Faedah Tauhid (9), Dzikir Ringan Namun Berat di Timbangan Amalan

Adakah dzikir yang ringan namun berat di timbangan amalan? Ada, dzikir tersebut adalah bacaan ‘subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Keutamaannya disebutkan dalam hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ “Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman, ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694) Penjelasan: Hadits ini termasuk hadits mulia yang membicarakan fadhilah amalan, keutamaan suatu amalan. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Kalimat yang sempurna disebut dengan ‘al kalimah’. Istilah berbeda dengan istilah dalam ilmu nahwu. 2- Dzikir di lisan adalah ibadah yang paling ringan. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ “Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan dzikir pada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3375 dan Ibnu Majah no. 3793. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Namun dzikir yang lebih sempurna adalah dzikir dengan hati dan lisan. 3- Allah mencintai kalimat yang thoyyib (yang baik). 4- Penetapan sifat cinta (mahabbah) bagi Allah. 5- Penetapan nama Allah: Ar Rahman (Maha Pengasih), Al ‘Azhim (Maha Mulia). 6- Adanya mizan (timbangan) dan amalan manusia akan ditimbang pada hari kiamat. 7- Amalan itu punya berat dalam timbangan. Bisa jadi yang ditimbang adalah amalan itu sendiri yang dibentuk lalu ditimbang, bisa jadi pula catatan amalan, atau bisa pula kedua-duanya. 8- Allah itu suci dari segala ‘aib, segala kekurangan dan cacat. Itulah maksud kalimat ‘subhana’ (Maha Suci). 9- Penggabungan antara bacaan tasbih dan tahmid pada bacaan ‘subhanallah wa bihamdih’. Kalimat tersebut maknanya sama dengan ‘subhanallah wal hamdu lillah’, yaitu Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya. 10- Allah memiliki sifat yang sempurna. Itulah kandungan dari kata ‘al hamdu’. 11- Lafazh dzikir itu beraneka ragam. Dalam hadits ini disebut dua macam dzikir sekaligus. Pertama, subhanallah wa bihamdih. Di antara keutamaannya, siapa yang menyebutnya dalam sehari 100 kali, dosa-dosanya akan terampuni walau sebanyak buih di lautan. Sedangkan dzikir kedua, subhanallahil ‘azhim. Kalimat ini ada jika bersambung dengan kalimat lainnya sebagaimana yang ada dalam hadits ini. 12- Keutamaan dua kalimat: subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim. Hadits ini menunjukkan kita diperintah memperbanyak bacaan ini. Ini di antara alasan pula disebutkan dalam hadits nama Allah Ar Rahman dari nama-nama Allah lainnya. 13- Dzikir ‘subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’ sudah mengandung bacaan dzikir yang tiga: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ini semua menunjukkan konsekuensinya yaitu mentauhidkan Allah yang terdapat dalam kandungan kalimat ‘laa ilaha illallah’. 14- Meraih keutamaan suatu amalan tak mesti dengan bersusah payah. Keutamaan tersebut kembali pada jenis amalan itu sendiri. Bahkan ada amalan yang tidak ada kesulitan untuk melakukannya, dan itu lebih utama dari amalan yang butuh usaha keras untuk melakukannya. 15- Boleh menggunakan kalimat bersajak selama tidak menyusah-nyusahkan diri. 16- Di antara bentuk penjelasan yang baik adalah mengawali dengan penyebutan keutamaan amalan sebelum menyebutkan bentuk amalan tersebut. 17- Ada suatu kalimat yang berisi berita namun berisi ajakan atau perintah seperti yang ada dalam hadits ini yang berisi ajakan untuk berdzikir. 18- Bukhari sangatlah cerdas. Kitab shahihnya, ia awali dengan hadits niat yang menuntut kita untuk ikhlas dalam beramal. Sedangkan penutup kitab shahihnya, beliau tutup dengan hadits ini untuk menunjukkan bahwa penutup kehidupan adalah dengan dzikir pada Allah. Ini menunjukkan akan baiknya akhir amalan. Kita juga memohon pada Allah husnul khotimah, akhir hidup yang baik. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berdzikir pada-Nya.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih.   Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Selesai sudah pembahasan faedah tauhid, moga bisa menjadi buku saku bermanfaat nantinya. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. TagsDzikir faedah tauhid

Faedah Tauhid (9), Dzikir Ringan Namun Berat di Timbangan Amalan

Adakah dzikir yang ringan namun berat di timbangan amalan? Ada, dzikir tersebut adalah bacaan ‘subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Keutamaannya disebutkan dalam hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ “Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman, ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694) Penjelasan: Hadits ini termasuk hadits mulia yang membicarakan fadhilah amalan, keutamaan suatu amalan. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Kalimat yang sempurna disebut dengan ‘al kalimah’. Istilah berbeda dengan istilah dalam ilmu nahwu. 2- Dzikir di lisan adalah ibadah yang paling ringan. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ “Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan dzikir pada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3375 dan Ibnu Majah no. 3793. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Namun dzikir yang lebih sempurna adalah dzikir dengan hati dan lisan. 3- Allah mencintai kalimat yang thoyyib (yang baik). 4- Penetapan sifat cinta (mahabbah) bagi Allah. 5- Penetapan nama Allah: Ar Rahman (Maha Pengasih), Al ‘Azhim (Maha Mulia). 6- Adanya mizan (timbangan) dan amalan manusia akan ditimbang pada hari kiamat. 7- Amalan itu punya berat dalam timbangan. Bisa jadi yang ditimbang adalah amalan itu sendiri yang dibentuk lalu ditimbang, bisa jadi pula catatan amalan, atau bisa pula kedua-duanya. 8- Allah itu suci dari segala ‘aib, segala kekurangan dan cacat. Itulah maksud kalimat ‘subhana’ (Maha Suci). 9- Penggabungan antara bacaan tasbih dan tahmid pada bacaan ‘subhanallah wa bihamdih’. Kalimat tersebut maknanya sama dengan ‘subhanallah wal hamdu lillah’, yaitu Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya. 10- Allah memiliki sifat yang sempurna. Itulah kandungan dari kata ‘al hamdu’. 11- Lafazh dzikir itu beraneka ragam. Dalam hadits ini disebut dua macam dzikir sekaligus. Pertama, subhanallah wa bihamdih. Di antara keutamaannya, siapa yang menyebutnya dalam sehari 100 kali, dosa-dosanya akan terampuni walau sebanyak buih di lautan. Sedangkan dzikir kedua, subhanallahil ‘azhim. Kalimat ini ada jika bersambung dengan kalimat lainnya sebagaimana yang ada dalam hadits ini. 12- Keutamaan dua kalimat: subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim. Hadits ini menunjukkan kita diperintah memperbanyak bacaan ini. Ini di antara alasan pula disebutkan dalam hadits nama Allah Ar Rahman dari nama-nama Allah lainnya. 13- Dzikir ‘subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’ sudah mengandung bacaan dzikir yang tiga: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ini semua menunjukkan konsekuensinya yaitu mentauhidkan Allah yang terdapat dalam kandungan kalimat ‘laa ilaha illallah’. 14- Meraih keutamaan suatu amalan tak mesti dengan bersusah payah. Keutamaan tersebut kembali pada jenis amalan itu sendiri. Bahkan ada amalan yang tidak ada kesulitan untuk melakukannya, dan itu lebih utama dari amalan yang butuh usaha keras untuk melakukannya. 15- Boleh menggunakan kalimat bersajak selama tidak menyusah-nyusahkan diri. 16- Di antara bentuk penjelasan yang baik adalah mengawali dengan penyebutan keutamaan amalan sebelum menyebutkan bentuk amalan tersebut. 17- Ada suatu kalimat yang berisi berita namun berisi ajakan atau perintah seperti yang ada dalam hadits ini yang berisi ajakan untuk berdzikir. 18- Bukhari sangatlah cerdas. Kitab shahihnya, ia awali dengan hadits niat yang menuntut kita untuk ikhlas dalam beramal. Sedangkan penutup kitab shahihnya, beliau tutup dengan hadits ini untuk menunjukkan bahwa penutup kehidupan adalah dengan dzikir pada Allah. Ini menunjukkan akan baiknya akhir amalan. Kita juga memohon pada Allah husnul khotimah, akhir hidup yang baik. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berdzikir pada-Nya.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih.   Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Selesai sudah pembahasan faedah tauhid, moga bisa menjadi buku saku bermanfaat nantinya. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. TagsDzikir faedah tauhid
Adakah dzikir yang ringan namun berat di timbangan amalan? Ada, dzikir tersebut adalah bacaan ‘subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Keutamaannya disebutkan dalam hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ “Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman, ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694) Penjelasan: Hadits ini termasuk hadits mulia yang membicarakan fadhilah amalan, keutamaan suatu amalan. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Kalimat yang sempurna disebut dengan ‘al kalimah’. Istilah berbeda dengan istilah dalam ilmu nahwu. 2- Dzikir di lisan adalah ibadah yang paling ringan. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ “Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan dzikir pada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3375 dan Ibnu Majah no. 3793. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Namun dzikir yang lebih sempurna adalah dzikir dengan hati dan lisan. 3- Allah mencintai kalimat yang thoyyib (yang baik). 4- Penetapan sifat cinta (mahabbah) bagi Allah. 5- Penetapan nama Allah: Ar Rahman (Maha Pengasih), Al ‘Azhim (Maha Mulia). 6- Adanya mizan (timbangan) dan amalan manusia akan ditimbang pada hari kiamat. 7- Amalan itu punya berat dalam timbangan. Bisa jadi yang ditimbang adalah amalan itu sendiri yang dibentuk lalu ditimbang, bisa jadi pula catatan amalan, atau bisa pula kedua-duanya. 8- Allah itu suci dari segala ‘aib, segala kekurangan dan cacat. Itulah maksud kalimat ‘subhana’ (Maha Suci). 9- Penggabungan antara bacaan tasbih dan tahmid pada bacaan ‘subhanallah wa bihamdih’. Kalimat tersebut maknanya sama dengan ‘subhanallah wal hamdu lillah’, yaitu Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya. 10- Allah memiliki sifat yang sempurna. Itulah kandungan dari kata ‘al hamdu’. 11- Lafazh dzikir itu beraneka ragam. Dalam hadits ini disebut dua macam dzikir sekaligus. Pertama, subhanallah wa bihamdih. Di antara keutamaannya, siapa yang menyebutnya dalam sehari 100 kali, dosa-dosanya akan terampuni walau sebanyak buih di lautan. Sedangkan dzikir kedua, subhanallahil ‘azhim. Kalimat ini ada jika bersambung dengan kalimat lainnya sebagaimana yang ada dalam hadits ini. 12- Keutamaan dua kalimat: subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim. Hadits ini menunjukkan kita diperintah memperbanyak bacaan ini. Ini di antara alasan pula disebutkan dalam hadits nama Allah Ar Rahman dari nama-nama Allah lainnya. 13- Dzikir ‘subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’ sudah mengandung bacaan dzikir yang tiga: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ini semua menunjukkan konsekuensinya yaitu mentauhidkan Allah yang terdapat dalam kandungan kalimat ‘laa ilaha illallah’. 14- Meraih keutamaan suatu amalan tak mesti dengan bersusah payah. Keutamaan tersebut kembali pada jenis amalan itu sendiri. Bahkan ada amalan yang tidak ada kesulitan untuk melakukannya, dan itu lebih utama dari amalan yang butuh usaha keras untuk melakukannya. 15- Boleh menggunakan kalimat bersajak selama tidak menyusah-nyusahkan diri. 16- Di antara bentuk penjelasan yang baik adalah mengawali dengan penyebutan keutamaan amalan sebelum menyebutkan bentuk amalan tersebut. 17- Ada suatu kalimat yang berisi berita namun berisi ajakan atau perintah seperti yang ada dalam hadits ini yang berisi ajakan untuk berdzikir. 18- Bukhari sangatlah cerdas. Kitab shahihnya, ia awali dengan hadits niat yang menuntut kita untuk ikhlas dalam beramal. Sedangkan penutup kitab shahihnya, beliau tutup dengan hadits ini untuk menunjukkan bahwa penutup kehidupan adalah dengan dzikir pada Allah. Ini menunjukkan akan baiknya akhir amalan. Kita juga memohon pada Allah husnul khotimah, akhir hidup yang baik. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berdzikir pada-Nya.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih.   Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Selesai sudah pembahasan faedah tauhid, moga bisa menjadi buku saku bermanfaat nantinya. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. TagsDzikir faedah tauhid


Adakah dzikir yang ringan namun berat di timbangan amalan? Ada, dzikir tersebut adalah bacaan ‘subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Keutamaannya disebutkan dalam hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ “Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman, ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694) Penjelasan: Hadits ini termasuk hadits mulia yang membicarakan fadhilah amalan, keutamaan suatu amalan. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Kalimat yang sempurna disebut dengan ‘al kalimah’. Istilah berbeda dengan istilah dalam ilmu nahwu. 2- Dzikir di lisan adalah ibadah yang paling ringan. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ “Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan dzikir pada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3375 dan Ibnu Majah no. 3793. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Namun dzikir yang lebih sempurna adalah dzikir dengan hati dan lisan. 3- Allah mencintai kalimat yang thoyyib (yang baik). 4- Penetapan sifat cinta (mahabbah) bagi Allah. 5- Penetapan nama Allah: Ar Rahman (Maha Pengasih), Al ‘Azhim (Maha Mulia). 6- Adanya mizan (timbangan) dan amalan manusia akan ditimbang pada hari kiamat. 7- Amalan itu punya berat dalam timbangan. Bisa jadi yang ditimbang adalah amalan itu sendiri yang dibentuk lalu ditimbang, bisa jadi pula catatan amalan, atau bisa pula kedua-duanya. 8- Allah itu suci dari segala ‘aib, segala kekurangan dan cacat. Itulah maksud kalimat ‘subhana’ (Maha Suci). 9- Penggabungan antara bacaan tasbih dan tahmid pada bacaan ‘subhanallah wa bihamdih’. Kalimat tersebut maknanya sama dengan ‘subhanallah wal hamdu lillah’, yaitu Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya. 10- Allah memiliki sifat yang sempurna. Itulah kandungan dari kata ‘al hamdu’. 11- Lafazh dzikir itu beraneka ragam. Dalam hadits ini disebut dua macam dzikir sekaligus. Pertama, subhanallah wa bihamdih. Di antara keutamaannya, siapa yang menyebutnya dalam sehari 100 kali, dosa-dosanya akan terampuni walau sebanyak buih di lautan. Sedangkan dzikir kedua, subhanallahil ‘azhim. Kalimat ini ada jika bersambung dengan kalimat lainnya sebagaimana yang ada dalam hadits ini. 12- Keutamaan dua kalimat: subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim. Hadits ini menunjukkan kita diperintah memperbanyak bacaan ini. Ini di antara alasan pula disebutkan dalam hadits nama Allah Ar Rahman dari nama-nama Allah lainnya. 13- Dzikir ‘subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’ sudah mengandung bacaan dzikir yang tiga: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ini semua menunjukkan konsekuensinya yaitu mentauhidkan Allah yang terdapat dalam kandungan kalimat ‘laa ilaha illallah’. 14- Meraih keutamaan suatu amalan tak mesti dengan bersusah payah. Keutamaan tersebut kembali pada jenis amalan itu sendiri. Bahkan ada amalan yang tidak ada kesulitan untuk melakukannya, dan itu lebih utama dari amalan yang butuh usaha keras untuk melakukannya. 15- Boleh menggunakan kalimat bersajak selama tidak menyusah-nyusahkan diri. 16- Di antara bentuk penjelasan yang baik adalah mengawali dengan penyebutan keutamaan amalan sebelum menyebutkan bentuk amalan tersebut. 17- Ada suatu kalimat yang berisi berita namun berisi ajakan atau perintah seperti yang ada dalam hadits ini yang berisi ajakan untuk berdzikir. 18- Bukhari sangatlah cerdas. Kitab shahihnya, ia awali dengan hadits niat yang menuntut kita untuk ikhlas dalam beramal. Sedangkan penutup kitab shahihnya, beliau tutup dengan hadits ini untuk menunjukkan bahwa penutup kehidupan adalah dengan dzikir pada Allah. Ini menunjukkan akan baiknya akhir amalan. Kita juga memohon pada Allah husnul khotimah, akhir hidup yang baik. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berdzikir pada-Nya.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih.   Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Selesai sudah pembahasan faedah tauhid, moga bisa menjadi buku saku bermanfaat nantinya. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. TagsDzikir faedah tauhid

Faedah Tauhid (8), Syafa’at dan Kemuliaan Nabi

Hadits berikut adalah hadits kedelapan yang membicarakan faedah tauhid. Di dalamnya diceritakan mengenai syafa’atul ‘uzhma (syafa’at terkhusus untuk Muhammad) dan kemulian Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ شُفِّعْتُ ، فَقُلْتُ يَا رَبِّ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ خَرْدَلَةٌ . فَيَدْخُلُونَ ، ثُمَّ أَقُولُ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى شَىْءٍ » . فَقَالَ أَنَسٌ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى أَصَابِعِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – “Pada hari kiamat, aku diberi syafa’at. Aku berkata, “Wahai Rabbku, masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman sebesar biji sawi.” Mereka memasukinya. Aku pun berkata, “Masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman walau rendah.” Anas berkata, “Seakan-akan aku melihat (isyarat) pada jari-jemari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 7509) Lalu disebutkan hadits syafa’at yang panjang seperti pada riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – فَيَأْتُونِى فَأَقُولُ أَنَا لَهَا . فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّى فَيُؤْذَنُ لِى وَيُلْهِمُنِى مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لاَ تَحْضُرُنِى الآنَ ، فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ وَأَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ شَعِيرَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ ، فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ أَوْ خَرْدَلَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ ، فَأَخْرِجْهُ مِنَ النَّارِ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ Mereka mendatangi ‘Isa. ‘Isa lantas berkata, “Aku tidak pantas memberikan syafa’at tersebut. Hendaklah kalian mendatangi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Mereka lantas mendatangiku. Aku memang pantas memberikan syafa’at tersebut. Aku lantas meminta izin pada Rabbku. Allah pun memberikan izin padaku. Aku mendapatkan ilham untuk bisa memuji-Nya yang tak bisa kuhadirkan saat ini. Aku memuji-Nya dengan pujian tersebut. Aku pun tersungkur sujud di hadapan-Nya.” Allah berfirman, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya seberat gandum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya sebesar biji sawi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian yang tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah yang masih memiliki iman dalam hatinya yang lebih kecil dari biji sawi. Keluarkanlah ia dari neraka. Hal itu pun terlaksana.” (HR. Bukhari no. 7510 dan Muslim no. 193) Dalam riwayat lain disebutkan, ثُمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ ، وَسَلْ تُعْطَهْ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِى فِيمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . فَيَقُولُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى وَكِبْرِيَائِى وَعَظَمَتِى لأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ “Kemudian aku kembali untuk keempat kalinya. Aku memuji-Nya dengan pujian tadi. Aku pun sujud di hadapan-Nya. Disebutkan, “Wahai Muhammad. Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, izinkanlah aku memberikan syafa’at pada orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’.” Allah berfirman, “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sungguh aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaha illallah.” (HR. Bukhari no. 7510). Penjelasan: Hadits ini adalah hadits yang mulia yang disebut dengan hadits syafa’at, berisi hadits yang panjang. Hadits ini jadi argument yang kuat bagi Ahlus Sunnah, yang membantah pemikiran sesat Khawarij dan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar (al kabair) kekal dalam neraka. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Riwayat yang ada menunjukkan bahwa Nabi itu hadir kala pemberian syafa’at, karena didukung dengan pernyataan mendengar dan melihat dalam hadits. 2- Boleh adanya pengajaran dengan pemberian isyarat sebagaimana isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jari-jemari. 3- Begitu mengerikan keadaan pada hari kiamat. 4- Kemarahan Allah pada hari kiamat begitu dahsyat, yang tidak didapati kemarahan-Nya sebelumnya atau sesudahnya seperti itu. 5- Yang meminta syafa’at kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang beriman. 6- Ada enam Nabi yang disebutkan dalam hadits ini di mana mereka semua dimintai syafa’atnya, yaitu Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Muhammad. Lima nabi yang disebut terakhir disebut dengan para Nabi ‘Ulul ‘Azmi. 7- Dalam hadits disebutkan keutamaan masing-masing Rasul. 8- Dalam hadits disebutkan uzur masing-masing Nabi yang tidak bisa memberikan syafa’at. 9- Mulianya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para Nabi dan Rasul lainnya. 10- Adanya syafa’at untuk orang-orang yang menunggu persidangan di padang mahsyar yaitu segera diberikan keputusan. Syafa’at ini disebut dengan Syafa’atul ‘Uzhma yang hanya diberikan khusus pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebutkan dalam firman Allah, عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra’: 79) 11- Adanya syafa’at yang ditujukan pada pelaku dosa agar mereka keluar dari neraka dan masuk dalam surga. Syafa’at ini diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Nabi lainnya, termasuk pula diberikan pada malaikat dan orang beriman. 12- Berulangnya syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pelaku dosa dari umatnya. 13- Hadits ini membantah golongan Khawarij dan Mu’tazilah yang mengingkari adanya syafa’at. 14- Mendekatkan diri pada Allah, bentuknya adalah dengan sujud dan memuji-Nya. 15- Allah memberikan ilham pada Nabinya Muhammad dengan sanjungan yang tidak dikenal oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat di dunia. 16- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar dimuliakan oleh Rabbnya. Beliaulah makhluk termulia dan paling bertakwa di antara manusia. Disebutkan dalam ayat, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13). 17- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memberikan syafa’at sampai beliau mendapatkan izin dari Allah. Disebutkan dalam ayat, مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah: 255). 18- Orang beriman bertingkat-tingkat imannya. 19- Iman itu bertambah dan berkurang. 20- Sebab selamat dan keluar dari neraka adalah tauhid dan iman. 21- Bolehnya mengumpamakan sesuatu yang sifatnya maknawi dengan pengungkapan yang sifatnya inderawi. 22- Keutamaan kalimat tauhid ‘laa ilahaa illallah’. Kalimat laa ilaha illallah menjadi sebab tidak kekal dalam neraka. 23- Penetapan keagungan dan kebesaran Allah. 24- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ketika beliau meminta syafa’at. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي خَرَرْتُ لَهُ سَاجِدًا “Aku melihat Rabbku dan aku tersungkur sujud di hadapan-Nya.” (HR. Al Hakim no. 82 dan ia menshahihkannya, lalu disepakati pula oleh Adz Dzahabi, dari hadits ‘Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu ‘anhu). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk memiliki akidah yang benar.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsfaedah tauhid syafa'at

Faedah Tauhid (8), Syafa’at dan Kemuliaan Nabi

Hadits berikut adalah hadits kedelapan yang membicarakan faedah tauhid. Di dalamnya diceritakan mengenai syafa’atul ‘uzhma (syafa’at terkhusus untuk Muhammad) dan kemulian Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ شُفِّعْتُ ، فَقُلْتُ يَا رَبِّ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ خَرْدَلَةٌ . فَيَدْخُلُونَ ، ثُمَّ أَقُولُ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى شَىْءٍ » . فَقَالَ أَنَسٌ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى أَصَابِعِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – “Pada hari kiamat, aku diberi syafa’at. Aku berkata, “Wahai Rabbku, masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman sebesar biji sawi.” Mereka memasukinya. Aku pun berkata, “Masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman walau rendah.” Anas berkata, “Seakan-akan aku melihat (isyarat) pada jari-jemari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 7509) Lalu disebutkan hadits syafa’at yang panjang seperti pada riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – فَيَأْتُونِى فَأَقُولُ أَنَا لَهَا . فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّى فَيُؤْذَنُ لِى وَيُلْهِمُنِى مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لاَ تَحْضُرُنِى الآنَ ، فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ وَأَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ شَعِيرَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ ، فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ أَوْ خَرْدَلَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ ، فَأَخْرِجْهُ مِنَ النَّارِ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ Mereka mendatangi ‘Isa. ‘Isa lantas berkata, “Aku tidak pantas memberikan syafa’at tersebut. Hendaklah kalian mendatangi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Mereka lantas mendatangiku. Aku memang pantas memberikan syafa’at tersebut. Aku lantas meminta izin pada Rabbku. Allah pun memberikan izin padaku. Aku mendapatkan ilham untuk bisa memuji-Nya yang tak bisa kuhadirkan saat ini. Aku memuji-Nya dengan pujian tersebut. Aku pun tersungkur sujud di hadapan-Nya.” Allah berfirman, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya seberat gandum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya sebesar biji sawi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian yang tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah yang masih memiliki iman dalam hatinya yang lebih kecil dari biji sawi. Keluarkanlah ia dari neraka. Hal itu pun terlaksana.” (HR. Bukhari no. 7510 dan Muslim no. 193) Dalam riwayat lain disebutkan, ثُمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ ، وَسَلْ تُعْطَهْ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِى فِيمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . فَيَقُولُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى وَكِبْرِيَائِى وَعَظَمَتِى لأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ “Kemudian aku kembali untuk keempat kalinya. Aku memuji-Nya dengan pujian tadi. Aku pun sujud di hadapan-Nya. Disebutkan, “Wahai Muhammad. Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, izinkanlah aku memberikan syafa’at pada orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’.” Allah berfirman, “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sungguh aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaha illallah.” (HR. Bukhari no. 7510). Penjelasan: Hadits ini adalah hadits yang mulia yang disebut dengan hadits syafa’at, berisi hadits yang panjang. Hadits ini jadi argument yang kuat bagi Ahlus Sunnah, yang membantah pemikiran sesat Khawarij dan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar (al kabair) kekal dalam neraka. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Riwayat yang ada menunjukkan bahwa Nabi itu hadir kala pemberian syafa’at, karena didukung dengan pernyataan mendengar dan melihat dalam hadits. 2- Boleh adanya pengajaran dengan pemberian isyarat sebagaimana isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jari-jemari. 3- Begitu mengerikan keadaan pada hari kiamat. 4- Kemarahan Allah pada hari kiamat begitu dahsyat, yang tidak didapati kemarahan-Nya sebelumnya atau sesudahnya seperti itu. 5- Yang meminta syafa’at kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang beriman. 6- Ada enam Nabi yang disebutkan dalam hadits ini di mana mereka semua dimintai syafa’atnya, yaitu Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Muhammad. Lima nabi yang disebut terakhir disebut dengan para Nabi ‘Ulul ‘Azmi. 7- Dalam hadits disebutkan keutamaan masing-masing Rasul. 8- Dalam hadits disebutkan uzur masing-masing Nabi yang tidak bisa memberikan syafa’at. 9- Mulianya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para Nabi dan Rasul lainnya. 10- Adanya syafa’at untuk orang-orang yang menunggu persidangan di padang mahsyar yaitu segera diberikan keputusan. Syafa’at ini disebut dengan Syafa’atul ‘Uzhma yang hanya diberikan khusus pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebutkan dalam firman Allah, عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra’: 79) 11- Adanya syafa’at yang ditujukan pada pelaku dosa agar mereka keluar dari neraka dan masuk dalam surga. Syafa’at ini diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Nabi lainnya, termasuk pula diberikan pada malaikat dan orang beriman. 12- Berulangnya syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pelaku dosa dari umatnya. 13- Hadits ini membantah golongan Khawarij dan Mu’tazilah yang mengingkari adanya syafa’at. 14- Mendekatkan diri pada Allah, bentuknya adalah dengan sujud dan memuji-Nya. 15- Allah memberikan ilham pada Nabinya Muhammad dengan sanjungan yang tidak dikenal oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat di dunia. 16- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar dimuliakan oleh Rabbnya. Beliaulah makhluk termulia dan paling bertakwa di antara manusia. Disebutkan dalam ayat, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13). 17- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memberikan syafa’at sampai beliau mendapatkan izin dari Allah. Disebutkan dalam ayat, مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah: 255). 18- Orang beriman bertingkat-tingkat imannya. 19- Iman itu bertambah dan berkurang. 20- Sebab selamat dan keluar dari neraka adalah tauhid dan iman. 21- Bolehnya mengumpamakan sesuatu yang sifatnya maknawi dengan pengungkapan yang sifatnya inderawi. 22- Keutamaan kalimat tauhid ‘laa ilahaa illallah’. Kalimat laa ilaha illallah menjadi sebab tidak kekal dalam neraka. 23- Penetapan keagungan dan kebesaran Allah. 24- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ketika beliau meminta syafa’at. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي خَرَرْتُ لَهُ سَاجِدًا “Aku melihat Rabbku dan aku tersungkur sujud di hadapan-Nya.” (HR. Al Hakim no. 82 dan ia menshahihkannya, lalu disepakati pula oleh Adz Dzahabi, dari hadits ‘Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu ‘anhu). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk memiliki akidah yang benar.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsfaedah tauhid syafa'at
Hadits berikut adalah hadits kedelapan yang membicarakan faedah tauhid. Di dalamnya diceritakan mengenai syafa’atul ‘uzhma (syafa’at terkhusus untuk Muhammad) dan kemulian Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ شُفِّعْتُ ، فَقُلْتُ يَا رَبِّ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ خَرْدَلَةٌ . فَيَدْخُلُونَ ، ثُمَّ أَقُولُ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى شَىْءٍ » . فَقَالَ أَنَسٌ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى أَصَابِعِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – “Pada hari kiamat, aku diberi syafa’at. Aku berkata, “Wahai Rabbku, masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman sebesar biji sawi.” Mereka memasukinya. Aku pun berkata, “Masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman walau rendah.” Anas berkata, “Seakan-akan aku melihat (isyarat) pada jari-jemari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 7509) Lalu disebutkan hadits syafa’at yang panjang seperti pada riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – فَيَأْتُونِى فَأَقُولُ أَنَا لَهَا . فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّى فَيُؤْذَنُ لِى وَيُلْهِمُنِى مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لاَ تَحْضُرُنِى الآنَ ، فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ وَأَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ شَعِيرَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ ، فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ أَوْ خَرْدَلَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ ، فَأَخْرِجْهُ مِنَ النَّارِ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ Mereka mendatangi ‘Isa. ‘Isa lantas berkata, “Aku tidak pantas memberikan syafa’at tersebut. Hendaklah kalian mendatangi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Mereka lantas mendatangiku. Aku memang pantas memberikan syafa’at tersebut. Aku lantas meminta izin pada Rabbku. Allah pun memberikan izin padaku. Aku mendapatkan ilham untuk bisa memuji-Nya yang tak bisa kuhadirkan saat ini. Aku memuji-Nya dengan pujian tersebut. Aku pun tersungkur sujud di hadapan-Nya.” Allah berfirman, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya seberat gandum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya sebesar biji sawi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian yang tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah yang masih memiliki iman dalam hatinya yang lebih kecil dari biji sawi. Keluarkanlah ia dari neraka. Hal itu pun terlaksana.” (HR. Bukhari no. 7510 dan Muslim no. 193) Dalam riwayat lain disebutkan, ثُمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ ، وَسَلْ تُعْطَهْ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِى فِيمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . فَيَقُولُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى وَكِبْرِيَائِى وَعَظَمَتِى لأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ “Kemudian aku kembali untuk keempat kalinya. Aku memuji-Nya dengan pujian tadi. Aku pun sujud di hadapan-Nya. Disebutkan, “Wahai Muhammad. Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, izinkanlah aku memberikan syafa’at pada orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’.” Allah berfirman, “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sungguh aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaha illallah.” (HR. Bukhari no. 7510). Penjelasan: Hadits ini adalah hadits yang mulia yang disebut dengan hadits syafa’at, berisi hadits yang panjang. Hadits ini jadi argument yang kuat bagi Ahlus Sunnah, yang membantah pemikiran sesat Khawarij dan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar (al kabair) kekal dalam neraka. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Riwayat yang ada menunjukkan bahwa Nabi itu hadir kala pemberian syafa’at, karena didukung dengan pernyataan mendengar dan melihat dalam hadits. 2- Boleh adanya pengajaran dengan pemberian isyarat sebagaimana isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jari-jemari. 3- Begitu mengerikan keadaan pada hari kiamat. 4- Kemarahan Allah pada hari kiamat begitu dahsyat, yang tidak didapati kemarahan-Nya sebelumnya atau sesudahnya seperti itu. 5- Yang meminta syafa’at kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang beriman. 6- Ada enam Nabi yang disebutkan dalam hadits ini di mana mereka semua dimintai syafa’atnya, yaitu Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Muhammad. Lima nabi yang disebut terakhir disebut dengan para Nabi ‘Ulul ‘Azmi. 7- Dalam hadits disebutkan keutamaan masing-masing Rasul. 8- Dalam hadits disebutkan uzur masing-masing Nabi yang tidak bisa memberikan syafa’at. 9- Mulianya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para Nabi dan Rasul lainnya. 10- Adanya syafa’at untuk orang-orang yang menunggu persidangan di padang mahsyar yaitu segera diberikan keputusan. Syafa’at ini disebut dengan Syafa’atul ‘Uzhma yang hanya diberikan khusus pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebutkan dalam firman Allah, عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra’: 79) 11- Adanya syafa’at yang ditujukan pada pelaku dosa agar mereka keluar dari neraka dan masuk dalam surga. Syafa’at ini diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Nabi lainnya, termasuk pula diberikan pada malaikat dan orang beriman. 12- Berulangnya syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pelaku dosa dari umatnya. 13- Hadits ini membantah golongan Khawarij dan Mu’tazilah yang mengingkari adanya syafa’at. 14- Mendekatkan diri pada Allah, bentuknya adalah dengan sujud dan memuji-Nya. 15- Allah memberikan ilham pada Nabinya Muhammad dengan sanjungan yang tidak dikenal oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat di dunia. 16- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar dimuliakan oleh Rabbnya. Beliaulah makhluk termulia dan paling bertakwa di antara manusia. Disebutkan dalam ayat, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13). 17- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memberikan syafa’at sampai beliau mendapatkan izin dari Allah. Disebutkan dalam ayat, مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah: 255). 18- Orang beriman bertingkat-tingkat imannya. 19- Iman itu bertambah dan berkurang. 20- Sebab selamat dan keluar dari neraka adalah tauhid dan iman. 21- Bolehnya mengumpamakan sesuatu yang sifatnya maknawi dengan pengungkapan yang sifatnya inderawi. 22- Keutamaan kalimat tauhid ‘laa ilahaa illallah’. Kalimat laa ilaha illallah menjadi sebab tidak kekal dalam neraka. 23- Penetapan keagungan dan kebesaran Allah. 24- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ketika beliau meminta syafa’at. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي خَرَرْتُ لَهُ سَاجِدًا “Aku melihat Rabbku dan aku tersungkur sujud di hadapan-Nya.” (HR. Al Hakim no. 82 dan ia menshahihkannya, lalu disepakati pula oleh Adz Dzahabi, dari hadits ‘Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu ‘anhu). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk memiliki akidah yang benar.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsfaedah tauhid syafa'at


Hadits berikut adalah hadits kedelapan yang membicarakan faedah tauhid. Di dalamnya diceritakan mengenai syafa’atul ‘uzhma (syafa’at terkhusus untuk Muhammad) dan kemulian Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ شُفِّعْتُ ، فَقُلْتُ يَا رَبِّ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ خَرْدَلَةٌ . فَيَدْخُلُونَ ، ثُمَّ أَقُولُ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى شَىْءٍ » . فَقَالَ أَنَسٌ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى أَصَابِعِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – “Pada hari kiamat, aku diberi syafa’at. Aku berkata, “Wahai Rabbku, masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman sebesar biji sawi.” Mereka memasukinya. Aku pun berkata, “Masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman walau rendah.” Anas berkata, “Seakan-akan aku melihat (isyarat) pada jari-jemari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 7509) Lalu disebutkan hadits syafa’at yang panjang seperti pada riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – فَيَأْتُونِى فَأَقُولُ أَنَا لَهَا . فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّى فَيُؤْذَنُ لِى وَيُلْهِمُنِى مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لاَ تَحْضُرُنِى الآنَ ، فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ وَأَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ شَعِيرَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ ، فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ أَوْ خَرْدَلَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ ، فَأَخْرِجْهُ مِنَ النَّارِ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ Mereka mendatangi ‘Isa. ‘Isa lantas berkata, “Aku tidak pantas memberikan syafa’at tersebut. Hendaklah kalian mendatangi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Mereka lantas mendatangiku. Aku memang pantas memberikan syafa’at tersebut. Aku lantas meminta izin pada Rabbku. Allah pun memberikan izin padaku. Aku mendapatkan ilham untuk bisa memuji-Nya yang tak bisa kuhadirkan saat ini. Aku memuji-Nya dengan pujian tersebut. Aku pun tersungkur sujud di hadapan-Nya.” Allah berfirman, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya seberat gandum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya sebesar biji sawi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian yang tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah yang masih memiliki iman dalam hatinya yang lebih kecil dari biji sawi. Keluarkanlah ia dari neraka. Hal itu pun terlaksana.” (HR. Bukhari no. 7510 dan Muslim no. 193) Dalam riwayat lain disebutkan, ثُمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ ، وَسَلْ تُعْطَهْ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِى فِيمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . فَيَقُولُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى وَكِبْرِيَائِى وَعَظَمَتِى لأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ “Kemudian aku kembali untuk keempat kalinya. Aku memuji-Nya dengan pujian tadi. Aku pun sujud di hadapan-Nya. Disebutkan, “Wahai Muhammad. Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, izinkanlah aku memberikan syafa’at pada orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’.” Allah berfirman, “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sungguh aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaha illallah.” (HR. Bukhari no. 7510). Penjelasan: Hadits ini adalah hadits yang mulia yang disebut dengan hadits syafa’at, berisi hadits yang panjang. Hadits ini jadi argument yang kuat bagi Ahlus Sunnah, yang membantah pemikiran sesat Khawarij dan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar (al kabair) kekal dalam neraka. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Riwayat yang ada menunjukkan bahwa Nabi itu hadir kala pemberian syafa’at, karena didukung dengan pernyataan mendengar dan melihat dalam hadits. 2- Boleh adanya pengajaran dengan pemberian isyarat sebagaimana isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jari-jemari. 3- Begitu mengerikan keadaan pada hari kiamat. 4- Kemarahan Allah pada hari kiamat begitu dahsyat, yang tidak didapati kemarahan-Nya sebelumnya atau sesudahnya seperti itu. 5- Yang meminta syafa’at kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang beriman. 6- Ada enam Nabi yang disebutkan dalam hadits ini di mana mereka semua dimintai syafa’atnya, yaitu Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Muhammad. Lima nabi yang disebut terakhir disebut dengan para Nabi ‘Ulul ‘Azmi. 7- Dalam hadits disebutkan keutamaan masing-masing Rasul. 8- Dalam hadits disebutkan uzur masing-masing Nabi yang tidak bisa memberikan syafa’at. 9- Mulianya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para Nabi dan Rasul lainnya. 10- Adanya syafa’at untuk orang-orang yang menunggu persidangan di padang mahsyar yaitu segera diberikan keputusan. Syafa’at ini disebut dengan Syafa’atul ‘Uzhma yang hanya diberikan khusus pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebutkan dalam firman Allah, عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra’: 79) 11- Adanya syafa’at yang ditujukan pada pelaku dosa agar mereka keluar dari neraka dan masuk dalam surga. Syafa’at ini diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Nabi lainnya, termasuk pula diberikan pada malaikat dan orang beriman. 12- Berulangnya syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pelaku dosa dari umatnya. 13- Hadits ini membantah golongan Khawarij dan Mu’tazilah yang mengingkari adanya syafa’at. 14- Mendekatkan diri pada Allah, bentuknya adalah dengan sujud dan memuji-Nya. 15- Allah memberikan ilham pada Nabinya Muhammad dengan sanjungan yang tidak dikenal oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat di dunia. 16- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar dimuliakan oleh Rabbnya. Beliaulah makhluk termulia dan paling bertakwa di antara manusia. Disebutkan dalam ayat, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13). 17- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memberikan syafa’at sampai beliau mendapatkan izin dari Allah. Disebutkan dalam ayat, مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah: 255). 18- Orang beriman bertingkat-tingkat imannya. 19- Iman itu bertambah dan berkurang. 20- Sebab selamat dan keluar dari neraka adalah tauhid dan iman. 21- Bolehnya mengumpamakan sesuatu yang sifatnya maknawi dengan pengungkapan yang sifatnya inderawi. 22- Keutamaan kalimat tauhid ‘laa ilahaa illallah’. Kalimat laa ilaha illallah menjadi sebab tidak kekal dalam neraka. 23- Penetapan keagungan dan kebesaran Allah. 24- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ketika beliau meminta syafa’at. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي خَرَرْتُ لَهُ سَاجِدًا “Aku melihat Rabbku dan aku tersungkur sujud di hadapan-Nya.” (HR. Al Hakim no. 82 dan ia menshahihkannya, lalu disepakati pula oleh Adz Dzahabi, dari hadits ‘Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu ‘anhu). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk memiliki akidah yang benar.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsfaedah tauhid syafa'at

Anak dan Sifat Lapang Dada

16FebAnak dan Sifat Lapang DadaFebruary 16, 2015Keluarga Islami Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 48 ANAK DAN SIFAT LAPANG DADA*   Salah satu akhlak terpuji yang akan memberikan jalan kebaikan bagi jiwa untuk sampai kepada puncaknya, adalah sifat lapang dada dan tidak dengki serta mudah untuk memaafkan orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“ Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil“. QS. Al-A’râf (7): 199. Memaafkan tidak identik dengan kehinaan dan ketidakberdayaan. Bahkan sifat memaafkan merupakan cermin kebesaran jiwa dan kekuatan hati, serta lapang dada. Sebab, pada dasarnya ada kesanggupan untuk membalas. Sikap yang baik ini, akan menunjukkan rasa kebesaran jiwa, yaitu menumbuhkan ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan keperkasaan jiwa, yang tidak akan dijumpai tatkala melampiaskan api dendam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا“ “Tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan kemudahan untuk memaafkan kecuali Allah akan memberinya kemuliaan”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Dengan demikian, orang yang berakal seharusnya mengamalkan nasihat Ibnu Hibban rahimahullah dalam Raudhatul-‘Uqalâ`, “Betapa pentingnya seseorang melatih diri untuk berlapang dada terhadap kesalahan orang lain dan tidak membalasnya dengan kejelekan. Karena, tidak ada obat yang paling efektif dalam meredam kejahatan orang lain melebihi perbuatan yang baik kepadanya. Dan, tidak ada faktor yang mampu menyulut kejahatan, melebihi melakukan kejahatan serupa”. Sikap lapang dada juga akan mewujudkan keseimbangan jiwa dan membiasakannya untuk mencintai kebaikan bagi orang lain. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“ “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian; hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri”. HR. Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Mulai dari Orang Tua Untuk menanamkan sifat mulia ini pada anak, tentu harus dimulai dari diri orang tua selaku contoh bagi mereka. Janganlah orang tua enggan mengucapkan kata maaf ketika bersalah dan memaafkan jika anak berbuat salah. Lalu bimbinglah anak agar membersihkan hati dari sifat iri dan dengki kepada sesama, terlebih kepada saudara sendiri. Saat Anda pergi dengan si kakak dan mampir ke suatu toko, sampaikan kepadanya untuk membelikan jajan buat adiknya. Begitu pula sebaliknya ketika adik sedang makan sesuatu, ingatkan dia agar jangan lupa membagi untuk sang kakak. Satu hal juga yang harus diwaspadai oleh para orang tua adalah dalam hal pemberian kepada anak-anaknya. Orang tua harus bersikap adil. Dalam arti jika salah satu anak diberi hadiah, maka yang lainnya pun perlu untuk diberi pula. Walaupun tidak mesti harus sama bentuk dan nominalnya. Sebab jika tidak adil maka hal itu akan menimbulkan kecemburuan antar saudara. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Rabi’ul Tsani 1436 / 16 Februari 2015 * Diringkas dan disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 109) dan berbagai sumber lainnya. Download Makalah “Anak dan Sifat Lapang Dada” Disini PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Anak dan Sifat Lapang Dada

16FebAnak dan Sifat Lapang DadaFebruary 16, 2015Keluarga Islami Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 48 ANAK DAN SIFAT LAPANG DADA*   Salah satu akhlak terpuji yang akan memberikan jalan kebaikan bagi jiwa untuk sampai kepada puncaknya, adalah sifat lapang dada dan tidak dengki serta mudah untuk memaafkan orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“ Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil“. QS. Al-A’râf (7): 199. Memaafkan tidak identik dengan kehinaan dan ketidakberdayaan. Bahkan sifat memaafkan merupakan cermin kebesaran jiwa dan kekuatan hati, serta lapang dada. Sebab, pada dasarnya ada kesanggupan untuk membalas. Sikap yang baik ini, akan menunjukkan rasa kebesaran jiwa, yaitu menumbuhkan ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan keperkasaan jiwa, yang tidak akan dijumpai tatkala melampiaskan api dendam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا“ “Tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan kemudahan untuk memaafkan kecuali Allah akan memberinya kemuliaan”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Dengan demikian, orang yang berakal seharusnya mengamalkan nasihat Ibnu Hibban rahimahullah dalam Raudhatul-‘Uqalâ`, “Betapa pentingnya seseorang melatih diri untuk berlapang dada terhadap kesalahan orang lain dan tidak membalasnya dengan kejelekan. Karena, tidak ada obat yang paling efektif dalam meredam kejahatan orang lain melebihi perbuatan yang baik kepadanya. Dan, tidak ada faktor yang mampu menyulut kejahatan, melebihi melakukan kejahatan serupa”. Sikap lapang dada juga akan mewujudkan keseimbangan jiwa dan membiasakannya untuk mencintai kebaikan bagi orang lain. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“ “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian; hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri”. HR. Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Mulai dari Orang Tua Untuk menanamkan sifat mulia ini pada anak, tentu harus dimulai dari diri orang tua selaku contoh bagi mereka. Janganlah orang tua enggan mengucapkan kata maaf ketika bersalah dan memaafkan jika anak berbuat salah. Lalu bimbinglah anak agar membersihkan hati dari sifat iri dan dengki kepada sesama, terlebih kepada saudara sendiri. Saat Anda pergi dengan si kakak dan mampir ke suatu toko, sampaikan kepadanya untuk membelikan jajan buat adiknya. Begitu pula sebaliknya ketika adik sedang makan sesuatu, ingatkan dia agar jangan lupa membagi untuk sang kakak. Satu hal juga yang harus diwaspadai oleh para orang tua adalah dalam hal pemberian kepada anak-anaknya. Orang tua harus bersikap adil. Dalam arti jika salah satu anak diberi hadiah, maka yang lainnya pun perlu untuk diberi pula. Walaupun tidak mesti harus sama bentuk dan nominalnya. Sebab jika tidak adil maka hal itu akan menimbulkan kecemburuan antar saudara. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Rabi’ul Tsani 1436 / 16 Februari 2015 * Diringkas dan disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 109) dan berbagai sumber lainnya. Download Makalah “Anak dan Sifat Lapang Dada” Disini PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
16FebAnak dan Sifat Lapang DadaFebruary 16, 2015Keluarga Islami Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 48 ANAK DAN SIFAT LAPANG DADA*   Salah satu akhlak terpuji yang akan memberikan jalan kebaikan bagi jiwa untuk sampai kepada puncaknya, adalah sifat lapang dada dan tidak dengki serta mudah untuk memaafkan orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“ Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil“. QS. Al-A’râf (7): 199. Memaafkan tidak identik dengan kehinaan dan ketidakberdayaan. Bahkan sifat memaafkan merupakan cermin kebesaran jiwa dan kekuatan hati, serta lapang dada. Sebab, pada dasarnya ada kesanggupan untuk membalas. Sikap yang baik ini, akan menunjukkan rasa kebesaran jiwa, yaitu menumbuhkan ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan keperkasaan jiwa, yang tidak akan dijumpai tatkala melampiaskan api dendam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا“ “Tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan kemudahan untuk memaafkan kecuali Allah akan memberinya kemuliaan”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Dengan demikian, orang yang berakal seharusnya mengamalkan nasihat Ibnu Hibban rahimahullah dalam Raudhatul-‘Uqalâ`, “Betapa pentingnya seseorang melatih diri untuk berlapang dada terhadap kesalahan orang lain dan tidak membalasnya dengan kejelekan. Karena, tidak ada obat yang paling efektif dalam meredam kejahatan orang lain melebihi perbuatan yang baik kepadanya. Dan, tidak ada faktor yang mampu menyulut kejahatan, melebihi melakukan kejahatan serupa”. Sikap lapang dada juga akan mewujudkan keseimbangan jiwa dan membiasakannya untuk mencintai kebaikan bagi orang lain. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“ “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian; hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri”. HR. Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Mulai dari Orang Tua Untuk menanamkan sifat mulia ini pada anak, tentu harus dimulai dari diri orang tua selaku contoh bagi mereka. Janganlah orang tua enggan mengucapkan kata maaf ketika bersalah dan memaafkan jika anak berbuat salah. Lalu bimbinglah anak agar membersihkan hati dari sifat iri dan dengki kepada sesama, terlebih kepada saudara sendiri. Saat Anda pergi dengan si kakak dan mampir ke suatu toko, sampaikan kepadanya untuk membelikan jajan buat adiknya. Begitu pula sebaliknya ketika adik sedang makan sesuatu, ingatkan dia agar jangan lupa membagi untuk sang kakak. Satu hal juga yang harus diwaspadai oleh para orang tua adalah dalam hal pemberian kepada anak-anaknya. Orang tua harus bersikap adil. Dalam arti jika salah satu anak diberi hadiah, maka yang lainnya pun perlu untuk diberi pula. Walaupun tidak mesti harus sama bentuk dan nominalnya. Sebab jika tidak adil maka hal itu akan menimbulkan kecemburuan antar saudara. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Rabi’ul Tsani 1436 / 16 Februari 2015 * Diringkas dan disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 109) dan berbagai sumber lainnya. Download Makalah “Anak dan Sifat Lapang Dada” Disini PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


16FebAnak dan Sifat Lapang DadaFebruary 16, 2015Keluarga Islami Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 48 ANAK DAN SIFAT LAPANG DADA*   Salah satu akhlak terpuji yang akan memberikan jalan kebaikan bagi jiwa untuk sampai kepada puncaknya, adalah sifat lapang dada dan tidak dengki serta mudah untuk memaafkan orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“ Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil“. QS. Al-A’râf (7): 199. Memaafkan tidak identik dengan kehinaan dan ketidakberdayaan. Bahkan sifat memaafkan merupakan cermin kebesaran jiwa dan kekuatan hati, serta lapang dada. Sebab, pada dasarnya ada kesanggupan untuk membalas. Sikap yang baik ini, akan menunjukkan rasa kebesaran jiwa, yaitu menumbuhkan ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan keperkasaan jiwa, yang tidak akan dijumpai tatkala melampiaskan api dendam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا“ “Tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan kemudahan untuk memaafkan kecuali Allah akan memberinya kemuliaan”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Dengan demikian, orang yang berakal seharusnya mengamalkan nasihat Ibnu Hibban rahimahullah dalam Raudhatul-‘Uqalâ`, “Betapa pentingnya seseorang melatih diri untuk berlapang dada terhadap kesalahan orang lain dan tidak membalasnya dengan kejelekan. Karena, tidak ada obat yang paling efektif dalam meredam kejahatan orang lain melebihi perbuatan yang baik kepadanya. Dan, tidak ada faktor yang mampu menyulut kejahatan, melebihi melakukan kejahatan serupa”. Sikap lapang dada juga akan mewujudkan keseimbangan jiwa dan membiasakannya untuk mencintai kebaikan bagi orang lain. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“ “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian; hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri”. HR. Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Mulai dari Orang Tua Untuk menanamkan sifat mulia ini pada anak, tentu harus dimulai dari diri orang tua selaku contoh bagi mereka. Janganlah orang tua enggan mengucapkan kata maaf ketika bersalah dan memaafkan jika anak berbuat salah. Lalu bimbinglah anak agar membersihkan hati dari sifat iri dan dengki kepada sesama, terlebih kepada saudara sendiri. Saat Anda pergi dengan si kakak dan mampir ke suatu toko, sampaikan kepadanya untuk membelikan jajan buat adiknya. Begitu pula sebaliknya ketika adik sedang makan sesuatu, ingatkan dia agar jangan lupa membagi untuk sang kakak. Satu hal juga yang harus diwaspadai oleh para orang tua adalah dalam hal pemberian kepada anak-anaknya. Orang tua harus bersikap adil. Dalam arti jika salah satu anak diberi hadiah, maka yang lainnya pun perlu untuk diberi pula. Walaupun tidak mesti harus sama bentuk dan nominalnya. Sebab jika tidak adil maka hal itu akan menimbulkan kecemburuan antar saudara. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Rabi’ul Tsani 1436 / 16 Februari 2015 * Diringkas dan disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 109) dan berbagai sumber lainnya. Download Makalah “Anak dan Sifat Lapang Dada” Disini PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Untung atau Buntung?

15FebUntung atau Buntung?February 15, 2015Akhlak, Nasihat dan Faidah Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA   Setiap hamba yang tinggal di dunia harus siap untuk menghadapi ujian dan cobaan. Sebab itu sudah merupakan sunnatullah yang tidak mungkin bisa dihindari. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara orang yang beriman dengan yang tidak, antara orang Islam maupun orang kafir. Semuanya berpotensi untuk ditimpa ujian. Allah ta’ala berfirman, “وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“ Artinya: “Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa serta buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. QS. Al-Baqarah (2): 155. Jika memang demikian, lantas apa yang membedakan antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman saat ditimpa musibah? Bedanya: orang yang beriman untung, sedangkan yang tidak beriman akan buntung! Keuntungan orang yang beriman Orang yang beriman, walaupun ditimpa musibah, ia akan beruntung di dunia maupun akhirat. Di dunia, dia akan bersegera untuk introspeksi dan memperbaiki diri, sebab ia sadar betul bahwa musibah itu adalah akibat dari dosa-dosa yang dikerjakannya. “ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“ Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41. Dia juga akan tetap menghadapi musibah tersebut dengan hati yang tenang, karena dia yakin betul bahwa hal itu merupakan bagian dari takdir Allah. Dan takdir Allah pasti adalah yang terbaik untuknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ اللهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ “ “Sungguh Allah tidaklah menakdirkan sesuatu bagi seorang mukmin; melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth. Adapun keuntungan di akhirat adalah pahala tak terbatas yang dijanjikan untuknya. “إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“ Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10. ‘Kebuntungan’ orang yang tidak beriman Sudah jatuh, masih tertimpa tangga pula. Kira-kira begitulah perumpamaan orang-orang yang tidak beriman saat ditimpa musibah. Sudah merasa sakit karena tertimpa musibah, masih juga mereka ‘buntung’ alias rugi di dunia dan akhirat. Di dunia, mereka tidak bisa menerima musibah tersebut dengan hati yang lapang. Sehingga ia selalu hidup dalam kegundahgulanaan. Perilakunya tetap saja buruk pasca musibah. Bahkan malah ia senantiasa menjadikan orang lain sebagai kambing hitam. Sedangkan di akhirat, mereka terancam siksa Allah yang pedih karena tidak terima dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita semua orang-orang yang beruntung bukan yang buntung! @ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1435 / 2 Januari 2015 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Untung atau Buntung?

15FebUntung atau Buntung?February 15, 2015Akhlak, Nasihat dan Faidah Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA   Setiap hamba yang tinggal di dunia harus siap untuk menghadapi ujian dan cobaan. Sebab itu sudah merupakan sunnatullah yang tidak mungkin bisa dihindari. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara orang yang beriman dengan yang tidak, antara orang Islam maupun orang kafir. Semuanya berpotensi untuk ditimpa ujian. Allah ta’ala berfirman, “وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“ Artinya: “Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa serta buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. QS. Al-Baqarah (2): 155. Jika memang demikian, lantas apa yang membedakan antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman saat ditimpa musibah? Bedanya: orang yang beriman untung, sedangkan yang tidak beriman akan buntung! Keuntungan orang yang beriman Orang yang beriman, walaupun ditimpa musibah, ia akan beruntung di dunia maupun akhirat. Di dunia, dia akan bersegera untuk introspeksi dan memperbaiki diri, sebab ia sadar betul bahwa musibah itu adalah akibat dari dosa-dosa yang dikerjakannya. “ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“ Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41. Dia juga akan tetap menghadapi musibah tersebut dengan hati yang tenang, karena dia yakin betul bahwa hal itu merupakan bagian dari takdir Allah. Dan takdir Allah pasti adalah yang terbaik untuknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ اللهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ “ “Sungguh Allah tidaklah menakdirkan sesuatu bagi seorang mukmin; melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth. Adapun keuntungan di akhirat adalah pahala tak terbatas yang dijanjikan untuknya. “إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“ Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10. ‘Kebuntungan’ orang yang tidak beriman Sudah jatuh, masih tertimpa tangga pula. Kira-kira begitulah perumpamaan orang-orang yang tidak beriman saat ditimpa musibah. Sudah merasa sakit karena tertimpa musibah, masih juga mereka ‘buntung’ alias rugi di dunia dan akhirat. Di dunia, mereka tidak bisa menerima musibah tersebut dengan hati yang lapang. Sehingga ia selalu hidup dalam kegundahgulanaan. Perilakunya tetap saja buruk pasca musibah. Bahkan malah ia senantiasa menjadikan orang lain sebagai kambing hitam. Sedangkan di akhirat, mereka terancam siksa Allah yang pedih karena tidak terima dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita semua orang-orang yang beruntung bukan yang buntung! @ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1435 / 2 Januari 2015 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
15FebUntung atau Buntung?February 15, 2015Akhlak, Nasihat dan Faidah Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA   Setiap hamba yang tinggal di dunia harus siap untuk menghadapi ujian dan cobaan. Sebab itu sudah merupakan sunnatullah yang tidak mungkin bisa dihindari. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara orang yang beriman dengan yang tidak, antara orang Islam maupun orang kafir. Semuanya berpotensi untuk ditimpa ujian. Allah ta’ala berfirman, “وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“ Artinya: “Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa serta buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. QS. Al-Baqarah (2): 155. Jika memang demikian, lantas apa yang membedakan antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman saat ditimpa musibah? Bedanya: orang yang beriman untung, sedangkan yang tidak beriman akan buntung! Keuntungan orang yang beriman Orang yang beriman, walaupun ditimpa musibah, ia akan beruntung di dunia maupun akhirat. Di dunia, dia akan bersegera untuk introspeksi dan memperbaiki diri, sebab ia sadar betul bahwa musibah itu adalah akibat dari dosa-dosa yang dikerjakannya. “ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“ Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41. Dia juga akan tetap menghadapi musibah tersebut dengan hati yang tenang, karena dia yakin betul bahwa hal itu merupakan bagian dari takdir Allah. Dan takdir Allah pasti adalah yang terbaik untuknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ اللهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ “ “Sungguh Allah tidaklah menakdirkan sesuatu bagi seorang mukmin; melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth. Adapun keuntungan di akhirat adalah pahala tak terbatas yang dijanjikan untuknya. “إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“ Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10. ‘Kebuntungan’ orang yang tidak beriman Sudah jatuh, masih tertimpa tangga pula. Kira-kira begitulah perumpamaan orang-orang yang tidak beriman saat ditimpa musibah. Sudah merasa sakit karena tertimpa musibah, masih juga mereka ‘buntung’ alias rugi di dunia dan akhirat. Di dunia, mereka tidak bisa menerima musibah tersebut dengan hati yang lapang. Sehingga ia selalu hidup dalam kegundahgulanaan. Perilakunya tetap saja buruk pasca musibah. Bahkan malah ia senantiasa menjadikan orang lain sebagai kambing hitam. Sedangkan di akhirat, mereka terancam siksa Allah yang pedih karena tidak terima dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita semua orang-orang yang beruntung bukan yang buntung! @ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1435 / 2 Januari 2015 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


15FebUntung atau Buntung?February 15, 2015Akhlak, Nasihat dan Faidah Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA   Setiap hamba yang tinggal di dunia harus siap untuk menghadapi ujian dan cobaan. Sebab itu sudah merupakan sunnatullah yang tidak mungkin bisa dihindari. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara orang yang beriman dengan yang tidak, antara orang Islam maupun orang kafir. Semuanya berpotensi untuk ditimpa ujian. Allah ta’ala berfirman, “وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“ Artinya: “Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa serta buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. QS. Al-Baqarah (2): 155. Jika memang demikian, lantas apa yang membedakan antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman saat ditimpa musibah? Bedanya: orang yang beriman untung, sedangkan yang tidak beriman akan buntung! Keuntungan orang yang beriman Orang yang beriman, walaupun ditimpa musibah, ia akan beruntung di dunia maupun akhirat. Di dunia, dia akan bersegera untuk introspeksi dan memperbaiki diri, sebab ia sadar betul bahwa musibah itu adalah akibat dari dosa-dosa yang dikerjakannya. “ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“ Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41. Dia juga akan tetap menghadapi musibah tersebut dengan hati yang tenang, karena dia yakin betul bahwa hal itu merupakan bagian dari takdir Allah. Dan takdir Allah pasti adalah yang terbaik untuknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ اللهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ “ “Sungguh Allah tidaklah menakdirkan sesuatu bagi seorang mukmin; melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth. Adapun keuntungan di akhirat adalah pahala tak terbatas yang dijanjikan untuknya. “إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“ Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10. ‘Kebuntungan’ orang yang tidak beriman Sudah jatuh, masih tertimpa tangga pula. Kira-kira begitulah perumpamaan orang-orang yang tidak beriman saat ditimpa musibah. Sudah merasa sakit karena tertimpa musibah, masih juga mereka ‘buntung’ alias rugi di dunia dan akhirat. Di dunia, mereka tidak bisa menerima musibah tersebut dengan hati yang lapang. Sehingga ia selalu hidup dalam kegundahgulanaan. Perilakunya tetap saja buruk pasca musibah. Bahkan malah ia senantiasa menjadikan orang lain sebagai kambing hitam. Sedangkan di akhirat, mereka terancam siksa Allah yang pedih karena tidak terima dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita semua orang-orang yang beruntung bukan yang buntung! @ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1435 / 2 Januari 2015 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Hidup Suri

15FebHidup SuriFebruary 15, 2015Akhlak, Doa dan Dzikir Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA   Istilah yang sering kita dengar adalah mati suri. Itu merupakan sebuah istilah untuk menjuluki kondisi di mana sesorang tampaknya mati, tetapi sebenarnya masih hidup. Adapun judul di atas; hidup suri adalah kebalikan mati suri. Itu adalah istilah yang kami buat sendiri untuk menjuluki orang yang tampaknya hidup, padahal sebenarnya ia mati. Siapakah dia? Dia adalah orang yang enggan berdzikir! Perlu diketahui, bahwa selain memotivasi para hamba-Nya untuk banyak berdzikir, Allah ta’ala juga mengingatkan mereka agar tidak lalai dari berdzikir. Bahkan terkadang Allah menggabungkan antara keduanya. Antara lain dalam firman-Nya, “وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ“. Artinya: “Ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Serta janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. QS. Al-A’raf (7): 205. Kebutuhan seorang hamba kepada dzikir melebihi kebutuhan seekor ikan terhadap air, sebab dzikir merupakan sumber kehidupan hati. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam memberikan sebuah perumpamaan yang sangat buruk bagi manusia yang enggan berdzikir. Kata beliau, “مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ“. “Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dan orang yang mati”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu ’anhu. Berdasarkan keterangan di atas, hati para manusia bisa diklasifikasikan menjadi tiga jenis: Pertama: Hati yang hidup dan sehat. Adalah hati yang senantiasa dipenuhi dengan dzikrullah. Hati yang mengikhlaskan seluruh amalannya hanya untuk Allah ta’ala. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian karena Allah semata. Dalam bertindak dan berlaku, selalu yang dijadikan sebagai patokan adalah keridaan Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam bukan yang lain. Kedua: Hati yang mati. Adalah hati yang kosong dari dzikrullah. Hati yang tidak mengenal Rabbnya, tidak beribadah pada-Nya, tidak menjalankan perintah-Nya maupun menjauhi larangan-Nya. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian semata karena menuruti hawa nafsunya. Ketiga: Hati yang sakit. Adalah hati yang masih hidup namun menderita penyakit. Tergantung unsur mana yang lebih dominan. Terkadang penyakitnya berkurang karena porsi dzikirnya ia tingkatkan. Namun seringkali, penyakitnya semakin parah, karena terlalu lama tidak berdzikir, sehingga hampir-hampir ia mati. Hati pertama adalah hati yang subur dan lembut. Hati kedua adalah hati yang tandus dan mati. Hati ketiga adalah hati yang sakit, kadangkala mendekati kesembuhan dan tidak jarang pula mendekati kematian. Nomor berapakah hati kita? @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1433 / 12 Maret 2012 * )Kandungan makalah ini disarikan dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/52-59). activate javascript PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Hidup Suri

15FebHidup SuriFebruary 15, 2015Akhlak, Doa dan Dzikir Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA   Istilah yang sering kita dengar adalah mati suri. Itu merupakan sebuah istilah untuk menjuluki kondisi di mana sesorang tampaknya mati, tetapi sebenarnya masih hidup. Adapun judul di atas; hidup suri adalah kebalikan mati suri. Itu adalah istilah yang kami buat sendiri untuk menjuluki orang yang tampaknya hidup, padahal sebenarnya ia mati. Siapakah dia? Dia adalah orang yang enggan berdzikir! Perlu diketahui, bahwa selain memotivasi para hamba-Nya untuk banyak berdzikir, Allah ta’ala juga mengingatkan mereka agar tidak lalai dari berdzikir. Bahkan terkadang Allah menggabungkan antara keduanya. Antara lain dalam firman-Nya, “وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ“. Artinya: “Ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Serta janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. QS. Al-A’raf (7): 205. Kebutuhan seorang hamba kepada dzikir melebihi kebutuhan seekor ikan terhadap air, sebab dzikir merupakan sumber kehidupan hati. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam memberikan sebuah perumpamaan yang sangat buruk bagi manusia yang enggan berdzikir. Kata beliau, “مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ“. “Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dan orang yang mati”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu ’anhu. Berdasarkan keterangan di atas, hati para manusia bisa diklasifikasikan menjadi tiga jenis: Pertama: Hati yang hidup dan sehat. Adalah hati yang senantiasa dipenuhi dengan dzikrullah. Hati yang mengikhlaskan seluruh amalannya hanya untuk Allah ta’ala. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian karena Allah semata. Dalam bertindak dan berlaku, selalu yang dijadikan sebagai patokan adalah keridaan Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam bukan yang lain. Kedua: Hati yang mati. Adalah hati yang kosong dari dzikrullah. Hati yang tidak mengenal Rabbnya, tidak beribadah pada-Nya, tidak menjalankan perintah-Nya maupun menjauhi larangan-Nya. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian semata karena menuruti hawa nafsunya. Ketiga: Hati yang sakit. Adalah hati yang masih hidup namun menderita penyakit. Tergantung unsur mana yang lebih dominan. Terkadang penyakitnya berkurang karena porsi dzikirnya ia tingkatkan. Namun seringkali, penyakitnya semakin parah, karena terlalu lama tidak berdzikir, sehingga hampir-hampir ia mati. Hati pertama adalah hati yang subur dan lembut. Hati kedua adalah hati yang tandus dan mati. Hati ketiga adalah hati yang sakit, kadangkala mendekati kesembuhan dan tidak jarang pula mendekati kematian. Nomor berapakah hati kita? @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1433 / 12 Maret 2012 * )Kandungan makalah ini disarikan dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/52-59). activate javascript PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
15FebHidup SuriFebruary 15, 2015Akhlak, Doa dan Dzikir Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA   Istilah yang sering kita dengar adalah mati suri. Itu merupakan sebuah istilah untuk menjuluki kondisi di mana sesorang tampaknya mati, tetapi sebenarnya masih hidup. Adapun judul di atas; hidup suri adalah kebalikan mati suri. Itu adalah istilah yang kami buat sendiri untuk menjuluki orang yang tampaknya hidup, padahal sebenarnya ia mati. Siapakah dia? Dia adalah orang yang enggan berdzikir! Perlu diketahui, bahwa selain memotivasi para hamba-Nya untuk banyak berdzikir, Allah ta’ala juga mengingatkan mereka agar tidak lalai dari berdzikir. Bahkan terkadang Allah menggabungkan antara keduanya. Antara lain dalam firman-Nya, “وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ“. Artinya: “Ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Serta janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. QS. Al-A’raf (7): 205. Kebutuhan seorang hamba kepada dzikir melebihi kebutuhan seekor ikan terhadap air, sebab dzikir merupakan sumber kehidupan hati. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam memberikan sebuah perumpamaan yang sangat buruk bagi manusia yang enggan berdzikir. Kata beliau, “مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ“. “Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dan orang yang mati”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu ’anhu. Berdasarkan keterangan di atas, hati para manusia bisa diklasifikasikan menjadi tiga jenis: Pertama: Hati yang hidup dan sehat. Adalah hati yang senantiasa dipenuhi dengan dzikrullah. Hati yang mengikhlaskan seluruh amalannya hanya untuk Allah ta’ala. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian karena Allah semata. Dalam bertindak dan berlaku, selalu yang dijadikan sebagai patokan adalah keridaan Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam bukan yang lain. Kedua: Hati yang mati. Adalah hati yang kosong dari dzikrullah. Hati yang tidak mengenal Rabbnya, tidak beribadah pada-Nya, tidak menjalankan perintah-Nya maupun menjauhi larangan-Nya. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian semata karena menuruti hawa nafsunya. Ketiga: Hati yang sakit. Adalah hati yang masih hidup namun menderita penyakit. Tergantung unsur mana yang lebih dominan. Terkadang penyakitnya berkurang karena porsi dzikirnya ia tingkatkan. Namun seringkali, penyakitnya semakin parah, karena terlalu lama tidak berdzikir, sehingga hampir-hampir ia mati. Hati pertama adalah hati yang subur dan lembut. Hati kedua adalah hati yang tandus dan mati. Hati ketiga adalah hati yang sakit, kadangkala mendekati kesembuhan dan tidak jarang pula mendekati kematian. Nomor berapakah hati kita? @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1433 / 12 Maret 2012 * )Kandungan makalah ini disarikan dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/52-59). activate javascript PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


15FebHidup SuriFebruary 15, 2015Akhlak, Doa dan Dzikir Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA   Istilah yang sering kita dengar adalah mati suri. Itu merupakan sebuah istilah untuk menjuluki kondisi di mana sesorang tampaknya mati, tetapi sebenarnya masih hidup. Adapun judul di atas; hidup suri adalah kebalikan mati suri. Itu adalah istilah yang kami buat sendiri untuk menjuluki orang yang tampaknya hidup, padahal sebenarnya ia mati. Siapakah dia? Dia adalah orang yang enggan berdzikir! Perlu diketahui, bahwa selain memotivasi para hamba-Nya untuk banyak berdzikir, Allah ta’ala juga mengingatkan mereka agar tidak lalai dari berdzikir. Bahkan terkadang Allah menggabungkan antara keduanya. Antara lain dalam firman-Nya, “وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ“. Artinya: “Ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Serta janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. QS. Al-A’raf (7): 205. Kebutuhan seorang hamba kepada dzikir melebihi kebutuhan seekor ikan terhadap air, sebab dzikir merupakan sumber kehidupan hati. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam memberikan sebuah perumpamaan yang sangat buruk bagi manusia yang enggan berdzikir. Kata beliau, “مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ“. “Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dan orang yang mati”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu ’anhu. Berdasarkan keterangan di atas, hati para manusia bisa diklasifikasikan menjadi tiga jenis: Pertama: Hati yang hidup dan sehat. Adalah hati yang senantiasa dipenuhi dengan dzikrullah. Hati yang mengikhlaskan seluruh amalannya hanya untuk Allah ta’ala. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian karena Allah semata. Dalam bertindak dan berlaku, selalu yang dijadikan sebagai patokan adalah keridaan Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam bukan yang lain. Kedua: Hati yang mati. Adalah hati yang kosong dari dzikrullah. Hati yang tidak mengenal Rabbnya, tidak beribadah pada-Nya, tidak menjalankan perintah-Nya maupun menjauhi larangan-Nya. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian semata karena menuruti hawa nafsunya. Ketiga: Hati yang sakit. Adalah hati yang masih hidup namun menderita penyakit. Tergantung unsur mana yang lebih dominan. Terkadang penyakitnya berkurang karena porsi dzikirnya ia tingkatkan. Namun seringkali, penyakitnya semakin parah, karena terlalu lama tidak berdzikir, sehingga hampir-hampir ia mati. Hati pertama adalah hati yang subur dan lembut. Hati kedua adalah hati yang tandus dan mati. Hati ketiga adalah hati yang sakit, kadangkala mendekati kesembuhan dan tidak jarang pula mendekati kematian. Nomor berapakah hati kita? @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1433 / 12 Maret 2012 * )Kandungan makalah ini disarikan dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/52-59). activate javascript PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

12 Bentuk Kezaliman pada Harta Orang Lain

Ternyata kezaliman pada harta orang ada beberapa bentuk yang ini sudah dibahas atau diulas oleh para ulama di masa silam. Beberapa bentuknya ada pula di zaman ini. Ketika Imam Adz Dzahabi membahas dalam kitab Al Kabair pada Dosa Besar no. 20: Kezaliman mengambil harta orang lain dengan cara yang batil. Lihat Al Kabair hal. 53-55. Apa saja bentuk kezaliman dalam harta, yaitu mengambil harta orang lain dengan cara yang batil? Pemungut liar Perampok jalanan Pencuri (mengambil harta orang lain yang sudah ia beri pengamanan) Pengangguran yang mengemis dari orang lain Pengkhianat Penipu Orang yang meminjam sesuatu lalu mengingkarinya Berbuat curang dalam timbangan atau takaran Mengambil barang temuan (yang berharga) yang tidak mempublikasikannya lebih dahulu Menjual sesuatu yang memiliki ‘aib dan disembunyikan cacatnya Berjudi (bertaruh) Memberitahukan harga modal lebih dengan maksud membohongi pembeli Itu 12 bentuk mengambil harta orang lain dengan jalan yang tidak benar. Sebagian besarnya sudah pernah kami bahas di Muslim.Or.Id maupun Rumaysho.Com (silakan klik link di atas). Sebagian lainnya insya Allah akan menyusul untuk dibahas. Semoga Allah mudahkan.   Referensi: Al Kabair, Al Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz Dzahabi, terbitan Maktabah Darul Bayan, cetakan kelima, tahun 1418 H. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul di Darush Sholihin, 25 Rabi’ul Akhir 1436 H Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsdosa besar pengemis

12 Bentuk Kezaliman pada Harta Orang Lain

Ternyata kezaliman pada harta orang ada beberapa bentuk yang ini sudah dibahas atau diulas oleh para ulama di masa silam. Beberapa bentuknya ada pula di zaman ini. Ketika Imam Adz Dzahabi membahas dalam kitab Al Kabair pada Dosa Besar no. 20: Kezaliman mengambil harta orang lain dengan cara yang batil. Lihat Al Kabair hal. 53-55. Apa saja bentuk kezaliman dalam harta, yaitu mengambil harta orang lain dengan cara yang batil? Pemungut liar Perampok jalanan Pencuri (mengambil harta orang lain yang sudah ia beri pengamanan) Pengangguran yang mengemis dari orang lain Pengkhianat Penipu Orang yang meminjam sesuatu lalu mengingkarinya Berbuat curang dalam timbangan atau takaran Mengambil barang temuan (yang berharga) yang tidak mempublikasikannya lebih dahulu Menjual sesuatu yang memiliki ‘aib dan disembunyikan cacatnya Berjudi (bertaruh) Memberitahukan harga modal lebih dengan maksud membohongi pembeli Itu 12 bentuk mengambil harta orang lain dengan jalan yang tidak benar. Sebagian besarnya sudah pernah kami bahas di Muslim.Or.Id maupun Rumaysho.Com (silakan klik link di atas). Sebagian lainnya insya Allah akan menyusul untuk dibahas. Semoga Allah mudahkan.   Referensi: Al Kabair, Al Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz Dzahabi, terbitan Maktabah Darul Bayan, cetakan kelima, tahun 1418 H. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul di Darush Sholihin, 25 Rabi’ul Akhir 1436 H Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsdosa besar pengemis
Ternyata kezaliman pada harta orang ada beberapa bentuk yang ini sudah dibahas atau diulas oleh para ulama di masa silam. Beberapa bentuknya ada pula di zaman ini. Ketika Imam Adz Dzahabi membahas dalam kitab Al Kabair pada Dosa Besar no. 20: Kezaliman mengambil harta orang lain dengan cara yang batil. Lihat Al Kabair hal. 53-55. Apa saja bentuk kezaliman dalam harta, yaitu mengambil harta orang lain dengan cara yang batil? Pemungut liar Perampok jalanan Pencuri (mengambil harta orang lain yang sudah ia beri pengamanan) Pengangguran yang mengemis dari orang lain Pengkhianat Penipu Orang yang meminjam sesuatu lalu mengingkarinya Berbuat curang dalam timbangan atau takaran Mengambil barang temuan (yang berharga) yang tidak mempublikasikannya lebih dahulu Menjual sesuatu yang memiliki ‘aib dan disembunyikan cacatnya Berjudi (bertaruh) Memberitahukan harga modal lebih dengan maksud membohongi pembeli Itu 12 bentuk mengambil harta orang lain dengan jalan yang tidak benar. Sebagian besarnya sudah pernah kami bahas di Muslim.Or.Id maupun Rumaysho.Com (silakan klik link di atas). Sebagian lainnya insya Allah akan menyusul untuk dibahas. Semoga Allah mudahkan.   Referensi: Al Kabair, Al Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz Dzahabi, terbitan Maktabah Darul Bayan, cetakan kelima, tahun 1418 H. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul di Darush Sholihin, 25 Rabi’ul Akhir 1436 H Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsdosa besar pengemis


Ternyata kezaliman pada harta orang ada beberapa bentuk yang ini sudah dibahas atau diulas oleh para ulama di masa silam. Beberapa bentuknya ada pula di zaman ini. Ketika Imam Adz Dzahabi membahas dalam kitab Al Kabair pada Dosa Besar no. 20: Kezaliman mengambil harta orang lain dengan cara yang batil. Lihat Al Kabair hal. 53-55. Apa saja bentuk kezaliman dalam harta, yaitu mengambil harta orang lain dengan cara yang batil? Pemungut liar Perampok jalanan Pencuri (mengambil harta orang lain yang sudah ia beri pengamanan) Pengangguran yang mengemis dari orang lain Pengkhianat Penipu Orang yang meminjam sesuatu lalu mengingkarinya Berbuat curang dalam timbangan atau takaran Mengambil barang temuan (yang berharga) yang tidak mempublikasikannya lebih dahulu Menjual sesuatu yang memiliki ‘aib dan disembunyikan cacatnya Berjudi (bertaruh) Memberitahukan harga modal lebih dengan maksud membohongi pembeli Itu 12 bentuk mengambil harta orang lain dengan jalan yang tidak benar. Sebagian besarnya sudah pernah kami bahas di Muslim.Or.Id maupun Rumaysho.Com (silakan klik link di atas). Sebagian lainnya insya Allah akan menyusul untuk dibahas. Semoga Allah mudahkan.   Referensi: Al Kabair, Al Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz Dzahabi, terbitan Maktabah Darul Bayan, cetakan kelima, tahun 1418 H. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul di Darush Sholihin, 25 Rabi’ul Akhir 1436 H Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsdosa besar pengemis

Pre Order Buku Terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak

Segera lakukan pre order untuk buku terbaru dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yang isinya membedah ritual pesugihan di tanah air. Ayo segera! Sugih berarti kaya dan pesugihan identik dengan mencari kekayaan. Yang diinginkan adalah kaya mendadak (instan). Yang dilakukan dalam ritual pesugihan adalah ritual yang tidak benar, bisa jadi amalan yang mengada-ada yang diamalkan atau dirutinkan, ada yang dengan bermaksiat, bahkan ada pula yang dengan menerjang dosa syirik. Karena yang namanya setan sangat cinta sekali dengan pelaku kesyirikan, amalan yang mengada-ada dan maksiat sehingga mudahlah datang kekayaan dengan wasilah tersebut. Buku ini sengaja mengupas berbagai ritual pesugihan yang ada di tanah air. Yang kebanyakan kami ungkit adalah di pulau Jawa, tidak dipungkiri masih banyak pula di tempat lainnya. Penyimpangan umum dari ritual yang dilakukan dalam pesugihan dibedah dalam buku sederhana ini. Semuanya bertujuan untuk memahamkan masyarakat pada akidah yang benar. Pre Order: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Jika buku tersebut telah terbit akan diberitahu. Segera lakukan pre order, Anda yang lebih diprioritaskan sebelum buku tersebut laris habis. — Info Toko Online Ruwaifi.Com Tagsbuku terbaru pesugihan

Pre Order Buku Terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak

Segera lakukan pre order untuk buku terbaru dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yang isinya membedah ritual pesugihan di tanah air. Ayo segera! Sugih berarti kaya dan pesugihan identik dengan mencari kekayaan. Yang diinginkan adalah kaya mendadak (instan). Yang dilakukan dalam ritual pesugihan adalah ritual yang tidak benar, bisa jadi amalan yang mengada-ada yang diamalkan atau dirutinkan, ada yang dengan bermaksiat, bahkan ada pula yang dengan menerjang dosa syirik. Karena yang namanya setan sangat cinta sekali dengan pelaku kesyirikan, amalan yang mengada-ada dan maksiat sehingga mudahlah datang kekayaan dengan wasilah tersebut. Buku ini sengaja mengupas berbagai ritual pesugihan yang ada di tanah air. Yang kebanyakan kami ungkit adalah di pulau Jawa, tidak dipungkiri masih banyak pula di tempat lainnya. Penyimpangan umum dari ritual yang dilakukan dalam pesugihan dibedah dalam buku sederhana ini. Semuanya bertujuan untuk memahamkan masyarakat pada akidah yang benar. Pre Order: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Jika buku tersebut telah terbit akan diberitahu. Segera lakukan pre order, Anda yang lebih diprioritaskan sebelum buku tersebut laris habis. — Info Toko Online Ruwaifi.Com Tagsbuku terbaru pesugihan
Segera lakukan pre order untuk buku terbaru dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yang isinya membedah ritual pesugihan di tanah air. Ayo segera! Sugih berarti kaya dan pesugihan identik dengan mencari kekayaan. Yang diinginkan adalah kaya mendadak (instan). Yang dilakukan dalam ritual pesugihan adalah ritual yang tidak benar, bisa jadi amalan yang mengada-ada yang diamalkan atau dirutinkan, ada yang dengan bermaksiat, bahkan ada pula yang dengan menerjang dosa syirik. Karena yang namanya setan sangat cinta sekali dengan pelaku kesyirikan, amalan yang mengada-ada dan maksiat sehingga mudahlah datang kekayaan dengan wasilah tersebut. Buku ini sengaja mengupas berbagai ritual pesugihan yang ada di tanah air. Yang kebanyakan kami ungkit adalah di pulau Jawa, tidak dipungkiri masih banyak pula di tempat lainnya. Penyimpangan umum dari ritual yang dilakukan dalam pesugihan dibedah dalam buku sederhana ini. Semuanya bertujuan untuk memahamkan masyarakat pada akidah yang benar. Pre Order: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Jika buku tersebut telah terbit akan diberitahu. Segera lakukan pre order, Anda yang lebih diprioritaskan sebelum buku tersebut laris habis. — Info Toko Online Ruwaifi.Com Tagsbuku terbaru pesugihan


Segera lakukan pre order untuk buku terbaru dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yang isinya membedah ritual pesugihan di tanah air. Ayo segera! Sugih berarti kaya dan pesugihan identik dengan mencari kekayaan. Yang diinginkan adalah kaya mendadak (instan). Yang dilakukan dalam ritual pesugihan adalah ritual yang tidak benar, bisa jadi amalan yang mengada-ada yang diamalkan atau dirutinkan, ada yang dengan bermaksiat, bahkan ada pula yang dengan menerjang dosa syirik. Karena yang namanya setan sangat cinta sekali dengan pelaku kesyirikan, amalan yang mengada-ada dan maksiat sehingga mudahlah datang kekayaan dengan wasilah tersebut. Buku ini sengaja mengupas berbagai ritual pesugihan yang ada di tanah air. Yang kebanyakan kami ungkit adalah di pulau Jawa, tidak dipungkiri masih banyak pula di tempat lainnya. Penyimpangan umum dari ritual yang dilakukan dalam pesugihan dibedah dalam buku sederhana ini. Semuanya bertujuan untuk memahamkan masyarakat pada akidah yang benar. Pre Order: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Jika buku tersebut telah terbit akan diberitahu. Segera lakukan pre order, Anda yang lebih diprioritaskan sebelum buku tersebut laris habis. — Info Toko Online Ruwaifi.Com Tagsbuku terbaru pesugihan

Hubungan Mesra Setelah Lamaran Sebelum Akad

Sudahkah halal hubungan laki-laki dengan wanita setelah lamaran atau peminangan? Ada suatu tradisi di sebagian tempat di Jawa yang disebut nyantri. Yang dimaksud nyantri di sebagian tempat adalah nginapnya calon pengantin pria di tempat perempuan. Ada yang bisa jadi berdua-duaan terus dengan calon pengantin perempuan. Ada yang barangkali terpisah namun masih satu rumah. Syaikh Prof. Dr. Mustofa Al Bugho –ulama Syafi’iyah di zaman ini- menyatakan bahwa ada tradisi yang menyebar di tengah kaum muslimin di mana calon pengantin pria dan wanita saling berdua-duaan setelah peminangan. Tujuannya adalah untuk saling mengenal satu dan lainnya, untuk mengenal akhlak dan tabi’at masing-masing. Namun sebenarnya yang ditampakkan itu bersifat subjektif. Karena biasanya yang nampak direka-reka atau dibuat-buat. Keduanya pura-pura baik, berpura-pura lembut, berpura-pura saling perhatian. Beda halnya jika orang lain yang menilai karakternya, dari keluarga atau teman dekat calon pasangan. Jelas yang terakhir ini lebih objektif. Intinya, kata Syaikh Al Bugho hubungan berdua-duaan seperti itu sebelum terjadinya akad, termasuk perkara yang diharamkan. Syari’at Islam yang suci ini tak merestuinya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ “Janganlah berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341) Beliau juga menyinggung bahwa seorang gadis tentu saja tidak menampakkan dirinya di hadapan pria setelah dikhitbah (dipinang) hingga akad nikah telah sempurna diikrarkan. Karena yang wajib dipikirkan adalah ke depannya. Yang harus dipikir akibat di depan yaitu jika yang mengkhitbah ini ternyata membatalkan lamarannya (khitbahnya), nanti setelah itu ada laki-laki lain yang bisa melamarnya kembali. Laki-laki yang baru ini akan menyesal jika tahu hubungan yang dahulu ada yang sangat dekat. Namun jika akad nikah sudah berlangsung, maka halal-lah untuk berdua-duaan. Karena ketika itu sudah menjadi pasangan yang legal. Keduanya bisa saling melihat satu dan lainnya, tanpa ada dosa dan larangan. Dari penjelasan ulama Syafi’iyah di atas, silakan kita berpikir bagaimanakah hubungan tak legal dalam pacaran saat ini. Padahal belum ada akad, belum ada status apa-apa. Hubungan setelah wanita dipinang saja tetap belum halal. Barulah halal setelah akad nikah itu berlangsung. Mau status legal ataukah tidak? Silakan dipikirkan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabi Al Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Bughi, Dr. Musthofa Al Khin, ‘Ali Asy Syarjiy, terbitan Darul Qalam, cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 24 Rabi’ul Akhir 1436 H Yang mencintaimu karena Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang membicarakan hukum interaksi dengan non muslim dengan judul “Kesetiaan pada Non Muslim” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2B044CC3 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku kesetiaan non muslim#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagspacaran pacaran islami

Hubungan Mesra Setelah Lamaran Sebelum Akad

Sudahkah halal hubungan laki-laki dengan wanita setelah lamaran atau peminangan? Ada suatu tradisi di sebagian tempat di Jawa yang disebut nyantri. Yang dimaksud nyantri di sebagian tempat adalah nginapnya calon pengantin pria di tempat perempuan. Ada yang bisa jadi berdua-duaan terus dengan calon pengantin perempuan. Ada yang barangkali terpisah namun masih satu rumah. Syaikh Prof. Dr. Mustofa Al Bugho –ulama Syafi’iyah di zaman ini- menyatakan bahwa ada tradisi yang menyebar di tengah kaum muslimin di mana calon pengantin pria dan wanita saling berdua-duaan setelah peminangan. Tujuannya adalah untuk saling mengenal satu dan lainnya, untuk mengenal akhlak dan tabi’at masing-masing. Namun sebenarnya yang ditampakkan itu bersifat subjektif. Karena biasanya yang nampak direka-reka atau dibuat-buat. Keduanya pura-pura baik, berpura-pura lembut, berpura-pura saling perhatian. Beda halnya jika orang lain yang menilai karakternya, dari keluarga atau teman dekat calon pasangan. Jelas yang terakhir ini lebih objektif. Intinya, kata Syaikh Al Bugho hubungan berdua-duaan seperti itu sebelum terjadinya akad, termasuk perkara yang diharamkan. Syari’at Islam yang suci ini tak merestuinya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ “Janganlah berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341) Beliau juga menyinggung bahwa seorang gadis tentu saja tidak menampakkan dirinya di hadapan pria setelah dikhitbah (dipinang) hingga akad nikah telah sempurna diikrarkan. Karena yang wajib dipikirkan adalah ke depannya. Yang harus dipikir akibat di depan yaitu jika yang mengkhitbah ini ternyata membatalkan lamarannya (khitbahnya), nanti setelah itu ada laki-laki lain yang bisa melamarnya kembali. Laki-laki yang baru ini akan menyesal jika tahu hubungan yang dahulu ada yang sangat dekat. Namun jika akad nikah sudah berlangsung, maka halal-lah untuk berdua-duaan. Karena ketika itu sudah menjadi pasangan yang legal. Keduanya bisa saling melihat satu dan lainnya, tanpa ada dosa dan larangan. Dari penjelasan ulama Syafi’iyah di atas, silakan kita berpikir bagaimanakah hubungan tak legal dalam pacaran saat ini. Padahal belum ada akad, belum ada status apa-apa. Hubungan setelah wanita dipinang saja tetap belum halal. Barulah halal setelah akad nikah itu berlangsung. Mau status legal ataukah tidak? Silakan dipikirkan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabi Al Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Bughi, Dr. Musthofa Al Khin, ‘Ali Asy Syarjiy, terbitan Darul Qalam, cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 24 Rabi’ul Akhir 1436 H Yang mencintaimu karena Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang membicarakan hukum interaksi dengan non muslim dengan judul “Kesetiaan pada Non Muslim” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2B044CC3 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku kesetiaan non muslim#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagspacaran pacaran islami
Sudahkah halal hubungan laki-laki dengan wanita setelah lamaran atau peminangan? Ada suatu tradisi di sebagian tempat di Jawa yang disebut nyantri. Yang dimaksud nyantri di sebagian tempat adalah nginapnya calon pengantin pria di tempat perempuan. Ada yang bisa jadi berdua-duaan terus dengan calon pengantin perempuan. Ada yang barangkali terpisah namun masih satu rumah. Syaikh Prof. Dr. Mustofa Al Bugho –ulama Syafi’iyah di zaman ini- menyatakan bahwa ada tradisi yang menyebar di tengah kaum muslimin di mana calon pengantin pria dan wanita saling berdua-duaan setelah peminangan. Tujuannya adalah untuk saling mengenal satu dan lainnya, untuk mengenal akhlak dan tabi’at masing-masing. Namun sebenarnya yang ditampakkan itu bersifat subjektif. Karena biasanya yang nampak direka-reka atau dibuat-buat. Keduanya pura-pura baik, berpura-pura lembut, berpura-pura saling perhatian. Beda halnya jika orang lain yang menilai karakternya, dari keluarga atau teman dekat calon pasangan. Jelas yang terakhir ini lebih objektif. Intinya, kata Syaikh Al Bugho hubungan berdua-duaan seperti itu sebelum terjadinya akad, termasuk perkara yang diharamkan. Syari’at Islam yang suci ini tak merestuinya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ “Janganlah berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341) Beliau juga menyinggung bahwa seorang gadis tentu saja tidak menampakkan dirinya di hadapan pria setelah dikhitbah (dipinang) hingga akad nikah telah sempurna diikrarkan. Karena yang wajib dipikirkan adalah ke depannya. Yang harus dipikir akibat di depan yaitu jika yang mengkhitbah ini ternyata membatalkan lamarannya (khitbahnya), nanti setelah itu ada laki-laki lain yang bisa melamarnya kembali. Laki-laki yang baru ini akan menyesal jika tahu hubungan yang dahulu ada yang sangat dekat. Namun jika akad nikah sudah berlangsung, maka halal-lah untuk berdua-duaan. Karena ketika itu sudah menjadi pasangan yang legal. Keduanya bisa saling melihat satu dan lainnya, tanpa ada dosa dan larangan. Dari penjelasan ulama Syafi’iyah di atas, silakan kita berpikir bagaimanakah hubungan tak legal dalam pacaran saat ini. Padahal belum ada akad, belum ada status apa-apa. Hubungan setelah wanita dipinang saja tetap belum halal. Barulah halal setelah akad nikah itu berlangsung. Mau status legal ataukah tidak? Silakan dipikirkan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabi Al Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Bughi, Dr. Musthofa Al Khin, ‘Ali Asy Syarjiy, terbitan Darul Qalam, cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 24 Rabi’ul Akhir 1436 H Yang mencintaimu karena Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang membicarakan hukum interaksi dengan non muslim dengan judul “Kesetiaan pada Non Muslim” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2B044CC3 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku kesetiaan non muslim#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagspacaran pacaran islami


Sudahkah halal hubungan laki-laki dengan wanita setelah lamaran atau peminangan? Ada suatu tradisi di sebagian tempat di Jawa yang disebut nyantri. Yang dimaksud nyantri di sebagian tempat adalah nginapnya calon pengantin pria di tempat perempuan. Ada yang bisa jadi berdua-duaan terus dengan calon pengantin perempuan. Ada yang barangkali terpisah namun masih satu rumah. Syaikh Prof. Dr. Mustofa Al Bugho –ulama Syafi’iyah di zaman ini- menyatakan bahwa ada tradisi yang menyebar di tengah kaum muslimin di mana calon pengantin pria dan wanita saling berdua-duaan setelah peminangan. Tujuannya adalah untuk saling mengenal satu dan lainnya, untuk mengenal akhlak dan tabi’at masing-masing. Namun sebenarnya yang ditampakkan itu bersifat subjektif. Karena biasanya yang nampak direka-reka atau dibuat-buat. Keduanya pura-pura baik, berpura-pura lembut, berpura-pura saling perhatian. Beda halnya jika orang lain yang menilai karakternya, dari keluarga atau teman dekat calon pasangan. Jelas yang terakhir ini lebih objektif. Intinya, kata Syaikh Al Bugho hubungan berdua-duaan seperti itu sebelum terjadinya akad, termasuk perkara yang diharamkan. Syari’at Islam yang suci ini tak merestuinya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ “Janganlah berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341) Beliau juga menyinggung bahwa seorang gadis tentu saja tidak menampakkan dirinya di hadapan pria setelah dikhitbah (dipinang) hingga akad nikah telah sempurna diikrarkan. Karena yang wajib dipikirkan adalah ke depannya. Yang harus dipikir akibat di depan yaitu jika yang mengkhitbah ini ternyata membatalkan lamarannya (khitbahnya), nanti setelah itu ada laki-laki lain yang bisa melamarnya kembali. Laki-laki yang baru ini akan menyesal jika tahu hubungan yang dahulu ada yang sangat dekat. Namun jika akad nikah sudah berlangsung, maka halal-lah untuk berdua-duaan. Karena ketika itu sudah menjadi pasangan yang legal. Keduanya bisa saling melihat satu dan lainnya, tanpa ada dosa dan larangan. Dari penjelasan ulama Syafi’iyah di atas, silakan kita berpikir bagaimanakah hubungan tak legal dalam pacaran saat ini. Padahal belum ada akad, belum ada status apa-apa. Hubungan setelah wanita dipinang saja tetap belum halal. Barulah halal setelah akad nikah itu berlangsung. Mau status legal ataukah tidak? Silakan dipikirkan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabi Al Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Bughi, Dr. Musthofa Al Khin, ‘Ali Asy Syarjiy, terbitan Darul Qalam, cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 24 Rabi’ul Akhir 1436 H Yang mencintaimu karena Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang membicarakan hukum interaksi dengan non muslim dengan judul “Kesetiaan pada Non Muslim” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2B044CC3 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku kesetiaan non muslim#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagspacaran pacaran islami
Prev     Next