Syi’ah Menyakiti Nabi dan Ahlul Bait

Ternyata Syi’ah pun menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul bait. Tidak percaya? Perhatikan perkataan mereka dalam kitab mereka sendiri. Syi’ah berkata, “‘Ali bin Abi Tholib lebih pemberani dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Nabi sendiri tidak diberikan keberanian sama sekali.” Lihat: Kitab Al Anwar An Nu’maniyyah karya Ni’matullah Al Jazairi, 1: 17. Syi’ah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki anak perempuan selain Fatimah. Adapun Ruqoyyah, Ummu Kultsum, Zainab hanyalah anak tiri.” Lihat: Dairotul Ma’arif Al Islamiyah Asy Syi’iyah, 1: 27. Syi’ah berkata, “Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma, ia merendahkan orang mukmin karena ia mau saja berbai’at kepada Mu’awiyah.” Lihat: Rijalul Al Kissyi karya Al Kissyi, hal. 103. Di antara ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikafirkan adalah Al ‘Abbas. Mengenai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib ini sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurunkan dua ayat padanya. Ayat pertama, وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). ” (QS. Al Isra’: 72). Dan juga firman Allah, وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ “Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu” (QS. Hud: 34). Kedua ayat ini kata Syi’ah diturunkan pada paman Nabi, Al ‘Abbas. Inilah yang disebutkan oleh Muhammad bin Al Hasan Ath Thusiy dalam dalam kitab beliau yang ma’ruf Rijalul Kissyi, hal. 127. Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesesatan Syi’ah. Hanya Allah yang memberi taufik.    Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 16-17. Asy Syi’ah Al Itsna Asyariyah wa Takfiruhum li ‘Umumil Muslimin, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 74. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Muharram 1435 H Tagssyi'ah

Syi’ah Menyakiti Nabi dan Ahlul Bait

Ternyata Syi’ah pun menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul bait. Tidak percaya? Perhatikan perkataan mereka dalam kitab mereka sendiri. Syi’ah berkata, “‘Ali bin Abi Tholib lebih pemberani dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Nabi sendiri tidak diberikan keberanian sama sekali.” Lihat: Kitab Al Anwar An Nu’maniyyah karya Ni’matullah Al Jazairi, 1: 17. Syi’ah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki anak perempuan selain Fatimah. Adapun Ruqoyyah, Ummu Kultsum, Zainab hanyalah anak tiri.” Lihat: Dairotul Ma’arif Al Islamiyah Asy Syi’iyah, 1: 27. Syi’ah berkata, “Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma, ia merendahkan orang mukmin karena ia mau saja berbai’at kepada Mu’awiyah.” Lihat: Rijalul Al Kissyi karya Al Kissyi, hal. 103. Di antara ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikafirkan adalah Al ‘Abbas. Mengenai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib ini sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurunkan dua ayat padanya. Ayat pertama, وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). ” (QS. Al Isra’: 72). Dan juga firman Allah, وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ “Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu” (QS. Hud: 34). Kedua ayat ini kata Syi’ah diturunkan pada paman Nabi, Al ‘Abbas. Inilah yang disebutkan oleh Muhammad bin Al Hasan Ath Thusiy dalam dalam kitab beliau yang ma’ruf Rijalul Kissyi, hal. 127. Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesesatan Syi’ah. Hanya Allah yang memberi taufik.    Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 16-17. Asy Syi’ah Al Itsna Asyariyah wa Takfiruhum li ‘Umumil Muslimin, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 74. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Muharram 1435 H Tagssyi'ah
Ternyata Syi’ah pun menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul bait. Tidak percaya? Perhatikan perkataan mereka dalam kitab mereka sendiri. Syi’ah berkata, “‘Ali bin Abi Tholib lebih pemberani dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Nabi sendiri tidak diberikan keberanian sama sekali.” Lihat: Kitab Al Anwar An Nu’maniyyah karya Ni’matullah Al Jazairi, 1: 17. Syi’ah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki anak perempuan selain Fatimah. Adapun Ruqoyyah, Ummu Kultsum, Zainab hanyalah anak tiri.” Lihat: Dairotul Ma’arif Al Islamiyah Asy Syi’iyah, 1: 27. Syi’ah berkata, “Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma, ia merendahkan orang mukmin karena ia mau saja berbai’at kepada Mu’awiyah.” Lihat: Rijalul Al Kissyi karya Al Kissyi, hal. 103. Di antara ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikafirkan adalah Al ‘Abbas. Mengenai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib ini sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurunkan dua ayat padanya. Ayat pertama, وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). ” (QS. Al Isra’: 72). Dan juga firman Allah, وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ “Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu” (QS. Hud: 34). Kedua ayat ini kata Syi’ah diturunkan pada paman Nabi, Al ‘Abbas. Inilah yang disebutkan oleh Muhammad bin Al Hasan Ath Thusiy dalam dalam kitab beliau yang ma’ruf Rijalul Kissyi, hal. 127. Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesesatan Syi’ah. Hanya Allah yang memberi taufik.    Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 16-17. Asy Syi’ah Al Itsna Asyariyah wa Takfiruhum li ‘Umumil Muslimin, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 74. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Muharram 1435 H Tagssyi'ah


Ternyata Syi’ah pun menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul bait. Tidak percaya? Perhatikan perkataan mereka dalam kitab mereka sendiri. Syi’ah berkata, “‘Ali bin Abi Tholib lebih pemberani dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Nabi sendiri tidak diberikan keberanian sama sekali.” Lihat: Kitab Al Anwar An Nu’maniyyah karya Ni’matullah Al Jazairi, 1: 17. Syi’ah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki anak perempuan selain Fatimah. Adapun Ruqoyyah, Ummu Kultsum, Zainab hanyalah anak tiri.” Lihat: Dairotul Ma’arif Al Islamiyah Asy Syi’iyah, 1: 27. Syi’ah berkata, “Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma, ia merendahkan orang mukmin karena ia mau saja berbai’at kepada Mu’awiyah.” Lihat: Rijalul Al Kissyi karya Al Kissyi, hal. 103. Di antara ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikafirkan adalah Al ‘Abbas. Mengenai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib ini sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurunkan dua ayat padanya. Ayat pertama, وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). ” (QS. Al Isra’: 72). Dan juga firman Allah, وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ “Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu” (QS. Hud: 34). Kedua ayat ini kata Syi’ah diturunkan pada paman Nabi, Al ‘Abbas. Inilah yang disebutkan oleh Muhammad bin Al Hasan Ath Thusiy dalam dalam kitab beliau yang ma’ruf Rijalul Kissyi, hal. 127. Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesesatan Syi’ah. Hanya Allah yang memberi taufik.    Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 16-17. Asy Syi’ah Al Itsna Asyariyah wa Takfiruhum li ‘Umumil Muslimin, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 74. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Muharram 1435 H Tagssyi'ah

Bantahan untuk Orang Musyrik (7): Sebab Orang Musyrik Diperangi

Kenapa sampai orang musyrik diperangi? Apa karena mereka menyembah berhala? Atau karena mereka menyekutukan Allah dalam ibadah yang ini disebut syirik? Syirik ini yang masih terus laris manis hingga saat ini, semacam kita lihat dari berbagai tradisi ruwatan, bersih desa yang ada di beberapa daerah. Jika diletelusuri, tradisi syirik yang masih dipertahankan semacam ini yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang musyrik. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah kembali melanjutkan perkataan beliau sebelumnya, “Kemudian di antara mereka ada yang menyembah malaikat karena keshalihan dan kedekatan malaikat dengan Allah. Mereka melakukan demikian supaya malaikat memberi syafa’at pada mereka. Selain itu yang disembah juga adalah orang shalih seperti Laatta atau seorang Nabi semisal ‘Isa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka karena kesyirikan tersebut. Beliau mendakwahi mereka untuk memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja, Allah tidak dipersekutukan dengan yang lainnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin: 18). لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka” (QS. Ar Ro’du: 14). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka agar supaya menjadikan seluruh ibadah hanya untuk Allah, semua do’a hanya ditujukan pada-Nya, seluruh sembelihan disajikan untuk Allah, begitu pula ibadah nazar hanyalah untuk-Nya, juga istighotsah yaitu meminta diangkat musibah ditujukan pada Allah, serta ibadah lainnya ditujukan pada Allah. Engkau tahu bahwa mengakui tauhid rububiyah (mengakui Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta) semata tidaklah memasukkan seseorang dalam Islam. Ketahui pula bahwa jika maksud dalam ibadah adalah malaikat, para nabi, para wali lalu dimintailah syafa’at dan maksud ibadah pada mereka supaya mendekatkan diri pada Allah, itulah sebenarnya sebab darah dan harta mereka jadi halal. Ketahui pula bahwa tauhid inilah yang dibawa oleh para Rasul dan inilah yang ditentang orang-orang musyrik.” Demikian yang dikatakan selanjutnya oleh Syaikh Muhammad dalam kitab beliau Kasyfu Syubuhaat. Sesembahan Orang Musyrik Kembali pada Dua Alasan Jika kita melihat dari apa yang dijelaskan oleh Syaikh rahimahullah di atas, malaikat itu disembah karena dua alasan: (1) ia adalah ruh yang suci, shalih dan tidak berbuat maksiat, (2) kedekatan malaikat dengan Allah. Di setiap waktu, orang-orang musyrik menyembah sesembahan mereka dengan alasan yang sama seperti di atas yaitu karena ruhnya yang suci dan kedekatannya dengan Allah. Inilah hakekat syirik dari masa ke masa yaitu kembali kepada dua hal tersebut pada yang disembah. Lalu apa tujuannya meminta kepada malaikat dan ruh yang shalih serta dekat pada Allah tersebut? Kita dapat ambil pelajaran bahwa meminta pada malaikat dan lainnya bukanlah karena mereka bisa memberi apa yang diminta secara langsung. Namun meminta pada mereka karena mereka dapat memberikan syafa’at di sisi Allah dan karena mereka begitu dekat pada Allah sehingga permintaan mereka tidak mungkin ditolak.  Inilah yang nyata terjadi pada orang-orang musyrik di masa silam sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Jadi bukanlah yang dimaksud adalah orang musyrik di masa silam disebut berbuat syirik karena mereka meminta pada selain Allah secara langsung. Itu bukanlah syarat. Namun tujuan orang musyrik dalam beribadah pada selain Allah adalah untuk mendekatkan diri mereka pada Allah. Itulah yang nyata terjadi saat ini pada pengagum ritual atau tradisi syirik sebagaimana yang kami maksudkan di awal tulisan ini. Jadi kesyirikan yang terjadi pada sesembahan yang beragam mulai dari orang shalih yang telah mati, para nabi, Husain, Zainab, Badawi, ‘Abdul Qodir Al Jailani, semuanya disembah karena alasan keshalihan dan kedekatan diri mereka pada Allah. Rasul Memerangi Orang Musyrik Kenapa Rasul sampai memerangi orang Quraisy? Jawabnya, karena mereka telah berbuat syirik. Karena mereka telah beribadah kepada selain Allah dengan menjadikan mereka sebagai perantara atau bertawassul pada mereka. Jadi bukanlah mereka meminta kepada orang shalih dan selain Allah secara langsung. Lihatlah kesyirikan yang terjadi di masa silam seperti yang disebutkan dalam ayat, مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Inilah sebab mengapa sampai Rasul memerangi mereka. Ini berarti kita diperintahkan untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Sedangkan kesyirikan itu sudah teramat jelas yaitu memalingkan salah satu ibadah pada selain Allah. Siapa saja yang berbuat syirik, maka terhapuslah amalnya walaupun ia makhluk yang paling mulia. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66) “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az Zumar: 65-66). Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Kitab Kasyfu Syubuhat, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, naskah bersanad dari guru kami Syaikh Sholih bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi, dalam Muqorrorot Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi, cetakan ketiga, 1434 H. Syarh Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, terbitan Maktabah Darul Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Warung Nasi Goreng saat dinner, 3 Muharram 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagskasyfu syubuhaat

Bantahan untuk Orang Musyrik (7): Sebab Orang Musyrik Diperangi

Kenapa sampai orang musyrik diperangi? Apa karena mereka menyembah berhala? Atau karena mereka menyekutukan Allah dalam ibadah yang ini disebut syirik? Syirik ini yang masih terus laris manis hingga saat ini, semacam kita lihat dari berbagai tradisi ruwatan, bersih desa yang ada di beberapa daerah. Jika diletelusuri, tradisi syirik yang masih dipertahankan semacam ini yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang musyrik. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah kembali melanjutkan perkataan beliau sebelumnya, “Kemudian di antara mereka ada yang menyembah malaikat karena keshalihan dan kedekatan malaikat dengan Allah. Mereka melakukan demikian supaya malaikat memberi syafa’at pada mereka. Selain itu yang disembah juga adalah orang shalih seperti Laatta atau seorang Nabi semisal ‘Isa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka karena kesyirikan tersebut. Beliau mendakwahi mereka untuk memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja, Allah tidak dipersekutukan dengan yang lainnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin: 18). لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka” (QS. Ar Ro’du: 14). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka agar supaya menjadikan seluruh ibadah hanya untuk Allah, semua do’a hanya ditujukan pada-Nya, seluruh sembelihan disajikan untuk Allah, begitu pula ibadah nazar hanyalah untuk-Nya, juga istighotsah yaitu meminta diangkat musibah ditujukan pada Allah, serta ibadah lainnya ditujukan pada Allah. Engkau tahu bahwa mengakui tauhid rububiyah (mengakui Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta) semata tidaklah memasukkan seseorang dalam Islam. Ketahui pula bahwa jika maksud dalam ibadah adalah malaikat, para nabi, para wali lalu dimintailah syafa’at dan maksud ibadah pada mereka supaya mendekatkan diri pada Allah, itulah sebenarnya sebab darah dan harta mereka jadi halal. Ketahui pula bahwa tauhid inilah yang dibawa oleh para Rasul dan inilah yang ditentang orang-orang musyrik.” Demikian yang dikatakan selanjutnya oleh Syaikh Muhammad dalam kitab beliau Kasyfu Syubuhaat. Sesembahan Orang Musyrik Kembali pada Dua Alasan Jika kita melihat dari apa yang dijelaskan oleh Syaikh rahimahullah di atas, malaikat itu disembah karena dua alasan: (1) ia adalah ruh yang suci, shalih dan tidak berbuat maksiat, (2) kedekatan malaikat dengan Allah. Di setiap waktu, orang-orang musyrik menyembah sesembahan mereka dengan alasan yang sama seperti di atas yaitu karena ruhnya yang suci dan kedekatannya dengan Allah. Inilah hakekat syirik dari masa ke masa yaitu kembali kepada dua hal tersebut pada yang disembah. Lalu apa tujuannya meminta kepada malaikat dan ruh yang shalih serta dekat pada Allah tersebut? Kita dapat ambil pelajaran bahwa meminta pada malaikat dan lainnya bukanlah karena mereka bisa memberi apa yang diminta secara langsung. Namun meminta pada mereka karena mereka dapat memberikan syafa’at di sisi Allah dan karena mereka begitu dekat pada Allah sehingga permintaan mereka tidak mungkin ditolak.  Inilah yang nyata terjadi pada orang-orang musyrik di masa silam sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Jadi bukanlah yang dimaksud adalah orang musyrik di masa silam disebut berbuat syirik karena mereka meminta pada selain Allah secara langsung. Itu bukanlah syarat. Namun tujuan orang musyrik dalam beribadah pada selain Allah adalah untuk mendekatkan diri mereka pada Allah. Itulah yang nyata terjadi saat ini pada pengagum ritual atau tradisi syirik sebagaimana yang kami maksudkan di awal tulisan ini. Jadi kesyirikan yang terjadi pada sesembahan yang beragam mulai dari orang shalih yang telah mati, para nabi, Husain, Zainab, Badawi, ‘Abdul Qodir Al Jailani, semuanya disembah karena alasan keshalihan dan kedekatan diri mereka pada Allah. Rasul Memerangi Orang Musyrik Kenapa Rasul sampai memerangi orang Quraisy? Jawabnya, karena mereka telah berbuat syirik. Karena mereka telah beribadah kepada selain Allah dengan menjadikan mereka sebagai perantara atau bertawassul pada mereka. Jadi bukanlah mereka meminta kepada orang shalih dan selain Allah secara langsung. Lihatlah kesyirikan yang terjadi di masa silam seperti yang disebutkan dalam ayat, مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Inilah sebab mengapa sampai Rasul memerangi mereka. Ini berarti kita diperintahkan untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Sedangkan kesyirikan itu sudah teramat jelas yaitu memalingkan salah satu ibadah pada selain Allah. Siapa saja yang berbuat syirik, maka terhapuslah amalnya walaupun ia makhluk yang paling mulia. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66) “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az Zumar: 65-66). Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Kitab Kasyfu Syubuhat, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, naskah bersanad dari guru kami Syaikh Sholih bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi, dalam Muqorrorot Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi, cetakan ketiga, 1434 H. Syarh Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, terbitan Maktabah Darul Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Warung Nasi Goreng saat dinner, 3 Muharram 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagskasyfu syubuhaat
Kenapa sampai orang musyrik diperangi? Apa karena mereka menyembah berhala? Atau karena mereka menyekutukan Allah dalam ibadah yang ini disebut syirik? Syirik ini yang masih terus laris manis hingga saat ini, semacam kita lihat dari berbagai tradisi ruwatan, bersih desa yang ada di beberapa daerah. Jika diletelusuri, tradisi syirik yang masih dipertahankan semacam ini yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang musyrik. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah kembali melanjutkan perkataan beliau sebelumnya, “Kemudian di antara mereka ada yang menyembah malaikat karena keshalihan dan kedekatan malaikat dengan Allah. Mereka melakukan demikian supaya malaikat memberi syafa’at pada mereka. Selain itu yang disembah juga adalah orang shalih seperti Laatta atau seorang Nabi semisal ‘Isa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka karena kesyirikan tersebut. Beliau mendakwahi mereka untuk memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja, Allah tidak dipersekutukan dengan yang lainnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin: 18). لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka” (QS. Ar Ro’du: 14). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka agar supaya menjadikan seluruh ibadah hanya untuk Allah, semua do’a hanya ditujukan pada-Nya, seluruh sembelihan disajikan untuk Allah, begitu pula ibadah nazar hanyalah untuk-Nya, juga istighotsah yaitu meminta diangkat musibah ditujukan pada Allah, serta ibadah lainnya ditujukan pada Allah. Engkau tahu bahwa mengakui tauhid rububiyah (mengakui Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta) semata tidaklah memasukkan seseorang dalam Islam. Ketahui pula bahwa jika maksud dalam ibadah adalah malaikat, para nabi, para wali lalu dimintailah syafa’at dan maksud ibadah pada mereka supaya mendekatkan diri pada Allah, itulah sebenarnya sebab darah dan harta mereka jadi halal. Ketahui pula bahwa tauhid inilah yang dibawa oleh para Rasul dan inilah yang ditentang orang-orang musyrik.” Demikian yang dikatakan selanjutnya oleh Syaikh Muhammad dalam kitab beliau Kasyfu Syubuhaat. Sesembahan Orang Musyrik Kembali pada Dua Alasan Jika kita melihat dari apa yang dijelaskan oleh Syaikh rahimahullah di atas, malaikat itu disembah karena dua alasan: (1) ia adalah ruh yang suci, shalih dan tidak berbuat maksiat, (2) kedekatan malaikat dengan Allah. Di setiap waktu, orang-orang musyrik menyembah sesembahan mereka dengan alasan yang sama seperti di atas yaitu karena ruhnya yang suci dan kedekatannya dengan Allah. Inilah hakekat syirik dari masa ke masa yaitu kembali kepada dua hal tersebut pada yang disembah. Lalu apa tujuannya meminta kepada malaikat dan ruh yang shalih serta dekat pada Allah tersebut? Kita dapat ambil pelajaran bahwa meminta pada malaikat dan lainnya bukanlah karena mereka bisa memberi apa yang diminta secara langsung. Namun meminta pada mereka karena mereka dapat memberikan syafa’at di sisi Allah dan karena mereka begitu dekat pada Allah sehingga permintaan mereka tidak mungkin ditolak.  Inilah yang nyata terjadi pada orang-orang musyrik di masa silam sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Jadi bukanlah yang dimaksud adalah orang musyrik di masa silam disebut berbuat syirik karena mereka meminta pada selain Allah secara langsung. Itu bukanlah syarat. Namun tujuan orang musyrik dalam beribadah pada selain Allah adalah untuk mendekatkan diri mereka pada Allah. Itulah yang nyata terjadi saat ini pada pengagum ritual atau tradisi syirik sebagaimana yang kami maksudkan di awal tulisan ini. Jadi kesyirikan yang terjadi pada sesembahan yang beragam mulai dari orang shalih yang telah mati, para nabi, Husain, Zainab, Badawi, ‘Abdul Qodir Al Jailani, semuanya disembah karena alasan keshalihan dan kedekatan diri mereka pada Allah. Rasul Memerangi Orang Musyrik Kenapa Rasul sampai memerangi orang Quraisy? Jawabnya, karena mereka telah berbuat syirik. Karena mereka telah beribadah kepada selain Allah dengan menjadikan mereka sebagai perantara atau bertawassul pada mereka. Jadi bukanlah mereka meminta kepada orang shalih dan selain Allah secara langsung. Lihatlah kesyirikan yang terjadi di masa silam seperti yang disebutkan dalam ayat, مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Inilah sebab mengapa sampai Rasul memerangi mereka. Ini berarti kita diperintahkan untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Sedangkan kesyirikan itu sudah teramat jelas yaitu memalingkan salah satu ibadah pada selain Allah. Siapa saja yang berbuat syirik, maka terhapuslah amalnya walaupun ia makhluk yang paling mulia. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66) “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az Zumar: 65-66). Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Kitab Kasyfu Syubuhat, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, naskah bersanad dari guru kami Syaikh Sholih bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi, dalam Muqorrorot Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi, cetakan ketiga, 1434 H. Syarh Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, terbitan Maktabah Darul Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Warung Nasi Goreng saat dinner, 3 Muharram 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagskasyfu syubuhaat


Kenapa sampai orang musyrik diperangi? Apa karena mereka menyembah berhala? Atau karena mereka menyekutukan Allah dalam ibadah yang ini disebut syirik? Syirik ini yang masih terus laris manis hingga saat ini, semacam kita lihat dari berbagai tradisi ruwatan, bersih desa yang ada di beberapa daerah. Jika diletelusuri, tradisi syirik yang masih dipertahankan semacam ini yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang musyrik. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah kembali melanjutkan perkataan beliau sebelumnya, “Kemudian di antara mereka ada yang menyembah malaikat karena keshalihan dan kedekatan malaikat dengan Allah. Mereka melakukan demikian supaya malaikat memberi syafa’at pada mereka. Selain itu yang disembah juga adalah orang shalih seperti Laatta atau seorang Nabi semisal ‘Isa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka karena kesyirikan tersebut. Beliau mendakwahi mereka untuk memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja, Allah tidak dipersekutukan dengan yang lainnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin: 18). لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka” (QS. Ar Ro’du: 14). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka agar supaya menjadikan seluruh ibadah hanya untuk Allah, semua do’a hanya ditujukan pada-Nya, seluruh sembelihan disajikan untuk Allah, begitu pula ibadah nazar hanyalah untuk-Nya, juga istighotsah yaitu meminta diangkat musibah ditujukan pada Allah, serta ibadah lainnya ditujukan pada Allah. Engkau tahu bahwa mengakui tauhid rububiyah (mengakui Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta) semata tidaklah memasukkan seseorang dalam Islam. Ketahui pula bahwa jika maksud dalam ibadah adalah malaikat, para nabi, para wali lalu dimintailah syafa’at dan maksud ibadah pada mereka supaya mendekatkan diri pada Allah, itulah sebenarnya sebab darah dan harta mereka jadi halal. Ketahui pula bahwa tauhid inilah yang dibawa oleh para Rasul dan inilah yang ditentang orang-orang musyrik.” Demikian yang dikatakan selanjutnya oleh Syaikh Muhammad dalam kitab beliau Kasyfu Syubuhaat. Sesembahan Orang Musyrik Kembali pada Dua Alasan Jika kita melihat dari apa yang dijelaskan oleh Syaikh rahimahullah di atas, malaikat itu disembah karena dua alasan: (1) ia adalah ruh yang suci, shalih dan tidak berbuat maksiat, (2) kedekatan malaikat dengan Allah. Di setiap waktu, orang-orang musyrik menyembah sesembahan mereka dengan alasan yang sama seperti di atas yaitu karena ruhnya yang suci dan kedekatannya dengan Allah. Inilah hakekat syirik dari masa ke masa yaitu kembali kepada dua hal tersebut pada yang disembah. Lalu apa tujuannya meminta kepada malaikat dan ruh yang shalih serta dekat pada Allah tersebut? Kita dapat ambil pelajaran bahwa meminta pada malaikat dan lainnya bukanlah karena mereka bisa memberi apa yang diminta secara langsung. Namun meminta pada mereka karena mereka dapat memberikan syafa’at di sisi Allah dan karena mereka begitu dekat pada Allah sehingga permintaan mereka tidak mungkin ditolak.  Inilah yang nyata terjadi pada orang-orang musyrik di masa silam sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Jadi bukanlah yang dimaksud adalah orang musyrik di masa silam disebut berbuat syirik karena mereka meminta pada selain Allah secara langsung. Itu bukanlah syarat. Namun tujuan orang musyrik dalam beribadah pada selain Allah adalah untuk mendekatkan diri mereka pada Allah. Itulah yang nyata terjadi saat ini pada pengagum ritual atau tradisi syirik sebagaimana yang kami maksudkan di awal tulisan ini. Jadi kesyirikan yang terjadi pada sesembahan yang beragam mulai dari orang shalih yang telah mati, para nabi, Husain, Zainab, Badawi, ‘Abdul Qodir Al Jailani, semuanya disembah karena alasan keshalihan dan kedekatan diri mereka pada Allah. Rasul Memerangi Orang Musyrik Kenapa Rasul sampai memerangi orang Quraisy? Jawabnya, karena mereka telah berbuat syirik. Karena mereka telah beribadah kepada selain Allah dengan menjadikan mereka sebagai perantara atau bertawassul pada mereka. Jadi bukanlah mereka meminta kepada orang shalih dan selain Allah secara langsung. Lihatlah kesyirikan yang terjadi di masa silam seperti yang disebutkan dalam ayat, مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3). Inilah sebab mengapa sampai Rasul memerangi mereka. Ini berarti kita diperintahkan untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Sedangkan kesyirikan itu sudah teramat jelas yaitu memalingkan salah satu ibadah pada selain Allah. Siapa saja yang berbuat syirik, maka terhapuslah amalnya walaupun ia makhluk yang paling mulia. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66) “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az Zumar: 65-66). Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Kitab Kasyfu Syubuhat, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, naskah bersanad dari guru kami Syaikh Sholih bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi, dalam Muqorrorot Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi, cetakan ketiga, 1434 H. Syarh Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, terbitan Maktabah Darul Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Warung Nasi Goreng saat dinner, 3 Muharram 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com terbaru berisi nasehat “Meninggalkan Shalat Bukanlah Muslim” seharga Rp.85.000,- (belum termasuk ongkir), silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagskasyfu syubuhaat

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 10)? – Tanggapan untuk Al-Ustadz bag 2

Kesebelas : Al-Ustadz berkata ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu. Namun, sehari setelah itu, tepatnya pada 4 Oktober 2013, Ustadz Firanda mengeluarkan tulisan baru dengan judul, “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan.” Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya))Kritikan : Ya ustadz, ana rasa tidak perlu antum menilai hati seseorang dengan sikap suudzon. Perkataan antum ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu…)). Apalagi antum berkata “saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini”. Ini murni bentuk suudzon, demi Allah waktu saya mengirim surat meminta antum untuk menerjemahkan surat Sykh Al-Fauzan, saya memang belum membantah dan belum menulis satu hurufpun. Setelah saya mengirim surat kepada antum baru saya membantah antum, dan saya rasa 1 hari sudah cukup bagi saya untuk menyusun bantahan tersebut. Bukankah bisa dilihat dalam web saya, hampir setiap hari saya membuat artikel, bahkan terkadang dalam sehari bisa 2 artikel…., kenapa antum suudzon kepada isi hati ana, apalagi mengkait-kaitkan dengan perkataan antum ((saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini))?? Apalagi antum menuduh ana berbuat makar dengan perkataan antum ((serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya)). Tidak perlulah antum menebak isi hati orang, apalagi dengan sikap suudzon. Baarokallahu fiik Kedua belas : Perkataan al-Ustadz ((Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya))Saya rasa al-Ustadz mungkin berfikir kembali tentang perkataan beliau ((Siapa saja)). Karena saya mendapati banyak yang membaca tulisan saya memberi tanda “like” kepada tulisan saya. Sebagai contoh dalam tulisan saya (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv) yang me “like” berjumlah 7000. Bukan maksud saya banyak merupakan ukuran kebenaran akan tetapi mungkin juga yang me “like” tersebut juga orang-orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya seperti firanda, sehingga mereka me”like”. Tolong nasehati mereka al-Ustadz, agar mereka bisa berakal panjang dan baik pemahaman serta bagus bahasa arabnya seperti antum. Baarokallahu fiik Ketiga belas : al-Ustadz berkata ((, beberapa kali Ustadz Firanda menukil dari situs http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/ yang dikelola oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby dan pengikutnya.Mungkin kebanyakan ulama, yang men-tahdzir situs tersebut, tidak dianggap oleh Ustadz Firanda. Akan  tetapi, guru kami, Syaikh Shalih bin Sa’d As-Suhaimy hafizhahullâh -yang merupakan salah seorang ulama besar Madinah dan masih dianggap sebagai rujukan oleh Ustadz Firanda-, telah men-tahdzir situs tersebut dan menyebutnya sebagai situs-situs masybûhah ‘bersyubhat, tidak jelas’))Kritikan saya dari beberapa sisi :–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi bukanlah termasuk jajaran ulama kibar di Madinah (bukan bermaksud merendahkan beliau, akan tetapi mendudukan seseorang pada kedudukan sesungguhnya). Beliau pernah ditanya siapakah ulama?, maka jawaban beliau : Ulama adalah seperti Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbaad dan Syaikh Ali Nashir Al-Faqihi.–         Diantara tawadhu Syaikh Sholeh As-Suhaimi beliau sering membaca karya-karya Syaikh Abdurrozzaq, bahkan sebagian karya syaikh Abdurrozzaq diajarkan oleh Syaikh Sholeh As-Suhaimi di masjid nabawi–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi dauroh di kebun teh lawang yang diselenggarakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib dari Al-Irsyad Surabaya, yang dianggap hizbi oleh Jama’ah Tahdzir.–         Yang menakjubkan jika Kholid Bawazir (yang dianggap dedengkot sumber dana hizbi oleh Jama’ah Tahdzir) jika datang ke kota Madinah maka para masyayikh semuanya ingin menjamu beliau, baik Syaikh Sholeh As-Suhaimi, Syaikh Abdurrozzaq, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili, dan juga Syaikh Abdus Salam As-Suhaimi. Bahkan saya yang termasuk mengantar beliau ke rumah sebagian masyaikh tersebut. Jadi Kholid Bawazir ini dianggap hizbi oleh Jama’ah tahdzir, tapi dianggap tamu mulia oleh para masyayikh???. Saya rasa lebih enak dihormati oleh masyayikh dari pada dihormati jama’ah tahdzir–         Yang lebih menakjubkan lagi ternyata Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi di Radiorodja…(https://archive.org/details/KajianIslamRadioRodja756Am_32), seharusnya sekarang al-Ustadz Dzulqornain yang selalu bolak-balik ke Madinah memperingatkan para masyayikh tersebut agar tidak ditipu oleh ustadz-ustadz Rodja sebagaimana Syaikh Robi yang menyatakan bahwa Syaikh Abdurrozzaq ditipu oleh pihak Radiorodja.–         Lantas apakah sahab.net salamat dari kritikan ulama??–         Apakah al-ustadz punya standar ganda, hanya memakai perkataan Syaikh Sholeh as-Suhaimi jika diperlukan?? Anehnya juga jama’ah tahdzir mengadakan pengajian dengan judul lihat (http://ahlussunnahslipi.com/kajian-ilmiyyah-jadilah-seorang-salafy-sejati-bersama-al-ustadz-muhammad-umar-as-sewed/), dengan membahas kitab “Kun Salafiyan ‘Alal Jaddah” karya Asy-Syaikh DR. Abdussalam bin Salim As-Suhaimi. Ternyata…sang penulis kitab sendiri Asy-Syaikh DR Abdussalam As-Suhaimi pernah mengisi langsung bukunya tersebut di radiorodja beberapa tahun yang silam??. (silahkan dengar di http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Syaikh%20Dr%20Abdus%20Salam%20bin%20Salim%20A%20Suhaimi/Jadilah%20Salafy%20Sejati)Rupanya Radiorodja sudah berusaha menjadi salafy sejati lebih dahulu dari pada Jama’ah tahdzir yang ketinggalan zaman, dan yang bahas bukan penulis aslinya. Yang penulis buku ngisi di Radiorodja dan dauroh yang diadakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib, akan tetapi al-Ustadz dari Jama’ah tahdzir yang membahas kitab tersebut ternyata menghzibikan dan membid’ahkan radiorodja dan penyelenggara dauroh. Kita ikut siapa ya?, ikut penulis kitab, atau sang ustadz yang mencoba memahami isi kitab tersebut?? Keempat belas : Al-Ustadz berkata ((Ustadz Firanda berkata, “Permasalahan mengenai Ihyaa At-Turoots telah saya bahas dengan panjang lebar, diantara perkataan saya ((…Demikian juga tatkala kita menghadapi permasalahan mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots. Karena inilah yang menjadi permasalahan utama, bukan masalah apakah yayasan Ihyaa At-Turoots ini hizbi atau tidak, karena mayoritas yang ditahdziir dan dikatakan sururi adalah orang-orang yang tidak mengambil dana sama sekali, akan tetapi kena getahnya terseret arus tahdzir gaya MLM, yaitu barang siapa yang tidak mentahdziir si fulan maka dia juga sururi??!!. Jika kita sepakat bahwasanya Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbi maka apakah yang mengambil dana otomatis menjadi sururi?,inilah permasalahannya.!!.”Tuduhan dusta ini sudah pernah Saya jawab sebagai berikut,“Sekali lagi, Saya memberi waktu bagi Ustadz Firanda guna mendatangkan bukti tentang tuduhan yang jauh dari kejujuran dan kebenaran di atas.Telah diketahui dari Saya, bahkan kadang sebagian kawan-kawan Saya sendiri mempermasalahkan sikap Saya, bahwa Saya memandang boleh mengambil dana dari Yayasan Ihyâ` At-Turâts apabila Yayasan Ihyâ` At-Turâts memberi tanpa syarat dan ketentuan.))Kritikan :Al-Ustadz menuduh saya berdusta…, dimana letak dustanya??. Perkatan yang saya yang dinukil oleh Al-Ustadz terdapat di  (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv). Perkataan saya tersebut bahkan saya jelaskan saya menukilnya dari artikel saya yang lain tatkala membantah al-Ustadz Askari ((https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/101-salah-kaprah-tentang-hajr-boikot-terhadap-ahlul-bidah-seri-6-tahdziir-dan-tabdii-berantai-ala-mlm-awas-sururi)).Lantas dimana letak dusta saya??. Sudah menjadi perkara yang maklum dan mutawatir kalau teman-teman antum dari jama’ah tahdzir mentabdi’ karena mengambil dana dari at-Turots, bahkan jika tidak mentahdzir maka akan ikut ditahdziiir….ala MLM. Ini adalah hala yang mutawatir wahai ustadz??. Lantas dimana kebohongan saya??. Saya kasih waktu buat ustadz agar bisa menjelaskan dan mendatangkan bukti !!!.Adapun jika ustadz mentahdzir Iyhaa At-Turoots bukan karena masalah dana, maka itu madzhab al-Ustadz sendiri??, saya sedang membantah madzhab MLM yang dianut oleh jama’ah Tahdzir.Sekarang saya bertanya kepada al-Ustadz, apakah al-Ustadz tidak menganut madzhab tahdzir MLM??. (semoga tidak). Akan tetapi, Kita kembali ke PERMASALAHAN INTI !!!, kenapa al-Ustadz mentahdzir Radiorodja, Ustadz Yazid Jawas dll, bahkan pernah al-Ustadz mengumpulkan tanda tangan sembilan ustadz untuk mentahdzir atau mentabdi’ para ustadz, diantaranya al-Ustadz Yazid !!!. Masihkah al-Ustadz ingat dengan selebaran tanda tangan tersebut??.Lupakah antum wahai al-Ustadz dengan pernyataan yang antum tanda tangani, ((Karena itu kami berlepas diri dari Yazid Jawas, Abu Nida, Aunur Rofiq Ghufron, Ahmas Faiz (majallah As-Sunnah), dan yang semisalnya yang masih jelas pembelaan dan hubungannya dengan yayasan Ihyaa At-Turhats dan yayasan As-Shofwa))Berikut fotokopi peranyataan antum dan kawan-kawan :Jika antum tidak bermadzhab MLM lantas apakah antum tidak pernah mentahdzir ustadz-ustadz diluar jama’ah tahdzir??. (semoga tidak pernah, dan semoga antum bukan bermadzhab MLM). Baarokallahu fiikum.Saya juga meminta al-Ustadz al-Fadil untuk menjawab pernyataan saya ((Al-Ustadz berkata ((Yang menyedihkan, kami melihat sejumlah orang-orang Radio dan TV Rodja sikap fanatisme yang batil dan tercela serta marah terhadap orang-orang yang mentahdzir dan berbicara dengan kebenaran tentang Yayasan Ihyaa At-Turoots Al-Kuwaitiyah. Diantara mereka adalah Penanya al-Akh Firanda, ia telah menulis sebuah buku yang dicetak yang ia dengan semangat dalam buku tersebut membela Yayasan Ihyaa’ At-Turoots Al-Kuwaitiyah))…Lalu sayapun berkata ((Adapun saya marah dengan fanatis yang batil dan tercela jika ada orang yang membantah Ihyaa At-Turoots, maka ini merupakan kedustaan wahai ustadz. Bahkan saya mempersilahkan antum dan para sahabat antum untuk membantah Yayasan Ihyaa At-Turoots dengan sepuas antum. Akan tetapi yang menjadikan saya tidak suka adalah menjadikan pembahasan At-Turots sebagai sarana untuk mentabdi’ para ustadz dan juga menyesatkan Radio Rodja. Karenanya coba al-Ustadz kembali membaca buku saya tersebut, semuanya terfokus pada sikap ahlus sunnah yang benar dalam menghadapi permasalahan khilafiyah diantara para ulama. Karenanya saya sering menyatakan bahwa bantahan yang ditulis oleh ustadz Askari adalah tidak nyambung, karena pembahasan saya bukanlah utamanya tertuju pada sesatnya yayasan Ihyaa At-Turoorts, akan tetapi apakah bermu’amalah dengan yayasan tersebut menjadikan seseorang otomatis menjadi sesat?? Sururi?? Hizbi?? Mubtadi’??. Itu yang saya bahas. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua…)) Kelima Belas : Perkataan al-Ustadz ((Saya bersama beberapa ikhwan yang datang dari Indonesia pernah berjumpa dengan sejumlah mahasiswa Jamî’ah Islamiyyah Madinah -seingat Saya adalah bahwa hampir seluruh mahasiswa pasca sarjana hadir, kecuali Ustadz Firanda-, di rumah Syaikh Muhammad bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh.))Kritikan :Wahai al-Ustadz, bukankah anda adalah seorang muhaddits yang hebat, yang mengkerdilan Syaikh Ali Hasan murid ahli hadits abad ini??. Dan bukankah antum tahu tentang makna dan persyaratan “Tsiqoh” menurut ahli hadits??, yaitu memiliki hapalan yang kuat??Kok bisa antum mengatakan ana tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Bukankah ana yang protes terhadap Syaikh tatkala itu dihadapan antum??. Ana berkata kepada syaikh : “Sebagian ustadz kami telah bermuamalah dengan at-Turots bertahun-tahun lamanya dan kami tidak melihat tanda-tanda hizbiyah pada mereka??”. Saya juga berkata, “Syaikh kita menghukumi seseorang dengan melihat kondisi mereka sekarang ataukah dengan melihat kondisi mereka masa depan?”. Syaikh menjawab ((Syaikh menjawab, “Mereka pasti akan berjabat tangan dengan sufiyah, aku sudah pengalaman, janggutku sudah putih” (kira-kira itu jawaban syaikh).))Wahai al-Muhaddits al-Ustadz Dzulqoranin, kejadian ini kenapa bisa anda lupakan, kehadiranku kenapa hilang dari ingatanmu??, silahkan anda bertanya kepada Hasan Rasyid?, ataukah anda bertanya kepada segenap mahasiswa madinah !!!. saya rasa ingatan mereka masih hangat….Tapi ya namanya manusia, meskipun muhaddits sekaliber antumpun masih memungkinkan lupa dan salah nukil… Keenam belas : Perkataan al-ustadz ((Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullâh maupun ayah beliau yang mulia, Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullâh, tidak pernah marah terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan dan penyimpangan Ihyâ` At-Turâts.))Kritikan : Ya al-Ustadz, sudah saya katakan bahwa kalau hanya sekedar mengkritik maka tidak menjadi masalah, silahkan mereka mengkritik. Akan tetapi tatkala kritikan tersebut menjadi bahan untuk mentahdzir dan mentabdi’ apalagi ala MLM maka ini jelas membuat marah para masyayikh. Bukankah saya sudah nukilkan berulang-ulang kritikan Syaikh Abdul Muhsin terhadap orang-orang yang mengkritik Yayasan Ihyaa At-Turots, agar mereka tahu diri dan melihat kedudukan mereka. Karena Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin juga mengisi di Yayasan Ihyaa At-Turots dan tidak mentahdzir apalagi membid’ahkan??. Berikut saya nukil lagi perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad :التحذير من فتنة التجريح والتبديع من بعض أهل السنة في هذا العصروقريبٌ من بدعة امتحان الناس بالأشخاص ما حصل في هذا الزمان من افتتان فئة قليلة من أهل السنَّة بتجريح بعض إخوانهم من أهل السنة وتبديعهم، وما ترتَّب على ذلك من هجر وتقاطع بينهم وقطع لطريق الإفادة منهم، وذلك التجريح والتبديع منه ما يكون مبنيًّا على ظنِّ ما ليس ببدعة بدعة، ومن أمثلة ذلك أنَّ الشيخين الجليلين عبد العزيز بن باز وابن عثيمين ـ رحمهما الله ـ قد أفتيا جماعة بدخولها في أمر رأيَا المصلحة في ذلك الدخول، ومِمَّن لم يُعجبهم ذلك المفتَى به تلك الفئة القليلة، فعابت تلك الجماعة بذلك، ولَم يقف الأمر عند هذا الحدِّ، بل انتقل العيب إلى مَن يتعاون معها بإلقاء المحاضرات، ووصفه بأنَّه مُميِّع لمنهج السلف، مع أنَّ هذين الشيخين الجليلين كانا يُلقيان المحاضرات على تلك الجماعة عن طريق الهاتف((Peringatan terahadap fitnah tajrih dan tabdi’ dari sebagian ahlus sunnah di zaman ini :“Yang mirip dengan bid’ah menguji orang-orang (termasuk ahlus sunnah atau hizbi-pen) dengan sosok-sosok tertentu (yaitu dengan sosok syaikh-syaikh tertentu-pen), apa yang terjadi di zaman ini, dari fitnah segelintir kecil dari ahlus sunnah dengan mentajrih sebagian saudara-saudara mereka dari ahlus sunnah serta mentabdi’ mereka. Demikian juga dampak yang timbul seperti saling memboikot dan menghajr diantara mereka dan tidak bolehnya mengambil faedah dari merekaDan sikap tajrih dan tabdi’ tersebut diantaranya ada yang dibangun di atas menyangka suatu yang bukan bid’ah sebagai bid’ah. Dan diantara contohnya adalah dua orang syaikh yang mulia Abdul Aziz bin Baas dan Ibnu Utsaimin rahimahumallahu telah berfatwa kepada suatu jama’ah untuk masuk dalam suatu perkara, kedua syaikh ini melihat adalah kemaslahatan untuk masuk dalam perkara tersebut. Diantara yang tidak suka dengan fatwa ini adalah segelintir kecil kelompok tersebut, maka merekapun mencela jama’ah tersebut. Bahkan perkaranya tidak berhenti hingga disini, bahkan celaan berpindah kepada siapa saja yang berta’awun (bekerjasama) dengan jama’ah tersebut berupa menyampaikan pengajian-pengajian, dan para penyampai pengajian tersebut disifati dengan mumayyi’ (lemah) terhadap manhaj salaf. Padahal kedua syaikh yang mulia tersebut (Syaikh Bin Baaz dan Ibnu Utsaimin) telah mengisi pengajian di jama’ah tersebut melalui telephon”)) (Al-Hats ‘alaa Ittiba As-Sunnah hal 26).Jama’ah yang dimaksud oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad adalah Yayasan Ihyaa At-Turots di Kuwait.Wahai al-ustadz, jelas ini merupakan bentuk pengingkaran dari Syaikh Abdul Muhsin atas sikap Jama’ah Tahdzir…. Lantas apakah kemarahan  syaikh harus diungkapkan dengan model marah-marah seperti jama’ah tahdzir seperti mengatakan “Berakal pendek”, “kambing terbang” “pembuat makar”,  dll ??!! Ketujuh belas : Perkataan al-ustadz ((Orang-orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda memang akan sulit memahami keagungan syariat membela agama dari segala penyimpangan sehingga tahdzir terhadap kesalahan-kesalahan jelas Rodja ditanggapi sangat jelek oleh Ustadz Firanda dengan ucapan))Ini yang saya harapkan dari Al-Ustadz, mentahdzir Radiorodja dengan kesalahan-kesalahan yang jelas. Tolong sebutkan kesalahan-kesalahan yang jelas tersebut wahai ustadz !! ditunggu !!.Adapun mengenai diputarnya clip video Syaikh Muhammad al-Arifi maka penjelasannya sebagai berikut :–         Yang memutar tersebut adalah salah seorang kru rodja bagian IT yang memasukan video tersebut tanpa sepengetahuan para ustadz. Berangkat dari husnudzon kru tersebut bahwa syaikh adalah adalah para dai ahlus sunnah karena tidak ada tabdi’ atau tahdzir yang masyhur sebelumnya.–         Lagipula sudah dilarang untuk diputar lagi klip tersebut, bukan karena tahdziran para jama’ah tahdzir, akan tetapi karena ada seorang ustadz yang melihat lantas mengingatkan. Jadi waktu al-Ustadz dzulqornain mentahdzir rodja video tersebut sudah tidak diputar. Kedelapan belas : Al-Ustadz dengan bangga berkata ((Alhamdulillah, Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar))Kritikan :Kalimat ringkas tahdziran tersebut isinya sebagai berikut :((“Saya tidak menasehatkan mendengarkan atau melihat TV Rodja, karena adanya orang-orang didalam radio ini, sebagian manhajnya tidak benar, dan sebagiannya tidak jelas, dan Alhamdulillah fasilitas untuk belajar agama sudah sangat banyak dimasa ini”))Inilah kalimat ringkas yang dibanggakan oleh al-Ustadz, padahal :–         Bukankah al-Ustadz memaksudkan tahdziran ini untuk para penuntut ilmu, adapun orang awam boleh mendengar rodja karena rodja ibarat orang fajir tapi memberi manfaat bagi orang awam??–         Bukankah yang seharusnya adalah sebaliknya : Justru orang awam yang tidak boleh mendengar rodja karena banyak syubhat dan orang awam tidak mengerti syubhat?. Justru para penuntut ilmu boleh mendengar rodja karena mereka mengerti syubhat??!!. Oleh karenanya fatwa Al-Muhaddits Al-ustadz al-Fadil Dzulqornain saya rasa terbalik, maaf !!–         Kalau memang orang awam boleh mendengar rodja lantas kenapa justru tahdziran ini tersebar di orang-orang awam??–         Bahkan tersebar dan ditangkap dengan senang oleh ahlul bid’ah??Yang terakhir : Tentunya tahdziran agar bermanfaat adalah dengan kejelasan bukan dengan kalimat ringkas yang kabur maknanya dan tidak jelas. Karenanya saya minta al-Ustadz untuk menjelaskan maksud perkataan tahdzirannya?Siapakah saja pengisi rodja yang sebagian manhajnya tidak benar dan sebagiannya tidak jelas??Apa ketidak benaran dan ketidak jelasan tersebut??, ditunggu masukannya al-Ustadz !!Saya tutup tanggapan ini dengan berita menarik dari artikel yang saya baca (wallahu A’lam dengan kebenarannya, dan sangat dimohon para ikhwan Jama’ah Tahdzir untuk mengecek kebenaran berita tersebut)- ternyata warga Dammaj tempat al-Ustadz Dzulqornain belajar telah menerima bantuan dari Yayasan Ihyaa At-Thurats. (silahkan lihat di http://gemaislam.com/berita/indonesia-news-menuitem/1610-bantuan-dana-yayasan-ihya-at-turats-kuwait-mengalir-untuk-warga-dammaj)Demikian pula ternyata Syaikh Muhammad ‘Umar Bazmuul duduk bareng dalam satu seminar keislaman bersama pimpinan Yayasan Ihyaa At-Turoots Kuwait, Thaariq Al-‘Iisaa :http://www.youtube.com/watch?v=HodznN8pEEIBagaimana ?. Apakah saudara-saduara kita dari Jama’ah Tahdziir mau mentahdzir Syaikh Bazmuul karena bermajelis dengan ahlul-bid’ah…., ataukah ada standar ganda??Akhukum Fillah Abu AbdilMuhsin Firanda.  

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 10)? – Tanggapan untuk Al-Ustadz bag 2

Kesebelas : Al-Ustadz berkata ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu. Namun, sehari setelah itu, tepatnya pada 4 Oktober 2013, Ustadz Firanda mengeluarkan tulisan baru dengan judul, “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan.” Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya))Kritikan : Ya ustadz, ana rasa tidak perlu antum menilai hati seseorang dengan sikap suudzon. Perkataan antum ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu…)). Apalagi antum berkata “saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini”. Ini murni bentuk suudzon, demi Allah waktu saya mengirim surat meminta antum untuk menerjemahkan surat Sykh Al-Fauzan, saya memang belum membantah dan belum menulis satu hurufpun. Setelah saya mengirim surat kepada antum baru saya membantah antum, dan saya rasa 1 hari sudah cukup bagi saya untuk menyusun bantahan tersebut. Bukankah bisa dilihat dalam web saya, hampir setiap hari saya membuat artikel, bahkan terkadang dalam sehari bisa 2 artikel…., kenapa antum suudzon kepada isi hati ana, apalagi mengkait-kaitkan dengan perkataan antum ((saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini))?? Apalagi antum menuduh ana berbuat makar dengan perkataan antum ((serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya)). Tidak perlulah antum menebak isi hati orang, apalagi dengan sikap suudzon. Baarokallahu fiik Kedua belas : Perkataan al-Ustadz ((Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya))Saya rasa al-Ustadz mungkin berfikir kembali tentang perkataan beliau ((Siapa saja)). Karena saya mendapati banyak yang membaca tulisan saya memberi tanda “like” kepada tulisan saya. Sebagai contoh dalam tulisan saya (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv) yang me “like” berjumlah 7000. Bukan maksud saya banyak merupakan ukuran kebenaran akan tetapi mungkin juga yang me “like” tersebut juga orang-orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya seperti firanda, sehingga mereka me”like”. Tolong nasehati mereka al-Ustadz, agar mereka bisa berakal panjang dan baik pemahaman serta bagus bahasa arabnya seperti antum. Baarokallahu fiik Ketiga belas : al-Ustadz berkata ((, beberapa kali Ustadz Firanda menukil dari situs http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/ yang dikelola oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby dan pengikutnya.Mungkin kebanyakan ulama, yang men-tahdzir situs tersebut, tidak dianggap oleh Ustadz Firanda. Akan  tetapi, guru kami, Syaikh Shalih bin Sa’d As-Suhaimy hafizhahullâh -yang merupakan salah seorang ulama besar Madinah dan masih dianggap sebagai rujukan oleh Ustadz Firanda-, telah men-tahdzir situs tersebut dan menyebutnya sebagai situs-situs masybûhah ‘bersyubhat, tidak jelas’))Kritikan saya dari beberapa sisi :–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi bukanlah termasuk jajaran ulama kibar di Madinah (bukan bermaksud merendahkan beliau, akan tetapi mendudukan seseorang pada kedudukan sesungguhnya). Beliau pernah ditanya siapakah ulama?, maka jawaban beliau : Ulama adalah seperti Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbaad dan Syaikh Ali Nashir Al-Faqihi.–         Diantara tawadhu Syaikh Sholeh As-Suhaimi beliau sering membaca karya-karya Syaikh Abdurrozzaq, bahkan sebagian karya syaikh Abdurrozzaq diajarkan oleh Syaikh Sholeh As-Suhaimi di masjid nabawi–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi dauroh di kebun teh lawang yang diselenggarakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib dari Al-Irsyad Surabaya, yang dianggap hizbi oleh Jama’ah Tahdzir.–         Yang menakjubkan jika Kholid Bawazir (yang dianggap dedengkot sumber dana hizbi oleh Jama’ah Tahdzir) jika datang ke kota Madinah maka para masyayikh semuanya ingin menjamu beliau, baik Syaikh Sholeh As-Suhaimi, Syaikh Abdurrozzaq, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili, dan juga Syaikh Abdus Salam As-Suhaimi. Bahkan saya yang termasuk mengantar beliau ke rumah sebagian masyaikh tersebut. Jadi Kholid Bawazir ini dianggap hizbi oleh Jama’ah tahdzir, tapi dianggap tamu mulia oleh para masyayikh???. Saya rasa lebih enak dihormati oleh masyayikh dari pada dihormati jama’ah tahdzir–         Yang lebih menakjubkan lagi ternyata Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi di Radiorodja…(https://archive.org/details/KajianIslamRadioRodja756Am_32), seharusnya sekarang al-Ustadz Dzulqornain yang selalu bolak-balik ke Madinah memperingatkan para masyayikh tersebut agar tidak ditipu oleh ustadz-ustadz Rodja sebagaimana Syaikh Robi yang menyatakan bahwa Syaikh Abdurrozzaq ditipu oleh pihak Radiorodja.–         Lantas apakah sahab.net salamat dari kritikan ulama??–         Apakah al-ustadz punya standar ganda, hanya memakai perkataan Syaikh Sholeh as-Suhaimi jika diperlukan?? Anehnya juga jama’ah tahdzir mengadakan pengajian dengan judul lihat (http://ahlussunnahslipi.com/kajian-ilmiyyah-jadilah-seorang-salafy-sejati-bersama-al-ustadz-muhammad-umar-as-sewed/), dengan membahas kitab “Kun Salafiyan ‘Alal Jaddah” karya Asy-Syaikh DR. Abdussalam bin Salim As-Suhaimi. Ternyata…sang penulis kitab sendiri Asy-Syaikh DR Abdussalam As-Suhaimi pernah mengisi langsung bukunya tersebut di radiorodja beberapa tahun yang silam??. (silahkan dengar di http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Syaikh%20Dr%20Abdus%20Salam%20bin%20Salim%20A%20Suhaimi/Jadilah%20Salafy%20Sejati)Rupanya Radiorodja sudah berusaha menjadi salafy sejati lebih dahulu dari pada Jama’ah tahdzir yang ketinggalan zaman, dan yang bahas bukan penulis aslinya. Yang penulis buku ngisi di Radiorodja dan dauroh yang diadakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib, akan tetapi al-Ustadz dari Jama’ah tahdzir yang membahas kitab tersebut ternyata menghzibikan dan membid’ahkan radiorodja dan penyelenggara dauroh. Kita ikut siapa ya?, ikut penulis kitab, atau sang ustadz yang mencoba memahami isi kitab tersebut?? Keempat belas : Al-Ustadz berkata ((Ustadz Firanda berkata, “Permasalahan mengenai Ihyaa At-Turoots telah saya bahas dengan panjang lebar, diantara perkataan saya ((…Demikian juga tatkala kita menghadapi permasalahan mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots. Karena inilah yang menjadi permasalahan utama, bukan masalah apakah yayasan Ihyaa At-Turoots ini hizbi atau tidak, karena mayoritas yang ditahdziir dan dikatakan sururi adalah orang-orang yang tidak mengambil dana sama sekali, akan tetapi kena getahnya terseret arus tahdzir gaya MLM, yaitu barang siapa yang tidak mentahdziir si fulan maka dia juga sururi??!!. Jika kita sepakat bahwasanya Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbi maka apakah yang mengambil dana otomatis menjadi sururi?,inilah permasalahannya.!!.”Tuduhan dusta ini sudah pernah Saya jawab sebagai berikut,“Sekali lagi, Saya memberi waktu bagi Ustadz Firanda guna mendatangkan bukti tentang tuduhan yang jauh dari kejujuran dan kebenaran di atas.Telah diketahui dari Saya, bahkan kadang sebagian kawan-kawan Saya sendiri mempermasalahkan sikap Saya, bahwa Saya memandang boleh mengambil dana dari Yayasan Ihyâ` At-Turâts apabila Yayasan Ihyâ` At-Turâts memberi tanpa syarat dan ketentuan.))Kritikan :Al-Ustadz menuduh saya berdusta…, dimana letak dustanya??. Perkatan yang saya yang dinukil oleh Al-Ustadz terdapat di  (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv). Perkataan saya tersebut bahkan saya jelaskan saya menukilnya dari artikel saya yang lain tatkala membantah al-Ustadz Askari ((https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/101-salah-kaprah-tentang-hajr-boikot-terhadap-ahlul-bidah-seri-6-tahdziir-dan-tabdii-berantai-ala-mlm-awas-sururi)).Lantas dimana letak dusta saya??. Sudah menjadi perkara yang maklum dan mutawatir kalau teman-teman antum dari jama’ah tahdzir mentabdi’ karena mengambil dana dari at-Turots, bahkan jika tidak mentahdzir maka akan ikut ditahdziiir….ala MLM. Ini adalah hala yang mutawatir wahai ustadz??. Lantas dimana kebohongan saya??. Saya kasih waktu buat ustadz agar bisa menjelaskan dan mendatangkan bukti !!!.Adapun jika ustadz mentahdzir Iyhaa At-Turoots bukan karena masalah dana, maka itu madzhab al-Ustadz sendiri??, saya sedang membantah madzhab MLM yang dianut oleh jama’ah Tahdzir.Sekarang saya bertanya kepada al-Ustadz, apakah al-Ustadz tidak menganut madzhab tahdzir MLM??. (semoga tidak). Akan tetapi, Kita kembali ke PERMASALAHAN INTI !!!, kenapa al-Ustadz mentahdzir Radiorodja, Ustadz Yazid Jawas dll, bahkan pernah al-Ustadz mengumpulkan tanda tangan sembilan ustadz untuk mentahdzir atau mentabdi’ para ustadz, diantaranya al-Ustadz Yazid !!!. Masihkah al-Ustadz ingat dengan selebaran tanda tangan tersebut??.Lupakah antum wahai al-Ustadz dengan pernyataan yang antum tanda tangani, ((Karena itu kami berlepas diri dari Yazid Jawas, Abu Nida, Aunur Rofiq Ghufron, Ahmas Faiz (majallah As-Sunnah), dan yang semisalnya yang masih jelas pembelaan dan hubungannya dengan yayasan Ihyaa At-Turhats dan yayasan As-Shofwa))Berikut fotokopi peranyataan antum dan kawan-kawan :Jika antum tidak bermadzhab MLM lantas apakah antum tidak pernah mentahdzir ustadz-ustadz diluar jama’ah tahdzir??. (semoga tidak pernah, dan semoga antum bukan bermadzhab MLM). Baarokallahu fiikum.Saya juga meminta al-Ustadz al-Fadil untuk menjawab pernyataan saya ((Al-Ustadz berkata ((Yang menyedihkan, kami melihat sejumlah orang-orang Radio dan TV Rodja sikap fanatisme yang batil dan tercela serta marah terhadap orang-orang yang mentahdzir dan berbicara dengan kebenaran tentang Yayasan Ihyaa At-Turoots Al-Kuwaitiyah. Diantara mereka adalah Penanya al-Akh Firanda, ia telah menulis sebuah buku yang dicetak yang ia dengan semangat dalam buku tersebut membela Yayasan Ihyaa’ At-Turoots Al-Kuwaitiyah))…Lalu sayapun berkata ((Adapun saya marah dengan fanatis yang batil dan tercela jika ada orang yang membantah Ihyaa At-Turoots, maka ini merupakan kedustaan wahai ustadz. Bahkan saya mempersilahkan antum dan para sahabat antum untuk membantah Yayasan Ihyaa At-Turoots dengan sepuas antum. Akan tetapi yang menjadikan saya tidak suka adalah menjadikan pembahasan At-Turots sebagai sarana untuk mentabdi’ para ustadz dan juga menyesatkan Radio Rodja. Karenanya coba al-Ustadz kembali membaca buku saya tersebut, semuanya terfokus pada sikap ahlus sunnah yang benar dalam menghadapi permasalahan khilafiyah diantara para ulama. Karenanya saya sering menyatakan bahwa bantahan yang ditulis oleh ustadz Askari adalah tidak nyambung, karena pembahasan saya bukanlah utamanya tertuju pada sesatnya yayasan Ihyaa At-Turoorts, akan tetapi apakah bermu’amalah dengan yayasan tersebut menjadikan seseorang otomatis menjadi sesat?? Sururi?? Hizbi?? Mubtadi’??. Itu yang saya bahas. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua…)) Kelima Belas : Perkataan al-Ustadz ((Saya bersama beberapa ikhwan yang datang dari Indonesia pernah berjumpa dengan sejumlah mahasiswa Jamî’ah Islamiyyah Madinah -seingat Saya adalah bahwa hampir seluruh mahasiswa pasca sarjana hadir, kecuali Ustadz Firanda-, di rumah Syaikh Muhammad bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh.))Kritikan :Wahai al-Ustadz, bukankah anda adalah seorang muhaddits yang hebat, yang mengkerdilan Syaikh Ali Hasan murid ahli hadits abad ini??. Dan bukankah antum tahu tentang makna dan persyaratan “Tsiqoh” menurut ahli hadits??, yaitu memiliki hapalan yang kuat??Kok bisa antum mengatakan ana tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Bukankah ana yang protes terhadap Syaikh tatkala itu dihadapan antum??. Ana berkata kepada syaikh : “Sebagian ustadz kami telah bermuamalah dengan at-Turots bertahun-tahun lamanya dan kami tidak melihat tanda-tanda hizbiyah pada mereka??”. Saya juga berkata, “Syaikh kita menghukumi seseorang dengan melihat kondisi mereka sekarang ataukah dengan melihat kondisi mereka masa depan?”. Syaikh menjawab ((Syaikh menjawab, “Mereka pasti akan berjabat tangan dengan sufiyah, aku sudah pengalaman, janggutku sudah putih” (kira-kira itu jawaban syaikh).))Wahai al-Muhaddits al-Ustadz Dzulqoranin, kejadian ini kenapa bisa anda lupakan, kehadiranku kenapa hilang dari ingatanmu??, silahkan anda bertanya kepada Hasan Rasyid?, ataukah anda bertanya kepada segenap mahasiswa madinah !!!. saya rasa ingatan mereka masih hangat….Tapi ya namanya manusia, meskipun muhaddits sekaliber antumpun masih memungkinkan lupa dan salah nukil… Keenam belas : Perkataan al-ustadz ((Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullâh maupun ayah beliau yang mulia, Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullâh, tidak pernah marah terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan dan penyimpangan Ihyâ` At-Turâts.))Kritikan : Ya al-Ustadz, sudah saya katakan bahwa kalau hanya sekedar mengkritik maka tidak menjadi masalah, silahkan mereka mengkritik. Akan tetapi tatkala kritikan tersebut menjadi bahan untuk mentahdzir dan mentabdi’ apalagi ala MLM maka ini jelas membuat marah para masyayikh. Bukankah saya sudah nukilkan berulang-ulang kritikan Syaikh Abdul Muhsin terhadap orang-orang yang mengkritik Yayasan Ihyaa At-Turots, agar mereka tahu diri dan melihat kedudukan mereka. Karena Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin juga mengisi di Yayasan Ihyaa At-Turots dan tidak mentahdzir apalagi membid’ahkan??. Berikut saya nukil lagi perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad :التحذير من فتنة التجريح والتبديع من بعض أهل السنة في هذا العصروقريبٌ من بدعة امتحان الناس بالأشخاص ما حصل في هذا الزمان من افتتان فئة قليلة من أهل السنَّة بتجريح بعض إخوانهم من أهل السنة وتبديعهم، وما ترتَّب على ذلك من هجر وتقاطع بينهم وقطع لطريق الإفادة منهم، وذلك التجريح والتبديع منه ما يكون مبنيًّا على ظنِّ ما ليس ببدعة بدعة، ومن أمثلة ذلك أنَّ الشيخين الجليلين عبد العزيز بن باز وابن عثيمين ـ رحمهما الله ـ قد أفتيا جماعة بدخولها في أمر رأيَا المصلحة في ذلك الدخول، ومِمَّن لم يُعجبهم ذلك المفتَى به تلك الفئة القليلة، فعابت تلك الجماعة بذلك، ولَم يقف الأمر عند هذا الحدِّ، بل انتقل العيب إلى مَن يتعاون معها بإلقاء المحاضرات، ووصفه بأنَّه مُميِّع لمنهج السلف، مع أنَّ هذين الشيخين الجليلين كانا يُلقيان المحاضرات على تلك الجماعة عن طريق الهاتف((Peringatan terahadap fitnah tajrih dan tabdi’ dari sebagian ahlus sunnah di zaman ini :“Yang mirip dengan bid’ah menguji orang-orang (termasuk ahlus sunnah atau hizbi-pen) dengan sosok-sosok tertentu (yaitu dengan sosok syaikh-syaikh tertentu-pen), apa yang terjadi di zaman ini, dari fitnah segelintir kecil dari ahlus sunnah dengan mentajrih sebagian saudara-saudara mereka dari ahlus sunnah serta mentabdi’ mereka. Demikian juga dampak yang timbul seperti saling memboikot dan menghajr diantara mereka dan tidak bolehnya mengambil faedah dari merekaDan sikap tajrih dan tabdi’ tersebut diantaranya ada yang dibangun di atas menyangka suatu yang bukan bid’ah sebagai bid’ah. Dan diantara contohnya adalah dua orang syaikh yang mulia Abdul Aziz bin Baas dan Ibnu Utsaimin rahimahumallahu telah berfatwa kepada suatu jama’ah untuk masuk dalam suatu perkara, kedua syaikh ini melihat adalah kemaslahatan untuk masuk dalam perkara tersebut. Diantara yang tidak suka dengan fatwa ini adalah segelintir kecil kelompok tersebut, maka merekapun mencela jama’ah tersebut. Bahkan perkaranya tidak berhenti hingga disini, bahkan celaan berpindah kepada siapa saja yang berta’awun (bekerjasama) dengan jama’ah tersebut berupa menyampaikan pengajian-pengajian, dan para penyampai pengajian tersebut disifati dengan mumayyi’ (lemah) terhadap manhaj salaf. Padahal kedua syaikh yang mulia tersebut (Syaikh Bin Baaz dan Ibnu Utsaimin) telah mengisi pengajian di jama’ah tersebut melalui telephon”)) (Al-Hats ‘alaa Ittiba As-Sunnah hal 26).Jama’ah yang dimaksud oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad adalah Yayasan Ihyaa At-Turots di Kuwait.Wahai al-ustadz, jelas ini merupakan bentuk pengingkaran dari Syaikh Abdul Muhsin atas sikap Jama’ah Tahdzir…. Lantas apakah kemarahan  syaikh harus diungkapkan dengan model marah-marah seperti jama’ah tahdzir seperti mengatakan “Berakal pendek”, “kambing terbang” “pembuat makar”,  dll ??!! Ketujuh belas : Perkataan al-ustadz ((Orang-orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda memang akan sulit memahami keagungan syariat membela agama dari segala penyimpangan sehingga tahdzir terhadap kesalahan-kesalahan jelas Rodja ditanggapi sangat jelek oleh Ustadz Firanda dengan ucapan))Ini yang saya harapkan dari Al-Ustadz, mentahdzir Radiorodja dengan kesalahan-kesalahan yang jelas. Tolong sebutkan kesalahan-kesalahan yang jelas tersebut wahai ustadz !! ditunggu !!.Adapun mengenai diputarnya clip video Syaikh Muhammad al-Arifi maka penjelasannya sebagai berikut :–         Yang memutar tersebut adalah salah seorang kru rodja bagian IT yang memasukan video tersebut tanpa sepengetahuan para ustadz. Berangkat dari husnudzon kru tersebut bahwa syaikh adalah adalah para dai ahlus sunnah karena tidak ada tabdi’ atau tahdzir yang masyhur sebelumnya.–         Lagipula sudah dilarang untuk diputar lagi klip tersebut, bukan karena tahdziran para jama’ah tahdzir, akan tetapi karena ada seorang ustadz yang melihat lantas mengingatkan. Jadi waktu al-Ustadz dzulqornain mentahdzir rodja video tersebut sudah tidak diputar. Kedelapan belas : Al-Ustadz dengan bangga berkata ((Alhamdulillah, Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar))Kritikan :Kalimat ringkas tahdziran tersebut isinya sebagai berikut :((“Saya tidak menasehatkan mendengarkan atau melihat TV Rodja, karena adanya orang-orang didalam radio ini, sebagian manhajnya tidak benar, dan sebagiannya tidak jelas, dan Alhamdulillah fasilitas untuk belajar agama sudah sangat banyak dimasa ini”))Inilah kalimat ringkas yang dibanggakan oleh al-Ustadz, padahal :–         Bukankah al-Ustadz memaksudkan tahdziran ini untuk para penuntut ilmu, adapun orang awam boleh mendengar rodja karena rodja ibarat orang fajir tapi memberi manfaat bagi orang awam??–         Bukankah yang seharusnya adalah sebaliknya : Justru orang awam yang tidak boleh mendengar rodja karena banyak syubhat dan orang awam tidak mengerti syubhat?. Justru para penuntut ilmu boleh mendengar rodja karena mereka mengerti syubhat??!!. Oleh karenanya fatwa Al-Muhaddits Al-ustadz al-Fadil Dzulqornain saya rasa terbalik, maaf !!–         Kalau memang orang awam boleh mendengar rodja lantas kenapa justru tahdziran ini tersebar di orang-orang awam??–         Bahkan tersebar dan ditangkap dengan senang oleh ahlul bid’ah??Yang terakhir : Tentunya tahdziran agar bermanfaat adalah dengan kejelasan bukan dengan kalimat ringkas yang kabur maknanya dan tidak jelas. Karenanya saya minta al-Ustadz untuk menjelaskan maksud perkataan tahdzirannya?Siapakah saja pengisi rodja yang sebagian manhajnya tidak benar dan sebagiannya tidak jelas??Apa ketidak benaran dan ketidak jelasan tersebut??, ditunggu masukannya al-Ustadz !!Saya tutup tanggapan ini dengan berita menarik dari artikel yang saya baca (wallahu A’lam dengan kebenarannya, dan sangat dimohon para ikhwan Jama’ah Tahdzir untuk mengecek kebenaran berita tersebut)- ternyata warga Dammaj tempat al-Ustadz Dzulqornain belajar telah menerima bantuan dari Yayasan Ihyaa At-Thurats. (silahkan lihat di http://gemaislam.com/berita/indonesia-news-menuitem/1610-bantuan-dana-yayasan-ihya-at-turats-kuwait-mengalir-untuk-warga-dammaj)Demikian pula ternyata Syaikh Muhammad ‘Umar Bazmuul duduk bareng dalam satu seminar keislaman bersama pimpinan Yayasan Ihyaa At-Turoots Kuwait, Thaariq Al-‘Iisaa :http://www.youtube.com/watch?v=HodznN8pEEIBagaimana ?. Apakah saudara-saduara kita dari Jama’ah Tahdziir mau mentahdzir Syaikh Bazmuul karena bermajelis dengan ahlul-bid’ah…., ataukah ada standar ganda??Akhukum Fillah Abu AbdilMuhsin Firanda.  
Kesebelas : Al-Ustadz berkata ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu. Namun, sehari setelah itu, tepatnya pada 4 Oktober 2013, Ustadz Firanda mengeluarkan tulisan baru dengan judul, “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan.” Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya))Kritikan : Ya ustadz, ana rasa tidak perlu antum menilai hati seseorang dengan sikap suudzon. Perkataan antum ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu…)). Apalagi antum berkata “saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini”. Ini murni bentuk suudzon, demi Allah waktu saya mengirim surat meminta antum untuk menerjemahkan surat Sykh Al-Fauzan, saya memang belum membantah dan belum menulis satu hurufpun. Setelah saya mengirim surat kepada antum baru saya membantah antum, dan saya rasa 1 hari sudah cukup bagi saya untuk menyusun bantahan tersebut. Bukankah bisa dilihat dalam web saya, hampir setiap hari saya membuat artikel, bahkan terkadang dalam sehari bisa 2 artikel…., kenapa antum suudzon kepada isi hati ana, apalagi mengkait-kaitkan dengan perkataan antum ((saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini))?? Apalagi antum menuduh ana berbuat makar dengan perkataan antum ((serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya)). Tidak perlulah antum menebak isi hati orang, apalagi dengan sikap suudzon. Baarokallahu fiik Kedua belas : Perkataan al-Ustadz ((Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya))Saya rasa al-Ustadz mungkin berfikir kembali tentang perkataan beliau ((Siapa saja)). Karena saya mendapati banyak yang membaca tulisan saya memberi tanda “like” kepada tulisan saya. Sebagai contoh dalam tulisan saya (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv) yang me “like” berjumlah 7000. Bukan maksud saya banyak merupakan ukuran kebenaran akan tetapi mungkin juga yang me “like” tersebut juga orang-orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya seperti firanda, sehingga mereka me”like”. Tolong nasehati mereka al-Ustadz, agar mereka bisa berakal panjang dan baik pemahaman serta bagus bahasa arabnya seperti antum. Baarokallahu fiik Ketiga belas : al-Ustadz berkata ((, beberapa kali Ustadz Firanda menukil dari situs http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/ yang dikelola oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby dan pengikutnya.Mungkin kebanyakan ulama, yang men-tahdzir situs tersebut, tidak dianggap oleh Ustadz Firanda. Akan  tetapi, guru kami, Syaikh Shalih bin Sa’d As-Suhaimy hafizhahullâh -yang merupakan salah seorang ulama besar Madinah dan masih dianggap sebagai rujukan oleh Ustadz Firanda-, telah men-tahdzir situs tersebut dan menyebutnya sebagai situs-situs masybûhah ‘bersyubhat, tidak jelas’))Kritikan saya dari beberapa sisi :–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi bukanlah termasuk jajaran ulama kibar di Madinah (bukan bermaksud merendahkan beliau, akan tetapi mendudukan seseorang pada kedudukan sesungguhnya). Beliau pernah ditanya siapakah ulama?, maka jawaban beliau : Ulama adalah seperti Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbaad dan Syaikh Ali Nashir Al-Faqihi.–         Diantara tawadhu Syaikh Sholeh As-Suhaimi beliau sering membaca karya-karya Syaikh Abdurrozzaq, bahkan sebagian karya syaikh Abdurrozzaq diajarkan oleh Syaikh Sholeh As-Suhaimi di masjid nabawi–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi dauroh di kebun teh lawang yang diselenggarakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib dari Al-Irsyad Surabaya, yang dianggap hizbi oleh Jama’ah Tahdzir.–         Yang menakjubkan jika Kholid Bawazir (yang dianggap dedengkot sumber dana hizbi oleh Jama’ah Tahdzir) jika datang ke kota Madinah maka para masyayikh semuanya ingin menjamu beliau, baik Syaikh Sholeh As-Suhaimi, Syaikh Abdurrozzaq, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili, dan juga Syaikh Abdus Salam As-Suhaimi. Bahkan saya yang termasuk mengantar beliau ke rumah sebagian masyaikh tersebut. Jadi Kholid Bawazir ini dianggap hizbi oleh Jama’ah tahdzir, tapi dianggap tamu mulia oleh para masyayikh???. Saya rasa lebih enak dihormati oleh masyayikh dari pada dihormati jama’ah tahdzir–         Yang lebih menakjubkan lagi ternyata Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi di Radiorodja…(https://archive.org/details/KajianIslamRadioRodja756Am_32), seharusnya sekarang al-Ustadz Dzulqornain yang selalu bolak-balik ke Madinah memperingatkan para masyayikh tersebut agar tidak ditipu oleh ustadz-ustadz Rodja sebagaimana Syaikh Robi yang menyatakan bahwa Syaikh Abdurrozzaq ditipu oleh pihak Radiorodja.–         Lantas apakah sahab.net salamat dari kritikan ulama??–         Apakah al-ustadz punya standar ganda, hanya memakai perkataan Syaikh Sholeh as-Suhaimi jika diperlukan?? Anehnya juga jama’ah tahdzir mengadakan pengajian dengan judul lihat (http://ahlussunnahslipi.com/kajian-ilmiyyah-jadilah-seorang-salafy-sejati-bersama-al-ustadz-muhammad-umar-as-sewed/), dengan membahas kitab “Kun Salafiyan ‘Alal Jaddah” karya Asy-Syaikh DR. Abdussalam bin Salim As-Suhaimi. Ternyata…sang penulis kitab sendiri Asy-Syaikh DR Abdussalam As-Suhaimi pernah mengisi langsung bukunya tersebut di radiorodja beberapa tahun yang silam??. (silahkan dengar di http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Syaikh%20Dr%20Abdus%20Salam%20bin%20Salim%20A%20Suhaimi/Jadilah%20Salafy%20Sejati)Rupanya Radiorodja sudah berusaha menjadi salafy sejati lebih dahulu dari pada Jama’ah tahdzir yang ketinggalan zaman, dan yang bahas bukan penulis aslinya. Yang penulis buku ngisi di Radiorodja dan dauroh yang diadakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib, akan tetapi al-Ustadz dari Jama’ah tahdzir yang membahas kitab tersebut ternyata menghzibikan dan membid’ahkan radiorodja dan penyelenggara dauroh. Kita ikut siapa ya?, ikut penulis kitab, atau sang ustadz yang mencoba memahami isi kitab tersebut?? Keempat belas : Al-Ustadz berkata ((Ustadz Firanda berkata, “Permasalahan mengenai Ihyaa At-Turoots telah saya bahas dengan panjang lebar, diantara perkataan saya ((…Demikian juga tatkala kita menghadapi permasalahan mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots. Karena inilah yang menjadi permasalahan utama, bukan masalah apakah yayasan Ihyaa At-Turoots ini hizbi atau tidak, karena mayoritas yang ditahdziir dan dikatakan sururi adalah orang-orang yang tidak mengambil dana sama sekali, akan tetapi kena getahnya terseret arus tahdzir gaya MLM, yaitu barang siapa yang tidak mentahdziir si fulan maka dia juga sururi??!!. Jika kita sepakat bahwasanya Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbi maka apakah yang mengambil dana otomatis menjadi sururi?,inilah permasalahannya.!!.”Tuduhan dusta ini sudah pernah Saya jawab sebagai berikut,“Sekali lagi, Saya memberi waktu bagi Ustadz Firanda guna mendatangkan bukti tentang tuduhan yang jauh dari kejujuran dan kebenaran di atas.Telah diketahui dari Saya, bahkan kadang sebagian kawan-kawan Saya sendiri mempermasalahkan sikap Saya, bahwa Saya memandang boleh mengambil dana dari Yayasan Ihyâ` At-Turâts apabila Yayasan Ihyâ` At-Turâts memberi tanpa syarat dan ketentuan.))Kritikan :Al-Ustadz menuduh saya berdusta…, dimana letak dustanya??. Perkatan yang saya yang dinukil oleh Al-Ustadz terdapat di  (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv). Perkataan saya tersebut bahkan saya jelaskan saya menukilnya dari artikel saya yang lain tatkala membantah al-Ustadz Askari ((https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/101-salah-kaprah-tentang-hajr-boikot-terhadap-ahlul-bidah-seri-6-tahdziir-dan-tabdii-berantai-ala-mlm-awas-sururi)).Lantas dimana letak dusta saya??. Sudah menjadi perkara yang maklum dan mutawatir kalau teman-teman antum dari jama’ah tahdzir mentabdi’ karena mengambil dana dari at-Turots, bahkan jika tidak mentahdzir maka akan ikut ditahdziiir….ala MLM. Ini adalah hala yang mutawatir wahai ustadz??. Lantas dimana kebohongan saya??. Saya kasih waktu buat ustadz agar bisa menjelaskan dan mendatangkan bukti !!!.Adapun jika ustadz mentahdzir Iyhaa At-Turoots bukan karena masalah dana, maka itu madzhab al-Ustadz sendiri??, saya sedang membantah madzhab MLM yang dianut oleh jama’ah Tahdzir.Sekarang saya bertanya kepada al-Ustadz, apakah al-Ustadz tidak menganut madzhab tahdzir MLM??. (semoga tidak). Akan tetapi, Kita kembali ke PERMASALAHAN INTI !!!, kenapa al-Ustadz mentahdzir Radiorodja, Ustadz Yazid Jawas dll, bahkan pernah al-Ustadz mengumpulkan tanda tangan sembilan ustadz untuk mentahdzir atau mentabdi’ para ustadz, diantaranya al-Ustadz Yazid !!!. Masihkah al-Ustadz ingat dengan selebaran tanda tangan tersebut??.Lupakah antum wahai al-Ustadz dengan pernyataan yang antum tanda tangani, ((Karena itu kami berlepas diri dari Yazid Jawas, Abu Nida, Aunur Rofiq Ghufron, Ahmas Faiz (majallah As-Sunnah), dan yang semisalnya yang masih jelas pembelaan dan hubungannya dengan yayasan Ihyaa At-Turhats dan yayasan As-Shofwa))Berikut fotokopi peranyataan antum dan kawan-kawan :Jika antum tidak bermadzhab MLM lantas apakah antum tidak pernah mentahdzir ustadz-ustadz diluar jama’ah tahdzir??. (semoga tidak pernah, dan semoga antum bukan bermadzhab MLM). Baarokallahu fiikum.Saya juga meminta al-Ustadz al-Fadil untuk menjawab pernyataan saya ((Al-Ustadz berkata ((Yang menyedihkan, kami melihat sejumlah orang-orang Radio dan TV Rodja sikap fanatisme yang batil dan tercela serta marah terhadap orang-orang yang mentahdzir dan berbicara dengan kebenaran tentang Yayasan Ihyaa At-Turoots Al-Kuwaitiyah. Diantara mereka adalah Penanya al-Akh Firanda, ia telah menulis sebuah buku yang dicetak yang ia dengan semangat dalam buku tersebut membela Yayasan Ihyaa’ At-Turoots Al-Kuwaitiyah))…Lalu sayapun berkata ((Adapun saya marah dengan fanatis yang batil dan tercela jika ada orang yang membantah Ihyaa At-Turoots, maka ini merupakan kedustaan wahai ustadz. Bahkan saya mempersilahkan antum dan para sahabat antum untuk membantah Yayasan Ihyaa At-Turoots dengan sepuas antum. Akan tetapi yang menjadikan saya tidak suka adalah menjadikan pembahasan At-Turots sebagai sarana untuk mentabdi’ para ustadz dan juga menyesatkan Radio Rodja. Karenanya coba al-Ustadz kembali membaca buku saya tersebut, semuanya terfokus pada sikap ahlus sunnah yang benar dalam menghadapi permasalahan khilafiyah diantara para ulama. Karenanya saya sering menyatakan bahwa bantahan yang ditulis oleh ustadz Askari adalah tidak nyambung, karena pembahasan saya bukanlah utamanya tertuju pada sesatnya yayasan Ihyaa At-Turoorts, akan tetapi apakah bermu’amalah dengan yayasan tersebut menjadikan seseorang otomatis menjadi sesat?? Sururi?? Hizbi?? Mubtadi’??. Itu yang saya bahas. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua…)) Kelima Belas : Perkataan al-Ustadz ((Saya bersama beberapa ikhwan yang datang dari Indonesia pernah berjumpa dengan sejumlah mahasiswa Jamî’ah Islamiyyah Madinah -seingat Saya adalah bahwa hampir seluruh mahasiswa pasca sarjana hadir, kecuali Ustadz Firanda-, di rumah Syaikh Muhammad bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh.))Kritikan :Wahai al-Ustadz, bukankah anda adalah seorang muhaddits yang hebat, yang mengkerdilan Syaikh Ali Hasan murid ahli hadits abad ini??. Dan bukankah antum tahu tentang makna dan persyaratan “Tsiqoh” menurut ahli hadits??, yaitu memiliki hapalan yang kuat??Kok bisa antum mengatakan ana tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Bukankah ana yang protes terhadap Syaikh tatkala itu dihadapan antum??. Ana berkata kepada syaikh : “Sebagian ustadz kami telah bermuamalah dengan at-Turots bertahun-tahun lamanya dan kami tidak melihat tanda-tanda hizbiyah pada mereka??”. Saya juga berkata, “Syaikh kita menghukumi seseorang dengan melihat kondisi mereka sekarang ataukah dengan melihat kondisi mereka masa depan?”. Syaikh menjawab ((Syaikh menjawab, “Mereka pasti akan berjabat tangan dengan sufiyah, aku sudah pengalaman, janggutku sudah putih” (kira-kira itu jawaban syaikh).))Wahai al-Muhaddits al-Ustadz Dzulqoranin, kejadian ini kenapa bisa anda lupakan, kehadiranku kenapa hilang dari ingatanmu??, silahkan anda bertanya kepada Hasan Rasyid?, ataukah anda bertanya kepada segenap mahasiswa madinah !!!. saya rasa ingatan mereka masih hangat….Tapi ya namanya manusia, meskipun muhaddits sekaliber antumpun masih memungkinkan lupa dan salah nukil… Keenam belas : Perkataan al-ustadz ((Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullâh maupun ayah beliau yang mulia, Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullâh, tidak pernah marah terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan dan penyimpangan Ihyâ` At-Turâts.))Kritikan : Ya al-Ustadz, sudah saya katakan bahwa kalau hanya sekedar mengkritik maka tidak menjadi masalah, silahkan mereka mengkritik. Akan tetapi tatkala kritikan tersebut menjadi bahan untuk mentahdzir dan mentabdi’ apalagi ala MLM maka ini jelas membuat marah para masyayikh. Bukankah saya sudah nukilkan berulang-ulang kritikan Syaikh Abdul Muhsin terhadap orang-orang yang mengkritik Yayasan Ihyaa At-Turots, agar mereka tahu diri dan melihat kedudukan mereka. Karena Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin juga mengisi di Yayasan Ihyaa At-Turots dan tidak mentahdzir apalagi membid’ahkan??. Berikut saya nukil lagi perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad :التحذير من فتنة التجريح والتبديع من بعض أهل السنة في هذا العصروقريبٌ من بدعة امتحان الناس بالأشخاص ما حصل في هذا الزمان من افتتان فئة قليلة من أهل السنَّة بتجريح بعض إخوانهم من أهل السنة وتبديعهم، وما ترتَّب على ذلك من هجر وتقاطع بينهم وقطع لطريق الإفادة منهم، وذلك التجريح والتبديع منه ما يكون مبنيًّا على ظنِّ ما ليس ببدعة بدعة، ومن أمثلة ذلك أنَّ الشيخين الجليلين عبد العزيز بن باز وابن عثيمين ـ رحمهما الله ـ قد أفتيا جماعة بدخولها في أمر رأيَا المصلحة في ذلك الدخول، ومِمَّن لم يُعجبهم ذلك المفتَى به تلك الفئة القليلة، فعابت تلك الجماعة بذلك، ولَم يقف الأمر عند هذا الحدِّ، بل انتقل العيب إلى مَن يتعاون معها بإلقاء المحاضرات، ووصفه بأنَّه مُميِّع لمنهج السلف، مع أنَّ هذين الشيخين الجليلين كانا يُلقيان المحاضرات على تلك الجماعة عن طريق الهاتف((Peringatan terahadap fitnah tajrih dan tabdi’ dari sebagian ahlus sunnah di zaman ini :“Yang mirip dengan bid’ah menguji orang-orang (termasuk ahlus sunnah atau hizbi-pen) dengan sosok-sosok tertentu (yaitu dengan sosok syaikh-syaikh tertentu-pen), apa yang terjadi di zaman ini, dari fitnah segelintir kecil dari ahlus sunnah dengan mentajrih sebagian saudara-saudara mereka dari ahlus sunnah serta mentabdi’ mereka. Demikian juga dampak yang timbul seperti saling memboikot dan menghajr diantara mereka dan tidak bolehnya mengambil faedah dari merekaDan sikap tajrih dan tabdi’ tersebut diantaranya ada yang dibangun di atas menyangka suatu yang bukan bid’ah sebagai bid’ah. Dan diantara contohnya adalah dua orang syaikh yang mulia Abdul Aziz bin Baas dan Ibnu Utsaimin rahimahumallahu telah berfatwa kepada suatu jama’ah untuk masuk dalam suatu perkara, kedua syaikh ini melihat adalah kemaslahatan untuk masuk dalam perkara tersebut. Diantara yang tidak suka dengan fatwa ini adalah segelintir kecil kelompok tersebut, maka merekapun mencela jama’ah tersebut. Bahkan perkaranya tidak berhenti hingga disini, bahkan celaan berpindah kepada siapa saja yang berta’awun (bekerjasama) dengan jama’ah tersebut berupa menyampaikan pengajian-pengajian, dan para penyampai pengajian tersebut disifati dengan mumayyi’ (lemah) terhadap manhaj salaf. Padahal kedua syaikh yang mulia tersebut (Syaikh Bin Baaz dan Ibnu Utsaimin) telah mengisi pengajian di jama’ah tersebut melalui telephon”)) (Al-Hats ‘alaa Ittiba As-Sunnah hal 26).Jama’ah yang dimaksud oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad adalah Yayasan Ihyaa At-Turots di Kuwait.Wahai al-ustadz, jelas ini merupakan bentuk pengingkaran dari Syaikh Abdul Muhsin atas sikap Jama’ah Tahdzir…. Lantas apakah kemarahan  syaikh harus diungkapkan dengan model marah-marah seperti jama’ah tahdzir seperti mengatakan “Berakal pendek”, “kambing terbang” “pembuat makar”,  dll ??!! Ketujuh belas : Perkataan al-ustadz ((Orang-orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda memang akan sulit memahami keagungan syariat membela agama dari segala penyimpangan sehingga tahdzir terhadap kesalahan-kesalahan jelas Rodja ditanggapi sangat jelek oleh Ustadz Firanda dengan ucapan))Ini yang saya harapkan dari Al-Ustadz, mentahdzir Radiorodja dengan kesalahan-kesalahan yang jelas. Tolong sebutkan kesalahan-kesalahan yang jelas tersebut wahai ustadz !! ditunggu !!.Adapun mengenai diputarnya clip video Syaikh Muhammad al-Arifi maka penjelasannya sebagai berikut :–         Yang memutar tersebut adalah salah seorang kru rodja bagian IT yang memasukan video tersebut tanpa sepengetahuan para ustadz. Berangkat dari husnudzon kru tersebut bahwa syaikh adalah adalah para dai ahlus sunnah karena tidak ada tabdi’ atau tahdzir yang masyhur sebelumnya.–         Lagipula sudah dilarang untuk diputar lagi klip tersebut, bukan karena tahdziran para jama’ah tahdzir, akan tetapi karena ada seorang ustadz yang melihat lantas mengingatkan. Jadi waktu al-Ustadz dzulqornain mentahdzir rodja video tersebut sudah tidak diputar. Kedelapan belas : Al-Ustadz dengan bangga berkata ((Alhamdulillah, Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar))Kritikan :Kalimat ringkas tahdziran tersebut isinya sebagai berikut :((“Saya tidak menasehatkan mendengarkan atau melihat TV Rodja, karena adanya orang-orang didalam radio ini, sebagian manhajnya tidak benar, dan sebagiannya tidak jelas, dan Alhamdulillah fasilitas untuk belajar agama sudah sangat banyak dimasa ini”))Inilah kalimat ringkas yang dibanggakan oleh al-Ustadz, padahal :–         Bukankah al-Ustadz memaksudkan tahdziran ini untuk para penuntut ilmu, adapun orang awam boleh mendengar rodja karena rodja ibarat orang fajir tapi memberi manfaat bagi orang awam??–         Bukankah yang seharusnya adalah sebaliknya : Justru orang awam yang tidak boleh mendengar rodja karena banyak syubhat dan orang awam tidak mengerti syubhat?. Justru para penuntut ilmu boleh mendengar rodja karena mereka mengerti syubhat??!!. Oleh karenanya fatwa Al-Muhaddits Al-ustadz al-Fadil Dzulqornain saya rasa terbalik, maaf !!–         Kalau memang orang awam boleh mendengar rodja lantas kenapa justru tahdziran ini tersebar di orang-orang awam??–         Bahkan tersebar dan ditangkap dengan senang oleh ahlul bid’ah??Yang terakhir : Tentunya tahdziran agar bermanfaat adalah dengan kejelasan bukan dengan kalimat ringkas yang kabur maknanya dan tidak jelas. Karenanya saya minta al-Ustadz untuk menjelaskan maksud perkataan tahdzirannya?Siapakah saja pengisi rodja yang sebagian manhajnya tidak benar dan sebagiannya tidak jelas??Apa ketidak benaran dan ketidak jelasan tersebut??, ditunggu masukannya al-Ustadz !!Saya tutup tanggapan ini dengan berita menarik dari artikel yang saya baca (wallahu A’lam dengan kebenarannya, dan sangat dimohon para ikhwan Jama’ah Tahdzir untuk mengecek kebenaran berita tersebut)- ternyata warga Dammaj tempat al-Ustadz Dzulqornain belajar telah menerima bantuan dari Yayasan Ihyaa At-Thurats. (silahkan lihat di http://gemaislam.com/berita/indonesia-news-menuitem/1610-bantuan-dana-yayasan-ihya-at-turats-kuwait-mengalir-untuk-warga-dammaj)Demikian pula ternyata Syaikh Muhammad ‘Umar Bazmuul duduk bareng dalam satu seminar keislaman bersama pimpinan Yayasan Ihyaa At-Turoots Kuwait, Thaariq Al-‘Iisaa :http://www.youtube.com/watch?v=HodznN8pEEIBagaimana ?. Apakah saudara-saduara kita dari Jama’ah Tahdziir mau mentahdzir Syaikh Bazmuul karena bermajelis dengan ahlul-bid’ah…., ataukah ada standar ganda??Akhukum Fillah Abu AbdilMuhsin Firanda.  


Kesebelas : Al-Ustadz berkata ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu. Namun, sehari setelah itu, tepatnya pada 4 Oktober 2013, Ustadz Firanda mengeluarkan tulisan baru dengan judul, “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan.” Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya))Kritikan : Ya ustadz, ana rasa tidak perlu antum menilai hati seseorang dengan sikap suudzon. Perkataan antum ((Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu…)). Apalagi antum berkata “saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini”. Ini murni bentuk suudzon, demi Allah waktu saya mengirim surat meminta antum untuk menerjemahkan surat Sykh Al-Fauzan, saya memang belum membantah dan belum menulis satu hurufpun. Setelah saya mengirim surat kepada antum baru saya membantah antum, dan saya rasa 1 hari sudah cukup bagi saya untuk menyusun bantahan tersebut. Bukankah bisa dilihat dalam web saya, hampir setiap hari saya membuat artikel, bahkan terkadang dalam sehari bisa 2 artikel…., kenapa antum suudzon kepada isi hati ana, apalagi mengkait-kaitkan dengan perkataan antum ((saya memuji Allah yang menampakan isi hati orang ini))?? Apalagi antum menuduh ana berbuat makar dengan perkataan antum ((serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya)). Tidak perlulah antum menebak isi hati orang, apalagi dengan sikap suudzon. Baarokallahu fiik Kedua belas : Perkataan al-Ustadz ((Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya))Saya rasa al-Ustadz mungkin berfikir kembali tentang perkataan beliau ((Siapa saja)). Karena saya mendapati banyak yang membaca tulisan saya memberi tanda “like” kepada tulisan saya. Sebagai contoh dalam tulisan saya (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv) yang me “like” berjumlah 7000. Bukan maksud saya banyak merupakan ukuran kebenaran akan tetapi mungkin juga yang me “like” tersebut juga orang-orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya seperti firanda, sehingga mereka me”like”. Tolong nasehati mereka al-Ustadz, agar mereka bisa berakal panjang dan baik pemahaman serta bagus bahasa arabnya seperti antum. Baarokallahu fiik Ketiga belas : al-Ustadz berkata ((, beberapa kali Ustadz Firanda menukil dari situs http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/ yang dikelola oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby dan pengikutnya.Mungkin kebanyakan ulama, yang men-tahdzir situs tersebut, tidak dianggap oleh Ustadz Firanda. Akan  tetapi, guru kami, Syaikh Shalih bin Sa’d As-Suhaimy hafizhahullâh -yang merupakan salah seorang ulama besar Madinah dan masih dianggap sebagai rujukan oleh Ustadz Firanda-, telah men-tahdzir situs tersebut dan menyebutnya sebagai situs-situs masybûhah ‘bersyubhat, tidak jelas’))Kritikan saya dari beberapa sisi :–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi bukanlah termasuk jajaran ulama kibar di Madinah (bukan bermaksud merendahkan beliau, akan tetapi mendudukan seseorang pada kedudukan sesungguhnya). Beliau pernah ditanya siapakah ulama?, maka jawaban beliau : Ulama adalah seperti Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbaad dan Syaikh Ali Nashir Al-Faqihi.–         Diantara tawadhu Syaikh Sholeh As-Suhaimi beliau sering membaca karya-karya Syaikh Abdurrozzaq, bahkan sebagian karya syaikh Abdurrozzaq diajarkan oleh Syaikh Sholeh As-Suhaimi di masjid nabawi–         Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi dauroh di kebun teh lawang yang diselenggarakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib dari Al-Irsyad Surabaya, yang dianggap hizbi oleh Jama’ah Tahdzir.–         Yang menakjubkan jika Kholid Bawazir (yang dianggap dedengkot sumber dana hizbi oleh Jama’ah Tahdzir) jika datang ke kota Madinah maka para masyayikh semuanya ingin menjamu beliau, baik Syaikh Sholeh As-Suhaimi, Syaikh Abdurrozzaq, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili, dan juga Syaikh Abdus Salam As-Suhaimi. Bahkan saya yang termasuk mengantar beliau ke rumah sebagian masyaikh tersebut. Jadi Kholid Bawazir ini dianggap hizbi oleh Jama’ah tahdzir, tapi dianggap tamu mulia oleh para masyayikh???. Saya rasa lebih enak dihormati oleh masyayikh dari pada dihormati jama’ah tahdzir–         Yang lebih menakjubkan lagi ternyata Syaikh Sholeh As-Suhaimi pernah mengisi di Radiorodja…(https://archive.org/details/KajianIslamRadioRodja756Am_32), seharusnya sekarang al-Ustadz Dzulqornain yang selalu bolak-balik ke Madinah memperingatkan para masyayikh tersebut agar tidak ditipu oleh ustadz-ustadz Rodja sebagaimana Syaikh Robi yang menyatakan bahwa Syaikh Abdurrozzaq ditipu oleh pihak Radiorodja.–         Lantas apakah sahab.net salamat dari kritikan ulama??–         Apakah al-ustadz punya standar ganda, hanya memakai perkataan Syaikh Sholeh as-Suhaimi jika diperlukan?? Anehnya juga jama’ah tahdzir mengadakan pengajian dengan judul lihat (http://ahlussunnahslipi.com/kajian-ilmiyyah-jadilah-seorang-salafy-sejati-bersama-al-ustadz-muhammad-umar-as-sewed/), dengan membahas kitab “Kun Salafiyan ‘Alal Jaddah” karya Asy-Syaikh DR. Abdussalam bin Salim As-Suhaimi. Ternyata…sang penulis kitab sendiri Asy-Syaikh DR Abdussalam As-Suhaimi pernah mengisi langsung bukunya tersebut di radiorodja beberapa tahun yang silam??. (silahkan dengar di http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Syaikh%20Dr%20Abdus%20Salam%20bin%20Salim%20A%20Suhaimi/Jadilah%20Salafy%20Sejati)Rupanya Radiorodja sudah berusaha menjadi salafy sejati lebih dahulu dari pada Jama’ah tahdzir yang ketinggalan zaman, dan yang bahas bukan penulis aslinya. Yang penulis buku ngisi di Radiorodja dan dauroh yang diadakan oleh Ma’had Ali bin Abi Tholib, akan tetapi al-Ustadz dari Jama’ah tahdzir yang membahas kitab tersebut ternyata menghzibikan dan membid’ahkan radiorodja dan penyelenggara dauroh. Kita ikut siapa ya?, ikut penulis kitab, atau sang ustadz yang mencoba memahami isi kitab tersebut?? Keempat belas : Al-Ustadz berkata ((Ustadz Firanda berkata, “Permasalahan mengenai Ihyaa At-Turoots telah saya bahas dengan panjang lebar, diantara perkataan saya ((…Demikian juga tatkala kita menghadapi permasalahan mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots. Karena inilah yang menjadi permasalahan utama, bukan masalah apakah yayasan Ihyaa At-Turoots ini hizbi atau tidak, karena mayoritas yang ditahdziir dan dikatakan sururi adalah orang-orang yang tidak mengambil dana sama sekali, akan tetapi kena getahnya terseret arus tahdzir gaya MLM, yaitu barang siapa yang tidak mentahdziir si fulan maka dia juga sururi??!!. Jika kita sepakat bahwasanya Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbi maka apakah yang mengambil dana otomatis menjadi sururi?,inilah permasalahannya.!!.”Tuduhan dusta ini sudah pernah Saya jawab sebagai berikut,“Sekali lagi, Saya memberi waktu bagi Ustadz Firanda guna mendatangkan bukti tentang tuduhan yang jauh dari kejujuran dan kebenaran di atas.Telah diketahui dari Saya, bahkan kadang sebagian kawan-kawan Saya sendiri mempermasalahkan sikap Saya, bahwa Saya memandang boleh mengambil dana dari Yayasan Ihyâ` At-Turâts apabila Yayasan Ihyâ` At-Turâts memberi tanpa syarat dan ketentuan.))Kritikan :Al-Ustadz menuduh saya berdusta…, dimana letak dustanya??. Perkatan yang saya yang dinukil oleh Al-Ustadz terdapat di  (https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/383-ada-apa-dengan-radiorodja-rodja-tv). Perkataan saya tersebut bahkan saya jelaskan saya menukilnya dari artikel saya yang lain tatkala membantah al-Ustadz Askari ((https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/101-salah-kaprah-tentang-hajr-boikot-terhadap-ahlul-bidah-seri-6-tahdziir-dan-tabdii-berantai-ala-mlm-awas-sururi)).Lantas dimana letak dusta saya??. Sudah menjadi perkara yang maklum dan mutawatir kalau teman-teman antum dari jama’ah tahdzir mentabdi’ karena mengambil dana dari at-Turots, bahkan jika tidak mentahdzir maka akan ikut ditahdziiir….ala MLM. Ini adalah hala yang mutawatir wahai ustadz??. Lantas dimana kebohongan saya??. Saya kasih waktu buat ustadz agar bisa menjelaskan dan mendatangkan bukti !!!.Adapun jika ustadz mentahdzir Iyhaa At-Turoots bukan karena masalah dana, maka itu madzhab al-Ustadz sendiri??, saya sedang membantah madzhab MLM yang dianut oleh jama’ah Tahdzir.Sekarang saya bertanya kepada al-Ustadz, apakah al-Ustadz tidak menganut madzhab tahdzir MLM??. (semoga tidak). Akan tetapi, Kita kembali ke PERMASALAHAN INTI !!!, kenapa al-Ustadz mentahdzir Radiorodja, Ustadz Yazid Jawas dll, bahkan pernah al-Ustadz mengumpulkan tanda tangan sembilan ustadz untuk mentahdzir atau mentabdi’ para ustadz, diantaranya al-Ustadz Yazid !!!. Masihkah al-Ustadz ingat dengan selebaran tanda tangan tersebut??.Lupakah antum wahai al-Ustadz dengan pernyataan yang antum tanda tangani, ((Karena itu kami berlepas diri dari Yazid Jawas, Abu Nida, Aunur Rofiq Ghufron, Ahmas Faiz (majallah As-Sunnah), dan yang semisalnya yang masih jelas pembelaan dan hubungannya dengan yayasan Ihyaa At-Turhats dan yayasan As-Shofwa))Berikut fotokopi peranyataan antum dan kawan-kawan :Jika antum tidak bermadzhab MLM lantas apakah antum tidak pernah mentahdzir ustadz-ustadz diluar jama’ah tahdzir??. (semoga tidak pernah, dan semoga antum bukan bermadzhab MLM). Baarokallahu fiikum.Saya juga meminta al-Ustadz al-Fadil untuk menjawab pernyataan saya ((Al-Ustadz berkata ((Yang menyedihkan, kami melihat sejumlah orang-orang Radio dan TV Rodja sikap fanatisme yang batil dan tercela serta marah terhadap orang-orang yang mentahdzir dan berbicara dengan kebenaran tentang Yayasan Ihyaa At-Turoots Al-Kuwaitiyah. Diantara mereka adalah Penanya al-Akh Firanda, ia telah menulis sebuah buku yang dicetak yang ia dengan semangat dalam buku tersebut membela Yayasan Ihyaa’ At-Turoots Al-Kuwaitiyah))…Lalu sayapun berkata ((Adapun saya marah dengan fanatis yang batil dan tercela jika ada orang yang membantah Ihyaa At-Turoots, maka ini merupakan kedustaan wahai ustadz. Bahkan saya mempersilahkan antum dan para sahabat antum untuk membantah Yayasan Ihyaa At-Turoots dengan sepuas antum. Akan tetapi yang menjadikan saya tidak suka adalah menjadikan pembahasan At-Turots sebagai sarana untuk mentabdi’ para ustadz dan juga menyesatkan Radio Rodja. Karenanya coba al-Ustadz kembali membaca buku saya tersebut, semuanya terfokus pada sikap ahlus sunnah yang benar dalam menghadapi permasalahan khilafiyah diantara para ulama. Karenanya saya sering menyatakan bahwa bantahan yang ditulis oleh ustadz Askari adalah tidak nyambung, karena pembahasan saya bukanlah utamanya tertuju pada sesatnya yayasan Ihyaa At-Turoorts, akan tetapi apakah bermu’amalah dengan yayasan tersebut menjadikan seseorang otomatis menjadi sesat?? Sururi?? Hizbi?? Mubtadi’??. Itu yang saya bahas. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua…)) Kelima Belas : Perkataan al-Ustadz ((Saya bersama beberapa ikhwan yang datang dari Indonesia pernah berjumpa dengan sejumlah mahasiswa Jamî’ah Islamiyyah Madinah -seingat Saya adalah bahwa hampir seluruh mahasiswa pasca sarjana hadir, kecuali Ustadz Firanda-, di rumah Syaikh Muhammad bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh.))Kritikan :Wahai al-Ustadz, bukankah anda adalah seorang muhaddits yang hebat, yang mengkerdilan Syaikh Ali Hasan murid ahli hadits abad ini??. Dan bukankah antum tahu tentang makna dan persyaratan “Tsiqoh” menurut ahli hadits??, yaitu memiliki hapalan yang kuat??Kok bisa antum mengatakan ana tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Bukankah ana yang protes terhadap Syaikh tatkala itu dihadapan antum??. Ana berkata kepada syaikh : “Sebagian ustadz kami telah bermuamalah dengan at-Turots bertahun-tahun lamanya dan kami tidak melihat tanda-tanda hizbiyah pada mereka??”. Saya juga berkata, “Syaikh kita menghukumi seseorang dengan melihat kondisi mereka sekarang ataukah dengan melihat kondisi mereka masa depan?”. Syaikh menjawab ((Syaikh menjawab, “Mereka pasti akan berjabat tangan dengan sufiyah, aku sudah pengalaman, janggutku sudah putih” (kira-kira itu jawaban syaikh).))Wahai al-Muhaddits al-Ustadz Dzulqoranin, kejadian ini kenapa bisa anda lupakan, kehadiranku kenapa hilang dari ingatanmu??, silahkan anda bertanya kepada Hasan Rasyid?, ataukah anda bertanya kepada segenap mahasiswa madinah !!!. saya rasa ingatan mereka masih hangat….Tapi ya namanya manusia, meskipun muhaddits sekaliber antumpun masih memungkinkan lupa dan salah nukil… Keenam belas : Perkataan al-ustadz ((Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullâh maupun ayah beliau yang mulia, Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullâh, tidak pernah marah terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan dan penyimpangan Ihyâ` At-Turâts.))Kritikan : Ya al-Ustadz, sudah saya katakan bahwa kalau hanya sekedar mengkritik maka tidak menjadi masalah, silahkan mereka mengkritik. Akan tetapi tatkala kritikan tersebut menjadi bahan untuk mentahdzir dan mentabdi’ apalagi ala MLM maka ini jelas membuat marah para masyayikh. Bukankah saya sudah nukilkan berulang-ulang kritikan Syaikh Abdul Muhsin terhadap orang-orang yang mengkritik Yayasan Ihyaa At-Turots, agar mereka tahu diri dan melihat kedudukan mereka. Karena Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin juga mengisi di Yayasan Ihyaa At-Turots dan tidak mentahdzir apalagi membid’ahkan??. Berikut saya nukil lagi perkataan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad :التحذير من فتنة التجريح والتبديع من بعض أهل السنة في هذا العصروقريبٌ من بدعة امتحان الناس بالأشخاص ما حصل في هذا الزمان من افتتان فئة قليلة من أهل السنَّة بتجريح بعض إخوانهم من أهل السنة وتبديعهم، وما ترتَّب على ذلك من هجر وتقاطع بينهم وقطع لطريق الإفادة منهم، وذلك التجريح والتبديع منه ما يكون مبنيًّا على ظنِّ ما ليس ببدعة بدعة، ومن أمثلة ذلك أنَّ الشيخين الجليلين عبد العزيز بن باز وابن عثيمين ـ رحمهما الله ـ قد أفتيا جماعة بدخولها في أمر رأيَا المصلحة في ذلك الدخول، ومِمَّن لم يُعجبهم ذلك المفتَى به تلك الفئة القليلة، فعابت تلك الجماعة بذلك، ولَم يقف الأمر عند هذا الحدِّ، بل انتقل العيب إلى مَن يتعاون معها بإلقاء المحاضرات، ووصفه بأنَّه مُميِّع لمنهج السلف، مع أنَّ هذين الشيخين الجليلين كانا يُلقيان المحاضرات على تلك الجماعة عن طريق الهاتف((Peringatan terahadap fitnah tajrih dan tabdi’ dari sebagian ahlus sunnah di zaman ini :“Yang mirip dengan bid’ah menguji orang-orang (termasuk ahlus sunnah atau hizbi-pen) dengan sosok-sosok tertentu (yaitu dengan sosok syaikh-syaikh tertentu-pen), apa yang terjadi di zaman ini, dari fitnah segelintir kecil dari ahlus sunnah dengan mentajrih sebagian saudara-saudara mereka dari ahlus sunnah serta mentabdi’ mereka. Demikian juga dampak yang timbul seperti saling memboikot dan menghajr diantara mereka dan tidak bolehnya mengambil faedah dari merekaDan sikap tajrih dan tabdi’ tersebut diantaranya ada yang dibangun di atas menyangka suatu yang bukan bid’ah sebagai bid’ah. Dan diantara contohnya adalah dua orang syaikh yang mulia Abdul Aziz bin Baas dan Ibnu Utsaimin rahimahumallahu telah berfatwa kepada suatu jama’ah untuk masuk dalam suatu perkara, kedua syaikh ini melihat adalah kemaslahatan untuk masuk dalam perkara tersebut. Diantara yang tidak suka dengan fatwa ini adalah segelintir kecil kelompok tersebut, maka merekapun mencela jama’ah tersebut. Bahkan perkaranya tidak berhenti hingga disini, bahkan celaan berpindah kepada siapa saja yang berta’awun (bekerjasama) dengan jama’ah tersebut berupa menyampaikan pengajian-pengajian, dan para penyampai pengajian tersebut disifati dengan mumayyi’ (lemah) terhadap manhaj salaf. Padahal kedua syaikh yang mulia tersebut (Syaikh Bin Baaz dan Ibnu Utsaimin) telah mengisi pengajian di jama’ah tersebut melalui telephon”)) (Al-Hats ‘alaa Ittiba As-Sunnah hal 26).Jama’ah yang dimaksud oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad adalah Yayasan Ihyaa At-Turots di Kuwait.Wahai al-ustadz, jelas ini merupakan bentuk pengingkaran dari Syaikh Abdul Muhsin atas sikap Jama’ah Tahdzir…. Lantas apakah kemarahan  syaikh harus diungkapkan dengan model marah-marah seperti jama’ah tahdzir seperti mengatakan “Berakal pendek”, “kambing terbang” “pembuat makar”,  dll ??!! Ketujuh belas : Perkataan al-ustadz ((Orang-orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda memang akan sulit memahami keagungan syariat membela agama dari segala penyimpangan sehingga tahdzir terhadap kesalahan-kesalahan jelas Rodja ditanggapi sangat jelek oleh Ustadz Firanda dengan ucapan))Ini yang saya harapkan dari Al-Ustadz, mentahdzir Radiorodja dengan kesalahan-kesalahan yang jelas. Tolong sebutkan kesalahan-kesalahan yang jelas tersebut wahai ustadz !! ditunggu !!.Adapun mengenai diputarnya clip video Syaikh Muhammad al-Arifi maka penjelasannya sebagai berikut :–         Yang memutar tersebut adalah salah seorang kru rodja bagian IT yang memasukan video tersebut tanpa sepengetahuan para ustadz. Berangkat dari husnudzon kru tersebut bahwa syaikh adalah adalah para dai ahlus sunnah karena tidak ada tabdi’ atau tahdzir yang masyhur sebelumnya.–         Lagipula sudah dilarang untuk diputar lagi klip tersebut, bukan karena tahdziran para jama’ah tahdzir, akan tetapi karena ada seorang ustadz yang melihat lantas mengingatkan. Jadi waktu al-Ustadz dzulqornain mentahdzir rodja video tersebut sudah tidak diputar. Kedelapan belas : Al-Ustadz dengan bangga berkata ((Alhamdulillah, Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar))Kritikan :Kalimat ringkas tahdziran tersebut isinya sebagai berikut :((“Saya tidak menasehatkan mendengarkan atau melihat TV Rodja, karena adanya orang-orang didalam radio ini, sebagian manhajnya tidak benar, dan sebagiannya tidak jelas, dan Alhamdulillah fasilitas untuk belajar agama sudah sangat banyak dimasa ini”))Inilah kalimat ringkas yang dibanggakan oleh al-Ustadz, padahal :–         Bukankah al-Ustadz memaksudkan tahdziran ini untuk para penuntut ilmu, adapun orang awam boleh mendengar rodja karena rodja ibarat orang fajir tapi memberi manfaat bagi orang awam??–         Bukankah yang seharusnya adalah sebaliknya : Justru orang awam yang tidak boleh mendengar rodja karena banyak syubhat dan orang awam tidak mengerti syubhat?. Justru para penuntut ilmu boleh mendengar rodja karena mereka mengerti syubhat??!!. Oleh karenanya fatwa Al-Muhaddits Al-ustadz al-Fadil Dzulqornain saya rasa terbalik, maaf !!–         Kalau memang orang awam boleh mendengar rodja lantas kenapa justru tahdziran ini tersebar di orang-orang awam??–         Bahkan tersebar dan ditangkap dengan senang oleh ahlul bid’ah??Yang terakhir : Tentunya tahdziran agar bermanfaat adalah dengan kejelasan bukan dengan kalimat ringkas yang kabur maknanya dan tidak jelas. Karenanya saya minta al-Ustadz untuk menjelaskan maksud perkataan tahdzirannya?Siapakah saja pengisi rodja yang sebagian manhajnya tidak benar dan sebagiannya tidak jelas??Apa ketidak benaran dan ketidak jelasan tersebut??, ditunggu masukannya al-Ustadz !!Saya tutup tanggapan ini dengan berita menarik dari artikel yang saya baca (wallahu A’lam dengan kebenarannya, dan sangat dimohon para ikhwan Jama’ah Tahdzir untuk mengecek kebenaran berita tersebut)- ternyata warga Dammaj tempat al-Ustadz Dzulqornain belajar telah menerima bantuan dari Yayasan Ihyaa At-Thurats. (silahkan lihat di http://gemaislam.com/berita/indonesia-news-menuitem/1610-bantuan-dana-yayasan-ihya-at-turats-kuwait-mengalir-untuk-warga-dammaj)Demikian pula ternyata Syaikh Muhammad ‘Umar Bazmuul duduk bareng dalam satu seminar keislaman bersama pimpinan Yayasan Ihyaa At-Turoots Kuwait, Thaariq Al-‘Iisaa :http://www.youtube.com/watch?v=HodznN8pEEIBagaimana ?. Apakah saudara-saduara kita dari Jama’ah Tahdziir mau mentahdzir Syaikh Bazmuul karena bermajelis dengan ahlul-bid’ah…., ataukah ada standar ganda??Akhukum Fillah Abu AbdilMuhsin Firanda.  

YESUS SEORANG TUHAN ?? (bag 3) – Pernyataan-Pernyataan Yesus Yang Menunjukkan Ia Adalah Manusia

Pertama : Yesus Menyebut Dirinya Sebagai GuruDalam Injil Matius edisi bahasa Indonesia (23 : 7-10) : ((Mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebutkan siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias)). Al-kitab versi Indonesia yang saya jadikan patokan adalah terbitan “Lembaga Al-Kitab Indonesia, Jakarta 2006, yang dikutip dari ALKITAB terjemahan baru (TB) LAI 1974Ternyata terjemahan injil dalam bahasa Indonesia kurang pas dengan injil dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab.Kalimat (Rabimu) dan (pemimpin) dalam injil edisi bahasa Inggris diterjemahkan dengan “your Master” (gurumu). Sebagaimana berikut : {23:7} And greetings in the markets, and to be called of men, Rabbi, Rabbi. {23:8} But be not ye called Rabbi: for one is your Master, [even] Christ; and all ye are brethren. {23:9} And call no [man] your father upon the earth: for one is your Father, which is in heaven. {23:10} Neither be ye called masters: for one is your Master, [even] Christ. (The King James Version of The Holy Bible, hal 572)Demikian juga ternyata terjemahan inggris sesuai dengan al-kitab dalam versi Arab, yang diterjemahkan dengan kata مُعَلِّمَكُمْ (gurumu):وَالتَّحِيَّاتِ فِي الأَسْوَاقِ، وَأَنْ يَدْعُوَهُمُ النَّاسُ: سَيِّدِي سَيِّدِي، وَأَمَّا أَنْتُمْ فَلاَ تُدْعَوْا سَيِّدِي، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُ، وَأَنْتُمْ جَمِيعًا إِخْوَةٌ، وَلاَ تَدْعُوا لَكُمْ أَبًا عَلَى الأَرْضِ، لأَنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ الَّذِي فِي السَّمَاوَاتِ، وَلاَ تُدْعَوْا مُعَلِّمِينَ، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُDalam terjemahan inggris dan Arab sangat jelas bahwa Yesus menamakan dirinya sebagai “Guru”. Yesus tidak menamakan dirinya sebagai Tuhan.Terjemahan Injil versi bahasa Arab dan Inggris sebagai berikut : ((Dan adapun kalian maka janganlah kalian dipanggil dengan tuanku, karena guru kalian satu yatu Al-Masih, dan kalian seluruhnya adalah bersaudara. Dan jangan kalian memanggil siapapun di atas muka bumi ini “bapa”, karena “Bapa” kalian hanya satu yang ada di langit/surga. Dan janganlah kalian dipanggil “para guru”, karena guru kalian satu yaitu Al-Masih))Sangat jelas dalam nas injil ini bahwa :–         Yesus membedakan antara dirinya dengan Bapa, dirinya sebagai guru, dan Bapa yang di langit sebagai tuhan dan esa. Jadi sangat jelas bahwa tugas Yesus adalah sebagai guru, dan ini sebagaimana tugas para nabi yang lainnya. Allah berfirman tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam :كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS Al-Baqoroh : 151)–         Yesus juga melarang murid-muridnya untuk memanggil siapapun di atas muka bumi ini dengan panggilan “Bapa”. Karena yang hanya berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa” adalah Allah yang ada di surga. Ini sangat jelas adalah pentauhidan Allah, dan Yesus tidak berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa”. Hal ini didukung dengan banyaknya nas dalam injil yang menyebutkan bahwa murid-murid Yesus memanggil Yesus dengan “guru”. Diantaranya :–         Matius versi Indonesia (19 : 16) : ((Ada seseorang datang kepada Yesus, dan berkata : “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?. Jawab Yesus : “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik. Tetapi jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah))Ternyata versi inggris dan versi Arab berbeda, dalam versi Indonesia ada kata-kata penting yang terhapus.Berikut versi Inggris dan Arab(({19:16} And, behold, one came and said unto him, Good Master, what good thing shall I do, that I may have eternal life? {19:17} And he said unto him, Why callest thou me good? [there is] none good but one, [that is,] God: but if thou wilt enter into life, keep the commandments.))((وإذا واحد تقدم وقال له “أيها المعلم الصالح، أي صلاح أعمل لتكون لي الحياة الأبدية؟”، فقال له “لماذا تدعوني صالحا ليس أحد صالحا إلا واحد وهو الله. ولكن إن أردت تدخل الحياة فاحفظ الوصايا))Artinya : ((Dan ada seseorang datang dan berkata kepada Yesus : “Wahai Guru yang baik, kebaikan apakah yang aku kerjakan agar aku mendapatkan kehidupan yang abadi?”. Maka Yesus berkata kepadanya : “Kenapa engkau memanggilku dengan “baik”, tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Allah. Akan tetapi jika engkau ingin masuk dalam kehidupan maka jagalah washiat-washiat))Bandingkanlah antara terjemahan versi Indonesia yang telah menghilangkan kalimat yang ditebalkan dan digaris bawahi. Padahal dalam versi Inggris dan Arab ada perkataan Yesus (([there is] none good but one, [that is,] God/لَيْسَ أَحَدٌ صَالِحًا إِلاَّ وَاحِدٌ وَهُوَ اللهُ/Tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Tuhan/Allah))–         Markus (9 : 38) : ((Kata Yohanes kepada Yesus : “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu karena ia bukan pengikut kita”))–         Markus (10 : 35) : ((Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya : “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan Kami”))–         Lukas (5 : 5) : ((Simon menjawab : “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”))–         Lukas (17 : 12-13) : ((Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak : “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”)) Kedua : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Adalah Utusan/Rasul          Ada nas-nas dalam injil-injil yang menunjukkan bahwa Yesus hanyalah seorang utusan Allah. Dan yang mengutus tentunya bukan yang diutus, sebagaimana hal jelas diketahui.–         Yohanes (13 : 20) : ((Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus aku))Pernyataan Yesus ini menunjukkan beliau adalah rasul/utusan Allah, maka mentaatinya sama dengan mentaati Allah yang mengutusnya. Dan ini sama dengan firman Allahمَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ      “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS An-Nisaa : 80)–         Matius (15 : 24) : ((Jawab Yesus : “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil)). Ini menunjukkan pengakuan Yesus bahwasanya beliau adalah seorang utusan. Kalau seandainya ia adalah tuhan maka bagaimana ia diutus??. Nas ini juga merupakan dalil bahwasanya risalah Yesus hanya khusus untuk Bani Israil–         Yohanes (3 : 34) : ((Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas))–         Yohanes (5 : 30) : Yesus berkata ((Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menurut kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku))–         Yohanes (5 : 37) : ((Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku))–         Yohanes (11 : 41-42) : Tatkala Yesus melakukan salah satu mukjizat menghidupkan orang mati maka : ((Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucapkan syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku“)). Sangat jelas Yesus bersyukur kepada Allah karena telah memberikannya kemampuan untuk melakukan mukjizat tersebut, karena kalau tidak ada bantuan Allah maka ia hanyalah manusia biasa yang tidak bisa melakukan mukjizat apapun. Ia melakukan mukjizat ini (menghidupkan orang mati) agar kaumnya mau percaya bahwa ia diutus oleh Allah. Dan inilah faedah mukjizat-mukjizat yang berlaku pada para rasul Allah yang lainnya. Ketiga : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Manusia Dan Anak Manusia          Lebih dari 70 nas-nas dalam injil yang menunjukan Yesus adalah manusia dan juga anak manusia. Diantara nas-nas tersebut :–         Matius (8 : 20) : ((Yesus berkata kepadanya : “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya))–         Matius (11 : 19) : ((Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum))–         Markus (9 : 12) : ((Jawab Yesus : “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan?))–         Yohanes (1 : 51) : ((Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia))Dan nas-nas di atas sangat tegas dan jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Manusia dan anak seorang manusia. Ia adalah seorang rasul, ia tidak menyampaikan kepada murid-muridnya kecuali kebenaran sebagaimana yang ia dengar dari Tuhannya Allah. Keempat : Yesus Berteriak Memanggil Bapa          Perkataan terakhir yang diucapkan oleh Yesus tatkala ia disalib –sebagaimana persangkaan kaum Kristen- menunjukkan akan kelemahannya dan ketidak mampuannya serta menunjukkan penghambaannya kepada Allah. Dalam injil Matius (27 : 46) : ((Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabkhtani?” Artinya : Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?))Ini adalah ucapan terakhir Yesus sebelum wafatnya beliau –jika benar- maka menunjukkan akan keterpisahan yang sempurna antara Yang Meninggalkan dengan Yang Ditinggalkan. Dan tentunya semua orang yang berakal tahu bahwa yang meninggalkan bukanlah yang ditinggalkan.Jika Yesus adalah Allah dalam dzat yang satu, kalau begitu siapakah yang diajak berbicara oleh Yesus dalam teriakan suaranya yang nyaring tersebut??, siapakah yang telah meninggalkan Yesus??. Apakah Yesus berteriak-teriak berbicara dengan dirinya sendiri, dan menganggap dirinya telah meninggalkan dirinya sendiri??, tentu ini adalah kegilaan tanpa diragukan lagi !!Dalam injil Lukas (23 : 46) : ((Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan Nyawa-Nya))Ini adalah bentuk pengakuan yang jelas dari Yesus bahwasanya ia hanyalah seorang manusia dan makhluk ciptaan yang menyerhakan ruhnya kepada Allah. Bagaimana bisa dikatakan ia adalah tuhan??!!Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 05-01-1435 H / 08-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

YESUS SEORANG TUHAN ?? (bag 3) – Pernyataan-Pernyataan Yesus Yang Menunjukkan Ia Adalah Manusia

Pertama : Yesus Menyebut Dirinya Sebagai GuruDalam Injil Matius edisi bahasa Indonesia (23 : 7-10) : ((Mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebutkan siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias)). Al-kitab versi Indonesia yang saya jadikan patokan adalah terbitan “Lembaga Al-Kitab Indonesia, Jakarta 2006, yang dikutip dari ALKITAB terjemahan baru (TB) LAI 1974Ternyata terjemahan injil dalam bahasa Indonesia kurang pas dengan injil dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab.Kalimat (Rabimu) dan (pemimpin) dalam injil edisi bahasa Inggris diterjemahkan dengan “your Master” (gurumu). Sebagaimana berikut : {23:7} And greetings in the markets, and to be called of men, Rabbi, Rabbi. {23:8} But be not ye called Rabbi: for one is your Master, [even] Christ; and all ye are brethren. {23:9} And call no [man] your father upon the earth: for one is your Father, which is in heaven. {23:10} Neither be ye called masters: for one is your Master, [even] Christ. (The King James Version of The Holy Bible, hal 572)Demikian juga ternyata terjemahan inggris sesuai dengan al-kitab dalam versi Arab, yang diterjemahkan dengan kata مُعَلِّمَكُمْ (gurumu):وَالتَّحِيَّاتِ فِي الأَسْوَاقِ، وَأَنْ يَدْعُوَهُمُ النَّاسُ: سَيِّدِي سَيِّدِي، وَأَمَّا أَنْتُمْ فَلاَ تُدْعَوْا سَيِّدِي، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُ، وَأَنْتُمْ جَمِيعًا إِخْوَةٌ، وَلاَ تَدْعُوا لَكُمْ أَبًا عَلَى الأَرْضِ، لأَنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ الَّذِي فِي السَّمَاوَاتِ، وَلاَ تُدْعَوْا مُعَلِّمِينَ، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُDalam terjemahan inggris dan Arab sangat jelas bahwa Yesus menamakan dirinya sebagai “Guru”. Yesus tidak menamakan dirinya sebagai Tuhan.Terjemahan Injil versi bahasa Arab dan Inggris sebagai berikut : ((Dan adapun kalian maka janganlah kalian dipanggil dengan tuanku, karena guru kalian satu yatu Al-Masih, dan kalian seluruhnya adalah bersaudara. Dan jangan kalian memanggil siapapun di atas muka bumi ini “bapa”, karena “Bapa” kalian hanya satu yang ada di langit/surga. Dan janganlah kalian dipanggil “para guru”, karena guru kalian satu yaitu Al-Masih))Sangat jelas dalam nas injil ini bahwa :–         Yesus membedakan antara dirinya dengan Bapa, dirinya sebagai guru, dan Bapa yang di langit sebagai tuhan dan esa. Jadi sangat jelas bahwa tugas Yesus adalah sebagai guru, dan ini sebagaimana tugas para nabi yang lainnya. Allah berfirman tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam :كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS Al-Baqoroh : 151)–         Yesus juga melarang murid-muridnya untuk memanggil siapapun di atas muka bumi ini dengan panggilan “Bapa”. Karena yang hanya berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa” adalah Allah yang ada di surga. Ini sangat jelas adalah pentauhidan Allah, dan Yesus tidak berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa”. Hal ini didukung dengan banyaknya nas dalam injil yang menyebutkan bahwa murid-murid Yesus memanggil Yesus dengan “guru”. Diantaranya :–         Matius versi Indonesia (19 : 16) : ((Ada seseorang datang kepada Yesus, dan berkata : “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?. Jawab Yesus : “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik. Tetapi jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah))Ternyata versi inggris dan versi Arab berbeda, dalam versi Indonesia ada kata-kata penting yang terhapus.Berikut versi Inggris dan Arab(({19:16} And, behold, one came and said unto him, Good Master, what good thing shall I do, that I may have eternal life? {19:17} And he said unto him, Why callest thou me good? [there is] none good but one, [that is,] God: but if thou wilt enter into life, keep the commandments.))((وإذا واحد تقدم وقال له “أيها المعلم الصالح، أي صلاح أعمل لتكون لي الحياة الأبدية؟”، فقال له “لماذا تدعوني صالحا ليس أحد صالحا إلا واحد وهو الله. ولكن إن أردت تدخل الحياة فاحفظ الوصايا))Artinya : ((Dan ada seseorang datang dan berkata kepada Yesus : “Wahai Guru yang baik, kebaikan apakah yang aku kerjakan agar aku mendapatkan kehidupan yang abadi?”. Maka Yesus berkata kepadanya : “Kenapa engkau memanggilku dengan “baik”, tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Allah. Akan tetapi jika engkau ingin masuk dalam kehidupan maka jagalah washiat-washiat))Bandingkanlah antara terjemahan versi Indonesia yang telah menghilangkan kalimat yang ditebalkan dan digaris bawahi. Padahal dalam versi Inggris dan Arab ada perkataan Yesus (([there is] none good but one, [that is,] God/لَيْسَ أَحَدٌ صَالِحًا إِلاَّ وَاحِدٌ وَهُوَ اللهُ/Tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Tuhan/Allah))–         Markus (9 : 38) : ((Kata Yohanes kepada Yesus : “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu karena ia bukan pengikut kita”))–         Markus (10 : 35) : ((Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya : “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan Kami”))–         Lukas (5 : 5) : ((Simon menjawab : “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”))–         Lukas (17 : 12-13) : ((Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak : “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”)) Kedua : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Adalah Utusan/Rasul          Ada nas-nas dalam injil-injil yang menunjukkan bahwa Yesus hanyalah seorang utusan Allah. Dan yang mengutus tentunya bukan yang diutus, sebagaimana hal jelas diketahui.–         Yohanes (13 : 20) : ((Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus aku))Pernyataan Yesus ini menunjukkan beliau adalah rasul/utusan Allah, maka mentaatinya sama dengan mentaati Allah yang mengutusnya. Dan ini sama dengan firman Allahمَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ      “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS An-Nisaa : 80)–         Matius (15 : 24) : ((Jawab Yesus : “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil)). Ini menunjukkan pengakuan Yesus bahwasanya beliau adalah seorang utusan. Kalau seandainya ia adalah tuhan maka bagaimana ia diutus??. Nas ini juga merupakan dalil bahwasanya risalah Yesus hanya khusus untuk Bani Israil–         Yohanes (3 : 34) : ((Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas))–         Yohanes (5 : 30) : Yesus berkata ((Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menurut kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku))–         Yohanes (5 : 37) : ((Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku))–         Yohanes (11 : 41-42) : Tatkala Yesus melakukan salah satu mukjizat menghidupkan orang mati maka : ((Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucapkan syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku“)). Sangat jelas Yesus bersyukur kepada Allah karena telah memberikannya kemampuan untuk melakukan mukjizat tersebut, karena kalau tidak ada bantuan Allah maka ia hanyalah manusia biasa yang tidak bisa melakukan mukjizat apapun. Ia melakukan mukjizat ini (menghidupkan orang mati) agar kaumnya mau percaya bahwa ia diutus oleh Allah. Dan inilah faedah mukjizat-mukjizat yang berlaku pada para rasul Allah yang lainnya. Ketiga : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Manusia Dan Anak Manusia          Lebih dari 70 nas-nas dalam injil yang menunjukan Yesus adalah manusia dan juga anak manusia. Diantara nas-nas tersebut :–         Matius (8 : 20) : ((Yesus berkata kepadanya : “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya))–         Matius (11 : 19) : ((Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum))–         Markus (9 : 12) : ((Jawab Yesus : “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan?))–         Yohanes (1 : 51) : ((Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia))Dan nas-nas di atas sangat tegas dan jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Manusia dan anak seorang manusia. Ia adalah seorang rasul, ia tidak menyampaikan kepada murid-muridnya kecuali kebenaran sebagaimana yang ia dengar dari Tuhannya Allah. Keempat : Yesus Berteriak Memanggil Bapa          Perkataan terakhir yang diucapkan oleh Yesus tatkala ia disalib –sebagaimana persangkaan kaum Kristen- menunjukkan akan kelemahannya dan ketidak mampuannya serta menunjukkan penghambaannya kepada Allah. Dalam injil Matius (27 : 46) : ((Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabkhtani?” Artinya : Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?))Ini adalah ucapan terakhir Yesus sebelum wafatnya beliau –jika benar- maka menunjukkan akan keterpisahan yang sempurna antara Yang Meninggalkan dengan Yang Ditinggalkan. Dan tentunya semua orang yang berakal tahu bahwa yang meninggalkan bukanlah yang ditinggalkan.Jika Yesus adalah Allah dalam dzat yang satu, kalau begitu siapakah yang diajak berbicara oleh Yesus dalam teriakan suaranya yang nyaring tersebut??, siapakah yang telah meninggalkan Yesus??. Apakah Yesus berteriak-teriak berbicara dengan dirinya sendiri, dan menganggap dirinya telah meninggalkan dirinya sendiri??, tentu ini adalah kegilaan tanpa diragukan lagi !!Dalam injil Lukas (23 : 46) : ((Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan Nyawa-Nya))Ini adalah bentuk pengakuan yang jelas dari Yesus bahwasanya ia hanyalah seorang manusia dan makhluk ciptaan yang menyerhakan ruhnya kepada Allah. Bagaimana bisa dikatakan ia adalah tuhan??!!Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 05-01-1435 H / 08-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Pertama : Yesus Menyebut Dirinya Sebagai GuruDalam Injil Matius edisi bahasa Indonesia (23 : 7-10) : ((Mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebutkan siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias)). Al-kitab versi Indonesia yang saya jadikan patokan adalah terbitan “Lembaga Al-Kitab Indonesia, Jakarta 2006, yang dikutip dari ALKITAB terjemahan baru (TB) LAI 1974Ternyata terjemahan injil dalam bahasa Indonesia kurang pas dengan injil dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab.Kalimat (Rabimu) dan (pemimpin) dalam injil edisi bahasa Inggris diterjemahkan dengan “your Master” (gurumu). Sebagaimana berikut : {23:7} And greetings in the markets, and to be called of men, Rabbi, Rabbi. {23:8} But be not ye called Rabbi: for one is your Master, [even] Christ; and all ye are brethren. {23:9} And call no [man] your father upon the earth: for one is your Father, which is in heaven. {23:10} Neither be ye called masters: for one is your Master, [even] Christ. (The King James Version of The Holy Bible, hal 572)Demikian juga ternyata terjemahan inggris sesuai dengan al-kitab dalam versi Arab, yang diterjemahkan dengan kata مُعَلِّمَكُمْ (gurumu):وَالتَّحِيَّاتِ فِي الأَسْوَاقِ، وَأَنْ يَدْعُوَهُمُ النَّاسُ: سَيِّدِي سَيِّدِي، وَأَمَّا أَنْتُمْ فَلاَ تُدْعَوْا سَيِّدِي، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُ، وَأَنْتُمْ جَمِيعًا إِخْوَةٌ، وَلاَ تَدْعُوا لَكُمْ أَبًا عَلَى الأَرْضِ، لأَنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ الَّذِي فِي السَّمَاوَاتِ، وَلاَ تُدْعَوْا مُعَلِّمِينَ، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُDalam terjemahan inggris dan Arab sangat jelas bahwa Yesus menamakan dirinya sebagai “Guru”. Yesus tidak menamakan dirinya sebagai Tuhan.Terjemahan Injil versi bahasa Arab dan Inggris sebagai berikut : ((Dan adapun kalian maka janganlah kalian dipanggil dengan tuanku, karena guru kalian satu yatu Al-Masih, dan kalian seluruhnya adalah bersaudara. Dan jangan kalian memanggil siapapun di atas muka bumi ini “bapa”, karena “Bapa” kalian hanya satu yang ada di langit/surga. Dan janganlah kalian dipanggil “para guru”, karena guru kalian satu yaitu Al-Masih))Sangat jelas dalam nas injil ini bahwa :–         Yesus membedakan antara dirinya dengan Bapa, dirinya sebagai guru, dan Bapa yang di langit sebagai tuhan dan esa. Jadi sangat jelas bahwa tugas Yesus adalah sebagai guru, dan ini sebagaimana tugas para nabi yang lainnya. Allah berfirman tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam :كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS Al-Baqoroh : 151)–         Yesus juga melarang murid-muridnya untuk memanggil siapapun di atas muka bumi ini dengan panggilan “Bapa”. Karena yang hanya berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa” adalah Allah yang ada di surga. Ini sangat jelas adalah pentauhidan Allah, dan Yesus tidak berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa”. Hal ini didukung dengan banyaknya nas dalam injil yang menyebutkan bahwa murid-murid Yesus memanggil Yesus dengan “guru”. Diantaranya :–         Matius versi Indonesia (19 : 16) : ((Ada seseorang datang kepada Yesus, dan berkata : “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?. Jawab Yesus : “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik. Tetapi jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah))Ternyata versi inggris dan versi Arab berbeda, dalam versi Indonesia ada kata-kata penting yang terhapus.Berikut versi Inggris dan Arab(({19:16} And, behold, one came and said unto him, Good Master, what good thing shall I do, that I may have eternal life? {19:17} And he said unto him, Why callest thou me good? [there is] none good but one, [that is,] God: but if thou wilt enter into life, keep the commandments.))((وإذا واحد تقدم وقال له “أيها المعلم الصالح، أي صلاح أعمل لتكون لي الحياة الأبدية؟”، فقال له “لماذا تدعوني صالحا ليس أحد صالحا إلا واحد وهو الله. ولكن إن أردت تدخل الحياة فاحفظ الوصايا))Artinya : ((Dan ada seseorang datang dan berkata kepada Yesus : “Wahai Guru yang baik, kebaikan apakah yang aku kerjakan agar aku mendapatkan kehidupan yang abadi?”. Maka Yesus berkata kepadanya : “Kenapa engkau memanggilku dengan “baik”, tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Allah. Akan tetapi jika engkau ingin masuk dalam kehidupan maka jagalah washiat-washiat))Bandingkanlah antara terjemahan versi Indonesia yang telah menghilangkan kalimat yang ditebalkan dan digaris bawahi. Padahal dalam versi Inggris dan Arab ada perkataan Yesus (([there is] none good but one, [that is,] God/لَيْسَ أَحَدٌ صَالِحًا إِلاَّ وَاحِدٌ وَهُوَ اللهُ/Tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Tuhan/Allah))–         Markus (9 : 38) : ((Kata Yohanes kepada Yesus : “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu karena ia bukan pengikut kita”))–         Markus (10 : 35) : ((Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya : “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan Kami”))–         Lukas (5 : 5) : ((Simon menjawab : “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”))–         Lukas (17 : 12-13) : ((Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak : “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”)) Kedua : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Adalah Utusan/Rasul          Ada nas-nas dalam injil-injil yang menunjukkan bahwa Yesus hanyalah seorang utusan Allah. Dan yang mengutus tentunya bukan yang diutus, sebagaimana hal jelas diketahui.–         Yohanes (13 : 20) : ((Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus aku))Pernyataan Yesus ini menunjukkan beliau adalah rasul/utusan Allah, maka mentaatinya sama dengan mentaati Allah yang mengutusnya. Dan ini sama dengan firman Allahمَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ      “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS An-Nisaa : 80)–         Matius (15 : 24) : ((Jawab Yesus : “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil)). Ini menunjukkan pengakuan Yesus bahwasanya beliau adalah seorang utusan. Kalau seandainya ia adalah tuhan maka bagaimana ia diutus??. Nas ini juga merupakan dalil bahwasanya risalah Yesus hanya khusus untuk Bani Israil–         Yohanes (3 : 34) : ((Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas))–         Yohanes (5 : 30) : Yesus berkata ((Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menurut kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku))–         Yohanes (5 : 37) : ((Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku))–         Yohanes (11 : 41-42) : Tatkala Yesus melakukan salah satu mukjizat menghidupkan orang mati maka : ((Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucapkan syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku“)). Sangat jelas Yesus bersyukur kepada Allah karena telah memberikannya kemampuan untuk melakukan mukjizat tersebut, karena kalau tidak ada bantuan Allah maka ia hanyalah manusia biasa yang tidak bisa melakukan mukjizat apapun. Ia melakukan mukjizat ini (menghidupkan orang mati) agar kaumnya mau percaya bahwa ia diutus oleh Allah. Dan inilah faedah mukjizat-mukjizat yang berlaku pada para rasul Allah yang lainnya. Ketiga : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Manusia Dan Anak Manusia          Lebih dari 70 nas-nas dalam injil yang menunjukan Yesus adalah manusia dan juga anak manusia. Diantara nas-nas tersebut :–         Matius (8 : 20) : ((Yesus berkata kepadanya : “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya))–         Matius (11 : 19) : ((Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum))–         Markus (9 : 12) : ((Jawab Yesus : “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan?))–         Yohanes (1 : 51) : ((Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia))Dan nas-nas di atas sangat tegas dan jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Manusia dan anak seorang manusia. Ia adalah seorang rasul, ia tidak menyampaikan kepada murid-muridnya kecuali kebenaran sebagaimana yang ia dengar dari Tuhannya Allah. Keempat : Yesus Berteriak Memanggil Bapa          Perkataan terakhir yang diucapkan oleh Yesus tatkala ia disalib –sebagaimana persangkaan kaum Kristen- menunjukkan akan kelemahannya dan ketidak mampuannya serta menunjukkan penghambaannya kepada Allah. Dalam injil Matius (27 : 46) : ((Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabkhtani?” Artinya : Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?))Ini adalah ucapan terakhir Yesus sebelum wafatnya beliau –jika benar- maka menunjukkan akan keterpisahan yang sempurna antara Yang Meninggalkan dengan Yang Ditinggalkan. Dan tentunya semua orang yang berakal tahu bahwa yang meninggalkan bukanlah yang ditinggalkan.Jika Yesus adalah Allah dalam dzat yang satu, kalau begitu siapakah yang diajak berbicara oleh Yesus dalam teriakan suaranya yang nyaring tersebut??, siapakah yang telah meninggalkan Yesus??. Apakah Yesus berteriak-teriak berbicara dengan dirinya sendiri, dan menganggap dirinya telah meninggalkan dirinya sendiri??, tentu ini adalah kegilaan tanpa diragukan lagi !!Dalam injil Lukas (23 : 46) : ((Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan Nyawa-Nya))Ini adalah bentuk pengakuan yang jelas dari Yesus bahwasanya ia hanyalah seorang manusia dan makhluk ciptaan yang menyerhakan ruhnya kepada Allah. Bagaimana bisa dikatakan ia adalah tuhan??!!Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 05-01-1435 H / 08-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Pertama : Yesus Menyebut Dirinya Sebagai GuruDalam Injil Matius edisi bahasa Indonesia (23 : 7-10) : ((Mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebutkan siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias)). Al-kitab versi Indonesia yang saya jadikan patokan adalah terbitan “Lembaga Al-Kitab Indonesia, Jakarta 2006, yang dikutip dari ALKITAB terjemahan baru (TB) LAI 1974Ternyata terjemahan injil dalam bahasa Indonesia kurang pas dengan injil dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab.Kalimat (Rabimu) dan (pemimpin) dalam injil edisi bahasa Inggris diterjemahkan dengan “your Master” (gurumu). Sebagaimana berikut : {23:7} And greetings in the markets, and to be called of men, Rabbi, Rabbi. {23:8} But be not ye called Rabbi: for one is your Master, [even] Christ; and all ye are brethren. {23:9} And call no [man] your father upon the earth: for one is your Father, which is in heaven. {23:10} Neither be ye called masters: for one is your Master, [even] Christ. (The King James Version of The Holy Bible, hal 572)Demikian juga ternyata terjemahan inggris sesuai dengan al-kitab dalam versi Arab, yang diterjemahkan dengan kata مُعَلِّمَكُمْ (gurumu):وَالتَّحِيَّاتِ فِي الأَسْوَاقِ، وَأَنْ يَدْعُوَهُمُ النَّاسُ: سَيِّدِي سَيِّدِي، وَأَمَّا أَنْتُمْ فَلاَ تُدْعَوْا سَيِّدِي، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُ، وَأَنْتُمْ جَمِيعًا إِخْوَةٌ، وَلاَ تَدْعُوا لَكُمْ أَبًا عَلَى الأَرْضِ، لأَنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ الَّذِي فِي السَّمَاوَاتِ، وَلاَ تُدْعَوْا مُعَلِّمِينَ، لأَنَّ مُعَلِّمَكُمْ وَاحِدٌ الْمَسِيحُDalam terjemahan inggris dan Arab sangat jelas bahwa Yesus menamakan dirinya sebagai “Guru”. Yesus tidak menamakan dirinya sebagai Tuhan.Terjemahan Injil versi bahasa Arab dan Inggris sebagai berikut : ((Dan adapun kalian maka janganlah kalian dipanggil dengan tuanku, karena guru kalian satu yatu Al-Masih, dan kalian seluruhnya adalah bersaudara. Dan jangan kalian memanggil siapapun di atas muka bumi ini “bapa”, karena “Bapa” kalian hanya satu yang ada di langit/surga. Dan janganlah kalian dipanggil “para guru”, karena guru kalian satu yaitu Al-Masih))Sangat jelas dalam nas injil ini bahwa :–         Yesus membedakan antara dirinya dengan Bapa, dirinya sebagai guru, dan Bapa yang di langit sebagai tuhan dan esa. Jadi sangat jelas bahwa tugas Yesus adalah sebagai guru, dan ini sebagaimana tugas para nabi yang lainnya. Allah berfirman tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam :كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS Al-Baqoroh : 151)–         Yesus juga melarang murid-muridnya untuk memanggil siapapun di atas muka bumi ini dengan panggilan “Bapa”. Karena yang hanya berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa” adalah Allah yang ada di surga. Ini sangat jelas adalah pentauhidan Allah, dan Yesus tidak berhak untuk dipanggil sebagai “Bapa”. Hal ini didukung dengan banyaknya nas dalam injil yang menyebutkan bahwa murid-murid Yesus memanggil Yesus dengan “guru”. Diantaranya :–         Matius versi Indonesia (19 : 16) : ((Ada seseorang datang kepada Yesus, dan berkata : “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?. Jawab Yesus : “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik. Tetapi jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah))Ternyata versi inggris dan versi Arab berbeda, dalam versi Indonesia ada kata-kata penting yang terhapus.Berikut versi Inggris dan Arab(({19:16} And, behold, one came and said unto him, Good Master, what good thing shall I do, that I may have eternal life? {19:17} And he said unto him, Why callest thou me good? [there is] none good but one, [that is,] God: but if thou wilt enter into life, keep the commandments.))((وإذا واحد تقدم وقال له “أيها المعلم الصالح، أي صلاح أعمل لتكون لي الحياة الأبدية؟”، فقال له “لماذا تدعوني صالحا ليس أحد صالحا إلا واحد وهو الله. ولكن إن أردت تدخل الحياة فاحفظ الوصايا))Artinya : ((Dan ada seseorang datang dan berkata kepada Yesus : “Wahai Guru yang baik, kebaikan apakah yang aku kerjakan agar aku mendapatkan kehidupan yang abadi?”. Maka Yesus berkata kepadanya : “Kenapa engkau memanggilku dengan “baik”, tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Allah. Akan tetapi jika engkau ingin masuk dalam kehidupan maka jagalah washiat-washiat))Bandingkanlah antara terjemahan versi Indonesia yang telah menghilangkan kalimat yang ditebalkan dan digaris bawahi. Padahal dalam versi Inggris dan Arab ada perkataan Yesus (([there is] none good but one, [that is,] God/لَيْسَ أَحَدٌ صَالِحًا إِلاَّ وَاحِدٌ وَهُوَ اللهُ/Tidak seorangpun yang baik kecuali satu, dialah Tuhan/Allah))–         Markus (9 : 38) : ((Kata Yohanes kepada Yesus : “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu karena ia bukan pengikut kita”))–         Markus (10 : 35) : ((Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya : “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan Kami”))–         Lukas (5 : 5) : ((Simon menjawab : “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”))–         Lukas (17 : 12-13) : ((Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak : “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”)) Kedua : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Adalah Utusan/Rasul          Ada nas-nas dalam injil-injil yang menunjukkan bahwa Yesus hanyalah seorang utusan Allah. Dan yang mengutus tentunya bukan yang diutus, sebagaimana hal jelas diketahui.–         Yohanes (13 : 20) : ((Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus aku))Pernyataan Yesus ini menunjukkan beliau adalah rasul/utusan Allah, maka mentaatinya sama dengan mentaati Allah yang mengutusnya. Dan ini sama dengan firman Allahمَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ      “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS An-Nisaa : 80)–         Matius (15 : 24) : ((Jawab Yesus : “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil)). Ini menunjukkan pengakuan Yesus bahwasanya beliau adalah seorang utusan. Kalau seandainya ia adalah tuhan maka bagaimana ia diutus??. Nas ini juga merupakan dalil bahwasanya risalah Yesus hanya khusus untuk Bani Israil–         Yohanes (3 : 34) : ((Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas))–         Yohanes (5 : 30) : Yesus berkata ((Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menurut kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku))–         Yohanes (5 : 37) : ((Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku))–         Yohanes (11 : 41-42) : Tatkala Yesus melakukan salah satu mukjizat menghidupkan orang mati maka : ((Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucapkan syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku“)). Sangat jelas Yesus bersyukur kepada Allah karena telah memberikannya kemampuan untuk melakukan mukjizat tersebut, karena kalau tidak ada bantuan Allah maka ia hanyalah manusia biasa yang tidak bisa melakukan mukjizat apapun. Ia melakukan mukjizat ini (menghidupkan orang mati) agar kaumnya mau percaya bahwa ia diutus oleh Allah. Dan inilah faedah mukjizat-mukjizat yang berlaku pada para rasul Allah yang lainnya. Ketiga : Yesus Menyatakan Bahwa Ia Manusia Dan Anak Manusia          Lebih dari 70 nas-nas dalam injil yang menunjukan Yesus adalah manusia dan juga anak manusia. Diantara nas-nas tersebut :–         Matius (8 : 20) : ((Yesus berkata kepadanya : “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya))–         Matius (11 : 19) : ((Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum))–         Markus (9 : 12) : ((Jawab Yesus : “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan?))–         Yohanes (1 : 51) : ((Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia))Dan nas-nas di atas sangat tegas dan jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Manusia dan anak seorang manusia. Ia adalah seorang rasul, ia tidak menyampaikan kepada murid-muridnya kecuali kebenaran sebagaimana yang ia dengar dari Tuhannya Allah. Keempat : Yesus Berteriak Memanggil Bapa          Perkataan terakhir yang diucapkan oleh Yesus tatkala ia disalib –sebagaimana persangkaan kaum Kristen- menunjukkan akan kelemahannya dan ketidak mampuannya serta menunjukkan penghambaannya kepada Allah. Dalam injil Matius (27 : 46) : ((Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabkhtani?” Artinya : Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?))Ini adalah ucapan terakhir Yesus sebelum wafatnya beliau –jika benar- maka menunjukkan akan keterpisahan yang sempurna antara Yang Meninggalkan dengan Yang Ditinggalkan. Dan tentunya semua orang yang berakal tahu bahwa yang meninggalkan bukanlah yang ditinggalkan.Jika Yesus adalah Allah dalam dzat yang satu, kalau begitu siapakah yang diajak berbicara oleh Yesus dalam teriakan suaranya yang nyaring tersebut??, siapakah yang telah meninggalkan Yesus??. Apakah Yesus berteriak-teriak berbicara dengan dirinya sendiri, dan menganggap dirinya telah meninggalkan dirinya sendiri??, tentu ini adalah kegilaan tanpa diragukan lagi !!Dalam injil Lukas (23 : 46) : ((Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan Nyawa-Nya))Ini adalah bentuk pengakuan yang jelas dari Yesus bahwasanya ia hanyalah seorang manusia dan makhluk ciptaan yang menyerhakan ruhnya kepada Allah. Bagaimana bisa dikatakan ia adalah tuhan??!!Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 05-01-1435 H / 08-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 9)? – Tanggapan Buat Al-Ustadz Dzulqornain hafizohulloh

Meskipun bukan pada permasalahan ini akan tetapi ini sebagai tanggapan atas kritikan ustadz Dzulqornain yang ingin menepis kenistaan pemikiran saya.  :Pertama : Perkataan beliau ((Ana telah mengingatkan antum masalah Abu Nida, tapi masih saja hal yang sama berulang dengan keberadaan Syaikh Sa’ad memberi ceramah di Jamilurrahman, seakan-akan tidak ada kecemburuan terhadap suatu hal yang membahayakan dakwah salafiyah. Wallahul Musta’an.)). Hal ini telah ana jelaskan dalam tulisan ana di (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan“) dan. Dan Syaikh Sa’ad maupun sykh Abdurrozzaq tidak pernah ceramah di jamilurrahman. Akan tetapi Ustadz Abu Nida sendiri yang langsung mengundang Syaikh Sa’ad ke pondok Bin Baaz. Kalau memang jamilurahan dan pondok Bin Baaz sesat tolong antum nasehati Syaikh Sa’ad. Sekalian juga nasehati beliau yang nekat mengisi kajian berbarengan dengan Syaikh Ali Hasan Baarokallahu fiik  Kedua : Perkataan al-Ustadz ((Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar, dan Saya tidak perlu membuat bantahan untuk Ustadz Firanda lagi karena memang dari awal Saya tidak pernah berselera untuk melayaninya.))Ini menunjukkan memang al-Ustadz sepakat dengan Syaikh Robi’ dan juga syaikh-syaikhnya yang lain untuk bahagia mentahdzir radiorodja. Tapi anehnya ustadz mengatakan bahwa tahdziran tersebut diperuntukan bukan untuk orang awam, orang awam sebaiknya mendengar rodja. Namun ternyata tahdziran tersebut justru tersebar ke orang awam. Ketiga :  Perkataan al-Ustadz ((Tentang sebagian penyelenggara umrah gratis di Madinah yang merupakan asuhan pihak yang bermanhaj tidak jelas, Saya mempertanyakan mengapa Ustadz Firanda menjadi penerjemah bagi sebagian orang sururiyyin yang merupakan syaikh pemandu acara umrah itu? Sebagian Ustadz menjawab, “Itu hanya Firanda. Kami tidak ikut di dalamnya, dan kami telah mengingatkan Firanda tentang hal tersebut.”))Kritikan :–         Ini adalah umroh yang diadakan oleh Maktab Jaliyaat di Madinah. Dan saya kebetulan tatkala itu menjadi dai di Maktab tersebut, dan tentunya maktab ini dibawah naungan pemerintah, dan dibawah naungan mudir Jami’ah Islamiyah serta Imam al-Masjid Nabawi Asy-Syaikh DR. Abdul Muhsin Al-Qoosim, dan juga sempat di Isyrof oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr. Jika dinilai manhajnya tidak jelas..yaa itu terserah al-Ustadz.–         Dari mana ustadz mendapatkan info ini?? Ternyata dari muridnya (anggota Jama’ah Tahdzir) yang juga ikut serta dalam umroh tersebut. Saya jadi bingung, muridnya ini ikut menikmati umroh gratis, lantas ikut memberi info untuk mencela umroh yang ia ikuti juga??!!–         Siapa Syaikh Sururi yang saya terjemahkan tersebut??, tolong sebutkan siapa namanya dan apa sururiahnya?? Agar ustadz tidak dituduh suka menuduh tanpa bukti.–         Ceramah apa yang saya terjemahkan??, ternyata ceramah tentang adab umroh dan ikhlas dalam beribadah?? Keempat : Al-Ustadz berkata ((ada sedikit kesalahan terjemah dari Ustadz Firanda, yaitu ucapan Syaikh,الشيخ : تعاونوا مع ذي القرنين، هو رجل طيب وإن كان كما تقول أنه متشدد شويOleh Ustadz Firanda diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqornan, ia adalah orang yang baik, meskipun dia agak keras -sebagaimana kau katakan- “.”Seharusnya diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqarnain, ia adalah orang yang baik. Kalau pada (Dzulqarnain) memang terdapat hal seperti apa yang kamu katakan, sesungguhnya dia agak keras.”.”Saya kira semua orang bisa membedakan antara dua ibarat.Kalau menurut terjemahan Ustadz Firanda, Syaikh sudah menyetujui laporan Ustadz Firanda dan menghukumi Dzulqarnain sebagai orang yang agak keras.Kalau menurut terjemahan Saya, Syaikh masih menunggu kepastian kebenaran laporan Ustadz Firanda. Andaikata laporan tersebut benar, berarti Dzulqarnain agak keras)).Kritikan : Saya rasa semua orang bisa menilai siapa yang salah menerjemah. Kalau terjemah versi al-Ustadz maka seharusnya Syaikh berkata فإنه متشدد, dengan tambahan huru faa. Meskipun al-Ustadz telah menasehati saya untuk belajar kembali bahasa Arab, maka saya katakan “Mari kita berdua bersama-sama belajar bahasa Arab” Kelima : Al-Ustadz berkata : ((Ustadz Firanda menyebutkan salah satu jawaban Saya:“Tanya:Ustadz ana punya majalah yang di kelola oleh dai-dai ihya At-Turats, tapi dalam masalah ekonomi saja. Bolehkah mengambil ilmu ekonomi dari mereka?Jawab:“Ini Masalah mengambil ilmu dari ahlul Bid’ah atau orang-orang yang mendukung  at-Turats, berada diatas pemikiran mereka, ini adalah dai-dai yang tidak berjalan diatas jalan Sunnah, maka tidak boleh seorang mengambil dari ilmu Sunnah dalam bidang apapun dari orang-orang yang tidak berada diatas sunnah, Bukan berartinya seluruh yang disebut ahlul Bid’ah itu pasti salah, tidak, tapi para Ulama Sepakat untuk memboikot ahlul bid’ah dan tidak menganjurkan manusia belajar, sebab mungkin saja ada hal-hal yang mereka masukkan disela-sela pembahasan mereka yang lain dianggap bagus.Kemudian dari sisi yang kedua mengenai masalah ilmu ekonomi sekarang, semua orang ingin bicara masalah ekonomi, semuanya ngambil dari para ulama ahlussunnah, ngapain ngambil dari orang-orang yang bermasalah, ilmu apa saja ada dari kalangan para ulama ahlussunnah, ada diterangkan dan tidak perlu seseorang menjatuhkan dirinya kedalam bahaya“”Kemudian Ustadz Firanda berkomentar,“Majalah yang dimaksud oleh penanya tentunya majalah yang sudah tersohor, yaitu majalah “Pengusaha Muslim”. Apakah majalah tersebut dikelola oleh para dai Ihyaa At-Turoots??, tentunya ini sebuah kebohongan nyata di siang bolong. Majalah ini sama sekali tidak dibantu oleh yayasan Ihyaa At-Turoots, bahkan dibiayai oleh seorang sahabat saya, seorang pengusaha, yang tentu ia tidak ingin disebutkan namanya di sini. –semoga Allah menjaga keikhlasannya-”TanggapanDalam pertanyaan tersebut, nama majalah tidak disebutkan. Oleh karena itu, dari mana beliau mengetahui maksud Saya dan maksud si Penanya?))Krtikan :–         Jika bukan majalah “Pengusaha Muslim” lantas majalah apa dong yang khusus ekonomi?, apakah al-Ustadz tidak tahu waqi’ medan dakwah di Indonesia??.–         Ternyata juga majalah pengusaha muslim tidak dikelola oleh dai-dai Ihyaa At-Turots. (Kecuali yang dimaksud dengan dengan dai at-Turots adalah yang tidak semanhaj dengan Jama’ah Tahdzir). Seharusnya al-Ustadz –sebagai ustad yang mengerti tentang medan dakwah- bertanya ; Majalah apakah itu?, siapa dai-dainya?–         Jawaban ustadz juga menunjukan semua da’i at-turots adalah ahul bid’ah, tidak berjalan di atas sunnah, apakah benar demikian?–         Thoyyib jika memang al-Ustadz tidak memaksudkan majalah pengusaha muslim sekarang saya bertanya “Apa hukumnya membaca majalah pengusaha muslim” Keenam : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak bisa memahami dari mana Ustadz Firanda menyangka bahwa Syaikh Shalih memuji Ihyâ` At-Turâts. Dari tanya-jawab yang disebutkan, tidak ada pujian Syaikh Shalih terhadap Ihyâ` At-Turâts. Yang ada hanyalah ucapan Syaikh, “Yang membantu kalian, ambillah bantuannya dan manfaatkan bantuan tersebut”. Semua orang memahami bahwa pembolehan mengambil dana bukanlah pujian))Krtikan : Berikut pujian beliau, al-‘Allâmah Shâlih Fauzân al-Fauzân hafizhahullâhu :فقد اطلعت على نسخة من منهج جمعية إحياء التراث الاسلامي للدعوة والتوجيه فوجدته منهج صحيحا يتماشى مع الكتاب والسنة وما تحتاجه الأمة فجزى الله القائمين على هذه الجمعية خير جزاء وأمدهم بنصره وتوفيقه .“Saya telah menelaah nuskhah (copy) yang berisi manhaj Perhimpunan Ihyâ` at-Turâts al-Islâmî lid-Da’wah wat-Taujîh dan saya dapati sebagai suatu manhaj yang benar, yang berjalan selaras di atas al-Kitâb (al-Qur`ân) dan as-Sunnah, dan dibutuhkan oleh umat. Semoga Allôh memberi balasan kepada para pengurus perhimpunan ini dengan sebaik-baik balasan, dan semoga Allôh menolong mereka dengan pertolongan dan taufiq-Nya.”اطلعت على كثير من المشاريع الخيرية التي تقوم بها الجمعية وإني قد سررت بذلك وأسال الله لهم التوفيق والسداد .“Saya telah melihat banyak dari proyek-proyek sosial yang dilaksanakan oleh jum’iyah (Ihyâ`ut Turâts), dan saya merasa gembira dengan hal tersebut. Saya mohon kepada Allôh agar memberikan taufîq dan kelurusan bagi mereka.Adapun link nya telah ana cantumkan di (http://www.turathkw.com/topics/current/index.php?cat_id=13)Al-Ustadz Dzulqornain tatkala ana berdialog langsung dengan beliau, ia menyatakan bahwa Syaikh Sholeh Al-Fauzan mengetahui penyimpangan Ihyaa At-Turots, maka saya berkata, “Jika Syaikh tahu lantas kenapa beliu tidak mentahdzir?, malah memuji?, malah membolehkan ambil dana??. Tolong datangkan satu saja tahdziran syaikh sholeh Al-Fauzan terhadap At-Turots???Akui saja kalau al-ustadz berbeda dengan syaikh Sholeh Al-Fauzan tentang masalah at-Turots.Dan jika firanda ternyata kurang akal…, maka berarti boleh dong firanda bertaqlid kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzan?? Juga bertaqlid kepada Syaikh Abdul Muhsin dan Syaikh Abdurrozzaq?? Kenapa mesti sewot !! Ketujuh : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak mengetahui Syaikh Al-Fauzan Menyalahkan keritikan saya terhadap Rodja. Juga ada kalam dari Syaikh Rabi’))Kritikan : Al-Ustadz seharusnya paham sindiran Syaikh Sholeh Al-Fauzan dalam jawabannya untuk tidak sibuk mencela yayasan dan para dai ??. Jadi maksud Syaikh Sholeh Al-Fauzan apa kalau bagitu??, ini bukan kritikan terhadap antum??.Demikian juga hal ini menunjukan al-Ustadz setuju dengan tahdzir Syaikh Robi terhadap Radiorodja, sebagaimana yang digembirakan oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh dan al-Ustadz Askari. Dan mengenai hal ini telah saya kritik. Kedelapan : Perkataan al-Ustadz ((Amatlah mengherankan bila seseorang yang merasa dirinya sangat berilmu, sudah berada pada kedudukan ulama))Kritikan : Alhamdulillah mudah-mudahan saya tidak merasa demikian. Maaf, dimanakah saya pernah menyatakan demikian?. Adapun kalau saya mengkritik Syaikh Robi’ maka telah saya jelaskan berulang-ulang 2 kesalahan fatal syaikh Robi’. Dan saya masih menunggu pembelaan al-Ustadz Dzulqornain cs terhadap Syaikh Robi’, sebagai masukan bagi saya.Ataukah tidak sebalikan al-Ustdaz yang malah merasa berilmu yang sangat nampak dari perendahannya (tanpa bantahan) kepada Syaikh Ali Hasan?? Kesembilan : Mengenai Radiorodja ibarat orang fajir?. Saya telah mengambil dzohir perkataan al-Ustadz bahwa radiorodja Fajir. Ini kesalahan saya, ternyata maksud al-Ustadz bukanlah makna dzohirnya.Akan tetapi mengkiaskan radiorodja dengan orang fajir bagaimanapun tetap bermakna konotasi negatif, meskipun tidak melazimkan para pengisi radiorodja adalah orang-orang fajir, tapi intinya ada nilai kesamaan atau yang disebut dengan ‘illah jaami’ah. Nah saya sekarang ingin bertanya kepada ustadz, lantas apa sisi al-ustadz menyamakan radiorodja dengan orang fajir? Kesepuluh : Al-Ustadz menyatakan Syaikh Muhammad Hasan diputar videonya di Radiorodja, serta syaikh-syaikh menyimpang yang lain…, bukankah ini kedustaan al-Ustadz?. Kalau bukan dusta tolong datangkan buktinya. Selain itu siapa lagi syaikh-syaikh yang menyimpang selain Syaikh al-Arifi yang diputar videonya di Radiorodja?Terakhir kita masih menunggu apa sih kritikan utama yang mendasari al-Ustadz begitu semangat mentahdzir Radiorodja??. Kita ingin bukti yang nyata bukan yang dipaksa-paksakan apalagi kedustaan, hingga nantinya bisa menjadi masukan bagi Radiorodja. Toh Radiorodja pasti ada kesalahannya, namanya orang berdakwah dan banyak ceramah pasti tergelincir…akan tetapi tolong jelaskan ketergelinciran radiorodja?? Demikian dulu catatan ringan atas tanggapan al-Ustadz Dzulqornain, akan tetapi semua catatan tersebut bukan masalah pokok dan inti. Saya lebih tertarik untuk membahas masalah manhaj yang saya utarakan, seperti aqidah syaikh Robi’ bahwa wajib membenci mubtadi’ muslim 100 persen, dan para salaf dahulu menghajr tanpa melihat maslahat. Ini yang saya lebih nantikan, karena inilah yang sangat berpengaruh pada sifat keras saudara-saudara kita dari jama’ah tahdzir. Demikian juga kesalahan firanda dalam persalahan muwaazanah, itu juga sangat saya nantikan, dan saya harap al-Ustadz Dzulqornain mendahulukan permasalahan ilmiyah ini setelah permasalahan Syaikh Robi’ agar dialog menjadi focus, bukan katanya dan katanya…Karena kalau hanya sekedar katanya dan katanya tentang al-ustadz Dzulqornain maka banyak info yang telah masuk kepada saya, hanya saja tidak pantas untuk saya sampaikan di forum ini karena tidak berkaitan dengan pembahasan ilmiyah.Sungguh tanggapan berupa pembentukan opini maka mungkin saya tidak berminat lagi. Baarokallahu fiikum.Atau jika al-Ustadz Dzulqornain berkenan maka saya mengajak Al-Ustadz berdialog terbuka bisa disiarkan secara live dan diikuti oleh seluruh salafiyin…, atau jika berkenan juga kita majukan di meja persidangan karena al-Ustadz telah mencemarkan nama baik Radiorodja!!. Sungguh saya melihat manfaat yang dilakukan oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili tatkala menantang Syaikh Muhammad bin hadi untuk berdialog terbuka secara live, akan tetapi tidak ditanggapi oleh beliau. Akhirnya Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily  mengadukan syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkholi, sehingga sekarang fedahnya adalah Syaikh Muhammad pun terdiam dan tidak lagi sibuk mentahdzir beliau, karena setiap tahdziran yang tanpa hujjah akan menjadi boomerang bagi beliau.Semoga Allah menyatukan hati-hati para salafiyin, menjadikan mereka tersibukan untuk membantah ahlul bid’ah bukan untuk mencari-cari kesalahan-kesalahan saudara-saudaranya, lalu mentahdzir dan mentabdi’.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 03-01-1435 H / 06-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 9)? – Tanggapan Buat Al-Ustadz Dzulqornain hafizohulloh

Meskipun bukan pada permasalahan ini akan tetapi ini sebagai tanggapan atas kritikan ustadz Dzulqornain yang ingin menepis kenistaan pemikiran saya.  :Pertama : Perkataan beliau ((Ana telah mengingatkan antum masalah Abu Nida, tapi masih saja hal yang sama berulang dengan keberadaan Syaikh Sa’ad memberi ceramah di Jamilurrahman, seakan-akan tidak ada kecemburuan terhadap suatu hal yang membahayakan dakwah salafiyah. Wallahul Musta’an.)). Hal ini telah ana jelaskan dalam tulisan ana di (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan“) dan. Dan Syaikh Sa’ad maupun sykh Abdurrozzaq tidak pernah ceramah di jamilurrahman. Akan tetapi Ustadz Abu Nida sendiri yang langsung mengundang Syaikh Sa’ad ke pondok Bin Baaz. Kalau memang jamilurahan dan pondok Bin Baaz sesat tolong antum nasehati Syaikh Sa’ad. Sekalian juga nasehati beliau yang nekat mengisi kajian berbarengan dengan Syaikh Ali Hasan Baarokallahu fiik  Kedua : Perkataan al-Ustadz ((Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar, dan Saya tidak perlu membuat bantahan untuk Ustadz Firanda lagi karena memang dari awal Saya tidak pernah berselera untuk melayaninya.))Ini menunjukkan memang al-Ustadz sepakat dengan Syaikh Robi’ dan juga syaikh-syaikhnya yang lain untuk bahagia mentahdzir radiorodja. Tapi anehnya ustadz mengatakan bahwa tahdziran tersebut diperuntukan bukan untuk orang awam, orang awam sebaiknya mendengar rodja. Namun ternyata tahdziran tersebut justru tersebar ke orang awam. Ketiga :  Perkataan al-Ustadz ((Tentang sebagian penyelenggara umrah gratis di Madinah yang merupakan asuhan pihak yang bermanhaj tidak jelas, Saya mempertanyakan mengapa Ustadz Firanda menjadi penerjemah bagi sebagian orang sururiyyin yang merupakan syaikh pemandu acara umrah itu? Sebagian Ustadz menjawab, “Itu hanya Firanda. Kami tidak ikut di dalamnya, dan kami telah mengingatkan Firanda tentang hal tersebut.”))Kritikan :–         Ini adalah umroh yang diadakan oleh Maktab Jaliyaat di Madinah. Dan saya kebetulan tatkala itu menjadi dai di Maktab tersebut, dan tentunya maktab ini dibawah naungan pemerintah, dan dibawah naungan mudir Jami’ah Islamiyah serta Imam al-Masjid Nabawi Asy-Syaikh DR. Abdul Muhsin Al-Qoosim, dan juga sempat di Isyrof oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr. Jika dinilai manhajnya tidak jelas..yaa itu terserah al-Ustadz.–         Dari mana ustadz mendapatkan info ini?? Ternyata dari muridnya (anggota Jama’ah Tahdzir) yang juga ikut serta dalam umroh tersebut. Saya jadi bingung, muridnya ini ikut menikmati umroh gratis, lantas ikut memberi info untuk mencela umroh yang ia ikuti juga??!!–         Siapa Syaikh Sururi yang saya terjemahkan tersebut??, tolong sebutkan siapa namanya dan apa sururiahnya?? Agar ustadz tidak dituduh suka menuduh tanpa bukti.–         Ceramah apa yang saya terjemahkan??, ternyata ceramah tentang adab umroh dan ikhlas dalam beribadah?? Keempat : Al-Ustadz berkata ((ada sedikit kesalahan terjemah dari Ustadz Firanda, yaitu ucapan Syaikh,الشيخ : تعاونوا مع ذي القرنين، هو رجل طيب وإن كان كما تقول أنه متشدد شويOleh Ustadz Firanda diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqornan, ia adalah orang yang baik, meskipun dia agak keras -sebagaimana kau katakan- “.”Seharusnya diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqarnain, ia adalah orang yang baik. Kalau pada (Dzulqarnain) memang terdapat hal seperti apa yang kamu katakan, sesungguhnya dia agak keras.”.”Saya kira semua orang bisa membedakan antara dua ibarat.Kalau menurut terjemahan Ustadz Firanda, Syaikh sudah menyetujui laporan Ustadz Firanda dan menghukumi Dzulqarnain sebagai orang yang agak keras.Kalau menurut terjemahan Saya, Syaikh masih menunggu kepastian kebenaran laporan Ustadz Firanda. Andaikata laporan tersebut benar, berarti Dzulqarnain agak keras)).Kritikan : Saya rasa semua orang bisa menilai siapa yang salah menerjemah. Kalau terjemah versi al-Ustadz maka seharusnya Syaikh berkata فإنه متشدد, dengan tambahan huru faa. Meskipun al-Ustadz telah menasehati saya untuk belajar kembali bahasa Arab, maka saya katakan “Mari kita berdua bersama-sama belajar bahasa Arab” Kelima : Al-Ustadz berkata : ((Ustadz Firanda menyebutkan salah satu jawaban Saya:“Tanya:Ustadz ana punya majalah yang di kelola oleh dai-dai ihya At-Turats, tapi dalam masalah ekonomi saja. Bolehkah mengambil ilmu ekonomi dari mereka?Jawab:“Ini Masalah mengambil ilmu dari ahlul Bid’ah atau orang-orang yang mendukung  at-Turats, berada diatas pemikiran mereka, ini adalah dai-dai yang tidak berjalan diatas jalan Sunnah, maka tidak boleh seorang mengambil dari ilmu Sunnah dalam bidang apapun dari orang-orang yang tidak berada diatas sunnah, Bukan berartinya seluruh yang disebut ahlul Bid’ah itu pasti salah, tidak, tapi para Ulama Sepakat untuk memboikot ahlul bid’ah dan tidak menganjurkan manusia belajar, sebab mungkin saja ada hal-hal yang mereka masukkan disela-sela pembahasan mereka yang lain dianggap bagus.Kemudian dari sisi yang kedua mengenai masalah ilmu ekonomi sekarang, semua orang ingin bicara masalah ekonomi, semuanya ngambil dari para ulama ahlussunnah, ngapain ngambil dari orang-orang yang bermasalah, ilmu apa saja ada dari kalangan para ulama ahlussunnah, ada diterangkan dan tidak perlu seseorang menjatuhkan dirinya kedalam bahaya“”Kemudian Ustadz Firanda berkomentar,“Majalah yang dimaksud oleh penanya tentunya majalah yang sudah tersohor, yaitu majalah “Pengusaha Muslim”. Apakah majalah tersebut dikelola oleh para dai Ihyaa At-Turoots??, tentunya ini sebuah kebohongan nyata di siang bolong. Majalah ini sama sekali tidak dibantu oleh yayasan Ihyaa At-Turoots, bahkan dibiayai oleh seorang sahabat saya, seorang pengusaha, yang tentu ia tidak ingin disebutkan namanya di sini. –semoga Allah menjaga keikhlasannya-”TanggapanDalam pertanyaan tersebut, nama majalah tidak disebutkan. Oleh karena itu, dari mana beliau mengetahui maksud Saya dan maksud si Penanya?))Krtikan :–         Jika bukan majalah “Pengusaha Muslim” lantas majalah apa dong yang khusus ekonomi?, apakah al-Ustadz tidak tahu waqi’ medan dakwah di Indonesia??.–         Ternyata juga majalah pengusaha muslim tidak dikelola oleh dai-dai Ihyaa At-Turots. (Kecuali yang dimaksud dengan dengan dai at-Turots adalah yang tidak semanhaj dengan Jama’ah Tahdzir). Seharusnya al-Ustadz –sebagai ustad yang mengerti tentang medan dakwah- bertanya ; Majalah apakah itu?, siapa dai-dainya?–         Jawaban ustadz juga menunjukan semua da’i at-turots adalah ahul bid’ah, tidak berjalan di atas sunnah, apakah benar demikian?–         Thoyyib jika memang al-Ustadz tidak memaksudkan majalah pengusaha muslim sekarang saya bertanya “Apa hukumnya membaca majalah pengusaha muslim” Keenam : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak bisa memahami dari mana Ustadz Firanda menyangka bahwa Syaikh Shalih memuji Ihyâ` At-Turâts. Dari tanya-jawab yang disebutkan, tidak ada pujian Syaikh Shalih terhadap Ihyâ` At-Turâts. Yang ada hanyalah ucapan Syaikh, “Yang membantu kalian, ambillah bantuannya dan manfaatkan bantuan tersebut”. Semua orang memahami bahwa pembolehan mengambil dana bukanlah pujian))Krtikan : Berikut pujian beliau, al-‘Allâmah Shâlih Fauzân al-Fauzân hafizhahullâhu :فقد اطلعت على نسخة من منهج جمعية إحياء التراث الاسلامي للدعوة والتوجيه فوجدته منهج صحيحا يتماشى مع الكتاب والسنة وما تحتاجه الأمة فجزى الله القائمين على هذه الجمعية خير جزاء وأمدهم بنصره وتوفيقه .“Saya telah menelaah nuskhah (copy) yang berisi manhaj Perhimpunan Ihyâ` at-Turâts al-Islâmî lid-Da’wah wat-Taujîh dan saya dapati sebagai suatu manhaj yang benar, yang berjalan selaras di atas al-Kitâb (al-Qur`ân) dan as-Sunnah, dan dibutuhkan oleh umat. Semoga Allôh memberi balasan kepada para pengurus perhimpunan ini dengan sebaik-baik balasan, dan semoga Allôh menolong mereka dengan pertolongan dan taufiq-Nya.”اطلعت على كثير من المشاريع الخيرية التي تقوم بها الجمعية وإني قد سررت بذلك وأسال الله لهم التوفيق والسداد .“Saya telah melihat banyak dari proyek-proyek sosial yang dilaksanakan oleh jum’iyah (Ihyâ`ut Turâts), dan saya merasa gembira dengan hal tersebut. Saya mohon kepada Allôh agar memberikan taufîq dan kelurusan bagi mereka.Adapun link nya telah ana cantumkan di (http://www.turathkw.com/topics/current/index.php?cat_id=13)Al-Ustadz Dzulqornain tatkala ana berdialog langsung dengan beliau, ia menyatakan bahwa Syaikh Sholeh Al-Fauzan mengetahui penyimpangan Ihyaa At-Turots, maka saya berkata, “Jika Syaikh tahu lantas kenapa beliu tidak mentahdzir?, malah memuji?, malah membolehkan ambil dana??. Tolong datangkan satu saja tahdziran syaikh sholeh Al-Fauzan terhadap At-Turots???Akui saja kalau al-ustadz berbeda dengan syaikh Sholeh Al-Fauzan tentang masalah at-Turots.Dan jika firanda ternyata kurang akal…, maka berarti boleh dong firanda bertaqlid kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzan?? Juga bertaqlid kepada Syaikh Abdul Muhsin dan Syaikh Abdurrozzaq?? Kenapa mesti sewot !! Ketujuh : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak mengetahui Syaikh Al-Fauzan Menyalahkan keritikan saya terhadap Rodja. Juga ada kalam dari Syaikh Rabi’))Kritikan : Al-Ustadz seharusnya paham sindiran Syaikh Sholeh Al-Fauzan dalam jawabannya untuk tidak sibuk mencela yayasan dan para dai ??. Jadi maksud Syaikh Sholeh Al-Fauzan apa kalau bagitu??, ini bukan kritikan terhadap antum??.Demikian juga hal ini menunjukan al-Ustadz setuju dengan tahdzir Syaikh Robi terhadap Radiorodja, sebagaimana yang digembirakan oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh dan al-Ustadz Askari. Dan mengenai hal ini telah saya kritik. Kedelapan : Perkataan al-Ustadz ((Amatlah mengherankan bila seseorang yang merasa dirinya sangat berilmu, sudah berada pada kedudukan ulama))Kritikan : Alhamdulillah mudah-mudahan saya tidak merasa demikian. Maaf, dimanakah saya pernah menyatakan demikian?. Adapun kalau saya mengkritik Syaikh Robi’ maka telah saya jelaskan berulang-ulang 2 kesalahan fatal syaikh Robi’. Dan saya masih menunggu pembelaan al-Ustadz Dzulqornain cs terhadap Syaikh Robi’, sebagai masukan bagi saya.Ataukah tidak sebalikan al-Ustdaz yang malah merasa berilmu yang sangat nampak dari perendahannya (tanpa bantahan) kepada Syaikh Ali Hasan?? Kesembilan : Mengenai Radiorodja ibarat orang fajir?. Saya telah mengambil dzohir perkataan al-Ustadz bahwa radiorodja Fajir. Ini kesalahan saya, ternyata maksud al-Ustadz bukanlah makna dzohirnya.Akan tetapi mengkiaskan radiorodja dengan orang fajir bagaimanapun tetap bermakna konotasi negatif, meskipun tidak melazimkan para pengisi radiorodja adalah orang-orang fajir, tapi intinya ada nilai kesamaan atau yang disebut dengan ‘illah jaami’ah. Nah saya sekarang ingin bertanya kepada ustadz, lantas apa sisi al-ustadz menyamakan radiorodja dengan orang fajir? Kesepuluh : Al-Ustadz menyatakan Syaikh Muhammad Hasan diputar videonya di Radiorodja, serta syaikh-syaikh menyimpang yang lain…, bukankah ini kedustaan al-Ustadz?. Kalau bukan dusta tolong datangkan buktinya. Selain itu siapa lagi syaikh-syaikh yang menyimpang selain Syaikh al-Arifi yang diputar videonya di Radiorodja?Terakhir kita masih menunggu apa sih kritikan utama yang mendasari al-Ustadz begitu semangat mentahdzir Radiorodja??. Kita ingin bukti yang nyata bukan yang dipaksa-paksakan apalagi kedustaan, hingga nantinya bisa menjadi masukan bagi Radiorodja. Toh Radiorodja pasti ada kesalahannya, namanya orang berdakwah dan banyak ceramah pasti tergelincir…akan tetapi tolong jelaskan ketergelinciran radiorodja?? Demikian dulu catatan ringan atas tanggapan al-Ustadz Dzulqornain, akan tetapi semua catatan tersebut bukan masalah pokok dan inti. Saya lebih tertarik untuk membahas masalah manhaj yang saya utarakan, seperti aqidah syaikh Robi’ bahwa wajib membenci mubtadi’ muslim 100 persen, dan para salaf dahulu menghajr tanpa melihat maslahat. Ini yang saya lebih nantikan, karena inilah yang sangat berpengaruh pada sifat keras saudara-saudara kita dari jama’ah tahdzir. Demikian juga kesalahan firanda dalam persalahan muwaazanah, itu juga sangat saya nantikan, dan saya harap al-Ustadz Dzulqornain mendahulukan permasalahan ilmiyah ini setelah permasalahan Syaikh Robi’ agar dialog menjadi focus, bukan katanya dan katanya…Karena kalau hanya sekedar katanya dan katanya tentang al-ustadz Dzulqornain maka banyak info yang telah masuk kepada saya, hanya saja tidak pantas untuk saya sampaikan di forum ini karena tidak berkaitan dengan pembahasan ilmiyah.Sungguh tanggapan berupa pembentukan opini maka mungkin saya tidak berminat lagi. Baarokallahu fiikum.Atau jika al-Ustadz Dzulqornain berkenan maka saya mengajak Al-Ustadz berdialog terbuka bisa disiarkan secara live dan diikuti oleh seluruh salafiyin…, atau jika berkenan juga kita majukan di meja persidangan karena al-Ustadz telah mencemarkan nama baik Radiorodja!!. Sungguh saya melihat manfaat yang dilakukan oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili tatkala menantang Syaikh Muhammad bin hadi untuk berdialog terbuka secara live, akan tetapi tidak ditanggapi oleh beliau. Akhirnya Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily  mengadukan syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkholi, sehingga sekarang fedahnya adalah Syaikh Muhammad pun terdiam dan tidak lagi sibuk mentahdzir beliau, karena setiap tahdziran yang tanpa hujjah akan menjadi boomerang bagi beliau.Semoga Allah menyatukan hati-hati para salafiyin, menjadikan mereka tersibukan untuk membantah ahlul bid’ah bukan untuk mencari-cari kesalahan-kesalahan saudara-saudaranya, lalu mentahdzir dan mentabdi’.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 03-01-1435 H / 06-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  
Meskipun bukan pada permasalahan ini akan tetapi ini sebagai tanggapan atas kritikan ustadz Dzulqornain yang ingin menepis kenistaan pemikiran saya.  :Pertama : Perkataan beliau ((Ana telah mengingatkan antum masalah Abu Nida, tapi masih saja hal yang sama berulang dengan keberadaan Syaikh Sa’ad memberi ceramah di Jamilurrahman, seakan-akan tidak ada kecemburuan terhadap suatu hal yang membahayakan dakwah salafiyah. Wallahul Musta’an.)). Hal ini telah ana jelaskan dalam tulisan ana di (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan“) dan. Dan Syaikh Sa’ad maupun sykh Abdurrozzaq tidak pernah ceramah di jamilurrahman. Akan tetapi Ustadz Abu Nida sendiri yang langsung mengundang Syaikh Sa’ad ke pondok Bin Baaz. Kalau memang jamilurahan dan pondok Bin Baaz sesat tolong antum nasehati Syaikh Sa’ad. Sekalian juga nasehati beliau yang nekat mengisi kajian berbarengan dengan Syaikh Ali Hasan Baarokallahu fiik  Kedua : Perkataan al-Ustadz ((Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar, dan Saya tidak perlu membuat bantahan untuk Ustadz Firanda lagi karena memang dari awal Saya tidak pernah berselera untuk melayaninya.))Ini menunjukkan memang al-Ustadz sepakat dengan Syaikh Robi’ dan juga syaikh-syaikhnya yang lain untuk bahagia mentahdzir radiorodja. Tapi anehnya ustadz mengatakan bahwa tahdziran tersebut diperuntukan bukan untuk orang awam, orang awam sebaiknya mendengar rodja. Namun ternyata tahdziran tersebut justru tersebar ke orang awam. Ketiga :  Perkataan al-Ustadz ((Tentang sebagian penyelenggara umrah gratis di Madinah yang merupakan asuhan pihak yang bermanhaj tidak jelas, Saya mempertanyakan mengapa Ustadz Firanda menjadi penerjemah bagi sebagian orang sururiyyin yang merupakan syaikh pemandu acara umrah itu? Sebagian Ustadz menjawab, “Itu hanya Firanda. Kami tidak ikut di dalamnya, dan kami telah mengingatkan Firanda tentang hal tersebut.”))Kritikan :–         Ini adalah umroh yang diadakan oleh Maktab Jaliyaat di Madinah. Dan saya kebetulan tatkala itu menjadi dai di Maktab tersebut, dan tentunya maktab ini dibawah naungan pemerintah, dan dibawah naungan mudir Jami’ah Islamiyah serta Imam al-Masjid Nabawi Asy-Syaikh DR. Abdul Muhsin Al-Qoosim, dan juga sempat di Isyrof oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr. Jika dinilai manhajnya tidak jelas..yaa itu terserah al-Ustadz.–         Dari mana ustadz mendapatkan info ini?? Ternyata dari muridnya (anggota Jama’ah Tahdzir) yang juga ikut serta dalam umroh tersebut. Saya jadi bingung, muridnya ini ikut menikmati umroh gratis, lantas ikut memberi info untuk mencela umroh yang ia ikuti juga??!!–         Siapa Syaikh Sururi yang saya terjemahkan tersebut??, tolong sebutkan siapa namanya dan apa sururiahnya?? Agar ustadz tidak dituduh suka menuduh tanpa bukti.–         Ceramah apa yang saya terjemahkan??, ternyata ceramah tentang adab umroh dan ikhlas dalam beribadah?? Keempat : Al-Ustadz berkata ((ada sedikit kesalahan terjemah dari Ustadz Firanda, yaitu ucapan Syaikh,الشيخ : تعاونوا مع ذي القرنين، هو رجل طيب وإن كان كما تقول أنه متشدد شويOleh Ustadz Firanda diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqornan, ia adalah orang yang baik, meskipun dia agak keras -sebagaimana kau katakan- “.”Seharusnya diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqarnain, ia adalah orang yang baik. Kalau pada (Dzulqarnain) memang terdapat hal seperti apa yang kamu katakan, sesungguhnya dia agak keras.”.”Saya kira semua orang bisa membedakan antara dua ibarat.Kalau menurut terjemahan Ustadz Firanda, Syaikh sudah menyetujui laporan Ustadz Firanda dan menghukumi Dzulqarnain sebagai orang yang agak keras.Kalau menurut terjemahan Saya, Syaikh masih menunggu kepastian kebenaran laporan Ustadz Firanda. Andaikata laporan tersebut benar, berarti Dzulqarnain agak keras)).Kritikan : Saya rasa semua orang bisa menilai siapa yang salah menerjemah. Kalau terjemah versi al-Ustadz maka seharusnya Syaikh berkata فإنه متشدد, dengan tambahan huru faa. Meskipun al-Ustadz telah menasehati saya untuk belajar kembali bahasa Arab, maka saya katakan “Mari kita berdua bersama-sama belajar bahasa Arab” Kelima : Al-Ustadz berkata : ((Ustadz Firanda menyebutkan salah satu jawaban Saya:“Tanya:Ustadz ana punya majalah yang di kelola oleh dai-dai ihya At-Turats, tapi dalam masalah ekonomi saja. Bolehkah mengambil ilmu ekonomi dari mereka?Jawab:“Ini Masalah mengambil ilmu dari ahlul Bid’ah atau orang-orang yang mendukung  at-Turats, berada diatas pemikiran mereka, ini adalah dai-dai yang tidak berjalan diatas jalan Sunnah, maka tidak boleh seorang mengambil dari ilmu Sunnah dalam bidang apapun dari orang-orang yang tidak berada diatas sunnah, Bukan berartinya seluruh yang disebut ahlul Bid’ah itu pasti salah, tidak, tapi para Ulama Sepakat untuk memboikot ahlul bid’ah dan tidak menganjurkan manusia belajar, sebab mungkin saja ada hal-hal yang mereka masukkan disela-sela pembahasan mereka yang lain dianggap bagus.Kemudian dari sisi yang kedua mengenai masalah ilmu ekonomi sekarang, semua orang ingin bicara masalah ekonomi, semuanya ngambil dari para ulama ahlussunnah, ngapain ngambil dari orang-orang yang bermasalah, ilmu apa saja ada dari kalangan para ulama ahlussunnah, ada diterangkan dan tidak perlu seseorang menjatuhkan dirinya kedalam bahaya“”Kemudian Ustadz Firanda berkomentar,“Majalah yang dimaksud oleh penanya tentunya majalah yang sudah tersohor, yaitu majalah “Pengusaha Muslim”. Apakah majalah tersebut dikelola oleh para dai Ihyaa At-Turoots??, tentunya ini sebuah kebohongan nyata di siang bolong. Majalah ini sama sekali tidak dibantu oleh yayasan Ihyaa At-Turoots, bahkan dibiayai oleh seorang sahabat saya, seorang pengusaha, yang tentu ia tidak ingin disebutkan namanya di sini. –semoga Allah menjaga keikhlasannya-”TanggapanDalam pertanyaan tersebut, nama majalah tidak disebutkan. Oleh karena itu, dari mana beliau mengetahui maksud Saya dan maksud si Penanya?))Krtikan :–         Jika bukan majalah “Pengusaha Muslim” lantas majalah apa dong yang khusus ekonomi?, apakah al-Ustadz tidak tahu waqi’ medan dakwah di Indonesia??.–         Ternyata juga majalah pengusaha muslim tidak dikelola oleh dai-dai Ihyaa At-Turots. (Kecuali yang dimaksud dengan dengan dai at-Turots adalah yang tidak semanhaj dengan Jama’ah Tahdzir). Seharusnya al-Ustadz –sebagai ustad yang mengerti tentang medan dakwah- bertanya ; Majalah apakah itu?, siapa dai-dainya?–         Jawaban ustadz juga menunjukan semua da’i at-turots adalah ahul bid’ah, tidak berjalan di atas sunnah, apakah benar demikian?–         Thoyyib jika memang al-Ustadz tidak memaksudkan majalah pengusaha muslim sekarang saya bertanya “Apa hukumnya membaca majalah pengusaha muslim” Keenam : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak bisa memahami dari mana Ustadz Firanda menyangka bahwa Syaikh Shalih memuji Ihyâ` At-Turâts. Dari tanya-jawab yang disebutkan, tidak ada pujian Syaikh Shalih terhadap Ihyâ` At-Turâts. Yang ada hanyalah ucapan Syaikh, “Yang membantu kalian, ambillah bantuannya dan manfaatkan bantuan tersebut”. Semua orang memahami bahwa pembolehan mengambil dana bukanlah pujian))Krtikan : Berikut pujian beliau, al-‘Allâmah Shâlih Fauzân al-Fauzân hafizhahullâhu :فقد اطلعت على نسخة من منهج جمعية إحياء التراث الاسلامي للدعوة والتوجيه فوجدته منهج صحيحا يتماشى مع الكتاب والسنة وما تحتاجه الأمة فجزى الله القائمين على هذه الجمعية خير جزاء وأمدهم بنصره وتوفيقه .“Saya telah menelaah nuskhah (copy) yang berisi manhaj Perhimpunan Ihyâ` at-Turâts al-Islâmî lid-Da’wah wat-Taujîh dan saya dapati sebagai suatu manhaj yang benar, yang berjalan selaras di atas al-Kitâb (al-Qur`ân) dan as-Sunnah, dan dibutuhkan oleh umat. Semoga Allôh memberi balasan kepada para pengurus perhimpunan ini dengan sebaik-baik balasan, dan semoga Allôh menolong mereka dengan pertolongan dan taufiq-Nya.”اطلعت على كثير من المشاريع الخيرية التي تقوم بها الجمعية وإني قد سررت بذلك وأسال الله لهم التوفيق والسداد .“Saya telah melihat banyak dari proyek-proyek sosial yang dilaksanakan oleh jum’iyah (Ihyâ`ut Turâts), dan saya merasa gembira dengan hal tersebut. Saya mohon kepada Allôh agar memberikan taufîq dan kelurusan bagi mereka.Adapun link nya telah ana cantumkan di (http://www.turathkw.com/topics/current/index.php?cat_id=13)Al-Ustadz Dzulqornain tatkala ana berdialog langsung dengan beliau, ia menyatakan bahwa Syaikh Sholeh Al-Fauzan mengetahui penyimpangan Ihyaa At-Turots, maka saya berkata, “Jika Syaikh tahu lantas kenapa beliu tidak mentahdzir?, malah memuji?, malah membolehkan ambil dana??. Tolong datangkan satu saja tahdziran syaikh sholeh Al-Fauzan terhadap At-Turots???Akui saja kalau al-ustadz berbeda dengan syaikh Sholeh Al-Fauzan tentang masalah at-Turots.Dan jika firanda ternyata kurang akal…, maka berarti boleh dong firanda bertaqlid kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzan?? Juga bertaqlid kepada Syaikh Abdul Muhsin dan Syaikh Abdurrozzaq?? Kenapa mesti sewot !! Ketujuh : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak mengetahui Syaikh Al-Fauzan Menyalahkan keritikan saya terhadap Rodja. Juga ada kalam dari Syaikh Rabi’))Kritikan : Al-Ustadz seharusnya paham sindiran Syaikh Sholeh Al-Fauzan dalam jawabannya untuk tidak sibuk mencela yayasan dan para dai ??. Jadi maksud Syaikh Sholeh Al-Fauzan apa kalau bagitu??, ini bukan kritikan terhadap antum??.Demikian juga hal ini menunjukan al-Ustadz setuju dengan tahdzir Syaikh Robi terhadap Radiorodja, sebagaimana yang digembirakan oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh dan al-Ustadz Askari. Dan mengenai hal ini telah saya kritik. Kedelapan : Perkataan al-Ustadz ((Amatlah mengherankan bila seseorang yang merasa dirinya sangat berilmu, sudah berada pada kedudukan ulama))Kritikan : Alhamdulillah mudah-mudahan saya tidak merasa demikian. Maaf, dimanakah saya pernah menyatakan demikian?. Adapun kalau saya mengkritik Syaikh Robi’ maka telah saya jelaskan berulang-ulang 2 kesalahan fatal syaikh Robi’. Dan saya masih menunggu pembelaan al-Ustadz Dzulqornain cs terhadap Syaikh Robi’, sebagai masukan bagi saya.Ataukah tidak sebalikan al-Ustdaz yang malah merasa berilmu yang sangat nampak dari perendahannya (tanpa bantahan) kepada Syaikh Ali Hasan?? Kesembilan : Mengenai Radiorodja ibarat orang fajir?. Saya telah mengambil dzohir perkataan al-Ustadz bahwa radiorodja Fajir. Ini kesalahan saya, ternyata maksud al-Ustadz bukanlah makna dzohirnya.Akan tetapi mengkiaskan radiorodja dengan orang fajir bagaimanapun tetap bermakna konotasi negatif, meskipun tidak melazimkan para pengisi radiorodja adalah orang-orang fajir, tapi intinya ada nilai kesamaan atau yang disebut dengan ‘illah jaami’ah. Nah saya sekarang ingin bertanya kepada ustadz, lantas apa sisi al-ustadz menyamakan radiorodja dengan orang fajir? Kesepuluh : Al-Ustadz menyatakan Syaikh Muhammad Hasan diputar videonya di Radiorodja, serta syaikh-syaikh menyimpang yang lain…, bukankah ini kedustaan al-Ustadz?. Kalau bukan dusta tolong datangkan buktinya. Selain itu siapa lagi syaikh-syaikh yang menyimpang selain Syaikh al-Arifi yang diputar videonya di Radiorodja?Terakhir kita masih menunggu apa sih kritikan utama yang mendasari al-Ustadz begitu semangat mentahdzir Radiorodja??. Kita ingin bukti yang nyata bukan yang dipaksa-paksakan apalagi kedustaan, hingga nantinya bisa menjadi masukan bagi Radiorodja. Toh Radiorodja pasti ada kesalahannya, namanya orang berdakwah dan banyak ceramah pasti tergelincir…akan tetapi tolong jelaskan ketergelinciran radiorodja?? Demikian dulu catatan ringan atas tanggapan al-Ustadz Dzulqornain, akan tetapi semua catatan tersebut bukan masalah pokok dan inti. Saya lebih tertarik untuk membahas masalah manhaj yang saya utarakan, seperti aqidah syaikh Robi’ bahwa wajib membenci mubtadi’ muslim 100 persen, dan para salaf dahulu menghajr tanpa melihat maslahat. Ini yang saya lebih nantikan, karena inilah yang sangat berpengaruh pada sifat keras saudara-saudara kita dari jama’ah tahdzir. Demikian juga kesalahan firanda dalam persalahan muwaazanah, itu juga sangat saya nantikan, dan saya harap al-Ustadz Dzulqornain mendahulukan permasalahan ilmiyah ini setelah permasalahan Syaikh Robi’ agar dialog menjadi focus, bukan katanya dan katanya…Karena kalau hanya sekedar katanya dan katanya tentang al-ustadz Dzulqornain maka banyak info yang telah masuk kepada saya, hanya saja tidak pantas untuk saya sampaikan di forum ini karena tidak berkaitan dengan pembahasan ilmiyah.Sungguh tanggapan berupa pembentukan opini maka mungkin saya tidak berminat lagi. Baarokallahu fiikum.Atau jika al-Ustadz Dzulqornain berkenan maka saya mengajak Al-Ustadz berdialog terbuka bisa disiarkan secara live dan diikuti oleh seluruh salafiyin…, atau jika berkenan juga kita majukan di meja persidangan karena al-Ustadz telah mencemarkan nama baik Radiorodja!!. Sungguh saya melihat manfaat yang dilakukan oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili tatkala menantang Syaikh Muhammad bin hadi untuk berdialog terbuka secara live, akan tetapi tidak ditanggapi oleh beliau. Akhirnya Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily  mengadukan syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkholi, sehingga sekarang fedahnya adalah Syaikh Muhammad pun terdiam dan tidak lagi sibuk mentahdzir beliau, karena setiap tahdziran yang tanpa hujjah akan menjadi boomerang bagi beliau.Semoga Allah menyatukan hati-hati para salafiyin, menjadikan mereka tersibukan untuk membantah ahlul bid’ah bukan untuk mencari-cari kesalahan-kesalahan saudara-saudaranya, lalu mentahdzir dan mentabdi’.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 03-01-1435 H / 06-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  


Meskipun bukan pada permasalahan ini akan tetapi ini sebagai tanggapan atas kritikan ustadz Dzulqornain yang ingin menepis kenistaan pemikiran saya.  :Pertama : Perkataan beliau ((Ana telah mengingatkan antum masalah Abu Nida, tapi masih saja hal yang sama berulang dengan keberadaan Syaikh Sa’ad memberi ceramah di Jamilurrahman, seakan-akan tidak ada kecemburuan terhadap suatu hal yang membahayakan dakwah salafiyah. Wallahul Musta’an.)). Hal ini telah ana jelaskan dalam tulisan ana di (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan“) dan. Dan Syaikh Sa’ad maupun sykh Abdurrozzaq tidak pernah ceramah di jamilurrahman. Akan tetapi Ustadz Abu Nida sendiri yang langsung mengundang Syaikh Sa’ad ke pondok Bin Baaz. Kalau memang jamilurahan dan pondok Bin Baaz sesat tolong antum nasehati Syaikh Sa’ad. Sekalian juga nasehati beliau yang nekat mengisi kajian berbarengan dengan Syaikh Ali Hasan Baarokallahu fiik  Kedua : Perkataan al-Ustadz ((Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar, dan Saya tidak perlu membuat bantahan untuk Ustadz Firanda lagi karena memang dari awal Saya tidak pernah berselera untuk melayaninya.))Ini menunjukkan memang al-Ustadz sepakat dengan Syaikh Robi’ dan juga syaikh-syaikhnya yang lain untuk bahagia mentahdzir radiorodja. Tapi anehnya ustadz mengatakan bahwa tahdziran tersebut diperuntukan bukan untuk orang awam, orang awam sebaiknya mendengar rodja. Namun ternyata tahdziran tersebut justru tersebar ke orang awam. Ketiga :  Perkataan al-Ustadz ((Tentang sebagian penyelenggara umrah gratis di Madinah yang merupakan asuhan pihak yang bermanhaj tidak jelas, Saya mempertanyakan mengapa Ustadz Firanda menjadi penerjemah bagi sebagian orang sururiyyin yang merupakan syaikh pemandu acara umrah itu? Sebagian Ustadz menjawab, “Itu hanya Firanda. Kami tidak ikut di dalamnya, dan kami telah mengingatkan Firanda tentang hal tersebut.”))Kritikan :–         Ini adalah umroh yang diadakan oleh Maktab Jaliyaat di Madinah. Dan saya kebetulan tatkala itu menjadi dai di Maktab tersebut, dan tentunya maktab ini dibawah naungan pemerintah, dan dibawah naungan mudir Jami’ah Islamiyah serta Imam al-Masjid Nabawi Asy-Syaikh DR. Abdul Muhsin Al-Qoosim, dan juga sempat di Isyrof oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr. Jika dinilai manhajnya tidak jelas..yaa itu terserah al-Ustadz.–         Dari mana ustadz mendapatkan info ini?? Ternyata dari muridnya (anggota Jama’ah Tahdzir) yang juga ikut serta dalam umroh tersebut. Saya jadi bingung, muridnya ini ikut menikmati umroh gratis, lantas ikut memberi info untuk mencela umroh yang ia ikuti juga??!!–         Siapa Syaikh Sururi yang saya terjemahkan tersebut??, tolong sebutkan siapa namanya dan apa sururiahnya?? Agar ustadz tidak dituduh suka menuduh tanpa bukti.–         Ceramah apa yang saya terjemahkan??, ternyata ceramah tentang adab umroh dan ikhlas dalam beribadah?? Keempat : Al-Ustadz berkata ((ada sedikit kesalahan terjemah dari Ustadz Firanda, yaitu ucapan Syaikh,الشيخ : تعاونوا مع ذي القرنين، هو رجل طيب وإن كان كما تقول أنه متشدد شويOleh Ustadz Firanda diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqornan, ia adalah orang yang baik, meskipun dia agak keras -sebagaimana kau katakan- “.”Seharusnya diterjemah,“Syaikh : “Bekerja-samalah dengan Dzulqarnain, ia adalah orang yang baik. Kalau pada (Dzulqarnain) memang terdapat hal seperti apa yang kamu katakan, sesungguhnya dia agak keras.”.”Saya kira semua orang bisa membedakan antara dua ibarat.Kalau menurut terjemahan Ustadz Firanda, Syaikh sudah menyetujui laporan Ustadz Firanda dan menghukumi Dzulqarnain sebagai orang yang agak keras.Kalau menurut terjemahan Saya, Syaikh masih menunggu kepastian kebenaran laporan Ustadz Firanda. Andaikata laporan tersebut benar, berarti Dzulqarnain agak keras)).Kritikan : Saya rasa semua orang bisa menilai siapa yang salah menerjemah. Kalau terjemah versi al-Ustadz maka seharusnya Syaikh berkata فإنه متشدد, dengan tambahan huru faa. Meskipun al-Ustadz telah menasehati saya untuk belajar kembali bahasa Arab, maka saya katakan “Mari kita berdua bersama-sama belajar bahasa Arab” Kelima : Al-Ustadz berkata : ((Ustadz Firanda menyebutkan salah satu jawaban Saya:“Tanya:Ustadz ana punya majalah yang di kelola oleh dai-dai ihya At-Turats, tapi dalam masalah ekonomi saja. Bolehkah mengambil ilmu ekonomi dari mereka?Jawab:“Ini Masalah mengambil ilmu dari ahlul Bid’ah atau orang-orang yang mendukung  at-Turats, berada diatas pemikiran mereka, ini adalah dai-dai yang tidak berjalan diatas jalan Sunnah, maka tidak boleh seorang mengambil dari ilmu Sunnah dalam bidang apapun dari orang-orang yang tidak berada diatas sunnah, Bukan berartinya seluruh yang disebut ahlul Bid’ah itu pasti salah, tidak, tapi para Ulama Sepakat untuk memboikot ahlul bid’ah dan tidak menganjurkan manusia belajar, sebab mungkin saja ada hal-hal yang mereka masukkan disela-sela pembahasan mereka yang lain dianggap bagus.Kemudian dari sisi yang kedua mengenai masalah ilmu ekonomi sekarang, semua orang ingin bicara masalah ekonomi, semuanya ngambil dari para ulama ahlussunnah, ngapain ngambil dari orang-orang yang bermasalah, ilmu apa saja ada dari kalangan para ulama ahlussunnah, ada diterangkan dan tidak perlu seseorang menjatuhkan dirinya kedalam bahaya“”Kemudian Ustadz Firanda berkomentar,“Majalah yang dimaksud oleh penanya tentunya majalah yang sudah tersohor, yaitu majalah “Pengusaha Muslim”. Apakah majalah tersebut dikelola oleh para dai Ihyaa At-Turoots??, tentunya ini sebuah kebohongan nyata di siang bolong. Majalah ini sama sekali tidak dibantu oleh yayasan Ihyaa At-Turoots, bahkan dibiayai oleh seorang sahabat saya, seorang pengusaha, yang tentu ia tidak ingin disebutkan namanya di sini. –semoga Allah menjaga keikhlasannya-”TanggapanDalam pertanyaan tersebut, nama majalah tidak disebutkan. Oleh karena itu, dari mana beliau mengetahui maksud Saya dan maksud si Penanya?))Krtikan :–         Jika bukan majalah “Pengusaha Muslim” lantas majalah apa dong yang khusus ekonomi?, apakah al-Ustadz tidak tahu waqi’ medan dakwah di Indonesia??.–         Ternyata juga majalah pengusaha muslim tidak dikelola oleh dai-dai Ihyaa At-Turots. (Kecuali yang dimaksud dengan dengan dai at-Turots adalah yang tidak semanhaj dengan Jama’ah Tahdzir). Seharusnya al-Ustadz –sebagai ustad yang mengerti tentang medan dakwah- bertanya ; Majalah apakah itu?, siapa dai-dainya?–         Jawaban ustadz juga menunjukan semua da’i at-turots adalah ahul bid’ah, tidak berjalan di atas sunnah, apakah benar demikian?–         Thoyyib jika memang al-Ustadz tidak memaksudkan majalah pengusaha muslim sekarang saya bertanya “Apa hukumnya membaca majalah pengusaha muslim” Keenam : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak bisa memahami dari mana Ustadz Firanda menyangka bahwa Syaikh Shalih memuji Ihyâ` At-Turâts. Dari tanya-jawab yang disebutkan, tidak ada pujian Syaikh Shalih terhadap Ihyâ` At-Turâts. Yang ada hanyalah ucapan Syaikh, “Yang membantu kalian, ambillah bantuannya dan manfaatkan bantuan tersebut”. Semua orang memahami bahwa pembolehan mengambil dana bukanlah pujian))Krtikan : Berikut pujian beliau, al-‘Allâmah Shâlih Fauzân al-Fauzân hafizhahullâhu :فقد اطلعت على نسخة من منهج جمعية إحياء التراث الاسلامي للدعوة والتوجيه فوجدته منهج صحيحا يتماشى مع الكتاب والسنة وما تحتاجه الأمة فجزى الله القائمين على هذه الجمعية خير جزاء وأمدهم بنصره وتوفيقه .“Saya telah menelaah nuskhah (copy) yang berisi manhaj Perhimpunan Ihyâ` at-Turâts al-Islâmî lid-Da’wah wat-Taujîh dan saya dapati sebagai suatu manhaj yang benar, yang berjalan selaras di atas al-Kitâb (al-Qur`ân) dan as-Sunnah, dan dibutuhkan oleh umat. Semoga Allôh memberi balasan kepada para pengurus perhimpunan ini dengan sebaik-baik balasan, dan semoga Allôh menolong mereka dengan pertolongan dan taufiq-Nya.”اطلعت على كثير من المشاريع الخيرية التي تقوم بها الجمعية وإني قد سررت بذلك وأسال الله لهم التوفيق والسداد .“Saya telah melihat banyak dari proyek-proyek sosial yang dilaksanakan oleh jum’iyah (Ihyâ`ut Turâts), dan saya merasa gembira dengan hal tersebut. Saya mohon kepada Allôh agar memberikan taufîq dan kelurusan bagi mereka.Adapun link nya telah ana cantumkan di (http://www.turathkw.com/topics/current/index.php?cat_id=13)Al-Ustadz Dzulqornain tatkala ana berdialog langsung dengan beliau, ia menyatakan bahwa Syaikh Sholeh Al-Fauzan mengetahui penyimpangan Ihyaa At-Turots, maka saya berkata, “Jika Syaikh tahu lantas kenapa beliu tidak mentahdzir?, malah memuji?, malah membolehkan ambil dana??. Tolong datangkan satu saja tahdziran syaikh sholeh Al-Fauzan terhadap At-Turots???Akui saja kalau al-ustadz berbeda dengan syaikh Sholeh Al-Fauzan tentang masalah at-Turots.Dan jika firanda ternyata kurang akal…, maka berarti boleh dong firanda bertaqlid kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzan?? Juga bertaqlid kepada Syaikh Abdul Muhsin dan Syaikh Abdurrozzaq?? Kenapa mesti sewot !! Ketujuh : Perkataan Al-Ustadz ((Saya tidak mengetahui Syaikh Al-Fauzan Menyalahkan keritikan saya terhadap Rodja. Juga ada kalam dari Syaikh Rabi’))Kritikan : Al-Ustadz seharusnya paham sindiran Syaikh Sholeh Al-Fauzan dalam jawabannya untuk tidak sibuk mencela yayasan dan para dai ??. Jadi maksud Syaikh Sholeh Al-Fauzan apa kalau bagitu??, ini bukan kritikan terhadap antum??.Demikian juga hal ini menunjukan al-Ustadz setuju dengan tahdzir Syaikh Robi terhadap Radiorodja, sebagaimana yang digembirakan oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh dan al-Ustadz Askari. Dan mengenai hal ini telah saya kritik. Kedelapan : Perkataan al-Ustadz ((Amatlah mengherankan bila seseorang yang merasa dirinya sangat berilmu, sudah berada pada kedudukan ulama))Kritikan : Alhamdulillah mudah-mudahan saya tidak merasa demikian. Maaf, dimanakah saya pernah menyatakan demikian?. Adapun kalau saya mengkritik Syaikh Robi’ maka telah saya jelaskan berulang-ulang 2 kesalahan fatal syaikh Robi’. Dan saya masih menunggu pembelaan al-Ustadz Dzulqornain cs terhadap Syaikh Robi’, sebagai masukan bagi saya.Ataukah tidak sebalikan al-Ustdaz yang malah merasa berilmu yang sangat nampak dari perendahannya (tanpa bantahan) kepada Syaikh Ali Hasan?? Kesembilan : Mengenai Radiorodja ibarat orang fajir?. Saya telah mengambil dzohir perkataan al-Ustadz bahwa radiorodja Fajir. Ini kesalahan saya, ternyata maksud al-Ustadz bukanlah makna dzohirnya.Akan tetapi mengkiaskan radiorodja dengan orang fajir bagaimanapun tetap bermakna konotasi negatif, meskipun tidak melazimkan para pengisi radiorodja adalah orang-orang fajir, tapi intinya ada nilai kesamaan atau yang disebut dengan ‘illah jaami’ah. Nah saya sekarang ingin bertanya kepada ustadz, lantas apa sisi al-ustadz menyamakan radiorodja dengan orang fajir? Kesepuluh : Al-Ustadz menyatakan Syaikh Muhammad Hasan diputar videonya di Radiorodja, serta syaikh-syaikh menyimpang yang lain…, bukankah ini kedustaan al-Ustadz?. Kalau bukan dusta tolong datangkan buktinya. Selain itu siapa lagi syaikh-syaikh yang menyimpang selain Syaikh al-Arifi yang diputar videonya di Radiorodja?Terakhir kita masih menunggu apa sih kritikan utama yang mendasari al-Ustadz begitu semangat mentahdzir Radiorodja??. Kita ingin bukti yang nyata bukan yang dipaksa-paksakan apalagi kedustaan, hingga nantinya bisa menjadi masukan bagi Radiorodja. Toh Radiorodja pasti ada kesalahannya, namanya orang berdakwah dan banyak ceramah pasti tergelincir…akan tetapi tolong jelaskan ketergelinciran radiorodja?? Demikian dulu catatan ringan atas tanggapan al-Ustadz Dzulqornain, akan tetapi semua catatan tersebut bukan masalah pokok dan inti. Saya lebih tertarik untuk membahas masalah manhaj yang saya utarakan, seperti aqidah syaikh Robi’ bahwa wajib membenci mubtadi’ muslim 100 persen, dan para salaf dahulu menghajr tanpa melihat maslahat. Ini yang saya lebih nantikan, karena inilah yang sangat berpengaruh pada sifat keras saudara-saudara kita dari jama’ah tahdzir. Demikian juga kesalahan firanda dalam persalahan muwaazanah, itu juga sangat saya nantikan, dan saya harap al-Ustadz Dzulqornain mendahulukan permasalahan ilmiyah ini setelah permasalahan Syaikh Robi’ agar dialog menjadi focus, bukan katanya dan katanya…Karena kalau hanya sekedar katanya dan katanya tentang al-ustadz Dzulqornain maka banyak info yang telah masuk kepada saya, hanya saja tidak pantas untuk saya sampaikan di forum ini karena tidak berkaitan dengan pembahasan ilmiyah.Sungguh tanggapan berupa pembentukan opini maka mungkin saya tidak berminat lagi. Baarokallahu fiikum.Atau jika al-Ustadz Dzulqornain berkenan maka saya mengajak Al-Ustadz berdialog terbuka bisa disiarkan secara live dan diikuti oleh seluruh salafiyin…, atau jika berkenan juga kita majukan di meja persidangan karena al-Ustadz telah mencemarkan nama baik Radiorodja!!. Sungguh saya melihat manfaat yang dilakukan oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili tatkala menantang Syaikh Muhammad bin hadi untuk berdialog terbuka secara live, akan tetapi tidak ditanggapi oleh beliau. Akhirnya Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily  mengadukan syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkholi, sehingga sekarang fedahnya adalah Syaikh Muhammad pun terdiam dan tidak lagi sibuk mentahdzir beliau, karena setiap tahdziran yang tanpa hujjah akan menjadi boomerang bagi beliau.Semoga Allah menyatukan hati-hati para salafiyin, menjadikan mereka tersibukan untuk membantah ahlul bid’ah bukan untuk mencari-cari kesalahan-kesalahan saudara-saudaranya, lalu mentahdzir dan mentabdi’.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 03-01-1435 H / 06-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  

Syi’ah Mengkafirkan yang Tidak Mengikuti Imam Mereka

Imamah menurut ulama Syi’ah adalah kepemimpinan spiritual atau rohani, pendidikan, agama dan politik bagi umat Islam telah ditentukan Allah secara turun-temurun (theo monarchi) sampai imam ke-12. Menurut Syi’ah, siapa saja yang tidak mengimani imamah mereka, maka ia kafir. Maka jangan heran jika Syi’ah tidak pernah akur dengan golongan Sunni. Perkataan Syi’ah di Kitab Mereka Syi’ah berkata, “Siapa saja yang tidak mengimani imamah, imannya tidaklah sempurna sampai ia beriman kepada imamah dan beri’tiqod padanya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 78. Syi’ah berkata, “Imamah adalah kelanjutan dari kenabian. Wajib rasul dan nabi itu diutus. Setelah rasul, wajib mengimani imamah.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 88. Syi’ah berkata, “Yang dimaksud imamah adalah penunjukkan ilahiyah yang telah Allah pilih dengan ilmu Allah yang telah lebih dulu ada. Penunjukkan imamah ini sebagaimana pengangkatan nabi. Nabi memerintah untuk mengangkat imamah setelah beliau wafat dan beliau memerintahkan untuk mengikutinya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: Ashlusy Syi’ah wa Ushuluhaa karya Muhammad Husain, hal. 102. Syi’ah berkata, “Siapa saja yang menantang imamah amirul mukminin ‘Ali bin Abi Tholib dan imam setelah itu, maka itu sama halnya dengan menentang kenabian. Siapa saja yang menetapkan amirul mukminin dan ia mengingkari satu imam saja, maka itu sama halnya dengan mengimani seluruh Nabi dan mengingkari kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dilanjutkan pula, “Siapa saja yang menentang imamah yaitu salah satu dari imam 12, maka itu sama saja menentang salah satu nabi dari seluruh nabi yang diutus.” Lihat Minhajun Najah karya Al Faidh Al Kasyani, hal. 48. Syi’ah berkata tegas tentang kafirnya orang yang tidak mengimani imamah mereka. Mereka berkata, “Para imam bersepakat bahwa siapa saja yang mengingkari imamah salah satu imam lalu ia menentang yang Allah wajibkan untuk taat pada imamah, maka ia kafir dan sesat serta pantas kekal dalam neraka.” Lihat kitab Haqqul Yaqin fi Ma’rifati Ushulud Diin karya ‘Abdullah Syibr, 2: 189. Sama halnya juga mereka berkata, “Lafazh syirik dan kufur disematkan pada orang yang tidak meyakini kepemimpinan amirul mukminin dan imamah dari orang tuanya, lalu mengutakan imam yang lain. Mereka-mereka ini kekal dalam neraka.” Lihat kitab Biharul Anwar, karya Al Majlisi, 23: 390. Dalil Doktrin Imamah dalam Syi’ah Di antara dalil yang dijadikan doktrin imamah Syi’ah adalah hadits Jabir bin Samurah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ اثْنَا عَشَرَ أَمِيرًا فَقَالَ كَلِمَةً لَمْ أَسْمَعْهَا فَقَالَ أَبِي إِنَّهُ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ “Akan ada 12 amir atau pemimpin.” Lalu beliau mengatakan sesuatu yang tidak aku dengar. Kata ayahku beliau bersabda, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Bukhari no. 7222) Dalam Shahih Muslim redaksinya sebagai berikut: عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِى عَلَى النَّبِىِّ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الأَمْرَ لاَ يَنْقَضِى حَتَّى يَمْضِىَ فِيهِمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً. قَالَ ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلاَمٍ خَفِىَ عَلَىَّ فَقُلْتُ لأَبِى مَا قَالَ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ Jabir ibn Samurah berkata: Aku bersama ayahku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar beliau bersabda, “Sungguh urusan ini tidak akan berakhir sampai berlalu di tengah-tengah umat 12 khalifah.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak terdengar olehku. Aku bertanya kepada ayahku, “Apa yang beliau katakan?” Kata beliau, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Muslim no. 1821) Dalam riwayat Abu Daud disebutkan, لاَ يَزَالُ هَذَا الدِّينُ قَائِمًا حَتَّى يَكُونَ عَلَيْكُمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً كُلُّهُمْ تَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الأُمَّةُ “Agama ini akan senantiasa tegak sampai ada 12 khalifah yang kesemuanya disepakati oleh umat -semuanya dari Quraisy-.” (HR. Abu Daud no. 4279) Ke-12 imam yang dimaksud Syi’ah adalah 1- Ali ibn Abi Thalib, 2- Husain, 3- ‘Ali Zainal ‘Abidin, 4- Muhammad Al-Baqir, 5- Ja’far As-Shadiq, 6- Musa Al-Kazhim, 7- ‘Ali Ar-Ridla, 8- Muhammad Al-Jawwad, 9- ‘Ali Al-Hadi, 10- Hasan Al-‘Askari, 11- Muhammad al-Muntazhar yang wafat di usia 8 tahun. Sesudah itu, imamah dilanjutkan oleh para wakilnya, yakni para wali/mullah/faqih (wilayatul-faqih) yang mengikuti madzhab Ahlul-Bait versi Syi’ah sampai datangnya imam ke-12 yakni imam mahdi (Lihat Islam Alternatif, Bandung: Mizan, 1998). Sanggahan Klaim Imamah Yang diklaim oleh Syi’ah sebagai imamah ternyata tidak disepakati oleh para ulama. Dan menurut Syi’ah, agama Islam itu belum tegak pada zaman Abu Bakr dan ‘Utsman. Apa yang mereka klaim sungguh berbeda dengan realita. Ditambah lagi sudah ditegaskan bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu generasi sesudahnya. Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Boleh jadi yang dimaksud 12 khalifah adalah saat Islam mengalami kejayaan dan khilafah ini disepakati. Karena dalam riwayat lain dikuatkan dengan lafazh,  “Mereka semua disepakati oleh umat.” (Lihat Fathul Bari, 13: 212 ) Imam Nawawi membawakan perkataan Al Qodhi ‘Iyadh. Dalam memahami hadits di atas, ada dua pertanyaan yang muncul. Pertama, dalam hadits lain terdapat lafazh, “Khilafah setelahku selama 30 tahun, lalu tibalah setelah itu raja.” Hadits ini bertentangan dengan hadits 12 khalifah. Dalam kurun 30 tahun tersebut hanyalah terdapat empat khulafaur rosyidin yang empat dan yang paling masyhur dibai’at setelah itu adalah Al Hasan bin ‘Ali. Bisa dijawab dengan dikatakan bahwa khilafah 30 tahun adalah khilafah setelah kenabian. Karena dalam sebagian riwayat disebutkan, “Khilafah kenabian setelahku adalah 30 tahun dan setelah itu dipimpin oleh raja.” Di sini tidak disyaratkan mesti melewati 12 khalifah. Pertanyaan kedua, boleh jadi kepemimpinan setelah itu lebih dari 12. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan, setelah itu hanya ada 12 imam. Namun beliau berkata bahwa setelah beliau ada 12 imam, boleh jadi lebih dari jumlah tersebut. Boleh jadi pula yang dimaksud adalah 12 imam yang adil. Dua belas imam bisa jadi sudah terlewat. Dan jumlah 12 imam ini akan sempurna sebelum hari kiamat datang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 12: 176. Penjelasan yang dinukil di atas menunjukkan bahwa para ulama tidaklah menentukan siapakah 12 imam tersebut. Berbeda halnya dengan Syi’ah. Dua belas imam yang mereka klaim pun belum disepakati oleh ulama lainnya. Jadi, itu hanya klaim dari Syi’ah saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan 12 imam tersebut, beliau tidak merincinya, sehingga kita pun tidak perlu memberikan rincian. Yang paling pokok, tidak jadi akidah kemestian mengikuti imam Syi’ah. Mereka pun tidak boleh seenaknya mengkafirkan. Hanya Allah yang memberi taufik pada kebenaran.     Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Muharram 1435 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagssyi'ah

Syi’ah Mengkafirkan yang Tidak Mengikuti Imam Mereka

Imamah menurut ulama Syi’ah adalah kepemimpinan spiritual atau rohani, pendidikan, agama dan politik bagi umat Islam telah ditentukan Allah secara turun-temurun (theo monarchi) sampai imam ke-12. Menurut Syi’ah, siapa saja yang tidak mengimani imamah mereka, maka ia kafir. Maka jangan heran jika Syi’ah tidak pernah akur dengan golongan Sunni. Perkataan Syi’ah di Kitab Mereka Syi’ah berkata, “Siapa saja yang tidak mengimani imamah, imannya tidaklah sempurna sampai ia beriman kepada imamah dan beri’tiqod padanya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 78. Syi’ah berkata, “Imamah adalah kelanjutan dari kenabian. Wajib rasul dan nabi itu diutus. Setelah rasul, wajib mengimani imamah.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 88. Syi’ah berkata, “Yang dimaksud imamah adalah penunjukkan ilahiyah yang telah Allah pilih dengan ilmu Allah yang telah lebih dulu ada. Penunjukkan imamah ini sebagaimana pengangkatan nabi. Nabi memerintah untuk mengangkat imamah setelah beliau wafat dan beliau memerintahkan untuk mengikutinya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: Ashlusy Syi’ah wa Ushuluhaa karya Muhammad Husain, hal. 102. Syi’ah berkata, “Siapa saja yang menantang imamah amirul mukminin ‘Ali bin Abi Tholib dan imam setelah itu, maka itu sama halnya dengan menentang kenabian. Siapa saja yang menetapkan amirul mukminin dan ia mengingkari satu imam saja, maka itu sama halnya dengan mengimani seluruh Nabi dan mengingkari kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dilanjutkan pula, “Siapa saja yang menentang imamah yaitu salah satu dari imam 12, maka itu sama saja menentang salah satu nabi dari seluruh nabi yang diutus.” Lihat Minhajun Najah karya Al Faidh Al Kasyani, hal. 48. Syi’ah berkata tegas tentang kafirnya orang yang tidak mengimani imamah mereka. Mereka berkata, “Para imam bersepakat bahwa siapa saja yang mengingkari imamah salah satu imam lalu ia menentang yang Allah wajibkan untuk taat pada imamah, maka ia kafir dan sesat serta pantas kekal dalam neraka.” Lihat kitab Haqqul Yaqin fi Ma’rifati Ushulud Diin karya ‘Abdullah Syibr, 2: 189. Sama halnya juga mereka berkata, “Lafazh syirik dan kufur disematkan pada orang yang tidak meyakini kepemimpinan amirul mukminin dan imamah dari orang tuanya, lalu mengutakan imam yang lain. Mereka-mereka ini kekal dalam neraka.” Lihat kitab Biharul Anwar, karya Al Majlisi, 23: 390. Dalil Doktrin Imamah dalam Syi’ah Di antara dalil yang dijadikan doktrin imamah Syi’ah adalah hadits Jabir bin Samurah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ اثْنَا عَشَرَ أَمِيرًا فَقَالَ كَلِمَةً لَمْ أَسْمَعْهَا فَقَالَ أَبِي إِنَّهُ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ “Akan ada 12 amir atau pemimpin.” Lalu beliau mengatakan sesuatu yang tidak aku dengar. Kata ayahku beliau bersabda, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Bukhari no. 7222) Dalam Shahih Muslim redaksinya sebagai berikut: عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِى عَلَى النَّبِىِّ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الأَمْرَ لاَ يَنْقَضِى حَتَّى يَمْضِىَ فِيهِمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً. قَالَ ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلاَمٍ خَفِىَ عَلَىَّ فَقُلْتُ لأَبِى مَا قَالَ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ Jabir ibn Samurah berkata: Aku bersama ayahku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar beliau bersabda, “Sungguh urusan ini tidak akan berakhir sampai berlalu di tengah-tengah umat 12 khalifah.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak terdengar olehku. Aku bertanya kepada ayahku, “Apa yang beliau katakan?” Kata beliau, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Muslim no. 1821) Dalam riwayat Abu Daud disebutkan, لاَ يَزَالُ هَذَا الدِّينُ قَائِمًا حَتَّى يَكُونَ عَلَيْكُمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً كُلُّهُمْ تَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الأُمَّةُ “Agama ini akan senantiasa tegak sampai ada 12 khalifah yang kesemuanya disepakati oleh umat -semuanya dari Quraisy-.” (HR. Abu Daud no. 4279) Ke-12 imam yang dimaksud Syi’ah adalah 1- Ali ibn Abi Thalib, 2- Husain, 3- ‘Ali Zainal ‘Abidin, 4- Muhammad Al-Baqir, 5- Ja’far As-Shadiq, 6- Musa Al-Kazhim, 7- ‘Ali Ar-Ridla, 8- Muhammad Al-Jawwad, 9- ‘Ali Al-Hadi, 10- Hasan Al-‘Askari, 11- Muhammad al-Muntazhar yang wafat di usia 8 tahun. Sesudah itu, imamah dilanjutkan oleh para wakilnya, yakni para wali/mullah/faqih (wilayatul-faqih) yang mengikuti madzhab Ahlul-Bait versi Syi’ah sampai datangnya imam ke-12 yakni imam mahdi (Lihat Islam Alternatif, Bandung: Mizan, 1998). Sanggahan Klaim Imamah Yang diklaim oleh Syi’ah sebagai imamah ternyata tidak disepakati oleh para ulama. Dan menurut Syi’ah, agama Islam itu belum tegak pada zaman Abu Bakr dan ‘Utsman. Apa yang mereka klaim sungguh berbeda dengan realita. Ditambah lagi sudah ditegaskan bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu generasi sesudahnya. Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Boleh jadi yang dimaksud 12 khalifah adalah saat Islam mengalami kejayaan dan khilafah ini disepakati. Karena dalam riwayat lain dikuatkan dengan lafazh,  “Mereka semua disepakati oleh umat.” (Lihat Fathul Bari, 13: 212 ) Imam Nawawi membawakan perkataan Al Qodhi ‘Iyadh. Dalam memahami hadits di atas, ada dua pertanyaan yang muncul. Pertama, dalam hadits lain terdapat lafazh, “Khilafah setelahku selama 30 tahun, lalu tibalah setelah itu raja.” Hadits ini bertentangan dengan hadits 12 khalifah. Dalam kurun 30 tahun tersebut hanyalah terdapat empat khulafaur rosyidin yang empat dan yang paling masyhur dibai’at setelah itu adalah Al Hasan bin ‘Ali. Bisa dijawab dengan dikatakan bahwa khilafah 30 tahun adalah khilafah setelah kenabian. Karena dalam sebagian riwayat disebutkan, “Khilafah kenabian setelahku adalah 30 tahun dan setelah itu dipimpin oleh raja.” Di sini tidak disyaratkan mesti melewati 12 khalifah. Pertanyaan kedua, boleh jadi kepemimpinan setelah itu lebih dari 12. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan, setelah itu hanya ada 12 imam. Namun beliau berkata bahwa setelah beliau ada 12 imam, boleh jadi lebih dari jumlah tersebut. Boleh jadi pula yang dimaksud adalah 12 imam yang adil. Dua belas imam bisa jadi sudah terlewat. Dan jumlah 12 imam ini akan sempurna sebelum hari kiamat datang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 12: 176. Penjelasan yang dinukil di atas menunjukkan bahwa para ulama tidaklah menentukan siapakah 12 imam tersebut. Berbeda halnya dengan Syi’ah. Dua belas imam yang mereka klaim pun belum disepakati oleh ulama lainnya. Jadi, itu hanya klaim dari Syi’ah saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan 12 imam tersebut, beliau tidak merincinya, sehingga kita pun tidak perlu memberikan rincian. Yang paling pokok, tidak jadi akidah kemestian mengikuti imam Syi’ah. Mereka pun tidak boleh seenaknya mengkafirkan. Hanya Allah yang memberi taufik pada kebenaran.     Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Muharram 1435 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagssyi'ah
Imamah menurut ulama Syi’ah adalah kepemimpinan spiritual atau rohani, pendidikan, agama dan politik bagi umat Islam telah ditentukan Allah secara turun-temurun (theo monarchi) sampai imam ke-12. Menurut Syi’ah, siapa saja yang tidak mengimani imamah mereka, maka ia kafir. Maka jangan heran jika Syi’ah tidak pernah akur dengan golongan Sunni. Perkataan Syi’ah di Kitab Mereka Syi’ah berkata, “Siapa saja yang tidak mengimani imamah, imannya tidaklah sempurna sampai ia beriman kepada imamah dan beri’tiqod padanya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 78. Syi’ah berkata, “Imamah adalah kelanjutan dari kenabian. Wajib rasul dan nabi itu diutus. Setelah rasul, wajib mengimani imamah.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 88. Syi’ah berkata, “Yang dimaksud imamah adalah penunjukkan ilahiyah yang telah Allah pilih dengan ilmu Allah yang telah lebih dulu ada. Penunjukkan imamah ini sebagaimana pengangkatan nabi. Nabi memerintah untuk mengangkat imamah setelah beliau wafat dan beliau memerintahkan untuk mengikutinya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: Ashlusy Syi’ah wa Ushuluhaa karya Muhammad Husain, hal. 102. Syi’ah berkata, “Siapa saja yang menantang imamah amirul mukminin ‘Ali bin Abi Tholib dan imam setelah itu, maka itu sama halnya dengan menentang kenabian. Siapa saja yang menetapkan amirul mukminin dan ia mengingkari satu imam saja, maka itu sama halnya dengan mengimani seluruh Nabi dan mengingkari kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dilanjutkan pula, “Siapa saja yang menentang imamah yaitu salah satu dari imam 12, maka itu sama saja menentang salah satu nabi dari seluruh nabi yang diutus.” Lihat Minhajun Najah karya Al Faidh Al Kasyani, hal. 48. Syi’ah berkata tegas tentang kafirnya orang yang tidak mengimani imamah mereka. Mereka berkata, “Para imam bersepakat bahwa siapa saja yang mengingkari imamah salah satu imam lalu ia menentang yang Allah wajibkan untuk taat pada imamah, maka ia kafir dan sesat serta pantas kekal dalam neraka.” Lihat kitab Haqqul Yaqin fi Ma’rifati Ushulud Diin karya ‘Abdullah Syibr, 2: 189. Sama halnya juga mereka berkata, “Lafazh syirik dan kufur disematkan pada orang yang tidak meyakini kepemimpinan amirul mukminin dan imamah dari orang tuanya, lalu mengutakan imam yang lain. Mereka-mereka ini kekal dalam neraka.” Lihat kitab Biharul Anwar, karya Al Majlisi, 23: 390. Dalil Doktrin Imamah dalam Syi’ah Di antara dalil yang dijadikan doktrin imamah Syi’ah adalah hadits Jabir bin Samurah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ اثْنَا عَشَرَ أَمِيرًا فَقَالَ كَلِمَةً لَمْ أَسْمَعْهَا فَقَالَ أَبِي إِنَّهُ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ “Akan ada 12 amir atau pemimpin.” Lalu beliau mengatakan sesuatu yang tidak aku dengar. Kata ayahku beliau bersabda, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Bukhari no. 7222) Dalam Shahih Muslim redaksinya sebagai berikut: عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِى عَلَى النَّبِىِّ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الأَمْرَ لاَ يَنْقَضِى حَتَّى يَمْضِىَ فِيهِمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً. قَالَ ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلاَمٍ خَفِىَ عَلَىَّ فَقُلْتُ لأَبِى مَا قَالَ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ Jabir ibn Samurah berkata: Aku bersama ayahku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar beliau bersabda, “Sungguh urusan ini tidak akan berakhir sampai berlalu di tengah-tengah umat 12 khalifah.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak terdengar olehku. Aku bertanya kepada ayahku, “Apa yang beliau katakan?” Kata beliau, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Muslim no. 1821) Dalam riwayat Abu Daud disebutkan, لاَ يَزَالُ هَذَا الدِّينُ قَائِمًا حَتَّى يَكُونَ عَلَيْكُمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً كُلُّهُمْ تَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الأُمَّةُ “Agama ini akan senantiasa tegak sampai ada 12 khalifah yang kesemuanya disepakati oleh umat -semuanya dari Quraisy-.” (HR. Abu Daud no. 4279) Ke-12 imam yang dimaksud Syi’ah adalah 1- Ali ibn Abi Thalib, 2- Husain, 3- ‘Ali Zainal ‘Abidin, 4- Muhammad Al-Baqir, 5- Ja’far As-Shadiq, 6- Musa Al-Kazhim, 7- ‘Ali Ar-Ridla, 8- Muhammad Al-Jawwad, 9- ‘Ali Al-Hadi, 10- Hasan Al-‘Askari, 11- Muhammad al-Muntazhar yang wafat di usia 8 tahun. Sesudah itu, imamah dilanjutkan oleh para wakilnya, yakni para wali/mullah/faqih (wilayatul-faqih) yang mengikuti madzhab Ahlul-Bait versi Syi’ah sampai datangnya imam ke-12 yakni imam mahdi (Lihat Islam Alternatif, Bandung: Mizan, 1998). Sanggahan Klaim Imamah Yang diklaim oleh Syi’ah sebagai imamah ternyata tidak disepakati oleh para ulama. Dan menurut Syi’ah, agama Islam itu belum tegak pada zaman Abu Bakr dan ‘Utsman. Apa yang mereka klaim sungguh berbeda dengan realita. Ditambah lagi sudah ditegaskan bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu generasi sesudahnya. Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Boleh jadi yang dimaksud 12 khalifah adalah saat Islam mengalami kejayaan dan khilafah ini disepakati. Karena dalam riwayat lain dikuatkan dengan lafazh,  “Mereka semua disepakati oleh umat.” (Lihat Fathul Bari, 13: 212 ) Imam Nawawi membawakan perkataan Al Qodhi ‘Iyadh. Dalam memahami hadits di atas, ada dua pertanyaan yang muncul. Pertama, dalam hadits lain terdapat lafazh, “Khilafah setelahku selama 30 tahun, lalu tibalah setelah itu raja.” Hadits ini bertentangan dengan hadits 12 khalifah. Dalam kurun 30 tahun tersebut hanyalah terdapat empat khulafaur rosyidin yang empat dan yang paling masyhur dibai’at setelah itu adalah Al Hasan bin ‘Ali. Bisa dijawab dengan dikatakan bahwa khilafah 30 tahun adalah khilafah setelah kenabian. Karena dalam sebagian riwayat disebutkan, “Khilafah kenabian setelahku adalah 30 tahun dan setelah itu dipimpin oleh raja.” Di sini tidak disyaratkan mesti melewati 12 khalifah. Pertanyaan kedua, boleh jadi kepemimpinan setelah itu lebih dari 12. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan, setelah itu hanya ada 12 imam. Namun beliau berkata bahwa setelah beliau ada 12 imam, boleh jadi lebih dari jumlah tersebut. Boleh jadi pula yang dimaksud adalah 12 imam yang adil. Dua belas imam bisa jadi sudah terlewat. Dan jumlah 12 imam ini akan sempurna sebelum hari kiamat datang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 12: 176. Penjelasan yang dinukil di atas menunjukkan bahwa para ulama tidaklah menentukan siapakah 12 imam tersebut. Berbeda halnya dengan Syi’ah. Dua belas imam yang mereka klaim pun belum disepakati oleh ulama lainnya. Jadi, itu hanya klaim dari Syi’ah saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan 12 imam tersebut, beliau tidak merincinya, sehingga kita pun tidak perlu memberikan rincian. Yang paling pokok, tidak jadi akidah kemestian mengikuti imam Syi’ah. Mereka pun tidak boleh seenaknya mengkafirkan. Hanya Allah yang memberi taufik pada kebenaran.     Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Muharram 1435 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagssyi'ah


Imamah menurut ulama Syi’ah adalah kepemimpinan spiritual atau rohani, pendidikan, agama dan politik bagi umat Islam telah ditentukan Allah secara turun-temurun (theo monarchi) sampai imam ke-12. Menurut Syi’ah, siapa saja yang tidak mengimani imamah mereka, maka ia kafir. Maka jangan heran jika Syi’ah tidak pernah akur dengan golongan Sunni. Perkataan Syi’ah di Kitab Mereka Syi’ah berkata, “Siapa saja yang tidak mengimani imamah, imannya tidaklah sempurna sampai ia beriman kepada imamah dan beri’tiqod padanya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 78. Syi’ah berkata, “Imamah adalah kelanjutan dari kenabian. Wajib rasul dan nabi itu diutus. Setelah rasul, wajib mengimani imamah.” Lihat dalam kitab Syi’ah: ‘Aqoidul Imamah karya Muhammad Ridho, hal. 88. Syi’ah berkata, “Yang dimaksud imamah adalah penunjukkan ilahiyah yang telah Allah pilih dengan ilmu Allah yang telah lebih dulu ada. Penunjukkan imamah ini sebagaimana pengangkatan nabi. Nabi memerintah untuk mengangkat imamah setelah beliau wafat dan beliau memerintahkan untuk mengikutinya.” Lihat dalam kitab Syi’ah: Ashlusy Syi’ah wa Ushuluhaa karya Muhammad Husain, hal. 102. Syi’ah berkata, “Siapa saja yang menantang imamah amirul mukminin ‘Ali bin Abi Tholib dan imam setelah itu, maka itu sama halnya dengan menentang kenabian. Siapa saja yang menetapkan amirul mukminin dan ia mengingkari satu imam saja, maka itu sama halnya dengan mengimani seluruh Nabi dan mengingkari kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dilanjutkan pula, “Siapa saja yang menentang imamah yaitu salah satu dari imam 12, maka itu sama saja menentang salah satu nabi dari seluruh nabi yang diutus.” Lihat Minhajun Najah karya Al Faidh Al Kasyani, hal. 48. Syi’ah berkata tegas tentang kafirnya orang yang tidak mengimani imamah mereka. Mereka berkata, “Para imam bersepakat bahwa siapa saja yang mengingkari imamah salah satu imam lalu ia menentang yang Allah wajibkan untuk taat pada imamah, maka ia kafir dan sesat serta pantas kekal dalam neraka.” Lihat kitab Haqqul Yaqin fi Ma’rifati Ushulud Diin karya ‘Abdullah Syibr, 2: 189. Sama halnya juga mereka berkata, “Lafazh syirik dan kufur disematkan pada orang yang tidak meyakini kepemimpinan amirul mukminin dan imamah dari orang tuanya, lalu mengutakan imam yang lain. Mereka-mereka ini kekal dalam neraka.” Lihat kitab Biharul Anwar, karya Al Majlisi, 23: 390. Dalil Doktrin Imamah dalam Syi’ah Di antara dalil yang dijadikan doktrin imamah Syi’ah adalah hadits Jabir bin Samurah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ اثْنَا عَشَرَ أَمِيرًا فَقَالَ كَلِمَةً لَمْ أَسْمَعْهَا فَقَالَ أَبِي إِنَّهُ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ “Akan ada 12 amir atau pemimpin.” Lalu beliau mengatakan sesuatu yang tidak aku dengar. Kata ayahku beliau bersabda, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Bukhari no. 7222) Dalam Shahih Muslim redaksinya sebagai berikut: عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِى عَلَى النَّبِىِّ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الأَمْرَ لاَ يَنْقَضِى حَتَّى يَمْضِىَ فِيهِمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً. قَالَ ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلاَمٍ خَفِىَ عَلَىَّ فَقُلْتُ لأَبِى مَا قَالَ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ Jabir ibn Samurah berkata: Aku bersama ayahku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar beliau bersabda, “Sungguh urusan ini tidak akan berakhir sampai berlalu di tengah-tengah umat 12 khalifah.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak terdengar olehku. Aku bertanya kepada ayahku, “Apa yang beliau katakan?” Kata beliau, “Semuanya dari Quraisy.” (HR. Muslim no. 1821) Dalam riwayat Abu Daud disebutkan, لاَ يَزَالُ هَذَا الدِّينُ قَائِمًا حَتَّى يَكُونَ عَلَيْكُمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً كُلُّهُمْ تَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الأُمَّةُ “Agama ini akan senantiasa tegak sampai ada 12 khalifah yang kesemuanya disepakati oleh umat -semuanya dari Quraisy-.” (HR. Abu Daud no. 4279) Ke-12 imam yang dimaksud Syi’ah adalah 1- Ali ibn Abi Thalib, 2- Husain, 3- ‘Ali Zainal ‘Abidin, 4- Muhammad Al-Baqir, 5- Ja’far As-Shadiq, 6- Musa Al-Kazhim, 7- ‘Ali Ar-Ridla, 8- Muhammad Al-Jawwad, 9- ‘Ali Al-Hadi, 10- Hasan Al-‘Askari, 11- Muhammad al-Muntazhar yang wafat di usia 8 tahun. Sesudah itu, imamah dilanjutkan oleh para wakilnya, yakni para wali/mullah/faqih (wilayatul-faqih) yang mengikuti madzhab Ahlul-Bait versi Syi’ah sampai datangnya imam ke-12 yakni imam mahdi (Lihat Islam Alternatif, Bandung: Mizan, 1998). Sanggahan Klaim Imamah Yang diklaim oleh Syi’ah sebagai imamah ternyata tidak disepakati oleh para ulama. Dan menurut Syi’ah, agama Islam itu belum tegak pada zaman Abu Bakr dan ‘Utsman. Apa yang mereka klaim sungguh berbeda dengan realita. Ditambah lagi sudah ditegaskan bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu generasi sesudahnya. Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Boleh jadi yang dimaksud 12 khalifah adalah saat Islam mengalami kejayaan dan khilafah ini disepakati. Karena dalam riwayat lain dikuatkan dengan lafazh,  “Mereka semua disepakati oleh umat.” (Lihat Fathul Bari, 13: 212 ) Imam Nawawi membawakan perkataan Al Qodhi ‘Iyadh. Dalam memahami hadits di atas, ada dua pertanyaan yang muncul. Pertama, dalam hadits lain terdapat lafazh, “Khilafah setelahku selama 30 tahun, lalu tibalah setelah itu raja.” Hadits ini bertentangan dengan hadits 12 khalifah. Dalam kurun 30 tahun tersebut hanyalah terdapat empat khulafaur rosyidin yang empat dan yang paling masyhur dibai’at setelah itu adalah Al Hasan bin ‘Ali. Bisa dijawab dengan dikatakan bahwa khilafah 30 tahun adalah khilafah setelah kenabian. Karena dalam sebagian riwayat disebutkan, “Khilafah kenabian setelahku adalah 30 tahun dan setelah itu dipimpin oleh raja.” Di sini tidak disyaratkan mesti melewati 12 khalifah. Pertanyaan kedua, boleh jadi kepemimpinan setelah itu lebih dari 12. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan, setelah itu hanya ada 12 imam. Namun beliau berkata bahwa setelah beliau ada 12 imam, boleh jadi lebih dari jumlah tersebut. Boleh jadi pula yang dimaksud adalah 12 imam yang adil. Dua belas imam bisa jadi sudah terlewat. Dan jumlah 12 imam ini akan sempurna sebelum hari kiamat datang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 12: 176. Penjelasan yang dinukil di atas menunjukkan bahwa para ulama tidaklah menentukan siapakah 12 imam tersebut. Berbeda halnya dengan Syi’ah. Dua belas imam yang mereka klaim pun belum disepakati oleh ulama lainnya. Jadi, itu hanya klaim dari Syi’ah saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan 12 imam tersebut, beliau tidak merincinya, sehingga kita pun tidak perlu memberikan rincian. Yang paling pokok, tidak jadi akidah kemestian mengikuti imam Syi’ah. Mereka pun tidak boleh seenaknya mengkafirkan. Hanya Allah yang memberi taufik pada kebenaran.     Referensi: Man Hum Asy Syi’ah Al Itsna ‘Asyariyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, terbitan dd-sunnah.net, cetakan pertama, tahun 1428 H. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Muharram 1435 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan add PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan kunjungi toko online Ruwaifi.Com yang memuat produk-produk Rumaysho.Com dan Ustadz Abduh Tuasikal. Tagssyi'ah

Kisah Lucu.. (Senyum sejenak) : Antara Bis no 35 dgn Bis no 53

Kisah ini dikirim oleh seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah dari ‘Amman (Yordania)Judul : Antara Bis no 35 dgn Bis no 53Mahasiswa tersebut terbaring di atas tempat tidur di rumah sakit Universitas Islam Madinah. Sekujur tubuhnya penuh dengan pembalut, dan kedua kakinya digips. Tidak terdengar darinya kecuali suara rintihan…demikian juga isakan karena rasa sakit yang dirasakannya. Aku berkata dalam hatiku : Orang ini pasti kena kecelakaan berat .., atau dia terkena kebakaran… !!Pokoknya akupun datang pada pukul 4 sore yaitu saat dimulainya waktu menjenguk orang sakit. Hanya saja ada satu perkara yang membuat saya heran…setiap orang yang mengunjungi kamar inapnya kalau keluar dari kamarnya pasti ketawa mati terbahak-bahak. Akupun bingung, aku bertanya : Ada apa gerangan..??Pokoknya setiap orang yang mengunjunginya, memberi salam kepadanya maka terdengar suara tertawa dibalik sitar. Aku berkata : Aku harus tahu apa sebabnya ..!! Akhirnya sudah habis waktu berkunjung, maka akupun langsung segera masuk menemuinya akupun melihat kondisinya. Aku berkata kepadanya : Alhamdulillah, semoga engkau baik-baik saja, semoga tdk buruk kondisimu…,Akupun berbicara dengannya, akan tetapi aku terus penasaran kenapa mereka tertawa. Akhirnya aku berkata kepadanya : Aku lihat orang-orang yang menjengukmu, tdk seorangpun yang keluar kecuali tertawa terbahak-bahak hingga terdengar sampai di ujung rumah sakit.Ia berkata ; Memangnya kenapa? Kamu hasad karena kita pada tertawa?Aku berkata : Tentu tidak wahai saudaraku, bukan itu sebabnya. Demi Allah kalau kamu punya sejuta real mungkin baru aku hasad sama kamu. Memang biasa aja sih kalau mereka tertawa, terserah kamu, hanya saja aku ingin tahu apa rahasianya kenapa mereka tertawa, kalau engkau tdk keberatan memberitahukannya …Ia berkata : Baiklah akan aku ceritakan, jangan kawatir. Lihatlah kondisiku ini, patah tulang, terbalut dengan perban….Aku berkata : Benar…, semoga Allah menyembuhkanmuIa berkata : Wahai saudaraku – semoga Allah memanjangkan umurmu-, aku tinggal di wihdah (asrama) di lantai kedua. Dan di kamarku ada blakon biasa tidak aku rapikan. Jika aku tidur maka aku buka pintu balkon, aku matikan lampu, lalu kurebahkan diriku di atas ranjang tidur.Suatu hari aku tertidur sangat sangat pulas dan aku tenggelam dalam mimpiku…Sekan-akan aku berada di hari kiamat, dan aku mimpi orang-orang berkumpul di suatu padang/tempat seperti tempat parkiran bis. Ada bis-bis yang mengantarkan ke surga, dan ada bis-bis yang mengantarkan ke neraka.Pokoknya orang-orang dipanggil berdasarkan nama-nama mereka masing masing. Fulan bin fulan silahkan naik bis neraka … Fulan bin Fulan silahkan naik bis surga, dan demikianlah.Tiba-tiba dipanggil : “fulan bin fulan”…., ternyata itu adalah namaku…, hatikupun berdebar…”pergilah ke bis surga !” Huppps, alhamdulillah, akhirnya akupun tenang.Maka akupun mencari bis no 35 yang tertulis di situ “Ke Surga…”. Akhirnya akupun menemukannya, lalu akupun naik bis tersebut. Lalu bispun berjalan…tidak lama kemudian nampak ada plakat di jalan tertulis “Surga 50 km”, “Neraka 100 km”. Kamipun berjalan sambil memperhatikan plakat-plakat jalan raya, demi Allah ternyata bisnya kelewatan, telah kelewatan melewati belokan menuju surga. Aku berkata dalam hati ; Mungkin saja si supir tahu jalan masuk dari pintu surga yang lain.Akupun terus memperhatikan plakat-plakat jalan, lalu aku melihat plakat tertulis “Neraka 15 km”, tidak lama kemudian plakat “Neraka 10 km lagi”, semakin bis berjalan semakin mendekat ke neraka. Apa gerangan yang terjadi ???. Yang anehnya para penumpang hanya diam saja, tidak seorangpun dari mereka yang gelisah seperti diriku.Aku berkata : aku harus ngomong lansung sama sang supir. Akupun menuju sang supir hanya saja sang supir tetap membelakangiku, aku katakan kepadanya, “Kamu hendak kemana?”Tanpa menoleh sama sekali iapun menjawab, “Pergi ke neraka ya habibi”Kukatakan kepadanya, “Aku ini penghuni surga !!!, kenapa engkau mengantarku ke neraka??”Lalu iapun menoleh balik kepadaku, ternyata dia adalah Iblis. Akupun berkata kepadanya, “Aku penghuni surga wahai iblis yg terlaknat !!, demi Allah yang Maha Agung, sungguh aku ini penghuni surga. Baru saja tadi aku mendengar pengunguman bahwa namaku termasuk penumpang bis no 35 yang berangkat mengantar ke surga. Stop wahai iblis yang terkutuk !!! Akupun berteriak kepada iblis, sementara ia dengan wajahnya yang buruk hanya tertawa-tawa Ha ha ha ha. Lalu ia berkata, “Ini adalah bis no 53 yang berangkat menuju neraka !!!” Rupanya karena aku tadi sangat gembira sampai ngaco salah baik bis, tdk membedakan antara no 35 dan 53.Aku berkata, “Hentikan bis wahai iblis yang terkutuk !!, aku mau turun !!”Iblis berkata, “Demi Allah, bis ini telah diprogram, tidak akan berhenti kecuali di neraka. Kalau kau mau turun maka loncat saja dari situ !!”Akupun segera menendang pintu bis, lalu aku membukanya lalu akupun loncat dari bis…,Hups, aku pun tidak sadarkan diri kecuali ternyata aku sudah di Rumah sakit. Ternyata aku telah loncat dari balkon lantai dua ke bawah. SELESAI …(kisah nyata yang menimpa seorang mahasiswa Madinah yang tahun lalu dirawat inap di Rumah Sakit universitas Islam Madinah)Karenanya hendaknya para pembaca yang budiman berlindung kepada Allah dari godaan Iblis sebelum tidur, dan jangan lupa bedakan antara no 35 dan no 53.Jangan lupa doa dan dzikir sebelum tidur !!!(Hinga di sini ceritanya, sebagaimana ana dikirimkan oleh sahabat ana mahasiswa S2 jurusan aqidah dari Libia. Wallahu A’lam akan kebenaran kisah ini)

Kisah Lucu.. (Senyum sejenak) : Antara Bis no 35 dgn Bis no 53

Kisah ini dikirim oleh seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah dari ‘Amman (Yordania)Judul : Antara Bis no 35 dgn Bis no 53Mahasiswa tersebut terbaring di atas tempat tidur di rumah sakit Universitas Islam Madinah. Sekujur tubuhnya penuh dengan pembalut, dan kedua kakinya digips. Tidak terdengar darinya kecuali suara rintihan…demikian juga isakan karena rasa sakit yang dirasakannya. Aku berkata dalam hatiku : Orang ini pasti kena kecelakaan berat .., atau dia terkena kebakaran… !!Pokoknya akupun datang pada pukul 4 sore yaitu saat dimulainya waktu menjenguk orang sakit. Hanya saja ada satu perkara yang membuat saya heran…setiap orang yang mengunjungi kamar inapnya kalau keluar dari kamarnya pasti ketawa mati terbahak-bahak. Akupun bingung, aku bertanya : Ada apa gerangan..??Pokoknya setiap orang yang mengunjunginya, memberi salam kepadanya maka terdengar suara tertawa dibalik sitar. Aku berkata : Aku harus tahu apa sebabnya ..!! Akhirnya sudah habis waktu berkunjung, maka akupun langsung segera masuk menemuinya akupun melihat kondisinya. Aku berkata kepadanya : Alhamdulillah, semoga engkau baik-baik saja, semoga tdk buruk kondisimu…,Akupun berbicara dengannya, akan tetapi aku terus penasaran kenapa mereka tertawa. Akhirnya aku berkata kepadanya : Aku lihat orang-orang yang menjengukmu, tdk seorangpun yang keluar kecuali tertawa terbahak-bahak hingga terdengar sampai di ujung rumah sakit.Ia berkata ; Memangnya kenapa? Kamu hasad karena kita pada tertawa?Aku berkata : Tentu tidak wahai saudaraku, bukan itu sebabnya. Demi Allah kalau kamu punya sejuta real mungkin baru aku hasad sama kamu. Memang biasa aja sih kalau mereka tertawa, terserah kamu, hanya saja aku ingin tahu apa rahasianya kenapa mereka tertawa, kalau engkau tdk keberatan memberitahukannya …Ia berkata : Baiklah akan aku ceritakan, jangan kawatir. Lihatlah kondisiku ini, patah tulang, terbalut dengan perban….Aku berkata : Benar…, semoga Allah menyembuhkanmuIa berkata : Wahai saudaraku – semoga Allah memanjangkan umurmu-, aku tinggal di wihdah (asrama) di lantai kedua. Dan di kamarku ada blakon biasa tidak aku rapikan. Jika aku tidur maka aku buka pintu balkon, aku matikan lampu, lalu kurebahkan diriku di atas ranjang tidur.Suatu hari aku tertidur sangat sangat pulas dan aku tenggelam dalam mimpiku…Sekan-akan aku berada di hari kiamat, dan aku mimpi orang-orang berkumpul di suatu padang/tempat seperti tempat parkiran bis. Ada bis-bis yang mengantarkan ke surga, dan ada bis-bis yang mengantarkan ke neraka.Pokoknya orang-orang dipanggil berdasarkan nama-nama mereka masing masing. Fulan bin fulan silahkan naik bis neraka … Fulan bin Fulan silahkan naik bis surga, dan demikianlah.Tiba-tiba dipanggil : “fulan bin fulan”…., ternyata itu adalah namaku…, hatikupun berdebar…”pergilah ke bis surga !” Huppps, alhamdulillah, akhirnya akupun tenang.Maka akupun mencari bis no 35 yang tertulis di situ “Ke Surga…”. Akhirnya akupun menemukannya, lalu akupun naik bis tersebut. Lalu bispun berjalan…tidak lama kemudian nampak ada plakat di jalan tertulis “Surga 50 km”, “Neraka 100 km”. Kamipun berjalan sambil memperhatikan plakat-plakat jalan raya, demi Allah ternyata bisnya kelewatan, telah kelewatan melewati belokan menuju surga. Aku berkata dalam hati ; Mungkin saja si supir tahu jalan masuk dari pintu surga yang lain.Akupun terus memperhatikan plakat-plakat jalan, lalu aku melihat plakat tertulis “Neraka 15 km”, tidak lama kemudian plakat “Neraka 10 km lagi”, semakin bis berjalan semakin mendekat ke neraka. Apa gerangan yang terjadi ???. Yang anehnya para penumpang hanya diam saja, tidak seorangpun dari mereka yang gelisah seperti diriku.Aku berkata : aku harus ngomong lansung sama sang supir. Akupun menuju sang supir hanya saja sang supir tetap membelakangiku, aku katakan kepadanya, “Kamu hendak kemana?”Tanpa menoleh sama sekali iapun menjawab, “Pergi ke neraka ya habibi”Kukatakan kepadanya, “Aku ini penghuni surga !!!, kenapa engkau mengantarku ke neraka??”Lalu iapun menoleh balik kepadaku, ternyata dia adalah Iblis. Akupun berkata kepadanya, “Aku penghuni surga wahai iblis yg terlaknat !!, demi Allah yang Maha Agung, sungguh aku ini penghuni surga. Baru saja tadi aku mendengar pengunguman bahwa namaku termasuk penumpang bis no 35 yang berangkat mengantar ke surga. Stop wahai iblis yang terkutuk !!! Akupun berteriak kepada iblis, sementara ia dengan wajahnya yang buruk hanya tertawa-tawa Ha ha ha ha. Lalu ia berkata, “Ini adalah bis no 53 yang berangkat menuju neraka !!!” Rupanya karena aku tadi sangat gembira sampai ngaco salah baik bis, tdk membedakan antara no 35 dan 53.Aku berkata, “Hentikan bis wahai iblis yang terkutuk !!, aku mau turun !!”Iblis berkata, “Demi Allah, bis ini telah diprogram, tidak akan berhenti kecuali di neraka. Kalau kau mau turun maka loncat saja dari situ !!”Akupun segera menendang pintu bis, lalu aku membukanya lalu akupun loncat dari bis…,Hups, aku pun tidak sadarkan diri kecuali ternyata aku sudah di Rumah sakit. Ternyata aku telah loncat dari balkon lantai dua ke bawah. SELESAI …(kisah nyata yang menimpa seorang mahasiswa Madinah yang tahun lalu dirawat inap di Rumah Sakit universitas Islam Madinah)Karenanya hendaknya para pembaca yang budiman berlindung kepada Allah dari godaan Iblis sebelum tidur, dan jangan lupa bedakan antara no 35 dan no 53.Jangan lupa doa dan dzikir sebelum tidur !!!(Hinga di sini ceritanya, sebagaimana ana dikirimkan oleh sahabat ana mahasiswa S2 jurusan aqidah dari Libia. Wallahu A’lam akan kebenaran kisah ini)
Kisah ini dikirim oleh seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah dari ‘Amman (Yordania)Judul : Antara Bis no 35 dgn Bis no 53Mahasiswa tersebut terbaring di atas tempat tidur di rumah sakit Universitas Islam Madinah. Sekujur tubuhnya penuh dengan pembalut, dan kedua kakinya digips. Tidak terdengar darinya kecuali suara rintihan…demikian juga isakan karena rasa sakit yang dirasakannya. Aku berkata dalam hatiku : Orang ini pasti kena kecelakaan berat .., atau dia terkena kebakaran… !!Pokoknya akupun datang pada pukul 4 sore yaitu saat dimulainya waktu menjenguk orang sakit. Hanya saja ada satu perkara yang membuat saya heran…setiap orang yang mengunjungi kamar inapnya kalau keluar dari kamarnya pasti ketawa mati terbahak-bahak. Akupun bingung, aku bertanya : Ada apa gerangan..??Pokoknya setiap orang yang mengunjunginya, memberi salam kepadanya maka terdengar suara tertawa dibalik sitar. Aku berkata : Aku harus tahu apa sebabnya ..!! Akhirnya sudah habis waktu berkunjung, maka akupun langsung segera masuk menemuinya akupun melihat kondisinya. Aku berkata kepadanya : Alhamdulillah, semoga engkau baik-baik saja, semoga tdk buruk kondisimu…,Akupun berbicara dengannya, akan tetapi aku terus penasaran kenapa mereka tertawa. Akhirnya aku berkata kepadanya : Aku lihat orang-orang yang menjengukmu, tdk seorangpun yang keluar kecuali tertawa terbahak-bahak hingga terdengar sampai di ujung rumah sakit.Ia berkata ; Memangnya kenapa? Kamu hasad karena kita pada tertawa?Aku berkata : Tentu tidak wahai saudaraku, bukan itu sebabnya. Demi Allah kalau kamu punya sejuta real mungkin baru aku hasad sama kamu. Memang biasa aja sih kalau mereka tertawa, terserah kamu, hanya saja aku ingin tahu apa rahasianya kenapa mereka tertawa, kalau engkau tdk keberatan memberitahukannya …Ia berkata : Baiklah akan aku ceritakan, jangan kawatir. Lihatlah kondisiku ini, patah tulang, terbalut dengan perban….Aku berkata : Benar…, semoga Allah menyembuhkanmuIa berkata : Wahai saudaraku – semoga Allah memanjangkan umurmu-, aku tinggal di wihdah (asrama) di lantai kedua. Dan di kamarku ada blakon biasa tidak aku rapikan. Jika aku tidur maka aku buka pintu balkon, aku matikan lampu, lalu kurebahkan diriku di atas ranjang tidur.Suatu hari aku tertidur sangat sangat pulas dan aku tenggelam dalam mimpiku…Sekan-akan aku berada di hari kiamat, dan aku mimpi orang-orang berkumpul di suatu padang/tempat seperti tempat parkiran bis. Ada bis-bis yang mengantarkan ke surga, dan ada bis-bis yang mengantarkan ke neraka.Pokoknya orang-orang dipanggil berdasarkan nama-nama mereka masing masing. Fulan bin fulan silahkan naik bis neraka … Fulan bin Fulan silahkan naik bis surga, dan demikianlah.Tiba-tiba dipanggil : “fulan bin fulan”…., ternyata itu adalah namaku…, hatikupun berdebar…”pergilah ke bis surga !” Huppps, alhamdulillah, akhirnya akupun tenang.Maka akupun mencari bis no 35 yang tertulis di situ “Ke Surga…”. Akhirnya akupun menemukannya, lalu akupun naik bis tersebut. Lalu bispun berjalan…tidak lama kemudian nampak ada plakat di jalan tertulis “Surga 50 km”, “Neraka 100 km”. Kamipun berjalan sambil memperhatikan plakat-plakat jalan raya, demi Allah ternyata bisnya kelewatan, telah kelewatan melewati belokan menuju surga. Aku berkata dalam hati ; Mungkin saja si supir tahu jalan masuk dari pintu surga yang lain.Akupun terus memperhatikan plakat-plakat jalan, lalu aku melihat plakat tertulis “Neraka 15 km”, tidak lama kemudian plakat “Neraka 10 km lagi”, semakin bis berjalan semakin mendekat ke neraka. Apa gerangan yang terjadi ???. Yang anehnya para penumpang hanya diam saja, tidak seorangpun dari mereka yang gelisah seperti diriku.Aku berkata : aku harus ngomong lansung sama sang supir. Akupun menuju sang supir hanya saja sang supir tetap membelakangiku, aku katakan kepadanya, “Kamu hendak kemana?”Tanpa menoleh sama sekali iapun menjawab, “Pergi ke neraka ya habibi”Kukatakan kepadanya, “Aku ini penghuni surga !!!, kenapa engkau mengantarku ke neraka??”Lalu iapun menoleh balik kepadaku, ternyata dia adalah Iblis. Akupun berkata kepadanya, “Aku penghuni surga wahai iblis yg terlaknat !!, demi Allah yang Maha Agung, sungguh aku ini penghuni surga. Baru saja tadi aku mendengar pengunguman bahwa namaku termasuk penumpang bis no 35 yang berangkat mengantar ke surga. Stop wahai iblis yang terkutuk !!! Akupun berteriak kepada iblis, sementara ia dengan wajahnya yang buruk hanya tertawa-tawa Ha ha ha ha. Lalu ia berkata, “Ini adalah bis no 53 yang berangkat menuju neraka !!!” Rupanya karena aku tadi sangat gembira sampai ngaco salah baik bis, tdk membedakan antara no 35 dan 53.Aku berkata, “Hentikan bis wahai iblis yang terkutuk !!, aku mau turun !!”Iblis berkata, “Demi Allah, bis ini telah diprogram, tidak akan berhenti kecuali di neraka. Kalau kau mau turun maka loncat saja dari situ !!”Akupun segera menendang pintu bis, lalu aku membukanya lalu akupun loncat dari bis…,Hups, aku pun tidak sadarkan diri kecuali ternyata aku sudah di Rumah sakit. Ternyata aku telah loncat dari balkon lantai dua ke bawah. SELESAI …(kisah nyata yang menimpa seorang mahasiswa Madinah yang tahun lalu dirawat inap di Rumah Sakit universitas Islam Madinah)Karenanya hendaknya para pembaca yang budiman berlindung kepada Allah dari godaan Iblis sebelum tidur, dan jangan lupa bedakan antara no 35 dan no 53.Jangan lupa doa dan dzikir sebelum tidur !!!(Hinga di sini ceritanya, sebagaimana ana dikirimkan oleh sahabat ana mahasiswa S2 jurusan aqidah dari Libia. Wallahu A’lam akan kebenaran kisah ini)


Kisah ini dikirim oleh seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah dari ‘Amman (Yordania)Judul : Antara Bis no 35 dgn Bis no 53Mahasiswa tersebut terbaring di atas tempat tidur di rumah sakit Universitas Islam Madinah. Sekujur tubuhnya penuh dengan pembalut, dan kedua kakinya digips. Tidak terdengar darinya kecuali suara rintihan…demikian juga isakan karena rasa sakit yang dirasakannya. Aku berkata dalam hatiku : Orang ini pasti kena kecelakaan berat .., atau dia terkena kebakaran… !!Pokoknya akupun datang pada pukul 4 sore yaitu saat dimulainya waktu menjenguk orang sakit. Hanya saja ada satu perkara yang membuat saya heran…setiap orang yang mengunjungi kamar inapnya kalau keluar dari kamarnya pasti ketawa mati terbahak-bahak. Akupun bingung, aku bertanya : Ada apa gerangan..??Pokoknya setiap orang yang mengunjunginya, memberi salam kepadanya maka terdengar suara tertawa dibalik sitar. Aku berkata : Aku harus tahu apa sebabnya ..!! Akhirnya sudah habis waktu berkunjung, maka akupun langsung segera masuk menemuinya akupun melihat kondisinya. Aku berkata kepadanya : Alhamdulillah, semoga engkau baik-baik saja, semoga tdk buruk kondisimu…,Akupun berbicara dengannya, akan tetapi aku terus penasaran kenapa mereka tertawa. Akhirnya aku berkata kepadanya : Aku lihat orang-orang yang menjengukmu, tdk seorangpun yang keluar kecuali tertawa terbahak-bahak hingga terdengar sampai di ujung rumah sakit.Ia berkata ; Memangnya kenapa? Kamu hasad karena kita pada tertawa?Aku berkata : Tentu tidak wahai saudaraku, bukan itu sebabnya. Demi Allah kalau kamu punya sejuta real mungkin baru aku hasad sama kamu. Memang biasa aja sih kalau mereka tertawa, terserah kamu, hanya saja aku ingin tahu apa rahasianya kenapa mereka tertawa, kalau engkau tdk keberatan memberitahukannya …Ia berkata : Baiklah akan aku ceritakan, jangan kawatir. Lihatlah kondisiku ini, patah tulang, terbalut dengan perban….Aku berkata : Benar…, semoga Allah menyembuhkanmuIa berkata : Wahai saudaraku – semoga Allah memanjangkan umurmu-, aku tinggal di wihdah (asrama) di lantai kedua. Dan di kamarku ada blakon biasa tidak aku rapikan. Jika aku tidur maka aku buka pintu balkon, aku matikan lampu, lalu kurebahkan diriku di atas ranjang tidur.Suatu hari aku tertidur sangat sangat pulas dan aku tenggelam dalam mimpiku…Sekan-akan aku berada di hari kiamat, dan aku mimpi orang-orang berkumpul di suatu padang/tempat seperti tempat parkiran bis. Ada bis-bis yang mengantarkan ke surga, dan ada bis-bis yang mengantarkan ke neraka.Pokoknya orang-orang dipanggil berdasarkan nama-nama mereka masing masing. Fulan bin fulan silahkan naik bis neraka … Fulan bin Fulan silahkan naik bis surga, dan demikianlah.Tiba-tiba dipanggil : “fulan bin fulan”…., ternyata itu adalah namaku…, hatikupun berdebar…”pergilah ke bis surga !” Huppps, alhamdulillah, akhirnya akupun tenang.Maka akupun mencari bis no 35 yang tertulis di situ “Ke Surga…”. Akhirnya akupun menemukannya, lalu akupun naik bis tersebut. Lalu bispun berjalan…tidak lama kemudian nampak ada plakat di jalan tertulis “Surga 50 km”, “Neraka 100 km”. Kamipun berjalan sambil memperhatikan plakat-plakat jalan raya, demi Allah ternyata bisnya kelewatan, telah kelewatan melewati belokan menuju surga. Aku berkata dalam hati ; Mungkin saja si supir tahu jalan masuk dari pintu surga yang lain.Akupun terus memperhatikan plakat-plakat jalan, lalu aku melihat plakat tertulis “Neraka 15 km”, tidak lama kemudian plakat “Neraka 10 km lagi”, semakin bis berjalan semakin mendekat ke neraka. Apa gerangan yang terjadi ???. Yang anehnya para penumpang hanya diam saja, tidak seorangpun dari mereka yang gelisah seperti diriku.Aku berkata : aku harus ngomong lansung sama sang supir. Akupun menuju sang supir hanya saja sang supir tetap membelakangiku, aku katakan kepadanya, “Kamu hendak kemana?”Tanpa menoleh sama sekali iapun menjawab, “Pergi ke neraka ya habibi”Kukatakan kepadanya, “Aku ini penghuni surga !!!, kenapa engkau mengantarku ke neraka??”Lalu iapun menoleh balik kepadaku, ternyata dia adalah Iblis. Akupun berkata kepadanya, “Aku penghuni surga wahai iblis yg terlaknat !!, demi Allah yang Maha Agung, sungguh aku ini penghuni surga. Baru saja tadi aku mendengar pengunguman bahwa namaku termasuk penumpang bis no 35 yang berangkat mengantar ke surga. Stop wahai iblis yang terkutuk !!! Akupun berteriak kepada iblis, sementara ia dengan wajahnya yang buruk hanya tertawa-tawa Ha ha ha ha. Lalu ia berkata, “Ini adalah bis no 53 yang berangkat menuju neraka !!!” Rupanya karena aku tadi sangat gembira sampai ngaco salah baik bis, tdk membedakan antara no 35 dan 53.Aku berkata, “Hentikan bis wahai iblis yang terkutuk !!, aku mau turun !!”Iblis berkata, “Demi Allah, bis ini telah diprogram, tidak akan berhenti kecuali di neraka. Kalau kau mau turun maka loncat saja dari situ !!”Akupun segera menendang pintu bis, lalu aku membukanya lalu akupun loncat dari bis…,Hups, aku pun tidak sadarkan diri kecuali ternyata aku sudah di Rumah sakit. Ternyata aku telah loncat dari balkon lantai dua ke bawah. SELESAI …(kisah nyata yang menimpa seorang mahasiswa Madinah yang tahun lalu dirawat inap di Rumah Sakit universitas Islam Madinah)Karenanya hendaknya para pembaca yang budiman berlindung kepada Allah dari godaan Iblis sebelum tidur, dan jangan lupa bedakan antara no 35 dan no 53.Jangan lupa doa dan dzikir sebelum tidur !!!(Hinga di sini ceritanya, sebagaimana ana dikirimkan oleh sahabat ana mahasiswa S2 jurusan aqidah dari Libia. Wallahu A’lam akan kebenaran kisah ini)

YESUS SEORANG TUHAN ?? (bag 2)

Diantara bukti-bukti dari nas-nas injil bahwa Yesus bukan tuhan akan tetapi manusia sebagaimana nabi-nabi yang lain adalah :Kelima : Yesus sholat dan berdoa    Sungguh injil sarat dengan penyebutan bahwa Yesus sholat dan berdoa. Contohnya :–    Injil Lukas (5 : 16) : ((Akan tetapi Ia (Yesus) mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa))–    Injil Lukas (6 : 12) : ((Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah))–    Injil Matius (26 : 36) : ((Maka sampailah Yesus bersama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu ia berkata kepada murid-murid-Nya : “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa“))–    Injil Matius (14 : 23) : ((Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ))–    Injil Markus (1 : 35) : ((Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia (Yesus) bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana)) –    Injil Markus (6 : 46) : ((Setelah Ia (Yesus) berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa))–    Injil Lukas (9 : 29) : ((Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya menjadi putih berkilau-kilauan))–    Injil Lukas (11 : 1) : ((Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat))–    Injil Lukas (22 : 41) : ((Kemudia Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelembar batu jaraknya, lalu ia berlutut dan berdoa))–    Injil Lukas (22 : 44) : ((Ia (Yesus) sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh untuk berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah))Yesus sujud dan berdoa karena ia adalah seorang hamba bukan tuhan yang disembah. Ia berdoa dan beribadah menyembah Allah Tuhan pencipta semesta alam. Jika Yesus adalah tuhan, lantas ia sujud kepada siapa?, ia berdoa kepada siapa??!!. Apakah Yesus menyembah dirinya sendiri??, apakah ia berdoa kepada dirinya sendiri??, ini adalah perkara yang mustahil dan kebodohan yang nyata !!!. Maka jelaslah jika Yesus adalah hamba yang beribadah, sujud, dan berdoa kepada Tuhan Allah. Perhatikanlah kembali apa yang diungkapkan dalam injil Matius (26 : 39-45) yang menceritakan bagimana kondisi Yesus yang ketakutan tatkala akan ditangkap, sehingga ia berdoa dalam kondisi takut, hingga keringatnya bercucuran ke tanah !!(((36) Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.” (37) Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, (38) lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (40) Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? (41) Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (42) Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (43) Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. (44) Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. (45) Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. (46)Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”))Lihatlah :–    Yesus berdoa berulang-ulang sehingga tiga kali, bahkan Yesus sujud !!. kepada siapakah ia sujud??, apakah sujud kepada dirinya sendiri karena ia adalah Tuhan??. Ini adalah kemustahilan. Yang benar ia sujud kepada Dzat lain, yaitu Tuhannya Yesus yang telah menciptakan Yesus, yang Yesus berharap pertolonganNya tatkala Yesus ketakutan.–    Lihatlah ketakutan Yesus, hingga ia sangat sedih dan gentar. Bahkan Yesus berkata, “Seperti mau mati rasanya”. Apakah tuhan ketakutan??, apakah tuhan sedih?, apakah tuhan merasa mau mati??!!–    Yesus berkata kepada Petrus : “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?”. Apakah tuhan minta untuk dijaga??! –    Dalam setiap doanya Yesus berkata, “Ya Bapa…”. Ini sangat jelas bahwa Yesus sedang berdoa kepada dzat yang lain, yaitu Tuhan Allah. Kalau Allah adalah Yesus maka berarti Yesus sedang menyeru dirinya sendiri ??!!, dan ini adalah merupakan kedunguan !!–    Yesus berkata, “Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”. Sangatlah jelas Yesus membedakan kehendaknya dengan kehendak Tuhan. Ini sangat jelas yang menyatakan bahwa Yesus adalah belahan jiwa Tuhan, sehingga semua kehendak Yesus adalah kehendak Tuhan.Keenam : Yesus dicoba syaitan    Allah telah mengizinkan syaitan untuk menguji hambanya Yesus, untuk diketahui berapa besar keimanan Yesus dan tegarnya iman dan keyakinannya, agar Yesus berhak untuk menerima risalah/wahyu dari langit. Berikut kisahnya sebagaimana termaktub dalam injil Matius 4 : 1-11:((Pencobaan di padang gurun(1) Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. (2)Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. (3) Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” (4)Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (5) Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, (6) lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” (7) Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (8) Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, (9) dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” (10) Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”(11) Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus))    Perhatikanlah dengan baik kisah ini, jika kisah ini benar dan diyakini kebenarannya oleh kaum Kristen maka dalam kisah ini terlalu banyak bukti bahwa Yesus adalah seorang manusia yang beribadah kepada Tuhannya.Diantara bukti-bukti tersebut :–    Yesus berpuasa??, kalau ia adalah tuhan lantas kepada siapakah Yesus berpuasa?. Puasa adalah ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan Penciptanya.–    Yesus merasakan lapar setelah berpuasa 40 hari. Apakah pantas tuhan merasa lapar?–    Bagaimana bisa tuhan dibawa (dalam pegangan) syaitan yang terkutuk yang merupakan makhluk ciptaannya??. Sungguh berani dan kurang ajar syaitan tersebut, dan sungguh lemah tuhan tersebut diatur dan dibawa pergi semau syaitan yang merupakan ciptaannya??!!–    Jika Yesus adalah tuhan, kok bisa diuji dan dicoba oleh syaitan??–    Dan bagaimana syaitan bisa berani-beraninya meminta tuhan Yesus untuk sujud kepada syaitan??–    Dalam bantahan-bantahan Yesus kepada syaitan menunjukan bahwa Yesus bukanlah tuhan. Tatkala syaitan menyuruh Yesus untuk melemparkan dirinya dari tempat tinggi untuk membuktikan bahwa Yesus adalah anak Allah, dan Allah akan memerintahkan para malaikat menyelamatkan Yesus, maka Yesus berkata ((Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”)). Ini menunjukan Allah memerintahkan Yesus untuk tidak mencoba Allah tuhannya Yesus. –    Tatkala syaitan menyuruh Yesus untuk sujud kepada syaitan maka Yesus berkata kepada syaitan : ((Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!))Yesus sama sekali tidak pernah meminta kepada murid-muridnya dan para pengikutnya untuk sujud kepadanya atau meminta berdoa kepadanya. Bahkan sebaliknya Yesus mencontohkan kepada mereka untuk sujud dan berdoa kepada Allah Tuhan yang sesungguhnya yang maha esa. (bersambung…)Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 01-01-1435 H / 05-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

YESUS SEORANG TUHAN ?? (bag 2)

Diantara bukti-bukti dari nas-nas injil bahwa Yesus bukan tuhan akan tetapi manusia sebagaimana nabi-nabi yang lain adalah :Kelima : Yesus sholat dan berdoa    Sungguh injil sarat dengan penyebutan bahwa Yesus sholat dan berdoa. Contohnya :–    Injil Lukas (5 : 16) : ((Akan tetapi Ia (Yesus) mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa))–    Injil Lukas (6 : 12) : ((Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah))–    Injil Matius (26 : 36) : ((Maka sampailah Yesus bersama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu ia berkata kepada murid-murid-Nya : “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa“))–    Injil Matius (14 : 23) : ((Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ))–    Injil Markus (1 : 35) : ((Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia (Yesus) bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana)) –    Injil Markus (6 : 46) : ((Setelah Ia (Yesus) berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa))–    Injil Lukas (9 : 29) : ((Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya menjadi putih berkilau-kilauan))–    Injil Lukas (11 : 1) : ((Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat))–    Injil Lukas (22 : 41) : ((Kemudia Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelembar batu jaraknya, lalu ia berlutut dan berdoa))–    Injil Lukas (22 : 44) : ((Ia (Yesus) sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh untuk berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah))Yesus sujud dan berdoa karena ia adalah seorang hamba bukan tuhan yang disembah. Ia berdoa dan beribadah menyembah Allah Tuhan pencipta semesta alam. Jika Yesus adalah tuhan, lantas ia sujud kepada siapa?, ia berdoa kepada siapa??!!. Apakah Yesus menyembah dirinya sendiri??, apakah ia berdoa kepada dirinya sendiri??, ini adalah perkara yang mustahil dan kebodohan yang nyata !!!. Maka jelaslah jika Yesus adalah hamba yang beribadah, sujud, dan berdoa kepada Tuhan Allah. Perhatikanlah kembali apa yang diungkapkan dalam injil Matius (26 : 39-45) yang menceritakan bagimana kondisi Yesus yang ketakutan tatkala akan ditangkap, sehingga ia berdoa dalam kondisi takut, hingga keringatnya bercucuran ke tanah !!(((36) Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.” (37) Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, (38) lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (40) Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? (41) Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (42) Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (43) Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. (44) Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. (45) Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. (46)Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”))Lihatlah :–    Yesus berdoa berulang-ulang sehingga tiga kali, bahkan Yesus sujud !!. kepada siapakah ia sujud??, apakah sujud kepada dirinya sendiri karena ia adalah Tuhan??. Ini adalah kemustahilan. Yang benar ia sujud kepada Dzat lain, yaitu Tuhannya Yesus yang telah menciptakan Yesus, yang Yesus berharap pertolonganNya tatkala Yesus ketakutan.–    Lihatlah ketakutan Yesus, hingga ia sangat sedih dan gentar. Bahkan Yesus berkata, “Seperti mau mati rasanya”. Apakah tuhan ketakutan??, apakah tuhan sedih?, apakah tuhan merasa mau mati??!!–    Yesus berkata kepada Petrus : “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?”. Apakah tuhan minta untuk dijaga??! –    Dalam setiap doanya Yesus berkata, “Ya Bapa…”. Ini sangat jelas bahwa Yesus sedang berdoa kepada dzat yang lain, yaitu Tuhan Allah. Kalau Allah adalah Yesus maka berarti Yesus sedang menyeru dirinya sendiri ??!!, dan ini adalah merupakan kedunguan !!–    Yesus berkata, “Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”. Sangatlah jelas Yesus membedakan kehendaknya dengan kehendak Tuhan. Ini sangat jelas yang menyatakan bahwa Yesus adalah belahan jiwa Tuhan, sehingga semua kehendak Yesus adalah kehendak Tuhan.Keenam : Yesus dicoba syaitan    Allah telah mengizinkan syaitan untuk menguji hambanya Yesus, untuk diketahui berapa besar keimanan Yesus dan tegarnya iman dan keyakinannya, agar Yesus berhak untuk menerima risalah/wahyu dari langit. Berikut kisahnya sebagaimana termaktub dalam injil Matius 4 : 1-11:((Pencobaan di padang gurun(1) Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. (2)Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. (3) Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” (4)Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (5) Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, (6) lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” (7) Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (8) Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, (9) dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” (10) Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”(11) Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus))    Perhatikanlah dengan baik kisah ini, jika kisah ini benar dan diyakini kebenarannya oleh kaum Kristen maka dalam kisah ini terlalu banyak bukti bahwa Yesus adalah seorang manusia yang beribadah kepada Tuhannya.Diantara bukti-bukti tersebut :–    Yesus berpuasa??, kalau ia adalah tuhan lantas kepada siapakah Yesus berpuasa?. Puasa adalah ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan Penciptanya.–    Yesus merasakan lapar setelah berpuasa 40 hari. Apakah pantas tuhan merasa lapar?–    Bagaimana bisa tuhan dibawa (dalam pegangan) syaitan yang terkutuk yang merupakan makhluk ciptaannya??. Sungguh berani dan kurang ajar syaitan tersebut, dan sungguh lemah tuhan tersebut diatur dan dibawa pergi semau syaitan yang merupakan ciptaannya??!!–    Jika Yesus adalah tuhan, kok bisa diuji dan dicoba oleh syaitan??–    Dan bagaimana syaitan bisa berani-beraninya meminta tuhan Yesus untuk sujud kepada syaitan??–    Dalam bantahan-bantahan Yesus kepada syaitan menunjukan bahwa Yesus bukanlah tuhan. Tatkala syaitan menyuruh Yesus untuk melemparkan dirinya dari tempat tinggi untuk membuktikan bahwa Yesus adalah anak Allah, dan Allah akan memerintahkan para malaikat menyelamatkan Yesus, maka Yesus berkata ((Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”)). Ini menunjukan Allah memerintahkan Yesus untuk tidak mencoba Allah tuhannya Yesus. –    Tatkala syaitan menyuruh Yesus untuk sujud kepada syaitan maka Yesus berkata kepada syaitan : ((Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!))Yesus sama sekali tidak pernah meminta kepada murid-muridnya dan para pengikutnya untuk sujud kepadanya atau meminta berdoa kepadanya. Bahkan sebaliknya Yesus mencontohkan kepada mereka untuk sujud dan berdoa kepada Allah Tuhan yang sesungguhnya yang maha esa. (bersambung…)Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 01-01-1435 H / 05-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Diantara bukti-bukti dari nas-nas injil bahwa Yesus bukan tuhan akan tetapi manusia sebagaimana nabi-nabi yang lain adalah :Kelima : Yesus sholat dan berdoa    Sungguh injil sarat dengan penyebutan bahwa Yesus sholat dan berdoa. Contohnya :–    Injil Lukas (5 : 16) : ((Akan tetapi Ia (Yesus) mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa))–    Injil Lukas (6 : 12) : ((Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah))–    Injil Matius (26 : 36) : ((Maka sampailah Yesus bersama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu ia berkata kepada murid-murid-Nya : “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa“))–    Injil Matius (14 : 23) : ((Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ))–    Injil Markus (1 : 35) : ((Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia (Yesus) bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana)) –    Injil Markus (6 : 46) : ((Setelah Ia (Yesus) berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa))–    Injil Lukas (9 : 29) : ((Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya menjadi putih berkilau-kilauan))–    Injil Lukas (11 : 1) : ((Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat))–    Injil Lukas (22 : 41) : ((Kemudia Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelembar batu jaraknya, lalu ia berlutut dan berdoa))–    Injil Lukas (22 : 44) : ((Ia (Yesus) sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh untuk berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah))Yesus sujud dan berdoa karena ia adalah seorang hamba bukan tuhan yang disembah. Ia berdoa dan beribadah menyembah Allah Tuhan pencipta semesta alam. Jika Yesus adalah tuhan, lantas ia sujud kepada siapa?, ia berdoa kepada siapa??!!. Apakah Yesus menyembah dirinya sendiri??, apakah ia berdoa kepada dirinya sendiri??, ini adalah perkara yang mustahil dan kebodohan yang nyata !!!. Maka jelaslah jika Yesus adalah hamba yang beribadah, sujud, dan berdoa kepada Tuhan Allah. Perhatikanlah kembali apa yang diungkapkan dalam injil Matius (26 : 39-45) yang menceritakan bagimana kondisi Yesus yang ketakutan tatkala akan ditangkap, sehingga ia berdoa dalam kondisi takut, hingga keringatnya bercucuran ke tanah !!(((36) Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.” (37) Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, (38) lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (40) Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? (41) Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (42) Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (43) Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. (44) Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. (45) Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. (46)Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”))Lihatlah :–    Yesus berdoa berulang-ulang sehingga tiga kali, bahkan Yesus sujud !!. kepada siapakah ia sujud??, apakah sujud kepada dirinya sendiri karena ia adalah Tuhan??. Ini adalah kemustahilan. Yang benar ia sujud kepada Dzat lain, yaitu Tuhannya Yesus yang telah menciptakan Yesus, yang Yesus berharap pertolonganNya tatkala Yesus ketakutan.–    Lihatlah ketakutan Yesus, hingga ia sangat sedih dan gentar. Bahkan Yesus berkata, “Seperti mau mati rasanya”. Apakah tuhan ketakutan??, apakah tuhan sedih?, apakah tuhan merasa mau mati??!!–    Yesus berkata kepada Petrus : “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?”. Apakah tuhan minta untuk dijaga??! –    Dalam setiap doanya Yesus berkata, “Ya Bapa…”. Ini sangat jelas bahwa Yesus sedang berdoa kepada dzat yang lain, yaitu Tuhan Allah. Kalau Allah adalah Yesus maka berarti Yesus sedang menyeru dirinya sendiri ??!!, dan ini adalah merupakan kedunguan !!–    Yesus berkata, “Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”. Sangatlah jelas Yesus membedakan kehendaknya dengan kehendak Tuhan. Ini sangat jelas yang menyatakan bahwa Yesus adalah belahan jiwa Tuhan, sehingga semua kehendak Yesus adalah kehendak Tuhan.Keenam : Yesus dicoba syaitan    Allah telah mengizinkan syaitan untuk menguji hambanya Yesus, untuk diketahui berapa besar keimanan Yesus dan tegarnya iman dan keyakinannya, agar Yesus berhak untuk menerima risalah/wahyu dari langit. Berikut kisahnya sebagaimana termaktub dalam injil Matius 4 : 1-11:((Pencobaan di padang gurun(1) Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. (2)Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. (3) Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” (4)Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (5) Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, (6) lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” (7) Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (8) Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, (9) dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” (10) Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”(11) Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus))    Perhatikanlah dengan baik kisah ini, jika kisah ini benar dan diyakini kebenarannya oleh kaum Kristen maka dalam kisah ini terlalu banyak bukti bahwa Yesus adalah seorang manusia yang beribadah kepada Tuhannya.Diantara bukti-bukti tersebut :–    Yesus berpuasa??, kalau ia adalah tuhan lantas kepada siapakah Yesus berpuasa?. Puasa adalah ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan Penciptanya.–    Yesus merasakan lapar setelah berpuasa 40 hari. Apakah pantas tuhan merasa lapar?–    Bagaimana bisa tuhan dibawa (dalam pegangan) syaitan yang terkutuk yang merupakan makhluk ciptaannya??. Sungguh berani dan kurang ajar syaitan tersebut, dan sungguh lemah tuhan tersebut diatur dan dibawa pergi semau syaitan yang merupakan ciptaannya??!!–    Jika Yesus adalah tuhan, kok bisa diuji dan dicoba oleh syaitan??–    Dan bagaimana syaitan bisa berani-beraninya meminta tuhan Yesus untuk sujud kepada syaitan??–    Dalam bantahan-bantahan Yesus kepada syaitan menunjukan bahwa Yesus bukanlah tuhan. Tatkala syaitan menyuruh Yesus untuk melemparkan dirinya dari tempat tinggi untuk membuktikan bahwa Yesus adalah anak Allah, dan Allah akan memerintahkan para malaikat menyelamatkan Yesus, maka Yesus berkata ((Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”)). Ini menunjukan Allah memerintahkan Yesus untuk tidak mencoba Allah tuhannya Yesus. –    Tatkala syaitan menyuruh Yesus untuk sujud kepada syaitan maka Yesus berkata kepada syaitan : ((Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!))Yesus sama sekali tidak pernah meminta kepada murid-muridnya dan para pengikutnya untuk sujud kepadanya atau meminta berdoa kepadanya. Bahkan sebaliknya Yesus mencontohkan kepada mereka untuk sujud dan berdoa kepada Allah Tuhan yang sesungguhnya yang maha esa. (bersambung…)Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 01-01-1435 H / 05-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Diantara bukti-bukti dari nas-nas injil bahwa Yesus bukan tuhan akan tetapi manusia sebagaimana nabi-nabi yang lain adalah :Kelima : Yesus sholat dan berdoa    Sungguh injil sarat dengan penyebutan bahwa Yesus sholat dan berdoa. Contohnya :–    Injil Lukas (5 : 16) : ((Akan tetapi Ia (Yesus) mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa))–    Injil Lukas (6 : 12) : ((Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah))–    Injil Matius (26 : 36) : ((Maka sampailah Yesus bersama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu ia berkata kepada murid-murid-Nya : “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa“))–    Injil Matius (14 : 23) : ((Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ))–    Injil Markus (1 : 35) : ((Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia (Yesus) bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana)) –    Injil Markus (6 : 46) : ((Setelah Ia (Yesus) berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa))–    Injil Lukas (9 : 29) : ((Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya menjadi putih berkilau-kilauan))–    Injil Lukas (11 : 1) : ((Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat))–    Injil Lukas (22 : 41) : ((Kemudia Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelembar batu jaraknya, lalu ia berlutut dan berdoa))–    Injil Lukas (22 : 44) : ((Ia (Yesus) sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh untuk berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah))Yesus sujud dan berdoa karena ia adalah seorang hamba bukan tuhan yang disembah. Ia berdoa dan beribadah menyembah Allah Tuhan pencipta semesta alam. Jika Yesus adalah tuhan, lantas ia sujud kepada siapa?, ia berdoa kepada siapa??!!. Apakah Yesus menyembah dirinya sendiri??, apakah ia berdoa kepada dirinya sendiri??, ini adalah perkara yang mustahil dan kebodohan yang nyata !!!. Maka jelaslah jika Yesus adalah hamba yang beribadah, sujud, dan berdoa kepada Tuhan Allah. Perhatikanlah kembali apa yang diungkapkan dalam injil Matius (26 : 39-45) yang menceritakan bagimana kondisi Yesus yang ketakutan tatkala akan ditangkap, sehingga ia berdoa dalam kondisi takut, hingga keringatnya bercucuran ke tanah !!(((36) Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.” (37) Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, (38) lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (40) Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? (41) Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (42) Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (43) Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. (44) Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. (45) Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. (46)Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”))Lihatlah :–    Yesus berdoa berulang-ulang sehingga tiga kali, bahkan Yesus sujud !!. kepada siapakah ia sujud??, apakah sujud kepada dirinya sendiri karena ia adalah Tuhan??. Ini adalah kemustahilan. Yang benar ia sujud kepada Dzat lain, yaitu Tuhannya Yesus yang telah menciptakan Yesus, yang Yesus berharap pertolonganNya tatkala Yesus ketakutan.–    Lihatlah ketakutan Yesus, hingga ia sangat sedih dan gentar. Bahkan Yesus berkata, “Seperti mau mati rasanya”. Apakah tuhan ketakutan??, apakah tuhan sedih?, apakah tuhan merasa mau mati??!!–    Yesus berkata kepada Petrus : “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?”. Apakah tuhan minta untuk dijaga??! –    Dalam setiap doanya Yesus berkata, “Ya Bapa…”. Ini sangat jelas bahwa Yesus sedang berdoa kepada dzat yang lain, yaitu Tuhan Allah. Kalau Allah adalah Yesus maka berarti Yesus sedang menyeru dirinya sendiri ??!!, dan ini adalah merupakan kedunguan !!–    Yesus berkata, “Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”. Sangatlah jelas Yesus membedakan kehendaknya dengan kehendak Tuhan. Ini sangat jelas yang menyatakan bahwa Yesus adalah belahan jiwa Tuhan, sehingga semua kehendak Yesus adalah kehendak Tuhan.Keenam : Yesus dicoba syaitan    Allah telah mengizinkan syaitan untuk menguji hambanya Yesus, untuk diketahui berapa besar keimanan Yesus dan tegarnya iman dan keyakinannya, agar Yesus berhak untuk menerima risalah/wahyu dari langit. Berikut kisahnya sebagaimana termaktub dalam injil Matius 4 : 1-11:((Pencobaan di padang gurun(1) Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. (2)Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. (3) Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” (4)Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (5) Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, (6) lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” (7) Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (8) Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, (9) dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” (10) Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”(11) Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus))    Perhatikanlah dengan baik kisah ini, jika kisah ini benar dan diyakini kebenarannya oleh kaum Kristen maka dalam kisah ini terlalu banyak bukti bahwa Yesus adalah seorang manusia yang beribadah kepada Tuhannya.Diantara bukti-bukti tersebut :–    Yesus berpuasa??, kalau ia adalah tuhan lantas kepada siapakah Yesus berpuasa?. Puasa adalah ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan Penciptanya.–    Yesus merasakan lapar setelah berpuasa 40 hari. Apakah pantas tuhan merasa lapar?–    Bagaimana bisa tuhan dibawa (dalam pegangan) syaitan yang terkutuk yang merupakan makhluk ciptaannya??. Sungguh berani dan kurang ajar syaitan tersebut, dan sungguh lemah tuhan tersebut diatur dan dibawa pergi semau syaitan yang merupakan ciptaannya??!!–    Jika Yesus adalah tuhan, kok bisa diuji dan dicoba oleh syaitan??–    Dan bagaimana syaitan bisa berani-beraninya meminta tuhan Yesus untuk sujud kepada syaitan??–    Dalam bantahan-bantahan Yesus kepada syaitan menunjukan bahwa Yesus bukanlah tuhan. Tatkala syaitan menyuruh Yesus untuk melemparkan dirinya dari tempat tinggi untuk membuktikan bahwa Yesus adalah anak Allah, dan Allah akan memerintahkan para malaikat menyelamatkan Yesus, maka Yesus berkata ((Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”)). Ini menunjukan Allah memerintahkan Yesus untuk tidak mencoba Allah tuhannya Yesus. –    Tatkala syaitan menyuruh Yesus untuk sujud kepada syaitan maka Yesus berkata kepada syaitan : ((Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!))Yesus sama sekali tidak pernah meminta kepada murid-muridnya dan para pengikutnya untuk sujud kepadanya atau meminta berdoa kepadanya. Bahkan sebaliknya Yesus mencontohkan kepada mereka untuk sujud dan berdoa kepada Allah Tuhan yang sesungguhnya yang maha esa. (bersambung…)Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 01-01-1435 H / 05-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Syirik kKecil yang Terkadang Tidak Disadari

Diantara bentuk syirik kecil beramal karena manusia, karena ingin dipuji atau karena takut dicela. Ada sebagian orang yg ikut-ikutan mentahdzir saudaranya tanpa dalil yg jelas hanya karena supaya dikatakan manhajnya mantap, atau agar tidak dicela dan tdk dijauhi karena dianggap manhajnya melempem. Menuduh dan mentahdzir serta menjatuhkan harga diri orang lain sangatlah mudah dilakukan oleh lisan, tapi yg repot adalah persidangan di akhirat kelak.

Syirik kKecil yang Terkadang Tidak Disadari

Diantara bentuk syirik kecil beramal karena manusia, karena ingin dipuji atau karena takut dicela. Ada sebagian orang yg ikut-ikutan mentahdzir saudaranya tanpa dalil yg jelas hanya karena supaya dikatakan manhajnya mantap, atau agar tidak dicela dan tdk dijauhi karena dianggap manhajnya melempem. Menuduh dan mentahdzir serta menjatuhkan harga diri orang lain sangatlah mudah dilakukan oleh lisan, tapi yg repot adalah persidangan di akhirat kelak.
Diantara bentuk syirik kecil beramal karena manusia, karena ingin dipuji atau karena takut dicela. Ada sebagian orang yg ikut-ikutan mentahdzir saudaranya tanpa dalil yg jelas hanya karena supaya dikatakan manhajnya mantap, atau agar tidak dicela dan tdk dijauhi karena dianggap manhajnya melempem. Menuduh dan mentahdzir serta menjatuhkan harga diri orang lain sangatlah mudah dilakukan oleh lisan, tapi yg repot adalah persidangan di akhirat kelak.


Diantara bentuk syirik kecil beramal karena manusia, karena ingin dipuji atau karena takut dicela. Ada sebagian orang yg ikut-ikutan mentahdzir saudaranya tanpa dalil yg jelas hanya karena supaya dikatakan manhajnya mantap, atau agar tidak dicela dan tdk dijauhi karena dianggap manhajnya melempem. Menuduh dan mentahdzir serta menjatuhkan harga diri orang lain sangatlah mudah dilakukan oleh lisan, tapi yg repot adalah persidangan di akhirat kelak.

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 8)? – Gelaran-Gelaran Indah Ustadz Dzulqarnain

Sekali lagi merupakan perkara yang sangat membosankan dan menjemukan berbantah-bantahan –terutama pada perkara yang tidak nyambung-, akan tetapi apa boleh buat, saya sudah bertekad untuk melayani bantahan saudara-saudara saya, baik ustad Askari, sang narasumber penyesatan rodja (ustadz Luqman Ba’abduh) dan juga al-ustadz Dzulqornain sang narasumber kedua sumber informasi kesesatan radiordoja kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzan hafizohulloh.Kalau kedua sahabatnya al-Ustadz Luqman dan Ustadz Askari agak kasar…(Askari berkata : Firanda yang Durjana) atau yang semisalnya, maka al-Ustadz Dzulqornain sangat “indah” kata-katanya dan gelaran-gelaran yang diberikan kepada saya.Diantara perkataan al-Ustadz hafizohulloh–         ((Sudah sekian lama Saya mengetahui pemikiran-pemikiran Ustadz Firanda yang menyimpang. Juga Saya mengetahui bahwa, di antara kawan-kawannya, Ustadz Firanda inilah yang pemikirannya paling parah dan jalannya paling jelek)) –         ((Saya menganggap bahwa Ustadz Firanda ini bukanlah orang yang layak ditanggapi, apalagi dibantah. Semua orang yang pernah menasihatinya telah memaklumi akan Ustadz Firanda, bahwa beliau adalah orang yang gemar mendebat, kurang akal, dan keras kepala))–         ((Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya))–         ((Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya disertai dengan keberaniannya berdusta tanpa rasa malu))–         ((Saya merasa bahwa agak sulit mengajarkan akhlak rasa malu kepada orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda))–         ((Seharusnya dia sudah belajar ilmu bahasa Arab dan ilmu ushul fiqih dengan baik sehingga bisa memahami seluk beluk bahasa yang berjalan dalam pembahasan ilmu agama)).Bahkan sebelumnya juga al-Ustadz Dzulqornain pernah menuduh saya salah nerjemah perkataan Syaikh Sholeh Al-Fauzaan…, namun ternyata beliau hanya menuduh dan justru beliau salah nerjemah !!–         ((siapa saja yang memperhatikan tulisan-tulisan Ustadz Firanda dalam membela Rodja akan menilai layak kalau Saya berkata bahwa Ustadz Firanda ini seperti “kambing, walaupun terbang”))–         ((Inilah sebenarnya di antara hizbiyah Ustadz Firanda dan siapa saja yang bersepakat dengannya))Tapi bagi saya gelaran-gelaran yang indah tersebut adalah hal yang wajar, jika kita mengikuti sepak terjang al-Ustadz Dzulqornain maka begitulah cara beliau merendahkan orang lain. Jika Syaikh Ali Hasan tidak selamat dari “perendahannya” maka bagaimana lagi dengan Firanda yang kurang akal dan keras kepala??”Saya hanya bisa menukil komentar dua Akhi fillah tentang bantahan al-Ustadz Dzulqornain berikut ini :Pertama : ((Saya juga sesekali meluangkan waktu membaca tulisan Ustadz Firanda dan pada akhirnya saya berkesempatan membaca bantahan Ustadz Dzul. Balasan Ustadz Dzul saya perhatikan lebih pada penggalangan opini terhadap sosok Ustadz Firanda, tapi kurang dalam mengkounter apa yang ditulis Ustadz Firanda. Harus diakui bahasa yang dipakai Ustadz Dzul lebih agresif))Kedua : ((Saya telah membaca tulisan ustadz Dzul. Lebih mending daripada yang lain, walau tetap dikatakan :لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ“yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar”.Saya melihat tulisan itu tidak lebih hanya mengeluarkan isi bisul yang ingin pecah, seperti kata : pendek akal dan semisalnya. Tidak fokus pada apa yang dibicarakan. Kalau kita biasa mengikuti gaya bahasa ustadz Makassar ini, memang tidak akan jauh dengan senang meng-under estimate-kan orang. Bukan rahasia lagi saya kira…..Misal, tentang IT. Point masalah yang dari dulu saya tangkap adalah bagaimana mengelola perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menyikapi masalah IT. Kemudian para du’at di dalam negeri. Itu saja. Dan lihat realitasnya saja, asatidzah yang sedang dimusuhi ustadz Dzul itu apakah memang punya keterkaitan dengan IT atau tidak. Kalau pun ada, sebagian kecil, separuhnya, sebagian besarnya, atau malah semuanya ?.Tentang Rodja, saya malah tidak mengerti fokus apa yang sedang dibicarakan ustadz Dzul. Barangkali rekan-rekan bisa membantu. Sepemahaman saya, terkait Radio Rodja, point nya adalah bahwa Radio ini telah menebarkan dakwah tauhid dan sunnah, tapi kok malah dihajr dan ditahdzir. Lantas, masalahnya apa ?. Kalau masalahnya adalah keterkaitan dengan ‘Aliy Al-Halabiy, ya bahas saja ‘Aliy Al-Halabiy, karena Rodja hanyalah cabang dari pokok permasalahan. Ini lebih mudah. Atau,…. apakah Rodja punya hubungan dengan IT ?.Cara mengkritik kulalsalafiyeen memang cukup cerdik dengan menggunakan fatwa Asy-Syaikh Shaalih As-Suhaimiy. Tapi,… ada yang perlu diperhatikan. Syaikh tidak mungkin membaca apa isi kulalsalafiyeen. Jadi, apa yang dikatakan beliau terkait dengan informasi yang disampaikan kepada beliau. Oleh karena itu dapat kita perhatikan bahwa perkataan Syaikh itu umum, yang juga berlaku pada situs sahab. Dan sesekali ngaca diri saja deh, apakah memang sahab itu menjadi situs atau forum yang sangat terhormat yang isi di dalamnya bersih dari perendahan para ulama…. dusta…. dan kultus individu ?.Seandainya tulisan ustadz Dzul dianggap masih terlalu prematur untuk dikatakan ilmiah, mungkin karena itu baru hidangan pembuka. Nasi dan daging ayamnya masih disimpan untuk hidangan inti nantinya. Semoga saja begitu…..)) (silahkan lihat kedua komentar tersebut di https://www.facebook.com/abuutsman/posts/10200770119916103?comment_id=4927867&offset=0&total_comments=71¬if_t=mentions_comment) Catatan :Pertama : Memang surat al-Ustadz Dzulqornain sengaja saya sebarkan mengingat :–         Ternyata isinya penuh dengan kedustaan-kedustaan. Sebagaimana telah saja jelaskan dalam tulisan saya (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan”) dan (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 3)?“).–         Karena al-Ustadz Dzulqornain pernah menunda “penyebaran fatwa” Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah tentang jihad, yang hingga saat inipun belum pernah tersebar setahu ana. Padahal tatkala itu orang yang tidak memandang wajibnya jihad di Ambon dikatakan hzibi oleh Al-Ustadz cs. Dan sekarang saya masih ingin membaca fatwa Syaikh Al-Utsaimin yang seharusnya disebarkan untuk umat akan tetapi tidak pernah muncul di permukaan. Hal ini mengkhawatirkan saya bahwa fatwa ini juga akan ikut-ikutan lenyap–         Dalam fatwa Syaikh Sholeh Al-Fauzan ada nasehat yang sangat indah bagi salafiyin untuk tidak sibuk mencela yayasan-yayasan dan para dai–         Dalam surat tersebut al-Ustadz juga berkata ((Dan kami mengharapkan dari fadilatus Syaikh untuk memberi nasehat kepada orang-orang Rodja yang telah lalu penjelasan kondisi mereka, seseungguhnya kami mengharpkan kebaikan bagi sebagian mereka yang bersikap tasahul atau tersamarkan perkara baginya)). Jadi nasehat Syaikh Sholeh Al-Fauzaan juga untuk orang-orang Rodja. Karena pendengar rodja banyak maka saya ingin agar mereka juga mengetahui isi nasehat tersebut–         Al-Ustadz merasa nasehat Syaikh Sholeh Al-Fauzan (setelah memberikan informasi dusta) mendukung sikap tahdzirannya. Dan hingga saat ini al-Ustadz juga merasa benar dalam mentahdzir Radiorodja yang tahdziran beliau dijadikan dalil oleh para ahlul bid’ah.–         Seharusnya al-Ustadz Dzulqornain sebagaimana perkataan salah seorang penyiar Radiorodja ((Seharusnya ustadz dzul sebelum menulis surat ke syaikh fauzan tabayun dulu ke rodja, akhirnya sangat kelihatan dusta dan serampangan dlm menilai..ini yg tidak mau disadari oleh beliau sehingga merasa jawaban nasehat syaikh fauzan adalh untuk mendukungnya… ketika surat ke syaikh fauzan diterima oleh asatidz rodja hanya bisa tersenyum..namun ada juga 1 ustadz yg ingin memejahijaukan sang penulis surat karena tuduhannya tsb))–         Kalau isi surat tersebut benar tentunya tidak mengapa disebar, apalagi kalau al-Ustadz merasa surat tersebut mendukung beliau, tentunya beliau harusnya bahagia dukungan tersebut disebarluaskan !!!Kedua : Al-Ustadz menjanjikan banyak judul bantahan yang akan beliau siapkan. Terus terang saya gembira dengan persiapan tersebut. Karena bagaimanapun jika para ulama tidak selamat dari kesalahan apalagi seperti saya yang digelari oleh al-Ustadz dengan gelaran-gelaran indah di atas. Kebenaran lebih kita cintai daripada siapapun… Setia menanti kritikan-kritikan Al-Ustadz HafizohullohKota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 01-01-1435 H / 05-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 8)? – Gelaran-Gelaran Indah Ustadz Dzulqarnain

Sekali lagi merupakan perkara yang sangat membosankan dan menjemukan berbantah-bantahan –terutama pada perkara yang tidak nyambung-, akan tetapi apa boleh buat, saya sudah bertekad untuk melayani bantahan saudara-saudara saya, baik ustad Askari, sang narasumber penyesatan rodja (ustadz Luqman Ba’abduh) dan juga al-ustadz Dzulqornain sang narasumber kedua sumber informasi kesesatan radiordoja kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzan hafizohulloh.Kalau kedua sahabatnya al-Ustadz Luqman dan Ustadz Askari agak kasar…(Askari berkata : Firanda yang Durjana) atau yang semisalnya, maka al-Ustadz Dzulqornain sangat “indah” kata-katanya dan gelaran-gelaran yang diberikan kepada saya.Diantara perkataan al-Ustadz hafizohulloh–         ((Sudah sekian lama Saya mengetahui pemikiran-pemikiran Ustadz Firanda yang menyimpang. Juga Saya mengetahui bahwa, di antara kawan-kawannya, Ustadz Firanda inilah yang pemikirannya paling parah dan jalannya paling jelek)) –         ((Saya menganggap bahwa Ustadz Firanda ini bukanlah orang yang layak ditanggapi, apalagi dibantah. Semua orang yang pernah menasihatinya telah memaklumi akan Ustadz Firanda, bahwa beliau adalah orang yang gemar mendebat, kurang akal, dan keras kepala))–         ((Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya))–         ((Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya disertai dengan keberaniannya berdusta tanpa rasa malu))–         ((Saya merasa bahwa agak sulit mengajarkan akhlak rasa malu kepada orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda))–         ((Seharusnya dia sudah belajar ilmu bahasa Arab dan ilmu ushul fiqih dengan baik sehingga bisa memahami seluk beluk bahasa yang berjalan dalam pembahasan ilmu agama)).Bahkan sebelumnya juga al-Ustadz Dzulqornain pernah menuduh saya salah nerjemah perkataan Syaikh Sholeh Al-Fauzaan…, namun ternyata beliau hanya menuduh dan justru beliau salah nerjemah !!–         ((siapa saja yang memperhatikan tulisan-tulisan Ustadz Firanda dalam membela Rodja akan menilai layak kalau Saya berkata bahwa Ustadz Firanda ini seperti “kambing, walaupun terbang”))–         ((Inilah sebenarnya di antara hizbiyah Ustadz Firanda dan siapa saja yang bersepakat dengannya))Tapi bagi saya gelaran-gelaran yang indah tersebut adalah hal yang wajar, jika kita mengikuti sepak terjang al-Ustadz Dzulqornain maka begitulah cara beliau merendahkan orang lain. Jika Syaikh Ali Hasan tidak selamat dari “perendahannya” maka bagaimana lagi dengan Firanda yang kurang akal dan keras kepala??”Saya hanya bisa menukil komentar dua Akhi fillah tentang bantahan al-Ustadz Dzulqornain berikut ini :Pertama : ((Saya juga sesekali meluangkan waktu membaca tulisan Ustadz Firanda dan pada akhirnya saya berkesempatan membaca bantahan Ustadz Dzul. Balasan Ustadz Dzul saya perhatikan lebih pada penggalangan opini terhadap sosok Ustadz Firanda, tapi kurang dalam mengkounter apa yang ditulis Ustadz Firanda. Harus diakui bahasa yang dipakai Ustadz Dzul lebih agresif))Kedua : ((Saya telah membaca tulisan ustadz Dzul. Lebih mending daripada yang lain, walau tetap dikatakan :لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ“yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar”.Saya melihat tulisan itu tidak lebih hanya mengeluarkan isi bisul yang ingin pecah, seperti kata : pendek akal dan semisalnya. Tidak fokus pada apa yang dibicarakan. Kalau kita biasa mengikuti gaya bahasa ustadz Makassar ini, memang tidak akan jauh dengan senang meng-under estimate-kan orang. Bukan rahasia lagi saya kira…..Misal, tentang IT. Point masalah yang dari dulu saya tangkap adalah bagaimana mengelola perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menyikapi masalah IT. Kemudian para du’at di dalam negeri. Itu saja. Dan lihat realitasnya saja, asatidzah yang sedang dimusuhi ustadz Dzul itu apakah memang punya keterkaitan dengan IT atau tidak. Kalau pun ada, sebagian kecil, separuhnya, sebagian besarnya, atau malah semuanya ?.Tentang Rodja, saya malah tidak mengerti fokus apa yang sedang dibicarakan ustadz Dzul. Barangkali rekan-rekan bisa membantu. Sepemahaman saya, terkait Radio Rodja, point nya adalah bahwa Radio ini telah menebarkan dakwah tauhid dan sunnah, tapi kok malah dihajr dan ditahdzir. Lantas, masalahnya apa ?. Kalau masalahnya adalah keterkaitan dengan ‘Aliy Al-Halabiy, ya bahas saja ‘Aliy Al-Halabiy, karena Rodja hanyalah cabang dari pokok permasalahan. Ini lebih mudah. Atau,…. apakah Rodja punya hubungan dengan IT ?.Cara mengkritik kulalsalafiyeen memang cukup cerdik dengan menggunakan fatwa Asy-Syaikh Shaalih As-Suhaimiy. Tapi,… ada yang perlu diperhatikan. Syaikh tidak mungkin membaca apa isi kulalsalafiyeen. Jadi, apa yang dikatakan beliau terkait dengan informasi yang disampaikan kepada beliau. Oleh karena itu dapat kita perhatikan bahwa perkataan Syaikh itu umum, yang juga berlaku pada situs sahab. Dan sesekali ngaca diri saja deh, apakah memang sahab itu menjadi situs atau forum yang sangat terhormat yang isi di dalamnya bersih dari perendahan para ulama…. dusta…. dan kultus individu ?.Seandainya tulisan ustadz Dzul dianggap masih terlalu prematur untuk dikatakan ilmiah, mungkin karena itu baru hidangan pembuka. Nasi dan daging ayamnya masih disimpan untuk hidangan inti nantinya. Semoga saja begitu…..)) (silahkan lihat kedua komentar tersebut di https://www.facebook.com/abuutsman/posts/10200770119916103?comment_id=4927867&offset=0&total_comments=71¬if_t=mentions_comment) Catatan :Pertama : Memang surat al-Ustadz Dzulqornain sengaja saya sebarkan mengingat :–         Ternyata isinya penuh dengan kedustaan-kedustaan. Sebagaimana telah saja jelaskan dalam tulisan saya (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan”) dan (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 3)?“).–         Karena al-Ustadz Dzulqornain pernah menunda “penyebaran fatwa” Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah tentang jihad, yang hingga saat inipun belum pernah tersebar setahu ana. Padahal tatkala itu orang yang tidak memandang wajibnya jihad di Ambon dikatakan hzibi oleh Al-Ustadz cs. Dan sekarang saya masih ingin membaca fatwa Syaikh Al-Utsaimin yang seharusnya disebarkan untuk umat akan tetapi tidak pernah muncul di permukaan. Hal ini mengkhawatirkan saya bahwa fatwa ini juga akan ikut-ikutan lenyap–         Dalam fatwa Syaikh Sholeh Al-Fauzan ada nasehat yang sangat indah bagi salafiyin untuk tidak sibuk mencela yayasan-yayasan dan para dai–         Dalam surat tersebut al-Ustadz juga berkata ((Dan kami mengharapkan dari fadilatus Syaikh untuk memberi nasehat kepada orang-orang Rodja yang telah lalu penjelasan kondisi mereka, seseungguhnya kami mengharpkan kebaikan bagi sebagian mereka yang bersikap tasahul atau tersamarkan perkara baginya)). Jadi nasehat Syaikh Sholeh Al-Fauzaan juga untuk orang-orang Rodja. Karena pendengar rodja banyak maka saya ingin agar mereka juga mengetahui isi nasehat tersebut–         Al-Ustadz merasa nasehat Syaikh Sholeh Al-Fauzan (setelah memberikan informasi dusta) mendukung sikap tahdzirannya. Dan hingga saat ini al-Ustadz juga merasa benar dalam mentahdzir Radiorodja yang tahdziran beliau dijadikan dalil oleh para ahlul bid’ah.–         Seharusnya al-Ustadz Dzulqornain sebagaimana perkataan salah seorang penyiar Radiorodja ((Seharusnya ustadz dzul sebelum menulis surat ke syaikh fauzan tabayun dulu ke rodja, akhirnya sangat kelihatan dusta dan serampangan dlm menilai..ini yg tidak mau disadari oleh beliau sehingga merasa jawaban nasehat syaikh fauzan adalh untuk mendukungnya… ketika surat ke syaikh fauzan diterima oleh asatidz rodja hanya bisa tersenyum..namun ada juga 1 ustadz yg ingin memejahijaukan sang penulis surat karena tuduhannya tsb))–         Kalau isi surat tersebut benar tentunya tidak mengapa disebar, apalagi kalau al-Ustadz merasa surat tersebut mendukung beliau, tentunya beliau harusnya bahagia dukungan tersebut disebarluaskan !!!Kedua : Al-Ustadz menjanjikan banyak judul bantahan yang akan beliau siapkan. Terus terang saya gembira dengan persiapan tersebut. Karena bagaimanapun jika para ulama tidak selamat dari kesalahan apalagi seperti saya yang digelari oleh al-Ustadz dengan gelaran-gelaran indah di atas. Kebenaran lebih kita cintai daripada siapapun… Setia menanti kritikan-kritikan Al-Ustadz HafizohullohKota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 01-01-1435 H / 05-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  
Sekali lagi merupakan perkara yang sangat membosankan dan menjemukan berbantah-bantahan –terutama pada perkara yang tidak nyambung-, akan tetapi apa boleh buat, saya sudah bertekad untuk melayani bantahan saudara-saudara saya, baik ustad Askari, sang narasumber penyesatan rodja (ustadz Luqman Ba’abduh) dan juga al-ustadz Dzulqornain sang narasumber kedua sumber informasi kesesatan radiordoja kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzan hafizohulloh.Kalau kedua sahabatnya al-Ustadz Luqman dan Ustadz Askari agak kasar…(Askari berkata : Firanda yang Durjana) atau yang semisalnya, maka al-Ustadz Dzulqornain sangat “indah” kata-katanya dan gelaran-gelaran yang diberikan kepada saya.Diantara perkataan al-Ustadz hafizohulloh–         ((Sudah sekian lama Saya mengetahui pemikiran-pemikiran Ustadz Firanda yang menyimpang. Juga Saya mengetahui bahwa, di antara kawan-kawannya, Ustadz Firanda inilah yang pemikirannya paling parah dan jalannya paling jelek)) –         ((Saya menganggap bahwa Ustadz Firanda ini bukanlah orang yang layak ditanggapi, apalagi dibantah. Semua orang yang pernah menasihatinya telah memaklumi akan Ustadz Firanda, bahwa beliau adalah orang yang gemar mendebat, kurang akal, dan keras kepala))–         ((Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya))–         ((Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya disertai dengan keberaniannya berdusta tanpa rasa malu))–         ((Saya merasa bahwa agak sulit mengajarkan akhlak rasa malu kepada orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda))–         ((Seharusnya dia sudah belajar ilmu bahasa Arab dan ilmu ushul fiqih dengan baik sehingga bisa memahami seluk beluk bahasa yang berjalan dalam pembahasan ilmu agama)).Bahkan sebelumnya juga al-Ustadz Dzulqornain pernah menuduh saya salah nerjemah perkataan Syaikh Sholeh Al-Fauzaan…, namun ternyata beliau hanya menuduh dan justru beliau salah nerjemah !!–         ((siapa saja yang memperhatikan tulisan-tulisan Ustadz Firanda dalam membela Rodja akan menilai layak kalau Saya berkata bahwa Ustadz Firanda ini seperti “kambing, walaupun terbang”))–         ((Inilah sebenarnya di antara hizbiyah Ustadz Firanda dan siapa saja yang bersepakat dengannya))Tapi bagi saya gelaran-gelaran yang indah tersebut adalah hal yang wajar, jika kita mengikuti sepak terjang al-Ustadz Dzulqornain maka begitulah cara beliau merendahkan orang lain. Jika Syaikh Ali Hasan tidak selamat dari “perendahannya” maka bagaimana lagi dengan Firanda yang kurang akal dan keras kepala??”Saya hanya bisa menukil komentar dua Akhi fillah tentang bantahan al-Ustadz Dzulqornain berikut ini :Pertama : ((Saya juga sesekali meluangkan waktu membaca tulisan Ustadz Firanda dan pada akhirnya saya berkesempatan membaca bantahan Ustadz Dzul. Balasan Ustadz Dzul saya perhatikan lebih pada penggalangan opini terhadap sosok Ustadz Firanda, tapi kurang dalam mengkounter apa yang ditulis Ustadz Firanda. Harus diakui bahasa yang dipakai Ustadz Dzul lebih agresif))Kedua : ((Saya telah membaca tulisan ustadz Dzul. Lebih mending daripada yang lain, walau tetap dikatakan :لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ“yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar”.Saya melihat tulisan itu tidak lebih hanya mengeluarkan isi bisul yang ingin pecah, seperti kata : pendek akal dan semisalnya. Tidak fokus pada apa yang dibicarakan. Kalau kita biasa mengikuti gaya bahasa ustadz Makassar ini, memang tidak akan jauh dengan senang meng-under estimate-kan orang. Bukan rahasia lagi saya kira…..Misal, tentang IT. Point masalah yang dari dulu saya tangkap adalah bagaimana mengelola perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menyikapi masalah IT. Kemudian para du’at di dalam negeri. Itu saja. Dan lihat realitasnya saja, asatidzah yang sedang dimusuhi ustadz Dzul itu apakah memang punya keterkaitan dengan IT atau tidak. Kalau pun ada, sebagian kecil, separuhnya, sebagian besarnya, atau malah semuanya ?.Tentang Rodja, saya malah tidak mengerti fokus apa yang sedang dibicarakan ustadz Dzul. Barangkali rekan-rekan bisa membantu. Sepemahaman saya, terkait Radio Rodja, point nya adalah bahwa Radio ini telah menebarkan dakwah tauhid dan sunnah, tapi kok malah dihajr dan ditahdzir. Lantas, masalahnya apa ?. Kalau masalahnya adalah keterkaitan dengan ‘Aliy Al-Halabiy, ya bahas saja ‘Aliy Al-Halabiy, karena Rodja hanyalah cabang dari pokok permasalahan. Ini lebih mudah. Atau,…. apakah Rodja punya hubungan dengan IT ?.Cara mengkritik kulalsalafiyeen memang cukup cerdik dengan menggunakan fatwa Asy-Syaikh Shaalih As-Suhaimiy. Tapi,… ada yang perlu diperhatikan. Syaikh tidak mungkin membaca apa isi kulalsalafiyeen. Jadi, apa yang dikatakan beliau terkait dengan informasi yang disampaikan kepada beliau. Oleh karena itu dapat kita perhatikan bahwa perkataan Syaikh itu umum, yang juga berlaku pada situs sahab. Dan sesekali ngaca diri saja deh, apakah memang sahab itu menjadi situs atau forum yang sangat terhormat yang isi di dalamnya bersih dari perendahan para ulama…. dusta…. dan kultus individu ?.Seandainya tulisan ustadz Dzul dianggap masih terlalu prematur untuk dikatakan ilmiah, mungkin karena itu baru hidangan pembuka. Nasi dan daging ayamnya masih disimpan untuk hidangan inti nantinya. Semoga saja begitu…..)) (silahkan lihat kedua komentar tersebut di https://www.facebook.com/abuutsman/posts/10200770119916103?comment_id=4927867&offset=0&total_comments=71¬if_t=mentions_comment) Catatan :Pertama : Memang surat al-Ustadz Dzulqornain sengaja saya sebarkan mengingat :–         Ternyata isinya penuh dengan kedustaan-kedustaan. Sebagaimana telah saja jelaskan dalam tulisan saya (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan”) dan (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 3)?“).–         Karena al-Ustadz Dzulqornain pernah menunda “penyebaran fatwa” Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah tentang jihad, yang hingga saat inipun belum pernah tersebar setahu ana. Padahal tatkala itu orang yang tidak memandang wajibnya jihad di Ambon dikatakan hzibi oleh Al-Ustadz cs. Dan sekarang saya masih ingin membaca fatwa Syaikh Al-Utsaimin yang seharusnya disebarkan untuk umat akan tetapi tidak pernah muncul di permukaan. Hal ini mengkhawatirkan saya bahwa fatwa ini juga akan ikut-ikutan lenyap–         Dalam fatwa Syaikh Sholeh Al-Fauzan ada nasehat yang sangat indah bagi salafiyin untuk tidak sibuk mencela yayasan-yayasan dan para dai–         Dalam surat tersebut al-Ustadz juga berkata ((Dan kami mengharapkan dari fadilatus Syaikh untuk memberi nasehat kepada orang-orang Rodja yang telah lalu penjelasan kondisi mereka, seseungguhnya kami mengharpkan kebaikan bagi sebagian mereka yang bersikap tasahul atau tersamarkan perkara baginya)). Jadi nasehat Syaikh Sholeh Al-Fauzaan juga untuk orang-orang Rodja. Karena pendengar rodja banyak maka saya ingin agar mereka juga mengetahui isi nasehat tersebut–         Al-Ustadz merasa nasehat Syaikh Sholeh Al-Fauzan (setelah memberikan informasi dusta) mendukung sikap tahdzirannya. Dan hingga saat ini al-Ustadz juga merasa benar dalam mentahdzir Radiorodja yang tahdziran beliau dijadikan dalil oleh para ahlul bid’ah.–         Seharusnya al-Ustadz Dzulqornain sebagaimana perkataan salah seorang penyiar Radiorodja ((Seharusnya ustadz dzul sebelum menulis surat ke syaikh fauzan tabayun dulu ke rodja, akhirnya sangat kelihatan dusta dan serampangan dlm menilai..ini yg tidak mau disadari oleh beliau sehingga merasa jawaban nasehat syaikh fauzan adalh untuk mendukungnya… ketika surat ke syaikh fauzan diterima oleh asatidz rodja hanya bisa tersenyum..namun ada juga 1 ustadz yg ingin memejahijaukan sang penulis surat karena tuduhannya tsb))–         Kalau isi surat tersebut benar tentunya tidak mengapa disebar, apalagi kalau al-Ustadz merasa surat tersebut mendukung beliau, tentunya beliau harusnya bahagia dukungan tersebut disebarluaskan !!!Kedua : Al-Ustadz menjanjikan banyak judul bantahan yang akan beliau siapkan. Terus terang saya gembira dengan persiapan tersebut. Karena bagaimanapun jika para ulama tidak selamat dari kesalahan apalagi seperti saya yang digelari oleh al-Ustadz dengan gelaran-gelaran indah di atas. Kebenaran lebih kita cintai daripada siapapun… Setia menanti kritikan-kritikan Al-Ustadz HafizohullohKota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 01-01-1435 H / 05-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  


Sekali lagi merupakan perkara yang sangat membosankan dan menjemukan berbantah-bantahan –terutama pada perkara yang tidak nyambung-, akan tetapi apa boleh buat, saya sudah bertekad untuk melayani bantahan saudara-saudara saya, baik ustad Askari, sang narasumber penyesatan rodja (ustadz Luqman Ba’abduh) dan juga al-ustadz Dzulqornain sang narasumber kedua sumber informasi kesesatan radiordoja kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzan hafizohulloh.Kalau kedua sahabatnya al-Ustadz Luqman dan Ustadz Askari agak kasar…(Askari berkata : Firanda yang Durjana) atau yang semisalnya, maka al-Ustadz Dzulqornain sangat “indah” kata-katanya dan gelaran-gelaran yang diberikan kepada saya.Diantara perkataan al-Ustadz hafizohulloh–         ((Sudah sekian lama Saya mengetahui pemikiran-pemikiran Ustadz Firanda yang menyimpang. Juga Saya mengetahui bahwa, di antara kawan-kawannya, Ustadz Firanda inilah yang pemikirannya paling parah dan jalannya paling jelek)) –         ((Saya menganggap bahwa Ustadz Firanda ini bukanlah orang yang layak ditanggapi, apalagi dibantah. Semua orang yang pernah menasihatinya telah memaklumi akan Ustadz Firanda, bahwa beliau adalah orang yang gemar mendebat, kurang akal, dan keras kepala))–         ((Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya))–         ((Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya disertai dengan keberaniannya berdusta tanpa rasa malu))–         ((Saya merasa bahwa agak sulit mengajarkan akhlak rasa malu kepada orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda))–         ((Seharusnya dia sudah belajar ilmu bahasa Arab dan ilmu ushul fiqih dengan baik sehingga bisa memahami seluk beluk bahasa yang berjalan dalam pembahasan ilmu agama)).Bahkan sebelumnya juga al-Ustadz Dzulqornain pernah menuduh saya salah nerjemah perkataan Syaikh Sholeh Al-Fauzaan…, namun ternyata beliau hanya menuduh dan justru beliau salah nerjemah !!–         ((siapa saja yang memperhatikan tulisan-tulisan Ustadz Firanda dalam membela Rodja akan menilai layak kalau Saya berkata bahwa Ustadz Firanda ini seperti “kambing, walaupun terbang”))–         ((Inilah sebenarnya di antara hizbiyah Ustadz Firanda dan siapa saja yang bersepakat dengannya))Tapi bagi saya gelaran-gelaran yang indah tersebut adalah hal yang wajar, jika kita mengikuti sepak terjang al-Ustadz Dzulqornain maka begitulah cara beliau merendahkan orang lain. Jika Syaikh Ali Hasan tidak selamat dari “perendahannya” maka bagaimana lagi dengan Firanda yang kurang akal dan keras kepala??”Saya hanya bisa menukil komentar dua Akhi fillah tentang bantahan al-Ustadz Dzulqornain berikut ini :Pertama : ((Saya juga sesekali meluangkan waktu membaca tulisan Ustadz Firanda dan pada akhirnya saya berkesempatan membaca bantahan Ustadz Dzul. Balasan Ustadz Dzul saya perhatikan lebih pada penggalangan opini terhadap sosok Ustadz Firanda, tapi kurang dalam mengkounter apa yang ditulis Ustadz Firanda. Harus diakui bahasa yang dipakai Ustadz Dzul lebih agresif))Kedua : ((Saya telah membaca tulisan ustadz Dzul. Lebih mending daripada yang lain, walau tetap dikatakan :لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ“yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar”.Saya melihat tulisan itu tidak lebih hanya mengeluarkan isi bisul yang ingin pecah, seperti kata : pendek akal dan semisalnya. Tidak fokus pada apa yang dibicarakan. Kalau kita biasa mengikuti gaya bahasa ustadz Makassar ini, memang tidak akan jauh dengan senang meng-under estimate-kan orang. Bukan rahasia lagi saya kira…..Misal, tentang IT. Point masalah yang dari dulu saya tangkap adalah bagaimana mengelola perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menyikapi masalah IT. Kemudian para du’at di dalam negeri. Itu saja. Dan lihat realitasnya saja, asatidzah yang sedang dimusuhi ustadz Dzul itu apakah memang punya keterkaitan dengan IT atau tidak. Kalau pun ada, sebagian kecil, separuhnya, sebagian besarnya, atau malah semuanya ?.Tentang Rodja, saya malah tidak mengerti fokus apa yang sedang dibicarakan ustadz Dzul. Barangkali rekan-rekan bisa membantu. Sepemahaman saya, terkait Radio Rodja, point nya adalah bahwa Radio ini telah menebarkan dakwah tauhid dan sunnah, tapi kok malah dihajr dan ditahdzir. Lantas, masalahnya apa ?. Kalau masalahnya adalah keterkaitan dengan ‘Aliy Al-Halabiy, ya bahas saja ‘Aliy Al-Halabiy, karena Rodja hanyalah cabang dari pokok permasalahan. Ini lebih mudah. Atau,…. apakah Rodja punya hubungan dengan IT ?.Cara mengkritik kulalsalafiyeen memang cukup cerdik dengan menggunakan fatwa Asy-Syaikh Shaalih As-Suhaimiy. Tapi,… ada yang perlu diperhatikan. Syaikh tidak mungkin membaca apa isi kulalsalafiyeen. Jadi, apa yang dikatakan beliau terkait dengan informasi yang disampaikan kepada beliau. Oleh karena itu dapat kita perhatikan bahwa perkataan Syaikh itu umum, yang juga berlaku pada situs sahab. Dan sesekali ngaca diri saja deh, apakah memang sahab itu menjadi situs atau forum yang sangat terhormat yang isi di dalamnya bersih dari perendahan para ulama…. dusta…. dan kultus individu ?.Seandainya tulisan ustadz Dzul dianggap masih terlalu prematur untuk dikatakan ilmiah, mungkin karena itu baru hidangan pembuka. Nasi dan daging ayamnya masih disimpan untuk hidangan inti nantinya. Semoga saja begitu…..)) (silahkan lihat kedua komentar tersebut di https://www.facebook.com/abuutsman/posts/10200770119916103?comment_id=4927867&offset=0&total_comments=71&notif_t=mentions_comment) Catatan :Pertama : Memang surat al-Ustadz Dzulqornain sengaja saya sebarkan mengingat :–         Ternyata isinya penuh dengan kedustaan-kedustaan. Sebagaimana telah saja jelaskan dalam tulisan saya (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan”) dan (“Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 3)?“).–         Karena al-Ustadz Dzulqornain pernah menunda “penyebaran fatwa” Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah tentang jihad, yang hingga saat inipun belum pernah tersebar setahu ana. Padahal tatkala itu orang yang tidak memandang wajibnya jihad di Ambon dikatakan hzibi oleh Al-Ustadz cs. Dan sekarang saya masih ingin membaca fatwa Syaikh Al-Utsaimin yang seharusnya disebarkan untuk umat akan tetapi tidak pernah muncul di permukaan. Hal ini mengkhawatirkan saya bahwa fatwa ini juga akan ikut-ikutan lenyap–         Dalam fatwa Syaikh Sholeh Al-Fauzan ada nasehat yang sangat indah bagi salafiyin untuk tidak sibuk mencela yayasan-yayasan dan para dai–         Dalam surat tersebut al-Ustadz juga berkata ((Dan kami mengharapkan dari fadilatus Syaikh untuk memberi nasehat kepada orang-orang Rodja yang telah lalu penjelasan kondisi mereka, seseungguhnya kami mengharpkan kebaikan bagi sebagian mereka yang bersikap tasahul atau tersamarkan perkara baginya)). Jadi nasehat Syaikh Sholeh Al-Fauzaan juga untuk orang-orang Rodja. Karena pendengar rodja banyak maka saya ingin agar mereka juga mengetahui isi nasehat tersebut–         Al-Ustadz merasa nasehat Syaikh Sholeh Al-Fauzan (setelah memberikan informasi dusta) mendukung sikap tahdzirannya. Dan hingga saat ini al-Ustadz juga merasa benar dalam mentahdzir Radiorodja yang tahdziran beliau dijadikan dalil oleh para ahlul bid’ah.–         Seharusnya al-Ustadz Dzulqornain sebagaimana perkataan salah seorang penyiar Radiorodja ((Seharusnya ustadz dzul sebelum menulis surat ke syaikh fauzan tabayun dulu ke rodja, akhirnya sangat kelihatan dusta dan serampangan dlm menilai..ini yg tidak mau disadari oleh beliau sehingga merasa jawaban nasehat syaikh fauzan adalh untuk mendukungnya… ketika surat ke syaikh fauzan diterima oleh asatidz rodja hanya bisa tersenyum..namun ada juga 1 ustadz yg ingin memejahijaukan sang penulis surat karena tuduhannya tsb))–         Kalau isi surat tersebut benar tentunya tidak mengapa disebar, apalagi kalau al-Ustadz merasa surat tersebut mendukung beliau, tentunya beliau harusnya bahagia dukungan tersebut disebarluaskan !!!Kedua : Al-Ustadz menjanjikan banyak judul bantahan yang akan beliau siapkan. Terus terang saya gembira dengan persiapan tersebut. Karena bagaimanapun jika para ulama tidak selamat dari kesalahan apalagi seperti saya yang digelari oleh al-Ustadz dengan gelaran-gelaran indah di atas. Kebenaran lebih kita cintai daripada siapapun… Setia menanti kritikan-kritikan Al-Ustadz HafizohullohKota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 01-01-1435 H / 05-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  

Allah Tidak Pernah Mengacuhkanmu Disaat Banyak Manusia Mengacuhkanmu…

Allah tidak pernah mengacuhkanmu disaat banyak manusia mengacuhkanmu…Allah tidak pernah bosan mendengarkan keluhanmu tatkala manusia bosan dan enggan untuk mendengarkan keluhanmu….Allah tidak pernah meninggalkamu sendirian (jika engkau bersandar kepadanya) disaat manusia meninggalkanmu…Allah tidak pernah merendahkanmu (jika kamu taat kepadanya) disaat banyak manusia merendahkanmu karena kurangnya harta dan kedudukanmu (karena kebanyakan manusia mengukur kehormatan seseorang dengan harta)… Allah selalu memaafkanmu jika engkau bertaubat disaat manusia enggan memafkanmu dan terus mencelamu…Allah tidak pernah bosan untuk engkau dekati (jika engkau bertaubat) meskipun telah berulang-ulang engkau bersalah kepadaNya…tatkala manusia langsung meninggalkamu dan menghinakanmu karena hanya satu kesalahanmu…Allah menilai satu kebaikanmu menjadi 10 kali lipat hingga tiada batas dan hanya menilai satu kesalahanmu tetap sebagai satu kesalahan…tatkala manusia menganggap besar satu kesalahanmu yang kecil dan melupakan kebaikan-kebaikanmu…Allah selalu memberi pertolongan disaat pertolongan manusia tidak bisa lagi diharapkan…MAKA : Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan…(copas dari status seorang ikhwan dengan banyak tambahan)

Allah Tidak Pernah Mengacuhkanmu Disaat Banyak Manusia Mengacuhkanmu…

Allah tidak pernah mengacuhkanmu disaat banyak manusia mengacuhkanmu…Allah tidak pernah bosan mendengarkan keluhanmu tatkala manusia bosan dan enggan untuk mendengarkan keluhanmu….Allah tidak pernah meninggalkamu sendirian (jika engkau bersandar kepadanya) disaat manusia meninggalkanmu…Allah tidak pernah merendahkanmu (jika kamu taat kepadanya) disaat banyak manusia merendahkanmu karena kurangnya harta dan kedudukanmu (karena kebanyakan manusia mengukur kehormatan seseorang dengan harta)… Allah selalu memaafkanmu jika engkau bertaubat disaat manusia enggan memafkanmu dan terus mencelamu…Allah tidak pernah bosan untuk engkau dekati (jika engkau bertaubat) meskipun telah berulang-ulang engkau bersalah kepadaNya…tatkala manusia langsung meninggalkamu dan menghinakanmu karena hanya satu kesalahanmu…Allah menilai satu kebaikanmu menjadi 10 kali lipat hingga tiada batas dan hanya menilai satu kesalahanmu tetap sebagai satu kesalahan…tatkala manusia menganggap besar satu kesalahanmu yang kecil dan melupakan kebaikan-kebaikanmu…Allah selalu memberi pertolongan disaat pertolongan manusia tidak bisa lagi diharapkan…MAKA : Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan…(copas dari status seorang ikhwan dengan banyak tambahan)
Allah tidak pernah mengacuhkanmu disaat banyak manusia mengacuhkanmu…Allah tidak pernah bosan mendengarkan keluhanmu tatkala manusia bosan dan enggan untuk mendengarkan keluhanmu….Allah tidak pernah meninggalkamu sendirian (jika engkau bersandar kepadanya) disaat manusia meninggalkanmu…Allah tidak pernah merendahkanmu (jika kamu taat kepadanya) disaat banyak manusia merendahkanmu karena kurangnya harta dan kedudukanmu (karena kebanyakan manusia mengukur kehormatan seseorang dengan harta)… Allah selalu memaafkanmu jika engkau bertaubat disaat manusia enggan memafkanmu dan terus mencelamu…Allah tidak pernah bosan untuk engkau dekati (jika engkau bertaubat) meskipun telah berulang-ulang engkau bersalah kepadaNya…tatkala manusia langsung meninggalkamu dan menghinakanmu karena hanya satu kesalahanmu…Allah menilai satu kebaikanmu menjadi 10 kali lipat hingga tiada batas dan hanya menilai satu kesalahanmu tetap sebagai satu kesalahan…tatkala manusia menganggap besar satu kesalahanmu yang kecil dan melupakan kebaikan-kebaikanmu…Allah selalu memberi pertolongan disaat pertolongan manusia tidak bisa lagi diharapkan…MAKA : Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan…(copas dari status seorang ikhwan dengan banyak tambahan)


Allah tidak pernah mengacuhkanmu disaat banyak manusia mengacuhkanmu…Allah tidak pernah bosan mendengarkan keluhanmu tatkala manusia bosan dan enggan untuk mendengarkan keluhanmu….Allah tidak pernah meninggalkamu sendirian (jika engkau bersandar kepadanya) disaat manusia meninggalkanmu…Allah tidak pernah merendahkanmu (jika kamu taat kepadanya) disaat banyak manusia merendahkanmu karena kurangnya harta dan kedudukanmu (karena kebanyakan manusia mengukur kehormatan seseorang dengan harta)… Allah selalu memaafkanmu jika engkau bertaubat disaat manusia enggan memafkanmu dan terus mencelamu…Allah tidak pernah bosan untuk engkau dekati (jika engkau bertaubat) meskipun telah berulang-ulang engkau bersalah kepadaNya…tatkala manusia langsung meninggalkamu dan menghinakanmu karena hanya satu kesalahanmu…Allah menilai satu kebaikanmu menjadi 10 kali lipat hingga tiada batas dan hanya menilai satu kesalahanmu tetap sebagai satu kesalahan…tatkala manusia menganggap besar satu kesalahanmu yang kecil dan melupakan kebaikan-kebaikanmu…Allah selalu memberi pertolongan disaat pertolongan manusia tidak bisa lagi diharapkan…MAKA : Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan…(copas dari status seorang ikhwan dengan banyak tambahan)

FIR’AUN SAJA NGALAH SAMA ISTRINYA…!!!??

Allah berfirman :فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ (٨)وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٩)“Maka dipungutlah ia (Nabi Musa yang masih bayi) oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya Dia menja- di musuh dan Kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Ha- man beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari” (QS Al-Qosos : 8-9)Ibnu Katsir rahimahullah berkata : أَنَّ فِرْعَوْنَ لَمَّا رَآهُ همَّ بِقَتْلِهِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَجَعَلَتِ امْرَأَتُهُ آسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ تُحَاجُّ عَنْهُ وتَذب دُونَهُ، وَتُحَبِّبُهُ إِلَى فِرْعَوْنَ“Fir’aun tatkala melihat nabi Musa (yang masih bayi-pen) maka iapun ingin membunuhnya, karena ia kawatir bayi tersebut dari bani Israil. Maka istrinya –yaitu Asiah binti Muzahim- pun berusaha membela si kecil Musa dan ia berusaha agar Fir’aun menyayangi si kecil Musa” (Tafsir Ibnu Katsir : 6/222).Yaitu istri Fir’aun berkata kepadanya : “(Ia/sikecil Musa) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak….”Jika Fir’aun yang begitu sesatnya, begitu kafirnya, begitu bengisnya, bahkan mengaku sebagai tuhan… ternyata mengalah sama istrinya…lantas bagaimana dengan anda yang beriman kepada Allah dan hari akhirat…??, yang beriman bahwa menyayangi istri dan bersabar dengan kekurangannya mendatangkan pahala di akhirat kelak…??!!Sungguh benar kata orang : Suami sabar disayang istri….Tentu sebaliknya juga… istri sabar disayang suami….Maka jika istri anda sedang ngomel sabarlah…..dan jika suami anda sedang ngomel maka bersabarlah….berilah nasehat kepada istri/suami nanti saja tatkala sudah reda atau tatkala lagi bermesraan. Hindari memberi nasehat (atau yang lebih tepat : melampiaskan kemarahan ??) tatkala sedang emosi..

FIR’AUN SAJA NGALAH SAMA ISTRINYA…!!!??

Allah berfirman :فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ (٨)وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٩)“Maka dipungutlah ia (Nabi Musa yang masih bayi) oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya Dia menja- di musuh dan Kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Ha- man beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari” (QS Al-Qosos : 8-9)Ibnu Katsir rahimahullah berkata : أَنَّ فِرْعَوْنَ لَمَّا رَآهُ همَّ بِقَتْلِهِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَجَعَلَتِ امْرَأَتُهُ آسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ تُحَاجُّ عَنْهُ وتَذب دُونَهُ، وَتُحَبِّبُهُ إِلَى فِرْعَوْنَ“Fir’aun tatkala melihat nabi Musa (yang masih bayi-pen) maka iapun ingin membunuhnya, karena ia kawatir bayi tersebut dari bani Israil. Maka istrinya –yaitu Asiah binti Muzahim- pun berusaha membela si kecil Musa dan ia berusaha agar Fir’aun menyayangi si kecil Musa” (Tafsir Ibnu Katsir : 6/222).Yaitu istri Fir’aun berkata kepadanya : “(Ia/sikecil Musa) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak….”Jika Fir’aun yang begitu sesatnya, begitu kafirnya, begitu bengisnya, bahkan mengaku sebagai tuhan… ternyata mengalah sama istrinya…lantas bagaimana dengan anda yang beriman kepada Allah dan hari akhirat…??, yang beriman bahwa menyayangi istri dan bersabar dengan kekurangannya mendatangkan pahala di akhirat kelak…??!!Sungguh benar kata orang : Suami sabar disayang istri….Tentu sebaliknya juga… istri sabar disayang suami….Maka jika istri anda sedang ngomel sabarlah…..dan jika suami anda sedang ngomel maka bersabarlah….berilah nasehat kepada istri/suami nanti saja tatkala sudah reda atau tatkala lagi bermesraan. Hindari memberi nasehat (atau yang lebih tepat : melampiaskan kemarahan ??) tatkala sedang emosi..
Allah berfirman :فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ (٨)وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٩)“Maka dipungutlah ia (Nabi Musa yang masih bayi) oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya Dia menja- di musuh dan Kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Ha- man beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari” (QS Al-Qosos : 8-9)Ibnu Katsir rahimahullah berkata : أَنَّ فِرْعَوْنَ لَمَّا رَآهُ همَّ بِقَتْلِهِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَجَعَلَتِ امْرَأَتُهُ آسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ تُحَاجُّ عَنْهُ وتَذب دُونَهُ، وَتُحَبِّبُهُ إِلَى فِرْعَوْنَ“Fir’aun tatkala melihat nabi Musa (yang masih bayi-pen) maka iapun ingin membunuhnya, karena ia kawatir bayi tersebut dari bani Israil. Maka istrinya –yaitu Asiah binti Muzahim- pun berusaha membela si kecil Musa dan ia berusaha agar Fir’aun menyayangi si kecil Musa” (Tafsir Ibnu Katsir : 6/222).Yaitu istri Fir’aun berkata kepadanya : “(Ia/sikecil Musa) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak….”Jika Fir’aun yang begitu sesatnya, begitu kafirnya, begitu bengisnya, bahkan mengaku sebagai tuhan… ternyata mengalah sama istrinya…lantas bagaimana dengan anda yang beriman kepada Allah dan hari akhirat…??, yang beriman bahwa menyayangi istri dan bersabar dengan kekurangannya mendatangkan pahala di akhirat kelak…??!!Sungguh benar kata orang : Suami sabar disayang istri….Tentu sebaliknya juga… istri sabar disayang suami….Maka jika istri anda sedang ngomel sabarlah…..dan jika suami anda sedang ngomel maka bersabarlah….berilah nasehat kepada istri/suami nanti saja tatkala sudah reda atau tatkala lagi bermesraan. Hindari memberi nasehat (atau yang lebih tepat : melampiaskan kemarahan ??) tatkala sedang emosi..


Allah berfirman :فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ (٨)وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٩)“Maka dipungutlah ia (Nabi Musa yang masih bayi) oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya Dia menja- di musuh dan Kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Ha- man beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari” (QS Al-Qosos : 8-9)Ibnu Katsir rahimahullah berkata : أَنَّ فِرْعَوْنَ لَمَّا رَآهُ همَّ بِقَتْلِهِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَجَعَلَتِ امْرَأَتُهُ آسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ تُحَاجُّ عَنْهُ وتَذب دُونَهُ، وَتُحَبِّبُهُ إِلَى فِرْعَوْنَ“Fir’aun tatkala melihat nabi Musa (yang masih bayi-pen) maka iapun ingin membunuhnya, karena ia kawatir bayi tersebut dari bani Israil. Maka istrinya –yaitu Asiah binti Muzahim- pun berusaha membela si kecil Musa dan ia berusaha agar Fir’aun menyayangi si kecil Musa” (Tafsir Ibnu Katsir : 6/222).Yaitu istri Fir’aun berkata kepadanya : “(Ia/sikecil Musa) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak….”Jika Fir’aun yang begitu sesatnya, begitu kafirnya, begitu bengisnya, bahkan mengaku sebagai tuhan… ternyata mengalah sama istrinya…lantas bagaimana dengan anda yang beriman kepada Allah dan hari akhirat…??, yang beriman bahwa menyayangi istri dan bersabar dengan kekurangannya mendatangkan pahala di akhirat kelak…??!!Sungguh benar kata orang : Suami sabar disayang istri….Tentu sebaliknya juga… istri sabar disayang suami….Maka jika istri anda sedang ngomel sabarlah…..dan jika suami anda sedang ngomel maka bersabarlah….berilah nasehat kepada istri/suami nanti saja tatkala sudah reda atau tatkala lagi bermesraan. Hindari memberi nasehat (atau yang lebih tepat : melampiaskan kemarahan ??) tatkala sedang emosi..

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 7)?

Alhamdulillah, tulisan sang narasumber ke Syaikh Robi (al-Ustadz Luqman Ba’abduh) sehingga muncul fatwa sesatnya Radiorodja sudah mencapai artikel ke -6. Akan tetapi ternyata belum nyambung juga dengan kritikan saya terhadap Syaikh Robi’ yang membawa (1) pemikiran khowarij (karena beliau berpendapat seorang mubtadi’ muslim harus dibenci total 100 persen) dan (2) Syaikh Robi berdusta atas salaf (karena mengatakan para salaf menghajr tanpa melihat maslahat) (silahkan baca lagi artikel “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 4)? – Manhaj Syaikh Rabî’ dalam Timbangan Manhaj Para Ulama Kibâr“). Saya masih setia menunggu kritikan dari al-Ustadz Luqman Ba’abduh, demikian juga al-Ustadz Askari, dan juga al-Ustadz Dzulqornain tentang permasalahan ini, agar jelas siapa yang salah. Jika saya salah maka saya akan kembali kepada al-haq, akan tetapi jika Syaikh Robi’ yang salah, maka tidak perlu Syaikh Robi’ malu untuk kembali kepada kebenaran, toh beliau tidak maksum. Demikian juga para tiga ustadz tersebut tidak perlu malu untuk kembali kepada kebenaran. Baarokallahu fiikum.           Merupakan perkara yang aneh adalah tatkala seorang salafy santai saja ketika Syaikh Robi’ menyatakan Ibnu Taimiyyah salah, membantah Ibnu Taimiyyah dengan ijmak (palsu) salaf?? Sehingga mengesankan Ibnu Taimiyyah menyelisihi manhaj salaf, mengesankan Ibnu Taimiyyah menyelisihi ijmak salaf, lantas marah tatkala dikatakan Syaikh Robi’ manhajnya salah??Jika ada yang berkata, “Siapa Firanda berani membantah Syaikh Robi?”, maka saya katakan, “Siapa Syaikh Robi’ berani menyalah-nyalahkan manhaj Ibnu Taimiyyah?”. Sungguh setelah bergelut bertahun-tahun dengan kitab-kitab Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika menulis tesis S2, saya dapati begitu luas ilmu Ibnu Taimiyyah, dan beliau rahimahullah sangat hati-hati tatkala menjelaskan manhaj salaf. Bahkan ada sekitar 3 risalah disertasi yang menjelaskan kebenaran ijmak yang dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah. Lantas dengan begitu mudahnya Syaikh Robi’ menyatakan Ibnu Taimiyyah salah dalam 2 permasalahan manhaj??!! Apakah Syaikh Robi’ Maksum?          Syaikh Robi sendiri mengakui bahwa beliau tidak maksum. Syaikh Robi pernah ditanya:هناك من يقول: إن الشيخ ربيعًا معصوم في المنهج، ما تقول أنت في هذا؟“Ada orang yang berkata : Sesungguhnya Syaikh Robi’ maksum dalam manhaj, apa pendapat Anda tentang ini?”.Maka Syaikh Robi’ menjawab :لا، لا، أقول: لستُ معصومًا، لستُ معصومًا، ولكن اسمع: لا أعرف لي خطأ في المنهج“Tidak, tidak, aku katakan : Aku tidaklah maksum, aku tidaklah maksum, akan tetapi dengarlah, aku tidak mengetahui aku punya kesalahan dalam manhaj” (silahkan dengar di https://app.box.com/s/7ny34tfzzr6aczssb1qg) atau di bawah ini:ucapan-syaikh-rabi–laa-a3rif-lii-khotoan-filmanhaj.mp3Jelas dalam pernyataan di atas syaikh Robi’ memandang dirinya tidak maksum, akan tetapi :1) Beliau menyatakan tidak pernah merasa punya kesalahan dalam manhaj??!!2) Karenanya beliau memandang barang siapa yang mengkritik beliau berarti menjatuhkan manhaj ahlus sunnah. Syaikh Robi’ berkata :والله إن يسعى الكلام في  الطعن فيَّ ، إنه ما يكون نتيجة إلا إسقاط  المنهج “Demi Allah jika ada usaha mencelaku maka tidaklah ada hasilnya kecuali menjatuhkan manhaj ini” (silahkan lihat di situs beliau http://www.rabee.net/show_book.aspx?pid=3&bid=263&gid)Beliau juga berkata :ووالله ما يسعى في الكلام فِيَّ –ولا الطعن في ما نحن فيه- إلا لتكون النتيجة إسقاط المنهج ؛ فالذي يكره هذا المنهج يتكلم في علمائه ، الذي يبغض هذا المنهج ويريد إسقاطه يسير في هذا الطريق!! “Dan demi Allah, tidaklah berusaha membicarakan (keburukan tentang) aku dan tidak pula mencela apa yang kami di atasnya keculai hasilnya adalah menjatuhkan manhaj. Yang membenci manhaj ini membicarakan (keburukan) ulamanya, yang membenci manhaj ini dan ingin menjatuhkannya ia berjalan di atas jalan ini” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaa’il 1/482)3) Syaikh Robi memandang bahwa salafi beliau lebih kuat dibanding salafiahnya Syaikh Al-Albani.Syaikh Robi’ berkata :أما نحن تلاميذ الشيخ فمنذ وطأت قدماه الجامعة والله من أول يوم دخل الشيخ الألباني وله وزن وله قيمة عندنا فبدأ الدرس وتعرض لقضية القبور والكتابة عليها ووضع علامات عليها وكذا ونحن طلاب الشيخ عبدالله القرعاوي عندنا سلفية أقوى من سلفية الألباني واللهِ الشيخ عبد الله تعلم المنهج السلفي تماماً حتى ما عرفنا المذاهب أبداً ما عرفنا إلا كتاب الله وسنة رسول الله ومنهج السلف فالتقينا بالألباني وإذا به نحن في السلفية أقوى منه يعلم الله ما قلدناه, الشيخ عبد الله جاء بسلفية هي صحيح السلفية“Adapun kami murid-murid Syaikh (Abdullah Al-Qor’awi) maka semenjak kaki kami menginjak Jami’ah (Islamiyah Madinah-pen) semenjak hari pertama masuknya Syaikh Al-Albani –dan ia berharga dan bernilai di sisi kami- maka beliaupun memulai pelajaran, lalu beliau menyinggung permasalahan kuburan dan penulisan di kuburan serta meletakkan tanda di kuburan dan demikian-demikian. Kami –para murid Syaikh Abdullah Al-Qor’awi- bagi kami salafiah kami lebih kuat daripada salafiyah Al-Albani. Demi Allah Asy-Syaikh Abdullah mempelajari manhaj secara sempurna hingga bahkan kami tidak mengerti madzhab-madzhab sama sekali, kami tidak mengetahui kecuali Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah dan manhaj salaf. Lalu kami bertemu dengan Al-Albani, dan ternyata kami di atas salafiyah yang lebih kuat dari beliau, Allah mengetahui kami tidak taqlid kepada beliau. Asy-Syaikh Abdullah membawa salafiyah yang shahih” (silahkan dengar di http://www.youtube.com/watch?v=7TCQ3JeHcXw)4) Syaikh Robi’ sering memuji dirinya sendiri. Diantara pujian-pujian terhadap dirinya adalah sebagai berikut :إني والله لعلى منهج أهل السنة في الدقيق والجليل -ما استطعت إلى ذلك سبيلا“Sesungguhnya demi Allah aku di atas manhaj Ahlus Sunnah besar maupun kecilnya semampuku” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/204)ربيع وإخوانه من أهل السنة وأنصارها، والذابين عنها“Robi’ dan teman-temannya termasuk ahlus sunnah dan penolong-penolongnya dan para pembelanya” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/568)علماء السنة والتوحيد والقامعين للبدع من أمثال الشيخ النجمي والشيخ زيد بن محمد هادي والشيخ ربيع بن هادي“Ulama sunnah dan tauhid dan pemberantas bid’ah seperti Asy-Syaikh An-Najmi, Asy-Syaikh Zaid Muhammad Hadi dan Asy-Syaikh Robi’ bin Haadi” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/196)ولو درس أبو حاتم وغيره من الأئمة، حتى البخاري دراسة وافية لما تجاوز في نظري النتائج التي تَوصّلتُ إليها ، لأنني بحمد الله طبّقتُ قواعد المحدثين بكل دِقّة ولم آل في ذلك جهداً“Kalau seandainya Abu Hatim dan yang para imam yang lainnya –bahkan Al-Bukhari- mempelajari dengan pembelajaran yang mencukupi maka menurutku mereka tidak akan melewati hasil yang telah kucapai. Karena Alhamdulillah aku telah menerapkan kaidah-kaidah para ahlul hadits dengan begitu detail dan sungguh-sungguh” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 8/236)نحن معروفون ـ والحمد لله ـ أننا أقوى من وقف في وجه الفتن والشغب ودعاة الهدم لهذه البلاد“Kami –ahlamdulillah- dikenal bahwasanya kami adalah yang paling kuat dalam menghadapi fitnah-fitnah dan para da’i yang berusaha menghancurkan negeri ini”( Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail  9/490)أما سمو الأسلوب ورصانة العرض فسلوا العقلاء المنصفين عنهما في كتاباتي، وأحمد الله أن كتاباتي محببة عند أهل الحق جميعاً تسر المؤمنين وتغيظ المبطلين، وتمتاز والحمد لله بجودة العرض وقوته ورصانته وقوة الحجة والبرهان“Adapun tingginya metode dan kokohnya pemaparan pada buku-bukuku maka silahkan tanyakanlah kepada orang-orang yang berakal yang adil. Dan aku memuji Allah bahwasanya buku-buku karyaku disukai oleh ahlul haq seluruhnya, menggembirakan kaum mukminin dan membuat marah para ahlul batil. Dan –alhhamdulillah- buku-bukuku teristimewakan dengan bagusnya pemaparan dan kuatnya  dan kokohnya pemaparan, kuatnya hujjah (argumen) dan dalil” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 7/35)الذين يتتبعون أقوالي لم يقفوا فيها على كذب وخيانة،, وإنما وجدوا الصدق والأمانة، وحتى الخصوم يعرفوا هذا“Orang-orang yang meneliti parkataan-perkataanku maka mereka tidak mendapati kedustaan dan khianat, mereka hanyalah mendapatkan kejujuran dan amanah, bahkan musuh-musuh mengetahui akan hal ini”(Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/39)Dan masih banyak lagi pujian-pujian Syaikh Robi’ pada dirinya, wallahul musta’aan. Benarkah Tidak Ada Ulama Yang Menyelisi Syaikh Robi?1) Kritikan Mufti Arab Saudi Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh.Seorang penanya dari Libia (yang bernama Salim) bertanya dalam acara televisi kepada Mufti Arab Saudi Asy-Syaikh Abdul Aziz Alu Asy-SyaikhPertanyaan :السؤال: يا شيخ! هل نأخذ العلم على شخص مجرَّح يا شيخ؟ أي: جُرِّح .. هل نأخذ عنه العلم..؟المذيع: طيب سؤالك؟السائل: هل نأخذ عنه العلم يا شيخ؟المذيع: طيب، من الذي جرَّح هذا الشخص؟السائل: الشيخ ربيع -يا شيخ!-.المذيع: طيب. شكرًا لك -يا سالم!-.طالب العلم -سماحة الشيخ!-، عندما يعني يقال له -سواء من ثقة، أو غير ذلك-: أن فلانًا فيه جَرح، أو فيه مانع مِن أخذ العلم منه؛ كيف يتثبت..Penanya : Wahai Syaikh, apakah kami mengambil ilmu dari orang yang ditajrih (ditahdzir dan dijatuhkan-pen)?. dia ditajrih, apakah boleh kami mengambil ilmu darinya?Pembawa acara : Baik, pertanyaanmu apa?Penanya : Bolehkan kami mengambil ilmu darinya wahai Syaikh?Pembawa acara ; Siapakah yang mentajrih (menjatuhkan) orang ini?Penanya : Asy-Syaikh Robi’ wahai Syaikh.Pembawa acara : Baik, Syukron wahai Salim. Wahai Syaikh yang Mulia, seorang penuntut ilmu tatkala dikatakan kepadanya –apakah dari seorang yang tsiqoh atau selain itu- : bahwasanya si fulan di jarh atau padanya ada penghalang untuk diambil ilmu darinya, maka bagaimana ia mengeceknya… Jawaban Mufti:المفتي: والله يا أخي! القضية هذه -أحيانًا- تكون هوًى، تجريح الناس، سبهم يكون -أحيانًا- يصحبه هوى، والمصالح الشخصية، وأنا ما أحب الدخول في هذه الأشياء.أقول: طلاب العلم يُرجى لهم الخير، وإذا شعرنا بشيءٍ من الخطأ؛ ناقشناه إن تمكنا، أو سألنا من نثق به عن هذا الخطأ.أما التجريح في الناس، وذم الناس، وتقسيم الناس -هذا ما يصلح، هذا يصلح-؛ فكثير منها .. هوى، وسباب المسلم فسوق، واحترام أعراض المسلم واجبة“Demi Allah ya akhi, perkara ini –terkadang- adalah hawa nafsu, menjarh orang-orang, mencela mereka –terkadang- disertai hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan pribadi. Dan aku tidak suka masuk dalam perkara-perkara seperti ini.Aku katakan, para penuntut ilmu diharapkan kebaikan bagi mereka. Jika kita merasa ada suatu kesalahan maka kita dialog dengannya jika memungkinkan, atau kita bertanya kepada orang kita percayai tentang kesalahan ini. Adapun menjarh orang-orang, mencela orang-orang, mengklasifikasi orang-orang, ini tidaklah benar, ini tidak dibenarkan. Kebanyakannya adalah hawa nafsu, mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan menghormati harga diri seorang muslim adalah kewajiban” (Silahkan lihat di http://www.youtube.com/watch?v=yY-1VztRDes)2) Kritikan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah kepada Syaikh Robi’ bisa dibaca di (http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=48244)3) Kritikan Syaikh Abdul Karim Al-Khudair tentang orang-orang yang mencela Syaikh Al-Jibrin rahimahullah (diantaranya Syaikh Robi). Beliau mengatakan orang yang mencela Syaikh Al-Jibrin adalah perampok. Silahkan dengar di (http://www.youtube.com/watch?v=IlDBv2cHYVU)4) Kritikan dan nasehat Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad secara pedas dan khusus kepada Syaikh Robi’, sebagaimana telah lalu penukilannya (lihat kembali artikel “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 6)? – STANDAR GANDA !!!“) Memaksakan Samanya Manhaj Syaikh Robi dengan Manhaj Para Ulama KibarBagaimanapun mau disamakan sama saja seperti mengingkari terangnya matahari di siang hari. Silahkan baca kitab-kitab Syaikh Robi yang penuh dengan mentajrih, mentahdzir, dan mentabdi’ sesama ahlus sunnah. Tolong datangkan satu buku Syaikh Bin Baaz, Syaikh al-Utsaimin, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, Mufti Arab Saudi, Syaikh Abdul Karim Al-Khudair, dan para anggota Haiah Kibaar Ulamaa dan anggota Al-Lajnah Ad-Daaimah yang seperti kitab-kitab Syaikh Robii’ dalam mentahdzir dan mentabdi’ sesama ahlus Sunnah …!!!Lihat juga murid-murid senior Syaikh Bin Baaz dan Syaikh al-Utsaimin…apakah ada yang manhajnya seperti manhaj Syaikh Robi’ dalam mentahdzir dan mentabdi’??Dan telah saya jelaskan dalam tulisan saya bahwa Manhaj Syaikh Robi’ menyimpang dan menyelisihi manhaj kibar ulama dalam dua hal(1) Wajib membenci mubtadi’ muslim secara total 100 persen(2) Menghajr tidak perlu memandang maslahat karena itu adalah ijmak salafSaya telah menjelaskan bahwa hal  ini menyelisihi Ibnu Taimiyyah, menyelihi salaf, menyelishi Syaikh Bin Baaz dan Syaikh Sholeh Al-Fauzaan. Lantas kurang bukti apa lagi??Bahkan masih banyak perkara manhaj yang Syaikh Robii’ berbeda dengan Syaikh Sholeh Al-Fauzaan. (silahkan baca http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=50885)Karenanya barang siapa yang menyatakan manhaj Syaikh Robi’ dalam masalah tahdzir dan tabdi’ sama dengan manhaj kibar ulama maka sunngguh ia telah berdusta dengan kedustaan yang nyata !!!. Hendaknya dia mendatangkan bukti bahwa para ulama kibar hobinya mentahdzir dan mentabdi’??? Syaikh Robi Tidak Mutasyaddid??(Narasumber penyesatan Radiorodja membantah pemahaman Syaikh Al-Albani)Jika sang narasumber (al-Ustadz Luqman Ba’abduh) tidak setuju dengan pernyataan Syaikh Al-Albani bahwa pada seluruh buku Syaikh Robi’ ada syiddah/kekerasan, maka itu hak sang narasumber.  Jika narasumber tidak setuju dengan penafsiran “jahiliah” sebagaimana yang dipahami oleh Syaikh Al-Albani maka itu terserah nara sumber.Sepertinya pernyataan dan kritikan Syaikh Al-Abani terhadap kerasnya Syaikh Robi’ adalah salah menurut narasumber penyesatan Radiorodja ??. Jika perkaranya demikian berarti Syaikh Al-Albani tidak maksum dan perlu ditinjau kembali. Kalau begitu pujian Syaikh Al-Albani terhadap Syaikh Robi’ tentunya tidak boleh juga dimakan secara mentah-mentah !!          Adapun jika narasumber setuju dengan pernyataan Syaikh Al-Albani “Pada seluruh buku Syaikh Robi’ ada kekerasan”, maka jelaslah bahwa manhaj Syaikh Robi’ mutasyaddid. Karena pembicaraan kita tentang manhaj adalah berputar tentang sikap terhadap penyelisih atau orang yang menyimpang.Adapun saya menyetujui penilaian Syaikh Robi’ mutasyaddid karena dua kesalahan syaikh dalam manhaj yang telah saya paparkan. Bagaimana tidak menjadi keras jika mewajibkan membenci 100 persen mubtadi’ muslim??!!. Banyak orang yang harus kita benci secara total !!!, Kerabat (bahkan bisa jadi kedua orang tua), tetangga, orang kampung di pasar, sesama penumpang di bis dan pesawat serta kereta api, bahkan suami atau istri…dll. Apakah ini tidak dikatakan mutasyaddid??Belum lagi menghajr tanpa harus melihat maslahat…wah kereta api beserta masinis dan penumpangnya harus saya hajr…, pilot dan para pramugari dan pramugaranya serta para penumpangnya harus saya hajr…., para jemaah haji dan para jama’ah umroh saya hajr…dan saya hanya bisa merasa tenang jika masuk dalam kampung salafy yang sealiran dengan saya atau masuk ke kebun binatang, barulah saya tidak perlu menghajr… Apakah ini tidak disebut mutasyaddid??Ala kulli Haal…saya masih menunggu bantahan ilmiyah dari ketiga ustad yang mulia, al-Ustadz Dzulqornai, al-Ustadz Luqman Ba’abduh (sang nara sumber penyesatan radiorodja) dan al-Ustadz Askari hafizohumulloh.(bersambung nggak ya???)Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 30-12-1434 H / 04-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 7)?

Alhamdulillah, tulisan sang narasumber ke Syaikh Robi (al-Ustadz Luqman Ba’abduh) sehingga muncul fatwa sesatnya Radiorodja sudah mencapai artikel ke -6. Akan tetapi ternyata belum nyambung juga dengan kritikan saya terhadap Syaikh Robi’ yang membawa (1) pemikiran khowarij (karena beliau berpendapat seorang mubtadi’ muslim harus dibenci total 100 persen) dan (2) Syaikh Robi berdusta atas salaf (karena mengatakan para salaf menghajr tanpa melihat maslahat) (silahkan baca lagi artikel “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 4)? – Manhaj Syaikh Rabî’ dalam Timbangan Manhaj Para Ulama Kibâr“). Saya masih setia menunggu kritikan dari al-Ustadz Luqman Ba’abduh, demikian juga al-Ustadz Askari, dan juga al-Ustadz Dzulqornain tentang permasalahan ini, agar jelas siapa yang salah. Jika saya salah maka saya akan kembali kepada al-haq, akan tetapi jika Syaikh Robi’ yang salah, maka tidak perlu Syaikh Robi’ malu untuk kembali kepada kebenaran, toh beliau tidak maksum. Demikian juga para tiga ustadz tersebut tidak perlu malu untuk kembali kepada kebenaran. Baarokallahu fiikum.           Merupakan perkara yang aneh adalah tatkala seorang salafy santai saja ketika Syaikh Robi’ menyatakan Ibnu Taimiyyah salah, membantah Ibnu Taimiyyah dengan ijmak (palsu) salaf?? Sehingga mengesankan Ibnu Taimiyyah menyelisihi manhaj salaf, mengesankan Ibnu Taimiyyah menyelisihi ijmak salaf, lantas marah tatkala dikatakan Syaikh Robi’ manhajnya salah??Jika ada yang berkata, “Siapa Firanda berani membantah Syaikh Robi?”, maka saya katakan, “Siapa Syaikh Robi’ berani menyalah-nyalahkan manhaj Ibnu Taimiyyah?”. Sungguh setelah bergelut bertahun-tahun dengan kitab-kitab Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika menulis tesis S2, saya dapati begitu luas ilmu Ibnu Taimiyyah, dan beliau rahimahullah sangat hati-hati tatkala menjelaskan manhaj salaf. Bahkan ada sekitar 3 risalah disertasi yang menjelaskan kebenaran ijmak yang dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah. Lantas dengan begitu mudahnya Syaikh Robi’ menyatakan Ibnu Taimiyyah salah dalam 2 permasalahan manhaj??!! Apakah Syaikh Robi’ Maksum?          Syaikh Robi sendiri mengakui bahwa beliau tidak maksum. Syaikh Robi pernah ditanya:هناك من يقول: إن الشيخ ربيعًا معصوم في المنهج، ما تقول أنت في هذا؟“Ada orang yang berkata : Sesungguhnya Syaikh Robi’ maksum dalam manhaj, apa pendapat Anda tentang ini?”.Maka Syaikh Robi’ menjawab :لا، لا، أقول: لستُ معصومًا، لستُ معصومًا، ولكن اسمع: لا أعرف لي خطأ في المنهج“Tidak, tidak, aku katakan : Aku tidaklah maksum, aku tidaklah maksum, akan tetapi dengarlah, aku tidak mengetahui aku punya kesalahan dalam manhaj” (silahkan dengar di https://app.box.com/s/7ny34tfzzr6aczssb1qg) atau di bawah ini:ucapan-syaikh-rabi–laa-a3rif-lii-khotoan-filmanhaj.mp3Jelas dalam pernyataan di atas syaikh Robi’ memandang dirinya tidak maksum, akan tetapi :1) Beliau menyatakan tidak pernah merasa punya kesalahan dalam manhaj??!!2) Karenanya beliau memandang barang siapa yang mengkritik beliau berarti menjatuhkan manhaj ahlus sunnah. Syaikh Robi’ berkata :والله إن يسعى الكلام في  الطعن فيَّ ، إنه ما يكون نتيجة إلا إسقاط  المنهج “Demi Allah jika ada usaha mencelaku maka tidaklah ada hasilnya kecuali menjatuhkan manhaj ini” (silahkan lihat di situs beliau http://www.rabee.net/show_book.aspx?pid=3&bid=263&gid)Beliau juga berkata :ووالله ما يسعى في الكلام فِيَّ –ولا الطعن في ما نحن فيه- إلا لتكون النتيجة إسقاط المنهج ؛ فالذي يكره هذا المنهج يتكلم في علمائه ، الذي يبغض هذا المنهج ويريد إسقاطه يسير في هذا الطريق!! “Dan demi Allah, tidaklah berusaha membicarakan (keburukan tentang) aku dan tidak pula mencela apa yang kami di atasnya keculai hasilnya adalah menjatuhkan manhaj. Yang membenci manhaj ini membicarakan (keburukan) ulamanya, yang membenci manhaj ini dan ingin menjatuhkannya ia berjalan di atas jalan ini” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaa’il 1/482)3) Syaikh Robi memandang bahwa salafi beliau lebih kuat dibanding salafiahnya Syaikh Al-Albani.Syaikh Robi’ berkata :أما نحن تلاميذ الشيخ فمنذ وطأت قدماه الجامعة والله من أول يوم دخل الشيخ الألباني وله وزن وله قيمة عندنا فبدأ الدرس وتعرض لقضية القبور والكتابة عليها ووضع علامات عليها وكذا ونحن طلاب الشيخ عبدالله القرعاوي عندنا سلفية أقوى من سلفية الألباني واللهِ الشيخ عبد الله تعلم المنهج السلفي تماماً حتى ما عرفنا المذاهب أبداً ما عرفنا إلا كتاب الله وسنة رسول الله ومنهج السلف فالتقينا بالألباني وإذا به نحن في السلفية أقوى منه يعلم الله ما قلدناه, الشيخ عبد الله جاء بسلفية هي صحيح السلفية“Adapun kami murid-murid Syaikh (Abdullah Al-Qor’awi) maka semenjak kaki kami menginjak Jami’ah (Islamiyah Madinah-pen) semenjak hari pertama masuknya Syaikh Al-Albani –dan ia berharga dan bernilai di sisi kami- maka beliaupun memulai pelajaran, lalu beliau menyinggung permasalahan kuburan dan penulisan di kuburan serta meletakkan tanda di kuburan dan demikian-demikian. Kami –para murid Syaikh Abdullah Al-Qor’awi- bagi kami salafiah kami lebih kuat daripada salafiyah Al-Albani. Demi Allah Asy-Syaikh Abdullah mempelajari manhaj secara sempurna hingga bahkan kami tidak mengerti madzhab-madzhab sama sekali, kami tidak mengetahui kecuali Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah dan manhaj salaf. Lalu kami bertemu dengan Al-Albani, dan ternyata kami di atas salafiyah yang lebih kuat dari beliau, Allah mengetahui kami tidak taqlid kepada beliau. Asy-Syaikh Abdullah membawa salafiyah yang shahih” (silahkan dengar di http://www.youtube.com/watch?v=7TCQ3JeHcXw)4) Syaikh Robi’ sering memuji dirinya sendiri. Diantara pujian-pujian terhadap dirinya adalah sebagai berikut :إني والله لعلى منهج أهل السنة في الدقيق والجليل -ما استطعت إلى ذلك سبيلا“Sesungguhnya demi Allah aku di atas manhaj Ahlus Sunnah besar maupun kecilnya semampuku” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/204)ربيع وإخوانه من أهل السنة وأنصارها، والذابين عنها“Robi’ dan teman-temannya termasuk ahlus sunnah dan penolong-penolongnya dan para pembelanya” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/568)علماء السنة والتوحيد والقامعين للبدع من أمثال الشيخ النجمي والشيخ زيد بن محمد هادي والشيخ ربيع بن هادي“Ulama sunnah dan tauhid dan pemberantas bid’ah seperti Asy-Syaikh An-Najmi, Asy-Syaikh Zaid Muhammad Hadi dan Asy-Syaikh Robi’ bin Haadi” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/196)ولو درس أبو حاتم وغيره من الأئمة، حتى البخاري دراسة وافية لما تجاوز في نظري النتائج التي تَوصّلتُ إليها ، لأنني بحمد الله طبّقتُ قواعد المحدثين بكل دِقّة ولم آل في ذلك جهداً“Kalau seandainya Abu Hatim dan yang para imam yang lainnya –bahkan Al-Bukhari- mempelajari dengan pembelajaran yang mencukupi maka menurutku mereka tidak akan melewati hasil yang telah kucapai. Karena Alhamdulillah aku telah menerapkan kaidah-kaidah para ahlul hadits dengan begitu detail dan sungguh-sungguh” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 8/236)نحن معروفون ـ والحمد لله ـ أننا أقوى من وقف في وجه الفتن والشغب ودعاة الهدم لهذه البلاد“Kami –ahlamdulillah- dikenal bahwasanya kami adalah yang paling kuat dalam menghadapi fitnah-fitnah dan para da’i yang berusaha menghancurkan negeri ini”( Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail  9/490)أما سمو الأسلوب ورصانة العرض فسلوا العقلاء المنصفين عنهما في كتاباتي، وأحمد الله أن كتاباتي محببة عند أهل الحق جميعاً تسر المؤمنين وتغيظ المبطلين، وتمتاز والحمد لله بجودة العرض وقوته ورصانته وقوة الحجة والبرهان“Adapun tingginya metode dan kokohnya pemaparan pada buku-bukuku maka silahkan tanyakanlah kepada orang-orang yang berakal yang adil. Dan aku memuji Allah bahwasanya buku-buku karyaku disukai oleh ahlul haq seluruhnya, menggembirakan kaum mukminin dan membuat marah para ahlul batil. Dan –alhhamdulillah- buku-bukuku teristimewakan dengan bagusnya pemaparan dan kuatnya  dan kokohnya pemaparan, kuatnya hujjah (argumen) dan dalil” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 7/35)الذين يتتبعون أقوالي لم يقفوا فيها على كذب وخيانة،, وإنما وجدوا الصدق والأمانة، وحتى الخصوم يعرفوا هذا“Orang-orang yang meneliti parkataan-perkataanku maka mereka tidak mendapati kedustaan dan khianat, mereka hanyalah mendapatkan kejujuran dan amanah, bahkan musuh-musuh mengetahui akan hal ini”(Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/39)Dan masih banyak lagi pujian-pujian Syaikh Robi’ pada dirinya, wallahul musta’aan. Benarkah Tidak Ada Ulama Yang Menyelisi Syaikh Robi?1) Kritikan Mufti Arab Saudi Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh.Seorang penanya dari Libia (yang bernama Salim) bertanya dalam acara televisi kepada Mufti Arab Saudi Asy-Syaikh Abdul Aziz Alu Asy-SyaikhPertanyaan :السؤال: يا شيخ! هل نأخذ العلم على شخص مجرَّح يا شيخ؟ أي: جُرِّح .. هل نأخذ عنه العلم..؟المذيع: طيب سؤالك؟السائل: هل نأخذ عنه العلم يا شيخ؟المذيع: طيب، من الذي جرَّح هذا الشخص؟السائل: الشيخ ربيع -يا شيخ!-.المذيع: طيب. شكرًا لك -يا سالم!-.طالب العلم -سماحة الشيخ!-، عندما يعني يقال له -سواء من ثقة، أو غير ذلك-: أن فلانًا فيه جَرح، أو فيه مانع مِن أخذ العلم منه؛ كيف يتثبت..Penanya : Wahai Syaikh, apakah kami mengambil ilmu dari orang yang ditajrih (ditahdzir dan dijatuhkan-pen)?. dia ditajrih, apakah boleh kami mengambil ilmu darinya?Pembawa acara : Baik, pertanyaanmu apa?Penanya : Bolehkan kami mengambil ilmu darinya wahai Syaikh?Pembawa acara ; Siapakah yang mentajrih (menjatuhkan) orang ini?Penanya : Asy-Syaikh Robi’ wahai Syaikh.Pembawa acara : Baik, Syukron wahai Salim. Wahai Syaikh yang Mulia, seorang penuntut ilmu tatkala dikatakan kepadanya –apakah dari seorang yang tsiqoh atau selain itu- : bahwasanya si fulan di jarh atau padanya ada penghalang untuk diambil ilmu darinya, maka bagaimana ia mengeceknya… Jawaban Mufti:المفتي: والله يا أخي! القضية هذه -أحيانًا- تكون هوًى، تجريح الناس، سبهم يكون -أحيانًا- يصحبه هوى، والمصالح الشخصية، وأنا ما أحب الدخول في هذه الأشياء.أقول: طلاب العلم يُرجى لهم الخير، وإذا شعرنا بشيءٍ من الخطأ؛ ناقشناه إن تمكنا، أو سألنا من نثق به عن هذا الخطأ.أما التجريح في الناس، وذم الناس، وتقسيم الناس -هذا ما يصلح، هذا يصلح-؛ فكثير منها .. هوى، وسباب المسلم فسوق، واحترام أعراض المسلم واجبة“Demi Allah ya akhi, perkara ini –terkadang- adalah hawa nafsu, menjarh orang-orang, mencela mereka –terkadang- disertai hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan pribadi. Dan aku tidak suka masuk dalam perkara-perkara seperti ini.Aku katakan, para penuntut ilmu diharapkan kebaikan bagi mereka. Jika kita merasa ada suatu kesalahan maka kita dialog dengannya jika memungkinkan, atau kita bertanya kepada orang kita percayai tentang kesalahan ini. Adapun menjarh orang-orang, mencela orang-orang, mengklasifikasi orang-orang, ini tidaklah benar, ini tidak dibenarkan. Kebanyakannya adalah hawa nafsu, mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan menghormati harga diri seorang muslim adalah kewajiban” (Silahkan lihat di http://www.youtube.com/watch?v=yY-1VztRDes)2) Kritikan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah kepada Syaikh Robi’ bisa dibaca di (http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=48244)3) Kritikan Syaikh Abdul Karim Al-Khudair tentang orang-orang yang mencela Syaikh Al-Jibrin rahimahullah (diantaranya Syaikh Robi). Beliau mengatakan orang yang mencela Syaikh Al-Jibrin adalah perampok. Silahkan dengar di (http://www.youtube.com/watch?v=IlDBv2cHYVU)4) Kritikan dan nasehat Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad secara pedas dan khusus kepada Syaikh Robi’, sebagaimana telah lalu penukilannya (lihat kembali artikel “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 6)? – STANDAR GANDA !!!“) Memaksakan Samanya Manhaj Syaikh Robi dengan Manhaj Para Ulama KibarBagaimanapun mau disamakan sama saja seperti mengingkari terangnya matahari di siang hari. Silahkan baca kitab-kitab Syaikh Robi yang penuh dengan mentajrih, mentahdzir, dan mentabdi’ sesama ahlus sunnah. Tolong datangkan satu buku Syaikh Bin Baaz, Syaikh al-Utsaimin, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, Mufti Arab Saudi, Syaikh Abdul Karim Al-Khudair, dan para anggota Haiah Kibaar Ulamaa dan anggota Al-Lajnah Ad-Daaimah yang seperti kitab-kitab Syaikh Robii’ dalam mentahdzir dan mentabdi’ sesama ahlus Sunnah …!!!Lihat juga murid-murid senior Syaikh Bin Baaz dan Syaikh al-Utsaimin…apakah ada yang manhajnya seperti manhaj Syaikh Robi’ dalam mentahdzir dan mentabdi’??Dan telah saya jelaskan dalam tulisan saya bahwa Manhaj Syaikh Robi’ menyimpang dan menyelisihi manhaj kibar ulama dalam dua hal(1) Wajib membenci mubtadi’ muslim secara total 100 persen(2) Menghajr tidak perlu memandang maslahat karena itu adalah ijmak salafSaya telah menjelaskan bahwa hal  ini menyelisihi Ibnu Taimiyyah, menyelihi salaf, menyelishi Syaikh Bin Baaz dan Syaikh Sholeh Al-Fauzaan. Lantas kurang bukti apa lagi??Bahkan masih banyak perkara manhaj yang Syaikh Robii’ berbeda dengan Syaikh Sholeh Al-Fauzaan. (silahkan baca http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=50885)Karenanya barang siapa yang menyatakan manhaj Syaikh Robi’ dalam masalah tahdzir dan tabdi’ sama dengan manhaj kibar ulama maka sunngguh ia telah berdusta dengan kedustaan yang nyata !!!. Hendaknya dia mendatangkan bukti bahwa para ulama kibar hobinya mentahdzir dan mentabdi’??? Syaikh Robi Tidak Mutasyaddid??(Narasumber penyesatan Radiorodja membantah pemahaman Syaikh Al-Albani)Jika sang narasumber (al-Ustadz Luqman Ba’abduh) tidak setuju dengan pernyataan Syaikh Al-Albani bahwa pada seluruh buku Syaikh Robi’ ada syiddah/kekerasan, maka itu hak sang narasumber.  Jika narasumber tidak setuju dengan penafsiran “jahiliah” sebagaimana yang dipahami oleh Syaikh Al-Albani maka itu terserah nara sumber.Sepertinya pernyataan dan kritikan Syaikh Al-Abani terhadap kerasnya Syaikh Robi’ adalah salah menurut narasumber penyesatan Radiorodja ??. Jika perkaranya demikian berarti Syaikh Al-Albani tidak maksum dan perlu ditinjau kembali. Kalau begitu pujian Syaikh Al-Albani terhadap Syaikh Robi’ tentunya tidak boleh juga dimakan secara mentah-mentah !!          Adapun jika narasumber setuju dengan pernyataan Syaikh Al-Albani “Pada seluruh buku Syaikh Robi’ ada kekerasan”, maka jelaslah bahwa manhaj Syaikh Robi’ mutasyaddid. Karena pembicaraan kita tentang manhaj adalah berputar tentang sikap terhadap penyelisih atau orang yang menyimpang.Adapun saya menyetujui penilaian Syaikh Robi’ mutasyaddid karena dua kesalahan syaikh dalam manhaj yang telah saya paparkan. Bagaimana tidak menjadi keras jika mewajibkan membenci 100 persen mubtadi’ muslim??!!. Banyak orang yang harus kita benci secara total !!!, Kerabat (bahkan bisa jadi kedua orang tua), tetangga, orang kampung di pasar, sesama penumpang di bis dan pesawat serta kereta api, bahkan suami atau istri…dll. Apakah ini tidak dikatakan mutasyaddid??Belum lagi menghajr tanpa harus melihat maslahat…wah kereta api beserta masinis dan penumpangnya harus saya hajr…, pilot dan para pramugari dan pramugaranya serta para penumpangnya harus saya hajr…., para jemaah haji dan para jama’ah umroh saya hajr…dan saya hanya bisa merasa tenang jika masuk dalam kampung salafy yang sealiran dengan saya atau masuk ke kebun binatang, barulah saya tidak perlu menghajr… Apakah ini tidak disebut mutasyaddid??Ala kulli Haal…saya masih menunggu bantahan ilmiyah dari ketiga ustad yang mulia, al-Ustadz Dzulqornai, al-Ustadz Luqman Ba’abduh (sang nara sumber penyesatan radiorodja) dan al-Ustadz Askari hafizohumulloh.(bersambung nggak ya???)Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 30-12-1434 H / 04-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Alhamdulillah, tulisan sang narasumber ke Syaikh Robi (al-Ustadz Luqman Ba’abduh) sehingga muncul fatwa sesatnya Radiorodja sudah mencapai artikel ke -6. Akan tetapi ternyata belum nyambung juga dengan kritikan saya terhadap Syaikh Robi’ yang membawa (1) pemikiran khowarij (karena beliau berpendapat seorang mubtadi’ muslim harus dibenci total 100 persen) dan (2) Syaikh Robi berdusta atas salaf (karena mengatakan para salaf menghajr tanpa melihat maslahat) (silahkan baca lagi artikel “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 4)? – Manhaj Syaikh Rabî’ dalam Timbangan Manhaj Para Ulama Kibâr“). Saya masih setia menunggu kritikan dari al-Ustadz Luqman Ba’abduh, demikian juga al-Ustadz Askari, dan juga al-Ustadz Dzulqornain tentang permasalahan ini, agar jelas siapa yang salah. Jika saya salah maka saya akan kembali kepada al-haq, akan tetapi jika Syaikh Robi’ yang salah, maka tidak perlu Syaikh Robi’ malu untuk kembali kepada kebenaran, toh beliau tidak maksum. Demikian juga para tiga ustadz tersebut tidak perlu malu untuk kembali kepada kebenaran. Baarokallahu fiikum.           Merupakan perkara yang aneh adalah tatkala seorang salafy santai saja ketika Syaikh Robi’ menyatakan Ibnu Taimiyyah salah, membantah Ibnu Taimiyyah dengan ijmak (palsu) salaf?? Sehingga mengesankan Ibnu Taimiyyah menyelisihi manhaj salaf, mengesankan Ibnu Taimiyyah menyelisihi ijmak salaf, lantas marah tatkala dikatakan Syaikh Robi’ manhajnya salah??Jika ada yang berkata, “Siapa Firanda berani membantah Syaikh Robi?”, maka saya katakan, “Siapa Syaikh Robi’ berani menyalah-nyalahkan manhaj Ibnu Taimiyyah?”. Sungguh setelah bergelut bertahun-tahun dengan kitab-kitab Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika menulis tesis S2, saya dapati begitu luas ilmu Ibnu Taimiyyah, dan beliau rahimahullah sangat hati-hati tatkala menjelaskan manhaj salaf. Bahkan ada sekitar 3 risalah disertasi yang menjelaskan kebenaran ijmak yang dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah. Lantas dengan begitu mudahnya Syaikh Robi’ menyatakan Ibnu Taimiyyah salah dalam 2 permasalahan manhaj??!! Apakah Syaikh Robi’ Maksum?          Syaikh Robi sendiri mengakui bahwa beliau tidak maksum. Syaikh Robi pernah ditanya:هناك من يقول: إن الشيخ ربيعًا معصوم في المنهج، ما تقول أنت في هذا؟“Ada orang yang berkata : Sesungguhnya Syaikh Robi’ maksum dalam manhaj, apa pendapat Anda tentang ini?”.Maka Syaikh Robi’ menjawab :لا، لا، أقول: لستُ معصومًا، لستُ معصومًا، ولكن اسمع: لا أعرف لي خطأ في المنهج“Tidak, tidak, aku katakan : Aku tidaklah maksum, aku tidaklah maksum, akan tetapi dengarlah, aku tidak mengetahui aku punya kesalahan dalam manhaj” (silahkan dengar di https://app.box.com/s/7ny34tfzzr6aczssb1qg) atau di bawah ini:ucapan-syaikh-rabi–laa-a3rif-lii-khotoan-filmanhaj.mp3Jelas dalam pernyataan di atas syaikh Robi’ memandang dirinya tidak maksum, akan tetapi :1) Beliau menyatakan tidak pernah merasa punya kesalahan dalam manhaj??!!2) Karenanya beliau memandang barang siapa yang mengkritik beliau berarti menjatuhkan manhaj ahlus sunnah. Syaikh Robi’ berkata :والله إن يسعى الكلام في  الطعن فيَّ ، إنه ما يكون نتيجة إلا إسقاط  المنهج “Demi Allah jika ada usaha mencelaku maka tidaklah ada hasilnya kecuali menjatuhkan manhaj ini” (silahkan lihat di situs beliau http://www.rabee.net/show_book.aspx?pid=3&bid=263&gid)Beliau juga berkata :ووالله ما يسعى في الكلام فِيَّ –ولا الطعن في ما نحن فيه- إلا لتكون النتيجة إسقاط المنهج ؛ فالذي يكره هذا المنهج يتكلم في علمائه ، الذي يبغض هذا المنهج ويريد إسقاطه يسير في هذا الطريق!! “Dan demi Allah, tidaklah berusaha membicarakan (keburukan tentang) aku dan tidak pula mencela apa yang kami di atasnya keculai hasilnya adalah menjatuhkan manhaj. Yang membenci manhaj ini membicarakan (keburukan) ulamanya, yang membenci manhaj ini dan ingin menjatuhkannya ia berjalan di atas jalan ini” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaa’il 1/482)3) Syaikh Robi memandang bahwa salafi beliau lebih kuat dibanding salafiahnya Syaikh Al-Albani.Syaikh Robi’ berkata :أما نحن تلاميذ الشيخ فمنذ وطأت قدماه الجامعة والله من أول يوم دخل الشيخ الألباني وله وزن وله قيمة عندنا فبدأ الدرس وتعرض لقضية القبور والكتابة عليها ووضع علامات عليها وكذا ونحن طلاب الشيخ عبدالله القرعاوي عندنا سلفية أقوى من سلفية الألباني واللهِ الشيخ عبد الله تعلم المنهج السلفي تماماً حتى ما عرفنا المذاهب أبداً ما عرفنا إلا كتاب الله وسنة رسول الله ومنهج السلف فالتقينا بالألباني وإذا به نحن في السلفية أقوى منه يعلم الله ما قلدناه, الشيخ عبد الله جاء بسلفية هي صحيح السلفية“Adapun kami murid-murid Syaikh (Abdullah Al-Qor’awi) maka semenjak kaki kami menginjak Jami’ah (Islamiyah Madinah-pen) semenjak hari pertama masuknya Syaikh Al-Albani –dan ia berharga dan bernilai di sisi kami- maka beliaupun memulai pelajaran, lalu beliau menyinggung permasalahan kuburan dan penulisan di kuburan serta meletakkan tanda di kuburan dan demikian-demikian. Kami –para murid Syaikh Abdullah Al-Qor’awi- bagi kami salafiah kami lebih kuat daripada salafiyah Al-Albani. Demi Allah Asy-Syaikh Abdullah mempelajari manhaj secara sempurna hingga bahkan kami tidak mengerti madzhab-madzhab sama sekali, kami tidak mengetahui kecuali Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah dan manhaj salaf. Lalu kami bertemu dengan Al-Albani, dan ternyata kami di atas salafiyah yang lebih kuat dari beliau, Allah mengetahui kami tidak taqlid kepada beliau. Asy-Syaikh Abdullah membawa salafiyah yang shahih” (silahkan dengar di http://www.youtube.com/watch?v=7TCQ3JeHcXw)4) Syaikh Robi’ sering memuji dirinya sendiri. Diantara pujian-pujian terhadap dirinya adalah sebagai berikut :إني والله لعلى منهج أهل السنة في الدقيق والجليل -ما استطعت إلى ذلك سبيلا“Sesungguhnya demi Allah aku di atas manhaj Ahlus Sunnah besar maupun kecilnya semampuku” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/204)ربيع وإخوانه من أهل السنة وأنصارها، والذابين عنها“Robi’ dan teman-temannya termasuk ahlus sunnah dan penolong-penolongnya dan para pembelanya” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/568)علماء السنة والتوحيد والقامعين للبدع من أمثال الشيخ النجمي والشيخ زيد بن محمد هادي والشيخ ربيع بن هادي“Ulama sunnah dan tauhid dan pemberantas bid’ah seperti Asy-Syaikh An-Najmi, Asy-Syaikh Zaid Muhammad Hadi dan Asy-Syaikh Robi’ bin Haadi” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/196)ولو درس أبو حاتم وغيره من الأئمة، حتى البخاري دراسة وافية لما تجاوز في نظري النتائج التي تَوصّلتُ إليها ، لأنني بحمد الله طبّقتُ قواعد المحدثين بكل دِقّة ولم آل في ذلك جهداً“Kalau seandainya Abu Hatim dan yang para imam yang lainnya –bahkan Al-Bukhari- mempelajari dengan pembelajaran yang mencukupi maka menurutku mereka tidak akan melewati hasil yang telah kucapai. Karena Alhamdulillah aku telah menerapkan kaidah-kaidah para ahlul hadits dengan begitu detail dan sungguh-sungguh” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 8/236)نحن معروفون ـ والحمد لله ـ أننا أقوى من وقف في وجه الفتن والشغب ودعاة الهدم لهذه البلاد“Kami –ahlamdulillah- dikenal bahwasanya kami adalah yang paling kuat dalam menghadapi fitnah-fitnah dan para da’i yang berusaha menghancurkan negeri ini”( Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail  9/490)أما سمو الأسلوب ورصانة العرض فسلوا العقلاء المنصفين عنهما في كتاباتي، وأحمد الله أن كتاباتي محببة عند أهل الحق جميعاً تسر المؤمنين وتغيظ المبطلين، وتمتاز والحمد لله بجودة العرض وقوته ورصانته وقوة الحجة والبرهان“Adapun tingginya metode dan kokohnya pemaparan pada buku-bukuku maka silahkan tanyakanlah kepada orang-orang yang berakal yang adil. Dan aku memuji Allah bahwasanya buku-buku karyaku disukai oleh ahlul haq seluruhnya, menggembirakan kaum mukminin dan membuat marah para ahlul batil. Dan –alhhamdulillah- buku-bukuku teristimewakan dengan bagusnya pemaparan dan kuatnya  dan kokohnya pemaparan, kuatnya hujjah (argumen) dan dalil” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 7/35)الذين يتتبعون أقوالي لم يقفوا فيها على كذب وخيانة،, وإنما وجدوا الصدق والأمانة، وحتى الخصوم يعرفوا هذا“Orang-orang yang meneliti parkataan-perkataanku maka mereka tidak mendapati kedustaan dan khianat, mereka hanyalah mendapatkan kejujuran dan amanah, bahkan musuh-musuh mengetahui akan hal ini”(Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/39)Dan masih banyak lagi pujian-pujian Syaikh Robi’ pada dirinya, wallahul musta’aan. Benarkah Tidak Ada Ulama Yang Menyelisi Syaikh Robi?1) Kritikan Mufti Arab Saudi Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh.Seorang penanya dari Libia (yang bernama Salim) bertanya dalam acara televisi kepada Mufti Arab Saudi Asy-Syaikh Abdul Aziz Alu Asy-SyaikhPertanyaan :السؤال: يا شيخ! هل نأخذ العلم على شخص مجرَّح يا شيخ؟ أي: جُرِّح .. هل نأخذ عنه العلم..؟المذيع: طيب سؤالك؟السائل: هل نأخذ عنه العلم يا شيخ؟المذيع: طيب، من الذي جرَّح هذا الشخص؟السائل: الشيخ ربيع -يا شيخ!-.المذيع: طيب. شكرًا لك -يا سالم!-.طالب العلم -سماحة الشيخ!-، عندما يعني يقال له -سواء من ثقة، أو غير ذلك-: أن فلانًا فيه جَرح، أو فيه مانع مِن أخذ العلم منه؛ كيف يتثبت..Penanya : Wahai Syaikh, apakah kami mengambil ilmu dari orang yang ditajrih (ditahdzir dan dijatuhkan-pen)?. dia ditajrih, apakah boleh kami mengambil ilmu darinya?Pembawa acara : Baik, pertanyaanmu apa?Penanya : Bolehkan kami mengambil ilmu darinya wahai Syaikh?Pembawa acara ; Siapakah yang mentajrih (menjatuhkan) orang ini?Penanya : Asy-Syaikh Robi’ wahai Syaikh.Pembawa acara : Baik, Syukron wahai Salim. Wahai Syaikh yang Mulia, seorang penuntut ilmu tatkala dikatakan kepadanya –apakah dari seorang yang tsiqoh atau selain itu- : bahwasanya si fulan di jarh atau padanya ada penghalang untuk diambil ilmu darinya, maka bagaimana ia mengeceknya… Jawaban Mufti:المفتي: والله يا أخي! القضية هذه -أحيانًا- تكون هوًى، تجريح الناس، سبهم يكون -أحيانًا- يصحبه هوى، والمصالح الشخصية، وأنا ما أحب الدخول في هذه الأشياء.أقول: طلاب العلم يُرجى لهم الخير، وإذا شعرنا بشيءٍ من الخطأ؛ ناقشناه إن تمكنا، أو سألنا من نثق به عن هذا الخطأ.أما التجريح في الناس، وذم الناس، وتقسيم الناس -هذا ما يصلح، هذا يصلح-؛ فكثير منها .. هوى، وسباب المسلم فسوق، واحترام أعراض المسلم واجبة“Demi Allah ya akhi, perkara ini –terkadang- adalah hawa nafsu, menjarh orang-orang, mencela mereka –terkadang- disertai hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan pribadi. Dan aku tidak suka masuk dalam perkara-perkara seperti ini.Aku katakan, para penuntut ilmu diharapkan kebaikan bagi mereka. Jika kita merasa ada suatu kesalahan maka kita dialog dengannya jika memungkinkan, atau kita bertanya kepada orang kita percayai tentang kesalahan ini. Adapun menjarh orang-orang, mencela orang-orang, mengklasifikasi orang-orang, ini tidaklah benar, ini tidak dibenarkan. Kebanyakannya adalah hawa nafsu, mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan menghormati harga diri seorang muslim adalah kewajiban” (Silahkan lihat di http://www.youtube.com/watch?v=yY-1VztRDes)2) Kritikan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah kepada Syaikh Robi’ bisa dibaca di (http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=48244)3) Kritikan Syaikh Abdul Karim Al-Khudair tentang orang-orang yang mencela Syaikh Al-Jibrin rahimahullah (diantaranya Syaikh Robi). Beliau mengatakan orang yang mencela Syaikh Al-Jibrin adalah perampok. Silahkan dengar di (http://www.youtube.com/watch?v=IlDBv2cHYVU)4) Kritikan dan nasehat Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad secara pedas dan khusus kepada Syaikh Robi’, sebagaimana telah lalu penukilannya (lihat kembali artikel “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 6)? – STANDAR GANDA !!!“) Memaksakan Samanya Manhaj Syaikh Robi dengan Manhaj Para Ulama KibarBagaimanapun mau disamakan sama saja seperti mengingkari terangnya matahari di siang hari. Silahkan baca kitab-kitab Syaikh Robi yang penuh dengan mentajrih, mentahdzir, dan mentabdi’ sesama ahlus sunnah. Tolong datangkan satu buku Syaikh Bin Baaz, Syaikh al-Utsaimin, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, Mufti Arab Saudi, Syaikh Abdul Karim Al-Khudair, dan para anggota Haiah Kibaar Ulamaa dan anggota Al-Lajnah Ad-Daaimah yang seperti kitab-kitab Syaikh Robii’ dalam mentahdzir dan mentabdi’ sesama ahlus Sunnah …!!!Lihat juga murid-murid senior Syaikh Bin Baaz dan Syaikh al-Utsaimin…apakah ada yang manhajnya seperti manhaj Syaikh Robi’ dalam mentahdzir dan mentabdi’??Dan telah saya jelaskan dalam tulisan saya bahwa Manhaj Syaikh Robi’ menyimpang dan menyelisihi manhaj kibar ulama dalam dua hal(1) Wajib membenci mubtadi’ muslim secara total 100 persen(2) Menghajr tidak perlu memandang maslahat karena itu adalah ijmak salafSaya telah menjelaskan bahwa hal  ini menyelisihi Ibnu Taimiyyah, menyelihi salaf, menyelishi Syaikh Bin Baaz dan Syaikh Sholeh Al-Fauzaan. Lantas kurang bukti apa lagi??Bahkan masih banyak perkara manhaj yang Syaikh Robii’ berbeda dengan Syaikh Sholeh Al-Fauzaan. (silahkan baca http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=50885)Karenanya barang siapa yang menyatakan manhaj Syaikh Robi’ dalam masalah tahdzir dan tabdi’ sama dengan manhaj kibar ulama maka sunngguh ia telah berdusta dengan kedustaan yang nyata !!!. Hendaknya dia mendatangkan bukti bahwa para ulama kibar hobinya mentahdzir dan mentabdi’??? Syaikh Robi Tidak Mutasyaddid??(Narasumber penyesatan Radiorodja membantah pemahaman Syaikh Al-Albani)Jika sang narasumber (al-Ustadz Luqman Ba’abduh) tidak setuju dengan pernyataan Syaikh Al-Albani bahwa pada seluruh buku Syaikh Robi’ ada syiddah/kekerasan, maka itu hak sang narasumber.  Jika narasumber tidak setuju dengan penafsiran “jahiliah” sebagaimana yang dipahami oleh Syaikh Al-Albani maka itu terserah nara sumber.Sepertinya pernyataan dan kritikan Syaikh Al-Abani terhadap kerasnya Syaikh Robi’ adalah salah menurut narasumber penyesatan Radiorodja ??. Jika perkaranya demikian berarti Syaikh Al-Albani tidak maksum dan perlu ditinjau kembali. Kalau begitu pujian Syaikh Al-Albani terhadap Syaikh Robi’ tentunya tidak boleh juga dimakan secara mentah-mentah !!          Adapun jika narasumber setuju dengan pernyataan Syaikh Al-Albani “Pada seluruh buku Syaikh Robi’ ada kekerasan”, maka jelaslah bahwa manhaj Syaikh Robi’ mutasyaddid. Karena pembicaraan kita tentang manhaj adalah berputar tentang sikap terhadap penyelisih atau orang yang menyimpang.Adapun saya menyetujui penilaian Syaikh Robi’ mutasyaddid karena dua kesalahan syaikh dalam manhaj yang telah saya paparkan. Bagaimana tidak menjadi keras jika mewajibkan membenci 100 persen mubtadi’ muslim??!!. Banyak orang yang harus kita benci secara total !!!, Kerabat (bahkan bisa jadi kedua orang tua), tetangga, orang kampung di pasar, sesama penumpang di bis dan pesawat serta kereta api, bahkan suami atau istri…dll. Apakah ini tidak dikatakan mutasyaddid??Belum lagi menghajr tanpa harus melihat maslahat…wah kereta api beserta masinis dan penumpangnya harus saya hajr…, pilot dan para pramugari dan pramugaranya serta para penumpangnya harus saya hajr…., para jemaah haji dan para jama’ah umroh saya hajr…dan saya hanya bisa merasa tenang jika masuk dalam kampung salafy yang sealiran dengan saya atau masuk ke kebun binatang, barulah saya tidak perlu menghajr… Apakah ini tidak disebut mutasyaddid??Ala kulli Haal…saya masih menunggu bantahan ilmiyah dari ketiga ustad yang mulia, al-Ustadz Dzulqornai, al-Ustadz Luqman Ba’abduh (sang nara sumber penyesatan radiorodja) dan al-Ustadz Askari hafizohumulloh.(bersambung nggak ya???)Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 30-12-1434 H / 04-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Alhamdulillah, tulisan sang narasumber ke Syaikh Robi (al-Ustadz Luqman Ba’abduh) sehingga muncul fatwa sesatnya Radiorodja sudah mencapai artikel ke -6. Akan tetapi ternyata belum nyambung juga dengan kritikan saya terhadap Syaikh Robi’ yang membawa (1) pemikiran khowarij (karena beliau berpendapat seorang mubtadi’ muslim harus dibenci total 100 persen) dan (2) Syaikh Robi berdusta atas salaf (karena mengatakan para salaf menghajr tanpa melihat maslahat) (silahkan baca lagi artikel “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 4)? – Manhaj Syaikh Rabî’ dalam Timbangan Manhaj Para Ulama Kibâr“). Saya masih setia menunggu kritikan dari al-Ustadz Luqman Ba’abduh, demikian juga al-Ustadz Askari, dan juga al-Ustadz Dzulqornain tentang permasalahan ini, agar jelas siapa yang salah. Jika saya salah maka saya akan kembali kepada al-haq, akan tetapi jika Syaikh Robi’ yang salah, maka tidak perlu Syaikh Robi’ malu untuk kembali kepada kebenaran, toh beliau tidak maksum. Demikian juga para tiga ustadz tersebut tidak perlu malu untuk kembali kepada kebenaran. Baarokallahu fiikum.           Merupakan perkara yang aneh adalah tatkala seorang salafy santai saja ketika Syaikh Robi’ menyatakan Ibnu Taimiyyah salah, membantah Ibnu Taimiyyah dengan ijmak (palsu) salaf?? Sehingga mengesankan Ibnu Taimiyyah menyelisihi manhaj salaf, mengesankan Ibnu Taimiyyah menyelisihi ijmak salaf, lantas marah tatkala dikatakan Syaikh Robi’ manhajnya salah??Jika ada yang berkata, “Siapa Firanda berani membantah Syaikh Robi?”, maka saya katakan, “Siapa Syaikh Robi’ berani menyalah-nyalahkan manhaj Ibnu Taimiyyah?”. Sungguh setelah bergelut bertahun-tahun dengan kitab-kitab Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika menulis tesis S2, saya dapati begitu luas ilmu Ibnu Taimiyyah, dan beliau rahimahullah sangat hati-hati tatkala menjelaskan manhaj salaf. Bahkan ada sekitar 3 risalah disertasi yang menjelaskan kebenaran ijmak yang dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah. Lantas dengan begitu mudahnya Syaikh Robi’ menyatakan Ibnu Taimiyyah salah dalam 2 permasalahan manhaj??!! Apakah Syaikh Robi’ Maksum?          Syaikh Robi sendiri mengakui bahwa beliau tidak maksum. Syaikh Robi pernah ditanya:هناك من يقول: إن الشيخ ربيعًا معصوم في المنهج، ما تقول أنت في هذا؟“Ada orang yang berkata : Sesungguhnya Syaikh Robi’ maksum dalam manhaj, apa pendapat Anda tentang ini?”.Maka Syaikh Robi’ menjawab :لا، لا، أقول: لستُ معصومًا، لستُ معصومًا، ولكن اسمع: لا أعرف لي خطأ في المنهج“Tidak, tidak, aku katakan : Aku tidaklah maksum, aku tidaklah maksum, akan tetapi dengarlah, aku tidak mengetahui aku punya kesalahan dalam manhaj” (silahkan dengar di https://app.box.com/s/7ny34tfzzr6aczssb1qg) atau di bawah ini:ucapan-syaikh-rabi–laa-a3rif-lii-khotoan-filmanhaj.mp3Jelas dalam pernyataan di atas syaikh Robi’ memandang dirinya tidak maksum, akan tetapi :1) Beliau menyatakan tidak pernah merasa punya kesalahan dalam manhaj??!!2) Karenanya beliau memandang barang siapa yang mengkritik beliau berarti menjatuhkan manhaj ahlus sunnah. Syaikh Robi’ berkata :والله إن يسعى الكلام في  الطعن فيَّ ، إنه ما يكون نتيجة إلا إسقاط  المنهج “Demi Allah jika ada usaha mencelaku maka tidaklah ada hasilnya kecuali menjatuhkan manhaj ini” (silahkan lihat di situs beliau http://www.rabee.net/show_book.aspx?pid=3&bid=263&gid)Beliau juga berkata :ووالله ما يسعى في الكلام فِيَّ –ولا الطعن في ما نحن فيه- إلا لتكون النتيجة إسقاط المنهج ؛ فالذي يكره هذا المنهج يتكلم في علمائه ، الذي يبغض هذا المنهج ويريد إسقاطه يسير في هذا الطريق!! “Dan demi Allah, tidaklah berusaha membicarakan (keburukan tentang) aku dan tidak pula mencela apa yang kami di atasnya keculai hasilnya adalah menjatuhkan manhaj. Yang membenci manhaj ini membicarakan (keburukan) ulamanya, yang membenci manhaj ini dan ingin menjatuhkannya ia berjalan di atas jalan ini” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaa’il 1/482)3) Syaikh Robi memandang bahwa salafi beliau lebih kuat dibanding salafiahnya Syaikh Al-Albani.Syaikh Robi’ berkata :أما نحن تلاميذ الشيخ فمنذ وطأت قدماه الجامعة والله من أول يوم دخل الشيخ الألباني وله وزن وله قيمة عندنا فبدأ الدرس وتعرض لقضية القبور والكتابة عليها ووضع علامات عليها وكذا ونحن طلاب الشيخ عبدالله القرعاوي عندنا سلفية أقوى من سلفية الألباني واللهِ الشيخ عبد الله تعلم المنهج السلفي تماماً حتى ما عرفنا المذاهب أبداً ما عرفنا إلا كتاب الله وسنة رسول الله ومنهج السلف فالتقينا بالألباني وإذا به نحن في السلفية أقوى منه يعلم الله ما قلدناه, الشيخ عبد الله جاء بسلفية هي صحيح السلفية“Adapun kami murid-murid Syaikh (Abdullah Al-Qor’awi) maka semenjak kaki kami menginjak Jami’ah (Islamiyah Madinah-pen) semenjak hari pertama masuknya Syaikh Al-Albani –dan ia berharga dan bernilai di sisi kami- maka beliaupun memulai pelajaran, lalu beliau menyinggung permasalahan kuburan dan penulisan di kuburan serta meletakkan tanda di kuburan dan demikian-demikian. Kami –para murid Syaikh Abdullah Al-Qor’awi- bagi kami salafiah kami lebih kuat daripada salafiyah Al-Albani. Demi Allah Asy-Syaikh Abdullah mempelajari manhaj secara sempurna hingga bahkan kami tidak mengerti madzhab-madzhab sama sekali, kami tidak mengetahui kecuali Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah dan manhaj salaf. Lalu kami bertemu dengan Al-Albani, dan ternyata kami di atas salafiyah yang lebih kuat dari beliau, Allah mengetahui kami tidak taqlid kepada beliau. Asy-Syaikh Abdullah membawa salafiyah yang shahih” (silahkan dengar di http://www.youtube.com/watch?v=7TCQ3JeHcXw)4) Syaikh Robi’ sering memuji dirinya sendiri. Diantara pujian-pujian terhadap dirinya adalah sebagai berikut :إني والله لعلى منهج أهل السنة في الدقيق والجليل -ما استطعت إلى ذلك سبيلا“Sesungguhnya demi Allah aku di atas manhaj Ahlus Sunnah besar maupun kecilnya semampuku” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/204)ربيع وإخوانه من أهل السنة وأنصارها، والذابين عنها“Robi’ dan teman-temannya termasuk ahlus sunnah dan penolong-penolongnya dan para pembelanya” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/568)علماء السنة والتوحيد والقامعين للبدع من أمثال الشيخ النجمي والشيخ زيد بن محمد هادي والشيخ ربيع بن هادي“Ulama sunnah dan tauhid dan pemberantas bid’ah seperti Asy-Syaikh An-Najmi, Asy-Syaikh Zaid Muhammad Hadi dan Asy-Syaikh Robi’ bin Haadi” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/196)ولو درس أبو حاتم وغيره من الأئمة، حتى البخاري دراسة وافية لما تجاوز في نظري النتائج التي تَوصّلتُ إليها ، لأنني بحمد الله طبّقتُ قواعد المحدثين بكل دِقّة ولم آل في ذلك جهداً“Kalau seandainya Abu Hatim dan yang para imam yang lainnya –bahkan Al-Bukhari- mempelajari dengan pembelajaran yang mencukupi maka menurutku mereka tidak akan melewati hasil yang telah kucapai. Karena Alhamdulillah aku telah menerapkan kaidah-kaidah para ahlul hadits dengan begitu detail dan sungguh-sungguh” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 8/236)نحن معروفون ـ والحمد لله ـ أننا أقوى من وقف في وجه الفتن والشغب ودعاة الهدم لهذه البلاد“Kami –ahlamdulillah- dikenal bahwasanya kami adalah yang paling kuat dalam menghadapi fitnah-fitnah dan para da’i yang berusaha menghancurkan negeri ini”( Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail  9/490)أما سمو الأسلوب ورصانة العرض فسلوا العقلاء المنصفين عنهما في كتاباتي، وأحمد الله أن كتاباتي محببة عند أهل الحق جميعاً تسر المؤمنين وتغيظ المبطلين، وتمتاز والحمد لله بجودة العرض وقوته ورصانته وقوة الحجة والبرهان“Adapun tingginya metode dan kokohnya pemaparan pada buku-bukuku maka silahkan tanyakanlah kepada orang-orang yang berakal yang adil. Dan aku memuji Allah bahwasanya buku-buku karyaku disukai oleh ahlul haq seluruhnya, menggembirakan kaum mukminin dan membuat marah para ahlul batil. Dan –alhhamdulillah- buku-bukuku teristimewakan dengan bagusnya pemaparan dan kuatnya  dan kokohnya pemaparan, kuatnya hujjah (argumen) dan dalil” (Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 7/35)الذين يتتبعون أقوالي لم يقفوا فيها على كذب وخيانة،, وإنما وجدوا الصدق والأمانة، وحتى الخصوم يعرفوا هذا“Orang-orang yang meneliti parkataan-perkataanku maka mereka tidak mendapati kedustaan dan khianat, mereka hanyalah mendapatkan kejujuran dan amanah, bahkan musuh-musuh mengetahui akan hal ini”(Majmuu’ Al-Kutub wa Ar-Rosaail 9/39)Dan masih banyak lagi pujian-pujian Syaikh Robi’ pada dirinya, wallahul musta’aan. Benarkah Tidak Ada Ulama Yang Menyelisi Syaikh Robi?1) Kritikan Mufti Arab Saudi Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh.Seorang penanya dari Libia (yang bernama Salim) bertanya dalam acara televisi kepada Mufti Arab Saudi Asy-Syaikh Abdul Aziz Alu Asy-SyaikhPertanyaan :السؤال: يا شيخ! هل نأخذ العلم على شخص مجرَّح يا شيخ؟ أي: جُرِّح .. هل نأخذ عنه العلم..؟المذيع: طيب سؤالك؟السائل: هل نأخذ عنه العلم يا شيخ؟المذيع: طيب، من الذي جرَّح هذا الشخص؟السائل: الشيخ ربيع -يا شيخ!-.المذيع: طيب. شكرًا لك -يا سالم!-.طالب العلم -سماحة الشيخ!-، عندما يعني يقال له -سواء من ثقة، أو غير ذلك-: أن فلانًا فيه جَرح، أو فيه مانع مِن أخذ العلم منه؛ كيف يتثبت..Penanya : Wahai Syaikh, apakah kami mengambil ilmu dari orang yang ditajrih (ditahdzir dan dijatuhkan-pen)?. dia ditajrih, apakah boleh kami mengambil ilmu darinya?Pembawa acara : Baik, pertanyaanmu apa?Penanya : Bolehkan kami mengambil ilmu darinya wahai Syaikh?Pembawa acara ; Siapakah yang mentajrih (menjatuhkan) orang ini?Penanya : Asy-Syaikh Robi’ wahai Syaikh.Pembawa acara : Baik, Syukron wahai Salim. Wahai Syaikh yang Mulia, seorang penuntut ilmu tatkala dikatakan kepadanya –apakah dari seorang yang tsiqoh atau selain itu- : bahwasanya si fulan di jarh atau padanya ada penghalang untuk diambil ilmu darinya, maka bagaimana ia mengeceknya… Jawaban Mufti:المفتي: والله يا أخي! القضية هذه -أحيانًا- تكون هوًى، تجريح الناس، سبهم يكون -أحيانًا- يصحبه هوى، والمصالح الشخصية، وأنا ما أحب الدخول في هذه الأشياء.أقول: طلاب العلم يُرجى لهم الخير، وإذا شعرنا بشيءٍ من الخطأ؛ ناقشناه إن تمكنا، أو سألنا من نثق به عن هذا الخطأ.أما التجريح في الناس، وذم الناس، وتقسيم الناس -هذا ما يصلح، هذا يصلح-؛ فكثير منها .. هوى، وسباب المسلم فسوق، واحترام أعراض المسلم واجبة“Demi Allah ya akhi, perkara ini –terkadang- adalah hawa nafsu, menjarh orang-orang, mencela mereka –terkadang- disertai hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan pribadi. Dan aku tidak suka masuk dalam perkara-perkara seperti ini.Aku katakan, para penuntut ilmu diharapkan kebaikan bagi mereka. Jika kita merasa ada suatu kesalahan maka kita dialog dengannya jika memungkinkan, atau kita bertanya kepada orang kita percayai tentang kesalahan ini. Adapun menjarh orang-orang, mencela orang-orang, mengklasifikasi orang-orang, ini tidaklah benar, ini tidak dibenarkan. Kebanyakannya adalah hawa nafsu, mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan menghormati harga diri seorang muslim adalah kewajiban” (Silahkan lihat di http://www.youtube.com/watch?v=yY-1VztRDes)2) Kritikan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah kepada Syaikh Robi’ bisa dibaca di (http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=48244)3) Kritikan Syaikh Abdul Karim Al-Khudair tentang orang-orang yang mencela Syaikh Al-Jibrin rahimahullah (diantaranya Syaikh Robi). Beliau mengatakan orang yang mencela Syaikh Al-Jibrin adalah perampok. Silahkan dengar di (http://www.youtube.com/watch?v=IlDBv2cHYVU)4) Kritikan dan nasehat Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad secara pedas dan khusus kepada Syaikh Robi’, sebagaimana telah lalu penukilannya (lihat kembali artikel “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 6)? – STANDAR GANDA !!!“) Memaksakan Samanya Manhaj Syaikh Robi dengan Manhaj Para Ulama KibarBagaimanapun mau disamakan sama saja seperti mengingkari terangnya matahari di siang hari. Silahkan baca kitab-kitab Syaikh Robi yang penuh dengan mentajrih, mentahdzir, dan mentabdi’ sesama ahlus sunnah. Tolong datangkan satu buku Syaikh Bin Baaz, Syaikh al-Utsaimin, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, Mufti Arab Saudi, Syaikh Abdul Karim Al-Khudair, dan para anggota Haiah Kibaar Ulamaa dan anggota Al-Lajnah Ad-Daaimah yang seperti kitab-kitab Syaikh Robii’ dalam mentahdzir dan mentabdi’ sesama ahlus Sunnah …!!!Lihat juga murid-murid senior Syaikh Bin Baaz dan Syaikh al-Utsaimin…apakah ada yang manhajnya seperti manhaj Syaikh Robi’ dalam mentahdzir dan mentabdi’??Dan telah saya jelaskan dalam tulisan saya bahwa Manhaj Syaikh Robi’ menyimpang dan menyelisihi manhaj kibar ulama dalam dua hal(1) Wajib membenci mubtadi’ muslim secara total 100 persen(2) Menghajr tidak perlu memandang maslahat karena itu adalah ijmak salafSaya telah menjelaskan bahwa hal  ini menyelisihi Ibnu Taimiyyah, menyelihi salaf, menyelishi Syaikh Bin Baaz dan Syaikh Sholeh Al-Fauzaan. Lantas kurang bukti apa lagi??Bahkan masih banyak perkara manhaj yang Syaikh Robii’ berbeda dengan Syaikh Sholeh Al-Fauzaan. (silahkan baca http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=50885)Karenanya barang siapa yang menyatakan manhaj Syaikh Robi’ dalam masalah tahdzir dan tabdi’ sama dengan manhaj kibar ulama maka sunngguh ia telah berdusta dengan kedustaan yang nyata !!!. Hendaknya dia mendatangkan bukti bahwa para ulama kibar hobinya mentahdzir dan mentabdi’??? Syaikh Robi Tidak Mutasyaddid??(Narasumber penyesatan Radiorodja membantah pemahaman Syaikh Al-Albani)Jika sang narasumber (al-Ustadz Luqman Ba’abduh) tidak setuju dengan pernyataan Syaikh Al-Albani bahwa pada seluruh buku Syaikh Robi’ ada syiddah/kekerasan, maka itu hak sang narasumber.  Jika narasumber tidak setuju dengan penafsiran “jahiliah” sebagaimana yang dipahami oleh Syaikh Al-Albani maka itu terserah nara sumber.Sepertinya pernyataan dan kritikan Syaikh Al-Abani terhadap kerasnya Syaikh Robi’ adalah salah menurut narasumber penyesatan Radiorodja ??. Jika perkaranya demikian berarti Syaikh Al-Albani tidak maksum dan perlu ditinjau kembali. Kalau begitu pujian Syaikh Al-Albani terhadap Syaikh Robi’ tentunya tidak boleh juga dimakan secara mentah-mentah !!          Adapun jika narasumber setuju dengan pernyataan Syaikh Al-Albani “Pada seluruh buku Syaikh Robi’ ada kekerasan”, maka jelaslah bahwa manhaj Syaikh Robi’ mutasyaddid. Karena pembicaraan kita tentang manhaj adalah berputar tentang sikap terhadap penyelisih atau orang yang menyimpang.Adapun saya menyetujui penilaian Syaikh Robi’ mutasyaddid karena dua kesalahan syaikh dalam manhaj yang telah saya paparkan. Bagaimana tidak menjadi keras jika mewajibkan membenci 100 persen mubtadi’ muslim??!!. Banyak orang yang harus kita benci secara total !!!, Kerabat (bahkan bisa jadi kedua orang tua), tetangga, orang kampung di pasar, sesama penumpang di bis dan pesawat serta kereta api, bahkan suami atau istri…dll. Apakah ini tidak dikatakan mutasyaddid??Belum lagi menghajr tanpa harus melihat maslahat…wah kereta api beserta masinis dan penumpangnya harus saya hajr…, pilot dan para pramugari dan pramugaranya serta para penumpangnya harus saya hajr…., para jemaah haji dan para jama’ah umroh saya hajr…dan saya hanya bisa merasa tenang jika masuk dalam kampung salafy yang sealiran dengan saya atau masuk ke kebun binatang, barulah saya tidak perlu menghajr… Apakah ini tidak disebut mutasyaddid??Ala kulli Haal…saya masih menunggu bantahan ilmiyah dari ketiga ustad yang mulia, al-Ustadz Dzulqornai, al-Ustadz Luqman Ba’abduh (sang nara sumber penyesatan radiorodja) dan al-Ustadz Askari hafizohumulloh.(bersambung nggak ya???)Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 30-12-1434 H / 04-11-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Prev     Next