Hubungan Intim di Malam Hari Puasa, Mandi Junub Saat Shubuh

Bolehkah hubungan intim di malam hari puasa, lalu mandi junub saat Shubuh? Jawabannya, boleh. Alasannya berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187). Di awal-awal pensyariatan puasa, jika sudah berbuka puasa, dibolehkan untuk makan, minum dan berhubungan intim selama belum tidur di malam hari. Jika sudah tidur, maka hal yang dibolehkan tadi sudah dilarang. Coba perhatikan kisah ‘Umar berikut, وَكَانَ عُمَرُ قَدْ أَصَابَ مِنَ النِّسَاءِ مِنْ جَارِيَةٍ أَوْ مِنْ حُرَّةٍ بَعْدَ مَا نَامَ وَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ) إِلَى قَوْلِهِ (ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ) “Umar pernah berhubungan intim dengan budak wanitanya atau salah satu istrinya yang merdeka. Itu dilakukan setelah tidur di malam hari. Kemudian ‘Umar mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan yang ia alami tadi. Allah Ta’ala lantas menurunkan firman Allah (yang artinya), “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” Hingga firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam hari.” (HR. Ahmad, 5: 246. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa periwayat hadits ini adalah tsiqah selain Al-Mas’udi) Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan, “Kaum muslimin ketika di bulan Ramadhan jika mereka telah melakukan shalat Isya, mereka dilarang untuk menyetubuhi istri, juga dilarang makan, yang semisal itu pula adalah bercumbu. Namun ada beberapa orang dari kaum muslimin menyetubuhi istrinya dan makan setelah Isya di bulan Ramadhan. Di antara yang melakukan seperti itu adalah Umar bin Al-Khattab sampai ia pun mengadukan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga turunlah ayat, عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ “Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu“, sampai firman Allah Ta’ala, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ Maksudnya adalah sekarang halal bagimu untuk menyetubuhi istri kalian (di malam hari). Kemudian Allah Ta’ala berfirman, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam.” Maksudnya adalah sampai nampak fajar Shubuh dan sebelumnya adalah gelap malam. Yang dimaksud rofats adalah nikah. Dari Sa’id bin Jubair mengenai firman Allah Ta’ala, كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” Sa’id berkata, “Diwajibkan bagi mereka ketika salah seorang dari mereka sudah tidur dan belum makan, maka tidak dibolehkan bagi mereka untuk makan sedikit pun ketika bangun, begitu pula tidak boleh mencumbu istri. Selama bulan puasa dilarang pula untuk berhubungan intim di malam hari dengan pasangannya. Allah akhirnya memberikan keringanan bagi kalian. Saat ini di malam hari dihalalkan untuk melakukan hubungan intim.” (Syarhul ‘Umdah-Shiyam, 1: 517-518). Yang jelas, jangan sampai hubungan intim tersebut melalaikan dari ibadah di bulan Ramadhan. Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah menetapkan adanya Lailatul Qadar (malam yang penuh keutamaan) dan itu terdapat di malam-malam terakhir di bulan Ramadhan. Tidak sepantasnya kenikmatan hubungan intim melalaikan dari ibadah di malam-malam akhir bulan Ramadhan. Hubungan intim jika luput bisa dilakukan di lain waktu. Namun untuk Lailatul Qadar jika luput, maka ia tidak akan memperolehnya lagi untuk saat itu.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 87). Bagaimana jika sampai waktu azan Shubuh belum sempat mandi junub? Apakah boleh tetap berpuasa? Boleh. Perhatikan ayat, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187). Konsekuensi dari dibolehkannya hubungan intim yang berakhir hingga azan Shubuh adalah masih boleh masuk Shubuh dalam keadaan junub. Dan hal ini dibenarkan dengan perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.” (HR. Muslim no. 1109) Semoga bermanfaat bagi yang belum mengetahui hal di atas. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di pagi hari di Kampung Ory, Pelaw, 1 Ramadhan 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagshubungan intim pembatal puasa

Hubungan Intim di Malam Hari Puasa, Mandi Junub Saat Shubuh

Bolehkah hubungan intim di malam hari puasa, lalu mandi junub saat Shubuh? Jawabannya, boleh. Alasannya berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187). Di awal-awal pensyariatan puasa, jika sudah berbuka puasa, dibolehkan untuk makan, minum dan berhubungan intim selama belum tidur di malam hari. Jika sudah tidur, maka hal yang dibolehkan tadi sudah dilarang. Coba perhatikan kisah ‘Umar berikut, وَكَانَ عُمَرُ قَدْ أَصَابَ مِنَ النِّسَاءِ مِنْ جَارِيَةٍ أَوْ مِنْ حُرَّةٍ بَعْدَ مَا نَامَ وَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ) إِلَى قَوْلِهِ (ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ) “Umar pernah berhubungan intim dengan budak wanitanya atau salah satu istrinya yang merdeka. Itu dilakukan setelah tidur di malam hari. Kemudian ‘Umar mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan yang ia alami tadi. Allah Ta’ala lantas menurunkan firman Allah (yang artinya), “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” Hingga firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam hari.” (HR. Ahmad, 5: 246. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa periwayat hadits ini adalah tsiqah selain Al-Mas’udi) Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan, “Kaum muslimin ketika di bulan Ramadhan jika mereka telah melakukan shalat Isya, mereka dilarang untuk menyetubuhi istri, juga dilarang makan, yang semisal itu pula adalah bercumbu. Namun ada beberapa orang dari kaum muslimin menyetubuhi istrinya dan makan setelah Isya di bulan Ramadhan. Di antara yang melakukan seperti itu adalah Umar bin Al-Khattab sampai ia pun mengadukan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga turunlah ayat, عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ “Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu“, sampai firman Allah Ta’ala, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ Maksudnya adalah sekarang halal bagimu untuk menyetubuhi istri kalian (di malam hari). Kemudian Allah Ta’ala berfirman, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam.” Maksudnya adalah sampai nampak fajar Shubuh dan sebelumnya adalah gelap malam. Yang dimaksud rofats adalah nikah. Dari Sa’id bin Jubair mengenai firman Allah Ta’ala, كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” Sa’id berkata, “Diwajibkan bagi mereka ketika salah seorang dari mereka sudah tidur dan belum makan, maka tidak dibolehkan bagi mereka untuk makan sedikit pun ketika bangun, begitu pula tidak boleh mencumbu istri. Selama bulan puasa dilarang pula untuk berhubungan intim di malam hari dengan pasangannya. Allah akhirnya memberikan keringanan bagi kalian. Saat ini di malam hari dihalalkan untuk melakukan hubungan intim.” (Syarhul ‘Umdah-Shiyam, 1: 517-518). Yang jelas, jangan sampai hubungan intim tersebut melalaikan dari ibadah di bulan Ramadhan. Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah menetapkan adanya Lailatul Qadar (malam yang penuh keutamaan) dan itu terdapat di malam-malam terakhir di bulan Ramadhan. Tidak sepantasnya kenikmatan hubungan intim melalaikan dari ibadah di malam-malam akhir bulan Ramadhan. Hubungan intim jika luput bisa dilakukan di lain waktu. Namun untuk Lailatul Qadar jika luput, maka ia tidak akan memperolehnya lagi untuk saat itu.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 87). Bagaimana jika sampai waktu azan Shubuh belum sempat mandi junub? Apakah boleh tetap berpuasa? Boleh. Perhatikan ayat, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187). Konsekuensi dari dibolehkannya hubungan intim yang berakhir hingga azan Shubuh adalah masih boleh masuk Shubuh dalam keadaan junub. Dan hal ini dibenarkan dengan perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.” (HR. Muslim no. 1109) Semoga bermanfaat bagi yang belum mengetahui hal di atas. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di pagi hari di Kampung Ory, Pelaw, 1 Ramadhan 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagshubungan intim pembatal puasa
Bolehkah hubungan intim di malam hari puasa, lalu mandi junub saat Shubuh? Jawabannya, boleh. Alasannya berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187). Di awal-awal pensyariatan puasa, jika sudah berbuka puasa, dibolehkan untuk makan, minum dan berhubungan intim selama belum tidur di malam hari. Jika sudah tidur, maka hal yang dibolehkan tadi sudah dilarang. Coba perhatikan kisah ‘Umar berikut, وَكَانَ عُمَرُ قَدْ أَصَابَ مِنَ النِّسَاءِ مِنْ جَارِيَةٍ أَوْ مِنْ حُرَّةٍ بَعْدَ مَا نَامَ وَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ) إِلَى قَوْلِهِ (ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ) “Umar pernah berhubungan intim dengan budak wanitanya atau salah satu istrinya yang merdeka. Itu dilakukan setelah tidur di malam hari. Kemudian ‘Umar mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan yang ia alami tadi. Allah Ta’ala lantas menurunkan firman Allah (yang artinya), “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” Hingga firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam hari.” (HR. Ahmad, 5: 246. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa periwayat hadits ini adalah tsiqah selain Al-Mas’udi) Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan, “Kaum muslimin ketika di bulan Ramadhan jika mereka telah melakukan shalat Isya, mereka dilarang untuk menyetubuhi istri, juga dilarang makan, yang semisal itu pula adalah bercumbu. Namun ada beberapa orang dari kaum muslimin menyetubuhi istrinya dan makan setelah Isya di bulan Ramadhan. Di antara yang melakukan seperti itu adalah Umar bin Al-Khattab sampai ia pun mengadukan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga turunlah ayat, عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ “Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu“, sampai firman Allah Ta’ala, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ Maksudnya adalah sekarang halal bagimu untuk menyetubuhi istri kalian (di malam hari). Kemudian Allah Ta’ala berfirman, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam.” Maksudnya adalah sampai nampak fajar Shubuh dan sebelumnya adalah gelap malam. Yang dimaksud rofats adalah nikah. Dari Sa’id bin Jubair mengenai firman Allah Ta’ala, كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” Sa’id berkata, “Diwajibkan bagi mereka ketika salah seorang dari mereka sudah tidur dan belum makan, maka tidak dibolehkan bagi mereka untuk makan sedikit pun ketika bangun, begitu pula tidak boleh mencumbu istri. Selama bulan puasa dilarang pula untuk berhubungan intim di malam hari dengan pasangannya. Allah akhirnya memberikan keringanan bagi kalian. Saat ini di malam hari dihalalkan untuk melakukan hubungan intim.” (Syarhul ‘Umdah-Shiyam, 1: 517-518). Yang jelas, jangan sampai hubungan intim tersebut melalaikan dari ibadah di bulan Ramadhan. Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah menetapkan adanya Lailatul Qadar (malam yang penuh keutamaan) dan itu terdapat di malam-malam terakhir di bulan Ramadhan. Tidak sepantasnya kenikmatan hubungan intim melalaikan dari ibadah di malam-malam akhir bulan Ramadhan. Hubungan intim jika luput bisa dilakukan di lain waktu. Namun untuk Lailatul Qadar jika luput, maka ia tidak akan memperolehnya lagi untuk saat itu.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 87). Bagaimana jika sampai waktu azan Shubuh belum sempat mandi junub? Apakah boleh tetap berpuasa? Boleh. Perhatikan ayat, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187). Konsekuensi dari dibolehkannya hubungan intim yang berakhir hingga azan Shubuh adalah masih boleh masuk Shubuh dalam keadaan junub. Dan hal ini dibenarkan dengan perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.” (HR. Muslim no. 1109) Semoga bermanfaat bagi yang belum mengetahui hal di atas. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di pagi hari di Kampung Ory, Pelaw, 1 Ramadhan 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagshubungan intim pembatal puasa


Bolehkah hubungan intim di malam hari puasa, lalu mandi junub saat Shubuh? Jawabannya, boleh. Alasannya berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187). Di awal-awal pensyariatan puasa, jika sudah berbuka puasa, dibolehkan untuk makan, minum dan berhubungan intim selama belum tidur di malam hari. Jika sudah tidur, maka hal yang dibolehkan tadi sudah dilarang. Coba perhatikan kisah ‘Umar berikut, وَكَانَ عُمَرُ قَدْ أَصَابَ مِنَ النِّسَاءِ مِنْ جَارِيَةٍ أَوْ مِنْ حُرَّةٍ بَعْدَ مَا نَامَ وَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ) إِلَى قَوْلِهِ (ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ) “Umar pernah berhubungan intim dengan budak wanitanya atau salah satu istrinya yang merdeka. Itu dilakukan setelah tidur di malam hari. Kemudian ‘Umar mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan yang ia alami tadi. Allah Ta’ala lantas menurunkan firman Allah (yang artinya), “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” Hingga firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam hari.” (HR. Ahmad, 5: 246. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa periwayat hadits ini adalah tsiqah selain Al-Mas’udi) Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan, “Kaum muslimin ketika di bulan Ramadhan jika mereka telah melakukan shalat Isya, mereka dilarang untuk menyetubuhi istri, juga dilarang makan, yang semisal itu pula adalah bercumbu. Namun ada beberapa orang dari kaum muslimin menyetubuhi istrinya dan makan setelah Isya di bulan Ramadhan. Di antara yang melakukan seperti itu adalah Umar bin Al-Khattab sampai ia pun mengadukan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga turunlah ayat, عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ “Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu“, sampai firman Allah Ta’ala, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ Maksudnya adalah sekarang halal bagimu untuk menyetubuhi istri kalian (di malam hari). Kemudian Allah Ta’ala berfirman, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam.” Maksudnya adalah sampai nampak fajar Shubuh dan sebelumnya adalah gelap malam. Yang dimaksud rofats adalah nikah. Dari Sa’id bin Jubair mengenai firman Allah Ta’ala, كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” Sa’id berkata, “Diwajibkan bagi mereka ketika salah seorang dari mereka sudah tidur dan belum makan, maka tidak dibolehkan bagi mereka untuk makan sedikit pun ketika bangun, begitu pula tidak boleh mencumbu istri. Selama bulan puasa dilarang pula untuk berhubungan intim di malam hari dengan pasangannya. Allah akhirnya memberikan keringanan bagi kalian. Saat ini di malam hari dihalalkan untuk melakukan hubungan intim.” (Syarhul ‘Umdah-Shiyam, 1: 517-518). Yang jelas, jangan sampai hubungan intim tersebut melalaikan dari ibadah di bulan Ramadhan. Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah menetapkan adanya Lailatul Qadar (malam yang penuh keutamaan) dan itu terdapat di malam-malam terakhir di bulan Ramadhan. Tidak sepantasnya kenikmatan hubungan intim melalaikan dari ibadah di malam-malam akhir bulan Ramadhan. Hubungan intim jika luput bisa dilakukan di lain waktu. Namun untuk Lailatul Qadar jika luput, maka ia tidak akan memperolehnya lagi untuk saat itu.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 87). Bagaimana jika sampai waktu azan Shubuh belum sempat mandi junub? Apakah boleh tetap berpuasa? Boleh. Perhatikan ayat, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187). Konsekuensi dari dibolehkannya hubungan intim yang berakhir hingga azan Shubuh adalah masih boleh masuk Shubuh dalam keadaan junub. Dan hal ini dibenarkan dengan perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.” (HR. Muslim no. 1109) Semoga bermanfaat bagi yang belum mengetahui hal di atas. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di pagi hari di Kampung Ory, Pelaw, 1 Ramadhan 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagshubungan intim pembatal puasa

Waspada Selama Puasa Ramadhan!!

Selamat melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadhan, semoga dimudahkan berpuasa yg berkualitas, penuh dengan lantunan al-qur’an dan sholat malam serta sedekah.Waspadalah dengan hal-hal yg mengurangi kualitas puasa anda sehingga berkurang pahalanya atau sirna. Karenanya :1) Jauhi ghibah, karena ghibah akan menggugurkan pahala puasa anda, bahkan menurut segelintir ulama membatalkan puasa.Ghibah dijadikan lezat oleh syaitan, karenanya diantara perkara yg sangat menarik adalah menonton atau membaca berita ghibah. 2) Tundukan pandangan, agar pahala puasa anda tidak terkikis dengan aurot wanita yg terpajang di FB apalagi Youtube. 3) Waktu untuk ngenet jangan sampai lebih banyak daripada membaca al-Qur’an, sungguh ini adalah jebakan syaithan4) Jauhi menghabiskan waktu dengan menonton sinetron yg isinya banyak memamerkan aurot wanita dan melalaikan dari akhirat. Demikian juga ngabisin waktu dengan main game dan semisalnya yg tdk bermanfaat.5) Jauhi ngabuburit apalagi di jalanan sehingga pandangan tak bisa terjaga6) kurangi ngobrol dengan makhluk, banyakan porsi untuk membaca perkataan Rabb mu.Kebanyakan ngobrol dengan makhluk akan mengeraskan hati, adapun membaca firman Kholiq akan melembutkan dan membahagiakan hati.Jangan sampai anda menutup al-Qur’an karena bosan dengan firman Allah demi mendengar perkataan dan ngobrol dengan makhluk7) Perhatian terhadap dapur penting, tapi bukan yg terpenting, jangan sampai waktu terlalu banyak tersita untuk dapur sementara kehabisan waktu untuk ngaji al-Qur’an8) Semangat beribadah tatkala Ramadhan tapi hati-hati jangan sampai terjerumus dalam riya’ dan ujub karena menulis ibadah di status BB, FB, atau WA.Contoh (alhamdulillah sudah khatam Qur’an 5 kali), atau (Sedang i’tikaf mohon jangan mengganggu), atau (alhamdulillah sempat menyantuni anak yatim di bulan mulia ini), dll. Meskipun menyiarkan ibadah tidaklah haram, tetapi menutup pintu-puntu riya’ dan ujub lebih baik, kecuali untuk memotivasi.9) I’tikaf adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan ajang untuk ngobrol ngalur ngidul. Jangan sampai warung kopi pindah ke dalam mesjid dengan dalih i’tikaf10) Menjelang lebaran, di 10 malam terakhir jangan lupa mengejar lailatul qodar, jangan sampai waktu mencarinya kebanyakannya di mall atau di jalanan.Semoga Allah memudahkan kita semua mendapatkan ampunanNya di bulan yg mulia ini. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Waspada Selama Puasa Ramadhan!!

Selamat melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadhan, semoga dimudahkan berpuasa yg berkualitas, penuh dengan lantunan al-qur’an dan sholat malam serta sedekah.Waspadalah dengan hal-hal yg mengurangi kualitas puasa anda sehingga berkurang pahalanya atau sirna. Karenanya :1) Jauhi ghibah, karena ghibah akan menggugurkan pahala puasa anda, bahkan menurut segelintir ulama membatalkan puasa.Ghibah dijadikan lezat oleh syaitan, karenanya diantara perkara yg sangat menarik adalah menonton atau membaca berita ghibah. 2) Tundukan pandangan, agar pahala puasa anda tidak terkikis dengan aurot wanita yg terpajang di FB apalagi Youtube. 3) Waktu untuk ngenet jangan sampai lebih banyak daripada membaca al-Qur’an, sungguh ini adalah jebakan syaithan4) Jauhi menghabiskan waktu dengan menonton sinetron yg isinya banyak memamerkan aurot wanita dan melalaikan dari akhirat. Demikian juga ngabisin waktu dengan main game dan semisalnya yg tdk bermanfaat.5) Jauhi ngabuburit apalagi di jalanan sehingga pandangan tak bisa terjaga6) kurangi ngobrol dengan makhluk, banyakan porsi untuk membaca perkataan Rabb mu.Kebanyakan ngobrol dengan makhluk akan mengeraskan hati, adapun membaca firman Kholiq akan melembutkan dan membahagiakan hati.Jangan sampai anda menutup al-Qur’an karena bosan dengan firman Allah demi mendengar perkataan dan ngobrol dengan makhluk7) Perhatian terhadap dapur penting, tapi bukan yg terpenting, jangan sampai waktu terlalu banyak tersita untuk dapur sementara kehabisan waktu untuk ngaji al-Qur’an8) Semangat beribadah tatkala Ramadhan tapi hati-hati jangan sampai terjerumus dalam riya’ dan ujub karena menulis ibadah di status BB, FB, atau WA.Contoh (alhamdulillah sudah khatam Qur’an 5 kali), atau (Sedang i’tikaf mohon jangan mengganggu), atau (alhamdulillah sempat menyantuni anak yatim di bulan mulia ini), dll. Meskipun menyiarkan ibadah tidaklah haram, tetapi menutup pintu-puntu riya’ dan ujub lebih baik, kecuali untuk memotivasi.9) I’tikaf adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan ajang untuk ngobrol ngalur ngidul. Jangan sampai warung kopi pindah ke dalam mesjid dengan dalih i’tikaf10) Menjelang lebaran, di 10 malam terakhir jangan lupa mengejar lailatul qodar, jangan sampai waktu mencarinya kebanyakannya di mall atau di jalanan.Semoga Allah memudahkan kita semua mendapatkan ampunanNya di bulan yg mulia ini. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.
Selamat melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadhan, semoga dimudahkan berpuasa yg berkualitas, penuh dengan lantunan al-qur’an dan sholat malam serta sedekah.Waspadalah dengan hal-hal yg mengurangi kualitas puasa anda sehingga berkurang pahalanya atau sirna. Karenanya :1) Jauhi ghibah, karena ghibah akan menggugurkan pahala puasa anda, bahkan menurut segelintir ulama membatalkan puasa.Ghibah dijadikan lezat oleh syaitan, karenanya diantara perkara yg sangat menarik adalah menonton atau membaca berita ghibah. 2) Tundukan pandangan, agar pahala puasa anda tidak terkikis dengan aurot wanita yg terpajang di FB apalagi Youtube. 3) Waktu untuk ngenet jangan sampai lebih banyak daripada membaca al-Qur’an, sungguh ini adalah jebakan syaithan4) Jauhi menghabiskan waktu dengan menonton sinetron yg isinya banyak memamerkan aurot wanita dan melalaikan dari akhirat. Demikian juga ngabisin waktu dengan main game dan semisalnya yg tdk bermanfaat.5) Jauhi ngabuburit apalagi di jalanan sehingga pandangan tak bisa terjaga6) kurangi ngobrol dengan makhluk, banyakan porsi untuk membaca perkataan Rabb mu.Kebanyakan ngobrol dengan makhluk akan mengeraskan hati, adapun membaca firman Kholiq akan melembutkan dan membahagiakan hati.Jangan sampai anda menutup al-Qur’an karena bosan dengan firman Allah demi mendengar perkataan dan ngobrol dengan makhluk7) Perhatian terhadap dapur penting, tapi bukan yg terpenting, jangan sampai waktu terlalu banyak tersita untuk dapur sementara kehabisan waktu untuk ngaji al-Qur’an8) Semangat beribadah tatkala Ramadhan tapi hati-hati jangan sampai terjerumus dalam riya’ dan ujub karena menulis ibadah di status BB, FB, atau WA.Contoh (alhamdulillah sudah khatam Qur’an 5 kali), atau (Sedang i’tikaf mohon jangan mengganggu), atau (alhamdulillah sempat menyantuni anak yatim di bulan mulia ini), dll. Meskipun menyiarkan ibadah tidaklah haram, tetapi menutup pintu-puntu riya’ dan ujub lebih baik, kecuali untuk memotivasi.9) I’tikaf adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan ajang untuk ngobrol ngalur ngidul. Jangan sampai warung kopi pindah ke dalam mesjid dengan dalih i’tikaf10) Menjelang lebaran, di 10 malam terakhir jangan lupa mengejar lailatul qodar, jangan sampai waktu mencarinya kebanyakannya di mall atau di jalanan.Semoga Allah memudahkan kita semua mendapatkan ampunanNya di bulan yg mulia ini. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.


Selamat melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadhan, semoga dimudahkan berpuasa yg berkualitas, penuh dengan lantunan al-qur’an dan sholat malam serta sedekah.Waspadalah dengan hal-hal yg mengurangi kualitas puasa anda sehingga berkurang pahalanya atau sirna. Karenanya :1) Jauhi ghibah, karena ghibah akan menggugurkan pahala puasa anda, bahkan menurut segelintir ulama membatalkan puasa.Ghibah dijadikan lezat oleh syaitan, karenanya diantara perkara yg sangat menarik adalah menonton atau membaca berita ghibah. 2) Tundukan pandangan, agar pahala puasa anda tidak terkikis dengan aurot wanita yg terpajang di FB apalagi Youtube. 3) Waktu untuk ngenet jangan sampai lebih banyak daripada membaca al-Qur’an, sungguh ini adalah jebakan syaithan4) Jauhi menghabiskan waktu dengan menonton sinetron yg isinya banyak memamerkan aurot wanita dan melalaikan dari akhirat. Demikian juga ngabisin waktu dengan main game dan semisalnya yg tdk bermanfaat.5) Jauhi ngabuburit apalagi di jalanan sehingga pandangan tak bisa terjaga6) kurangi ngobrol dengan makhluk, banyakan porsi untuk membaca perkataan Rabb mu.Kebanyakan ngobrol dengan makhluk akan mengeraskan hati, adapun membaca firman Kholiq akan melembutkan dan membahagiakan hati.Jangan sampai anda menutup al-Qur’an karena bosan dengan firman Allah demi mendengar perkataan dan ngobrol dengan makhluk7) Perhatian terhadap dapur penting, tapi bukan yg terpenting, jangan sampai waktu terlalu banyak tersita untuk dapur sementara kehabisan waktu untuk ngaji al-Qur’an8) Semangat beribadah tatkala Ramadhan tapi hati-hati jangan sampai terjerumus dalam riya’ dan ujub karena menulis ibadah di status BB, FB, atau WA.Contoh (alhamdulillah sudah khatam Qur’an 5 kali), atau (Sedang i’tikaf mohon jangan mengganggu), atau (alhamdulillah sempat menyantuni anak yatim di bulan mulia ini), dll. Meskipun menyiarkan ibadah tidaklah haram, tetapi menutup pintu-puntu riya’ dan ujub lebih baik, kecuali untuk memotivasi.9) I’tikaf adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan ajang untuk ngobrol ngalur ngidul. Jangan sampai warung kopi pindah ke dalam mesjid dengan dalih i’tikaf10) Menjelang lebaran, di 10 malam terakhir jangan lupa mengejar lailatul qodar, jangan sampai waktu mencarinya kebanyakannya di mall atau di jalanan.Semoga Allah memudahkan kita semua mendapatkan ampunanNya di bulan yg mulia ini. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Merasa Harus Tampil

Banyak hasad dan pertikaian yang timbul diantara orang-orang yang sholeh yang giat dalam berdakwah dikarenakan “Merasa Harus Tampil“.Biarkanlah saudaramu yang tampil, tapi dukunglah ia dengan doa yang tulus di balik panggung, karena saudaramu sedang diuji dengan “tampil” tersebut.Bukan malah menikamnya dari belakang dengan ghibah dll.Kalau bisa beramal sholeh tanpa harus tampil kenapa tidak?, bukankah kita berusaha menempuh jalan yang paling selamat yang paling kurang beresiko?

Merasa Harus Tampil

Banyak hasad dan pertikaian yang timbul diantara orang-orang yang sholeh yang giat dalam berdakwah dikarenakan “Merasa Harus Tampil“.Biarkanlah saudaramu yang tampil, tapi dukunglah ia dengan doa yang tulus di balik panggung, karena saudaramu sedang diuji dengan “tampil” tersebut.Bukan malah menikamnya dari belakang dengan ghibah dll.Kalau bisa beramal sholeh tanpa harus tampil kenapa tidak?, bukankah kita berusaha menempuh jalan yang paling selamat yang paling kurang beresiko?
Banyak hasad dan pertikaian yang timbul diantara orang-orang yang sholeh yang giat dalam berdakwah dikarenakan “Merasa Harus Tampil“.Biarkanlah saudaramu yang tampil, tapi dukunglah ia dengan doa yang tulus di balik panggung, karena saudaramu sedang diuji dengan “tampil” tersebut.Bukan malah menikamnya dari belakang dengan ghibah dll.Kalau bisa beramal sholeh tanpa harus tampil kenapa tidak?, bukankah kita berusaha menempuh jalan yang paling selamat yang paling kurang beresiko?


Banyak hasad dan pertikaian yang timbul diantara orang-orang yang sholeh yang giat dalam berdakwah dikarenakan “Merasa Harus Tampil“.Biarkanlah saudaramu yang tampil, tapi dukunglah ia dengan doa yang tulus di balik panggung, karena saudaramu sedang diuji dengan “tampil” tersebut.Bukan malah menikamnya dari belakang dengan ghibah dll.Kalau bisa beramal sholeh tanpa harus tampil kenapa tidak?, bukankah kita berusaha menempuh jalan yang paling selamat yang paling kurang beresiko?

Tak Terkenaldi Bumi Namun Terkenal di Langit

Sungguh beruntung orang yang tidak terkenal dikalangan penghuni bumi akan tetapi ia masyhur di kalangan penghuni langit (malaikat).Tersohor di penduduk bumi :– Rentan menimbulkan riya’– menjadikan seseorang berusaha berbuat sesuai selera masyarakat dan perlu media demi menjaga ketenarannya– Kalau sampai bersalah maka aib pun ikut-ikutan tersohor Adapun tersohor diantara para penghuni langit maka :  – Akan selalu didoakan oleh mereka– Tidak perlu media untuk menyiarkan amalan sholeh, karena otomatis tercatat meskipun amalan dikerjakan di tengah malam gelap gulita di tengah terlelapnya penghuni bumi – kalau melakukan kesalahan maka tidak disebarkan bahkan dimohonkan ampunan oleh mereka kepada Allah (Lihat QS 40 :7-9)

Tak Terkenaldi Bumi Namun Terkenal di Langit

Sungguh beruntung orang yang tidak terkenal dikalangan penghuni bumi akan tetapi ia masyhur di kalangan penghuni langit (malaikat).Tersohor di penduduk bumi :– Rentan menimbulkan riya’– menjadikan seseorang berusaha berbuat sesuai selera masyarakat dan perlu media demi menjaga ketenarannya– Kalau sampai bersalah maka aib pun ikut-ikutan tersohor Adapun tersohor diantara para penghuni langit maka :  – Akan selalu didoakan oleh mereka– Tidak perlu media untuk menyiarkan amalan sholeh, karena otomatis tercatat meskipun amalan dikerjakan di tengah malam gelap gulita di tengah terlelapnya penghuni bumi – kalau melakukan kesalahan maka tidak disebarkan bahkan dimohonkan ampunan oleh mereka kepada Allah (Lihat QS 40 :7-9)
Sungguh beruntung orang yang tidak terkenal dikalangan penghuni bumi akan tetapi ia masyhur di kalangan penghuni langit (malaikat).Tersohor di penduduk bumi :– Rentan menimbulkan riya’– menjadikan seseorang berusaha berbuat sesuai selera masyarakat dan perlu media demi menjaga ketenarannya– Kalau sampai bersalah maka aib pun ikut-ikutan tersohor Adapun tersohor diantara para penghuni langit maka :  – Akan selalu didoakan oleh mereka– Tidak perlu media untuk menyiarkan amalan sholeh, karena otomatis tercatat meskipun amalan dikerjakan di tengah malam gelap gulita di tengah terlelapnya penghuni bumi – kalau melakukan kesalahan maka tidak disebarkan bahkan dimohonkan ampunan oleh mereka kepada Allah (Lihat QS 40 :7-9)


Sungguh beruntung orang yang tidak terkenal dikalangan penghuni bumi akan tetapi ia masyhur di kalangan penghuni langit (malaikat).Tersohor di penduduk bumi :– Rentan menimbulkan riya’– menjadikan seseorang berusaha berbuat sesuai selera masyarakat dan perlu media demi menjaga ketenarannya– Kalau sampai bersalah maka aib pun ikut-ikutan tersohor Adapun tersohor diantara para penghuni langit maka :  – Akan selalu didoakan oleh mereka– Tidak perlu media untuk menyiarkan amalan sholeh, karena otomatis tercatat meskipun amalan dikerjakan di tengah malam gelap gulita di tengah terlelapnya penghuni bumi – kalau melakukan kesalahan maka tidak disebarkan bahkan dimohonkan ampunan oleh mereka kepada Allah (Lihat QS 40 :7-9)

Faidah Fiqhiyah (Jual Beli) bag.1

Kaidah-kaidah tentang mudorobah syar’iyah– Modal/harta yang dijalankan oleh pekerja adalah harta amanah, karenanya jika timbul kerugian, maka si pekerja tidak menanggung kerugian tersebut. Jika sang pemodal rugi hartanya, maka si pekerja juga telah rugi kerjaannya dan keletihannya dalam mengolah modal. – Karena modal adalah harta amanah di tangan si pekerja, maka jika si pekerja tidak amanah dan teledor dalam menjalankan usaha dan mengolah modal maka iapun ikut menanggung kerugian. – Keuntungan dalam mudorobah tidak bisa ditentukan jumlahnya, akan tetapi bisa ditentukan dengan cara persenan dari hasil keuntungan dan dibagi persenan tersebut antara pemilik modal dengan si pekerja (dan persenan masing-masing terserah berapa saja tergantung kesepakatan kedua belah pihak).– Jaminan keuntungan (berapapun juga) dari pengolahan modal tidak boleh dibebankan kepada si pekerja. Karena jika dibebankan harus untung dari pekerja maka pada hakekatnya ini bukanlah mudorobah tapi “HUTANG BERBUNGA” ! (Dan inilah mudorobah ribawiyah yang sering diberi stempel syariah)– Boleh bagi si pekerja memperkirakan keuntungan, akan tetapi hanya sekedar perkiraan tanpa ada jaminan pasti untung, karena bisa jadi setelah menjalankan modal bisa saja untung dan bisa saja rugi, atau untungnya tidak sesuai dengan perkiraan

Faidah Fiqhiyah (Jual Beli) bag.1

Kaidah-kaidah tentang mudorobah syar’iyah– Modal/harta yang dijalankan oleh pekerja adalah harta amanah, karenanya jika timbul kerugian, maka si pekerja tidak menanggung kerugian tersebut. Jika sang pemodal rugi hartanya, maka si pekerja juga telah rugi kerjaannya dan keletihannya dalam mengolah modal. – Karena modal adalah harta amanah di tangan si pekerja, maka jika si pekerja tidak amanah dan teledor dalam menjalankan usaha dan mengolah modal maka iapun ikut menanggung kerugian. – Keuntungan dalam mudorobah tidak bisa ditentukan jumlahnya, akan tetapi bisa ditentukan dengan cara persenan dari hasil keuntungan dan dibagi persenan tersebut antara pemilik modal dengan si pekerja (dan persenan masing-masing terserah berapa saja tergantung kesepakatan kedua belah pihak).– Jaminan keuntungan (berapapun juga) dari pengolahan modal tidak boleh dibebankan kepada si pekerja. Karena jika dibebankan harus untung dari pekerja maka pada hakekatnya ini bukanlah mudorobah tapi “HUTANG BERBUNGA” ! (Dan inilah mudorobah ribawiyah yang sering diberi stempel syariah)– Boleh bagi si pekerja memperkirakan keuntungan, akan tetapi hanya sekedar perkiraan tanpa ada jaminan pasti untung, karena bisa jadi setelah menjalankan modal bisa saja untung dan bisa saja rugi, atau untungnya tidak sesuai dengan perkiraan
Kaidah-kaidah tentang mudorobah syar’iyah– Modal/harta yang dijalankan oleh pekerja adalah harta amanah, karenanya jika timbul kerugian, maka si pekerja tidak menanggung kerugian tersebut. Jika sang pemodal rugi hartanya, maka si pekerja juga telah rugi kerjaannya dan keletihannya dalam mengolah modal. – Karena modal adalah harta amanah di tangan si pekerja, maka jika si pekerja tidak amanah dan teledor dalam menjalankan usaha dan mengolah modal maka iapun ikut menanggung kerugian. – Keuntungan dalam mudorobah tidak bisa ditentukan jumlahnya, akan tetapi bisa ditentukan dengan cara persenan dari hasil keuntungan dan dibagi persenan tersebut antara pemilik modal dengan si pekerja (dan persenan masing-masing terserah berapa saja tergantung kesepakatan kedua belah pihak).– Jaminan keuntungan (berapapun juga) dari pengolahan modal tidak boleh dibebankan kepada si pekerja. Karena jika dibebankan harus untung dari pekerja maka pada hakekatnya ini bukanlah mudorobah tapi “HUTANG BERBUNGA” ! (Dan inilah mudorobah ribawiyah yang sering diberi stempel syariah)– Boleh bagi si pekerja memperkirakan keuntungan, akan tetapi hanya sekedar perkiraan tanpa ada jaminan pasti untung, karena bisa jadi setelah menjalankan modal bisa saja untung dan bisa saja rugi, atau untungnya tidak sesuai dengan perkiraan


Kaidah-kaidah tentang mudorobah syar’iyah– Modal/harta yang dijalankan oleh pekerja adalah harta amanah, karenanya jika timbul kerugian, maka si pekerja tidak menanggung kerugian tersebut. Jika sang pemodal rugi hartanya, maka si pekerja juga telah rugi kerjaannya dan keletihannya dalam mengolah modal. – Karena modal adalah harta amanah di tangan si pekerja, maka jika si pekerja tidak amanah dan teledor dalam menjalankan usaha dan mengolah modal maka iapun ikut menanggung kerugian. – Keuntungan dalam mudorobah tidak bisa ditentukan jumlahnya, akan tetapi bisa ditentukan dengan cara persenan dari hasil keuntungan dan dibagi persenan tersebut antara pemilik modal dengan si pekerja (dan persenan masing-masing terserah berapa saja tergantung kesepakatan kedua belah pihak).– Jaminan keuntungan (berapapun juga) dari pengolahan modal tidak boleh dibebankan kepada si pekerja. Karena jika dibebankan harus untung dari pekerja maka pada hakekatnya ini bukanlah mudorobah tapi “HUTANG BERBUNGA” ! (Dan inilah mudorobah ribawiyah yang sering diberi stempel syariah)– Boleh bagi si pekerja memperkirakan keuntungan, akan tetapi hanya sekedar perkiraan tanpa ada jaminan pasti untung, karena bisa jadi setelah menjalankan modal bisa saja untung dan bisa saja rugi, atau untungnya tidak sesuai dengan perkiraan

5 Amalan Pelebur Dosa di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan. Sampai-sampai dikatakan oleh para ulama, kalau tidak di bulan Ramadhan mendapatkan ampunan lantas di bulan mana lagi? Berikut disebutkan beberapa amalan yang bisa melebur dosa di bulan Ramadhan. 1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ “Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233) 2- Amalan puasa Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760) Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ “Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari no. 3586 dan Muslim no. 144) 3- Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759) 4- Menghidupkan shalat malam pada Lailatul Qadar Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan bahwa pengampunan dosa pada lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah usai. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 365-366) 5- Zakat fitrah Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 377) Kalau banyak ampunan seperti itu di bulan Ramadhan, seharusnya setiap yang keluar dari bulan Ramadhan keadaannya sebagaimana disebutkan oleh Muwarriq Al-‘Ijliy, يَرْجِعُ هَذَا اليَوْمَ قَوْمٌ كَمَا وَلدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ “Hari ini kembali suatu kaum sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 366). Artinya, mereka kembali bersih dari dosa. Sungguh sangat disayangkan jika keluar dari bulan Ramadhan tidak membawa ampunan apa-apa. Qatadah rahimahullah mengatakan, مَنْ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَلَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِيْمَا سِوَاهُ “Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain (di luar Ramadhan), ia pun akan sulit diampuni.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, فَلَمَّا كَثُرَتْ أَسْبَابُ المغْفِرَةِ فِي رَمَضَانَ كَانَ الَّذِي تَفُوْتُهُ المغْفِرَةُ فِيْهِ مَحْرُوْمًا غَايَةَ الحِرْمَانِ “Tatkala semakin banyak sebab mendapatkan pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapatkan pengampunan tersebut, sungguh dia benar-benar telah bernasib buruk.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Semoga bermanfaat sebelum mengawali bulan Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, menjelang Isya, 26 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan dosa besar

5 Amalan Pelebur Dosa di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan. Sampai-sampai dikatakan oleh para ulama, kalau tidak di bulan Ramadhan mendapatkan ampunan lantas di bulan mana lagi? Berikut disebutkan beberapa amalan yang bisa melebur dosa di bulan Ramadhan. 1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ “Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233) 2- Amalan puasa Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760) Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ “Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari no. 3586 dan Muslim no. 144) 3- Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759) 4- Menghidupkan shalat malam pada Lailatul Qadar Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan bahwa pengampunan dosa pada lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah usai. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 365-366) 5- Zakat fitrah Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 377) Kalau banyak ampunan seperti itu di bulan Ramadhan, seharusnya setiap yang keluar dari bulan Ramadhan keadaannya sebagaimana disebutkan oleh Muwarriq Al-‘Ijliy, يَرْجِعُ هَذَا اليَوْمَ قَوْمٌ كَمَا وَلدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ “Hari ini kembali suatu kaum sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 366). Artinya, mereka kembali bersih dari dosa. Sungguh sangat disayangkan jika keluar dari bulan Ramadhan tidak membawa ampunan apa-apa. Qatadah rahimahullah mengatakan, مَنْ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَلَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِيْمَا سِوَاهُ “Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain (di luar Ramadhan), ia pun akan sulit diampuni.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, فَلَمَّا كَثُرَتْ أَسْبَابُ المغْفِرَةِ فِي رَمَضَانَ كَانَ الَّذِي تَفُوْتُهُ المغْفِرَةُ فِيْهِ مَحْرُوْمًا غَايَةَ الحِرْمَانِ “Tatkala semakin banyak sebab mendapatkan pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapatkan pengampunan tersebut, sungguh dia benar-benar telah bernasib buruk.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Semoga bermanfaat sebelum mengawali bulan Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, menjelang Isya, 26 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan dosa besar
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan. Sampai-sampai dikatakan oleh para ulama, kalau tidak di bulan Ramadhan mendapatkan ampunan lantas di bulan mana lagi? Berikut disebutkan beberapa amalan yang bisa melebur dosa di bulan Ramadhan. 1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ “Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233) 2- Amalan puasa Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760) Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ “Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari no. 3586 dan Muslim no. 144) 3- Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759) 4- Menghidupkan shalat malam pada Lailatul Qadar Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan bahwa pengampunan dosa pada lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah usai. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 365-366) 5- Zakat fitrah Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 377) Kalau banyak ampunan seperti itu di bulan Ramadhan, seharusnya setiap yang keluar dari bulan Ramadhan keadaannya sebagaimana disebutkan oleh Muwarriq Al-‘Ijliy, يَرْجِعُ هَذَا اليَوْمَ قَوْمٌ كَمَا وَلدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ “Hari ini kembali suatu kaum sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 366). Artinya, mereka kembali bersih dari dosa. Sungguh sangat disayangkan jika keluar dari bulan Ramadhan tidak membawa ampunan apa-apa. Qatadah rahimahullah mengatakan, مَنْ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَلَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِيْمَا سِوَاهُ “Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain (di luar Ramadhan), ia pun akan sulit diampuni.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, فَلَمَّا كَثُرَتْ أَسْبَابُ المغْفِرَةِ فِي رَمَضَانَ كَانَ الَّذِي تَفُوْتُهُ المغْفِرَةُ فِيْهِ مَحْرُوْمًا غَايَةَ الحِرْمَانِ “Tatkala semakin banyak sebab mendapatkan pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapatkan pengampunan tersebut, sungguh dia benar-benar telah bernasib buruk.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Semoga bermanfaat sebelum mengawali bulan Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, menjelang Isya, 26 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan dosa besar


Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan. Sampai-sampai dikatakan oleh para ulama, kalau tidak di bulan Ramadhan mendapatkan ampunan lantas di bulan mana lagi? Berikut disebutkan beberapa amalan yang bisa melebur dosa di bulan Ramadhan. 1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ “Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233) 2- Amalan puasa Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760) Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ “Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari no. 3586 dan Muslim no. 144) 3- Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759) 4- Menghidupkan shalat malam pada Lailatul Qadar Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan bahwa pengampunan dosa pada lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah usai. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 365-366) 5- Zakat fitrah Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 377) Kalau banyak ampunan seperti itu di bulan Ramadhan, seharusnya setiap yang keluar dari bulan Ramadhan keadaannya sebagaimana disebutkan oleh Muwarriq Al-‘Ijliy, يَرْجِعُ هَذَا اليَوْمَ قَوْمٌ كَمَا وَلدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ “Hari ini kembali suatu kaum sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 366). Artinya, mereka kembali bersih dari dosa. Sungguh sangat disayangkan jika keluar dari bulan Ramadhan tidak membawa ampunan apa-apa. Qatadah rahimahullah mengatakan, مَنْ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَلَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِيْمَا سِوَاهُ “Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain (di luar Ramadhan), ia pun akan sulit diampuni.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, فَلَمَّا كَثُرَتْ أَسْبَابُ المغْفِرَةِ فِي رَمَضَانَ كَانَ الَّذِي تَفُوْتُهُ المغْفِرَةُ فِيْهِ مَحْرُوْمًا غَايَةَ الحِرْمَانِ “Tatkala semakin banyak sebab mendapatkan pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapatkan pengampunan tersebut, sungguh dia benar-benar telah bernasib buruk.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Semoga bermanfaat sebelum mengawali bulan Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, menjelang Isya, 26 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan dosa besar

Menjadi Yang Terbaik

Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 25/8/1436H – 13/6/2015MOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullohKhutbah PertamaAl-Khoir (kebaikan) adalah sebuah kata yang mencakup segala yang dimanfaatkan oleh manusia, dan kebaikan berada di tangan Allah Yang menguasai Kerajaan. Allah berfirman :قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٦)Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut Kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron : 26)Seluruh kebaikan yang diperoleh dari sisi para hamba kalau bukan karena Allah yang memberikan mereka kemampuan untuk meraihnya dan membimbing mereka maka mereka tidak akan mampu meraihnya. Mengerjakan kebajikan adalah tugas para nabi dan merupakan ciri orang-orang yang beruntung. Allah berfirman :وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (٧٣)Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah (QS Al-Anbiyaa : 73)Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيِرَاتِ وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ“Ya Allah aku memohon kepadamu untuk mengerjakan kebajikan dan meninggalkan kemunkaran” (HR At-Thirmidzi)Dan perbuatan kebajikan mengantarkan kepada istiqomahnya kehidupan individu dan masyarakat. Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَHai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS Al-Hajj : 77)Seorang mukmin janganlah meremehkan kebaikan sedikit dan sekecil apapun. Allah ta’ala berfirman :فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧)Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. (QS Az-Zalzalah : 7)Dan sesungguhnya kita umat Islam –bagaimanapun kondisi kita- adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan bagi manusia. Keterbaikan ini bukanlah bentuk fanatik kesukuan bukan pula karena untuk kebangsaan tertentu tanpa kebangsaan yang lainnya. Allah berfirman :كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِKamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imron : 110)Diantara tanda-tanda keterbaikan adalah amar ma’ruf dan nahi munkar. Kalau seandainya dilipat hamparannya, ditinggalkan ilmunya dan penerapannya, maka akan tersebar kesesatan, beredar kebodohan, negeri akan rusak, dan manusia akan binasa.Keterbaikan senantiasa menyertai seorang mukmin dalam segala kondisinya jika imannya sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda :“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah baik, dan hal ini tidak berlaku kecuali kepada seorang mukmin. Jika ia merasakan kesenangan maka ia bersyukur maka ini yang terbaik baginya, dan jika ia ditimpa kesulitan maka iapun bersabar, dan inilah yang terbaik baginya” (HR Muslim).Seorang mukmin akan meraih keterbaikan melalui mempelajari al-Qur’an da mengajarkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Al-Bukhari)Hal ini memotivasi seorang muslim untuk mendorong putra putrinya untuk mempelajari al-Qur’an di halaqoh-halaqoh Al-Qur’an, mendidik mereka untuk mencintai kitab Rabb mereka untuk menimba dari sumber airnya  yang tidak akan pernah kering. Maka seluruh kebaikan dan keterbaikan ada pada al-Qur’an, agar mereka bahagia di dunia sebelum di akhirat.          Seorang muslim meraih keterbaikan dengan menuntut ilmu syar’i dan mendalaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah memahamkannya agama”Ilmu merupakan perkara yang harus ada dalam kebangkitan umat dan pembangunan peradaban, serta pengembangan masyarakat dan memajukannya ke arah masa depan yang cemerlang.          Diantara keterbaikan adalah mengagungkan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah. Allah berfirman :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِDemikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah (QS Al-Hajj : 30)Dan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah adalah hak-hak Allah ta’ala. dan menjalankan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Termasuk mengagungkan syiar-syiar Allah yang terkait dengan waktu ialah menghormati bulan Ramadhan. Termasuk mengagungkan hal-hal yang dimuliakan Allah ialah tidak menganggap remeh dosa-dosa kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فإنهن يحتمعن على الرجل حتى يهلكنه ))Janganlah kalian anggap remeh dosa-dosa kecil, sebab dosa-dosa kecil tersebut terkumpul pada diri seseorang, hingga membinasakannya  (HR. Ahmad)Keterbaikan juga ada pada seorang mukmin yang kuat fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كلٍّ خيرٌ ))Orang mukmin yang berbadan kuat lebih baik dan lebih disenangi Allah dari pada orang mukmin yang lemah, namun demikian masing-masing mempunyai kebaikan.Maka seharusnya orang mukmin memiliki kekuatan fisik dan kekuatan dalam membela kebenaran.Termasuk keterbaikan ialah berhias diri dengan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خِيَارَكُمْ أَحَسنُكُمْ أَخْلاَقًا المُوَطّئوْنَ أكتافًا ))( Orang-orang pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya serta yang membentangkan bahunya ). Artinya orang yang baik mudah bergaul, rendah hati sehingga orang lain merasa nyaman bersahabat dengannya dan tidak terganggu.Termasuk keterbaikan adalah membayar hutang dengan baik.   Dari Abu Hurairah r.a. berkata :(( كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِنٌّ مِنَ الإِبِلِ، فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَطَلَبُوا سِنَّهُ، فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلَّا سِنًّا فَوْقَهَا، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَقَالَ: أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللَّهُ بِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً ))Ada seorang lelaki menghutangkan seekor unta dengan umur tertentu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lelaki itu datang kepada beliau untuk menagihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “berikanlah hak orang ini “ maka para sahabat mencarikan unta yang seumur dengan unta yang beliau pinjam, hanya saja mereka tidak menemukannya kecuali unta yang umurnya di atasnya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “serahkanlah kepadanya”. Lelaki itu lalu berkata : “Engkau telah memenuhi hakku secara sempurna, semoga saja Allah memenuhi hakmu”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Sesungguhnya orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya).Di antara amal kebajikan ialah memberi manfaat kepada sesama dan melayani mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُ النّاسِ أنْفَعُهُمْ لِلنّاسِ ))( Sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain ) HR Thabrani. Memberi manfaat kepada siapapun manusia; termasuk didalamnya menyenangkan hati sesama kaum muslimin, dengan berkunjung dan memberi hadiah, memuliakan anak-anaknya, memberikan makanan dan menghilangkan penderitaan kaum muslimin.Diantara keterbaikan orang-orang pilihan ialah diharapkan dari mereka kebaikan dan tidak dikhawatirkan ada gangguan dari mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ  )).( Sebaik-baik kalian ialah orang yang bisa diharapkan kebaikannya dan tidak dikawatirkan keburukannya. Sedangkan seburuk-buruk kalian ialah orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan dikawatirkan keburukannya ) HR Turmudzi.Salah satu ciri-ciri sifat keterbaikan adalah bersih hati dan jujur perkataan. Allah Ta’ala berfirman :فَإِذَا عَزَمَ الأمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ (٢١)Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS Muhammad : 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya : Siapakah orang yang paling baik ? Beliau menjawab :ذُوْ الْقَلْبِ الْمَخْمُوْمِ وَاللِّسَانِ الصَّادِقِ“ Orang yang berhati bersih dan tutur kata yang benar “  HR Ibnu Majah.Tentu suatu pekerjaan yang memerlukan perjuangan kuat untuk membersihkan hati itu dari kecenderungan-kecenderungan berbuat zalim, dengki dan hasud. Alangkah banyak terkotornya hari dengan sifat-sifat buruk ini !Bersegera berbuat kebajikan, tidak merasa berat, bermalas-malas menjalankannya merupakan ciri khas orang-orang yang shalih. Allah Ta’ala berfirman :((  وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  ))( Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan ) Qs Al-Baqarah : 148Tanda kebajikan orang-orang pilihan ialah kearifan dan keseimbangan dalam berpikir. Allah Ta’ala berfirman :يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (٢٦٩)Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al-Baqoroh : 269)Hikmah ialah kemampuan dalam membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kebajikan dengan keburukan serta kemampuan bekerja secara profesional.Nilai keterbaikan dapat diraih melalui cinta kepada kebajikan dengan kesungguhan niat dalam memperolehnya. Allah Ta’ala berfirman :((  إِنْ يَعْلَم اللهُ فِي قُلُوبكُمْ خَيْرًا يُؤْتكُمْ خَيْرًا ))( Jika sekiranya Allah mengetahui dihati kalian ada kebaikan, tentu Ia memberikan kepada kalian kebaikan )Maka, sesuai dengan kadar tulusnya niat akan diraih anugerah Allah.Keterbaikan dapat diraih pula dengan bertaubat. Firman Allah Ta’ala :(( فَإنْ يَتوْبُوْا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ))( Jikalau mereka bertaubat, maka yang demikian itu suatu kebaikan bagi mereka )Keterbaikan pun dapat diperoleh dengan cara menunjukkan tentang kebaikan dan medan-medan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ دَلّ عَلَى خيْرٍ فلَهُ مِثْل أجْر فَاعِلِه ))( Barang siapa yang menunjukkan ke arah kebajikan, maka dia mendapatkan pahalah seperti yang diraih pelakunya ). HR. MuslimKeterbaikan dapat pula diperoleh dengan berlaku adil terhadap manusia lain. Firman Allah :وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٣٥)Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs Al-Isroo’ : 35)Keterbaikan dapat diperoleh pula dengan bersedekah. Firman Allah Ta’ala :وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٨٠)Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqoroh : 280)Termasuk tanda-tanda keterbaikan, usia panjang disertai amal perbuatan yang baik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. secara marfu’ :(( ألا أخبركم بخياركم ؟ قالوا بلى يا رسول الله ، قال ” أطولكم أعمارا وأحسنكم أخلاقا ))( Maukah kamu aku beritahu tentang orang-orang pilihan di antara kamu ? Mereka menjawab : Tentu Ya Rasulallah ! Beliau bersabda : “Orang yang paling panjang usianya di antara kamu dan yang paling baik akhlaknya” ) HR Al-Hakim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya.Diantara tanda keterbaikan seorang lelaki adalah baiknya dia memperlakukan keluarganya. Dari Aisya r.a. berkata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي  ))(Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan akupun yang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku ) HR At-Turmudzi dan Ibnu Majah.Diantara tanda keterbaikan pada seorang wanita ialah kesungguhannya menjaga kehormatannya.Allah Ta’ala berfirman :وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٦٠)( Dan bahwa mereka [ wanita-wanita ] itu menjaga diri mereka akan lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ) (QS An-Nuur : 60)Selendang kehormatan merupakan lambang terjaganya kesucian wanita bila dibarengi dengan upaya menjauhkan diri dari terbukanya aurat, bersolek,   sikap kebebasan dan penyimpangan.Tanda-tanda keterbaikan bagi para penguasa ialah kecintaan rakyat kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ))( Orang-orang pilihan dari pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan merekanpun mencitai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalianpun mendoakan mereka. Sedangkan orang-orang yang jahat dari pemimpin kalian ialah mereka yang kalian benci dan merekapun membenci kalian. Kalian mengutuk mereka dan merekapun mengutuk kalian ) HR MuslimTermasuk peluang emas untuk mengembangkan kebajikan yang banyak dalam jiwa dan kehidupan ialah bulan Ramadhan yang penuh berkah yang kilauan kilatannya dan pancaran bulan sabitnya sebentar lagi akan terlihat. Bulan yang dapat memulihkan kembali kejernihan hati setelah tercoreng oleh kotoran dunia, menormalkan kembali keindahan jiwa setelah berlumuran dengan berbagai kesibukan hidup, mensucikan kembali hati nurani setelah sempat tercemar oleh kotoran-kotoran fitnah. Inilah momentum untuk meraih kebajikan; di dalamnya ada Lailatul-Qadar yang nilainya lebih baik dari pada seribu bulan.تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤)سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥) ( Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ) Qs Al-Qadr : 4-5Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu )((  مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa yang beribadah malam bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ) HR Bukhari dan Muslim فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي( Sesungguhnya umrah pada bulan ramadhan setara pahala haji, atau seperti menunaikan haji bersamaku)((  كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ  ))Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dermawan tatkala Ramadhan, dan beliau dalam melakkan kebaikan lebih cepat dari pada angin yang meniup dengan lepas (HR Bukhari dan Muslim). Khutbah KeduaDiantara keterbaikan; adalah penjagaan para pahlawan para mujahidin di daerah perbatasan. Mereka menghadapi musuh dengan gigih dan menghalangi musuhi. Mereka punya tekat yang kuat dengan jiwa yang optimis akan kemenangan yang dekat.Bulan Ramadhan bulan kepahlawanan, mengandung nilai-nilai kejayaan dan kemenangan. Bulan ini dalam sejarah sarat dengan peristiwa yang telah merubah perjalanan kehidupan. Dalam bulan ramadhan terjadi perang Badar, penaklukan Mekah, perang Yarmuk dan Al-Qadisiyah, Hithin dan Ain Jalut dll.Para pejuang yang gagah berani berdiri tegak sebagai pembela agama dan tanah air dan harga diri di benteng-benteng perbatasan untuk menumpas para agresor dan menumbangkan orang-orang yang zalim serta menyerang markas-markas antek-antek asing yang berkhianat. Sejarah akan mengabadikan jasa-jasa mereka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَBerjaga di daerah perbatasan sehari semalam nilainya lebih baik dari pada puasa sebulan lengkap dengan qiyamu-lailnya. Jika dia gugur, maka pahala amal baiknya yang pernah dilakukan akan terus mengalir dan rezekinya pun tetap berjalan serta aman dari fitnah kubur(( كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ ))Setiap mayat telah tutup pahala amalnya kecuali seseorang yang mati karena menjaga daerah perbatasan di jalan Allah. Sesungguhnya amal baktinya terus dikembangkan hingga hari kiamat dan dia aman dari fitnah kubur (HR. At-Tirmidzi)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Menjadi Yang Terbaik

Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 25/8/1436H – 13/6/2015MOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullohKhutbah PertamaAl-Khoir (kebaikan) adalah sebuah kata yang mencakup segala yang dimanfaatkan oleh manusia, dan kebaikan berada di tangan Allah Yang menguasai Kerajaan. Allah berfirman :قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٦)Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut Kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron : 26)Seluruh kebaikan yang diperoleh dari sisi para hamba kalau bukan karena Allah yang memberikan mereka kemampuan untuk meraihnya dan membimbing mereka maka mereka tidak akan mampu meraihnya. Mengerjakan kebajikan adalah tugas para nabi dan merupakan ciri orang-orang yang beruntung. Allah berfirman :وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (٧٣)Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah (QS Al-Anbiyaa : 73)Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيِرَاتِ وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ“Ya Allah aku memohon kepadamu untuk mengerjakan kebajikan dan meninggalkan kemunkaran” (HR At-Thirmidzi)Dan perbuatan kebajikan mengantarkan kepada istiqomahnya kehidupan individu dan masyarakat. Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَHai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS Al-Hajj : 77)Seorang mukmin janganlah meremehkan kebaikan sedikit dan sekecil apapun. Allah ta’ala berfirman :فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧)Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. (QS Az-Zalzalah : 7)Dan sesungguhnya kita umat Islam –bagaimanapun kondisi kita- adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan bagi manusia. Keterbaikan ini bukanlah bentuk fanatik kesukuan bukan pula karena untuk kebangsaan tertentu tanpa kebangsaan yang lainnya. Allah berfirman :كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِKamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imron : 110)Diantara tanda-tanda keterbaikan adalah amar ma’ruf dan nahi munkar. Kalau seandainya dilipat hamparannya, ditinggalkan ilmunya dan penerapannya, maka akan tersebar kesesatan, beredar kebodohan, negeri akan rusak, dan manusia akan binasa.Keterbaikan senantiasa menyertai seorang mukmin dalam segala kondisinya jika imannya sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda :“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah baik, dan hal ini tidak berlaku kecuali kepada seorang mukmin. Jika ia merasakan kesenangan maka ia bersyukur maka ini yang terbaik baginya, dan jika ia ditimpa kesulitan maka iapun bersabar, dan inilah yang terbaik baginya” (HR Muslim).Seorang mukmin akan meraih keterbaikan melalui mempelajari al-Qur’an da mengajarkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Al-Bukhari)Hal ini memotivasi seorang muslim untuk mendorong putra putrinya untuk mempelajari al-Qur’an di halaqoh-halaqoh Al-Qur’an, mendidik mereka untuk mencintai kitab Rabb mereka untuk menimba dari sumber airnya  yang tidak akan pernah kering. Maka seluruh kebaikan dan keterbaikan ada pada al-Qur’an, agar mereka bahagia di dunia sebelum di akhirat.          Seorang muslim meraih keterbaikan dengan menuntut ilmu syar’i dan mendalaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah memahamkannya agama”Ilmu merupakan perkara yang harus ada dalam kebangkitan umat dan pembangunan peradaban, serta pengembangan masyarakat dan memajukannya ke arah masa depan yang cemerlang.          Diantara keterbaikan adalah mengagungkan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah. Allah berfirman :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِDemikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah (QS Al-Hajj : 30)Dan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah adalah hak-hak Allah ta’ala. dan menjalankan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Termasuk mengagungkan syiar-syiar Allah yang terkait dengan waktu ialah menghormati bulan Ramadhan. Termasuk mengagungkan hal-hal yang dimuliakan Allah ialah tidak menganggap remeh dosa-dosa kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فإنهن يحتمعن على الرجل حتى يهلكنه ))Janganlah kalian anggap remeh dosa-dosa kecil, sebab dosa-dosa kecil tersebut terkumpul pada diri seseorang, hingga membinasakannya  (HR. Ahmad)Keterbaikan juga ada pada seorang mukmin yang kuat fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كلٍّ خيرٌ ))Orang mukmin yang berbadan kuat lebih baik dan lebih disenangi Allah dari pada orang mukmin yang lemah, namun demikian masing-masing mempunyai kebaikan.Maka seharusnya orang mukmin memiliki kekuatan fisik dan kekuatan dalam membela kebenaran.Termasuk keterbaikan ialah berhias diri dengan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خِيَارَكُمْ أَحَسنُكُمْ أَخْلاَقًا المُوَطّئوْنَ أكتافًا ))( Orang-orang pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya serta yang membentangkan bahunya ). Artinya orang yang baik mudah bergaul, rendah hati sehingga orang lain merasa nyaman bersahabat dengannya dan tidak terganggu.Termasuk keterbaikan adalah membayar hutang dengan baik.   Dari Abu Hurairah r.a. berkata :(( كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِنٌّ مِنَ الإِبِلِ، فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَطَلَبُوا سِنَّهُ، فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلَّا سِنًّا فَوْقَهَا، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَقَالَ: أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللَّهُ بِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً ))Ada seorang lelaki menghutangkan seekor unta dengan umur tertentu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lelaki itu datang kepada beliau untuk menagihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “berikanlah hak orang ini “ maka para sahabat mencarikan unta yang seumur dengan unta yang beliau pinjam, hanya saja mereka tidak menemukannya kecuali unta yang umurnya di atasnya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “serahkanlah kepadanya”. Lelaki itu lalu berkata : “Engkau telah memenuhi hakku secara sempurna, semoga saja Allah memenuhi hakmu”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Sesungguhnya orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya).Di antara amal kebajikan ialah memberi manfaat kepada sesama dan melayani mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُ النّاسِ أنْفَعُهُمْ لِلنّاسِ ))( Sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain ) HR Thabrani. Memberi manfaat kepada siapapun manusia; termasuk didalamnya menyenangkan hati sesama kaum muslimin, dengan berkunjung dan memberi hadiah, memuliakan anak-anaknya, memberikan makanan dan menghilangkan penderitaan kaum muslimin.Diantara keterbaikan orang-orang pilihan ialah diharapkan dari mereka kebaikan dan tidak dikhawatirkan ada gangguan dari mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ  )).( Sebaik-baik kalian ialah orang yang bisa diharapkan kebaikannya dan tidak dikawatirkan keburukannya. Sedangkan seburuk-buruk kalian ialah orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan dikawatirkan keburukannya ) HR Turmudzi.Salah satu ciri-ciri sifat keterbaikan adalah bersih hati dan jujur perkataan. Allah Ta’ala berfirman :فَإِذَا عَزَمَ الأمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ (٢١)Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS Muhammad : 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya : Siapakah orang yang paling baik ? Beliau menjawab :ذُوْ الْقَلْبِ الْمَخْمُوْمِ وَاللِّسَانِ الصَّادِقِ“ Orang yang berhati bersih dan tutur kata yang benar “  HR Ibnu Majah.Tentu suatu pekerjaan yang memerlukan perjuangan kuat untuk membersihkan hati itu dari kecenderungan-kecenderungan berbuat zalim, dengki dan hasud. Alangkah banyak terkotornya hari dengan sifat-sifat buruk ini !Bersegera berbuat kebajikan, tidak merasa berat, bermalas-malas menjalankannya merupakan ciri khas orang-orang yang shalih. Allah Ta’ala berfirman :((  وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  ))( Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan ) Qs Al-Baqarah : 148Tanda kebajikan orang-orang pilihan ialah kearifan dan keseimbangan dalam berpikir. Allah Ta’ala berfirman :يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (٢٦٩)Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al-Baqoroh : 269)Hikmah ialah kemampuan dalam membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kebajikan dengan keburukan serta kemampuan bekerja secara profesional.Nilai keterbaikan dapat diraih melalui cinta kepada kebajikan dengan kesungguhan niat dalam memperolehnya. Allah Ta’ala berfirman :((  إِنْ يَعْلَم اللهُ فِي قُلُوبكُمْ خَيْرًا يُؤْتكُمْ خَيْرًا ))( Jika sekiranya Allah mengetahui dihati kalian ada kebaikan, tentu Ia memberikan kepada kalian kebaikan )Maka, sesuai dengan kadar tulusnya niat akan diraih anugerah Allah.Keterbaikan dapat diraih pula dengan bertaubat. Firman Allah Ta’ala :(( فَإنْ يَتوْبُوْا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ))( Jikalau mereka bertaubat, maka yang demikian itu suatu kebaikan bagi mereka )Keterbaikan pun dapat diperoleh dengan cara menunjukkan tentang kebaikan dan medan-medan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ دَلّ عَلَى خيْرٍ فلَهُ مِثْل أجْر فَاعِلِه ))( Barang siapa yang menunjukkan ke arah kebajikan, maka dia mendapatkan pahalah seperti yang diraih pelakunya ). HR. MuslimKeterbaikan dapat pula diperoleh dengan berlaku adil terhadap manusia lain. Firman Allah :وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٣٥)Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs Al-Isroo’ : 35)Keterbaikan dapat diperoleh pula dengan bersedekah. Firman Allah Ta’ala :وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٨٠)Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqoroh : 280)Termasuk tanda-tanda keterbaikan, usia panjang disertai amal perbuatan yang baik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. secara marfu’ :(( ألا أخبركم بخياركم ؟ قالوا بلى يا رسول الله ، قال ” أطولكم أعمارا وأحسنكم أخلاقا ))( Maukah kamu aku beritahu tentang orang-orang pilihan di antara kamu ? Mereka menjawab : Tentu Ya Rasulallah ! Beliau bersabda : “Orang yang paling panjang usianya di antara kamu dan yang paling baik akhlaknya” ) HR Al-Hakim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya.Diantara tanda keterbaikan seorang lelaki adalah baiknya dia memperlakukan keluarganya. Dari Aisya r.a. berkata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي  ))(Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan akupun yang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku ) HR At-Turmudzi dan Ibnu Majah.Diantara tanda keterbaikan pada seorang wanita ialah kesungguhannya menjaga kehormatannya.Allah Ta’ala berfirman :وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٦٠)( Dan bahwa mereka [ wanita-wanita ] itu menjaga diri mereka akan lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ) (QS An-Nuur : 60)Selendang kehormatan merupakan lambang terjaganya kesucian wanita bila dibarengi dengan upaya menjauhkan diri dari terbukanya aurat, bersolek,   sikap kebebasan dan penyimpangan.Tanda-tanda keterbaikan bagi para penguasa ialah kecintaan rakyat kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ))( Orang-orang pilihan dari pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan merekanpun mencitai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalianpun mendoakan mereka. Sedangkan orang-orang yang jahat dari pemimpin kalian ialah mereka yang kalian benci dan merekapun membenci kalian. Kalian mengutuk mereka dan merekapun mengutuk kalian ) HR MuslimTermasuk peluang emas untuk mengembangkan kebajikan yang banyak dalam jiwa dan kehidupan ialah bulan Ramadhan yang penuh berkah yang kilauan kilatannya dan pancaran bulan sabitnya sebentar lagi akan terlihat. Bulan yang dapat memulihkan kembali kejernihan hati setelah tercoreng oleh kotoran dunia, menormalkan kembali keindahan jiwa setelah berlumuran dengan berbagai kesibukan hidup, mensucikan kembali hati nurani setelah sempat tercemar oleh kotoran-kotoran fitnah. Inilah momentum untuk meraih kebajikan; di dalamnya ada Lailatul-Qadar yang nilainya lebih baik dari pada seribu bulan.تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤)سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥) ( Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ) Qs Al-Qadr : 4-5Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu )((  مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa yang beribadah malam bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ) HR Bukhari dan Muslim فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي( Sesungguhnya umrah pada bulan ramadhan setara pahala haji, atau seperti menunaikan haji bersamaku)((  كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ  ))Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dermawan tatkala Ramadhan, dan beliau dalam melakkan kebaikan lebih cepat dari pada angin yang meniup dengan lepas (HR Bukhari dan Muslim). Khutbah KeduaDiantara keterbaikan; adalah penjagaan para pahlawan para mujahidin di daerah perbatasan. Mereka menghadapi musuh dengan gigih dan menghalangi musuhi. Mereka punya tekat yang kuat dengan jiwa yang optimis akan kemenangan yang dekat.Bulan Ramadhan bulan kepahlawanan, mengandung nilai-nilai kejayaan dan kemenangan. Bulan ini dalam sejarah sarat dengan peristiwa yang telah merubah perjalanan kehidupan. Dalam bulan ramadhan terjadi perang Badar, penaklukan Mekah, perang Yarmuk dan Al-Qadisiyah, Hithin dan Ain Jalut dll.Para pejuang yang gagah berani berdiri tegak sebagai pembela agama dan tanah air dan harga diri di benteng-benteng perbatasan untuk menumpas para agresor dan menumbangkan orang-orang yang zalim serta menyerang markas-markas antek-antek asing yang berkhianat. Sejarah akan mengabadikan jasa-jasa mereka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَBerjaga di daerah perbatasan sehari semalam nilainya lebih baik dari pada puasa sebulan lengkap dengan qiyamu-lailnya. Jika dia gugur, maka pahala amal baiknya yang pernah dilakukan akan terus mengalir dan rezekinya pun tetap berjalan serta aman dari fitnah kubur(( كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ ))Setiap mayat telah tutup pahala amalnya kecuali seseorang yang mati karena menjaga daerah perbatasan di jalan Allah. Sesungguhnya amal baktinya terus dikembangkan hingga hari kiamat dan dia aman dari fitnah kubur (HR. At-Tirmidzi)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 25/8/1436H – 13/6/2015MOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullohKhutbah PertamaAl-Khoir (kebaikan) adalah sebuah kata yang mencakup segala yang dimanfaatkan oleh manusia, dan kebaikan berada di tangan Allah Yang menguasai Kerajaan. Allah berfirman :قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٦)Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut Kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron : 26)Seluruh kebaikan yang diperoleh dari sisi para hamba kalau bukan karena Allah yang memberikan mereka kemampuan untuk meraihnya dan membimbing mereka maka mereka tidak akan mampu meraihnya. Mengerjakan kebajikan adalah tugas para nabi dan merupakan ciri orang-orang yang beruntung. Allah berfirman :وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (٧٣)Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah (QS Al-Anbiyaa : 73)Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيِرَاتِ وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ“Ya Allah aku memohon kepadamu untuk mengerjakan kebajikan dan meninggalkan kemunkaran” (HR At-Thirmidzi)Dan perbuatan kebajikan mengantarkan kepada istiqomahnya kehidupan individu dan masyarakat. Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَHai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS Al-Hajj : 77)Seorang mukmin janganlah meremehkan kebaikan sedikit dan sekecil apapun. Allah ta’ala berfirman :فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧)Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. (QS Az-Zalzalah : 7)Dan sesungguhnya kita umat Islam –bagaimanapun kondisi kita- adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan bagi manusia. Keterbaikan ini bukanlah bentuk fanatik kesukuan bukan pula karena untuk kebangsaan tertentu tanpa kebangsaan yang lainnya. Allah berfirman :كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِKamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imron : 110)Diantara tanda-tanda keterbaikan adalah amar ma’ruf dan nahi munkar. Kalau seandainya dilipat hamparannya, ditinggalkan ilmunya dan penerapannya, maka akan tersebar kesesatan, beredar kebodohan, negeri akan rusak, dan manusia akan binasa.Keterbaikan senantiasa menyertai seorang mukmin dalam segala kondisinya jika imannya sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda :“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah baik, dan hal ini tidak berlaku kecuali kepada seorang mukmin. Jika ia merasakan kesenangan maka ia bersyukur maka ini yang terbaik baginya, dan jika ia ditimpa kesulitan maka iapun bersabar, dan inilah yang terbaik baginya” (HR Muslim).Seorang mukmin akan meraih keterbaikan melalui mempelajari al-Qur’an da mengajarkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Al-Bukhari)Hal ini memotivasi seorang muslim untuk mendorong putra putrinya untuk mempelajari al-Qur’an di halaqoh-halaqoh Al-Qur’an, mendidik mereka untuk mencintai kitab Rabb mereka untuk menimba dari sumber airnya  yang tidak akan pernah kering. Maka seluruh kebaikan dan keterbaikan ada pada al-Qur’an, agar mereka bahagia di dunia sebelum di akhirat.          Seorang muslim meraih keterbaikan dengan menuntut ilmu syar’i dan mendalaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah memahamkannya agama”Ilmu merupakan perkara yang harus ada dalam kebangkitan umat dan pembangunan peradaban, serta pengembangan masyarakat dan memajukannya ke arah masa depan yang cemerlang.          Diantara keterbaikan adalah mengagungkan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah. Allah berfirman :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِDemikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah (QS Al-Hajj : 30)Dan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah adalah hak-hak Allah ta’ala. dan menjalankan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Termasuk mengagungkan syiar-syiar Allah yang terkait dengan waktu ialah menghormati bulan Ramadhan. Termasuk mengagungkan hal-hal yang dimuliakan Allah ialah tidak menganggap remeh dosa-dosa kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فإنهن يحتمعن على الرجل حتى يهلكنه ))Janganlah kalian anggap remeh dosa-dosa kecil, sebab dosa-dosa kecil tersebut terkumpul pada diri seseorang, hingga membinasakannya  (HR. Ahmad)Keterbaikan juga ada pada seorang mukmin yang kuat fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كلٍّ خيرٌ ))Orang mukmin yang berbadan kuat lebih baik dan lebih disenangi Allah dari pada orang mukmin yang lemah, namun demikian masing-masing mempunyai kebaikan.Maka seharusnya orang mukmin memiliki kekuatan fisik dan kekuatan dalam membela kebenaran.Termasuk keterbaikan ialah berhias diri dengan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خِيَارَكُمْ أَحَسنُكُمْ أَخْلاَقًا المُوَطّئوْنَ أكتافًا ))( Orang-orang pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya serta yang membentangkan bahunya ). Artinya orang yang baik mudah bergaul, rendah hati sehingga orang lain merasa nyaman bersahabat dengannya dan tidak terganggu.Termasuk keterbaikan adalah membayar hutang dengan baik.   Dari Abu Hurairah r.a. berkata :(( كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِنٌّ مِنَ الإِبِلِ، فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَطَلَبُوا سِنَّهُ، فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلَّا سِنًّا فَوْقَهَا، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَقَالَ: أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللَّهُ بِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً ))Ada seorang lelaki menghutangkan seekor unta dengan umur tertentu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lelaki itu datang kepada beliau untuk menagihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “berikanlah hak orang ini “ maka para sahabat mencarikan unta yang seumur dengan unta yang beliau pinjam, hanya saja mereka tidak menemukannya kecuali unta yang umurnya di atasnya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “serahkanlah kepadanya”. Lelaki itu lalu berkata : “Engkau telah memenuhi hakku secara sempurna, semoga saja Allah memenuhi hakmu”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Sesungguhnya orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya).Di antara amal kebajikan ialah memberi manfaat kepada sesama dan melayani mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُ النّاسِ أنْفَعُهُمْ لِلنّاسِ ))( Sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain ) HR Thabrani. Memberi manfaat kepada siapapun manusia; termasuk didalamnya menyenangkan hati sesama kaum muslimin, dengan berkunjung dan memberi hadiah, memuliakan anak-anaknya, memberikan makanan dan menghilangkan penderitaan kaum muslimin.Diantara keterbaikan orang-orang pilihan ialah diharapkan dari mereka kebaikan dan tidak dikhawatirkan ada gangguan dari mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ  )).( Sebaik-baik kalian ialah orang yang bisa diharapkan kebaikannya dan tidak dikawatirkan keburukannya. Sedangkan seburuk-buruk kalian ialah orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan dikawatirkan keburukannya ) HR Turmudzi.Salah satu ciri-ciri sifat keterbaikan adalah bersih hati dan jujur perkataan. Allah Ta’ala berfirman :فَإِذَا عَزَمَ الأمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ (٢١)Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS Muhammad : 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya : Siapakah orang yang paling baik ? Beliau menjawab :ذُوْ الْقَلْبِ الْمَخْمُوْمِ وَاللِّسَانِ الصَّادِقِ“ Orang yang berhati bersih dan tutur kata yang benar “  HR Ibnu Majah.Tentu suatu pekerjaan yang memerlukan perjuangan kuat untuk membersihkan hati itu dari kecenderungan-kecenderungan berbuat zalim, dengki dan hasud. Alangkah banyak terkotornya hari dengan sifat-sifat buruk ini !Bersegera berbuat kebajikan, tidak merasa berat, bermalas-malas menjalankannya merupakan ciri khas orang-orang yang shalih. Allah Ta’ala berfirman :((  وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  ))( Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan ) Qs Al-Baqarah : 148Tanda kebajikan orang-orang pilihan ialah kearifan dan keseimbangan dalam berpikir. Allah Ta’ala berfirman :يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (٢٦٩)Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al-Baqoroh : 269)Hikmah ialah kemampuan dalam membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kebajikan dengan keburukan serta kemampuan bekerja secara profesional.Nilai keterbaikan dapat diraih melalui cinta kepada kebajikan dengan kesungguhan niat dalam memperolehnya. Allah Ta’ala berfirman :((  إِنْ يَعْلَم اللهُ فِي قُلُوبكُمْ خَيْرًا يُؤْتكُمْ خَيْرًا ))( Jika sekiranya Allah mengetahui dihati kalian ada kebaikan, tentu Ia memberikan kepada kalian kebaikan )Maka, sesuai dengan kadar tulusnya niat akan diraih anugerah Allah.Keterbaikan dapat diraih pula dengan bertaubat. Firman Allah Ta’ala :(( فَإنْ يَتوْبُوْا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ))( Jikalau mereka bertaubat, maka yang demikian itu suatu kebaikan bagi mereka )Keterbaikan pun dapat diperoleh dengan cara menunjukkan tentang kebaikan dan medan-medan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ دَلّ عَلَى خيْرٍ فلَهُ مِثْل أجْر فَاعِلِه ))( Barang siapa yang menunjukkan ke arah kebajikan, maka dia mendapatkan pahalah seperti yang diraih pelakunya ). HR. MuslimKeterbaikan dapat pula diperoleh dengan berlaku adil terhadap manusia lain. Firman Allah :وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٣٥)Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs Al-Isroo’ : 35)Keterbaikan dapat diperoleh pula dengan bersedekah. Firman Allah Ta’ala :وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٨٠)Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqoroh : 280)Termasuk tanda-tanda keterbaikan, usia panjang disertai amal perbuatan yang baik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. secara marfu’ :(( ألا أخبركم بخياركم ؟ قالوا بلى يا رسول الله ، قال ” أطولكم أعمارا وأحسنكم أخلاقا ))( Maukah kamu aku beritahu tentang orang-orang pilihan di antara kamu ? Mereka menjawab : Tentu Ya Rasulallah ! Beliau bersabda : “Orang yang paling panjang usianya di antara kamu dan yang paling baik akhlaknya” ) HR Al-Hakim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya.Diantara tanda keterbaikan seorang lelaki adalah baiknya dia memperlakukan keluarganya. Dari Aisya r.a. berkata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي  ))(Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan akupun yang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku ) HR At-Turmudzi dan Ibnu Majah.Diantara tanda keterbaikan pada seorang wanita ialah kesungguhannya menjaga kehormatannya.Allah Ta’ala berfirman :وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٦٠)( Dan bahwa mereka [ wanita-wanita ] itu menjaga diri mereka akan lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ) (QS An-Nuur : 60)Selendang kehormatan merupakan lambang terjaganya kesucian wanita bila dibarengi dengan upaya menjauhkan diri dari terbukanya aurat, bersolek,   sikap kebebasan dan penyimpangan.Tanda-tanda keterbaikan bagi para penguasa ialah kecintaan rakyat kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ))( Orang-orang pilihan dari pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan merekanpun mencitai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalianpun mendoakan mereka. Sedangkan orang-orang yang jahat dari pemimpin kalian ialah mereka yang kalian benci dan merekapun membenci kalian. Kalian mengutuk mereka dan merekapun mengutuk kalian ) HR MuslimTermasuk peluang emas untuk mengembangkan kebajikan yang banyak dalam jiwa dan kehidupan ialah bulan Ramadhan yang penuh berkah yang kilauan kilatannya dan pancaran bulan sabitnya sebentar lagi akan terlihat. Bulan yang dapat memulihkan kembali kejernihan hati setelah tercoreng oleh kotoran dunia, menormalkan kembali keindahan jiwa setelah berlumuran dengan berbagai kesibukan hidup, mensucikan kembali hati nurani setelah sempat tercemar oleh kotoran-kotoran fitnah. Inilah momentum untuk meraih kebajikan; di dalamnya ada Lailatul-Qadar yang nilainya lebih baik dari pada seribu bulan.تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤)سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥) ( Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ) Qs Al-Qadr : 4-5Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu )((  مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa yang beribadah malam bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ) HR Bukhari dan Muslim فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي( Sesungguhnya umrah pada bulan ramadhan setara pahala haji, atau seperti menunaikan haji bersamaku)((  كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ  ))Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dermawan tatkala Ramadhan, dan beliau dalam melakkan kebaikan lebih cepat dari pada angin yang meniup dengan lepas (HR Bukhari dan Muslim). Khutbah KeduaDiantara keterbaikan; adalah penjagaan para pahlawan para mujahidin di daerah perbatasan. Mereka menghadapi musuh dengan gigih dan menghalangi musuhi. Mereka punya tekat yang kuat dengan jiwa yang optimis akan kemenangan yang dekat.Bulan Ramadhan bulan kepahlawanan, mengandung nilai-nilai kejayaan dan kemenangan. Bulan ini dalam sejarah sarat dengan peristiwa yang telah merubah perjalanan kehidupan. Dalam bulan ramadhan terjadi perang Badar, penaklukan Mekah, perang Yarmuk dan Al-Qadisiyah, Hithin dan Ain Jalut dll.Para pejuang yang gagah berani berdiri tegak sebagai pembela agama dan tanah air dan harga diri di benteng-benteng perbatasan untuk menumpas para agresor dan menumbangkan orang-orang yang zalim serta menyerang markas-markas antek-antek asing yang berkhianat. Sejarah akan mengabadikan jasa-jasa mereka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَBerjaga di daerah perbatasan sehari semalam nilainya lebih baik dari pada puasa sebulan lengkap dengan qiyamu-lailnya. Jika dia gugur, maka pahala amal baiknya yang pernah dilakukan akan terus mengalir dan rezekinya pun tetap berjalan serta aman dari fitnah kubur(( كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ ))Setiap mayat telah tutup pahala amalnya kecuali seseorang yang mati karena menjaga daerah perbatasan di jalan Allah. Sesungguhnya amal baktinya terus dikembangkan hingga hari kiamat dan dia aman dari fitnah kubur (HR. At-Tirmidzi)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 25/8/1436H – 13/6/2015MOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullohKhutbah PertamaAl-Khoir (kebaikan) adalah sebuah kata yang mencakup segala yang dimanfaatkan oleh manusia, dan kebaikan berada di tangan Allah Yang menguasai Kerajaan. Allah berfirman :قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٦)Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut Kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron : 26)Seluruh kebaikan yang diperoleh dari sisi para hamba kalau bukan karena Allah yang memberikan mereka kemampuan untuk meraihnya dan membimbing mereka maka mereka tidak akan mampu meraihnya. Mengerjakan kebajikan adalah tugas para nabi dan merupakan ciri orang-orang yang beruntung. Allah berfirman :وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (٧٣)Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah (QS Al-Anbiyaa : 73)Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيِرَاتِ وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ“Ya Allah aku memohon kepadamu untuk mengerjakan kebajikan dan meninggalkan kemunkaran” (HR At-Thirmidzi)Dan perbuatan kebajikan mengantarkan kepada istiqomahnya kehidupan individu dan masyarakat. Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَHai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS Al-Hajj : 77)Seorang mukmin janganlah meremehkan kebaikan sedikit dan sekecil apapun. Allah ta’ala berfirman :فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧)Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. (QS Az-Zalzalah : 7)Dan sesungguhnya kita umat Islam –bagaimanapun kondisi kita- adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan bagi manusia. Keterbaikan ini bukanlah bentuk fanatik kesukuan bukan pula karena untuk kebangsaan tertentu tanpa kebangsaan yang lainnya. Allah berfirman :كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِKamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imron : 110)Diantara tanda-tanda keterbaikan adalah amar ma’ruf dan nahi munkar. Kalau seandainya dilipat hamparannya, ditinggalkan ilmunya dan penerapannya, maka akan tersebar kesesatan, beredar kebodohan, negeri akan rusak, dan manusia akan binasa.Keterbaikan senantiasa menyertai seorang mukmin dalam segala kondisinya jika imannya sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda :“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah baik, dan hal ini tidak berlaku kecuali kepada seorang mukmin. Jika ia merasakan kesenangan maka ia bersyukur maka ini yang terbaik baginya, dan jika ia ditimpa kesulitan maka iapun bersabar, dan inilah yang terbaik baginya” (HR Muslim).Seorang mukmin akan meraih keterbaikan melalui mempelajari al-Qur’an da mengajarkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Al-Bukhari)Hal ini memotivasi seorang muslim untuk mendorong putra putrinya untuk mempelajari al-Qur’an di halaqoh-halaqoh Al-Qur’an, mendidik mereka untuk mencintai kitab Rabb mereka untuk menimba dari sumber airnya  yang tidak akan pernah kering. Maka seluruh kebaikan dan keterbaikan ada pada al-Qur’an, agar mereka bahagia di dunia sebelum di akhirat.          Seorang muslim meraih keterbaikan dengan menuntut ilmu syar’i dan mendalaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah memahamkannya agama”Ilmu merupakan perkara yang harus ada dalam kebangkitan umat dan pembangunan peradaban, serta pengembangan masyarakat dan memajukannya ke arah masa depan yang cemerlang.          Diantara keterbaikan adalah mengagungkan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah. Allah berfirman :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِDemikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah (QS Al-Hajj : 30)Dan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah adalah hak-hak Allah ta’ala. dan menjalankan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Termasuk mengagungkan syiar-syiar Allah yang terkait dengan waktu ialah menghormati bulan Ramadhan. Termasuk mengagungkan hal-hal yang dimuliakan Allah ialah tidak menganggap remeh dosa-dosa kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فإنهن يحتمعن على الرجل حتى يهلكنه ))Janganlah kalian anggap remeh dosa-dosa kecil, sebab dosa-dosa kecil tersebut terkumpul pada diri seseorang, hingga membinasakannya  (HR. Ahmad)Keterbaikan juga ada pada seorang mukmin yang kuat fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كلٍّ خيرٌ ))Orang mukmin yang berbadan kuat lebih baik dan lebih disenangi Allah dari pada orang mukmin yang lemah, namun demikian masing-masing mempunyai kebaikan.Maka seharusnya orang mukmin memiliki kekuatan fisik dan kekuatan dalam membela kebenaran.Termasuk keterbaikan ialah berhias diri dengan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خِيَارَكُمْ أَحَسنُكُمْ أَخْلاَقًا المُوَطّئوْنَ أكتافًا ))( Orang-orang pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya serta yang membentangkan bahunya ). Artinya orang yang baik mudah bergaul, rendah hati sehingga orang lain merasa nyaman bersahabat dengannya dan tidak terganggu.Termasuk keterbaikan adalah membayar hutang dengan baik.   Dari Abu Hurairah r.a. berkata :(( كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِنٌّ مِنَ الإِبِلِ، فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَطَلَبُوا سِنَّهُ، فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلَّا سِنًّا فَوْقَهَا، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَقَالَ: أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللَّهُ بِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً ))Ada seorang lelaki menghutangkan seekor unta dengan umur tertentu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lelaki itu datang kepada beliau untuk menagihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “berikanlah hak orang ini “ maka para sahabat mencarikan unta yang seumur dengan unta yang beliau pinjam, hanya saja mereka tidak menemukannya kecuali unta yang umurnya di atasnya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “serahkanlah kepadanya”. Lelaki itu lalu berkata : “Engkau telah memenuhi hakku secara sempurna, semoga saja Allah memenuhi hakmu”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Sesungguhnya orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya).Di antara amal kebajikan ialah memberi manfaat kepada sesama dan melayani mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُ النّاسِ أنْفَعُهُمْ لِلنّاسِ ))( Sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain ) HR Thabrani. Memberi manfaat kepada siapapun manusia; termasuk didalamnya menyenangkan hati sesama kaum muslimin, dengan berkunjung dan memberi hadiah, memuliakan anak-anaknya, memberikan makanan dan menghilangkan penderitaan kaum muslimin.Diantara keterbaikan orang-orang pilihan ialah diharapkan dari mereka kebaikan dan tidak dikhawatirkan ada gangguan dari mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ  )).( Sebaik-baik kalian ialah orang yang bisa diharapkan kebaikannya dan tidak dikawatirkan keburukannya. Sedangkan seburuk-buruk kalian ialah orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan dikawatirkan keburukannya ) HR Turmudzi.Salah satu ciri-ciri sifat keterbaikan adalah bersih hati dan jujur perkataan. Allah Ta’ala berfirman :فَإِذَا عَزَمَ الأمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ (٢١)Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS Muhammad : 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya : Siapakah orang yang paling baik ? Beliau menjawab :ذُوْ الْقَلْبِ الْمَخْمُوْمِ وَاللِّسَانِ الصَّادِقِ“ Orang yang berhati bersih dan tutur kata yang benar “  HR Ibnu Majah.Tentu suatu pekerjaan yang memerlukan perjuangan kuat untuk membersihkan hati itu dari kecenderungan-kecenderungan berbuat zalim, dengki dan hasud. Alangkah banyak terkotornya hari dengan sifat-sifat buruk ini !Bersegera berbuat kebajikan, tidak merasa berat, bermalas-malas menjalankannya merupakan ciri khas orang-orang yang shalih. Allah Ta’ala berfirman :((  وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  ))( Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan ) Qs Al-Baqarah : 148Tanda kebajikan orang-orang pilihan ialah kearifan dan keseimbangan dalam berpikir. Allah Ta’ala berfirman :يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (٢٦٩)Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al-Baqoroh : 269)Hikmah ialah kemampuan dalam membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kebajikan dengan keburukan serta kemampuan bekerja secara profesional.Nilai keterbaikan dapat diraih melalui cinta kepada kebajikan dengan kesungguhan niat dalam memperolehnya. Allah Ta’ala berfirman :((  إِنْ يَعْلَم اللهُ فِي قُلُوبكُمْ خَيْرًا يُؤْتكُمْ خَيْرًا ))( Jika sekiranya Allah mengetahui dihati kalian ada kebaikan, tentu Ia memberikan kepada kalian kebaikan )Maka, sesuai dengan kadar tulusnya niat akan diraih anugerah Allah.Keterbaikan dapat diraih pula dengan bertaubat. Firman Allah Ta’ala :(( فَإنْ يَتوْبُوْا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ))( Jikalau mereka bertaubat, maka yang demikian itu suatu kebaikan bagi mereka )Keterbaikan pun dapat diperoleh dengan cara menunjukkan tentang kebaikan dan medan-medan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ دَلّ عَلَى خيْرٍ فلَهُ مِثْل أجْر فَاعِلِه ))( Barang siapa yang menunjukkan ke arah kebajikan, maka dia mendapatkan pahalah seperti yang diraih pelakunya ). HR. MuslimKeterbaikan dapat pula diperoleh dengan berlaku adil terhadap manusia lain. Firman Allah :وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٣٥)Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs Al-Isroo’ : 35)Keterbaikan dapat diperoleh pula dengan bersedekah. Firman Allah Ta’ala :وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٨٠)Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqoroh : 280)Termasuk tanda-tanda keterbaikan, usia panjang disertai amal perbuatan yang baik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. secara marfu’ :(( ألا أخبركم بخياركم ؟ قالوا بلى يا رسول الله ، قال ” أطولكم أعمارا وأحسنكم أخلاقا ))( Maukah kamu aku beritahu tentang orang-orang pilihan di antara kamu ? Mereka menjawab : Tentu Ya Rasulallah ! Beliau bersabda : “Orang yang paling panjang usianya di antara kamu dan yang paling baik akhlaknya” ) HR Al-Hakim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya.Diantara tanda keterbaikan seorang lelaki adalah baiknya dia memperlakukan keluarganya. Dari Aisya r.a. berkata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي  ))(Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan akupun yang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku ) HR At-Turmudzi dan Ibnu Majah.Diantara tanda keterbaikan pada seorang wanita ialah kesungguhannya menjaga kehormatannya.Allah Ta’ala berfirman :وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٦٠)( Dan bahwa mereka [ wanita-wanita ] itu menjaga diri mereka akan lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ) (QS An-Nuur : 60)Selendang kehormatan merupakan lambang terjaganya kesucian wanita bila dibarengi dengan upaya menjauhkan diri dari terbukanya aurat, bersolek,   sikap kebebasan dan penyimpangan.Tanda-tanda keterbaikan bagi para penguasa ialah kecintaan rakyat kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ))( Orang-orang pilihan dari pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan merekanpun mencitai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalianpun mendoakan mereka. Sedangkan orang-orang yang jahat dari pemimpin kalian ialah mereka yang kalian benci dan merekapun membenci kalian. Kalian mengutuk mereka dan merekapun mengutuk kalian ) HR MuslimTermasuk peluang emas untuk mengembangkan kebajikan yang banyak dalam jiwa dan kehidupan ialah bulan Ramadhan yang penuh berkah yang kilauan kilatannya dan pancaran bulan sabitnya sebentar lagi akan terlihat. Bulan yang dapat memulihkan kembali kejernihan hati setelah tercoreng oleh kotoran dunia, menormalkan kembali keindahan jiwa setelah berlumuran dengan berbagai kesibukan hidup, mensucikan kembali hati nurani setelah sempat tercemar oleh kotoran-kotoran fitnah. Inilah momentum untuk meraih kebajikan; di dalamnya ada Lailatul-Qadar yang nilainya lebih baik dari pada seribu bulan.تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤)سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥) ( Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ) Qs Al-Qadr : 4-5Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu )((  مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa yang beribadah malam bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ) HR Bukhari dan Muslim فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي( Sesungguhnya umrah pada bulan ramadhan setara pahala haji, atau seperti menunaikan haji bersamaku)((  كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ  ))Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dermawan tatkala Ramadhan, dan beliau dalam melakkan kebaikan lebih cepat dari pada angin yang meniup dengan lepas (HR Bukhari dan Muslim). Khutbah KeduaDiantara keterbaikan; adalah penjagaan para pahlawan para mujahidin di daerah perbatasan. Mereka menghadapi musuh dengan gigih dan menghalangi musuhi. Mereka punya tekat yang kuat dengan jiwa yang optimis akan kemenangan yang dekat.Bulan Ramadhan bulan kepahlawanan, mengandung nilai-nilai kejayaan dan kemenangan. Bulan ini dalam sejarah sarat dengan peristiwa yang telah merubah perjalanan kehidupan. Dalam bulan ramadhan terjadi perang Badar, penaklukan Mekah, perang Yarmuk dan Al-Qadisiyah, Hithin dan Ain Jalut dll.Para pejuang yang gagah berani berdiri tegak sebagai pembela agama dan tanah air dan harga diri di benteng-benteng perbatasan untuk menumpas para agresor dan menumbangkan orang-orang yang zalim serta menyerang markas-markas antek-antek asing yang berkhianat. Sejarah akan mengabadikan jasa-jasa mereka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَBerjaga di daerah perbatasan sehari semalam nilainya lebih baik dari pada puasa sebulan lengkap dengan qiyamu-lailnya. Jika dia gugur, maka pahala amal baiknya yang pernah dilakukan akan terus mengalir dan rezekinya pun tetap berjalan serta aman dari fitnah kubur(( كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ ))Setiap mayat telah tutup pahala amalnya kecuali seseorang yang mati karena menjaga daerah perbatasan di jalan Allah. Sesungguhnya amal baktinya terus dikembangkan hingga hari kiamat dan dia aman dari fitnah kubur (HR. At-Tirmidzi)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Kajian Umum: Fiqih Perceraian

Selain mempelajari fiqih pernikahan, kita mempelajari fiqih perceraian, tentu bukan dimaksudkan menginginkan terjadinya perceraian. Namun justru untuk menjaga kita agar tidak sembarangan dalam melakukan perceraian.Dan jikalau memang karena maslahat terjadi perceraian, agar pihak yang satu tidak mendzalimi pihak yang lain.Bagaimana sebenarnya Fiqih Perceraian itu? Simak Kajian Umum, Fiqih Perceraian bersama Ustadz Firanda Andirja, MA.Semoga bermanfaat.Video http://yufid.tv (Klik link untuk melihat koleksi video lainnya)

Kajian Umum: Fiqih Perceraian

Selain mempelajari fiqih pernikahan, kita mempelajari fiqih perceraian, tentu bukan dimaksudkan menginginkan terjadinya perceraian. Namun justru untuk menjaga kita agar tidak sembarangan dalam melakukan perceraian.Dan jikalau memang karena maslahat terjadi perceraian, agar pihak yang satu tidak mendzalimi pihak yang lain.Bagaimana sebenarnya Fiqih Perceraian itu? Simak Kajian Umum, Fiqih Perceraian bersama Ustadz Firanda Andirja, MA.Semoga bermanfaat.Video http://yufid.tv (Klik link untuk melihat koleksi video lainnya)
Selain mempelajari fiqih pernikahan, kita mempelajari fiqih perceraian, tentu bukan dimaksudkan menginginkan terjadinya perceraian. Namun justru untuk menjaga kita agar tidak sembarangan dalam melakukan perceraian.Dan jikalau memang karena maslahat terjadi perceraian, agar pihak yang satu tidak mendzalimi pihak yang lain.Bagaimana sebenarnya Fiqih Perceraian itu? Simak Kajian Umum, Fiqih Perceraian bersama Ustadz Firanda Andirja, MA.Semoga bermanfaat.Video http://yufid.tv (Klik link untuk melihat koleksi video lainnya)


Selain mempelajari fiqih pernikahan, kita mempelajari fiqih perceraian, tentu bukan dimaksudkan menginginkan terjadinya perceraian. Namun justru untuk menjaga kita agar tidak sembarangan dalam melakukan perceraian.Dan jikalau memang karena maslahat terjadi perceraian, agar pihak yang satu tidak mendzalimi pihak yang lain.Bagaimana sebenarnya Fiqih Perceraian itu? Simak Kajian Umum, Fiqih Perceraian bersama Ustadz Firanda Andirja, MA.Semoga bermanfaat.Video http://yufid.tv (Klik link untuk melihat koleksi video lainnya)

Istri Tercipta dari Tulang Rusuk maka…

Jika istri tercipta dari tulang rusuk maka :1) janganlah menjadikannya sbg tulang punggung2) janganlah kau menghayal ia akan lurus, krn tulang rusuk hanya menjalankan fungsinya sbg tulang rusuk jika ia tetap bengkok, kalau lurus maka bukan tulang rusuk namanya, maka terimalah dan bersabarlah akan kebengkokannya 3) tulang rusuk harus dijaga karena rawan patah, ia tertutup dibalik dadamu yg kokoh4) tulang rusuk adalah pelengkap dirimu, maka ia adalah partner kehidupanmu, jangan kau menjauhkannya dari kehidupanmu5) jika tulang rusuk sakit dan terluka maka semestinya kaupun ikut merasakan penderitaan

Istri Tercipta dari Tulang Rusuk maka…

Jika istri tercipta dari tulang rusuk maka :1) janganlah menjadikannya sbg tulang punggung2) janganlah kau menghayal ia akan lurus, krn tulang rusuk hanya menjalankan fungsinya sbg tulang rusuk jika ia tetap bengkok, kalau lurus maka bukan tulang rusuk namanya, maka terimalah dan bersabarlah akan kebengkokannya 3) tulang rusuk harus dijaga karena rawan patah, ia tertutup dibalik dadamu yg kokoh4) tulang rusuk adalah pelengkap dirimu, maka ia adalah partner kehidupanmu, jangan kau menjauhkannya dari kehidupanmu5) jika tulang rusuk sakit dan terluka maka semestinya kaupun ikut merasakan penderitaan
Jika istri tercipta dari tulang rusuk maka :1) janganlah menjadikannya sbg tulang punggung2) janganlah kau menghayal ia akan lurus, krn tulang rusuk hanya menjalankan fungsinya sbg tulang rusuk jika ia tetap bengkok, kalau lurus maka bukan tulang rusuk namanya, maka terimalah dan bersabarlah akan kebengkokannya 3) tulang rusuk harus dijaga karena rawan patah, ia tertutup dibalik dadamu yg kokoh4) tulang rusuk adalah pelengkap dirimu, maka ia adalah partner kehidupanmu, jangan kau menjauhkannya dari kehidupanmu5) jika tulang rusuk sakit dan terluka maka semestinya kaupun ikut merasakan penderitaan


Jika istri tercipta dari tulang rusuk maka :1) janganlah menjadikannya sbg tulang punggung2) janganlah kau menghayal ia akan lurus, krn tulang rusuk hanya menjalankan fungsinya sbg tulang rusuk jika ia tetap bengkok, kalau lurus maka bukan tulang rusuk namanya, maka terimalah dan bersabarlah akan kebengkokannya 3) tulang rusuk harus dijaga karena rawan patah, ia tertutup dibalik dadamu yg kokoh4) tulang rusuk adalah pelengkap dirimu, maka ia adalah partner kehidupanmu, jangan kau menjauhkannya dari kehidupanmu5) jika tulang rusuk sakit dan terluka maka semestinya kaupun ikut merasakan penderitaan
Prev     Next