Waktu dan Tempat untuk Bershalawat (5)

Berikut ini adalah tempat atau waktu bershalawat lainnya yaitu ketika nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Siapa yang enggan bershalawat ketika nama beliau disebut, maka ia disebut pelit. 11- Bershalawat ketika nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Para ulama berselisih pendapat tentang wajibnya berselisih pendapat tentang wajibnya bershalawat ketika itu. Abu Ja’far Ath Thohawiy dan Abu ‘Abdillah Al Halimi berkata bahwa wajib bershalawat pada Nabi ketika nama beliau disebut. Sedangkan ulama lainnya menganggapnya sunnah, artinya tidak berdosa jika tidak bershalawat kala itu. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ “Sungguh celaka, orang yang disebut namaku di sisinya lantas ia tidak bershalawat untukku” (HR. Tirmidzi no. 3545. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa yang dimaksud ‘raghima anfu’ adalah doa jelek dan celaan. Doa seperti ini ada ketika meninggalkan sesuatu yang bukan sekedar sunnah. Orang yang meninggalkan sunnah tentu tidak didoakan jelek seperti itu. Dari ‘Ali bin Abi Tholib, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْبَخِيلُ الَّذِى مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ “Orang yang disebut pelit adalah orang yang ketika disebut namaku di sisinya lalu ia tidak bershalawat untukku.” (HR. Tirmidzi no. 3546. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Pernyataan pelit menunjukkan gelaran yang jelek. Jika tidak bershalawat ketika itu hanyalah perkara sunnah, tentu tidak digelari seperti itu. Istilah bakhil (pelit) juga ditujukan pada orang yang enggan memenuhi yang wajib. Wallahu a’lam. Moga kita tidak dicap sebagai orang yang pelit. Setiap nama nabi kita disebut, marilah bershalawat untuk beliau: Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad, atau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Ash Shahih Al Musnid min Adzkaril Yaum wal Lailah, Syaikh Musthofa bin Al ‘Adawiy, terbitan Dar Ibnu Rajab, cetakan kedua, tahun 1424 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 4 Jumadal Ula 1436 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom   Tagsshalawat

Waktu dan Tempat untuk Bershalawat (5)

Berikut ini adalah tempat atau waktu bershalawat lainnya yaitu ketika nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Siapa yang enggan bershalawat ketika nama beliau disebut, maka ia disebut pelit. 11- Bershalawat ketika nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Para ulama berselisih pendapat tentang wajibnya berselisih pendapat tentang wajibnya bershalawat ketika itu. Abu Ja’far Ath Thohawiy dan Abu ‘Abdillah Al Halimi berkata bahwa wajib bershalawat pada Nabi ketika nama beliau disebut. Sedangkan ulama lainnya menganggapnya sunnah, artinya tidak berdosa jika tidak bershalawat kala itu. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ “Sungguh celaka, orang yang disebut namaku di sisinya lantas ia tidak bershalawat untukku” (HR. Tirmidzi no. 3545. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa yang dimaksud ‘raghima anfu’ adalah doa jelek dan celaan. Doa seperti ini ada ketika meninggalkan sesuatu yang bukan sekedar sunnah. Orang yang meninggalkan sunnah tentu tidak didoakan jelek seperti itu. Dari ‘Ali bin Abi Tholib, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْبَخِيلُ الَّذِى مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ “Orang yang disebut pelit adalah orang yang ketika disebut namaku di sisinya lalu ia tidak bershalawat untukku.” (HR. Tirmidzi no. 3546. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Pernyataan pelit menunjukkan gelaran yang jelek. Jika tidak bershalawat ketika itu hanyalah perkara sunnah, tentu tidak digelari seperti itu. Istilah bakhil (pelit) juga ditujukan pada orang yang enggan memenuhi yang wajib. Wallahu a’lam. Moga kita tidak dicap sebagai orang yang pelit. Setiap nama nabi kita disebut, marilah bershalawat untuk beliau: Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad, atau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Ash Shahih Al Musnid min Adzkaril Yaum wal Lailah, Syaikh Musthofa bin Al ‘Adawiy, terbitan Dar Ibnu Rajab, cetakan kedua, tahun 1424 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 4 Jumadal Ula 1436 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom   Tagsshalawat
Berikut ini adalah tempat atau waktu bershalawat lainnya yaitu ketika nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Siapa yang enggan bershalawat ketika nama beliau disebut, maka ia disebut pelit. 11- Bershalawat ketika nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Para ulama berselisih pendapat tentang wajibnya berselisih pendapat tentang wajibnya bershalawat ketika itu. Abu Ja’far Ath Thohawiy dan Abu ‘Abdillah Al Halimi berkata bahwa wajib bershalawat pada Nabi ketika nama beliau disebut. Sedangkan ulama lainnya menganggapnya sunnah, artinya tidak berdosa jika tidak bershalawat kala itu. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ “Sungguh celaka, orang yang disebut namaku di sisinya lantas ia tidak bershalawat untukku” (HR. Tirmidzi no. 3545. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa yang dimaksud ‘raghima anfu’ adalah doa jelek dan celaan. Doa seperti ini ada ketika meninggalkan sesuatu yang bukan sekedar sunnah. Orang yang meninggalkan sunnah tentu tidak didoakan jelek seperti itu. Dari ‘Ali bin Abi Tholib, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْبَخِيلُ الَّذِى مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ “Orang yang disebut pelit adalah orang yang ketika disebut namaku di sisinya lalu ia tidak bershalawat untukku.” (HR. Tirmidzi no. 3546. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Pernyataan pelit menunjukkan gelaran yang jelek. Jika tidak bershalawat ketika itu hanyalah perkara sunnah, tentu tidak digelari seperti itu. Istilah bakhil (pelit) juga ditujukan pada orang yang enggan memenuhi yang wajib. Wallahu a’lam. Moga kita tidak dicap sebagai orang yang pelit. Setiap nama nabi kita disebut, marilah bershalawat untuk beliau: Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad, atau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Ash Shahih Al Musnid min Adzkaril Yaum wal Lailah, Syaikh Musthofa bin Al ‘Adawiy, terbitan Dar Ibnu Rajab, cetakan kedua, tahun 1424 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 4 Jumadal Ula 1436 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom   Tagsshalawat


Berikut ini adalah tempat atau waktu bershalawat lainnya yaitu ketika nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Siapa yang enggan bershalawat ketika nama beliau disebut, maka ia disebut pelit. 11- Bershalawat ketika nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Para ulama berselisih pendapat tentang wajibnya berselisih pendapat tentang wajibnya bershalawat ketika itu. Abu Ja’far Ath Thohawiy dan Abu ‘Abdillah Al Halimi berkata bahwa wajib bershalawat pada Nabi ketika nama beliau disebut. Sedangkan ulama lainnya menganggapnya sunnah, artinya tidak berdosa jika tidak bershalawat kala itu. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ “Sungguh celaka, orang yang disebut namaku di sisinya lantas ia tidak bershalawat untukku” (HR. Tirmidzi no. 3545. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa yang dimaksud ‘raghima anfu’ adalah doa jelek dan celaan. Doa seperti ini ada ketika meninggalkan sesuatu yang bukan sekedar sunnah. Orang yang meninggalkan sunnah tentu tidak didoakan jelek seperti itu. Dari ‘Ali bin Abi Tholib, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْبَخِيلُ الَّذِى مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ “Orang yang disebut pelit adalah orang yang ketika disebut namaku di sisinya lalu ia tidak bershalawat untukku.” (HR. Tirmidzi no. 3546. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Pernyataan pelit menunjukkan gelaran yang jelek. Jika tidak bershalawat ketika itu hanyalah perkara sunnah, tentu tidak digelari seperti itu. Istilah bakhil (pelit) juga ditujukan pada orang yang enggan memenuhi yang wajib. Wallahu a’lam. Moga kita tidak dicap sebagai orang yang pelit. Setiap nama nabi kita disebut, marilah bershalawat untuk beliau: Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad, atau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Ash Shahih Al Musnid min Adzkaril Yaum wal Lailah, Syaikh Musthofa bin Al ‘Adawiy, terbitan Dar Ibnu Rajab, cetakan kedua, tahun 1424 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 4 Jumadal Ula 1436 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom   Tagsshalawat

Sifat Shalat Nabi (30): Rukun Shalat

Rukun shalat adalah bagian penting dari shalat. Jika rukun shalat tidak ada, shalat tidaklah sah dan tak bisa tergantikan dengan sujud sahwi. Setelah kita mempelajari sifat shalat nabi sampai serial ke-29, saat ini dan serial berikutnya akan diulas mengenai shalat dari tinjauan fikih. Kita akan pelajari rukun shalat terlebih dahulu. Yang termasuk dalam rukun shalat: 1- Niat di dalam hati. Tidak dipersyaratkan niat tersebut dilafazhkan. Dalam hadits disebutkan, إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin Al Khottob) 2- Berdiri bagi yang mampu (untuk shalat wajib). Sedangkan shalat sunnah boleh dikerjakan dalam keadaan duduk meskipun mampu. Untuk shalat sunnah disunnahkan untuk berdiri, tidak wajib. Namun keadaan berdiri lebih utama daripada duduk saat itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَاعِدِ “Siapa yang mengerjakan shalat sambil berdiri, maka itu lebih afdhal. Siapa yang shalat sambil duduk akan mendapatkan pahala separuh dari shalat sambil berdiri. Siapa yang shalat sambil berbaring akan mendapat pahala separuh dari shalat sambil duduk.” (HR. Bukhari no. 1065) 3- Takbiratul ihram (ucapan ‘Allahu Akbar’ di awal shalat). 4- Membaca Al Fatihah (bagi imam dan orang yang shalat sendirian). 5- Ruku’ dan thuma’ninah (tidak tergesa-gesa). Dalil yang menunjukkan perintah untuk thuma’ninah dapat dilihat pada hadits musii’ sholatuhu (orang yang jelek shalatnya). عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَرَدَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَيْهِ السَّلاَمَ فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » فَصَلَّى ، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » . ثَلاَثًا . فَقَالَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِى . قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya. Beliau berkata, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali. Orang yang jelek shalatnya tersebut berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397). 6- I’tidal dan thuma’ninah. 7- Sujud dua kali dalam satu raka’at, disertai thuma’ninah. 8- Duduk di antara dua sujud, disertai thuma’ninah. 9- Duduk tahiyat akhir. 10- Membaca bacaan tasyahud di tahiyat akhir. 11- Membaca bacaan shalawat setelah bacaan tasyahud akhir. 12- Salam pertama, minimalnya ‘Assalamu ‘alaikum’, lengkapnya ‘Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah’. 13- Berurutan dalam mengerjakan rukun yang tadi disebutkan. Diharuskan berurutan dalam mengerjakan rukun karena dalam hadits musii’ sholatuhu terdapat kata “tsumma” ketika menjelaskan urutan rukun. Tsumma sendiri berarti kemudian yang menunjukkan makna berurutan. Perhatikan haditsnya, إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397). Semoga bermanfaat.   Referensi Utama: Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabil Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Khin, Dr. Musthofa Al Bugho, terbitan Darul Qalam, cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 4 Jumadal Ula ba’da Isya’ di Darush Sholihin Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera lakukan order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 544 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagscara shalat

Sifat Shalat Nabi (30): Rukun Shalat

Rukun shalat adalah bagian penting dari shalat. Jika rukun shalat tidak ada, shalat tidaklah sah dan tak bisa tergantikan dengan sujud sahwi. Setelah kita mempelajari sifat shalat nabi sampai serial ke-29, saat ini dan serial berikutnya akan diulas mengenai shalat dari tinjauan fikih. Kita akan pelajari rukun shalat terlebih dahulu. Yang termasuk dalam rukun shalat: 1- Niat di dalam hati. Tidak dipersyaratkan niat tersebut dilafazhkan. Dalam hadits disebutkan, إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin Al Khottob) 2- Berdiri bagi yang mampu (untuk shalat wajib). Sedangkan shalat sunnah boleh dikerjakan dalam keadaan duduk meskipun mampu. Untuk shalat sunnah disunnahkan untuk berdiri, tidak wajib. Namun keadaan berdiri lebih utama daripada duduk saat itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَاعِدِ “Siapa yang mengerjakan shalat sambil berdiri, maka itu lebih afdhal. Siapa yang shalat sambil duduk akan mendapatkan pahala separuh dari shalat sambil berdiri. Siapa yang shalat sambil berbaring akan mendapat pahala separuh dari shalat sambil duduk.” (HR. Bukhari no. 1065) 3- Takbiratul ihram (ucapan ‘Allahu Akbar’ di awal shalat). 4- Membaca Al Fatihah (bagi imam dan orang yang shalat sendirian). 5- Ruku’ dan thuma’ninah (tidak tergesa-gesa). Dalil yang menunjukkan perintah untuk thuma’ninah dapat dilihat pada hadits musii’ sholatuhu (orang yang jelek shalatnya). عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَرَدَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَيْهِ السَّلاَمَ فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » فَصَلَّى ، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » . ثَلاَثًا . فَقَالَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِى . قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya. Beliau berkata, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali. Orang yang jelek shalatnya tersebut berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397). 6- I’tidal dan thuma’ninah. 7- Sujud dua kali dalam satu raka’at, disertai thuma’ninah. 8- Duduk di antara dua sujud, disertai thuma’ninah. 9- Duduk tahiyat akhir. 10- Membaca bacaan tasyahud di tahiyat akhir. 11- Membaca bacaan shalawat setelah bacaan tasyahud akhir. 12- Salam pertama, minimalnya ‘Assalamu ‘alaikum’, lengkapnya ‘Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah’. 13- Berurutan dalam mengerjakan rukun yang tadi disebutkan. Diharuskan berurutan dalam mengerjakan rukun karena dalam hadits musii’ sholatuhu terdapat kata “tsumma” ketika menjelaskan urutan rukun. Tsumma sendiri berarti kemudian yang menunjukkan makna berurutan. Perhatikan haditsnya, إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397). Semoga bermanfaat.   Referensi Utama: Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabil Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Khin, Dr. Musthofa Al Bugho, terbitan Darul Qalam, cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 4 Jumadal Ula ba’da Isya’ di Darush Sholihin Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera lakukan order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 544 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagscara shalat
Rukun shalat adalah bagian penting dari shalat. Jika rukun shalat tidak ada, shalat tidaklah sah dan tak bisa tergantikan dengan sujud sahwi. Setelah kita mempelajari sifat shalat nabi sampai serial ke-29, saat ini dan serial berikutnya akan diulas mengenai shalat dari tinjauan fikih. Kita akan pelajari rukun shalat terlebih dahulu. Yang termasuk dalam rukun shalat: 1- Niat di dalam hati. Tidak dipersyaratkan niat tersebut dilafazhkan. Dalam hadits disebutkan, إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin Al Khottob) 2- Berdiri bagi yang mampu (untuk shalat wajib). Sedangkan shalat sunnah boleh dikerjakan dalam keadaan duduk meskipun mampu. Untuk shalat sunnah disunnahkan untuk berdiri, tidak wajib. Namun keadaan berdiri lebih utama daripada duduk saat itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَاعِدِ “Siapa yang mengerjakan shalat sambil berdiri, maka itu lebih afdhal. Siapa yang shalat sambil duduk akan mendapatkan pahala separuh dari shalat sambil berdiri. Siapa yang shalat sambil berbaring akan mendapat pahala separuh dari shalat sambil duduk.” (HR. Bukhari no. 1065) 3- Takbiratul ihram (ucapan ‘Allahu Akbar’ di awal shalat). 4- Membaca Al Fatihah (bagi imam dan orang yang shalat sendirian). 5- Ruku’ dan thuma’ninah (tidak tergesa-gesa). Dalil yang menunjukkan perintah untuk thuma’ninah dapat dilihat pada hadits musii’ sholatuhu (orang yang jelek shalatnya). عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَرَدَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَيْهِ السَّلاَمَ فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » فَصَلَّى ، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » . ثَلاَثًا . فَقَالَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِى . قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya. Beliau berkata, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali. Orang yang jelek shalatnya tersebut berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397). 6- I’tidal dan thuma’ninah. 7- Sujud dua kali dalam satu raka’at, disertai thuma’ninah. 8- Duduk di antara dua sujud, disertai thuma’ninah. 9- Duduk tahiyat akhir. 10- Membaca bacaan tasyahud di tahiyat akhir. 11- Membaca bacaan shalawat setelah bacaan tasyahud akhir. 12- Salam pertama, minimalnya ‘Assalamu ‘alaikum’, lengkapnya ‘Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah’. 13- Berurutan dalam mengerjakan rukun yang tadi disebutkan. Diharuskan berurutan dalam mengerjakan rukun karena dalam hadits musii’ sholatuhu terdapat kata “tsumma” ketika menjelaskan urutan rukun. Tsumma sendiri berarti kemudian yang menunjukkan makna berurutan. Perhatikan haditsnya, إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397). Semoga bermanfaat.   Referensi Utama: Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabil Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Khin, Dr. Musthofa Al Bugho, terbitan Darul Qalam, cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 4 Jumadal Ula ba’da Isya’ di Darush Sholihin Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera lakukan order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 544 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagscara shalat


Rukun shalat adalah bagian penting dari shalat. Jika rukun shalat tidak ada, shalat tidaklah sah dan tak bisa tergantikan dengan sujud sahwi. Setelah kita mempelajari sifat shalat nabi sampai serial ke-29, saat ini dan serial berikutnya akan diulas mengenai shalat dari tinjauan fikih. Kita akan pelajari rukun shalat terlebih dahulu. Yang termasuk dalam rukun shalat: 1- Niat di dalam hati. Tidak dipersyaratkan niat tersebut dilafazhkan. Dalam hadits disebutkan, إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin Al Khottob) 2- Berdiri bagi yang mampu (untuk shalat wajib). Sedangkan shalat sunnah boleh dikerjakan dalam keadaan duduk meskipun mampu. Untuk shalat sunnah disunnahkan untuk berdiri, tidak wajib. Namun keadaan berdiri lebih utama daripada duduk saat itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَاعِدِ “Siapa yang mengerjakan shalat sambil berdiri, maka itu lebih afdhal. Siapa yang shalat sambil duduk akan mendapatkan pahala separuh dari shalat sambil berdiri. Siapa yang shalat sambil berbaring akan mendapat pahala separuh dari shalat sambil duduk.” (HR. Bukhari no. 1065) 3- Takbiratul ihram (ucapan ‘Allahu Akbar’ di awal shalat). 4- Membaca Al Fatihah (bagi imam dan orang yang shalat sendirian). 5- Ruku’ dan thuma’ninah (tidak tergesa-gesa). Dalil yang menunjukkan perintah untuk thuma’ninah dapat dilihat pada hadits musii’ sholatuhu (orang yang jelek shalatnya). عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَرَدَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَيْهِ السَّلاَمَ فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » فَصَلَّى ، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » . ثَلاَثًا . فَقَالَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِى . قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya. Beliau berkata, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali. Orang yang jelek shalatnya tersebut berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397). 6- I’tidal dan thuma’ninah. 7- Sujud dua kali dalam satu raka’at, disertai thuma’ninah. 8- Duduk di antara dua sujud, disertai thuma’ninah. 9- Duduk tahiyat akhir. 10- Membaca bacaan tasyahud di tahiyat akhir. 11- Membaca bacaan shalawat setelah bacaan tasyahud akhir. 12- Salam pertama, minimalnya ‘Assalamu ‘alaikum’, lengkapnya ‘Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah’. 13- Berurutan dalam mengerjakan rukun yang tadi disebutkan. Diharuskan berurutan dalam mengerjakan rukun karena dalam hadits musii’ sholatuhu terdapat kata “tsumma” ketika menjelaskan urutan rukun. Tsumma sendiri berarti kemudian yang menunjukkan makna berurutan. Perhatikan haditsnya, إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397). Semoga bermanfaat.   Referensi Utama: Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabil Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Khin, Dr. Musthofa Al Bugho, terbitan Darul Qalam, cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 4 Jumadal Ula ba’da Isya’ di Darush Sholihin Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera lakukan order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 544 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagscara shalat

Wanita Mandi Jumat Jika Menghadiri Shalat Jumat

Jika wanita ingin menghadiri shalat Jumat, diperintahkan untuk mandi Jumat. Hukum mandi Jumat adalah sunnah sebagaimana pendapat mayoritas (jumhur) ulama. Hal ini berdasarkan hadits, إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ “Jika salah seorang di antara kalian menghadiri shalat Jum’at, maka hendaklah ia mandi.” (HR. Bukhari no. 919 dan Muslim no. 845) Imam Malik berkata dalam Al Mudawwanah, “Shalat Jumat tidak diwajibkan bagi budak, perempuan, dan anak kecil. Namun siapa yang ingin menghadiri shalat tersebut di antara mereka, maka hendaklah ia mandi.” Syaikh Abu Malik –penulis Shahih Fikih Sunnah yang sudah masyhur- berkata bahwa seorang wanita boleh saja mandi Jumat setelah masuk waktu Fajar shubuh. Jika sudah mandi Jumat pada waktu tersebut, lalu ia dalam keadaan berhadats (kecil), maka cukup berwudhu. Sebagaimana ada perkataan dari ‘Abdurrahman bin Abza –seorang sahabat-, ia menyatakan bahwa jika seseorang telah mandi Jumat, lalu ia berhadats (kecil), maka cukup baginya berwudhu dan tak perlu mengulangi mandinya kembali. Baca artikel Rumaysho.Com lainnya: Seputar Mandi Jumat. Syaikh Abu Malik juga berkata bahwa jika masuk Shubuh lalu seorang wanita dalam keadaan junub, maka ia bisa mencukupkan dengan satu mandi dan diniatkan untuk dua mandi sekaligus yaitu mandi Jumat dan mandi junub. Lihat Shahih Fiqhus Sunnah lin Nisa’, hal. 188. Baca pula artikel Rumaysho.Com: Hukum Menggabungkan Mandi Jumat dan Mandi Junub. Mandi Jum’at disyari’atkan bagi orang yang menghadiri shalat Jum’at dan bukan karena hari tersebut adalah hari Jum’at (Lihat Ar Roudhotun Nadiyah, 83). Sehingga wanita atau anak-anak yang tidak punya kewajiban untuk shalat Jum’at, tidak terkena perintah ini. Namun jika mereka menghadiri Jum’at, tetap diperintahkan untuk mandi. Imam Nawawi berkata, “Mandi Jum’at itu dianjurkan bagi siapa saja yang menghadiri Jum’at baik laki-laki maupun perempuan.” (Al Majmu’, 2: 201) Baca pula artikel menarik: Bolehkah Wanita Menghadiri Shalat Jumat? Kesimpulan dari pembahasan di atas, hanya wanita yang ingin menghadiri shalat Jumat saja yang diperintahkan mandi Jumat. Sedangkan yang memilih tidak hadir, tidak diperintahkan demikian. Baca pula: Hukum Mandi Jumat bagi Wanita. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqhus Sunnah lin Nisaa’, Abu Malik Kamal bin As Sayyid Saalim, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyyah. — Selesai disusun di pagi penuh berkah di Darush Sholihin, 1 Jumadal Ula 1436 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 509 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsmandi jumat

Wanita Mandi Jumat Jika Menghadiri Shalat Jumat

Jika wanita ingin menghadiri shalat Jumat, diperintahkan untuk mandi Jumat. Hukum mandi Jumat adalah sunnah sebagaimana pendapat mayoritas (jumhur) ulama. Hal ini berdasarkan hadits, إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ “Jika salah seorang di antara kalian menghadiri shalat Jum’at, maka hendaklah ia mandi.” (HR. Bukhari no. 919 dan Muslim no. 845) Imam Malik berkata dalam Al Mudawwanah, “Shalat Jumat tidak diwajibkan bagi budak, perempuan, dan anak kecil. Namun siapa yang ingin menghadiri shalat tersebut di antara mereka, maka hendaklah ia mandi.” Syaikh Abu Malik –penulis Shahih Fikih Sunnah yang sudah masyhur- berkata bahwa seorang wanita boleh saja mandi Jumat setelah masuk waktu Fajar shubuh. Jika sudah mandi Jumat pada waktu tersebut, lalu ia dalam keadaan berhadats (kecil), maka cukup berwudhu. Sebagaimana ada perkataan dari ‘Abdurrahman bin Abza –seorang sahabat-, ia menyatakan bahwa jika seseorang telah mandi Jumat, lalu ia berhadats (kecil), maka cukup baginya berwudhu dan tak perlu mengulangi mandinya kembali. Baca artikel Rumaysho.Com lainnya: Seputar Mandi Jumat. Syaikh Abu Malik juga berkata bahwa jika masuk Shubuh lalu seorang wanita dalam keadaan junub, maka ia bisa mencukupkan dengan satu mandi dan diniatkan untuk dua mandi sekaligus yaitu mandi Jumat dan mandi junub. Lihat Shahih Fiqhus Sunnah lin Nisa’, hal. 188. Baca pula artikel Rumaysho.Com: Hukum Menggabungkan Mandi Jumat dan Mandi Junub. Mandi Jum’at disyari’atkan bagi orang yang menghadiri shalat Jum’at dan bukan karena hari tersebut adalah hari Jum’at (Lihat Ar Roudhotun Nadiyah, 83). Sehingga wanita atau anak-anak yang tidak punya kewajiban untuk shalat Jum’at, tidak terkena perintah ini. Namun jika mereka menghadiri Jum’at, tetap diperintahkan untuk mandi. Imam Nawawi berkata, “Mandi Jum’at itu dianjurkan bagi siapa saja yang menghadiri Jum’at baik laki-laki maupun perempuan.” (Al Majmu’, 2: 201) Baca pula artikel menarik: Bolehkah Wanita Menghadiri Shalat Jumat? Kesimpulan dari pembahasan di atas, hanya wanita yang ingin menghadiri shalat Jumat saja yang diperintahkan mandi Jumat. Sedangkan yang memilih tidak hadir, tidak diperintahkan demikian. Baca pula: Hukum Mandi Jumat bagi Wanita. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqhus Sunnah lin Nisaa’, Abu Malik Kamal bin As Sayyid Saalim, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyyah. — Selesai disusun di pagi penuh berkah di Darush Sholihin, 1 Jumadal Ula 1436 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 509 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsmandi jumat
Jika wanita ingin menghadiri shalat Jumat, diperintahkan untuk mandi Jumat. Hukum mandi Jumat adalah sunnah sebagaimana pendapat mayoritas (jumhur) ulama. Hal ini berdasarkan hadits, إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ “Jika salah seorang di antara kalian menghadiri shalat Jum’at, maka hendaklah ia mandi.” (HR. Bukhari no. 919 dan Muslim no. 845) Imam Malik berkata dalam Al Mudawwanah, “Shalat Jumat tidak diwajibkan bagi budak, perempuan, dan anak kecil. Namun siapa yang ingin menghadiri shalat tersebut di antara mereka, maka hendaklah ia mandi.” Syaikh Abu Malik –penulis Shahih Fikih Sunnah yang sudah masyhur- berkata bahwa seorang wanita boleh saja mandi Jumat setelah masuk waktu Fajar shubuh. Jika sudah mandi Jumat pada waktu tersebut, lalu ia dalam keadaan berhadats (kecil), maka cukup berwudhu. Sebagaimana ada perkataan dari ‘Abdurrahman bin Abza –seorang sahabat-, ia menyatakan bahwa jika seseorang telah mandi Jumat, lalu ia berhadats (kecil), maka cukup baginya berwudhu dan tak perlu mengulangi mandinya kembali. Baca artikel Rumaysho.Com lainnya: Seputar Mandi Jumat. Syaikh Abu Malik juga berkata bahwa jika masuk Shubuh lalu seorang wanita dalam keadaan junub, maka ia bisa mencukupkan dengan satu mandi dan diniatkan untuk dua mandi sekaligus yaitu mandi Jumat dan mandi junub. Lihat Shahih Fiqhus Sunnah lin Nisa’, hal. 188. Baca pula artikel Rumaysho.Com: Hukum Menggabungkan Mandi Jumat dan Mandi Junub. Mandi Jum’at disyari’atkan bagi orang yang menghadiri shalat Jum’at dan bukan karena hari tersebut adalah hari Jum’at (Lihat Ar Roudhotun Nadiyah, 83). Sehingga wanita atau anak-anak yang tidak punya kewajiban untuk shalat Jum’at, tidak terkena perintah ini. Namun jika mereka menghadiri Jum’at, tetap diperintahkan untuk mandi. Imam Nawawi berkata, “Mandi Jum’at itu dianjurkan bagi siapa saja yang menghadiri Jum’at baik laki-laki maupun perempuan.” (Al Majmu’, 2: 201) Baca pula artikel menarik: Bolehkah Wanita Menghadiri Shalat Jumat? Kesimpulan dari pembahasan di atas, hanya wanita yang ingin menghadiri shalat Jumat saja yang diperintahkan mandi Jumat. Sedangkan yang memilih tidak hadir, tidak diperintahkan demikian. Baca pula: Hukum Mandi Jumat bagi Wanita. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqhus Sunnah lin Nisaa’, Abu Malik Kamal bin As Sayyid Saalim, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyyah. — Selesai disusun di pagi penuh berkah di Darush Sholihin, 1 Jumadal Ula 1436 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 509 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsmandi jumat


Jika wanita ingin menghadiri shalat Jumat, diperintahkan untuk mandi Jumat. Hukum mandi Jumat adalah sunnah sebagaimana pendapat mayoritas (jumhur) ulama. Hal ini berdasarkan hadits, إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ “Jika salah seorang di antara kalian menghadiri shalat Jum’at, maka hendaklah ia mandi.” (HR. Bukhari no. 919 dan Muslim no. 845) Imam Malik berkata dalam Al Mudawwanah, “Shalat Jumat tidak diwajibkan bagi budak, perempuan, dan anak kecil. Namun siapa yang ingin menghadiri shalat tersebut di antara mereka, maka hendaklah ia mandi.” Syaikh Abu Malik –penulis Shahih Fikih Sunnah yang sudah masyhur- berkata bahwa seorang wanita boleh saja mandi Jumat setelah masuk waktu Fajar shubuh. Jika sudah mandi Jumat pada waktu tersebut, lalu ia dalam keadaan berhadats (kecil), maka cukup berwudhu. Sebagaimana ada perkataan dari ‘Abdurrahman bin Abza –seorang sahabat-, ia menyatakan bahwa jika seseorang telah mandi Jumat, lalu ia berhadats (kecil), maka cukup baginya berwudhu dan tak perlu mengulangi mandinya kembali. Baca artikel Rumaysho.Com lainnya: Seputar Mandi Jumat. Syaikh Abu Malik juga berkata bahwa jika masuk Shubuh lalu seorang wanita dalam keadaan junub, maka ia bisa mencukupkan dengan satu mandi dan diniatkan untuk dua mandi sekaligus yaitu mandi Jumat dan mandi junub. Lihat Shahih Fiqhus Sunnah lin Nisa’, hal. 188. Baca pula artikel Rumaysho.Com: Hukum Menggabungkan Mandi Jumat dan Mandi Junub. Mandi Jum’at disyari’atkan bagi orang yang menghadiri shalat Jum’at dan bukan karena hari tersebut adalah hari Jum’at (Lihat Ar Roudhotun Nadiyah, 83). Sehingga wanita atau anak-anak yang tidak punya kewajiban untuk shalat Jum’at, tidak terkena perintah ini. Namun jika mereka menghadiri Jum’at, tetap diperintahkan untuk mandi. Imam Nawawi berkata, “Mandi Jum’at itu dianjurkan bagi siapa saja yang menghadiri Jum’at baik laki-laki maupun perempuan.” (Al Majmu’, 2: 201) Baca pula artikel menarik: Bolehkah Wanita Menghadiri Shalat Jumat? Kesimpulan dari pembahasan di atas, hanya wanita yang ingin menghadiri shalat Jumat saja yang diperintahkan mandi Jumat. Sedangkan yang memilih tidak hadir, tidak diperintahkan demikian. Baca pula: Hukum Mandi Jumat bagi Wanita. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqhus Sunnah lin Nisaa’, Abu Malik Kamal bin As Sayyid Saalim, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyyah. — Selesai disusun di pagi penuh berkah di Darush Sholihin, 1 Jumadal Ula 1436 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 509 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsmandi jumat

Mandi Jumat di Pagi Hari

Bolehkah mandi Jumat sejak pagi hari? Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Jika seseorang mandi Jum’at sebelum terbit fajar (sebelum masuk waktu Shubuh, -pen), maka mandi Jum’atnya tidak sah menurut pendapat terkuat dalam madzhab Syafi’i, seperti ini pula dikatakan oleh mayoritas ulama. Namun Al Auza’i menganggapnya sah.” Imam Nawawi rahimahullah kembali melanjutkan, “Jika seseorang mandi setelah terbit fajar, maka mandi Jum’atnya sah menurut ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama. Demikian dinyatakan oleh Ibnul Mundzir, Al Hasan Al Bashri, Mujahid, An Nakho’i, Ats Tsauri, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa mandi Jum’at tidak sah kecuali dilakukan ketika hendak berangkat shalat Jum’at. Namun para ulama tadi menyatakan bahwa mandi Jum’at sebelum terbit fajar tidaklah sah, dan yang menyatakan sah hanyalah Al Auza’i. Al Auza’i menyatakan bahwa boleh mandi sebelum fajar bagi yang ingin mandi junub dan mandi Jum’at.” (Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, Imam Nawawi, 2; 285) Al Bahuti Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Awal mandi Jum’at adalah ketika terbit fajar dan tidak boleh sebelumnya. Namun yang paling afdhol adalah ketika hendak berangkat shalat Jum’at. Inilah yang lebih mendekati maksud.” (Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, Al Bahuti, 1: 415, Mawqi’ Al Islam) Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa mandi Jumat dibolehkan di pagi hari. Adapun yang lebih afdhol adalah jika dilakukan menjelang akan berangkat shalat Jum’at. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 1 Jumadal Ula 1436 H di Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 509 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsmandi jumat

Mandi Jumat di Pagi Hari

Bolehkah mandi Jumat sejak pagi hari? Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Jika seseorang mandi Jum’at sebelum terbit fajar (sebelum masuk waktu Shubuh, -pen), maka mandi Jum’atnya tidak sah menurut pendapat terkuat dalam madzhab Syafi’i, seperti ini pula dikatakan oleh mayoritas ulama. Namun Al Auza’i menganggapnya sah.” Imam Nawawi rahimahullah kembali melanjutkan, “Jika seseorang mandi setelah terbit fajar, maka mandi Jum’atnya sah menurut ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama. Demikian dinyatakan oleh Ibnul Mundzir, Al Hasan Al Bashri, Mujahid, An Nakho’i, Ats Tsauri, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa mandi Jum’at tidak sah kecuali dilakukan ketika hendak berangkat shalat Jum’at. Namun para ulama tadi menyatakan bahwa mandi Jum’at sebelum terbit fajar tidaklah sah, dan yang menyatakan sah hanyalah Al Auza’i. Al Auza’i menyatakan bahwa boleh mandi sebelum fajar bagi yang ingin mandi junub dan mandi Jum’at.” (Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, Imam Nawawi, 2; 285) Al Bahuti Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Awal mandi Jum’at adalah ketika terbit fajar dan tidak boleh sebelumnya. Namun yang paling afdhol adalah ketika hendak berangkat shalat Jum’at. Inilah yang lebih mendekati maksud.” (Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, Al Bahuti, 1: 415, Mawqi’ Al Islam) Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa mandi Jumat dibolehkan di pagi hari. Adapun yang lebih afdhol adalah jika dilakukan menjelang akan berangkat shalat Jum’at. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 1 Jumadal Ula 1436 H di Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 509 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsmandi jumat
Bolehkah mandi Jumat sejak pagi hari? Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Jika seseorang mandi Jum’at sebelum terbit fajar (sebelum masuk waktu Shubuh, -pen), maka mandi Jum’atnya tidak sah menurut pendapat terkuat dalam madzhab Syafi’i, seperti ini pula dikatakan oleh mayoritas ulama. Namun Al Auza’i menganggapnya sah.” Imam Nawawi rahimahullah kembali melanjutkan, “Jika seseorang mandi setelah terbit fajar, maka mandi Jum’atnya sah menurut ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama. Demikian dinyatakan oleh Ibnul Mundzir, Al Hasan Al Bashri, Mujahid, An Nakho’i, Ats Tsauri, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa mandi Jum’at tidak sah kecuali dilakukan ketika hendak berangkat shalat Jum’at. Namun para ulama tadi menyatakan bahwa mandi Jum’at sebelum terbit fajar tidaklah sah, dan yang menyatakan sah hanyalah Al Auza’i. Al Auza’i menyatakan bahwa boleh mandi sebelum fajar bagi yang ingin mandi junub dan mandi Jum’at.” (Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, Imam Nawawi, 2; 285) Al Bahuti Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Awal mandi Jum’at adalah ketika terbit fajar dan tidak boleh sebelumnya. Namun yang paling afdhol adalah ketika hendak berangkat shalat Jum’at. Inilah yang lebih mendekati maksud.” (Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, Al Bahuti, 1: 415, Mawqi’ Al Islam) Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa mandi Jumat dibolehkan di pagi hari. Adapun yang lebih afdhol adalah jika dilakukan menjelang akan berangkat shalat Jum’at. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 1 Jumadal Ula 1436 H di Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 509 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsmandi jumat


Bolehkah mandi Jumat sejak pagi hari? Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Jika seseorang mandi Jum’at sebelum terbit fajar (sebelum masuk waktu Shubuh, -pen), maka mandi Jum’atnya tidak sah menurut pendapat terkuat dalam madzhab Syafi’i, seperti ini pula dikatakan oleh mayoritas ulama. Namun Al Auza’i menganggapnya sah.” Imam Nawawi rahimahullah kembali melanjutkan, “Jika seseorang mandi setelah terbit fajar, maka mandi Jum’atnya sah menurut ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama. Demikian dinyatakan oleh Ibnul Mundzir, Al Hasan Al Bashri, Mujahid, An Nakho’i, Ats Tsauri, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa mandi Jum’at tidak sah kecuali dilakukan ketika hendak berangkat shalat Jum’at. Namun para ulama tadi menyatakan bahwa mandi Jum’at sebelum terbit fajar tidaklah sah, dan yang menyatakan sah hanyalah Al Auza’i. Al Auza’i menyatakan bahwa boleh mandi sebelum fajar bagi yang ingin mandi junub dan mandi Jum’at.” (Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, Imam Nawawi, 2; 285) Al Bahuti Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Awal mandi Jum’at adalah ketika terbit fajar dan tidak boleh sebelumnya. Namun yang paling afdhol adalah ketika hendak berangkat shalat Jum’at. Inilah yang lebih mendekati maksud.” (Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, Al Bahuti, 1: 415, Mawqi’ Al Islam) Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa mandi Jumat dibolehkan di pagi hari. Adapun yang lebih afdhol adalah jika dilakukan menjelang akan berangkat shalat Jum’at. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 1 Jumadal Ula 1436 H di Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 509 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsmandi jumat

Menggapai Keridhoan Allah

Khutbah Jumat Mesjid Nabawi 1/5/1436 H – 20/2/2015Oleh : Asy-Syaikh Abdul Bari Ats-Tsubaity hafizohullah Khutbah PertamaSegala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah, amma ba’adu :          Meraih keridhoan Allah ta’ala adalah tujuan tertinggi dan teragung, bahkan ia merupakan tujuan para penghuni surga. Allah berfirman :وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُDan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (QS At-Taubah : 72)Maka tidak ada yang lebih dicintai dan lebih mulia serta lebih besar dari keridhoan Allah. Bahkan meraih keridhoan Allah adalah impian yang mulia, yang karenanya mata orang-orang yang khosyah menangis, hati-hati kaum sholihin bersiap-siap untuk meraihnya, serta kaki-kaki bengkak dan pecah karena sholat di kegelapan malam. Keridhoan ini dijadikan oleh Allah lebih dari surga, sebagai tambahan atas karunia surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إنَّ الله – عز وجل – يَقُولُ لأَهْلِ الجَنَّةِ : يَا أهْلَ الجَنَّةِ ، فَيقولُونَ : لَبَّيكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ ، فَيقُولُ : هَلْ رَضِيتُم ؟ فَيقُولُونَ : وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى يَا رَبَّنَا وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أحداً مِنْ خَلْقِكَ ، فَيقُولُ : ألاَ أُعْطِيكُمْ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُونَ : وَأيُّ شَيءٍ أفْضَلُ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُ : أُحِلُّ عَلَيكُمْ رِضْوَانِي فَلاَ أسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أبَداً“Sesungguhnya Allah azza wa jalla berkata kepada penghuni surga, “Wahai penghuni surga..”, mereka berkata, “Kami memenuhi panggilanMu, kami menta’atiMu”. Allah berkata, “Apakah kalian ridho (puas)?”, maka mereka berkata, “Kenapa kami tidak ridho (puas) sementara Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun dari ciptaanMu”. Maka Allah berkata, “Maukah Aku berikan kepada kalian yang lebih baik dari ini?”. Mereka berkata, “Apakah yang lebih baik dari ini?”. Allah berkata, “Aku telah menurunkan kepada kalian keridhoanKu, maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah ini selama-lamanya” (HR Al-Bukhari dan Muslim).Mencari keridhoan Allah adalah poros kehidupan para Nabi dan kaum sholihin. Musa ‘alaihis salam bersegera menuju keridhoan Allah, beliau berkata : وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى“Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”. (QS Thoha : 84)Nabi Sulaiman bersyukur kepada Robnya dengan beramal dalam mengharapkan keridhoanNya. Ia berkataرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS An-Naml : 19)Dan kita melihat adab yang tinggi ini dari pemilik adab yang agung yaitu Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau beradab –dalam berucap- kepada Robnya tatkala bersedih karena mengharap keridhoanNya tatkala Ibrahim putra beliau wafat. Beliau berkata :تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلاَ نَقُوْلُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا وإِنَّا بِكَ يَا إِبْرَاهِيْمُ لَمَحْزُوْنُوْنَ“Mata menangis, hati bersedih, dan kami tidaklah mengucapkan kecuali yang mendatangkan keridhoan Rob kami, dan sungguh kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim” (HR Muslim)Tujuan yang tertinggi di sisi Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam adalah meraih keridhoan Allah, dan kehidupan beliau berporos kepada mencari keridhoan Allah. Beliau memohon kepada Allah agar Allah memberi petunjuk kepadanya untuk melakukan amalan yang mendatangkan keridhoan Allah subhanahu, beliau berkata :أَسْأَلُكَ مِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى“Aku memohon kepada Mu dari amalan yang Engkau ridhoi”Beliau juga berkata :وَأَرْضِنَا وَارْضَ عَنَّا“Jadikanlah kami ridho (menerima) dan ridhoilah kami”Beliau juga berkata :الْحَمْدُ لَكَ حَتَّى تَرْضَى“Segala puji bagiMu hingga Engkau ridho”Maka kehidupan dibawah naungan tujuan ini, dan mendidik jiwa di atas tujuan ini, akan mengumpulkan kebaikan agama dan dunia, mengasas pertumbuhan yang terarah maju, keberhasilan yang berkesinambungan dalam seluruh perencanaan dan kegiatan kita, yaitu tatkala kita menjadikan misi kita yang tertinggi adalah meraih keridhoan Allah.Tentu tidak sama antara orang yang mencari keridhoan Allah dengan orang yang kembali membawa kemurkaan Allah dalam menyelusuri jalan kehidupan dan perkembangannya, dalam harta, dan dalam kesudahan. Barangsiapa yang mencari keridhoan Allah maka ia akan mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya, menempuh jalan orang-orang yang sholeh, serta beramal dengan amalan orang yang selalu merasa diawasi dan dilihat oleh Robnya. Maka ia akan semangat menuju ketaatan Allah, dan ia akan mengarahkan dunianya kepada jalan Allah, dan ia akan memakmurkan bumi dengan kebaikan dan keterampilan.Allah berfirman :أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِApakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah. (QS Ali Imron : 162)Ini merupakan peraturan yang mulia, tidak sama antara orang yang mengikuti keridhoan Allah dengan orang yang kembali membawa kemarahan Allah. Barangsiapa yang memilih keburukan sebagai jalannya maka ia menyelisihi perintah Allah, melanggar laranganNya, bumipun tertimpa kemudorotan karena buruknya dan hukuman maksiat yang ia lakukan, dan ia kembali dengan kemurkaan Allah.          Kaum mukminin berusaha meraih keridhoan Allah dengan megikhlaskan amal hanya untuk Allah, yang hal ini akan mengangkat nilai amalan, dan memperindah kesempatan produktivitas, serta memperkuat kualitas produk. Allah ta’aala berfirman:وَمَا لأحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (١٩)إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الأعْلَى (٢٠)وَلَسَوْفَ يَرْضَى (٢١)Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi. Dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan. (QS Al-Lail : 19-21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى الإِخْلاَصِ للهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ فَارَقَهَا وَاللهُ عَنْهُ رَاضٍ“Barangsiapa yang meninggalkan dunia di atas keikhlasan hanya untuk Allah semata tidak ada sekutu bagiNya, dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, maka ia telah meninggalkan dunia dalam kondisi Allah ridho kepadanya” (HR Ibnu Maajah, dan dishahihkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrok)          Berusaha mencari keridhoan Allah merupakan indikasi As-Sidq (jujur/tulus) terhadap Allah, dan inilah yang akan bermanfaat pada hari kiamat.قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١١٩)Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar/tulus ketulusan mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. (QS Al-Maidah : 119)Orang-orang yang jujur/tulus meraih keistimewaan ini karena perbuatan mereka membenarkan perkataan mereka. Maka, apakah nilai sebuah kesholehan lahiriah agar dilihat oleh orang-orang sehingga memujinya, akan namun tatkala ia bersendirian maka iapun menunjukkan kepada Allah sikap penyelisihan.          Mendahulukan keridhoan Allah atas selainnya merupakan keselamatan dari kemunafikan.يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَMereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, Padahal Allah dan Rasul-Nya Itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin. (QS At-Taubah : 62)Maka tidak akan diraih keridhoan hanya dengan menampakkan keimanan jika tidak disertai dengan pembenaran hati.فَإِنَّ اللَّهَ لا يَرْضَى عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ (٩٦)Sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang Fasik itu. (QS At-Taubah : 96)Barangsiapa yang mencari keridhoan Allah maka hendaknya ia berlepas dari kemunafikan dan durhaka terhadap perintah Allah.          Al-Walaa (mencintai karena Allah) dan Al-Baroo’ (membenci karena Allah) merupakan landasan keridhoan Allah, yaitu seorang muslim mencintai Allah dan mencintai siapa yang mencintai Allah dan mencintai agamaNya. Serta membenci siapa yang membenci Allah dan memerangi agamaNya, Ia loyal kepada kaum mukminin dan menolong mereka, tidak suka dengan kaum munafik dan membenci mereka.Allah berfirman :لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٢٢)Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. mereka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS Al-Mujaadalah : 22)          Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah dengan hati dan anggota tubuhnya maka ia meraih keridhoan Allah. Allah berfirman :وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْdan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu (QS Az-Zumar : 7) Dan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda :إنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أنْ يَأكُلَ الأَكْلَةَ ، فَيَحمَدَهُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ ، فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا“Sesungguhnya Allah sangat ridho kepada seorang hamba yang memakan makanan lalu memuji Allah karena makanan tersebut, atau meminum suatu minuman lalu memuji Allah karenanya” (HR Muslim)          Orang-orang yang selalu ruku’ dan sujud maka nampak cahaya di wajah mereka dengan air wudu, berseri dengan cahaya sholat, mereka meraih keridhoan Rob mereka. Allah berfirman :مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِMuhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (QS Al-Fath : 29)Barangsiapa yang meninggalkan syahwatnya karena Allah dan mengedepankan keridhoan Robnya di atas hawa nafsunya maka ia meraih keridhoan Allah, dan terwujudkan apa yang ia cita-citakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :قَالَ رَبُّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ : عَبْدِي تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي، وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِRob kalian azza wajalla berkata : “Hambaku meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena mencari keridhoanKu, dan puasa adalah untukKu dan Aku yang akan memberi ganjarannya” (HR Ahmad di Musnadnya dengan sanad yang shahih)          Adapun dzikir kepada Allah maka ia adalah amalan yang paling mendatangkan keridhoan Allah. Dan sesungguhnya seorang yang berdzikir ia mendapati keridhoan pada dirinya, ketenangan di dadanya, dan kebahagiaan di hatinya. Renungkanlah firman Allah ta’aala tatkala Allah berbicara kepada NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini juga ditujukan kepada kaum mukmininفَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى (١٣٠)Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa ridho/senang (QS Thoha : 130)          Perkataan yang baik memiliki kemuliaan pada kandungan maknanya, keindahan yang dirasakan oleh telinga yang mendengarnya, serta pengaruh yang mendalam di dalam jiwa. Dengan perkataan tersebut Allah akan mengangkat derajatmu tanpa kau sadari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ الله تَعَالَى مَا يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجاتٍ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu perkataan yang diridhoi oleh Allah, yang tidak ia pedulikan perkataan tersebut, maka Allah mengangkatnya beberapa derajat karena perkataan tersebut” (HR Al-Bukhari)          Apakah seorang muslim lupa jalan terdekat untuk mencari keridhoan Allah?, metode terkuat dan teragung serta termulia dan terindah?, yaitu dengan meraih keridhoan kedua orang tua. Dan yang lebih mengena daripada ini, bahwasanya keridhoan ibu dan ayah bergandengan dengan keridhoan Rob. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُهُ فِي سَخَطِهِمَا“Keridhoan Rob pada keridhoan kedua orang tua, dan kemarahan Rob pada kemarahan keduanya” (HR Al-Bazzaar)           Barangsiapa yang diridhoi oleh Allah maka ia akan meraih kebahagiaan dan ketentramanرَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُAllah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. (QS Al-Bayyinah : 8)Dan sejuk pandangannya dengan keridhoan Robnya kepadanya, maka ia tidak akan menempuh suatu jalanpun kecuali dimudahkan oleh Allah, tidaklah ia mengetuk satu pintu kebaikanpun kecuali akan dibukakan oleh Allah dan diberkahi oleh Allah.Jika Allah telah ridho kepada seorang hamba maka Allah menerima sedikit amalannya dan Allah akan mengembangkannya, serta Allah akan memaafkan kesalahannya yang banyak dan menghapusnya. Barangsiapa yang diridhoi oleh Allah maka ia akan meraih syafaat pada hari kiamat. Allah berfirman ;يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلا تَسْمَعُ إِلا هَمْسًا (١٠٨)يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا (١٠٩)Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyerudengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS Thoha : 108-109)          Orang-orang yang meraih ridho Allah adalah orang-orang yang dimuliakan, yang bahagia di dunia, dan tenang di akhirat.يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةًHai jiwa yang tenang,  Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.(QS Al-Fajr : 27-28)Mereka meraih kemuliaan kesudahan yang indahفَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩)Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, (QS Al-Fajr : 29)Dan jika tubuh mereka telah meninggalkan dunia maka merekapun diberi kabar gembira dengan kenikmatan yang kekal abadiوَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠)masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS Al-Fajr : 30) Khutbah Kedua :Telah bersalah orang yang menyangka bahwa kekayaan dan kemiskinan memiliki hubungan dengan keridhoan dan kemarahan Allah, karena Allah memberikan harta kepada mukmin dan kafir. Allah berfirman :كُلا نُمِدُّ هَؤُلاءِ وَهَؤُلاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا (٢٠)Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (QS Al-Isroo’ : 20)Sempitnya rizki bukanlah indikasi akan kemarahan Allah, dan kekayaan juga tidaklah berarti Allah ridho. Lihatlah Qorun telah diberikan harta yang banyak serta perbendaharaan akan tetapi tidak menunjukkan bahwa Allah ridho kepadanya, karena Allah membenamkannya dan rumahnya ke dalam bumi.فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (١٥)وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (١٦)Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”          Diantara pernyakit adalah ingin tampil dengan amal sholeh dan berharap keridhoan manusia. Dan yang lebih berbahaya dari ini adalah mengharapkan keridhoan manusia dengan mendatangkan kemarahan Allah, dan ikut-ikutan manusia dalam kesesatan mereka dan kefasikan mereka. Bisa jadi ia melakukan perkara yang haram karena takut kepada manusia, terkadang ia tetap duduk di majelis kemungkaran agar kerabatnya atau sahabatnya tidak marah, atau ia meninggalkan suatu kewajiban karena nggak enak dengan celaan mereka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناسَ“Barangsiapa yang mencari keridhoan manusia dengan kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan menjadikan manusia marah kepadanya”Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Menggapai Keridhoan Allah

Khutbah Jumat Mesjid Nabawi 1/5/1436 H – 20/2/2015Oleh : Asy-Syaikh Abdul Bari Ats-Tsubaity hafizohullah Khutbah PertamaSegala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah, amma ba’adu :          Meraih keridhoan Allah ta’ala adalah tujuan tertinggi dan teragung, bahkan ia merupakan tujuan para penghuni surga. Allah berfirman :وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُDan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (QS At-Taubah : 72)Maka tidak ada yang lebih dicintai dan lebih mulia serta lebih besar dari keridhoan Allah. Bahkan meraih keridhoan Allah adalah impian yang mulia, yang karenanya mata orang-orang yang khosyah menangis, hati-hati kaum sholihin bersiap-siap untuk meraihnya, serta kaki-kaki bengkak dan pecah karena sholat di kegelapan malam. Keridhoan ini dijadikan oleh Allah lebih dari surga, sebagai tambahan atas karunia surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إنَّ الله – عز وجل – يَقُولُ لأَهْلِ الجَنَّةِ : يَا أهْلَ الجَنَّةِ ، فَيقولُونَ : لَبَّيكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ ، فَيقُولُ : هَلْ رَضِيتُم ؟ فَيقُولُونَ : وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى يَا رَبَّنَا وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أحداً مِنْ خَلْقِكَ ، فَيقُولُ : ألاَ أُعْطِيكُمْ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُونَ : وَأيُّ شَيءٍ أفْضَلُ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُ : أُحِلُّ عَلَيكُمْ رِضْوَانِي فَلاَ أسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أبَداً“Sesungguhnya Allah azza wa jalla berkata kepada penghuni surga, “Wahai penghuni surga..”, mereka berkata, “Kami memenuhi panggilanMu, kami menta’atiMu”. Allah berkata, “Apakah kalian ridho (puas)?”, maka mereka berkata, “Kenapa kami tidak ridho (puas) sementara Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun dari ciptaanMu”. Maka Allah berkata, “Maukah Aku berikan kepada kalian yang lebih baik dari ini?”. Mereka berkata, “Apakah yang lebih baik dari ini?”. Allah berkata, “Aku telah menurunkan kepada kalian keridhoanKu, maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah ini selama-lamanya” (HR Al-Bukhari dan Muslim).Mencari keridhoan Allah adalah poros kehidupan para Nabi dan kaum sholihin. Musa ‘alaihis salam bersegera menuju keridhoan Allah, beliau berkata : وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى“Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”. (QS Thoha : 84)Nabi Sulaiman bersyukur kepada Robnya dengan beramal dalam mengharapkan keridhoanNya. Ia berkataرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS An-Naml : 19)Dan kita melihat adab yang tinggi ini dari pemilik adab yang agung yaitu Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau beradab –dalam berucap- kepada Robnya tatkala bersedih karena mengharap keridhoanNya tatkala Ibrahim putra beliau wafat. Beliau berkata :تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلاَ نَقُوْلُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا وإِنَّا بِكَ يَا إِبْرَاهِيْمُ لَمَحْزُوْنُوْنَ“Mata menangis, hati bersedih, dan kami tidaklah mengucapkan kecuali yang mendatangkan keridhoan Rob kami, dan sungguh kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim” (HR Muslim)Tujuan yang tertinggi di sisi Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam adalah meraih keridhoan Allah, dan kehidupan beliau berporos kepada mencari keridhoan Allah. Beliau memohon kepada Allah agar Allah memberi petunjuk kepadanya untuk melakukan amalan yang mendatangkan keridhoan Allah subhanahu, beliau berkata :أَسْأَلُكَ مِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى“Aku memohon kepada Mu dari amalan yang Engkau ridhoi”Beliau juga berkata :وَأَرْضِنَا وَارْضَ عَنَّا“Jadikanlah kami ridho (menerima) dan ridhoilah kami”Beliau juga berkata :الْحَمْدُ لَكَ حَتَّى تَرْضَى“Segala puji bagiMu hingga Engkau ridho”Maka kehidupan dibawah naungan tujuan ini, dan mendidik jiwa di atas tujuan ini, akan mengumpulkan kebaikan agama dan dunia, mengasas pertumbuhan yang terarah maju, keberhasilan yang berkesinambungan dalam seluruh perencanaan dan kegiatan kita, yaitu tatkala kita menjadikan misi kita yang tertinggi adalah meraih keridhoan Allah.Tentu tidak sama antara orang yang mencari keridhoan Allah dengan orang yang kembali membawa kemurkaan Allah dalam menyelusuri jalan kehidupan dan perkembangannya, dalam harta, dan dalam kesudahan. Barangsiapa yang mencari keridhoan Allah maka ia akan mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya, menempuh jalan orang-orang yang sholeh, serta beramal dengan amalan orang yang selalu merasa diawasi dan dilihat oleh Robnya. Maka ia akan semangat menuju ketaatan Allah, dan ia akan mengarahkan dunianya kepada jalan Allah, dan ia akan memakmurkan bumi dengan kebaikan dan keterampilan.Allah berfirman :أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِApakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah. (QS Ali Imron : 162)Ini merupakan peraturan yang mulia, tidak sama antara orang yang mengikuti keridhoan Allah dengan orang yang kembali membawa kemarahan Allah. Barangsiapa yang memilih keburukan sebagai jalannya maka ia menyelisihi perintah Allah, melanggar laranganNya, bumipun tertimpa kemudorotan karena buruknya dan hukuman maksiat yang ia lakukan, dan ia kembali dengan kemurkaan Allah.          Kaum mukminin berusaha meraih keridhoan Allah dengan megikhlaskan amal hanya untuk Allah, yang hal ini akan mengangkat nilai amalan, dan memperindah kesempatan produktivitas, serta memperkuat kualitas produk. Allah ta’aala berfirman:وَمَا لأحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (١٩)إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الأعْلَى (٢٠)وَلَسَوْفَ يَرْضَى (٢١)Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi. Dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan. (QS Al-Lail : 19-21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى الإِخْلاَصِ للهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ فَارَقَهَا وَاللهُ عَنْهُ رَاضٍ“Barangsiapa yang meninggalkan dunia di atas keikhlasan hanya untuk Allah semata tidak ada sekutu bagiNya, dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, maka ia telah meninggalkan dunia dalam kondisi Allah ridho kepadanya” (HR Ibnu Maajah, dan dishahihkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrok)          Berusaha mencari keridhoan Allah merupakan indikasi As-Sidq (jujur/tulus) terhadap Allah, dan inilah yang akan bermanfaat pada hari kiamat.قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١١٩)Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar/tulus ketulusan mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. (QS Al-Maidah : 119)Orang-orang yang jujur/tulus meraih keistimewaan ini karena perbuatan mereka membenarkan perkataan mereka. Maka, apakah nilai sebuah kesholehan lahiriah agar dilihat oleh orang-orang sehingga memujinya, akan namun tatkala ia bersendirian maka iapun menunjukkan kepada Allah sikap penyelisihan.          Mendahulukan keridhoan Allah atas selainnya merupakan keselamatan dari kemunafikan.يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَMereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, Padahal Allah dan Rasul-Nya Itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin. (QS At-Taubah : 62)Maka tidak akan diraih keridhoan hanya dengan menampakkan keimanan jika tidak disertai dengan pembenaran hati.فَإِنَّ اللَّهَ لا يَرْضَى عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ (٩٦)Sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang Fasik itu. (QS At-Taubah : 96)Barangsiapa yang mencari keridhoan Allah maka hendaknya ia berlepas dari kemunafikan dan durhaka terhadap perintah Allah.          Al-Walaa (mencintai karena Allah) dan Al-Baroo’ (membenci karena Allah) merupakan landasan keridhoan Allah, yaitu seorang muslim mencintai Allah dan mencintai siapa yang mencintai Allah dan mencintai agamaNya. Serta membenci siapa yang membenci Allah dan memerangi agamaNya, Ia loyal kepada kaum mukminin dan menolong mereka, tidak suka dengan kaum munafik dan membenci mereka.Allah berfirman :لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٢٢)Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. mereka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS Al-Mujaadalah : 22)          Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah dengan hati dan anggota tubuhnya maka ia meraih keridhoan Allah. Allah berfirman :وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْdan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu (QS Az-Zumar : 7) Dan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda :إنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أنْ يَأكُلَ الأَكْلَةَ ، فَيَحمَدَهُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ ، فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا“Sesungguhnya Allah sangat ridho kepada seorang hamba yang memakan makanan lalu memuji Allah karena makanan tersebut, atau meminum suatu minuman lalu memuji Allah karenanya” (HR Muslim)          Orang-orang yang selalu ruku’ dan sujud maka nampak cahaya di wajah mereka dengan air wudu, berseri dengan cahaya sholat, mereka meraih keridhoan Rob mereka. Allah berfirman :مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِMuhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (QS Al-Fath : 29)Barangsiapa yang meninggalkan syahwatnya karena Allah dan mengedepankan keridhoan Robnya di atas hawa nafsunya maka ia meraih keridhoan Allah, dan terwujudkan apa yang ia cita-citakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :قَالَ رَبُّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ : عَبْدِي تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي، وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِRob kalian azza wajalla berkata : “Hambaku meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena mencari keridhoanKu, dan puasa adalah untukKu dan Aku yang akan memberi ganjarannya” (HR Ahmad di Musnadnya dengan sanad yang shahih)          Adapun dzikir kepada Allah maka ia adalah amalan yang paling mendatangkan keridhoan Allah. Dan sesungguhnya seorang yang berdzikir ia mendapati keridhoan pada dirinya, ketenangan di dadanya, dan kebahagiaan di hatinya. Renungkanlah firman Allah ta’aala tatkala Allah berbicara kepada NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini juga ditujukan kepada kaum mukmininفَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى (١٣٠)Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa ridho/senang (QS Thoha : 130)          Perkataan yang baik memiliki kemuliaan pada kandungan maknanya, keindahan yang dirasakan oleh telinga yang mendengarnya, serta pengaruh yang mendalam di dalam jiwa. Dengan perkataan tersebut Allah akan mengangkat derajatmu tanpa kau sadari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ الله تَعَالَى مَا يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجاتٍ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu perkataan yang diridhoi oleh Allah, yang tidak ia pedulikan perkataan tersebut, maka Allah mengangkatnya beberapa derajat karena perkataan tersebut” (HR Al-Bukhari)          Apakah seorang muslim lupa jalan terdekat untuk mencari keridhoan Allah?, metode terkuat dan teragung serta termulia dan terindah?, yaitu dengan meraih keridhoan kedua orang tua. Dan yang lebih mengena daripada ini, bahwasanya keridhoan ibu dan ayah bergandengan dengan keridhoan Rob. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُهُ فِي سَخَطِهِمَا“Keridhoan Rob pada keridhoan kedua orang tua, dan kemarahan Rob pada kemarahan keduanya” (HR Al-Bazzaar)           Barangsiapa yang diridhoi oleh Allah maka ia akan meraih kebahagiaan dan ketentramanرَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُAllah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. (QS Al-Bayyinah : 8)Dan sejuk pandangannya dengan keridhoan Robnya kepadanya, maka ia tidak akan menempuh suatu jalanpun kecuali dimudahkan oleh Allah, tidaklah ia mengetuk satu pintu kebaikanpun kecuali akan dibukakan oleh Allah dan diberkahi oleh Allah.Jika Allah telah ridho kepada seorang hamba maka Allah menerima sedikit amalannya dan Allah akan mengembangkannya, serta Allah akan memaafkan kesalahannya yang banyak dan menghapusnya. Barangsiapa yang diridhoi oleh Allah maka ia akan meraih syafaat pada hari kiamat. Allah berfirman ;يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلا تَسْمَعُ إِلا هَمْسًا (١٠٨)يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا (١٠٩)Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyerudengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS Thoha : 108-109)          Orang-orang yang meraih ridho Allah adalah orang-orang yang dimuliakan, yang bahagia di dunia, dan tenang di akhirat.يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةًHai jiwa yang tenang,  Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.(QS Al-Fajr : 27-28)Mereka meraih kemuliaan kesudahan yang indahفَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩)Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, (QS Al-Fajr : 29)Dan jika tubuh mereka telah meninggalkan dunia maka merekapun diberi kabar gembira dengan kenikmatan yang kekal abadiوَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠)masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS Al-Fajr : 30) Khutbah Kedua :Telah bersalah orang yang menyangka bahwa kekayaan dan kemiskinan memiliki hubungan dengan keridhoan dan kemarahan Allah, karena Allah memberikan harta kepada mukmin dan kafir. Allah berfirman :كُلا نُمِدُّ هَؤُلاءِ وَهَؤُلاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا (٢٠)Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (QS Al-Isroo’ : 20)Sempitnya rizki bukanlah indikasi akan kemarahan Allah, dan kekayaan juga tidaklah berarti Allah ridho. Lihatlah Qorun telah diberikan harta yang banyak serta perbendaharaan akan tetapi tidak menunjukkan bahwa Allah ridho kepadanya, karena Allah membenamkannya dan rumahnya ke dalam bumi.فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (١٥)وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (١٦)Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”          Diantara pernyakit adalah ingin tampil dengan amal sholeh dan berharap keridhoan manusia. Dan yang lebih berbahaya dari ini adalah mengharapkan keridhoan manusia dengan mendatangkan kemarahan Allah, dan ikut-ikutan manusia dalam kesesatan mereka dan kefasikan mereka. Bisa jadi ia melakukan perkara yang haram karena takut kepada manusia, terkadang ia tetap duduk di majelis kemungkaran agar kerabatnya atau sahabatnya tidak marah, atau ia meninggalkan suatu kewajiban karena nggak enak dengan celaan mereka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناسَ“Barangsiapa yang mencari keridhoan manusia dengan kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan menjadikan manusia marah kepadanya”Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Khutbah Jumat Mesjid Nabawi 1/5/1436 H – 20/2/2015Oleh : Asy-Syaikh Abdul Bari Ats-Tsubaity hafizohullah Khutbah PertamaSegala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah, amma ba’adu :          Meraih keridhoan Allah ta’ala adalah tujuan tertinggi dan teragung, bahkan ia merupakan tujuan para penghuni surga. Allah berfirman :وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُDan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (QS At-Taubah : 72)Maka tidak ada yang lebih dicintai dan lebih mulia serta lebih besar dari keridhoan Allah. Bahkan meraih keridhoan Allah adalah impian yang mulia, yang karenanya mata orang-orang yang khosyah menangis, hati-hati kaum sholihin bersiap-siap untuk meraihnya, serta kaki-kaki bengkak dan pecah karena sholat di kegelapan malam. Keridhoan ini dijadikan oleh Allah lebih dari surga, sebagai tambahan atas karunia surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إنَّ الله – عز وجل – يَقُولُ لأَهْلِ الجَنَّةِ : يَا أهْلَ الجَنَّةِ ، فَيقولُونَ : لَبَّيكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ ، فَيقُولُ : هَلْ رَضِيتُم ؟ فَيقُولُونَ : وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى يَا رَبَّنَا وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أحداً مِنْ خَلْقِكَ ، فَيقُولُ : ألاَ أُعْطِيكُمْ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُونَ : وَأيُّ شَيءٍ أفْضَلُ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُ : أُحِلُّ عَلَيكُمْ رِضْوَانِي فَلاَ أسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أبَداً“Sesungguhnya Allah azza wa jalla berkata kepada penghuni surga, “Wahai penghuni surga..”, mereka berkata, “Kami memenuhi panggilanMu, kami menta’atiMu”. Allah berkata, “Apakah kalian ridho (puas)?”, maka mereka berkata, “Kenapa kami tidak ridho (puas) sementara Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun dari ciptaanMu”. Maka Allah berkata, “Maukah Aku berikan kepada kalian yang lebih baik dari ini?”. Mereka berkata, “Apakah yang lebih baik dari ini?”. Allah berkata, “Aku telah menurunkan kepada kalian keridhoanKu, maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah ini selama-lamanya” (HR Al-Bukhari dan Muslim).Mencari keridhoan Allah adalah poros kehidupan para Nabi dan kaum sholihin. Musa ‘alaihis salam bersegera menuju keridhoan Allah, beliau berkata : وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى“Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”. (QS Thoha : 84)Nabi Sulaiman bersyukur kepada Robnya dengan beramal dalam mengharapkan keridhoanNya. Ia berkataرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS An-Naml : 19)Dan kita melihat adab yang tinggi ini dari pemilik adab yang agung yaitu Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau beradab –dalam berucap- kepada Robnya tatkala bersedih karena mengharap keridhoanNya tatkala Ibrahim putra beliau wafat. Beliau berkata :تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلاَ نَقُوْلُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا وإِنَّا بِكَ يَا إِبْرَاهِيْمُ لَمَحْزُوْنُوْنَ“Mata menangis, hati bersedih, dan kami tidaklah mengucapkan kecuali yang mendatangkan keridhoan Rob kami, dan sungguh kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim” (HR Muslim)Tujuan yang tertinggi di sisi Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam adalah meraih keridhoan Allah, dan kehidupan beliau berporos kepada mencari keridhoan Allah. Beliau memohon kepada Allah agar Allah memberi petunjuk kepadanya untuk melakukan amalan yang mendatangkan keridhoan Allah subhanahu, beliau berkata :أَسْأَلُكَ مِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى“Aku memohon kepada Mu dari amalan yang Engkau ridhoi”Beliau juga berkata :وَأَرْضِنَا وَارْضَ عَنَّا“Jadikanlah kami ridho (menerima) dan ridhoilah kami”Beliau juga berkata :الْحَمْدُ لَكَ حَتَّى تَرْضَى“Segala puji bagiMu hingga Engkau ridho”Maka kehidupan dibawah naungan tujuan ini, dan mendidik jiwa di atas tujuan ini, akan mengumpulkan kebaikan agama dan dunia, mengasas pertumbuhan yang terarah maju, keberhasilan yang berkesinambungan dalam seluruh perencanaan dan kegiatan kita, yaitu tatkala kita menjadikan misi kita yang tertinggi adalah meraih keridhoan Allah.Tentu tidak sama antara orang yang mencari keridhoan Allah dengan orang yang kembali membawa kemurkaan Allah dalam menyelusuri jalan kehidupan dan perkembangannya, dalam harta, dan dalam kesudahan. Barangsiapa yang mencari keridhoan Allah maka ia akan mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya, menempuh jalan orang-orang yang sholeh, serta beramal dengan amalan orang yang selalu merasa diawasi dan dilihat oleh Robnya. Maka ia akan semangat menuju ketaatan Allah, dan ia akan mengarahkan dunianya kepada jalan Allah, dan ia akan memakmurkan bumi dengan kebaikan dan keterampilan.Allah berfirman :أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِApakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah. (QS Ali Imron : 162)Ini merupakan peraturan yang mulia, tidak sama antara orang yang mengikuti keridhoan Allah dengan orang yang kembali membawa kemarahan Allah. Barangsiapa yang memilih keburukan sebagai jalannya maka ia menyelisihi perintah Allah, melanggar laranganNya, bumipun tertimpa kemudorotan karena buruknya dan hukuman maksiat yang ia lakukan, dan ia kembali dengan kemurkaan Allah.          Kaum mukminin berusaha meraih keridhoan Allah dengan megikhlaskan amal hanya untuk Allah, yang hal ini akan mengangkat nilai amalan, dan memperindah kesempatan produktivitas, serta memperkuat kualitas produk. Allah ta’aala berfirman:وَمَا لأحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (١٩)إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الأعْلَى (٢٠)وَلَسَوْفَ يَرْضَى (٢١)Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi. Dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan. (QS Al-Lail : 19-21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى الإِخْلاَصِ للهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ فَارَقَهَا وَاللهُ عَنْهُ رَاضٍ“Barangsiapa yang meninggalkan dunia di atas keikhlasan hanya untuk Allah semata tidak ada sekutu bagiNya, dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, maka ia telah meninggalkan dunia dalam kondisi Allah ridho kepadanya” (HR Ibnu Maajah, dan dishahihkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrok)          Berusaha mencari keridhoan Allah merupakan indikasi As-Sidq (jujur/tulus) terhadap Allah, dan inilah yang akan bermanfaat pada hari kiamat.قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١١٩)Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar/tulus ketulusan mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. (QS Al-Maidah : 119)Orang-orang yang jujur/tulus meraih keistimewaan ini karena perbuatan mereka membenarkan perkataan mereka. Maka, apakah nilai sebuah kesholehan lahiriah agar dilihat oleh orang-orang sehingga memujinya, akan namun tatkala ia bersendirian maka iapun menunjukkan kepada Allah sikap penyelisihan.          Mendahulukan keridhoan Allah atas selainnya merupakan keselamatan dari kemunafikan.يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَMereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, Padahal Allah dan Rasul-Nya Itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin. (QS At-Taubah : 62)Maka tidak akan diraih keridhoan hanya dengan menampakkan keimanan jika tidak disertai dengan pembenaran hati.فَإِنَّ اللَّهَ لا يَرْضَى عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ (٩٦)Sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang Fasik itu. (QS At-Taubah : 96)Barangsiapa yang mencari keridhoan Allah maka hendaknya ia berlepas dari kemunafikan dan durhaka terhadap perintah Allah.          Al-Walaa (mencintai karena Allah) dan Al-Baroo’ (membenci karena Allah) merupakan landasan keridhoan Allah, yaitu seorang muslim mencintai Allah dan mencintai siapa yang mencintai Allah dan mencintai agamaNya. Serta membenci siapa yang membenci Allah dan memerangi agamaNya, Ia loyal kepada kaum mukminin dan menolong mereka, tidak suka dengan kaum munafik dan membenci mereka.Allah berfirman :لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٢٢)Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. mereka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS Al-Mujaadalah : 22)          Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah dengan hati dan anggota tubuhnya maka ia meraih keridhoan Allah. Allah berfirman :وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْdan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu (QS Az-Zumar : 7) Dan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda :إنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أنْ يَأكُلَ الأَكْلَةَ ، فَيَحمَدَهُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ ، فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا“Sesungguhnya Allah sangat ridho kepada seorang hamba yang memakan makanan lalu memuji Allah karena makanan tersebut, atau meminum suatu minuman lalu memuji Allah karenanya” (HR Muslim)          Orang-orang yang selalu ruku’ dan sujud maka nampak cahaya di wajah mereka dengan air wudu, berseri dengan cahaya sholat, mereka meraih keridhoan Rob mereka. Allah berfirman :مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِMuhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (QS Al-Fath : 29)Barangsiapa yang meninggalkan syahwatnya karena Allah dan mengedepankan keridhoan Robnya di atas hawa nafsunya maka ia meraih keridhoan Allah, dan terwujudkan apa yang ia cita-citakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :قَالَ رَبُّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ : عَبْدِي تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي، وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِRob kalian azza wajalla berkata : “Hambaku meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena mencari keridhoanKu, dan puasa adalah untukKu dan Aku yang akan memberi ganjarannya” (HR Ahmad di Musnadnya dengan sanad yang shahih)          Adapun dzikir kepada Allah maka ia adalah amalan yang paling mendatangkan keridhoan Allah. Dan sesungguhnya seorang yang berdzikir ia mendapati keridhoan pada dirinya, ketenangan di dadanya, dan kebahagiaan di hatinya. Renungkanlah firman Allah ta’aala tatkala Allah berbicara kepada NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini juga ditujukan kepada kaum mukmininفَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى (١٣٠)Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa ridho/senang (QS Thoha : 130)          Perkataan yang baik memiliki kemuliaan pada kandungan maknanya, keindahan yang dirasakan oleh telinga yang mendengarnya, serta pengaruh yang mendalam di dalam jiwa. Dengan perkataan tersebut Allah akan mengangkat derajatmu tanpa kau sadari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ الله تَعَالَى مَا يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجاتٍ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu perkataan yang diridhoi oleh Allah, yang tidak ia pedulikan perkataan tersebut, maka Allah mengangkatnya beberapa derajat karena perkataan tersebut” (HR Al-Bukhari)          Apakah seorang muslim lupa jalan terdekat untuk mencari keridhoan Allah?, metode terkuat dan teragung serta termulia dan terindah?, yaitu dengan meraih keridhoan kedua orang tua. Dan yang lebih mengena daripada ini, bahwasanya keridhoan ibu dan ayah bergandengan dengan keridhoan Rob. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُهُ فِي سَخَطِهِمَا“Keridhoan Rob pada keridhoan kedua orang tua, dan kemarahan Rob pada kemarahan keduanya” (HR Al-Bazzaar)           Barangsiapa yang diridhoi oleh Allah maka ia akan meraih kebahagiaan dan ketentramanرَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُAllah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. (QS Al-Bayyinah : 8)Dan sejuk pandangannya dengan keridhoan Robnya kepadanya, maka ia tidak akan menempuh suatu jalanpun kecuali dimudahkan oleh Allah, tidaklah ia mengetuk satu pintu kebaikanpun kecuali akan dibukakan oleh Allah dan diberkahi oleh Allah.Jika Allah telah ridho kepada seorang hamba maka Allah menerima sedikit amalannya dan Allah akan mengembangkannya, serta Allah akan memaafkan kesalahannya yang banyak dan menghapusnya. Barangsiapa yang diridhoi oleh Allah maka ia akan meraih syafaat pada hari kiamat. Allah berfirman ;يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلا تَسْمَعُ إِلا هَمْسًا (١٠٨)يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا (١٠٩)Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyerudengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS Thoha : 108-109)          Orang-orang yang meraih ridho Allah adalah orang-orang yang dimuliakan, yang bahagia di dunia, dan tenang di akhirat.يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةًHai jiwa yang tenang,  Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.(QS Al-Fajr : 27-28)Mereka meraih kemuliaan kesudahan yang indahفَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩)Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, (QS Al-Fajr : 29)Dan jika tubuh mereka telah meninggalkan dunia maka merekapun diberi kabar gembira dengan kenikmatan yang kekal abadiوَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠)masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS Al-Fajr : 30) Khutbah Kedua :Telah bersalah orang yang menyangka bahwa kekayaan dan kemiskinan memiliki hubungan dengan keridhoan dan kemarahan Allah, karena Allah memberikan harta kepada mukmin dan kafir. Allah berfirman :كُلا نُمِدُّ هَؤُلاءِ وَهَؤُلاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا (٢٠)Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (QS Al-Isroo’ : 20)Sempitnya rizki bukanlah indikasi akan kemarahan Allah, dan kekayaan juga tidaklah berarti Allah ridho. Lihatlah Qorun telah diberikan harta yang banyak serta perbendaharaan akan tetapi tidak menunjukkan bahwa Allah ridho kepadanya, karena Allah membenamkannya dan rumahnya ke dalam bumi.فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (١٥)وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (١٦)Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”          Diantara pernyakit adalah ingin tampil dengan amal sholeh dan berharap keridhoan manusia. Dan yang lebih berbahaya dari ini adalah mengharapkan keridhoan manusia dengan mendatangkan kemarahan Allah, dan ikut-ikutan manusia dalam kesesatan mereka dan kefasikan mereka. Bisa jadi ia melakukan perkara yang haram karena takut kepada manusia, terkadang ia tetap duduk di majelis kemungkaran agar kerabatnya atau sahabatnya tidak marah, atau ia meninggalkan suatu kewajiban karena nggak enak dengan celaan mereka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناسَ“Barangsiapa yang mencari keridhoan manusia dengan kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan menjadikan manusia marah kepadanya”Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Khutbah Jumat Mesjid Nabawi 1/5/1436 H – 20/2/2015Oleh : Asy-Syaikh Abdul Bari Ats-Tsubaity hafizohullah Khutbah PertamaSegala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah, amma ba’adu :          Meraih keridhoan Allah ta’ala adalah tujuan tertinggi dan teragung, bahkan ia merupakan tujuan para penghuni surga. Allah berfirman :وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُDan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (QS At-Taubah : 72)Maka tidak ada yang lebih dicintai dan lebih mulia serta lebih besar dari keridhoan Allah. Bahkan meraih keridhoan Allah adalah impian yang mulia, yang karenanya mata orang-orang yang khosyah menangis, hati-hati kaum sholihin bersiap-siap untuk meraihnya, serta kaki-kaki bengkak dan pecah karena sholat di kegelapan malam. Keridhoan ini dijadikan oleh Allah lebih dari surga, sebagai tambahan atas karunia surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إنَّ الله – عز وجل – يَقُولُ لأَهْلِ الجَنَّةِ : يَا أهْلَ الجَنَّةِ ، فَيقولُونَ : لَبَّيكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ ، فَيقُولُ : هَلْ رَضِيتُم ؟ فَيقُولُونَ : وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى يَا رَبَّنَا وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أحداً مِنْ خَلْقِكَ ، فَيقُولُ : ألاَ أُعْطِيكُمْ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُونَ : وَأيُّ شَيءٍ أفْضَلُ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُ : أُحِلُّ عَلَيكُمْ رِضْوَانِي فَلاَ أسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أبَداً“Sesungguhnya Allah azza wa jalla berkata kepada penghuni surga, “Wahai penghuni surga..”, mereka berkata, “Kami memenuhi panggilanMu, kami menta’atiMu”. Allah berkata, “Apakah kalian ridho (puas)?”, maka mereka berkata, “Kenapa kami tidak ridho (puas) sementara Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun dari ciptaanMu”. Maka Allah berkata, “Maukah Aku berikan kepada kalian yang lebih baik dari ini?”. Mereka berkata, “Apakah yang lebih baik dari ini?”. Allah berkata, “Aku telah menurunkan kepada kalian keridhoanKu, maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah ini selama-lamanya” (HR Al-Bukhari dan Muslim).Mencari keridhoan Allah adalah poros kehidupan para Nabi dan kaum sholihin. Musa ‘alaihis salam bersegera menuju keridhoan Allah, beliau berkata : وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى“Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”. (QS Thoha : 84)Nabi Sulaiman bersyukur kepada Robnya dengan beramal dalam mengharapkan keridhoanNya. Ia berkataرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS An-Naml : 19)Dan kita melihat adab yang tinggi ini dari pemilik adab yang agung yaitu Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau beradab –dalam berucap- kepada Robnya tatkala bersedih karena mengharap keridhoanNya tatkala Ibrahim putra beliau wafat. Beliau berkata :تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلاَ نَقُوْلُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا وإِنَّا بِكَ يَا إِبْرَاهِيْمُ لَمَحْزُوْنُوْنَ“Mata menangis, hati bersedih, dan kami tidaklah mengucapkan kecuali yang mendatangkan keridhoan Rob kami, dan sungguh kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim” (HR Muslim)Tujuan yang tertinggi di sisi Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam adalah meraih keridhoan Allah, dan kehidupan beliau berporos kepada mencari keridhoan Allah. Beliau memohon kepada Allah agar Allah memberi petunjuk kepadanya untuk melakukan amalan yang mendatangkan keridhoan Allah subhanahu, beliau berkata :أَسْأَلُكَ مِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى“Aku memohon kepada Mu dari amalan yang Engkau ridhoi”Beliau juga berkata :وَأَرْضِنَا وَارْضَ عَنَّا“Jadikanlah kami ridho (menerima) dan ridhoilah kami”Beliau juga berkata :الْحَمْدُ لَكَ حَتَّى تَرْضَى“Segala puji bagiMu hingga Engkau ridho”Maka kehidupan dibawah naungan tujuan ini, dan mendidik jiwa di atas tujuan ini, akan mengumpulkan kebaikan agama dan dunia, mengasas pertumbuhan yang terarah maju, keberhasilan yang berkesinambungan dalam seluruh perencanaan dan kegiatan kita, yaitu tatkala kita menjadikan misi kita yang tertinggi adalah meraih keridhoan Allah.Tentu tidak sama antara orang yang mencari keridhoan Allah dengan orang yang kembali membawa kemurkaan Allah dalam menyelusuri jalan kehidupan dan perkembangannya, dalam harta, dan dalam kesudahan. Barangsiapa yang mencari keridhoan Allah maka ia akan mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya, menempuh jalan orang-orang yang sholeh, serta beramal dengan amalan orang yang selalu merasa diawasi dan dilihat oleh Robnya. Maka ia akan semangat menuju ketaatan Allah, dan ia akan mengarahkan dunianya kepada jalan Allah, dan ia akan memakmurkan bumi dengan kebaikan dan keterampilan.Allah berfirman :أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِApakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah. (QS Ali Imron : 162)Ini merupakan peraturan yang mulia, tidak sama antara orang yang mengikuti keridhoan Allah dengan orang yang kembali membawa kemarahan Allah. Barangsiapa yang memilih keburukan sebagai jalannya maka ia menyelisihi perintah Allah, melanggar laranganNya, bumipun tertimpa kemudorotan karena buruknya dan hukuman maksiat yang ia lakukan, dan ia kembali dengan kemurkaan Allah.          Kaum mukminin berusaha meraih keridhoan Allah dengan megikhlaskan amal hanya untuk Allah, yang hal ini akan mengangkat nilai amalan, dan memperindah kesempatan produktivitas, serta memperkuat kualitas produk. Allah ta’aala berfirman:وَمَا لأحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (١٩)إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الأعْلَى (٢٠)وَلَسَوْفَ يَرْضَى (٢١)Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi. Dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan. (QS Al-Lail : 19-21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى الإِخْلاَصِ للهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ فَارَقَهَا وَاللهُ عَنْهُ رَاضٍ“Barangsiapa yang meninggalkan dunia di atas keikhlasan hanya untuk Allah semata tidak ada sekutu bagiNya, dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, maka ia telah meninggalkan dunia dalam kondisi Allah ridho kepadanya” (HR Ibnu Maajah, dan dishahihkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrok)          Berusaha mencari keridhoan Allah merupakan indikasi As-Sidq (jujur/tulus) terhadap Allah, dan inilah yang akan bermanfaat pada hari kiamat.قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١١٩)Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar/tulus ketulusan mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. (QS Al-Maidah : 119)Orang-orang yang jujur/tulus meraih keistimewaan ini karena perbuatan mereka membenarkan perkataan mereka. Maka, apakah nilai sebuah kesholehan lahiriah agar dilihat oleh orang-orang sehingga memujinya, akan namun tatkala ia bersendirian maka iapun menunjukkan kepada Allah sikap penyelisihan.          Mendahulukan keridhoan Allah atas selainnya merupakan keselamatan dari kemunafikan.يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَMereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, Padahal Allah dan Rasul-Nya Itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin. (QS At-Taubah : 62)Maka tidak akan diraih keridhoan hanya dengan menampakkan keimanan jika tidak disertai dengan pembenaran hati.فَإِنَّ اللَّهَ لا يَرْضَى عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ (٩٦)Sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang Fasik itu. (QS At-Taubah : 96)Barangsiapa yang mencari keridhoan Allah maka hendaknya ia berlepas dari kemunafikan dan durhaka terhadap perintah Allah.          Al-Walaa (mencintai karena Allah) dan Al-Baroo’ (membenci karena Allah) merupakan landasan keridhoan Allah, yaitu seorang muslim mencintai Allah dan mencintai siapa yang mencintai Allah dan mencintai agamaNya. Serta membenci siapa yang membenci Allah dan memerangi agamaNya, Ia loyal kepada kaum mukminin dan menolong mereka, tidak suka dengan kaum munafik dan membenci mereka.Allah berfirman :لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٢٢)Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. mereka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS Al-Mujaadalah : 22)          Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah dengan hati dan anggota tubuhnya maka ia meraih keridhoan Allah. Allah berfirman :وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْdan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu (QS Az-Zumar : 7) Dan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda :إنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أنْ يَأكُلَ الأَكْلَةَ ، فَيَحمَدَهُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ ، فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا“Sesungguhnya Allah sangat ridho kepada seorang hamba yang memakan makanan lalu memuji Allah karena makanan tersebut, atau meminum suatu minuman lalu memuji Allah karenanya” (HR Muslim)          Orang-orang yang selalu ruku’ dan sujud maka nampak cahaya di wajah mereka dengan air wudu, berseri dengan cahaya sholat, mereka meraih keridhoan Rob mereka. Allah berfirman :مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِMuhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (QS Al-Fath : 29)Barangsiapa yang meninggalkan syahwatnya karena Allah dan mengedepankan keridhoan Robnya di atas hawa nafsunya maka ia meraih keridhoan Allah, dan terwujudkan apa yang ia cita-citakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :قَالَ رَبُّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ : عَبْدِي تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي، وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِRob kalian azza wajalla berkata : “Hambaku meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena mencari keridhoanKu, dan puasa adalah untukKu dan Aku yang akan memberi ganjarannya” (HR Ahmad di Musnadnya dengan sanad yang shahih)          Adapun dzikir kepada Allah maka ia adalah amalan yang paling mendatangkan keridhoan Allah. Dan sesungguhnya seorang yang berdzikir ia mendapati keridhoan pada dirinya, ketenangan di dadanya, dan kebahagiaan di hatinya. Renungkanlah firman Allah ta’aala tatkala Allah berbicara kepada NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini juga ditujukan kepada kaum mukmininفَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى (١٣٠)Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa ridho/senang (QS Thoha : 130)          Perkataan yang baik memiliki kemuliaan pada kandungan maknanya, keindahan yang dirasakan oleh telinga yang mendengarnya, serta pengaruh yang mendalam di dalam jiwa. Dengan perkataan tersebut Allah akan mengangkat derajatmu tanpa kau sadari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ الله تَعَالَى مَا يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجاتٍ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu perkataan yang diridhoi oleh Allah, yang tidak ia pedulikan perkataan tersebut, maka Allah mengangkatnya beberapa derajat karena perkataan tersebut” (HR Al-Bukhari)          Apakah seorang muslim lupa jalan terdekat untuk mencari keridhoan Allah?, metode terkuat dan teragung serta termulia dan terindah?, yaitu dengan meraih keridhoan kedua orang tua. Dan yang lebih mengena daripada ini, bahwasanya keridhoan ibu dan ayah bergandengan dengan keridhoan Rob. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُهُ فِي سَخَطِهِمَا“Keridhoan Rob pada keridhoan kedua orang tua, dan kemarahan Rob pada kemarahan keduanya” (HR Al-Bazzaar)           Barangsiapa yang diridhoi oleh Allah maka ia akan meraih kebahagiaan dan ketentramanرَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُAllah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. (QS Al-Bayyinah : 8)Dan sejuk pandangannya dengan keridhoan Robnya kepadanya, maka ia tidak akan menempuh suatu jalanpun kecuali dimudahkan oleh Allah, tidaklah ia mengetuk satu pintu kebaikanpun kecuali akan dibukakan oleh Allah dan diberkahi oleh Allah.Jika Allah telah ridho kepada seorang hamba maka Allah menerima sedikit amalannya dan Allah akan mengembangkannya, serta Allah akan memaafkan kesalahannya yang banyak dan menghapusnya. Barangsiapa yang diridhoi oleh Allah maka ia akan meraih syafaat pada hari kiamat. Allah berfirman ;يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلا تَسْمَعُ إِلا هَمْسًا (١٠٨)يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا (١٠٩)Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyerudengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS Thoha : 108-109)          Orang-orang yang meraih ridho Allah adalah orang-orang yang dimuliakan, yang bahagia di dunia, dan tenang di akhirat.يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةًHai jiwa yang tenang,  Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.(QS Al-Fajr : 27-28)Mereka meraih kemuliaan kesudahan yang indahفَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩)Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, (QS Al-Fajr : 29)Dan jika tubuh mereka telah meninggalkan dunia maka merekapun diberi kabar gembira dengan kenikmatan yang kekal abadiوَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠)masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS Al-Fajr : 30) Khutbah Kedua :Telah bersalah orang yang menyangka bahwa kekayaan dan kemiskinan memiliki hubungan dengan keridhoan dan kemarahan Allah, karena Allah memberikan harta kepada mukmin dan kafir. Allah berfirman :كُلا نُمِدُّ هَؤُلاءِ وَهَؤُلاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا (٢٠)Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (QS Al-Isroo’ : 20)Sempitnya rizki bukanlah indikasi akan kemarahan Allah, dan kekayaan juga tidaklah berarti Allah ridho. Lihatlah Qorun telah diberikan harta yang banyak serta perbendaharaan akan tetapi tidak menunjukkan bahwa Allah ridho kepadanya, karena Allah membenamkannya dan rumahnya ke dalam bumi.فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (١٥)وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (١٦)Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”          Diantara pernyakit adalah ingin tampil dengan amal sholeh dan berharap keridhoan manusia. Dan yang lebih berbahaya dari ini adalah mengharapkan keridhoan manusia dengan mendatangkan kemarahan Allah, dan ikut-ikutan manusia dalam kesesatan mereka dan kefasikan mereka. Bisa jadi ia melakukan perkara yang haram karena takut kepada manusia, terkadang ia tetap duduk di majelis kemungkaran agar kerabatnya atau sahabatnya tidak marah, atau ia meninggalkan suatu kewajiban karena nggak enak dengan celaan mereka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناسَ“Barangsiapa yang mencari keridhoan manusia dengan kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan menjadikan manusia marah kepadanya”Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Buku Terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak

Segera pesan (order) buku terbaru Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc yang membedah ritual pesugihan di tanah air dengan judul “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak”. Sugih berarti kaya dan pesugihan identik dengan mencari kekayaan. Yang diinginkan adalah kaya mendadak (instan). Yang dilakukan dalam ritual pesugihan adalah ritual yang tidak benar, bisa jadi amalan yang mengada-ada yang diamalkan atau dirutinkan, ada yang dengan bermaksiat, bahkan ada pula yang dengan menerjang dosa syirik. Karena yang namanya setan sangat cinta sekali dengan pelaku kesyirikan, amalan yang mengada-ada dan maksiat sehingga mudahlah datang kekayaan dengan wasilah tersebut. Buku ini sengaja mengupas berbagai ritual pesugihan yang ada di tanah air. Yang kebanyakan kami ungkit adalah di pulau Jawa, tidak dipungkiri masih banyak pula di tempat lainnya. Penyimpangan umum dari ritual yang dilakukan dalam pesugihan dibedah dalam buku sederhana ini. Semuanya bertujuan untuk memahamkan masyarakat pada akidah yang benar. Buku terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak Segera miliki! Ukuran buku: 20,5 cm x 14,5 cm. Jumlah halaman: 144. Di antara ritual pesugihan yang dibedah dalam buku tersebut: 1- Pesugihan Lewat Monyet atau Kera (Kethek) 2- Pesugihan Lewat Semedi di Gua dan Makam 3- Pesugihan Lewat Ritual Seks 4- Pesugihan Lewat “Ngalap Berkah” pada Pohon, Benda Pusaka atau Bahkan Lewat Kotoran Hewan 5- Pesugihan Lewat Tumbal, Sembelihan dan Sesajen 6- Pesugihan Melalui Sosok Ghaib 7- Pesugihan Lewat Pengabulan Do’a Siluman Kura-Kura 8- Pesugihan Lewat Kubur Para Wali, Sunan, Kyai, Gus dan Tokoh Penyebar Islam, dengan Do’a dan Tawassul 9- Pesugihan Lewat Jimat — Segera lakukan order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Segera order! Buruan, sebelum kehabisan. Pemesanan di atas sepuluh buku akan mendapatkan free ongkir. Semoga raih ilmu yang bermanfaat dari buku tersebut. — Info Toko Online Ruwaifi.Com & Rumaysho.Com Tagsbuku terbaru pesugihan

Buku Terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak

Segera pesan (order) buku terbaru Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc yang membedah ritual pesugihan di tanah air dengan judul “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak”. Sugih berarti kaya dan pesugihan identik dengan mencari kekayaan. Yang diinginkan adalah kaya mendadak (instan). Yang dilakukan dalam ritual pesugihan adalah ritual yang tidak benar, bisa jadi amalan yang mengada-ada yang diamalkan atau dirutinkan, ada yang dengan bermaksiat, bahkan ada pula yang dengan menerjang dosa syirik. Karena yang namanya setan sangat cinta sekali dengan pelaku kesyirikan, amalan yang mengada-ada dan maksiat sehingga mudahlah datang kekayaan dengan wasilah tersebut. Buku ini sengaja mengupas berbagai ritual pesugihan yang ada di tanah air. Yang kebanyakan kami ungkit adalah di pulau Jawa, tidak dipungkiri masih banyak pula di tempat lainnya. Penyimpangan umum dari ritual yang dilakukan dalam pesugihan dibedah dalam buku sederhana ini. Semuanya bertujuan untuk memahamkan masyarakat pada akidah yang benar. Buku terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak Segera miliki! Ukuran buku: 20,5 cm x 14,5 cm. Jumlah halaman: 144. Di antara ritual pesugihan yang dibedah dalam buku tersebut: 1- Pesugihan Lewat Monyet atau Kera (Kethek) 2- Pesugihan Lewat Semedi di Gua dan Makam 3- Pesugihan Lewat Ritual Seks 4- Pesugihan Lewat “Ngalap Berkah” pada Pohon, Benda Pusaka atau Bahkan Lewat Kotoran Hewan 5- Pesugihan Lewat Tumbal, Sembelihan dan Sesajen 6- Pesugihan Melalui Sosok Ghaib 7- Pesugihan Lewat Pengabulan Do’a Siluman Kura-Kura 8- Pesugihan Lewat Kubur Para Wali, Sunan, Kyai, Gus dan Tokoh Penyebar Islam, dengan Do’a dan Tawassul 9- Pesugihan Lewat Jimat — Segera lakukan order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Segera order! Buruan, sebelum kehabisan. Pemesanan di atas sepuluh buku akan mendapatkan free ongkir. Semoga raih ilmu yang bermanfaat dari buku tersebut. — Info Toko Online Ruwaifi.Com & Rumaysho.Com Tagsbuku terbaru pesugihan
Segera pesan (order) buku terbaru Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc yang membedah ritual pesugihan di tanah air dengan judul “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak”. Sugih berarti kaya dan pesugihan identik dengan mencari kekayaan. Yang diinginkan adalah kaya mendadak (instan). Yang dilakukan dalam ritual pesugihan adalah ritual yang tidak benar, bisa jadi amalan yang mengada-ada yang diamalkan atau dirutinkan, ada yang dengan bermaksiat, bahkan ada pula yang dengan menerjang dosa syirik. Karena yang namanya setan sangat cinta sekali dengan pelaku kesyirikan, amalan yang mengada-ada dan maksiat sehingga mudahlah datang kekayaan dengan wasilah tersebut. Buku ini sengaja mengupas berbagai ritual pesugihan yang ada di tanah air. Yang kebanyakan kami ungkit adalah di pulau Jawa, tidak dipungkiri masih banyak pula di tempat lainnya. Penyimpangan umum dari ritual yang dilakukan dalam pesugihan dibedah dalam buku sederhana ini. Semuanya bertujuan untuk memahamkan masyarakat pada akidah yang benar. Buku terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak Segera miliki! Ukuran buku: 20,5 cm x 14,5 cm. Jumlah halaman: 144. Di antara ritual pesugihan yang dibedah dalam buku tersebut: 1- Pesugihan Lewat Monyet atau Kera (Kethek) 2- Pesugihan Lewat Semedi di Gua dan Makam 3- Pesugihan Lewat Ritual Seks 4- Pesugihan Lewat “Ngalap Berkah” pada Pohon, Benda Pusaka atau Bahkan Lewat Kotoran Hewan 5- Pesugihan Lewat Tumbal, Sembelihan dan Sesajen 6- Pesugihan Melalui Sosok Ghaib 7- Pesugihan Lewat Pengabulan Do’a Siluman Kura-Kura 8- Pesugihan Lewat Kubur Para Wali, Sunan, Kyai, Gus dan Tokoh Penyebar Islam, dengan Do’a dan Tawassul 9- Pesugihan Lewat Jimat — Segera lakukan order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Segera order! Buruan, sebelum kehabisan. Pemesanan di atas sepuluh buku akan mendapatkan free ongkir. Semoga raih ilmu yang bermanfaat dari buku tersebut. — Info Toko Online Ruwaifi.Com & Rumaysho.Com Tagsbuku terbaru pesugihan


Segera pesan (order) buku terbaru Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc yang membedah ritual pesugihan di tanah air dengan judul “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak”. Sugih berarti kaya dan pesugihan identik dengan mencari kekayaan. Yang diinginkan adalah kaya mendadak (instan). Yang dilakukan dalam ritual pesugihan adalah ritual yang tidak benar, bisa jadi amalan yang mengada-ada yang diamalkan atau dirutinkan, ada yang dengan bermaksiat, bahkan ada pula yang dengan menerjang dosa syirik. Karena yang namanya setan sangat cinta sekali dengan pelaku kesyirikan, amalan yang mengada-ada dan maksiat sehingga mudahlah datang kekayaan dengan wasilah tersebut. Buku ini sengaja mengupas berbagai ritual pesugihan yang ada di tanah air. Yang kebanyakan kami ungkit adalah di pulau Jawa, tidak dipungkiri masih banyak pula di tempat lainnya. Penyimpangan umum dari ritual yang dilakukan dalam pesugihan dibedah dalam buku sederhana ini. Semuanya bertujuan untuk memahamkan masyarakat pada akidah yang benar. Buku terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak Segera miliki! Ukuran buku: 20,5 cm x 14,5 cm. Jumlah halaman: 144. Di antara ritual pesugihan yang dibedah dalam buku tersebut: 1- Pesugihan Lewat Monyet atau Kera (Kethek) 2- Pesugihan Lewat Semedi di Gua dan Makam 3- Pesugihan Lewat Ritual Seks 4- Pesugihan Lewat “Ngalap Berkah” pada Pohon, Benda Pusaka atau Bahkan Lewat Kotoran Hewan 5- Pesugihan Lewat Tumbal, Sembelihan dan Sesajen 6- Pesugihan Melalui Sosok Ghaib 7- Pesugihan Lewat Pengabulan Do’a Siluman Kura-Kura 8- Pesugihan Lewat Kubur Para Wali, Sunan, Kyai, Gus dan Tokoh Penyebar Islam, dengan Do’a dan Tawassul 9- Pesugihan Lewat Jimat — Segera lakukan order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Segera order! Buruan, sebelum kehabisan. Pemesanan di atas sepuluh buku akan mendapatkan free ongkir. Semoga raih ilmu yang bermanfaat dari buku tersebut. — Info Toko Online Ruwaifi.Com & Rumaysho.Com Tagsbuku terbaru pesugihan

Kajian Rumaysho.Com di Pondok Labu, Jakarta Selatan, 19 Februari 2015

Bagian yang ingin mengisi waktu libur dengan menimba ilmu syar’i, mari merapat ke kajian besok Kamis bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) di Masjid AR RAUF, Green Andara Residence Pondok Labu, Andara, Jakarta Selatan. Ayo hadir, dan ajak lainnya. Info selengkapnya: Kamis, 29 Rabi’ul Akhir 1436 H, 19 Februari 2015 Masjid AR RAUF, Green Andara Residence Pondok Labu, Andara, Jakarta Selatan. 09.30 – 11.30 WIB Tema: Meraih Berkah Sesuai Sunnah Nabi Pembicara: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunung Kidul, Pengasuh Rumaysho.com dan Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id) Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk menuntut ilmu.. Informasi :HP : 082114227755 / 081808143651 Sumber pembahasan kajian adalah dari buku terbaru karya Ustadz M. Abduh Tuasikal “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak”. Bagi yang ingin memiliki buku tersebut atau tak bisa hadir, bisa pesan buku tersebut di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2B044CC3 atau WA +62 8222 604 2114. Buku Terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak • Bagi Ibu² yg membawa anak balita, dimohon agar menjaga anaknya agar tidαk mengganggu peserta kajian. • Mohon tidak berjualan di dalam masjid. Mohon dishare pada yang lain. — Follow Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Info Pesantren DarushSholihin.Com Info Rumaysho.Com Tagskajian islam pesugihan

Kajian Rumaysho.Com di Pondok Labu, Jakarta Selatan, 19 Februari 2015

Bagian yang ingin mengisi waktu libur dengan menimba ilmu syar’i, mari merapat ke kajian besok Kamis bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) di Masjid AR RAUF, Green Andara Residence Pondok Labu, Andara, Jakarta Selatan. Ayo hadir, dan ajak lainnya. Info selengkapnya: Kamis, 29 Rabi’ul Akhir 1436 H, 19 Februari 2015 Masjid AR RAUF, Green Andara Residence Pondok Labu, Andara, Jakarta Selatan. 09.30 – 11.30 WIB Tema: Meraih Berkah Sesuai Sunnah Nabi Pembicara: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunung Kidul, Pengasuh Rumaysho.com dan Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id) Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk menuntut ilmu.. Informasi :HP : 082114227755 / 081808143651 Sumber pembahasan kajian adalah dari buku terbaru karya Ustadz M. Abduh Tuasikal “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak”. Bagi yang ingin memiliki buku tersebut atau tak bisa hadir, bisa pesan buku tersebut di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2B044CC3 atau WA +62 8222 604 2114. Buku Terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak • Bagi Ibu² yg membawa anak balita, dimohon agar menjaga anaknya agar tidαk mengganggu peserta kajian. • Mohon tidak berjualan di dalam masjid. Mohon dishare pada yang lain. — Follow Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Info Pesantren DarushSholihin.Com Info Rumaysho.Com Tagskajian islam pesugihan
Bagian yang ingin mengisi waktu libur dengan menimba ilmu syar’i, mari merapat ke kajian besok Kamis bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) di Masjid AR RAUF, Green Andara Residence Pondok Labu, Andara, Jakarta Selatan. Ayo hadir, dan ajak lainnya. Info selengkapnya: Kamis, 29 Rabi’ul Akhir 1436 H, 19 Februari 2015 Masjid AR RAUF, Green Andara Residence Pondok Labu, Andara, Jakarta Selatan. 09.30 – 11.30 WIB Tema: Meraih Berkah Sesuai Sunnah Nabi Pembicara: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunung Kidul, Pengasuh Rumaysho.com dan Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id) Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk menuntut ilmu.. Informasi :HP : 082114227755 / 081808143651 Sumber pembahasan kajian adalah dari buku terbaru karya Ustadz M. Abduh Tuasikal “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak”. Bagi yang ingin memiliki buku tersebut atau tak bisa hadir, bisa pesan buku tersebut di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2B044CC3 atau WA +62 8222 604 2114. Buku Terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak • Bagi Ibu² yg membawa anak balita, dimohon agar menjaga anaknya agar tidαk mengganggu peserta kajian. • Mohon tidak berjualan di dalam masjid. Mohon dishare pada yang lain. — Follow Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Info Pesantren DarushSholihin.Com Info Rumaysho.Com Tagskajian islam pesugihan


Bagian yang ingin mengisi waktu libur dengan menimba ilmu syar’i, mari merapat ke kajian besok Kamis bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) di Masjid AR RAUF, Green Andara Residence Pondok Labu, Andara, Jakarta Selatan. Ayo hadir, dan ajak lainnya. Info selengkapnya: Kamis, 29 Rabi’ul Akhir 1436 H, 19 Februari 2015 Masjid AR RAUF, Green Andara Residence Pondok Labu, Andara, Jakarta Selatan. 09.30 – 11.30 WIB Tema: Meraih Berkah Sesuai Sunnah Nabi Pembicara: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunung Kidul, Pengasuh Rumaysho.com dan Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id) Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk menuntut ilmu.. Informasi :HP : 082114227755 / 081808143651 Sumber pembahasan kajian adalah dari buku terbaru karya Ustadz M. Abduh Tuasikal “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak”. Bagi yang ingin memiliki buku tersebut atau tak bisa hadir, bisa pesan buku tersebut di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2B044CC3 atau WA +62 8222 604 2114. Buku Terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak • Bagi Ibu² yg membawa anak balita, dimohon agar menjaga anaknya agar tidαk mengganggu peserta kajian. • Mohon tidak berjualan di dalam masjid. Mohon dishare pada yang lain. — Follow Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Info Pesantren DarushSholihin.Com Info Rumaysho.Com Tagskajian islam pesugihan

Menilai Orang dari Lahiriyah, Lalu Hatinya?

Hukumilah atau nilailah seseorang dari lahiriyahnya. Karena kita tak bisa menelusuri dalam hatinya. Kita bisa menuduh orang tidak ikhlas atau riya’, karena seperti itu butuh penglihatan dalam hati. Menerawang hati seseorang sungguh amat sulit dilakukan. Imam Nawawi rahimahullah membawakan bab dalam Riyadhus Sholihin, “Menjalankan hukum-hukum terhadap manusia menurut lahiriyahnya. Sedangkan keadaan hati mereka diserahkan kepada Allah Ta’ala.” Di antara alasannya adalah dalil-dalil berikut. فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ “Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan” (QS. At Taubah: 5). Juga hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 25 dan Muslim no. 21) Dari Abu ‘Abdillah Thariq bin Asy-yam, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ “Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah (tiada yang berhak disembah selain Allah) dan mengingkari setiap yang diibadahi selain Allah, maka harta serta darahnya haram. Sedangkan hisabnya adalah terserah kepada Allah.” (HR. Muslim no. 23) Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelakui dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia lalu mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh. Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku, « يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ » قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا . فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ “Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96) Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ « أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ ». فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ “Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.” Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun di Gesing Beach, Panggang, Gunungkidul, 28 Rabi’ul Akhir 1436 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 509 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsniat

Menilai Orang dari Lahiriyah, Lalu Hatinya?

Hukumilah atau nilailah seseorang dari lahiriyahnya. Karena kita tak bisa menelusuri dalam hatinya. Kita bisa menuduh orang tidak ikhlas atau riya’, karena seperti itu butuh penglihatan dalam hati. Menerawang hati seseorang sungguh amat sulit dilakukan. Imam Nawawi rahimahullah membawakan bab dalam Riyadhus Sholihin, “Menjalankan hukum-hukum terhadap manusia menurut lahiriyahnya. Sedangkan keadaan hati mereka diserahkan kepada Allah Ta’ala.” Di antara alasannya adalah dalil-dalil berikut. فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ “Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan” (QS. At Taubah: 5). Juga hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 25 dan Muslim no. 21) Dari Abu ‘Abdillah Thariq bin Asy-yam, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ “Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah (tiada yang berhak disembah selain Allah) dan mengingkari setiap yang diibadahi selain Allah, maka harta serta darahnya haram. Sedangkan hisabnya adalah terserah kepada Allah.” (HR. Muslim no. 23) Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelakui dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia lalu mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh. Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku, « يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ » قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا . فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ “Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96) Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ « أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ ». فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ “Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.” Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun di Gesing Beach, Panggang, Gunungkidul, 28 Rabi’ul Akhir 1436 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 509 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsniat
Hukumilah atau nilailah seseorang dari lahiriyahnya. Karena kita tak bisa menelusuri dalam hatinya. Kita bisa menuduh orang tidak ikhlas atau riya’, karena seperti itu butuh penglihatan dalam hati. Menerawang hati seseorang sungguh amat sulit dilakukan. Imam Nawawi rahimahullah membawakan bab dalam Riyadhus Sholihin, “Menjalankan hukum-hukum terhadap manusia menurut lahiriyahnya. Sedangkan keadaan hati mereka diserahkan kepada Allah Ta’ala.” Di antara alasannya adalah dalil-dalil berikut. فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ “Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan” (QS. At Taubah: 5). Juga hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 25 dan Muslim no. 21) Dari Abu ‘Abdillah Thariq bin Asy-yam, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ “Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah (tiada yang berhak disembah selain Allah) dan mengingkari setiap yang diibadahi selain Allah, maka harta serta darahnya haram. Sedangkan hisabnya adalah terserah kepada Allah.” (HR. Muslim no. 23) Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelakui dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia lalu mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh. Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku, « يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ » قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا . فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ “Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96) Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ « أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ ». فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ “Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.” Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun di Gesing Beach, Panggang, Gunungkidul, 28 Rabi’ul Akhir 1436 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 509 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsniat


Hukumilah atau nilailah seseorang dari lahiriyahnya. Karena kita tak bisa menelusuri dalam hatinya. Kita bisa menuduh orang tidak ikhlas atau riya’, karena seperti itu butuh penglihatan dalam hati. Menerawang hati seseorang sungguh amat sulit dilakukan. Imam Nawawi rahimahullah membawakan bab dalam Riyadhus Sholihin, “Menjalankan hukum-hukum terhadap manusia menurut lahiriyahnya. Sedangkan keadaan hati mereka diserahkan kepada Allah Ta’ala.” Di antara alasannya adalah dalil-dalil berikut. فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ “Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan” (QS. At Taubah: 5). Juga hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 25 dan Muslim no. 21) Dari Abu ‘Abdillah Thariq bin Asy-yam, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ “Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah (tiada yang berhak disembah selain Allah) dan mengingkari setiap yang diibadahi selain Allah, maka harta serta darahnya haram. Sedangkan hisabnya adalah terserah kepada Allah.” (HR. Muslim no. 23) Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelakui dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia lalu mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh. Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku, « يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ » قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا . فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ “Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96) Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ « أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ ». فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ “Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.” Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun di Gesing Beach, Panggang, Gunungkidul, 28 Rabi’ul Akhir 1436 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 509 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsniat

Neo Kanibal !!

Allah Azza wa Jalla berfirman :وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُDan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. (QS Al-Hujurot : 12)Penggibah disamakan dengan pemakan bangkai mayat saudaranya karena :1) Mayat ruhnya tidak hadir, sebagaimana yang dighibah juga tidak hadir tatkala dighibahi2) Mayat tidak bisa membela diri tatkala dicincang dagingnya untuk dimakan, sebagaimana orang yang dighibah juga tidak bisa membela dirinya tatkala dia digibahi, karena ia tidak menghadiri majelis ghibah tersebut3) Mayat tatkala dimakan jasadnya terkoyak, sebagaimana orang yang dighibah harga dirinya terkoyak dan dijatuhkan.Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa harga diri lebih mulia daripada darah dan daging. 4) Memakan bangkai asalnya tidak diperbolehkan kecuali jika dalam kondisi darurat dan hanya dibolehkan dimakan seperlunya untuk menghilangkan kondisi darurat tersebut.Maka demikian juga ghibah diperbolehkan jika dalam kondisi darurat dan seperlunya saja, tidak boleh berlebih-lebihan.Adapun ghibah tidak dalam kondisi darurat sama seperti makan bangkai tidak dalam kondisi darurat.(Adapun memakan bangkai manusia dalam kondisi darurat tatkala tidak ditemukan bangkai hewan sama sekali, maka ada khilaf diantara para ulama. Sebagaian ulama membolehkan, dan pendapat yang lebih kuat adalah tidak diperbolehkan sama sekali, karena manusia memiliki kehormatan baik tatkala masih hidup ataupun setelah menjadi mayat http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=1&View=Page&PageNo=1&PageID=116)5) Orang yang berlezat-lezat tatkala mengghibah saudaranya maka sama seperti ia sedang berlezat-lezat menikmati daging bangkai saudaranya yang ia makan dan masukan dalam mulutnya.6) Sebagaimana mengoyak dan memakan daging saudara adalah dosa besar maka demikian juga ghibah merupakan dosa besar7) Ghibah adalah perbuatan yang sangat menjijikan. Jika memakan bangkai hewan saja menjijikan apalagi memakan bangkai manusia?, apalagi bangkai saudara sendiri?, tentu sangat menjijikkan !8) Allah menyebutkan ((memakan daging bangkai saudaramu)), mengisyaratkan hubungan persaudaraan yang kuat antara pengghibah dengan yang dighibahi. Mereka berdua adalah bersaudara se-Islam dan se-Iman. Ini menunjukkan seharusnya seseorang membela saudaranya bukan malah mengghibahnya, menjatuhkan dan merendahkannya.Ini juga mengisyaratkan bahwa kebanyakan ghibah yang terjadi adalah antara seseorang dengan orang yang dekat dengannya, apakah saudaranya, ataukah teman dan sahabatnya. Maka bencilah ghibah karena Allah maka niscaya Allah akan memberikan pahala bagimu, karena Allah yang memerintahkan kita untuk membenci ghibah dengan sebenci-bencinya. Jika ada yang berghibah ria di depanmu maka tunjukkan ketidaksukaanmu dengan perbuatan tersebut, dan tunjukkan bahwa perbuatan ghibah tersebut adalah perbuatan yang menjijikkan. Dan kalau kau mampu maka bela-lah saudaramu yang sedang dighibahi tersebut.Bencilah ghibah sebagaimana engkau benci jika daging saudaramu dikoyak dan dimakan !!Jangan  sampai engkau menjadi kanibal !, dan jangan pula kau biarkan kanibal beraksi dihadapanmu ! Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 28-04-1436 H / 17-02-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Neo Kanibal !!

Allah Azza wa Jalla berfirman :وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُDan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. (QS Al-Hujurot : 12)Penggibah disamakan dengan pemakan bangkai mayat saudaranya karena :1) Mayat ruhnya tidak hadir, sebagaimana yang dighibah juga tidak hadir tatkala dighibahi2) Mayat tidak bisa membela diri tatkala dicincang dagingnya untuk dimakan, sebagaimana orang yang dighibah juga tidak bisa membela dirinya tatkala dia digibahi, karena ia tidak menghadiri majelis ghibah tersebut3) Mayat tatkala dimakan jasadnya terkoyak, sebagaimana orang yang dighibah harga dirinya terkoyak dan dijatuhkan.Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa harga diri lebih mulia daripada darah dan daging. 4) Memakan bangkai asalnya tidak diperbolehkan kecuali jika dalam kondisi darurat dan hanya dibolehkan dimakan seperlunya untuk menghilangkan kondisi darurat tersebut.Maka demikian juga ghibah diperbolehkan jika dalam kondisi darurat dan seperlunya saja, tidak boleh berlebih-lebihan.Adapun ghibah tidak dalam kondisi darurat sama seperti makan bangkai tidak dalam kondisi darurat.(Adapun memakan bangkai manusia dalam kondisi darurat tatkala tidak ditemukan bangkai hewan sama sekali, maka ada khilaf diantara para ulama. Sebagaian ulama membolehkan, dan pendapat yang lebih kuat adalah tidak diperbolehkan sama sekali, karena manusia memiliki kehormatan baik tatkala masih hidup ataupun setelah menjadi mayat http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=1&View=Page&PageNo=1&PageID=116)5) Orang yang berlezat-lezat tatkala mengghibah saudaranya maka sama seperti ia sedang berlezat-lezat menikmati daging bangkai saudaranya yang ia makan dan masukan dalam mulutnya.6) Sebagaimana mengoyak dan memakan daging saudara adalah dosa besar maka demikian juga ghibah merupakan dosa besar7) Ghibah adalah perbuatan yang sangat menjijikan. Jika memakan bangkai hewan saja menjijikan apalagi memakan bangkai manusia?, apalagi bangkai saudara sendiri?, tentu sangat menjijikkan !8) Allah menyebutkan ((memakan daging bangkai saudaramu)), mengisyaratkan hubungan persaudaraan yang kuat antara pengghibah dengan yang dighibahi. Mereka berdua adalah bersaudara se-Islam dan se-Iman. Ini menunjukkan seharusnya seseorang membela saudaranya bukan malah mengghibahnya, menjatuhkan dan merendahkannya.Ini juga mengisyaratkan bahwa kebanyakan ghibah yang terjadi adalah antara seseorang dengan orang yang dekat dengannya, apakah saudaranya, ataukah teman dan sahabatnya. Maka bencilah ghibah karena Allah maka niscaya Allah akan memberikan pahala bagimu, karena Allah yang memerintahkan kita untuk membenci ghibah dengan sebenci-bencinya. Jika ada yang berghibah ria di depanmu maka tunjukkan ketidaksukaanmu dengan perbuatan tersebut, dan tunjukkan bahwa perbuatan ghibah tersebut adalah perbuatan yang menjijikkan. Dan kalau kau mampu maka bela-lah saudaramu yang sedang dighibahi tersebut.Bencilah ghibah sebagaimana engkau benci jika daging saudaramu dikoyak dan dimakan !!Jangan  sampai engkau menjadi kanibal !, dan jangan pula kau biarkan kanibal beraksi dihadapanmu ! Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 28-04-1436 H / 17-02-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com
Allah Azza wa Jalla berfirman :وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُDan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. (QS Al-Hujurot : 12)Penggibah disamakan dengan pemakan bangkai mayat saudaranya karena :1) Mayat ruhnya tidak hadir, sebagaimana yang dighibah juga tidak hadir tatkala dighibahi2) Mayat tidak bisa membela diri tatkala dicincang dagingnya untuk dimakan, sebagaimana orang yang dighibah juga tidak bisa membela dirinya tatkala dia digibahi, karena ia tidak menghadiri majelis ghibah tersebut3) Mayat tatkala dimakan jasadnya terkoyak, sebagaimana orang yang dighibah harga dirinya terkoyak dan dijatuhkan.Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa harga diri lebih mulia daripada darah dan daging. 4) Memakan bangkai asalnya tidak diperbolehkan kecuali jika dalam kondisi darurat dan hanya dibolehkan dimakan seperlunya untuk menghilangkan kondisi darurat tersebut.Maka demikian juga ghibah diperbolehkan jika dalam kondisi darurat dan seperlunya saja, tidak boleh berlebih-lebihan.Adapun ghibah tidak dalam kondisi darurat sama seperti makan bangkai tidak dalam kondisi darurat.(Adapun memakan bangkai manusia dalam kondisi darurat tatkala tidak ditemukan bangkai hewan sama sekali, maka ada khilaf diantara para ulama. Sebagaian ulama membolehkan, dan pendapat yang lebih kuat adalah tidak diperbolehkan sama sekali, karena manusia memiliki kehormatan baik tatkala masih hidup ataupun setelah menjadi mayat http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=1&View=Page&PageNo=1&PageID=116)5) Orang yang berlezat-lezat tatkala mengghibah saudaranya maka sama seperti ia sedang berlezat-lezat menikmati daging bangkai saudaranya yang ia makan dan masukan dalam mulutnya.6) Sebagaimana mengoyak dan memakan daging saudara adalah dosa besar maka demikian juga ghibah merupakan dosa besar7) Ghibah adalah perbuatan yang sangat menjijikan. Jika memakan bangkai hewan saja menjijikan apalagi memakan bangkai manusia?, apalagi bangkai saudara sendiri?, tentu sangat menjijikkan !8) Allah menyebutkan ((memakan daging bangkai saudaramu)), mengisyaratkan hubungan persaudaraan yang kuat antara pengghibah dengan yang dighibahi. Mereka berdua adalah bersaudara se-Islam dan se-Iman. Ini menunjukkan seharusnya seseorang membela saudaranya bukan malah mengghibahnya, menjatuhkan dan merendahkannya.Ini juga mengisyaratkan bahwa kebanyakan ghibah yang terjadi adalah antara seseorang dengan orang yang dekat dengannya, apakah saudaranya, ataukah teman dan sahabatnya. Maka bencilah ghibah karena Allah maka niscaya Allah akan memberikan pahala bagimu, karena Allah yang memerintahkan kita untuk membenci ghibah dengan sebenci-bencinya. Jika ada yang berghibah ria di depanmu maka tunjukkan ketidaksukaanmu dengan perbuatan tersebut, dan tunjukkan bahwa perbuatan ghibah tersebut adalah perbuatan yang menjijikkan. Dan kalau kau mampu maka bela-lah saudaramu yang sedang dighibahi tersebut.Bencilah ghibah sebagaimana engkau benci jika daging saudaramu dikoyak dan dimakan !!Jangan  sampai engkau menjadi kanibal !, dan jangan pula kau biarkan kanibal beraksi dihadapanmu ! Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 28-04-1436 H / 17-02-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com


Allah Azza wa Jalla berfirman :وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُDan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. (QS Al-Hujurot : 12)Penggibah disamakan dengan pemakan bangkai mayat saudaranya karena :1) Mayat ruhnya tidak hadir, sebagaimana yang dighibah juga tidak hadir tatkala dighibahi2) Mayat tidak bisa membela diri tatkala dicincang dagingnya untuk dimakan, sebagaimana orang yang dighibah juga tidak bisa membela dirinya tatkala dia digibahi, karena ia tidak menghadiri majelis ghibah tersebut3) Mayat tatkala dimakan jasadnya terkoyak, sebagaimana orang yang dighibah harga dirinya terkoyak dan dijatuhkan.Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa harga diri lebih mulia daripada darah dan daging. 4) Memakan bangkai asalnya tidak diperbolehkan kecuali jika dalam kondisi darurat dan hanya dibolehkan dimakan seperlunya untuk menghilangkan kondisi darurat tersebut.Maka demikian juga ghibah diperbolehkan jika dalam kondisi darurat dan seperlunya saja, tidak boleh berlebih-lebihan.Adapun ghibah tidak dalam kondisi darurat sama seperti makan bangkai tidak dalam kondisi darurat.(Adapun memakan bangkai manusia dalam kondisi darurat tatkala tidak ditemukan bangkai hewan sama sekali, maka ada khilaf diantara para ulama. Sebagaian ulama membolehkan, dan pendapat yang lebih kuat adalah tidak diperbolehkan sama sekali, karena manusia memiliki kehormatan baik tatkala masih hidup ataupun setelah menjadi mayat http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=1&View=Page&PageNo=1&PageID=116)5) Orang yang berlezat-lezat tatkala mengghibah saudaranya maka sama seperti ia sedang berlezat-lezat menikmati daging bangkai saudaranya yang ia makan dan masukan dalam mulutnya.6) Sebagaimana mengoyak dan memakan daging saudara adalah dosa besar maka demikian juga ghibah merupakan dosa besar7) Ghibah adalah perbuatan yang sangat menjijikan. Jika memakan bangkai hewan saja menjijikan apalagi memakan bangkai manusia?, apalagi bangkai saudara sendiri?, tentu sangat menjijikkan !8) Allah menyebutkan ((memakan daging bangkai saudaramu)), mengisyaratkan hubungan persaudaraan yang kuat antara pengghibah dengan yang dighibahi. Mereka berdua adalah bersaudara se-Islam dan se-Iman. Ini menunjukkan seharusnya seseorang membela saudaranya bukan malah mengghibahnya, menjatuhkan dan merendahkannya.Ini juga mengisyaratkan bahwa kebanyakan ghibah yang terjadi adalah antara seseorang dengan orang yang dekat dengannya, apakah saudaranya, ataukah teman dan sahabatnya. Maka bencilah ghibah karena Allah maka niscaya Allah akan memberikan pahala bagimu, karena Allah yang memerintahkan kita untuk membenci ghibah dengan sebenci-bencinya. Jika ada yang berghibah ria di depanmu maka tunjukkan ketidaksukaanmu dengan perbuatan tersebut, dan tunjukkan bahwa perbuatan ghibah tersebut adalah perbuatan yang menjijikkan. Dan kalau kau mampu maka bela-lah saudaramu yang sedang dighibahi tersebut.Bencilah ghibah sebagaimana engkau benci jika daging saudaramu dikoyak dan dimakan !!Jangan  sampai engkau menjadi kanibal !, dan jangan pula kau biarkan kanibal beraksi dihadapanmu ! Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 28-04-1436 H / 17-02-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Video Islamic Parenting: Ayah, Ibu.. Bawa Kami ke Surga (Bagian 2)

Video Islamic Parenting: Ayah, Ibu.. Bawa Kami ke Surga (Bagian 2) – Ustadz Firanda Andirja, M.A.Rekaman pengajian dan ceramah agama Islam yang mengangkat tema tentang pendidikan anak. Dalam ceramah parenting Islami yang dilaksanakan dalam dua sesi ini, Ustadz Firanda Andirja sebagai pemateri menjelaskan tentang kiat-kiat mencetak generasi yang shalih dan shalihah. Dijelaskan pula bagaimana seharusnya orang tua bersikap terhadap anak-anaknya sebagai upaya menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi buah hati tercinta dan orang tua sebagai guru yang menuntun buah hati hingga ke Surga. Temukan berbagai penjelasan menarik dan juga dialog seputar tema pendidikan anak ini dalam video kajian bertajuk Ayah, Ibu… Bawa Kami ke Surga yang diselenggarakan di Masjid PUSDAI Jawa Barat pada 20 Januari 2015. Semoga video Islamic Parenting ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin, khususnya para orang tua dan calon orang tua yang mendambakan lahirnya anak-anak yang sholeh dan sholehah.Video Islamic Parenting bagian Pertama: http://youtu.be/D55WqCIsOAA

Video Islamic Parenting: Ayah, Ibu.. Bawa Kami ke Surga (Bagian 2)

Video Islamic Parenting: Ayah, Ibu.. Bawa Kami ke Surga (Bagian 2) – Ustadz Firanda Andirja, M.A.Rekaman pengajian dan ceramah agama Islam yang mengangkat tema tentang pendidikan anak. Dalam ceramah parenting Islami yang dilaksanakan dalam dua sesi ini, Ustadz Firanda Andirja sebagai pemateri menjelaskan tentang kiat-kiat mencetak generasi yang shalih dan shalihah. Dijelaskan pula bagaimana seharusnya orang tua bersikap terhadap anak-anaknya sebagai upaya menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi buah hati tercinta dan orang tua sebagai guru yang menuntun buah hati hingga ke Surga. Temukan berbagai penjelasan menarik dan juga dialog seputar tema pendidikan anak ini dalam video kajian bertajuk Ayah, Ibu… Bawa Kami ke Surga yang diselenggarakan di Masjid PUSDAI Jawa Barat pada 20 Januari 2015. Semoga video Islamic Parenting ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin, khususnya para orang tua dan calon orang tua yang mendambakan lahirnya anak-anak yang sholeh dan sholehah.Video Islamic Parenting bagian Pertama: http://youtu.be/D55WqCIsOAA
Video Islamic Parenting: Ayah, Ibu.. Bawa Kami ke Surga (Bagian 2) – Ustadz Firanda Andirja, M.A.Rekaman pengajian dan ceramah agama Islam yang mengangkat tema tentang pendidikan anak. Dalam ceramah parenting Islami yang dilaksanakan dalam dua sesi ini, Ustadz Firanda Andirja sebagai pemateri menjelaskan tentang kiat-kiat mencetak generasi yang shalih dan shalihah. Dijelaskan pula bagaimana seharusnya orang tua bersikap terhadap anak-anaknya sebagai upaya menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi buah hati tercinta dan orang tua sebagai guru yang menuntun buah hati hingga ke Surga. Temukan berbagai penjelasan menarik dan juga dialog seputar tema pendidikan anak ini dalam video kajian bertajuk Ayah, Ibu… Bawa Kami ke Surga yang diselenggarakan di Masjid PUSDAI Jawa Barat pada 20 Januari 2015. Semoga video Islamic Parenting ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin, khususnya para orang tua dan calon orang tua yang mendambakan lahirnya anak-anak yang sholeh dan sholehah.Video Islamic Parenting bagian Pertama: http://youtu.be/D55WqCIsOAA


Video Islamic Parenting: Ayah, Ibu.. Bawa Kami ke Surga (Bagian 2) – Ustadz Firanda Andirja, M.A.Rekaman pengajian dan ceramah agama Islam yang mengangkat tema tentang pendidikan anak. Dalam ceramah parenting Islami yang dilaksanakan dalam dua sesi ini, Ustadz Firanda Andirja sebagai pemateri menjelaskan tentang kiat-kiat mencetak generasi yang shalih dan shalihah. Dijelaskan pula bagaimana seharusnya orang tua bersikap terhadap anak-anaknya sebagai upaya menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi buah hati tercinta dan orang tua sebagai guru yang menuntun buah hati hingga ke Surga. Temukan berbagai penjelasan menarik dan juga dialog seputar tema pendidikan anak ini dalam video kajian bertajuk Ayah, Ibu… Bawa Kami ke Surga yang diselenggarakan di Masjid PUSDAI Jawa Barat pada 20 Januari 2015. Semoga video Islamic Parenting ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin, khususnya para orang tua dan calon orang tua yang mendambakan lahirnya anak-anak yang sholeh dan sholehah.Video Islamic Parenting bagian Pertama: http://youtu.be/D55WqCIsOAA

Bolehkah Anak Menjadi Wali Nikah bagi Ibunya?

Bolehkah anak yang sudah baligh menjadi wali nikah untuk ibunya? Dalam madzhab Syafi’i,yang menjadi wali nikah untuk wanita memiliki urutan sebagai berikut: 1- Ayah, lalu kakek (bapak dari bapak), lalu ke atas. 2- Saudara laki-laki kandung, lalu saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki (keponakan), lalu ke bawahnya. 3- Paman kandung (saudara kandung dari bapak), lalu paman sebapak dengan bapak, lalu anak dari paman (sepupu), lalu seterusnya ke bawah. Kemudian ‘ashobah lainnya (orang yang mendapat jatah waris sisa). Urutan dalam wali nikah, sama dengan urutan waris. Kecuali untuk kakek lebih didahulukan dari saudara laki-laki, hal ini berbeda dalam masalah waris. Begitu pula untuk anak laki-laki, ia tidak bisa menikahkan ibunya, walau dalam masalah waris, ia mendapatkan jatah. Imam Nawawi dalam Al Minhaj (2: 428) berkata, وَأَحَقُّ الْأَوْلِيَاءِ أَبٌ ثُمَّ جَدٌّ ثُمَّ أَبُوهُ ثُمَّ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ أَوْ لِأَبٍ ثُمَّ ابْنُهُ وَإِنْ سَفَلَ ثُمَّ عَمٌّ ثُمَّ سَائِرُ الْعَصَبَةِ كَالْإِرْثِ، وَيُقَدَّمُ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ عَلَى أَخٍ لِأَبٍ فِي الْأَظْهَرِ، وَلَا يُزَوِّجُ ابْنٌ بِبُنُوَّةٍ، “Yang berhak menjadi wali wanita adalah bapak, kemudian kakek, kemudian ke atasnya lagi. Lalu saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki, lalu ke bawah (keponakan). Lalu paman (saudara ayah), lalu ashobah lainnya seperti pada waris. Saudara kandung lebih didahulukan daripada saudara sebapak. Demikian pendapat terkuat. Lalu anak laki-laki tidaklah menjadi wali karena statusnya sebagai anak.” Di antara dasar ulama Syafi’iyah tidak membolehkan anak menjadi wali nikah karena hubungan anak dan ibunya bukanlah dari hasil nasab (namun dari pernikahan dengan bapak dari anak itu, barulah ada anak). Sama halnya dengan saudara laki-laki seibu tidaklah boleh menikahkan saudara perempuannya seibu karena tidak ada nasab dari jalur bapak. Murid Imam Asy Syafi’i yaitu Al Muzani menyelisihi pendapat di atas. Termasuk pula tiga ulama madzhab lainnya selain Syafi’iyah. Artinya, mayoritas ulama masih membolehkan anak yang sudah baligh (dewasa) menjadi wali nikah. Wallahu Ta’ala a’lam. Moga bermanfaat.   Referensi: Kifayatul Akhyar, Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al Hishni Al Husaini Ad Dimasyqi, Asy Syafi’i, terbitan Darul Minhaj, cetakan pertama, tahun 1428 H. Minhajuth Tholibin, Imam Nawawi, tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al Haddad, terbitan Dar Al Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H. Website: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=129293 http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=151337 — Diselesaikan di sore hari ba’da ‘Ashar, 27 Rabi’ul Akhir 1436 H di Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 502 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsnikah

Bolehkah Anak Menjadi Wali Nikah bagi Ibunya?

Bolehkah anak yang sudah baligh menjadi wali nikah untuk ibunya? Dalam madzhab Syafi’i,yang menjadi wali nikah untuk wanita memiliki urutan sebagai berikut: 1- Ayah, lalu kakek (bapak dari bapak), lalu ke atas. 2- Saudara laki-laki kandung, lalu saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki (keponakan), lalu ke bawahnya. 3- Paman kandung (saudara kandung dari bapak), lalu paman sebapak dengan bapak, lalu anak dari paman (sepupu), lalu seterusnya ke bawah. Kemudian ‘ashobah lainnya (orang yang mendapat jatah waris sisa). Urutan dalam wali nikah, sama dengan urutan waris. Kecuali untuk kakek lebih didahulukan dari saudara laki-laki, hal ini berbeda dalam masalah waris. Begitu pula untuk anak laki-laki, ia tidak bisa menikahkan ibunya, walau dalam masalah waris, ia mendapatkan jatah. Imam Nawawi dalam Al Minhaj (2: 428) berkata, وَأَحَقُّ الْأَوْلِيَاءِ أَبٌ ثُمَّ جَدٌّ ثُمَّ أَبُوهُ ثُمَّ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ أَوْ لِأَبٍ ثُمَّ ابْنُهُ وَإِنْ سَفَلَ ثُمَّ عَمٌّ ثُمَّ سَائِرُ الْعَصَبَةِ كَالْإِرْثِ، وَيُقَدَّمُ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ عَلَى أَخٍ لِأَبٍ فِي الْأَظْهَرِ، وَلَا يُزَوِّجُ ابْنٌ بِبُنُوَّةٍ، “Yang berhak menjadi wali wanita adalah bapak, kemudian kakek, kemudian ke atasnya lagi. Lalu saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki, lalu ke bawah (keponakan). Lalu paman (saudara ayah), lalu ashobah lainnya seperti pada waris. Saudara kandung lebih didahulukan daripada saudara sebapak. Demikian pendapat terkuat. Lalu anak laki-laki tidaklah menjadi wali karena statusnya sebagai anak.” Di antara dasar ulama Syafi’iyah tidak membolehkan anak menjadi wali nikah karena hubungan anak dan ibunya bukanlah dari hasil nasab (namun dari pernikahan dengan bapak dari anak itu, barulah ada anak). Sama halnya dengan saudara laki-laki seibu tidaklah boleh menikahkan saudara perempuannya seibu karena tidak ada nasab dari jalur bapak. Murid Imam Asy Syafi’i yaitu Al Muzani menyelisihi pendapat di atas. Termasuk pula tiga ulama madzhab lainnya selain Syafi’iyah. Artinya, mayoritas ulama masih membolehkan anak yang sudah baligh (dewasa) menjadi wali nikah. Wallahu Ta’ala a’lam. Moga bermanfaat.   Referensi: Kifayatul Akhyar, Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al Hishni Al Husaini Ad Dimasyqi, Asy Syafi’i, terbitan Darul Minhaj, cetakan pertama, tahun 1428 H. Minhajuth Tholibin, Imam Nawawi, tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al Haddad, terbitan Dar Al Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H. Website: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=129293 http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=151337 — Diselesaikan di sore hari ba’da ‘Ashar, 27 Rabi’ul Akhir 1436 H di Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 502 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsnikah
Bolehkah anak yang sudah baligh menjadi wali nikah untuk ibunya? Dalam madzhab Syafi’i,yang menjadi wali nikah untuk wanita memiliki urutan sebagai berikut: 1- Ayah, lalu kakek (bapak dari bapak), lalu ke atas. 2- Saudara laki-laki kandung, lalu saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki (keponakan), lalu ke bawahnya. 3- Paman kandung (saudara kandung dari bapak), lalu paman sebapak dengan bapak, lalu anak dari paman (sepupu), lalu seterusnya ke bawah. Kemudian ‘ashobah lainnya (orang yang mendapat jatah waris sisa). Urutan dalam wali nikah, sama dengan urutan waris. Kecuali untuk kakek lebih didahulukan dari saudara laki-laki, hal ini berbeda dalam masalah waris. Begitu pula untuk anak laki-laki, ia tidak bisa menikahkan ibunya, walau dalam masalah waris, ia mendapatkan jatah. Imam Nawawi dalam Al Minhaj (2: 428) berkata, وَأَحَقُّ الْأَوْلِيَاءِ أَبٌ ثُمَّ جَدٌّ ثُمَّ أَبُوهُ ثُمَّ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ أَوْ لِأَبٍ ثُمَّ ابْنُهُ وَإِنْ سَفَلَ ثُمَّ عَمٌّ ثُمَّ سَائِرُ الْعَصَبَةِ كَالْإِرْثِ، وَيُقَدَّمُ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ عَلَى أَخٍ لِأَبٍ فِي الْأَظْهَرِ، وَلَا يُزَوِّجُ ابْنٌ بِبُنُوَّةٍ، “Yang berhak menjadi wali wanita adalah bapak, kemudian kakek, kemudian ke atasnya lagi. Lalu saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki, lalu ke bawah (keponakan). Lalu paman (saudara ayah), lalu ashobah lainnya seperti pada waris. Saudara kandung lebih didahulukan daripada saudara sebapak. Demikian pendapat terkuat. Lalu anak laki-laki tidaklah menjadi wali karena statusnya sebagai anak.” Di antara dasar ulama Syafi’iyah tidak membolehkan anak menjadi wali nikah karena hubungan anak dan ibunya bukanlah dari hasil nasab (namun dari pernikahan dengan bapak dari anak itu, barulah ada anak). Sama halnya dengan saudara laki-laki seibu tidaklah boleh menikahkan saudara perempuannya seibu karena tidak ada nasab dari jalur bapak. Murid Imam Asy Syafi’i yaitu Al Muzani menyelisihi pendapat di atas. Termasuk pula tiga ulama madzhab lainnya selain Syafi’iyah. Artinya, mayoritas ulama masih membolehkan anak yang sudah baligh (dewasa) menjadi wali nikah. Wallahu Ta’ala a’lam. Moga bermanfaat.   Referensi: Kifayatul Akhyar, Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al Hishni Al Husaini Ad Dimasyqi, Asy Syafi’i, terbitan Darul Minhaj, cetakan pertama, tahun 1428 H. Minhajuth Tholibin, Imam Nawawi, tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al Haddad, terbitan Dar Al Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H. Website: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=129293 http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=151337 — Diselesaikan di sore hari ba’da ‘Ashar, 27 Rabi’ul Akhir 1436 H di Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 502 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsnikah


Bolehkah anak yang sudah baligh menjadi wali nikah untuk ibunya? Dalam madzhab Syafi’i,yang menjadi wali nikah untuk wanita memiliki urutan sebagai berikut: 1- Ayah, lalu kakek (bapak dari bapak), lalu ke atas. 2- Saudara laki-laki kandung, lalu saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki (keponakan), lalu ke bawahnya. 3- Paman kandung (saudara kandung dari bapak), lalu paman sebapak dengan bapak, lalu anak dari paman (sepupu), lalu seterusnya ke bawah. Kemudian ‘ashobah lainnya (orang yang mendapat jatah waris sisa). Urutan dalam wali nikah, sama dengan urutan waris. Kecuali untuk kakek lebih didahulukan dari saudara laki-laki, hal ini berbeda dalam masalah waris. Begitu pula untuk anak laki-laki, ia tidak bisa menikahkan ibunya, walau dalam masalah waris, ia mendapatkan jatah. Imam Nawawi dalam Al Minhaj (2: 428) berkata, وَأَحَقُّ الْأَوْلِيَاءِ أَبٌ ثُمَّ جَدٌّ ثُمَّ أَبُوهُ ثُمَّ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ أَوْ لِأَبٍ ثُمَّ ابْنُهُ وَإِنْ سَفَلَ ثُمَّ عَمٌّ ثُمَّ سَائِرُ الْعَصَبَةِ كَالْإِرْثِ، وَيُقَدَّمُ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ عَلَى أَخٍ لِأَبٍ فِي الْأَظْهَرِ، وَلَا يُزَوِّجُ ابْنٌ بِبُنُوَّةٍ، “Yang berhak menjadi wali wanita adalah bapak, kemudian kakek, kemudian ke atasnya lagi. Lalu saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki, lalu ke bawah (keponakan). Lalu paman (saudara ayah), lalu ashobah lainnya seperti pada waris. Saudara kandung lebih didahulukan daripada saudara sebapak. Demikian pendapat terkuat. Lalu anak laki-laki tidaklah menjadi wali karena statusnya sebagai anak.” Di antara dasar ulama Syafi’iyah tidak membolehkan anak menjadi wali nikah karena hubungan anak dan ibunya bukanlah dari hasil nasab (namun dari pernikahan dengan bapak dari anak itu, barulah ada anak). Sama halnya dengan saudara laki-laki seibu tidaklah boleh menikahkan saudara perempuannya seibu karena tidak ada nasab dari jalur bapak. Murid Imam Asy Syafi’i yaitu Al Muzani menyelisihi pendapat di atas. Termasuk pula tiga ulama madzhab lainnya selain Syafi’iyah. Artinya, mayoritas ulama masih membolehkan anak yang sudah baligh (dewasa) menjadi wali nikah. Wallahu Ta’ala a’lam. Moga bermanfaat.   Referensi: Kifayatul Akhyar, Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al Hishni Al Husaini Ad Dimasyqi, Asy Syafi’i, terbitan Darul Minhaj, cetakan pertama, tahun 1428 H. Minhajuth Tholibin, Imam Nawawi, tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al Haddad, terbitan Dar Al Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H. Website: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=129293 http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=151337 — Diselesaikan di sore hari ba’da ‘Ashar, 27 Rabi’ul Akhir 1436 H di Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 502 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsnikah

Tak Perlu Khawatir dengan Rezeki

Rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan. Kita tetap berikhtiar. Namun tetap ketentuan rezeki kita sudah ada yang mengatur. So, tak perlu khawatir akan rezeki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash) Dalam hadits lainnya disebutkan, إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ “Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali) Masihkah kita khawatir dengan rezeki? Ingatlah, rezeki selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil. Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ “Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Panggang, GK, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsasmaul husna rezeki tawakkal

Tak Perlu Khawatir dengan Rezeki

Rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan. Kita tetap berikhtiar. Namun tetap ketentuan rezeki kita sudah ada yang mengatur. So, tak perlu khawatir akan rezeki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash) Dalam hadits lainnya disebutkan, إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ “Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali) Masihkah kita khawatir dengan rezeki? Ingatlah, rezeki selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil. Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ “Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Panggang, GK, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsasmaul husna rezeki tawakkal
Rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan. Kita tetap berikhtiar. Namun tetap ketentuan rezeki kita sudah ada yang mengatur. So, tak perlu khawatir akan rezeki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash) Dalam hadits lainnya disebutkan, إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ “Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali) Masihkah kita khawatir dengan rezeki? Ingatlah, rezeki selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil. Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ “Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Panggang, GK, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsasmaul husna rezeki tawakkal


Rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan. Kita tetap berikhtiar. Namun tetap ketentuan rezeki kita sudah ada yang mengatur. So, tak perlu khawatir akan rezeki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash) Dalam hadits lainnya disebutkan, إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ “Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali) Masihkah kita khawatir dengan rezeki? Ingatlah, rezeki selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil. Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ “Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Panggang, GK, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsasmaul husna rezeki tawakkal
Prev     Next