Sifat Shalat Nabi (27): Di Tasyahud Akhir, Berdoa Agar Rajin Berdzikir dan Bersyukur

Di tasyahud akhir, ada doa yang dituntunkan yang bisa kita baca dan semestinya dihafalkan, yaitu doa meminta pada Allah untuk rajin berdzikir, bersyukur dan bagus dalam ibadah. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang tangannya lalu berkata, يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ “Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda, أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “Aku memberikanmu nasehat, wahai mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat (di akhir shalat setelah sama) bacaan doa: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu).” Disebutkan di akhir hadits, وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِىَّ وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِىُّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ. “Mu’adz mewasiatkan seperti itu pada Ash Sunabihi. Lalu Ash Shunabihi mewasiatkannya lagi pada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud no. 1522 dan An Nasai no. 1304. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Ada tiga permintaan yang diminta dalam doa ini. Pertama, meminta pada Allah agar dimudahkan berdzikir. Di sini bisa berupa membaca Al Quran, memuji Allah, menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat, dan semacam itu. Lantas kenapa dzikir didahulukan dari syukur? Karena jika seseorang tidak berdzikir berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152). Kedua, meminta pada Allah untuk rajin bersyukur. Syukur adalah menampakkan bekas nikmat Allah pada lisan hamba-Nya sebagai bentuk pujian, juga ada bentuk pengakuan dalam hati dan diwujudkan dengan ketundukkan pada anggota badan. Disebut syukur tentu saja dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk ketaatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah, serta menjauhkan diri dari maksiat pada-Nya. Ketiga, meminta pada Allah supaya bisa beribadah dengan baik. Yang dimaksud ibadah yang baik adalah ibadah yang ikhlas dan ibadah yang sesuai tuntunan. Dalam hadits disebutkan bahwa doa tersebut dibaca di dubur shalat. Dubur shalat itu bisa berarti sebelum salam, bisa pula sesudah salam. Namun yang lebih tepat di sini adalah sebelum salam karena dua alasan: Dubur shalat itu adalah ujungnya sesuatu dan masih merupakan bagian dari sesuatu tersebut, sehingga lebih tepat dimaknakan dubur shalat di sini adalah di akhir shalat sebelum salam. Sebelum salam itu adalah tempatnya doa. Namun kalau lupa dilakukan sebelum salam, maka bisa memilih sesudah salam karena sama-sama disebut dubur shalat. Semoga bermanfaat, moga doanya bisa dihafalkan dan dipraktekkan. Moga Allah memberikan kita kemudahan dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 3: 194-196. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 16 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagscara shalat doa Dzikir syukur

Sifat Shalat Nabi (27): Di Tasyahud Akhir, Berdoa Agar Rajin Berdzikir dan Bersyukur

Di tasyahud akhir, ada doa yang dituntunkan yang bisa kita baca dan semestinya dihafalkan, yaitu doa meminta pada Allah untuk rajin berdzikir, bersyukur dan bagus dalam ibadah. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang tangannya lalu berkata, يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ “Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda, أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “Aku memberikanmu nasehat, wahai mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat (di akhir shalat setelah sama) bacaan doa: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu).” Disebutkan di akhir hadits, وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِىَّ وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِىُّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ. “Mu’adz mewasiatkan seperti itu pada Ash Sunabihi. Lalu Ash Shunabihi mewasiatkannya lagi pada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud no. 1522 dan An Nasai no. 1304. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Ada tiga permintaan yang diminta dalam doa ini. Pertama, meminta pada Allah agar dimudahkan berdzikir. Di sini bisa berupa membaca Al Quran, memuji Allah, menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat, dan semacam itu. Lantas kenapa dzikir didahulukan dari syukur? Karena jika seseorang tidak berdzikir berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152). Kedua, meminta pada Allah untuk rajin bersyukur. Syukur adalah menampakkan bekas nikmat Allah pada lisan hamba-Nya sebagai bentuk pujian, juga ada bentuk pengakuan dalam hati dan diwujudkan dengan ketundukkan pada anggota badan. Disebut syukur tentu saja dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk ketaatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah, serta menjauhkan diri dari maksiat pada-Nya. Ketiga, meminta pada Allah supaya bisa beribadah dengan baik. Yang dimaksud ibadah yang baik adalah ibadah yang ikhlas dan ibadah yang sesuai tuntunan. Dalam hadits disebutkan bahwa doa tersebut dibaca di dubur shalat. Dubur shalat itu bisa berarti sebelum salam, bisa pula sesudah salam. Namun yang lebih tepat di sini adalah sebelum salam karena dua alasan: Dubur shalat itu adalah ujungnya sesuatu dan masih merupakan bagian dari sesuatu tersebut, sehingga lebih tepat dimaknakan dubur shalat di sini adalah di akhir shalat sebelum salam. Sebelum salam itu adalah tempatnya doa. Namun kalau lupa dilakukan sebelum salam, maka bisa memilih sesudah salam karena sama-sama disebut dubur shalat. Semoga bermanfaat, moga doanya bisa dihafalkan dan dipraktekkan. Moga Allah memberikan kita kemudahan dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 3: 194-196. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 16 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagscara shalat doa Dzikir syukur
Di tasyahud akhir, ada doa yang dituntunkan yang bisa kita baca dan semestinya dihafalkan, yaitu doa meminta pada Allah untuk rajin berdzikir, bersyukur dan bagus dalam ibadah. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang tangannya lalu berkata, يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ “Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda, أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “Aku memberikanmu nasehat, wahai mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat (di akhir shalat setelah sama) bacaan doa: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu).” Disebutkan di akhir hadits, وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِىَّ وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِىُّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ. “Mu’adz mewasiatkan seperti itu pada Ash Sunabihi. Lalu Ash Shunabihi mewasiatkannya lagi pada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud no. 1522 dan An Nasai no. 1304. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Ada tiga permintaan yang diminta dalam doa ini. Pertama, meminta pada Allah agar dimudahkan berdzikir. Di sini bisa berupa membaca Al Quran, memuji Allah, menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat, dan semacam itu. Lantas kenapa dzikir didahulukan dari syukur? Karena jika seseorang tidak berdzikir berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152). Kedua, meminta pada Allah untuk rajin bersyukur. Syukur adalah menampakkan bekas nikmat Allah pada lisan hamba-Nya sebagai bentuk pujian, juga ada bentuk pengakuan dalam hati dan diwujudkan dengan ketundukkan pada anggota badan. Disebut syukur tentu saja dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk ketaatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah, serta menjauhkan diri dari maksiat pada-Nya. Ketiga, meminta pada Allah supaya bisa beribadah dengan baik. Yang dimaksud ibadah yang baik adalah ibadah yang ikhlas dan ibadah yang sesuai tuntunan. Dalam hadits disebutkan bahwa doa tersebut dibaca di dubur shalat. Dubur shalat itu bisa berarti sebelum salam, bisa pula sesudah salam. Namun yang lebih tepat di sini adalah sebelum salam karena dua alasan: Dubur shalat itu adalah ujungnya sesuatu dan masih merupakan bagian dari sesuatu tersebut, sehingga lebih tepat dimaknakan dubur shalat di sini adalah di akhir shalat sebelum salam. Sebelum salam itu adalah tempatnya doa. Namun kalau lupa dilakukan sebelum salam, maka bisa memilih sesudah salam karena sama-sama disebut dubur shalat. Semoga bermanfaat, moga doanya bisa dihafalkan dan dipraktekkan. Moga Allah memberikan kita kemudahan dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 3: 194-196. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 16 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagscara shalat doa Dzikir syukur


Di tasyahud akhir, ada doa yang dituntunkan yang bisa kita baca dan semestinya dihafalkan, yaitu doa meminta pada Allah untuk rajin berdzikir, bersyukur dan bagus dalam ibadah. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang tangannya lalu berkata, يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ “Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda, أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “Aku memberikanmu nasehat, wahai mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat (di akhir shalat setelah sama) bacaan doa: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu).” Disebutkan di akhir hadits, وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِىَّ وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِىُّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ. “Mu’adz mewasiatkan seperti itu pada Ash Sunabihi. Lalu Ash Shunabihi mewasiatkannya lagi pada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud no. 1522 dan An Nasai no. 1304. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Ada tiga permintaan yang diminta dalam doa ini. Pertama, meminta pada Allah agar dimudahkan berdzikir. Di sini bisa berupa membaca Al Quran, memuji Allah, menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat, dan semacam itu. Lantas kenapa dzikir didahulukan dari syukur? Karena jika seseorang tidak berdzikir berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152). Kedua, meminta pada Allah untuk rajin bersyukur. Syukur adalah menampakkan bekas nikmat Allah pada lisan hamba-Nya sebagai bentuk pujian, juga ada bentuk pengakuan dalam hati dan diwujudkan dengan ketundukkan pada anggota badan. Disebut syukur tentu saja dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk ketaatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah, serta menjauhkan diri dari maksiat pada-Nya. Ketiga, meminta pada Allah supaya bisa beribadah dengan baik. Yang dimaksud ibadah yang baik adalah ibadah yang ikhlas dan ibadah yang sesuai tuntunan. Dalam hadits disebutkan bahwa doa tersebut dibaca di dubur shalat. Dubur shalat itu bisa berarti sebelum salam, bisa pula sesudah salam. Namun yang lebih tepat di sini adalah sebelum salam karena dua alasan: Dubur shalat itu adalah ujungnya sesuatu dan masih merupakan bagian dari sesuatu tersebut, sehingga lebih tepat dimaknakan dubur shalat di sini adalah di akhir shalat sebelum salam. Sebelum salam itu adalah tempatnya doa. Namun kalau lupa dilakukan sebelum salam, maka bisa memilih sesudah salam karena sama-sama disebut dubur shalat. Semoga bermanfaat, moga doanya bisa dihafalkan dan dipraktekkan. Moga Allah memberikan kita kemudahan dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 3: 194-196. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 16 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagscara shalat doa Dzikir syukur

Doa Agar Mudah Melunasi Utang Sepenuh Gunung

Adakah doa yang dipanjatkan agar mudah melunasi utang? Bagaimana jika utang tersebut sepenuh gunung, apa saja amalannya? Daftar Isi tutup 1. Hanya Diarahkan untuk Berdoa 2. Makan yang Haram 3. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal 3.1. Referensi: Dari ‘Ali, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa, اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ “Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak” [Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu] (HR. Tirmidzi no. 3563, hasan menurut At Tirmidzi, begitu pula hasan kata Syaikh Al Albani) Hanya Diarahkan untuk Berdoa Lihat saja di sini, bukannya dibantu dengan uang, malah budak mukatab dibantu dengan diberikan tuntunan doa. Karena barangkali ‘Ali dalam hadits tersebut tidak memiliki uang untuk membantu, maka ia berikan solusi yang sangat menolong. Sama seperti itu adalah firman Allah Ta’ala, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah: 263). Atau di sini ‘Ali memberi petunjuk pada hal yang lebih selamat yaitu meminta tolong pada Allah lewat doa, tanpa bergantung pada selain-Nya. Makna ini dikuatkan dengan isi doa “wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak (dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu)”. Baca Juga: Membantu Orang yang Sulit dalam Utang Makan yang Haram Makan makanan yang haram itu tanda seseorang dianggap jelek. Ibnul Qayyim berkata, “Tidaklah seseorang melakukan keharaman melainkan karena dua sebab: (1) berprasangka buruk pada Allah (suuzhan) karena jika saja ia mentaati Allah, pasti ia akan mentaatinya dengan mengonsumsi yang halal, (2) syahwat lebih dimenangkan dari sikap sabar. Yang pertama tadi tanda lemahnya kurangnya ilmu. Yang kedua, tanda lemahnya kesabaran. Dinukil dari Al Fawaid karya Ibnul Qayyim. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ. “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015) Ibnu Rajab punya pernyataan yang baik mengenai hadits di atas, “Selama seseorang mengonsumsi makanan halal, maka amalan shalih mudah diterima. Adapun bila makanan tidak halal dikonsumsi, maka sudah barang tentu amalan tersebut tidak diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 260). Hanya Allah yang memberi petunjuk.   Baca Juga: Doa Melunasi Utang Dibaca Sebelum Tidur Referensi: Kunuz Riyadhis Sholihin, Rois Al Fariq Al ‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdirrahman Al ‘Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H. — Selesai disusun di malam hari, 15 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa utang piutang

Doa Agar Mudah Melunasi Utang Sepenuh Gunung

Adakah doa yang dipanjatkan agar mudah melunasi utang? Bagaimana jika utang tersebut sepenuh gunung, apa saja amalannya? Daftar Isi tutup 1. Hanya Diarahkan untuk Berdoa 2. Makan yang Haram 3. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal 3.1. Referensi: Dari ‘Ali, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa, اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ “Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak” [Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu] (HR. Tirmidzi no. 3563, hasan menurut At Tirmidzi, begitu pula hasan kata Syaikh Al Albani) Hanya Diarahkan untuk Berdoa Lihat saja di sini, bukannya dibantu dengan uang, malah budak mukatab dibantu dengan diberikan tuntunan doa. Karena barangkali ‘Ali dalam hadits tersebut tidak memiliki uang untuk membantu, maka ia berikan solusi yang sangat menolong. Sama seperti itu adalah firman Allah Ta’ala, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah: 263). Atau di sini ‘Ali memberi petunjuk pada hal yang lebih selamat yaitu meminta tolong pada Allah lewat doa, tanpa bergantung pada selain-Nya. Makna ini dikuatkan dengan isi doa “wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak (dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu)”. Baca Juga: Membantu Orang yang Sulit dalam Utang Makan yang Haram Makan makanan yang haram itu tanda seseorang dianggap jelek. Ibnul Qayyim berkata, “Tidaklah seseorang melakukan keharaman melainkan karena dua sebab: (1) berprasangka buruk pada Allah (suuzhan) karena jika saja ia mentaati Allah, pasti ia akan mentaatinya dengan mengonsumsi yang halal, (2) syahwat lebih dimenangkan dari sikap sabar. Yang pertama tadi tanda lemahnya kurangnya ilmu. Yang kedua, tanda lemahnya kesabaran. Dinukil dari Al Fawaid karya Ibnul Qayyim. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ. “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015) Ibnu Rajab punya pernyataan yang baik mengenai hadits di atas, “Selama seseorang mengonsumsi makanan halal, maka amalan shalih mudah diterima. Adapun bila makanan tidak halal dikonsumsi, maka sudah barang tentu amalan tersebut tidak diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 260). Hanya Allah yang memberi petunjuk.   Baca Juga: Doa Melunasi Utang Dibaca Sebelum Tidur Referensi: Kunuz Riyadhis Sholihin, Rois Al Fariq Al ‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdirrahman Al ‘Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H. — Selesai disusun di malam hari, 15 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa utang piutang
Adakah doa yang dipanjatkan agar mudah melunasi utang? Bagaimana jika utang tersebut sepenuh gunung, apa saja amalannya? Daftar Isi tutup 1. Hanya Diarahkan untuk Berdoa 2. Makan yang Haram 3. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal 3.1. Referensi: Dari ‘Ali, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa, اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ “Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak” [Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu] (HR. Tirmidzi no. 3563, hasan menurut At Tirmidzi, begitu pula hasan kata Syaikh Al Albani) Hanya Diarahkan untuk Berdoa Lihat saja di sini, bukannya dibantu dengan uang, malah budak mukatab dibantu dengan diberikan tuntunan doa. Karena barangkali ‘Ali dalam hadits tersebut tidak memiliki uang untuk membantu, maka ia berikan solusi yang sangat menolong. Sama seperti itu adalah firman Allah Ta’ala, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah: 263). Atau di sini ‘Ali memberi petunjuk pada hal yang lebih selamat yaitu meminta tolong pada Allah lewat doa, tanpa bergantung pada selain-Nya. Makna ini dikuatkan dengan isi doa “wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak (dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu)”. Baca Juga: Membantu Orang yang Sulit dalam Utang Makan yang Haram Makan makanan yang haram itu tanda seseorang dianggap jelek. Ibnul Qayyim berkata, “Tidaklah seseorang melakukan keharaman melainkan karena dua sebab: (1) berprasangka buruk pada Allah (suuzhan) karena jika saja ia mentaati Allah, pasti ia akan mentaatinya dengan mengonsumsi yang halal, (2) syahwat lebih dimenangkan dari sikap sabar. Yang pertama tadi tanda lemahnya kurangnya ilmu. Yang kedua, tanda lemahnya kesabaran. Dinukil dari Al Fawaid karya Ibnul Qayyim. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ. “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015) Ibnu Rajab punya pernyataan yang baik mengenai hadits di atas, “Selama seseorang mengonsumsi makanan halal, maka amalan shalih mudah diterima. Adapun bila makanan tidak halal dikonsumsi, maka sudah barang tentu amalan tersebut tidak diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 260). Hanya Allah yang memberi petunjuk.   Baca Juga: Doa Melunasi Utang Dibaca Sebelum Tidur Referensi: Kunuz Riyadhis Sholihin, Rois Al Fariq Al ‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdirrahman Al ‘Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H. — Selesai disusun di malam hari, 15 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa utang piutang


Adakah doa yang dipanjatkan agar mudah melunasi utang? Bagaimana jika utang tersebut sepenuh gunung, apa saja amalannya? Daftar Isi tutup 1. Hanya Diarahkan untuk Berdoa 2. Makan yang Haram 3. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal 3.1. Referensi: Dari ‘Ali, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa, اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ “Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak” [Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu] (HR. Tirmidzi no. 3563, hasan menurut At Tirmidzi, begitu pula hasan kata Syaikh Al Albani) Hanya Diarahkan untuk Berdoa Lihat saja di sini, bukannya dibantu dengan uang, malah budak mukatab dibantu dengan diberikan tuntunan doa. Karena barangkali ‘Ali dalam hadits tersebut tidak memiliki uang untuk membantu, maka ia berikan solusi yang sangat menolong. Sama seperti itu adalah firman Allah Ta’ala, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah: 263). Atau di sini ‘Ali memberi petunjuk pada hal yang lebih selamat yaitu meminta tolong pada Allah lewat doa, tanpa bergantung pada selain-Nya. Makna ini dikuatkan dengan isi doa “wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak (dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu)”. Baca Juga: Membantu Orang yang Sulit dalam Utang Makan yang Haram Makan makanan yang haram itu tanda seseorang dianggap jelek. Ibnul Qayyim berkata, “Tidaklah seseorang melakukan keharaman melainkan karena dua sebab: (1) berprasangka buruk pada Allah (suuzhan) karena jika saja ia mentaati Allah, pasti ia akan mentaatinya dengan mengonsumsi yang halal, (2) syahwat lebih dimenangkan dari sikap sabar. Yang pertama tadi tanda lemahnya kurangnya ilmu. Yang kedua, tanda lemahnya kesabaran. Dinukil dari Al Fawaid karya Ibnul Qayyim. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ. “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015) Ibnu Rajab punya pernyataan yang baik mengenai hadits di atas, “Selama seseorang mengonsumsi makanan halal, maka amalan shalih mudah diterima. Adapun bila makanan tidak halal dikonsumsi, maka sudah barang tentu amalan tersebut tidak diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 260). Hanya Allah yang memberi petunjuk.   Baca Juga: Doa Melunasi Utang Dibaca Sebelum Tidur Referensi: Kunuz Riyadhis Sholihin, Rois Al Fariq Al ‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdirrahman Al ‘Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H. — Selesai disusun di malam hari, 15 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa utang piutang

Yang Penting Berusaha…

Usaha tidak mesti mendatangkan keberhasilan, toh keberhasilan bukanlah ditangan hamba, akan tetapi ditentukan oleh Allah.Karenanya Yang Allah nilai sesungguhnya adalah usaha dan perjuangan disertai firmanNya “Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya”.Jika usaha kita berhasil maka karunia di atas karunia, namun jika tidak berhasil maka tetap bernilai di sisi Allah.Dalam dakwah, para Nabi ada yang pengikutnya hanya 1, ada yang 2, ada yang 3, dan ada yang tanpa pengikut. Nabi Nuuh berdakwah 950 tahun namun pengikutnya hanya sedikit. Apakah mereka dinilai gagal oleh Allah?, tentu tidak !!. Mereka telah berdakwah sebaik-baiknya dan selembut-lembutnya, sudah maksimal. Maka Allah tetap memuliakan dan memuji mereka. Namun jangan disalah pahami sehingga ada seseorang yang malas berdakwah, atau berdakwah dengan cara yang kasar dan tanpa ilmu, lalu menghibur diri dengan berkata, “Toh nabi ada yang tanpa pengikut, apalagi kita?:. Tentu beda, para nabi telah berusaha sebaik-baiknya, maka jangan disamakan dengan orang yang malas.Ini dalam dakwah, dan demikian juga usaha dalam perkara-perkara yang lainnya.Berusahalah dan Tetap Optimis, semua tetaplah bernilai di sisiNya…

Yang Penting Berusaha…

Usaha tidak mesti mendatangkan keberhasilan, toh keberhasilan bukanlah ditangan hamba, akan tetapi ditentukan oleh Allah.Karenanya Yang Allah nilai sesungguhnya adalah usaha dan perjuangan disertai firmanNya “Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya”.Jika usaha kita berhasil maka karunia di atas karunia, namun jika tidak berhasil maka tetap bernilai di sisi Allah.Dalam dakwah, para Nabi ada yang pengikutnya hanya 1, ada yang 2, ada yang 3, dan ada yang tanpa pengikut. Nabi Nuuh berdakwah 950 tahun namun pengikutnya hanya sedikit. Apakah mereka dinilai gagal oleh Allah?, tentu tidak !!. Mereka telah berdakwah sebaik-baiknya dan selembut-lembutnya, sudah maksimal. Maka Allah tetap memuliakan dan memuji mereka. Namun jangan disalah pahami sehingga ada seseorang yang malas berdakwah, atau berdakwah dengan cara yang kasar dan tanpa ilmu, lalu menghibur diri dengan berkata, “Toh nabi ada yang tanpa pengikut, apalagi kita?:. Tentu beda, para nabi telah berusaha sebaik-baiknya, maka jangan disamakan dengan orang yang malas.Ini dalam dakwah, dan demikian juga usaha dalam perkara-perkara yang lainnya.Berusahalah dan Tetap Optimis, semua tetaplah bernilai di sisiNya…
Usaha tidak mesti mendatangkan keberhasilan, toh keberhasilan bukanlah ditangan hamba, akan tetapi ditentukan oleh Allah.Karenanya Yang Allah nilai sesungguhnya adalah usaha dan perjuangan disertai firmanNya “Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya”.Jika usaha kita berhasil maka karunia di atas karunia, namun jika tidak berhasil maka tetap bernilai di sisi Allah.Dalam dakwah, para Nabi ada yang pengikutnya hanya 1, ada yang 2, ada yang 3, dan ada yang tanpa pengikut. Nabi Nuuh berdakwah 950 tahun namun pengikutnya hanya sedikit. Apakah mereka dinilai gagal oleh Allah?, tentu tidak !!. Mereka telah berdakwah sebaik-baiknya dan selembut-lembutnya, sudah maksimal. Maka Allah tetap memuliakan dan memuji mereka. Namun jangan disalah pahami sehingga ada seseorang yang malas berdakwah, atau berdakwah dengan cara yang kasar dan tanpa ilmu, lalu menghibur diri dengan berkata, “Toh nabi ada yang tanpa pengikut, apalagi kita?:. Tentu beda, para nabi telah berusaha sebaik-baiknya, maka jangan disamakan dengan orang yang malas.Ini dalam dakwah, dan demikian juga usaha dalam perkara-perkara yang lainnya.Berusahalah dan Tetap Optimis, semua tetaplah bernilai di sisiNya…


Usaha tidak mesti mendatangkan keberhasilan, toh keberhasilan bukanlah ditangan hamba, akan tetapi ditentukan oleh Allah.Karenanya Yang Allah nilai sesungguhnya adalah usaha dan perjuangan disertai firmanNya “Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya”.Jika usaha kita berhasil maka karunia di atas karunia, namun jika tidak berhasil maka tetap bernilai di sisi Allah.Dalam dakwah, para Nabi ada yang pengikutnya hanya 1, ada yang 2, ada yang 3, dan ada yang tanpa pengikut. Nabi Nuuh berdakwah 950 tahun namun pengikutnya hanya sedikit. Apakah mereka dinilai gagal oleh Allah?, tentu tidak !!. Mereka telah berdakwah sebaik-baiknya dan selembut-lembutnya, sudah maksimal. Maka Allah tetap memuliakan dan memuji mereka. Namun jangan disalah pahami sehingga ada seseorang yang malas berdakwah, atau berdakwah dengan cara yang kasar dan tanpa ilmu, lalu menghibur diri dengan berkata, “Toh nabi ada yang tanpa pengikut, apalagi kita?:. Tentu beda, para nabi telah berusaha sebaik-baiknya, maka jangan disamakan dengan orang yang malas.Ini dalam dakwah, dan demikian juga usaha dalam perkara-perkara yang lainnya.Berusahalah dan Tetap Optimis, semua tetaplah bernilai di sisiNya…

TAWANAN SYAHWAT… (Agar segera menikah….)

Sungguh Malang…Pemuda yang tertawan oleh syahwatnya…Tak berdaya menyandang pedang apalagi mengunuskannya untuk melawan syahwatnya…Syahwatnya lebih ia dahulukan dari Robnya….Berulang ulang ia terjatuh tersimpuh tak berdaya…Dihadapan syahwatnya yang menawarkan kenikmatan sesaat…Ia tahu bahwa kenikmatan sesaat itu akan berakhir dgn kegelisahan dan penyesalan…Akan tetapi ia tetap tekuk lutut tak berdaya…Ia tahu kemurkaan Allah dekat dengannya… Akan tetapi belas dan kasih sayang Allah lebih ia yakini…Ia tak tahu ini tipuan syaitan ataukah memang rahmat Allah yg selalu membuka harapan…Iya yakin kematian selalu mengintainya..,,Iapun tahu bahwa jika maut menjemputnya sementara ia sedang bermaksiat maka itu isyarat akan neraka…Akan tetapi ia tetap tak kuasa…Tetap bertekuk lutut di bawah syahwatnya….Tiadakah seseorang wanita yang mengasihini-nya…?Mau menikah dengannya -dengan kondisinya yang serba seadanya- menemaninya melabuhkan bahtera cinta… Menerjang dan memecahkan lautan syahwat yang telah mengombang-ambingkan dan menenggelamkannya…Gadis yang membebaskannya dari tawanan syahwatnya…Menundukan pandangannya dari yang haram sehingga membuka harapan untuk bisa memandang wajah Allah di surga kelak…Ya Allah…banyakkah pemuda dan pemudi yang senasib dengannya….?Takut dengan adzab Robnya namun tak kuasa berlari dari pelukan syahwatnya…Ya Rob…ampunilah dia…, berilah udzur kepadanya…, mudahkanlah ia untuk menikah…datangkanlah gadis sholehah yang akan menyambut belaian tangannya…اللهم اكفني بحلالك عن حرامكYa Allah cukupkanlah diriku dengan perkara yang halal Mu sehingga aku tidak butuh dengan perkara yang Engkau haramkan…

TAWANAN SYAHWAT… (Agar segera menikah….)

Sungguh Malang…Pemuda yang tertawan oleh syahwatnya…Tak berdaya menyandang pedang apalagi mengunuskannya untuk melawan syahwatnya…Syahwatnya lebih ia dahulukan dari Robnya….Berulang ulang ia terjatuh tersimpuh tak berdaya…Dihadapan syahwatnya yang menawarkan kenikmatan sesaat…Ia tahu bahwa kenikmatan sesaat itu akan berakhir dgn kegelisahan dan penyesalan…Akan tetapi ia tetap tekuk lutut tak berdaya…Ia tahu kemurkaan Allah dekat dengannya… Akan tetapi belas dan kasih sayang Allah lebih ia yakini…Ia tak tahu ini tipuan syaitan ataukah memang rahmat Allah yg selalu membuka harapan…Iya yakin kematian selalu mengintainya..,,Iapun tahu bahwa jika maut menjemputnya sementara ia sedang bermaksiat maka itu isyarat akan neraka…Akan tetapi ia tetap tak kuasa…Tetap bertekuk lutut di bawah syahwatnya….Tiadakah seseorang wanita yang mengasihini-nya…?Mau menikah dengannya -dengan kondisinya yang serba seadanya- menemaninya melabuhkan bahtera cinta… Menerjang dan memecahkan lautan syahwat yang telah mengombang-ambingkan dan menenggelamkannya…Gadis yang membebaskannya dari tawanan syahwatnya…Menundukan pandangannya dari yang haram sehingga membuka harapan untuk bisa memandang wajah Allah di surga kelak…Ya Allah…banyakkah pemuda dan pemudi yang senasib dengannya….?Takut dengan adzab Robnya namun tak kuasa berlari dari pelukan syahwatnya…Ya Rob…ampunilah dia…, berilah udzur kepadanya…, mudahkanlah ia untuk menikah…datangkanlah gadis sholehah yang akan menyambut belaian tangannya…اللهم اكفني بحلالك عن حرامكYa Allah cukupkanlah diriku dengan perkara yang halal Mu sehingga aku tidak butuh dengan perkara yang Engkau haramkan…
Sungguh Malang…Pemuda yang tertawan oleh syahwatnya…Tak berdaya menyandang pedang apalagi mengunuskannya untuk melawan syahwatnya…Syahwatnya lebih ia dahulukan dari Robnya….Berulang ulang ia terjatuh tersimpuh tak berdaya…Dihadapan syahwatnya yang menawarkan kenikmatan sesaat…Ia tahu bahwa kenikmatan sesaat itu akan berakhir dgn kegelisahan dan penyesalan…Akan tetapi ia tetap tekuk lutut tak berdaya…Ia tahu kemurkaan Allah dekat dengannya… Akan tetapi belas dan kasih sayang Allah lebih ia yakini…Ia tak tahu ini tipuan syaitan ataukah memang rahmat Allah yg selalu membuka harapan…Iya yakin kematian selalu mengintainya..,,Iapun tahu bahwa jika maut menjemputnya sementara ia sedang bermaksiat maka itu isyarat akan neraka…Akan tetapi ia tetap tak kuasa…Tetap bertekuk lutut di bawah syahwatnya….Tiadakah seseorang wanita yang mengasihini-nya…?Mau menikah dengannya -dengan kondisinya yang serba seadanya- menemaninya melabuhkan bahtera cinta… Menerjang dan memecahkan lautan syahwat yang telah mengombang-ambingkan dan menenggelamkannya…Gadis yang membebaskannya dari tawanan syahwatnya…Menundukan pandangannya dari yang haram sehingga membuka harapan untuk bisa memandang wajah Allah di surga kelak…Ya Allah…banyakkah pemuda dan pemudi yang senasib dengannya….?Takut dengan adzab Robnya namun tak kuasa berlari dari pelukan syahwatnya…Ya Rob…ampunilah dia…, berilah udzur kepadanya…, mudahkanlah ia untuk menikah…datangkanlah gadis sholehah yang akan menyambut belaian tangannya…اللهم اكفني بحلالك عن حرامكYa Allah cukupkanlah diriku dengan perkara yang halal Mu sehingga aku tidak butuh dengan perkara yang Engkau haramkan…


Sungguh Malang…Pemuda yang tertawan oleh syahwatnya…Tak berdaya menyandang pedang apalagi mengunuskannya untuk melawan syahwatnya…Syahwatnya lebih ia dahulukan dari Robnya….Berulang ulang ia terjatuh tersimpuh tak berdaya…Dihadapan syahwatnya yang menawarkan kenikmatan sesaat…Ia tahu bahwa kenikmatan sesaat itu akan berakhir dgn kegelisahan dan penyesalan…Akan tetapi ia tetap tekuk lutut tak berdaya…Ia tahu kemurkaan Allah dekat dengannya… Akan tetapi belas dan kasih sayang Allah lebih ia yakini…Ia tak tahu ini tipuan syaitan ataukah memang rahmat Allah yg selalu membuka harapan…Iya yakin kematian selalu mengintainya..,,Iapun tahu bahwa jika maut menjemputnya sementara ia sedang bermaksiat maka itu isyarat akan neraka…Akan tetapi ia tetap tak kuasa…Tetap bertekuk lutut di bawah syahwatnya….Tiadakah seseorang wanita yang mengasihini-nya…?Mau menikah dengannya -dengan kondisinya yang serba seadanya- menemaninya melabuhkan bahtera cinta… Menerjang dan memecahkan lautan syahwat yang telah mengombang-ambingkan dan menenggelamkannya…Gadis yang membebaskannya dari tawanan syahwatnya…Menundukan pandangannya dari yang haram sehingga membuka harapan untuk bisa memandang wajah Allah di surga kelak…Ya Allah…banyakkah pemuda dan pemudi yang senasib dengannya….?Takut dengan adzab Robnya namun tak kuasa berlari dari pelukan syahwatnya…Ya Rob…ampunilah dia…, berilah udzur kepadanya…, mudahkanlah ia untuk menikah…datangkanlah gadis sholehah yang akan menyambut belaian tangannya…اللهم اكفني بحلالك عن حرامكYa Allah cukupkanlah diriku dengan perkara yang halal Mu sehingga aku tidak butuh dengan perkara yang Engkau haramkan…

Menerima Kebenaran Meskipun Dari Anak Kecil

عن ابراهيم قال سألتُ الفُضَيل : “مَا التَّوَاضُعُ؟”، قال : أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُDari Ibrahim ia berkata, “Aku bertanya kepada Al-Fudhail bin ‘Iyaadh, apakah itu tawadhu?”. Beliau berkata, “Engkau tunduk dan patuh kepada kebenaran, meskipun engkau mendengar kebenaran dari seorang anak kecil maka kau terima, meskipun engkau mendengar kebenaran dari manusia yang paling bodoh maka engkau terima” (Hilyatul Auliyaa’ 8/91) 

Menerima Kebenaran Meskipun Dari Anak Kecil

عن ابراهيم قال سألتُ الفُضَيل : “مَا التَّوَاضُعُ؟”، قال : أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُDari Ibrahim ia berkata, “Aku bertanya kepada Al-Fudhail bin ‘Iyaadh, apakah itu tawadhu?”. Beliau berkata, “Engkau tunduk dan patuh kepada kebenaran, meskipun engkau mendengar kebenaran dari seorang anak kecil maka kau terima, meskipun engkau mendengar kebenaran dari manusia yang paling bodoh maka engkau terima” (Hilyatul Auliyaa’ 8/91) 
عن ابراهيم قال سألتُ الفُضَيل : “مَا التَّوَاضُعُ؟”، قال : أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُDari Ibrahim ia berkata, “Aku bertanya kepada Al-Fudhail bin ‘Iyaadh, apakah itu tawadhu?”. Beliau berkata, “Engkau tunduk dan patuh kepada kebenaran, meskipun engkau mendengar kebenaran dari seorang anak kecil maka kau terima, meskipun engkau mendengar kebenaran dari manusia yang paling bodoh maka engkau terima” (Hilyatul Auliyaa’ 8/91) 


عن ابراهيم قال سألتُ الفُضَيل : “مَا التَّوَاضُعُ؟”، قال : أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُDari Ibrahim ia berkata, “Aku bertanya kepada Al-Fudhail bin ‘Iyaadh, apakah itu tawadhu?”. Beliau berkata, “Engkau tunduk dan patuh kepada kebenaran, meskipun engkau mendengar kebenaran dari seorang anak kecil maka kau terima, meskipun engkau mendengar kebenaran dari manusia yang paling bodoh maka engkau terima” (Hilyatul Auliyaa’ 8/91) 

Deteksi Diri Anda…

Ciri-ciri anda terjangkiti hasad kepada si dia– Jika dia mendapat kenikmatan maka sesak dada anda– Jika ia dipuji orang lain maka anda tidak suka– Jika dia terkena musibah atau dijatuhkan oleh orang lain, serasa ada secercah kebahagiaan di hati anda– Jika dia dijatuhkan atau dighibahi di hadapan anda, maka berat bagi anda untuk membelanyaSolusi : – Berdoa kepada Allah agar penyakit anda ini hilang– Usahakan memuji dia, paksakan diri anda melawan nafsu hasad– Kalau perlu kunjungi rumahnya dan bawakan hadiah buat dia– Ingat bahwa hasad anda sama sekali tidak bakalan menjatuhkan dirinya, sama sekali tidak memberi kemudorotan kepadanya, justru andalah yang tersiksa !!, merana..!!

Deteksi Diri Anda…

Ciri-ciri anda terjangkiti hasad kepada si dia– Jika dia mendapat kenikmatan maka sesak dada anda– Jika ia dipuji orang lain maka anda tidak suka– Jika dia terkena musibah atau dijatuhkan oleh orang lain, serasa ada secercah kebahagiaan di hati anda– Jika dia dijatuhkan atau dighibahi di hadapan anda, maka berat bagi anda untuk membelanyaSolusi : – Berdoa kepada Allah agar penyakit anda ini hilang– Usahakan memuji dia, paksakan diri anda melawan nafsu hasad– Kalau perlu kunjungi rumahnya dan bawakan hadiah buat dia– Ingat bahwa hasad anda sama sekali tidak bakalan menjatuhkan dirinya, sama sekali tidak memberi kemudorotan kepadanya, justru andalah yang tersiksa !!, merana..!!
Ciri-ciri anda terjangkiti hasad kepada si dia– Jika dia mendapat kenikmatan maka sesak dada anda– Jika ia dipuji orang lain maka anda tidak suka– Jika dia terkena musibah atau dijatuhkan oleh orang lain, serasa ada secercah kebahagiaan di hati anda– Jika dia dijatuhkan atau dighibahi di hadapan anda, maka berat bagi anda untuk membelanyaSolusi : – Berdoa kepada Allah agar penyakit anda ini hilang– Usahakan memuji dia, paksakan diri anda melawan nafsu hasad– Kalau perlu kunjungi rumahnya dan bawakan hadiah buat dia– Ingat bahwa hasad anda sama sekali tidak bakalan menjatuhkan dirinya, sama sekali tidak memberi kemudorotan kepadanya, justru andalah yang tersiksa !!, merana..!!


Ciri-ciri anda terjangkiti hasad kepada si dia– Jika dia mendapat kenikmatan maka sesak dada anda– Jika ia dipuji orang lain maka anda tidak suka– Jika dia terkena musibah atau dijatuhkan oleh orang lain, serasa ada secercah kebahagiaan di hati anda– Jika dia dijatuhkan atau dighibahi di hadapan anda, maka berat bagi anda untuk membelanyaSolusi : – Berdoa kepada Allah agar penyakit anda ini hilang– Usahakan memuji dia, paksakan diri anda melawan nafsu hasad– Kalau perlu kunjungi rumahnya dan bawakan hadiah buat dia– Ingat bahwa hasad anda sama sekali tidak bakalan menjatuhkan dirinya, sama sekali tidak memberi kemudorotan kepadanya, justru andalah yang tersiksa !!, merana..!!

Agar Harta Anda Pasti Aman

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَجْعَلَ كَنْزَهُ فِي السَّمَاءِ حَيْثُ لاَ يَأْكُلُهُ السُّوْسُ وَلاَ يَنَالُهُ السُّرَّاقُ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنّ قَلْبَ الرَّجُلِ مَعَ كَنْزِهِ“Barangsiapa yang mampu untuk meletakkan harta simpanannya di langit -sehingga tidak dimakan oleh ulat, dan tidak pula bisa disentuh para pencuri-maka lakukanlah, karena hati seseorang bersama harta simpanannya” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qoyyim rahimahullah hal 159)Nasehat yang berharga agar menyimpan harta di langit yaitu dikeluarkan untuk di jalan Allah dengan disedekahkan atau diwakafkan atau semua yang diridoi oleh Allah. Karena jika telah dikeluarkan sesuai yang diridoi Allah maka harta telah menjadi aman, tidak usah dipikirkan lagi, pasti terjaga hingga di akhirat kelat. Adapun jika harta masih di simpan maka akan menjadi beban pikiran, takut rusak dimakan ulat -jika berupa tumbuhan-, atau dicuri, atau, bangkrut, atau berkurang, dll.

Agar Harta Anda Pasti Aman

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَجْعَلَ كَنْزَهُ فِي السَّمَاءِ حَيْثُ لاَ يَأْكُلُهُ السُّوْسُ وَلاَ يَنَالُهُ السُّرَّاقُ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنّ قَلْبَ الرَّجُلِ مَعَ كَنْزِهِ“Barangsiapa yang mampu untuk meletakkan harta simpanannya di langit -sehingga tidak dimakan oleh ulat, dan tidak pula bisa disentuh para pencuri-maka lakukanlah, karena hati seseorang bersama harta simpanannya” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qoyyim rahimahullah hal 159)Nasehat yang berharga agar menyimpan harta di langit yaitu dikeluarkan untuk di jalan Allah dengan disedekahkan atau diwakafkan atau semua yang diridoi oleh Allah. Karena jika telah dikeluarkan sesuai yang diridoi Allah maka harta telah menjadi aman, tidak usah dipikirkan lagi, pasti terjaga hingga di akhirat kelat. Adapun jika harta masih di simpan maka akan menjadi beban pikiran, takut rusak dimakan ulat -jika berupa tumbuhan-, atau dicuri, atau, bangkrut, atau berkurang, dll.
Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَجْعَلَ كَنْزَهُ فِي السَّمَاءِ حَيْثُ لاَ يَأْكُلُهُ السُّوْسُ وَلاَ يَنَالُهُ السُّرَّاقُ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنّ قَلْبَ الرَّجُلِ مَعَ كَنْزِهِ“Barangsiapa yang mampu untuk meletakkan harta simpanannya di langit -sehingga tidak dimakan oleh ulat, dan tidak pula bisa disentuh para pencuri-maka lakukanlah, karena hati seseorang bersama harta simpanannya” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qoyyim rahimahullah hal 159)Nasehat yang berharga agar menyimpan harta di langit yaitu dikeluarkan untuk di jalan Allah dengan disedekahkan atau diwakafkan atau semua yang diridoi oleh Allah. Karena jika telah dikeluarkan sesuai yang diridoi Allah maka harta telah menjadi aman, tidak usah dipikirkan lagi, pasti terjaga hingga di akhirat kelat. Adapun jika harta masih di simpan maka akan menjadi beban pikiran, takut rusak dimakan ulat -jika berupa tumbuhan-, atau dicuri, atau, bangkrut, atau berkurang, dll.


Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَجْعَلَ كَنْزَهُ فِي السَّمَاءِ حَيْثُ لاَ يَأْكُلُهُ السُّوْسُ وَلاَ يَنَالُهُ السُّرَّاقُ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنّ قَلْبَ الرَّجُلِ مَعَ كَنْزِهِ“Barangsiapa yang mampu untuk meletakkan harta simpanannya di langit -sehingga tidak dimakan oleh ulat, dan tidak pula bisa disentuh para pencuri-maka lakukanlah, karena hati seseorang bersama harta simpanannya” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qoyyim rahimahullah hal 159)Nasehat yang berharga agar menyimpan harta di langit yaitu dikeluarkan untuk di jalan Allah dengan disedekahkan atau diwakafkan atau semua yang diridoi oleh Allah. Karena jika telah dikeluarkan sesuai yang diridoi Allah maka harta telah menjadi aman, tidak usah dipikirkan lagi, pasti terjaga hingga di akhirat kelat. Adapun jika harta masih di simpan maka akan menjadi beban pikiran, takut rusak dimakan ulat -jika berupa tumbuhan-, atau dicuri, atau, bangkrut, atau berkurang, dll.

Penderitaan Pendengki dan Pendendam

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 14-01-1436 H / 07-11-2014 MOleh: Syaikh Sholah Al-Budair hafizohulloh Khutbah PertamaKaum Muslimin sekalian…Tidaklah akan diliputi dengan rasa saling mencintai suatu kaum yang berkumpul di atas kedengkian…Barangsiapa yang memendam permusuhan dan menanti-nanti waktu untuk membalas dendam maka ia akan hidup dengan tersiksa dan menderita…Jadilah ia terbelenggu oleh kegelisahan…Tidak ada yang merusak hubungan diantara manusia sebagaimana kerusakan yang dilakukan oleh kebencian yang terpendam…Dialah dendam kesumat yang tersembunyi…, keburukan yang akan terkuak…perpisahan yang sangat nampak…Menyebabkan rusaknya negeri…, mengurangi perbendaharaan harta…, menghancur-leburkan kedekatan…memutuskan tali persahabatan…memicu api peperangan… إِنَّ الضَّغِيْنَةَ تَلْقَاهَا وَإِنْ قَدُمَتْ …  كَالْعَرِّ يَكْمُنُ حِيْناً ثُمَّ يَنْتَشِرُ“Sesungguhnya rasa dendam, meskipun telah lama terpendam….Engkau mendapatinya seperti penyakit kudisan yang reda sesaat lalu merambat…”Begitu dekat berkembangnya…begitu cepat matangnya…begitu dekat…begitu cepat tersebar…Peninggalan yang terburuk adalah dendam yang diteruskan oleh para ahli waris…, dendam kesumat yang memenuhi hati anak-anak…, lalu tertanamkan di dada-dada para cucu…lalu terpelihara selama-lamanya…Dahulu dikatakan :أَحْيَا الضَّغَائِنَ آباَءٌ لَنَا سَلَفُوْا … فَلَنْ تَبِيْدَ وَلِلآبَاءِ أَبْنَاءُ“Dendam kesumat dihidupkan oleh ayah-ayah kita yang telah lalu….Maka tidak akan sirna dendam tersebut karena para ayah tentu memiliki anak-anak…” Barangsiapa yang kedengkian adalah benderanya…, membalas dendam adalah tujuannya…, melampiaskan kemarahan adalah tradisinya…maka akan reduplah sinarnya… akan jatuhlah bangunannya… rendahlah derajatnya…serta menyala-nyala dadanya (dengan api dendam dan amarah-pen)…Barangsiapa yang meninggalkan kedengkian dan dendam kesumat maka ia akan hidup penuh keselamatan…akan menyatukan persahabatan… memperbanyak pendukungnya…, terjauhkan dari gejolak… dan aman dari kerusakan…Kapan saja kedengkian dan kebencian serta permusuhan telah menguasai hati…, maka akan menyesatkan dan menyakitkan…akan sirnalah bersihnya hati…tumbuhlah kepedihannya…, berkesinambungan penderitaannya…sehingga sulit dan tidak bisa terobati….          Diantara manusia, ada yang jika berselisih langsung menghajr…, jika bersengketa berbuat kefajiran…iapun mencaci maki lawan sengketanya…bertekad untuk membalasnya…iapun langsung menyakiti dan menyenangi permusuhan…Dan washiat yang bermanfaat dan kata bijak yang mencakup adalah sabda pemimpin seluruh orang bijak shallallahu ‘alaihi wasallamفمن أحبَّ أن يُزَحْزَحَ عن النار ، ويُدْخل الجنة ، فلتأته مَنِيَّتُهُ وهو مؤمن بالله واليوم الآخر ، وليأت إلى الناس الذي يحبُّ أن يؤتَى إليه“Barangsiapa yang ingin untuk selamat dari neraka dan masuk ke dalam surga, maka hendaknya ajalnya mendatanginya dan ia dalam kondisi beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan ia bersikap kepada manusia dengan sikap yang suka diperlakukan kepadanya” (HR Muslim)Yaitu ia bersikap kepada mereka dengan sikap yang ia suka jika mereka lakukan kepadanya. Dengan demikian maka teraturlah segala perkara…, hilanglah perselisihan dan saling menjauhi…serta hilanglah kedengkian dari dada-dada… Wahai sang penyimpan dendam dan kedengkian yang terpendam…Sikapmu ini tidaklah membuatmu menaiki ketinggian…tidaklah engkau membangun kemegahan…tidak pula engkau menempuh jalan yang lurus…serta kebahagiaan pun tidak kau raih…وَدَعُوا الضَّغِيْنَةَ لاَ تَكُنْ مِنْ شَأْنِكُمْ ** إِنَّ الضَّغَائِنَ لِلْقَرَابَةِ تُوضَعُ“Tinggalkanlah kedengkian…janganlah kedengkian menjadi kebiasaan kalian…! Sesungguhnya kedengkian terbuang demi kekerabatan…واعْصُوا الَّذِي يُزْجِي النَّمَائِمُ بَيْنَكُمْ ** مُتْنَصِحاً ، ذَاكَ السِّمَامُ المُنقَعُJangan turuti apa yang dihembuskan oleh para nammam (tukang mengadu domba) yang bergaya seperti pemberi nasehat…Sesungguhnya dia adalah pembawa racun yang tertimbun…يُزْجِي عَقَارِبَهُ لِيَبْعَثَ بَيْنَكُمْ ** حَرْباً كَمَا بَعَثَ العُرُوقَ الأَخْدَعُIa melepaskan kalajengking-kalajengkingnya untuk mengobarkan peperangan diantara kalian…Sebagaimana dua urat leher yang mengalirkan urat-urat ke seluruh tubuh…أَبُنَيَّ لا تَكُ مَا حَيِيْتَ مُمَارِيًا …. وَدَعِ السَّفَاهَةَ إِنَّهَا لاَ تَنْفَعُWahai putraku, janganlah engkau memenuhi hidupmu dengan pertengkaran…Tinggalkanlah kebodohan sesungguhnya ia tidak membawa manfaat…لاَ تَحْمِلَنَّ ضَغِيْنَةً لِقَرَابَةٍ … إِنَّ الضَّغِيْنَةَ لِلْقَرَابَةِ تَقْطَعُJanganlah engkau memendam kedengkian terhadap kerabat…Sesungguhnya kedengkian harus diputuskan demi kerabat…لاَ تَحْسَبَنَّ الْحِلْمَ مِنْكَ مَذَلَّةً … إِنَّ الْحَلِيْمَ هُوَ الأَعَزُّ الأَمْنَعُJanganlah engkau mengira bahwa sikap hilm (sabar dan tidak membalas) adalah kerendahan…Sungguh sifat hilm justru merupakan sifat yang termulia dan terkuat… Jadilah dirimu selalu meninggalkan permusuhan….dan selalu memaafkan…Balaslah kesalahan dengan kesabaran dan ketenangan…Waspadalah…, jangan sampai engkau terpancing dan terprovokasi…dari orang-orang yang ingin agar engkau terjatuh dan tersungkur…وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS Fushhilat : 34)Berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, maka akan menjadikannya dekat…, kelembutan kepadanya menjadikannya membelok kepadamu.., dan sikap mudaaroot (lemah lembut) akan menjadikannya bersamamu…وما قَتلَ السفاهة َ مثلُ حلمٍ … يَعودُ بهِ على الجَهْلِ الحليمُDan tidak ada yang membunuh kebodohan seperti sifat “hilm” (sabar dan tidak membalas)…Dimana orang yang halim terus bersikap sabar menghadapi kebodohan..ولا تقطعْ أخاً لكَ عِنْدَ ذَنْبٍ … فإنّ الذنبَ يعفوهُ الكريمُDan janganlah engkau memutuskan hubungan dengan saudaramu karena kesalahannya…Karena kesalahan itu dimaafkan oleh orang yang mulia (karim)Maka hendaknya saling lembut bukan saling menjauh…, saling bermuka manis bukan saling bertengkar…, saling mendekati bukan saling bermusuhan…, saling mendukung bukan saling bermusuhan…, saling lembut bukan saling keras-kerasan…Dan dikatakan bahwa puncak dari adab adalah menyembunyikan kemarahan, dan diantara perkataan alami : al-hilm (sabar dan tidak membalas padahal mampu untuk membalas), dan al-‘afwu (memaafkan), dan as-shofh (berlapang dada), dan al-mannu (memberi kebaikan kepada orang lain), dan al-in’aam (menyuguhkan kenikmatan pada orang lain).          Dan tidaklah menahan amarah, memaafkan orang yang berbuat jahat, memaafkan orang yang jahil, dan bersabar memikul hal yang dibenci…kecuali seorang yang mulia lagi terpandang, seorang yang sabar lagi cerdas, seorang alim lagi faqih.Tidak akan langgeng keserasian jika disertai dengan kebencian dan benturan…, tidak akan tersisa saling menghargai jika disertai dengan kemarahan dan konflik…, tidak akan ada salam jika disertai dengan pembalasan dan dendam…Barangsiapa yang selalu menuntut pembalasan maka akan habis waktunya…, akan bercerai berai saudara-saudaranya…akan ditinggal oleh para sahabatnya…Barangsiapa yang selalu bermuka masam…sentuhannya kering…, memakai pakaian permusuhan…, enggan memaafkan…maka ia akan jatuh dan celaka…tersungkur dalam kerugian…Menyerang…, berkata-kata kasar…, sengaja menyakiti…, merupakan langkah-langkah yang buruk…yang menyebabkan dada-dada menjadi panas…kemarahan bergejolak…menimbulkan kedengkian…dan memutuskan tali hubungan dan cinta kasih…Maka tinggalkanlah itu semua dan waspadalah…وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا (٥٣)Dan Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Isroo’ : 53)Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk, semoga Allah menjaga kita dari keburukan syaitan-syaitan dan para pembuat makar (rencana jahat) serta kekejiannya para orang-orang yang hasad dan dengki… Khutbah Kedua :Kaum Muslimin, diantara manusia ada yang jika hendak meraih kedudukan dan ketinggian…, pangkat dan jabatan…, kekuasaan dan kepemimpinan serta ingin tampil…, maka iapun memusuhi rekan-rekannya…, iapun dengki kepada saudara-saudaranya…ia benci jika disebutkan keutamaan dan kebaikan mereka…ia suka jika keburukan dan cela mereka tersebar…jika nampak kesalahan-kesalahan mereka…, jika ia tidak menemukan kesalahan mereka,, tidak menemukan buktinya, maka iapun menuduh mereka dengan tuduhan bohong dan dusta…Demi Allah…ini adalah perangi yang menjadikan rendah dan hina para lelaki…dengan perangai ini mereka menyerupai orang-orang rendahan…meniru-niru orang-orang yang terhina…, dengan perangai tersebut merekapun terjatuh di lumpur kehinaan, kerendahan, dan kesesatan…حُبُّ الرِّئَاسَـةِ دَاءٌ يَحْلِقُ الدُّنْيَـا… وَيَجْعَلُ الْحَقَّ حَرْبًا لِلْمُحِبِّيْنَاKecintaan terhadap kepemimpinan adalah penyakit yang menggerogoti dunia…Menjadikan kebenaran adalah memerangi orang-orang yang mencintai kita…يَفْرِي الْحَلاَقِيْمَ وَالأَرْحَامَ يَقْطَعُهَا…. فَلاَ مُرُوْءَةَ تَبْقَى وَلاَ دِيْنَاKerongkongan ia potong dan tali silaturahmi ia putuskan…Maka tidak ada lagi budi pekerti yang tersisa dan juga agama…فَتَنَزَّهُوا عَنْ فِعْلِ الْحُسَّادِ وَذَوِي… الْأَحْقَادِ وَانْتَهُوا عَنِ الرَّدَىSucikanlah diri kalian dari perbuatan para penghasad dan para pendengki dan berhentilah kalian dari kehinaan…وَلاَ تُؤْذُوا مِنَ الْخَلْقِ أَحَداً… وَكُفُّوْا عَنِ الشَّرِّ لِسَاناً وَيَداًDan janganlah kalian menyakiti seorang pun….Dan tahanlah lisan dan tangan kalian dari keburukanPenerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda 

Penderitaan Pendengki dan Pendendam

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 14-01-1436 H / 07-11-2014 MOleh: Syaikh Sholah Al-Budair hafizohulloh Khutbah PertamaKaum Muslimin sekalian…Tidaklah akan diliputi dengan rasa saling mencintai suatu kaum yang berkumpul di atas kedengkian…Barangsiapa yang memendam permusuhan dan menanti-nanti waktu untuk membalas dendam maka ia akan hidup dengan tersiksa dan menderita…Jadilah ia terbelenggu oleh kegelisahan…Tidak ada yang merusak hubungan diantara manusia sebagaimana kerusakan yang dilakukan oleh kebencian yang terpendam…Dialah dendam kesumat yang tersembunyi…, keburukan yang akan terkuak…perpisahan yang sangat nampak…Menyebabkan rusaknya negeri…, mengurangi perbendaharaan harta…, menghancur-leburkan kedekatan…memutuskan tali persahabatan…memicu api peperangan… إِنَّ الضَّغِيْنَةَ تَلْقَاهَا وَإِنْ قَدُمَتْ …  كَالْعَرِّ يَكْمُنُ حِيْناً ثُمَّ يَنْتَشِرُ“Sesungguhnya rasa dendam, meskipun telah lama terpendam….Engkau mendapatinya seperti penyakit kudisan yang reda sesaat lalu merambat…”Begitu dekat berkembangnya…begitu cepat matangnya…begitu dekat…begitu cepat tersebar…Peninggalan yang terburuk adalah dendam yang diteruskan oleh para ahli waris…, dendam kesumat yang memenuhi hati anak-anak…, lalu tertanamkan di dada-dada para cucu…lalu terpelihara selama-lamanya…Dahulu dikatakan :أَحْيَا الضَّغَائِنَ آباَءٌ لَنَا سَلَفُوْا … فَلَنْ تَبِيْدَ وَلِلآبَاءِ أَبْنَاءُ“Dendam kesumat dihidupkan oleh ayah-ayah kita yang telah lalu….Maka tidak akan sirna dendam tersebut karena para ayah tentu memiliki anak-anak…” Barangsiapa yang kedengkian adalah benderanya…, membalas dendam adalah tujuannya…, melampiaskan kemarahan adalah tradisinya…maka akan reduplah sinarnya… akan jatuhlah bangunannya… rendahlah derajatnya…serta menyala-nyala dadanya (dengan api dendam dan amarah-pen)…Barangsiapa yang meninggalkan kedengkian dan dendam kesumat maka ia akan hidup penuh keselamatan…akan menyatukan persahabatan… memperbanyak pendukungnya…, terjauhkan dari gejolak… dan aman dari kerusakan…Kapan saja kedengkian dan kebencian serta permusuhan telah menguasai hati…, maka akan menyesatkan dan menyakitkan…akan sirnalah bersihnya hati…tumbuhlah kepedihannya…, berkesinambungan penderitaannya…sehingga sulit dan tidak bisa terobati….          Diantara manusia, ada yang jika berselisih langsung menghajr…, jika bersengketa berbuat kefajiran…iapun mencaci maki lawan sengketanya…bertekad untuk membalasnya…iapun langsung menyakiti dan menyenangi permusuhan…Dan washiat yang bermanfaat dan kata bijak yang mencakup adalah sabda pemimpin seluruh orang bijak shallallahu ‘alaihi wasallamفمن أحبَّ أن يُزَحْزَحَ عن النار ، ويُدْخل الجنة ، فلتأته مَنِيَّتُهُ وهو مؤمن بالله واليوم الآخر ، وليأت إلى الناس الذي يحبُّ أن يؤتَى إليه“Barangsiapa yang ingin untuk selamat dari neraka dan masuk ke dalam surga, maka hendaknya ajalnya mendatanginya dan ia dalam kondisi beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan ia bersikap kepada manusia dengan sikap yang suka diperlakukan kepadanya” (HR Muslim)Yaitu ia bersikap kepada mereka dengan sikap yang ia suka jika mereka lakukan kepadanya. Dengan demikian maka teraturlah segala perkara…, hilanglah perselisihan dan saling menjauhi…serta hilanglah kedengkian dari dada-dada… Wahai sang penyimpan dendam dan kedengkian yang terpendam…Sikapmu ini tidaklah membuatmu menaiki ketinggian…tidaklah engkau membangun kemegahan…tidak pula engkau menempuh jalan yang lurus…serta kebahagiaan pun tidak kau raih…وَدَعُوا الضَّغِيْنَةَ لاَ تَكُنْ مِنْ شَأْنِكُمْ ** إِنَّ الضَّغَائِنَ لِلْقَرَابَةِ تُوضَعُ“Tinggalkanlah kedengkian…janganlah kedengkian menjadi kebiasaan kalian…! Sesungguhnya kedengkian terbuang demi kekerabatan…واعْصُوا الَّذِي يُزْجِي النَّمَائِمُ بَيْنَكُمْ ** مُتْنَصِحاً ، ذَاكَ السِّمَامُ المُنقَعُJangan turuti apa yang dihembuskan oleh para nammam (tukang mengadu domba) yang bergaya seperti pemberi nasehat…Sesungguhnya dia adalah pembawa racun yang tertimbun…يُزْجِي عَقَارِبَهُ لِيَبْعَثَ بَيْنَكُمْ ** حَرْباً كَمَا بَعَثَ العُرُوقَ الأَخْدَعُIa melepaskan kalajengking-kalajengkingnya untuk mengobarkan peperangan diantara kalian…Sebagaimana dua urat leher yang mengalirkan urat-urat ke seluruh tubuh…أَبُنَيَّ لا تَكُ مَا حَيِيْتَ مُمَارِيًا …. وَدَعِ السَّفَاهَةَ إِنَّهَا لاَ تَنْفَعُWahai putraku, janganlah engkau memenuhi hidupmu dengan pertengkaran…Tinggalkanlah kebodohan sesungguhnya ia tidak membawa manfaat…لاَ تَحْمِلَنَّ ضَغِيْنَةً لِقَرَابَةٍ … إِنَّ الضَّغِيْنَةَ لِلْقَرَابَةِ تَقْطَعُJanganlah engkau memendam kedengkian terhadap kerabat…Sesungguhnya kedengkian harus diputuskan demi kerabat…لاَ تَحْسَبَنَّ الْحِلْمَ مِنْكَ مَذَلَّةً … إِنَّ الْحَلِيْمَ هُوَ الأَعَزُّ الأَمْنَعُJanganlah engkau mengira bahwa sikap hilm (sabar dan tidak membalas) adalah kerendahan…Sungguh sifat hilm justru merupakan sifat yang termulia dan terkuat… Jadilah dirimu selalu meninggalkan permusuhan….dan selalu memaafkan…Balaslah kesalahan dengan kesabaran dan ketenangan…Waspadalah…, jangan sampai engkau terpancing dan terprovokasi…dari orang-orang yang ingin agar engkau terjatuh dan tersungkur…وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS Fushhilat : 34)Berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, maka akan menjadikannya dekat…, kelembutan kepadanya menjadikannya membelok kepadamu.., dan sikap mudaaroot (lemah lembut) akan menjadikannya bersamamu…وما قَتلَ السفاهة َ مثلُ حلمٍ … يَعودُ بهِ على الجَهْلِ الحليمُDan tidak ada yang membunuh kebodohan seperti sifat “hilm” (sabar dan tidak membalas)…Dimana orang yang halim terus bersikap sabar menghadapi kebodohan..ولا تقطعْ أخاً لكَ عِنْدَ ذَنْبٍ … فإنّ الذنبَ يعفوهُ الكريمُDan janganlah engkau memutuskan hubungan dengan saudaramu karena kesalahannya…Karena kesalahan itu dimaafkan oleh orang yang mulia (karim)Maka hendaknya saling lembut bukan saling menjauh…, saling bermuka manis bukan saling bertengkar…, saling mendekati bukan saling bermusuhan…, saling mendukung bukan saling bermusuhan…, saling lembut bukan saling keras-kerasan…Dan dikatakan bahwa puncak dari adab adalah menyembunyikan kemarahan, dan diantara perkataan alami : al-hilm (sabar dan tidak membalas padahal mampu untuk membalas), dan al-‘afwu (memaafkan), dan as-shofh (berlapang dada), dan al-mannu (memberi kebaikan kepada orang lain), dan al-in’aam (menyuguhkan kenikmatan pada orang lain).          Dan tidaklah menahan amarah, memaafkan orang yang berbuat jahat, memaafkan orang yang jahil, dan bersabar memikul hal yang dibenci…kecuali seorang yang mulia lagi terpandang, seorang yang sabar lagi cerdas, seorang alim lagi faqih.Tidak akan langgeng keserasian jika disertai dengan kebencian dan benturan…, tidak akan tersisa saling menghargai jika disertai dengan kemarahan dan konflik…, tidak akan ada salam jika disertai dengan pembalasan dan dendam…Barangsiapa yang selalu menuntut pembalasan maka akan habis waktunya…, akan bercerai berai saudara-saudaranya…akan ditinggal oleh para sahabatnya…Barangsiapa yang selalu bermuka masam…sentuhannya kering…, memakai pakaian permusuhan…, enggan memaafkan…maka ia akan jatuh dan celaka…tersungkur dalam kerugian…Menyerang…, berkata-kata kasar…, sengaja menyakiti…, merupakan langkah-langkah yang buruk…yang menyebabkan dada-dada menjadi panas…kemarahan bergejolak…menimbulkan kedengkian…dan memutuskan tali hubungan dan cinta kasih…Maka tinggalkanlah itu semua dan waspadalah…وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا (٥٣)Dan Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Isroo’ : 53)Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk, semoga Allah menjaga kita dari keburukan syaitan-syaitan dan para pembuat makar (rencana jahat) serta kekejiannya para orang-orang yang hasad dan dengki… Khutbah Kedua :Kaum Muslimin, diantara manusia ada yang jika hendak meraih kedudukan dan ketinggian…, pangkat dan jabatan…, kekuasaan dan kepemimpinan serta ingin tampil…, maka iapun memusuhi rekan-rekannya…, iapun dengki kepada saudara-saudaranya…ia benci jika disebutkan keutamaan dan kebaikan mereka…ia suka jika keburukan dan cela mereka tersebar…jika nampak kesalahan-kesalahan mereka…, jika ia tidak menemukan kesalahan mereka,, tidak menemukan buktinya, maka iapun menuduh mereka dengan tuduhan bohong dan dusta…Demi Allah…ini adalah perangi yang menjadikan rendah dan hina para lelaki…dengan perangai ini mereka menyerupai orang-orang rendahan…meniru-niru orang-orang yang terhina…, dengan perangai tersebut merekapun terjatuh di lumpur kehinaan, kerendahan, dan kesesatan…حُبُّ الرِّئَاسَـةِ دَاءٌ يَحْلِقُ الدُّنْيَـا… وَيَجْعَلُ الْحَقَّ حَرْبًا لِلْمُحِبِّيْنَاKecintaan terhadap kepemimpinan adalah penyakit yang menggerogoti dunia…Menjadikan kebenaran adalah memerangi orang-orang yang mencintai kita…يَفْرِي الْحَلاَقِيْمَ وَالأَرْحَامَ يَقْطَعُهَا…. فَلاَ مُرُوْءَةَ تَبْقَى وَلاَ دِيْنَاKerongkongan ia potong dan tali silaturahmi ia putuskan…Maka tidak ada lagi budi pekerti yang tersisa dan juga agama…فَتَنَزَّهُوا عَنْ فِعْلِ الْحُسَّادِ وَذَوِي… الْأَحْقَادِ وَانْتَهُوا عَنِ الرَّدَىSucikanlah diri kalian dari perbuatan para penghasad dan para pendengki dan berhentilah kalian dari kehinaan…وَلاَ تُؤْذُوا مِنَ الْخَلْقِ أَحَداً… وَكُفُّوْا عَنِ الشَّرِّ لِسَاناً وَيَداًDan janganlah kalian menyakiti seorang pun….Dan tahanlah lisan dan tangan kalian dari keburukanPenerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda 
Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 14-01-1436 H / 07-11-2014 MOleh: Syaikh Sholah Al-Budair hafizohulloh Khutbah PertamaKaum Muslimin sekalian…Tidaklah akan diliputi dengan rasa saling mencintai suatu kaum yang berkumpul di atas kedengkian…Barangsiapa yang memendam permusuhan dan menanti-nanti waktu untuk membalas dendam maka ia akan hidup dengan tersiksa dan menderita…Jadilah ia terbelenggu oleh kegelisahan…Tidak ada yang merusak hubungan diantara manusia sebagaimana kerusakan yang dilakukan oleh kebencian yang terpendam…Dialah dendam kesumat yang tersembunyi…, keburukan yang akan terkuak…perpisahan yang sangat nampak…Menyebabkan rusaknya negeri…, mengurangi perbendaharaan harta…, menghancur-leburkan kedekatan…memutuskan tali persahabatan…memicu api peperangan… إِنَّ الضَّغِيْنَةَ تَلْقَاهَا وَإِنْ قَدُمَتْ …  كَالْعَرِّ يَكْمُنُ حِيْناً ثُمَّ يَنْتَشِرُ“Sesungguhnya rasa dendam, meskipun telah lama terpendam….Engkau mendapatinya seperti penyakit kudisan yang reda sesaat lalu merambat…”Begitu dekat berkembangnya…begitu cepat matangnya…begitu dekat…begitu cepat tersebar…Peninggalan yang terburuk adalah dendam yang diteruskan oleh para ahli waris…, dendam kesumat yang memenuhi hati anak-anak…, lalu tertanamkan di dada-dada para cucu…lalu terpelihara selama-lamanya…Dahulu dikatakan :أَحْيَا الضَّغَائِنَ آباَءٌ لَنَا سَلَفُوْا … فَلَنْ تَبِيْدَ وَلِلآبَاءِ أَبْنَاءُ“Dendam kesumat dihidupkan oleh ayah-ayah kita yang telah lalu….Maka tidak akan sirna dendam tersebut karena para ayah tentu memiliki anak-anak…” Barangsiapa yang kedengkian adalah benderanya…, membalas dendam adalah tujuannya…, melampiaskan kemarahan adalah tradisinya…maka akan reduplah sinarnya… akan jatuhlah bangunannya… rendahlah derajatnya…serta menyala-nyala dadanya (dengan api dendam dan amarah-pen)…Barangsiapa yang meninggalkan kedengkian dan dendam kesumat maka ia akan hidup penuh keselamatan…akan menyatukan persahabatan… memperbanyak pendukungnya…, terjauhkan dari gejolak… dan aman dari kerusakan…Kapan saja kedengkian dan kebencian serta permusuhan telah menguasai hati…, maka akan menyesatkan dan menyakitkan…akan sirnalah bersihnya hati…tumbuhlah kepedihannya…, berkesinambungan penderitaannya…sehingga sulit dan tidak bisa terobati….          Diantara manusia, ada yang jika berselisih langsung menghajr…, jika bersengketa berbuat kefajiran…iapun mencaci maki lawan sengketanya…bertekad untuk membalasnya…iapun langsung menyakiti dan menyenangi permusuhan…Dan washiat yang bermanfaat dan kata bijak yang mencakup adalah sabda pemimpin seluruh orang bijak shallallahu ‘alaihi wasallamفمن أحبَّ أن يُزَحْزَحَ عن النار ، ويُدْخل الجنة ، فلتأته مَنِيَّتُهُ وهو مؤمن بالله واليوم الآخر ، وليأت إلى الناس الذي يحبُّ أن يؤتَى إليه“Barangsiapa yang ingin untuk selamat dari neraka dan masuk ke dalam surga, maka hendaknya ajalnya mendatanginya dan ia dalam kondisi beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan ia bersikap kepada manusia dengan sikap yang suka diperlakukan kepadanya” (HR Muslim)Yaitu ia bersikap kepada mereka dengan sikap yang ia suka jika mereka lakukan kepadanya. Dengan demikian maka teraturlah segala perkara…, hilanglah perselisihan dan saling menjauhi…serta hilanglah kedengkian dari dada-dada… Wahai sang penyimpan dendam dan kedengkian yang terpendam…Sikapmu ini tidaklah membuatmu menaiki ketinggian…tidaklah engkau membangun kemegahan…tidak pula engkau menempuh jalan yang lurus…serta kebahagiaan pun tidak kau raih…وَدَعُوا الضَّغِيْنَةَ لاَ تَكُنْ مِنْ شَأْنِكُمْ ** إِنَّ الضَّغَائِنَ لِلْقَرَابَةِ تُوضَعُ“Tinggalkanlah kedengkian…janganlah kedengkian menjadi kebiasaan kalian…! Sesungguhnya kedengkian terbuang demi kekerabatan…واعْصُوا الَّذِي يُزْجِي النَّمَائِمُ بَيْنَكُمْ ** مُتْنَصِحاً ، ذَاكَ السِّمَامُ المُنقَعُJangan turuti apa yang dihembuskan oleh para nammam (tukang mengadu domba) yang bergaya seperti pemberi nasehat…Sesungguhnya dia adalah pembawa racun yang tertimbun…يُزْجِي عَقَارِبَهُ لِيَبْعَثَ بَيْنَكُمْ ** حَرْباً كَمَا بَعَثَ العُرُوقَ الأَخْدَعُIa melepaskan kalajengking-kalajengkingnya untuk mengobarkan peperangan diantara kalian…Sebagaimana dua urat leher yang mengalirkan urat-urat ke seluruh tubuh…أَبُنَيَّ لا تَكُ مَا حَيِيْتَ مُمَارِيًا …. وَدَعِ السَّفَاهَةَ إِنَّهَا لاَ تَنْفَعُWahai putraku, janganlah engkau memenuhi hidupmu dengan pertengkaran…Tinggalkanlah kebodohan sesungguhnya ia tidak membawa manfaat…لاَ تَحْمِلَنَّ ضَغِيْنَةً لِقَرَابَةٍ … إِنَّ الضَّغِيْنَةَ لِلْقَرَابَةِ تَقْطَعُJanganlah engkau memendam kedengkian terhadap kerabat…Sesungguhnya kedengkian harus diputuskan demi kerabat…لاَ تَحْسَبَنَّ الْحِلْمَ مِنْكَ مَذَلَّةً … إِنَّ الْحَلِيْمَ هُوَ الأَعَزُّ الأَمْنَعُJanganlah engkau mengira bahwa sikap hilm (sabar dan tidak membalas) adalah kerendahan…Sungguh sifat hilm justru merupakan sifat yang termulia dan terkuat… Jadilah dirimu selalu meninggalkan permusuhan….dan selalu memaafkan…Balaslah kesalahan dengan kesabaran dan ketenangan…Waspadalah…, jangan sampai engkau terpancing dan terprovokasi…dari orang-orang yang ingin agar engkau terjatuh dan tersungkur…وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS Fushhilat : 34)Berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, maka akan menjadikannya dekat…, kelembutan kepadanya menjadikannya membelok kepadamu.., dan sikap mudaaroot (lemah lembut) akan menjadikannya bersamamu…وما قَتلَ السفاهة َ مثلُ حلمٍ … يَعودُ بهِ على الجَهْلِ الحليمُDan tidak ada yang membunuh kebodohan seperti sifat “hilm” (sabar dan tidak membalas)…Dimana orang yang halim terus bersikap sabar menghadapi kebodohan..ولا تقطعْ أخاً لكَ عِنْدَ ذَنْبٍ … فإنّ الذنبَ يعفوهُ الكريمُDan janganlah engkau memutuskan hubungan dengan saudaramu karena kesalahannya…Karena kesalahan itu dimaafkan oleh orang yang mulia (karim)Maka hendaknya saling lembut bukan saling menjauh…, saling bermuka manis bukan saling bertengkar…, saling mendekati bukan saling bermusuhan…, saling mendukung bukan saling bermusuhan…, saling lembut bukan saling keras-kerasan…Dan dikatakan bahwa puncak dari adab adalah menyembunyikan kemarahan, dan diantara perkataan alami : al-hilm (sabar dan tidak membalas padahal mampu untuk membalas), dan al-‘afwu (memaafkan), dan as-shofh (berlapang dada), dan al-mannu (memberi kebaikan kepada orang lain), dan al-in’aam (menyuguhkan kenikmatan pada orang lain).          Dan tidaklah menahan amarah, memaafkan orang yang berbuat jahat, memaafkan orang yang jahil, dan bersabar memikul hal yang dibenci…kecuali seorang yang mulia lagi terpandang, seorang yang sabar lagi cerdas, seorang alim lagi faqih.Tidak akan langgeng keserasian jika disertai dengan kebencian dan benturan…, tidak akan tersisa saling menghargai jika disertai dengan kemarahan dan konflik…, tidak akan ada salam jika disertai dengan pembalasan dan dendam…Barangsiapa yang selalu menuntut pembalasan maka akan habis waktunya…, akan bercerai berai saudara-saudaranya…akan ditinggal oleh para sahabatnya…Barangsiapa yang selalu bermuka masam…sentuhannya kering…, memakai pakaian permusuhan…, enggan memaafkan…maka ia akan jatuh dan celaka…tersungkur dalam kerugian…Menyerang…, berkata-kata kasar…, sengaja menyakiti…, merupakan langkah-langkah yang buruk…yang menyebabkan dada-dada menjadi panas…kemarahan bergejolak…menimbulkan kedengkian…dan memutuskan tali hubungan dan cinta kasih…Maka tinggalkanlah itu semua dan waspadalah…وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا (٥٣)Dan Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Isroo’ : 53)Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk, semoga Allah menjaga kita dari keburukan syaitan-syaitan dan para pembuat makar (rencana jahat) serta kekejiannya para orang-orang yang hasad dan dengki… Khutbah Kedua :Kaum Muslimin, diantara manusia ada yang jika hendak meraih kedudukan dan ketinggian…, pangkat dan jabatan…, kekuasaan dan kepemimpinan serta ingin tampil…, maka iapun memusuhi rekan-rekannya…, iapun dengki kepada saudara-saudaranya…ia benci jika disebutkan keutamaan dan kebaikan mereka…ia suka jika keburukan dan cela mereka tersebar…jika nampak kesalahan-kesalahan mereka…, jika ia tidak menemukan kesalahan mereka,, tidak menemukan buktinya, maka iapun menuduh mereka dengan tuduhan bohong dan dusta…Demi Allah…ini adalah perangi yang menjadikan rendah dan hina para lelaki…dengan perangai ini mereka menyerupai orang-orang rendahan…meniru-niru orang-orang yang terhina…, dengan perangai tersebut merekapun terjatuh di lumpur kehinaan, kerendahan, dan kesesatan…حُبُّ الرِّئَاسَـةِ دَاءٌ يَحْلِقُ الدُّنْيَـا… وَيَجْعَلُ الْحَقَّ حَرْبًا لِلْمُحِبِّيْنَاKecintaan terhadap kepemimpinan adalah penyakit yang menggerogoti dunia…Menjadikan kebenaran adalah memerangi orang-orang yang mencintai kita…يَفْرِي الْحَلاَقِيْمَ وَالأَرْحَامَ يَقْطَعُهَا…. فَلاَ مُرُوْءَةَ تَبْقَى وَلاَ دِيْنَاKerongkongan ia potong dan tali silaturahmi ia putuskan…Maka tidak ada lagi budi pekerti yang tersisa dan juga agama…فَتَنَزَّهُوا عَنْ فِعْلِ الْحُسَّادِ وَذَوِي… الْأَحْقَادِ وَانْتَهُوا عَنِ الرَّدَىSucikanlah diri kalian dari perbuatan para penghasad dan para pendengki dan berhentilah kalian dari kehinaan…وَلاَ تُؤْذُوا مِنَ الْخَلْقِ أَحَداً… وَكُفُّوْا عَنِ الشَّرِّ لِسَاناً وَيَداًDan janganlah kalian menyakiti seorang pun….Dan tahanlah lisan dan tangan kalian dari keburukanPenerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda 


Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 14-01-1436 H / 07-11-2014 MOleh: Syaikh Sholah Al-Budair hafizohulloh Khutbah PertamaKaum Muslimin sekalian…Tidaklah akan diliputi dengan rasa saling mencintai suatu kaum yang berkumpul di atas kedengkian…Barangsiapa yang memendam permusuhan dan menanti-nanti waktu untuk membalas dendam maka ia akan hidup dengan tersiksa dan menderita…Jadilah ia terbelenggu oleh kegelisahan…Tidak ada yang merusak hubungan diantara manusia sebagaimana kerusakan yang dilakukan oleh kebencian yang terpendam…Dialah dendam kesumat yang tersembunyi…, keburukan yang akan terkuak…perpisahan yang sangat nampak…Menyebabkan rusaknya negeri…, mengurangi perbendaharaan harta…, menghancur-leburkan kedekatan…memutuskan tali persahabatan…memicu api peperangan… إِنَّ الضَّغِيْنَةَ تَلْقَاهَا وَإِنْ قَدُمَتْ …  كَالْعَرِّ يَكْمُنُ حِيْناً ثُمَّ يَنْتَشِرُ“Sesungguhnya rasa dendam, meskipun telah lama terpendam….Engkau mendapatinya seperti penyakit kudisan yang reda sesaat lalu merambat…”Begitu dekat berkembangnya…begitu cepat matangnya…begitu dekat…begitu cepat tersebar…Peninggalan yang terburuk adalah dendam yang diteruskan oleh para ahli waris…, dendam kesumat yang memenuhi hati anak-anak…, lalu tertanamkan di dada-dada para cucu…lalu terpelihara selama-lamanya…Dahulu dikatakan :أَحْيَا الضَّغَائِنَ آباَءٌ لَنَا سَلَفُوْا … فَلَنْ تَبِيْدَ وَلِلآبَاءِ أَبْنَاءُ“Dendam kesumat dihidupkan oleh ayah-ayah kita yang telah lalu….Maka tidak akan sirna dendam tersebut karena para ayah tentu memiliki anak-anak…” Barangsiapa yang kedengkian adalah benderanya…, membalas dendam adalah tujuannya…, melampiaskan kemarahan adalah tradisinya…maka akan reduplah sinarnya… akan jatuhlah bangunannya… rendahlah derajatnya…serta menyala-nyala dadanya (dengan api dendam dan amarah-pen)…Barangsiapa yang meninggalkan kedengkian dan dendam kesumat maka ia akan hidup penuh keselamatan…akan menyatukan persahabatan… memperbanyak pendukungnya…, terjauhkan dari gejolak… dan aman dari kerusakan…Kapan saja kedengkian dan kebencian serta permusuhan telah menguasai hati…, maka akan menyesatkan dan menyakitkan…akan sirnalah bersihnya hati…tumbuhlah kepedihannya…, berkesinambungan penderitaannya…sehingga sulit dan tidak bisa terobati….          Diantara manusia, ada yang jika berselisih langsung menghajr…, jika bersengketa berbuat kefajiran…iapun mencaci maki lawan sengketanya…bertekad untuk membalasnya…iapun langsung menyakiti dan menyenangi permusuhan…Dan washiat yang bermanfaat dan kata bijak yang mencakup adalah sabda pemimpin seluruh orang bijak shallallahu ‘alaihi wasallamفمن أحبَّ أن يُزَحْزَحَ عن النار ، ويُدْخل الجنة ، فلتأته مَنِيَّتُهُ وهو مؤمن بالله واليوم الآخر ، وليأت إلى الناس الذي يحبُّ أن يؤتَى إليه“Barangsiapa yang ingin untuk selamat dari neraka dan masuk ke dalam surga, maka hendaknya ajalnya mendatanginya dan ia dalam kondisi beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan ia bersikap kepada manusia dengan sikap yang suka diperlakukan kepadanya” (HR Muslim)Yaitu ia bersikap kepada mereka dengan sikap yang ia suka jika mereka lakukan kepadanya. Dengan demikian maka teraturlah segala perkara…, hilanglah perselisihan dan saling menjauhi…serta hilanglah kedengkian dari dada-dada… Wahai sang penyimpan dendam dan kedengkian yang terpendam…Sikapmu ini tidaklah membuatmu menaiki ketinggian…tidaklah engkau membangun kemegahan…tidak pula engkau menempuh jalan yang lurus…serta kebahagiaan pun tidak kau raih…وَدَعُوا الضَّغِيْنَةَ لاَ تَكُنْ مِنْ شَأْنِكُمْ ** إِنَّ الضَّغَائِنَ لِلْقَرَابَةِ تُوضَعُ“Tinggalkanlah kedengkian…janganlah kedengkian menjadi kebiasaan kalian…! Sesungguhnya kedengkian terbuang demi kekerabatan…واعْصُوا الَّذِي يُزْجِي النَّمَائِمُ بَيْنَكُمْ ** مُتْنَصِحاً ، ذَاكَ السِّمَامُ المُنقَعُJangan turuti apa yang dihembuskan oleh para nammam (tukang mengadu domba) yang bergaya seperti pemberi nasehat…Sesungguhnya dia adalah pembawa racun yang tertimbun…يُزْجِي عَقَارِبَهُ لِيَبْعَثَ بَيْنَكُمْ ** حَرْباً كَمَا بَعَثَ العُرُوقَ الأَخْدَعُIa melepaskan kalajengking-kalajengkingnya untuk mengobarkan peperangan diantara kalian…Sebagaimana dua urat leher yang mengalirkan urat-urat ke seluruh tubuh…أَبُنَيَّ لا تَكُ مَا حَيِيْتَ مُمَارِيًا …. وَدَعِ السَّفَاهَةَ إِنَّهَا لاَ تَنْفَعُWahai putraku, janganlah engkau memenuhi hidupmu dengan pertengkaran…Tinggalkanlah kebodohan sesungguhnya ia tidak membawa manfaat…لاَ تَحْمِلَنَّ ضَغِيْنَةً لِقَرَابَةٍ … إِنَّ الضَّغِيْنَةَ لِلْقَرَابَةِ تَقْطَعُJanganlah engkau memendam kedengkian terhadap kerabat…Sesungguhnya kedengkian harus diputuskan demi kerabat…لاَ تَحْسَبَنَّ الْحِلْمَ مِنْكَ مَذَلَّةً … إِنَّ الْحَلِيْمَ هُوَ الأَعَزُّ الأَمْنَعُJanganlah engkau mengira bahwa sikap hilm (sabar dan tidak membalas) adalah kerendahan…Sungguh sifat hilm justru merupakan sifat yang termulia dan terkuat… Jadilah dirimu selalu meninggalkan permusuhan….dan selalu memaafkan…Balaslah kesalahan dengan kesabaran dan ketenangan…Waspadalah…, jangan sampai engkau terpancing dan terprovokasi…dari orang-orang yang ingin agar engkau terjatuh dan tersungkur…وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS Fushhilat : 34)Berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, maka akan menjadikannya dekat…, kelembutan kepadanya menjadikannya membelok kepadamu.., dan sikap mudaaroot (lemah lembut) akan menjadikannya bersamamu…وما قَتلَ السفاهة َ مثلُ حلمٍ … يَعودُ بهِ على الجَهْلِ الحليمُDan tidak ada yang membunuh kebodohan seperti sifat “hilm” (sabar dan tidak membalas)…Dimana orang yang halim terus bersikap sabar menghadapi kebodohan..ولا تقطعْ أخاً لكَ عِنْدَ ذَنْبٍ … فإنّ الذنبَ يعفوهُ الكريمُDan janganlah engkau memutuskan hubungan dengan saudaramu karena kesalahannya…Karena kesalahan itu dimaafkan oleh orang yang mulia (karim)Maka hendaknya saling lembut bukan saling menjauh…, saling bermuka manis bukan saling bertengkar…, saling mendekati bukan saling bermusuhan…, saling mendukung bukan saling bermusuhan…, saling lembut bukan saling keras-kerasan…Dan dikatakan bahwa puncak dari adab adalah menyembunyikan kemarahan, dan diantara perkataan alami : al-hilm (sabar dan tidak membalas padahal mampu untuk membalas), dan al-‘afwu (memaafkan), dan as-shofh (berlapang dada), dan al-mannu (memberi kebaikan kepada orang lain), dan al-in’aam (menyuguhkan kenikmatan pada orang lain).          Dan tidaklah menahan amarah, memaafkan orang yang berbuat jahat, memaafkan orang yang jahil, dan bersabar memikul hal yang dibenci…kecuali seorang yang mulia lagi terpandang, seorang yang sabar lagi cerdas, seorang alim lagi faqih.Tidak akan langgeng keserasian jika disertai dengan kebencian dan benturan…, tidak akan tersisa saling menghargai jika disertai dengan kemarahan dan konflik…, tidak akan ada salam jika disertai dengan pembalasan dan dendam…Barangsiapa yang selalu menuntut pembalasan maka akan habis waktunya…, akan bercerai berai saudara-saudaranya…akan ditinggal oleh para sahabatnya…Barangsiapa yang selalu bermuka masam…sentuhannya kering…, memakai pakaian permusuhan…, enggan memaafkan…maka ia akan jatuh dan celaka…tersungkur dalam kerugian…Menyerang…, berkata-kata kasar…, sengaja menyakiti…, merupakan langkah-langkah yang buruk…yang menyebabkan dada-dada menjadi panas…kemarahan bergejolak…menimbulkan kedengkian…dan memutuskan tali hubungan dan cinta kasih…Maka tinggalkanlah itu semua dan waspadalah…وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا (٥٣)Dan Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Isroo’ : 53)Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk, semoga Allah menjaga kita dari keburukan syaitan-syaitan dan para pembuat makar (rencana jahat) serta kekejiannya para orang-orang yang hasad dan dengki… Khutbah Kedua :Kaum Muslimin, diantara manusia ada yang jika hendak meraih kedudukan dan ketinggian…, pangkat dan jabatan…, kekuasaan dan kepemimpinan serta ingin tampil…, maka iapun memusuhi rekan-rekannya…, iapun dengki kepada saudara-saudaranya…ia benci jika disebutkan keutamaan dan kebaikan mereka…ia suka jika keburukan dan cela mereka tersebar…jika nampak kesalahan-kesalahan mereka…, jika ia tidak menemukan kesalahan mereka,, tidak menemukan buktinya, maka iapun menuduh mereka dengan tuduhan bohong dan dusta…Demi Allah…ini adalah perangi yang menjadikan rendah dan hina para lelaki…dengan perangai ini mereka menyerupai orang-orang rendahan…meniru-niru orang-orang yang terhina…, dengan perangai tersebut merekapun terjatuh di lumpur kehinaan, kerendahan, dan kesesatan…حُبُّ الرِّئَاسَـةِ دَاءٌ يَحْلِقُ الدُّنْيَـا… وَيَجْعَلُ الْحَقَّ حَرْبًا لِلْمُحِبِّيْنَاKecintaan terhadap kepemimpinan adalah penyakit yang menggerogoti dunia…Menjadikan kebenaran adalah memerangi orang-orang yang mencintai kita…يَفْرِي الْحَلاَقِيْمَ وَالأَرْحَامَ يَقْطَعُهَا…. فَلاَ مُرُوْءَةَ تَبْقَى وَلاَ دِيْنَاKerongkongan ia potong dan tali silaturahmi ia putuskan…Maka tidak ada lagi budi pekerti yang tersisa dan juga agama…فَتَنَزَّهُوا عَنْ فِعْلِ الْحُسَّادِ وَذَوِي… الْأَحْقَادِ وَانْتَهُوا عَنِ الرَّدَىSucikanlah diri kalian dari perbuatan para penghasad dan para pendengki dan berhentilah kalian dari kehinaan…وَلاَ تُؤْذُوا مِنَ الْخَلْقِ أَحَداً… وَكُفُّوْا عَنِ الشَّرِّ لِسَاناً وَيَداًDan janganlah kalian menyakiti seorang pun….Dan tahanlah lisan dan tangan kalian dari keburukanPenerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda 

Tafsir Doa Sapu Jagad

Doa sapu jagad sangat maruf sekali di tengah-tengah kita. Kenapa sampai disebut sapu jagad? Karena sebenarnya doa ini benar-benar ampuh di dalamnya berisi pemintaan seluruh kebaikan di dunia dan akhirat. Doa sapu jagad yang kami maksud adalah, رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Robbanaa aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.” (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) Doa sapu jagad tersebut diucapkan ketika telah selesai menunaikan manasik haji, terutama banyak dibaca di hari-hari tasyrik di bulan Dzulhijjah sebagaimana anjuran sebagai salaf. Ayat yang menyebutkan hal ini, فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 200-201). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690) Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya disebutkan, وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ “Jika Anas radhiyallahu ‘anhu hendak berdoa, ia pasti berdoa dengan doa tersebut. Dan jika ia hendak berdoa dengan doa yang lain, ia pun menyisipkan doa tersebut di dalamnya.” (HR. Muslim no. 2690). Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan, لَمْ يَدْعُ نَبِيّ وَلَا صَالِح بِشَيْءٍ إِلَّا دَخَلَ فِي هَذَا الدُّعَاء “Tidaklah seorang nabi maupun orang shalih berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul Bari, 2: 322). Imam Nawawi rahimahullah berkata mengenai pengertian doa tersebut, وَأَظْهَرُ الْأَقْوَال فِي تَفْسِير الْحَسَنَة فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا الْعِبَادَة وَالْعَافِيَة ، وَفِي الْآخِرَة الْجَنَّة وَالْمَغْفِرَة ، وَقِيلَ : الْحَسَنَة تَعُمّ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة . “Pendapat yang lebih tepat mengenai tafsiran ‘kebaikan di dunia’ adalah ibadah dan ‘afiyah (kesehatan). Sedangkan ‘kebaikan di akhirat’ adalah surga dan ampunan Allah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kebaikan di situ mencakup umum untuk seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 13). Ibnu Katsir menyatakan, “Doa sapu jagad ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan dihindarkan dari seluruh kejelekan. Yang dimaksud kebaikan dunia adalah nikmat sehat, rumah yang lapang, istri yang penuh dengan kebaikan, rizki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang menyenangkan, pujian yang baik serta kebaikan-kebaikan lainnya dengan berbagai ungkapan dari pakar tafsir. Apa yang disebutkan oleh para ulama pakar tafsir semuanya tidaklah saling bertentangan. Karena seluruh kebaikan dunia tercakup dalam doa tersebut. Adapun kebaikan di akhirat yang diminta dalam do’a ini tentu saja lebih tinggi dari kebaikan di dunia yaitu dimasukkannya ke dalam surga, dibebaskan dari rasa khawatir (takut), diberi kemudahan dalam hisab (perhitungan amalan) di akhirat, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya. Adapun permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 122). Doa yang sering kita ucapkan ini ternyata punya kandungan makna yang mendalam. Semoga bisa diamalkan dan dipahami maknanya sehingga kita pun bisa bersungguh-sungguh dalam berdoa. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas Ashar di Darush Sholihin, 14 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa doa sapu jagad

Tafsir Doa Sapu Jagad

Doa sapu jagad sangat maruf sekali di tengah-tengah kita. Kenapa sampai disebut sapu jagad? Karena sebenarnya doa ini benar-benar ampuh di dalamnya berisi pemintaan seluruh kebaikan di dunia dan akhirat. Doa sapu jagad yang kami maksud adalah, رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Robbanaa aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.” (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) Doa sapu jagad tersebut diucapkan ketika telah selesai menunaikan manasik haji, terutama banyak dibaca di hari-hari tasyrik di bulan Dzulhijjah sebagaimana anjuran sebagai salaf. Ayat yang menyebutkan hal ini, فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 200-201). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690) Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya disebutkan, وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ “Jika Anas radhiyallahu ‘anhu hendak berdoa, ia pasti berdoa dengan doa tersebut. Dan jika ia hendak berdoa dengan doa yang lain, ia pun menyisipkan doa tersebut di dalamnya.” (HR. Muslim no. 2690). Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan, لَمْ يَدْعُ نَبِيّ وَلَا صَالِح بِشَيْءٍ إِلَّا دَخَلَ فِي هَذَا الدُّعَاء “Tidaklah seorang nabi maupun orang shalih berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul Bari, 2: 322). Imam Nawawi rahimahullah berkata mengenai pengertian doa tersebut, وَأَظْهَرُ الْأَقْوَال فِي تَفْسِير الْحَسَنَة فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا الْعِبَادَة وَالْعَافِيَة ، وَفِي الْآخِرَة الْجَنَّة وَالْمَغْفِرَة ، وَقِيلَ : الْحَسَنَة تَعُمّ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة . “Pendapat yang lebih tepat mengenai tafsiran ‘kebaikan di dunia’ adalah ibadah dan ‘afiyah (kesehatan). Sedangkan ‘kebaikan di akhirat’ adalah surga dan ampunan Allah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kebaikan di situ mencakup umum untuk seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 13). Ibnu Katsir menyatakan, “Doa sapu jagad ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan dihindarkan dari seluruh kejelekan. Yang dimaksud kebaikan dunia adalah nikmat sehat, rumah yang lapang, istri yang penuh dengan kebaikan, rizki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang menyenangkan, pujian yang baik serta kebaikan-kebaikan lainnya dengan berbagai ungkapan dari pakar tafsir. Apa yang disebutkan oleh para ulama pakar tafsir semuanya tidaklah saling bertentangan. Karena seluruh kebaikan dunia tercakup dalam doa tersebut. Adapun kebaikan di akhirat yang diminta dalam do’a ini tentu saja lebih tinggi dari kebaikan di dunia yaitu dimasukkannya ke dalam surga, dibebaskan dari rasa khawatir (takut), diberi kemudahan dalam hisab (perhitungan amalan) di akhirat, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya. Adapun permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 122). Doa yang sering kita ucapkan ini ternyata punya kandungan makna yang mendalam. Semoga bisa diamalkan dan dipahami maknanya sehingga kita pun bisa bersungguh-sungguh dalam berdoa. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas Ashar di Darush Sholihin, 14 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa doa sapu jagad
Doa sapu jagad sangat maruf sekali di tengah-tengah kita. Kenapa sampai disebut sapu jagad? Karena sebenarnya doa ini benar-benar ampuh di dalamnya berisi pemintaan seluruh kebaikan di dunia dan akhirat. Doa sapu jagad yang kami maksud adalah, رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Robbanaa aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.” (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) Doa sapu jagad tersebut diucapkan ketika telah selesai menunaikan manasik haji, terutama banyak dibaca di hari-hari tasyrik di bulan Dzulhijjah sebagaimana anjuran sebagai salaf. Ayat yang menyebutkan hal ini, فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 200-201). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690) Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya disebutkan, وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ “Jika Anas radhiyallahu ‘anhu hendak berdoa, ia pasti berdoa dengan doa tersebut. Dan jika ia hendak berdoa dengan doa yang lain, ia pun menyisipkan doa tersebut di dalamnya.” (HR. Muslim no. 2690). Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan, لَمْ يَدْعُ نَبِيّ وَلَا صَالِح بِشَيْءٍ إِلَّا دَخَلَ فِي هَذَا الدُّعَاء “Tidaklah seorang nabi maupun orang shalih berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul Bari, 2: 322). Imam Nawawi rahimahullah berkata mengenai pengertian doa tersebut, وَأَظْهَرُ الْأَقْوَال فِي تَفْسِير الْحَسَنَة فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا الْعِبَادَة وَالْعَافِيَة ، وَفِي الْآخِرَة الْجَنَّة وَالْمَغْفِرَة ، وَقِيلَ : الْحَسَنَة تَعُمّ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة . “Pendapat yang lebih tepat mengenai tafsiran ‘kebaikan di dunia’ adalah ibadah dan ‘afiyah (kesehatan). Sedangkan ‘kebaikan di akhirat’ adalah surga dan ampunan Allah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kebaikan di situ mencakup umum untuk seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 13). Ibnu Katsir menyatakan, “Doa sapu jagad ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan dihindarkan dari seluruh kejelekan. Yang dimaksud kebaikan dunia adalah nikmat sehat, rumah yang lapang, istri yang penuh dengan kebaikan, rizki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang menyenangkan, pujian yang baik serta kebaikan-kebaikan lainnya dengan berbagai ungkapan dari pakar tafsir. Apa yang disebutkan oleh para ulama pakar tafsir semuanya tidaklah saling bertentangan. Karena seluruh kebaikan dunia tercakup dalam doa tersebut. Adapun kebaikan di akhirat yang diminta dalam do’a ini tentu saja lebih tinggi dari kebaikan di dunia yaitu dimasukkannya ke dalam surga, dibebaskan dari rasa khawatir (takut), diberi kemudahan dalam hisab (perhitungan amalan) di akhirat, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya. Adapun permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 122). Doa yang sering kita ucapkan ini ternyata punya kandungan makna yang mendalam. Semoga bisa diamalkan dan dipahami maknanya sehingga kita pun bisa bersungguh-sungguh dalam berdoa. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas Ashar di Darush Sholihin, 14 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa doa sapu jagad


Doa sapu jagad sangat maruf sekali di tengah-tengah kita. Kenapa sampai disebut sapu jagad? Karena sebenarnya doa ini benar-benar ampuh di dalamnya berisi pemintaan seluruh kebaikan di dunia dan akhirat. Doa sapu jagad yang kami maksud adalah, رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Robbanaa aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.” (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) Doa sapu jagad tersebut diucapkan ketika telah selesai menunaikan manasik haji, terutama banyak dibaca di hari-hari tasyrik di bulan Dzulhijjah sebagaimana anjuran sebagai salaf. Ayat yang menyebutkan hal ini, فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 200-201). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690) Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya disebutkan, وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ “Jika Anas radhiyallahu ‘anhu hendak berdoa, ia pasti berdoa dengan doa tersebut. Dan jika ia hendak berdoa dengan doa yang lain, ia pun menyisipkan doa tersebut di dalamnya.” (HR. Muslim no. 2690). Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan, لَمْ يَدْعُ نَبِيّ وَلَا صَالِح بِشَيْءٍ إِلَّا دَخَلَ فِي هَذَا الدُّعَاء “Tidaklah seorang nabi maupun orang shalih berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul Bari, 2: 322). Imam Nawawi rahimahullah berkata mengenai pengertian doa tersebut, وَأَظْهَرُ الْأَقْوَال فِي تَفْسِير الْحَسَنَة فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا الْعِبَادَة وَالْعَافِيَة ، وَفِي الْآخِرَة الْجَنَّة وَالْمَغْفِرَة ، وَقِيلَ : الْحَسَنَة تَعُمّ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة . “Pendapat yang lebih tepat mengenai tafsiran ‘kebaikan di dunia’ adalah ibadah dan ‘afiyah (kesehatan). Sedangkan ‘kebaikan di akhirat’ adalah surga dan ampunan Allah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kebaikan di situ mencakup umum untuk seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 13). Ibnu Katsir menyatakan, “Doa sapu jagad ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan dihindarkan dari seluruh kejelekan. Yang dimaksud kebaikan dunia adalah nikmat sehat, rumah yang lapang, istri yang penuh dengan kebaikan, rizki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang menyenangkan, pujian yang baik serta kebaikan-kebaikan lainnya dengan berbagai ungkapan dari pakar tafsir. Apa yang disebutkan oleh para ulama pakar tafsir semuanya tidaklah saling bertentangan. Karena seluruh kebaikan dunia tercakup dalam doa tersebut. Adapun kebaikan di akhirat yang diminta dalam do’a ini tentu saja lebih tinggi dari kebaikan di dunia yaitu dimasukkannya ke dalam surga, dibebaskan dari rasa khawatir (takut), diberi kemudahan dalam hisab (perhitungan amalan) di akhirat, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya. Adapun permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 122). Doa yang sering kita ucapkan ini ternyata punya kandungan makna yang mendalam. Semoga bisa diamalkan dan dipahami maknanya sehingga kita pun bisa bersungguh-sungguh dalam berdoa. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas Ashar di Darush Sholihin, 14 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa doa sapu jagad

Makmum Masbuk Ketika Shalat Jumat

Bagaimana makmum masbuk ketika shalat Jumat? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Telah kami sebutkan bahwa madzhab kami –madzhab Syafi’i- jika seseorang mendapatkan ruku’ di raka’at kedua, maka berarti mendapatkan shalat Jumat. Jika tidak, berarti tidak. Inilah pendapat kebanyakan ulama. Ibnul Mundzir menceritakan hal ini dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik, Sa’id bin Al Musayyib, Al Aswad, ‘Alqomah, Al Hasan Al Bashri, Urwah bin Jubair, An Nakho’i, Az Zuhri, Malik, Al Auza’i, Ats Tsauri, Abu Yusuf, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur. Ibnul Mundzir menyatakan bahwa pendapat beliau pun seperti itu. Sedangkan pendapat lainnya dari ‘Atho’, Thawus, Mujahid, dan Makhul berpendapat bahwa siapa yang tidak mendapatkan khutbah, maka ia mengerjakan shalat empat raka’at. Ada juga dari ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa siapa yang mendapatkan tasyahud akhir bersama imam, maka ia mendapat shalat Jumat. Namun setelah itu, ia mesti mengerjakan dua rakaat lagi, barulah shalat Jumatnya sempurna. Syaikh Abu Hamid menceritakan pula dari para ulama, jika mendapatkan imam sebelum salam, maka berarti mendapatkan shalat Jumat. Imam Abu Hanifah sendiri berpendapat bahwa jika imam mengucapkan salam kemudian ia sujud sahwi, lalu makmum mendapatkannya, maka ia mendapatkan shalat Jumat. Ulama Syafi’iyah juga berpendapat sebagaimana pendapat dalam madzhab kami yaitu dari Asy Sya’bi, Zufr, Muhammad bin Al Hasan. Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari – Muslim yang telah kami sebutkan.” (Al Majmu’, 4: 302) Pendapat ulama Syafi’iyah di atas yang disebutkan oleh Imam Nawawi lebih kuat mengingat dalil berikut, عَنْ أَبِى بَكْرَةَ أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ رَاكِعٌ ، فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ » Dari Abu Bakrah, ia berkata bahwa ia pernah mendapati shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau sedang ruku’. Lalu Abu Bakrah ruku’ sebelum mendapati shaf. Hal ini pun diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Semoga Allah menambah padamu semangat, seperti itu janganlah diulangi.” (HR. Bukhari no. 783). Shalat dari Abu Bakrah masih teranggap dan tidak diperintah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diulangi. Ketika itu pun Abu Bakrah tidak punya kesempatan membaca Al Fatihah. Sedangkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “janganlah mengulangi”, ini menunjukkan bahwa larangan masuk dalam shalat sebelum mencapai shaf. Kesimpulannya, selama mendapatkan ruku’ pada raka’at kedua, berarti tetap mengerjakan shalat Jumat dua raka’at. Demikian yang berlaku pada makmum masbuk pada shalat Jumat. Wallahu a’lam.   Referensi: Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab lisy Syairozi, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan kedua, tahun 1427 H. Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal Sayyid Salim, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyyah, 1: 557. — Selesai disusun 11: 09 AM menjelang shalat Jumat, 14 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsshalat jamaah shalat jumat

Makmum Masbuk Ketika Shalat Jumat

Bagaimana makmum masbuk ketika shalat Jumat? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Telah kami sebutkan bahwa madzhab kami –madzhab Syafi’i- jika seseorang mendapatkan ruku’ di raka’at kedua, maka berarti mendapatkan shalat Jumat. Jika tidak, berarti tidak. Inilah pendapat kebanyakan ulama. Ibnul Mundzir menceritakan hal ini dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik, Sa’id bin Al Musayyib, Al Aswad, ‘Alqomah, Al Hasan Al Bashri, Urwah bin Jubair, An Nakho’i, Az Zuhri, Malik, Al Auza’i, Ats Tsauri, Abu Yusuf, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur. Ibnul Mundzir menyatakan bahwa pendapat beliau pun seperti itu. Sedangkan pendapat lainnya dari ‘Atho’, Thawus, Mujahid, dan Makhul berpendapat bahwa siapa yang tidak mendapatkan khutbah, maka ia mengerjakan shalat empat raka’at. Ada juga dari ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa siapa yang mendapatkan tasyahud akhir bersama imam, maka ia mendapat shalat Jumat. Namun setelah itu, ia mesti mengerjakan dua rakaat lagi, barulah shalat Jumatnya sempurna. Syaikh Abu Hamid menceritakan pula dari para ulama, jika mendapatkan imam sebelum salam, maka berarti mendapatkan shalat Jumat. Imam Abu Hanifah sendiri berpendapat bahwa jika imam mengucapkan salam kemudian ia sujud sahwi, lalu makmum mendapatkannya, maka ia mendapatkan shalat Jumat. Ulama Syafi’iyah juga berpendapat sebagaimana pendapat dalam madzhab kami yaitu dari Asy Sya’bi, Zufr, Muhammad bin Al Hasan. Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari – Muslim yang telah kami sebutkan.” (Al Majmu’, 4: 302) Pendapat ulama Syafi’iyah di atas yang disebutkan oleh Imam Nawawi lebih kuat mengingat dalil berikut, عَنْ أَبِى بَكْرَةَ أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ رَاكِعٌ ، فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ » Dari Abu Bakrah, ia berkata bahwa ia pernah mendapati shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau sedang ruku’. Lalu Abu Bakrah ruku’ sebelum mendapati shaf. Hal ini pun diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Semoga Allah menambah padamu semangat, seperti itu janganlah diulangi.” (HR. Bukhari no. 783). Shalat dari Abu Bakrah masih teranggap dan tidak diperintah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diulangi. Ketika itu pun Abu Bakrah tidak punya kesempatan membaca Al Fatihah. Sedangkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “janganlah mengulangi”, ini menunjukkan bahwa larangan masuk dalam shalat sebelum mencapai shaf. Kesimpulannya, selama mendapatkan ruku’ pada raka’at kedua, berarti tetap mengerjakan shalat Jumat dua raka’at. Demikian yang berlaku pada makmum masbuk pada shalat Jumat. Wallahu a’lam.   Referensi: Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab lisy Syairozi, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan kedua, tahun 1427 H. Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal Sayyid Salim, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyyah, 1: 557. — Selesai disusun 11: 09 AM menjelang shalat Jumat, 14 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsshalat jamaah shalat jumat
Bagaimana makmum masbuk ketika shalat Jumat? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Telah kami sebutkan bahwa madzhab kami –madzhab Syafi’i- jika seseorang mendapatkan ruku’ di raka’at kedua, maka berarti mendapatkan shalat Jumat. Jika tidak, berarti tidak. Inilah pendapat kebanyakan ulama. Ibnul Mundzir menceritakan hal ini dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik, Sa’id bin Al Musayyib, Al Aswad, ‘Alqomah, Al Hasan Al Bashri, Urwah bin Jubair, An Nakho’i, Az Zuhri, Malik, Al Auza’i, Ats Tsauri, Abu Yusuf, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur. Ibnul Mundzir menyatakan bahwa pendapat beliau pun seperti itu. Sedangkan pendapat lainnya dari ‘Atho’, Thawus, Mujahid, dan Makhul berpendapat bahwa siapa yang tidak mendapatkan khutbah, maka ia mengerjakan shalat empat raka’at. Ada juga dari ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa siapa yang mendapatkan tasyahud akhir bersama imam, maka ia mendapat shalat Jumat. Namun setelah itu, ia mesti mengerjakan dua rakaat lagi, barulah shalat Jumatnya sempurna. Syaikh Abu Hamid menceritakan pula dari para ulama, jika mendapatkan imam sebelum salam, maka berarti mendapatkan shalat Jumat. Imam Abu Hanifah sendiri berpendapat bahwa jika imam mengucapkan salam kemudian ia sujud sahwi, lalu makmum mendapatkannya, maka ia mendapatkan shalat Jumat. Ulama Syafi’iyah juga berpendapat sebagaimana pendapat dalam madzhab kami yaitu dari Asy Sya’bi, Zufr, Muhammad bin Al Hasan. Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari – Muslim yang telah kami sebutkan.” (Al Majmu’, 4: 302) Pendapat ulama Syafi’iyah di atas yang disebutkan oleh Imam Nawawi lebih kuat mengingat dalil berikut, عَنْ أَبِى بَكْرَةَ أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ رَاكِعٌ ، فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ » Dari Abu Bakrah, ia berkata bahwa ia pernah mendapati shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau sedang ruku’. Lalu Abu Bakrah ruku’ sebelum mendapati shaf. Hal ini pun diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Semoga Allah menambah padamu semangat, seperti itu janganlah diulangi.” (HR. Bukhari no. 783). Shalat dari Abu Bakrah masih teranggap dan tidak diperintah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diulangi. Ketika itu pun Abu Bakrah tidak punya kesempatan membaca Al Fatihah. Sedangkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “janganlah mengulangi”, ini menunjukkan bahwa larangan masuk dalam shalat sebelum mencapai shaf. Kesimpulannya, selama mendapatkan ruku’ pada raka’at kedua, berarti tetap mengerjakan shalat Jumat dua raka’at. Demikian yang berlaku pada makmum masbuk pada shalat Jumat. Wallahu a’lam.   Referensi: Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab lisy Syairozi, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan kedua, tahun 1427 H. Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal Sayyid Salim, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyyah, 1: 557. — Selesai disusun 11: 09 AM menjelang shalat Jumat, 14 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsshalat jamaah shalat jumat


Bagaimana makmum masbuk ketika shalat Jumat? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Telah kami sebutkan bahwa madzhab kami –madzhab Syafi’i- jika seseorang mendapatkan ruku’ di raka’at kedua, maka berarti mendapatkan shalat Jumat. Jika tidak, berarti tidak. Inilah pendapat kebanyakan ulama. Ibnul Mundzir menceritakan hal ini dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik, Sa’id bin Al Musayyib, Al Aswad, ‘Alqomah, Al Hasan Al Bashri, Urwah bin Jubair, An Nakho’i, Az Zuhri, Malik, Al Auza’i, Ats Tsauri, Abu Yusuf, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur. Ibnul Mundzir menyatakan bahwa pendapat beliau pun seperti itu. Sedangkan pendapat lainnya dari ‘Atho’, Thawus, Mujahid, dan Makhul berpendapat bahwa siapa yang tidak mendapatkan khutbah, maka ia mengerjakan shalat empat raka’at. Ada juga dari ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa siapa yang mendapatkan tasyahud akhir bersama imam, maka ia mendapat shalat Jumat. Namun setelah itu, ia mesti mengerjakan dua rakaat lagi, barulah shalat Jumatnya sempurna. Syaikh Abu Hamid menceritakan pula dari para ulama, jika mendapatkan imam sebelum salam, maka berarti mendapatkan shalat Jumat. Imam Abu Hanifah sendiri berpendapat bahwa jika imam mengucapkan salam kemudian ia sujud sahwi, lalu makmum mendapatkannya, maka ia mendapatkan shalat Jumat. Ulama Syafi’iyah juga berpendapat sebagaimana pendapat dalam madzhab kami yaitu dari Asy Sya’bi, Zufr, Muhammad bin Al Hasan. Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari – Muslim yang telah kami sebutkan.” (Al Majmu’, 4: 302) Pendapat ulama Syafi’iyah di atas yang disebutkan oleh Imam Nawawi lebih kuat mengingat dalil berikut, عَنْ أَبِى بَكْرَةَ أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ رَاكِعٌ ، فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ » Dari Abu Bakrah, ia berkata bahwa ia pernah mendapati shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau sedang ruku’. Lalu Abu Bakrah ruku’ sebelum mendapati shaf. Hal ini pun diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Semoga Allah menambah padamu semangat, seperti itu janganlah diulangi.” (HR. Bukhari no. 783). Shalat dari Abu Bakrah masih teranggap dan tidak diperintah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diulangi. Ketika itu pun Abu Bakrah tidak punya kesempatan membaca Al Fatihah. Sedangkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “janganlah mengulangi”, ini menunjukkan bahwa larangan masuk dalam shalat sebelum mencapai shaf. Kesimpulannya, selama mendapatkan ruku’ pada raka’at kedua, berarti tetap mengerjakan shalat Jumat dua raka’at. Demikian yang berlaku pada makmum masbuk pada shalat Jumat. Wallahu a’lam.   Referensi: Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab lisy Syairozi, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan kedua, tahun 1427 H. Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal Sayyid Salim, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyyah, 1: 557. — Selesai disusun 11: 09 AM menjelang shalat Jumat, 14 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsshalat jamaah shalat jumat

Sebelum Membicarakan Jelek Saudaramu

Kadang kita membicarakan jelek orang lain (ghibah), padahal diri kita sendiri penuh kekurangan. Seharusnya kita pandai bercermin, melihat kekurangan sendiri. Sebagian wanita yang berjilbab kecil, kadang berkomentar sinis pada ibu berjilbab syar’i, “Idih, jilbab gede ini, kayak teroris saja.” Sebagian kita lagi membicarakan kelakuan jelek tetangganya, “Itu loh tetangga kita, punya mobil baru lagi, benar-benar tak pernah puas dengan dunia.” Sebelum membicarakan jelek saudaramu, coba pikirkan hadits ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذْلَ- أَوْ الجَذْعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 592, riwayat yang shahih) Maksud perkataan sahabat Abu Hurairah di atas adalah sama seperti pepatah dalam bahasa kita “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”. Artinya, aib orang lain sebenarnya kita tidak tahu seluruhnya. Selalu kita katakan mereka jelek, mereka sombong, mereka sok alim, dan cap jelek lainnya. Sedangkan aib kita, kita yang lebih tahu. Kalau aib orang lain kita hanya tahunya “kecil” makanya Abu Hurairah ungkapkan dengan istilah “kotoran kecil di mata”. Namun aib kita, kita yang lebih tahu akan “besarnya”, maka dipakai dalam hadits dengan kata “kayu besar”. Sebenarnya kita yang lebih tahu akan kekurangan kita yang begitu banyak. So … coba terus introspeksi diri daripada terus membicarakan aib dan kekurangan saudara kita. Cobalah berusaha agar diri kita menjadi lebih baik. Moga kita dapat hidayah. — Ungkapan hati di pagi penuh berkah di Darush Sholihin, 13 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsghibah

Sebelum Membicarakan Jelek Saudaramu

Kadang kita membicarakan jelek orang lain (ghibah), padahal diri kita sendiri penuh kekurangan. Seharusnya kita pandai bercermin, melihat kekurangan sendiri. Sebagian wanita yang berjilbab kecil, kadang berkomentar sinis pada ibu berjilbab syar’i, “Idih, jilbab gede ini, kayak teroris saja.” Sebagian kita lagi membicarakan kelakuan jelek tetangganya, “Itu loh tetangga kita, punya mobil baru lagi, benar-benar tak pernah puas dengan dunia.” Sebelum membicarakan jelek saudaramu, coba pikirkan hadits ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذْلَ- أَوْ الجَذْعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 592, riwayat yang shahih) Maksud perkataan sahabat Abu Hurairah di atas adalah sama seperti pepatah dalam bahasa kita “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”. Artinya, aib orang lain sebenarnya kita tidak tahu seluruhnya. Selalu kita katakan mereka jelek, mereka sombong, mereka sok alim, dan cap jelek lainnya. Sedangkan aib kita, kita yang lebih tahu. Kalau aib orang lain kita hanya tahunya “kecil” makanya Abu Hurairah ungkapkan dengan istilah “kotoran kecil di mata”. Namun aib kita, kita yang lebih tahu akan “besarnya”, maka dipakai dalam hadits dengan kata “kayu besar”. Sebenarnya kita yang lebih tahu akan kekurangan kita yang begitu banyak. So … coba terus introspeksi diri daripada terus membicarakan aib dan kekurangan saudara kita. Cobalah berusaha agar diri kita menjadi lebih baik. Moga kita dapat hidayah. — Ungkapan hati di pagi penuh berkah di Darush Sholihin, 13 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsghibah
Kadang kita membicarakan jelek orang lain (ghibah), padahal diri kita sendiri penuh kekurangan. Seharusnya kita pandai bercermin, melihat kekurangan sendiri. Sebagian wanita yang berjilbab kecil, kadang berkomentar sinis pada ibu berjilbab syar’i, “Idih, jilbab gede ini, kayak teroris saja.” Sebagian kita lagi membicarakan kelakuan jelek tetangganya, “Itu loh tetangga kita, punya mobil baru lagi, benar-benar tak pernah puas dengan dunia.” Sebelum membicarakan jelek saudaramu, coba pikirkan hadits ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذْلَ- أَوْ الجَذْعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 592, riwayat yang shahih) Maksud perkataan sahabat Abu Hurairah di atas adalah sama seperti pepatah dalam bahasa kita “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”. Artinya, aib orang lain sebenarnya kita tidak tahu seluruhnya. Selalu kita katakan mereka jelek, mereka sombong, mereka sok alim, dan cap jelek lainnya. Sedangkan aib kita, kita yang lebih tahu. Kalau aib orang lain kita hanya tahunya “kecil” makanya Abu Hurairah ungkapkan dengan istilah “kotoran kecil di mata”. Namun aib kita, kita yang lebih tahu akan “besarnya”, maka dipakai dalam hadits dengan kata “kayu besar”. Sebenarnya kita yang lebih tahu akan kekurangan kita yang begitu banyak. So … coba terus introspeksi diri daripada terus membicarakan aib dan kekurangan saudara kita. Cobalah berusaha agar diri kita menjadi lebih baik. Moga kita dapat hidayah. — Ungkapan hati di pagi penuh berkah di Darush Sholihin, 13 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsghibah


Kadang kita membicarakan jelek orang lain (ghibah), padahal diri kita sendiri penuh kekurangan. Seharusnya kita pandai bercermin, melihat kekurangan sendiri. Sebagian wanita yang berjilbab kecil, kadang berkomentar sinis pada ibu berjilbab syar’i, “Idih, jilbab gede ini, kayak teroris saja.” Sebagian kita lagi membicarakan kelakuan jelek tetangganya, “Itu loh tetangga kita, punya mobil baru lagi, benar-benar tak pernah puas dengan dunia.” Sebelum membicarakan jelek saudaramu, coba pikirkan hadits ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذْلَ- أَوْ الجَذْعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 592, riwayat yang shahih) Maksud perkataan sahabat Abu Hurairah di atas adalah sama seperti pepatah dalam bahasa kita “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”. Artinya, aib orang lain sebenarnya kita tidak tahu seluruhnya. Selalu kita katakan mereka jelek, mereka sombong, mereka sok alim, dan cap jelek lainnya. Sedangkan aib kita, kita yang lebih tahu. Kalau aib orang lain kita hanya tahunya “kecil” makanya Abu Hurairah ungkapkan dengan istilah “kotoran kecil di mata”. Namun aib kita, kita yang lebih tahu akan “besarnya”, maka dipakai dalam hadits dengan kata “kayu besar”. Sebenarnya kita yang lebih tahu akan kekurangan kita yang begitu banyak. So … coba terus introspeksi diri daripada terus membicarakan aib dan kekurangan saudara kita. Cobalah berusaha agar diri kita menjadi lebih baik. Moga kita dapat hidayah. — Ungkapan hati di pagi penuh berkah di Darush Sholihin, 13 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsghibah

Kapan Disebut Tasyabbuh?

Kapan seorang muslim disebut tasyabbuh atau meniru gaya orang kafir? Salah satu bentuk bara’ atau tidak loyal atau tidak setia pada orang kafir adalah tidak meniru kekhasan atau kekhususan mereka dalam berpenampilan, bergaya, dan seterusnya. Efeknya ada dari tasyabbuh ini yang dapat mencelakakan agama seorang muslim walau itu hanya menyerupai gaya lahiriyah dan tidak ada kesamaan dengan batinnya. Namun tetap tasyabbuh itu terlarang. Larangan Tasyabbuh Mengenai larangan tasyabbuh disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Efek Tasyabbuh Ibnu Taimiyah dalam kitab lainnya berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. Begitu pula kecintaan dalam batin mewariskan tasyabbuh secara lahiriyah. Hal ini sudah terbukti secara inderawi atau eksperimen. Sampai-sampai jika ada dua orang yang dulunya berasal dari kampung yang sama, kemudian bertemu lagi di negeri asing, pasti ada kecintaan, kesetiaan dan saling berkasih sayang. Walau dulu di negerinya sendiri tidak saling kenal atau saling terpisah.” (Iqtidha’ Ash Shirothil Mustaqim, 1: 549). Kapan Disebut Tasyabbuh? Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Patokan disebut tasyabbuh adalah jika melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang yang ditiru. Misalnya yang disebut tasyabbuh pada kafir adalah seorang muslim melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang kafir. Adapun jika sesuatu sudah tersebar di tengah-tengah kaum muslimin dan tidak jadi kekhasan atau pembeda dengan orang kafir, maka tidak lagi disebut tasyabbuh. Seperti itu tidaklah dihukumi tasyabbuh, namun bisa jadi dinilai haram dari sisi lain.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3: 30). Contoh tasyabbuh diterangkan dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah berikut. Hukum tasyabbuh itu bertingkat-tingkat. Tasyabbuh bisa jadi kufur seperti meniru orang musyrik dalam hal istighatsah pada wali penghuni kubur, ngalap berkah lewat salib, menjadikan salib sebagai syi’ar. Tasyabbuh bisa jadi dinilai haram seperti mencukur jenggot dan mengucapkan selamat pada perayaan non muslim. Bermudah-mudahan dalam tasyabbuh yang haram semacam itu bisa jadi mengantarkan pada kekufuran, wal ‘iyadzu billah. (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 3: 308). Mencukur jenggot termasuk tasyabbuh pada orang kafir yang diharamkan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lewat, جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ “Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.” (HR. Muslim no. 260). خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ “Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (HR. Bukhari no. 5892 dan Muslim no. 259) Baca artikel lainnya di Rumaysho.Com: Mengikuti Gaya Orang Kafir (Tasyabbuh) Semoga bermanfaat. Semoga iman kita terus terjaga. — Bagian dari buku penulis “Kesetiaan pada Non Muslim” yang sebentar lagi akan diterbitkan Pustaka Muslim Gunungkidul, 12 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai masalah jual beli yang haram “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku dagang#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.30.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsloyal non muslim tasyabbuh

Kapan Disebut Tasyabbuh?

Kapan seorang muslim disebut tasyabbuh atau meniru gaya orang kafir? Salah satu bentuk bara’ atau tidak loyal atau tidak setia pada orang kafir adalah tidak meniru kekhasan atau kekhususan mereka dalam berpenampilan, bergaya, dan seterusnya. Efeknya ada dari tasyabbuh ini yang dapat mencelakakan agama seorang muslim walau itu hanya menyerupai gaya lahiriyah dan tidak ada kesamaan dengan batinnya. Namun tetap tasyabbuh itu terlarang. Larangan Tasyabbuh Mengenai larangan tasyabbuh disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Efek Tasyabbuh Ibnu Taimiyah dalam kitab lainnya berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. Begitu pula kecintaan dalam batin mewariskan tasyabbuh secara lahiriyah. Hal ini sudah terbukti secara inderawi atau eksperimen. Sampai-sampai jika ada dua orang yang dulunya berasal dari kampung yang sama, kemudian bertemu lagi di negeri asing, pasti ada kecintaan, kesetiaan dan saling berkasih sayang. Walau dulu di negerinya sendiri tidak saling kenal atau saling terpisah.” (Iqtidha’ Ash Shirothil Mustaqim, 1: 549). Kapan Disebut Tasyabbuh? Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Patokan disebut tasyabbuh adalah jika melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang yang ditiru. Misalnya yang disebut tasyabbuh pada kafir adalah seorang muslim melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang kafir. Adapun jika sesuatu sudah tersebar di tengah-tengah kaum muslimin dan tidak jadi kekhasan atau pembeda dengan orang kafir, maka tidak lagi disebut tasyabbuh. Seperti itu tidaklah dihukumi tasyabbuh, namun bisa jadi dinilai haram dari sisi lain.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3: 30). Contoh tasyabbuh diterangkan dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah berikut. Hukum tasyabbuh itu bertingkat-tingkat. Tasyabbuh bisa jadi kufur seperti meniru orang musyrik dalam hal istighatsah pada wali penghuni kubur, ngalap berkah lewat salib, menjadikan salib sebagai syi’ar. Tasyabbuh bisa jadi dinilai haram seperti mencukur jenggot dan mengucapkan selamat pada perayaan non muslim. Bermudah-mudahan dalam tasyabbuh yang haram semacam itu bisa jadi mengantarkan pada kekufuran, wal ‘iyadzu billah. (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 3: 308). Mencukur jenggot termasuk tasyabbuh pada orang kafir yang diharamkan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lewat, جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ “Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.” (HR. Muslim no. 260). خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ “Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (HR. Bukhari no. 5892 dan Muslim no. 259) Baca artikel lainnya di Rumaysho.Com: Mengikuti Gaya Orang Kafir (Tasyabbuh) Semoga bermanfaat. Semoga iman kita terus terjaga. — Bagian dari buku penulis “Kesetiaan pada Non Muslim” yang sebentar lagi akan diterbitkan Pustaka Muslim Gunungkidul, 12 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai masalah jual beli yang haram “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku dagang#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.30.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsloyal non muslim tasyabbuh
Kapan seorang muslim disebut tasyabbuh atau meniru gaya orang kafir? Salah satu bentuk bara’ atau tidak loyal atau tidak setia pada orang kafir adalah tidak meniru kekhasan atau kekhususan mereka dalam berpenampilan, bergaya, dan seterusnya. Efeknya ada dari tasyabbuh ini yang dapat mencelakakan agama seorang muslim walau itu hanya menyerupai gaya lahiriyah dan tidak ada kesamaan dengan batinnya. Namun tetap tasyabbuh itu terlarang. Larangan Tasyabbuh Mengenai larangan tasyabbuh disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Efek Tasyabbuh Ibnu Taimiyah dalam kitab lainnya berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. Begitu pula kecintaan dalam batin mewariskan tasyabbuh secara lahiriyah. Hal ini sudah terbukti secara inderawi atau eksperimen. Sampai-sampai jika ada dua orang yang dulunya berasal dari kampung yang sama, kemudian bertemu lagi di negeri asing, pasti ada kecintaan, kesetiaan dan saling berkasih sayang. Walau dulu di negerinya sendiri tidak saling kenal atau saling terpisah.” (Iqtidha’ Ash Shirothil Mustaqim, 1: 549). Kapan Disebut Tasyabbuh? Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Patokan disebut tasyabbuh adalah jika melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang yang ditiru. Misalnya yang disebut tasyabbuh pada kafir adalah seorang muslim melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang kafir. Adapun jika sesuatu sudah tersebar di tengah-tengah kaum muslimin dan tidak jadi kekhasan atau pembeda dengan orang kafir, maka tidak lagi disebut tasyabbuh. Seperti itu tidaklah dihukumi tasyabbuh, namun bisa jadi dinilai haram dari sisi lain.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3: 30). Contoh tasyabbuh diterangkan dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah berikut. Hukum tasyabbuh itu bertingkat-tingkat. Tasyabbuh bisa jadi kufur seperti meniru orang musyrik dalam hal istighatsah pada wali penghuni kubur, ngalap berkah lewat salib, menjadikan salib sebagai syi’ar. Tasyabbuh bisa jadi dinilai haram seperti mencukur jenggot dan mengucapkan selamat pada perayaan non muslim. Bermudah-mudahan dalam tasyabbuh yang haram semacam itu bisa jadi mengantarkan pada kekufuran, wal ‘iyadzu billah. (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 3: 308). Mencukur jenggot termasuk tasyabbuh pada orang kafir yang diharamkan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lewat, جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ “Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.” (HR. Muslim no. 260). خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ “Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (HR. Bukhari no. 5892 dan Muslim no. 259) Baca artikel lainnya di Rumaysho.Com: Mengikuti Gaya Orang Kafir (Tasyabbuh) Semoga bermanfaat. Semoga iman kita terus terjaga. — Bagian dari buku penulis “Kesetiaan pada Non Muslim” yang sebentar lagi akan diterbitkan Pustaka Muslim Gunungkidul, 12 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai masalah jual beli yang haram “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku dagang#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.30.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsloyal non muslim tasyabbuh


Kapan seorang muslim disebut tasyabbuh atau meniru gaya orang kafir? Salah satu bentuk bara’ atau tidak loyal atau tidak setia pada orang kafir adalah tidak meniru kekhasan atau kekhususan mereka dalam berpenampilan, bergaya, dan seterusnya. Efeknya ada dari tasyabbuh ini yang dapat mencelakakan agama seorang muslim walau itu hanya menyerupai gaya lahiriyah dan tidak ada kesamaan dengan batinnya. Namun tetap tasyabbuh itu terlarang. Larangan Tasyabbuh Mengenai larangan tasyabbuh disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Efek Tasyabbuh Ibnu Taimiyah dalam kitab lainnya berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. Begitu pula kecintaan dalam batin mewariskan tasyabbuh secara lahiriyah. Hal ini sudah terbukti secara inderawi atau eksperimen. Sampai-sampai jika ada dua orang yang dulunya berasal dari kampung yang sama, kemudian bertemu lagi di negeri asing, pasti ada kecintaan, kesetiaan dan saling berkasih sayang. Walau dulu di negerinya sendiri tidak saling kenal atau saling terpisah.” (Iqtidha’ Ash Shirothil Mustaqim, 1: 549). Kapan Disebut Tasyabbuh? Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Patokan disebut tasyabbuh adalah jika melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang yang ditiru. Misalnya yang disebut tasyabbuh pada kafir adalah seorang muslim melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang kafir. Adapun jika sesuatu sudah tersebar di tengah-tengah kaum muslimin dan tidak jadi kekhasan atau pembeda dengan orang kafir, maka tidak lagi disebut tasyabbuh. Seperti itu tidaklah dihukumi tasyabbuh, namun bisa jadi dinilai haram dari sisi lain.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3: 30). Contoh tasyabbuh diterangkan dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah berikut. Hukum tasyabbuh itu bertingkat-tingkat. Tasyabbuh bisa jadi kufur seperti meniru orang musyrik dalam hal istighatsah pada wali penghuni kubur, ngalap berkah lewat salib, menjadikan salib sebagai syi’ar. Tasyabbuh bisa jadi dinilai haram seperti mencukur jenggot dan mengucapkan selamat pada perayaan non muslim. Bermudah-mudahan dalam tasyabbuh yang haram semacam itu bisa jadi mengantarkan pada kekufuran, wal ‘iyadzu billah. (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 3: 308). Mencukur jenggot termasuk tasyabbuh pada orang kafir yang diharamkan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lewat, جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ “Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.” (HR. Muslim no. 260). خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ “Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (HR. Bukhari no. 5892 dan Muslim no. 259) Baca artikel lainnya di Rumaysho.Com: Mengikuti Gaya Orang Kafir (Tasyabbuh) Semoga bermanfaat. Semoga iman kita terus terjaga. — Bagian dari buku penulis “Kesetiaan pada Non Muslim” yang sebentar lagi akan diterbitkan Pustaka Muslim Gunungkidul, 12 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai masalah jual beli yang haram “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku dagang#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.30.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsloyal non muslim tasyabbuh

Waspadai Bencana Facebook dan WhatsApp (Hamba Allah)

Seorang Hamba Allah menulis :من منّا لم يلاحظ التغيّر في حياته بعد دخول الواتس آب والتويتر عليها ..؟إنه الغزو الفكري للعقول، وللأسف انقدنا إليه، وبعدنا عن ديننا الإسلامي القويم، وعن ذكر الله..اصبحنا عُبّاداً للواتس آب والتويتر والفيسAdakah dari kita yang tidak melihat perubahan dalam kehidupannya setelah masuknya Whatsapp, Facebook, dan twitter dalam kehidupannya …?Hal Ini merupakan Ghazwul fikri yang menyerang akal, namun sangat disayangkan, kita telah tunduk padanya dan kita telah jauh dari agama Islam yang lurus dan jauh dari dzikir kepada Allah….Kita telah menjadi penyembah-penyembah Whatsapp, Twitter, Facebook… لماذا تحجرت قلوبنا؟لكثرة ما نشاهد من مشاهد مخيفة وحوادث مما ينشر في الواتس آب، فأصبح لقلوبنا عادة، فما باتت تخشى من شيء، لذلك تحجرت.Kenapa hati kita mengeras membatu !? Karena seringnya kita melihat cuplikan video yang menakutkan dan juga peristiwa-peristiwa yang di share di facebook atau Whatshapp, maka jadilah hal itu terbiasa di hati kita …..jadilah hati kita tidak lagi takut karena apapun, berubahlah hati mengeras bagai batu.لماذا تفرقنا وقطعنا الأرحام؟لان تواصلنا أصبح بالواتس آب، فيوهمنا وكأن الشخص كل يوم نراه، ولكن للاسف ليس بهذه الطريقة تكون صلة الرحم كما في ديننا الإسلامي.Kenapa kita terpecah belah dan kita putus tali kekerabatan !?Karena kini silaturrahmi kita hanya via Whatsapp saja, menjadikan kita terbayang seakan kita bertemu mereka setiap hari…Namun yang disayangkan bukanlah begini tata cara bersilaturrahim dalam agama Islam kitaلماذا أصبحنا نغتاب الناس بكثرة ونحن لا نجالس أحدا؟لاننا كلما وصلتنا رسالة تعيب شخصا أو جماعة سارعنا في إرسالها للمجموعة، فبتنا نغتاب وبسرعة كبيرة ونحن غير مدركين لما كسبنا من آثام..Kenapa kita sangat sering mengghibah manusia, padahal kita tidak sedang duduk dengan seorangpun!?Itu karena saat kita mendapatkan satu message yang berisi pencelaan terhadap seseorang atau suatu kelompok, dengan cepat kita sebar ke grup-grup yang kita punya, dengan begitu sangat cepatnya kita berghibah ria, sedang kita tidak sadar berapa banyak dosa yang kita dapatkan dari hal itu…لماذا ضيعنا صلاة الصبح في جماعة؟!لاننا مشغولون طوال الليل فما بتنا نقوى على النهوض لصلاة الصبح في جماعة فمنا من يصليها متأخرا ومنا من يصليها بعد الشروق ويكاد منا لا يصليها.حتى احب الأوقات لله تعالى مثل القيام وقبل الشروق نحن مشغولون بالواتس اب والتويتر بالرسائل الصباحيه وغيرها!!Mengapa kita tidak sholat subuh berjama’ah??Karena kita sibuk begadang sepanjang malam…. kita tidak istirahat tidur agar bisa sholat subuh berjama’ah…Diantara kita ada yang sholat subuhnya terlambat, ada yang sholatnya setelah terbit matahari, dan ada yang hampir-hampir tidak sholat…Bahkan sampai-sampai waktu-waktu yang paling dicintai oleh Allah -seperti waktu sholat malam dan sebelum terbit matahari- kita sibuk ber WhatssApp dan twitter  untuk mengshare forward-an atau broadcasting-an  pagi dan yang lainnya..?!لماذا لم يكن التوفيق في حياتنا؟!لأننا هجرنا القرآن فنحن مشغولون اربعة وعشرون ساعه بهذه التقنيه وغيرها من امور الدنيا فلم نوفق لاعراضنا عن الذكر فلنا معيشة ضنكا.Kenapa kita tidak dimudahkan (kepada kebaikan) dalam kehidupan kita..?!Karena kita telah meninggalkan al-Qur’an, sementara kita sibuk dua puluh empat jam dengan tekhnologi ini dan perkara dunia lainnya, maka kitapun tidak diberi taufik karena kita berpaling meninggalkan dzikir, jadilah bagi kita kehidupan yang sempit…للأسف أصبحنا كالمدمنين..!(نأكل والهاتف باليد اليسرى.. نجلس مع الأصحاب والهاتف بيدنا.. نتحدث مع الأم والأب، والواجب احترامهما، ولكن الهاتف باليد، نقود والهاتف باليد، حتى أطفالنا فقدوا الحنان لأننا أعرضنا عنهم لأجل الهاتف).كل هذا وأكثرSangat disayangkan, kita telah menjadi para pecandu…Kita sedang makan sementara handpone ada ditangan kiri kita…Kita duduk-duduk bersama teman-teman, sementara handphone ada di genggaman…Kita berbicara dengan ayah dan ibu yang wajib kita hormati, akan tetapi handphone masih terus di tangan…Kita sedang menyetir, HP tetap juga ada di tangan…Sampai anak-anak kita pun telah kehilangan kasih sayang dari kita, karena kita telah berpaling dari mereka dan lebih mementingkan handphone…Dan masih banyak lagi ….لا أرغب بسماع من يدافع عنه، فقبل دخول تلك التقنية لم يكن يحظى الهاتف باهتمامنا، أما الآن فإذا غفلنا عنه لساعة فترانا بلهفة له، وياليتها كانت للصلاة والقرآن.فمن منا ينكر ذلك؟ ومن منا لم يلاحظ الانقلاب في حياته بعدما دخلت إليه هذه التقنية وأدمن عليها؟Aku tidak ingin mendengar seseorang yang memberi pembelaan terhadap hal ini (whatssApp, Facebook, dan Twitter), karena dahulu sebelum masuknya teknologi ini, handphone tidaklah menjadi pusat perhatian kita…Adapun sekarang, jika sesaat saja HP kita tertinggal, betapa kita merasa sangat kehilangan. Andai perasaan seperti itu ada juga pada shalat dan tilawatul Qur’an kita….Adakah dari kita yang mengingkari hal ini?Dan siapa juga yang tidak mendapatkan perubahan negatif di kehidupannya setelah masuknya teknologi ini pada kehidupannya dan setelah ia menjadi pecandu.بالله علينا من سيكون أنيسنا في القبرهل الواتس آب؟أم التويتر ؟أم القرآن؟!إنه القرآن الذي ما باتت تتلى آياته وبات مهجورا.Demi Allah, siapakah yang akan menjadi teman kita nanti di kubur?Apakah Whatsapp…?!!Atau Twitter…?!!Ataukah Al-Qur’an…?!Al-Qur’anlah yang akan menemani kita, padahal semalaman kita meninggalkannya, tidak kita baca ayat-ayatnya….فلا ينفع الندم يوم لا ينفع الواتس اب والتويتر في موقف عظيم شديد الأهواللنعد إلى الله، ولا يشغلنا شي عن ديننا، فما ندري كم لنا من العمر بقية..!( وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا )Tidak bermanfaat penyesalan di hari tidak berguna WhatssApp dan Twitter, di kondisi yang dahsyat (pada hari akhirat), yang sangat mengerikan…Mari kita bersama kembali pada Allah, jangan sampai ada hal yang menyibukkan kita dari dien kita…Sungguh kita tak tahu berapakah sisa umur kita…Allah berfirman:(وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا)“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS Thoha : 124) (Diterjemahkan oleh seorang hamba Allah semoga Allah membalas kebaikannya di dunia dan di akhirat)Semoga HP menjadi wasilah untuk mengingat Allah bukan sebaliknya kesenangan yang melalaikan dan menjauhkan dari mengingat Allah.Peringatan : Telah dinisbahkan nasehat diatas kepada Syaikh Su’ud As-Syuraim hafizohulloh ta’ala, hanya saja ada sebagian yang mengingkari karena tidak didapatkan di kumpulan khutbah Syaikh As-Syuraim. Karenanya tidak boleh kita menyandarkan nasehat di atas kepada beliau -sebagaimana yang terlanjur beredar di internet-,  wallahu A’lam siapa penulisnya, akan tetapi kita jadikan sebagai teguran dan nasehat bagi kita.www.firanda.com 

Waspadai Bencana Facebook dan WhatsApp (Hamba Allah)

Seorang Hamba Allah menulis :من منّا لم يلاحظ التغيّر في حياته بعد دخول الواتس آب والتويتر عليها ..؟إنه الغزو الفكري للعقول، وللأسف انقدنا إليه، وبعدنا عن ديننا الإسلامي القويم، وعن ذكر الله..اصبحنا عُبّاداً للواتس آب والتويتر والفيسAdakah dari kita yang tidak melihat perubahan dalam kehidupannya setelah masuknya Whatsapp, Facebook, dan twitter dalam kehidupannya …?Hal Ini merupakan Ghazwul fikri yang menyerang akal, namun sangat disayangkan, kita telah tunduk padanya dan kita telah jauh dari agama Islam yang lurus dan jauh dari dzikir kepada Allah….Kita telah menjadi penyembah-penyembah Whatsapp, Twitter, Facebook… لماذا تحجرت قلوبنا؟لكثرة ما نشاهد من مشاهد مخيفة وحوادث مما ينشر في الواتس آب، فأصبح لقلوبنا عادة، فما باتت تخشى من شيء، لذلك تحجرت.Kenapa hati kita mengeras membatu !? Karena seringnya kita melihat cuplikan video yang menakutkan dan juga peristiwa-peristiwa yang di share di facebook atau Whatshapp, maka jadilah hal itu terbiasa di hati kita …..jadilah hati kita tidak lagi takut karena apapun, berubahlah hati mengeras bagai batu.لماذا تفرقنا وقطعنا الأرحام؟لان تواصلنا أصبح بالواتس آب، فيوهمنا وكأن الشخص كل يوم نراه، ولكن للاسف ليس بهذه الطريقة تكون صلة الرحم كما في ديننا الإسلامي.Kenapa kita terpecah belah dan kita putus tali kekerabatan !?Karena kini silaturrahmi kita hanya via Whatsapp saja, menjadikan kita terbayang seakan kita bertemu mereka setiap hari…Namun yang disayangkan bukanlah begini tata cara bersilaturrahim dalam agama Islam kitaلماذا أصبحنا نغتاب الناس بكثرة ونحن لا نجالس أحدا؟لاننا كلما وصلتنا رسالة تعيب شخصا أو جماعة سارعنا في إرسالها للمجموعة، فبتنا نغتاب وبسرعة كبيرة ونحن غير مدركين لما كسبنا من آثام..Kenapa kita sangat sering mengghibah manusia, padahal kita tidak sedang duduk dengan seorangpun!?Itu karena saat kita mendapatkan satu message yang berisi pencelaan terhadap seseorang atau suatu kelompok, dengan cepat kita sebar ke grup-grup yang kita punya, dengan begitu sangat cepatnya kita berghibah ria, sedang kita tidak sadar berapa banyak dosa yang kita dapatkan dari hal itu…لماذا ضيعنا صلاة الصبح في جماعة؟!لاننا مشغولون طوال الليل فما بتنا نقوى على النهوض لصلاة الصبح في جماعة فمنا من يصليها متأخرا ومنا من يصليها بعد الشروق ويكاد منا لا يصليها.حتى احب الأوقات لله تعالى مثل القيام وقبل الشروق نحن مشغولون بالواتس اب والتويتر بالرسائل الصباحيه وغيرها!!Mengapa kita tidak sholat subuh berjama’ah??Karena kita sibuk begadang sepanjang malam…. kita tidak istirahat tidur agar bisa sholat subuh berjama’ah…Diantara kita ada yang sholat subuhnya terlambat, ada yang sholatnya setelah terbit matahari, dan ada yang hampir-hampir tidak sholat…Bahkan sampai-sampai waktu-waktu yang paling dicintai oleh Allah -seperti waktu sholat malam dan sebelum terbit matahari- kita sibuk ber WhatssApp dan twitter  untuk mengshare forward-an atau broadcasting-an  pagi dan yang lainnya..?!لماذا لم يكن التوفيق في حياتنا؟!لأننا هجرنا القرآن فنحن مشغولون اربعة وعشرون ساعه بهذه التقنيه وغيرها من امور الدنيا فلم نوفق لاعراضنا عن الذكر فلنا معيشة ضنكا.Kenapa kita tidak dimudahkan (kepada kebaikan) dalam kehidupan kita..?!Karena kita telah meninggalkan al-Qur’an, sementara kita sibuk dua puluh empat jam dengan tekhnologi ini dan perkara dunia lainnya, maka kitapun tidak diberi taufik karena kita berpaling meninggalkan dzikir, jadilah bagi kita kehidupan yang sempit…للأسف أصبحنا كالمدمنين..!(نأكل والهاتف باليد اليسرى.. نجلس مع الأصحاب والهاتف بيدنا.. نتحدث مع الأم والأب، والواجب احترامهما، ولكن الهاتف باليد، نقود والهاتف باليد، حتى أطفالنا فقدوا الحنان لأننا أعرضنا عنهم لأجل الهاتف).كل هذا وأكثرSangat disayangkan, kita telah menjadi para pecandu…Kita sedang makan sementara handpone ada ditangan kiri kita…Kita duduk-duduk bersama teman-teman, sementara handphone ada di genggaman…Kita berbicara dengan ayah dan ibu yang wajib kita hormati, akan tetapi handphone masih terus di tangan…Kita sedang menyetir, HP tetap juga ada di tangan…Sampai anak-anak kita pun telah kehilangan kasih sayang dari kita, karena kita telah berpaling dari mereka dan lebih mementingkan handphone…Dan masih banyak lagi ….لا أرغب بسماع من يدافع عنه، فقبل دخول تلك التقنية لم يكن يحظى الهاتف باهتمامنا، أما الآن فإذا غفلنا عنه لساعة فترانا بلهفة له، وياليتها كانت للصلاة والقرآن.فمن منا ينكر ذلك؟ ومن منا لم يلاحظ الانقلاب في حياته بعدما دخلت إليه هذه التقنية وأدمن عليها؟Aku tidak ingin mendengar seseorang yang memberi pembelaan terhadap hal ini (whatssApp, Facebook, dan Twitter), karena dahulu sebelum masuknya teknologi ini, handphone tidaklah menjadi pusat perhatian kita…Adapun sekarang, jika sesaat saja HP kita tertinggal, betapa kita merasa sangat kehilangan. Andai perasaan seperti itu ada juga pada shalat dan tilawatul Qur’an kita….Adakah dari kita yang mengingkari hal ini?Dan siapa juga yang tidak mendapatkan perubahan negatif di kehidupannya setelah masuknya teknologi ini pada kehidupannya dan setelah ia menjadi pecandu.بالله علينا من سيكون أنيسنا في القبرهل الواتس آب؟أم التويتر ؟أم القرآن؟!إنه القرآن الذي ما باتت تتلى آياته وبات مهجورا.Demi Allah, siapakah yang akan menjadi teman kita nanti di kubur?Apakah Whatsapp…?!!Atau Twitter…?!!Ataukah Al-Qur’an…?!Al-Qur’anlah yang akan menemani kita, padahal semalaman kita meninggalkannya, tidak kita baca ayat-ayatnya….فلا ينفع الندم يوم لا ينفع الواتس اب والتويتر في موقف عظيم شديد الأهواللنعد إلى الله، ولا يشغلنا شي عن ديننا، فما ندري كم لنا من العمر بقية..!( وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا )Tidak bermanfaat penyesalan di hari tidak berguna WhatssApp dan Twitter, di kondisi yang dahsyat (pada hari akhirat), yang sangat mengerikan…Mari kita bersama kembali pada Allah, jangan sampai ada hal yang menyibukkan kita dari dien kita…Sungguh kita tak tahu berapakah sisa umur kita…Allah berfirman:(وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا)“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS Thoha : 124) (Diterjemahkan oleh seorang hamba Allah semoga Allah membalas kebaikannya di dunia dan di akhirat)Semoga HP menjadi wasilah untuk mengingat Allah bukan sebaliknya kesenangan yang melalaikan dan menjauhkan dari mengingat Allah.Peringatan : Telah dinisbahkan nasehat diatas kepada Syaikh Su’ud As-Syuraim hafizohulloh ta’ala, hanya saja ada sebagian yang mengingkari karena tidak didapatkan di kumpulan khutbah Syaikh As-Syuraim. Karenanya tidak boleh kita menyandarkan nasehat di atas kepada beliau -sebagaimana yang terlanjur beredar di internet-,  wallahu A’lam siapa penulisnya, akan tetapi kita jadikan sebagai teguran dan nasehat bagi kita.www.firanda.com 
Seorang Hamba Allah menulis :من منّا لم يلاحظ التغيّر في حياته بعد دخول الواتس آب والتويتر عليها ..؟إنه الغزو الفكري للعقول، وللأسف انقدنا إليه، وبعدنا عن ديننا الإسلامي القويم، وعن ذكر الله..اصبحنا عُبّاداً للواتس آب والتويتر والفيسAdakah dari kita yang tidak melihat perubahan dalam kehidupannya setelah masuknya Whatsapp, Facebook, dan twitter dalam kehidupannya …?Hal Ini merupakan Ghazwul fikri yang menyerang akal, namun sangat disayangkan, kita telah tunduk padanya dan kita telah jauh dari agama Islam yang lurus dan jauh dari dzikir kepada Allah….Kita telah menjadi penyembah-penyembah Whatsapp, Twitter, Facebook… لماذا تحجرت قلوبنا؟لكثرة ما نشاهد من مشاهد مخيفة وحوادث مما ينشر في الواتس آب، فأصبح لقلوبنا عادة، فما باتت تخشى من شيء، لذلك تحجرت.Kenapa hati kita mengeras membatu !? Karena seringnya kita melihat cuplikan video yang menakutkan dan juga peristiwa-peristiwa yang di share di facebook atau Whatshapp, maka jadilah hal itu terbiasa di hati kita …..jadilah hati kita tidak lagi takut karena apapun, berubahlah hati mengeras bagai batu.لماذا تفرقنا وقطعنا الأرحام؟لان تواصلنا أصبح بالواتس آب، فيوهمنا وكأن الشخص كل يوم نراه، ولكن للاسف ليس بهذه الطريقة تكون صلة الرحم كما في ديننا الإسلامي.Kenapa kita terpecah belah dan kita putus tali kekerabatan !?Karena kini silaturrahmi kita hanya via Whatsapp saja, menjadikan kita terbayang seakan kita bertemu mereka setiap hari…Namun yang disayangkan bukanlah begini tata cara bersilaturrahim dalam agama Islam kitaلماذا أصبحنا نغتاب الناس بكثرة ونحن لا نجالس أحدا؟لاننا كلما وصلتنا رسالة تعيب شخصا أو جماعة سارعنا في إرسالها للمجموعة، فبتنا نغتاب وبسرعة كبيرة ونحن غير مدركين لما كسبنا من آثام..Kenapa kita sangat sering mengghibah manusia, padahal kita tidak sedang duduk dengan seorangpun!?Itu karena saat kita mendapatkan satu message yang berisi pencelaan terhadap seseorang atau suatu kelompok, dengan cepat kita sebar ke grup-grup yang kita punya, dengan begitu sangat cepatnya kita berghibah ria, sedang kita tidak sadar berapa banyak dosa yang kita dapatkan dari hal itu…لماذا ضيعنا صلاة الصبح في جماعة؟!لاننا مشغولون طوال الليل فما بتنا نقوى على النهوض لصلاة الصبح في جماعة فمنا من يصليها متأخرا ومنا من يصليها بعد الشروق ويكاد منا لا يصليها.حتى احب الأوقات لله تعالى مثل القيام وقبل الشروق نحن مشغولون بالواتس اب والتويتر بالرسائل الصباحيه وغيرها!!Mengapa kita tidak sholat subuh berjama’ah??Karena kita sibuk begadang sepanjang malam…. kita tidak istirahat tidur agar bisa sholat subuh berjama’ah…Diantara kita ada yang sholat subuhnya terlambat, ada yang sholatnya setelah terbit matahari, dan ada yang hampir-hampir tidak sholat…Bahkan sampai-sampai waktu-waktu yang paling dicintai oleh Allah -seperti waktu sholat malam dan sebelum terbit matahari- kita sibuk ber WhatssApp dan twitter  untuk mengshare forward-an atau broadcasting-an  pagi dan yang lainnya..?!لماذا لم يكن التوفيق في حياتنا؟!لأننا هجرنا القرآن فنحن مشغولون اربعة وعشرون ساعه بهذه التقنيه وغيرها من امور الدنيا فلم نوفق لاعراضنا عن الذكر فلنا معيشة ضنكا.Kenapa kita tidak dimudahkan (kepada kebaikan) dalam kehidupan kita..?!Karena kita telah meninggalkan al-Qur’an, sementara kita sibuk dua puluh empat jam dengan tekhnologi ini dan perkara dunia lainnya, maka kitapun tidak diberi taufik karena kita berpaling meninggalkan dzikir, jadilah bagi kita kehidupan yang sempit…للأسف أصبحنا كالمدمنين..!(نأكل والهاتف باليد اليسرى.. نجلس مع الأصحاب والهاتف بيدنا.. نتحدث مع الأم والأب، والواجب احترامهما، ولكن الهاتف باليد، نقود والهاتف باليد، حتى أطفالنا فقدوا الحنان لأننا أعرضنا عنهم لأجل الهاتف).كل هذا وأكثرSangat disayangkan, kita telah menjadi para pecandu…Kita sedang makan sementara handpone ada ditangan kiri kita…Kita duduk-duduk bersama teman-teman, sementara handphone ada di genggaman…Kita berbicara dengan ayah dan ibu yang wajib kita hormati, akan tetapi handphone masih terus di tangan…Kita sedang menyetir, HP tetap juga ada di tangan…Sampai anak-anak kita pun telah kehilangan kasih sayang dari kita, karena kita telah berpaling dari mereka dan lebih mementingkan handphone…Dan masih banyak lagi ….لا أرغب بسماع من يدافع عنه، فقبل دخول تلك التقنية لم يكن يحظى الهاتف باهتمامنا، أما الآن فإذا غفلنا عنه لساعة فترانا بلهفة له، وياليتها كانت للصلاة والقرآن.فمن منا ينكر ذلك؟ ومن منا لم يلاحظ الانقلاب في حياته بعدما دخلت إليه هذه التقنية وأدمن عليها؟Aku tidak ingin mendengar seseorang yang memberi pembelaan terhadap hal ini (whatssApp, Facebook, dan Twitter), karena dahulu sebelum masuknya teknologi ini, handphone tidaklah menjadi pusat perhatian kita…Adapun sekarang, jika sesaat saja HP kita tertinggal, betapa kita merasa sangat kehilangan. Andai perasaan seperti itu ada juga pada shalat dan tilawatul Qur’an kita….Adakah dari kita yang mengingkari hal ini?Dan siapa juga yang tidak mendapatkan perubahan negatif di kehidupannya setelah masuknya teknologi ini pada kehidupannya dan setelah ia menjadi pecandu.بالله علينا من سيكون أنيسنا في القبرهل الواتس آب؟أم التويتر ؟أم القرآن؟!إنه القرآن الذي ما باتت تتلى آياته وبات مهجورا.Demi Allah, siapakah yang akan menjadi teman kita nanti di kubur?Apakah Whatsapp…?!!Atau Twitter…?!!Ataukah Al-Qur’an…?!Al-Qur’anlah yang akan menemani kita, padahal semalaman kita meninggalkannya, tidak kita baca ayat-ayatnya….فلا ينفع الندم يوم لا ينفع الواتس اب والتويتر في موقف عظيم شديد الأهواللنعد إلى الله، ولا يشغلنا شي عن ديننا، فما ندري كم لنا من العمر بقية..!( وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا )Tidak bermanfaat penyesalan di hari tidak berguna WhatssApp dan Twitter, di kondisi yang dahsyat (pada hari akhirat), yang sangat mengerikan…Mari kita bersama kembali pada Allah, jangan sampai ada hal yang menyibukkan kita dari dien kita…Sungguh kita tak tahu berapakah sisa umur kita…Allah berfirman:(وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا)“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS Thoha : 124) (Diterjemahkan oleh seorang hamba Allah semoga Allah membalas kebaikannya di dunia dan di akhirat)Semoga HP menjadi wasilah untuk mengingat Allah bukan sebaliknya kesenangan yang melalaikan dan menjauhkan dari mengingat Allah.Peringatan : Telah dinisbahkan nasehat diatas kepada Syaikh Su’ud As-Syuraim hafizohulloh ta’ala, hanya saja ada sebagian yang mengingkari karena tidak didapatkan di kumpulan khutbah Syaikh As-Syuraim. Karenanya tidak boleh kita menyandarkan nasehat di atas kepada beliau -sebagaimana yang terlanjur beredar di internet-,  wallahu A’lam siapa penulisnya, akan tetapi kita jadikan sebagai teguran dan nasehat bagi kita.www.firanda.com 


Seorang Hamba Allah menulis :من منّا لم يلاحظ التغيّر في حياته بعد دخول الواتس آب والتويتر عليها ..؟إنه الغزو الفكري للعقول، وللأسف انقدنا إليه، وبعدنا عن ديننا الإسلامي القويم، وعن ذكر الله..اصبحنا عُبّاداً للواتس آب والتويتر والفيسAdakah dari kita yang tidak melihat perubahan dalam kehidupannya setelah masuknya Whatsapp, Facebook, dan twitter dalam kehidupannya …?Hal Ini merupakan Ghazwul fikri yang menyerang akal, namun sangat disayangkan, kita telah tunduk padanya dan kita telah jauh dari agama Islam yang lurus dan jauh dari dzikir kepada Allah….Kita telah menjadi penyembah-penyembah Whatsapp, Twitter, Facebook… لماذا تحجرت قلوبنا؟لكثرة ما نشاهد من مشاهد مخيفة وحوادث مما ينشر في الواتس آب، فأصبح لقلوبنا عادة، فما باتت تخشى من شيء، لذلك تحجرت.Kenapa hati kita mengeras membatu !? Karena seringnya kita melihat cuplikan video yang menakutkan dan juga peristiwa-peristiwa yang di share di facebook atau Whatshapp, maka jadilah hal itu terbiasa di hati kita …..jadilah hati kita tidak lagi takut karena apapun, berubahlah hati mengeras bagai batu.لماذا تفرقنا وقطعنا الأرحام؟لان تواصلنا أصبح بالواتس آب، فيوهمنا وكأن الشخص كل يوم نراه، ولكن للاسف ليس بهذه الطريقة تكون صلة الرحم كما في ديننا الإسلامي.Kenapa kita terpecah belah dan kita putus tali kekerabatan !?Karena kini silaturrahmi kita hanya via Whatsapp saja, menjadikan kita terbayang seakan kita bertemu mereka setiap hari…Namun yang disayangkan bukanlah begini tata cara bersilaturrahim dalam agama Islam kitaلماذا أصبحنا نغتاب الناس بكثرة ونحن لا نجالس أحدا؟لاننا كلما وصلتنا رسالة تعيب شخصا أو جماعة سارعنا في إرسالها للمجموعة، فبتنا نغتاب وبسرعة كبيرة ونحن غير مدركين لما كسبنا من آثام..Kenapa kita sangat sering mengghibah manusia, padahal kita tidak sedang duduk dengan seorangpun!?Itu karena saat kita mendapatkan satu message yang berisi pencelaan terhadap seseorang atau suatu kelompok, dengan cepat kita sebar ke grup-grup yang kita punya, dengan begitu sangat cepatnya kita berghibah ria, sedang kita tidak sadar berapa banyak dosa yang kita dapatkan dari hal itu…لماذا ضيعنا صلاة الصبح في جماعة؟!لاننا مشغولون طوال الليل فما بتنا نقوى على النهوض لصلاة الصبح في جماعة فمنا من يصليها متأخرا ومنا من يصليها بعد الشروق ويكاد منا لا يصليها.حتى احب الأوقات لله تعالى مثل القيام وقبل الشروق نحن مشغولون بالواتس اب والتويتر بالرسائل الصباحيه وغيرها!!Mengapa kita tidak sholat subuh berjama’ah??Karena kita sibuk begadang sepanjang malam…. kita tidak istirahat tidur agar bisa sholat subuh berjama’ah…Diantara kita ada yang sholat subuhnya terlambat, ada yang sholatnya setelah terbit matahari, dan ada yang hampir-hampir tidak sholat…Bahkan sampai-sampai waktu-waktu yang paling dicintai oleh Allah -seperti waktu sholat malam dan sebelum terbit matahari- kita sibuk ber WhatssApp dan twitter  untuk mengshare forward-an atau broadcasting-an  pagi dan yang lainnya..?!لماذا لم يكن التوفيق في حياتنا؟!لأننا هجرنا القرآن فنحن مشغولون اربعة وعشرون ساعه بهذه التقنيه وغيرها من امور الدنيا فلم نوفق لاعراضنا عن الذكر فلنا معيشة ضنكا.Kenapa kita tidak dimudahkan (kepada kebaikan) dalam kehidupan kita..?!Karena kita telah meninggalkan al-Qur’an, sementara kita sibuk dua puluh empat jam dengan tekhnologi ini dan perkara dunia lainnya, maka kitapun tidak diberi taufik karena kita berpaling meninggalkan dzikir, jadilah bagi kita kehidupan yang sempit…للأسف أصبحنا كالمدمنين..!(نأكل والهاتف باليد اليسرى.. نجلس مع الأصحاب والهاتف بيدنا.. نتحدث مع الأم والأب، والواجب احترامهما، ولكن الهاتف باليد، نقود والهاتف باليد، حتى أطفالنا فقدوا الحنان لأننا أعرضنا عنهم لأجل الهاتف).كل هذا وأكثرSangat disayangkan, kita telah menjadi para pecandu…Kita sedang makan sementara handpone ada ditangan kiri kita…Kita duduk-duduk bersama teman-teman, sementara handphone ada di genggaman…Kita berbicara dengan ayah dan ibu yang wajib kita hormati, akan tetapi handphone masih terus di tangan…Kita sedang menyetir, HP tetap juga ada di tangan…Sampai anak-anak kita pun telah kehilangan kasih sayang dari kita, karena kita telah berpaling dari mereka dan lebih mementingkan handphone…Dan masih banyak lagi ….لا أرغب بسماع من يدافع عنه، فقبل دخول تلك التقنية لم يكن يحظى الهاتف باهتمامنا، أما الآن فإذا غفلنا عنه لساعة فترانا بلهفة له، وياليتها كانت للصلاة والقرآن.فمن منا ينكر ذلك؟ ومن منا لم يلاحظ الانقلاب في حياته بعدما دخلت إليه هذه التقنية وأدمن عليها؟Aku tidak ingin mendengar seseorang yang memberi pembelaan terhadap hal ini (whatssApp, Facebook, dan Twitter), karena dahulu sebelum masuknya teknologi ini, handphone tidaklah menjadi pusat perhatian kita…Adapun sekarang, jika sesaat saja HP kita tertinggal, betapa kita merasa sangat kehilangan. Andai perasaan seperti itu ada juga pada shalat dan tilawatul Qur’an kita….Adakah dari kita yang mengingkari hal ini?Dan siapa juga yang tidak mendapatkan perubahan negatif di kehidupannya setelah masuknya teknologi ini pada kehidupannya dan setelah ia menjadi pecandu.بالله علينا من سيكون أنيسنا في القبرهل الواتس آب؟أم التويتر ؟أم القرآن؟!إنه القرآن الذي ما باتت تتلى آياته وبات مهجورا.Demi Allah, siapakah yang akan menjadi teman kita nanti di kubur?Apakah Whatsapp…?!!Atau Twitter…?!!Ataukah Al-Qur’an…?!Al-Qur’anlah yang akan menemani kita, padahal semalaman kita meninggalkannya, tidak kita baca ayat-ayatnya….فلا ينفع الندم يوم لا ينفع الواتس اب والتويتر في موقف عظيم شديد الأهواللنعد إلى الله، ولا يشغلنا شي عن ديننا، فما ندري كم لنا من العمر بقية..!( وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا )Tidak bermanfaat penyesalan di hari tidak berguna WhatssApp dan Twitter, di kondisi yang dahsyat (pada hari akhirat), yang sangat mengerikan…Mari kita bersama kembali pada Allah, jangan sampai ada hal yang menyibukkan kita dari dien kita…Sungguh kita tak tahu berapakah sisa umur kita…Allah berfirman:(وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا)“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS Thoha : 124) (Diterjemahkan oleh seorang hamba Allah semoga Allah membalas kebaikannya di dunia dan di akhirat)Semoga HP menjadi wasilah untuk mengingat Allah bukan sebaliknya kesenangan yang melalaikan dan menjauhkan dari mengingat Allah.Peringatan : Telah dinisbahkan nasehat diatas kepada Syaikh Su’ud As-Syuraim hafizohulloh ta’ala, hanya saja ada sebagian yang mengingkari karena tidak didapatkan di kumpulan khutbah Syaikh As-Syuraim. Karenanya tidak boleh kita menyandarkan nasehat di atas kepada beliau -sebagaimana yang terlanjur beredar di internet-,  wallahu A’lam siapa penulisnya, akan tetapi kita jadikan sebagai teguran dan nasehat bagi kita.www.firanda.com 

Tidak Cinta pada Non Muslim

Wajib bagi setiap muslim untuk tidak cinta atau tidak loyal atau tidak setia pada non muslim. Prinsip ini diajarkan oleh para ulama, di mana mereka berkata, “Umat Islam memiliki prinsip wala’ dan bara’. Wala’ yaitu setia pada orang yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Bara’ artinya berlepas diri dari orang yang kafir terhadap Allah dan Rasul-Nya di mana pun itu. Sedangkan orang yang dalam dirinya ada keimanan dan kefasikan (gemar berbuat dosa), maka kesetiaan padanya sekadar dengan keimanan yang ia miliki dan tidak loyal padanya sekadar dengan kemaksiatan yang ia lakukan. Sebagaimana kita sebagai muslim beriman bahwa siapa yang loyal pada agama selain Islam membuat tauhid dan imannya berkurang.” (Maa Laa Yasa’u Al Muslim Jahluhu, hal. 48). Contohlah sikap Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang ia tampakkan sebagai tanda ketidaksetiaan beliau pada non muslim. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al Qur’an, قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al Mumtahanah: 4). Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhahullah mengungkapkan pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa yang dimaksud Nabi Ibrahim dan yang bersamanya yang disebutkan dalam ayat di atas adalah Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya. Namun ada pula ulama yang mengemukakan pendapat bahwa yang dimaksud adalah pengikut Nabi Ibrahim ‘alaihis salam –kholilullah (kekasih Allah)-. (Tafsir Juz Qad Sami’a, hal. 155). Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala menyeru hamba-Nya yang beriman untuk menyatakan permusuhan, menjauh dan berlepas diri dari orang musyrik. Inilah yang jadi prinsip dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan para pengikutnya yang beriman. Ibrahim menyatakan terang-terangan pada kaumnya bahwa ia berlepas diri dari mereka dan dari segala yang mereka sembah selain Allah. Ibrahim mengingkari jalan beragama mereka –orang musyrik-. Mulai saat itu beliau pun menyatakan permusuhan dan kebencian dengan mereka. Ketidakloyalan tersebut tetap terus ada selama mereka dalam kekufuran sampai mereka mau beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik, juga melepas patung dan berhala yang mereka jadikan sebagai tandingan bagi Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 245). Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menyatakan, “Ibrahim ‘alaihis salam dan pengikutnya yang beriman berlepas diri dari kaum musyrikin dan berlepas diri pula dari apa yang mereka sembah. Lalu dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim benar-benar menyatakan permusuhan. Ibrahim menyatakan permusuhan dan kebencian pada orang musyrik dari dalam hatinya, dan ia pun menghilangkan kecintaan pada mereka. Ia pun menyatakan permusuhan dengan ditunjukkan secara lahiriyah. Permusuhan ini berlaku selamanya, tanpa dibatasi waktu.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 856). Dalil lainnya yang menunjukkan seorang muslim tidak boleh menampakkan sikap loyal, cinta atau setia pada non muslim adalah firman Allah Ta’ala, لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadilah: 22). Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas dengan menyampaikan statement, “Orang-orang beriman tidaklah mencintai orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka adalah kerabat dekat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212). Dalam ayat, yang dimaksud walau itu bapak mereka adalah kisah Abu ‘Ubaidah yang membunuh ayahnya saat perang Badar. Walau itu anaknya, yaitu kisah seorang putra yang bernama ‘Abdurrahman yang dibunuh bapak kandungnya dalam peperangan. Walau itu saudaranya, yaitu kisah Mush’ab bin ‘Umair waktu ia membunuh saudaranya ‘Ubaid bin ‘Umair. Walau itu kerabatnya, yaitu kisah ‘Umar yang membunuh keluarga dekatnya, begitu pula kisah Hamzah, Ali, ‘Ubaidah bin Al Harits yang membunuh kerabatnya, yaitu ‘Utbah, Syaibah dan Al Walid bin ‘Utbah. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212-213) Karena kekaguman Umar bin Al Khattab pada Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin ‘Abdillah bin Al Jarroh yang membunuh bapak kandungnya sendiri yang kafir, sampai-sampai ‘Umar berkata, “Seandainya Abu ‘Ubaidah masih hidup tentu kekhalifahan akan kuserahkan untuknya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212). Dapatkah kita mendahulukan rasa cinta pada Allah dari rasa cinta pada kerabat yang menjadi musuh Allah?! Sungguh mengagumkan yang dicontohkan oleh para salaf, iman mereka benar-benar jujur. Ayat yang membicarakan tentang tidak bolehnya patuh pada non muslim adalah firman Allah Ta’ala, لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran: 28). Yang dimaksud dengan ayat ini adalah larangan bagi orang beriman untuk bersikap loyal (setia) pada non muslim, tidak boleh mencintai dan menolong mereka, atau bekerja sama dengan mereka untuk mencelakakan kaum muslimin. Demikian penjelasan Syaikh As Sa’di rahimahullah dalam Taisir Al Karimir Rahman, hal. 127. Allah pun telah melarang menjadikan orang musyrik dan yang memusuhi Allah sebagai wali dan kekasih. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.” (QS. Al Mumtahanah: 1). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarkan prinsip wala’ dan bara’. Dari ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan lantang (tidak lirih), أَلاَ إِنَّ آلَ أَبِى – يَعْنِى فُلاَنًا – لَيْسُوا لِى بِأَوْلِيَاءَ إِنَّمَا وَلِيِّىَ اللَّهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ “Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukanlah kekasihku. Sesungguhnya kekasih setiaku adalah orang shalih yang beriman.” (HR. Muslim no. 215). Abu Fulan di sini maksudnya penyebutan yang disamarkan karena khawatir ada efek negatif jika nama tersebut tetap disebut. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud “waliyyiya” adalah orang shalih, itulah yang jadi kekasih dan teman setia walau jauh nasabnya. Yang jadi kekasih bukanlah orang yang tidak shalih walaupun nasabnya dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Nawawi juga menuturkan bahwa hadits ini mengandung pelajaran pula untuk berlepas diri dari orang-orang yang menyimpang dan setia pada orang shalih. Kesetiaan atau keloyalan semacam itu boleh dinyatakan terang-terangan selama tidak timbul kerusakan. Lihat Syarh Shahih Muslim, 3: 77. Semoga Allah menguatkan iman kita dan tidak tergoyah dengan berbagai rongrongan non muslim. — — Selesai disusun 13: 39 PM di Darush Sholihin, 11 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai masalah jual beli yang haram “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku dagang#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.30.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsloyal non muslim

Tidak Cinta pada Non Muslim

Wajib bagi setiap muslim untuk tidak cinta atau tidak loyal atau tidak setia pada non muslim. Prinsip ini diajarkan oleh para ulama, di mana mereka berkata, “Umat Islam memiliki prinsip wala’ dan bara’. Wala’ yaitu setia pada orang yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Bara’ artinya berlepas diri dari orang yang kafir terhadap Allah dan Rasul-Nya di mana pun itu. Sedangkan orang yang dalam dirinya ada keimanan dan kefasikan (gemar berbuat dosa), maka kesetiaan padanya sekadar dengan keimanan yang ia miliki dan tidak loyal padanya sekadar dengan kemaksiatan yang ia lakukan. Sebagaimana kita sebagai muslim beriman bahwa siapa yang loyal pada agama selain Islam membuat tauhid dan imannya berkurang.” (Maa Laa Yasa’u Al Muslim Jahluhu, hal. 48). Contohlah sikap Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang ia tampakkan sebagai tanda ketidaksetiaan beliau pada non muslim. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al Qur’an, قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al Mumtahanah: 4). Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhahullah mengungkapkan pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa yang dimaksud Nabi Ibrahim dan yang bersamanya yang disebutkan dalam ayat di atas adalah Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya. Namun ada pula ulama yang mengemukakan pendapat bahwa yang dimaksud adalah pengikut Nabi Ibrahim ‘alaihis salam –kholilullah (kekasih Allah)-. (Tafsir Juz Qad Sami’a, hal. 155). Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala menyeru hamba-Nya yang beriman untuk menyatakan permusuhan, menjauh dan berlepas diri dari orang musyrik. Inilah yang jadi prinsip dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan para pengikutnya yang beriman. Ibrahim menyatakan terang-terangan pada kaumnya bahwa ia berlepas diri dari mereka dan dari segala yang mereka sembah selain Allah. Ibrahim mengingkari jalan beragama mereka –orang musyrik-. Mulai saat itu beliau pun menyatakan permusuhan dan kebencian dengan mereka. Ketidakloyalan tersebut tetap terus ada selama mereka dalam kekufuran sampai mereka mau beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik, juga melepas patung dan berhala yang mereka jadikan sebagai tandingan bagi Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 245). Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menyatakan, “Ibrahim ‘alaihis salam dan pengikutnya yang beriman berlepas diri dari kaum musyrikin dan berlepas diri pula dari apa yang mereka sembah. Lalu dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim benar-benar menyatakan permusuhan. Ibrahim menyatakan permusuhan dan kebencian pada orang musyrik dari dalam hatinya, dan ia pun menghilangkan kecintaan pada mereka. Ia pun menyatakan permusuhan dengan ditunjukkan secara lahiriyah. Permusuhan ini berlaku selamanya, tanpa dibatasi waktu.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 856). Dalil lainnya yang menunjukkan seorang muslim tidak boleh menampakkan sikap loyal, cinta atau setia pada non muslim adalah firman Allah Ta’ala, لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadilah: 22). Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas dengan menyampaikan statement, “Orang-orang beriman tidaklah mencintai orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka adalah kerabat dekat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212). Dalam ayat, yang dimaksud walau itu bapak mereka adalah kisah Abu ‘Ubaidah yang membunuh ayahnya saat perang Badar. Walau itu anaknya, yaitu kisah seorang putra yang bernama ‘Abdurrahman yang dibunuh bapak kandungnya dalam peperangan. Walau itu saudaranya, yaitu kisah Mush’ab bin ‘Umair waktu ia membunuh saudaranya ‘Ubaid bin ‘Umair. Walau itu kerabatnya, yaitu kisah ‘Umar yang membunuh keluarga dekatnya, begitu pula kisah Hamzah, Ali, ‘Ubaidah bin Al Harits yang membunuh kerabatnya, yaitu ‘Utbah, Syaibah dan Al Walid bin ‘Utbah. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212-213) Karena kekaguman Umar bin Al Khattab pada Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin ‘Abdillah bin Al Jarroh yang membunuh bapak kandungnya sendiri yang kafir, sampai-sampai ‘Umar berkata, “Seandainya Abu ‘Ubaidah masih hidup tentu kekhalifahan akan kuserahkan untuknya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212). Dapatkah kita mendahulukan rasa cinta pada Allah dari rasa cinta pada kerabat yang menjadi musuh Allah?! Sungguh mengagumkan yang dicontohkan oleh para salaf, iman mereka benar-benar jujur. Ayat yang membicarakan tentang tidak bolehnya patuh pada non muslim adalah firman Allah Ta’ala, لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran: 28). Yang dimaksud dengan ayat ini adalah larangan bagi orang beriman untuk bersikap loyal (setia) pada non muslim, tidak boleh mencintai dan menolong mereka, atau bekerja sama dengan mereka untuk mencelakakan kaum muslimin. Demikian penjelasan Syaikh As Sa’di rahimahullah dalam Taisir Al Karimir Rahman, hal. 127. Allah pun telah melarang menjadikan orang musyrik dan yang memusuhi Allah sebagai wali dan kekasih. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.” (QS. Al Mumtahanah: 1). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarkan prinsip wala’ dan bara’. Dari ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan lantang (tidak lirih), أَلاَ إِنَّ آلَ أَبِى – يَعْنِى فُلاَنًا – لَيْسُوا لِى بِأَوْلِيَاءَ إِنَّمَا وَلِيِّىَ اللَّهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ “Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukanlah kekasihku. Sesungguhnya kekasih setiaku adalah orang shalih yang beriman.” (HR. Muslim no. 215). Abu Fulan di sini maksudnya penyebutan yang disamarkan karena khawatir ada efek negatif jika nama tersebut tetap disebut. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud “waliyyiya” adalah orang shalih, itulah yang jadi kekasih dan teman setia walau jauh nasabnya. Yang jadi kekasih bukanlah orang yang tidak shalih walaupun nasabnya dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Nawawi juga menuturkan bahwa hadits ini mengandung pelajaran pula untuk berlepas diri dari orang-orang yang menyimpang dan setia pada orang shalih. Kesetiaan atau keloyalan semacam itu boleh dinyatakan terang-terangan selama tidak timbul kerusakan. Lihat Syarh Shahih Muslim, 3: 77. Semoga Allah menguatkan iman kita dan tidak tergoyah dengan berbagai rongrongan non muslim. — — Selesai disusun 13: 39 PM di Darush Sholihin, 11 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai masalah jual beli yang haram “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku dagang#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.30.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsloyal non muslim
Wajib bagi setiap muslim untuk tidak cinta atau tidak loyal atau tidak setia pada non muslim. Prinsip ini diajarkan oleh para ulama, di mana mereka berkata, “Umat Islam memiliki prinsip wala’ dan bara’. Wala’ yaitu setia pada orang yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Bara’ artinya berlepas diri dari orang yang kafir terhadap Allah dan Rasul-Nya di mana pun itu. Sedangkan orang yang dalam dirinya ada keimanan dan kefasikan (gemar berbuat dosa), maka kesetiaan padanya sekadar dengan keimanan yang ia miliki dan tidak loyal padanya sekadar dengan kemaksiatan yang ia lakukan. Sebagaimana kita sebagai muslim beriman bahwa siapa yang loyal pada agama selain Islam membuat tauhid dan imannya berkurang.” (Maa Laa Yasa’u Al Muslim Jahluhu, hal. 48). Contohlah sikap Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang ia tampakkan sebagai tanda ketidaksetiaan beliau pada non muslim. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al Qur’an, قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al Mumtahanah: 4). Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhahullah mengungkapkan pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa yang dimaksud Nabi Ibrahim dan yang bersamanya yang disebutkan dalam ayat di atas adalah Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya. Namun ada pula ulama yang mengemukakan pendapat bahwa yang dimaksud adalah pengikut Nabi Ibrahim ‘alaihis salam –kholilullah (kekasih Allah)-. (Tafsir Juz Qad Sami’a, hal. 155). Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala menyeru hamba-Nya yang beriman untuk menyatakan permusuhan, menjauh dan berlepas diri dari orang musyrik. Inilah yang jadi prinsip dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan para pengikutnya yang beriman. Ibrahim menyatakan terang-terangan pada kaumnya bahwa ia berlepas diri dari mereka dan dari segala yang mereka sembah selain Allah. Ibrahim mengingkari jalan beragama mereka –orang musyrik-. Mulai saat itu beliau pun menyatakan permusuhan dan kebencian dengan mereka. Ketidakloyalan tersebut tetap terus ada selama mereka dalam kekufuran sampai mereka mau beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik, juga melepas patung dan berhala yang mereka jadikan sebagai tandingan bagi Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 245). Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menyatakan, “Ibrahim ‘alaihis salam dan pengikutnya yang beriman berlepas diri dari kaum musyrikin dan berlepas diri pula dari apa yang mereka sembah. Lalu dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim benar-benar menyatakan permusuhan. Ibrahim menyatakan permusuhan dan kebencian pada orang musyrik dari dalam hatinya, dan ia pun menghilangkan kecintaan pada mereka. Ia pun menyatakan permusuhan dengan ditunjukkan secara lahiriyah. Permusuhan ini berlaku selamanya, tanpa dibatasi waktu.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 856). Dalil lainnya yang menunjukkan seorang muslim tidak boleh menampakkan sikap loyal, cinta atau setia pada non muslim adalah firman Allah Ta’ala, لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadilah: 22). Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas dengan menyampaikan statement, “Orang-orang beriman tidaklah mencintai orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka adalah kerabat dekat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212). Dalam ayat, yang dimaksud walau itu bapak mereka adalah kisah Abu ‘Ubaidah yang membunuh ayahnya saat perang Badar. Walau itu anaknya, yaitu kisah seorang putra yang bernama ‘Abdurrahman yang dibunuh bapak kandungnya dalam peperangan. Walau itu saudaranya, yaitu kisah Mush’ab bin ‘Umair waktu ia membunuh saudaranya ‘Ubaid bin ‘Umair. Walau itu kerabatnya, yaitu kisah ‘Umar yang membunuh keluarga dekatnya, begitu pula kisah Hamzah, Ali, ‘Ubaidah bin Al Harits yang membunuh kerabatnya, yaitu ‘Utbah, Syaibah dan Al Walid bin ‘Utbah. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212-213) Karena kekaguman Umar bin Al Khattab pada Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin ‘Abdillah bin Al Jarroh yang membunuh bapak kandungnya sendiri yang kafir, sampai-sampai ‘Umar berkata, “Seandainya Abu ‘Ubaidah masih hidup tentu kekhalifahan akan kuserahkan untuknya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212). Dapatkah kita mendahulukan rasa cinta pada Allah dari rasa cinta pada kerabat yang menjadi musuh Allah?! Sungguh mengagumkan yang dicontohkan oleh para salaf, iman mereka benar-benar jujur. Ayat yang membicarakan tentang tidak bolehnya patuh pada non muslim adalah firman Allah Ta’ala, لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran: 28). Yang dimaksud dengan ayat ini adalah larangan bagi orang beriman untuk bersikap loyal (setia) pada non muslim, tidak boleh mencintai dan menolong mereka, atau bekerja sama dengan mereka untuk mencelakakan kaum muslimin. Demikian penjelasan Syaikh As Sa’di rahimahullah dalam Taisir Al Karimir Rahman, hal. 127. Allah pun telah melarang menjadikan orang musyrik dan yang memusuhi Allah sebagai wali dan kekasih. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.” (QS. Al Mumtahanah: 1). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarkan prinsip wala’ dan bara’. Dari ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan lantang (tidak lirih), أَلاَ إِنَّ آلَ أَبِى – يَعْنِى فُلاَنًا – لَيْسُوا لِى بِأَوْلِيَاءَ إِنَّمَا وَلِيِّىَ اللَّهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ “Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukanlah kekasihku. Sesungguhnya kekasih setiaku adalah orang shalih yang beriman.” (HR. Muslim no. 215). Abu Fulan di sini maksudnya penyebutan yang disamarkan karena khawatir ada efek negatif jika nama tersebut tetap disebut. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud “waliyyiya” adalah orang shalih, itulah yang jadi kekasih dan teman setia walau jauh nasabnya. Yang jadi kekasih bukanlah orang yang tidak shalih walaupun nasabnya dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Nawawi juga menuturkan bahwa hadits ini mengandung pelajaran pula untuk berlepas diri dari orang-orang yang menyimpang dan setia pada orang shalih. Kesetiaan atau keloyalan semacam itu boleh dinyatakan terang-terangan selama tidak timbul kerusakan. Lihat Syarh Shahih Muslim, 3: 77. Semoga Allah menguatkan iman kita dan tidak tergoyah dengan berbagai rongrongan non muslim. — — Selesai disusun 13: 39 PM di Darush Sholihin, 11 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai masalah jual beli yang haram “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku dagang#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.30.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsloyal non muslim


Wajib bagi setiap muslim untuk tidak cinta atau tidak loyal atau tidak setia pada non muslim. Prinsip ini diajarkan oleh para ulama, di mana mereka berkata, “Umat Islam memiliki prinsip wala’ dan bara’. Wala’ yaitu setia pada orang yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Bara’ artinya berlepas diri dari orang yang kafir terhadap Allah dan Rasul-Nya di mana pun itu. Sedangkan orang yang dalam dirinya ada keimanan dan kefasikan (gemar berbuat dosa), maka kesetiaan padanya sekadar dengan keimanan yang ia miliki dan tidak loyal padanya sekadar dengan kemaksiatan yang ia lakukan. Sebagaimana kita sebagai muslim beriman bahwa siapa yang loyal pada agama selain Islam membuat tauhid dan imannya berkurang.” (Maa Laa Yasa’u Al Muslim Jahluhu, hal. 48). Contohlah sikap Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang ia tampakkan sebagai tanda ketidaksetiaan beliau pada non muslim. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al Qur’an, قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al Mumtahanah: 4). Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhahullah mengungkapkan pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa yang dimaksud Nabi Ibrahim dan yang bersamanya yang disebutkan dalam ayat di atas adalah Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya. Namun ada pula ulama yang mengemukakan pendapat bahwa yang dimaksud adalah pengikut Nabi Ibrahim ‘alaihis salam –kholilullah (kekasih Allah)-. (Tafsir Juz Qad Sami’a, hal. 155). Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala menyeru hamba-Nya yang beriman untuk menyatakan permusuhan, menjauh dan berlepas diri dari orang musyrik. Inilah yang jadi prinsip dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan para pengikutnya yang beriman. Ibrahim menyatakan terang-terangan pada kaumnya bahwa ia berlepas diri dari mereka dan dari segala yang mereka sembah selain Allah. Ibrahim mengingkari jalan beragama mereka –orang musyrik-. Mulai saat itu beliau pun menyatakan permusuhan dan kebencian dengan mereka. Ketidakloyalan tersebut tetap terus ada selama mereka dalam kekufuran sampai mereka mau beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik, juga melepas patung dan berhala yang mereka jadikan sebagai tandingan bagi Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 245). Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menyatakan, “Ibrahim ‘alaihis salam dan pengikutnya yang beriman berlepas diri dari kaum musyrikin dan berlepas diri pula dari apa yang mereka sembah. Lalu dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim benar-benar menyatakan permusuhan. Ibrahim menyatakan permusuhan dan kebencian pada orang musyrik dari dalam hatinya, dan ia pun menghilangkan kecintaan pada mereka. Ia pun menyatakan permusuhan dengan ditunjukkan secara lahiriyah. Permusuhan ini berlaku selamanya, tanpa dibatasi waktu.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 856). Dalil lainnya yang menunjukkan seorang muslim tidak boleh menampakkan sikap loyal, cinta atau setia pada non muslim adalah firman Allah Ta’ala, لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadilah: 22). Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas dengan menyampaikan statement, “Orang-orang beriman tidaklah mencintai orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka adalah kerabat dekat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212). Dalam ayat, yang dimaksud walau itu bapak mereka adalah kisah Abu ‘Ubaidah yang membunuh ayahnya saat perang Badar. Walau itu anaknya, yaitu kisah seorang putra yang bernama ‘Abdurrahman yang dibunuh bapak kandungnya dalam peperangan. Walau itu saudaranya, yaitu kisah Mush’ab bin ‘Umair waktu ia membunuh saudaranya ‘Ubaid bin ‘Umair. Walau itu kerabatnya, yaitu kisah ‘Umar yang membunuh keluarga dekatnya, begitu pula kisah Hamzah, Ali, ‘Ubaidah bin Al Harits yang membunuh kerabatnya, yaitu ‘Utbah, Syaibah dan Al Walid bin ‘Utbah. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212-213) Karena kekaguman Umar bin Al Khattab pada Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin ‘Abdillah bin Al Jarroh yang membunuh bapak kandungnya sendiri yang kafir, sampai-sampai ‘Umar berkata, “Seandainya Abu ‘Ubaidah masih hidup tentu kekhalifahan akan kuserahkan untuknya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212). Dapatkah kita mendahulukan rasa cinta pada Allah dari rasa cinta pada kerabat yang menjadi musuh Allah?! Sungguh mengagumkan yang dicontohkan oleh para salaf, iman mereka benar-benar jujur. Ayat yang membicarakan tentang tidak bolehnya patuh pada non muslim adalah firman Allah Ta’ala, لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran: 28). Yang dimaksud dengan ayat ini adalah larangan bagi orang beriman untuk bersikap loyal (setia) pada non muslim, tidak boleh mencintai dan menolong mereka, atau bekerja sama dengan mereka untuk mencelakakan kaum muslimin. Demikian penjelasan Syaikh As Sa’di rahimahullah dalam Taisir Al Karimir Rahman, hal. 127. Allah pun telah melarang menjadikan orang musyrik dan yang memusuhi Allah sebagai wali dan kekasih. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.” (QS. Al Mumtahanah: 1). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarkan prinsip wala’ dan bara’. Dari ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan lantang (tidak lirih), أَلاَ إِنَّ آلَ أَبِى – يَعْنِى فُلاَنًا – لَيْسُوا لِى بِأَوْلِيَاءَ إِنَّمَا وَلِيِّىَ اللَّهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ “Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukanlah kekasihku. Sesungguhnya kekasih setiaku adalah orang shalih yang beriman.” (HR. Muslim no. 215). Abu Fulan di sini maksudnya penyebutan yang disamarkan karena khawatir ada efek negatif jika nama tersebut tetap disebut. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud “waliyyiya” adalah orang shalih, itulah yang jadi kekasih dan teman setia walau jauh nasabnya. Yang jadi kekasih bukanlah orang yang tidak shalih walaupun nasabnya dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Nawawi juga menuturkan bahwa hadits ini mengandung pelajaran pula untuk berlepas diri dari orang-orang yang menyimpang dan setia pada orang shalih. Kesetiaan atau keloyalan semacam itu boleh dinyatakan terang-terangan selama tidak timbul kerusakan. Lihat Syarh Shahih Muslim, 3: 77. Semoga Allah menguatkan iman kita dan tidak tergoyah dengan berbagai rongrongan non muslim. — — Selesai disusun 13: 39 PM di Darush Sholihin, 11 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai masalah jual beli yang haram “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku dagang#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.30.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsloyal non muslim
Prev     Next