Bebas dari Syirik, Mendapat Rasa Aman dan Petunjuk

Di antara keutamaan orang yang bertauhid dan berusaha meninggalkan kesyirikan adalah ia akan mendapatkan rasa aman dan mendapatkan petunjuk. Tentu saja rasa aman dan petunjuk adalah nikmat yang begitu besar. Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82). Ketika turun ayat tersebut, para sahabat pun menanyakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ “Siapa yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, لَيْسَ هُوَ كَمَا تَظُنُّونَ إِنَّمَا هُوَ كَمَا قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ (يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ) “Itu bukan seperti yang kalian sangkakan. Yang dimaksud dengan zhalim di situ adalah seperti perkataan Lukman pada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik pada Allah karena syirik adalah kezhaliman yang amat besar.“[1] (HR. Bukhari no. 4776 dan Muslim no. 124). Berarti yang dimaksud kesyirikan dalam surat Al An’am ayat 82, bukanlah kezhaliman biasa. Namun yang dimaksud adalah kezhaliman pada Allah dengan menyekutukan Allah dalam ibadah, alias syirik. Artinya, jika seseorang bersih dari syirik, maka ia akan mendapatkan balasan seperti yang Allah sebut di akhir ayat yaitu mendapatkan rasa aman dan petunjuk. Al Hasan dan Al Kalbiy mengatakan bahwa rasa aman itu didapatkan di akhirat, sedangkan petunjuk itu diperoleh di dunia. (Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 201) Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan, هؤلاء الذين أخلصوا العبادة لله وحده لا شريك، له، ولم يشركوا به شيئا هم الآمنون يوم القيامة، المهتدون في الدنيا والآخرة. “Mereka adalah orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah, tidak berbuat syirik pada-Nya. Mereka tidak berbuat syirik sedikit pun. Balasannya, mereka mendapatkan rasa aman pada hari kiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 569) Ya Allah, selamatkanlah kami dari syirik dan berikanlah kami rasa aman, tentram serta petunjuk di dunia dan akhirat.   Referensi: Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, terbitan Ash Shumai’i, cetakan kedua, tahun 1429 H. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1435 H, 15: 44 Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! [1] QS. Lukman: 13. Tagssyirik tauhid

Bebas dari Syirik, Mendapat Rasa Aman dan Petunjuk

Di antara keutamaan orang yang bertauhid dan berusaha meninggalkan kesyirikan adalah ia akan mendapatkan rasa aman dan mendapatkan petunjuk. Tentu saja rasa aman dan petunjuk adalah nikmat yang begitu besar. Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82). Ketika turun ayat tersebut, para sahabat pun menanyakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ “Siapa yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, لَيْسَ هُوَ كَمَا تَظُنُّونَ إِنَّمَا هُوَ كَمَا قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ (يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ) “Itu bukan seperti yang kalian sangkakan. Yang dimaksud dengan zhalim di situ adalah seperti perkataan Lukman pada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik pada Allah karena syirik adalah kezhaliman yang amat besar.“[1] (HR. Bukhari no. 4776 dan Muslim no. 124). Berarti yang dimaksud kesyirikan dalam surat Al An’am ayat 82, bukanlah kezhaliman biasa. Namun yang dimaksud adalah kezhaliman pada Allah dengan menyekutukan Allah dalam ibadah, alias syirik. Artinya, jika seseorang bersih dari syirik, maka ia akan mendapatkan balasan seperti yang Allah sebut di akhir ayat yaitu mendapatkan rasa aman dan petunjuk. Al Hasan dan Al Kalbiy mengatakan bahwa rasa aman itu didapatkan di akhirat, sedangkan petunjuk itu diperoleh di dunia. (Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 201) Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan, هؤلاء الذين أخلصوا العبادة لله وحده لا شريك، له، ولم يشركوا به شيئا هم الآمنون يوم القيامة، المهتدون في الدنيا والآخرة. “Mereka adalah orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah, tidak berbuat syirik pada-Nya. Mereka tidak berbuat syirik sedikit pun. Balasannya, mereka mendapatkan rasa aman pada hari kiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 569) Ya Allah, selamatkanlah kami dari syirik dan berikanlah kami rasa aman, tentram serta petunjuk di dunia dan akhirat.   Referensi: Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, terbitan Ash Shumai’i, cetakan kedua, tahun 1429 H. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1435 H, 15: 44 Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! [1] QS. Lukman: 13. Tagssyirik tauhid
Di antara keutamaan orang yang bertauhid dan berusaha meninggalkan kesyirikan adalah ia akan mendapatkan rasa aman dan mendapatkan petunjuk. Tentu saja rasa aman dan petunjuk adalah nikmat yang begitu besar. Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82). Ketika turun ayat tersebut, para sahabat pun menanyakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ “Siapa yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, لَيْسَ هُوَ كَمَا تَظُنُّونَ إِنَّمَا هُوَ كَمَا قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ (يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ) “Itu bukan seperti yang kalian sangkakan. Yang dimaksud dengan zhalim di situ adalah seperti perkataan Lukman pada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik pada Allah karena syirik adalah kezhaliman yang amat besar.“[1] (HR. Bukhari no. 4776 dan Muslim no. 124). Berarti yang dimaksud kesyirikan dalam surat Al An’am ayat 82, bukanlah kezhaliman biasa. Namun yang dimaksud adalah kezhaliman pada Allah dengan menyekutukan Allah dalam ibadah, alias syirik. Artinya, jika seseorang bersih dari syirik, maka ia akan mendapatkan balasan seperti yang Allah sebut di akhir ayat yaitu mendapatkan rasa aman dan petunjuk. Al Hasan dan Al Kalbiy mengatakan bahwa rasa aman itu didapatkan di akhirat, sedangkan petunjuk itu diperoleh di dunia. (Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 201) Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan, هؤلاء الذين أخلصوا العبادة لله وحده لا شريك، له، ولم يشركوا به شيئا هم الآمنون يوم القيامة، المهتدون في الدنيا والآخرة. “Mereka adalah orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah, tidak berbuat syirik pada-Nya. Mereka tidak berbuat syirik sedikit pun. Balasannya, mereka mendapatkan rasa aman pada hari kiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 569) Ya Allah, selamatkanlah kami dari syirik dan berikanlah kami rasa aman, tentram serta petunjuk di dunia dan akhirat.   Referensi: Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, terbitan Ash Shumai’i, cetakan kedua, tahun 1429 H. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1435 H, 15: 44 Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! [1] QS. Lukman: 13. Tagssyirik tauhid


Di antara keutamaan orang yang bertauhid dan berusaha meninggalkan kesyirikan adalah ia akan mendapatkan rasa aman dan mendapatkan petunjuk. Tentu saja rasa aman dan petunjuk adalah nikmat yang begitu besar. Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82). Ketika turun ayat tersebut, para sahabat pun menanyakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ “Siapa yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, لَيْسَ هُوَ كَمَا تَظُنُّونَ إِنَّمَا هُوَ كَمَا قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ (يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ) “Itu bukan seperti yang kalian sangkakan. Yang dimaksud dengan zhalim di situ adalah seperti perkataan Lukman pada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik pada Allah karena syirik adalah kezhaliman yang amat besar.“[1] (HR. Bukhari no. 4776 dan Muslim no. 124). Berarti yang dimaksud kesyirikan dalam surat Al An’am ayat 82, bukanlah kezhaliman biasa. Namun yang dimaksud adalah kezhaliman pada Allah dengan menyekutukan Allah dalam ibadah, alias syirik. Artinya, jika seseorang bersih dari syirik, maka ia akan mendapatkan balasan seperti yang Allah sebut di akhir ayat yaitu mendapatkan rasa aman dan petunjuk. Al Hasan dan Al Kalbiy mengatakan bahwa rasa aman itu didapatkan di akhirat, sedangkan petunjuk itu diperoleh di dunia. (Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 201) Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan, هؤلاء الذين أخلصوا العبادة لله وحده لا شريك، له، ولم يشركوا به شيئا هم الآمنون يوم القيامة، المهتدون في الدنيا والآخرة. “Mereka adalah orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah, tidak berbuat syirik pada-Nya. Mereka tidak berbuat syirik sedikit pun. Balasannya, mereka mendapatkan rasa aman pada hari kiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 569) Ya Allah, selamatkanlah kami dari syirik dan berikanlah kami rasa aman, tentram serta petunjuk di dunia dan akhirat.   Referensi: Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, terbitan Ash Shumai’i, cetakan kedua, tahun 1429 H. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1435 H, 15: 44 Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! [1] QS. Lukman: 13. Tagssyirik tauhid

Telat Shalat Shubuh

Shalat ini mesti terus dijaga karena keutamaannya, sehingga jangan sampai telat Shalat Shubuh. Kita sering perhatikan bagaimana keadaan jama’ah Shubuh di masjid-masjid begitu sepi. Juga tidak sedikit yang telat shalat Shubuh bahkan dikerjakan saat matahari telah meninggi. Padahal shalat lima waktu sudah ditetapkan waktunya, namun demikianlah shalat Shubuh yang terasa cukup berat, mata terasa sulit untuk dibuka ketika fajar. Kerjakan Shalat Kecuali Shalat Shubuh Sudah kita ketahui bagaimana keutamaan shalat Shubuh. Shalat tersebut adalah shalat yang sangat utama. Lebih-lebih Allah memberikan penjaminan rasa aman bagi yang rutin menjaganya. Jika seseorang meninggalkan shalat Shubuh dengan sengaja bahkan dijadikan rutinitas, yang jelas seperti itu adalah dosa besar. Karena meninggalkan satu shalat saja lebih parah daripada dosa besar lainnya sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim yang pernah dikemukakan sebelumnya. Sehingga jika ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh saja dan masih mengerjakan shalat lainnya, maka ia tetap terjerumus dalam dosa besar. Kewajibannya adalah bertaubat, beristighfar, menyesali yang telah lalu, dan harus menjaga kembali shalat lima waktu. Telat Shalat Shubuh dan Dikencingi Setan Ini bahayanya jika seseorang terus tidur di malam hari hingga lalai shalat Shubuh. Sungguh bahaya karena orang ini disebut dikencingi oleh setan. Dari Ibnu Mas’ud ia pernah berkata, “Di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman sampai datang pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِى أُذُنَيْهِ – أَوْ قَالَ – فِى أُذُنِهِ “Laki-laki itu telah dikencingi oleh setan pada kedua telinganya -dalam riwayat lain: di telinganya-” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 3270 dan Muslim no. 774). Al Qodhi ‘Iyadh memahami hadits ini secara tekstual. Demikianlah yang benar. Lalu dikhususkan kata telinga yang dikencingi karena telingalah pusat pendengaran untuk diingatkan. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 58). Ada ulama yang menafsirkan hadits di atas dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang tidur hingga pagi hari sampai-sampai luput dari shalat Shubuh (Lihat Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 194). Ini menunjukkan jeleknya orang yang tidak bangun Shubuh sampai-sampai dikencingi oleh setan. Setan saja sudah tidak kita sukai, apalagi jika sampai dikencingi oleh makhluk tersebut. Wallahul musta’an, kita berlindung pada Allah dari kejelekan semacam itu. Telat Shalat Shubuh Karena Ketiduran Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى “Jika salah seorang di antara kalian tertidur atau lalai dari shalat, maka hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Karena Allah berfirman (yang artinya), “Kerjakanlah shalat ketika ingat.”[1] (HR. Bukhari no. 597 dan Muslim no. 684). Dalam riwayat lain disebutkan, مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا ، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ “Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Tidak ada kewajiban baginya selain itu.” (HR. Bukhari no. 597). Riwayat lain disebutkan, مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا “Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim no. 684). Imam Nawawi mengatakan bahwa kewajiban orang yang lupa saat itu adalah mengerjakan shalat semisal yang ia tinggalkan dan tidak ada kewajiban tambahan selain itu. (Syarh Shahih Muslim, 5: 172). Para ulama Al Lajnah Ad Daimah mengatakan, “Jika engkau ketiduran atau lupa sehingga luput dari waktu shalat, maka hendaklah engkau shalat ketika engkau terbangun dari tidur atau ketika ingat walaupun ketika itu saat terbit atau tenggelamnya matahari.” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan pertama dari Fatwa nomor 6196, 6: 10) Dijelaskan pula dalam Fatwa Lajnah no. 5545 bahwa jika seseorang tertidur sehingga luput dari shalat shubuh, dia terbangun ketika matahari terbit atau beberapa saat sebelum matahari terbit atau beberapa saat sesudah matahari terbit; maka wajib baginya mengerjakan shalat shubuh ketika dia terbangun, baik matahari terbit ketika dia sedang shalat atau ketika mau memulai shalat matahari sedang terbit atau pun memulai shalat ketika matahari sudah terbit, dalam kondisi ini hendaklah dia sempurnakan shalatnya sebelum matahari memanas. Dan tidak boleh seseorang menunda shalat shubuh hingga matahari meninggi atau memanas. Adapun hadits yang menyatakan larangan shalat ketika matahari terbit karena pada waktu itu matahari terbit pada dua tanduk setan (HR. Muslim), maka larangan yang dimaksudkan adalah jika kita mau mengerjakan shalat sunnah yang tidak memiliki sebab atau mau mengerjakan shalat wajib yang tidak disebabkan karena lupa atau karena tertidur. Sengaja Mengatur Jadwal Bangun Pagi Diharamkan bagi seseorang mengakhirkan shalat hingga ke luar waktunya. Karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’ : 103) Wajib bagi setiap muslim yang telah dibebani syari’at untuk menjaga shalat di waktunya termasuk shalat shubuh. Jika ada yang sengaja mengatur bangun Shubuh hingga keluar dari waktu Shubuh, maka ia sama saja dengan orang yang meninggalkan shalat Shubuh. Ia harus bertaubat dan kembali mengerjakan Shalat Shubuh di waktunya. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1435 H (11:30 PM) Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! [1] QS. Thaha: 14. Tagsmeninggalkan shalat shalat shubuh

Telat Shalat Shubuh

Shalat ini mesti terus dijaga karena keutamaannya, sehingga jangan sampai telat Shalat Shubuh. Kita sering perhatikan bagaimana keadaan jama’ah Shubuh di masjid-masjid begitu sepi. Juga tidak sedikit yang telat shalat Shubuh bahkan dikerjakan saat matahari telah meninggi. Padahal shalat lima waktu sudah ditetapkan waktunya, namun demikianlah shalat Shubuh yang terasa cukup berat, mata terasa sulit untuk dibuka ketika fajar. Kerjakan Shalat Kecuali Shalat Shubuh Sudah kita ketahui bagaimana keutamaan shalat Shubuh. Shalat tersebut adalah shalat yang sangat utama. Lebih-lebih Allah memberikan penjaminan rasa aman bagi yang rutin menjaganya. Jika seseorang meninggalkan shalat Shubuh dengan sengaja bahkan dijadikan rutinitas, yang jelas seperti itu adalah dosa besar. Karena meninggalkan satu shalat saja lebih parah daripada dosa besar lainnya sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim yang pernah dikemukakan sebelumnya. Sehingga jika ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh saja dan masih mengerjakan shalat lainnya, maka ia tetap terjerumus dalam dosa besar. Kewajibannya adalah bertaubat, beristighfar, menyesali yang telah lalu, dan harus menjaga kembali shalat lima waktu. Telat Shalat Shubuh dan Dikencingi Setan Ini bahayanya jika seseorang terus tidur di malam hari hingga lalai shalat Shubuh. Sungguh bahaya karena orang ini disebut dikencingi oleh setan. Dari Ibnu Mas’ud ia pernah berkata, “Di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman sampai datang pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِى أُذُنَيْهِ – أَوْ قَالَ – فِى أُذُنِهِ “Laki-laki itu telah dikencingi oleh setan pada kedua telinganya -dalam riwayat lain: di telinganya-” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 3270 dan Muslim no. 774). Al Qodhi ‘Iyadh memahami hadits ini secara tekstual. Demikianlah yang benar. Lalu dikhususkan kata telinga yang dikencingi karena telingalah pusat pendengaran untuk diingatkan. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 58). Ada ulama yang menafsirkan hadits di atas dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang tidur hingga pagi hari sampai-sampai luput dari shalat Shubuh (Lihat Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 194). Ini menunjukkan jeleknya orang yang tidak bangun Shubuh sampai-sampai dikencingi oleh setan. Setan saja sudah tidak kita sukai, apalagi jika sampai dikencingi oleh makhluk tersebut. Wallahul musta’an, kita berlindung pada Allah dari kejelekan semacam itu. Telat Shalat Shubuh Karena Ketiduran Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى “Jika salah seorang di antara kalian tertidur atau lalai dari shalat, maka hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Karena Allah berfirman (yang artinya), “Kerjakanlah shalat ketika ingat.”[1] (HR. Bukhari no. 597 dan Muslim no. 684). Dalam riwayat lain disebutkan, مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا ، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ “Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Tidak ada kewajiban baginya selain itu.” (HR. Bukhari no. 597). Riwayat lain disebutkan, مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا “Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim no. 684). Imam Nawawi mengatakan bahwa kewajiban orang yang lupa saat itu adalah mengerjakan shalat semisal yang ia tinggalkan dan tidak ada kewajiban tambahan selain itu. (Syarh Shahih Muslim, 5: 172). Para ulama Al Lajnah Ad Daimah mengatakan, “Jika engkau ketiduran atau lupa sehingga luput dari waktu shalat, maka hendaklah engkau shalat ketika engkau terbangun dari tidur atau ketika ingat walaupun ketika itu saat terbit atau tenggelamnya matahari.” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan pertama dari Fatwa nomor 6196, 6: 10) Dijelaskan pula dalam Fatwa Lajnah no. 5545 bahwa jika seseorang tertidur sehingga luput dari shalat shubuh, dia terbangun ketika matahari terbit atau beberapa saat sebelum matahari terbit atau beberapa saat sesudah matahari terbit; maka wajib baginya mengerjakan shalat shubuh ketika dia terbangun, baik matahari terbit ketika dia sedang shalat atau ketika mau memulai shalat matahari sedang terbit atau pun memulai shalat ketika matahari sudah terbit, dalam kondisi ini hendaklah dia sempurnakan shalatnya sebelum matahari memanas. Dan tidak boleh seseorang menunda shalat shubuh hingga matahari meninggi atau memanas. Adapun hadits yang menyatakan larangan shalat ketika matahari terbit karena pada waktu itu matahari terbit pada dua tanduk setan (HR. Muslim), maka larangan yang dimaksudkan adalah jika kita mau mengerjakan shalat sunnah yang tidak memiliki sebab atau mau mengerjakan shalat wajib yang tidak disebabkan karena lupa atau karena tertidur. Sengaja Mengatur Jadwal Bangun Pagi Diharamkan bagi seseorang mengakhirkan shalat hingga ke luar waktunya. Karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’ : 103) Wajib bagi setiap muslim yang telah dibebani syari’at untuk menjaga shalat di waktunya termasuk shalat shubuh. Jika ada yang sengaja mengatur bangun Shubuh hingga keluar dari waktu Shubuh, maka ia sama saja dengan orang yang meninggalkan shalat Shubuh. Ia harus bertaubat dan kembali mengerjakan Shalat Shubuh di waktunya. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1435 H (11:30 PM) Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! [1] QS. Thaha: 14. Tagsmeninggalkan shalat shalat shubuh
Shalat ini mesti terus dijaga karena keutamaannya, sehingga jangan sampai telat Shalat Shubuh. Kita sering perhatikan bagaimana keadaan jama’ah Shubuh di masjid-masjid begitu sepi. Juga tidak sedikit yang telat shalat Shubuh bahkan dikerjakan saat matahari telah meninggi. Padahal shalat lima waktu sudah ditetapkan waktunya, namun demikianlah shalat Shubuh yang terasa cukup berat, mata terasa sulit untuk dibuka ketika fajar. Kerjakan Shalat Kecuali Shalat Shubuh Sudah kita ketahui bagaimana keutamaan shalat Shubuh. Shalat tersebut adalah shalat yang sangat utama. Lebih-lebih Allah memberikan penjaminan rasa aman bagi yang rutin menjaganya. Jika seseorang meninggalkan shalat Shubuh dengan sengaja bahkan dijadikan rutinitas, yang jelas seperti itu adalah dosa besar. Karena meninggalkan satu shalat saja lebih parah daripada dosa besar lainnya sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim yang pernah dikemukakan sebelumnya. Sehingga jika ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh saja dan masih mengerjakan shalat lainnya, maka ia tetap terjerumus dalam dosa besar. Kewajibannya adalah bertaubat, beristighfar, menyesali yang telah lalu, dan harus menjaga kembali shalat lima waktu. Telat Shalat Shubuh dan Dikencingi Setan Ini bahayanya jika seseorang terus tidur di malam hari hingga lalai shalat Shubuh. Sungguh bahaya karena orang ini disebut dikencingi oleh setan. Dari Ibnu Mas’ud ia pernah berkata, “Di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman sampai datang pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِى أُذُنَيْهِ – أَوْ قَالَ – فِى أُذُنِهِ “Laki-laki itu telah dikencingi oleh setan pada kedua telinganya -dalam riwayat lain: di telinganya-” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 3270 dan Muslim no. 774). Al Qodhi ‘Iyadh memahami hadits ini secara tekstual. Demikianlah yang benar. Lalu dikhususkan kata telinga yang dikencingi karena telingalah pusat pendengaran untuk diingatkan. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 58). Ada ulama yang menafsirkan hadits di atas dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang tidur hingga pagi hari sampai-sampai luput dari shalat Shubuh (Lihat Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 194). Ini menunjukkan jeleknya orang yang tidak bangun Shubuh sampai-sampai dikencingi oleh setan. Setan saja sudah tidak kita sukai, apalagi jika sampai dikencingi oleh makhluk tersebut. Wallahul musta’an, kita berlindung pada Allah dari kejelekan semacam itu. Telat Shalat Shubuh Karena Ketiduran Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى “Jika salah seorang di antara kalian tertidur atau lalai dari shalat, maka hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Karena Allah berfirman (yang artinya), “Kerjakanlah shalat ketika ingat.”[1] (HR. Bukhari no. 597 dan Muslim no. 684). Dalam riwayat lain disebutkan, مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا ، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ “Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Tidak ada kewajiban baginya selain itu.” (HR. Bukhari no. 597). Riwayat lain disebutkan, مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا “Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim no. 684). Imam Nawawi mengatakan bahwa kewajiban orang yang lupa saat itu adalah mengerjakan shalat semisal yang ia tinggalkan dan tidak ada kewajiban tambahan selain itu. (Syarh Shahih Muslim, 5: 172). Para ulama Al Lajnah Ad Daimah mengatakan, “Jika engkau ketiduran atau lupa sehingga luput dari waktu shalat, maka hendaklah engkau shalat ketika engkau terbangun dari tidur atau ketika ingat walaupun ketika itu saat terbit atau tenggelamnya matahari.” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan pertama dari Fatwa nomor 6196, 6: 10) Dijelaskan pula dalam Fatwa Lajnah no. 5545 bahwa jika seseorang tertidur sehingga luput dari shalat shubuh, dia terbangun ketika matahari terbit atau beberapa saat sebelum matahari terbit atau beberapa saat sesudah matahari terbit; maka wajib baginya mengerjakan shalat shubuh ketika dia terbangun, baik matahari terbit ketika dia sedang shalat atau ketika mau memulai shalat matahari sedang terbit atau pun memulai shalat ketika matahari sudah terbit, dalam kondisi ini hendaklah dia sempurnakan shalatnya sebelum matahari memanas. Dan tidak boleh seseorang menunda shalat shubuh hingga matahari meninggi atau memanas. Adapun hadits yang menyatakan larangan shalat ketika matahari terbit karena pada waktu itu matahari terbit pada dua tanduk setan (HR. Muslim), maka larangan yang dimaksudkan adalah jika kita mau mengerjakan shalat sunnah yang tidak memiliki sebab atau mau mengerjakan shalat wajib yang tidak disebabkan karena lupa atau karena tertidur. Sengaja Mengatur Jadwal Bangun Pagi Diharamkan bagi seseorang mengakhirkan shalat hingga ke luar waktunya. Karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’ : 103) Wajib bagi setiap muslim yang telah dibebani syari’at untuk menjaga shalat di waktunya termasuk shalat shubuh. Jika ada yang sengaja mengatur bangun Shubuh hingga keluar dari waktu Shubuh, maka ia sama saja dengan orang yang meninggalkan shalat Shubuh. Ia harus bertaubat dan kembali mengerjakan Shalat Shubuh di waktunya. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1435 H (11:30 PM) Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! [1] QS. Thaha: 14. Tagsmeninggalkan shalat shalat shubuh


Shalat ini mesti terus dijaga karena keutamaannya, sehingga jangan sampai telat Shalat Shubuh. Kita sering perhatikan bagaimana keadaan jama’ah Shubuh di masjid-masjid begitu sepi. Juga tidak sedikit yang telat shalat Shubuh bahkan dikerjakan saat matahari telah meninggi. Padahal shalat lima waktu sudah ditetapkan waktunya, namun demikianlah shalat Shubuh yang terasa cukup berat, mata terasa sulit untuk dibuka ketika fajar. Kerjakan Shalat Kecuali Shalat Shubuh Sudah kita ketahui bagaimana keutamaan shalat Shubuh. Shalat tersebut adalah shalat yang sangat utama. Lebih-lebih Allah memberikan penjaminan rasa aman bagi yang rutin menjaganya. Jika seseorang meninggalkan shalat Shubuh dengan sengaja bahkan dijadikan rutinitas, yang jelas seperti itu adalah dosa besar. Karena meninggalkan satu shalat saja lebih parah daripada dosa besar lainnya sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim yang pernah dikemukakan sebelumnya. Sehingga jika ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh saja dan masih mengerjakan shalat lainnya, maka ia tetap terjerumus dalam dosa besar. Kewajibannya adalah bertaubat, beristighfar, menyesali yang telah lalu, dan harus menjaga kembali shalat lima waktu. Telat Shalat Shubuh dan Dikencingi Setan Ini bahayanya jika seseorang terus tidur di malam hari hingga lalai shalat Shubuh. Sungguh bahaya karena orang ini disebut dikencingi oleh setan. Dari Ibnu Mas’ud ia pernah berkata, “Di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman sampai datang pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِى أُذُنَيْهِ – أَوْ قَالَ – فِى أُذُنِهِ “Laki-laki itu telah dikencingi oleh setan pada kedua telinganya -dalam riwayat lain: di telinganya-” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 3270 dan Muslim no. 774). Al Qodhi ‘Iyadh memahami hadits ini secara tekstual. Demikianlah yang benar. Lalu dikhususkan kata telinga yang dikencingi karena telingalah pusat pendengaran untuk diingatkan. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 58). Ada ulama yang menafsirkan hadits di atas dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang tidur hingga pagi hari sampai-sampai luput dari shalat Shubuh (Lihat Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 194). Ini menunjukkan jeleknya orang yang tidak bangun Shubuh sampai-sampai dikencingi oleh setan. Setan saja sudah tidak kita sukai, apalagi jika sampai dikencingi oleh makhluk tersebut. Wallahul musta’an, kita berlindung pada Allah dari kejelekan semacam itu. Telat Shalat Shubuh Karena Ketiduran Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى “Jika salah seorang di antara kalian tertidur atau lalai dari shalat, maka hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Karena Allah berfirman (yang artinya), “Kerjakanlah shalat ketika ingat.”[1] (HR. Bukhari no. 597 dan Muslim no. 684). Dalam riwayat lain disebutkan, مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا ، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ “Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Tidak ada kewajiban baginya selain itu.” (HR. Bukhari no. 597). Riwayat lain disebutkan, مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا “Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim no. 684). Imam Nawawi mengatakan bahwa kewajiban orang yang lupa saat itu adalah mengerjakan shalat semisal yang ia tinggalkan dan tidak ada kewajiban tambahan selain itu. (Syarh Shahih Muslim, 5: 172). Para ulama Al Lajnah Ad Daimah mengatakan, “Jika engkau ketiduran atau lupa sehingga luput dari waktu shalat, maka hendaklah engkau shalat ketika engkau terbangun dari tidur atau ketika ingat walaupun ketika itu saat terbit atau tenggelamnya matahari.” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan pertama dari Fatwa nomor 6196, 6: 10) Dijelaskan pula dalam Fatwa Lajnah no. 5545 bahwa jika seseorang tertidur sehingga luput dari shalat shubuh, dia terbangun ketika matahari terbit atau beberapa saat sebelum matahari terbit atau beberapa saat sesudah matahari terbit; maka wajib baginya mengerjakan shalat shubuh ketika dia terbangun, baik matahari terbit ketika dia sedang shalat atau ketika mau memulai shalat matahari sedang terbit atau pun memulai shalat ketika matahari sudah terbit, dalam kondisi ini hendaklah dia sempurnakan shalatnya sebelum matahari memanas. Dan tidak boleh seseorang menunda shalat shubuh hingga matahari meninggi atau memanas. Adapun hadits yang menyatakan larangan shalat ketika matahari terbit karena pada waktu itu matahari terbit pada dua tanduk setan (HR. Muslim), maka larangan yang dimaksudkan adalah jika kita mau mengerjakan shalat sunnah yang tidak memiliki sebab atau mau mengerjakan shalat wajib yang tidak disebabkan karena lupa atau karena tertidur. Sengaja Mengatur Jadwal Bangun Pagi Diharamkan bagi seseorang mengakhirkan shalat hingga ke luar waktunya. Karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’ : 103) Wajib bagi setiap muslim yang telah dibebani syari’at untuk menjaga shalat di waktunya termasuk shalat shubuh. Jika ada yang sengaja mengatur bangun Shubuh hingga keluar dari waktu Shubuh, maka ia sama saja dengan orang yang meninggalkan shalat Shubuh. Ia harus bertaubat dan kembali mengerjakan Shalat Shubuh di waktunya. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1435 H (11:30 PM) Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! [1] QS. Thaha: 14. Tagsmeninggalkan shalat shalat shubuh

Meninggalkan Shalat, Lepas dari Jaminan Allah

Masih membicarakan hal yang sama tentang urgensi shalat. Ada satu hadits yang berisi sembilan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Darda’. Di dalam wasiat tersebut berisi wasiat untuk menjaga shalat. Disebutkan bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja bisa lepas dari jaminan Allah. Abu Darda’ berkata, أوصانى رسول الله صلى الله عليه وسلم بتسع:لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا وَإِنْ قُطِعَتْ أَوْ حُرِقَتْ، وَلاَ تَتْرُكَنَّ الصَّلاَةَ اْلمَكْتُوْبَةَ مُتَعَمِّداً؛ وَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمِّداً بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ ، وَلاَ تَشْرَبَنَّ الْخَمْرَ؛ فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ، وَأَطِعْ وَالِدَيْكَ، وَإِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ دُنْيَاكَ؛ فَاخْرُجْ لَهُمَا، وَلاَ تُنَازِعَنَّ وُلاَةَ اْلأَمْرِ، وَإِنْ رَأَيْتَ أَنَّكَ أَنْتَ ، وَلاَ تُفَرِّرْ مِنَ الزَّحْفِ؛ وَإِنْ هَلَكْتَ وَفَرَّ أَصْحَابَكَ، وَأَنْفِقْ مِنْ طَوْلِكَ عَلىَ أَهْلِكَ، وَلاَ تَرْفَعْ عَصَاكَ عَنْ أَهْلِكَ، وَأَخْفِهِمْ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan sembilan perkara kepadaku yaitu: Janganlah engkau mempersekutukan Allah meskipun lehermu akan dipenggal atau dirimu akan dibakar. Jangan sekali-kali meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, (karena) barangsiapa yang melakukannya dengan sengaja, niscaya  jaminan Allah akan terlepas darinya. Jangan meminum minuman keras, karena itu adalah kunci segala kejelekan. Dan taatilah kedua orang tuamu, apabila mereka menyuruhmu untuk menyerahkan seluruh harta yang engkau miliki maka serahkanlah hartamu kepada keduanya. Janganlah menentang pemimpin walaupun engkau tahu bahwa engkaulah yang benar. Jangan lari dari medan pertempuran, meskipun engkau akan terbunuh dan teman-temanmu melarikan diri. Infakkanlah sebagian harta yang engkau miliki kepada keluargamu. Jangan lalai mengawasi keluargamu (dalam mendidik mereka) dan ajarkanlah kepada mereka untuk bertakwa kepada Allah.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 18. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Al Irwa’ 2026, disebutkan dalam Ibnu Majah no. 4034) Ada beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Perintah untuk menjauhi syirik dan perhatian pada tauhid walau mesti mengorbankan jiwa. 2- Bahaya meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja dan akibat jelek yang diperoleh yaitu lepas dari jaminan Allah. Maksud lepas dari jaminan Allah adalah setiap orang telah mendapatkan jaminan penjagaan agar tidak terjerumus dalam kebinasaan, keharaman atau menyelisihi perintah Allah. Ketika seseorang meninggalkan shalat dengan sengaja, berarti ia lepas dari jaminan yang luar biasa tersebut. Sama halnya dengan meninggalkan shalat shubuh juga tidak mendapatkan jaminan Allah. 3- Khomr (minuman keras atau setiap yang memabukkan) dihukumi haram dan telah jelas bahayanya. Ketika mabuk, seseorang telah hilang akalnya sehingga dapat mengantarkan ia pada perbuatan syirik, kufur, zina, bersumpah dusta dan melakukan perbuatan jelek lainnya. الْخَمْرُ أُمُّ الْفَوَاحِشِ وَأَكْبَرُ الْكَبَائِرِ مَنْ شَرِبَهَا وَقَعَ عَلَى أُمِّهِ وَعَمَّتِهِ وَخَالَتِهِ “Khomr adalah induk dari segala kejelekan dan dosa yang paling besar. Barangsiapa meminum khomr, ia bisa jadi berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya” (HR. Ad Daruquthni. Disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1853). 4- Dorongan untuk mentaati orang tua walau mesti disakiti oleh keduanya atau disuruh mengeluarkan harta kita selama tidak disuruh dalam maksiat. Dalam hadits disebutkan tentang seseorang yang mengadukan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ayahnya butuh pada hartanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, أَنْتَ وَمَالُكَ لأَبِيكَ “Engkau dan hartamu milik ayahmu” (HR. Ibnu Majah no. 2291 dan Ahmad 2: 204. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). 5- Tetap mentaati pemimpin kaum muslimin dan diharamkan memberontak mereka walau mereka berbuat zhalim dan yakin kita itu benar karena mengingat mafsadat yang ditimbulkan setelah itu lebih besar. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ خَلَعَ يَداً مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ حُجَّةَ لَهُ ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ في عُنُقِهِ بَيْعَةٌ ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan pada penguasa, maka ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam ia tidak punya argumen apa-apa untuk membelanya. Barangsiapa yang mati dan di lehernya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti keadaan orang jahiliyah” (HR. Muslim no. 1851). 6- Dilarang lari dari medan pertempuran ketika sudah berhadapan dengan musuh walaupun dalam keadaan sangat sempit dan teman-teman pun lari. 7- Perintah untuk menafkahi keluarga dengan adil. Maksud hadits adalah perintah untuk menafkahi keluarga dengan karunia, kecukupan dan kemudahan yang Allah beri. 8- Tidak mengapa memukul anak dalam rangka mendidik mereka. 9- Anak dan keluarga harus terus dinasehati untuk bertakwa pada Allah dan menjauhi maksiat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Referensi: Syarh Shahih Al Adabil Mufrod, Husain bin ‘Audah Al ‘Uwaisyah, terbitan Al Maktabah Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1425 H. Rosyyul Barod Syarh Al Adabil Mufrod, Dr. Muhammad Luqman As Salafi, terbitan Darud Da’i, cetakan pertama, tahun 1326 H. — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 1 Safar 1435 H Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmeninggalkan shalat

Meninggalkan Shalat, Lepas dari Jaminan Allah

Masih membicarakan hal yang sama tentang urgensi shalat. Ada satu hadits yang berisi sembilan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Darda’. Di dalam wasiat tersebut berisi wasiat untuk menjaga shalat. Disebutkan bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja bisa lepas dari jaminan Allah. Abu Darda’ berkata, أوصانى رسول الله صلى الله عليه وسلم بتسع:لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا وَإِنْ قُطِعَتْ أَوْ حُرِقَتْ، وَلاَ تَتْرُكَنَّ الصَّلاَةَ اْلمَكْتُوْبَةَ مُتَعَمِّداً؛ وَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمِّداً بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ ، وَلاَ تَشْرَبَنَّ الْخَمْرَ؛ فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ، وَأَطِعْ وَالِدَيْكَ، وَإِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ دُنْيَاكَ؛ فَاخْرُجْ لَهُمَا، وَلاَ تُنَازِعَنَّ وُلاَةَ اْلأَمْرِ، وَإِنْ رَأَيْتَ أَنَّكَ أَنْتَ ، وَلاَ تُفَرِّرْ مِنَ الزَّحْفِ؛ وَإِنْ هَلَكْتَ وَفَرَّ أَصْحَابَكَ، وَأَنْفِقْ مِنْ طَوْلِكَ عَلىَ أَهْلِكَ، وَلاَ تَرْفَعْ عَصَاكَ عَنْ أَهْلِكَ، وَأَخْفِهِمْ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan sembilan perkara kepadaku yaitu: Janganlah engkau mempersekutukan Allah meskipun lehermu akan dipenggal atau dirimu akan dibakar. Jangan sekali-kali meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, (karena) barangsiapa yang melakukannya dengan sengaja, niscaya  jaminan Allah akan terlepas darinya. Jangan meminum minuman keras, karena itu adalah kunci segala kejelekan. Dan taatilah kedua orang tuamu, apabila mereka menyuruhmu untuk menyerahkan seluruh harta yang engkau miliki maka serahkanlah hartamu kepada keduanya. Janganlah menentang pemimpin walaupun engkau tahu bahwa engkaulah yang benar. Jangan lari dari medan pertempuran, meskipun engkau akan terbunuh dan teman-temanmu melarikan diri. Infakkanlah sebagian harta yang engkau miliki kepada keluargamu. Jangan lalai mengawasi keluargamu (dalam mendidik mereka) dan ajarkanlah kepada mereka untuk bertakwa kepada Allah.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 18. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Al Irwa’ 2026, disebutkan dalam Ibnu Majah no. 4034) Ada beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Perintah untuk menjauhi syirik dan perhatian pada tauhid walau mesti mengorbankan jiwa. 2- Bahaya meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja dan akibat jelek yang diperoleh yaitu lepas dari jaminan Allah. Maksud lepas dari jaminan Allah adalah setiap orang telah mendapatkan jaminan penjagaan agar tidak terjerumus dalam kebinasaan, keharaman atau menyelisihi perintah Allah. Ketika seseorang meninggalkan shalat dengan sengaja, berarti ia lepas dari jaminan yang luar biasa tersebut. Sama halnya dengan meninggalkan shalat shubuh juga tidak mendapatkan jaminan Allah. 3- Khomr (minuman keras atau setiap yang memabukkan) dihukumi haram dan telah jelas bahayanya. Ketika mabuk, seseorang telah hilang akalnya sehingga dapat mengantarkan ia pada perbuatan syirik, kufur, zina, bersumpah dusta dan melakukan perbuatan jelek lainnya. الْخَمْرُ أُمُّ الْفَوَاحِشِ وَأَكْبَرُ الْكَبَائِرِ مَنْ شَرِبَهَا وَقَعَ عَلَى أُمِّهِ وَعَمَّتِهِ وَخَالَتِهِ “Khomr adalah induk dari segala kejelekan dan dosa yang paling besar. Barangsiapa meminum khomr, ia bisa jadi berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya” (HR. Ad Daruquthni. Disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1853). 4- Dorongan untuk mentaati orang tua walau mesti disakiti oleh keduanya atau disuruh mengeluarkan harta kita selama tidak disuruh dalam maksiat. Dalam hadits disebutkan tentang seseorang yang mengadukan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ayahnya butuh pada hartanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, أَنْتَ وَمَالُكَ لأَبِيكَ “Engkau dan hartamu milik ayahmu” (HR. Ibnu Majah no. 2291 dan Ahmad 2: 204. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). 5- Tetap mentaati pemimpin kaum muslimin dan diharamkan memberontak mereka walau mereka berbuat zhalim dan yakin kita itu benar karena mengingat mafsadat yang ditimbulkan setelah itu lebih besar. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ خَلَعَ يَداً مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ حُجَّةَ لَهُ ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ في عُنُقِهِ بَيْعَةٌ ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan pada penguasa, maka ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam ia tidak punya argumen apa-apa untuk membelanya. Barangsiapa yang mati dan di lehernya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti keadaan orang jahiliyah” (HR. Muslim no. 1851). 6- Dilarang lari dari medan pertempuran ketika sudah berhadapan dengan musuh walaupun dalam keadaan sangat sempit dan teman-teman pun lari. 7- Perintah untuk menafkahi keluarga dengan adil. Maksud hadits adalah perintah untuk menafkahi keluarga dengan karunia, kecukupan dan kemudahan yang Allah beri. 8- Tidak mengapa memukul anak dalam rangka mendidik mereka. 9- Anak dan keluarga harus terus dinasehati untuk bertakwa pada Allah dan menjauhi maksiat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Referensi: Syarh Shahih Al Adabil Mufrod, Husain bin ‘Audah Al ‘Uwaisyah, terbitan Al Maktabah Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1425 H. Rosyyul Barod Syarh Al Adabil Mufrod, Dr. Muhammad Luqman As Salafi, terbitan Darud Da’i, cetakan pertama, tahun 1326 H. — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 1 Safar 1435 H Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmeninggalkan shalat
Masih membicarakan hal yang sama tentang urgensi shalat. Ada satu hadits yang berisi sembilan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Darda’. Di dalam wasiat tersebut berisi wasiat untuk menjaga shalat. Disebutkan bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja bisa lepas dari jaminan Allah. Abu Darda’ berkata, أوصانى رسول الله صلى الله عليه وسلم بتسع:لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا وَإِنْ قُطِعَتْ أَوْ حُرِقَتْ، وَلاَ تَتْرُكَنَّ الصَّلاَةَ اْلمَكْتُوْبَةَ مُتَعَمِّداً؛ وَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمِّداً بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ ، وَلاَ تَشْرَبَنَّ الْخَمْرَ؛ فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ، وَأَطِعْ وَالِدَيْكَ، وَإِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ دُنْيَاكَ؛ فَاخْرُجْ لَهُمَا، وَلاَ تُنَازِعَنَّ وُلاَةَ اْلأَمْرِ، وَإِنْ رَأَيْتَ أَنَّكَ أَنْتَ ، وَلاَ تُفَرِّرْ مِنَ الزَّحْفِ؛ وَإِنْ هَلَكْتَ وَفَرَّ أَصْحَابَكَ، وَأَنْفِقْ مِنْ طَوْلِكَ عَلىَ أَهْلِكَ، وَلاَ تَرْفَعْ عَصَاكَ عَنْ أَهْلِكَ، وَأَخْفِهِمْ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan sembilan perkara kepadaku yaitu: Janganlah engkau mempersekutukan Allah meskipun lehermu akan dipenggal atau dirimu akan dibakar. Jangan sekali-kali meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, (karena) barangsiapa yang melakukannya dengan sengaja, niscaya  jaminan Allah akan terlepas darinya. Jangan meminum minuman keras, karena itu adalah kunci segala kejelekan. Dan taatilah kedua orang tuamu, apabila mereka menyuruhmu untuk menyerahkan seluruh harta yang engkau miliki maka serahkanlah hartamu kepada keduanya. Janganlah menentang pemimpin walaupun engkau tahu bahwa engkaulah yang benar. Jangan lari dari medan pertempuran, meskipun engkau akan terbunuh dan teman-temanmu melarikan diri. Infakkanlah sebagian harta yang engkau miliki kepada keluargamu. Jangan lalai mengawasi keluargamu (dalam mendidik mereka) dan ajarkanlah kepada mereka untuk bertakwa kepada Allah.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 18. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Al Irwa’ 2026, disebutkan dalam Ibnu Majah no. 4034) Ada beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Perintah untuk menjauhi syirik dan perhatian pada tauhid walau mesti mengorbankan jiwa. 2- Bahaya meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja dan akibat jelek yang diperoleh yaitu lepas dari jaminan Allah. Maksud lepas dari jaminan Allah adalah setiap orang telah mendapatkan jaminan penjagaan agar tidak terjerumus dalam kebinasaan, keharaman atau menyelisihi perintah Allah. Ketika seseorang meninggalkan shalat dengan sengaja, berarti ia lepas dari jaminan yang luar biasa tersebut. Sama halnya dengan meninggalkan shalat shubuh juga tidak mendapatkan jaminan Allah. 3- Khomr (minuman keras atau setiap yang memabukkan) dihukumi haram dan telah jelas bahayanya. Ketika mabuk, seseorang telah hilang akalnya sehingga dapat mengantarkan ia pada perbuatan syirik, kufur, zina, bersumpah dusta dan melakukan perbuatan jelek lainnya. الْخَمْرُ أُمُّ الْفَوَاحِشِ وَأَكْبَرُ الْكَبَائِرِ مَنْ شَرِبَهَا وَقَعَ عَلَى أُمِّهِ وَعَمَّتِهِ وَخَالَتِهِ “Khomr adalah induk dari segala kejelekan dan dosa yang paling besar. Barangsiapa meminum khomr, ia bisa jadi berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya” (HR. Ad Daruquthni. Disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1853). 4- Dorongan untuk mentaati orang tua walau mesti disakiti oleh keduanya atau disuruh mengeluarkan harta kita selama tidak disuruh dalam maksiat. Dalam hadits disebutkan tentang seseorang yang mengadukan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ayahnya butuh pada hartanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, أَنْتَ وَمَالُكَ لأَبِيكَ “Engkau dan hartamu milik ayahmu” (HR. Ibnu Majah no. 2291 dan Ahmad 2: 204. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). 5- Tetap mentaati pemimpin kaum muslimin dan diharamkan memberontak mereka walau mereka berbuat zhalim dan yakin kita itu benar karena mengingat mafsadat yang ditimbulkan setelah itu lebih besar. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ خَلَعَ يَداً مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ حُجَّةَ لَهُ ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ في عُنُقِهِ بَيْعَةٌ ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan pada penguasa, maka ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam ia tidak punya argumen apa-apa untuk membelanya. Barangsiapa yang mati dan di lehernya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti keadaan orang jahiliyah” (HR. Muslim no. 1851). 6- Dilarang lari dari medan pertempuran ketika sudah berhadapan dengan musuh walaupun dalam keadaan sangat sempit dan teman-teman pun lari. 7- Perintah untuk menafkahi keluarga dengan adil. Maksud hadits adalah perintah untuk menafkahi keluarga dengan karunia, kecukupan dan kemudahan yang Allah beri. 8- Tidak mengapa memukul anak dalam rangka mendidik mereka. 9- Anak dan keluarga harus terus dinasehati untuk bertakwa pada Allah dan menjauhi maksiat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Referensi: Syarh Shahih Al Adabil Mufrod, Husain bin ‘Audah Al ‘Uwaisyah, terbitan Al Maktabah Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1425 H. Rosyyul Barod Syarh Al Adabil Mufrod, Dr. Muhammad Luqman As Salafi, terbitan Darud Da’i, cetakan pertama, tahun 1326 H. — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 1 Safar 1435 H Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmeninggalkan shalat


Masih membicarakan hal yang sama tentang urgensi shalat. Ada satu hadits yang berisi sembilan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Darda’. Di dalam wasiat tersebut berisi wasiat untuk menjaga shalat. Disebutkan bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja bisa lepas dari jaminan Allah. Abu Darda’ berkata, أوصانى رسول الله صلى الله عليه وسلم بتسع:لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا وَإِنْ قُطِعَتْ أَوْ حُرِقَتْ، وَلاَ تَتْرُكَنَّ الصَّلاَةَ اْلمَكْتُوْبَةَ مُتَعَمِّداً؛ وَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمِّداً بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ ، وَلاَ تَشْرَبَنَّ الْخَمْرَ؛ فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ، وَأَطِعْ وَالِدَيْكَ، وَإِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ دُنْيَاكَ؛ فَاخْرُجْ لَهُمَا، وَلاَ تُنَازِعَنَّ وُلاَةَ اْلأَمْرِ، وَإِنْ رَأَيْتَ أَنَّكَ أَنْتَ ، وَلاَ تُفَرِّرْ مِنَ الزَّحْفِ؛ وَإِنْ هَلَكْتَ وَفَرَّ أَصْحَابَكَ، وَأَنْفِقْ مِنْ طَوْلِكَ عَلىَ أَهْلِكَ، وَلاَ تَرْفَعْ عَصَاكَ عَنْ أَهْلِكَ، وَأَخْفِهِمْ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan sembilan perkara kepadaku yaitu: Janganlah engkau mempersekutukan Allah meskipun lehermu akan dipenggal atau dirimu akan dibakar. Jangan sekali-kali meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, (karena) barangsiapa yang melakukannya dengan sengaja, niscaya  jaminan Allah akan terlepas darinya. Jangan meminum minuman keras, karena itu adalah kunci segala kejelekan. Dan taatilah kedua orang tuamu, apabila mereka menyuruhmu untuk menyerahkan seluruh harta yang engkau miliki maka serahkanlah hartamu kepada keduanya. Janganlah menentang pemimpin walaupun engkau tahu bahwa engkaulah yang benar. Jangan lari dari medan pertempuran, meskipun engkau akan terbunuh dan teman-temanmu melarikan diri. Infakkanlah sebagian harta yang engkau miliki kepada keluargamu. Jangan lalai mengawasi keluargamu (dalam mendidik mereka) dan ajarkanlah kepada mereka untuk bertakwa kepada Allah.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 18. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Al Irwa’ 2026, disebutkan dalam Ibnu Majah no. 4034) Ada beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Perintah untuk menjauhi syirik dan perhatian pada tauhid walau mesti mengorbankan jiwa. 2- Bahaya meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja dan akibat jelek yang diperoleh yaitu lepas dari jaminan Allah. Maksud lepas dari jaminan Allah adalah setiap orang telah mendapatkan jaminan penjagaan agar tidak terjerumus dalam kebinasaan, keharaman atau menyelisihi perintah Allah. Ketika seseorang meninggalkan shalat dengan sengaja, berarti ia lepas dari jaminan yang luar biasa tersebut. Sama halnya dengan meninggalkan shalat shubuh juga tidak mendapatkan jaminan Allah. 3- Khomr (minuman keras atau setiap yang memabukkan) dihukumi haram dan telah jelas bahayanya. Ketika mabuk, seseorang telah hilang akalnya sehingga dapat mengantarkan ia pada perbuatan syirik, kufur, zina, bersumpah dusta dan melakukan perbuatan jelek lainnya. الْخَمْرُ أُمُّ الْفَوَاحِشِ وَأَكْبَرُ الْكَبَائِرِ مَنْ شَرِبَهَا وَقَعَ عَلَى أُمِّهِ وَعَمَّتِهِ وَخَالَتِهِ “Khomr adalah induk dari segala kejelekan dan dosa yang paling besar. Barangsiapa meminum khomr, ia bisa jadi berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya” (HR. Ad Daruquthni. Disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1853). 4- Dorongan untuk mentaati orang tua walau mesti disakiti oleh keduanya atau disuruh mengeluarkan harta kita selama tidak disuruh dalam maksiat. Dalam hadits disebutkan tentang seseorang yang mengadukan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ayahnya butuh pada hartanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, أَنْتَ وَمَالُكَ لأَبِيكَ “Engkau dan hartamu milik ayahmu” (HR. Ibnu Majah no. 2291 dan Ahmad 2: 204. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). 5- Tetap mentaati pemimpin kaum muslimin dan diharamkan memberontak mereka walau mereka berbuat zhalim dan yakin kita itu benar karena mengingat mafsadat yang ditimbulkan setelah itu lebih besar. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ خَلَعَ يَداً مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ حُجَّةَ لَهُ ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ في عُنُقِهِ بَيْعَةٌ ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan pada penguasa, maka ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam ia tidak punya argumen apa-apa untuk membelanya. Barangsiapa yang mati dan di lehernya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti keadaan orang jahiliyah” (HR. Muslim no. 1851). 6- Dilarang lari dari medan pertempuran ketika sudah berhadapan dengan musuh walaupun dalam keadaan sangat sempit dan teman-teman pun lari. 7- Perintah untuk menafkahi keluarga dengan adil. Maksud hadits adalah perintah untuk menafkahi keluarga dengan karunia, kecukupan dan kemudahan yang Allah beri. 8- Tidak mengapa memukul anak dalam rangka mendidik mereka. 9- Anak dan keluarga harus terus dinasehati untuk bertakwa pada Allah dan menjauhi maksiat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Referensi: Syarh Shahih Al Adabil Mufrod, Husain bin ‘Audah Al ‘Uwaisyah, terbitan Al Maktabah Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1425 H. Rosyyul Barod Syarh Al Adabil Mufrod, Dr. Muhammad Luqman As Salafi, terbitan Darud Da’i, cetakan pertama, tahun 1326 H. — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 1 Safar 1435 H Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmeninggalkan shalat

Pelebur Dosa

04DecPelebur DosaDecember 4, 2013Nasihat dan Faidah Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Di penghujung tahun 2006, ketika penulis naik taksi menuju Masjid Nabawi, sopir taksi yang kebetulan bekerja sebagai satpam di perumahan dokter rumah sakit Su’udi Almani bercerita, “Tadi malam sekitar jam sepuluh, setelah para dokter pulang kerja, sambil menuju ke rumah mereka masing-masing, di jalan mereka saling berbincang-bincang. Di antara perbincangan itu, obrolan antara dua dokter, dokter A berkata kepada dokter B, “Wahai fulan tolong besok segera beritahukan kepada saya hasil tes laboratorium pasien C, saya ingin segera mengetahui jenis penyakit yang ia derita”. Dokter B menjawab, “InsyaAllah dengan senang hati”. Kemudian mereka masuk ke rumah masing-masing. Lima menit kemudian si satpam tersebut terkejutkan dengan deringan telpon di posnya yang ternyata berasal dari istri dokter A, sambil teriak dan menangis histeris dia mengabarkan bahwa suaminya begitu masuk pintu rumah tiab-tiba ia terjatuh dan langsung menghembuskan nafas terakhirnya! Padahal beberapa menit yang lalu dia masih berbincang-bincang tentang pasien dia yang sakit, ternyata justru dia yang mendahului pasiennya menghadap Allah ta’ala. Subhanallah, benarlah apa yang difirmankan Allah ta’ala, “وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ” (لقمان: 34). Artinya: “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. QS. Luqman: 34. Yang jadi pertanyaan: sudah siapkah kita jika tiba-tiba nyawa kita dicabut? Sudahkah bekal yang kita persiapkan cukup untuk menghadap Allah ta’ala? Apakah ada di antara kita yang ingin seperti apa yang diceritakan oleh Allah ta’ala, “وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ” (فاطر: 37). Artinya: “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabbi, keluarkanlah kami. Niscaya kami akan mengerjakan amalan shalih berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan”. Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau berpikir?! Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS: Faathir 37). Memang benar tidak ada di antara kita yang selamat dari dosa.. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“ “Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat“. HR Tirmidzi dan al-Hakim, al-Hakim berkata, “isnadnya shahih”. Al-Albani menghasankan hadits ini. Kami kira tidak ada di antara kita yang merasa bahwa dia bukan keturunan nabi Adam. Karena masing-masing dari kita adalah anak keturunan nabi Adam mestinya kitapun juga merasa bahwa dosa-dosa kita banyak, diakui ataupun tidak diakui. Kalau tidak percaya, mari kita amati kehidupan kita sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai kembali merebahkan badan di kasur. Niscaya dalam satu hari saja dosa-dosa yang kita lakukan tidak akan terhitung jumlahnya. Ini baru satu hari dan baru dosa-dosa yang ketahuan, bagaimana jika satu tahun? Bagaimana jika dikumpulkan selama 23 tahun? Junjungan besar kita Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah menggambarkan dampak buruk dari dosa dalam sabdanya, “إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}”. “Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu bintik hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu dan beristighfar niscaya bintik hitam itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa dan terus menerus berbuat; bintik-bintik hitam itu akan terus bertambah hingga menghitamkan semua hatinya, itulah penutup yang difirmankan oleh Allah (yang artinya): “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutup hati mereka“. HR Tirmidzi, dia berkata: “Hasan shahih”, dan al-Hakim, dia berkata, “Shahih menurut syarat Muslim”, serta dihasankan oleh Syeikh Al Albani. Maka tidaklah mengherankan jika seringkali kita merasakan bahwa hati ini mengeras; membaca ayat-ayat Al Qur’an hati ini tidak tergetar, mendengar nasehat-nasehat para ulama kalbu ini tidak luluh. Padahal Allah telah mensifati orang yang beriman dalam frman-Nya, )إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ( (الأنفال:2) Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka“. Al Anfal: 2. Orang-orang yang merasa dosanya telah menggunung dan dia merasa bersalah, lebih baik daripada orang-orang yang dosanya sudah menumpuk tetapi tidak merasa atau bahkan merasa suci dan alim! Ketahuilah bahwa semua amalan kita dicatat di sisi-Nya, Allah ta’ala berfirman, )مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ( (ق: 18) Artinya: “Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat yang selalu hadir“. QS. Qaf: 18. Bukan hanya dicatat saja, tapi juga akan diberi ganjaran yang setimpal. Dan jika Allah ta’ala telah menyiksa, maka sungguh adzab-Nya sangatlah pedih, )إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ( (البروج:12) Artinya: “Sesungguhnya adzab Rabbmu benar-benar keras.”. QS. Al Buruj: 12. Dan dalam surat al-Fajr ayat 25: ( فَيَوْمَئِذٍ لا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ) Artinya: “Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksaan-Nya.” Oleh karena itu pada suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah bersabda: وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ رَأَيْتُمْ مَا رَأَيْتُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا ». قَالُوا وَمَا رَأَيْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « رَأَيْتُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ ». “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Allah), seandainya kalian wahai para sahabatku, melihat apa yang yang aku lihat, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”, mereka bertanya,”Apa yang engkau lihat wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab, ” Aku melihat surga dan neraka.” HR. Bukhari dan Muslim. Sebenarnya bagaimanakah kondisi neraka hingga para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam menangis sesenggukan tatkala mengingatnya? Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim Nabi shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan keadaan adzab yang paling ringan di neraka: « إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلاَنِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِى الْمِرْجَلُ مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا ». Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang mengenakan sepasang sandal dari api, yang dengan sebabnya otaknya mendidih, sebagaimana mendidihnya air di dalam bejana. Dia mengira bahwa tidak ada satupun penghuni neraka yang lebih keras adzabnya darinya. Padahal ia adalah orang yang yang paling ringan adzabnya.” HR. Buhari dan Muslim. Mengapa dia sampai mengira semacam itu? Karena api di neraka bukanlah seperti api di dunia. « نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ » “Api kalian –yang dinyalakan bani Adam (di dunia)- hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam.” HR Bukhari dan Muslim. Seberapa dalamkah neraka? Kita akan dapatkan jawabannya dalam kisah di bawah ini, عن أبي هريرة رضي الله عنه قال كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « تَدْرُونَ مَا هَذَا ». قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « هَذَا حَجَرٌ رُمِىَ بِهِ فِى النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِى فِى النَّارِ الآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا ». Abu Hurairah berkata, “Suatu hari kami duduk-duduk bersama Nabi shallallahu’alaihiwasallam, tiba-tiba terdengarlah suara benda jatuh, serta merta Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, ” Tahukah kalian suara apa itu?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,” maka beliau bersabda, “Benda itu adalah batu yang Allah lemparkan ke dalam neraka Jahanam sejak 70 tahun yang lalu sekarang baru sampai ke dasarnya“. HR. Muslim. Apa makanan dan minuman penghuni neraka? Allah ta’ala berfirman, )لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إلا مِنْ ضَرِيعٍ لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ( (الغاشية: 6-7). Artinya: “Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar“. QS. Al-Ghasyiyah: 7-6. إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ * طَعَامُ الأثِيمِ * كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ * كَغَلْيِ الْحَمِيم Artinya: “Sesungguhnya pohon Zaqqum itu makanan orang yang banyak dosa ia bagaikan kotoran minyak yang mendidih di dalam perut seperti mendidihnya air yang sangat panas“. QS. Ad-Dukhan 43-46. )وَسُقُوا مَاءً حَمِيماً فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ( (محمد:15) Artinya: “Mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong motong ususnya“. QS. Muhammad: 15. ) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا (23) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا (24) إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ( Artinya: “Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapatkan) minuman selain air yang mendidih dan nanah“. QS. An-Naba: 23-25. Apakah tatkala usus mereka terputus-putus mereka langsung mati? Ya, tapi akan dihidupkan kembali, padahal satu hari di neraka sama dengan seribu tahun di dunia. Allah Ta’ala berfirman: )وَإِنَّ يَوْماً عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ( (الحج:47) Artinya: “Sesungguhnya satu hari disisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” Al Hajj: 47. Seandainya kita di dalam neraka setengah sehari hari saja, berarti kita akan mendekam di dalamnya selama 500 tahun / 5 abad. Na`udzu billah min dzalik... Inilah siksaan yang Allah ta’ala sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang bergelimang dosa. Tapi ingat! Jangan sampai kita berputus asa karena banyaknya dosa, sebab setan akan masuk dari pintu keputusasaan seorang hamba seraya berkata, “Dosa kamu sudah terlampau banyak, tidak akan mungkin Allah ta’ala mengampunimu”, hingga akhirnya ia terus menerus berbuat dosa. Tidak demikian! Allah ta’ala telah berfirman: ) قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ( (الزمر:53) Artinya: “Katakanlah,”Hai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar 53) Allah ta’ala juga telah menegaskan dalam surat Al Hijr: 49-50, )نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ( (الحجر: 49-50) Artinya: “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Bahwa sesungguhnya Akulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih“. QS. Al-Hijr: 49-50. Tatkala membaca ayat di atas, barangkali akan timbul pertanyaan di benak sebagian kita; Bagaimana Allah yang Maha penyayang tapi juga adzab-Nya sangat pedih? Inilah inti dari pembahasan kita kali ini. Meskipun siksaan Allah ta’ala di hari Akhir amatlah keras, tapi dengan kasih sayang-Nya, Dia memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para hamba yang bergelimang dosa untuk mensucikan dirinya dari kotoran dosa-dosa di dunia ini, sehingga tatkala dia menghadap ke hadirat Allah ta’ala kelak, dia akan menghadap dalam keadaan suci bersih dari noda-noda dosa, sama sekali tidak disiksa di api neraka, bahkan dia akan masuk ke surga dengan penuh kedamaian. Lalu apa saja hal-hal yang bisa mensucikan dosa-dosa kita di di dunia ini? Ulama tersohor yang dikenal kepiawaiannya dalam memberikan resep-resep manjur pengobatan penyakit-penyakit hati; Ibnu Qayyim al-Jauziyah, telah menjawab pertanyaan ini dalam penjelasannya, “Telah tersedia bagi orang-orang yang bergelimang dosa tiga telaga untuk mensucikan diri mereka di dunia. Seandainya mereka tidak bersuci di dalamnya niscaya mereka akan disucikan di lembah neraka jahanam. Tiga telaga itu adalah telaga taubat nasuha, telaga amal shaleh dan telaga musibah“[1]. Berikut ini penjabaran masing-masing dari telaga tersebut di atas: 1. Telaga Taubat Nasuha Benarkah taubat nasuha akan menghapuskan dosa-dosa? apa dalilnya? ) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً ( (الفرقان: 70( Artinya: “Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amalan shaleh, maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS:Al Furqan:70). )يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ( (التحريم:8) Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”(QS. At Tahrim: 8) Benar, Allah ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dengan taubat yang nasuha (semurni-murninya/sebenar-benarnya), bukan taubat sambel! Bukan model taubat seorang perokok yang apabila mendapat giliran meronda dan bertemu temannya yang masih merokok lantas menawarinya rokok, dia kembali merokok. Perlu diketahui bahwa taubat nasuha memiliki empat syarat[2]: Meninggalkan maksiat. Menyesali kemaksiatan yang telah ia perbuat. Bertekad bulat untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya. Seandainya maksiat itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya, atau memohon maaf darinya. Mari kita membaca penjelasan berikut satu persatu. Meninggalkan maksiat . Maksiat itu bisa berwujud mengerjakan sesuatu yang diharamkan oleh Allah ta’ala atau bisa berwujud meninggalkan sesuatu yang diwajibkan oleh Allah ta’ala. Mengerjakan yang haram seperti melihat perempuan yang bukan mahramnya, maka tidak bisa dinamakan taubat kalau matanya tetap melotot pada acara dangdutan di TV misalnya. Meninggalkan yang wajib contohnya: meninggalkan shalat berjamaah di masjid (bagi kaum pria), kalau benar-benar seseorang ingin bertaubat, maka jika dia mendengar adzan shubuh, dia harus berusaha bangkit dari springbednya yang empuk, kemudian menyentuh air yang dingin (berwudhu), lalu berjalan ke masjid walaupun mengantuk. Bukannya malah menarik selimut tebalnya kembali! Menyesali kemaksiatan yang telah diperbuat. Setiap dia mengingat dosa yang telah dia perbuat, maka dia akan selalu menyesalinya dan merasa sedih sehingga dia beristighfar dan meneteskan air mata. Bukan malah sebaliknya, merasa bangga dengan kemaksiatannya yang silam, bahkan bercerita kepada kawan-kawannya bahwa dia pernah menonton film yang tidak layak di tonton bersama teman-temannya yang dulu Wal’iyaadzu billaah… Bertekad bulat dan bersungguh-sungguh untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya. Orang yang tangannya telah berlumuran dengan noda-noda dosa, sehingga kemaksiatan telah menjadi tradisi hidupnya, dia akan merasa berat dalam berusaha untuk meninggalkan maksiat, akan tetapi jika dia bersungguh-sungguh ingin bertaubat dan memohon pertolongan dari Allah ta’ala, pasti Allah ta’ala akan menolongnya, dan semuanya akan terasa ringan insya Allah. Mengembalikan hak bani Adam. Contohnya mencuri, jika dia pernah mencuri, maka dia wajib mengembalikan barang curian tersebut kepada pemiliknya. Jika dia tidak menemukannya, maka dia harus berusaha mencarinya sampai bertemu dengannya. Jika sudah meninggal, dia temui anaknya, cucunya, buyutnya dan seterusnya dari kerabat atau keturunannya. Jika tidak berhasil juga, maka dia bersedekah dengan mengatasnamakan pemiliknya. Kemudian seandainya pada suatu hari dia bertemu dengan pemiliknya maka dia harus memberitahukan kepadanya dan memberikan pilihan, antara merelakan sedekah yang pernah dikeluarkan atas namanya atau menginginkan barang tersebut kembali. Jika dia menginginkan yang kedua, maka dia wajib memenuhi permintaannya. Mungkin langkah-langkah ini terasa berat, tapi kalau kita renungkan kembali sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam di bawah ini niscaya itu akan terasa ringan. عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ». Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit itu?”, para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalan-amalannya dan diberikan kepada ini dan kepada itu (orang lain yang dia dzalimi tersebut -pen), apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka“. HR. Muslim Itulah pentingnya taubat. Kita yang banyak dosa ini seharusnya selalu bertaubat. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam bersabda, « يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ ». “Wahai para manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah! (Karena) sesungguhnya aku bertaubat dalam satu hari sebanyak seratus kali.” HR. Muslim. Ya, begitulah Nabi shallallahu’alaihiwasallam, padahal Allah ta’ala sudah mengampuni dosa-dosa beliau yang lalu dan yang akan datang menjamin beliau masuk surga. Lalu bagaimana dengan kita…? 2. Telaga Amal Shalih. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa telaga ini termasuk yang menggugurkan dosa, firman Allah ta’ala, )إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ( (هود: 114) Artinya: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS: Huud 114) Tentunya kita tahu bahwa amal shalih itu banyak sekali ragam dan tingkatannya. Berhubung umur kita di dunia terbatas, maka kita harus mengetahui amalan apakah yang paling utama? Sehingga kalaupun kita termasuk orang-orang yang mati muda, amalan yang paling utama itu sudah berada di genggaman tangan kita. Dalam Musnad Ahmad: عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوْصِنِي. قَالَ: “إِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَأَتْبِعْهَا حَسَنَةً تَمْحُهَا “. قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَمِنَ الْحَسَنَاتِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ؟ قَالَ: “هِيَ أَفْضَلُ الْحَسَنَاتِ “ Suatu hari Abu Dzar berkata kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Nasehatilah aku!”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Seandainya engkau berbuat keburukan (dosa), iringilah dengan kebaikan niscaya dia akan menghapus dosa tersebut“. Abu Dzar kembali bertanya, “Apakah La ilaha illallah termasuk amalan kebaikan?”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Dia adalah amalan kebaikan yang paling utama“. HR Ahmad (V/169) dan dishahihkan oleh Al Albani. Jika kita menelaah hadits tersebut di atas, akan kita dapati secara gamblang bahwa amal shalih yang paling utama adalah tauhid (menegakkan kalimat laa ilaaha illallah). Bahkan inilah inti dakwah seluruh rasul sejak dari nabi Nuh ‘alaihissalam hingga nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam. Allah ta’ala menjelaskan, ) وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ( (النحل: 36) Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah taghut itu.” (QS: An Nahl 36) Begitu agungnya kedudukan tauhid di sisi Allah ta’ala, hingga orang yang tauhidnya benar, murni, dan sempurna akan masuk surga tanpa di dihisab amalannya dan tanpa diadzab. Rasullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Pada suatu hari aku diperlihatkan umat pengikut nabi-nabi sebelumku, maka aku melihat bersama salah seorang dari mereka pengikutnya berjumlah tidak sampai sepuluh, ada pula nabi yang pengikutnya satu atau dua. Bahkan ada nabi yang sama sekali tidak mempunyai pengikut. Tiba-tiba, aku diperlihatkan kepada orang yang banyak sekali, hingga aku mengira merekalah pengikutku, ternyata mereka adalah pengikut Musa. Lantas dikatakan kepadaku, “Tetapi lihatlah ke ufuk sebelah sana!” ternyata di sana ada umat yang banyak sekali. “Lihatlah pula ke ufuk sebelah sini!” ternyata di sana ada manusia yang banyak sekali. “Mereka adalah umatmu, di antara mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa dihisab amalannya dan tanpa diazab di neraka“. Lantas setelah bercerita seperti itu, Nabi shallallahu’alaihiwasallam bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Maka para sahabat berdiskusi dan mencoba menerka siapakah mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Sebagian mereka berkata, “Barangkali mereka adalah para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam“, sebagian yang lain berkata, “Barangkali mereka adalah yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kesyirikan”, dan mereka menyebutkan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Kemudian Nabi shallallahu’alaihiwasallam keluar dari rumahnya dan bertanya, “Apa yang sedang kalian perbincangkan?”, lantas mereka memberitahukannya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan cara kayy (pengobatan dengan besi panas), tidak meminta kepada orang lain untuk meruqyahnya dan tidak pula bertathayyur serta selalu bertawakal kepada rabbnya“. Mendengar sabda beliau ini, salah seorang sahabat yang bernama Ukasyah berdiri seraya berkata, “Doakanlah aku agar termasuk dari mereka, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Kamu termasuk dari mereka“. Lantas berdiri sahabat lain dan berkata, “Wahai Nabi! Doakan aku juga agar termasuk dari mereka!”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Engkau telah kedahuluan Ukasyah” HR Bukhari dan Muslim. Syeikh Muhammad at-Tamimi dalam Kitab Tauhid mengambil kesimpulan dari hadits tersebut di atas bahwa: “Orang yang merealisasikan tauhid (dengan sempurna) akan masuk surga tanpa hisab”[3]. Meskipun kedudukan tauhid begitu tingginya, hanya saja masih banyak orang yang tidak tahu tentangnya atau pura-pura tidak tahu dan merasa pobi untuk bicara tentang tauhid. Di antara mereka ada yang berkata, “Awas! Dalam berdakwah jangan sampai menyinggung-nyinggung masalah tauhid! Nanti umat akan berpecah belah!”. Lalu, apakah Islam membawa suatu ajaran yang memecah belah umat?! Apakah mungkin Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tatkala berkonsentrasi selama 13 tahun di Mekah mengajarkan tauhid, berarti beliau telah menghabiskan waktunya selama itu untuk memecah belah umat?!.Atau memang tauhid memecah belah (baca: memilah-milah) antara orang mukmin dengan orang musyrik?!. Sebagian lagi ada yang berkata, “Umat Islam di zaman sekarang sudah paham masalah tauhid, sekarang sudah saatnya kita berkonsentrasi dalam dunia politik untuk mencapai impian kita; mendirikan Negara Islam!”. Mungkin kita boleh bertanya kepada orang yang berkata demikian, ”Tolong hitung -dalam pulau Jawa saja- berapa kuburan yang masih dipenuhi dengan sesajen? Berapa orang Islam yang masih meminta berkah dari para “kyai”? Berapa dukun, para(tidak)normal, orang (tidak) pintar dan konco-konconya yang masih bebas buka praktek dan pasang iklan di koran-koran?”. Kami yakin dia tidak akan sanggup menghitung “penyakit-penyakit” itu di tengah masyarakat yang dia anggap sudah paham masalah tauhid. Lalu benarkah Negara Islam bisa didirikan lewat jalur politik? Kalau memang bisa, mengapa sampai detik ini tidak ada satu negarapun yang berhasil menegakkan syari’at Islam lewat jalur politik? Kalau begitu, pasti ada kesalahan. Lalu di manakah letak kesalahannya? Kalau bukan jalannya yang salah ya tauhidnya yang salah? Seorang muslim tentu tidak akan menjawab bahwa tauhidnya lah yang salah. Oleh karena itu mulailah dengan mengibarkan “bendera” tauhid sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam mencontohkannya. Mungkin ada perkataan, “Aah…itu khan dulu? Sekarang zamannya sudah berbeda mas!”. Kita jawab, ”Yang benar, apakah Islam yang harus mengikuti zaman ataukah zaman yang harus mengikuti Islam? Kalau boleh diibaratkan, Islam ibarat kepala, dan zaman ibarat pecinya, kalau kita beli peci ternyata kekecilan untuk ukuran kepala kita, kira-kira apa solusinya? Apakah kepala kita yang diperkecil ataukah pecinya yang diperbesar? Atau mana yang diperbesar dan mana diperkecil? Atau barangkali ada solusi lain?”. Amalan agung kedua adalah shalat, tiang agama yang apabila tidak didirikan maka akan runtuhlah sebuah bangunan. Nabi shallallahu’alaihiwasallam menegaskan, العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ. “Perjanjian antara kita dan orang munafik adalah shalat, barang siapa yang meninggalkannya berarti dia telah kafir”. HR Ahmad, Tirmidzi dan dia berkata: hasan shahih, al-Hakim dan dia berkata: shahih dan kami tidak mengetahui adanya ‘illah di dalamnya. Al-Albani menshahihkan hadits ini. Shalat lima waktu akan membersihkan dosa-dosa jika dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, yaitu dengan memenuhi rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا Dari Abu Hurairah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Bagaimanakah menurut kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, kemudian dalam sehari dia mandi di sungai itu lima kali. Apakah akan tersisa di tubuhnya daki kotoran?” Para sahabat menjawab, “Tidak”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Itulah permisalan shalat lima waktu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa.” HR Bukhari dan Muslim. Maka marilah kita berusaha untuk mendirikan shalat lima waktu tepat pada waktunya dengan berjamaah di masjid. Kita lihat suri tauladan dari generasi awal umat ini salaf ash-shalih yang berusaha untuk selalu mendirikan shalat dalam kondisi apapun. Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam, supaya dia bisa pergi ke masjid, dia harus dipapah oleh dua orang sahabat lainnya. Bagaimana dengan sebagian kita? Karena sakit gigi saja atau sakit perut atau bahkan mungkin hanya karena panu, dia tidak pergi ke masjid. Yang lebih memilukan lagi, ada yang tidak shalat berjamaah di masjid karena kesiangan gara-gara menonton film. Astaghfirullah… Ada seorang tabi`in yang bernama Said bin Musayyib rahimahullah. Ketika adzan dikumandangkan, dia selalu sudah berada di dalam masjid. Dan hal ini beliau lakukan selama 40 tahun. Subhanallah… Di antara amal shalih yang utama adalah Puasa, apalagi puasa Ramadhan. Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan keutamaannya, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni “. HR Bukhari dan Muslim. Masih banyak amalan-amalan shalih lainnya, yang kalau kita sebutkan semuanya makalah singkat ini tidak akan cukup. 3. Telaga Musibah Dalam suratAl Baqarah ayat 214: )َأم حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ( (البقرة:214) Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu, mereka ditimpa melapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya,”Kapankah datang-nya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesung-guhnya pertolongan Allah itu amat dekat” Akan tetapi musibah, cobaan dan malapetaka itu akan membawa keberuntungan jika kita bersabar. عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah ada kelelahan, rasa sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang sangat yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” HR.Bukhari dan Muslim. Wah, enak sekali kalau begitu, lebih baik kita mohon agar kita sering ditimpa musibah saja ya? Begitukah? Tentu saja tidak! Mengapa? Karena kita tidak tahu apakah kita mampu bersabar ataukah tidak? Oleh karena itu kita harus selalu berdoa kepada Allah ta’ala agar senantiasa diberi keselamatan dan kesehatan, dan jika ditimpa musibah, kita diberikan kekuatan untuk bersabar. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: « عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ». “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin, seluruh urusannya adalah baik, kalau dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, sehingga kesenangan itu menjadi baik baginya. Kalau ditimpa kesusahan dia bersabar, sehingga kesusahan itu menjadi baik baginya.” HR. Muslim Bolehkah menangis tatkala tertimpa musibah? عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل على إبراهيم وهو يجود بنفسه فجعلت عينا رسول الله تذرفان. فقال عبد الرحمن بن عوف: وأنت يا رسول الله؟ فقال: يا ابن عوف إنها رحمة، ثم أتبعها بأخرى. فقال: إن العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي ربنا وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون) رواه البخاري. Anas bercerita, “Suatu hari Nabi shallallahu’alaihiwasallam masuk (ke rumah) menemui anaknya Ibrahim yang sedang berada dalam sakaratul maut. Maka meneteslah air mata Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Abdurrahman bin Auf (yang berada di situ saat itu) berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. “Wahai Abdurrahman ini adalah kasih sayang” jawab beliau sambil kembali meneteskan air matanya. Kemudian Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Sesungguhnya mata meneteskan air mata dan hati merasakan kesedihan, akan tetapi kita tidak berkata kecuali yang diridhai oleh Allah. Sesungguhnya kami merasa sedih dengan perpisahan ini wahai Ibrahim.” HR Bukhari. Oleh karena itu, selagi kita masih di dunia, marilah kita berlomba-lomba untuk mensucikan dosa-dosa kita di tiga telaga ini sebelum datang hari yang pada saat itu tidak ada kesempatan lagi untuk beramal, yang ada hanyalah penyesalan yang tiada gunanya. Allah ta’ala menceritakan penyesalan penghuni neraka dalam firmanNya: ) وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ( (فاطر37) Artinya: “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabbi, keluarkanlah kami. Niscaya kami akan mengerjakan amalan shalih berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan”. Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau berpikir?! Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS: Faathir 37) Wallahua’lam wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.   @ Selesai diedit ulang pada hari Sabtu tanggal 7 Ramadhan 1427 di Kedungwuluh Purbalingga Jawa Tengah.   [1] Madarij as-Salikin hal. 255-256. [2] Riyadh ash-Shalihin, karya Imam an-Nawawi hal: 37-38, lihat pula: Risalah al-Mustarsyidin karya al-Harits al-Muhasibi (hal: 113). [3] Kitab at-Tauhid (hal. 20). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Pelebur Dosa

04DecPelebur DosaDecember 4, 2013Nasihat dan Faidah Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Di penghujung tahun 2006, ketika penulis naik taksi menuju Masjid Nabawi, sopir taksi yang kebetulan bekerja sebagai satpam di perumahan dokter rumah sakit Su’udi Almani bercerita, “Tadi malam sekitar jam sepuluh, setelah para dokter pulang kerja, sambil menuju ke rumah mereka masing-masing, di jalan mereka saling berbincang-bincang. Di antara perbincangan itu, obrolan antara dua dokter, dokter A berkata kepada dokter B, “Wahai fulan tolong besok segera beritahukan kepada saya hasil tes laboratorium pasien C, saya ingin segera mengetahui jenis penyakit yang ia derita”. Dokter B menjawab, “InsyaAllah dengan senang hati”. Kemudian mereka masuk ke rumah masing-masing. Lima menit kemudian si satpam tersebut terkejutkan dengan deringan telpon di posnya yang ternyata berasal dari istri dokter A, sambil teriak dan menangis histeris dia mengabarkan bahwa suaminya begitu masuk pintu rumah tiab-tiba ia terjatuh dan langsung menghembuskan nafas terakhirnya! Padahal beberapa menit yang lalu dia masih berbincang-bincang tentang pasien dia yang sakit, ternyata justru dia yang mendahului pasiennya menghadap Allah ta’ala. Subhanallah, benarlah apa yang difirmankan Allah ta’ala, “وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ” (لقمان: 34). Artinya: “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. QS. Luqman: 34. Yang jadi pertanyaan: sudah siapkah kita jika tiba-tiba nyawa kita dicabut? Sudahkah bekal yang kita persiapkan cukup untuk menghadap Allah ta’ala? Apakah ada di antara kita yang ingin seperti apa yang diceritakan oleh Allah ta’ala, “وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ” (فاطر: 37). Artinya: “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabbi, keluarkanlah kami. Niscaya kami akan mengerjakan amalan shalih berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan”. Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau berpikir?! Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS: Faathir 37). Memang benar tidak ada di antara kita yang selamat dari dosa.. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“ “Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat“. HR Tirmidzi dan al-Hakim, al-Hakim berkata, “isnadnya shahih”. Al-Albani menghasankan hadits ini. Kami kira tidak ada di antara kita yang merasa bahwa dia bukan keturunan nabi Adam. Karena masing-masing dari kita adalah anak keturunan nabi Adam mestinya kitapun juga merasa bahwa dosa-dosa kita banyak, diakui ataupun tidak diakui. Kalau tidak percaya, mari kita amati kehidupan kita sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai kembali merebahkan badan di kasur. Niscaya dalam satu hari saja dosa-dosa yang kita lakukan tidak akan terhitung jumlahnya. Ini baru satu hari dan baru dosa-dosa yang ketahuan, bagaimana jika satu tahun? Bagaimana jika dikumpulkan selama 23 tahun? Junjungan besar kita Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah menggambarkan dampak buruk dari dosa dalam sabdanya, “إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}”. “Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu bintik hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu dan beristighfar niscaya bintik hitam itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa dan terus menerus berbuat; bintik-bintik hitam itu akan terus bertambah hingga menghitamkan semua hatinya, itulah penutup yang difirmankan oleh Allah (yang artinya): “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutup hati mereka“. HR Tirmidzi, dia berkata: “Hasan shahih”, dan al-Hakim, dia berkata, “Shahih menurut syarat Muslim”, serta dihasankan oleh Syeikh Al Albani. Maka tidaklah mengherankan jika seringkali kita merasakan bahwa hati ini mengeras; membaca ayat-ayat Al Qur’an hati ini tidak tergetar, mendengar nasehat-nasehat para ulama kalbu ini tidak luluh. Padahal Allah telah mensifati orang yang beriman dalam frman-Nya, )إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ( (الأنفال:2) Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka“. Al Anfal: 2. Orang-orang yang merasa dosanya telah menggunung dan dia merasa bersalah, lebih baik daripada orang-orang yang dosanya sudah menumpuk tetapi tidak merasa atau bahkan merasa suci dan alim! Ketahuilah bahwa semua amalan kita dicatat di sisi-Nya, Allah ta’ala berfirman, )مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ( (ق: 18) Artinya: “Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat yang selalu hadir“. QS. Qaf: 18. Bukan hanya dicatat saja, tapi juga akan diberi ganjaran yang setimpal. Dan jika Allah ta’ala telah menyiksa, maka sungguh adzab-Nya sangatlah pedih, )إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ( (البروج:12) Artinya: “Sesungguhnya adzab Rabbmu benar-benar keras.”. QS. Al Buruj: 12. Dan dalam surat al-Fajr ayat 25: ( فَيَوْمَئِذٍ لا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ) Artinya: “Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksaan-Nya.” Oleh karena itu pada suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah bersabda: وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ رَأَيْتُمْ مَا رَأَيْتُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا ». قَالُوا وَمَا رَأَيْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « رَأَيْتُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ ». “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Allah), seandainya kalian wahai para sahabatku, melihat apa yang yang aku lihat, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”, mereka bertanya,”Apa yang engkau lihat wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab, ” Aku melihat surga dan neraka.” HR. Bukhari dan Muslim. Sebenarnya bagaimanakah kondisi neraka hingga para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam menangis sesenggukan tatkala mengingatnya? Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim Nabi shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan keadaan adzab yang paling ringan di neraka: « إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلاَنِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِى الْمِرْجَلُ مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا ». Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang mengenakan sepasang sandal dari api, yang dengan sebabnya otaknya mendidih, sebagaimana mendidihnya air di dalam bejana. Dia mengira bahwa tidak ada satupun penghuni neraka yang lebih keras adzabnya darinya. Padahal ia adalah orang yang yang paling ringan adzabnya.” HR. Buhari dan Muslim. Mengapa dia sampai mengira semacam itu? Karena api di neraka bukanlah seperti api di dunia. « نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ » “Api kalian –yang dinyalakan bani Adam (di dunia)- hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam.” HR Bukhari dan Muslim. Seberapa dalamkah neraka? Kita akan dapatkan jawabannya dalam kisah di bawah ini, عن أبي هريرة رضي الله عنه قال كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « تَدْرُونَ مَا هَذَا ». قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « هَذَا حَجَرٌ رُمِىَ بِهِ فِى النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِى فِى النَّارِ الآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا ». Abu Hurairah berkata, “Suatu hari kami duduk-duduk bersama Nabi shallallahu’alaihiwasallam, tiba-tiba terdengarlah suara benda jatuh, serta merta Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, ” Tahukah kalian suara apa itu?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,” maka beliau bersabda, “Benda itu adalah batu yang Allah lemparkan ke dalam neraka Jahanam sejak 70 tahun yang lalu sekarang baru sampai ke dasarnya“. HR. Muslim. Apa makanan dan minuman penghuni neraka? Allah ta’ala berfirman, )لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إلا مِنْ ضَرِيعٍ لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ( (الغاشية: 6-7). Artinya: “Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar“. QS. Al-Ghasyiyah: 7-6. إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ * طَعَامُ الأثِيمِ * كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ * كَغَلْيِ الْحَمِيم Artinya: “Sesungguhnya pohon Zaqqum itu makanan orang yang banyak dosa ia bagaikan kotoran minyak yang mendidih di dalam perut seperti mendidihnya air yang sangat panas“. QS. Ad-Dukhan 43-46. )وَسُقُوا مَاءً حَمِيماً فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ( (محمد:15) Artinya: “Mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong motong ususnya“. QS. Muhammad: 15. ) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا (23) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا (24) إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ( Artinya: “Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapatkan) minuman selain air yang mendidih dan nanah“. QS. An-Naba: 23-25. Apakah tatkala usus mereka terputus-putus mereka langsung mati? Ya, tapi akan dihidupkan kembali, padahal satu hari di neraka sama dengan seribu tahun di dunia. Allah Ta’ala berfirman: )وَإِنَّ يَوْماً عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ( (الحج:47) Artinya: “Sesungguhnya satu hari disisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” Al Hajj: 47. Seandainya kita di dalam neraka setengah sehari hari saja, berarti kita akan mendekam di dalamnya selama 500 tahun / 5 abad. Na`udzu billah min dzalik... Inilah siksaan yang Allah ta’ala sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang bergelimang dosa. Tapi ingat! Jangan sampai kita berputus asa karena banyaknya dosa, sebab setan akan masuk dari pintu keputusasaan seorang hamba seraya berkata, “Dosa kamu sudah terlampau banyak, tidak akan mungkin Allah ta’ala mengampunimu”, hingga akhirnya ia terus menerus berbuat dosa. Tidak demikian! Allah ta’ala telah berfirman: ) قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ( (الزمر:53) Artinya: “Katakanlah,”Hai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar 53) Allah ta’ala juga telah menegaskan dalam surat Al Hijr: 49-50, )نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ( (الحجر: 49-50) Artinya: “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Bahwa sesungguhnya Akulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih“. QS. Al-Hijr: 49-50. Tatkala membaca ayat di atas, barangkali akan timbul pertanyaan di benak sebagian kita; Bagaimana Allah yang Maha penyayang tapi juga adzab-Nya sangat pedih? Inilah inti dari pembahasan kita kali ini. Meskipun siksaan Allah ta’ala di hari Akhir amatlah keras, tapi dengan kasih sayang-Nya, Dia memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para hamba yang bergelimang dosa untuk mensucikan dirinya dari kotoran dosa-dosa di dunia ini, sehingga tatkala dia menghadap ke hadirat Allah ta’ala kelak, dia akan menghadap dalam keadaan suci bersih dari noda-noda dosa, sama sekali tidak disiksa di api neraka, bahkan dia akan masuk ke surga dengan penuh kedamaian. Lalu apa saja hal-hal yang bisa mensucikan dosa-dosa kita di di dunia ini? Ulama tersohor yang dikenal kepiawaiannya dalam memberikan resep-resep manjur pengobatan penyakit-penyakit hati; Ibnu Qayyim al-Jauziyah, telah menjawab pertanyaan ini dalam penjelasannya, “Telah tersedia bagi orang-orang yang bergelimang dosa tiga telaga untuk mensucikan diri mereka di dunia. Seandainya mereka tidak bersuci di dalamnya niscaya mereka akan disucikan di lembah neraka jahanam. Tiga telaga itu adalah telaga taubat nasuha, telaga amal shaleh dan telaga musibah“[1]. Berikut ini penjabaran masing-masing dari telaga tersebut di atas: 1. Telaga Taubat Nasuha Benarkah taubat nasuha akan menghapuskan dosa-dosa? apa dalilnya? ) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً ( (الفرقان: 70( Artinya: “Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amalan shaleh, maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS:Al Furqan:70). )يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ( (التحريم:8) Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”(QS. At Tahrim: 8) Benar, Allah ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dengan taubat yang nasuha (semurni-murninya/sebenar-benarnya), bukan taubat sambel! Bukan model taubat seorang perokok yang apabila mendapat giliran meronda dan bertemu temannya yang masih merokok lantas menawarinya rokok, dia kembali merokok. Perlu diketahui bahwa taubat nasuha memiliki empat syarat[2]: Meninggalkan maksiat. Menyesali kemaksiatan yang telah ia perbuat. Bertekad bulat untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya. Seandainya maksiat itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya, atau memohon maaf darinya. Mari kita membaca penjelasan berikut satu persatu. Meninggalkan maksiat . Maksiat itu bisa berwujud mengerjakan sesuatu yang diharamkan oleh Allah ta’ala atau bisa berwujud meninggalkan sesuatu yang diwajibkan oleh Allah ta’ala. Mengerjakan yang haram seperti melihat perempuan yang bukan mahramnya, maka tidak bisa dinamakan taubat kalau matanya tetap melotot pada acara dangdutan di TV misalnya. Meninggalkan yang wajib contohnya: meninggalkan shalat berjamaah di masjid (bagi kaum pria), kalau benar-benar seseorang ingin bertaubat, maka jika dia mendengar adzan shubuh, dia harus berusaha bangkit dari springbednya yang empuk, kemudian menyentuh air yang dingin (berwudhu), lalu berjalan ke masjid walaupun mengantuk. Bukannya malah menarik selimut tebalnya kembali! Menyesali kemaksiatan yang telah diperbuat. Setiap dia mengingat dosa yang telah dia perbuat, maka dia akan selalu menyesalinya dan merasa sedih sehingga dia beristighfar dan meneteskan air mata. Bukan malah sebaliknya, merasa bangga dengan kemaksiatannya yang silam, bahkan bercerita kepada kawan-kawannya bahwa dia pernah menonton film yang tidak layak di tonton bersama teman-temannya yang dulu Wal’iyaadzu billaah… Bertekad bulat dan bersungguh-sungguh untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya. Orang yang tangannya telah berlumuran dengan noda-noda dosa, sehingga kemaksiatan telah menjadi tradisi hidupnya, dia akan merasa berat dalam berusaha untuk meninggalkan maksiat, akan tetapi jika dia bersungguh-sungguh ingin bertaubat dan memohon pertolongan dari Allah ta’ala, pasti Allah ta’ala akan menolongnya, dan semuanya akan terasa ringan insya Allah. Mengembalikan hak bani Adam. Contohnya mencuri, jika dia pernah mencuri, maka dia wajib mengembalikan barang curian tersebut kepada pemiliknya. Jika dia tidak menemukannya, maka dia harus berusaha mencarinya sampai bertemu dengannya. Jika sudah meninggal, dia temui anaknya, cucunya, buyutnya dan seterusnya dari kerabat atau keturunannya. Jika tidak berhasil juga, maka dia bersedekah dengan mengatasnamakan pemiliknya. Kemudian seandainya pada suatu hari dia bertemu dengan pemiliknya maka dia harus memberitahukan kepadanya dan memberikan pilihan, antara merelakan sedekah yang pernah dikeluarkan atas namanya atau menginginkan barang tersebut kembali. Jika dia menginginkan yang kedua, maka dia wajib memenuhi permintaannya. Mungkin langkah-langkah ini terasa berat, tapi kalau kita renungkan kembali sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam di bawah ini niscaya itu akan terasa ringan. عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ». Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit itu?”, para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalan-amalannya dan diberikan kepada ini dan kepada itu (orang lain yang dia dzalimi tersebut -pen), apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka“. HR. Muslim Itulah pentingnya taubat. Kita yang banyak dosa ini seharusnya selalu bertaubat. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam bersabda, « يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ ». “Wahai para manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah! (Karena) sesungguhnya aku bertaubat dalam satu hari sebanyak seratus kali.” HR. Muslim. Ya, begitulah Nabi shallallahu’alaihiwasallam, padahal Allah ta’ala sudah mengampuni dosa-dosa beliau yang lalu dan yang akan datang menjamin beliau masuk surga. Lalu bagaimana dengan kita…? 2. Telaga Amal Shalih. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa telaga ini termasuk yang menggugurkan dosa, firman Allah ta’ala, )إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ( (هود: 114) Artinya: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS: Huud 114) Tentunya kita tahu bahwa amal shalih itu banyak sekali ragam dan tingkatannya. Berhubung umur kita di dunia terbatas, maka kita harus mengetahui amalan apakah yang paling utama? Sehingga kalaupun kita termasuk orang-orang yang mati muda, amalan yang paling utama itu sudah berada di genggaman tangan kita. Dalam Musnad Ahmad: عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوْصِنِي. قَالَ: “إِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَأَتْبِعْهَا حَسَنَةً تَمْحُهَا “. قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَمِنَ الْحَسَنَاتِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ؟ قَالَ: “هِيَ أَفْضَلُ الْحَسَنَاتِ “ Suatu hari Abu Dzar berkata kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Nasehatilah aku!”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Seandainya engkau berbuat keburukan (dosa), iringilah dengan kebaikan niscaya dia akan menghapus dosa tersebut“. Abu Dzar kembali bertanya, “Apakah La ilaha illallah termasuk amalan kebaikan?”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Dia adalah amalan kebaikan yang paling utama“. HR Ahmad (V/169) dan dishahihkan oleh Al Albani. Jika kita menelaah hadits tersebut di atas, akan kita dapati secara gamblang bahwa amal shalih yang paling utama adalah tauhid (menegakkan kalimat laa ilaaha illallah). Bahkan inilah inti dakwah seluruh rasul sejak dari nabi Nuh ‘alaihissalam hingga nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam. Allah ta’ala menjelaskan, ) وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ( (النحل: 36) Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah taghut itu.” (QS: An Nahl 36) Begitu agungnya kedudukan tauhid di sisi Allah ta’ala, hingga orang yang tauhidnya benar, murni, dan sempurna akan masuk surga tanpa di dihisab amalannya dan tanpa diadzab. Rasullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Pada suatu hari aku diperlihatkan umat pengikut nabi-nabi sebelumku, maka aku melihat bersama salah seorang dari mereka pengikutnya berjumlah tidak sampai sepuluh, ada pula nabi yang pengikutnya satu atau dua. Bahkan ada nabi yang sama sekali tidak mempunyai pengikut. Tiba-tiba, aku diperlihatkan kepada orang yang banyak sekali, hingga aku mengira merekalah pengikutku, ternyata mereka adalah pengikut Musa. Lantas dikatakan kepadaku, “Tetapi lihatlah ke ufuk sebelah sana!” ternyata di sana ada umat yang banyak sekali. “Lihatlah pula ke ufuk sebelah sini!” ternyata di sana ada manusia yang banyak sekali. “Mereka adalah umatmu, di antara mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa dihisab amalannya dan tanpa diazab di neraka“. Lantas setelah bercerita seperti itu, Nabi shallallahu’alaihiwasallam bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Maka para sahabat berdiskusi dan mencoba menerka siapakah mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Sebagian mereka berkata, “Barangkali mereka adalah para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam“, sebagian yang lain berkata, “Barangkali mereka adalah yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kesyirikan”, dan mereka menyebutkan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Kemudian Nabi shallallahu’alaihiwasallam keluar dari rumahnya dan bertanya, “Apa yang sedang kalian perbincangkan?”, lantas mereka memberitahukannya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan cara kayy (pengobatan dengan besi panas), tidak meminta kepada orang lain untuk meruqyahnya dan tidak pula bertathayyur serta selalu bertawakal kepada rabbnya“. Mendengar sabda beliau ini, salah seorang sahabat yang bernama Ukasyah berdiri seraya berkata, “Doakanlah aku agar termasuk dari mereka, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Kamu termasuk dari mereka“. Lantas berdiri sahabat lain dan berkata, “Wahai Nabi! Doakan aku juga agar termasuk dari mereka!”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Engkau telah kedahuluan Ukasyah” HR Bukhari dan Muslim. Syeikh Muhammad at-Tamimi dalam Kitab Tauhid mengambil kesimpulan dari hadits tersebut di atas bahwa: “Orang yang merealisasikan tauhid (dengan sempurna) akan masuk surga tanpa hisab”[3]. Meskipun kedudukan tauhid begitu tingginya, hanya saja masih banyak orang yang tidak tahu tentangnya atau pura-pura tidak tahu dan merasa pobi untuk bicara tentang tauhid. Di antara mereka ada yang berkata, “Awas! Dalam berdakwah jangan sampai menyinggung-nyinggung masalah tauhid! Nanti umat akan berpecah belah!”. Lalu, apakah Islam membawa suatu ajaran yang memecah belah umat?! Apakah mungkin Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tatkala berkonsentrasi selama 13 tahun di Mekah mengajarkan tauhid, berarti beliau telah menghabiskan waktunya selama itu untuk memecah belah umat?!.Atau memang tauhid memecah belah (baca: memilah-milah) antara orang mukmin dengan orang musyrik?!. Sebagian lagi ada yang berkata, “Umat Islam di zaman sekarang sudah paham masalah tauhid, sekarang sudah saatnya kita berkonsentrasi dalam dunia politik untuk mencapai impian kita; mendirikan Negara Islam!”. Mungkin kita boleh bertanya kepada orang yang berkata demikian, ”Tolong hitung -dalam pulau Jawa saja- berapa kuburan yang masih dipenuhi dengan sesajen? Berapa orang Islam yang masih meminta berkah dari para “kyai”? Berapa dukun, para(tidak)normal, orang (tidak) pintar dan konco-konconya yang masih bebas buka praktek dan pasang iklan di koran-koran?”. Kami yakin dia tidak akan sanggup menghitung “penyakit-penyakit” itu di tengah masyarakat yang dia anggap sudah paham masalah tauhid. Lalu benarkah Negara Islam bisa didirikan lewat jalur politik? Kalau memang bisa, mengapa sampai detik ini tidak ada satu negarapun yang berhasil menegakkan syari’at Islam lewat jalur politik? Kalau begitu, pasti ada kesalahan. Lalu di manakah letak kesalahannya? Kalau bukan jalannya yang salah ya tauhidnya yang salah? Seorang muslim tentu tidak akan menjawab bahwa tauhidnya lah yang salah. Oleh karena itu mulailah dengan mengibarkan “bendera” tauhid sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam mencontohkannya. Mungkin ada perkataan, “Aah…itu khan dulu? Sekarang zamannya sudah berbeda mas!”. Kita jawab, ”Yang benar, apakah Islam yang harus mengikuti zaman ataukah zaman yang harus mengikuti Islam? Kalau boleh diibaratkan, Islam ibarat kepala, dan zaman ibarat pecinya, kalau kita beli peci ternyata kekecilan untuk ukuran kepala kita, kira-kira apa solusinya? Apakah kepala kita yang diperkecil ataukah pecinya yang diperbesar? Atau mana yang diperbesar dan mana diperkecil? Atau barangkali ada solusi lain?”. Amalan agung kedua adalah shalat, tiang agama yang apabila tidak didirikan maka akan runtuhlah sebuah bangunan. Nabi shallallahu’alaihiwasallam menegaskan, العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ. “Perjanjian antara kita dan orang munafik adalah shalat, barang siapa yang meninggalkannya berarti dia telah kafir”. HR Ahmad, Tirmidzi dan dia berkata: hasan shahih, al-Hakim dan dia berkata: shahih dan kami tidak mengetahui adanya ‘illah di dalamnya. Al-Albani menshahihkan hadits ini. Shalat lima waktu akan membersihkan dosa-dosa jika dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, yaitu dengan memenuhi rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا Dari Abu Hurairah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Bagaimanakah menurut kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, kemudian dalam sehari dia mandi di sungai itu lima kali. Apakah akan tersisa di tubuhnya daki kotoran?” Para sahabat menjawab, “Tidak”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Itulah permisalan shalat lima waktu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa.” HR Bukhari dan Muslim. Maka marilah kita berusaha untuk mendirikan shalat lima waktu tepat pada waktunya dengan berjamaah di masjid. Kita lihat suri tauladan dari generasi awal umat ini salaf ash-shalih yang berusaha untuk selalu mendirikan shalat dalam kondisi apapun. Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam, supaya dia bisa pergi ke masjid, dia harus dipapah oleh dua orang sahabat lainnya. Bagaimana dengan sebagian kita? Karena sakit gigi saja atau sakit perut atau bahkan mungkin hanya karena panu, dia tidak pergi ke masjid. Yang lebih memilukan lagi, ada yang tidak shalat berjamaah di masjid karena kesiangan gara-gara menonton film. Astaghfirullah… Ada seorang tabi`in yang bernama Said bin Musayyib rahimahullah. Ketika adzan dikumandangkan, dia selalu sudah berada di dalam masjid. Dan hal ini beliau lakukan selama 40 tahun. Subhanallah… Di antara amal shalih yang utama adalah Puasa, apalagi puasa Ramadhan. Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan keutamaannya, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni “. HR Bukhari dan Muslim. Masih banyak amalan-amalan shalih lainnya, yang kalau kita sebutkan semuanya makalah singkat ini tidak akan cukup. 3. Telaga Musibah Dalam suratAl Baqarah ayat 214: )َأم حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ( (البقرة:214) Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu, mereka ditimpa melapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya,”Kapankah datang-nya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesung-guhnya pertolongan Allah itu amat dekat” Akan tetapi musibah, cobaan dan malapetaka itu akan membawa keberuntungan jika kita bersabar. عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah ada kelelahan, rasa sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang sangat yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” HR.Bukhari dan Muslim. Wah, enak sekali kalau begitu, lebih baik kita mohon agar kita sering ditimpa musibah saja ya? Begitukah? Tentu saja tidak! Mengapa? Karena kita tidak tahu apakah kita mampu bersabar ataukah tidak? Oleh karena itu kita harus selalu berdoa kepada Allah ta’ala agar senantiasa diberi keselamatan dan kesehatan, dan jika ditimpa musibah, kita diberikan kekuatan untuk bersabar. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: « عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ». “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin, seluruh urusannya adalah baik, kalau dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, sehingga kesenangan itu menjadi baik baginya. Kalau ditimpa kesusahan dia bersabar, sehingga kesusahan itu menjadi baik baginya.” HR. Muslim Bolehkah menangis tatkala tertimpa musibah? عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل على إبراهيم وهو يجود بنفسه فجعلت عينا رسول الله تذرفان. فقال عبد الرحمن بن عوف: وأنت يا رسول الله؟ فقال: يا ابن عوف إنها رحمة، ثم أتبعها بأخرى. فقال: إن العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي ربنا وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون) رواه البخاري. Anas bercerita, “Suatu hari Nabi shallallahu’alaihiwasallam masuk (ke rumah) menemui anaknya Ibrahim yang sedang berada dalam sakaratul maut. Maka meneteslah air mata Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Abdurrahman bin Auf (yang berada di situ saat itu) berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. “Wahai Abdurrahman ini adalah kasih sayang” jawab beliau sambil kembali meneteskan air matanya. Kemudian Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Sesungguhnya mata meneteskan air mata dan hati merasakan kesedihan, akan tetapi kita tidak berkata kecuali yang diridhai oleh Allah. Sesungguhnya kami merasa sedih dengan perpisahan ini wahai Ibrahim.” HR Bukhari. Oleh karena itu, selagi kita masih di dunia, marilah kita berlomba-lomba untuk mensucikan dosa-dosa kita di tiga telaga ini sebelum datang hari yang pada saat itu tidak ada kesempatan lagi untuk beramal, yang ada hanyalah penyesalan yang tiada gunanya. Allah ta’ala menceritakan penyesalan penghuni neraka dalam firmanNya: ) وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ( (فاطر37) Artinya: “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabbi, keluarkanlah kami. Niscaya kami akan mengerjakan amalan shalih berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan”. Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau berpikir?! Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS: Faathir 37) Wallahua’lam wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.   @ Selesai diedit ulang pada hari Sabtu tanggal 7 Ramadhan 1427 di Kedungwuluh Purbalingga Jawa Tengah.   [1] Madarij as-Salikin hal. 255-256. [2] Riyadh ash-Shalihin, karya Imam an-Nawawi hal: 37-38, lihat pula: Risalah al-Mustarsyidin karya al-Harits al-Muhasibi (hal: 113). [3] Kitab at-Tauhid (hal. 20). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
04DecPelebur DosaDecember 4, 2013Nasihat dan Faidah Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Di penghujung tahun 2006, ketika penulis naik taksi menuju Masjid Nabawi, sopir taksi yang kebetulan bekerja sebagai satpam di perumahan dokter rumah sakit Su’udi Almani bercerita, “Tadi malam sekitar jam sepuluh, setelah para dokter pulang kerja, sambil menuju ke rumah mereka masing-masing, di jalan mereka saling berbincang-bincang. Di antara perbincangan itu, obrolan antara dua dokter, dokter A berkata kepada dokter B, “Wahai fulan tolong besok segera beritahukan kepada saya hasil tes laboratorium pasien C, saya ingin segera mengetahui jenis penyakit yang ia derita”. Dokter B menjawab, “InsyaAllah dengan senang hati”. Kemudian mereka masuk ke rumah masing-masing. Lima menit kemudian si satpam tersebut terkejutkan dengan deringan telpon di posnya yang ternyata berasal dari istri dokter A, sambil teriak dan menangis histeris dia mengabarkan bahwa suaminya begitu masuk pintu rumah tiab-tiba ia terjatuh dan langsung menghembuskan nafas terakhirnya! Padahal beberapa menit yang lalu dia masih berbincang-bincang tentang pasien dia yang sakit, ternyata justru dia yang mendahului pasiennya menghadap Allah ta’ala. Subhanallah, benarlah apa yang difirmankan Allah ta’ala, “وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ” (لقمان: 34). Artinya: “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. QS. Luqman: 34. Yang jadi pertanyaan: sudah siapkah kita jika tiba-tiba nyawa kita dicabut? Sudahkah bekal yang kita persiapkan cukup untuk menghadap Allah ta’ala? Apakah ada di antara kita yang ingin seperti apa yang diceritakan oleh Allah ta’ala, “وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ” (فاطر: 37). Artinya: “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabbi, keluarkanlah kami. Niscaya kami akan mengerjakan amalan shalih berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan”. Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau berpikir?! Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS: Faathir 37). Memang benar tidak ada di antara kita yang selamat dari dosa.. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“ “Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat“. HR Tirmidzi dan al-Hakim, al-Hakim berkata, “isnadnya shahih”. Al-Albani menghasankan hadits ini. Kami kira tidak ada di antara kita yang merasa bahwa dia bukan keturunan nabi Adam. Karena masing-masing dari kita adalah anak keturunan nabi Adam mestinya kitapun juga merasa bahwa dosa-dosa kita banyak, diakui ataupun tidak diakui. Kalau tidak percaya, mari kita amati kehidupan kita sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai kembali merebahkan badan di kasur. Niscaya dalam satu hari saja dosa-dosa yang kita lakukan tidak akan terhitung jumlahnya. Ini baru satu hari dan baru dosa-dosa yang ketahuan, bagaimana jika satu tahun? Bagaimana jika dikumpulkan selama 23 tahun? Junjungan besar kita Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah menggambarkan dampak buruk dari dosa dalam sabdanya, “إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}”. “Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu bintik hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu dan beristighfar niscaya bintik hitam itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa dan terus menerus berbuat; bintik-bintik hitam itu akan terus bertambah hingga menghitamkan semua hatinya, itulah penutup yang difirmankan oleh Allah (yang artinya): “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutup hati mereka“. HR Tirmidzi, dia berkata: “Hasan shahih”, dan al-Hakim, dia berkata, “Shahih menurut syarat Muslim”, serta dihasankan oleh Syeikh Al Albani. Maka tidaklah mengherankan jika seringkali kita merasakan bahwa hati ini mengeras; membaca ayat-ayat Al Qur’an hati ini tidak tergetar, mendengar nasehat-nasehat para ulama kalbu ini tidak luluh. Padahal Allah telah mensifati orang yang beriman dalam frman-Nya, )إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ( (الأنفال:2) Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka“. Al Anfal: 2. Orang-orang yang merasa dosanya telah menggunung dan dia merasa bersalah, lebih baik daripada orang-orang yang dosanya sudah menumpuk tetapi tidak merasa atau bahkan merasa suci dan alim! Ketahuilah bahwa semua amalan kita dicatat di sisi-Nya, Allah ta’ala berfirman, )مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ( (ق: 18) Artinya: “Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat yang selalu hadir“. QS. Qaf: 18. Bukan hanya dicatat saja, tapi juga akan diberi ganjaran yang setimpal. Dan jika Allah ta’ala telah menyiksa, maka sungguh adzab-Nya sangatlah pedih, )إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ( (البروج:12) Artinya: “Sesungguhnya adzab Rabbmu benar-benar keras.”. QS. Al Buruj: 12. Dan dalam surat al-Fajr ayat 25: ( فَيَوْمَئِذٍ لا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ) Artinya: “Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksaan-Nya.” Oleh karena itu pada suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah bersabda: وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ رَأَيْتُمْ مَا رَأَيْتُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا ». قَالُوا وَمَا رَأَيْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « رَأَيْتُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ ». “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Allah), seandainya kalian wahai para sahabatku, melihat apa yang yang aku lihat, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”, mereka bertanya,”Apa yang engkau lihat wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab, ” Aku melihat surga dan neraka.” HR. Bukhari dan Muslim. Sebenarnya bagaimanakah kondisi neraka hingga para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam menangis sesenggukan tatkala mengingatnya? Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim Nabi shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan keadaan adzab yang paling ringan di neraka: « إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلاَنِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِى الْمِرْجَلُ مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا ». Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang mengenakan sepasang sandal dari api, yang dengan sebabnya otaknya mendidih, sebagaimana mendidihnya air di dalam bejana. Dia mengira bahwa tidak ada satupun penghuni neraka yang lebih keras adzabnya darinya. Padahal ia adalah orang yang yang paling ringan adzabnya.” HR. Buhari dan Muslim. Mengapa dia sampai mengira semacam itu? Karena api di neraka bukanlah seperti api di dunia. « نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ » “Api kalian –yang dinyalakan bani Adam (di dunia)- hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam.” HR Bukhari dan Muslim. Seberapa dalamkah neraka? Kita akan dapatkan jawabannya dalam kisah di bawah ini, عن أبي هريرة رضي الله عنه قال كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « تَدْرُونَ مَا هَذَا ». قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « هَذَا حَجَرٌ رُمِىَ بِهِ فِى النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِى فِى النَّارِ الآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا ». Abu Hurairah berkata, “Suatu hari kami duduk-duduk bersama Nabi shallallahu’alaihiwasallam, tiba-tiba terdengarlah suara benda jatuh, serta merta Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, ” Tahukah kalian suara apa itu?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,” maka beliau bersabda, “Benda itu adalah batu yang Allah lemparkan ke dalam neraka Jahanam sejak 70 tahun yang lalu sekarang baru sampai ke dasarnya“. HR. Muslim. Apa makanan dan minuman penghuni neraka? Allah ta’ala berfirman, )لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إلا مِنْ ضَرِيعٍ لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ( (الغاشية: 6-7). Artinya: “Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar“. QS. Al-Ghasyiyah: 7-6. إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ * طَعَامُ الأثِيمِ * كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ * كَغَلْيِ الْحَمِيم Artinya: “Sesungguhnya pohon Zaqqum itu makanan orang yang banyak dosa ia bagaikan kotoran minyak yang mendidih di dalam perut seperti mendidihnya air yang sangat panas“. QS. Ad-Dukhan 43-46. )وَسُقُوا مَاءً حَمِيماً فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ( (محمد:15) Artinya: “Mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong motong ususnya“. QS. Muhammad: 15. ) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا (23) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا (24) إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ( Artinya: “Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapatkan) minuman selain air yang mendidih dan nanah“. QS. An-Naba: 23-25. Apakah tatkala usus mereka terputus-putus mereka langsung mati? Ya, tapi akan dihidupkan kembali, padahal satu hari di neraka sama dengan seribu tahun di dunia. Allah Ta’ala berfirman: )وَإِنَّ يَوْماً عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ( (الحج:47) Artinya: “Sesungguhnya satu hari disisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” Al Hajj: 47. Seandainya kita di dalam neraka setengah sehari hari saja, berarti kita akan mendekam di dalamnya selama 500 tahun / 5 abad. Na`udzu billah min dzalik... Inilah siksaan yang Allah ta’ala sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang bergelimang dosa. Tapi ingat! Jangan sampai kita berputus asa karena banyaknya dosa, sebab setan akan masuk dari pintu keputusasaan seorang hamba seraya berkata, “Dosa kamu sudah terlampau banyak, tidak akan mungkin Allah ta’ala mengampunimu”, hingga akhirnya ia terus menerus berbuat dosa. Tidak demikian! Allah ta’ala telah berfirman: ) قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ( (الزمر:53) Artinya: “Katakanlah,”Hai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar 53) Allah ta’ala juga telah menegaskan dalam surat Al Hijr: 49-50, )نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ( (الحجر: 49-50) Artinya: “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Bahwa sesungguhnya Akulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih“. QS. Al-Hijr: 49-50. Tatkala membaca ayat di atas, barangkali akan timbul pertanyaan di benak sebagian kita; Bagaimana Allah yang Maha penyayang tapi juga adzab-Nya sangat pedih? Inilah inti dari pembahasan kita kali ini. Meskipun siksaan Allah ta’ala di hari Akhir amatlah keras, tapi dengan kasih sayang-Nya, Dia memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para hamba yang bergelimang dosa untuk mensucikan dirinya dari kotoran dosa-dosa di dunia ini, sehingga tatkala dia menghadap ke hadirat Allah ta’ala kelak, dia akan menghadap dalam keadaan suci bersih dari noda-noda dosa, sama sekali tidak disiksa di api neraka, bahkan dia akan masuk ke surga dengan penuh kedamaian. Lalu apa saja hal-hal yang bisa mensucikan dosa-dosa kita di di dunia ini? Ulama tersohor yang dikenal kepiawaiannya dalam memberikan resep-resep manjur pengobatan penyakit-penyakit hati; Ibnu Qayyim al-Jauziyah, telah menjawab pertanyaan ini dalam penjelasannya, “Telah tersedia bagi orang-orang yang bergelimang dosa tiga telaga untuk mensucikan diri mereka di dunia. Seandainya mereka tidak bersuci di dalamnya niscaya mereka akan disucikan di lembah neraka jahanam. Tiga telaga itu adalah telaga taubat nasuha, telaga amal shaleh dan telaga musibah“[1]. Berikut ini penjabaran masing-masing dari telaga tersebut di atas: 1. Telaga Taubat Nasuha Benarkah taubat nasuha akan menghapuskan dosa-dosa? apa dalilnya? ) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً ( (الفرقان: 70( Artinya: “Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amalan shaleh, maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS:Al Furqan:70). )يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ( (التحريم:8) Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”(QS. At Tahrim: 8) Benar, Allah ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dengan taubat yang nasuha (semurni-murninya/sebenar-benarnya), bukan taubat sambel! Bukan model taubat seorang perokok yang apabila mendapat giliran meronda dan bertemu temannya yang masih merokok lantas menawarinya rokok, dia kembali merokok. Perlu diketahui bahwa taubat nasuha memiliki empat syarat[2]: Meninggalkan maksiat. Menyesali kemaksiatan yang telah ia perbuat. Bertekad bulat untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya. Seandainya maksiat itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya, atau memohon maaf darinya. Mari kita membaca penjelasan berikut satu persatu. Meninggalkan maksiat . Maksiat itu bisa berwujud mengerjakan sesuatu yang diharamkan oleh Allah ta’ala atau bisa berwujud meninggalkan sesuatu yang diwajibkan oleh Allah ta’ala. Mengerjakan yang haram seperti melihat perempuan yang bukan mahramnya, maka tidak bisa dinamakan taubat kalau matanya tetap melotot pada acara dangdutan di TV misalnya. Meninggalkan yang wajib contohnya: meninggalkan shalat berjamaah di masjid (bagi kaum pria), kalau benar-benar seseorang ingin bertaubat, maka jika dia mendengar adzan shubuh, dia harus berusaha bangkit dari springbednya yang empuk, kemudian menyentuh air yang dingin (berwudhu), lalu berjalan ke masjid walaupun mengantuk. Bukannya malah menarik selimut tebalnya kembali! Menyesali kemaksiatan yang telah diperbuat. Setiap dia mengingat dosa yang telah dia perbuat, maka dia akan selalu menyesalinya dan merasa sedih sehingga dia beristighfar dan meneteskan air mata. Bukan malah sebaliknya, merasa bangga dengan kemaksiatannya yang silam, bahkan bercerita kepada kawan-kawannya bahwa dia pernah menonton film yang tidak layak di tonton bersama teman-temannya yang dulu Wal’iyaadzu billaah… Bertekad bulat dan bersungguh-sungguh untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya. Orang yang tangannya telah berlumuran dengan noda-noda dosa, sehingga kemaksiatan telah menjadi tradisi hidupnya, dia akan merasa berat dalam berusaha untuk meninggalkan maksiat, akan tetapi jika dia bersungguh-sungguh ingin bertaubat dan memohon pertolongan dari Allah ta’ala, pasti Allah ta’ala akan menolongnya, dan semuanya akan terasa ringan insya Allah. Mengembalikan hak bani Adam. Contohnya mencuri, jika dia pernah mencuri, maka dia wajib mengembalikan barang curian tersebut kepada pemiliknya. Jika dia tidak menemukannya, maka dia harus berusaha mencarinya sampai bertemu dengannya. Jika sudah meninggal, dia temui anaknya, cucunya, buyutnya dan seterusnya dari kerabat atau keturunannya. Jika tidak berhasil juga, maka dia bersedekah dengan mengatasnamakan pemiliknya. Kemudian seandainya pada suatu hari dia bertemu dengan pemiliknya maka dia harus memberitahukan kepadanya dan memberikan pilihan, antara merelakan sedekah yang pernah dikeluarkan atas namanya atau menginginkan barang tersebut kembali. Jika dia menginginkan yang kedua, maka dia wajib memenuhi permintaannya. Mungkin langkah-langkah ini terasa berat, tapi kalau kita renungkan kembali sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam di bawah ini niscaya itu akan terasa ringan. عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ». Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit itu?”, para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalan-amalannya dan diberikan kepada ini dan kepada itu (orang lain yang dia dzalimi tersebut -pen), apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka“. HR. Muslim Itulah pentingnya taubat. Kita yang banyak dosa ini seharusnya selalu bertaubat. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam bersabda, « يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ ». “Wahai para manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah! (Karena) sesungguhnya aku bertaubat dalam satu hari sebanyak seratus kali.” HR. Muslim. Ya, begitulah Nabi shallallahu’alaihiwasallam, padahal Allah ta’ala sudah mengampuni dosa-dosa beliau yang lalu dan yang akan datang menjamin beliau masuk surga. Lalu bagaimana dengan kita…? 2. Telaga Amal Shalih. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa telaga ini termasuk yang menggugurkan dosa, firman Allah ta’ala, )إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ( (هود: 114) Artinya: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS: Huud 114) Tentunya kita tahu bahwa amal shalih itu banyak sekali ragam dan tingkatannya. Berhubung umur kita di dunia terbatas, maka kita harus mengetahui amalan apakah yang paling utama? Sehingga kalaupun kita termasuk orang-orang yang mati muda, amalan yang paling utama itu sudah berada di genggaman tangan kita. Dalam Musnad Ahmad: عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوْصِنِي. قَالَ: “إِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَأَتْبِعْهَا حَسَنَةً تَمْحُهَا “. قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَمِنَ الْحَسَنَاتِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ؟ قَالَ: “هِيَ أَفْضَلُ الْحَسَنَاتِ “ Suatu hari Abu Dzar berkata kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Nasehatilah aku!”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Seandainya engkau berbuat keburukan (dosa), iringilah dengan kebaikan niscaya dia akan menghapus dosa tersebut“. Abu Dzar kembali bertanya, “Apakah La ilaha illallah termasuk amalan kebaikan?”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Dia adalah amalan kebaikan yang paling utama“. HR Ahmad (V/169) dan dishahihkan oleh Al Albani. Jika kita menelaah hadits tersebut di atas, akan kita dapati secara gamblang bahwa amal shalih yang paling utama adalah tauhid (menegakkan kalimat laa ilaaha illallah). Bahkan inilah inti dakwah seluruh rasul sejak dari nabi Nuh ‘alaihissalam hingga nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam. Allah ta’ala menjelaskan, ) وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ( (النحل: 36) Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah taghut itu.” (QS: An Nahl 36) Begitu agungnya kedudukan tauhid di sisi Allah ta’ala, hingga orang yang tauhidnya benar, murni, dan sempurna akan masuk surga tanpa di dihisab amalannya dan tanpa diadzab. Rasullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Pada suatu hari aku diperlihatkan umat pengikut nabi-nabi sebelumku, maka aku melihat bersama salah seorang dari mereka pengikutnya berjumlah tidak sampai sepuluh, ada pula nabi yang pengikutnya satu atau dua. Bahkan ada nabi yang sama sekali tidak mempunyai pengikut. Tiba-tiba, aku diperlihatkan kepada orang yang banyak sekali, hingga aku mengira merekalah pengikutku, ternyata mereka adalah pengikut Musa. Lantas dikatakan kepadaku, “Tetapi lihatlah ke ufuk sebelah sana!” ternyata di sana ada umat yang banyak sekali. “Lihatlah pula ke ufuk sebelah sini!” ternyata di sana ada manusia yang banyak sekali. “Mereka adalah umatmu, di antara mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa dihisab amalannya dan tanpa diazab di neraka“. Lantas setelah bercerita seperti itu, Nabi shallallahu’alaihiwasallam bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Maka para sahabat berdiskusi dan mencoba menerka siapakah mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Sebagian mereka berkata, “Barangkali mereka adalah para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam“, sebagian yang lain berkata, “Barangkali mereka adalah yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kesyirikan”, dan mereka menyebutkan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Kemudian Nabi shallallahu’alaihiwasallam keluar dari rumahnya dan bertanya, “Apa yang sedang kalian perbincangkan?”, lantas mereka memberitahukannya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan cara kayy (pengobatan dengan besi panas), tidak meminta kepada orang lain untuk meruqyahnya dan tidak pula bertathayyur serta selalu bertawakal kepada rabbnya“. Mendengar sabda beliau ini, salah seorang sahabat yang bernama Ukasyah berdiri seraya berkata, “Doakanlah aku agar termasuk dari mereka, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Kamu termasuk dari mereka“. Lantas berdiri sahabat lain dan berkata, “Wahai Nabi! Doakan aku juga agar termasuk dari mereka!”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Engkau telah kedahuluan Ukasyah” HR Bukhari dan Muslim. Syeikh Muhammad at-Tamimi dalam Kitab Tauhid mengambil kesimpulan dari hadits tersebut di atas bahwa: “Orang yang merealisasikan tauhid (dengan sempurna) akan masuk surga tanpa hisab”[3]. Meskipun kedudukan tauhid begitu tingginya, hanya saja masih banyak orang yang tidak tahu tentangnya atau pura-pura tidak tahu dan merasa pobi untuk bicara tentang tauhid. Di antara mereka ada yang berkata, “Awas! Dalam berdakwah jangan sampai menyinggung-nyinggung masalah tauhid! Nanti umat akan berpecah belah!”. Lalu, apakah Islam membawa suatu ajaran yang memecah belah umat?! Apakah mungkin Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tatkala berkonsentrasi selama 13 tahun di Mekah mengajarkan tauhid, berarti beliau telah menghabiskan waktunya selama itu untuk memecah belah umat?!.Atau memang tauhid memecah belah (baca: memilah-milah) antara orang mukmin dengan orang musyrik?!. Sebagian lagi ada yang berkata, “Umat Islam di zaman sekarang sudah paham masalah tauhid, sekarang sudah saatnya kita berkonsentrasi dalam dunia politik untuk mencapai impian kita; mendirikan Negara Islam!”. Mungkin kita boleh bertanya kepada orang yang berkata demikian, ”Tolong hitung -dalam pulau Jawa saja- berapa kuburan yang masih dipenuhi dengan sesajen? Berapa orang Islam yang masih meminta berkah dari para “kyai”? Berapa dukun, para(tidak)normal, orang (tidak) pintar dan konco-konconya yang masih bebas buka praktek dan pasang iklan di koran-koran?”. Kami yakin dia tidak akan sanggup menghitung “penyakit-penyakit” itu di tengah masyarakat yang dia anggap sudah paham masalah tauhid. Lalu benarkah Negara Islam bisa didirikan lewat jalur politik? Kalau memang bisa, mengapa sampai detik ini tidak ada satu negarapun yang berhasil menegakkan syari’at Islam lewat jalur politik? Kalau begitu, pasti ada kesalahan. Lalu di manakah letak kesalahannya? Kalau bukan jalannya yang salah ya tauhidnya yang salah? Seorang muslim tentu tidak akan menjawab bahwa tauhidnya lah yang salah. Oleh karena itu mulailah dengan mengibarkan “bendera” tauhid sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam mencontohkannya. Mungkin ada perkataan, “Aah…itu khan dulu? Sekarang zamannya sudah berbeda mas!”. Kita jawab, ”Yang benar, apakah Islam yang harus mengikuti zaman ataukah zaman yang harus mengikuti Islam? Kalau boleh diibaratkan, Islam ibarat kepala, dan zaman ibarat pecinya, kalau kita beli peci ternyata kekecilan untuk ukuran kepala kita, kira-kira apa solusinya? Apakah kepala kita yang diperkecil ataukah pecinya yang diperbesar? Atau mana yang diperbesar dan mana diperkecil? Atau barangkali ada solusi lain?”. Amalan agung kedua adalah shalat, tiang agama yang apabila tidak didirikan maka akan runtuhlah sebuah bangunan. Nabi shallallahu’alaihiwasallam menegaskan, العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ. “Perjanjian antara kita dan orang munafik adalah shalat, barang siapa yang meninggalkannya berarti dia telah kafir”. HR Ahmad, Tirmidzi dan dia berkata: hasan shahih, al-Hakim dan dia berkata: shahih dan kami tidak mengetahui adanya ‘illah di dalamnya. Al-Albani menshahihkan hadits ini. Shalat lima waktu akan membersihkan dosa-dosa jika dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, yaitu dengan memenuhi rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا Dari Abu Hurairah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Bagaimanakah menurut kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, kemudian dalam sehari dia mandi di sungai itu lima kali. Apakah akan tersisa di tubuhnya daki kotoran?” Para sahabat menjawab, “Tidak”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Itulah permisalan shalat lima waktu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa.” HR Bukhari dan Muslim. Maka marilah kita berusaha untuk mendirikan shalat lima waktu tepat pada waktunya dengan berjamaah di masjid. Kita lihat suri tauladan dari generasi awal umat ini salaf ash-shalih yang berusaha untuk selalu mendirikan shalat dalam kondisi apapun. Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam, supaya dia bisa pergi ke masjid, dia harus dipapah oleh dua orang sahabat lainnya. Bagaimana dengan sebagian kita? Karena sakit gigi saja atau sakit perut atau bahkan mungkin hanya karena panu, dia tidak pergi ke masjid. Yang lebih memilukan lagi, ada yang tidak shalat berjamaah di masjid karena kesiangan gara-gara menonton film. Astaghfirullah… Ada seorang tabi`in yang bernama Said bin Musayyib rahimahullah. Ketika adzan dikumandangkan, dia selalu sudah berada di dalam masjid. Dan hal ini beliau lakukan selama 40 tahun. Subhanallah… Di antara amal shalih yang utama adalah Puasa, apalagi puasa Ramadhan. Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan keutamaannya, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni “. HR Bukhari dan Muslim. Masih banyak amalan-amalan shalih lainnya, yang kalau kita sebutkan semuanya makalah singkat ini tidak akan cukup. 3. Telaga Musibah Dalam suratAl Baqarah ayat 214: )َأم حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ( (البقرة:214) Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu, mereka ditimpa melapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya,”Kapankah datang-nya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesung-guhnya pertolongan Allah itu amat dekat” Akan tetapi musibah, cobaan dan malapetaka itu akan membawa keberuntungan jika kita bersabar. عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah ada kelelahan, rasa sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang sangat yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” HR.Bukhari dan Muslim. Wah, enak sekali kalau begitu, lebih baik kita mohon agar kita sering ditimpa musibah saja ya? Begitukah? Tentu saja tidak! Mengapa? Karena kita tidak tahu apakah kita mampu bersabar ataukah tidak? Oleh karena itu kita harus selalu berdoa kepada Allah ta’ala agar senantiasa diberi keselamatan dan kesehatan, dan jika ditimpa musibah, kita diberikan kekuatan untuk bersabar. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: « عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ». “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin, seluruh urusannya adalah baik, kalau dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, sehingga kesenangan itu menjadi baik baginya. Kalau ditimpa kesusahan dia bersabar, sehingga kesusahan itu menjadi baik baginya.” HR. Muslim Bolehkah menangis tatkala tertimpa musibah? عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل على إبراهيم وهو يجود بنفسه فجعلت عينا رسول الله تذرفان. فقال عبد الرحمن بن عوف: وأنت يا رسول الله؟ فقال: يا ابن عوف إنها رحمة، ثم أتبعها بأخرى. فقال: إن العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي ربنا وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون) رواه البخاري. Anas bercerita, “Suatu hari Nabi shallallahu’alaihiwasallam masuk (ke rumah) menemui anaknya Ibrahim yang sedang berada dalam sakaratul maut. Maka meneteslah air mata Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Abdurrahman bin Auf (yang berada di situ saat itu) berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. “Wahai Abdurrahman ini adalah kasih sayang” jawab beliau sambil kembali meneteskan air matanya. Kemudian Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Sesungguhnya mata meneteskan air mata dan hati merasakan kesedihan, akan tetapi kita tidak berkata kecuali yang diridhai oleh Allah. Sesungguhnya kami merasa sedih dengan perpisahan ini wahai Ibrahim.” HR Bukhari. Oleh karena itu, selagi kita masih di dunia, marilah kita berlomba-lomba untuk mensucikan dosa-dosa kita di tiga telaga ini sebelum datang hari yang pada saat itu tidak ada kesempatan lagi untuk beramal, yang ada hanyalah penyesalan yang tiada gunanya. Allah ta’ala menceritakan penyesalan penghuni neraka dalam firmanNya: ) وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ( (فاطر37) Artinya: “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabbi, keluarkanlah kami. Niscaya kami akan mengerjakan amalan shalih berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan”. Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau berpikir?! Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS: Faathir 37) Wallahua’lam wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.   @ Selesai diedit ulang pada hari Sabtu tanggal 7 Ramadhan 1427 di Kedungwuluh Purbalingga Jawa Tengah.   [1] Madarij as-Salikin hal. 255-256. [2] Riyadh ash-Shalihin, karya Imam an-Nawawi hal: 37-38, lihat pula: Risalah al-Mustarsyidin karya al-Harits al-Muhasibi (hal: 113). [3] Kitab at-Tauhid (hal. 20). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


04DecPelebur DosaDecember 4, 2013Nasihat dan Faidah Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Di penghujung tahun 2006, ketika penulis naik taksi menuju Masjid Nabawi, sopir taksi yang kebetulan bekerja sebagai satpam di perumahan dokter rumah sakit Su’udi Almani bercerita, “Tadi malam sekitar jam sepuluh, setelah para dokter pulang kerja, sambil menuju ke rumah mereka masing-masing, di jalan mereka saling berbincang-bincang. Di antara perbincangan itu, obrolan antara dua dokter, dokter A berkata kepada dokter B, “Wahai fulan tolong besok segera beritahukan kepada saya hasil tes laboratorium pasien C, saya ingin segera mengetahui jenis penyakit yang ia derita”. Dokter B menjawab, “InsyaAllah dengan senang hati”. Kemudian mereka masuk ke rumah masing-masing. Lima menit kemudian si satpam tersebut terkejutkan dengan deringan telpon di posnya yang ternyata berasal dari istri dokter A, sambil teriak dan menangis histeris dia mengabarkan bahwa suaminya begitu masuk pintu rumah tiab-tiba ia terjatuh dan langsung menghembuskan nafas terakhirnya! Padahal beberapa menit yang lalu dia masih berbincang-bincang tentang pasien dia yang sakit, ternyata justru dia yang mendahului pasiennya menghadap Allah ta’ala. Subhanallah, benarlah apa yang difirmankan Allah ta’ala, “وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ” (لقمان: 34). Artinya: “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. QS. Luqman: 34. Yang jadi pertanyaan: sudah siapkah kita jika tiba-tiba nyawa kita dicabut? Sudahkah bekal yang kita persiapkan cukup untuk menghadap Allah ta’ala? Apakah ada di antara kita yang ingin seperti apa yang diceritakan oleh Allah ta’ala, “وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ” (فاطر: 37). Artinya: “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabbi, keluarkanlah kami. Niscaya kami akan mengerjakan amalan shalih berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan”. Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau berpikir?! Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS: Faathir 37). Memang benar tidak ada di antara kita yang selamat dari dosa.. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“ “Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat“. HR Tirmidzi dan al-Hakim, al-Hakim berkata, “isnadnya shahih”. Al-Albani menghasankan hadits ini. Kami kira tidak ada di antara kita yang merasa bahwa dia bukan keturunan nabi Adam. Karena masing-masing dari kita adalah anak keturunan nabi Adam mestinya kitapun juga merasa bahwa dosa-dosa kita banyak, diakui ataupun tidak diakui. Kalau tidak percaya, mari kita amati kehidupan kita sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai kembali merebahkan badan di kasur. Niscaya dalam satu hari saja dosa-dosa yang kita lakukan tidak akan terhitung jumlahnya. Ini baru satu hari dan baru dosa-dosa yang ketahuan, bagaimana jika satu tahun? Bagaimana jika dikumpulkan selama 23 tahun? Junjungan besar kita Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah menggambarkan dampak buruk dari dosa dalam sabdanya, “إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}”. “Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu bintik hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu dan beristighfar niscaya bintik hitam itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa dan terus menerus berbuat; bintik-bintik hitam itu akan terus bertambah hingga menghitamkan semua hatinya, itulah penutup yang difirmankan oleh Allah (yang artinya): “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutup hati mereka“. HR Tirmidzi, dia berkata: “Hasan shahih”, dan al-Hakim, dia berkata, “Shahih menurut syarat Muslim”, serta dihasankan oleh Syeikh Al Albani. Maka tidaklah mengherankan jika seringkali kita merasakan bahwa hati ini mengeras; membaca ayat-ayat Al Qur’an hati ini tidak tergetar, mendengar nasehat-nasehat para ulama kalbu ini tidak luluh. Padahal Allah telah mensifati orang yang beriman dalam frman-Nya, )إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ( (الأنفال:2) Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka“. Al Anfal: 2. Orang-orang yang merasa dosanya telah menggunung dan dia merasa bersalah, lebih baik daripada orang-orang yang dosanya sudah menumpuk tetapi tidak merasa atau bahkan merasa suci dan alim! Ketahuilah bahwa semua amalan kita dicatat di sisi-Nya, Allah ta’ala berfirman, )مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ( (ق: 18) Artinya: “Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat yang selalu hadir“. QS. Qaf: 18. Bukan hanya dicatat saja, tapi juga akan diberi ganjaran yang setimpal. Dan jika Allah ta’ala telah menyiksa, maka sungguh adzab-Nya sangatlah pedih, )إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ( (البروج:12) Artinya: “Sesungguhnya adzab Rabbmu benar-benar keras.”. QS. Al Buruj: 12. Dan dalam surat al-Fajr ayat 25: ( فَيَوْمَئِذٍ لا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ) Artinya: “Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksaan-Nya.” Oleh karena itu pada suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah bersabda: وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ رَأَيْتُمْ مَا رَأَيْتُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا ». قَالُوا وَمَا رَأَيْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « رَأَيْتُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ ». “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Allah), seandainya kalian wahai para sahabatku, melihat apa yang yang aku lihat, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”, mereka bertanya,”Apa yang engkau lihat wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab, ” Aku melihat surga dan neraka.” HR. Bukhari dan Muslim. Sebenarnya bagaimanakah kondisi neraka hingga para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam menangis sesenggukan tatkala mengingatnya? Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim Nabi shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan keadaan adzab yang paling ringan di neraka: « إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلاَنِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِى الْمِرْجَلُ مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا ». Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang mengenakan sepasang sandal dari api, yang dengan sebabnya otaknya mendidih, sebagaimana mendidihnya air di dalam bejana. Dia mengira bahwa tidak ada satupun penghuni neraka yang lebih keras adzabnya darinya. Padahal ia adalah orang yang yang paling ringan adzabnya.” HR. Buhari dan Muslim. Mengapa dia sampai mengira semacam itu? Karena api di neraka bukanlah seperti api di dunia. « نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ » “Api kalian –yang dinyalakan bani Adam (di dunia)- hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam.” HR Bukhari dan Muslim. Seberapa dalamkah neraka? Kita akan dapatkan jawabannya dalam kisah di bawah ini, عن أبي هريرة رضي الله عنه قال كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « تَدْرُونَ مَا هَذَا ». قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « هَذَا حَجَرٌ رُمِىَ بِهِ فِى النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِى فِى النَّارِ الآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا ». Abu Hurairah berkata, “Suatu hari kami duduk-duduk bersama Nabi shallallahu’alaihiwasallam, tiba-tiba terdengarlah suara benda jatuh, serta merta Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, ” Tahukah kalian suara apa itu?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,” maka beliau bersabda, “Benda itu adalah batu yang Allah lemparkan ke dalam neraka Jahanam sejak 70 tahun yang lalu sekarang baru sampai ke dasarnya“. HR. Muslim. Apa makanan dan minuman penghuni neraka? Allah ta’ala berfirman, )لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إلا مِنْ ضَرِيعٍ لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ( (الغاشية: 6-7). Artinya: “Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar“. QS. Al-Ghasyiyah: 7-6. إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ * طَعَامُ الأثِيمِ * كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ * كَغَلْيِ الْحَمِيم Artinya: “Sesungguhnya pohon Zaqqum itu makanan orang yang banyak dosa ia bagaikan kotoran minyak yang mendidih di dalam perut seperti mendidihnya air yang sangat panas“. QS. Ad-Dukhan 43-46. )وَسُقُوا مَاءً حَمِيماً فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ( (محمد:15) Artinya: “Mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong motong ususnya“. QS. Muhammad: 15. ) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا (23) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا (24) إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ( Artinya: “Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapatkan) minuman selain air yang mendidih dan nanah“. QS. An-Naba: 23-25. Apakah tatkala usus mereka terputus-putus mereka langsung mati? Ya, tapi akan dihidupkan kembali, padahal satu hari di neraka sama dengan seribu tahun di dunia. Allah Ta’ala berfirman: )وَإِنَّ يَوْماً عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ( (الحج:47) Artinya: “Sesungguhnya satu hari disisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” Al Hajj: 47. Seandainya kita di dalam neraka setengah sehari hari saja, berarti kita akan mendekam di dalamnya selama 500 tahun / 5 abad. Na`udzu billah min dzalik... Inilah siksaan yang Allah ta’ala sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang bergelimang dosa. Tapi ingat! Jangan sampai kita berputus asa karena banyaknya dosa, sebab setan akan masuk dari pintu keputusasaan seorang hamba seraya berkata, “Dosa kamu sudah terlampau banyak, tidak akan mungkin Allah ta’ala mengampunimu”, hingga akhirnya ia terus menerus berbuat dosa. Tidak demikian! Allah ta’ala telah berfirman: ) قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ( (الزمر:53) Artinya: “Katakanlah,”Hai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar 53) Allah ta’ala juga telah menegaskan dalam surat Al Hijr: 49-50, )نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ( (الحجر: 49-50) Artinya: “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Bahwa sesungguhnya Akulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih“. QS. Al-Hijr: 49-50. Tatkala membaca ayat di atas, barangkali akan timbul pertanyaan di benak sebagian kita; Bagaimana Allah yang Maha penyayang tapi juga adzab-Nya sangat pedih? Inilah inti dari pembahasan kita kali ini. Meskipun siksaan Allah ta’ala di hari Akhir amatlah keras, tapi dengan kasih sayang-Nya, Dia memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para hamba yang bergelimang dosa untuk mensucikan dirinya dari kotoran dosa-dosa di dunia ini, sehingga tatkala dia menghadap ke hadirat Allah ta’ala kelak, dia akan menghadap dalam keadaan suci bersih dari noda-noda dosa, sama sekali tidak disiksa di api neraka, bahkan dia akan masuk ke surga dengan penuh kedamaian. Lalu apa saja hal-hal yang bisa mensucikan dosa-dosa kita di di dunia ini? Ulama tersohor yang dikenal kepiawaiannya dalam memberikan resep-resep manjur pengobatan penyakit-penyakit hati; Ibnu Qayyim al-Jauziyah, telah menjawab pertanyaan ini dalam penjelasannya, “Telah tersedia bagi orang-orang yang bergelimang dosa tiga telaga untuk mensucikan diri mereka di dunia. Seandainya mereka tidak bersuci di dalamnya niscaya mereka akan disucikan di lembah neraka jahanam. Tiga telaga itu adalah telaga taubat nasuha, telaga amal shaleh dan telaga musibah“[1]. Berikut ini penjabaran masing-masing dari telaga tersebut di atas: 1. Telaga Taubat Nasuha Benarkah taubat nasuha akan menghapuskan dosa-dosa? apa dalilnya? ) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً ( (الفرقان: 70( Artinya: “Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amalan shaleh, maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS:Al Furqan:70). )يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ( (التحريم:8) Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”(QS. At Tahrim: 8) Benar, Allah ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dengan taubat yang nasuha (semurni-murninya/sebenar-benarnya), bukan taubat sambel! Bukan model taubat seorang perokok yang apabila mendapat giliran meronda dan bertemu temannya yang masih merokok lantas menawarinya rokok, dia kembali merokok. Perlu diketahui bahwa taubat nasuha memiliki empat syarat[2]: Meninggalkan maksiat. Menyesali kemaksiatan yang telah ia perbuat. Bertekad bulat untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya. Seandainya maksiat itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya, atau memohon maaf darinya. Mari kita membaca penjelasan berikut satu persatu. Meninggalkan maksiat . Maksiat itu bisa berwujud mengerjakan sesuatu yang diharamkan oleh Allah ta’ala atau bisa berwujud meninggalkan sesuatu yang diwajibkan oleh Allah ta’ala. Mengerjakan yang haram seperti melihat perempuan yang bukan mahramnya, maka tidak bisa dinamakan taubat kalau matanya tetap melotot pada acara dangdutan di TV misalnya. Meninggalkan yang wajib contohnya: meninggalkan shalat berjamaah di masjid (bagi kaum pria), kalau benar-benar seseorang ingin bertaubat, maka jika dia mendengar adzan shubuh, dia harus berusaha bangkit dari springbednya yang empuk, kemudian menyentuh air yang dingin (berwudhu), lalu berjalan ke masjid walaupun mengantuk. Bukannya malah menarik selimut tebalnya kembali! Menyesali kemaksiatan yang telah diperbuat. Setiap dia mengingat dosa yang telah dia perbuat, maka dia akan selalu menyesalinya dan merasa sedih sehingga dia beristighfar dan meneteskan air mata. Bukan malah sebaliknya, merasa bangga dengan kemaksiatannya yang silam, bahkan bercerita kepada kawan-kawannya bahwa dia pernah menonton film yang tidak layak di tonton bersama teman-temannya yang dulu Wal’iyaadzu billaah… Bertekad bulat dan bersungguh-sungguh untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya. Orang yang tangannya telah berlumuran dengan noda-noda dosa, sehingga kemaksiatan telah menjadi tradisi hidupnya, dia akan merasa berat dalam berusaha untuk meninggalkan maksiat, akan tetapi jika dia bersungguh-sungguh ingin bertaubat dan memohon pertolongan dari Allah ta’ala, pasti Allah ta’ala akan menolongnya, dan semuanya akan terasa ringan insya Allah. Mengembalikan hak bani Adam. Contohnya mencuri, jika dia pernah mencuri, maka dia wajib mengembalikan barang curian tersebut kepada pemiliknya. Jika dia tidak menemukannya, maka dia harus berusaha mencarinya sampai bertemu dengannya. Jika sudah meninggal, dia temui anaknya, cucunya, buyutnya dan seterusnya dari kerabat atau keturunannya. Jika tidak berhasil juga, maka dia bersedekah dengan mengatasnamakan pemiliknya. Kemudian seandainya pada suatu hari dia bertemu dengan pemiliknya maka dia harus memberitahukan kepadanya dan memberikan pilihan, antara merelakan sedekah yang pernah dikeluarkan atas namanya atau menginginkan barang tersebut kembali. Jika dia menginginkan yang kedua, maka dia wajib memenuhi permintaannya. Mungkin langkah-langkah ini terasa berat, tapi kalau kita renungkan kembali sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam di bawah ini niscaya itu akan terasa ringan. عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ». Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit itu?”, para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalan-amalannya dan diberikan kepada ini dan kepada itu (orang lain yang dia dzalimi tersebut -pen), apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka“. HR. Muslim Itulah pentingnya taubat. Kita yang banyak dosa ini seharusnya selalu bertaubat. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam bersabda, « يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ ». “Wahai para manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah! (Karena) sesungguhnya aku bertaubat dalam satu hari sebanyak seratus kali.” HR. Muslim. Ya, begitulah Nabi shallallahu’alaihiwasallam, padahal Allah ta’ala sudah mengampuni dosa-dosa beliau yang lalu dan yang akan datang menjamin beliau masuk surga. Lalu bagaimana dengan kita…? 2. Telaga Amal Shalih. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa telaga ini termasuk yang menggugurkan dosa, firman Allah ta’ala, )إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ( (هود: 114) Artinya: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS: Huud 114) Tentunya kita tahu bahwa amal shalih itu banyak sekali ragam dan tingkatannya. Berhubung umur kita di dunia terbatas, maka kita harus mengetahui amalan apakah yang paling utama? Sehingga kalaupun kita termasuk orang-orang yang mati muda, amalan yang paling utama itu sudah berada di genggaman tangan kita. Dalam Musnad Ahmad: عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوْصِنِي. قَالَ: “إِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَأَتْبِعْهَا حَسَنَةً تَمْحُهَا “. قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَمِنَ الْحَسَنَاتِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ؟ قَالَ: “هِيَ أَفْضَلُ الْحَسَنَاتِ “ Suatu hari Abu Dzar berkata kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Nasehatilah aku!”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Seandainya engkau berbuat keburukan (dosa), iringilah dengan kebaikan niscaya dia akan menghapus dosa tersebut“. Abu Dzar kembali bertanya, “Apakah La ilaha illallah termasuk amalan kebaikan?”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Dia adalah amalan kebaikan yang paling utama“. HR Ahmad (V/169) dan dishahihkan oleh Al Albani. Jika kita menelaah hadits tersebut di atas, akan kita dapati secara gamblang bahwa amal shalih yang paling utama adalah tauhid (menegakkan kalimat laa ilaaha illallah). Bahkan inilah inti dakwah seluruh rasul sejak dari nabi Nuh ‘alaihissalam hingga nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam. Allah ta’ala menjelaskan, ) وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ( (النحل: 36) Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah taghut itu.” (QS: An Nahl 36) Begitu agungnya kedudukan tauhid di sisi Allah ta’ala, hingga orang yang tauhidnya benar, murni, dan sempurna akan masuk surga tanpa di dihisab amalannya dan tanpa diadzab. Rasullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Pada suatu hari aku diperlihatkan umat pengikut nabi-nabi sebelumku, maka aku melihat bersama salah seorang dari mereka pengikutnya berjumlah tidak sampai sepuluh, ada pula nabi yang pengikutnya satu atau dua. Bahkan ada nabi yang sama sekali tidak mempunyai pengikut. Tiba-tiba, aku diperlihatkan kepada orang yang banyak sekali, hingga aku mengira merekalah pengikutku, ternyata mereka adalah pengikut Musa. Lantas dikatakan kepadaku, “Tetapi lihatlah ke ufuk sebelah sana!” ternyata di sana ada umat yang banyak sekali. “Lihatlah pula ke ufuk sebelah sini!” ternyata di sana ada manusia yang banyak sekali. “Mereka adalah umatmu, di antara mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa dihisab amalannya dan tanpa diazab di neraka“. Lantas setelah bercerita seperti itu, Nabi shallallahu’alaihiwasallam bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Maka para sahabat berdiskusi dan mencoba menerka siapakah mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Sebagian mereka berkata, “Barangkali mereka adalah para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam“, sebagian yang lain berkata, “Barangkali mereka adalah yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kesyirikan”, dan mereka menyebutkan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Kemudian Nabi shallallahu’alaihiwasallam keluar dari rumahnya dan bertanya, “Apa yang sedang kalian perbincangkan?”, lantas mereka memberitahukannya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan cara kayy (pengobatan dengan besi panas), tidak meminta kepada orang lain untuk meruqyahnya dan tidak pula bertathayyur serta selalu bertawakal kepada rabbnya“. Mendengar sabda beliau ini, salah seorang sahabat yang bernama Ukasyah berdiri seraya berkata, “Doakanlah aku agar termasuk dari mereka, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Kamu termasuk dari mereka“. Lantas berdiri sahabat lain dan berkata, “Wahai Nabi! Doakan aku juga agar termasuk dari mereka!”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Engkau telah kedahuluan Ukasyah” HR Bukhari dan Muslim. Syeikh Muhammad at-Tamimi dalam Kitab Tauhid mengambil kesimpulan dari hadits tersebut di atas bahwa: “Orang yang merealisasikan tauhid (dengan sempurna) akan masuk surga tanpa hisab”[3]. Meskipun kedudukan tauhid begitu tingginya, hanya saja masih banyak orang yang tidak tahu tentangnya atau pura-pura tidak tahu dan merasa pobi untuk bicara tentang tauhid. Di antara mereka ada yang berkata, “Awas! Dalam berdakwah jangan sampai menyinggung-nyinggung masalah tauhid! Nanti umat akan berpecah belah!”. Lalu, apakah Islam membawa suatu ajaran yang memecah belah umat?! Apakah mungkin Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tatkala berkonsentrasi selama 13 tahun di Mekah mengajarkan tauhid, berarti beliau telah menghabiskan waktunya selama itu untuk memecah belah umat?!.Atau memang tauhid memecah belah (baca: memilah-milah) antara orang mukmin dengan orang musyrik?!. Sebagian lagi ada yang berkata, “Umat Islam di zaman sekarang sudah paham masalah tauhid, sekarang sudah saatnya kita berkonsentrasi dalam dunia politik untuk mencapai impian kita; mendirikan Negara Islam!”. Mungkin kita boleh bertanya kepada orang yang berkata demikian, ”Tolong hitung -dalam pulau Jawa saja- berapa kuburan yang masih dipenuhi dengan sesajen? Berapa orang Islam yang masih meminta berkah dari para “kyai”? Berapa dukun, para(tidak)normal, orang (tidak) pintar dan konco-konconya yang masih bebas buka praktek dan pasang iklan di koran-koran?”. Kami yakin dia tidak akan sanggup menghitung “penyakit-penyakit” itu di tengah masyarakat yang dia anggap sudah paham masalah tauhid. Lalu benarkah Negara Islam bisa didirikan lewat jalur politik? Kalau memang bisa, mengapa sampai detik ini tidak ada satu negarapun yang berhasil menegakkan syari’at Islam lewat jalur politik? Kalau begitu, pasti ada kesalahan. Lalu di manakah letak kesalahannya? Kalau bukan jalannya yang salah ya tauhidnya yang salah? Seorang muslim tentu tidak akan menjawab bahwa tauhidnya lah yang salah. Oleh karena itu mulailah dengan mengibarkan “bendera” tauhid sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam mencontohkannya. Mungkin ada perkataan, “Aah…itu khan dulu? Sekarang zamannya sudah berbeda mas!”. Kita jawab, ”Yang benar, apakah Islam yang harus mengikuti zaman ataukah zaman yang harus mengikuti Islam? Kalau boleh diibaratkan, Islam ibarat kepala, dan zaman ibarat pecinya, kalau kita beli peci ternyata kekecilan untuk ukuran kepala kita, kira-kira apa solusinya? Apakah kepala kita yang diperkecil ataukah pecinya yang diperbesar? Atau mana yang diperbesar dan mana diperkecil? Atau barangkali ada solusi lain?”. Amalan agung kedua adalah shalat, tiang agama yang apabila tidak didirikan maka akan runtuhlah sebuah bangunan. Nabi shallallahu’alaihiwasallam menegaskan, العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ. “Perjanjian antara kita dan orang munafik adalah shalat, barang siapa yang meninggalkannya berarti dia telah kafir”. HR Ahmad, Tirmidzi dan dia berkata: hasan shahih, al-Hakim dan dia berkata: shahih dan kami tidak mengetahui adanya ‘illah di dalamnya. Al-Albani menshahihkan hadits ini. Shalat lima waktu akan membersihkan dosa-dosa jika dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, yaitu dengan memenuhi rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا Dari Abu Hurairah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Bagaimanakah menurut kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, kemudian dalam sehari dia mandi di sungai itu lima kali. Apakah akan tersisa di tubuhnya daki kotoran?” Para sahabat menjawab, “Tidak”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Itulah permisalan shalat lima waktu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa.” HR Bukhari dan Muslim. Maka marilah kita berusaha untuk mendirikan shalat lima waktu tepat pada waktunya dengan berjamaah di masjid. Kita lihat suri tauladan dari generasi awal umat ini salaf ash-shalih yang berusaha untuk selalu mendirikan shalat dalam kondisi apapun. Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam, supaya dia bisa pergi ke masjid, dia harus dipapah oleh dua orang sahabat lainnya. Bagaimana dengan sebagian kita? Karena sakit gigi saja atau sakit perut atau bahkan mungkin hanya karena panu, dia tidak pergi ke masjid. Yang lebih memilukan lagi, ada yang tidak shalat berjamaah di masjid karena kesiangan gara-gara menonton film. Astaghfirullah… Ada seorang tabi`in yang bernama Said bin Musayyib rahimahullah. Ketika adzan dikumandangkan, dia selalu sudah berada di dalam masjid. Dan hal ini beliau lakukan selama 40 tahun. Subhanallah… Di antara amal shalih yang utama adalah Puasa, apalagi puasa Ramadhan. Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan keutamaannya, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni “. HR Bukhari dan Muslim. Masih banyak amalan-amalan shalih lainnya, yang kalau kita sebutkan semuanya makalah singkat ini tidak akan cukup. 3. Telaga Musibah Dalam suratAl Baqarah ayat 214: )َأم حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ( (البقرة:214) Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu, mereka ditimpa melapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya,”Kapankah datang-nya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesung-guhnya pertolongan Allah itu amat dekat” Akan tetapi musibah, cobaan dan malapetaka itu akan membawa keberuntungan jika kita bersabar. عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah ada kelelahan, rasa sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang sangat yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” HR.Bukhari dan Muslim. Wah, enak sekali kalau begitu, lebih baik kita mohon agar kita sering ditimpa musibah saja ya? Begitukah? Tentu saja tidak! Mengapa? Karena kita tidak tahu apakah kita mampu bersabar ataukah tidak? Oleh karena itu kita harus selalu berdoa kepada Allah ta’ala agar senantiasa diberi keselamatan dan kesehatan, dan jika ditimpa musibah, kita diberikan kekuatan untuk bersabar. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: « عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ». “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin, seluruh urusannya adalah baik, kalau dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, sehingga kesenangan itu menjadi baik baginya. Kalau ditimpa kesusahan dia bersabar, sehingga kesusahan itu menjadi baik baginya.” HR. Muslim Bolehkah menangis tatkala tertimpa musibah? عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل على إبراهيم وهو يجود بنفسه فجعلت عينا رسول الله تذرفان. فقال عبد الرحمن بن عوف: وأنت يا رسول الله؟ فقال: يا ابن عوف إنها رحمة، ثم أتبعها بأخرى. فقال: إن العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي ربنا وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون) رواه البخاري. Anas bercerita, “Suatu hari Nabi shallallahu’alaihiwasallam masuk (ke rumah) menemui anaknya Ibrahim yang sedang berada dalam sakaratul maut. Maka meneteslah air mata Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Abdurrahman bin Auf (yang berada di situ saat itu) berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. “Wahai Abdurrahman ini adalah kasih sayang” jawab beliau sambil kembali meneteskan air matanya. Kemudian Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Sesungguhnya mata meneteskan air mata dan hati merasakan kesedihan, akan tetapi kita tidak berkata kecuali yang diridhai oleh Allah. Sesungguhnya kami merasa sedih dengan perpisahan ini wahai Ibrahim.” HR Bukhari. Oleh karena itu, selagi kita masih di dunia, marilah kita berlomba-lomba untuk mensucikan dosa-dosa kita di tiga telaga ini sebelum datang hari yang pada saat itu tidak ada kesempatan lagi untuk beramal, yang ada hanyalah penyesalan yang tiada gunanya. Allah ta’ala menceritakan penyesalan penghuni neraka dalam firmanNya: ) وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ( (فاطر37) Artinya: “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabbi, keluarkanlah kami. Niscaya kami akan mengerjakan amalan shalih berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan”. Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau berpikir?! Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS: Faathir 37) Wallahua’lam wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.   @ Selesai diedit ulang pada hari Sabtu tanggal 7 Ramadhan 1427 di Kedungwuluh Purbalingga Jawa Tengah.   [1] Madarij as-Salikin hal. 255-256. [2] Riyadh ash-Shalihin, karya Imam an-Nawawi hal: 37-38, lihat pula: Risalah al-Mustarsyidin karya al-Harits al-Muhasibi (hal: 113). [3] Kitab at-Tauhid (hal. 20). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Orang Junub Tidak Didekati Malaikat

Apakah benar orang junub tidak didekati malaikat? Orang yang junub seperti kita ketahui bersama adalah orang yang dalam keadaan keluar mani baik dalam keadaan sadar atau pun tidak. Begitu pula yang disebut junub adalah pasangan yang melakukan hubungan intim meskipun tidak keluar mani. Sebelumnya pernah diterangkan mengenai tidur dalam keadaan junub, sekarang yang kita bahas adalah benarkah orang yang junub tidak didekati malaikat? Ada hadits yang disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, yaitu hadits dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تَقْرَبُهُمُ المَلاَئِكَةُ : الجُنُبُ وَ السَّكْرَانُ وَ المتَضَمِّخُ بِالخَلُوْقِ “Ada tiga orang yang tidak didekati oleh malaikat: (1) orang yang junub, (2) orang yang mabuk, (3) memakai wewangian al kholuq” (HR. Al Bazzar 164, shahih menurut Syaikh Al Albani. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 1804). Al kholuq yang disebut dalam hadits adalah sejenis minyak wangi yang didominasi warna merah dan kuning. Laki-laki dilarang menggunakan minyak wangi tersebut karena minyak tersebut hanya khusus untuk wanita. Yang dimaksud junub di sini adalah orang yang wajib mandi karena hubungan intim dan keluar air yang memancar saat itu (baca: air mani). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang meninggalkan mandi junub dan itu sudah jadi kebiasaannya, serta mayoritas waktunya dalam keadaan junub. Ini menunjukkan kurangnya agama dan jelek batinnya sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Atsir. Ada hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa beliau tidur dalam keadaan junub tanpa sedikit pun menyentuh air. Hadits yang dimaksudkan oleh Syaikh Al Albani adalah, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنَامُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَمَسَّ مَاءً. Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junub tanpa sedikit pun menyentuh air.” (HR. Abu Daud no. 228. Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini ma’lul, dituduh punya cacat. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if. Sedangkan Syaikh Al Albani sendiri menshahihkan hadits ini). Lebih amannya segera mungkin ketika dalam keadaan junub untuk mandi. Namun masih diberi keringanan untuk berwudhu sebelum tidur dalam keadaan junub hanya untuk memperingan junubnya. Untuk melengkapi bahasan di atas, silakan baca: Hukum Tidur dalam Keadaan Junub. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik dan kepahaman.   Referensi: Nuzhumil Faroid mimma Silsilatil Al Albani min Fawaid, ‘Abdul Lathif bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Robi’, terbitan Maktabah Al Ma’arif, cetakan pertama, tahun 1420 H. Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, terbitan Maktabah Al Ma’arif, cetakan tahun 1415 H, jilid keempat. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Muharram 1435 H (07:19 PM) Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmandi junub

Orang Junub Tidak Didekati Malaikat

Apakah benar orang junub tidak didekati malaikat? Orang yang junub seperti kita ketahui bersama adalah orang yang dalam keadaan keluar mani baik dalam keadaan sadar atau pun tidak. Begitu pula yang disebut junub adalah pasangan yang melakukan hubungan intim meskipun tidak keluar mani. Sebelumnya pernah diterangkan mengenai tidur dalam keadaan junub, sekarang yang kita bahas adalah benarkah orang yang junub tidak didekati malaikat? Ada hadits yang disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, yaitu hadits dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تَقْرَبُهُمُ المَلاَئِكَةُ : الجُنُبُ وَ السَّكْرَانُ وَ المتَضَمِّخُ بِالخَلُوْقِ “Ada tiga orang yang tidak didekati oleh malaikat: (1) orang yang junub, (2) orang yang mabuk, (3) memakai wewangian al kholuq” (HR. Al Bazzar 164, shahih menurut Syaikh Al Albani. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 1804). Al kholuq yang disebut dalam hadits adalah sejenis minyak wangi yang didominasi warna merah dan kuning. Laki-laki dilarang menggunakan minyak wangi tersebut karena minyak tersebut hanya khusus untuk wanita. Yang dimaksud junub di sini adalah orang yang wajib mandi karena hubungan intim dan keluar air yang memancar saat itu (baca: air mani). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang meninggalkan mandi junub dan itu sudah jadi kebiasaannya, serta mayoritas waktunya dalam keadaan junub. Ini menunjukkan kurangnya agama dan jelek batinnya sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Atsir. Ada hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa beliau tidur dalam keadaan junub tanpa sedikit pun menyentuh air. Hadits yang dimaksudkan oleh Syaikh Al Albani adalah, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنَامُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَمَسَّ مَاءً. Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junub tanpa sedikit pun menyentuh air.” (HR. Abu Daud no. 228. Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini ma’lul, dituduh punya cacat. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if. Sedangkan Syaikh Al Albani sendiri menshahihkan hadits ini). Lebih amannya segera mungkin ketika dalam keadaan junub untuk mandi. Namun masih diberi keringanan untuk berwudhu sebelum tidur dalam keadaan junub hanya untuk memperingan junubnya. Untuk melengkapi bahasan di atas, silakan baca: Hukum Tidur dalam Keadaan Junub. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik dan kepahaman.   Referensi: Nuzhumil Faroid mimma Silsilatil Al Albani min Fawaid, ‘Abdul Lathif bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Robi’, terbitan Maktabah Al Ma’arif, cetakan pertama, tahun 1420 H. Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, terbitan Maktabah Al Ma’arif, cetakan tahun 1415 H, jilid keempat. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Muharram 1435 H (07:19 PM) Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmandi junub
Apakah benar orang junub tidak didekati malaikat? Orang yang junub seperti kita ketahui bersama adalah orang yang dalam keadaan keluar mani baik dalam keadaan sadar atau pun tidak. Begitu pula yang disebut junub adalah pasangan yang melakukan hubungan intim meskipun tidak keluar mani. Sebelumnya pernah diterangkan mengenai tidur dalam keadaan junub, sekarang yang kita bahas adalah benarkah orang yang junub tidak didekati malaikat? Ada hadits yang disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, yaitu hadits dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تَقْرَبُهُمُ المَلاَئِكَةُ : الجُنُبُ وَ السَّكْرَانُ وَ المتَضَمِّخُ بِالخَلُوْقِ “Ada tiga orang yang tidak didekati oleh malaikat: (1) orang yang junub, (2) orang yang mabuk, (3) memakai wewangian al kholuq” (HR. Al Bazzar 164, shahih menurut Syaikh Al Albani. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 1804). Al kholuq yang disebut dalam hadits adalah sejenis minyak wangi yang didominasi warna merah dan kuning. Laki-laki dilarang menggunakan minyak wangi tersebut karena minyak tersebut hanya khusus untuk wanita. Yang dimaksud junub di sini adalah orang yang wajib mandi karena hubungan intim dan keluar air yang memancar saat itu (baca: air mani). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang meninggalkan mandi junub dan itu sudah jadi kebiasaannya, serta mayoritas waktunya dalam keadaan junub. Ini menunjukkan kurangnya agama dan jelek batinnya sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Atsir. Ada hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa beliau tidur dalam keadaan junub tanpa sedikit pun menyentuh air. Hadits yang dimaksudkan oleh Syaikh Al Albani adalah, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنَامُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَمَسَّ مَاءً. Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junub tanpa sedikit pun menyentuh air.” (HR. Abu Daud no. 228. Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini ma’lul, dituduh punya cacat. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if. Sedangkan Syaikh Al Albani sendiri menshahihkan hadits ini). Lebih amannya segera mungkin ketika dalam keadaan junub untuk mandi. Namun masih diberi keringanan untuk berwudhu sebelum tidur dalam keadaan junub hanya untuk memperingan junubnya. Untuk melengkapi bahasan di atas, silakan baca: Hukum Tidur dalam Keadaan Junub. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik dan kepahaman.   Referensi: Nuzhumil Faroid mimma Silsilatil Al Albani min Fawaid, ‘Abdul Lathif bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Robi’, terbitan Maktabah Al Ma’arif, cetakan pertama, tahun 1420 H. Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, terbitan Maktabah Al Ma’arif, cetakan tahun 1415 H, jilid keempat. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Muharram 1435 H (07:19 PM) Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmandi junub


Apakah benar orang junub tidak didekati malaikat? Orang yang junub seperti kita ketahui bersama adalah orang yang dalam keadaan keluar mani baik dalam keadaan sadar atau pun tidak. Begitu pula yang disebut junub adalah pasangan yang melakukan hubungan intim meskipun tidak keluar mani. Sebelumnya pernah diterangkan mengenai tidur dalam keadaan junub, sekarang yang kita bahas adalah benarkah orang yang junub tidak didekati malaikat? Ada hadits yang disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, yaitu hadits dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تَقْرَبُهُمُ المَلاَئِكَةُ : الجُنُبُ وَ السَّكْرَانُ وَ المتَضَمِّخُ بِالخَلُوْقِ “Ada tiga orang yang tidak didekati oleh malaikat: (1) orang yang junub, (2) orang yang mabuk, (3) memakai wewangian al kholuq” (HR. Al Bazzar 164, shahih menurut Syaikh Al Albani. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 1804). Al kholuq yang disebut dalam hadits adalah sejenis minyak wangi yang didominasi warna merah dan kuning. Laki-laki dilarang menggunakan minyak wangi tersebut karena minyak tersebut hanya khusus untuk wanita. Yang dimaksud junub di sini adalah orang yang wajib mandi karena hubungan intim dan keluar air yang memancar saat itu (baca: air mani). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang meninggalkan mandi junub dan itu sudah jadi kebiasaannya, serta mayoritas waktunya dalam keadaan junub. Ini menunjukkan kurangnya agama dan jelek batinnya sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Atsir. Ada hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa beliau tidur dalam keadaan junub tanpa sedikit pun menyentuh air. Hadits yang dimaksudkan oleh Syaikh Al Albani adalah, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنَامُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَمَسَّ مَاءً. Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junub tanpa sedikit pun menyentuh air.” (HR. Abu Daud no. 228. Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini ma’lul, dituduh punya cacat. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if. Sedangkan Syaikh Al Albani sendiri menshahihkan hadits ini). Lebih amannya segera mungkin ketika dalam keadaan junub untuk mandi. Namun masih diberi keringanan untuk berwudhu sebelum tidur dalam keadaan junub hanya untuk memperingan junubnya. Untuk melengkapi bahasan di atas, silakan baca: Hukum Tidur dalam Keadaan Junub. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik dan kepahaman.   Referensi: Nuzhumil Faroid mimma Silsilatil Al Albani min Fawaid, ‘Abdul Lathif bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Robi’, terbitan Maktabah Al Ma’arif, cetakan pertama, tahun 1420 H. Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, terbitan Maktabah Al Ma’arif, cetakan tahun 1415 H, jilid keempat. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Muharram 1435 H (07:19 PM) Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmandi junub

Kematian yang Tidak Bisa Dihindari

Kematian tak bisa dihindari, tidak mungkin ada yang bisa lari darinya. Namun seribu sayang, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya. Kata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Aku tidaklah pernah melihat suatu yang yakin kecuali keyakinan akan kematian. Namun sangat disayangkan, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.” (Tafsir Al Qurthubi) Ingatlah … Tak mungkin seorang pun lari dari kematian … قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8). Harus diyakini … Kematian tak bisa dihindari … أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78). Semua pun tahu … Tidak ada manusia yang kekal abadi … وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al Anbiya’: 34). Yang pasti … Allah yang kekal abadi … كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (27) “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27). Lalu … Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian … كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan ayat-ayat di atas adalah setiap orang pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seseorang yang bisa selamat dari kematian, baik ia berusaha lari darinya ataukah tidak. Karena setiap orang sudah punya ajal yang pasti.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 163). Jadilah mukmin yang cerdas … عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ». Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani). Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Muharram 1435 H (09:48 AM) Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagskematian mati meninggal dunia wafat

Kematian yang Tidak Bisa Dihindari

Kematian tak bisa dihindari, tidak mungkin ada yang bisa lari darinya. Namun seribu sayang, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya. Kata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Aku tidaklah pernah melihat suatu yang yakin kecuali keyakinan akan kematian. Namun sangat disayangkan, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.” (Tafsir Al Qurthubi) Ingatlah … Tak mungkin seorang pun lari dari kematian … قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8). Harus diyakini … Kematian tak bisa dihindari … أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78). Semua pun tahu … Tidak ada manusia yang kekal abadi … وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al Anbiya’: 34). Yang pasti … Allah yang kekal abadi … كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (27) “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27). Lalu … Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian … كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan ayat-ayat di atas adalah setiap orang pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seseorang yang bisa selamat dari kematian, baik ia berusaha lari darinya ataukah tidak. Karena setiap orang sudah punya ajal yang pasti.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 163). Jadilah mukmin yang cerdas … عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ». Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani). Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Muharram 1435 H (09:48 AM) Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagskematian mati meninggal dunia wafat
Kematian tak bisa dihindari, tidak mungkin ada yang bisa lari darinya. Namun seribu sayang, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya. Kata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Aku tidaklah pernah melihat suatu yang yakin kecuali keyakinan akan kematian. Namun sangat disayangkan, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.” (Tafsir Al Qurthubi) Ingatlah … Tak mungkin seorang pun lari dari kematian … قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8). Harus diyakini … Kematian tak bisa dihindari … أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78). Semua pun tahu … Tidak ada manusia yang kekal abadi … وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al Anbiya’: 34). Yang pasti … Allah yang kekal abadi … كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (27) “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27). Lalu … Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian … كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan ayat-ayat di atas adalah setiap orang pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seseorang yang bisa selamat dari kematian, baik ia berusaha lari darinya ataukah tidak. Karena setiap orang sudah punya ajal yang pasti.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 163). Jadilah mukmin yang cerdas … عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ». Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani). Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Muharram 1435 H (09:48 AM) Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagskematian mati meninggal dunia wafat


Kematian tak bisa dihindari, tidak mungkin ada yang bisa lari darinya. Namun seribu sayang, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya. Kata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Aku tidaklah pernah melihat suatu yang yakin kecuali keyakinan akan kematian. Namun sangat disayangkan, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.” (Tafsir Al Qurthubi) Ingatlah … Tak mungkin seorang pun lari dari kematian … قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8). Harus diyakini … Kematian tak bisa dihindari … أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78). Semua pun tahu … Tidak ada manusia yang kekal abadi … وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al Anbiya’: 34). Yang pasti … Allah yang kekal abadi … كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (27) “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27). Lalu … Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian … كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan ayat-ayat di atas adalah setiap orang pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seseorang yang bisa selamat dari kematian, baik ia berusaha lari darinya ataukah tidak. Karena setiap orang sudah punya ajal yang pasti.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 163). Jadilah mukmin yang cerdas … عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ». Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani). Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Muharram 1435 H (09:48 AM) Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagskematian mati meninggal dunia wafat

Jaminan Allah untuk Ibu Hamil

Jaminan Allah untuk Ibu Hamil مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ. مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ . ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ Dari apakah Allah menciptakan manusia?dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. kemudian Dia memudahkan jalannya. (QS. Abasa: 18 – 20) Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan, ثم يسر عليه خروجه من بطن أمه “Kemudian Allah mudahkan jalannya ketika keluar dari perut ibunya.” (Ibn Katsir, 8/322). Selain Ibnu Abbas, diantara ulama yang menyampaikan tafsir di atas adalah Ikrimah, ad-Dhahak, Abu Sholeh, Qatadah, as-Sudi, dan Ibnu Jarir at-Thabari rahimahumullah. Jika para ibu & suami yakin dengan janji ini, kapan mereka akan memilih cesar?

Jaminan Allah untuk Ibu Hamil

Jaminan Allah untuk Ibu Hamil مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ. مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ . ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ Dari apakah Allah menciptakan manusia?dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. kemudian Dia memudahkan jalannya. (QS. Abasa: 18 – 20) Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan, ثم يسر عليه خروجه من بطن أمه “Kemudian Allah mudahkan jalannya ketika keluar dari perut ibunya.” (Ibn Katsir, 8/322). Selain Ibnu Abbas, diantara ulama yang menyampaikan tafsir di atas adalah Ikrimah, ad-Dhahak, Abu Sholeh, Qatadah, as-Sudi, dan Ibnu Jarir at-Thabari rahimahumullah. Jika para ibu & suami yakin dengan janji ini, kapan mereka akan memilih cesar?
Jaminan Allah untuk Ibu Hamil مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ. مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ . ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ Dari apakah Allah menciptakan manusia?dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. kemudian Dia memudahkan jalannya. (QS. Abasa: 18 – 20) Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan, ثم يسر عليه خروجه من بطن أمه “Kemudian Allah mudahkan jalannya ketika keluar dari perut ibunya.” (Ibn Katsir, 8/322). Selain Ibnu Abbas, diantara ulama yang menyampaikan tafsir di atas adalah Ikrimah, ad-Dhahak, Abu Sholeh, Qatadah, as-Sudi, dan Ibnu Jarir at-Thabari rahimahumullah. Jika para ibu & suami yakin dengan janji ini, kapan mereka akan memilih cesar?


Jaminan Allah untuk Ibu Hamil مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ. مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ . ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ Dari apakah Allah menciptakan manusia?dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. kemudian Dia memudahkan jalannya. (QS. Abasa: 18 – 20) Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan, ثم يسر عليه خروجه من بطن أمه “Kemudian Allah mudahkan jalannya ketika keluar dari perut ibunya.” (Ibn Katsir, 8/322). Selain Ibnu Abbas, diantara ulama yang menyampaikan tafsir di atas adalah Ikrimah, ad-Dhahak, Abu Sholeh, Qatadah, as-Sudi, dan Ibnu Jarir at-Thabari rahimahumullah. Jika para ibu & suami yakin dengan janji ini, kapan mereka akan memilih cesar?

Ayat ini Membuat Seorang Perampok Bertaubat

Ayat ini Membuat Seorang Perampok Bertaubat Al-Baihaqi dalam syu’ab al-Iman membawakan riwayat bahwa dulu di usia mudanya, Fudhail bin Iyadh adalah seorang perampok yang suka menghadang di daerah antara Abiwarda dan Sarkhos. Ada satu peristiwa yang membuat beliau bertaubat, Kala itu, Fudhail sedang jatuh cinta dengan seorang gadis. Diapun memanjat tembok untuk menemui wanita tersebut. Ketika dia berada di atas tembok, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca ayat: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ Bukankah telah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah (QS. Al-Hadid : 16). Begitu dia mendengar lantunan ayat ini, diapun langsung bergumam: “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk tunduk hati mereka mengingat Allah).” Fudhail pun kembali (tidak melanjutkan misinya), dan beristirahat di sebuah bangunan rusak. Tiba-tiba datang sekelompok rombongan yang sedang lewat. Sebagian anggota rombongan itu berkata: “Kita jalan terus,” sementara yang lain berkata: “Kita istirahat saja sampai pagi, karena si Fudhail berada di arah jalan kita ini, dan dia akan menghadang dan merampok kita.” Mendengar hal ini, Fudhail-pun merenung: ‘Aku sedang melakukan kemaksiatan di malam hari (mengintip sang wanita) sementara kaum muslimin di sini ketakutan karenaku (khawatir Fudhail akan menghadang mereka), dan menurutku tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.” (Siyar A’laam An-Nubalaa 8/421 dan Tarikh Damaskus Ibnu Asakir, n. 52201) Setelah bertaubat dan belajar islam, beliau menjadi ulama besar. Ad-Dzahabi berkomentar tentang beliau, الإمام القدوة الثبت شيخ الإسلام “Seorang imam, panutan, kuat hadisnya, syaikhul islam.” Sementara al-Hafidz Ibnu Hajar berkomentar tentang beliau, ثقة عابد امام “Tsiqah (terpercaya), ahli ibadah, ulama besar.”

Ayat ini Membuat Seorang Perampok Bertaubat

Ayat ini Membuat Seorang Perampok Bertaubat Al-Baihaqi dalam syu’ab al-Iman membawakan riwayat bahwa dulu di usia mudanya, Fudhail bin Iyadh adalah seorang perampok yang suka menghadang di daerah antara Abiwarda dan Sarkhos. Ada satu peristiwa yang membuat beliau bertaubat, Kala itu, Fudhail sedang jatuh cinta dengan seorang gadis. Diapun memanjat tembok untuk menemui wanita tersebut. Ketika dia berada di atas tembok, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca ayat: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ Bukankah telah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah (QS. Al-Hadid : 16). Begitu dia mendengar lantunan ayat ini, diapun langsung bergumam: “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk tunduk hati mereka mengingat Allah).” Fudhail pun kembali (tidak melanjutkan misinya), dan beristirahat di sebuah bangunan rusak. Tiba-tiba datang sekelompok rombongan yang sedang lewat. Sebagian anggota rombongan itu berkata: “Kita jalan terus,” sementara yang lain berkata: “Kita istirahat saja sampai pagi, karena si Fudhail berada di arah jalan kita ini, dan dia akan menghadang dan merampok kita.” Mendengar hal ini, Fudhail-pun merenung: ‘Aku sedang melakukan kemaksiatan di malam hari (mengintip sang wanita) sementara kaum muslimin di sini ketakutan karenaku (khawatir Fudhail akan menghadang mereka), dan menurutku tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.” (Siyar A’laam An-Nubalaa 8/421 dan Tarikh Damaskus Ibnu Asakir, n. 52201) Setelah bertaubat dan belajar islam, beliau menjadi ulama besar. Ad-Dzahabi berkomentar tentang beliau, الإمام القدوة الثبت شيخ الإسلام “Seorang imam, panutan, kuat hadisnya, syaikhul islam.” Sementara al-Hafidz Ibnu Hajar berkomentar tentang beliau, ثقة عابد امام “Tsiqah (terpercaya), ahli ibadah, ulama besar.”
Ayat ini Membuat Seorang Perampok Bertaubat Al-Baihaqi dalam syu’ab al-Iman membawakan riwayat bahwa dulu di usia mudanya, Fudhail bin Iyadh adalah seorang perampok yang suka menghadang di daerah antara Abiwarda dan Sarkhos. Ada satu peristiwa yang membuat beliau bertaubat, Kala itu, Fudhail sedang jatuh cinta dengan seorang gadis. Diapun memanjat tembok untuk menemui wanita tersebut. Ketika dia berada di atas tembok, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca ayat: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ Bukankah telah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah (QS. Al-Hadid : 16). Begitu dia mendengar lantunan ayat ini, diapun langsung bergumam: “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk tunduk hati mereka mengingat Allah).” Fudhail pun kembali (tidak melanjutkan misinya), dan beristirahat di sebuah bangunan rusak. Tiba-tiba datang sekelompok rombongan yang sedang lewat. Sebagian anggota rombongan itu berkata: “Kita jalan terus,” sementara yang lain berkata: “Kita istirahat saja sampai pagi, karena si Fudhail berada di arah jalan kita ini, dan dia akan menghadang dan merampok kita.” Mendengar hal ini, Fudhail-pun merenung: ‘Aku sedang melakukan kemaksiatan di malam hari (mengintip sang wanita) sementara kaum muslimin di sini ketakutan karenaku (khawatir Fudhail akan menghadang mereka), dan menurutku tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.” (Siyar A’laam An-Nubalaa 8/421 dan Tarikh Damaskus Ibnu Asakir, n. 52201) Setelah bertaubat dan belajar islam, beliau menjadi ulama besar. Ad-Dzahabi berkomentar tentang beliau, الإمام القدوة الثبت شيخ الإسلام “Seorang imam, panutan, kuat hadisnya, syaikhul islam.” Sementara al-Hafidz Ibnu Hajar berkomentar tentang beliau, ثقة عابد امام “Tsiqah (terpercaya), ahli ibadah, ulama besar.”


Ayat ini Membuat Seorang Perampok Bertaubat Al-Baihaqi dalam syu’ab al-Iman membawakan riwayat bahwa dulu di usia mudanya, Fudhail bin Iyadh adalah seorang perampok yang suka menghadang di daerah antara Abiwarda dan Sarkhos. Ada satu peristiwa yang membuat beliau bertaubat, Kala itu, Fudhail sedang jatuh cinta dengan seorang gadis. Diapun memanjat tembok untuk menemui wanita tersebut. Ketika dia berada di atas tembok, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca ayat: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ Bukankah telah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah (QS. Al-Hadid : 16). Begitu dia mendengar lantunan ayat ini, diapun langsung bergumam: “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk tunduk hati mereka mengingat Allah).” Fudhail pun kembali (tidak melanjutkan misinya), dan beristirahat di sebuah bangunan rusak. Tiba-tiba datang sekelompok rombongan yang sedang lewat. Sebagian anggota rombongan itu berkata: “Kita jalan terus,” sementara yang lain berkata: “Kita istirahat saja sampai pagi, karena si Fudhail berada di arah jalan kita ini, dan dia akan menghadang dan merampok kita.” Mendengar hal ini, Fudhail-pun merenung: ‘Aku sedang melakukan kemaksiatan di malam hari (mengintip sang wanita) sementara kaum muslimin di sini ketakutan karenaku (khawatir Fudhail akan menghadang mereka), dan menurutku tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.” (Siyar A’laam An-Nubalaa 8/421 dan Tarikh Damaskus Ibnu Asakir, n. 52201) Setelah bertaubat dan belajar islam, beliau menjadi ulama besar. Ad-Dzahabi berkomentar tentang beliau, الإمام القدوة الثبت شيخ الإسلام “Seorang imam, panutan, kuat hadisnya, syaikhul islam.” Sementara al-Hafidz Ibnu Hajar berkomentar tentang beliau, ثقة عابد امام “Tsiqah (terpercaya), ahli ibadah, ulama besar.”

Sekarang Saatnya!

Sekarang Saatnya! Dikisahkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Imam Fudhail bin Iyadh – ulama besar di masa Tabi’ Tabiin – (w. 187 H) bernah bertemu dengan seorang yang sudah tua. “Berapa usia anda?”, tanya Fudhail. “60 tahun.”, Jawab orang itu. “Anda selama 60 tahun berjalan menuju Tuhan anda, dan sebentar lagi anda akan sampai.” Komentar Fudhail “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un.” Orang itu keheranan. “Anda paham makna kalimat itu? Anda paham tafsirnya?” tanya Fudhail. “Tolong jelaskan tafsirnya?” Orang itu balik tanya. “Anda menyatakan: innaa lillaah (kita milik Allah), artinya kita adalah hamba Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Siapa yang yakin bahwa dia hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan siapa yang meyakini hal ini, dia harus sadar bahwa dia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, dia harus menyiapkan jawabannya.” Jelas Fudhail. “Lalu bagaimana jalan keluarnya?” tanya orang itu. “Caranya mudah.” Tegas Fudhail. Kemudia Imam Fudhail menyebutkan sebuah teori bertaubat, yang layak dicatat dengan tinta emas, تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ Berbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang. (Hilyah Al Awliya’, 8/113). Tidak ada satupun makhluk yang tahu berapa sisa usianya. Kita tidak tahu kapan maut akan menjemput. Karena itu, apa yang sedang kita alami, itulah sisa usia kita yang sejatinya.

Sekarang Saatnya!

Sekarang Saatnya! Dikisahkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Imam Fudhail bin Iyadh – ulama besar di masa Tabi’ Tabiin – (w. 187 H) bernah bertemu dengan seorang yang sudah tua. “Berapa usia anda?”, tanya Fudhail. “60 tahun.”, Jawab orang itu. “Anda selama 60 tahun berjalan menuju Tuhan anda, dan sebentar lagi anda akan sampai.” Komentar Fudhail “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un.” Orang itu keheranan. “Anda paham makna kalimat itu? Anda paham tafsirnya?” tanya Fudhail. “Tolong jelaskan tafsirnya?” Orang itu balik tanya. “Anda menyatakan: innaa lillaah (kita milik Allah), artinya kita adalah hamba Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Siapa yang yakin bahwa dia hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan siapa yang meyakini hal ini, dia harus sadar bahwa dia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, dia harus menyiapkan jawabannya.” Jelas Fudhail. “Lalu bagaimana jalan keluarnya?” tanya orang itu. “Caranya mudah.” Tegas Fudhail. Kemudia Imam Fudhail menyebutkan sebuah teori bertaubat, yang layak dicatat dengan tinta emas, تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ Berbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang. (Hilyah Al Awliya’, 8/113). Tidak ada satupun makhluk yang tahu berapa sisa usianya. Kita tidak tahu kapan maut akan menjemput. Karena itu, apa yang sedang kita alami, itulah sisa usia kita yang sejatinya.
Sekarang Saatnya! Dikisahkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Imam Fudhail bin Iyadh – ulama besar di masa Tabi’ Tabiin – (w. 187 H) bernah bertemu dengan seorang yang sudah tua. “Berapa usia anda?”, tanya Fudhail. “60 tahun.”, Jawab orang itu. “Anda selama 60 tahun berjalan menuju Tuhan anda, dan sebentar lagi anda akan sampai.” Komentar Fudhail “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un.” Orang itu keheranan. “Anda paham makna kalimat itu? Anda paham tafsirnya?” tanya Fudhail. “Tolong jelaskan tafsirnya?” Orang itu balik tanya. “Anda menyatakan: innaa lillaah (kita milik Allah), artinya kita adalah hamba Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Siapa yang yakin bahwa dia hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan siapa yang meyakini hal ini, dia harus sadar bahwa dia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, dia harus menyiapkan jawabannya.” Jelas Fudhail. “Lalu bagaimana jalan keluarnya?” tanya orang itu. “Caranya mudah.” Tegas Fudhail. Kemudia Imam Fudhail menyebutkan sebuah teori bertaubat, yang layak dicatat dengan tinta emas, تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ Berbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang. (Hilyah Al Awliya’, 8/113). Tidak ada satupun makhluk yang tahu berapa sisa usianya. Kita tidak tahu kapan maut akan menjemput. Karena itu, apa yang sedang kita alami, itulah sisa usia kita yang sejatinya.


Sekarang Saatnya! Dikisahkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Imam Fudhail bin Iyadh – ulama besar di masa Tabi’ Tabiin – (w. 187 H) bernah bertemu dengan seorang yang sudah tua. “Berapa usia anda?”, tanya Fudhail. “60 tahun.”, Jawab orang itu. “Anda selama 60 tahun berjalan menuju Tuhan anda, dan sebentar lagi anda akan sampai.” Komentar Fudhail “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un.” Orang itu keheranan. “Anda paham makna kalimat itu? Anda paham tafsirnya?” tanya Fudhail. “Tolong jelaskan tafsirnya?” Orang itu balik tanya. “Anda menyatakan: innaa lillaah (kita milik Allah), artinya kita adalah hamba Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Siapa yang yakin bahwa dia hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan siapa yang meyakini hal ini, dia harus sadar bahwa dia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, dia harus menyiapkan jawabannya.” Jelas Fudhail. “Lalu bagaimana jalan keluarnya?” tanya orang itu. “Caranya mudah.” Tegas Fudhail. Kemudia Imam Fudhail menyebutkan sebuah teori bertaubat, yang layak dicatat dengan tinta emas, تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ Berbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang. (Hilyah Al Awliya’, 8/113). Tidak ada satupun makhluk yang tahu berapa sisa usianya. Kita tidak tahu kapan maut akan menjemput. Karena itu, apa yang sedang kita alami, itulah sisa usia kita yang sejatinya.

Ucapan yang Paling Dibenci Allah

Ucapan yang Paling Dibenci Allah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.” ”Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 2598). Dibenci karena sikap ini termasuk bentuk kesombongan dan menyakiti perasaan orang yang mengajak dirinya untuk berbuat baik. Nabi Nuh ’alaihi salam, mengadu kepada Allah disebabkan sikap kaumnya semacam ini. قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا ( ) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا ( ) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (QS. Nuh: 5 – 7)

Ucapan yang Paling Dibenci Allah

Ucapan yang Paling Dibenci Allah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.” ”Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 2598). Dibenci karena sikap ini termasuk bentuk kesombongan dan menyakiti perasaan orang yang mengajak dirinya untuk berbuat baik. Nabi Nuh ’alaihi salam, mengadu kepada Allah disebabkan sikap kaumnya semacam ini. قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا ( ) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا ( ) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (QS. Nuh: 5 – 7)
Ucapan yang Paling Dibenci Allah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.” ”Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 2598). Dibenci karena sikap ini termasuk bentuk kesombongan dan menyakiti perasaan orang yang mengajak dirinya untuk berbuat baik. Nabi Nuh ’alaihi salam, mengadu kepada Allah disebabkan sikap kaumnya semacam ini. قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا ( ) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا ( ) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (QS. Nuh: 5 – 7)


Ucapan yang Paling Dibenci Allah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.” ”Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 2598). Dibenci karena sikap ini termasuk bentuk kesombongan dan menyakiti perasaan orang yang mengajak dirinya untuk berbuat baik. Nabi Nuh ’alaihi salam, mengadu kepada Allah disebabkan sikap kaumnya semacam ini. قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا ( ) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا ( ) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (QS. Nuh: 5 – 7)

Tidak Ada Obat yang Haram

Tidak Ada Obat yang Haram Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ، وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya. Dan Allah menetapkan untuk setiap penyakit ada obatnya. Karena itu, carilah obat itu dan jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud 3874 dan dinilai dhaif oleh sebagian ulama). Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, إن الله لم يَجعلْ شفاءَكم فيما حَرم عليكم Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan obat untuk penyakit kalian dalam benda yang diharamkan untuk kalian. (HR. Bukhari secara Muallaq, 7/110). Suatu kedzaliman ketika Allah menurunkan penyakit sebagai ujian bagi manusia, namun Allah letakkan obatnya dalam benda yang haram. Sehingga untuk bisa mendapatkan kesembuhan, dia harus melakukan dosa terlebih dahulu.

Tidak Ada Obat yang Haram

Tidak Ada Obat yang Haram Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ، وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya. Dan Allah menetapkan untuk setiap penyakit ada obatnya. Karena itu, carilah obat itu dan jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud 3874 dan dinilai dhaif oleh sebagian ulama). Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, إن الله لم يَجعلْ شفاءَكم فيما حَرم عليكم Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan obat untuk penyakit kalian dalam benda yang diharamkan untuk kalian. (HR. Bukhari secara Muallaq, 7/110). Suatu kedzaliman ketika Allah menurunkan penyakit sebagai ujian bagi manusia, namun Allah letakkan obatnya dalam benda yang haram. Sehingga untuk bisa mendapatkan kesembuhan, dia harus melakukan dosa terlebih dahulu.
Tidak Ada Obat yang Haram Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ، وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya. Dan Allah menetapkan untuk setiap penyakit ada obatnya. Karena itu, carilah obat itu dan jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud 3874 dan dinilai dhaif oleh sebagian ulama). Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, إن الله لم يَجعلْ شفاءَكم فيما حَرم عليكم Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan obat untuk penyakit kalian dalam benda yang diharamkan untuk kalian. (HR. Bukhari secara Muallaq, 7/110). Suatu kedzaliman ketika Allah menurunkan penyakit sebagai ujian bagi manusia, namun Allah letakkan obatnya dalam benda yang haram. Sehingga untuk bisa mendapatkan kesembuhan, dia harus melakukan dosa terlebih dahulu.


Tidak Ada Obat yang Haram Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ، وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya. Dan Allah menetapkan untuk setiap penyakit ada obatnya. Karena itu, carilah obat itu dan jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud 3874 dan dinilai dhaif oleh sebagian ulama). Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, إن الله لم يَجعلْ شفاءَكم فيما حَرم عليكم Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan obat untuk penyakit kalian dalam benda yang diharamkan untuk kalian. (HR. Bukhari secara Muallaq, 7/110). Suatu kedzaliman ketika Allah menurunkan penyakit sebagai ujian bagi manusia, namun Allah letakkan obatnya dalam benda yang haram. Sehingga untuk bisa mendapatkan kesembuhan, dia harus melakukan dosa terlebih dahulu.

Bayangkan Yang Paling Nikmat, Surga Lebih Nikmat Dari Itu

Bayangkan Yang Paling Nikmat, Surga Lebih Nikmat Dari Itu Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Aku telah siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholeh, nikamat surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah dilihat telinga, dan belum pernah terbayang dalam hati manusia.” (HR. Bukhari 3244, Muslim 2824, dan yang lainnya). Ketika menyampaikan hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang disembunyikan untuk mereka, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah: 17)

Bayangkan Yang Paling Nikmat, Surga Lebih Nikmat Dari Itu

Bayangkan Yang Paling Nikmat, Surga Lebih Nikmat Dari Itu Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Aku telah siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholeh, nikamat surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah dilihat telinga, dan belum pernah terbayang dalam hati manusia.” (HR. Bukhari 3244, Muslim 2824, dan yang lainnya). Ketika menyampaikan hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang disembunyikan untuk mereka, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah: 17)
Bayangkan Yang Paling Nikmat, Surga Lebih Nikmat Dari Itu Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Aku telah siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholeh, nikamat surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah dilihat telinga, dan belum pernah terbayang dalam hati manusia.” (HR. Bukhari 3244, Muslim 2824, dan yang lainnya). Ketika menyampaikan hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang disembunyikan untuk mereka, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah: 17)


Bayangkan Yang Paling Nikmat, Surga Lebih Nikmat Dari Itu Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Aku telah siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholeh, nikamat surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah dilihat telinga, dan belum pernah terbayang dalam hati manusia.” (HR. Bukhari 3244, Muslim 2824, dan yang lainnya). Ketika menyampaikan hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang disembunyikan untuk mereka, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah: 17)

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 7) – Al-Qur’an Kaum Syi’ah Kemungkinan Pakai Bahasa Iran

Diantara hal yang mutawatir di kalangan syi’ah keyakinan mereka bahwa al-Qur’an yang ada sekarang telah mengalami perubahan dan distorsi serta penyimpangan. Bahkan hal ini merupakan aqidah yang sangat mendasar bagi kaum syi’ah.Bahkan aqidah mereka ini merupakan aqidah spesial dan istimewa yang hanya diyakini oleh mereka. Banyak kelompok-kelompok sesat seperti Al-Khowarij, Al-Mu’tazilah, Al-Jahmiyah, Al-Qodariyah, Al-Jabriyah, dan lain-lain, akan tetapi seluruh kelompok sesat tersebut meyakini bahwa al-Qur’an masih utuh dan masih otentik terjaga oleh Allah. Tidak ada satu firqoh sesatpun dalam dunia Islam yang berani menyatakan bahwa Al-Qur’an telah berubah kecuali Syi’ah. Karenanya tatkala Ibnu Hazm berdialog dengan kaum Nashooro dan menjelaskan bahwasanya Allah menjaga Al-Qur’an dari segala bentuk penyimpangan, berbeda dengan kitab taurot dan injil yang berisi penyimpangan, maka sebagian Nashooro berkata kepadanya, “Bukankah sebagian kaum muslimin (yaitu kaum Syi’ah Roofidhoh) menyatakan bahwa Al-Qur’an juga menyimpang, dan telah dirubah oleh para sahabat??”. Maka Ibnu Hazm membantah mereka dengan berkata : “Kaum Roofidhoh bukanlah dari kaum muslimin…!!!” (lihat Al-Fishol fi al-Milal wa al-Ahwaa’ wa an-Nihal 2/213)Sangatlah jelas dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang meyakini ada satu huruf saja dalam al-Quran telah diselewangkan maka ia telah kafir kepada firman Allahإِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩)“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” (QS Al-Hijr : 9)Maka bagaimana lagi dengan kaum yang menyatakan berbagai surat telah menyimpang dalam Al-Qur’an??!!, lantas bagaimana lagi dengan kaum yang meyakini bahwa Al-Qur’an mereka 3 kali lebih tebal daripada Al-Qur’an kita, karena Al-Qur’an kita telah banyak dihilangkan surat-suratnya dan diselewengkan??Aqidah mereka tentang tidak otentiknya al-Qur’an dibangun di atas keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an yang lengkap hanya ada pada para imam. Itulah al-Qur’an yang lengkap dan dijaga oleh Allah. Adapun al-Qur’an yang ada di para sahabat selain para imam, maka telah terjadi perubahan dan pengurangan.Al-Kulaini berkata dalam kitab Ushuul Al-Kaafi :باب أنه لم يجمع القرآن كله إلا الأئمةُ وأنهم يعلمون علمه كله“Bab : Bahwasanya tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur’an secara keseluruhan kecuali para imam, dan bahwasanya mereka mengetahui seluruh ilmu Al-Qur’an” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Lalu Al-Kulaini membawakan riwayat-riwayat yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya:Abu Ja’far ‘alaihis salaam berkata ;“Tidak seorangpun yang menyatakan telah mengumpulkan Al-Qur’an seluruhnya –sebagaimana diturunkan- kecuali pendusta. Tidak ada yang mengumpulkannya dan menghafalkannya sebagaimana diturunkan kecuali Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam dan para imam setelahnya” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Dari landasan ini mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang berada pada ahlus sunnah adalah al-Qur’an yang tidak lengkap !!!Bahkan mereka mengaku bahwa al-Qur’an yang ada pada imam mereka tiga kali lebih tebal daripada al-Qur’an yang ada pada ahlus sunnah !! Diantara akibat buruk dari keyakinan tidak otentiknya Al-Quran adalah :Pertama : Mengharuskan timbul keraguan pada setiap ayat yang kita baca dalam al-Qur’an versi ahlus sunnah (umat Islam).Hal ini dikarenakan tidak ada barometer yang jelas untuk mengetahui dan membedakan antara ayat yang sudah berubah dengan ayat yang masih asli.Hal ini diakui oleh ulama Syi’ah sendiri. Berkata Muhammad bin Murtadlaa Al-Kaasyi – seseorang yang dianggap ‘alim dan ahli hadits dari kalangan Syi’ah – :لم يبق لنا اعتماد على شيء من القرآن. إذ على هذا يحتمل كل آية منه أن يكون محرفاً ومغيراً ويكون على خلاف ما أنزل الله فلم يبق لنا في القرآن حجة أصلا فتنتفي فائدته وفائدة الأمر باتباعه والوصية بالتمسك به“Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang suatu ayat dari Al-Qur’an. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Al-Qur’an satu ayatpun sebagai hujjah. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengannya ….” [Tafsir Ash-Shaafiy 1/33]Kedua : Meragukan setiap ayat dalam al-Qur’an merupakan puncak kekufuran. Karena al-Qur’an tidak akan bisa dijadikan sumber hukum untuk mengharamkan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah dalam al-Qur’an !!.–         Jika kita menyatakan bahwa kaum Nasrani dan Yahudi dikafirkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, maka kaum Liberal akan mudah membantah dengan berkata, “Mungkin saja ayat-ayat yang menunjukkan pengkafiran Ahlul Kitab termasuk ayat-ayat yang mengalami perubahan dan distorsi”??–         Jika kita menyatakan jilbab itu wajib, maka para wanita yang enggan memakai jilbab akan dengan mudah menjawab, “Ayat tentang jilbab mungkin telah mengalami perubahan…”–         Dan seterusnya…Ketiga : Hilanglah sumber hukum Islam yang utama yaitu Al-Qur’an, karena berdasarkan aqidah Syi’ah, penyimpangan al-Qur’an dan kekurangan Al-Qur’an selamanya tidak akan ketahuan dan tidak akan bisa diperbaiki kecuali jika diadakan perbandingan dengan Al-Qur’an versi ahlus sunnah dengan al-Qur’an yang lengkap versi Syi’ah.Yang jadi permasalahan bahwasanya al-Qur’an versi Syi’ah tersebut pada hakekatnya tidak pernah ada di alam nyata!!!. Syi’ah meyakini bahwa al-Qur’an tersebut berada bersama para imam, dan para imam mereka seluruhnya sudah meninggal, hanya tersisa Imam Mahdi yang sedang bersembunyi dan hanya muncul dan keluar dari persembunyiannya menjelang hari kiamat.Jika perkaranya demikian maka Al-Qur’an yang kita baca selamanya tidak akan bisa menjadi sumber hukum yang otentik dan terjamin kevalidannya !!!Keempat : Berdasarkan keyakinan kaum Syi’ah tentang Al-Qur’an maka hilanglah kesucian al-Qur’an, dari berbagai sisi, diantaranya :–         Al-Qur’an ternyata bisa mengalami perubahan dan campur tangan manusia. Al-Qur’an bukanlah lagi kitab suci, tapi kitab yang tercampur dengan tangan-tangan manusia–         Akan terdapat banyak kontradiksi dalam Al-Qur’an karena adanya perubahan dan distorsi. Maka apa fungsi firman Allahأَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS An-Nisaa’ : 82)Jika al-Qur’an terkena campur tangan manusia maka akan banyak didapatkan kontradiksi sebagaimana banyaknya kontradiksi yang ditemukan pada kitab suci kaum Kristen !!!–         Hilang fungsi dari firman Allahوَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlahsatu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS Al-Baqoroh : 23)Ayat di atas tidak ada fungsinya lagi karena kebenaran dan keotentikan al-Qur’an telah diliputi dengan keraguan !!!.–         Al-Qur’an tidak bisa lagi menjadi tempat kembali jika terjadi perselisihanPadahal Allah berfirman :فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ“Jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS An- Nisaa : 59)وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (QS Asy-Syuroo : 10)Kedua ayat ini tidak mungkin diterapkan pada al-Qur’an versi Ahlus Sunnah yang mengalami perubahan dan kekurangan. Kedua ayat ini menurut aqidah Syi’ah hanya bisa diterapkan pada Al-Qur’an milik syi’ah yang tiga kali lebih tebal dan terjaga oleh Allah. Jika perkaranya demikian maka kapan baru bisa diterapkan??, harus menunggu menjelang hari kiamat tatkala sang Imam Mahdi Syi’ah keluar??!!. Yang menarik dari pernyataan kaum syi’ah tentang al-Qur’an mereka adalah riwayat dari Abu Abdillah (sebagaimana disebutkan oleh Al-Kulaini dalam Ushuul Al-Kaafi)Lalu Abu Abdillah terdiam sebentar kemudian berkata : “Dan sesungguhnya di sisi kami ada sebuah mushaf Fathimah ‘alaihas salaam. Tahukah mereka apa itu “Mushaf Fathimah”?. Aku (Abu Muhammad) berkata : “Apa itu Mushaf Fathimah?”. Abu Abdillah berkata : “Sebuah mushaf yang padanya ada seperti al-Qur’an kalian tiga kali lipat, demi Allah tidak ada pada mushaf Fathimah satu hurufpun dari al-Qur’an kalian…” (Ushuul Al-Kaafi 1/295)Perhatikan…, tidak ada satu hurufpun dalam Al-Qur’an versi syi’ah berasal dari al-Qur’an versi Ahlus Sunnah. Dan tentunya akal sehat mengetahui bahwasanya al-Qur’an versi Ahlus Sunnah dengan bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf hijaiyah dari huruf alif hingga huruf yaa’. Tidak ada satu huruf yang lain dalam bahasa Arab selain huruf alif hingga yaa’. Jika perkaranya demikian, maka sesungguhnya al-Qur’an versi Syi’ah (Mushaf Fathimah) tidak tersusun dari huruf-huruf hijaiyyah !!!. Maka… jangan-jangan Mushaf mereka tersusun dengan bahasa Yahudi ??!!! atau dengan bahasa Iran !!!. Toh bukankah imam Mahdi mereka yang sedang membawa (baca : menyembunyikan) Mushaf Fathimah paham seluruh bahasa di alam semesta ini !!??

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 7) – Al-Qur’an Kaum Syi’ah Kemungkinan Pakai Bahasa Iran

Diantara hal yang mutawatir di kalangan syi’ah keyakinan mereka bahwa al-Qur’an yang ada sekarang telah mengalami perubahan dan distorsi serta penyimpangan. Bahkan hal ini merupakan aqidah yang sangat mendasar bagi kaum syi’ah.Bahkan aqidah mereka ini merupakan aqidah spesial dan istimewa yang hanya diyakini oleh mereka. Banyak kelompok-kelompok sesat seperti Al-Khowarij, Al-Mu’tazilah, Al-Jahmiyah, Al-Qodariyah, Al-Jabriyah, dan lain-lain, akan tetapi seluruh kelompok sesat tersebut meyakini bahwa al-Qur’an masih utuh dan masih otentik terjaga oleh Allah. Tidak ada satu firqoh sesatpun dalam dunia Islam yang berani menyatakan bahwa Al-Qur’an telah berubah kecuali Syi’ah. Karenanya tatkala Ibnu Hazm berdialog dengan kaum Nashooro dan menjelaskan bahwasanya Allah menjaga Al-Qur’an dari segala bentuk penyimpangan, berbeda dengan kitab taurot dan injil yang berisi penyimpangan, maka sebagian Nashooro berkata kepadanya, “Bukankah sebagian kaum muslimin (yaitu kaum Syi’ah Roofidhoh) menyatakan bahwa Al-Qur’an juga menyimpang, dan telah dirubah oleh para sahabat??”. Maka Ibnu Hazm membantah mereka dengan berkata : “Kaum Roofidhoh bukanlah dari kaum muslimin…!!!” (lihat Al-Fishol fi al-Milal wa al-Ahwaa’ wa an-Nihal 2/213)Sangatlah jelas dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang meyakini ada satu huruf saja dalam al-Quran telah diselewangkan maka ia telah kafir kepada firman Allahإِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩)“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” (QS Al-Hijr : 9)Maka bagaimana lagi dengan kaum yang menyatakan berbagai surat telah menyimpang dalam Al-Qur’an??!!, lantas bagaimana lagi dengan kaum yang meyakini bahwa Al-Qur’an mereka 3 kali lebih tebal daripada Al-Qur’an kita, karena Al-Qur’an kita telah banyak dihilangkan surat-suratnya dan diselewengkan??Aqidah mereka tentang tidak otentiknya al-Qur’an dibangun di atas keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an yang lengkap hanya ada pada para imam. Itulah al-Qur’an yang lengkap dan dijaga oleh Allah. Adapun al-Qur’an yang ada di para sahabat selain para imam, maka telah terjadi perubahan dan pengurangan.Al-Kulaini berkata dalam kitab Ushuul Al-Kaafi :باب أنه لم يجمع القرآن كله إلا الأئمةُ وأنهم يعلمون علمه كله“Bab : Bahwasanya tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur’an secara keseluruhan kecuali para imam, dan bahwasanya mereka mengetahui seluruh ilmu Al-Qur’an” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Lalu Al-Kulaini membawakan riwayat-riwayat yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya:Abu Ja’far ‘alaihis salaam berkata ;“Tidak seorangpun yang menyatakan telah mengumpulkan Al-Qur’an seluruhnya –sebagaimana diturunkan- kecuali pendusta. Tidak ada yang mengumpulkannya dan menghafalkannya sebagaimana diturunkan kecuali Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam dan para imam setelahnya” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Dari landasan ini mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang berada pada ahlus sunnah adalah al-Qur’an yang tidak lengkap !!!Bahkan mereka mengaku bahwa al-Qur’an yang ada pada imam mereka tiga kali lebih tebal daripada al-Qur’an yang ada pada ahlus sunnah !! Diantara akibat buruk dari keyakinan tidak otentiknya Al-Quran adalah :Pertama : Mengharuskan timbul keraguan pada setiap ayat yang kita baca dalam al-Qur’an versi ahlus sunnah (umat Islam).Hal ini dikarenakan tidak ada barometer yang jelas untuk mengetahui dan membedakan antara ayat yang sudah berubah dengan ayat yang masih asli.Hal ini diakui oleh ulama Syi’ah sendiri. Berkata Muhammad bin Murtadlaa Al-Kaasyi – seseorang yang dianggap ‘alim dan ahli hadits dari kalangan Syi’ah – :لم يبق لنا اعتماد على شيء من القرآن. إذ على هذا يحتمل كل آية منه أن يكون محرفاً ومغيراً ويكون على خلاف ما أنزل الله فلم يبق لنا في القرآن حجة أصلا فتنتفي فائدته وفائدة الأمر باتباعه والوصية بالتمسك به“Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang suatu ayat dari Al-Qur’an. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Al-Qur’an satu ayatpun sebagai hujjah. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengannya ….” [Tafsir Ash-Shaafiy 1/33]Kedua : Meragukan setiap ayat dalam al-Qur’an merupakan puncak kekufuran. Karena al-Qur’an tidak akan bisa dijadikan sumber hukum untuk mengharamkan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah dalam al-Qur’an !!.–         Jika kita menyatakan bahwa kaum Nasrani dan Yahudi dikafirkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, maka kaum Liberal akan mudah membantah dengan berkata, “Mungkin saja ayat-ayat yang menunjukkan pengkafiran Ahlul Kitab termasuk ayat-ayat yang mengalami perubahan dan distorsi”??–         Jika kita menyatakan jilbab itu wajib, maka para wanita yang enggan memakai jilbab akan dengan mudah menjawab, “Ayat tentang jilbab mungkin telah mengalami perubahan…”–         Dan seterusnya…Ketiga : Hilanglah sumber hukum Islam yang utama yaitu Al-Qur’an, karena berdasarkan aqidah Syi’ah, penyimpangan al-Qur’an dan kekurangan Al-Qur’an selamanya tidak akan ketahuan dan tidak akan bisa diperbaiki kecuali jika diadakan perbandingan dengan Al-Qur’an versi ahlus sunnah dengan al-Qur’an yang lengkap versi Syi’ah.Yang jadi permasalahan bahwasanya al-Qur’an versi Syi’ah tersebut pada hakekatnya tidak pernah ada di alam nyata!!!. Syi’ah meyakini bahwa al-Qur’an tersebut berada bersama para imam, dan para imam mereka seluruhnya sudah meninggal, hanya tersisa Imam Mahdi yang sedang bersembunyi dan hanya muncul dan keluar dari persembunyiannya menjelang hari kiamat.Jika perkaranya demikian maka Al-Qur’an yang kita baca selamanya tidak akan bisa menjadi sumber hukum yang otentik dan terjamin kevalidannya !!!Keempat : Berdasarkan keyakinan kaum Syi’ah tentang Al-Qur’an maka hilanglah kesucian al-Qur’an, dari berbagai sisi, diantaranya :–         Al-Qur’an ternyata bisa mengalami perubahan dan campur tangan manusia. Al-Qur’an bukanlah lagi kitab suci, tapi kitab yang tercampur dengan tangan-tangan manusia–         Akan terdapat banyak kontradiksi dalam Al-Qur’an karena adanya perubahan dan distorsi. Maka apa fungsi firman Allahأَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS An-Nisaa’ : 82)Jika al-Qur’an terkena campur tangan manusia maka akan banyak didapatkan kontradiksi sebagaimana banyaknya kontradiksi yang ditemukan pada kitab suci kaum Kristen !!!–         Hilang fungsi dari firman Allahوَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlahsatu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS Al-Baqoroh : 23)Ayat di atas tidak ada fungsinya lagi karena kebenaran dan keotentikan al-Qur’an telah diliputi dengan keraguan !!!.–         Al-Qur’an tidak bisa lagi menjadi tempat kembali jika terjadi perselisihanPadahal Allah berfirman :فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ“Jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS An- Nisaa : 59)وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (QS Asy-Syuroo : 10)Kedua ayat ini tidak mungkin diterapkan pada al-Qur’an versi Ahlus Sunnah yang mengalami perubahan dan kekurangan. Kedua ayat ini menurut aqidah Syi’ah hanya bisa diterapkan pada Al-Qur’an milik syi’ah yang tiga kali lebih tebal dan terjaga oleh Allah. Jika perkaranya demikian maka kapan baru bisa diterapkan??, harus menunggu menjelang hari kiamat tatkala sang Imam Mahdi Syi’ah keluar??!!. Yang menarik dari pernyataan kaum syi’ah tentang al-Qur’an mereka adalah riwayat dari Abu Abdillah (sebagaimana disebutkan oleh Al-Kulaini dalam Ushuul Al-Kaafi)Lalu Abu Abdillah terdiam sebentar kemudian berkata : “Dan sesungguhnya di sisi kami ada sebuah mushaf Fathimah ‘alaihas salaam. Tahukah mereka apa itu “Mushaf Fathimah”?. Aku (Abu Muhammad) berkata : “Apa itu Mushaf Fathimah?”. Abu Abdillah berkata : “Sebuah mushaf yang padanya ada seperti al-Qur’an kalian tiga kali lipat, demi Allah tidak ada pada mushaf Fathimah satu hurufpun dari al-Qur’an kalian…” (Ushuul Al-Kaafi 1/295)Perhatikan…, tidak ada satu hurufpun dalam Al-Qur’an versi syi’ah berasal dari al-Qur’an versi Ahlus Sunnah. Dan tentunya akal sehat mengetahui bahwasanya al-Qur’an versi Ahlus Sunnah dengan bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf hijaiyah dari huruf alif hingga huruf yaa’. Tidak ada satu huruf yang lain dalam bahasa Arab selain huruf alif hingga yaa’. Jika perkaranya demikian, maka sesungguhnya al-Qur’an versi Syi’ah (Mushaf Fathimah) tidak tersusun dari huruf-huruf hijaiyyah !!!. Maka… jangan-jangan Mushaf mereka tersusun dengan bahasa Yahudi ??!!! atau dengan bahasa Iran !!!. Toh bukankah imam Mahdi mereka yang sedang membawa (baca : menyembunyikan) Mushaf Fathimah paham seluruh bahasa di alam semesta ini !!??
Diantara hal yang mutawatir di kalangan syi’ah keyakinan mereka bahwa al-Qur’an yang ada sekarang telah mengalami perubahan dan distorsi serta penyimpangan. Bahkan hal ini merupakan aqidah yang sangat mendasar bagi kaum syi’ah.Bahkan aqidah mereka ini merupakan aqidah spesial dan istimewa yang hanya diyakini oleh mereka. Banyak kelompok-kelompok sesat seperti Al-Khowarij, Al-Mu’tazilah, Al-Jahmiyah, Al-Qodariyah, Al-Jabriyah, dan lain-lain, akan tetapi seluruh kelompok sesat tersebut meyakini bahwa al-Qur’an masih utuh dan masih otentik terjaga oleh Allah. Tidak ada satu firqoh sesatpun dalam dunia Islam yang berani menyatakan bahwa Al-Qur’an telah berubah kecuali Syi’ah. Karenanya tatkala Ibnu Hazm berdialog dengan kaum Nashooro dan menjelaskan bahwasanya Allah menjaga Al-Qur’an dari segala bentuk penyimpangan, berbeda dengan kitab taurot dan injil yang berisi penyimpangan, maka sebagian Nashooro berkata kepadanya, “Bukankah sebagian kaum muslimin (yaitu kaum Syi’ah Roofidhoh) menyatakan bahwa Al-Qur’an juga menyimpang, dan telah dirubah oleh para sahabat??”. Maka Ibnu Hazm membantah mereka dengan berkata : “Kaum Roofidhoh bukanlah dari kaum muslimin…!!!” (lihat Al-Fishol fi al-Milal wa al-Ahwaa’ wa an-Nihal 2/213)Sangatlah jelas dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang meyakini ada satu huruf saja dalam al-Quran telah diselewangkan maka ia telah kafir kepada firman Allahإِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩)“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” (QS Al-Hijr : 9)Maka bagaimana lagi dengan kaum yang menyatakan berbagai surat telah menyimpang dalam Al-Qur’an??!!, lantas bagaimana lagi dengan kaum yang meyakini bahwa Al-Qur’an mereka 3 kali lebih tebal daripada Al-Qur’an kita, karena Al-Qur’an kita telah banyak dihilangkan surat-suratnya dan diselewengkan??Aqidah mereka tentang tidak otentiknya al-Qur’an dibangun di atas keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an yang lengkap hanya ada pada para imam. Itulah al-Qur’an yang lengkap dan dijaga oleh Allah. Adapun al-Qur’an yang ada di para sahabat selain para imam, maka telah terjadi perubahan dan pengurangan.Al-Kulaini berkata dalam kitab Ushuul Al-Kaafi :باب أنه لم يجمع القرآن كله إلا الأئمةُ وأنهم يعلمون علمه كله“Bab : Bahwasanya tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur’an secara keseluruhan kecuali para imam, dan bahwasanya mereka mengetahui seluruh ilmu Al-Qur’an” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Lalu Al-Kulaini membawakan riwayat-riwayat yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya:Abu Ja’far ‘alaihis salaam berkata ;“Tidak seorangpun yang menyatakan telah mengumpulkan Al-Qur’an seluruhnya –sebagaimana diturunkan- kecuali pendusta. Tidak ada yang mengumpulkannya dan menghafalkannya sebagaimana diturunkan kecuali Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam dan para imam setelahnya” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Dari landasan ini mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang berada pada ahlus sunnah adalah al-Qur’an yang tidak lengkap !!!Bahkan mereka mengaku bahwa al-Qur’an yang ada pada imam mereka tiga kali lebih tebal daripada al-Qur’an yang ada pada ahlus sunnah !! Diantara akibat buruk dari keyakinan tidak otentiknya Al-Quran adalah :Pertama : Mengharuskan timbul keraguan pada setiap ayat yang kita baca dalam al-Qur’an versi ahlus sunnah (umat Islam).Hal ini dikarenakan tidak ada barometer yang jelas untuk mengetahui dan membedakan antara ayat yang sudah berubah dengan ayat yang masih asli.Hal ini diakui oleh ulama Syi’ah sendiri. Berkata Muhammad bin Murtadlaa Al-Kaasyi – seseorang yang dianggap ‘alim dan ahli hadits dari kalangan Syi’ah – :لم يبق لنا اعتماد على شيء من القرآن. إذ على هذا يحتمل كل آية منه أن يكون محرفاً ومغيراً ويكون على خلاف ما أنزل الله فلم يبق لنا في القرآن حجة أصلا فتنتفي فائدته وفائدة الأمر باتباعه والوصية بالتمسك به“Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang suatu ayat dari Al-Qur’an. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Al-Qur’an satu ayatpun sebagai hujjah. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengannya ….” [Tafsir Ash-Shaafiy 1/33]Kedua : Meragukan setiap ayat dalam al-Qur’an merupakan puncak kekufuran. Karena al-Qur’an tidak akan bisa dijadikan sumber hukum untuk mengharamkan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah dalam al-Qur’an !!.–         Jika kita menyatakan bahwa kaum Nasrani dan Yahudi dikafirkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, maka kaum Liberal akan mudah membantah dengan berkata, “Mungkin saja ayat-ayat yang menunjukkan pengkafiran Ahlul Kitab termasuk ayat-ayat yang mengalami perubahan dan distorsi”??–         Jika kita menyatakan jilbab itu wajib, maka para wanita yang enggan memakai jilbab akan dengan mudah menjawab, “Ayat tentang jilbab mungkin telah mengalami perubahan…”–         Dan seterusnya…Ketiga : Hilanglah sumber hukum Islam yang utama yaitu Al-Qur’an, karena berdasarkan aqidah Syi’ah, penyimpangan al-Qur’an dan kekurangan Al-Qur’an selamanya tidak akan ketahuan dan tidak akan bisa diperbaiki kecuali jika diadakan perbandingan dengan Al-Qur’an versi ahlus sunnah dengan al-Qur’an yang lengkap versi Syi’ah.Yang jadi permasalahan bahwasanya al-Qur’an versi Syi’ah tersebut pada hakekatnya tidak pernah ada di alam nyata!!!. Syi’ah meyakini bahwa al-Qur’an tersebut berada bersama para imam, dan para imam mereka seluruhnya sudah meninggal, hanya tersisa Imam Mahdi yang sedang bersembunyi dan hanya muncul dan keluar dari persembunyiannya menjelang hari kiamat.Jika perkaranya demikian maka Al-Qur’an yang kita baca selamanya tidak akan bisa menjadi sumber hukum yang otentik dan terjamin kevalidannya !!!Keempat : Berdasarkan keyakinan kaum Syi’ah tentang Al-Qur’an maka hilanglah kesucian al-Qur’an, dari berbagai sisi, diantaranya :–         Al-Qur’an ternyata bisa mengalami perubahan dan campur tangan manusia. Al-Qur’an bukanlah lagi kitab suci, tapi kitab yang tercampur dengan tangan-tangan manusia–         Akan terdapat banyak kontradiksi dalam Al-Qur’an karena adanya perubahan dan distorsi. Maka apa fungsi firman Allahأَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS An-Nisaa’ : 82)Jika al-Qur’an terkena campur tangan manusia maka akan banyak didapatkan kontradiksi sebagaimana banyaknya kontradiksi yang ditemukan pada kitab suci kaum Kristen !!!–         Hilang fungsi dari firman Allahوَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlahsatu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS Al-Baqoroh : 23)Ayat di atas tidak ada fungsinya lagi karena kebenaran dan keotentikan al-Qur’an telah diliputi dengan keraguan !!!.–         Al-Qur’an tidak bisa lagi menjadi tempat kembali jika terjadi perselisihanPadahal Allah berfirman :فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ“Jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS An- Nisaa : 59)وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (QS Asy-Syuroo : 10)Kedua ayat ini tidak mungkin diterapkan pada al-Qur’an versi Ahlus Sunnah yang mengalami perubahan dan kekurangan. Kedua ayat ini menurut aqidah Syi’ah hanya bisa diterapkan pada Al-Qur’an milik syi’ah yang tiga kali lebih tebal dan terjaga oleh Allah. Jika perkaranya demikian maka kapan baru bisa diterapkan??, harus menunggu menjelang hari kiamat tatkala sang Imam Mahdi Syi’ah keluar??!!. Yang menarik dari pernyataan kaum syi’ah tentang al-Qur’an mereka adalah riwayat dari Abu Abdillah (sebagaimana disebutkan oleh Al-Kulaini dalam Ushuul Al-Kaafi)Lalu Abu Abdillah terdiam sebentar kemudian berkata : “Dan sesungguhnya di sisi kami ada sebuah mushaf Fathimah ‘alaihas salaam. Tahukah mereka apa itu “Mushaf Fathimah”?. Aku (Abu Muhammad) berkata : “Apa itu Mushaf Fathimah?”. Abu Abdillah berkata : “Sebuah mushaf yang padanya ada seperti al-Qur’an kalian tiga kali lipat, demi Allah tidak ada pada mushaf Fathimah satu hurufpun dari al-Qur’an kalian…” (Ushuul Al-Kaafi 1/295)Perhatikan…, tidak ada satu hurufpun dalam Al-Qur’an versi syi’ah berasal dari al-Qur’an versi Ahlus Sunnah. Dan tentunya akal sehat mengetahui bahwasanya al-Qur’an versi Ahlus Sunnah dengan bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf hijaiyah dari huruf alif hingga huruf yaa’. Tidak ada satu huruf yang lain dalam bahasa Arab selain huruf alif hingga yaa’. Jika perkaranya demikian, maka sesungguhnya al-Qur’an versi Syi’ah (Mushaf Fathimah) tidak tersusun dari huruf-huruf hijaiyyah !!!. Maka… jangan-jangan Mushaf mereka tersusun dengan bahasa Yahudi ??!!! atau dengan bahasa Iran !!!. Toh bukankah imam Mahdi mereka yang sedang membawa (baca : menyembunyikan) Mushaf Fathimah paham seluruh bahasa di alam semesta ini !!??


Diantara hal yang mutawatir di kalangan syi’ah keyakinan mereka bahwa al-Qur’an yang ada sekarang telah mengalami perubahan dan distorsi serta penyimpangan. Bahkan hal ini merupakan aqidah yang sangat mendasar bagi kaum syi’ah.Bahkan aqidah mereka ini merupakan aqidah spesial dan istimewa yang hanya diyakini oleh mereka. Banyak kelompok-kelompok sesat seperti Al-Khowarij, Al-Mu’tazilah, Al-Jahmiyah, Al-Qodariyah, Al-Jabriyah, dan lain-lain, akan tetapi seluruh kelompok sesat tersebut meyakini bahwa al-Qur’an masih utuh dan masih otentik terjaga oleh Allah. Tidak ada satu firqoh sesatpun dalam dunia Islam yang berani menyatakan bahwa Al-Qur’an telah berubah kecuali Syi’ah. Karenanya tatkala Ibnu Hazm berdialog dengan kaum Nashooro dan menjelaskan bahwasanya Allah menjaga Al-Qur’an dari segala bentuk penyimpangan, berbeda dengan kitab taurot dan injil yang berisi penyimpangan, maka sebagian Nashooro berkata kepadanya, “Bukankah sebagian kaum muslimin (yaitu kaum Syi’ah Roofidhoh) menyatakan bahwa Al-Qur’an juga menyimpang, dan telah dirubah oleh para sahabat??”. Maka Ibnu Hazm membantah mereka dengan berkata : “Kaum Roofidhoh bukanlah dari kaum muslimin…!!!” (lihat Al-Fishol fi al-Milal wa al-Ahwaa’ wa an-Nihal 2/213)Sangatlah jelas dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang meyakini ada satu huruf saja dalam al-Quran telah diselewangkan maka ia telah kafir kepada firman Allahإِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩)“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” (QS Al-Hijr : 9)Maka bagaimana lagi dengan kaum yang menyatakan berbagai surat telah menyimpang dalam Al-Qur’an??!!, lantas bagaimana lagi dengan kaum yang meyakini bahwa Al-Qur’an mereka 3 kali lebih tebal daripada Al-Qur’an kita, karena Al-Qur’an kita telah banyak dihilangkan surat-suratnya dan diselewengkan??Aqidah mereka tentang tidak otentiknya al-Qur’an dibangun di atas keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an yang lengkap hanya ada pada para imam. Itulah al-Qur’an yang lengkap dan dijaga oleh Allah. Adapun al-Qur’an yang ada di para sahabat selain para imam, maka telah terjadi perubahan dan pengurangan.Al-Kulaini berkata dalam kitab Ushuul Al-Kaafi :باب أنه لم يجمع القرآن كله إلا الأئمةُ وأنهم يعلمون علمه كله“Bab : Bahwasanya tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur’an secara keseluruhan kecuali para imam, dan bahwasanya mereka mengetahui seluruh ilmu Al-Qur’an” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Lalu Al-Kulaini membawakan riwayat-riwayat yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya:Abu Ja’far ‘alaihis salaam berkata ;“Tidak seorangpun yang menyatakan telah mengumpulkan Al-Qur’an seluruhnya –sebagaimana diturunkan- kecuali pendusta. Tidak ada yang mengumpulkannya dan menghafalkannya sebagaimana diturunkan kecuali Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam dan para imam setelahnya” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Dari landasan ini mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang berada pada ahlus sunnah adalah al-Qur’an yang tidak lengkap !!!Bahkan mereka mengaku bahwa al-Qur’an yang ada pada imam mereka tiga kali lebih tebal daripada al-Qur’an yang ada pada ahlus sunnah !! Diantara akibat buruk dari keyakinan tidak otentiknya Al-Quran adalah :Pertama : Mengharuskan timbul keraguan pada setiap ayat yang kita baca dalam al-Qur’an versi ahlus sunnah (umat Islam).Hal ini dikarenakan tidak ada barometer yang jelas untuk mengetahui dan membedakan antara ayat yang sudah berubah dengan ayat yang masih asli.Hal ini diakui oleh ulama Syi’ah sendiri. Berkata Muhammad bin Murtadlaa Al-Kaasyi – seseorang yang dianggap ‘alim dan ahli hadits dari kalangan Syi’ah – :لم يبق لنا اعتماد على شيء من القرآن. إذ على هذا يحتمل كل آية منه أن يكون محرفاً ومغيراً ويكون على خلاف ما أنزل الله فلم يبق لنا في القرآن حجة أصلا فتنتفي فائدته وفائدة الأمر باتباعه والوصية بالتمسك به“Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang suatu ayat dari Al-Qur’an. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Al-Qur’an satu ayatpun sebagai hujjah. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengannya ….” [Tafsir Ash-Shaafiy 1/33]Kedua : Meragukan setiap ayat dalam al-Qur’an merupakan puncak kekufuran. Karena al-Qur’an tidak akan bisa dijadikan sumber hukum untuk mengharamkan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah dalam al-Qur’an !!.–         Jika kita menyatakan bahwa kaum Nasrani dan Yahudi dikafirkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, maka kaum Liberal akan mudah membantah dengan berkata, “Mungkin saja ayat-ayat yang menunjukkan pengkafiran Ahlul Kitab termasuk ayat-ayat yang mengalami perubahan dan distorsi”??–         Jika kita menyatakan jilbab itu wajib, maka para wanita yang enggan memakai jilbab akan dengan mudah menjawab, “Ayat tentang jilbab mungkin telah mengalami perubahan…”–         Dan seterusnya…Ketiga : Hilanglah sumber hukum Islam yang utama yaitu Al-Qur’an, karena berdasarkan aqidah Syi’ah, penyimpangan al-Qur’an dan kekurangan Al-Qur’an selamanya tidak akan ketahuan dan tidak akan bisa diperbaiki kecuali jika diadakan perbandingan dengan Al-Qur’an versi ahlus sunnah dengan al-Qur’an yang lengkap versi Syi’ah.Yang jadi permasalahan bahwasanya al-Qur’an versi Syi’ah tersebut pada hakekatnya tidak pernah ada di alam nyata!!!. Syi’ah meyakini bahwa al-Qur’an tersebut berada bersama para imam, dan para imam mereka seluruhnya sudah meninggal, hanya tersisa Imam Mahdi yang sedang bersembunyi dan hanya muncul dan keluar dari persembunyiannya menjelang hari kiamat.Jika perkaranya demikian maka Al-Qur’an yang kita baca selamanya tidak akan bisa menjadi sumber hukum yang otentik dan terjamin kevalidannya !!!Keempat : Berdasarkan keyakinan kaum Syi’ah tentang Al-Qur’an maka hilanglah kesucian al-Qur’an, dari berbagai sisi, diantaranya :–         Al-Qur’an ternyata bisa mengalami perubahan dan campur tangan manusia. Al-Qur’an bukanlah lagi kitab suci, tapi kitab yang tercampur dengan tangan-tangan manusia–         Akan terdapat banyak kontradiksi dalam Al-Qur’an karena adanya perubahan dan distorsi. Maka apa fungsi firman Allahأَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS An-Nisaa’ : 82)Jika al-Qur’an terkena campur tangan manusia maka akan banyak didapatkan kontradiksi sebagaimana banyaknya kontradiksi yang ditemukan pada kitab suci kaum Kristen !!!–         Hilang fungsi dari firman Allahوَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlahsatu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS Al-Baqoroh : 23)Ayat di atas tidak ada fungsinya lagi karena kebenaran dan keotentikan al-Qur’an telah diliputi dengan keraguan !!!.–         Al-Qur’an tidak bisa lagi menjadi tempat kembali jika terjadi perselisihanPadahal Allah berfirman :فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ“Jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS An- Nisaa : 59)وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (QS Asy-Syuroo : 10)Kedua ayat ini tidak mungkin diterapkan pada al-Qur’an versi Ahlus Sunnah yang mengalami perubahan dan kekurangan. Kedua ayat ini menurut aqidah Syi’ah hanya bisa diterapkan pada Al-Qur’an milik syi’ah yang tiga kali lebih tebal dan terjaga oleh Allah. Jika perkaranya demikian maka kapan baru bisa diterapkan??, harus menunggu menjelang hari kiamat tatkala sang Imam Mahdi Syi’ah keluar??!!. Yang menarik dari pernyataan kaum syi’ah tentang al-Qur’an mereka adalah riwayat dari Abu Abdillah (sebagaimana disebutkan oleh Al-Kulaini dalam Ushuul Al-Kaafi)Lalu Abu Abdillah terdiam sebentar kemudian berkata : “Dan sesungguhnya di sisi kami ada sebuah mushaf Fathimah ‘alaihas salaam. Tahukah mereka apa itu “Mushaf Fathimah”?. Aku (Abu Muhammad) berkata : “Apa itu Mushaf Fathimah?”. Abu Abdillah berkata : “Sebuah mushaf yang padanya ada seperti al-Qur’an kalian tiga kali lipat, demi Allah tidak ada pada mushaf Fathimah satu hurufpun dari al-Qur’an kalian…” (Ushuul Al-Kaafi 1/295)Perhatikan…, tidak ada satu hurufpun dalam Al-Qur’an versi syi’ah berasal dari al-Qur’an versi Ahlus Sunnah. Dan tentunya akal sehat mengetahui bahwasanya al-Qur’an versi Ahlus Sunnah dengan bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf hijaiyah dari huruf alif hingga huruf yaa’. Tidak ada satu huruf yang lain dalam bahasa Arab selain huruf alif hingga yaa’. Jika perkaranya demikian, maka sesungguhnya al-Qur’an versi Syi’ah (Mushaf Fathimah) tidak tersusun dari huruf-huruf hijaiyyah !!!. Maka… jangan-jangan Mushaf mereka tersusun dengan bahasa Yahudi ??!!! atau dengan bahasa Iran !!!. Toh bukankah imam Mahdi mereka yang sedang membawa (baca : menyembunyikan) Mushaf Fathimah paham seluruh bahasa di alam semesta ini !!??

Manut pada Kyai

“Kulo nderek mawon kaleh poro Kyai“, ujar sebagian orang yang maksudnya kami manut saja pada perkataan ulama. Mau dibawa ke utara atau ke selatan, diikuti saja. Masa’ kyai bisa salah? Ada pula yang mengatakan bahwa hati-hati dengan racunnya Al Qur’an karena maksud dia manut saja dengan perkataan ulama dengan membabi buta tanpa menimbang dalil Al Qur’an, sabda atau tafsir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menganggap ulama tidak mungkin salah atau keliru. Kata dia, “Masa’ kyai bisa keliru beri resep?” Ini ajaran doktrin sebagian orang yang fanatik buta pada perkataan ulama tanpa memandang apakah perkataan kyai tersebut bersesuaian dengan dalil ataukah tidak. Pokoknya “kulo nderek mawon“, pokoknya saya ikut atau manut saja. Islam mengajarkan yang wajib diikuti adalah Al Qur’an dan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.  Perkataan ulama boleh diikuti jika bersesuaian dengan kedua sumber hukum Islam tersebut. Ketika berseberangan dari keduanya, tentu ditinggalkan. Kita tidak diajarkan untuk manut terus pada perkataan ulama. Karena mereka bukanlah ma’shum atau makhluk suci. Mereka bisa jadi keliru dalam pemahaman, bisa jadi belum sampai suatu hadits pada mereka atau punya udzur lainnya. Sehingga kalau dikatakan bahwa mereka adalah orang yang tidak bisa salah, ini justru keliru yang fatal. Namun itu bukan berarti kita meninggalkan ulam begitu saja. Pendapat mereka tetaplah diikuti untuk memahami Al Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar. Ulama Membantu Memahamkan Al Qur’an dan Hadits Ulama punya tugas untuk menerangkan Al Qur’an dan Hadits. Tugas mereka bukanlah untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Tugas ulama berijtihad dalam memahami dalil, lalu mereka jelaskan apa maksud Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah wasilah untuk memahami Al Qur’an dan hadits. Oleh karenanya, ketaatan pada mereka sebagai ikutan dari ketaatan pada Allah dan Rasul. Jika dalam perkara ijtihadiyah, pendapat mereka diikuti karena merekalah yang memahami dalil. Dalam masalah ini terhitung mentaati ulama masuk dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. Intinya, ketaatan yang bisa berdiri sendiri hanyalah ketaatan pada Allah. Ketaatan pada Rasul termasuk mengikuti ketaatan pada Allah. Ulama diikuti ketika bersesuaian dengan perkataan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan pada Ulama Para ulama termasuk ulil amri. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisaa’: 59). Ulil amri adalah yang diberi amanat memegang urusan agama yaitu ulama dan yang diserahi urusan dunia yaitu pemimpin (penguasa). Ibnu Qayyim Al Jauziyah dan ulama lainnya mengatakan bahwa mentaati ulil amri tidaklah berdiri sendiri namun ketaatan pada mereka mengikuti ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Jika ulama memerintahkan pada maksiat tentu ia tidak boleh ditaati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ “Tidak boleh mentaati makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad 5: 66, dari Al Hakam bin ‘Amr Al Ghifari. Sanad hadits ini shahih, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Menjadikan Ulama Sebagai Tuhan (Ilah) Jika ketaatan berdiri sendiri, maka itu dinilai ibadah. Ketaatan pada selain Allah hanyalah sebatas izin Allah saja. Dan ulama tidaklah boleh ditaati dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman, اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah sesembahan yang Esa, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31). Mengenai ayat di atas, ‘Adi bin Hatim pernah berkata bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di lehernya terdapat salib dari emas. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai ‘Adi buang berhala yang ada di lehermu.” Beliau kala itu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, « أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ “Adapun mereka tidaklah menyembah rahib mereka. Akan tetapi, mereka menghalalkan apa yang dihalalkan oleh rahib mereka dan mengharamkan apa yang diharamkan rahib mereka.”  (HR. Tirmidzi no. 3095, hasan menurut Syaikh Al Albani) Diterangkan oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh -Menteri Agama Kerajaan Saudi Arabia- bahwa ada dua tingkatan dalam mengikuti ulama dalam penghalalan dan pengharaman. Tingkatan pertama, mentaati ulama atau pemimpin dalam hal mengganti ajaran Islam yaitu menjadikan yang haram itu halal atau sebaliknya, padahal dalam keadaan tahu Allah telah menghalalkan atau mengharamkan. Mereka mentaatinya dalam rangka mengagungkan ulama. Inilah yang disebut mengangkat ulama sebagai Tuhan. Ini termasuk syirik akbar dan kufur akbar. Karena di dalamnya terdapat memalingkan suatu ibadah berupa ketaatan -yang khusus- kepada selain Allah. Tingkatan kedua, mentaati ulama atau pemimpin dalam mengharamkan atau menghalalkan dari sisi amalan, bukan dari sisi batinnya. Ia mengakui bahwa hal tersebut haram atau halal, namun ia mengikuti ulama yang keliru tersebut secara amalan saja dan ia tahu bahwa ia sedang bermaksiat. Yang kedua juga dinilai termasuk pelaku dosa. Lihat penjelasan dalam At Tamhid  Syarh Kitabit Tauhid. Bukan Maksud Merendahkan Kyai Tulisan ini bukan maksud merendahkan ulama, para kyai dan orang berilmu. Bahkan kita diperintahkan bertanya pada kyai atau ulama tatkala kita tidak paham dalil atau mendapatkan kebingungan dalam masalah agama. Allah Ta’ala berfirman, فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” (QS. Al Anbiya’: 7). Hendaklah setiap orang yang mengikuti pendapat kyai tidak sekedar membabi buta membela pendapat kyainya. Seharusnya bisa berpikir bahwa jika pendapat kyai tersebut berseberangan dengan dalil, maka ikutilah dalil. Namun saat perkataan ulama bertentangan dengan dalil, maka sikapilah pendapat mereka dengan baik karena bisa jadi mereka keliru dalam hal itu. Lihatlah baik-baik perkataan ulama besar yang selalu kita agungkan, Imam Asy Syafi’i rahimahullah di mana beliau berkata, إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 211) Imam Syafi’i juga berkata, إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63) كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ  فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ “Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.” (Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35) كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِعِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا  قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي “Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.” (Hilyatul Auliya’, 9: 107) Ini pun untuk mendorong seorang muslim untuk semakin banyak belajar sehingga bisa memahami dalil. Imam Ahmad berkata, لَا تُقَلِّدُونِي وَلَا تُقَلِّدُوا مَالِكًا وَلَا الشَّافِعِيَّ وَلَا الثَّوْرِيَّ وَتَعَلَّمُوا كَمَا تَعَلَّمْنَا “Janganlah hanya sekedar taklid padaku dan jangan pula hanya sekedar taklid pada Malik, Syafi’i, dan Ats Tsauriy. Belajarlah sebagaimana kami belajar.” (Idem, 20: 211-212). Al Qur’an dan Hadits Bisa Dipelajari Al Qur’an itu bukanlah racun. Hadits itu bukanlah ular berbisa yang bisa menerkam orang yang memangsanya. Jadi, jika ada yang katakan bahwa jangan ikuti Al Qur’an karena bisa kena racunnya, sungguh ia salah fatal. Al Qur’an itu syifa’ atau penawar sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al Isra’: 82). Kok bisa ada yang sebut Al Qur’an itu sebagai racun padahal Allah sebut sebagai penawar? Dalam ayat lain disebutkan bahwa Al Qur’an itu bisa dipelajari dan dipahami dengan mudah. Allah berfirman, وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qamar: 17). Ibnu Katsir tatkala menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, “Kami telah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari secara lafazh dan makna supaya jadi peringatan bagi manusia.” Hadits pun begitu jelas sebagaimana disebutkan dalam kitab sunan, لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ “Aku telah tinggalkan untuk kalian sesuatu sebegitu putihnya di mana malamnya terangnya seperti siangnya. ” (HR. Ibnu Majah no. 5, hasan kata Syaikh Al Albani). Namun tentu saja pemahamannya tetap mendahulukan pemahaman ulama daripada pendapat pribadi. Karena para ulamalah yang mewariskan ilmu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dari generasi ke generasi. Yang penting ingat, hindari taklid atau fanatik buta. Wallahu a’lam. Hanyalah Allah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Soeta Airport, 27 Muharram 1435 H, 04: 41 PM Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsfanatik taklid

Manut pada Kyai

“Kulo nderek mawon kaleh poro Kyai“, ujar sebagian orang yang maksudnya kami manut saja pada perkataan ulama. Mau dibawa ke utara atau ke selatan, diikuti saja. Masa’ kyai bisa salah? Ada pula yang mengatakan bahwa hati-hati dengan racunnya Al Qur’an karena maksud dia manut saja dengan perkataan ulama dengan membabi buta tanpa menimbang dalil Al Qur’an, sabda atau tafsir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menganggap ulama tidak mungkin salah atau keliru. Kata dia, “Masa’ kyai bisa keliru beri resep?” Ini ajaran doktrin sebagian orang yang fanatik buta pada perkataan ulama tanpa memandang apakah perkataan kyai tersebut bersesuaian dengan dalil ataukah tidak. Pokoknya “kulo nderek mawon“, pokoknya saya ikut atau manut saja. Islam mengajarkan yang wajib diikuti adalah Al Qur’an dan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.  Perkataan ulama boleh diikuti jika bersesuaian dengan kedua sumber hukum Islam tersebut. Ketika berseberangan dari keduanya, tentu ditinggalkan. Kita tidak diajarkan untuk manut terus pada perkataan ulama. Karena mereka bukanlah ma’shum atau makhluk suci. Mereka bisa jadi keliru dalam pemahaman, bisa jadi belum sampai suatu hadits pada mereka atau punya udzur lainnya. Sehingga kalau dikatakan bahwa mereka adalah orang yang tidak bisa salah, ini justru keliru yang fatal. Namun itu bukan berarti kita meninggalkan ulam begitu saja. Pendapat mereka tetaplah diikuti untuk memahami Al Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar. Ulama Membantu Memahamkan Al Qur’an dan Hadits Ulama punya tugas untuk menerangkan Al Qur’an dan Hadits. Tugas mereka bukanlah untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Tugas ulama berijtihad dalam memahami dalil, lalu mereka jelaskan apa maksud Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah wasilah untuk memahami Al Qur’an dan hadits. Oleh karenanya, ketaatan pada mereka sebagai ikutan dari ketaatan pada Allah dan Rasul. Jika dalam perkara ijtihadiyah, pendapat mereka diikuti karena merekalah yang memahami dalil. Dalam masalah ini terhitung mentaati ulama masuk dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. Intinya, ketaatan yang bisa berdiri sendiri hanyalah ketaatan pada Allah. Ketaatan pada Rasul termasuk mengikuti ketaatan pada Allah. Ulama diikuti ketika bersesuaian dengan perkataan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan pada Ulama Para ulama termasuk ulil amri. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisaa’: 59). Ulil amri adalah yang diberi amanat memegang urusan agama yaitu ulama dan yang diserahi urusan dunia yaitu pemimpin (penguasa). Ibnu Qayyim Al Jauziyah dan ulama lainnya mengatakan bahwa mentaati ulil amri tidaklah berdiri sendiri namun ketaatan pada mereka mengikuti ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Jika ulama memerintahkan pada maksiat tentu ia tidak boleh ditaati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ “Tidak boleh mentaati makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad 5: 66, dari Al Hakam bin ‘Amr Al Ghifari. Sanad hadits ini shahih, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Menjadikan Ulama Sebagai Tuhan (Ilah) Jika ketaatan berdiri sendiri, maka itu dinilai ibadah. Ketaatan pada selain Allah hanyalah sebatas izin Allah saja. Dan ulama tidaklah boleh ditaati dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman, اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah sesembahan yang Esa, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31). Mengenai ayat di atas, ‘Adi bin Hatim pernah berkata bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di lehernya terdapat salib dari emas. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai ‘Adi buang berhala yang ada di lehermu.” Beliau kala itu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, « أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ “Adapun mereka tidaklah menyembah rahib mereka. Akan tetapi, mereka menghalalkan apa yang dihalalkan oleh rahib mereka dan mengharamkan apa yang diharamkan rahib mereka.”  (HR. Tirmidzi no. 3095, hasan menurut Syaikh Al Albani) Diterangkan oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh -Menteri Agama Kerajaan Saudi Arabia- bahwa ada dua tingkatan dalam mengikuti ulama dalam penghalalan dan pengharaman. Tingkatan pertama, mentaati ulama atau pemimpin dalam hal mengganti ajaran Islam yaitu menjadikan yang haram itu halal atau sebaliknya, padahal dalam keadaan tahu Allah telah menghalalkan atau mengharamkan. Mereka mentaatinya dalam rangka mengagungkan ulama. Inilah yang disebut mengangkat ulama sebagai Tuhan. Ini termasuk syirik akbar dan kufur akbar. Karena di dalamnya terdapat memalingkan suatu ibadah berupa ketaatan -yang khusus- kepada selain Allah. Tingkatan kedua, mentaati ulama atau pemimpin dalam mengharamkan atau menghalalkan dari sisi amalan, bukan dari sisi batinnya. Ia mengakui bahwa hal tersebut haram atau halal, namun ia mengikuti ulama yang keliru tersebut secara amalan saja dan ia tahu bahwa ia sedang bermaksiat. Yang kedua juga dinilai termasuk pelaku dosa. Lihat penjelasan dalam At Tamhid  Syarh Kitabit Tauhid. Bukan Maksud Merendahkan Kyai Tulisan ini bukan maksud merendahkan ulama, para kyai dan orang berilmu. Bahkan kita diperintahkan bertanya pada kyai atau ulama tatkala kita tidak paham dalil atau mendapatkan kebingungan dalam masalah agama. Allah Ta’ala berfirman, فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” (QS. Al Anbiya’: 7). Hendaklah setiap orang yang mengikuti pendapat kyai tidak sekedar membabi buta membela pendapat kyainya. Seharusnya bisa berpikir bahwa jika pendapat kyai tersebut berseberangan dengan dalil, maka ikutilah dalil. Namun saat perkataan ulama bertentangan dengan dalil, maka sikapilah pendapat mereka dengan baik karena bisa jadi mereka keliru dalam hal itu. Lihatlah baik-baik perkataan ulama besar yang selalu kita agungkan, Imam Asy Syafi’i rahimahullah di mana beliau berkata, إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 211) Imam Syafi’i juga berkata, إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63) كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ  فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ “Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.” (Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35) كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِعِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا  قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي “Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.” (Hilyatul Auliya’, 9: 107) Ini pun untuk mendorong seorang muslim untuk semakin banyak belajar sehingga bisa memahami dalil. Imam Ahmad berkata, لَا تُقَلِّدُونِي وَلَا تُقَلِّدُوا مَالِكًا وَلَا الشَّافِعِيَّ وَلَا الثَّوْرِيَّ وَتَعَلَّمُوا كَمَا تَعَلَّمْنَا “Janganlah hanya sekedar taklid padaku dan jangan pula hanya sekedar taklid pada Malik, Syafi’i, dan Ats Tsauriy. Belajarlah sebagaimana kami belajar.” (Idem, 20: 211-212). Al Qur’an dan Hadits Bisa Dipelajari Al Qur’an itu bukanlah racun. Hadits itu bukanlah ular berbisa yang bisa menerkam orang yang memangsanya. Jadi, jika ada yang katakan bahwa jangan ikuti Al Qur’an karena bisa kena racunnya, sungguh ia salah fatal. Al Qur’an itu syifa’ atau penawar sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al Isra’: 82). Kok bisa ada yang sebut Al Qur’an itu sebagai racun padahal Allah sebut sebagai penawar? Dalam ayat lain disebutkan bahwa Al Qur’an itu bisa dipelajari dan dipahami dengan mudah. Allah berfirman, وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qamar: 17). Ibnu Katsir tatkala menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, “Kami telah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari secara lafazh dan makna supaya jadi peringatan bagi manusia.” Hadits pun begitu jelas sebagaimana disebutkan dalam kitab sunan, لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ “Aku telah tinggalkan untuk kalian sesuatu sebegitu putihnya di mana malamnya terangnya seperti siangnya. ” (HR. Ibnu Majah no. 5, hasan kata Syaikh Al Albani). Namun tentu saja pemahamannya tetap mendahulukan pemahaman ulama daripada pendapat pribadi. Karena para ulamalah yang mewariskan ilmu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dari generasi ke generasi. Yang penting ingat, hindari taklid atau fanatik buta. Wallahu a’lam. Hanyalah Allah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Soeta Airport, 27 Muharram 1435 H, 04: 41 PM Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsfanatik taklid
“Kulo nderek mawon kaleh poro Kyai“, ujar sebagian orang yang maksudnya kami manut saja pada perkataan ulama. Mau dibawa ke utara atau ke selatan, diikuti saja. Masa’ kyai bisa salah? Ada pula yang mengatakan bahwa hati-hati dengan racunnya Al Qur’an karena maksud dia manut saja dengan perkataan ulama dengan membabi buta tanpa menimbang dalil Al Qur’an, sabda atau tafsir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menganggap ulama tidak mungkin salah atau keliru. Kata dia, “Masa’ kyai bisa keliru beri resep?” Ini ajaran doktrin sebagian orang yang fanatik buta pada perkataan ulama tanpa memandang apakah perkataan kyai tersebut bersesuaian dengan dalil ataukah tidak. Pokoknya “kulo nderek mawon“, pokoknya saya ikut atau manut saja. Islam mengajarkan yang wajib diikuti adalah Al Qur’an dan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.  Perkataan ulama boleh diikuti jika bersesuaian dengan kedua sumber hukum Islam tersebut. Ketika berseberangan dari keduanya, tentu ditinggalkan. Kita tidak diajarkan untuk manut terus pada perkataan ulama. Karena mereka bukanlah ma’shum atau makhluk suci. Mereka bisa jadi keliru dalam pemahaman, bisa jadi belum sampai suatu hadits pada mereka atau punya udzur lainnya. Sehingga kalau dikatakan bahwa mereka adalah orang yang tidak bisa salah, ini justru keliru yang fatal. Namun itu bukan berarti kita meninggalkan ulam begitu saja. Pendapat mereka tetaplah diikuti untuk memahami Al Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar. Ulama Membantu Memahamkan Al Qur’an dan Hadits Ulama punya tugas untuk menerangkan Al Qur’an dan Hadits. Tugas mereka bukanlah untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Tugas ulama berijtihad dalam memahami dalil, lalu mereka jelaskan apa maksud Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah wasilah untuk memahami Al Qur’an dan hadits. Oleh karenanya, ketaatan pada mereka sebagai ikutan dari ketaatan pada Allah dan Rasul. Jika dalam perkara ijtihadiyah, pendapat mereka diikuti karena merekalah yang memahami dalil. Dalam masalah ini terhitung mentaati ulama masuk dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. Intinya, ketaatan yang bisa berdiri sendiri hanyalah ketaatan pada Allah. Ketaatan pada Rasul termasuk mengikuti ketaatan pada Allah. Ulama diikuti ketika bersesuaian dengan perkataan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan pada Ulama Para ulama termasuk ulil amri. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisaa’: 59). Ulil amri adalah yang diberi amanat memegang urusan agama yaitu ulama dan yang diserahi urusan dunia yaitu pemimpin (penguasa). Ibnu Qayyim Al Jauziyah dan ulama lainnya mengatakan bahwa mentaati ulil amri tidaklah berdiri sendiri namun ketaatan pada mereka mengikuti ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Jika ulama memerintahkan pada maksiat tentu ia tidak boleh ditaati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ “Tidak boleh mentaati makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad 5: 66, dari Al Hakam bin ‘Amr Al Ghifari. Sanad hadits ini shahih, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Menjadikan Ulama Sebagai Tuhan (Ilah) Jika ketaatan berdiri sendiri, maka itu dinilai ibadah. Ketaatan pada selain Allah hanyalah sebatas izin Allah saja. Dan ulama tidaklah boleh ditaati dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman, اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah sesembahan yang Esa, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31). Mengenai ayat di atas, ‘Adi bin Hatim pernah berkata bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di lehernya terdapat salib dari emas. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai ‘Adi buang berhala yang ada di lehermu.” Beliau kala itu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, « أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ “Adapun mereka tidaklah menyembah rahib mereka. Akan tetapi, mereka menghalalkan apa yang dihalalkan oleh rahib mereka dan mengharamkan apa yang diharamkan rahib mereka.”  (HR. Tirmidzi no. 3095, hasan menurut Syaikh Al Albani) Diterangkan oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh -Menteri Agama Kerajaan Saudi Arabia- bahwa ada dua tingkatan dalam mengikuti ulama dalam penghalalan dan pengharaman. Tingkatan pertama, mentaati ulama atau pemimpin dalam hal mengganti ajaran Islam yaitu menjadikan yang haram itu halal atau sebaliknya, padahal dalam keadaan tahu Allah telah menghalalkan atau mengharamkan. Mereka mentaatinya dalam rangka mengagungkan ulama. Inilah yang disebut mengangkat ulama sebagai Tuhan. Ini termasuk syirik akbar dan kufur akbar. Karena di dalamnya terdapat memalingkan suatu ibadah berupa ketaatan -yang khusus- kepada selain Allah. Tingkatan kedua, mentaati ulama atau pemimpin dalam mengharamkan atau menghalalkan dari sisi amalan, bukan dari sisi batinnya. Ia mengakui bahwa hal tersebut haram atau halal, namun ia mengikuti ulama yang keliru tersebut secara amalan saja dan ia tahu bahwa ia sedang bermaksiat. Yang kedua juga dinilai termasuk pelaku dosa. Lihat penjelasan dalam At Tamhid  Syarh Kitabit Tauhid. Bukan Maksud Merendahkan Kyai Tulisan ini bukan maksud merendahkan ulama, para kyai dan orang berilmu. Bahkan kita diperintahkan bertanya pada kyai atau ulama tatkala kita tidak paham dalil atau mendapatkan kebingungan dalam masalah agama. Allah Ta’ala berfirman, فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” (QS. Al Anbiya’: 7). Hendaklah setiap orang yang mengikuti pendapat kyai tidak sekedar membabi buta membela pendapat kyainya. Seharusnya bisa berpikir bahwa jika pendapat kyai tersebut berseberangan dengan dalil, maka ikutilah dalil. Namun saat perkataan ulama bertentangan dengan dalil, maka sikapilah pendapat mereka dengan baik karena bisa jadi mereka keliru dalam hal itu. Lihatlah baik-baik perkataan ulama besar yang selalu kita agungkan, Imam Asy Syafi’i rahimahullah di mana beliau berkata, إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 211) Imam Syafi’i juga berkata, إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63) كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ  فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ “Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.” (Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35) كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِعِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا  قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي “Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.” (Hilyatul Auliya’, 9: 107) Ini pun untuk mendorong seorang muslim untuk semakin banyak belajar sehingga bisa memahami dalil. Imam Ahmad berkata, لَا تُقَلِّدُونِي وَلَا تُقَلِّدُوا مَالِكًا وَلَا الشَّافِعِيَّ وَلَا الثَّوْرِيَّ وَتَعَلَّمُوا كَمَا تَعَلَّمْنَا “Janganlah hanya sekedar taklid padaku dan jangan pula hanya sekedar taklid pada Malik, Syafi’i, dan Ats Tsauriy. Belajarlah sebagaimana kami belajar.” (Idem, 20: 211-212). Al Qur’an dan Hadits Bisa Dipelajari Al Qur’an itu bukanlah racun. Hadits itu bukanlah ular berbisa yang bisa menerkam orang yang memangsanya. Jadi, jika ada yang katakan bahwa jangan ikuti Al Qur’an karena bisa kena racunnya, sungguh ia salah fatal. Al Qur’an itu syifa’ atau penawar sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al Isra’: 82). Kok bisa ada yang sebut Al Qur’an itu sebagai racun padahal Allah sebut sebagai penawar? Dalam ayat lain disebutkan bahwa Al Qur’an itu bisa dipelajari dan dipahami dengan mudah. Allah berfirman, وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qamar: 17). Ibnu Katsir tatkala menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, “Kami telah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari secara lafazh dan makna supaya jadi peringatan bagi manusia.” Hadits pun begitu jelas sebagaimana disebutkan dalam kitab sunan, لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ “Aku telah tinggalkan untuk kalian sesuatu sebegitu putihnya di mana malamnya terangnya seperti siangnya. ” (HR. Ibnu Majah no. 5, hasan kata Syaikh Al Albani). Namun tentu saja pemahamannya tetap mendahulukan pemahaman ulama daripada pendapat pribadi. Karena para ulamalah yang mewariskan ilmu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dari generasi ke generasi. Yang penting ingat, hindari taklid atau fanatik buta. Wallahu a’lam. Hanyalah Allah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Soeta Airport, 27 Muharram 1435 H, 04: 41 PM Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsfanatik taklid


“Kulo nderek mawon kaleh poro Kyai“, ujar sebagian orang yang maksudnya kami manut saja pada perkataan ulama. Mau dibawa ke utara atau ke selatan, diikuti saja. Masa’ kyai bisa salah? Ada pula yang mengatakan bahwa hati-hati dengan racunnya Al Qur’an karena maksud dia manut saja dengan perkataan ulama dengan membabi buta tanpa menimbang dalil Al Qur’an, sabda atau tafsir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menganggap ulama tidak mungkin salah atau keliru. Kata dia, “Masa’ kyai bisa keliru beri resep?” Ini ajaran doktrin sebagian orang yang fanatik buta pada perkataan ulama tanpa memandang apakah perkataan kyai tersebut bersesuaian dengan dalil ataukah tidak. Pokoknya “kulo nderek mawon“, pokoknya saya ikut atau manut saja. Islam mengajarkan yang wajib diikuti adalah Al Qur’an dan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.  Perkataan ulama boleh diikuti jika bersesuaian dengan kedua sumber hukum Islam tersebut. Ketika berseberangan dari keduanya, tentu ditinggalkan. Kita tidak diajarkan untuk manut terus pada perkataan ulama. Karena mereka bukanlah ma’shum atau makhluk suci. Mereka bisa jadi keliru dalam pemahaman, bisa jadi belum sampai suatu hadits pada mereka atau punya udzur lainnya. Sehingga kalau dikatakan bahwa mereka adalah orang yang tidak bisa salah, ini justru keliru yang fatal. Namun itu bukan berarti kita meninggalkan ulam begitu saja. Pendapat mereka tetaplah diikuti untuk memahami Al Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar. Ulama Membantu Memahamkan Al Qur’an dan Hadits Ulama punya tugas untuk menerangkan Al Qur’an dan Hadits. Tugas mereka bukanlah untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Tugas ulama berijtihad dalam memahami dalil, lalu mereka jelaskan apa maksud Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah wasilah untuk memahami Al Qur’an dan hadits. Oleh karenanya, ketaatan pada mereka sebagai ikutan dari ketaatan pada Allah dan Rasul. Jika dalam perkara ijtihadiyah, pendapat mereka diikuti karena merekalah yang memahami dalil. Dalam masalah ini terhitung mentaati ulama masuk dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. Intinya, ketaatan yang bisa berdiri sendiri hanyalah ketaatan pada Allah. Ketaatan pada Rasul termasuk mengikuti ketaatan pada Allah. Ulama diikuti ketika bersesuaian dengan perkataan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan pada Ulama Para ulama termasuk ulil amri. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisaa’: 59). Ulil amri adalah yang diberi amanat memegang urusan agama yaitu ulama dan yang diserahi urusan dunia yaitu pemimpin (penguasa). Ibnu Qayyim Al Jauziyah dan ulama lainnya mengatakan bahwa mentaati ulil amri tidaklah berdiri sendiri namun ketaatan pada mereka mengikuti ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Jika ulama memerintahkan pada maksiat tentu ia tidak boleh ditaati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ “Tidak boleh mentaati makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad 5: 66, dari Al Hakam bin ‘Amr Al Ghifari. Sanad hadits ini shahih, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Menjadikan Ulama Sebagai Tuhan (Ilah) Jika ketaatan berdiri sendiri, maka itu dinilai ibadah. Ketaatan pada selain Allah hanyalah sebatas izin Allah saja. Dan ulama tidaklah boleh ditaati dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman, اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah sesembahan yang Esa, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31). Mengenai ayat di atas, ‘Adi bin Hatim pernah berkata bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di lehernya terdapat salib dari emas. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai ‘Adi buang berhala yang ada di lehermu.” Beliau kala itu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, « أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ “Adapun mereka tidaklah menyembah rahib mereka. Akan tetapi, mereka menghalalkan apa yang dihalalkan oleh rahib mereka dan mengharamkan apa yang diharamkan rahib mereka.”  (HR. Tirmidzi no. 3095, hasan menurut Syaikh Al Albani) Diterangkan oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh -Menteri Agama Kerajaan Saudi Arabia- bahwa ada dua tingkatan dalam mengikuti ulama dalam penghalalan dan pengharaman. Tingkatan pertama, mentaati ulama atau pemimpin dalam hal mengganti ajaran Islam yaitu menjadikan yang haram itu halal atau sebaliknya, padahal dalam keadaan tahu Allah telah menghalalkan atau mengharamkan. Mereka mentaatinya dalam rangka mengagungkan ulama. Inilah yang disebut mengangkat ulama sebagai Tuhan. Ini termasuk syirik akbar dan kufur akbar. Karena di dalamnya terdapat memalingkan suatu ibadah berupa ketaatan -yang khusus- kepada selain Allah. Tingkatan kedua, mentaati ulama atau pemimpin dalam mengharamkan atau menghalalkan dari sisi amalan, bukan dari sisi batinnya. Ia mengakui bahwa hal tersebut haram atau halal, namun ia mengikuti ulama yang keliru tersebut secara amalan saja dan ia tahu bahwa ia sedang bermaksiat. Yang kedua juga dinilai termasuk pelaku dosa. Lihat penjelasan dalam At Tamhid  Syarh Kitabit Tauhid. Bukan Maksud Merendahkan Kyai Tulisan ini bukan maksud merendahkan ulama, para kyai dan orang berilmu. Bahkan kita diperintahkan bertanya pada kyai atau ulama tatkala kita tidak paham dalil atau mendapatkan kebingungan dalam masalah agama. Allah Ta’ala berfirman, فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” (QS. Al Anbiya’: 7). Hendaklah setiap orang yang mengikuti pendapat kyai tidak sekedar membabi buta membela pendapat kyainya. Seharusnya bisa berpikir bahwa jika pendapat kyai tersebut berseberangan dengan dalil, maka ikutilah dalil. Namun saat perkataan ulama bertentangan dengan dalil, maka sikapilah pendapat mereka dengan baik karena bisa jadi mereka keliru dalam hal itu. Lihatlah baik-baik perkataan ulama besar yang selalu kita agungkan, Imam Asy Syafi’i rahimahullah di mana beliau berkata, إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 211) Imam Syafi’i juga berkata, إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63) كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ  فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ “Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.” (Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35) كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِعِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا  قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي “Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.” (Hilyatul Auliya’, 9: 107) Ini pun untuk mendorong seorang muslim untuk semakin banyak belajar sehingga bisa memahami dalil. Imam Ahmad berkata, لَا تُقَلِّدُونِي وَلَا تُقَلِّدُوا مَالِكًا وَلَا الشَّافِعِيَّ وَلَا الثَّوْرِيَّ وَتَعَلَّمُوا كَمَا تَعَلَّمْنَا “Janganlah hanya sekedar taklid padaku dan jangan pula hanya sekedar taklid pada Malik, Syafi’i, dan Ats Tsauriy. Belajarlah sebagaimana kami belajar.” (Idem, 20: 211-212). Al Qur’an dan Hadits Bisa Dipelajari Al Qur’an itu bukanlah racun. Hadits itu bukanlah ular berbisa yang bisa menerkam orang yang memangsanya. Jadi, jika ada yang katakan bahwa jangan ikuti Al Qur’an karena bisa kena racunnya, sungguh ia salah fatal. Al Qur’an itu syifa’ atau penawar sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al Isra’: 82). Kok bisa ada yang sebut Al Qur’an itu sebagai racun padahal Allah sebut sebagai penawar? Dalam ayat lain disebutkan bahwa Al Qur’an itu bisa dipelajari dan dipahami dengan mudah. Allah berfirman, وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qamar: 17). Ibnu Katsir tatkala menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, “Kami telah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari secara lafazh dan makna supaya jadi peringatan bagi manusia.” Hadits pun begitu jelas sebagaimana disebutkan dalam kitab sunan, لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ “Aku telah tinggalkan untuk kalian sesuatu sebegitu putihnya di mana malamnya terangnya seperti siangnya. ” (HR. Ibnu Majah no. 5, hasan kata Syaikh Al Albani). Namun tentu saja pemahamannya tetap mendahulukan pemahaman ulama daripada pendapat pribadi. Karena para ulamalah yang mewariskan ilmu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dari generasi ke generasi. Yang penting ingat, hindari taklid atau fanatik buta. Wallahu a’lam. Hanyalah Allah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Soeta Airport, 27 Muharram 1435 H, 04: 41 PM Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsfanatik taklid
Prev     Next