Kenalilah Kejelekan!

Seorang muslim tidak hanya mempelajari yang baik-baik saja. Namun hendaknya ia dalam hidupnya juga mempelajari kejelekan. Bukan berarti ia ingin melakukannya, namun justru untuk ia hindari. Coba bayangkan jika kita tidak mengenal bagaimana bentuk binatang buas. Suatu saat kita memasuki hutan belantara yang ‘so’ pasti banyak hewan seram di dalamnya. Jika seseorang tidak mengetahui bagaimana bentuk singa misalnya, malah ia sangka singa adalah binatang jinak padahal nantinya bisa menerkam dan menewaskannya. Demikian halnya kejelekan wahai ikhwah, kita pun harus tahu. Kita harus tahu seluk beluk syirik, kita harus paham manakah ajaran yang tidak ada tuntunan, manakah larangan Allah yang digolongkan dosa besar. Itu semua dipelajari supaya kita bisa hindari dan tidak terjerumus dalam syirik, bid’ah atau maksiat. Hanya Allah yang benar-benar beri petunjuk … Lihatlah seorang sahabat yang mulia yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman, begitu semangat mengenali kejelekan, di samping ia juga paham amalan baik. Hudzaifah berkata, “Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya.” ( HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847) Syaikh Sulaiman At Tamimi rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak mengenal kecuali kebaikan saja tentu ia bisa saja mendatangi kejelekan karena ia tidak mengetahuinya. Bisa jadi ia terjerumus di dalamnya atau ia tidak mengingkari kejelekan tersebut seperti orang yang mengetahuinya. Karenanya Umar bin Khottob berkata, “Sungguh akan terlepas tali Islam perlahan demi perlahan ketika seseorang berada dalam Islam namun tidak mengenal perkara jahiliyah.” Lihat Dar’u Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql karya Ibnu Taimiyah dan Al Jawabul Kafi karya Ibnul Qayyim. Dinukil dari Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283. Ibnu Taimiyah rahumahullah mengatakan, “Karenanya para sahabat nabi mereka lebih kuat iman dan lebih semangat dalam jihad daripada orang-orang setelah mereka. Itu karena mereka mengenal kebaikan, di samping itu pula mengenal kejelekan. Mereka sangat semangat mengenali kebaikan dan begitu benci pada kejelekan. Karena mereka tahu bagaimana akibat baik dari iman dan amalan shalih, serta akibat jelek dari orang yang berbuat kekafiran dan maksiat.” (Fatawal Kubro, 2: 341) Demikian faedah-faedah yang Rumaysho.Com peroleh dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283-284. Moga bermanfaat.   Referensi: Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab, terbitan Darush Shumai’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Disusun di Pesawat Batik Air saat safar Jogja JKT, 15 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmaksiat syirik

Kenalilah Kejelekan!

Seorang muslim tidak hanya mempelajari yang baik-baik saja. Namun hendaknya ia dalam hidupnya juga mempelajari kejelekan. Bukan berarti ia ingin melakukannya, namun justru untuk ia hindari. Coba bayangkan jika kita tidak mengenal bagaimana bentuk binatang buas. Suatu saat kita memasuki hutan belantara yang ‘so’ pasti banyak hewan seram di dalamnya. Jika seseorang tidak mengetahui bagaimana bentuk singa misalnya, malah ia sangka singa adalah binatang jinak padahal nantinya bisa menerkam dan menewaskannya. Demikian halnya kejelekan wahai ikhwah, kita pun harus tahu. Kita harus tahu seluk beluk syirik, kita harus paham manakah ajaran yang tidak ada tuntunan, manakah larangan Allah yang digolongkan dosa besar. Itu semua dipelajari supaya kita bisa hindari dan tidak terjerumus dalam syirik, bid’ah atau maksiat. Hanya Allah yang benar-benar beri petunjuk … Lihatlah seorang sahabat yang mulia yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman, begitu semangat mengenali kejelekan, di samping ia juga paham amalan baik. Hudzaifah berkata, “Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya.” ( HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847) Syaikh Sulaiman At Tamimi rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak mengenal kecuali kebaikan saja tentu ia bisa saja mendatangi kejelekan karena ia tidak mengetahuinya. Bisa jadi ia terjerumus di dalamnya atau ia tidak mengingkari kejelekan tersebut seperti orang yang mengetahuinya. Karenanya Umar bin Khottob berkata, “Sungguh akan terlepas tali Islam perlahan demi perlahan ketika seseorang berada dalam Islam namun tidak mengenal perkara jahiliyah.” Lihat Dar’u Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql karya Ibnu Taimiyah dan Al Jawabul Kafi karya Ibnul Qayyim. Dinukil dari Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283. Ibnu Taimiyah rahumahullah mengatakan, “Karenanya para sahabat nabi mereka lebih kuat iman dan lebih semangat dalam jihad daripada orang-orang setelah mereka. Itu karena mereka mengenal kebaikan, di samping itu pula mengenal kejelekan. Mereka sangat semangat mengenali kebaikan dan begitu benci pada kejelekan. Karena mereka tahu bagaimana akibat baik dari iman dan amalan shalih, serta akibat jelek dari orang yang berbuat kekafiran dan maksiat.” (Fatawal Kubro, 2: 341) Demikian faedah-faedah yang Rumaysho.Com peroleh dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283-284. Moga bermanfaat.   Referensi: Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab, terbitan Darush Shumai’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Disusun di Pesawat Batik Air saat safar Jogja JKT, 15 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmaksiat syirik
Seorang muslim tidak hanya mempelajari yang baik-baik saja. Namun hendaknya ia dalam hidupnya juga mempelajari kejelekan. Bukan berarti ia ingin melakukannya, namun justru untuk ia hindari. Coba bayangkan jika kita tidak mengenal bagaimana bentuk binatang buas. Suatu saat kita memasuki hutan belantara yang ‘so’ pasti banyak hewan seram di dalamnya. Jika seseorang tidak mengetahui bagaimana bentuk singa misalnya, malah ia sangka singa adalah binatang jinak padahal nantinya bisa menerkam dan menewaskannya. Demikian halnya kejelekan wahai ikhwah, kita pun harus tahu. Kita harus tahu seluk beluk syirik, kita harus paham manakah ajaran yang tidak ada tuntunan, manakah larangan Allah yang digolongkan dosa besar. Itu semua dipelajari supaya kita bisa hindari dan tidak terjerumus dalam syirik, bid’ah atau maksiat. Hanya Allah yang benar-benar beri petunjuk … Lihatlah seorang sahabat yang mulia yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman, begitu semangat mengenali kejelekan, di samping ia juga paham amalan baik. Hudzaifah berkata, “Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya.” ( HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847) Syaikh Sulaiman At Tamimi rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak mengenal kecuali kebaikan saja tentu ia bisa saja mendatangi kejelekan karena ia tidak mengetahuinya. Bisa jadi ia terjerumus di dalamnya atau ia tidak mengingkari kejelekan tersebut seperti orang yang mengetahuinya. Karenanya Umar bin Khottob berkata, “Sungguh akan terlepas tali Islam perlahan demi perlahan ketika seseorang berada dalam Islam namun tidak mengenal perkara jahiliyah.” Lihat Dar’u Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql karya Ibnu Taimiyah dan Al Jawabul Kafi karya Ibnul Qayyim. Dinukil dari Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283. Ibnu Taimiyah rahumahullah mengatakan, “Karenanya para sahabat nabi mereka lebih kuat iman dan lebih semangat dalam jihad daripada orang-orang setelah mereka. Itu karena mereka mengenal kebaikan, di samping itu pula mengenal kejelekan. Mereka sangat semangat mengenali kebaikan dan begitu benci pada kejelekan. Karena mereka tahu bagaimana akibat baik dari iman dan amalan shalih, serta akibat jelek dari orang yang berbuat kekafiran dan maksiat.” (Fatawal Kubro, 2: 341) Demikian faedah-faedah yang Rumaysho.Com peroleh dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283-284. Moga bermanfaat.   Referensi: Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab, terbitan Darush Shumai’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Disusun di Pesawat Batik Air saat safar Jogja JKT, 15 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmaksiat syirik


Seorang muslim tidak hanya mempelajari yang baik-baik saja. Namun hendaknya ia dalam hidupnya juga mempelajari kejelekan. Bukan berarti ia ingin melakukannya, namun justru untuk ia hindari. Coba bayangkan jika kita tidak mengenal bagaimana bentuk binatang buas. Suatu saat kita memasuki hutan belantara yang ‘so’ pasti banyak hewan seram di dalamnya. Jika seseorang tidak mengetahui bagaimana bentuk singa misalnya, malah ia sangka singa adalah binatang jinak padahal nantinya bisa menerkam dan menewaskannya. Demikian halnya kejelekan wahai ikhwah, kita pun harus tahu. Kita harus tahu seluk beluk syirik, kita harus paham manakah ajaran yang tidak ada tuntunan, manakah larangan Allah yang digolongkan dosa besar. Itu semua dipelajari supaya kita bisa hindari dan tidak terjerumus dalam syirik, bid’ah atau maksiat. Hanya Allah yang benar-benar beri petunjuk … Lihatlah seorang sahabat yang mulia yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman, begitu semangat mengenali kejelekan, di samping ia juga paham amalan baik. Hudzaifah berkata, “Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya.” ( HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847) Syaikh Sulaiman At Tamimi rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak mengenal kecuali kebaikan saja tentu ia bisa saja mendatangi kejelekan karena ia tidak mengetahuinya. Bisa jadi ia terjerumus di dalamnya atau ia tidak mengingkari kejelekan tersebut seperti orang yang mengetahuinya. Karenanya Umar bin Khottob berkata, “Sungguh akan terlepas tali Islam perlahan demi perlahan ketika seseorang berada dalam Islam namun tidak mengenal perkara jahiliyah.” Lihat Dar’u Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql karya Ibnu Taimiyah dan Al Jawabul Kafi karya Ibnul Qayyim. Dinukil dari Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283. Ibnu Taimiyah rahumahullah mengatakan, “Karenanya para sahabat nabi mereka lebih kuat iman dan lebih semangat dalam jihad daripada orang-orang setelah mereka. Itu karena mereka mengenal kebaikan, di samping itu pula mengenal kejelekan. Mereka sangat semangat mengenali kebaikan dan begitu benci pada kejelekan. Karena mereka tahu bagaimana akibat baik dari iman dan amalan shalih, serta akibat jelek dari orang yang berbuat kekafiran dan maksiat.” (Fatawal Kubro, 2: 341) Demikian faedah-faedah yang Rumaysho.Com peroleh dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283-284. Moga bermanfaat.   Referensi: Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab, terbitan Darush Shumai’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Disusun di Pesawat Batik Air saat safar Jogja JKT, 15 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmaksiat syirik

Bahaya Meninggalkan Shalat (4): Perkataan Tabi’in

Sepeninggal para sahabat Nabi yaitu para tabi’in juga menganggap bahwa meninggalkan shalat bisa membuat seseorang itu kafir. Mereka yang berpendapat demikian adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohuwyah, Abdullah bin Al Mubarok, Ibrohim An Nakho’iy, Al Hakam bin ‘Utaibah, Ayyub As Sikhtiyaniy, Abu Daud Ath Thoyalisiy, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb. Berikut adalah sebagian perkataan mereka yang masih kami nukil dari kitab yang sama. Muhammad bin Nashr berkata bahwa Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) bahwa Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami, (dia berkata bahwa) Hammad bin Zaid (berkata) dari Ayyub As Sikhtiyaniy berkata, ”Meninggalkan shalat adalah suatu kekafiran dan hal ini tidaklah dipersilisihkan.” Muhammad menceritakan dari Ibnul Mubarok, dia berkata,”Barangsiapa mengakhirkan shalat hingga luput waktunya dengan sengaja tanpa ada udzur (alasan), maka dia telah kafir.” Yahya bin Ma’in mengatakan, ”Dikatakan kepada Abdullah bin Al Mubarok,’Orang-orang mengatakan : Barangsiapa tidak berpuasa (Ramadhan, pen) dan tidak menunaikan shalat setelah mengakui (kewajibannya, pen), maka dia adalah mu’min yang sempurna imannya.’ Lalu Abdullah bin Al Mubarok mengatakan,’Kami tidaklah mengatakan seperti yang mereka katakan. Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa alasan sampai dia memasukkan satu waktu ke waktu lainnya, maka dia kafir’. Abu Abdillah Muhammad bin Nashr mengatakan,”Aku mendengar Ishaq bin Rohuwyah berkata, ’Telah shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa meninggalkan shalat adalah kafir.” — Akhukum fillah : Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 14 Safar 1435 H Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsmeninggalkan shalat

Bahaya Meninggalkan Shalat (4): Perkataan Tabi’in

Sepeninggal para sahabat Nabi yaitu para tabi’in juga menganggap bahwa meninggalkan shalat bisa membuat seseorang itu kafir. Mereka yang berpendapat demikian adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohuwyah, Abdullah bin Al Mubarok, Ibrohim An Nakho’iy, Al Hakam bin ‘Utaibah, Ayyub As Sikhtiyaniy, Abu Daud Ath Thoyalisiy, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb. Berikut adalah sebagian perkataan mereka yang masih kami nukil dari kitab yang sama. Muhammad bin Nashr berkata bahwa Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) bahwa Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami, (dia berkata bahwa) Hammad bin Zaid (berkata) dari Ayyub As Sikhtiyaniy berkata, ”Meninggalkan shalat adalah suatu kekafiran dan hal ini tidaklah dipersilisihkan.” Muhammad menceritakan dari Ibnul Mubarok, dia berkata,”Barangsiapa mengakhirkan shalat hingga luput waktunya dengan sengaja tanpa ada udzur (alasan), maka dia telah kafir.” Yahya bin Ma’in mengatakan, ”Dikatakan kepada Abdullah bin Al Mubarok,’Orang-orang mengatakan : Barangsiapa tidak berpuasa (Ramadhan, pen) dan tidak menunaikan shalat setelah mengakui (kewajibannya, pen), maka dia adalah mu’min yang sempurna imannya.’ Lalu Abdullah bin Al Mubarok mengatakan,’Kami tidaklah mengatakan seperti yang mereka katakan. Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa alasan sampai dia memasukkan satu waktu ke waktu lainnya, maka dia kafir’. Abu Abdillah Muhammad bin Nashr mengatakan,”Aku mendengar Ishaq bin Rohuwyah berkata, ’Telah shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa meninggalkan shalat adalah kafir.” — Akhukum fillah : Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 14 Safar 1435 H Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsmeninggalkan shalat
Sepeninggal para sahabat Nabi yaitu para tabi’in juga menganggap bahwa meninggalkan shalat bisa membuat seseorang itu kafir. Mereka yang berpendapat demikian adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohuwyah, Abdullah bin Al Mubarok, Ibrohim An Nakho’iy, Al Hakam bin ‘Utaibah, Ayyub As Sikhtiyaniy, Abu Daud Ath Thoyalisiy, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb. Berikut adalah sebagian perkataan mereka yang masih kami nukil dari kitab yang sama. Muhammad bin Nashr berkata bahwa Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) bahwa Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami, (dia berkata bahwa) Hammad bin Zaid (berkata) dari Ayyub As Sikhtiyaniy berkata, ”Meninggalkan shalat adalah suatu kekafiran dan hal ini tidaklah dipersilisihkan.” Muhammad menceritakan dari Ibnul Mubarok, dia berkata,”Barangsiapa mengakhirkan shalat hingga luput waktunya dengan sengaja tanpa ada udzur (alasan), maka dia telah kafir.” Yahya bin Ma’in mengatakan, ”Dikatakan kepada Abdullah bin Al Mubarok,’Orang-orang mengatakan : Barangsiapa tidak berpuasa (Ramadhan, pen) dan tidak menunaikan shalat setelah mengakui (kewajibannya, pen), maka dia adalah mu’min yang sempurna imannya.’ Lalu Abdullah bin Al Mubarok mengatakan,’Kami tidaklah mengatakan seperti yang mereka katakan. Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa alasan sampai dia memasukkan satu waktu ke waktu lainnya, maka dia kafir’. Abu Abdillah Muhammad bin Nashr mengatakan,”Aku mendengar Ishaq bin Rohuwyah berkata, ’Telah shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa meninggalkan shalat adalah kafir.” — Akhukum fillah : Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 14 Safar 1435 H Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsmeninggalkan shalat


Sepeninggal para sahabat Nabi yaitu para tabi’in juga menganggap bahwa meninggalkan shalat bisa membuat seseorang itu kafir. Mereka yang berpendapat demikian adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohuwyah, Abdullah bin Al Mubarok, Ibrohim An Nakho’iy, Al Hakam bin ‘Utaibah, Ayyub As Sikhtiyaniy, Abu Daud Ath Thoyalisiy, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb. Berikut adalah sebagian perkataan mereka yang masih kami nukil dari kitab yang sama. Muhammad bin Nashr berkata bahwa Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) bahwa Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami, (dia berkata bahwa) Hammad bin Zaid (berkata) dari Ayyub As Sikhtiyaniy berkata, ”Meninggalkan shalat adalah suatu kekafiran dan hal ini tidaklah dipersilisihkan.” Muhammad menceritakan dari Ibnul Mubarok, dia berkata,”Barangsiapa mengakhirkan shalat hingga luput waktunya dengan sengaja tanpa ada udzur (alasan), maka dia telah kafir.” Yahya bin Ma’in mengatakan, ”Dikatakan kepada Abdullah bin Al Mubarok,’Orang-orang mengatakan : Barangsiapa tidak berpuasa (Ramadhan, pen) dan tidak menunaikan shalat setelah mengakui (kewajibannya, pen), maka dia adalah mu’min yang sempurna imannya.’ Lalu Abdullah bin Al Mubarok mengatakan,’Kami tidaklah mengatakan seperti yang mereka katakan. Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa alasan sampai dia memasukkan satu waktu ke waktu lainnya, maka dia kafir’. Abu Abdillah Muhammad bin Nashr mengatakan,”Aku mendengar Ishaq bin Rohuwyah berkata, ’Telah shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa meninggalkan shalat adalah kafir.” — Akhukum fillah : Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 14 Safar 1435 H Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsmeninggalkan shalat

Islam Melarang Menyiksa Binatang

Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang, sampai pada hewan yang akan disembelih pun tidak boleh disiksa. Kita dilarang menyiksa binatang saat menyembelih seperti mengikatnya lantas dipanah. Berikut dua hadits yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom no.  1347 dan 1350. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – “لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا” – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1959). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Diharamkan menjadikan hewan sebagai sasaran tembak dengan mengikatnya lalu dipanah karena hal itu termasuk bentuk penyiksaan pada binatang. Di dalamnya ada bentuk pengrusakan, membuang-buang harta, dan tidak melakukan penyembelihan yang syar’i. 2- Jika ada hewan yang mampu disembelih, maka dilarang  membunuhnya dengan. Semestinya hewan tersebut disembelih. Sedangkan hewan yang tidak mampu disembelih, maka boleh memburunya dengan dipanah di bagian mana saja dari tubuhnya. 3- Islam mengajarkan untuk menyayangi manusia dan hewan, segala bentuk penyiksaan terhadap hewan itu diharamkan. Demikian beberapa faedah dari dua hadits di atas, moga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarhi Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 9: 243, 255, 256. — Disusun selepas Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 03:59 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsadab hewan berburu kurban

Islam Melarang Menyiksa Binatang

Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang, sampai pada hewan yang akan disembelih pun tidak boleh disiksa. Kita dilarang menyiksa binatang saat menyembelih seperti mengikatnya lantas dipanah. Berikut dua hadits yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom no.  1347 dan 1350. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – “لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا” – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1959). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Diharamkan menjadikan hewan sebagai sasaran tembak dengan mengikatnya lalu dipanah karena hal itu termasuk bentuk penyiksaan pada binatang. Di dalamnya ada bentuk pengrusakan, membuang-buang harta, dan tidak melakukan penyembelihan yang syar’i. 2- Jika ada hewan yang mampu disembelih, maka dilarang  membunuhnya dengan. Semestinya hewan tersebut disembelih. Sedangkan hewan yang tidak mampu disembelih, maka boleh memburunya dengan dipanah di bagian mana saja dari tubuhnya. 3- Islam mengajarkan untuk menyayangi manusia dan hewan, segala bentuk penyiksaan terhadap hewan itu diharamkan. Demikian beberapa faedah dari dua hadits di atas, moga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarhi Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 9: 243, 255, 256. — Disusun selepas Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 03:59 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsadab hewan berburu kurban
Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang, sampai pada hewan yang akan disembelih pun tidak boleh disiksa. Kita dilarang menyiksa binatang saat menyembelih seperti mengikatnya lantas dipanah. Berikut dua hadits yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom no.  1347 dan 1350. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – “لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا” – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1959). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Diharamkan menjadikan hewan sebagai sasaran tembak dengan mengikatnya lalu dipanah karena hal itu termasuk bentuk penyiksaan pada binatang. Di dalamnya ada bentuk pengrusakan, membuang-buang harta, dan tidak melakukan penyembelihan yang syar’i. 2- Jika ada hewan yang mampu disembelih, maka dilarang  membunuhnya dengan. Semestinya hewan tersebut disembelih. Sedangkan hewan yang tidak mampu disembelih, maka boleh memburunya dengan dipanah di bagian mana saja dari tubuhnya. 3- Islam mengajarkan untuk menyayangi manusia dan hewan, segala bentuk penyiksaan terhadap hewan itu diharamkan. Demikian beberapa faedah dari dua hadits di atas, moga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarhi Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 9: 243, 255, 256. — Disusun selepas Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 03:59 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsadab hewan berburu kurban


Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang, sampai pada hewan yang akan disembelih pun tidak boleh disiksa. Kita dilarang menyiksa binatang saat menyembelih seperti mengikatnya lantas dipanah. Berikut dua hadits yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom no.  1347 dan 1350. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – “لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا” – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1959). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Diharamkan menjadikan hewan sebagai sasaran tembak dengan mengikatnya lalu dipanah karena hal itu termasuk bentuk penyiksaan pada binatang. Di dalamnya ada bentuk pengrusakan, membuang-buang harta, dan tidak melakukan penyembelihan yang syar’i. 2- Jika ada hewan yang mampu disembelih, maka dilarang  membunuhnya dengan. Semestinya hewan tersebut disembelih. Sedangkan hewan yang tidak mampu disembelih, maka boleh memburunya dengan dipanah di bagian mana saja dari tubuhnya. 3- Islam mengajarkan untuk menyayangi manusia dan hewan, segala bentuk penyiksaan terhadap hewan itu diharamkan. Demikian beberapa faedah dari dua hadits di atas, moga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarhi Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 9: 243, 255, 256. — Disusun selepas Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 03:59 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsadab hewan berburu kurban

Kajian Rumaysho.Com di Jakarta 17-18 Desember 2013

Tiga kajian penting di Jakarta pada hari Rabu dan Kamis besok (15-16 Safar 1435 H) yang bisa dihadiri dengan pembicara Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul). 1- Kajian di Majelis Taklim As Sunnah Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 09.30 – 11.30 WIB Tema : Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Bedah Buku) Tempat: Masjid Nurul Iman, Jl. Raya Cilangkap 1B, Cipayung,  Jakarta Timur Info : 021.93831347 (MT. Assunnah, Cilangkap) 2- Kajian di Wesal TV (Live) Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 20.00 – 21.30 WIB Tema: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (Bedah Buku) Saksikan di TV Parabola Anda. 3- Kajian di Majelis Taklim Al Hujjah Waktu: Kamis, 19 Desember  2013, pukul 09.00 – 11.00 WIB. Tema: Faedah hadits “70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab” Tempat: Masjid At Taqwa, Jl. Sriwijaya Raya, Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Info: WA 0818960013, BBM 74E8CD63 (Majelis Taklim Al Hujjah)   Sampaikan info ini pada kaum muslimin lainnya … — Info www.rumaysho.com Tagskajian islam

Kajian Rumaysho.Com di Jakarta 17-18 Desember 2013

Tiga kajian penting di Jakarta pada hari Rabu dan Kamis besok (15-16 Safar 1435 H) yang bisa dihadiri dengan pembicara Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul). 1- Kajian di Majelis Taklim As Sunnah Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 09.30 – 11.30 WIB Tema : Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Bedah Buku) Tempat: Masjid Nurul Iman, Jl. Raya Cilangkap 1B, Cipayung,  Jakarta Timur Info : 021.93831347 (MT. Assunnah, Cilangkap) 2- Kajian di Wesal TV (Live) Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 20.00 – 21.30 WIB Tema: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (Bedah Buku) Saksikan di TV Parabola Anda. 3- Kajian di Majelis Taklim Al Hujjah Waktu: Kamis, 19 Desember  2013, pukul 09.00 – 11.00 WIB. Tema: Faedah hadits “70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab” Tempat: Masjid At Taqwa, Jl. Sriwijaya Raya, Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Info: WA 0818960013, BBM 74E8CD63 (Majelis Taklim Al Hujjah)   Sampaikan info ini pada kaum muslimin lainnya … — Info www.rumaysho.com Tagskajian islam
Tiga kajian penting di Jakarta pada hari Rabu dan Kamis besok (15-16 Safar 1435 H) yang bisa dihadiri dengan pembicara Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul). 1- Kajian di Majelis Taklim As Sunnah Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 09.30 – 11.30 WIB Tema : Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Bedah Buku) Tempat: Masjid Nurul Iman, Jl. Raya Cilangkap 1B, Cipayung,  Jakarta Timur Info : 021.93831347 (MT. Assunnah, Cilangkap) 2- Kajian di Wesal TV (Live) Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 20.00 – 21.30 WIB Tema: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (Bedah Buku) Saksikan di TV Parabola Anda. 3- Kajian di Majelis Taklim Al Hujjah Waktu: Kamis, 19 Desember  2013, pukul 09.00 – 11.00 WIB. Tema: Faedah hadits “70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab” Tempat: Masjid At Taqwa, Jl. Sriwijaya Raya, Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Info: WA 0818960013, BBM 74E8CD63 (Majelis Taklim Al Hujjah)   Sampaikan info ini pada kaum muslimin lainnya … — Info www.rumaysho.com Tagskajian islam


Tiga kajian penting di Jakarta pada hari Rabu dan Kamis besok (15-16 Safar 1435 H) yang bisa dihadiri dengan pembicara Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul). 1- Kajian di Majelis Taklim As Sunnah Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 09.30 – 11.30 WIB Tema : Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Bedah Buku) Tempat: Masjid Nurul Iman, Jl. Raya Cilangkap 1B, Cipayung,  Jakarta Timur Info : 021.93831347 (MT. Assunnah, Cilangkap) 2- Kajian di Wesal TV (Live) Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 20.00 – 21.30 WIB Tema: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (Bedah Buku) Saksikan di TV Parabola Anda. 3- Kajian di Majelis Taklim Al Hujjah Waktu: Kamis, 19 Desember  2013, pukul 09.00 – 11.00 WIB. Tema: Faedah hadits “70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab” Tempat: Masjid At Taqwa, Jl. Sriwijaya Raya, Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Info: WA 0818960013, BBM 74E8CD63 (Majelis Taklim Al Hujjah)   Sampaikan info ini pada kaum muslimin lainnya … — Info www.rumaysho.com Tagskajian islam

Gelar Takfiri, Pantaskah ??

Tidak diragukan saudara-saudara kita yang terjerat dalam pemahaman takfiri (suka mengkafirkan) adalah saudara-saudara yang semangat menegakkan syari’at Islam. Akan tetapi tentunya bukan hanya mereka saja yang rindu untuk ditegakkan syari’at Islam. Demikian juga bukan hanya mereka yang benci kepada kesyirikan dan kekufuran, akan tetapi masih banyak saudara-saudara mereka yang lain yang juga benci dan selalu memperingatkan umat akan bahaya kesyirikan dengan berbagai macam jenisnya.Hanya saja saudara-saudara kita –yang hobi mengkafirkan- tersebut sangat memfokuskan pembahasan kesyirikan pada permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah”. Berangkat dari kesalahpahaman tentang permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah” maka menimbulkan pengkafiran berantai ala “MLM”.  Tentu saudaraku yang “hobi” mengkafirkan tidak suka atau tidak ridho dengan gelar yang buruk ini “Takfiri” jika distempelkan dan dicapkan pada dirinya. Karena bagaimanapun gelar “takfiri” sangat bermakna konotasi. Akan tetapi jika kita kembali kepada kenyataan aqidah dan praktek mereka…ternyata inilah sifat dan gelar yang tepat dan sangat pas jika ditempelkan kepada saudara-saudara kita yang berpemahaman takfir tersebut. Terlebih lagi jika kita menelaah pernyataan-pernyataan berani yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh mereka (dalam hal ini adalah Ustadz Aman Abdurrahman dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir), sebagaimana yang telah dinukil oleh situs-situs pendukung dan penebar pemahaman kedua ustadz ini seperti : (1) Arrahmah.com, (2) Millahibrahim.wordpress.com, dan (3) voa-islam.comBerikut contoh-contoh pengkafiranberantai tersebut, sebagaimana termaktub dalam situs-situs tersebut :Pertama : Arab Saudi negara kafir.          Seorang muslim tentunya bahagia masih ada suatu negara yang masih menegakkan hukum Islam, hukum rajam bagi yang berzina, hukum pemotongan tangan bagi yang mencuri, qisos (dipenggal kepala) pagi yang membunuh orang lain dengan sengaja tanpa hak, qisosbagi yang mempraktekan sihir, dll. Itulah negara Arab Saudi, yang pada negara tersebut tidak akan ditemukan sebuah tempat ibadah agama lain…, tidak akan ditemukan perayaan hari natal…, tidak akan ditemukan bar dan discotik.., apalagi tempat lokalisasi perzinahan, serta keamanan yang luar biasa. Sebagaimana hal ini bisa dirasakan oleh para jama’ah haji. Tidak ada kuburan yang disembah.., tidak ada penyembelihan kepada jin.., dan tidak ada praktik-praktikesyirikan secara terang-terangan. Demikian juga Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang memiliki Lembaga al-AmrbilMa’ruufwaAn-Nahyu ‘anal-Munkar. Tentunya tidak ada yang mengatakan bahwa Arab Saudi adalah negara Islam yang sempurna…??. Tidak seorangpun yang menyatakan demikian. Bahkan kita sendiri melihat masih ada kekurangan pada kerajaan Arab Saudi. Akan tetapi itulah negara yang terbaik yang adasaatini, yang kita terus memohon kepada Allah agar tetap menjaga negara ini dan mengarahkannya kepada yang lebih baik.Akan tetapi anehnya, ada seorang ustadz yang bukannya mendoakan agar Arab Saudi menjadi lebih baik, akan tetapi malah berbahagia jika Arab Saudi runtuh..!?. Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Masa-masa akhir menjelang runtuhnya Thaghut Saudi”, UstadzAman Abdurrahman berkata : ((Arab Saudi adalah negara paling akhir dalam keterbongkaran kekafiran dan kethaghutan mereka, yang selama ini mayoritas umat Islam atau bahkan aktivis Islam meyakini bahwa Saudi adalah negara Islam. Hari demi hari semakin terbongkar kekafiran mereka di hadapan umat Islam dan bahkan di hadapan para syaikh mereka yang selama ini selalu melindungi dan menjadi pilar pengokoh kekuasaan mereka. Bergembiralah wahai kaum muslimin dengan semakin nyatanya kejahatan Dinasti Saudi dan kekafiran mereka serta loyalitas mereka kepada Salibis Amerika dan Zionis Yahudi. Tunggulah saatnya kehancuran mereka dan penguasaan ikhwan tauhid setelahnya)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/2013/08/17/masa-masa-akhir-menjelang-runtuhnya-thaghut-saudi/)Entah apa yang dikehendaki oleh Ustadz Aman Abdurrahman ini…?!, apakah ia ingin Arab Saudi hancur, lalu ia bersama rekan-rekannya mendirikan negara Islam di Arab Saudi menggantikan raja Saudi, lalu menyerang Amerika dan Yahudi??. Apakah semudah itu…??. Apakah itu yang hendak digembira riakan??. Ingin agar tidak ada yang mengatur jama’ah haji dan umroh…Selanjutnya… Kedua : Indonesia negara musyrik dan kafirJika Arab Saudi yang menjalankan hukum Islam saja divonis kafir maka bagaimana lagi nasib NKRI?. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Negara Indonesia (NKRI) adalah negara musyrik dan kafir”  (silahkan baca http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/08/15/26277/ustadz-baasyir-indonesia-berhukum-thaghut-umat-islam-dilarang-patuh/#sthash.H5wyoNld.dpbs).Selanjutnya … Ketiga : Kepala Negara Indonesia Kafir.Jika negaranya kafir, maka tentunya sang presidennya juga kafir, karena menjalankan kekafiran dengan berhukum dengan hukum selain hukum Allah kafir. Presiden Indonesia SBY disebut oleh mereka sebagai thaghut (gembong kekufuran), silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2012/01/11/17338-ustadz-abu-bakar-baasyir-penguasa-nkri-sejak-merdeka-hingga-saat-ini-adalah-thaghut.html).Jangankan presiden NKRI bahkan tokoh Ikhwanul Muslimin yaitu Mursi -presiden Mesir- juga divonis kafir tatkala menjadi presiden (silahkan baca http://millahibrahim.wordpress.com/2013/10/17/penjelasan-kekafiran-mursiy-saat-menjadi-presiden-mesir/).Selanjutnya … Keempat : Pegawai negeri secara umum kafir (meskipun tidak semuanya). Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Ustadz andalan kaum takfiri yaitu Aman Abdurrahman (silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2007/11/29/1317-status-pegawai-negeri-pemerintahan-thaghut.html)Karena negara Indonesia negara kafir dan musyrik, demikian juga kepala negaranya yang berhukum dengan hukum kafir, maka yang bekerja sebagai pegawai negara tersebut juga terancam kafir.Perinciannya sebagai berikut;–         Seluruh kepala negara (baik presiden, Amir, maupun Raja) adalah kafir bahkan thaghut (gembong dan penyebab kekufuran berantai). Aman Abdurrahman berkata ((Penguasa zhalim yang merubah aturan-aturan (hukum) Allah, thaghut semacam ini adalah banyak sekali dan sudah bersifat lembaga resmi pemerintahan negara-negara pada umumnya di zaman sekarang ini. Contohnya tidaklah jauh seperti parlemen, lembaga inilah yang memegang kedaulatan dan wewenang pembuatan hukum/undang-undang. Lembaga ini akan membuat hukum atau tidak, dan baik hukum yang digulirkan itu seperti hukum Islam atau menyelisihinya maka tetap saja lembaga berikut anggota-anggotanya ini adalah thaghut, meskipun sebahagiannya mengaku memperjuangkan syari’at Islam. Begitu juga Presiden/ Raja/Emir atau para bawahannya yang suka membuat SK atau TAP yang menyelisihi aturan Allah, mereka itu adalah thaghut)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-4-siapakah-thaghut/)–         Seluruh anggota DPR dan MPR kafir, karena membuat hukum selain hukum Allah–         Seluruh jaksa dan hakim adalah kafir, dan seluruh yang bekerja di departemen kehakiman dan pengadilan konsekuensinya juga kafir–         Seluruh anggota polisi kafir, karena ikut membela negara yang berhukum dengan hukum Allah–         Seluruh anggota ABRI, baik angkatan udara, angkatan laut, maupun angkata darat, semuanya kafir karena ikut membela negara kafir Indonesia yang berhukum dengan selain hukum AllahAman Abdurrahman berkata ((seperti anggota MPR/DPR, baik dia disumpah ataupun tidak maka dia tetap kafir, juga hakim, jaksa, tentara, polisi, baik mereka ada sumpah ataupun tidak, mereka tetap orang kafir))Setelah itu rantai pengkafiran berlanjut :–         Mengkafirkan semua yang membantu terlaksananya sidang-sidang DPR/MPR. Aman Abdurrahman berkata ((Atau orang bekerja di sekretariat gedung DPR/MPR, dimana dia yang mengatur program-program atau berbagai acara rapat atau sidang mejelisthaghut ini)).Ini melazimkan pengkafiran yang ngawur membabi buta, sehingga semua orang yang kerjaannya ada hubungan dengan kegiatan DPR/MPR maka dihukum kafir !!. Termasuk para pedagang yang menyediakan makanan dalam sidang-sidang tersebut.., para tukang sapu yang membersihkan ruangan sidang tersebut…, pokoknya semua yang iktu nimbrung membantu jalannya persidangan DPR/MPR maka divonis kafir–         Semua pegawai negeri yang tatkala menjadi pegawai negeri disumpah maka dia telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((apapun bentuk dinasnya selama ada sumpah untuk loyal kepada hukum thaghut maka dia kafir)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/2007/11/02/status-bekerja-di-dinas-pemerintahan-thaghut/). Ini merupakan bentuk pengkafiran pegawai negeri secara menyeluruh, karena rata-rata pegawai negeri terkena sumpah–         Sekedar menyanyikan lagu garuda pancasila meskipun meyakini kebatilan dan kesyirikan pancasila sudah cukup untuk menjadikan penyanyi tersebut otomatis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Pancasila adalah falsafah syirik, maka orang-orang yang ‘sekedar’ ikut menyanyikan lagu Garuda Pancasila adalah telah keluar dari Islam, baik karena alasan basa-basi atau karena takut (kecuali dipaksa), meskipun dia itu benci dengan Pancasila dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin, karena dia mengikuti orang-orang musyrik dalam kemusyrikannya)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-8-hukum-berloyalitas-kepada-musyrikin/)–         Pejabat yang mengatakan “kami hanya menjalankan tugas/prosedur atasan” maka telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila saja orang yang mengikuti apa yang membuat murka Allah telah divonis murtad oleh-Nya, maka apa gerangan dengan banyaknya orang yang berposisi sebagai bawahan mengatakan kepada masyarakat “Kami hanya menjalankan tugas” setelah sang pejabat atasan membuat undang-undang kafir kemudian si bawahan itu melaksanakannya))–         Hanya sekedar anak-anak mengikuti pelajaran PMP atau PPKN maka otomatis menjadi kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila orang yang taat dalam sebagian kekafiran Allah SubhanahuWaTa’ala memvonisnya sebagai orang murtad, maka apa gerangan dengan:…Anak-anak sekolah mengikuti pelajaran falsafah syirik dengan alasan mengikuti proses pembelajaran dan berkata: “Karena jika tidak (ikut), maka kami tidak akan lulus”))–         Anak-anak aja dikafirkan apalagi mahasiswa. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti saat ujian siswa memuji Pancasila, demokrasi, Undang Undang Dasar 1945, dan lain-lain. Atau kagum dengannya atau bangga dengannya demi mendapatkan nilai ujian, maka dia itu kafir meskipun benci akan hal-hal itu dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin.))–         Seluruh pemilik sekolah resmi yang diakui pemerintah adalah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti itu pula orang yang ingin membuat lembaga yang diakui thaghut, sedangkan thaghut mensyaratkan adanya mata pelajaran falsafah syirik (mis. PPKN) lalu mereka menerima syarat itu, maka hukumnya sama saja.))–         Bahkan meskipun berdusta akan menyetujui tetap saja divonis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bahkan bila dia berjanji dusta untuk memenuhi syarat itu terhadap thaghut, tetap hukumnya sama saja)) Kelima : Yang menyatakan para bombers sebagai teroris divonis kafir. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Kalau ada umat Islam yang menganggap alqaidah sebagai teroris maka batal syahadatnya” (lihat http://www.youtube.com/watch?v=ZKQ3vue2T80, lihat juga http://www.youtube.com/watch?v=ZLDZ-vMevw4). Semua ini adalah bentuk mengkafirkan dengan kelaziman. Jika ada orang yang menyatakan mujahid (tukang bom) adalah teroris maka berarti ia telah membantu Amerika dalam menyerang kaum muslimin. Dan barang siapa yang membantu Amerika untuk menyerang kaum muslimin maka ia telah kafir !!! Keenam : Warga negara Indonesia (bahkan kaum muslimin dunia) pada umumnya kafir          Ini sangat jelas dari perincian di atas. Jika anak-anak yang ikut belajar filsafah syirik (PMP atau PPKN) dianggap musyrik, maka sesungguhnya hampir seluruh warga negara Indonesia yang pernah berlajar di bangku sekolah telah kafir !!!. Dan kebanyakan mereka belum bertaubat dari kekafiran mereka.Demikian juga betapa banyak warga negara Indonesia yang menyatakan praktik bom bali merupakan bentuk praktek teroris??. Apakah mereka semuanya telah batal syahadatnya??, telah kafir??. Sungguh hanya segelintir kecil warga negara Indonesia yang mendukung al-Qoidah dan para bombers di Bali??. Nah sisanya bagaimana??. Semua telah batal syahadatnya??. Bahkan bukan Cuma warga negara Indonesia…, hampir seluruh warga negara Saudi juga tidak setuju dengan pengeboman membabi buta yang dilakukan oleh para teroris dengan slogan jihad. Apakah mereka juga kafir??. Nah para imam masjid al-Haram dan Al-Masjid Nabawi juga kafir dan murtad?? Kesimpulan : Sepertinya –mohon maaf  wahai para saudaraku yang kami cintai, yang hobi mengkafirkan- memang sepertinya sangat pantas dan cocok jika kalian disebut “Takfiri” (Tukang mengkafirkan). Dan saya rasa kalian –wahai saudara-saudaraku- tidak menolak gelaran ini, karena memang kalian wahai saudara-saudaraku meyakininya bahkan menggembar-gemborkannya…bahkan membanggakannya !!!Bersambung….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 14-02-1435 H / 17-12-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com 

Gelar Takfiri, Pantaskah ??

Tidak diragukan saudara-saudara kita yang terjerat dalam pemahaman takfiri (suka mengkafirkan) adalah saudara-saudara yang semangat menegakkan syari’at Islam. Akan tetapi tentunya bukan hanya mereka saja yang rindu untuk ditegakkan syari’at Islam. Demikian juga bukan hanya mereka yang benci kepada kesyirikan dan kekufuran, akan tetapi masih banyak saudara-saudara mereka yang lain yang juga benci dan selalu memperingatkan umat akan bahaya kesyirikan dengan berbagai macam jenisnya.Hanya saja saudara-saudara kita –yang hobi mengkafirkan- tersebut sangat memfokuskan pembahasan kesyirikan pada permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah”. Berangkat dari kesalahpahaman tentang permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah” maka menimbulkan pengkafiran berantai ala “MLM”.  Tentu saudaraku yang “hobi” mengkafirkan tidak suka atau tidak ridho dengan gelar yang buruk ini “Takfiri” jika distempelkan dan dicapkan pada dirinya. Karena bagaimanapun gelar “takfiri” sangat bermakna konotasi. Akan tetapi jika kita kembali kepada kenyataan aqidah dan praktek mereka…ternyata inilah sifat dan gelar yang tepat dan sangat pas jika ditempelkan kepada saudara-saudara kita yang berpemahaman takfir tersebut. Terlebih lagi jika kita menelaah pernyataan-pernyataan berani yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh mereka (dalam hal ini adalah Ustadz Aman Abdurrahman dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir), sebagaimana yang telah dinukil oleh situs-situs pendukung dan penebar pemahaman kedua ustadz ini seperti : (1) Arrahmah.com, (2) Millahibrahim.wordpress.com, dan (3) voa-islam.comBerikut contoh-contoh pengkafiranberantai tersebut, sebagaimana termaktub dalam situs-situs tersebut :Pertama : Arab Saudi negara kafir.          Seorang muslim tentunya bahagia masih ada suatu negara yang masih menegakkan hukum Islam, hukum rajam bagi yang berzina, hukum pemotongan tangan bagi yang mencuri, qisos (dipenggal kepala) pagi yang membunuh orang lain dengan sengaja tanpa hak, qisosbagi yang mempraktekan sihir, dll. Itulah negara Arab Saudi, yang pada negara tersebut tidak akan ditemukan sebuah tempat ibadah agama lain…, tidak akan ditemukan perayaan hari natal…, tidak akan ditemukan bar dan discotik.., apalagi tempat lokalisasi perzinahan, serta keamanan yang luar biasa. Sebagaimana hal ini bisa dirasakan oleh para jama’ah haji. Tidak ada kuburan yang disembah.., tidak ada penyembelihan kepada jin.., dan tidak ada praktik-praktikesyirikan secara terang-terangan. Demikian juga Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang memiliki Lembaga al-AmrbilMa’ruufwaAn-Nahyu ‘anal-Munkar. Tentunya tidak ada yang mengatakan bahwa Arab Saudi adalah negara Islam yang sempurna…??. Tidak seorangpun yang menyatakan demikian. Bahkan kita sendiri melihat masih ada kekurangan pada kerajaan Arab Saudi. Akan tetapi itulah negara yang terbaik yang adasaatini, yang kita terus memohon kepada Allah agar tetap menjaga negara ini dan mengarahkannya kepada yang lebih baik.Akan tetapi anehnya, ada seorang ustadz yang bukannya mendoakan agar Arab Saudi menjadi lebih baik, akan tetapi malah berbahagia jika Arab Saudi runtuh..!?. Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Masa-masa akhir menjelang runtuhnya Thaghut Saudi”, UstadzAman Abdurrahman berkata : ((Arab Saudi adalah negara paling akhir dalam keterbongkaran kekafiran dan kethaghutan mereka, yang selama ini mayoritas umat Islam atau bahkan aktivis Islam meyakini bahwa Saudi adalah negara Islam. Hari demi hari semakin terbongkar kekafiran mereka di hadapan umat Islam dan bahkan di hadapan para syaikh mereka yang selama ini selalu melindungi dan menjadi pilar pengokoh kekuasaan mereka. Bergembiralah wahai kaum muslimin dengan semakin nyatanya kejahatan Dinasti Saudi dan kekafiran mereka serta loyalitas mereka kepada Salibis Amerika dan Zionis Yahudi. Tunggulah saatnya kehancuran mereka dan penguasaan ikhwan tauhid setelahnya)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/2013/08/17/masa-masa-akhir-menjelang-runtuhnya-thaghut-saudi/)Entah apa yang dikehendaki oleh Ustadz Aman Abdurrahman ini…?!, apakah ia ingin Arab Saudi hancur, lalu ia bersama rekan-rekannya mendirikan negara Islam di Arab Saudi menggantikan raja Saudi, lalu menyerang Amerika dan Yahudi??. Apakah semudah itu…??. Apakah itu yang hendak digembira riakan??. Ingin agar tidak ada yang mengatur jama’ah haji dan umroh…Selanjutnya… Kedua : Indonesia negara musyrik dan kafirJika Arab Saudi yang menjalankan hukum Islam saja divonis kafir maka bagaimana lagi nasib NKRI?. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Negara Indonesia (NKRI) adalah negara musyrik dan kafir”  (silahkan baca http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/08/15/26277/ustadz-baasyir-indonesia-berhukum-thaghut-umat-islam-dilarang-patuh/#sthash.H5wyoNld.dpbs).Selanjutnya … Ketiga : Kepala Negara Indonesia Kafir.Jika negaranya kafir, maka tentunya sang presidennya juga kafir, karena menjalankan kekafiran dengan berhukum dengan hukum selain hukum Allah kafir. Presiden Indonesia SBY disebut oleh mereka sebagai thaghut (gembong kekufuran), silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2012/01/11/17338-ustadz-abu-bakar-baasyir-penguasa-nkri-sejak-merdeka-hingga-saat-ini-adalah-thaghut.html).Jangankan presiden NKRI bahkan tokoh Ikhwanul Muslimin yaitu Mursi -presiden Mesir- juga divonis kafir tatkala menjadi presiden (silahkan baca http://millahibrahim.wordpress.com/2013/10/17/penjelasan-kekafiran-mursiy-saat-menjadi-presiden-mesir/).Selanjutnya … Keempat : Pegawai negeri secara umum kafir (meskipun tidak semuanya). Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Ustadz andalan kaum takfiri yaitu Aman Abdurrahman (silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2007/11/29/1317-status-pegawai-negeri-pemerintahan-thaghut.html)Karena negara Indonesia negara kafir dan musyrik, demikian juga kepala negaranya yang berhukum dengan hukum kafir, maka yang bekerja sebagai pegawai negara tersebut juga terancam kafir.Perinciannya sebagai berikut;–         Seluruh kepala negara (baik presiden, Amir, maupun Raja) adalah kafir bahkan thaghut (gembong dan penyebab kekufuran berantai). Aman Abdurrahman berkata ((Penguasa zhalim yang merubah aturan-aturan (hukum) Allah, thaghut semacam ini adalah banyak sekali dan sudah bersifat lembaga resmi pemerintahan negara-negara pada umumnya di zaman sekarang ini. Contohnya tidaklah jauh seperti parlemen, lembaga inilah yang memegang kedaulatan dan wewenang pembuatan hukum/undang-undang. Lembaga ini akan membuat hukum atau tidak, dan baik hukum yang digulirkan itu seperti hukum Islam atau menyelisihinya maka tetap saja lembaga berikut anggota-anggotanya ini adalah thaghut, meskipun sebahagiannya mengaku memperjuangkan syari’at Islam. Begitu juga Presiden/ Raja/Emir atau para bawahannya yang suka membuat SK atau TAP yang menyelisihi aturan Allah, mereka itu adalah thaghut)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-4-siapakah-thaghut/)–         Seluruh anggota DPR dan MPR kafir, karena membuat hukum selain hukum Allah–         Seluruh jaksa dan hakim adalah kafir, dan seluruh yang bekerja di departemen kehakiman dan pengadilan konsekuensinya juga kafir–         Seluruh anggota polisi kafir, karena ikut membela negara yang berhukum dengan hukum Allah–         Seluruh anggota ABRI, baik angkatan udara, angkatan laut, maupun angkata darat, semuanya kafir karena ikut membela negara kafir Indonesia yang berhukum dengan selain hukum AllahAman Abdurrahman berkata ((seperti anggota MPR/DPR, baik dia disumpah ataupun tidak maka dia tetap kafir, juga hakim, jaksa, tentara, polisi, baik mereka ada sumpah ataupun tidak, mereka tetap orang kafir))Setelah itu rantai pengkafiran berlanjut :–         Mengkafirkan semua yang membantu terlaksananya sidang-sidang DPR/MPR. Aman Abdurrahman berkata ((Atau orang bekerja di sekretariat gedung DPR/MPR, dimana dia yang mengatur program-program atau berbagai acara rapat atau sidang mejelisthaghut ini)).Ini melazimkan pengkafiran yang ngawur membabi buta, sehingga semua orang yang kerjaannya ada hubungan dengan kegiatan DPR/MPR maka dihukum kafir !!. Termasuk para pedagang yang menyediakan makanan dalam sidang-sidang tersebut.., para tukang sapu yang membersihkan ruangan sidang tersebut…, pokoknya semua yang iktu nimbrung membantu jalannya persidangan DPR/MPR maka divonis kafir–         Semua pegawai negeri yang tatkala menjadi pegawai negeri disumpah maka dia telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((apapun bentuk dinasnya selama ada sumpah untuk loyal kepada hukum thaghut maka dia kafir)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/2007/11/02/status-bekerja-di-dinas-pemerintahan-thaghut/). Ini merupakan bentuk pengkafiran pegawai negeri secara menyeluruh, karena rata-rata pegawai negeri terkena sumpah–         Sekedar menyanyikan lagu garuda pancasila meskipun meyakini kebatilan dan kesyirikan pancasila sudah cukup untuk menjadikan penyanyi tersebut otomatis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Pancasila adalah falsafah syirik, maka orang-orang yang ‘sekedar’ ikut menyanyikan lagu Garuda Pancasila adalah telah keluar dari Islam, baik karena alasan basa-basi atau karena takut (kecuali dipaksa), meskipun dia itu benci dengan Pancasila dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin, karena dia mengikuti orang-orang musyrik dalam kemusyrikannya)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-8-hukum-berloyalitas-kepada-musyrikin/)–         Pejabat yang mengatakan “kami hanya menjalankan tugas/prosedur atasan” maka telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila saja orang yang mengikuti apa yang membuat murka Allah telah divonis murtad oleh-Nya, maka apa gerangan dengan banyaknya orang yang berposisi sebagai bawahan mengatakan kepada masyarakat “Kami hanya menjalankan tugas” setelah sang pejabat atasan membuat undang-undang kafir kemudian si bawahan itu melaksanakannya))–         Hanya sekedar anak-anak mengikuti pelajaran PMP atau PPKN maka otomatis menjadi kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila orang yang taat dalam sebagian kekafiran Allah SubhanahuWaTa’ala memvonisnya sebagai orang murtad, maka apa gerangan dengan:…Anak-anak sekolah mengikuti pelajaran falsafah syirik dengan alasan mengikuti proses pembelajaran dan berkata: “Karena jika tidak (ikut), maka kami tidak akan lulus”))–         Anak-anak aja dikafirkan apalagi mahasiswa. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti saat ujian siswa memuji Pancasila, demokrasi, Undang Undang Dasar 1945, dan lain-lain. Atau kagum dengannya atau bangga dengannya demi mendapatkan nilai ujian, maka dia itu kafir meskipun benci akan hal-hal itu dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin.))–         Seluruh pemilik sekolah resmi yang diakui pemerintah adalah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti itu pula orang yang ingin membuat lembaga yang diakui thaghut, sedangkan thaghut mensyaratkan adanya mata pelajaran falsafah syirik (mis. PPKN) lalu mereka menerima syarat itu, maka hukumnya sama saja.))–         Bahkan meskipun berdusta akan menyetujui tetap saja divonis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bahkan bila dia berjanji dusta untuk memenuhi syarat itu terhadap thaghut, tetap hukumnya sama saja)) Kelima : Yang menyatakan para bombers sebagai teroris divonis kafir. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Kalau ada umat Islam yang menganggap alqaidah sebagai teroris maka batal syahadatnya” (lihat http://www.youtube.com/watch?v=ZKQ3vue2T80, lihat juga http://www.youtube.com/watch?v=ZLDZ-vMevw4). Semua ini adalah bentuk mengkafirkan dengan kelaziman. Jika ada orang yang menyatakan mujahid (tukang bom) adalah teroris maka berarti ia telah membantu Amerika dalam menyerang kaum muslimin. Dan barang siapa yang membantu Amerika untuk menyerang kaum muslimin maka ia telah kafir !!! Keenam : Warga negara Indonesia (bahkan kaum muslimin dunia) pada umumnya kafir          Ini sangat jelas dari perincian di atas. Jika anak-anak yang ikut belajar filsafah syirik (PMP atau PPKN) dianggap musyrik, maka sesungguhnya hampir seluruh warga negara Indonesia yang pernah berlajar di bangku sekolah telah kafir !!!. Dan kebanyakan mereka belum bertaubat dari kekafiran mereka.Demikian juga betapa banyak warga negara Indonesia yang menyatakan praktik bom bali merupakan bentuk praktek teroris??. Apakah mereka semuanya telah batal syahadatnya??, telah kafir??. Sungguh hanya segelintir kecil warga negara Indonesia yang mendukung al-Qoidah dan para bombers di Bali??. Nah sisanya bagaimana??. Semua telah batal syahadatnya??. Bahkan bukan Cuma warga negara Indonesia…, hampir seluruh warga negara Saudi juga tidak setuju dengan pengeboman membabi buta yang dilakukan oleh para teroris dengan slogan jihad. Apakah mereka juga kafir??. Nah para imam masjid al-Haram dan Al-Masjid Nabawi juga kafir dan murtad?? Kesimpulan : Sepertinya –mohon maaf  wahai para saudaraku yang kami cintai, yang hobi mengkafirkan- memang sepertinya sangat pantas dan cocok jika kalian disebut “Takfiri” (Tukang mengkafirkan). Dan saya rasa kalian –wahai saudara-saudaraku- tidak menolak gelaran ini, karena memang kalian wahai saudara-saudaraku meyakininya bahkan menggembar-gemborkannya…bahkan membanggakannya !!!Bersambung….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 14-02-1435 H / 17-12-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com 
Tidak diragukan saudara-saudara kita yang terjerat dalam pemahaman takfiri (suka mengkafirkan) adalah saudara-saudara yang semangat menegakkan syari’at Islam. Akan tetapi tentunya bukan hanya mereka saja yang rindu untuk ditegakkan syari’at Islam. Demikian juga bukan hanya mereka yang benci kepada kesyirikan dan kekufuran, akan tetapi masih banyak saudara-saudara mereka yang lain yang juga benci dan selalu memperingatkan umat akan bahaya kesyirikan dengan berbagai macam jenisnya.Hanya saja saudara-saudara kita –yang hobi mengkafirkan- tersebut sangat memfokuskan pembahasan kesyirikan pada permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah”. Berangkat dari kesalahpahaman tentang permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah” maka menimbulkan pengkafiran berantai ala “MLM”.  Tentu saudaraku yang “hobi” mengkafirkan tidak suka atau tidak ridho dengan gelar yang buruk ini “Takfiri” jika distempelkan dan dicapkan pada dirinya. Karena bagaimanapun gelar “takfiri” sangat bermakna konotasi. Akan tetapi jika kita kembali kepada kenyataan aqidah dan praktek mereka…ternyata inilah sifat dan gelar yang tepat dan sangat pas jika ditempelkan kepada saudara-saudara kita yang berpemahaman takfir tersebut. Terlebih lagi jika kita menelaah pernyataan-pernyataan berani yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh mereka (dalam hal ini adalah Ustadz Aman Abdurrahman dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir), sebagaimana yang telah dinukil oleh situs-situs pendukung dan penebar pemahaman kedua ustadz ini seperti : (1) Arrahmah.com, (2) Millahibrahim.wordpress.com, dan (3) voa-islam.comBerikut contoh-contoh pengkafiranberantai tersebut, sebagaimana termaktub dalam situs-situs tersebut :Pertama : Arab Saudi negara kafir.          Seorang muslim tentunya bahagia masih ada suatu negara yang masih menegakkan hukum Islam, hukum rajam bagi yang berzina, hukum pemotongan tangan bagi yang mencuri, qisos (dipenggal kepala) pagi yang membunuh orang lain dengan sengaja tanpa hak, qisosbagi yang mempraktekan sihir, dll. Itulah negara Arab Saudi, yang pada negara tersebut tidak akan ditemukan sebuah tempat ibadah agama lain…, tidak akan ditemukan perayaan hari natal…, tidak akan ditemukan bar dan discotik.., apalagi tempat lokalisasi perzinahan, serta keamanan yang luar biasa. Sebagaimana hal ini bisa dirasakan oleh para jama’ah haji. Tidak ada kuburan yang disembah.., tidak ada penyembelihan kepada jin.., dan tidak ada praktik-praktikesyirikan secara terang-terangan. Demikian juga Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang memiliki Lembaga al-AmrbilMa’ruufwaAn-Nahyu ‘anal-Munkar. Tentunya tidak ada yang mengatakan bahwa Arab Saudi adalah negara Islam yang sempurna…??. Tidak seorangpun yang menyatakan demikian. Bahkan kita sendiri melihat masih ada kekurangan pada kerajaan Arab Saudi. Akan tetapi itulah negara yang terbaik yang adasaatini, yang kita terus memohon kepada Allah agar tetap menjaga negara ini dan mengarahkannya kepada yang lebih baik.Akan tetapi anehnya, ada seorang ustadz yang bukannya mendoakan agar Arab Saudi menjadi lebih baik, akan tetapi malah berbahagia jika Arab Saudi runtuh..!?. Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Masa-masa akhir menjelang runtuhnya Thaghut Saudi”, UstadzAman Abdurrahman berkata : ((Arab Saudi adalah negara paling akhir dalam keterbongkaran kekafiran dan kethaghutan mereka, yang selama ini mayoritas umat Islam atau bahkan aktivis Islam meyakini bahwa Saudi adalah negara Islam. Hari demi hari semakin terbongkar kekafiran mereka di hadapan umat Islam dan bahkan di hadapan para syaikh mereka yang selama ini selalu melindungi dan menjadi pilar pengokoh kekuasaan mereka. Bergembiralah wahai kaum muslimin dengan semakin nyatanya kejahatan Dinasti Saudi dan kekafiran mereka serta loyalitas mereka kepada Salibis Amerika dan Zionis Yahudi. Tunggulah saatnya kehancuran mereka dan penguasaan ikhwan tauhid setelahnya)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/2013/08/17/masa-masa-akhir-menjelang-runtuhnya-thaghut-saudi/)Entah apa yang dikehendaki oleh Ustadz Aman Abdurrahman ini…?!, apakah ia ingin Arab Saudi hancur, lalu ia bersama rekan-rekannya mendirikan negara Islam di Arab Saudi menggantikan raja Saudi, lalu menyerang Amerika dan Yahudi??. Apakah semudah itu…??. Apakah itu yang hendak digembira riakan??. Ingin agar tidak ada yang mengatur jama’ah haji dan umroh…Selanjutnya… Kedua : Indonesia negara musyrik dan kafirJika Arab Saudi yang menjalankan hukum Islam saja divonis kafir maka bagaimana lagi nasib NKRI?. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Negara Indonesia (NKRI) adalah negara musyrik dan kafir”  (silahkan baca http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/08/15/26277/ustadz-baasyir-indonesia-berhukum-thaghut-umat-islam-dilarang-patuh/#sthash.H5wyoNld.dpbs).Selanjutnya … Ketiga : Kepala Negara Indonesia Kafir.Jika negaranya kafir, maka tentunya sang presidennya juga kafir, karena menjalankan kekafiran dengan berhukum dengan hukum selain hukum Allah kafir. Presiden Indonesia SBY disebut oleh mereka sebagai thaghut (gembong kekufuran), silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2012/01/11/17338-ustadz-abu-bakar-baasyir-penguasa-nkri-sejak-merdeka-hingga-saat-ini-adalah-thaghut.html).Jangankan presiden NKRI bahkan tokoh Ikhwanul Muslimin yaitu Mursi -presiden Mesir- juga divonis kafir tatkala menjadi presiden (silahkan baca http://millahibrahim.wordpress.com/2013/10/17/penjelasan-kekafiran-mursiy-saat-menjadi-presiden-mesir/).Selanjutnya … Keempat : Pegawai negeri secara umum kafir (meskipun tidak semuanya). Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Ustadz andalan kaum takfiri yaitu Aman Abdurrahman (silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2007/11/29/1317-status-pegawai-negeri-pemerintahan-thaghut.html)Karena negara Indonesia negara kafir dan musyrik, demikian juga kepala negaranya yang berhukum dengan hukum kafir, maka yang bekerja sebagai pegawai negara tersebut juga terancam kafir.Perinciannya sebagai berikut;–         Seluruh kepala negara (baik presiden, Amir, maupun Raja) adalah kafir bahkan thaghut (gembong dan penyebab kekufuran berantai). Aman Abdurrahman berkata ((Penguasa zhalim yang merubah aturan-aturan (hukum) Allah, thaghut semacam ini adalah banyak sekali dan sudah bersifat lembaga resmi pemerintahan negara-negara pada umumnya di zaman sekarang ini. Contohnya tidaklah jauh seperti parlemen, lembaga inilah yang memegang kedaulatan dan wewenang pembuatan hukum/undang-undang. Lembaga ini akan membuat hukum atau tidak, dan baik hukum yang digulirkan itu seperti hukum Islam atau menyelisihinya maka tetap saja lembaga berikut anggota-anggotanya ini adalah thaghut, meskipun sebahagiannya mengaku memperjuangkan syari’at Islam. Begitu juga Presiden/ Raja/Emir atau para bawahannya yang suka membuat SK atau TAP yang menyelisihi aturan Allah, mereka itu adalah thaghut)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-4-siapakah-thaghut/)–         Seluruh anggota DPR dan MPR kafir, karena membuat hukum selain hukum Allah–         Seluruh jaksa dan hakim adalah kafir, dan seluruh yang bekerja di departemen kehakiman dan pengadilan konsekuensinya juga kafir–         Seluruh anggota polisi kafir, karena ikut membela negara yang berhukum dengan hukum Allah–         Seluruh anggota ABRI, baik angkatan udara, angkatan laut, maupun angkata darat, semuanya kafir karena ikut membela negara kafir Indonesia yang berhukum dengan selain hukum AllahAman Abdurrahman berkata ((seperti anggota MPR/DPR, baik dia disumpah ataupun tidak maka dia tetap kafir, juga hakim, jaksa, tentara, polisi, baik mereka ada sumpah ataupun tidak, mereka tetap orang kafir))Setelah itu rantai pengkafiran berlanjut :–         Mengkafirkan semua yang membantu terlaksananya sidang-sidang DPR/MPR. Aman Abdurrahman berkata ((Atau orang bekerja di sekretariat gedung DPR/MPR, dimana dia yang mengatur program-program atau berbagai acara rapat atau sidang mejelisthaghut ini)).Ini melazimkan pengkafiran yang ngawur membabi buta, sehingga semua orang yang kerjaannya ada hubungan dengan kegiatan DPR/MPR maka dihukum kafir !!. Termasuk para pedagang yang menyediakan makanan dalam sidang-sidang tersebut.., para tukang sapu yang membersihkan ruangan sidang tersebut…, pokoknya semua yang iktu nimbrung membantu jalannya persidangan DPR/MPR maka divonis kafir–         Semua pegawai negeri yang tatkala menjadi pegawai negeri disumpah maka dia telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((apapun bentuk dinasnya selama ada sumpah untuk loyal kepada hukum thaghut maka dia kafir)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/2007/11/02/status-bekerja-di-dinas-pemerintahan-thaghut/). Ini merupakan bentuk pengkafiran pegawai negeri secara menyeluruh, karena rata-rata pegawai negeri terkena sumpah–         Sekedar menyanyikan lagu garuda pancasila meskipun meyakini kebatilan dan kesyirikan pancasila sudah cukup untuk menjadikan penyanyi tersebut otomatis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Pancasila adalah falsafah syirik, maka orang-orang yang ‘sekedar’ ikut menyanyikan lagu Garuda Pancasila adalah telah keluar dari Islam, baik karena alasan basa-basi atau karena takut (kecuali dipaksa), meskipun dia itu benci dengan Pancasila dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin, karena dia mengikuti orang-orang musyrik dalam kemusyrikannya)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-8-hukum-berloyalitas-kepada-musyrikin/)–         Pejabat yang mengatakan “kami hanya menjalankan tugas/prosedur atasan” maka telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila saja orang yang mengikuti apa yang membuat murka Allah telah divonis murtad oleh-Nya, maka apa gerangan dengan banyaknya orang yang berposisi sebagai bawahan mengatakan kepada masyarakat “Kami hanya menjalankan tugas” setelah sang pejabat atasan membuat undang-undang kafir kemudian si bawahan itu melaksanakannya))–         Hanya sekedar anak-anak mengikuti pelajaran PMP atau PPKN maka otomatis menjadi kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila orang yang taat dalam sebagian kekafiran Allah SubhanahuWaTa’ala memvonisnya sebagai orang murtad, maka apa gerangan dengan:…Anak-anak sekolah mengikuti pelajaran falsafah syirik dengan alasan mengikuti proses pembelajaran dan berkata: “Karena jika tidak (ikut), maka kami tidak akan lulus”))–         Anak-anak aja dikafirkan apalagi mahasiswa. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti saat ujian siswa memuji Pancasila, demokrasi, Undang Undang Dasar 1945, dan lain-lain. Atau kagum dengannya atau bangga dengannya demi mendapatkan nilai ujian, maka dia itu kafir meskipun benci akan hal-hal itu dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin.))–         Seluruh pemilik sekolah resmi yang diakui pemerintah adalah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti itu pula orang yang ingin membuat lembaga yang diakui thaghut, sedangkan thaghut mensyaratkan adanya mata pelajaran falsafah syirik (mis. PPKN) lalu mereka menerima syarat itu, maka hukumnya sama saja.))–         Bahkan meskipun berdusta akan menyetujui tetap saja divonis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bahkan bila dia berjanji dusta untuk memenuhi syarat itu terhadap thaghut, tetap hukumnya sama saja)) Kelima : Yang menyatakan para bombers sebagai teroris divonis kafir. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Kalau ada umat Islam yang menganggap alqaidah sebagai teroris maka batal syahadatnya” (lihat http://www.youtube.com/watch?v=ZKQ3vue2T80, lihat juga http://www.youtube.com/watch?v=ZLDZ-vMevw4). Semua ini adalah bentuk mengkafirkan dengan kelaziman. Jika ada orang yang menyatakan mujahid (tukang bom) adalah teroris maka berarti ia telah membantu Amerika dalam menyerang kaum muslimin. Dan barang siapa yang membantu Amerika untuk menyerang kaum muslimin maka ia telah kafir !!! Keenam : Warga negara Indonesia (bahkan kaum muslimin dunia) pada umumnya kafir          Ini sangat jelas dari perincian di atas. Jika anak-anak yang ikut belajar filsafah syirik (PMP atau PPKN) dianggap musyrik, maka sesungguhnya hampir seluruh warga negara Indonesia yang pernah berlajar di bangku sekolah telah kafir !!!. Dan kebanyakan mereka belum bertaubat dari kekafiran mereka.Demikian juga betapa banyak warga negara Indonesia yang menyatakan praktik bom bali merupakan bentuk praktek teroris??. Apakah mereka semuanya telah batal syahadatnya??, telah kafir??. Sungguh hanya segelintir kecil warga negara Indonesia yang mendukung al-Qoidah dan para bombers di Bali??. Nah sisanya bagaimana??. Semua telah batal syahadatnya??. Bahkan bukan Cuma warga negara Indonesia…, hampir seluruh warga negara Saudi juga tidak setuju dengan pengeboman membabi buta yang dilakukan oleh para teroris dengan slogan jihad. Apakah mereka juga kafir??. Nah para imam masjid al-Haram dan Al-Masjid Nabawi juga kafir dan murtad?? Kesimpulan : Sepertinya –mohon maaf  wahai para saudaraku yang kami cintai, yang hobi mengkafirkan- memang sepertinya sangat pantas dan cocok jika kalian disebut “Takfiri” (Tukang mengkafirkan). Dan saya rasa kalian –wahai saudara-saudaraku- tidak menolak gelaran ini, karena memang kalian wahai saudara-saudaraku meyakininya bahkan menggembar-gemborkannya…bahkan membanggakannya !!!Bersambung….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 14-02-1435 H / 17-12-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com 


Tidak diragukan saudara-saudara kita yang terjerat dalam pemahaman takfiri (suka mengkafirkan) adalah saudara-saudara yang semangat menegakkan syari’at Islam. Akan tetapi tentunya bukan hanya mereka saja yang rindu untuk ditegakkan syari’at Islam. Demikian juga bukan hanya mereka yang benci kepada kesyirikan dan kekufuran, akan tetapi masih banyak saudara-saudara mereka yang lain yang juga benci dan selalu memperingatkan umat akan bahaya kesyirikan dengan berbagai macam jenisnya.Hanya saja saudara-saudara kita –yang hobi mengkafirkan- tersebut sangat memfokuskan pembahasan kesyirikan pada permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah”. Berangkat dari kesalahpahaman tentang permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah” maka menimbulkan pengkafiran berantai ala “MLM”.  Tentu saudaraku yang “hobi” mengkafirkan tidak suka atau tidak ridho dengan gelar yang buruk ini “Takfiri” jika distempelkan dan dicapkan pada dirinya. Karena bagaimanapun gelar “takfiri” sangat bermakna konotasi. Akan tetapi jika kita kembali kepada kenyataan aqidah dan praktek mereka…ternyata inilah sifat dan gelar yang tepat dan sangat pas jika ditempelkan kepada saudara-saudara kita yang berpemahaman takfir tersebut. Terlebih lagi jika kita menelaah pernyataan-pernyataan berani yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh mereka (dalam hal ini adalah Ustadz Aman Abdurrahman dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir), sebagaimana yang telah dinukil oleh situs-situs pendukung dan penebar pemahaman kedua ustadz ini seperti : (1) Arrahmah.com, (2) Millahibrahim.wordpress.com, dan (3) voa-islam.comBerikut contoh-contoh pengkafiranberantai tersebut, sebagaimana termaktub dalam situs-situs tersebut :Pertama : Arab Saudi negara kafir.          Seorang muslim tentunya bahagia masih ada suatu negara yang masih menegakkan hukum Islam, hukum rajam bagi yang berzina, hukum pemotongan tangan bagi yang mencuri, qisos (dipenggal kepala) pagi yang membunuh orang lain dengan sengaja tanpa hak, qisosbagi yang mempraktekan sihir, dll. Itulah negara Arab Saudi, yang pada negara tersebut tidak akan ditemukan sebuah tempat ibadah agama lain…, tidak akan ditemukan perayaan hari natal…, tidak akan ditemukan bar dan discotik.., apalagi tempat lokalisasi perzinahan, serta keamanan yang luar biasa. Sebagaimana hal ini bisa dirasakan oleh para jama’ah haji. Tidak ada kuburan yang disembah.., tidak ada penyembelihan kepada jin.., dan tidak ada praktik-praktikesyirikan secara terang-terangan. Demikian juga Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang memiliki Lembaga al-AmrbilMa’ruufwaAn-Nahyu ‘anal-Munkar. Tentunya tidak ada yang mengatakan bahwa Arab Saudi adalah negara Islam yang sempurna…??. Tidak seorangpun yang menyatakan demikian. Bahkan kita sendiri melihat masih ada kekurangan pada kerajaan Arab Saudi. Akan tetapi itulah negara yang terbaik yang adasaatini, yang kita terus memohon kepada Allah agar tetap menjaga negara ini dan mengarahkannya kepada yang lebih baik.Akan tetapi anehnya, ada seorang ustadz yang bukannya mendoakan agar Arab Saudi menjadi lebih baik, akan tetapi malah berbahagia jika Arab Saudi runtuh..!?. Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Masa-masa akhir menjelang runtuhnya Thaghut Saudi”, UstadzAman Abdurrahman berkata : ((Arab Saudi adalah negara paling akhir dalam keterbongkaran kekafiran dan kethaghutan mereka, yang selama ini mayoritas umat Islam atau bahkan aktivis Islam meyakini bahwa Saudi adalah negara Islam. Hari demi hari semakin terbongkar kekafiran mereka di hadapan umat Islam dan bahkan di hadapan para syaikh mereka yang selama ini selalu melindungi dan menjadi pilar pengokoh kekuasaan mereka. Bergembiralah wahai kaum muslimin dengan semakin nyatanya kejahatan Dinasti Saudi dan kekafiran mereka serta loyalitas mereka kepada Salibis Amerika dan Zionis Yahudi. Tunggulah saatnya kehancuran mereka dan penguasaan ikhwan tauhid setelahnya)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/2013/08/17/masa-masa-akhir-menjelang-runtuhnya-thaghut-saudi/)Entah apa yang dikehendaki oleh Ustadz Aman Abdurrahman ini…?!, apakah ia ingin Arab Saudi hancur, lalu ia bersama rekan-rekannya mendirikan negara Islam di Arab Saudi menggantikan raja Saudi, lalu menyerang Amerika dan Yahudi??. Apakah semudah itu…??. Apakah itu yang hendak digembira riakan??. Ingin agar tidak ada yang mengatur jama’ah haji dan umroh…Selanjutnya… Kedua : Indonesia negara musyrik dan kafirJika Arab Saudi yang menjalankan hukum Islam saja divonis kafir maka bagaimana lagi nasib NKRI?. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Negara Indonesia (NKRI) adalah negara musyrik dan kafir”  (silahkan baca http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/08/15/26277/ustadz-baasyir-indonesia-berhukum-thaghut-umat-islam-dilarang-patuh/#sthash.H5wyoNld.dpbs).Selanjutnya … Ketiga : Kepala Negara Indonesia Kafir.Jika negaranya kafir, maka tentunya sang presidennya juga kafir, karena menjalankan kekafiran dengan berhukum dengan hukum selain hukum Allah kafir. Presiden Indonesia SBY disebut oleh mereka sebagai thaghut (gembong kekufuran), silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2012/01/11/17338-ustadz-abu-bakar-baasyir-penguasa-nkri-sejak-merdeka-hingga-saat-ini-adalah-thaghut.html).Jangankan presiden NKRI bahkan tokoh Ikhwanul Muslimin yaitu Mursi -presiden Mesir- juga divonis kafir tatkala menjadi presiden (silahkan baca http://millahibrahim.wordpress.com/2013/10/17/penjelasan-kekafiran-mursiy-saat-menjadi-presiden-mesir/).Selanjutnya … Keempat : Pegawai negeri secara umum kafir (meskipun tidak semuanya). Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Ustadz andalan kaum takfiri yaitu Aman Abdurrahman (silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2007/11/29/1317-status-pegawai-negeri-pemerintahan-thaghut.html)Karena negara Indonesia negara kafir dan musyrik, demikian juga kepala negaranya yang berhukum dengan hukum kafir, maka yang bekerja sebagai pegawai negara tersebut juga terancam kafir.Perinciannya sebagai berikut;–         Seluruh kepala negara (baik presiden, Amir, maupun Raja) adalah kafir bahkan thaghut (gembong dan penyebab kekufuran berantai). Aman Abdurrahman berkata ((Penguasa zhalim yang merubah aturan-aturan (hukum) Allah, thaghut semacam ini adalah banyak sekali dan sudah bersifat lembaga resmi pemerintahan negara-negara pada umumnya di zaman sekarang ini. Contohnya tidaklah jauh seperti parlemen, lembaga inilah yang memegang kedaulatan dan wewenang pembuatan hukum/undang-undang. Lembaga ini akan membuat hukum atau tidak, dan baik hukum yang digulirkan itu seperti hukum Islam atau menyelisihinya maka tetap saja lembaga berikut anggota-anggotanya ini adalah thaghut, meskipun sebahagiannya mengaku memperjuangkan syari’at Islam. Begitu juga Presiden/ Raja/Emir atau para bawahannya yang suka membuat SK atau TAP yang menyelisihi aturan Allah, mereka itu adalah thaghut)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-4-siapakah-thaghut/)–         Seluruh anggota DPR dan MPR kafir, karena membuat hukum selain hukum Allah–         Seluruh jaksa dan hakim adalah kafir, dan seluruh yang bekerja di departemen kehakiman dan pengadilan konsekuensinya juga kafir–         Seluruh anggota polisi kafir, karena ikut membela negara yang berhukum dengan hukum Allah–         Seluruh anggota ABRI, baik angkatan udara, angkatan laut, maupun angkata darat, semuanya kafir karena ikut membela negara kafir Indonesia yang berhukum dengan selain hukum AllahAman Abdurrahman berkata ((seperti anggota MPR/DPR, baik dia disumpah ataupun tidak maka dia tetap kafir, juga hakim, jaksa, tentara, polisi, baik mereka ada sumpah ataupun tidak, mereka tetap orang kafir))Setelah itu rantai pengkafiran berlanjut :–         Mengkafirkan semua yang membantu terlaksananya sidang-sidang DPR/MPR. Aman Abdurrahman berkata ((Atau orang bekerja di sekretariat gedung DPR/MPR, dimana dia yang mengatur program-program atau berbagai acara rapat atau sidang mejelisthaghut ini)).Ini melazimkan pengkafiran yang ngawur membabi buta, sehingga semua orang yang kerjaannya ada hubungan dengan kegiatan DPR/MPR maka dihukum kafir !!. Termasuk para pedagang yang menyediakan makanan dalam sidang-sidang tersebut.., para tukang sapu yang membersihkan ruangan sidang tersebut…, pokoknya semua yang iktu nimbrung membantu jalannya persidangan DPR/MPR maka divonis kafir–         Semua pegawai negeri yang tatkala menjadi pegawai negeri disumpah maka dia telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((apapun bentuk dinasnya selama ada sumpah untuk loyal kepada hukum thaghut maka dia kafir)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/2007/11/02/status-bekerja-di-dinas-pemerintahan-thaghut/). Ini merupakan bentuk pengkafiran pegawai negeri secara menyeluruh, karena rata-rata pegawai negeri terkena sumpah–         Sekedar menyanyikan lagu garuda pancasila meskipun meyakini kebatilan dan kesyirikan pancasila sudah cukup untuk menjadikan penyanyi tersebut otomatis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Pancasila adalah falsafah syirik, maka orang-orang yang ‘sekedar’ ikut menyanyikan lagu Garuda Pancasila adalah telah keluar dari Islam, baik karena alasan basa-basi atau karena takut (kecuali dipaksa), meskipun dia itu benci dengan Pancasila dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin, karena dia mengikuti orang-orang musyrik dalam kemusyrikannya)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-8-hukum-berloyalitas-kepada-musyrikin/)–         Pejabat yang mengatakan “kami hanya menjalankan tugas/prosedur atasan” maka telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila saja orang yang mengikuti apa yang membuat murka Allah telah divonis murtad oleh-Nya, maka apa gerangan dengan banyaknya orang yang berposisi sebagai bawahan mengatakan kepada masyarakat “Kami hanya menjalankan tugas” setelah sang pejabat atasan membuat undang-undang kafir kemudian si bawahan itu melaksanakannya))–         Hanya sekedar anak-anak mengikuti pelajaran PMP atau PPKN maka otomatis menjadi kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila orang yang taat dalam sebagian kekafiran Allah SubhanahuWaTa’ala memvonisnya sebagai orang murtad, maka apa gerangan dengan:…Anak-anak sekolah mengikuti pelajaran falsafah syirik dengan alasan mengikuti proses pembelajaran dan berkata: “Karena jika tidak (ikut), maka kami tidak akan lulus”))–         Anak-anak aja dikafirkan apalagi mahasiswa. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti saat ujian siswa memuji Pancasila, demokrasi, Undang Undang Dasar 1945, dan lain-lain. Atau kagum dengannya atau bangga dengannya demi mendapatkan nilai ujian, maka dia itu kafir meskipun benci akan hal-hal itu dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin.))–         Seluruh pemilik sekolah resmi yang diakui pemerintah adalah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti itu pula orang yang ingin membuat lembaga yang diakui thaghut, sedangkan thaghut mensyaratkan adanya mata pelajaran falsafah syirik (mis. PPKN) lalu mereka menerima syarat itu, maka hukumnya sama saja.))–         Bahkan meskipun berdusta akan menyetujui tetap saja divonis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bahkan bila dia berjanji dusta untuk memenuhi syarat itu terhadap thaghut, tetap hukumnya sama saja)) Kelima : Yang menyatakan para bombers sebagai teroris divonis kafir. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Kalau ada umat Islam yang menganggap alqaidah sebagai teroris maka batal syahadatnya” (lihat http://www.youtube.com/watch?v=ZKQ3vue2T80, lihat juga http://www.youtube.com/watch?v=ZLDZ-vMevw4). Semua ini adalah bentuk mengkafirkan dengan kelaziman. Jika ada orang yang menyatakan mujahid (tukang bom) adalah teroris maka berarti ia telah membantu Amerika dalam menyerang kaum muslimin. Dan barang siapa yang membantu Amerika untuk menyerang kaum muslimin maka ia telah kafir !!! Keenam : Warga negara Indonesia (bahkan kaum muslimin dunia) pada umumnya kafir          Ini sangat jelas dari perincian di atas. Jika anak-anak yang ikut belajar filsafah syirik (PMP atau PPKN) dianggap musyrik, maka sesungguhnya hampir seluruh warga negara Indonesia yang pernah berlajar di bangku sekolah telah kafir !!!. Dan kebanyakan mereka belum bertaubat dari kekafiran mereka.Demikian juga betapa banyak warga negara Indonesia yang menyatakan praktik bom bali merupakan bentuk praktek teroris??. Apakah mereka semuanya telah batal syahadatnya??, telah kafir??. Sungguh hanya segelintir kecil warga negara Indonesia yang mendukung al-Qoidah dan para bombers di Bali??. Nah sisanya bagaimana??. Semua telah batal syahadatnya??. Bahkan bukan Cuma warga negara Indonesia…, hampir seluruh warga negara Saudi juga tidak setuju dengan pengeboman membabi buta yang dilakukan oleh para teroris dengan slogan jihad. Apakah mereka juga kafir??. Nah para imam masjid al-Haram dan Al-Masjid Nabawi juga kafir dan murtad?? Kesimpulan : Sepertinya –mohon maaf  wahai para saudaraku yang kami cintai, yang hobi mengkafirkan- memang sepertinya sangat pantas dan cocok jika kalian disebut “Takfiri” (Tukang mengkafirkan). Dan saya rasa kalian –wahai saudara-saudaraku- tidak menolak gelaran ini, karena memang kalian wahai saudara-saudaraku meyakininya bahkan menggembar-gemborkannya…bahkan membanggakannya !!!Bersambung….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 14-02-1435 H / 17-12-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com 

Jangan Pernah Menyangka Hahwa Istiqomahmu dan Ketegaranmu Merupakan Pruduk Murni Keberhasilanmu

Jangan pernah menyangka bahwa istiqomahmu dan ketegaranmu merupakan pruduk murni keberhasilanmu dan ketaatanmu, sesungguhnya Allah telah berkata kpd NabiNya :وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, (Al-Isroo’ : 74)Ini pernyataan Allah tentang Nabi, bagaimana lagi dengan dirimu? Tatkala Allah memilihmu untuk menempuh jalan hidayah, bukanlah karena engkau sosok spesial karena ketaatanmu, akan tetapi karena rahmat Allah yang meliputimu. Bisa saja Allah mencabut rahmatNya darimu kapan saja Allah kehendaki. Karenanya janganlah pernah bangga dan terpedaya oleh amalan dan ketaatanmu, dan jangan pernah pula merendahkan orang yg tersesat…, karena kalau bukan rahmat dan kasih sayang Allah kepadamu, maka bisa jadi engkaulah yg berada di posisi orang yg tersesat tersebut

Jangan Pernah Menyangka Hahwa Istiqomahmu dan Ketegaranmu Merupakan Pruduk Murni Keberhasilanmu

Jangan pernah menyangka bahwa istiqomahmu dan ketegaranmu merupakan pruduk murni keberhasilanmu dan ketaatanmu, sesungguhnya Allah telah berkata kpd NabiNya :وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, (Al-Isroo’ : 74)Ini pernyataan Allah tentang Nabi, bagaimana lagi dengan dirimu? Tatkala Allah memilihmu untuk menempuh jalan hidayah, bukanlah karena engkau sosok spesial karena ketaatanmu, akan tetapi karena rahmat Allah yang meliputimu. Bisa saja Allah mencabut rahmatNya darimu kapan saja Allah kehendaki. Karenanya janganlah pernah bangga dan terpedaya oleh amalan dan ketaatanmu, dan jangan pernah pula merendahkan orang yg tersesat…, karena kalau bukan rahmat dan kasih sayang Allah kepadamu, maka bisa jadi engkaulah yg berada di posisi orang yg tersesat tersebut
Jangan pernah menyangka bahwa istiqomahmu dan ketegaranmu merupakan pruduk murni keberhasilanmu dan ketaatanmu, sesungguhnya Allah telah berkata kpd NabiNya :وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, (Al-Isroo’ : 74)Ini pernyataan Allah tentang Nabi, bagaimana lagi dengan dirimu? Tatkala Allah memilihmu untuk menempuh jalan hidayah, bukanlah karena engkau sosok spesial karena ketaatanmu, akan tetapi karena rahmat Allah yang meliputimu. Bisa saja Allah mencabut rahmatNya darimu kapan saja Allah kehendaki. Karenanya janganlah pernah bangga dan terpedaya oleh amalan dan ketaatanmu, dan jangan pernah pula merendahkan orang yg tersesat…, karena kalau bukan rahmat dan kasih sayang Allah kepadamu, maka bisa jadi engkaulah yg berada di posisi orang yg tersesat tersebut


Jangan pernah menyangka bahwa istiqomahmu dan ketegaranmu merupakan pruduk murni keberhasilanmu dan ketaatanmu, sesungguhnya Allah telah berkata kpd NabiNya :وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, (Al-Isroo’ : 74)Ini pernyataan Allah tentang Nabi, bagaimana lagi dengan dirimu? Tatkala Allah memilihmu untuk menempuh jalan hidayah, bukanlah karena engkau sosok spesial karena ketaatanmu, akan tetapi karena rahmat Allah yang meliputimu. Bisa saja Allah mencabut rahmatNya darimu kapan saja Allah kehendaki. Karenanya janganlah pernah bangga dan terpedaya oleh amalan dan ketaatanmu, dan jangan pernah pula merendahkan orang yg tersesat…, karena kalau bukan rahmat dan kasih sayang Allah kepadamu, maka bisa jadi engkaulah yg berada di posisi orang yg tersesat tersebut

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 44: Batu pun Bertasbih

16DecSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 44: Batu pun BertasbihDecember 16, 2013Belajar Islam, Fikih, Nasihat dan Faidah Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 44 BATU PUN BERTASBIH   Dikarenakan keagungan Allah dan kemuliaan-Nya, maka seluruh makhluk pun bertasbih kepada-Nya. Langit, bumi, gunung, pohon, matahari, bulan, hewan, burung dan segala sesuatu, semuanya bertasbih mensucikan Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ، إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا”. Artinya: “Tujuh lapis langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Namun kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguh-Nya Dia Maha Penyantun lagi Pengampun”. QS. Al-Isra’ (17): 44. Ayat di atas dan masih banyak ayat lainnya, menjelaskan pada kita bahwa seluruh makhluk bertasbih, entah itu makhluk hidup maupun benda mati. Dan mereka bertasbih secara nyata, bukan ilusi belaka. Dalam kitabnya Tahdzîb al-Lughah, Imam al-Azhary (w. 370 H) menjelaskan bahwa seluruh makhluk Allah bersujud kepada-Nya dengan nyata, sebagaimana mereka bertasbih kepada Allah ta’ala juga dengan nyata. Kita para manusia tidaklah dibebani oleh Allah untuk mengetahui tata cara para makhluk itu dalam bertasbih dan bersujud kepada-Nya. Allah ta’ala menjelaskan, “أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ”. Artinya: “Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia”. QS. Al-Hajj (22): 18. Bertasbihnya para makhluk tersebut di atas bukanlah suatu perkara yang aneh. Di zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam saja para sahabat biasa mendengar makanan bertasbih. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menuturkan, “لَقَدْ رَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ” “Sungguh aku telah melihat air memancar dari antara jari-jari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dan sungguh kami juga mendengar makanan bertasbih saat dimakan”. HR. Bukhari. Insan yang beriman akan percaya dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah tanpa merasa ragu. Selain itu juga akan mengambil pelajaran, bahwa jika bebatuan yang tak bernyawa dan tak berakal saja bersujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, bagaimana halnya dengan para manusia? Mereka telah dikaruniai akal, dianugerahi hati, dimuliakan dengan iman, andaikan tidak juga sujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, alangkah kerasnya hati mereka?? Na’udzubillah min dzalik… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Shafar 1435 / 16 Desember 2013   * Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/213-218). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 44: Batu pun Bertasbih

16DecSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 44: Batu pun BertasbihDecember 16, 2013Belajar Islam, Fikih, Nasihat dan Faidah Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 44 BATU PUN BERTASBIH   Dikarenakan keagungan Allah dan kemuliaan-Nya, maka seluruh makhluk pun bertasbih kepada-Nya. Langit, bumi, gunung, pohon, matahari, bulan, hewan, burung dan segala sesuatu, semuanya bertasbih mensucikan Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ، إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا”. Artinya: “Tujuh lapis langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Namun kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguh-Nya Dia Maha Penyantun lagi Pengampun”. QS. Al-Isra’ (17): 44. Ayat di atas dan masih banyak ayat lainnya, menjelaskan pada kita bahwa seluruh makhluk bertasbih, entah itu makhluk hidup maupun benda mati. Dan mereka bertasbih secara nyata, bukan ilusi belaka. Dalam kitabnya Tahdzîb al-Lughah, Imam al-Azhary (w. 370 H) menjelaskan bahwa seluruh makhluk Allah bersujud kepada-Nya dengan nyata, sebagaimana mereka bertasbih kepada Allah ta’ala juga dengan nyata. Kita para manusia tidaklah dibebani oleh Allah untuk mengetahui tata cara para makhluk itu dalam bertasbih dan bersujud kepada-Nya. Allah ta’ala menjelaskan, “أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ”. Artinya: “Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia”. QS. Al-Hajj (22): 18. Bertasbihnya para makhluk tersebut di atas bukanlah suatu perkara yang aneh. Di zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam saja para sahabat biasa mendengar makanan bertasbih. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menuturkan, “لَقَدْ رَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ” “Sungguh aku telah melihat air memancar dari antara jari-jari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dan sungguh kami juga mendengar makanan bertasbih saat dimakan”. HR. Bukhari. Insan yang beriman akan percaya dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah tanpa merasa ragu. Selain itu juga akan mengambil pelajaran, bahwa jika bebatuan yang tak bernyawa dan tak berakal saja bersujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, bagaimana halnya dengan para manusia? Mereka telah dikaruniai akal, dianugerahi hati, dimuliakan dengan iman, andaikan tidak juga sujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, alangkah kerasnya hati mereka?? Na’udzubillah min dzalik… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Shafar 1435 / 16 Desember 2013   * Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/213-218). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
16DecSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 44: Batu pun BertasbihDecember 16, 2013Belajar Islam, Fikih, Nasihat dan Faidah Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 44 BATU PUN BERTASBIH   Dikarenakan keagungan Allah dan kemuliaan-Nya, maka seluruh makhluk pun bertasbih kepada-Nya. Langit, bumi, gunung, pohon, matahari, bulan, hewan, burung dan segala sesuatu, semuanya bertasbih mensucikan Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ، إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا”. Artinya: “Tujuh lapis langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Namun kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguh-Nya Dia Maha Penyantun lagi Pengampun”. QS. Al-Isra’ (17): 44. Ayat di atas dan masih banyak ayat lainnya, menjelaskan pada kita bahwa seluruh makhluk bertasbih, entah itu makhluk hidup maupun benda mati. Dan mereka bertasbih secara nyata, bukan ilusi belaka. Dalam kitabnya Tahdzîb al-Lughah, Imam al-Azhary (w. 370 H) menjelaskan bahwa seluruh makhluk Allah bersujud kepada-Nya dengan nyata, sebagaimana mereka bertasbih kepada Allah ta’ala juga dengan nyata. Kita para manusia tidaklah dibebani oleh Allah untuk mengetahui tata cara para makhluk itu dalam bertasbih dan bersujud kepada-Nya. Allah ta’ala menjelaskan, “أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ”. Artinya: “Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia”. QS. Al-Hajj (22): 18. Bertasbihnya para makhluk tersebut di atas bukanlah suatu perkara yang aneh. Di zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam saja para sahabat biasa mendengar makanan bertasbih. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menuturkan, “لَقَدْ رَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ” “Sungguh aku telah melihat air memancar dari antara jari-jari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dan sungguh kami juga mendengar makanan bertasbih saat dimakan”. HR. Bukhari. Insan yang beriman akan percaya dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah tanpa merasa ragu. Selain itu juga akan mengambil pelajaran, bahwa jika bebatuan yang tak bernyawa dan tak berakal saja bersujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, bagaimana halnya dengan para manusia? Mereka telah dikaruniai akal, dianugerahi hati, dimuliakan dengan iman, andaikan tidak juga sujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, alangkah kerasnya hati mereka?? Na’udzubillah min dzalik… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Shafar 1435 / 16 Desember 2013   * Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/213-218). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


16DecSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 44: Batu pun BertasbihDecember 16, 2013Belajar Islam, Fikih, Nasihat dan Faidah Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 44 BATU PUN BERTASBIH   Dikarenakan keagungan Allah dan kemuliaan-Nya, maka seluruh makhluk pun bertasbih kepada-Nya. Langit, bumi, gunung, pohon, matahari, bulan, hewan, burung dan segala sesuatu, semuanya bertasbih mensucikan Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ، إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا”. Artinya: “Tujuh lapis langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Namun kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguh-Nya Dia Maha Penyantun lagi Pengampun”. QS. Al-Isra’ (17): 44. Ayat di atas dan masih banyak ayat lainnya, menjelaskan pada kita bahwa seluruh makhluk bertasbih, entah itu makhluk hidup maupun benda mati. Dan mereka bertasbih secara nyata, bukan ilusi belaka. Dalam kitabnya Tahdzîb al-Lughah, Imam al-Azhary (w. 370 H) menjelaskan bahwa seluruh makhluk Allah bersujud kepada-Nya dengan nyata, sebagaimana mereka bertasbih kepada Allah ta’ala juga dengan nyata. Kita para manusia tidaklah dibebani oleh Allah untuk mengetahui tata cara para makhluk itu dalam bertasbih dan bersujud kepada-Nya. Allah ta’ala menjelaskan, “أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ”. Artinya: “Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia”. QS. Al-Hajj (22): 18. Bertasbihnya para makhluk tersebut di atas bukanlah suatu perkara yang aneh. Di zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam saja para sahabat biasa mendengar makanan bertasbih. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menuturkan, “لَقَدْ رَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ” “Sungguh aku telah melihat air memancar dari antara jari-jari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dan sungguh kami juga mendengar makanan bertasbih saat dimakan”. HR. Bukhari. Insan yang beriman akan percaya dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah tanpa merasa ragu. Selain itu juga akan mengambil pelajaran, bahwa jika bebatuan yang tak bernyawa dan tak berakal saja bersujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, bagaimana halnya dengan para manusia? Mereka telah dikaruniai akal, dianugerahi hati, dimuliakan dengan iman, andaikan tidak juga sujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, alangkah kerasnya hati mereka?? Na’udzubillah min dzalik… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Shafar 1435 / 16 Desember 2013   * Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/213-218). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Adakah Lebaran Di Suria…??

Seorang Penyair berkata :يا عيد مهلا فما في الدار روادوليس تلعب في الساحات أوﻻدWahai hari lebaran… Tunggu dulu… Tidak ada di negeri ini pengunjungnya…فالشام تمسي وتضحي وابتسامتهاغارت وآﻻمها في القلب تزدادNegeri Syaam (Suria) di pagi dan sore hari hilanglah senyumannya…Penderitaannya dihati semakin bertambah… وأهلها بين مقتول ومعتقلونازح بات لا مأوى ولا زادPenduduknya terbunuh dan terpenjara….Atau terasing…bermalam tanpa tempat bernaung dan tanpa bekal…جارت عليها ذئاب الكفر قاطبةوأترعت كأسها بالذل أوغادSeluruh serigala kafir telah menzoliminya…Serigala-serigala kafir tersebut telah memenuhi cangkir negeri Syaam (suria) dengan kehinaan dan kerendahan…والمسلمون موات مالهم أثرمليارهم إذ يجد الجد آحادKaum muslimin hanyalah mayat-mayat yang tak berbekas…Jumlah mereka yang milyaran… Hanya segelintir oranglah yang serius (memperdulikan)…فيا أسود الوغى في شام عزتناأنتم على ضعفكم لله أجنادWahai para singa peperangan di negeri Syaam kejayaan kami…Meskipun kalian lemah akan tetapi kalianlah pasukan Allah yang sesungguhnya …شدوا على الجرح لا يأس ولا وهنفالنصر آت ولكن ثم ميعادIkatlah luka kalian jangan pernah ada putus asa dan kelemahan…Sesungguhnya kemenangan akan datang, akan tetapi ada waktunya….ويومها تمسح المأساة دمعتهاوتملأ الشام أفراح وأعيادMaka pada haribitu kesedihan dan penderitaan akan menghapus air matanya….Lalu negeri Syam (Suria) pun akan dipenuhi kegembiraan dan hari-hari lebaran….(Di tengah kegembiraanmu…mereka di sana membutuhkan ketulusan doamu…)

Adakah Lebaran Di Suria…??

Seorang Penyair berkata :يا عيد مهلا فما في الدار روادوليس تلعب في الساحات أوﻻدWahai hari lebaran… Tunggu dulu… Tidak ada di negeri ini pengunjungnya…فالشام تمسي وتضحي وابتسامتهاغارت وآﻻمها في القلب تزدادNegeri Syaam (Suria) di pagi dan sore hari hilanglah senyumannya…Penderitaannya dihati semakin bertambah… وأهلها بين مقتول ومعتقلونازح بات لا مأوى ولا زادPenduduknya terbunuh dan terpenjara….Atau terasing…bermalam tanpa tempat bernaung dan tanpa bekal…جارت عليها ذئاب الكفر قاطبةوأترعت كأسها بالذل أوغادSeluruh serigala kafir telah menzoliminya…Serigala-serigala kafir tersebut telah memenuhi cangkir negeri Syaam (suria) dengan kehinaan dan kerendahan…والمسلمون موات مالهم أثرمليارهم إذ يجد الجد آحادKaum muslimin hanyalah mayat-mayat yang tak berbekas…Jumlah mereka yang milyaran… Hanya segelintir oranglah yang serius (memperdulikan)…فيا أسود الوغى في شام عزتناأنتم على ضعفكم لله أجنادWahai para singa peperangan di negeri Syaam kejayaan kami…Meskipun kalian lemah akan tetapi kalianlah pasukan Allah yang sesungguhnya …شدوا على الجرح لا يأس ولا وهنفالنصر آت ولكن ثم ميعادIkatlah luka kalian jangan pernah ada putus asa dan kelemahan…Sesungguhnya kemenangan akan datang, akan tetapi ada waktunya….ويومها تمسح المأساة دمعتهاوتملأ الشام أفراح وأعيادMaka pada haribitu kesedihan dan penderitaan akan menghapus air matanya….Lalu negeri Syam (Suria) pun akan dipenuhi kegembiraan dan hari-hari lebaran….(Di tengah kegembiraanmu…mereka di sana membutuhkan ketulusan doamu…)
Seorang Penyair berkata :يا عيد مهلا فما في الدار روادوليس تلعب في الساحات أوﻻدWahai hari lebaran… Tunggu dulu… Tidak ada di negeri ini pengunjungnya…فالشام تمسي وتضحي وابتسامتهاغارت وآﻻمها في القلب تزدادNegeri Syaam (Suria) di pagi dan sore hari hilanglah senyumannya…Penderitaannya dihati semakin bertambah… وأهلها بين مقتول ومعتقلونازح بات لا مأوى ولا زادPenduduknya terbunuh dan terpenjara….Atau terasing…bermalam tanpa tempat bernaung dan tanpa bekal…جارت عليها ذئاب الكفر قاطبةوأترعت كأسها بالذل أوغادSeluruh serigala kafir telah menzoliminya…Serigala-serigala kafir tersebut telah memenuhi cangkir negeri Syaam (suria) dengan kehinaan dan kerendahan…والمسلمون موات مالهم أثرمليارهم إذ يجد الجد آحادKaum muslimin hanyalah mayat-mayat yang tak berbekas…Jumlah mereka yang milyaran… Hanya segelintir oranglah yang serius (memperdulikan)…فيا أسود الوغى في شام عزتناأنتم على ضعفكم لله أجنادWahai para singa peperangan di negeri Syaam kejayaan kami…Meskipun kalian lemah akan tetapi kalianlah pasukan Allah yang sesungguhnya …شدوا على الجرح لا يأس ولا وهنفالنصر آت ولكن ثم ميعادIkatlah luka kalian jangan pernah ada putus asa dan kelemahan…Sesungguhnya kemenangan akan datang, akan tetapi ada waktunya….ويومها تمسح المأساة دمعتهاوتملأ الشام أفراح وأعيادMaka pada haribitu kesedihan dan penderitaan akan menghapus air matanya….Lalu negeri Syam (Suria) pun akan dipenuhi kegembiraan dan hari-hari lebaran….(Di tengah kegembiraanmu…mereka di sana membutuhkan ketulusan doamu…)


Seorang Penyair berkata :يا عيد مهلا فما في الدار روادوليس تلعب في الساحات أوﻻدWahai hari lebaran… Tunggu dulu… Tidak ada di negeri ini pengunjungnya…فالشام تمسي وتضحي وابتسامتهاغارت وآﻻمها في القلب تزدادNegeri Syaam (Suria) di pagi dan sore hari hilanglah senyumannya…Penderitaannya dihati semakin bertambah… وأهلها بين مقتول ومعتقلونازح بات لا مأوى ولا زادPenduduknya terbunuh dan terpenjara….Atau terasing…bermalam tanpa tempat bernaung dan tanpa bekal…جارت عليها ذئاب الكفر قاطبةوأترعت كأسها بالذل أوغادSeluruh serigala kafir telah menzoliminya…Serigala-serigala kafir tersebut telah memenuhi cangkir negeri Syaam (suria) dengan kehinaan dan kerendahan…والمسلمون موات مالهم أثرمليارهم إذ يجد الجد آحادKaum muslimin hanyalah mayat-mayat yang tak berbekas…Jumlah mereka yang milyaran… Hanya segelintir oranglah yang serius (memperdulikan)…فيا أسود الوغى في شام عزتناأنتم على ضعفكم لله أجنادWahai para singa peperangan di negeri Syaam kejayaan kami…Meskipun kalian lemah akan tetapi kalianlah pasukan Allah yang sesungguhnya …شدوا على الجرح لا يأس ولا وهنفالنصر آت ولكن ثم ميعادIkatlah luka kalian jangan pernah ada putus asa dan kelemahan…Sesungguhnya kemenangan akan datang, akan tetapi ada waktunya….ويومها تمسح المأساة دمعتهاوتملأ الشام أفراح وأعيادMaka pada haribitu kesedihan dan penderitaan akan menghapus air matanya….Lalu negeri Syam (Suria) pun akan dipenuhi kegembiraan dan hari-hari lebaran….(Di tengah kegembiraanmu…mereka di sana membutuhkan ketulusan doamu…)

Kaedah Fikih (13): Hukum Asal Daging

Bagaimana hukum asal daging? Misalnya, saat kita di supermarket ada daging ayam, apakah boleh kita membelinya padahal tidak tahu cara penyembelihannya? Dalam kaedah berikutnya Syaikh As Sa’di menyampaikan tentang hukum asal daging dengan mengatakan dalam bait sya’irnya, الأصل في الأبضاع واللحوم والنفس للمعصوم تحريمها حتى يجيء الحل فافهم هداك الله ما يحل Hukum asal hubungan biologis dan daging, begitu pula darah dan harta orang yang terjaga adalah haram sampai datang dalil yang menunjukkan halalnya, maka pahamilah apa yang telah didiktekan Jadi menurut Syaikh As Sa’di hukum asal daging adalah haram. Inilah pendapat sebagian ulama bahwa hukum asal daging itu haram. Asal dari pendapat ini adalah hadits ‘Adi radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أَرْسَلَتَ كَلْبَكَ فَاذْكُرِ اسْمَ اَللَّهِ, فَإِنْ أَمْسَكَ عَلَيْكَ فَأَدْرَكْتَهُ حَيًّا فَاذْبَحْهُ, وَإِنْ أَدْرَكْتَهُ قَدْ قُتِلَ وَلَمْ يُؤْكَلْ مِنْهُ فَكُلْهُ, وَإِنْ وَجَدْتَ مَعَ كَلْبِكَ كَلْبًا غَيْرَهُ وَقَدْ قُتِلَ فَلَا تَأْكُلْ: فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَيَّهُمَا قَتَلَهُ “Jika engkau ingin melepas anjing (pemburu yang telah dilatih), maka ucapkanlah ‘bismillah’. Jika ia menangkap sesuatu untukmu, lalu engkau mendapati hasil buruan tersebut dalam keadaan hidup, maka sembelihlah. Jika engkau mendapati hasil buruan tersebut dibunuh oleh anjing buruan itu dan ia tidak memakannya, maka makanlah hasil buruan tersebut. Jika engkau mendapati anjingmu bersama anjing lain dan hewan buruan tersebut sudah ia bunuh, maka janganlah memakannya karena engkau tidaklah tahu siapa yang membunuh hewan buruan tersebut. (HR. Bukhari no. 5484 dan Muslim no. 1929). Hadits ini menunjukkan bahwa jika bergabung antara daging yang halal dan haram, maka dimenangkan sisi yang haram. Namun pendalilan seperti itu bukanlah membahas hukum asal daging. Sedangkan yang lebih tepat, kaedah yang menyatakan hukum asal daging itu halal. Dalil yang mendukung pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala, قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai …” (QS. Al An’am: 145). Disebutkan dalam ayat ini, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Begitu juga dalilnya adalah ayat, وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” (QS.  Al An’am: 119). Ayat ini juga menunjukkan bahwa hukum asal daging itu halal hingga ada dalil yang menunjukkan haramnya. Begitu juga dijadikan dalil adalah firman Allah, إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, …” (QS. Al Baqarah: 173). Ayat ini menggunakan kalimat hasyr atau pembatasan dengan diawali “innama“. Ini menunjukkan bahwa selain dari yang diharamkan tersebut dihukumi seperti asalnya yaitu halal. Begitu pula dalil yang menunjukkan hukum asal daging adalah halal yaitu hadits berikut, عَنْ عَائِشَةَ  رضى الله عنها   أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِى أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ada suatu kaum yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari no. 2057). Jika seandainya hukum asal daging itu adalah haram, maka tentu beliau akan mengatakan, “Janganlah makan sampai kalian itu halal.” Inilah beberapa alasan kenapa kaedah yang lebih tepat, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang menunjukkan haramnya. Wallahu a’lam bish showwab.   Referensi: Syarh Al Manzhumatus Sa’diyah fil Qowa’id Al Fiqhiyyah, -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Dar Kanuz Isybiliya, cetakan kedua, 1426 H, hal. 82-83. — Disusun selepas Zhuhur di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 02:12 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsdaging qurban kaedah fikih

Kaedah Fikih (13): Hukum Asal Daging

Bagaimana hukum asal daging? Misalnya, saat kita di supermarket ada daging ayam, apakah boleh kita membelinya padahal tidak tahu cara penyembelihannya? Dalam kaedah berikutnya Syaikh As Sa’di menyampaikan tentang hukum asal daging dengan mengatakan dalam bait sya’irnya, الأصل في الأبضاع واللحوم والنفس للمعصوم تحريمها حتى يجيء الحل فافهم هداك الله ما يحل Hukum asal hubungan biologis dan daging, begitu pula darah dan harta orang yang terjaga adalah haram sampai datang dalil yang menunjukkan halalnya, maka pahamilah apa yang telah didiktekan Jadi menurut Syaikh As Sa’di hukum asal daging adalah haram. Inilah pendapat sebagian ulama bahwa hukum asal daging itu haram. Asal dari pendapat ini adalah hadits ‘Adi radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أَرْسَلَتَ كَلْبَكَ فَاذْكُرِ اسْمَ اَللَّهِ, فَإِنْ أَمْسَكَ عَلَيْكَ فَأَدْرَكْتَهُ حَيًّا فَاذْبَحْهُ, وَإِنْ أَدْرَكْتَهُ قَدْ قُتِلَ وَلَمْ يُؤْكَلْ مِنْهُ فَكُلْهُ, وَإِنْ وَجَدْتَ مَعَ كَلْبِكَ كَلْبًا غَيْرَهُ وَقَدْ قُتِلَ فَلَا تَأْكُلْ: فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَيَّهُمَا قَتَلَهُ “Jika engkau ingin melepas anjing (pemburu yang telah dilatih), maka ucapkanlah ‘bismillah’. Jika ia menangkap sesuatu untukmu, lalu engkau mendapati hasil buruan tersebut dalam keadaan hidup, maka sembelihlah. Jika engkau mendapati hasil buruan tersebut dibunuh oleh anjing buruan itu dan ia tidak memakannya, maka makanlah hasil buruan tersebut. Jika engkau mendapati anjingmu bersama anjing lain dan hewan buruan tersebut sudah ia bunuh, maka janganlah memakannya karena engkau tidaklah tahu siapa yang membunuh hewan buruan tersebut. (HR. Bukhari no. 5484 dan Muslim no. 1929). Hadits ini menunjukkan bahwa jika bergabung antara daging yang halal dan haram, maka dimenangkan sisi yang haram. Namun pendalilan seperti itu bukanlah membahas hukum asal daging. Sedangkan yang lebih tepat, kaedah yang menyatakan hukum asal daging itu halal. Dalil yang mendukung pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala, قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai …” (QS. Al An’am: 145). Disebutkan dalam ayat ini, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Begitu juga dalilnya adalah ayat, وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” (QS.  Al An’am: 119). Ayat ini juga menunjukkan bahwa hukum asal daging itu halal hingga ada dalil yang menunjukkan haramnya. Begitu juga dijadikan dalil adalah firman Allah, إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, …” (QS. Al Baqarah: 173). Ayat ini menggunakan kalimat hasyr atau pembatasan dengan diawali “innama“. Ini menunjukkan bahwa selain dari yang diharamkan tersebut dihukumi seperti asalnya yaitu halal. Begitu pula dalil yang menunjukkan hukum asal daging adalah halal yaitu hadits berikut, عَنْ عَائِشَةَ  رضى الله عنها   أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِى أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ada suatu kaum yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari no. 2057). Jika seandainya hukum asal daging itu adalah haram, maka tentu beliau akan mengatakan, “Janganlah makan sampai kalian itu halal.” Inilah beberapa alasan kenapa kaedah yang lebih tepat, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang menunjukkan haramnya. Wallahu a’lam bish showwab.   Referensi: Syarh Al Manzhumatus Sa’diyah fil Qowa’id Al Fiqhiyyah, -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Dar Kanuz Isybiliya, cetakan kedua, 1426 H, hal. 82-83. — Disusun selepas Zhuhur di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 02:12 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsdaging qurban kaedah fikih
Bagaimana hukum asal daging? Misalnya, saat kita di supermarket ada daging ayam, apakah boleh kita membelinya padahal tidak tahu cara penyembelihannya? Dalam kaedah berikutnya Syaikh As Sa’di menyampaikan tentang hukum asal daging dengan mengatakan dalam bait sya’irnya, الأصل في الأبضاع واللحوم والنفس للمعصوم تحريمها حتى يجيء الحل فافهم هداك الله ما يحل Hukum asal hubungan biologis dan daging, begitu pula darah dan harta orang yang terjaga adalah haram sampai datang dalil yang menunjukkan halalnya, maka pahamilah apa yang telah didiktekan Jadi menurut Syaikh As Sa’di hukum asal daging adalah haram. Inilah pendapat sebagian ulama bahwa hukum asal daging itu haram. Asal dari pendapat ini adalah hadits ‘Adi radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أَرْسَلَتَ كَلْبَكَ فَاذْكُرِ اسْمَ اَللَّهِ, فَإِنْ أَمْسَكَ عَلَيْكَ فَأَدْرَكْتَهُ حَيًّا فَاذْبَحْهُ, وَإِنْ أَدْرَكْتَهُ قَدْ قُتِلَ وَلَمْ يُؤْكَلْ مِنْهُ فَكُلْهُ, وَإِنْ وَجَدْتَ مَعَ كَلْبِكَ كَلْبًا غَيْرَهُ وَقَدْ قُتِلَ فَلَا تَأْكُلْ: فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَيَّهُمَا قَتَلَهُ “Jika engkau ingin melepas anjing (pemburu yang telah dilatih), maka ucapkanlah ‘bismillah’. Jika ia menangkap sesuatu untukmu, lalu engkau mendapati hasil buruan tersebut dalam keadaan hidup, maka sembelihlah. Jika engkau mendapati hasil buruan tersebut dibunuh oleh anjing buruan itu dan ia tidak memakannya, maka makanlah hasil buruan tersebut. Jika engkau mendapati anjingmu bersama anjing lain dan hewan buruan tersebut sudah ia bunuh, maka janganlah memakannya karena engkau tidaklah tahu siapa yang membunuh hewan buruan tersebut. (HR. Bukhari no. 5484 dan Muslim no. 1929). Hadits ini menunjukkan bahwa jika bergabung antara daging yang halal dan haram, maka dimenangkan sisi yang haram. Namun pendalilan seperti itu bukanlah membahas hukum asal daging. Sedangkan yang lebih tepat, kaedah yang menyatakan hukum asal daging itu halal. Dalil yang mendukung pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala, قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai …” (QS. Al An’am: 145). Disebutkan dalam ayat ini, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Begitu juga dalilnya adalah ayat, وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” (QS.  Al An’am: 119). Ayat ini juga menunjukkan bahwa hukum asal daging itu halal hingga ada dalil yang menunjukkan haramnya. Begitu juga dijadikan dalil adalah firman Allah, إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, …” (QS. Al Baqarah: 173). Ayat ini menggunakan kalimat hasyr atau pembatasan dengan diawali “innama“. Ini menunjukkan bahwa selain dari yang diharamkan tersebut dihukumi seperti asalnya yaitu halal. Begitu pula dalil yang menunjukkan hukum asal daging adalah halal yaitu hadits berikut, عَنْ عَائِشَةَ  رضى الله عنها   أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِى أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ada suatu kaum yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari no. 2057). Jika seandainya hukum asal daging itu adalah haram, maka tentu beliau akan mengatakan, “Janganlah makan sampai kalian itu halal.” Inilah beberapa alasan kenapa kaedah yang lebih tepat, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang menunjukkan haramnya. Wallahu a’lam bish showwab.   Referensi: Syarh Al Manzhumatus Sa’diyah fil Qowa’id Al Fiqhiyyah, -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Dar Kanuz Isybiliya, cetakan kedua, 1426 H, hal. 82-83. — Disusun selepas Zhuhur di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 02:12 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsdaging qurban kaedah fikih


Bagaimana hukum asal daging? Misalnya, saat kita di supermarket ada daging ayam, apakah boleh kita membelinya padahal tidak tahu cara penyembelihannya? Dalam kaedah berikutnya Syaikh As Sa’di menyampaikan tentang hukum asal daging dengan mengatakan dalam bait sya’irnya, الأصل في الأبضاع واللحوم والنفس للمعصوم تحريمها حتى يجيء الحل فافهم هداك الله ما يحل Hukum asal hubungan biologis dan daging, begitu pula darah dan harta orang yang terjaga adalah haram sampai datang dalil yang menunjukkan halalnya, maka pahamilah apa yang telah didiktekan Jadi menurut Syaikh As Sa’di hukum asal daging adalah haram. Inilah pendapat sebagian ulama bahwa hukum asal daging itu haram. Asal dari pendapat ini adalah hadits ‘Adi radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أَرْسَلَتَ كَلْبَكَ فَاذْكُرِ اسْمَ اَللَّهِ, فَإِنْ أَمْسَكَ عَلَيْكَ فَأَدْرَكْتَهُ حَيًّا فَاذْبَحْهُ, وَإِنْ أَدْرَكْتَهُ قَدْ قُتِلَ وَلَمْ يُؤْكَلْ مِنْهُ فَكُلْهُ, وَإِنْ وَجَدْتَ مَعَ كَلْبِكَ كَلْبًا غَيْرَهُ وَقَدْ قُتِلَ فَلَا تَأْكُلْ: فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَيَّهُمَا قَتَلَهُ “Jika engkau ingin melepas anjing (pemburu yang telah dilatih), maka ucapkanlah ‘bismillah’. Jika ia menangkap sesuatu untukmu, lalu engkau mendapati hasil buruan tersebut dalam keadaan hidup, maka sembelihlah. Jika engkau mendapati hasil buruan tersebut dibunuh oleh anjing buruan itu dan ia tidak memakannya, maka makanlah hasil buruan tersebut. Jika engkau mendapati anjingmu bersama anjing lain dan hewan buruan tersebut sudah ia bunuh, maka janganlah memakannya karena engkau tidaklah tahu siapa yang membunuh hewan buruan tersebut. (HR. Bukhari no. 5484 dan Muslim no. 1929). Hadits ini menunjukkan bahwa jika bergabung antara daging yang halal dan haram, maka dimenangkan sisi yang haram. Namun pendalilan seperti itu bukanlah membahas hukum asal daging. Sedangkan yang lebih tepat, kaedah yang menyatakan hukum asal daging itu halal. Dalil yang mendukung pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala, قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai …” (QS. Al An’am: 145). Disebutkan dalam ayat ini, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Begitu juga dalilnya adalah ayat, وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” (QS.  Al An’am: 119). Ayat ini juga menunjukkan bahwa hukum asal daging itu halal hingga ada dalil yang menunjukkan haramnya. Begitu juga dijadikan dalil adalah firman Allah, إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, …” (QS. Al Baqarah: 173). Ayat ini menggunakan kalimat hasyr atau pembatasan dengan diawali “innama“. Ini menunjukkan bahwa selain dari yang diharamkan tersebut dihukumi seperti asalnya yaitu halal. Begitu pula dalil yang menunjukkan hukum asal daging adalah halal yaitu hadits berikut, عَنْ عَائِشَةَ  رضى الله عنها   أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِى أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ada suatu kaum yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari no. 2057). Jika seandainya hukum asal daging itu adalah haram, maka tentu beliau akan mengatakan, “Janganlah makan sampai kalian itu halal.” Inilah beberapa alasan kenapa kaedah yang lebih tepat, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang menunjukkan haramnya. Wallahu a’lam bish showwab.   Referensi: Syarh Al Manzhumatus Sa’diyah fil Qowa’id Al Fiqhiyyah, -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Dar Kanuz Isybiliya, cetakan kedua, 1426 H, hal. 82-83. — Disusun selepas Zhuhur di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 02:12 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsdaging qurban kaedah fikih

Selamat Natal bagi Muslim

Bagaimana hukum mengucapkan selamat natal pada rekan atau teman yang beragama Nashrani? Apakah boleh seorang muslim mengucapkan selamat natal? Muslim: Aku Tidak Mau Mengucapkan Selamat Natal, Itu Prinsipku Ada diskusi menarik sebagai ilustrasi bahwa mengucapkan selamat natal tidaklah pantas bagi seorang muslim walau hanya sekedar kata-kata di lisan. (Muslimah = Muslim, Natali = Nashrani) Natali : Mengapa engkau tidak mengucapkan selamat natal padaku? Muslimah : Ooh maaf, untuk yang satu ini aku tidak bisa. Agama kami mengajarkan berbuat baik terhadap sesama termasuk pada non muslim. Namun jika ada sangkut paut dengan urusan agama, maka prinsip kami, “Lakum diinukum wa liyadiin“, bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami. Monggo kalian berhari raya, kami tidak mau turut campur. Demikian toleransi antar beragama dalam agama kami. Natali : Kenapa tidak mau ucapkan selamat? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain mengucapkannya padaku. Muslimah : Mungkin mereka belum tahu kalau itu tidak boleh. Natali, coba seandainya saya suruh kamu mengucapkan “dua kalimat syahadat”, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, engkau mau? Natali : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya. Itu akan mengganggu kepercayaan saya. Muslimah : Kenapa gak mau? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Ayo, ucapkanlah. Sekali saja. Natali : Baik, sekarang, saya mengerti. Inilah logika yang sederhana namun cerdas cukup menggambarkan kepada kita bagaimana seharusnya hubungan antara kedua umat yang berbeda keyakinan. Sementara hari ini banyak orang yang dianggap “tokoh” masyarakat level nasional/lokal dari kalangan muslim tampil sok humanis, pluralis, wisdom, menjadi pahlawan, pemimpin hebat kemudian mengucapkan “selamat natal” kepada umat Nashrani tanpa disadari hal tersebut telah merusak akidah dirinya dan umat Islam. Tentu ini menabrak tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sosok muslim yang kehilangan jati diri, “muslim KTP” yang eksis terlepas dari pakem dan manhaj hidup yang digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal. Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apa pun, beruntung, tercapai maksudnya, dsb. Adapun natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa Al Masih ‘alaihis salam) yang dalam pandangan umat Nashrani saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak serta meyakini ajaran Trinitas. Lalu bagaimana bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda pemahamannya mengenai Nabi Isa mendoakan kaum Kristen keselamatan atas apa yang mereka pahami tadi? Padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan mereka sebagai orang kafir, لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75) “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). ” (QS. Al Maidah: 72-75). Jadi, sekiranya ada umat muslim yang berkata, “Selamat Hari Natal” berarti dia menganggap, bahwa Yesus itu memang pernah lahir pada tanggal 25 Desember, sebagai anak Tuhan. Dan jelaslah hal ini haram. Karena telah merusak akidah Islamnya. Alasan Enggan Mengucapkan Selamat Natal 1- Natal bukan perayaan umat Islam Hari besar Islam hanyalah dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan natal, kelahiran Isa -menurut Nashrani- bukan perayaan umat Islam. Dan Islam tidak pernah menjadikan hari lahir nabi sebagai hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). 2- Sejarah natal yang sebenarnya berasal dari ritual penyembahan berhala Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Di mana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pangannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari: day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember. Selengkapnya baca di RemajaIslam.Com. Jika natal berasal dari ritual penyembahan berhala, apakah pantas seorang  muslim yang memiliki prinsip tauhid menyetujui perayaan tersebut dengan ucapkan selamat? 3- Mengucapkan selamat natal termasuk loyal pada orang kafir. Islam memiliki prinsip wala dan baro’, yaitu loyal pada orang muslim dan tidak mendukung orang kafir. Termasuk bentuk dukungan dan loyal pada orang kafir adalah mengucapkan selamat natal. Inilah yang dikatakan oleh para ulama. Larangan loyal pada orang kafir menjadi prinsip Nabi Ibrahim sebagaimana disebutkan dalam ayat, قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4) Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa loyal (wala’) pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. (Al Muhalla, 11: 138). 4- Mengucapkan selamat natal haram berdasarkan ijma’ atau kata sepakat ulama. Ibnul Qayyim berkata, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441) 5- Muslim diperintahkan menjauhi perayaan non muslim, bukan malah memeriahkan dan mengucapkan selamat. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak boleh kaum muslimin menghadiri perayaan non muslim dengan sepakat para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh para fuqoha dalam kitab-kitab mereka. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم “Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah.” Umar berkata, اجتنبوا أعداء الله في أعيادهم “Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka.” Demikian apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 723-724. 6- Tidak boleh mendahulukan mengucapkan salam pada non muslim. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat natal pada Nashrani. Demikian penjelasan dari Rumaysho.Com, moga semakin memantapkan akidah kita sebagai seorang muslim. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun saat pagi penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 06:49 AM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsnatal trinitas

Selamat Natal bagi Muslim

Bagaimana hukum mengucapkan selamat natal pada rekan atau teman yang beragama Nashrani? Apakah boleh seorang muslim mengucapkan selamat natal? Muslim: Aku Tidak Mau Mengucapkan Selamat Natal, Itu Prinsipku Ada diskusi menarik sebagai ilustrasi bahwa mengucapkan selamat natal tidaklah pantas bagi seorang muslim walau hanya sekedar kata-kata di lisan. (Muslimah = Muslim, Natali = Nashrani) Natali : Mengapa engkau tidak mengucapkan selamat natal padaku? Muslimah : Ooh maaf, untuk yang satu ini aku tidak bisa. Agama kami mengajarkan berbuat baik terhadap sesama termasuk pada non muslim. Namun jika ada sangkut paut dengan urusan agama, maka prinsip kami, “Lakum diinukum wa liyadiin“, bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami. Monggo kalian berhari raya, kami tidak mau turut campur. Demikian toleransi antar beragama dalam agama kami. Natali : Kenapa tidak mau ucapkan selamat? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain mengucapkannya padaku. Muslimah : Mungkin mereka belum tahu kalau itu tidak boleh. Natali, coba seandainya saya suruh kamu mengucapkan “dua kalimat syahadat”, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, engkau mau? Natali : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya. Itu akan mengganggu kepercayaan saya. Muslimah : Kenapa gak mau? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Ayo, ucapkanlah. Sekali saja. Natali : Baik, sekarang, saya mengerti. Inilah logika yang sederhana namun cerdas cukup menggambarkan kepada kita bagaimana seharusnya hubungan antara kedua umat yang berbeda keyakinan. Sementara hari ini banyak orang yang dianggap “tokoh” masyarakat level nasional/lokal dari kalangan muslim tampil sok humanis, pluralis, wisdom, menjadi pahlawan, pemimpin hebat kemudian mengucapkan “selamat natal” kepada umat Nashrani tanpa disadari hal tersebut telah merusak akidah dirinya dan umat Islam. Tentu ini menabrak tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sosok muslim yang kehilangan jati diri, “muslim KTP” yang eksis terlepas dari pakem dan manhaj hidup yang digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal. Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apa pun, beruntung, tercapai maksudnya, dsb. Adapun natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa Al Masih ‘alaihis salam) yang dalam pandangan umat Nashrani saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak serta meyakini ajaran Trinitas. Lalu bagaimana bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda pemahamannya mengenai Nabi Isa mendoakan kaum Kristen keselamatan atas apa yang mereka pahami tadi? Padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan mereka sebagai orang kafir, لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75) “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). ” (QS. Al Maidah: 72-75). Jadi, sekiranya ada umat muslim yang berkata, “Selamat Hari Natal” berarti dia menganggap, bahwa Yesus itu memang pernah lahir pada tanggal 25 Desember, sebagai anak Tuhan. Dan jelaslah hal ini haram. Karena telah merusak akidah Islamnya. Alasan Enggan Mengucapkan Selamat Natal 1- Natal bukan perayaan umat Islam Hari besar Islam hanyalah dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan natal, kelahiran Isa -menurut Nashrani- bukan perayaan umat Islam. Dan Islam tidak pernah menjadikan hari lahir nabi sebagai hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). 2- Sejarah natal yang sebenarnya berasal dari ritual penyembahan berhala Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Di mana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pangannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari: day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember. Selengkapnya baca di RemajaIslam.Com. Jika natal berasal dari ritual penyembahan berhala, apakah pantas seorang  muslim yang memiliki prinsip tauhid menyetujui perayaan tersebut dengan ucapkan selamat? 3- Mengucapkan selamat natal termasuk loyal pada orang kafir. Islam memiliki prinsip wala dan baro’, yaitu loyal pada orang muslim dan tidak mendukung orang kafir. Termasuk bentuk dukungan dan loyal pada orang kafir adalah mengucapkan selamat natal. Inilah yang dikatakan oleh para ulama. Larangan loyal pada orang kafir menjadi prinsip Nabi Ibrahim sebagaimana disebutkan dalam ayat, قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4) Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa loyal (wala’) pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. (Al Muhalla, 11: 138). 4- Mengucapkan selamat natal haram berdasarkan ijma’ atau kata sepakat ulama. Ibnul Qayyim berkata, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441) 5- Muslim diperintahkan menjauhi perayaan non muslim, bukan malah memeriahkan dan mengucapkan selamat. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak boleh kaum muslimin menghadiri perayaan non muslim dengan sepakat para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh para fuqoha dalam kitab-kitab mereka. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم “Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah.” Umar berkata, اجتنبوا أعداء الله في أعيادهم “Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka.” Demikian apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 723-724. 6- Tidak boleh mendahulukan mengucapkan salam pada non muslim. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat natal pada Nashrani. Demikian penjelasan dari Rumaysho.Com, moga semakin memantapkan akidah kita sebagai seorang muslim. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun saat pagi penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 06:49 AM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsnatal trinitas
Bagaimana hukum mengucapkan selamat natal pada rekan atau teman yang beragama Nashrani? Apakah boleh seorang muslim mengucapkan selamat natal? Muslim: Aku Tidak Mau Mengucapkan Selamat Natal, Itu Prinsipku Ada diskusi menarik sebagai ilustrasi bahwa mengucapkan selamat natal tidaklah pantas bagi seorang muslim walau hanya sekedar kata-kata di lisan. (Muslimah = Muslim, Natali = Nashrani) Natali : Mengapa engkau tidak mengucapkan selamat natal padaku? Muslimah : Ooh maaf, untuk yang satu ini aku tidak bisa. Agama kami mengajarkan berbuat baik terhadap sesama termasuk pada non muslim. Namun jika ada sangkut paut dengan urusan agama, maka prinsip kami, “Lakum diinukum wa liyadiin“, bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami. Monggo kalian berhari raya, kami tidak mau turut campur. Demikian toleransi antar beragama dalam agama kami. Natali : Kenapa tidak mau ucapkan selamat? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain mengucapkannya padaku. Muslimah : Mungkin mereka belum tahu kalau itu tidak boleh. Natali, coba seandainya saya suruh kamu mengucapkan “dua kalimat syahadat”, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, engkau mau? Natali : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya. Itu akan mengganggu kepercayaan saya. Muslimah : Kenapa gak mau? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Ayo, ucapkanlah. Sekali saja. Natali : Baik, sekarang, saya mengerti. Inilah logika yang sederhana namun cerdas cukup menggambarkan kepada kita bagaimana seharusnya hubungan antara kedua umat yang berbeda keyakinan. Sementara hari ini banyak orang yang dianggap “tokoh” masyarakat level nasional/lokal dari kalangan muslim tampil sok humanis, pluralis, wisdom, menjadi pahlawan, pemimpin hebat kemudian mengucapkan “selamat natal” kepada umat Nashrani tanpa disadari hal tersebut telah merusak akidah dirinya dan umat Islam. Tentu ini menabrak tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sosok muslim yang kehilangan jati diri, “muslim KTP” yang eksis terlepas dari pakem dan manhaj hidup yang digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal. Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apa pun, beruntung, tercapai maksudnya, dsb. Adapun natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa Al Masih ‘alaihis salam) yang dalam pandangan umat Nashrani saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak serta meyakini ajaran Trinitas. Lalu bagaimana bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda pemahamannya mengenai Nabi Isa mendoakan kaum Kristen keselamatan atas apa yang mereka pahami tadi? Padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan mereka sebagai orang kafir, لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75) “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). ” (QS. Al Maidah: 72-75). Jadi, sekiranya ada umat muslim yang berkata, “Selamat Hari Natal” berarti dia menganggap, bahwa Yesus itu memang pernah lahir pada tanggal 25 Desember, sebagai anak Tuhan. Dan jelaslah hal ini haram. Karena telah merusak akidah Islamnya. Alasan Enggan Mengucapkan Selamat Natal 1- Natal bukan perayaan umat Islam Hari besar Islam hanyalah dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan natal, kelahiran Isa -menurut Nashrani- bukan perayaan umat Islam. Dan Islam tidak pernah menjadikan hari lahir nabi sebagai hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). 2- Sejarah natal yang sebenarnya berasal dari ritual penyembahan berhala Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Di mana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pangannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari: day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember. Selengkapnya baca di RemajaIslam.Com. Jika natal berasal dari ritual penyembahan berhala, apakah pantas seorang  muslim yang memiliki prinsip tauhid menyetujui perayaan tersebut dengan ucapkan selamat? 3- Mengucapkan selamat natal termasuk loyal pada orang kafir. Islam memiliki prinsip wala dan baro’, yaitu loyal pada orang muslim dan tidak mendukung orang kafir. Termasuk bentuk dukungan dan loyal pada orang kafir adalah mengucapkan selamat natal. Inilah yang dikatakan oleh para ulama. Larangan loyal pada orang kafir menjadi prinsip Nabi Ibrahim sebagaimana disebutkan dalam ayat, قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4) Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa loyal (wala’) pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. (Al Muhalla, 11: 138). 4- Mengucapkan selamat natal haram berdasarkan ijma’ atau kata sepakat ulama. Ibnul Qayyim berkata, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441) 5- Muslim diperintahkan menjauhi perayaan non muslim, bukan malah memeriahkan dan mengucapkan selamat. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak boleh kaum muslimin menghadiri perayaan non muslim dengan sepakat para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh para fuqoha dalam kitab-kitab mereka. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم “Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah.” Umar berkata, اجتنبوا أعداء الله في أعيادهم “Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka.” Demikian apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 723-724. 6- Tidak boleh mendahulukan mengucapkan salam pada non muslim. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat natal pada Nashrani. Demikian penjelasan dari Rumaysho.Com, moga semakin memantapkan akidah kita sebagai seorang muslim. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun saat pagi penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 06:49 AM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsnatal trinitas


Bagaimana hukum mengucapkan selamat natal pada rekan atau teman yang beragama Nashrani? Apakah boleh seorang muslim mengucapkan selamat natal? Muslim: Aku Tidak Mau Mengucapkan Selamat Natal, Itu Prinsipku Ada diskusi menarik sebagai ilustrasi bahwa mengucapkan selamat natal tidaklah pantas bagi seorang muslim walau hanya sekedar kata-kata di lisan. (Muslimah = Muslim, Natali = Nashrani) Natali : Mengapa engkau tidak mengucapkan selamat natal padaku? Muslimah : Ooh maaf, untuk yang satu ini aku tidak bisa. Agama kami mengajarkan berbuat baik terhadap sesama termasuk pada non muslim. Namun jika ada sangkut paut dengan urusan agama, maka prinsip kami, “Lakum diinukum wa liyadiin“, bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami. Monggo kalian berhari raya, kami tidak mau turut campur. Demikian toleransi antar beragama dalam agama kami. Natali : Kenapa tidak mau ucapkan selamat? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain mengucapkannya padaku. Muslimah : Mungkin mereka belum tahu kalau itu tidak boleh. Natali, coba seandainya saya suruh kamu mengucapkan “dua kalimat syahadat”, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, engkau mau? Natali : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya. Itu akan mengganggu kepercayaan saya. Muslimah : Kenapa gak mau? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Ayo, ucapkanlah. Sekali saja. Natali : Baik, sekarang, saya mengerti. Inilah logika yang sederhana namun cerdas cukup menggambarkan kepada kita bagaimana seharusnya hubungan antara kedua umat yang berbeda keyakinan. Sementara hari ini banyak orang yang dianggap “tokoh” masyarakat level nasional/lokal dari kalangan muslim tampil sok humanis, pluralis, wisdom, menjadi pahlawan, pemimpin hebat kemudian mengucapkan “selamat natal” kepada umat Nashrani tanpa disadari hal tersebut telah merusak akidah dirinya dan umat Islam. Tentu ini menabrak tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sosok muslim yang kehilangan jati diri, “muslim KTP” yang eksis terlepas dari pakem dan manhaj hidup yang digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal. Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apa pun, beruntung, tercapai maksudnya, dsb. Adapun natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa Al Masih ‘alaihis salam) yang dalam pandangan umat Nashrani saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak serta meyakini ajaran Trinitas. Lalu bagaimana bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda pemahamannya mengenai Nabi Isa mendoakan kaum Kristen keselamatan atas apa yang mereka pahami tadi? Padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan mereka sebagai orang kafir, لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75) “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). ” (QS. Al Maidah: 72-75). Jadi, sekiranya ada umat muslim yang berkata, “Selamat Hari Natal” berarti dia menganggap, bahwa Yesus itu memang pernah lahir pada tanggal 25 Desember, sebagai anak Tuhan. Dan jelaslah hal ini haram. Karena telah merusak akidah Islamnya. Alasan Enggan Mengucapkan Selamat Natal 1- Natal bukan perayaan umat Islam Hari besar Islam hanyalah dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan natal, kelahiran Isa -menurut Nashrani- bukan perayaan umat Islam. Dan Islam tidak pernah menjadikan hari lahir nabi sebagai hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). 2- Sejarah natal yang sebenarnya berasal dari ritual penyembahan berhala Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Di mana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pangannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari: day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember. Selengkapnya baca di RemajaIslam.Com. Jika natal berasal dari ritual penyembahan berhala, apakah pantas seorang  muslim yang memiliki prinsip tauhid menyetujui perayaan tersebut dengan ucapkan selamat? 3- Mengucapkan selamat natal termasuk loyal pada orang kafir. Islam memiliki prinsip wala dan baro’, yaitu loyal pada orang muslim dan tidak mendukung orang kafir. Termasuk bentuk dukungan dan loyal pada orang kafir adalah mengucapkan selamat natal. Inilah yang dikatakan oleh para ulama. Larangan loyal pada orang kafir menjadi prinsip Nabi Ibrahim sebagaimana disebutkan dalam ayat, قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4) Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa loyal (wala’) pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. (Al Muhalla, 11: 138). 4- Mengucapkan selamat natal haram berdasarkan ijma’ atau kata sepakat ulama. Ibnul Qayyim berkata, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441) 5- Muslim diperintahkan menjauhi perayaan non muslim, bukan malah memeriahkan dan mengucapkan selamat. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak boleh kaum muslimin menghadiri perayaan non muslim dengan sepakat para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh para fuqoha dalam kitab-kitab mereka. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم “Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah.” Umar berkata, اجتنبوا أعداء الله في أعيادهم “Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka.” Demikian apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 723-724. 6- Tidak boleh mendahulukan mengucapkan salam pada non muslim. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat natal pada Nashrani. Demikian penjelasan dari Rumaysho.Com, moga semakin memantapkan akidah kita sebagai seorang muslim. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun saat pagi penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 06:49 AM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsnatal trinitas

Bahaya Meninggalkan Shalat (3): Perkataan Sahabat Nabi

Setelah kita melihat dalil Al Qur’an yang membicarakan bahaya meninggalkan shalat, begitu pula bahayanya yang disebutkan dalam hadits Nabawi, saat ini kita akan merujuk pada perkataan para sahabat Rasul. Mereka sampai berkata bahwa orang yang meninggalkan shalat bukanlah muslim. Dan para sahabat menganggap bahwa perkara yang jika ditinggalkan menjadikan seseorang kafir yaitu perkara shalat. Inilah yang menunjukkan meninggalkan shalat itu begitu berbahaya. Ibnu Zanjawaih mengatakan, ” ’Amr bin Ar Robi’ telah menceritakan pada kami, (dia berkata) Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) dari Yusuf, (dia berkata) dari Ibnu Syihab, beliau berkata,” ’Ubaid bin Abdillah bin ‘Utbah (berkata) bahwa Abdullah bin Abbas mengabarkannya,”Dia mendatangi Umar bin Al Khoththob ketika beliau ditikam (dibunuh) di masjid. Lalu Ibnu Abbas berkata,”Aku dan beberapa orang di masjid membawanya (Umar) ke rumahnya.” Lalu Ibnu Abbas berkata, ”Lalu Abdurrahman bin ‘Auf diperintahkan untuk mengimami orang-orang.” Kemudian beliau berkata lagi, ”Tatkala kami menemui Umar di rumahnya, maut hampir menghapirinya. Beliau tetap dalam keadaan tidak sadar hingga semakin parah. Lalu (tiba-tiba) beliau sadar dan mengatakan,”Apakah orang-orang sudah melaksanakan shalat?” Ibnu Abbas berkata, ”Kami mengatakan,’Ya’. Lalu Umar mengatakan, لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ ”Tidaklah disebut Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Dari jalan yang lain, Umar berkata, ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Lalu Umar meminta air wudhu, kemudian beliau berwudhu dan shalat. (Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam sunannya, juga Ibnu ’Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209) Juga dikatakan yang demikian itu oleh semua sahabat yang hadir. Mereka semua tidak mengingkari apa yang dikatakan oleh Umar. Perkataan semacam ini juga dapat dilihat dari perkataan Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan tidak diketahui sahabat yang menyelisihinya. Al Hafidz Abdul Haq Al Isybiliy rahimahullah dalam kitabnya mengenai shalat, beliau mengatakan, ”Sejumlah sahabat dan orang-orang setelahnya berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja itu kafir karena sebab meninggalkan shalat tersebut hingga keluar waktunya. Di antara yang berpendapat demikian adalah Umar bin Al Khaththab, Mu’adz bin Jabbal, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir, Abud Darda’, begitu juga diriwayatkan dari Ali dan beberapa sahabat.” Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq, كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ “Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)   Akhukum fillah : Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 12 Safar 1435 H, pagi hari penuh berkah Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsmeninggalkan shalat

Bahaya Meninggalkan Shalat (3): Perkataan Sahabat Nabi

Setelah kita melihat dalil Al Qur’an yang membicarakan bahaya meninggalkan shalat, begitu pula bahayanya yang disebutkan dalam hadits Nabawi, saat ini kita akan merujuk pada perkataan para sahabat Rasul. Mereka sampai berkata bahwa orang yang meninggalkan shalat bukanlah muslim. Dan para sahabat menganggap bahwa perkara yang jika ditinggalkan menjadikan seseorang kafir yaitu perkara shalat. Inilah yang menunjukkan meninggalkan shalat itu begitu berbahaya. Ibnu Zanjawaih mengatakan, ” ’Amr bin Ar Robi’ telah menceritakan pada kami, (dia berkata) Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) dari Yusuf, (dia berkata) dari Ibnu Syihab, beliau berkata,” ’Ubaid bin Abdillah bin ‘Utbah (berkata) bahwa Abdullah bin Abbas mengabarkannya,”Dia mendatangi Umar bin Al Khoththob ketika beliau ditikam (dibunuh) di masjid. Lalu Ibnu Abbas berkata,”Aku dan beberapa orang di masjid membawanya (Umar) ke rumahnya.” Lalu Ibnu Abbas berkata, ”Lalu Abdurrahman bin ‘Auf diperintahkan untuk mengimami orang-orang.” Kemudian beliau berkata lagi, ”Tatkala kami menemui Umar di rumahnya, maut hampir menghapirinya. Beliau tetap dalam keadaan tidak sadar hingga semakin parah. Lalu (tiba-tiba) beliau sadar dan mengatakan,”Apakah orang-orang sudah melaksanakan shalat?” Ibnu Abbas berkata, ”Kami mengatakan,’Ya’. Lalu Umar mengatakan, لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ ”Tidaklah disebut Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Dari jalan yang lain, Umar berkata, ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Lalu Umar meminta air wudhu, kemudian beliau berwudhu dan shalat. (Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam sunannya, juga Ibnu ’Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209) Juga dikatakan yang demikian itu oleh semua sahabat yang hadir. Mereka semua tidak mengingkari apa yang dikatakan oleh Umar. Perkataan semacam ini juga dapat dilihat dari perkataan Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan tidak diketahui sahabat yang menyelisihinya. Al Hafidz Abdul Haq Al Isybiliy rahimahullah dalam kitabnya mengenai shalat, beliau mengatakan, ”Sejumlah sahabat dan orang-orang setelahnya berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja itu kafir karena sebab meninggalkan shalat tersebut hingga keluar waktunya. Di antara yang berpendapat demikian adalah Umar bin Al Khaththab, Mu’adz bin Jabbal, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir, Abud Darda’, begitu juga diriwayatkan dari Ali dan beberapa sahabat.” Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq, كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ “Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)   Akhukum fillah : Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 12 Safar 1435 H, pagi hari penuh berkah Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsmeninggalkan shalat
Setelah kita melihat dalil Al Qur’an yang membicarakan bahaya meninggalkan shalat, begitu pula bahayanya yang disebutkan dalam hadits Nabawi, saat ini kita akan merujuk pada perkataan para sahabat Rasul. Mereka sampai berkata bahwa orang yang meninggalkan shalat bukanlah muslim. Dan para sahabat menganggap bahwa perkara yang jika ditinggalkan menjadikan seseorang kafir yaitu perkara shalat. Inilah yang menunjukkan meninggalkan shalat itu begitu berbahaya. Ibnu Zanjawaih mengatakan, ” ’Amr bin Ar Robi’ telah menceritakan pada kami, (dia berkata) Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) dari Yusuf, (dia berkata) dari Ibnu Syihab, beliau berkata,” ’Ubaid bin Abdillah bin ‘Utbah (berkata) bahwa Abdullah bin Abbas mengabarkannya,”Dia mendatangi Umar bin Al Khoththob ketika beliau ditikam (dibunuh) di masjid. Lalu Ibnu Abbas berkata,”Aku dan beberapa orang di masjid membawanya (Umar) ke rumahnya.” Lalu Ibnu Abbas berkata, ”Lalu Abdurrahman bin ‘Auf diperintahkan untuk mengimami orang-orang.” Kemudian beliau berkata lagi, ”Tatkala kami menemui Umar di rumahnya, maut hampir menghapirinya. Beliau tetap dalam keadaan tidak sadar hingga semakin parah. Lalu (tiba-tiba) beliau sadar dan mengatakan,”Apakah orang-orang sudah melaksanakan shalat?” Ibnu Abbas berkata, ”Kami mengatakan,’Ya’. Lalu Umar mengatakan, لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ ”Tidaklah disebut Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Dari jalan yang lain, Umar berkata, ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Lalu Umar meminta air wudhu, kemudian beliau berwudhu dan shalat. (Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam sunannya, juga Ibnu ’Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209) Juga dikatakan yang demikian itu oleh semua sahabat yang hadir. Mereka semua tidak mengingkari apa yang dikatakan oleh Umar. Perkataan semacam ini juga dapat dilihat dari perkataan Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan tidak diketahui sahabat yang menyelisihinya. Al Hafidz Abdul Haq Al Isybiliy rahimahullah dalam kitabnya mengenai shalat, beliau mengatakan, ”Sejumlah sahabat dan orang-orang setelahnya berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja itu kafir karena sebab meninggalkan shalat tersebut hingga keluar waktunya. Di antara yang berpendapat demikian adalah Umar bin Al Khaththab, Mu’adz bin Jabbal, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir, Abud Darda’, begitu juga diriwayatkan dari Ali dan beberapa sahabat.” Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq, كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ “Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)   Akhukum fillah : Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 12 Safar 1435 H, pagi hari penuh berkah Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsmeninggalkan shalat


Setelah kita melihat dalil Al Qur’an yang membicarakan bahaya meninggalkan shalat, begitu pula bahayanya yang disebutkan dalam hadits Nabawi, saat ini kita akan merujuk pada perkataan para sahabat Rasul. Mereka sampai berkata bahwa orang yang meninggalkan shalat bukanlah muslim. Dan para sahabat menganggap bahwa perkara yang jika ditinggalkan menjadikan seseorang kafir yaitu perkara shalat. Inilah yang menunjukkan meninggalkan shalat itu begitu berbahaya. Ibnu Zanjawaih mengatakan, ” ’Amr bin Ar Robi’ telah menceritakan pada kami, (dia berkata) Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) dari Yusuf, (dia berkata) dari Ibnu Syihab, beliau berkata,” ’Ubaid bin Abdillah bin ‘Utbah (berkata) bahwa Abdullah bin Abbas mengabarkannya,”Dia mendatangi Umar bin Al Khoththob ketika beliau ditikam (dibunuh) di masjid. Lalu Ibnu Abbas berkata,”Aku dan beberapa orang di masjid membawanya (Umar) ke rumahnya.” Lalu Ibnu Abbas berkata, ”Lalu Abdurrahman bin ‘Auf diperintahkan untuk mengimami orang-orang.” Kemudian beliau berkata lagi, ”Tatkala kami menemui Umar di rumahnya, maut hampir menghapirinya. Beliau tetap dalam keadaan tidak sadar hingga semakin parah. Lalu (tiba-tiba) beliau sadar dan mengatakan,”Apakah orang-orang sudah melaksanakan shalat?” Ibnu Abbas berkata, ”Kami mengatakan,’Ya’. Lalu Umar mengatakan, لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ ”Tidaklah disebut Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Dari jalan yang lain, Umar berkata, ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Lalu Umar meminta air wudhu, kemudian beliau berwudhu dan shalat. (Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam sunannya, juga Ibnu ’Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209) Juga dikatakan yang demikian itu oleh semua sahabat yang hadir. Mereka semua tidak mengingkari apa yang dikatakan oleh Umar. Perkataan semacam ini juga dapat dilihat dari perkataan Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan tidak diketahui sahabat yang menyelisihinya. Al Hafidz Abdul Haq Al Isybiliy rahimahullah dalam kitabnya mengenai shalat, beliau mengatakan, ”Sejumlah sahabat dan orang-orang setelahnya berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja itu kafir karena sebab meninggalkan shalat tersebut hingga keluar waktunya. Di antara yang berpendapat demikian adalah Umar bin Al Khaththab, Mu’adz bin Jabbal, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir, Abud Darda’, begitu juga diriwayatkan dari Ali dan beberapa sahabat.” Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq, كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ “Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)   Akhukum fillah : Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 12 Safar 1435 H, pagi hari penuh berkah Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsmeninggalkan shalat

Jurus-Jurus Melanggengkan Keharmonisan Pasutri

          Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan rumah tangga, ternyata terkadang sebagian pasutri belum meraih kebahagiaan yang diharapkan. Dan tidak jarang juga setelah bertahun-tahun menjalani bahtera rumah tangga akhirnya berakhir dengan pecah dan tenggelamnya bahtera tersebut…Apa yang hendak tertorehkan pada tulisan berikut ini hanyalah sebagian usaha yang mungkin bisa dilakukan untuk memperindah kehidupan rumah tangga…, agar rumah terasa seperti surga dunia…bukan sebaliknya menjadi neraka dunia…Diantara kiat-kiat yang mungkin untuk dilakukan dan direnungkan adalah : Pertama : Masing-masing dari pasutri berusaha memperbaiki hubungannya kepada Allah. Barang siapa yang indah hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperindah hubungannya dengan makhlukNya, diantaranya Allah yang akan memperindah hubungannya dengan pasangan dan belahan hatinya.عَنْ مَعْقِلِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ الْجَزَرِيِّ قَالَ: كَانَتِ الْعُلَمَاءُ إِذَا الْتَقَوْا تَوَاصَوْا بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ، وَإِذَا غَابُوا كَتَبَ بِهَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ أَنَّهُ: مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُDari Ma’qil bin ‘Ubaidillah Al-Jazariy, ia berkata : “Para ulama dahulu jika mereka bertemu maka mereka saling mewasiatkan dengan kalimat-kalimat berikut ini dan jika mereka tidak bertemu maka mereka saling menuliskan surat satu kepada yang lainnya bahwasanya :(1) Barang siapa yang memperbaiki rahasianya (kondisinya yang tidak diketahui dan tidak dilihat oleh orang lain-pen) maka Allah akan memperbaiki luarannya (yaitu kondisinya yang nampak dan terlihat oleh orang lain-pen)(2) Barang siapa yang memperbaiki hubungan antara ia dengan Allah maka Allah yang akan mengatur/mengurus tentang hubungan antara dia dengan manusia(3) Barang siapa yang memperhatikan perkara akhiratnya maka Allah akan mengatur urusan dunianya” (Kitab Al-Ikhlash karya Ibnu Abid Dunya hal 54 atsar no 25)          Jika seorang suami/istri meluruskan dan memperbaiki hubungannya dengan Allah, baik ibadah lahiriah maupun ibadah hati/batinnya kepada Allah maka Allah akan memperbaiki hubungan antara dia dengan pasangan hidupnya (suami/istrinya).Bukankah Allah yang telah berfirman :وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ“Dan (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka” (QS Al-Anfaal : 63)Ini menunjukkan bahwa yang bisa menyatukan hati, yang bisa menjadikan saling mencintai hanyalah Allah subhanaahu wa ta’aala. Karenanya jika seseorang memperbaiki hubungannya dengan Allah “Pencipta, Penguasa, dan Pengatur hati” maka Allah akan memperindah hubungannya dengan pasangan hidupnya. Kedua : Berusaha untuk menjadikan kehidupan rumah tangga sebagai bentuk kerjasama antara pasutri untuk meraih akhirat. Jika orientasi pasutri adalah akhirat maka akan jadilah kehidupan rumah tangga mereka berdua langgeng dan penuh kebahagiaan. Akan tetapi kapan saja orientasi salah satu dari pasutri adalah dunia semata maka akan menghantarkan penderitaan dalam kehidupan berumah tangga. Karenanya butuh kerjasama (ta’aawun) antara suami dan istri dalam beribadah dan saling mengingatkan akan akhirat. Sungguh indah jika terjalin kerjasama antara pasutri dalam mengingat akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ, فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. وَ رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى, فَإِنْ أَبَى نَضَحَت فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ “Semoga Allah merahmati seorang lelaki (suami) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya hingga istrinya pun shalat. Bila istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita (istri) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suaminya hingga suaminya pun shalat. Bila suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya.” (HR Abu Dawud no 1308)Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللّيْلِ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا، كُتِبَا في الذَّاكِرِيْنَ وَالذَّاكِرَاتِ“Apabila seorang lelaki (suami) membangunkan istrinya di waktu malam hingga keduanya mengerjakan shalat atau shalat dua rakaat semuanya, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang berzikir.” (HR Abu Dawud no 1309)Dalam riwayat yang dikeluarkan An-Nasa`i disebutkan dengan lafadz:إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ, كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ “Apabila seorang lelaki (suami) bangun di waktu malam dan ia membangunkan istrinya lalu keduanya mengerjakan shalat dua rakaat, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat/berdzikir kepada Allah.” Ketiga : Masing-masing pasutri harus merasa memiliki tanggung jawab.Istri bukanlah seperti baju yang dibeli, yang jika seorang lelaki tidak suka atau bosan maka langsung ditanggalkan, atau disumbangkan kepada orang lain, atau bila perlu dibuang begitu saja. Bukan juga seperti mobil yang jika si pemiliknya sudah bosan maka tinggal dijual meskipun harus rugi beberapa juta. Istri adalah seorang teman hidup yang dimiliki melalui tali akad nikah yang suci dan sakral…istri merupakan amanah dan beban yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah.Jika seseorang yang membeli mobil dia sadar bahwasanya mobilnya tidak bisa hanya dipakai saja terus-menerus, akan tetapi mobil tersebut butuh perawatan dan perbaikan…maka bagaimana lagi dengan istri !!. Jangan sampai seorang lelaki hanya ingin beristri dan hanya memikirkan perkara-perkara yang enak-enak saja tanpa merasa bertanggung jawab sebagai seorang suami yang seharusnya…bertanggung jawab untuk menafkahi lahir dan batin…, menyisihkan waktu untuk keluarga (istri dan anak-anak)…, berusaha mengenal apa saja hak-hak istri dalam Islam untuk ia tunaikan.          Demikian juga sang istri, harus sadar bahwasanya tatkala ia menerima lamaran sang lelaki maka ia berarti telah menerima setumpuk kewajiban sebagai seorang istri…, berusaha mengenal hak-hak suaminya…, jangan sampai ia hanya ingin menjadi permaisuri…akan tetapi tidak mau berperan dengan peranan pembantu yang menjalankan kerjaan-kerjaan ibu rumah tangga. Keempat : Pasangan kita adalah orang yang paling berhak untuk kita baiki          Ini adalah perkara yang harus selalu tertanam dalam benak setiap pasutri. Istri adalah orang yang paling berhak untuk dilembuti…, dihormati…, dihargai…, diberikan hadiah…, diramah-tamahi dengan tutur kata yang terlembut dan budi pekerti yang termulia…karena istrilah yang paling banyak berkorban untuk suami…Renungkanlah…seorang lelaki melamar seorang gadis perawan yang hidup dengan kemanjaan di rumahnya, penuh dengan kasih sayang orang tuanya…dilayani dan dipenuhi kebutuhannya oleh kedua orang tuanya…bahkan terkadang di rumah orang tuanya ada pembantunya…Lantas iapun dikeluarkan dari rumah orang tuanya untuk hidup bersanding dengan seorang lelaki yang asing sebelumnya baginya…lantas ia harus mengurus kasur dan tempat tidur sang suami…, mengurus dapur sang suami…, mengandung anak-anaknya dengan berbagai kesulitan dan penderitaan…, harus mencuci baju suaminya…harus ini dan itu…semuanya harus ia lakukan.Ini semua harus menjadikan sang istri sebagai orang yang paling berhak untuk dibaiki oleh sang suami !!. Bayangkan seorang lelaki yang memiliki 3 orang anak, lantas istrinya meninggal dunia, maka berapa pembantu yang harus ia bayar…pembantu, babysitter…??Yang menyedihkan adalah seorang suami yang sangat lembut dan menghormati temannya akan tetapi jika dihadapan istrinya maka ia bertutur kata seenaknya tanpa ada penghormatan dan penghargaan terhadap jasa-jasa istrinya ??!!          Demikian pula seorang suami adalah orang yang paling berhak untuk dihormati dan dituruti oleh seorang istri…, suamilah yang telah bekerja keras mencari nafkah…suaminyalah yang sabar mendengarkan keluh kesahnya…suaminyalah yang telah sabar merawatnya tatkala ia sakit…suaminyalah yang begitu hangat membelainya tatkala ia lemah dalam kondisi mengandung….dan lain-lain… dan suaminyalah pintu terbesar dan terlebar yang memasukannya ke kebahagiaan abadi di akhirat kelak…Maka sungguh memilukan dan menyayat hati suaminya jika sang istri begitu lemah lembut dan tertawa jika berbicara dengan teman-temannya, lantas tatkala berbicara dengan suaminya dengan pembicaraan yang datar apalagi kasar !! Kelima : Tidak ada yang sempurna…Barang siapa yang mengharapkan kesempurnaan di dunia ini, maka ia hanyalah mengharapkan sesuatu yang mustahil. Karena sesungguhnya Allah hanya menciptakan kesempurnaan kenikmatan di surga kelak, agar seorang muslim sadar dan selalu merindukan kesempurnaan di akhirat. Jika nampak kesalahan dan kekurangan pada pasangan hidup maka segera ingatlah kebaikan-kebaikannya dan juga jasa-jasanya serta kelebihan-kelebihannya. Jangan sampai seseorang didominasi oleh syaitan yang berusaha menjadikan seseorang hanya mengingat kejelekan dan keburukan (silahkan lihat Ceramah Singkat: “Kebahagiaan dan Kesempurnaan” di http://www.youtube.com/watch?v=XQwYxhJfDzw) Keenam : Berusaha selalu mencintai pasangan hidup kita karena AllahTentu kita mencintai pasangan hidup kita dengan cinta tabiat (yaitu lelaki mencintai seorang wanita dan sebaliknya). Akan tetapi cinta yang dibangun hanya karena cinta tabi’at tidak akan pernah langgeng. Jika perkara yang kita hasratkan pada pasangan hidup kita telah pudar atau hilang maka hilang pula kecintaan kita. Apalagi ternyata ada wanita/lelaki yang lebih menarik hasrat kita daripada pasangan hidup kita, maka akan memudarlah kecintaan kita, dan akan mulai berpaling ke lain hati.Berbeda halnya jika cinta yang secara tabi’at ini kita hiasi dengan kecintaan karena Allah… maka kecintaan ini akan lebih langgeng dan akan lebih menumbuhkan kepuasan dan kebahagiaan dalam hati. Kita mencintai pasangan hidup kita karena Allah…karena ingin mewujudkan kehidupan mesra dan bahagia yang diperintahkan oleh Allah….Jika pilihan pasangan hidup hanya dilandaskan perasaan, cinta, dan syahwat…, maka bisa jadi kondisi seseorang sebagaimana perkataan seorang penyair :فَمَا فِي الأَرْضِ أَشْقَى مِنْ مُحِبٍّ وَإِنْ وَجَدَ الْهَوَى حُلْوَ الْمَذَاقِTidak di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang yang mencintai…Meskipun nafsu jiwanya telah mendapatkan manisnya rasa cinta…تَرَاهُ باَكِيًا فِي كُلِّ حِيْنٍ مَخَافَةَ فُرْقَةٍ أَوْ اشْتِيَاقٍEngkau melihatnya menangis setiap saat…Karena takut akan perpisahan atau karena kerinduan…فَيَبْكِي إِنْ نَأَوْا شَوْقًا إِلَيْهِم وَيَبْكِي إِنْ دَنَوْا خَوْفَ الْفِرَاقِIa menangis jika jauh darinya karena kerinduan…Dan ia juga menangis jika dekat karena takut perpisahan…فَتْسْخَنُ عَيْنَيْهِ عِنْدَ الْفِرَاقِ وَتَسْخَنُ عَيْنَهُ عِنْدَ الطَّلاَقِMatanya berlinang air mata tatkala perpisahan….dan matanya juga berlinang air mata tatkala perceraian…Akan tetapi jika mencintai pasangan hidup dibangun atas kecintaan dan agama serta tujuan akhirat, maka insya Allah keberkahan akan meliputi kebahagiaan rumah tangga. Wallahu A’lam Ketujuh : Hiasilah kecantikan dengan manisnya akhlakKecantikan paras wanita merupakan dambaan dan impian seorang suami, akan tetapi kenyataannya akhlak seorang wanita lebih mendominasi kecantikannya di mata suami. Jika akhlaknya buruk maka pudarlah kecantikan dan indahnya paras tersebut…Apa manfaatnya paras yang cantik jika hari-hari dipenuhi dengan teriakan suara istri…tidak pernah bersyukur…banyak menuntut…, tidak ‘nurut’…, dllSebaliknya dengan indahnya akhlak seorang istri maka sangat bisa memoles dan mempercantik parasnya di mata suaminya…Lebih indah lagi paras yang cantik dihiasi dengan keindahan akhlak….Jika sang istri telah tua dan mengeriput…maka yang tersisa di mata suaminya hanyalah akhlak yang indah…yang tidak akan terlupakan…yang menjadikan sang suami setia…dan mungkin tidak akan pindah ke lain hati… Kedelapan : Tinggalkan metode “Studi Banding”.          Diantara perkara yang sangat menyakitkan seorang suami adalah jika istrinya membanding-bandingkan dirinya dengan lelaki lain, atau dengan suami orang lain !!!. Apalagi jika pembandingan tersebut dimaksudkan untuk menyalahkan atau merendahkan dan menjatuhkan sang suami.Bisa jadi perbandingan tersebut dari sisi ketampanan, atau perawakan tubuh, atau harta dan kekayaan, atau dari sisi perhatian dan lain sebagainya … Secara naluri hal ini tentu sangat dibenci oleh sang suami yang merasa direndahkan oleh istrinya. Dan hal ini termasuk perkara yang sangat memicu perceraian.          Demikian juga sebaliknya seorang istri terlebih lagi sangat sakit hatinya jika sang suami membanding-bandingkan dirinya dengan wanita lain, apalagi istri orang lain. Sungguh pilu dan tersayat-sayat hatinya.Karenanya jika seseorang ingin menegur kesalahan atau kekurangan yang ada pada pasangannya, maka janganlah teguran tersebut dengan metode “studi banding” akan tetapi dengan cara yang lain… Kesembilan : Berusaha merubah suasana sesekali untuk menghilangkan kebosanan dan kejenuhan.Merubah suasana bisa dengan berbagai cara, bisa dengan mencari suasana indah di luar rumah…atau bisa dengan merubah suasana di dalam rumah. Bercinta tidak mesti selalu di kamar tidur, akan tetapi bisa di ruangan lain…Dan tidak ada salahnya sesekali bersafar berdua tanpa membawa anak-anak…agar bisa menghidupkan kembali suasana mesra antara suami istri. Dan jika memiliki kelebihan harta maka semakin indah lagi jika bisa berumroh berdua atau berhaji berdua…. Merupakan pemandangan yang indah dan romatis tatkala saya mendapati pasangan suami istri yang sudah cukup berumur (sekitar 50 tahunan) lalu mereka berdua berumroh bersama. Sungguh indah “berpacaran” setelah menikah…dan juga sungguh indah “berpacaran kembali” di masa tua… Kesepuluh : Sesekali berbicara dengan pasangan tentang nostalgia-nostalgia indah atau yang lucu dan berkesan…yang ini akan sangat memupuk rasa cinta diantara pasutri.Ingatlah kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajak Aisyah lomba lari, lalu ternyata Nabi kalah dalam lomba pertama tersebut. Sebabnya karena Aisyah masih remaja ditambah dengan perawakan tubuh yang ringan. Kekalahan Nabi dalam lomba lari ini senantiasa dalam nostalgia Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunggu sehingga tatkala tubuh Aisyah mulai gemuk maka ketika itu Nabi mengajaknya untuk lomba lari lagi. Ternyata pada lomba yang kedua Nabi yang menang, seraya Nabi berkata kepada Aisyah “هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ” “Ini sebagai tebusan kekalahan lomba yang pertama”. Lihatlah…ternyata Nabi terus mengenang nostalgia yang indah tersebut. Lomba lari antara Nabi dan Aisyah, antara seorang suami dan istri…tentunya merupakan nostalgia yang penuh kemesraan…terus diingat oleh Nabi hingga menunggu tubuh Aisyah agak gemuk baru Nabi mengajaknya berlomba lari kembali … (silahkan baca kembali https://firanda.com/index.php/artikel/keluarga/400-cintaku-maafkanlah-suamimu-ini) Kesebelas : Membiasakan diri untuk mengucapkan kata-kata cinta dan panggilan-panggilan sayang diantara pasutri, dan tidak perlu canggung meskipun di hadapan orang lain. Jangan pelit untuk mengirim sms kepada istri dengan berkata “Aku mencintaimu…”. Sepertinya ini perkara yang ringan akan tetapi ini sangat berkesan di hati istri. Demikian juga sebaliknya..Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh seorang sahabat : “Siapakah yang paling anda cintai?”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tidak canggung menjawab : “Aisyah”Tidak ada salahnya jika sedikit bergombal ria terhadap istrinya (selama tidak berlebihan). Gombalan tersebut ternyata sering menumbuhkan dan mempererat rasa cinta. Dan ternyata sebagian para wanita tetap saja suka -meskipun ia menyadari suaminya sering gombal-.Berikut ini contoh gombalan seorang penyair yang menggambarkan kecintaan yang sangat mendalam terhadap istrinya yang sangat sholehah:أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ ………..أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِIstriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimuوَمَهْمَا كَانَ مَهْمَا صَارَ …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنِت ..Apapun yang terjadi engkau tetaplah kekasihkuزَوْجَتِي …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنْتِ ..Istriku…, engkaulah kasih dan cintakuحَلاَلِي أَنْتِ لاَ أَخْشَى عَذُوْلاً هَمُّهُ مَقْتِي….لَقَدْ أَذِنَ الزَّمَانُ لَنَا بِوَصْلٍ غَيْرِ مُنْبَتِّKekasihku aku tidak pernah khawatir dirimu adalah seorang istri yang hobinya hanya memarahiku…Sungguh zaman telah mengizinkan kita untuk bersatu dengan sambungan yang tidak terputuskan…سَقَيْتِ الْحُبَّ فِى قَلْبِي بِحُسْنِ الْفَعْلِ وَالسَّمْتِ….يَغِيْبُ السَّعْدُ إِنْ غِبْتِ وَيَصْفُو الْعَيْشُ إِنْ جِئْتِEngkau menyiram hatiku dengan indahnya akhlak dan perangaimu…Sungguh kebahagiaan sirna tatkala engkau pergi dan kehidupan menjadi indah jika engkau datang….نَهَارِي كَادِحٌ حَتَّى إِذَا مَا عُدْتُ لِلْبَيْتِ…لَقِيْتُكِ فَانْجَلَى عَنِّي ضَنَايَ إِذَا تَبَسَّمْتِ ..Siang hariku terasa kacau hingga tatkala aku kembali ke rumah..dan tatkala melihatmu maka dengan senyumanmu sirnalah semua gundah gulana dan kegelisahanku…أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ …أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِIstriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimuتَضِيْقُ بِيَ الْحَيَاةُ إِذَا بِهَا يَوْماً تَبَرَّمْتِ …فَأَسْعَى جَاهِداً حَتَّى أُحَقِّقَ مَا تَمَنَّيْتِTerasa sempit kehidupan ini jika sehari saja engkau gelisah …Maka aku akan berusaha untuk bisa mewujudkan impianmuهَنَائِي أَنْتِ فَلْتَهْنِئي بِدِفْءِ الْحُبِّ مَا عِشْتِ ….فَرُوْحَانَا قَدِ ائْتَلَفَا كَمِثْلِ الْأَرْضِ وَالنَّبَتِKebahagiaanku adalah engkau maka berbahagialah engkau dengan hangatnya cintaku selama hidupmu…Maka sungguh kedua ruh kita telah bersatu sebagaimana bersatunya tanah dan tanaman…فَيَا أَمَلِي وَيَا سَكَنِي وَيَا أُنْسِي وَمُلْهِمَتِي ….يَطِيْبُ الْعَيْشُ مَهْمَا ضَاقَتِ الْأَيَّامُ إِنْ طِبْتِWahai harapanku…wahai ketenanganku…wahai ketenteramanku dan pemberi ilham dalam hidupku…Kehidupanku menjadi indah meskipun bagaimanapun sulitnya hari-hari jika engkau baik Keduabelas : Berusaha menunjukkan penghormatan dan penghargaan kepada kerabat keluarga pasangan. Jika seseorang menghormati dan melayani keluarga dan kerabat pasangannya maka hal ini merupakan bentuk pelayanan dan penghargaan kepada pasangannya tersebut. Ini adalah jasa yang akan sangat dihargai oleh pasangannya. Maka pasangannya tersebut akan semakin cinta kepadanya dan akan semakin siap berkorban kepadanya. Ketigabelas : Bermu’amalah dengan istri bukan dengan “keperkasaan dan kejantanan” akan tetapi dengan kelembutan dan kehangatan.          Seorang suami janganlah menjadi seorang diktator di rumahnya sehingga menimbulkan suasana “ketakutan” bagi istri. Jika dia ingin mengarahkan istrinya maka tidak perlu menggunakan kekerasan dan kejantanannya. Akan tetapi hendaknya ia memperhatikan sang istri sebagai seorang wanita yang berhati lembut dan perasa. Bukankah tujuan dari nasehat adalah perubahan sifat istri ke arah atau akhlak yang lebih baik??. Maka apakah perubahan tersebut diperoleh dengan kekerasan dan paksaan??. Kalaupun terjadi perubahan maka itu bukan dibangun di atas kesadaran akan tetapi di atas “ketakutan”…!. Keempatbelas : Kapan seorang istri merasa sangat disayang oleh suaminya maka sang istri akan semakin ikhlas dan semangat dalam melayani suami.Banyak wanita cantik yang suaminya tidak tampan membuktikan bahwa ternyata ketampanan lelaki bukanlah nomor satu bagi para wanita….bahkan bisa jadi nomor ke 4 atau ke 10..…, ketampanan bisa terkalahkan dengan budi pekerti, atau harta, atau kedudukan…Seorang istri tidak begitu membutuhkan ketampanan anda…akan tetapi membutuhkan anda untuk menjadikannya merasa bahwa ia adalah nomor 1 di hati anda…Pintarlah para suami bertutur kata…bermanis-manis kata…romantis, dll. Ingatlah wanita senang untuk dipuji…, pujilah kecantikannya…, pujilah masakannya…, pujilah dia karena Allah…Yang memerintahkan untuk menciptakan kehidupan harmonis dan agamis dalam keluarga…pujilah dia niscaya dia akan lebih mencintaimu dan lebih menservismu          Sebaliknya pula, kapan seorang seuami merasa bahwa istrinya sangat mencintainya maka ia akan lebih percaya dan sayang kepada istrinya. Karenanya selain suami yang romantis, demikian juga istri menyambut keromantisan suami dengan tutur kata yang indah yang menunjukkan kasih sayang akan tetapi tetap dengan aroma penghormatan dan penghargaan kepada suami.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 12-02-1435 H / 15-12-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com 

Jurus-Jurus Melanggengkan Keharmonisan Pasutri

          Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan rumah tangga, ternyata terkadang sebagian pasutri belum meraih kebahagiaan yang diharapkan. Dan tidak jarang juga setelah bertahun-tahun menjalani bahtera rumah tangga akhirnya berakhir dengan pecah dan tenggelamnya bahtera tersebut…Apa yang hendak tertorehkan pada tulisan berikut ini hanyalah sebagian usaha yang mungkin bisa dilakukan untuk memperindah kehidupan rumah tangga…, agar rumah terasa seperti surga dunia…bukan sebaliknya menjadi neraka dunia…Diantara kiat-kiat yang mungkin untuk dilakukan dan direnungkan adalah : Pertama : Masing-masing dari pasutri berusaha memperbaiki hubungannya kepada Allah. Barang siapa yang indah hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperindah hubungannya dengan makhlukNya, diantaranya Allah yang akan memperindah hubungannya dengan pasangan dan belahan hatinya.عَنْ مَعْقِلِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ الْجَزَرِيِّ قَالَ: كَانَتِ الْعُلَمَاءُ إِذَا الْتَقَوْا تَوَاصَوْا بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ، وَإِذَا غَابُوا كَتَبَ بِهَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ أَنَّهُ: مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُDari Ma’qil bin ‘Ubaidillah Al-Jazariy, ia berkata : “Para ulama dahulu jika mereka bertemu maka mereka saling mewasiatkan dengan kalimat-kalimat berikut ini dan jika mereka tidak bertemu maka mereka saling menuliskan surat satu kepada yang lainnya bahwasanya :(1) Barang siapa yang memperbaiki rahasianya (kondisinya yang tidak diketahui dan tidak dilihat oleh orang lain-pen) maka Allah akan memperbaiki luarannya (yaitu kondisinya yang nampak dan terlihat oleh orang lain-pen)(2) Barang siapa yang memperbaiki hubungan antara ia dengan Allah maka Allah yang akan mengatur/mengurus tentang hubungan antara dia dengan manusia(3) Barang siapa yang memperhatikan perkara akhiratnya maka Allah akan mengatur urusan dunianya” (Kitab Al-Ikhlash karya Ibnu Abid Dunya hal 54 atsar no 25)          Jika seorang suami/istri meluruskan dan memperbaiki hubungannya dengan Allah, baik ibadah lahiriah maupun ibadah hati/batinnya kepada Allah maka Allah akan memperbaiki hubungan antara dia dengan pasangan hidupnya (suami/istrinya).Bukankah Allah yang telah berfirman :وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ“Dan (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka” (QS Al-Anfaal : 63)Ini menunjukkan bahwa yang bisa menyatukan hati, yang bisa menjadikan saling mencintai hanyalah Allah subhanaahu wa ta’aala. Karenanya jika seseorang memperbaiki hubungannya dengan Allah “Pencipta, Penguasa, dan Pengatur hati” maka Allah akan memperindah hubungannya dengan pasangan hidupnya. Kedua : Berusaha untuk menjadikan kehidupan rumah tangga sebagai bentuk kerjasama antara pasutri untuk meraih akhirat. Jika orientasi pasutri adalah akhirat maka akan jadilah kehidupan rumah tangga mereka berdua langgeng dan penuh kebahagiaan. Akan tetapi kapan saja orientasi salah satu dari pasutri adalah dunia semata maka akan menghantarkan penderitaan dalam kehidupan berumah tangga. Karenanya butuh kerjasama (ta’aawun) antara suami dan istri dalam beribadah dan saling mengingatkan akan akhirat. Sungguh indah jika terjalin kerjasama antara pasutri dalam mengingat akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ, فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. وَ رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى, فَإِنْ أَبَى نَضَحَت فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ “Semoga Allah merahmati seorang lelaki (suami) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya hingga istrinya pun shalat. Bila istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita (istri) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suaminya hingga suaminya pun shalat. Bila suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya.” (HR Abu Dawud no 1308)Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللّيْلِ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا، كُتِبَا في الذَّاكِرِيْنَ وَالذَّاكِرَاتِ“Apabila seorang lelaki (suami) membangunkan istrinya di waktu malam hingga keduanya mengerjakan shalat atau shalat dua rakaat semuanya, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang berzikir.” (HR Abu Dawud no 1309)Dalam riwayat yang dikeluarkan An-Nasa`i disebutkan dengan lafadz:إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ, كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ “Apabila seorang lelaki (suami) bangun di waktu malam dan ia membangunkan istrinya lalu keduanya mengerjakan shalat dua rakaat, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat/berdzikir kepada Allah.” Ketiga : Masing-masing pasutri harus merasa memiliki tanggung jawab.Istri bukanlah seperti baju yang dibeli, yang jika seorang lelaki tidak suka atau bosan maka langsung ditanggalkan, atau disumbangkan kepada orang lain, atau bila perlu dibuang begitu saja. Bukan juga seperti mobil yang jika si pemiliknya sudah bosan maka tinggal dijual meskipun harus rugi beberapa juta. Istri adalah seorang teman hidup yang dimiliki melalui tali akad nikah yang suci dan sakral…istri merupakan amanah dan beban yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah.Jika seseorang yang membeli mobil dia sadar bahwasanya mobilnya tidak bisa hanya dipakai saja terus-menerus, akan tetapi mobil tersebut butuh perawatan dan perbaikan…maka bagaimana lagi dengan istri !!. Jangan sampai seorang lelaki hanya ingin beristri dan hanya memikirkan perkara-perkara yang enak-enak saja tanpa merasa bertanggung jawab sebagai seorang suami yang seharusnya…bertanggung jawab untuk menafkahi lahir dan batin…, menyisihkan waktu untuk keluarga (istri dan anak-anak)…, berusaha mengenal apa saja hak-hak istri dalam Islam untuk ia tunaikan.          Demikian juga sang istri, harus sadar bahwasanya tatkala ia menerima lamaran sang lelaki maka ia berarti telah menerima setumpuk kewajiban sebagai seorang istri…, berusaha mengenal hak-hak suaminya…, jangan sampai ia hanya ingin menjadi permaisuri…akan tetapi tidak mau berperan dengan peranan pembantu yang menjalankan kerjaan-kerjaan ibu rumah tangga. Keempat : Pasangan kita adalah orang yang paling berhak untuk kita baiki          Ini adalah perkara yang harus selalu tertanam dalam benak setiap pasutri. Istri adalah orang yang paling berhak untuk dilembuti…, dihormati…, dihargai…, diberikan hadiah…, diramah-tamahi dengan tutur kata yang terlembut dan budi pekerti yang termulia…karena istrilah yang paling banyak berkorban untuk suami…Renungkanlah…seorang lelaki melamar seorang gadis perawan yang hidup dengan kemanjaan di rumahnya, penuh dengan kasih sayang orang tuanya…dilayani dan dipenuhi kebutuhannya oleh kedua orang tuanya…bahkan terkadang di rumah orang tuanya ada pembantunya…Lantas iapun dikeluarkan dari rumah orang tuanya untuk hidup bersanding dengan seorang lelaki yang asing sebelumnya baginya…lantas ia harus mengurus kasur dan tempat tidur sang suami…, mengurus dapur sang suami…, mengandung anak-anaknya dengan berbagai kesulitan dan penderitaan…, harus mencuci baju suaminya…harus ini dan itu…semuanya harus ia lakukan.Ini semua harus menjadikan sang istri sebagai orang yang paling berhak untuk dibaiki oleh sang suami !!. Bayangkan seorang lelaki yang memiliki 3 orang anak, lantas istrinya meninggal dunia, maka berapa pembantu yang harus ia bayar…pembantu, babysitter…??Yang menyedihkan adalah seorang suami yang sangat lembut dan menghormati temannya akan tetapi jika dihadapan istrinya maka ia bertutur kata seenaknya tanpa ada penghormatan dan penghargaan terhadap jasa-jasa istrinya ??!!          Demikian pula seorang suami adalah orang yang paling berhak untuk dihormati dan dituruti oleh seorang istri…, suamilah yang telah bekerja keras mencari nafkah…suaminyalah yang sabar mendengarkan keluh kesahnya…suaminyalah yang telah sabar merawatnya tatkala ia sakit…suaminyalah yang begitu hangat membelainya tatkala ia lemah dalam kondisi mengandung….dan lain-lain… dan suaminyalah pintu terbesar dan terlebar yang memasukannya ke kebahagiaan abadi di akhirat kelak…Maka sungguh memilukan dan menyayat hati suaminya jika sang istri begitu lemah lembut dan tertawa jika berbicara dengan teman-temannya, lantas tatkala berbicara dengan suaminya dengan pembicaraan yang datar apalagi kasar !! Kelima : Tidak ada yang sempurna…Barang siapa yang mengharapkan kesempurnaan di dunia ini, maka ia hanyalah mengharapkan sesuatu yang mustahil. Karena sesungguhnya Allah hanya menciptakan kesempurnaan kenikmatan di surga kelak, agar seorang muslim sadar dan selalu merindukan kesempurnaan di akhirat. Jika nampak kesalahan dan kekurangan pada pasangan hidup maka segera ingatlah kebaikan-kebaikannya dan juga jasa-jasanya serta kelebihan-kelebihannya. Jangan sampai seseorang didominasi oleh syaitan yang berusaha menjadikan seseorang hanya mengingat kejelekan dan keburukan (silahkan lihat Ceramah Singkat: “Kebahagiaan dan Kesempurnaan” di http://www.youtube.com/watch?v=XQwYxhJfDzw) Keenam : Berusaha selalu mencintai pasangan hidup kita karena AllahTentu kita mencintai pasangan hidup kita dengan cinta tabiat (yaitu lelaki mencintai seorang wanita dan sebaliknya). Akan tetapi cinta yang dibangun hanya karena cinta tabi’at tidak akan pernah langgeng. Jika perkara yang kita hasratkan pada pasangan hidup kita telah pudar atau hilang maka hilang pula kecintaan kita. Apalagi ternyata ada wanita/lelaki yang lebih menarik hasrat kita daripada pasangan hidup kita, maka akan memudarlah kecintaan kita, dan akan mulai berpaling ke lain hati.Berbeda halnya jika cinta yang secara tabi’at ini kita hiasi dengan kecintaan karena Allah… maka kecintaan ini akan lebih langgeng dan akan lebih menumbuhkan kepuasan dan kebahagiaan dalam hati. Kita mencintai pasangan hidup kita karena Allah…karena ingin mewujudkan kehidupan mesra dan bahagia yang diperintahkan oleh Allah….Jika pilihan pasangan hidup hanya dilandaskan perasaan, cinta, dan syahwat…, maka bisa jadi kondisi seseorang sebagaimana perkataan seorang penyair :فَمَا فِي الأَرْضِ أَشْقَى مِنْ مُحِبٍّ وَإِنْ وَجَدَ الْهَوَى حُلْوَ الْمَذَاقِTidak di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang yang mencintai…Meskipun nafsu jiwanya telah mendapatkan manisnya rasa cinta…تَرَاهُ باَكِيًا فِي كُلِّ حِيْنٍ مَخَافَةَ فُرْقَةٍ أَوْ اشْتِيَاقٍEngkau melihatnya menangis setiap saat…Karena takut akan perpisahan atau karena kerinduan…فَيَبْكِي إِنْ نَأَوْا شَوْقًا إِلَيْهِم وَيَبْكِي إِنْ دَنَوْا خَوْفَ الْفِرَاقِIa menangis jika jauh darinya karena kerinduan…Dan ia juga menangis jika dekat karena takut perpisahan…فَتْسْخَنُ عَيْنَيْهِ عِنْدَ الْفِرَاقِ وَتَسْخَنُ عَيْنَهُ عِنْدَ الطَّلاَقِMatanya berlinang air mata tatkala perpisahan….dan matanya juga berlinang air mata tatkala perceraian…Akan tetapi jika mencintai pasangan hidup dibangun atas kecintaan dan agama serta tujuan akhirat, maka insya Allah keberkahan akan meliputi kebahagiaan rumah tangga. Wallahu A’lam Ketujuh : Hiasilah kecantikan dengan manisnya akhlakKecantikan paras wanita merupakan dambaan dan impian seorang suami, akan tetapi kenyataannya akhlak seorang wanita lebih mendominasi kecantikannya di mata suami. Jika akhlaknya buruk maka pudarlah kecantikan dan indahnya paras tersebut…Apa manfaatnya paras yang cantik jika hari-hari dipenuhi dengan teriakan suara istri…tidak pernah bersyukur…banyak menuntut…, tidak ‘nurut’…, dllSebaliknya dengan indahnya akhlak seorang istri maka sangat bisa memoles dan mempercantik parasnya di mata suaminya…Lebih indah lagi paras yang cantik dihiasi dengan keindahan akhlak….Jika sang istri telah tua dan mengeriput…maka yang tersisa di mata suaminya hanyalah akhlak yang indah…yang tidak akan terlupakan…yang menjadikan sang suami setia…dan mungkin tidak akan pindah ke lain hati… Kedelapan : Tinggalkan metode “Studi Banding”.          Diantara perkara yang sangat menyakitkan seorang suami adalah jika istrinya membanding-bandingkan dirinya dengan lelaki lain, atau dengan suami orang lain !!!. Apalagi jika pembandingan tersebut dimaksudkan untuk menyalahkan atau merendahkan dan menjatuhkan sang suami.Bisa jadi perbandingan tersebut dari sisi ketampanan, atau perawakan tubuh, atau harta dan kekayaan, atau dari sisi perhatian dan lain sebagainya … Secara naluri hal ini tentu sangat dibenci oleh sang suami yang merasa direndahkan oleh istrinya. Dan hal ini termasuk perkara yang sangat memicu perceraian.          Demikian juga sebaliknya seorang istri terlebih lagi sangat sakit hatinya jika sang suami membanding-bandingkan dirinya dengan wanita lain, apalagi istri orang lain. Sungguh pilu dan tersayat-sayat hatinya.Karenanya jika seseorang ingin menegur kesalahan atau kekurangan yang ada pada pasangannya, maka janganlah teguran tersebut dengan metode “studi banding” akan tetapi dengan cara yang lain… Kesembilan : Berusaha merubah suasana sesekali untuk menghilangkan kebosanan dan kejenuhan.Merubah suasana bisa dengan berbagai cara, bisa dengan mencari suasana indah di luar rumah…atau bisa dengan merubah suasana di dalam rumah. Bercinta tidak mesti selalu di kamar tidur, akan tetapi bisa di ruangan lain…Dan tidak ada salahnya sesekali bersafar berdua tanpa membawa anak-anak…agar bisa menghidupkan kembali suasana mesra antara suami istri. Dan jika memiliki kelebihan harta maka semakin indah lagi jika bisa berumroh berdua atau berhaji berdua…. Merupakan pemandangan yang indah dan romatis tatkala saya mendapati pasangan suami istri yang sudah cukup berumur (sekitar 50 tahunan) lalu mereka berdua berumroh bersama. Sungguh indah “berpacaran” setelah menikah…dan juga sungguh indah “berpacaran kembali” di masa tua… Kesepuluh : Sesekali berbicara dengan pasangan tentang nostalgia-nostalgia indah atau yang lucu dan berkesan…yang ini akan sangat memupuk rasa cinta diantara pasutri.Ingatlah kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajak Aisyah lomba lari, lalu ternyata Nabi kalah dalam lomba pertama tersebut. Sebabnya karena Aisyah masih remaja ditambah dengan perawakan tubuh yang ringan. Kekalahan Nabi dalam lomba lari ini senantiasa dalam nostalgia Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunggu sehingga tatkala tubuh Aisyah mulai gemuk maka ketika itu Nabi mengajaknya untuk lomba lari lagi. Ternyata pada lomba yang kedua Nabi yang menang, seraya Nabi berkata kepada Aisyah “هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ” “Ini sebagai tebusan kekalahan lomba yang pertama”. Lihatlah…ternyata Nabi terus mengenang nostalgia yang indah tersebut. Lomba lari antara Nabi dan Aisyah, antara seorang suami dan istri…tentunya merupakan nostalgia yang penuh kemesraan…terus diingat oleh Nabi hingga menunggu tubuh Aisyah agak gemuk baru Nabi mengajaknya berlomba lari kembali … (silahkan baca kembali https://firanda.com/index.php/artikel/keluarga/400-cintaku-maafkanlah-suamimu-ini) Kesebelas : Membiasakan diri untuk mengucapkan kata-kata cinta dan panggilan-panggilan sayang diantara pasutri, dan tidak perlu canggung meskipun di hadapan orang lain. Jangan pelit untuk mengirim sms kepada istri dengan berkata “Aku mencintaimu…”. Sepertinya ini perkara yang ringan akan tetapi ini sangat berkesan di hati istri. Demikian juga sebaliknya..Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh seorang sahabat : “Siapakah yang paling anda cintai?”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tidak canggung menjawab : “Aisyah”Tidak ada salahnya jika sedikit bergombal ria terhadap istrinya (selama tidak berlebihan). Gombalan tersebut ternyata sering menumbuhkan dan mempererat rasa cinta. Dan ternyata sebagian para wanita tetap saja suka -meskipun ia menyadari suaminya sering gombal-.Berikut ini contoh gombalan seorang penyair yang menggambarkan kecintaan yang sangat mendalam terhadap istrinya yang sangat sholehah:أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ ………..أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِIstriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimuوَمَهْمَا كَانَ مَهْمَا صَارَ …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنِت ..Apapun yang terjadi engkau tetaplah kekasihkuزَوْجَتِي …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنْتِ ..Istriku…, engkaulah kasih dan cintakuحَلاَلِي أَنْتِ لاَ أَخْشَى عَذُوْلاً هَمُّهُ مَقْتِي….لَقَدْ أَذِنَ الزَّمَانُ لَنَا بِوَصْلٍ غَيْرِ مُنْبَتِّKekasihku aku tidak pernah khawatir dirimu adalah seorang istri yang hobinya hanya memarahiku…Sungguh zaman telah mengizinkan kita untuk bersatu dengan sambungan yang tidak terputuskan…سَقَيْتِ الْحُبَّ فِى قَلْبِي بِحُسْنِ الْفَعْلِ وَالسَّمْتِ….يَغِيْبُ السَّعْدُ إِنْ غِبْتِ وَيَصْفُو الْعَيْشُ إِنْ جِئْتِEngkau menyiram hatiku dengan indahnya akhlak dan perangaimu…Sungguh kebahagiaan sirna tatkala engkau pergi dan kehidupan menjadi indah jika engkau datang….نَهَارِي كَادِحٌ حَتَّى إِذَا مَا عُدْتُ لِلْبَيْتِ…لَقِيْتُكِ فَانْجَلَى عَنِّي ضَنَايَ إِذَا تَبَسَّمْتِ ..Siang hariku terasa kacau hingga tatkala aku kembali ke rumah..dan tatkala melihatmu maka dengan senyumanmu sirnalah semua gundah gulana dan kegelisahanku…أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ …أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِIstriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimuتَضِيْقُ بِيَ الْحَيَاةُ إِذَا بِهَا يَوْماً تَبَرَّمْتِ …فَأَسْعَى جَاهِداً حَتَّى أُحَقِّقَ مَا تَمَنَّيْتِTerasa sempit kehidupan ini jika sehari saja engkau gelisah …Maka aku akan berusaha untuk bisa mewujudkan impianmuهَنَائِي أَنْتِ فَلْتَهْنِئي بِدِفْءِ الْحُبِّ مَا عِشْتِ ….فَرُوْحَانَا قَدِ ائْتَلَفَا كَمِثْلِ الْأَرْضِ وَالنَّبَتِKebahagiaanku adalah engkau maka berbahagialah engkau dengan hangatnya cintaku selama hidupmu…Maka sungguh kedua ruh kita telah bersatu sebagaimana bersatunya tanah dan tanaman…فَيَا أَمَلِي وَيَا سَكَنِي وَيَا أُنْسِي وَمُلْهِمَتِي ….يَطِيْبُ الْعَيْشُ مَهْمَا ضَاقَتِ الْأَيَّامُ إِنْ طِبْتِWahai harapanku…wahai ketenanganku…wahai ketenteramanku dan pemberi ilham dalam hidupku…Kehidupanku menjadi indah meskipun bagaimanapun sulitnya hari-hari jika engkau baik Keduabelas : Berusaha menunjukkan penghormatan dan penghargaan kepada kerabat keluarga pasangan. Jika seseorang menghormati dan melayani keluarga dan kerabat pasangannya maka hal ini merupakan bentuk pelayanan dan penghargaan kepada pasangannya tersebut. Ini adalah jasa yang akan sangat dihargai oleh pasangannya. Maka pasangannya tersebut akan semakin cinta kepadanya dan akan semakin siap berkorban kepadanya. Ketigabelas : Bermu’amalah dengan istri bukan dengan “keperkasaan dan kejantanan” akan tetapi dengan kelembutan dan kehangatan.          Seorang suami janganlah menjadi seorang diktator di rumahnya sehingga menimbulkan suasana “ketakutan” bagi istri. Jika dia ingin mengarahkan istrinya maka tidak perlu menggunakan kekerasan dan kejantanannya. Akan tetapi hendaknya ia memperhatikan sang istri sebagai seorang wanita yang berhati lembut dan perasa. Bukankah tujuan dari nasehat adalah perubahan sifat istri ke arah atau akhlak yang lebih baik??. Maka apakah perubahan tersebut diperoleh dengan kekerasan dan paksaan??. Kalaupun terjadi perubahan maka itu bukan dibangun di atas kesadaran akan tetapi di atas “ketakutan”…!. Keempatbelas : Kapan seorang istri merasa sangat disayang oleh suaminya maka sang istri akan semakin ikhlas dan semangat dalam melayani suami.Banyak wanita cantik yang suaminya tidak tampan membuktikan bahwa ternyata ketampanan lelaki bukanlah nomor satu bagi para wanita….bahkan bisa jadi nomor ke 4 atau ke 10..…, ketampanan bisa terkalahkan dengan budi pekerti, atau harta, atau kedudukan…Seorang istri tidak begitu membutuhkan ketampanan anda…akan tetapi membutuhkan anda untuk menjadikannya merasa bahwa ia adalah nomor 1 di hati anda…Pintarlah para suami bertutur kata…bermanis-manis kata…romantis, dll. Ingatlah wanita senang untuk dipuji…, pujilah kecantikannya…, pujilah masakannya…, pujilah dia karena Allah…Yang memerintahkan untuk menciptakan kehidupan harmonis dan agamis dalam keluarga…pujilah dia niscaya dia akan lebih mencintaimu dan lebih menservismu          Sebaliknya pula, kapan seorang seuami merasa bahwa istrinya sangat mencintainya maka ia akan lebih percaya dan sayang kepada istrinya. Karenanya selain suami yang romantis, demikian juga istri menyambut keromantisan suami dengan tutur kata yang indah yang menunjukkan kasih sayang akan tetapi tetap dengan aroma penghormatan dan penghargaan kepada suami.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 12-02-1435 H / 15-12-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com 
          Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan rumah tangga, ternyata terkadang sebagian pasutri belum meraih kebahagiaan yang diharapkan. Dan tidak jarang juga setelah bertahun-tahun menjalani bahtera rumah tangga akhirnya berakhir dengan pecah dan tenggelamnya bahtera tersebut…Apa yang hendak tertorehkan pada tulisan berikut ini hanyalah sebagian usaha yang mungkin bisa dilakukan untuk memperindah kehidupan rumah tangga…, agar rumah terasa seperti surga dunia…bukan sebaliknya menjadi neraka dunia…Diantara kiat-kiat yang mungkin untuk dilakukan dan direnungkan adalah : Pertama : Masing-masing dari pasutri berusaha memperbaiki hubungannya kepada Allah. Barang siapa yang indah hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperindah hubungannya dengan makhlukNya, diantaranya Allah yang akan memperindah hubungannya dengan pasangan dan belahan hatinya.عَنْ مَعْقِلِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ الْجَزَرِيِّ قَالَ: كَانَتِ الْعُلَمَاءُ إِذَا الْتَقَوْا تَوَاصَوْا بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ، وَإِذَا غَابُوا كَتَبَ بِهَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ أَنَّهُ: مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُDari Ma’qil bin ‘Ubaidillah Al-Jazariy, ia berkata : “Para ulama dahulu jika mereka bertemu maka mereka saling mewasiatkan dengan kalimat-kalimat berikut ini dan jika mereka tidak bertemu maka mereka saling menuliskan surat satu kepada yang lainnya bahwasanya :(1) Barang siapa yang memperbaiki rahasianya (kondisinya yang tidak diketahui dan tidak dilihat oleh orang lain-pen) maka Allah akan memperbaiki luarannya (yaitu kondisinya yang nampak dan terlihat oleh orang lain-pen)(2) Barang siapa yang memperbaiki hubungan antara ia dengan Allah maka Allah yang akan mengatur/mengurus tentang hubungan antara dia dengan manusia(3) Barang siapa yang memperhatikan perkara akhiratnya maka Allah akan mengatur urusan dunianya” (Kitab Al-Ikhlash karya Ibnu Abid Dunya hal 54 atsar no 25)          Jika seorang suami/istri meluruskan dan memperbaiki hubungannya dengan Allah, baik ibadah lahiriah maupun ibadah hati/batinnya kepada Allah maka Allah akan memperbaiki hubungan antara dia dengan pasangan hidupnya (suami/istrinya).Bukankah Allah yang telah berfirman :وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ“Dan (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka” (QS Al-Anfaal : 63)Ini menunjukkan bahwa yang bisa menyatukan hati, yang bisa menjadikan saling mencintai hanyalah Allah subhanaahu wa ta’aala. Karenanya jika seseorang memperbaiki hubungannya dengan Allah “Pencipta, Penguasa, dan Pengatur hati” maka Allah akan memperindah hubungannya dengan pasangan hidupnya. Kedua : Berusaha untuk menjadikan kehidupan rumah tangga sebagai bentuk kerjasama antara pasutri untuk meraih akhirat. Jika orientasi pasutri adalah akhirat maka akan jadilah kehidupan rumah tangga mereka berdua langgeng dan penuh kebahagiaan. Akan tetapi kapan saja orientasi salah satu dari pasutri adalah dunia semata maka akan menghantarkan penderitaan dalam kehidupan berumah tangga. Karenanya butuh kerjasama (ta’aawun) antara suami dan istri dalam beribadah dan saling mengingatkan akan akhirat. Sungguh indah jika terjalin kerjasama antara pasutri dalam mengingat akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ, فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. وَ رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى, فَإِنْ أَبَى نَضَحَت فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ “Semoga Allah merahmati seorang lelaki (suami) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya hingga istrinya pun shalat. Bila istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita (istri) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suaminya hingga suaminya pun shalat. Bila suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya.” (HR Abu Dawud no 1308)Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللّيْلِ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا، كُتِبَا في الذَّاكِرِيْنَ وَالذَّاكِرَاتِ“Apabila seorang lelaki (suami) membangunkan istrinya di waktu malam hingga keduanya mengerjakan shalat atau shalat dua rakaat semuanya, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang berzikir.” (HR Abu Dawud no 1309)Dalam riwayat yang dikeluarkan An-Nasa`i disebutkan dengan lafadz:إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ, كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ “Apabila seorang lelaki (suami) bangun di waktu malam dan ia membangunkan istrinya lalu keduanya mengerjakan shalat dua rakaat, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat/berdzikir kepada Allah.” Ketiga : Masing-masing pasutri harus merasa memiliki tanggung jawab.Istri bukanlah seperti baju yang dibeli, yang jika seorang lelaki tidak suka atau bosan maka langsung ditanggalkan, atau disumbangkan kepada orang lain, atau bila perlu dibuang begitu saja. Bukan juga seperti mobil yang jika si pemiliknya sudah bosan maka tinggal dijual meskipun harus rugi beberapa juta. Istri adalah seorang teman hidup yang dimiliki melalui tali akad nikah yang suci dan sakral…istri merupakan amanah dan beban yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah.Jika seseorang yang membeli mobil dia sadar bahwasanya mobilnya tidak bisa hanya dipakai saja terus-menerus, akan tetapi mobil tersebut butuh perawatan dan perbaikan…maka bagaimana lagi dengan istri !!. Jangan sampai seorang lelaki hanya ingin beristri dan hanya memikirkan perkara-perkara yang enak-enak saja tanpa merasa bertanggung jawab sebagai seorang suami yang seharusnya…bertanggung jawab untuk menafkahi lahir dan batin…, menyisihkan waktu untuk keluarga (istri dan anak-anak)…, berusaha mengenal apa saja hak-hak istri dalam Islam untuk ia tunaikan.          Demikian juga sang istri, harus sadar bahwasanya tatkala ia menerima lamaran sang lelaki maka ia berarti telah menerima setumpuk kewajiban sebagai seorang istri…, berusaha mengenal hak-hak suaminya…, jangan sampai ia hanya ingin menjadi permaisuri…akan tetapi tidak mau berperan dengan peranan pembantu yang menjalankan kerjaan-kerjaan ibu rumah tangga. Keempat : Pasangan kita adalah orang yang paling berhak untuk kita baiki          Ini adalah perkara yang harus selalu tertanam dalam benak setiap pasutri. Istri adalah orang yang paling berhak untuk dilembuti…, dihormati…, dihargai…, diberikan hadiah…, diramah-tamahi dengan tutur kata yang terlembut dan budi pekerti yang termulia…karena istrilah yang paling banyak berkorban untuk suami…Renungkanlah…seorang lelaki melamar seorang gadis perawan yang hidup dengan kemanjaan di rumahnya, penuh dengan kasih sayang orang tuanya…dilayani dan dipenuhi kebutuhannya oleh kedua orang tuanya…bahkan terkadang di rumah orang tuanya ada pembantunya…Lantas iapun dikeluarkan dari rumah orang tuanya untuk hidup bersanding dengan seorang lelaki yang asing sebelumnya baginya…lantas ia harus mengurus kasur dan tempat tidur sang suami…, mengurus dapur sang suami…, mengandung anak-anaknya dengan berbagai kesulitan dan penderitaan…, harus mencuci baju suaminya…harus ini dan itu…semuanya harus ia lakukan.Ini semua harus menjadikan sang istri sebagai orang yang paling berhak untuk dibaiki oleh sang suami !!. Bayangkan seorang lelaki yang memiliki 3 orang anak, lantas istrinya meninggal dunia, maka berapa pembantu yang harus ia bayar…pembantu, babysitter…??Yang menyedihkan adalah seorang suami yang sangat lembut dan menghormati temannya akan tetapi jika dihadapan istrinya maka ia bertutur kata seenaknya tanpa ada penghormatan dan penghargaan terhadap jasa-jasa istrinya ??!!          Demikian pula seorang suami adalah orang yang paling berhak untuk dihormati dan dituruti oleh seorang istri…, suamilah yang telah bekerja keras mencari nafkah…suaminyalah yang sabar mendengarkan keluh kesahnya…suaminyalah yang telah sabar merawatnya tatkala ia sakit…suaminyalah yang begitu hangat membelainya tatkala ia lemah dalam kondisi mengandung….dan lain-lain… dan suaminyalah pintu terbesar dan terlebar yang memasukannya ke kebahagiaan abadi di akhirat kelak…Maka sungguh memilukan dan menyayat hati suaminya jika sang istri begitu lemah lembut dan tertawa jika berbicara dengan teman-temannya, lantas tatkala berbicara dengan suaminya dengan pembicaraan yang datar apalagi kasar !! Kelima : Tidak ada yang sempurna…Barang siapa yang mengharapkan kesempurnaan di dunia ini, maka ia hanyalah mengharapkan sesuatu yang mustahil. Karena sesungguhnya Allah hanya menciptakan kesempurnaan kenikmatan di surga kelak, agar seorang muslim sadar dan selalu merindukan kesempurnaan di akhirat. Jika nampak kesalahan dan kekurangan pada pasangan hidup maka segera ingatlah kebaikan-kebaikannya dan juga jasa-jasanya serta kelebihan-kelebihannya. Jangan sampai seseorang didominasi oleh syaitan yang berusaha menjadikan seseorang hanya mengingat kejelekan dan keburukan (silahkan lihat Ceramah Singkat: “Kebahagiaan dan Kesempurnaan” di http://www.youtube.com/watch?v=XQwYxhJfDzw) Keenam : Berusaha selalu mencintai pasangan hidup kita karena AllahTentu kita mencintai pasangan hidup kita dengan cinta tabiat (yaitu lelaki mencintai seorang wanita dan sebaliknya). Akan tetapi cinta yang dibangun hanya karena cinta tabi’at tidak akan pernah langgeng. Jika perkara yang kita hasratkan pada pasangan hidup kita telah pudar atau hilang maka hilang pula kecintaan kita. Apalagi ternyata ada wanita/lelaki yang lebih menarik hasrat kita daripada pasangan hidup kita, maka akan memudarlah kecintaan kita, dan akan mulai berpaling ke lain hati.Berbeda halnya jika cinta yang secara tabi’at ini kita hiasi dengan kecintaan karena Allah… maka kecintaan ini akan lebih langgeng dan akan lebih menumbuhkan kepuasan dan kebahagiaan dalam hati. Kita mencintai pasangan hidup kita karena Allah…karena ingin mewujudkan kehidupan mesra dan bahagia yang diperintahkan oleh Allah….Jika pilihan pasangan hidup hanya dilandaskan perasaan, cinta, dan syahwat…, maka bisa jadi kondisi seseorang sebagaimana perkataan seorang penyair :فَمَا فِي الأَرْضِ أَشْقَى مِنْ مُحِبٍّ وَإِنْ وَجَدَ الْهَوَى حُلْوَ الْمَذَاقِTidak di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang yang mencintai…Meskipun nafsu jiwanya telah mendapatkan manisnya rasa cinta…تَرَاهُ باَكِيًا فِي كُلِّ حِيْنٍ مَخَافَةَ فُرْقَةٍ أَوْ اشْتِيَاقٍEngkau melihatnya menangis setiap saat…Karena takut akan perpisahan atau karena kerinduan…فَيَبْكِي إِنْ نَأَوْا شَوْقًا إِلَيْهِم وَيَبْكِي إِنْ دَنَوْا خَوْفَ الْفِرَاقِIa menangis jika jauh darinya karena kerinduan…Dan ia juga menangis jika dekat karena takut perpisahan…فَتْسْخَنُ عَيْنَيْهِ عِنْدَ الْفِرَاقِ وَتَسْخَنُ عَيْنَهُ عِنْدَ الطَّلاَقِMatanya berlinang air mata tatkala perpisahan….dan matanya juga berlinang air mata tatkala perceraian…Akan tetapi jika mencintai pasangan hidup dibangun atas kecintaan dan agama serta tujuan akhirat, maka insya Allah keberkahan akan meliputi kebahagiaan rumah tangga. Wallahu A’lam Ketujuh : Hiasilah kecantikan dengan manisnya akhlakKecantikan paras wanita merupakan dambaan dan impian seorang suami, akan tetapi kenyataannya akhlak seorang wanita lebih mendominasi kecantikannya di mata suami. Jika akhlaknya buruk maka pudarlah kecantikan dan indahnya paras tersebut…Apa manfaatnya paras yang cantik jika hari-hari dipenuhi dengan teriakan suara istri…tidak pernah bersyukur…banyak menuntut…, tidak ‘nurut’…, dllSebaliknya dengan indahnya akhlak seorang istri maka sangat bisa memoles dan mempercantik parasnya di mata suaminya…Lebih indah lagi paras yang cantik dihiasi dengan keindahan akhlak….Jika sang istri telah tua dan mengeriput…maka yang tersisa di mata suaminya hanyalah akhlak yang indah…yang tidak akan terlupakan…yang menjadikan sang suami setia…dan mungkin tidak akan pindah ke lain hati… Kedelapan : Tinggalkan metode “Studi Banding”.          Diantara perkara yang sangat menyakitkan seorang suami adalah jika istrinya membanding-bandingkan dirinya dengan lelaki lain, atau dengan suami orang lain !!!. Apalagi jika pembandingan tersebut dimaksudkan untuk menyalahkan atau merendahkan dan menjatuhkan sang suami.Bisa jadi perbandingan tersebut dari sisi ketampanan, atau perawakan tubuh, atau harta dan kekayaan, atau dari sisi perhatian dan lain sebagainya … Secara naluri hal ini tentu sangat dibenci oleh sang suami yang merasa direndahkan oleh istrinya. Dan hal ini termasuk perkara yang sangat memicu perceraian.          Demikian juga sebaliknya seorang istri terlebih lagi sangat sakit hatinya jika sang suami membanding-bandingkan dirinya dengan wanita lain, apalagi istri orang lain. Sungguh pilu dan tersayat-sayat hatinya.Karenanya jika seseorang ingin menegur kesalahan atau kekurangan yang ada pada pasangannya, maka janganlah teguran tersebut dengan metode “studi banding” akan tetapi dengan cara yang lain… Kesembilan : Berusaha merubah suasana sesekali untuk menghilangkan kebosanan dan kejenuhan.Merubah suasana bisa dengan berbagai cara, bisa dengan mencari suasana indah di luar rumah…atau bisa dengan merubah suasana di dalam rumah. Bercinta tidak mesti selalu di kamar tidur, akan tetapi bisa di ruangan lain…Dan tidak ada salahnya sesekali bersafar berdua tanpa membawa anak-anak…agar bisa menghidupkan kembali suasana mesra antara suami istri. Dan jika memiliki kelebihan harta maka semakin indah lagi jika bisa berumroh berdua atau berhaji berdua…. Merupakan pemandangan yang indah dan romatis tatkala saya mendapati pasangan suami istri yang sudah cukup berumur (sekitar 50 tahunan) lalu mereka berdua berumroh bersama. Sungguh indah “berpacaran” setelah menikah…dan juga sungguh indah “berpacaran kembali” di masa tua… Kesepuluh : Sesekali berbicara dengan pasangan tentang nostalgia-nostalgia indah atau yang lucu dan berkesan…yang ini akan sangat memupuk rasa cinta diantara pasutri.Ingatlah kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajak Aisyah lomba lari, lalu ternyata Nabi kalah dalam lomba pertama tersebut. Sebabnya karena Aisyah masih remaja ditambah dengan perawakan tubuh yang ringan. Kekalahan Nabi dalam lomba lari ini senantiasa dalam nostalgia Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunggu sehingga tatkala tubuh Aisyah mulai gemuk maka ketika itu Nabi mengajaknya untuk lomba lari lagi. Ternyata pada lomba yang kedua Nabi yang menang, seraya Nabi berkata kepada Aisyah “هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ” “Ini sebagai tebusan kekalahan lomba yang pertama”. Lihatlah…ternyata Nabi terus mengenang nostalgia yang indah tersebut. Lomba lari antara Nabi dan Aisyah, antara seorang suami dan istri…tentunya merupakan nostalgia yang penuh kemesraan…terus diingat oleh Nabi hingga menunggu tubuh Aisyah agak gemuk baru Nabi mengajaknya berlomba lari kembali … (silahkan baca kembali https://firanda.com/index.php/artikel/keluarga/400-cintaku-maafkanlah-suamimu-ini) Kesebelas : Membiasakan diri untuk mengucapkan kata-kata cinta dan panggilan-panggilan sayang diantara pasutri, dan tidak perlu canggung meskipun di hadapan orang lain. Jangan pelit untuk mengirim sms kepada istri dengan berkata “Aku mencintaimu…”. Sepertinya ini perkara yang ringan akan tetapi ini sangat berkesan di hati istri. Demikian juga sebaliknya..Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh seorang sahabat : “Siapakah yang paling anda cintai?”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tidak canggung menjawab : “Aisyah”Tidak ada salahnya jika sedikit bergombal ria terhadap istrinya (selama tidak berlebihan). Gombalan tersebut ternyata sering menumbuhkan dan mempererat rasa cinta. Dan ternyata sebagian para wanita tetap saja suka -meskipun ia menyadari suaminya sering gombal-.Berikut ini contoh gombalan seorang penyair yang menggambarkan kecintaan yang sangat mendalam terhadap istrinya yang sangat sholehah:أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ ………..أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِIstriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimuوَمَهْمَا كَانَ مَهْمَا صَارَ …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنِت ..Apapun yang terjadi engkau tetaplah kekasihkuزَوْجَتِي …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنْتِ ..Istriku…, engkaulah kasih dan cintakuحَلاَلِي أَنْتِ لاَ أَخْشَى عَذُوْلاً هَمُّهُ مَقْتِي….لَقَدْ أَذِنَ الزَّمَانُ لَنَا بِوَصْلٍ غَيْرِ مُنْبَتِّKekasihku aku tidak pernah khawatir dirimu adalah seorang istri yang hobinya hanya memarahiku…Sungguh zaman telah mengizinkan kita untuk bersatu dengan sambungan yang tidak terputuskan…سَقَيْتِ الْحُبَّ فِى قَلْبِي بِحُسْنِ الْفَعْلِ وَالسَّمْتِ….يَغِيْبُ السَّعْدُ إِنْ غِبْتِ وَيَصْفُو الْعَيْشُ إِنْ جِئْتِEngkau menyiram hatiku dengan indahnya akhlak dan perangaimu…Sungguh kebahagiaan sirna tatkala engkau pergi dan kehidupan menjadi indah jika engkau datang….نَهَارِي كَادِحٌ حَتَّى إِذَا مَا عُدْتُ لِلْبَيْتِ…لَقِيْتُكِ فَانْجَلَى عَنِّي ضَنَايَ إِذَا تَبَسَّمْتِ ..Siang hariku terasa kacau hingga tatkala aku kembali ke rumah..dan tatkala melihatmu maka dengan senyumanmu sirnalah semua gundah gulana dan kegelisahanku…أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ …أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِIstriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimuتَضِيْقُ بِيَ الْحَيَاةُ إِذَا بِهَا يَوْماً تَبَرَّمْتِ …فَأَسْعَى جَاهِداً حَتَّى أُحَقِّقَ مَا تَمَنَّيْتِTerasa sempit kehidupan ini jika sehari saja engkau gelisah …Maka aku akan berusaha untuk bisa mewujudkan impianmuهَنَائِي أَنْتِ فَلْتَهْنِئي بِدِفْءِ الْحُبِّ مَا عِشْتِ ….فَرُوْحَانَا قَدِ ائْتَلَفَا كَمِثْلِ الْأَرْضِ وَالنَّبَتِKebahagiaanku adalah engkau maka berbahagialah engkau dengan hangatnya cintaku selama hidupmu…Maka sungguh kedua ruh kita telah bersatu sebagaimana bersatunya tanah dan tanaman…فَيَا أَمَلِي وَيَا سَكَنِي وَيَا أُنْسِي وَمُلْهِمَتِي ….يَطِيْبُ الْعَيْشُ مَهْمَا ضَاقَتِ الْأَيَّامُ إِنْ طِبْتِWahai harapanku…wahai ketenanganku…wahai ketenteramanku dan pemberi ilham dalam hidupku…Kehidupanku menjadi indah meskipun bagaimanapun sulitnya hari-hari jika engkau baik Keduabelas : Berusaha menunjukkan penghormatan dan penghargaan kepada kerabat keluarga pasangan. Jika seseorang menghormati dan melayani keluarga dan kerabat pasangannya maka hal ini merupakan bentuk pelayanan dan penghargaan kepada pasangannya tersebut. Ini adalah jasa yang akan sangat dihargai oleh pasangannya. Maka pasangannya tersebut akan semakin cinta kepadanya dan akan semakin siap berkorban kepadanya. Ketigabelas : Bermu’amalah dengan istri bukan dengan “keperkasaan dan kejantanan” akan tetapi dengan kelembutan dan kehangatan.          Seorang suami janganlah menjadi seorang diktator di rumahnya sehingga menimbulkan suasana “ketakutan” bagi istri. Jika dia ingin mengarahkan istrinya maka tidak perlu menggunakan kekerasan dan kejantanannya. Akan tetapi hendaknya ia memperhatikan sang istri sebagai seorang wanita yang berhati lembut dan perasa. Bukankah tujuan dari nasehat adalah perubahan sifat istri ke arah atau akhlak yang lebih baik??. Maka apakah perubahan tersebut diperoleh dengan kekerasan dan paksaan??. Kalaupun terjadi perubahan maka itu bukan dibangun di atas kesadaran akan tetapi di atas “ketakutan”…!. Keempatbelas : Kapan seorang istri merasa sangat disayang oleh suaminya maka sang istri akan semakin ikhlas dan semangat dalam melayani suami.Banyak wanita cantik yang suaminya tidak tampan membuktikan bahwa ternyata ketampanan lelaki bukanlah nomor satu bagi para wanita….bahkan bisa jadi nomor ke 4 atau ke 10..…, ketampanan bisa terkalahkan dengan budi pekerti, atau harta, atau kedudukan…Seorang istri tidak begitu membutuhkan ketampanan anda…akan tetapi membutuhkan anda untuk menjadikannya merasa bahwa ia adalah nomor 1 di hati anda…Pintarlah para suami bertutur kata…bermanis-manis kata…romantis, dll. Ingatlah wanita senang untuk dipuji…, pujilah kecantikannya…, pujilah masakannya…, pujilah dia karena Allah…Yang memerintahkan untuk menciptakan kehidupan harmonis dan agamis dalam keluarga…pujilah dia niscaya dia akan lebih mencintaimu dan lebih menservismu          Sebaliknya pula, kapan seorang seuami merasa bahwa istrinya sangat mencintainya maka ia akan lebih percaya dan sayang kepada istrinya. Karenanya selain suami yang romantis, demikian juga istri menyambut keromantisan suami dengan tutur kata yang indah yang menunjukkan kasih sayang akan tetapi tetap dengan aroma penghormatan dan penghargaan kepada suami.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 12-02-1435 H / 15-12-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com 


          Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan rumah tangga, ternyata terkadang sebagian pasutri belum meraih kebahagiaan yang diharapkan. Dan tidak jarang juga setelah bertahun-tahun menjalani bahtera rumah tangga akhirnya berakhir dengan pecah dan tenggelamnya bahtera tersebut…Apa yang hendak tertorehkan pada tulisan berikut ini hanyalah sebagian usaha yang mungkin bisa dilakukan untuk memperindah kehidupan rumah tangga…, agar rumah terasa seperti surga dunia…bukan sebaliknya menjadi neraka dunia…Diantara kiat-kiat yang mungkin untuk dilakukan dan direnungkan adalah : Pertama : Masing-masing dari pasutri berusaha memperbaiki hubungannya kepada Allah. Barang siapa yang indah hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperindah hubungannya dengan makhlukNya, diantaranya Allah yang akan memperindah hubungannya dengan pasangan dan belahan hatinya.عَنْ مَعْقِلِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ الْجَزَرِيِّ قَالَ: كَانَتِ الْعُلَمَاءُ إِذَا الْتَقَوْا تَوَاصَوْا بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ، وَإِذَا غَابُوا كَتَبَ بِهَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ أَنَّهُ: مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُDari Ma’qil bin ‘Ubaidillah Al-Jazariy, ia berkata : “Para ulama dahulu jika mereka bertemu maka mereka saling mewasiatkan dengan kalimat-kalimat berikut ini dan jika mereka tidak bertemu maka mereka saling menuliskan surat satu kepada yang lainnya bahwasanya :(1) Barang siapa yang memperbaiki rahasianya (kondisinya yang tidak diketahui dan tidak dilihat oleh orang lain-pen) maka Allah akan memperbaiki luarannya (yaitu kondisinya yang nampak dan terlihat oleh orang lain-pen)(2) Barang siapa yang memperbaiki hubungan antara ia dengan Allah maka Allah yang akan mengatur/mengurus tentang hubungan antara dia dengan manusia(3) Barang siapa yang memperhatikan perkara akhiratnya maka Allah akan mengatur urusan dunianya” (Kitab Al-Ikhlash karya Ibnu Abid Dunya hal 54 atsar no 25)          Jika seorang suami/istri meluruskan dan memperbaiki hubungannya dengan Allah, baik ibadah lahiriah maupun ibadah hati/batinnya kepada Allah maka Allah akan memperbaiki hubungan antara dia dengan pasangan hidupnya (suami/istrinya).Bukankah Allah yang telah berfirman :وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ“Dan (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka” (QS Al-Anfaal : 63)Ini menunjukkan bahwa yang bisa menyatukan hati, yang bisa menjadikan saling mencintai hanyalah Allah subhanaahu wa ta’aala. Karenanya jika seseorang memperbaiki hubungannya dengan Allah “Pencipta, Penguasa, dan Pengatur hati” maka Allah akan memperindah hubungannya dengan pasangan hidupnya. Kedua : Berusaha untuk menjadikan kehidupan rumah tangga sebagai bentuk kerjasama antara pasutri untuk meraih akhirat. Jika orientasi pasutri adalah akhirat maka akan jadilah kehidupan rumah tangga mereka berdua langgeng dan penuh kebahagiaan. Akan tetapi kapan saja orientasi salah satu dari pasutri adalah dunia semata maka akan menghantarkan penderitaan dalam kehidupan berumah tangga. Karenanya butuh kerjasama (ta’aawun) antara suami dan istri dalam beribadah dan saling mengingatkan akan akhirat. Sungguh indah jika terjalin kerjasama antara pasutri dalam mengingat akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ, فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. وَ رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى, فَإِنْ أَبَى نَضَحَت فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ “Semoga Allah merahmati seorang lelaki (suami) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya hingga istrinya pun shalat. Bila istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita (istri) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suaminya hingga suaminya pun shalat. Bila suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya.” (HR Abu Dawud no 1308)Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللّيْلِ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا، كُتِبَا في الذَّاكِرِيْنَ وَالذَّاكِرَاتِ“Apabila seorang lelaki (suami) membangunkan istrinya di waktu malam hingga keduanya mengerjakan shalat atau shalat dua rakaat semuanya, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang berzikir.” (HR Abu Dawud no 1309)Dalam riwayat yang dikeluarkan An-Nasa`i disebutkan dengan lafadz:إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ, كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ “Apabila seorang lelaki (suami) bangun di waktu malam dan ia membangunkan istrinya lalu keduanya mengerjakan shalat dua rakaat, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat/berdzikir kepada Allah.” Ketiga : Masing-masing pasutri harus merasa memiliki tanggung jawab.Istri bukanlah seperti baju yang dibeli, yang jika seorang lelaki tidak suka atau bosan maka langsung ditanggalkan, atau disumbangkan kepada orang lain, atau bila perlu dibuang begitu saja. Bukan juga seperti mobil yang jika si pemiliknya sudah bosan maka tinggal dijual meskipun harus rugi beberapa juta. Istri adalah seorang teman hidup yang dimiliki melalui tali akad nikah yang suci dan sakral…istri merupakan amanah dan beban yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah.Jika seseorang yang membeli mobil dia sadar bahwasanya mobilnya tidak bisa hanya dipakai saja terus-menerus, akan tetapi mobil tersebut butuh perawatan dan perbaikan…maka bagaimana lagi dengan istri !!. Jangan sampai seorang lelaki hanya ingin beristri dan hanya memikirkan perkara-perkara yang enak-enak saja tanpa merasa bertanggung jawab sebagai seorang suami yang seharusnya…bertanggung jawab untuk menafkahi lahir dan batin…, menyisihkan waktu untuk keluarga (istri dan anak-anak)…, berusaha mengenal apa saja hak-hak istri dalam Islam untuk ia tunaikan.          Demikian juga sang istri, harus sadar bahwasanya tatkala ia menerima lamaran sang lelaki maka ia berarti telah menerima setumpuk kewajiban sebagai seorang istri…, berusaha mengenal hak-hak suaminya…, jangan sampai ia hanya ingin menjadi permaisuri…akan tetapi tidak mau berperan dengan peranan pembantu yang menjalankan kerjaan-kerjaan ibu rumah tangga. Keempat : Pasangan kita adalah orang yang paling berhak untuk kita baiki          Ini adalah perkara yang harus selalu tertanam dalam benak setiap pasutri. Istri adalah orang yang paling berhak untuk dilembuti…, dihormati…, dihargai…, diberikan hadiah…, diramah-tamahi dengan tutur kata yang terlembut dan budi pekerti yang termulia…karena istrilah yang paling banyak berkorban untuk suami…Renungkanlah…seorang lelaki melamar seorang gadis perawan yang hidup dengan kemanjaan di rumahnya, penuh dengan kasih sayang orang tuanya…dilayani dan dipenuhi kebutuhannya oleh kedua orang tuanya…bahkan terkadang di rumah orang tuanya ada pembantunya…Lantas iapun dikeluarkan dari rumah orang tuanya untuk hidup bersanding dengan seorang lelaki yang asing sebelumnya baginya…lantas ia harus mengurus kasur dan tempat tidur sang suami…, mengurus dapur sang suami…, mengandung anak-anaknya dengan berbagai kesulitan dan penderitaan…, harus mencuci baju suaminya…harus ini dan itu…semuanya harus ia lakukan.Ini semua harus menjadikan sang istri sebagai orang yang paling berhak untuk dibaiki oleh sang suami !!. Bayangkan seorang lelaki yang memiliki 3 orang anak, lantas istrinya meninggal dunia, maka berapa pembantu yang harus ia bayar…pembantu, babysitter…??Yang menyedihkan adalah seorang suami yang sangat lembut dan menghormati temannya akan tetapi jika dihadapan istrinya maka ia bertutur kata seenaknya tanpa ada penghormatan dan penghargaan terhadap jasa-jasa istrinya ??!!          Demikian pula seorang suami adalah orang yang paling berhak untuk dihormati dan dituruti oleh seorang istri…, suamilah yang telah bekerja keras mencari nafkah…suaminyalah yang sabar mendengarkan keluh kesahnya…suaminyalah yang telah sabar merawatnya tatkala ia sakit…suaminyalah yang begitu hangat membelainya tatkala ia lemah dalam kondisi mengandung….dan lain-lain… dan suaminyalah pintu terbesar dan terlebar yang memasukannya ke kebahagiaan abadi di akhirat kelak…Maka sungguh memilukan dan menyayat hati suaminya jika sang istri begitu lemah lembut dan tertawa jika berbicara dengan teman-temannya, lantas tatkala berbicara dengan suaminya dengan pembicaraan yang datar apalagi kasar !! Kelima : Tidak ada yang sempurna…Barang siapa yang mengharapkan kesempurnaan di dunia ini, maka ia hanyalah mengharapkan sesuatu yang mustahil. Karena sesungguhnya Allah hanya menciptakan kesempurnaan kenikmatan di surga kelak, agar seorang muslim sadar dan selalu merindukan kesempurnaan di akhirat. Jika nampak kesalahan dan kekurangan pada pasangan hidup maka segera ingatlah kebaikan-kebaikannya dan juga jasa-jasanya serta kelebihan-kelebihannya. Jangan sampai seseorang didominasi oleh syaitan yang berusaha menjadikan seseorang hanya mengingat kejelekan dan keburukan (silahkan lihat Ceramah Singkat: “Kebahagiaan dan Kesempurnaan” di http://www.youtube.com/watch?v=XQwYxhJfDzw) Keenam : Berusaha selalu mencintai pasangan hidup kita karena AllahTentu kita mencintai pasangan hidup kita dengan cinta tabiat (yaitu lelaki mencintai seorang wanita dan sebaliknya). Akan tetapi cinta yang dibangun hanya karena cinta tabi’at tidak akan pernah langgeng. Jika perkara yang kita hasratkan pada pasangan hidup kita telah pudar atau hilang maka hilang pula kecintaan kita. Apalagi ternyata ada wanita/lelaki yang lebih menarik hasrat kita daripada pasangan hidup kita, maka akan memudarlah kecintaan kita, dan akan mulai berpaling ke lain hati.Berbeda halnya jika cinta yang secara tabi’at ini kita hiasi dengan kecintaan karena Allah… maka kecintaan ini akan lebih langgeng dan akan lebih menumbuhkan kepuasan dan kebahagiaan dalam hati. Kita mencintai pasangan hidup kita karena Allah…karena ingin mewujudkan kehidupan mesra dan bahagia yang diperintahkan oleh Allah….Jika pilihan pasangan hidup hanya dilandaskan perasaan, cinta, dan syahwat…, maka bisa jadi kondisi seseorang sebagaimana perkataan seorang penyair :فَمَا فِي الأَرْضِ أَشْقَى مِنْ مُحِبٍّ وَإِنْ وَجَدَ الْهَوَى حُلْوَ الْمَذَاقِTidak di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang yang mencintai…Meskipun nafsu jiwanya telah mendapatkan manisnya rasa cinta…تَرَاهُ باَكِيًا فِي كُلِّ حِيْنٍ مَخَافَةَ فُرْقَةٍ أَوْ اشْتِيَاقٍEngkau melihatnya menangis setiap saat…Karena takut akan perpisahan atau karena kerinduan…فَيَبْكِي إِنْ نَأَوْا شَوْقًا إِلَيْهِم وَيَبْكِي إِنْ دَنَوْا خَوْفَ الْفِرَاقِIa menangis jika jauh darinya karena kerinduan…Dan ia juga menangis jika dekat karena takut perpisahan…فَتْسْخَنُ عَيْنَيْهِ عِنْدَ الْفِرَاقِ وَتَسْخَنُ عَيْنَهُ عِنْدَ الطَّلاَقِMatanya berlinang air mata tatkala perpisahan….dan matanya juga berlinang air mata tatkala perceraian…Akan tetapi jika mencintai pasangan hidup dibangun atas kecintaan dan agama serta tujuan akhirat, maka insya Allah keberkahan akan meliputi kebahagiaan rumah tangga. Wallahu A’lam Ketujuh : Hiasilah kecantikan dengan manisnya akhlakKecantikan paras wanita merupakan dambaan dan impian seorang suami, akan tetapi kenyataannya akhlak seorang wanita lebih mendominasi kecantikannya di mata suami. Jika akhlaknya buruk maka pudarlah kecantikan dan indahnya paras tersebut…Apa manfaatnya paras yang cantik jika hari-hari dipenuhi dengan teriakan suara istri…tidak pernah bersyukur…banyak menuntut…, tidak ‘nurut’…, dllSebaliknya dengan indahnya akhlak seorang istri maka sangat bisa memoles dan mempercantik parasnya di mata suaminya…Lebih indah lagi paras yang cantik dihiasi dengan keindahan akhlak….Jika sang istri telah tua dan mengeriput…maka yang tersisa di mata suaminya hanyalah akhlak yang indah…yang tidak akan terlupakan…yang menjadikan sang suami setia…dan mungkin tidak akan pindah ke lain hati… Kedelapan : Tinggalkan metode “Studi Banding”.          Diantara perkara yang sangat menyakitkan seorang suami adalah jika istrinya membanding-bandingkan dirinya dengan lelaki lain, atau dengan suami orang lain !!!. Apalagi jika pembandingan tersebut dimaksudkan untuk menyalahkan atau merendahkan dan menjatuhkan sang suami.Bisa jadi perbandingan tersebut dari sisi ketampanan, atau perawakan tubuh, atau harta dan kekayaan, atau dari sisi perhatian dan lain sebagainya … Secara naluri hal ini tentu sangat dibenci oleh sang suami yang merasa direndahkan oleh istrinya. Dan hal ini termasuk perkara yang sangat memicu perceraian.          Demikian juga sebaliknya seorang istri terlebih lagi sangat sakit hatinya jika sang suami membanding-bandingkan dirinya dengan wanita lain, apalagi istri orang lain. Sungguh pilu dan tersayat-sayat hatinya.Karenanya jika seseorang ingin menegur kesalahan atau kekurangan yang ada pada pasangannya, maka janganlah teguran tersebut dengan metode “studi banding” akan tetapi dengan cara yang lain… Kesembilan : Berusaha merubah suasana sesekali untuk menghilangkan kebosanan dan kejenuhan.Merubah suasana bisa dengan berbagai cara, bisa dengan mencari suasana indah di luar rumah…atau bisa dengan merubah suasana di dalam rumah. Bercinta tidak mesti selalu di kamar tidur, akan tetapi bisa di ruangan lain…Dan tidak ada salahnya sesekali bersafar berdua tanpa membawa anak-anak…agar bisa menghidupkan kembali suasana mesra antara suami istri. Dan jika memiliki kelebihan harta maka semakin indah lagi jika bisa berumroh berdua atau berhaji berdua…. Merupakan pemandangan yang indah dan romatis tatkala saya mendapati pasangan suami istri yang sudah cukup berumur (sekitar 50 tahunan) lalu mereka berdua berumroh bersama. Sungguh indah “berpacaran” setelah menikah…dan juga sungguh indah “berpacaran kembali” di masa tua… Kesepuluh : Sesekali berbicara dengan pasangan tentang nostalgia-nostalgia indah atau yang lucu dan berkesan…yang ini akan sangat memupuk rasa cinta diantara pasutri.Ingatlah kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajak Aisyah lomba lari, lalu ternyata Nabi kalah dalam lomba pertama tersebut. Sebabnya karena Aisyah masih remaja ditambah dengan perawakan tubuh yang ringan. Kekalahan Nabi dalam lomba lari ini senantiasa dalam nostalgia Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunggu sehingga tatkala tubuh Aisyah mulai gemuk maka ketika itu Nabi mengajaknya untuk lomba lari lagi. Ternyata pada lomba yang kedua Nabi yang menang, seraya Nabi berkata kepada Aisyah “هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ” “Ini sebagai tebusan kekalahan lomba yang pertama”. Lihatlah…ternyata Nabi terus mengenang nostalgia yang indah tersebut. Lomba lari antara Nabi dan Aisyah, antara seorang suami dan istri…tentunya merupakan nostalgia yang penuh kemesraan…terus diingat oleh Nabi hingga menunggu tubuh Aisyah agak gemuk baru Nabi mengajaknya berlomba lari kembali … (silahkan baca kembali https://firanda.com/index.php/artikel/keluarga/400-cintaku-maafkanlah-suamimu-ini) Kesebelas : Membiasakan diri untuk mengucapkan kata-kata cinta dan panggilan-panggilan sayang diantara pasutri, dan tidak perlu canggung meskipun di hadapan orang lain. Jangan pelit untuk mengirim sms kepada istri dengan berkata “Aku mencintaimu…”. Sepertinya ini perkara yang ringan akan tetapi ini sangat berkesan di hati istri. Demikian juga sebaliknya..Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh seorang sahabat : “Siapakah yang paling anda cintai?”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tidak canggung menjawab : “Aisyah”Tidak ada salahnya jika sedikit bergombal ria terhadap istrinya (selama tidak berlebihan). Gombalan tersebut ternyata sering menumbuhkan dan mempererat rasa cinta. Dan ternyata sebagian para wanita tetap saja suka -meskipun ia menyadari suaminya sering gombal-.Berikut ini contoh gombalan seorang penyair yang menggambarkan kecintaan yang sangat mendalam terhadap istrinya yang sangat sholehah:أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ ………..أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِIstriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimuوَمَهْمَا كَانَ مَهْمَا صَارَ …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنِت ..Apapun yang terjadi engkau tetaplah kekasihkuزَوْجَتِي …أَنْتِ حَبِيْبَتِي أَنْتِ ..Istriku…, engkaulah kasih dan cintakuحَلاَلِي أَنْتِ لاَ أَخْشَى عَذُوْلاً هَمُّهُ مَقْتِي….لَقَدْ أَذِنَ الزَّمَانُ لَنَا بِوَصْلٍ غَيْرِ مُنْبَتِّKekasihku aku tidak pernah khawatir dirimu adalah seorang istri yang hobinya hanya memarahiku…Sungguh zaman telah mengizinkan kita untuk bersatu dengan sambungan yang tidak terputuskan…سَقَيْتِ الْحُبَّ فِى قَلْبِي بِحُسْنِ الْفَعْلِ وَالسَّمْتِ….يَغِيْبُ السَّعْدُ إِنْ غِبْتِ وَيَصْفُو الْعَيْشُ إِنْ جِئْتِEngkau menyiram hatiku dengan indahnya akhlak dan perangaimu…Sungguh kebahagiaan sirna tatkala engkau pergi dan kehidupan menjadi indah jika engkau datang….نَهَارِي كَادِحٌ حَتَّى إِذَا مَا عُدْتُ لِلْبَيْتِ…لَقِيْتُكِ فَانْجَلَى عَنِّي ضَنَايَ إِذَا تَبَسَّمْتِ ..Siang hariku terasa kacau hingga tatkala aku kembali ke rumah..dan tatkala melihatmu maka dengan senyumanmu sirnalah semua gundah gulana dan kegelisahanku…أُحِبُّكِ مِثْلَمَا أَنْتِ …أُحِبُّكِ كَيْفَمَا كُنْتِIstriku…, aku mencintaimu apa adanya dirimu…aku mencintaimu bagaimanapun juga kondisimuتَضِيْقُ بِيَ الْحَيَاةُ إِذَا بِهَا يَوْماً تَبَرَّمْتِ …فَأَسْعَى جَاهِداً حَتَّى أُحَقِّقَ مَا تَمَنَّيْتِTerasa sempit kehidupan ini jika sehari saja engkau gelisah …Maka aku akan berusaha untuk bisa mewujudkan impianmuهَنَائِي أَنْتِ فَلْتَهْنِئي بِدِفْءِ الْحُبِّ مَا عِشْتِ ….فَرُوْحَانَا قَدِ ائْتَلَفَا كَمِثْلِ الْأَرْضِ وَالنَّبَتِKebahagiaanku adalah engkau maka berbahagialah engkau dengan hangatnya cintaku selama hidupmu…Maka sungguh kedua ruh kita telah bersatu sebagaimana bersatunya tanah dan tanaman…فَيَا أَمَلِي وَيَا سَكَنِي وَيَا أُنْسِي وَمُلْهِمَتِي ….يَطِيْبُ الْعَيْشُ مَهْمَا ضَاقَتِ الْأَيَّامُ إِنْ طِبْتِWahai harapanku…wahai ketenanganku…wahai ketenteramanku dan pemberi ilham dalam hidupku…Kehidupanku menjadi indah meskipun bagaimanapun sulitnya hari-hari jika engkau baik Keduabelas : Berusaha menunjukkan penghormatan dan penghargaan kepada kerabat keluarga pasangan. Jika seseorang menghormati dan melayani keluarga dan kerabat pasangannya maka hal ini merupakan bentuk pelayanan dan penghargaan kepada pasangannya tersebut. Ini adalah jasa yang akan sangat dihargai oleh pasangannya. Maka pasangannya tersebut akan semakin cinta kepadanya dan akan semakin siap berkorban kepadanya. Ketigabelas : Bermu’amalah dengan istri bukan dengan “keperkasaan dan kejantanan” akan tetapi dengan kelembutan dan kehangatan.          Seorang suami janganlah menjadi seorang diktator di rumahnya sehingga menimbulkan suasana “ketakutan” bagi istri. Jika dia ingin mengarahkan istrinya maka tidak perlu menggunakan kekerasan dan kejantanannya. Akan tetapi hendaknya ia memperhatikan sang istri sebagai seorang wanita yang berhati lembut dan perasa. Bukankah tujuan dari nasehat adalah perubahan sifat istri ke arah atau akhlak yang lebih baik??. Maka apakah perubahan tersebut diperoleh dengan kekerasan dan paksaan??. Kalaupun terjadi perubahan maka itu bukan dibangun di atas kesadaran akan tetapi di atas “ketakutan”…!. Keempatbelas : Kapan seorang istri merasa sangat disayang oleh suaminya maka sang istri akan semakin ikhlas dan semangat dalam melayani suami.Banyak wanita cantik yang suaminya tidak tampan membuktikan bahwa ternyata ketampanan lelaki bukanlah nomor satu bagi para wanita….bahkan bisa jadi nomor ke 4 atau ke 10..…, ketampanan bisa terkalahkan dengan budi pekerti, atau harta, atau kedudukan…Seorang istri tidak begitu membutuhkan ketampanan anda…akan tetapi membutuhkan anda untuk menjadikannya merasa bahwa ia adalah nomor 1 di hati anda…Pintarlah para suami bertutur kata…bermanis-manis kata…romantis, dll. Ingatlah wanita senang untuk dipuji…, pujilah kecantikannya…, pujilah masakannya…, pujilah dia karena Allah…Yang memerintahkan untuk menciptakan kehidupan harmonis dan agamis dalam keluarga…pujilah dia niscaya dia akan lebih mencintaimu dan lebih menservismu          Sebaliknya pula, kapan seorang seuami merasa bahwa istrinya sangat mencintainya maka ia akan lebih percaya dan sayang kepada istrinya. Karenanya selain suami yang romantis, demikian juga istri menyambut keromantisan suami dengan tutur kata yang indah yang menunjukkan kasih sayang akan tetapi tetap dengan aroma penghormatan dan penghargaan kepada suami.Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 12-02-1435 H / 15-12-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com 

Ilmu dan Sabar

Sabar Ketika Menuntut Ilmu Imam Ahmad menceritakan pengalamannya, مكثت في الحيض تسع سنين حتى أتقنت مسائله وأحكامه “Aku terus mempelajari permasalahan darah haidh selama sembilan tahun sehingga aku memahaminya”.[Thabaqat Hanabilah Ibnu Abi Ya’la 1/268.] Perangilah penyakit malas bila menghampirimu dan latihlah dirimu agar terbiasa dalam ilmu. Ikrimah berkata: كان ابن عباس يجعل في رجلي الكبل ويعلمني القرآن والسنن “Ibnu Abbas mengikat kakiku dalam mempelajari Al-Qur’an dan hadits”. [Siyar A’lam Nubala adz-Dzahabi 5/14.]

Ilmu dan Sabar

Sabar Ketika Menuntut Ilmu Imam Ahmad menceritakan pengalamannya, مكثت في الحيض تسع سنين حتى أتقنت مسائله وأحكامه “Aku terus mempelajari permasalahan darah haidh selama sembilan tahun sehingga aku memahaminya”.[Thabaqat Hanabilah Ibnu Abi Ya’la 1/268.] Perangilah penyakit malas bila menghampirimu dan latihlah dirimu agar terbiasa dalam ilmu. Ikrimah berkata: كان ابن عباس يجعل في رجلي الكبل ويعلمني القرآن والسنن “Ibnu Abbas mengikat kakiku dalam mempelajari Al-Qur’an dan hadits”. [Siyar A’lam Nubala adz-Dzahabi 5/14.]
Sabar Ketika Menuntut Ilmu Imam Ahmad menceritakan pengalamannya, مكثت في الحيض تسع سنين حتى أتقنت مسائله وأحكامه “Aku terus mempelajari permasalahan darah haidh selama sembilan tahun sehingga aku memahaminya”.[Thabaqat Hanabilah Ibnu Abi Ya’la 1/268.] Perangilah penyakit malas bila menghampirimu dan latihlah dirimu agar terbiasa dalam ilmu. Ikrimah berkata: كان ابن عباس يجعل في رجلي الكبل ويعلمني القرآن والسنن “Ibnu Abbas mengikat kakiku dalam mempelajari Al-Qur’an dan hadits”. [Siyar A’lam Nubala adz-Dzahabi 5/14.]


Sabar Ketika Menuntut Ilmu Imam Ahmad menceritakan pengalamannya, مكثت في الحيض تسع سنين حتى أتقنت مسائله وأحكامه “Aku terus mempelajari permasalahan darah haidh selama sembilan tahun sehingga aku memahaminya”.[Thabaqat Hanabilah Ibnu Abi Ya’la 1/268.] Perangilah penyakit malas bila menghampirimu dan latihlah dirimu agar terbiasa dalam ilmu. Ikrimah berkata: كان ابن عباس يجعل في رجلي الكبل ويعلمني القرآن والسنن “Ibnu Abbas mengikat kakiku dalam mempelajari Al-Qur’an dan hadits”. [Siyar A’lam Nubala adz-Dzahabi 5/14.]
Prev     Next