Para Guru, Merekalah Bintang di Muka Bumi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan ulama atau guru yang alim seperti bintang yang menjadi petunjuk arah saat di kegelapan. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” Selama ilmu ada, manusia akan terus berada dalam petunjuk. Ilmu tetap terus ada selama ulama ada. Jika ulama dan penggantinya sudah tiada, jadilah manusia tersesat. Sebagaimana disebut dalam Shahihain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100 dan Muslim, no. 2673) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 2: 298) Sungguh jasa guru dan ulama kita begitu besar. Bayangkan jika nelayan yang berada di kegelapan malam lantas tak memiliki petunjuk jalan dari bintang-bintang di langit. Sesatkah jadinya? Wallahu waliyyut taufiq. — 14 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsadab guru belajar

Para Guru, Merekalah Bintang di Muka Bumi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan ulama atau guru yang alim seperti bintang yang menjadi petunjuk arah saat di kegelapan. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” Selama ilmu ada, manusia akan terus berada dalam petunjuk. Ilmu tetap terus ada selama ulama ada. Jika ulama dan penggantinya sudah tiada, jadilah manusia tersesat. Sebagaimana disebut dalam Shahihain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100 dan Muslim, no. 2673) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 2: 298) Sungguh jasa guru dan ulama kita begitu besar. Bayangkan jika nelayan yang berada di kegelapan malam lantas tak memiliki petunjuk jalan dari bintang-bintang di langit. Sesatkah jadinya? Wallahu waliyyut taufiq. — 14 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsadab guru belajar
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan ulama atau guru yang alim seperti bintang yang menjadi petunjuk arah saat di kegelapan. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” Selama ilmu ada, manusia akan terus berada dalam petunjuk. Ilmu tetap terus ada selama ulama ada. Jika ulama dan penggantinya sudah tiada, jadilah manusia tersesat. Sebagaimana disebut dalam Shahihain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100 dan Muslim, no. 2673) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 2: 298) Sungguh jasa guru dan ulama kita begitu besar. Bayangkan jika nelayan yang berada di kegelapan malam lantas tak memiliki petunjuk jalan dari bintang-bintang di langit. Sesatkah jadinya? Wallahu waliyyut taufiq. — 14 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsadab guru belajar


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan ulama atau guru yang alim seperti bintang yang menjadi petunjuk arah saat di kegelapan. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” Selama ilmu ada, manusia akan terus berada dalam petunjuk. Ilmu tetap terus ada selama ulama ada. Jika ulama dan penggantinya sudah tiada, jadilah manusia tersesat. Sebagaimana disebut dalam Shahihain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100 dan Muslim, no. 2673) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 2: 298) Sungguh jasa guru dan ulama kita begitu besar. Bayangkan jika nelayan yang berada di kegelapan malam lantas tak memiliki petunjuk jalan dari bintang-bintang di langit. Sesatkah jadinya? Wallahu waliyyut taufiq. — 14 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsadab guru belajar

Wajib Lebih Utama daripada Sunnah

Perlu dipahami bahwa ibadah wajib lebih utama daripada ibadah sunnah. Ini berlaku dalam shalat dan puasa. Namun ada pengecualian dalam beberapa perkara. Adapun dalil dalam masalah ini adalah merujuk pada  hadits Abu Hurairah berikut ini tentang keutamaan wali Allah. Di dalamnya Allah mendahulukan amalan wajib dari amalan sunnah, juga amalan wajib lebih Allah cintai. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506) Imam Al-Haramain berkata bahwa para ulama berkata, Allah mengkhususkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mewajibkan sesuatu menunjukkan besarnya pahalanya. Pahala amalan wajib tentu lebih besar daripada pahala amalan sunnah. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 324) Imam Suyuthi membawakan kaedah dalam masalah ini, الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ “Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah.”   Pengecualian dari Kaedah Memutihkan utang itu sunnah, sedangkan memberikan tenggang waktu bagi yang sulit itu wajib. Namun memutihkan lebih afdhal daripada memberikan tenggang waktu. Memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Menjawab salam dihukumi wajib. Namun memulai mengucapkan salam dinilai lebih utama. Satu shalat sunnah lebih afhal daripada satu shalat wajib yang ditinggalkan walaupun hanya sekali saja. Mengumandangkan azan dihukumi sunnah menurut sebagian ulama seperti yang dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sedangkan menjadi imam adalah fardhu kifayah. Namun mengumandangkan azan menurut sebagian ulama dinilai lebih utama daripada menjadi imam. Berwudhu sebelum waktu shalat itu sunnah. Sedangkan jika shalat ingin dilaksanakan, berwudhu menjadi wajib. Namun yang pertama lebih utama daripada yang kedua. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 325-327)   Kembali pada keadah di awal, ada hal yang menarik yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar, مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ “Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunnah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi utama: Al-Asybah wa An-Nazair. Jalaluddin ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan Keempat, Tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al Asqalani, Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun ba’da ‘Ashar, 12 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih puasa sunnah shalat sunnah

Wajib Lebih Utama daripada Sunnah

Perlu dipahami bahwa ibadah wajib lebih utama daripada ibadah sunnah. Ini berlaku dalam shalat dan puasa. Namun ada pengecualian dalam beberapa perkara. Adapun dalil dalam masalah ini adalah merujuk pada  hadits Abu Hurairah berikut ini tentang keutamaan wali Allah. Di dalamnya Allah mendahulukan amalan wajib dari amalan sunnah, juga amalan wajib lebih Allah cintai. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506) Imam Al-Haramain berkata bahwa para ulama berkata, Allah mengkhususkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mewajibkan sesuatu menunjukkan besarnya pahalanya. Pahala amalan wajib tentu lebih besar daripada pahala amalan sunnah. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 324) Imam Suyuthi membawakan kaedah dalam masalah ini, الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ “Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah.”   Pengecualian dari Kaedah Memutihkan utang itu sunnah, sedangkan memberikan tenggang waktu bagi yang sulit itu wajib. Namun memutihkan lebih afdhal daripada memberikan tenggang waktu. Memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Menjawab salam dihukumi wajib. Namun memulai mengucapkan salam dinilai lebih utama. Satu shalat sunnah lebih afhal daripada satu shalat wajib yang ditinggalkan walaupun hanya sekali saja. Mengumandangkan azan dihukumi sunnah menurut sebagian ulama seperti yang dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sedangkan menjadi imam adalah fardhu kifayah. Namun mengumandangkan azan menurut sebagian ulama dinilai lebih utama daripada menjadi imam. Berwudhu sebelum waktu shalat itu sunnah. Sedangkan jika shalat ingin dilaksanakan, berwudhu menjadi wajib. Namun yang pertama lebih utama daripada yang kedua. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 325-327)   Kembali pada keadah di awal, ada hal yang menarik yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar, مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ “Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunnah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi utama: Al-Asybah wa An-Nazair. Jalaluddin ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan Keempat, Tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al Asqalani, Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun ba’da ‘Ashar, 12 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih puasa sunnah shalat sunnah
Perlu dipahami bahwa ibadah wajib lebih utama daripada ibadah sunnah. Ini berlaku dalam shalat dan puasa. Namun ada pengecualian dalam beberapa perkara. Adapun dalil dalam masalah ini adalah merujuk pada  hadits Abu Hurairah berikut ini tentang keutamaan wali Allah. Di dalamnya Allah mendahulukan amalan wajib dari amalan sunnah, juga amalan wajib lebih Allah cintai. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506) Imam Al-Haramain berkata bahwa para ulama berkata, Allah mengkhususkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mewajibkan sesuatu menunjukkan besarnya pahalanya. Pahala amalan wajib tentu lebih besar daripada pahala amalan sunnah. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 324) Imam Suyuthi membawakan kaedah dalam masalah ini, الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ “Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah.”   Pengecualian dari Kaedah Memutihkan utang itu sunnah, sedangkan memberikan tenggang waktu bagi yang sulit itu wajib. Namun memutihkan lebih afdhal daripada memberikan tenggang waktu. Memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Menjawab salam dihukumi wajib. Namun memulai mengucapkan salam dinilai lebih utama. Satu shalat sunnah lebih afhal daripada satu shalat wajib yang ditinggalkan walaupun hanya sekali saja. Mengumandangkan azan dihukumi sunnah menurut sebagian ulama seperti yang dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sedangkan menjadi imam adalah fardhu kifayah. Namun mengumandangkan azan menurut sebagian ulama dinilai lebih utama daripada menjadi imam. Berwudhu sebelum waktu shalat itu sunnah. Sedangkan jika shalat ingin dilaksanakan, berwudhu menjadi wajib. Namun yang pertama lebih utama daripada yang kedua. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 325-327)   Kembali pada keadah di awal, ada hal yang menarik yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar, مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ “Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunnah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi utama: Al-Asybah wa An-Nazair. Jalaluddin ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan Keempat, Tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al Asqalani, Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun ba’da ‘Ashar, 12 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih puasa sunnah shalat sunnah


Perlu dipahami bahwa ibadah wajib lebih utama daripada ibadah sunnah. Ini berlaku dalam shalat dan puasa. Namun ada pengecualian dalam beberapa perkara. Adapun dalil dalam masalah ini adalah merujuk pada  hadits Abu Hurairah berikut ini tentang keutamaan wali Allah. Di dalamnya Allah mendahulukan amalan wajib dari amalan sunnah, juga amalan wajib lebih Allah cintai. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506) Imam Al-Haramain berkata bahwa para ulama berkata, Allah mengkhususkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mewajibkan sesuatu menunjukkan besarnya pahalanya. Pahala amalan wajib tentu lebih besar daripada pahala amalan sunnah. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 324) Imam Suyuthi membawakan kaedah dalam masalah ini, الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ “Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah.”   Pengecualian dari Kaedah Memutihkan utang itu sunnah, sedangkan memberikan tenggang waktu bagi yang sulit itu wajib. Namun memutihkan lebih afdhal daripada memberikan tenggang waktu. Memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Menjawab salam dihukumi wajib. Namun memulai mengucapkan salam dinilai lebih utama. Satu shalat sunnah lebih afhal daripada satu shalat wajib yang ditinggalkan walaupun hanya sekali saja. Mengumandangkan azan dihukumi sunnah menurut sebagian ulama seperti yang dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sedangkan menjadi imam adalah fardhu kifayah. Namun mengumandangkan azan menurut sebagian ulama dinilai lebih utama daripada menjadi imam. Berwudhu sebelum waktu shalat itu sunnah. Sedangkan jika shalat ingin dilaksanakan, berwudhu menjadi wajib. Namun yang pertama lebih utama daripada yang kedua. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 325-327)   Kembali pada keadah di awal, ada hal yang menarik yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar, مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ “Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunnah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi utama: Al-Asybah wa An-Nazair. Jalaluddin ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan Keempat, Tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al Asqalani, Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun ba’da ‘Ashar, 12 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih puasa sunnah shalat sunnah

Hak Tetangga Menurut Imam Al Ghazali

Di antara hak tetangga disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam keterangan berikut ini. Menurut beliau, hak tetangga bukan hanya tidak mengganggu tetangga saja, namun hendaklah menghilangkan gangguan dari mereka. Karena tetangga juga demikian berusaha untuk tidak mengganggu tetangga yang lain. Jadi ini bukan sekedar menunaikan hak. Tidak cukup pula menghilangkan gangguan, namun juga berusaha bersikap lemah lembut dengan tetangga, serta menebar kebaikan dan melakukan perbuatan ma’ruf. Contohnya: Memulai mengucapkan salam pada tetangga. Menjenguk tetangga yang sakit. Melayat (ta’ziyah) ketika tetangga mendapatkan musibah. Mengucapkan selamat pada tetangga jika mereka mendapati kebahagiaan. Berserikat dengan mereka dalam kebahagiaan dan saat mendapatkan nikmat. Meminta maaf jika berbuat salah. Berusaha menundukkan pandangan untuk tidak memandangi istri tetangga yang bukan mahram. Menjaga rumah tetangga jika ia pergi. Berusaha bersikap baik dan lemah lembut pada anak tetangga. Berusaha mengajarkan perkara agama atau dunia yang tetangga tidak ketahui. Selain sepuluh hal tadi, ada juga hak-hak sesama muslim secara umum yang ditunaikan. Disebutkan dalam Al-Ihya’, 2: 213, dinukil dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 219 saat membahas perintah menunaikan hak pada sesama tetangga. Semoga bermanfaat dan Allah menganugerahi kita akhlak yang mulia.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait.   Menjelang Shubuh, 10 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Pesantren Masyarakat Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin. Follow Twitter dan Instagram @RumayshoCom. Follow Status Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Follow Fans Page (3,6 juta) Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat. Tagstetangga

Hak Tetangga Menurut Imam Al Ghazali

Di antara hak tetangga disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam keterangan berikut ini. Menurut beliau, hak tetangga bukan hanya tidak mengganggu tetangga saja, namun hendaklah menghilangkan gangguan dari mereka. Karena tetangga juga demikian berusaha untuk tidak mengganggu tetangga yang lain. Jadi ini bukan sekedar menunaikan hak. Tidak cukup pula menghilangkan gangguan, namun juga berusaha bersikap lemah lembut dengan tetangga, serta menebar kebaikan dan melakukan perbuatan ma’ruf. Contohnya: Memulai mengucapkan salam pada tetangga. Menjenguk tetangga yang sakit. Melayat (ta’ziyah) ketika tetangga mendapatkan musibah. Mengucapkan selamat pada tetangga jika mereka mendapati kebahagiaan. Berserikat dengan mereka dalam kebahagiaan dan saat mendapatkan nikmat. Meminta maaf jika berbuat salah. Berusaha menundukkan pandangan untuk tidak memandangi istri tetangga yang bukan mahram. Menjaga rumah tetangga jika ia pergi. Berusaha bersikap baik dan lemah lembut pada anak tetangga. Berusaha mengajarkan perkara agama atau dunia yang tetangga tidak ketahui. Selain sepuluh hal tadi, ada juga hak-hak sesama muslim secara umum yang ditunaikan. Disebutkan dalam Al-Ihya’, 2: 213, dinukil dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 219 saat membahas perintah menunaikan hak pada sesama tetangga. Semoga bermanfaat dan Allah menganugerahi kita akhlak yang mulia.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait.   Menjelang Shubuh, 10 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Pesantren Masyarakat Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin. Follow Twitter dan Instagram @RumayshoCom. Follow Status Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Follow Fans Page (3,6 juta) Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat. Tagstetangga
Di antara hak tetangga disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam keterangan berikut ini. Menurut beliau, hak tetangga bukan hanya tidak mengganggu tetangga saja, namun hendaklah menghilangkan gangguan dari mereka. Karena tetangga juga demikian berusaha untuk tidak mengganggu tetangga yang lain. Jadi ini bukan sekedar menunaikan hak. Tidak cukup pula menghilangkan gangguan, namun juga berusaha bersikap lemah lembut dengan tetangga, serta menebar kebaikan dan melakukan perbuatan ma’ruf. Contohnya: Memulai mengucapkan salam pada tetangga. Menjenguk tetangga yang sakit. Melayat (ta’ziyah) ketika tetangga mendapatkan musibah. Mengucapkan selamat pada tetangga jika mereka mendapati kebahagiaan. Berserikat dengan mereka dalam kebahagiaan dan saat mendapatkan nikmat. Meminta maaf jika berbuat salah. Berusaha menundukkan pandangan untuk tidak memandangi istri tetangga yang bukan mahram. Menjaga rumah tetangga jika ia pergi. Berusaha bersikap baik dan lemah lembut pada anak tetangga. Berusaha mengajarkan perkara agama atau dunia yang tetangga tidak ketahui. Selain sepuluh hal tadi, ada juga hak-hak sesama muslim secara umum yang ditunaikan. Disebutkan dalam Al-Ihya’, 2: 213, dinukil dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 219 saat membahas perintah menunaikan hak pada sesama tetangga. Semoga bermanfaat dan Allah menganugerahi kita akhlak yang mulia.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait.   Menjelang Shubuh, 10 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Pesantren Masyarakat Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin. Follow Twitter dan Instagram @RumayshoCom. Follow Status Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Follow Fans Page (3,6 juta) Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat. Tagstetangga


Di antara hak tetangga disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam keterangan berikut ini. Menurut beliau, hak tetangga bukan hanya tidak mengganggu tetangga saja, namun hendaklah menghilangkan gangguan dari mereka. Karena tetangga juga demikian berusaha untuk tidak mengganggu tetangga yang lain. Jadi ini bukan sekedar menunaikan hak. Tidak cukup pula menghilangkan gangguan, namun juga berusaha bersikap lemah lembut dengan tetangga, serta menebar kebaikan dan melakukan perbuatan ma’ruf. Contohnya: Memulai mengucapkan salam pada tetangga. Menjenguk tetangga yang sakit. Melayat (ta’ziyah) ketika tetangga mendapatkan musibah. Mengucapkan selamat pada tetangga jika mereka mendapati kebahagiaan. Berserikat dengan mereka dalam kebahagiaan dan saat mendapatkan nikmat. Meminta maaf jika berbuat salah. Berusaha menundukkan pandangan untuk tidak memandangi istri tetangga yang bukan mahram. Menjaga rumah tetangga jika ia pergi. Berusaha bersikap baik dan lemah lembut pada anak tetangga. Berusaha mengajarkan perkara agama atau dunia yang tetangga tidak ketahui. Selain sepuluh hal tadi, ada juga hak-hak sesama muslim secara umum yang ditunaikan. Disebutkan dalam Al-Ihya’, 2: 213, dinukil dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 219 saat membahas perintah menunaikan hak pada sesama tetangga. Semoga bermanfaat dan Allah menganugerahi kita akhlak yang mulia.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait.   Menjelang Shubuh, 10 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Pesantren Masyarakat Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin. Follow Twitter dan Instagram @RumayshoCom. Follow Status Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Follow Fans Page (3,6 juta) Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat. Tagstetangga

Masih Terbuka Tebar Jilbab, Gamis dan Koko

Bagi yang ingin mengirimkan paket jilbab dan gamis muslimah yang masih layak pakai termasuk pula koko atau sarung, silakan dikirim ke alamat berikut, kami masih menerima sepanjang waktu. Pesantren Darush Sholihin (binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.), Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) Paket tersebut paling mudah dikirim via POS Indonesia, Tiki, atau JNE. Dan paket tersebut akan langsung sampai di alamat di atas. * Kriteria jilbab: besar sampai pusar, tidak bercorak. * Kriteria: jubah, bukan jersey, tidak ketat, tidak transparan. Silakan lihat laporan tebar 3000 jilbab yang sukses berlangsung di sini. Diberi kesempatan untuk yang ingin menyalurkan dalam bentuk uang, silakan kirim donasi jilbab via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi ke 082313950500 dengan mengirim SMS: donasi jilbab# nama # alamat# rekening tujuan transfer# besar donasi# tanggal transfer. Contoh: donasi jilbab# Aisyah# Ambon# BSM# 1 juta rupiah#  17/10/2015. Moga jadi amal jariyah dan hidayah bagi kaum muslimin/ muslimah yang ada di Gunungkidul.   Info CALL, SMS, WA: 0811 267791(Mas Jarot) —– Info DarushSholihin.Com Twitter, Instagram dan Channel Telegram @ RumayshoCom Join Channel Telegram @DarushSholihin Tagstebar jilbab

Masih Terbuka Tebar Jilbab, Gamis dan Koko

Bagi yang ingin mengirimkan paket jilbab dan gamis muslimah yang masih layak pakai termasuk pula koko atau sarung, silakan dikirim ke alamat berikut, kami masih menerima sepanjang waktu. Pesantren Darush Sholihin (binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.), Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) Paket tersebut paling mudah dikirim via POS Indonesia, Tiki, atau JNE. Dan paket tersebut akan langsung sampai di alamat di atas. * Kriteria jilbab: besar sampai pusar, tidak bercorak. * Kriteria: jubah, bukan jersey, tidak ketat, tidak transparan. Silakan lihat laporan tebar 3000 jilbab yang sukses berlangsung di sini. Diberi kesempatan untuk yang ingin menyalurkan dalam bentuk uang, silakan kirim donasi jilbab via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi ke 082313950500 dengan mengirim SMS: donasi jilbab# nama # alamat# rekening tujuan transfer# besar donasi# tanggal transfer. Contoh: donasi jilbab# Aisyah# Ambon# BSM# 1 juta rupiah#  17/10/2015. Moga jadi amal jariyah dan hidayah bagi kaum muslimin/ muslimah yang ada di Gunungkidul.   Info CALL, SMS, WA: 0811 267791(Mas Jarot) —– Info DarushSholihin.Com Twitter, Instagram dan Channel Telegram @ RumayshoCom Join Channel Telegram @DarushSholihin Tagstebar jilbab
Bagi yang ingin mengirimkan paket jilbab dan gamis muslimah yang masih layak pakai termasuk pula koko atau sarung, silakan dikirim ke alamat berikut, kami masih menerima sepanjang waktu. Pesantren Darush Sholihin (binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.), Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) Paket tersebut paling mudah dikirim via POS Indonesia, Tiki, atau JNE. Dan paket tersebut akan langsung sampai di alamat di atas. * Kriteria jilbab: besar sampai pusar, tidak bercorak. * Kriteria: jubah, bukan jersey, tidak ketat, tidak transparan. Silakan lihat laporan tebar 3000 jilbab yang sukses berlangsung di sini. Diberi kesempatan untuk yang ingin menyalurkan dalam bentuk uang, silakan kirim donasi jilbab via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi ke 082313950500 dengan mengirim SMS: donasi jilbab# nama # alamat# rekening tujuan transfer# besar donasi# tanggal transfer. Contoh: donasi jilbab# Aisyah# Ambon# BSM# 1 juta rupiah#  17/10/2015. Moga jadi amal jariyah dan hidayah bagi kaum muslimin/ muslimah yang ada di Gunungkidul.   Info CALL, SMS, WA: 0811 267791(Mas Jarot) —– Info DarushSholihin.Com Twitter, Instagram dan Channel Telegram @ RumayshoCom Join Channel Telegram @DarushSholihin Tagstebar jilbab


Bagi yang ingin mengirimkan paket jilbab dan gamis muslimah yang masih layak pakai termasuk pula koko atau sarung, silakan dikirim ke alamat berikut, kami masih menerima sepanjang waktu. Pesantren Darush Sholihin (binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.), Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) Paket tersebut paling mudah dikirim via POS Indonesia, Tiki, atau JNE. Dan paket tersebut akan langsung sampai di alamat di atas. * Kriteria jilbab: besar sampai pusar, tidak bercorak. * Kriteria: jubah, bukan jersey, tidak ketat, tidak transparan. Silakan lihat laporan tebar 3000 jilbab yang sukses berlangsung di sini. Diberi kesempatan untuk yang ingin menyalurkan dalam bentuk uang, silakan kirim donasi jilbab via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi ke 082313950500 dengan mengirim SMS: donasi jilbab# nama # alamat# rekening tujuan transfer# besar donasi# tanggal transfer. Contoh: donasi jilbab# Aisyah# Ambon# BSM# 1 juta rupiah#  17/10/2015. Moga jadi amal jariyah dan hidayah bagi kaum muslimin/ muslimah yang ada di Gunungkidul.   Info CALL, SMS, WA: 0811 267791(Mas Jarot) —– Info DarushSholihin.Com Twitter, Instagram dan Channel Telegram @ RumayshoCom Join Channel Telegram @DarushSholihin Tagstebar jilbab

Hak Tetangga

Kita diperintahkan berbuat baik pada tetangga dan ada hak-hak yang mesti kita jalankan. Berikut adalah hadits-hadits yang disebutkan dalam kitab Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari.   46- Bab Wasiat Terhadap Tetangga -55   [74/101] Dari Aisyah radliallahu ‘anha dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, ماَ زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالْجَارِ حَتى    َّ ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثه “Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai saya mengira bahwa dia (Jibril) hendak memberikan warisan kepadanya.” (Shahih) Lihat Ar Irwa’ (891): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 28-Bab Al Washoh bil Jaar. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 140]   [75/102] Dari Abu   Syuraih   Al   Khuza’i dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbuat baik   pada tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbicara yang baik atau diam.” (Shahih) Lihat Al Irwa’ (2525): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 32-Bab Man Kaana Yu’minu Billahi wa Yaumil Akhir Falaa Yu’dzi Jaarohu. Muslim: 31-Kitab Al Luqotoh, hal. 14]   47- Bab Hak Tetangga -56   [76/103] Dari Al Miqdad Al Aswad, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada para sahabatnya mengenai zina, mereka semua menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, َلأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ “Dosa seorang yang berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan daripada dosa seorang yang berzina dengan istri tetangganya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka mengenai pencurian. Maka mereka menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, َلأَنْ يَسْرِقَ مِنْ عَشْرَةِ أَهْلِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ بَيْتِ جَارِهِ ”Dosa seorang yang mencuri dari sepuluh rumah orang lain lebih ringan daripada dosa seorang yang mencuri dari salah satu rumah tetangganya.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (65) Semoga bermanfaat. Moga kita diberi taufik untuk menunaikan hak-hak tetangga yang disebut di atas.   — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga

Hak Tetangga

Kita diperintahkan berbuat baik pada tetangga dan ada hak-hak yang mesti kita jalankan. Berikut adalah hadits-hadits yang disebutkan dalam kitab Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari.   46- Bab Wasiat Terhadap Tetangga -55   [74/101] Dari Aisyah radliallahu ‘anha dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, ماَ زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالْجَارِ حَتى    َّ ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثه “Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai saya mengira bahwa dia (Jibril) hendak memberikan warisan kepadanya.” (Shahih) Lihat Ar Irwa’ (891): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 28-Bab Al Washoh bil Jaar. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 140]   [75/102] Dari Abu   Syuraih   Al   Khuza’i dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbuat baik   pada tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbicara yang baik atau diam.” (Shahih) Lihat Al Irwa’ (2525): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 32-Bab Man Kaana Yu’minu Billahi wa Yaumil Akhir Falaa Yu’dzi Jaarohu. Muslim: 31-Kitab Al Luqotoh, hal. 14]   47- Bab Hak Tetangga -56   [76/103] Dari Al Miqdad Al Aswad, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada para sahabatnya mengenai zina, mereka semua menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, َلأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ “Dosa seorang yang berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan daripada dosa seorang yang berzina dengan istri tetangganya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka mengenai pencurian. Maka mereka menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, َلأَنْ يَسْرِقَ مِنْ عَشْرَةِ أَهْلِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ بَيْتِ جَارِهِ ”Dosa seorang yang mencuri dari sepuluh rumah orang lain lebih ringan daripada dosa seorang yang mencuri dari salah satu rumah tetangganya.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (65) Semoga bermanfaat. Moga kita diberi taufik untuk menunaikan hak-hak tetangga yang disebut di atas.   — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga
Kita diperintahkan berbuat baik pada tetangga dan ada hak-hak yang mesti kita jalankan. Berikut adalah hadits-hadits yang disebutkan dalam kitab Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari.   46- Bab Wasiat Terhadap Tetangga -55   [74/101] Dari Aisyah radliallahu ‘anha dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, ماَ زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالْجَارِ حَتى    َّ ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثه “Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai saya mengira bahwa dia (Jibril) hendak memberikan warisan kepadanya.” (Shahih) Lihat Ar Irwa’ (891): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 28-Bab Al Washoh bil Jaar. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 140]   [75/102] Dari Abu   Syuraih   Al   Khuza’i dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbuat baik   pada tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbicara yang baik atau diam.” (Shahih) Lihat Al Irwa’ (2525): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 32-Bab Man Kaana Yu’minu Billahi wa Yaumil Akhir Falaa Yu’dzi Jaarohu. Muslim: 31-Kitab Al Luqotoh, hal. 14]   47- Bab Hak Tetangga -56   [76/103] Dari Al Miqdad Al Aswad, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada para sahabatnya mengenai zina, mereka semua menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, َلأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ “Dosa seorang yang berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan daripada dosa seorang yang berzina dengan istri tetangganya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka mengenai pencurian. Maka mereka menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, َلأَنْ يَسْرِقَ مِنْ عَشْرَةِ أَهْلِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ بَيْتِ جَارِهِ ”Dosa seorang yang mencuri dari sepuluh rumah orang lain lebih ringan daripada dosa seorang yang mencuri dari salah satu rumah tetangganya.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (65) Semoga bermanfaat. Moga kita diberi taufik untuk menunaikan hak-hak tetangga yang disebut di atas.   — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga


Kita diperintahkan berbuat baik pada tetangga dan ada hak-hak yang mesti kita jalankan. Berikut adalah hadits-hadits yang disebutkan dalam kitab Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari.   46- Bab Wasiat Terhadap Tetangga -55   [74/101] Dari Aisyah radliallahu ‘anha dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, ماَ زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالْجَارِ حَتى    َّ ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثه “Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai saya mengira bahwa dia (Jibril) hendak memberikan warisan kepadanya.” (Shahih) Lihat Ar Irwa’ (891): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 28-Bab Al Washoh bil Jaar. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 140]   [75/102] Dari Abu   Syuraih   Al   Khuza’i dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbuat baik   pada tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbicara yang baik atau diam.” (Shahih) Lihat Al Irwa’ (2525): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 32-Bab Man Kaana Yu’minu Billahi wa Yaumil Akhir Falaa Yu’dzi Jaarohu. Muslim: 31-Kitab Al Luqotoh, hal. 14]   47- Bab Hak Tetangga -56   [76/103] Dari Al Miqdad Al Aswad, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada para sahabatnya mengenai zina, mereka semua menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, َلأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ “Dosa seorang yang berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan daripada dosa seorang yang berzina dengan istri tetangganya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka mengenai pencurian. Maka mereka menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, َلأَنْ يَسْرِقَ مِنْ عَشْرَةِ أَهْلِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ بَيْتِ جَارِهِ ”Dosa seorang yang mencuri dari sepuluh rumah orang lain lebih ringan daripada dosa seorang yang mencuri dari salah satu rumah tetangganya.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (65) Semoga bermanfaat. Moga kita diberi taufik untuk menunaikan hak-hak tetangga yang disebut di atas.   — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga

Siapakah Tetangga Kita?

Siapakah tetangga kita? Menurut etimologi (secara asal-usul kata), tetangga adalah siapa saja yang rumahnya dekat dengan kita. Imam Syafi’i menyatakan bahwa tetangga adalah siapa saja yang badannya dekat dengan lainnya. Menurut terminologi, definisinya tak jauh beda dengan pengertian bahasa, yaitu tetangga adalah siapa saja yang rumahnya berdampingan dan dekat dengan kita. Namun ada perbedaan batasan tetangga yang disebutkan oleh para ulama madzhab. Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa yang menjadi tetangga adalah 40 rumah dari segala arah (depan, belakang, kanan dan kiri). Mereka berdalil dengan hadits, “Hak tetangga adalah 40 rumah seperti ini dan seperti itu.” Namun hadits ini dha’if. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdempatan dilihat dari berbagai penjuru atau antar rumah itu hanya dipisah jalan sempit, bukan dipisah pasar besar atau sungai lebar yang melintang. Begitu pula disebut tetangga kalau dikumpulkan oleh satu masjid atau berada di antara dua masjid yang berdekatan. Bisa jadi pula disebut tetangga dengan patokan ‘urf (anggapan masyarakat) walau tidak memakai batasan tadi. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdampingan atau menempel. Sedangkan ulama Hanafiyah lainnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa tetangga itu yang berdampingan dan yang disatukan oleh masjid. Definisi terakhir ini adalah definisi syar’i dan definisi menurut penilaian masyarakat (‘urf). (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 216-217) Ringkasnya, tetangga adalah siapa saja yang berdampingan dan dekat dengan rumah kita. Mereka ini berhak dapat hak hidup bertetangga. Di antara haknya adalah tidak mengganggu mereka. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ياَ رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟ “Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.” Para sahabat lalu berkata, وَفُلاَنَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتُصْدِقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلاَ تُؤْذِي أَحَداً؟ “Terdapat wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia tidak mengganggu tetangganya.” Beliau bersabda, هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Dia adalah dari penduduk surga.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (190) Sangat beruntung jika kita memiliki tetangga yang baik. Dari Nafi’ ibnu ’Abdil Harits berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ سعَاَدَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ “Di antara kesenangan bagi seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang tenang.” (Shahih Lighairihi, yakni shahih dilihat dari jalur lainnya) Lihat Ash Shahihah (282) Moga manfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga

Siapakah Tetangga Kita?

Siapakah tetangga kita? Menurut etimologi (secara asal-usul kata), tetangga adalah siapa saja yang rumahnya dekat dengan kita. Imam Syafi’i menyatakan bahwa tetangga adalah siapa saja yang badannya dekat dengan lainnya. Menurut terminologi, definisinya tak jauh beda dengan pengertian bahasa, yaitu tetangga adalah siapa saja yang rumahnya berdampingan dan dekat dengan kita. Namun ada perbedaan batasan tetangga yang disebutkan oleh para ulama madzhab. Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa yang menjadi tetangga adalah 40 rumah dari segala arah (depan, belakang, kanan dan kiri). Mereka berdalil dengan hadits, “Hak tetangga adalah 40 rumah seperti ini dan seperti itu.” Namun hadits ini dha’if. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdempatan dilihat dari berbagai penjuru atau antar rumah itu hanya dipisah jalan sempit, bukan dipisah pasar besar atau sungai lebar yang melintang. Begitu pula disebut tetangga kalau dikumpulkan oleh satu masjid atau berada di antara dua masjid yang berdekatan. Bisa jadi pula disebut tetangga dengan patokan ‘urf (anggapan masyarakat) walau tidak memakai batasan tadi. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdampingan atau menempel. Sedangkan ulama Hanafiyah lainnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa tetangga itu yang berdampingan dan yang disatukan oleh masjid. Definisi terakhir ini adalah definisi syar’i dan definisi menurut penilaian masyarakat (‘urf). (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 216-217) Ringkasnya, tetangga adalah siapa saja yang berdampingan dan dekat dengan rumah kita. Mereka ini berhak dapat hak hidup bertetangga. Di antara haknya adalah tidak mengganggu mereka. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ياَ رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟ “Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.” Para sahabat lalu berkata, وَفُلاَنَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتُصْدِقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلاَ تُؤْذِي أَحَداً؟ “Terdapat wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia tidak mengganggu tetangganya.” Beliau bersabda, هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Dia adalah dari penduduk surga.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (190) Sangat beruntung jika kita memiliki tetangga yang baik. Dari Nafi’ ibnu ’Abdil Harits berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ سعَاَدَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ “Di antara kesenangan bagi seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang tenang.” (Shahih Lighairihi, yakni shahih dilihat dari jalur lainnya) Lihat Ash Shahihah (282) Moga manfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga
Siapakah tetangga kita? Menurut etimologi (secara asal-usul kata), tetangga adalah siapa saja yang rumahnya dekat dengan kita. Imam Syafi’i menyatakan bahwa tetangga adalah siapa saja yang badannya dekat dengan lainnya. Menurut terminologi, definisinya tak jauh beda dengan pengertian bahasa, yaitu tetangga adalah siapa saja yang rumahnya berdampingan dan dekat dengan kita. Namun ada perbedaan batasan tetangga yang disebutkan oleh para ulama madzhab. Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa yang menjadi tetangga adalah 40 rumah dari segala arah (depan, belakang, kanan dan kiri). Mereka berdalil dengan hadits, “Hak tetangga adalah 40 rumah seperti ini dan seperti itu.” Namun hadits ini dha’if. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdempatan dilihat dari berbagai penjuru atau antar rumah itu hanya dipisah jalan sempit, bukan dipisah pasar besar atau sungai lebar yang melintang. Begitu pula disebut tetangga kalau dikumpulkan oleh satu masjid atau berada di antara dua masjid yang berdekatan. Bisa jadi pula disebut tetangga dengan patokan ‘urf (anggapan masyarakat) walau tidak memakai batasan tadi. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdampingan atau menempel. Sedangkan ulama Hanafiyah lainnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa tetangga itu yang berdampingan dan yang disatukan oleh masjid. Definisi terakhir ini adalah definisi syar’i dan definisi menurut penilaian masyarakat (‘urf). (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 216-217) Ringkasnya, tetangga adalah siapa saja yang berdampingan dan dekat dengan rumah kita. Mereka ini berhak dapat hak hidup bertetangga. Di antara haknya adalah tidak mengganggu mereka. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ياَ رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟ “Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.” Para sahabat lalu berkata, وَفُلاَنَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتُصْدِقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلاَ تُؤْذِي أَحَداً؟ “Terdapat wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia tidak mengganggu tetangganya.” Beliau bersabda, هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Dia adalah dari penduduk surga.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (190) Sangat beruntung jika kita memiliki tetangga yang baik. Dari Nafi’ ibnu ’Abdil Harits berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ سعَاَدَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ “Di antara kesenangan bagi seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang tenang.” (Shahih Lighairihi, yakni shahih dilihat dari jalur lainnya) Lihat Ash Shahihah (282) Moga manfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga


Siapakah tetangga kita? Menurut etimologi (secara asal-usul kata), tetangga adalah siapa saja yang rumahnya dekat dengan kita. Imam Syafi’i menyatakan bahwa tetangga adalah siapa saja yang badannya dekat dengan lainnya. Menurut terminologi, definisinya tak jauh beda dengan pengertian bahasa, yaitu tetangga adalah siapa saja yang rumahnya berdampingan dan dekat dengan kita. Namun ada perbedaan batasan tetangga yang disebutkan oleh para ulama madzhab. Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa yang menjadi tetangga adalah 40 rumah dari segala arah (depan, belakang, kanan dan kiri). Mereka berdalil dengan hadits, “Hak tetangga adalah 40 rumah seperti ini dan seperti itu.” Namun hadits ini dha’if. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdempatan dilihat dari berbagai penjuru atau antar rumah itu hanya dipisah jalan sempit, bukan dipisah pasar besar atau sungai lebar yang melintang. Begitu pula disebut tetangga kalau dikumpulkan oleh satu masjid atau berada di antara dua masjid yang berdekatan. Bisa jadi pula disebut tetangga dengan patokan ‘urf (anggapan masyarakat) walau tidak memakai batasan tadi. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdampingan atau menempel. Sedangkan ulama Hanafiyah lainnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa tetangga itu yang berdampingan dan yang disatukan oleh masjid. Definisi terakhir ini adalah definisi syar’i dan definisi menurut penilaian masyarakat (‘urf). (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 216-217) Ringkasnya, tetangga adalah siapa saja yang berdampingan dan dekat dengan rumah kita. Mereka ini berhak dapat hak hidup bertetangga. Di antara haknya adalah tidak mengganggu mereka. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ياَ رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟ “Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.” Para sahabat lalu berkata, وَفُلاَنَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتُصْدِقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلاَ تُؤْذِي أَحَداً؟ “Terdapat wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia tidak mengganggu tetangganya.” Beliau bersabda, هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Dia adalah dari penduduk surga.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (190) Sangat beruntung jika kita memiliki tetangga yang baik. Dari Nafi’ ibnu ’Abdil Harits berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ سعَاَدَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ “Di antara kesenangan bagi seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang tenang.” (Shahih Lighairihi, yakni shahih dilihat dari jalur lainnya) Lihat Ash Shahihah (282) Moga manfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga

Ibnu Rajab: Menuntut Ilmu Agama, Jalan Singkat Menuju Surga

Ibnu Rajab pernah menyimpulkan, menuntut ilmu agama adalah jalan menuju surga. Bagaimana bisa demikian? Ketika membahas hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699). Saat membahas hadits ini, Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan seperti di atas. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Seharusnya setiap penuntut ilmu berusaha untuk meraih manfaat dari ilmu diin. Karena ilmu itu akan mengantarkan pada Allah dan mempelajari ilmu adalah jalan yang paling singkat menghadap-Nya. Siapa yang menempuh jalan dalam menuntut ilmu dan tidak berhenti dalam mencari ilmu, maka ia akan dihantarkan pada Allah dan dimudahkan masuk surga. Menuntut ilmulah jalan paling ringkas untuk masuk surga. Menuntut ilmu juga adalah jalan yang paling mudah untuk masuk surga. Ilmu ini akan menuntun pada berbagai jalan di dunia dan di akhirat untuk bisa masuk dalam surga. Ingatlah, tidak ada jalan untuk mengenal Allah, untuk menggapai ridha-Nya, untuk makin dekat dengan-Nya, melainkan melalui ilmu bermanfaat yang dengan sebab ilmu itu para rasul diutus oleh Allah, dam sebab Allah menurunkan kitab. Ilmu itulah penuntun dan pemberi petunjuk ketika seseorang berada dalam gelap kebodohan, syubhat (pemikiran sesat) dan keragu-raguan. Oleh karena itu, Al-Qur’an disebut cahaya karena dapat menerangi jalan di saat gelap. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (16) “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 15-16) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Wallahu waliyyut taufiq. Moga kita terus semangat meraih ilmu karena ilmulah jalan tercepat menuju surga. Terus semangat yuk belajar Islam lebih dekat …   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Malam Sabtu, 10 Safar 1437 H, 11: 00 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Ibnu Rajab: Menuntut Ilmu Agama, Jalan Singkat Menuju Surga

Ibnu Rajab pernah menyimpulkan, menuntut ilmu agama adalah jalan menuju surga. Bagaimana bisa demikian? Ketika membahas hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699). Saat membahas hadits ini, Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan seperti di atas. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Seharusnya setiap penuntut ilmu berusaha untuk meraih manfaat dari ilmu diin. Karena ilmu itu akan mengantarkan pada Allah dan mempelajari ilmu adalah jalan yang paling singkat menghadap-Nya. Siapa yang menempuh jalan dalam menuntut ilmu dan tidak berhenti dalam mencari ilmu, maka ia akan dihantarkan pada Allah dan dimudahkan masuk surga. Menuntut ilmulah jalan paling ringkas untuk masuk surga. Menuntut ilmu juga adalah jalan yang paling mudah untuk masuk surga. Ilmu ini akan menuntun pada berbagai jalan di dunia dan di akhirat untuk bisa masuk dalam surga. Ingatlah, tidak ada jalan untuk mengenal Allah, untuk menggapai ridha-Nya, untuk makin dekat dengan-Nya, melainkan melalui ilmu bermanfaat yang dengan sebab ilmu itu para rasul diutus oleh Allah, dam sebab Allah menurunkan kitab. Ilmu itulah penuntun dan pemberi petunjuk ketika seseorang berada dalam gelap kebodohan, syubhat (pemikiran sesat) dan keragu-raguan. Oleh karena itu, Al-Qur’an disebut cahaya karena dapat menerangi jalan di saat gelap. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (16) “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 15-16) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Wallahu waliyyut taufiq. Moga kita terus semangat meraih ilmu karena ilmulah jalan tercepat menuju surga. Terus semangat yuk belajar Islam lebih dekat …   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Malam Sabtu, 10 Safar 1437 H, 11: 00 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar
Ibnu Rajab pernah menyimpulkan, menuntut ilmu agama adalah jalan menuju surga. Bagaimana bisa demikian? Ketika membahas hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699). Saat membahas hadits ini, Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan seperti di atas. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Seharusnya setiap penuntut ilmu berusaha untuk meraih manfaat dari ilmu diin. Karena ilmu itu akan mengantarkan pada Allah dan mempelajari ilmu adalah jalan yang paling singkat menghadap-Nya. Siapa yang menempuh jalan dalam menuntut ilmu dan tidak berhenti dalam mencari ilmu, maka ia akan dihantarkan pada Allah dan dimudahkan masuk surga. Menuntut ilmulah jalan paling ringkas untuk masuk surga. Menuntut ilmu juga adalah jalan yang paling mudah untuk masuk surga. Ilmu ini akan menuntun pada berbagai jalan di dunia dan di akhirat untuk bisa masuk dalam surga. Ingatlah, tidak ada jalan untuk mengenal Allah, untuk menggapai ridha-Nya, untuk makin dekat dengan-Nya, melainkan melalui ilmu bermanfaat yang dengan sebab ilmu itu para rasul diutus oleh Allah, dam sebab Allah menurunkan kitab. Ilmu itulah penuntun dan pemberi petunjuk ketika seseorang berada dalam gelap kebodohan, syubhat (pemikiran sesat) dan keragu-raguan. Oleh karena itu, Al-Qur’an disebut cahaya karena dapat menerangi jalan di saat gelap. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (16) “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 15-16) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Wallahu waliyyut taufiq. Moga kita terus semangat meraih ilmu karena ilmulah jalan tercepat menuju surga. Terus semangat yuk belajar Islam lebih dekat …   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Malam Sabtu, 10 Safar 1437 H, 11: 00 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar


Ibnu Rajab pernah menyimpulkan, menuntut ilmu agama adalah jalan menuju surga. Bagaimana bisa demikian? Ketika membahas hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699). Saat membahas hadits ini, Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan seperti di atas. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Seharusnya setiap penuntut ilmu berusaha untuk meraih manfaat dari ilmu diin. Karena ilmu itu akan mengantarkan pada Allah dan mempelajari ilmu adalah jalan yang paling singkat menghadap-Nya. Siapa yang menempuh jalan dalam menuntut ilmu dan tidak berhenti dalam mencari ilmu, maka ia akan dihantarkan pada Allah dan dimudahkan masuk surga. Menuntut ilmulah jalan paling ringkas untuk masuk surga. Menuntut ilmu juga adalah jalan yang paling mudah untuk masuk surga. Ilmu ini akan menuntun pada berbagai jalan di dunia dan di akhirat untuk bisa masuk dalam surga. Ingatlah, tidak ada jalan untuk mengenal Allah, untuk menggapai ridha-Nya, untuk makin dekat dengan-Nya, melainkan melalui ilmu bermanfaat yang dengan sebab ilmu itu para rasul diutus oleh Allah, dam sebab Allah menurunkan kitab. Ilmu itulah penuntun dan pemberi petunjuk ketika seseorang berada dalam gelap kebodohan, syubhat (pemikiran sesat) dan keragu-raguan. Oleh karena itu, Al-Qur’an disebut cahaya karena dapat menerangi jalan di saat gelap. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (16) “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 15-16) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Wallahu waliyyut taufiq. Moga kita terus semangat meraih ilmu karena ilmulah jalan tercepat menuju surga. Terus semangat yuk belajar Islam lebih dekat …   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Malam Sabtu, 10 Safar 1437 H, 11: 00 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Kaedah Fikih: Semakin Sulit dan Banyak, Semakin Besar Pahala

“Amalannya semakin sulit dan banyak, semakin besar pahala.” Kaedah fikih di atas sangat bermanfaat bagi yang ingin mengetahui keutamaan amalan yang satu dibanding lainnya. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320).   Contoh Kaedah Kalau seseorang mengerjakan shalat witir dengan memisahkan dua raka’at lalu satu raka’at, itu lebih utama daripada menyambungkannya. Karena saat itu niatnya bertambah, takbirnya bertambah, dan salamnya juga bertambah. Shalat dalam keadaan berdiri lebih utama daripada duduk. Shalat dalam keadaan duduk lebih utama daripada berbaring. Haji dan umrah dengan manasik sendiri-sendiri (ifrad) lebih utama daripada menggabungkannya dalam manasik qiran.   Yang Keluar dari Kaedah Qashar shalat pada saat safar lebih utama daripada mengerjakan secara tamam (sempurna). Shalat Dhuha dengan delapan raka’at lebih utama dari dua belas raka’at menurut sebagian ulama karena delapan raka’at lebih mencontoh perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Witir dengan tiga raka’at lebih afdhal daripada dengan lima, tujuh, atau sembilan raka’at menurut sebagian ulama. Membaca surat yang pendek (secara utuh) lebih utama daripada membaca sebagian surat walau panjang. Shalat sekali berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian walau shalat sendirian itu dilakukan hingga dua puluh lima kali. Shalat shubuh lebih utama daripada shalat lima waktu lainnya walaupun jumlah rakaatnya lebih sedikit. Shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh) dengan ringkas lebih utama daripada shalat tersebut yang lama. Shalat ‘ied lebih utama daripada shalat kusuf (gerhana) walaupun shalat gerhana lebih berat dan lebih banyak amalannya. Menggabungkan antara berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung dengan tiga kali cidukan tangan lebih afdhal daripada memisah keduanya hingga terbuang enam kali cidukan. Memakan sedikit dari hasil qurban lalu disedekahkan yang tersisa lebih utama daripada menyedekahkan semuanya. Contoh-contoh di atas diringkas dari bahasan As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 320-322. Dan contoh tersebut berarti kembali pada pemahaman As-Suyuthi yang bermadzhab Syafi’i. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Asybah wa An-Nazhair min Qawa’id wa Furu’ Asy-Syafi’iyyah. Cetakan kelima, tahun 1432 H. Al-Imam Jalal Ad-Din ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 10: 57 AM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih

Kaedah Fikih: Semakin Sulit dan Banyak, Semakin Besar Pahala

“Amalannya semakin sulit dan banyak, semakin besar pahala.” Kaedah fikih di atas sangat bermanfaat bagi yang ingin mengetahui keutamaan amalan yang satu dibanding lainnya. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320).   Contoh Kaedah Kalau seseorang mengerjakan shalat witir dengan memisahkan dua raka’at lalu satu raka’at, itu lebih utama daripada menyambungkannya. Karena saat itu niatnya bertambah, takbirnya bertambah, dan salamnya juga bertambah. Shalat dalam keadaan berdiri lebih utama daripada duduk. Shalat dalam keadaan duduk lebih utama daripada berbaring. Haji dan umrah dengan manasik sendiri-sendiri (ifrad) lebih utama daripada menggabungkannya dalam manasik qiran.   Yang Keluar dari Kaedah Qashar shalat pada saat safar lebih utama daripada mengerjakan secara tamam (sempurna). Shalat Dhuha dengan delapan raka’at lebih utama dari dua belas raka’at menurut sebagian ulama karena delapan raka’at lebih mencontoh perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Witir dengan tiga raka’at lebih afdhal daripada dengan lima, tujuh, atau sembilan raka’at menurut sebagian ulama. Membaca surat yang pendek (secara utuh) lebih utama daripada membaca sebagian surat walau panjang. Shalat sekali berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian walau shalat sendirian itu dilakukan hingga dua puluh lima kali. Shalat shubuh lebih utama daripada shalat lima waktu lainnya walaupun jumlah rakaatnya lebih sedikit. Shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh) dengan ringkas lebih utama daripada shalat tersebut yang lama. Shalat ‘ied lebih utama daripada shalat kusuf (gerhana) walaupun shalat gerhana lebih berat dan lebih banyak amalannya. Menggabungkan antara berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung dengan tiga kali cidukan tangan lebih afdhal daripada memisah keduanya hingga terbuang enam kali cidukan. Memakan sedikit dari hasil qurban lalu disedekahkan yang tersisa lebih utama daripada menyedekahkan semuanya. Contoh-contoh di atas diringkas dari bahasan As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 320-322. Dan contoh tersebut berarti kembali pada pemahaman As-Suyuthi yang bermadzhab Syafi’i. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Asybah wa An-Nazhair min Qawa’id wa Furu’ Asy-Syafi’iyyah. Cetakan kelima, tahun 1432 H. Al-Imam Jalal Ad-Din ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 10: 57 AM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih
“Amalannya semakin sulit dan banyak, semakin besar pahala.” Kaedah fikih di atas sangat bermanfaat bagi yang ingin mengetahui keutamaan amalan yang satu dibanding lainnya. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320).   Contoh Kaedah Kalau seseorang mengerjakan shalat witir dengan memisahkan dua raka’at lalu satu raka’at, itu lebih utama daripada menyambungkannya. Karena saat itu niatnya bertambah, takbirnya bertambah, dan salamnya juga bertambah. Shalat dalam keadaan berdiri lebih utama daripada duduk. Shalat dalam keadaan duduk lebih utama daripada berbaring. Haji dan umrah dengan manasik sendiri-sendiri (ifrad) lebih utama daripada menggabungkannya dalam manasik qiran.   Yang Keluar dari Kaedah Qashar shalat pada saat safar lebih utama daripada mengerjakan secara tamam (sempurna). Shalat Dhuha dengan delapan raka’at lebih utama dari dua belas raka’at menurut sebagian ulama karena delapan raka’at lebih mencontoh perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Witir dengan tiga raka’at lebih afdhal daripada dengan lima, tujuh, atau sembilan raka’at menurut sebagian ulama. Membaca surat yang pendek (secara utuh) lebih utama daripada membaca sebagian surat walau panjang. Shalat sekali berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian walau shalat sendirian itu dilakukan hingga dua puluh lima kali. Shalat shubuh lebih utama daripada shalat lima waktu lainnya walaupun jumlah rakaatnya lebih sedikit. Shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh) dengan ringkas lebih utama daripada shalat tersebut yang lama. Shalat ‘ied lebih utama daripada shalat kusuf (gerhana) walaupun shalat gerhana lebih berat dan lebih banyak amalannya. Menggabungkan antara berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung dengan tiga kali cidukan tangan lebih afdhal daripada memisah keduanya hingga terbuang enam kali cidukan. Memakan sedikit dari hasil qurban lalu disedekahkan yang tersisa lebih utama daripada menyedekahkan semuanya. Contoh-contoh di atas diringkas dari bahasan As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 320-322. Dan contoh tersebut berarti kembali pada pemahaman As-Suyuthi yang bermadzhab Syafi’i. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Asybah wa An-Nazhair min Qawa’id wa Furu’ Asy-Syafi’iyyah. Cetakan kelima, tahun 1432 H. Al-Imam Jalal Ad-Din ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 10: 57 AM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih


“Amalannya semakin sulit dan banyak, semakin besar pahala.” Kaedah fikih di atas sangat bermanfaat bagi yang ingin mengetahui keutamaan amalan yang satu dibanding lainnya. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320).   Contoh Kaedah Kalau seseorang mengerjakan shalat witir dengan memisahkan dua raka’at lalu satu raka’at, itu lebih utama daripada menyambungkannya. Karena saat itu niatnya bertambah, takbirnya bertambah, dan salamnya juga bertambah. Shalat dalam keadaan berdiri lebih utama daripada duduk. Shalat dalam keadaan duduk lebih utama daripada berbaring. Haji dan umrah dengan manasik sendiri-sendiri (ifrad) lebih utama daripada menggabungkannya dalam manasik qiran.   Yang Keluar dari Kaedah Qashar shalat pada saat safar lebih utama daripada mengerjakan secara tamam (sempurna). Shalat Dhuha dengan delapan raka’at lebih utama dari dua belas raka’at menurut sebagian ulama karena delapan raka’at lebih mencontoh perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Witir dengan tiga raka’at lebih afdhal daripada dengan lima, tujuh, atau sembilan raka’at menurut sebagian ulama. Membaca surat yang pendek (secara utuh) lebih utama daripada membaca sebagian surat walau panjang. Shalat sekali berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian walau shalat sendirian itu dilakukan hingga dua puluh lima kali. Shalat shubuh lebih utama daripada shalat lima waktu lainnya walaupun jumlah rakaatnya lebih sedikit. Shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh) dengan ringkas lebih utama daripada shalat tersebut yang lama. Shalat ‘ied lebih utama daripada shalat kusuf (gerhana) walaupun shalat gerhana lebih berat dan lebih banyak amalannya. Menggabungkan antara berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung dengan tiga kali cidukan tangan lebih afdhal daripada memisah keduanya hingga terbuang enam kali cidukan. Memakan sedikit dari hasil qurban lalu disedekahkan yang tersisa lebih utama daripada menyedekahkan semuanya. Contoh-contoh di atas diringkas dari bahasan As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 320-322. Dan contoh tersebut berarti kembali pada pemahaman As-Suyuthi yang bermadzhab Syafi’i. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Asybah wa An-Nazhair min Qawa’id wa Furu’ Asy-Syafi’iyyah. Cetakan kelima, tahun 1432 H. Al-Imam Jalal Ad-Din ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 10: 57 AM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih

Makin Sulit dalam Belajar Agama, Makin Besar Pahala

Makin sulit dalam belajar agama, makin besar pahala.   Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Ibnu Rajab Al-Hambali berkata bahwa menempuh jalan dalam menuntut ilmu ada dua makna: Menempuh jalan secara hakiki yaitu dengan berjalan menuju majelis ilmu dari para ulama. Menempuh jalan secara maknawi yaitu dengan menempuh cara bisa diraihnya ilmu, seperti dengan menghafalkan, mempelajari, mudzakarah (saling mengingatkan), muthala’ah (mengkaji), menulis atau berusaha memahami ilmu. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297) Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang berjalan, bersepeda atau berkendaraan menuju majelis ilmu, sudah termasuk dalam balasan hadits di atas. Begitu pula yang begadang dalam menghafal, menulis atau menelaah, itu juga termasuk bagian dari pahala di atas. Bahkan semakin besar kesulitan yang diderita, semakin besar pula pahala yang diperoleh. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320). Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Ingatlah semakin sulit dan berat dalam mempelajari agama, semakin besar pahala. Maka bersabarlah dalam belajar. Yakinlah pertolongan Allah! — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 04: 36 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Makin Sulit dalam Belajar Agama, Makin Besar Pahala

Makin sulit dalam belajar agama, makin besar pahala.   Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Ibnu Rajab Al-Hambali berkata bahwa menempuh jalan dalam menuntut ilmu ada dua makna: Menempuh jalan secara hakiki yaitu dengan berjalan menuju majelis ilmu dari para ulama. Menempuh jalan secara maknawi yaitu dengan menempuh cara bisa diraihnya ilmu, seperti dengan menghafalkan, mempelajari, mudzakarah (saling mengingatkan), muthala’ah (mengkaji), menulis atau berusaha memahami ilmu. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297) Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang berjalan, bersepeda atau berkendaraan menuju majelis ilmu, sudah termasuk dalam balasan hadits di atas. Begitu pula yang begadang dalam menghafal, menulis atau menelaah, itu juga termasuk bagian dari pahala di atas. Bahkan semakin besar kesulitan yang diderita, semakin besar pula pahala yang diperoleh. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320). Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Ingatlah semakin sulit dan berat dalam mempelajari agama, semakin besar pahala. Maka bersabarlah dalam belajar. Yakinlah pertolongan Allah! — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 04: 36 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar
Makin sulit dalam belajar agama, makin besar pahala.   Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Ibnu Rajab Al-Hambali berkata bahwa menempuh jalan dalam menuntut ilmu ada dua makna: Menempuh jalan secara hakiki yaitu dengan berjalan menuju majelis ilmu dari para ulama. Menempuh jalan secara maknawi yaitu dengan menempuh cara bisa diraihnya ilmu, seperti dengan menghafalkan, mempelajari, mudzakarah (saling mengingatkan), muthala’ah (mengkaji), menulis atau berusaha memahami ilmu. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297) Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang berjalan, bersepeda atau berkendaraan menuju majelis ilmu, sudah termasuk dalam balasan hadits di atas. Begitu pula yang begadang dalam menghafal, menulis atau menelaah, itu juga termasuk bagian dari pahala di atas. Bahkan semakin besar kesulitan yang diderita, semakin besar pula pahala yang diperoleh. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320). Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Ingatlah semakin sulit dan berat dalam mempelajari agama, semakin besar pahala. Maka bersabarlah dalam belajar. Yakinlah pertolongan Allah! — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 04: 36 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar


Makin sulit dalam belajar agama, makin besar pahala.   Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Ibnu Rajab Al-Hambali berkata bahwa menempuh jalan dalam menuntut ilmu ada dua makna: Menempuh jalan secara hakiki yaitu dengan berjalan menuju majelis ilmu dari para ulama. Menempuh jalan secara maknawi yaitu dengan menempuh cara bisa diraihnya ilmu, seperti dengan menghafalkan, mempelajari, mudzakarah (saling mengingatkan), muthala’ah (mengkaji), menulis atau berusaha memahami ilmu. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297) Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang berjalan, bersepeda atau berkendaraan menuju majelis ilmu, sudah termasuk dalam balasan hadits di atas. Begitu pula yang begadang dalam menghafal, menulis atau menelaah, itu juga termasuk bagian dari pahala di atas. Bahkan semakin besar kesulitan yang diderita, semakin besar pula pahala yang diperoleh. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320). Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Ingatlah semakin sulit dan berat dalam mempelajari agama, semakin besar pahala. Maka bersabarlah dalam belajar. Yakinlah pertolongan Allah! — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 04: 36 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Menuntut Ilmu, Jalan Paling Cepat Menuju Surga

Kalau kita ingin masuk surga dengan cara paling cepat, cobalah menuntut ilmu agama.   Kembali pada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Makna Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga, ada empat makna sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali: Pertama: Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkannya masuk surga. Kedua: Menuntut ilmu adalah sebab seseorang mendapatkan hidayah. Hidayah inilah yang mengantarkan seseorang pada surga. Ketiga: Menuntut suatu ilmu akan mengantarkan pada ilmu lainnya yang dengan ilmu tersebut akan mengantarkan pada surga. Sebagaimana kata sebagian ulama kala suatu ilmu diamalkan, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ “Siapa yang mengamalkan suatu ilmu yang telah ia ilmui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang tidak ia ketahui.” Sebagaimana kata ulama lainnya, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” Begitu juga dalam ayat disebutkan, وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76) Juga pada firman Allah, وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17) Keempat: Dengan ilmu, Allah akan memudahkan jalan yang nyata menuju surga yaitu saat melewati shirath (sesuatu yang terbentang di atas neraka menuju surga. Sampai-sampai Ibnu Rajab simpulkan, menuntut ilmu adalah jalan paling ringkas menuju surga. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Semoga dengan ilmu agama, kita dimudahkan untuk masuk surga.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 05: 31 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Menuntut Ilmu, Jalan Paling Cepat Menuju Surga

Kalau kita ingin masuk surga dengan cara paling cepat, cobalah menuntut ilmu agama.   Kembali pada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Makna Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga, ada empat makna sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali: Pertama: Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkannya masuk surga. Kedua: Menuntut ilmu adalah sebab seseorang mendapatkan hidayah. Hidayah inilah yang mengantarkan seseorang pada surga. Ketiga: Menuntut suatu ilmu akan mengantarkan pada ilmu lainnya yang dengan ilmu tersebut akan mengantarkan pada surga. Sebagaimana kata sebagian ulama kala suatu ilmu diamalkan, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ “Siapa yang mengamalkan suatu ilmu yang telah ia ilmui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang tidak ia ketahui.” Sebagaimana kata ulama lainnya, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” Begitu juga dalam ayat disebutkan, وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76) Juga pada firman Allah, وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17) Keempat: Dengan ilmu, Allah akan memudahkan jalan yang nyata menuju surga yaitu saat melewati shirath (sesuatu yang terbentang di atas neraka menuju surga. Sampai-sampai Ibnu Rajab simpulkan, menuntut ilmu adalah jalan paling ringkas menuju surga. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Semoga dengan ilmu agama, kita dimudahkan untuk masuk surga.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 05: 31 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar
Kalau kita ingin masuk surga dengan cara paling cepat, cobalah menuntut ilmu agama.   Kembali pada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Makna Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga, ada empat makna sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali: Pertama: Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkannya masuk surga. Kedua: Menuntut ilmu adalah sebab seseorang mendapatkan hidayah. Hidayah inilah yang mengantarkan seseorang pada surga. Ketiga: Menuntut suatu ilmu akan mengantarkan pada ilmu lainnya yang dengan ilmu tersebut akan mengantarkan pada surga. Sebagaimana kata sebagian ulama kala suatu ilmu diamalkan, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ “Siapa yang mengamalkan suatu ilmu yang telah ia ilmui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang tidak ia ketahui.” Sebagaimana kata ulama lainnya, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” Begitu juga dalam ayat disebutkan, وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76) Juga pada firman Allah, وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17) Keempat: Dengan ilmu, Allah akan memudahkan jalan yang nyata menuju surga yaitu saat melewati shirath (sesuatu yang terbentang di atas neraka menuju surga. Sampai-sampai Ibnu Rajab simpulkan, menuntut ilmu adalah jalan paling ringkas menuju surga. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Semoga dengan ilmu agama, kita dimudahkan untuk masuk surga.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 05: 31 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar


Kalau kita ingin masuk surga dengan cara paling cepat, cobalah menuntut ilmu agama.   Kembali pada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Makna Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga, ada empat makna sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali: Pertama: Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkannya masuk surga. Kedua: Menuntut ilmu adalah sebab seseorang mendapatkan hidayah. Hidayah inilah yang mengantarkan seseorang pada surga. Ketiga: Menuntut suatu ilmu akan mengantarkan pada ilmu lainnya yang dengan ilmu tersebut akan mengantarkan pada surga. Sebagaimana kata sebagian ulama kala suatu ilmu diamalkan, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ “Siapa yang mengamalkan suatu ilmu yang telah ia ilmui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang tidak ia ketahui.” Sebagaimana kata ulama lainnya, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” Begitu juga dalam ayat disebutkan, وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76) Juga pada firman Allah, وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17) Keempat: Dengan ilmu, Allah akan memudahkan jalan yang nyata menuju surga yaitu saat melewati shirath (sesuatu yang terbentang di atas neraka menuju surga. Sampai-sampai Ibnu Rajab simpulkan, menuntut ilmu adalah jalan paling ringkas menuju surga. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Semoga dengan ilmu agama, kita dimudahkan untuk masuk surga.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 05: 31 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Prinsip-Prinsip Dalam Menghadapi Fitnah

(Khutbah Jum’ah Masjid Nabawi 8 Shafar 1437 H)Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Ali Syekh –hafizohullah-Khotbah PertamaKondisi kaum muslimin di banyak tempat saat ini sangat memprihatinkan dan menyedihkan, terutama setelah terjadinya berbagai fitnah yang membutakan dan beragam petaka sehingga menyeret kaum muslimin kepada kehancuran dan kerusakan, terkait urusan agama, jiwa, kehormatan, harta benda dan tanah air. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.Camkanlah baik-baik bahwa faktor utama timbulnya segala malapetaka dan krisis yang membawa berbagai macam penderitaan dan kesengsaraan adalah disebabkan mereka menjauh dari sistem (aturan) Allah dan Sunnah Nabi-Nya di berbagai bidang kehidupan. Firman Allah :وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ [ شورى / 30 ]Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar [dari kesalahan-kesalahanmu]  (Qs As-Syura :30) Firman Allah :ظَهَرَ الْفَسادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِما كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ  [ الروم / 41 ]Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Qs Ar-Rum : 41)Rasulullah saw bersabda  :وَمَا لَمْ تَعْمَلْ أَئِمَّتُهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فِي كِتَابِهِ إِلاَّ جَعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْSelama para pemimpin mereka tidak menjalankan ketentuan hukum yang diturunkan oleh Allah dalam kitab suci-Nya, maka selama itu pula Allah munculkan saling permusuhan di antara mereka.Ali – Radhiyallahu Anhu – berkata :( مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إلّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ بَلَاءٌ إلّا بِتَوْبَةٍ )Tidak terjadi suatu bencana melainkan karena akibat dosa yang dilakukan, dan tidak akan diangkat suatu bencana melainkan dengan bertobat.Dosa kejahatan dan pelanggaran terhadap perintah Allah Tuhan langit dan bumi adalah penyebab hilangnya nikmat-nakmat yang ada sekarang dan pemutus nikmat-nikmat selanjutnya.Ibnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an, lebih dari seribu tempat. Itulah sebabnya setiap musibah berdarah yang menimpa kaum muslimin pastilah disebabkan oleh merajalelanya pelanggaran terhadap ketentuan Allah yang ada dalam dua wahyu (al-Qur’an dan As-Sunnah)Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad bahwa Nabi saw bersabda :( إذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِى أمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ )Jika kemaksiatan telah menjadi fenomena di kalangan umatku, maka Allah akan menyebarkan azab yang meliputi mereka dari sisi-NyaJika telah jelas fakta tersebut yang telah dilupakan oleh kebanyakan orang yang jauh dari sistem hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka hendaknya kita mengetahui bahwa sebenarnya ada beberapa prinsip dan pilar agung yang bilamana dikukuhkan dan diaplikasikan dengan penuh antusias oleh kaum muslimin, niscaya mereka akan terselamatkan dari kejahatan dan dampak buruk dari bencana dan malapetaka.Prinsip pertama : Bertobat secara sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala, yaitu dengan kembali ke jalan Allah, konsisten dalam menjalankan syariat agama-Nya dan mengikuti perintah-perintahNya dan perintah Rasul-Nya saw. Maka dengan bertobat kepada Allah akan terwujud kesentosaan dan kemakmuran hidup, dan terlindung dari segala kejahatan, bencana, kemelut dan krisis. Allah berfirman  :وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  [ النور / 31 ]Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (Qs An-Nur : 31)Allah berfirman perihal Nabi-Nya – Hud Alaihissalam – :وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan [Hud berkata]: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa (Qs Hud : 52)Kebaikan dengan segala ragamnya terletak pada pertobatan, demikian pula perbaikan kondisi dengan segala bentuknya sangat terkait dengan pertobatan. Firman Allah :فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [ التوبة / 74 ] 74.Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi  (Qs At-Taubah : 74)Bertobat kepada Allah dengan memperbaiki ibadah yang rusak akibat meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan merupakan penyebab terangkatnya bencana dan tertolaknya bala’. Firman Allah :وَما كانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَما كانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ  [ الأنفال / 33 ]( Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun ) Qs Al-Anfal : 33Bahkan tobat merupakan penyebab turunannya berbagai macam kebaikan dan datangnya aneka ragam nikmat yang menyenangkan. Firman Allah  :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتاعاً حَسَناً إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخافُ عَلَيْكُمْ عَذابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ  [ هود / 3 ](dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. [Jika kamu mengerjakan yang demikian], niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat) Qs Hud : 3Firman Allah melalui lisan Nabi Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كانَ غَفَّاراً ،  يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْراراً ، وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهاراً  [ نوح / 10 – 12 ]Maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuh 10-12)Prinsip kedua  : Memperbanyak ibadah dengan segala amal yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dengan ibadah, maka bencana tertolak dan kenikmatan tertarik. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً ،  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ(Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberikan kecukupan kepadanya) Qs. At-Thalaq : 2-3 )Ibnul-Qayim berkata, “Orang yang dermawan dan suka bersedekah selalu memberdayakan prajurit dan tentara yang bertempur untuk membela dirinya meskipun ia sendiri sedang tidur di kasurnya. Barangsiapa yang tidak punya prajurit atau tentara, sementara dirinya harus menghadapi musuh, maka acapkali dirinya dikuasai oleh musuh, meskipun penguasaan musuhnya atas dirinya itu mengalami keterlambatan. Semoga Allah menjadi Penolong kita”.Orang-orang yang berpegang pada keimanan dan beramal ibadah kepada Allah serta menahan diri dari segala laranganNya, sesungguhnya mereka itu mendapatkan perhatian khusus dan perlindungan yang sempurna dari Allah Ta’ala.Firman Allah  :إِنَّ اللَّهَ يُدافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا  [ الحج / 38 ]( Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman ). Qs Al-Haj : 38 Prinsip ketiga  :  Ketika umat ini terkepung oleh berbagai fitnah sehingga bahtera yang ditumpanginya terombang-ambing, dalam kondisi demikian tentu kebutuhan akan meniti jalan keselamatan sangatlah mendesak agar bisa sampai  ke daratan keamanan dan pantai keselamatan. Namun tidak mungkin mereka menemukan jalan selagi tidak mengobati problem dan penyakit yang mereka hadapi melalui cahaya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia. Jikalau tragedi dan bencana telah menghantam wajah umat ini di semua lembah, maka tidak ada jalan lain yang memberikan harapan dan yang dapat menyelamatkan selain mencari solusi pada dua sumber wahyu.Allah Ta’ala berfirman :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ الأنبياء / 10 ]( Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya) Qs Al-Anbiya : 10Artinya di dalam kitab Al-Qur’an itu terdapat kejayaan, kemuliaan dan kedaulatan bagi kalian.Imam Malik meriwayatkan dan kitab Muwatha’nya dari Nabi saw bahwa beliau bersabda :تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ( Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang-teguh kepada kedua-duanya; Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya ).Imam Abu Dawud – Rahimahullah – meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya dari hadis Al-Irbadh Bin Sariyah, dia berkata  :صَلّى لنا رسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ثمَّ أقبلَ عَلَيْنَا  فَوَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ .(Rasulullah telah memimpin shalat kami lalu beliau menghadapkan wajahnya kepada kami untuk memberi nasehat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat orang yang akan berpisah selamanya, maka berilah kami wasiat” Rasulullah saw bersabda, “Aku beri wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba budak. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang nantinya masih hidup, niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus, dan mendapatkan petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu sekuat-kuatnya dengan gigi geraham. Dan jauhilah hal-hal baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat).Maka berpegang teguh kepada dua wahyu ( sebagai sumber hukum ) ketika menghadapi bencana, konflik dan perselisihan, serta menjadikan keduanya sebagai rujukan dalam menangani setiap perpecahan, konflik dan pertikaian adalah jalan satu-satunya untuk menangkis bahaya berbagai penyimpangan, kekacauan dan kekalutan yang tersebar di dunia islam saat ini.Prinsip keempat  : Keamanan dambaan setiap bangsa dan tujuan setiap negara. Rasulullah saw bersabda :مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا(Barang siapa diantara kalian yang di pagi hari merasa terjamin aman di tempatnya, sehat badannya, memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia seluruhnya telah menjadi miliknya ) HR. Turmuzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan.Ingatlah ! Sendi keamanan adalah terwujudnya keimanan kepada Allah Ta’ala baik dalam aqidah, ucapan ataupun perbuatan. Pilar keamanan yang mendasar adalah mempraktekkan perintah-perintah Al-Qur’an dan arahan-arahan Nabi serta mengamalkan syariat islam dalam segala aspek kehidupan. Firman Allah :الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [ الأنعام / 82 ]( Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman [syirik], mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk ). Qs Al-An’am : 82Negeri manapun yang menyimpang dari hukum syariat Allah dan mengikuti kemauan hawa nafsunya, para penguasanya orang-orang jahat, pastilah negeri itu kehilangan keamanan yang didambakan dan penduduknya diliputi rasa takut, cemas dan galau.Firman Allah :وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ  [ النحل / 112 ](Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi [penduduk]nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat). Qs An-Nahl : 112Prinsip kelima  : Faktor kekuatan terpenting umat ini terdapat pada kerjasama [tolong-menolong] di antara mereka atas dasar amal kebajikan dan ketakwaan serta bersatu padu di dalam kebaikan dan petunjuk agama.Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103Sementara musibah yang paling besar yang dihadapi umat islam, yang melemahkan kekuatan lengannya, menumbangkan panji-panji kejayaannya adalah perselisihan, pertikaian dan perebutan.Firman Allah :وَلا تَنازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ  [ الأنفال / 46 ]( Dan janganlah kamu saling berebut yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ) Qs Al-Anfal : 46Rasulullah saw bersabda :( لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ أيّامٍ ) رواه أحمد وأصله فى صحيح مسلم( Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang besaudara. Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari ). HR Ahmad, sandaran asalnya pada Shahih Muslim.Rasulullah saw bersabda :( أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ (فقالها ثلاثا( Wahai manusia ! tetaplah kalian pada kelompok [ jama’ah kaum muslimin ], janganlah kalian bercerai-berai ), beliau mengulangi pesan ini hingga tiga kali. ( HR Ahmad )Dan peristiwa-peristiwa sejarah merupakan bukti terbesar yang menunjukkan bahwa perpecahan dan bentuk memisahkan diri adalah sebab kehancuran dan kerusakan.مِمَّا يُزَهِّدُنِي فِي أَرْضِ أَنْدَلُسٍ…. أَسْمَاءُ مُعْتَمِدٍ فِيْهَا وَمُعْتَضِدِأَلْقَابُ مَمْلَكَةٍ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهَا… كَالْهِرِّ يَحْكِي انْتِفَاخًا صَوْلَةَ الأَسَدِ“Diantara hal yang menjadikan aku tidak respek dengan negeri Andalus….Adalah nama-nama (raja-raja kecil yang terpecah-pecah) yang muncul di Andalus, yaitu Mu’tamid dan Mu’tadid…Gelar-gelar untuk para raja yang diletakan tidak pada tempatnya…Seperti kucing yang menegakkan bulu kuduknya menampakan seakan-akan ia seperti singa…”Maka wajib bagi kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah dan janganlah mereka berpecah-pecah padahal dihadapan mereka ada Al-Qur’an sebagai hakim dan sebagai metode, demikian juga ada Sunnah Rasulullah sebagai pelita dan petunjuk mereka, serta ada perjalanan hidup para khulafaur Rosyidin sebagai teladan dan contoh yang baik bagi mereka.Dan kapan mereka menyimpang dari jalan/metode ini maka seakan-akan kondisi mereka tergambarkan seperti ucapan seseorang :كُلٌّ يَرَى رَأْيَا وَيَنْصُرُ قَوْلَهُ *** وَلَهُ يُعَادِي سَائِرَ الإِخْوَانِوَلَوْ أَنَّهُم عِنْدَ التَّنَازُعِ وُفِّقُوا *** لَتَحَاكَمُوا للهِ دُوْنَ تَوَانِولَأَصْبَحُوا بَعْدَ الْخِصَامِ أَحِبَّةً *** غَيْظَ العَدَا وَمَذَلَّةَ الشَّيْطَانِ“Masing-masing memiliki pendapat dan mempertahankan pendapatnya…Dan ia memusuhi seluruh saudaranya (yang menyelisihinya)…Seandainya tatkala mereka berselisih mereka mendapatkan bimbingan…Maka sungguh mereka akan berhukum kepada Allah dengan semangat tanpa lalai sama sekali…Dan sungguh setelah berselisih mereka akan tetap saling mencintai…Yang hal ini menyebabkan kemarahan musuh dan kehinaan syaitan…”Maka bagaimana menurutmu? Apakah dengan besarnya bencana yang menimpa kaum muslimin akankah mereka akan kembali kepada jalan kebenaran mereka? Lalu bersatu padu di bawah satu bendera, undang-undang mereka adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan hukum mereka adalah syari’atnya Allah?. Kita mohon kepada Allah agar hal ini segera terwujudkan dan tidak tertunda, sesungguhnya Allah maha mendengar dan mengabulkan doa.Dan prinsip yang terakhir yaitu tatkala terjadinya fitnah maka masyarakat hendaknya berpegang kepada jalan-jalan yang disyari’atkan, bimbingan-bimbingan al-Qur’an, serta sirah (petunjuk) Nabi. Allah berfirman :وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗDan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). (QS An-Nisaa : 83)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Ibadah tatkala zaman fitnah seperti berhijrah kepadaku”Dan hendaknya mereka mengetahui bahwasanya perkara lisan dan pena adalah perkara yang sangat berbahaya dalam memprovokasi fitnah dan menyalakan kobaran apinya. Dan zaman fitnah adalah kondisi yang mudah menggelincirkan orang pada kesalahan. Allah berfirmanإِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar (QS An-Nuur : 15)Sesungguhnya para ulama, para pakar politik, para intelektual, serta orang-orang media sangat wajib bagi mereka untuk memeriksa dan meneliti (kroscek) tatkala waktu terjadinya fitnah, dan agar mereka tidak terjun pada perkara-perkara yang memprovokasi fitnah dan menambah nyala kobaran apinya.Telah datang dalam hadits yang marfu’ :ستكونُ فِتنةٌ صمَّاءُ بكمْاءُ عَمياءُ، مَنْ أشرَفَ لها استشرفَتْ له، وإشرافُ اللسانِ فيها كوقوع السيفِ“Akan muncul fitnah yang menulikan, membisukan, dan membutakan. Siapa yang mendekatinya maka fitnah tersebut akan mengenainya. Dan nimbrungnya lisan dalam fitnah tersebut seperti pedang” (HR Abu Dawud). Dan makna dari hadits ini sesuai dengan pokok-pokok syari’at dan dalil-dalil yang umum maupun yang khusus.Ibnu Abbas telah berkata ;إِنَّمَا الْفِتْنَةُ بِاللِّسَانِ وَلَيْسَتِ الْفِتْنَةُ بِالْيَدِ“Sesungguhnya fitnah itu dengan lisan bukanlah fitnah dengan tangan”    Kebenaran akan hal ini dibuktikan dengan apa yang dilihat oleh kaum muslimin pada fitnah-fitnah yang terjadi pada zaman ini yang sangat besar keburukannya dan tersebar kemudhorotannya, hanyalah Allah tempat memohon pertolongan.Semoga Allah memberkahi kita pada al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menjadikan kita mengambil manfaat dari keduanya. Khutbah Kedua          Sesungguhnya kita di negeri dua kota suci ini dalam kondisi makmur dengan kenikmatan-kenikmatan yang besar. Dan yang paling besar adalah menjadikan syari’at yang suci ini sebagai hukum, demikian juga bersatu padunya antara penguasa dan rakyat. Hal ini membuahkan ketenteraman dan keamanan, stabilitas dan kemakmuran. Maka wajib bagi penduduk negeri ini untuk mensyukuri karunia ini dan waspada dari kemurkaan Allah, serta berusaha untuk meraih keridhoanNya, dan semangat untuk mempererat antara penguasa dan rakyat dalam kebenaran dan petunjuk.Saudara-saudaraku se Islam, termasuk amalan yang terbaik dan tersuci adalah bersholawat kepada Nabi yang termulia, Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada beliau dan keluarganya serta para sahabatnya.Ya Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin, Ya Allah hilangkanlah kesedihan… hilangkanlah penderitaan…, Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…Ya Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu, wahai Yang Maha Agung, Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka berada, Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat, Ya Allah bimbinglah pelayan dua kota suci yang mulia kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhoi, Ya Allah tolonglah agama ini dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah meninggal, Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan akhirat serta jagalah kami dari adzab nerakaDiterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/ 

Prinsip-Prinsip Dalam Menghadapi Fitnah

(Khutbah Jum’ah Masjid Nabawi 8 Shafar 1437 H)Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Ali Syekh –hafizohullah-Khotbah PertamaKondisi kaum muslimin di banyak tempat saat ini sangat memprihatinkan dan menyedihkan, terutama setelah terjadinya berbagai fitnah yang membutakan dan beragam petaka sehingga menyeret kaum muslimin kepada kehancuran dan kerusakan, terkait urusan agama, jiwa, kehormatan, harta benda dan tanah air. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.Camkanlah baik-baik bahwa faktor utama timbulnya segala malapetaka dan krisis yang membawa berbagai macam penderitaan dan kesengsaraan adalah disebabkan mereka menjauh dari sistem (aturan) Allah dan Sunnah Nabi-Nya di berbagai bidang kehidupan. Firman Allah :وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ [ شورى / 30 ]Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar [dari kesalahan-kesalahanmu]  (Qs As-Syura :30) Firman Allah :ظَهَرَ الْفَسادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِما كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ  [ الروم / 41 ]Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Qs Ar-Rum : 41)Rasulullah saw bersabda  :وَمَا لَمْ تَعْمَلْ أَئِمَّتُهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فِي كِتَابِهِ إِلاَّ جَعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْSelama para pemimpin mereka tidak menjalankan ketentuan hukum yang diturunkan oleh Allah dalam kitab suci-Nya, maka selama itu pula Allah munculkan saling permusuhan di antara mereka.Ali – Radhiyallahu Anhu – berkata :( مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إلّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ بَلَاءٌ إلّا بِتَوْبَةٍ )Tidak terjadi suatu bencana melainkan karena akibat dosa yang dilakukan, dan tidak akan diangkat suatu bencana melainkan dengan bertobat.Dosa kejahatan dan pelanggaran terhadap perintah Allah Tuhan langit dan bumi adalah penyebab hilangnya nikmat-nakmat yang ada sekarang dan pemutus nikmat-nikmat selanjutnya.Ibnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an, lebih dari seribu tempat. Itulah sebabnya setiap musibah berdarah yang menimpa kaum muslimin pastilah disebabkan oleh merajalelanya pelanggaran terhadap ketentuan Allah yang ada dalam dua wahyu (al-Qur’an dan As-Sunnah)Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad bahwa Nabi saw bersabda :( إذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِى أمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ )Jika kemaksiatan telah menjadi fenomena di kalangan umatku, maka Allah akan menyebarkan azab yang meliputi mereka dari sisi-NyaJika telah jelas fakta tersebut yang telah dilupakan oleh kebanyakan orang yang jauh dari sistem hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka hendaknya kita mengetahui bahwa sebenarnya ada beberapa prinsip dan pilar agung yang bilamana dikukuhkan dan diaplikasikan dengan penuh antusias oleh kaum muslimin, niscaya mereka akan terselamatkan dari kejahatan dan dampak buruk dari bencana dan malapetaka.Prinsip pertama : Bertobat secara sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala, yaitu dengan kembali ke jalan Allah, konsisten dalam menjalankan syariat agama-Nya dan mengikuti perintah-perintahNya dan perintah Rasul-Nya saw. Maka dengan bertobat kepada Allah akan terwujud kesentosaan dan kemakmuran hidup, dan terlindung dari segala kejahatan, bencana, kemelut dan krisis. Allah berfirman  :وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  [ النور / 31 ]Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (Qs An-Nur : 31)Allah berfirman perihal Nabi-Nya – Hud Alaihissalam – :وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan [Hud berkata]: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa (Qs Hud : 52)Kebaikan dengan segala ragamnya terletak pada pertobatan, demikian pula perbaikan kondisi dengan segala bentuknya sangat terkait dengan pertobatan. Firman Allah :فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [ التوبة / 74 ] 74.Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi  (Qs At-Taubah : 74)Bertobat kepada Allah dengan memperbaiki ibadah yang rusak akibat meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan merupakan penyebab terangkatnya bencana dan tertolaknya bala’. Firman Allah :وَما كانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَما كانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ  [ الأنفال / 33 ]( Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun ) Qs Al-Anfal : 33Bahkan tobat merupakan penyebab turunannya berbagai macam kebaikan dan datangnya aneka ragam nikmat yang menyenangkan. Firman Allah  :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتاعاً حَسَناً إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخافُ عَلَيْكُمْ عَذابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ  [ هود / 3 ](dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. [Jika kamu mengerjakan yang demikian], niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat) Qs Hud : 3Firman Allah melalui lisan Nabi Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كانَ غَفَّاراً ،  يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْراراً ، وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهاراً  [ نوح / 10 – 12 ]Maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuh 10-12)Prinsip kedua  : Memperbanyak ibadah dengan segala amal yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dengan ibadah, maka bencana tertolak dan kenikmatan tertarik. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً ،  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ(Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberikan kecukupan kepadanya) Qs. At-Thalaq : 2-3 )Ibnul-Qayim berkata, “Orang yang dermawan dan suka bersedekah selalu memberdayakan prajurit dan tentara yang bertempur untuk membela dirinya meskipun ia sendiri sedang tidur di kasurnya. Barangsiapa yang tidak punya prajurit atau tentara, sementara dirinya harus menghadapi musuh, maka acapkali dirinya dikuasai oleh musuh, meskipun penguasaan musuhnya atas dirinya itu mengalami keterlambatan. Semoga Allah menjadi Penolong kita”.Orang-orang yang berpegang pada keimanan dan beramal ibadah kepada Allah serta menahan diri dari segala laranganNya, sesungguhnya mereka itu mendapatkan perhatian khusus dan perlindungan yang sempurna dari Allah Ta’ala.Firman Allah  :إِنَّ اللَّهَ يُدافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا  [ الحج / 38 ]( Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman ). Qs Al-Haj : 38 Prinsip ketiga  :  Ketika umat ini terkepung oleh berbagai fitnah sehingga bahtera yang ditumpanginya terombang-ambing, dalam kondisi demikian tentu kebutuhan akan meniti jalan keselamatan sangatlah mendesak agar bisa sampai  ke daratan keamanan dan pantai keselamatan. Namun tidak mungkin mereka menemukan jalan selagi tidak mengobati problem dan penyakit yang mereka hadapi melalui cahaya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia. Jikalau tragedi dan bencana telah menghantam wajah umat ini di semua lembah, maka tidak ada jalan lain yang memberikan harapan dan yang dapat menyelamatkan selain mencari solusi pada dua sumber wahyu.Allah Ta’ala berfirman :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ الأنبياء / 10 ]( Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya) Qs Al-Anbiya : 10Artinya di dalam kitab Al-Qur’an itu terdapat kejayaan, kemuliaan dan kedaulatan bagi kalian.Imam Malik meriwayatkan dan kitab Muwatha’nya dari Nabi saw bahwa beliau bersabda :تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ( Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang-teguh kepada kedua-duanya; Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya ).Imam Abu Dawud – Rahimahullah – meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya dari hadis Al-Irbadh Bin Sariyah, dia berkata  :صَلّى لنا رسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ثمَّ أقبلَ عَلَيْنَا  فَوَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ .(Rasulullah telah memimpin shalat kami lalu beliau menghadapkan wajahnya kepada kami untuk memberi nasehat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat orang yang akan berpisah selamanya, maka berilah kami wasiat” Rasulullah saw bersabda, “Aku beri wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba budak. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang nantinya masih hidup, niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus, dan mendapatkan petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu sekuat-kuatnya dengan gigi geraham. Dan jauhilah hal-hal baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat).Maka berpegang teguh kepada dua wahyu ( sebagai sumber hukum ) ketika menghadapi bencana, konflik dan perselisihan, serta menjadikan keduanya sebagai rujukan dalam menangani setiap perpecahan, konflik dan pertikaian adalah jalan satu-satunya untuk menangkis bahaya berbagai penyimpangan, kekacauan dan kekalutan yang tersebar di dunia islam saat ini.Prinsip keempat  : Keamanan dambaan setiap bangsa dan tujuan setiap negara. Rasulullah saw bersabda :مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا(Barang siapa diantara kalian yang di pagi hari merasa terjamin aman di tempatnya, sehat badannya, memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia seluruhnya telah menjadi miliknya ) HR. Turmuzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan.Ingatlah ! Sendi keamanan adalah terwujudnya keimanan kepada Allah Ta’ala baik dalam aqidah, ucapan ataupun perbuatan. Pilar keamanan yang mendasar adalah mempraktekkan perintah-perintah Al-Qur’an dan arahan-arahan Nabi serta mengamalkan syariat islam dalam segala aspek kehidupan. Firman Allah :الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [ الأنعام / 82 ]( Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman [syirik], mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk ). Qs Al-An’am : 82Negeri manapun yang menyimpang dari hukum syariat Allah dan mengikuti kemauan hawa nafsunya, para penguasanya orang-orang jahat, pastilah negeri itu kehilangan keamanan yang didambakan dan penduduknya diliputi rasa takut, cemas dan galau.Firman Allah :وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ  [ النحل / 112 ](Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi [penduduk]nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat). Qs An-Nahl : 112Prinsip kelima  : Faktor kekuatan terpenting umat ini terdapat pada kerjasama [tolong-menolong] di antara mereka atas dasar amal kebajikan dan ketakwaan serta bersatu padu di dalam kebaikan dan petunjuk agama.Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103Sementara musibah yang paling besar yang dihadapi umat islam, yang melemahkan kekuatan lengannya, menumbangkan panji-panji kejayaannya adalah perselisihan, pertikaian dan perebutan.Firman Allah :وَلا تَنازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ  [ الأنفال / 46 ]( Dan janganlah kamu saling berebut yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ) Qs Al-Anfal : 46Rasulullah saw bersabda :( لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ أيّامٍ ) رواه أحمد وأصله فى صحيح مسلم( Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang besaudara. Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari ). HR Ahmad, sandaran asalnya pada Shahih Muslim.Rasulullah saw bersabda :( أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ (فقالها ثلاثا( Wahai manusia ! tetaplah kalian pada kelompok [ jama’ah kaum muslimin ], janganlah kalian bercerai-berai ), beliau mengulangi pesan ini hingga tiga kali. ( HR Ahmad )Dan peristiwa-peristiwa sejarah merupakan bukti terbesar yang menunjukkan bahwa perpecahan dan bentuk memisahkan diri adalah sebab kehancuran dan kerusakan.مِمَّا يُزَهِّدُنِي فِي أَرْضِ أَنْدَلُسٍ…. أَسْمَاءُ مُعْتَمِدٍ فِيْهَا وَمُعْتَضِدِأَلْقَابُ مَمْلَكَةٍ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهَا… كَالْهِرِّ يَحْكِي انْتِفَاخًا صَوْلَةَ الأَسَدِ“Diantara hal yang menjadikan aku tidak respek dengan negeri Andalus….Adalah nama-nama (raja-raja kecil yang terpecah-pecah) yang muncul di Andalus, yaitu Mu’tamid dan Mu’tadid…Gelar-gelar untuk para raja yang diletakan tidak pada tempatnya…Seperti kucing yang menegakkan bulu kuduknya menampakan seakan-akan ia seperti singa…”Maka wajib bagi kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah dan janganlah mereka berpecah-pecah padahal dihadapan mereka ada Al-Qur’an sebagai hakim dan sebagai metode, demikian juga ada Sunnah Rasulullah sebagai pelita dan petunjuk mereka, serta ada perjalanan hidup para khulafaur Rosyidin sebagai teladan dan contoh yang baik bagi mereka.Dan kapan mereka menyimpang dari jalan/metode ini maka seakan-akan kondisi mereka tergambarkan seperti ucapan seseorang :كُلٌّ يَرَى رَأْيَا وَيَنْصُرُ قَوْلَهُ *** وَلَهُ يُعَادِي سَائِرَ الإِخْوَانِوَلَوْ أَنَّهُم عِنْدَ التَّنَازُعِ وُفِّقُوا *** لَتَحَاكَمُوا للهِ دُوْنَ تَوَانِولَأَصْبَحُوا بَعْدَ الْخِصَامِ أَحِبَّةً *** غَيْظَ العَدَا وَمَذَلَّةَ الشَّيْطَانِ“Masing-masing memiliki pendapat dan mempertahankan pendapatnya…Dan ia memusuhi seluruh saudaranya (yang menyelisihinya)…Seandainya tatkala mereka berselisih mereka mendapatkan bimbingan…Maka sungguh mereka akan berhukum kepada Allah dengan semangat tanpa lalai sama sekali…Dan sungguh setelah berselisih mereka akan tetap saling mencintai…Yang hal ini menyebabkan kemarahan musuh dan kehinaan syaitan…”Maka bagaimana menurutmu? Apakah dengan besarnya bencana yang menimpa kaum muslimin akankah mereka akan kembali kepada jalan kebenaran mereka? Lalu bersatu padu di bawah satu bendera, undang-undang mereka adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan hukum mereka adalah syari’atnya Allah?. Kita mohon kepada Allah agar hal ini segera terwujudkan dan tidak tertunda, sesungguhnya Allah maha mendengar dan mengabulkan doa.Dan prinsip yang terakhir yaitu tatkala terjadinya fitnah maka masyarakat hendaknya berpegang kepada jalan-jalan yang disyari’atkan, bimbingan-bimbingan al-Qur’an, serta sirah (petunjuk) Nabi. Allah berfirman :وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗDan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). (QS An-Nisaa : 83)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Ibadah tatkala zaman fitnah seperti berhijrah kepadaku”Dan hendaknya mereka mengetahui bahwasanya perkara lisan dan pena adalah perkara yang sangat berbahaya dalam memprovokasi fitnah dan menyalakan kobaran apinya. Dan zaman fitnah adalah kondisi yang mudah menggelincirkan orang pada kesalahan. Allah berfirmanإِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar (QS An-Nuur : 15)Sesungguhnya para ulama, para pakar politik, para intelektual, serta orang-orang media sangat wajib bagi mereka untuk memeriksa dan meneliti (kroscek) tatkala waktu terjadinya fitnah, dan agar mereka tidak terjun pada perkara-perkara yang memprovokasi fitnah dan menambah nyala kobaran apinya.Telah datang dalam hadits yang marfu’ :ستكونُ فِتنةٌ صمَّاءُ بكمْاءُ عَمياءُ، مَنْ أشرَفَ لها استشرفَتْ له، وإشرافُ اللسانِ فيها كوقوع السيفِ“Akan muncul fitnah yang menulikan, membisukan, dan membutakan. Siapa yang mendekatinya maka fitnah tersebut akan mengenainya. Dan nimbrungnya lisan dalam fitnah tersebut seperti pedang” (HR Abu Dawud). Dan makna dari hadits ini sesuai dengan pokok-pokok syari’at dan dalil-dalil yang umum maupun yang khusus.Ibnu Abbas telah berkata ;إِنَّمَا الْفِتْنَةُ بِاللِّسَانِ وَلَيْسَتِ الْفِتْنَةُ بِالْيَدِ“Sesungguhnya fitnah itu dengan lisan bukanlah fitnah dengan tangan”    Kebenaran akan hal ini dibuktikan dengan apa yang dilihat oleh kaum muslimin pada fitnah-fitnah yang terjadi pada zaman ini yang sangat besar keburukannya dan tersebar kemudhorotannya, hanyalah Allah tempat memohon pertolongan.Semoga Allah memberkahi kita pada al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menjadikan kita mengambil manfaat dari keduanya. Khutbah Kedua          Sesungguhnya kita di negeri dua kota suci ini dalam kondisi makmur dengan kenikmatan-kenikmatan yang besar. Dan yang paling besar adalah menjadikan syari’at yang suci ini sebagai hukum, demikian juga bersatu padunya antara penguasa dan rakyat. Hal ini membuahkan ketenteraman dan keamanan, stabilitas dan kemakmuran. Maka wajib bagi penduduk negeri ini untuk mensyukuri karunia ini dan waspada dari kemurkaan Allah, serta berusaha untuk meraih keridhoanNya, dan semangat untuk mempererat antara penguasa dan rakyat dalam kebenaran dan petunjuk.Saudara-saudaraku se Islam, termasuk amalan yang terbaik dan tersuci adalah bersholawat kepada Nabi yang termulia, Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada beliau dan keluarganya serta para sahabatnya.Ya Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin, Ya Allah hilangkanlah kesedihan… hilangkanlah penderitaan…, Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…Ya Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu, wahai Yang Maha Agung, Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka berada, Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat, Ya Allah bimbinglah pelayan dua kota suci yang mulia kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhoi, Ya Allah tolonglah agama ini dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah meninggal, Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan akhirat serta jagalah kami dari adzab nerakaDiterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/ 
(Khutbah Jum’ah Masjid Nabawi 8 Shafar 1437 H)Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Ali Syekh –hafizohullah-Khotbah PertamaKondisi kaum muslimin di banyak tempat saat ini sangat memprihatinkan dan menyedihkan, terutama setelah terjadinya berbagai fitnah yang membutakan dan beragam petaka sehingga menyeret kaum muslimin kepada kehancuran dan kerusakan, terkait urusan agama, jiwa, kehormatan, harta benda dan tanah air. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.Camkanlah baik-baik bahwa faktor utama timbulnya segala malapetaka dan krisis yang membawa berbagai macam penderitaan dan kesengsaraan adalah disebabkan mereka menjauh dari sistem (aturan) Allah dan Sunnah Nabi-Nya di berbagai bidang kehidupan. Firman Allah :وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ [ شورى / 30 ]Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar [dari kesalahan-kesalahanmu]  (Qs As-Syura :30) Firman Allah :ظَهَرَ الْفَسادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِما كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ  [ الروم / 41 ]Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Qs Ar-Rum : 41)Rasulullah saw bersabda  :وَمَا لَمْ تَعْمَلْ أَئِمَّتُهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فِي كِتَابِهِ إِلاَّ جَعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْSelama para pemimpin mereka tidak menjalankan ketentuan hukum yang diturunkan oleh Allah dalam kitab suci-Nya, maka selama itu pula Allah munculkan saling permusuhan di antara mereka.Ali – Radhiyallahu Anhu – berkata :( مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إلّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ بَلَاءٌ إلّا بِتَوْبَةٍ )Tidak terjadi suatu bencana melainkan karena akibat dosa yang dilakukan, dan tidak akan diangkat suatu bencana melainkan dengan bertobat.Dosa kejahatan dan pelanggaran terhadap perintah Allah Tuhan langit dan bumi adalah penyebab hilangnya nikmat-nakmat yang ada sekarang dan pemutus nikmat-nikmat selanjutnya.Ibnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an, lebih dari seribu tempat. Itulah sebabnya setiap musibah berdarah yang menimpa kaum muslimin pastilah disebabkan oleh merajalelanya pelanggaran terhadap ketentuan Allah yang ada dalam dua wahyu (al-Qur’an dan As-Sunnah)Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad bahwa Nabi saw bersabda :( إذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِى أمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ )Jika kemaksiatan telah menjadi fenomena di kalangan umatku, maka Allah akan menyebarkan azab yang meliputi mereka dari sisi-NyaJika telah jelas fakta tersebut yang telah dilupakan oleh kebanyakan orang yang jauh dari sistem hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka hendaknya kita mengetahui bahwa sebenarnya ada beberapa prinsip dan pilar agung yang bilamana dikukuhkan dan diaplikasikan dengan penuh antusias oleh kaum muslimin, niscaya mereka akan terselamatkan dari kejahatan dan dampak buruk dari bencana dan malapetaka.Prinsip pertama : Bertobat secara sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala, yaitu dengan kembali ke jalan Allah, konsisten dalam menjalankan syariat agama-Nya dan mengikuti perintah-perintahNya dan perintah Rasul-Nya saw. Maka dengan bertobat kepada Allah akan terwujud kesentosaan dan kemakmuran hidup, dan terlindung dari segala kejahatan, bencana, kemelut dan krisis. Allah berfirman  :وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  [ النور / 31 ]Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (Qs An-Nur : 31)Allah berfirman perihal Nabi-Nya – Hud Alaihissalam – :وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan [Hud berkata]: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa (Qs Hud : 52)Kebaikan dengan segala ragamnya terletak pada pertobatan, demikian pula perbaikan kondisi dengan segala bentuknya sangat terkait dengan pertobatan. Firman Allah :فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [ التوبة / 74 ] 74.Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi  (Qs At-Taubah : 74)Bertobat kepada Allah dengan memperbaiki ibadah yang rusak akibat meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan merupakan penyebab terangkatnya bencana dan tertolaknya bala’. Firman Allah :وَما كانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَما كانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ  [ الأنفال / 33 ]( Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun ) Qs Al-Anfal : 33Bahkan tobat merupakan penyebab turunannya berbagai macam kebaikan dan datangnya aneka ragam nikmat yang menyenangkan. Firman Allah  :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتاعاً حَسَناً إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخافُ عَلَيْكُمْ عَذابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ  [ هود / 3 ](dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. [Jika kamu mengerjakan yang demikian], niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat) Qs Hud : 3Firman Allah melalui lisan Nabi Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كانَ غَفَّاراً ،  يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْراراً ، وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهاراً  [ نوح / 10 – 12 ]Maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuh 10-12)Prinsip kedua  : Memperbanyak ibadah dengan segala amal yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dengan ibadah, maka bencana tertolak dan kenikmatan tertarik. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً ،  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ(Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberikan kecukupan kepadanya) Qs. At-Thalaq : 2-3 )Ibnul-Qayim berkata, “Orang yang dermawan dan suka bersedekah selalu memberdayakan prajurit dan tentara yang bertempur untuk membela dirinya meskipun ia sendiri sedang tidur di kasurnya. Barangsiapa yang tidak punya prajurit atau tentara, sementara dirinya harus menghadapi musuh, maka acapkali dirinya dikuasai oleh musuh, meskipun penguasaan musuhnya atas dirinya itu mengalami keterlambatan. Semoga Allah menjadi Penolong kita”.Orang-orang yang berpegang pada keimanan dan beramal ibadah kepada Allah serta menahan diri dari segala laranganNya, sesungguhnya mereka itu mendapatkan perhatian khusus dan perlindungan yang sempurna dari Allah Ta’ala.Firman Allah  :إِنَّ اللَّهَ يُدافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا  [ الحج / 38 ]( Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman ). Qs Al-Haj : 38 Prinsip ketiga  :  Ketika umat ini terkepung oleh berbagai fitnah sehingga bahtera yang ditumpanginya terombang-ambing, dalam kondisi demikian tentu kebutuhan akan meniti jalan keselamatan sangatlah mendesak agar bisa sampai  ke daratan keamanan dan pantai keselamatan. Namun tidak mungkin mereka menemukan jalan selagi tidak mengobati problem dan penyakit yang mereka hadapi melalui cahaya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia. Jikalau tragedi dan bencana telah menghantam wajah umat ini di semua lembah, maka tidak ada jalan lain yang memberikan harapan dan yang dapat menyelamatkan selain mencari solusi pada dua sumber wahyu.Allah Ta’ala berfirman :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ الأنبياء / 10 ]( Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya) Qs Al-Anbiya : 10Artinya di dalam kitab Al-Qur’an itu terdapat kejayaan, kemuliaan dan kedaulatan bagi kalian.Imam Malik meriwayatkan dan kitab Muwatha’nya dari Nabi saw bahwa beliau bersabda :تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ( Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang-teguh kepada kedua-duanya; Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya ).Imam Abu Dawud – Rahimahullah – meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya dari hadis Al-Irbadh Bin Sariyah, dia berkata  :صَلّى لنا رسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ثمَّ أقبلَ عَلَيْنَا  فَوَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ .(Rasulullah telah memimpin shalat kami lalu beliau menghadapkan wajahnya kepada kami untuk memberi nasehat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat orang yang akan berpisah selamanya, maka berilah kami wasiat” Rasulullah saw bersabda, “Aku beri wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba budak. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang nantinya masih hidup, niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus, dan mendapatkan petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu sekuat-kuatnya dengan gigi geraham. Dan jauhilah hal-hal baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat).Maka berpegang teguh kepada dua wahyu ( sebagai sumber hukum ) ketika menghadapi bencana, konflik dan perselisihan, serta menjadikan keduanya sebagai rujukan dalam menangani setiap perpecahan, konflik dan pertikaian adalah jalan satu-satunya untuk menangkis bahaya berbagai penyimpangan, kekacauan dan kekalutan yang tersebar di dunia islam saat ini.Prinsip keempat  : Keamanan dambaan setiap bangsa dan tujuan setiap negara. Rasulullah saw bersabda :مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا(Barang siapa diantara kalian yang di pagi hari merasa terjamin aman di tempatnya, sehat badannya, memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia seluruhnya telah menjadi miliknya ) HR. Turmuzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan.Ingatlah ! Sendi keamanan adalah terwujudnya keimanan kepada Allah Ta’ala baik dalam aqidah, ucapan ataupun perbuatan. Pilar keamanan yang mendasar adalah mempraktekkan perintah-perintah Al-Qur’an dan arahan-arahan Nabi serta mengamalkan syariat islam dalam segala aspek kehidupan. Firman Allah :الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [ الأنعام / 82 ]( Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman [syirik], mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk ). Qs Al-An’am : 82Negeri manapun yang menyimpang dari hukum syariat Allah dan mengikuti kemauan hawa nafsunya, para penguasanya orang-orang jahat, pastilah negeri itu kehilangan keamanan yang didambakan dan penduduknya diliputi rasa takut, cemas dan galau.Firman Allah :وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ  [ النحل / 112 ](Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi [penduduk]nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat). Qs An-Nahl : 112Prinsip kelima  : Faktor kekuatan terpenting umat ini terdapat pada kerjasama [tolong-menolong] di antara mereka atas dasar amal kebajikan dan ketakwaan serta bersatu padu di dalam kebaikan dan petunjuk agama.Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103Sementara musibah yang paling besar yang dihadapi umat islam, yang melemahkan kekuatan lengannya, menumbangkan panji-panji kejayaannya adalah perselisihan, pertikaian dan perebutan.Firman Allah :وَلا تَنازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ  [ الأنفال / 46 ]( Dan janganlah kamu saling berebut yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ) Qs Al-Anfal : 46Rasulullah saw bersabda :( لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ أيّامٍ ) رواه أحمد وأصله فى صحيح مسلم( Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang besaudara. Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari ). HR Ahmad, sandaran asalnya pada Shahih Muslim.Rasulullah saw bersabda :( أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ (فقالها ثلاثا( Wahai manusia ! tetaplah kalian pada kelompok [ jama’ah kaum muslimin ], janganlah kalian bercerai-berai ), beliau mengulangi pesan ini hingga tiga kali. ( HR Ahmad )Dan peristiwa-peristiwa sejarah merupakan bukti terbesar yang menunjukkan bahwa perpecahan dan bentuk memisahkan diri adalah sebab kehancuran dan kerusakan.مِمَّا يُزَهِّدُنِي فِي أَرْضِ أَنْدَلُسٍ…. أَسْمَاءُ مُعْتَمِدٍ فِيْهَا وَمُعْتَضِدِأَلْقَابُ مَمْلَكَةٍ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهَا… كَالْهِرِّ يَحْكِي انْتِفَاخًا صَوْلَةَ الأَسَدِ“Diantara hal yang menjadikan aku tidak respek dengan negeri Andalus….Adalah nama-nama (raja-raja kecil yang terpecah-pecah) yang muncul di Andalus, yaitu Mu’tamid dan Mu’tadid…Gelar-gelar untuk para raja yang diletakan tidak pada tempatnya…Seperti kucing yang menegakkan bulu kuduknya menampakan seakan-akan ia seperti singa…”Maka wajib bagi kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah dan janganlah mereka berpecah-pecah padahal dihadapan mereka ada Al-Qur’an sebagai hakim dan sebagai metode, demikian juga ada Sunnah Rasulullah sebagai pelita dan petunjuk mereka, serta ada perjalanan hidup para khulafaur Rosyidin sebagai teladan dan contoh yang baik bagi mereka.Dan kapan mereka menyimpang dari jalan/metode ini maka seakan-akan kondisi mereka tergambarkan seperti ucapan seseorang :كُلٌّ يَرَى رَأْيَا وَيَنْصُرُ قَوْلَهُ *** وَلَهُ يُعَادِي سَائِرَ الإِخْوَانِوَلَوْ أَنَّهُم عِنْدَ التَّنَازُعِ وُفِّقُوا *** لَتَحَاكَمُوا للهِ دُوْنَ تَوَانِولَأَصْبَحُوا بَعْدَ الْخِصَامِ أَحِبَّةً *** غَيْظَ العَدَا وَمَذَلَّةَ الشَّيْطَانِ“Masing-masing memiliki pendapat dan mempertahankan pendapatnya…Dan ia memusuhi seluruh saudaranya (yang menyelisihinya)…Seandainya tatkala mereka berselisih mereka mendapatkan bimbingan…Maka sungguh mereka akan berhukum kepada Allah dengan semangat tanpa lalai sama sekali…Dan sungguh setelah berselisih mereka akan tetap saling mencintai…Yang hal ini menyebabkan kemarahan musuh dan kehinaan syaitan…”Maka bagaimana menurutmu? Apakah dengan besarnya bencana yang menimpa kaum muslimin akankah mereka akan kembali kepada jalan kebenaran mereka? Lalu bersatu padu di bawah satu bendera, undang-undang mereka adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan hukum mereka adalah syari’atnya Allah?. Kita mohon kepada Allah agar hal ini segera terwujudkan dan tidak tertunda, sesungguhnya Allah maha mendengar dan mengabulkan doa.Dan prinsip yang terakhir yaitu tatkala terjadinya fitnah maka masyarakat hendaknya berpegang kepada jalan-jalan yang disyari’atkan, bimbingan-bimbingan al-Qur’an, serta sirah (petunjuk) Nabi. Allah berfirman :وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗDan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). (QS An-Nisaa : 83)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Ibadah tatkala zaman fitnah seperti berhijrah kepadaku”Dan hendaknya mereka mengetahui bahwasanya perkara lisan dan pena adalah perkara yang sangat berbahaya dalam memprovokasi fitnah dan menyalakan kobaran apinya. Dan zaman fitnah adalah kondisi yang mudah menggelincirkan orang pada kesalahan. Allah berfirmanإِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar (QS An-Nuur : 15)Sesungguhnya para ulama, para pakar politik, para intelektual, serta orang-orang media sangat wajib bagi mereka untuk memeriksa dan meneliti (kroscek) tatkala waktu terjadinya fitnah, dan agar mereka tidak terjun pada perkara-perkara yang memprovokasi fitnah dan menambah nyala kobaran apinya.Telah datang dalam hadits yang marfu’ :ستكونُ فِتنةٌ صمَّاءُ بكمْاءُ عَمياءُ، مَنْ أشرَفَ لها استشرفَتْ له، وإشرافُ اللسانِ فيها كوقوع السيفِ“Akan muncul fitnah yang menulikan, membisukan, dan membutakan. Siapa yang mendekatinya maka fitnah tersebut akan mengenainya. Dan nimbrungnya lisan dalam fitnah tersebut seperti pedang” (HR Abu Dawud). Dan makna dari hadits ini sesuai dengan pokok-pokok syari’at dan dalil-dalil yang umum maupun yang khusus.Ibnu Abbas telah berkata ;إِنَّمَا الْفِتْنَةُ بِاللِّسَانِ وَلَيْسَتِ الْفِتْنَةُ بِالْيَدِ“Sesungguhnya fitnah itu dengan lisan bukanlah fitnah dengan tangan”    Kebenaran akan hal ini dibuktikan dengan apa yang dilihat oleh kaum muslimin pada fitnah-fitnah yang terjadi pada zaman ini yang sangat besar keburukannya dan tersebar kemudhorotannya, hanyalah Allah tempat memohon pertolongan.Semoga Allah memberkahi kita pada al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menjadikan kita mengambil manfaat dari keduanya. Khutbah Kedua          Sesungguhnya kita di negeri dua kota suci ini dalam kondisi makmur dengan kenikmatan-kenikmatan yang besar. Dan yang paling besar adalah menjadikan syari’at yang suci ini sebagai hukum, demikian juga bersatu padunya antara penguasa dan rakyat. Hal ini membuahkan ketenteraman dan keamanan, stabilitas dan kemakmuran. Maka wajib bagi penduduk negeri ini untuk mensyukuri karunia ini dan waspada dari kemurkaan Allah, serta berusaha untuk meraih keridhoanNya, dan semangat untuk mempererat antara penguasa dan rakyat dalam kebenaran dan petunjuk.Saudara-saudaraku se Islam, termasuk amalan yang terbaik dan tersuci adalah bersholawat kepada Nabi yang termulia, Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada beliau dan keluarganya serta para sahabatnya.Ya Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin, Ya Allah hilangkanlah kesedihan… hilangkanlah penderitaan…, Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…Ya Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu, wahai Yang Maha Agung, Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka berada, Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat, Ya Allah bimbinglah pelayan dua kota suci yang mulia kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhoi, Ya Allah tolonglah agama ini dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah meninggal, Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan akhirat serta jagalah kami dari adzab nerakaDiterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/ 


(Khutbah Jum’ah Masjid Nabawi 8 Shafar 1437 H)Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Ali Syekh –hafizohullah-Khotbah PertamaKondisi kaum muslimin di banyak tempat saat ini sangat memprihatinkan dan menyedihkan, terutama setelah terjadinya berbagai fitnah yang membutakan dan beragam petaka sehingga menyeret kaum muslimin kepada kehancuran dan kerusakan, terkait urusan agama, jiwa, kehormatan, harta benda dan tanah air. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.Camkanlah baik-baik bahwa faktor utama timbulnya segala malapetaka dan krisis yang membawa berbagai macam penderitaan dan kesengsaraan adalah disebabkan mereka menjauh dari sistem (aturan) Allah dan Sunnah Nabi-Nya di berbagai bidang kehidupan. Firman Allah :وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ [ شورى / 30 ]Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar [dari kesalahan-kesalahanmu]  (Qs As-Syura :30) Firman Allah :ظَهَرَ الْفَسادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِما كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ  [ الروم / 41 ]Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Qs Ar-Rum : 41)Rasulullah saw bersabda  :وَمَا لَمْ تَعْمَلْ أَئِمَّتُهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فِي كِتَابِهِ إِلاَّ جَعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْSelama para pemimpin mereka tidak menjalankan ketentuan hukum yang diturunkan oleh Allah dalam kitab suci-Nya, maka selama itu pula Allah munculkan saling permusuhan di antara mereka.Ali – Radhiyallahu Anhu – berkata :( مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إلّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ بَلَاءٌ إلّا بِتَوْبَةٍ )Tidak terjadi suatu bencana melainkan karena akibat dosa yang dilakukan, dan tidak akan diangkat suatu bencana melainkan dengan bertobat.Dosa kejahatan dan pelanggaran terhadap perintah Allah Tuhan langit dan bumi adalah penyebab hilangnya nikmat-nakmat yang ada sekarang dan pemutus nikmat-nikmat selanjutnya.Ibnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an, lebih dari seribu tempat. Itulah sebabnya setiap musibah berdarah yang menimpa kaum muslimin pastilah disebabkan oleh merajalelanya pelanggaran terhadap ketentuan Allah yang ada dalam dua wahyu (al-Qur’an dan As-Sunnah)Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad bahwa Nabi saw bersabda :( إذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِى أمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ )Jika kemaksiatan telah menjadi fenomena di kalangan umatku, maka Allah akan menyebarkan azab yang meliputi mereka dari sisi-NyaJika telah jelas fakta tersebut yang telah dilupakan oleh kebanyakan orang yang jauh dari sistem hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka hendaknya kita mengetahui bahwa sebenarnya ada beberapa prinsip dan pilar agung yang bilamana dikukuhkan dan diaplikasikan dengan penuh antusias oleh kaum muslimin, niscaya mereka akan terselamatkan dari kejahatan dan dampak buruk dari bencana dan malapetaka.Prinsip pertama : Bertobat secara sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala, yaitu dengan kembali ke jalan Allah, konsisten dalam menjalankan syariat agama-Nya dan mengikuti perintah-perintahNya dan perintah Rasul-Nya saw. Maka dengan bertobat kepada Allah akan terwujud kesentosaan dan kemakmuran hidup, dan terlindung dari segala kejahatan, bencana, kemelut dan krisis. Allah berfirman  :وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  [ النور / 31 ]Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (Qs An-Nur : 31)Allah berfirman perihal Nabi-Nya – Hud Alaihissalam – :وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan [Hud berkata]: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa (Qs Hud : 52)Kebaikan dengan segala ragamnya terletak pada pertobatan, demikian pula perbaikan kondisi dengan segala bentuknya sangat terkait dengan pertobatan. Firman Allah :فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [ التوبة / 74 ] 74.Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi  (Qs At-Taubah : 74)Bertobat kepada Allah dengan memperbaiki ibadah yang rusak akibat meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan merupakan penyebab terangkatnya bencana dan tertolaknya bala’. Firman Allah :وَما كانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَما كانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ  [ الأنفال / 33 ]( Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun ) Qs Al-Anfal : 33Bahkan tobat merupakan penyebab turunannya berbagai macam kebaikan dan datangnya aneka ragam nikmat yang menyenangkan. Firman Allah  :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتاعاً حَسَناً إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخافُ عَلَيْكُمْ عَذابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ  [ هود / 3 ](dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. [Jika kamu mengerjakan yang demikian], niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat) Qs Hud : 3Firman Allah melalui lisan Nabi Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كانَ غَفَّاراً ،  يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْراراً ، وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهاراً  [ نوح / 10 – 12 ]Maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuh 10-12)Prinsip kedua  : Memperbanyak ibadah dengan segala amal yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dengan ibadah, maka bencana tertolak dan kenikmatan tertarik. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً ،  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ(Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberikan kecukupan kepadanya) Qs. At-Thalaq : 2-3 )Ibnul-Qayim berkata, “Orang yang dermawan dan suka bersedekah selalu memberdayakan prajurit dan tentara yang bertempur untuk membela dirinya meskipun ia sendiri sedang tidur di kasurnya. Barangsiapa yang tidak punya prajurit atau tentara, sementara dirinya harus menghadapi musuh, maka acapkali dirinya dikuasai oleh musuh, meskipun penguasaan musuhnya atas dirinya itu mengalami keterlambatan. Semoga Allah menjadi Penolong kita”.Orang-orang yang berpegang pada keimanan dan beramal ibadah kepada Allah serta menahan diri dari segala laranganNya, sesungguhnya mereka itu mendapatkan perhatian khusus dan perlindungan yang sempurna dari Allah Ta’ala.Firman Allah  :إِنَّ اللَّهَ يُدافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا  [ الحج / 38 ]( Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman ). Qs Al-Haj : 38 Prinsip ketiga  :  Ketika umat ini terkepung oleh berbagai fitnah sehingga bahtera yang ditumpanginya terombang-ambing, dalam kondisi demikian tentu kebutuhan akan meniti jalan keselamatan sangatlah mendesak agar bisa sampai  ke daratan keamanan dan pantai keselamatan. Namun tidak mungkin mereka menemukan jalan selagi tidak mengobati problem dan penyakit yang mereka hadapi melalui cahaya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia. Jikalau tragedi dan bencana telah menghantam wajah umat ini di semua lembah, maka tidak ada jalan lain yang memberikan harapan dan yang dapat menyelamatkan selain mencari solusi pada dua sumber wahyu.Allah Ta’ala berfirman :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ الأنبياء / 10 ]( Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya) Qs Al-Anbiya : 10Artinya di dalam kitab Al-Qur’an itu terdapat kejayaan, kemuliaan dan kedaulatan bagi kalian.Imam Malik meriwayatkan dan kitab Muwatha’nya dari Nabi saw bahwa beliau bersabda :تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ( Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang-teguh kepada kedua-duanya; Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya ).Imam Abu Dawud – Rahimahullah – meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya dari hadis Al-Irbadh Bin Sariyah, dia berkata  :صَلّى لنا رسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ثمَّ أقبلَ عَلَيْنَا  فَوَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ .(Rasulullah telah memimpin shalat kami lalu beliau menghadapkan wajahnya kepada kami untuk memberi nasehat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat orang yang akan berpisah selamanya, maka berilah kami wasiat” Rasulullah saw bersabda, “Aku beri wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba budak. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang nantinya masih hidup, niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus, dan mendapatkan petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu sekuat-kuatnya dengan gigi geraham. Dan jauhilah hal-hal baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat).Maka berpegang teguh kepada dua wahyu ( sebagai sumber hukum ) ketika menghadapi bencana, konflik dan perselisihan, serta menjadikan keduanya sebagai rujukan dalam menangani setiap perpecahan, konflik dan pertikaian adalah jalan satu-satunya untuk menangkis bahaya berbagai penyimpangan, kekacauan dan kekalutan yang tersebar di dunia islam saat ini.Prinsip keempat  : Keamanan dambaan setiap bangsa dan tujuan setiap negara. Rasulullah saw bersabda :مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا(Barang siapa diantara kalian yang di pagi hari merasa terjamin aman di tempatnya, sehat badannya, memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia seluruhnya telah menjadi miliknya ) HR. Turmuzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan.Ingatlah ! Sendi keamanan adalah terwujudnya keimanan kepada Allah Ta’ala baik dalam aqidah, ucapan ataupun perbuatan. Pilar keamanan yang mendasar adalah mempraktekkan perintah-perintah Al-Qur’an dan arahan-arahan Nabi serta mengamalkan syariat islam dalam segala aspek kehidupan. Firman Allah :الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [ الأنعام / 82 ]( Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman [syirik], mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk ). Qs Al-An’am : 82Negeri manapun yang menyimpang dari hukum syariat Allah dan mengikuti kemauan hawa nafsunya, para penguasanya orang-orang jahat, pastilah negeri itu kehilangan keamanan yang didambakan dan penduduknya diliputi rasa takut, cemas dan galau.Firman Allah :وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ  [ النحل / 112 ](Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi [penduduk]nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat). Qs An-Nahl : 112Prinsip kelima  : Faktor kekuatan terpenting umat ini terdapat pada kerjasama [tolong-menolong] di antara mereka atas dasar amal kebajikan dan ketakwaan serta bersatu padu di dalam kebaikan dan petunjuk agama.Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103Sementara musibah yang paling besar yang dihadapi umat islam, yang melemahkan kekuatan lengannya, menumbangkan panji-panji kejayaannya adalah perselisihan, pertikaian dan perebutan.Firman Allah :وَلا تَنازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ  [ الأنفال / 46 ]( Dan janganlah kamu saling berebut yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ) Qs Al-Anfal : 46Rasulullah saw bersabda :( لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ أيّامٍ ) رواه أحمد وأصله فى صحيح مسلم( Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang besaudara. Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari ). HR Ahmad, sandaran asalnya pada Shahih Muslim.Rasulullah saw bersabda :( أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ (فقالها ثلاثا( Wahai manusia ! tetaplah kalian pada kelompok [ jama’ah kaum muslimin ], janganlah kalian bercerai-berai ), beliau mengulangi pesan ini hingga tiga kali. ( HR Ahmad )Dan peristiwa-peristiwa sejarah merupakan bukti terbesar yang menunjukkan bahwa perpecahan dan bentuk memisahkan diri adalah sebab kehancuran dan kerusakan.مِمَّا يُزَهِّدُنِي فِي أَرْضِ أَنْدَلُسٍ…. أَسْمَاءُ مُعْتَمِدٍ فِيْهَا وَمُعْتَضِدِأَلْقَابُ مَمْلَكَةٍ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهَا… كَالْهِرِّ يَحْكِي انْتِفَاخًا صَوْلَةَ الأَسَدِ“Diantara hal yang menjadikan aku tidak respek dengan negeri Andalus….Adalah nama-nama (raja-raja kecil yang terpecah-pecah) yang muncul di Andalus, yaitu Mu’tamid dan Mu’tadid…Gelar-gelar untuk para raja yang diletakan tidak pada tempatnya…Seperti kucing yang menegakkan bulu kuduknya menampakan seakan-akan ia seperti singa…”Maka wajib bagi kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah dan janganlah mereka berpecah-pecah padahal dihadapan mereka ada Al-Qur’an sebagai hakim dan sebagai metode, demikian juga ada Sunnah Rasulullah sebagai pelita dan petunjuk mereka, serta ada perjalanan hidup para khulafaur Rosyidin sebagai teladan dan contoh yang baik bagi mereka.Dan kapan mereka menyimpang dari jalan/metode ini maka seakan-akan kondisi mereka tergambarkan seperti ucapan seseorang :كُلٌّ يَرَى رَأْيَا وَيَنْصُرُ قَوْلَهُ *** وَلَهُ يُعَادِي سَائِرَ الإِخْوَانِوَلَوْ أَنَّهُم عِنْدَ التَّنَازُعِ وُفِّقُوا *** لَتَحَاكَمُوا للهِ دُوْنَ تَوَانِولَأَصْبَحُوا بَعْدَ الْخِصَامِ أَحِبَّةً *** غَيْظَ العَدَا وَمَذَلَّةَ الشَّيْطَانِ“Masing-masing memiliki pendapat dan mempertahankan pendapatnya…Dan ia memusuhi seluruh saudaranya (yang menyelisihinya)…Seandainya tatkala mereka berselisih mereka mendapatkan bimbingan…Maka sungguh mereka akan berhukum kepada Allah dengan semangat tanpa lalai sama sekali…Dan sungguh setelah berselisih mereka akan tetap saling mencintai…Yang hal ini menyebabkan kemarahan musuh dan kehinaan syaitan…”Maka bagaimana menurutmu? Apakah dengan besarnya bencana yang menimpa kaum muslimin akankah mereka akan kembali kepada jalan kebenaran mereka? Lalu bersatu padu di bawah satu bendera, undang-undang mereka adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan hukum mereka adalah syari’atnya Allah?. Kita mohon kepada Allah agar hal ini segera terwujudkan dan tidak tertunda, sesungguhnya Allah maha mendengar dan mengabulkan doa.Dan prinsip yang terakhir yaitu tatkala terjadinya fitnah maka masyarakat hendaknya berpegang kepada jalan-jalan yang disyari’atkan, bimbingan-bimbingan al-Qur’an, serta sirah (petunjuk) Nabi. Allah berfirman :وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗDan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). (QS An-Nisaa : 83)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Ibadah tatkala zaman fitnah seperti berhijrah kepadaku”Dan hendaknya mereka mengetahui bahwasanya perkara lisan dan pena adalah perkara yang sangat berbahaya dalam memprovokasi fitnah dan menyalakan kobaran apinya. Dan zaman fitnah adalah kondisi yang mudah menggelincirkan orang pada kesalahan. Allah berfirmanإِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar (QS An-Nuur : 15)Sesungguhnya para ulama, para pakar politik, para intelektual, serta orang-orang media sangat wajib bagi mereka untuk memeriksa dan meneliti (kroscek) tatkala waktu terjadinya fitnah, dan agar mereka tidak terjun pada perkara-perkara yang memprovokasi fitnah dan menambah nyala kobaran apinya.Telah datang dalam hadits yang marfu’ :ستكونُ فِتنةٌ صمَّاءُ بكمْاءُ عَمياءُ، مَنْ أشرَفَ لها استشرفَتْ له، وإشرافُ اللسانِ فيها كوقوع السيفِ“Akan muncul fitnah yang menulikan, membisukan, dan membutakan. Siapa yang mendekatinya maka fitnah tersebut akan mengenainya. Dan nimbrungnya lisan dalam fitnah tersebut seperti pedang” (HR Abu Dawud). Dan makna dari hadits ini sesuai dengan pokok-pokok syari’at dan dalil-dalil yang umum maupun yang khusus.Ibnu Abbas telah berkata ;إِنَّمَا الْفِتْنَةُ بِاللِّسَانِ وَلَيْسَتِ الْفِتْنَةُ بِالْيَدِ“Sesungguhnya fitnah itu dengan lisan bukanlah fitnah dengan tangan”    Kebenaran akan hal ini dibuktikan dengan apa yang dilihat oleh kaum muslimin pada fitnah-fitnah yang terjadi pada zaman ini yang sangat besar keburukannya dan tersebar kemudhorotannya, hanyalah Allah tempat memohon pertolongan.Semoga Allah memberkahi kita pada al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menjadikan kita mengambil manfaat dari keduanya. Khutbah Kedua          Sesungguhnya kita di negeri dua kota suci ini dalam kondisi makmur dengan kenikmatan-kenikmatan yang besar. Dan yang paling besar adalah menjadikan syari’at yang suci ini sebagai hukum, demikian juga bersatu padunya antara penguasa dan rakyat. Hal ini membuahkan ketenteraman dan keamanan, stabilitas dan kemakmuran. Maka wajib bagi penduduk negeri ini untuk mensyukuri karunia ini dan waspada dari kemurkaan Allah, serta berusaha untuk meraih keridhoanNya, dan semangat untuk mempererat antara penguasa dan rakyat dalam kebenaran dan petunjuk.Saudara-saudaraku se Islam, termasuk amalan yang terbaik dan tersuci adalah bersholawat kepada Nabi yang termulia, Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada beliau dan keluarganya serta para sahabatnya.Ya Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin, Ya Allah hilangkanlah kesedihan… hilangkanlah penderitaan…, Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…Ya Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu, wahai Yang Maha Agung, Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka berada, Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat, Ya Allah bimbinglah pelayan dua kota suci yang mulia kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhoi, Ya Allah tolonglah agama ini dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah meninggal, Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan akhirat serta jagalah kami dari adzab nerakaDiterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/ 

Ngaji Kitab Berbuah Hujan Deras

Menjelang jam 8 malam Kamis ini, mulai berdatangan jamaah dari berbagai dusun dan desa di sekitar Pesantren Darush Sholihin. Pengajian seperti ini biasa diadakan di lapangan pesantren Darush Sholihin. Malam Kamis yang sudah berjalan beberapa minggu terus dihadiri hingga 2000-an jama’ah. Semua warga sudah duduk beralaskan kloso (tikar) di lapangan bahkan sampai menempati jalan-jalan dan kajian pun dimulai pukul 20.03 WIB. Bahasan malam ini adalah kitab Riyadh Ash-Shalihin, tema: Fadhilah Amal, dalam bab keutamaan surat dan ayat tertentu dalam Al-Qur’an. Disimpulkan dari bahasan tadi bahwa ada dua surat yang utama sampai disebut sebagai dua cahaya kebaikan dan kebahagiaan, yaitu surat Al-Fatihah dan ayat terakhir dari surat Al-Baqarah. Intinya yang khusus untuk dikaji saat kajian adalah surat Al-Fatihah karena belum pernah dibahas secara khusus sebelumnya. Setelah peserta dituntun membaca Al-Fatihah, sampai juga pada bahasan beberapa hukum yang berkaitan dengan Al-Fatihah yaitu disinggung hadits tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah. Lalu terlihat pada rekaman di handphone, kajian sudah berjalan 20 menit. Kemudian … Satu tetes air hujan terasa pada tangan dan kitab pegangan (Tafsir Ibnu Katsir). Di tengah bahasan dipotong oleh si pembicara, “Sepertinya mau gerimis, yah.” Jama’ah lantas menjawab serempak, “Iya.” Satu tetes lagi hujan terasa. Ternyata, makin deras … Makin deras … Akhirnya 2000-an jama’ah tumpah ruah mencari tempat berteduh di tepian rumah sampai di Masjid Jami’ Al-Adha (masjid pesantren) yang berjarak 50 meter dari lapangan. Bisa seperti itu karena kajian diadakan di lapangan terbuka, tanpa atap. Di tengah kajian, walhamdulillah turun hujan deras. Padahal warga yang hadir sudah merasakan kedinginan karena baju koko serta gamis muslimah yang basah kuyup. Tak ada komentar berupa keluhan, bahkan ketika hujan deras turun semuanya mengucapkan ‘alhamdulillah, Allahumma shoyyiban naafi’a (Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat). Karena memang hujan seperti inilah yang dinanti. Di Kecamatan Panggang, khususnya Desa Girisekar, hujan memang baru terasa tiga kali dan itu pun tidak begitu deras. Warga begitu sumringah sekali sampai ada seorang kepala RT di dusun Warak berkata, “Alhamdulillah, besok kita bisa nandur (mulai tanam).” Karena memang mereka menanti hujan deras seperti ini untuk mulai menanam padi. Dusun Warak sekitar menggunakan sawah tadah hujan yang pengairannya hanya berharap pada turunnya hujan. Uniknya, hujan ini hanya turun di dusun tempat kajian berlangsung hingga merambat pula ke daerah di selatan pesantren. Namun daerah di utara hingga pusat kecamatan tak terasa hujan sama sekali pada jam tersebut, bahkan dikabarkan jalan-jalan pun masih kering. Sayang … kejadian di atas hanya bisa digambarkan lewat tulisan, tak ada rekaman video. Memang benar janji Allah, وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا “Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).” (QS. Al-Jin: 16). Lihat bahasan ayat ini selengkapnya di sini. Qatadah mengatakan tentang ayat tersebut, “Seandainya kalian beriman semuanya, maka Kami akan limpahkan kepada kalian dunia.” Mujahid mengatakan, “Jika kalian terus berpegang pada kebenaran.” Walhamdulillah, ngaji kitab ternyata berbuah anugerah hujan deras. Moga hujan yang turun adalah hujan penuh berkah dan membawa rahmat bagi warga, serta menyuburkan ladang-ladang mereka.   Persiapan lapangan di awal kajian.   Jamaah mulai berdatangan dan duduk di pinggiran jalan di bawah lapangan.   Jamaah membludak hingga 2000 lebih.   Jamaah yang duduk sampai di halaman rumah warga.   Peserta kajian ibu-ibu.   Nampak jamaah yang begitu banyak.   Hujan lebat turun, jamaah mencari tempat berteduh.   Jamaah berlindung di masjid lantai bawah.   Jamaah dengan truck mini pada bubar.   Keadaan di jalan pesantren yang basah ketika turun hujan, lalu lintas terlihat padat.   Bagi yang ingin berdonasi dalam pelebaran jalan pesantren: Rekening khusus dana sosial (bisa pula disalurkan dana riba atau dana syubhat): BCA KCP Wonosari 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BCA # 18 November 2015 # Rp.3.000.000. Info penyaluran dana sosial di sini. Info donasi via CALL/ WA/ SMS: 0811267791   — Kejadian malam Kamis di Darush Sholihin, Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, malam 7 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagshujan

Ngaji Kitab Berbuah Hujan Deras

Menjelang jam 8 malam Kamis ini, mulai berdatangan jamaah dari berbagai dusun dan desa di sekitar Pesantren Darush Sholihin. Pengajian seperti ini biasa diadakan di lapangan pesantren Darush Sholihin. Malam Kamis yang sudah berjalan beberapa minggu terus dihadiri hingga 2000-an jama’ah. Semua warga sudah duduk beralaskan kloso (tikar) di lapangan bahkan sampai menempati jalan-jalan dan kajian pun dimulai pukul 20.03 WIB. Bahasan malam ini adalah kitab Riyadh Ash-Shalihin, tema: Fadhilah Amal, dalam bab keutamaan surat dan ayat tertentu dalam Al-Qur’an. Disimpulkan dari bahasan tadi bahwa ada dua surat yang utama sampai disebut sebagai dua cahaya kebaikan dan kebahagiaan, yaitu surat Al-Fatihah dan ayat terakhir dari surat Al-Baqarah. Intinya yang khusus untuk dikaji saat kajian adalah surat Al-Fatihah karena belum pernah dibahas secara khusus sebelumnya. Setelah peserta dituntun membaca Al-Fatihah, sampai juga pada bahasan beberapa hukum yang berkaitan dengan Al-Fatihah yaitu disinggung hadits tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah. Lalu terlihat pada rekaman di handphone, kajian sudah berjalan 20 menit. Kemudian … Satu tetes air hujan terasa pada tangan dan kitab pegangan (Tafsir Ibnu Katsir). Di tengah bahasan dipotong oleh si pembicara, “Sepertinya mau gerimis, yah.” Jama’ah lantas menjawab serempak, “Iya.” Satu tetes lagi hujan terasa. Ternyata, makin deras … Makin deras … Akhirnya 2000-an jama’ah tumpah ruah mencari tempat berteduh di tepian rumah sampai di Masjid Jami’ Al-Adha (masjid pesantren) yang berjarak 50 meter dari lapangan. Bisa seperti itu karena kajian diadakan di lapangan terbuka, tanpa atap. Di tengah kajian, walhamdulillah turun hujan deras. Padahal warga yang hadir sudah merasakan kedinginan karena baju koko serta gamis muslimah yang basah kuyup. Tak ada komentar berupa keluhan, bahkan ketika hujan deras turun semuanya mengucapkan ‘alhamdulillah, Allahumma shoyyiban naafi’a (Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat). Karena memang hujan seperti inilah yang dinanti. Di Kecamatan Panggang, khususnya Desa Girisekar, hujan memang baru terasa tiga kali dan itu pun tidak begitu deras. Warga begitu sumringah sekali sampai ada seorang kepala RT di dusun Warak berkata, “Alhamdulillah, besok kita bisa nandur (mulai tanam).” Karena memang mereka menanti hujan deras seperti ini untuk mulai menanam padi. Dusun Warak sekitar menggunakan sawah tadah hujan yang pengairannya hanya berharap pada turunnya hujan. Uniknya, hujan ini hanya turun di dusun tempat kajian berlangsung hingga merambat pula ke daerah di selatan pesantren. Namun daerah di utara hingga pusat kecamatan tak terasa hujan sama sekali pada jam tersebut, bahkan dikabarkan jalan-jalan pun masih kering. Sayang … kejadian di atas hanya bisa digambarkan lewat tulisan, tak ada rekaman video. Memang benar janji Allah, وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا “Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).” (QS. Al-Jin: 16). Lihat bahasan ayat ini selengkapnya di sini. Qatadah mengatakan tentang ayat tersebut, “Seandainya kalian beriman semuanya, maka Kami akan limpahkan kepada kalian dunia.” Mujahid mengatakan, “Jika kalian terus berpegang pada kebenaran.” Walhamdulillah, ngaji kitab ternyata berbuah anugerah hujan deras. Moga hujan yang turun adalah hujan penuh berkah dan membawa rahmat bagi warga, serta menyuburkan ladang-ladang mereka.   Persiapan lapangan di awal kajian.   Jamaah mulai berdatangan dan duduk di pinggiran jalan di bawah lapangan.   Jamaah membludak hingga 2000 lebih.   Jamaah yang duduk sampai di halaman rumah warga.   Peserta kajian ibu-ibu.   Nampak jamaah yang begitu banyak.   Hujan lebat turun, jamaah mencari tempat berteduh.   Jamaah berlindung di masjid lantai bawah.   Jamaah dengan truck mini pada bubar.   Keadaan di jalan pesantren yang basah ketika turun hujan, lalu lintas terlihat padat.   Bagi yang ingin berdonasi dalam pelebaran jalan pesantren: Rekening khusus dana sosial (bisa pula disalurkan dana riba atau dana syubhat): BCA KCP Wonosari 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BCA # 18 November 2015 # Rp.3.000.000. Info penyaluran dana sosial di sini. Info donasi via CALL/ WA/ SMS: 0811267791   — Kejadian malam Kamis di Darush Sholihin, Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, malam 7 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagshujan
Menjelang jam 8 malam Kamis ini, mulai berdatangan jamaah dari berbagai dusun dan desa di sekitar Pesantren Darush Sholihin. Pengajian seperti ini biasa diadakan di lapangan pesantren Darush Sholihin. Malam Kamis yang sudah berjalan beberapa minggu terus dihadiri hingga 2000-an jama’ah. Semua warga sudah duduk beralaskan kloso (tikar) di lapangan bahkan sampai menempati jalan-jalan dan kajian pun dimulai pukul 20.03 WIB. Bahasan malam ini adalah kitab Riyadh Ash-Shalihin, tema: Fadhilah Amal, dalam bab keutamaan surat dan ayat tertentu dalam Al-Qur’an. Disimpulkan dari bahasan tadi bahwa ada dua surat yang utama sampai disebut sebagai dua cahaya kebaikan dan kebahagiaan, yaitu surat Al-Fatihah dan ayat terakhir dari surat Al-Baqarah. Intinya yang khusus untuk dikaji saat kajian adalah surat Al-Fatihah karena belum pernah dibahas secara khusus sebelumnya. Setelah peserta dituntun membaca Al-Fatihah, sampai juga pada bahasan beberapa hukum yang berkaitan dengan Al-Fatihah yaitu disinggung hadits tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah. Lalu terlihat pada rekaman di handphone, kajian sudah berjalan 20 menit. Kemudian … Satu tetes air hujan terasa pada tangan dan kitab pegangan (Tafsir Ibnu Katsir). Di tengah bahasan dipotong oleh si pembicara, “Sepertinya mau gerimis, yah.” Jama’ah lantas menjawab serempak, “Iya.” Satu tetes lagi hujan terasa. Ternyata, makin deras … Makin deras … Akhirnya 2000-an jama’ah tumpah ruah mencari tempat berteduh di tepian rumah sampai di Masjid Jami’ Al-Adha (masjid pesantren) yang berjarak 50 meter dari lapangan. Bisa seperti itu karena kajian diadakan di lapangan terbuka, tanpa atap. Di tengah kajian, walhamdulillah turun hujan deras. Padahal warga yang hadir sudah merasakan kedinginan karena baju koko serta gamis muslimah yang basah kuyup. Tak ada komentar berupa keluhan, bahkan ketika hujan deras turun semuanya mengucapkan ‘alhamdulillah, Allahumma shoyyiban naafi’a (Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat). Karena memang hujan seperti inilah yang dinanti. Di Kecamatan Panggang, khususnya Desa Girisekar, hujan memang baru terasa tiga kali dan itu pun tidak begitu deras. Warga begitu sumringah sekali sampai ada seorang kepala RT di dusun Warak berkata, “Alhamdulillah, besok kita bisa nandur (mulai tanam).” Karena memang mereka menanti hujan deras seperti ini untuk mulai menanam padi. Dusun Warak sekitar menggunakan sawah tadah hujan yang pengairannya hanya berharap pada turunnya hujan. Uniknya, hujan ini hanya turun di dusun tempat kajian berlangsung hingga merambat pula ke daerah di selatan pesantren. Namun daerah di utara hingga pusat kecamatan tak terasa hujan sama sekali pada jam tersebut, bahkan dikabarkan jalan-jalan pun masih kering. Sayang … kejadian di atas hanya bisa digambarkan lewat tulisan, tak ada rekaman video. Memang benar janji Allah, وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا “Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).” (QS. Al-Jin: 16). Lihat bahasan ayat ini selengkapnya di sini. Qatadah mengatakan tentang ayat tersebut, “Seandainya kalian beriman semuanya, maka Kami akan limpahkan kepada kalian dunia.” Mujahid mengatakan, “Jika kalian terus berpegang pada kebenaran.” Walhamdulillah, ngaji kitab ternyata berbuah anugerah hujan deras. Moga hujan yang turun adalah hujan penuh berkah dan membawa rahmat bagi warga, serta menyuburkan ladang-ladang mereka.   Persiapan lapangan di awal kajian.   Jamaah mulai berdatangan dan duduk di pinggiran jalan di bawah lapangan.   Jamaah membludak hingga 2000 lebih.   Jamaah yang duduk sampai di halaman rumah warga.   Peserta kajian ibu-ibu.   Nampak jamaah yang begitu banyak.   Hujan lebat turun, jamaah mencari tempat berteduh.   Jamaah berlindung di masjid lantai bawah.   Jamaah dengan truck mini pada bubar.   Keadaan di jalan pesantren yang basah ketika turun hujan, lalu lintas terlihat padat.   Bagi yang ingin berdonasi dalam pelebaran jalan pesantren: Rekening khusus dana sosial (bisa pula disalurkan dana riba atau dana syubhat): BCA KCP Wonosari 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BCA # 18 November 2015 # Rp.3.000.000. Info penyaluran dana sosial di sini. Info donasi via CALL/ WA/ SMS: 0811267791   — Kejadian malam Kamis di Darush Sholihin, Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, malam 7 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagshujan


Menjelang jam 8 malam Kamis ini, mulai berdatangan jamaah dari berbagai dusun dan desa di sekitar Pesantren Darush Sholihin. Pengajian seperti ini biasa diadakan di lapangan pesantren Darush Sholihin. Malam Kamis yang sudah berjalan beberapa minggu terus dihadiri hingga 2000-an jama’ah. Semua warga sudah duduk beralaskan kloso (tikar) di lapangan bahkan sampai menempati jalan-jalan dan kajian pun dimulai pukul 20.03 WIB. Bahasan malam ini adalah kitab Riyadh Ash-Shalihin, tema: Fadhilah Amal, dalam bab keutamaan surat dan ayat tertentu dalam Al-Qur’an. Disimpulkan dari bahasan tadi bahwa ada dua surat yang utama sampai disebut sebagai dua cahaya kebaikan dan kebahagiaan, yaitu surat Al-Fatihah dan ayat terakhir dari surat Al-Baqarah. Intinya yang khusus untuk dikaji saat kajian adalah surat Al-Fatihah karena belum pernah dibahas secara khusus sebelumnya. Setelah peserta dituntun membaca Al-Fatihah, sampai juga pada bahasan beberapa hukum yang berkaitan dengan Al-Fatihah yaitu disinggung hadits tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah. Lalu terlihat pada rekaman di handphone, kajian sudah berjalan 20 menit. Kemudian … Satu tetes air hujan terasa pada tangan dan kitab pegangan (Tafsir Ibnu Katsir). Di tengah bahasan dipotong oleh si pembicara, “Sepertinya mau gerimis, yah.” Jama’ah lantas menjawab serempak, “Iya.” Satu tetes lagi hujan terasa. Ternyata, makin deras … Makin deras … Akhirnya 2000-an jama’ah tumpah ruah mencari tempat berteduh di tepian rumah sampai di Masjid Jami’ Al-Adha (masjid pesantren) yang berjarak 50 meter dari lapangan. Bisa seperti itu karena kajian diadakan di lapangan terbuka, tanpa atap. Di tengah kajian, walhamdulillah turun hujan deras. Padahal warga yang hadir sudah merasakan kedinginan karena baju koko serta gamis muslimah yang basah kuyup. Tak ada komentar berupa keluhan, bahkan ketika hujan deras turun semuanya mengucapkan ‘alhamdulillah, Allahumma shoyyiban naafi’a (Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat). Karena memang hujan seperti inilah yang dinanti. Di Kecamatan Panggang, khususnya Desa Girisekar, hujan memang baru terasa tiga kali dan itu pun tidak begitu deras. Warga begitu sumringah sekali sampai ada seorang kepala RT di dusun Warak berkata, “Alhamdulillah, besok kita bisa nandur (mulai tanam).” Karena memang mereka menanti hujan deras seperti ini untuk mulai menanam padi. Dusun Warak sekitar menggunakan sawah tadah hujan yang pengairannya hanya berharap pada turunnya hujan. Uniknya, hujan ini hanya turun di dusun tempat kajian berlangsung hingga merambat pula ke daerah di selatan pesantren. Namun daerah di utara hingga pusat kecamatan tak terasa hujan sama sekali pada jam tersebut, bahkan dikabarkan jalan-jalan pun masih kering. Sayang … kejadian di atas hanya bisa digambarkan lewat tulisan, tak ada rekaman video. Memang benar janji Allah, وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا “Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).” (QS. Al-Jin: 16). Lihat bahasan ayat ini selengkapnya di sini. Qatadah mengatakan tentang ayat tersebut, “Seandainya kalian beriman semuanya, maka Kami akan limpahkan kepada kalian dunia.” Mujahid mengatakan, “Jika kalian terus berpegang pada kebenaran.” Walhamdulillah, ngaji kitab ternyata berbuah anugerah hujan deras. Moga hujan yang turun adalah hujan penuh berkah dan membawa rahmat bagi warga, serta menyuburkan ladang-ladang mereka.   Persiapan lapangan di awal kajian.   Jamaah mulai berdatangan dan duduk di pinggiran jalan di bawah lapangan.   Jamaah membludak hingga 2000 lebih.   Jamaah yang duduk sampai di halaman rumah warga.   Peserta kajian ibu-ibu.   Nampak jamaah yang begitu banyak.   Hujan lebat turun, jamaah mencari tempat berteduh.   Jamaah berlindung di masjid lantai bawah.   Jamaah dengan truck mini pada bubar.   Keadaan di jalan pesantren yang basah ketika turun hujan, lalu lintas terlihat padat.   Bagi yang ingin berdonasi dalam pelebaran jalan pesantren: Rekening khusus dana sosial (bisa pula disalurkan dana riba atau dana syubhat): BCA KCP Wonosari 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BCA # 18 November 2015 # Rp.3.000.000. Info penyaluran dana sosial di sini. Info donasi via CALL/ WA/ SMS: 0811267791   — Kejadian malam Kamis di Darush Sholihin, Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, malam 7 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagshujan

Menangis Membatalkan Shalat

Apakah benar menangis membatalkan shalat? Bentuk menangis seperti apa yang membatalkan shalat? Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ada beda pendapat di antara para ulama mengenai bentuk menangis yang membatalkan shalat. Mari kita lihat terlebih dahulu dalil-dalil yang berkaitan dengan masalah ini. Pujian Allah bagi orang-orang yang menangis dalam shalatnya. Ayat pertama, إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا (107) وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108) وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا (109) “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 107-109) Dalam ayat lainnya disebutkan, وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58) Dari ‘Abdullah bin Asy-Syikkhir, ia berkata, رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى وَفِى صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ الْبُكَاءِ -صلى الله عليه وسلم- “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.” (HR. Abu Daud no. 904 dan Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyah no. 322. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda, مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ “Perintahkan pada Abu Bakr agar ia mengimami shalat.” ‘Aisyah lantas berkata, إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ ، إِذَا قَرَأَ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ “Sesungguhnya Abu Bakr itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Al-Qur’an, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418) Dalam riwayat lain disebutkan, dari ‘Aisyah, ia berkata, “ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِى مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعِ النَّاسَ مِنَ الْبُكَاءِ “Sesungguhnya Abu Bakr apabila menggantikanmu sebagai imam, orang-orang tidak mendengar bacaan shalatnya karena tangisannya.” Imam Nawawi membawakan dua hadits di atas dalam kitab Riyadh Ash-Shalihin dalam bab 54 “Keutamaan Menangis Karena Takut Kepada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya.” Dalil-dalil di atas menunjukkan secara implisit bahwa orang yang menangis dalam shalat karena takut pada Allah, tidak membatalkan shalat. Juga telah ada bukti secara eksplisit bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menangis dalam shalatnya. Lantas menangis seperti apa yang dibolehkan dan tidak dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Menangis ketika membaa Al-Qur’an, saat sujud, begitu pula saat berdo’a adalah sifat orang-orang shalih. Bahkan orang seperti itu layak dipuji.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 13: 238) Adapun jika menangis karena urusan duniawi dan tidak bisa dicegah, shalatnya tidaklah batal. Adapun jika mampu untuk dicegah dan menangisnya dengan suara, maka shalatnya batal menurut para imam dari empat madzhab. Namun Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dalam hal ini menyatakan batal dengan syarat jika muncul dua huruf. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 170) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Menangis dalam shalat jika karena takut pada Allah dan mengingat perkara akhirat, begitu pula karena merenung ayat yang dibaca seperti saat melewati ayat-ayat yang menyebutkan janji dan ancaman, maka tidak membatalkan shalat. Adapun jika menangis tersebut karena musibah yang menimpa atau semacamnya, maka membatalkan shalat. Bisa membatalkan karena menangis tersebut berkaitan dengan perkara di luar shalat. Karenanya memikirkan perkara-perkara di luar shalat atau perkara lain mesti dihilangkan agar tidak membatalkan shalat. Intinya, memikiran berbagai macam hal yang tidak terkait dengan shalat berakibat kekurangan saja di dalam shalatnya.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 9: 141) Lihat bahasan sebelumnya: Pandangan Ulama, Menangis Membatalkan Shalat. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Asy-Syamail Al-Muhammadiyah. Imam Tirmidzi. Penerbit Dar Ash-Shadiq. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 145807. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. Riyadh Ash-Shalihin. Imam Nawawi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Rabu pagi, 6 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat

Menangis Membatalkan Shalat

Apakah benar menangis membatalkan shalat? Bentuk menangis seperti apa yang membatalkan shalat? Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ada beda pendapat di antara para ulama mengenai bentuk menangis yang membatalkan shalat. Mari kita lihat terlebih dahulu dalil-dalil yang berkaitan dengan masalah ini. Pujian Allah bagi orang-orang yang menangis dalam shalatnya. Ayat pertama, إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا (107) وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108) وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا (109) “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 107-109) Dalam ayat lainnya disebutkan, وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58) Dari ‘Abdullah bin Asy-Syikkhir, ia berkata, رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى وَفِى صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ الْبُكَاءِ -صلى الله عليه وسلم- “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.” (HR. Abu Daud no. 904 dan Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyah no. 322. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda, مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ “Perintahkan pada Abu Bakr agar ia mengimami shalat.” ‘Aisyah lantas berkata, إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ ، إِذَا قَرَأَ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ “Sesungguhnya Abu Bakr itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Al-Qur’an, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418) Dalam riwayat lain disebutkan, dari ‘Aisyah, ia berkata, “ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِى مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعِ النَّاسَ مِنَ الْبُكَاءِ “Sesungguhnya Abu Bakr apabila menggantikanmu sebagai imam, orang-orang tidak mendengar bacaan shalatnya karena tangisannya.” Imam Nawawi membawakan dua hadits di atas dalam kitab Riyadh Ash-Shalihin dalam bab 54 “Keutamaan Menangis Karena Takut Kepada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya.” Dalil-dalil di atas menunjukkan secara implisit bahwa orang yang menangis dalam shalat karena takut pada Allah, tidak membatalkan shalat. Juga telah ada bukti secara eksplisit bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menangis dalam shalatnya. Lantas menangis seperti apa yang dibolehkan dan tidak dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Menangis ketika membaa Al-Qur’an, saat sujud, begitu pula saat berdo’a adalah sifat orang-orang shalih. Bahkan orang seperti itu layak dipuji.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 13: 238) Adapun jika menangis karena urusan duniawi dan tidak bisa dicegah, shalatnya tidaklah batal. Adapun jika mampu untuk dicegah dan menangisnya dengan suara, maka shalatnya batal menurut para imam dari empat madzhab. Namun Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dalam hal ini menyatakan batal dengan syarat jika muncul dua huruf. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 170) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Menangis dalam shalat jika karena takut pada Allah dan mengingat perkara akhirat, begitu pula karena merenung ayat yang dibaca seperti saat melewati ayat-ayat yang menyebutkan janji dan ancaman, maka tidak membatalkan shalat. Adapun jika menangis tersebut karena musibah yang menimpa atau semacamnya, maka membatalkan shalat. Bisa membatalkan karena menangis tersebut berkaitan dengan perkara di luar shalat. Karenanya memikirkan perkara-perkara di luar shalat atau perkara lain mesti dihilangkan agar tidak membatalkan shalat. Intinya, memikiran berbagai macam hal yang tidak terkait dengan shalat berakibat kekurangan saja di dalam shalatnya.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 9: 141) Lihat bahasan sebelumnya: Pandangan Ulama, Menangis Membatalkan Shalat. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Asy-Syamail Al-Muhammadiyah. Imam Tirmidzi. Penerbit Dar Ash-Shadiq. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 145807. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. Riyadh Ash-Shalihin. Imam Nawawi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Rabu pagi, 6 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat
Apakah benar menangis membatalkan shalat? Bentuk menangis seperti apa yang membatalkan shalat? Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ada beda pendapat di antara para ulama mengenai bentuk menangis yang membatalkan shalat. Mari kita lihat terlebih dahulu dalil-dalil yang berkaitan dengan masalah ini. Pujian Allah bagi orang-orang yang menangis dalam shalatnya. Ayat pertama, إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا (107) وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108) وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا (109) “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 107-109) Dalam ayat lainnya disebutkan, وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58) Dari ‘Abdullah bin Asy-Syikkhir, ia berkata, رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى وَفِى صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ الْبُكَاءِ -صلى الله عليه وسلم- “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.” (HR. Abu Daud no. 904 dan Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyah no. 322. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda, مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ “Perintahkan pada Abu Bakr agar ia mengimami shalat.” ‘Aisyah lantas berkata, إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ ، إِذَا قَرَأَ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ “Sesungguhnya Abu Bakr itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Al-Qur’an, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418) Dalam riwayat lain disebutkan, dari ‘Aisyah, ia berkata, “ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِى مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعِ النَّاسَ مِنَ الْبُكَاءِ “Sesungguhnya Abu Bakr apabila menggantikanmu sebagai imam, orang-orang tidak mendengar bacaan shalatnya karena tangisannya.” Imam Nawawi membawakan dua hadits di atas dalam kitab Riyadh Ash-Shalihin dalam bab 54 “Keutamaan Menangis Karena Takut Kepada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya.” Dalil-dalil di atas menunjukkan secara implisit bahwa orang yang menangis dalam shalat karena takut pada Allah, tidak membatalkan shalat. Juga telah ada bukti secara eksplisit bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menangis dalam shalatnya. Lantas menangis seperti apa yang dibolehkan dan tidak dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Menangis ketika membaa Al-Qur’an, saat sujud, begitu pula saat berdo’a adalah sifat orang-orang shalih. Bahkan orang seperti itu layak dipuji.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 13: 238) Adapun jika menangis karena urusan duniawi dan tidak bisa dicegah, shalatnya tidaklah batal. Adapun jika mampu untuk dicegah dan menangisnya dengan suara, maka shalatnya batal menurut para imam dari empat madzhab. Namun Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dalam hal ini menyatakan batal dengan syarat jika muncul dua huruf. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 170) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Menangis dalam shalat jika karena takut pada Allah dan mengingat perkara akhirat, begitu pula karena merenung ayat yang dibaca seperti saat melewati ayat-ayat yang menyebutkan janji dan ancaman, maka tidak membatalkan shalat. Adapun jika menangis tersebut karena musibah yang menimpa atau semacamnya, maka membatalkan shalat. Bisa membatalkan karena menangis tersebut berkaitan dengan perkara di luar shalat. Karenanya memikirkan perkara-perkara di luar shalat atau perkara lain mesti dihilangkan agar tidak membatalkan shalat. Intinya, memikiran berbagai macam hal yang tidak terkait dengan shalat berakibat kekurangan saja di dalam shalatnya.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 9: 141) Lihat bahasan sebelumnya: Pandangan Ulama, Menangis Membatalkan Shalat. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Asy-Syamail Al-Muhammadiyah. Imam Tirmidzi. Penerbit Dar Ash-Shadiq. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 145807. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. Riyadh Ash-Shalihin. Imam Nawawi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Rabu pagi, 6 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat


Apakah benar menangis membatalkan shalat? Bentuk menangis seperti apa yang membatalkan shalat? Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ada beda pendapat di antara para ulama mengenai bentuk menangis yang membatalkan shalat. Mari kita lihat terlebih dahulu dalil-dalil yang berkaitan dengan masalah ini. Pujian Allah bagi orang-orang yang menangis dalam shalatnya. Ayat pertama, إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا (107) وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108) وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا (109) “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 107-109) Dalam ayat lainnya disebutkan, وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58) Dari ‘Abdullah bin Asy-Syikkhir, ia berkata, رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى وَفِى صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ الْبُكَاءِ -صلى الله عليه وسلم- “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.” (HR. Abu Daud no. 904 dan Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyah no. 322. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda, مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ “Perintahkan pada Abu Bakr agar ia mengimami shalat.” ‘Aisyah lantas berkata, إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ ، إِذَا قَرَأَ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ “Sesungguhnya Abu Bakr itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Al-Qur’an, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418) Dalam riwayat lain disebutkan, dari ‘Aisyah, ia berkata, “ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِى مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعِ النَّاسَ مِنَ الْبُكَاءِ “Sesungguhnya Abu Bakr apabila menggantikanmu sebagai imam, orang-orang tidak mendengar bacaan shalatnya karena tangisannya.” Imam Nawawi membawakan dua hadits di atas dalam kitab Riyadh Ash-Shalihin dalam bab 54 “Keutamaan Menangis Karena Takut Kepada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya.” Dalil-dalil di atas menunjukkan secara implisit bahwa orang yang menangis dalam shalat karena takut pada Allah, tidak membatalkan shalat. Juga telah ada bukti secara eksplisit bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menangis dalam shalatnya. Lantas menangis seperti apa yang dibolehkan dan tidak dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Menangis ketika membaa Al-Qur’an, saat sujud, begitu pula saat berdo’a adalah sifat orang-orang shalih. Bahkan orang seperti itu layak dipuji.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 13: 238) Adapun jika menangis karena urusan duniawi dan tidak bisa dicegah, shalatnya tidaklah batal. Adapun jika mampu untuk dicegah dan menangisnya dengan suara, maka shalatnya batal menurut para imam dari empat madzhab. Namun Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dalam hal ini menyatakan batal dengan syarat jika muncul dua huruf. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 170) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Menangis dalam shalat jika karena takut pada Allah dan mengingat perkara akhirat, begitu pula karena merenung ayat yang dibaca seperti saat melewati ayat-ayat yang menyebutkan janji dan ancaman, maka tidak membatalkan shalat. Adapun jika menangis tersebut karena musibah yang menimpa atau semacamnya, maka membatalkan shalat. Bisa membatalkan karena menangis tersebut berkaitan dengan perkara di luar shalat. Karenanya memikirkan perkara-perkara di luar shalat atau perkara lain mesti dihilangkan agar tidak membatalkan shalat. Intinya, memikiran berbagai macam hal yang tidak terkait dengan shalat berakibat kekurangan saja di dalam shalatnya.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 9: 141) Lihat bahasan sebelumnya: Pandangan Ulama, Menangis Membatalkan Shalat. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Asy-Syamail Al-Muhammadiyah. Imam Tirmidzi. Penerbit Dar Ash-Shadiq. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 145807. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. Riyadh Ash-Shalihin. Imam Nawawi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Rabu pagi, 6 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat

Keadaan Hati Saat Membaca Al Quran

Bagaimana keadaan hati ketika membaca Al-Qur’an? 1. Patut direnungkan yang dibaca adalah Al-Quran, kalamullah. Sehingga yang dibaca benar-benar suatu yang agung dan mulia. 2. Patut dihayati bahwa yang dibaca bukan perkataan manusia. 3. Menghadirkan hati ketika membaca. 4. Merenungkan dan mentadabburi setiap ayat demi ayat yang dibaca, termasuk saat membaca nama dan sifat Allah. 5. Merasa bahwa setiap ayat yang dibaca ditujukan pada dirinya, bukan pada yang lainnya. 6. Berusaha mengambil faedah dan pengaruh dari ayat yang dibaca. 7. Menjauhkan diri dari berbagai gangguan yang sulit dalam memahami ayat. 8. Meyakini bahwa bukan karena kekuatan kita untuk mudah menghayati Al-Quran, namun semuanya adalah kemudahan dari Allah. Yang disebutkan di atas adalah berbagai adab yang berkenaan dengan hati. Inilah yang bisa dihimpun saat membaca Al-Qur’an. Moga kita bisa mempraktikannya. Share yuk, biar yang lain dapat manfaat.   Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. 7: 141. — 4 Safar 1437 H, disusun saat perjalanan Panggang – Jogja Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab al quran

Keadaan Hati Saat Membaca Al Quran

Bagaimana keadaan hati ketika membaca Al-Qur’an? 1. Patut direnungkan yang dibaca adalah Al-Quran, kalamullah. Sehingga yang dibaca benar-benar suatu yang agung dan mulia. 2. Patut dihayati bahwa yang dibaca bukan perkataan manusia. 3. Menghadirkan hati ketika membaca. 4. Merenungkan dan mentadabburi setiap ayat demi ayat yang dibaca, termasuk saat membaca nama dan sifat Allah. 5. Merasa bahwa setiap ayat yang dibaca ditujukan pada dirinya, bukan pada yang lainnya. 6. Berusaha mengambil faedah dan pengaruh dari ayat yang dibaca. 7. Menjauhkan diri dari berbagai gangguan yang sulit dalam memahami ayat. 8. Meyakini bahwa bukan karena kekuatan kita untuk mudah menghayati Al-Quran, namun semuanya adalah kemudahan dari Allah. Yang disebutkan di atas adalah berbagai adab yang berkenaan dengan hati. Inilah yang bisa dihimpun saat membaca Al-Qur’an. Moga kita bisa mempraktikannya. Share yuk, biar yang lain dapat manfaat.   Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. 7: 141. — 4 Safar 1437 H, disusun saat perjalanan Panggang – Jogja Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab al quran
Bagaimana keadaan hati ketika membaca Al-Qur’an? 1. Patut direnungkan yang dibaca adalah Al-Quran, kalamullah. Sehingga yang dibaca benar-benar suatu yang agung dan mulia. 2. Patut dihayati bahwa yang dibaca bukan perkataan manusia. 3. Menghadirkan hati ketika membaca. 4. Merenungkan dan mentadabburi setiap ayat demi ayat yang dibaca, termasuk saat membaca nama dan sifat Allah. 5. Merasa bahwa setiap ayat yang dibaca ditujukan pada dirinya, bukan pada yang lainnya. 6. Berusaha mengambil faedah dan pengaruh dari ayat yang dibaca. 7. Menjauhkan diri dari berbagai gangguan yang sulit dalam memahami ayat. 8. Meyakini bahwa bukan karena kekuatan kita untuk mudah menghayati Al-Quran, namun semuanya adalah kemudahan dari Allah. Yang disebutkan di atas adalah berbagai adab yang berkenaan dengan hati. Inilah yang bisa dihimpun saat membaca Al-Qur’an. Moga kita bisa mempraktikannya. Share yuk, biar yang lain dapat manfaat.   Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. 7: 141. — 4 Safar 1437 H, disusun saat perjalanan Panggang – Jogja Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab al quran


Bagaimana keadaan hati ketika membaca Al-Qur’an? 1. Patut direnungkan yang dibaca adalah Al-Quran, kalamullah. Sehingga yang dibaca benar-benar suatu yang agung dan mulia. 2. Patut dihayati bahwa yang dibaca bukan perkataan manusia. 3. Menghadirkan hati ketika membaca. 4. Merenungkan dan mentadabburi setiap ayat demi ayat yang dibaca, termasuk saat membaca nama dan sifat Allah. 5. Merasa bahwa setiap ayat yang dibaca ditujukan pada dirinya, bukan pada yang lainnya. 6. Berusaha mengambil faedah dan pengaruh dari ayat yang dibaca. 7. Menjauhkan diri dari berbagai gangguan yang sulit dalam memahami ayat. 8. Meyakini bahwa bukan karena kekuatan kita untuk mudah menghayati Al-Quran, namun semuanya adalah kemudahan dari Allah. Yang disebutkan di atas adalah berbagai adab yang berkenaan dengan hati. Inilah yang bisa dihimpun saat membaca Al-Qur’an. Moga kita bisa mempraktikannya. Share yuk, biar yang lain dapat manfaat.   Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. 7: 141. — 4 Safar 1437 H, disusun saat perjalanan Panggang – Jogja Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab al quran
Prev     Next