Semangat Meraih Ilmu Agama Dulu dan Kini

Kita tahu bagaimanakah keutamaan seseorang menuntut ilmu agama, sungguh begitu besar dan tidak ada tandingannya. Ada hadits shahih yang disebutkan dalam Sunan Abi Daud (no. 3641) dan haditsnya shahih, dari Katsir bin Qais, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadits yang telah sampai padaku di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadits tersebut. * Lihat hanya demi mendengar satu hadits, orang ini rela menempuh perjalanan dari Madinah menuju ke Damasqus di Syam. Ini bukan jarak yang dekat. Ini ditempuh dengan safar. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga.” * Ini keutamaan pertama dari menuntut ilmu, bahwa dengan ilmu akan dimudahkan jalan menuju surga. Menempuh jalan untuk mencari ilmu ada dua makna, bisa jadi benar-benar ia ke majelis ilmu lewati jalan. Bisa jadi maknanya adalah hissi, yaitu ia lakukan cara apa pun untuk meraih ilmu, bisa dengan hadir, duduk, mendengar, menghafal, mencatat, sampai ia menguatkannya dengan banyak mengulang hingga menyebarkan ilmu tadi pada yang lain. Tentu saja ia mencari ilmu ini atas dasar ikhlas karena setiap ibadah yang didasari ikhlas, itulah yang mendapatkan balasan. Jika ilmu agama dicari hanya untuk meraih dunia, dapat kedudukan mulia, dapat gelar, dapat duit, maka tentu tidak mendapatkan balasan seperti disebut dalam hadits. Yang dimaksudkan akan dimudahkan jalan menuju surga adalah ia diberi taufik di dunia untuk beramal shalih sehingga dengan amalan itu masuk surga, atau ia dimudahkan jalan di akhirat untuk masuk surga. Demikian keterangan dari Al-Munawi dalam Faidhul Qadir. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” * Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Ketika itu juga malaikat mendengarkan ilmu. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ “Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air.” * Berarti dengan menuntut ilmu dan berada dalam majelis ilmu bisa menghapuskan dosa. وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ “Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya.” * Orang yang berilmu bisa memberikan pengaruh ilmunya pada yang lain, pengaruhnya besar. Sedangkan ahli ibadah tidak bisa memberikan pengaruh pada yang lain seperti itu. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam misalkan seperti cahaya bulan dan cahaya bintang untuk membandingkan ahli ilmu dan ahli ibadah. Seorang alim yang benar adalah ia menyibukkan diri dengan ilmu dan tidak melupakan amalan. Sedangkan seorang ahli ibadah adalah yang menyibukkan diri dengan ibadah tanpa mempedulikan dasar ilmu dari ibadah tersebut. وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” * Seorang hamba barulah dikatakan baik jika ia mengambil warisan ilmu dari Nabi. Bukan sekedar menjadi seorang teknokrat, psikiater, dokter, seorang master atau seorang professor. Karena warisan Nabi bukanlah dunia dan harta, bukan pula ilmu dunia. Warisan Nabi yang sebenarnya adalah pada ilmu agama. Karenanya jangan sampai meninggalkan ilmu agama karena sibuk dengan keduniaan atau sibuk mencari ilmu dunia. يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7) Karena seorang dokter dan teknokrat yang kenal agama, jauh berbeda dengan yang tidak kenal agama. هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az- Zumar: 9). Tentang ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata, لاَ يَسْتَوِي هَؤُلاَءِ وَلاَ هَؤُلاَءِ، كَمَا لاَ يَسْتَوِي اللَّيْلُ وَالنَّهَار، وَالضِّيَاء والظِّلاَم، والماَء والنَّار “Tentu tidak sama antara mereka dan mereka (yang berilmu dan tidak berilmu). Sebagaimana tidak sama antara malam dan siang, tidak sama antara terang dan kegelapan, begitu pula tidak sama antara air dan api.” وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashshash: 77). Ibnu Katsir berkata, “Gunakanlah yang telah Allah anugerahkan untukmu dari harta dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada Allah dengan berbagai macam ketaatan. Dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan akhirat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 37). Para ulama membuktikan bahwa mereka punya semangat tinggi dalam meraih ilmu agama. Sampai waktunya habis untuk meraih hal itu. Al Khotib Al Baghdadi dalam kitab tarikhnya berkata, “Aku pernah mendengar ‘Ali bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdul Ghoffar Al Lughowi (lebih terkenal dengan sebutan As Samsamani), ia menceritakan bahwa Muhammad bin Jarir Ath Thobari pernah menetap selama 40 tahun dan menulis setiap harinya 40 halaman. Dan telah sampai kisah kepadaku dari Abu Hamid Ahmad bin Abi Thohir Al Faqih Al Isfaroini, ia bekata, “Seandainya seseorang bersafar ke China lantas ia menemukan kitab tafsir karya Ibnu Jarir, maka ia akan temukan tidak begitu banyak (dari kenyataan, pen).” Atau beliau mengucapkan perkataan semakna dengan itu. Al Qodhi Abu ‘Abdillah Muhammad, ia berkata bahwa ‘Ali bin Ahmad Ash Shona’ Ubaidullah bin Ahmad As Samsar dan ayahku berkata bahwa Abu Ja’far Ath Thobari pernah berkata pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis tafsir Al Qur’an?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Jawab Ath Thobari, “Tiga puluh ribu (30.000) lembar.” Mereka malah menjawab, هَذَا مِمَّا تَفْنَى الاَعْمَار “Menulis seperti itu malah menghabiskan umur kami.” Akhirnya kitab tersebut selesai dan lebih diringkas yang akhirnya menjadi sekitar 3000 lembaran. Ath-Thabari berkata lagi pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis kitab tarikh (sejarah) alam semesta mulai dari Adam hinggga saat ini?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Ath Thobari menyebut sebagaimana kitab tafsir tadi, lalu mereka pun menjawab semisal itu. Lantas Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, اِنَّا للهِ مَاتَتِ الهِمَم “Inna lillah … Semangat (ambisi) manusia saat ini telah mati.” (Tarikh Baghdad karya Al Khottib Al Baghdadi, 2: 163) Lihatlah bagaimana semangat ulama dalam meraih akhirat, raih ilmu yang Allah cinta, raih ilmu yang jadi warisan para Nabi. Bandingkan dengan semangat pemuda dan orang-orang saat ini. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di TlogoMas, Malang, 25 Dzulhijjah 1436 H Naskah Khutbah Jumat di Masjid Qolbun Salim Malang, Jumat, 25 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu

Semangat Meraih Ilmu Agama Dulu dan Kini

Kita tahu bagaimanakah keutamaan seseorang menuntut ilmu agama, sungguh begitu besar dan tidak ada tandingannya. Ada hadits shahih yang disebutkan dalam Sunan Abi Daud (no. 3641) dan haditsnya shahih, dari Katsir bin Qais, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadits yang telah sampai padaku di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadits tersebut. * Lihat hanya demi mendengar satu hadits, orang ini rela menempuh perjalanan dari Madinah menuju ke Damasqus di Syam. Ini bukan jarak yang dekat. Ini ditempuh dengan safar. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga.” * Ini keutamaan pertama dari menuntut ilmu, bahwa dengan ilmu akan dimudahkan jalan menuju surga. Menempuh jalan untuk mencari ilmu ada dua makna, bisa jadi benar-benar ia ke majelis ilmu lewati jalan. Bisa jadi maknanya adalah hissi, yaitu ia lakukan cara apa pun untuk meraih ilmu, bisa dengan hadir, duduk, mendengar, menghafal, mencatat, sampai ia menguatkannya dengan banyak mengulang hingga menyebarkan ilmu tadi pada yang lain. Tentu saja ia mencari ilmu ini atas dasar ikhlas karena setiap ibadah yang didasari ikhlas, itulah yang mendapatkan balasan. Jika ilmu agama dicari hanya untuk meraih dunia, dapat kedudukan mulia, dapat gelar, dapat duit, maka tentu tidak mendapatkan balasan seperti disebut dalam hadits. Yang dimaksudkan akan dimudahkan jalan menuju surga adalah ia diberi taufik di dunia untuk beramal shalih sehingga dengan amalan itu masuk surga, atau ia dimudahkan jalan di akhirat untuk masuk surga. Demikian keterangan dari Al-Munawi dalam Faidhul Qadir. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” * Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Ketika itu juga malaikat mendengarkan ilmu. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ “Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air.” * Berarti dengan menuntut ilmu dan berada dalam majelis ilmu bisa menghapuskan dosa. وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ “Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya.” * Orang yang berilmu bisa memberikan pengaruh ilmunya pada yang lain, pengaruhnya besar. Sedangkan ahli ibadah tidak bisa memberikan pengaruh pada yang lain seperti itu. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam misalkan seperti cahaya bulan dan cahaya bintang untuk membandingkan ahli ilmu dan ahli ibadah. Seorang alim yang benar adalah ia menyibukkan diri dengan ilmu dan tidak melupakan amalan. Sedangkan seorang ahli ibadah adalah yang menyibukkan diri dengan ibadah tanpa mempedulikan dasar ilmu dari ibadah tersebut. وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” * Seorang hamba barulah dikatakan baik jika ia mengambil warisan ilmu dari Nabi. Bukan sekedar menjadi seorang teknokrat, psikiater, dokter, seorang master atau seorang professor. Karena warisan Nabi bukanlah dunia dan harta, bukan pula ilmu dunia. Warisan Nabi yang sebenarnya adalah pada ilmu agama. Karenanya jangan sampai meninggalkan ilmu agama karena sibuk dengan keduniaan atau sibuk mencari ilmu dunia. يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7) Karena seorang dokter dan teknokrat yang kenal agama, jauh berbeda dengan yang tidak kenal agama. هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az- Zumar: 9). Tentang ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata, لاَ يَسْتَوِي هَؤُلاَءِ وَلاَ هَؤُلاَءِ، كَمَا لاَ يَسْتَوِي اللَّيْلُ وَالنَّهَار، وَالضِّيَاء والظِّلاَم، والماَء والنَّار “Tentu tidak sama antara mereka dan mereka (yang berilmu dan tidak berilmu). Sebagaimana tidak sama antara malam dan siang, tidak sama antara terang dan kegelapan, begitu pula tidak sama antara air dan api.” وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashshash: 77). Ibnu Katsir berkata, “Gunakanlah yang telah Allah anugerahkan untukmu dari harta dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada Allah dengan berbagai macam ketaatan. Dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan akhirat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 37). Para ulama membuktikan bahwa mereka punya semangat tinggi dalam meraih ilmu agama. Sampai waktunya habis untuk meraih hal itu. Al Khotib Al Baghdadi dalam kitab tarikhnya berkata, “Aku pernah mendengar ‘Ali bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdul Ghoffar Al Lughowi (lebih terkenal dengan sebutan As Samsamani), ia menceritakan bahwa Muhammad bin Jarir Ath Thobari pernah menetap selama 40 tahun dan menulis setiap harinya 40 halaman. Dan telah sampai kisah kepadaku dari Abu Hamid Ahmad bin Abi Thohir Al Faqih Al Isfaroini, ia bekata, “Seandainya seseorang bersafar ke China lantas ia menemukan kitab tafsir karya Ibnu Jarir, maka ia akan temukan tidak begitu banyak (dari kenyataan, pen).” Atau beliau mengucapkan perkataan semakna dengan itu. Al Qodhi Abu ‘Abdillah Muhammad, ia berkata bahwa ‘Ali bin Ahmad Ash Shona’ Ubaidullah bin Ahmad As Samsar dan ayahku berkata bahwa Abu Ja’far Ath Thobari pernah berkata pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis tafsir Al Qur’an?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Jawab Ath Thobari, “Tiga puluh ribu (30.000) lembar.” Mereka malah menjawab, هَذَا مِمَّا تَفْنَى الاَعْمَار “Menulis seperti itu malah menghabiskan umur kami.” Akhirnya kitab tersebut selesai dan lebih diringkas yang akhirnya menjadi sekitar 3000 lembaran. Ath-Thabari berkata lagi pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis kitab tarikh (sejarah) alam semesta mulai dari Adam hinggga saat ini?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Ath Thobari menyebut sebagaimana kitab tafsir tadi, lalu mereka pun menjawab semisal itu. Lantas Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, اِنَّا للهِ مَاتَتِ الهِمَم “Inna lillah … Semangat (ambisi) manusia saat ini telah mati.” (Tarikh Baghdad karya Al Khottib Al Baghdadi, 2: 163) Lihatlah bagaimana semangat ulama dalam meraih akhirat, raih ilmu yang Allah cinta, raih ilmu yang jadi warisan para Nabi. Bandingkan dengan semangat pemuda dan orang-orang saat ini. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di TlogoMas, Malang, 25 Dzulhijjah 1436 H Naskah Khutbah Jumat di Masjid Qolbun Salim Malang, Jumat, 25 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu
Kita tahu bagaimanakah keutamaan seseorang menuntut ilmu agama, sungguh begitu besar dan tidak ada tandingannya. Ada hadits shahih yang disebutkan dalam Sunan Abi Daud (no. 3641) dan haditsnya shahih, dari Katsir bin Qais, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadits yang telah sampai padaku di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadits tersebut. * Lihat hanya demi mendengar satu hadits, orang ini rela menempuh perjalanan dari Madinah menuju ke Damasqus di Syam. Ini bukan jarak yang dekat. Ini ditempuh dengan safar. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga.” * Ini keutamaan pertama dari menuntut ilmu, bahwa dengan ilmu akan dimudahkan jalan menuju surga. Menempuh jalan untuk mencari ilmu ada dua makna, bisa jadi benar-benar ia ke majelis ilmu lewati jalan. Bisa jadi maknanya adalah hissi, yaitu ia lakukan cara apa pun untuk meraih ilmu, bisa dengan hadir, duduk, mendengar, menghafal, mencatat, sampai ia menguatkannya dengan banyak mengulang hingga menyebarkan ilmu tadi pada yang lain. Tentu saja ia mencari ilmu ini atas dasar ikhlas karena setiap ibadah yang didasari ikhlas, itulah yang mendapatkan balasan. Jika ilmu agama dicari hanya untuk meraih dunia, dapat kedudukan mulia, dapat gelar, dapat duit, maka tentu tidak mendapatkan balasan seperti disebut dalam hadits. Yang dimaksudkan akan dimudahkan jalan menuju surga adalah ia diberi taufik di dunia untuk beramal shalih sehingga dengan amalan itu masuk surga, atau ia dimudahkan jalan di akhirat untuk masuk surga. Demikian keterangan dari Al-Munawi dalam Faidhul Qadir. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” * Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Ketika itu juga malaikat mendengarkan ilmu. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ “Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air.” * Berarti dengan menuntut ilmu dan berada dalam majelis ilmu bisa menghapuskan dosa. وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ “Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya.” * Orang yang berilmu bisa memberikan pengaruh ilmunya pada yang lain, pengaruhnya besar. Sedangkan ahli ibadah tidak bisa memberikan pengaruh pada yang lain seperti itu. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam misalkan seperti cahaya bulan dan cahaya bintang untuk membandingkan ahli ilmu dan ahli ibadah. Seorang alim yang benar adalah ia menyibukkan diri dengan ilmu dan tidak melupakan amalan. Sedangkan seorang ahli ibadah adalah yang menyibukkan diri dengan ibadah tanpa mempedulikan dasar ilmu dari ibadah tersebut. وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” * Seorang hamba barulah dikatakan baik jika ia mengambil warisan ilmu dari Nabi. Bukan sekedar menjadi seorang teknokrat, psikiater, dokter, seorang master atau seorang professor. Karena warisan Nabi bukanlah dunia dan harta, bukan pula ilmu dunia. Warisan Nabi yang sebenarnya adalah pada ilmu agama. Karenanya jangan sampai meninggalkan ilmu agama karena sibuk dengan keduniaan atau sibuk mencari ilmu dunia. يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7) Karena seorang dokter dan teknokrat yang kenal agama, jauh berbeda dengan yang tidak kenal agama. هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az- Zumar: 9). Tentang ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata, لاَ يَسْتَوِي هَؤُلاَءِ وَلاَ هَؤُلاَءِ، كَمَا لاَ يَسْتَوِي اللَّيْلُ وَالنَّهَار، وَالضِّيَاء والظِّلاَم، والماَء والنَّار “Tentu tidak sama antara mereka dan mereka (yang berilmu dan tidak berilmu). Sebagaimana tidak sama antara malam dan siang, tidak sama antara terang dan kegelapan, begitu pula tidak sama antara air dan api.” وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashshash: 77). Ibnu Katsir berkata, “Gunakanlah yang telah Allah anugerahkan untukmu dari harta dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada Allah dengan berbagai macam ketaatan. Dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan akhirat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 37). Para ulama membuktikan bahwa mereka punya semangat tinggi dalam meraih ilmu agama. Sampai waktunya habis untuk meraih hal itu. Al Khotib Al Baghdadi dalam kitab tarikhnya berkata, “Aku pernah mendengar ‘Ali bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdul Ghoffar Al Lughowi (lebih terkenal dengan sebutan As Samsamani), ia menceritakan bahwa Muhammad bin Jarir Ath Thobari pernah menetap selama 40 tahun dan menulis setiap harinya 40 halaman. Dan telah sampai kisah kepadaku dari Abu Hamid Ahmad bin Abi Thohir Al Faqih Al Isfaroini, ia bekata, “Seandainya seseorang bersafar ke China lantas ia menemukan kitab tafsir karya Ibnu Jarir, maka ia akan temukan tidak begitu banyak (dari kenyataan, pen).” Atau beliau mengucapkan perkataan semakna dengan itu. Al Qodhi Abu ‘Abdillah Muhammad, ia berkata bahwa ‘Ali bin Ahmad Ash Shona’ Ubaidullah bin Ahmad As Samsar dan ayahku berkata bahwa Abu Ja’far Ath Thobari pernah berkata pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis tafsir Al Qur’an?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Jawab Ath Thobari, “Tiga puluh ribu (30.000) lembar.” Mereka malah menjawab, هَذَا مِمَّا تَفْنَى الاَعْمَار “Menulis seperti itu malah menghabiskan umur kami.” Akhirnya kitab tersebut selesai dan lebih diringkas yang akhirnya menjadi sekitar 3000 lembaran. Ath-Thabari berkata lagi pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis kitab tarikh (sejarah) alam semesta mulai dari Adam hinggga saat ini?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Ath Thobari menyebut sebagaimana kitab tafsir tadi, lalu mereka pun menjawab semisal itu. Lantas Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, اِنَّا للهِ مَاتَتِ الهِمَم “Inna lillah … Semangat (ambisi) manusia saat ini telah mati.” (Tarikh Baghdad karya Al Khottib Al Baghdadi, 2: 163) Lihatlah bagaimana semangat ulama dalam meraih akhirat, raih ilmu yang Allah cinta, raih ilmu yang jadi warisan para Nabi. Bandingkan dengan semangat pemuda dan orang-orang saat ini. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di TlogoMas, Malang, 25 Dzulhijjah 1436 H Naskah Khutbah Jumat di Masjid Qolbun Salim Malang, Jumat, 25 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu


Kita tahu bagaimanakah keutamaan seseorang menuntut ilmu agama, sungguh begitu besar dan tidak ada tandingannya. Ada hadits shahih yang disebutkan dalam Sunan Abi Daud (no. 3641) dan haditsnya shahih, dari Katsir bin Qais, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadits yang telah sampai padaku di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadits tersebut. * Lihat hanya demi mendengar satu hadits, orang ini rela menempuh perjalanan dari Madinah menuju ke Damasqus di Syam. Ini bukan jarak yang dekat. Ini ditempuh dengan safar. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga.” * Ini keutamaan pertama dari menuntut ilmu, bahwa dengan ilmu akan dimudahkan jalan menuju surga. Menempuh jalan untuk mencari ilmu ada dua makna, bisa jadi benar-benar ia ke majelis ilmu lewati jalan. Bisa jadi maknanya adalah hissi, yaitu ia lakukan cara apa pun untuk meraih ilmu, bisa dengan hadir, duduk, mendengar, menghafal, mencatat, sampai ia menguatkannya dengan banyak mengulang hingga menyebarkan ilmu tadi pada yang lain. Tentu saja ia mencari ilmu ini atas dasar ikhlas karena setiap ibadah yang didasari ikhlas, itulah yang mendapatkan balasan. Jika ilmu agama dicari hanya untuk meraih dunia, dapat kedudukan mulia, dapat gelar, dapat duit, maka tentu tidak mendapatkan balasan seperti disebut dalam hadits. Yang dimaksudkan akan dimudahkan jalan menuju surga adalah ia diberi taufik di dunia untuk beramal shalih sehingga dengan amalan itu masuk surga, atau ia dimudahkan jalan di akhirat untuk masuk surga. Demikian keterangan dari Al-Munawi dalam Faidhul Qadir. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” * Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Ketika itu juga malaikat mendengarkan ilmu. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ “Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air.” * Berarti dengan menuntut ilmu dan berada dalam majelis ilmu bisa menghapuskan dosa. وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ “Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya.” * Orang yang berilmu bisa memberikan pengaruh ilmunya pada yang lain, pengaruhnya besar. Sedangkan ahli ibadah tidak bisa memberikan pengaruh pada yang lain seperti itu. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam misalkan seperti cahaya bulan dan cahaya bintang untuk membandingkan ahli ilmu dan ahli ibadah. Seorang alim yang benar adalah ia menyibukkan diri dengan ilmu dan tidak melupakan amalan. Sedangkan seorang ahli ibadah adalah yang menyibukkan diri dengan ibadah tanpa mempedulikan dasar ilmu dari ibadah tersebut. وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” * Seorang hamba barulah dikatakan baik jika ia mengambil warisan ilmu dari Nabi. Bukan sekedar menjadi seorang teknokrat, psikiater, dokter, seorang master atau seorang professor. Karena warisan Nabi bukanlah dunia dan harta, bukan pula ilmu dunia. Warisan Nabi yang sebenarnya adalah pada ilmu agama. Karenanya jangan sampai meninggalkan ilmu agama karena sibuk dengan keduniaan atau sibuk mencari ilmu dunia. يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7) Karena seorang dokter dan teknokrat yang kenal agama, jauh berbeda dengan yang tidak kenal agama. هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az- Zumar: 9). Tentang ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata, لاَ يَسْتَوِي هَؤُلاَءِ وَلاَ هَؤُلاَءِ، كَمَا لاَ يَسْتَوِي اللَّيْلُ وَالنَّهَار، وَالضِّيَاء والظِّلاَم، والماَء والنَّار “Tentu tidak sama antara mereka dan mereka (yang berilmu dan tidak berilmu). Sebagaimana tidak sama antara malam dan siang, tidak sama antara terang dan kegelapan, begitu pula tidak sama antara air dan api.” وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashshash: 77). Ibnu Katsir berkata, “Gunakanlah yang telah Allah anugerahkan untukmu dari harta dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada Allah dengan berbagai macam ketaatan. Dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan akhirat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 37). Para ulama membuktikan bahwa mereka punya semangat tinggi dalam meraih ilmu agama. Sampai waktunya habis untuk meraih hal itu. Al Khotib Al Baghdadi dalam kitab tarikhnya berkata, “Aku pernah mendengar ‘Ali bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdul Ghoffar Al Lughowi (lebih terkenal dengan sebutan As Samsamani), ia menceritakan bahwa Muhammad bin Jarir Ath Thobari pernah menetap selama 40 tahun dan menulis setiap harinya 40 halaman. Dan telah sampai kisah kepadaku dari Abu Hamid Ahmad bin Abi Thohir Al Faqih Al Isfaroini, ia bekata, “Seandainya seseorang bersafar ke China lantas ia menemukan kitab tafsir karya Ibnu Jarir, maka ia akan temukan tidak begitu banyak (dari kenyataan, pen).” Atau beliau mengucapkan perkataan semakna dengan itu. Al Qodhi Abu ‘Abdillah Muhammad, ia berkata bahwa ‘Ali bin Ahmad Ash Shona’ Ubaidullah bin Ahmad As Samsar dan ayahku berkata bahwa Abu Ja’far Ath Thobari pernah berkata pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis tafsir Al Qur’an?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Jawab Ath Thobari, “Tiga puluh ribu (30.000) lembar.” Mereka malah menjawab, هَذَا مِمَّا تَفْنَى الاَعْمَار “Menulis seperti itu malah menghabiskan umur kami.” Akhirnya kitab tersebut selesai dan lebih diringkas yang akhirnya menjadi sekitar 3000 lembaran. Ath-Thabari berkata lagi pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis kitab tarikh (sejarah) alam semesta mulai dari Adam hinggga saat ini?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Ath Thobari menyebut sebagaimana kitab tafsir tadi, lalu mereka pun menjawab semisal itu. Lantas Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, اِنَّا للهِ مَاتَتِ الهِمَم “Inna lillah … Semangat (ambisi) manusia saat ini telah mati.” (Tarikh Baghdad karya Al Khottib Al Baghdadi, 2: 163) Lihatlah bagaimana semangat ulama dalam meraih akhirat, raih ilmu yang Allah cinta, raih ilmu yang jadi warisan para Nabi. Bandingkan dengan semangat pemuda dan orang-orang saat ini. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di TlogoMas, Malang, 25 Dzulhijjah 1436 H Naskah Khutbah Jumat di Masjid Qolbun Salim Malang, Jumat, 25 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu

Ilmuwan yang Menjadi Ulama (7)

Ulama lainnya lagi yang memiliki basic ilmu dunia dan beralih menjadi ulama besar masa kini adalah Muhammad Sa’id Ahmad Ruslan, dengan nama kunyah Abu ‘Abdillah. Beliau lahir di negeri Sabak di Mesir, 23-11-1955. Beliau adalah di antara ulama yang dulunya menyelesaikan kuliah umum dalam ilmu bedah dari Universitas Al-Azhar. Di samping itu, beliau menyelesaikan kuliah bahasa Arab di jurusan Pendidikan Islam. Sedangkan jenjang master, beliau mengambil ilm hadits. Alhamdulillah lulus dengan predikat suma-cumlaude dengan judul thesis “Dhawabith Riwayat ‘inda Al-Muhadditsin”. Yang sama pula, beliau mengambil pendidikan Doktor dalam ilmu hadits dengan hasil suma-cumlaude dengan judul disertasi “Ar-Rawah Al-Mubadda’un min Rijal Al-Kutub As-Sittah”. Syaikh Muhammad Ruslan juga memiliki ijazah sanad dari 40 hadits yang dinamakan dengan ‘Al-Arba’in Al-Buldaniyyah”. Beliau sangat terpengaruh sekali dengan metode ilmiyyah Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Beliau biasa menyampaikan Khutbah Jumat dan pengajian di Masjid Asy-Syarqi di kota Sabak Al-Uhud. Di berbagai negeri pun, beliau biasa menyampaikan pengajian umum. Di antara karya ilmiah beliau adalah Fadhlul ‘Ilmi wa Adab Thalabatih, Hawla Hayat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dzammul Jahli wa Bayan Qabih Atsarihi, Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-‘Ubudiyah”, , Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-Amru bil Ma’ruf wa An-Nahyu ‘an Al-Munkar”, ‘Adawah Asy-Syaithon, Husnul Khuluq, Sya’nul Kalimah fi Al-Islam, Fadhl Al-‘Arabiyyah, Afaatul ‘Ilmi, Dhawabith At-Tabdi’, Silsilah: Waqafat ma’a Sayid Qutub, Hubbul Wathan Islami minal Iman, dan masih banyak karya lainnya. Pelajaran penting yang bisa kita petik dari Syaikh Ruslan, kecerdasan baiknya tidak dimanfaatkan untuk menguasai ilmu dunia saja. Kecerdasan juga sangat diperlukan untuk mencetak ulama-ulama besar. Kami yakin para ilmuwan akan semakin termotivasi mempelajari agama dengan mengetahui kisah ulama semacam ini. Semoga. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: http://www.rslan.com/targma.php — Diselesaikan di Blimbing, Girisekar, 25 Dzulhijjah 1436 H saat safar ke Malang Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan

Ilmuwan yang Menjadi Ulama (7)

Ulama lainnya lagi yang memiliki basic ilmu dunia dan beralih menjadi ulama besar masa kini adalah Muhammad Sa’id Ahmad Ruslan, dengan nama kunyah Abu ‘Abdillah. Beliau lahir di negeri Sabak di Mesir, 23-11-1955. Beliau adalah di antara ulama yang dulunya menyelesaikan kuliah umum dalam ilmu bedah dari Universitas Al-Azhar. Di samping itu, beliau menyelesaikan kuliah bahasa Arab di jurusan Pendidikan Islam. Sedangkan jenjang master, beliau mengambil ilm hadits. Alhamdulillah lulus dengan predikat suma-cumlaude dengan judul thesis “Dhawabith Riwayat ‘inda Al-Muhadditsin”. Yang sama pula, beliau mengambil pendidikan Doktor dalam ilmu hadits dengan hasil suma-cumlaude dengan judul disertasi “Ar-Rawah Al-Mubadda’un min Rijal Al-Kutub As-Sittah”. Syaikh Muhammad Ruslan juga memiliki ijazah sanad dari 40 hadits yang dinamakan dengan ‘Al-Arba’in Al-Buldaniyyah”. Beliau sangat terpengaruh sekali dengan metode ilmiyyah Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Beliau biasa menyampaikan Khutbah Jumat dan pengajian di Masjid Asy-Syarqi di kota Sabak Al-Uhud. Di berbagai negeri pun, beliau biasa menyampaikan pengajian umum. Di antara karya ilmiah beliau adalah Fadhlul ‘Ilmi wa Adab Thalabatih, Hawla Hayat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dzammul Jahli wa Bayan Qabih Atsarihi, Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-‘Ubudiyah”, , Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-Amru bil Ma’ruf wa An-Nahyu ‘an Al-Munkar”, ‘Adawah Asy-Syaithon, Husnul Khuluq, Sya’nul Kalimah fi Al-Islam, Fadhl Al-‘Arabiyyah, Afaatul ‘Ilmi, Dhawabith At-Tabdi’, Silsilah: Waqafat ma’a Sayid Qutub, Hubbul Wathan Islami minal Iman, dan masih banyak karya lainnya. Pelajaran penting yang bisa kita petik dari Syaikh Ruslan, kecerdasan baiknya tidak dimanfaatkan untuk menguasai ilmu dunia saja. Kecerdasan juga sangat diperlukan untuk mencetak ulama-ulama besar. Kami yakin para ilmuwan akan semakin termotivasi mempelajari agama dengan mengetahui kisah ulama semacam ini. Semoga. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: http://www.rslan.com/targma.php — Diselesaikan di Blimbing, Girisekar, 25 Dzulhijjah 1436 H saat safar ke Malang Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan
Ulama lainnya lagi yang memiliki basic ilmu dunia dan beralih menjadi ulama besar masa kini adalah Muhammad Sa’id Ahmad Ruslan, dengan nama kunyah Abu ‘Abdillah. Beliau lahir di negeri Sabak di Mesir, 23-11-1955. Beliau adalah di antara ulama yang dulunya menyelesaikan kuliah umum dalam ilmu bedah dari Universitas Al-Azhar. Di samping itu, beliau menyelesaikan kuliah bahasa Arab di jurusan Pendidikan Islam. Sedangkan jenjang master, beliau mengambil ilm hadits. Alhamdulillah lulus dengan predikat suma-cumlaude dengan judul thesis “Dhawabith Riwayat ‘inda Al-Muhadditsin”. Yang sama pula, beliau mengambil pendidikan Doktor dalam ilmu hadits dengan hasil suma-cumlaude dengan judul disertasi “Ar-Rawah Al-Mubadda’un min Rijal Al-Kutub As-Sittah”. Syaikh Muhammad Ruslan juga memiliki ijazah sanad dari 40 hadits yang dinamakan dengan ‘Al-Arba’in Al-Buldaniyyah”. Beliau sangat terpengaruh sekali dengan metode ilmiyyah Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Beliau biasa menyampaikan Khutbah Jumat dan pengajian di Masjid Asy-Syarqi di kota Sabak Al-Uhud. Di berbagai negeri pun, beliau biasa menyampaikan pengajian umum. Di antara karya ilmiah beliau adalah Fadhlul ‘Ilmi wa Adab Thalabatih, Hawla Hayat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dzammul Jahli wa Bayan Qabih Atsarihi, Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-‘Ubudiyah”, , Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-Amru bil Ma’ruf wa An-Nahyu ‘an Al-Munkar”, ‘Adawah Asy-Syaithon, Husnul Khuluq, Sya’nul Kalimah fi Al-Islam, Fadhl Al-‘Arabiyyah, Afaatul ‘Ilmi, Dhawabith At-Tabdi’, Silsilah: Waqafat ma’a Sayid Qutub, Hubbul Wathan Islami minal Iman, dan masih banyak karya lainnya. Pelajaran penting yang bisa kita petik dari Syaikh Ruslan, kecerdasan baiknya tidak dimanfaatkan untuk menguasai ilmu dunia saja. Kecerdasan juga sangat diperlukan untuk mencetak ulama-ulama besar. Kami yakin para ilmuwan akan semakin termotivasi mempelajari agama dengan mengetahui kisah ulama semacam ini. Semoga. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: http://www.rslan.com/targma.php — Diselesaikan di Blimbing, Girisekar, 25 Dzulhijjah 1436 H saat safar ke Malang Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan


Ulama lainnya lagi yang memiliki basic ilmu dunia dan beralih menjadi ulama besar masa kini adalah Muhammad Sa’id Ahmad Ruslan, dengan nama kunyah Abu ‘Abdillah. Beliau lahir di negeri Sabak di Mesir, 23-11-1955. Beliau adalah di antara ulama yang dulunya menyelesaikan kuliah umum dalam ilmu bedah dari Universitas Al-Azhar. Di samping itu, beliau menyelesaikan kuliah bahasa Arab di jurusan Pendidikan Islam. Sedangkan jenjang master, beliau mengambil ilm hadits. Alhamdulillah lulus dengan predikat suma-cumlaude dengan judul thesis “Dhawabith Riwayat ‘inda Al-Muhadditsin”. Yang sama pula, beliau mengambil pendidikan Doktor dalam ilmu hadits dengan hasil suma-cumlaude dengan judul disertasi “Ar-Rawah Al-Mubadda’un min Rijal Al-Kutub As-Sittah”. Syaikh Muhammad Ruslan juga memiliki ijazah sanad dari 40 hadits yang dinamakan dengan ‘Al-Arba’in Al-Buldaniyyah”. Beliau sangat terpengaruh sekali dengan metode ilmiyyah Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Beliau biasa menyampaikan Khutbah Jumat dan pengajian di Masjid Asy-Syarqi di kota Sabak Al-Uhud. Di berbagai negeri pun, beliau biasa menyampaikan pengajian umum. Di antara karya ilmiah beliau adalah Fadhlul ‘Ilmi wa Adab Thalabatih, Hawla Hayat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dzammul Jahli wa Bayan Qabih Atsarihi, Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-‘Ubudiyah”, , Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-Amru bil Ma’ruf wa An-Nahyu ‘an Al-Munkar”, ‘Adawah Asy-Syaithon, Husnul Khuluq, Sya’nul Kalimah fi Al-Islam, Fadhl Al-‘Arabiyyah, Afaatul ‘Ilmi, Dhawabith At-Tabdi’, Silsilah: Waqafat ma’a Sayid Qutub, Hubbul Wathan Islami minal Iman, dan masih banyak karya lainnya. Pelajaran penting yang bisa kita petik dari Syaikh Ruslan, kecerdasan baiknya tidak dimanfaatkan untuk menguasai ilmu dunia saja. Kecerdasan juga sangat diperlukan untuk mencetak ulama-ulama besar. Kami yakin para ilmuwan akan semakin termotivasi mempelajari agama dengan mengetahui kisah ulama semacam ini. Semoga. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: http://www.rslan.com/targma.php — Diselesaikan di Blimbing, Girisekar, 25 Dzulhijjah 1436 H saat safar ke Malang Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan

Jangan sedih, Allah bersama kita ! (Menyikapi Penyerangan Koalisi Syi’ah & Komunis)

(Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 26/12/1436 H – 8/10/2015 M)Asy-Syaikh Doktor Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullahKhutbah Pertama:          Alhamdulillah segala puji bagi Allah semata, sholawat dan salam semoga tercurahkan peda nabi yang terakhir, dan kepada keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du.Allah ta’aala telah menciptakan nenek moyang kita Adam ‘alaihis salam, lalu setan pun memusuhinya dan berbuat makar kepadanya untuk menyesatkannya. Para rasul telah menghadapi berbagai macam makar dan tipu daya, diadakan konspirasi untuk mencelakakan para rasul. Yusuf ‘alaihis salam saudara-saudaranya telah berbuat makar kepadanya, maka iapun bersabar atas gangguan mereka. Maka Allah berfirman tentang Yusuf :إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَSesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (QS Yusuf : 90) Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dikumpulkan kayu bakar dan dinyalakan api baginya, lalu beliau dilemparkan ke dalam api tersebut, maka jadilah api dingin dan keselamatan, dan hancurlah makar mereka sebagaimana firman Allah:وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَMereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi (QS Al-Anbiyaa’ : 70)Nabi Isa ‘alaihis salam, kaumnya berbuat makar dan tipu daya kepadanya untuk membunuhnya dan menyalibnya, maka Allah pun menyelamatkan beliau dari kejahatan mereka. Mereka berbuat makar kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, maka Allah berfirman :إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى“Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (QS Thoha : 69)Dan pasukan Abrahah berbuat makar untuk menghancurkan Ka’bah maka Allah hancurkan makar mereka: أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (QS Al-Fiil : 2-5)Para musuh berekutu dan mereka berbuat makar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi makar mereka hanyalah menuju kegagalan. Allah berfirmanوَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَMereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya (QS Al-Anfaal : 30)Diantara sifat-sifat para pembuat makar adalah berkhianat dan melanggar janji. Pada peristiwa Bi’ir Ma’uunah telah terbunuh 70 orang dari sahabat terpilih, Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS Al-Anfaal : 27)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah dari sifat khianat, beliau berkata :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ“Dan aku berlindung kepadaMu dari sifat khinat, karena ia adalah seburuk-buruk teman”Orang-orang munafik dahulu adalah sumber utama makar yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena sikap-sikap mereka yang membunglon dan berubah-rubah kondisi mereka. Allah berfirman :وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَDan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok” (QS Al-Baqoroh : 14)Allah berfirman tentang kaum munafiqinأَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَTidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan (QS Al-Baqoroh : 77)Yaitu : Apakah mereka tidak tahu bahwasanya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan berupa makar dan kekufuran dan apa yang mereka tampakan berupa keimanan dan sikap mencintai kaum muslimin?Diantara sifat pelaku makar  adalah muncul pada saat-saat ujian berat dan peristiwa-peristiwa genting, dan gembira dengan musibah yang menimpa kaum muslimin. Jika kaum muslimin memperoleh kemenangan dan kejayaan maka merekapun marah dan sedih. Jika kaum muslimin ditimpa bencana dan ujian maka para musuhpun mabuk saking gembira dan sombongnya.إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَاJika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. (QS Ali Imron : 120)Diantara sifat para pembuat makar adalah memperbesar permasalahan dan mencari-cari kesalahan dan ketergelinciran, lalu menyebarkannya, dan pura-pura tidak mengetahui prestasi-prestasi dan sisi-sisi positif. Dan inilah kebiasaan mereka yang tukang dengki dan hasad.Diantara bentuk makar adalah menjadikan para pemuda sebagai target untuk disesatkan melalui perkataan, foto/video, dan pengaruh pemikiran melalui media-media sosial dan sarana komunikasi modern, dan ini lebih berbahaya daripada para pasukan yang menyikat dan senjata yang mematikan. Yaitu dengan menyebarkan pemikiran ekstrem dan menyimpang untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang berbahaya, menguasai otak-otak para pemuda dan untuk menjauhkan mereka dari para ulama sehingga mudah untuk dijerat dan mempengaruhi mereka. Yang hal ini disebarkan oleh orang-orang yang tidak dikenal dengan ilmu dan amal.Diantara kegiatan para pendengki dan penghasad adalah menanamkan organisasi-organisasi teroris di negeri-negeri kaum muslimin, agar menjadi bahan bakar untuk membakar para pemuda, dan menghancurkan masa depan mereka dan negeri mereka.          Diantara metode makar adalah menggambarkan agama ini seakan-akan adalah agama yang terbelakang dan penuh kekacauan, amburadul dan mengerikan, yaitu dengan menampilkan klip-klip berdarah dan pelaksanaan penculikan yang dilakukan oleh orang-orang (sesat) yang menyelip di barisan kaum muslimin dan berpenampilan dengan penampilannya agama.Diantara bentuk makar adalah membuat-buat berita dusta dan menyebarkan isu-isu yang bertujuan buruk. Dan telah datang ayat-ayat yang jelas yang memperingatkan agar tidak ikut menjadi penyebar berita dusta tersebut, dan arahan untuk benar dalam perkataan dan tidak menyampaikan semua berita secara sembarangan tanpa pertimbangan terlebih dahulu dan tanpa hikmah dan penjelasan.يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًاHai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al-Ahzaab : 70)Al-Qur’an membimbing untuk meluruskan perkataan, dan hati-hati dalam berucap, serta mempelajari tujuan ucapan dan arahannya sebelum mengikuti orang-orang munafik dan pembuat onar.Al-Qur’an membimbing untuk mengucapkan perkataan yang baik yang mengantarkan kepada amal shalih.Diantara bentuk makar adalah menyebarkan keraguan di kaum muslimin terhadap pemimpin mereka dan pemerintah mereka dengan memalsukan hakekat yang sebenarnya. Dan diantara bentuk konspirasi adalah mengeluarkan fatwa-fatwa syubhat dan fitnah, hal ini mengantarkan pada tersebarnya kebatilan serta menghiasinya dengan pakaian kebatilan. Yang sungguh menakjubkan adalah fatwa-fatwa asing malah tersebar di zaman kita, sehingga menimbulkan kerancuan bagi masyarakat, dan orang-orang yang suka dengan pendapat-pendapat yang aneh segera berlomba-lomba dalam menyebarkannya. Hal ini menimbulkan dampak negatif dan kemudhorotan yang besar pada umat ini.Diantara metode konspirasi (keburukan) adalah menghalangi kebenaran, yaitu dengan mengobarkan syahwat dan nafsu serta menenggelamkan para pemuda dalam lautan narkoba.Diantara kegiatan para tukang makar adalah mengobarkan kekacauan, ketidakstabilan, dan fitnah, memecahkan barisan kaum muslimin, menimbulkan kondisi krisis agar menghentikan gerakan pembangunan, pengembangan, dan produksi di negeri-negeri kaum muslimin, sehingga kaum muslimin akhirnya terfokus kepada cara mencari solusi menghadapi fitnah dan usaha untu memadamkan api fitnahnya.Diantara bentuk makar para pembuat makar adalah membentuk kegaduhan dengan menyebarkan rasa pesimis dan kerendahan serta jiwa yang jatuh dan kalah. Allah berfirman :الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS Ali ‘Imron : 173((Hasbunallah wa nikmal wakiil)…ini adalah benteng perlindungan yang kokoh sebagai tempat berlindung kaum mukminin tatkala diliputi oleh berbagai musibah dan ujian. Bagaimanapun berat perkaranya maka hal ini tidaklah menambah bagi kaum mukminin kecuali semakin kokoh, semakin beriman, dan semakin pasrah kepada Allah.Sejarah mulia dari umat ini mendorong nilai optimis, dan ia adalah sejarah kejayaan dan kepemimpinan, penuh kepercayaan bahwasanya Allah akan membalas mereka yang berbuat zolim dan melampaui batas. Allah berfirmanإِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ (12) إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ (13)Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali) (QS Al-Buruuj : 12-13)Kita berhusnudzon (berprasangka baik) kepara Robb kita, kita meyakini akan keadilaNya, sesungguhnya Allah penolong wali-waliNya, menghancurkan musuh-musuhNya. Allah berfirman :وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًاDan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (QS Al-Ahzaab : 22) Khutbah Kedua ;          Diantara penjagaan Allah kepada kebenaran dan pembela kebenaran adalah hancur leburnya seluruh model makar dan tipu daya di atas batu ketegaran umat ini yang memikul warisan kenabian. Meskipun umat ini lemah pada suatu zaman akan tetapi dominasi dan kemenangan adalah milik umat ini, kejayaan dan kekuasaan adalah kesudahan umat ini. Allah berfirman ;إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًاSesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS Al-Israa’ : 81)وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَDan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (QS Ar-Ruum : 47)Kaum mukimin telah mengalami luka dari makar para pembuat makar, gangguan dari para pelaku tipu daya, hal ini demikian agar Allah menguji kaum mukminin, dan mengungkap kaum munafiqin, dan menguji ketegaran kaum muslimin. Dan bagaimanapun puncak makar dan tipu daya maka ia tergantung dengan takdir Allah, terliput oleh kehendak Allah. Dan makar/rencana yang jahat tidak lain kecuali akan kembali kepada pelakunya. Allah berfirman :وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِRencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. (QS Fathir : 43)Sesungguhnya satu kata, satu barisan dan satu hati merupakan jalan menuju kemenangan dan kemuliaan, serta pondasi dari kejayaan. Allah berfirman :وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْDan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu (QS Al-Anfaal : 46)Dan umat Islam menggabungkan antara berikhtiyar berusaha melakukan sebab dan bertawakkal kepada Allah SWT. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah dan memasrahkannya maka Allah cukup baginya, Allah akan menjaganya. Allah berfirman :وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًاDan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS At-Tholaq : 3)لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (QS At-Taubah : 40)Sebuah kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara beliau berada di dalam goa bersama sahabatnya, dan orang-orang kafir telah mengepung mereka. Maka Allah pun menyelamatkan mereka dan menjaga mereka serta menolong mereka. Perkataan (“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”) menumbuhkan ketenangan dan ketentraman, serta hilangnya rasa putus asa.Jendela-jendela makar ditutup dengan ketegaran di atas kebenaran dan berpegang teguh dengan Al-Kitab dan as-Sunnah serta kembali kepada para ulama pada lokasi-lokasi fitnah, dan hendaknya perkara dikembalikan kepada pemerintah dalam urusan hukum dan keamanan.Menghias diri dengan ketakwaan dan kesabaran akan melemahkan tipu daya mereka dan akan menghilangkan kemudhorotan. Allah berfirmanذَلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَItulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir (QS Al-Anfaal : 18)Dan sesungguhnya keamanan negeri ini –negeri dua kota suci- merupakan landasan keamanan umat Islam, negeri ini adalah jantung umat ini yang berdenyut, dan mengganggu negeri ini berarti mengganggu keamanan umat ini. Dan jasad umat ini senantiasa baik selama darah jantung masih berdenyut, dan kebaikan umat ini tersebar, dan kegiatan sosialnya tidak pernah berhenti, menjaga negeri ini dari gangguan makar para pembuat makar dan dari tipu daya para pelakunya adalah perkara yang dituntut dalam syari’at dan kewajiban agama bagi setiap muslim. Dan para penduduk negeri ini yang berakal mengerti akan hal ini dan mereka ikut berpartisipasi dengan kesadaran mereka dalam menggagalkan konspirasi orang-orang yang menanti-nanti jatuhnya negeri ini. Barangsiapa yang berusaha untuk mengganggu keamanan negeri ini maka ia telah melayani musuh-musuh agama. Dan negeri ini terjaga dengan penjagaan Allah, tegak dan tegar. Allah berfirman وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًاJika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. (QS Ali Imron : 120) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Jangan sedih, Allah bersama kita ! (Menyikapi Penyerangan Koalisi Syi’ah & Komunis)

(Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 26/12/1436 H – 8/10/2015 M)Asy-Syaikh Doktor Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullahKhutbah Pertama:          Alhamdulillah segala puji bagi Allah semata, sholawat dan salam semoga tercurahkan peda nabi yang terakhir, dan kepada keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du.Allah ta’aala telah menciptakan nenek moyang kita Adam ‘alaihis salam, lalu setan pun memusuhinya dan berbuat makar kepadanya untuk menyesatkannya. Para rasul telah menghadapi berbagai macam makar dan tipu daya, diadakan konspirasi untuk mencelakakan para rasul. Yusuf ‘alaihis salam saudara-saudaranya telah berbuat makar kepadanya, maka iapun bersabar atas gangguan mereka. Maka Allah berfirman tentang Yusuf :إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَSesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (QS Yusuf : 90) Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dikumpulkan kayu bakar dan dinyalakan api baginya, lalu beliau dilemparkan ke dalam api tersebut, maka jadilah api dingin dan keselamatan, dan hancurlah makar mereka sebagaimana firman Allah:وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَMereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi (QS Al-Anbiyaa’ : 70)Nabi Isa ‘alaihis salam, kaumnya berbuat makar dan tipu daya kepadanya untuk membunuhnya dan menyalibnya, maka Allah pun menyelamatkan beliau dari kejahatan mereka. Mereka berbuat makar kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, maka Allah berfirman :إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى“Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (QS Thoha : 69)Dan pasukan Abrahah berbuat makar untuk menghancurkan Ka’bah maka Allah hancurkan makar mereka: أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (QS Al-Fiil : 2-5)Para musuh berekutu dan mereka berbuat makar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi makar mereka hanyalah menuju kegagalan. Allah berfirmanوَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَMereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya (QS Al-Anfaal : 30)Diantara sifat-sifat para pembuat makar adalah berkhianat dan melanggar janji. Pada peristiwa Bi’ir Ma’uunah telah terbunuh 70 orang dari sahabat terpilih, Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS Al-Anfaal : 27)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah dari sifat khianat, beliau berkata :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ“Dan aku berlindung kepadaMu dari sifat khinat, karena ia adalah seburuk-buruk teman”Orang-orang munafik dahulu adalah sumber utama makar yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena sikap-sikap mereka yang membunglon dan berubah-rubah kondisi mereka. Allah berfirman :وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَDan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok” (QS Al-Baqoroh : 14)Allah berfirman tentang kaum munafiqinأَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَTidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan (QS Al-Baqoroh : 77)Yaitu : Apakah mereka tidak tahu bahwasanya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan berupa makar dan kekufuran dan apa yang mereka tampakan berupa keimanan dan sikap mencintai kaum muslimin?Diantara sifat pelaku makar  adalah muncul pada saat-saat ujian berat dan peristiwa-peristiwa genting, dan gembira dengan musibah yang menimpa kaum muslimin. Jika kaum muslimin memperoleh kemenangan dan kejayaan maka merekapun marah dan sedih. Jika kaum muslimin ditimpa bencana dan ujian maka para musuhpun mabuk saking gembira dan sombongnya.إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَاJika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. (QS Ali Imron : 120)Diantara sifat para pembuat makar adalah memperbesar permasalahan dan mencari-cari kesalahan dan ketergelinciran, lalu menyebarkannya, dan pura-pura tidak mengetahui prestasi-prestasi dan sisi-sisi positif. Dan inilah kebiasaan mereka yang tukang dengki dan hasad.Diantara bentuk makar adalah menjadikan para pemuda sebagai target untuk disesatkan melalui perkataan, foto/video, dan pengaruh pemikiran melalui media-media sosial dan sarana komunikasi modern, dan ini lebih berbahaya daripada para pasukan yang menyikat dan senjata yang mematikan. Yaitu dengan menyebarkan pemikiran ekstrem dan menyimpang untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang berbahaya, menguasai otak-otak para pemuda dan untuk menjauhkan mereka dari para ulama sehingga mudah untuk dijerat dan mempengaruhi mereka. Yang hal ini disebarkan oleh orang-orang yang tidak dikenal dengan ilmu dan amal.Diantara kegiatan para pendengki dan penghasad adalah menanamkan organisasi-organisasi teroris di negeri-negeri kaum muslimin, agar menjadi bahan bakar untuk membakar para pemuda, dan menghancurkan masa depan mereka dan negeri mereka.          Diantara metode makar adalah menggambarkan agama ini seakan-akan adalah agama yang terbelakang dan penuh kekacauan, amburadul dan mengerikan, yaitu dengan menampilkan klip-klip berdarah dan pelaksanaan penculikan yang dilakukan oleh orang-orang (sesat) yang menyelip di barisan kaum muslimin dan berpenampilan dengan penampilannya agama.Diantara bentuk makar adalah membuat-buat berita dusta dan menyebarkan isu-isu yang bertujuan buruk. Dan telah datang ayat-ayat yang jelas yang memperingatkan agar tidak ikut menjadi penyebar berita dusta tersebut, dan arahan untuk benar dalam perkataan dan tidak menyampaikan semua berita secara sembarangan tanpa pertimbangan terlebih dahulu dan tanpa hikmah dan penjelasan.يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًاHai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al-Ahzaab : 70)Al-Qur’an membimbing untuk meluruskan perkataan, dan hati-hati dalam berucap, serta mempelajari tujuan ucapan dan arahannya sebelum mengikuti orang-orang munafik dan pembuat onar.Al-Qur’an membimbing untuk mengucapkan perkataan yang baik yang mengantarkan kepada amal shalih.Diantara bentuk makar adalah menyebarkan keraguan di kaum muslimin terhadap pemimpin mereka dan pemerintah mereka dengan memalsukan hakekat yang sebenarnya. Dan diantara bentuk konspirasi adalah mengeluarkan fatwa-fatwa syubhat dan fitnah, hal ini mengantarkan pada tersebarnya kebatilan serta menghiasinya dengan pakaian kebatilan. Yang sungguh menakjubkan adalah fatwa-fatwa asing malah tersebar di zaman kita, sehingga menimbulkan kerancuan bagi masyarakat, dan orang-orang yang suka dengan pendapat-pendapat yang aneh segera berlomba-lomba dalam menyebarkannya. Hal ini menimbulkan dampak negatif dan kemudhorotan yang besar pada umat ini.Diantara metode konspirasi (keburukan) adalah menghalangi kebenaran, yaitu dengan mengobarkan syahwat dan nafsu serta menenggelamkan para pemuda dalam lautan narkoba.Diantara kegiatan para tukang makar adalah mengobarkan kekacauan, ketidakstabilan, dan fitnah, memecahkan barisan kaum muslimin, menimbulkan kondisi krisis agar menghentikan gerakan pembangunan, pengembangan, dan produksi di negeri-negeri kaum muslimin, sehingga kaum muslimin akhirnya terfokus kepada cara mencari solusi menghadapi fitnah dan usaha untu memadamkan api fitnahnya.Diantara bentuk makar para pembuat makar adalah membentuk kegaduhan dengan menyebarkan rasa pesimis dan kerendahan serta jiwa yang jatuh dan kalah. Allah berfirman :الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS Ali ‘Imron : 173((Hasbunallah wa nikmal wakiil)…ini adalah benteng perlindungan yang kokoh sebagai tempat berlindung kaum mukminin tatkala diliputi oleh berbagai musibah dan ujian. Bagaimanapun berat perkaranya maka hal ini tidaklah menambah bagi kaum mukminin kecuali semakin kokoh, semakin beriman, dan semakin pasrah kepada Allah.Sejarah mulia dari umat ini mendorong nilai optimis, dan ia adalah sejarah kejayaan dan kepemimpinan, penuh kepercayaan bahwasanya Allah akan membalas mereka yang berbuat zolim dan melampaui batas. Allah berfirmanإِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ (12) إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ (13)Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali) (QS Al-Buruuj : 12-13)Kita berhusnudzon (berprasangka baik) kepara Robb kita, kita meyakini akan keadilaNya, sesungguhnya Allah penolong wali-waliNya, menghancurkan musuh-musuhNya. Allah berfirman :وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًاDan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (QS Al-Ahzaab : 22) Khutbah Kedua ;          Diantara penjagaan Allah kepada kebenaran dan pembela kebenaran adalah hancur leburnya seluruh model makar dan tipu daya di atas batu ketegaran umat ini yang memikul warisan kenabian. Meskipun umat ini lemah pada suatu zaman akan tetapi dominasi dan kemenangan adalah milik umat ini, kejayaan dan kekuasaan adalah kesudahan umat ini. Allah berfirman ;إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًاSesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS Al-Israa’ : 81)وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَDan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (QS Ar-Ruum : 47)Kaum mukimin telah mengalami luka dari makar para pembuat makar, gangguan dari para pelaku tipu daya, hal ini demikian agar Allah menguji kaum mukminin, dan mengungkap kaum munafiqin, dan menguji ketegaran kaum muslimin. Dan bagaimanapun puncak makar dan tipu daya maka ia tergantung dengan takdir Allah, terliput oleh kehendak Allah. Dan makar/rencana yang jahat tidak lain kecuali akan kembali kepada pelakunya. Allah berfirman :وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِRencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. (QS Fathir : 43)Sesungguhnya satu kata, satu barisan dan satu hati merupakan jalan menuju kemenangan dan kemuliaan, serta pondasi dari kejayaan. Allah berfirman :وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْDan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu (QS Al-Anfaal : 46)Dan umat Islam menggabungkan antara berikhtiyar berusaha melakukan sebab dan bertawakkal kepada Allah SWT. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah dan memasrahkannya maka Allah cukup baginya, Allah akan menjaganya. Allah berfirman :وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًاDan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS At-Tholaq : 3)لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (QS At-Taubah : 40)Sebuah kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara beliau berada di dalam goa bersama sahabatnya, dan orang-orang kafir telah mengepung mereka. Maka Allah pun menyelamatkan mereka dan menjaga mereka serta menolong mereka. Perkataan (“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”) menumbuhkan ketenangan dan ketentraman, serta hilangnya rasa putus asa.Jendela-jendela makar ditutup dengan ketegaran di atas kebenaran dan berpegang teguh dengan Al-Kitab dan as-Sunnah serta kembali kepada para ulama pada lokasi-lokasi fitnah, dan hendaknya perkara dikembalikan kepada pemerintah dalam urusan hukum dan keamanan.Menghias diri dengan ketakwaan dan kesabaran akan melemahkan tipu daya mereka dan akan menghilangkan kemudhorotan. Allah berfirmanذَلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَItulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir (QS Al-Anfaal : 18)Dan sesungguhnya keamanan negeri ini –negeri dua kota suci- merupakan landasan keamanan umat Islam, negeri ini adalah jantung umat ini yang berdenyut, dan mengganggu negeri ini berarti mengganggu keamanan umat ini. Dan jasad umat ini senantiasa baik selama darah jantung masih berdenyut, dan kebaikan umat ini tersebar, dan kegiatan sosialnya tidak pernah berhenti, menjaga negeri ini dari gangguan makar para pembuat makar dan dari tipu daya para pelakunya adalah perkara yang dituntut dalam syari’at dan kewajiban agama bagi setiap muslim. Dan para penduduk negeri ini yang berakal mengerti akan hal ini dan mereka ikut berpartisipasi dengan kesadaran mereka dalam menggagalkan konspirasi orang-orang yang menanti-nanti jatuhnya negeri ini. Barangsiapa yang berusaha untuk mengganggu keamanan negeri ini maka ia telah melayani musuh-musuh agama. Dan negeri ini terjaga dengan penjagaan Allah, tegak dan tegar. Allah berfirman وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًاJika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. (QS Ali Imron : 120) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
(Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 26/12/1436 H – 8/10/2015 M)Asy-Syaikh Doktor Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullahKhutbah Pertama:          Alhamdulillah segala puji bagi Allah semata, sholawat dan salam semoga tercurahkan peda nabi yang terakhir, dan kepada keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du.Allah ta’aala telah menciptakan nenek moyang kita Adam ‘alaihis salam, lalu setan pun memusuhinya dan berbuat makar kepadanya untuk menyesatkannya. Para rasul telah menghadapi berbagai macam makar dan tipu daya, diadakan konspirasi untuk mencelakakan para rasul. Yusuf ‘alaihis salam saudara-saudaranya telah berbuat makar kepadanya, maka iapun bersabar atas gangguan mereka. Maka Allah berfirman tentang Yusuf :إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَSesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (QS Yusuf : 90) Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dikumpulkan kayu bakar dan dinyalakan api baginya, lalu beliau dilemparkan ke dalam api tersebut, maka jadilah api dingin dan keselamatan, dan hancurlah makar mereka sebagaimana firman Allah:وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَMereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi (QS Al-Anbiyaa’ : 70)Nabi Isa ‘alaihis salam, kaumnya berbuat makar dan tipu daya kepadanya untuk membunuhnya dan menyalibnya, maka Allah pun menyelamatkan beliau dari kejahatan mereka. Mereka berbuat makar kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, maka Allah berfirman :إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى“Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (QS Thoha : 69)Dan pasukan Abrahah berbuat makar untuk menghancurkan Ka’bah maka Allah hancurkan makar mereka: أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (QS Al-Fiil : 2-5)Para musuh berekutu dan mereka berbuat makar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi makar mereka hanyalah menuju kegagalan. Allah berfirmanوَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَMereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya (QS Al-Anfaal : 30)Diantara sifat-sifat para pembuat makar adalah berkhianat dan melanggar janji. Pada peristiwa Bi’ir Ma’uunah telah terbunuh 70 orang dari sahabat terpilih, Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS Al-Anfaal : 27)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah dari sifat khianat, beliau berkata :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ“Dan aku berlindung kepadaMu dari sifat khinat, karena ia adalah seburuk-buruk teman”Orang-orang munafik dahulu adalah sumber utama makar yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena sikap-sikap mereka yang membunglon dan berubah-rubah kondisi mereka. Allah berfirman :وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَDan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok” (QS Al-Baqoroh : 14)Allah berfirman tentang kaum munafiqinأَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَTidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan (QS Al-Baqoroh : 77)Yaitu : Apakah mereka tidak tahu bahwasanya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan berupa makar dan kekufuran dan apa yang mereka tampakan berupa keimanan dan sikap mencintai kaum muslimin?Diantara sifat pelaku makar  adalah muncul pada saat-saat ujian berat dan peristiwa-peristiwa genting, dan gembira dengan musibah yang menimpa kaum muslimin. Jika kaum muslimin memperoleh kemenangan dan kejayaan maka merekapun marah dan sedih. Jika kaum muslimin ditimpa bencana dan ujian maka para musuhpun mabuk saking gembira dan sombongnya.إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَاJika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. (QS Ali Imron : 120)Diantara sifat para pembuat makar adalah memperbesar permasalahan dan mencari-cari kesalahan dan ketergelinciran, lalu menyebarkannya, dan pura-pura tidak mengetahui prestasi-prestasi dan sisi-sisi positif. Dan inilah kebiasaan mereka yang tukang dengki dan hasad.Diantara bentuk makar adalah menjadikan para pemuda sebagai target untuk disesatkan melalui perkataan, foto/video, dan pengaruh pemikiran melalui media-media sosial dan sarana komunikasi modern, dan ini lebih berbahaya daripada para pasukan yang menyikat dan senjata yang mematikan. Yaitu dengan menyebarkan pemikiran ekstrem dan menyimpang untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang berbahaya, menguasai otak-otak para pemuda dan untuk menjauhkan mereka dari para ulama sehingga mudah untuk dijerat dan mempengaruhi mereka. Yang hal ini disebarkan oleh orang-orang yang tidak dikenal dengan ilmu dan amal.Diantara kegiatan para pendengki dan penghasad adalah menanamkan organisasi-organisasi teroris di negeri-negeri kaum muslimin, agar menjadi bahan bakar untuk membakar para pemuda, dan menghancurkan masa depan mereka dan negeri mereka.          Diantara metode makar adalah menggambarkan agama ini seakan-akan adalah agama yang terbelakang dan penuh kekacauan, amburadul dan mengerikan, yaitu dengan menampilkan klip-klip berdarah dan pelaksanaan penculikan yang dilakukan oleh orang-orang (sesat) yang menyelip di barisan kaum muslimin dan berpenampilan dengan penampilannya agama.Diantara bentuk makar adalah membuat-buat berita dusta dan menyebarkan isu-isu yang bertujuan buruk. Dan telah datang ayat-ayat yang jelas yang memperingatkan agar tidak ikut menjadi penyebar berita dusta tersebut, dan arahan untuk benar dalam perkataan dan tidak menyampaikan semua berita secara sembarangan tanpa pertimbangan terlebih dahulu dan tanpa hikmah dan penjelasan.يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًاHai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al-Ahzaab : 70)Al-Qur’an membimbing untuk meluruskan perkataan, dan hati-hati dalam berucap, serta mempelajari tujuan ucapan dan arahannya sebelum mengikuti orang-orang munafik dan pembuat onar.Al-Qur’an membimbing untuk mengucapkan perkataan yang baik yang mengantarkan kepada amal shalih.Diantara bentuk makar adalah menyebarkan keraguan di kaum muslimin terhadap pemimpin mereka dan pemerintah mereka dengan memalsukan hakekat yang sebenarnya. Dan diantara bentuk konspirasi adalah mengeluarkan fatwa-fatwa syubhat dan fitnah, hal ini mengantarkan pada tersebarnya kebatilan serta menghiasinya dengan pakaian kebatilan. Yang sungguh menakjubkan adalah fatwa-fatwa asing malah tersebar di zaman kita, sehingga menimbulkan kerancuan bagi masyarakat, dan orang-orang yang suka dengan pendapat-pendapat yang aneh segera berlomba-lomba dalam menyebarkannya. Hal ini menimbulkan dampak negatif dan kemudhorotan yang besar pada umat ini.Diantara metode konspirasi (keburukan) adalah menghalangi kebenaran, yaitu dengan mengobarkan syahwat dan nafsu serta menenggelamkan para pemuda dalam lautan narkoba.Diantara kegiatan para tukang makar adalah mengobarkan kekacauan, ketidakstabilan, dan fitnah, memecahkan barisan kaum muslimin, menimbulkan kondisi krisis agar menghentikan gerakan pembangunan, pengembangan, dan produksi di negeri-negeri kaum muslimin, sehingga kaum muslimin akhirnya terfokus kepada cara mencari solusi menghadapi fitnah dan usaha untu memadamkan api fitnahnya.Diantara bentuk makar para pembuat makar adalah membentuk kegaduhan dengan menyebarkan rasa pesimis dan kerendahan serta jiwa yang jatuh dan kalah. Allah berfirman :الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS Ali ‘Imron : 173((Hasbunallah wa nikmal wakiil)…ini adalah benteng perlindungan yang kokoh sebagai tempat berlindung kaum mukminin tatkala diliputi oleh berbagai musibah dan ujian. Bagaimanapun berat perkaranya maka hal ini tidaklah menambah bagi kaum mukminin kecuali semakin kokoh, semakin beriman, dan semakin pasrah kepada Allah.Sejarah mulia dari umat ini mendorong nilai optimis, dan ia adalah sejarah kejayaan dan kepemimpinan, penuh kepercayaan bahwasanya Allah akan membalas mereka yang berbuat zolim dan melampaui batas. Allah berfirmanإِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ (12) إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ (13)Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali) (QS Al-Buruuj : 12-13)Kita berhusnudzon (berprasangka baik) kepara Robb kita, kita meyakini akan keadilaNya, sesungguhnya Allah penolong wali-waliNya, menghancurkan musuh-musuhNya. Allah berfirman :وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًاDan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (QS Al-Ahzaab : 22) Khutbah Kedua ;          Diantara penjagaan Allah kepada kebenaran dan pembela kebenaran adalah hancur leburnya seluruh model makar dan tipu daya di atas batu ketegaran umat ini yang memikul warisan kenabian. Meskipun umat ini lemah pada suatu zaman akan tetapi dominasi dan kemenangan adalah milik umat ini, kejayaan dan kekuasaan adalah kesudahan umat ini. Allah berfirman ;إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًاSesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS Al-Israa’ : 81)وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَDan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (QS Ar-Ruum : 47)Kaum mukimin telah mengalami luka dari makar para pembuat makar, gangguan dari para pelaku tipu daya, hal ini demikian agar Allah menguji kaum mukminin, dan mengungkap kaum munafiqin, dan menguji ketegaran kaum muslimin. Dan bagaimanapun puncak makar dan tipu daya maka ia tergantung dengan takdir Allah, terliput oleh kehendak Allah. Dan makar/rencana yang jahat tidak lain kecuali akan kembali kepada pelakunya. Allah berfirman :وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِRencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. (QS Fathir : 43)Sesungguhnya satu kata, satu barisan dan satu hati merupakan jalan menuju kemenangan dan kemuliaan, serta pondasi dari kejayaan. Allah berfirman :وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْDan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu (QS Al-Anfaal : 46)Dan umat Islam menggabungkan antara berikhtiyar berusaha melakukan sebab dan bertawakkal kepada Allah SWT. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah dan memasrahkannya maka Allah cukup baginya, Allah akan menjaganya. Allah berfirman :وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًاDan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS At-Tholaq : 3)لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (QS At-Taubah : 40)Sebuah kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara beliau berada di dalam goa bersama sahabatnya, dan orang-orang kafir telah mengepung mereka. Maka Allah pun menyelamatkan mereka dan menjaga mereka serta menolong mereka. Perkataan (“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”) menumbuhkan ketenangan dan ketentraman, serta hilangnya rasa putus asa.Jendela-jendela makar ditutup dengan ketegaran di atas kebenaran dan berpegang teguh dengan Al-Kitab dan as-Sunnah serta kembali kepada para ulama pada lokasi-lokasi fitnah, dan hendaknya perkara dikembalikan kepada pemerintah dalam urusan hukum dan keamanan.Menghias diri dengan ketakwaan dan kesabaran akan melemahkan tipu daya mereka dan akan menghilangkan kemudhorotan. Allah berfirmanذَلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَItulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir (QS Al-Anfaal : 18)Dan sesungguhnya keamanan negeri ini –negeri dua kota suci- merupakan landasan keamanan umat Islam, negeri ini adalah jantung umat ini yang berdenyut, dan mengganggu negeri ini berarti mengganggu keamanan umat ini. Dan jasad umat ini senantiasa baik selama darah jantung masih berdenyut, dan kebaikan umat ini tersebar, dan kegiatan sosialnya tidak pernah berhenti, menjaga negeri ini dari gangguan makar para pembuat makar dan dari tipu daya para pelakunya adalah perkara yang dituntut dalam syari’at dan kewajiban agama bagi setiap muslim. Dan para penduduk negeri ini yang berakal mengerti akan hal ini dan mereka ikut berpartisipasi dengan kesadaran mereka dalam menggagalkan konspirasi orang-orang yang menanti-nanti jatuhnya negeri ini. Barangsiapa yang berusaha untuk mengganggu keamanan negeri ini maka ia telah melayani musuh-musuh agama. Dan negeri ini terjaga dengan penjagaan Allah, tegak dan tegar. Allah berfirman وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًاJika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. (QS Ali Imron : 120) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


(Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 26/12/1436 H – 8/10/2015 M)Asy-Syaikh Doktor Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullahKhutbah Pertama:          Alhamdulillah segala puji bagi Allah semata, sholawat dan salam semoga tercurahkan peda nabi yang terakhir, dan kepada keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du.Allah ta’aala telah menciptakan nenek moyang kita Adam ‘alaihis salam, lalu setan pun memusuhinya dan berbuat makar kepadanya untuk menyesatkannya. Para rasul telah menghadapi berbagai macam makar dan tipu daya, diadakan konspirasi untuk mencelakakan para rasul. Yusuf ‘alaihis salam saudara-saudaranya telah berbuat makar kepadanya, maka iapun bersabar atas gangguan mereka. Maka Allah berfirman tentang Yusuf :إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَSesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (QS Yusuf : 90) Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dikumpulkan kayu bakar dan dinyalakan api baginya, lalu beliau dilemparkan ke dalam api tersebut, maka jadilah api dingin dan keselamatan, dan hancurlah makar mereka sebagaimana firman Allah:وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَMereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi (QS Al-Anbiyaa’ : 70)Nabi Isa ‘alaihis salam, kaumnya berbuat makar dan tipu daya kepadanya untuk membunuhnya dan menyalibnya, maka Allah pun menyelamatkan beliau dari kejahatan mereka. Mereka berbuat makar kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, maka Allah berfirman :إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى“Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (QS Thoha : 69)Dan pasukan Abrahah berbuat makar untuk menghancurkan Ka’bah maka Allah hancurkan makar mereka: أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (QS Al-Fiil : 2-5)Para musuh berekutu dan mereka berbuat makar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi makar mereka hanyalah menuju kegagalan. Allah berfirmanوَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَMereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya (QS Al-Anfaal : 30)Diantara sifat-sifat para pembuat makar adalah berkhianat dan melanggar janji. Pada peristiwa Bi’ir Ma’uunah telah terbunuh 70 orang dari sahabat terpilih, Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS Al-Anfaal : 27)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah dari sifat khianat, beliau berkata :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ“Dan aku berlindung kepadaMu dari sifat khinat, karena ia adalah seburuk-buruk teman”Orang-orang munafik dahulu adalah sumber utama makar yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena sikap-sikap mereka yang membunglon dan berubah-rubah kondisi mereka. Allah berfirman :وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَDan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok” (QS Al-Baqoroh : 14)Allah berfirman tentang kaum munafiqinأَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَTidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan (QS Al-Baqoroh : 77)Yaitu : Apakah mereka tidak tahu bahwasanya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan berupa makar dan kekufuran dan apa yang mereka tampakan berupa keimanan dan sikap mencintai kaum muslimin?Diantara sifat pelaku makar  adalah muncul pada saat-saat ujian berat dan peristiwa-peristiwa genting, dan gembira dengan musibah yang menimpa kaum muslimin. Jika kaum muslimin memperoleh kemenangan dan kejayaan maka merekapun marah dan sedih. Jika kaum muslimin ditimpa bencana dan ujian maka para musuhpun mabuk saking gembira dan sombongnya.إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَاJika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. (QS Ali Imron : 120)Diantara sifat para pembuat makar adalah memperbesar permasalahan dan mencari-cari kesalahan dan ketergelinciran, lalu menyebarkannya, dan pura-pura tidak mengetahui prestasi-prestasi dan sisi-sisi positif. Dan inilah kebiasaan mereka yang tukang dengki dan hasad.Diantara bentuk makar adalah menjadikan para pemuda sebagai target untuk disesatkan melalui perkataan, foto/video, dan pengaruh pemikiran melalui media-media sosial dan sarana komunikasi modern, dan ini lebih berbahaya daripada para pasukan yang menyikat dan senjata yang mematikan. Yaitu dengan menyebarkan pemikiran ekstrem dan menyimpang untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang berbahaya, menguasai otak-otak para pemuda dan untuk menjauhkan mereka dari para ulama sehingga mudah untuk dijerat dan mempengaruhi mereka. Yang hal ini disebarkan oleh orang-orang yang tidak dikenal dengan ilmu dan amal.Diantara kegiatan para pendengki dan penghasad adalah menanamkan organisasi-organisasi teroris di negeri-negeri kaum muslimin, agar menjadi bahan bakar untuk membakar para pemuda, dan menghancurkan masa depan mereka dan negeri mereka.          Diantara metode makar adalah menggambarkan agama ini seakan-akan adalah agama yang terbelakang dan penuh kekacauan, amburadul dan mengerikan, yaitu dengan menampilkan klip-klip berdarah dan pelaksanaan penculikan yang dilakukan oleh orang-orang (sesat) yang menyelip di barisan kaum muslimin dan berpenampilan dengan penampilannya agama.Diantara bentuk makar adalah membuat-buat berita dusta dan menyebarkan isu-isu yang bertujuan buruk. Dan telah datang ayat-ayat yang jelas yang memperingatkan agar tidak ikut menjadi penyebar berita dusta tersebut, dan arahan untuk benar dalam perkataan dan tidak menyampaikan semua berita secara sembarangan tanpa pertimbangan terlebih dahulu dan tanpa hikmah dan penjelasan.يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًاHai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al-Ahzaab : 70)Al-Qur’an membimbing untuk meluruskan perkataan, dan hati-hati dalam berucap, serta mempelajari tujuan ucapan dan arahannya sebelum mengikuti orang-orang munafik dan pembuat onar.Al-Qur’an membimbing untuk mengucapkan perkataan yang baik yang mengantarkan kepada amal shalih.Diantara bentuk makar adalah menyebarkan keraguan di kaum muslimin terhadap pemimpin mereka dan pemerintah mereka dengan memalsukan hakekat yang sebenarnya. Dan diantara bentuk konspirasi adalah mengeluarkan fatwa-fatwa syubhat dan fitnah, hal ini mengantarkan pada tersebarnya kebatilan serta menghiasinya dengan pakaian kebatilan. Yang sungguh menakjubkan adalah fatwa-fatwa asing malah tersebar di zaman kita, sehingga menimbulkan kerancuan bagi masyarakat, dan orang-orang yang suka dengan pendapat-pendapat yang aneh segera berlomba-lomba dalam menyebarkannya. Hal ini menimbulkan dampak negatif dan kemudhorotan yang besar pada umat ini.Diantara metode konspirasi (keburukan) adalah menghalangi kebenaran, yaitu dengan mengobarkan syahwat dan nafsu serta menenggelamkan para pemuda dalam lautan narkoba.Diantara kegiatan para tukang makar adalah mengobarkan kekacauan, ketidakstabilan, dan fitnah, memecahkan barisan kaum muslimin, menimbulkan kondisi krisis agar menghentikan gerakan pembangunan, pengembangan, dan produksi di negeri-negeri kaum muslimin, sehingga kaum muslimin akhirnya terfokus kepada cara mencari solusi menghadapi fitnah dan usaha untu memadamkan api fitnahnya.Diantara bentuk makar para pembuat makar adalah membentuk kegaduhan dengan menyebarkan rasa pesimis dan kerendahan serta jiwa yang jatuh dan kalah. Allah berfirman :الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS Ali ‘Imron : 173((Hasbunallah wa nikmal wakiil)…ini adalah benteng perlindungan yang kokoh sebagai tempat berlindung kaum mukminin tatkala diliputi oleh berbagai musibah dan ujian. Bagaimanapun berat perkaranya maka hal ini tidaklah menambah bagi kaum mukminin kecuali semakin kokoh, semakin beriman, dan semakin pasrah kepada Allah.Sejarah mulia dari umat ini mendorong nilai optimis, dan ia adalah sejarah kejayaan dan kepemimpinan, penuh kepercayaan bahwasanya Allah akan membalas mereka yang berbuat zolim dan melampaui batas. Allah berfirmanإِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ (12) إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ (13)Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali) (QS Al-Buruuj : 12-13)Kita berhusnudzon (berprasangka baik) kepara Robb kita, kita meyakini akan keadilaNya, sesungguhnya Allah penolong wali-waliNya, menghancurkan musuh-musuhNya. Allah berfirman :وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًاDan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (QS Al-Ahzaab : 22) Khutbah Kedua ;          Diantara penjagaan Allah kepada kebenaran dan pembela kebenaran adalah hancur leburnya seluruh model makar dan tipu daya di atas batu ketegaran umat ini yang memikul warisan kenabian. Meskipun umat ini lemah pada suatu zaman akan tetapi dominasi dan kemenangan adalah milik umat ini, kejayaan dan kekuasaan adalah kesudahan umat ini. Allah berfirman ;إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًاSesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS Al-Israa’ : 81)وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَDan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (QS Ar-Ruum : 47)Kaum mukimin telah mengalami luka dari makar para pembuat makar, gangguan dari para pelaku tipu daya, hal ini demikian agar Allah menguji kaum mukminin, dan mengungkap kaum munafiqin, dan menguji ketegaran kaum muslimin. Dan bagaimanapun puncak makar dan tipu daya maka ia tergantung dengan takdir Allah, terliput oleh kehendak Allah. Dan makar/rencana yang jahat tidak lain kecuali akan kembali kepada pelakunya. Allah berfirman :وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِRencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. (QS Fathir : 43)Sesungguhnya satu kata, satu barisan dan satu hati merupakan jalan menuju kemenangan dan kemuliaan, serta pondasi dari kejayaan. Allah berfirman :وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْDan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu (QS Al-Anfaal : 46)Dan umat Islam menggabungkan antara berikhtiyar berusaha melakukan sebab dan bertawakkal kepada Allah SWT. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah dan memasrahkannya maka Allah cukup baginya, Allah akan menjaganya. Allah berfirman :وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًاDan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS At-Tholaq : 3)لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (QS At-Taubah : 40)Sebuah kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara beliau berada di dalam goa bersama sahabatnya, dan orang-orang kafir telah mengepung mereka. Maka Allah pun menyelamatkan mereka dan menjaga mereka serta menolong mereka. Perkataan (“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”) menumbuhkan ketenangan dan ketentraman, serta hilangnya rasa putus asa.Jendela-jendela makar ditutup dengan ketegaran di atas kebenaran dan berpegang teguh dengan Al-Kitab dan as-Sunnah serta kembali kepada para ulama pada lokasi-lokasi fitnah, dan hendaknya perkara dikembalikan kepada pemerintah dalam urusan hukum dan keamanan.Menghias diri dengan ketakwaan dan kesabaran akan melemahkan tipu daya mereka dan akan menghilangkan kemudhorotan. Allah berfirmanذَلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَItulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir (QS Al-Anfaal : 18)Dan sesungguhnya keamanan negeri ini –negeri dua kota suci- merupakan landasan keamanan umat Islam, negeri ini adalah jantung umat ini yang berdenyut, dan mengganggu negeri ini berarti mengganggu keamanan umat ini. Dan jasad umat ini senantiasa baik selama darah jantung masih berdenyut, dan kebaikan umat ini tersebar, dan kegiatan sosialnya tidak pernah berhenti, menjaga negeri ini dari gangguan makar para pembuat makar dan dari tipu daya para pelakunya adalah perkara yang dituntut dalam syari’at dan kewajiban agama bagi setiap muslim. Dan para penduduk negeri ini yang berakal mengerti akan hal ini dan mereka ikut berpartisipasi dengan kesadaran mereka dalam menggagalkan konspirasi orang-orang yang menanti-nanti jatuhnya negeri ini. Barangsiapa yang berusaha untuk mengganggu keamanan negeri ini maka ia telah melayani musuh-musuh agama. Dan negeri ini terjaga dengan penjagaan Allah, tegak dan tegar. Allah berfirman وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًاJika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. (QS Ali Imron : 120) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Antara Do’a dalam Sujud dan Do’a di FB, Twtr, & WA

Semoga doa antum dalam sujud untuk pejuang Suria lebih banyak daripada sekedar doa di FB, Twtr, & WABantuan dana buat para pejuang sangat penting, yg lebih penting lagi doa antum dalam sujud tatkala sholat malam. Hanya Allah yg bisa menolong mereka, sungguh SYIAH & KOMUNIS telah bersekutu untuk membumi hanguskan mereka.Doa di media sosial baik, tapi berdoa dalam sujud di waktu sepertiga malam yang terakhir tatkala sholat malam tentu lebih baik. Semoga di hari hari ini kita bisa menyempatkan waktu untuk sholat malam mendoakan mereka.Jika kita masih agak pelit dalam menyumbangkan harta maka janganlah pelit untuk menyumbangkan doa bagi pejuang suria.

Antara Do’a dalam Sujud dan Do’a di FB, Twtr, & WA

Semoga doa antum dalam sujud untuk pejuang Suria lebih banyak daripada sekedar doa di FB, Twtr, & WABantuan dana buat para pejuang sangat penting, yg lebih penting lagi doa antum dalam sujud tatkala sholat malam. Hanya Allah yg bisa menolong mereka, sungguh SYIAH & KOMUNIS telah bersekutu untuk membumi hanguskan mereka.Doa di media sosial baik, tapi berdoa dalam sujud di waktu sepertiga malam yang terakhir tatkala sholat malam tentu lebih baik. Semoga di hari hari ini kita bisa menyempatkan waktu untuk sholat malam mendoakan mereka.Jika kita masih agak pelit dalam menyumbangkan harta maka janganlah pelit untuk menyumbangkan doa bagi pejuang suria.
Semoga doa antum dalam sujud untuk pejuang Suria lebih banyak daripada sekedar doa di FB, Twtr, & WABantuan dana buat para pejuang sangat penting, yg lebih penting lagi doa antum dalam sujud tatkala sholat malam. Hanya Allah yg bisa menolong mereka, sungguh SYIAH & KOMUNIS telah bersekutu untuk membumi hanguskan mereka.Doa di media sosial baik, tapi berdoa dalam sujud di waktu sepertiga malam yang terakhir tatkala sholat malam tentu lebih baik. Semoga di hari hari ini kita bisa menyempatkan waktu untuk sholat malam mendoakan mereka.Jika kita masih agak pelit dalam menyumbangkan harta maka janganlah pelit untuk menyumbangkan doa bagi pejuang suria.


Semoga doa antum dalam sujud untuk pejuang Suria lebih banyak daripada sekedar doa di FB, Twtr, & WABantuan dana buat para pejuang sangat penting, yg lebih penting lagi doa antum dalam sujud tatkala sholat malam. Hanya Allah yg bisa menolong mereka, sungguh SYIAH & KOMUNIS telah bersekutu untuk membumi hanguskan mereka.Doa di media sosial baik, tapi berdoa dalam sujud di waktu sepertiga malam yang terakhir tatkala sholat malam tentu lebih baik. Semoga di hari hari ini kita bisa menyempatkan waktu untuk sholat malam mendoakan mereka.Jika kita masih agak pelit dalam menyumbangkan harta maka janganlah pelit untuk menyumbangkan doa bagi pejuang suria.

TAMU ALLAH

Nabi bersabda :الحُجَّاجُ وَالعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ، سَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُم“Jamaah haji dan umroh adalah tamu-tamu Allah, Allah mengundang mereka lalu mereka memenuhi undangan, mereka memohon kepada Allah maka Allah mengabulkan permohonan mereka” Dalam riwayat yg lain :وَإِن اسْتَغْفَرُوْهُ غَفَرَ لَهُمْ “Jika mereka memohon ampunan kepadaNya maka Allah mengampuni mereka”(Dihasankan oleh Al-Albani di As-Shahihah no 1820)Maka beradablah dengan adab tamu yang baik, niscaya Tuan rumah akan memberikan jamuan yang terbaik

TAMU ALLAH

Nabi bersabda :الحُجَّاجُ وَالعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ، سَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُم“Jamaah haji dan umroh adalah tamu-tamu Allah, Allah mengundang mereka lalu mereka memenuhi undangan, mereka memohon kepada Allah maka Allah mengabulkan permohonan mereka” Dalam riwayat yg lain :وَإِن اسْتَغْفَرُوْهُ غَفَرَ لَهُمْ “Jika mereka memohon ampunan kepadaNya maka Allah mengampuni mereka”(Dihasankan oleh Al-Albani di As-Shahihah no 1820)Maka beradablah dengan adab tamu yang baik, niscaya Tuan rumah akan memberikan jamuan yang terbaik
Nabi bersabda :الحُجَّاجُ وَالعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ، سَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُم“Jamaah haji dan umroh adalah tamu-tamu Allah, Allah mengundang mereka lalu mereka memenuhi undangan, mereka memohon kepada Allah maka Allah mengabulkan permohonan mereka” Dalam riwayat yg lain :وَإِن اسْتَغْفَرُوْهُ غَفَرَ لَهُمْ “Jika mereka memohon ampunan kepadaNya maka Allah mengampuni mereka”(Dihasankan oleh Al-Albani di As-Shahihah no 1820)Maka beradablah dengan adab tamu yang baik, niscaya Tuan rumah akan memberikan jamuan yang terbaik


Nabi bersabda :الحُجَّاجُ وَالعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ، سَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُم“Jamaah haji dan umroh adalah tamu-tamu Allah, Allah mengundang mereka lalu mereka memenuhi undangan, mereka memohon kepada Allah maka Allah mengabulkan permohonan mereka” Dalam riwayat yg lain :وَإِن اسْتَغْفَرُوْهُ غَفَرَ لَهُمْ “Jika mereka memohon ampunan kepadaNya maka Allah mengampuni mereka”(Dihasankan oleh Al-Albani di As-Shahihah no 1820)Maka beradablah dengan adab tamu yang baik, niscaya Tuan rumah akan memberikan jamuan yang terbaik

Syukurilah Kelebihan Kita

Allah memberikan kelebihan kepada kita adalah untuk disyukuri krn Allah akan memintai pertanggungjawabannya, bukan untuk mengejek orang lain yg tdk memiliki kelebihan tersebut, krn itu adalah kufur nikmat.Kelebihan yg kita miliki seharusnya menjadikan kita semakin tawadu’ krn kita sadar itu semua semata-mata karunia dari Allah, dan Allah bisa mencabutnya sewaktu waktu, serta menjadikan kita semakin rahmat (kasih sayang) kepada orang lain yg tdk diberi kelebihan tersebut. Bukan malah menjadikan kita angkuh dan merendahkan orang lain.

Syukurilah Kelebihan Kita

Allah memberikan kelebihan kepada kita adalah untuk disyukuri krn Allah akan memintai pertanggungjawabannya, bukan untuk mengejek orang lain yg tdk memiliki kelebihan tersebut, krn itu adalah kufur nikmat.Kelebihan yg kita miliki seharusnya menjadikan kita semakin tawadu’ krn kita sadar itu semua semata-mata karunia dari Allah, dan Allah bisa mencabutnya sewaktu waktu, serta menjadikan kita semakin rahmat (kasih sayang) kepada orang lain yg tdk diberi kelebihan tersebut. Bukan malah menjadikan kita angkuh dan merendahkan orang lain.
Allah memberikan kelebihan kepada kita adalah untuk disyukuri krn Allah akan memintai pertanggungjawabannya, bukan untuk mengejek orang lain yg tdk memiliki kelebihan tersebut, krn itu adalah kufur nikmat.Kelebihan yg kita miliki seharusnya menjadikan kita semakin tawadu’ krn kita sadar itu semua semata-mata karunia dari Allah, dan Allah bisa mencabutnya sewaktu waktu, serta menjadikan kita semakin rahmat (kasih sayang) kepada orang lain yg tdk diberi kelebihan tersebut. Bukan malah menjadikan kita angkuh dan merendahkan orang lain.


Allah memberikan kelebihan kepada kita adalah untuk disyukuri krn Allah akan memintai pertanggungjawabannya, bukan untuk mengejek orang lain yg tdk memiliki kelebihan tersebut, krn itu adalah kufur nikmat.Kelebihan yg kita miliki seharusnya menjadikan kita semakin tawadu’ krn kita sadar itu semua semata-mata karunia dari Allah, dan Allah bisa mencabutnya sewaktu waktu, serta menjadikan kita semakin rahmat (kasih sayang) kepada orang lain yg tdk diberi kelebihan tersebut. Bukan malah menjadikan kita angkuh dan merendahkan orang lain.

Air Mata Buaya Iran

(Bantahan Syaikh Sholeh Alu Tholib, imam masjidil haram -hafizohullah- terhadap Iran pada khutbah jumat hari ini)من السخرية المريرة أن يصطنع النواحة من له تاريخ إجرامي في الحرم بقتل وتفجير فيه “Merupakan banyolan yang pahit, mereka yang memiliki sejarah kriminal pembunuhan dan peledakan di tanah haram, namun berlagak menampakan raungan kesedihan (atas wafatnya jamaah haji)”من عجائب متصنعي البكاء على المسلمين أنهم هم من يبعثون الميليشيات في العراق و اليمن و سوريا.“Diantara keanehan mereka yang berlagak menangisi wafatnya (jamaah haji) kaum muslimin, ternyata merekalah yang telah mengirim pasukan milisi ke Iraq, Yaman, dan Suria (untuk membumi hanguskan kaum muslimin-pen)ما زادتكم الأيام إلا فضحا ولا الحوادث إلا قرحا وأبشروا بما يسر المسلمين ويسؤوكم ويكشف الغمة عن المسلمين.“Tidaklah bertambah hari-hari kecuali semakin membongkar kedok kalian, tidaklah terjadi peristiwa-peristiwa kecuali semakin menambah luka kalian, nantikanlah hal yang menggembirakan kaum muslimkan dan menyedihkan kalian dan hilangnya kasedihan dari kaum muslimin”

Air Mata Buaya Iran

(Bantahan Syaikh Sholeh Alu Tholib, imam masjidil haram -hafizohullah- terhadap Iran pada khutbah jumat hari ini)من السخرية المريرة أن يصطنع النواحة من له تاريخ إجرامي في الحرم بقتل وتفجير فيه “Merupakan banyolan yang pahit, mereka yang memiliki sejarah kriminal pembunuhan dan peledakan di tanah haram, namun berlagak menampakan raungan kesedihan (atas wafatnya jamaah haji)”من عجائب متصنعي البكاء على المسلمين أنهم هم من يبعثون الميليشيات في العراق و اليمن و سوريا.“Diantara keanehan mereka yang berlagak menangisi wafatnya (jamaah haji) kaum muslimin, ternyata merekalah yang telah mengirim pasukan milisi ke Iraq, Yaman, dan Suria (untuk membumi hanguskan kaum muslimin-pen)ما زادتكم الأيام إلا فضحا ولا الحوادث إلا قرحا وأبشروا بما يسر المسلمين ويسؤوكم ويكشف الغمة عن المسلمين.“Tidaklah bertambah hari-hari kecuali semakin membongkar kedok kalian, tidaklah terjadi peristiwa-peristiwa kecuali semakin menambah luka kalian, nantikanlah hal yang menggembirakan kaum muslimkan dan menyedihkan kalian dan hilangnya kasedihan dari kaum muslimin”
(Bantahan Syaikh Sholeh Alu Tholib, imam masjidil haram -hafizohullah- terhadap Iran pada khutbah jumat hari ini)من السخرية المريرة أن يصطنع النواحة من له تاريخ إجرامي في الحرم بقتل وتفجير فيه “Merupakan banyolan yang pahit, mereka yang memiliki sejarah kriminal pembunuhan dan peledakan di tanah haram, namun berlagak menampakan raungan kesedihan (atas wafatnya jamaah haji)”من عجائب متصنعي البكاء على المسلمين أنهم هم من يبعثون الميليشيات في العراق و اليمن و سوريا.“Diantara keanehan mereka yang berlagak menangisi wafatnya (jamaah haji) kaum muslimin, ternyata merekalah yang telah mengirim pasukan milisi ke Iraq, Yaman, dan Suria (untuk membumi hanguskan kaum muslimin-pen)ما زادتكم الأيام إلا فضحا ولا الحوادث إلا قرحا وأبشروا بما يسر المسلمين ويسؤوكم ويكشف الغمة عن المسلمين.“Tidaklah bertambah hari-hari kecuali semakin membongkar kedok kalian, tidaklah terjadi peristiwa-peristiwa kecuali semakin menambah luka kalian, nantikanlah hal yang menggembirakan kaum muslimkan dan menyedihkan kalian dan hilangnya kasedihan dari kaum muslimin”


(Bantahan Syaikh Sholeh Alu Tholib, imam masjidil haram -hafizohullah- terhadap Iran pada khutbah jumat hari ini)من السخرية المريرة أن يصطنع النواحة من له تاريخ إجرامي في الحرم بقتل وتفجير فيه “Merupakan banyolan yang pahit, mereka yang memiliki sejarah kriminal pembunuhan dan peledakan di tanah haram, namun berlagak menampakan raungan kesedihan (atas wafatnya jamaah haji)”من عجائب متصنعي البكاء على المسلمين أنهم هم من يبعثون الميليشيات في العراق و اليمن و سوريا.“Diantara keanehan mereka yang berlagak menangisi wafatnya (jamaah haji) kaum muslimin, ternyata merekalah yang telah mengirim pasukan milisi ke Iraq, Yaman, dan Suria (untuk membumi hanguskan kaum muslimin-pen)ما زادتكم الأيام إلا فضحا ولا الحوادث إلا قرحا وأبشروا بما يسر المسلمين ويسؤوكم ويكشف الغمة عن المسلمين.“Tidaklah bertambah hari-hari kecuali semakin membongkar kedok kalian, tidaklah terjadi peristiwa-peristiwa kecuali semakin menambah luka kalian, nantikanlah hal yang menggembirakan kaum muslimkan dan menyedihkan kalian dan hilangnya kasedihan dari kaum muslimin”

Antara Syiah dan Arab Saudi

Syiah mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi yang telah berkorban jiwa dan harta demi tersebar dan jayanya Islam, lantas jasanya syiah apa? Membunuhi kaum muslimin, orang tua dan anak anak di Suria, Iran, dan Iraq?Syiah mencela Arab saudi yang jasanya besar bagi kaum muslimin di seantero dunia, lantas syiah jasanya apa? Menyebarkan mut’ah, syirik, taqiyyah di seantero dunia?Kalau Arab saudi menyebarkan mesjid di Indonesia dan bantuan dana di Aceh, kalau Iran menyebarkan narkoba di IndonesiaKalau Arab Saudi membantah paham Liberal, kalau Tokoh Syiah Indonesia bekerja sama dengan para tokoh JIL.

Antara Syiah dan Arab Saudi

Syiah mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi yang telah berkorban jiwa dan harta demi tersebar dan jayanya Islam, lantas jasanya syiah apa? Membunuhi kaum muslimin, orang tua dan anak anak di Suria, Iran, dan Iraq?Syiah mencela Arab saudi yang jasanya besar bagi kaum muslimin di seantero dunia, lantas syiah jasanya apa? Menyebarkan mut’ah, syirik, taqiyyah di seantero dunia?Kalau Arab saudi menyebarkan mesjid di Indonesia dan bantuan dana di Aceh, kalau Iran menyebarkan narkoba di IndonesiaKalau Arab Saudi membantah paham Liberal, kalau Tokoh Syiah Indonesia bekerja sama dengan para tokoh JIL.
Syiah mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi yang telah berkorban jiwa dan harta demi tersebar dan jayanya Islam, lantas jasanya syiah apa? Membunuhi kaum muslimin, orang tua dan anak anak di Suria, Iran, dan Iraq?Syiah mencela Arab saudi yang jasanya besar bagi kaum muslimin di seantero dunia, lantas syiah jasanya apa? Menyebarkan mut’ah, syirik, taqiyyah di seantero dunia?Kalau Arab saudi menyebarkan mesjid di Indonesia dan bantuan dana di Aceh, kalau Iran menyebarkan narkoba di IndonesiaKalau Arab Saudi membantah paham Liberal, kalau Tokoh Syiah Indonesia bekerja sama dengan para tokoh JIL.


Syiah mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi yang telah berkorban jiwa dan harta demi tersebar dan jayanya Islam, lantas jasanya syiah apa? Membunuhi kaum muslimin, orang tua dan anak anak di Suria, Iran, dan Iraq?Syiah mencela Arab saudi yang jasanya besar bagi kaum muslimin di seantero dunia, lantas syiah jasanya apa? Menyebarkan mut’ah, syirik, taqiyyah di seantero dunia?Kalau Arab saudi menyebarkan mesjid di Indonesia dan bantuan dana di Aceh, kalau Iran menyebarkan narkoba di IndonesiaKalau Arab Saudi membantah paham Liberal, kalau Tokoh Syiah Indonesia bekerja sama dengan para tokoh JIL.

Masih juga angkuh?

Seorang pembesar berkata kepada Muthorrif bin Abdillah ;قَالَ: أَوَ مَا تَعْرِفُنِي؟“Tidakkah engkau tahu siapa saya?”قَالَ: بَلَى، أَوَّلُكَ نُطْفَةٌ مَذِرَةٌ، وَآخِرُكَ جِيْفَةٌ قَذِرَةٌ، وَأَنْتَ بَيْنَ ذَلِكَ تَحْمِلُ العَذِرَةَ Muthorrif berkata, “Tentu saya tahu, engkau yang awalnya adalah setetes mani yang kotor, dan akhirmu adalah bangkai yang busuk, dan antara kedua kondisi tersebut engkau membawa feses/kotoran” (Siyar A’laam An-Nubalaa 4/505)

Masih juga angkuh?

Seorang pembesar berkata kepada Muthorrif bin Abdillah ;قَالَ: أَوَ مَا تَعْرِفُنِي؟“Tidakkah engkau tahu siapa saya?”قَالَ: بَلَى، أَوَّلُكَ نُطْفَةٌ مَذِرَةٌ، وَآخِرُكَ جِيْفَةٌ قَذِرَةٌ، وَأَنْتَ بَيْنَ ذَلِكَ تَحْمِلُ العَذِرَةَ Muthorrif berkata, “Tentu saya tahu, engkau yang awalnya adalah setetes mani yang kotor, dan akhirmu adalah bangkai yang busuk, dan antara kedua kondisi tersebut engkau membawa feses/kotoran” (Siyar A’laam An-Nubalaa 4/505)
Seorang pembesar berkata kepada Muthorrif bin Abdillah ;قَالَ: أَوَ مَا تَعْرِفُنِي؟“Tidakkah engkau tahu siapa saya?”قَالَ: بَلَى، أَوَّلُكَ نُطْفَةٌ مَذِرَةٌ، وَآخِرُكَ جِيْفَةٌ قَذِرَةٌ، وَأَنْتَ بَيْنَ ذَلِكَ تَحْمِلُ العَذِرَةَ Muthorrif berkata, “Tentu saya tahu, engkau yang awalnya adalah setetes mani yang kotor, dan akhirmu adalah bangkai yang busuk, dan antara kedua kondisi tersebut engkau membawa feses/kotoran” (Siyar A’laam An-Nubalaa 4/505)


Seorang pembesar berkata kepada Muthorrif bin Abdillah ;قَالَ: أَوَ مَا تَعْرِفُنِي؟“Tidakkah engkau tahu siapa saya?”قَالَ: بَلَى، أَوَّلُكَ نُطْفَةٌ مَذِرَةٌ، وَآخِرُكَ جِيْفَةٌ قَذِرَةٌ، وَأَنْتَ بَيْنَ ذَلِكَ تَحْمِلُ العَذِرَةَ Muthorrif berkata, “Tentu saya tahu, engkau yang awalnya adalah setetes mani yang kotor, dan akhirmu adalah bangkai yang busuk, dan antara kedua kondisi tersebut engkau membawa feses/kotoran” (Siyar A’laam An-Nubalaa 4/505)

Ilmuwan yang Menjadi Ulama (6)

Ulama lainnya yang jadi ulama besar di abad ini yang dulunya memiliki basic kuliah umum S-1 Bahasa Spanyol, yaitu Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini Al-Atsari Al-Mishri. Beliau dikenal bersama sebagai ulama pakar hadits terkemuka saat ini sepeninggal Syaikh Al-Albani. Nama asli beliau adalah Hijazi bin Muhammad bin Yusuf bin Syarif. Orang tuanya menamainya Hijaz setelah kepulangan dari haji dari Hijaz, maksudnya Saudi Arabia saat ini. Awalnya beliau memiliki nama kunyah Abu Al-Fadhl, sama seperti nama kunyah dari Ibnu Hajar. Lalu beliau banyak mempelajari kitab Abu Ishaq Asy-Syatibi, ia pun suka akan kunyahnya. Nama kunyah tersebut juga adalah nama kunyah dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Hingga saat ini beliau terkenal dengan nama Abu Ishaq Al-Huwaini. Beliau menisbahkan diri pada nama Al-Atsari karena beliau menyibukkan diri dengan atsar atau ilmu hadits. Beliau mengikuti ulama hadits dalam hal akidah dan manhaj. Beliau sudah makruf disebut dengan Al-Atsari, demikian di awal karya tulis beliau tercantum penyebutan itu. Namun beliau meninggalkan gelar tersebut dalam penyebutan nama demi meringkas dan juga khawatir disangka terlalu berbangga diri atau menyucikan diri. Akan tetapi, jika maksud menyebut Al-Atsari cuma pengabaran semata, maka tidaklah masalah. Beliau lahir pada hari Ahad, pada bulan Dzulqa’dah tahun 1375 H (bertepatan dengan 10 Juni 1956). Beliau lahir di daerah yang bernama Huwain. Syaikh Al-Huwaini tumbuh di keluarga yang shalih dan keluarga yang dimuliakan yang memiliki fitrah yang selamat. Orang tuanya sangat cinta pada agamanya dan sangat mengagungkan syariat Islam. Ayahnya menikahi tiga wanita dan memiliki 8 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Syaikh Abu Ishaq adalah anak dari istri ayahnya yang ketiga. Jenjang beliau dalam menuntut ilmu: Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Wazariyah. Pendidikan I’dadiyah Al-Qadimah. Pendidikan Ats-Tsanawiyah di Madrasah Asy-Syahid ‘Abdul Mun’im Riyadh. Kuliah di Jami’ah ‘Ain Syams, Fakultas Adab, Jurusan Bahasa Spanyol di Mesir. Diutus ke Spanyol karena kecerdasannya saat di bangku kuliah namun beliau hanya bertahan dua bulan di sana karena banyak terjadi pertentangan yang menyelisihi agamanya. Syaikh Al-Huwaini mulai mempelajari hadits ketika awalnya ia dinilai memiliki qira’ah yang bagus yang ia peroleh dari Syaikh ‘Abdul Hayyi Zayyan. Sebelumnya beliau mengambil kuliah syari’at namun hanya sebentar. Dilanjutkan dengan mengambil kuliah hadits. Sejak itulah beliau mulai menebarkan sunnah di lingkungannya yang notabene terpengaruh ajaran sufi. Akhirnya, beliau sendiri dituduh membawa ajaran baru. Petualangan beliau dalam mempelajari hadits berlanjut hingga bertemu dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Kisah beliau dengan Syaikh Al-Albani mulai dari pembahasan kitab Sifat Shalat Nabi min At-Takbir ila At-Taslim dan kitab karya Syaikh Al-Albani lainnya. Di antara guru Syaikh Abu Ishaq adalah Syaikh ‘Abdul Hamid Kasyk, Syaikh Muhammad Jamil Ghazi, Syaikh ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, Syaikh Dr. ‘Abdul Fatah Al-Halwu, Syaikh Ahmad Muqir dan Syaikh Sayid Sabiq yang terkenal dengan Fiqh Sunnahnya. Walaupun dalam beberapa masalah Syaikh Abu Ishaq menyelisihi guru-gurunya. Namun Syaikh Abu Ishaq teta menaruh hormat pada mereka. Begitu pula Syaikh Al-Albani adalah di antara guru beliau. Bahkan ada pujian khusus yang disematkan oleh Syaikh Al-Albani pada Syaikh Abu Ishaq ketika Syaikh Abu Ishaq mendhaifkan hadits tersebut sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkannya, “Syaikh Abu Ishaq sangat mumpuni sekali dalam ilmu hadits dan paham akan perawi-perawi dalam sanad. Ia bisa menjelaskan sebaik-baiknya. Semoga Allah membalas amalannya. Akan tetapi, moga ia bisa mengikuti penjelasanku bahwa hadits yang dimaksud sebenarnya shahih berdasarkan tiga jalur periwayatan. Agar tidak dipahami bahwa hadits tersebut dha’if secara mutlak dilihat dari sisi sanad dan matan.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, 7: 1677) Pujian lainnya pada Syaikh Abu Ishaq, Syaikh Al-Albani berkata, صَحَّ لك ما لم يصحَّ لغيرك “Ada hadits yang shahih bagimu namun selainmu tidak menganggapnya shahih.” Di antara ulama besar yang pernah beliau ambil ilmu dalam muhadarahnya: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syaikh ‘Abdullah bin Qa’ud, Syaikh ‘Abdullah bin Jibrin. Karya-karya Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini begitu banyak terutama dalam ilmu hadits dalam hal tahqiq dan takhrij hadits, ada yang sudah dicetak dan ada yang belum. Ternyata dengan ilmu dunia, Syaikh Abu Ishaq merasa belum cukup. Ia ingin mendalami ilmu agama terutama ilmu hadits. Moga bisa jadi contoh bagi para ilmuwan saat ini.   Referensi: http://alheweny.me/pages/page/about — Diselesaikan 10: 20 AM, 25 Dzulhijjah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan

Ilmuwan yang Menjadi Ulama (6)

Ulama lainnya yang jadi ulama besar di abad ini yang dulunya memiliki basic kuliah umum S-1 Bahasa Spanyol, yaitu Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini Al-Atsari Al-Mishri. Beliau dikenal bersama sebagai ulama pakar hadits terkemuka saat ini sepeninggal Syaikh Al-Albani. Nama asli beliau adalah Hijazi bin Muhammad bin Yusuf bin Syarif. Orang tuanya menamainya Hijaz setelah kepulangan dari haji dari Hijaz, maksudnya Saudi Arabia saat ini. Awalnya beliau memiliki nama kunyah Abu Al-Fadhl, sama seperti nama kunyah dari Ibnu Hajar. Lalu beliau banyak mempelajari kitab Abu Ishaq Asy-Syatibi, ia pun suka akan kunyahnya. Nama kunyah tersebut juga adalah nama kunyah dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Hingga saat ini beliau terkenal dengan nama Abu Ishaq Al-Huwaini. Beliau menisbahkan diri pada nama Al-Atsari karena beliau menyibukkan diri dengan atsar atau ilmu hadits. Beliau mengikuti ulama hadits dalam hal akidah dan manhaj. Beliau sudah makruf disebut dengan Al-Atsari, demikian di awal karya tulis beliau tercantum penyebutan itu. Namun beliau meninggalkan gelar tersebut dalam penyebutan nama demi meringkas dan juga khawatir disangka terlalu berbangga diri atau menyucikan diri. Akan tetapi, jika maksud menyebut Al-Atsari cuma pengabaran semata, maka tidaklah masalah. Beliau lahir pada hari Ahad, pada bulan Dzulqa’dah tahun 1375 H (bertepatan dengan 10 Juni 1956). Beliau lahir di daerah yang bernama Huwain. Syaikh Al-Huwaini tumbuh di keluarga yang shalih dan keluarga yang dimuliakan yang memiliki fitrah yang selamat. Orang tuanya sangat cinta pada agamanya dan sangat mengagungkan syariat Islam. Ayahnya menikahi tiga wanita dan memiliki 8 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Syaikh Abu Ishaq adalah anak dari istri ayahnya yang ketiga. Jenjang beliau dalam menuntut ilmu: Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Wazariyah. Pendidikan I’dadiyah Al-Qadimah. Pendidikan Ats-Tsanawiyah di Madrasah Asy-Syahid ‘Abdul Mun’im Riyadh. Kuliah di Jami’ah ‘Ain Syams, Fakultas Adab, Jurusan Bahasa Spanyol di Mesir. Diutus ke Spanyol karena kecerdasannya saat di bangku kuliah namun beliau hanya bertahan dua bulan di sana karena banyak terjadi pertentangan yang menyelisihi agamanya. Syaikh Al-Huwaini mulai mempelajari hadits ketika awalnya ia dinilai memiliki qira’ah yang bagus yang ia peroleh dari Syaikh ‘Abdul Hayyi Zayyan. Sebelumnya beliau mengambil kuliah syari’at namun hanya sebentar. Dilanjutkan dengan mengambil kuliah hadits. Sejak itulah beliau mulai menebarkan sunnah di lingkungannya yang notabene terpengaruh ajaran sufi. Akhirnya, beliau sendiri dituduh membawa ajaran baru. Petualangan beliau dalam mempelajari hadits berlanjut hingga bertemu dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Kisah beliau dengan Syaikh Al-Albani mulai dari pembahasan kitab Sifat Shalat Nabi min At-Takbir ila At-Taslim dan kitab karya Syaikh Al-Albani lainnya. Di antara guru Syaikh Abu Ishaq adalah Syaikh ‘Abdul Hamid Kasyk, Syaikh Muhammad Jamil Ghazi, Syaikh ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, Syaikh Dr. ‘Abdul Fatah Al-Halwu, Syaikh Ahmad Muqir dan Syaikh Sayid Sabiq yang terkenal dengan Fiqh Sunnahnya. Walaupun dalam beberapa masalah Syaikh Abu Ishaq menyelisihi guru-gurunya. Namun Syaikh Abu Ishaq teta menaruh hormat pada mereka. Begitu pula Syaikh Al-Albani adalah di antara guru beliau. Bahkan ada pujian khusus yang disematkan oleh Syaikh Al-Albani pada Syaikh Abu Ishaq ketika Syaikh Abu Ishaq mendhaifkan hadits tersebut sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkannya, “Syaikh Abu Ishaq sangat mumpuni sekali dalam ilmu hadits dan paham akan perawi-perawi dalam sanad. Ia bisa menjelaskan sebaik-baiknya. Semoga Allah membalas amalannya. Akan tetapi, moga ia bisa mengikuti penjelasanku bahwa hadits yang dimaksud sebenarnya shahih berdasarkan tiga jalur periwayatan. Agar tidak dipahami bahwa hadits tersebut dha’if secara mutlak dilihat dari sisi sanad dan matan.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, 7: 1677) Pujian lainnya pada Syaikh Abu Ishaq, Syaikh Al-Albani berkata, صَحَّ لك ما لم يصحَّ لغيرك “Ada hadits yang shahih bagimu namun selainmu tidak menganggapnya shahih.” Di antara ulama besar yang pernah beliau ambil ilmu dalam muhadarahnya: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syaikh ‘Abdullah bin Qa’ud, Syaikh ‘Abdullah bin Jibrin. Karya-karya Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini begitu banyak terutama dalam ilmu hadits dalam hal tahqiq dan takhrij hadits, ada yang sudah dicetak dan ada yang belum. Ternyata dengan ilmu dunia, Syaikh Abu Ishaq merasa belum cukup. Ia ingin mendalami ilmu agama terutama ilmu hadits. Moga bisa jadi contoh bagi para ilmuwan saat ini.   Referensi: http://alheweny.me/pages/page/about — Diselesaikan 10: 20 AM, 25 Dzulhijjah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan
Ulama lainnya yang jadi ulama besar di abad ini yang dulunya memiliki basic kuliah umum S-1 Bahasa Spanyol, yaitu Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini Al-Atsari Al-Mishri. Beliau dikenal bersama sebagai ulama pakar hadits terkemuka saat ini sepeninggal Syaikh Al-Albani. Nama asli beliau adalah Hijazi bin Muhammad bin Yusuf bin Syarif. Orang tuanya menamainya Hijaz setelah kepulangan dari haji dari Hijaz, maksudnya Saudi Arabia saat ini. Awalnya beliau memiliki nama kunyah Abu Al-Fadhl, sama seperti nama kunyah dari Ibnu Hajar. Lalu beliau banyak mempelajari kitab Abu Ishaq Asy-Syatibi, ia pun suka akan kunyahnya. Nama kunyah tersebut juga adalah nama kunyah dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Hingga saat ini beliau terkenal dengan nama Abu Ishaq Al-Huwaini. Beliau menisbahkan diri pada nama Al-Atsari karena beliau menyibukkan diri dengan atsar atau ilmu hadits. Beliau mengikuti ulama hadits dalam hal akidah dan manhaj. Beliau sudah makruf disebut dengan Al-Atsari, demikian di awal karya tulis beliau tercantum penyebutan itu. Namun beliau meninggalkan gelar tersebut dalam penyebutan nama demi meringkas dan juga khawatir disangka terlalu berbangga diri atau menyucikan diri. Akan tetapi, jika maksud menyebut Al-Atsari cuma pengabaran semata, maka tidaklah masalah. Beliau lahir pada hari Ahad, pada bulan Dzulqa’dah tahun 1375 H (bertepatan dengan 10 Juni 1956). Beliau lahir di daerah yang bernama Huwain. Syaikh Al-Huwaini tumbuh di keluarga yang shalih dan keluarga yang dimuliakan yang memiliki fitrah yang selamat. Orang tuanya sangat cinta pada agamanya dan sangat mengagungkan syariat Islam. Ayahnya menikahi tiga wanita dan memiliki 8 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Syaikh Abu Ishaq adalah anak dari istri ayahnya yang ketiga. Jenjang beliau dalam menuntut ilmu: Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Wazariyah. Pendidikan I’dadiyah Al-Qadimah. Pendidikan Ats-Tsanawiyah di Madrasah Asy-Syahid ‘Abdul Mun’im Riyadh. Kuliah di Jami’ah ‘Ain Syams, Fakultas Adab, Jurusan Bahasa Spanyol di Mesir. Diutus ke Spanyol karena kecerdasannya saat di bangku kuliah namun beliau hanya bertahan dua bulan di sana karena banyak terjadi pertentangan yang menyelisihi agamanya. Syaikh Al-Huwaini mulai mempelajari hadits ketika awalnya ia dinilai memiliki qira’ah yang bagus yang ia peroleh dari Syaikh ‘Abdul Hayyi Zayyan. Sebelumnya beliau mengambil kuliah syari’at namun hanya sebentar. Dilanjutkan dengan mengambil kuliah hadits. Sejak itulah beliau mulai menebarkan sunnah di lingkungannya yang notabene terpengaruh ajaran sufi. Akhirnya, beliau sendiri dituduh membawa ajaran baru. Petualangan beliau dalam mempelajari hadits berlanjut hingga bertemu dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Kisah beliau dengan Syaikh Al-Albani mulai dari pembahasan kitab Sifat Shalat Nabi min At-Takbir ila At-Taslim dan kitab karya Syaikh Al-Albani lainnya. Di antara guru Syaikh Abu Ishaq adalah Syaikh ‘Abdul Hamid Kasyk, Syaikh Muhammad Jamil Ghazi, Syaikh ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, Syaikh Dr. ‘Abdul Fatah Al-Halwu, Syaikh Ahmad Muqir dan Syaikh Sayid Sabiq yang terkenal dengan Fiqh Sunnahnya. Walaupun dalam beberapa masalah Syaikh Abu Ishaq menyelisihi guru-gurunya. Namun Syaikh Abu Ishaq teta menaruh hormat pada mereka. Begitu pula Syaikh Al-Albani adalah di antara guru beliau. Bahkan ada pujian khusus yang disematkan oleh Syaikh Al-Albani pada Syaikh Abu Ishaq ketika Syaikh Abu Ishaq mendhaifkan hadits tersebut sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkannya, “Syaikh Abu Ishaq sangat mumpuni sekali dalam ilmu hadits dan paham akan perawi-perawi dalam sanad. Ia bisa menjelaskan sebaik-baiknya. Semoga Allah membalas amalannya. Akan tetapi, moga ia bisa mengikuti penjelasanku bahwa hadits yang dimaksud sebenarnya shahih berdasarkan tiga jalur periwayatan. Agar tidak dipahami bahwa hadits tersebut dha’if secara mutlak dilihat dari sisi sanad dan matan.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, 7: 1677) Pujian lainnya pada Syaikh Abu Ishaq, Syaikh Al-Albani berkata, صَحَّ لك ما لم يصحَّ لغيرك “Ada hadits yang shahih bagimu namun selainmu tidak menganggapnya shahih.” Di antara ulama besar yang pernah beliau ambil ilmu dalam muhadarahnya: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syaikh ‘Abdullah bin Qa’ud, Syaikh ‘Abdullah bin Jibrin. Karya-karya Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini begitu banyak terutama dalam ilmu hadits dalam hal tahqiq dan takhrij hadits, ada yang sudah dicetak dan ada yang belum. Ternyata dengan ilmu dunia, Syaikh Abu Ishaq merasa belum cukup. Ia ingin mendalami ilmu agama terutama ilmu hadits. Moga bisa jadi contoh bagi para ilmuwan saat ini.   Referensi: http://alheweny.me/pages/page/about — Diselesaikan 10: 20 AM, 25 Dzulhijjah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan


Ulama lainnya yang jadi ulama besar di abad ini yang dulunya memiliki basic kuliah umum S-1 Bahasa Spanyol, yaitu Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini Al-Atsari Al-Mishri. Beliau dikenal bersama sebagai ulama pakar hadits terkemuka saat ini sepeninggal Syaikh Al-Albani. Nama asli beliau adalah Hijazi bin Muhammad bin Yusuf bin Syarif. Orang tuanya menamainya Hijaz setelah kepulangan dari haji dari Hijaz, maksudnya Saudi Arabia saat ini. Awalnya beliau memiliki nama kunyah Abu Al-Fadhl, sama seperti nama kunyah dari Ibnu Hajar. Lalu beliau banyak mempelajari kitab Abu Ishaq Asy-Syatibi, ia pun suka akan kunyahnya. Nama kunyah tersebut juga adalah nama kunyah dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Hingga saat ini beliau terkenal dengan nama Abu Ishaq Al-Huwaini. Beliau menisbahkan diri pada nama Al-Atsari karena beliau menyibukkan diri dengan atsar atau ilmu hadits. Beliau mengikuti ulama hadits dalam hal akidah dan manhaj. Beliau sudah makruf disebut dengan Al-Atsari, demikian di awal karya tulis beliau tercantum penyebutan itu. Namun beliau meninggalkan gelar tersebut dalam penyebutan nama demi meringkas dan juga khawatir disangka terlalu berbangga diri atau menyucikan diri. Akan tetapi, jika maksud menyebut Al-Atsari cuma pengabaran semata, maka tidaklah masalah. Beliau lahir pada hari Ahad, pada bulan Dzulqa’dah tahun 1375 H (bertepatan dengan 10 Juni 1956). Beliau lahir di daerah yang bernama Huwain. Syaikh Al-Huwaini tumbuh di keluarga yang shalih dan keluarga yang dimuliakan yang memiliki fitrah yang selamat. Orang tuanya sangat cinta pada agamanya dan sangat mengagungkan syariat Islam. Ayahnya menikahi tiga wanita dan memiliki 8 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Syaikh Abu Ishaq adalah anak dari istri ayahnya yang ketiga. Jenjang beliau dalam menuntut ilmu: Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Wazariyah. Pendidikan I’dadiyah Al-Qadimah. Pendidikan Ats-Tsanawiyah di Madrasah Asy-Syahid ‘Abdul Mun’im Riyadh. Kuliah di Jami’ah ‘Ain Syams, Fakultas Adab, Jurusan Bahasa Spanyol di Mesir. Diutus ke Spanyol karena kecerdasannya saat di bangku kuliah namun beliau hanya bertahan dua bulan di sana karena banyak terjadi pertentangan yang menyelisihi agamanya. Syaikh Al-Huwaini mulai mempelajari hadits ketika awalnya ia dinilai memiliki qira’ah yang bagus yang ia peroleh dari Syaikh ‘Abdul Hayyi Zayyan. Sebelumnya beliau mengambil kuliah syari’at namun hanya sebentar. Dilanjutkan dengan mengambil kuliah hadits. Sejak itulah beliau mulai menebarkan sunnah di lingkungannya yang notabene terpengaruh ajaran sufi. Akhirnya, beliau sendiri dituduh membawa ajaran baru. Petualangan beliau dalam mempelajari hadits berlanjut hingga bertemu dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Kisah beliau dengan Syaikh Al-Albani mulai dari pembahasan kitab Sifat Shalat Nabi min At-Takbir ila At-Taslim dan kitab karya Syaikh Al-Albani lainnya. Di antara guru Syaikh Abu Ishaq adalah Syaikh ‘Abdul Hamid Kasyk, Syaikh Muhammad Jamil Ghazi, Syaikh ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, Syaikh Dr. ‘Abdul Fatah Al-Halwu, Syaikh Ahmad Muqir dan Syaikh Sayid Sabiq yang terkenal dengan Fiqh Sunnahnya. Walaupun dalam beberapa masalah Syaikh Abu Ishaq menyelisihi guru-gurunya. Namun Syaikh Abu Ishaq teta menaruh hormat pada mereka. Begitu pula Syaikh Al-Albani adalah di antara guru beliau. Bahkan ada pujian khusus yang disematkan oleh Syaikh Al-Albani pada Syaikh Abu Ishaq ketika Syaikh Abu Ishaq mendhaifkan hadits tersebut sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkannya, “Syaikh Abu Ishaq sangat mumpuni sekali dalam ilmu hadits dan paham akan perawi-perawi dalam sanad. Ia bisa menjelaskan sebaik-baiknya. Semoga Allah membalas amalannya. Akan tetapi, moga ia bisa mengikuti penjelasanku bahwa hadits yang dimaksud sebenarnya shahih berdasarkan tiga jalur periwayatan. Agar tidak dipahami bahwa hadits tersebut dha’if secara mutlak dilihat dari sisi sanad dan matan.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, 7: 1677) Pujian lainnya pada Syaikh Abu Ishaq, Syaikh Al-Albani berkata, صَحَّ لك ما لم يصحَّ لغيرك “Ada hadits yang shahih bagimu namun selainmu tidak menganggapnya shahih.” Di antara ulama besar yang pernah beliau ambil ilmu dalam muhadarahnya: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syaikh ‘Abdullah bin Qa’ud, Syaikh ‘Abdullah bin Jibrin. Karya-karya Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini begitu banyak terutama dalam ilmu hadits dalam hal tahqiq dan takhrij hadits, ada yang sudah dicetak dan ada yang belum. Ternyata dengan ilmu dunia, Syaikh Abu Ishaq merasa belum cukup. Ia ingin mendalami ilmu agama terutama ilmu hadits. Moga bisa jadi contoh bagi para ilmuwan saat ini.   Referensi: http://alheweny.me/pages/page/about — Diselesaikan 10: 20 AM, 25 Dzulhijjah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan

Adab pada Guru (4)

Di antara adab pada guru adalah rajin hadir dalam majelis ilmu, berusaha terus hadir kecuali ada udzur syar’i. Kita lihat sebagian halaqah ilmu yang khusus membahas materi rutin, bukan tematik, misal membahas salah satu kitab ulama, akan nampak beda antara awal dan akhir. Keadaan awal pasti akan lebih banyak dibandingkan dengan pertemuan akhir. Keadaan awal lebih banyak, keadaan akhir akan semakin berkurang bahkan bisa jadi tersisa satu atau dua orang. Jarang sekali majelis yang kita lihat terus istiqamah kecuali yang Allah beri taufik padanya. Lihat contoh dari para salaf di masa silam bagaimanakah semangatnya mereka dalam merutinkan menghadiri majelis ilmu pada guru-guru mereka. Abul Hasan Al-Karkhi berkata, “Aku punya kebiasaan menghadiri majelis Abu Khazim setiap Jumat. Keesokan harinya di hari Jumat ternyata kosong, namun aku tetap menghadirinya agar tidak mengurangi kebiasaanku untuk menghadiri majelis tersebut.” (Al-Hattsu ‘ala Thalib Al-‘Ilmi karya Al-‘Askari, hlm. 78). Wahb bin Jarir dari bapaknya, ia berkata, “Aku sudah pernah duduk di majelis Al-Hasan Al-Bashri selama tujuh tahun. Aku tidak pernah absen walau satu hari pun. Aku punya kebiasaan puasa, lalu aku mendatangi majelis beliau.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 6: 362) Qatadah bin Da’amah As-Sadusi, ulama di kalangan tabi’in yang lahir dalam keadaan buta. Ia adalah di antara murid Anas bin Malik. Para ulama yang ada ketika itu biasa mengambil ilmu dari Anas pada pagi dan petang hari. Ada yang menghadiri majelis di pagi hari lantas pergi. Yang datang di pagi hari memberitahukan ilmu pada orang-orang yang hanya bisa hadir di petang hari. Suatu saat Anas telat hadir pada majelis sore. Lantas Qatadah membawakan pelajaran pada orang-orang yang hadir di sore hari mengenai hadits yang ia peroleh di pagi hari. Ketika Anas menyimak apa yang disampaikan oleh Qatadah, ia melihat bagaimana bagusnya hafalan Qatadah dan ia pun begitu takjub dengan kecerdasannya. Lantas ia pun menepuk tangan Qatadah lantas berkata, “Berdiri, wahai Qatadah (dipanggil dengan panggilan ‘Ya Akmah’, artinya ‘wahai si buta’, pen.), aku baru saja mengambil ilmuku sendiri darimu.” (Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 52-53) Ini tanda orang yang semangat hadiri majelis ilmu, maka kelak ia akan menuai hasil kerja kerasnya. Dari Abu Ad-Darda’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ “Sesungguhnya ilmu didapatkan dengan belajar dan sesungguhnya hilm (kesabaran dan ketenangan) didapat dengan terus melatih diri. Barangsiapa berusaha untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikannya. Barangsiapa yang berusaha untuk menghindari keburukan, niscaya akan terhindar darinya.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Al-Afrad). Hanya Allah yang memberi taufik. Moga Allah beri keistiqamahan meraih ilmu dari guru-guru kita.   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru

Adab pada Guru (4)

Di antara adab pada guru adalah rajin hadir dalam majelis ilmu, berusaha terus hadir kecuali ada udzur syar’i. Kita lihat sebagian halaqah ilmu yang khusus membahas materi rutin, bukan tematik, misal membahas salah satu kitab ulama, akan nampak beda antara awal dan akhir. Keadaan awal pasti akan lebih banyak dibandingkan dengan pertemuan akhir. Keadaan awal lebih banyak, keadaan akhir akan semakin berkurang bahkan bisa jadi tersisa satu atau dua orang. Jarang sekali majelis yang kita lihat terus istiqamah kecuali yang Allah beri taufik padanya. Lihat contoh dari para salaf di masa silam bagaimanakah semangatnya mereka dalam merutinkan menghadiri majelis ilmu pada guru-guru mereka. Abul Hasan Al-Karkhi berkata, “Aku punya kebiasaan menghadiri majelis Abu Khazim setiap Jumat. Keesokan harinya di hari Jumat ternyata kosong, namun aku tetap menghadirinya agar tidak mengurangi kebiasaanku untuk menghadiri majelis tersebut.” (Al-Hattsu ‘ala Thalib Al-‘Ilmi karya Al-‘Askari, hlm. 78). Wahb bin Jarir dari bapaknya, ia berkata, “Aku sudah pernah duduk di majelis Al-Hasan Al-Bashri selama tujuh tahun. Aku tidak pernah absen walau satu hari pun. Aku punya kebiasaan puasa, lalu aku mendatangi majelis beliau.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 6: 362) Qatadah bin Da’amah As-Sadusi, ulama di kalangan tabi’in yang lahir dalam keadaan buta. Ia adalah di antara murid Anas bin Malik. Para ulama yang ada ketika itu biasa mengambil ilmu dari Anas pada pagi dan petang hari. Ada yang menghadiri majelis di pagi hari lantas pergi. Yang datang di pagi hari memberitahukan ilmu pada orang-orang yang hanya bisa hadir di petang hari. Suatu saat Anas telat hadir pada majelis sore. Lantas Qatadah membawakan pelajaran pada orang-orang yang hadir di sore hari mengenai hadits yang ia peroleh di pagi hari. Ketika Anas menyimak apa yang disampaikan oleh Qatadah, ia melihat bagaimana bagusnya hafalan Qatadah dan ia pun begitu takjub dengan kecerdasannya. Lantas ia pun menepuk tangan Qatadah lantas berkata, “Berdiri, wahai Qatadah (dipanggil dengan panggilan ‘Ya Akmah’, artinya ‘wahai si buta’, pen.), aku baru saja mengambil ilmuku sendiri darimu.” (Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 52-53) Ini tanda orang yang semangat hadiri majelis ilmu, maka kelak ia akan menuai hasil kerja kerasnya. Dari Abu Ad-Darda’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ “Sesungguhnya ilmu didapatkan dengan belajar dan sesungguhnya hilm (kesabaran dan ketenangan) didapat dengan terus melatih diri. Barangsiapa berusaha untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikannya. Barangsiapa yang berusaha untuk menghindari keburukan, niscaya akan terhindar darinya.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Al-Afrad). Hanya Allah yang memberi taufik. Moga Allah beri keistiqamahan meraih ilmu dari guru-guru kita.   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru
Di antara adab pada guru adalah rajin hadir dalam majelis ilmu, berusaha terus hadir kecuali ada udzur syar’i. Kita lihat sebagian halaqah ilmu yang khusus membahas materi rutin, bukan tematik, misal membahas salah satu kitab ulama, akan nampak beda antara awal dan akhir. Keadaan awal pasti akan lebih banyak dibandingkan dengan pertemuan akhir. Keadaan awal lebih banyak, keadaan akhir akan semakin berkurang bahkan bisa jadi tersisa satu atau dua orang. Jarang sekali majelis yang kita lihat terus istiqamah kecuali yang Allah beri taufik padanya. Lihat contoh dari para salaf di masa silam bagaimanakah semangatnya mereka dalam merutinkan menghadiri majelis ilmu pada guru-guru mereka. Abul Hasan Al-Karkhi berkata, “Aku punya kebiasaan menghadiri majelis Abu Khazim setiap Jumat. Keesokan harinya di hari Jumat ternyata kosong, namun aku tetap menghadirinya agar tidak mengurangi kebiasaanku untuk menghadiri majelis tersebut.” (Al-Hattsu ‘ala Thalib Al-‘Ilmi karya Al-‘Askari, hlm. 78). Wahb bin Jarir dari bapaknya, ia berkata, “Aku sudah pernah duduk di majelis Al-Hasan Al-Bashri selama tujuh tahun. Aku tidak pernah absen walau satu hari pun. Aku punya kebiasaan puasa, lalu aku mendatangi majelis beliau.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 6: 362) Qatadah bin Da’amah As-Sadusi, ulama di kalangan tabi’in yang lahir dalam keadaan buta. Ia adalah di antara murid Anas bin Malik. Para ulama yang ada ketika itu biasa mengambil ilmu dari Anas pada pagi dan petang hari. Ada yang menghadiri majelis di pagi hari lantas pergi. Yang datang di pagi hari memberitahukan ilmu pada orang-orang yang hanya bisa hadir di petang hari. Suatu saat Anas telat hadir pada majelis sore. Lantas Qatadah membawakan pelajaran pada orang-orang yang hadir di sore hari mengenai hadits yang ia peroleh di pagi hari. Ketika Anas menyimak apa yang disampaikan oleh Qatadah, ia melihat bagaimana bagusnya hafalan Qatadah dan ia pun begitu takjub dengan kecerdasannya. Lantas ia pun menepuk tangan Qatadah lantas berkata, “Berdiri, wahai Qatadah (dipanggil dengan panggilan ‘Ya Akmah’, artinya ‘wahai si buta’, pen.), aku baru saja mengambil ilmuku sendiri darimu.” (Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 52-53) Ini tanda orang yang semangat hadiri majelis ilmu, maka kelak ia akan menuai hasil kerja kerasnya. Dari Abu Ad-Darda’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ “Sesungguhnya ilmu didapatkan dengan belajar dan sesungguhnya hilm (kesabaran dan ketenangan) didapat dengan terus melatih diri. Barangsiapa berusaha untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikannya. Barangsiapa yang berusaha untuk menghindari keburukan, niscaya akan terhindar darinya.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Al-Afrad). Hanya Allah yang memberi taufik. Moga Allah beri keistiqamahan meraih ilmu dari guru-guru kita.   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru


Di antara adab pada guru adalah rajin hadir dalam majelis ilmu, berusaha terus hadir kecuali ada udzur syar’i. Kita lihat sebagian halaqah ilmu yang khusus membahas materi rutin, bukan tematik, misal membahas salah satu kitab ulama, akan nampak beda antara awal dan akhir. Keadaan awal pasti akan lebih banyak dibandingkan dengan pertemuan akhir. Keadaan awal lebih banyak, keadaan akhir akan semakin berkurang bahkan bisa jadi tersisa satu atau dua orang. Jarang sekali majelis yang kita lihat terus istiqamah kecuali yang Allah beri taufik padanya. Lihat contoh dari para salaf di masa silam bagaimanakah semangatnya mereka dalam merutinkan menghadiri majelis ilmu pada guru-guru mereka. Abul Hasan Al-Karkhi berkata, “Aku punya kebiasaan menghadiri majelis Abu Khazim setiap Jumat. Keesokan harinya di hari Jumat ternyata kosong, namun aku tetap menghadirinya agar tidak mengurangi kebiasaanku untuk menghadiri majelis tersebut.” (Al-Hattsu ‘ala Thalib Al-‘Ilmi karya Al-‘Askari, hlm. 78). Wahb bin Jarir dari bapaknya, ia berkata, “Aku sudah pernah duduk di majelis Al-Hasan Al-Bashri selama tujuh tahun. Aku tidak pernah absen walau satu hari pun. Aku punya kebiasaan puasa, lalu aku mendatangi majelis beliau.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 6: 362) Qatadah bin Da’amah As-Sadusi, ulama di kalangan tabi’in yang lahir dalam keadaan buta. Ia adalah di antara murid Anas bin Malik. Para ulama yang ada ketika itu biasa mengambil ilmu dari Anas pada pagi dan petang hari. Ada yang menghadiri majelis di pagi hari lantas pergi. Yang datang di pagi hari memberitahukan ilmu pada orang-orang yang hanya bisa hadir di petang hari. Suatu saat Anas telat hadir pada majelis sore. Lantas Qatadah membawakan pelajaran pada orang-orang yang hadir di sore hari mengenai hadits yang ia peroleh di pagi hari. Ketika Anas menyimak apa yang disampaikan oleh Qatadah, ia melihat bagaimana bagusnya hafalan Qatadah dan ia pun begitu takjub dengan kecerdasannya. Lantas ia pun menepuk tangan Qatadah lantas berkata, “Berdiri, wahai Qatadah (dipanggil dengan panggilan ‘Ya Akmah’, artinya ‘wahai si buta’, pen.), aku baru saja mengambil ilmuku sendiri darimu.” (Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 52-53) Ini tanda orang yang semangat hadiri majelis ilmu, maka kelak ia akan menuai hasil kerja kerasnya. Dari Abu Ad-Darda’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ “Sesungguhnya ilmu didapatkan dengan belajar dan sesungguhnya hilm (kesabaran dan ketenangan) didapat dengan terus melatih diri. Barangsiapa berusaha untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikannya. Barangsiapa yang berusaha untuk menghindari keburukan, niscaya akan terhindar darinya.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Al-Afrad). Hanya Allah yang memberi taufik. Moga Allah beri keistiqamahan meraih ilmu dari guru-guru kita.   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru
Prev     Next