Bagaimana Ulama Membagi Waktu?

Bagaimana ulama kita membagi waktu? Kami sengaja menyebutkan kali ini agar bisa menjadi contoh bagi kita saat ini yang benar-benar banyak melalaikan waktu. Bagi kita, detik demi detik terlewat begitu saja tanpa manfaat apa-apa. Diceritakan oleh Sa’id Al-Hariri, para salaf ketika berada di waktu siang sibuk memenuhi hajat mereka, dan memperbaiki penghidupannya. Sedangkan di sore hari (waktu malam), mereka dalam keadaan beribadah dan shalat. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 200) Diceritakan oleh Shidqah, ia berkata, ‘Amr bin Dinar biasa membagi waktu malam menjadi tiga: sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk berdiskusi, sepertiga untuk shalat malam. (Hilyah Al-Auliya’, 3: 348) Tentang Sulaiman At-Taimiy diceritakan oleh Hamad bin Salamah, ia berkata, “Kami tidaklah mendatangi Sulaiman At-Taimi melainkan ia berada dalam keadaan ibadah pada Allah. Di waktu shalat, kami melihatnya berada dalam keadaan shalat. Di selain waktu shalat, kami mendapati beliau entah sedang berwudhu, mengunjungi orang sakit, mengurus jenazah, atau duduk di masjid. Seakan-akan kami menganggap beliau tidak pernah bermaksiat sama sekali.” (Hilyah Al-Auliya’, 3: 28) Tentang Imam Syafi’i, Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (10: 35) menyebutkan, Muhammad bin Bisyr Al-‘Akri dan selainnya berkata, telah bercerita pada kami Ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata, “Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga: sepertiga malam pertama untuk menulis, sepertiga malam kedua untuk shalat (malam) dan sepertiga malam terakhir untuk tidur.” Imam Adz-Dzahabi menyebutkan, “Tiga aktivitas beliau ini diniatkan untuk ibadah.” Memang …. Waktu begitu penting untuk dijaga. Al-Auza’i berkata, setiap detik yang terlewat di dunia akan ditampakkan pada hamba pada hari kiamat. Hari demi hari, waktu demi waktu, demikian. Jika satu detik tidak diisi dengan mengingat Allah, yang ada hanya kerugian belaka. Bagaimana lagi jika terlewat satu jam, satu hari, atau satu malam tanpa dzikrullah. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 142) Semoga contoh salaf di atas bisa menjadi tauladan terbaik. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Safar 1437 H, 02: 27 PM Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmanajemen waktu

Bagaimana Ulama Membagi Waktu?

Bagaimana ulama kita membagi waktu? Kami sengaja menyebutkan kali ini agar bisa menjadi contoh bagi kita saat ini yang benar-benar banyak melalaikan waktu. Bagi kita, detik demi detik terlewat begitu saja tanpa manfaat apa-apa. Diceritakan oleh Sa’id Al-Hariri, para salaf ketika berada di waktu siang sibuk memenuhi hajat mereka, dan memperbaiki penghidupannya. Sedangkan di sore hari (waktu malam), mereka dalam keadaan beribadah dan shalat. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 200) Diceritakan oleh Shidqah, ia berkata, ‘Amr bin Dinar biasa membagi waktu malam menjadi tiga: sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk berdiskusi, sepertiga untuk shalat malam. (Hilyah Al-Auliya’, 3: 348) Tentang Sulaiman At-Taimiy diceritakan oleh Hamad bin Salamah, ia berkata, “Kami tidaklah mendatangi Sulaiman At-Taimi melainkan ia berada dalam keadaan ibadah pada Allah. Di waktu shalat, kami melihatnya berada dalam keadaan shalat. Di selain waktu shalat, kami mendapati beliau entah sedang berwudhu, mengunjungi orang sakit, mengurus jenazah, atau duduk di masjid. Seakan-akan kami menganggap beliau tidak pernah bermaksiat sama sekali.” (Hilyah Al-Auliya’, 3: 28) Tentang Imam Syafi’i, Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (10: 35) menyebutkan, Muhammad bin Bisyr Al-‘Akri dan selainnya berkata, telah bercerita pada kami Ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata, “Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga: sepertiga malam pertama untuk menulis, sepertiga malam kedua untuk shalat (malam) dan sepertiga malam terakhir untuk tidur.” Imam Adz-Dzahabi menyebutkan, “Tiga aktivitas beliau ini diniatkan untuk ibadah.” Memang …. Waktu begitu penting untuk dijaga. Al-Auza’i berkata, setiap detik yang terlewat di dunia akan ditampakkan pada hamba pada hari kiamat. Hari demi hari, waktu demi waktu, demikian. Jika satu detik tidak diisi dengan mengingat Allah, yang ada hanya kerugian belaka. Bagaimana lagi jika terlewat satu jam, satu hari, atau satu malam tanpa dzikrullah. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 142) Semoga contoh salaf di atas bisa menjadi tauladan terbaik. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Safar 1437 H, 02: 27 PM Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmanajemen waktu
Bagaimana ulama kita membagi waktu? Kami sengaja menyebutkan kali ini agar bisa menjadi contoh bagi kita saat ini yang benar-benar banyak melalaikan waktu. Bagi kita, detik demi detik terlewat begitu saja tanpa manfaat apa-apa. Diceritakan oleh Sa’id Al-Hariri, para salaf ketika berada di waktu siang sibuk memenuhi hajat mereka, dan memperbaiki penghidupannya. Sedangkan di sore hari (waktu malam), mereka dalam keadaan beribadah dan shalat. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 200) Diceritakan oleh Shidqah, ia berkata, ‘Amr bin Dinar biasa membagi waktu malam menjadi tiga: sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk berdiskusi, sepertiga untuk shalat malam. (Hilyah Al-Auliya’, 3: 348) Tentang Sulaiman At-Taimiy diceritakan oleh Hamad bin Salamah, ia berkata, “Kami tidaklah mendatangi Sulaiman At-Taimi melainkan ia berada dalam keadaan ibadah pada Allah. Di waktu shalat, kami melihatnya berada dalam keadaan shalat. Di selain waktu shalat, kami mendapati beliau entah sedang berwudhu, mengunjungi orang sakit, mengurus jenazah, atau duduk di masjid. Seakan-akan kami menganggap beliau tidak pernah bermaksiat sama sekali.” (Hilyah Al-Auliya’, 3: 28) Tentang Imam Syafi’i, Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (10: 35) menyebutkan, Muhammad bin Bisyr Al-‘Akri dan selainnya berkata, telah bercerita pada kami Ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata, “Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga: sepertiga malam pertama untuk menulis, sepertiga malam kedua untuk shalat (malam) dan sepertiga malam terakhir untuk tidur.” Imam Adz-Dzahabi menyebutkan, “Tiga aktivitas beliau ini diniatkan untuk ibadah.” Memang …. Waktu begitu penting untuk dijaga. Al-Auza’i berkata, setiap detik yang terlewat di dunia akan ditampakkan pada hamba pada hari kiamat. Hari demi hari, waktu demi waktu, demikian. Jika satu detik tidak diisi dengan mengingat Allah, yang ada hanya kerugian belaka. Bagaimana lagi jika terlewat satu jam, satu hari, atau satu malam tanpa dzikrullah. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 142) Semoga contoh salaf di atas bisa menjadi tauladan terbaik. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Safar 1437 H, 02: 27 PM Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmanajemen waktu


Bagaimana ulama kita membagi waktu? Kami sengaja menyebutkan kali ini agar bisa menjadi contoh bagi kita saat ini yang benar-benar banyak melalaikan waktu. Bagi kita, detik demi detik terlewat begitu saja tanpa manfaat apa-apa. Diceritakan oleh Sa’id Al-Hariri, para salaf ketika berada di waktu siang sibuk memenuhi hajat mereka, dan memperbaiki penghidupannya. Sedangkan di sore hari (waktu malam), mereka dalam keadaan beribadah dan shalat. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 200) Diceritakan oleh Shidqah, ia berkata, ‘Amr bin Dinar biasa membagi waktu malam menjadi tiga: sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk berdiskusi, sepertiga untuk shalat malam. (Hilyah Al-Auliya’, 3: 348) Tentang Sulaiman At-Taimiy diceritakan oleh Hamad bin Salamah, ia berkata, “Kami tidaklah mendatangi Sulaiman At-Taimi melainkan ia berada dalam keadaan ibadah pada Allah. Di waktu shalat, kami melihatnya berada dalam keadaan shalat. Di selain waktu shalat, kami mendapati beliau entah sedang berwudhu, mengunjungi orang sakit, mengurus jenazah, atau duduk di masjid. Seakan-akan kami menganggap beliau tidak pernah bermaksiat sama sekali.” (Hilyah Al-Auliya’, 3: 28) Tentang Imam Syafi’i, Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (10: 35) menyebutkan, Muhammad bin Bisyr Al-‘Akri dan selainnya berkata, telah bercerita pada kami Ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata, “Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga: sepertiga malam pertama untuk menulis, sepertiga malam kedua untuk shalat (malam) dan sepertiga malam terakhir untuk tidur.” Imam Adz-Dzahabi menyebutkan, “Tiga aktivitas beliau ini diniatkan untuk ibadah.” Memang …. Waktu begitu penting untuk dijaga. Al-Auza’i berkata, setiap detik yang terlewat di dunia akan ditampakkan pada hamba pada hari kiamat. Hari demi hari, waktu demi waktu, demikian. Jika satu detik tidak diisi dengan mengingat Allah, yang ada hanya kerugian belaka. Bagaimana lagi jika terlewat satu jam, satu hari, atau satu malam tanpa dzikrullah. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 142) Semoga contoh salaf di atas bisa menjadi tauladan terbaik. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Safar 1437 H, 02: 27 PM Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmanajemen waktu

Amal Jariyah Tebar Buku Islam dan Quran (1000 Paket)

Ayo turut serta dalam amal jariyah Mushaf Al-Quran dan Buku Islam. Target akan disebar 1000 paket. Masjid binaan pesantren DS kali ini telah mencapai 70 lebih masjid. Sedangkan santri TPA anak-anak Pesantren DS telah mencapai hingga 600-an santri, ditambah ada santri dewasa dan sepuh yang masih belajar iqra dan Al- Quran. Kebutuhan mushaf Al-Quran untuk para santri dan jamaah masjid sangat diperlukan sekali. Ditambah lagi buku Islam untuk para dai, penuntut ilmu diin dan santri sangat diperlukan. Di antara buku yang akan dibagi gratis adalah buku karya Muhammad Abduh Tuasikal serta buku terjemahan ulama lainnya. Daerah penyebaran buku Al-Qur’an dan buku Islam bukan hanya di Gunungkidul, akan tersebar hingga Flores, Maluku dan Papua. Siapa yang berminat berdonasi jariyah untuk maksud ini, bisa disalurkan via rekening berikut: • BCA: 8610123881. • BNI Syariah: 0194475165. Semua a.n: Muhammad Abduh Tuasikal Kirim konfirmasi via sms ke 082313950500. Contoh konfirmasi: Donasi Quran Buku# Nama# Alamat# Bank Tujuan Transfer# Besar Transfer# Tanggal Transfer. Mushaf Al-Quran bisa pula disalurkan ke alamat pesantren: Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Dibutuhkan mushaf untuk Lansia (ukuran besar), ukuran sedang, ukuran kecil. Bisa disertakan dengan terjemahan. Semoga menjadi amal jariyah bagi yang menyumbang. — Info Rumaysho.Com Tagsamal jariyah wakaf

Amal Jariyah Tebar Buku Islam dan Quran (1000 Paket)

Ayo turut serta dalam amal jariyah Mushaf Al-Quran dan Buku Islam. Target akan disebar 1000 paket. Masjid binaan pesantren DS kali ini telah mencapai 70 lebih masjid. Sedangkan santri TPA anak-anak Pesantren DS telah mencapai hingga 600-an santri, ditambah ada santri dewasa dan sepuh yang masih belajar iqra dan Al- Quran. Kebutuhan mushaf Al-Quran untuk para santri dan jamaah masjid sangat diperlukan sekali. Ditambah lagi buku Islam untuk para dai, penuntut ilmu diin dan santri sangat diperlukan. Di antara buku yang akan dibagi gratis adalah buku karya Muhammad Abduh Tuasikal serta buku terjemahan ulama lainnya. Daerah penyebaran buku Al-Qur’an dan buku Islam bukan hanya di Gunungkidul, akan tersebar hingga Flores, Maluku dan Papua. Siapa yang berminat berdonasi jariyah untuk maksud ini, bisa disalurkan via rekening berikut: • BCA: 8610123881. • BNI Syariah: 0194475165. Semua a.n: Muhammad Abduh Tuasikal Kirim konfirmasi via sms ke 082313950500. Contoh konfirmasi: Donasi Quran Buku# Nama# Alamat# Bank Tujuan Transfer# Besar Transfer# Tanggal Transfer. Mushaf Al-Quran bisa pula disalurkan ke alamat pesantren: Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Dibutuhkan mushaf untuk Lansia (ukuran besar), ukuran sedang, ukuran kecil. Bisa disertakan dengan terjemahan. Semoga menjadi amal jariyah bagi yang menyumbang. — Info Rumaysho.Com Tagsamal jariyah wakaf
Ayo turut serta dalam amal jariyah Mushaf Al-Quran dan Buku Islam. Target akan disebar 1000 paket. Masjid binaan pesantren DS kali ini telah mencapai 70 lebih masjid. Sedangkan santri TPA anak-anak Pesantren DS telah mencapai hingga 600-an santri, ditambah ada santri dewasa dan sepuh yang masih belajar iqra dan Al- Quran. Kebutuhan mushaf Al-Quran untuk para santri dan jamaah masjid sangat diperlukan sekali. Ditambah lagi buku Islam untuk para dai, penuntut ilmu diin dan santri sangat diperlukan. Di antara buku yang akan dibagi gratis adalah buku karya Muhammad Abduh Tuasikal serta buku terjemahan ulama lainnya. Daerah penyebaran buku Al-Qur’an dan buku Islam bukan hanya di Gunungkidul, akan tersebar hingga Flores, Maluku dan Papua. Siapa yang berminat berdonasi jariyah untuk maksud ini, bisa disalurkan via rekening berikut: • BCA: 8610123881. • BNI Syariah: 0194475165. Semua a.n: Muhammad Abduh Tuasikal Kirim konfirmasi via sms ke 082313950500. Contoh konfirmasi: Donasi Quran Buku# Nama# Alamat# Bank Tujuan Transfer# Besar Transfer# Tanggal Transfer. Mushaf Al-Quran bisa pula disalurkan ke alamat pesantren: Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Dibutuhkan mushaf untuk Lansia (ukuran besar), ukuran sedang, ukuran kecil. Bisa disertakan dengan terjemahan. Semoga menjadi amal jariyah bagi yang menyumbang. — Info Rumaysho.Com Tagsamal jariyah wakaf


Ayo turut serta dalam amal jariyah Mushaf Al-Quran dan Buku Islam. Target akan disebar 1000 paket. Masjid binaan pesantren DS kali ini telah mencapai 70 lebih masjid. Sedangkan santri TPA anak-anak Pesantren DS telah mencapai hingga 600-an santri, ditambah ada santri dewasa dan sepuh yang masih belajar iqra dan Al- Quran. Kebutuhan mushaf Al-Quran untuk para santri dan jamaah masjid sangat diperlukan sekali. Ditambah lagi buku Islam untuk para dai, penuntut ilmu diin dan santri sangat diperlukan. Di antara buku yang akan dibagi gratis adalah buku karya Muhammad Abduh Tuasikal serta buku terjemahan ulama lainnya. Daerah penyebaran buku Al-Qur’an dan buku Islam bukan hanya di Gunungkidul, akan tersebar hingga Flores, Maluku dan Papua. Siapa yang berminat berdonasi jariyah untuk maksud ini, bisa disalurkan via rekening berikut: • BCA: 8610123881. • BNI Syariah: 0194475165. Semua a.n: Muhammad Abduh Tuasikal Kirim konfirmasi via sms ke 082313950500. Contoh konfirmasi: Donasi Quran Buku# Nama# Alamat# Bank Tujuan Transfer# Besar Transfer# Tanggal Transfer. Mushaf Al-Quran bisa pula disalurkan ke alamat pesantren: Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Dibutuhkan mushaf untuk Lansia (ukuran besar), ukuran sedang, ukuran kecil. Bisa disertakan dengan terjemahan. Semoga menjadi amal jariyah bagi yang menyumbang. — Info Rumaysho.Com Tagsamal jariyah wakaf

Video: Sharing Strategi Dakwah

Barangkali ada yang mau mempelajari strategi dakwah di Pesantren Darush Sholihin, binaan kami? Bisa dengar cerita dalam video ini. Semoga bisa tertular pada desa atau tempat lainnya di tanah air. Pesantren Darush Sholihin adalah Pesantren Masyarakat (Tanpa Pondokan) yang saat ini telah membina 600-an santri TPA. Setiap malam Kamis saat ini dihadiri oleh 2000 jama’ah dari berbagai dusun dari empat kecamatan. Sedangkan pada kajian Akbar dihadiri hingga 4000 jama’ah. Semuanya adalah berkat nikmat Allah dan taufik-Nya sehingga strategi dakwah yang ada dengan mudah membuka pintu hidayah bagi orang banyak. Anda ingin berdonasi untuk pesantren ini, silakan kunjungi: http://darushsholihin.com/donasi-pesantren/ Setiap bulannya pesantren ini membutuhkan donasi untuk membiayai pegawai, pengajar dan pengajian rutin sebesar 60 juta rupiah. Semoga bermanfaat.   [youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=rCugZzh1ITE&list=PLhpkpy-1OEGA1TjT8pt3omYWmx40AgNla” width=”560″ height=”315″]   — Muhammad Abduh Tuasikal Malam 5 Safar 1437 H, Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Join Twitter, Instagram, Channel Telegram: @RumayshoCom. Info amal jariyah pesantren: Channel Telegram @DarushSholihin Tagsdakwah

Video: Sharing Strategi Dakwah

Barangkali ada yang mau mempelajari strategi dakwah di Pesantren Darush Sholihin, binaan kami? Bisa dengar cerita dalam video ini. Semoga bisa tertular pada desa atau tempat lainnya di tanah air. Pesantren Darush Sholihin adalah Pesantren Masyarakat (Tanpa Pondokan) yang saat ini telah membina 600-an santri TPA. Setiap malam Kamis saat ini dihadiri oleh 2000 jama’ah dari berbagai dusun dari empat kecamatan. Sedangkan pada kajian Akbar dihadiri hingga 4000 jama’ah. Semuanya adalah berkat nikmat Allah dan taufik-Nya sehingga strategi dakwah yang ada dengan mudah membuka pintu hidayah bagi orang banyak. Anda ingin berdonasi untuk pesantren ini, silakan kunjungi: http://darushsholihin.com/donasi-pesantren/ Setiap bulannya pesantren ini membutuhkan donasi untuk membiayai pegawai, pengajar dan pengajian rutin sebesar 60 juta rupiah. Semoga bermanfaat.   [youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=rCugZzh1ITE&list=PLhpkpy-1OEGA1TjT8pt3omYWmx40AgNla” width=”560″ height=”315″]   — Muhammad Abduh Tuasikal Malam 5 Safar 1437 H, Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Join Twitter, Instagram, Channel Telegram: @RumayshoCom. Info amal jariyah pesantren: Channel Telegram @DarushSholihin Tagsdakwah
Barangkali ada yang mau mempelajari strategi dakwah di Pesantren Darush Sholihin, binaan kami? Bisa dengar cerita dalam video ini. Semoga bisa tertular pada desa atau tempat lainnya di tanah air. Pesantren Darush Sholihin adalah Pesantren Masyarakat (Tanpa Pondokan) yang saat ini telah membina 600-an santri TPA. Setiap malam Kamis saat ini dihadiri oleh 2000 jama’ah dari berbagai dusun dari empat kecamatan. Sedangkan pada kajian Akbar dihadiri hingga 4000 jama’ah. Semuanya adalah berkat nikmat Allah dan taufik-Nya sehingga strategi dakwah yang ada dengan mudah membuka pintu hidayah bagi orang banyak. Anda ingin berdonasi untuk pesantren ini, silakan kunjungi: http://darushsholihin.com/donasi-pesantren/ Setiap bulannya pesantren ini membutuhkan donasi untuk membiayai pegawai, pengajar dan pengajian rutin sebesar 60 juta rupiah. Semoga bermanfaat.   [youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=rCugZzh1ITE&list=PLhpkpy-1OEGA1TjT8pt3omYWmx40AgNla” width=”560″ height=”315″]   — Muhammad Abduh Tuasikal Malam 5 Safar 1437 H, Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Join Twitter, Instagram, Channel Telegram: @RumayshoCom. Info amal jariyah pesantren: Channel Telegram @DarushSholihin Tagsdakwah


Barangkali ada yang mau mempelajari strategi dakwah di Pesantren Darush Sholihin, binaan kami? Bisa dengar cerita dalam video ini. Semoga bisa tertular pada desa atau tempat lainnya di tanah air. Pesantren Darush Sholihin adalah Pesantren Masyarakat (Tanpa Pondokan) yang saat ini telah membina 600-an santri TPA. Setiap malam Kamis saat ini dihadiri oleh 2000 jama’ah dari berbagai dusun dari empat kecamatan. Sedangkan pada kajian Akbar dihadiri hingga 4000 jama’ah. Semuanya adalah berkat nikmat Allah dan taufik-Nya sehingga strategi dakwah yang ada dengan mudah membuka pintu hidayah bagi orang banyak. Anda ingin berdonasi untuk pesantren ini, silakan kunjungi: http://darushsholihin.com/donasi-pesantren/ Setiap bulannya pesantren ini membutuhkan donasi untuk membiayai pegawai, pengajar dan pengajian rutin sebesar 60 juta rupiah. Semoga bermanfaat.   [youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=rCugZzh1ITE&list=PLhpkpy-1OEGA1TjT8pt3omYWmx40AgNla” width=”560″ height=”315″]   — Muhammad Abduh Tuasikal Malam 5 Safar 1437 H, Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Join Twitter, Instagram, Channel Telegram: @RumayshoCom. Info amal jariyah pesantren: Channel Telegram @DarushSholihin Tagsdakwah

Pandangan Ulama: Menangis Membatalkan Shalat

Apakah menangis bisa membatalkan shalat? Kali ini kita lihat pandangan para ulama madzhab dalam masalah ini. Ulama Hanafiyah berpandangan bahwa jika menangis dalam shalat dikarenakan sedih pada musibah, maka itu membatalkan shalat. Karena seperti itu dianggap sebagai kalam manusia (perkara di luar shalat, pen.). Namun jika karena mengingat surga dan takut pada neraka, shalatnya tidaklah batal. Seperti itu menunjukkan bertambahnya khusyu’. Sedangkan khusyu’ adalah ruh dari shalat. Ulama Malikiyah berpandangan bahwa menangis dalam bisa jadi dengan suara atau tanpa suara. Jika menangis tanpa suara, shalatnya tidak batal. Jika dengan suara, shalatnya batal. Sedangkan jika menangisnya dengan suara dan itu atas dasar pilihannya, shalatnya batal. Jika bukan atas pilihannya dan didasari karena sangat khusu’nya, shalatnya tidak batal walaupun banyak. Namun kalau bukan karena khusyu’nya, shalatnya batal. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jika menangisnya keluar dua huruf, maka membatalkan shalat karena seperti itu meniadakan shalat. Meskipun ketika itu menangisnya karena takut akhirat. Ini pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, walau dalam madzhab sendiri ada yang menyelisihi pendapat tersebut. Ulama Hambali berpendapat bahwa jika menangisnya terdiri dari dua huruf, itu muncul karena khasyah (rasa takut yang besar), atau bahkan sambil tersedu-sedu, tidaklah membatalkan shalat. Karena seperti karena terhanyut dalam dzikir. Begitu juga kalau seseorang tidak khusyu’ lalu menangis dalam shalat, shalatnya batal. Demikian pandangan para ulama. Bahasan ini akan berlanjut lagi dengan melihat manakah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini dengan menimbang berbagai dalil. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. 8: 170-171. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat

Pandangan Ulama: Menangis Membatalkan Shalat

Apakah menangis bisa membatalkan shalat? Kali ini kita lihat pandangan para ulama madzhab dalam masalah ini. Ulama Hanafiyah berpandangan bahwa jika menangis dalam shalat dikarenakan sedih pada musibah, maka itu membatalkan shalat. Karena seperti itu dianggap sebagai kalam manusia (perkara di luar shalat, pen.). Namun jika karena mengingat surga dan takut pada neraka, shalatnya tidaklah batal. Seperti itu menunjukkan bertambahnya khusyu’. Sedangkan khusyu’ adalah ruh dari shalat. Ulama Malikiyah berpandangan bahwa menangis dalam bisa jadi dengan suara atau tanpa suara. Jika menangis tanpa suara, shalatnya tidak batal. Jika dengan suara, shalatnya batal. Sedangkan jika menangisnya dengan suara dan itu atas dasar pilihannya, shalatnya batal. Jika bukan atas pilihannya dan didasari karena sangat khusu’nya, shalatnya tidak batal walaupun banyak. Namun kalau bukan karena khusyu’nya, shalatnya batal. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jika menangisnya keluar dua huruf, maka membatalkan shalat karena seperti itu meniadakan shalat. Meskipun ketika itu menangisnya karena takut akhirat. Ini pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, walau dalam madzhab sendiri ada yang menyelisihi pendapat tersebut. Ulama Hambali berpendapat bahwa jika menangisnya terdiri dari dua huruf, itu muncul karena khasyah (rasa takut yang besar), atau bahkan sambil tersedu-sedu, tidaklah membatalkan shalat. Karena seperti karena terhanyut dalam dzikir. Begitu juga kalau seseorang tidak khusyu’ lalu menangis dalam shalat, shalatnya batal. Demikian pandangan para ulama. Bahasan ini akan berlanjut lagi dengan melihat manakah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini dengan menimbang berbagai dalil. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. 8: 170-171. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat
Apakah menangis bisa membatalkan shalat? Kali ini kita lihat pandangan para ulama madzhab dalam masalah ini. Ulama Hanafiyah berpandangan bahwa jika menangis dalam shalat dikarenakan sedih pada musibah, maka itu membatalkan shalat. Karena seperti itu dianggap sebagai kalam manusia (perkara di luar shalat, pen.). Namun jika karena mengingat surga dan takut pada neraka, shalatnya tidaklah batal. Seperti itu menunjukkan bertambahnya khusyu’. Sedangkan khusyu’ adalah ruh dari shalat. Ulama Malikiyah berpandangan bahwa menangis dalam bisa jadi dengan suara atau tanpa suara. Jika menangis tanpa suara, shalatnya tidak batal. Jika dengan suara, shalatnya batal. Sedangkan jika menangisnya dengan suara dan itu atas dasar pilihannya, shalatnya batal. Jika bukan atas pilihannya dan didasari karena sangat khusu’nya, shalatnya tidak batal walaupun banyak. Namun kalau bukan karena khusyu’nya, shalatnya batal. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jika menangisnya keluar dua huruf, maka membatalkan shalat karena seperti itu meniadakan shalat. Meskipun ketika itu menangisnya karena takut akhirat. Ini pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, walau dalam madzhab sendiri ada yang menyelisihi pendapat tersebut. Ulama Hambali berpendapat bahwa jika menangisnya terdiri dari dua huruf, itu muncul karena khasyah (rasa takut yang besar), atau bahkan sambil tersedu-sedu, tidaklah membatalkan shalat. Karena seperti karena terhanyut dalam dzikir. Begitu juga kalau seseorang tidak khusyu’ lalu menangis dalam shalat, shalatnya batal. Demikian pandangan para ulama. Bahasan ini akan berlanjut lagi dengan melihat manakah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini dengan menimbang berbagai dalil. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. 8: 170-171. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat


Apakah menangis bisa membatalkan shalat? Kali ini kita lihat pandangan para ulama madzhab dalam masalah ini. Ulama Hanafiyah berpandangan bahwa jika menangis dalam shalat dikarenakan sedih pada musibah, maka itu membatalkan shalat. Karena seperti itu dianggap sebagai kalam manusia (perkara di luar shalat, pen.). Namun jika karena mengingat surga dan takut pada neraka, shalatnya tidaklah batal. Seperti itu menunjukkan bertambahnya khusyu’. Sedangkan khusyu’ adalah ruh dari shalat. Ulama Malikiyah berpandangan bahwa menangis dalam bisa jadi dengan suara atau tanpa suara. Jika menangis tanpa suara, shalatnya tidak batal. Jika dengan suara, shalatnya batal. Sedangkan jika menangisnya dengan suara dan itu atas dasar pilihannya, shalatnya batal. Jika bukan atas pilihannya dan didasari karena sangat khusu’nya, shalatnya tidak batal walaupun banyak. Namun kalau bukan karena khusyu’nya, shalatnya batal. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jika menangisnya keluar dua huruf, maka membatalkan shalat karena seperti itu meniadakan shalat. Meskipun ketika itu menangisnya karena takut akhirat. Ini pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, walau dalam madzhab sendiri ada yang menyelisihi pendapat tersebut. Ulama Hambali berpendapat bahwa jika menangisnya terdiri dari dua huruf, itu muncul karena khasyah (rasa takut yang besar), atau bahkan sambil tersedu-sedu, tidaklah membatalkan shalat. Karena seperti karena terhanyut dalam dzikir. Begitu juga kalau seseorang tidak khusyu’ lalu menangis dalam shalat, shalatnya batal. Demikian pandangan para ulama. Bahasan ini akan berlanjut lagi dengan melihat manakah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini dengan menimbang berbagai dalil. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. 8: 170-171. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat

Menangis Karena Kaya

Ada yang menangis karena kaya, yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Cuma karena kekayaannya yang dimiliki, ia menangis. Kenapa bisa?   Menangis Karena Kaya Dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia bercerita, أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ – رضى الله عنه – أُتِىَ بِطَعَامٍ وَكَانَ صَائِمًا فَقَالَ قُتِلَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، كُفِّنَ فِى بُرْدَةٍ ، إِنْ غُطِّىَ رَأْسُهُ بَدَتْ رِجْلاَهُ ، وَإِنْ غُطِّىَ رِجْلاَهُ بَدَا رَأْسُهُ – وَأُرَاهُ قَالَ – وَقُتِلَ حَمْزَةُ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا مَا بُسِطَ – أَوْ قَالَ أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا مَا أُعْطِينَا – وَقَدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا ، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِى حَتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ “Suatu saat pernah dihidangkan makanan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Tetapi waktu itu ia sedang berpuasa. ‘Abdurrahman ketika itu berkata, “Mush’ab bin ‘Umair adalah orang yang lebih baik dariku. Ia meninggal dunia dalam keadaan mengenakan selimut yang terbuat dari bulu. Apabila kepalanya ditutup, maka terbukalah kakinya. Jika kakinya ditutup lebih baik dariku. Ketika ia terbunuh di dalam peperangan, kain yang mengafaninya hanyalah sepotong, maka tampaklah kepalanya. Begitu pula Hamzah demikian adanya, ia pun lebih baik dariku. Sedangkan kami diberi kekayaan dunia yang banyak.” Atau ia berkata, “Kami telah diberi kekayaan dunia yang sebanyak-banyaknya. Kami khawatir, jikalau kebaikan kami telas dibalas dengan kekayaan ini.” Kemudian ia terus menangis dan meninggalkan makanan itu.” (HR. Bukhari, no. 1275) Hadits di atas disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin no. 454 pada judul Bab “Keutamaan Menangis Karena Takut pada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya”.   Kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf dengan Kekayaannya ‘Abdurrahman bin ‘Auf adalah di antara sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga. Beliau juga termasuk di antara enam sahabat yang dijadikan oleh Umar untuk khilafah. ‘Abdurrahman juga adalah di antara sahabat yang mengikuti perang Badar yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Lakukanlah apa yang kalian mau, Allah benar-benar telah mengampuni kalian.” (HR. Bukhari, no. 3007 dan Muslim, no. 2494) ‘Abdurrahman juga termasuk sahabat yang mengikuti Baiatur Ridwan yang disebutkan oleh Allah, لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (QS. Al-Fath: 18) Beberapa peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula diikuti oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf. ‘Abdurrahman termasuk orang yang kaya yang rajin bersyukur. Kekayaannya begitu banyak sampai ia tinggalkan ketika meninggal dunia adalah 1000 unta, 3000 kambing, dan 100 kuda. Semuanya digembalangkan di Baqi’, daerah pekuburan saat ini dekat Masjid Nabawi. Beliau memiliki lahan pertanian di Al-Jurf dan ada 20 hewan yang menyiramkan air di lahan tersebut. Artinya, begitu luasnya lahan pertanian yang dimiliki oleh ‘Abdurrahman.   Pelajaran dari Tangisan ‘Abdurrahman bin ‘Auf Apa yang disebutkan dalam hadits menunjukkan bahwa hendaknya kita menghiasi diri kita dengan sifat tawadhu’. ‘Abdurrahman bin ‘Auf menganggap lainnya lebih baik darinya. Ia menganggap Mush’ab bin ‘Umair dan Hamzah itu lebih baik. Itu tanda bahwa beliau adalah orang yang tawadhu’ atau rendah hati. Keadaan dua orang sahabat tersebut menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak rakus dan begitu zuhud pada dunia. Lihat saja keadaan ketika mereka meninggal dunia, kain kafan pun kurang. Tidak seperti kita-kita yang begitu rakus dan tak pernah letih mengejar dunia. Padahal kekayaan tidak dibawa mati. Yang menemani kita saat di alam kubur justru adalah amalan kita. Lalu apa yang disedihkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf? Ia sedih jika saja balasan untuk amalan shalihnya disegerakan di dunia dengan kekayaan yang ia peroleh saat itu. Itulah yang beliau takutkan. Sedangkan kita saat ini, begitu sombong dengan dunia yang kita miliki dan senang untuk memamerkan. Kita malah tak mungkin menangis seperti ‘Abdurrahman bin ‘Auf karena kekayaan yang kita peroleh. Ibnu Hajar menyatakan, “Hadits ini mengandung pelajaran tentang keutamaan hidup zuhud. Juga ada anjuran bahwa orang yang bagus agamanya hendaknya tidak berlomba-lomba dalam memperbanyak harta karena hal itu akan membuat kebaikannya berkurang. Itulah yang diisyaratkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf bahwa beliau khawatir karena kekayaan melimpah yang ia miliki, itulah yang menyebabkan Allah segerakan baginya kebaikan di dunia (sedang di akhirat tidak mendapat apa-apa, pen.).” (Fath Al-Bari, 7: 410) Ada nasihat dari Ibnu Hubairah, “Jika Allah memberikan karunia limpahan harta pada seorang mukmin, dianjurkan baginya untuk mengingat susahnya hidup orang-orang mukmin sebelum dia.” (Al-Ifshah ‘an Ma’ani Ash-Shahah, 1: 301, dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 7: 180).   Referensi: Kunuz Ar-Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 1 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis rezeki

Menangis Karena Kaya

Ada yang menangis karena kaya, yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Cuma karena kekayaannya yang dimiliki, ia menangis. Kenapa bisa?   Menangis Karena Kaya Dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia bercerita, أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ – رضى الله عنه – أُتِىَ بِطَعَامٍ وَكَانَ صَائِمًا فَقَالَ قُتِلَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، كُفِّنَ فِى بُرْدَةٍ ، إِنْ غُطِّىَ رَأْسُهُ بَدَتْ رِجْلاَهُ ، وَإِنْ غُطِّىَ رِجْلاَهُ بَدَا رَأْسُهُ – وَأُرَاهُ قَالَ – وَقُتِلَ حَمْزَةُ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا مَا بُسِطَ – أَوْ قَالَ أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا مَا أُعْطِينَا – وَقَدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا ، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِى حَتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ “Suatu saat pernah dihidangkan makanan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Tetapi waktu itu ia sedang berpuasa. ‘Abdurrahman ketika itu berkata, “Mush’ab bin ‘Umair adalah orang yang lebih baik dariku. Ia meninggal dunia dalam keadaan mengenakan selimut yang terbuat dari bulu. Apabila kepalanya ditutup, maka terbukalah kakinya. Jika kakinya ditutup lebih baik dariku. Ketika ia terbunuh di dalam peperangan, kain yang mengafaninya hanyalah sepotong, maka tampaklah kepalanya. Begitu pula Hamzah demikian adanya, ia pun lebih baik dariku. Sedangkan kami diberi kekayaan dunia yang banyak.” Atau ia berkata, “Kami telah diberi kekayaan dunia yang sebanyak-banyaknya. Kami khawatir, jikalau kebaikan kami telas dibalas dengan kekayaan ini.” Kemudian ia terus menangis dan meninggalkan makanan itu.” (HR. Bukhari, no. 1275) Hadits di atas disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin no. 454 pada judul Bab “Keutamaan Menangis Karena Takut pada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya”.   Kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf dengan Kekayaannya ‘Abdurrahman bin ‘Auf adalah di antara sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga. Beliau juga termasuk di antara enam sahabat yang dijadikan oleh Umar untuk khilafah. ‘Abdurrahman juga adalah di antara sahabat yang mengikuti perang Badar yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Lakukanlah apa yang kalian mau, Allah benar-benar telah mengampuni kalian.” (HR. Bukhari, no. 3007 dan Muslim, no. 2494) ‘Abdurrahman juga termasuk sahabat yang mengikuti Baiatur Ridwan yang disebutkan oleh Allah, لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (QS. Al-Fath: 18) Beberapa peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula diikuti oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf. ‘Abdurrahman termasuk orang yang kaya yang rajin bersyukur. Kekayaannya begitu banyak sampai ia tinggalkan ketika meninggal dunia adalah 1000 unta, 3000 kambing, dan 100 kuda. Semuanya digembalangkan di Baqi’, daerah pekuburan saat ini dekat Masjid Nabawi. Beliau memiliki lahan pertanian di Al-Jurf dan ada 20 hewan yang menyiramkan air di lahan tersebut. Artinya, begitu luasnya lahan pertanian yang dimiliki oleh ‘Abdurrahman.   Pelajaran dari Tangisan ‘Abdurrahman bin ‘Auf Apa yang disebutkan dalam hadits menunjukkan bahwa hendaknya kita menghiasi diri kita dengan sifat tawadhu’. ‘Abdurrahman bin ‘Auf menganggap lainnya lebih baik darinya. Ia menganggap Mush’ab bin ‘Umair dan Hamzah itu lebih baik. Itu tanda bahwa beliau adalah orang yang tawadhu’ atau rendah hati. Keadaan dua orang sahabat tersebut menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak rakus dan begitu zuhud pada dunia. Lihat saja keadaan ketika mereka meninggal dunia, kain kafan pun kurang. Tidak seperti kita-kita yang begitu rakus dan tak pernah letih mengejar dunia. Padahal kekayaan tidak dibawa mati. Yang menemani kita saat di alam kubur justru adalah amalan kita. Lalu apa yang disedihkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf? Ia sedih jika saja balasan untuk amalan shalihnya disegerakan di dunia dengan kekayaan yang ia peroleh saat itu. Itulah yang beliau takutkan. Sedangkan kita saat ini, begitu sombong dengan dunia yang kita miliki dan senang untuk memamerkan. Kita malah tak mungkin menangis seperti ‘Abdurrahman bin ‘Auf karena kekayaan yang kita peroleh. Ibnu Hajar menyatakan, “Hadits ini mengandung pelajaran tentang keutamaan hidup zuhud. Juga ada anjuran bahwa orang yang bagus agamanya hendaknya tidak berlomba-lomba dalam memperbanyak harta karena hal itu akan membuat kebaikannya berkurang. Itulah yang diisyaratkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf bahwa beliau khawatir karena kekayaan melimpah yang ia miliki, itulah yang menyebabkan Allah segerakan baginya kebaikan di dunia (sedang di akhirat tidak mendapat apa-apa, pen.).” (Fath Al-Bari, 7: 410) Ada nasihat dari Ibnu Hubairah, “Jika Allah memberikan karunia limpahan harta pada seorang mukmin, dianjurkan baginya untuk mengingat susahnya hidup orang-orang mukmin sebelum dia.” (Al-Ifshah ‘an Ma’ani Ash-Shahah, 1: 301, dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 7: 180).   Referensi: Kunuz Ar-Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 1 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis rezeki
Ada yang menangis karena kaya, yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Cuma karena kekayaannya yang dimiliki, ia menangis. Kenapa bisa?   Menangis Karena Kaya Dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia bercerita, أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ – رضى الله عنه – أُتِىَ بِطَعَامٍ وَكَانَ صَائِمًا فَقَالَ قُتِلَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، كُفِّنَ فِى بُرْدَةٍ ، إِنْ غُطِّىَ رَأْسُهُ بَدَتْ رِجْلاَهُ ، وَإِنْ غُطِّىَ رِجْلاَهُ بَدَا رَأْسُهُ – وَأُرَاهُ قَالَ – وَقُتِلَ حَمْزَةُ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا مَا بُسِطَ – أَوْ قَالَ أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا مَا أُعْطِينَا – وَقَدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا ، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِى حَتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ “Suatu saat pernah dihidangkan makanan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Tetapi waktu itu ia sedang berpuasa. ‘Abdurrahman ketika itu berkata, “Mush’ab bin ‘Umair adalah orang yang lebih baik dariku. Ia meninggal dunia dalam keadaan mengenakan selimut yang terbuat dari bulu. Apabila kepalanya ditutup, maka terbukalah kakinya. Jika kakinya ditutup lebih baik dariku. Ketika ia terbunuh di dalam peperangan, kain yang mengafaninya hanyalah sepotong, maka tampaklah kepalanya. Begitu pula Hamzah demikian adanya, ia pun lebih baik dariku. Sedangkan kami diberi kekayaan dunia yang banyak.” Atau ia berkata, “Kami telah diberi kekayaan dunia yang sebanyak-banyaknya. Kami khawatir, jikalau kebaikan kami telas dibalas dengan kekayaan ini.” Kemudian ia terus menangis dan meninggalkan makanan itu.” (HR. Bukhari, no. 1275) Hadits di atas disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin no. 454 pada judul Bab “Keutamaan Menangis Karena Takut pada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya”.   Kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf dengan Kekayaannya ‘Abdurrahman bin ‘Auf adalah di antara sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga. Beliau juga termasuk di antara enam sahabat yang dijadikan oleh Umar untuk khilafah. ‘Abdurrahman juga adalah di antara sahabat yang mengikuti perang Badar yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Lakukanlah apa yang kalian mau, Allah benar-benar telah mengampuni kalian.” (HR. Bukhari, no. 3007 dan Muslim, no. 2494) ‘Abdurrahman juga termasuk sahabat yang mengikuti Baiatur Ridwan yang disebutkan oleh Allah, لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (QS. Al-Fath: 18) Beberapa peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula diikuti oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf. ‘Abdurrahman termasuk orang yang kaya yang rajin bersyukur. Kekayaannya begitu banyak sampai ia tinggalkan ketika meninggal dunia adalah 1000 unta, 3000 kambing, dan 100 kuda. Semuanya digembalangkan di Baqi’, daerah pekuburan saat ini dekat Masjid Nabawi. Beliau memiliki lahan pertanian di Al-Jurf dan ada 20 hewan yang menyiramkan air di lahan tersebut. Artinya, begitu luasnya lahan pertanian yang dimiliki oleh ‘Abdurrahman.   Pelajaran dari Tangisan ‘Abdurrahman bin ‘Auf Apa yang disebutkan dalam hadits menunjukkan bahwa hendaknya kita menghiasi diri kita dengan sifat tawadhu’. ‘Abdurrahman bin ‘Auf menganggap lainnya lebih baik darinya. Ia menganggap Mush’ab bin ‘Umair dan Hamzah itu lebih baik. Itu tanda bahwa beliau adalah orang yang tawadhu’ atau rendah hati. Keadaan dua orang sahabat tersebut menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak rakus dan begitu zuhud pada dunia. Lihat saja keadaan ketika mereka meninggal dunia, kain kafan pun kurang. Tidak seperti kita-kita yang begitu rakus dan tak pernah letih mengejar dunia. Padahal kekayaan tidak dibawa mati. Yang menemani kita saat di alam kubur justru adalah amalan kita. Lalu apa yang disedihkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf? Ia sedih jika saja balasan untuk amalan shalihnya disegerakan di dunia dengan kekayaan yang ia peroleh saat itu. Itulah yang beliau takutkan. Sedangkan kita saat ini, begitu sombong dengan dunia yang kita miliki dan senang untuk memamerkan. Kita malah tak mungkin menangis seperti ‘Abdurrahman bin ‘Auf karena kekayaan yang kita peroleh. Ibnu Hajar menyatakan, “Hadits ini mengandung pelajaran tentang keutamaan hidup zuhud. Juga ada anjuran bahwa orang yang bagus agamanya hendaknya tidak berlomba-lomba dalam memperbanyak harta karena hal itu akan membuat kebaikannya berkurang. Itulah yang diisyaratkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf bahwa beliau khawatir karena kekayaan melimpah yang ia miliki, itulah yang menyebabkan Allah segerakan baginya kebaikan di dunia (sedang di akhirat tidak mendapat apa-apa, pen.).” (Fath Al-Bari, 7: 410) Ada nasihat dari Ibnu Hubairah, “Jika Allah memberikan karunia limpahan harta pada seorang mukmin, dianjurkan baginya untuk mengingat susahnya hidup orang-orang mukmin sebelum dia.” (Al-Ifshah ‘an Ma’ani Ash-Shahah, 1: 301, dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 7: 180).   Referensi: Kunuz Ar-Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 1 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis rezeki


Ada yang menangis karena kaya, yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Cuma karena kekayaannya yang dimiliki, ia menangis. Kenapa bisa?   Menangis Karena Kaya Dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia bercerita, أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ – رضى الله عنه – أُتِىَ بِطَعَامٍ وَكَانَ صَائِمًا فَقَالَ قُتِلَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، كُفِّنَ فِى بُرْدَةٍ ، إِنْ غُطِّىَ رَأْسُهُ بَدَتْ رِجْلاَهُ ، وَإِنْ غُطِّىَ رِجْلاَهُ بَدَا رَأْسُهُ – وَأُرَاهُ قَالَ – وَقُتِلَ حَمْزَةُ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا مَا بُسِطَ – أَوْ قَالَ أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا مَا أُعْطِينَا – وَقَدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا ، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِى حَتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ “Suatu saat pernah dihidangkan makanan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Tetapi waktu itu ia sedang berpuasa. ‘Abdurrahman ketika itu berkata, “Mush’ab bin ‘Umair adalah orang yang lebih baik dariku. Ia meninggal dunia dalam keadaan mengenakan selimut yang terbuat dari bulu. Apabila kepalanya ditutup, maka terbukalah kakinya. Jika kakinya ditutup lebih baik dariku. Ketika ia terbunuh di dalam peperangan, kain yang mengafaninya hanyalah sepotong, maka tampaklah kepalanya. Begitu pula Hamzah demikian adanya, ia pun lebih baik dariku. Sedangkan kami diberi kekayaan dunia yang banyak.” Atau ia berkata, “Kami telah diberi kekayaan dunia yang sebanyak-banyaknya. Kami khawatir, jikalau kebaikan kami telas dibalas dengan kekayaan ini.” Kemudian ia terus menangis dan meninggalkan makanan itu.” (HR. Bukhari, no. 1275) Hadits di atas disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin no. 454 pada judul Bab “Keutamaan Menangis Karena Takut pada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya”.   Kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf dengan Kekayaannya ‘Abdurrahman bin ‘Auf adalah di antara sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga. Beliau juga termasuk di antara enam sahabat yang dijadikan oleh Umar untuk khilafah. ‘Abdurrahman juga adalah di antara sahabat yang mengikuti perang Badar yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Lakukanlah apa yang kalian mau, Allah benar-benar telah mengampuni kalian.” (HR. Bukhari, no. 3007 dan Muslim, no. 2494) ‘Abdurrahman juga termasuk sahabat yang mengikuti Baiatur Ridwan yang disebutkan oleh Allah, لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (QS. Al-Fath: 18) Beberapa peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula diikuti oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf. ‘Abdurrahman termasuk orang yang kaya yang rajin bersyukur. Kekayaannya begitu banyak sampai ia tinggalkan ketika meninggal dunia adalah 1000 unta, 3000 kambing, dan 100 kuda. Semuanya digembalangkan di Baqi’, daerah pekuburan saat ini dekat Masjid Nabawi. Beliau memiliki lahan pertanian di Al-Jurf dan ada 20 hewan yang menyiramkan air di lahan tersebut. Artinya, begitu luasnya lahan pertanian yang dimiliki oleh ‘Abdurrahman.   Pelajaran dari Tangisan ‘Abdurrahman bin ‘Auf Apa yang disebutkan dalam hadits menunjukkan bahwa hendaknya kita menghiasi diri kita dengan sifat tawadhu’. ‘Abdurrahman bin ‘Auf menganggap lainnya lebih baik darinya. Ia menganggap Mush’ab bin ‘Umair dan Hamzah itu lebih baik. Itu tanda bahwa beliau adalah orang yang tawadhu’ atau rendah hati. Keadaan dua orang sahabat tersebut menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak rakus dan begitu zuhud pada dunia. Lihat saja keadaan ketika mereka meninggal dunia, kain kafan pun kurang. Tidak seperti kita-kita yang begitu rakus dan tak pernah letih mengejar dunia. Padahal kekayaan tidak dibawa mati. Yang menemani kita saat di alam kubur justru adalah amalan kita. Lalu apa yang disedihkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf? Ia sedih jika saja balasan untuk amalan shalihnya disegerakan di dunia dengan kekayaan yang ia peroleh saat itu. Itulah yang beliau takutkan. Sedangkan kita saat ini, begitu sombong dengan dunia yang kita miliki dan senang untuk memamerkan. Kita malah tak mungkin menangis seperti ‘Abdurrahman bin ‘Auf karena kekayaan yang kita peroleh. Ibnu Hajar menyatakan, “Hadits ini mengandung pelajaran tentang keutamaan hidup zuhud. Juga ada anjuran bahwa orang yang bagus agamanya hendaknya tidak berlomba-lomba dalam memperbanyak harta karena hal itu akan membuat kebaikannya berkurang. Itulah yang diisyaratkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf bahwa beliau khawatir karena kekayaan melimpah yang ia miliki, itulah yang menyebabkan Allah segerakan baginya kebaikan di dunia (sedang di akhirat tidak mendapat apa-apa, pen.).” (Fath Al-Bari, 7: 410) Ada nasihat dari Ibnu Hubairah, “Jika Allah memberikan karunia limpahan harta pada seorang mukmin, dianjurkan baginya untuk mengingat susahnya hidup orang-orang mukmin sebelum dia.” (Al-Ifshah ‘an Ma’ani Ash-Shahah, 1: 301, dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 7: 180).   Referensi: Kunuz Ar-Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 1 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis rezeki

Al-Isti’aadzah (Memohon perlindungan kepada Allah)

(Kutbah Jum’at Mesjid Nabawi 1/2/1437 H – 13/11/2015)Oleh : Asy-Syekh Abdul Muhsin Muhamad Al-QasimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – Wahai hamba Allah ! – sebaik-baik takwa, berpegang teguhlah dengan agama Allah sekuat-kuatnya. Kaum muslimin  !Allah Ta’ala mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat keagungan, keindahan dan kesempurnaan. Nama-namaNya sungguh indah dan sifat-sifatNya tinggi dan mulia; Dia menciptakan dan hebat dalam menciptakan, begitu kokoh dan akurat ciptaanNya. Sebagai bukti kesempurnaan hikmah dan  kekuasaanNya adalah Dia ciptakan segala sesuatu berpasang-pasang; diciptakanNya sesuatu dengan lawan jodohnya, siang dengan malam, pria dengan wanita, kebaikan dengan keburukan.Seorang hamba tidak akan terlepas dari penghambaan kepadaNya dalam kondisi apapun, ia memohon kepadaNya kebaikan dan berlindung kepadaNya dari kejahatan. Firman Allah  :يا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَراءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ  [ فاطر / 15 ]( Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] lagi Maha Terpuji ) Qs Fathir : 15Dialah Allah Yang dimohon pertolonganNya dalam kesulitan dan ketika bencana melanda. Firman Allah  :أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذا دَعاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ  [ النمل / 62 ]( Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan  ) Qs An-Naml : 62Dia-lah yang menimpakan kesengsaraan, dan Dia pula yang menghilangkannya. Firman Allah :وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ [ الأنعام / 17 ]( Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri ) Qs Al-An’am : 17Allah memerintahkan para hambaNya menyampaikan permohonan hanya kepadaNya, dan berjanji mengabulkan permohonan mereka. Ini merupakan hak prerogatif Allah yang tidak ada hak bagi siapapun untuk menyampuriNya. Salah satu permohonan/doa kepada Allah adalah berlindung kepadaNya dari apapun yang engkau takuti. Itu merupakan ibadah diantara ibadah-ibadah yang paling agung, karena di dalamnya terkandung pengagungan kepada Allah dan keterikatan hati denganNya serta memurnikanNya dalam berdoa dan pengakuan atas kemiskinan diri kepadaNya. Maka terukur dengan kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah, datangnya solusi yang ia butuhkan. Firman Allah dalam Hadis Qudsi :( مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ ) رواه البخاريBarangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sunnah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan pandangannya yang dia memandang dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta kepada-Ku niscaya akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya akan Kulindungi.( HR Bukhari)Barangsiapa yang tingkat penghambaannya kepada Allah lebih besar, maka lebih kuat pula permohonannya akan perlindungan Allah dan penyandaraannya kepadaNya. Para Rasul, mereka berlindung kepada Allah dalam kondisi krisis dan kseluitan dan untuk menolak bala’ dan malapetaka. Allah Ta’ala melarang Nabi Nuh a.s. mendoakan untuk anaknya yang kafir kepada Allah. Firman Allah :رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ [ هود / 47 ]( Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui [hakekat]nya. ) Qs Hud : 47Nabi Yusuf a.s. berlindung kepada Allah dari fitnah (pencemaran namanya).  Firman Allah :قالَ مَعاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوايَ  [ يوسف / 23 ]( Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik ). Qs Yusuf : 23 Saudara-saudara Nabi Yusuf mengajaknya melakukan penyimpangan dengan menahan salah seorang di antara mereka sebagai pengganti dari saudara Yusuf. Maka ia-pun berdoa :قالَ مَعاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلاَّ مَنْ وَجَدْنا مَتاعَنا عِنْدَهُ إِنَّا إِذاً لَظالِمُونَ  [ يوسف / 79 ]( Berkata Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim). Qs Yusuf : 79Nabi Musa a.s. ketika dituduh oleh kaumnya melakukan pelecehan terhadap mereka dengan modus perintah dan larangan, memohon perlindungan kepada Allah :قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ  [ البقرة / 67 ]) Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil  ) . Qs Al-Baqarah : 67Fir’aun dan kroni-kroninya bersikap arogan terhadap ajakan Musa a.s., maka Musa-pun berdoa :إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسابِ [ غافر / 27 ](“Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab”) Qs Ghafir : 27Musa berlindung dari kejahatan Fir’aun dan pasukannya seraya berkata :وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ  [ الدخان / 20 ]( Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari keinginanmu merajamku ) : Qs Ad-Dukhan : 20Istri Imran ketika melahirkan kandungannya, berdoa :وَإِنِّي أُعِيذُها بِكَ وَذُرِّيَّتَها مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ  [ آل عمران / 36 ]( Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau dari gangguan syaitan yang terkutuk ). Qs Ali Imran : 36Ibnu Jarir – Rahimahullah – berkata : “Maka, Allah Ta’ala mengabulkan permohonan Istri Imran itu dengan melindunginya dan anak cucunya dari godaan setan yang terkutuk sehingga tidak ada jalan bagi setan untuk menggodanya”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ، إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّه )(Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali setan pasti menyentuhnya [ketika dia lahir], maka bayi tersebut menjerit karena sentuhan setan, kecuali Maryam dan putranya).Maryam a.s. ketika kedatangan malaikat untuk meniupkan roh padanya, ia mengira malaikat itu sosok manusia yang punya maksud jahat terhadap dirinya, maka iapun berlindung kepada Allah :إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيّاً  [ مريم / 18 ]( Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa ) Qs Maryam : 18Ketika rahim ( ikatan kekerabatan ) Allah ciptakan, ia pun berlindung kepada Allah dari pemutusan ikatannya seraya berkata :هَذَا مَقَامُ العَائِذِ بِكَ مِنَ القَطِيعَةِ( Di sinilah posisi orang yang berlindung kepadaMu dari pemutusan tali kekerabatan ). Artinya, alasanku memohon perlindungan kepadamu adalah kakhawatiranku dari perbuatan seseorang yang memutuskan aku sehingga dia terkena murkaMu dan kemarahanMu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri selalu berlindung kepada Tuhannya sepenuh hati dalam segala situasi; beliau berlindung kepada Allah di waktu pagi dan di waktu petang hari, ketika dalam perjalanan atau sedang di rumah, dalam situasi perang ataupun damai, ketika hendak berbaring tidur atau bangun dari tidur, ketika masuk kamar kecil, dan dalam shalat beliau perbanyak baca doa perlindungan, dalam sholat malam beliau ketika baca ayat tentang azab neraka beliau mohon perlindungan, ketika sedang bersujud dan duduk beliau berlindung, ketika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan beliau bersandar dan berlindung kepada Allah, beliau tidak biarkan ada kejahatan apapun kecuali beliau berlindung kepada Allah Ta’ala dari keburukannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal-hal yang bertentangan dengan keimanan dan yang dapat menguranginya. Doa beliau :وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ، وَالشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ، وَالسُّمْعَةِ وَالرِّيَاءِ( Aku berlindung kepadaMu dari kemiskinan dan kekafiran, dari kemusyrikan dan kemunafikan, dari rasa ingin didengar orang dan memamerkan diri ) HR Ibnu Hibban.Doa perlindungan itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada sahabat-sahabatnya dan mendorong mereka memohon perlindungan. Beliau membacakan doa memohon perlindungan untuk anak-anak kecil seperti Hasan dan Husen r.a. seraya berkata :إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ(Sesungguhnya Leluhur kalian (yaitu Ibrahim a.s) mendoakan perlindungan untuk Ismail dan Ishak dengan doa ini;  Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan setan dan ular/hewan beracun, serta dari kejahatan mata yang membawa musibah). HR BukhariBeliau shallallahu ‘alaihi wasallam menanamkan di dalam jiwa pentingnya doa perlindungan kepada Allah Ta’ala, beliau katakan :مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ( Barangsiapa yang berlindung kepada Allah, maka lindungilah dia ) HR Abu DawudKebijakan Allah telah menentukan bahwa setiap muslim itu ada musuhnya dari setan-setan dalam sosok manusia dan jin :وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا [ الأنعام / 112 ](Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan [dari jenis] manusia dan [dan jenis] jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.). Qs Al-An’am : 112Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia, syaitan merupakan asas dari segala kejahatan dan malapetaka. Setan berusaha dengan segala cara untuk mencelakakan dan menyengsarakan manusia. Tidak ada keselamatan dari kejahatan syaitan dan para prajuritnya kecuali dengan mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah dan memurnikan niat karenaNya serta bertawakal kepadaNya, maka setan tidak akan mampu menggelincirkan dan menyesatkannya. Firman Allah :إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  [ النحل / 99 ]( Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya ) Qs An-Nahl : 99Seorang muslim diperintahkan selalu memohon perlindungan dari bisikan-bisikan setan. Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزاتِ الشَّياطِينِ  [ المؤمنون / 97 ]( Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan ) Qs Al-Mukminun : 97Allah perintahkan manusia berpegang pada prinsip-prinsip keindahan agama dan memikat hati manusia kepada islam dengan cara memaafkan kesalahan, mengajak kepada yang makruf dan berpaling dari kebodohan, sementara setan berupaya menghalanginya, dan tidak ada jalan keluar kecuali dengan memohon perlindungan dari godaan setan. Firman Allah :خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ , وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ   ، وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [ الأعراف / 199 ](Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh, Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui ). Qs Al-A’raf : 199Setan merintagi antara hamba dan ketaatannya kepada Tuhannya. Semakin besar nilai amal ibadah bagi seorang hamba dan semakin dicintai oleh Allah, maka semakin dahsyat pula rintangan setan kepadanya. Maka ketika seseorang sedang shalat, setan mengganggunya. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا( Itu adalah setan yang bernama Khonzab, jika kamu merasakan gangguannya maka berlindunglah kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke samping kiri tiga kali ) HR MuslimKetika hendak membaca Al-Qur’an, seseorang diperintahkan berlindung kepada Allah dari gangguan setan :فَإِذا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ   [ النحل / 98 ]( Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ) Qs An-Nahl : 98Tempat-tempat buang hajat banyak setan berkeliaran di dalamnya, maka untuk menghindarkan diri dari gangguan mereka adalah dengan memohon perlindungan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ( Ya Allah ! sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan dan para syaitan ) Muttafaq Alaihi.Di waktu pagi dan petang, kitapun memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan.Abu Bakar r.a. berkata :يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي  بِكَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ إِذَا أَصْبَحْت، وَإِذَا أَمْسَيْت، قَالَ: ” قُلْ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ «قَالَ» قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ، وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ“Ya Rasulullah, perintahkan kepadaku untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang akan aku ucapkan setiap pagi dan petang hari”. Rasulullah bersabda: “Katakanlah”: (“Ya, Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Pemelihara segala sesuatu dan Rajanya, aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, aku berlindung dari keburukan diriku dan kejahatan setan bersama sekutunya. Beliau berkata : “Ucapkanlah [do’a ini] ketika pagi dan sore hari, dan ketika engkau hendak tidur”). HR Abu DawudSetan mengganggu manusia sampai-pun dalam tidurnya. Maka barangsiapa yang bermimpi buruk dalam tidurnya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا، فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثًا، وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ  ) رواه مسلم(Jika salah seorang di antara kalian mengalami mimpi buruk, hendaklah meludah kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula ) HR. MuslimKemarahan adalah kendaraan setan, ia merupakan bara api dalam hati yang mendorong seseorang berbuat maksiat dan dosa. Untuk meredam kemarahan, seseorang berlindung kepada Allah.Sulaiman Bin Shurod berkata :كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “(Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM sedang dua orang lelaki sedang bermaki-makian di antara satu sama lain. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda”, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya. Jika sekiranya dia baca “Auzubillahi minas-Syaitanirrajim” niscaya hilang kemarahan yang dialaminya”) HR BukhariSetan tidak henti-hentinya menjerumuskan anak Adam, sejak pertama kali seorang suami menggauli istrinya. Maka dengan permohonan perlindungan kepada Allah, bahayanya dapat ditangkis.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا( Apabila seseorang hendak menggauli istrinya lalu berdoa : Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah dari setan apa yang akan engkau rezekikan kepada kami, sesungguhnya jikalau hubungan mereka ditakdirkan membuahkan anak, tidak akan terkena bahaya setan selamanya).Muttafaq Alaih.Sampai binatang himar (keledai) pun bersuara meringkik ketika melihat setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا ) متفق عليه(Apabila kamu mendengar keledai meringkik, mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya ia sedang melihat setan) . Muttafaq AlaihTujuan utama setan adalah menjerumuskan dan menyesatkan anak cucu Adam. Firman Allah :قالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ    [ ص / 82 ]( Iblis berkata: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya ) Qs Shad : 82Setan akan tetap menggoda manusia dalam masalah pokok-pokok keimanan. Tidak ada keselamatan dari godaannya kecuali atas pertolongan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا، مَنْ خَلَقَ كَذَا، حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ )  رواه البخاري( Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya,’Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?’ hingga dia bertanya,’Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Oleh karena itu, jika telah sampai di situ, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan was-was situ). HR BukhariMenyekutukan Allah merupakan puncak kesesatan. Para Imam tauhid khawatir atas diri mereka terhadap kemusyrikan ini. Nabi Ibrahim a.s. berdoa :وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنامَ  [إبراهيم / 35 ]( Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala ) Qs Ibrahim : 35Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالْفَقْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ( Ya Allah ! Aku berlindung kepadaMu dari kekafiran, dari kemiskinan dan dari siksa kubur ) HR Ahmad.Hati para hamba berada di antara dua jari dari pada jari-jari Allah Yang Maha Pemurah, Dia membolak-balikkan sebagaimana kehendakNya, maka Allah beri petunjuk seseorang setelah tersesat, dan menyesatkannya setelah berada dalam petunjuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي( Aku berlindung kepada kemuliaanMu, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, dari kesesatan yang Engkau timpakan kepadaku ) HR MuslimDan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga berlindung dari perpindahan dari sebelumnya beribadah menjadi bermaksiat.Kehidupan manusia diliputi kejahatan. Jalan yang ideal untuk memagari diri dari bahayanya adalah memohon perlindungan kepada Allah. Sebab, Allah adalah pencipta makhluk, maka hanya Dia-lah yang dapat menolak kejahatan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak membaringkan tubuhnya di tempat tidur selalu berdoa :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ( Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan segala sesuatu yang mana Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya ) HR MuslimNafsu manusia sangatlah mendorong kepada keburukan, karena memang berwatak keburukan. Orang yang beruntung ialah orang yang mengarahkan nafsunya kepada ketaatan dan selalu berlindung dari kejahatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللهُمَّ أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي( Ya Allah, aku memohon petunjuk kepadaMu untuk selurus-lurus urusanku, dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan nafsuku ). HR AhmadIbnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu secara umum dan dari kejahatan perbuatan yang dihasilkannya serta dampak perkara yang buruk dan tercela  yang ditimbulkannya”.Maka, merupakan sunnah adalah berlindung dari kejahatan nafsu setiap memulai pidato,وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami”. HR TurmuziPermohonan ini mencakup perlindungan dari akar kejahatan, cabang-cabangnya, sasarannya dan konsekuensi logisnya.Kemiskinan dan kekayaan adalah kendaraan kebaikan atau keburukan. Kebahagiaan seseorang terletak pada konsistensi dalam ketakwaannya meskipun kendaraannya berbeda. Maka barangsiapa yang memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan keduanya, akan dicukupi dan dilindungi oleh Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doanya :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ، وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah neraka, dari siksa neraka dan dari kejahatan kekayaan dan kemiskinan ). HR Abu Dawud Organ-organ tubuh manusia itu diliputi nafsu syahwat, maka yang terbaik adalah memfungsikannya untuk ketaatan dan menghindarkannya dari keburukan, dengan disertai terus menerus memohon perlindungan kepada Allah dari dampaknya yang membahayakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada salah seorang sahabat suatu doa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي يَعْنِي فَرْجَهُ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan pendengaranku, kejahatan pengelihatanku, kejahatan lidahku, kejahatan hatiku dan kejahatan fajiku ). HR TurmuziAmal kebajikan semua positif, sedangkan perbuatan maksiat semua negatif. Maka hendaklah Anda selalu melakukan ketaatan dan memohon kepada Allah terkabulnya amal Anda dan tetap konsisten melakukannya. Jauhilah maksiat dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari bahaya maksiat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ( Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan apa yang aku perbuat ). Muttafaq Alaih.Barangsiapa yang menempati sebuah tempat tinggal lalu memohon perlindungan dalam doanya :أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ( Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan, maka tidak akan membahayakan suatu apapun hingga ia meninggalkan tempat itu ). HR MuslimDan al-Mu’awwidzataani (yaitu surat al-Falaq dan An-Naas) termasuk permohonan perlindungan yang paling kompleks dan paling bermanfaat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a.أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا تَعَوَّذَ بِهِ الْمُتَعَوِّذُوْنَ؟“Maukah aku kabarkan kepadamu tentang permohonan perlindungan yang terbaik yang dimohon oleh para pemohon perlindungan?”قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَكِ“Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan Yang menguasai subuh” (QS Al-Falak : 1)قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ“Katakanlah ; Aku berlindung kepada Tuhan Penguasa manusia” (QS An-Naas : 1) (HR Ahmad)Dan kebutuhan hamba kepada isti’aadzah (memohon perlindungan kepada Allah) dengan kedua surat ini lebih besar daripada kebutuhannya kepada nafas, makanan, dan minuman. Dan dua surat ini ampuh untuk menolak sihir dan al-‘ain serta seluruh keburukan, demikian juga menghilangkannya jika telah terlanjur terkena.Terkadang keburukan menimpa sang hamba dari arah yang tidak ia sangka. Ada angin yang mendatangkan rahmat, dan ada angin yang merupakan adzab, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, jika bertiup angin kencang maka beliau berdoa :«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ»“Ya Allah aku memohon kepadaMu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang ada padanya serta kebaikan yang dikirimkan dengannya. Dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya, dan keburukan yang ada padanya serta keburukan yang dikirim dengannya” (HR Muslim)Dan Allah telah mengadzab beberapa kaum dengan awan, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat awan datang beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أُرْسِلَ بِهِ“Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari keburukan yang dikirim dengan awan ini” (HR Muslim)          Barang siapa yang memiliki baju baru maka hendaknya ia memuji Allah dan memohon kepada Allah kebaikan dari baju tersebut dan berlindung dari keburukannya. Beliau berdoa ;اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ“Ya Allah segala puji hanya bagiMu, Engkau telah memakaikan aku baju ini, aku memohon kepadaMu kebaikannya, dan kebaikanya yang dibuat padanya, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang dibuat padanya” (HR At-Tirmidzi)          Dan kehidupan tidak tetap pada satu kondisi, dan barangsiapa yang melihat ada perubahan dalam kehidupan dengan hilangnya kenikmatan maka hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allah dari hal tersebut. Dan diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ“Ya Allah aku memohon kepadaMu dari hilangnya karuniaMu” (HR Muslim)Dan Allah lah yang melindungi dari sulitnya kehidupan, terkena kesengsaraan, dan takdir yang buruk.Dan jika tubuh terkena penyakit maka kesembuhannya ada di sisi Allah, maka hendaknya memohon perlindungan kepadanya dari keburukannya, maka dari Allahlah kebaikan dan kesembuhan.Utsman bin Abi al-‘Aash r.a mengeluhkan sakitnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu rasa sakit yang ia derita di tubuhnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :“Letakkanlah tanganmu ke bagian yang sakit dari tubuhmu, dan ucapkanlah “Bismillah” sebanyak 3 kali, dan ucapkanlah sebanyak 7 kali :أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekusaanNya dari keburukan yang aku dapati sekarang, dan keburukan yang aku khawatirkan datang kemudian”  (HR Muslim)Dan kondisi-kondisi yang berat akan menjadi ringan dengan mengikatkan hati kepada Allah. Dan safar merupakan salah satu potongan adzab (kesulitan), maka hendaknya seorang musafir  berlindung kepada Allah dari وَعْثَاءِ السَّفَرِ (kesulitan dan beratnya safar) dan كَآبَةِ الْمَنْظَرِ (pemandangan yang mendatangkan kesedihan) dan سُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ (buruknya kondisi harta dan keluarga yang ditinggalkan) (HR Muslim).Rasa aman dari bahaya musuh dan ejekan mereka diperoleh dengan berlindung kepada Allah dari mereka. Berjidalnya orang-orang kafir yang sombong terhadap ayat-ayat Allah menimbulkan makar mereka dan rencana jahat mereka, dan keselamatan dari ini semua adalah dengan berlindung kepada Allah.إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُSesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS Ghofir : 56)Allah menyukai akhlak yang terbaik dan amal yang terbaik, dan membenci amal dan akhlak yang buruk. Dan seorang muslim melakukan yang baik dan menjauhkan dirinya dari yang buruk serta berlindung kepada Allah dari keburukan akhlak dan amal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari akhlak yang munkar (buruk) dan amal yang buruk serta hafwa nafsu” (HR At-Tirmidzi)Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allahمِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا“dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dan jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan” (HR Muslim)          Seorang mengetahui rahasia-rahasia tetangganya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang menutupi rahasia tetangganya. Tetangga yang buruk adalah yang membongkar aib dan membuka sitar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :تعوذوا بِاللَّه من جَار السوء فِي دَار الْمقَام فَإِن الْجَار البادي يتَحَوَّل عَنْكَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari tetangga yang buruk di kota tempat tinggal, karena tetangga badui berpindah meninggalkanmu (ke daerah lain)” (HR An-Nasaai).          Islam adalah agama senang dan gembira dan melarang dari kesedihan dan gundah gulana karena hal itu akan melemahkan seorang hamba dari meraih kebaikan agamanya dan dari membangun kehidupannya. Diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana (kekawatiran) dan kesedihan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan fitnah menerpa hati sebagaimana tenunan tikar, tenunan demi tenunan dan tidak ada keselamatan kecuali dengan berlindung kepada Allah darinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari fitnah, yang nampak maupun yang tersembunyi” (HR Muslim)Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Pada hadits ini ada dalil akan dianjurkannya berlindung kepada Allah dari fitnah meskipun seseorang memandang bahwa dirinya berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi fitnah, karena fitnah tersebut bisa saja menyebabkan terjadinya perkara yang ia tidak menyangka akan terjadinya”Dan fitnah itu banyak dengan berbagai macam model dan bentuknya. Diantara fitnah yang terbesar adalah fitnah kehidupan dan fitnah kematian serta fitnah Dajjal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari fitnah ini semua sebelum beliau salam dari sholatnya. Beliau juga berlindung :مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَفِتْنَةِ الْفَقْرِ“dari fitnah kekayaan dan fitnah kemiskinan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)          Dunia adalah fitnah, tidak ada yang bisa menyelamatkan dari fitnahnya kecuali Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا“Dan aku berlindung dari fitnah dunia” (HR Al-Bukhari)Dan kezoliman merupakan sebab kebinasaan, dan doanya orang yang terzolimi tidak tertolak. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlindung dari buruknya doa orang yang terzolimi. Jika beliau bersafar beliau berlindung dari doanya orang yang terzolimi (HR Muslim).          Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan mencintaiNya dan takut akan siksaanNya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dalam sujudnya :اللَّهُمَّ، أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لا أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ“Ya Allah aku berlindung dengan keridoanMu dari kemarahanMu, dengan penyelamatanMu dari hukumanMu, dan aku berlindung denganMu dariMu, aku tidak mampu untuk menyanjungMu, sesungguhnya hakikatMu adalah sebagaimana Engkau memuji diriMu” (HR Muslim).Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan khouf (rasa takut), rojaa’ (penuh berharap), dan mahabbah (kecintaan). Diantara tanda orang-orang yang takut kepada Allah adalah ia sering berlindung dari adzab Allah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللهُمَّ، إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ“Jika salah seorang dari kalian bertasyahhud maka hendaklah ia memohon perlindungan dari 4 perkara, ia berkata ; Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari adzab neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan keburukan fitnahnya Dajjal” (HR Muslim)‘Auf bin Malik r.a berkata :قُمْت مَعَ رسول الله فَاسْتَفْتَحَ من الْبَقَرَةَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إلَّا وَقَفَ فوسَأَلَ، وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إلَّا وَقَفَ وتَعَوَّذَ“Aku sholat bersama Rasulullah, maka beliau memulai sholatnya dengan membaca dari surat al-Baqoroh, tidaklah beliau melewati ayat rahmat kecuali beliau berhenti dan memohon, dan tidaklah beliau melewati ayat adzab kecuali beliau berhenti dan berlindung kepada Allah” (HR An-Nasaai)Beliau berlindung dari kondisi penghuni neraka, beliau berdoa :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab neraka” (HR Muslim).Barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah dari neraka sebanyak 7 kali maka Allah akan melindunginya dari neraka.          Dan selanjutnya kaum muslimin sekalian, sesungguhnya tempat memohon perlindungan hanyalah Allah semata, tiada Pencipta selainNya, tiada yang disembah selainNya, tiada temapat bersandar, dan tiada tempat keselamatan dariNya kecuali kepadaNya. Barangsiapa yang bergantung kepada Allah dan mecurahkan hajatnya kepada Allah maka Allah akan mencukupkannya dan menjaganya, dan Allah akan mendekatkan baginya seluruh yang jauh dan memudahkan baginya seluruh yang sulit. Maka hendaknya seorang muslim menggantungkan hatinya kepada Allah dan berlindung kepadaNya, dan janganlah ia bosan dari memperbanyak memohon perlindungan, dengan isti’adzah (memohon perlindungan kepada Allah) maka ia telah beribadah kepada Rabnya dan menjaga dirinya, dan dengannya ia meraih kebahagiaan dan kemuliaannya.Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutukفَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ (50) وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌMaka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.  Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu (QS Adz-Dzaariyaat : 50-51)Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung… Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan kepadaNya atas bimbingan dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungannya terhadap kedudukanNya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepadanya  dan kepada para sahabatnya. Kaum muslimin sekalian, barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah dan memohon perlindungan kepadanya, bersandar kepadanya, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada tempat ia bergantung, dan ia akan ditinggalkan (tidak ditolong) dari arah yang ia bergantung kepadanya, serta ia akan gagal mencapi tujuannya yang ia harapkan dari Allah, karena ia bergantung kepada selain Allah dan mencari selain Allah. Maka ia gagal mencapai apa yang ia cari dari Allah, dan apa yang ia harapkan dari tempat ia bergantung juga gagal. Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ (74) لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَMereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka (QS Yaasiin : 74-75)Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا (81) كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّاDan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka (QS Maryam : 81-82)Barangsiapa yang berlindung kepada jin dan meminta pertolongan para penyihir maka ia tidak akan mewujudkan dari mereka tujuannya. Dan mereka tidak akan menambah baginya melainkan keburukan, ketakutan, kekawatiran, kepanikan, dan kebingungan. Allah Ta’ala berfirman :وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًاDan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (QS Al-Jinn : 6)Orang yang bahagia adalah orang yang mencurahkan hajatnya kepada Allah yang Maha agung, Yang menghilangkan penderitaan, dan melenyapkan duka cita.Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan untuk bersholawat kepada NabiNya… Penerjemah : Firanda Andirja & Utsman Hatimhttps://firanda.com/

Al-Isti’aadzah (Memohon perlindungan kepada Allah)

(Kutbah Jum’at Mesjid Nabawi 1/2/1437 H – 13/11/2015)Oleh : Asy-Syekh Abdul Muhsin Muhamad Al-QasimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – Wahai hamba Allah ! – sebaik-baik takwa, berpegang teguhlah dengan agama Allah sekuat-kuatnya. Kaum muslimin  !Allah Ta’ala mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat keagungan, keindahan dan kesempurnaan. Nama-namaNya sungguh indah dan sifat-sifatNya tinggi dan mulia; Dia menciptakan dan hebat dalam menciptakan, begitu kokoh dan akurat ciptaanNya. Sebagai bukti kesempurnaan hikmah dan  kekuasaanNya adalah Dia ciptakan segala sesuatu berpasang-pasang; diciptakanNya sesuatu dengan lawan jodohnya, siang dengan malam, pria dengan wanita, kebaikan dengan keburukan.Seorang hamba tidak akan terlepas dari penghambaan kepadaNya dalam kondisi apapun, ia memohon kepadaNya kebaikan dan berlindung kepadaNya dari kejahatan. Firman Allah  :يا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَراءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ  [ فاطر / 15 ]( Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] lagi Maha Terpuji ) Qs Fathir : 15Dialah Allah Yang dimohon pertolonganNya dalam kesulitan dan ketika bencana melanda. Firman Allah  :أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذا دَعاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ  [ النمل / 62 ]( Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan  ) Qs An-Naml : 62Dia-lah yang menimpakan kesengsaraan, dan Dia pula yang menghilangkannya. Firman Allah :وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ [ الأنعام / 17 ]( Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri ) Qs Al-An’am : 17Allah memerintahkan para hambaNya menyampaikan permohonan hanya kepadaNya, dan berjanji mengabulkan permohonan mereka. Ini merupakan hak prerogatif Allah yang tidak ada hak bagi siapapun untuk menyampuriNya. Salah satu permohonan/doa kepada Allah adalah berlindung kepadaNya dari apapun yang engkau takuti. Itu merupakan ibadah diantara ibadah-ibadah yang paling agung, karena di dalamnya terkandung pengagungan kepada Allah dan keterikatan hati denganNya serta memurnikanNya dalam berdoa dan pengakuan atas kemiskinan diri kepadaNya. Maka terukur dengan kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah, datangnya solusi yang ia butuhkan. Firman Allah dalam Hadis Qudsi :( مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ ) رواه البخاريBarangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sunnah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan pandangannya yang dia memandang dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta kepada-Ku niscaya akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya akan Kulindungi.( HR Bukhari)Barangsiapa yang tingkat penghambaannya kepada Allah lebih besar, maka lebih kuat pula permohonannya akan perlindungan Allah dan penyandaraannya kepadaNya. Para Rasul, mereka berlindung kepada Allah dalam kondisi krisis dan kseluitan dan untuk menolak bala’ dan malapetaka. Allah Ta’ala melarang Nabi Nuh a.s. mendoakan untuk anaknya yang kafir kepada Allah. Firman Allah :رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ [ هود / 47 ]( Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui [hakekat]nya. ) Qs Hud : 47Nabi Yusuf a.s. berlindung kepada Allah dari fitnah (pencemaran namanya).  Firman Allah :قالَ مَعاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوايَ  [ يوسف / 23 ]( Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik ). Qs Yusuf : 23 Saudara-saudara Nabi Yusuf mengajaknya melakukan penyimpangan dengan menahan salah seorang di antara mereka sebagai pengganti dari saudara Yusuf. Maka ia-pun berdoa :قالَ مَعاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلاَّ مَنْ وَجَدْنا مَتاعَنا عِنْدَهُ إِنَّا إِذاً لَظالِمُونَ  [ يوسف / 79 ]( Berkata Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim). Qs Yusuf : 79Nabi Musa a.s. ketika dituduh oleh kaumnya melakukan pelecehan terhadap mereka dengan modus perintah dan larangan, memohon perlindungan kepada Allah :قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ  [ البقرة / 67 ]) Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil  ) . Qs Al-Baqarah : 67Fir’aun dan kroni-kroninya bersikap arogan terhadap ajakan Musa a.s., maka Musa-pun berdoa :إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسابِ [ غافر / 27 ](“Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab”) Qs Ghafir : 27Musa berlindung dari kejahatan Fir’aun dan pasukannya seraya berkata :وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ  [ الدخان / 20 ]( Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari keinginanmu merajamku ) : Qs Ad-Dukhan : 20Istri Imran ketika melahirkan kandungannya, berdoa :وَإِنِّي أُعِيذُها بِكَ وَذُرِّيَّتَها مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ  [ آل عمران / 36 ]( Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau dari gangguan syaitan yang terkutuk ). Qs Ali Imran : 36Ibnu Jarir – Rahimahullah – berkata : “Maka, Allah Ta’ala mengabulkan permohonan Istri Imran itu dengan melindunginya dan anak cucunya dari godaan setan yang terkutuk sehingga tidak ada jalan bagi setan untuk menggodanya”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ، إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّه )(Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali setan pasti menyentuhnya [ketika dia lahir], maka bayi tersebut menjerit karena sentuhan setan, kecuali Maryam dan putranya).Maryam a.s. ketika kedatangan malaikat untuk meniupkan roh padanya, ia mengira malaikat itu sosok manusia yang punya maksud jahat terhadap dirinya, maka iapun berlindung kepada Allah :إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيّاً  [ مريم / 18 ]( Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa ) Qs Maryam : 18Ketika rahim ( ikatan kekerabatan ) Allah ciptakan, ia pun berlindung kepada Allah dari pemutusan ikatannya seraya berkata :هَذَا مَقَامُ العَائِذِ بِكَ مِنَ القَطِيعَةِ( Di sinilah posisi orang yang berlindung kepadaMu dari pemutusan tali kekerabatan ). Artinya, alasanku memohon perlindungan kepadamu adalah kakhawatiranku dari perbuatan seseorang yang memutuskan aku sehingga dia terkena murkaMu dan kemarahanMu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri selalu berlindung kepada Tuhannya sepenuh hati dalam segala situasi; beliau berlindung kepada Allah di waktu pagi dan di waktu petang hari, ketika dalam perjalanan atau sedang di rumah, dalam situasi perang ataupun damai, ketika hendak berbaring tidur atau bangun dari tidur, ketika masuk kamar kecil, dan dalam shalat beliau perbanyak baca doa perlindungan, dalam sholat malam beliau ketika baca ayat tentang azab neraka beliau mohon perlindungan, ketika sedang bersujud dan duduk beliau berlindung, ketika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan beliau bersandar dan berlindung kepada Allah, beliau tidak biarkan ada kejahatan apapun kecuali beliau berlindung kepada Allah Ta’ala dari keburukannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal-hal yang bertentangan dengan keimanan dan yang dapat menguranginya. Doa beliau :وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ، وَالشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ، وَالسُّمْعَةِ وَالرِّيَاءِ( Aku berlindung kepadaMu dari kemiskinan dan kekafiran, dari kemusyrikan dan kemunafikan, dari rasa ingin didengar orang dan memamerkan diri ) HR Ibnu Hibban.Doa perlindungan itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada sahabat-sahabatnya dan mendorong mereka memohon perlindungan. Beliau membacakan doa memohon perlindungan untuk anak-anak kecil seperti Hasan dan Husen r.a. seraya berkata :إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ(Sesungguhnya Leluhur kalian (yaitu Ibrahim a.s) mendoakan perlindungan untuk Ismail dan Ishak dengan doa ini;  Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan setan dan ular/hewan beracun, serta dari kejahatan mata yang membawa musibah). HR BukhariBeliau shallallahu ‘alaihi wasallam menanamkan di dalam jiwa pentingnya doa perlindungan kepada Allah Ta’ala, beliau katakan :مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ( Barangsiapa yang berlindung kepada Allah, maka lindungilah dia ) HR Abu DawudKebijakan Allah telah menentukan bahwa setiap muslim itu ada musuhnya dari setan-setan dalam sosok manusia dan jin :وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا [ الأنعام / 112 ](Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan [dari jenis] manusia dan [dan jenis] jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.). Qs Al-An’am : 112Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia, syaitan merupakan asas dari segala kejahatan dan malapetaka. Setan berusaha dengan segala cara untuk mencelakakan dan menyengsarakan manusia. Tidak ada keselamatan dari kejahatan syaitan dan para prajuritnya kecuali dengan mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah dan memurnikan niat karenaNya serta bertawakal kepadaNya, maka setan tidak akan mampu menggelincirkan dan menyesatkannya. Firman Allah :إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  [ النحل / 99 ]( Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya ) Qs An-Nahl : 99Seorang muslim diperintahkan selalu memohon perlindungan dari bisikan-bisikan setan. Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزاتِ الشَّياطِينِ  [ المؤمنون / 97 ]( Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan ) Qs Al-Mukminun : 97Allah perintahkan manusia berpegang pada prinsip-prinsip keindahan agama dan memikat hati manusia kepada islam dengan cara memaafkan kesalahan, mengajak kepada yang makruf dan berpaling dari kebodohan, sementara setan berupaya menghalanginya, dan tidak ada jalan keluar kecuali dengan memohon perlindungan dari godaan setan. Firman Allah :خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ , وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ   ، وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [ الأعراف / 199 ](Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh, Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui ). Qs Al-A’raf : 199Setan merintagi antara hamba dan ketaatannya kepada Tuhannya. Semakin besar nilai amal ibadah bagi seorang hamba dan semakin dicintai oleh Allah, maka semakin dahsyat pula rintangan setan kepadanya. Maka ketika seseorang sedang shalat, setan mengganggunya. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا( Itu adalah setan yang bernama Khonzab, jika kamu merasakan gangguannya maka berlindunglah kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke samping kiri tiga kali ) HR MuslimKetika hendak membaca Al-Qur’an, seseorang diperintahkan berlindung kepada Allah dari gangguan setan :فَإِذا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ   [ النحل / 98 ]( Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ) Qs An-Nahl : 98Tempat-tempat buang hajat banyak setan berkeliaran di dalamnya, maka untuk menghindarkan diri dari gangguan mereka adalah dengan memohon perlindungan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ( Ya Allah ! sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan dan para syaitan ) Muttafaq Alaihi.Di waktu pagi dan petang, kitapun memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan.Abu Bakar r.a. berkata :يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي  بِكَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ إِذَا أَصْبَحْت، وَإِذَا أَمْسَيْت، قَالَ: ” قُلْ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ «قَالَ» قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ، وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ“Ya Rasulullah, perintahkan kepadaku untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang akan aku ucapkan setiap pagi dan petang hari”. Rasulullah bersabda: “Katakanlah”: (“Ya, Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Pemelihara segala sesuatu dan Rajanya, aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, aku berlindung dari keburukan diriku dan kejahatan setan bersama sekutunya. Beliau berkata : “Ucapkanlah [do’a ini] ketika pagi dan sore hari, dan ketika engkau hendak tidur”). HR Abu DawudSetan mengganggu manusia sampai-pun dalam tidurnya. Maka barangsiapa yang bermimpi buruk dalam tidurnya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا، فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثًا، وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ  ) رواه مسلم(Jika salah seorang di antara kalian mengalami mimpi buruk, hendaklah meludah kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula ) HR. MuslimKemarahan adalah kendaraan setan, ia merupakan bara api dalam hati yang mendorong seseorang berbuat maksiat dan dosa. Untuk meredam kemarahan, seseorang berlindung kepada Allah.Sulaiman Bin Shurod berkata :كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “(Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM sedang dua orang lelaki sedang bermaki-makian di antara satu sama lain. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda”, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya. Jika sekiranya dia baca “Auzubillahi minas-Syaitanirrajim” niscaya hilang kemarahan yang dialaminya”) HR BukhariSetan tidak henti-hentinya menjerumuskan anak Adam, sejak pertama kali seorang suami menggauli istrinya. Maka dengan permohonan perlindungan kepada Allah, bahayanya dapat ditangkis.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا( Apabila seseorang hendak menggauli istrinya lalu berdoa : Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah dari setan apa yang akan engkau rezekikan kepada kami, sesungguhnya jikalau hubungan mereka ditakdirkan membuahkan anak, tidak akan terkena bahaya setan selamanya).Muttafaq Alaih.Sampai binatang himar (keledai) pun bersuara meringkik ketika melihat setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا ) متفق عليه(Apabila kamu mendengar keledai meringkik, mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya ia sedang melihat setan) . Muttafaq AlaihTujuan utama setan adalah menjerumuskan dan menyesatkan anak cucu Adam. Firman Allah :قالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ    [ ص / 82 ]( Iblis berkata: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya ) Qs Shad : 82Setan akan tetap menggoda manusia dalam masalah pokok-pokok keimanan. Tidak ada keselamatan dari godaannya kecuali atas pertolongan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا، مَنْ خَلَقَ كَذَا، حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ )  رواه البخاري( Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya,’Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?’ hingga dia bertanya,’Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Oleh karena itu, jika telah sampai di situ, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan was-was situ). HR BukhariMenyekutukan Allah merupakan puncak kesesatan. Para Imam tauhid khawatir atas diri mereka terhadap kemusyrikan ini. Nabi Ibrahim a.s. berdoa :وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنامَ  [إبراهيم / 35 ]( Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala ) Qs Ibrahim : 35Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالْفَقْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ( Ya Allah ! Aku berlindung kepadaMu dari kekafiran, dari kemiskinan dan dari siksa kubur ) HR Ahmad.Hati para hamba berada di antara dua jari dari pada jari-jari Allah Yang Maha Pemurah, Dia membolak-balikkan sebagaimana kehendakNya, maka Allah beri petunjuk seseorang setelah tersesat, dan menyesatkannya setelah berada dalam petunjuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي( Aku berlindung kepada kemuliaanMu, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, dari kesesatan yang Engkau timpakan kepadaku ) HR MuslimDan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga berlindung dari perpindahan dari sebelumnya beribadah menjadi bermaksiat.Kehidupan manusia diliputi kejahatan. Jalan yang ideal untuk memagari diri dari bahayanya adalah memohon perlindungan kepada Allah. Sebab, Allah adalah pencipta makhluk, maka hanya Dia-lah yang dapat menolak kejahatan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak membaringkan tubuhnya di tempat tidur selalu berdoa :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ( Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan segala sesuatu yang mana Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya ) HR MuslimNafsu manusia sangatlah mendorong kepada keburukan, karena memang berwatak keburukan. Orang yang beruntung ialah orang yang mengarahkan nafsunya kepada ketaatan dan selalu berlindung dari kejahatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللهُمَّ أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي( Ya Allah, aku memohon petunjuk kepadaMu untuk selurus-lurus urusanku, dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan nafsuku ). HR AhmadIbnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu secara umum dan dari kejahatan perbuatan yang dihasilkannya serta dampak perkara yang buruk dan tercela  yang ditimbulkannya”.Maka, merupakan sunnah adalah berlindung dari kejahatan nafsu setiap memulai pidato,وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami”. HR TurmuziPermohonan ini mencakup perlindungan dari akar kejahatan, cabang-cabangnya, sasarannya dan konsekuensi logisnya.Kemiskinan dan kekayaan adalah kendaraan kebaikan atau keburukan. Kebahagiaan seseorang terletak pada konsistensi dalam ketakwaannya meskipun kendaraannya berbeda. Maka barangsiapa yang memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan keduanya, akan dicukupi dan dilindungi oleh Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doanya :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ، وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah neraka, dari siksa neraka dan dari kejahatan kekayaan dan kemiskinan ). HR Abu Dawud Organ-organ tubuh manusia itu diliputi nafsu syahwat, maka yang terbaik adalah memfungsikannya untuk ketaatan dan menghindarkannya dari keburukan, dengan disertai terus menerus memohon perlindungan kepada Allah dari dampaknya yang membahayakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada salah seorang sahabat suatu doa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي يَعْنِي فَرْجَهُ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan pendengaranku, kejahatan pengelihatanku, kejahatan lidahku, kejahatan hatiku dan kejahatan fajiku ). HR TurmuziAmal kebajikan semua positif, sedangkan perbuatan maksiat semua negatif. Maka hendaklah Anda selalu melakukan ketaatan dan memohon kepada Allah terkabulnya amal Anda dan tetap konsisten melakukannya. Jauhilah maksiat dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari bahaya maksiat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ( Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan apa yang aku perbuat ). Muttafaq Alaih.Barangsiapa yang menempati sebuah tempat tinggal lalu memohon perlindungan dalam doanya :أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ( Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan, maka tidak akan membahayakan suatu apapun hingga ia meninggalkan tempat itu ). HR MuslimDan al-Mu’awwidzataani (yaitu surat al-Falaq dan An-Naas) termasuk permohonan perlindungan yang paling kompleks dan paling bermanfaat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a.أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا تَعَوَّذَ بِهِ الْمُتَعَوِّذُوْنَ؟“Maukah aku kabarkan kepadamu tentang permohonan perlindungan yang terbaik yang dimohon oleh para pemohon perlindungan?”قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَكِ“Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan Yang menguasai subuh” (QS Al-Falak : 1)قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ“Katakanlah ; Aku berlindung kepada Tuhan Penguasa manusia” (QS An-Naas : 1) (HR Ahmad)Dan kebutuhan hamba kepada isti’aadzah (memohon perlindungan kepada Allah) dengan kedua surat ini lebih besar daripada kebutuhannya kepada nafas, makanan, dan minuman. Dan dua surat ini ampuh untuk menolak sihir dan al-‘ain serta seluruh keburukan, demikian juga menghilangkannya jika telah terlanjur terkena.Terkadang keburukan menimpa sang hamba dari arah yang tidak ia sangka. Ada angin yang mendatangkan rahmat, dan ada angin yang merupakan adzab, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, jika bertiup angin kencang maka beliau berdoa :«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ»“Ya Allah aku memohon kepadaMu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang ada padanya serta kebaikan yang dikirimkan dengannya. Dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya, dan keburukan yang ada padanya serta keburukan yang dikirim dengannya” (HR Muslim)Dan Allah telah mengadzab beberapa kaum dengan awan, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat awan datang beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أُرْسِلَ بِهِ“Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari keburukan yang dikirim dengan awan ini” (HR Muslim)          Barang siapa yang memiliki baju baru maka hendaknya ia memuji Allah dan memohon kepada Allah kebaikan dari baju tersebut dan berlindung dari keburukannya. Beliau berdoa ;اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ“Ya Allah segala puji hanya bagiMu, Engkau telah memakaikan aku baju ini, aku memohon kepadaMu kebaikannya, dan kebaikanya yang dibuat padanya, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang dibuat padanya” (HR At-Tirmidzi)          Dan kehidupan tidak tetap pada satu kondisi, dan barangsiapa yang melihat ada perubahan dalam kehidupan dengan hilangnya kenikmatan maka hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allah dari hal tersebut. Dan diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ“Ya Allah aku memohon kepadaMu dari hilangnya karuniaMu” (HR Muslim)Dan Allah lah yang melindungi dari sulitnya kehidupan, terkena kesengsaraan, dan takdir yang buruk.Dan jika tubuh terkena penyakit maka kesembuhannya ada di sisi Allah, maka hendaknya memohon perlindungan kepadanya dari keburukannya, maka dari Allahlah kebaikan dan kesembuhan.Utsman bin Abi al-‘Aash r.a mengeluhkan sakitnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu rasa sakit yang ia derita di tubuhnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :“Letakkanlah tanganmu ke bagian yang sakit dari tubuhmu, dan ucapkanlah “Bismillah” sebanyak 3 kali, dan ucapkanlah sebanyak 7 kali :أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekusaanNya dari keburukan yang aku dapati sekarang, dan keburukan yang aku khawatirkan datang kemudian”  (HR Muslim)Dan kondisi-kondisi yang berat akan menjadi ringan dengan mengikatkan hati kepada Allah. Dan safar merupakan salah satu potongan adzab (kesulitan), maka hendaknya seorang musafir  berlindung kepada Allah dari وَعْثَاءِ السَّفَرِ (kesulitan dan beratnya safar) dan كَآبَةِ الْمَنْظَرِ (pemandangan yang mendatangkan kesedihan) dan سُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ (buruknya kondisi harta dan keluarga yang ditinggalkan) (HR Muslim).Rasa aman dari bahaya musuh dan ejekan mereka diperoleh dengan berlindung kepada Allah dari mereka. Berjidalnya orang-orang kafir yang sombong terhadap ayat-ayat Allah menimbulkan makar mereka dan rencana jahat mereka, dan keselamatan dari ini semua adalah dengan berlindung kepada Allah.إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُSesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS Ghofir : 56)Allah menyukai akhlak yang terbaik dan amal yang terbaik, dan membenci amal dan akhlak yang buruk. Dan seorang muslim melakukan yang baik dan menjauhkan dirinya dari yang buruk serta berlindung kepada Allah dari keburukan akhlak dan amal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari akhlak yang munkar (buruk) dan amal yang buruk serta hafwa nafsu” (HR At-Tirmidzi)Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allahمِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا“dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dan jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan” (HR Muslim)          Seorang mengetahui rahasia-rahasia tetangganya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang menutupi rahasia tetangganya. Tetangga yang buruk adalah yang membongkar aib dan membuka sitar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :تعوذوا بِاللَّه من جَار السوء فِي دَار الْمقَام فَإِن الْجَار البادي يتَحَوَّل عَنْكَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari tetangga yang buruk di kota tempat tinggal, karena tetangga badui berpindah meninggalkanmu (ke daerah lain)” (HR An-Nasaai).          Islam adalah agama senang dan gembira dan melarang dari kesedihan dan gundah gulana karena hal itu akan melemahkan seorang hamba dari meraih kebaikan agamanya dan dari membangun kehidupannya. Diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana (kekawatiran) dan kesedihan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan fitnah menerpa hati sebagaimana tenunan tikar, tenunan demi tenunan dan tidak ada keselamatan kecuali dengan berlindung kepada Allah darinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari fitnah, yang nampak maupun yang tersembunyi” (HR Muslim)Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Pada hadits ini ada dalil akan dianjurkannya berlindung kepada Allah dari fitnah meskipun seseorang memandang bahwa dirinya berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi fitnah, karena fitnah tersebut bisa saja menyebabkan terjadinya perkara yang ia tidak menyangka akan terjadinya”Dan fitnah itu banyak dengan berbagai macam model dan bentuknya. Diantara fitnah yang terbesar adalah fitnah kehidupan dan fitnah kematian serta fitnah Dajjal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari fitnah ini semua sebelum beliau salam dari sholatnya. Beliau juga berlindung :مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَفِتْنَةِ الْفَقْرِ“dari fitnah kekayaan dan fitnah kemiskinan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)          Dunia adalah fitnah, tidak ada yang bisa menyelamatkan dari fitnahnya kecuali Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا“Dan aku berlindung dari fitnah dunia” (HR Al-Bukhari)Dan kezoliman merupakan sebab kebinasaan, dan doanya orang yang terzolimi tidak tertolak. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlindung dari buruknya doa orang yang terzolimi. Jika beliau bersafar beliau berlindung dari doanya orang yang terzolimi (HR Muslim).          Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan mencintaiNya dan takut akan siksaanNya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dalam sujudnya :اللَّهُمَّ، أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لا أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ“Ya Allah aku berlindung dengan keridoanMu dari kemarahanMu, dengan penyelamatanMu dari hukumanMu, dan aku berlindung denganMu dariMu, aku tidak mampu untuk menyanjungMu, sesungguhnya hakikatMu adalah sebagaimana Engkau memuji diriMu” (HR Muslim).Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan khouf (rasa takut), rojaa’ (penuh berharap), dan mahabbah (kecintaan). Diantara tanda orang-orang yang takut kepada Allah adalah ia sering berlindung dari adzab Allah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللهُمَّ، إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ“Jika salah seorang dari kalian bertasyahhud maka hendaklah ia memohon perlindungan dari 4 perkara, ia berkata ; Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari adzab neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan keburukan fitnahnya Dajjal” (HR Muslim)‘Auf bin Malik r.a berkata :قُمْت مَعَ رسول الله فَاسْتَفْتَحَ من الْبَقَرَةَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إلَّا وَقَفَ فوسَأَلَ، وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إلَّا وَقَفَ وتَعَوَّذَ“Aku sholat bersama Rasulullah, maka beliau memulai sholatnya dengan membaca dari surat al-Baqoroh, tidaklah beliau melewati ayat rahmat kecuali beliau berhenti dan memohon, dan tidaklah beliau melewati ayat adzab kecuali beliau berhenti dan berlindung kepada Allah” (HR An-Nasaai)Beliau berlindung dari kondisi penghuni neraka, beliau berdoa :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab neraka” (HR Muslim).Barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah dari neraka sebanyak 7 kali maka Allah akan melindunginya dari neraka.          Dan selanjutnya kaum muslimin sekalian, sesungguhnya tempat memohon perlindungan hanyalah Allah semata, tiada Pencipta selainNya, tiada yang disembah selainNya, tiada temapat bersandar, dan tiada tempat keselamatan dariNya kecuali kepadaNya. Barangsiapa yang bergantung kepada Allah dan mecurahkan hajatnya kepada Allah maka Allah akan mencukupkannya dan menjaganya, dan Allah akan mendekatkan baginya seluruh yang jauh dan memudahkan baginya seluruh yang sulit. Maka hendaknya seorang muslim menggantungkan hatinya kepada Allah dan berlindung kepadaNya, dan janganlah ia bosan dari memperbanyak memohon perlindungan, dengan isti’adzah (memohon perlindungan kepada Allah) maka ia telah beribadah kepada Rabnya dan menjaga dirinya, dan dengannya ia meraih kebahagiaan dan kemuliaannya.Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutukفَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ (50) وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌMaka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.  Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu (QS Adz-Dzaariyaat : 50-51)Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung… Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan kepadaNya atas bimbingan dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungannya terhadap kedudukanNya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepadanya  dan kepada para sahabatnya. Kaum muslimin sekalian, barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah dan memohon perlindungan kepadanya, bersandar kepadanya, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada tempat ia bergantung, dan ia akan ditinggalkan (tidak ditolong) dari arah yang ia bergantung kepadanya, serta ia akan gagal mencapi tujuannya yang ia harapkan dari Allah, karena ia bergantung kepada selain Allah dan mencari selain Allah. Maka ia gagal mencapai apa yang ia cari dari Allah, dan apa yang ia harapkan dari tempat ia bergantung juga gagal. Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ (74) لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَMereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka (QS Yaasiin : 74-75)Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا (81) كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّاDan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka (QS Maryam : 81-82)Barangsiapa yang berlindung kepada jin dan meminta pertolongan para penyihir maka ia tidak akan mewujudkan dari mereka tujuannya. Dan mereka tidak akan menambah baginya melainkan keburukan, ketakutan, kekawatiran, kepanikan, dan kebingungan. Allah Ta’ala berfirman :وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًاDan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (QS Al-Jinn : 6)Orang yang bahagia adalah orang yang mencurahkan hajatnya kepada Allah yang Maha agung, Yang menghilangkan penderitaan, dan melenyapkan duka cita.Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan untuk bersholawat kepada NabiNya… Penerjemah : Firanda Andirja & Utsman Hatimhttps://firanda.com/
(Kutbah Jum’at Mesjid Nabawi 1/2/1437 H – 13/11/2015)Oleh : Asy-Syekh Abdul Muhsin Muhamad Al-QasimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – Wahai hamba Allah ! – sebaik-baik takwa, berpegang teguhlah dengan agama Allah sekuat-kuatnya. Kaum muslimin  !Allah Ta’ala mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat keagungan, keindahan dan kesempurnaan. Nama-namaNya sungguh indah dan sifat-sifatNya tinggi dan mulia; Dia menciptakan dan hebat dalam menciptakan, begitu kokoh dan akurat ciptaanNya. Sebagai bukti kesempurnaan hikmah dan  kekuasaanNya adalah Dia ciptakan segala sesuatu berpasang-pasang; diciptakanNya sesuatu dengan lawan jodohnya, siang dengan malam, pria dengan wanita, kebaikan dengan keburukan.Seorang hamba tidak akan terlepas dari penghambaan kepadaNya dalam kondisi apapun, ia memohon kepadaNya kebaikan dan berlindung kepadaNya dari kejahatan. Firman Allah  :يا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَراءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ  [ فاطر / 15 ]( Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] lagi Maha Terpuji ) Qs Fathir : 15Dialah Allah Yang dimohon pertolonganNya dalam kesulitan dan ketika bencana melanda. Firman Allah  :أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذا دَعاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ  [ النمل / 62 ]( Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan  ) Qs An-Naml : 62Dia-lah yang menimpakan kesengsaraan, dan Dia pula yang menghilangkannya. Firman Allah :وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ [ الأنعام / 17 ]( Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri ) Qs Al-An’am : 17Allah memerintahkan para hambaNya menyampaikan permohonan hanya kepadaNya, dan berjanji mengabulkan permohonan mereka. Ini merupakan hak prerogatif Allah yang tidak ada hak bagi siapapun untuk menyampuriNya. Salah satu permohonan/doa kepada Allah adalah berlindung kepadaNya dari apapun yang engkau takuti. Itu merupakan ibadah diantara ibadah-ibadah yang paling agung, karena di dalamnya terkandung pengagungan kepada Allah dan keterikatan hati denganNya serta memurnikanNya dalam berdoa dan pengakuan atas kemiskinan diri kepadaNya. Maka terukur dengan kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah, datangnya solusi yang ia butuhkan. Firman Allah dalam Hadis Qudsi :( مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ ) رواه البخاريBarangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sunnah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan pandangannya yang dia memandang dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta kepada-Ku niscaya akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya akan Kulindungi.( HR Bukhari)Barangsiapa yang tingkat penghambaannya kepada Allah lebih besar, maka lebih kuat pula permohonannya akan perlindungan Allah dan penyandaraannya kepadaNya. Para Rasul, mereka berlindung kepada Allah dalam kondisi krisis dan kseluitan dan untuk menolak bala’ dan malapetaka. Allah Ta’ala melarang Nabi Nuh a.s. mendoakan untuk anaknya yang kafir kepada Allah. Firman Allah :رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ [ هود / 47 ]( Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui [hakekat]nya. ) Qs Hud : 47Nabi Yusuf a.s. berlindung kepada Allah dari fitnah (pencemaran namanya).  Firman Allah :قالَ مَعاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوايَ  [ يوسف / 23 ]( Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik ). Qs Yusuf : 23 Saudara-saudara Nabi Yusuf mengajaknya melakukan penyimpangan dengan menahan salah seorang di antara mereka sebagai pengganti dari saudara Yusuf. Maka ia-pun berdoa :قالَ مَعاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلاَّ مَنْ وَجَدْنا مَتاعَنا عِنْدَهُ إِنَّا إِذاً لَظالِمُونَ  [ يوسف / 79 ]( Berkata Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim). Qs Yusuf : 79Nabi Musa a.s. ketika dituduh oleh kaumnya melakukan pelecehan terhadap mereka dengan modus perintah dan larangan, memohon perlindungan kepada Allah :قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ  [ البقرة / 67 ]) Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil  ) . Qs Al-Baqarah : 67Fir’aun dan kroni-kroninya bersikap arogan terhadap ajakan Musa a.s., maka Musa-pun berdoa :إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسابِ [ غافر / 27 ](“Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab”) Qs Ghafir : 27Musa berlindung dari kejahatan Fir’aun dan pasukannya seraya berkata :وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ  [ الدخان / 20 ]( Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari keinginanmu merajamku ) : Qs Ad-Dukhan : 20Istri Imran ketika melahirkan kandungannya, berdoa :وَإِنِّي أُعِيذُها بِكَ وَذُرِّيَّتَها مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ  [ آل عمران / 36 ]( Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau dari gangguan syaitan yang terkutuk ). Qs Ali Imran : 36Ibnu Jarir – Rahimahullah – berkata : “Maka, Allah Ta’ala mengabulkan permohonan Istri Imran itu dengan melindunginya dan anak cucunya dari godaan setan yang terkutuk sehingga tidak ada jalan bagi setan untuk menggodanya”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ، إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّه )(Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali setan pasti menyentuhnya [ketika dia lahir], maka bayi tersebut menjerit karena sentuhan setan, kecuali Maryam dan putranya).Maryam a.s. ketika kedatangan malaikat untuk meniupkan roh padanya, ia mengira malaikat itu sosok manusia yang punya maksud jahat terhadap dirinya, maka iapun berlindung kepada Allah :إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيّاً  [ مريم / 18 ]( Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa ) Qs Maryam : 18Ketika rahim ( ikatan kekerabatan ) Allah ciptakan, ia pun berlindung kepada Allah dari pemutusan ikatannya seraya berkata :هَذَا مَقَامُ العَائِذِ بِكَ مِنَ القَطِيعَةِ( Di sinilah posisi orang yang berlindung kepadaMu dari pemutusan tali kekerabatan ). Artinya, alasanku memohon perlindungan kepadamu adalah kakhawatiranku dari perbuatan seseorang yang memutuskan aku sehingga dia terkena murkaMu dan kemarahanMu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri selalu berlindung kepada Tuhannya sepenuh hati dalam segala situasi; beliau berlindung kepada Allah di waktu pagi dan di waktu petang hari, ketika dalam perjalanan atau sedang di rumah, dalam situasi perang ataupun damai, ketika hendak berbaring tidur atau bangun dari tidur, ketika masuk kamar kecil, dan dalam shalat beliau perbanyak baca doa perlindungan, dalam sholat malam beliau ketika baca ayat tentang azab neraka beliau mohon perlindungan, ketika sedang bersujud dan duduk beliau berlindung, ketika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan beliau bersandar dan berlindung kepada Allah, beliau tidak biarkan ada kejahatan apapun kecuali beliau berlindung kepada Allah Ta’ala dari keburukannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal-hal yang bertentangan dengan keimanan dan yang dapat menguranginya. Doa beliau :وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ، وَالشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ، وَالسُّمْعَةِ وَالرِّيَاءِ( Aku berlindung kepadaMu dari kemiskinan dan kekafiran, dari kemusyrikan dan kemunafikan, dari rasa ingin didengar orang dan memamerkan diri ) HR Ibnu Hibban.Doa perlindungan itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada sahabat-sahabatnya dan mendorong mereka memohon perlindungan. Beliau membacakan doa memohon perlindungan untuk anak-anak kecil seperti Hasan dan Husen r.a. seraya berkata :إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ(Sesungguhnya Leluhur kalian (yaitu Ibrahim a.s) mendoakan perlindungan untuk Ismail dan Ishak dengan doa ini;  Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan setan dan ular/hewan beracun, serta dari kejahatan mata yang membawa musibah). HR BukhariBeliau shallallahu ‘alaihi wasallam menanamkan di dalam jiwa pentingnya doa perlindungan kepada Allah Ta’ala, beliau katakan :مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ( Barangsiapa yang berlindung kepada Allah, maka lindungilah dia ) HR Abu DawudKebijakan Allah telah menentukan bahwa setiap muslim itu ada musuhnya dari setan-setan dalam sosok manusia dan jin :وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا [ الأنعام / 112 ](Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan [dari jenis] manusia dan [dan jenis] jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.). Qs Al-An’am : 112Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia, syaitan merupakan asas dari segala kejahatan dan malapetaka. Setan berusaha dengan segala cara untuk mencelakakan dan menyengsarakan manusia. Tidak ada keselamatan dari kejahatan syaitan dan para prajuritnya kecuali dengan mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah dan memurnikan niat karenaNya serta bertawakal kepadaNya, maka setan tidak akan mampu menggelincirkan dan menyesatkannya. Firman Allah :إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  [ النحل / 99 ]( Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya ) Qs An-Nahl : 99Seorang muslim diperintahkan selalu memohon perlindungan dari bisikan-bisikan setan. Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزاتِ الشَّياطِينِ  [ المؤمنون / 97 ]( Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan ) Qs Al-Mukminun : 97Allah perintahkan manusia berpegang pada prinsip-prinsip keindahan agama dan memikat hati manusia kepada islam dengan cara memaafkan kesalahan, mengajak kepada yang makruf dan berpaling dari kebodohan, sementara setan berupaya menghalanginya, dan tidak ada jalan keluar kecuali dengan memohon perlindungan dari godaan setan. Firman Allah :خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ , وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ   ، وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [ الأعراف / 199 ](Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh, Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui ). Qs Al-A’raf : 199Setan merintagi antara hamba dan ketaatannya kepada Tuhannya. Semakin besar nilai amal ibadah bagi seorang hamba dan semakin dicintai oleh Allah, maka semakin dahsyat pula rintangan setan kepadanya. Maka ketika seseorang sedang shalat, setan mengganggunya. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا( Itu adalah setan yang bernama Khonzab, jika kamu merasakan gangguannya maka berlindunglah kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke samping kiri tiga kali ) HR MuslimKetika hendak membaca Al-Qur’an, seseorang diperintahkan berlindung kepada Allah dari gangguan setan :فَإِذا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ   [ النحل / 98 ]( Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ) Qs An-Nahl : 98Tempat-tempat buang hajat banyak setan berkeliaran di dalamnya, maka untuk menghindarkan diri dari gangguan mereka adalah dengan memohon perlindungan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ( Ya Allah ! sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan dan para syaitan ) Muttafaq Alaihi.Di waktu pagi dan petang, kitapun memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan.Abu Bakar r.a. berkata :يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي  بِكَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ إِذَا أَصْبَحْت، وَإِذَا أَمْسَيْت، قَالَ: ” قُلْ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ «قَالَ» قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ، وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ“Ya Rasulullah, perintahkan kepadaku untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang akan aku ucapkan setiap pagi dan petang hari”. Rasulullah bersabda: “Katakanlah”: (“Ya, Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Pemelihara segala sesuatu dan Rajanya, aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, aku berlindung dari keburukan diriku dan kejahatan setan bersama sekutunya. Beliau berkata : “Ucapkanlah [do’a ini] ketika pagi dan sore hari, dan ketika engkau hendak tidur”). HR Abu DawudSetan mengganggu manusia sampai-pun dalam tidurnya. Maka barangsiapa yang bermimpi buruk dalam tidurnya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا، فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثًا، وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ  ) رواه مسلم(Jika salah seorang di antara kalian mengalami mimpi buruk, hendaklah meludah kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula ) HR. MuslimKemarahan adalah kendaraan setan, ia merupakan bara api dalam hati yang mendorong seseorang berbuat maksiat dan dosa. Untuk meredam kemarahan, seseorang berlindung kepada Allah.Sulaiman Bin Shurod berkata :كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “(Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM sedang dua orang lelaki sedang bermaki-makian di antara satu sama lain. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda”, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya. Jika sekiranya dia baca “Auzubillahi minas-Syaitanirrajim” niscaya hilang kemarahan yang dialaminya”) HR BukhariSetan tidak henti-hentinya menjerumuskan anak Adam, sejak pertama kali seorang suami menggauli istrinya. Maka dengan permohonan perlindungan kepada Allah, bahayanya dapat ditangkis.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا( Apabila seseorang hendak menggauli istrinya lalu berdoa : Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah dari setan apa yang akan engkau rezekikan kepada kami, sesungguhnya jikalau hubungan mereka ditakdirkan membuahkan anak, tidak akan terkena bahaya setan selamanya).Muttafaq Alaih.Sampai binatang himar (keledai) pun bersuara meringkik ketika melihat setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا ) متفق عليه(Apabila kamu mendengar keledai meringkik, mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya ia sedang melihat setan) . Muttafaq AlaihTujuan utama setan adalah menjerumuskan dan menyesatkan anak cucu Adam. Firman Allah :قالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ    [ ص / 82 ]( Iblis berkata: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya ) Qs Shad : 82Setan akan tetap menggoda manusia dalam masalah pokok-pokok keimanan. Tidak ada keselamatan dari godaannya kecuali atas pertolongan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا، مَنْ خَلَقَ كَذَا، حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ )  رواه البخاري( Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya,’Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?’ hingga dia bertanya,’Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Oleh karena itu, jika telah sampai di situ, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan was-was situ). HR BukhariMenyekutukan Allah merupakan puncak kesesatan. Para Imam tauhid khawatir atas diri mereka terhadap kemusyrikan ini. Nabi Ibrahim a.s. berdoa :وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنامَ  [إبراهيم / 35 ]( Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala ) Qs Ibrahim : 35Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالْفَقْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ( Ya Allah ! Aku berlindung kepadaMu dari kekafiran, dari kemiskinan dan dari siksa kubur ) HR Ahmad.Hati para hamba berada di antara dua jari dari pada jari-jari Allah Yang Maha Pemurah, Dia membolak-balikkan sebagaimana kehendakNya, maka Allah beri petunjuk seseorang setelah tersesat, dan menyesatkannya setelah berada dalam petunjuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي( Aku berlindung kepada kemuliaanMu, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, dari kesesatan yang Engkau timpakan kepadaku ) HR MuslimDan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga berlindung dari perpindahan dari sebelumnya beribadah menjadi bermaksiat.Kehidupan manusia diliputi kejahatan. Jalan yang ideal untuk memagari diri dari bahayanya adalah memohon perlindungan kepada Allah. Sebab, Allah adalah pencipta makhluk, maka hanya Dia-lah yang dapat menolak kejahatan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak membaringkan tubuhnya di tempat tidur selalu berdoa :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ( Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan segala sesuatu yang mana Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya ) HR MuslimNafsu manusia sangatlah mendorong kepada keburukan, karena memang berwatak keburukan. Orang yang beruntung ialah orang yang mengarahkan nafsunya kepada ketaatan dan selalu berlindung dari kejahatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللهُمَّ أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي( Ya Allah, aku memohon petunjuk kepadaMu untuk selurus-lurus urusanku, dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan nafsuku ). HR AhmadIbnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu secara umum dan dari kejahatan perbuatan yang dihasilkannya serta dampak perkara yang buruk dan tercela  yang ditimbulkannya”.Maka, merupakan sunnah adalah berlindung dari kejahatan nafsu setiap memulai pidato,وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami”. HR TurmuziPermohonan ini mencakup perlindungan dari akar kejahatan, cabang-cabangnya, sasarannya dan konsekuensi logisnya.Kemiskinan dan kekayaan adalah kendaraan kebaikan atau keburukan. Kebahagiaan seseorang terletak pada konsistensi dalam ketakwaannya meskipun kendaraannya berbeda. Maka barangsiapa yang memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan keduanya, akan dicukupi dan dilindungi oleh Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doanya :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ، وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah neraka, dari siksa neraka dan dari kejahatan kekayaan dan kemiskinan ). HR Abu Dawud Organ-organ tubuh manusia itu diliputi nafsu syahwat, maka yang terbaik adalah memfungsikannya untuk ketaatan dan menghindarkannya dari keburukan, dengan disertai terus menerus memohon perlindungan kepada Allah dari dampaknya yang membahayakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada salah seorang sahabat suatu doa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي يَعْنِي فَرْجَهُ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan pendengaranku, kejahatan pengelihatanku, kejahatan lidahku, kejahatan hatiku dan kejahatan fajiku ). HR TurmuziAmal kebajikan semua positif, sedangkan perbuatan maksiat semua negatif. Maka hendaklah Anda selalu melakukan ketaatan dan memohon kepada Allah terkabulnya amal Anda dan tetap konsisten melakukannya. Jauhilah maksiat dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari bahaya maksiat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ( Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan apa yang aku perbuat ). Muttafaq Alaih.Barangsiapa yang menempati sebuah tempat tinggal lalu memohon perlindungan dalam doanya :أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ( Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan, maka tidak akan membahayakan suatu apapun hingga ia meninggalkan tempat itu ). HR MuslimDan al-Mu’awwidzataani (yaitu surat al-Falaq dan An-Naas) termasuk permohonan perlindungan yang paling kompleks dan paling bermanfaat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a.أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا تَعَوَّذَ بِهِ الْمُتَعَوِّذُوْنَ؟“Maukah aku kabarkan kepadamu tentang permohonan perlindungan yang terbaik yang dimohon oleh para pemohon perlindungan?”قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَكِ“Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan Yang menguasai subuh” (QS Al-Falak : 1)قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ“Katakanlah ; Aku berlindung kepada Tuhan Penguasa manusia” (QS An-Naas : 1) (HR Ahmad)Dan kebutuhan hamba kepada isti’aadzah (memohon perlindungan kepada Allah) dengan kedua surat ini lebih besar daripada kebutuhannya kepada nafas, makanan, dan minuman. Dan dua surat ini ampuh untuk menolak sihir dan al-‘ain serta seluruh keburukan, demikian juga menghilangkannya jika telah terlanjur terkena.Terkadang keburukan menimpa sang hamba dari arah yang tidak ia sangka. Ada angin yang mendatangkan rahmat, dan ada angin yang merupakan adzab, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, jika bertiup angin kencang maka beliau berdoa :«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ»“Ya Allah aku memohon kepadaMu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang ada padanya serta kebaikan yang dikirimkan dengannya. Dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya, dan keburukan yang ada padanya serta keburukan yang dikirim dengannya” (HR Muslim)Dan Allah telah mengadzab beberapa kaum dengan awan, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat awan datang beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أُرْسِلَ بِهِ“Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari keburukan yang dikirim dengan awan ini” (HR Muslim)          Barang siapa yang memiliki baju baru maka hendaknya ia memuji Allah dan memohon kepada Allah kebaikan dari baju tersebut dan berlindung dari keburukannya. Beliau berdoa ;اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ“Ya Allah segala puji hanya bagiMu, Engkau telah memakaikan aku baju ini, aku memohon kepadaMu kebaikannya, dan kebaikanya yang dibuat padanya, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang dibuat padanya” (HR At-Tirmidzi)          Dan kehidupan tidak tetap pada satu kondisi, dan barangsiapa yang melihat ada perubahan dalam kehidupan dengan hilangnya kenikmatan maka hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allah dari hal tersebut. Dan diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ“Ya Allah aku memohon kepadaMu dari hilangnya karuniaMu” (HR Muslim)Dan Allah lah yang melindungi dari sulitnya kehidupan, terkena kesengsaraan, dan takdir yang buruk.Dan jika tubuh terkena penyakit maka kesembuhannya ada di sisi Allah, maka hendaknya memohon perlindungan kepadanya dari keburukannya, maka dari Allahlah kebaikan dan kesembuhan.Utsman bin Abi al-‘Aash r.a mengeluhkan sakitnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu rasa sakit yang ia derita di tubuhnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :“Letakkanlah tanganmu ke bagian yang sakit dari tubuhmu, dan ucapkanlah “Bismillah” sebanyak 3 kali, dan ucapkanlah sebanyak 7 kali :أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekusaanNya dari keburukan yang aku dapati sekarang, dan keburukan yang aku khawatirkan datang kemudian”  (HR Muslim)Dan kondisi-kondisi yang berat akan menjadi ringan dengan mengikatkan hati kepada Allah. Dan safar merupakan salah satu potongan adzab (kesulitan), maka hendaknya seorang musafir  berlindung kepada Allah dari وَعْثَاءِ السَّفَرِ (kesulitan dan beratnya safar) dan كَآبَةِ الْمَنْظَرِ (pemandangan yang mendatangkan kesedihan) dan سُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ (buruknya kondisi harta dan keluarga yang ditinggalkan) (HR Muslim).Rasa aman dari bahaya musuh dan ejekan mereka diperoleh dengan berlindung kepada Allah dari mereka. Berjidalnya orang-orang kafir yang sombong terhadap ayat-ayat Allah menimbulkan makar mereka dan rencana jahat mereka, dan keselamatan dari ini semua adalah dengan berlindung kepada Allah.إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُSesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS Ghofir : 56)Allah menyukai akhlak yang terbaik dan amal yang terbaik, dan membenci amal dan akhlak yang buruk. Dan seorang muslim melakukan yang baik dan menjauhkan dirinya dari yang buruk serta berlindung kepada Allah dari keburukan akhlak dan amal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari akhlak yang munkar (buruk) dan amal yang buruk serta hafwa nafsu” (HR At-Tirmidzi)Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allahمِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا“dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dan jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan” (HR Muslim)          Seorang mengetahui rahasia-rahasia tetangganya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang menutupi rahasia tetangganya. Tetangga yang buruk adalah yang membongkar aib dan membuka sitar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :تعوذوا بِاللَّه من جَار السوء فِي دَار الْمقَام فَإِن الْجَار البادي يتَحَوَّل عَنْكَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari tetangga yang buruk di kota tempat tinggal, karena tetangga badui berpindah meninggalkanmu (ke daerah lain)” (HR An-Nasaai).          Islam adalah agama senang dan gembira dan melarang dari kesedihan dan gundah gulana karena hal itu akan melemahkan seorang hamba dari meraih kebaikan agamanya dan dari membangun kehidupannya. Diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana (kekawatiran) dan kesedihan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan fitnah menerpa hati sebagaimana tenunan tikar, tenunan demi tenunan dan tidak ada keselamatan kecuali dengan berlindung kepada Allah darinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari fitnah, yang nampak maupun yang tersembunyi” (HR Muslim)Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Pada hadits ini ada dalil akan dianjurkannya berlindung kepada Allah dari fitnah meskipun seseorang memandang bahwa dirinya berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi fitnah, karena fitnah tersebut bisa saja menyebabkan terjadinya perkara yang ia tidak menyangka akan terjadinya”Dan fitnah itu banyak dengan berbagai macam model dan bentuknya. Diantara fitnah yang terbesar adalah fitnah kehidupan dan fitnah kematian serta fitnah Dajjal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari fitnah ini semua sebelum beliau salam dari sholatnya. Beliau juga berlindung :مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَفِتْنَةِ الْفَقْرِ“dari fitnah kekayaan dan fitnah kemiskinan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)          Dunia adalah fitnah, tidak ada yang bisa menyelamatkan dari fitnahnya kecuali Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا“Dan aku berlindung dari fitnah dunia” (HR Al-Bukhari)Dan kezoliman merupakan sebab kebinasaan, dan doanya orang yang terzolimi tidak tertolak. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlindung dari buruknya doa orang yang terzolimi. Jika beliau bersafar beliau berlindung dari doanya orang yang terzolimi (HR Muslim).          Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan mencintaiNya dan takut akan siksaanNya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dalam sujudnya :اللَّهُمَّ، أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لا أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ“Ya Allah aku berlindung dengan keridoanMu dari kemarahanMu, dengan penyelamatanMu dari hukumanMu, dan aku berlindung denganMu dariMu, aku tidak mampu untuk menyanjungMu, sesungguhnya hakikatMu adalah sebagaimana Engkau memuji diriMu” (HR Muslim).Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan khouf (rasa takut), rojaa’ (penuh berharap), dan mahabbah (kecintaan). Diantara tanda orang-orang yang takut kepada Allah adalah ia sering berlindung dari adzab Allah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللهُمَّ، إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ“Jika salah seorang dari kalian bertasyahhud maka hendaklah ia memohon perlindungan dari 4 perkara, ia berkata ; Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari adzab neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan keburukan fitnahnya Dajjal” (HR Muslim)‘Auf bin Malik r.a berkata :قُمْت مَعَ رسول الله فَاسْتَفْتَحَ من الْبَقَرَةَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إلَّا وَقَفَ فوسَأَلَ، وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إلَّا وَقَفَ وتَعَوَّذَ“Aku sholat bersama Rasulullah, maka beliau memulai sholatnya dengan membaca dari surat al-Baqoroh, tidaklah beliau melewati ayat rahmat kecuali beliau berhenti dan memohon, dan tidaklah beliau melewati ayat adzab kecuali beliau berhenti dan berlindung kepada Allah” (HR An-Nasaai)Beliau berlindung dari kondisi penghuni neraka, beliau berdoa :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab neraka” (HR Muslim).Barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah dari neraka sebanyak 7 kali maka Allah akan melindunginya dari neraka.          Dan selanjutnya kaum muslimin sekalian, sesungguhnya tempat memohon perlindungan hanyalah Allah semata, tiada Pencipta selainNya, tiada yang disembah selainNya, tiada temapat bersandar, dan tiada tempat keselamatan dariNya kecuali kepadaNya. Barangsiapa yang bergantung kepada Allah dan mecurahkan hajatnya kepada Allah maka Allah akan mencukupkannya dan menjaganya, dan Allah akan mendekatkan baginya seluruh yang jauh dan memudahkan baginya seluruh yang sulit. Maka hendaknya seorang muslim menggantungkan hatinya kepada Allah dan berlindung kepadaNya, dan janganlah ia bosan dari memperbanyak memohon perlindungan, dengan isti’adzah (memohon perlindungan kepada Allah) maka ia telah beribadah kepada Rabnya dan menjaga dirinya, dan dengannya ia meraih kebahagiaan dan kemuliaannya.Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutukفَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ (50) وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌMaka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.  Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu (QS Adz-Dzaariyaat : 50-51)Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung… Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan kepadaNya atas bimbingan dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungannya terhadap kedudukanNya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepadanya  dan kepada para sahabatnya. Kaum muslimin sekalian, barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah dan memohon perlindungan kepadanya, bersandar kepadanya, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada tempat ia bergantung, dan ia akan ditinggalkan (tidak ditolong) dari arah yang ia bergantung kepadanya, serta ia akan gagal mencapi tujuannya yang ia harapkan dari Allah, karena ia bergantung kepada selain Allah dan mencari selain Allah. Maka ia gagal mencapai apa yang ia cari dari Allah, dan apa yang ia harapkan dari tempat ia bergantung juga gagal. Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ (74) لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَMereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka (QS Yaasiin : 74-75)Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا (81) كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّاDan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka (QS Maryam : 81-82)Barangsiapa yang berlindung kepada jin dan meminta pertolongan para penyihir maka ia tidak akan mewujudkan dari mereka tujuannya. Dan mereka tidak akan menambah baginya melainkan keburukan, ketakutan, kekawatiran, kepanikan, dan kebingungan. Allah Ta’ala berfirman :وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًاDan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (QS Al-Jinn : 6)Orang yang bahagia adalah orang yang mencurahkan hajatnya kepada Allah yang Maha agung, Yang menghilangkan penderitaan, dan melenyapkan duka cita.Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan untuk bersholawat kepada NabiNya… Penerjemah : Firanda Andirja & Utsman Hatimhttps://firanda.com/


(Kutbah Jum’at Mesjid Nabawi 1/2/1437 H – 13/11/2015)Oleh : Asy-Syekh Abdul Muhsin Muhamad Al-QasimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – Wahai hamba Allah ! – sebaik-baik takwa, berpegang teguhlah dengan agama Allah sekuat-kuatnya. Kaum muslimin  !Allah Ta’ala mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat keagungan, keindahan dan kesempurnaan. Nama-namaNya sungguh indah dan sifat-sifatNya tinggi dan mulia; Dia menciptakan dan hebat dalam menciptakan, begitu kokoh dan akurat ciptaanNya. Sebagai bukti kesempurnaan hikmah dan  kekuasaanNya adalah Dia ciptakan segala sesuatu berpasang-pasang; diciptakanNya sesuatu dengan lawan jodohnya, siang dengan malam, pria dengan wanita, kebaikan dengan keburukan.Seorang hamba tidak akan terlepas dari penghambaan kepadaNya dalam kondisi apapun, ia memohon kepadaNya kebaikan dan berlindung kepadaNya dari kejahatan. Firman Allah  :يا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَراءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ  [ فاطر / 15 ]( Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] lagi Maha Terpuji ) Qs Fathir : 15Dialah Allah Yang dimohon pertolonganNya dalam kesulitan dan ketika bencana melanda. Firman Allah  :أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذا دَعاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ  [ النمل / 62 ]( Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan  ) Qs An-Naml : 62Dia-lah yang menimpakan kesengsaraan, dan Dia pula yang menghilangkannya. Firman Allah :وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ [ الأنعام / 17 ]( Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri ) Qs Al-An’am : 17Allah memerintahkan para hambaNya menyampaikan permohonan hanya kepadaNya, dan berjanji mengabulkan permohonan mereka. Ini merupakan hak prerogatif Allah yang tidak ada hak bagi siapapun untuk menyampuriNya. Salah satu permohonan/doa kepada Allah adalah berlindung kepadaNya dari apapun yang engkau takuti. Itu merupakan ibadah diantara ibadah-ibadah yang paling agung, karena di dalamnya terkandung pengagungan kepada Allah dan keterikatan hati denganNya serta memurnikanNya dalam berdoa dan pengakuan atas kemiskinan diri kepadaNya. Maka terukur dengan kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah, datangnya solusi yang ia butuhkan. Firman Allah dalam Hadis Qudsi :( مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ ) رواه البخاريBarangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sunnah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan pandangannya yang dia memandang dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta kepada-Ku niscaya akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya akan Kulindungi.( HR Bukhari)Barangsiapa yang tingkat penghambaannya kepada Allah lebih besar, maka lebih kuat pula permohonannya akan perlindungan Allah dan penyandaraannya kepadaNya. Para Rasul, mereka berlindung kepada Allah dalam kondisi krisis dan kseluitan dan untuk menolak bala’ dan malapetaka. Allah Ta’ala melarang Nabi Nuh a.s. mendoakan untuk anaknya yang kafir kepada Allah. Firman Allah :رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ [ هود / 47 ]( Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui [hakekat]nya. ) Qs Hud : 47Nabi Yusuf a.s. berlindung kepada Allah dari fitnah (pencemaran namanya).  Firman Allah :قالَ مَعاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوايَ  [ يوسف / 23 ]( Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik ). Qs Yusuf : 23 Saudara-saudara Nabi Yusuf mengajaknya melakukan penyimpangan dengan menahan salah seorang di antara mereka sebagai pengganti dari saudara Yusuf. Maka ia-pun berdoa :قالَ مَعاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلاَّ مَنْ وَجَدْنا مَتاعَنا عِنْدَهُ إِنَّا إِذاً لَظالِمُونَ  [ يوسف / 79 ]( Berkata Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim). Qs Yusuf : 79Nabi Musa a.s. ketika dituduh oleh kaumnya melakukan pelecehan terhadap mereka dengan modus perintah dan larangan, memohon perlindungan kepada Allah :قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ  [ البقرة / 67 ]) Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil  ) . Qs Al-Baqarah : 67Fir’aun dan kroni-kroninya bersikap arogan terhadap ajakan Musa a.s., maka Musa-pun berdoa :إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسابِ [ غافر / 27 ](“Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab”) Qs Ghafir : 27Musa berlindung dari kejahatan Fir’aun dan pasukannya seraya berkata :وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ  [ الدخان / 20 ]( Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari keinginanmu merajamku ) : Qs Ad-Dukhan : 20Istri Imran ketika melahirkan kandungannya, berdoa :وَإِنِّي أُعِيذُها بِكَ وَذُرِّيَّتَها مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ  [ آل عمران / 36 ]( Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau dari gangguan syaitan yang terkutuk ). Qs Ali Imran : 36Ibnu Jarir – Rahimahullah – berkata : “Maka, Allah Ta’ala mengabulkan permohonan Istri Imran itu dengan melindunginya dan anak cucunya dari godaan setan yang terkutuk sehingga tidak ada jalan bagi setan untuk menggodanya”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ، إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّه )(Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali setan pasti menyentuhnya [ketika dia lahir], maka bayi tersebut menjerit karena sentuhan setan, kecuali Maryam dan putranya).Maryam a.s. ketika kedatangan malaikat untuk meniupkan roh padanya, ia mengira malaikat itu sosok manusia yang punya maksud jahat terhadap dirinya, maka iapun berlindung kepada Allah :إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيّاً  [ مريم / 18 ]( Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa ) Qs Maryam : 18Ketika rahim ( ikatan kekerabatan ) Allah ciptakan, ia pun berlindung kepada Allah dari pemutusan ikatannya seraya berkata :هَذَا مَقَامُ العَائِذِ بِكَ مِنَ القَطِيعَةِ( Di sinilah posisi orang yang berlindung kepadaMu dari pemutusan tali kekerabatan ). Artinya, alasanku memohon perlindungan kepadamu adalah kakhawatiranku dari perbuatan seseorang yang memutuskan aku sehingga dia terkena murkaMu dan kemarahanMu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri selalu berlindung kepada Tuhannya sepenuh hati dalam segala situasi; beliau berlindung kepada Allah di waktu pagi dan di waktu petang hari, ketika dalam perjalanan atau sedang di rumah, dalam situasi perang ataupun damai, ketika hendak berbaring tidur atau bangun dari tidur, ketika masuk kamar kecil, dan dalam shalat beliau perbanyak baca doa perlindungan, dalam sholat malam beliau ketika baca ayat tentang azab neraka beliau mohon perlindungan, ketika sedang bersujud dan duduk beliau berlindung, ketika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan beliau bersandar dan berlindung kepada Allah, beliau tidak biarkan ada kejahatan apapun kecuali beliau berlindung kepada Allah Ta’ala dari keburukannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal-hal yang bertentangan dengan keimanan dan yang dapat menguranginya. Doa beliau :وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ، وَالشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ، وَالسُّمْعَةِ وَالرِّيَاءِ( Aku berlindung kepadaMu dari kemiskinan dan kekafiran, dari kemusyrikan dan kemunafikan, dari rasa ingin didengar orang dan memamerkan diri ) HR Ibnu Hibban.Doa perlindungan itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada sahabat-sahabatnya dan mendorong mereka memohon perlindungan. Beliau membacakan doa memohon perlindungan untuk anak-anak kecil seperti Hasan dan Husen r.a. seraya berkata :إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ(Sesungguhnya Leluhur kalian (yaitu Ibrahim a.s) mendoakan perlindungan untuk Ismail dan Ishak dengan doa ini;  Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan setan dan ular/hewan beracun, serta dari kejahatan mata yang membawa musibah). HR BukhariBeliau shallallahu ‘alaihi wasallam menanamkan di dalam jiwa pentingnya doa perlindungan kepada Allah Ta’ala, beliau katakan :مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ( Barangsiapa yang berlindung kepada Allah, maka lindungilah dia ) HR Abu DawudKebijakan Allah telah menentukan bahwa setiap muslim itu ada musuhnya dari setan-setan dalam sosok manusia dan jin :وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا [ الأنعام / 112 ](Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan [dari jenis] manusia dan [dan jenis] jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.). Qs Al-An’am : 112Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia, syaitan merupakan asas dari segala kejahatan dan malapetaka. Setan berusaha dengan segala cara untuk mencelakakan dan menyengsarakan manusia. Tidak ada keselamatan dari kejahatan syaitan dan para prajuritnya kecuali dengan mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah dan memurnikan niat karenaNya serta bertawakal kepadaNya, maka setan tidak akan mampu menggelincirkan dan menyesatkannya. Firman Allah :إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  [ النحل / 99 ]( Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya ) Qs An-Nahl : 99Seorang muslim diperintahkan selalu memohon perlindungan dari bisikan-bisikan setan. Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزاتِ الشَّياطِينِ  [ المؤمنون / 97 ]( Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan ) Qs Al-Mukminun : 97Allah perintahkan manusia berpegang pada prinsip-prinsip keindahan agama dan memikat hati manusia kepada islam dengan cara memaafkan kesalahan, mengajak kepada yang makruf dan berpaling dari kebodohan, sementara setan berupaya menghalanginya, dan tidak ada jalan keluar kecuali dengan memohon perlindungan dari godaan setan. Firman Allah :خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ , وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ   ، وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [ الأعراف / 199 ](Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh, Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui ). Qs Al-A’raf : 199Setan merintagi antara hamba dan ketaatannya kepada Tuhannya. Semakin besar nilai amal ibadah bagi seorang hamba dan semakin dicintai oleh Allah, maka semakin dahsyat pula rintangan setan kepadanya. Maka ketika seseorang sedang shalat, setan mengganggunya. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا( Itu adalah setan yang bernama Khonzab, jika kamu merasakan gangguannya maka berlindunglah kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke samping kiri tiga kali ) HR MuslimKetika hendak membaca Al-Qur’an, seseorang diperintahkan berlindung kepada Allah dari gangguan setan :فَإِذا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ   [ النحل / 98 ]( Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ) Qs An-Nahl : 98Tempat-tempat buang hajat banyak setan berkeliaran di dalamnya, maka untuk menghindarkan diri dari gangguan mereka adalah dengan memohon perlindungan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ( Ya Allah ! sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan dan para syaitan ) Muttafaq Alaihi.Di waktu pagi dan petang, kitapun memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan.Abu Bakar r.a. berkata :يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي  بِكَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ إِذَا أَصْبَحْت، وَإِذَا أَمْسَيْت، قَالَ: ” قُلْ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ «قَالَ» قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ، وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ“Ya Rasulullah, perintahkan kepadaku untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang akan aku ucapkan setiap pagi dan petang hari”. Rasulullah bersabda: “Katakanlah”: (“Ya, Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Pemelihara segala sesuatu dan Rajanya, aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, aku berlindung dari keburukan diriku dan kejahatan setan bersama sekutunya. Beliau berkata : “Ucapkanlah [do’a ini] ketika pagi dan sore hari, dan ketika engkau hendak tidur”). HR Abu DawudSetan mengganggu manusia sampai-pun dalam tidurnya. Maka barangsiapa yang bermimpi buruk dalam tidurnya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا، فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثًا، وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ  ) رواه مسلم(Jika salah seorang di antara kalian mengalami mimpi buruk, hendaklah meludah kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula ) HR. MuslimKemarahan adalah kendaraan setan, ia merupakan bara api dalam hati yang mendorong seseorang berbuat maksiat dan dosa. Untuk meredam kemarahan, seseorang berlindung kepada Allah.Sulaiman Bin Shurod berkata :كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “(Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM sedang dua orang lelaki sedang bermaki-makian di antara satu sama lain. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda”, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya. Jika sekiranya dia baca “Auzubillahi minas-Syaitanirrajim” niscaya hilang kemarahan yang dialaminya”) HR BukhariSetan tidak henti-hentinya menjerumuskan anak Adam, sejak pertama kali seorang suami menggauli istrinya. Maka dengan permohonan perlindungan kepada Allah, bahayanya dapat ditangkis.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا( Apabila seseorang hendak menggauli istrinya lalu berdoa : Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah dari setan apa yang akan engkau rezekikan kepada kami, sesungguhnya jikalau hubungan mereka ditakdirkan membuahkan anak, tidak akan terkena bahaya setan selamanya).Muttafaq Alaih.Sampai binatang himar (keledai) pun bersuara meringkik ketika melihat setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا ) متفق عليه(Apabila kamu mendengar keledai meringkik, mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya ia sedang melihat setan) . Muttafaq AlaihTujuan utama setan adalah menjerumuskan dan menyesatkan anak cucu Adam. Firman Allah :قالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ    [ ص / 82 ]( Iblis berkata: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya ) Qs Shad : 82Setan akan tetap menggoda manusia dalam masalah pokok-pokok keimanan. Tidak ada keselamatan dari godaannya kecuali atas pertolongan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا، مَنْ خَلَقَ كَذَا، حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ )  رواه البخاري( Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya,’Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?’ hingga dia bertanya,’Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Oleh karena itu, jika telah sampai di situ, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan was-was situ). HR BukhariMenyekutukan Allah merupakan puncak kesesatan. Para Imam tauhid khawatir atas diri mereka terhadap kemusyrikan ini. Nabi Ibrahim a.s. berdoa :وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنامَ  [إبراهيم / 35 ]( Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala ) Qs Ibrahim : 35Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالْفَقْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ( Ya Allah ! Aku berlindung kepadaMu dari kekafiran, dari kemiskinan dan dari siksa kubur ) HR Ahmad.Hati para hamba berada di antara dua jari dari pada jari-jari Allah Yang Maha Pemurah, Dia membolak-balikkan sebagaimana kehendakNya, maka Allah beri petunjuk seseorang setelah tersesat, dan menyesatkannya setelah berada dalam petunjuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي( Aku berlindung kepada kemuliaanMu, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, dari kesesatan yang Engkau timpakan kepadaku ) HR MuslimDan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga berlindung dari perpindahan dari sebelumnya beribadah menjadi bermaksiat.Kehidupan manusia diliputi kejahatan. Jalan yang ideal untuk memagari diri dari bahayanya adalah memohon perlindungan kepada Allah. Sebab, Allah adalah pencipta makhluk, maka hanya Dia-lah yang dapat menolak kejahatan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak membaringkan tubuhnya di tempat tidur selalu berdoa :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ( Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan segala sesuatu yang mana Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya ) HR MuslimNafsu manusia sangatlah mendorong kepada keburukan, karena memang berwatak keburukan. Orang yang beruntung ialah orang yang mengarahkan nafsunya kepada ketaatan dan selalu berlindung dari kejahatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللهُمَّ أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي( Ya Allah, aku memohon petunjuk kepadaMu untuk selurus-lurus urusanku, dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan nafsuku ). HR AhmadIbnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu secara umum dan dari kejahatan perbuatan yang dihasilkannya serta dampak perkara yang buruk dan tercela  yang ditimbulkannya”.Maka, merupakan sunnah adalah berlindung dari kejahatan nafsu setiap memulai pidato,وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami”. HR TurmuziPermohonan ini mencakup perlindungan dari akar kejahatan, cabang-cabangnya, sasarannya dan konsekuensi logisnya.Kemiskinan dan kekayaan adalah kendaraan kebaikan atau keburukan. Kebahagiaan seseorang terletak pada konsistensi dalam ketakwaannya meskipun kendaraannya berbeda. Maka barangsiapa yang memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan keduanya, akan dicukupi dan dilindungi oleh Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doanya :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ، وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah neraka, dari siksa neraka dan dari kejahatan kekayaan dan kemiskinan ). HR Abu Dawud Organ-organ tubuh manusia itu diliputi nafsu syahwat, maka yang terbaik adalah memfungsikannya untuk ketaatan dan menghindarkannya dari keburukan, dengan disertai terus menerus memohon perlindungan kepada Allah dari dampaknya yang membahayakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada salah seorang sahabat suatu doa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي يَعْنِي فَرْجَهُ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan pendengaranku, kejahatan pengelihatanku, kejahatan lidahku, kejahatan hatiku dan kejahatan fajiku ). HR TurmuziAmal kebajikan semua positif, sedangkan perbuatan maksiat semua negatif. Maka hendaklah Anda selalu melakukan ketaatan dan memohon kepada Allah terkabulnya amal Anda dan tetap konsisten melakukannya. Jauhilah maksiat dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari bahaya maksiat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ( Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan apa yang aku perbuat ). Muttafaq Alaih.Barangsiapa yang menempati sebuah tempat tinggal lalu memohon perlindungan dalam doanya :أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ( Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan, maka tidak akan membahayakan suatu apapun hingga ia meninggalkan tempat itu ). HR MuslimDan al-Mu’awwidzataani (yaitu surat al-Falaq dan An-Naas) termasuk permohonan perlindungan yang paling kompleks dan paling bermanfaat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a.أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا تَعَوَّذَ بِهِ الْمُتَعَوِّذُوْنَ؟“Maukah aku kabarkan kepadamu tentang permohonan perlindungan yang terbaik yang dimohon oleh para pemohon perlindungan?”قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَكِ“Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan Yang menguasai subuh” (QS Al-Falak : 1)قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ“Katakanlah ; Aku berlindung kepada Tuhan Penguasa manusia” (QS An-Naas : 1) (HR Ahmad)Dan kebutuhan hamba kepada isti’aadzah (memohon perlindungan kepada Allah) dengan kedua surat ini lebih besar daripada kebutuhannya kepada nafas, makanan, dan minuman. Dan dua surat ini ampuh untuk menolak sihir dan al-‘ain serta seluruh keburukan, demikian juga menghilangkannya jika telah terlanjur terkena.Terkadang keburukan menimpa sang hamba dari arah yang tidak ia sangka. Ada angin yang mendatangkan rahmat, dan ada angin yang merupakan adzab, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, jika bertiup angin kencang maka beliau berdoa :«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ»“Ya Allah aku memohon kepadaMu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang ada padanya serta kebaikan yang dikirimkan dengannya. Dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya, dan keburukan yang ada padanya serta keburukan yang dikirim dengannya” (HR Muslim)Dan Allah telah mengadzab beberapa kaum dengan awan, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat awan datang beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أُرْسِلَ بِهِ“Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari keburukan yang dikirim dengan awan ini” (HR Muslim)          Barang siapa yang memiliki baju baru maka hendaknya ia memuji Allah dan memohon kepada Allah kebaikan dari baju tersebut dan berlindung dari keburukannya. Beliau berdoa ;اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ“Ya Allah segala puji hanya bagiMu, Engkau telah memakaikan aku baju ini, aku memohon kepadaMu kebaikannya, dan kebaikanya yang dibuat padanya, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang dibuat padanya” (HR At-Tirmidzi)          Dan kehidupan tidak tetap pada satu kondisi, dan barangsiapa yang melihat ada perubahan dalam kehidupan dengan hilangnya kenikmatan maka hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allah dari hal tersebut. Dan diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ“Ya Allah aku memohon kepadaMu dari hilangnya karuniaMu” (HR Muslim)Dan Allah lah yang melindungi dari sulitnya kehidupan, terkena kesengsaraan, dan takdir yang buruk.Dan jika tubuh terkena penyakit maka kesembuhannya ada di sisi Allah, maka hendaknya memohon perlindungan kepadanya dari keburukannya, maka dari Allahlah kebaikan dan kesembuhan.Utsman bin Abi al-‘Aash r.a mengeluhkan sakitnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu rasa sakit yang ia derita di tubuhnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :“Letakkanlah tanganmu ke bagian yang sakit dari tubuhmu, dan ucapkanlah “Bismillah” sebanyak 3 kali, dan ucapkanlah sebanyak 7 kali :أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekusaanNya dari keburukan yang aku dapati sekarang, dan keburukan yang aku khawatirkan datang kemudian”  (HR Muslim)Dan kondisi-kondisi yang berat akan menjadi ringan dengan mengikatkan hati kepada Allah. Dan safar merupakan salah satu potongan adzab (kesulitan), maka hendaknya seorang musafir  berlindung kepada Allah dari وَعْثَاءِ السَّفَرِ (kesulitan dan beratnya safar) dan كَآبَةِ الْمَنْظَرِ (pemandangan yang mendatangkan kesedihan) dan سُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ (buruknya kondisi harta dan keluarga yang ditinggalkan) (HR Muslim).Rasa aman dari bahaya musuh dan ejekan mereka diperoleh dengan berlindung kepada Allah dari mereka. Berjidalnya orang-orang kafir yang sombong terhadap ayat-ayat Allah menimbulkan makar mereka dan rencana jahat mereka, dan keselamatan dari ini semua adalah dengan berlindung kepada Allah.إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُSesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS Ghofir : 56)Allah menyukai akhlak yang terbaik dan amal yang terbaik, dan membenci amal dan akhlak yang buruk. Dan seorang muslim melakukan yang baik dan menjauhkan dirinya dari yang buruk serta berlindung kepada Allah dari keburukan akhlak dan amal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari akhlak yang munkar (buruk) dan amal yang buruk serta hafwa nafsu” (HR At-Tirmidzi)Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allahمِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا“dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dan jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan” (HR Muslim)          Seorang mengetahui rahasia-rahasia tetangganya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang menutupi rahasia tetangganya. Tetangga yang buruk adalah yang membongkar aib dan membuka sitar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :تعوذوا بِاللَّه من جَار السوء فِي دَار الْمقَام فَإِن الْجَار البادي يتَحَوَّل عَنْكَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari tetangga yang buruk di kota tempat tinggal, karena tetangga badui berpindah meninggalkanmu (ke daerah lain)” (HR An-Nasaai).          Islam adalah agama senang dan gembira dan melarang dari kesedihan dan gundah gulana karena hal itu akan melemahkan seorang hamba dari meraih kebaikan agamanya dan dari membangun kehidupannya. Diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana (kekawatiran) dan kesedihan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan fitnah menerpa hati sebagaimana tenunan tikar, tenunan demi tenunan dan tidak ada keselamatan kecuali dengan berlindung kepada Allah darinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari fitnah, yang nampak maupun yang tersembunyi” (HR Muslim)Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Pada hadits ini ada dalil akan dianjurkannya berlindung kepada Allah dari fitnah meskipun seseorang memandang bahwa dirinya berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi fitnah, karena fitnah tersebut bisa saja menyebabkan terjadinya perkara yang ia tidak menyangka akan terjadinya”Dan fitnah itu banyak dengan berbagai macam model dan bentuknya. Diantara fitnah yang terbesar adalah fitnah kehidupan dan fitnah kematian serta fitnah Dajjal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari fitnah ini semua sebelum beliau salam dari sholatnya. Beliau juga berlindung :مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَفِتْنَةِ الْفَقْرِ“dari fitnah kekayaan dan fitnah kemiskinan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)          Dunia adalah fitnah, tidak ada yang bisa menyelamatkan dari fitnahnya kecuali Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا“Dan aku berlindung dari fitnah dunia” (HR Al-Bukhari)Dan kezoliman merupakan sebab kebinasaan, dan doanya orang yang terzolimi tidak tertolak. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlindung dari buruknya doa orang yang terzolimi. Jika beliau bersafar beliau berlindung dari doanya orang yang terzolimi (HR Muslim).          Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan mencintaiNya dan takut akan siksaanNya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dalam sujudnya :اللَّهُمَّ، أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لا أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ“Ya Allah aku berlindung dengan keridoanMu dari kemarahanMu, dengan penyelamatanMu dari hukumanMu, dan aku berlindung denganMu dariMu, aku tidak mampu untuk menyanjungMu, sesungguhnya hakikatMu adalah sebagaimana Engkau memuji diriMu” (HR Muslim).Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan khouf (rasa takut), rojaa’ (penuh berharap), dan mahabbah (kecintaan). Diantara tanda orang-orang yang takut kepada Allah adalah ia sering berlindung dari adzab Allah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللهُمَّ، إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ“Jika salah seorang dari kalian bertasyahhud maka hendaklah ia memohon perlindungan dari 4 perkara, ia berkata ; Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari adzab neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan keburukan fitnahnya Dajjal” (HR Muslim)‘Auf bin Malik r.a berkata :قُمْت مَعَ رسول الله فَاسْتَفْتَحَ من الْبَقَرَةَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إلَّا وَقَفَ فوسَأَلَ، وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إلَّا وَقَفَ وتَعَوَّذَ“Aku sholat bersama Rasulullah, maka beliau memulai sholatnya dengan membaca dari surat al-Baqoroh, tidaklah beliau melewati ayat rahmat kecuali beliau berhenti dan memohon, dan tidaklah beliau melewati ayat adzab kecuali beliau berhenti dan berlindung kepada Allah” (HR An-Nasaai)Beliau berlindung dari kondisi penghuni neraka, beliau berdoa :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab neraka” (HR Muslim).Barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah dari neraka sebanyak 7 kali maka Allah akan melindunginya dari neraka.          Dan selanjutnya kaum muslimin sekalian, sesungguhnya tempat memohon perlindungan hanyalah Allah semata, tiada Pencipta selainNya, tiada yang disembah selainNya, tiada temapat bersandar, dan tiada tempat keselamatan dariNya kecuali kepadaNya. Barangsiapa yang bergantung kepada Allah dan mecurahkan hajatnya kepada Allah maka Allah akan mencukupkannya dan menjaganya, dan Allah akan mendekatkan baginya seluruh yang jauh dan memudahkan baginya seluruh yang sulit. Maka hendaknya seorang muslim menggantungkan hatinya kepada Allah dan berlindung kepadaNya, dan janganlah ia bosan dari memperbanyak memohon perlindungan, dengan isti’adzah (memohon perlindungan kepada Allah) maka ia telah beribadah kepada Rabnya dan menjaga dirinya, dan dengannya ia meraih kebahagiaan dan kemuliaannya.Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutukفَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ (50) وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌMaka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.  Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu (QS Adz-Dzaariyaat : 50-51)Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung… Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan kepadaNya atas bimbingan dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungannya terhadap kedudukanNya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepadanya  dan kepada para sahabatnya. Kaum muslimin sekalian, barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah dan memohon perlindungan kepadanya, bersandar kepadanya, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada tempat ia bergantung, dan ia akan ditinggalkan (tidak ditolong) dari arah yang ia bergantung kepadanya, serta ia akan gagal mencapi tujuannya yang ia harapkan dari Allah, karena ia bergantung kepada selain Allah dan mencari selain Allah. Maka ia gagal mencapai apa yang ia cari dari Allah, dan apa yang ia harapkan dari tempat ia bergantung juga gagal. Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ (74) لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَMereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka (QS Yaasiin : 74-75)Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا (81) كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّاDan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka (QS Maryam : 81-82)Barangsiapa yang berlindung kepada jin dan meminta pertolongan para penyihir maka ia tidak akan mewujudkan dari mereka tujuannya. Dan mereka tidak akan menambah baginya melainkan keburukan, ketakutan, kekawatiran, kepanikan, dan kebingungan. Allah Ta’ala berfirman :وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًاDan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (QS Al-Jinn : 6)Orang yang bahagia adalah orang yang mencurahkan hajatnya kepada Allah yang Maha agung, Yang menghilangkan penderitaan, dan melenyapkan duka cita.Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan untuk bersholawat kepada NabiNya… Penerjemah : Firanda Andirja & Utsman Hatimhttps://firanda.com/

Pembatal Shalat (5)

Ada beberapa hal sebagai pembatal shalat yang kita kaji kembali kali ini yaitu tertawa, menangis, dan merintih. Begitu pula merubah niat untuk keluar dari shalat dan membelakangi kiblat.   7- Berdehem, tertawa, menangis, dan merintih jika nampak dua huruf. Hal-hal tadi bisa jadi pembatal jika nampak dua huruf yang keluar meskipun tidak bisa dipahami. Adapun jika didengar hanya satu huruf atau tidak ada huruf yang didengar, shalatnya tidak batal. Itu selamat tidak disengaja dan tidak keseringan seperti itu. Adapun jika ia batuk-batukan dan sulit diatasi atau bersuara keras yang sulit diatasi (karena penyakit, misalnya, pen.), shalatnya tidaklah batal. (Al-Fiqh Al-Manhaji, 1: 170) Ibnu Taimiyah pernah ditanya, “Bagaimana jika ada seseorang tertawa ketika shalat, apakah shalatnya batal?” Beliau rahimahullah menjawab, “Jika sekedar tersenyum, tidak membatalkan shalat. Adapun jika tertawa –apalagi sampai terbahak-bahak-, maka itu membatalkan shalat namun tidak membatalkan wudhu menurut mayoritas ulama seperti Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad. Akan tetapi disunnahkan bagi yang tertawa ketika shalat untuk kembali berwudhu –menurut pendapat yang terkuat dari dua pendapat yang ada-. Alasannya, karena ketika itu ia telah melakukan suatu dosa (dengan tertawa ketika shalat). Juga kenapa dianjurkan tetap berwudhu? Hal ini demi selamat dari perselisihan ulama yang ada karena Imam Abu Hanifah menganggap tertawa ketika shalat membatalkan wudhu (sekaligus membatalkan shalat, pen). Wallahu a’lam.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 614) Adapun dzikir dan do’a jika maksudnya adalah ngobrol. Seperti dalam shalat ada yang menyebut ‘yarhamukallah’. Seperti itu dianggap sebagai obrolan manusia dan shalat tidak boleh ada seperti itu.   8- Berubah niat. Patokannya, jika seseorang bertekad atau berniat keluar dari shalat atau keinginannya ingin bertemu dengan seseorang yang datang. Hanya sekedar keinginan seperti itu membatalkan shalat. Hal ini bisa dihukumi membatalkan shalat, karena shalat mesti dengan niat yang jazim (pasti, tak ragu-ragu).   9- Membelakangi kiblat. Menghadap kiblat adalah di antara syarat sah shalat. Sehingga membelakanginya dihukumi membatalkan shalat. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 144) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada orang jelek shalat (musi’ salatahu), إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ “Jika engkau hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhumu lalu menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah.” (HR. Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 912) Alhamdulillah, selesai sudah pembahasan pembatal-pembatal shalat. Semoga manfaat.   Referensi: Al-Fiqhu Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i. Cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha. Penerbit Darul Qalam. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Dar Al-Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm. — Diselesaikan 2: 22 PM, 30 Muharram 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagspembatal shalat

Pembatal Shalat (5)

Ada beberapa hal sebagai pembatal shalat yang kita kaji kembali kali ini yaitu tertawa, menangis, dan merintih. Begitu pula merubah niat untuk keluar dari shalat dan membelakangi kiblat.   7- Berdehem, tertawa, menangis, dan merintih jika nampak dua huruf. Hal-hal tadi bisa jadi pembatal jika nampak dua huruf yang keluar meskipun tidak bisa dipahami. Adapun jika didengar hanya satu huruf atau tidak ada huruf yang didengar, shalatnya tidak batal. Itu selamat tidak disengaja dan tidak keseringan seperti itu. Adapun jika ia batuk-batukan dan sulit diatasi atau bersuara keras yang sulit diatasi (karena penyakit, misalnya, pen.), shalatnya tidaklah batal. (Al-Fiqh Al-Manhaji, 1: 170) Ibnu Taimiyah pernah ditanya, “Bagaimana jika ada seseorang tertawa ketika shalat, apakah shalatnya batal?” Beliau rahimahullah menjawab, “Jika sekedar tersenyum, tidak membatalkan shalat. Adapun jika tertawa –apalagi sampai terbahak-bahak-, maka itu membatalkan shalat namun tidak membatalkan wudhu menurut mayoritas ulama seperti Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad. Akan tetapi disunnahkan bagi yang tertawa ketika shalat untuk kembali berwudhu –menurut pendapat yang terkuat dari dua pendapat yang ada-. Alasannya, karena ketika itu ia telah melakukan suatu dosa (dengan tertawa ketika shalat). Juga kenapa dianjurkan tetap berwudhu? Hal ini demi selamat dari perselisihan ulama yang ada karena Imam Abu Hanifah menganggap tertawa ketika shalat membatalkan wudhu (sekaligus membatalkan shalat, pen). Wallahu a’lam.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 614) Adapun dzikir dan do’a jika maksudnya adalah ngobrol. Seperti dalam shalat ada yang menyebut ‘yarhamukallah’. Seperti itu dianggap sebagai obrolan manusia dan shalat tidak boleh ada seperti itu.   8- Berubah niat. Patokannya, jika seseorang bertekad atau berniat keluar dari shalat atau keinginannya ingin bertemu dengan seseorang yang datang. Hanya sekedar keinginan seperti itu membatalkan shalat. Hal ini bisa dihukumi membatalkan shalat, karena shalat mesti dengan niat yang jazim (pasti, tak ragu-ragu).   9- Membelakangi kiblat. Menghadap kiblat adalah di antara syarat sah shalat. Sehingga membelakanginya dihukumi membatalkan shalat. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 144) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada orang jelek shalat (musi’ salatahu), إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ “Jika engkau hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhumu lalu menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah.” (HR. Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 912) Alhamdulillah, selesai sudah pembahasan pembatal-pembatal shalat. Semoga manfaat.   Referensi: Al-Fiqhu Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i. Cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha. Penerbit Darul Qalam. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Dar Al-Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm. — Diselesaikan 2: 22 PM, 30 Muharram 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagspembatal shalat
Ada beberapa hal sebagai pembatal shalat yang kita kaji kembali kali ini yaitu tertawa, menangis, dan merintih. Begitu pula merubah niat untuk keluar dari shalat dan membelakangi kiblat.   7- Berdehem, tertawa, menangis, dan merintih jika nampak dua huruf. Hal-hal tadi bisa jadi pembatal jika nampak dua huruf yang keluar meskipun tidak bisa dipahami. Adapun jika didengar hanya satu huruf atau tidak ada huruf yang didengar, shalatnya tidak batal. Itu selamat tidak disengaja dan tidak keseringan seperti itu. Adapun jika ia batuk-batukan dan sulit diatasi atau bersuara keras yang sulit diatasi (karena penyakit, misalnya, pen.), shalatnya tidaklah batal. (Al-Fiqh Al-Manhaji, 1: 170) Ibnu Taimiyah pernah ditanya, “Bagaimana jika ada seseorang tertawa ketika shalat, apakah shalatnya batal?” Beliau rahimahullah menjawab, “Jika sekedar tersenyum, tidak membatalkan shalat. Adapun jika tertawa –apalagi sampai terbahak-bahak-, maka itu membatalkan shalat namun tidak membatalkan wudhu menurut mayoritas ulama seperti Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad. Akan tetapi disunnahkan bagi yang tertawa ketika shalat untuk kembali berwudhu –menurut pendapat yang terkuat dari dua pendapat yang ada-. Alasannya, karena ketika itu ia telah melakukan suatu dosa (dengan tertawa ketika shalat). Juga kenapa dianjurkan tetap berwudhu? Hal ini demi selamat dari perselisihan ulama yang ada karena Imam Abu Hanifah menganggap tertawa ketika shalat membatalkan wudhu (sekaligus membatalkan shalat, pen). Wallahu a’lam.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 614) Adapun dzikir dan do’a jika maksudnya adalah ngobrol. Seperti dalam shalat ada yang menyebut ‘yarhamukallah’. Seperti itu dianggap sebagai obrolan manusia dan shalat tidak boleh ada seperti itu.   8- Berubah niat. Patokannya, jika seseorang bertekad atau berniat keluar dari shalat atau keinginannya ingin bertemu dengan seseorang yang datang. Hanya sekedar keinginan seperti itu membatalkan shalat. Hal ini bisa dihukumi membatalkan shalat, karena shalat mesti dengan niat yang jazim (pasti, tak ragu-ragu).   9- Membelakangi kiblat. Menghadap kiblat adalah di antara syarat sah shalat. Sehingga membelakanginya dihukumi membatalkan shalat. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 144) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada orang jelek shalat (musi’ salatahu), إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ “Jika engkau hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhumu lalu menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah.” (HR. Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 912) Alhamdulillah, selesai sudah pembahasan pembatal-pembatal shalat. Semoga manfaat.   Referensi: Al-Fiqhu Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i. Cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha. Penerbit Darul Qalam. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Dar Al-Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm. — Diselesaikan 2: 22 PM, 30 Muharram 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagspembatal shalat


Ada beberapa hal sebagai pembatal shalat yang kita kaji kembali kali ini yaitu tertawa, menangis, dan merintih. Begitu pula merubah niat untuk keluar dari shalat dan membelakangi kiblat.   7- Berdehem, tertawa, menangis, dan merintih jika nampak dua huruf. Hal-hal tadi bisa jadi pembatal jika nampak dua huruf yang keluar meskipun tidak bisa dipahami. Adapun jika didengar hanya satu huruf atau tidak ada huruf yang didengar, shalatnya tidak batal. Itu selamat tidak disengaja dan tidak keseringan seperti itu. Adapun jika ia batuk-batukan dan sulit diatasi atau bersuara keras yang sulit diatasi (karena penyakit, misalnya, pen.), shalatnya tidaklah batal. (Al-Fiqh Al-Manhaji, 1: 170) Ibnu Taimiyah pernah ditanya, “Bagaimana jika ada seseorang tertawa ketika shalat, apakah shalatnya batal?” Beliau rahimahullah menjawab, “Jika sekedar tersenyum, tidak membatalkan shalat. Adapun jika tertawa –apalagi sampai terbahak-bahak-, maka itu membatalkan shalat namun tidak membatalkan wudhu menurut mayoritas ulama seperti Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad. Akan tetapi disunnahkan bagi yang tertawa ketika shalat untuk kembali berwudhu –menurut pendapat yang terkuat dari dua pendapat yang ada-. Alasannya, karena ketika itu ia telah melakukan suatu dosa (dengan tertawa ketika shalat). Juga kenapa dianjurkan tetap berwudhu? Hal ini demi selamat dari perselisihan ulama yang ada karena Imam Abu Hanifah menganggap tertawa ketika shalat membatalkan wudhu (sekaligus membatalkan shalat, pen). Wallahu a’lam.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 614) Adapun dzikir dan do’a jika maksudnya adalah ngobrol. Seperti dalam shalat ada yang menyebut ‘yarhamukallah’. Seperti itu dianggap sebagai obrolan manusia dan shalat tidak boleh ada seperti itu.   8- Berubah niat. Patokannya, jika seseorang bertekad atau berniat keluar dari shalat atau keinginannya ingin bertemu dengan seseorang yang datang. Hanya sekedar keinginan seperti itu membatalkan shalat. Hal ini bisa dihukumi membatalkan shalat, karena shalat mesti dengan niat yang jazim (pasti, tak ragu-ragu).   9- Membelakangi kiblat. Menghadap kiblat adalah di antara syarat sah shalat. Sehingga membelakanginya dihukumi membatalkan shalat. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 144) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada orang jelek shalat (musi’ salatahu), إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ “Jika engkau hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhumu lalu menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah.” (HR. Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 912) Alhamdulillah, selesai sudah pembahasan pembatal-pembatal shalat. Semoga manfaat.   Referensi: Al-Fiqhu Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i. Cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha. Penerbit Darul Qalam. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Dar Al-Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm. — Diselesaikan 2: 22 PM, 30 Muharram 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagspembatal shalat

Bagaimana Safar Bisa Bernilai Ibadah?

Bagaimana safar, travelling atau touring Anda bisa bernilai ibadah? Lihat penjelasan berikut. Kita tahu safar itu ada beberapa macam. Safar yang wajib, yaitu menempuh perjalanan untuk menunaikan kewajiban, misalnya bepergian untuk menunaikan ibadah haji yang wajib, umrah yang wajib, menuntut ilmu agama yang wajib atau kewajiban berjihad. Safar yang sunnah, yaitu menempuh perjalanan yang dianjurkan (disunnahkan), misalnya bepergian untuk melaksanakan umrah yang sunnah, haji yang sunnah, dan jihad yang sunnah. Safar yang boleh, yaitu bepergian untuk melakukan hal-hal yang diperbolehkan dalam agama, misalnya bepergian untuk berdagang barang-barang yang halal. Safar yang haram, yaitu menempuh perjalanan untuk melakukan perkara yang diharamkan, misalnya menempuh perjalanan untuk berdagang khamr (minuman keras). Safar yang makruh, misalnya bepergian seorang diri tanpa ada yang menemani. Bepergian seperti itu dimakruhkan, kecuali untuk melakukan hal-hal yang sangat penting. Sebisa mungkin kita melakukan safar yang wajib, sunnah, atau yang boleh; tidak melakukan safar yang makruh, apalagi yang haram. Adapun … Safar mubah, sekedar jalan-jalan atau liburan bisa bernilai ibadah. Bagaimana caranya? Ada dua syarat yang mesti dipenuhi kalau hal mubah bisa bernilai ibadah: Dilakukan dengan niat yang benar. Sebagai wasilah (perantara) dalam rangka menyupport amalan shalih. Dalil yang mendukung syarat pertama adalah hadits, إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ “Sesungguhnya engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah dalam rangka mengharap wajah Allah melainkan akan diganjar dengan usaha itu sampai pun sesuap makanan yang engkau masukkan dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari, no. 6373 dan Muslim, no. 1628). Di sini, disebutkan dengan niat ikhlas mengharap pahala di sisi Allah, barulah perbuatan yang asalnya bukan ibadah bernilai ibadah dan berpahala. Dalil bahwasanya perbuatan non-ibadah jika sebagai wasilah (perantara) pada ketaatan atau ibadah dapat bernilai pahala dapat disimpulkan dari firman Allah Ta’ala, لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا “Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih.” (QS. At Taubah: 120). Ayat ini menunjukkan bahwa wasilah (perantara) yang mendukung terwujudnya ibadah dianggap sebagai ibadah pula dan berpahala di sisi Allah. (Lihat Qowa’id Ma’rifat Al-Bida’, hlm. 107) Contoh safar yang mubah yang bisa bernilai ibadah: Safar yang diisi dengan amalan shalih seperti zikir dan do’a. Jalan-jalan ke luar kota dan dituju adalah Pondok Pesantren Sunnah, di sana bisa menggali ilmu agama walau nantinya punya tujuan untuk berekreasi ke pantai atau lainnya. Safar sambil bakti sosial pada masyarakat miskin. Walau ada liburannya, namun bisa raih pahala. Mengambil waktu rehat setelah beraktivitas panjang agar setelah mengambil rehat lebih semangat beraktivitas untuk memperdalam ilmu agama, giat ibadah dan berdakwah. Ini yang ditemukan pada sebagian ulama atau ustadz. Ada waktu luang mereka yang mereka gunakan untuk berekreasi biar lebih semangat lagi dalam aktivitas dakwah. Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa dengan niatannya itulah yang menjadikan safar tersebut menjadi ibadah. Begitu pula waktu luang di saat safar bisa dimanfaatkan untuk hal yang bermanfaat seperti membaca Al-Qur’an, membaca buku Islam yang bermanfaat atau lebih canggih lagi browsing situs-situs Islam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; beliau bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 30 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. TagsSafar

Bagaimana Safar Bisa Bernilai Ibadah?

Bagaimana safar, travelling atau touring Anda bisa bernilai ibadah? Lihat penjelasan berikut. Kita tahu safar itu ada beberapa macam. Safar yang wajib, yaitu menempuh perjalanan untuk menunaikan kewajiban, misalnya bepergian untuk menunaikan ibadah haji yang wajib, umrah yang wajib, menuntut ilmu agama yang wajib atau kewajiban berjihad. Safar yang sunnah, yaitu menempuh perjalanan yang dianjurkan (disunnahkan), misalnya bepergian untuk melaksanakan umrah yang sunnah, haji yang sunnah, dan jihad yang sunnah. Safar yang boleh, yaitu bepergian untuk melakukan hal-hal yang diperbolehkan dalam agama, misalnya bepergian untuk berdagang barang-barang yang halal. Safar yang haram, yaitu menempuh perjalanan untuk melakukan perkara yang diharamkan, misalnya menempuh perjalanan untuk berdagang khamr (minuman keras). Safar yang makruh, misalnya bepergian seorang diri tanpa ada yang menemani. Bepergian seperti itu dimakruhkan, kecuali untuk melakukan hal-hal yang sangat penting. Sebisa mungkin kita melakukan safar yang wajib, sunnah, atau yang boleh; tidak melakukan safar yang makruh, apalagi yang haram. Adapun … Safar mubah, sekedar jalan-jalan atau liburan bisa bernilai ibadah. Bagaimana caranya? Ada dua syarat yang mesti dipenuhi kalau hal mubah bisa bernilai ibadah: Dilakukan dengan niat yang benar. Sebagai wasilah (perantara) dalam rangka menyupport amalan shalih. Dalil yang mendukung syarat pertama adalah hadits, إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ “Sesungguhnya engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah dalam rangka mengharap wajah Allah melainkan akan diganjar dengan usaha itu sampai pun sesuap makanan yang engkau masukkan dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari, no. 6373 dan Muslim, no. 1628). Di sini, disebutkan dengan niat ikhlas mengharap pahala di sisi Allah, barulah perbuatan yang asalnya bukan ibadah bernilai ibadah dan berpahala. Dalil bahwasanya perbuatan non-ibadah jika sebagai wasilah (perantara) pada ketaatan atau ibadah dapat bernilai pahala dapat disimpulkan dari firman Allah Ta’ala, لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا “Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih.” (QS. At Taubah: 120). Ayat ini menunjukkan bahwa wasilah (perantara) yang mendukung terwujudnya ibadah dianggap sebagai ibadah pula dan berpahala di sisi Allah. (Lihat Qowa’id Ma’rifat Al-Bida’, hlm. 107) Contoh safar yang mubah yang bisa bernilai ibadah: Safar yang diisi dengan amalan shalih seperti zikir dan do’a. Jalan-jalan ke luar kota dan dituju adalah Pondok Pesantren Sunnah, di sana bisa menggali ilmu agama walau nantinya punya tujuan untuk berekreasi ke pantai atau lainnya. Safar sambil bakti sosial pada masyarakat miskin. Walau ada liburannya, namun bisa raih pahala. Mengambil waktu rehat setelah beraktivitas panjang agar setelah mengambil rehat lebih semangat beraktivitas untuk memperdalam ilmu agama, giat ibadah dan berdakwah. Ini yang ditemukan pada sebagian ulama atau ustadz. Ada waktu luang mereka yang mereka gunakan untuk berekreasi biar lebih semangat lagi dalam aktivitas dakwah. Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa dengan niatannya itulah yang menjadikan safar tersebut menjadi ibadah. Begitu pula waktu luang di saat safar bisa dimanfaatkan untuk hal yang bermanfaat seperti membaca Al-Qur’an, membaca buku Islam yang bermanfaat atau lebih canggih lagi browsing situs-situs Islam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; beliau bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 30 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. TagsSafar
Bagaimana safar, travelling atau touring Anda bisa bernilai ibadah? Lihat penjelasan berikut. Kita tahu safar itu ada beberapa macam. Safar yang wajib, yaitu menempuh perjalanan untuk menunaikan kewajiban, misalnya bepergian untuk menunaikan ibadah haji yang wajib, umrah yang wajib, menuntut ilmu agama yang wajib atau kewajiban berjihad. Safar yang sunnah, yaitu menempuh perjalanan yang dianjurkan (disunnahkan), misalnya bepergian untuk melaksanakan umrah yang sunnah, haji yang sunnah, dan jihad yang sunnah. Safar yang boleh, yaitu bepergian untuk melakukan hal-hal yang diperbolehkan dalam agama, misalnya bepergian untuk berdagang barang-barang yang halal. Safar yang haram, yaitu menempuh perjalanan untuk melakukan perkara yang diharamkan, misalnya menempuh perjalanan untuk berdagang khamr (minuman keras). Safar yang makruh, misalnya bepergian seorang diri tanpa ada yang menemani. Bepergian seperti itu dimakruhkan, kecuali untuk melakukan hal-hal yang sangat penting. Sebisa mungkin kita melakukan safar yang wajib, sunnah, atau yang boleh; tidak melakukan safar yang makruh, apalagi yang haram. Adapun … Safar mubah, sekedar jalan-jalan atau liburan bisa bernilai ibadah. Bagaimana caranya? Ada dua syarat yang mesti dipenuhi kalau hal mubah bisa bernilai ibadah: Dilakukan dengan niat yang benar. Sebagai wasilah (perantara) dalam rangka menyupport amalan shalih. Dalil yang mendukung syarat pertama adalah hadits, إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ “Sesungguhnya engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah dalam rangka mengharap wajah Allah melainkan akan diganjar dengan usaha itu sampai pun sesuap makanan yang engkau masukkan dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari, no. 6373 dan Muslim, no. 1628). Di sini, disebutkan dengan niat ikhlas mengharap pahala di sisi Allah, barulah perbuatan yang asalnya bukan ibadah bernilai ibadah dan berpahala. Dalil bahwasanya perbuatan non-ibadah jika sebagai wasilah (perantara) pada ketaatan atau ibadah dapat bernilai pahala dapat disimpulkan dari firman Allah Ta’ala, لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا “Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih.” (QS. At Taubah: 120). Ayat ini menunjukkan bahwa wasilah (perantara) yang mendukung terwujudnya ibadah dianggap sebagai ibadah pula dan berpahala di sisi Allah. (Lihat Qowa’id Ma’rifat Al-Bida’, hlm. 107) Contoh safar yang mubah yang bisa bernilai ibadah: Safar yang diisi dengan amalan shalih seperti zikir dan do’a. Jalan-jalan ke luar kota dan dituju adalah Pondok Pesantren Sunnah, di sana bisa menggali ilmu agama walau nantinya punya tujuan untuk berekreasi ke pantai atau lainnya. Safar sambil bakti sosial pada masyarakat miskin. Walau ada liburannya, namun bisa raih pahala. Mengambil waktu rehat setelah beraktivitas panjang agar setelah mengambil rehat lebih semangat beraktivitas untuk memperdalam ilmu agama, giat ibadah dan berdakwah. Ini yang ditemukan pada sebagian ulama atau ustadz. Ada waktu luang mereka yang mereka gunakan untuk berekreasi biar lebih semangat lagi dalam aktivitas dakwah. Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa dengan niatannya itulah yang menjadikan safar tersebut menjadi ibadah. Begitu pula waktu luang di saat safar bisa dimanfaatkan untuk hal yang bermanfaat seperti membaca Al-Qur’an, membaca buku Islam yang bermanfaat atau lebih canggih lagi browsing situs-situs Islam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; beliau bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 30 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. TagsSafar


Bagaimana safar, travelling atau touring Anda bisa bernilai ibadah? Lihat penjelasan berikut. Kita tahu safar itu ada beberapa macam. Safar yang wajib, yaitu menempuh perjalanan untuk menunaikan kewajiban, misalnya bepergian untuk menunaikan ibadah haji yang wajib, umrah yang wajib, menuntut ilmu agama yang wajib atau kewajiban berjihad. Safar yang sunnah, yaitu menempuh perjalanan yang dianjurkan (disunnahkan), misalnya bepergian untuk melaksanakan umrah yang sunnah, haji yang sunnah, dan jihad yang sunnah. Safar yang boleh, yaitu bepergian untuk melakukan hal-hal yang diperbolehkan dalam agama, misalnya bepergian untuk berdagang barang-barang yang halal. Safar yang haram, yaitu menempuh perjalanan untuk melakukan perkara yang diharamkan, misalnya menempuh perjalanan untuk berdagang khamr (minuman keras). Safar yang makruh, misalnya bepergian seorang diri tanpa ada yang menemani. Bepergian seperti itu dimakruhkan, kecuali untuk melakukan hal-hal yang sangat penting. Sebisa mungkin kita melakukan safar yang wajib, sunnah, atau yang boleh; tidak melakukan safar yang makruh, apalagi yang haram. Adapun … Safar mubah, sekedar jalan-jalan atau liburan bisa bernilai ibadah. Bagaimana caranya? Ada dua syarat yang mesti dipenuhi kalau hal mubah bisa bernilai ibadah: Dilakukan dengan niat yang benar. Sebagai wasilah (perantara) dalam rangka menyupport amalan shalih. Dalil yang mendukung syarat pertama adalah hadits, إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ “Sesungguhnya engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah dalam rangka mengharap wajah Allah melainkan akan diganjar dengan usaha itu sampai pun sesuap makanan yang engkau masukkan dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari, no. 6373 dan Muslim, no. 1628). Di sini, disebutkan dengan niat ikhlas mengharap pahala di sisi Allah, barulah perbuatan yang asalnya bukan ibadah bernilai ibadah dan berpahala. Dalil bahwasanya perbuatan non-ibadah jika sebagai wasilah (perantara) pada ketaatan atau ibadah dapat bernilai pahala dapat disimpulkan dari firman Allah Ta’ala, لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا “Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih.” (QS. At Taubah: 120). Ayat ini menunjukkan bahwa wasilah (perantara) yang mendukung terwujudnya ibadah dianggap sebagai ibadah pula dan berpahala di sisi Allah. (Lihat Qowa’id Ma’rifat Al-Bida’, hlm. 107) Contoh safar yang mubah yang bisa bernilai ibadah: Safar yang diisi dengan amalan shalih seperti zikir dan do’a. Jalan-jalan ke luar kota dan dituju adalah Pondok Pesantren Sunnah, di sana bisa menggali ilmu agama walau nantinya punya tujuan untuk berekreasi ke pantai atau lainnya. Safar sambil bakti sosial pada masyarakat miskin. Walau ada liburannya, namun bisa raih pahala. Mengambil waktu rehat setelah beraktivitas panjang agar setelah mengambil rehat lebih semangat beraktivitas untuk memperdalam ilmu agama, giat ibadah dan berdakwah. Ini yang ditemukan pada sebagian ulama atau ustadz. Ada waktu luang mereka yang mereka gunakan untuk berekreasi biar lebih semangat lagi dalam aktivitas dakwah. Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa dengan niatannya itulah yang menjadikan safar tersebut menjadi ibadah. Begitu pula waktu luang di saat safar bisa dimanfaatkan untuk hal yang bermanfaat seperti membaca Al-Qur’an, membaca buku Islam yang bermanfaat atau lebih canggih lagi browsing situs-situs Islam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; beliau bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 30 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. TagsSafar

Bolehkah Orang Tua Makan Daging Aqiqah Anaknya?

Bolehkah orang tua makan daging aqiqah anaknya? Apakah ada larangan? Yang benar, boleh bagi orang tua anak memakan dagig aqiqah anaknya. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah tentang masalah aqiqah, يُجْعَلُ جُدُوْلاً ، يُؤْكَلُ وَيُطْعَمُ “Akhirnya dijadikan tulang (yang tidak dipecah) untuk dimakan dan diberi makan pada yang lainnya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah juz ke-5). Judulan atau jadl adalah setiap tulang yang disimpan tanpa dipecah dan tidak bercampur dengan lainnya. Ini disebutkan dalam Al-Qamus Al-Muhith, hlm. 975. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata dalam Syarh Al-Mumthi’ (7: 545), bahwa judulan adalah anggota tubuh hewan berupa tulang yang tidak dipecah. Tulang tersebut diambil dari persendian-persendian. Disebutkan pula dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, orang yang memiliki hajat aqiqah bisa membagi hasil daging aqiqah dalam bentuk daging mentahan atau yang sudah matang. Hasil tersebut bisa diserahkan pada fakir miskin, tetangga, kerabat atau teman dekat. Keluarganya pun bisa memakan darinya. Ia pun boleh mengundang orang miskin, orang kaya untuk makan-makan di rumahnya. Masalah ini ada kelapangan. Demikian yang disarikan dari fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatawanya Al-Islam Sual wa Jawab no. 20646. Baca juga fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin di sini. Semoga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Muharram 1437 H sore hari saat menanti hujan mengguyur desa. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsaqiqah

Bolehkah Orang Tua Makan Daging Aqiqah Anaknya?

Bolehkah orang tua makan daging aqiqah anaknya? Apakah ada larangan? Yang benar, boleh bagi orang tua anak memakan dagig aqiqah anaknya. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah tentang masalah aqiqah, يُجْعَلُ جُدُوْلاً ، يُؤْكَلُ وَيُطْعَمُ “Akhirnya dijadikan tulang (yang tidak dipecah) untuk dimakan dan diberi makan pada yang lainnya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah juz ke-5). Judulan atau jadl adalah setiap tulang yang disimpan tanpa dipecah dan tidak bercampur dengan lainnya. Ini disebutkan dalam Al-Qamus Al-Muhith, hlm. 975. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata dalam Syarh Al-Mumthi’ (7: 545), bahwa judulan adalah anggota tubuh hewan berupa tulang yang tidak dipecah. Tulang tersebut diambil dari persendian-persendian. Disebutkan pula dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, orang yang memiliki hajat aqiqah bisa membagi hasil daging aqiqah dalam bentuk daging mentahan atau yang sudah matang. Hasil tersebut bisa diserahkan pada fakir miskin, tetangga, kerabat atau teman dekat. Keluarganya pun bisa memakan darinya. Ia pun boleh mengundang orang miskin, orang kaya untuk makan-makan di rumahnya. Masalah ini ada kelapangan. Demikian yang disarikan dari fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatawanya Al-Islam Sual wa Jawab no. 20646. Baca juga fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin di sini. Semoga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Muharram 1437 H sore hari saat menanti hujan mengguyur desa. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsaqiqah
Bolehkah orang tua makan daging aqiqah anaknya? Apakah ada larangan? Yang benar, boleh bagi orang tua anak memakan dagig aqiqah anaknya. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah tentang masalah aqiqah, يُجْعَلُ جُدُوْلاً ، يُؤْكَلُ وَيُطْعَمُ “Akhirnya dijadikan tulang (yang tidak dipecah) untuk dimakan dan diberi makan pada yang lainnya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah juz ke-5). Judulan atau jadl adalah setiap tulang yang disimpan tanpa dipecah dan tidak bercampur dengan lainnya. Ini disebutkan dalam Al-Qamus Al-Muhith, hlm. 975. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata dalam Syarh Al-Mumthi’ (7: 545), bahwa judulan adalah anggota tubuh hewan berupa tulang yang tidak dipecah. Tulang tersebut diambil dari persendian-persendian. Disebutkan pula dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, orang yang memiliki hajat aqiqah bisa membagi hasil daging aqiqah dalam bentuk daging mentahan atau yang sudah matang. Hasil tersebut bisa diserahkan pada fakir miskin, tetangga, kerabat atau teman dekat. Keluarganya pun bisa memakan darinya. Ia pun boleh mengundang orang miskin, orang kaya untuk makan-makan di rumahnya. Masalah ini ada kelapangan. Demikian yang disarikan dari fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatawanya Al-Islam Sual wa Jawab no. 20646. Baca juga fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin di sini. Semoga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Muharram 1437 H sore hari saat menanti hujan mengguyur desa. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsaqiqah


Bolehkah orang tua makan daging aqiqah anaknya? Apakah ada larangan? Yang benar, boleh bagi orang tua anak memakan dagig aqiqah anaknya. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah tentang masalah aqiqah, يُجْعَلُ جُدُوْلاً ، يُؤْكَلُ وَيُطْعَمُ “Akhirnya dijadikan tulang (yang tidak dipecah) untuk dimakan dan diberi makan pada yang lainnya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah juz ke-5). Judulan atau jadl adalah setiap tulang yang disimpan tanpa dipecah dan tidak bercampur dengan lainnya. Ini disebutkan dalam Al-Qamus Al-Muhith, hlm. 975. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata dalam Syarh Al-Mumthi’ (7: 545), bahwa judulan adalah anggota tubuh hewan berupa tulang yang tidak dipecah. Tulang tersebut diambil dari persendian-persendian. Disebutkan pula dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, orang yang memiliki hajat aqiqah bisa membagi hasil daging aqiqah dalam bentuk daging mentahan atau yang sudah matang. Hasil tersebut bisa diserahkan pada fakir miskin, tetangga, kerabat atau teman dekat. Keluarganya pun bisa memakan darinya. Ia pun boleh mengundang orang miskin, orang kaya untuk makan-makan di rumahnya. Masalah ini ada kelapangan. Demikian yang disarikan dari fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatawanya Al-Islam Sual wa Jawab no. 20646. Baca juga fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin di sini. Semoga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Muharram 1437 H sore hari saat menanti hujan mengguyur desa. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsaqiqah

Strategi Dakwah (2): Dakwah Pertama adalah Dakwah Tauhid

Dakwah pertama yang harus dijadikan prioritas adalah dakwah tauhid. Di antara dalilnya, يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21). Ini adalah perintah pertama dalam Al-Qur’an, perintahnya adalah untuk mentauhidkan dan beribadah pada Allah semata. Dalam ayat lain disebutkan pula, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Allah telah mengutus seluruh rasul dan menurunkan berbagai kitab untuk memerintah supaya bertauhid yaitu beribadah pada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 11: 51-52) Dalil dari hadits, dari Ibnu ‘Abbas ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ » “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 25 dan Muslim no. 21) Para ulama pun telah bersepakat (berijma’) bahwa setiap kafir didakwahi pertama kali pada dua kalimat syahadat. Itulah dakwah pertama. (Lihat Dar Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 8: 6) Penerapannya, wajib mendakwahkan setiap manusia untuk mentauhidkan Allah sebelum dakwah pada yang lainnya. Itulah dakwah yang mesti dijadikan prioritas untuk mendakwahi keluarga, kerabat, tetangga dan orang-orang terdekat kita. Semoga kita mudah mendakwahkan tauhid.   Referensi: Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Ad-Da’wah ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan kedua, tahun 1430 H. ‘Abid bin Muhammad As-Sufyani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, @ Darush Sholihin, Senin sore, 27 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah syirik

Strategi Dakwah (2): Dakwah Pertama adalah Dakwah Tauhid

Dakwah pertama yang harus dijadikan prioritas adalah dakwah tauhid. Di antara dalilnya, يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21). Ini adalah perintah pertama dalam Al-Qur’an, perintahnya adalah untuk mentauhidkan dan beribadah pada Allah semata. Dalam ayat lain disebutkan pula, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Allah telah mengutus seluruh rasul dan menurunkan berbagai kitab untuk memerintah supaya bertauhid yaitu beribadah pada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 11: 51-52) Dalil dari hadits, dari Ibnu ‘Abbas ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ » “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 25 dan Muslim no. 21) Para ulama pun telah bersepakat (berijma’) bahwa setiap kafir didakwahi pertama kali pada dua kalimat syahadat. Itulah dakwah pertama. (Lihat Dar Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 8: 6) Penerapannya, wajib mendakwahkan setiap manusia untuk mentauhidkan Allah sebelum dakwah pada yang lainnya. Itulah dakwah yang mesti dijadikan prioritas untuk mendakwahi keluarga, kerabat, tetangga dan orang-orang terdekat kita. Semoga kita mudah mendakwahkan tauhid.   Referensi: Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Ad-Da’wah ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan kedua, tahun 1430 H. ‘Abid bin Muhammad As-Sufyani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, @ Darush Sholihin, Senin sore, 27 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah syirik
Dakwah pertama yang harus dijadikan prioritas adalah dakwah tauhid. Di antara dalilnya, يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21). Ini adalah perintah pertama dalam Al-Qur’an, perintahnya adalah untuk mentauhidkan dan beribadah pada Allah semata. Dalam ayat lain disebutkan pula, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Allah telah mengutus seluruh rasul dan menurunkan berbagai kitab untuk memerintah supaya bertauhid yaitu beribadah pada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 11: 51-52) Dalil dari hadits, dari Ibnu ‘Abbas ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ » “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 25 dan Muslim no. 21) Para ulama pun telah bersepakat (berijma’) bahwa setiap kafir didakwahi pertama kali pada dua kalimat syahadat. Itulah dakwah pertama. (Lihat Dar Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 8: 6) Penerapannya, wajib mendakwahkan setiap manusia untuk mentauhidkan Allah sebelum dakwah pada yang lainnya. Itulah dakwah yang mesti dijadikan prioritas untuk mendakwahi keluarga, kerabat, tetangga dan orang-orang terdekat kita. Semoga kita mudah mendakwahkan tauhid.   Referensi: Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Ad-Da’wah ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan kedua, tahun 1430 H. ‘Abid bin Muhammad As-Sufyani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, @ Darush Sholihin, Senin sore, 27 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah syirik


Dakwah pertama yang harus dijadikan prioritas adalah dakwah tauhid. Di antara dalilnya, يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21). Ini adalah perintah pertama dalam Al-Qur’an, perintahnya adalah untuk mentauhidkan dan beribadah pada Allah semata. Dalam ayat lain disebutkan pula, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Allah telah mengutus seluruh rasul dan menurunkan berbagai kitab untuk memerintah supaya bertauhid yaitu beribadah pada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 11: 51-52) Dalil dari hadits, dari Ibnu ‘Abbas ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ » “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 25 dan Muslim no. 21) Para ulama pun telah bersepakat (berijma’) bahwa setiap kafir didakwahi pertama kali pada dua kalimat syahadat. Itulah dakwah pertama. (Lihat Dar Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 8: 6) Penerapannya, wajib mendakwahkan setiap manusia untuk mentauhidkan Allah sebelum dakwah pada yang lainnya. Itulah dakwah yang mesti dijadikan prioritas untuk mendakwahi keluarga, kerabat, tetangga dan orang-orang terdekat kita. Semoga kita mudah mendakwahkan tauhid.   Referensi: Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Ad-Da’wah ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan kedua, tahun 1430 H. ‘Abid bin Muhammad As-Sufyani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, @ Darush Sholihin, Senin sore, 27 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah syirik

Promo Buku: Panduan Safar dan Panduan Amal Shalih di Musim Hujan

Anda penggemar tulisan Rumaysho.Com, kudu memiliki buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kali ini dua buku harus Anda miliki: Panduan Amal Shalih di Musim Hujan dan Panduan Ibadah Saat Safar. 1. Panduan Amal Shalih di Musim Hujan – Pas untuk Musim Hujan Saat Ini (Rp.20.000,-) 2. Panduan Safar – Pas Untuk Anda yang Suka Travelling (Rp.30.000,-) Promosi 50 ribu rupiah sampai 15 November 2015, free ongkir untuk pulau Jawa. Untuk luar daerah, masih belum termasuk ongkir (ongkos kirim). Hubungi 085200171222 (SMS/ CALL/ WA) atau BBM 2B044CC3 (CS Toko Online Ruwaifi.Com – Mas Slamet) Segera order dan beli, stok buku promo terbatas. Cek buku karya Muhammad Abduh Tuasikal lainnya di Toko Online Ruwaifi.Com atau tanyakan via CS Ruwaifi.Com di atas. — Toko Online Ruwaifi.Com Tagsbuku promo buku terbaru hujan Safar

Promo Buku: Panduan Safar dan Panduan Amal Shalih di Musim Hujan

Anda penggemar tulisan Rumaysho.Com, kudu memiliki buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kali ini dua buku harus Anda miliki: Panduan Amal Shalih di Musim Hujan dan Panduan Ibadah Saat Safar. 1. Panduan Amal Shalih di Musim Hujan – Pas untuk Musim Hujan Saat Ini (Rp.20.000,-) 2. Panduan Safar – Pas Untuk Anda yang Suka Travelling (Rp.30.000,-) Promosi 50 ribu rupiah sampai 15 November 2015, free ongkir untuk pulau Jawa. Untuk luar daerah, masih belum termasuk ongkir (ongkos kirim). Hubungi 085200171222 (SMS/ CALL/ WA) atau BBM 2B044CC3 (CS Toko Online Ruwaifi.Com – Mas Slamet) Segera order dan beli, stok buku promo terbatas. Cek buku karya Muhammad Abduh Tuasikal lainnya di Toko Online Ruwaifi.Com atau tanyakan via CS Ruwaifi.Com di atas. — Toko Online Ruwaifi.Com Tagsbuku promo buku terbaru hujan Safar
Anda penggemar tulisan Rumaysho.Com, kudu memiliki buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kali ini dua buku harus Anda miliki: Panduan Amal Shalih di Musim Hujan dan Panduan Ibadah Saat Safar. 1. Panduan Amal Shalih di Musim Hujan – Pas untuk Musim Hujan Saat Ini (Rp.20.000,-) 2. Panduan Safar – Pas Untuk Anda yang Suka Travelling (Rp.30.000,-) Promosi 50 ribu rupiah sampai 15 November 2015, free ongkir untuk pulau Jawa. Untuk luar daerah, masih belum termasuk ongkir (ongkos kirim). Hubungi 085200171222 (SMS/ CALL/ WA) atau BBM 2B044CC3 (CS Toko Online Ruwaifi.Com – Mas Slamet) Segera order dan beli, stok buku promo terbatas. Cek buku karya Muhammad Abduh Tuasikal lainnya di Toko Online Ruwaifi.Com atau tanyakan via CS Ruwaifi.Com di atas. — Toko Online Ruwaifi.Com Tagsbuku promo buku terbaru hujan Safar


Anda penggemar tulisan Rumaysho.Com, kudu memiliki buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kali ini dua buku harus Anda miliki: Panduan Amal Shalih di Musim Hujan dan Panduan Ibadah Saat Safar. 1. Panduan Amal Shalih di Musim Hujan – Pas untuk Musim Hujan Saat Ini (Rp.20.000,-) 2. Panduan Safar – Pas Untuk Anda yang Suka Travelling (Rp.30.000,-) Promosi 50 ribu rupiah sampai 15 November 2015, free ongkir untuk pulau Jawa. Untuk luar daerah, masih belum termasuk ongkir (ongkos kirim). Hubungi 085200171222 (SMS/ CALL/ WA) atau BBM 2B044CC3 (CS Toko Online Ruwaifi.Com – Mas Slamet) Segera order dan beli, stok buku promo terbatas. Cek buku karya Muhammad Abduh Tuasikal lainnya di Toko Online Ruwaifi.Com atau tanyakan via CS Ruwaifi.Com di atas. — Toko Online Ruwaifi.Com Tagsbuku promo buku terbaru hujan Safar

Gagal Paham dalam Utang Piutang

Ada yang gagal paham, berkenaan dengan masalah utang piutang.   Gagal Paham Bagaimana komentar Anda jika ada yang berutang ke kita, lalu ketika ditagih ia sodorkan hadits tentang keutamaan orang yang memberi pinjaman utang? Akhirnya kita sulit menagih, padahal kita pun butuh akan uang tersebut dan ia sebenarnya sanggup lunasi sesuai janji. Padahal …. Ada hadits yang mengancam orang yang enggan lunasi utang … Apa hadits seperti itu tidak pernah dibaca oleh peminjam utang? Orang cerdas tentu bisa menempatkan dalil pada tempatnya. Kira-kira dalil ini cocok untuk siapa? Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Lalu … Kalau hadits berikut cocok untuk siapa yah? Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ طَلَبَ حَقًّا فَلْيَطْلُبْهُ فِى عَفَافٍ وَافٍ أَوْ غَيْرِ وَافٍ “Siapa saja yang ingin meminta haknya, hendaklah dia meminta dengan cara yang baik baik pada orang yang mau menunaikan ataupun enggan menunaikannya.” (HR. Ibnu Majah no. 1965. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Hadits pertama berlaku untuk orang yang mampu melunasi utang, namun enggan melunasinya. Itu adalah hadits ancaman untuknya. Hadits kedua berlaku untuk orang yang meminjamkan utang, hendaklah memberi kemudahan pada orang yang susah. Kalau salah menempatkan dalil, berarti itu orang yang gagal paham.   Salah Menempatkan Dalil Sikap orang yang berhutang seharusnya segera melunasi hutangnya. Jangan malah memiliki sikap sebaliknya, yaitu beranggapan bahwa pemberi utang yang baik pasti akan memberi tenggang waktu. Barangkali ini dalil yang sering digunakan, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280). Dalilnya memang benar, namun salah menempatkan. Dalil ini ditujukan bagi pihak pemberi utang agar memiliki sikap yang baik dengan memberi tenggang waktu jika orang yang berutang berada dalam kesulitan atau bahkan lebih baik memutihkan utang tersebut. Sehingga dalil di atas bukanlah untuknya. Seharusnya yang jadi dalil baginya adalah dalil-dalil yang menyebutkan bahaya berhutang sebagaimana disebutkan di atas. Jadi, janganlah salah memposisikan dalil.   Komentar di Facebook dalam Bahasan Orang yang Tidak Amanah dalam Utang Piutang Kalau pinjaman tanpa riba kian langka, maka jangan sia-siakan saudaramu yang memberi pinjaman tanpa riba dengan menunda-nunda pelunasan ketika telah mampu melunasi baik langsung maupun mencicilnya. Kalau hutang dengan riba saja berani dan bisa bayar plus bunga dan dendanya, mestinya lebih ringan bagi kita melunasi hutang yang tak berubah jumlahnya. Sekarang, bukan masalah gak mau pinjemin uang … Seringnya banyak yg gak amanah dalam hutang, janji tak tertunai, uang tak kembali, orang hilang entah kemana… Beberapa orang yg suka berhutang, bahkan kerabat dekat,… ketika tdk ada masalah keuangan, jarang datang silaturahmi…. ketika datang, minjem uang, setelah itu tdk ada berita….. datang2 lagi utk minjem lagi… ini adalah ujian bagi kita.. utk tdk menggosip… utk menahan diri. Kita wajib memberitahukan, ke ybs… tanpa memojokkan. Ustd saya sdh menolong orang orang meminjamkan uang sebesar 70jt tanpa saya minta lebih krna sy tau dosa nya bila sy minta bunganya tapi, orang yg pinjemin smpai skg uang sy blum di kembalikan, sdh sdh brusaha menagih hasilnya nihil. Sdh hmpir 2thn uang sy blum dikembalikan. Sy mo tnya ustd, apakah saya berdosa bila saya menyumpahkan dan mendo’a kan mereka dgn kalimat2 yg jelek, krna saking jengkelnya dan sakit hati?.. Saya stress Memberikan keringanan hutang, hanya untuk orang2 yg tidak mampu. bukan yg sengaja untuk menunda-nunda membayar hutang, padahal dia mampu. saya paham ustad.hehehe Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang beri taufik. —   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsutang piutang

Gagal Paham dalam Utang Piutang

Ada yang gagal paham, berkenaan dengan masalah utang piutang.   Gagal Paham Bagaimana komentar Anda jika ada yang berutang ke kita, lalu ketika ditagih ia sodorkan hadits tentang keutamaan orang yang memberi pinjaman utang? Akhirnya kita sulit menagih, padahal kita pun butuh akan uang tersebut dan ia sebenarnya sanggup lunasi sesuai janji. Padahal …. Ada hadits yang mengancam orang yang enggan lunasi utang … Apa hadits seperti itu tidak pernah dibaca oleh peminjam utang? Orang cerdas tentu bisa menempatkan dalil pada tempatnya. Kira-kira dalil ini cocok untuk siapa? Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Lalu … Kalau hadits berikut cocok untuk siapa yah? Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ طَلَبَ حَقًّا فَلْيَطْلُبْهُ فِى عَفَافٍ وَافٍ أَوْ غَيْرِ وَافٍ “Siapa saja yang ingin meminta haknya, hendaklah dia meminta dengan cara yang baik baik pada orang yang mau menunaikan ataupun enggan menunaikannya.” (HR. Ibnu Majah no. 1965. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Hadits pertama berlaku untuk orang yang mampu melunasi utang, namun enggan melunasinya. Itu adalah hadits ancaman untuknya. Hadits kedua berlaku untuk orang yang meminjamkan utang, hendaklah memberi kemudahan pada orang yang susah. Kalau salah menempatkan dalil, berarti itu orang yang gagal paham.   Salah Menempatkan Dalil Sikap orang yang berhutang seharusnya segera melunasi hutangnya. Jangan malah memiliki sikap sebaliknya, yaitu beranggapan bahwa pemberi utang yang baik pasti akan memberi tenggang waktu. Barangkali ini dalil yang sering digunakan, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280). Dalilnya memang benar, namun salah menempatkan. Dalil ini ditujukan bagi pihak pemberi utang agar memiliki sikap yang baik dengan memberi tenggang waktu jika orang yang berutang berada dalam kesulitan atau bahkan lebih baik memutihkan utang tersebut. Sehingga dalil di atas bukanlah untuknya. Seharusnya yang jadi dalil baginya adalah dalil-dalil yang menyebutkan bahaya berhutang sebagaimana disebutkan di atas. Jadi, janganlah salah memposisikan dalil.   Komentar di Facebook dalam Bahasan Orang yang Tidak Amanah dalam Utang Piutang Kalau pinjaman tanpa riba kian langka, maka jangan sia-siakan saudaramu yang memberi pinjaman tanpa riba dengan menunda-nunda pelunasan ketika telah mampu melunasi baik langsung maupun mencicilnya. Kalau hutang dengan riba saja berani dan bisa bayar plus bunga dan dendanya, mestinya lebih ringan bagi kita melunasi hutang yang tak berubah jumlahnya. Sekarang, bukan masalah gak mau pinjemin uang … Seringnya banyak yg gak amanah dalam hutang, janji tak tertunai, uang tak kembali, orang hilang entah kemana… Beberapa orang yg suka berhutang, bahkan kerabat dekat,… ketika tdk ada masalah keuangan, jarang datang silaturahmi…. ketika datang, minjem uang, setelah itu tdk ada berita….. datang2 lagi utk minjem lagi… ini adalah ujian bagi kita.. utk tdk menggosip… utk menahan diri. Kita wajib memberitahukan, ke ybs… tanpa memojokkan. Ustd saya sdh menolong orang orang meminjamkan uang sebesar 70jt tanpa saya minta lebih krna sy tau dosa nya bila sy minta bunganya tapi, orang yg pinjemin smpai skg uang sy blum di kembalikan, sdh sdh brusaha menagih hasilnya nihil. Sdh hmpir 2thn uang sy blum dikembalikan. Sy mo tnya ustd, apakah saya berdosa bila saya menyumpahkan dan mendo’a kan mereka dgn kalimat2 yg jelek, krna saking jengkelnya dan sakit hati?.. Saya stress Memberikan keringanan hutang, hanya untuk orang2 yg tidak mampu. bukan yg sengaja untuk menunda-nunda membayar hutang, padahal dia mampu. saya paham ustad.hehehe Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang beri taufik. —   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsutang piutang
Ada yang gagal paham, berkenaan dengan masalah utang piutang.   Gagal Paham Bagaimana komentar Anda jika ada yang berutang ke kita, lalu ketika ditagih ia sodorkan hadits tentang keutamaan orang yang memberi pinjaman utang? Akhirnya kita sulit menagih, padahal kita pun butuh akan uang tersebut dan ia sebenarnya sanggup lunasi sesuai janji. Padahal …. Ada hadits yang mengancam orang yang enggan lunasi utang … Apa hadits seperti itu tidak pernah dibaca oleh peminjam utang? Orang cerdas tentu bisa menempatkan dalil pada tempatnya. Kira-kira dalil ini cocok untuk siapa? Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Lalu … Kalau hadits berikut cocok untuk siapa yah? Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ طَلَبَ حَقًّا فَلْيَطْلُبْهُ فِى عَفَافٍ وَافٍ أَوْ غَيْرِ وَافٍ “Siapa saja yang ingin meminta haknya, hendaklah dia meminta dengan cara yang baik baik pada orang yang mau menunaikan ataupun enggan menunaikannya.” (HR. Ibnu Majah no. 1965. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Hadits pertama berlaku untuk orang yang mampu melunasi utang, namun enggan melunasinya. Itu adalah hadits ancaman untuknya. Hadits kedua berlaku untuk orang yang meminjamkan utang, hendaklah memberi kemudahan pada orang yang susah. Kalau salah menempatkan dalil, berarti itu orang yang gagal paham.   Salah Menempatkan Dalil Sikap orang yang berhutang seharusnya segera melunasi hutangnya. Jangan malah memiliki sikap sebaliknya, yaitu beranggapan bahwa pemberi utang yang baik pasti akan memberi tenggang waktu. Barangkali ini dalil yang sering digunakan, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280). Dalilnya memang benar, namun salah menempatkan. Dalil ini ditujukan bagi pihak pemberi utang agar memiliki sikap yang baik dengan memberi tenggang waktu jika orang yang berutang berada dalam kesulitan atau bahkan lebih baik memutihkan utang tersebut. Sehingga dalil di atas bukanlah untuknya. Seharusnya yang jadi dalil baginya adalah dalil-dalil yang menyebutkan bahaya berhutang sebagaimana disebutkan di atas. Jadi, janganlah salah memposisikan dalil.   Komentar di Facebook dalam Bahasan Orang yang Tidak Amanah dalam Utang Piutang Kalau pinjaman tanpa riba kian langka, maka jangan sia-siakan saudaramu yang memberi pinjaman tanpa riba dengan menunda-nunda pelunasan ketika telah mampu melunasi baik langsung maupun mencicilnya. Kalau hutang dengan riba saja berani dan bisa bayar plus bunga dan dendanya, mestinya lebih ringan bagi kita melunasi hutang yang tak berubah jumlahnya. Sekarang, bukan masalah gak mau pinjemin uang … Seringnya banyak yg gak amanah dalam hutang, janji tak tertunai, uang tak kembali, orang hilang entah kemana… Beberapa orang yg suka berhutang, bahkan kerabat dekat,… ketika tdk ada masalah keuangan, jarang datang silaturahmi…. ketika datang, minjem uang, setelah itu tdk ada berita….. datang2 lagi utk minjem lagi… ini adalah ujian bagi kita.. utk tdk menggosip… utk menahan diri. Kita wajib memberitahukan, ke ybs… tanpa memojokkan. Ustd saya sdh menolong orang orang meminjamkan uang sebesar 70jt tanpa saya minta lebih krna sy tau dosa nya bila sy minta bunganya tapi, orang yg pinjemin smpai skg uang sy blum di kembalikan, sdh sdh brusaha menagih hasilnya nihil. Sdh hmpir 2thn uang sy blum dikembalikan. Sy mo tnya ustd, apakah saya berdosa bila saya menyumpahkan dan mendo’a kan mereka dgn kalimat2 yg jelek, krna saking jengkelnya dan sakit hati?.. Saya stress Memberikan keringanan hutang, hanya untuk orang2 yg tidak mampu. bukan yg sengaja untuk menunda-nunda membayar hutang, padahal dia mampu. saya paham ustad.hehehe Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang beri taufik. —   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsutang piutang


Ada yang gagal paham, berkenaan dengan masalah utang piutang.   Gagal Paham Bagaimana komentar Anda jika ada yang berutang ke kita, lalu ketika ditagih ia sodorkan hadits tentang keutamaan orang yang memberi pinjaman utang? Akhirnya kita sulit menagih, padahal kita pun butuh akan uang tersebut dan ia sebenarnya sanggup lunasi sesuai janji. Padahal …. Ada hadits yang mengancam orang yang enggan lunasi utang … Apa hadits seperti itu tidak pernah dibaca oleh peminjam utang? Orang cerdas tentu bisa menempatkan dalil pada tempatnya. Kira-kira dalil ini cocok untuk siapa? Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Lalu … Kalau hadits berikut cocok untuk siapa yah? Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ طَلَبَ حَقًّا فَلْيَطْلُبْهُ فِى عَفَافٍ وَافٍ أَوْ غَيْرِ وَافٍ “Siapa saja yang ingin meminta haknya, hendaklah dia meminta dengan cara yang baik baik pada orang yang mau menunaikan ataupun enggan menunaikannya.” (HR. Ibnu Majah no. 1965. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Hadits pertama berlaku untuk orang yang mampu melunasi utang, namun enggan melunasinya. Itu adalah hadits ancaman untuknya. Hadits kedua berlaku untuk orang yang meminjamkan utang, hendaklah memberi kemudahan pada orang yang susah. Kalau salah menempatkan dalil, berarti itu orang yang gagal paham.   Salah Menempatkan Dalil Sikap orang yang berhutang seharusnya segera melunasi hutangnya. Jangan malah memiliki sikap sebaliknya, yaitu beranggapan bahwa pemberi utang yang baik pasti akan memberi tenggang waktu. Barangkali ini dalil yang sering digunakan, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280). Dalilnya memang benar, namun salah menempatkan. Dalil ini ditujukan bagi pihak pemberi utang agar memiliki sikap yang baik dengan memberi tenggang waktu jika orang yang berutang berada dalam kesulitan atau bahkan lebih baik memutihkan utang tersebut. Sehingga dalil di atas bukanlah untuknya. Seharusnya yang jadi dalil baginya adalah dalil-dalil yang menyebutkan bahaya berhutang sebagaimana disebutkan di atas. Jadi, janganlah salah memposisikan dalil.   Komentar di Facebook dalam Bahasan Orang yang Tidak Amanah dalam Utang Piutang Kalau pinjaman tanpa riba kian langka, maka jangan sia-siakan saudaramu yang memberi pinjaman tanpa riba dengan menunda-nunda pelunasan ketika telah mampu melunasi baik langsung maupun mencicilnya. Kalau hutang dengan riba saja berani dan bisa bayar plus bunga dan dendanya, mestinya lebih ringan bagi kita melunasi hutang yang tak berubah jumlahnya. Sekarang, bukan masalah gak mau pinjemin uang … Seringnya banyak yg gak amanah dalam hutang, janji tak tertunai, uang tak kembali, orang hilang entah kemana… Beberapa orang yg suka berhutang, bahkan kerabat dekat,… ketika tdk ada masalah keuangan, jarang datang silaturahmi…. ketika datang, minjem uang, setelah itu tdk ada berita….. datang2 lagi utk minjem lagi… ini adalah ujian bagi kita.. utk tdk menggosip… utk menahan diri. Kita wajib memberitahukan, ke ybs… tanpa memojokkan. Ustd saya sdh menolong orang orang meminjamkan uang sebesar 70jt tanpa saya minta lebih krna sy tau dosa nya bila sy minta bunganya tapi, orang yg pinjemin smpai skg uang sy blum di kembalikan, sdh sdh brusaha menagih hasilnya nihil. Sdh hmpir 2thn uang sy blum dikembalikan. Sy mo tnya ustd, apakah saya berdosa bila saya menyumpahkan dan mendo’a kan mereka dgn kalimat2 yg jelek, krna saking jengkelnya dan sakit hati?.. Saya stress Memberikan keringanan hutang, hanya untuk orang2 yg tidak mampu. bukan yg sengaja untuk menunda-nunda membayar hutang, padahal dia mampu. saya paham ustad.hehehe Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang beri taufik. —   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsutang piutang
Prev     Next