Pedagang yang Bermain Curang dalam Timbangan

Untuk meraup keuntungan besar, salah satu cara yang dilakukan pedagang adalah bermain curang dalam hal timbangan. Padahal bermain curang seperti ini terancam dalam ayat Al Quran. Manakah ayat Al Quran yang menyebutkan masalah ini? Allah Ta’ala berfirman, وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3) “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthoffifin: 1-3). Kalimat Al Muthoffifin ditafsirkan dengan ayat selanjutnya, yaitu mereka yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi secara sempurna, tanpa boleh ada kekurangan. Namun saat mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka malah mengurangi. Bisa jadi dengan alat takaran atau timbangan yang mereka curangi. Mereka bisa pula berbuat curang dengan enggan menyempurnakan takaran atau timbangan, atau semisal itu. Ini sama saja merampas harta manusia tanpa lewat jalan yang benar. Jika ancaman bagi yang beruat curang dalam timbangan timbangan atau takaran saja seperti itu, bagaimanakah lagi dengan orang yang merampas dan mencuri, tentu lebih parah dari Al Muthoffifin. Demikian penjelasan dari Syaikh As Sa’di dalam kitab tafsirnya. Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Quran Al ‘Azhim berkata bahwa yang dimaksud dengan Al Muthoffifin adalah berbuat curang ketika menakar dan menimbang. Bentuknya bisa jadi, ia meminta untuk ditambah lebih ketika ia meminta orang lain menimbang. Bisa jadi pula, ia meminta untuk dikurangi jika ia menimbangkan untuk orang lain. Itulah mengapa akibatnya begitu pedih yaitu dengan kerugian dan kebinasaan. Itulah yang dinamakan wail. Ibnu Katsir juga berkata, وأهلك الله قوم شعيب ودَمَّرهم على ما كانوا يبخسون الناس في المكيال والميزان “Allah membinasakan dan menghancurkan kaum Syu’aib dikarenakan mereka berbuat curang dalam takaran dan timbangan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 508). Wail itu sendiri -menurut Tafsir Al Jalalain-, كلمة عذاب أو واد في جهنم “Kalimat yang menunjukkan siksa atau lembah di Jahannam.” Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, لما قدم نبي الله صلى الله عليه وسلم المدينة كانوا من أخبث الناس كيلا فأنزل الله: { وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ } فحسنَّوا الكيلَ بعد ذلك “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, penduduk di kota tersebut sering bermain curang dalam takaran. Turunlah ayat ‘celakalah al muthoffifin’. Setelah itu barulah mereka memperbagus takaran mereka.” (HR. An Nasai dalam Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan dalam Sunan Ibnu Majah no. 1808). Ayat lain yang membicarakan perintah untuk bagus dalam takaran atau timbangan, وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al Isra’: 35). وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya.” (QS. Al An’am: 152). وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ “Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar Rahman: 9). Semoga Allah beri hidayah pada para pedagang untuk berusaha dengan jujur. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di malam hari, 30 Syawal 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsmencuri tafsir juz amma

Pedagang yang Bermain Curang dalam Timbangan

Untuk meraup keuntungan besar, salah satu cara yang dilakukan pedagang adalah bermain curang dalam hal timbangan. Padahal bermain curang seperti ini terancam dalam ayat Al Quran. Manakah ayat Al Quran yang menyebutkan masalah ini? Allah Ta’ala berfirman, وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3) “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthoffifin: 1-3). Kalimat Al Muthoffifin ditafsirkan dengan ayat selanjutnya, yaitu mereka yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi secara sempurna, tanpa boleh ada kekurangan. Namun saat mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka malah mengurangi. Bisa jadi dengan alat takaran atau timbangan yang mereka curangi. Mereka bisa pula berbuat curang dengan enggan menyempurnakan takaran atau timbangan, atau semisal itu. Ini sama saja merampas harta manusia tanpa lewat jalan yang benar. Jika ancaman bagi yang beruat curang dalam timbangan timbangan atau takaran saja seperti itu, bagaimanakah lagi dengan orang yang merampas dan mencuri, tentu lebih parah dari Al Muthoffifin. Demikian penjelasan dari Syaikh As Sa’di dalam kitab tafsirnya. Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Quran Al ‘Azhim berkata bahwa yang dimaksud dengan Al Muthoffifin adalah berbuat curang ketika menakar dan menimbang. Bentuknya bisa jadi, ia meminta untuk ditambah lebih ketika ia meminta orang lain menimbang. Bisa jadi pula, ia meminta untuk dikurangi jika ia menimbangkan untuk orang lain. Itulah mengapa akibatnya begitu pedih yaitu dengan kerugian dan kebinasaan. Itulah yang dinamakan wail. Ibnu Katsir juga berkata, وأهلك الله قوم شعيب ودَمَّرهم على ما كانوا يبخسون الناس في المكيال والميزان “Allah membinasakan dan menghancurkan kaum Syu’aib dikarenakan mereka berbuat curang dalam takaran dan timbangan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 508). Wail itu sendiri -menurut Tafsir Al Jalalain-, كلمة عذاب أو واد في جهنم “Kalimat yang menunjukkan siksa atau lembah di Jahannam.” Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, لما قدم نبي الله صلى الله عليه وسلم المدينة كانوا من أخبث الناس كيلا فأنزل الله: { وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ } فحسنَّوا الكيلَ بعد ذلك “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, penduduk di kota tersebut sering bermain curang dalam takaran. Turunlah ayat ‘celakalah al muthoffifin’. Setelah itu barulah mereka memperbagus takaran mereka.” (HR. An Nasai dalam Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan dalam Sunan Ibnu Majah no. 1808). Ayat lain yang membicarakan perintah untuk bagus dalam takaran atau timbangan, وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al Isra’: 35). وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya.” (QS. Al An’am: 152). وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ “Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar Rahman: 9). Semoga Allah beri hidayah pada para pedagang untuk berusaha dengan jujur. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di malam hari, 30 Syawal 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsmencuri tafsir juz amma
Untuk meraup keuntungan besar, salah satu cara yang dilakukan pedagang adalah bermain curang dalam hal timbangan. Padahal bermain curang seperti ini terancam dalam ayat Al Quran. Manakah ayat Al Quran yang menyebutkan masalah ini? Allah Ta’ala berfirman, وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3) “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthoffifin: 1-3). Kalimat Al Muthoffifin ditafsirkan dengan ayat selanjutnya, yaitu mereka yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi secara sempurna, tanpa boleh ada kekurangan. Namun saat mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka malah mengurangi. Bisa jadi dengan alat takaran atau timbangan yang mereka curangi. Mereka bisa pula berbuat curang dengan enggan menyempurnakan takaran atau timbangan, atau semisal itu. Ini sama saja merampas harta manusia tanpa lewat jalan yang benar. Jika ancaman bagi yang beruat curang dalam timbangan timbangan atau takaran saja seperti itu, bagaimanakah lagi dengan orang yang merampas dan mencuri, tentu lebih parah dari Al Muthoffifin. Demikian penjelasan dari Syaikh As Sa’di dalam kitab tafsirnya. Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Quran Al ‘Azhim berkata bahwa yang dimaksud dengan Al Muthoffifin adalah berbuat curang ketika menakar dan menimbang. Bentuknya bisa jadi, ia meminta untuk ditambah lebih ketika ia meminta orang lain menimbang. Bisa jadi pula, ia meminta untuk dikurangi jika ia menimbangkan untuk orang lain. Itulah mengapa akibatnya begitu pedih yaitu dengan kerugian dan kebinasaan. Itulah yang dinamakan wail. Ibnu Katsir juga berkata, وأهلك الله قوم شعيب ودَمَّرهم على ما كانوا يبخسون الناس في المكيال والميزان “Allah membinasakan dan menghancurkan kaum Syu’aib dikarenakan mereka berbuat curang dalam takaran dan timbangan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 508). Wail itu sendiri -menurut Tafsir Al Jalalain-, كلمة عذاب أو واد في جهنم “Kalimat yang menunjukkan siksa atau lembah di Jahannam.” Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, لما قدم نبي الله صلى الله عليه وسلم المدينة كانوا من أخبث الناس كيلا فأنزل الله: { وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ } فحسنَّوا الكيلَ بعد ذلك “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, penduduk di kota tersebut sering bermain curang dalam takaran. Turunlah ayat ‘celakalah al muthoffifin’. Setelah itu barulah mereka memperbagus takaran mereka.” (HR. An Nasai dalam Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan dalam Sunan Ibnu Majah no. 1808). Ayat lain yang membicarakan perintah untuk bagus dalam takaran atau timbangan, وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al Isra’: 35). وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya.” (QS. Al An’am: 152). وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ “Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar Rahman: 9). Semoga Allah beri hidayah pada para pedagang untuk berusaha dengan jujur. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di malam hari, 30 Syawal 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsmencuri tafsir juz amma


Untuk meraup keuntungan besar, salah satu cara yang dilakukan pedagang adalah bermain curang dalam hal timbangan. Padahal bermain curang seperti ini terancam dalam ayat Al Quran. Manakah ayat Al Quran yang menyebutkan masalah ini? Allah Ta’ala berfirman, وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3) “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthoffifin: 1-3). Kalimat Al Muthoffifin ditafsirkan dengan ayat selanjutnya, yaitu mereka yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi secara sempurna, tanpa boleh ada kekurangan. Namun saat mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka malah mengurangi. Bisa jadi dengan alat takaran atau timbangan yang mereka curangi. Mereka bisa pula berbuat curang dengan enggan menyempurnakan takaran atau timbangan, atau semisal itu. Ini sama saja merampas harta manusia tanpa lewat jalan yang benar. Jika ancaman bagi yang beruat curang dalam timbangan timbangan atau takaran saja seperti itu, bagaimanakah lagi dengan orang yang merampas dan mencuri, tentu lebih parah dari Al Muthoffifin. Demikian penjelasan dari Syaikh As Sa’di dalam kitab tafsirnya. Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Quran Al ‘Azhim berkata bahwa yang dimaksud dengan Al Muthoffifin adalah berbuat curang ketika menakar dan menimbang. Bentuknya bisa jadi, ia meminta untuk ditambah lebih ketika ia meminta orang lain menimbang. Bisa jadi pula, ia meminta untuk dikurangi jika ia menimbangkan untuk orang lain. Itulah mengapa akibatnya begitu pedih yaitu dengan kerugian dan kebinasaan. Itulah yang dinamakan wail. Ibnu Katsir juga berkata, وأهلك الله قوم شعيب ودَمَّرهم على ما كانوا يبخسون الناس في المكيال والميزان “Allah membinasakan dan menghancurkan kaum Syu’aib dikarenakan mereka berbuat curang dalam takaran dan timbangan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 508). Wail itu sendiri -menurut Tafsir Al Jalalain-, كلمة عذاب أو واد في جهنم “Kalimat yang menunjukkan siksa atau lembah di Jahannam.” Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, لما قدم نبي الله صلى الله عليه وسلم المدينة كانوا من أخبث الناس كيلا فأنزل الله: { وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ } فحسنَّوا الكيلَ بعد ذلك “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, penduduk di kota tersebut sering bermain curang dalam takaran. Turunlah ayat ‘celakalah al muthoffifin’. Setelah itu barulah mereka memperbagus takaran mereka.” (HR. An Nasai dalam Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan dalam Sunan Ibnu Majah no. 1808). Ayat lain yang membicarakan perintah untuk bagus dalam takaran atau timbangan, وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al Isra’: 35). وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya.” (QS. Al An’am: 152). وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ “Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar Rahman: 9). Semoga Allah beri hidayah pada para pedagang untuk berusaha dengan jujur. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di malam hari, 30 Syawal 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsmencuri tafsir juz amma

Sangat Gila Harta

Bagaimana orang yang disebut gila harta? Coba renungkan ayat berikut. Allah Ta’ala berfirman, وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. ” (QS. Al Fajr: 20). Mengenai tafsir ayat di atas, dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, كثيراً فلا ينفقونه “Mereka mencintai banyak harta namun enggan untuk disedekahkan.” Dalam Zaadul Masir karya Ibnul Jauzi disebutkan, كثيراً فلا تنفقونه في خير “Mereka mencintai harta yang banyak namun enggan disedekahkan dalam jalan kebaikan.” Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, كثيرًا شديدًا “Mereka benar-benar mencintai banyak harta.” Syaikh Abu Bakr Al Jazairi menyebutkan, قويا شديدا “(Yang dimaksud adalah) sangat kuat dalam mencintai harta.” Syaikh Abu Bakr Al Jazairi dalam kitab tafsirnya -Aysarut Tafasir- lantas memberikan faedah dari ayat tersebut, التنديد بحب المال الذي يحمل على منع الحقوق ، ويزن الأمور بميزانه قوة وضعفا . “Tercela mencintai harta sampai lupa menunaikan kewajiban dari harta tersebut dan tercela pula menjadi patokan seseorang (muli) dengan standar banyaknya harta ataukah tidak.” Berarti dapat kita simpulkan bahwa orang yang gila harta berarti memenuhi kriteria: 1- Sangat kuat mencintai harta 2- Enggan menunaikan kewajiban harta (lewat zakat) 3- Menjadikan patokan mulia dan sukses jika sudah memiliki harta melimpah. Coba timbang-timbang pada diri kita, apakah masih termasuk orang yang gila harta? Jika iya, perbaikilah kecintaan kita yang ada. Asalnya mencintai harta merupakan sifat tabiat semua manusia. Namun tentu saja kecintaan tersebut mesti tidak membuat lalai dari kewajiban terhadap harta tersebut. Hendaknya diyakini pula bahwa standar sukses dan mulia bukanlah dinilai dari banyak harta dan uang. Jika harta adalah standar sukses, maka tentu Qarun akan menjadi orang yang selamat dan sukses di dunia maupun akhirat. Namun ternyata tidak seperti itu. Qarun malah menjadi orang yang terhina di dunia karena ia disiksa dengan ditenggelamkan dengan hartanya. Di akhirat pun siksa Qarun lebih-lebih pedih. Semoga Allah memberikan kita hidayah untuk terus mensyukuri nikmat dan menyikapi harta dengan benar. — Disusun di malam hari, 29 Syawal 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsharta

Sangat Gila Harta

Bagaimana orang yang disebut gila harta? Coba renungkan ayat berikut. Allah Ta’ala berfirman, وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. ” (QS. Al Fajr: 20). Mengenai tafsir ayat di atas, dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, كثيراً فلا ينفقونه “Mereka mencintai banyak harta namun enggan untuk disedekahkan.” Dalam Zaadul Masir karya Ibnul Jauzi disebutkan, كثيراً فلا تنفقونه في خير “Mereka mencintai harta yang banyak namun enggan disedekahkan dalam jalan kebaikan.” Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, كثيرًا شديدًا “Mereka benar-benar mencintai banyak harta.” Syaikh Abu Bakr Al Jazairi menyebutkan, قويا شديدا “(Yang dimaksud adalah) sangat kuat dalam mencintai harta.” Syaikh Abu Bakr Al Jazairi dalam kitab tafsirnya -Aysarut Tafasir- lantas memberikan faedah dari ayat tersebut, التنديد بحب المال الذي يحمل على منع الحقوق ، ويزن الأمور بميزانه قوة وضعفا . “Tercela mencintai harta sampai lupa menunaikan kewajiban dari harta tersebut dan tercela pula menjadi patokan seseorang (muli) dengan standar banyaknya harta ataukah tidak.” Berarti dapat kita simpulkan bahwa orang yang gila harta berarti memenuhi kriteria: 1- Sangat kuat mencintai harta 2- Enggan menunaikan kewajiban harta (lewat zakat) 3- Menjadikan patokan mulia dan sukses jika sudah memiliki harta melimpah. Coba timbang-timbang pada diri kita, apakah masih termasuk orang yang gila harta? Jika iya, perbaikilah kecintaan kita yang ada. Asalnya mencintai harta merupakan sifat tabiat semua manusia. Namun tentu saja kecintaan tersebut mesti tidak membuat lalai dari kewajiban terhadap harta tersebut. Hendaknya diyakini pula bahwa standar sukses dan mulia bukanlah dinilai dari banyak harta dan uang. Jika harta adalah standar sukses, maka tentu Qarun akan menjadi orang yang selamat dan sukses di dunia maupun akhirat. Namun ternyata tidak seperti itu. Qarun malah menjadi orang yang terhina di dunia karena ia disiksa dengan ditenggelamkan dengan hartanya. Di akhirat pun siksa Qarun lebih-lebih pedih. Semoga Allah memberikan kita hidayah untuk terus mensyukuri nikmat dan menyikapi harta dengan benar. — Disusun di malam hari, 29 Syawal 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsharta
Bagaimana orang yang disebut gila harta? Coba renungkan ayat berikut. Allah Ta’ala berfirman, وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. ” (QS. Al Fajr: 20). Mengenai tafsir ayat di atas, dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, كثيراً فلا ينفقونه “Mereka mencintai banyak harta namun enggan untuk disedekahkan.” Dalam Zaadul Masir karya Ibnul Jauzi disebutkan, كثيراً فلا تنفقونه في خير “Mereka mencintai harta yang banyak namun enggan disedekahkan dalam jalan kebaikan.” Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, كثيرًا شديدًا “Mereka benar-benar mencintai banyak harta.” Syaikh Abu Bakr Al Jazairi menyebutkan, قويا شديدا “(Yang dimaksud adalah) sangat kuat dalam mencintai harta.” Syaikh Abu Bakr Al Jazairi dalam kitab tafsirnya -Aysarut Tafasir- lantas memberikan faedah dari ayat tersebut, التنديد بحب المال الذي يحمل على منع الحقوق ، ويزن الأمور بميزانه قوة وضعفا . “Tercela mencintai harta sampai lupa menunaikan kewajiban dari harta tersebut dan tercela pula menjadi patokan seseorang (muli) dengan standar banyaknya harta ataukah tidak.” Berarti dapat kita simpulkan bahwa orang yang gila harta berarti memenuhi kriteria: 1- Sangat kuat mencintai harta 2- Enggan menunaikan kewajiban harta (lewat zakat) 3- Menjadikan patokan mulia dan sukses jika sudah memiliki harta melimpah. Coba timbang-timbang pada diri kita, apakah masih termasuk orang yang gila harta? Jika iya, perbaikilah kecintaan kita yang ada. Asalnya mencintai harta merupakan sifat tabiat semua manusia. Namun tentu saja kecintaan tersebut mesti tidak membuat lalai dari kewajiban terhadap harta tersebut. Hendaknya diyakini pula bahwa standar sukses dan mulia bukanlah dinilai dari banyak harta dan uang. Jika harta adalah standar sukses, maka tentu Qarun akan menjadi orang yang selamat dan sukses di dunia maupun akhirat. Namun ternyata tidak seperti itu. Qarun malah menjadi orang yang terhina di dunia karena ia disiksa dengan ditenggelamkan dengan hartanya. Di akhirat pun siksa Qarun lebih-lebih pedih. Semoga Allah memberikan kita hidayah untuk terus mensyukuri nikmat dan menyikapi harta dengan benar. — Disusun di malam hari, 29 Syawal 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsharta


Bagaimana orang yang disebut gila harta? Coba renungkan ayat berikut. Allah Ta’ala berfirman, وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. ” (QS. Al Fajr: 20). Mengenai tafsir ayat di atas, dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, كثيراً فلا ينفقونه “Mereka mencintai banyak harta namun enggan untuk disedekahkan.” Dalam Zaadul Masir karya Ibnul Jauzi disebutkan, كثيراً فلا تنفقونه في خير “Mereka mencintai harta yang banyak namun enggan disedekahkan dalam jalan kebaikan.” Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, كثيرًا شديدًا “Mereka benar-benar mencintai banyak harta.” Syaikh Abu Bakr Al Jazairi menyebutkan, قويا شديدا “(Yang dimaksud adalah) sangat kuat dalam mencintai harta.” Syaikh Abu Bakr Al Jazairi dalam kitab tafsirnya -Aysarut Tafasir- lantas memberikan faedah dari ayat tersebut, التنديد بحب المال الذي يحمل على منع الحقوق ، ويزن الأمور بميزانه قوة وضعفا . “Tercela mencintai harta sampai lupa menunaikan kewajiban dari harta tersebut dan tercela pula menjadi patokan seseorang (muli) dengan standar banyaknya harta ataukah tidak.” Berarti dapat kita simpulkan bahwa orang yang gila harta berarti memenuhi kriteria: 1- Sangat kuat mencintai harta 2- Enggan menunaikan kewajiban harta (lewat zakat) 3- Menjadikan patokan mulia dan sukses jika sudah memiliki harta melimpah. Coba timbang-timbang pada diri kita, apakah masih termasuk orang yang gila harta? Jika iya, perbaikilah kecintaan kita yang ada. Asalnya mencintai harta merupakan sifat tabiat semua manusia. Namun tentu saja kecintaan tersebut mesti tidak membuat lalai dari kewajiban terhadap harta tersebut. Hendaknya diyakini pula bahwa standar sukses dan mulia bukanlah dinilai dari banyak harta dan uang. Jika harta adalah standar sukses, maka tentu Qarun akan menjadi orang yang selamat dan sukses di dunia maupun akhirat. Namun ternyata tidak seperti itu. Qarun malah menjadi orang yang terhina di dunia karena ia disiksa dengan ditenggelamkan dengan hartanya. Di akhirat pun siksa Qarun lebih-lebih pedih. Semoga Allah memberikan kita hidayah untuk terus mensyukuri nikmat dan menyikapi harta dengan benar. — Disusun di malam hari, 29 Syawal 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsharta

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 31: Anak dan Ihsan

23AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 31: Anak dan IhsanAugust 23, 2014Aqidah, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Tingkatan kepatuhan seorang hamba dalam agama kita ada tiga. Islam, iman dan ihsan. Pembahasan tentang rukun islam dan rukun iman alhamdulillah sudah kita lewati. Saatnya kita membahas tingkatan ketiga, yakni ihsan, dan ini adalah tingkatan yang tertinggi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah menjelaskan makna ihsan dalam haditsnya, “أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ”. “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. HR. Bukhari dan Muslim. Makna di atas biasa diistilahkan pula dengan murâqabah, atau merasa selalu diawasi Allah ta’ala. Maka kewajiban orang tua adalah mengajarkan kepada anak tentang kedekatan dan pengawasan Allah terhadap hamba-Nya. Dia melihat serta mengetahui segala gerak-gerik dan perbuatan kita, juga mendengar semua ucapan kita. Bahkan Dia mengetahui segala isi hati kita. Bacakan kepada mereka firman Allah ta’ala, “أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ”. Artinya: “Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. QS. Al-Mujadilah (58): 7. Adapun prakteknya, maka cara menanamkan perasaan merasa diawasi tersebut kepada anak, antara lain adalah dengan sering-sering mengingatkan hal tersebut. Saat kita memotivasi dia untuk beribadah atau meninggalkan perilaku yang negatif, selalu berusahalah mengaitkannya dengan pengawasan Allah ta’ala. Contohnya, ketika ibu melepas anaknya pergi ke masjid ia berpesan, “Shalatnya yang bagus ya nak! Jangan bermain-main ketika shalat! Sungguh Allah Maha Melihat, sekalipun ibu tidak melihat”. Juga ketika ayah melepas kepergian anaknya ke sekolah, jangan lupa ia mewanti-wanti, “Belajarlah yang baik nak! Jangan berbuat nakal! Allah Maha Melihat segala gerak-gerikmu, walaupun bapak atau ibu guru tidak melihatnya”. Namun tentunya, supaya penanaman perasaan positif tersebut efektif dan manjur, orang tua harus juga memiliki perasaan yang serupa dalam dirinya. Logikanya, bagaimana mungkin seseorang mengajarkan membaca, sedangkan dia sendiri tidak bisa membaca? @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Rajab 1435 / 26 Mei 2014     * Diramu ulang oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 89-91) dengan berbagai tambahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 31: Anak dan Ihsan

23AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 31: Anak dan IhsanAugust 23, 2014Aqidah, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Tingkatan kepatuhan seorang hamba dalam agama kita ada tiga. Islam, iman dan ihsan. Pembahasan tentang rukun islam dan rukun iman alhamdulillah sudah kita lewati. Saatnya kita membahas tingkatan ketiga, yakni ihsan, dan ini adalah tingkatan yang tertinggi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah menjelaskan makna ihsan dalam haditsnya, “أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ”. “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. HR. Bukhari dan Muslim. Makna di atas biasa diistilahkan pula dengan murâqabah, atau merasa selalu diawasi Allah ta’ala. Maka kewajiban orang tua adalah mengajarkan kepada anak tentang kedekatan dan pengawasan Allah terhadap hamba-Nya. Dia melihat serta mengetahui segala gerak-gerik dan perbuatan kita, juga mendengar semua ucapan kita. Bahkan Dia mengetahui segala isi hati kita. Bacakan kepada mereka firman Allah ta’ala, “أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ”. Artinya: “Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. QS. Al-Mujadilah (58): 7. Adapun prakteknya, maka cara menanamkan perasaan merasa diawasi tersebut kepada anak, antara lain adalah dengan sering-sering mengingatkan hal tersebut. Saat kita memotivasi dia untuk beribadah atau meninggalkan perilaku yang negatif, selalu berusahalah mengaitkannya dengan pengawasan Allah ta’ala. Contohnya, ketika ibu melepas anaknya pergi ke masjid ia berpesan, “Shalatnya yang bagus ya nak! Jangan bermain-main ketika shalat! Sungguh Allah Maha Melihat, sekalipun ibu tidak melihat”. Juga ketika ayah melepas kepergian anaknya ke sekolah, jangan lupa ia mewanti-wanti, “Belajarlah yang baik nak! Jangan berbuat nakal! Allah Maha Melihat segala gerak-gerikmu, walaupun bapak atau ibu guru tidak melihatnya”. Namun tentunya, supaya penanaman perasaan positif tersebut efektif dan manjur, orang tua harus juga memiliki perasaan yang serupa dalam dirinya. Logikanya, bagaimana mungkin seseorang mengajarkan membaca, sedangkan dia sendiri tidak bisa membaca? @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Rajab 1435 / 26 Mei 2014     * Diramu ulang oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 89-91) dengan berbagai tambahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
23AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 31: Anak dan IhsanAugust 23, 2014Aqidah, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Tingkatan kepatuhan seorang hamba dalam agama kita ada tiga. Islam, iman dan ihsan. Pembahasan tentang rukun islam dan rukun iman alhamdulillah sudah kita lewati. Saatnya kita membahas tingkatan ketiga, yakni ihsan, dan ini adalah tingkatan yang tertinggi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah menjelaskan makna ihsan dalam haditsnya, “أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ”. “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. HR. Bukhari dan Muslim. Makna di atas biasa diistilahkan pula dengan murâqabah, atau merasa selalu diawasi Allah ta’ala. Maka kewajiban orang tua adalah mengajarkan kepada anak tentang kedekatan dan pengawasan Allah terhadap hamba-Nya. Dia melihat serta mengetahui segala gerak-gerik dan perbuatan kita, juga mendengar semua ucapan kita. Bahkan Dia mengetahui segala isi hati kita. Bacakan kepada mereka firman Allah ta’ala, “أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ”. Artinya: “Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. QS. Al-Mujadilah (58): 7. Adapun prakteknya, maka cara menanamkan perasaan merasa diawasi tersebut kepada anak, antara lain adalah dengan sering-sering mengingatkan hal tersebut. Saat kita memotivasi dia untuk beribadah atau meninggalkan perilaku yang negatif, selalu berusahalah mengaitkannya dengan pengawasan Allah ta’ala. Contohnya, ketika ibu melepas anaknya pergi ke masjid ia berpesan, “Shalatnya yang bagus ya nak! Jangan bermain-main ketika shalat! Sungguh Allah Maha Melihat, sekalipun ibu tidak melihat”. Juga ketika ayah melepas kepergian anaknya ke sekolah, jangan lupa ia mewanti-wanti, “Belajarlah yang baik nak! Jangan berbuat nakal! Allah Maha Melihat segala gerak-gerikmu, walaupun bapak atau ibu guru tidak melihatnya”. Namun tentunya, supaya penanaman perasaan positif tersebut efektif dan manjur, orang tua harus juga memiliki perasaan yang serupa dalam dirinya. Logikanya, bagaimana mungkin seseorang mengajarkan membaca, sedangkan dia sendiri tidak bisa membaca? @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Rajab 1435 / 26 Mei 2014     * Diramu ulang oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 89-91) dengan berbagai tambahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


23AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 31: Anak dan IhsanAugust 23, 2014Aqidah, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Tingkatan kepatuhan seorang hamba dalam agama kita ada tiga. Islam, iman dan ihsan. Pembahasan tentang rukun islam dan rukun iman alhamdulillah sudah kita lewati. Saatnya kita membahas tingkatan ketiga, yakni ihsan, dan ini adalah tingkatan yang tertinggi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah menjelaskan makna ihsan dalam haditsnya, “أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ”. “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. HR. Bukhari dan Muslim. Makna di atas biasa diistilahkan pula dengan murâqabah, atau merasa selalu diawasi Allah ta’ala. Maka kewajiban orang tua adalah mengajarkan kepada anak tentang kedekatan dan pengawasan Allah terhadap hamba-Nya. Dia melihat serta mengetahui segala gerak-gerik dan perbuatan kita, juga mendengar semua ucapan kita. Bahkan Dia mengetahui segala isi hati kita. Bacakan kepada mereka firman Allah ta’ala, “أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ”. Artinya: “Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. QS. Al-Mujadilah (58): 7. Adapun prakteknya, maka cara menanamkan perasaan merasa diawasi tersebut kepada anak, antara lain adalah dengan sering-sering mengingatkan hal tersebut. Saat kita memotivasi dia untuk beribadah atau meninggalkan perilaku yang negatif, selalu berusahalah mengaitkannya dengan pengawasan Allah ta’ala. Contohnya, ketika ibu melepas anaknya pergi ke masjid ia berpesan, “Shalatnya yang bagus ya nak! Jangan bermain-main ketika shalat! Sungguh Allah Maha Melihat, sekalipun ibu tidak melihat”. Juga ketika ayah melepas kepergian anaknya ke sekolah, jangan lupa ia mewanti-wanti, “Belajarlah yang baik nak! Jangan berbuat nakal! Allah Maha Melihat segala gerak-gerikmu, walaupun bapak atau ibu guru tidak melihatnya”. Namun tentunya, supaya penanaman perasaan positif tersebut efektif dan manjur, orang tua harus juga memiliki perasaan yang serupa dalam dirinya. Logikanya, bagaimana mungkin seseorang mengajarkan membaca, sedangkan dia sendiri tidak bisa membaca? <p”>@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Rajab 1435 / 26 Mei 2014     * Diramu ulang oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 89-91) dengan berbagai tambahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Seandainya Syaikh Albani Rahimahullah Hidup Saat Ini….

Beliau pernah berkata : “Penyakit anak muda sekarang adalah begitu mereka mulai merasa punya suatu ilmu yang sebelumnya mereka tdk ketahui, maka merekapun mengangkat kepala mereka (merasa tinggi), mereka merasa telah menguasai semuanya, maka merekapun diliputi dengan penyakit ujub dan terpedayalah mereka. Kita kawatir mereka terkena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : ((Tiga perkara yg membinasakan, kikir yang ditaati, hawa nafsu yg diikuti, dan ujub nya seseorang dengan pemikirannya))….” Ini diucapkan oleh syaikh Albani sebelum ada dunia FB dan WA, lantas bagaimana jika syaikh Albani melihat kondisi para ahli copas di FB, yg begitu berani protes, kritik, menampilkan pendapat, bangga dengan pemikirannya, dll? Tanpa hati-hati..,dan tanpa menimbang maslahat dan mudorot, apa yg ada di benaknya langsung jadi status…

Seandainya Syaikh Albani Rahimahullah Hidup Saat Ini….

Beliau pernah berkata : “Penyakit anak muda sekarang adalah begitu mereka mulai merasa punya suatu ilmu yang sebelumnya mereka tdk ketahui, maka merekapun mengangkat kepala mereka (merasa tinggi), mereka merasa telah menguasai semuanya, maka merekapun diliputi dengan penyakit ujub dan terpedayalah mereka. Kita kawatir mereka terkena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : ((Tiga perkara yg membinasakan, kikir yang ditaati, hawa nafsu yg diikuti, dan ujub nya seseorang dengan pemikirannya))….” Ini diucapkan oleh syaikh Albani sebelum ada dunia FB dan WA, lantas bagaimana jika syaikh Albani melihat kondisi para ahli copas di FB, yg begitu berani protes, kritik, menampilkan pendapat, bangga dengan pemikirannya, dll? Tanpa hati-hati..,dan tanpa menimbang maslahat dan mudorot, apa yg ada di benaknya langsung jadi status…
Beliau pernah berkata : “Penyakit anak muda sekarang adalah begitu mereka mulai merasa punya suatu ilmu yang sebelumnya mereka tdk ketahui, maka merekapun mengangkat kepala mereka (merasa tinggi), mereka merasa telah menguasai semuanya, maka merekapun diliputi dengan penyakit ujub dan terpedayalah mereka. Kita kawatir mereka terkena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : ((Tiga perkara yg membinasakan, kikir yang ditaati, hawa nafsu yg diikuti, dan ujub nya seseorang dengan pemikirannya))….” Ini diucapkan oleh syaikh Albani sebelum ada dunia FB dan WA, lantas bagaimana jika syaikh Albani melihat kondisi para ahli copas di FB, yg begitu berani protes, kritik, menampilkan pendapat, bangga dengan pemikirannya, dll? Tanpa hati-hati..,dan tanpa menimbang maslahat dan mudorot, apa yg ada di benaknya langsung jadi status…


Beliau pernah berkata : “Penyakit anak muda sekarang adalah begitu mereka mulai merasa punya suatu ilmu yang sebelumnya mereka tdk ketahui, maka merekapun mengangkat kepala mereka (merasa tinggi), mereka merasa telah menguasai semuanya, maka merekapun diliputi dengan penyakit ujub dan terpedayalah mereka. Kita kawatir mereka terkena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : ((Tiga perkara yg membinasakan, kikir yang ditaati, hawa nafsu yg diikuti, dan ujub nya seseorang dengan pemikirannya))….” Ini diucapkan oleh syaikh Albani sebelum ada dunia FB dan WA, lantas bagaimana jika syaikh Albani melihat kondisi para ahli copas di FB, yg begitu berani protes, kritik, menampilkan pendapat, bangga dengan pemikirannya, dll? Tanpa hati-hati..,dan tanpa menimbang maslahat dan mudorot, apa yg ada di benaknya langsung jadi status…
Prev     Next