live, akan tetapi tidak ditanggapi oleh beliau. Akhirnya Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily  mengadukan syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkholi, sehingga sekarang fedahnya adalah Syaikh Muhammad pun terdiam dan tidak lagi sibuk mentahdzir beliau, karena setiap tahdziran yang tanpa hujjah akan menjadi boomerang bagi beliau.Semoga Allah menyatukan hati-hati para salafiyin, menjadikan mereka tersibukan untuk membantah ahlul bid’ah bukan untuk mencari-cari kesalahan-kesalahan saudara-saudaranya, lalu mentahdzir dan mentabdi’.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 03-01-1435 H / 06-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  


Meskipun bukan pada permasalahan ini akan tetapi ini sebagai tanggapan atas kritikan ustadz Dzulqornain yang ingin menepis kenistaan pemikiran saya.  :Pertama : Perkataan beliau ((Ana telah mengingatkan antum masalah Abu Nida, tapi masih saja hal yang sama berulang dengan keberadaan Syaikh Sa’ad memberi ceramah di Jamilurrahman, seakan-akan tidak ada kecemburuan terhadap suatu hal yang membahayakan dakwah salafiyah. Wallahul Musta’an.)). Hal ini telah ana jelaskan dalam tulisan ana di (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan“) dan. Dan Syaikh Sa’ad maupun sykh Abdurrozzaq tidak pernah ceramah di jamilurrahman. Akan tetapi Ustadz Abu Nida sendiri yang langsung mengundang Syaikh Sa’ad ke pondok Bin Baaz. Kalau memang jamilurahan dan pondok Bin Baaz sesat tolong antum nasehati Syaikh Sa’ad. Sekalian juga nasehati beliau yang nekat mengisi kajian berbarengan dengan Syaikh Ali Hasan Baarokallahu fiik  Kedua : Perkataan al-Ustadz ((Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar, dan Saya tidak perlu membuat bantahan untuk Ustadz Firanda lagi karena memang dari awal Saya tidak pernah berselera untuk melayaninya.))Ini menunjukkan memang al-Ustadz sepakat dengan Syaikh Robi’ dan juga syaikh-syaikhnya yang lain untuk bahagia mentahdzir radiorodja. Tapi anehnya ustadz mengatakan bahwa tahdziran tersebut diperuntukan bukan untuk orang awam, orang awam sebaiknya mendengar rodja. Namun ternyata tahdziran tersebut justru tersebar ke orang awam. Ketiga :  Perkataan al-Ustadz ((Tentang sebagian penyelenggara umrah gratis di Madinah yang merupakan asuhan pihak yang bermanhaj tidak jelas, Saya mempertanyakan mengapa Ustadz Firanda menjadi penerjemah bagi sebagian orang sururiyyin yang merupakan syaikh pemandu acara umrah itu? Sebagian Ustadz menjawab, “Itu hanya Firanda. Kami tidak ikut di dalamnya, dan kami telah mengingatkan Firanda tentang hal tersebut.”))Kritikan :–         Ini adalah umroh yang diadakan oleh Maktab Jaliyaat di Madinah. Dan saya kebetulan tatkala itu menjadi dai di Maktab tersebut, dan tentunya maktab ini dibawah naungan pemerintah, dan dibawah naungan mudir Jami’ah Islamiyah serta Imam al-Masjid Nabawi Asy-Syaikh DR. Abdul Muhsin Al-Qoosim, dan juga sempat di Isyrof oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr. Jika dinilai manhajnya tidak jelas..yaa itu terserah al-Ustadz.–         Dari mana ustadz mendapatkan info ini?? Ternyata dari muridnya (anggota Jama’ah Tahdzir) yang juga ikut serta dalam umroh tersebut. Saya jadi bingung, muridnya ini ikut menikmati umroh gratis, lantas ikut memberi info untuk mencela umroh yang ia ikuti juga??!!–         Siapa Syaikh Sururi yang saya terjemahkan tersebut??, tolong sebutkan siapa namanya dan apa sururiahnya?? Agar ustadz tidak dituduh suka menuduh tanpa bukti.–         Ceramah apa yang saya terjemahkan??, ternyata ceramah tentang adab umroh dan ikhlas dalam beribadah?? Keempat : Al-Ustadz berkata ((ada sedikit kesalahan terjemah dari Ustadz Firanda, yaitu ucapan Syaikh,الشيخ : تعاونوا مع ذي القرنين، هو رجل طيب وإن كان كما تقول أنه متشدد شويOleh Ustadz Firanda diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqornan, ia adalah orang yang baik, meskipun dia agak keras -sebagaimana kau katakan- “.”Seharusnya diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqarnain, ia adalah orang yang baik. Kalau pada (Dzulqarnain) memang terdapat hal seperti apa yang kamu katakan, sesungguhnya dia agak keras.”.”Saya kira semua orang bisa membedakan antara dua ibarat.Kalau menurut terjemahan Ustadz Firanda, Syaikh sudah menyetujui laporan Ustadz Firanda dan menghukumi Dzulqarnain sebagai orang yang agak keras.Kalau menurut terjemahan Saya, Syaikh masih menunggu kepastian kebenaran laporan Ustadz Firanda. Andaikata laporan tersebut benar, berarti Dzulqarnain agak keras)).Kritikan : Saya rasa semua orang bisa menilai siapa yang salah menerjemah. Kalau terjemah versi al-Ustadz maka seharusnya Syaikh berkata فإنه متشدد, dengan tambahan huru faa. Meskipun al-Ustadz telah menasehati saya untuk belajar kembali bahasa Arab, maka saya katakan “Mari kita berdua bersama-sama belajar bahasa Arab” Kelima : Al-Ustadz berkata : ((Ustadz Firanda menyebutkan salah satu jawaban Saya:“Tanya:Ustadz ana punya majalah yang di kelola oleh dai-dai ihya At-Turats, tapi dalam masalah ekonomi saja. Bolehkah mengambil ilmu ekonomi dari mereka?Jawab:“Ini Masalah mengambil ilmu dari ahlul Bid’ah atau orang-orang yang mendukung  at-Turats, berada diatas pemikiran mereka, ini adalah dai-dai yang tidak berjalan diatas jalan Sunnah, maka tidak boleh seorang mengambil dari ilmu Sunnah dalam bidang apapun dari orang-orang yang tidak berada diatas sunnah, Bukan berartinya seluruh yang disebut ahlul Bid’ah itu pasti salah, tidak, tapi para Ulama Sepakat untuk memboikot ahlul bid’ah dan tidak menganjurkan manusia belajar, sebab mungkin saja ada hal-hal yang mereka masukkan disela-sela pembahasan mereka yang lain dianggap bagus.Kemudian dari sisi yang kedua mengenai masalah ilmu ekonomi sekarang, semua orang ingin bicara masalah ekonomi, semuanya ngambil dari para ulama ahlussunnah, ngapain ngambil dari orang-orang yang bermasalah, ilmu apa saja ada dari kalangan para ulama ahlussunnah, ada diterangkan dan tidak perlu seseorang menjatuhkan dirinya kedalam bahaya“”Kemudian Ustadz Firanda berkomentar,“Majalah yang dimaksud oleh penanya tentunya majalah yang sudah tersohor, yaitu majalah “Pengusaha Muslim”. Apakah majalah tersebut dikelola oleh para dai Ihyaa At-Turoots??, tentunya ini sebuah kebohongan nyata di siang bolong. Majalah ini sama sekali tidak dibantu oleh yayasan Ihyaa At-Turoots, bahkan dibiayai oleh seorang sahabat saya, seorang pengusaha, yang tentu ia tidak ingin disebutkan namanya di sini. –semoga Allah menjaga keikhlasannya-”TanggapanDalam pertanyaan tersebut, nama majalah tidak disebutkan. Oleh karena itu, dari mana beliau mengetahui maksud Saya dan maksud si Penanya?))Krtikan :–         Jika bukan majalah “Pengusaha Muslim” lantas majalah apa dong yang khusus ekonomi?, apakah al-Ustadz tidak tahu waqi’ medan dakwah di Indonesia??.–         Ternyata juga majalah pengusaha muslim tidak dikelola oleh dai-dai Ihyaa At-Turots. (Kecuali yang dimaksud dengan dengan dai at-Turots adalah yang tidak semanhaj dengan Jama’ah Tahdzir). Seharusnya al-Ustadz –sebagai ustad yang mengerti tentang medan dakwah- bertanya ; Majalah apakah itu?, siapa dai-dainya?–         Jawaban ustadz juga menunjukan semua da’i at-turots adalah ahul bid’ah, tidak berjalan di atas sunnah, apakah benar demikian?–         Thoyyib jika memang al-Ustadz tidak memaksudkan majalah pengusaha muslim sekarang saya bertanya “Apa hukumnya membaca majalah pengusaha muslim” Keenam : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak bisa memahami dari mana Ustadz Firanda menyangka bahwa Syaikh Shalih memuji Ihyâ` At-Turâts. Dari tanya-jawab yang disebutkan, tidak ada pujian Syaikh Shalih terhadap Ihyâ` At-Turâts. Yang ada hanyalah ucapan Syaikh, “Yang membantu kalian, ambillah bantuannya dan manfaatkan bantuan tersebut”. Semua orang memahami bahwa pembolehan mengambil dana bukanlah pujian))Krtikan : Berikut pujian beliau, al-‘Allâmah Shâlih Fauzân al-Fauzân hafizhahullâhu :فقد اطلعت على نسخة من منهج جمعية إحياء التراث الاسلامي للدعوة والتوجيه فوجدته منهج صحيحا يتماشى مع الكتاب والسنة وما تحتاجه الأمة فجزى الله القائمين على هذه الجمعية خير جزاء وأمدهم بنصره وتوفيقه .“Saya telah menelaah nuskhah (copy) yang berisi manhaj Perhimpunan Ihyâ` at-Turâts al-Islâmî lid-Da’wah wat-Taujîh dan saya dapati sebagai suatu manhaj yang benar, yang berjalan selaras di atas al-Kitâb (al-Qur`ân) dan as-Sunnah, dan dibutuhkan oleh umat. Semoga Allôh memberi balasan kepada para pengurus perhimpunan ini dengan sebaik-baik balasan, dan semoga Allôh menolong mereka dengan pertolongan dan taufiq-Nya.”اطلعت على كثير من المشاريع الخيرية التي تقوم بها الجمعية وإني قد سررت بذلك وأسال الله لهم التوفيق والسداد .“Saya telah melihat banyak dari proyek-proyek sosial yang dilaksanakan oleh jum’iyah (Ihyâ`ut Turâts), dan saya merasa gembira dengan hal tersebut. Saya mohon kepada Allôh agar memberikan taufîq dan kelurusan bagi mereka.Adapun link nya telah ana cantumkan di (http://www.turathkw.com/topics/current/index.php?cat_id=13)Al-Ustadz Dzulqornain tatkala ana berdialog langsung dengan beliau, ia menyatakan bahwa Syaikh Sholeh Al-Fauzan mengetahui penyimpangan Ihyaa At-Turots, maka saya berkata, “Jika Syaikh tahu lantas kenapa beliu tidak mentahdzir?, malah memuji?, malah membolehkan ambil dana??. Tolong datangkan satu saja tahdziran syaikh sholeh Al-Fauzan terhadap At-Turots???Akui saja kalau al-ustadz berbeda dengan syaikh Sholeh Al-Fauzan tentang masalah at-Turots.Dan jika firanda ternyata kurang akal…, maka berarti boleh dong firanda bertaqlid kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzan?? Juga bertaqlid kepada Syaikh Abdul Muhsin dan Syaikh Abdurrozzaq?? Kenapa mesti sewot !! Ketujuh : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak mengetahui Syaikh Al-Fauzan Menyalahkan keritikan saya terhadap Rodja. Juga ada kalam dari Syaikh Rabi’))Kritikan : Al-Ustadz seharusnya paham sindiran Syaikh Sholeh Al-Fauzan dalam jawabannya untuk tidak sibuk mencela yayasan dan para dai ??. Jadi maksud Syaikh Sholeh Al-Fauzan apa kalau bagitu??, ini bukan kritikan terhadap antum??.Demikian juga hal ini menunjukan al-Ustadz setuju dengan tahdzir Syaikh Robi terhadap Radiorodja, sebagaimana yang digembirakan oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh dan al-Ustadz Askari. Dan mengenai hal ini telah saya kritik. Kedelapan : Perkataan al-Ustadz ((Amatlah mengherankan bila seseorang yang merasa dirinya sangat berilmu, sudah berada pada kedudukan ulama))Kritikan : Alhamdulillah mudah-mudahan saya tidak merasa demikian. Maaf, dimanakah saya pernah menyatakan demikian?. Adapun kalau saya mengkritik Syaikh Robi’ maka telah saya jelaskan berulang-ulang 2 kesalahan fatal syaikh Robi’. Dan saya masih menunggu pembelaan al-Ustadz Dzulqornain cs terhadap Syaikh Robi’, sebagai masukan bagi saya.Ataukah tidak sebalikan al-Ustdaz yang malah merasa berilmu yang sangat nampak dari perendahannya (tanpa bantahan) kepada Syaikh Ali Hasan?? Kesembilan : Mengenai Radiorodja ibarat orang fajir?. Saya telah mengambil dzohir perkataan al-Ustadz bahwa radiorodja Fajir. Ini kesalahan saya, ternyata maksud al-Ustadz bukanlah makna dzohirnya.Akan tetapi mengkiaskan radiorodja dengan orang fajir bagaimanapun tetap bermakna konotasi negatif, meskipun tidak melazimkan para pengisi radiorodja adalah orang-orang fajir, tapi intinya ada nilai kesamaan atau yang disebut dengan ‘illah jaami’ah. Nah saya sekarang ingin bertanya kepada ustadz, lantas apa sisi al-ustadz menyamakan radiorodja dengan orang fajir? Kesepuluh : Al-Ustadz menyatakan Syaikh Muhammad Hasan diputar videonya di Radiorodja, serta syaikh-syaikh menyimpang yang lain…, bukankah ini kedustaan al-Ustadz?. Kalau bukan dusta tolong datangkan buktinya. Selain itu siapa lagi syaikh-syaikh yang menyimpang selain Syaikh al-Arifi yang diputar videonya di Radiorodja?Terakhir kita masih menunggu apa sih kritikan utama yang mendasari al-Ustadz begitu semangat mentahdzir Radiorodja??. Kita ingin bukti yang nyata bukan yang dipaksa-paksakan apalagi kedustaan, hingga nantinya bisa menjadi masukan bagi Radiorodja. Toh Radiorodja pasti ada kesalahannya, namanya orang berdakwah dan banyak ceramah pasti tergelincir…akan tetapi tolong jelaskan ketergelinciran radiorodja?? Demikian dulu catatan ringan atas tanggapan al-Ustadz Dzulqornain, akan tetapi semua catatan tersebut bukan masalah pokok dan inti. Saya lebih tertarik untuk membahas masalah manhaj yang saya utarakan, seperti aqidah syaikh Robi’ bahwa wajib membenci mubtadi’ muslim 100 persen, dan para salaf dahulu menghajr tanpa melihat maslahat. Ini yang saya lebih nantikan, karena inilah yang sangat berpengaruh pada sifat keras saudara-saudara kita dari jama’ah tahdzir. Demikian juga kesalahan firanda dalam persalahan muwaazanah, itu juga sangat saya nantikan, dan saya harap al-Ustadz Dzulqornain mendahulukan permasalahan ilmiyah ini setelah permasalahan Syaikh Robi’ agar dialog menjadi focus, bukan katanya dan katanya…Karena kalau hanya sekedar katanya dan katanya tentang al-ustadz Dzulqornain maka banyak info yang telah masuk kepada saya, hanya saja tidak pantas untuk saya sampaikan di forum ini karena tidak berkaitan dengan pembahasan ilmiyah.Sungguh tanggapan berupa pembentukan opini maka mungkin saya tidak berminat lagi. Baarokallahu fiikum.Atau jika al-Ustadz Dzulqornain berkenan maka saya mengajak Al-Ustadz berdialog terbuka bisa disiarkan secara live dan diikuti oleh seluruh salafiyin…, atau jika berkenan juga kita majukan di meja persidangan karena al-Ustadz telah mencemarkan nama baik Radiorodja!!. Sungguh saya melihat manfaat yang dilakukan oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili tatkala menantang Syaikh Muhammad bin hadi untuk berdialog terbuka secara live, akan tetapi tidak ditanggapi oleh beliau. Akhirnya Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily  mengadukan syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkholi, sehingga sekarang fedahnya adalah Syaikh Muhammad pun terdiam dan tidak lagi sibuk mentahdzir beliau, karena setiap tahdziran yang tanpa hujjah akan menjadi boomerang bagi beliau.Semoga Allah menyatukan hati-hati para salafiyin, menjadikan mereka tersibukan untuk membantah ahlul bid’ah bukan untuk mencari-cari kesalahan-kesalahan saudara-saudaranya, lalu mentahdzir dan mentabdi’.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 03-01-1435 H / 06-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  

Syi’ah Mengkafirkan yang Tidak Mengikuti Imam Mereka

Imamah menurut ulama Syi’ah adalah kepemimpinan spiritual atau rohani, pendidikan, agama dan politik bagi umat Islam telah ditentukan Allah secara turun-temurun (theo monarchi) sampai imam ke-12. Menurut Syi’ah, siapa saja yang tidak mengimani imamah mereka, maka ia kafir. Maka jangan heran jika Syi’ah tidak pernah akur dengan golongan Sunni. Perkataan Syi’ah di Kitab Mereka Syi’ah berkata, “Siapa saja yang tidak mengimani imamah, imannya tidaklah sempurna sampai ia beriman kepada imamah dan beri’tiqod padanya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 78. Syi’ah berkata, “Imamah adalah kelanjutan dari kenabian. Wajib rasul dan nabi itu diutus. Setelah rasul, wajib mengimani imamah.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 88. Syi’ah berkata, “Yang dimaksud imamah adalah penunjukkan ilahiyah yang telah Allah pilih dengan ilmu Allah yang telah lebih dulu ada. Penunjukkan imamah ini sebagaimana pengangkatan nabi. Nabi memerintah untuk mengangkat imamah setelah beliau wafat dan beliau memerintahkan untuk mengikutinya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: Ashlusy Syi’ah wa Ushuluhaa karya Muhammad Husain, hal. 102. Syi’ah berkata, “Siapa saja yang menantang imamah amirul mukminin ‘Ali bin Abi Tholib dan imam setelah itu, maka itu sama halnya dengan menentang kenabian. Siapa saja yang menetapkan amirul mukminin dan ia mengingkari satu imam saja, maka itu sama halnya dengan mengimani seluruh Nabi dan mengingkari kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dilanjutkan pula, “Siapa saja yang menentang imamah yaitu salah satu dari imam 12, maka itu sama saja menentang salah satu nabi dari seluruh nabi yang diutus.” Lihat Minhajun Najah karya Al Faidh Al Kasyani, hal. 48. Syi’ah berkata tegas tentang kafirnya orang yang tidak mengimani imamah mereka. Mereka berkata, “Para imam bersepakat bahwa siapa saja yang mengingkari imamah salah satu imam lalu ia menentang yang Allah wajibkan untuk taat pada imamah, maka ia kafir dan sesat serta pantas kekal dalam neraka.” Lihat kitab Haqqul Yaqin fi Ma’rifati Ushulud Diin karya ‘Abdullah Syibr, 2: 189. Sama halnya juga mereka berkata, “Lafazh syirik dan kufur disematkan pada orang yang tidak meyakini kepemimpinan amirul mukminin dan imamah dari orang tuanya, lalu mengutakan imam yang lain. Mereka-mereka ini kekal dalam neraka.” Lihat kitab Biharul Anwar, karya Al Majlisi, 23: 390. Dalil Doktrin Imamah dalam Syi’ah Di antara dalil yang dijadikan doktrin imamah Syi’ah adalah hadits Jabir bin Samurah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ اثْنَا عَشَرَ أَمِيرًا فَقَالَ كَلِمَةً لَمْ أَسْمَعْهَا فَقَالَ أَبِي إِنَّهُ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ “Akan ada 12 amir atau pemimpin.” Lalu beliau mengatakan sesuatu yang tidak aku dengar. Kata ayahku beliau bersabda, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Bukhari no. 7222) Dalam Shahih Muslim redaksinya sebagai berikut: عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِى عَلَى النَّبِىِّ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الأَمْرَ لاَ يَنْقَضِى حَتَّى يَمْضِىَ فِيهِمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً. قَالَ ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلاَمٍ خَفِىَ عَلَىَّ فَقُلْتُ لأَبِى مَا قَالَ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ Jabir ibn Samurah berkata: Aku bersama ayahku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar beliau bersabda, “Sungguh urusan ini tidak akan berakhir sampai berlalu di tengah-tengah umat 12 khalifah.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak terdengar olehku. Aku bertanya kepada ayahku, “Apa yang beliau katakan?” Kata beliau, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Muslim no. 1821) Dalam riwayat Abu Daud disebutkan, لاَ يَزَالُ هَذَا الدِّينُ قَائِمًا حَتَّى يَكُونَ عَلَيْكُمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً كُلُّهُمْ تَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الأُمَّةُ “Agama ini akan senantiasa tegak sampai ada 12 khalifah yang kesemuanya disepakati oleh umat -semuanya dari Quraisy-.” (HR. Abu Daud no. 4279) Ke-12 imam yang dimaksud Syi’ah adalah 1- Ali ibn Abi Thalib, 2- Husain, 3- ‘Ali Zainal ‘Abidin, 4- Muhammad Al-Baqir, 5- Ja’far As-Shadiq, 6- Musa Al-Kazhim, 7- ‘Ali Ar-Ridla, 8- Muhammad Al-Jawwad, 9- ‘Ali Al-Hadi, 10- Hasan Al-‘Askari, 11- Muhammad al-Muntazhar yang wafat di usia 8 tahun. Sesudah itu, imamah dilanjutkan oleh para wakilnya, yakni para wali/mullah/faqih (wilayatul-faqih) yang mengikuti madzhab Ahlul-Bait versi Syi’ah sampai datangnya imam ke-12 yakni imam mahdi (Lihat Islam Alternatif, Bandung: Mizan, 1998). Sanggahan Klaim Imamah Yang diklaim oleh Syi’ah sebagai imamah ternyata tidak disepakati oleh para ulama. Dan menurut Syi’ah, agama Islam itu belum tegak pada zaman Abu Bakr dan ‘Utsman. Apa yang mereka klaim sungguh berbeda dengan realita. Ditambah lagi sudah ditegaskan bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu generasi sesudahnya. Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Boleh jadi yang dimaksud 12 khalifah adalah saat Islam mengalami kejayaan dan khilafah ini disepakati. Karena dalam riwayat lain dikuatkan dengan lafazh,  “Mereka semua disepakati oleh umat.” (Lihat Fathul Bari, 13: 212 ) Imam Nawawi membawakan perkataan Al Qodhi ‘Iyadh. Dalam memahami hadits di atas, ada dua pertanyaan yang muncul. Pertama, dalam hadits lain terdapat lafazh, “Khilafah setelahku selama 30 tahun, lalu tibalah setelah itu raja.” Hadits ini bertentangan dengan hadits 12 khalifah. Dalam kurun 30 tahun tersebut hanyalah terdapat empat khulafaur rosyidin yang empat dan yang paling masyhur dibai’at setelah itu adalah Al Hasan bin ‘Ali. Bisa dijawab dengan dikatakan bahwa khilafah 30 tahun adalah khilafah setelah kenabian. Karena dalam sebagian riwayat disebutkan, “Khilafah kenabian setelahku adalah 30 tahun dan setelah itu dipimpin oleh raja.” Di sini tidak disyaratkan mesti melewati 12 khalifah. Pertanyaan kedua, boleh jadi kepemimpinan setelah itu lebih dari 12. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan, setelah itu hanya ada 12 imam. Namun beliau berkata bahwa setelah beliau ada 12 imam, boleh jadi lebih dari jumlah tersebut. Boleh jadi pula yang dimaksud adalah 12 imam yang adil. Dua belas imam bisa jadi sudah terlewat. Dan jumlah 12 imam ini akan sempurna sebelum hari kiamat datang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 12: 176. Penjelasan yang dinukil di atas menunjukkan bahwa para ulama tidaklah menentukan siapakah 12 imam tersebut. Berbeda halnya dengan Syi’ah. Dua belas imam yang mereka klaim pun belum disepakati oleh ulama lainnya. Jadi, itu hanya klaim dari Syi’ah saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan 12 imam tersebut, beliau tidak merincinya, sehingga kita pun tidak perlu memberikan rincian. Yang paling pokok, tidak jadi akidah kemestian mengikuti imam Syi’ah. Mereka pun tidak boleh seenaknya mengkafirkan. Hanya Allah yang memberi taufik pada kebenaran.     Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Muharram 1435 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagssyi'ah

Syi’ah Mengkafirkan yang Tidak Mengikuti Imam Mereka

Imamah menurut ulama Syi’ah adalah kepemimpinan spiritual atau rohani, pendidikan, agama dan politik bagi umat Islam telah ditentukan Allah secara turun-temurun (theo monarchi) sampai imam ke-12. Menurut Syi’ah, siapa saja yang tidak mengimani imamah mereka, maka ia kafir. Maka jangan heran jika Syi’ah tidak pernah akur dengan golongan Sunni. Perkataan Syi’ah di Kitab Mereka Syi’ah berkata, “Siapa saja yang tidak mengimani imamah, imannya tidaklah sempurna sampai ia beriman kepada imamah dan beri’tiqod padanya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 78. Syi’ah berkata, “Imamah adalah kelanjutan dari kenabian. Wajib rasul dan nabi itu diutus. Setelah rasul, wajib mengimani imamah.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 88. Syi’ah berkata, “Yang dimaksud imamah adalah penunjukkan ilahiyah yang telah Allah pilih dengan ilmu Allah yang telah lebih dulu ada. Penunjukkan imamah ini sebagaimana pengangkatan nabi. Nabi memerintah untuk mengangkat imamah setelah beliau wafat dan beliau memerintahkan untuk mengikutinya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: Ashlusy Syi’ah wa Ushuluhaa karya Muhammad Husain, hal. 102. Syi’ah berkata, “Siapa saja yang menantang imamah amirul mukminin ‘Ali bin Abi Tholib dan imam setelah itu, maka itu sama halnya dengan menentang kenabian. Siapa saja yang menetapkan amirul mukminin dan ia mengingkari satu imam saja, maka itu sama halnya dengan mengimani seluruh Nabi dan mengingkari kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dilanjutkan pula, “Siapa saja yang menentang imamah yaitu salah satu dari imam 12, maka itu sama saja menentang salah satu nabi dari seluruh nabi yang diutus.” Lihat Minhajun Najah karya Al Faidh Al Kasyani, hal. 48. Syi’ah berkata tegas tentang kafirnya orang yang tidak mengimani imamah mereka. Mereka berkata, “Para imam bersepakat bahwa siapa saja yang mengingkari imamah salah satu imam lalu ia menentang yang Allah wajibkan untuk taat pada imamah, maka ia kafir dan sesat serta pantas kekal dalam neraka.” Lihat kitab Haqqul Yaqin fi Ma’rifati Ushulud Diin karya ‘Abdullah Syibr, 2: 189. Sama halnya juga mereka berkata, “Lafazh syirik dan kufur disematkan pada orang yang tidak meyakini kepemimpinan amirul mukminin dan imamah dari orang tuanya, lalu mengutakan imam yang lain. Mereka-mereka ini kekal dalam neraka.” Lihat kitab Biharul Anwar, karya Al Majlisi, 23: 390. Dalil Doktrin Imamah dalam Syi’ah Di antara dalil yang dijadikan doktrin imamah Syi’ah adalah hadits Jabir bin Samurah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ اثْنَا عَشَرَ أَمِيرًا فَقَالَ كَلِمَةً لَمْ أَسْمَعْهَا فَقَالَ أَبِي إِنَّهُ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ “Akan ada 12 amir atau pemimpin.” Lalu beliau mengatakan sesuatu yang tidak aku dengar. Kata ayahku beliau bersabda, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Bukhari no. 7222) Dalam Shahih Muslim redaksinya sebagai berikut: عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِى عَلَى النَّبِىِّ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الأَمْرَ لاَ يَنْقَضِى حَتَّى يَمْضِىَ فِيهِمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً. قَالَ ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلاَمٍ خَفِىَ عَلَىَّ فَقُلْتُ لأَبِى مَا قَالَ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ Jabir ibn Samurah berkata: Aku bersama ayahku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar beliau bersabda, “Sungguh urusan ini tidak akan berakhir sampai berlalu di tengah-tengah umat 12 khalifah.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak terdengar olehku. Aku bertanya kepada ayahku, “Apa yang beliau katakan?” Kata beliau, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Muslim no. 1821) Dalam riwayat Abu Daud disebutkan, لاَ يَزَالُ هَذَا الدِّينُ قَائِمًا حَتَّى يَكُونَ عَلَيْكُمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً كُلُّهُمْ تَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الأُمَّةُ “Agama ini akan senantiasa tegak sampai ada 12 khalifah yang kesemuanya disepakati oleh umat -semuanya dari Quraisy-.” (HR. Abu Daud no. 4279) Ke-12 imam yang dimaksud Syi’ah adalah 1- Ali ibn Abi Thalib, 2- Husain, 3- ‘Ali Zainal ‘Abidin, 4- Muhammad Al-Baqir, 5- Ja’far As-Shadiq, 6- Musa Al-Kazhim, 7- ‘Ali Ar-Ridla, 8- Muhammad Al-Jawwad, 9- ‘Ali Al-Hadi, 10- Hasan Al-‘Askari, 11- Muhammad al-Muntazhar yang wafat di usia 8 tahun. Sesudah itu, imamah dilanjutkan oleh para wakilnya, yakni para wali/mullah/faqih (wilayatul-faqih) yang mengikuti madzhab Ahlul-Bait versi Syi’ah sampai datangnya imam ke-12 yakni imam mahdi (Lihat Islam Alternatif, Bandung: Mizan, 1998). Sanggahan Klaim Imamah Yang diklaim oleh Syi’ah sebagai imamah ternyata tidak disepakati oleh para ulama. Dan menurut Syi’ah, agama Islam itu belum tegak pada zaman Abu Bakr dan ‘Utsman. Apa yang mereka klaim sungguh berbeda dengan realita. Ditambah lagi sudah ditegaskan bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu generasi sesudahnya. Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Boleh jadi yang dimaksud 12 khalifah adalah saat Islam mengalami kejayaan dan khilafah ini disepakati. Karena dalam riwayat lain dikuatkan dengan lafazh,  “Mereka semua disepakati oleh umat.” (Lihat Fathul Bari, 13: 212 ) Imam Nawawi membawakan perkataan Al Qodhi ‘Iyadh. Dalam memahami hadits di atas, ada dua pertanyaan yang muncul. Pertama, dalam hadits lain terdapat lafazh, “Khilafah setelahku selama 30 tahun, lalu tibalah setelah itu raja.” Hadits ini bertentangan dengan hadits 12 khalifah. Dalam kurun 30 tahun tersebut hanyalah terdapat empat khulafaur rosyidin yang empat dan yang paling masyhur dibai’at setelah itu adalah Al Hasan bin ‘Ali. Bisa dijawab dengan dikatakan bahwa khilafah 30 tahun adalah khilafah setelah kenabian. Karena dalam sebagian riwayat disebutkan, “Khilafah kenabian setelahku adalah 30 tahun dan setelah itu dipimpin oleh raja.” Di sini tidak disyaratkan mesti melewati 12 khalifah. Pertanyaan kedua, boleh jadi kepemimpinan setelah itu lebih dari 12. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan, setelah itu hanya ada 12 imam. Namun beliau berkata bahwa setelah beliau ada 12 imam, boleh jadi lebih dari jumlah tersebut. Boleh jadi pula yang dimaksud adalah 12 imam yang adil. Dua belas imam bisa jadi sudah terlewat. Dan jumlah 12 imam ini akan sempurna sebelum hari kiamat datang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 12: 176. Penjelasan yang dinukil di atas menunjukkan bahwa para ulama tidaklah menentukan siapakah 12 imam tersebut. Berbeda halnya dengan Syi’ah. Dua belas imam yang mereka klaim pun belum disepakati oleh ulama lainnya. Jadi, itu hanya klaim dari Syi’ah saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan 12 imam tersebut, beliau tidak merincinya, sehingga kita pun tidak perlu memberikan rincian. Yang paling pokok, tidak jadi akidah kemestian mengikuti imam Syi’ah. Mereka pun tidak boleh seenaknya mengkafirkan. Hanya Allah yang memberi taufik pada kebenaran.     Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Muharram 1435 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagssyi'ah
Imamah menurut ulama Syi’ah adalah kepemimpinan spiritual atau rohani, pendidikan, agama dan politik bagi umat Islam telah ditentukan Allah secara turun-temurun (theo monarchi) sampai imam ke-12. Menurut Syi’ah, siapa saja yang tidak mengimani imamah mereka, maka ia kafir. Maka jangan heran jika Syi’ah tidak pernah akur dengan golongan Sunni. Perkataan Syi’ah di Kitab Mereka Syi’ah berkata, “Siapa saja yang tidak mengimani imamah, imannya tidaklah sempurna sampai ia beriman kepada imamah dan beri’tiqod padanya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 78. Syi’ah berkata, “Imamah adalah kelanjutan dari kenabian. Wajib rasul dan nabi itu diutus. Setelah rasul, wajib mengimani imamah.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 88. Syi’ah berkata, “Yang dimaksud imamah adalah penunjukkan ilahiyah yang telah Allah pilih dengan ilmu Allah yang telah lebih dulu ada. Penunjukkan imamah ini sebagaimana pengangkatan nabi. Nabi memerintah untuk mengangkat imamah setelah beliau wafat dan beliau memerintahkan untuk mengikutinya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: Ashlusy Syi’ah wa Ushuluhaa karya Muhammad Husain, hal. 102. Syi’ah berkata, “Siapa saja yang menantang imamah amirul mukminin ‘Ali bin Abi Tholib dan imam setelah itu, maka itu sama halnya dengan menentang kenabian. Siapa saja yang menetapkan amirul mukminin dan ia mengingkari satu imam saja, maka itu sama halnya dengan mengimani seluruh Nabi dan mengingkari kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dilanjutkan pula, “Siapa saja yang menentang imamah yaitu salah satu dari imam 12, maka itu sama saja menentang salah satu nabi dari seluruh nabi yang diutus.” Lihat Minhajun Najah karya Al Faidh Al Kasyani, hal. 48. Syi’ah berkata tegas tentang kafirnya orang yang tidak mengimani imamah mereka. Mereka berkata, “Para imam bersepakat bahwa siapa saja yang mengingkari imamah salah satu imam lalu ia menentang yang Allah wajibkan untuk taat pada imamah, maka ia kafir dan sesat serta pantas kekal dalam neraka.” Lihat kitab Haqqul Yaqin fi Ma’rifati Ushulud Diin karya ‘Abdullah Syibr, 2: 189. Sama halnya juga mereka berkata, “Lafazh syirik dan kufur disematkan pada orang yang tidak meyakini kepemimpinan amirul mukminin dan imamah dari orang tuanya, lalu mengutakan imam yang lain. Mereka-mereka ini kekal dalam neraka.” Lihat kitab Biharul Anwar, karya Al Majlisi, 23: 390. Dalil Doktrin Imamah dalam Syi’ah Di antara dalil yang dijadikan doktrin imamah Syi’ah adalah hadits Jabir bin Samurah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ اثْنَا عَشَرَ أَمِيرًا فَقَالَ كَلِمَةً لَمْ أَسْمَعْهَا فَقَالَ أَبِي إِنَّهُ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ “Akan ada 12 amir atau pemimpin.” Lalu beliau mengatakan sesuatu yang tidak aku dengar. Kata ayahku beliau bersabda, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Bukhari no. 7222) Dalam Shahih Muslim redaksinya sebagai berikut: عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِى عَلَى النَّبِىِّ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الأَمْرَ لاَ يَنْقَضِى حَتَّى يَمْضِىَ فِيهِمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً. قَالَ ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلاَمٍ خَفِىَ عَلَىَّ فَقُلْتُ لأَبِى مَا قَالَ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ Jabir ibn Samurah berkata: Aku bersama ayahku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar beliau bersabda, “Sungguh urusan ini tidak akan berakhir sampai berlalu di tengah-tengah umat 12 khalifah.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak terdengar olehku. Aku bertanya kepada ayahku, “Apa yang beliau katakan?” Kata beliau, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Muslim no. 1821) Dalam riwayat Abu Daud disebutkan, لاَ يَزَالُ هَذَا الدِّينُ قَائِمًا حَتَّى يَكُونَ عَلَيْكُمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً كُلُّهُمْ تَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الأُمَّةُ “Agama ini akan senantiasa tegak sampai ada 12 khalifah yang kesemuanya disepakati oleh umat -semuanya dari Quraisy-.” (HR. Abu Daud no. 4279) Ke-12 imam yang dimaksud Syi’ah adalah 1- Ali ibn Abi Thalib, 2- Husain, 3- ‘Ali Zainal ‘Abidin, 4- Muhammad Al-Baqir, 5- Ja’far As-Shadiq, 6- Musa Al-Kazhim, 7- ‘Ali Ar-Ridla, 8- Muhammad Al-Jawwad, 9- ‘Ali Al-Hadi, 10- Hasan Al-‘Askari, 11- Muhammad al-Muntazhar yang wafat di usia 8 tahun. Sesudah itu, imamah dilanjutkan oleh para wakilnya, yakni para wali/mullah/faqih (wilayatul-faqih) yang mengikuti madzhab Ahlul-Bait versi Syi’ah sampai datangnya imam ke-12 yakni imam mahdi (Lihat Islam Alternatif, Bandung: Mizan, 1998). Sanggahan Klaim Imamah Yang diklaim oleh Syi’ah sebagai imamah ternyata tidak disepakati oleh para ulama. Dan menurut Syi’ah, agama Islam itu belum tegak pada zaman Abu Bakr dan ‘Utsman. Apa yang mereka klaim sungguh berbeda dengan realita. Ditambah lagi sudah ditegaskan bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu generasi sesudahnya. Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Boleh jadi yang dimaksud 12 khalifah adalah saat Islam mengalami kejayaan dan khilafah ini disepakati. Karena dalam riwayat lain dikuatkan dengan lafazh,  “Mereka semua disepakati oleh umat.” (Lihat Fathul Bari, 13: 212 ) Imam Nawawi membawakan perkataan Al Qodhi ‘Iyadh. Dalam memahami hadits di atas, ada dua pertanyaan yang muncul. Pertama, dalam hadits lain terdapat lafazh, “Khilafah setelahku selama 30 tahun, lalu tibalah setelah itu raja.” Hadits ini bertentangan dengan hadits 12 khalifah. Dalam kurun 30 tahun tersebut hanyalah terdapat empat khulafaur rosyidin yang empat dan yang paling masyhur dibai’at setelah itu adalah Al Hasan bin ‘Ali. Bisa dijawab dengan dikatakan bahwa khilafah 30 tahun adalah khilafah setelah kenabian. Karena dalam sebagian riwayat disebutkan, “Khilafah kenabian setelahku adalah 30 tahun dan setelah itu dipimpin oleh raja.” Di sini tidak disyaratkan mesti melewati 12 khalifah. Pertanyaan kedua, boleh jadi kepemimpinan setelah itu lebih dari 12. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan, setelah itu hanya ada 12 imam. Namun beliau berkata bahwa setelah beliau ada 12 imam, boleh jadi lebih dari jumlah tersebut. Boleh jadi pula yang dimaksud adalah 12 imam yang adil. Dua belas imam bisa jadi sudah terlewat. Dan jumlah 12 imam ini akan sempurna sebelum hari kiamat datang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 12: 176. Penjelasan yang dinukil di atas menunjukkan bahwa para ulama tidaklah menentukan siapakah 12 imam tersebut. Berbeda halnya dengan Syi’ah. Dua belas imam yang mereka klaim pun belum disepakati oleh ulama lainnya. Jadi, itu hanya klaim dari Syi’ah saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan 12 imam tersebut, beliau tidak merincinya, sehingga kita pun tidak perlu memberikan rincian. Yang paling pokok, tidak jadi akidah kemestian mengikuti imam Syi’ah. Mereka pun tidak boleh seenaknya mengkafirkan. Hanya Allah yang memberi taufik pada kebenaran.     Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Muharram 1435 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagssyi'ah


Imamah menurut ulama Syi’ah adalah kepemimpinan spiritual atau rohani, pendidikan, agama dan politik bagi umat Islam telah ditentukan Allah secara turun-temurun (theo monarchi) sampai imam ke-12. Menurut Syi’ah, siapa saja yang tidak mengimani imamah mereka, maka ia kafir. Maka jangan heran jika Syi’ah tidak pernah akur dengan golongan Sunni. Perkataan Syi’ah di Kitab Mereka Syi’ah berkata, “Siapa saja yang tidak mengimani imamah, imannya tidaklah sempurna sampai ia beriman kepada imamah dan beri’tiqod padanya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 78. Syi’ah berkata, “Imamah adalah kelanjutan dari kenabian. Wajib rasul dan nabi itu diutus. Setelah rasul, wajib mengimani imamah.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 88. Syi’ah berkata, “Yang dimaksud imamah adalah penunjukkan ilahiyah yang telah Allah pilih dengan ilmu Allah yang telah lebih dulu ada. Penunjukkan imamah ini sebagaimana pengangkatan nabi. Nabi memerintah untuk mengangkat imamah setelah beliau wafat dan beliau memerintahkan untuk mengikutinya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: Ashlusy Syi’ah wa Ushuluhaa karya Muhammad Husain, hal. 102. Syi’ah berkata, “Siapa saja yang menantang imamah amirul mukminin ‘Ali bin Abi Tholib dan imam setelah itu, maka itu sama halnya dengan menentang kenabian. Siapa saja yang menetapkan amirul mukminin dan ia mengingkari satu imam saja, maka itu sama halnya dengan mengimani seluruh Nabi dan mengingkari kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dilanjutkan pula, “Siapa saja yang menentang imamah yaitu salah satu dari imam 12, maka itu sama saja menentang salah satu nabi dari seluruh nabi yang diutus.” Lihat Minhajun Najah karya Al Faidh Al Kasyani, hal. 48. Syi’ah berkata tegas tentang kafirnya orang yang tidak mengimani imamah mereka. Mereka berkata, “Para imam bersepakat bahwa siapa saja yang mengingkari imamah salah satu imam lalu ia menentang yang Allah wajibkan untuk taat pada imamah, maka ia kafir dan sesat serta pantas kekal dalam neraka.” Lihat kitab Haqqul Yaqin fi Ma’rifati Ushulud Diin karya ‘Abdullah Syibr, 2: 189. Sama halnya juga mereka berkata, “Lafazh syirik dan kufur disematkan pada orang yang tidak meyakini kepemimpinan amirul mukminin dan imamah dari orang tuanya, lalu mengutakan imam yang lain. Mereka-mereka ini kekal dalam neraka.” Lihat kitab Biharul Anwar, karya Al Majlisi, 23: 390. Dalil Doktrin Imamah dalam Syi’ah Di antara dalil yang dijadikan doktrin imamah Syi’ah adalah hadits Jabir bin Samurah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ اثْنَا عَشَرَ أَمِيرًا فَقَالَ كَلِمَةً لَمْ أَسْمَعْهَا فَقَالَ أَبِي إِنَّهُ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ “Akan ada 12 amir atau pemimpin.” Lalu beliau mengatakan sesuatu yang tidak aku dengar. Kata ayahku beliau bersabda, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Bukhari no. 7222) Dalam Shahih Muslim redaksinya sebagai berikut: عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِى عَلَى النَّبِىِّ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الأَمْرَ لاَ يَنْقَضِى حَتَّى يَمْضِىَ فِيهِمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً. قَالَ ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلاَمٍ خَفِىَ عَلَىَّ فَقُلْتُ لأَبِى مَا قَالَ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ Jabir ibn Samurah berkata: Aku bersama ayahku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar beliau bersabda, “Sungguh urusan ini tidak akan berakhir sampai berlalu di tengah-tengah umat 12 khalifah.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak terdengar olehku. Aku bertanya kepada ayahku, “Apa yang beliau katakan?” Kata beliau, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Muslim no. 1821) Dalam riwayat Abu Daud disebutkan, لاَ يَزَالُ هَذَا الدِّينُ قَائِمًا حَتَّى يَكُونَ عَلَيْكُمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً كُلُّهُمْ تَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الأُمَّةُ “Agama ini akan senantiasa tegak sampai ada 12 khalifah yang kesemuanya disepakati oleh umat -semuanya dari Quraisy-.” (HR. Abu Daud no. 4279) Ke-12 imam yang dimaksud Syi’ah adalah 1- Ali ibn Abi Thalib, 2- Husain, 3- ‘Ali Zainal ‘Abidin, 4- Muhammad Al-Baqir, 5- Ja’far As-Shadiq, 6- Musa Al-Kazhim, 7- ‘Ali Ar-Ridla, 8- Muhammad Al-Jawwad, 9- ‘Ali Al-Hadi, 10- Hasan Al-‘Askari, 11- Muhammad al-Muntazhar yang wafat di usia 8 tahun. Sesudah itu, imamah dilanjutkan oleh para wakilnya, yakni para wali/mullah/faqih (wilayatul-faqih) yang mengikuti madzhab Ahlul-Bait versi Syi’ah sampai datangnya imam ke-12 yakni imam mahdi (Lihat Islam Alternatif, Bandung: Mizan, 1998). Sanggahan Klaim Imamah Yang diklaim oleh Syi’ah sebagai imamah ternyata tidak disepakati oleh para ulama. Dan menurut Syi’ah, agama Islam itu belum tegak pada zaman Abu Bakr dan ‘Utsman. Apa yang mereka klaim sungguh berbeda dengan realita. Ditambah lagi sudah ditegaskan bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu generasi sesudahnya. Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Boleh jadi yang dimaksud 12 khalifah adalah saat Islam mengalami kejayaan dan khilafah ini disepakati. Karena dalam riwayat lain dikuatkan dengan lafazh,  “Mereka semua disepakati oleh umat.” (Lihat Fathul Bari, 13: 212 ) Imam Nawawi membawakan perkataan Al Qodhi ‘Iyadh. Dalam memahami hadits di atas, ada dua pertanyaan yang muncul. Pertama, dalam hadits lain terdapat lafazh, “Khilafah setelahku selama 30 tahun, lalu tibalah setelah itu raja.” Hadits ini bertentangan dengan hadits 12 khalifah. Dalam kurun 30 tahun tersebut hanyalah terdapat empat khulafaur rosyidin yang empat dan yang paling masyhur dibai’at setelah itu adalah Al Hasan bin ‘Ali. Bisa dijawab dengan dikatakan bahwa khilafah 30 tahun adalah khilafah setelah kenabian. Karena dalam sebagian riwayat disebutkan, “Khilafah kenabian setelahku adalah 30 tahun dan setelah itu dipimpin oleh raja.” Di sini tidak disyaratkan mesti melewati 12 khalifah. Pertanyaan kedua, boleh jadi kepemimpinan setelah itu lebih dari 12. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan, setelah itu hanya ada 12 imam. Namun beliau berkata bahwa setelah beliau ada 12 imam, boleh jadi lebih dari jumlah tersebut. Boleh jadi pula yang dimaksud adalah 12 imam yang adil. Dua belas imam bisa jadi sudah terlewat. Dan jumlah 12 imam ini akan sempurna sebelum hari kiamat datang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 12: 176. Penjelasan yang dinukil di atas menunjukkan bahwa para ulama tidaklah menentukan siapakah 12 imam tersebut. Berbeda halnya dengan Syi’ah. Dua belas imam yang mereka klaim pun belum disepakati oleh ulama lainnya. Jadi, itu hanya klaim dari Syi’ah saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan 12 imam tersebut, beliau tidak merincinya, sehingga kita pun tidak perlu memberikan rincian. Yang paling pokok, tidak jadi akidah kemestian mengikuti imam Syi’ah. Mereka pun tidak boleh seenaknya mengkafirkan. Hanya Allah yang memberi taufik pada kebenaran.     Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Muharram 1435 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagssyi'ah

Kisah Lucu.. (Senyum sejenak) : Antara Bis no 35 dgn Bis no 53

Kisah ini dikirim oleh seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah dari ‘Amman (Yordania)Judul : Antara Bis no 35 dgn Bis no 53Mahasiswa tersebut terbaring di atas tempat tidur di rumah sakit Universitas Islam Madinah. Sekujur tubuhnya penuh dengan pembalut, dan kedua kakinya digips. Tidak terdengar darinya kecuali suara rintihan…demikian juga isakan karena rasa sakit yang dirasakannya. Aku berkata dalam hatiku : Orang ini pasti kena kecelakaan berat .., atau dia terkena kebakaran… !!Pokoknya akupun datang pada pukul 4 sore yaitu saat dimulainya waktu menjenguk orang sakit. Hanya saja ada satu perkara yang membuat saya heran…setiap orang yang mengunjungi kamar inapnya kalau keluar dari kamarnya pasti ketawa mati terbahak-bahak. Akupun bingung, aku bertanya : Ada apa gerangan..??Pokoknya setiap orang yang mengunjunginya, memberi salam kepadanya maka terdengar suara tertawa dibalik sitar. Aku berkata : Aku harus tahu apa sebabnya ..!! Akhirnya sudah habis waktu berkunjung, maka akupun langsung segera masuk menemuinya akupun melihat kondisinya. Aku berkata kepadanya : Alhamdulillah, semoga engkau baik-baik saja, semoga tdk buruk kondisimu…,Akupun berbicara dengannya, akan tetapi aku terus penasaran kenapa mereka tertawa. Akhirnya aku berkata kepadanya : Aku lihat orang-orang yang menjengukmu, tdk seorangpun yang keluar kecuali tertawa terbahak-bahak hingga terdengar sampai di ujung rumah sakit.Ia berkata ; Memangnya kenapa? Kamu hasad karena kita pada tertawa?Aku berkata : Tentu tidak wahai saudaraku, bukan itu sebabnya. Demi Allah kalau kamu punya sejuta real mungkin baru aku hasad sama kamu. Memang biasa aja sih kalau mereka tertawa, terserah kamu, hanya saja aku ingin tahu apa rahasianya kenapa mereka tertawa, kalau engkau tdk keberatan memberitahukannya …Ia berkata : Baiklah akan aku ceritakan, jangan kawatir. Lihatlah kondisiku ini, patah tulang, terbalut dengan perban….Aku berkata : Benar…, semoga Allah menyembuhkanmuIa berkata : Wahai saudaraku – semoga Allah memanjangkan umurmu-, aku tinggal di wihdah (asrama) di lantai kedua. Dan di kamarku ada blakon biasa tidak aku rapikan. Jika aku tidur maka aku buka pintu balkon, aku matikan lampu, lalu kurebahkan diriku di atas ranjang tidur.Suatu hari aku tertidur sangat sangat pulas dan aku tenggelam dalam mimpiku…Sekan-akan aku berada di hari kiamat, dan aku mimpi orang-orang berkumpul di suatu padang/tempat seperti tempat parkiran bis. Ada bis-bis yang mengantarkan ke surga, dan ada bis-bis yang mengantarkan ke neraka.Pokoknya orang-orang dipanggil berdasarkan nama-nama mereka masing masing. Fulan bin fulan silahkan naik bis neraka … Fulan bin Fulan silahkan naik bis surga, dan demikianlah.Tiba-tiba dipanggil : “fulan bin fulan”…., ternyata itu adalah namaku…, hatikupun berdebar…”pergilah ke bis surga !” Huppps, alhamdulillah, akhirnya akupun tenang.Maka akupun mencari bis no 35 yang tertulis di situ “Ke Surga…”. Akhirnya akupun menemukannya, lalu akupun naik bis tersebut. Lalu bispun berjalan…tidak lama kemudian nampak ada plakat di jalan tertulis “Surga 50 km”, “Neraka 100 km”. Kamipun berjalan sambil memperhatikan plakat-plakat jalan raya, demi Allah ternyata bisnya kelewatan, telah kelewatan melewati belokan menuju surga. Aku berkata dalam hati ; Mungkin saja si supir tahu jalan masuk dari pintu surga yang lain.Akupun terus memperhatikan plakat-plakat jalan, lalu aku melihat plakat tertulis “Neraka 15 km”, tidak lama kemudian plakat “Neraka 10 km lagi”, semakin bis berjalan semakin mendekat ke neraka. Apa gerangan yang terjadi ???. Yang anehnya para penumpang hanya diam saja, tidak seorangpun dari mereka yang gelisah seperti diriku.Aku berkata : aku harus ngomong lansung sama sang supir. Akupun menuju sang supir hanya saja sang supir tetap membelakangiku, aku katakan kepadanya, “Kamu hendak kemana?”Tanpa menoleh sama sekali iapun menjawab, “Pergi ke neraka ya habibi”Kukatakan kepadanya, “Aku ini penghuni surga !!!, kenapa engkau mengantarku ke neraka??”Lalu iapun menoleh balik kepadaku, ternyata dia adalah Iblis. Akupun berkata kepadanya, “Aku penghuni surga wahai iblis yg terlaknat !!, demi Allah yang Maha Agung, sungguh aku ini penghuni surga. Baru saja tadi aku mendengar pengunguman bahwa namaku termasuk penumpang bis no 35 yang berangkat mengantar ke surga. Stop wahai iblis yang terkutuk !!! Akupun berteriak kepada iblis, sementara ia dengan wajahnya yang buruk hanya tertawa-tawa Ha ha ha ha. Lalu ia berkata, “Ini adalah bis no 53 yang berangkat menuju neraka !!!” Rupanya karena aku tadi sangat gembira sampai ngaco salah baik bis, tdk membedakan antara no 35 dan 53.Aku berkata, “Hentikan bis wahai iblis yang terkutuk !!, aku mau turun !!”Iblis berkata, “Demi Allah, bis ini telah diprogram, tidak akan berhenti kecuali di neraka. Kalau kau mau turun maka loncat saja dari situ !!”Akupun segera menendang pintu bis, lalu aku membukanya lalu akupun loncat dari bis…,Hups, aku pun tidak sadarkan diri kecuali ternyata aku sudah di Rumah sakit. Ternyata aku telah loncat dari balkon lantai dua ke bawah. SELESAI …(kisah nyata yang menimpa seorang mahasiswa Madinah yang tahun lalu dirawat inap di Rumah Sakit universitas Islam Madinah)Karenanya hendaknya para pembaca yang budiman berlindung kepada Allah dari godaan Iblis sebelum tidur, dan jangan lupa bedakan antara no 35 dan no 53.Jangan lupa doa dan dzikir sebelum tidur !!!(Hinga di sini ceritanya, sebagaimana ana dikirimkan oleh sahabat ana mahasiswa S2 jurusan aqidah dari Libia. Wallahu A’lam akan kebenaran kisah ini)

Kisah Lucu.. (Senyum sejenak) : Antara Bis no 35 dgn Bis no 53

Kisah ini dikirim oleh seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah dari ‘Amman (Yordania)Judul : Antara Bis no 35 dgn Bis no 53Mahasiswa tersebut terbaring di atas tempat tidur di rumah sakit Universitas Islam Madinah. Sekujur tubuhnya penuh dengan pembalut, dan kedua kakinya digips. Tidak terdengar darinya kecuali suara rintihan…demikian juga isakan karena rasa sakit yang dirasakannya. Aku berkata dalam hatiku : Orang ini pasti kena kecelakaan berat .., atau dia terkena kebakaran… !!Pokoknya akupun datang pada pukul 4 sore yaitu saat dimulainya waktu menjenguk orang sakit. Hanya saja ada satu perkara yang membuat saya heran…setiap orang yang mengunjungi kamar inapnya kalau keluar dari kamarnya pasti ketawa mati terbahak-bahak. Akupun bingung, aku bertanya : Ada apa gerangan..??Pokoknya setiap orang yang mengunjunginya, memberi salam kepadanya maka terdengar suara tertawa dibalik sitar. Aku berkata : Aku harus tahu apa sebabnya ..!! Akhirnya sudah habis waktu berkunjung, maka akupun langsung segera masuk menemuinya akupun melihat kondisinya. Aku berkata kepadanya : Alhamdulillah, semoga engkau baik-baik saja, semoga tdk buruk kondisimu…,Akupun berbicara dengannya, akan tetapi aku terus penasaran kenapa mereka tertawa. Akhirnya aku berkata kepadanya : Aku lihat orang-orang yang menjengukmu, tdk seorangpun yang keluar kecuali tertawa terbahak-bahak hingga terdengar sampai di ujung rumah sakit.Ia berkata ; Memangnya kenapa? Kamu hasad karena kita pada tertawa?Aku berkata : Tentu tidak wahai saudaraku, bukan itu sebabnya. Demi Allah kalau kamu punya sejuta real mungkin baru aku hasad sama kamu. Memang biasa aja sih kalau mereka tertawa, terserah kamu, hanya saja aku ingin tahu apa rahasianya kenapa mereka tertawa, kalau engkau tdk keberatan memberitahukannya …Ia berkata : Baiklah akan aku ceritakan, jangan kawatir. Lihatlah kondisiku ini, patah tulang, terbalut dengan perban….Aku berkata : Benar…, semoga Allah menyembuhkanmuIa berkata : Wahai saudaraku – semoga Allah memanjangkan umurmu-, aku tinggal di wihdah (asrama) di lantai kedua. Dan di kamarku ada blakon biasa tidak aku rapikan. Jika aku tidur maka aku buka pintu balkon, aku matikan lampu, lalu kurebahkan diriku di atas ranjang tidur.Suatu hari aku tertidur sangat sangat pulas dan aku tenggelam dalam mimpiku…Sekan-akan aku berada di hari kiamat, dan aku mimpi orang-orang berkumpul di suatu padang/tempat seperti tempat parkiran bis. Ada bis-bis yang mengantarkan ke surga, dan ada bis-bis yang mengantarkan ke neraka.Pokoknya orang-orang dipanggil berdasarkan nama-nama mereka masing masing. Fulan bin fulan silahkan naik bis neraka … Fulan bin Fulan silahkan naik bis surga, dan demikianlah.Tiba-tiba dipanggil : “fulan bin fulan”…., ternyata itu adalah namaku…, hatikupun berdebar…”pergilah ke bis surga !” Huppps, alhamdulillah, akhirnya akupun tenang.Maka akupun mencari bis no 35 yang tertulis di situ “Ke Surga…”. Akhirnya akupun menemukannya, lalu akupun naik bis tersebut. Lalu bispun berjalan…tidak lama kemudian nampak ada plakat di jalan tertulis “Surga 50 km”, “Neraka 100 km”. Kamipun berjalan sambil memperhatikan plakat-plakat jalan raya, demi Allah ternyata bisnya kelewatan, telah kelewatan melewati belokan menuju surga. Aku berkata dalam hati ; Mungkin saja si supir tahu jalan masuk dari pintu surga yang lain.Akupun terus memperhatikan plakat-plakat jalan, lalu aku melihat plakat tertulis “Neraka 15 km”, tidak lama kemudian plakat “Neraka 10 km lagi”, semakin bis berjalan semakin mendekat ke neraka. Apa gerangan yang terjadi ???. Yang anehnya para penumpang hanya diam saja, tidak seorangpun dari mereka yang gelisah seperti diriku.Aku berkata : aku harus ngomong lansung sama sang supir. Akupun menuju sang supir hanya saja sang supir tetap membelakangiku, aku katakan kepadanya, “Kamu hendak kemana?”Tanpa menoleh sama sekali iapun menjawab, “Pergi ke neraka ya habibi”Kukatakan kepadanya, “Aku ini penghuni surga !!!, kenapa engkau mengantarku ke neraka??”Lalu iapun menoleh balik kepadaku, ternyata dia adalah Iblis. Akupun berkata kepadanya, “Aku penghuni surga wahai iblis yg terlaknat !!, demi Allah yang Maha Agung, sungguh aku ini penghuni surga. Baru saja tadi aku mendengar pengunguman bahwa namaku termasuk penumpang bis no 35 yang berangkat mengantar ke surga. Stop wahai iblis yang terkutuk !!! Akupun berteriak kepada iblis, sementara ia dengan wajahnya yang buruk hanya tertawa-tawa Ha ha ha ha. Lalu ia berkata, “Ini adalah bis no 53 yang berangkat menuju neraka !!!” Rupanya karena aku tadi sangat gembira sampai ngaco salah baik bis, tdk membedakan antara no 35 dan 53.Aku berkata, “Hentikan bis wahai iblis yang terkutuk !!, aku mau turun !!”Iblis berkata, “Demi Allah, bis ini telah diprogram, tidak akan berhenti kecuali di neraka. Kalau kau mau turun maka loncat saja dari situ !!”Akupun segera menendang pintu bis, lalu aku membukanya lalu akupun loncat dari bis…,Hups, aku pun tidak sadarkan diri kecuali ternyata aku sudah di Rumah sakit. Ternyata aku telah loncat dari balkon lantai dua ke bawah. SELESAI …(kisah nyata yang menimpa seorang mahasiswa Madinah yang tahun lalu dirawat inap di Rumah Sakit universitas Islam Madinah)Karenanya hendaknya para pembaca yang budiman berlindung kepada Allah dari godaan Iblis sebelum tidur, dan jangan lupa bedakan antara no 35 dan no 53.Jangan lupa doa dan dzikir sebelum tidur !!!(Hinga di sini ceritanya, sebagaimana ana dikirimkan oleh sahabat ana mahasiswa S2 jurusan aqidah dari Libia. Wallahu A’lam akan kebenaran kisah ini)
Kisah ini dikirim oleh seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah dari ‘Amman (Yordania)Judul : Antara Bis no 35 dgn Bis no 53Mahasiswa tersebut terbaring di atas tempat tidur di rumah sakit Universitas Islam Madinah. Sekujur tubuhnya penuh dengan pembalut, dan kedua kakinya digips. Tidak terdengar darinya kecuali suara rintihan…demikian juga isakan karena rasa sakit yang dirasakannya. Aku berkata dalam hatiku : Orang ini pasti kena kecelakaan berat .., atau dia terkena kebakaran… !!Pokoknya akupun datang pada pukul 4 sore yaitu saat dimulainya waktu menjenguk orang sakit. Hanya saja ada satu perkara yang membuat saya heran…setiap orang yang mengunjungi kamar inapnya kalau keluar dari kamarnya pasti ketawa mati terbahak-bahak. Akupun bingung, aku bertanya : Ada apa gerangan..??Pokoknya setiap orang yang mengunjunginya, memberi salam kepadanya maka terdengar suara tertawa dibalik sitar. Aku berkata : Aku harus tahu apa sebabnya ..!! Akhirnya sudah habis waktu berkunjung, maka akupun langsung segera masuk menemuinya akupun melihat kondisinya. Aku berkata kepadanya : Alhamdulillah, semoga engkau baik-baik saja, semoga tdk buruk kondisimu…,Akupun berbicara dengannya, akan tetapi aku terus penasaran kenapa mereka tertawa. Akhirnya aku berkata kepadanya : Aku lihat orang-orang yang menjengukmu, tdk seorangpun yang keluar kecuali tertawa terbahak-bahak hingga terdengar sampai di ujung rumah sakit.Ia berkata ; Memangnya kenapa? Kamu hasad karena kita pada tertawa?Aku berkata : Tentu tidak wahai saudaraku, bukan itu sebabnya. Demi Allah kalau kamu punya sejuta real mungkin baru aku hasad sama kamu. Memang biasa aja sih kalau mereka tertawa, terserah kamu, hanya saja aku ingin tahu apa rahasianya kenapa mereka tertawa, kalau engkau tdk keberatan memberitahukannya …Ia berkata : Baiklah akan aku ceritakan, jangan kawatir. Lihatlah kondisiku ini, patah tulang, terbalut dengan perban….Aku berkata : Benar…, semoga Allah menyembuhkanmuIa berkata : Wahai saudaraku – semoga Allah memanjangkan umurmu-, aku tinggal di wihdah (asrama) di lantai kedua. Dan di kamarku ada blakon biasa tidak aku rapikan. Jika aku tidur maka aku buka pintu balkon, aku matikan lampu, lalu kurebahkan diriku di atas ranjang tidur.Suatu hari aku tertidur sangat sangat pulas dan aku tenggelam dalam mimpiku…Sekan-akan aku berada di hari kiamat, dan aku mimpi orang-orang berkumpul di suatu padang/tempat seperti tempat parkiran bis. Ada bis-bis yang mengantarkan ke surga, dan ada bis-bis yang mengantarkan ke neraka.Pokoknya orang-orang dipanggil berdasarkan nama-nama mereka masing masing. Fulan bin fulan silahkan naik bis neraka … Fulan bin Fulan silahkan naik bis surga, dan demikianlah.Tiba-tiba dipanggil : “fulan bin fulan”…., ternyata itu adalah namaku…, hatikupun berdebar…”pergilah ke bis surga !” Huppps, alhamdulillah, akhirnya akupun tenang.Maka akupun mencari bis no 35 yang tertulis di situ “Ke Surga…”. Akhirnya akupun menemukannya, lalu akupun naik bis tersebut. Lalu bispun berjalan…tidak lama kemudian nampak ada plakat di jalan tertulis “Surga 50 km”, “Neraka 100 km”. Kamipun berjalan sambil memperhatikan plakat-plakat jalan raya, demi Allah ternyata bisnya kelewatan, telah kelewatan melewati belokan menuju surga. Aku berkata dalam hati ; Mungkin saja si supir tahu jalan masuk dari pintu surga yang lain.Akupun terus memperhatikan plakat-plakat jalan, lalu aku melihat plakat tertulis “Neraka 15 km”, tidak lama kemudian plakat “Neraka 10 km lagi”, semakin bis berjalan semakin mendekat ke neraka. Apa gerangan yang terjadi ???. Yang anehnya para penumpang hanya diam saja, tidak seorangpun dari mereka yang gelisah seperti diriku.Aku berkata : aku harus ngomong lansung sama sang supir. Akupun menuju sang supir hanya saja sang supir tetap membelakangiku, aku katakan kepadanya, “Kamu hendak kemana?”Tanpa menoleh sama sekali iapun menjawab, “Pergi ke neraka ya habibi”Kukatakan kepadanya, “Aku ini penghuni surga !!!, kenapa engkau mengantarku ke neraka??”Lalu iapun menoleh balik kepadaku, ternyata dia adalah Iblis. Akupun berkata kepadanya, “Aku penghuni surga wahai iblis yg terlaknat !!, demi Allah yang Maha Agung, sungguh aku ini penghuni surga. Baru saja tadi aku mendengar pengunguman bahwa namaku termasuk penumpang bis no 35 yang berangkat mengantar ke surga. Stop wahai iblis yang terkutuk !!! Akupun berteriak kepada iblis, sementara ia dengan wajahnya yang buruk hanya tertawa-tawa Ha ha ha ha. Lalu ia berkata, “Ini adalah bis no 53 yang berangkat menuju neraka !!!” Rupanya karena aku tadi sangat gembira sampai ngaco salah baik bis, tdk membedakan antara no 35 dan 53.Aku berkata, “Hentikan bis wahai iblis yang terkutuk !!, aku mau turun !!”Iblis berkata, “Demi Allah, bis ini telah diprogram, tidak akan berhenti kecuali di neraka. Kalau kau mau turun maka loncat saja dari situ !!”Akupun segera menendang pintu bis, lalu aku membukanya lalu akupun loncat dari bis…,Hups, aku pun tidak sadarkan diri kecuali ternyata aku sudah di Rumah sakit. Ternyata aku telah loncat dari balkon lantai dua ke bawah. SELESAI …(kisah nyata yang menimpa seorang mahasiswa Madinah yang tahun lalu dirawat inap di Rumah Sakit universitas Islam Madinah)Karenanya hendaknya para pembaca yang budiman berlindung kepada Allah dari godaan Iblis sebelum tidur, dan jangan lupa bedakan antara no 35 dan no 53.Jangan lupa doa dan dzikir sebelum tidur !!!(Hinga di sini ceritanya, sebagaimana ana dikirimkan oleh sahabat ana mahasiswa S2 jurusan aqidah dari Libia. Wallahu A’lam akan kebenaran kisah ini)


Kisah ini dikirim oleh seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah dari ‘Amman (Yordania)Judul : Antara Bis no 35 dgn Bis no 53Mahasiswa tersebut terbaring di atas tempat tidur di rumah sakit Universitas Islam Madinah. Sekujur tubuhnya penuh dengan pembalut, dan kedua kakinya digips. Tidak terdengar darinya kecuali suara rintihan…demikian juga isakan karena rasa sakit yang dirasakannya. Aku berkata dalam hatiku : Orang ini pasti kena kecelakaan berat .., atau dia terkena kebakaran… !!Pokoknya akupun datang pada pukul 4 sore yaitu saat dimulainya waktu menjenguk orang sakit. Hanya saja ada satu perkara yang membuat saya heran…setiap orang yang mengunjungi kamar inapnya kalau keluar dari kamarnya pasti ketawa mati terbahak-bahak. Akupun bingung, aku bertanya : Ada apa gerangan..??Pokoknya setiap orang yang mengunjunginya, memberi salam kepadanya maka terdengar suara tertawa dibalik sitar. Aku berkata : Aku harus tahu apa sebabnya ..!! Akhirnya sudah habis waktu berkunjung, maka akupun langsung segera masuk menemuinya akupun melihat kondisinya. Aku berkata kepadanya : Alhamdulillah, semoga engkau baik-baik saja, semoga tdk buruk kondisimu…,Akupun berbicara dengannya, akan tetapi aku terus penasaran kenapa mereka tertawa. Akhirnya aku berkata kepadanya : Aku lihat orang-orang yang menjengukmu, tdk seorangpun yang keluar kecuali tertawa terbahak-bahak hingga terdengar sampai di ujung rumah sakit.Ia berkata ; Memangnya kenapa? Kamu hasad karena kita pada tertawa?Aku berkata : Tentu tidak wahai saudaraku, bukan itu sebabnya. Demi Allah kalau kamu punya sejuta real mungkin baru aku hasad sama kamu. Memang biasa aja sih kalau mereka tertawa, terserah kamu, hanya saja aku ingin tahu apa rahasianya kenapa mereka tertawa, kalau engkau tdk keberatan memberitahukannya …Ia berkata : Baiklah akan aku ceritakan, jangan kawatir. Lihatlah kondisiku ini, patah tulang, terbalut dengan perban….Aku berkata : Benar…, semoga Allah menyembuhkanmuIa berkata : Wahai saudaraku – semoga Allah memanjangkan umurmu-, aku tinggal di wihdah (asrama) di lantai kedua. Dan di kamarku ada blakon biasa tidak aku rapikan. Jika aku tidur maka aku buka pintu balkon, aku matikan lampu, lalu kurebahkan diriku di atas ranjang tidur.Suatu hari aku tertidur sangat sangat pulas dan aku tenggelam dalam mimpiku…Sekan-akan aku berada di hari kiamat, dan aku mimpi orang-orang berkumpul di suatu padang/tempat seperti tempat parkiran bis. Ada bis-bis yang mengantarkan ke surga, dan ada bis-bis yang mengantarkan ke neraka.Pokoknya orang-orang dipanggil berdasarkan nama-nama mereka masing masing. Fulan bin fulan silahkan naik bis neraka … Fulan bin Fulan silahkan naik bis surga, dan demikianlah.Tiba-tiba dipanggil : “fulan bin fulan”…., ternyata itu adalah namaku…, hatikupun berdebar…”pergilah ke bis surga !” Huppps, alhamdulillah, akhirnya akupun tenang.Maka akupun mencari bis no 35 yang tertulis di situ “Ke Surga…”. Akhirnya akupun menemukannya, lalu akupun naik bis tersebut. Lalu bispun berjalan…tidak lama kemudian nampak ada plakat di jalan tertulis “Surga 50 km”, “Neraka 100 km”. Kamipun berjalan sambil memperhatikan plakat-plakat jalan raya, demi Allah ternyata bisnya kelewatan, telah kelewatan melewati belokan menuju surga. Aku berkata dalam hati ; Mungkin saja si supir tahu jalan masuk dari pintu surga yang lain.Akupun terus memperhatikan plakat-plakat jalan, lalu aku melihat plakat tertulis “Neraka 15 km”, tidak lama kemudian plakat “Neraka 10 km lagi”, semakin bis berjalan semakin mendekat ke neraka. Apa gerangan yang terjadi ???. Yang anehnya para penumpang hanya diam saja, tidak seorangpun dari mereka yang gelisah seperti diriku.Aku berkata : aku harus ngomong lansung sama sang supir. Akupun menuju sang supir hanya saja sang supir tetap membelakangiku, aku katakan kepadanya, “Kamu hendak kemana?”Tanpa menoleh sama sekali iapun menjawab, “Pergi ke neraka ya habibi”Kukatakan kepadanya, “Aku ini penghuni surga !!!, kenapa engkau mengantarku ke neraka??”Lalu iapun menoleh balik kepadaku, ternyata dia adalah Iblis. Akupun berkata kepadanya, “Aku penghuni surga wahai iblis yg terlaknat !!, demi Allah yang Maha Agung, sungguh aku ini penghuni surga. Baru saja tadi aku mendengar pengunguman bahwa namaku termasuk penumpang bis no 35 yang berangkat mengantar ke surga. Stop wahai iblis yang terkutuk !!! Akupun berteriak kepada iblis, sementara ia dengan wajahnya yang buruk hanya tertawa-tawa Ha ha ha ha. Lalu ia berkata, “Ini adalah bis no 53 yang berangkat menuju neraka !!!” Rupanya karena aku tadi sangat gembira sampai ngaco salah baik bis, tdk membedakan antara no 35 dan 53.Aku berkata, “Hentikan bis wahai iblis yang terkutuk !!, aku mau turun !!”Iblis berkata, “Demi Allah, bis ini telah diprogram, tidak akan berhenti kecuali di neraka. Kalau kau mau turun maka loncat saja dari situ !!”Akupun segera menendang pintu bis, lalu aku membukanya lalu akupun loncat dari bis…,Hups, aku pun tidak sadarkan diri kecuali ternyata aku sudah di Rumah sakit. Ternyata aku telah loncat dari balkon lantai dua ke bawah. SELESAI …(kisah nyata yang menimpa seorang mahasiswa Madinah yang tahun lalu dirawat inap di Rumah Sakit universitas Islam Madinah)Karenanya hendaknya para pembaca yang budiman berlindung kepada Allah dari godaan Iblis sebelum tidur, dan jangan lupa bedakan antara no 35 dan no 53.Jangan lupa doa dan dzikir sebelum tidur !!!(Hinga di sini ceritanya, sebagaimana ana dikirimkan oleh sahabat ana mahasiswa S2 jurusan aqidah dari Libia. Wallahu A’lam akan kebenaran kisah ini)
Prev     Next