Amalan Hati Ketika Berdoa

Sering doa kita terkabulkan oleh Allah tatkala muncul terputusnya harapan terhadap seluruh makhluk…, tatkala tidak seorangpun yang bisa diharapkan bantuannya…, tatkala mungkin para dokter telah angkat tangan…, tatkala mungkin seluruh sahabat berlepas diri…, dll, maka pada saat itu hati hanya berharap kepada Allah Yang Maha Kuasa…lalu ketika itu terkabulkanlah doa kita…. Seandainya setiap kita berdoa kita bisa menghadirkan hati yang demikian maka tentu akan selalu dikabulkan doa kita !!! Seandainya doa hanya bisa dikabulkan jika kondisi hati demikian…pasrah dan menyerah hanya kepada Allah…, maka sungguh banyak doa orang yang tidak dikabulkan…akan tetapi Allah maha penyayang…Ia mengabulkan doa para hamba yang hatinya masih dibawah kondisi demikian, akan tetapi tetap harus ada bentuk kepasrahan dan keyakinan kepada Allah.. Seorang pria pernah bercerita langsung kepada saya, ia pernah mengalami penyakit tumor/cancer, dan ia telah banyak menghabiskan uangnya karena harus menjalankan operasi yang berulang-ulang, tatkala akhirnya para dokter angkat tangan dan memvonis bahwasanya umurnya hanya tinggal sekian bulan…, iapun pasrah menyerahkan urusannya kepada Allah. Alhamdulillah ada seorang wanita sholehah (dari kerabatnya) yang menasehatinya untuk banyak bersedekah dan berpuasa serta berdoa, akhirnya setelah ia menjalankan nasehat wanita tersebut Allahpun menyembuhkannya…!!! Sungguh hikmah yang sangat indah dari Allah tatkala Allah ingin meningkatkan derajat keimanan dan keyakinan hambaNya tersebut…diberi ujian silih berganti agar sang hamba yakin bahwa segala keputusan adalah ditangan Allah…tidak ada syarikat bagiNya…

Amalan Hati Ketika Berdoa

Sering doa kita terkabulkan oleh Allah tatkala muncul terputusnya harapan terhadap seluruh makhluk…, tatkala tidak seorangpun yang bisa diharapkan bantuannya…, tatkala mungkin para dokter telah angkat tangan…, tatkala mungkin seluruh sahabat berlepas diri…, dll, maka pada saat itu hati hanya berharap kepada Allah Yang Maha Kuasa…lalu ketika itu terkabulkanlah doa kita…. Seandainya setiap kita berdoa kita bisa menghadirkan hati yang demikian maka tentu akan selalu dikabulkan doa kita !!! Seandainya doa hanya bisa dikabulkan jika kondisi hati demikian…pasrah dan menyerah hanya kepada Allah…, maka sungguh banyak doa orang yang tidak dikabulkan…akan tetapi Allah maha penyayang…Ia mengabulkan doa para hamba yang hatinya masih dibawah kondisi demikian, akan tetapi tetap harus ada bentuk kepasrahan dan keyakinan kepada Allah.. Seorang pria pernah bercerita langsung kepada saya, ia pernah mengalami penyakit tumor/cancer, dan ia telah banyak menghabiskan uangnya karena harus menjalankan operasi yang berulang-ulang, tatkala akhirnya para dokter angkat tangan dan memvonis bahwasanya umurnya hanya tinggal sekian bulan…, iapun pasrah menyerahkan urusannya kepada Allah. Alhamdulillah ada seorang wanita sholehah (dari kerabatnya) yang menasehatinya untuk banyak bersedekah dan berpuasa serta berdoa, akhirnya setelah ia menjalankan nasehat wanita tersebut Allahpun menyembuhkannya…!!! Sungguh hikmah yang sangat indah dari Allah tatkala Allah ingin meningkatkan derajat keimanan dan keyakinan hambaNya tersebut…diberi ujian silih berganti agar sang hamba yakin bahwa segala keputusan adalah ditangan Allah…tidak ada syarikat bagiNya…
Sering doa kita terkabulkan oleh Allah tatkala muncul terputusnya harapan terhadap seluruh makhluk…, tatkala tidak seorangpun yang bisa diharapkan bantuannya…, tatkala mungkin para dokter telah angkat tangan…, tatkala mungkin seluruh sahabat berlepas diri…, dll, maka pada saat itu hati hanya berharap kepada Allah Yang Maha Kuasa…lalu ketika itu terkabulkanlah doa kita…. Seandainya setiap kita berdoa kita bisa menghadirkan hati yang demikian maka tentu akan selalu dikabulkan doa kita !!! Seandainya doa hanya bisa dikabulkan jika kondisi hati demikian…pasrah dan menyerah hanya kepada Allah…, maka sungguh banyak doa orang yang tidak dikabulkan…akan tetapi Allah maha penyayang…Ia mengabulkan doa para hamba yang hatinya masih dibawah kondisi demikian, akan tetapi tetap harus ada bentuk kepasrahan dan keyakinan kepada Allah.. Seorang pria pernah bercerita langsung kepada saya, ia pernah mengalami penyakit tumor/cancer, dan ia telah banyak menghabiskan uangnya karena harus menjalankan operasi yang berulang-ulang, tatkala akhirnya para dokter angkat tangan dan memvonis bahwasanya umurnya hanya tinggal sekian bulan…, iapun pasrah menyerahkan urusannya kepada Allah. Alhamdulillah ada seorang wanita sholehah (dari kerabatnya) yang menasehatinya untuk banyak bersedekah dan berpuasa serta berdoa, akhirnya setelah ia menjalankan nasehat wanita tersebut Allahpun menyembuhkannya…!!! Sungguh hikmah yang sangat indah dari Allah tatkala Allah ingin meningkatkan derajat keimanan dan keyakinan hambaNya tersebut…diberi ujian silih berganti agar sang hamba yakin bahwa segala keputusan adalah ditangan Allah…tidak ada syarikat bagiNya…


Sering doa kita terkabulkan oleh Allah tatkala muncul terputusnya harapan terhadap seluruh makhluk…, tatkala tidak seorangpun yang bisa diharapkan bantuannya…, tatkala mungkin para dokter telah angkat tangan…, tatkala mungkin seluruh sahabat berlepas diri…, dll, maka pada saat itu hati hanya berharap kepada Allah Yang Maha Kuasa…lalu ketika itu terkabulkanlah doa kita…. Seandainya setiap kita berdoa kita bisa menghadirkan hati yang demikian maka tentu akan selalu dikabulkan doa kita !!! Seandainya doa hanya bisa dikabulkan jika kondisi hati demikian…pasrah dan menyerah hanya kepada Allah…, maka sungguh banyak doa orang yang tidak dikabulkan…akan tetapi Allah maha penyayang…Ia mengabulkan doa para hamba yang hatinya masih dibawah kondisi demikian, akan tetapi tetap harus ada bentuk kepasrahan dan keyakinan kepada Allah.. Seorang pria pernah bercerita langsung kepada saya, ia pernah mengalami penyakit tumor/cancer, dan ia telah banyak menghabiskan uangnya karena harus menjalankan operasi yang berulang-ulang, tatkala akhirnya para dokter angkat tangan dan memvonis bahwasanya umurnya hanya tinggal sekian bulan…, iapun pasrah menyerahkan urusannya kepada Allah. Alhamdulillah ada seorang wanita sholehah (dari kerabatnya) yang menasehatinya untuk banyak bersedekah dan berpuasa serta berdoa, akhirnya setelah ia menjalankan nasehat wanita tersebut Allahpun menyembuhkannya…!!! Sungguh hikmah yang sangat indah dari Allah tatkala Allah ingin meningkatkan derajat keimanan dan keyakinan hambaNya tersebut…diberi ujian silih berganti agar sang hamba yakin bahwa segala keputusan adalah ditangan Allah…tidak ada syarikat bagiNya…

BUAH KEDZALIMAN

Oleh: Ustadz Fariq Gasim AnuzAllah pasti akan membalas orang yang dzalim. Berikut ini dua kisah nyata akibat buruk dari kedzaliman.” Kisah pertama, janda berprofesi sebagai dosen sudah dua kali ditalak. Ia mencintai anak bibinya yang sudah beristri dan dikaruniai lima anak. Ia bercerita, “Sepupu laki-laki ku yang lain mencintai istri laki-laki yang kucintai. Kami berusaha bagaimana caranya memisahkan kedua suami istri itu dengan harapan aku akan menikah dengan yang laki dan sepupuku akan menikah dengan istrinya. Kami berhasil memfitnah dan menuduh istrinya bahwa ia selingkuh. Mulailah kami menghembuskan isu diantara kerabat, selang beberapa waktu berhasillah kami. Goncanglah rumah tangganya dan berakhir dengan perceraian.Setahun kemudian wanita tersebut menikah lagi dengan laki-laki terhormat dan memiliki kedudukan dan mantan suaminya menikah lagi dengan wanita lain, tidak dengan diriku. Gagallah harapan kami, tinggallah kami memetik buah dari kedzaliman kami. Setelah tujuh tahun kemudian saya terkena penyakit kangker darah! Sedangkan anak bibiku yang ikut memfitnah, ia mati terbakar saat terjadi kebakaran di rumahnya tiga tahun setelah kami memfitnah. Kisah kedua, seorang anak muda menceritakan kisahnya, “Ketika saya sekolah di SMA terjadilah pertengkaran antara saya dan teman. Teman saya itu anaknya pandai. Setelah kejadian itu saya memutuskan untuk menghancurkan masa depannya. Suatu hari saya datang ke kelas pagi-pagi, saya bawa sabu-sabu dan saya masukkan ke tas anak ini. Saya minta teman untuk telpon ke polisi memberitahukan ada pengedar sabu-sabu di kelas. Strategi saya berhasil, bahkan saya menjadi saksi palsu sebagai pengguna narkoba dan mengaku membeli darinya.Sejak kejadian hari itu, saya selalu merasakan akibat dari kedzalimanku. Dua tahun lalu terjadi kecelakaan mobil, tangan kanan saya diamputasi !  Saya menemui teman saya untuk minta maaf tapi dia tidak mau memaafkan saya karena saya telah mencemarkan nama baiknya. Keluarganya kecewa kepadanya dan para kerabat menjauhinya. Setiap malam dia berdoa agar Allah membalas dan menimpakan keburukan untukku. Dia banyak dirugikan karena ulahku, saya tahu doa orang yang didzalimi itu mustajab. Disamping tangan kananku buntung sebelah, kedua kakiku juga sekarang lumpuh akibat kecelakaan untuk kedua kalinya. Sekarang saya duduk di kursi roda. Hidup saya sengsara, saya takut kematian, saya takut adzab Allah yang pedih di alam kubur dan di akhirat!. ” (“Qawaid Qur’aniyyah” halaman 39-40, oleh Dr Umar Al Muqbil )Selain akibat buruk di dunia, orang yang berbuat dzalim tidak akan lepas dari pengadilan Allah di akhirat meskipun di dunia bisa lolos dan selamat dan dianggap sebagai orang yang baik di mata sebagian manusia. Allah berfirman yang artinya, ” Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak…” (Surah Ibrahim 42)Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh pada hari kiamat kelak akan ditunaikan semua hak-hak kepada pemiliknya, hingga kambing yang bertanduk pun akan digiring (pada hari itu) dan diputuskan lantaran pernah menyeruduk kambing yang tak bertanduk”. (H.R.Muslim) Baru setelah itu mereka dikembalikan menjadi tanah.Jika kita berbuat dzalim segeralah mengembalikan hak orang lain dan mintalah maaf serta segeralah bertaubat sebelum terlambat. Jangan berpikir, “Apa kata manusia?”.  Berpikirlah, “Bagaimana saya selamat dari adzab Allah?”. 

BUAH KEDZALIMAN

Oleh: Ustadz Fariq Gasim AnuzAllah pasti akan membalas orang yang dzalim. Berikut ini dua kisah nyata akibat buruk dari kedzaliman.” Kisah pertama, janda berprofesi sebagai dosen sudah dua kali ditalak. Ia mencintai anak bibinya yang sudah beristri dan dikaruniai lima anak. Ia bercerita, “Sepupu laki-laki ku yang lain mencintai istri laki-laki yang kucintai. Kami berusaha bagaimana caranya memisahkan kedua suami istri itu dengan harapan aku akan menikah dengan yang laki dan sepupuku akan menikah dengan istrinya. Kami berhasil memfitnah dan menuduh istrinya bahwa ia selingkuh. Mulailah kami menghembuskan isu diantara kerabat, selang beberapa waktu berhasillah kami. Goncanglah rumah tangganya dan berakhir dengan perceraian.Setahun kemudian wanita tersebut menikah lagi dengan laki-laki terhormat dan memiliki kedudukan dan mantan suaminya menikah lagi dengan wanita lain, tidak dengan diriku. Gagallah harapan kami, tinggallah kami memetik buah dari kedzaliman kami. Setelah tujuh tahun kemudian saya terkena penyakit kangker darah! Sedangkan anak bibiku yang ikut memfitnah, ia mati terbakar saat terjadi kebakaran di rumahnya tiga tahun setelah kami memfitnah. Kisah kedua, seorang anak muda menceritakan kisahnya, “Ketika saya sekolah di SMA terjadilah pertengkaran antara saya dan teman. Teman saya itu anaknya pandai. Setelah kejadian itu saya memutuskan untuk menghancurkan masa depannya. Suatu hari saya datang ke kelas pagi-pagi, saya bawa sabu-sabu dan saya masukkan ke tas anak ini. Saya minta teman untuk telpon ke polisi memberitahukan ada pengedar sabu-sabu di kelas. Strategi saya berhasil, bahkan saya menjadi saksi palsu sebagai pengguna narkoba dan mengaku membeli darinya.Sejak kejadian hari itu, saya selalu merasakan akibat dari kedzalimanku. Dua tahun lalu terjadi kecelakaan mobil, tangan kanan saya diamputasi !  Saya menemui teman saya untuk minta maaf tapi dia tidak mau memaafkan saya karena saya telah mencemarkan nama baiknya. Keluarganya kecewa kepadanya dan para kerabat menjauhinya. Setiap malam dia berdoa agar Allah membalas dan menimpakan keburukan untukku. Dia banyak dirugikan karena ulahku, saya tahu doa orang yang didzalimi itu mustajab. Disamping tangan kananku buntung sebelah, kedua kakiku juga sekarang lumpuh akibat kecelakaan untuk kedua kalinya. Sekarang saya duduk di kursi roda. Hidup saya sengsara, saya takut kematian, saya takut adzab Allah yang pedih di alam kubur dan di akhirat!. ” (“Qawaid Qur’aniyyah” halaman 39-40, oleh Dr Umar Al Muqbil )Selain akibat buruk di dunia, orang yang berbuat dzalim tidak akan lepas dari pengadilan Allah di akhirat meskipun di dunia bisa lolos dan selamat dan dianggap sebagai orang yang baik di mata sebagian manusia. Allah berfirman yang artinya, ” Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak…” (Surah Ibrahim 42)Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh pada hari kiamat kelak akan ditunaikan semua hak-hak kepada pemiliknya, hingga kambing yang bertanduk pun akan digiring (pada hari itu) dan diputuskan lantaran pernah menyeruduk kambing yang tak bertanduk”. (H.R.Muslim) Baru setelah itu mereka dikembalikan menjadi tanah.Jika kita berbuat dzalim segeralah mengembalikan hak orang lain dan mintalah maaf serta segeralah bertaubat sebelum terlambat. Jangan berpikir, “Apa kata manusia?”.  Berpikirlah, “Bagaimana saya selamat dari adzab Allah?”. 
Oleh: Ustadz Fariq Gasim AnuzAllah pasti akan membalas orang yang dzalim. Berikut ini dua kisah nyata akibat buruk dari kedzaliman.” Kisah pertama, janda berprofesi sebagai dosen sudah dua kali ditalak. Ia mencintai anak bibinya yang sudah beristri dan dikaruniai lima anak. Ia bercerita, “Sepupu laki-laki ku yang lain mencintai istri laki-laki yang kucintai. Kami berusaha bagaimana caranya memisahkan kedua suami istri itu dengan harapan aku akan menikah dengan yang laki dan sepupuku akan menikah dengan istrinya. Kami berhasil memfitnah dan menuduh istrinya bahwa ia selingkuh. Mulailah kami menghembuskan isu diantara kerabat, selang beberapa waktu berhasillah kami. Goncanglah rumah tangganya dan berakhir dengan perceraian.Setahun kemudian wanita tersebut menikah lagi dengan laki-laki terhormat dan memiliki kedudukan dan mantan suaminya menikah lagi dengan wanita lain, tidak dengan diriku. Gagallah harapan kami, tinggallah kami memetik buah dari kedzaliman kami. Setelah tujuh tahun kemudian saya terkena penyakit kangker darah! Sedangkan anak bibiku yang ikut memfitnah, ia mati terbakar saat terjadi kebakaran di rumahnya tiga tahun setelah kami memfitnah. Kisah kedua, seorang anak muda menceritakan kisahnya, “Ketika saya sekolah di SMA terjadilah pertengkaran antara saya dan teman. Teman saya itu anaknya pandai. Setelah kejadian itu saya memutuskan untuk menghancurkan masa depannya. Suatu hari saya datang ke kelas pagi-pagi, saya bawa sabu-sabu dan saya masukkan ke tas anak ini. Saya minta teman untuk telpon ke polisi memberitahukan ada pengedar sabu-sabu di kelas. Strategi saya berhasil, bahkan saya menjadi saksi palsu sebagai pengguna narkoba dan mengaku membeli darinya.Sejak kejadian hari itu, saya selalu merasakan akibat dari kedzalimanku. Dua tahun lalu terjadi kecelakaan mobil, tangan kanan saya diamputasi !  Saya menemui teman saya untuk minta maaf tapi dia tidak mau memaafkan saya karena saya telah mencemarkan nama baiknya. Keluarganya kecewa kepadanya dan para kerabat menjauhinya. Setiap malam dia berdoa agar Allah membalas dan menimpakan keburukan untukku. Dia banyak dirugikan karena ulahku, saya tahu doa orang yang didzalimi itu mustajab. Disamping tangan kananku buntung sebelah, kedua kakiku juga sekarang lumpuh akibat kecelakaan untuk kedua kalinya. Sekarang saya duduk di kursi roda. Hidup saya sengsara, saya takut kematian, saya takut adzab Allah yang pedih di alam kubur dan di akhirat!. ” (“Qawaid Qur’aniyyah” halaman 39-40, oleh Dr Umar Al Muqbil )Selain akibat buruk di dunia, orang yang berbuat dzalim tidak akan lepas dari pengadilan Allah di akhirat meskipun di dunia bisa lolos dan selamat dan dianggap sebagai orang yang baik di mata sebagian manusia. Allah berfirman yang artinya, ” Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak…” (Surah Ibrahim 42)Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh pada hari kiamat kelak akan ditunaikan semua hak-hak kepada pemiliknya, hingga kambing yang bertanduk pun akan digiring (pada hari itu) dan diputuskan lantaran pernah menyeruduk kambing yang tak bertanduk”. (H.R.Muslim) Baru setelah itu mereka dikembalikan menjadi tanah.Jika kita berbuat dzalim segeralah mengembalikan hak orang lain dan mintalah maaf serta segeralah bertaubat sebelum terlambat. Jangan berpikir, “Apa kata manusia?”.  Berpikirlah, “Bagaimana saya selamat dari adzab Allah?”. 


Oleh: Ustadz Fariq Gasim AnuzAllah pasti akan membalas orang yang dzalim. Berikut ini dua kisah nyata akibat buruk dari kedzaliman.” Kisah pertama, janda berprofesi sebagai dosen sudah dua kali ditalak. Ia mencintai anak bibinya yang sudah beristri dan dikaruniai lima anak. Ia bercerita, “Sepupu laki-laki ku yang lain mencintai istri laki-laki yang kucintai. Kami berusaha bagaimana caranya memisahkan kedua suami istri itu dengan harapan aku akan menikah dengan yang laki dan sepupuku akan menikah dengan istrinya. Kami berhasil memfitnah dan menuduh istrinya bahwa ia selingkuh. Mulailah kami menghembuskan isu diantara kerabat, selang beberapa waktu berhasillah kami. Goncanglah rumah tangganya dan berakhir dengan perceraian.Setahun kemudian wanita tersebut menikah lagi dengan laki-laki terhormat dan memiliki kedudukan dan mantan suaminya menikah lagi dengan wanita lain, tidak dengan diriku. Gagallah harapan kami, tinggallah kami memetik buah dari kedzaliman kami. Setelah tujuh tahun kemudian saya terkena penyakit kangker darah! Sedangkan anak bibiku yang ikut memfitnah, ia mati terbakar saat terjadi kebakaran di rumahnya tiga tahun setelah kami memfitnah. Kisah kedua, seorang anak muda menceritakan kisahnya, “Ketika saya sekolah di SMA terjadilah pertengkaran antara saya dan teman. Teman saya itu anaknya pandai. Setelah kejadian itu saya memutuskan untuk menghancurkan masa depannya. Suatu hari saya datang ke kelas pagi-pagi, saya bawa sabu-sabu dan saya masukkan ke tas anak ini. Saya minta teman untuk telpon ke polisi memberitahukan ada pengedar sabu-sabu di kelas. Strategi saya berhasil, bahkan saya menjadi saksi palsu sebagai pengguna narkoba dan mengaku membeli darinya.Sejak kejadian hari itu, saya selalu merasakan akibat dari kedzalimanku. Dua tahun lalu terjadi kecelakaan mobil, tangan kanan saya diamputasi !  Saya menemui teman saya untuk minta maaf tapi dia tidak mau memaafkan saya karena saya telah mencemarkan nama baiknya. Keluarganya kecewa kepadanya dan para kerabat menjauhinya. Setiap malam dia berdoa agar Allah membalas dan menimpakan keburukan untukku. Dia banyak dirugikan karena ulahku, saya tahu doa orang yang didzalimi itu mustajab. Disamping tangan kananku buntung sebelah, kedua kakiku juga sekarang lumpuh akibat kecelakaan untuk kedua kalinya. Sekarang saya duduk di kursi roda. Hidup saya sengsara, saya takut kematian, saya takut adzab Allah yang pedih di alam kubur dan di akhirat!. ” (“Qawaid Qur’aniyyah” halaman 39-40, oleh Dr Umar Al Muqbil )Selain akibat buruk di dunia, orang yang berbuat dzalim tidak akan lepas dari pengadilan Allah di akhirat meskipun di dunia bisa lolos dan selamat dan dianggap sebagai orang yang baik di mata sebagian manusia. Allah berfirman yang artinya, ” Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak…” (Surah Ibrahim 42)Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh pada hari kiamat kelak akan ditunaikan semua hak-hak kepada pemiliknya, hingga kambing yang bertanduk pun akan digiring (pada hari itu) dan diputuskan lantaran pernah menyeruduk kambing yang tak bertanduk”. (H.R.Muslim) Baru setelah itu mereka dikembalikan menjadi tanah.Jika kita berbuat dzalim segeralah mengembalikan hak orang lain dan mintalah maaf serta segeralah bertaubat sebelum terlambat. Jangan berpikir, “Apa kata manusia?”.  Berpikirlah, “Bagaimana saya selamat dari adzab Allah?”. 

Dosa, Noda Hitam bagi Hati

Dosa, Noda Hitam bagi Hati Semakin banyak dosa yang kita kerjakan, makin banyak noda yang menempel, akhirnya hati menjadi tertutup, sehingga sulit mendapat cahaya hidayah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ”Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertaubat darinya, hatinya akan dibersihkan. Jika dia kembali melakukan dosa itu, akan ditambahkan titik hitamnya, sehingga menutupi permukaan hati. Itulah ’ar-Ran’ yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Itu disebabkan karena ar-Ran yang menutupi hati mereka disebabkan dosa yang telah mereka perbuat.” (HR. Turmudzi 3334 dan dihasankan al-Albani).

Dosa, Noda Hitam bagi Hati

Dosa, Noda Hitam bagi Hati Semakin banyak dosa yang kita kerjakan, makin banyak noda yang menempel, akhirnya hati menjadi tertutup, sehingga sulit mendapat cahaya hidayah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ”Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertaubat darinya, hatinya akan dibersihkan. Jika dia kembali melakukan dosa itu, akan ditambahkan titik hitamnya, sehingga menutupi permukaan hati. Itulah ’ar-Ran’ yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Itu disebabkan karena ar-Ran yang menutupi hati mereka disebabkan dosa yang telah mereka perbuat.” (HR. Turmudzi 3334 dan dihasankan al-Albani).
Dosa, Noda Hitam bagi Hati Semakin banyak dosa yang kita kerjakan, makin banyak noda yang menempel, akhirnya hati menjadi tertutup, sehingga sulit mendapat cahaya hidayah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ”Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertaubat darinya, hatinya akan dibersihkan. Jika dia kembali melakukan dosa itu, akan ditambahkan titik hitamnya, sehingga menutupi permukaan hati. Itulah ’ar-Ran’ yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Itu disebabkan karena ar-Ran yang menutupi hati mereka disebabkan dosa yang telah mereka perbuat.” (HR. Turmudzi 3334 dan dihasankan al-Albani).


Dosa, Noda Hitam bagi Hati Semakin banyak dosa yang kita kerjakan, makin banyak noda yang menempel, akhirnya hati menjadi tertutup, sehingga sulit mendapat cahaya hidayah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ”Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertaubat darinya, hatinya akan dibersihkan. Jika dia kembali melakukan dosa itu, akan ditambahkan titik hitamnya, sehingga menutupi permukaan hati. Itulah ’ar-Ran’ yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Itu disebabkan karena ar-Ran yang menutupi hati mereka disebabkan dosa yang telah mereka perbuat.” (HR. Turmudzi 3334 dan dihasankan al-Albani).

Manusia Berhutang Budi kepada Malaikat

Jasa Malaikat kepada Manusia Para malaikat banyak berdzikir memuji Allah, dan banyak memohon ampunan. Bukan untuk diri mereka sendiri, karena mereka tidak memiliki dosa. Mereka banyak beristighfar dan mohon ampun untuk manusia. وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ Para malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. (QS. As-Syura: 5) Sungguh manusia berhutang budi kepada para Malaikat.

Manusia Berhutang Budi kepada Malaikat

Jasa Malaikat kepada Manusia Para malaikat banyak berdzikir memuji Allah, dan banyak memohon ampunan. Bukan untuk diri mereka sendiri, karena mereka tidak memiliki dosa. Mereka banyak beristighfar dan mohon ampun untuk manusia. وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ Para malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. (QS. As-Syura: 5) Sungguh manusia berhutang budi kepada para Malaikat.
Jasa Malaikat kepada Manusia Para malaikat banyak berdzikir memuji Allah, dan banyak memohon ampunan. Bukan untuk diri mereka sendiri, karena mereka tidak memiliki dosa. Mereka banyak beristighfar dan mohon ampun untuk manusia. وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ Para malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. (QS. As-Syura: 5) Sungguh manusia berhutang budi kepada para Malaikat.


Jasa Malaikat kepada Manusia Para malaikat banyak berdzikir memuji Allah, dan banyak memohon ampunan. Bukan untuk diri mereka sendiri, karena mereka tidak memiliki dosa. Mereka banyak beristighfar dan mohon ampun untuk manusia. وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ Para malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. (QS. As-Syura: 5) Sungguh manusia berhutang budi kepada para Malaikat.

Lugu, Karakter Orang Mukmin yang Berilmu

Lugu, Karakter Orang Mukmin yang Berilmu Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Beri kelonggaran dalam majlis”, maka berilah kelonggaran niscaya Allah akan memberi kelonggaran untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah: 11). Ketika mereka diminta geser, mereka geser untuk memberi kelonggaran di masjid Ketika mereka diminta berdiri untuk pindah, mereka tidak berat hati. Allah sebut mereka sebagai mukmin yang berilmu, ”…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”

Lugu, Karakter Orang Mukmin yang Berilmu

Lugu, Karakter Orang Mukmin yang Berilmu Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Beri kelonggaran dalam majlis”, maka berilah kelonggaran niscaya Allah akan memberi kelonggaran untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah: 11). Ketika mereka diminta geser, mereka geser untuk memberi kelonggaran di masjid Ketika mereka diminta berdiri untuk pindah, mereka tidak berat hati. Allah sebut mereka sebagai mukmin yang berilmu, ”…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”
Lugu, Karakter Orang Mukmin yang Berilmu Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Beri kelonggaran dalam majlis”, maka berilah kelonggaran niscaya Allah akan memberi kelonggaran untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah: 11). Ketika mereka diminta geser, mereka geser untuk memberi kelonggaran di masjid Ketika mereka diminta berdiri untuk pindah, mereka tidak berat hati. Allah sebut mereka sebagai mukmin yang berilmu, ”…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”


Lugu, Karakter Orang Mukmin yang Berilmu Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Beri kelonggaran dalam majlis”, maka berilah kelonggaran niscaya Allah akan memberi kelonggaran untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah: 11). Ketika mereka diminta geser, mereka geser untuk memberi kelonggaran di masjid Ketika mereka diminta berdiri untuk pindah, mereka tidak berat hati. Allah sebut mereka sebagai mukmin yang berilmu, ”…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”

Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia

Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّينَ، فَقَدْ أَحَبَّه ”Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Namun Allah tidak memberi (ilmu) agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Karena itu, siapa yang Allah beri (ilmu) agama, berarti Allah mencintainya.” (HR. Ahmad 3672, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 34545)

Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia

Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّينَ، فَقَدْ أَحَبَّه ”Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Namun Allah tidak memberi (ilmu) agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Karena itu, siapa yang Allah beri (ilmu) agama, berarti Allah mencintainya.” (HR. Ahmad 3672, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 34545)
Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّينَ، فَقَدْ أَحَبَّه ”Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Namun Allah tidak memberi (ilmu) agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Karena itu, siapa yang Allah beri (ilmu) agama, berarti Allah mencintainya.” (HR. Ahmad 3672, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 34545)


Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّينَ، فَقَدْ أَحَبَّه ”Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Namun Allah tidak memberi (ilmu) agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Karena itu, siapa yang Allah beri (ilmu) agama, berarti Allah mencintainya.” (HR. Ahmad 3672, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 34545)

Perlindungan Unik dari Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Perlindungan Unik dari Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ، يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا، وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّد Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan orang kafir quraisy dan ejekan mereka kepadaku. Mereka mencela Mudzammam, dan melaknat Mudzammam, padahal namaku Muhammad. (HR. Bukhari 3533). Nabi kita bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Muhammad secara bahasa artinya manusia yang sangat terpuji. Orang kafir quraisy menyadari hal ini. Karena ini termasuk nama yang mulia. Maka mereka memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam, yang secara bahasa artinya manusia sangat tercela. Dalam perjalanan selanjutnya, ketika mereka mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mereka cantumkan adalah nama Mudzammam, celaka Mudzammam, biadab Mudzammam, dst. dan bukan nama Muhammad. Allah menjaga nama baik beliau. Ketika Ahmad Dahlan mendakwahkan gerakan Muhammadiyah, beberapa musuh dakwah beliau menggelarinya dengan dakwah wahabi. Ketika salafi melanjutkan dakwah pemurnian islam, menegakkan tauhid dan sunah, anti syirik dan bid’ah, banyak orang menggelarinya wahabi. Mereka mencela wahabi, bukan Muhammadiyah, mereka mencela wahabi dan bukan salafi. Barangkali ini salah satu penjagaan Allah terhadap nama baik ’Muhammadiyah’ dan salafi…

Perlindungan Unik dari Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Perlindungan Unik dari Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ، يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا، وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّد Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan orang kafir quraisy dan ejekan mereka kepadaku. Mereka mencela Mudzammam, dan melaknat Mudzammam, padahal namaku Muhammad. (HR. Bukhari 3533). Nabi kita bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Muhammad secara bahasa artinya manusia yang sangat terpuji. Orang kafir quraisy menyadari hal ini. Karena ini termasuk nama yang mulia. Maka mereka memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam, yang secara bahasa artinya manusia sangat tercela. Dalam perjalanan selanjutnya, ketika mereka mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mereka cantumkan adalah nama Mudzammam, celaka Mudzammam, biadab Mudzammam, dst. dan bukan nama Muhammad. Allah menjaga nama baik beliau. Ketika Ahmad Dahlan mendakwahkan gerakan Muhammadiyah, beberapa musuh dakwah beliau menggelarinya dengan dakwah wahabi. Ketika salafi melanjutkan dakwah pemurnian islam, menegakkan tauhid dan sunah, anti syirik dan bid’ah, banyak orang menggelarinya wahabi. Mereka mencela wahabi, bukan Muhammadiyah, mereka mencela wahabi dan bukan salafi. Barangkali ini salah satu penjagaan Allah terhadap nama baik ’Muhammadiyah’ dan salafi…
Perlindungan Unik dari Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ، يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا، وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّد Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan orang kafir quraisy dan ejekan mereka kepadaku. Mereka mencela Mudzammam, dan melaknat Mudzammam, padahal namaku Muhammad. (HR. Bukhari 3533). Nabi kita bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Muhammad secara bahasa artinya manusia yang sangat terpuji. Orang kafir quraisy menyadari hal ini. Karena ini termasuk nama yang mulia. Maka mereka memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam, yang secara bahasa artinya manusia sangat tercela. Dalam perjalanan selanjutnya, ketika mereka mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mereka cantumkan adalah nama Mudzammam, celaka Mudzammam, biadab Mudzammam, dst. dan bukan nama Muhammad. Allah menjaga nama baik beliau. Ketika Ahmad Dahlan mendakwahkan gerakan Muhammadiyah, beberapa musuh dakwah beliau menggelarinya dengan dakwah wahabi. Ketika salafi melanjutkan dakwah pemurnian islam, menegakkan tauhid dan sunah, anti syirik dan bid’ah, banyak orang menggelarinya wahabi. Mereka mencela wahabi, bukan Muhammadiyah, mereka mencela wahabi dan bukan salafi. Barangkali ini salah satu penjagaan Allah terhadap nama baik ’Muhammadiyah’ dan salafi…


Perlindungan Unik dari Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ، يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا، وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّد Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan orang kafir quraisy dan ejekan mereka kepadaku. Mereka mencela Mudzammam, dan melaknat Mudzammam, padahal namaku Muhammad. (HR. Bukhari 3533). Nabi kita bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Muhammad secara bahasa artinya manusia yang sangat terpuji. Orang kafir quraisy menyadari hal ini. Karena ini termasuk nama yang mulia. Maka mereka memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam, yang secara bahasa artinya manusia sangat tercela. Dalam perjalanan selanjutnya, ketika mereka mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mereka cantumkan adalah nama Mudzammam, celaka Mudzammam, biadab Mudzammam, dst. dan bukan nama Muhammad. Allah menjaga nama baik beliau. Ketika Ahmad Dahlan mendakwahkan gerakan Muhammadiyah, beberapa musuh dakwah beliau menggelarinya dengan dakwah wahabi. Ketika salafi melanjutkan dakwah pemurnian islam, menegakkan tauhid dan sunah, anti syirik dan bid’ah, banyak orang menggelarinya wahabi. Mereka mencela wahabi, bukan Muhammadiyah, mereka mencela wahabi dan bukan salafi. Barangkali ini salah satu penjagaan Allah terhadap nama baik ’Muhammadiyah’ dan salafi…

Masuk Surga Mudah, Masuk Neraka juga Mudah

Masuk Surga Mudah, Masuk Neraka juga Mudah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ “Surga lebih dekat kepada kalian dari pada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari 6488) Dr. Musthofa Bagha menjelaskan, هو كناية عن سهولة دخولها لمن أطاع وكذلك دخول النار لمن عصى Hadis ini merupakan ungkapan untuk menunjukkan betapa mudahnya masuk surga bagi orang yang mau taat. Dan betapa mudahnya tergelincir ke dalam neraka bagi orang yang maksiat. (Ta’liq Shahih Bukhari, 8/102).

Masuk Surga Mudah, Masuk Neraka juga Mudah

Masuk Surga Mudah, Masuk Neraka juga Mudah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ “Surga lebih dekat kepada kalian dari pada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari 6488) Dr. Musthofa Bagha menjelaskan, هو كناية عن سهولة دخولها لمن أطاع وكذلك دخول النار لمن عصى Hadis ini merupakan ungkapan untuk menunjukkan betapa mudahnya masuk surga bagi orang yang mau taat. Dan betapa mudahnya tergelincir ke dalam neraka bagi orang yang maksiat. (Ta’liq Shahih Bukhari, 8/102).
Masuk Surga Mudah, Masuk Neraka juga Mudah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ “Surga lebih dekat kepada kalian dari pada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari 6488) Dr. Musthofa Bagha menjelaskan, هو كناية عن سهولة دخولها لمن أطاع وكذلك دخول النار لمن عصى Hadis ini merupakan ungkapan untuk menunjukkan betapa mudahnya masuk surga bagi orang yang mau taat. Dan betapa mudahnya tergelincir ke dalam neraka bagi orang yang maksiat. (Ta’liq Shahih Bukhari, 8/102).


Masuk Surga Mudah, Masuk Neraka juga Mudah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ “Surga lebih dekat kepada kalian dari pada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari 6488) Dr. Musthofa Bagha menjelaskan, هو كناية عن سهولة دخولها لمن أطاع وكذلك دخول النار لمن عصى Hadis ini merupakan ungkapan untuk menunjukkan betapa mudahnya masuk surga bagi orang yang mau taat. Dan betapa mudahnya tergelincir ke dalam neraka bagi orang yang maksiat. (Ta’liq Shahih Bukhari, 8/102).

Rebutan Akhirat, Mengalah Masalah Dunia

Dalam masalah akhirat, islam mengajarkan kepada kita agar berusaha rebutan dalam mendapatkannya. Meskipun itu dilakukan melalui cara undian. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ Andaikan orang tahu pahala adzan dan shaf pertama, sementara mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali harus berundi, tentu mereka akan rela untuk melakukan undian. Andaikan mereka tahu pahala datang awal ketika shalat jamaah, tentu mereka akan berlomba dalam melakukannya. (HR. Bukhari 615 dan Muslim 437) Sementara dalam masalah dunia, islam memotivasi agar saling mengalah. Allah memuji orang Anshar yang mempersilahkan tamunya untuk makan seluruh jatah makanannya, sementara mereka sendiri rela menahan lapar. وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (yaitu kaum Anshor) sebelum kedatangan Muhajirin, mereka (Anshor) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr: 9) Di tempat kita, orang rebutan untuk menghindari shaf pertama, dan memilih mempersilahkan orang lain untuk menempatinya. Sementara dalam masalah dunia, mereka berusaha rebutan, bahkan rela untuk korban nyawa demi dunia.

Rebutan Akhirat, Mengalah Masalah Dunia

Dalam masalah akhirat, islam mengajarkan kepada kita agar berusaha rebutan dalam mendapatkannya. Meskipun itu dilakukan melalui cara undian. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ Andaikan orang tahu pahala adzan dan shaf pertama, sementara mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali harus berundi, tentu mereka akan rela untuk melakukan undian. Andaikan mereka tahu pahala datang awal ketika shalat jamaah, tentu mereka akan berlomba dalam melakukannya. (HR. Bukhari 615 dan Muslim 437) Sementara dalam masalah dunia, islam memotivasi agar saling mengalah. Allah memuji orang Anshar yang mempersilahkan tamunya untuk makan seluruh jatah makanannya, sementara mereka sendiri rela menahan lapar. وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (yaitu kaum Anshor) sebelum kedatangan Muhajirin, mereka (Anshor) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr: 9) Di tempat kita, orang rebutan untuk menghindari shaf pertama, dan memilih mempersilahkan orang lain untuk menempatinya. Sementara dalam masalah dunia, mereka berusaha rebutan, bahkan rela untuk korban nyawa demi dunia.
Dalam masalah akhirat, islam mengajarkan kepada kita agar berusaha rebutan dalam mendapatkannya. Meskipun itu dilakukan melalui cara undian. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ Andaikan orang tahu pahala adzan dan shaf pertama, sementara mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali harus berundi, tentu mereka akan rela untuk melakukan undian. Andaikan mereka tahu pahala datang awal ketika shalat jamaah, tentu mereka akan berlomba dalam melakukannya. (HR. Bukhari 615 dan Muslim 437) Sementara dalam masalah dunia, islam memotivasi agar saling mengalah. Allah memuji orang Anshar yang mempersilahkan tamunya untuk makan seluruh jatah makanannya, sementara mereka sendiri rela menahan lapar. وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (yaitu kaum Anshor) sebelum kedatangan Muhajirin, mereka (Anshor) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr: 9) Di tempat kita, orang rebutan untuk menghindari shaf pertama, dan memilih mempersilahkan orang lain untuk menempatinya. Sementara dalam masalah dunia, mereka berusaha rebutan, bahkan rela untuk korban nyawa demi dunia.


Dalam masalah akhirat, islam mengajarkan kepada kita agar berusaha rebutan dalam mendapatkannya. Meskipun itu dilakukan melalui cara undian. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ Andaikan orang tahu pahala adzan dan shaf pertama, sementara mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali harus berundi, tentu mereka akan rela untuk melakukan undian. Andaikan mereka tahu pahala datang awal ketika shalat jamaah, tentu mereka akan berlomba dalam melakukannya. (HR. Bukhari 615 dan Muslim 437) Sementara dalam masalah dunia, islam memotivasi agar saling mengalah. Allah memuji orang Anshar yang mempersilahkan tamunya untuk makan seluruh jatah makanannya, sementara mereka sendiri rela menahan lapar. وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (yaitu kaum Anshor) sebelum kedatangan Muhajirin, mereka (Anshor) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr: 9) Di tempat kita, orang rebutan untuk menghindari shaf pertama, dan memilih mempersilahkan orang lain untuk menempatinya. Sementara dalam masalah dunia, mereka berusaha rebutan, bahkan rela untuk korban nyawa demi dunia.

Antara Dzikir dan Syukur

Antara Dzikir dan Syukur Manusia yang paling mudah bersyukur adalah mereka yang paling sering berdzikir. فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah: 152). Sebagian ulama menegaskan, dzikir adalah pintu gerbang syukur.

Antara Dzikir dan Syukur

Antara Dzikir dan Syukur Manusia yang paling mudah bersyukur adalah mereka yang paling sering berdzikir. فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah: 152). Sebagian ulama menegaskan, dzikir adalah pintu gerbang syukur.
Antara Dzikir dan Syukur Manusia yang paling mudah bersyukur adalah mereka yang paling sering berdzikir. فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah: 152). Sebagian ulama menegaskan, dzikir adalah pintu gerbang syukur.


Antara Dzikir dan Syukur Manusia yang paling mudah bersyukur adalah mereka yang paling sering berdzikir. فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah: 152). Sebagian ulama menegaskan, dzikir adalah pintu gerbang syukur.

Diselamatkan karena Banyak Bertasbih

Diselamatkan karena Banyak Bertasbih Allah bercerita tentang Nabi Yunus, وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ . إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ. فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ ”Sesungguhnya Yunus termasuk para rasul Allah. (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. (QS. As-Shaffat: 139 – 141) فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ . فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ . لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ ”Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam Keadaan tercela. Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. As-Shaffat: 142 – 144). Beliau rajin bertasbih sejak dulu, ketika beliau dalam kondisi normal. Kebiasaan baik di waktu lapang, menjadi penolong di waktu susah. Ibnul Qoyim menjelaskan, فالأعمال تشفع لصاحبها عند الله وتذكر به إذا وقع في الشدائد قال تعالى عن ذي النون فلولا أنه كان من المسبحين للبث فى بطنه إلى يوم يبعثون Amal soleh bisa memberikan pertolongan kepada pelakunya di sisi Allah dan menjadi sebab dia diperhatikan ketika dalam kondisi kesusahan. Allah ta’ala berfirman tentang Dzun Nun (Nabi Yunus), (yang artinya)’ Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, Niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.’ (Madarij as-Salikin, 1/329).

Diselamatkan karena Banyak Bertasbih

Diselamatkan karena Banyak Bertasbih Allah bercerita tentang Nabi Yunus, وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ . إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ. فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ ”Sesungguhnya Yunus termasuk para rasul Allah. (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. (QS. As-Shaffat: 139 – 141) فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ . فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ . لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ ”Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam Keadaan tercela. Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. As-Shaffat: 142 – 144). Beliau rajin bertasbih sejak dulu, ketika beliau dalam kondisi normal. Kebiasaan baik di waktu lapang, menjadi penolong di waktu susah. Ibnul Qoyim menjelaskan, فالأعمال تشفع لصاحبها عند الله وتذكر به إذا وقع في الشدائد قال تعالى عن ذي النون فلولا أنه كان من المسبحين للبث فى بطنه إلى يوم يبعثون Amal soleh bisa memberikan pertolongan kepada pelakunya di sisi Allah dan menjadi sebab dia diperhatikan ketika dalam kondisi kesusahan. Allah ta’ala berfirman tentang Dzun Nun (Nabi Yunus), (yang artinya)’ Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, Niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.’ (Madarij as-Salikin, 1/329).
Diselamatkan karena Banyak Bertasbih Allah bercerita tentang Nabi Yunus, وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ . إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ. فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ ”Sesungguhnya Yunus termasuk para rasul Allah. (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. (QS. As-Shaffat: 139 – 141) فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ . فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ . لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ ”Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam Keadaan tercela. Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. As-Shaffat: 142 – 144). Beliau rajin bertasbih sejak dulu, ketika beliau dalam kondisi normal. Kebiasaan baik di waktu lapang, menjadi penolong di waktu susah. Ibnul Qoyim menjelaskan, فالأعمال تشفع لصاحبها عند الله وتذكر به إذا وقع في الشدائد قال تعالى عن ذي النون فلولا أنه كان من المسبحين للبث فى بطنه إلى يوم يبعثون Amal soleh bisa memberikan pertolongan kepada pelakunya di sisi Allah dan menjadi sebab dia diperhatikan ketika dalam kondisi kesusahan. Allah ta’ala berfirman tentang Dzun Nun (Nabi Yunus), (yang artinya)’ Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, Niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.’ (Madarij as-Salikin, 1/329).


Diselamatkan karena Banyak Bertasbih Allah bercerita tentang Nabi Yunus, وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ . إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ. فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ ”Sesungguhnya Yunus termasuk para rasul Allah. (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. (QS. As-Shaffat: 139 – 141) فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ . فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ . لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ ”Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam Keadaan tercela. Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. As-Shaffat: 142 – 144). Beliau rajin bertasbih sejak dulu, ketika beliau dalam kondisi normal. Kebiasaan baik di waktu lapang, menjadi penolong di waktu susah. Ibnul Qoyim menjelaskan, فالأعمال تشفع لصاحبها عند الله وتذكر به إذا وقع في الشدائد قال تعالى عن ذي النون فلولا أنه كان من المسبحين للبث فى بطنه إلى يوم يبعثون Amal soleh bisa memberikan pertolongan kepada pelakunya di sisi Allah dan menjadi sebab dia diperhatikan ketika dalam kondisi kesusahan. Allah ta’ala berfirman tentang Dzun Nun (Nabi Yunus), (yang artinya)’ Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, Niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.’ (Madarij as-Salikin, 1/329).

Hadis untuk Para Aparat & Sebangsanya

Dari Hisyam bin Hakim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا ”Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia.” (HR. Muslim 2613) Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa, اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ Ya Allah, siapapun di antara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, lalu dia menyusahkan rakyatnya (dengan birokrasi) maka susahkanlah hidupnya. Dan siapa diantara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, dan dia memudahkan mereka maka mudahkanlah hidupnya. (HR. Ahmad 24622 dan Muslim 1828)

Hadis untuk Para Aparat & Sebangsanya

Dari Hisyam bin Hakim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا ”Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia.” (HR. Muslim 2613) Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa, اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ Ya Allah, siapapun di antara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, lalu dia menyusahkan rakyatnya (dengan birokrasi) maka susahkanlah hidupnya. Dan siapa diantara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, dan dia memudahkan mereka maka mudahkanlah hidupnya. (HR. Ahmad 24622 dan Muslim 1828)
Dari Hisyam bin Hakim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا ”Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia.” (HR. Muslim 2613) Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa, اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ Ya Allah, siapapun di antara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, lalu dia menyusahkan rakyatnya (dengan birokrasi) maka susahkanlah hidupnya. Dan siapa diantara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, dan dia memudahkan mereka maka mudahkanlah hidupnya. (HR. Ahmad 24622 dan Muslim 1828)


Dari Hisyam bin Hakim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا ”Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia.” (HR. Muslim 2613) Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa, اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ Ya Allah, siapapun di antara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, lalu dia menyusahkan rakyatnya (dengan birokrasi) maka susahkanlah hidupnya. Dan siapa diantara umatku yang menjadi pemimpin untuk mengurusi kebutuhan rakyat, dan dia memudahkan mereka maka mudahkanlah hidupnya. (HR. Ahmad 24622 dan Muslim 1828)

Wabah Asbun

29NovWabah AsbunNovember 29, 2013Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Nasihat dan Faidah Asal bunyi, atau sering diringkas dengan istilah “asbun”, kerap dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Banyak orang terjangkiti virus ini, namun tidak merasa bahwa dirinya sedang menderita sakit. Padahal penyakit yang satu ini efek bahayanya luar biasa. Dampak negatifnya akan terasa bukan hanya di dunia saja, tapi juga akan terbawa hingga ke akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا؛ يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ”. “Terkadang seorang hamba mengucapkan suatu kalimat tanpa ia perhatikan dampaknya, ternyata mengakibatkan dirinya terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat”. HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi Muslim. Banyak praktek asbun yang harus kita waspadai. Di antara yang paling berbahaya adalah berbicara tentang hukum agama tanpa ilmu. Allah ta’ala menegaskan, “قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَالْإِثْمَ، وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ، وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا، وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ”. Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), “Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar. Dan (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu. Juga (mengharamkan) kalian untuk berbicara tentang (hukum) Allah yang tidak kalian ketahui”. QS. Al-A’raf (7): 33. Jika dalam dunia medis dikenal adanya mal praktek, dalam ranah keulamaan pun juga ada hal serupa. Bahkan sejak empat belas abad lalu, Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam sudah mengisyaratkan akan adanya fenomena tersebut, “إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا”. “Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan”. HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, dengan redaksi Bukhari. Di antara praktek asbun yang belakangan ini cukup mewabah, bahkan di antara mereka yang berpenampilan alim: memfitnah sesama muslim. Dengan berbekal gosip, mereka merusak kehormatan para ulama, ustadz dan saudara-saudara mereka seakidah. Hanya kepada Allah saja kita mengadu… Padahal, jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ؛ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ”. “Barang siapa membicarakan mukmin dengan sesuatu yang tidak benar adanya; niscaya Allah akan benamkan dia ke dalam kubangan nanahnya para penghuni neraka, hingga ia bertaubat dari perkataan tersebut“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany. Masih ada berbagai contoh lain praktek asbun. Maka berhati-hatilah! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Muharram 1435 / 21 November 2013 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Wabah Asbun

29NovWabah AsbunNovember 29, 2013Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Nasihat dan Faidah Asal bunyi, atau sering diringkas dengan istilah “asbun”, kerap dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Banyak orang terjangkiti virus ini, namun tidak merasa bahwa dirinya sedang menderita sakit. Padahal penyakit yang satu ini efek bahayanya luar biasa. Dampak negatifnya akan terasa bukan hanya di dunia saja, tapi juga akan terbawa hingga ke akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا؛ يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ”. “Terkadang seorang hamba mengucapkan suatu kalimat tanpa ia perhatikan dampaknya, ternyata mengakibatkan dirinya terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat”. HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi Muslim. Banyak praktek asbun yang harus kita waspadai. Di antara yang paling berbahaya adalah berbicara tentang hukum agama tanpa ilmu. Allah ta’ala menegaskan, “قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَالْإِثْمَ، وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ، وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا، وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ”. Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), “Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar. Dan (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu. Juga (mengharamkan) kalian untuk berbicara tentang (hukum) Allah yang tidak kalian ketahui”. QS. Al-A’raf (7): 33. Jika dalam dunia medis dikenal adanya mal praktek, dalam ranah keulamaan pun juga ada hal serupa. Bahkan sejak empat belas abad lalu, Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam sudah mengisyaratkan akan adanya fenomena tersebut, “إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا”. “Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan”. HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, dengan redaksi Bukhari. Di antara praktek asbun yang belakangan ini cukup mewabah, bahkan di antara mereka yang berpenampilan alim: memfitnah sesama muslim. Dengan berbekal gosip, mereka merusak kehormatan para ulama, ustadz dan saudara-saudara mereka seakidah. Hanya kepada Allah saja kita mengadu… Padahal, jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ؛ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ”. “Barang siapa membicarakan mukmin dengan sesuatu yang tidak benar adanya; niscaya Allah akan benamkan dia ke dalam kubangan nanahnya para penghuni neraka, hingga ia bertaubat dari perkataan tersebut“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany. Masih ada berbagai contoh lain praktek asbun. Maka berhati-hatilah! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Muharram 1435 / 21 November 2013 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
29NovWabah AsbunNovember 29, 2013Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Nasihat dan Faidah Asal bunyi, atau sering diringkas dengan istilah “asbun”, kerap dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Banyak orang terjangkiti virus ini, namun tidak merasa bahwa dirinya sedang menderita sakit. Padahal penyakit yang satu ini efek bahayanya luar biasa. Dampak negatifnya akan terasa bukan hanya di dunia saja, tapi juga akan terbawa hingga ke akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا؛ يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ”. “Terkadang seorang hamba mengucapkan suatu kalimat tanpa ia perhatikan dampaknya, ternyata mengakibatkan dirinya terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat”. HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi Muslim. Banyak praktek asbun yang harus kita waspadai. Di antara yang paling berbahaya adalah berbicara tentang hukum agama tanpa ilmu. Allah ta’ala menegaskan, “قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَالْإِثْمَ، وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ، وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا، وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ”. Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), “Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar. Dan (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu. Juga (mengharamkan) kalian untuk berbicara tentang (hukum) Allah yang tidak kalian ketahui”. QS. Al-A’raf (7): 33. Jika dalam dunia medis dikenal adanya mal praktek, dalam ranah keulamaan pun juga ada hal serupa. Bahkan sejak empat belas abad lalu, Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam sudah mengisyaratkan akan adanya fenomena tersebut, “إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا”. “Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan”. HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, dengan redaksi Bukhari. Di antara praktek asbun yang belakangan ini cukup mewabah, bahkan di antara mereka yang berpenampilan alim: memfitnah sesama muslim. Dengan berbekal gosip, mereka merusak kehormatan para ulama, ustadz dan saudara-saudara mereka seakidah. Hanya kepada Allah saja kita mengadu… Padahal, jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ؛ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ”. “Barang siapa membicarakan mukmin dengan sesuatu yang tidak benar adanya; niscaya Allah akan benamkan dia ke dalam kubangan nanahnya para penghuni neraka, hingga ia bertaubat dari perkataan tersebut“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany. Masih ada berbagai contoh lain praktek asbun. Maka berhati-hatilah! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Muharram 1435 / 21 November 2013 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


29NovWabah AsbunNovember 29, 2013Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Nasihat dan Faidah Asal bunyi, atau sering diringkas dengan istilah “asbun”, kerap dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Banyak orang terjangkiti virus ini, namun tidak merasa bahwa dirinya sedang menderita sakit. Padahal penyakit yang satu ini efek bahayanya luar biasa. Dampak negatifnya akan terasa bukan hanya di dunia saja, tapi juga akan terbawa hingga ke akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا؛ يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ”. “Terkadang seorang hamba mengucapkan suatu kalimat tanpa ia perhatikan dampaknya, ternyata mengakibatkan dirinya terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat”. HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi Muslim. Banyak praktek asbun yang harus kita waspadai. Di antara yang paling berbahaya adalah berbicara tentang hukum agama tanpa ilmu. Allah ta’ala menegaskan, “قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَالْإِثْمَ، وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ، وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا، وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ”. Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), “Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar. Dan (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu. Juga (mengharamkan) kalian untuk berbicara tentang (hukum) Allah yang tidak kalian ketahui”. QS. Al-A’raf (7): 33. Jika dalam dunia medis dikenal adanya mal praktek, dalam ranah keulamaan pun juga ada hal serupa. Bahkan sejak empat belas abad lalu, Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam sudah mengisyaratkan akan adanya fenomena tersebut, “إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا”. “Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan”. HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, dengan redaksi Bukhari. Di antara praktek asbun yang belakangan ini cukup mewabah, bahkan di antara mereka yang berpenampilan alim: memfitnah sesama muslim. Dengan berbekal gosip, mereka merusak kehormatan para ulama, ustadz dan saudara-saudara mereka seakidah. Hanya kepada Allah saja kita mengadu… Padahal, jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ؛ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ”. “Barang siapa membicarakan mukmin dengan sesuatu yang tidak benar adanya; niscaya Allah akan benamkan dia ke dalam kubangan nanahnya para penghuni neraka, hingga ia bertaubat dari perkataan tersebut“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany. Masih ada berbagai contoh lain praktek asbun. Maka berhati-hatilah! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Muharram 1435 / 21 November 2013 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Tipe Manusia yang Sangat Allah Benci

Manusia yang Sangat Allah Benci Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ Allah sangat membenci orang Ja’dzari, Jawwadz, suka teriak di pasar, bangkai di malam hari, keledai di siang hari, pinter masalah dunia, dan bodoh masalah akhirat. (HR. Ibnu Hibban 72 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) 7 Karakter yang Allah benci: Ja’dzari: keras lagi sombong (suka menghina) Jawwadz: rakus lagi pelit Suka teriak di pasar karena rebutan hak Bangkai di malam hari, karena tidur sampai pagi Keledai di siang hari, karena yang dipikirkan hanya makan Pinter masalah dunia Bodoh masalah akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari sifat yang sangat mengerikan ini.

Tipe Manusia yang Sangat Allah Benci

Manusia yang Sangat Allah Benci Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ Allah sangat membenci orang Ja’dzari, Jawwadz, suka teriak di pasar, bangkai di malam hari, keledai di siang hari, pinter masalah dunia, dan bodoh masalah akhirat. (HR. Ibnu Hibban 72 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) 7 Karakter yang Allah benci: Ja’dzari: keras lagi sombong (suka menghina) Jawwadz: rakus lagi pelit Suka teriak di pasar karena rebutan hak Bangkai di malam hari, karena tidur sampai pagi Keledai di siang hari, karena yang dipikirkan hanya makan Pinter masalah dunia Bodoh masalah akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari sifat yang sangat mengerikan ini.
Manusia yang Sangat Allah Benci Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ Allah sangat membenci orang Ja’dzari, Jawwadz, suka teriak di pasar, bangkai di malam hari, keledai di siang hari, pinter masalah dunia, dan bodoh masalah akhirat. (HR. Ibnu Hibban 72 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) 7 Karakter yang Allah benci: Ja’dzari: keras lagi sombong (suka menghina) Jawwadz: rakus lagi pelit Suka teriak di pasar karena rebutan hak Bangkai di malam hari, karena tidur sampai pagi Keledai di siang hari, karena yang dipikirkan hanya makan Pinter masalah dunia Bodoh masalah akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari sifat yang sangat mengerikan ini.


Manusia yang Sangat Allah Benci Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ Allah sangat membenci orang Ja’dzari, Jawwadz, suka teriak di pasar, bangkai di malam hari, keledai di siang hari, pinter masalah dunia, dan bodoh masalah akhirat. (HR. Ibnu Hibban 72 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) 7 Karakter yang Allah benci: Ja’dzari: keras lagi sombong (suka menghina) Jawwadz: rakus lagi pelit Suka teriak di pasar karena rebutan hak Bangkai di malam hari, karena tidur sampai pagi Keledai di siang hari, karena yang dipikirkan hanya makan Pinter masalah dunia Bodoh masalah akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari sifat yang sangat mengerikan ini.
Prev     Next