Ketampanan VS Akhlaq

Banyak wanita cantik yang suaminya tidak tampan membuktikan bahwa ternyata ketampanan lelaki bukanlah nomer satu bagi para wanita….bahkan bisa jadi nomer ke 4 atau ke 10..…, ketampanan bisa terkalahkan terkalahkan dengan budi pekerti, atau harta, atau kedudukan…Seorang istri tidak begitu membutuhkan ketampanan anda…akan tetapi membutuhkan anda untuk menjadikannya merasa bahwa ia adalah nomer 1 di hati anda…Pintarlah para suami bertutur kata…bermanis-manis kata…romantis, dll. Ingatlah wanita senang untuk dipuji…, pujilah kecantikannya…, pujilah masakannya…, pujilah dia karena Allah…Yang memerintahkan untuk menciptakan kehidupan harmonis dan agamis dalam keluarga…pujilah dia niscaya dia akan lebih mencintaimu dan lebih menservismu. 

Ketampanan VS Akhlaq

Banyak wanita cantik yang suaminya tidak tampan membuktikan bahwa ternyata ketampanan lelaki bukanlah nomer satu bagi para wanita….bahkan bisa jadi nomer ke 4 atau ke 10..…, ketampanan bisa terkalahkan terkalahkan dengan budi pekerti, atau harta, atau kedudukan…Seorang istri tidak begitu membutuhkan ketampanan anda…akan tetapi membutuhkan anda untuk menjadikannya merasa bahwa ia adalah nomer 1 di hati anda…Pintarlah para suami bertutur kata…bermanis-manis kata…romantis, dll. Ingatlah wanita senang untuk dipuji…, pujilah kecantikannya…, pujilah masakannya…, pujilah dia karena Allah…Yang memerintahkan untuk menciptakan kehidupan harmonis dan agamis dalam keluarga…pujilah dia niscaya dia akan lebih mencintaimu dan lebih menservismu. 
Banyak wanita cantik yang suaminya tidak tampan membuktikan bahwa ternyata ketampanan lelaki bukanlah nomer satu bagi para wanita….bahkan bisa jadi nomer ke 4 atau ke 10..…, ketampanan bisa terkalahkan terkalahkan dengan budi pekerti, atau harta, atau kedudukan…Seorang istri tidak begitu membutuhkan ketampanan anda…akan tetapi membutuhkan anda untuk menjadikannya merasa bahwa ia adalah nomer 1 di hati anda…Pintarlah para suami bertutur kata…bermanis-manis kata…romantis, dll. Ingatlah wanita senang untuk dipuji…, pujilah kecantikannya…, pujilah masakannya…, pujilah dia karena Allah…Yang memerintahkan untuk menciptakan kehidupan harmonis dan agamis dalam keluarga…pujilah dia niscaya dia akan lebih mencintaimu dan lebih menservismu. 


Banyak wanita cantik yang suaminya tidak tampan membuktikan bahwa ternyata ketampanan lelaki bukanlah nomer satu bagi para wanita….bahkan bisa jadi nomer ke 4 atau ke 10..…, ketampanan bisa terkalahkan terkalahkan dengan budi pekerti, atau harta, atau kedudukan…Seorang istri tidak begitu membutuhkan ketampanan anda…akan tetapi membutuhkan anda untuk menjadikannya merasa bahwa ia adalah nomer 1 di hati anda…Pintarlah para suami bertutur kata…bermanis-manis kata…romantis, dll. Ingatlah wanita senang untuk dipuji…, pujilah kecantikannya…, pujilah masakannya…, pujilah dia karena Allah…Yang memerintahkan untuk menciptakan kehidupan harmonis dan agamis dalam keluarga…pujilah dia niscaya dia akan lebih mencintaimu dan lebih menservismu. 

Kisah George dan Idul Adha (Sanggahan bagi yang Turut Serta dalam Perayaan Non Muslim)

22DecKisah George dan Idul Adha (Sanggahan bagi yang Turut Serta dalam Perayaan Non Muslim)December 22, 2013Akhlak, Aqidah, Nasihat dan Faidah Mohon dibaca dan direnungi berdasarkan realita kita dengan seksama… George (50 th) tinggal bersama istri, dan dua orang anaknya (Tony & Julia) di Washington. Menjelang datangnya bulan Dzul Hijjah, George dan istri serta anak-anaknya mengikuti berita-berita seputar penentuan tanggal 1 Dzul Hijjah. George aktif menyimak berita di radio. Istrinya menyimak lewat televisi. Sedangkan Tony rajin searching di internet. Ketika pengumuman tanggal 1 Dzul Hijjah diumumkan, George sekeluarga bersiap-siap untuk menyambut Iedul Adha yang bertepatan dengan tanggal 10 Dzul Hijjah, setelah acara wukuf di Arafah tanggal 9-nya. Keesokannya, mereka sekeluarga pergi ke desa untuk membeli domba sesuai kriteria syari untuk dijadikan hewan kurban (udhiyyah), yaitu: tidak boleh buta sebelah, pincang, atau terlalu kurus. Mereka berniat menyembelihnya begitu hari raya tiba. Domba pun mereka bawa dengan pick-up sambil terus mengembik di perjalanan… Adapun Julia yang baru berusia 5 tahun, asyik berceloteh dan mengatakan, “Ayah… alangkah indahnya hari raya Iedul Adha! Aku akan pakai gaun baru, dapat THR, dan bisa membeli boneka baru… aku akan pergi bersama teman-temanku ke TOY CITY untuk bermain sepuasnya di sana… Duh, alangkah indahnya saat-saat hari raya”, katanya. “Andai aja semua hari adalah hari raya” lanjutnya. Begitu mobil tiba di rumah, istri George berbisik, “Wahai suamiku tercinta… Kamu tahu khan, bahwa disunnahkan membagi daging korban menjadi tiga: sepertiga kita makan sendiri untuk beberapa hari ke depan, sepertiga kita sedekahkan ke fakir miskin, dan sepertiga lagi kita hadiahkan ke tetangga kita David, Elizabeth, dan Monica”. Begitu Iedul Adha tiba, George dan istrinya bingung di manakah arah kiblat, karena mereka hendak menghadapkan domba kurban ke kiblat. Setelah menebak-nebak, mereka memutuskan menghadapkan kurban ke arah Saudi Arabia, dan ini sudah cukup. Setelah mengasah pisau, George menghadapkan dombanya ke kiblat lalu menyembelihnya. Ia kemudian menguliti dan memotong-motong dagingnya. Adapun istrinya membaginya menjadi tiga bagian sesuai sunnah. Namun tiba-tiba George berteriak mengatakan, “Waduh, kita terlambat ke gereja… sebab ini hari Minggu dan kita akan terlambat menghadiri misa!”. George konon tidak pernah ketinggalan misa di Gereja setiap hari Minggu. Ia bahkan rajin membawa istri dan anak-anaknya ke gereja. Sampai di sini, pengisah mengakhiri kisahnya tentang George. Salah satu yg hadir bertanya: “Waduh, kamu membingungkan kami dengan kisah ini !!! George ini seorang muslim ataukah Kristen??”. Pengisah menjawab: “George dan keluarganya adalah penganut Kristen. Mereka tidak meyakini kemahaesaan Allah, namun menganggapnya salah satu dari Tuhan yang tiga (trinitas). Mereka juga tidak percaya bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul” jelasnya. Majelis pun geger mendengar penjelasan tersebut. lalu salah satu yang di majelis berseru, “Hai Ahmad, kamu jangan membohongi kami. Siapa yang percaya kalau George dan keluarganya melakukan itu semua? Mana mungkin seorang Nasrani menerapkan syiar-syiar Islam… mana mungkin mereka membuang-buang waktu untuk menyimak radio, televisi, dan internet sekedar untuk mengetahui kapan hari raya Iedul Adha tiba?? Mana mungkin mereka rela merogoh koceknya untuk membeli hewan kurban, lalu menyembelih dan membagi-baginya… dst!!!” kata si penanya. Ahmad pun menjawab dengan senyum dan sedikit heran, “Wahai saudara-saudaraku tercinta, tentu kalian tidak mempercayai ceritaku. Kalian tidak akan membenarkan jika ada sebuah keluarga Kristen yang melakukan hal tersebut. Akan tetapi, kita yang berada di negeri-negeri muslim: Abdullah, Muhammad, Khalid, Khadijah, Fatimah, dan nama-nama muslim lainnya dengan santai turut merayakan hari raya kaum Nasrani dan Yahudi. Kita turut merayakan tahun baru Masehi (Masehi nisbat kepada Isa Al Masih/Yesus), mengucapkan selamat Natal, merayakan Valentine’s Day, April Mop, Paskah, ulang tahun, hari raya ini… dan itu…?”. “Mestinya, kita tidak perlu mengingkari bila George melakukan hal itu. Namun kita harus mengingkari diri dan keluarga kita sendiri”. kemudian dengan nada serius Ahmad melanjutkan, “Aku pernah tinggal di Amerika lebih dari 10 tahun, namun demi Allah, aku tak pernah sekalipun melihat seorang Kristen maupun Yahudi yang merayakan salah satu hari raya kita kaum muslimin. Aku juga tidak pernah mendapati seseorang dari mereka menanyakan tentang acara atau pesta yang kita rayakan. Sampai-sampai ketika aku berhari-raya di apartemenku, tidak ada seorang pun yang memenuhi undanganku setelah mereka tahu bahwa yang kurayakan adalah hari raya Islam. Aku menyaksikan itu semua selama aku tinggal di Barat,namun sekembaliku ke negeri muslim, ternyata kita merayakan hari raya mereka… falaa haulaa walaa quwwata illa billaahil azhiem. Kisah ini ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Al Qasim dengan judul (جورج والعيد). Mengucapkan Selamat Natal dan Selamat Hari Raya kepada orang kafir hukumnya haram berdasarkan ijma’ ulama. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Mengucapkan selamat atas hari raya yang menjadi ciri khas orang kafir hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama. Seperti mengucapkan selamat atas hari raya mereka, atau puasa mereka dengan mengatakan, “Selamat Natal dan Tahun Baru Masehi… (Selamat Paskah, Selamat Waisak, Selamat Nyepi, dsm”). Kalau pun yang mengatakan tidak sampai jatuh kepada kekafiran, tetap saja itu merupakan perbuatan haram yang setara dengan mengucapkan selamat kepada seseorang karena sujud kepada salib; bahkan ucapan selamat tadi lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkaiNya, daripada mengucapkan selamat kepada orang yang minum khamer atau membunuh orang lain, atau berzina, dan semisalnya. Namun banyak kalangan yang tidak menghargai agamanya, terjerumus dalam perbuatan yang sangat ‘menjijikkan’ tersebut tanpa disadari… Sebab barangsiapa mengucapkan selamat kepada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah, atau kekafiran; berarti menjerumuskan dirinya kepada murka dan amarah Allah” (Disadur dari kitab: Ahkaam Ahlidz Dzimmah). — Penulis: Ustadz Sufyan Basweidan, MA PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Kisah George dan Idul Adha (Sanggahan bagi yang Turut Serta dalam Perayaan Non Muslim)

22DecKisah George dan Idul Adha (Sanggahan bagi yang Turut Serta dalam Perayaan Non Muslim)December 22, 2013Akhlak, Aqidah, Nasihat dan Faidah Mohon dibaca dan direnungi berdasarkan realita kita dengan seksama… George (50 th) tinggal bersama istri, dan dua orang anaknya (Tony & Julia) di Washington. Menjelang datangnya bulan Dzul Hijjah, George dan istri serta anak-anaknya mengikuti berita-berita seputar penentuan tanggal 1 Dzul Hijjah. George aktif menyimak berita di radio. Istrinya menyimak lewat televisi. Sedangkan Tony rajin searching di internet. Ketika pengumuman tanggal 1 Dzul Hijjah diumumkan, George sekeluarga bersiap-siap untuk menyambut Iedul Adha yang bertepatan dengan tanggal 10 Dzul Hijjah, setelah acara wukuf di Arafah tanggal 9-nya. Keesokannya, mereka sekeluarga pergi ke desa untuk membeli domba sesuai kriteria syari untuk dijadikan hewan kurban (udhiyyah), yaitu: tidak boleh buta sebelah, pincang, atau terlalu kurus. Mereka berniat menyembelihnya begitu hari raya tiba. Domba pun mereka bawa dengan pick-up sambil terus mengembik di perjalanan… Adapun Julia yang baru berusia 5 tahun, asyik berceloteh dan mengatakan, “Ayah… alangkah indahnya hari raya Iedul Adha! Aku akan pakai gaun baru, dapat THR, dan bisa membeli boneka baru… aku akan pergi bersama teman-temanku ke TOY CITY untuk bermain sepuasnya di sana… Duh, alangkah indahnya saat-saat hari raya”, katanya. “Andai aja semua hari adalah hari raya” lanjutnya. Begitu mobil tiba di rumah, istri George berbisik, “Wahai suamiku tercinta… Kamu tahu khan, bahwa disunnahkan membagi daging korban menjadi tiga: sepertiga kita makan sendiri untuk beberapa hari ke depan, sepertiga kita sedekahkan ke fakir miskin, dan sepertiga lagi kita hadiahkan ke tetangga kita David, Elizabeth, dan Monica”. Begitu Iedul Adha tiba, George dan istrinya bingung di manakah arah kiblat, karena mereka hendak menghadapkan domba kurban ke kiblat. Setelah menebak-nebak, mereka memutuskan menghadapkan kurban ke arah Saudi Arabia, dan ini sudah cukup. Setelah mengasah pisau, George menghadapkan dombanya ke kiblat lalu menyembelihnya. Ia kemudian menguliti dan memotong-motong dagingnya. Adapun istrinya membaginya menjadi tiga bagian sesuai sunnah. Namun tiba-tiba George berteriak mengatakan, “Waduh, kita terlambat ke gereja… sebab ini hari Minggu dan kita akan terlambat menghadiri misa!”. George konon tidak pernah ketinggalan misa di Gereja setiap hari Minggu. Ia bahkan rajin membawa istri dan anak-anaknya ke gereja. Sampai di sini, pengisah mengakhiri kisahnya tentang George. Salah satu yg hadir bertanya: “Waduh, kamu membingungkan kami dengan kisah ini !!! George ini seorang muslim ataukah Kristen??”. Pengisah menjawab: “George dan keluarganya adalah penganut Kristen. Mereka tidak meyakini kemahaesaan Allah, namun menganggapnya salah satu dari Tuhan yang tiga (trinitas). Mereka juga tidak percaya bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul” jelasnya. Majelis pun geger mendengar penjelasan tersebut. lalu salah satu yang di majelis berseru, “Hai Ahmad, kamu jangan membohongi kami. Siapa yang percaya kalau George dan keluarganya melakukan itu semua? Mana mungkin seorang Nasrani menerapkan syiar-syiar Islam… mana mungkin mereka membuang-buang waktu untuk menyimak radio, televisi, dan internet sekedar untuk mengetahui kapan hari raya Iedul Adha tiba?? Mana mungkin mereka rela merogoh koceknya untuk membeli hewan kurban, lalu menyembelih dan membagi-baginya… dst!!!” kata si penanya. Ahmad pun menjawab dengan senyum dan sedikit heran, “Wahai saudara-saudaraku tercinta, tentu kalian tidak mempercayai ceritaku. Kalian tidak akan membenarkan jika ada sebuah keluarga Kristen yang melakukan hal tersebut. Akan tetapi, kita yang berada di negeri-negeri muslim: Abdullah, Muhammad, Khalid, Khadijah, Fatimah, dan nama-nama muslim lainnya dengan santai turut merayakan hari raya kaum Nasrani dan Yahudi. Kita turut merayakan tahun baru Masehi (Masehi nisbat kepada Isa Al Masih/Yesus), mengucapkan selamat Natal, merayakan Valentine’s Day, April Mop, Paskah, ulang tahun, hari raya ini… dan itu…?”. “Mestinya, kita tidak perlu mengingkari bila George melakukan hal itu. Namun kita harus mengingkari diri dan keluarga kita sendiri”. kemudian dengan nada serius Ahmad melanjutkan, “Aku pernah tinggal di Amerika lebih dari 10 tahun, namun demi Allah, aku tak pernah sekalipun melihat seorang Kristen maupun Yahudi yang merayakan salah satu hari raya kita kaum muslimin. Aku juga tidak pernah mendapati seseorang dari mereka menanyakan tentang acara atau pesta yang kita rayakan. Sampai-sampai ketika aku berhari-raya di apartemenku, tidak ada seorang pun yang memenuhi undanganku setelah mereka tahu bahwa yang kurayakan adalah hari raya Islam. Aku menyaksikan itu semua selama aku tinggal di Barat,namun sekembaliku ke negeri muslim, ternyata kita merayakan hari raya mereka… falaa haulaa walaa quwwata illa billaahil azhiem. Kisah ini ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Al Qasim dengan judul (جورج والعيد). Mengucapkan Selamat Natal dan Selamat Hari Raya kepada orang kafir hukumnya haram berdasarkan ijma’ ulama. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Mengucapkan selamat atas hari raya yang menjadi ciri khas orang kafir hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama. Seperti mengucapkan selamat atas hari raya mereka, atau puasa mereka dengan mengatakan, “Selamat Natal dan Tahun Baru Masehi… (Selamat Paskah, Selamat Waisak, Selamat Nyepi, dsm”). Kalau pun yang mengatakan tidak sampai jatuh kepada kekafiran, tetap saja itu merupakan perbuatan haram yang setara dengan mengucapkan selamat kepada seseorang karena sujud kepada salib; bahkan ucapan selamat tadi lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkaiNya, daripada mengucapkan selamat kepada orang yang minum khamer atau membunuh orang lain, atau berzina, dan semisalnya. Namun banyak kalangan yang tidak menghargai agamanya, terjerumus dalam perbuatan yang sangat ‘menjijikkan’ tersebut tanpa disadari… Sebab barangsiapa mengucapkan selamat kepada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah, atau kekafiran; berarti menjerumuskan dirinya kepada murka dan amarah Allah” (Disadur dari kitab: Ahkaam Ahlidz Dzimmah). — Penulis: Ustadz Sufyan Basweidan, MA PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
22DecKisah George dan Idul Adha (Sanggahan bagi yang Turut Serta dalam Perayaan Non Muslim)December 22, 2013Akhlak, Aqidah, Nasihat dan Faidah Mohon dibaca dan direnungi berdasarkan realita kita dengan seksama… George (50 th) tinggal bersama istri, dan dua orang anaknya (Tony & Julia) di Washington. Menjelang datangnya bulan Dzul Hijjah, George dan istri serta anak-anaknya mengikuti berita-berita seputar penentuan tanggal 1 Dzul Hijjah. George aktif menyimak berita di radio. Istrinya menyimak lewat televisi. Sedangkan Tony rajin searching di internet. Ketika pengumuman tanggal 1 Dzul Hijjah diumumkan, George sekeluarga bersiap-siap untuk menyambut Iedul Adha yang bertepatan dengan tanggal 10 Dzul Hijjah, setelah acara wukuf di Arafah tanggal 9-nya. Keesokannya, mereka sekeluarga pergi ke desa untuk membeli domba sesuai kriteria syari untuk dijadikan hewan kurban (udhiyyah), yaitu: tidak boleh buta sebelah, pincang, atau terlalu kurus. Mereka berniat menyembelihnya begitu hari raya tiba. Domba pun mereka bawa dengan pick-up sambil terus mengembik di perjalanan… Adapun Julia yang baru berusia 5 tahun, asyik berceloteh dan mengatakan, “Ayah… alangkah indahnya hari raya Iedul Adha! Aku akan pakai gaun baru, dapat THR, dan bisa membeli boneka baru… aku akan pergi bersama teman-temanku ke TOY CITY untuk bermain sepuasnya di sana… Duh, alangkah indahnya saat-saat hari raya”, katanya. “Andai aja semua hari adalah hari raya” lanjutnya. Begitu mobil tiba di rumah, istri George berbisik, “Wahai suamiku tercinta… Kamu tahu khan, bahwa disunnahkan membagi daging korban menjadi tiga: sepertiga kita makan sendiri untuk beberapa hari ke depan, sepertiga kita sedekahkan ke fakir miskin, dan sepertiga lagi kita hadiahkan ke tetangga kita David, Elizabeth, dan Monica”. Begitu Iedul Adha tiba, George dan istrinya bingung di manakah arah kiblat, karena mereka hendak menghadapkan domba kurban ke kiblat. Setelah menebak-nebak, mereka memutuskan menghadapkan kurban ke arah Saudi Arabia, dan ini sudah cukup. Setelah mengasah pisau, George menghadapkan dombanya ke kiblat lalu menyembelihnya. Ia kemudian menguliti dan memotong-motong dagingnya. Adapun istrinya membaginya menjadi tiga bagian sesuai sunnah. Namun tiba-tiba George berteriak mengatakan, “Waduh, kita terlambat ke gereja… sebab ini hari Minggu dan kita akan terlambat menghadiri misa!”. George konon tidak pernah ketinggalan misa di Gereja setiap hari Minggu. Ia bahkan rajin membawa istri dan anak-anaknya ke gereja. Sampai di sini, pengisah mengakhiri kisahnya tentang George. Salah satu yg hadir bertanya: “Waduh, kamu membingungkan kami dengan kisah ini !!! George ini seorang muslim ataukah Kristen??”. Pengisah menjawab: “George dan keluarganya adalah penganut Kristen. Mereka tidak meyakini kemahaesaan Allah, namun menganggapnya salah satu dari Tuhan yang tiga (trinitas). Mereka juga tidak percaya bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul” jelasnya. Majelis pun geger mendengar penjelasan tersebut. lalu salah satu yang di majelis berseru, “Hai Ahmad, kamu jangan membohongi kami. Siapa yang percaya kalau George dan keluarganya melakukan itu semua? Mana mungkin seorang Nasrani menerapkan syiar-syiar Islam… mana mungkin mereka membuang-buang waktu untuk menyimak radio, televisi, dan internet sekedar untuk mengetahui kapan hari raya Iedul Adha tiba?? Mana mungkin mereka rela merogoh koceknya untuk membeli hewan kurban, lalu menyembelih dan membagi-baginya… dst!!!” kata si penanya. Ahmad pun menjawab dengan senyum dan sedikit heran, “Wahai saudara-saudaraku tercinta, tentu kalian tidak mempercayai ceritaku. Kalian tidak akan membenarkan jika ada sebuah keluarga Kristen yang melakukan hal tersebut. Akan tetapi, kita yang berada di negeri-negeri muslim: Abdullah, Muhammad, Khalid, Khadijah, Fatimah, dan nama-nama muslim lainnya dengan santai turut merayakan hari raya kaum Nasrani dan Yahudi. Kita turut merayakan tahun baru Masehi (Masehi nisbat kepada Isa Al Masih/Yesus), mengucapkan selamat Natal, merayakan Valentine’s Day, April Mop, Paskah, ulang tahun, hari raya ini… dan itu…?”. “Mestinya, kita tidak perlu mengingkari bila George melakukan hal itu. Namun kita harus mengingkari diri dan keluarga kita sendiri”. kemudian dengan nada serius Ahmad melanjutkan, “Aku pernah tinggal di Amerika lebih dari 10 tahun, namun demi Allah, aku tak pernah sekalipun melihat seorang Kristen maupun Yahudi yang merayakan salah satu hari raya kita kaum muslimin. Aku juga tidak pernah mendapati seseorang dari mereka menanyakan tentang acara atau pesta yang kita rayakan. Sampai-sampai ketika aku berhari-raya di apartemenku, tidak ada seorang pun yang memenuhi undanganku setelah mereka tahu bahwa yang kurayakan adalah hari raya Islam. Aku menyaksikan itu semua selama aku tinggal di Barat,namun sekembaliku ke negeri muslim, ternyata kita merayakan hari raya mereka… falaa haulaa walaa quwwata illa billaahil azhiem. Kisah ini ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Al Qasim dengan judul (جورج والعيد). Mengucapkan Selamat Natal dan Selamat Hari Raya kepada orang kafir hukumnya haram berdasarkan ijma’ ulama. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Mengucapkan selamat atas hari raya yang menjadi ciri khas orang kafir hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama. Seperti mengucapkan selamat atas hari raya mereka, atau puasa mereka dengan mengatakan, “Selamat Natal dan Tahun Baru Masehi… (Selamat Paskah, Selamat Waisak, Selamat Nyepi, dsm”). Kalau pun yang mengatakan tidak sampai jatuh kepada kekafiran, tetap saja itu merupakan perbuatan haram yang setara dengan mengucapkan selamat kepada seseorang karena sujud kepada salib; bahkan ucapan selamat tadi lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkaiNya, daripada mengucapkan selamat kepada orang yang minum khamer atau membunuh orang lain, atau berzina, dan semisalnya. Namun banyak kalangan yang tidak menghargai agamanya, terjerumus dalam perbuatan yang sangat ‘menjijikkan’ tersebut tanpa disadari… Sebab barangsiapa mengucapkan selamat kepada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah, atau kekafiran; berarti menjerumuskan dirinya kepada murka dan amarah Allah” (Disadur dari kitab: Ahkaam Ahlidz Dzimmah). — Penulis: Ustadz Sufyan Basweidan, MA PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


22DecKisah George dan Idul Adha (Sanggahan bagi yang Turut Serta dalam Perayaan Non Muslim)December 22, 2013Akhlak, Aqidah, Nasihat dan Faidah Mohon dibaca dan direnungi berdasarkan realita kita dengan seksama… George (50 th) tinggal bersama istri, dan dua orang anaknya (Tony & Julia) di Washington. Menjelang datangnya bulan Dzul Hijjah, George dan istri serta anak-anaknya mengikuti berita-berita seputar penentuan tanggal 1 Dzul Hijjah. George aktif menyimak berita di radio. Istrinya menyimak lewat televisi. Sedangkan Tony rajin searching di internet. Ketika pengumuman tanggal 1 Dzul Hijjah diumumkan, George sekeluarga bersiap-siap untuk menyambut Iedul Adha yang bertepatan dengan tanggal 10 Dzul Hijjah, setelah acara wukuf di Arafah tanggal 9-nya. Keesokannya, mereka sekeluarga pergi ke desa untuk membeli domba sesuai kriteria syari untuk dijadikan hewan kurban (udhiyyah), yaitu: tidak boleh buta sebelah, pincang, atau terlalu kurus. Mereka berniat menyembelihnya begitu hari raya tiba. Domba pun mereka bawa dengan pick-up sambil terus mengembik di perjalanan… Adapun Julia yang baru berusia 5 tahun, asyik berceloteh dan mengatakan, “Ayah… alangkah indahnya hari raya Iedul Adha! Aku akan pakai gaun baru, dapat THR, dan bisa membeli boneka baru… aku akan pergi bersama teman-temanku ke TOY CITY untuk bermain sepuasnya di sana… Duh, alangkah indahnya saat-saat hari raya”, katanya. “Andai aja semua hari adalah hari raya” lanjutnya. Begitu mobil tiba di rumah, istri George berbisik, “Wahai suamiku tercinta… Kamu tahu khan, bahwa disunnahkan membagi daging korban menjadi tiga: sepertiga kita makan sendiri untuk beberapa hari ke depan, sepertiga kita sedekahkan ke fakir miskin, dan sepertiga lagi kita hadiahkan ke tetangga kita David, Elizabeth, dan Monica”. Begitu Iedul Adha tiba, George dan istrinya bingung di manakah arah kiblat, karena mereka hendak menghadapkan domba kurban ke kiblat. Setelah menebak-nebak, mereka memutuskan menghadapkan kurban ke arah Saudi Arabia, dan ini sudah cukup. Setelah mengasah pisau, George menghadapkan dombanya ke kiblat lalu menyembelihnya. Ia kemudian menguliti dan memotong-motong dagingnya. Adapun istrinya membaginya menjadi tiga bagian sesuai sunnah. Namun tiba-tiba George berteriak mengatakan, “Waduh, kita terlambat ke gereja… sebab ini hari Minggu dan kita akan terlambat menghadiri misa!”. George konon tidak pernah ketinggalan misa di Gereja setiap hari Minggu. Ia bahkan rajin membawa istri dan anak-anaknya ke gereja. Sampai di sini, pengisah mengakhiri kisahnya tentang George. Salah satu yg hadir bertanya: “Waduh, kamu membingungkan kami dengan kisah ini !!! George ini seorang muslim ataukah Kristen??”. Pengisah menjawab: “George dan keluarganya adalah penganut Kristen. Mereka tidak meyakini kemahaesaan Allah, namun menganggapnya salah satu dari Tuhan yang tiga (trinitas). Mereka juga tidak percaya bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul” jelasnya. Majelis pun geger mendengar penjelasan tersebut. lalu salah satu yang di majelis berseru, “Hai Ahmad, kamu jangan membohongi kami. Siapa yang percaya kalau George dan keluarganya melakukan itu semua? Mana mungkin seorang Nasrani menerapkan syiar-syiar Islam… mana mungkin mereka membuang-buang waktu untuk menyimak radio, televisi, dan internet sekedar untuk mengetahui kapan hari raya Iedul Adha tiba?? Mana mungkin mereka rela merogoh koceknya untuk membeli hewan kurban, lalu menyembelih dan membagi-baginya… dst!!!” kata si penanya. Ahmad pun menjawab dengan senyum dan sedikit heran, “Wahai saudara-saudaraku tercinta, tentu kalian tidak mempercayai ceritaku. Kalian tidak akan membenarkan jika ada sebuah keluarga Kristen yang melakukan hal tersebut. Akan tetapi, kita yang berada di negeri-negeri muslim: Abdullah, Muhammad, Khalid, Khadijah, Fatimah, dan nama-nama muslim lainnya dengan santai turut merayakan hari raya kaum Nasrani dan Yahudi. Kita turut merayakan tahun baru Masehi (Masehi nisbat kepada Isa Al Masih/Yesus), mengucapkan selamat Natal, merayakan Valentine’s Day, April Mop, Paskah, ulang tahun, hari raya ini… dan itu…?”. “Mestinya, kita tidak perlu mengingkari bila George melakukan hal itu. Namun kita harus mengingkari diri dan keluarga kita sendiri”. kemudian dengan nada serius Ahmad melanjutkan, “Aku pernah tinggal di Amerika lebih dari 10 tahun, namun demi Allah, aku tak pernah sekalipun melihat seorang Kristen maupun Yahudi yang merayakan salah satu hari raya kita kaum muslimin. Aku juga tidak pernah mendapati seseorang dari mereka menanyakan tentang acara atau pesta yang kita rayakan. Sampai-sampai ketika aku berhari-raya di apartemenku, tidak ada seorang pun yang memenuhi undanganku setelah mereka tahu bahwa yang kurayakan adalah hari raya Islam. Aku menyaksikan itu semua selama aku tinggal di Barat,namun sekembaliku ke negeri muslim, ternyata kita merayakan hari raya mereka… falaa haulaa walaa quwwata illa billaahil azhiem. Kisah ini ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Al Qasim dengan judul (جورج والعيد). Mengucapkan Selamat Natal dan Selamat Hari Raya kepada orang kafir hukumnya haram berdasarkan ijma’ ulama. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Mengucapkan selamat atas hari raya yang menjadi ciri khas orang kafir hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama. Seperti mengucapkan selamat atas hari raya mereka, atau puasa mereka dengan mengatakan, “Selamat Natal dan Tahun Baru Masehi… (Selamat Paskah, Selamat Waisak, Selamat Nyepi, dsm”). Kalau pun yang mengatakan tidak sampai jatuh kepada kekafiran, tetap saja itu merupakan perbuatan haram yang setara dengan mengucapkan selamat kepada seseorang karena sujud kepada salib; bahkan ucapan selamat tadi lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkaiNya, daripada mengucapkan selamat kepada orang yang minum khamer atau membunuh orang lain, atau berzina, dan semisalnya. Namun banyak kalangan yang tidak menghargai agamanya, terjerumus dalam perbuatan yang sangat ‘menjijikkan’ tersebut tanpa disadari… Sebab barangsiapa mengucapkan selamat kepada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah, atau kekafiran; berarti menjerumuskan dirinya kepada murka dan amarah Allah” (Disadur dari kitab: Ahkaam Ahlidz Dzimmah). — Penulis: Ustadz Sufyan Basweidan, MA PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Panduan Umrah Ringkas (1)

Bagaimana panduan umrah yang praktis dan ringkas? Umrah adalah suatu amalan yang mulia, di mana tata cara pelaksanaannya mesti dilakukan dengan benar dan sesuai tuntunan Islam, bukan asal-asalan.   Sebelum Mengenakan Pakaian Ihram 1- Memotong kuku, menipiskan kumis, mencukur bulu ketiak dan bulu kemaluan. 2- Disunnahkan untuk mandi termasuk bagi wanita haidh dan nifas. 3- Laki-laki hendaklah melepaskan pakaian yang membentuk lekuk tubuh dan mengenakan pakaian ihram. 4- Wanita hendaklah melepas penutup wajah dan tidak mengenakan sarung tangan. 5- Setelah mandi, laki-laki disunnahkan memakai wewangian di badannya saja. Sedangkan wanita boleh memakai wewangian yang tidak nampak baunya. 6- Setelah melakukan itu semua, hendaklah berniat masuk dalam manasik dengan mengucapkan, “Labbaik allahumma ‘umrah” (Aku memenuhi panggilan-Mu -ya Allah- untuk menunaikan ibadah umrah). Jika sudah mengucapkan seperti itu, maka sudah disebut berihram sehingga tidak boleh melakukan larangan-larangan ihram. Jika niat tersebut dijadikan setelah shalat wajib, maka itu lebih baik. Jika tidak bertepatan dengan waktu shalat wajib, maka dilakukan shalat sunnah dua raka’at dengan niatan shalat sunnah wudhu. Sedangkan shalat sunnah ihram seperti yang dilakukan oleh sebagian jama’ah umrah tidaklah ada tuntunannya.   Mengenal Miqot Makaniyah Miqot makaniyah yaitu tempat mulai berihram bagi yang punya niatan haji atau umroh. Ada lima tempat miqot: 1- Dzulhulaifah (Bir ‘Ali), miqot penduduk Madinah 2- Al Juhfah, miqot penduduk Syam, 3- Qornul Manazil (As Sailul Kabiir), miqot penduduk Najed (Riyadh sekitarnya), 4- Yalamlam (As Sa’diyah), miqot penduduk Yaman, 5- Dzatu ‘Irq (Adh Dhoribah), miqot penduduk Irak. Itulah miqot bagi penduduk daerah tersebut dan yang melewati miqot itu. Wajib bagi setiap yang ingin melaksanakan haji atau umrah ketika ia melewati miqot tersebut, hendaklah berniat ihram. Jika ada yang melewati miqot tanpa beihram -dengan sengaja-, wajib kembali dan berihram dari tempat tersebut lagi. Jika tidak, maka baginya damm dengan menyembelih satu ekor kambing dan disalurkan pada orang-orang miskin di Makkah.   Larangan Ihram 1- Mencukur rambut dari seluruh badan (seperti rambut kepala, bulu ketiak, bulu kemaluan, kumis dan jenggot). 2- Menggunting kuku. 3- Menutup kepala dan menutup wajah bagi perempuan kecuali jika lewat laki-laki yang bukan mahrom di hadapannya. 4- Mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh seperti baju, celana dan sepatu. 5- Menggunakan wewangian. 6- Memburu hewan darat yang halal dimakan. 7- Melakukan khitbah dan akad nikah. 8- Jima’ (hubungan intim). 9- Mencumbu istri di selain kemaluan.   Yang Masih Dibolehkan Saat Ihram 1- Mengenakan: Jam tangan, headset, cincin, sendal, kacamata, ikat pinggang, tas pinggang, payung, perban 2- Merubah posisi pakaian ihram 3- Mencuci pakaian ihram 4- Mandi, membersihkan kepala dan badan 5- Rambut rontok tanpa disengaja   Talbiyah Waktu mulai talbiyah adalah ketika ihram hingga saat memulai thawaf. Bacaan talbiyah: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ.لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ.إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكُ.لاَ شَرِيْكَ لَكَ “Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,  aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu). Ketika bertalbiyah, laki-laki disunnahkan mengeraskan suara.   Sampai di Makkah Jika yang berumrah sudah sampai di Makkah Al Mukarramah disunnahkan baginya untuk mandi ketika sampai, lalu ia pergi ke Masjidil Haram untuk menunaikan manasik umrah. Jika tidak mandi, tidaklah masalah. Ketika akan memasuki Masjidil Haram, hendaklah membaca do’a masuk masjid, اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ “Allahummaf-tahlii abwaaba rohmatik” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).   Thawaf Umrah Kemudian orang yang berumrah menuju Ka’bah untuk melaksanakan thawaf di sekelilingnya. Hendaknya laki-laki melakukan idhtiba’ yaitu dengan membuka pundak kanan dan menjadikan ujung kanan di bawah ketiak, lalu menjadikan ujung yang satu sisi di pundak kiri. Setelah itu dilakukan thawaf sebanyak tujuh kali putaran dimulai dari Hajar Aswad. Jika mampu dan tidak desak-desakan, seseorang yang berthawaf menuju ke Hajar Aswad, lalu menghadapnya sambil membaca “Allahu akbar” atau “Bismillah Allahu akbar” lalu mengusapnya dengan tangan kanan dan menciumnya. Jika tidak memungkinkan untuk menciumnya, maka cukup dengan mengusapnya, lalu mencium tangan yang mengusap hajar Aswad. Jika tidak memungkinkan untuk mengusapnya, maka cukup dengan memberi isyarat kepadanya dengan tangan, namun tidak mencium tangan yang memberi isyarat. Ini dilakukan pada setiap putaran thawaf. Ketika mengililingi Ka’bah, hendaklah tidak desak-desakan dan tidak menyakiti yang lain dengan saling dorong-dorongan, juga tidak perlu berdzikir dengan mengeraskan suara. Jika sampai pada rukun Yamani, bila mampu, hendaklah mengusapnya dengan tangannya. Tidak perlu mencium dan tidak perlu mengusap-ngusapnya seperti kelakuan orang awam. Seperti itu menyelisihi tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak mampu mengusapnya, maka hanya melewatinya saja tanpa memberi isyarat, tanpa pula bertakbir. Disunnahkan antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad untuk membaca do’a, رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Robbanaa aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirooti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari adzab neraka). Disunnahkan melakukan roml. Roml yaitu berjalan cepat dengan memperpendek langkah, sehingga pundak dalam keadaan bergetar dan tidak sampai melompat. Roml ini dilakukan ketika thowaf pada tiga putaran pertama. Sedangkan sisanya berjalan seperti biasa. Thawaf tadi disempurnakan hingga tujuh kali putaran dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir pada Hajar Aswad.   Kesalahan Saat Thawaf 1- Melakukan sebagian thawaf di dalam Hijr Ismail karena berkeyakinan sahnya berthawaf di dalam Ka’bah. Padahal Hijr adalah bagian dari Ka’bah sehingga kita harus melakukan thawaf di luarnya. 2- Mengusap seluruh pojok Ka’bah, kadang ada pula yang mengusap dinding dan penutup Ka’bah, begitu pula dengan pintu Ka’bah dan Maqom Ibrahim. Semua ini tidak boleh karena tidak ada tuntunan dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 3- Saling desak-desakan antara laki-laki dan perempuan saat melalukan thawaf, terutama di Hajar Aswad dan Maqom Ibrahim.   Setelah Melakukan Thawaf Umrah 1- Menutup pundak kanan yang sebelumnya terbuka karena melakukan shalat sunnah idhtiba’ saat thawaf. Setelah itu pundak kembali tertutup. 2- Mengerjakan shalat dua raka’at di belakang Maqom Ibrahim jika mudah. Namun jika menyulitkan, maka shalatlah di tempat mana saja selama di Masjidil Haram. Shalat ini termasuk shalat sunnah muakkad (yang amat ditekankan). 3- Pada saat mengerjakan shalat sunnah tersebut, raka’at pertema setelah membaca Al Fatihah membaca surat Al Kafirun. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca Al Fatihah membaca surat Al Ikhlas. Jika membaca surat lainnya, masih dibolehkan. Setelah mengerjakan thawaf tersebut, lalu menuju bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i. Insya Allah akan berlanjut pada serial terakhir, bi idznillah. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun saat turun karunia hujan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagstata cara umrah umrah

Panduan Umrah Ringkas (1)

Bagaimana panduan umrah yang praktis dan ringkas? Umrah adalah suatu amalan yang mulia, di mana tata cara pelaksanaannya mesti dilakukan dengan benar dan sesuai tuntunan Islam, bukan asal-asalan.   Sebelum Mengenakan Pakaian Ihram 1- Memotong kuku, menipiskan kumis, mencukur bulu ketiak dan bulu kemaluan. 2- Disunnahkan untuk mandi termasuk bagi wanita haidh dan nifas. 3- Laki-laki hendaklah melepaskan pakaian yang membentuk lekuk tubuh dan mengenakan pakaian ihram. 4- Wanita hendaklah melepas penutup wajah dan tidak mengenakan sarung tangan. 5- Setelah mandi, laki-laki disunnahkan memakai wewangian di badannya saja. Sedangkan wanita boleh memakai wewangian yang tidak nampak baunya. 6- Setelah melakukan itu semua, hendaklah berniat masuk dalam manasik dengan mengucapkan, “Labbaik allahumma ‘umrah” (Aku memenuhi panggilan-Mu -ya Allah- untuk menunaikan ibadah umrah). Jika sudah mengucapkan seperti itu, maka sudah disebut berihram sehingga tidak boleh melakukan larangan-larangan ihram. Jika niat tersebut dijadikan setelah shalat wajib, maka itu lebih baik. Jika tidak bertepatan dengan waktu shalat wajib, maka dilakukan shalat sunnah dua raka’at dengan niatan shalat sunnah wudhu. Sedangkan shalat sunnah ihram seperti yang dilakukan oleh sebagian jama’ah umrah tidaklah ada tuntunannya.   Mengenal Miqot Makaniyah Miqot makaniyah yaitu tempat mulai berihram bagi yang punya niatan haji atau umroh. Ada lima tempat miqot: 1- Dzulhulaifah (Bir ‘Ali), miqot penduduk Madinah 2- Al Juhfah, miqot penduduk Syam, 3- Qornul Manazil (As Sailul Kabiir), miqot penduduk Najed (Riyadh sekitarnya), 4- Yalamlam (As Sa’diyah), miqot penduduk Yaman, 5- Dzatu ‘Irq (Adh Dhoribah), miqot penduduk Irak. Itulah miqot bagi penduduk daerah tersebut dan yang melewati miqot itu. Wajib bagi setiap yang ingin melaksanakan haji atau umrah ketika ia melewati miqot tersebut, hendaklah berniat ihram. Jika ada yang melewati miqot tanpa beihram -dengan sengaja-, wajib kembali dan berihram dari tempat tersebut lagi. Jika tidak, maka baginya damm dengan menyembelih satu ekor kambing dan disalurkan pada orang-orang miskin di Makkah.   Larangan Ihram 1- Mencukur rambut dari seluruh badan (seperti rambut kepala, bulu ketiak, bulu kemaluan, kumis dan jenggot). 2- Menggunting kuku. 3- Menutup kepala dan menutup wajah bagi perempuan kecuali jika lewat laki-laki yang bukan mahrom di hadapannya. 4- Mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh seperti baju, celana dan sepatu. 5- Menggunakan wewangian. 6- Memburu hewan darat yang halal dimakan. 7- Melakukan khitbah dan akad nikah. 8- Jima’ (hubungan intim). 9- Mencumbu istri di selain kemaluan.   Yang Masih Dibolehkan Saat Ihram 1- Mengenakan: Jam tangan, headset, cincin, sendal, kacamata, ikat pinggang, tas pinggang, payung, perban 2- Merubah posisi pakaian ihram 3- Mencuci pakaian ihram 4- Mandi, membersihkan kepala dan badan 5- Rambut rontok tanpa disengaja   Talbiyah Waktu mulai talbiyah adalah ketika ihram hingga saat memulai thawaf. Bacaan talbiyah: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ.لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ.إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكُ.لاَ شَرِيْكَ لَكَ “Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,  aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu). Ketika bertalbiyah, laki-laki disunnahkan mengeraskan suara.   Sampai di Makkah Jika yang berumrah sudah sampai di Makkah Al Mukarramah disunnahkan baginya untuk mandi ketika sampai, lalu ia pergi ke Masjidil Haram untuk menunaikan manasik umrah. Jika tidak mandi, tidaklah masalah. Ketika akan memasuki Masjidil Haram, hendaklah membaca do’a masuk masjid, اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ “Allahummaf-tahlii abwaaba rohmatik” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).   Thawaf Umrah Kemudian orang yang berumrah menuju Ka’bah untuk melaksanakan thawaf di sekelilingnya. Hendaknya laki-laki melakukan idhtiba’ yaitu dengan membuka pundak kanan dan menjadikan ujung kanan di bawah ketiak, lalu menjadikan ujung yang satu sisi di pundak kiri. Setelah itu dilakukan thawaf sebanyak tujuh kali putaran dimulai dari Hajar Aswad. Jika mampu dan tidak desak-desakan, seseorang yang berthawaf menuju ke Hajar Aswad, lalu menghadapnya sambil membaca “Allahu akbar” atau “Bismillah Allahu akbar” lalu mengusapnya dengan tangan kanan dan menciumnya. Jika tidak memungkinkan untuk menciumnya, maka cukup dengan mengusapnya, lalu mencium tangan yang mengusap hajar Aswad. Jika tidak memungkinkan untuk mengusapnya, maka cukup dengan memberi isyarat kepadanya dengan tangan, namun tidak mencium tangan yang memberi isyarat. Ini dilakukan pada setiap putaran thawaf. Ketika mengililingi Ka’bah, hendaklah tidak desak-desakan dan tidak menyakiti yang lain dengan saling dorong-dorongan, juga tidak perlu berdzikir dengan mengeraskan suara. Jika sampai pada rukun Yamani, bila mampu, hendaklah mengusapnya dengan tangannya. Tidak perlu mencium dan tidak perlu mengusap-ngusapnya seperti kelakuan orang awam. Seperti itu menyelisihi tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak mampu mengusapnya, maka hanya melewatinya saja tanpa memberi isyarat, tanpa pula bertakbir. Disunnahkan antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad untuk membaca do’a, رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Robbanaa aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirooti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari adzab neraka). Disunnahkan melakukan roml. Roml yaitu berjalan cepat dengan memperpendek langkah, sehingga pundak dalam keadaan bergetar dan tidak sampai melompat. Roml ini dilakukan ketika thowaf pada tiga putaran pertama. Sedangkan sisanya berjalan seperti biasa. Thawaf tadi disempurnakan hingga tujuh kali putaran dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir pada Hajar Aswad.   Kesalahan Saat Thawaf 1- Melakukan sebagian thawaf di dalam Hijr Ismail karena berkeyakinan sahnya berthawaf di dalam Ka’bah. Padahal Hijr adalah bagian dari Ka’bah sehingga kita harus melakukan thawaf di luarnya. 2- Mengusap seluruh pojok Ka’bah, kadang ada pula yang mengusap dinding dan penutup Ka’bah, begitu pula dengan pintu Ka’bah dan Maqom Ibrahim. Semua ini tidak boleh karena tidak ada tuntunan dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 3- Saling desak-desakan antara laki-laki dan perempuan saat melalukan thawaf, terutama di Hajar Aswad dan Maqom Ibrahim.   Setelah Melakukan Thawaf Umrah 1- Menutup pundak kanan yang sebelumnya terbuka karena melakukan shalat sunnah idhtiba’ saat thawaf. Setelah itu pundak kembali tertutup. 2- Mengerjakan shalat dua raka’at di belakang Maqom Ibrahim jika mudah. Namun jika menyulitkan, maka shalatlah di tempat mana saja selama di Masjidil Haram. Shalat ini termasuk shalat sunnah muakkad (yang amat ditekankan). 3- Pada saat mengerjakan shalat sunnah tersebut, raka’at pertema setelah membaca Al Fatihah membaca surat Al Kafirun. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca Al Fatihah membaca surat Al Ikhlas. Jika membaca surat lainnya, masih dibolehkan. Setelah mengerjakan thawaf tersebut, lalu menuju bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i. Insya Allah akan berlanjut pada serial terakhir, bi idznillah. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun saat turun karunia hujan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagstata cara umrah umrah
Bagaimana panduan umrah yang praktis dan ringkas? Umrah adalah suatu amalan yang mulia, di mana tata cara pelaksanaannya mesti dilakukan dengan benar dan sesuai tuntunan Islam, bukan asal-asalan.   Sebelum Mengenakan Pakaian Ihram 1- Memotong kuku, menipiskan kumis, mencukur bulu ketiak dan bulu kemaluan. 2- Disunnahkan untuk mandi termasuk bagi wanita haidh dan nifas. 3- Laki-laki hendaklah melepaskan pakaian yang membentuk lekuk tubuh dan mengenakan pakaian ihram. 4- Wanita hendaklah melepas penutup wajah dan tidak mengenakan sarung tangan. 5- Setelah mandi, laki-laki disunnahkan memakai wewangian di badannya saja. Sedangkan wanita boleh memakai wewangian yang tidak nampak baunya. 6- Setelah melakukan itu semua, hendaklah berniat masuk dalam manasik dengan mengucapkan, “Labbaik allahumma ‘umrah” (Aku memenuhi panggilan-Mu -ya Allah- untuk menunaikan ibadah umrah). Jika sudah mengucapkan seperti itu, maka sudah disebut berihram sehingga tidak boleh melakukan larangan-larangan ihram. Jika niat tersebut dijadikan setelah shalat wajib, maka itu lebih baik. Jika tidak bertepatan dengan waktu shalat wajib, maka dilakukan shalat sunnah dua raka’at dengan niatan shalat sunnah wudhu. Sedangkan shalat sunnah ihram seperti yang dilakukan oleh sebagian jama’ah umrah tidaklah ada tuntunannya.   Mengenal Miqot Makaniyah Miqot makaniyah yaitu tempat mulai berihram bagi yang punya niatan haji atau umroh. Ada lima tempat miqot: 1- Dzulhulaifah (Bir ‘Ali), miqot penduduk Madinah 2- Al Juhfah, miqot penduduk Syam, 3- Qornul Manazil (As Sailul Kabiir), miqot penduduk Najed (Riyadh sekitarnya), 4- Yalamlam (As Sa’diyah), miqot penduduk Yaman, 5- Dzatu ‘Irq (Adh Dhoribah), miqot penduduk Irak. Itulah miqot bagi penduduk daerah tersebut dan yang melewati miqot itu. Wajib bagi setiap yang ingin melaksanakan haji atau umrah ketika ia melewati miqot tersebut, hendaklah berniat ihram. Jika ada yang melewati miqot tanpa beihram -dengan sengaja-, wajib kembali dan berihram dari tempat tersebut lagi. Jika tidak, maka baginya damm dengan menyembelih satu ekor kambing dan disalurkan pada orang-orang miskin di Makkah.   Larangan Ihram 1- Mencukur rambut dari seluruh badan (seperti rambut kepala, bulu ketiak, bulu kemaluan, kumis dan jenggot). 2- Menggunting kuku. 3- Menutup kepala dan menutup wajah bagi perempuan kecuali jika lewat laki-laki yang bukan mahrom di hadapannya. 4- Mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh seperti baju, celana dan sepatu. 5- Menggunakan wewangian. 6- Memburu hewan darat yang halal dimakan. 7- Melakukan khitbah dan akad nikah. 8- Jima’ (hubungan intim). 9- Mencumbu istri di selain kemaluan.   Yang Masih Dibolehkan Saat Ihram 1- Mengenakan: Jam tangan, headset, cincin, sendal, kacamata, ikat pinggang, tas pinggang, payung, perban 2- Merubah posisi pakaian ihram 3- Mencuci pakaian ihram 4- Mandi, membersihkan kepala dan badan 5- Rambut rontok tanpa disengaja   Talbiyah Waktu mulai talbiyah adalah ketika ihram hingga saat memulai thawaf. Bacaan talbiyah: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ.لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ.إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكُ.لاَ شَرِيْكَ لَكَ “Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,  aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu). Ketika bertalbiyah, laki-laki disunnahkan mengeraskan suara.   Sampai di Makkah Jika yang berumrah sudah sampai di Makkah Al Mukarramah disunnahkan baginya untuk mandi ketika sampai, lalu ia pergi ke Masjidil Haram untuk menunaikan manasik umrah. Jika tidak mandi, tidaklah masalah. Ketika akan memasuki Masjidil Haram, hendaklah membaca do’a masuk masjid, اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ “Allahummaf-tahlii abwaaba rohmatik” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).   Thawaf Umrah Kemudian orang yang berumrah menuju Ka’bah untuk melaksanakan thawaf di sekelilingnya. Hendaknya laki-laki melakukan idhtiba’ yaitu dengan membuka pundak kanan dan menjadikan ujung kanan di bawah ketiak, lalu menjadikan ujung yang satu sisi di pundak kiri. Setelah itu dilakukan thawaf sebanyak tujuh kali putaran dimulai dari Hajar Aswad. Jika mampu dan tidak desak-desakan, seseorang yang berthawaf menuju ke Hajar Aswad, lalu menghadapnya sambil membaca “Allahu akbar” atau “Bismillah Allahu akbar” lalu mengusapnya dengan tangan kanan dan menciumnya. Jika tidak memungkinkan untuk menciumnya, maka cukup dengan mengusapnya, lalu mencium tangan yang mengusap hajar Aswad. Jika tidak memungkinkan untuk mengusapnya, maka cukup dengan memberi isyarat kepadanya dengan tangan, namun tidak mencium tangan yang memberi isyarat. Ini dilakukan pada setiap putaran thawaf. Ketika mengililingi Ka’bah, hendaklah tidak desak-desakan dan tidak menyakiti yang lain dengan saling dorong-dorongan, juga tidak perlu berdzikir dengan mengeraskan suara. Jika sampai pada rukun Yamani, bila mampu, hendaklah mengusapnya dengan tangannya. Tidak perlu mencium dan tidak perlu mengusap-ngusapnya seperti kelakuan orang awam. Seperti itu menyelisihi tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak mampu mengusapnya, maka hanya melewatinya saja tanpa memberi isyarat, tanpa pula bertakbir. Disunnahkan antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad untuk membaca do’a, رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Robbanaa aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirooti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari adzab neraka). Disunnahkan melakukan roml. Roml yaitu berjalan cepat dengan memperpendek langkah, sehingga pundak dalam keadaan bergetar dan tidak sampai melompat. Roml ini dilakukan ketika thowaf pada tiga putaran pertama. Sedangkan sisanya berjalan seperti biasa. Thawaf tadi disempurnakan hingga tujuh kali putaran dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir pada Hajar Aswad.   Kesalahan Saat Thawaf 1- Melakukan sebagian thawaf di dalam Hijr Ismail karena berkeyakinan sahnya berthawaf di dalam Ka’bah. Padahal Hijr adalah bagian dari Ka’bah sehingga kita harus melakukan thawaf di luarnya. 2- Mengusap seluruh pojok Ka’bah, kadang ada pula yang mengusap dinding dan penutup Ka’bah, begitu pula dengan pintu Ka’bah dan Maqom Ibrahim. Semua ini tidak boleh karena tidak ada tuntunan dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 3- Saling desak-desakan antara laki-laki dan perempuan saat melalukan thawaf, terutama di Hajar Aswad dan Maqom Ibrahim.   Setelah Melakukan Thawaf Umrah 1- Menutup pundak kanan yang sebelumnya terbuka karena melakukan shalat sunnah idhtiba’ saat thawaf. Setelah itu pundak kembali tertutup. 2- Mengerjakan shalat dua raka’at di belakang Maqom Ibrahim jika mudah. Namun jika menyulitkan, maka shalatlah di tempat mana saja selama di Masjidil Haram. Shalat ini termasuk shalat sunnah muakkad (yang amat ditekankan). 3- Pada saat mengerjakan shalat sunnah tersebut, raka’at pertema setelah membaca Al Fatihah membaca surat Al Kafirun. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca Al Fatihah membaca surat Al Ikhlas. Jika membaca surat lainnya, masih dibolehkan. Setelah mengerjakan thawaf tersebut, lalu menuju bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i. Insya Allah akan berlanjut pada serial terakhir, bi idznillah. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun saat turun karunia hujan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagstata cara umrah umrah


Bagaimana panduan umrah yang praktis dan ringkas? Umrah adalah suatu amalan yang mulia, di mana tata cara pelaksanaannya mesti dilakukan dengan benar dan sesuai tuntunan Islam, bukan asal-asalan.   Sebelum Mengenakan Pakaian Ihram 1- Memotong kuku, menipiskan kumis, mencukur bulu ketiak dan bulu kemaluan. 2- Disunnahkan untuk mandi termasuk bagi wanita haidh dan nifas. 3- Laki-laki hendaklah melepaskan pakaian yang membentuk lekuk tubuh dan mengenakan pakaian ihram. 4- Wanita hendaklah melepas penutup wajah dan tidak mengenakan sarung tangan. 5- Setelah mandi, laki-laki disunnahkan memakai wewangian di badannya saja. Sedangkan wanita boleh memakai wewangian yang tidak nampak baunya. 6- Setelah melakukan itu semua, hendaklah berniat masuk dalam manasik dengan mengucapkan, “Labbaik allahumma ‘umrah” (Aku memenuhi panggilan-Mu -ya Allah- untuk menunaikan ibadah umrah). Jika sudah mengucapkan seperti itu, maka sudah disebut berihram sehingga tidak boleh melakukan larangan-larangan ihram. Jika niat tersebut dijadikan setelah shalat wajib, maka itu lebih baik. Jika tidak bertepatan dengan waktu shalat wajib, maka dilakukan shalat sunnah dua raka’at dengan niatan shalat sunnah wudhu. Sedangkan shalat sunnah ihram seperti yang dilakukan oleh sebagian jama’ah umrah tidaklah ada tuntunannya.   Mengenal Miqot Makaniyah Miqot makaniyah yaitu tempat mulai berihram bagi yang punya niatan haji atau umroh. Ada lima tempat miqot: 1- Dzulhulaifah (Bir ‘Ali), miqot penduduk Madinah 2- Al Juhfah, miqot penduduk Syam, 3- Qornul Manazil (As Sailul Kabiir), miqot penduduk Najed (Riyadh sekitarnya), 4- Yalamlam (As Sa’diyah), miqot penduduk Yaman, 5- Dzatu ‘Irq (Adh Dhoribah), miqot penduduk Irak. Itulah miqot bagi penduduk daerah tersebut dan yang melewati miqot itu. Wajib bagi setiap yang ingin melaksanakan haji atau umrah ketika ia melewati miqot tersebut, hendaklah berniat ihram. Jika ada yang melewati miqot tanpa beihram -dengan sengaja-, wajib kembali dan berihram dari tempat tersebut lagi. Jika tidak, maka baginya damm dengan menyembelih satu ekor kambing dan disalurkan pada orang-orang miskin di Makkah.   Larangan Ihram 1- Mencukur rambut dari seluruh badan (seperti rambut kepala, bulu ketiak, bulu kemaluan, kumis dan jenggot). 2- Menggunting kuku. 3- Menutup kepala dan menutup wajah bagi perempuan kecuali jika lewat laki-laki yang bukan mahrom di hadapannya. 4- Mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh seperti baju, celana dan sepatu. 5- Menggunakan wewangian. 6- Memburu hewan darat yang halal dimakan. 7- Melakukan khitbah dan akad nikah. 8- Jima’ (hubungan intim). 9- Mencumbu istri di selain kemaluan.   Yang Masih Dibolehkan Saat Ihram 1- Mengenakan: Jam tangan, headset, cincin, sendal, kacamata, ikat pinggang, tas pinggang, payung, perban 2- Merubah posisi pakaian ihram 3- Mencuci pakaian ihram 4- Mandi, membersihkan kepala dan badan 5- Rambut rontok tanpa disengaja   Talbiyah Waktu mulai talbiyah adalah ketika ihram hingga saat memulai thawaf. Bacaan talbiyah: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ.لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ.إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكُ.لاَ شَرِيْكَ لَكَ “Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,  aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu). Ketika bertalbiyah, laki-laki disunnahkan mengeraskan suara.   Sampai di Makkah Jika yang berumrah sudah sampai di Makkah Al Mukarramah disunnahkan baginya untuk mandi ketika sampai, lalu ia pergi ke Masjidil Haram untuk menunaikan manasik umrah. Jika tidak mandi, tidaklah masalah. Ketika akan memasuki Masjidil Haram, hendaklah membaca do’a masuk masjid, اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ “Allahummaf-tahlii abwaaba rohmatik” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).   Thawaf Umrah Kemudian orang yang berumrah menuju Ka’bah untuk melaksanakan thawaf di sekelilingnya. Hendaknya laki-laki melakukan idhtiba’ yaitu dengan membuka pundak kanan dan menjadikan ujung kanan di bawah ketiak, lalu menjadikan ujung yang satu sisi di pundak kiri. Setelah itu dilakukan thawaf sebanyak tujuh kali putaran dimulai dari Hajar Aswad. Jika mampu dan tidak desak-desakan, seseorang yang berthawaf menuju ke Hajar Aswad, lalu menghadapnya sambil membaca “Allahu akbar” atau “Bismillah Allahu akbar” lalu mengusapnya dengan tangan kanan dan menciumnya. Jika tidak memungkinkan untuk menciumnya, maka cukup dengan mengusapnya, lalu mencium tangan yang mengusap hajar Aswad. Jika tidak memungkinkan untuk mengusapnya, maka cukup dengan memberi isyarat kepadanya dengan tangan, namun tidak mencium tangan yang memberi isyarat. Ini dilakukan pada setiap putaran thawaf. Ketika mengililingi Ka’bah, hendaklah tidak desak-desakan dan tidak menyakiti yang lain dengan saling dorong-dorongan, juga tidak perlu berdzikir dengan mengeraskan suara. Jika sampai pada rukun Yamani, bila mampu, hendaklah mengusapnya dengan tangannya. Tidak perlu mencium dan tidak perlu mengusap-ngusapnya seperti kelakuan orang awam. Seperti itu menyelisihi tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak mampu mengusapnya, maka hanya melewatinya saja tanpa memberi isyarat, tanpa pula bertakbir. Disunnahkan antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad untuk membaca do’a, رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Robbanaa aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirooti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari adzab neraka). Disunnahkan melakukan roml. Roml yaitu berjalan cepat dengan memperpendek langkah, sehingga pundak dalam keadaan bergetar dan tidak sampai melompat. Roml ini dilakukan ketika thowaf pada tiga putaran pertama. Sedangkan sisanya berjalan seperti biasa. Thawaf tadi disempurnakan hingga tujuh kali putaran dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir pada Hajar Aswad.   Kesalahan Saat Thawaf 1- Melakukan sebagian thawaf di dalam Hijr Ismail karena berkeyakinan sahnya berthawaf di dalam Ka’bah. Padahal Hijr adalah bagian dari Ka’bah sehingga kita harus melakukan thawaf di luarnya. 2- Mengusap seluruh pojok Ka’bah, kadang ada pula yang mengusap dinding dan penutup Ka’bah, begitu pula dengan pintu Ka’bah dan Maqom Ibrahim. Semua ini tidak boleh karena tidak ada tuntunan dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 3- Saling desak-desakan antara laki-laki dan perempuan saat melalukan thawaf, terutama di Hajar Aswad dan Maqom Ibrahim.   Setelah Melakukan Thawaf Umrah 1- Menutup pundak kanan yang sebelumnya terbuka karena melakukan shalat sunnah idhtiba’ saat thawaf. Setelah itu pundak kembali tertutup. 2- Mengerjakan shalat dua raka’at di belakang Maqom Ibrahim jika mudah. Namun jika menyulitkan, maka shalatlah di tempat mana saja selama di Masjidil Haram. Shalat ini termasuk shalat sunnah muakkad (yang amat ditekankan). 3- Pada saat mengerjakan shalat sunnah tersebut, raka’at pertema setelah membaca Al Fatihah membaca surat Al Kafirun. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca Al Fatihah membaca surat Al Ikhlas. Jika membaca surat lainnya, masih dibolehkan. Setelah mengerjakan thawaf tersebut, lalu menuju bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i. Insya Allah akan berlanjut pada serial terakhir, bi idznillah. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun saat turun karunia hujan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagstata cara umrah umrah

Hidup di Dunia Tak Akan Lepas dari Ujian

Barang siapa yang masih ingin hidup di dunia maka berarti dia masih ingin diuji, karena kehidupan tak lepas dari ujian…Barang siapa yg ingin hidup selalu tentram dan senang tanpa ada ujian sama sekali, maka sungguh ia telah mengharapkan kemustahilan…, bahkan pada hakekatnya dia sedang mengharapkan kematian…Ternyata setelah kematian pun di alam kubur dan di padang masyhar masih ada ujian berat yang menanti…Tidak ada peristirahatan yang hakiki kecuali di surga…Sungguh kita semua adalah musafir…dan kita tdk akan berhenti dari safar kita hingga kita sampai pada tujuan terakhir…surga atau neraka… 

Hidup di Dunia Tak Akan Lepas dari Ujian

Barang siapa yang masih ingin hidup di dunia maka berarti dia masih ingin diuji, karena kehidupan tak lepas dari ujian…Barang siapa yg ingin hidup selalu tentram dan senang tanpa ada ujian sama sekali, maka sungguh ia telah mengharapkan kemustahilan…, bahkan pada hakekatnya dia sedang mengharapkan kematian…Ternyata setelah kematian pun di alam kubur dan di padang masyhar masih ada ujian berat yang menanti…Tidak ada peristirahatan yang hakiki kecuali di surga…Sungguh kita semua adalah musafir…dan kita tdk akan berhenti dari safar kita hingga kita sampai pada tujuan terakhir…surga atau neraka… 
Barang siapa yang masih ingin hidup di dunia maka berarti dia masih ingin diuji, karena kehidupan tak lepas dari ujian…Barang siapa yg ingin hidup selalu tentram dan senang tanpa ada ujian sama sekali, maka sungguh ia telah mengharapkan kemustahilan…, bahkan pada hakekatnya dia sedang mengharapkan kematian…Ternyata setelah kematian pun di alam kubur dan di padang masyhar masih ada ujian berat yang menanti…Tidak ada peristirahatan yang hakiki kecuali di surga…Sungguh kita semua adalah musafir…dan kita tdk akan berhenti dari safar kita hingga kita sampai pada tujuan terakhir…surga atau neraka… 


Barang siapa yang masih ingin hidup di dunia maka berarti dia masih ingin diuji, karena kehidupan tak lepas dari ujian…Barang siapa yg ingin hidup selalu tentram dan senang tanpa ada ujian sama sekali, maka sungguh ia telah mengharapkan kemustahilan…, bahkan pada hakekatnya dia sedang mengharapkan kematian…Ternyata setelah kematian pun di alam kubur dan di padang masyhar masih ada ujian berat yang menanti…Tidak ada peristirahatan yang hakiki kecuali di surga…Sungguh kita semua adalah musafir…dan kita tdk akan berhenti dari safar kita hingga kita sampai pada tujuan terakhir…surga atau neraka… 

Hukum Foto Pre Wedding

Belum nikah, berarti seorang wanita belum halal bagi laki-laki. Bukan hanya tidak boleh halal hubungan intim, namun segala hal yang menuju zina pun diharamkan. Termasuk yang menyebar luas di kalangan kaum muslimin saat ini adalah foto pre wedding. Foto seperti ini tidak dibolehkan karena status pasangan tersebut belum sah. Sehingga bersentuhan, berdua-duaan, saling berhias diri satu sama lain masih haram. Segala Perantara Menuju Zina Diharamkan Allah Ta’ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32). Dalam ayat ini Allah melarang hamba-Nya untuk berbuat zina dan mendekatinya. Begitu pula tidak boleh menerjang hal-hal yang mendekati dan mendorong untuk berbuat zina. Demikian kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Jadi, dalil di atas secara umum menunjukkan terlarangnya zina dan hal-hal yang mendekati zina, termasuk di sini adalah berdua-duaan saat foto pre-wedding. Beberapa Kesalahan dalam Foto Pre Wedding 1- Ikhtilat dan Kholwat Walau memakai jilbab saat foto pre wedding, tetap saja tidak boleh. Karena Islam melarang berdua-duaan antara pasangan yang belum halal, disebut kholwat. Islam juga melarang ikhtilat, yaitu campur baur antara laki-laki dan perempuan. Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا وَمَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ “Janganlah salah seorang di antara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad 1: 18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَبِيتَنَّ رَجُلٌ عِنْدَ امْرَأَةٍ ثَيِّبٍ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ نَاكِحًا أَوْ ذَا مَحْرَمٍ “Ketahuilah! Seorang laki-laki bukan muhrim tidak boleh bermalam di rumah perempuan janda, kecuali jika dia telah menikah, atau ada muhrimnya.” (HR. Muslim no. 2171) 2- Membuka aurat Ada juga yang sampai membuka aurat yang haram untuk dilihat. Seperti ini pun tidak dibolehkan bahkan termasuk dosa besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128) Dalam hadits di atas disebutkan beberapa sifat wanita yang diancam tidak mencium bau surga di mana disebutkan, وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ Yaitu para wanita yang: (1) berpakaian tetapi telanjang, (2) maa-ilaat wa mumiilaat, (3) kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Yang dimaksud berpakaian tetapi telanjang adalah wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan menyingkap sebagian lainnya, artinya sengaja membuka sebagian aurat. Adapun maa-ilaat adalah berjalan sambil memakai wangi-wangian dan mumilaat yaitu berjalan sambil menggoyangkan kedua pundaknya atau bahunya. Sedangkan wanita yang kepalanya seperti punuk unta yang miring adalah wanita yang sengaja memperbesar kepalanya dengan mengumpulkan rambut di atas kepalanya seakan-akan memakai serban (sorban). Nah, sifat-sifat di atas yang kita temukan juga pada foto pre-wedding ketika banyak wanita yang berpose dengan pamer aurat tanpa ada rasa malu. 3- Bersentuhan dengan lawan jenis yang haram Ada juga yang dalam foto saling bersentuhan padahal belum halal. Dalam hadits terdapat ancaman keras, لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ “Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). 4- Tabarruj yang tidak dibolehkan So pasti … wanita berpose manis saat itu. Padahal berpenampilan tabarruj seperti ini diharamkan. Apa itu tabarruj? Di antara maksudnya adalah berdandan menor dan berhias diri. Itulah yang kita lihat pada foto pre wedding. Allah memerintahkan pada para wanita, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al Ahzab: 33). Maqotil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah. Silakan kaji dari kitab Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 183 (terbitan Dar Ibnul Jauzi). Jika seorang wanita memakai make-up, bedak tebal, eye shadow, lipstick, maka itu sama saja ia menampakkan perhiasan diri. Inilah yang terlarang dalam ayat, وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur: 31). 5- Jika sampai ada adegan “kiss” (ciuman) Jika sampai ada adegan kissing -padahal belum halal sebagai suami istri-, maka ini jelas lebih parah lagi. Ada hadits yang menyebutkan, أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ « لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ » Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763). Hadits ini menunjukkan berciuman bagi pasangan yang belum halal adalah satu hal yang diharamkan dan dihukumi dosa karena sahabat Nabi yang disebutkan dalam hadits ini menyesal dan ingin bertaubat. Hukum Foto Pre Wedding Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengeluarkan fatwa bahwa foto pre wedding adalah haram. Prof. Dr. Abdullah Syah, MA. mengatakan bahwa foto pre wedding yang dimaksud adalah foto mesra calon suami dan calon istri yang dilakukan sebelum akad nikah. Foto pre-wedding diharamkan karena saat berfoto itu mereka belum memiliki ikatan apa-apa. Itu tidak dibenarkan dalam hukum Islam. Ringkasnya, foto pre wedding diharamkan karena dengan 2 pertimbangan, yang pertama yaitu bagi pasangan mempelai dan fotografer yang melakukannya. Untuk mempelai diharamkan karena dalam pembuatan foto dilakukan dengan dibarengi adanya ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan), kholwat (berduaan) dan kasyful aurat (membuka aurat). Sementara pekerjaan fotografer pre wedding juga diharamkan karena dianggap menunjukkan sikap rela dengan kemaksiatan. Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas shalat Maghrib di Masjid Jaami’ Al Adha Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim dan akan diperintah untuk ditransfer. Tagsdandan hukum gambar kesalahan nikah nikah

Hukum Foto Pre Wedding

Belum nikah, berarti seorang wanita belum halal bagi laki-laki. Bukan hanya tidak boleh halal hubungan intim, namun segala hal yang menuju zina pun diharamkan. Termasuk yang menyebar luas di kalangan kaum muslimin saat ini adalah foto pre wedding. Foto seperti ini tidak dibolehkan karena status pasangan tersebut belum sah. Sehingga bersentuhan, berdua-duaan, saling berhias diri satu sama lain masih haram. Segala Perantara Menuju Zina Diharamkan Allah Ta’ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32). Dalam ayat ini Allah melarang hamba-Nya untuk berbuat zina dan mendekatinya. Begitu pula tidak boleh menerjang hal-hal yang mendekati dan mendorong untuk berbuat zina. Demikian kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Jadi, dalil di atas secara umum menunjukkan terlarangnya zina dan hal-hal yang mendekati zina, termasuk di sini adalah berdua-duaan saat foto pre-wedding. Beberapa Kesalahan dalam Foto Pre Wedding 1- Ikhtilat dan Kholwat Walau memakai jilbab saat foto pre wedding, tetap saja tidak boleh. Karena Islam melarang berdua-duaan antara pasangan yang belum halal, disebut kholwat. Islam juga melarang ikhtilat, yaitu campur baur antara laki-laki dan perempuan. Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا وَمَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ “Janganlah salah seorang di antara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad 1: 18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَبِيتَنَّ رَجُلٌ عِنْدَ امْرَأَةٍ ثَيِّبٍ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ نَاكِحًا أَوْ ذَا مَحْرَمٍ “Ketahuilah! Seorang laki-laki bukan muhrim tidak boleh bermalam di rumah perempuan janda, kecuali jika dia telah menikah, atau ada muhrimnya.” (HR. Muslim no. 2171) 2- Membuka aurat Ada juga yang sampai membuka aurat yang haram untuk dilihat. Seperti ini pun tidak dibolehkan bahkan termasuk dosa besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128) Dalam hadits di atas disebutkan beberapa sifat wanita yang diancam tidak mencium bau surga di mana disebutkan, وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ Yaitu para wanita yang: (1) berpakaian tetapi telanjang, (2) maa-ilaat wa mumiilaat, (3) kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Yang dimaksud berpakaian tetapi telanjang adalah wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan menyingkap sebagian lainnya, artinya sengaja membuka sebagian aurat. Adapun maa-ilaat adalah berjalan sambil memakai wangi-wangian dan mumilaat yaitu berjalan sambil menggoyangkan kedua pundaknya atau bahunya. Sedangkan wanita yang kepalanya seperti punuk unta yang miring adalah wanita yang sengaja memperbesar kepalanya dengan mengumpulkan rambut di atas kepalanya seakan-akan memakai serban (sorban). Nah, sifat-sifat di atas yang kita temukan juga pada foto pre-wedding ketika banyak wanita yang berpose dengan pamer aurat tanpa ada rasa malu. 3- Bersentuhan dengan lawan jenis yang haram Ada juga yang dalam foto saling bersentuhan padahal belum halal. Dalam hadits terdapat ancaman keras, لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ “Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). 4- Tabarruj yang tidak dibolehkan So pasti … wanita berpose manis saat itu. Padahal berpenampilan tabarruj seperti ini diharamkan. Apa itu tabarruj? Di antara maksudnya adalah berdandan menor dan berhias diri. Itulah yang kita lihat pada foto pre wedding. Allah memerintahkan pada para wanita, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al Ahzab: 33). Maqotil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah. Silakan kaji dari kitab Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 183 (terbitan Dar Ibnul Jauzi). Jika seorang wanita memakai make-up, bedak tebal, eye shadow, lipstick, maka itu sama saja ia menampakkan perhiasan diri. Inilah yang terlarang dalam ayat, وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur: 31). 5- Jika sampai ada adegan “kiss” (ciuman) Jika sampai ada adegan kissing -padahal belum halal sebagai suami istri-, maka ini jelas lebih parah lagi. Ada hadits yang menyebutkan, أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ « لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ » Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763). Hadits ini menunjukkan berciuman bagi pasangan yang belum halal adalah satu hal yang diharamkan dan dihukumi dosa karena sahabat Nabi yang disebutkan dalam hadits ini menyesal dan ingin bertaubat. Hukum Foto Pre Wedding Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengeluarkan fatwa bahwa foto pre wedding adalah haram. Prof. Dr. Abdullah Syah, MA. mengatakan bahwa foto pre wedding yang dimaksud adalah foto mesra calon suami dan calon istri yang dilakukan sebelum akad nikah. Foto pre-wedding diharamkan karena saat berfoto itu mereka belum memiliki ikatan apa-apa. Itu tidak dibenarkan dalam hukum Islam. Ringkasnya, foto pre wedding diharamkan karena dengan 2 pertimbangan, yang pertama yaitu bagi pasangan mempelai dan fotografer yang melakukannya. Untuk mempelai diharamkan karena dalam pembuatan foto dilakukan dengan dibarengi adanya ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan), kholwat (berduaan) dan kasyful aurat (membuka aurat). Sementara pekerjaan fotografer pre wedding juga diharamkan karena dianggap menunjukkan sikap rela dengan kemaksiatan. Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas shalat Maghrib di Masjid Jaami’ Al Adha Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim dan akan diperintah untuk ditransfer. Tagsdandan hukum gambar kesalahan nikah nikah
Belum nikah, berarti seorang wanita belum halal bagi laki-laki. Bukan hanya tidak boleh halal hubungan intim, namun segala hal yang menuju zina pun diharamkan. Termasuk yang menyebar luas di kalangan kaum muslimin saat ini adalah foto pre wedding. Foto seperti ini tidak dibolehkan karena status pasangan tersebut belum sah. Sehingga bersentuhan, berdua-duaan, saling berhias diri satu sama lain masih haram. Segala Perantara Menuju Zina Diharamkan Allah Ta’ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32). Dalam ayat ini Allah melarang hamba-Nya untuk berbuat zina dan mendekatinya. Begitu pula tidak boleh menerjang hal-hal yang mendekati dan mendorong untuk berbuat zina. Demikian kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Jadi, dalil di atas secara umum menunjukkan terlarangnya zina dan hal-hal yang mendekati zina, termasuk di sini adalah berdua-duaan saat foto pre-wedding. Beberapa Kesalahan dalam Foto Pre Wedding 1- Ikhtilat dan Kholwat Walau memakai jilbab saat foto pre wedding, tetap saja tidak boleh. Karena Islam melarang berdua-duaan antara pasangan yang belum halal, disebut kholwat. Islam juga melarang ikhtilat, yaitu campur baur antara laki-laki dan perempuan. Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا وَمَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ “Janganlah salah seorang di antara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad 1: 18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَبِيتَنَّ رَجُلٌ عِنْدَ امْرَأَةٍ ثَيِّبٍ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ نَاكِحًا أَوْ ذَا مَحْرَمٍ “Ketahuilah! Seorang laki-laki bukan muhrim tidak boleh bermalam di rumah perempuan janda, kecuali jika dia telah menikah, atau ada muhrimnya.” (HR. Muslim no. 2171) 2- Membuka aurat Ada juga yang sampai membuka aurat yang haram untuk dilihat. Seperti ini pun tidak dibolehkan bahkan termasuk dosa besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128) Dalam hadits di atas disebutkan beberapa sifat wanita yang diancam tidak mencium bau surga di mana disebutkan, وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ Yaitu para wanita yang: (1) berpakaian tetapi telanjang, (2) maa-ilaat wa mumiilaat, (3) kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Yang dimaksud berpakaian tetapi telanjang adalah wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan menyingkap sebagian lainnya, artinya sengaja membuka sebagian aurat. Adapun maa-ilaat adalah berjalan sambil memakai wangi-wangian dan mumilaat yaitu berjalan sambil menggoyangkan kedua pundaknya atau bahunya. Sedangkan wanita yang kepalanya seperti punuk unta yang miring adalah wanita yang sengaja memperbesar kepalanya dengan mengumpulkan rambut di atas kepalanya seakan-akan memakai serban (sorban). Nah, sifat-sifat di atas yang kita temukan juga pada foto pre-wedding ketika banyak wanita yang berpose dengan pamer aurat tanpa ada rasa malu. 3- Bersentuhan dengan lawan jenis yang haram Ada juga yang dalam foto saling bersentuhan padahal belum halal. Dalam hadits terdapat ancaman keras, لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ “Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). 4- Tabarruj yang tidak dibolehkan So pasti … wanita berpose manis saat itu. Padahal berpenampilan tabarruj seperti ini diharamkan. Apa itu tabarruj? Di antara maksudnya adalah berdandan menor dan berhias diri. Itulah yang kita lihat pada foto pre wedding. Allah memerintahkan pada para wanita, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al Ahzab: 33). Maqotil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah. Silakan kaji dari kitab Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 183 (terbitan Dar Ibnul Jauzi). Jika seorang wanita memakai make-up, bedak tebal, eye shadow, lipstick, maka itu sama saja ia menampakkan perhiasan diri. Inilah yang terlarang dalam ayat, وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur: 31). 5- Jika sampai ada adegan “kiss” (ciuman) Jika sampai ada adegan kissing -padahal belum halal sebagai suami istri-, maka ini jelas lebih parah lagi. Ada hadits yang menyebutkan, أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ « لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ » Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763). Hadits ini menunjukkan berciuman bagi pasangan yang belum halal adalah satu hal yang diharamkan dan dihukumi dosa karena sahabat Nabi yang disebutkan dalam hadits ini menyesal dan ingin bertaubat. Hukum Foto Pre Wedding Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengeluarkan fatwa bahwa foto pre wedding adalah haram. Prof. Dr. Abdullah Syah, MA. mengatakan bahwa foto pre wedding yang dimaksud adalah foto mesra calon suami dan calon istri yang dilakukan sebelum akad nikah. Foto pre-wedding diharamkan karena saat berfoto itu mereka belum memiliki ikatan apa-apa. Itu tidak dibenarkan dalam hukum Islam. Ringkasnya, foto pre wedding diharamkan karena dengan 2 pertimbangan, yang pertama yaitu bagi pasangan mempelai dan fotografer yang melakukannya. Untuk mempelai diharamkan karena dalam pembuatan foto dilakukan dengan dibarengi adanya ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan), kholwat (berduaan) dan kasyful aurat (membuka aurat). Sementara pekerjaan fotografer pre wedding juga diharamkan karena dianggap menunjukkan sikap rela dengan kemaksiatan. Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas shalat Maghrib di Masjid Jaami’ Al Adha Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim dan akan diperintah untuk ditransfer. Tagsdandan hukum gambar kesalahan nikah nikah


Belum nikah, berarti seorang wanita belum halal bagi laki-laki. Bukan hanya tidak boleh halal hubungan intim, namun segala hal yang menuju zina pun diharamkan. Termasuk yang menyebar luas di kalangan kaum muslimin saat ini adalah foto pre wedding. Foto seperti ini tidak dibolehkan karena status pasangan tersebut belum sah. Sehingga bersentuhan, berdua-duaan, saling berhias diri satu sama lain masih haram. Segala Perantara Menuju Zina Diharamkan Allah Ta’ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32). Dalam ayat ini Allah melarang hamba-Nya untuk berbuat zina dan mendekatinya. Begitu pula tidak boleh menerjang hal-hal yang mendekati dan mendorong untuk berbuat zina. Demikian kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Jadi, dalil di atas secara umum menunjukkan terlarangnya zina dan hal-hal yang mendekati zina, termasuk di sini adalah berdua-duaan saat foto pre-wedding. Beberapa Kesalahan dalam Foto Pre Wedding 1- Ikhtilat dan Kholwat Walau memakai jilbab saat foto pre wedding, tetap saja tidak boleh. Karena Islam melarang berdua-duaan antara pasangan yang belum halal, disebut kholwat. Islam juga melarang ikhtilat, yaitu campur baur antara laki-laki dan perempuan. Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا وَمَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ “Janganlah salah seorang di antara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad 1: 18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَبِيتَنَّ رَجُلٌ عِنْدَ امْرَأَةٍ ثَيِّبٍ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ نَاكِحًا أَوْ ذَا مَحْرَمٍ “Ketahuilah! Seorang laki-laki bukan muhrim tidak boleh bermalam di rumah perempuan janda, kecuali jika dia telah menikah, atau ada muhrimnya.” (HR. Muslim no. 2171) 2- Membuka aurat Ada juga yang sampai membuka aurat yang haram untuk dilihat. Seperti ini pun tidak dibolehkan bahkan termasuk dosa besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128) Dalam hadits di atas disebutkan beberapa sifat wanita yang diancam tidak mencium bau surga di mana disebutkan, وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ Yaitu para wanita yang: (1) berpakaian tetapi telanjang, (2) maa-ilaat wa mumiilaat, (3) kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Yang dimaksud berpakaian tetapi telanjang adalah wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan menyingkap sebagian lainnya, artinya sengaja membuka sebagian aurat. Adapun maa-ilaat adalah berjalan sambil memakai wangi-wangian dan mumilaat yaitu berjalan sambil menggoyangkan kedua pundaknya atau bahunya. Sedangkan wanita yang kepalanya seperti punuk unta yang miring adalah wanita yang sengaja memperbesar kepalanya dengan mengumpulkan rambut di atas kepalanya seakan-akan memakai serban (sorban). Nah, sifat-sifat di atas yang kita temukan juga pada foto pre-wedding ketika banyak wanita yang berpose dengan pamer aurat tanpa ada rasa malu. 3- Bersentuhan dengan lawan jenis yang haram Ada juga yang dalam foto saling bersentuhan padahal belum halal. Dalam hadits terdapat ancaman keras, لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ “Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). 4- Tabarruj yang tidak dibolehkan So pasti … wanita berpose manis saat itu. Padahal berpenampilan tabarruj seperti ini diharamkan. Apa itu tabarruj? Di antara maksudnya adalah berdandan menor dan berhias diri. Itulah yang kita lihat pada foto pre wedding. Allah memerintahkan pada para wanita, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al Ahzab: 33). Maqotil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah. Silakan kaji dari kitab Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 183 (terbitan Dar Ibnul Jauzi). Jika seorang wanita memakai make-up, bedak tebal, eye shadow, lipstick, maka itu sama saja ia menampakkan perhiasan diri. Inilah yang terlarang dalam ayat, وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur: 31). 5- Jika sampai ada adegan “kiss” (ciuman) Jika sampai ada adegan kissing -padahal belum halal sebagai suami istri-, maka ini jelas lebih parah lagi. Ada hadits yang menyebutkan, أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ « لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ » Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763). Hadits ini menunjukkan berciuman bagi pasangan yang belum halal adalah satu hal yang diharamkan dan dihukumi dosa karena sahabat Nabi yang disebutkan dalam hadits ini menyesal dan ingin bertaubat. Hukum Foto Pre Wedding Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengeluarkan fatwa bahwa foto pre wedding adalah haram. Prof. Dr. Abdullah Syah, MA. mengatakan bahwa foto pre wedding yang dimaksud adalah foto mesra calon suami dan calon istri yang dilakukan sebelum akad nikah. Foto pre-wedding diharamkan karena saat berfoto itu mereka belum memiliki ikatan apa-apa. Itu tidak dibenarkan dalam hukum Islam. Ringkasnya, foto pre wedding diharamkan karena dengan 2 pertimbangan, yang pertama yaitu bagi pasangan mempelai dan fotografer yang melakukannya. Untuk mempelai diharamkan karena dalam pembuatan foto dilakukan dengan dibarengi adanya ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan), kholwat (berduaan) dan kasyful aurat (membuka aurat). Sementara pekerjaan fotografer pre wedding juga diharamkan karena dianggap menunjukkan sikap rela dengan kemaksiatan. Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas shalat Maghrib di Masjid Jaami’ Al Adha Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim dan akan diperintah untuk ditransfer. Tagsdandan hukum gambar kesalahan nikah nikah

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: Anak Dan Rukun Iman Bagian 1

22DecSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: Anak Dan Rukun Iman Bagian 1December 22, 2013Akhlak, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Orang tua seyogyanya berusaha mengajarkan ilmu agama sendiri kepada anak-anaknya. Agar mereka benar-benar menjadi anak hakiki orang tuanya, bukan sekedar menjadi anak biologisnya. Supaya bisa merealisasikan hal tersebut, maka para orang tua harus mengetahui hal-hal prinsip yang perlu diajarkan kepada anak pertama kali. Dalam agama kita, tentu yang dijadikan prioritas adalah rukun iman dan rukun islam. Berikut sedikit penjabaran tentang rukun iman. Semoga bisa sedikit membantu para orang tua dalam proses transfer ilmu agama kepada buah hati mereka, amien. Setiap bayi yang lahir, diciptakan Allah ta’ala di atas fitrah keimanan. Allah berfirman, إِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا “Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus. Setelah itu datanglah setan-setan yang menggelincirkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan atas mereka apa yang sebenarnya Allah halalkan bagi mereka. Juga menyuruh mereka agar menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan tentangnya”. HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Yang dimaksud adalah fitrah Islam berupa tauhid dan pengetahuan tentang Rabbnya. Artinya, apabila bayi itu dibiarkan berkembang dengan sendirinya (tanpa ada pengaruh apa-apa), niscaya ia akan memilih jalan iman. Karena memang ia tercipta di atas karakter yang siap untuk menerima syariat. Andaikan saja ia dibiarkan terus di atas fitrah tersebut, maka ia tetap akan berpegang padanya, ia tidak akan melepasnya dan tidak cenderung kepada yang lain. Namun, karena bayi hidup di dunia ini tidak sendirian, banyak anasir-anasir luar yang mengintai untuk mempengaruhi mereka, maka orang tua harus siap siaga. Siap untuk membentengi anak dari faktor-faktor negatif luar. Caranya adalah mengajarkan keimanan kepada mereka sejak dini. Namun satu hal penting yang harus diingat oleh siapapun yang ingin mengajar anak kecil, ia harus menyesuaikan bahasa penyampaian dengan tingkat pemahaman anak. Ia perlu menggunakan bahasa yang simpel, ungkapan yang mudah dicerna, juga dibumbui dengan contoh-contoh nyata yang bisa ditangkap oleh anak. Jika tidak, maka proses pembelajaran tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. InsyaAllah pada beberapa kajian ke depan, kita akan mencoba belajar cara menyampaikan rukun iman dengan kepada anak dengan bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Semoga bermanfaat! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Shafar 1435 / 9 Desember 2013 * Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 63-64) dengan berbagai tambahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: Anak Dan Rukun Iman Bagian 1

22DecSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: Anak Dan Rukun Iman Bagian 1December 22, 2013Akhlak, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Orang tua seyogyanya berusaha mengajarkan ilmu agama sendiri kepada anak-anaknya. Agar mereka benar-benar menjadi anak hakiki orang tuanya, bukan sekedar menjadi anak biologisnya. Supaya bisa merealisasikan hal tersebut, maka para orang tua harus mengetahui hal-hal prinsip yang perlu diajarkan kepada anak pertama kali. Dalam agama kita, tentu yang dijadikan prioritas adalah rukun iman dan rukun islam. Berikut sedikit penjabaran tentang rukun iman. Semoga bisa sedikit membantu para orang tua dalam proses transfer ilmu agama kepada buah hati mereka, amien. Setiap bayi yang lahir, diciptakan Allah ta’ala di atas fitrah keimanan. Allah berfirman, إِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا “Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus. Setelah itu datanglah setan-setan yang menggelincirkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan atas mereka apa yang sebenarnya Allah halalkan bagi mereka. Juga menyuruh mereka agar menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan tentangnya”. HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Yang dimaksud adalah fitrah Islam berupa tauhid dan pengetahuan tentang Rabbnya. Artinya, apabila bayi itu dibiarkan berkembang dengan sendirinya (tanpa ada pengaruh apa-apa), niscaya ia akan memilih jalan iman. Karena memang ia tercipta di atas karakter yang siap untuk menerima syariat. Andaikan saja ia dibiarkan terus di atas fitrah tersebut, maka ia tetap akan berpegang padanya, ia tidak akan melepasnya dan tidak cenderung kepada yang lain. Namun, karena bayi hidup di dunia ini tidak sendirian, banyak anasir-anasir luar yang mengintai untuk mempengaruhi mereka, maka orang tua harus siap siaga. Siap untuk membentengi anak dari faktor-faktor negatif luar. Caranya adalah mengajarkan keimanan kepada mereka sejak dini. Namun satu hal penting yang harus diingat oleh siapapun yang ingin mengajar anak kecil, ia harus menyesuaikan bahasa penyampaian dengan tingkat pemahaman anak. Ia perlu menggunakan bahasa yang simpel, ungkapan yang mudah dicerna, juga dibumbui dengan contoh-contoh nyata yang bisa ditangkap oleh anak. Jika tidak, maka proses pembelajaran tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. InsyaAllah pada beberapa kajian ke depan, kita akan mencoba belajar cara menyampaikan rukun iman dengan kepada anak dengan bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Semoga bermanfaat! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Shafar 1435 / 9 Desember 2013 * Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 63-64) dengan berbagai tambahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
22DecSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: Anak Dan Rukun Iman Bagian 1December 22, 2013Akhlak, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Orang tua seyogyanya berusaha mengajarkan ilmu agama sendiri kepada anak-anaknya. Agar mereka benar-benar menjadi anak hakiki orang tuanya, bukan sekedar menjadi anak biologisnya. Supaya bisa merealisasikan hal tersebut, maka para orang tua harus mengetahui hal-hal prinsip yang perlu diajarkan kepada anak pertama kali. Dalam agama kita, tentu yang dijadikan prioritas adalah rukun iman dan rukun islam. Berikut sedikit penjabaran tentang rukun iman. Semoga bisa sedikit membantu para orang tua dalam proses transfer ilmu agama kepada buah hati mereka, amien. Setiap bayi yang lahir, diciptakan Allah ta’ala di atas fitrah keimanan. Allah berfirman, إِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا “Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus. Setelah itu datanglah setan-setan yang menggelincirkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan atas mereka apa yang sebenarnya Allah halalkan bagi mereka. Juga menyuruh mereka agar menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan tentangnya”. HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Yang dimaksud adalah fitrah Islam berupa tauhid dan pengetahuan tentang Rabbnya. Artinya, apabila bayi itu dibiarkan berkembang dengan sendirinya (tanpa ada pengaruh apa-apa), niscaya ia akan memilih jalan iman. Karena memang ia tercipta di atas karakter yang siap untuk menerima syariat. Andaikan saja ia dibiarkan terus di atas fitrah tersebut, maka ia tetap akan berpegang padanya, ia tidak akan melepasnya dan tidak cenderung kepada yang lain. Namun, karena bayi hidup di dunia ini tidak sendirian, banyak anasir-anasir luar yang mengintai untuk mempengaruhi mereka, maka orang tua harus siap siaga. Siap untuk membentengi anak dari faktor-faktor negatif luar. Caranya adalah mengajarkan keimanan kepada mereka sejak dini. Namun satu hal penting yang harus diingat oleh siapapun yang ingin mengajar anak kecil, ia harus menyesuaikan bahasa penyampaian dengan tingkat pemahaman anak. Ia perlu menggunakan bahasa yang simpel, ungkapan yang mudah dicerna, juga dibumbui dengan contoh-contoh nyata yang bisa ditangkap oleh anak. Jika tidak, maka proses pembelajaran tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. InsyaAllah pada beberapa kajian ke depan, kita akan mencoba belajar cara menyampaikan rukun iman dengan kepada anak dengan bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Semoga bermanfaat! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Shafar 1435 / 9 Desember 2013 * Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 63-64) dengan berbagai tambahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


22DecSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: Anak Dan Rukun Iman Bagian 1December 22, 2013Akhlak, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Orang tua seyogyanya berusaha mengajarkan ilmu agama sendiri kepada anak-anaknya. Agar mereka benar-benar menjadi anak hakiki orang tuanya, bukan sekedar menjadi anak biologisnya. Supaya bisa merealisasikan hal tersebut, maka para orang tua harus mengetahui hal-hal prinsip yang perlu diajarkan kepada anak pertama kali. Dalam agama kita, tentu yang dijadikan prioritas adalah rukun iman dan rukun islam. Berikut sedikit penjabaran tentang rukun iman. Semoga bisa sedikit membantu para orang tua dalam proses transfer ilmu agama kepada buah hati mereka, amien. Setiap bayi yang lahir, diciptakan Allah ta’ala di atas fitrah keimanan. Allah berfirman, إِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا “Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus. Setelah itu datanglah setan-setan yang menggelincirkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan atas mereka apa yang sebenarnya Allah halalkan bagi mereka. Juga menyuruh mereka agar menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan tentangnya”. HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Yang dimaksud adalah fitrah Islam berupa tauhid dan pengetahuan tentang Rabbnya. Artinya, apabila bayi itu dibiarkan berkembang dengan sendirinya (tanpa ada pengaruh apa-apa), niscaya ia akan memilih jalan iman. Karena memang ia tercipta di atas karakter yang siap untuk menerima syariat. Andaikan saja ia dibiarkan terus di atas fitrah tersebut, maka ia tetap akan berpegang padanya, ia tidak akan melepasnya dan tidak cenderung kepada yang lain. Namun, karena bayi hidup di dunia ini tidak sendirian, banyak anasir-anasir luar yang mengintai untuk mempengaruhi mereka, maka orang tua harus siap siaga. Siap untuk membentengi anak dari faktor-faktor negatif luar. Caranya adalah mengajarkan keimanan kepada mereka sejak dini. Namun satu hal penting yang harus diingat oleh siapapun yang ingin mengajar anak kecil, ia harus menyesuaikan bahasa penyampaian dengan tingkat pemahaman anak. Ia perlu menggunakan bahasa yang simpel, ungkapan yang mudah dicerna, juga dibumbui dengan contoh-contoh nyata yang bisa ditangkap oleh anak. Jika tidak, maka proses pembelajaran tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. InsyaAllah pada beberapa kajian ke depan, kita akan mencoba belajar cara menyampaikan rukun iman dengan kepada anak dengan bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Semoga bermanfaat! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Shafar 1435 / 9 Desember 2013 * Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 63-64) dengan berbagai tambahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

KERAJAAN SALAFY

DR. Anis Thahir Al Andunisy berkata:“Dakwah salaf itu bukan istana yang memiliki benteng dan penjaga. Sehingga siapa saja yang mau masuk harus laporan dulu sama pengawal dan boleh dikeluarkan dengan seenaknya saja”.Pada kesempatan yang lain beliau berkata:“Innalillah…. Seakan-akan dakwah salafiyah ini seperti perusahaan dimana direkturnya memliki otoritas penuh memasukkan atau mengeluarkan seseorang dari perusahaannya”Dr. Anis Thahir Al Andunisy adalah pengajar tetap di Masjid Nabawi As Syarief dan Dosen Fakultas Hadits Universitas Islam Madiinah. Beliau mengajar mata kuliah Al Jarh Watta’dill(Copas status akhi Aan chandra Tolib hafizohulloh, mahasiswa Universitas Madinah yang selalu melazimi dars sykh Anis di masjid Nabawi) 

KERAJAAN SALAFY

DR. Anis Thahir Al Andunisy berkata:“Dakwah salaf itu bukan istana yang memiliki benteng dan penjaga. Sehingga siapa saja yang mau masuk harus laporan dulu sama pengawal dan boleh dikeluarkan dengan seenaknya saja”.Pada kesempatan yang lain beliau berkata:“Innalillah…. Seakan-akan dakwah salafiyah ini seperti perusahaan dimana direkturnya memliki otoritas penuh memasukkan atau mengeluarkan seseorang dari perusahaannya”Dr. Anis Thahir Al Andunisy adalah pengajar tetap di Masjid Nabawi As Syarief dan Dosen Fakultas Hadits Universitas Islam Madiinah. Beliau mengajar mata kuliah Al Jarh Watta’dill(Copas status akhi Aan chandra Tolib hafizohulloh, mahasiswa Universitas Madinah yang selalu melazimi dars sykh Anis di masjid Nabawi) 
DR. Anis Thahir Al Andunisy berkata:“Dakwah salaf itu bukan istana yang memiliki benteng dan penjaga. Sehingga siapa saja yang mau masuk harus laporan dulu sama pengawal dan boleh dikeluarkan dengan seenaknya saja”.Pada kesempatan yang lain beliau berkata:“Innalillah…. Seakan-akan dakwah salafiyah ini seperti perusahaan dimana direkturnya memliki otoritas penuh memasukkan atau mengeluarkan seseorang dari perusahaannya”Dr. Anis Thahir Al Andunisy adalah pengajar tetap di Masjid Nabawi As Syarief dan Dosen Fakultas Hadits Universitas Islam Madiinah. Beliau mengajar mata kuliah Al Jarh Watta’dill(Copas status akhi Aan chandra Tolib hafizohulloh, mahasiswa Universitas Madinah yang selalu melazimi dars sykh Anis di masjid Nabawi) 


DR. Anis Thahir Al Andunisy berkata:“Dakwah salaf itu bukan istana yang memiliki benteng dan penjaga. Sehingga siapa saja yang mau masuk harus laporan dulu sama pengawal dan boleh dikeluarkan dengan seenaknya saja”.Pada kesempatan yang lain beliau berkata:“Innalillah…. Seakan-akan dakwah salafiyah ini seperti perusahaan dimana direkturnya memliki otoritas penuh memasukkan atau mengeluarkan seseorang dari perusahaannya”Dr. Anis Thahir Al Andunisy adalah pengajar tetap di Masjid Nabawi As Syarief dan Dosen Fakultas Hadits Universitas Islam Madiinah. Beliau mengajar mata kuliah Al Jarh Watta’dill(Copas status akhi Aan chandra Tolib hafizohulloh, mahasiswa Universitas Madinah yang selalu melazimi dars sykh Anis di masjid Nabawi) 

Sedekah Dengan Ilmu

Andaikan semua pengajar, guru, dan dai menghayati perkataan Al-Munawi rahimahullah( فتعلميك العلم لغيرك من أفضل أنواع الصدقة ؛ لأن الانتفاع به فوق الانتفاع بالمال ، فالمال ينفد والعلم باق)“Engkau mengajarkan ilmu kepada orang lain termasuk bentuk sedekah yang paling afdol, karena manfaat ilmu lebih tinggi daripada manfaat harta. Harta akan sirna sedangkan ilmu terjaga”(Copas dari akhi Aan Candra Tolib)Semangatlah selalu dalam mengajar dan berdakwah…. 

Sedekah Dengan Ilmu

Andaikan semua pengajar, guru, dan dai menghayati perkataan Al-Munawi rahimahullah( فتعلميك العلم لغيرك من أفضل أنواع الصدقة ؛ لأن الانتفاع به فوق الانتفاع بالمال ، فالمال ينفد والعلم باق)“Engkau mengajarkan ilmu kepada orang lain termasuk bentuk sedekah yang paling afdol, karena manfaat ilmu lebih tinggi daripada manfaat harta. Harta akan sirna sedangkan ilmu terjaga”(Copas dari akhi Aan Candra Tolib)Semangatlah selalu dalam mengajar dan berdakwah…. 
Andaikan semua pengajar, guru, dan dai menghayati perkataan Al-Munawi rahimahullah( فتعلميك العلم لغيرك من أفضل أنواع الصدقة ؛ لأن الانتفاع به فوق الانتفاع بالمال ، فالمال ينفد والعلم باق)“Engkau mengajarkan ilmu kepada orang lain termasuk bentuk sedekah yang paling afdol, karena manfaat ilmu lebih tinggi daripada manfaat harta. Harta akan sirna sedangkan ilmu terjaga”(Copas dari akhi Aan Candra Tolib)Semangatlah selalu dalam mengajar dan berdakwah…. 


Andaikan semua pengajar, guru, dan dai menghayati perkataan Al-Munawi rahimahullah( فتعلميك العلم لغيرك من أفضل أنواع الصدقة ؛ لأن الانتفاع به فوق الانتفاع بالمال ، فالمال ينفد والعلم باق)“Engkau mengajarkan ilmu kepada orang lain termasuk bentuk sedekah yang paling afdol, karena manfaat ilmu lebih tinggi daripada manfaat harta. Harta akan sirna sedangkan ilmu terjaga”(Copas dari akhi Aan Candra Tolib)Semangatlah selalu dalam mengajar dan berdakwah…. 

KANTUNG BERLUBANG (ilustrasi penggugah…)

Ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya. Teman2.. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”. Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi.Namun sayang sekali.. masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik! Mereka menyimpan semua yang baik di “kantong yang berlubang”, dan apa yang tidak baik di “kantong yang tidak berlubang” (alias memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka, jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian). Mari mencoba, menyimpan hanya yang baik dan bermanfaat.Copas dari Al-Ustadz Fauzan ST.Lc (Mahasiswa S2 Fak. Syariah Univ. Islam Madinah Mudir Mahad Madinatul Qur’an) 

KANTUNG BERLUBANG (ilustrasi penggugah…)

Ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya. Teman2.. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”. Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi.Namun sayang sekali.. masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik! Mereka menyimpan semua yang baik di “kantong yang berlubang”, dan apa yang tidak baik di “kantong yang tidak berlubang” (alias memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka, jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian). Mari mencoba, menyimpan hanya yang baik dan bermanfaat.Copas dari Al-Ustadz Fauzan ST.Lc (Mahasiswa S2 Fak. Syariah Univ. Islam Madinah Mudir Mahad Madinatul Qur’an) 
Ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya. Teman2.. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”. Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi.Namun sayang sekali.. masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik! Mereka menyimpan semua yang baik di “kantong yang berlubang”, dan apa yang tidak baik di “kantong yang tidak berlubang” (alias memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka, jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian). Mari mencoba, menyimpan hanya yang baik dan bermanfaat.Copas dari Al-Ustadz Fauzan ST.Lc (Mahasiswa S2 Fak. Syariah Univ. Islam Madinah Mudir Mahad Madinatul Qur’an) 


Ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya. Teman2.. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”. Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi.Namun sayang sekali.. masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik! Mereka menyimpan semua yang baik di “kantong yang berlubang”, dan apa yang tidak baik di “kantong yang tidak berlubang” (alias memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka, jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian). Mari mencoba, menyimpan hanya yang baik dan bermanfaat.Copas dari Al-Ustadz Fauzan ST.Lc (Mahasiswa S2 Fak. Syariah Univ. Islam Madinah Mudir Mahad Madinatul Qur’an) 

Buah Berbakti Kepada Ayah

Sahabat dekatku (seorang polisi di kota Madinah) bercerita kepadaku kemarin malam di masjid Nabawi setelah isya, tanggal 19 Desember 2013):“Pamanku, kakak ayahku adalah seorang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Pada suatu hari –seperti kebiasaannya- ia menyiapkan sendal/sepatu dan memakaikan sendal ke kedua kaki ayahnya. Namun pada saat itu, ada sesuatu hal yang lain yang tidak biasa dilakukan oleh pamanku. Tatkala ia memakaikan kedua sendal/sepatu ke kedua kaki ayahnya, pamanku terus memandang wajah ayahnya sambil memakaikan kedua sendalnya. Maka sang ayahpun tertegun, dan berkata bahkan menghardiknya, “Kenapa engkau memandangku terus?”. Maka pamanku –yang tatkala itu masih muda belia dan belum menikah- berkata : “Wahai ayahanda, aku ingin puas memenuhi kedua mataku dengan memandang wajahmu…”Mendengar jawaban pamanku maka sang ayah langsung sujud syukur seketika itu juga lalu mendoakan agar Allah memberkahi pamanku, memberkahi hartanya, dan anak keturunannya. Sekarang pamanku masih hidup, sedangkan ayahku sudah meninggal, padahal pamanku lebih tua dari ayahku. Pamanku setelah itu menikahi 4 orang wanita, dan dianugrahi 29 anak laki-laki, anak perempuan entah berapa. Dan rizkinya dilapangkan oleh Allah ta’ala.Jika pamanku membeli makanan di kios, selalu ia membeli sayuran berkarton-karton, membeli roti berdos-dos, membeli sesuatu dalam jumlah yang banyak. Sehingga pemilik kios kaget melihat pamanku, seakan-akan ia mau menyiapkan makanan untuk orang sekampung?!. Ini semua karena pamanku adalah keluarga yang sangat besaaar…!Anak lelaki yang paling kecil seumuran denganku (yaitu sekitar 45 tahunan). Yang menakjubkan, seluruh anak-anaknya berbakti kepada pamanku”.Demikianlah tuturan sahabatku, mengingatkan kepada kita bahwa berbakti bukan hanya kepada ibu, ayahpun memiliki hak yang besar untuk kita berbakti. Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti, dan menjadikan anak-anak kita kelak juga berbakti kepada kita.  

Buah Berbakti Kepada Ayah

Sahabat dekatku (seorang polisi di kota Madinah) bercerita kepadaku kemarin malam di masjid Nabawi setelah isya, tanggal 19 Desember 2013):“Pamanku, kakak ayahku adalah seorang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Pada suatu hari –seperti kebiasaannya- ia menyiapkan sendal/sepatu dan memakaikan sendal ke kedua kaki ayahnya. Namun pada saat itu, ada sesuatu hal yang lain yang tidak biasa dilakukan oleh pamanku. Tatkala ia memakaikan kedua sendal/sepatu ke kedua kaki ayahnya, pamanku terus memandang wajah ayahnya sambil memakaikan kedua sendalnya. Maka sang ayahpun tertegun, dan berkata bahkan menghardiknya, “Kenapa engkau memandangku terus?”. Maka pamanku –yang tatkala itu masih muda belia dan belum menikah- berkata : “Wahai ayahanda, aku ingin puas memenuhi kedua mataku dengan memandang wajahmu…”Mendengar jawaban pamanku maka sang ayah langsung sujud syukur seketika itu juga lalu mendoakan agar Allah memberkahi pamanku, memberkahi hartanya, dan anak keturunannya. Sekarang pamanku masih hidup, sedangkan ayahku sudah meninggal, padahal pamanku lebih tua dari ayahku. Pamanku setelah itu menikahi 4 orang wanita, dan dianugrahi 29 anak laki-laki, anak perempuan entah berapa. Dan rizkinya dilapangkan oleh Allah ta’ala.Jika pamanku membeli makanan di kios, selalu ia membeli sayuran berkarton-karton, membeli roti berdos-dos, membeli sesuatu dalam jumlah yang banyak. Sehingga pemilik kios kaget melihat pamanku, seakan-akan ia mau menyiapkan makanan untuk orang sekampung?!. Ini semua karena pamanku adalah keluarga yang sangat besaaar…!Anak lelaki yang paling kecil seumuran denganku (yaitu sekitar 45 tahunan). Yang menakjubkan, seluruh anak-anaknya berbakti kepada pamanku”.Demikianlah tuturan sahabatku, mengingatkan kepada kita bahwa berbakti bukan hanya kepada ibu, ayahpun memiliki hak yang besar untuk kita berbakti. Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti, dan menjadikan anak-anak kita kelak juga berbakti kepada kita.  
Sahabat dekatku (seorang polisi di kota Madinah) bercerita kepadaku kemarin malam di masjid Nabawi setelah isya, tanggal 19 Desember 2013):“Pamanku, kakak ayahku adalah seorang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Pada suatu hari –seperti kebiasaannya- ia menyiapkan sendal/sepatu dan memakaikan sendal ke kedua kaki ayahnya. Namun pada saat itu, ada sesuatu hal yang lain yang tidak biasa dilakukan oleh pamanku. Tatkala ia memakaikan kedua sendal/sepatu ke kedua kaki ayahnya, pamanku terus memandang wajah ayahnya sambil memakaikan kedua sendalnya. Maka sang ayahpun tertegun, dan berkata bahkan menghardiknya, “Kenapa engkau memandangku terus?”. Maka pamanku –yang tatkala itu masih muda belia dan belum menikah- berkata : “Wahai ayahanda, aku ingin puas memenuhi kedua mataku dengan memandang wajahmu…”Mendengar jawaban pamanku maka sang ayah langsung sujud syukur seketika itu juga lalu mendoakan agar Allah memberkahi pamanku, memberkahi hartanya, dan anak keturunannya. Sekarang pamanku masih hidup, sedangkan ayahku sudah meninggal, padahal pamanku lebih tua dari ayahku. Pamanku setelah itu menikahi 4 orang wanita, dan dianugrahi 29 anak laki-laki, anak perempuan entah berapa. Dan rizkinya dilapangkan oleh Allah ta’ala.Jika pamanku membeli makanan di kios, selalu ia membeli sayuran berkarton-karton, membeli roti berdos-dos, membeli sesuatu dalam jumlah yang banyak. Sehingga pemilik kios kaget melihat pamanku, seakan-akan ia mau menyiapkan makanan untuk orang sekampung?!. Ini semua karena pamanku adalah keluarga yang sangat besaaar…!Anak lelaki yang paling kecil seumuran denganku (yaitu sekitar 45 tahunan). Yang menakjubkan, seluruh anak-anaknya berbakti kepada pamanku”.Demikianlah tuturan sahabatku, mengingatkan kepada kita bahwa berbakti bukan hanya kepada ibu, ayahpun memiliki hak yang besar untuk kita berbakti. Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti, dan menjadikan anak-anak kita kelak juga berbakti kepada kita.  


Sahabat dekatku (seorang polisi di kota Madinah) bercerita kepadaku kemarin malam di masjid Nabawi setelah isya, tanggal 19 Desember 2013):“Pamanku, kakak ayahku adalah seorang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Pada suatu hari –seperti kebiasaannya- ia menyiapkan sendal/sepatu dan memakaikan sendal ke kedua kaki ayahnya. Namun pada saat itu, ada sesuatu hal yang lain yang tidak biasa dilakukan oleh pamanku. Tatkala ia memakaikan kedua sendal/sepatu ke kedua kaki ayahnya, pamanku terus memandang wajah ayahnya sambil memakaikan kedua sendalnya. Maka sang ayahpun tertegun, dan berkata bahkan menghardiknya, “Kenapa engkau memandangku terus?”. Maka pamanku –yang tatkala itu masih muda belia dan belum menikah- berkata : “Wahai ayahanda, aku ingin puas memenuhi kedua mataku dengan memandang wajahmu…”Mendengar jawaban pamanku maka sang ayah langsung sujud syukur seketika itu juga lalu mendoakan agar Allah memberkahi pamanku, memberkahi hartanya, dan anak keturunannya. Sekarang pamanku masih hidup, sedangkan ayahku sudah meninggal, padahal pamanku lebih tua dari ayahku. Pamanku setelah itu menikahi 4 orang wanita, dan dianugrahi 29 anak laki-laki, anak perempuan entah berapa. Dan rizkinya dilapangkan oleh Allah ta’ala.Jika pamanku membeli makanan di kios, selalu ia membeli sayuran berkarton-karton, membeli roti berdos-dos, membeli sesuatu dalam jumlah yang banyak. Sehingga pemilik kios kaget melihat pamanku, seakan-akan ia mau menyiapkan makanan untuk orang sekampung?!. Ini semua karena pamanku adalah keluarga yang sangat besaaar…!Anak lelaki yang paling kecil seumuran denganku (yaitu sekitar 45 tahunan). Yang menakjubkan, seluruh anak-anaknya berbakti kepada pamanku”.Demikianlah tuturan sahabatku, mengingatkan kepada kita bahwa berbakti bukan hanya kepada ibu, ayahpun memiliki hak yang besar untuk kita berbakti. Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti, dan menjadikan anak-anak kita kelak juga berbakti kepada kita.  

Angan-Angan Kosong

“Sebagian orang cinta kebaikan dan istiqomah, akan tetapi ia hanya tinggal di lautan angan-angan… Ia berharap istiqomah tanpa beramal…Angan-angan semata tanpa disertai amalan tidak akan bermanfaat bagi seseorangIbnul Qoyyim berkata ;المتمنى من أعجز الناس وأفلسهم، فإن التمنى رأس أموال المفاليس“Seorang tukang berangan-angan adalah manusia yang paling tidak mampu dan paling merugi, karena angan-angan adalah modalnya orang-orang yang bangkrut”(Dari tweet Sykh Sa’ad Al-Khotslaan)

Angan-Angan Kosong

“Sebagian orang cinta kebaikan dan istiqomah, akan tetapi ia hanya tinggal di lautan angan-angan… Ia berharap istiqomah tanpa beramal…Angan-angan semata tanpa disertai amalan tidak akan bermanfaat bagi seseorangIbnul Qoyyim berkata ;المتمنى من أعجز الناس وأفلسهم، فإن التمنى رأس أموال المفاليس“Seorang tukang berangan-angan adalah manusia yang paling tidak mampu dan paling merugi, karena angan-angan adalah modalnya orang-orang yang bangkrut”(Dari tweet Sykh Sa’ad Al-Khotslaan)
“Sebagian orang cinta kebaikan dan istiqomah, akan tetapi ia hanya tinggal di lautan angan-angan… Ia berharap istiqomah tanpa beramal…Angan-angan semata tanpa disertai amalan tidak akan bermanfaat bagi seseorangIbnul Qoyyim berkata ;المتمنى من أعجز الناس وأفلسهم، فإن التمنى رأس أموال المفاليس“Seorang tukang berangan-angan adalah manusia yang paling tidak mampu dan paling merugi, karena angan-angan adalah modalnya orang-orang yang bangkrut”(Dari tweet Sykh Sa’ad Al-Khotslaan)


“Sebagian orang cinta kebaikan dan istiqomah, akan tetapi ia hanya tinggal di lautan angan-angan… Ia berharap istiqomah tanpa beramal…Angan-angan semata tanpa disertai amalan tidak akan bermanfaat bagi seseorangIbnul Qoyyim berkata ;المتمنى من أعجز الناس وأفلسهم، فإن التمنى رأس أموال المفاليس“Seorang tukang berangan-angan adalah manusia yang paling tidak mampu dan paling merugi, karena angan-angan adalah modalnya orang-orang yang bangkrut”(Dari tweet Sykh Sa’ad Al-Khotslaan)

Surat Terbuka Untuk Saudaraku Takfiri

Oleh : Abdul Hakim bin Muhammad Al-Jawy, Lc Surat terbuka untuk saudaraku yang tersesat…para teroris yang bernasib tragis… Wahai saudaraku,Aku tahu bahwa engkau ingin menjadi pembela tauhid…Penebar rasa takut bagi para thoghut terlaknat dan kaum munafiqin…Ghuroba sejati di atas kemurnian tauhid…Berbicara tentang hak Allah saat manusia berebut hak mereka masing-masing….Saat sebagian dari di berbeda pendapat karena beda pendapatan….Saat sebagian yang disebut ulama sibuk menghitung komisi…Dan yang lain bergelak menghitung jumlah istri…Saat itu engkau bersujud di lantai jeruji yang tak kenal siang dari malam…Seraya lidahmu melantunkan kalam suci yang terkumpul di dadamu… Saudaraku yang kucintai dari lubuk hati,Adakah engkau meyakini saat itu engkau telah sampai kebenaran hakiki…?Menjadi tangan kanan dari para mursalin…?Ataukah justru engkau kini menjadi tangan kiri dari iblis…?Yang mengajak ke neraka dengan menebar aroma surga…?Memasukkan racun kedalam cawan madu…?Masih tersisakah rasa takut di dasar hatimu bahwa engkau telah tersesat dan menjadi alat bagi iblis dan tentaranya yang berniat jahat kepada anak adam agar mereka binasa di atas kekufuran sehingga kekal bersamanya dalam neraka..? Wahai yang tidak berdiri di sejengkal bumi Allah kecuali engkau membaca kalam Penciptamu dari hafalanmu…yang setiap pekan engkau khatamkan Al-Quran tanpa melihat mushaf.., tidakkah engkau takut terhadap sabda Nabimu shallallahu alaihi wa sallamعن حذيفة رضي الله عنه قال صلى الله عليه و سلم : إن أخوف ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن, حتى إذا رئيت بهجته عليه و كان ردءاً للإسلام , انسلخ منه و نبذه وراء ظهره , و سعى على جاره بالسيف و رماه بالشرك , قلت يا نبي الله ! أيهما أولى بالشرك : الرامي أو المرمي ؟ قال : بل الرامي ( رواه البخاري في التاريخ و أبو يعلى و ابن حبان و البزار , انظر الصحيحة للألباني ٣٢۰١ )Dari Hudaifah rodhiyAllahu anhu bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; sesungguhnya yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah jika ada seorang yang telah menghafal alquran sampai tatkala telah dikenal kualitasnya dan menjadi benteng bagi Islam, lalu ia melepaskan diri darinya dan membuangnya ke belakang punggungnya, dan berusaha mencelakai tetangganya dengan pedang serta menuduhnya dengan kesyirikan. Aku berkata ; Wahai Nabi Allah siapakah yang lebih pantas disifati dengan kesyirikan? Yang menuduh atau yang dituduh? Beliau bersabda ; bahkan si penuduh. (HR.Bukhary dalam At-Taariikh, Abu Ya’la dll, lihat As-Shahihah  karya Al-Albani no 3201)Bukankah ada yang membaca alquran namun ia tersesat… ?عن عائشة رضي الله عنها قالت : إن النبي صلى الله عليه وسلم تلا هذه الآية : هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات – إلى قوله عز وجل – وما يذكر إلا أولو الألباب ، فقال صلى الله عليه وسلم : يا عائشة ، إذا رأيتم الذين يجادلون فيه ، فهم الذين عنى الله عز وجل ، فاحذروهم ( الشريعة للآجري – (1 / 23)Dari Aisyah rodhiyAllahu anha berkata sungguh Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini ; ((Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[1] , Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[2]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal)) (QS. Ali Imran 7). Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; “Wahai Aisyah jika engkau menjumpai orang-orang yang suka berdebat tentang ayat mutasyabihat maka mereka itulah yang Allah maksud ( dalam ayat ini ) maka berhati-hatilah dari mereka” (Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Thobroni, Ath-Thohawi, dan ibnu Hibbaan. Syu’ab Al-Arna’uuth berkata : “Isnadnya Shahih sesuai dengan persyaratan Shahihain)عن سعيد بن جبير في قول الله عز وجل وأخر متشابهات قال : أما المتشابهات فهن آي في القرآن يتشابهن على الناس إذا قرؤوهن ، من أجل ذلك يضل من ضل ممن ادعى هذه الكلمة كل فرقة يقرؤون آيات من القرآن ، ويزعمون أنها لهم أصابوا بها الهدى .ومما يتبع الحرورية من المتشابه قول الله عز وجل : ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون . ويقرؤون معها : ثم الذين كفروا بربهم يعدلون فإذا رأوا الإمام يحكم بغير الحق قالوا : قد كفر . ومن كفرعدل بربه ، فقد أشرك ، فهؤلاء الأئمة مشركون ، فيخرجون فيفعلون ما رأيت ، لأنهم يتأولون هذه الآيةDari Said bin Jubair saat beliau menerangkan ayat mutasyabihat ; “Adapun mutasyabihat adalah ayat-ayat dalam alquran yang tersamar  atas sebagian manusia saat mereka membacanya karena itulah tersesat orang yang sesat dari setiap yang mengklaim kebenaran. Setiap kelompok menggunakan ayat – ayat dari alquran, mereka mengira ayat tersebut mendukung mereka sehingga menepati kebenaran. Dan termasuk ayat mutasyabihat yang digunakan oleh Haruriyah ( khawarij ) adalah : Almaidah 44: ((Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir)).Mereka lalu menggabungkannya dengan Al-An’aam 1 ; ((Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka)). Maka ketika mereka melihat imam memutuskan tidak sesuai kebenaran mereka katakan ia telah kafir dan yang kafir telah mempersekutukan sesuatu dengan Tuhan, maka ia  telah musyrik, maka para pemerintah itu kafir lalu mereka memberontak dan melakukan apa yang engkau lihat karena mereka mencari-cari takwil ayat ini.” (Kitab Asy-Syari’ah karya Al-Aajurry : 1/24) Wahai yang berhati beringas kepada orang yang masih berucap subhana robbiyal a’la , bukankah engkau mengetahui bahwa Allah memerintahkan Musa ‘alaihis salaam untuk berlemah-lembut kepada Firaun yang telah berucap ana robbukumul a’laa “Aku adalah Tuhan kalian yang tertinggi” dan mendapat vonis resmi sebagai thoghut oleh Sang Maha Kuasa..اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah menjadi thoghut. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.( Thoha 43-44)Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan nama –nama munafiq Madinah kepada Hudaifah Ibnul Yaman rodhiyAllahu anhu, bukankan Hudzaifah menyembunyikan nama-nama tersebut?, tidakkah engkau berqudwah kepada manhaj Nabi kita yang mulia shallallahu alaihi wa sallam ?عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآهُ قَالَ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِDari Aisyah bahwa ada seorang yang meminta izin (bertamu)  kepada  Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau berkata ; dia adalah seburuk-buruk orang, namun ketika telah duduk, Nabi shallallahu alaihi wasallam bemuka manis dan berlemah lembut kepadanya. Ketika orang itu telah pergi maka Aisyah berkata Wahai Rasulullah, ketika engkau pertama kali melihatnya engkau mengatakan demikian dan demikian, namun (saat duduk bersamanya ), engkau bermuka manis dan berlemah lembut kepadanya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “wahai Aisyah kapankah engkau pernah mendapatiku sebagai seorang yang bejat akhlaknya. Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah yang dijauhi manusia karena takut dari gangguannya.” ( Muttafaq alaih )Inilah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam yang akhlaqnya adalah Alquran. Ketika Allah berfirmanقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَKatakanlah ; Hai orang –orang kafir (QS Al-Kafirun : 1)قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu Sementara waktu; Sesungguhnya kamu Termasuk penghuni neraka”. (QS Az-Zumar : 8)قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena Sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”. (QS Ibrahim : 30)Pernahkah Nabi kita alaihi shalatu wassalaam memahami  perintah tersebut  seperti pemahaman kalian yang meneriaki mereka dengan vonis takfir jalanan yang liar? Ataukah kalian lebih bertaqwa dari  Beliau shallallahu alaihi wasallam? Ataukah pilihan yang ketiga yaitu ayat ini seperti firman Allah subhanahu wa taala ;قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِKatakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati” (QS Ali Imron : 119)Yang tidak pernah samasekali Nabi shallallahu alaihi wasallam ucapkan, sebab jika Beliau ucapkan niscaya matilah mereka semua karena doa beliau yang mustajab.Beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang yang sangat bersemangat agar manusia mendapat hidayah kemudian masuk surga Allah Jalla wa Alaa, dan bukan seorang yang ingin manusia mati di atas kekufuran kemudian digiring seluruhnya ke neraka karena beliau diutus sebagai rahmat bagi alam semesta bukan sebagai adzab bagi alam semesta. Lihatlah dari pertempuran yang beliau pimpin, tidak pernah beliau membunuh seorang pun dari kaum kuffar kecuali Ubay ibn Kholaf, itu pun dalam rangka mempertahankan diri.عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًاDari ibnu Umar radhiyAllahu anhuma bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; seorang mukmin akan senantiasa dalam kelapangan agamanya selama tidak menumpahkan darah yang haram ( HR. Bukhary ).Beliau shallallahu alaihi wa sallam sangat memahami saat terjadi fathu makkah bahwa banyak di antara mereka  yang berpura –pura masuk Islam, namun demikianlah hidayah masuk ke hati seorang sedikit demi sedikit.عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ أَىْ قَوْمِ أَسْلِمُوا فَوَاللَّهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِى عَطَاءً مَا يَخَافُ الْفَقْرَ. فَقَالَ أَنَسٌ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا.Dari Anas  bahwa ada seorang yang meminta  kepada Nabi shallallahu alihi wa sallam kambing sebanyak (lembah) antara dua bukit lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun memberinya kemudian orang tadi mendatangi kaumnya seraya berkata, “wahai kaumku masuk Islamlah, karena Demi Allah , Muhammad telah memberiku pemberian yang tidak takut kefakiran.” Berkata Anas, ” Sungguh saat itu banyak orang yang masuk Islam namun tidak menginginkan kecuali dunia, tetapi setelah berIslam sungguh Islam lebih mereka cintai daripada dunia dan seluruh isinya.” ( HR. Muslim)Berkata Al Imam Ibnu Taimiyah rahimahulloh :فعامة الناس إذا أسلموا بعد كفر أو ولدوا على الإسلام والتزموا شرائعه، وكانوا من أهل الطاعة للّه ورسوله، فهم مسلمون ومعهم إيمان مجمل، ولكن دخول حقيقة الإيمان إلى قلوبهم إنما يحصل شيئًا فشيئًا إن أعطاهم اللّه ذلك، وإلا فكثير من الناس لا يصلون لا إلى اليقين ولا إلى الجهاد، ولو شُكِّكوا لشَكُّوا، ولو أمروا بالجهاد لما جاهدوا، وليسوا كفاراً ولا منافقين، بل ليس عندهم من علم القلب ومعرفته ويقينه ما يدرأ الرَّيْبَ، ولا عندهم من قوة الحب للّه ولرسوله ما يقدمونه على الأهل والمال، وهؤلاء إن عوفوا من المحنة وماتوا دخلوا الجنة، وإن ابتلوا بمن يورد عليهم شبهات توجب ريبهم، فإن لم ينعم اللّه عليهم بما يزيل الريب، وإلا صاروا مرتابين، وانتقلوا إلى نوع من النفاق .“Maka kebanyakan manusia jika masuk Islam setelah kekufuran atau dilahirkan di atas Islam dan menjalankan syariatnya, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka adalah muslimun yang memiliki iman secara mujmal/global. Akan tetapi masuknya hakikat  keimanan kepada hati mereka adalah terjadi sedikit demi sedikit jika Allah memberikannya kepada mereka. Dan kebanyakan manusia tidak sampai kepada derajat yakin dan jihad. Jika mereka ini dibuat ragu, niscaya mereka ragu, jika diperintah jihad niscaya mereka tidak mau. Namun mereka ini bukanlah Kafir dan bukan pula munafiq. Hanya saja mereka tidak memiliki ilmu dan ma’rifah serta keyakinan hati yang membentengi dari keraguan, tidak pula mereka memiliki kekuatan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang mereka utamakan di atas keluarga dan harta…” (Al-Iman 2/350)Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersama umumnya kaum muslimin , menasehati mereka dan bersabar atas gangguan mereka,عن معاذ رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : وعليكم بالعامة والجماعة والمساجدDari Muadz radhiyAllahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas kalian untuk selalu bersama umumnya  kaum muslimin, jamaah serta masjid –masjid mereka” ( HR. Thabrany di Al-Mu’jam Al-Kabiir 20/164). Fenomena ekslusifitas generasi muda yang mempelajari agama pada hari ini adalah hal yang patut disayangkan. Sebab, jika hamasah syabbab (para pemuda) berpadu dengan hikmah/sikap bijak syuyukh (para ulama) niscaya mereka terus di atas petunjuk. Sebagian mereka memusuhi orang umum kaum muslimin karena di anggap kafir murtad  dan sebagian memandang orang umum sesat karena di anggap ahli bidah. Takfiriyun dan tabdi’iyun ini lebih menyibukkan diri dengan kitab-kitab mutaakhirin. Menjadikan ucapan ulama kholaf dan kitab mereka seperti talmud yang dihafalkan dan mengalahkan kitab suci. Yang satu khawarij kepada umara dan yang lain khawarij kepada ulama. Bahkan sibuk mengkotak-kotakkan manusia di atas hizbiyah berkedok klaim ahlisunnah. Menganggap diri mereka sebagai representasi kebenaran, yang sama, duduk dan kenal baik dengan mereka adalah ahlisunnah dan yang tidak demikian adalah ahli bidah walaupun di atas hujjah salafiyah.قيل للحسن : يا أبا سعيد ، خرج خارجي بالخريبة – محلة عند البصرة – فقال : المسكين رأى منكراً فأنكره ، فوقع فيما هو أنكر منه .Alhasan Albashry pernah ditanya, “wahai Aba said, telah keluar seorang khawarij di Kharibah”, maka beliau berkata, “Kasihan ( orang khawarij ini) , ia melihat kemungkaran lalu mengingkarinya tapi ternyata terjadi hal yang lebih munkar lagi. (Asy-Syari’ah li Al-Aajurry 1/25)عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان ، سفهاء الأحلام ، يقولون من خير قول الناس ، يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرميةDari Abdulloh ibn mas’ud berkata ; bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ; akan keluar di akhir zaman satu kaum yang muda-muda usia mereka, bodoh angan-angan mereka, berbicara dengan sebaik-baik ucapan manusia. mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari buruannya ( HR.Ahmad , tirmidzy , Ibnu Majah dll )Sebelum mempelajari Islam mereka membunuh, merampok , menipu dan menyakiti manusia , lalu setelah belajar Islam dan bertaubat kemudian menjadi khawarij, mereka kembali membunuh dan merampok kaum muslimin dengan alasan jihad kepada murtaddin, menginjak-injak harga diri dan mentololkan kaum muslimin  dan ulama mereka dengan alasan mereka adalah ahli bidah. Persis seperti anak panah  yang  menembus binatang buruan dan tidak berbekas samasekali ajaran akhlak Islam dalam ucapan dan perbuatan mereka.أبو غالب : أنه سمع أبا أمامة رضي الله تعالى عنه صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : خرجت خارجة بالشام فقتلوا ، وألقوا في جب ، أو في بئر ، فأقبل أبو أمامة رضي الله وأنا معه ، حتى وقف عليهم ، ثم بكى ، ثم قال : سبحان الله ، ما فعل الشيطان بهذه الأمة ؟ كلاب النار ، كلاب النار ، كلاب النار – ثلاثا – شر قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء من قتلوه ، قلت : يا أبا أمامة ، أشيء تقول برأيك ، أم شيء سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء – ثلاثا – بل سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم غير مرة ، ولا مرتين ، ولا ثلاثا ، حتى عد عشراًDari Abu ghalib ia mendengar Abu Umamah radhiyAllahu anhu seorang dari shahabat Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam  berkata ; telah keluar khawarij di syam lalu mereka membunuhnya dan melemparnya ke sumur kemudian Abu Umamah mengajakku mendatanginya sampai beliau berdiri di atas mereka , beliau menangis, lalu berkata ; SubhanAllah, apakah yang telah dilakukan  Syaithon (untuk menyesatkan ) umat ini ? Anjing –anjing neraka –tiga kali beliau menyebutkannya-. ( mereka adalah) seburuk-buruk mayat di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik jenazah di bawah kolong langit adalah yang mereka bunuh. Aku ( Abu Ghalib )  berkata ; wahai abu Umamah, apakah ini pendapat yang keluar dari ra’yumu ? atau hadits yang kau dengar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam ? ( jika dari ra’yuku ) maka sungguh aku sangat lancang – beliau mengatakannya tiga kali. Tapi ini adalah yang aku dengar dari Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam. ( HR. Ahmad , Tirmidzy , An-Nasa’y dll ).عن ابن عمر، عن النَّبيِّ صلى الله عليه و سلم قال: (( مَن حَمَلَ علينا السِّلاحَ فليس منَّا ))Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; barang siapa membawa pedang ( menyerang ) kami ( kaum muslimin ) maka ia bukan dari golongan kami ( Muttafaq alaih ).قال صلى الله عليه و سلم (( ومَن خرج على أمَّتي يضرب برَّها وفاجرَها، ولا يتحاش من مؤمنها، ولا يفي لذي عهد عهدَه، فليس منِّي ولستُ منه ))Bersabda nabi shallallahu alaihi wa sallam ; barang siapa memerangi umatku membunuh orang baik dan orang fajirnya serta tidak berhati-hati dari orang mukminnya dan tidak menepati perjanjian kepada yang membuat perjanjian dengan mereka maka dia bukanlah dari golonganku dan aku bukan dari golongannya.( HSR. Muslim no 1848). Mereka ini jika memasuki masjid – masjid kaum muslimin, menganggap dirinya saja  yang paling afdhol dan paling di atas tauhid dan sunnah.عن أنس قال صلى الله عليه و سلم : ناشدتك بالله ، هل حدثت نفسك حين طلعت علينا : أن ليس في القوم أفضل منك ؟ فقال : اللهم نعم . فدخل المسجد يصليDari Anas ibn malik bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ( kepada seorang khawarij ) ; Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, bukankah jiwamu berkata kepadamu saat kau mendatangi kami bahwa tidak ada seorang pun di sini yang lebih afdhol darimu ? Ia menjawab ;  iya. Lalu ia pun masuk masjid dan shalat.( HR. Ahmad , Abu Ya’la ).Sebagian mereka menyesatkan seluruh muslimin kecuali yang mereka kenal saja.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ . فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ ». قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ لاَ أَدْرِى أَهْلَكَهُمْ بِالنَّصْبِ أَوْ أَهْلَكُهُمْ بِالرَّفْعِ.Dari Abu hurairoh bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; apabila seorang mengatakan ; manusia binasa . maka dialah yang paling binasa atau yang membinasakan mereka. (HR. Muslim ) Sebagaimana pendahulu mereka yaitu Dzulkhuwaishiroh menganggap dirinya lebih bertaqwa daripada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُDari Abu Said Alkhudry rodhiyAllahu anhu berkata ketika kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau membagi ghanimah , datanglah Dzulkhuwaishiroh seorang dari bani tamim lalu ia berkata : Ya Rasulullah, berbuat adillah. Lalu Nabi berkata ; celaka engkau, siapakah yang akan adil ( dari umara setelahku ) jika aku tidak adil. Engkau pasti celaka ( jika meyakini ) aku tidak adil.( HR. Bukhary ).Mereka akan terus terpecah menjadi faksi-faksi yang saling mengkafirkan dan membidahkan, demikianlah ahli bidah di setiap zaman.Berkata Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh ;والبدعة مقرونة بالفرقة كما ان السنة مقرونة بالجماعة فيقال أهل السنة والجماعة كما يقال أهل البدعة والفرقةBid’ah identik dengan furqoh/perpecahan sebagaimana Sunnah identik dengan jamaah/persatuan. Sehingga disebut ahli sunnah wal jamaah sebagaimana disebut pula Ahli bidah walfurqoh.(Al Istiqomah 1/42)Kaum khawarij modern ini tidak akan membuka diri terhadap selain kelompoknya, walau pun kepada dosen-dosen mereka , bahkan mereka tidak  mengakui guru-guru mereka tersebut, bak Malin Kundang yang tak mengakui orang tuanya. Serta tidak menyebarkan rahmat kepada kaum muslimin, bahkan menyebarkan kebencian terhadap mereka. Padahal ahlussunnah adalah orang-orang yang paling mengetahui kebenaran dan paling menyayangi manusia.قال يحيى بن معاذ العلماء أرحم بأمة محمد صلى الله عليه وسلم من آبائهم وأمهاتهم قيل وكيف ذلك قال لأن آباءهم وأمهاتهم يحفظونهم من نار الدنيا وهم يحفظونهم من نار الآخرةBerkata Yahya bin Mu’aadz rahimahulloh ; Para ulama lebih menyayangi umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam daripada ayah dan ibu mereka, mengapa demikian ? Karena ayah dan ibu mereka melindungi mereka dari neraka dunia sedang para ulama melindungi mereka dari neraka akhirat.(Ihya Ulumuddin 1/11)Catatan Kaki:—————[1] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.[2]Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.

Surat Terbuka Untuk Saudaraku Takfiri

Oleh : Abdul Hakim bin Muhammad Al-Jawy, Lc Surat terbuka untuk saudaraku yang tersesat…para teroris yang bernasib tragis… Wahai saudaraku,Aku tahu bahwa engkau ingin menjadi pembela tauhid…Penebar rasa takut bagi para thoghut terlaknat dan kaum munafiqin…Ghuroba sejati di atas kemurnian tauhid…Berbicara tentang hak Allah saat manusia berebut hak mereka masing-masing….Saat sebagian dari di berbeda pendapat karena beda pendapatan….Saat sebagian yang disebut ulama sibuk menghitung komisi…Dan yang lain bergelak menghitung jumlah istri…Saat itu engkau bersujud di lantai jeruji yang tak kenal siang dari malam…Seraya lidahmu melantunkan kalam suci yang terkumpul di dadamu… Saudaraku yang kucintai dari lubuk hati,Adakah engkau meyakini saat itu engkau telah sampai kebenaran hakiki…?Menjadi tangan kanan dari para mursalin…?Ataukah justru engkau kini menjadi tangan kiri dari iblis…?Yang mengajak ke neraka dengan menebar aroma surga…?Memasukkan racun kedalam cawan madu…?Masih tersisakah rasa takut di dasar hatimu bahwa engkau telah tersesat dan menjadi alat bagi iblis dan tentaranya yang berniat jahat kepada anak adam agar mereka binasa di atas kekufuran sehingga kekal bersamanya dalam neraka..? Wahai yang tidak berdiri di sejengkal bumi Allah kecuali engkau membaca kalam Penciptamu dari hafalanmu…yang setiap pekan engkau khatamkan Al-Quran tanpa melihat mushaf.., tidakkah engkau takut terhadap sabda Nabimu shallallahu alaihi wa sallamعن حذيفة رضي الله عنه قال صلى الله عليه و سلم : إن أخوف ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن, حتى إذا رئيت بهجته عليه و كان ردءاً للإسلام , انسلخ منه و نبذه وراء ظهره , و سعى على جاره بالسيف و رماه بالشرك , قلت يا نبي الله ! أيهما أولى بالشرك : الرامي أو المرمي ؟ قال : بل الرامي ( رواه البخاري في التاريخ و أبو يعلى و ابن حبان و البزار , انظر الصحيحة للألباني ٣٢۰١ )Dari Hudaifah rodhiyAllahu anhu bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; sesungguhnya yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah jika ada seorang yang telah menghafal alquran sampai tatkala telah dikenal kualitasnya dan menjadi benteng bagi Islam, lalu ia melepaskan diri darinya dan membuangnya ke belakang punggungnya, dan berusaha mencelakai tetangganya dengan pedang serta menuduhnya dengan kesyirikan. Aku berkata ; Wahai Nabi Allah siapakah yang lebih pantas disifati dengan kesyirikan? Yang menuduh atau yang dituduh? Beliau bersabda ; bahkan si penuduh. (HR.Bukhary dalam At-Taariikh, Abu Ya’la dll, lihat As-Shahihah  karya Al-Albani no 3201)Bukankah ada yang membaca alquran namun ia tersesat… ?عن عائشة رضي الله عنها قالت : إن النبي صلى الله عليه وسلم تلا هذه الآية : هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات – إلى قوله عز وجل – وما يذكر إلا أولو الألباب ، فقال صلى الله عليه وسلم : يا عائشة ، إذا رأيتم الذين يجادلون فيه ، فهم الذين عنى الله عز وجل ، فاحذروهم ( الشريعة للآجري – (1 / 23)Dari Aisyah rodhiyAllahu anha berkata sungguh Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini ; ((Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[1] , Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[2]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal)) (QS. Ali Imran 7). Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; “Wahai Aisyah jika engkau menjumpai orang-orang yang suka berdebat tentang ayat mutasyabihat maka mereka itulah yang Allah maksud ( dalam ayat ini ) maka berhati-hatilah dari mereka” (Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Thobroni, Ath-Thohawi, dan ibnu Hibbaan. Syu’ab Al-Arna’uuth berkata : “Isnadnya Shahih sesuai dengan persyaratan Shahihain)عن سعيد بن جبير في قول الله عز وجل وأخر متشابهات قال : أما المتشابهات فهن آي في القرآن يتشابهن على الناس إذا قرؤوهن ، من أجل ذلك يضل من ضل ممن ادعى هذه الكلمة كل فرقة يقرؤون آيات من القرآن ، ويزعمون أنها لهم أصابوا بها الهدى .ومما يتبع الحرورية من المتشابه قول الله عز وجل : ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون . ويقرؤون معها : ثم الذين كفروا بربهم يعدلون فإذا رأوا الإمام يحكم بغير الحق قالوا : قد كفر . ومن كفرعدل بربه ، فقد أشرك ، فهؤلاء الأئمة مشركون ، فيخرجون فيفعلون ما رأيت ، لأنهم يتأولون هذه الآيةDari Said bin Jubair saat beliau menerangkan ayat mutasyabihat ; “Adapun mutasyabihat adalah ayat-ayat dalam alquran yang tersamar  atas sebagian manusia saat mereka membacanya karena itulah tersesat orang yang sesat dari setiap yang mengklaim kebenaran. Setiap kelompok menggunakan ayat – ayat dari alquran, mereka mengira ayat tersebut mendukung mereka sehingga menepati kebenaran. Dan termasuk ayat mutasyabihat yang digunakan oleh Haruriyah ( khawarij ) adalah : Almaidah 44: ((Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir)).Mereka lalu menggabungkannya dengan Al-An’aam 1 ; ((Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka)). Maka ketika mereka melihat imam memutuskan tidak sesuai kebenaran mereka katakan ia telah kafir dan yang kafir telah mempersekutukan sesuatu dengan Tuhan, maka ia  telah musyrik, maka para pemerintah itu kafir lalu mereka memberontak dan melakukan apa yang engkau lihat karena mereka mencari-cari takwil ayat ini.” (Kitab Asy-Syari’ah karya Al-Aajurry : 1/24) Wahai yang berhati beringas kepada orang yang masih berucap subhana robbiyal a’la , bukankah engkau mengetahui bahwa Allah memerintahkan Musa ‘alaihis salaam untuk berlemah-lembut kepada Firaun yang telah berucap ana robbukumul a’laa “Aku adalah Tuhan kalian yang tertinggi” dan mendapat vonis resmi sebagai thoghut oleh Sang Maha Kuasa..اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah menjadi thoghut. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.( Thoha 43-44)Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan nama –nama munafiq Madinah kepada Hudaifah Ibnul Yaman rodhiyAllahu anhu, bukankan Hudzaifah menyembunyikan nama-nama tersebut?, tidakkah engkau berqudwah kepada manhaj Nabi kita yang mulia shallallahu alaihi wa sallam ?عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآهُ قَالَ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِDari Aisyah bahwa ada seorang yang meminta izin (bertamu)  kepada  Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau berkata ; dia adalah seburuk-buruk orang, namun ketika telah duduk, Nabi shallallahu alaihi wasallam bemuka manis dan berlemah lembut kepadanya. Ketika orang itu telah pergi maka Aisyah berkata Wahai Rasulullah, ketika engkau pertama kali melihatnya engkau mengatakan demikian dan demikian, namun (saat duduk bersamanya ), engkau bermuka manis dan berlemah lembut kepadanya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “wahai Aisyah kapankah engkau pernah mendapatiku sebagai seorang yang bejat akhlaknya. Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah yang dijauhi manusia karena takut dari gangguannya.” ( Muttafaq alaih )Inilah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam yang akhlaqnya adalah Alquran. Ketika Allah berfirmanقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَKatakanlah ; Hai orang –orang kafir (QS Al-Kafirun : 1)قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu Sementara waktu; Sesungguhnya kamu Termasuk penghuni neraka”. (QS Az-Zumar : 8)قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena Sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”. (QS Ibrahim : 30)Pernahkah Nabi kita alaihi shalatu wassalaam memahami  perintah tersebut  seperti pemahaman kalian yang meneriaki mereka dengan vonis takfir jalanan yang liar? Ataukah kalian lebih bertaqwa dari  Beliau shallallahu alaihi wasallam? Ataukah pilihan yang ketiga yaitu ayat ini seperti firman Allah subhanahu wa taala ;قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِKatakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati” (QS Ali Imron : 119)Yang tidak pernah samasekali Nabi shallallahu alaihi wasallam ucapkan, sebab jika Beliau ucapkan niscaya matilah mereka semua karena doa beliau yang mustajab.Beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang yang sangat bersemangat agar manusia mendapat hidayah kemudian masuk surga Allah Jalla wa Alaa, dan bukan seorang yang ingin manusia mati di atas kekufuran kemudian digiring seluruhnya ke neraka karena beliau diutus sebagai rahmat bagi alam semesta bukan sebagai adzab bagi alam semesta. Lihatlah dari pertempuran yang beliau pimpin, tidak pernah beliau membunuh seorang pun dari kaum kuffar kecuali Ubay ibn Kholaf, itu pun dalam rangka mempertahankan diri.عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًاDari ibnu Umar radhiyAllahu anhuma bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; seorang mukmin akan senantiasa dalam kelapangan agamanya selama tidak menumpahkan darah yang haram ( HR. Bukhary ).Beliau shallallahu alaihi wa sallam sangat memahami saat terjadi fathu makkah bahwa banyak di antara mereka  yang berpura –pura masuk Islam, namun demikianlah hidayah masuk ke hati seorang sedikit demi sedikit.عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ أَىْ قَوْمِ أَسْلِمُوا فَوَاللَّهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِى عَطَاءً مَا يَخَافُ الْفَقْرَ. فَقَالَ أَنَسٌ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا.Dari Anas  bahwa ada seorang yang meminta  kepada Nabi shallallahu alihi wa sallam kambing sebanyak (lembah) antara dua bukit lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun memberinya kemudian orang tadi mendatangi kaumnya seraya berkata, “wahai kaumku masuk Islamlah, karena Demi Allah , Muhammad telah memberiku pemberian yang tidak takut kefakiran.” Berkata Anas, ” Sungguh saat itu banyak orang yang masuk Islam namun tidak menginginkan kecuali dunia, tetapi setelah berIslam sungguh Islam lebih mereka cintai daripada dunia dan seluruh isinya.” ( HR. Muslim)Berkata Al Imam Ibnu Taimiyah rahimahulloh :فعامة الناس إذا أسلموا بعد كفر أو ولدوا على الإسلام والتزموا شرائعه، وكانوا من أهل الطاعة للّه ورسوله، فهم مسلمون ومعهم إيمان مجمل، ولكن دخول حقيقة الإيمان إلى قلوبهم إنما يحصل شيئًا فشيئًا إن أعطاهم اللّه ذلك، وإلا فكثير من الناس لا يصلون لا إلى اليقين ولا إلى الجهاد، ولو شُكِّكوا لشَكُّوا، ولو أمروا بالجهاد لما جاهدوا، وليسوا كفاراً ولا منافقين، بل ليس عندهم من علم القلب ومعرفته ويقينه ما يدرأ الرَّيْبَ، ولا عندهم من قوة الحب للّه ولرسوله ما يقدمونه على الأهل والمال، وهؤلاء إن عوفوا من المحنة وماتوا دخلوا الجنة، وإن ابتلوا بمن يورد عليهم شبهات توجب ريبهم، فإن لم ينعم اللّه عليهم بما يزيل الريب، وإلا صاروا مرتابين، وانتقلوا إلى نوع من النفاق .“Maka kebanyakan manusia jika masuk Islam setelah kekufuran atau dilahirkan di atas Islam dan menjalankan syariatnya, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka adalah muslimun yang memiliki iman secara mujmal/global. Akan tetapi masuknya hakikat  keimanan kepada hati mereka adalah terjadi sedikit demi sedikit jika Allah memberikannya kepada mereka. Dan kebanyakan manusia tidak sampai kepada derajat yakin dan jihad. Jika mereka ini dibuat ragu, niscaya mereka ragu, jika diperintah jihad niscaya mereka tidak mau. Namun mereka ini bukanlah Kafir dan bukan pula munafiq. Hanya saja mereka tidak memiliki ilmu dan ma’rifah serta keyakinan hati yang membentengi dari keraguan, tidak pula mereka memiliki kekuatan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang mereka utamakan di atas keluarga dan harta…” (Al-Iman 2/350)Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersama umumnya kaum muslimin , menasehati mereka dan bersabar atas gangguan mereka,عن معاذ رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : وعليكم بالعامة والجماعة والمساجدDari Muadz radhiyAllahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas kalian untuk selalu bersama umumnya  kaum muslimin, jamaah serta masjid –masjid mereka” ( HR. Thabrany di Al-Mu’jam Al-Kabiir 20/164). Fenomena ekslusifitas generasi muda yang mempelajari agama pada hari ini adalah hal yang patut disayangkan. Sebab, jika hamasah syabbab (para pemuda) berpadu dengan hikmah/sikap bijak syuyukh (para ulama) niscaya mereka terus di atas petunjuk. Sebagian mereka memusuhi orang umum kaum muslimin karena di anggap kafir murtad  dan sebagian memandang orang umum sesat karena di anggap ahli bidah. Takfiriyun dan tabdi’iyun ini lebih menyibukkan diri dengan kitab-kitab mutaakhirin. Menjadikan ucapan ulama kholaf dan kitab mereka seperti talmud yang dihafalkan dan mengalahkan kitab suci. Yang satu khawarij kepada umara dan yang lain khawarij kepada ulama. Bahkan sibuk mengkotak-kotakkan manusia di atas hizbiyah berkedok klaim ahlisunnah. Menganggap diri mereka sebagai representasi kebenaran, yang sama, duduk dan kenal baik dengan mereka adalah ahlisunnah dan yang tidak demikian adalah ahli bidah walaupun di atas hujjah salafiyah.قيل للحسن : يا أبا سعيد ، خرج خارجي بالخريبة – محلة عند البصرة – فقال : المسكين رأى منكراً فأنكره ، فوقع فيما هو أنكر منه .Alhasan Albashry pernah ditanya, “wahai Aba said, telah keluar seorang khawarij di Kharibah”, maka beliau berkata, “Kasihan ( orang khawarij ini) , ia melihat kemungkaran lalu mengingkarinya tapi ternyata terjadi hal yang lebih munkar lagi. (Asy-Syari’ah li Al-Aajurry 1/25)عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان ، سفهاء الأحلام ، يقولون من خير قول الناس ، يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرميةDari Abdulloh ibn mas’ud berkata ; bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ; akan keluar di akhir zaman satu kaum yang muda-muda usia mereka, bodoh angan-angan mereka, berbicara dengan sebaik-baik ucapan manusia. mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari buruannya ( HR.Ahmad , tirmidzy , Ibnu Majah dll )Sebelum mempelajari Islam mereka membunuh, merampok , menipu dan menyakiti manusia , lalu setelah belajar Islam dan bertaubat kemudian menjadi khawarij, mereka kembali membunuh dan merampok kaum muslimin dengan alasan jihad kepada murtaddin, menginjak-injak harga diri dan mentololkan kaum muslimin  dan ulama mereka dengan alasan mereka adalah ahli bidah. Persis seperti anak panah  yang  menembus binatang buruan dan tidak berbekas samasekali ajaran akhlak Islam dalam ucapan dan perbuatan mereka.أبو غالب : أنه سمع أبا أمامة رضي الله تعالى عنه صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : خرجت خارجة بالشام فقتلوا ، وألقوا في جب ، أو في بئر ، فأقبل أبو أمامة رضي الله وأنا معه ، حتى وقف عليهم ، ثم بكى ، ثم قال : سبحان الله ، ما فعل الشيطان بهذه الأمة ؟ كلاب النار ، كلاب النار ، كلاب النار – ثلاثا – شر قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء من قتلوه ، قلت : يا أبا أمامة ، أشيء تقول برأيك ، أم شيء سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء – ثلاثا – بل سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم غير مرة ، ولا مرتين ، ولا ثلاثا ، حتى عد عشراًDari Abu ghalib ia mendengar Abu Umamah radhiyAllahu anhu seorang dari shahabat Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam  berkata ; telah keluar khawarij di syam lalu mereka membunuhnya dan melemparnya ke sumur kemudian Abu Umamah mengajakku mendatanginya sampai beliau berdiri di atas mereka , beliau menangis, lalu berkata ; SubhanAllah, apakah yang telah dilakukan  Syaithon (untuk menyesatkan ) umat ini ? Anjing –anjing neraka –tiga kali beliau menyebutkannya-. ( mereka adalah) seburuk-buruk mayat di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik jenazah di bawah kolong langit adalah yang mereka bunuh. Aku ( Abu Ghalib )  berkata ; wahai abu Umamah, apakah ini pendapat yang keluar dari ra’yumu ? atau hadits yang kau dengar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam ? ( jika dari ra’yuku ) maka sungguh aku sangat lancang – beliau mengatakannya tiga kali. Tapi ini adalah yang aku dengar dari Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam. ( HR. Ahmad , Tirmidzy , An-Nasa’y dll ).عن ابن عمر، عن النَّبيِّ صلى الله عليه و سلم قال: (( مَن حَمَلَ علينا السِّلاحَ فليس منَّا ))Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; barang siapa membawa pedang ( menyerang ) kami ( kaum muslimin ) maka ia bukan dari golongan kami ( Muttafaq alaih ).قال صلى الله عليه و سلم (( ومَن خرج على أمَّتي يضرب برَّها وفاجرَها، ولا يتحاش من مؤمنها، ولا يفي لذي عهد عهدَه، فليس منِّي ولستُ منه ))Bersabda nabi shallallahu alaihi wa sallam ; barang siapa memerangi umatku membunuh orang baik dan orang fajirnya serta tidak berhati-hati dari orang mukminnya dan tidak menepati perjanjian kepada yang membuat perjanjian dengan mereka maka dia bukanlah dari golonganku dan aku bukan dari golongannya.( HSR. Muslim no 1848). Mereka ini jika memasuki masjid – masjid kaum muslimin, menganggap dirinya saja  yang paling afdhol dan paling di atas tauhid dan sunnah.عن أنس قال صلى الله عليه و سلم : ناشدتك بالله ، هل حدثت نفسك حين طلعت علينا : أن ليس في القوم أفضل منك ؟ فقال : اللهم نعم . فدخل المسجد يصليDari Anas ibn malik bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ( kepada seorang khawarij ) ; Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, bukankah jiwamu berkata kepadamu saat kau mendatangi kami bahwa tidak ada seorang pun di sini yang lebih afdhol darimu ? Ia menjawab ;  iya. Lalu ia pun masuk masjid dan shalat.( HR. Ahmad , Abu Ya’la ).Sebagian mereka menyesatkan seluruh muslimin kecuali yang mereka kenal saja.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ . فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ ». قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ لاَ أَدْرِى أَهْلَكَهُمْ بِالنَّصْبِ أَوْ أَهْلَكُهُمْ بِالرَّفْعِ.Dari Abu hurairoh bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; apabila seorang mengatakan ; manusia binasa . maka dialah yang paling binasa atau yang membinasakan mereka. (HR. Muslim ) Sebagaimana pendahulu mereka yaitu Dzulkhuwaishiroh menganggap dirinya lebih bertaqwa daripada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُDari Abu Said Alkhudry rodhiyAllahu anhu berkata ketika kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau membagi ghanimah , datanglah Dzulkhuwaishiroh seorang dari bani tamim lalu ia berkata : Ya Rasulullah, berbuat adillah. Lalu Nabi berkata ; celaka engkau, siapakah yang akan adil ( dari umara setelahku ) jika aku tidak adil. Engkau pasti celaka ( jika meyakini ) aku tidak adil.( HR. Bukhary ).Mereka akan terus terpecah menjadi faksi-faksi yang saling mengkafirkan dan membidahkan, demikianlah ahli bidah di setiap zaman.Berkata Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh ;والبدعة مقرونة بالفرقة كما ان السنة مقرونة بالجماعة فيقال أهل السنة والجماعة كما يقال أهل البدعة والفرقةBid’ah identik dengan furqoh/perpecahan sebagaimana Sunnah identik dengan jamaah/persatuan. Sehingga disebut ahli sunnah wal jamaah sebagaimana disebut pula Ahli bidah walfurqoh.(Al Istiqomah 1/42)Kaum khawarij modern ini tidak akan membuka diri terhadap selain kelompoknya, walau pun kepada dosen-dosen mereka , bahkan mereka tidak  mengakui guru-guru mereka tersebut, bak Malin Kundang yang tak mengakui orang tuanya. Serta tidak menyebarkan rahmat kepada kaum muslimin, bahkan menyebarkan kebencian terhadap mereka. Padahal ahlussunnah adalah orang-orang yang paling mengetahui kebenaran dan paling menyayangi manusia.قال يحيى بن معاذ العلماء أرحم بأمة محمد صلى الله عليه وسلم من آبائهم وأمهاتهم قيل وكيف ذلك قال لأن آباءهم وأمهاتهم يحفظونهم من نار الدنيا وهم يحفظونهم من نار الآخرةBerkata Yahya bin Mu’aadz rahimahulloh ; Para ulama lebih menyayangi umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam daripada ayah dan ibu mereka, mengapa demikian ? Karena ayah dan ibu mereka melindungi mereka dari neraka dunia sedang para ulama melindungi mereka dari neraka akhirat.(Ihya Ulumuddin 1/11)Catatan Kaki:—————[1] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.[2]Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
Oleh : Abdul Hakim bin Muhammad Al-Jawy, Lc Surat terbuka untuk saudaraku yang tersesat…para teroris yang bernasib tragis… Wahai saudaraku,Aku tahu bahwa engkau ingin menjadi pembela tauhid…Penebar rasa takut bagi para thoghut terlaknat dan kaum munafiqin…Ghuroba sejati di atas kemurnian tauhid…Berbicara tentang hak Allah saat manusia berebut hak mereka masing-masing….Saat sebagian dari di berbeda pendapat karena beda pendapatan….Saat sebagian yang disebut ulama sibuk menghitung komisi…Dan yang lain bergelak menghitung jumlah istri…Saat itu engkau bersujud di lantai jeruji yang tak kenal siang dari malam…Seraya lidahmu melantunkan kalam suci yang terkumpul di dadamu… Saudaraku yang kucintai dari lubuk hati,Adakah engkau meyakini saat itu engkau telah sampai kebenaran hakiki…?Menjadi tangan kanan dari para mursalin…?Ataukah justru engkau kini menjadi tangan kiri dari iblis…?Yang mengajak ke neraka dengan menebar aroma surga…?Memasukkan racun kedalam cawan madu…?Masih tersisakah rasa takut di dasar hatimu bahwa engkau telah tersesat dan menjadi alat bagi iblis dan tentaranya yang berniat jahat kepada anak adam agar mereka binasa di atas kekufuran sehingga kekal bersamanya dalam neraka..? Wahai yang tidak berdiri di sejengkal bumi Allah kecuali engkau membaca kalam Penciptamu dari hafalanmu…yang setiap pekan engkau khatamkan Al-Quran tanpa melihat mushaf.., tidakkah engkau takut terhadap sabda Nabimu shallallahu alaihi wa sallamعن حذيفة رضي الله عنه قال صلى الله عليه و سلم : إن أخوف ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن, حتى إذا رئيت بهجته عليه و كان ردءاً للإسلام , انسلخ منه و نبذه وراء ظهره , و سعى على جاره بالسيف و رماه بالشرك , قلت يا نبي الله ! أيهما أولى بالشرك : الرامي أو المرمي ؟ قال : بل الرامي ( رواه البخاري في التاريخ و أبو يعلى و ابن حبان و البزار , انظر الصحيحة للألباني ٣٢۰١ )Dari Hudaifah rodhiyAllahu anhu bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; sesungguhnya yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah jika ada seorang yang telah menghafal alquran sampai tatkala telah dikenal kualitasnya dan menjadi benteng bagi Islam, lalu ia melepaskan diri darinya dan membuangnya ke belakang punggungnya, dan berusaha mencelakai tetangganya dengan pedang serta menuduhnya dengan kesyirikan. Aku berkata ; Wahai Nabi Allah siapakah yang lebih pantas disifati dengan kesyirikan? Yang menuduh atau yang dituduh? Beliau bersabda ; bahkan si penuduh. (HR.Bukhary dalam At-Taariikh, Abu Ya’la dll, lihat As-Shahihah  karya Al-Albani no 3201)Bukankah ada yang membaca alquran namun ia tersesat… ?عن عائشة رضي الله عنها قالت : إن النبي صلى الله عليه وسلم تلا هذه الآية : هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات – إلى قوله عز وجل – وما يذكر إلا أولو الألباب ، فقال صلى الله عليه وسلم : يا عائشة ، إذا رأيتم الذين يجادلون فيه ، فهم الذين عنى الله عز وجل ، فاحذروهم ( الشريعة للآجري – (1 / 23)Dari Aisyah rodhiyAllahu anha berkata sungguh Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini ; ((Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[1] , Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[2]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal)) (QS. Ali Imran 7). Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; “Wahai Aisyah jika engkau menjumpai orang-orang yang suka berdebat tentang ayat mutasyabihat maka mereka itulah yang Allah maksud ( dalam ayat ini ) maka berhati-hatilah dari mereka” (Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Thobroni, Ath-Thohawi, dan ibnu Hibbaan. Syu’ab Al-Arna’uuth berkata : “Isnadnya Shahih sesuai dengan persyaratan Shahihain)عن سعيد بن جبير في قول الله عز وجل وأخر متشابهات قال : أما المتشابهات فهن آي في القرآن يتشابهن على الناس إذا قرؤوهن ، من أجل ذلك يضل من ضل ممن ادعى هذه الكلمة كل فرقة يقرؤون آيات من القرآن ، ويزعمون أنها لهم أصابوا بها الهدى .ومما يتبع الحرورية من المتشابه قول الله عز وجل : ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون . ويقرؤون معها : ثم الذين كفروا بربهم يعدلون فإذا رأوا الإمام يحكم بغير الحق قالوا : قد كفر . ومن كفرعدل بربه ، فقد أشرك ، فهؤلاء الأئمة مشركون ، فيخرجون فيفعلون ما رأيت ، لأنهم يتأولون هذه الآيةDari Said bin Jubair saat beliau menerangkan ayat mutasyabihat ; “Adapun mutasyabihat adalah ayat-ayat dalam alquran yang tersamar  atas sebagian manusia saat mereka membacanya karena itulah tersesat orang yang sesat dari setiap yang mengklaim kebenaran. Setiap kelompok menggunakan ayat – ayat dari alquran, mereka mengira ayat tersebut mendukung mereka sehingga menepati kebenaran. Dan termasuk ayat mutasyabihat yang digunakan oleh Haruriyah ( khawarij ) adalah : Almaidah 44: ((Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir)).Mereka lalu menggabungkannya dengan Al-An’aam 1 ; ((Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka)). Maka ketika mereka melihat imam memutuskan tidak sesuai kebenaran mereka katakan ia telah kafir dan yang kafir telah mempersekutukan sesuatu dengan Tuhan, maka ia  telah musyrik, maka para pemerintah itu kafir lalu mereka memberontak dan melakukan apa yang engkau lihat karena mereka mencari-cari takwil ayat ini.” (Kitab Asy-Syari’ah karya Al-Aajurry : 1/24) Wahai yang berhati beringas kepada orang yang masih berucap subhana robbiyal a’la , bukankah engkau mengetahui bahwa Allah memerintahkan Musa ‘alaihis salaam untuk berlemah-lembut kepada Firaun yang telah berucap ana robbukumul a’laa “Aku adalah Tuhan kalian yang tertinggi” dan mendapat vonis resmi sebagai thoghut oleh Sang Maha Kuasa..اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah menjadi thoghut. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.( Thoha 43-44)Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan nama –nama munafiq Madinah kepada Hudaifah Ibnul Yaman rodhiyAllahu anhu, bukankan Hudzaifah menyembunyikan nama-nama tersebut?, tidakkah engkau berqudwah kepada manhaj Nabi kita yang mulia shallallahu alaihi wa sallam ?عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآهُ قَالَ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِDari Aisyah bahwa ada seorang yang meminta izin (bertamu)  kepada  Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau berkata ; dia adalah seburuk-buruk orang, namun ketika telah duduk, Nabi shallallahu alaihi wasallam bemuka manis dan berlemah lembut kepadanya. Ketika orang itu telah pergi maka Aisyah berkata Wahai Rasulullah, ketika engkau pertama kali melihatnya engkau mengatakan demikian dan demikian, namun (saat duduk bersamanya ), engkau bermuka manis dan berlemah lembut kepadanya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “wahai Aisyah kapankah engkau pernah mendapatiku sebagai seorang yang bejat akhlaknya. Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah yang dijauhi manusia karena takut dari gangguannya.” ( Muttafaq alaih )Inilah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam yang akhlaqnya adalah Alquran. Ketika Allah berfirmanقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَKatakanlah ; Hai orang –orang kafir (QS Al-Kafirun : 1)قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu Sementara waktu; Sesungguhnya kamu Termasuk penghuni neraka”. (QS Az-Zumar : 8)قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena Sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”. (QS Ibrahim : 30)Pernahkah Nabi kita alaihi shalatu wassalaam memahami  perintah tersebut  seperti pemahaman kalian yang meneriaki mereka dengan vonis takfir jalanan yang liar? Ataukah kalian lebih bertaqwa dari  Beliau shallallahu alaihi wasallam? Ataukah pilihan yang ketiga yaitu ayat ini seperti firman Allah subhanahu wa taala ;قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِKatakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati” (QS Ali Imron : 119)Yang tidak pernah samasekali Nabi shallallahu alaihi wasallam ucapkan, sebab jika Beliau ucapkan niscaya matilah mereka semua karena doa beliau yang mustajab.Beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang yang sangat bersemangat agar manusia mendapat hidayah kemudian masuk surga Allah Jalla wa Alaa, dan bukan seorang yang ingin manusia mati di atas kekufuran kemudian digiring seluruhnya ke neraka karena beliau diutus sebagai rahmat bagi alam semesta bukan sebagai adzab bagi alam semesta. Lihatlah dari pertempuran yang beliau pimpin, tidak pernah beliau membunuh seorang pun dari kaum kuffar kecuali Ubay ibn Kholaf, itu pun dalam rangka mempertahankan diri.عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًاDari ibnu Umar radhiyAllahu anhuma bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; seorang mukmin akan senantiasa dalam kelapangan agamanya selama tidak menumpahkan darah yang haram ( HR. Bukhary ).Beliau shallallahu alaihi wa sallam sangat memahami saat terjadi fathu makkah bahwa banyak di antara mereka  yang berpura –pura masuk Islam, namun demikianlah hidayah masuk ke hati seorang sedikit demi sedikit.عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ أَىْ قَوْمِ أَسْلِمُوا فَوَاللَّهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِى عَطَاءً مَا يَخَافُ الْفَقْرَ. فَقَالَ أَنَسٌ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا.Dari Anas  bahwa ada seorang yang meminta  kepada Nabi shallallahu alihi wa sallam kambing sebanyak (lembah) antara dua bukit lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun memberinya kemudian orang tadi mendatangi kaumnya seraya berkata, “wahai kaumku masuk Islamlah, karena Demi Allah , Muhammad telah memberiku pemberian yang tidak takut kefakiran.” Berkata Anas, ” Sungguh saat itu banyak orang yang masuk Islam namun tidak menginginkan kecuali dunia, tetapi setelah berIslam sungguh Islam lebih mereka cintai daripada dunia dan seluruh isinya.” ( HR. Muslim)Berkata Al Imam Ibnu Taimiyah rahimahulloh :فعامة الناس إذا أسلموا بعد كفر أو ولدوا على الإسلام والتزموا شرائعه، وكانوا من أهل الطاعة للّه ورسوله، فهم مسلمون ومعهم إيمان مجمل، ولكن دخول حقيقة الإيمان إلى قلوبهم إنما يحصل شيئًا فشيئًا إن أعطاهم اللّه ذلك، وإلا فكثير من الناس لا يصلون لا إلى اليقين ولا إلى الجهاد، ولو شُكِّكوا لشَكُّوا، ولو أمروا بالجهاد لما جاهدوا، وليسوا كفاراً ولا منافقين، بل ليس عندهم من علم القلب ومعرفته ويقينه ما يدرأ الرَّيْبَ، ولا عندهم من قوة الحب للّه ولرسوله ما يقدمونه على الأهل والمال، وهؤلاء إن عوفوا من المحنة وماتوا دخلوا الجنة، وإن ابتلوا بمن يورد عليهم شبهات توجب ريبهم، فإن لم ينعم اللّه عليهم بما يزيل الريب، وإلا صاروا مرتابين، وانتقلوا إلى نوع من النفاق .“Maka kebanyakan manusia jika masuk Islam setelah kekufuran atau dilahirkan di atas Islam dan menjalankan syariatnya, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka adalah muslimun yang memiliki iman secara mujmal/global. Akan tetapi masuknya hakikat  keimanan kepada hati mereka adalah terjadi sedikit demi sedikit jika Allah memberikannya kepada mereka. Dan kebanyakan manusia tidak sampai kepada derajat yakin dan jihad. Jika mereka ini dibuat ragu, niscaya mereka ragu, jika diperintah jihad niscaya mereka tidak mau. Namun mereka ini bukanlah Kafir dan bukan pula munafiq. Hanya saja mereka tidak memiliki ilmu dan ma’rifah serta keyakinan hati yang membentengi dari keraguan, tidak pula mereka memiliki kekuatan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang mereka utamakan di atas keluarga dan harta…” (Al-Iman 2/350)Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersama umumnya kaum muslimin , menasehati mereka dan bersabar atas gangguan mereka,عن معاذ رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : وعليكم بالعامة والجماعة والمساجدDari Muadz radhiyAllahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas kalian untuk selalu bersama umumnya  kaum muslimin, jamaah serta masjid –masjid mereka” ( HR. Thabrany di Al-Mu’jam Al-Kabiir 20/164). Fenomena ekslusifitas generasi muda yang mempelajari agama pada hari ini adalah hal yang patut disayangkan. Sebab, jika hamasah syabbab (para pemuda) berpadu dengan hikmah/sikap bijak syuyukh (para ulama) niscaya mereka terus di atas petunjuk. Sebagian mereka memusuhi orang umum kaum muslimin karena di anggap kafir murtad  dan sebagian memandang orang umum sesat karena di anggap ahli bidah. Takfiriyun dan tabdi’iyun ini lebih menyibukkan diri dengan kitab-kitab mutaakhirin. Menjadikan ucapan ulama kholaf dan kitab mereka seperti talmud yang dihafalkan dan mengalahkan kitab suci. Yang satu khawarij kepada umara dan yang lain khawarij kepada ulama. Bahkan sibuk mengkotak-kotakkan manusia di atas hizbiyah berkedok klaim ahlisunnah. Menganggap diri mereka sebagai representasi kebenaran, yang sama, duduk dan kenal baik dengan mereka adalah ahlisunnah dan yang tidak demikian adalah ahli bidah walaupun di atas hujjah salafiyah.قيل للحسن : يا أبا سعيد ، خرج خارجي بالخريبة – محلة عند البصرة – فقال : المسكين رأى منكراً فأنكره ، فوقع فيما هو أنكر منه .Alhasan Albashry pernah ditanya, “wahai Aba said, telah keluar seorang khawarij di Kharibah”, maka beliau berkata, “Kasihan ( orang khawarij ini) , ia melihat kemungkaran lalu mengingkarinya tapi ternyata terjadi hal yang lebih munkar lagi. (Asy-Syari’ah li Al-Aajurry 1/25)عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان ، سفهاء الأحلام ، يقولون من خير قول الناس ، يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرميةDari Abdulloh ibn mas’ud berkata ; bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ; akan keluar di akhir zaman satu kaum yang muda-muda usia mereka, bodoh angan-angan mereka, berbicara dengan sebaik-baik ucapan manusia. mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari buruannya ( HR.Ahmad , tirmidzy , Ibnu Majah dll )Sebelum mempelajari Islam mereka membunuh, merampok , menipu dan menyakiti manusia , lalu setelah belajar Islam dan bertaubat kemudian menjadi khawarij, mereka kembali membunuh dan merampok kaum muslimin dengan alasan jihad kepada murtaddin, menginjak-injak harga diri dan mentololkan kaum muslimin  dan ulama mereka dengan alasan mereka adalah ahli bidah. Persis seperti anak panah  yang  menembus binatang buruan dan tidak berbekas samasekali ajaran akhlak Islam dalam ucapan dan perbuatan mereka.أبو غالب : أنه سمع أبا أمامة رضي الله تعالى عنه صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : خرجت خارجة بالشام فقتلوا ، وألقوا في جب ، أو في بئر ، فأقبل أبو أمامة رضي الله وأنا معه ، حتى وقف عليهم ، ثم بكى ، ثم قال : سبحان الله ، ما فعل الشيطان بهذه الأمة ؟ كلاب النار ، كلاب النار ، كلاب النار – ثلاثا – شر قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء من قتلوه ، قلت : يا أبا أمامة ، أشيء تقول برأيك ، أم شيء سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء – ثلاثا – بل سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم غير مرة ، ولا مرتين ، ولا ثلاثا ، حتى عد عشراًDari Abu ghalib ia mendengar Abu Umamah radhiyAllahu anhu seorang dari shahabat Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam  berkata ; telah keluar khawarij di syam lalu mereka membunuhnya dan melemparnya ke sumur kemudian Abu Umamah mengajakku mendatanginya sampai beliau berdiri di atas mereka , beliau menangis, lalu berkata ; SubhanAllah, apakah yang telah dilakukan  Syaithon (untuk menyesatkan ) umat ini ? Anjing –anjing neraka –tiga kali beliau menyebutkannya-. ( mereka adalah) seburuk-buruk mayat di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik jenazah di bawah kolong langit adalah yang mereka bunuh. Aku ( Abu Ghalib )  berkata ; wahai abu Umamah, apakah ini pendapat yang keluar dari ra’yumu ? atau hadits yang kau dengar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam ? ( jika dari ra’yuku ) maka sungguh aku sangat lancang – beliau mengatakannya tiga kali. Tapi ini adalah yang aku dengar dari Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam. ( HR. Ahmad , Tirmidzy , An-Nasa’y dll ).عن ابن عمر، عن النَّبيِّ صلى الله عليه و سلم قال: (( مَن حَمَلَ علينا السِّلاحَ فليس منَّا ))Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; barang siapa membawa pedang ( menyerang ) kami ( kaum muslimin ) maka ia bukan dari golongan kami ( Muttafaq alaih ).قال صلى الله عليه و سلم (( ومَن خرج على أمَّتي يضرب برَّها وفاجرَها، ولا يتحاش من مؤمنها، ولا يفي لذي عهد عهدَه، فليس منِّي ولستُ منه ))Bersabda nabi shallallahu alaihi wa sallam ; barang siapa memerangi umatku membunuh orang baik dan orang fajirnya serta tidak berhati-hati dari orang mukminnya dan tidak menepati perjanjian kepada yang membuat perjanjian dengan mereka maka dia bukanlah dari golonganku dan aku bukan dari golongannya.( HSR. Muslim no 1848). Mereka ini jika memasuki masjid – masjid kaum muslimin, menganggap dirinya saja  yang paling afdhol dan paling di atas tauhid dan sunnah.عن أنس قال صلى الله عليه و سلم : ناشدتك بالله ، هل حدثت نفسك حين طلعت علينا : أن ليس في القوم أفضل منك ؟ فقال : اللهم نعم . فدخل المسجد يصليDari Anas ibn malik bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ( kepada seorang khawarij ) ; Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, bukankah jiwamu berkata kepadamu saat kau mendatangi kami bahwa tidak ada seorang pun di sini yang lebih afdhol darimu ? Ia menjawab ;  iya. Lalu ia pun masuk masjid dan shalat.( HR. Ahmad , Abu Ya’la ).Sebagian mereka menyesatkan seluruh muslimin kecuali yang mereka kenal saja.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ . فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ ». قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ لاَ أَدْرِى أَهْلَكَهُمْ بِالنَّصْبِ أَوْ أَهْلَكُهُمْ بِالرَّفْعِ.Dari Abu hurairoh bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; apabila seorang mengatakan ; manusia binasa . maka dialah yang paling binasa atau yang membinasakan mereka. (HR. Muslim ) Sebagaimana pendahulu mereka yaitu Dzulkhuwaishiroh menganggap dirinya lebih bertaqwa daripada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُDari Abu Said Alkhudry rodhiyAllahu anhu berkata ketika kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau membagi ghanimah , datanglah Dzulkhuwaishiroh seorang dari bani tamim lalu ia berkata : Ya Rasulullah, berbuat adillah. Lalu Nabi berkata ; celaka engkau, siapakah yang akan adil ( dari umara setelahku ) jika aku tidak adil. Engkau pasti celaka ( jika meyakini ) aku tidak adil.( HR. Bukhary ).Mereka akan terus terpecah menjadi faksi-faksi yang saling mengkafirkan dan membidahkan, demikianlah ahli bidah di setiap zaman.Berkata Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh ;والبدعة مقرونة بالفرقة كما ان السنة مقرونة بالجماعة فيقال أهل السنة والجماعة كما يقال أهل البدعة والفرقةBid’ah identik dengan furqoh/perpecahan sebagaimana Sunnah identik dengan jamaah/persatuan. Sehingga disebut ahli sunnah wal jamaah sebagaimana disebut pula Ahli bidah walfurqoh.(Al Istiqomah 1/42)Kaum khawarij modern ini tidak akan membuka diri terhadap selain kelompoknya, walau pun kepada dosen-dosen mereka , bahkan mereka tidak  mengakui guru-guru mereka tersebut, bak Malin Kundang yang tak mengakui orang tuanya. Serta tidak menyebarkan rahmat kepada kaum muslimin, bahkan menyebarkan kebencian terhadap mereka. Padahal ahlussunnah adalah orang-orang yang paling mengetahui kebenaran dan paling menyayangi manusia.قال يحيى بن معاذ العلماء أرحم بأمة محمد صلى الله عليه وسلم من آبائهم وأمهاتهم قيل وكيف ذلك قال لأن آباءهم وأمهاتهم يحفظونهم من نار الدنيا وهم يحفظونهم من نار الآخرةBerkata Yahya bin Mu’aadz rahimahulloh ; Para ulama lebih menyayangi umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam daripada ayah dan ibu mereka, mengapa demikian ? Karena ayah dan ibu mereka melindungi mereka dari neraka dunia sedang para ulama melindungi mereka dari neraka akhirat.(Ihya Ulumuddin 1/11)Catatan Kaki:—————[1] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.[2]Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.


Oleh : Abdul Hakim bin Muhammad Al-Jawy, Lc Surat terbuka untuk saudaraku yang tersesat…para teroris yang bernasib tragis… Wahai saudaraku,Aku tahu bahwa engkau ingin menjadi pembela tauhid…Penebar rasa takut bagi para thoghut terlaknat dan kaum munafiqin…Ghuroba sejati di atas kemurnian tauhid…Berbicara tentang hak Allah saat manusia berebut hak mereka masing-masing….Saat sebagian dari di berbeda pendapat karena beda pendapatan….Saat sebagian yang disebut ulama sibuk menghitung komisi…Dan yang lain bergelak menghitung jumlah istri…Saat itu engkau bersujud di lantai jeruji yang tak kenal siang dari malam…Seraya lidahmu melantunkan kalam suci yang terkumpul di dadamu… Saudaraku yang kucintai dari lubuk hati,Adakah engkau meyakini saat itu engkau telah sampai kebenaran hakiki…?Menjadi tangan kanan dari para mursalin…?Ataukah justru engkau kini menjadi tangan kiri dari iblis…?Yang mengajak ke neraka dengan menebar aroma surga…?Memasukkan racun kedalam cawan madu…?Masih tersisakah rasa takut di dasar hatimu bahwa engkau telah tersesat dan menjadi alat bagi iblis dan tentaranya yang berniat jahat kepada anak adam agar mereka binasa di atas kekufuran sehingga kekal bersamanya dalam neraka..? Wahai yang tidak berdiri di sejengkal bumi Allah kecuali engkau membaca kalam Penciptamu dari hafalanmu…yang setiap pekan engkau khatamkan Al-Quran tanpa melihat mushaf.., tidakkah engkau takut terhadap sabda Nabimu shallallahu alaihi wa sallamعن حذيفة رضي الله عنه قال صلى الله عليه و سلم : إن أخوف ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن, حتى إذا رئيت بهجته عليه و كان ردءاً للإسلام , انسلخ منه و نبذه وراء ظهره , و سعى على جاره بالسيف و رماه بالشرك , قلت يا نبي الله ! أيهما أولى بالشرك : الرامي أو المرمي ؟ قال : بل الرامي ( رواه البخاري في التاريخ و أبو يعلى و ابن حبان و البزار , انظر الصحيحة للألباني ٣٢۰١ )Dari Hudaifah rodhiyAllahu anhu bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; sesungguhnya yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah jika ada seorang yang telah menghafal alquran sampai tatkala telah dikenal kualitasnya dan menjadi benteng bagi Islam, lalu ia melepaskan diri darinya dan membuangnya ke belakang punggungnya, dan berusaha mencelakai tetangganya dengan pedang serta menuduhnya dengan kesyirikan. Aku berkata ; Wahai Nabi Allah siapakah yang lebih pantas disifati dengan kesyirikan? Yang menuduh atau yang dituduh? Beliau bersabda ; bahkan si penuduh. (HR.Bukhary dalam At-Taariikh, Abu Ya’la dll, lihat As-Shahihah  karya Al-Albani no 3201)Bukankah ada yang membaca alquran namun ia tersesat… ?عن عائشة رضي الله عنها قالت : إن النبي صلى الله عليه وسلم تلا هذه الآية : هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات – إلى قوله عز وجل – وما يذكر إلا أولو الألباب ، فقال صلى الله عليه وسلم : يا عائشة ، إذا رأيتم الذين يجادلون فيه ، فهم الذين عنى الله عز وجل ، فاحذروهم ( الشريعة للآجري – (1 / 23)Dari Aisyah rodhiyAllahu anha berkata sungguh Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini ; ((Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[1] , Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[2]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal)) (QS. Ali Imran 7). Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; “Wahai Aisyah jika engkau menjumpai orang-orang yang suka berdebat tentang ayat mutasyabihat maka mereka itulah yang Allah maksud ( dalam ayat ini ) maka berhati-hatilah dari mereka” (Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Thobroni, Ath-Thohawi, dan ibnu Hibbaan. Syu’ab Al-Arna’uuth berkata : “Isnadnya Shahih sesuai dengan persyaratan Shahihain)عن سعيد بن جبير في قول الله عز وجل وأخر متشابهات قال : أما المتشابهات فهن آي في القرآن يتشابهن على الناس إذا قرؤوهن ، من أجل ذلك يضل من ضل ممن ادعى هذه الكلمة كل فرقة يقرؤون آيات من القرآن ، ويزعمون أنها لهم أصابوا بها الهدى .ومما يتبع الحرورية من المتشابه قول الله عز وجل : ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون . ويقرؤون معها : ثم الذين كفروا بربهم يعدلون فإذا رأوا الإمام يحكم بغير الحق قالوا : قد كفر . ومن كفرعدل بربه ، فقد أشرك ، فهؤلاء الأئمة مشركون ، فيخرجون فيفعلون ما رأيت ، لأنهم يتأولون هذه الآيةDari Said bin Jubair saat beliau menerangkan ayat mutasyabihat ; “Adapun mutasyabihat adalah ayat-ayat dalam alquran yang tersamar  atas sebagian manusia saat mereka membacanya karena itulah tersesat orang yang sesat dari setiap yang mengklaim kebenaran. Setiap kelompok menggunakan ayat – ayat dari alquran, mereka mengira ayat tersebut mendukung mereka sehingga menepati kebenaran. Dan termasuk ayat mutasyabihat yang digunakan oleh Haruriyah ( khawarij ) adalah : Almaidah 44: ((Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir)).Mereka lalu menggabungkannya dengan Al-An’aam 1 ; ((Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka)). Maka ketika mereka melihat imam memutuskan tidak sesuai kebenaran mereka katakan ia telah kafir dan yang kafir telah mempersekutukan sesuatu dengan Tuhan, maka ia  telah musyrik, maka para pemerintah itu kafir lalu mereka memberontak dan melakukan apa yang engkau lihat karena mereka mencari-cari takwil ayat ini.” (Kitab Asy-Syari’ah karya Al-Aajurry : 1/24) Wahai yang berhati beringas kepada orang yang masih berucap subhana robbiyal a’la , bukankah engkau mengetahui bahwa Allah memerintahkan Musa ‘alaihis salaam untuk berlemah-lembut kepada Firaun yang telah berucap ana robbukumul a’laa “Aku adalah Tuhan kalian yang tertinggi” dan mendapat vonis resmi sebagai thoghut oleh Sang Maha Kuasa..اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah menjadi thoghut. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.( Thoha 43-44)Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan nama –nama munafiq Madinah kepada Hudaifah Ibnul Yaman rodhiyAllahu anhu, bukankan Hudzaifah menyembunyikan nama-nama tersebut?, tidakkah engkau berqudwah kepada manhaj Nabi kita yang mulia shallallahu alaihi wa sallam ?عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآهُ قَالَ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِDari Aisyah bahwa ada seorang yang meminta izin (bertamu)  kepada  Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau berkata ; dia adalah seburuk-buruk orang, namun ketika telah duduk, Nabi shallallahu alaihi wasallam bemuka manis dan berlemah lembut kepadanya. Ketika orang itu telah pergi maka Aisyah berkata Wahai Rasulullah, ketika engkau pertama kali melihatnya engkau mengatakan demikian dan demikian, namun (saat duduk bersamanya ), engkau bermuka manis dan berlemah lembut kepadanya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “wahai Aisyah kapankah engkau pernah mendapatiku sebagai seorang yang bejat akhlaknya. Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah yang dijauhi manusia karena takut dari gangguannya.” ( Muttafaq alaih )Inilah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam yang akhlaqnya adalah Alquran. Ketika Allah berfirmanقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَKatakanlah ; Hai orang –orang kafir (QS Al-Kafirun : 1)قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu Sementara waktu; Sesungguhnya kamu Termasuk penghuni neraka”. (QS Az-Zumar : 8)قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena Sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”. (QS Ibrahim : 30)Pernahkah Nabi kita alaihi shalatu wassalaam memahami  perintah tersebut  seperti pemahaman kalian yang meneriaki mereka dengan vonis takfir jalanan yang liar? Ataukah kalian lebih bertaqwa dari  Beliau shallallahu alaihi wasallam? Ataukah pilihan yang ketiga yaitu ayat ini seperti firman Allah subhanahu wa taala ;قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِKatakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati” (QS Ali Imron : 119)Yang tidak pernah samasekali Nabi shallallahu alaihi wasallam ucapkan, sebab jika Beliau ucapkan niscaya matilah mereka semua karena doa beliau yang mustajab.Beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang yang sangat bersemangat agar manusia mendapat hidayah kemudian masuk surga Allah Jalla wa Alaa, dan bukan seorang yang ingin manusia mati di atas kekufuran kemudian digiring seluruhnya ke neraka karena beliau diutus sebagai rahmat bagi alam semesta bukan sebagai adzab bagi alam semesta. Lihatlah dari pertempuran yang beliau pimpin, tidak pernah beliau membunuh seorang pun dari kaum kuffar kecuali Ubay ibn Kholaf, itu pun dalam rangka mempertahankan diri.عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًاDari ibnu Umar radhiyAllahu anhuma bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; seorang mukmin akan senantiasa dalam kelapangan agamanya selama tidak menumpahkan darah yang haram ( HR. Bukhary ).Beliau shallallahu alaihi wa sallam sangat memahami saat terjadi fathu makkah bahwa banyak di antara mereka  yang berpura –pura masuk Islam, namun demikianlah hidayah masuk ke hati seorang sedikit demi sedikit.عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ أَىْ قَوْمِ أَسْلِمُوا فَوَاللَّهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِى عَطَاءً مَا يَخَافُ الْفَقْرَ. فَقَالَ أَنَسٌ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا.Dari Anas  bahwa ada seorang yang meminta  kepada Nabi shallallahu alihi wa sallam kambing sebanyak (lembah) antara dua bukit lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun memberinya kemudian orang tadi mendatangi kaumnya seraya berkata, “wahai kaumku masuk Islamlah, karena Demi Allah , Muhammad telah memberiku pemberian yang tidak takut kefakiran.” Berkata Anas, ” Sungguh saat itu banyak orang yang masuk Islam namun tidak menginginkan kecuali dunia, tetapi setelah berIslam sungguh Islam lebih mereka cintai daripada dunia dan seluruh isinya.” ( HR. Muslim)Berkata Al Imam Ibnu Taimiyah rahimahulloh :فعامة الناس إذا أسلموا بعد كفر أو ولدوا على الإسلام والتزموا شرائعه، وكانوا من أهل الطاعة للّه ورسوله، فهم مسلمون ومعهم إيمان مجمل، ولكن دخول حقيقة الإيمان إلى قلوبهم إنما يحصل شيئًا فشيئًا إن أعطاهم اللّه ذلك، وإلا فكثير من الناس لا يصلون لا إلى اليقين ولا إلى الجهاد، ولو شُكِّكوا لشَكُّوا، ولو أمروا بالجهاد لما جاهدوا، وليسوا كفاراً ولا منافقين، بل ليس عندهم من علم القلب ومعرفته ويقينه ما يدرأ الرَّيْبَ، ولا عندهم من قوة الحب للّه ولرسوله ما يقدمونه على الأهل والمال، وهؤلاء إن عوفوا من المحنة وماتوا دخلوا الجنة، وإن ابتلوا بمن يورد عليهم شبهات توجب ريبهم، فإن لم ينعم اللّه عليهم بما يزيل الريب، وإلا صاروا مرتابين، وانتقلوا إلى نوع من النفاق .“Maka kebanyakan manusia jika masuk Islam setelah kekufuran atau dilahirkan di atas Islam dan menjalankan syariatnya, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka adalah muslimun yang memiliki iman secara mujmal/global. Akan tetapi masuknya hakikat  keimanan kepada hati mereka adalah terjadi sedikit demi sedikit jika Allah memberikannya kepada mereka. Dan kebanyakan manusia tidak sampai kepada derajat yakin dan jihad. Jika mereka ini dibuat ragu, niscaya mereka ragu, jika diperintah jihad niscaya mereka tidak mau. Namun mereka ini bukanlah Kafir dan bukan pula munafiq. Hanya saja mereka tidak memiliki ilmu dan ma’rifah serta keyakinan hati yang membentengi dari keraguan, tidak pula mereka memiliki kekuatan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang mereka utamakan di atas keluarga dan harta…” (Al-Iman 2/350)Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersama umumnya kaum muslimin , menasehati mereka dan bersabar atas gangguan mereka,عن معاذ رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : وعليكم بالعامة والجماعة والمساجدDari Muadz radhiyAllahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas kalian untuk selalu bersama umumnya  kaum muslimin, jamaah serta masjid –masjid mereka” ( HR. Thabrany di Al-Mu’jam Al-Kabiir 20/164). Fenomena ekslusifitas generasi muda yang mempelajari agama pada hari ini adalah hal yang patut disayangkan. Sebab, jika hamasah syabbab (para pemuda) berpadu dengan hikmah/sikap bijak syuyukh (para ulama) niscaya mereka terus di atas petunjuk. Sebagian mereka memusuhi orang umum kaum muslimin karena di anggap kafir murtad  dan sebagian memandang orang umum sesat karena di anggap ahli bidah. Takfiriyun dan tabdi’iyun ini lebih menyibukkan diri dengan kitab-kitab mutaakhirin. Menjadikan ucapan ulama kholaf dan kitab mereka seperti talmud yang dihafalkan dan mengalahkan kitab suci. Yang satu khawarij kepada umara dan yang lain khawarij kepada ulama. Bahkan sibuk mengkotak-kotakkan manusia di atas hizbiyah berkedok klaim ahlisunnah. Menganggap diri mereka sebagai representasi kebenaran, yang sama, duduk dan kenal baik dengan mereka adalah ahlisunnah dan yang tidak demikian adalah ahli bidah walaupun di atas hujjah salafiyah.قيل للحسن : يا أبا سعيد ، خرج خارجي بالخريبة – محلة عند البصرة – فقال : المسكين رأى منكراً فأنكره ، فوقع فيما هو أنكر منه .Alhasan Albashry pernah ditanya, “wahai Aba said, telah keluar seorang khawarij di Kharibah”, maka beliau berkata, “Kasihan ( orang khawarij ini) , ia melihat kemungkaran lalu mengingkarinya tapi ternyata terjadi hal yang lebih munkar lagi. (Asy-Syari’ah li Al-Aajurry 1/25)عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان ، سفهاء الأحلام ، يقولون من خير قول الناس ، يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرميةDari Abdulloh ibn mas’ud berkata ; bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ; akan keluar di akhir zaman satu kaum yang muda-muda usia mereka, bodoh angan-angan mereka, berbicara dengan sebaik-baik ucapan manusia. mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari buruannya ( HR.Ahmad , tirmidzy , Ibnu Majah dll )Sebelum mempelajari Islam mereka membunuh, merampok , menipu dan menyakiti manusia , lalu setelah belajar Islam dan bertaubat kemudian menjadi khawarij, mereka kembali membunuh dan merampok kaum muslimin dengan alasan jihad kepada murtaddin, menginjak-injak harga diri dan mentololkan kaum muslimin  dan ulama mereka dengan alasan mereka adalah ahli bidah. Persis seperti anak panah  yang  menembus binatang buruan dan tidak berbekas samasekali ajaran akhlak Islam dalam ucapan dan perbuatan mereka.أبو غالب : أنه سمع أبا أمامة رضي الله تعالى عنه صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : خرجت خارجة بالشام فقتلوا ، وألقوا في جب ، أو في بئر ، فأقبل أبو أمامة رضي الله وأنا معه ، حتى وقف عليهم ، ثم بكى ، ثم قال : سبحان الله ، ما فعل الشيطان بهذه الأمة ؟ كلاب النار ، كلاب النار ، كلاب النار – ثلاثا – شر قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء من قتلوه ، قلت : يا أبا أمامة ، أشيء تقول برأيك ، أم شيء سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء – ثلاثا – بل سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم غير مرة ، ولا مرتين ، ولا ثلاثا ، حتى عد عشراًDari Abu ghalib ia mendengar Abu Umamah radhiyAllahu anhu seorang dari shahabat Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam  berkata ; telah keluar khawarij di syam lalu mereka membunuhnya dan melemparnya ke sumur kemudian Abu Umamah mengajakku mendatanginya sampai beliau berdiri di atas mereka , beliau menangis, lalu berkata ; SubhanAllah, apakah yang telah dilakukan  Syaithon (untuk menyesatkan ) umat ini ? Anjing –anjing neraka –tiga kali beliau menyebutkannya-. ( mereka adalah) seburuk-buruk mayat di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik jenazah di bawah kolong langit adalah yang mereka bunuh. Aku ( Abu Ghalib )  berkata ; wahai abu Umamah, apakah ini pendapat yang keluar dari ra’yumu ? atau hadits yang kau dengar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam ? ( jika dari ra’yuku ) maka sungguh aku sangat lancang – beliau mengatakannya tiga kali. Tapi ini adalah yang aku dengar dari Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam. ( HR. Ahmad , Tirmidzy , An-Nasa’y dll ).عن ابن عمر، عن النَّبيِّ صلى الله عليه و سلم قال: (( مَن حَمَلَ علينا السِّلاحَ فليس منَّا ))Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; barang siapa membawa pedang ( menyerang ) kami ( kaum muslimin ) maka ia bukan dari golongan kami ( Muttafaq alaih ).قال صلى الله عليه و سلم (( ومَن خرج على أمَّتي يضرب برَّها وفاجرَها، ولا يتحاش من مؤمنها، ولا يفي لذي عهد عهدَه، فليس منِّي ولستُ منه ))Bersabda nabi shallallahu alaihi wa sallam ; barang siapa memerangi umatku membunuh orang baik dan orang fajirnya serta tidak berhati-hati dari orang mukminnya dan tidak menepati perjanjian kepada yang membuat perjanjian dengan mereka maka dia bukanlah dari golonganku dan aku bukan dari golongannya.( HSR. Muslim no 1848). Mereka ini jika memasuki masjid – masjid kaum muslimin, menganggap dirinya saja  yang paling afdhol dan paling di atas tauhid dan sunnah.عن أنس قال صلى الله عليه و سلم : ناشدتك بالله ، هل حدثت نفسك حين طلعت علينا : أن ليس في القوم أفضل منك ؟ فقال : اللهم نعم . فدخل المسجد يصليDari Anas ibn malik bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ( kepada seorang khawarij ) ; Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, bukankah jiwamu berkata kepadamu saat kau mendatangi kami bahwa tidak ada seorang pun di sini yang lebih afdhol darimu ? Ia menjawab ;  iya. Lalu ia pun masuk masjid dan shalat.( HR. Ahmad , Abu Ya’la ).Sebagian mereka menyesatkan seluruh muslimin kecuali yang mereka kenal saja.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ . فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ ». قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ لاَ أَدْرِى أَهْلَكَهُمْ بِالنَّصْبِ أَوْ أَهْلَكُهُمْ بِالرَّفْعِ.Dari Abu hurairoh bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; apabila seorang mengatakan ; manusia binasa . maka dialah yang paling binasa atau yang membinasakan mereka. (HR. Muslim ) Sebagaimana pendahulu mereka yaitu Dzulkhuwaishiroh menganggap dirinya lebih bertaqwa daripada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُDari Abu Said Alkhudry rodhiyAllahu anhu berkata ketika kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau membagi ghanimah , datanglah Dzulkhuwaishiroh seorang dari bani tamim lalu ia berkata : Ya Rasulullah, berbuat adillah. Lalu Nabi berkata ; celaka engkau, siapakah yang akan adil ( dari umara setelahku ) jika aku tidak adil. Engkau pasti celaka ( jika meyakini ) aku tidak adil.( HR. Bukhary ).Mereka akan terus terpecah menjadi faksi-faksi yang saling mengkafirkan dan membidahkan, demikianlah ahli bidah di setiap zaman.Berkata Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh ;والبدعة مقرونة بالفرقة كما ان السنة مقرونة بالجماعة فيقال أهل السنة والجماعة كما يقال أهل البدعة والفرقةBid’ah identik dengan furqoh/perpecahan sebagaimana Sunnah identik dengan jamaah/persatuan. Sehingga disebut ahli sunnah wal jamaah sebagaimana disebut pula Ahli bidah walfurqoh.(Al Istiqomah 1/42)Kaum khawarij modern ini tidak akan membuka diri terhadap selain kelompoknya, walau pun kepada dosen-dosen mereka , bahkan mereka tidak  mengakui guru-guru mereka tersebut, bak Malin Kundang yang tak mengakui orang tuanya. Serta tidak menyebarkan rahmat kepada kaum muslimin, bahkan menyebarkan kebencian terhadap mereka. Padahal ahlussunnah adalah orang-orang yang paling mengetahui kebenaran dan paling menyayangi manusia.قال يحيى بن معاذ العلماء أرحم بأمة محمد صلى الله عليه وسلم من آبائهم وأمهاتهم قيل وكيف ذلك قال لأن آباءهم وأمهاتهم يحفظونهم من نار الدنيا وهم يحفظونهم من نار الآخرةBerkata Yahya bin Mu’aadz rahimahulloh ; Para ulama lebih menyayangi umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam daripada ayah dan ibu mereka, mengapa demikian ? Karena ayah dan ibu mereka melindungi mereka dari neraka dunia sedang para ulama melindungi mereka dari neraka akhirat.(Ihya Ulumuddin 1/11)Catatan Kaki:—————[1] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.[2]Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.

Infaq Operasional Radio FM

20DecInfaq Operasional Radio FMDecember 20, 2013Ponpes Tunas Ilmu Infaq Operasional Radio FM Alhamdulillah Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengujicobakan siaran Radio FM digelombang 88 fm dengan brand nama Radio INSANI (akronim dari Inspiratif Santun dan Islami). Semoga bisa menginsiprasi dengan santun terhadap masyarakat agar hidup lebih islami, amien. Demi menunjang keberlangsungan Radio tersebut, kami mengundang Anda semua untuk berpartisipasi memberi donasi guna menunjang operasional Radio dan pengembangan peralatannya. Kirimkan infaq / donasi Anda ke Rekening Mandiri Syariah 7051656727. Atas Nama Yayasan Tunas Ilmu. Konfirmasi infaq / donasi ke nomer: 0815-783-44868 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Infaq Operasional Radio FM

20DecInfaq Operasional Radio FMDecember 20, 2013Ponpes Tunas Ilmu Infaq Operasional Radio FM Alhamdulillah Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengujicobakan siaran Radio FM digelombang 88 fm dengan brand nama Radio INSANI (akronim dari Inspiratif Santun dan Islami). Semoga bisa menginsiprasi dengan santun terhadap masyarakat agar hidup lebih islami, amien. Demi menunjang keberlangsungan Radio tersebut, kami mengundang Anda semua untuk berpartisipasi memberi donasi guna menunjang operasional Radio dan pengembangan peralatannya. Kirimkan infaq / donasi Anda ke Rekening Mandiri Syariah 7051656727. Atas Nama Yayasan Tunas Ilmu. Konfirmasi infaq / donasi ke nomer: 0815-783-44868 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
20DecInfaq Operasional Radio FMDecember 20, 2013Ponpes Tunas Ilmu Infaq Operasional Radio FM Alhamdulillah Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengujicobakan siaran Radio FM digelombang 88 fm dengan brand nama Radio INSANI (akronim dari Inspiratif Santun dan Islami). Semoga bisa menginsiprasi dengan santun terhadap masyarakat agar hidup lebih islami, amien. Demi menunjang keberlangsungan Radio tersebut, kami mengundang Anda semua untuk berpartisipasi memberi donasi guna menunjang operasional Radio dan pengembangan peralatannya. Kirimkan infaq / donasi Anda ke Rekening Mandiri Syariah 7051656727. Atas Nama Yayasan Tunas Ilmu. Konfirmasi infaq / donasi ke nomer: 0815-783-44868 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


20DecInfaq Operasional Radio FMDecember 20, 2013Ponpes Tunas Ilmu Infaq Operasional Radio FM Alhamdulillah Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengujicobakan siaran Radio FM digelombang 88 fm dengan brand nama Radio INSANI (akronim dari Inspiratif Santun dan Islami). Semoga bisa menginsiprasi dengan santun terhadap masyarakat agar hidup lebih islami, amien. Demi menunjang keberlangsungan Radio tersebut, kami mengundang Anda semua untuk berpartisipasi memberi donasi guna menunjang operasional Radio dan pengembangan peralatannya. Kirimkan infaq / donasi Anda ke Rekening Mandiri Syariah 7051656727. Atas Nama Yayasan Tunas Ilmu. Konfirmasi infaq / donasi ke nomer: 0815-783-44868 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
Prev     Next