JANGAN RAGU UNTUK MEMBLOKIR… (Fatwa Syaikh Sa’ad Al-Khotslaan hafizohulloh, anggota kibaarul Ulama)

Syaikh Sa’ad Al-Khotslan memberi nasehat ; ((Sesungguhnya kaidah syari’at menunjukkan bahwa barang siapa yang menyebabkan orang lain mendapatkan hidayah maka ia juga mendapatkan pahala orang-orang yang mengikutinya. Dan barang siapa yang menyebabkan orang lain tersesat maka ia juga mendapatkan dosa orang-orang yang mengikutinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : من دعا إلى هدى كان له من الأجره مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الوزر مثل أوزار من تبعه لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئاً“Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi pahala mereka sama sekali. Barang siapa yang menyeru kepada kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi dosa mereka sama sekali” Atas dasar ini maka barang siapa yang menyebabkan orang lain terjatuh dalam celaan dan makian serta tuduhan (yang tidak benar), sama saja apakah pada sarana-sarana komunikasi sosial seperti twitter, facebook…, demikian juga grup-grup yang dibuat di whatsapp, maka admin grup-grup tersebut memikul tanggung jawab (akan hal ini). Jika admin mendapati ada yang mencela, memaki, atau meletakkan (mengupload) klip-klip (suara, foto, dan video-pen) maka wajib bagi admin untuk memberi nasehat kepadanya. Jika terulang lagi darinya maka hendaknya admin memberi peringatan, dan jika ia tetap ngeyel maka hendaknya admin menghapusnya. Kalau tidak maka admin bertanggung jawab atas apa yang terjadi di grup-grup tersebut. Demikian juga semua yang menyebabkan timbulnya kemaksiatan maka ia akan mendapatkan dosa orang-orang yang mengikuti kemaksiatan tersebut. Karenanya hendaknya perlu diperhatikan hal ini, terutama pada sarana-sarana tekhnologi yang modern, barang siapa yang hendak membuat grup dan yang lainnya dari sarana modern maka hendaknya ia memperhatikan hal ini, dan hendaknya ia selalu mengingat bahwasanya seluruh maksiat yang timbul karenanya maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang-orang yang mengikutinya” Silahkan dengar fatwa beliau di bawah ini{youtube}70tgWyBZSDw{/youtube}Karenanya bagi para pengguna Facebook atau whatsApp hendaknya jangan ragu untuk meremove atau memblokir anggota groupnya atau temannya atau followernya yang ternyata menyebabkan kegaduhan dan menimbulkan kemaksiatan dalam akunnya. Dan ia tidak perlu malu atau sungkan kepada orang yang akan diblokirnya tersebut, demi kemaslahatan anggota-anggota group yang lainnya. Terlebih lagi banyak akun-akun yang tidak dikenal dan menggunakan nama samaran atau kunyah yang tidak jelas. Sehingga tatkala seseorang tidak dikenal (majhul) maka akan hilang rasa malunya, dan ia bebas menyampaikan apa yang ada di kepalanya tanpa pernah menimbang apapun, karena ia tahu dirinya tidak dikenal dan tidak bakalan ketahuan. Bisa jadi seseorang melayani seorang pemilik akun yang tidak jelas dalam perdebatan, ternyata akun tersebut milik orang kafir, atau milik pelaku maksiat, atau pelaku dosa besar, atau seorang wanita yang mengaku sebagai lelaki atau sebaliknya, atau ternyata seorang anak kecil…maka akhirnya iapun menurunkan martabatnya dengan melayani akun-akun yang tidak jelas tersebut. Yang seandainya pemilik akun tersebut diketahui jati dirinya dan bertemu langsung maka ia akan ketakutan dan lari dari perdebatan… Wallahu A’lam bis-showaab 

JANGAN RAGU UNTUK MEMBLOKIR… (Fatwa Syaikh Sa’ad Al-Khotslaan hafizohulloh, anggota kibaarul Ulama)

Syaikh Sa’ad Al-Khotslan memberi nasehat ; ((Sesungguhnya kaidah syari’at menunjukkan bahwa barang siapa yang menyebabkan orang lain mendapatkan hidayah maka ia juga mendapatkan pahala orang-orang yang mengikutinya. Dan barang siapa yang menyebabkan orang lain tersesat maka ia juga mendapatkan dosa orang-orang yang mengikutinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : من دعا إلى هدى كان له من الأجره مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الوزر مثل أوزار من تبعه لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئاً“Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi pahala mereka sama sekali. Barang siapa yang menyeru kepada kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi dosa mereka sama sekali” Atas dasar ini maka barang siapa yang menyebabkan orang lain terjatuh dalam celaan dan makian serta tuduhan (yang tidak benar), sama saja apakah pada sarana-sarana komunikasi sosial seperti twitter, facebook…, demikian juga grup-grup yang dibuat di whatsapp, maka admin grup-grup tersebut memikul tanggung jawab (akan hal ini). Jika admin mendapati ada yang mencela, memaki, atau meletakkan (mengupload) klip-klip (suara, foto, dan video-pen) maka wajib bagi admin untuk memberi nasehat kepadanya. Jika terulang lagi darinya maka hendaknya admin memberi peringatan, dan jika ia tetap ngeyel maka hendaknya admin menghapusnya. Kalau tidak maka admin bertanggung jawab atas apa yang terjadi di grup-grup tersebut. Demikian juga semua yang menyebabkan timbulnya kemaksiatan maka ia akan mendapatkan dosa orang-orang yang mengikuti kemaksiatan tersebut. Karenanya hendaknya perlu diperhatikan hal ini, terutama pada sarana-sarana tekhnologi yang modern, barang siapa yang hendak membuat grup dan yang lainnya dari sarana modern maka hendaknya ia memperhatikan hal ini, dan hendaknya ia selalu mengingat bahwasanya seluruh maksiat yang timbul karenanya maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang-orang yang mengikutinya” Silahkan dengar fatwa beliau di bawah ini{youtube}70tgWyBZSDw{/youtube}Karenanya bagi para pengguna Facebook atau whatsApp hendaknya jangan ragu untuk meremove atau memblokir anggota groupnya atau temannya atau followernya yang ternyata menyebabkan kegaduhan dan menimbulkan kemaksiatan dalam akunnya. Dan ia tidak perlu malu atau sungkan kepada orang yang akan diblokirnya tersebut, demi kemaslahatan anggota-anggota group yang lainnya. Terlebih lagi banyak akun-akun yang tidak dikenal dan menggunakan nama samaran atau kunyah yang tidak jelas. Sehingga tatkala seseorang tidak dikenal (majhul) maka akan hilang rasa malunya, dan ia bebas menyampaikan apa yang ada di kepalanya tanpa pernah menimbang apapun, karena ia tahu dirinya tidak dikenal dan tidak bakalan ketahuan. Bisa jadi seseorang melayani seorang pemilik akun yang tidak jelas dalam perdebatan, ternyata akun tersebut milik orang kafir, atau milik pelaku maksiat, atau pelaku dosa besar, atau seorang wanita yang mengaku sebagai lelaki atau sebaliknya, atau ternyata seorang anak kecil…maka akhirnya iapun menurunkan martabatnya dengan melayani akun-akun yang tidak jelas tersebut. Yang seandainya pemilik akun tersebut diketahui jati dirinya dan bertemu langsung maka ia akan ketakutan dan lari dari perdebatan… Wallahu A’lam bis-showaab 
Syaikh Sa’ad Al-Khotslan memberi nasehat ; ((Sesungguhnya kaidah syari’at menunjukkan bahwa barang siapa yang menyebabkan orang lain mendapatkan hidayah maka ia juga mendapatkan pahala orang-orang yang mengikutinya. Dan barang siapa yang menyebabkan orang lain tersesat maka ia juga mendapatkan dosa orang-orang yang mengikutinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : من دعا إلى هدى كان له من الأجره مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الوزر مثل أوزار من تبعه لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئاً“Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi pahala mereka sama sekali. Barang siapa yang menyeru kepada kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi dosa mereka sama sekali” Atas dasar ini maka barang siapa yang menyebabkan orang lain terjatuh dalam celaan dan makian serta tuduhan (yang tidak benar), sama saja apakah pada sarana-sarana komunikasi sosial seperti twitter, facebook…, demikian juga grup-grup yang dibuat di whatsapp, maka admin grup-grup tersebut memikul tanggung jawab (akan hal ini). Jika admin mendapati ada yang mencela, memaki, atau meletakkan (mengupload) klip-klip (suara, foto, dan video-pen) maka wajib bagi admin untuk memberi nasehat kepadanya. Jika terulang lagi darinya maka hendaknya admin memberi peringatan, dan jika ia tetap ngeyel maka hendaknya admin menghapusnya. Kalau tidak maka admin bertanggung jawab atas apa yang terjadi di grup-grup tersebut. Demikian juga semua yang menyebabkan timbulnya kemaksiatan maka ia akan mendapatkan dosa orang-orang yang mengikuti kemaksiatan tersebut. Karenanya hendaknya perlu diperhatikan hal ini, terutama pada sarana-sarana tekhnologi yang modern, barang siapa yang hendak membuat grup dan yang lainnya dari sarana modern maka hendaknya ia memperhatikan hal ini, dan hendaknya ia selalu mengingat bahwasanya seluruh maksiat yang timbul karenanya maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang-orang yang mengikutinya” Silahkan dengar fatwa beliau di bawah ini{youtube}70tgWyBZSDw{/youtube}Karenanya bagi para pengguna Facebook atau whatsApp hendaknya jangan ragu untuk meremove atau memblokir anggota groupnya atau temannya atau followernya yang ternyata menyebabkan kegaduhan dan menimbulkan kemaksiatan dalam akunnya. Dan ia tidak perlu malu atau sungkan kepada orang yang akan diblokirnya tersebut, demi kemaslahatan anggota-anggota group yang lainnya. Terlebih lagi banyak akun-akun yang tidak dikenal dan menggunakan nama samaran atau kunyah yang tidak jelas. Sehingga tatkala seseorang tidak dikenal (majhul) maka akan hilang rasa malunya, dan ia bebas menyampaikan apa yang ada di kepalanya tanpa pernah menimbang apapun, karena ia tahu dirinya tidak dikenal dan tidak bakalan ketahuan. Bisa jadi seseorang melayani seorang pemilik akun yang tidak jelas dalam perdebatan, ternyata akun tersebut milik orang kafir, atau milik pelaku maksiat, atau pelaku dosa besar, atau seorang wanita yang mengaku sebagai lelaki atau sebaliknya, atau ternyata seorang anak kecil…maka akhirnya iapun menurunkan martabatnya dengan melayani akun-akun yang tidak jelas tersebut. Yang seandainya pemilik akun tersebut diketahui jati dirinya dan bertemu langsung maka ia akan ketakutan dan lari dari perdebatan… Wallahu A’lam bis-showaab 


Syaikh Sa’ad Al-Khotslan memberi nasehat ; ((Sesungguhnya kaidah syari’at menunjukkan bahwa barang siapa yang menyebabkan orang lain mendapatkan hidayah maka ia juga mendapatkan pahala orang-orang yang mengikutinya. Dan barang siapa yang menyebabkan orang lain tersesat maka ia juga mendapatkan dosa orang-orang yang mengikutinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : من دعا إلى هدى كان له من الأجره مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الوزر مثل أوزار من تبعه لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئاً“Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi pahala mereka sama sekali. Barang siapa yang menyeru kepada kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi dosa mereka sama sekali” Atas dasar ini maka barang siapa yang menyebabkan orang lain terjatuh dalam celaan dan makian serta tuduhan (yang tidak benar), sama saja apakah pada sarana-sarana komunikasi sosial seperti twitter, facebook…, demikian juga grup-grup yang dibuat di whatsapp, maka admin grup-grup tersebut memikul tanggung jawab (akan hal ini). Jika admin mendapati ada yang mencela, memaki, atau meletakkan (mengupload) klip-klip (suara, foto, dan video-pen) maka wajib bagi admin untuk memberi nasehat kepadanya. Jika terulang lagi darinya maka hendaknya admin memberi peringatan, dan jika ia tetap ngeyel maka hendaknya admin menghapusnya. Kalau tidak maka admin bertanggung jawab atas apa yang terjadi di grup-grup tersebut. Demikian juga semua yang menyebabkan timbulnya kemaksiatan maka ia akan mendapatkan dosa orang-orang yang mengikuti kemaksiatan tersebut. Karenanya hendaknya perlu diperhatikan hal ini, terutama pada sarana-sarana tekhnologi yang modern, barang siapa yang hendak membuat grup dan yang lainnya dari sarana modern maka hendaknya ia memperhatikan hal ini, dan hendaknya ia selalu mengingat bahwasanya seluruh maksiat yang timbul karenanya maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang-orang yang mengikutinya” Silahkan dengar fatwa beliau di bawah ini{youtube}70tgWyBZSDw{/youtube}Karenanya bagi para pengguna Facebook atau whatsApp hendaknya jangan ragu untuk meremove atau memblokir anggota groupnya atau temannya atau followernya yang ternyata menyebabkan kegaduhan dan menimbulkan kemaksiatan dalam akunnya. Dan ia tidak perlu malu atau sungkan kepada orang yang akan diblokirnya tersebut, demi kemaslahatan anggota-anggota group yang lainnya. Terlebih lagi banyak akun-akun yang tidak dikenal dan menggunakan nama samaran atau kunyah yang tidak jelas. Sehingga tatkala seseorang tidak dikenal (majhul) maka akan hilang rasa malunya, dan ia bebas menyampaikan apa yang ada di kepalanya tanpa pernah menimbang apapun, karena ia tahu dirinya tidak dikenal dan tidak bakalan ketahuan. Bisa jadi seseorang melayani seorang pemilik akun yang tidak jelas dalam perdebatan, ternyata akun tersebut milik orang kafir, atau milik pelaku maksiat, atau pelaku dosa besar, atau seorang wanita yang mengaku sebagai lelaki atau sebaliknya, atau ternyata seorang anak kecil…maka akhirnya iapun menurunkan martabatnya dengan melayani akun-akun yang tidak jelas tersebut. Yang seandainya pemilik akun tersebut diketahui jati dirinya dan bertemu langsung maka ia akan ketakutan dan lari dari perdebatan… Wallahu A’lam bis-showaab 

Peringatan Hari Ibu bagi Muslim

Apakah boleh umat Islam turut memperingati hari ibu? Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari diang`gap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Di Indonesia hari Ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Berbakti pada Ibu Lebih Utama Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ » “Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa” (Syarh Muslim, 8: 331). Berbakti pada Ibu itu Setiap Waktu, Bukan Setahun Sekali Allah Ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14). Perintah berbakti di sini bukan hanya berlaku pada bulan Desember saja, namun setiap waktu. Sebab Larangan Memperingati Hari Ibu bagi Muslim 1- Tasyabbuh dengan orang kafir Peringatan hari ibu bukanlah perayaan umat Islam. Islam tidak pernah mengajarkannya sama sekali. Yang ada, perayaan tersebut diperingati hanya meniru-niru orang kafir. Islam hanya memiliki dua hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.“(HR. Abu Daud no. 4031. Hadits ini hasan shahih kata Syaikh Al Albani). Ada hadits juga dalam kitab Sunan, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لاَ تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلاَ بِالنَّصَارَى “Bukan termasuk golongan kami yaitu siapa saja yang menyerupai (meniru-niru) kelakukan selain kami. Janganlah kalian meniru-niru Yahudi, begitu pula Nashrani.” (HR. Tirmidzi no. 2695, hasan menurut Syaikh Al Albani). 2- Tidak pernah dituntunkan dalam ajaran Islam Perayaan tersebut adalah perayaan yang mengada-ngada, tidak pernah dituntunkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka adalah orang-orang terbaik di masa salaf, namun tidak pernah memperingati hari tersebut. Jadi, peringatan tersebut bukan ajaran Islam. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, ulama besar dari Mesir pernah ditanya mengenai hukum perayaan hari Ibu. Beliau hafizhohullah menjawab, “Tidak ada dalam syari’at kita peringatan hari Ibu. Namun kita memang diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Dan ibu lebih utama untuk kita berbakti. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya siapakah yang lebih utama bagi kita untuk berbuat baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu sebanyak tiga kali, lalu bapakmu.” (Youtube: Hukmul Ihtifal bi ‘Iedil Umm) Guru kami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifi hafizhohullah berkata, “Perayaan hari Ibu adalah perayaan dari barat. Mereka orang-orang kafir di sana punya perayaan hari ibu, juga ada peringatan hari anak. Kita -selaku umat Islam- tidak butuh pada peringatan hari Ibu karena Allah Ta’ala sudah memerintahkan kita untuk berbakti pada ibu kita dengan perintah yang mulia. Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, siapakah yang lebih berhak bagi kita untuk berbakti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu, ibumu, ibumu lalu bapakmu. … Intinya, kita selaku umat Islam tidaklah butuh pada peringatan hari ibu. Karena kita diperintahkan berbakti pada ibu setiap saat, tidak perlu bakti tersebut ditunjukkan dengan peringatan dan semisal itu. Intinya, peringatan tersebut tidaklah dituntunkan dalam Islam dan seorang muslim sudah sepantasnya tidak memperingatinya.” (Youtube: Al Ihtifal bi ‘Iedil Umm) 3- Istri Punya Kewajiban Bakti pada Suami Jika yang diperingati pada peringatan hari ibu adalah membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya, maka ini pun keliru. Karena berbaktinya istri pada suami dalam mengurus rumah tangga adalah suatu kewajiban. Bagaimana kewajiban ini dilalaikan hanya karena ada peringatan hari ibu? Padahal istri yang taat suami adalah wanita yang paling baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun selepas Jumatan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Safar 1435 H, 01:30 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim dan akan diperintah untuk ditransfer. Tagsbakti orang tua bid'ah

Peringatan Hari Ibu bagi Muslim

Apakah boleh umat Islam turut memperingati hari ibu? Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari diang`gap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Di Indonesia hari Ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Berbakti pada Ibu Lebih Utama Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ » “Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa” (Syarh Muslim, 8: 331). Berbakti pada Ibu itu Setiap Waktu, Bukan Setahun Sekali Allah Ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14). Perintah berbakti di sini bukan hanya berlaku pada bulan Desember saja, namun setiap waktu. Sebab Larangan Memperingati Hari Ibu bagi Muslim 1- Tasyabbuh dengan orang kafir Peringatan hari ibu bukanlah perayaan umat Islam. Islam tidak pernah mengajarkannya sama sekali. Yang ada, perayaan tersebut diperingati hanya meniru-niru orang kafir. Islam hanya memiliki dua hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.“(HR. Abu Daud no. 4031. Hadits ini hasan shahih kata Syaikh Al Albani). Ada hadits juga dalam kitab Sunan, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لاَ تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلاَ بِالنَّصَارَى “Bukan termasuk golongan kami yaitu siapa saja yang menyerupai (meniru-niru) kelakukan selain kami. Janganlah kalian meniru-niru Yahudi, begitu pula Nashrani.” (HR. Tirmidzi no. 2695, hasan menurut Syaikh Al Albani). 2- Tidak pernah dituntunkan dalam ajaran Islam Perayaan tersebut adalah perayaan yang mengada-ngada, tidak pernah dituntunkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka adalah orang-orang terbaik di masa salaf, namun tidak pernah memperingati hari tersebut. Jadi, peringatan tersebut bukan ajaran Islam. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, ulama besar dari Mesir pernah ditanya mengenai hukum perayaan hari Ibu. Beliau hafizhohullah menjawab, “Tidak ada dalam syari’at kita peringatan hari Ibu. Namun kita memang diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Dan ibu lebih utama untuk kita berbakti. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya siapakah yang lebih utama bagi kita untuk berbuat baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu sebanyak tiga kali, lalu bapakmu.” (Youtube: Hukmul Ihtifal bi ‘Iedil Umm) Guru kami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifi hafizhohullah berkata, “Perayaan hari Ibu adalah perayaan dari barat. Mereka orang-orang kafir di sana punya perayaan hari ibu, juga ada peringatan hari anak. Kita -selaku umat Islam- tidak butuh pada peringatan hari Ibu karena Allah Ta’ala sudah memerintahkan kita untuk berbakti pada ibu kita dengan perintah yang mulia. Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, siapakah yang lebih berhak bagi kita untuk berbakti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu, ibumu, ibumu lalu bapakmu. … Intinya, kita selaku umat Islam tidaklah butuh pada peringatan hari ibu. Karena kita diperintahkan berbakti pada ibu setiap saat, tidak perlu bakti tersebut ditunjukkan dengan peringatan dan semisal itu. Intinya, peringatan tersebut tidaklah dituntunkan dalam Islam dan seorang muslim sudah sepantasnya tidak memperingatinya.” (Youtube: Al Ihtifal bi ‘Iedil Umm) 3- Istri Punya Kewajiban Bakti pada Suami Jika yang diperingati pada peringatan hari ibu adalah membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya, maka ini pun keliru. Karena berbaktinya istri pada suami dalam mengurus rumah tangga adalah suatu kewajiban. Bagaimana kewajiban ini dilalaikan hanya karena ada peringatan hari ibu? Padahal istri yang taat suami adalah wanita yang paling baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun selepas Jumatan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Safar 1435 H, 01:30 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim dan akan diperintah untuk ditransfer. Tagsbakti orang tua bid'ah
Apakah boleh umat Islam turut memperingati hari ibu? Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari diang`gap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Di Indonesia hari Ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Berbakti pada Ibu Lebih Utama Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ » “Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa” (Syarh Muslim, 8: 331). Berbakti pada Ibu itu Setiap Waktu, Bukan Setahun Sekali Allah Ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14). Perintah berbakti di sini bukan hanya berlaku pada bulan Desember saja, namun setiap waktu. Sebab Larangan Memperingati Hari Ibu bagi Muslim 1- Tasyabbuh dengan orang kafir Peringatan hari ibu bukanlah perayaan umat Islam. Islam tidak pernah mengajarkannya sama sekali. Yang ada, perayaan tersebut diperingati hanya meniru-niru orang kafir. Islam hanya memiliki dua hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.“(HR. Abu Daud no. 4031. Hadits ini hasan shahih kata Syaikh Al Albani). Ada hadits juga dalam kitab Sunan, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لاَ تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلاَ بِالنَّصَارَى “Bukan termasuk golongan kami yaitu siapa saja yang menyerupai (meniru-niru) kelakukan selain kami. Janganlah kalian meniru-niru Yahudi, begitu pula Nashrani.” (HR. Tirmidzi no. 2695, hasan menurut Syaikh Al Albani). 2- Tidak pernah dituntunkan dalam ajaran Islam Perayaan tersebut adalah perayaan yang mengada-ngada, tidak pernah dituntunkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka adalah orang-orang terbaik di masa salaf, namun tidak pernah memperingati hari tersebut. Jadi, peringatan tersebut bukan ajaran Islam. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, ulama besar dari Mesir pernah ditanya mengenai hukum perayaan hari Ibu. Beliau hafizhohullah menjawab, “Tidak ada dalam syari’at kita peringatan hari Ibu. Namun kita memang diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Dan ibu lebih utama untuk kita berbakti. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya siapakah yang lebih utama bagi kita untuk berbuat baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu sebanyak tiga kali, lalu bapakmu.” (Youtube: Hukmul Ihtifal bi ‘Iedil Umm) Guru kami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifi hafizhohullah berkata, “Perayaan hari Ibu adalah perayaan dari barat. Mereka orang-orang kafir di sana punya perayaan hari ibu, juga ada peringatan hari anak. Kita -selaku umat Islam- tidak butuh pada peringatan hari Ibu karena Allah Ta’ala sudah memerintahkan kita untuk berbakti pada ibu kita dengan perintah yang mulia. Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, siapakah yang lebih berhak bagi kita untuk berbakti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu, ibumu, ibumu lalu bapakmu. … Intinya, kita selaku umat Islam tidaklah butuh pada peringatan hari ibu. Karena kita diperintahkan berbakti pada ibu setiap saat, tidak perlu bakti tersebut ditunjukkan dengan peringatan dan semisal itu. Intinya, peringatan tersebut tidaklah dituntunkan dalam Islam dan seorang muslim sudah sepantasnya tidak memperingatinya.” (Youtube: Al Ihtifal bi ‘Iedil Umm) 3- Istri Punya Kewajiban Bakti pada Suami Jika yang diperingati pada peringatan hari ibu adalah membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya, maka ini pun keliru. Karena berbaktinya istri pada suami dalam mengurus rumah tangga adalah suatu kewajiban. Bagaimana kewajiban ini dilalaikan hanya karena ada peringatan hari ibu? Padahal istri yang taat suami adalah wanita yang paling baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun selepas Jumatan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Safar 1435 H, 01:30 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim dan akan diperintah untuk ditransfer. Tagsbakti orang tua bid'ah


Apakah boleh umat Islam turut memperingati hari ibu? Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari diang`gap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Di Indonesia hari Ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Berbakti pada Ibu Lebih Utama Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ » “Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa” (Syarh Muslim, 8: 331). Berbakti pada Ibu itu Setiap Waktu, Bukan Setahun Sekali Allah Ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14). Perintah berbakti di sini bukan hanya berlaku pada bulan Desember saja, namun setiap waktu. Sebab Larangan Memperingati Hari Ibu bagi Muslim 1- Tasyabbuh dengan orang kafir Peringatan hari ibu bukanlah perayaan umat Islam. Islam tidak pernah mengajarkannya sama sekali. Yang ada, perayaan tersebut diperingati hanya meniru-niru orang kafir. Islam hanya memiliki dua hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.“(HR. Abu Daud no. 4031. Hadits ini hasan shahih kata Syaikh Al Albani). Ada hadits juga dalam kitab Sunan, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لاَ تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلاَ بِالنَّصَارَى “Bukan termasuk golongan kami yaitu siapa saja yang menyerupai (meniru-niru) kelakukan selain kami. Janganlah kalian meniru-niru Yahudi, begitu pula Nashrani.” (HR. Tirmidzi no. 2695, hasan menurut Syaikh Al Albani). 2- Tidak pernah dituntunkan dalam ajaran Islam Perayaan tersebut adalah perayaan yang mengada-ngada, tidak pernah dituntunkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka adalah orang-orang terbaik di masa salaf, namun tidak pernah memperingati hari tersebut. Jadi, peringatan tersebut bukan ajaran Islam. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, ulama besar dari Mesir pernah ditanya mengenai hukum perayaan hari Ibu. Beliau hafizhohullah menjawab, “Tidak ada dalam syari’at kita peringatan hari Ibu. Namun kita memang diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Dan ibu lebih utama untuk kita berbakti. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya siapakah yang lebih utama bagi kita untuk berbuat baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu sebanyak tiga kali, lalu bapakmu.” (Youtube: Hukmul Ihtifal bi ‘Iedil Umm) Guru kami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifi hafizhohullah berkata, “Perayaan hari Ibu adalah perayaan dari barat. Mereka orang-orang kafir di sana punya perayaan hari ibu, juga ada peringatan hari anak. Kita -selaku umat Islam- tidak butuh pada peringatan hari Ibu karena Allah Ta’ala sudah memerintahkan kita untuk berbakti pada ibu kita dengan perintah yang mulia. Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, siapakah yang lebih berhak bagi kita untuk berbakti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu, ibumu, ibumu lalu bapakmu. … Intinya, kita selaku umat Islam tidaklah butuh pada peringatan hari ibu. Karena kita diperintahkan berbakti pada ibu setiap saat, tidak perlu bakti tersebut ditunjukkan dengan peringatan dan semisal itu. Intinya, peringatan tersebut tidaklah dituntunkan dalam Islam dan seorang muslim sudah sepantasnya tidak memperingatinya.” (Youtube: Al Ihtifal bi ‘Iedil Umm) 3- Istri Punya Kewajiban Bakti pada Suami Jika yang diperingati pada peringatan hari ibu adalah membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya, maka ini pun keliru. Karena berbaktinya istri pada suami dalam mengurus rumah tangga adalah suatu kewajiban. Bagaimana kewajiban ini dilalaikan hanya karena ada peringatan hari ibu? Padahal istri yang taat suami adalah wanita yang paling baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun selepas Jumatan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Safar 1435 H, 01:30 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim dan akan diperintah untuk ditransfer. Tagsbakti orang tua bid'ah

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Siksa

Download   “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak beranggapan sial dan mereka selalu bertawakkal pada Rabbnya.” Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tauhid ketika membahas keutamaan menyempurnakan tauhid akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Yang dimaksud menyempurnakan tauhid (tahqiq tauhid) adalah dengan meninggalkan kesyirikan baik syirik besar dan syirik kecil, meninggalkan perbuatan bid’ah, dan meninggalkan maksiat. (Lihat At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, hal. 56). Syaikh Sulaiman At Tamimi menjelaskan bahwa yang dimaksud merealisasikan tauhid adalah tidak ada di hati seseorang sesuatu selain Allah, tidak ada keinginan pada apa yang Allah haramkan, selalu patuh pada perintah Allah. Itulah bukti dari merealisasikan kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 253). Baik kita sekarang lihat hadits panjang yang dimaksud. Hushain bin ‘Abdurrahman –rahimahullah– berkata, كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُمَّ قُلْتُ أَمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ فِي صَلَاةٍ وَلَكِنِّي لُدِغْتُ قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلْتُ اسْتَرْقَيْتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمْ الشَّعْبِيُّ قُلْتُ حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ الْأَسْلَمِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ فَقَالَ قَدْ أَحْسَنَ مَنْ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ “Saya pernah bersama Sa’id bin Jubair lalu dia berkata, ‘Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?‘ Aku menjawab, ‘Aku’. Kemudian aku berkata, ‘Tapi aku tidak sedang mengerjakan shalat. Aku terbangun karena aku disengat (binatang).’ Sa’id lalu berkata, “Lantas apa yang kamu perbuat?‘ Aku menjawab, ‘Aku meminta untuk diruqyah.’ Sa’id bertanya, ‘Apa yang alasanmu sampai meminta diruqyah? ‘ Aku menjawab, ‘Sebuah hadits yang Asy Sya’bi ceritakan kepadaku.’ Sa’id bertanya lagi, ‘Apa yang diceritakan Asy Sya’bi kepada kalian.’ Aku menjawab, ‘Dia telah menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Hushaib Al Aslami, bahwa dia berkata, “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa).” Maka Sa’id pun menjawab, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar.” Hanya saja Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Telah ditampakkan padaku semua umat. Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekumpulan orang, maka aku menyangka bahwa mereka adalah umatku. Ada yang berkata padaku, ‘Mereka adalah Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Tetapi lihatlah ke ufuk.’ Lalu aku pun memandang, ternyata ada kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam (yakni saking banyaknya orang kelihatan dari jauh). Lalu dikatakan lagi kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Ternyata di sana juga terdapat kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam. Dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa dihisab dan disiksa‘.” Setelah menceritakan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang lalu memperbincangkan mengenai mereka yang akan dimasukkan ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa. Sebagian dari mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang selalu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ada pula yang mengatakan, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak pernah melakukan perbuatan syirik terhadap Allah.” Mereka mengemukakan pendapat masing-masing. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka, lalu beliau bertanya, “Apa yang telah kalian perbincangkan?” Mereka pun menerangkannya kepada beliau. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak meruqyah, tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial) dan hanya kepada Allah mereka bertawakal.” ‘Ukkasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau termasuk bagian dari mereka.” Kemudian ada lagi yang berdiri dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ukkasyah telah mendahuluimu.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220) Dalam riwayat Bukhari disebutkan, هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari no. 5752) Faedah dari hadits di atas: 1- Hushain bin ‘Abdurrahman khawatir jika orang-orang menyangka ia melakukan shalat malam ketika melihat bintang. Ia tidak mau dinilai melakukan ibadah saat itu padahal ia tidak melakukannya. Inilah yang menunjukkan keutamaan salafush sholeh dan menunjukkan bagaimana keikhlasan pada diri mereka. Mereka berusaha menjauhkan diri dari riya’. Mereka tidak mau mengatakan bahwa ia telah melakukan seperti ini dan seperti itu supaya orang-orang sangka ia adalah wali Allah. Ada yang memakai biji tasbih di leher atau sengaja membawa tasbih di tangannya ketika berjalan, supaya orang-orang sangka ia sedang berdzikir. Dan memang memamerkan biji tasbih di leher ketika jalan lebih cenderung pada riya’ (ingin memamerkan amalan). 2- Hushain ketika tersengat kalajengking mengambil pilihan untuk meminta diruqyah karena ia punya pegangan dalil dari Asy Sya’bi (‘Amir bin Syarohil Al Hamdani Asy Sya’bi) dari Buraidah bin Al Hushaib. Dalilnya mengatakan bahwa tidak ada ruqyah yang lebih manjur kecuali pada penyakit ‘ain (mata dengki) atau pada humah (sengatan kalajengking). Ini menunjukkan bahwa boleh meminta diruqyah dalam hal seperti ini, namun ada jalan yang lebih baik sebagaimana disebutkan oleh Sa’id bin Jubair. 3- Ketika Sa’id bin Jubair meminta dalil pada Hushain kenapa ia meminta diruqyah, ini menunjukkan bahwa para ulama salaf dahulu sudah biasa saling menanyakan dalil atas pendapat yang mereka anut. Saling bertanya ilmiah ini adalah kebiasaan yang baik yang patut dicontoh, “Apa dalil Anda dalam masalah ini?” 4- Al Khottobi mengatakan bahwa maksud hadits “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa)” yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah meruqyah dan diruqyah. (Lihat Ma’alimus Sunan, 4: 210 dan Masyariqul Anwar, 1: 366). Yang dimaksud ‘ain adalah pandangan tidak suka dari orang yang hasad. Sedangkan humah adalah sengatan kalajengking dan semacamnya. 5- Sa’id bin Jubair mengatakan, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar”. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah mengamalkan ilmu yang telah sampai padanya, maka itu sudah disebut baik karena ia telah melakukan kewajibannya. Beda halnya dengan orang yang beramal dilandasi kebodohan atau tidak mengamalkan ilmunya, maka ia jelas berdosa. 6- Perkataan Sa’id bin Jubair juga menunjukkan baiknya adab salaf dalam menyampaikan ilmu dan bagaimana menyatakan pendapatnya dengan lemah lembut. Lalu Sa’id menunjukkan pada Hushain tentang manakah cara yang lebih baik ditempuh, padahal apa yang dilakukan oleh Hushain masih boleh. 7- Siapa yang telah mengamalkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya sudah disebut baik, bukan hanya sekedar berdiam pada perkataan ulama madzhab. 8- Hadits yang disampaikan pertama yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah dan hadits kedua dari Ibnu ‘Abbas tentang orang-orang yang meninggalkan meminta ruqyah tidaklah kontradiksi atau bertentangan. 9- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditampakkan umat yang disebutkan dalam hadits adalah saat peristiwa Isra’ Mi’raj. 10- Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada. 11- Sekelompok orang yang disebutkan dalam hadits, yang dimaksud adalah jumlah orang yang banyak yang dilihat dari jauh. 12- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan umat Nabi Musa yang begitu banyak, itu menunjukkan keutamaan Musa dan pengikutnya. 13- Lalu dilihat lagi sekelompok umat yang besar yang itu adalah umatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di tengah-tengah umat Muhammad terdapat 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Mereka itulah orang-orang yang mentahqiq tauhid atau merealisasikan tauhid dengan benar. 14- Umat Muhammad bisa terbedakan dari umat lainnya karena dilihat dari bekas wudhu mereka. Umat Muhammad nampak bekas wudhu mereka pada wajah, tangan dan kaki mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits riwayat Muslim, إِنَّ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan wajah, tangan dan kakinya bercahaya karena bekas wudhu” (HR. Muslim no. 246). 15- Ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap 1000 dari 70.000 tadi ada 70.000 lagi. Dari Abu Umamah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, وَعَدَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعِينَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفاً “Rabbku ‘azza wa jalla telah menjajikan padaku bahwa 70.000 orang dari umatku akan dimasukkan surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Setiap 1000 dari jumlah tersebut terdapat 70.000 orang lagi.” (HR. Ahmad 5: 268. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dan sanad hadits ini hasan). Berarti berdasarkan hadits ini ada 4.900.000 orang yang dimaksud. 16- Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan ada 70.000 orang dari umatnya yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa, lalu beliau masuk rumah. Para sahabat pun berbincang-bincang siapakah orang-orang yang dimaksud tersebut. Ini menunjukkan bahwa boleh berdiskusi ilmiah dalam masalah ilmu untuk mengambil faedah dan mendapatkan kebenaran. 17- Apa yang mereka diskusikan menunjukkan bagaimana dalamnya ilmu para sahabat. Mereka mengetahui bahwa untuk menggapai keutamaan tersebut harus dengan beramal. Itu pun menunjukkan semangat mereka dalam kebaikan. 18- Sifat pertama dari 70.000 orang tersebut adalah tidak meminta diruqyah. Dalam riwayat Muslim disebutkan “laa yarqun”, artinya tidak meruqyah. Tambahan tidak meruqyah di sini keliru karena orang yang meruqyah adalah orang yang berbuat baik. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang ruqyah, beliau bersabda, مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Siapa yang mampu di antara kalian untuk memberi kemanfaatan pada saudaranya, maka lakukanlah“(HR. Muslim no. 2199). ‘Auf bin Malik berkata, كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا » “Kami dahulu pernah meruqyah di masa jahiliyah, kami berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang ruqyah yang kami lakukan?” Beliau bersabda, “Tunjukkan ruqyah kalian. Yang namanya ruqyah tidaklah mengapa selama tidak ada kesyirikan di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 3886, shahih kata Syaikh Al Albani). Alasan lainnya, meruqyah orang lain tidaklah masalah karena Jibril pernah meruqyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah para sahabatnya. 19- Perbedaannya jelas antara orang yang meruqyah dan orang yang meminta diruqyah. Orang yang meminta diruqyah cenderung hatinya bergantung pada selain Allah. Adapun orang yang meruqyah orang lain adalah orang yang berbuat baik. 20- Sifat 70.000 orang tersebut yang lainnya adalah tidak meminta diruqyah. Namun pengobatan kay yaitu penyembuhan luka dengan besi panas asalnya boleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus dokter pada Ubay bin Ka’ab untuk mengobati lukanya dengan cara kay. Hadits-hadits yang membicarakan tentang pengobatan kay ada empat macam: (1) Nabi shallallahu melakukannya, (2) beliau tidak suka dengan pengobatan kay, (3) beliau memuji orang yang tidak dikay, (4) beliau melarang pengobatan kay. Yang beliau lakukan menunjukkan bahwa kay itu boleh. Beliau tidak pada kay bukan berarti pengobatan kay itu terlarang. Hadits yang menunjukkan beliau memuji orang yang meninggalkan kay berarti meninggalkan kay lebih utama. Adapun hadits yang menyatakan beliau melarangnya menunjukkan bahwa kay itu makruh. Jadi dalil-dalil yang ada tidak saling bertentangan. Demikian kata Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad. 21- Sifat 70.000 orang tersebut selanjutnya adalah mereka tidak bertathoyyur. Tathoyyur adalah beranggapan sial dengan burung atau lainnya. Kalau di tengah-tengah kita misalnya menganggap sial dengan bulan Suro. 22- Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sifat utama dari 70.000 orang tersebut terkumpul pada sifat tawakkal. Karena tawakkal mereka yang sempurna, mereka tidak meminta diruqyah, tidak meminta dikay, dan tidak beranggapan sial. Lihat Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah. 23- Hadits yang dibicarakan saat ini tidaklah menunjukkan untuk meninggalkan usaha atau sebab. Dan tawakkal itu adalah cara yang utama untuk meraih sebab. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barangsiapa yang bertawakkal pada Allah, Dialah yang mencukupinya.“(QS. Ath Thalaq: 3). Jadi mereka punya enggan melakukan yang dimakruhkan yaitu meminta diruqyah dan meminta dikay, mereka lebih memilih tawakkal daripada mengambil sebab yang makruh tersebut. 24- Adapun mengambil sebab dan berobat dengan cara yang tidak makruh, maka seperti itu boleh dan tidak mencacati tawakkal. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً “Allah tidaklah menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula penawar (obatnya)” (HR. Bukhari no. 5678). 25- ‘Ukkasyah bin Mihshan adalah di antara 70.000 orang tersebut. Ia adalah di antara penunggang kuda terbaik di kalangan Arab dahulu. Beliau mati syahid tahun 12 H ketika berperang bersama Kholid bin Walid memerangi orang-orang yang murtad. 26- Hadits ini menunjukkan boleh meminta do’a pada orang yang punya keutamaan yang lebih seperti yang dilakukan oleh Ukkasyah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 27- Lantas orang berikutnya setelah ‘Ukkasyah ingin meminta lagi pada Nabi agar berdo’a pada Allah supaya ia juga termasuk dalam 70.000 golongan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau sudah kedahuluan oleh ‘Ukkasyah”. Ini adalah cara Nabi supaya yang lainnya tidak meminta seperti itu lagi. Ini menunjukkan kelemah lembutan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akhlak beliau yang baik. 28- Orang yang meminta kedua kalinya bukanlah munafik dengan dua alasan: (a) para sahabat Nabi asalnya bukanlah orang munafik, (2) orang yang meminta seperti itu pada Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berarti yakin akan benarnya Rasul dan itu tidak muncul dari orang munafik. 29- Boleh menolak sesuatu dengan cara yang terlihat seperti berbohong, namun maksudnya tidak demikian. Faedah-faedah di atas diambil dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid karya Syaikh Sulaiman At Tamimi, yang merupakan kitab penjelasan pertama, paling lengkap dan memuaskan dari kitab tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi. — Referensi: At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Darul Imam Al Bukhari, cetakan pertama, tahun 1433 H. Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, terbitan Darush Ash Shomi’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Diselesaikan di Bekasi Timur, Jatimulya, Jl. Cemara 1, di rumah paman tercinta, 15 Safar 1435 H, 07:40 WIB Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanggapan sial surga tawakkal

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Siksa

Download   “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak beranggapan sial dan mereka selalu bertawakkal pada Rabbnya.” Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tauhid ketika membahas keutamaan menyempurnakan tauhid akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Yang dimaksud menyempurnakan tauhid (tahqiq tauhid) adalah dengan meninggalkan kesyirikan baik syirik besar dan syirik kecil, meninggalkan perbuatan bid’ah, dan meninggalkan maksiat. (Lihat At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, hal. 56). Syaikh Sulaiman At Tamimi menjelaskan bahwa yang dimaksud merealisasikan tauhid adalah tidak ada di hati seseorang sesuatu selain Allah, tidak ada keinginan pada apa yang Allah haramkan, selalu patuh pada perintah Allah. Itulah bukti dari merealisasikan kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 253). Baik kita sekarang lihat hadits panjang yang dimaksud. Hushain bin ‘Abdurrahman –rahimahullah– berkata, كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُمَّ قُلْتُ أَمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ فِي صَلَاةٍ وَلَكِنِّي لُدِغْتُ قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلْتُ اسْتَرْقَيْتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمْ الشَّعْبِيُّ قُلْتُ حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ الْأَسْلَمِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ فَقَالَ قَدْ أَحْسَنَ مَنْ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ “Saya pernah bersama Sa’id bin Jubair lalu dia berkata, ‘Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?‘ Aku menjawab, ‘Aku’. Kemudian aku berkata, ‘Tapi aku tidak sedang mengerjakan shalat. Aku terbangun karena aku disengat (binatang).’ Sa’id lalu berkata, “Lantas apa yang kamu perbuat?‘ Aku menjawab, ‘Aku meminta untuk diruqyah.’ Sa’id bertanya, ‘Apa yang alasanmu sampai meminta diruqyah? ‘ Aku menjawab, ‘Sebuah hadits yang Asy Sya’bi ceritakan kepadaku.’ Sa’id bertanya lagi, ‘Apa yang diceritakan Asy Sya’bi kepada kalian.’ Aku menjawab, ‘Dia telah menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Hushaib Al Aslami, bahwa dia berkata, “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa).” Maka Sa’id pun menjawab, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar.” Hanya saja Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Telah ditampakkan padaku semua umat. Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekumpulan orang, maka aku menyangka bahwa mereka adalah umatku. Ada yang berkata padaku, ‘Mereka adalah Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Tetapi lihatlah ke ufuk.’ Lalu aku pun memandang, ternyata ada kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam (yakni saking banyaknya orang kelihatan dari jauh). Lalu dikatakan lagi kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Ternyata di sana juga terdapat kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam. Dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa dihisab dan disiksa‘.” Setelah menceritakan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang lalu memperbincangkan mengenai mereka yang akan dimasukkan ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa. Sebagian dari mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang selalu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ada pula yang mengatakan, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak pernah melakukan perbuatan syirik terhadap Allah.” Mereka mengemukakan pendapat masing-masing. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka, lalu beliau bertanya, “Apa yang telah kalian perbincangkan?” Mereka pun menerangkannya kepada beliau. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak meruqyah, tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial) dan hanya kepada Allah mereka bertawakal.” ‘Ukkasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau termasuk bagian dari mereka.” Kemudian ada lagi yang berdiri dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ukkasyah telah mendahuluimu.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220) Dalam riwayat Bukhari disebutkan, هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari no. 5752) Faedah dari hadits di atas: 1- Hushain bin ‘Abdurrahman khawatir jika orang-orang menyangka ia melakukan shalat malam ketika melihat bintang. Ia tidak mau dinilai melakukan ibadah saat itu padahal ia tidak melakukannya. Inilah yang menunjukkan keutamaan salafush sholeh dan menunjukkan bagaimana keikhlasan pada diri mereka. Mereka berusaha menjauhkan diri dari riya’. Mereka tidak mau mengatakan bahwa ia telah melakukan seperti ini dan seperti itu supaya orang-orang sangka ia adalah wali Allah. Ada yang memakai biji tasbih di leher atau sengaja membawa tasbih di tangannya ketika berjalan, supaya orang-orang sangka ia sedang berdzikir. Dan memang memamerkan biji tasbih di leher ketika jalan lebih cenderung pada riya’ (ingin memamerkan amalan). 2- Hushain ketika tersengat kalajengking mengambil pilihan untuk meminta diruqyah karena ia punya pegangan dalil dari Asy Sya’bi (‘Amir bin Syarohil Al Hamdani Asy Sya’bi) dari Buraidah bin Al Hushaib. Dalilnya mengatakan bahwa tidak ada ruqyah yang lebih manjur kecuali pada penyakit ‘ain (mata dengki) atau pada humah (sengatan kalajengking). Ini menunjukkan bahwa boleh meminta diruqyah dalam hal seperti ini, namun ada jalan yang lebih baik sebagaimana disebutkan oleh Sa’id bin Jubair. 3- Ketika Sa’id bin Jubair meminta dalil pada Hushain kenapa ia meminta diruqyah, ini menunjukkan bahwa para ulama salaf dahulu sudah biasa saling menanyakan dalil atas pendapat yang mereka anut. Saling bertanya ilmiah ini adalah kebiasaan yang baik yang patut dicontoh, “Apa dalil Anda dalam masalah ini?” 4- Al Khottobi mengatakan bahwa maksud hadits “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa)” yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah meruqyah dan diruqyah. (Lihat Ma’alimus Sunan, 4: 210 dan Masyariqul Anwar, 1: 366). Yang dimaksud ‘ain adalah pandangan tidak suka dari orang yang hasad. Sedangkan humah adalah sengatan kalajengking dan semacamnya. 5- Sa’id bin Jubair mengatakan, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar”. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah mengamalkan ilmu yang telah sampai padanya, maka itu sudah disebut baik karena ia telah melakukan kewajibannya. Beda halnya dengan orang yang beramal dilandasi kebodohan atau tidak mengamalkan ilmunya, maka ia jelas berdosa. 6- Perkataan Sa’id bin Jubair juga menunjukkan baiknya adab salaf dalam menyampaikan ilmu dan bagaimana menyatakan pendapatnya dengan lemah lembut. Lalu Sa’id menunjukkan pada Hushain tentang manakah cara yang lebih baik ditempuh, padahal apa yang dilakukan oleh Hushain masih boleh. 7- Siapa yang telah mengamalkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya sudah disebut baik, bukan hanya sekedar berdiam pada perkataan ulama madzhab. 8- Hadits yang disampaikan pertama yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah dan hadits kedua dari Ibnu ‘Abbas tentang orang-orang yang meninggalkan meminta ruqyah tidaklah kontradiksi atau bertentangan. 9- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditampakkan umat yang disebutkan dalam hadits adalah saat peristiwa Isra’ Mi’raj. 10- Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada. 11- Sekelompok orang yang disebutkan dalam hadits, yang dimaksud adalah jumlah orang yang banyak yang dilihat dari jauh. 12- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan umat Nabi Musa yang begitu banyak, itu menunjukkan keutamaan Musa dan pengikutnya. 13- Lalu dilihat lagi sekelompok umat yang besar yang itu adalah umatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di tengah-tengah umat Muhammad terdapat 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Mereka itulah orang-orang yang mentahqiq tauhid atau merealisasikan tauhid dengan benar. 14- Umat Muhammad bisa terbedakan dari umat lainnya karena dilihat dari bekas wudhu mereka. Umat Muhammad nampak bekas wudhu mereka pada wajah, tangan dan kaki mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits riwayat Muslim, إِنَّ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan wajah, tangan dan kakinya bercahaya karena bekas wudhu” (HR. Muslim no. 246). 15- Ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap 1000 dari 70.000 tadi ada 70.000 lagi. Dari Abu Umamah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, وَعَدَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعِينَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفاً “Rabbku ‘azza wa jalla telah menjajikan padaku bahwa 70.000 orang dari umatku akan dimasukkan surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Setiap 1000 dari jumlah tersebut terdapat 70.000 orang lagi.” (HR. Ahmad 5: 268. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dan sanad hadits ini hasan). Berarti berdasarkan hadits ini ada 4.900.000 orang yang dimaksud. 16- Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan ada 70.000 orang dari umatnya yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa, lalu beliau masuk rumah. Para sahabat pun berbincang-bincang siapakah orang-orang yang dimaksud tersebut. Ini menunjukkan bahwa boleh berdiskusi ilmiah dalam masalah ilmu untuk mengambil faedah dan mendapatkan kebenaran. 17- Apa yang mereka diskusikan menunjukkan bagaimana dalamnya ilmu para sahabat. Mereka mengetahui bahwa untuk menggapai keutamaan tersebut harus dengan beramal. Itu pun menunjukkan semangat mereka dalam kebaikan. 18- Sifat pertama dari 70.000 orang tersebut adalah tidak meminta diruqyah. Dalam riwayat Muslim disebutkan “laa yarqun”, artinya tidak meruqyah. Tambahan tidak meruqyah di sini keliru karena orang yang meruqyah adalah orang yang berbuat baik. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang ruqyah, beliau bersabda, مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Siapa yang mampu di antara kalian untuk memberi kemanfaatan pada saudaranya, maka lakukanlah“(HR. Muslim no. 2199). ‘Auf bin Malik berkata, كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا » “Kami dahulu pernah meruqyah di masa jahiliyah, kami berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang ruqyah yang kami lakukan?” Beliau bersabda, “Tunjukkan ruqyah kalian. Yang namanya ruqyah tidaklah mengapa selama tidak ada kesyirikan di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 3886, shahih kata Syaikh Al Albani). Alasan lainnya, meruqyah orang lain tidaklah masalah karena Jibril pernah meruqyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah para sahabatnya. 19- Perbedaannya jelas antara orang yang meruqyah dan orang yang meminta diruqyah. Orang yang meminta diruqyah cenderung hatinya bergantung pada selain Allah. Adapun orang yang meruqyah orang lain adalah orang yang berbuat baik. 20- Sifat 70.000 orang tersebut yang lainnya adalah tidak meminta diruqyah. Namun pengobatan kay yaitu penyembuhan luka dengan besi panas asalnya boleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus dokter pada Ubay bin Ka’ab untuk mengobati lukanya dengan cara kay. Hadits-hadits yang membicarakan tentang pengobatan kay ada empat macam: (1) Nabi shallallahu melakukannya, (2) beliau tidak suka dengan pengobatan kay, (3) beliau memuji orang yang tidak dikay, (4) beliau melarang pengobatan kay. Yang beliau lakukan menunjukkan bahwa kay itu boleh. Beliau tidak pada kay bukan berarti pengobatan kay itu terlarang. Hadits yang menunjukkan beliau memuji orang yang meninggalkan kay berarti meninggalkan kay lebih utama. Adapun hadits yang menyatakan beliau melarangnya menunjukkan bahwa kay itu makruh. Jadi dalil-dalil yang ada tidak saling bertentangan. Demikian kata Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad. 21- Sifat 70.000 orang tersebut selanjutnya adalah mereka tidak bertathoyyur. Tathoyyur adalah beranggapan sial dengan burung atau lainnya. Kalau di tengah-tengah kita misalnya menganggap sial dengan bulan Suro. 22- Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sifat utama dari 70.000 orang tersebut terkumpul pada sifat tawakkal. Karena tawakkal mereka yang sempurna, mereka tidak meminta diruqyah, tidak meminta dikay, dan tidak beranggapan sial. Lihat Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah. 23- Hadits yang dibicarakan saat ini tidaklah menunjukkan untuk meninggalkan usaha atau sebab. Dan tawakkal itu adalah cara yang utama untuk meraih sebab. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barangsiapa yang bertawakkal pada Allah, Dialah yang mencukupinya.“(QS. Ath Thalaq: 3). Jadi mereka punya enggan melakukan yang dimakruhkan yaitu meminta diruqyah dan meminta dikay, mereka lebih memilih tawakkal daripada mengambil sebab yang makruh tersebut. 24- Adapun mengambil sebab dan berobat dengan cara yang tidak makruh, maka seperti itu boleh dan tidak mencacati tawakkal. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً “Allah tidaklah menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula penawar (obatnya)” (HR. Bukhari no. 5678). 25- ‘Ukkasyah bin Mihshan adalah di antara 70.000 orang tersebut. Ia adalah di antara penunggang kuda terbaik di kalangan Arab dahulu. Beliau mati syahid tahun 12 H ketika berperang bersama Kholid bin Walid memerangi orang-orang yang murtad. 26- Hadits ini menunjukkan boleh meminta do’a pada orang yang punya keutamaan yang lebih seperti yang dilakukan oleh Ukkasyah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 27- Lantas orang berikutnya setelah ‘Ukkasyah ingin meminta lagi pada Nabi agar berdo’a pada Allah supaya ia juga termasuk dalam 70.000 golongan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau sudah kedahuluan oleh ‘Ukkasyah”. Ini adalah cara Nabi supaya yang lainnya tidak meminta seperti itu lagi. Ini menunjukkan kelemah lembutan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akhlak beliau yang baik. 28- Orang yang meminta kedua kalinya bukanlah munafik dengan dua alasan: (a) para sahabat Nabi asalnya bukanlah orang munafik, (2) orang yang meminta seperti itu pada Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berarti yakin akan benarnya Rasul dan itu tidak muncul dari orang munafik. 29- Boleh menolak sesuatu dengan cara yang terlihat seperti berbohong, namun maksudnya tidak demikian. Faedah-faedah di atas diambil dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid karya Syaikh Sulaiman At Tamimi, yang merupakan kitab penjelasan pertama, paling lengkap dan memuaskan dari kitab tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi. — Referensi: At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Darul Imam Al Bukhari, cetakan pertama, tahun 1433 H. Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, terbitan Darush Ash Shomi’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Diselesaikan di Bekasi Timur, Jatimulya, Jl. Cemara 1, di rumah paman tercinta, 15 Safar 1435 H, 07:40 WIB Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanggapan sial surga tawakkal
Download   “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak beranggapan sial dan mereka selalu bertawakkal pada Rabbnya.” Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tauhid ketika membahas keutamaan menyempurnakan tauhid akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Yang dimaksud menyempurnakan tauhid (tahqiq tauhid) adalah dengan meninggalkan kesyirikan baik syirik besar dan syirik kecil, meninggalkan perbuatan bid’ah, dan meninggalkan maksiat. (Lihat At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, hal. 56). Syaikh Sulaiman At Tamimi menjelaskan bahwa yang dimaksud merealisasikan tauhid adalah tidak ada di hati seseorang sesuatu selain Allah, tidak ada keinginan pada apa yang Allah haramkan, selalu patuh pada perintah Allah. Itulah bukti dari merealisasikan kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 253). Baik kita sekarang lihat hadits panjang yang dimaksud. Hushain bin ‘Abdurrahman –rahimahullah– berkata, كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُمَّ قُلْتُ أَمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ فِي صَلَاةٍ وَلَكِنِّي لُدِغْتُ قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلْتُ اسْتَرْقَيْتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمْ الشَّعْبِيُّ قُلْتُ حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ الْأَسْلَمِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ فَقَالَ قَدْ أَحْسَنَ مَنْ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ “Saya pernah bersama Sa’id bin Jubair lalu dia berkata, ‘Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?‘ Aku menjawab, ‘Aku’. Kemudian aku berkata, ‘Tapi aku tidak sedang mengerjakan shalat. Aku terbangun karena aku disengat (binatang).’ Sa’id lalu berkata, “Lantas apa yang kamu perbuat?‘ Aku menjawab, ‘Aku meminta untuk diruqyah.’ Sa’id bertanya, ‘Apa yang alasanmu sampai meminta diruqyah? ‘ Aku menjawab, ‘Sebuah hadits yang Asy Sya’bi ceritakan kepadaku.’ Sa’id bertanya lagi, ‘Apa yang diceritakan Asy Sya’bi kepada kalian.’ Aku menjawab, ‘Dia telah menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Hushaib Al Aslami, bahwa dia berkata, “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa).” Maka Sa’id pun menjawab, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar.” Hanya saja Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Telah ditampakkan padaku semua umat. Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekumpulan orang, maka aku menyangka bahwa mereka adalah umatku. Ada yang berkata padaku, ‘Mereka adalah Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Tetapi lihatlah ke ufuk.’ Lalu aku pun memandang, ternyata ada kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam (yakni saking banyaknya orang kelihatan dari jauh). Lalu dikatakan lagi kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Ternyata di sana juga terdapat kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam. Dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa dihisab dan disiksa‘.” Setelah menceritakan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang lalu memperbincangkan mengenai mereka yang akan dimasukkan ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa. Sebagian dari mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang selalu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ada pula yang mengatakan, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak pernah melakukan perbuatan syirik terhadap Allah.” Mereka mengemukakan pendapat masing-masing. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka, lalu beliau bertanya, “Apa yang telah kalian perbincangkan?” Mereka pun menerangkannya kepada beliau. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak meruqyah, tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial) dan hanya kepada Allah mereka bertawakal.” ‘Ukkasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau termasuk bagian dari mereka.” Kemudian ada lagi yang berdiri dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ukkasyah telah mendahuluimu.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220) Dalam riwayat Bukhari disebutkan, هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari no. 5752) Faedah dari hadits di atas: 1- Hushain bin ‘Abdurrahman khawatir jika orang-orang menyangka ia melakukan shalat malam ketika melihat bintang. Ia tidak mau dinilai melakukan ibadah saat itu padahal ia tidak melakukannya. Inilah yang menunjukkan keutamaan salafush sholeh dan menunjukkan bagaimana keikhlasan pada diri mereka. Mereka berusaha menjauhkan diri dari riya’. Mereka tidak mau mengatakan bahwa ia telah melakukan seperti ini dan seperti itu supaya orang-orang sangka ia adalah wali Allah. Ada yang memakai biji tasbih di leher atau sengaja membawa tasbih di tangannya ketika berjalan, supaya orang-orang sangka ia sedang berdzikir. Dan memang memamerkan biji tasbih di leher ketika jalan lebih cenderung pada riya’ (ingin memamerkan amalan). 2- Hushain ketika tersengat kalajengking mengambil pilihan untuk meminta diruqyah karena ia punya pegangan dalil dari Asy Sya’bi (‘Amir bin Syarohil Al Hamdani Asy Sya’bi) dari Buraidah bin Al Hushaib. Dalilnya mengatakan bahwa tidak ada ruqyah yang lebih manjur kecuali pada penyakit ‘ain (mata dengki) atau pada humah (sengatan kalajengking). Ini menunjukkan bahwa boleh meminta diruqyah dalam hal seperti ini, namun ada jalan yang lebih baik sebagaimana disebutkan oleh Sa’id bin Jubair. 3- Ketika Sa’id bin Jubair meminta dalil pada Hushain kenapa ia meminta diruqyah, ini menunjukkan bahwa para ulama salaf dahulu sudah biasa saling menanyakan dalil atas pendapat yang mereka anut. Saling bertanya ilmiah ini adalah kebiasaan yang baik yang patut dicontoh, “Apa dalil Anda dalam masalah ini?” 4- Al Khottobi mengatakan bahwa maksud hadits “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa)” yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah meruqyah dan diruqyah. (Lihat Ma’alimus Sunan, 4: 210 dan Masyariqul Anwar, 1: 366). Yang dimaksud ‘ain adalah pandangan tidak suka dari orang yang hasad. Sedangkan humah adalah sengatan kalajengking dan semacamnya. 5- Sa’id bin Jubair mengatakan, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar”. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah mengamalkan ilmu yang telah sampai padanya, maka itu sudah disebut baik karena ia telah melakukan kewajibannya. Beda halnya dengan orang yang beramal dilandasi kebodohan atau tidak mengamalkan ilmunya, maka ia jelas berdosa. 6- Perkataan Sa’id bin Jubair juga menunjukkan baiknya adab salaf dalam menyampaikan ilmu dan bagaimana menyatakan pendapatnya dengan lemah lembut. Lalu Sa’id menunjukkan pada Hushain tentang manakah cara yang lebih baik ditempuh, padahal apa yang dilakukan oleh Hushain masih boleh. 7- Siapa yang telah mengamalkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya sudah disebut baik, bukan hanya sekedar berdiam pada perkataan ulama madzhab. 8- Hadits yang disampaikan pertama yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah dan hadits kedua dari Ibnu ‘Abbas tentang orang-orang yang meninggalkan meminta ruqyah tidaklah kontradiksi atau bertentangan. 9- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditampakkan umat yang disebutkan dalam hadits adalah saat peristiwa Isra’ Mi’raj. 10- Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada. 11- Sekelompok orang yang disebutkan dalam hadits, yang dimaksud adalah jumlah orang yang banyak yang dilihat dari jauh. 12- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan umat Nabi Musa yang begitu banyak, itu menunjukkan keutamaan Musa dan pengikutnya. 13- Lalu dilihat lagi sekelompok umat yang besar yang itu adalah umatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di tengah-tengah umat Muhammad terdapat 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Mereka itulah orang-orang yang mentahqiq tauhid atau merealisasikan tauhid dengan benar. 14- Umat Muhammad bisa terbedakan dari umat lainnya karena dilihat dari bekas wudhu mereka. Umat Muhammad nampak bekas wudhu mereka pada wajah, tangan dan kaki mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits riwayat Muslim, إِنَّ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan wajah, tangan dan kakinya bercahaya karena bekas wudhu” (HR. Muslim no. 246). 15- Ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap 1000 dari 70.000 tadi ada 70.000 lagi. Dari Abu Umamah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, وَعَدَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعِينَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفاً “Rabbku ‘azza wa jalla telah menjajikan padaku bahwa 70.000 orang dari umatku akan dimasukkan surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Setiap 1000 dari jumlah tersebut terdapat 70.000 orang lagi.” (HR. Ahmad 5: 268. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dan sanad hadits ini hasan). Berarti berdasarkan hadits ini ada 4.900.000 orang yang dimaksud. 16- Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan ada 70.000 orang dari umatnya yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa, lalu beliau masuk rumah. Para sahabat pun berbincang-bincang siapakah orang-orang yang dimaksud tersebut. Ini menunjukkan bahwa boleh berdiskusi ilmiah dalam masalah ilmu untuk mengambil faedah dan mendapatkan kebenaran. 17- Apa yang mereka diskusikan menunjukkan bagaimana dalamnya ilmu para sahabat. Mereka mengetahui bahwa untuk menggapai keutamaan tersebut harus dengan beramal. Itu pun menunjukkan semangat mereka dalam kebaikan. 18- Sifat pertama dari 70.000 orang tersebut adalah tidak meminta diruqyah. Dalam riwayat Muslim disebutkan “laa yarqun”, artinya tidak meruqyah. Tambahan tidak meruqyah di sini keliru karena orang yang meruqyah adalah orang yang berbuat baik. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang ruqyah, beliau bersabda, مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Siapa yang mampu di antara kalian untuk memberi kemanfaatan pada saudaranya, maka lakukanlah“(HR. Muslim no. 2199). ‘Auf bin Malik berkata, كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا » “Kami dahulu pernah meruqyah di masa jahiliyah, kami berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang ruqyah yang kami lakukan?” Beliau bersabda, “Tunjukkan ruqyah kalian. Yang namanya ruqyah tidaklah mengapa selama tidak ada kesyirikan di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 3886, shahih kata Syaikh Al Albani). Alasan lainnya, meruqyah orang lain tidaklah masalah karena Jibril pernah meruqyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah para sahabatnya. 19- Perbedaannya jelas antara orang yang meruqyah dan orang yang meminta diruqyah. Orang yang meminta diruqyah cenderung hatinya bergantung pada selain Allah. Adapun orang yang meruqyah orang lain adalah orang yang berbuat baik. 20- Sifat 70.000 orang tersebut yang lainnya adalah tidak meminta diruqyah. Namun pengobatan kay yaitu penyembuhan luka dengan besi panas asalnya boleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus dokter pada Ubay bin Ka’ab untuk mengobati lukanya dengan cara kay. Hadits-hadits yang membicarakan tentang pengobatan kay ada empat macam: (1) Nabi shallallahu melakukannya, (2) beliau tidak suka dengan pengobatan kay, (3) beliau memuji orang yang tidak dikay, (4) beliau melarang pengobatan kay. Yang beliau lakukan menunjukkan bahwa kay itu boleh. Beliau tidak pada kay bukan berarti pengobatan kay itu terlarang. Hadits yang menunjukkan beliau memuji orang yang meninggalkan kay berarti meninggalkan kay lebih utama. Adapun hadits yang menyatakan beliau melarangnya menunjukkan bahwa kay itu makruh. Jadi dalil-dalil yang ada tidak saling bertentangan. Demikian kata Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad. 21- Sifat 70.000 orang tersebut selanjutnya adalah mereka tidak bertathoyyur. Tathoyyur adalah beranggapan sial dengan burung atau lainnya. Kalau di tengah-tengah kita misalnya menganggap sial dengan bulan Suro. 22- Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sifat utama dari 70.000 orang tersebut terkumpul pada sifat tawakkal. Karena tawakkal mereka yang sempurna, mereka tidak meminta diruqyah, tidak meminta dikay, dan tidak beranggapan sial. Lihat Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah. 23- Hadits yang dibicarakan saat ini tidaklah menunjukkan untuk meninggalkan usaha atau sebab. Dan tawakkal itu adalah cara yang utama untuk meraih sebab. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barangsiapa yang bertawakkal pada Allah, Dialah yang mencukupinya.“(QS. Ath Thalaq: 3). Jadi mereka punya enggan melakukan yang dimakruhkan yaitu meminta diruqyah dan meminta dikay, mereka lebih memilih tawakkal daripada mengambil sebab yang makruh tersebut. 24- Adapun mengambil sebab dan berobat dengan cara yang tidak makruh, maka seperti itu boleh dan tidak mencacati tawakkal. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً “Allah tidaklah menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula penawar (obatnya)” (HR. Bukhari no. 5678). 25- ‘Ukkasyah bin Mihshan adalah di antara 70.000 orang tersebut. Ia adalah di antara penunggang kuda terbaik di kalangan Arab dahulu. Beliau mati syahid tahun 12 H ketika berperang bersama Kholid bin Walid memerangi orang-orang yang murtad. 26- Hadits ini menunjukkan boleh meminta do’a pada orang yang punya keutamaan yang lebih seperti yang dilakukan oleh Ukkasyah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 27- Lantas orang berikutnya setelah ‘Ukkasyah ingin meminta lagi pada Nabi agar berdo’a pada Allah supaya ia juga termasuk dalam 70.000 golongan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau sudah kedahuluan oleh ‘Ukkasyah”. Ini adalah cara Nabi supaya yang lainnya tidak meminta seperti itu lagi. Ini menunjukkan kelemah lembutan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akhlak beliau yang baik. 28- Orang yang meminta kedua kalinya bukanlah munafik dengan dua alasan: (a) para sahabat Nabi asalnya bukanlah orang munafik, (2) orang yang meminta seperti itu pada Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berarti yakin akan benarnya Rasul dan itu tidak muncul dari orang munafik. 29- Boleh menolak sesuatu dengan cara yang terlihat seperti berbohong, namun maksudnya tidak demikian. Faedah-faedah di atas diambil dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid karya Syaikh Sulaiman At Tamimi, yang merupakan kitab penjelasan pertama, paling lengkap dan memuaskan dari kitab tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi. — Referensi: At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Darul Imam Al Bukhari, cetakan pertama, tahun 1433 H. Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, terbitan Darush Ash Shomi’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Diselesaikan di Bekasi Timur, Jatimulya, Jl. Cemara 1, di rumah paman tercinta, 15 Safar 1435 H, 07:40 WIB Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanggapan sial surga tawakkal


Download   “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak beranggapan sial dan mereka selalu bertawakkal pada Rabbnya.” Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tauhid ketika membahas keutamaan menyempurnakan tauhid akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Yang dimaksud menyempurnakan tauhid (tahqiq tauhid) adalah dengan meninggalkan kesyirikan baik syirik besar dan syirik kecil, meninggalkan perbuatan bid’ah, dan meninggalkan maksiat. (Lihat At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, hal. 56). Syaikh Sulaiman At Tamimi menjelaskan bahwa yang dimaksud merealisasikan tauhid adalah tidak ada di hati seseorang sesuatu selain Allah, tidak ada keinginan pada apa yang Allah haramkan, selalu patuh pada perintah Allah. Itulah bukti dari merealisasikan kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 253). Baik kita sekarang lihat hadits panjang yang dimaksud. Hushain bin ‘Abdurrahman –rahimahullah– berkata, كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُمَّ قُلْتُ أَمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ فِي صَلَاةٍ وَلَكِنِّي لُدِغْتُ قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلْتُ اسْتَرْقَيْتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمْ الشَّعْبِيُّ قُلْتُ حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ الْأَسْلَمِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ فَقَالَ قَدْ أَحْسَنَ مَنْ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ “Saya pernah bersama Sa’id bin Jubair lalu dia berkata, ‘Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?‘ Aku menjawab, ‘Aku’. Kemudian aku berkata, ‘Tapi aku tidak sedang mengerjakan shalat. Aku terbangun karena aku disengat (binatang).’ Sa’id lalu berkata, “Lantas apa yang kamu perbuat?‘ Aku menjawab, ‘Aku meminta untuk diruqyah.’ Sa’id bertanya, ‘Apa yang alasanmu sampai meminta diruqyah? ‘ Aku menjawab, ‘Sebuah hadits yang Asy Sya’bi ceritakan kepadaku.’ Sa’id bertanya lagi, ‘Apa yang diceritakan Asy Sya’bi kepada kalian.’ Aku menjawab, ‘Dia telah menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Hushaib Al Aslami, bahwa dia berkata, “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa).” Maka Sa’id pun menjawab, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar.” Hanya saja Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Telah ditampakkan padaku semua umat. Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekumpulan orang, maka aku menyangka bahwa mereka adalah umatku. Ada yang berkata padaku, ‘Mereka adalah Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Tetapi lihatlah ke ufuk.’ Lalu aku pun memandang, ternyata ada kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam (yakni saking banyaknya orang kelihatan dari jauh). Lalu dikatakan lagi kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Ternyata di sana juga terdapat kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam. Dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa dihisab dan disiksa‘.” Setelah menceritakan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang lalu memperbincangkan mengenai mereka yang akan dimasukkan ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa. Sebagian dari mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang selalu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ada pula yang mengatakan, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak pernah melakukan perbuatan syirik terhadap Allah.” Mereka mengemukakan pendapat masing-masing. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka, lalu beliau bertanya, “Apa yang telah kalian perbincangkan?” Mereka pun menerangkannya kepada beliau. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak meruqyah, tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial) dan hanya kepada Allah mereka bertawakal.” ‘Ukkasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau termasuk bagian dari mereka.” Kemudian ada lagi yang berdiri dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ukkasyah telah mendahuluimu.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220) Dalam riwayat Bukhari disebutkan, هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari no. 5752) Faedah dari hadits di atas: 1- Hushain bin ‘Abdurrahman khawatir jika orang-orang menyangka ia melakukan shalat malam ketika melihat bintang. Ia tidak mau dinilai melakukan ibadah saat itu padahal ia tidak melakukannya. Inilah yang menunjukkan keutamaan salafush sholeh dan menunjukkan bagaimana keikhlasan pada diri mereka. Mereka berusaha menjauhkan diri dari riya’. Mereka tidak mau mengatakan bahwa ia telah melakukan seperti ini dan seperti itu supaya orang-orang sangka ia adalah wali Allah. Ada yang memakai biji tasbih di leher atau sengaja membawa tasbih di tangannya ketika berjalan, supaya orang-orang sangka ia sedang berdzikir. Dan memang memamerkan biji tasbih di leher ketika jalan lebih cenderung pada riya’ (ingin memamerkan amalan). 2- Hushain ketika tersengat kalajengking mengambil pilihan untuk meminta diruqyah karena ia punya pegangan dalil dari Asy Sya’bi (‘Amir bin Syarohil Al Hamdani Asy Sya’bi) dari Buraidah bin Al Hushaib. Dalilnya mengatakan bahwa tidak ada ruqyah yang lebih manjur kecuali pada penyakit ‘ain (mata dengki) atau pada humah (sengatan kalajengking). Ini menunjukkan bahwa boleh meminta diruqyah dalam hal seperti ini, namun ada jalan yang lebih baik sebagaimana disebutkan oleh Sa’id bin Jubair. 3- Ketika Sa’id bin Jubair meminta dalil pada Hushain kenapa ia meminta diruqyah, ini menunjukkan bahwa para ulama salaf dahulu sudah biasa saling menanyakan dalil atas pendapat yang mereka anut. Saling bertanya ilmiah ini adalah kebiasaan yang baik yang patut dicontoh, “Apa dalil Anda dalam masalah ini?” 4- Al Khottobi mengatakan bahwa maksud hadits “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa)” yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah meruqyah dan diruqyah. (Lihat Ma’alimus Sunan, 4: 210 dan Masyariqul Anwar, 1: 366). Yang dimaksud ‘ain adalah pandangan tidak suka dari orang yang hasad. Sedangkan humah adalah sengatan kalajengking dan semacamnya. 5- Sa’id bin Jubair mengatakan, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar”. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah mengamalkan ilmu yang telah sampai padanya, maka itu sudah disebut baik karena ia telah melakukan kewajibannya. Beda halnya dengan orang yang beramal dilandasi kebodohan atau tidak mengamalkan ilmunya, maka ia jelas berdosa. 6- Perkataan Sa’id bin Jubair juga menunjukkan baiknya adab salaf dalam menyampaikan ilmu dan bagaimana menyatakan pendapatnya dengan lemah lembut. Lalu Sa’id menunjukkan pada Hushain tentang manakah cara yang lebih baik ditempuh, padahal apa yang dilakukan oleh Hushain masih boleh. 7- Siapa yang telah mengamalkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya sudah disebut baik, bukan hanya sekedar berdiam pada perkataan ulama madzhab. 8- Hadits yang disampaikan pertama yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah dan hadits kedua dari Ibnu ‘Abbas tentang orang-orang yang meninggalkan meminta ruqyah tidaklah kontradiksi atau bertentangan. 9- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditampakkan umat yang disebutkan dalam hadits adalah saat peristiwa Isra’ Mi’raj. 10- Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada. 11- Sekelompok orang yang disebutkan dalam hadits, yang dimaksud adalah jumlah orang yang banyak yang dilihat dari jauh. 12- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan umat Nabi Musa yang begitu banyak, itu menunjukkan keutamaan Musa dan pengikutnya. 13- Lalu dilihat lagi sekelompok umat yang besar yang itu adalah umatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di tengah-tengah umat Muhammad terdapat 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Mereka itulah orang-orang yang mentahqiq tauhid atau merealisasikan tauhid dengan benar. 14- Umat Muhammad bisa terbedakan dari umat lainnya karena dilihat dari bekas wudhu mereka. Umat Muhammad nampak bekas wudhu mereka pada wajah, tangan dan kaki mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits riwayat Muslim, إِنَّ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan wajah, tangan dan kakinya bercahaya karena bekas wudhu” (HR. Muslim no. 246). 15- Ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap 1000 dari 70.000 tadi ada 70.000 lagi. Dari Abu Umamah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, وَعَدَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعِينَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفاً “Rabbku ‘azza wa jalla telah menjajikan padaku bahwa 70.000 orang dari umatku akan dimasukkan surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Setiap 1000 dari jumlah tersebut terdapat 70.000 orang lagi.” (HR. Ahmad 5: 268. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dan sanad hadits ini hasan). Berarti berdasarkan hadits ini ada 4.900.000 orang yang dimaksud. 16- Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan ada 70.000 orang dari umatnya yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa, lalu beliau masuk rumah. Para sahabat pun berbincang-bincang siapakah orang-orang yang dimaksud tersebut. Ini menunjukkan bahwa boleh berdiskusi ilmiah dalam masalah ilmu untuk mengambil faedah dan mendapatkan kebenaran. 17- Apa yang mereka diskusikan menunjukkan bagaimana dalamnya ilmu para sahabat. Mereka mengetahui bahwa untuk menggapai keutamaan tersebut harus dengan beramal. Itu pun menunjukkan semangat mereka dalam kebaikan. 18- Sifat pertama dari 70.000 orang tersebut adalah tidak meminta diruqyah. Dalam riwayat Muslim disebutkan “laa yarqun”, artinya tidak meruqyah. Tambahan tidak meruqyah di sini keliru karena orang yang meruqyah adalah orang yang berbuat baik. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang ruqyah, beliau bersabda, مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Siapa yang mampu di antara kalian untuk memberi kemanfaatan pada saudaranya, maka lakukanlah“(HR. Muslim no. 2199). ‘Auf bin Malik berkata, كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا » “Kami dahulu pernah meruqyah di masa jahiliyah, kami berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang ruqyah yang kami lakukan?” Beliau bersabda, “Tunjukkan ruqyah kalian. Yang namanya ruqyah tidaklah mengapa selama tidak ada kesyirikan di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 3886, shahih kata Syaikh Al Albani). Alasan lainnya, meruqyah orang lain tidaklah masalah karena Jibril pernah meruqyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah para sahabatnya. 19- Perbedaannya jelas antara orang yang meruqyah dan orang yang meminta diruqyah. Orang yang meminta diruqyah cenderung hatinya bergantung pada selain Allah. Adapun orang yang meruqyah orang lain adalah orang yang berbuat baik. 20- Sifat 70.000 orang tersebut yang lainnya adalah tidak meminta diruqyah. Namun pengobatan kay yaitu penyembuhan luka dengan besi panas asalnya boleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus dokter pada Ubay bin Ka’ab untuk mengobati lukanya dengan cara kay. Hadits-hadits yang membicarakan tentang pengobatan kay ada empat macam: (1) Nabi shallallahu melakukannya, (2) beliau tidak suka dengan pengobatan kay, (3) beliau memuji orang yang tidak dikay, (4) beliau melarang pengobatan kay. Yang beliau lakukan menunjukkan bahwa kay itu boleh. Beliau tidak pada kay bukan berarti pengobatan kay itu terlarang. Hadits yang menunjukkan beliau memuji orang yang meninggalkan kay berarti meninggalkan kay lebih utama. Adapun hadits yang menyatakan beliau melarangnya menunjukkan bahwa kay itu makruh. Jadi dalil-dalil yang ada tidak saling bertentangan. Demikian kata Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad. 21- Sifat 70.000 orang tersebut selanjutnya adalah mereka tidak bertathoyyur. Tathoyyur adalah beranggapan sial dengan burung atau lainnya. Kalau di tengah-tengah kita misalnya menganggap sial dengan bulan Suro. 22- Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sifat utama dari 70.000 orang tersebut terkumpul pada sifat tawakkal. Karena tawakkal mereka yang sempurna, mereka tidak meminta diruqyah, tidak meminta dikay, dan tidak beranggapan sial. Lihat Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah. 23- Hadits yang dibicarakan saat ini tidaklah menunjukkan untuk meninggalkan usaha atau sebab. Dan tawakkal itu adalah cara yang utama untuk meraih sebab. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barangsiapa yang bertawakkal pada Allah, Dialah yang mencukupinya.“(QS. Ath Thalaq: 3). Jadi mereka punya enggan melakukan yang dimakruhkan yaitu meminta diruqyah dan meminta dikay, mereka lebih memilih tawakkal daripada mengambil sebab yang makruh tersebut. 24- Adapun mengambil sebab dan berobat dengan cara yang tidak makruh, maka seperti itu boleh dan tidak mencacati tawakkal. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً “Allah tidaklah menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula penawar (obatnya)” (HR. Bukhari no. 5678). 25- ‘Ukkasyah bin Mihshan adalah di antara 70.000 orang tersebut. Ia adalah di antara penunggang kuda terbaik di kalangan Arab dahulu. Beliau mati syahid tahun 12 H ketika berperang bersama Kholid bin Walid memerangi orang-orang yang murtad. 26- Hadits ini menunjukkan boleh meminta do’a pada orang yang punya keutamaan yang lebih seperti yang dilakukan oleh Ukkasyah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 27- Lantas orang berikutnya setelah ‘Ukkasyah ingin meminta lagi pada Nabi agar berdo’a pada Allah supaya ia juga termasuk dalam 70.000 golongan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau sudah kedahuluan oleh ‘Ukkasyah”. Ini adalah cara Nabi supaya yang lainnya tidak meminta seperti itu lagi. Ini menunjukkan kelemah lembutan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akhlak beliau yang baik. 28- Orang yang meminta kedua kalinya bukanlah munafik dengan dua alasan: (a) para sahabat Nabi asalnya bukanlah orang munafik, (2) orang yang meminta seperti itu pada Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berarti yakin akan benarnya Rasul dan itu tidak muncul dari orang munafik. 29- Boleh menolak sesuatu dengan cara yang terlihat seperti berbohong, namun maksudnya tidak demikian. Faedah-faedah di atas diambil dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid karya Syaikh Sulaiman At Tamimi, yang merupakan kitab penjelasan pertama, paling lengkap dan memuaskan dari kitab tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi. — Referensi: At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Darul Imam Al Bukhari, cetakan pertama, tahun 1433 H. Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, terbitan Darush Ash Shomi’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Diselesaikan di Bekasi Timur, Jatimulya, Jl. Cemara 1, di rumah paman tercinta, 15 Safar 1435 H, 07:40 WIB Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanggapan sial surga tawakkal

Rakus Harta dan Kedudukan, Merusak Agama

Rakus Harta & Kedudukan, Merusak Agama Dari Ka’ab bin Malik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ Kerusakan akibat dua serigala lapar yang dilepas di tengah kerumunan kambing, tidaklah lebih besar dibandingkan kerusakan terhadap agama akibat ketamakan manusia untuk meraih dunia dan kedudukan. (HR. Ahmad 15784, Turmudzi 2376, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, فهذا مثلٌ عظيم جدًّا ضربه النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- لفسادِ دينِ المسلم بالحرص عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا، وأن فسادَ الدِّين بذلك ليسَ بدونِ فسادِ الغنم بذئبين جائعين ضاريين يأتيا في الغنمِ، وقد غابَ عنها رعاؤها ليلاً “Ini adalah perumpamaan yang sangat jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggambarkan kerusakan agama seseorang disebabkan ketamakan mereka untuk meraih harta dan kedudukan di dunia. Kerusakan disebabkan ketamakan itu, tidak lebih rendah dibandingkan jumlah kambing yang menjadi korban akibat serangan dua serigala lapar yang sedang mencari makan dan menyerang gerombolan kambing di malam hari, sementara penggembalanya tidak ada. Beliau melanjutkan, يشيرُ إِلَى أنّه لا يسلمُ من دينِ المسلم مع حرصِهِ عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا إلا القليل “Mengisyaratkan bahwa agama seorang muslim tidak akan selamat, kecuali sedikit, selama dia memiliki sifat rakus terhadap harta dan kedudukan di dunia.” [Majmu Rasail Ibnu Rajab, 1/64]. Sebuah Contoh: KH. Hasyim Muzadi bercerita – dalam sebuah pertemuan stadium general di UIN SUKA-, Di Jember para kyai NU pernah mengadakan Bahtsul Masail tentang hukum rokok. pada awalnya kesimpulan fatwa yang mau dikeluarkan merokok adalah makruh tahrim [makruh yang sangat makruh mendekati haram, demikian makna yang biasa dipakai di kalangan Syafiiyyah, beda dengan makna makruh tahrim dalam mazhab Hanafi]. Nah, ternyata salah satu yang hadir di Bahtsul Masail ketika itu adalah seorang pengusaha rokok dengan brand MINNA. sang pengusaha menyampaikan kepada para kyai bahwa jika fatwa hukum merokok adalah makruh tahrim maka gedung NU setempat tidak akan jadi karena beliaulah donaturnya. menindaklanjuti pernyataan sang pengusaha, para kyai berembuk ulang. pada akhirnya disepakati bahwa hukum merokok adalah makruh tahrim kecuali rokok dengan merk MINNA. demikian riwayat bilmakna untuk cerita KH Hasyim Muzadi yang langsung saya dengan sendiri. Ibrah: Demikianlah godaan dunia di hadapan orang-orang yang berilmu. suatu godaan yang bisa dialami oleh siapa pun. Nasalullaha al ‘afiyah was salamah.

Rakus Harta dan Kedudukan, Merusak Agama

Rakus Harta & Kedudukan, Merusak Agama Dari Ka’ab bin Malik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ Kerusakan akibat dua serigala lapar yang dilepas di tengah kerumunan kambing, tidaklah lebih besar dibandingkan kerusakan terhadap agama akibat ketamakan manusia untuk meraih dunia dan kedudukan. (HR. Ahmad 15784, Turmudzi 2376, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, فهذا مثلٌ عظيم جدًّا ضربه النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- لفسادِ دينِ المسلم بالحرص عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا، وأن فسادَ الدِّين بذلك ليسَ بدونِ فسادِ الغنم بذئبين جائعين ضاريين يأتيا في الغنمِ، وقد غابَ عنها رعاؤها ليلاً “Ini adalah perumpamaan yang sangat jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggambarkan kerusakan agama seseorang disebabkan ketamakan mereka untuk meraih harta dan kedudukan di dunia. Kerusakan disebabkan ketamakan itu, tidak lebih rendah dibandingkan jumlah kambing yang menjadi korban akibat serangan dua serigala lapar yang sedang mencari makan dan menyerang gerombolan kambing di malam hari, sementara penggembalanya tidak ada. Beliau melanjutkan, يشيرُ إِلَى أنّه لا يسلمُ من دينِ المسلم مع حرصِهِ عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا إلا القليل “Mengisyaratkan bahwa agama seorang muslim tidak akan selamat, kecuali sedikit, selama dia memiliki sifat rakus terhadap harta dan kedudukan di dunia.” [Majmu Rasail Ibnu Rajab, 1/64]. Sebuah Contoh: KH. Hasyim Muzadi bercerita – dalam sebuah pertemuan stadium general di UIN SUKA-, Di Jember para kyai NU pernah mengadakan Bahtsul Masail tentang hukum rokok. pada awalnya kesimpulan fatwa yang mau dikeluarkan merokok adalah makruh tahrim [makruh yang sangat makruh mendekati haram, demikian makna yang biasa dipakai di kalangan Syafiiyyah, beda dengan makna makruh tahrim dalam mazhab Hanafi]. Nah, ternyata salah satu yang hadir di Bahtsul Masail ketika itu adalah seorang pengusaha rokok dengan brand MINNA. sang pengusaha menyampaikan kepada para kyai bahwa jika fatwa hukum merokok adalah makruh tahrim maka gedung NU setempat tidak akan jadi karena beliaulah donaturnya. menindaklanjuti pernyataan sang pengusaha, para kyai berembuk ulang. pada akhirnya disepakati bahwa hukum merokok adalah makruh tahrim kecuali rokok dengan merk MINNA. demikian riwayat bilmakna untuk cerita KH Hasyim Muzadi yang langsung saya dengan sendiri. Ibrah: Demikianlah godaan dunia di hadapan orang-orang yang berilmu. suatu godaan yang bisa dialami oleh siapa pun. Nasalullaha al ‘afiyah was salamah.
Rakus Harta & Kedudukan, Merusak Agama Dari Ka’ab bin Malik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ Kerusakan akibat dua serigala lapar yang dilepas di tengah kerumunan kambing, tidaklah lebih besar dibandingkan kerusakan terhadap agama akibat ketamakan manusia untuk meraih dunia dan kedudukan. (HR. Ahmad 15784, Turmudzi 2376, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, فهذا مثلٌ عظيم جدًّا ضربه النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- لفسادِ دينِ المسلم بالحرص عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا، وأن فسادَ الدِّين بذلك ليسَ بدونِ فسادِ الغنم بذئبين جائعين ضاريين يأتيا في الغنمِ، وقد غابَ عنها رعاؤها ليلاً “Ini adalah perumpamaan yang sangat jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggambarkan kerusakan agama seseorang disebabkan ketamakan mereka untuk meraih harta dan kedudukan di dunia. Kerusakan disebabkan ketamakan itu, tidak lebih rendah dibandingkan jumlah kambing yang menjadi korban akibat serangan dua serigala lapar yang sedang mencari makan dan menyerang gerombolan kambing di malam hari, sementara penggembalanya tidak ada. Beliau melanjutkan, يشيرُ إِلَى أنّه لا يسلمُ من دينِ المسلم مع حرصِهِ عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا إلا القليل “Mengisyaratkan bahwa agama seorang muslim tidak akan selamat, kecuali sedikit, selama dia memiliki sifat rakus terhadap harta dan kedudukan di dunia.” [Majmu Rasail Ibnu Rajab, 1/64]. Sebuah Contoh: KH. Hasyim Muzadi bercerita – dalam sebuah pertemuan stadium general di UIN SUKA-, Di Jember para kyai NU pernah mengadakan Bahtsul Masail tentang hukum rokok. pada awalnya kesimpulan fatwa yang mau dikeluarkan merokok adalah makruh tahrim [makruh yang sangat makruh mendekati haram, demikian makna yang biasa dipakai di kalangan Syafiiyyah, beda dengan makna makruh tahrim dalam mazhab Hanafi]. Nah, ternyata salah satu yang hadir di Bahtsul Masail ketika itu adalah seorang pengusaha rokok dengan brand MINNA. sang pengusaha menyampaikan kepada para kyai bahwa jika fatwa hukum merokok adalah makruh tahrim maka gedung NU setempat tidak akan jadi karena beliaulah donaturnya. menindaklanjuti pernyataan sang pengusaha, para kyai berembuk ulang. pada akhirnya disepakati bahwa hukum merokok adalah makruh tahrim kecuali rokok dengan merk MINNA. demikian riwayat bilmakna untuk cerita KH Hasyim Muzadi yang langsung saya dengan sendiri. Ibrah: Demikianlah godaan dunia di hadapan orang-orang yang berilmu. suatu godaan yang bisa dialami oleh siapa pun. Nasalullaha al ‘afiyah was salamah.


Rakus Harta & Kedudukan, Merusak Agama Dari Ka’ab bin Malik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ Kerusakan akibat dua serigala lapar yang dilepas di tengah kerumunan kambing, tidaklah lebih besar dibandingkan kerusakan terhadap agama akibat ketamakan manusia untuk meraih dunia dan kedudukan. (HR. Ahmad 15784, Turmudzi 2376, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, فهذا مثلٌ عظيم جدًّا ضربه النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- لفسادِ دينِ المسلم بالحرص عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا، وأن فسادَ الدِّين بذلك ليسَ بدونِ فسادِ الغنم بذئبين جائعين ضاريين يأتيا في الغنمِ، وقد غابَ عنها رعاؤها ليلاً “Ini adalah perumpamaan yang sangat jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggambarkan kerusakan agama seseorang disebabkan ketamakan mereka untuk meraih harta dan kedudukan di dunia. Kerusakan disebabkan ketamakan itu, tidak lebih rendah dibandingkan jumlah kambing yang menjadi korban akibat serangan dua serigala lapar yang sedang mencari makan dan menyerang gerombolan kambing di malam hari, sementara penggembalanya tidak ada. Beliau melanjutkan, يشيرُ إِلَى أنّه لا يسلمُ من دينِ المسلم مع حرصِهِ عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا إلا القليل “Mengisyaratkan bahwa agama seorang muslim tidak akan selamat, kecuali sedikit, selama dia memiliki sifat rakus terhadap harta dan kedudukan di dunia.” [Majmu Rasail Ibnu Rajab, 1/64]. Sebuah Contoh: KH. Hasyim Muzadi bercerita – dalam sebuah pertemuan stadium general di UIN SUKA-, Di Jember para kyai NU pernah mengadakan Bahtsul Masail tentang hukum rokok. pada awalnya kesimpulan fatwa yang mau dikeluarkan merokok adalah makruh tahrim [makruh yang sangat makruh mendekati haram, demikian makna yang biasa dipakai di kalangan Syafiiyyah, beda dengan makna makruh tahrim dalam mazhab Hanafi]. Nah, ternyata salah satu yang hadir di Bahtsul Masail ketika itu adalah seorang pengusaha rokok dengan brand MINNA. sang pengusaha menyampaikan kepada para kyai bahwa jika fatwa hukum merokok adalah makruh tahrim maka gedung NU setempat tidak akan jadi karena beliaulah donaturnya. menindaklanjuti pernyataan sang pengusaha, para kyai berembuk ulang. pada akhirnya disepakati bahwa hukum merokok adalah makruh tahrim kecuali rokok dengan merk MINNA. demikian riwayat bilmakna untuk cerita KH Hasyim Muzadi yang langsung saya dengan sendiri. Ibrah: Demikianlah godaan dunia di hadapan orang-orang yang berilmu. suatu godaan yang bisa dialami oleh siapa pun. Nasalullaha al ‘afiyah was salamah.

Ibarat Menggenggam Bara Api

Ibarat Menggenggam Bara Api Dari Anas bin Malik radhiyallallahu ‘anhu dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasllam beliau bersabda: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ “Akan datang suatu masa,orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang sedang menggenggam bara.” [HR. Ahmad 9073, At-Tirmidzi 2260, dan dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth]. Merekalah orang yang istiqamah di tengah keterasingan. Karena itulah, Allah memberikan pahala besar. Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ. قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ “Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari kesabaran, orang yang sabar pada hari itu bagaikan orang yang menggenggam bara, orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalannya,” Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, lima puluh orang diantara mereka ?,” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Tidak, tapi lima puluh dari kalangan kalian.” (HR. Abu Daud no. 3778, At-Tirmizi no. 2984, dan Ibnu Majah no. 4004) Allahu akbar…! pahala 50 orang di kalangan sahabat. Ibnul Qayyim rahumahullah dalam kitab Madarijus Salikin 3/199 menjelaskan, “Pahala yang besar ini karena keterasingannya di antara manusia dan karena dia berpegang teguhnya dengan Sunnah diantara kegelapan hawa dan akal pikiran.”

Ibarat Menggenggam Bara Api

Ibarat Menggenggam Bara Api Dari Anas bin Malik radhiyallallahu ‘anhu dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasllam beliau bersabda: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ “Akan datang suatu masa,orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang sedang menggenggam bara.” [HR. Ahmad 9073, At-Tirmidzi 2260, dan dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth]. Merekalah orang yang istiqamah di tengah keterasingan. Karena itulah, Allah memberikan pahala besar. Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ. قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ “Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari kesabaran, orang yang sabar pada hari itu bagaikan orang yang menggenggam bara, orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalannya,” Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, lima puluh orang diantara mereka ?,” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Tidak, tapi lima puluh dari kalangan kalian.” (HR. Abu Daud no. 3778, At-Tirmizi no. 2984, dan Ibnu Majah no. 4004) Allahu akbar…! pahala 50 orang di kalangan sahabat. Ibnul Qayyim rahumahullah dalam kitab Madarijus Salikin 3/199 menjelaskan, “Pahala yang besar ini karena keterasingannya di antara manusia dan karena dia berpegang teguhnya dengan Sunnah diantara kegelapan hawa dan akal pikiran.”
Ibarat Menggenggam Bara Api Dari Anas bin Malik radhiyallallahu ‘anhu dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasllam beliau bersabda: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ “Akan datang suatu masa,orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang sedang menggenggam bara.” [HR. Ahmad 9073, At-Tirmidzi 2260, dan dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth]. Merekalah orang yang istiqamah di tengah keterasingan. Karena itulah, Allah memberikan pahala besar. Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ. قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ “Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari kesabaran, orang yang sabar pada hari itu bagaikan orang yang menggenggam bara, orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalannya,” Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, lima puluh orang diantara mereka ?,” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Tidak, tapi lima puluh dari kalangan kalian.” (HR. Abu Daud no. 3778, At-Tirmizi no. 2984, dan Ibnu Majah no. 4004) Allahu akbar…! pahala 50 orang di kalangan sahabat. Ibnul Qayyim rahumahullah dalam kitab Madarijus Salikin 3/199 menjelaskan, “Pahala yang besar ini karena keterasingannya di antara manusia dan karena dia berpegang teguhnya dengan Sunnah diantara kegelapan hawa dan akal pikiran.”


Ibarat Menggenggam Bara Api Dari Anas bin Malik radhiyallallahu ‘anhu dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasllam beliau bersabda: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ “Akan datang suatu masa,orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang sedang menggenggam bara.” [HR. Ahmad 9073, At-Tirmidzi 2260, dan dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth]. Merekalah orang yang istiqamah di tengah keterasingan. Karena itulah, Allah memberikan pahala besar. Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ. قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ “Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari kesabaran, orang yang sabar pada hari itu bagaikan orang yang menggenggam bara, orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalannya,” Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, lima puluh orang diantara mereka ?,” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Tidak, tapi lima puluh dari kalangan kalian.” (HR. Abu Daud no. 3778, At-Tirmizi no. 2984, dan Ibnu Majah no. 4004) Allahu akbar…! pahala 50 orang di kalangan sahabat. Ibnul Qayyim rahumahullah dalam kitab Madarijus Salikin 3/199 menjelaskan, “Pahala yang besar ini karena keterasingannya di antara manusia dan karena dia berpegang teguhnya dengan Sunnah diantara kegelapan hawa dan akal pikiran.”

RENUNGAN BUNDA TENTANG AYAH ::

Anakku…Memang ayah tak mengandungmu,tα̇pi darahnya mengalir didarahmu, namanya melekat dinamamu…Memang ayah tak melahirkanmu,Memang ayah tak menyusuimu,tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu…Nak…Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya… Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaannya dia takut tak sanggup melepaskanmu…Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri…Bunda hanya ingin kau tahu nak…bahwa…Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda…Anakku…Jadi didirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu…(copas)

RENUNGAN BUNDA TENTANG AYAH ::

Anakku…Memang ayah tak mengandungmu,tα̇pi darahnya mengalir didarahmu, namanya melekat dinamamu…Memang ayah tak melahirkanmu,Memang ayah tak menyusuimu,tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu…Nak…Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya… Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaannya dia takut tak sanggup melepaskanmu…Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri…Bunda hanya ingin kau tahu nak…bahwa…Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda…Anakku…Jadi didirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu…(copas)
Anakku…Memang ayah tak mengandungmu,tα̇pi darahnya mengalir didarahmu, namanya melekat dinamamu…Memang ayah tak melahirkanmu,Memang ayah tak menyusuimu,tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu…Nak…Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya… Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaannya dia takut tak sanggup melepaskanmu…Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri…Bunda hanya ingin kau tahu nak…bahwa…Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda…Anakku…Jadi didirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu…(copas)


Anakku…Memang ayah tak mengandungmu,tα̇pi darahnya mengalir didarahmu, namanya melekat dinamamu…Memang ayah tak melahirkanmu,Memang ayah tak menyusuimu,tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu…Nak…Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya… Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaannya dia takut tak sanggup melepaskanmu…Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri…Bunda hanya ingin kau tahu nak…bahwa…Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda…Anakku…Jadi didirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu…(copas)

Dunia

قَدْ نَادَتِ الدُّنْيَا عَلَى نَفْسِهَا ** لَوْ كَانَ فِي الْعَالَمِ مَنْ يَسْمَعُSungguh dunia menyeru terhadap dirinya…. Seandainya di alam ini ada yang mendengar seruannyaكَمْ وَاثِقٍ بِالْعُمْرِ أَفْنَيْتُه ** وَجَامِعٍ بَدّدْتُ مَا يَجْمَعُBetapa banyak orang yang percaya pada umurnya akhirnya meninggal….Dan betapa banyak pengumpul harta kuhancurkan apa yang mereka kumpulkan…Intinya : jangan pernah percaya dengan kesehatanmu bahwa engkau akan panjang umur…Dan jangan pernah percaya terhadap harta yang telah kau kumpulkan akan mengekalkanmu…

Dunia

قَدْ نَادَتِ الدُّنْيَا عَلَى نَفْسِهَا ** لَوْ كَانَ فِي الْعَالَمِ مَنْ يَسْمَعُSungguh dunia menyeru terhadap dirinya…. Seandainya di alam ini ada yang mendengar seruannyaكَمْ وَاثِقٍ بِالْعُمْرِ أَفْنَيْتُه ** وَجَامِعٍ بَدّدْتُ مَا يَجْمَعُBetapa banyak orang yang percaya pada umurnya akhirnya meninggal….Dan betapa banyak pengumpul harta kuhancurkan apa yang mereka kumpulkan…Intinya : jangan pernah percaya dengan kesehatanmu bahwa engkau akan panjang umur…Dan jangan pernah percaya terhadap harta yang telah kau kumpulkan akan mengekalkanmu…
قَدْ نَادَتِ الدُّنْيَا عَلَى نَفْسِهَا ** لَوْ كَانَ فِي الْعَالَمِ مَنْ يَسْمَعُSungguh dunia menyeru terhadap dirinya…. Seandainya di alam ini ada yang mendengar seruannyaكَمْ وَاثِقٍ بِالْعُمْرِ أَفْنَيْتُه ** وَجَامِعٍ بَدّدْتُ مَا يَجْمَعُBetapa banyak orang yang percaya pada umurnya akhirnya meninggal….Dan betapa banyak pengumpul harta kuhancurkan apa yang mereka kumpulkan…Intinya : jangan pernah percaya dengan kesehatanmu bahwa engkau akan panjang umur…Dan jangan pernah percaya terhadap harta yang telah kau kumpulkan akan mengekalkanmu…


قَدْ نَادَتِ الدُّنْيَا عَلَى نَفْسِهَا ** لَوْ كَانَ فِي الْعَالَمِ مَنْ يَسْمَعُSungguh dunia menyeru terhadap dirinya…. Seandainya di alam ini ada yang mendengar seruannyaكَمْ وَاثِقٍ بِالْعُمْرِ أَفْنَيْتُه ** وَجَامِعٍ بَدّدْتُ مَا يَجْمَعُBetapa banyak orang yang percaya pada umurnya akhirnya meninggal….Dan betapa banyak pengumpul harta kuhancurkan apa yang mereka kumpulkan…Intinya : jangan pernah percaya dengan kesehatanmu bahwa engkau akan panjang umur…Dan jangan pernah percaya terhadap harta yang telah kau kumpulkan akan mengekalkanmu…

Tamak vs Qona’ah

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :أمَتُّ مَطَامِعي فأرحْتُ نَفْسي ** فإنَّ النَّفسَ ما طَمعَتْ تهونُAku bunuh sifat tamak yang ada pada diriku, maka akupun menenangkan dirikuKarena jiwa kapan ia tamak maka rendahlah jiwa tersebutوَأَحْيَيْتُ القُنُوع وَكَانَ مَيْتاً ** ففي إحيائهِ عرضٌ مصونُDan aku hidupkan sifat qona’ah pada diriku yang tadinya telah mati….Maka dengan mengidupkannya harga dirikupun terjaga…إذا طمعٌ يحلُ بقلبِ عبدٍ ** عَلَتْهُ مَهَانَةٌ وَعَلاَهُ هُونُJika sifat tamak telah menetap di hati seorang hamba….maka ia akan didominasi oleh kehinaan dan dikuasai kerendahan 

Tamak vs Qona’ah

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :أمَتُّ مَطَامِعي فأرحْتُ نَفْسي ** فإنَّ النَّفسَ ما طَمعَتْ تهونُAku bunuh sifat tamak yang ada pada diriku, maka akupun menenangkan dirikuKarena jiwa kapan ia tamak maka rendahlah jiwa tersebutوَأَحْيَيْتُ القُنُوع وَكَانَ مَيْتاً ** ففي إحيائهِ عرضٌ مصونُDan aku hidupkan sifat qona’ah pada diriku yang tadinya telah mati….Maka dengan mengidupkannya harga dirikupun terjaga…إذا طمعٌ يحلُ بقلبِ عبدٍ ** عَلَتْهُ مَهَانَةٌ وَعَلاَهُ هُونُJika sifat tamak telah menetap di hati seorang hamba….maka ia akan didominasi oleh kehinaan dan dikuasai kerendahan 
Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :أمَتُّ مَطَامِعي فأرحْتُ نَفْسي ** فإنَّ النَّفسَ ما طَمعَتْ تهونُAku bunuh sifat tamak yang ada pada diriku, maka akupun menenangkan dirikuKarena jiwa kapan ia tamak maka rendahlah jiwa tersebutوَأَحْيَيْتُ القُنُوع وَكَانَ مَيْتاً ** ففي إحيائهِ عرضٌ مصونُDan aku hidupkan sifat qona’ah pada diriku yang tadinya telah mati….Maka dengan mengidupkannya harga dirikupun terjaga…إذا طمعٌ يحلُ بقلبِ عبدٍ ** عَلَتْهُ مَهَانَةٌ وَعَلاَهُ هُونُJika sifat tamak telah menetap di hati seorang hamba….maka ia akan didominasi oleh kehinaan dan dikuasai kerendahan 


Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :أمَتُّ مَطَامِعي فأرحْتُ نَفْسي ** فإنَّ النَّفسَ ما طَمعَتْ تهونُAku bunuh sifat tamak yang ada pada diriku, maka akupun menenangkan dirikuKarena jiwa kapan ia tamak maka rendahlah jiwa tersebutوَأَحْيَيْتُ القُنُوع وَكَانَ مَيْتاً ** ففي إحيائهِ عرضٌ مصونُDan aku hidupkan sifat qona’ah pada diriku yang tadinya telah mati….Maka dengan mengidupkannya harga dirikupun terjaga…إذا طمعٌ يحلُ بقلبِ عبدٍ ** عَلَتْهُ مَهَانَةٌ وَعَلاَهُ هُونُJika sifat tamak telah menetap di hati seorang hamba….maka ia akan didominasi oleh kehinaan dan dikuasai kerendahan 

WANITA yang Cantik

WANITA yang Cantik Kulitnya, akan Takut Terbakar Panas Matahari,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Akhlaknya akan Takut Terbakar Api Neraka..WANITA yang Cantik Wajahnya akan Berseri- seri Menikmati Duniawi,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Hatinya akan Tunduk, Patuh dan Takut pada Illahi.WANITA yang Cantik Dirinya, akan Menangis jika Dunia pergi Darinya,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Jiwanya akan tercukupi Hidupnya dengan Aqidahnya..WANITA yang Cantik Hidupnya akan Bangga dengan Kemewahaannya,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik akhiratnya akan Berpuasa dan Bersedekah dengan Hartanya..Dan WANITA yang Cantik Zamannya, akan mengikuti Akal, Nafsu dan Segala kehendaknya,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Waktunya, akan menemukan Hikmah, Ilmu dan Segala Amal Soleh untuknya.. (copas)

WANITA yang Cantik

WANITA yang Cantik Kulitnya, akan Takut Terbakar Panas Matahari,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Akhlaknya akan Takut Terbakar Api Neraka..WANITA yang Cantik Wajahnya akan Berseri- seri Menikmati Duniawi,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Hatinya akan Tunduk, Patuh dan Takut pada Illahi.WANITA yang Cantik Dirinya, akan Menangis jika Dunia pergi Darinya,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Jiwanya akan tercukupi Hidupnya dengan Aqidahnya..WANITA yang Cantik Hidupnya akan Bangga dengan Kemewahaannya,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik akhiratnya akan Berpuasa dan Bersedekah dengan Hartanya..Dan WANITA yang Cantik Zamannya, akan mengikuti Akal, Nafsu dan Segala kehendaknya,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Waktunya, akan menemukan Hikmah, Ilmu dan Segala Amal Soleh untuknya.. (copas)
WANITA yang Cantik Kulitnya, akan Takut Terbakar Panas Matahari,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Akhlaknya akan Takut Terbakar Api Neraka..WANITA yang Cantik Wajahnya akan Berseri- seri Menikmati Duniawi,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Hatinya akan Tunduk, Patuh dan Takut pada Illahi.WANITA yang Cantik Dirinya, akan Menangis jika Dunia pergi Darinya,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Jiwanya akan tercukupi Hidupnya dengan Aqidahnya..WANITA yang Cantik Hidupnya akan Bangga dengan Kemewahaannya,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik akhiratnya akan Berpuasa dan Bersedekah dengan Hartanya..Dan WANITA yang Cantik Zamannya, akan mengikuti Akal, Nafsu dan Segala kehendaknya,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Waktunya, akan menemukan Hikmah, Ilmu dan Segala Amal Soleh untuknya.. (copas)


WANITA yang Cantik Kulitnya, akan Takut Terbakar Panas Matahari,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Akhlaknya akan Takut Terbakar Api Neraka..WANITA yang Cantik Wajahnya akan Berseri- seri Menikmati Duniawi,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Hatinya akan Tunduk, Patuh dan Takut pada Illahi.WANITA yang Cantik Dirinya, akan Menangis jika Dunia pergi Darinya,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Jiwanya akan tercukupi Hidupnya dengan Aqidahnya..WANITA yang Cantik Hidupnya akan Bangga dengan Kemewahaannya,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik akhiratnya akan Berpuasa dan Bersedekah dengan Hartanya..Dan WANITA yang Cantik Zamannya, akan mengikuti Akal, Nafsu dan Segala kehendaknya,,Sedangkan,,WANITA yang Cantik Waktunya, akan menemukan Hikmah, Ilmu dan Segala Amal Soleh untuknya.. (copas)

Karena Ilmu, Beda Status Halal Haram

Karena Ilmu, Beda Status Halal Haram Sesungguhnya Allah menjadikan buruan yang ditangkap oleh anjing yang bodoh sebagai bangkai yang haram dimakan, sebaliknya Allah menghalalkan buruan yang ditangkap oleh anjing yang berilmu. Ini menunjukkan betapa mulianya ilmu. Allah berfirman, أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan hasil buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu ajari dengan melatihnya untuk berburu; menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu waktu melepaskannya. (QS. al-Maidah: 4) Ibnul Qoyim mengatakan, ولو لا مزية العلم والتعليم وشرفهما كان صيد الكلب المعلم والجاهل سواء “Seandainya bukan karena kemuliaan ilmu dan mengajarkan ilmu, niscaya buruan hasil anjing bodoh dan hasil anjing pintar statusnya sama.” [Miftah Dar Sa’adah, Ibnu Qayyim, 1/236]

Karena Ilmu, Beda Status Halal Haram

Karena Ilmu, Beda Status Halal Haram Sesungguhnya Allah menjadikan buruan yang ditangkap oleh anjing yang bodoh sebagai bangkai yang haram dimakan, sebaliknya Allah menghalalkan buruan yang ditangkap oleh anjing yang berilmu. Ini menunjukkan betapa mulianya ilmu. Allah berfirman, أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan hasil buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu ajari dengan melatihnya untuk berburu; menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu waktu melepaskannya. (QS. al-Maidah: 4) Ibnul Qoyim mengatakan, ولو لا مزية العلم والتعليم وشرفهما كان صيد الكلب المعلم والجاهل سواء “Seandainya bukan karena kemuliaan ilmu dan mengajarkan ilmu, niscaya buruan hasil anjing bodoh dan hasil anjing pintar statusnya sama.” [Miftah Dar Sa’adah, Ibnu Qayyim, 1/236]
Karena Ilmu, Beda Status Halal Haram Sesungguhnya Allah menjadikan buruan yang ditangkap oleh anjing yang bodoh sebagai bangkai yang haram dimakan, sebaliknya Allah menghalalkan buruan yang ditangkap oleh anjing yang berilmu. Ini menunjukkan betapa mulianya ilmu. Allah berfirman, أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan hasil buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu ajari dengan melatihnya untuk berburu; menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu waktu melepaskannya. (QS. al-Maidah: 4) Ibnul Qoyim mengatakan, ولو لا مزية العلم والتعليم وشرفهما كان صيد الكلب المعلم والجاهل سواء “Seandainya bukan karena kemuliaan ilmu dan mengajarkan ilmu, niscaya buruan hasil anjing bodoh dan hasil anjing pintar statusnya sama.” [Miftah Dar Sa’adah, Ibnu Qayyim, 1/236]


Karena Ilmu, Beda Status Halal Haram Sesungguhnya Allah menjadikan buruan yang ditangkap oleh anjing yang bodoh sebagai bangkai yang haram dimakan, sebaliknya Allah menghalalkan buruan yang ditangkap oleh anjing yang berilmu. Ini menunjukkan betapa mulianya ilmu. Allah berfirman, أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan hasil buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu ajari dengan melatihnya untuk berburu; menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu waktu melepaskannya. (QS. al-Maidah: 4) Ibnul Qoyim mengatakan, ولو لا مزية العلم والتعليم وشرفهما كان صيد الكلب المعلم والجاهل سواء “Seandainya bukan karena kemuliaan ilmu dan mengajarkan ilmu, niscaya buruan hasil anjing bodoh dan hasil anjing pintar statusnya sama.” [Miftah Dar Sa’adah, Ibnu Qayyim, 1/236]

GILA-kah ANDA?

Ibnu Hazm rahimahullah berkata :الْعقْلُ وَالرَّاحَةُ وَهُوَ إِطْرَاحُ الْمُبَالاَةِ بِكَلَامِ النَّاس وَاسْتِعْمَال المبالاة بِكَلَام الْخَالِق عَزَّ وَجل، بَلْ هَذَا بَاب الْعقل والراحة كلهَا، مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Kecerdasan dan rileks (istirahat) adalah dengan sikap tidak peduli (cuek bebek) terhadap perkataan/komentar manusia dan dengan memperdulikan/memperhatikan perkataan sang Pencipta Azza wa Jalla. Ini adalah pintu kecerdasan dan seluruh peristirahatan. Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaaq wa As-Siyar fi mudawaatin nufuus hal 17)Sungguh benar pernyataan Ibnu Hazm di atas…, betapapun baik diri anda dan betapa dermawan dan mulia, tetap anda tidak mungkin selamat dari celaan manusia. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terkumpulkan padanya banyak sifat yang mulia, kecerdasan, kedermawanan, kelembutan, kefasihan, kemampuan berhujjah…toh beliau tetap dikatakan orang gila, penyair gila, penyihir, bahkan tersihir..!!!Karenanya anda tidak akan selamat dari perkataan manusia –sama saja apakah kondisi anda sebagai orang baik maupun sebagai orang buruk-. Jika anda baik, maka akan dicela oleh orang-orang yang buruk. Namun jika anda buruk maka anda akan dicela oleh orang-orang yang baik. Terlebih lagi banyak manusia –baik manusia baik maupun bejat- yang hobinya mengomentari orang lain !!. Jangakan orang yang masih hidup…, bahkan mayat yang telah terpendam berabad-abad pun tidak selamat dari ocehan dan komentar mereka.Sebagaimana dikatakan :رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Keridhoan manusia adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai”Jika perkaranya demikian –yaitu bagaimanapun keadaan anda tetap akan dicela dan dihina- maka hendaknya anda mencari keridhoan Allah. Maka disitulah anda akan menemukan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan. Hati anda akan rileks dan santai, tidak sibuk memikirkan komentar-komentar orang yang memuji anda, apalagi komentar orang-orang yang memusuhi Anda.Ibnu Abdis Salaam (Sulthoonul Ulamaa’) rahimahullah berkata :وَفِي رِضَا اللهِ كِفَايَةٌ عَنْ رِضَا كُلِّ أَحَدٍ :Keridoan Allah mencukupkan dari membutuhkan keridhoan siapapun…فَلَيْتَكَ تَحْلُو ، وَالحَيَاةُ مَرِيرَةٌ ، ** وَلَيْتَكَ تَرْضَى وَالأَنَامُ غِضَابُDuhai seandainya Engkau manis/ridho meskipun kehidupan ini pahit…Duhai seandainya Engkau ridho meskipun seluruh manusia marah…(Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/228)Sungguh Terhina…Benar…sungguh terhina seseorang yang mencari keridhoan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah !!!.Dalam sunan At-Tirimidzi:كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ أَنِ اكْتُبِي إِلَيَّ كِتَابًا تُوصِينِي فِيهِ، وَلَا تُكْثِرِي عَلَيَّ، فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ إِلَى مُعَاوِيَةَ: سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ»Mu’awiyah menulis surat kepada Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anhaa (seraya berkata) : “Tulislah untukku sebuah tulisan berisikan wasiatmu kepadaku, akan tetapi jangan panjang-panjang !”.Maka Aisyahpun menulis kepada Mu’awiyah : “Assalamu ‘alaikum, Amma ba’du : Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ((Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia)). Wassalaamu’alaika” (HR At-Tirmidzi no 2414 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albaani)Dalam riwayat yang lain :مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى الناس عنه ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناس“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan)  kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya dan Allah menjadikan manusia ridho kepadanya. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan akan menjadikan manusia marah kepadanya” (HR Ibnu Hibaan no 276)Jika seseorang nekat melakukan kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan Allah agar ia diridhoi oleh manusia dan tidak dibenci oleh mereka, maka ia telah menyebabkan kemurkaan Allah dan juga kemurkaan manusia, meskipun beberapa saat ia akan meraih keridhoan manusia akan tetapi itu hanyalah fatamorgana.Kalaupun ia selamat dari cercaan manusia yang ia harapakan keridhoannya, maka ia tidak akan selamat dari cercaan manusia yang lain.Kalaupun ia selamat dari seluruh cercaan manusia…maka tidak mungkin akan berlanjut keselamatan tersebut hingga akhir hidupnya. Suatu saat, cepat atau lambat maka Allah akan menjadikan manusia membencinya…!!. Sungguh telah berkali-kali kita mendapati sebagian orang yang dahulunya sangat dicintai, seluruh perkataannya diambil dan dijadikan dalil…, namun sekarang justru orang-orang yang dahulunya menyanjung-nyanjungnya malah berbalik menjatuhkan dan mencelanya…Kalaupun ia selamat di dunia dari ocehan manusia hingga akhir hidupnya, maka ia tidak akan bisa selamat dari kemarahan Allah pada hari kiamat kelak. Karenanya :Janganlah engkau ikut berghibah riya hanya agar sahabatmu yang sedang menggibah saudaramu senang, dan merasa engkau ikut serta dalam pembicaraannya. Akan tetapi tegurlah dia, belalah kehormatan saudaramu..meskipun bisa jadi mengakibatkan ia marah dan membencimu. Inilah penerapan “Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia”Janganlah engkau ikut-ikutan mentahdzir seseorang yang engkau tidak memiliki keyakinan pasti akan kesesatannya, hanya sekedar karena ingin selamat dari para sahabatmu yang suka mentahdzir. Justru tegurlah mereka yang suka memakan bangkai saudaranya meskipun mereka marah padamu. Adapun jika engkau yakin dan pasti -bukan karena perasaan dan persangkaan, atau bila perlu engkau melihat kesesatannya secara langsung bukan melalui perantara-, maka silahkanlah engkau mentahdzir dan tidak usah pedulikan ocehan manusia.Adapun seseorang yang ikut berghibah ria atau ikut-ikutan mentahdzir ala MLM hanya karena nggak enak sama ustadznya, atau takut ditahdzir sama syaikhnya…maka ketahuilah bahwasanya ustadz dan syaikhnya tersebut tidak akan memperdulikannya pada hari kiamat kelak…hari persidangan Allah Ta’aala.Tunjukkanlah bahwa anda adalah seorang yang bertauhid dan berusaha meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Dan diantara bentuk syirik kecil adalah beramal sholeh demi mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Demikian juga diantara syirik kecil adalah mentahdzir dan mentabdi’ serta menyatakan sesat kepada orang yang tidak pantas untuk dikatakan demikian hanya karena takut ditahdzir oleh manusia. Akan tetapi jika anda yakin –tanpa ragu- serta anda melihat adanya kemaslahatan yang pasti maka silahkanlah mentahdzir dan mentabdi’ sepuas-puasya !!!.Jika anda dicerca dan dihinakan karena tidak menjatuhkan harga diri saudara anda bahkan karena membela harga diri saudara anda, maka ingatlah cercaan manusia tidak akan memberi kemudorotan kepada anda, karena hal ini telah dijamin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia”Ingatlah kapan saja anda berfikir bahwa dengan ikut-ikutan mengghibah dan mentahdzir maka anda akan selamat dari cercaan manusia, maka ketahuilah saat itu anda sedang berperan menjadi orang gila –sebagaimana pernyataan Ibnu Hazm rahimahullah-. Wallahu A’lam bis-showaab.Diantara praktik para ulama akan hal ini adalah apa yang diterapkan oleh As-Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizohulloh (yang pernah menjabat sebagai anggota al-Lajnah Ad-Daaimah dan kibarul ulama), yang telah menulis sebuah risalah tentang masalah keimanan, dimana beliau tidak sepakat dengan Syaikh Ali Hasan hafizohulloh tentang permasalahan keimanan. Tatkala beliau akan mengisi dauroh dan semajelis dengan syaikh Ali Hasan, maka sebagian ikhwan (du’at) menasehati beliau, dan mengkhawatirkan beliau akan dicerca setelah itu. Kekhawatiran ini disampaikan langsung kepada beliau, yang membuat beliau sempat berfikir panjang. Akan tetapi beliau tetap ingin berangkat ke Surabaya. Bahkan tatkala ada seorang ustadz yang lain menyampaikan hal ini kembali kepada beliau, maka beliau menjawab dengan menyebutkan hadits :“Barang siapa yang mencari kerdhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya”. Maka terdiamlah sang ustadz mendengar jawaban beliau yang penuh keyakinan tersebut.Saya sendiri mendengar langsung tatkala beliau diminta oleh orang Arab agar tidak berangkat ke Surabaya, maka beliau menjawab dengan tegas : “Syaikh Ali Hasan adalah saudara kita, salafi aqidahnya, meskipun ia menyelisihi kita dalam sebagian permasalahan, akan tetapi kita saling menasehati, dan tidaklah perpecahan kita kecuali menyenangkan ahlul bid’ah”. Hafizokallahu syaikhonaa…

GILA-kah ANDA?

Ibnu Hazm rahimahullah berkata :الْعقْلُ وَالرَّاحَةُ وَهُوَ إِطْرَاحُ الْمُبَالاَةِ بِكَلَامِ النَّاس وَاسْتِعْمَال المبالاة بِكَلَام الْخَالِق عَزَّ وَجل، بَلْ هَذَا بَاب الْعقل والراحة كلهَا، مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Kecerdasan dan rileks (istirahat) adalah dengan sikap tidak peduli (cuek bebek) terhadap perkataan/komentar manusia dan dengan memperdulikan/memperhatikan perkataan sang Pencipta Azza wa Jalla. Ini adalah pintu kecerdasan dan seluruh peristirahatan. Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaaq wa As-Siyar fi mudawaatin nufuus hal 17)Sungguh benar pernyataan Ibnu Hazm di atas…, betapapun baik diri anda dan betapa dermawan dan mulia, tetap anda tidak mungkin selamat dari celaan manusia. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terkumpulkan padanya banyak sifat yang mulia, kecerdasan, kedermawanan, kelembutan, kefasihan, kemampuan berhujjah…toh beliau tetap dikatakan orang gila, penyair gila, penyihir, bahkan tersihir..!!!Karenanya anda tidak akan selamat dari perkataan manusia –sama saja apakah kondisi anda sebagai orang baik maupun sebagai orang buruk-. Jika anda baik, maka akan dicela oleh orang-orang yang buruk. Namun jika anda buruk maka anda akan dicela oleh orang-orang yang baik. Terlebih lagi banyak manusia –baik manusia baik maupun bejat- yang hobinya mengomentari orang lain !!. Jangakan orang yang masih hidup…, bahkan mayat yang telah terpendam berabad-abad pun tidak selamat dari ocehan dan komentar mereka.Sebagaimana dikatakan :رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Keridhoan manusia adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai”Jika perkaranya demikian –yaitu bagaimanapun keadaan anda tetap akan dicela dan dihina- maka hendaknya anda mencari keridhoan Allah. Maka disitulah anda akan menemukan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan. Hati anda akan rileks dan santai, tidak sibuk memikirkan komentar-komentar orang yang memuji anda, apalagi komentar orang-orang yang memusuhi Anda.Ibnu Abdis Salaam (Sulthoonul Ulamaa’) rahimahullah berkata :وَفِي رِضَا اللهِ كِفَايَةٌ عَنْ رِضَا كُلِّ أَحَدٍ :Keridoan Allah mencukupkan dari membutuhkan keridhoan siapapun…فَلَيْتَكَ تَحْلُو ، وَالحَيَاةُ مَرِيرَةٌ ، ** وَلَيْتَكَ تَرْضَى وَالأَنَامُ غِضَابُDuhai seandainya Engkau manis/ridho meskipun kehidupan ini pahit…Duhai seandainya Engkau ridho meskipun seluruh manusia marah…(Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/228)Sungguh Terhina…Benar…sungguh terhina seseorang yang mencari keridhoan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah !!!.Dalam sunan At-Tirimidzi:كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ أَنِ اكْتُبِي إِلَيَّ كِتَابًا تُوصِينِي فِيهِ، وَلَا تُكْثِرِي عَلَيَّ، فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ إِلَى مُعَاوِيَةَ: سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ»Mu’awiyah menulis surat kepada Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anhaa (seraya berkata) : “Tulislah untukku sebuah tulisan berisikan wasiatmu kepadaku, akan tetapi jangan panjang-panjang !”.Maka Aisyahpun menulis kepada Mu’awiyah : “Assalamu ‘alaikum, Amma ba’du : Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ((Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia)). Wassalaamu’alaika” (HR At-Tirmidzi no 2414 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albaani)Dalam riwayat yang lain :مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى الناس عنه ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناس“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan)  kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya dan Allah menjadikan manusia ridho kepadanya. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan akan menjadikan manusia marah kepadanya” (HR Ibnu Hibaan no 276)Jika seseorang nekat melakukan kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan Allah agar ia diridhoi oleh manusia dan tidak dibenci oleh mereka, maka ia telah menyebabkan kemurkaan Allah dan juga kemurkaan manusia, meskipun beberapa saat ia akan meraih keridhoan manusia akan tetapi itu hanyalah fatamorgana.Kalaupun ia selamat dari cercaan manusia yang ia harapakan keridhoannya, maka ia tidak akan selamat dari cercaan manusia yang lain.Kalaupun ia selamat dari seluruh cercaan manusia…maka tidak mungkin akan berlanjut keselamatan tersebut hingga akhir hidupnya. Suatu saat, cepat atau lambat maka Allah akan menjadikan manusia membencinya…!!. Sungguh telah berkali-kali kita mendapati sebagian orang yang dahulunya sangat dicintai, seluruh perkataannya diambil dan dijadikan dalil…, namun sekarang justru orang-orang yang dahulunya menyanjung-nyanjungnya malah berbalik menjatuhkan dan mencelanya…Kalaupun ia selamat di dunia dari ocehan manusia hingga akhir hidupnya, maka ia tidak akan bisa selamat dari kemarahan Allah pada hari kiamat kelak. Karenanya :Janganlah engkau ikut berghibah riya hanya agar sahabatmu yang sedang menggibah saudaramu senang, dan merasa engkau ikut serta dalam pembicaraannya. Akan tetapi tegurlah dia, belalah kehormatan saudaramu..meskipun bisa jadi mengakibatkan ia marah dan membencimu. Inilah penerapan “Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia”Janganlah engkau ikut-ikutan mentahdzir seseorang yang engkau tidak memiliki keyakinan pasti akan kesesatannya, hanya sekedar karena ingin selamat dari para sahabatmu yang suka mentahdzir. Justru tegurlah mereka yang suka memakan bangkai saudaranya meskipun mereka marah padamu. Adapun jika engkau yakin dan pasti -bukan karena perasaan dan persangkaan, atau bila perlu engkau melihat kesesatannya secara langsung bukan melalui perantara-, maka silahkanlah engkau mentahdzir dan tidak usah pedulikan ocehan manusia.Adapun seseorang yang ikut berghibah ria atau ikut-ikutan mentahdzir ala MLM hanya karena nggak enak sama ustadznya, atau takut ditahdzir sama syaikhnya…maka ketahuilah bahwasanya ustadz dan syaikhnya tersebut tidak akan memperdulikannya pada hari kiamat kelak…hari persidangan Allah Ta’aala.Tunjukkanlah bahwa anda adalah seorang yang bertauhid dan berusaha meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Dan diantara bentuk syirik kecil adalah beramal sholeh demi mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Demikian juga diantara syirik kecil adalah mentahdzir dan mentabdi’ serta menyatakan sesat kepada orang yang tidak pantas untuk dikatakan demikian hanya karena takut ditahdzir oleh manusia. Akan tetapi jika anda yakin –tanpa ragu- serta anda melihat adanya kemaslahatan yang pasti maka silahkanlah mentahdzir dan mentabdi’ sepuas-puasya !!!.Jika anda dicerca dan dihinakan karena tidak menjatuhkan harga diri saudara anda bahkan karena membela harga diri saudara anda, maka ingatlah cercaan manusia tidak akan memberi kemudorotan kepada anda, karena hal ini telah dijamin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia”Ingatlah kapan saja anda berfikir bahwa dengan ikut-ikutan mengghibah dan mentahdzir maka anda akan selamat dari cercaan manusia, maka ketahuilah saat itu anda sedang berperan menjadi orang gila –sebagaimana pernyataan Ibnu Hazm rahimahullah-. Wallahu A’lam bis-showaab.Diantara praktik para ulama akan hal ini adalah apa yang diterapkan oleh As-Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizohulloh (yang pernah menjabat sebagai anggota al-Lajnah Ad-Daaimah dan kibarul ulama), yang telah menulis sebuah risalah tentang masalah keimanan, dimana beliau tidak sepakat dengan Syaikh Ali Hasan hafizohulloh tentang permasalahan keimanan. Tatkala beliau akan mengisi dauroh dan semajelis dengan syaikh Ali Hasan, maka sebagian ikhwan (du’at) menasehati beliau, dan mengkhawatirkan beliau akan dicerca setelah itu. Kekhawatiran ini disampaikan langsung kepada beliau, yang membuat beliau sempat berfikir panjang. Akan tetapi beliau tetap ingin berangkat ke Surabaya. Bahkan tatkala ada seorang ustadz yang lain menyampaikan hal ini kembali kepada beliau, maka beliau menjawab dengan menyebutkan hadits :“Barang siapa yang mencari kerdhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya”. Maka terdiamlah sang ustadz mendengar jawaban beliau yang penuh keyakinan tersebut.Saya sendiri mendengar langsung tatkala beliau diminta oleh orang Arab agar tidak berangkat ke Surabaya, maka beliau menjawab dengan tegas : “Syaikh Ali Hasan adalah saudara kita, salafi aqidahnya, meskipun ia menyelisihi kita dalam sebagian permasalahan, akan tetapi kita saling menasehati, dan tidaklah perpecahan kita kecuali menyenangkan ahlul bid’ah”. Hafizokallahu syaikhonaa…
Ibnu Hazm rahimahullah berkata :الْعقْلُ وَالرَّاحَةُ وَهُوَ إِطْرَاحُ الْمُبَالاَةِ بِكَلَامِ النَّاس وَاسْتِعْمَال المبالاة بِكَلَام الْخَالِق عَزَّ وَجل، بَلْ هَذَا بَاب الْعقل والراحة كلهَا، مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Kecerdasan dan rileks (istirahat) adalah dengan sikap tidak peduli (cuek bebek) terhadap perkataan/komentar manusia dan dengan memperdulikan/memperhatikan perkataan sang Pencipta Azza wa Jalla. Ini adalah pintu kecerdasan dan seluruh peristirahatan. Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaaq wa As-Siyar fi mudawaatin nufuus hal 17)Sungguh benar pernyataan Ibnu Hazm di atas…, betapapun baik diri anda dan betapa dermawan dan mulia, tetap anda tidak mungkin selamat dari celaan manusia. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terkumpulkan padanya banyak sifat yang mulia, kecerdasan, kedermawanan, kelembutan, kefasihan, kemampuan berhujjah…toh beliau tetap dikatakan orang gila, penyair gila, penyihir, bahkan tersihir..!!!Karenanya anda tidak akan selamat dari perkataan manusia –sama saja apakah kondisi anda sebagai orang baik maupun sebagai orang buruk-. Jika anda baik, maka akan dicela oleh orang-orang yang buruk. Namun jika anda buruk maka anda akan dicela oleh orang-orang yang baik. Terlebih lagi banyak manusia –baik manusia baik maupun bejat- yang hobinya mengomentari orang lain !!. Jangakan orang yang masih hidup…, bahkan mayat yang telah terpendam berabad-abad pun tidak selamat dari ocehan dan komentar mereka.Sebagaimana dikatakan :رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Keridhoan manusia adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai”Jika perkaranya demikian –yaitu bagaimanapun keadaan anda tetap akan dicela dan dihina- maka hendaknya anda mencari keridhoan Allah. Maka disitulah anda akan menemukan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan. Hati anda akan rileks dan santai, tidak sibuk memikirkan komentar-komentar orang yang memuji anda, apalagi komentar orang-orang yang memusuhi Anda.Ibnu Abdis Salaam (Sulthoonul Ulamaa’) rahimahullah berkata :وَفِي رِضَا اللهِ كِفَايَةٌ عَنْ رِضَا كُلِّ أَحَدٍ :Keridoan Allah mencukupkan dari membutuhkan keridhoan siapapun…فَلَيْتَكَ تَحْلُو ، وَالحَيَاةُ مَرِيرَةٌ ، ** وَلَيْتَكَ تَرْضَى وَالأَنَامُ غِضَابُDuhai seandainya Engkau manis/ridho meskipun kehidupan ini pahit…Duhai seandainya Engkau ridho meskipun seluruh manusia marah…(Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/228)Sungguh Terhina…Benar…sungguh terhina seseorang yang mencari keridhoan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah !!!.Dalam sunan At-Tirimidzi:كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ أَنِ اكْتُبِي إِلَيَّ كِتَابًا تُوصِينِي فِيهِ، وَلَا تُكْثِرِي عَلَيَّ، فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ إِلَى مُعَاوِيَةَ: سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ»Mu’awiyah menulis surat kepada Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anhaa (seraya berkata) : “Tulislah untukku sebuah tulisan berisikan wasiatmu kepadaku, akan tetapi jangan panjang-panjang !”.Maka Aisyahpun menulis kepada Mu’awiyah : “Assalamu ‘alaikum, Amma ba’du : Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ((Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia)). Wassalaamu’alaika” (HR At-Tirmidzi no 2414 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albaani)Dalam riwayat yang lain :مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى الناس عنه ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناس“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan)  kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya dan Allah menjadikan manusia ridho kepadanya. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan akan menjadikan manusia marah kepadanya” (HR Ibnu Hibaan no 276)Jika seseorang nekat melakukan kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan Allah agar ia diridhoi oleh manusia dan tidak dibenci oleh mereka, maka ia telah menyebabkan kemurkaan Allah dan juga kemurkaan manusia, meskipun beberapa saat ia akan meraih keridhoan manusia akan tetapi itu hanyalah fatamorgana.Kalaupun ia selamat dari cercaan manusia yang ia harapakan keridhoannya, maka ia tidak akan selamat dari cercaan manusia yang lain.Kalaupun ia selamat dari seluruh cercaan manusia…maka tidak mungkin akan berlanjut keselamatan tersebut hingga akhir hidupnya. Suatu saat, cepat atau lambat maka Allah akan menjadikan manusia membencinya…!!. Sungguh telah berkali-kali kita mendapati sebagian orang yang dahulunya sangat dicintai, seluruh perkataannya diambil dan dijadikan dalil…, namun sekarang justru orang-orang yang dahulunya menyanjung-nyanjungnya malah berbalik menjatuhkan dan mencelanya…Kalaupun ia selamat di dunia dari ocehan manusia hingga akhir hidupnya, maka ia tidak akan bisa selamat dari kemarahan Allah pada hari kiamat kelak. Karenanya :Janganlah engkau ikut berghibah riya hanya agar sahabatmu yang sedang menggibah saudaramu senang, dan merasa engkau ikut serta dalam pembicaraannya. Akan tetapi tegurlah dia, belalah kehormatan saudaramu..meskipun bisa jadi mengakibatkan ia marah dan membencimu. Inilah penerapan “Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia”Janganlah engkau ikut-ikutan mentahdzir seseorang yang engkau tidak memiliki keyakinan pasti akan kesesatannya, hanya sekedar karena ingin selamat dari para sahabatmu yang suka mentahdzir. Justru tegurlah mereka yang suka memakan bangkai saudaranya meskipun mereka marah padamu. Adapun jika engkau yakin dan pasti -bukan karena perasaan dan persangkaan, atau bila perlu engkau melihat kesesatannya secara langsung bukan melalui perantara-, maka silahkanlah engkau mentahdzir dan tidak usah pedulikan ocehan manusia.Adapun seseorang yang ikut berghibah ria atau ikut-ikutan mentahdzir ala MLM hanya karena nggak enak sama ustadznya, atau takut ditahdzir sama syaikhnya…maka ketahuilah bahwasanya ustadz dan syaikhnya tersebut tidak akan memperdulikannya pada hari kiamat kelak…hari persidangan Allah Ta’aala.Tunjukkanlah bahwa anda adalah seorang yang bertauhid dan berusaha meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Dan diantara bentuk syirik kecil adalah beramal sholeh demi mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Demikian juga diantara syirik kecil adalah mentahdzir dan mentabdi’ serta menyatakan sesat kepada orang yang tidak pantas untuk dikatakan demikian hanya karena takut ditahdzir oleh manusia. Akan tetapi jika anda yakin –tanpa ragu- serta anda melihat adanya kemaslahatan yang pasti maka silahkanlah mentahdzir dan mentabdi’ sepuas-puasya !!!.Jika anda dicerca dan dihinakan karena tidak menjatuhkan harga diri saudara anda bahkan karena membela harga diri saudara anda, maka ingatlah cercaan manusia tidak akan memberi kemudorotan kepada anda, karena hal ini telah dijamin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia”Ingatlah kapan saja anda berfikir bahwa dengan ikut-ikutan mengghibah dan mentahdzir maka anda akan selamat dari cercaan manusia, maka ketahuilah saat itu anda sedang berperan menjadi orang gila –sebagaimana pernyataan Ibnu Hazm rahimahullah-. Wallahu A’lam bis-showaab.Diantara praktik para ulama akan hal ini adalah apa yang diterapkan oleh As-Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizohulloh (yang pernah menjabat sebagai anggota al-Lajnah Ad-Daaimah dan kibarul ulama), yang telah menulis sebuah risalah tentang masalah keimanan, dimana beliau tidak sepakat dengan Syaikh Ali Hasan hafizohulloh tentang permasalahan keimanan. Tatkala beliau akan mengisi dauroh dan semajelis dengan syaikh Ali Hasan, maka sebagian ikhwan (du’at) menasehati beliau, dan mengkhawatirkan beliau akan dicerca setelah itu. Kekhawatiran ini disampaikan langsung kepada beliau, yang membuat beliau sempat berfikir panjang. Akan tetapi beliau tetap ingin berangkat ke Surabaya. Bahkan tatkala ada seorang ustadz yang lain menyampaikan hal ini kembali kepada beliau, maka beliau menjawab dengan menyebutkan hadits :“Barang siapa yang mencari kerdhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya”. Maka terdiamlah sang ustadz mendengar jawaban beliau yang penuh keyakinan tersebut.Saya sendiri mendengar langsung tatkala beliau diminta oleh orang Arab agar tidak berangkat ke Surabaya, maka beliau menjawab dengan tegas : “Syaikh Ali Hasan adalah saudara kita, salafi aqidahnya, meskipun ia menyelisihi kita dalam sebagian permasalahan, akan tetapi kita saling menasehati, dan tidaklah perpecahan kita kecuali menyenangkan ahlul bid’ah”. Hafizokallahu syaikhonaa…


Ibnu Hazm rahimahullah berkata :الْعقْلُ وَالرَّاحَةُ وَهُوَ إِطْرَاحُ الْمُبَالاَةِ بِكَلَامِ النَّاس وَاسْتِعْمَال المبالاة بِكَلَام الْخَالِق عَزَّ وَجل، بَلْ هَذَا بَاب الْعقل والراحة كلهَا، مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Kecerdasan dan rileks (istirahat) adalah dengan sikap tidak peduli (cuek bebek) terhadap perkataan/komentar manusia dan dengan memperdulikan/memperhatikan perkataan sang Pencipta Azza wa Jalla. Ini adalah pintu kecerdasan dan seluruh peristirahatan. Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaaq wa As-Siyar fi mudawaatin nufuus hal 17)Sungguh benar pernyataan Ibnu Hazm di atas…, betapapun baik diri anda dan betapa dermawan dan mulia, tetap anda tidak mungkin selamat dari celaan manusia. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terkumpulkan padanya banyak sifat yang mulia, kecerdasan, kedermawanan, kelembutan, kefasihan, kemampuan berhujjah…toh beliau tetap dikatakan orang gila, penyair gila, penyihir, bahkan tersihir..!!!Karenanya anda tidak akan selamat dari perkataan manusia –sama saja apakah kondisi anda sebagai orang baik maupun sebagai orang buruk-. Jika anda baik, maka akan dicela oleh orang-orang yang buruk. Namun jika anda buruk maka anda akan dicela oleh orang-orang yang baik. Terlebih lagi banyak manusia –baik manusia baik maupun bejat- yang hobinya mengomentari orang lain !!. Jangakan orang yang masih hidup…, bahkan mayat yang telah terpendam berabad-abad pun tidak selamat dari ocehan dan komentar mereka.Sebagaimana dikatakan :رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Keridhoan manusia adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai”Jika perkaranya demikian –yaitu bagaimanapun keadaan anda tetap akan dicela dan dihina- maka hendaknya anda mencari keridhoan Allah. Maka disitulah anda akan menemukan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan. Hati anda akan rileks dan santai, tidak sibuk memikirkan komentar-komentar orang yang memuji anda, apalagi komentar orang-orang yang memusuhi Anda.Ibnu Abdis Salaam (Sulthoonul Ulamaa’) rahimahullah berkata :وَفِي رِضَا اللهِ كِفَايَةٌ عَنْ رِضَا كُلِّ أَحَدٍ :Keridoan Allah mencukupkan dari membutuhkan keridhoan siapapun…فَلَيْتَكَ تَحْلُو ، وَالحَيَاةُ مَرِيرَةٌ ، ** وَلَيْتَكَ تَرْضَى وَالأَنَامُ غِضَابُDuhai seandainya Engkau manis/ridho meskipun kehidupan ini pahit…Duhai seandainya Engkau ridho meskipun seluruh manusia marah…(Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/228)Sungguh Terhina…Benar…sungguh terhina seseorang yang mencari keridhoan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah !!!.Dalam sunan At-Tirimidzi:كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ أَنِ اكْتُبِي إِلَيَّ كِتَابًا تُوصِينِي فِيهِ، وَلَا تُكْثِرِي عَلَيَّ، فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ إِلَى مُعَاوِيَةَ: سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ»Mu’awiyah menulis surat kepada Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anhaa (seraya berkata) : “Tulislah untukku sebuah tulisan berisikan wasiatmu kepadaku, akan tetapi jangan panjang-panjang !”.Maka Aisyahpun menulis kepada Mu’awiyah : “Assalamu ‘alaikum, Amma ba’du : Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ((Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia)). Wassalaamu’alaika” (HR At-Tirmidzi no 2414 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albaani)Dalam riwayat yang lain :مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى الناس عنه ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناس“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan)  kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya dan Allah menjadikan manusia ridho kepadanya. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan akan menjadikan manusia marah kepadanya” (HR Ibnu Hibaan no 276)Jika seseorang nekat melakukan kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan Allah agar ia diridhoi oleh manusia dan tidak dibenci oleh mereka, maka ia telah menyebabkan kemurkaan Allah dan juga kemurkaan manusia, meskipun beberapa saat ia akan meraih keridhoan manusia akan tetapi itu hanyalah fatamorgana.Kalaupun ia selamat dari cercaan manusia yang ia harapakan keridhoannya, maka ia tidak akan selamat dari cercaan manusia yang lain.Kalaupun ia selamat dari seluruh cercaan manusia…maka tidak mungkin akan berlanjut keselamatan tersebut hingga akhir hidupnya. Suatu saat, cepat atau lambat maka Allah akan menjadikan manusia membencinya…!!. Sungguh telah berkali-kali kita mendapati sebagian orang yang dahulunya sangat dicintai, seluruh perkataannya diambil dan dijadikan dalil…, namun sekarang justru orang-orang yang dahulunya menyanjung-nyanjungnya malah berbalik menjatuhkan dan mencelanya…Kalaupun ia selamat di dunia dari ocehan manusia hingga akhir hidupnya, maka ia tidak akan bisa selamat dari kemarahan Allah pada hari kiamat kelak. Karenanya :Janganlah engkau ikut berghibah riya hanya agar sahabatmu yang sedang menggibah saudaramu senang, dan merasa engkau ikut serta dalam pembicaraannya. Akan tetapi tegurlah dia, belalah kehormatan saudaramu..meskipun bisa jadi mengakibatkan ia marah dan membencimu. Inilah penerapan “Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia”Janganlah engkau ikut-ikutan mentahdzir seseorang yang engkau tidak memiliki keyakinan pasti akan kesesatannya, hanya sekedar karena ingin selamat dari para sahabatmu yang suka mentahdzir. Justru tegurlah mereka yang suka memakan bangkai saudaranya meskipun mereka marah padamu. Adapun jika engkau yakin dan pasti -bukan karena perasaan dan persangkaan, atau bila perlu engkau melihat kesesatannya secara langsung bukan melalui perantara-, maka silahkanlah engkau mentahdzir dan tidak usah pedulikan ocehan manusia.Adapun seseorang yang ikut berghibah ria atau ikut-ikutan mentahdzir ala MLM hanya karena nggak enak sama ustadznya, atau takut ditahdzir sama syaikhnya…maka ketahuilah bahwasanya ustadz dan syaikhnya tersebut tidak akan memperdulikannya pada hari kiamat kelak…hari persidangan Allah Ta’aala.Tunjukkanlah bahwa anda adalah seorang yang bertauhid dan berusaha meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Dan diantara bentuk syirik kecil adalah beramal sholeh demi mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Demikian juga diantara syirik kecil adalah mentahdzir dan mentabdi’ serta menyatakan sesat kepada orang yang tidak pantas untuk dikatakan demikian hanya karena takut ditahdzir oleh manusia. Akan tetapi jika anda yakin –tanpa ragu- serta anda melihat adanya kemaslahatan yang pasti maka silahkanlah mentahdzir dan mentabdi’ sepuas-puasya !!!.Jika anda dicerca dan dihinakan karena tidak menjatuhkan harga diri saudara anda bahkan karena membela harga diri saudara anda, maka ingatlah cercaan manusia tidak akan memberi kemudorotan kepada anda, karena hal ini telah dijamin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia”Ingatlah kapan saja anda berfikir bahwa dengan ikut-ikutan mengghibah dan mentahdzir maka anda akan selamat dari cercaan manusia, maka ketahuilah saat itu anda sedang berperan menjadi orang gila –sebagaimana pernyataan Ibnu Hazm rahimahullah-. Wallahu A’lam bis-showaab.Diantara praktik para ulama akan hal ini adalah apa yang diterapkan oleh As-Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizohulloh (yang pernah menjabat sebagai anggota al-Lajnah Ad-Daaimah dan kibarul ulama), yang telah menulis sebuah risalah tentang masalah keimanan, dimana beliau tidak sepakat dengan Syaikh Ali Hasan hafizohulloh tentang permasalahan keimanan. Tatkala beliau akan mengisi dauroh dan semajelis dengan syaikh Ali Hasan, maka sebagian ikhwan (du’at) menasehati beliau, dan mengkhawatirkan beliau akan dicerca setelah itu. Kekhawatiran ini disampaikan langsung kepada beliau, yang membuat beliau sempat berfikir panjang. Akan tetapi beliau tetap ingin berangkat ke Surabaya. Bahkan tatkala ada seorang ustadz yang lain menyampaikan hal ini kembali kepada beliau, maka beliau menjawab dengan menyebutkan hadits :“Barang siapa yang mencari kerdhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya”. Maka terdiamlah sang ustadz mendengar jawaban beliau yang penuh keyakinan tersebut.Saya sendiri mendengar langsung tatkala beliau diminta oleh orang Arab agar tidak berangkat ke Surabaya, maka beliau menjawab dengan tegas : “Syaikh Ali Hasan adalah saudara kita, salafi aqidahnya, meskipun ia menyelisihi kita dalam sebagian permasalahan, akan tetapi kita saling menasehati, dan tidaklah perpecahan kita kecuali menyenangkan ahlul bid’ah”. Hafizokallahu syaikhonaa…

Bagaimana Cara Melihat Kedudukan Kita Disisi Allah

Sebagian ulama besar berkata :مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ مَنْزِلَتَهُ عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ مَنْزِلَةُ اللهِ عِنْدَهُ“Barang siapa yang ingin melihat kedudukan dirinya di sisi Allah maka hendaklah ia melihat kedudukan Allah di sisinya” (Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/229)Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamمَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barang siapa yang suka berjumpa dengan Allah maka Allah suka berjumpa dengannya, dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah maka Allah benci untuk bertemu dengannya” (HR Muslim)Engkau tahu kedudukan Allah disisimu tatkala engkau lebih memilih hangatnya selimut dan indahnya tidur daripada memenuhi panggilan Allah untuk sholat subuh berjama’ah…Engkau tahu kedudukan Allah di hatimu tatkala engkau mengumbar pandanganmu padahal Allah telah menyerumu..”Katakanlah kepada para lelaki mukmin untuk menundukan sebagian pandangan mereka…”

Bagaimana Cara Melihat Kedudukan Kita Disisi Allah

Sebagian ulama besar berkata :مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ مَنْزِلَتَهُ عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ مَنْزِلَةُ اللهِ عِنْدَهُ“Barang siapa yang ingin melihat kedudukan dirinya di sisi Allah maka hendaklah ia melihat kedudukan Allah di sisinya” (Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/229)Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamمَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barang siapa yang suka berjumpa dengan Allah maka Allah suka berjumpa dengannya, dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah maka Allah benci untuk bertemu dengannya” (HR Muslim)Engkau tahu kedudukan Allah disisimu tatkala engkau lebih memilih hangatnya selimut dan indahnya tidur daripada memenuhi panggilan Allah untuk sholat subuh berjama’ah…Engkau tahu kedudukan Allah di hatimu tatkala engkau mengumbar pandanganmu padahal Allah telah menyerumu..”Katakanlah kepada para lelaki mukmin untuk menundukan sebagian pandangan mereka…”
Sebagian ulama besar berkata :مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ مَنْزِلَتَهُ عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ مَنْزِلَةُ اللهِ عِنْدَهُ“Barang siapa yang ingin melihat kedudukan dirinya di sisi Allah maka hendaklah ia melihat kedudukan Allah di sisinya” (Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/229)Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamمَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barang siapa yang suka berjumpa dengan Allah maka Allah suka berjumpa dengannya, dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah maka Allah benci untuk bertemu dengannya” (HR Muslim)Engkau tahu kedudukan Allah disisimu tatkala engkau lebih memilih hangatnya selimut dan indahnya tidur daripada memenuhi panggilan Allah untuk sholat subuh berjama’ah…Engkau tahu kedudukan Allah di hatimu tatkala engkau mengumbar pandanganmu padahal Allah telah menyerumu..”Katakanlah kepada para lelaki mukmin untuk menundukan sebagian pandangan mereka…”


Sebagian ulama besar berkata :مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ مَنْزِلَتَهُ عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ مَنْزِلَةُ اللهِ عِنْدَهُ“Barang siapa yang ingin melihat kedudukan dirinya di sisi Allah maka hendaklah ia melihat kedudukan Allah di sisinya” (Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/229)Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamمَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barang siapa yang suka berjumpa dengan Allah maka Allah suka berjumpa dengannya, dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah maka Allah benci untuk bertemu dengannya” (HR Muslim)Engkau tahu kedudukan Allah disisimu tatkala engkau lebih memilih hangatnya selimut dan indahnya tidur daripada memenuhi panggilan Allah untuk sholat subuh berjama’ah…Engkau tahu kedudukan Allah di hatimu tatkala engkau mengumbar pandanganmu padahal Allah telah menyerumu..”Katakanlah kepada para lelaki mukmin untuk menundukan sebagian pandangan mereka…”
Prev     Next