Video Islamic Parenting: Ayah, Ibu.. Bawa Kami ke Surga (Bagian 2)

Video Islamic Parenting: Ayah, Ibu.. Bawa Kami ke Surga (Bagian 2) – Ustadz Firanda Andirja, M.A.Rekaman pengajian dan ceramah agama Islam yang mengangkat tema tentang pendidikan anak. Dalam ceramah parenting Islami yang dilaksanakan dalam dua sesi ini, Ustadz Firanda Andirja sebagai pemateri menjelaskan tentang kiat-kiat mencetak generasi yang shalih dan shalihah. Dijelaskan pula bagaimana seharusnya orang tua bersikap terhadap anak-anaknya sebagai upaya menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi buah hati tercinta dan orang tua sebagai guru yang menuntun buah hati hingga ke Surga. Temukan berbagai penjelasan menarik dan juga dialog seputar tema pendidikan anak ini dalam video kajian bertajuk Ayah, Ibu… Bawa Kami ke Surga yang diselenggarakan di Masjid PUSDAI Jawa Barat pada 20 Januari 2015. Semoga video Islamic Parenting ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin, khususnya para orang tua dan calon orang tua yang mendambakan lahirnya anak-anak yang sholeh dan sholehah.Video Islamic Parenting bagian Pertama: http://youtu.be/D55WqCIsOAA

Video Islamic Parenting: Ayah, Ibu.. Bawa Kami ke Surga (Bagian 2)

Video Islamic Parenting: Ayah, Ibu.. Bawa Kami ke Surga (Bagian 2) – Ustadz Firanda Andirja, M.A.Rekaman pengajian dan ceramah agama Islam yang mengangkat tema tentang pendidikan anak. Dalam ceramah parenting Islami yang dilaksanakan dalam dua sesi ini, Ustadz Firanda Andirja sebagai pemateri menjelaskan tentang kiat-kiat mencetak generasi yang shalih dan shalihah. Dijelaskan pula bagaimana seharusnya orang tua bersikap terhadap anak-anaknya sebagai upaya menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi buah hati tercinta dan orang tua sebagai guru yang menuntun buah hati hingga ke Surga. Temukan berbagai penjelasan menarik dan juga dialog seputar tema pendidikan anak ini dalam video kajian bertajuk Ayah, Ibu… Bawa Kami ke Surga yang diselenggarakan di Masjid PUSDAI Jawa Barat pada 20 Januari 2015. Semoga video Islamic Parenting ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin, khususnya para orang tua dan calon orang tua yang mendambakan lahirnya anak-anak yang sholeh dan sholehah.Video Islamic Parenting bagian Pertama: http://youtu.be/D55WqCIsOAA
Video Islamic Parenting: Ayah, Ibu.. Bawa Kami ke Surga (Bagian 2) – Ustadz Firanda Andirja, M.A.Rekaman pengajian dan ceramah agama Islam yang mengangkat tema tentang pendidikan anak. Dalam ceramah parenting Islami yang dilaksanakan dalam dua sesi ini, Ustadz Firanda Andirja sebagai pemateri menjelaskan tentang kiat-kiat mencetak generasi yang shalih dan shalihah. Dijelaskan pula bagaimana seharusnya orang tua bersikap terhadap anak-anaknya sebagai upaya menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi buah hati tercinta dan orang tua sebagai guru yang menuntun buah hati hingga ke Surga. Temukan berbagai penjelasan menarik dan juga dialog seputar tema pendidikan anak ini dalam video kajian bertajuk Ayah, Ibu… Bawa Kami ke Surga yang diselenggarakan di Masjid PUSDAI Jawa Barat pada 20 Januari 2015. Semoga video Islamic Parenting ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin, khususnya para orang tua dan calon orang tua yang mendambakan lahirnya anak-anak yang sholeh dan sholehah.Video Islamic Parenting bagian Pertama: http://youtu.be/D55WqCIsOAA


Video Islamic Parenting: Ayah, Ibu.. Bawa Kami ke Surga (Bagian 2) – Ustadz Firanda Andirja, M.A.Rekaman pengajian dan ceramah agama Islam yang mengangkat tema tentang pendidikan anak. Dalam ceramah parenting Islami yang dilaksanakan dalam dua sesi ini, Ustadz Firanda Andirja sebagai pemateri menjelaskan tentang kiat-kiat mencetak generasi yang shalih dan shalihah. Dijelaskan pula bagaimana seharusnya orang tua bersikap terhadap anak-anaknya sebagai upaya menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi buah hati tercinta dan orang tua sebagai guru yang menuntun buah hati hingga ke Surga. Temukan berbagai penjelasan menarik dan juga dialog seputar tema pendidikan anak ini dalam video kajian bertajuk Ayah, Ibu… Bawa Kami ke Surga yang diselenggarakan di Masjid PUSDAI Jawa Barat pada 20 Januari 2015. Semoga video Islamic Parenting ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin, khususnya para orang tua dan calon orang tua yang mendambakan lahirnya anak-anak yang sholeh dan sholehah.Video Islamic Parenting bagian Pertama: http://youtu.be/D55WqCIsOAA

Bolehkah Anak Menjadi Wali Nikah bagi Ibunya?

Bolehkah anak yang sudah baligh menjadi wali nikah untuk ibunya? Dalam madzhab Syafi’i,yang menjadi wali nikah untuk wanita memiliki urutan sebagai berikut: 1- Ayah, lalu kakek (bapak dari bapak), lalu ke atas. 2- Saudara laki-laki kandung, lalu saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki (keponakan), lalu ke bawahnya. 3- Paman kandung (saudara kandung dari bapak), lalu paman sebapak dengan bapak, lalu anak dari paman (sepupu), lalu seterusnya ke bawah. Kemudian ‘ashobah lainnya (orang yang mendapat jatah waris sisa). Urutan dalam wali nikah, sama dengan urutan waris. Kecuali untuk kakek lebih didahulukan dari saudara laki-laki, hal ini berbeda dalam masalah waris. Begitu pula untuk anak laki-laki, ia tidak bisa menikahkan ibunya, walau dalam masalah waris, ia mendapatkan jatah. Imam Nawawi dalam Al Minhaj (2: 428) berkata, وَأَحَقُّ الْأَوْلِيَاءِ أَبٌ ثُمَّ جَدٌّ ثُمَّ أَبُوهُ ثُمَّ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ أَوْ لِأَبٍ ثُمَّ ابْنُهُ وَإِنْ سَفَلَ ثُمَّ عَمٌّ ثُمَّ سَائِرُ الْعَصَبَةِ كَالْإِرْثِ، وَيُقَدَّمُ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ عَلَى أَخٍ لِأَبٍ فِي الْأَظْهَرِ، وَلَا يُزَوِّجُ ابْنٌ بِبُنُوَّةٍ، “Yang berhak menjadi wali wanita adalah bapak, kemudian kakek, kemudian ke atasnya lagi. Lalu saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki, lalu ke bawah (keponakan). Lalu paman (saudara ayah), lalu ashobah lainnya seperti pada waris. Saudara kandung lebih didahulukan daripada saudara sebapak. Demikian pendapat terkuat. Lalu anak laki-laki tidaklah menjadi wali karena statusnya sebagai anak.” Di antara dasar ulama Syafi’iyah tidak membolehkan anak menjadi wali nikah karena hubungan anak dan ibunya bukanlah dari hasil nasab (namun dari pernikahan dengan bapak dari anak itu, barulah ada anak). Sama halnya dengan saudara laki-laki seibu tidaklah boleh menikahkan saudara perempuannya seibu karena tidak ada nasab dari jalur bapak. Murid Imam Asy Syafi’i yaitu Al Muzani menyelisihi pendapat di atas. Termasuk pula tiga ulama madzhab lainnya selain Syafi’iyah. Artinya, mayoritas ulama masih membolehkan anak yang sudah baligh (dewasa) menjadi wali nikah. Wallahu Ta’ala a’lam. Moga bermanfaat.   Referensi: Kifayatul Akhyar, Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al Hishni Al Husaini Ad Dimasyqi, Asy Syafi’i, terbitan Darul Minhaj, cetakan pertama, tahun 1428 H. Minhajuth Tholibin, Imam Nawawi, tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al Haddad, terbitan Dar Al Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H. Website: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=129293 http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=151337 — Diselesaikan di sore hari ba’da ‘Ashar, 27 Rabi’ul Akhir 1436 H di Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 502 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsnikah

Bolehkah Anak Menjadi Wali Nikah bagi Ibunya?

Bolehkah anak yang sudah baligh menjadi wali nikah untuk ibunya? Dalam madzhab Syafi’i,yang menjadi wali nikah untuk wanita memiliki urutan sebagai berikut: 1- Ayah, lalu kakek (bapak dari bapak), lalu ke atas. 2- Saudara laki-laki kandung, lalu saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki (keponakan), lalu ke bawahnya. 3- Paman kandung (saudara kandung dari bapak), lalu paman sebapak dengan bapak, lalu anak dari paman (sepupu), lalu seterusnya ke bawah. Kemudian ‘ashobah lainnya (orang yang mendapat jatah waris sisa). Urutan dalam wali nikah, sama dengan urutan waris. Kecuali untuk kakek lebih didahulukan dari saudara laki-laki, hal ini berbeda dalam masalah waris. Begitu pula untuk anak laki-laki, ia tidak bisa menikahkan ibunya, walau dalam masalah waris, ia mendapatkan jatah. Imam Nawawi dalam Al Minhaj (2: 428) berkata, وَأَحَقُّ الْأَوْلِيَاءِ أَبٌ ثُمَّ جَدٌّ ثُمَّ أَبُوهُ ثُمَّ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ أَوْ لِأَبٍ ثُمَّ ابْنُهُ وَإِنْ سَفَلَ ثُمَّ عَمٌّ ثُمَّ سَائِرُ الْعَصَبَةِ كَالْإِرْثِ، وَيُقَدَّمُ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ عَلَى أَخٍ لِأَبٍ فِي الْأَظْهَرِ، وَلَا يُزَوِّجُ ابْنٌ بِبُنُوَّةٍ، “Yang berhak menjadi wali wanita adalah bapak, kemudian kakek, kemudian ke atasnya lagi. Lalu saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki, lalu ke bawah (keponakan). Lalu paman (saudara ayah), lalu ashobah lainnya seperti pada waris. Saudara kandung lebih didahulukan daripada saudara sebapak. Demikian pendapat terkuat. Lalu anak laki-laki tidaklah menjadi wali karena statusnya sebagai anak.” Di antara dasar ulama Syafi’iyah tidak membolehkan anak menjadi wali nikah karena hubungan anak dan ibunya bukanlah dari hasil nasab (namun dari pernikahan dengan bapak dari anak itu, barulah ada anak). Sama halnya dengan saudara laki-laki seibu tidaklah boleh menikahkan saudara perempuannya seibu karena tidak ada nasab dari jalur bapak. Murid Imam Asy Syafi’i yaitu Al Muzani menyelisihi pendapat di atas. Termasuk pula tiga ulama madzhab lainnya selain Syafi’iyah. Artinya, mayoritas ulama masih membolehkan anak yang sudah baligh (dewasa) menjadi wali nikah. Wallahu Ta’ala a’lam. Moga bermanfaat.   Referensi: Kifayatul Akhyar, Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al Hishni Al Husaini Ad Dimasyqi, Asy Syafi’i, terbitan Darul Minhaj, cetakan pertama, tahun 1428 H. Minhajuth Tholibin, Imam Nawawi, tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al Haddad, terbitan Dar Al Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H. Website: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=129293 http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=151337 — Diselesaikan di sore hari ba’da ‘Ashar, 27 Rabi’ul Akhir 1436 H di Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 502 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsnikah
Bolehkah anak yang sudah baligh menjadi wali nikah untuk ibunya? Dalam madzhab Syafi’i,yang menjadi wali nikah untuk wanita memiliki urutan sebagai berikut: 1- Ayah, lalu kakek (bapak dari bapak), lalu ke atas. 2- Saudara laki-laki kandung, lalu saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki (keponakan), lalu ke bawahnya. 3- Paman kandung (saudara kandung dari bapak), lalu paman sebapak dengan bapak, lalu anak dari paman (sepupu), lalu seterusnya ke bawah. Kemudian ‘ashobah lainnya (orang yang mendapat jatah waris sisa). Urutan dalam wali nikah, sama dengan urutan waris. Kecuali untuk kakek lebih didahulukan dari saudara laki-laki, hal ini berbeda dalam masalah waris. Begitu pula untuk anak laki-laki, ia tidak bisa menikahkan ibunya, walau dalam masalah waris, ia mendapatkan jatah. Imam Nawawi dalam Al Minhaj (2: 428) berkata, وَأَحَقُّ الْأَوْلِيَاءِ أَبٌ ثُمَّ جَدٌّ ثُمَّ أَبُوهُ ثُمَّ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ أَوْ لِأَبٍ ثُمَّ ابْنُهُ وَإِنْ سَفَلَ ثُمَّ عَمٌّ ثُمَّ سَائِرُ الْعَصَبَةِ كَالْإِرْثِ، وَيُقَدَّمُ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ عَلَى أَخٍ لِأَبٍ فِي الْأَظْهَرِ، وَلَا يُزَوِّجُ ابْنٌ بِبُنُوَّةٍ، “Yang berhak menjadi wali wanita adalah bapak, kemudian kakek, kemudian ke atasnya lagi. Lalu saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki, lalu ke bawah (keponakan). Lalu paman (saudara ayah), lalu ashobah lainnya seperti pada waris. Saudara kandung lebih didahulukan daripada saudara sebapak. Demikian pendapat terkuat. Lalu anak laki-laki tidaklah menjadi wali karena statusnya sebagai anak.” Di antara dasar ulama Syafi’iyah tidak membolehkan anak menjadi wali nikah karena hubungan anak dan ibunya bukanlah dari hasil nasab (namun dari pernikahan dengan bapak dari anak itu, barulah ada anak). Sama halnya dengan saudara laki-laki seibu tidaklah boleh menikahkan saudara perempuannya seibu karena tidak ada nasab dari jalur bapak. Murid Imam Asy Syafi’i yaitu Al Muzani menyelisihi pendapat di atas. Termasuk pula tiga ulama madzhab lainnya selain Syafi’iyah. Artinya, mayoritas ulama masih membolehkan anak yang sudah baligh (dewasa) menjadi wali nikah. Wallahu Ta’ala a’lam. Moga bermanfaat.   Referensi: Kifayatul Akhyar, Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al Hishni Al Husaini Ad Dimasyqi, Asy Syafi’i, terbitan Darul Minhaj, cetakan pertama, tahun 1428 H. Minhajuth Tholibin, Imam Nawawi, tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al Haddad, terbitan Dar Al Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H. Website: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=129293 http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=151337 — Diselesaikan di sore hari ba’da ‘Ashar, 27 Rabi’ul Akhir 1436 H di Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 502 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsnikah


Bolehkah anak yang sudah baligh menjadi wali nikah untuk ibunya? Dalam madzhab Syafi’i,yang menjadi wali nikah untuk wanita memiliki urutan sebagai berikut: 1- Ayah, lalu kakek (bapak dari bapak), lalu ke atas. 2- Saudara laki-laki kandung, lalu saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki (keponakan), lalu ke bawahnya. 3- Paman kandung (saudara kandung dari bapak), lalu paman sebapak dengan bapak, lalu anak dari paman (sepupu), lalu seterusnya ke bawah. Kemudian ‘ashobah lainnya (orang yang mendapat jatah waris sisa). Urutan dalam wali nikah, sama dengan urutan waris. Kecuali untuk kakek lebih didahulukan dari saudara laki-laki, hal ini berbeda dalam masalah waris. Begitu pula untuk anak laki-laki, ia tidak bisa menikahkan ibunya, walau dalam masalah waris, ia mendapatkan jatah. Imam Nawawi dalam Al Minhaj (2: 428) berkata, وَأَحَقُّ الْأَوْلِيَاءِ أَبٌ ثُمَّ جَدٌّ ثُمَّ أَبُوهُ ثُمَّ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ أَوْ لِأَبٍ ثُمَّ ابْنُهُ وَإِنْ سَفَلَ ثُمَّ عَمٌّ ثُمَّ سَائِرُ الْعَصَبَةِ كَالْإِرْثِ، وَيُقَدَّمُ أَخٌ لِأَبَوَيْنِ عَلَى أَخٍ لِأَبٍ فِي الْأَظْهَرِ، وَلَا يُزَوِّجُ ابْنٌ بِبُنُوَّةٍ، “Yang berhak menjadi wali wanita adalah bapak, kemudian kakek, kemudian ke atasnya lagi. Lalu saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki sebapak, lalu anak dari saudara laki-laki, lalu ke bawah (keponakan). Lalu paman (saudara ayah), lalu ashobah lainnya seperti pada waris. Saudara kandung lebih didahulukan daripada saudara sebapak. Demikian pendapat terkuat. Lalu anak laki-laki tidaklah menjadi wali karena statusnya sebagai anak.” Di antara dasar ulama Syafi’iyah tidak membolehkan anak menjadi wali nikah karena hubungan anak dan ibunya bukanlah dari hasil nasab (namun dari pernikahan dengan bapak dari anak itu, barulah ada anak). Sama halnya dengan saudara laki-laki seibu tidaklah boleh menikahkan saudara perempuannya seibu karena tidak ada nasab dari jalur bapak. Murid Imam Asy Syafi’i yaitu Al Muzani menyelisihi pendapat di atas. Termasuk pula tiga ulama madzhab lainnya selain Syafi’iyah. Artinya, mayoritas ulama masih membolehkan anak yang sudah baligh (dewasa) menjadi wali nikah. Wallahu Ta’ala a’lam. Moga bermanfaat.   Referensi: Kifayatul Akhyar, Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al Hishni Al Husaini Ad Dimasyqi, Asy Syafi’i, terbitan Darul Minhaj, cetakan pertama, tahun 1428 H. Minhajuth Tholibin, Imam Nawawi, tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al Haddad, terbitan Dar Al Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H. Website: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=129293 http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=151337 — Diselesaikan di sore hari ba’da ‘Ashar, 27 Rabi’ul Akhir 1436 H di Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 502 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsnikah

Tak Perlu Khawatir dengan Rezeki

Rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan. Kita tetap berikhtiar. Namun tetap ketentuan rezeki kita sudah ada yang mengatur. So, tak perlu khawatir akan rezeki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash) Dalam hadits lainnya disebutkan, إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ “Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali) Masihkah kita khawatir dengan rezeki? Ingatlah, rezeki selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil. Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ “Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Panggang, GK, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsasmaul husna rezeki tawakkal

Tak Perlu Khawatir dengan Rezeki

Rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan. Kita tetap berikhtiar. Namun tetap ketentuan rezeki kita sudah ada yang mengatur. So, tak perlu khawatir akan rezeki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash) Dalam hadits lainnya disebutkan, إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ “Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali) Masihkah kita khawatir dengan rezeki? Ingatlah, rezeki selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil. Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ “Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Panggang, GK, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsasmaul husna rezeki tawakkal
Rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan. Kita tetap berikhtiar. Namun tetap ketentuan rezeki kita sudah ada yang mengatur. So, tak perlu khawatir akan rezeki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash) Dalam hadits lainnya disebutkan, إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ “Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali) Masihkah kita khawatir dengan rezeki? Ingatlah, rezeki selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil. Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ “Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Panggang, GK, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsasmaul husna rezeki tawakkal


Rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan. Kita tetap berikhtiar. Namun tetap ketentuan rezeki kita sudah ada yang mengatur. So, tak perlu khawatir akan rezeki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash) Dalam hadits lainnya disebutkan, إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ “Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali) Masihkah kita khawatir dengan rezeki? Ingatlah, rezeki selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil. Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ “Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Panggang, GK, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsasmaul husna rezeki tawakkal

Faedah Tauhid (9), Dzikir Ringan Namun Berat di Timbangan Amalan

Adakah dzikir yang ringan namun berat di timbangan amalan? Ada, dzikir tersebut adalah bacaan ‘subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Keutamaannya disebutkan dalam hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ “Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman, ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694) Penjelasan: Hadits ini termasuk hadits mulia yang membicarakan fadhilah amalan, keutamaan suatu amalan. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Kalimat yang sempurna disebut dengan ‘al kalimah’. Istilah berbeda dengan istilah dalam ilmu nahwu. 2- Dzikir di lisan adalah ibadah yang paling ringan. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ “Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan dzikir pada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3375 dan Ibnu Majah no. 3793. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Namun dzikir yang lebih sempurna adalah dzikir dengan hati dan lisan. 3- Allah mencintai kalimat yang thoyyib (yang baik). 4- Penetapan sifat cinta (mahabbah) bagi Allah. 5- Penetapan nama Allah: Ar Rahman (Maha Pengasih), Al ‘Azhim (Maha Mulia). 6- Adanya mizan (timbangan) dan amalan manusia akan ditimbang pada hari kiamat. 7- Amalan itu punya berat dalam timbangan. Bisa jadi yang ditimbang adalah amalan itu sendiri yang dibentuk lalu ditimbang, bisa jadi pula catatan amalan, atau bisa pula kedua-duanya. 8- Allah itu suci dari segala ‘aib, segala kekurangan dan cacat. Itulah maksud kalimat ‘subhana’ (Maha Suci). 9- Penggabungan antara bacaan tasbih dan tahmid pada bacaan ‘subhanallah wa bihamdih’. Kalimat tersebut maknanya sama dengan ‘subhanallah wal hamdu lillah’, yaitu Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya. 10- Allah memiliki sifat yang sempurna. Itulah kandungan dari kata ‘al hamdu’. 11- Lafazh dzikir itu beraneka ragam. Dalam hadits ini disebut dua macam dzikir sekaligus. Pertama, subhanallah wa bihamdih. Di antara keutamaannya, siapa yang menyebutnya dalam sehari 100 kali, dosa-dosanya akan terampuni walau sebanyak buih di lautan. Sedangkan dzikir kedua, subhanallahil ‘azhim. Kalimat ini ada jika bersambung dengan kalimat lainnya sebagaimana yang ada dalam hadits ini. 12- Keutamaan dua kalimat: subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim. Hadits ini menunjukkan kita diperintah memperbanyak bacaan ini. Ini di antara alasan pula disebutkan dalam hadits nama Allah Ar Rahman dari nama-nama Allah lainnya. 13- Dzikir ‘subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’ sudah mengandung bacaan dzikir yang tiga: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ini semua menunjukkan konsekuensinya yaitu mentauhidkan Allah yang terdapat dalam kandungan kalimat ‘laa ilaha illallah’. 14- Meraih keutamaan suatu amalan tak mesti dengan bersusah payah. Keutamaan tersebut kembali pada jenis amalan itu sendiri. Bahkan ada amalan yang tidak ada kesulitan untuk melakukannya, dan itu lebih utama dari amalan yang butuh usaha keras untuk melakukannya. 15- Boleh menggunakan kalimat bersajak selama tidak menyusah-nyusahkan diri. 16- Di antara bentuk penjelasan yang baik adalah mengawali dengan penyebutan keutamaan amalan sebelum menyebutkan bentuk amalan tersebut. 17- Ada suatu kalimat yang berisi berita namun berisi ajakan atau perintah seperti yang ada dalam hadits ini yang berisi ajakan untuk berdzikir. 18- Bukhari sangatlah cerdas. Kitab shahihnya, ia awali dengan hadits niat yang menuntut kita untuk ikhlas dalam beramal. Sedangkan penutup kitab shahihnya, beliau tutup dengan hadits ini untuk menunjukkan bahwa penutup kehidupan adalah dengan dzikir pada Allah. Ini menunjukkan akan baiknya akhir amalan. Kita juga memohon pada Allah husnul khotimah, akhir hidup yang baik. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berdzikir pada-Nya.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih.   Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Selesai sudah pembahasan faedah tauhid, moga bisa menjadi buku saku bermanfaat nantinya. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. TagsDzikir faedah tauhid

Faedah Tauhid (9), Dzikir Ringan Namun Berat di Timbangan Amalan

Adakah dzikir yang ringan namun berat di timbangan amalan? Ada, dzikir tersebut adalah bacaan ‘subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Keutamaannya disebutkan dalam hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ “Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman, ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694) Penjelasan: Hadits ini termasuk hadits mulia yang membicarakan fadhilah amalan, keutamaan suatu amalan. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Kalimat yang sempurna disebut dengan ‘al kalimah’. Istilah berbeda dengan istilah dalam ilmu nahwu. 2- Dzikir di lisan adalah ibadah yang paling ringan. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ “Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan dzikir pada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3375 dan Ibnu Majah no. 3793. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Namun dzikir yang lebih sempurna adalah dzikir dengan hati dan lisan. 3- Allah mencintai kalimat yang thoyyib (yang baik). 4- Penetapan sifat cinta (mahabbah) bagi Allah. 5- Penetapan nama Allah: Ar Rahman (Maha Pengasih), Al ‘Azhim (Maha Mulia). 6- Adanya mizan (timbangan) dan amalan manusia akan ditimbang pada hari kiamat. 7- Amalan itu punya berat dalam timbangan. Bisa jadi yang ditimbang adalah amalan itu sendiri yang dibentuk lalu ditimbang, bisa jadi pula catatan amalan, atau bisa pula kedua-duanya. 8- Allah itu suci dari segala ‘aib, segala kekurangan dan cacat. Itulah maksud kalimat ‘subhana’ (Maha Suci). 9- Penggabungan antara bacaan tasbih dan tahmid pada bacaan ‘subhanallah wa bihamdih’. Kalimat tersebut maknanya sama dengan ‘subhanallah wal hamdu lillah’, yaitu Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya. 10- Allah memiliki sifat yang sempurna. Itulah kandungan dari kata ‘al hamdu’. 11- Lafazh dzikir itu beraneka ragam. Dalam hadits ini disebut dua macam dzikir sekaligus. Pertama, subhanallah wa bihamdih. Di antara keutamaannya, siapa yang menyebutnya dalam sehari 100 kali, dosa-dosanya akan terampuni walau sebanyak buih di lautan. Sedangkan dzikir kedua, subhanallahil ‘azhim. Kalimat ini ada jika bersambung dengan kalimat lainnya sebagaimana yang ada dalam hadits ini. 12- Keutamaan dua kalimat: subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim. Hadits ini menunjukkan kita diperintah memperbanyak bacaan ini. Ini di antara alasan pula disebutkan dalam hadits nama Allah Ar Rahman dari nama-nama Allah lainnya. 13- Dzikir ‘subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’ sudah mengandung bacaan dzikir yang tiga: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ini semua menunjukkan konsekuensinya yaitu mentauhidkan Allah yang terdapat dalam kandungan kalimat ‘laa ilaha illallah’. 14- Meraih keutamaan suatu amalan tak mesti dengan bersusah payah. Keutamaan tersebut kembali pada jenis amalan itu sendiri. Bahkan ada amalan yang tidak ada kesulitan untuk melakukannya, dan itu lebih utama dari amalan yang butuh usaha keras untuk melakukannya. 15- Boleh menggunakan kalimat bersajak selama tidak menyusah-nyusahkan diri. 16- Di antara bentuk penjelasan yang baik adalah mengawali dengan penyebutan keutamaan amalan sebelum menyebutkan bentuk amalan tersebut. 17- Ada suatu kalimat yang berisi berita namun berisi ajakan atau perintah seperti yang ada dalam hadits ini yang berisi ajakan untuk berdzikir. 18- Bukhari sangatlah cerdas. Kitab shahihnya, ia awali dengan hadits niat yang menuntut kita untuk ikhlas dalam beramal. Sedangkan penutup kitab shahihnya, beliau tutup dengan hadits ini untuk menunjukkan bahwa penutup kehidupan adalah dengan dzikir pada Allah. Ini menunjukkan akan baiknya akhir amalan. Kita juga memohon pada Allah husnul khotimah, akhir hidup yang baik. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berdzikir pada-Nya.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih.   Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Selesai sudah pembahasan faedah tauhid, moga bisa menjadi buku saku bermanfaat nantinya. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. TagsDzikir faedah tauhid
Adakah dzikir yang ringan namun berat di timbangan amalan? Ada, dzikir tersebut adalah bacaan ‘subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Keutamaannya disebutkan dalam hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ “Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman, ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694) Penjelasan: Hadits ini termasuk hadits mulia yang membicarakan fadhilah amalan, keutamaan suatu amalan. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Kalimat yang sempurna disebut dengan ‘al kalimah’. Istilah berbeda dengan istilah dalam ilmu nahwu. 2- Dzikir di lisan adalah ibadah yang paling ringan. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ “Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan dzikir pada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3375 dan Ibnu Majah no. 3793. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Namun dzikir yang lebih sempurna adalah dzikir dengan hati dan lisan. 3- Allah mencintai kalimat yang thoyyib (yang baik). 4- Penetapan sifat cinta (mahabbah) bagi Allah. 5- Penetapan nama Allah: Ar Rahman (Maha Pengasih), Al ‘Azhim (Maha Mulia). 6- Adanya mizan (timbangan) dan amalan manusia akan ditimbang pada hari kiamat. 7- Amalan itu punya berat dalam timbangan. Bisa jadi yang ditimbang adalah amalan itu sendiri yang dibentuk lalu ditimbang, bisa jadi pula catatan amalan, atau bisa pula kedua-duanya. 8- Allah itu suci dari segala ‘aib, segala kekurangan dan cacat. Itulah maksud kalimat ‘subhana’ (Maha Suci). 9- Penggabungan antara bacaan tasbih dan tahmid pada bacaan ‘subhanallah wa bihamdih’. Kalimat tersebut maknanya sama dengan ‘subhanallah wal hamdu lillah’, yaitu Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya. 10- Allah memiliki sifat yang sempurna. Itulah kandungan dari kata ‘al hamdu’. 11- Lafazh dzikir itu beraneka ragam. Dalam hadits ini disebut dua macam dzikir sekaligus. Pertama, subhanallah wa bihamdih. Di antara keutamaannya, siapa yang menyebutnya dalam sehari 100 kali, dosa-dosanya akan terampuni walau sebanyak buih di lautan. Sedangkan dzikir kedua, subhanallahil ‘azhim. Kalimat ini ada jika bersambung dengan kalimat lainnya sebagaimana yang ada dalam hadits ini. 12- Keutamaan dua kalimat: subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim. Hadits ini menunjukkan kita diperintah memperbanyak bacaan ini. Ini di antara alasan pula disebutkan dalam hadits nama Allah Ar Rahman dari nama-nama Allah lainnya. 13- Dzikir ‘subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’ sudah mengandung bacaan dzikir yang tiga: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ini semua menunjukkan konsekuensinya yaitu mentauhidkan Allah yang terdapat dalam kandungan kalimat ‘laa ilaha illallah’. 14- Meraih keutamaan suatu amalan tak mesti dengan bersusah payah. Keutamaan tersebut kembali pada jenis amalan itu sendiri. Bahkan ada amalan yang tidak ada kesulitan untuk melakukannya, dan itu lebih utama dari amalan yang butuh usaha keras untuk melakukannya. 15- Boleh menggunakan kalimat bersajak selama tidak menyusah-nyusahkan diri. 16- Di antara bentuk penjelasan yang baik adalah mengawali dengan penyebutan keutamaan amalan sebelum menyebutkan bentuk amalan tersebut. 17- Ada suatu kalimat yang berisi berita namun berisi ajakan atau perintah seperti yang ada dalam hadits ini yang berisi ajakan untuk berdzikir. 18- Bukhari sangatlah cerdas. Kitab shahihnya, ia awali dengan hadits niat yang menuntut kita untuk ikhlas dalam beramal. Sedangkan penutup kitab shahihnya, beliau tutup dengan hadits ini untuk menunjukkan bahwa penutup kehidupan adalah dengan dzikir pada Allah. Ini menunjukkan akan baiknya akhir amalan. Kita juga memohon pada Allah husnul khotimah, akhir hidup yang baik. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berdzikir pada-Nya.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih.   Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Selesai sudah pembahasan faedah tauhid, moga bisa menjadi buku saku bermanfaat nantinya. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. TagsDzikir faedah tauhid


Adakah dzikir yang ringan namun berat di timbangan amalan? Ada, dzikir tersebut adalah bacaan ‘subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Keutamaannya disebutkan dalam hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ “Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman, ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694) Penjelasan: Hadits ini termasuk hadits mulia yang membicarakan fadhilah amalan, keutamaan suatu amalan. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Kalimat yang sempurna disebut dengan ‘al kalimah’. Istilah berbeda dengan istilah dalam ilmu nahwu. 2- Dzikir di lisan adalah ibadah yang paling ringan. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ “Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan dzikir pada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3375 dan Ibnu Majah no. 3793. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Namun dzikir yang lebih sempurna adalah dzikir dengan hati dan lisan. 3- Allah mencintai kalimat yang thoyyib (yang baik). 4- Penetapan sifat cinta (mahabbah) bagi Allah. 5- Penetapan nama Allah: Ar Rahman (Maha Pengasih), Al ‘Azhim (Maha Mulia). 6- Adanya mizan (timbangan) dan amalan manusia akan ditimbang pada hari kiamat. 7- Amalan itu punya berat dalam timbangan. Bisa jadi yang ditimbang adalah amalan itu sendiri yang dibentuk lalu ditimbang, bisa jadi pula catatan amalan, atau bisa pula kedua-duanya. 8- Allah itu suci dari segala ‘aib, segala kekurangan dan cacat. Itulah maksud kalimat ‘subhana’ (Maha Suci). 9- Penggabungan antara bacaan tasbih dan tahmid pada bacaan ‘subhanallah wa bihamdih’. Kalimat tersebut maknanya sama dengan ‘subhanallah wal hamdu lillah’, yaitu Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya. 10- Allah memiliki sifat yang sempurna. Itulah kandungan dari kata ‘al hamdu’. 11- Lafazh dzikir itu beraneka ragam. Dalam hadits ini disebut dua macam dzikir sekaligus. Pertama, subhanallah wa bihamdih. Di antara keutamaannya, siapa yang menyebutnya dalam sehari 100 kali, dosa-dosanya akan terampuni walau sebanyak buih di lautan. Sedangkan dzikir kedua, subhanallahil ‘azhim. Kalimat ini ada jika bersambung dengan kalimat lainnya sebagaimana yang ada dalam hadits ini. 12- Keutamaan dua kalimat: subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim. Hadits ini menunjukkan kita diperintah memperbanyak bacaan ini. Ini di antara alasan pula disebutkan dalam hadits nama Allah Ar Rahman dari nama-nama Allah lainnya. 13- Dzikir ‘subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim’ sudah mengandung bacaan dzikir yang tiga: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ini semua menunjukkan konsekuensinya yaitu mentauhidkan Allah yang terdapat dalam kandungan kalimat ‘laa ilaha illallah’. 14- Meraih keutamaan suatu amalan tak mesti dengan bersusah payah. Keutamaan tersebut kembali pada jenis amalan itu sendiri. Bahkan ada amalan yang tidak ada kesulitan untuk melakukannya, dan itu lebih utama dari amalan yang butuh usaha keras untuk melakukannya. 15- Boleh menggunakan kalimat bersajak selama tidak menyusah-nyusahkan diri. 16- Di antara bentuk penjelasan yang baik adalah mengawali dengan penyebutan keutamaan amalan sebelum menyebutkan bentuk amalan tersebut. 17- Ada suatu kalimat yang berisi berita namun berisi ajakan atau perintah seperti yang ada dalam hadits ini yang berisi ajakan untuk berdzikir. 18- Bukhari sangatlah cerdas. Kitab shahihnya, ia awali dengan hadits niat yang menuntut kita untuk ikhlas dalam beramal. Sedangkan penutup kitab shahihnya, beliau tutup dengan hadits ini untuk menunjukkan bahwa penutup kehidupan adalah dengan dzikir pada Allah. Ini menunjukkan akan baiknya akhir amalan. Kita juga memohon pada Allah husnul khotimah, akhir hidup yang baik. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berdzikir pada-Nya.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih.   Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Selesai sudah pembahasan faedah tauhid, moga bisa menjadi buku saku bermanfaat nantinya. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. TagsDzikir faedah tauhid

Faedah Tauhid (8), Syafa’at dan Kemuliaan Nabi

Hadits berikut adalah hadits kedelapan yang membicarakan faedah tauhid. Di dalamnya diceritakan mengenai syafa’atul ‘uzhma (syafa’at terkhusus untuk Muhammad) dan kemulian Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ شُفِّعْتُ ، فَقُلْتُ يَا رَبِّ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ خَرْدَلَةٌ . فَيَدْخُلُونَ ، ثُمَّ أَقُولُ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى شَىْءٍ » . فَقَالَ أَنَسٌ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى أَصَابِعِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – “Pada hari kiamat, aku diberi syafa’at. Aku berkata, “Wahai Rabbku, masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman sebesar biji sawi.” Mereka memasukinya. Aku pun berkata, “Masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman walau rendah.” Anas berkata, “Seakan-akan aku melihat (isyarat) pada jari-jemari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 7509) Lalu disebutkan hadits syafa’at yang panjang seperti pada riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – فَيَأْتُونِى فَأَقُولُ أَنَا لَهَا . فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّى فَيُؤْذَنُ لِى وَيُلْهِمُنِى مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لاَ تَحْضُرُنِى الآنَ ، فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ وَأَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ شَعِيرَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ ، فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ أَوْ خَرْدَلَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ ، فَأَخْرِجْهُ مِنَ النَّارِ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ Mereka mendatangi ‘Isa. ‘Isa lantas berkata, “Aku tidak pantas memberikan syafa’at tersebut. Hendaklah kalian mendatangi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Mereka lantas mendatangiku. Aku memang pantas memberikan syafa’at tersebut. Aku lantas meminta izin pada Rabbku. Allah pun memberikan izin padaku. Aku mendapatkan ilham untuk bisa memuji-Nya yang tak bisa kuhadirkan saat ini. Aku memuji-Nya dengan pujian tersebut. Aku pun tersungkur sujud di hadapan-Nya.” Allah berfirman, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya seberat gandum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya sebesar biji sawi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian yang tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah yang masih memiliki iman dalam hatinya yang lebih kecil dari biji sawi. Keluarkanlah ia dari neraka. Hal itu pun terlaksana.” (HR. Bukhari no. 7510 dan Muslim no. 193) Dalam riwayat lain disebutkan, ثُمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ ، وَسَلْ تُعْطَهْ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِى فِيمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . فَيَقُولُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى وَكِبْرِيَائِى وَعَظَمَتِى لأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ “Kemudian aku kembali untuk keempat kalinya. Aku memuji-Nya dengan pujian tadi. Aku pun sujud di hadapan-Nya. Disebutkan, “Wahai Muhammad. Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, izinkanlah aku memberikan syafa’at pada orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’.” Allah berfirman, “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sungguh aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaha illallah.” (HR. Bukhari no. 7510). Penjelasan: Hadits ini adalah hadits yang mulia yang disebut dengan hadits syafa’at, berisi hadits yang panjang. Hadits ini jadi argument yang kuat bagi Ahlus Sunnah, yang membantah pemikiran sesat Khawarij dan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar (al kabair) kekal dalam neraka. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Riwayat yang ada menunjukkan bahwa Nabi itu hadir kala pemberian syafa’at, karena didukung dengan pernyataan mendengar dan melihat dalam hadits. 2- Boleh adanya pengajaran dengan pemberian isyarat sebagaimana isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jari-jemari. 3- Begitu mengerikan keadaan pada hari kiamat. 4- Kemarahan Allah pada hari kiamat begitu dahsyat, yang tidak didapati kemarahan-Nya sebelumnya atau sesudahnya seperti itu. 5- Yang meminta syafa’at kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang beriman. 6- Ada enam Nabi yang disebutkan dalam hadits ini di mana mereka semua dimintai syafa’atnya, yaitu Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Muhammad. Lima nabi yang disebut terakhir disebut dengan para Nabi ‘Ulul ‘Azmi. 7- Dalam hadits disebutkan keutamaan masing-masing Rasul. 8- Dalam hadits disebutkan uzur masing-masing Nabi yang tidak bisa memberikan syafa’at. 9- Mulianya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para Nabi dan Rasul lainnya. 10- Adanya syafa’at untuk orang-orang yang menunggu persidangan di padang mahsyar yaitu segera diberikan keputusan. Syafa’at ini disebut dengan Syafa’atul ‘Uzhma yang hanya diberikan khusus pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebutkan dalam firman Allah, عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra’: 79) 11- Adanya syafa’at yang ditujukan pada pelaku dosa agar mereka keluar dari neraka dan masuk dalam surga. Syafa’at ini diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Nabi lainnya, termasuk pula diberikan pada malaikat dan orang beriman. 12- Berulangnya syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pelaku dosa dari umatnya. 13- Hadits ini membantah golongan Khawarij dan Mu’tazilah yang mengingkari adanya syafa’at. 14- Mendekatkan diri pada Allah, bentuknya adalah dengan sujud dan memuji-Nya. 15- Allah memberikan ilham pada Nabinya Muhammad dengan sanjungan yang tidak dikenal oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat di dunia. 16- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar dimuliakan oleh Rabbnya. Beliaulah makhluk termulia dan paling bertakwa di antara manusia. Disebutkan dalam ayat, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13). 17- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memberikan syafa’at sampai beliau mendapatkan izin dari Allah. Disebutkan dalam ayat, مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah: 255). 18- Orang beriman bertingkat-tingkat imannya. 19- Iman itu bertambah dan berkurang. 20- Sebab selamat dan keluar dari neraka adalah tauhid dan iman. 21- Bolehnya mengumpamakan sesuatu yang sifatnya maknawi dengan pengungkapan yang sifatnya inderawi. 22- Keutamaan kalimat tauhid ‘laa ilahaa illallah’. Kalimat laa ilaha illallah menjadi sebab tidak kekal dalam neraka. 23- Penetapan keagungan dan kebesaran Allah. 24- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ketika beliau meminta syafa’at. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي خَرَرْتُ لَهُ سَاجِدًا “Aku melihat Rabbku dan aku tersungkur sujud di hadapan-Nya.” (HR. Al Hakim no. 82 dan ia menshahihkannya, lalu disepakati pula oleh Adz Dzahabi, dari hadits ‘Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu ‘anhu). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk memiliki akidah yang benar.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsfaedah tauhid syafa'at

Faedah Tauhid (8), Syafa’at dan Kemuliaan Nabi

Hadits berikut adalah hadits kedelapan yang membicarakan faedah tauhid. Di dalamnya diceritakan mengenai syafa’atul ‘uzhma (syafa’at terkhusus untuk Muhammad) dan kemulian Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ شُفِّعْتُ ، فَقُلْتُ يَا رَبِّ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ خَرْدَلَةٌ . فَيَدْخُلُونَ ، ثُمَّ أَقُولُ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى شَىْءٍ » . فَقَالَ أَنَسٌ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى أَصَابِعِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – “Pada hari kiamat, aku diberi syafa’at. Aku berkata, “Wahai Rabbku, masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman sebesar biji sawi.” Mereka memasukinya. Aku pun berkata, “Masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman walau rendah.” Anas berkata, “Seakan-akan aku melihat (isyarat) pada jari-jemari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 7509) Lalu disebutkan hadits syafa’at yang panjang seperti pada riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – فَيَأْتُونِى فَأَقُولُ أَنَا لَهَا . فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّى فَيُؤْذَنُ لِى وَيُلْهِمُنِى مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لاَ تَحْضُرُنِى الآنَ ، فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ وَأَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ شَعِيرَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ ، فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ أَوْ خَرْدَلَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ ، فَأَخْرِجْهُ مِنَ النَّارِ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ Mereka mendatangi ‘Isa. ‘Isa lantas berkata, “Aku tidak pantas memberikan syafa’at tersebut. Hendaklah kalian mendatangi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Mereka lantas mendatangiku. Aku memang pantas memberikan syafa’at tersebut. Aku lantas meminta izin pada Rabbku. Allah pun memberikan izin padaku. Aku mendapatkan ilham untuk bisa memuji-Nya yang tak bisa kuhadirkan saat ini. Aku memuji-Nya dengan pujian tersebut. Aku pun tersungkur sujud di hadapan-Nya.” Allah berfirman, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya seberat gandum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya sebesar biji sawi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian yang tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah yang masih memiliki iman dalam hatinya yang lebih kecil dari biji sawi. Keluarkanlah ia dari neraka. Hal itu pun terlaksana.” (HR. Bukhari no. 7510 dan Muslim no. 193) Dalam riwayat lain disebutkan, ثُمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ ، وَسَلْ تُعْطَهْ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِى فِيمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . فَيَقُولُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى وَكِبْرِيَائِى وَعَظَمَتِى لأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ “Kemudian aku kembali untuk keempat kalinya. Aku memuji-Nya dengan pujian tadi. Aku pun sujud di hadapan-Nya. Disebutkan, “Wahai Muhammad. Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, izinkanlah aku memberikan syafa’at pada orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’.” Allah berfirman, “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sungguh aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaha illallah.” (HR. Bukhari no. 7510). Penjelasan: Hadits ini adalah hadits yang mulia yang disebut dengan hadits syafa’at, berisi hadits yang panjang. Hadits ini jadi argument yang kuat bagi Ahlus Sunnah, yang membantah pemikiran sesat Khawarij dan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar (al kabair) kekal dalam neraka. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Riwayat yang ada menunjukkan bahwa Nabi itu hadir kala pemberian syafa’at, karena didukung dengan pernyataan mendengar dan melihat dalam hadits. 2- Boleh adanya pengajaran dengan pemberian isyarat sebagaimana isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jari-jemari. 3- Begitu mengerikan keadaan pada hari kiamat. 4- Kemarahan Allah pada hari kiamat begitu dahsyat, yang tidak didapati kemarahan-Nya sebelumnya atau sesudahnya seperti itu. 5- Yang meminta syafa’at kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang beriman. 6- Ada enam Nabi yang disebutkan dalam hadits ini di mana mereka semua dimintai syafa’atnya, yaitu Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Muhammad. Lima nabi yang disebut terakhir disebut dengan para Nabi ‘Ulul ‘Azmi. 7- Dalam hadits disebutkan keutamaan masing-masing Rasul. 8- Dalam hadits disebutkan uzur masing-masing Nabi yang tidak bisa memberikan syafa’at. 9- Mulianya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para Nabi dan Rasul lainnya. 10- Adanya syafa’at untuk orang-orang yang menunggu persidangan di padang mahsyar yaitu segera diberikan keputusan. Syafa’at ini disebut dengan Syafa’atul ‘Uzhma yang hanya diberikan khusus pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebutkan dalam firman Allah, عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra’: 79) 11- Adanya syafa’at yang ditujukan pada pelaku dosa agar mereka keluar dari neraka dan masuk dalam surga. Syafa’at ini diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Nabi lainnya, termasuk pula diberikan pada malaikat dan orang beriman. 12- Berulangnya syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pelaku dosa dari umatnya. 13- Hadits ini membantah golongan Khawarij dan Mu’tazilah yang mengingkari adanya syafa’at. 14- Mendekatkan diri pada Allah, bentuknya adalah dengan sujud dan memuji-Nya. 15- Allah memberikan ilham pada Nabinya Muhammad dengan sanjungan yang tidak dikenal oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat di dunia. 16- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar dimuliakan oleh Rabbnya. Beliaulah makhluk termulia dan paling bertakwa di antara manusia. Disebutkan dalam ayat, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13). 17- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memberikan syafa’at sampai beliau mendapatkan izin dari Allah. Disebutkan dalam ayat, مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah: 255). 18- Orang beriman bertingkat-tingkat imannya. 19- Iman itu bertambah dan berkurang. 20- Sebab selamat dan keluar dari neraka adalah tauhid dan iman. 21- Bolehnya mengumpamakan sesuatu yang sifatnya maknawi dengan pengungkapan yang sifatnya inderawi. 22- Keutamaan kalimat tauhid ‘laa ilahaa illallah’. Kalimat laa ilaha illallah menjadi sebab tidak kekal dalam neraka. 23- Penetapan keagungan dan kebesaran Allah. 24- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ketika beliau meminta syafa’at. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي خَرَرْتُ لَهُ سَاجِدًا “Aku melihat Rabbku dan aku tersungkur sujud di hadapan-Nya.” (HR. Al Hakim no. 82 dan ia menshahihkannya, lalu disepakati pula oleh Adz Dzahabi, dari hadits ‘Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu ‘anhu). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk memiliki akidah yang benar.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsfaedah tauhid syafa'at
Hadits berikut adalah hadits kedelapan yang membicarakan faedah tauhid. Di dalamnya diceritakan mengenai syafa’atul ‘uzhma (syafa’at terkhusus untuk Muhammad) dan kemulian Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ شُفِّعْتُ ، فَقُلْتُ يَا رَبِّ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ خَرْدَلَةٌ . فَيَدْخُلُونَ ، ثُمَّ أَقُولُ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى شَىْءٍ » . فَقَالَ أَنَسٌ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى أَصَابِعِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – “Pada hari kiamat, aku diberi syafa’at. Aku berkata, “Wahai Rabbku, masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman sebesar biji sawi.” Mereka memasukinya. Aku pun berkata, “Masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman walau rendah.” Anas berkata, “Seakan-akan aku melihat (isyarat) pada jari-jemari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 7509) Lalu disebutkan hadits syafa’at yang panjang seperti pada riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – فَيَأْتُونِى فَأَقُولُ أَنَا لَهَا . فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّى فَيُؤْذَنُ لِى وَيُلْهِمُنِى مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لاَ تَحْضُرُنِى الآنَ ، فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ وَأَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ شَعِيرَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ ، فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ أَوْ خَرْدَلَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ ، فَأَخْرِجْهُ مِنَ النَّارِ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ Mereka mendatangi ‘Isa. ‘Isa lantas berkata, “Aku tidak pantas memberikan syafa’at tersebut. Hendaklah kalian mendatangi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Mereka lantas mendatangiku. Aku memang pantas memberikan syafa’at tersebut. Aku lantas meminta izin pada Rabbku. Allah pun memberikan izin padaku. Aku mendapatkan ilham untuk bisa memuji-Nya yang tak bisa kuhadirkan saat ini. Aku memuji-Nya dengan pujian tersebut. Aku pun tersungkur sujud di hadapan-Nya.” Allah berfirman, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya seberat gandum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya sebesar biji sawi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian yang tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah yang masih memiliki iman dalam hatinya yang lebih kecil dari biji sawi. Keluarkanlah ia dari neraka. Hal itu pun terlaksana.” (HR. Bukhari no. 7510 dan Muslim no. 193) Dalam riwayat lain disebutkan, ثُمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ ، وَسَلْ تُعْطَهْ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِى فِيمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . فَيَقُولُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى وَكِبْرِيَائِى وَعَظَمَتِى لأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ “Kemudian aku kembali untuk keempat kalinya. Aku memuji-Nya dengan pujian tadi. Aku pun sujud di hadapan-Nya. Disebutkan, “Wahai Muhammad. Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, izinkanlah aku memberikan syafa’at pada orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’.” Allah berfirman, “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sungguh aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaha illallah.” (HR. Bukhari no. 7510). Penjelasan: Hadits ini adalah hadits yang mulia yang disebut dengan hadits syafa’at, berisi hadits yang panjang. Hadits ini jadi argument yang kuat bagi Ahlus Sunnah, yang membantah pemikiran sesat Khawarij dan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar (al kabair) kekal dalam neraka. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Riwayat yang ada menunjukkan bahwa Nabi itu hadir kala pemberian syafa’at, karena didukung dengan pernyataan mendengar dan melihat dalam hadits. 2- Boleh adanya pengajaran dengan pemberian isyarat sebagaimana isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jari-jemari. 3- Begitu mengerikan keadaan pada hari kiamat. 4- Kemarahan Allah pada hari kiamat begitu dahsyat, yang tidak didapati kemarahan-Nya sebelumnya atau sesudahnya seperti itu. 5- Yang meminta syafa’at kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang beriman. 6- Ada enam Nabi yang disebutkan dalam hadits ini di mana mereka semua dimintai syafa’atnya, yaitu Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Muhammad. Lima nabi yang disebut terakhir disebut dengan para Nabi ‘Ulul ‘Azmi. 7- Dalam hadits disebutkan keutamaan masing-masing Rasul. 8- Dalam hadits disebutkan uzur masing-masing Nabi yang tidak bisa memberikan syafa’at. 9- Mulianya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para Nabi dan Rasul lainnya. 10- Adanya syafa’at untuk orang-orang yang menunggu persidangan di padang mahsyar yaitu segera diberikan keputusan. Syafa’at ini disebut dengan Syafa’atul ‘Uzhma yang hanya diberikan khusus pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebutkan dalam firman Allah, عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra’: 79) 11- Adanya syafa’at yang ditujukan pada pelaku dosa agar mereka keluar dari neraka dan masuk dalam surga. Syafa’at ini diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Nabi lainnya, termasuk pula diberikan pada malaikat dan orang beriman. 12- Berulangnya syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pelaku dosa dari umatnya. 13- Hadits ini membantah golongan Khawarij dan Mu’tazilah yang mengingkari adanya syafa’at. 14- Mendekatkan diri pada Allah, bentuknya adalah dengan sujud dan memuji-Nya. 15- Allah memberikan ilham pada Nabinya Muhammad dengan sanjungan yang tidak dikenal oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat di dunia. 16- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar dimuliakan oleh Rabbnya. Beliaulah makhluk termulia dan paling bertakwa di antara manusia. Disebutkan dalam ayat, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13). 17- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memberikan syafa’at sampai beliau mendapatkan izin dari Allah. Disebutkan dalam ayat, مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah: 255). 18- Orang beriman bertingkat-tingkat imannya. 19- Iman itu bertambah dan berkurang. 20- Sebab selamat dan keluar dari neraka adalah tauhid dan iman. 21- Bolehnya mengumpamakan sesuatu yang sifatnya maknawi dengan pengungkapan yang sifatnya inderawi. 22- Keutamaan kalimat tauhid ‘laa ilahaa illallah’. Kalimat laa ilaha illallah menjadi sebab tidak kekal dalam neraka. 23- Penetapan keagungan dan kebesaran Allah. 24- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ketika beliau meminta syafa’at. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي خَرَرْتُ لَهُ سَاجِدًا “Aku melihat Rabbku dan aku tersungkur sujud di hadapan-Nya.” (HR. Al Hakim no. 82 dan ia menshahihkannya, lalu disepakati pula oleh Adz Dzahabi, dari hadits ‘Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu ‘anhu). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk memiliki akidah yang benar.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsfaedah tauhid syafa'at


Hadits berikut adalah hadits kedelapan yang membicarakan faedah tauhid. Di dalamnya diceritakan mengenai syafa’atul ‘uzhma (syafa’at terkhusus untuk Muhammad) dan kemulian Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ شُفِّعْتُ ، فَقُلْتُ يَا رَبِّ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ خَرْدَلَةٌ . فَيَدْخُلُونَ ، ثُمَّ أَقُولُ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى شَىْءٍ » . فَقَالَ أَنَسٌ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى أَصَابِعِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – “Pada hari kiamat, aku diberi syafa’at. Aku berkata, “Wahai Rabbku, masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman sebesar biji sawi.” Mereka memasukinya. Aku pun berkata, “Masukkanlah dalam surga orang yang masih punya iman walau rendah.” Anas berkata, “Seakan-akan aku melihat (isyarat) pada jari-jemari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 7509) Lalu disebutkan hadits syafa’at yang panjang seperti pada riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – فَيَأْتُونِى فَأَقُولُ أَنَا لَهَا . فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّى فَيُؤْذَنُ لِى وَيُلْهِمُنِى مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لاَ تَحْضُرُنِى الآنَ ، فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ وَأَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ شَعِيرَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ ، فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ أَوْ خَرْدَلَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ ، فَأَخْرِجْهُ مِنَ النَّارِ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ Mereka mendatangi ‘Isa. ‘Isa lantas berkata, “Aku tidak pantas memberikan syafa’at tersebut. Hendaklah kalian mendatangi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Mereka lantas mendatangiku. Aku memang pantas memberikan syafa’at tersebut. Aku lantas meminta izin pada Rabbku. Allah pun memberikan izin padaku. Aku mendapatkan ilham untuk bisa memuji-Nya yang tak bisa kuhadirkan saat ini. Aku memuji-Nya dengan pujian tersebut. Aku pun tersungkur sujud di hadapan-Nya.” Allah berfirman, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya seberat gandum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya sebesar biji sawi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian yang tadi. Aku pun tunduk sujud.” Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, umatku, umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah yang masih memiliki iman dalam hatinya yang lebih kecil dari biji sawi. Keluarkanlah ia dari neraka. Hal itu pun terlaksana.” (HR. Bukhari no. 7510 dan Muslim no. 193) Dalam riwayat lain disebutkan, ثُمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ ، وَسَلْ تُعْطَهْ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِى فِيمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . فَيَقُولُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى وَكِبْرِيَائِى وَعَظَمَتِى لأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ “Kemudian aku kembali untuk keempat kalinya. Aku memuji-Nya dengan pujian tadi. Aku pun sujud di hadapan-Nya. Disebutkan, “Wahai Muhammad. Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, izinkanlah aku memberikan syafa’at pada orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’.” Allah berfirman, “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sungguh aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaha illallah.” (HR. Bukhari no. 7510). Penjelasan: Hadits ini adalah hadits yang mulia yang disebut dengan hadits syafa’at, berisi hadits yang panjang. Hadits ini jadi argument yang kuat bagi Ahlus Sunnah, yang membantah pemikiran sesat Khawarij dan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar (al kabair) kekal dalam neraka. Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Riwayat yang ada menunjukkan bahwa Nabi itu hadir kala pemberian syafa’at, karena didukung dengan pernyataan mendengar dan melihat dalam hadits. 2- Boleh adanya pengajaran dengan pemberian isyarat sebagaimana isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jari-jemari. 3- Begitu mengerikan keadaan pada hari kiamat. 4- Kemarahan Allah pada hari kiamat begitu dahsyat, yang tidak didapati kemarahan-Nya sebelumnya atau sesudahnya seperti itu. 5- Yang meminta syafa’at kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang beriman. 6- Ada enam Nabi yang disebutkan dalam hadits ini di mana mereka semua dimintai syafa’atnya, yaitu Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Muhammad. Lima nabi yang disebut terakhir disebut dengan para Nabi ‘Ulul ‘Azmi. 7- Dalam hadits disebutkan keutamaan masing-masing Rasul. 8- Dalam hadits disebutkan uzur masing-masing Nabi yang tidak bisa memberikan syafa’at. 9- Mulianya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para Nabi dan Rasul lainnya. 10- Adanya syafa’at untuk orang-orang yang menunggu persidangan di padang mahsyar yaitu segera diberikan keputusan. Syafa’at ini disebut dengan Syafa’atul ‘Uzhma yang hanya diberikan khusus pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebutkan dalam firman Allah, عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra’: 79) 11- Adanya syafa’at yang ditujukan pada pelaku dosa agar mereka keluar dari neraka dan masuk dalam surga. Syafa’at ini diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Nabi lainnya, termasuk pula diberikan pada malaikat dan orang beriman. 12- Berulangnya syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pelaku dosa dari umatnya. 13- Hadits ini membantah golongan Khawarij dan Mu’tazilah yang mengingkari adanya syafa’at. 14- Mendekatkan diri pada Allah, bentuknya adalah dengan sujud dan memuji-Nya. 15- Allah memberikan ilham pada Nabinya Muhammad dengan sanjungan yang tidak dikenal oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat di dunia. 16- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar dimuliakan oleh Rabbnya. Beliaulah makhluk termulia dan paling bertakwa di antara manusia. Disebutkan dalam ayat, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13). 17- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memberikan syafa’at sampai beliau mendapatkan izin dari Allah. Disebutkan dalam ayat, مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah: 255). 18- Orang beriman bertingkat-tingkat imannya. 19- Iman itu bertambah dan berkurang. 20- Sebab selamat dan keluar dari neraka adalah tauhid dan iman. 21- Bolehnya mengumpamakan sesuatu yang sifatnya maknawi dengan pengungkapan yang sifatnya inderawi. 22- Keutamaan kalimat tauhid ‘laa ilahaa illallah’. Kalimat laa ilaha illallah menjadi sebab tidak kekal dalam neraka. 23- Penetapan keagungan dan kebesaran Allah. 24- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ketika beliau meminta syafa’at. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي خَرَرْتُ لَهُ سَاجِدًا “Aku melihat Rabbku dan aku tersungkur sujud di hadapan-Nya.” (HR. Al Hakim no. 82 dan ia menshahihkannya, lalu disepakati pula oleh Adz Dzahabi, dari hadits ‘Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu ‘anhu). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk memiliki akidah yang benar.   (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Akhir 1436 H (tulisan yang tiga tahun tertunda) Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Segera lakukan pre order untuk buku terbaru “Pesugihan, Biar Kaya Mendadak” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Toko Online Ruwaifi.Com (CS: Mas Slamet) via: sms +62 852 00 171 222 BB 2B044CC3 WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pre order pesugihan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.25.000,- (belum termasuk ongkir). Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 482 juta rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsfaedah tauhid syafa'at

Anak dan Sifat Lapang Dada

16FebAnak dan Sifat Lapang DadaFebruary 16, 2015Keluarga Islami Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 48 ANAK DAN SIFAT LAPANG DADA*   Salah satu akhlak terpuji yang akan memberikan jalan kebaikan bagi jiwa untuk sampai kepada puncaknya, adalah sifat lapang dada dan tidak dengki serta mudah untuk memaafkan orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“ Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil“. QS. Al-A’râf (7): 199. Memaafkan tidak identik dengan kehinaan dan ketidakberdayaan. Bahkan sifat memaafkan merupakan cermin kebesaran jiwa dan kekuatan hati, serta lapang dada. Sebab, pada dasarnya ada kesanggupan untuk membalas. Sikap yang baik ini, akan menunjukkan rasa kebesaran jiwa, yaitu menumbuhkan ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan keperkasaan jiwa, yang tidak akan dijumpai tatkala melampiaskan api dendam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا“ “Tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan kemudahan untuk memaafkan kecuali Allah akan memberinya kemuliaan”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Dengan demikian, orang yang berakal seharusnya mengamalkan nasihat Ibnu Hibban rahimahullah dalam Raudhatul-‘Uqalâ`, “Betapa pentingnya seseorang melatih diri untuk berlapang dada terhadap kesalahan orang lain dan tidak membalasnya dengan kejelekan. Karena, tidak ada obat yang paling efektif dalam meredam kejahatan orang lain melebihi perbuatan yang baik kepadanya. Dan, tidak ada faktor yang mampu menyulut kejahatan, melebihi melakukan kejahatan serupa”. Sikap lapang dada juga akan mewujudkan keseimbangan jiwa dan membiasakannya untuk mencintai kebaikan bagi orang lain. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“ “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian; hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri”. HR. Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Mulai dari Orang Tua Untuk menanamkan sifat mulia ini pada anak, tentu harus dimulai dari diri orang tua selaku contoh bagi mereka. Janganlah orang tua enggan mengucapkan kata maaf ketika bersalah dan memaafkan jika anak berbuat salah. Lalu bimbinglah anak agar membersihkan hati dari sifat iri dan dengki kepada sesama, terlebih kepada saudara sendiri. Saat Anda pergi dengan si kakak dan mampir ke suatu toko, sampaikan kepadanya untuk membelikan jajan buat adiknya. Begitu pula sebaliknya ketika adik sedang makan sesuatu, ingatkan dia agar jangan lupa membagi untuk sang kakak. Satu hal juga yang harus diwaspadai oleh para orang tua adalah dalam hal pemberian kepada anak-anaknya. Orang tua harus bersikap adil. Dalam arti jika salah satu anak diberi hadiah, maka yang lainnya pun perlu untuk diberi pula. Walaupun tidak mesti harus sama bentuk dan nominalnya. Sebab jika tidak adil maka hal itu akan menimbulkan kecemburuan antar saudara. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Rabi’ul Tsani 1436 / 16 Februari 2015 * Diringkas dan disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 109) dan berbagai sumber lainnya. Download Makalah “Anak dan Sifat Lapang Dada” Disini PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Anak dan Sifat Lapang Dada

16FebAnak dan Sifat Lapang DadaFebruary 16, 2015Keluarga Islami Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 48 ANAK DAN SIFAT LAPANG DADA*   Salah satu akhlak terpuji yang akan memberikan jalan kebaikan bagi jiwa untuk sampai kepada puncaknya, adalah sifat lapang dada dan tidak dengki serta mudah untuk memaafkan orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“ Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil“. QS. Al-A’râf (7): 199. Memaafkan tidak identik dengan kehinaan dan ketidakberdayaan. Bahkan sifat memaafkan merupakan cermin kebesaran jiwa dan kekuatan hati, serta lapang dada. Sebab, pada dasarnya ada kesanggupan untuk membalas. Sikap yang baik ini, akan menunjukkan rasa kebesaran jiwa, yaitu menumbuhkan ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan keperkasaan jiwa, yang tidak akan dijumpai tatkala melampiaskan api dendam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا“ “Tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan kemudahan untuk memaafkan kecuali Allah akan memberinya kemuliaan”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Dengan demikian, orang yang berakal seharusnya mengamalkan nasihat Ibnu Hibban rahimahullah dalam Raudhatul-‘Uqalâ`, “Betapa pentingnya seseorang melatih diri untuk berlapang dada terhadap kesalahan orang lain dan tidak membalasnya dengan kejelekan. Karena, tidak ada obat yang paling efektif dalam meredam kejahatan orang lain melebihi perbuatan yang baik kepadanya. Dan, tidak ada faktor yang mampu menyulut kejahatan, melebihi melakukan kejahatan serupa”. Sikap lapang dada juga akan mewujudkan keseimbangan jiwa dan membiasakannya untuk mencintai kebaikan bagi orang lain. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“ “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian; hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri”. HR. Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Mulai dari Orang Tua Untuk menanamkan sifat mulia ini pada anak, tentu harus dimulai dari diri orang tua selaku contoh bagi mereka. Janganlah orang tua enggan mengucapkan kata maaf ketika bersalah dan memaafkan jika anak berbuat salah. Lalu bimbinglah anak agar membersihkan hati dari sifat iri dan dengki kepada sesama, terlebih kepada saudara sendiri. Saat Anda pergi dengan si kakak dan mampir ke suatu toko, sampaikan kepadanya untuk membelikan jajan buat adiknya. Begitu pula sebaliknya ketika adik sedang makan sesuatu, ingatkan dia agar jangan lupa membagi untuk sang kakak. Satu hal juga yang harus diwaspadai oleh para orang tua adalah dalam hal pemberian kepada anak-anaknya. Orang tua harus bersikap adil. Dalam arti jika salah satu anak diberi hadiah, maka yang lainnya pun perlu untuk diberi pula. Walaupun tidak mesti harus sama bentuk dan nominalnya. Sebab jika tidak adil maka hal itu akan menimbulkan kecemburuan antar saudara. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Rabi’ul Tsani 1436 / 16 Februari 2015 * Diringkas dan disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 109) dan berbagai sumber lainnya. Download Makalah “Anak dan Sifat Lapang Dada” Disini PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
16FebAnak dan Sifat Lapang DadaFebruary 16, 2015Keluarga Islami Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 48 ANAK DAN SIFAT LAPANG DADA*   Salah satu akhlak terpuji yang akan memberikan jalan kebaikan bagi jiwa untuk sampai kepada puncaknya, adalah sifat lapang dada dan tidak dengki serta mudah untuk memaafkan orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“ Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil“. QS. Al-A’râf (7): 199. Memaafkan tidak identik dengan kehinaan dan ketidakberdayaan. Bahkan sifat memaafkan merupakan cermin kebesaran jiwa dan kekuatan hati, serta lapang dada. Sebab, pada dasarnya ada kesanggupan untuk membalas. Sikap yang baik ini, akan menunjukkan rasa kebesaran jiwa, yaitu menumbuhkan ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan keperkasaan jiwa, yang tidak akan dijumpai tatkala melampiaskan api dendam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا“ “Tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan kemudahan untuk memaafkan kecuali Allah akan memberinya kemuliaan”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Dengan demikian, orang yang berakal seharusnya mengamalkan nasihat Ibnu Hibban rahimahullah dalam Raudhatul-‘Uqalâ`, “Betapa pentingnya seseorang melatih diri untuk berlapang dada terhadap kesalahan orang lain dan tidak membalasnya dengan kejelekan. Karena, tidak ada obat yang paling efektif dalam meredam kejahatan orang lain melebihi perbuatan yang baik kepadanya. Dan, tidak ada faktor yang mampu menyulut kejahatan, melebihi melakukan kejahatan serupa”. Sikap lapang dada juga akan mewujudkan keseimbangan jiwa dan membiasakannya untuk mencintai kebaikan bagi orang lain. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“ “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian; hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri”. HR. Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Mulai dari Orang Tua Untuk menanamkan sifat mulia ini pada anak, tentu harus dimulai dari diri orang tua selaku contoh bagi mereka. Janganlah orang tua enggan mengucapkan kata maaf ketika bersalah dan memaafkan jika anak berbuat salah. Lalu bimbinglah anak agar membersihkan hati dari sifat iri dan dengki kepada sesama, terlebih kepada saudara sendiri. Saat Anda pergi dengan si kakak dan mampir ke suatu toko, sampaikan kepadanya untuk membelikan jajan buat adiknya. Begitu pula sebaliknya ketika adik sedang makan sesuatu, ingatkan dia agar jangan lupa membagi untuk sang kakak. Satu hal juga yang harus diwaspadai oleh para orang tua adalah dalam hal pemberian kepada anak-anaknya. Orang tua harus bersikap adil. Dalam arti jika salah satu anak diberi hadiah, maka yang lainnya pun perlu untuk diberi pula. Walaupun tidak mesti harus sama bentuk dan nominalnya. Sebab jika tidak adil maka hal itu akan menimbulkan kecemburuan antar saudara. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Rabi’ul Tsani 1436 / 16 Februari 2015 * Diringkas dan disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 109) dan berbagai sumber lainnya. Download Makalah “Anak dan Sifat Lapang Dada” Disini PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


16FebAnak dan Sifat Lapang DadaFebruary 16, 2015Keluarga Islami Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 48 ANAK DAN SIFAT LAPANG DADA*   Salah satu akhlak terpuji yang akan memberikan jalan kebaikan bagi jiwa untuk sampai kepada puncaknya, adalah sifat lapang dada dan tidak dengki serta mudah untuk memaafkan orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“ Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil“. QS. Al-A’râf (7): 199. Memaafkan tidak identik dengan kehinaan dan ketidakberdayaan. Bahkan sifat memaafkan merupakan cermin kebesaran jiwa dan kekuatan hati, serta lapang dada. Sebab, pada dasarnya ada kesanggupan untuk membalas. Sikap yang baik ini, akan menunjukkan rasa kebesaran jiwa, yaitu menumbuhkan ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan keperkasaan jiwa, yang tidak akan dijumpai tatkala melampiaskan api dendam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا“ “Tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan kemudahan untuk memaafkan kecuali Allah akan memberinya kemuliaan”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Dengan demikian, orang yang berakal seharusnya mengamalkan nasihat Ibnu Hibban rahimahullah dalam Raudhatul-‘Uqalâ`, “Betapa pentingnya seseorang melatih diri untuk berlapang dada terhadap kesalahan orang lain dan tidak membalasnya dengan kejelekan. Karena, tidak ada obat yang paling efektif dalam meredam kejahatan orang lain melebihi perbuatan yang baik kepadanya. Dan, tidak ada faktor yang mampu menyulut kejahatan, melebihi melakukan kejahatan serupa”. Sikap lapang dada juga akan mewujudkan keseimbangan jiwa dan membiasakannya untuk mencintai kebaikan bagi orang lain. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“ “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian; hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri”. HR. Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Mulai dari Orang Tua Untuk menanamkan sifat mulia ini pada anak, tentu harus dimulai dari diri orang tua selaku contoh bagi mereka. Janganlah orang tua enggan mengucapkan kata maaf ketika bersalah dan memaafkan jika anak berbuat salah. Lalu bimbinglah anak agar membersihkan hati dari sifat iri dan dengki kepada sesama, terlebih kepada saudara sendiri. Saat Anda pergi dengan si kakak dan mampir ke suatu toko, sampaikan kepadanya untuk membelikan jajan buat adiknya. Begitu pula sebaliknya ketika adik sedang makan sesuatu, ingatkan dia agar jangan lupa membagi untuk sang kakak. Satu hal juga yang harus diwaspadai oleh para orang tua adalah dalam hal pemberian kepada anak-anaknya. Orang tua harus bersikap adil. Dalam arti jika salah satu anak diberi hadiah, maka yang lainnya pun perlu untuk diberi pula. Walaupun tidak mesti harus sama bentuk dan nominalnya. Sebab jika tidak adil maka hal itu akan menimbulkan kecemburuan antar saudara. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Rabi’ul Tsani 1436 / 16 Februari 2015 * Diringkas dan disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 109) dan berbagai sumber lainnya. Download Makalah “Anak dan Sifat Lapang Dada” Disini PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Untung atau Buntung?

15FebUntung atau Buntung?February 15, 2015Akhlak, Nasihat dan Faidah Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA   Setiap hamba yang tinggal di dunia harus siap untuk menghadapi ujian dan cobaan. Sebab itu sudah merupakan sunnatullah yang tidak mungkin bisa dihindari. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara orang yang beriman dengan yang tidak, antara orang Islam maupun orang kafir. Semuanya berpotensi untuk ditimpa ujian. Allah ta’ala berfirman, “وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“ Artinya: “Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa serta buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. QS. Al-Baqarah (2): 155. Jika memang demikian, lantas apa yang membedakan antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman saat ditimpa musibah? Bedanya: orang yang beriman untung, sedangkan yang tidak beriman akan buntung! Keuntungan orang yang beriman Orang yang beriman, walaupun ditimpa musibah, ia akan beruntung di dunia maupun akhirat. Di dunia, dia akan bersegera untuk introspeksi dan memperbaiki diri, sebab ia sadar betul bahwa musibah itu adalah akibat dari dosa-dosa yang dikerjakannya. “ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“ Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41. Dia juga akan tetap menghadapi musibah tersebut dengan hati yang tenang, karena dia yakin betul bahwa hal itu merupakan bagian dari takdir Allah. Dan takdir Allah pasti adalah yang terbaik untuknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ اللهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ “ “Sungguh Allah tidaklah menakdirkan sesuatu bagi seorang mukmin; melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth. Adapun keuntungan di akhirat adalah pahala tak terbatas yang dijanjikan untuknya. “إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“ Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10. ‘Kebuntungan’ orang yang tidak beriman Sudah jatuh, masih tertimpa tangga pula. Kira-kira begitulah perumpamaan orang-orang yang tidak beriman saat ditimpa musibah. Sudah merasa sakit karena tertimpa musibah, masih juga mereka ‘buntung’ alias rugi di dunia dan akhirat. Di dunia, mereka tidak bisa menerima musibah tersebut dengan hati yang lapang. Sehingga ia selalu hidup dalam kegundahgulanaan. Perilakunya tetap saja buruk pasca musibah. Bahkan malah ia senantiasa menjadikan orang lain sebagai kambing hitam. Sedangkan di akhirat, mereka terancam siksa Allah yang pedih karena tidak terima dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita semua orang-orang yang beruntung bukan yang buntung! @ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1435 / 2 Januari 2015 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Untung atau Buntung?

15FebUntung atau Buntung?February 15, 2015Akhlak, Nasihat dan Faidah Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA   Setiap hamba yang tinggal di dunia harus siap untuk menghadapi ujian dan cobaan. Sebab itu sudah merupakan sunnatullah yang tidak mungkin bisa dihindari. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara orang yang beriman dengan yang tidak, antara orang Islam maupun orang kafir. Semuanya berpotensi untuk ditimpa ujian. Allah ta’ala berfirman, “وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“ Artinya: “Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa serta buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. QS. Al-Baqarah (2): 155. Jika memang demikian, lantas apa yang membedakan antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman saat ditimpa musibah? Bedanya: orang yang beriman untung, sedangkan yang tidak beriman akan buntung! Keuntungan orang yang beriman Orang yang beriman, walaupun ditimpa musibah, ia akan beruntung di dunia maupun akhirat. Di dunia, dia akan bersegera untuk introspeksi dan memperbaiki diri, sebab ia sadar betul bahwa musibah itu adalah akibat dari dosa-dosa yang dikerjakannya. “ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“ Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41. Dia juga akan tetap menghadapi musibah tersebut dengan hati yang tenang, karena dia yakin betul bahwa hal itu merupakan bagian dari takdir Allah. Dan takdir Allah pasti adalah yang terbaik untuknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ اللهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ “ “Sungguh Allah tidaklah menakdirkan sesuatu bagi seorang mukmin; melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth. Adapun keuntungan di akhirat adalah pahala tak terbatas yang dijanjikan untuknya. “إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“ Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10. ‘Kebuntungan’ orang yang tidak beriman Sudah jatuh, masih tertimpa tangga pula. Kira-kira begitulah perumpamaan orang-orang yang tidak beriman saat ditimpa musibah. Sudah merasa sakit karena tertimpa musibah, masih juga mereka ‘buntung’ alias rugi di dunia dan akhirat. Di dunia, mereka tidak bisa menerima musibah tersebut dengan hati yang lapang. Sehingga ia selalu hidup dalam kegundahgulanaan. Perilakunya tetap saja buruk pasca musibah. Bahkan malah ia senantiasa menjadikan orang lain sebagai kambing hitam. Sedangkan di akhirat, mereka terancam siksa Allah yang pedih karena tidak terima dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita semua orang-orang yang beruntung bukan yang buntung! @ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1435 / 2 Januari 2015 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
15FebUntung atau Buntung?February 15, 2015Akhlak, Nasihat dan Faidah Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA   Setiap hamba yang tinggal di dunia harus siap untuk menghadapi ujian dan cobaan. Sebab itu sudah merupakan sunnatullah yang tidak mungkin bisa dihindari. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara orang yang beriman dengan yang tidak, antara orang Islam maupun orang kafir. Semuanya berpotensi untuk ditimpa ujian. Allah ta’ala berfirman, “وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“ Artinya: “Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa serta buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. QS. Al-Baqarah (2): 155. Jika memang demikian, lantas apa yang membedakan antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman saat ditimpa musibah? Bedanya: orang yang beriman untung, sedangkan yang tidak beriman akan buntung! Keuntungan orang yang beriman Orang yang beriman, walaupun ditimpa musibah, ia akan beruntung di dunia maupun akhirat. Di dunia, dia akan bersegera untuk introspeksi dan memperbaiki diri, sebab ia sadar betul bahwa musibah itu adalah akibat dari dosa-dosa yang dikerjakannya. “ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“ Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41. Dia juga akan tetap menghadapi musibah tersebut dengan hati yang tenang, karena dia yakin betul bahwa hal itu merupakan bagian dari takdir Allah. Dan takdir Allah pasti adalah yang terbaik untuknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ اللهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ “ “Sungguh Allah tidaklah menakdirkan sesuatu bagi seorang mukmin; melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth. Adapun keuntungan di akhirat adalah pahala tak terbatas yang dijanjikan untuknya. “إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“ Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10. ‘Kebuntungan’ orang yang tidak beriman Sudah jatuh, masih tertimpa tangga pula. Kira-kira begitulah perumpamaan orang-orang yang tidak beriman saat ditimpa musibah. Sudah merasa sakit karena tertimpa musibah, masih juga mereka ‘buntung’ alias rugi di dunia dan akhirat. Di dunia, mereka tidak bisa menerima musibah tersebut dengan hati yang lapang. Sehingga ia selalu hidup dalam kegundahgulanaan. Perilakunya tetap saja buruk pasca musibah. Bahkan malah ia senantiasa menjadikan orang lain sebagai kambing hitam. Sedangkan di akhirat, mereka terancam siksa Allah yang pedih karena tidak terima dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita semua orang-orang yang beruntung bukan yang buntung! @ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1435 / 2 Januari 2015 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


15FebUntung atau Buntung?February 15, 2015Akhlak, Nasihat dan Faidah Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA   Setiap hamba yang tinggal di dunia harus siap untuk menghadapi ujian dan cobaan. Sebab itu sudah merupakan sunnatullah yang tidak mungkin bisa dihindari. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara orang yang beriman dengan yang tidak, antara orang Islam maupun orang kafir. Semuanya berpotensi untuk ditimpa ujian. Allah ta’ala berfirman, “وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“ Artinya: “Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa serta buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. QS. Al-Baqarah (2): 155. Jika memang demikian, lantas apa yang membedakan antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman saat ditimpa musibah? Bedanya: orang yang beriman untung, sedangkan yang tidak beriman akan buntung! Keuntungan orang yang beriman Orang yang beriman, walaupun ditimpa musibah, ia akan beruntung di dunia maupun akhirat. Di dunia, dia akan bersegera untuk introspeksi dan memperbaiki diri, sebab ia sadar betul bahwa musibah itu adalah akibat dari dosa-dosa yang dikerjakannya. “ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“ Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41. Dia juga akan tetap menghadapi musibah tersebut dengan hati yang tenang, karena dia yakin betul bahwa hal itu merupakan bagian dari takdir Allah. Dan takdir Allah pasti adalah yang terbaik untuknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “إِنَّ اللهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ “ “Sungguh Allah tidaklah menakdirkan sesuatu bagi seorang mukmin; melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth. Adapun keuntungan di akhirat adalah pahala tak terbatas yang dijanjikan untuknya. “إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“ Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10. ‘Kebuntungan’ orang yang tidak beriman Sudah jatuh, masih tertimpa tangga pula. Kira-kira begitulah perumpamaan orang-orang yang tidak beriman saat ditimpa musibah. Sudah merasa sakit karena tertimpa musibah, masih juga mereka ‘buntung’ alias rugi di dunia dan akhirat. Di dunia, mereka tidak bisa menerima musibah tersebut dengan hati yang lapang. Sehingga ia selalu hidup dalam kegundahgulanaan. Perilakunya tetap saja buruk pasca musibah. Bahkan malah ia senantiasa menjadikan orang lain sebagai kambing hitam. Sedangkan di akhirat, mereka terancam siksa Allah yang pedih karena tidak terima dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita semua orang-orang yang beruntung bukan yang buntung! @ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1435 / 2 Januari 2015 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
Prev     Next