Fatwa Ulama: Kewajiban Berpuasa dan Berhari Raya Bersama Kaum Muslimin

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah boleh seseorang berbuka sebelum adzan karena menganggap adzan belum dikumandangkan tepat sesuai waktu yang sebenarnya?Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’dua:Perlu dibedakan antara puasa Ramadhan (yang bersifat bersama/jamaah) dan puasa wajib atau sunnah yang dilakukan secara individu.Adapun puasa wajib yang dilakukan secara bersama (seperti Ramadhan), maka seorang muslim hendaknya berpuasa dan berbuka bersama masyarakat dan pemimpin mereka, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَPuasa adalah pada hari kalian semua berpuasa, berbuka adalah pada hari kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.[1]Hadits tersebut menegaskan bahwa puasa, berbuka, dan berkurban harus dilakukan bersama jamaah dan mayoritas kaum muslimin — baik dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, maupun dalam menentukan waktu berbuka (terbenam matahari) dan mulai puasa (terbit fajar). Karena itu, setiap orang harus mengikuti imam dan jamaah dalam masalah ini, dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri-sendiri. Tujuannya agar umat tetap bersatu, barisan tetap rapi, dan terhindar dari pendapat pribadi yang bisa memecah belah. Sebab,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“tangan Allah itu bersama jamaah”.[2]Adapun puasa wajib (selain Ramadhan) dan puasa sunnah yang dilakukan secara pribadi, maka penentuannya kembali kepada masing-masing orang, berdasarkan masuknya waktu Maghrib atau terbitnya fajar, sesuai dengan firman Allah Ta‘ala.وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam:إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ؛ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُJika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sana, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.[3]Dan dalam masalah ini masih ada hadits-hadits lain yang mendukungnya.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari Kiamat.Baca juga:Puasa dan Berhari Raya Bersama PemerintahRenungan Menjelang Idul Fitri***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel muslim.or.idSumber: ferkous.app Catatan Kaki:[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dan juga oleh Al-Arna’uth[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, bab Anjuran untuk tetap bersama jamaah no. 2166, dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8065[3] Hadits ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Puasa, bab “Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka?” no. 1954, dan oleh Muslim dalam Kitab Puasa no. 1100, dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu

Fatwa Ulama: Kewajiban Berpuasa dan Berhari Raya Bersama Kaum Muslimin

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah boleh seseorang berbuka sebelum adzan karena menganggap adzan belum dikumandangkan tepat sesuai waktu yang sebenarnya?Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’dua:Perlu dibedakan antara puasa Ramadhan (yang bersifat bersama/jamaah) dan puasa wajib atau sunnah yang dilakukan secara individu.Adapun puasa wajib yang dilakukan secara bersama (seperti Ramadhan), maka seorang muslim hendaknya berpuasa dan berbuka bersama masyarakat dan pemimpin mereka, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَPuasa adalah pada hari kalian semua berpuasa, berbuka adalah pada hari kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.[1]Hadits tersebut menegaskan bahwa puasa, berbuka, dan berkurban harus dilakukan bersama jamaah dan mayoritas kaum muslimin — baik dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, maupun dalam menentukan waktu berbuka (terbenam matahari) dan mulai puasa (terbit fajar). Karena itu, setiap orang harus mengikuti imam dan jamaah dalam masalah ini, dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri-sendiri. Tujuannya agar umat tetap bersatu, barisan tetap rapi, dan terhindar dari pendapat pribadi yang bisa memecah belah. Sebab,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“tangan Allah itu bersama jamaah”.[2]Adapun puasa wajib (selain Ramadhan) dan puasa sunnah yang dilakukan secara pribadi, maka penentuannya kembali kepada masing-masing orang, berdasarkan masuknya waktu Maghrib atau terbitnya fajar, sesuai dengan firman Allah Ta‘ala.وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam:إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ؛ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُJika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sana, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.[3]Dan dalam masalah ini masih ada hadits-hadits lain yang mendukungnya.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari Kiamat.Baca juga:Puasa dan Berhari Raya Bersama PemerintahRenungan Menjelang Idul Fitri***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel muslim.or.idSumber: ferkous.app Catatan Kaki:[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dan juga oleh Al-Arna’uth[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, bab Anjuran untuk tetap bersama jamaah no. 2166, dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8065[3] Hadits ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Puasa, bab “Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka?” no. 1954, dan oleh Muslim dalam Kitab Puasa no. 1100, dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah boleh seseorang berbuka sebelum adzan karena menganggap adzan belum dikumandangkan tepat sesuai waktu yang sebenarnya?Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’dua:Perlu dibedakan antara puasa Ramadhan (yang bersifat bersama/jamaah) dan puasa wajib atau sunnah yang dilakukan secara individu.Adapun puasa wajib yang dilakukan secara bersama (seperti Ramadhan), maka seorang muslim hendaknya berpuasa dan berbuka bersama masyarakat dan pemimpin mereka, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَPuasa adalah pada hari kalian semua berpuasa, berbuka adalah pada hari kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.[1]Hadits tersebut menegaskan bahwa puasa, berbuka, dan berkurban harus dilakukan bersama jamaah dan mayoritas kaum muslimin — baik dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, maupun dalam menentukan waktu berbuka (terbenam matahari) dan mulai puasa (terbit fajar). Karena itu, setiap orang harus mengikuti imam dan jamaah dalam masalah ini, dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri-sendiri. Tujuannya agar umat tetap bersatu, barisan tetap rapi, dan terhindar dari pendapat pribadi yang bisa memecah belah. Sebab,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“tangan Allah itu bersama jamaah”.[2]Adapun puasa wajib (selain Ramadhan) dan puasa sunnah yang dilakukan secara pribadi, maka penentuannya kembali kepada masing-masing orang, berdasarkan masuknya waktu Maghrib atau terbitnya fajar, sesuai dengan firman Allah Ta‘ala.وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam:إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ؛ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُJika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sana, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.[3]Dan dalam masalah ini masih ada hadits-hadits lain yang mendukungnya.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari Kiamat.Baca juga:Puasa dan Berhari Raya Bersama PemerintahRenungan Menjelang Idul Fitri***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel muslim.or.idSumber: ferkous.app Catatan Kaki:[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dan juga oleh Al-Arna’uth[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, bab Anjuran untuk tetap bersama jamaah no. 2166, dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8065[3] Hadits ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Puasa, bab “Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka?” no. 1954, dan oleh Muslim dalam Kitab Puasa no. 1100, dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah boleh seseorang berbuka sebelum adzan karena menganggap adzan belum dikumandangkan tepat sesuai waktu yang sebenarnya?Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’dua:Perlu dibedakan antara puasa Ramadhan (yang bersifat bersama/jamaah) dan puasa wajib atau sunnah yang dilakukan secara individu.Adapun puasa wajib yang dilakukan secara bersama (seperti Ramadhan), maka seorang muslim hendaknya berpuasa dan berbuka bersama masyarakat dan pemimpin mereka, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَPuasa adalah pada hari kalian semua berpuasa, berbuka adalah pada hari kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.[1]Hadits tersebut menegaskan bahwa puasa, berbuka, dan berkurban harus dilakukan bersama jamaah dan mayoritas kaum muslimin — baik dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, maupun dalam menentukan waktu berbuka (terbenam matahari) dan mulai puasa (terbit fajar). Karena itu, setiap orang harus mengikuti imam dan jamaah dalam masalah ini, dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri-sendiri. Tujuannya agar umat tetap bersatu, barisan tetap rapi, dan terhindar dari pendapat pribadi yang bisa memecah belah. Sebab,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“tangan Allah itu bersama jamaah”.[2]Adapun puasa wajib (selain Ramadhan) dan puasa sunnah yang dilakukan secara pribadi, maka penentuannya kembali kepada masing-masing orang, berdasarkan masuknya waktu Maghrib atau terbitnya fajar, sesuai dengan firman Allah Ta‘ala.وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam:إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ؛ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُJika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sana, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.[3]Dan dalam masalah ini masih ada hadits-hadits lain yang mendukungnya.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari Kiamat.Baca juga:Puasa dan Berhari Raya Bersama PemerintahRenungan Menjelang Idul Fitri***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel muslim.or.idSumber: ferkous.app Catatan Kaki:[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dan juga oleh Al-Arna’uth[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, bab Anjuran untuk tetap bersama jamaah no. 2166, dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8065[3] Hadits ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Puasa, bab “Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka?” no. 1954, dan oleh Muslim dalam Kitab Puasa no. 1100, dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu

Ngeri! Inilah Siksaan Mengerikan Bagi Tukang Hoaks di Alam Barzakh – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

https://youtu.be/wybMEd9Ivro Musa bin Ismail meriwayatkan kepada kami, dari Jarir, dari Abu Raja’, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat dua orang lelaki datang kepadaku.”Kedua orang itu berkata kepadaku: ‘Orang yang kamu lihat sedang dirobek mulutnya hingga ke tengkuknya itu adalah seorang pendusta. Ia melakukan suatu kedustaan, lalu kedustaan itu disebarluaskan darinya hingga mencapai pelosok dunia. Maka ia pun disiksa seperti itu (di alam barzakh) hingga hari kiamat.’” (HR. Bukhari). Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Samurah, yang disebutkan penulis secara lengkap di bagian lain. Rasulullah bersabda: “Ada dua sosok yang mendatangi aku malam ini, lalu mereka berkata: ‘Berangkatlah! Berangkatlah!’” Lalu Nabi menyaksikan berbagai hal yang menakjubkan dan asing. Di antara yang beliau lihat, sebagaimana sabda beliau: “Aku melihat dua orang yang datang,” yakni dua sosok yang berkata kepada beliau: “Berangkatlah! Berangkatlah!” Lalu beliau melihat seseorang yang mulutnya dirobek. Maksudnya, mulut orang tersebut dirobek dari sudut bibir hingga ke sisi pipinya secara terus-menerus. Kemudian sosok tersebut menjelaskan bahwa itu adalah orang yang sering berbohong, lalu kebohongan itu disebarkan darinya hingga ke penjuru dunia. Yakni, ia sengaja menyebarkan desas-desus atau hoaks di tengah masyarakat. Itulah bentuk hukuman yang ia terima. Bahwa mulutnya akan terus dirobek, hingga robekannya mencapai lubang hidungnya. Ia disiksa seperti itu terus. Setiap kali lukanya sembuh, disiksa lagi seperti itu. Ini adalah ancaman keras bagi orang yang suka menebar hoaks. Dan betapa banyaknya pelaku perbuatan ini pada zaman kita sekarang. Mereka menyebarkan berita bohong di tengah masyarakat. Siapa saja yang berbohong lalu kebohongannya disebarkan hingga ke ufuk dunia, maka ia telah melakukan hal yang sangat keji dan termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hukuman beratnya dalam hadis ini, bahwa ia akan terus menerima siksaan tersebut hingga hari kiamat. ===== حَدَّثَنَا مُوسَى ابْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ قَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ يَشُقُّ شِدْقَيْهِ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ يَكْذِبُ بِالْكِذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ هَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ سَاقَهُ الْمُصَنِّفُ بِطُولِهِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ قَالَ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَ أَتَيَانِ وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَائِبَ وَغَرَائِبَ وَكَانَ مِمَّا رَأَى قَالَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ يَعْنِي هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي قَالَ انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى رَجُلًا قَالَ يُشَقُّ شِدْقُهُ يَعْنِي يُشَقُّ شِدْقُهُ مِنْ فَمِهِ إِلَى جَانِبِهِ يُشَقُّ شَقًّا ثُمَّ أَخْبَرَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ يَعْنِي يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ هُوَ يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ فَيَكُونُ هَذَا هُوَ عِقَابُهُ أَنَّهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَنْخِرَيْهِ وَيُفْعَلُ بِهِ هَكَذَا مَا إِنْ يَصِحُّ إِلَّا وَيُعَادُ مَرَّةً أُخْرَى وَهَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ فِي حَقِّ الَّذِينَ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ وَمَا أَكْثَرَهُمْ فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ الْكَاذِبَةَ فِي الْمُجْتَمَعِ فَهَذَا الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ وَتَبْلُغُ الْآفَاقَ هَذَا قَدْ ارْتَكَبَ أَمْرًا فَظِيعًا وَمِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِذَلِكَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُقُوبَتِهِ الشَّدِيدَةِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَأَنَّهُ يَسْتَمِرُّ عَلَى هَذِهِ الْعُقُوبَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Ngeri! Inilah Siksaan Mengerikan Bagi Tukang Hoaks di Alam Barzakh – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

https://youtu.be/wybMEd9Ivro Musa bin Ismail meriwayatkan kepada kami, dari Jarir, dari Abu Raja’, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat dua orang lelaki datang kepadaku.”Kedua orang itu berkata kepadaku: ‘Orang yang kamu lihat sedang dirobek mulutnya hingga ke tengkuknya itu adalah seorang pendusta. Ia melakukan suatu kedustaan, lalu kedustaan itu disebarluaskan darinya hingga mencapai pelosok dunia. Maka ia pun disiksa seperti itu (di alam barzakh) hingga hari kiamat.’” (HR. Bukhari). Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Samurah, yang disebutkan penulis secara lengkap di bagian lain. Rasulullah bersabda: “Ada dua sosok yang mendatangi aku malam ini, lalu mereka berkata: ‘Berangkatlah! Berangkatlah!’” Lalu Nabi menyaksikan berbagai hal yang menakjubkan dan asing. Di antara yang beliau lihat, sebagaimana sabda beliau: “Aku melihat dua orang yang datang,” yakni dua sosok yang berkata kepada beliau: “Berangkatlah! Berangkatlah!” Lalu beliau melihat seseorang yang mulutnya dirobek. Maksudnya, mulut orang tersebut dirobek dari sudut bibir hingga ke sisi pipinya secara terus-menerus. Kemudian sosok tersebut menjelaskan bahwa itu adalah orang yang sering berbohong, lalu kebohongan itu disebarkan darinya hingga ke penjuru dunia. Yakni, ia sengaja menyebarkan desas-desus atau hoaks di tengah masyarakat. Itulah bentuk hukuman yang ia terima. Bahwa mulutnya akan terus dirobek, hingga robekannya mencapai lubang hidungnya. Ia disiksa seperti itu terus. Setiap kali lukanya sembuh, disiksa lagi seperti itu. Ini adalah ancaman keras bagi orang yang suka menebar hoaks. Dan betapa banyaknya pelaku perbuatan ini pada zaman kita sekarang. Mereka menyebarkan berita bohong di tengah masyarakat. Siapa saja yang berbohong lalu kebohongannya disebarkan hingga ke ufuk dunia, maka ia telah melakukan hal yang sangat keji dan termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hukuman beratnya dalam hadis ini, bahwa ia akan terus menerima siksaan tersebut hingga hari kiamat. ===== حَدَّثَنَا مُوسَى ابْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ قَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ يَشُقُّ شِدْقَيْهِ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ يَكْذِبُ بِالْكِذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ هَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ سَاقَهُ الْمُصَنِّفُ بِطُولِهِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ قَالَ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَ أَتَيَانِ وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَائِبَ وَغَرَائِبَ وَكَانَ مِمَّا رَأَى قَالَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ يَعْنِي هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي قَالَ انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى رَجُلًا قَالَ يُشَقُّ شِدْقُهُ يَعْنِي يُشَقُّ شِدْقُهُ مِنْ فَمِهِ إِلَى جَانِبِهِ يُشَقُّ شَقًّا ثُمَّ أَخْبَرَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ يَعْنِي يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ هُوَ يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ فَيَكُونُ هَذَا هُوَ عِقَابُهُ أَنَّهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَنْخِرَيْهِ وَيُفْعَلُ بِهِ هَكَذَا مَا إِنْ يَصِحُّ إِلَّا وَيُعَادُ مَرَّةً أُخْرَى وَهَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ فِي حَقِّ الَّذِينَ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ وَمَا أَكْثَرَهُمْ فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ الْكَاذِبَةَ فِي الْمُجْتَمَعِ فَهَذَا الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ وَتَبْلُغُ الْآفَاقَ هَذَا قَدْ ارْتَكَبَ أَمْرًا فَظِيعًا وَمِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِذَلِكَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُقُوبَتِهِ الشَّدِيدَةِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَأَنَّهُ يَسْتَمِرُّ عَلَى هَذِهِ الْعُقُوبَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
https://youtu.be/wybMEd9Ivro Musa bin Ismail meriwayatkan kepada kami, dari Jarir, dari Abu Raja’, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat dua orang lelaki datang kepadaku.”Kedua orang itu berkata kepadaku: ‘Orang yang kamu lihat sedang dirobek mulutnya hingga ke tengkuknya itu adalah seorang pendusta. Ia melakukan suatu kedustaan, lalu kedustaan itu disebarluaskan darinya hingga mencapai pelosok dunia. Maka ia pun disiksa seperti itu (di alam barzakh) hingga hari kiamat.’” (HR. Bukhari). Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Samurah, yang disebutkan penulis secara lengkap di bagian lain. Rasulullah bersabda: “Ada dua sosok yang mendatangi aku malam ini, lalu mereka berkata: ‘Berangkatlah! Berangkatlah!’” Lalu Nabi menyaksikan berbagai hal yang menakjubkan dan asing. Di antara yang beliau lihat, sebagaimana sabda beliau: “Aku melihat dua orang yang datang,” yakni dua sosok yang berkata kepada beliau: “Berangkatlah! Berangkatlah!” Lalu beliau melihat seseorang yang mulutnya dirobek. Maksudnya, mulut orang tersebut dirobek dari sudut bibir hingga ke sisi pipinya secara terus-menerus. Kemudian sosok tersebut menjelaskan bahwa itu adalah orang yang sering berbohong, lalu kebohongan itu disebarkan darinya hingga ke penjuru dunia. Yakni, ia sengaja menyebarkan desas-desus atau hoaks di tengah masyarakat. Itulah bentuk hukuman yang ia terima. Bahwa mulutnya akan terus dirobek, hingga robekannya mencapai lubang hidungnya. Ia disiksa seperti itu terus. Setiap kali lukanya sembuh, disiksa lagi seperti itu. Ini adalah ancaman keras bagi orang yang suka menebar hoaks. Dan betapa banyaknya pelaku perbuatan ini pada zaman kita sekarang. Mereka menyebarkan berita bohong di tengah masyarakat. Siapa saja yang berbohong lalu kebohongannya disebarkan hingga ke ufuk dunia, maka ia telah melakukan hal yang sangat keji dan termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hukuman beratnya dalam hadis ini, bahwa ia akan terus menerima siksaan tersebut hingga hari kiamat. ===== حَدَّثَنَا مُوسَى ابْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ قَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ يَشُقُّ شِدْقَيْهِ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ يَكْذِبُ بِالْكِذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ هَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ سَاقَهُ الْمُصَنِّفُ بِطُولِهِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ قَالَ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَ أَتَيَانِ وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَائِبَ وَغَرَائِبَ وَكَانَ مِمَّا رَأَى قَالَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ يَعْنِي هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي قَالَ انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى رَجُلًا قَالَ يُشَقُّ شِدْقُهُ يَعْنِي يُشَقُّ شِدْقُهُ مِنْ فَمِهِ إِلَى جَانِبِهِ يُشَقُّ شَقًّا ثُمَّ أَخْبَرَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ يَعْنِي يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ هُوَ يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ فَيَكُونُ هَذَا هُوَ عِقَابُهُ أَنَّهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَنْخِرَيْهِ وَيُفْعَلُ بِهِ هَكَذَا مَا إِنْ يَصِحُّ إِلَّا وَيُعَادُ مَرَّةً أُخْرَى وَهَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ فِي حَقِّ الَّذِينَ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ وَمَا أَكْثَرَهُمْ فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ الْكَاذِبَةَ فِي الْمُجْتَمَعِ فَهَذَا الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ وَتَبْلُغُ الْآفَاقَ هَذَا قَدْ ارْتَكَبَ أَمْرًا فَظِيعًا وَمِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِذَلِكَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُقُوبَتِهِ الشَّدِيدَةِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَأَنَّهُ يَسْتَمِرُّ عَلَى هَذِهِ الْعُقُوبَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ


https://youtu.be/wybMEd9Ivro Musa bin Ismail meriwayatkan kepada kami, dari Jarir, dari Abu Raja’, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat dua orang lelaki datang kepadaku.”Kedua orang itu berkata kepadaku: ‘Orang yang kamu lihat sedang dirobek mulutnya hingga ke tengkuknya itu adalah seorang pendusta. Ia melakukan suatu kedustaan, lalu kedustaan itu disebarluaskan darinya hingga mencapai pelosok dunia. Maka ia pun disiksa seperti itu (di alam barzakh) hingga hari kiamat.’” (HR. Bukhari). Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Samurah, yang disebutkan penulis secara lengkap di bagian lain. Rasulullah bersabda: “Ada dua sosok yang mendatangi aku malam ini, lalu mereka berkata: ‘Berangkatlah! Berangkatlah!’” Lalu Nabi menyaksikan berbagai hal yang menakjubkan dan asing. Di antara yang beliau lihat, sebagaimana sabda beliau: “Aku melihat dua orang yang datang,” yakni dua sosok yang berkata kepada beliau: “Berangkatlah! Berangkatlah!” Lalu beliau melihat seseorang yang mulutnya dirobek. Maksudnya, mulut orang tersebut dirobek dari sudut bibir hingga ke sisi pipinya secara terus-menerus. Kemudian sosok tersebut menjelaskan bahwa itu adalah orang yang sering berbohong, lalu kebohongan itu disebarkan darinya hingga ke penjuru dunia. Yakni, ia sengaja menyebarkan desas-desus atau hoaks di tengah masyarakat. Itulah bentuk hukuman yang ia terima. Bahwa mulutnya akan terus dirobek, hingga robekannya mencapai lubang hidungnya. Ia disiksa seperti itu terus. Setiap kali lukanya sembuh, disiksa lagi seperti itu. Ini adalah ancaman keras bagi orang yang suka menebar hoaks. Dan betapa banyaknya pelaku perbuatan ini pada zaman kita sekarang. Mereka menyebarkan berita bohong di tengah masyarakat. Siapa saja yang berbohong lalu kebohongannya disebarkan hingga ke ufuk dunia, maka ia telah melakukan hal yang sangat keji dan termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hukuman beratnya dalam hadis ini, bahwa ia akan terus menerima siksaan tersebut hingga hari kiamat. ===== حَدَّثَنَا مُوسَى ابْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ قَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ يَشُقُّ شِدْقَيْهِ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ يَكْذِبُ بِالْكِذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ هَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ سَاقَهُ الْمُصَنِّفُ بِطُولِهِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ قَالَ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَ أَتَيَانِ وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَائِبَ وَغَرَائِبَ وَكَانَ مِمَّا رَأَى قَالَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ يَعْنِي هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي قَالَ انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى رَجُلًا قَالَ يُشَقُّ شِدْقُهُ يَعْنِي يُشَقُّ شِدْقُهُ مِنْ فَمِهِ إِلَى جَانِبِهِ يُشَقُّ شَقًّا ثُمَّ أَخْبَرَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ يَعْنِي يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ هُوَ يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ فَيَكُونُ هَذَا هُوَ عِقَابُهُ أَنَّهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَنْخِرَيْهِ وَيُفْعَلُ بِهِ هَكَذَا مَا إِنْ يَصِحُّ إِلَّا وَيُعَادُ مَرَّةً أُخْرَى وَهَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ فِي حَقِّ الَّذِينَ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ وَمَا أَكْثَرَهُمْ فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ الْكَاذِبَةَ فِي الْمُجْتَمَعِ فَهَذَا الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ وَتَبْلُغُ الْآفَاقَ هَذَا قَدْ ارْتَكَبَ أَمْرًا فَظِيعًا وَمِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِذَلِكَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُقُوبَتِهِ الشَّدِيدَةِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَأَنَّهُ يَسْتَمِرُّ عَلَى هَذِهِ الْعُقُوبَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Fatwa Ulama: Hukum Orang yang Berpindah ke Negeri dengan Pengurangan atau Penambahan Puasa

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada di hari kedua di negeri yang ia tuju, dan penduduk negeri tersebut berpuasa dua puluh sembilan hari (29 hari), sementara ia hanya berpuasa dua puluh delapan hari (28 hari)? Apakah ia tetap berpuasa pada hari ketika penduduk negeri tempat ia berada berbuka, ataukah ia berbuka bersama mereka lalu mengqadha sisa puasanya? Lalu bagaimana hukum orang yang mengalami sebaliknya, di mana ia berpuasa di negerinya sehari sebelum negeri yang ia tuju, lalu apa yang harus ia lakukan jika penduduk negeri tersebut berpuasa tiga puluh hari (30 hari)? Apakah ia harus berpuasa tiga puluh satu hari (31 hari)? Mohon berikan penjelasan kepada kami.Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Hukum asalnya, seorang muslim berpuasa dan berbuka bersama jemaah, kebanyakan umat Islam, dan pemimpin mereka di mana pun ia berada, baik bersama penduduk negerinya sendiri maupun bersama penduduk negeri lain. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ“Puasa adalah pada hari kalian semua berpuasa; berbuka (berhari raya) adalah pada hari kalian semua berhari raya; dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.” [1]Makna tentang wajibnya puasa dan berbuka bersama jemaah dalam hadis inilah yang dijadikan hujah (dalil) oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap Masruq ketika ia enggan berpuasa pada hari Arafah karena khawatir hari tersebut adalah hari Nahr (Idul Adha). Masruq berkata,“Aku menemui Aisyah pada hari Arafah, lalu ia berkata, ‘Berilah minum Masruq dengan sawiq (minuman dari gandum/tepung) dan perbanyaklah campuran manisnya.'” Masruq berkata, “Aku pun berkata, ‘Sungguh, tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini selain aku khawatir hari ini adalah hari Nahr.’ Maka Aisyah berkata, ‘Hari Nahr adalah pada saat manusia (semua) berkurban, dan hari berbuka (Idul Fitri) adalah pada saat manusia (semua) berbuka’.” [2]Dari penjelasan ini, bisa dipahami bahwa dalam ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjemaah), seperti puasa Ramadan, berbuka puasa, berkurban, dan merayakan hari raya, serta ibadah sejenisnya, pendapat atau keinginan pribadi tidak bisa dijadikan patokan. Mereka tidak boleh melakukannya sendiri-sendiri (menyendiri), dan tidak boleh pula mengikuti jemaah lain selain jemaah (masyarakat) yang ada di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, urusan ibadah ini, baik puasa maupun berbuka, harus mengikuti pemimpin (imam) dan jemaah setempat tempat mereka berada.Jika ketentuan ini harus ia ikuti, maka: Apabila ia berbuka (hanya) kurang dari dua puluh sembilan hari bersama negeri tempat ia pindah, maka ia wajib mengqadha setelahnya apa yang kurang dari puasanya. Hal ini karena bulan qamariyah (Hijriah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari dan tidak lebih dari tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا“Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi (tidak menulis dan berhitung). Bulan itu sekian dan sekian (kadang 29 dan kadang 30).” [3]Demikian pula, jika ia telah menyelesaikan puasa tiga puluh hari, lalu ia pindah ke negeri yang penduduknya masih berpuasa sehari atau lebih, maka ia wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam puasanya. Adapun kelebihan puasanya (dari 30 hari) menjadi puasa sunah baginya. Sebagaimana ia juga wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam berbuka dan merayakan Id, demi mewujudkan tujuan syariat dalam mempersatukan umat Islam dan menyatukan mereka dalam melaksanakan syiar-syiar keagamaan, serta menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat memecah belah barisan dan mencerai-beraikan persatuan mereka. Sesungguhnya,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“Tangan Allah bersama jemaah.” [4]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-500Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab “Ash-Shaum”, bab “Jika Suatu Kaum Keliru dalam Melihat Hilal” (no. 2324); At-Tirmidzi dalam kitab “Ash-Shaum” (3: 80), bab “Mengenai Bahwa Hari Berbuka adalah Saat Manusia Berbuka dan Hari Kurban adalah Saat Manusia Berkurban” (no. 697); Ibnu Majah dalam kitab “Ash-Shiyam” (1: 531), bab “Mengenai Dua Bulan Hari Raya” (no. 1660), dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shahihah” (1: 45) no. (224), dan juga oleh Al-Arna’uth dalam tahqiq-nya terhadap kitab “Syarh As-Sunnah” karya Al-Baghawi (6: 248).[2] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no. 8209). Al-Albani menilai sanadnya baik (jayyid) dalam kitabnya “Silsilah Ash-Shahihah” (1/1/442).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” (4: 126), bab “Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kita tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung'” (no. 1913); Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” (7: 192), bab “Wajibnya Puasa Ramadan karena Melihat Hilal dan Berbuka karena Melihat Hilal; dan Apabila Mendung di Awal atau Akhir Bulan, Maka Sempurnakanlah Hitungan Bulan Menjadi Tiga Puluh Hari” (no. 1080); dan Al-Baghawi dalam “Syarh As-Sunnah” (6/228), dari hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab “Al-Fitan”, bab “Mengenai Kewajiban Berpegang Teguh dengan Jemaah” (no. 2166), dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami'” (no. 8065).

Fatwa Ulama: Hukum Orang yang Berpindah ke Negeri dengan Pengurangan atau Penambahan Puasa

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada di hari kedua di negeri yang ia tuju, dan penduduk negeri tersebut berpuasa dua puluh sembilan hari (29 hari), sementara ia hanya berpuasa dua puluh delapan hari (28 hari)? Apakah ia tetap berpuasa pada hari ketika penduduk negeri tempat ia berada berbuka, ataukah ia berbuka bersama mereka lalu mengqadha sisa puasanya? Lalu bagaimana hukum orang yang mengalami sebaliknya, di mana ia berpuasa di negerinya sehari sebelum negeri yang ia tuju, lalu apa yang harus ia lakukan jika penduduk negeri tersebut berpuasa tiga puluh hari (30 hari)? Apakah ia harus berpuasa tiga puluh satu hari (31 hari)? Mohon berikan penjelasan kepada kami.Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Hukum asalnya, seorang muslim berpuasa dan berbuka bersama jemaah, kebanyakan umat Islam, dan pemimpin mereka di mana pun ia berada, baik bersama penduduk negerinya sendiri maupun bersama penduduk negeri lain. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ“Puasa adalah pada hari kalian semua berpuasa; berbuka (berhari raya) adalah pada hari kalian semua berhari raya; dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.” [1]Makna tentang wajibnya puasa dan berbuka bersama jemaah dalam hadis inilah yang dijadikan hujah (dalil) oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap Masruq ketika ia enggan berpuasa pada hari Arafah karena khawatir hari tersebut adalah hari Nahr (Idul Adha). Masruq berkata,“Aku menemui Aisyah pada hari Arafah, lalu ia berkata, ‘Berilah minum Masruq dengan sawiq (minuman dari gandum/tepung) dan perbanyaklah campuran manisnya.'” Masruq berkata, “Aku pun berkata, ‘Sungguh, tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini selain aku khawatir hari ini adalah hari Nahr.’ Maka Aisyah berkata, ‘Hari Nahr adalah pada saat manusia (semua) berkurban, dan hari berbuka (Idul Fitri) adalah pada saat manusia (semua) berbuka’.” [2]Dari penjelasan ini, bisa dipahami bahwa dalam ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjemaah), seperti puasa Ramadan, berbuka puasa, berkurban, dan merayakan hari raya, serta ibadah sejenisnya, pendapat atau keinginan pribadi tidak bisa dijadikan patokan. Mereka tidak boleh melakukannya sendiri-sendiri (menyendiri), dan tidak boleh pula mengikuti jemaah lain selain jemaah (masyarakat) yang ada di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, urusan ibadah ini, baik puasa maupun berbuka, harus mengikuti pemimpin (imam) dan jemaah setempat tempat mereka berada.Jika ketentuan ini harus ia ikuti, maka: Apabila ia berbuka (hanya) kurang dari dua puluh sembilan hari bersama negeri tempat ia pindah, maka ia wajib mengqadha setelahnya apa yang kurang dari puasanya. Hal ini karena bulan qamariyah (Hijriah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari dan tidak lebih dari tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا“Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi (tidak menulis dan berhitung). Bulan itu sekian dan sekian (kadang 29 dan kadang 30).” [3]Demikian pula, jika ia telah menyelesaikan puasa tiga puluh hari, lalu ia pindah ke negeri yang penduduknya masih berpuasa sehari atau lebih, maka ia wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam puasanya. Adapun kelebihan puasanya (dari 30 hari) menjadi puasa sunah baginya. Sebagaimana ia juga wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam berbuka dan merayakan Id, demi mewujudkan tujuan syariat dalam mempersatukan umat Islam dan menyatukan mereka dalam melaksanakan syiar-syiar keagamaan, serta menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat memecah belah barisan dan mencerai-beraikan persatuan mereka. Sesungguhnya,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“Tangan Allah bersama jemaah.” [4]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-500Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab “Ash-Shaum”, bab “Jika Suatu Kaum Keliru dalam Melihat Hilal” (no. 2324); At-Tirmidzi dalam kitab “Ash-Shaum” (3: 80), bab “Mengenai Bahwa Hari Berbuka adalah Saat Manusia Berbuka dan Hari Kurban adalah Saat Manusia Berkurban” (no. 697); Ibnu Majah dalam kitab “Ash-Shiyam” (1: 531), bab “Mengenai Dua Bulan Hari Raya” (no. 1660), dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shahihah” (1: 45) no. (224), dan juga oleh Al-Arna’uth dalam tahqiq-nya terhadap kitab “Syarh As-Sunnah” karya Al-Baghawi (6: 248).[2] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no. 8209). Al-Albani menilai sanadnya baik (jayyid) dalam kitabnya “Silsilah Ash-Shahihah” (1/1/442).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” (4: 126), bab “Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kita tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung'” (no. 1913); Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” (7: 192), bab “Wajibnya Puasa Ramadan karena Melihat Hilal dan Berbuka karena Melihat Hilal; dan Apabila Mendung di Awal atau Akhir Bulan, Maka Sempurnakanlah Hitungan Bulan Menjadi Tiga Puluh Hari” (no. 1080); dan Al-Baghawi dalam “Syarh As-Sunnah” (6/228), dari hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab “Al-Fitan”, bab “Mengenai Kewajiban Berpegang Teguh dengan Jemaah” (no. 2166), dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami'” (no. 8065).
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada di hari kedua di negeri yang ia tuju, dan penduduk negeri tersebut berpuasa dua puluh sembilan hari (29 hari), sementara ia hanya berpuasa dua puluh delapan hari (28 hari)? Apakah ia tetap berpuasa pada hari ketika penduduk negeri tempat ia berada berbuka, ataukah ia berbuka bersama mereka lalu mengqadha sisa puasanya? Lalu bagaimana hukum orang yang mengalami sebaliknya, di mana ia berpuasa di negerinya sehari sebelum negeri yang ia tuju, lalu apa yang harus ia lakukan jika penduduk negeri tersebut berpuasa tiga puluh hari (30 hari)? Apakah ia harus berpuasa tiga puluh satu hari (31 hari)? Mohon berikan penjelasan kepada kami.Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Hukum asalnya, seorang muslim berpuasa dan berbuka bersama jemaah, kebanyakan umat Islam, dan pemimpin mereka di mana pun ia berada, baik bersama penduduk negerinya sendiri maupun bersama penduduk negeri lain. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ“Puasa adalah pada hari kalian semua berpuasa; berbuka (berhari raya) adalah pada hari kalian semua berhari raya; dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.” [1]Makna tentang wajibnya puasa dan berbuka bersama jemaah dalam hadis inilah yang dijadikan hujah (dalil) oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap Masruq ketika ia enggan berpuasa pada hari Arafah karena khawatir hari tersebut adalah hari Nahr (Idul Adha). Masruq berkata,“Aku menemui Aisyah pada hari Arafah, lalu ia berkata, ‘Berilah minum Masruq dengan sawiq (minuman dari gandum/tepung) dan perbanyaklah campuran manisnya.'” Masruq berkata, “Aku pun berkata, ‘Sungguh, tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini selain aku khawatir hari ini adalah hari Nahr.’ Maka Aisyah berkata, ‘Hari Nahr adalah pada saat manusia (semua) berkurban, dan hari berbuka (Idul Fitri) adalah pada saat manusia (semua) berbuka’.” [2]Dari penjelasan ini, bisa dipahami bahwa dalam ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjemaah), seperti puasa Ramadan, berbuka puasa, berkurban, dan merayakan hari raya, serta ibadah sejenisnya, pendapat atau keinginan pribadi tidak bisa dijadikan patokan. Mereka tidak boleh melakukannya sendiri-sendiri (menyendiri), dan tidak boleh pula mengikuti jemaah lain selain jemaah (masyarakat) yang ada di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, urusan ibadah ini, baik puasa maupun berbuka, harus mengikuti pemimpin (imam) dan jemaah setempat tempat mereka berada.Jika ketentuan ini harus ia ikuti, maka: Apabila ia berbuka (hanya) kurang dari dua puluh sembilan hari bersama negeri tempat ia pindah, maka ia wajib mengqadha setelahnya apa yang kurang dari puasanya. Hal ini karena bulan qamariyah (Hijriah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari dan tidak lebih dari tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا“Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi (tidak menulis dan berhitung). Bulan itu sekian dan sekian (kadang 29 dan kadang 30).” [3]Demikian pula, jika ia telah menyelesaikan puasa tiga puluh hari, lalu ia pindah ke negeri yang penduduknya masih berpuasa sehari atau lebih, maka ia wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam puasanya. Adapun kelebihan puasanya (dari 30 hari) menjadi puasa sunah baginya. Sebagaimana ia juga wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam berbuka dan merayakan Id, demi mewujudkan tujuan syariat dalam mempersatukan umat Islam dan menyatukan mereka dalam melaksanakan syiar-syiar keagamaan, serta menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat memecah belah barisan dan mencerai-beraikan persatuan mereka. Sesungguhnya,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“Tangan Allah bersama jemaah.” [4]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-500Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab “Ash-Shaum”, bab “Jika Suatu Kaum Keliru dalam Melihat Hilal” (no. 2324); At-Tirmidzi dalam kitab “Ash-Shaum” (3: 80), bab “Mengenai Bahwa Hari Berbuka adalah Saat Manusia Berbuka dan Hari Kurban adalah Saat Manusia Berkurban” (no. 697); Ibnu Majah dalam kitab “Ash-Shiyam” (1: 531), bab “Mengenai Dua Bulan Hari Raya” (no. 1660), dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shahihah” (1: 45) no. (224), dan juga oleh Al-Arna’uth dalam tahqiq-nya terhadap kitab “Syarh As-Sunnah” karya Al-Baghawi (6: 248).[2] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no. 8209). Al-Albani menilai sanadnya baik (jayyid) dalam kitabnya “Silsilah Ash-Shahihah” (1/1/442).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” (4: 126), bab “Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kita tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung'” (no. 1913); Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” (7: 192), bab “Wajibnya Puasa Ramadan karena Melihat Hilal dan Berbuka karena Melihat Hilal; dan Apabila Mendung di Awal atau Akhir Bulan, Maka Sempurnakanlah Hitungan Bulan Menjadi Tiga Puluh Hari” (no. 1080); dan Al-Baghawi dalam “Syarh As-Sunnah” (6/228), dari hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab “Al-Fitan”, bab “Mengenai Kewajiban Berpegang Teguh dengan Jemaah” (no. 2166), dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami'” (no. 8065).


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada di hari kedua di negeri yang ia tuju, dan penduduk negeri tersebut berpuasa dua puluh sembilan hari (29 hari), sementara ia hanya berpuasa dua puluh delapan hari (28 hari)? Apakah ia tetap berpuasa pada hari ketika penduduk negeri tempat ia berada berbuka, ataukah ia berbuka bersama mereka lalu mengqadha sisa puasanya? Lalu bagaimana hukum orang yang mengalami sebaliknya, di mana ia berpuasa di negerinya sehari sebelum negeri yang ia tuju, lalu apa yang harus ia lakukan jika penduduk negeri tersebut berpuasa tiga puluh hari (30 hari)? Apakah ia harus berpuasa tiga puluh satu hari (31 hari)? Mohon berikan penjelasan kepada kami.Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Hukum asalnya, seorang muslim berpuasa dan berbuka bersama jemaah, kebanyakan umat Islam, dan pemimpin mereka di mana pun ia berada, baik bersama penduduk negerinya sendiri maupun bersama penduduk negeri lain. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ“Puasa adalah pada hari kalian semua berpuasa; berbuka (berhari raya) adalah pada hari kalian semua berhari raya; dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.” [1]Makna tentang wajibnya puasa dan berbuka bersama jemaah dalam hadis inilah yang dijadikan hujah (dalil) oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap Masruq ketika ia enggan berpuasa pada hari Arafah karena khawatir hari tersebut adalah hari Nahr (Idul Adha). Masruq berkata,“Aku menemui Aisyah pada hari Arafah, lalu ia berkata, ‘Berilah minum Masruq dengan sawiq (minuman dari gandum/tepung) dan perbanyaklah campuran manisnya.'” Masruq berkata, “Aku pun berkata, ‘Sungguh, tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini selain aku khawatir hari ini adalah hari Nahr.’ Maka Aisyah berkata, ‘Hari Nahr adalah pada saat manusia (semua) berkurban, dan hari berbuka (Idul Fitri) adalah pada saat manusia (semua) berbuka’.” [2]Dari penjelasan ini, bisa dipahami bahwa dalam ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjemaah), seperti puasa Ramadan, berbuka puasa, berkurban, dan merayakan hari raya, serta ibadah sejenisnya, pendapat atau keinginan pribadi tidak bisa dijadikan patokan. Mereka tidak boleh melakukannya sendiri-sendiri (menyendiri), dan tidak boleh pula mengikuti jemaah lain selain jemaah (masyarakat) yang ada di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, urusan ibadah ini, baik puasa maupun berbuka, harus mengikuti pemimpin (imam) dan jemaah setempat tempat mereka berada.Jika ketentuan ini harus ia ikuti, maka: Apabila ia berbuka (hanya) kurang dari dua puluh sembilan hari bersama negeri tempat ia pindah, maka ia wajib mengqadha setelahnya apa yang kurang dari puasanya. Hal ini karena bulan qamariyah (Hijriah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari dan tidak lebih dari tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا“Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi (tidak menulis dan berhitung). Bulan itu sekian dan sekian (kadang 29 dan kadang 30).” [3]Demikian pula, jika ia telah menyelesaikan puasa tiga puluh hari, lalu ia pindah ke negeri yang penduduknya masih berpuasa sehari atau lebih, maka ia wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam puasanya. Adapun kelebihan puasanya (dari 30 hari) menjadi puasa sunah baginya. Sebagaimana ia juga wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam berbuka dan merayakan Id, demi mewujudkan tujuan syariat dalam mempersatukan umat Islam dan menyatukan mereka dalam melaksanakan syiar-syiar keagamaan, serta menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat memecah belah barisan dan mencerai-beraikan persatuan mereka. Sesungguhnya,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“Tangan Allah bersama jemaah.” [4]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-500Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab “Ash-Shaum”, bab “Jika Suatu Kaum Keliru dalam Melihat Hilal” (no. 2324); At-Tirmidzi dalam kitab “Ash-Shaum” (3: 80), bab “Mengenai Bahwa Hari Berbuka adalah Saat Manusia Berbuka dan Hari Kurban adalah Saat Manusia Berkurban” (no. 697); Ibnu Majah dalam kitab “Ash-Shiyam” (1: 531), bab “Mengenai Dua Bulan Hari Raya” (no. 1660), dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shahihah” (1: 45) no. (224), dan juga oleh Al-Arna’uth dalam tahqiq-nya terhadap kitab “Syarh As-Sunnah” karya Al-Baghawi (6: 248).[2] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no. 8209). Al-Albani menilai sanadnya baik (jayyid) dalam kitabnya “Silsilah Ash-Shahihah” (1/1/442).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” (4: 126), bab “Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kita tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung'” (no. 1913); Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” (7: 192), bab “Wajibnya Puasa Ramadan karena Melihat Hilal dan Berbuka karena Melihat Hilal; dan Apabila Mendung di Awal atau Akhir Bulan, Maka Sempurnakanlah Hitungan Bulan Menjadi Tiga Puluh Hari” (no. 1080); dan Al-Baghawi dalam “Syarh As-Sunnah” (6/228), dari hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab “Al-Fitan”, bab “Mengenai Kewajiban Berpegang Teguh dengan Jemaah” (no. 2166), dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami'” (no. 8065).

Nasihat Menyentuh Syaikh Utsaimin Agar Shalat Khusyuk – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

https://youtu.be/7z7zbVsr7sg Wahai saudaraku! Ketika Anda berdiri untuk shalat, Anda akan merasakan pergulatan batin dengan dirimu sendiri. Sebuah pergulatan, nafsu Anda membisikkan: “Cepatlah! Cepatlah! Cepatlah!” Namun, janganlah Anda ikuti! Katakanlah: “Aku sadar bahwa aku tidak akan meraih manfaat dari duniaku kecuali pada saat shalat ini!” Dengan amalan ini! Jika Anda menghadirkan perasaan ini, bahwa Anda tidak akan memetik manfaat dari hidupmu ini kecuali dengan amalan shalat dan yang semisalnya. Apakah Anda akan lari darinya seperti menghindari singa, atau justru merasa tenang? Jawablah, wahai jemaah! Tentu Anda merasa tenang! Wahai saudaraku, renungkanlah ini! Saat Anda bertakbir “Allahu Akbar!”, nafsu Anda kembali berbisik: “Ayo, cepat! Selesaikan segera!” Pada saat itu, katakanlah pada diri Anda: “Tenanglah! Tenanglah!” “Tenanglah, karena aku tidak memiliki bekal dari hidupku kecuali amalan ini.” “Tidak ada yang berguna bagiku di alam kubur, saat kematianku, maupun pada hari kiamat kelak kecuali amalan ini.” Tenanglah, wahai saudaraku! Ingatlah ketika Anda sedang shalat, kepada siapa Anda sedang bermunajat? Kepada siapa Anda bermunajat, wahai saudaraku? Anda sedang bermunajat kepada Zat yang paling Anda cintai, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Tidakkah Anda tahu bahwa saat Anda mengucap: “Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,” Allah Ta’ala menjawab dari atas langit yang tujuh: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ar-Rohmaaanir rohiim,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Maaliki yaumiddiin,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Ini semua adalah kebenaran yang nyata! Tidakkah Anda tahu saat Anda membaca: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah berfirman: “Ini adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku, terbagi menjadi dua bagian.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ihdinash shiroothol mustaqiim,” Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Apakah Anda menemukan kebaikan yang lebih banyak dari ini? Bagaimana mungkin Anda lari dari berdiri di hadapan Zat yang sedang mengajak Anda bicara, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segalanya? Wahai saudaraku, kenalilah diri Anda! Kenalilah hakikat diri Anda, dan untuk tujuan apa Anda diciptakan? Demi Allah, sekiranya kita benar-benar merasakan hal ini, niscaya segala ibadah akan terasa ringan, dan seluruh dunia ini pasti akan terasa tidak berharga bagi kita. “Seandainya dunia ini senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Tuhan tidak akan memberi minum darinya kepada orang kafir.” “Namun demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi-Nya daripada kepakan sayap nyamuk itu.” Demikianlah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan sungguh benar apa yang beliau katakan. ===== فَأَنْتَ يَا أَخِي عِنْدَمَا تَقُومُ تُصَلِّي تَجِدُ عِرَاكًا مَعَ نَفْسِكَ مُصَارَعَةً نَفْسُكَ تَقُولُ: عَجِّلْ عَجِّلْ عَجِّلْ لَكِنْ لَا تُطِعْهَا قُلْ: أَنَا أَعْلَمُ أَنِّي لَا أَنْتَفِعُ مِنْ دُنْيَايَ إِلَّا فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ وَبِهَذَا الْعَمَلِ وَإِذَا شَعَرْتَ هَذَا الشُّعُورَ وَأَنَّكَ لَنْ تَنْتَفِعَ مِنْ حَيَاتِكَ إِلَّا بِهَذَا وَأَمْثَالِهِ هَلْ تَفِرُّ مِنْهُ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ أَوْ تَطْمَئِنُّ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ تَطْمَئِنُّ يَا أَخِي، فَكِّرْ فِي هَذَا عِنْدَمَا تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ تَجِدُ شَيْئًا فِي نَفْسِكَ يَلَا مَشِ مَشِ قُلْ يَا أَخِي هَوْنًا هَوْنًا هَوْنًا مَا لِي مِنْ حَيَاتِي إِلَّا هَذَا مَا يَنْفَعُنِي فِي قَبْرِي وَلَا عِنْدَ مَوْتِي وَلَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَذَا اطْمَئِنَّ يَا أَخِي ثُمَّ اذْكُرْ وَأَنْتَ فِي صَلَاتِكَ مَنْ تُنَاجِي مَنْ تُنَاجِي يَا أَخِي تُنَاجِي أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْكَ وَهُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ قَالَ حَمِدَنِي عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي كُلُّ هَذَا حَقٌّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ اللهُ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ قَالَ اللهُ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ هَلْ تَجِدُ خَيْرًا أَكْثَرَ مِنْ هَذَا؟ كَيْفَ تَفِرُّ مِنْ أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ يُنَاجِيكَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ يَا أَخِي اعْرِفْ نَفْسَكَ اعْرِفْ نَفْسَكَ وَلِمَاذَا خُلِقْتَ وَاللهِ لَوْ كُنَّا نَشْعُرُ هَذَا الشُّعُورَ لَهَانَتْ عَلَيْنَا الْعِبَادَاتُ وَلَا رَخُصَتْ عَلَيْنَا الدُّنْيَا كُلُّهَا لَوْ سَاوَتِ الدُّنْيَا جَنَاحَ بَعُوضَةٍ لَمْ يَسْقِ مِنْهَا الرَّبُّ ذَا الْكُفْرَانِ لَكِنَّهَا وَاللهِ أَحْقَرُ عِنْدَهُ مِنْ ذَا الْجَنَاحِ الْقَاصِدِ الطَّيَرَانِ هَكَذَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَصَدَقَ

Nasihat Menyentuh Syaikh Utsaimin Agar Shalat Khusyuk – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

https://youtu.be/7z7zbVsr7sg Wahai saudaraku! Ketika Anda berdiri untuk shalat, Anda akan merasakan pergulatan batin dengan dirimu sendiri. Sebuah pergulatan, nafsu Anda membisikkan: “Cepatlah! Cepatlah! Cepatlah!” Namun, janganlah Anda ikuti! Katakanlah: “Aku sadar bahwa aku tidak akan meraih manfaat dari duniaku kecuali pada saat shalat ini!” Dengan amalan ini! Jika Anda menghadirkan perasaan ini, bahwa Anda tidak akan memetik manfaat dari hidupmu ini kecuali dengan amalan shalat dan yang semisalnya. Apakah Anda akan lari darinya seperti menghindari singa, atau justru merasa tenang? Jawablah, wahai jemaah! Tentu Anda merasa tenang! Wahai saudaraku, renungkanlah ini! Saat Anda bertakbir “Allahu Akbar!”, nafsu Anda kembali berbisik: “Ayo, cepat! Selesaikan segera!” Pada saat itu, katakanlah pada diri Anda: “Tenanglah! Tenanglah!” “Tenanglah, karena aku tidak memiliki bekal dari hidupku kecuali amalan ini.” “Tidak ada yang berguna bagiku di alam kubur, saat kematianku, maupun pada hari kiamat kelak kecuali amalan ini.” Tenanglah, wahai saudaraku! Ingatlah ketika Anda sedang shalat, kepada siapa Anda sedang bermunajat? Kepada siapa Anda bermunajat, wahai saudaraku? Anda sedang bermunajat kepada Zat yang paling Anda cintai, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Tidakkah Anda tahu bahwa saat Anda mengucap: “Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,” Allah Ta’ala menjawab dari atas langit yang tujuh: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ar-Rohmaaanir rohiim,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Maaliki yaumiddiin,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Ini semua adalah kebenaran yang nyata! Tidakkah Anda tahu saat Anda membaca: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah berfirman: “Ini adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku, terbagi menjadi dua bagian.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ihdinash shiroothol mustaqiim,” Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Apakah Anda menemukan kebaikan yang lebih banyak dari ini? Bagaimana mungkin Anda lari dari berdiri di hadapan Zat yang sedang mengajak Anda bicara, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segalanya? Wahai saudaraku, kenalilah diri Anda! Kenalilah hakikat diri Anda, dan untuk tujuan apa Anda diciptakan? Demi Allah, sekiranya kita benar-benar merasakan hal ini, niscaya segala ibadah akan terasa ringan, dan seluruh dunia ini pasti akan terasa tidak berharga bagi kita. “Seandainya dunia ini senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Tuhan tidak akan memberi minum darinya kepada orang kafir.” “Namun demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi-Nya daripada kepakan sayap nyamuk itu.” Demikianlah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan sungguh benar apa yang beliau katakan. ===== فَأَنْتَ يَا أَخِي عِنْدَمَا تَقُومُ تُصَلِّي تَجِدُ عِرَاكًا مَعَ نَفْسِكَ مُصَارَعَةً نَفْسُكَ تَقُولُ: عَجِّلْ عَجِّلْ عَجِّلْ لَكِنْ لَا تُطِعْهَا قُلْ: أَنَا أَعْلَمُ أَنِّي لَا أَنْتَفِعُ مِنْ دُنْيَايَ إِلَّا فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ وَبِهَذَا الْعَمَلِ وَإِذَا شَعَرْتَ هَذَا الشُّعُورَ وَأَنَّكَ لَنْ تَنْتَفِعَ مِنْ حَيَاتِكَ إِلَّا بِهَذَا وَأَمْثَالِهِ هَلْ تَفِرُّ مِنْهُ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ أَوْ تَطْمَئِنُّ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ تَطْمَئِنُّ يَا أَخِي، فَكِّرْ فِي هَذَا عِنْدَمَا تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ تَجِدُ شَيْئًا فِي نَفْسِكَ يَلَا مَشِ مَشِ قُلْ يَا أَخِي هَوْنًا هَوْنًا هَوْنًا مَا لِي مِنْ حَيَاتِي إِلَّا هَذَا مَا يَنْفَعُنِي فِي قَبْرِي وَلَا عِنْدَ مَوْتِي وَلَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَذَا اطْمَئِنَّ يَا أَخِي ثُمَّ اذْكُرْ وَأَنْتَ فِي صَلَاتِكَ مَنْ تُنَاجِي مَنْ تُنَاجِي يَا أَخِي تُنَاجِي أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْكَ وَهُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ قَالَ حَمِدَنِي عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي كُلُّ هَذَا حَقٌّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ اللهُ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ قَالَ اللهُ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ هَلْ تَجِدُ خَيْرًا أَكْثَرَ مِنْ هَذَا؟ كَيْفَ تَفِرُّ مِنْ أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ يُنَاجِيكَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ يَا أَخِي اعْرِفْ نَفْسَكَ اعْرِفْ نَفْسَكَ وَلِمَاذَا خُلِقْتَ وَاللهِ لَوْ كُنَّا نَشْعُرُ هَذَا الشُّعُورَ لَهَانَتْ عَلَيْنَا الْعِبَادَاتُ وَلَا رَخُصَتْ عَلَيْنَا الدُّنْيَا كُلُّهَا لَوْ سَاوَتِ الدُّنْيَا جَنَاحَ بَعُوضَةٍ لَمْ يَسْقِ مِنْهَا الرَّبُّ ذَا الْكُفْرَانِ لَكِنَّهَا وَاللهِ أَحْقَرُ عِنْدَهُ مِنْ ذَا الْجَنَاحِ الْقَاصِدِ الطَّيَرَانِ هَكَذَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَصَدَقَ
https://youtu.be/7z7zbVsr7sg Wahai saudaraku! Ketika Anda berdiri untuk shalat, Anda akan merasakan pergulatan batin dengan dirimu sendiri. Sebuah pergulatan, nafsu Anda membisikkan: “Cepatlah! Cepatlah! Cepatlah!” Namun, janganlah Anda ikuti! Katakanlah: “Aku sadar bahwa aku tidak akan meraih manfaat dari duniaku kecuali pada saat shalat ini!” Dengan amalan ini! Jika Anda menghadirkan perasaan ini, bahwa Anda tidak akan memetik manfaat dari hidupmu ini kecuali dengan amalan shalat dan yang semisalnya. Apakah Anda akan lari darinya seperti menghindari singa, atau justru merasa tenang? Jawablah, wahai jemaah! Tentu Anda merasa tenang! Wahai saudaraku, renungkanlah ini! Saat Anda bertakbir “Allahu Akbar!”, nafsu Anda kembali berbisik: “Ayo, cepat! Selesaikan segera!” Pada saat itu, katakanlah pada diri Anda: “Tenanglah! Tenanglah!” “Tenanglah, karena aku tidak memiliki bekal dari hidupku kecuali amalan ini.” “Tidak ada yang berguna bagiku di alam kubur, saat kematianku, maupun pada hari kiamat kelak kecuali amalan ini.” Tenanglah, wahai saudaraku! Ingatlah ketika Anda sedang shalat, kepada siapa Anda sedang bermunajat? Kepada siapa Anda bermunajat, wahai saudaraku? Anda sedang bermunajat kepada Zat yang paling Anda cintai, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Tidakkah Anda tahu bahwa saat Anda mengucap: “Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,” Allah Ta’ala menjawab dari atas langit yang tujuh: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ar-Rohmaaanir rohiim,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Maaliki yaumiddiin,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Ini semua adalah kebenaran yang nyata! Tidakkah Anda tahu saat Anda membaca: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah berfirman: “Ini adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku, terbagi menjadi dua bagian.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ihdinash shiroothol mustaqiim,” Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Apakah Anda menemukan kebaikan yang lebih banyak dari ini? Bagaimana mungkin Anda lari dari berdiri di hadapan Zat yang sedang mengajak Anda bicara, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segalanya? Wahai saudaraku, kenalilah diri Anda! Kenalilah hakikat diri Anda, dan untuk tujuan apa Anda diciptakan? Demi Allah, sekiranya kita benar-benar merasakan hal ini, niscaya segala ibadah akan terasa ringan, dan seluruh dunia ini pasti akan terasa tidak berharga bagi kita. “Seandainya dunia ini senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Tuhan tidak akan memberi minum darinya kepada orang kafir.” “Namun demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi-Nya daripada kepakan sayap nyamuk itu.” Demikianlah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan sungguh benar apa yang beliau katakan. ===== فَأَنْتَ يَا أَخِي عِنْدَمَا تَقُومُ تُصَلِّي تَجِدُ عِرَاكًا مَعَ نَفْسِكَ مُصَارَعَةً نَفْسُكَ تَقُولُ: عَجِّلْ عَجِّلْ عَجِّلْ لَكِنْ لَا تُطِعْهَا قُلْ: أَنَا أَعْلَمُ أَنِّي لَا أَنْتَفِعُ مِنْ دُنْيَايَ إِلَّا فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ وَبِهَذَا الْعَمَلِ وَإِذَا شَعَرْتَ هَذَا الشُّعُورَ وَأَنَّكَ لَنْ تَنْتَفِعَ مِنْ حَيَاتِكَ إِلَّا بِهَذَا وَأَمْثَالِهِ هَلْ تَفِرُّ مِنْهُ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ أَوْ تَطْمَئِنُّ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ تَطْمَئِنُّ يَا أَخِي، فَكِّرْ فِي هَذَا عِنْدَمَا تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ تَجِدُ شَيْئًا فِي نَفْسِكَ يَلَا مَشِ مَشِ قُلْ يَا أَخِي هَوْنًا هَوْنًا هَوْنًا مَا لِي مِنْ حَيَاتِي إِلَّا هَذَا مَا يَنْفَعُنِي فِي قَبْرِي وَلَا عِنْدَ مَوْتِي وَلَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَذَا اطْمَئِنَّ يَا أَخِي ثُمَّ اذْكُرْ وَأَنْتَ فِي صَلَاتِكَ مَنْ تُنَاجِي مَنْ تُنَاجِي يَا أَخِي تُنَاجِي أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْكَ وَهُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ قَالَ حَمِدَنِي عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي كُلُّ هَذَا حَقٌّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ اللهُ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ قَالَ اللهُ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ هَلْ تَجِدُ خَيْرًا أَكْثَرَ مِنْ هَذَا؟ كَيْفَ تَفِرُّ مِنْ أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ يُنَاجِيكَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ يَا أَخِي اعْرِفْ نَفْسَكَ اعْرِفْ نَفْسَكَ وَلِمَاذَا خُلِقْتَ وَاللهِ لَوْ كُنَّا نَشْعُرُ هَذَا الشُّعُورَ لَهَانَتْ عَلَيْنَا الْعِبَادَاتُ وَلَا رَخُصَتْ عَلَيْنَا الدُّنْيَا كُلُّهَا لَوْ سَاوَتِ الدُّنْيَا جَنَاحَ بَعُوضَةٍ لَمْ يَسْقِ مِنْهَا الرَّبُّ ذَا الْكُفْرَانِ لَكِنَّهَا وَاللهِ أَحْقَرُ عِنْدَهُ مِنْ ذَا الْجَنَاحِ الْقَاصِدِ الطَّيَرَانِ هَكَذَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَصَدَقَ


https://youtu.be/7z7zbVsr7sg Wahai saudaraku! Ketika Anda berdiri untuk shalat, Anda akan merasakan pergulatan batin dengan dirimu sendiri. Sebuah pergulatan, nafsu Anda membisikkan: “Cepatlah! Cepatlah! Cepatlah!” Namun, janganlah Anda ikuti! Katakanlah: “Aku sadar bahwa aku tidak akan meraih manfaat dari duniaku kecuali pada saat shalat ini!” Dengan amalan ini! Jika Anda menghadirkan perasaan ini, bahwa Anda tidak akan memetik manfaat dari hidupmu ini kecuali dengan amalan shalat dan yang semisalnya. Apakah Anda akan lari darinya seperti menghindari singa, atau justru merasa tenang? Jawablah, wahai jemaah! Tentu Anda merasa tenang! Wahai saudaraku, renungkanlah ini! Saat Anda bertakbir “Allahu Akbar!”, nafsu Anda kembali berbisik: “Ayo, cepat! Selesaikan segera!” Pada saat itu, katakanlah pada diri Anda: “Tenanglah! Tenanglah!” “Tenanglah, karena aku tidak memiliki bekal dari hidupku kecuali amalan ini.” “Tidak ada yang berguna bagiku di alam kubur, saat kematianku, maupun pada hari kiamat kelak kecuali amalan ini.” Tenanglah, wahai saudaraku! Ingatlah ketika Anda sedang shalat, kepada siapa Anda sedang bermunajat? Kepada siapa Anda bermunajat, wahai saudaraku? Anda sedang bermunajat kepada Zat yang paling Anda cintai, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Tidakkah Anda tahu bahwa saat Anda mengucap: “Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,” Allah Ta’ala menjawab dari atas langit yang tujuh: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ar-Rohmaaanir rohiim,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Maaliki yaumiddiin,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Ini semua adalah kebenaran yang nyata! Tidakkah Anda tahu saat Anda membaca: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah berfirman: “Ini adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku, terbagi menjadi dua bagian.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ihdinash shiroothol mustaqiim,” Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Apakah Anda menemukan kebaikan yang lebih banyak dari ini? Bagaimana mungkin Anda lari dari berdiri di hadapan Zat yang sedang mengajak Anda bicara, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segalanya? Wahai saudaraku, kenalilah diri Anda! Kenalilah hakikat diri Anda, dan untuk tujuan apa Anda diciptakan? Demi Allah, sekiranya kita benar-benar merasakan hal ini, niscaya segala ibadah akan terasa ringan, dan seluruh dunia ini pasti akan terasa tidak berharga bagi kita. “Seandainya dunia ini senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Tuhan tidak akan memberi minum darinya kepada orang kafir.” “Namun demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi-Nya daripada kepakan sayap nyamuk itu.” Demikianlah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan sungguh benar apa yang beliau katakan. ===== فَأَنْتَ يَا أَخِي عِنْدَمَا تَقُومُ تُصَلِّي تَجِدُ عِرَاكًا مَعَ نَفْسِكَ مُصَارَعَةً نَفْسُكَ تَقُولُ: عَجِّلْ عَجِّلْ عَجِّلْ لَكِنْ لَا تُطِعْهَا قُلْ: أَنَا أَعْلَمُ أَنِّي لَا أَنْتَفِعُ مِنْ دُنْيَايَ إِلَّا فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ وَبِهَذَا الْعَمَلِ وَإِذَا شَعَرْتَ هَذَا الشُّعُورَ وَأَنَّكَ لَنْ تَنْتَفِعَ مِنْ حَيَاتِكَ إِلَّا بِهَذَا وَأَمْثَالِهِ هَلْ تَفِرُّ مِنْهُ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ أَوْ تَطْمَئِنُّ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ تَطْمَئِنُّ يَا أَخِي، فَكِّرْ فِي هَذَا عِنْدَمَا تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ تَجِدُ شَيْئًا فِي نَفْسِكَ يَلَا مَشِ مَشِ قُلْ يَا أَخِي هَوْنًا هَوْنًا هَوْنًا مَا لِي مِنْ حَيَاتِي إِلَّا هَذَا مَا يَنْفَعُنِي فِي قَبْرِي وَلَا عِنْدَ مَوْتِي وَلَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَذَا اطْمَئِنَّ يَا أَخِي ثُمَّ اذْكُرْ وَأَنْتَ فِي صَلَاتِكَ مَنْ تُنَاجِي مَنْ تُنَاجِي يَا أَخِي تُنَاجِي أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْكَ وَهُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ قَالَ حَمِدَنِي عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي كُلُّ هَذَا حَقٌّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ اللهُ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ قَالَ اللهُ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ هَلْ تَجِدُ خَيْرًا أَكْثَرَ مِنْ هَذَا؟ كَيْفَ تَفِرُّ مِنْ أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ يُنَاجِيكَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ يَا أَخِي اعْرِفْ نَفْسَكَ اعْرِفْ نَفْسَكَ وَلِمَاذَا خُلِقْتَ وَاللهِ لَوْ كُنَّا نَشْعُرُ هَذَا الشُّعُورَ لَهَانَتْ عَلَيْنَا الْعِبَادَاتُ وَلَا رَخُصَتْ عَلَيْنَا الدُّنْيَا كُلُّهَا لَوْ سَاوَتِ الدُّنْيَا جَنَاحَ بَعُوضَةٍ لَمْ يَسْقِ مِنْهَا الرَّبُّ ذَا الْكُفْرَانِ لَكِنَّهَا وَاللهِ أَحْقَرُ عِنْدَهُ مِنْ ذَا الْجَنَاحِ الْقَاصِدِ الطَّيَرَانِ هَكَذَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَصَدَقَ

Ketika Tidak Bisa Mudik: Untuk Para Pekerja yang Menahan Rindu

Daftar Isi ToggleRindu yang bernilai ibadahAmanah didahulukan daripada keinginan pribadiBekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikKesabaran menahan rinduJangan bandingkan diri dengan orang lainMenjadikan momen ini sebagai muhasabahSolusi praktis mengobati rinduSetiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, bandara sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional yang sangat kuat.Namun di balik arus besar itu, ada jutaan orang yang tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab.Ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang hanya bisa melihat keluarga lewat layar ponsel.Hati mereka sama seperti yang lain. Mereka juga rindu ibu. Mereka juga ingin mencium tangan ayah. Mereka juga ingin duduk di ruang tamu sederhana yang penuh kenangan masa kecil. Namun, karena berbagai hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak yang begitu jauh, atau bahkan ketiadaan biaya untuk mudik, keinginan itu harus mereka pendam.Rindu yang bernilai ibadahIslam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi manfaat bagi orang lain, maka pekerjaannya bernilai ibadah.Tidak mudik bukan berarti tidak berbakti. Bisa jadi justru ia sedang berbakti dengan cara yang berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, atau menjaga pelayanan bagi masyarakat.Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.Allah Azza wa Jalla berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Jika seseorang tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya, ia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.Amanah didahulukan daripada keinginan pribadiIslam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab profesi adalah amanah.Sering kali yang tidak mudik adalah mereka yang justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, aparat keamanan, pekerja transportasi, karyawan layanan publik, dan banyak profesi lain yang membuat orang lain bisa merayakan hari raya dengan aman dan nyaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)Menjaga profesionalitas di hari raya adalah bentuk ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar karena menahan rindu demi menjaga amanah.Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSebagian orang merasa rendah hati karena tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah halal untuk keluarga termasuk amal yang besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik sama sekali daripada makanan yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar yang menjadi tulang punggung keluarga di desa. Uang yang dikirim setiap bulan justru menjadi sebab orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari bakti yang nyata.Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang AgungSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikMemang, bertemu langsung memiliki kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Orang yang menyambung silaturahim bukanlah yang membalas kunjungan, tetapi yang tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)Sebagian orang merasa bersalah karena tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berbakti tidak selalu harus dengan hadir secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan suara lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata yang menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.Kesabaran menahan rinduMenahan rindu bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)Kesabaran menahan rindu adalah ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.Jangan bandingkan diri dengan orang lainDi era media sosial, foto kebersamaan keluarga dapat menambah rasa sepi bagi yang tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.Menjadikan momen ini sebagai muhasabahTidak mudik bisa menjadi waktu yang sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.Gunakan momen ini untuk:Memperbanyak doa.Mengirimkan doa untuk kedua orang tua.Merenungi perjalanan hidup.Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Solusi praktis mengobati rinduBeberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.Jadwalkan video call khusus bersama keluarga.Kirim hadiah kecil sebagai tanda cinta.Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.Perbanyak zikir dan doa.Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)Wahai Anda yang tetap bekerja saat orang lain pulang…Allah mengetahui rindu yang Anda simpan dalam diam. Allah melihat pengorbanan yang mungkin tidak disorot manusia. Allah mencatat setiap langkah yang Anda tempuh demi nafkah halal dan amanah yang dijaga.Tidak mudik bukan tanda kurang cinta. Tidak pulang bukan berarti kurang bakti. Bisa jadi justru Anda sedang menjalani bentuk pengabdian yang lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada batas akhirnya. Setiap rindu yang ditahan akan diganti dengan pertemuan yang lebih hangat, pada waktu yang terbaik menurut-Nya.Dan jika jarak masih memisahkan, doa tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah yang dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap bernilai ibadah.Semoga Allah menjaga keluarga yang jauh di sana. Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita. Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di dunia dan kelak di surga-Nya.Wallahu Ta‘ala A‘lam.Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Ketika Tidak Bisa Mudik: Untuk Para Pekerja yang Menahan Rindu

Daftar Isi ToggleRindu yang bernilai ibadahAmanah didahulukan daripada keinginan pribadiBekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikKesabaran menahan rinduJangan bandingkan diri dengan orang lainMenjadikan momen ini sebagai muhasabahSolusi praktis mengobati rinduSetiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, bandara sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional yang sangat kuat.Namun di balik arus besar itu, ada jutaan orang yang tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab.Ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang hanya bisa melihat keluarga lewat layar ponsel.Hati mereka sama seperti yang lain. Mereka juga rindu ibu. Mereka juga ingin mencium tangan ayah. Mereka juga ingin duduk di ruang tamu sederhana yang penuh kenangan masa kecil. Namun, karena berbagai hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak yang begitu jauh, atau bahkan ketiadaan biaya untuk mudik, keinginan itu harus mereka pendam.Rindu yang bernilai ibadahIslam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi manfaat bagi orang lain, maka pekerjaannya bernilai ibadah.Tidak mudik bukan berarti tidak berbakti. Bisa jadi justru ia sedang berbakti dengan cara yang berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, atau menjaga pelayanan bagi masyarakat.Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.Allah Azza wa Jalla berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Jika seseorang tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya, ia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.Amanah didahulukan daripada keinginan pribadiIslam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab profesi adalah amanah.Sering kali yang tidak mudik adalah mereka yang justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, aparat keamanan, pekerja transportasi, karyawan layanan publik, dan banyak profesi lain yang membuat orang lain bisa merayakan hari raya dengan aman dan nyaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)Menjaga profesionalitas di hari raya adalah bentuk ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar karena menahan rindu demi menjaga amanah.Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSebagian orang merasa rendah hati karena tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah halal untuk keluarga termasuk amal yang besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik sama sekali daripada makanan yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar yang menjadi tulang punggung keluarga di desa. Uang yang dikirim setiap bulan justru menjadi sebab orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari bakti yang nyata.Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang AgungSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikMemang, bertemu langsung memiliki kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Orang yang menyambung silaturahim bukanlah yang membalas kunjungan, tetapi yang tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)Sebagian orang merasa bersalah karena tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berbakti tidak selalu harus dengan hadir secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan suara lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata yang menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.Kesabaran menahan rinduMenahan rindu bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)Kesabaran menahan rindu adalah ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.Jangan bandingkan diri dengan orang lainDi era media sosial, foto kebersamaan keluarga dapat menambah rasa sepi bagi yang tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.Menjadikan momen ini sebagai muhasabahTidak mudik bisa menjadi waktu yang sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.Gunakan momen ini untuk:Memperbanyak doa.Mengirimkan doa untuk kedua orang tua.Merenungi perjalanan hidup.Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Solusi praktis mengobati rinduBeberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.Jadwalkan video call khusus bersama keluarga.Kirim hadiah kecil sebagai tanda cinta.Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.Perbanyak zikir dan doa.Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)Wahai Anda yang tetap bekerja saat orang lain pulang…Allah mengetahui rindu yang Anda simpan dalam diam. Allah melihat pengorbanan yang mungkin tidak disorot manusia. Allah mencatat setiap langkah yang Anda tempuh demi nafkah halal dan amanah yang dijaga.Tidak mudik bukan tanda kurang cinta. Tidak pulang bukan berarti kurang bakti. Bisa jadi justru Anda sedang menjalani bentuk pengabdian yang lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada batas akhirnya. Setiap rindu yang ditahan akan diganti dengan pertemuan yang lebih hangat, pada waktu yang terbaik menurut-Nya.Dan jika jarak masih memisahkan, doa tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah yang dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap bernilai ibadah.Semoga Allah menjaga keluarga yang jauh di sana. Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita. Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di dunia dan kelak di surga-Nya.Wallahu Ta‘ala A‘lam.Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleRindu yang bernilai ibadahAmanah didahulukan daripada keinginan pribadiBekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikKesabaran menahan rinduJangan bandingkan diri dengan orang lainMenjadikan momen ini sebagai muhasabahSolusi praktis mengobati rinduSetiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, bandara sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional yang sangat kuat.Namun di balik arus besar itu, ada jutaan orang yang tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab.Ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang hanya bisa melihat keluarga lewat layar ponsel.Hati mereka sama seperti yang lain. Mereka juga rindu ibu. Mereka juga ingin mencium tangan ayah. Mereka juga ingin duduk di ruang tamu sederhana yang penuh kenangan masa kecil. Namun, karena berbagai hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak yang begitu jauh, atau bahkan ketiadaan biaya untuk mudik, keinginan itu harus mereka pendam.Rindu yang bernilai ibadahIslam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi manfaat bagi orang lain, maka pekerjaannya bernilai ibadah.Tidak mudik bukan berarti tidak berbakti. Bisa jadi justru ia sedang berbakti dengan cara yang berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, atau menjaga pelayanan bagi masyarakat.Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.Allah Azza wa Jalla berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Jika seseorang tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya, ia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.Amanah didahulukan daripada keinginan pribadiIslam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab profesi adalah amanah.Sering kali yang tidak mudik adalah mereka yang justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, aparat keamanan, pekerja transportasi, karyawan layanan publik, dan banyak profesi lain yang membuat orang lain bisa merayakan hari raya dengan aman dan nyaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)Menjaga profesionalitas di hari raya adalah bentuk ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar karena menahan rindu demi menjaga amanah.Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSebagian orang merasa rendah hati karena tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah halal untuk keluarga termasuk amal yang besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik sama sekali daripada makanan yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar yang menjadi tulang punggung keluarga di desa. Uang yang dikirim setiap bulan justru menjadi sebab orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari bakti yang nyata.Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang AgungSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikMemang, bertemu langsung memiliki kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Orang yang menyambung silaturahim bukanlah yang membalas kunjungan, tetapi yang tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)Sebagian orang merasa bersalah karena tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berbakti tidak selalu harus dengan hadir secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan suara lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata yang menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.Kesabaran menahan rinduMenahan rindu bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)Kesabaran menahan rindu adalah ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.Jangan bandingkan diri dengan orang lainDi era media sosial, foto kebersamaan keluarga dapat menambah rasa sepi bagi yang tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.Menjadikan momen ini sebagai muhasabahTidak mudik bisa menjadi waktu yang sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.Gunakan momen ini untuk:Memperbanyak doa.Mengirimkan doa untuk kedua orang tua.Merenungi perjalanan hidup.Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Solusi praktis mengobati rinduBeberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.Jadwalkan video call khusus bersama keluarga.Kirim hadiah kecil sebagai tanda cinta.Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.Perbanyak zikir dan doa.Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)Wahai Anda yang tetap bekerja saat orang lain pulang…Allah mengetahui rindu yang Anda simpan dalam diam. Allah melihat pengorbanan yang mungkin tidak disorot manusia. Allah mencatat setiap langkah yang Anda tempuh demi nafkah halal dan amanah yang dijaga.Tidak mudik bukan tanda kurang cinta. Tidak pulang bukan berarti kurang bakti. Bisa jadi justru Anda sedang menjalani bentuk pengabdian yang lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada batas akhirnya. Setiap rindu yang ditahan akan diganti dengan pertemuan yang lebih hangat, pada waktu yang terbaik menurut-Nya.Dan jika jarak masih memisahkan, doa tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah yang dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap bernilai ibadah.Semoga Allah menjaga keluarga yang jauh di sana. Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita. Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di dunia dan kelak di surga-Nya.Wallahu Ta‘ala A‘lam.Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleRindu yang bernilai ibadahAmanah didahulukan daripada keinginan pribadiBekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikKesabaran menahan rinduJangan bandingkan diri dengan orang lainMenjadikan momen ini sebagai muhasabahSolusi praktis mengobati rinduSetiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, bandara sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional yang sangat kuat.Namun di balik arus besar itu, ada jutaan orang yang tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab.Ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang hanya bisa melihat keluarga lewat layar ponsel.Hati mereka sama seperti yang lain. Mereka juga rindu ibu. Mereka juga ingin mencium tangan ayah. Mereka juga ingin duduk di ruang tamu sederhana yang penuh kenangan masa kecil. Namun, karena berbagai hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak yang begitu jauh, atau bahkan ketiadaan biaya untuk mudik, keinginan itu harus mereka pendam.Rindu yang bernilai ibadahIslam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi manfaat bagi orang lain, maka pekerjaannya bernilai ibadah.Tidak mudik bukan berarti tidak berbakti. Bisa jadi justru ia sedang berbakti dengan cara yang berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, atau menjaga pelayanan bagi masyarakat.Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.Allah Azza wa Jalla berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Jika seseorang tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya, ia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.Amanah didahulukan daripada keinginan pribadiIslam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab profesi adalah amanah.Sering kali yang tidak mudik adalah mereka yang justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, aparat keamanan, pekerja transportasi, karyawan layanan publik, dan banyak profesi lain yang membuat orang lain bisa merayakan hari raya dengan aman dan nyaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)Menjaga profesionalitas di hari raya adalah bentuk ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar karena menahan rindu demi menjaga amanah.Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSebagian orang merasa rendah hati karena tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah halal untuk keluarga termasuk amal yang besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik sama sekali daripada makanan yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar yang menjadi tulang punggung keluarga di desa. Uang yang dikirim setiap bulan justru menjadi sebab orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari bakti yang nyata.Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang AgungSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikMemang, bertemu langsung memiliki kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Orang yang menyambung silaturahim bukanlah yang membalas kunjungan, tetapi yang tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)Sebagian orang merasa bersalah karena tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berbakti tidak selalu harus dengan hadir secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan suara lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata yang menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.Kesabaran menahan rinduMenahan rindu bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)Kesabaran menahan rindu adalah ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.Jangan bandingkan diri dengan orang lainDi era media sosial, foto kebersamaan keluarga dapat menambah rasa sepi bagi yang tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.Menjadikan momen ini sebagai muhasabahTidak mudik bisa menjadi waktu yang sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.Gunakan momen ini untuk:Memperbanyak doa.Mengirimkan doa untuk kedua orang tua.Merenungi perjalanan hidup.Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Solusi praktis mengobati rinduBeberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.Jadwalkan video call khusus bersama keluarga.Kirim hadiah kecil sebagai tanda cinta.Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.Perbanyak zikir dan doa.Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)Wahai Anda yang tetap bekerja saat orang lain pulang…Allah mengetahui rindu yang Anda simpan dalam diam. Allah melihat pengorbanan yang mungkin tidak disorot manusia. Allah mencatat setiap langkah yang Anda tempuh demi nafkah halal dan amanah yang dijaga.Tidak mudik bukan tanda kurang cinta. Tidak pulang bukan berarti kurang bakti. Bisa jadi justru Anda sedang menjalani bentuk pengabdian yang lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada batas akhirnya. Setiap rindu yang ditahan akan diganti dengan pertemuan yang lebih hangat, pada waktu yang terbaik menurut-Nya.Dan jika jarak masih memisahkan, doa tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah yang dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap bernilai ibadah.Semoga Allah menjaga keluarga yang jauh di sana. Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita. Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di dunia dan kelak di surga-Nya.Wallahu Ta‘ala A‘lam.Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung

Daftar Isi TogglePulang sebagai fitrah manusiaMudik dan silaturahimBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananSafar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiUjian akhlak dalam perjalananJangan jadikan mudik sebagai ajang pamerMudik sebagai muhasabahPenutupSetiap tahun, jutaan manusia bergerak serempak meninggalkan kota-kota besar menuju desa dan kampung halaman. Jalanan macet, terminal penuh, stasiun sesak, bandara padat. Orang rela menempuh perjalanan panjang, menguras tenaga, bahkan menabung berbulan-bulan demi satu tujuan: pulang.Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia bukan hanya fenomena sosial atau arus kendaraan yang memadati jalanan. Di balik koper, tiket, dan kemacetan panjang, ada sesuatu yang lebih dalam: kerinduan kepada keluarga, kepada orang tua, kepada akar kehidupan. Ia adalah perjalanan hati. Ia adalah rindu yang tak bisa diukur dengan jarak. Ada ibu yang menunggu di depan pintu. Ada ayah yang diam-diam menghitung hari. Ada rumah lama yang menyimpan kenangan masa kecil. Ada kampung halaman yang selalu terasa berbeda, meskipun sederhana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya, amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maka, mudik yang diniatkan untuk menyambung silaturahim, membahagiakan orang tua, memperbaiki hubungan, dan mencari rida Allah, dapat menjadi amal besar di sisi-Nya.Pulang sebagai fitrah manusiaManusia diciptakan dengan fitrah untuk mencintai tempat asalnya. Bahkan, ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau merindukan surga sebagai tempat asalnya. Rindu adalah bagian dari jiwa manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ“Wahai manusia, sesungguhnya engkau sedang berjalan menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, dan engkau pasti akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Seluruh hidup sejatinya adalah perjalanan pulang kepada Allah. Mudik di dunia seharusnya menjadi pengingat akan “mudik akhirat”, yaitu pulang yang sesungguhnya.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Maka, jangan sampai perjalanan dunia membuat kita lupa pada perjalanan akhirat.Mudik dan silaturahimSalah satu nilai terbesar dalam mudik adalah silaturahim. Banyak orang yang selama setahun sibuk bekerja, jarang bertemu keluarga, bahkan jarang menelpon orang tua. Mudik menjadi momentum memperbaiki hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Silaturahim bukan sekadar formalitas berjabat tangan, tetapi menghadirkan hati, meminta maaf dengan tulus, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1)Mudik menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk berbakti kepada orang tua dan menyambung kekerabatan.Baca juga: Beberapa Bentuk Bakti Kepada Orang TuaBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananDi antara makna terdalam mudik adalah kesempatan bertemu orang tua. Ada yang masih memiliki keduanya, ada yang tinggal satu, dan ada pula yang telah kehilangan keduanya. Bagi yang masih diberi kesempatan, itulah nikmat yang sering kali baru terasa besar ketika ia sudah tiada.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Dan juga,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa’: 36)Berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah tauhid. Ini menunjukkan betapa agung dan tingginya kedudukan birrul walidain dalam Islam.Banyak orang menyesal ketika orang tuanya telah tiada. Rumah terasa kosong. Suara ibu tak lagi terdengar. Nasihat ayah tak lagi didapatkan. Kesempatan untuk mencium tangan, mendengar cerita yang berulang, dan sekadar duduk berbincang hangat tak akan pernah kembali.Karena itu, mudik adalah peluang emas untuk berbakti. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati. Duduklah bersama mereka. Dengarkan cerita yang mungkin sudah sering diulang; sebab itu bukan hanya cerita, melainkan kebutuhan hati mereka. Cium tangan mereka dengan niat ibadah. Ucapkan kata-kata lembut yang mungkin sederhana, tetapi sangat berarti.Karena mungkin suatu hari nanti, kita ingin pulang, tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi.Safar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiDalam Islam, safar bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah kondisi yang memiliki keistimewaan dan nilai spiritual tersendiri. Mudik termasuk safar, dan safar memiliki adab, doa, serta peluang pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثلاثُ دعوَاتٍ مُستجاباتٌ لا شَكَّ فيهنَّ : دعوَةُ المظلومِ ، ودعوةُ المسافرِ ، ودعوةُ الوالدِ على ولدِهِ“Tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Doa seorang musafir termasuk doa yang dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Mudik seharusnya diisi dengan doa, zikir, dan tawakal, bukan kelalaian atau sekadar kesibukan duniawi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa ketika naik kendaraan dengan membaca firman Allah,سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ“Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 13)Ayat ini mengingatkan bahwa kendaraan, jalan yang aman, dan kemudahan perjalanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Dengan niat yang benar dan adab yang dijaga, safar bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang mendekatkan diri kepada Allah.Ujian akhlak dalam perjalananMudik bukan hanya tentang rindu dan pertemuan, tetapi juga ujian akhlak. Ia menguji kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri.Kemacetan panjang, kelelahan, cuaca panas, biaya perjalanan, bahkan perbedaan pendapat dengan keluarga, semuanya bisa memancing emosi. Dalam kondisi seperti itu, karakter seseorang benar-benar terlihat.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Kesabaran dalam perjalanan bukan hal kecil. Jika diniatkan karena Allah, ia menjadi pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ليس الشَّديدُ بالصُّرَعةِ، إنَّما الشَّديدُ الذي يملِكُ نفسَه عندَ الغَضَبِ“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis ini dan berkata,فيه كَظمُ الغَيظِ، وإمساكُ النَّفسِ عندَ الغَضَبِ عن الانتِصارِ والمُخاصَمةِ والمُنازَعةِ“Di dalamnya terdapat menahan amarah, mengendalikan diri ketika marah dari keinginan untuk membalas, bertengkar, dan berselisih.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 16: 162)Mudik adalah ujian pengendalian diri. Bukan yang paling keras suaranya yang kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya. Bukan yang paling cepat membalas, tetapi yang mampu meredam ego.Perjalanan panjang bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan sabar dan akhlak yang baik. Namun, ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi keluh kesah dan kemarahan. Oleh karena itu, jadikan mudik bukan hanya perjalanan raga, tetapi juga latihan jiwa.Jangan jadikan mudik sebagai ajang pamerTidak jarang mudik berubah menjadi ajang menunjukkan keberhasilan: mobil baru, pakaian mahal, jabatan, atau pencapaian finansial.Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Dan juga,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)Kemuliaan bukan diukur dari harta yang dibawa pulang, tetapi dari akhlak dan ketakwaan.Mudik sebagai muhasabahPulang kampung sering membawa kita kembali ke masa kecil. Rumah sederhana, halaman tempat bermain, masjid kecil, jalan yang dulu terasa luas.Allah Azza wa Jalla berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً“Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian menjadikan setelah lemah itu kuat.” (QS. Ar-Rum: 54)Mudik bisa menjadi momen muhasabah: apakah kita menjadi lebih dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?Dan ingatlah,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Suatu hari nanti, kita akan pulang untuk selamanya.PenutupWahai yang sedang bersiap pulang…Luruskan niatmu sebelum melangkah. Jadikan setiap kilometer perjalanan sebagai ibadah. Isi waktu safarmu dengan doa, bukan keluh kesah. Datangi keluargamu dengan hati yang rendah, bukan dengan kesombongan.Ketika tanganmu mencium tangan ibu, niatkan sebagai bakti. Ketika engkau duduk mendengar nasihat ayah, niatkan sebagai ketaatan. Ketika engkau memaafkan saudara dan kerabat, niatkan sebagai pembersih hati.Karena mungkin suatu hari nanti, engkau ingin pulang, tetapi rumah itu telah sepi. Dan mungkin suatu saat, engkau kembali bukan sebagai tamu, tetapi sebagai jenazah yang diantarkan.Mudik mengajarkan bahwa setiap perjalanan ada ujungnya. Sebagaimana kita kembali ke kampung halaman, kelak kita semua akan kembali kepada Allah.Maka, jadikan mudik dunia sebagai pengingat untuk mempersiapkan mudik terbesar dalam hidup ini, yaitu perjalanan menuju akhirat.Semoga setiap langkah kita bernilai pahala, setiap rindu menjadi ibadah, dan setiap pertemuan membawa keberkahan.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Mudik: Tradisi atau Ibadah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung

Daftar Isi TogglePulang sebagai fitrah manusiaMudik dan silaturahimBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananSafar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiUjian akhlak dalam perjalananJangan jadikan mudik sebagai ajang pamerMudik sebagai muhasabahPenutupSetiap tahun, jutaan manusia bergerak serempak meninggalkan kota-kota besar menuju desa dan kampung halaman. Jalanan macet, terminal penuh, stasiun sesak, bandara padat. Orang rela menempuh perjalanan panjang, menguras tenaga, bahkan menabung berbulan-bulan demi satu tujuan: pulang.Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia bukan hanya fenomena sosial atau arus kendaraan yang memadati jalanan. Di balik koper, tiket, dan kemacetan panjang, ada sesuatu yang lebih dalam: kerinduan kepada keluarga, kepada orang tua, kepada akar kehidupan. Ia adalah perjalanan hati. Ia adalah rindu yang tak bisa diukur dengan jarak. Ada ibu yang menunggu di depan pintu. Ada ayah yang diam-diam menghitung hari. Ada rumah lama yang menyimpan kenangan masa kecil. Ada kampung halaman yang selalu terasa berbeda, meskipun sederhana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya, amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maka, mudik yang diniatkan untuk menyambung silaturahim, membahagiakan orang tua, memperbaiki hubungan, dan mencari rida Allah, dapat menjadi amal besar di sisi-Nya.Pulang sebagai fitrah manusiaManusia diciptakan dengan fitrah untuk mencintai tempat asalnya. Bahkan, ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau merindukan surga sebagai tempat asalnya. Rindu adalah bagian dari jiwa manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ“Wahai manusia, sesungguhnya engkau sedang berjalan menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, dan engkau pasti akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Seluruh hidup sejatinya adalah perjalanan pulang kepada Allah. Mudik di dunia seharusnya menjadi pengingat akan “mudik akhirat”, yaitu pulang yang sesungguhnya.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Maka, jangan sampai perjalanan dunia membuat kita lupa pada perjalanan akhirat.Mudik dan silaturahimSalah satu nilai terbesar dalam mudik adalah silaturahim. Banyak orang yang selama setahun sibuk bekerja, jarang bertemu keluarga, bahkan jarang menelpon orang tua. Mudik menjadi momentum memperbaiki hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Silaturahim bukan sekadar formalitas berjabat tangan, tetapi menghadirkan hati, meminta maaf dengan tulus, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1)Mudik menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk berbakti kepada orang tua dan menyambung kekerabatan.Baca juga: Beberapa Bentuk Bakti Kepada Orang TuaBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananDi antara makna terdalam mudik adalah kesempatan bertemu orang tua. Ada yang masih memiliki keduanya, ada yang tinggal satu, dan ada pula yang telah kehilangan keduanya. Bagi yang masih diberi kesempatan, itulah nikmat yang sering kali baru terasa besar ketika ia sudah tiada.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Dan juga,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa’: 36)Berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah tauhid. Ini menunjukkan betapa agung dan tingginya kedudukan birrul walidain dalam Islam.Banyak orang menyesal ketika orang tuanya telah tiada. Rumah terasa kosong. Suara ibu tak lagi terdengar. Nasihat ayah tak lagi didapatkan. Kesempatan untuk mencium tangan, mendengar cerita yang berulang, dan sekadar duduk berbincang hangat tak akan pernah kembali.Karena itu, mudik adalah peluang emas untuk berbakti. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati. Duduklah bersama mereka. Dengarkan cerita yang mungkin sudah sering diulang; sebab itu bukan hanya cerita, melainkan kebutuhan hati mereka. Cium tangan mereka dengan niat ibadah. Ucapkan kata-kata lembut yang mungkin sederhana, tetapi sangat berarti.Karena mungkin suatu hari nanti, kita ingin pulang, tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi.Safar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiDalam Islam, safar bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah kondisi yang memiliki keistimewaan dan nilai spiritual tersendiri. Mudik termasuk safar, dan safar memiliki adab, doa, serta peluang pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثلاثُ دعوَاتٍ مُستجاباتٌ لا شَكَّ فيهنَّ : دعوَةُ المظلومِ ، ودعوةُ المسافرِ ، ودعوةُ الوالدِ على ولدِهِ“Tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Doa seorang musafir termasuk doa yang dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Mudik seharusnya diisi dengan doa, zikir, dan tawakal, bukan kelalaian atau sekadar kesibukan duniawi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa ketika naik kendaraan dengan membaca firman Allah,سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ“Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 13)Ayat ini mengingatkan bahwa kendaraan, jalan yang aman, dan kemudahan perjalanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Dengan niat yang benar dan adab yang dijaga, safar bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang mendekatkan diri kepada Allah.Ujian akhlak dalam perjalananMudik bukan hanya tentang rindu dan pertemuan, tetapi juga ujian akhlak. Ia menguji kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri.Kemacetan panjang, kelelahan, cuaca panas, biaya perjalanan, bahkan perbedaan pendapat dengan keluarga, semuanya bisa memancing emosi. Dalam kondisi seperti itu, karakter seseorang benar-benar terlihat.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Kesabaran dalam perjalanan bukan hal kecil. Jika diniatkan karena Allah, ia menjadi pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ليس الشَّديدُ بالصُّرَعةِ، إنَّما الشَّديدُ الذي يملِكُ نفسَه عندَ الغَضَبِ“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis ini dan berkata,فيه كَظمُ الغَيظِ، وإمساكُ النَّفسِ عندَ الغَضَبِ عن الانتِصارِ والمُخاصَمةِ والمُنازَعةِ“Di dalamnya terdapat menahan amarah, mengendalikan diri ketika marah dari keinginan untuk membalas, bertengkar, dan berselisih.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 16: 162)Mudik adalah ujian pengendalian diri. Bukan yang paling keras suaranya yang kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya. Bukan yang paling cepat membalas, tetapi yang mampu meredam ego.Perjalanan panjang bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan sabar dan akhlak yang baik. Namun, ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi keluh kesah dan kemarahan. Oleh karena itu, jadikan mudik bukan hanya perjalanan raga, tetapi juga latihan jiwa.Jangan jadikan mudik sebagai ajang pamerTidak jarang mudik berubah menjadi ajang menunjukkan keberhasilan: mobil baru, pakaian mahal, jabatan, atau pencapaian finansial.Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Dan juga,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)Kemuliaan bukan diukur dari harta yang dibawa pulang, tetapi dari akhlak dan ketakwaan.Mudik sebagai muhasabahPulang kampung sering membawa kita kembali ke masa kecil. Rumah sederhana, halaman tempat bermain, masjid kecil, jalan yang dulu terasa luas.Allah Azza wa Jalla berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً“Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian menjadikan setelah lemah itu kuat.” (QS. Ar-Rum: 54)Mudik bisa menjadi momen muhasabah: apakah kita menjadi lebih dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?Dan ingatlah,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Suatu hari nanti, kita akan pulang untuk selamanya.PenutupWahai yang sedang bersiap pulang…Luruskan niatmu sebelum melangkah. Jadikan setiap kilometer perjalanan sebagai ibadah. Isi waktu safarmu dengan doa, bukan keluh kesah. Datangi keluargamu dengan hati yang rendah, bukan dengan kesombongan.Ketika tanganmu mencium tangan ibu, niatkan sebagai bakti. Ketika engkau duduk mendengar nasihat ayah, niatkan sebagai ketaatan. Ketika engkau memaafkan saudara dan kerabat, niatkan sebagai pembersih hati.Karena mungkin suatu hari nanti, engkau ingin pulang, tetapi rumah itu telah sepi. Dan mungkin suatu saat, engkau kembali bukan sebagai tamu, tetapi sebagai jenazah yang diantarkan.Mudik mengajarkan bahwa setiap perjalanan ada ujungnya. Sebagaimana kita kembali ke kampung halaman, kelak kita semua akan kembali kepada Allah.Maka, jadikan mudik dunia sebagai pengingat untuk mempersiapkan mudik terbesar dalam hidup ini, yaitu perjalanan menuju akhirat.Semoga setiap langkah kita bernilai pahala, setiap rindu menjadi ibadah, dan setiap pertemuan membawa keberkahan.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Mudik: Tradisi atau Ibadah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePulang sebagai fitrah manusiaMudik dan silaturahimBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananSafar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiUjian akhlak dalam perjalananJangan jadikan mudik sebagai ajang pamerMudik sebagai muhasabahPenutupSetiap tahun, jutaan manusia bergerak serempak meninggalkan kota-kota besar menuju desa dan kampung halaman. Jalanan macet, terminal penuh, stasiun sesak, bandara padat. Orang rela menempuh perjalanan panjang, menguras tenaga, bahkan menabung berbulan-bulan demi satu tujuan: pulang.Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia bukan hanya fenomena sosial atau arus kendaraan yang memadati jalanan. Di balik koper, tiket, dan kemacetan panjang, ada sesuatu yang lebih dalam: kerinduan kepada keluarga, kepada orang tua, kepada akar kehidupan. Ia adalah perjalanan hati. Ia adalah rindu yang tak bisa diukur dengan jarak. Ada ibu yang menunggu di depan pintu. Ada ayah yang diam-diam menghitung hari. Ada rumah lama yang menyimpan kenangan masa kecil. Ada kampung halaman yang selalu terasa berbeda, meskipun sederhana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya, amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maka, mudik yang diniatkan untuk menyambung silaturahim, membahagiakan orang tua, memperbaiki hubungan, dan mencari rida Allah, dapat menjadi amal besar di sisi-Nya.Pulang sebagai fitrah manusiaManusia diciptakan dengan fitrah untuk mencintai tempat asalnya. Bahkan, ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau merindukan surga sebagai tempat asalnya. Rindu adalah bagian dari jiwa manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ“Wahai manusia, sesungguhnya engkau sedang berjalan menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, dan engkau pasti akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Seluruh hidup sejatinya adalah perjalanan pulang kepada Allah. Mudik di dunia seharusnya menjadi pengingat akan “mudik akhirat”, yaitu pulang yang sesungguhnya.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Maka, jangan sampai perjalanan dunia membuat kita lupa pada perjalanan akhirat.Mudik dan silaturahimSalah satu nilai terbesar dalam mudik adalah silaturahim. Banyak orang yang selama setahun sibuk bekerja, jarang bertemu keluarga, bahkan jarang menelpon orang tua. Mudik menjadi momentum memperbaiki hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Silaturahim bukan sekadar formalitas berjabat tangan, tetapi menghadirkan hati, meminta maaf dengan tulus, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1)Mudik menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk berbakti kepada orang tua dan menyambung kekerabatan.Baca juga: Beberapa Bentuk Bakti Kepada Orang TuaBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananDi antara makna terdalam mudik adalah kesempatan bertemu orang tua. Ada yang masih memiliki keduanya, ada yang tinggal satu, dan ada pula yang telah kehilangan keduanya. Bagi yang masih diberi kesempatan, itulah nikmat yang sering kali baru terasa besar ketika ia sudah tiada.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Dan juga,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa’: 36)Berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah tauhid. Ini menunjukkan betapa agung dan tingginya kedudukan birrul walidain dalam Islam.Banyak orang menyesal ketika orang tuanya telah tiada. Rumah terasa kosong. Suara ibu tak lagi terdengar. Nasihat ayah tak lagi didapatkan. Kesempatan untuk mencium tangan, mendengar cerita yang berulang, dan sekadar duduk berbincang hangat tak akan pernah kembali.Karena itu, mudik adalah peluang emas untuk berbakti. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati. Duduklah bersama mereka. Dengarkan cerita yang mungkin sudah sering diulang; sebab itu bukan hanya cerita, melainkan kebutuhan hati mereka. Cium tangan mereka dengan niat ibadah. Ucapkan kata-kata lembut yang mungkin sederhana, tetapi sangat berarti.Karena mungkin suatu hari nanti, kita ingin pulang, tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi.Safar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiDalam Islam, safar bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah kondisi yang memiliki keistimewaan dan nilai spiritual tersendiri. Mudik termasuk safar, dan safar memiliki adab, doa, serta peluang pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثلاثُ دعوَاتٍ مُستجاباتٌ لا شَكَّ فيهنَّ : دعوَةُ المظلومِ ، ودعوةُ المسافرِ ، ودعوةُ الوالدِ على ولدِهِ“Tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Doa seorang musafir termasuk doa yang dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Mudik seharusnya diisi dengan doa, zikir, dan tawakal, bukan kelalaian atau sekadar kesibukan duniawi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa ketika naik kendaraan dengan membaca firman Allah,سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ“Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 13)Ayat ini mengingatkan bahwa kendaraan, jalan yang aman, dan kemudahan perjalanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Dengan niat yang benar dan adab yang dijaga, safar bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang mendekatkan diri kepada Allah.Ujian akhlak dalam perjalananMudik bukan hanya tentang rindu dan pertemuan, tetapi juga ujian akhlak. Ia menguji kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri.Kemacetan panjang, kelelahan, cuaca panas, biaya perjalanan, bahkan perbedaan pendapat dengan keluarga, semuanya bisa memancing emosi. Dalam kondisi seperti itu, karakter seseorang benar-benar terlihat.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Kesabaran dalam perjalanan bukan hal kecil. Jika diniatkan karena Allah, ia menjadi pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ليس الشَّديدُ بالصُّرَعةِ، إنَّما الشَّديدُ الذي يملِكُ نفسَه عندَ الغَضَبِ“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis ini dan berkata,فيه كَظمُ الغَيظِ، وإمساكُ النَّفسِ عندَ الغَضَبِ عن الانتِصارِ والمُخاصَمةِ والمُنازَعةِ“Di dalamnya terdapat menahan amarah, mengendalikan diri ketika marah dari keinginan untuk membalas, bertengkar, dan berselisih.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 16: 162)Mudik adalah ujian pengendalian diri. Bukan yang paling keras suaranya yang kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya. Bukan yang paling cepat membalas, tetapi yang mampu meredam ego.Perjalanan panjang bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan sabar dan akhlak yang baik. Namun, ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi keluh kesah dan kemarahan. Oleh karena itu, jadikan mudik bukan hanya perjalanan raga, tetapi juga latihan jiwa.Jangan jadikan mudik sebagai ajang pamerTidak jarang mudik berubah menjadi ajang menunjukkan keberhasilan: mobil baru, pakaian mahal, jabatan, atau pencapaian finansial.Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Dan juga,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)Kemuliaan bukan diukur dari harta yang dibawa pulang, tetapi dari akhlak dan ketakwaan.Mudik sebagai muhasabahPulang kampung sering membawa kita kembali ke masa kecil. Rumah sederhana, halaman tempat bermain, masjid kecil, jalan yang dulu terasa luas.Allah Azza wa Jalla berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً“Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian menjadikan setelah lemah itu kuat.” (QS. Ar-Rum: 54)Mudik bisa menjadi momen muhasabah: apakah kita menjadi lebih dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?Dan ingatlah,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Suatu hari nanti, kita akan pulang untuk selamanya.PenutupWahai yang sedang bersiap pulang…Luruskan niatmu sebelum melangkah. Jadikan setiap kilometer perjalanan sebagai ibadah. Isi waktu safarmu dengan doa, bukan keluh kesah. Datangi keluargamu dengan hati yang rendah, bukan dengan kesombongan.Ketika tanganmu mencium tangan ibu, niatkan sebagai bakti. Ketika engkau duduk mendengar nasihat ayah, niatkan sebagai ketaatan. Ketika engkau memaafkan saudara dan kerabat, niatkan sebagai pembersih hati.Karena mungkin suatu hari nanti, engkau ingin pulang, tetapi rumah itu telah sepi. Dan mungkin suatu saat, engkau kembali bukan sebagai tamu, tetapi sebagai jenazah yang diantarkan.Mudik mengajarkan bahwa setiap perjalanan ada ujungnya. Sebagaimana kita kembali ke kampung halaman, kelak kita semua akan kembali kepada Allah.Maka, jadikan mudik dunia sebagai pengingat untuk mempersiapkan mudik terbesar dalam hidup ini, yaitu perjalanan menuju akhirat.Semoga setiap langkah kita bernilai pahala, setiap rindu menjadi ibadah, dan setiap pertemuan membawa keberkahan.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Mudik: Tradisi atau Ibadah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePulang sebagai fitrah manusiaMudik dan silaturahimBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananSafar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiUjian akhlak dalam perjalananJangan jadikan mudik sebagai ajang pamerMudik sebagai muhasabahPenutupSetiap tahun, jutaan manusia bergerak serempak meninggalkan kota-kota besar menuju desa dan kampung halaman. Jalanan macet, terminal penuh, stasiun sesak, bandara padat. Orang rela menempuh perjalanan panjang, menguras tenaga, bahkan menabung berbulan-bulan demi satu tujuan: pulang.Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia bukan hanya fenomena sosial atau arus kendaraan yang memadati jalanan. Di balik koper, tiket, dan kemacetan panjang, ada sesuatu yang lebih dalam: kerinduan kepada keluarga, kepada orang tua, kepada akar kehidupan. Ia adalah perjalanan hati. Ia adalah rindu yang tak bisa diukur dengan jarak. Ada ibu yang menunggu di depan pintu. Ada ayah yang diam-diam menghitung hari. Ada rumah lama yang menyimpan kenangan masa kecil. Ada kampung halaman yang selalu terasa berbeda, meskipun sederhana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya, amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maka, mudik yang diniatkan untuk menyambung silaturahim, membahagiakan orang tua, memperbaiki hubungan, dan mencari rida Allah, dapat menjadi amal besar di sisi-Nya.Pulang sebagai fitrah manusiaManusia diciptakan dengan fitrah untuk mencintai tempat asalnya. Bahkan, ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau merindukan surga sebagai tempat asalnya. Rindu adalah bagian dari jiwa manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ“Wahai manusia, sesungguhnya engkau sedang berjalan menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, dan engkau pasti akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Seluruh hidup sejatinya adalah perjalanan pulang kepada Allah. Mudik di dunia seharusnya menjadi pengingat akan “mudik akhirat”, yaitu pulang yang sesungguhnya.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Maka, jangan sampai perjalanan dunia membuat kita lupa pada perjalanan akhirat.Mudik dan silaturahimSalah satu nilai terbesar dalam mudik adalah silaturahim. Banyak orang yang selama setahun sibuk bekerja, jarang bertemu keluarga, bahkan jarang menelpon orang tua. Mudik menjadi momentum memperbaiki hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Silaturahim bukan sekadar formalitas berjabat tangan, tetapi menghadirkan hati, meminta maaf dengan tulus, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1)Mudik menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk berbakti kepada orang tua dan menyambung kekerabatan.Baca juga: Beberapa Bentuk Bakti Kepada Orang TuaBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananDi antara makna terdalam mudik adalah kesempatan bertemu orang tua. Ada yang masih memiliki keduanya, ada yang tinggal satu, dan ada pula yang telah kehilangan keduanya. Bagi yang masih diberi kesempatan, itulah nikmat yang sering kali baru terasa besar ketika ia sudah tiada.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Dan juga,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa’: 36)Berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah tauhid. Ini menunjukkan betapa agung dan tingginya kedudukan birrul walidain dalam Islam.Banyak orang menyesal ketika orang tuanya telah tiada. Rumah terasa kosong. Suara ibu tak lagi terdengar. Nasihat ayah tak lagi didapatkan. Kesempatan untuk mencium tangan, mendengar cerita yang berulang, dan sekadar duduk berbincang hangat tak akan pernah kembali.Karena itu, mudik adalah peluang emas untuk berbakti. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati. Duduklah bersama mereka. Dengarkan cerita yang mungkin sudah sering diulang; sebab itu bukan hanya cerita, melainkan kebutuhan hati mereka. Cium tangan mereka dengan niat ibadah. Ucapkan kata-kata lembut yang mungkin sederhana, tetapi sangat berarti.Karena mungkin suatu hari nanti, kita ingin pulang, tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi.Safar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiDalam Islam, safar bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah kondisi yang memiliki keistimewaan dan nilai spiritual tersendiri. Mudik termasuk safar, dan safar memiliki adab, doa, serta peluang pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثلاثُ دعوَاتٍ مُستجاباتٌ لا شَكَّ فيهنَّ : دعوَةُ المظلومِ ، ودعوةُ المسافرِ ، ودعوةُ الوالدِ على ولدِهِ“Tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Doa seorang musafir termasuk doa yang dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Mudik seharusnya diisi dengan doa, zikir, dan tawakal, bukan kelalaian atau sekadar kesibukan duniawi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa ketika naik kendaraan dengan membaca firman Allah,سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ“Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 13)Ayat ini mengingatkan bahwa kendaraan, jalan yang aman, dan kemudahan perjalanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Dengan niat yang benar dan adab yang dijaga, safar bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang mendekatkan diri kepada Allah.Ujian akhlak dalam perjalananMudik bukan hanya tentang rindu dan pertemuan, tetapi juga ujian akhlak. Ia menguji kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri.Kemacetan panjang, kelelahan, cuaca panas, biaya perjalanan, bahkan perbedaan pendapat dengan keluarga, semuanya bisa memancing emosi. Dalam kondisi seperti itu, karakter seseorang benar-benar terlihat.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Kesabaran dalam perjalanan bukan hal kecil. Jika diniatkan karena Allah, ia menjadi pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ليس الشَّديدُ بالصُّرَعةِ، إنَّما الشَّديدُ الذي يملِكُ نفسَه عندَ الغَضَبِ“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis ini dan berkata,فيه كَظمُ الغَيظِ، وإمساكُ النَّفسِ عندَ الغَضَبِ عن الانتِصارِ والمُخاصَمةِ والمُنازَعةِ“Di dalamnya terdapat menahan amarah, mengendalikan diri ketika marah dari keinginan untuk membalas, bertengkar, dan berselisih.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 16: 162)Mudik adalah ujian pengendalian diri. Bukan yang paling keras suaranya yang kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya. Bukan yang paling cepat membalas, tetapi yang mampu meredam ego.Perjalanan panjang bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan sabar dan akhlak yang baik. Namun, ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi keluh kesah dan kemarahan. Oleh karena itu, jadikan mudik bukan hanya perjalanan raga, tetapi juga latihan jiwa.Jangan jadikan mudik sebagai ajang pamerTidak jarang mudik berubah menjadi ajang menunjukkan keberhasilan: mobil baru, pakaian mahal, jabatan, atau pencapaian finansial.Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Dan juga,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)Kemuliaan bukan diukur dari harta yang dibawa pulang, tetapi dari akhlak dan ketakwaan.Mudik sebagai muhasabahPulang kampung sering membawa kita kembali ke masa kecil. Rumah sederhana, halaman tempat bermain, masjid kecil, jalan yang dulu terasa luas.Allah Azza wa Jalla berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً“Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian menjadikan setelah lemah itu kuat.” (QS. Ar-Rum: 54)Mudik bisa menjadi momen muhasabah: apakah kita menjadi lebih dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?Dan ingatlah,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Suatu hari nanti, kita akan pulang untuk selamanya.PenutupWahai yang sedang bersiap pulang…Luruskan niatmu sebelum melangkah. Jadikan setiap kilometer perjalanan sebagai ibadah. Isi waktu safarmu dengan doa, bukan keluh kesah. Datangi keluargamu dengan hati yang rendah, bukan dengan kesombongan.Ketika tanganmu mencium tangan ibu, niatkan sebagai bakti. Ketika engkau duduk mendengar nasihat ayah, niatkan sebagai ketaatan. Ketika engkau memaafkan saudara dan kerabat, niatkan sebagai pembersih hati.Karena mungkin suatu hari nanti, engkau ingin pulang, tetapi rumah itu telah sepi. Dan mungkin suatu saat, engkau kembali bukan sebagai tamu, tetapi sebagai jenazah yang diantarkan.Mudik mengajarkan bahwa setiap perjalanan ada ujungnya. Sebagaimana kita kembali ke kampung halaman, kelak kita semua akan kembali kepada Allah.Maka, jadikan mudik dunia sebagai pengingat untuk mempersiapkan mudik terbesar dalam hidup ini, yaitu perjalanan menuju akhirat.Semoga setiap langkah kita bernilai pahala, setiap rindu menjadi ibadah, dan setiap pertemuan membawa keberkahan.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Mudik: Tradisi atau Ibadah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Mudik atau Liburan? Simak Aturan Lengkap Jamak Qashar Agar Ibadah Tetap Sah

https://youtu.be/N59ugSDv0kc Syaikh kami, ia ingin penjelasan rinci mengenai tenggat waktu yang membolehkan seorang musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Hukum asal shalat adalah dilaksanakan secara sempurna. Setiap shalat ditunaikan pada waktunya masing-masing. Hal ini berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103). Dengan demikian, wajib bagi setiap insan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya, dan tidak diperbolehkan menunda shalat atau menjamak dua shalat sekaligus, tanpa (ada uzurnya). Setiap insan harus tetap mengupayakan shalat pada waktunya, serta menjalankannya dengan rakaat yang sempurna. Jika hal ini telah dipahami, maka seseorang diperbolehkan mengqashar shalat dalam beberapa kondisi. Kondisi pertama: Saat ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebagai seorang musafir. Berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa: 101). Kondisi kedua: Jika seseorang menetap sementara di tempat tujuan selama satu, dua, tiga, atau empat hari. Maka saat itu ia boleh mengambil rukhshah (keringanan) untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Adapun jika ia menetap sementara lebih dari batas waktu itu (lebih dari 4 hari), maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan rakaat aslinya). Demikian pula jika ia menetap di suatu tempat, tanpa tahu berapa lama ia akan menetap dan kapan akan berakhir urusannya, ia menunggu suatu urusan yang ia harap bisa selesai setiap harinya, maka dalam kondisi ini ia pun diperbolehkan mengambil keringanan safar. Sedangkan orang yang menetap sementara, tapi mengetahui berapa lama durasinya, dan itu lebih dari empat hari, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan jumlah rakaat aslinya), karena ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang sedang bepergian. Sebab Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat…” Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang yang sudah tidak lagi dalam keadaan bepergian, maka ia berdosa jika tetap mengqashar shalatnya. ===== سَأَلَتْ شَيْخَنَا تُرِيدُ التَّفْصِيلَ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي يَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ وَيَقْصُرَ الصَّلَوَاتِ الْأَصْلُ فِي الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَدَّى تَامَّةً كُلُّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَبِالتَّالِي الْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَقُومَ بِأَدَاءِ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ أَوْ أَنْ يَجْمَعَ الصَّلَاتَيْنِ بِدُونِ أَنْ بَلْ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَدِّيَ كُلَّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا وَأَنْ يُؤَدِّيَهَا تَامَّةً إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلَاةَ فِي أَحْوَالٍ الْحَالَةُ الْأُولَى عِنْدَ انْتِقَالِهِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ مُسَافِرًا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ إِذَا أَقَامَ الْإِنْسَانُ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً لِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ جَازَ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَأْخُذَ بِالرُّخْصَةِ وَأَنْ يَجْمَعَ وَأَنْ يَقْصُرَ أَمَّا إِذَا زَادَتْ إِقَامَتُهُ الْمُؤَقَّتَةُ عَلَى هَذَا الْمِقْدَارِ وَجَبَ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ وَهَكَذَا إِذَا أَقَامَ إِقَامَةً لَا يَدْرِي مَا مَدَى هَذِهِ الْإِقَامَةِ وَلَا مَتَى سَتَنْتَهِي يَنْتَظِرُ أَمْرًا يَرْجُو خَلَاصَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ فَهَذَا أَيْضًا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ بِرُخَصِ السَّفَرِ وَأَمَّا مَنْ أَقَامَ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً يَعْلَمُ مَدَاهَا وَيَكُونُ أَمَدُهَا زَائِدًا عَنْ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ لِكَوْنِهِ لَمْ يَعُدْ ضَارِبًا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ تَعَالَى قَالَ وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ فَفُهِمَ مِنْهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَضْرِبْ فِي الْأَرْضِ فَعَلَيْهِ جُنَاحٌ مَتَى قَصَرَ الصَّلَاةَ

Mudik atau Liburan? Simak Aturan Lengkap Jamak Qashar Agar Ibadah Tetap Sah

https://youtu.be/N59ugSDv0kc Syaikh kami, ia ingin penjelasan rinci mengenai tenggat waktu yang membolehkan seorang musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Hukum asal shalat adalah dilaksanakan secara sempurna. Setiap shalat ditunaikan pada waktunya masing-masing. Hal ini berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103). Dengan demikian, wajib bagi setiap insan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya, dan tidak diperbolehkan menunda shalat atau menjamak dua shalat sekaligus, tanpa (ada uzurnya). Setiap insan harus tetap mengupayakan shalat pada waktunya, serta menjalankannya dengan rakaat yang sempurna. Jika hal ini telah dipahami, maka seseorang diperbolehkan mengqashar shalat dalam beberapa kondisi. Kondisi pertama: Saat ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebagai seorang musafir. Berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa: 101). Kondisi kedua: Jika seseorang menetap sementara di tempat tujuan selama satu, dua, tiga, atau empat hari. Maka saat itu ia boleh mengambil rukhshah (keringanan) untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Adapun jika ia menetap sementara lebih dari batas waktu itu (lebih dari 4 hari), maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan rakaat aslinya). Demikian pula jika ia menetap di suatu tempat, tanpa tahu berapa lama ia akan menetap dan kapan akan berakhir urusannya, ia menunggu suatu urusan yang ia harap bisa selesai setiap harinya, maka dalam kondisi ini ia pun diperbolehkan mengambil keringanan safar. Sedangkan orang yang menetap sementara, tapi mengetahui berapa lama durasinya, dan itu lebih dari empat hari, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan jumlah rakaat aslinya), karena ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang sedang bepergian. Sebab Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat…” Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang yang sudah tidak lagi dalam keadaan bepergian, maka ia berdosa jika tetap mengqashar shalatnya. ===== سَأَلَتْ شَيْخَنَا تُرِيدُ التَّفْصِيلَ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي يَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ وَيَقْصُرَ الصَّلَوَاتِ الْأَصْلُ فِي الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَدَّى تَامَّةً كُلُّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَبِالتَّالِي الْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَقُومَ بِأَدَاءِ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ أَوْ أَنْ يَجْمَعَ الصَّلَاتَيْنِ بِدُونِ أَنْ بَلْ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَدِّيَ كُلَّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا وَأَنْ يُؤَدِّيَهَا تَامَّةً إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلَاةَ فِي أَحْوَالٍ الْحَالَةُ الْأُولَى عِنْدَ انْتِقَالِهِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ مُسَافِرًا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ إِذَا أَقَامَ الْإِنْسَانُ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً لِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ جَازَ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَأْخُذَ بِالرُّخْصَةِ وَأَنْ يَجْمَعَ وَأَنْ يَقْصُرَ أَمَّا إِذَا زَادَتْ إِقَامَتُهُ الْمُؤَقَّتَةُ عَلَى هَذَا الْمِقْدَارِ وَجَبَ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ وَهَكَذَا إِذَا أَقَامَ إِقَامَةً لَا يَدْرِي مَا مَدَى هَذِهِ الْإِقَامَةِ وَلَا مَتَى سَتَنْتَهِي يَنْتَظِرُ أَمْرًا يَرْجُو خَلَاصَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ فَهَذَا أَيْضًا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ بِرُخَصِ السَّفَرِ وَأَمَّا مَنْ أَقَامَ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً يَعْلَمُ مَدَاهَا وَيَكُونُ أَمَدُهَا زَائِدًا عَنْ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ لِكَوْنِهِ لَمْ يَعُدْ ضَارِبًا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ تَعَالَى قَالَ وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ فَفُهِمَ مِنْهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَضْرِبْ فِي الْأَرْضِ فَعَلَيْهِ جُنَاحٌ مَتَى قَصَرَ الصَّلَاةَ
https://youtu.be/N59ugSDv0kc Syaikh kami, ia ingin penjelasan rinci mengenai tenggat waktu yang membolehkan seorang musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Hukum asal shalat adalah dilaksanakan secara sempurna. Setiap shalat ditunaikan pada waktunya masing-masing. Hal ini berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103). Dengan demikian, wajib bagi setiap insan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya, dan tidak diperbolehkan menunda shalat atau menjamak dua shalat sekaligus, tanpa (ada uzurnya). Setiap insan harus tetap mengupayakan shalat pada waktunya, serta menjalankannya dengan rakaat yang sempurna. Jika hal ini telah dipahami, maka seseorang diperbolehkan mengqashar shalat dalam beberapa kondisi. Kondisi pertama: Saat ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebagai seorang musafir. Berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa: 101). Kondisi kedua: Jika seseorang menetap sementara di tempat tujuan selama satu, dua, tiga, atau empat hari. Maka saat itu ia boleh mengambil rukhshah (keringanan) untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Adapun jika ia menetap sementara lebih dari batas waktu itu (lebih dari 4 hari), maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan rakaat aslinya). Demikian pula jika ia menetap di suatu tempat, tanpa tahu berapa lama ia akan menetap dan kapan akan berakhir urusannya, ia menunggu suatu urusan yang ia harap bisa selesai setiap harinya, maka dalam kondisi ini ia pun diperbolehkan mengambil keringanan safar. Sedangkan orang yang menetap sementara, tapi mengetahui berapa lama durasinya, dan itu lebih dari empat hari, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan jumlah rakaat aslinya), karena ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang sedang bepergian. Sebab Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat…” Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang yang sudah tidak lagi dalam keadaan bepergian, maka ia berdosa jika tetap mengqashar shalatnya. ===== سَأَلَتْ شَيْخَنَا تُرِيدُ التَّفْصِيلَ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي يَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ وَيَقْصُرَ الصَّلَوَاتِ الْأَصْلُ فِي الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَدَّى تَامَّةً كُلُّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَبِالتَّالِي الْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَقُومَ بِأَدَاءِ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ أَوْ أَنْ يَجْمَعَ الصَّلَاتَيْنِ بِدُونِ أَنْ بَلْ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَدِّيَ كُلَّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا وَأَنْ يُؤَدِّيَهَا تَامَّةً إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلَاةَ فِي أَحْوَالٍ الْحَالَةُ الْأُولَى عِنْدَ انْتِقَالِهِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ مُسَافِرًا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ إِذَا أَقَامَ الْإِنْسَانُ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً لِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ جَازَ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَأْخُذَ بِالرُّخْصَةِ وَأَنْ يَجْمَعَ وَأَنْ يَقْصُرَ أَمَّا إِذَا زَادَتْ إِقَامَتُهُ الْمُؤَقَّتَةُ عَلَى هَذَا الْمِقْدَارِ وَجَبَ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ وَهَكَذَا إِذَا أَقَامَ إِقَامَةً لَا يَدْرِي مَا مَدَى هَذِهِ الْإِقَامَةِ وَلَا مَتَى سَتَنْتَهِي يَنْتَظِرُ أَمْرًا يَرْجُو خَلَاصَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ فَهَذَا أَيْضًا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ بِرُخَصِ السَّفَرِ وَأَمَّا مَنْ أَقَامَ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً يَعْلَمُ مَدَاهَا وَيَكُونُ أَمَدُهَا زَائِدًا عَنْ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ لِكَوْنِهِ لَمْ يَعُدْ ضَارِبًا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ تَعَالَى قَالَ وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ فَفُهِمَ مِنْهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَضْرِبْ فِي الْأَرْضِ فَعَلَيْهِ جُنَاحٌ مَتَى قَصَرَ الصَّلَاةَ


https://youtu.be/N59ugSDv0kc Syaikh kami, ia ingin penjelasan rinci mengenai tenggat waktu yang membolehkan seorang musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Hukum asal shalat adalah dilaksanakan secara sempurna. Setiap shalat ditunaikan pada waktunya masing-masing. Hal ini berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103). Dengan demikian, wajib bagi setiap insan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya, dan tidak diperbolehkan menunda shalat atau menjamak dua shalat sekaligus, tanpa (ada uzurnya). Setiap insan harus tetap mengupayakan shalat pada waktunya, serta menjalankannya dengan rakaat yang sempurna. Jika hal ini telah dipahami, maka seseorang diperbolehkan mengqashar shalat dalam beberapa kondisi. Kondisi pertama: Saat ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebagai seorang musafir. Berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa: 101). Kondisi kedua: Jika seseorang menetap sementara di tempat tujuan selama satu, dua, tiga, atau empat hari. Maka saat itu ia boleh mengambil rukhshah (keringanan) untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Adapun jika ia menetap sementara lebih dari batas waktu itu (lebih dari 4 hari), maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan rakaat aslinya). Demikian pula jika ia menetap di suatu tempat, tanpa tahu berapa lama ia akan menetap dan kapan akan berakhir urusannya, ia menunggu suatu urusan yang ia harap bisa selesai setiap harinya, maka dalam kondisi ini ia pun diperbolehkan mengambil keringanan safar. Sedangkan orang yang menetap sementara, tapi mengetahui berapa lama durasinya, dan itu lebih dari empat hari, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan jumlah rakaat aslinya), karena ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang sedang bepergian. Sebab Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat…” Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang yang sudah tidak lagi dalam keadaan bepergian, maka ia berdosa jika tetap mengqashar shalatnya. ===== سَأَلَتْ شَيْخَنَا تُرِيدُ التَّفْصِيلَ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي يَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ وَيَقْصُرَ الصَّلَوَاتِ الْأَصْلُ فِي الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَدَّى تَامَّةً كُلُّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَبِالتَّالِي الْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَقُومَ بِأَدَاءِ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ أَوْ أَنْ يَجْمَعَ الصَّلَاتَيْنِ بِدُونِ أَنْ بَلْ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَدِّيَ كُلَّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا وَأَنْ يُؤَدِّيَهَا تَامَّةً إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلَاةَ فِي أَحْوَالٍ الْحَالَةُ الْأُولَى عِنْدَ انْتِقَالِهِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ مُسَافِرًا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ إِذَا أَقَامَ الْإِنْسَانُ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً لِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ جَازَ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَأْخُذَ بِالرُّخْصَةِ وَأَنْ يَجْمَعَ وَأَنْ يَقْصُرَ أَمَّا إِذَا زَادَتْ إِقَامَتُهُ الْمُؤَقَّتَةُ عَلَى هَذَا الْمِقْدَارِ وَجَبَ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ وَهَكَذَا إِذَا أَقَامَ إِقَامَةً لَا يَدْرِي مَا مَدَى هَذِهِ الْإِقَامَةِ وَلَا مَتَى سَتَنْتَهِي يَنْتَظِرُ أَمْرًا يَرْجُو خَلَاصَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ فَهَذَا أَيْضًا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ بِرُخَصِ السَّفَرِ وَأَمَّا مَنْ أَقَامَ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً يَعْلَمُ مَدَاهَا وَيَكُونُ أَمَدُهَا زَائِدًا عَنْ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ لِكَوْنِهِ لَمْ يَعُدْ ضَارِبًا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ تَعَالَى قَالَ وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ فَفُهِمَ مِنْهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَضْرِبْ فِي الْأَرْضِ فَعَلَيْهِ جُنَاحٌ مَتَى قَصَرَ الصَّلَاةَ

Bagaimana Cara Menentukan Malam Lailatul Qadar?

Daftar Isi ToggleMulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanBagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Tanda malam lailatul qadarApa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan melihat tanda alam, ada yang menghitung tanggal berdasarkan riwayat salaf, atau bahkan mengaku melihat malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada akidah seorang muslim.Oleh karena itu, penentuan lailatul qadar menjadi penting bagi kaum muslimin. Bukan hanya sekadar motivasi untuk meningkatkan amal, tetapi tentang bagaimana seorang muslim hendaknya berinteraksi dengan perkara gaib. Selain itu, terdapat faidah adab berinteraksi dengan ayat dan riwayat.Mulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanTerdapat banyak pendapat dari kalangan ulama salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ulama terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan amalan malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan karena berharap datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab rahimahullah menilai ini didasarkan pada hadis,رأيتُها ونسِيتُها ، فتحَرَّها في النِّصْف الأواخر“Aku mengetahuinya, lalu melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan matan-nya didapatkan pula pada riwayat Muslim)Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, karena banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.Juga terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,اطْلُبُوها ليلةَ سبْعَ عشْرَةَ مِن رَمَضانَ، وليلةَ إحدَى وعشرين، وليلَةَ ثلاثٍ وعشرين“Aku mencarinya pada malam ke-17 Ramadan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dinilai hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, yakni Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebutkan para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas bagaimana cara menyikapinya?Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?Bagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Simaklah keterangan Ibnu Rajab rahimahullah berikut,وأيضًا فكُلُّ زمانٍ فاضلٍ من ليلٍ أو نهارٍ، فإنّ آخِرَه أفضَلُ من أوَّلِه، كيومِ عَرَفَةَ، ويوم الجُمُعة. وكذلك اللَّيلُ والنَّهار عمومًا؛ آخِرُهُ أفضَلُ من أوَّلهِ. ولذلكَ كانت الصلاةُ الوسطى صلاةَ العَصْر، كما دلَّت الأحاديثُ الصَّحيحةُ عليه، وآثارُ السَّلفِ الكثيرة تدُلُّ عليه. وكذلك عشْرُ ذي الحجة والمحرم؛ آخِرُهُما أفضَلُ من أوَّلهما“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang atau malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya, misalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh karena itu, salat pertengahan atau salat wushtha itu adalah salat Asar berdasarkan hadis-hadis sahih yang ada dan atsar-atsar dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)Artinya, perbuatan para ulama terdahulu ini dalam konteks semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan tarikan gas amal. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan. Bukan menekankan kepada amalan berbasis hadis lemah, tetapi bagaimana kultur yang terbentuk di kalangan salaf terdahulu dalam mencari lailatul qadar.Nabi ﷺ pun melakukan iktikaf dan mengejar malam semenjak paruh kedua Ramadan. Namun, dalam riwayat yang sahih, dijelaskan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari di 10 malam terakhir. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar hadir di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan amal di 10 malam terakhir.Dan berbagai riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik sanad. Sehingga yang ingin kita tekankan adalah bagaimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di paruh akhir.Sebab, yang terefleksikan dari perbuatan penduduk Madinah misalnya, mereka mengencangkan semangat beramalnya sejak 17 Ramadan, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara penduduk Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah bersemangat mengejar lailatul qadar sedini mungkin.Namun, jika artikel ini hanya berhenti sampai sini, maka ini akan mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada judul tersebut. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.Tanda malam lailatul qadarTerdapat beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang memiliki ciri-ciri atau rumus-rumus ini. Tujuannya bukan memastikan, tetapi menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para salaf terdahulu pada lailatul qadar. Perbuatan ini mengejawantahkan ciri yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Quran.سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)Tanda-tanda tersebut berupa riwayat yang sahih datang dari Nabi ﷺ berkaitan waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat pula riwayat pengalaman dan pengamatan para salaf setelah zaman Nabi ﷺ.1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)2) Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع“Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun pada malam tersebut. Allah ﷻ berfirman,تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا“Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar: 4).Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada lailatul qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada cara menentukan malam lailatul qadar secara pasti.Namun, tentunya ada hikmah dari perbuatan Allah ﷻ menjadikan lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini akan mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas amal kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab rahimahullah,“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan karena alasan Dialah Zat yang berhak disembah. Bukan karena sekadar hari istimewa. Hari-hari istimewa adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi akal kita menerima fakta bahwa: pelari yang berlatih 30 hari akan lebih berhak meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih atau menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadar***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.

Bagaimana Cara Menentukan Malam Lailatul Qadar?

Daftar Isi ToggleMulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanBagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Tanda malam lailatul qadarApa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan melihat tanda alam, ada yang menghitung tanggal berdasarkan riwayat salaf, atau bahkan mengaku melihat malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada akidah seorang muslim.Oleh karena itu, penentuan lailatul qadar menjadi penting bagi kaum muslimin. Bukan hanya sekadar motivasi untuk meningkatkan amal, tetapi tentang bagaimana seorang muslim hendaknya berinteraksi dengan perkara gaib. Selain itu, terdapat faidah adab berinteraksi dengan ayat dan riwayat.Mulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanTerdapat banyak pendapat dari kalangan ulama salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ulama terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan amalan malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan karena berharap datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab rahimahullah menilai ini didasarkan pada hadis,رأيتُها ونسِيتُها ، فتحَرَّها في النِّصْف الأواخر“Aku mengetahuinya, lalu melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan matan-nya didapatkan pula pada riwayat Muslim)Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, karena banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.Juga terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,اطْلُبُوها ليلةَ سبْعَ عشْرَةَ مِن رَمَضانَ، وليلةَ إحدَى وعشرين، وليلَةَ ثلاثٍ وعشرين“Aku mencarinya pada malam ke-17 Ramadan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dinilai hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, yakni Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebutkan para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas bagaimana cara menyikapinya?Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?Bagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Simaklah keterangan Ibnu Rajab rahimahullah berikut,وأيضًا فكُلُّ زمانٍ فاضلٍ من ليلٍ أو نهارٍ، فإنّ آخِرَه أفضَلُ من أوَّلِه، كيومِ عَرَفَةَ، ويوم الجُمُعة. وكذلك اللَّيلُ والنَّهار عمومًا؛ آخِرُهُ أفضَلُ من أوَّلهِ. ولذلكَ كانت الصلاةُ الوسطى صلاةَ العَصْر، كما دلَّت الأحاديثُ الصَّحيحةُ عليه، وآثارُ السَّلفِ الكثيرة تدُلُّ عليه. وكذلك عشْرُ ذي الحجة والمحرم؛ آخِرُهُما أفضَلُ من أوَّلهما“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang atau malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya, misalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh karena itu, salat pertengahan atau salat wushtha itu adalah salat Asar berdasarkan hadis-hadis sahih yang ada dan atsar-atsar dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)Artinya, perbuatan para ulama terdahulu ini dalam konteks semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan tarikan gas amal. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan. Bukan menekankan kepada amalan berbasis hadis lemah, tetapi bagaimana kultur yang terbentuk di kalangan salaf terdahulu dalam mencari lailatul qadar.Nabi ﷺ pun melakukan iktikaf dan mengejar malam semenjak paruh kedua Ramadan. Namun, dalam riwayat yang sahih, dijelaskan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari di 10 malam terakhir. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar hadir di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan amal di 10 malam terakhir.Dan berbagai riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik sanad. Sehingga yang ingin kita tekankan adalah bagaimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di paruh akhir.Sebab, yang terefleksikan dari perbuatan penduduk Madinah misalnya, mereka mengencangkan semangat beramalnya sejak 17 Ramadan, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara penduduk Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah bersemangat mengejar lailatul qadar sedini mungkin.Namun, jika artikel ini hanya berhenti sampai sini, maka ini akan mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada judul tersebut. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.Tanda malam lailatul qadarTerdapat beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang memiliki ciri-ciri atau rumus-rumus ini. Tujuannya bukan memastikan, tetapi menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para salaf terdahulu pada lailatul qadar. Perbuatan ini mengejawantahkan ciri yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Quran.سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)Tanda-tanda tersebut berupa riwayat yang sahih datang dari Nabi ﷺ berkaitan waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat pula riwayat pengalaman dan pengamatan para salaf setelah zaman Nabi ﷺ.1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)2) Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع“Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun pada malam tersebut. Allah ﷻ berfirman,تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا“Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar: 4).Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada lailatul qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada cara menentukan malam lailatul qadar secara pasti.Namun, tentunya ada hikmah dari perbuatan Allah ﷻ menjadikan lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini akan mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas amal kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab rahimahullah,“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan karena alasan Dialah Zat yang berhak disembah. Bukan karena sekadar hari istimewa. Hari-hari istimewa adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi akal kita menerima fakta bahwa: pelari yang berlatih 30 hari akan lebih berhak meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih atau menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadar***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.
Daftar Isi ToggleMulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanBagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Tanda malam lailatul qadarApa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan melihat tanda alam, ada yang menghitung tanggal berdasarkan riwayat salaf, atau bahkan mengaku melihat malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada akidah seorang muslim.Oleh karena itu, penentuan lailatul qadar menjadi penting bagi kaum muslimin. Bukan hanya sekadar motivasi untuk meningkatkan amal, tetapi tentang bagaimana seorang muslim hendaknya berinteraksi dengan perkara gaib. Selain itu, terdapat faidah adab berinteraksi dengan ayat dan riwayat.Mulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanTerdapat banyak pendapat dari kalangan ulama salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ulama terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan amalan malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan karena berharap datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab rahimahullah menilai ini didasarkan pada hadis,رأيتُها ونسِيتُها ، فتحَرَّها في النِّصْف الأواخر“Aku mengetahuinya, lalu melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan matan-nya didapatkan pula pada riwayat Muslim)Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, karena banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.Juga terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,اطْلُبُوها ليلةَ سبْعَ عشْرَةَ مِن رَمَضانَ، وليلةَ إحدَى وعشرين، وليلَةَ ثلاثٍ وعشرين“Aku mencarinya pada malam ke-17 Ramadan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dinilai hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, yakni Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebutkan para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas bagaimana cara menyikapinya?Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?Bagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Simaklah keterangan Ibnu Rajab rahimahullah berikut,وأيضًا فكُلُّ زمانٍ فاضلٍ من ليلٍ أو نهارٍ، فإنّ آخِرَه أفضَلُ من أوَّلِه، كيومِ عَرَفَةَ، ويوم الجُمُعة. وكذلك اللَّيلُ والنَّهار عمومًا؛ آخِرُهُ أفضَلُ من أوَّلهِ. ولذلكَ كانت الصلاةُ الوسطى صلاةَ العَصْر، كما دلَّت الأحاديثُ الصَّحيحةُ عليه، وآثارُ السَّلفِ الكثيرة تدُلُّ عليه. وكذلك عشْرُ ذي الحجة والمحرم؛ آخِرُهُما أفضَلُ من أوَّلهما“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang atau malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya, misalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh karena itu, salat pertengahan atau salat wushtha itu adalah salat Asar berdasarkan hadis-hadis sahih yang ada dan atsar-atsar dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)Artinya, perbuatan para ulama terdahulu ini dalam konteks semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan tarikan gas amal. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan. Bukan menekankan kepada amalan berbasis hadis lemah, tetapi bagaimana kultur yang terbentuk di kalangan salaf terdahulu dalam mencari lailatul qadar.Nabi ﷺ pun melakukan iktikaf dan mengejar malam semenjak paruh kedua Ramadan. Namun, dalam riwayat yang sahih, dijelaskan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari di 10 malam terakhir. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar hadir di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan amal di 10 malam terakhir.Dan berbagai riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik sanad. Sehingga yang ingin kita tekankan adalah bagaimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di paruh akhir.Sebab, yang terefleksikan dari perbuatan penduduk Madinah misalnya, mereka mengencangkan semangat beramalnya sejak 17 Ramadan, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara penduduk Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah bersemangat mengejar lailatul qadar sedini mungkin.Namun, jika artikel ini hanya berhenti sampai sini, maka ini akan mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada judul tersebut. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.Tanda malam lailatul qadarTerdapat beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang memiliki ciri-ciri atau rumus-rumus ini. Tujuannya bukan memastikan, tetapi menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para salaf terdahulu pada lailatul qadar. Perbuatan ini mengejawantahkan ciri yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Quran.سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)Tanda-tanda tersebut berupa riwayat yang sahih datang dari Nabi ﷺ berkaitan waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat pula riwayat pengalaman dan pengamatan para salaf setelah zaman Nabi ﷺ.1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)2) Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع“Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun pada malam tersebut. Allah ﷻ berfirman,تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا“Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar: 4).Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada lailatul qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada cara menentukan malam lailatul qadar secara pasti.Namun, tentunya ada hikmah dari perbuatan Allah ﷻ menjadikan lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini akan mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas amal kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab rahimahullah,“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan karena alasan Dialah Zat yang berhak disembah. Bukan karena sekadar hari istimewa. Hari-hari istimewa adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi akal kita menerima fakta bahwa: pelari yang berlatih 30 hari akan lebih berhak meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih atau menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadar***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.


Daftar Isi ToggleMulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanBagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Tanda malam lailatul qadarApa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan melihat tanda alam, ada yang menghitung tanggal berdasarkan riwayat salaf, atau bahkan mengaku melihat malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada akidah seorang muslim.Oleh karena itu, penentuan lailatul qadar menjadi penting bagi kaum muslimin. Bukan hanya sekadar motivasi untuk meningkatkan amal, tetapi tentang bagaimana seorang muslim hendaknya berinteraksi dengan perkara gaib. Selain itu, terdapat faidah adab berinteraksi dengan ayat dan riwayat.Mulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanTerdapat banyak pendapat dari kalangan ulama salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ulama terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan amalan malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan karena berharap datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab rahimahullah menilai ini didasarkan pada hadis,رأيتُها ونسِيتُها ، فتحَرَّها في النِّصْف الأواخر“Aku mengetahuinya, lalu melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan matan-nya didapatkan pula pada riwayat Muslim)Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, karena banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.Juga terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,اطْلُبُوها ليلةَ سبْعَ عشْرَةَ مِن رَمَضانَ، وليلةَ إحدَى وعشرين، وليلَةَ ثلاثٍ وعشرين“Aku mencarinya pada malam ke-17 Ramadan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dinilai hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, yakni Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebutkan para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas bagaimana cara menyikapinya?Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?Bagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Simaklah keterangan Ibnu Rajab rahimahullah berikut,وأيضًا فكُلُّ زمانٍ فاضلٍ من ليلٍ أو نهارٍ، فإنّ آخِرَه أفضَلُ من أوَّلِه، كيومِ عَرَفَةَ، ويوم الجُمُعة. وكذلك اللَّيلُ والنَّهار عمومًا؛ آخِرُهُ أفضَلُ من أوَّلهِ. ولذلكَ كانت الصلاةُ الوسطى صلاةَ العَصْر، كما دلَّت الأحاديثُ الصَّحيحةُ عليه، وآثارُ السَّلفِ الكثيرة تدُلُّ عليه. وكذلك عشْرُ ذي الحجة والمحرم؛ آخِرُهُما أفضَلُ من أوَّلهما“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang atau malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya, misalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh karena itu, salat pertengahan atau salat wushtha itu adalah salat Asar berdasarkan hadis-hadis sahih yang ada dan atsar-atsar dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)Artinya, perbuatan para ulama terdahulu ini dalam konteks semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan tarikan gas amal. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan. Bukan menekankan kepada amalan berbasis hadis lemah, tetapi bagaimana kultur yang terbentuk di kalangan salaf terdahulu dalam mencari lailatul qadar.Nabi ﷺ pun melakukan iktikaf dan mengejar malam semenjak paruh kedua Ramadan. Namun, dalam riwayat yang sahih, dijelaskan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari di 10 malam terakhir. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar hadir di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan amal di 10 malam terakhir.Dan berbagai riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik sanad. Sehingga yang ingin kita tekankan adalah bagaimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di paruh akhir.Sebab, yang terefleksikan dari perbuatan penduduk Madinah misalnya, mereka mengencangkan semangat beramalnya sejak 17 Ramadan, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara penduduk Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah bersemangat mengejar lailatul qadar sedini mungkin.Namun, jika artikel ini hanya berhenti sampai sini, maka ini akan mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada judul tersebut. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.Tanda malam lailatul qadarTerdapat beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang memiliki ciri-ciri atau rumus-rumus ini. Tujuannya bukan memastikan, tetapi menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para salaf terdahulu pada lailatul qadar. Perbuatan ini mengejawantahkan ciri yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Quran.سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)Tanda-tanda tersebut berupa riwayat yang sahih datang dari Nabi ﷺ berkaitan waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat pula riwayat pengalaman dan pengamatan para salaf setelah zaman Nabi ﷺ.1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)2) Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع“Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun pada malam tersebut. Allah ﷻ berfirman,تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا“Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar: 4).Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada lailatul qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada cara menentukan malam lailatul qadar secara pasti.Namun, tentunya ada hikmah dari perbuatan Allah ﷻ menjadikan lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini akan mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas amal kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab rahimahullah,“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan karena alasan Dialah Zat yang berhak disembah. Bukan karena sekadar hari istimewa. Hari-hari istimewa adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi akal kita menerima fakta bahwa: pelari yang berlatih 30 hari akan lebih berhak meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih atau menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadar***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.

Ternyata Ini Orang yang Paling Besar Pahala Puasanya! – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Sungguh, orang-orang yang berpuasa tidaklah sama pahalanya, melainkan berbeda-beda tingkatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan derajat orang-orang yang berpuasa dalam hal pahala, sesuai dengan kadar zikir mereka kepada Allah. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa, shalat, haji, dan seluruh ketaatan pada umumnya disyariatkan semata-mata untuk menegakkan zikir kepada Allah. Maka, apakah sama pahala puasa orang yang senantiasa berzikir dengan orang yang lalai? Apakah mereka setara? Apakah ganjaran keduanya sama? Tidak, demi Allah! Di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Orang yang paling besar pahalanya dalam puasa adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib, beliau berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap amalan ketaatan adalah yang paling banyak mengingat Allah saat melakukan ketaatan tersebut.” “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya.” Oleh sebab itu, bersemangatlah di siang hari Ramadan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan bertakbir, serta membaca kitab-kitab ilmu, menghadiri serta duduk di dalam majelis ilmu, serta menyimak segala kebaikan yang disampaikan di sana. Sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis zikir kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (HR. At-Tirmidzi). Maksudnya majelis-majelis ilmu, tempat dijelaskannya perkara halal dan haram, diterangkannya hukum-hukum agama, dan manusia diperkenalkan kepada Allah, mengenal nama-nama-Nya, keagungan-Nya, serta sifat-sifat-Nya. Tempat di mana dibacakan ayat-ayat Allah dan dijelaskan maknanya, serta hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan kandungannya, sehingga manusia dapat mendalami agama dan mempelajari berbagai kebaikan. Semua hal itu termasuk dalam menegakkan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan merupakan bentuk nyata dalam mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== إِنَّ الصُّوَّامَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ بَلْ يَتَفَاوَتُونَ سُئِلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ذَا يَدُلُّ عَلَى تَفَاوُتِ أَهْلِ الصِّيَامِ فِي أَجْرِ الصِّيَامِ بِحَسَبِ حَظِّهِمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الصِّيَامَ وَالصَّلَاةَ وَالْحَجَّ وَعُمُومَ الطَّاعَاتِ إِنَّمَا شُرِعَتْ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ أَفَيَسْتَوِي فِي أَجْرِ الصِّيَامِ الذَّاكِرُ وَالْغَافِلُ؟ هَلْ يَسْتَوُونَ؟ أَيَكُونُ أَجْرُهُمَا سَوَاءً؟ لَا وَاللَّهِ، بَيْنَهُمَا بَوْنٌ شَاسِعٌ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصِّيَامِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا بَلْ كَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا وَلِهَذَا احْرِصْ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَلَى كَثْرَةِ الذِّكْرِ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ، تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَحَمْدًا وَتَكْبِيرًا، قِرَاءَةً لِكُتُبِ الْعِلْمِ وَحُضُورًا لِمَجَالِسِ الْعِلْمِ، وَجُلُوسًا فِيهَا وَاسْتِمَاعًا لِمَا يُقَالُ فِيهَا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ مَجَالِسَ الْعِلْمِ مَجَالِسُ ذِكْرٍ لِلَّهِ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ أَيْ مَجَالِسُ الْعِلْمِ الَّتِي يُبَيَّنُ فِيهَا الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَتُبَيَّنُ الْأَحْكَامُ، وَيُعَرَّفُ النَّاسُ فِيهَا بِاللَّهِ وَأَسْمَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصِفَاتِهِ وَتُتْلَى فِيهَا آيَاتُ اللَّهِ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا وَأَحَادِيثُ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا، وَيَتَفَقَّهُ النَّاسُ وَيَتَعَلَّمُونَ الْخَيْرَ هَذَا كُلُّهُ هَذَا كُلُّهُ مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Ternyata Ini Orang yang Paling Besar Pahala Puasanya! – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Sungguh, orang-orang yang berpuasa tidaklah sama pahalanya, melainkan berbeda-beda tingkatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan derajat orang-orang yang berpuasa dalam hal pahala, sesuai dengan kadar zikir mereka kepada Allah. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa, shalat, haji, dan seluruh ketaatan pada umumnya disyariatkan semata-mata untuk menegakkan zikir kepada Allah. Maka, apakah sama pahala puasa orang yang senantiasa berzikir dengan orang yang lalai? Apakah mereka setara? Apakah ganjaran keduanya sama? Tidak, demi Allah! Di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Orang yang paling besar pahalanya dalam puasa adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib, beliau berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap amalan ketaatan adalah yang paling banyak mengingat Allah saat melakukan ketaatan tersebut.” “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya.” Oleh sebab itu, bersemangatlah di siang hari Ramadan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan bertakbir, serta membaca kitab-kitab ilmu, menghadiri serta duduk di dalam majelis ilmu, serta menyimak segala kebaikan yang disampaikan di sana. Sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis zikir kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (HR. At-Tirmidzi). Maksudnya majelis-majelis ilmu, tempat dijelaskannya perkara halal dan haram, diterangkannya hukum-hukum agama, dan manusia diperkenalkan kepada Allah, mengenal nama-nama-Nya, keagungan-Nya, serta sifat-sifat-Nya. Tempat di mana dibacakan ayat-ayat Allah dan dijelaskan maknanya, serta hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan kandungannya, sehingga manusia dapat mendalami agama dan mempelajari berbagai kebaikan. Semua hal itu termasuk dalam menegakkan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan merupakan bentuk nyata dalam mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== إِنَّ الصُّوَّامَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ بَلْ يَتَفَاوَتُونَ سُئِلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ذَا يَدُلُّ عَلَى تَفَاوُتِ أَهْلِ الصِّيَامِ فِي أَجْرِ الصِّيَامِ بِحَسَبِ حَظِّهِمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الصِّيَامَ وَالصَّلَاةَ وَالْحَجَّ وَعُمُومَ الطَّاعَاتِ إِنَّمَا شُرِعَتْ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ أَفَيَسْتَوِي فِي أَجْرِ الصِّيَامِ الذَّاكِرُ وَالْغَافِلُ؟ هَلْ يَسْتَوُونَ؟ أَيَكُونُ أَجْرُهُمَا سَوَاءً؟ لَا وَاللَّهِ، بَيْنَهُمَا بَوْنٌ شَاسِعٌ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصِّيَامِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا بَلْ كَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا وَلِهَذَا احْرِصْ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَلَى كَثْرَةِ الذِّكْرِ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ، تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَحَمْدًا وَتَكْبِيرًا، قِرَاءَةً لِكُتُبِ الْعِلْمِ وَحُضُورًا لِمَجَالِسِ الْعِلْمِ، وَجُلُوسًا فِيهَا وَاسْتِمَاعًا لِمَا يُقَالُ فِيهَا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ مَجَالِسَ الْعِلْمِ مَجَالِسُ ذِكْرٍ لِلَّهِ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ أَيْ مَجَالِسُ الْعِلْمِ الَّتِي يُبَيَّنُ فِيهَا الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَتُبَيَّنُ الْأَحْكَامُ، وَيُعَرَّفُ النَّاسُ فِيهَا بِاللَّهِ وَأَسْمَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصِفَاتِهِ وَتُتْلَى فِيهَا آيَاتُ اللَّهِ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا وَأَحَادِيثُ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا، وَيَتَفَقَّهُ النَّاسُ وَيَتَعَلَّمُونَ الْخَيْرَ هَذَا كُلُّهُ هَذَا كُلُّهُ مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Sungguh, orang-orang yang berpuasa tidaklah sama pahalanya, melainkan berbeda-beda tingkatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan derajat orang-orang yang berpuasa dalam hal pahala, sesuai dengan kadar zikir mereka kepada Allah. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa, shalat, haji, dan seluruh ketaatan pada umumnya disyariatkan semata-mata untuk menegakkan zikir kepada Allah. Maka, apakah sama pahala puasa orang yang senantiasa berzikir dengan orang yang lalai? Apakah mereka setara? Apakah ganjaran keduanya sama? Tidak, demi Allah! Di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Orang yang paling besar pahalanya dalam puasa adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib, beliau berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap amalan ketaatan adalah yang paling banyak mengingat Allah saat melakukan ketaatan tersebut.” “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya.” Oleh sebab itu, bersemangatlah di siang hari Ramadan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan bertakbir, serta membaca kitab-kitab ilmu, menghadiri serta duduk di dalam majelis ilmu, serta menyimak segala kebaikan yang disampaikan di sana. Sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis zikir kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (HR. At-Tirmidzi). Maksudnya majelis-majelis ilmu, tempat dijelaskannya perkara halal dan haram, diterangkannya hukum-hukum agama, dan manusia diperkenalkan kepada Allah, mengenal nama-nama-Nya, keagungan-Nya, serta sifat-sifat-Nya. Tempat di mana dibacakan ayat-ayat Allah dan dijelaskan maknanya, serta hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan kandungannya, sehingga manusia dapat mendalami agama dan mempelajari berbagai kebaikan. Semua hal itu termasuk dalam menegakkan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan merupakan bentuk nyata dalam mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== إِنَّ الصُّوَّامَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ بَلْ يَتَفَاوَتُونَ سُئِلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ذَا يَدُلُّ عَلَى تَفَاوُتِ أَهْلِ الصِّيَامِ فِي أَجْرِ الصِّيَامِ بِحَسَبِ حَظِّهِمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الصِّيَامَ وَالصَّلَاةَ وَالْحَجَّ وَعُمُومَ الطَّاعَاتِ إِنَّمَا شُرِعَتْ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ أَفَيَسْتَوِي فِي أَجْرِ الصِّيَامِ الذَّاكِرُ وَالْغَافِلُ؟ هَلْ يَسْتَوُونَ؟ أَيَكُونُ أَجْرُهُمَا سَوَاءً؟ لَا وَاللَّهِ، بَيْنَهُمَا بَوْنٌ شَاسِعٌ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصِّيَامِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا بَلْ كَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا وَلِهَذَا احْرِصْ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَلَى كَثْرَةِ الذِّكْرِ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ، تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَحَمْدًا وَتَكْبِيرًا، قِرَاءَةً لِكُتُبِ الْعِلْمِ وَحُضُورًا لِمَجَالِسِ الْعِلْمِ، وَجُلُوسًا فِيهَا وَاسْتِمَاعًا لِمَا يُقَالُ فِيهَا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ مَجَالِسَ الْعِلْمِ مَجَالِسُ ذِكْرٍ لِلَّهِ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ أَيْ مَجَالِسُ الْعِلْمِ الَّتِي يُبَيَّنُ فِيهَا الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَتُبَيَّنُ الْأَحْكَامُ، وَيُعَرَّفُ النَّاسُ فِيهَا بِاللَّهِ وَأَسْمَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصِفَاتِهِ وَتُتْلَى فِيهَا آيَاتُ اللَّهِ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا وَأَحَادِيثُ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا، وَيَتَفَقَّهُ النَّاسُ وَيَتَعَلَّمُونَ الْخَيْرَ هَذَا كُلُّهُ هَذَا كُلُّهُ مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Sungguh, orang-orang yang berpuasa tidaklah sama pahalanya, melainkan berbeda-beda tingkatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan derajat orang-orang yang berpuasa dalam hal pahala, sesuai dengan kadar zikir mereka kepada Allah. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa, shalat, haji, dan seluruh ketaatan pada umumnya disyariatkan semata-mata untuk menegakkan zikir kepada Allah. Maka, apakah sama pahala puasa orang yang senantiasa berzikir dengan orang yang lalai? Apakah mereka setara? Apakah ganjaran keduanya sama? Tidak, demi Allah! Di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Orang yang paling besar pahalanya dalam puasa adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib, beliau berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap amalan ketaatan adalah yang paling banyak mengingat Allah saat melakukan ketaatan tersebut.” “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya.” Oleh sebab itu, bersemangatlah di siang hari Ramadan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan bertakbir, serta membaca kitab-kitab ilmu, menghadiri serta duduk di dalam majelis ilmu, serta menyimak segala kebaikan yang disampaikan di sana. Sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis zikir kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (HR. At-Tirmidzi). Maksudnya majelis-majelis ilmu, tempat dijelaskannya perkara halal dan haram, diterangkannya hukum-hukum agama, dan manusia diperkenalkan kepada Allah, mengenal nama-nama-Nya, keagungan-Nya, serta sifat-sifat-Nya. Tempat di mana dibacakan ayat-ayat Allah dan dijelaskan maknanya, serta hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan kandungannya, sehingga manusia dapat mendalami agama dan mempelajari berbagai kebaikan. Semua hal itu termasuk dalam menegakkan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan merupakan bentuk nyata dalam mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== إِنَّ الصُّوَّامَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ بَلْ يَتَفَاوَتُونَ سُئِلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ذَا يَدُلُّ عَلَى تَفَاوُتِ أَهْلِ الصِّيَامِ فِي أَجْرِ الصِّيَامِ بِحَسَبِ حَظِّهِمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الصِّيَامَ وَالصَّلَاةَ وَالْحَجَّ وَعُمُومَ الطَّاعَاتِ إِنَّمَا شُرِعَتْ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ أَفَيَسْتَوِي فِي أَجْرِ الصِّيَامِ الذَّاكِرُ وَالْغَافِلُ؟ هَلْ يَسْتَوُونَ؟ أَيَكُونُ أَجْرُهُمَا سَوَاءً؟ لَا وَاللَّهِ، بَيْنَهُمَا بَوْنٌ شَاسِعٌ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصِّيَامِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا بَلْ كَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا وَلِهَذَا احْرِصْ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَلَى كَثْرَةِ الذِّكْرِ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ، تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَحَمْدًا وَتَكْبِيرًا، قِرَاءَةً لِكُتُبِ الْعِلْمِ وَحُضُورًا لِمَجَالِسِ الْعِلْمِ، وَجُلُوسًا فِيهَا وَاسْتِمَاعًا لِمَا يُقَالُ فِيهَا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ مَجَالِسَ الْعِلْمِ مَجَالِسُ ذِكْرٍ لِلَّهِ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ أَيْ مَجَالِسُ الْعِلْمِ الَّتِي يُبَيَّنُ فِيهَا الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَتُبَيَّنُ الْأَحْكَامُ، وَيُعَرَّفُ النَّاسُ فِيهَا بِاللَّهِ وَأَسْمَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصِفَاتِهِ وَتُتْلَى فِيهَا آيَاتُ اللَّهِ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا وَأَحَادِيثُ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا، وَيَتَفَقَّهُ النَّاسُ وَيَتَعَلَّمُونَ الْخَيْرَ هَذَا كُلُّهُ هَذَا كُلُّهُ مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Ngeri! Satu Golongan Orang yang Didoakan Celaka oleh Jibril di Bulan Ramadan

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam yang paling sempurna bagi Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Juga bagi keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudari sekalian! Sungguh ada seruan agung yang dikumandangkan sejak malam pertama bulan Ramadan hingga malam terakhir di bulan Ramadan. Ada penyeru dari langit yang berseru: “Wahai pencari kebaikan, sambutlah!” “Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Wahai pencari kebaikan! Wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi diri sendiri, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi keluarga, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi masyarakat Anda, sambutlah! Inilah bulan kebaikan. Inilah bulan yang penuh dengan kebaikan. Inilah bulan yang penuh keberkahan. Jika Anda tidak mendekat di bulan ini, lalu kapan lagi? Jika Anda berpaling di bulan ini, lalu kapan lagi Anda akan berjalan menuju Tuhan Anda? Sambutlah seruan ini! Dan wahai pencari keburukan, berhentilah! Sebab, Anda sedang dibantu untuk melawan hawa nafsu, dan dibantu melawan godaan setan. Maka tinggalkanlah keburukan, dan bulatkanlah tekad untuk menjauhinya. Serta bertawakallah kepada Tuhan Anda! Demi Allah, inilah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan! Sungguh pada bulan ini, seorang hamba mendapat pertolongan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan amal-amal kebaikan. Seorang hamba juga mendapatkan pertolongan untuk meninggalkan kemaksiatan. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaiki mimbar, saat beliau menaiki anak tangga pertama, beliau mengucapkan “Amin”. Saat menaiki anak tangga kedua, beliau juga mengucapkan “Amin”. Dan saat menaiki anak tangga ketiga, beliau kembali mengucapkan “Amin”. Setelah turun dari mimbar, beliau bersabda kepada para sahabat—semoga ayah, ibu, dan seluruh manusia menjadi tebusan baginya: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Beliau menjawab: “Sungguh malaikat Jibril mendatangiku tadi, lalu ia berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni. Katakanlah: Amin!’ Maka aku pun mengucapkan: ‘Amiin.'” Allahu Akbar! Sungguh merugi orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni dosa-dosanya. Mengapa ia sampai merugi sejauh itu? Sebab di bulan Ramadan, seseorang dibantu untuk berbuat baik, dan dibantu pula untuk menjauhi keburukan. Dan dua hal ini termasuk sebab terbesar untuk meraih ampunan. Maka ketika seseorang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya, sehingga ia tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh merugilah ia. Siapa yang mendoakan? Jibril ‘alaihissalam. Siapa yang mengaminkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat terbaik yang mendoakan, dan Rasul terbaik yang mengaminkan. Allahu Akbar! Betapa agungnya peristiwa tersebut! Maka sepatutnya Anda merenungkan hal ini, wahai saudaraku, dan Anda renungkan ini, wahai saudariku! Mengapa doa ini dipanjatkan? Karena alasan yang telah kami jelaskan tadi. Bahwa Ramadan adalah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan, sehingga kita harus bersungguh-sungguh untuk mengarahkan diri kita menuju ketaatan kepada Allah. Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Serta cegahlah diri kita dari melakukan kemaksiatan kepada Allah. Wahai pencari keburukan, berhentilah! Semoga Allah mengaruniakan kita semua kemudahan dalam beramal ketaatan, serta menjaga kita dari buruknya kemaksiatan. Serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita. ===== الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ فَمَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ إِنَّ نِدَاءً عَظِيمًا يُنَادَى بِهِ مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ إِلَى آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِنَفْسِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِأَهْلِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِمُجْتَمَعِكَ أَقْبِلْ فَهَذَا شَهْرُ الْخَيْرِ هَذَا شَهْرُ الْخَيْرَاتِ هَذَا شَهْرُ الْبَرَكَاتِ إِنْ لَمْ تُقْبِلْ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تُقْبِلُ إِنْ أَعْرَضْتَ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ فَإِنَّكَ تُعَانُ عَلَى نَفْسِكَ وَتُعَانُ عَلَى الشَّيَاطِينِ فَاتْرُكِ الشَّرَّ وَاعْزِمْ عَلَى تَرْكِهِ وَتَوَكَّلْ عَلَى رَبِّكَ فَهَذَا شَهْرُ الْإِعَانَةِ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ يُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَعَلَى الْخَيْرَاتِ وَيُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَلِذَلِكَ لَمَّا رَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا صَعَدَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّانِيَةَ قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِينَ فَلَمَّا نَزَلَ فِدَاهُ أَبِي وَأُمِّي وَالنَّاسُ أَجْمَعِينَ قَالَ لَهُ الصَّحَابَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا فَقَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي آنِفًا فَقَالَ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ آمِينَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ لِمَاذَا بَعُدَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِي رَمَضَانَ يُعَانُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُعَانُ عَلَى تَرْكِ الشَّرِّ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ فَإِذَا أَدْرَكَ الْإِنْسَانُ رَمَضَانَ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ بَعُدَ مَنِ الَّذِي دَعَا؟ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَنِ الَّذِي أَمَّنَ؟ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْمَلَائِكَةِ دَعَا وَأَفْضَلُ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ أَمَّنَ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا أَعْظَمَهُ مِنْ مَقَامٍ يَنْبَغِي أَنْ تَتَفَكَّرَ يَا أَخِي وَأَنْ تَتَفَكَّرِي يَا أُخْتِي لِمَا كَانَ هَذَا الدُّعَاءُ لِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْإِعَانَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَجْتَهِدَ فِي قَوْدِ أَنْفُسِنَا إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَمَنْعِ أَنْفُسِنَا عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ رَزَقَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمُ الطَّاعَاتِ وَكَفَانِي وَإِيَّاكُمْ شَرَّ الْمَعَاصِي وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Ngeri! Satu Golongan Orang yang Didoakan Celaka oleh Jibril di Bulan Ramadan

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam yang paling sempurna bagi Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Juga bagi keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudari sekalian! Sungguh ada seruan agung yang dikumandangkan sejak malam pertama bulan Ramadan hingga malam terakhir di bulan Ramadan. Ada penyeru dari langit yang berseru: “Wahai pencari kebaikan, sambutlah!” “Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Wahai pencari kebaikan! Wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi diri sendiri, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi keluarga, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi masyarakat Anda, sambutlah! Inilah bulan kebaikan. Inilah bulan yang penuh dengan kebaikan. Inilah bulan yang penuh keberkahan. Jika Anda tidak mendekat di bulan ini, lalu kapan lagi? Jika Anda berpaling di bulan ini, lalu kapan lagi Anda akan berjalan menuju Tuhan Anda? Sambutlah seruan ini! Dan wahai pencari keburukan, berhentilah! Sebab, Anda sedang dibantu untuk melawan hawa nafsu, dan dibantu melawan godaan setan. Maka tinggalkanlah keburukan, dan bulatkanlah tekad untuk menjauhinya. Serta bertawakallah kepada Tuhan Anda! Demi Allah, inilah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan! Sungguh pada bulan ini, seorang hamba mendapat pertolongan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan amal-amal kebaikan. Seorang hamba juga mendapatkan pertolongan untuk meninggalkan kemaksiatan. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaiki mimbar, saat beliau menaiki anak tangga pertama, beliau mengucapkan “Amin”. Saat menaiki anak tangga kedua, beliau juga mengucapkan “Amin”. Dan saat menaiki anak tangga ketiga, beliau kembali mengucapkan “Amin”. Setelah turun dari mimbar, beliau bersabda kepada para sahabat—semoga ayah, ibu, dan seluruh manusia menjadi tebusan baginya: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Beliau menjawab: “Sungguh malaikat Jibril mendatangiku tadi, lalu ia berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni. Katakanlah: Amin!’ Maka aku pun mengucapkan: ‘Amiin.'” Allahu Akbar! Sungguh merugi orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni dosa-dosanya. Mengapa ia sampai merugi sejauh itu? Sebab di bulan Ramadan, seseorang dibantu untuk berbuat baik, dan dibantu pula untuk menjauhi keburukan. Dan dua hal ini termasuk sebab terbesar untuk meraih ampunan. Maka ketika seseorang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya, sehingga ia tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh merugilah ia. Siapa yang mendoakan? Jibril ‘alaihissalam. Siapa yang mengaminkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat terbaik yang mendoakan, dan Rasul terbaik yang mengaminkan. Allahu Akbar! Betapa agungnya peristiwa tersebut! Maka sepatutnya Anda merenungkan hal ini, wahai saudaraku, dan Anda renungkan ini, wahai saudariku! Mengapa doa ini dipanjatkan? Karena alasan yang telah kami jelaskan tadi. Bahwa Ramadan adalah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan, sehingga kita harus bersungguh-sungguh untuk mengarahkan diri kita menuju ketaatan kepada Allah. Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Serta cegahlah diri kita dari melakukan kemaksiatan kepada Allah. Wahai pencari keburukan, berhentilah! Semoga Allah mengaruniakan kita semua kemudahan dalam beramal ketaatan, serta menjaga kita dari buruknya kemaksiatan. Serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita. ===== الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ فَمَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ إِنَّ نِدَاءً عَظِيمًا يُنَادَى بِهِ مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ إِلَى آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِنَفْسِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِأَهْلِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِمُجْتَمَعِكَ أَقْبِلْ فَهَذَا شَهْرُ الْخَيْرِ هَذَا شَهْرُ الْخَيْرَاتِ هَذَا شَهْرُ الْبَرَكَاتِ إِنْ لَمْ تُقْبِلْ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تُقْبِلُ إِنْ أَعْرَضْتَ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ فَإِنَّكَ تُعَانُ عَلَى نَفْسِكَ وَتُعَانُ عَلَى الشَّيَاطِينِ فَاتْرُكِ الشَّرَّ وَاعْزِمْ عَلَى تَرْكِهِ وَتَوَكَّلْ عَلَى رَبِّكَ فَهَذَا شَهْرُ الْإِعَانَةِ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ يُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَعَلَى الْخَيْرَاتِ وَيُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَلِذَلِكَ لَمَّا رَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا صَعَدَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّانِيَةَ قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِينَ فَلَمَّا نَزَلَ فِدَاهُ أَبِي وَأُمِّي وَالنَّاسُ أَجْمَعِينَ قَالَ لَهُ الصَّحَابَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا فَقَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي آنِفًا فَقَالَ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ آمِينَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ لِمَاذَا بَعُدَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِي رَمَضَانَ يُعَانُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُعَانُ عَلَى تَرْكِ الشَّرِّ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ فَإِذَا أَدْرَكَ الْإِنْسَانُ رَمَضَانَ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ بَعُدَ مَنِ الَّذِي دَعَا؟ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَنِ الَّذِي أَمَّنَ؟ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْمَلَائِكَةِ دَعَا وَأَفْضَلُ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ أَمَّنَ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا أَعْظَمَهُ مِنْ مَقَامٍ يَنْبَغِي أَنْ تَتَفَكَّرَ يَا أَخِي وَأَنْ تَتَفَكَّرِي يَا أُخْتِي لِمَا كَانَ هَذَا الدُّعَاءُ لِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْإِعَانَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَجْتَهِدَ فِي قَوْدِ أَنْفُسِنَا إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَمَنْعِ أَنْفُسِنَا عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ رَزَقَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمُ الطَّاعَاتِ وَكَفَانِي وَإِيَّاكُمْ شَرَّ الْمَعَاصِي وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam yang paling sempurna bagi Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Juga bagi keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudari sekalian! Sungguh ada seruan agung yang dikumandangkan sejak malam pertama bulan Ramadan hingga malam terakhir di bulan Ramadan. Ada penyeru dari langit yang berseru: “Wahai pencari kebaikan, sambutlah!” “Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Wahai pencari kebaikan! Wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi diri sendiri, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi keluarga, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi masyarakat Anda, sambutlah! Inilah bulan kebaikan. Inilah bulan yang penuh dengan kebaikan. Inilah bulan yang penuh keberkahan. Jika Anda tidak mendekat di bulan ini, lalu kapan lagi? Jika Anda berpaling di bulan ini, lalu kapan lagi Anda akan berjalan menuju Tuhan Anda? Sambutlah seruan ini! Dan wahai pencari keburukan, berhentilah! Sebab, Anda sedang dibantu untuk melawan hawa nafsu, dan dibantu melawan godaan setan. Maka tinggalkanlah keburukan, dan bulatkanlah tekad untuk menjauhinya. Serta bertawakallah kepada Tuhan Anda! Demi Allah, inilah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan! Sungguh pada bulan ini, seorang hamba mendapat pertolongan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan amal-amal kebaikan. Seorang hamba juga mendapatkan pertolongan untuk meninggalkan kemaksiatan. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaiki mimbar, saat beliau menaiki anak tangga pertama, beliau mengucapkan “Amin”. Saat menaiki anak tangga kedua, beliau juga mengucapkan “Amin”. Dan saat menaiki anak tangga ketiga, beliau kembali mengucapkan “Amin”. Setelah turun dari mimbar, beliau bersabda kepada para sahabat—semoga ayah, ibu, dan seluruh manusia menjadi tebusan baginya: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Beliau menjawab: “Sungguh malaikat Jibril mendatangiku tadi, lalu ia berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni. Katakanlah: Amin!’ Maka aku pun mengucapkan: ‘Amiin.'” Allahu Akbar! Sungguh merugi orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni dosa-dosanya. Mengapa ia sampai merugi sejauh itu? Sebab di bulan Ramadan, seseorang dibantu untuk berbuat baik, dan dibantu pula untuk menjauhi keburukan. Dan dua hal ini termasuk sebab terbesar untuk meraih ampunan. Maka ketika seseorang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya, sehingga ia tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh merugilah ia. Siapa yang mendoakan? Jibril ‘alaihissalam. Siapa yang mengaminkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat terbaik yang mendoakan, dan Rasul terbaik yang mengaminkan. Allahu Akbar! Betapa agungnya peristiwa tersebut! Maka sepatutnya Anda merenungkan hal ini, wahai saudaraku, dan Anda renungkan ini, wahai saudariku! Mengapa doa ini dipanjatkan? Karena alasan yang telah kami jelaskan tadi. Bahwa Ramadan adalah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan, sehingga kita harus bersungguh-sungguh untuk mengarahkan diri kita menuju ketaatan kepada Allah. Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Serta cegahlah diri kita dari melakukan kemaksiatan kepada Allah. Wahai pencari keburukan, berhentilah! Semoga Allah mengaruniakan kita semua kemudahan dalam beramal ketaatan, serta menjaga kita dari buruknya kemaksiatan. Serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita. ===== الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ فَمَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ إِنَّ نِدَاءً عَظِيمًا يُنَادَى بِهِ مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ إِلَى آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِنَفْسِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِأَهْلِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِمُجْتَمَعِكَ أَقْبِلْ فَهَذَا شَهْرُ الْخَيْرِ هَذَا شَهْرُ الْخَيْرَاتِ هَذَا شَهْرُ الْبَرَكَاتِ إِنْ لَمْ تُقْبِلْ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تُقْبِلُ إِنْ أَعْرَضْتَ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ فَإِنَّكَ تُعَانُ عَلَى نَفْسِكَ وَتُعَانُ عَلَى الشَّيَاطِينِ فَاتْرُكِ الشَّرَّ وَاعْزِمْ عَلَى تَرْكِهِ وَتَوَكَّلْ عَلَى رَبِّكَ فَهَذَا شَهْرُ الْإِعَانَةِ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ يُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَعَلَى الْخَيْرَاتِ وَيُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَلِذَلِكَ لَمَّا رَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا صَعَدَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّانِيَةَ قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِينَ فَلَمَّا نَزَلَ فِدَاهُ أَبِي وَأُمِّي وَالنَّاسُ أَجْمَعِينَ قَالَ لَهُ الصَّحَابَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا فَقَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي آنِفًا فَقَالَ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ آمِينَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ لِمَاذَا بَعُدَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِي رَمَضَانَ يُعَانُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُعَانُ عَلَى تَرْكِ الشَّرِّ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ فَإِذَا أَدْرَكَ الْإِنْسَانُ رَمَضَانَ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ بَعُدَ مَنِ الَّذِي دَعَا؟ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَنِ الَّذِي أَمَّنَ؟ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْمَلَائِكَةِ دَعَا وَأَفْضَلُ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ أَمَّنَ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا أَعْظَمَهُ مِنْ مَقَامٍ يَنْبَغِي أَنْ تَتَفَكَّرَ يَا أَخِي وَأَنْ تَتَفَكَّرِي يَا أُخْتِي لِمَا كَانَ هَذَا الدُّعَاءُ لِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْإِعَانَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَجْتَهِدَ فِي قَوْدِ أَنْفُسِنَا إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَمَنْعِ أَنْفُسِنَا عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ رَزَقَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمُ الطَّاعَاتِ وَكَفَانِي وَإِيَّاكُمْ شَرَّ الْمَعَاصِي وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ


Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam yang paling sempurna bagi Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Juga bagi keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudari sekalian! Sungguh ada seruan agung yang dikumandangkan sejak malam pertama bulan Ramadan hingga malam terakhir di bulan Ramadan. Ada penyeru dari langit yang berseru: “Wahai pencari kebaikan, sambutlah!” “Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Wahai pencari kebaikan! Wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi diri sendiri, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi keluarga, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi masyarakat Anda, sambutlah! Inilah bulan kebaikan. Inilah bulan yang penuh dengan kebaikan. Inilah bulan yang penuh keberkahan. Jika Anda tidak mendekat di bulan ini, lalu kapan lagi? Jika Anda berpaling di bulan ini, lalu kapan lagi Anda akan berjalan menuju Tuhan Anda? Sambutlah seruan ini! Dan wahai pencari keburukan, berhentilah! Sebab, Anda sedang dibantu untuk melawan hawa nafsu, dan dibantu melawan godaan setan. Maka tinggalkanlah keburukan, dan bulatkanlah tekad untuk menjauhinya. Serta bertawakallah kepada Tuhan Anda! Demi Allah, inilah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan! Sungguh pada bulan ini, seorang hamba mendapat pertolongan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan amal-amal kebaikan. Seorang hamba juga mendapatkan pertolongan untuk meninggalkan kemaksiatan. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaiki mimbar, saat beliau menaiki anak tangga pertama, beliau mengucapkan “Amin”. Saat menaiki anak tangga kedua, beliau juga mengucapkan “Amin”. Dan saat menaiki anak tangga ketiga, beliau kembali mengucapkan “Amin”. Setelah turun dari mimbar, beliau bersabda kepada para sahabat—semoga ayah, ibu, dan seluruh manusia menjadi tebusan baginya: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Beliau menjawab: “Sungguh malaikat Jibril mendatangiku tadi, lalu ia berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni. Katakanlah: Amin!’ Maka aku pun mengucapkan: ‘Amiin.'” Allahu Akbar! Sungguh merugi orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni dosa-dosanya. Mengapa ia sampai merugi sejauh itu? Sebab di bulan Ramadan, seseorang dibantu untuk berbuat baik, dan dibantu pula untuk menjauhi keburukan. Dan dua hal ini termasuk sebab terbesar untuk meraih ampunan. Maka ketika seseorang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya, sehingga ia tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh merugilah ia. Siapa yang mendoakan? Jibril ‘alaihissalam. Siapa yang mengaminkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat terbaik yang mendoakan, dan Rasul terbaik yang mengaminkan. Allahu Akbar! Betapa agungnya peristiwa tersebut! Maka sepatutnya Anda merenungkan hal ini, wahai saudaraku, dan Anda renungkan ini, wahai saudariku! Mengapa doa ini dipanjatkan? Karena alasan yang telah kami jelaskan tadi. Bahwa Ramadan adalah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan, sehingga kita harus bersungguh-sungguh untuk mengarahkan diri kita menuju ketaatan kepada Allah. Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Serta cegahlah diri kita dari melakukan kemaksiatan kepada Allah. Wahai pencari keburukan, berhentilah! Semoga Allah mengaruniakan kita semua kemudahan dalam beramal ketaatan, serta menjaga kita dari buruknya kemaksiatan. Serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita. ===== الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ فَمَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ إِنَّ نِدَاءً عَظِيمًا يُنَادَى بِهِ مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ إِلَى آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِنَفْسِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِأَهْلِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِمُجْتَمَعِكَ أَقْبِلْ فَهَذَا شَهْرُ الْخَيْرِ هَذَا شَهْرُ الْخَيْرَاتِ هَذَا شَهْرُ الْبَرَكَاتِ إِنْ لَمْ تُقْبِلْ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تُقْبِلُ إِنْ أَعْرَضْتَ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ فَإِنَّكَ تُعَانُ عَلَى نَفْسِكَ وَتُعَانُ عَلَى الشَّيَاطِينِ فَاتْرُكِ الشَّرَّ وَاعْزِمْ عَلَى تَرْكِهِ وَتَوَكَّلْ عَلَى رَبِّكَ فَهَذَا شَهْرُ الْإِعَانَةِ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ يُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَعَلَى الْخَيْرَاتِ وَيُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَلِذَلِكَ لَمَّا رَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا صَعَدَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّانِيَةَ قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِينَ فَلَمَّا نَزَلَ فِدَاهُ أَبِي وَأُمِّي وَالنَّاسُ أَجْمَعِينَ قَالَ لَهُ الصَّحَابَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا فَقَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي آنِفًا فَقَالَ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ آمِينَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ لِمَاذَا بَعُدَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِي رَمَضَانَ يُعَانُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُعَانُ عَلَى تَرْكِ الشَّرِّ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ فَإِذَا أَدْرَكَ الْإِنْسَانُ رَمَضَانَ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ بَعُدَ مَنِ الَّذِي دَعَا؟ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَنِ الَّذِي أَمَّنَ؟ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْمَلَائِكَةِ دَعَا وَأَفْضَلُ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ أَمَّنَ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا أَعْظَمَهُ مِنْ مَقَامٍ يَنْبَغِي أَنْ تَتَفَكَّرَ يَا أَخِي وَأَنْ تَتَفَكَّرِي يَا أُخْتِي لِمَا كَانَ هَذَا الدُّعَاءُ لِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْإِعَانَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَجْتَهِدَ فِي قَوْدِ أَنْفُسِنَا إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَمَنْعِ أَنْفُسِنَا عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ رَزَقَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمُ الطَّاعَاتِ وَكَفَانِي وَإِيَّاكُمْ شَرَّ الْمَعَاصِي وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Sudah Banyak Dosa? QS. Ghafir Ayat 3 Mengajarkan Jangan Putus Asa

Al-Qur’an sering menanamkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah. Seorang hamba tidak boleh terlalu merasa aman dari azab-Nya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Surah Ghafir ayat 3 merangkum keseimbangan tersebut melalui sifat Allah yang Maha Mengampuni, menerima tobat, namun juga keras dalam hukuman-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3 2. Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’an 3. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa Takut 4. Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh? 5. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab) 6. Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan Tobat 7. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Terlambat  Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3Allah Ta’ala berfirman,غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Dialah Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya segala sesuatu kembali.” (QS. Ghafir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.غَافِرِ الذَّنْبِ artinya Allah mengampuni dosa orang-orang yang berdosa.وَقَابِلِ التَّوْبِ artinya Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.شَدِيدِ الْعِقَابِ artinya Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang berani terus-menerus berbuat dosa dan tidak mau bertobat.ذِي الطَّوْلِ maksudnya Allah memiliki karunia, kebaikan, dan ihsan yang sangat luas serta meliputi.Setelah Allah menegaskan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan itu semua mengharuskan bahwa hanya Dia satu-satunya sesembahan yang pantas diibadahi serta hanya kepada-Nya amal diikhlaskan, maka Allah berfirman: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya tempat kembali.” Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’anSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini:Hubungan antara penyebutan turunnya Al-Qur’an dari Allah yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut mencakup seluruh kandungan makna Al-Qur’an.Sebab isi Al-Qur’an itu mencakup beberapa hal:Pertama, Al-Qur’an berisi berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu tercakup dalam ayat ini, karena di dalamnya disebut nama, sifat, dan perbuatan Allah.Kedua, Al-Qur’an berisi berita tentang perkara-perkara gaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang. Semua itu merupakan bagian dari pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya.Ketiga, Al-Qur’an berisi berita tentang nikmat-nikmat Allah yang agung, karunia-Nya yang besar, serta jalan untuk meraihnya melalui berbagai perintah. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: ذِي الطَّوْلِ.Keempat, Al-Qur’an berisi berita tentang azab Allah yang keras, serta berbagai perbuatan maksiat yang menyebabkan datangnya azab tersebut. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: شَدِيدِ الْعِقَابِ.Kelima, Al-Qur’an berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa agar bertobat, kembali kepada Allah, dan memohon ampun. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ.Keenam, Al-Qur’an berisi penjelasan bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Al-Qur’an juga menegakkan dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat tentang hal itu, mendorong manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang mereka dari menyembah selain-Nya, menerangkan rusaknya ibadah kepada selain Allah, serta memperingatkan manusia darinya. Semua ini ditunjukkan oleh firman-Nya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.Ketujuh, Al-Qur’an berisi berita tentang hukum balasan Allah yang adil, pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: إِلَيْهِ الْمَصِيرُ.Jadi, ayat ini secara ringkas telah merangkum seluruh pokok ajaran besar yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa TakutDalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan firman Allah:غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِArtinya, Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat pada masa yang akan datang bagi siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya.Kemudian firman-Nya:شَدِيدِ الْعِقَابِArtinya, Allah sangat keras hukuman-Nya bagi orang yang membangkang, melampaui batas, lebih memilih kehidupan dunia, menentang perintah Allah, dan berlaku zalim.Dalam ayat ini terkumpul dua hal sekaligus, yaitu harapan dan rasa takut. Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُوَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)Allah sering menyandingkan kedua sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur’an, agar seorang hamba selalu berada di antara harapan dan rasa takut.Selanjutnya firman Allah:ذِي الطَّوْلِIbnu ‘Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki keluasan dan kekayaan. Penafsiran ini juga dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.Yazid bin Al-Asham mengatakan bahwa maknanya adalah Allah memiliki kebaikan yang sangat banyak.Ikrimah menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki karunia dan pemberian.Sedangkan Qatadah menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah memiliki berbagai nikmat dan keutamaan.Makna keseluruhannya adalah bahwa Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya, memberikan berbagai anugerah dan nikmat kepada mereka, padahal mereka tidak mampu mensyukuri satu pun dari nikmat tersebut secara sempurna.Allah Ta’ala berfirman:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS. Ibrahim: 34)Kemudian firman-Nya:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَArtinya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.Firman-Nya:إِلَيْهِ الْمَصِيرُArtinya, hanya kepada-Nya tempat kembali dan tempat kembali terakhir. Di sana Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Sebagaimana firman-Nya:وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ“Dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh?Kisah pertama ini dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq As-Sabi‘i menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata,“Wahai Amirul Mukminin, aku telah melakukan pembunuhan. Apakah masih ada tobat bagiku?”Maka ‘Umar membacakan kepadanya ayat:حمتَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِغَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِKemudian beliau berkata,اِعْمَلْ وَلَا تَيْأَسْ“Beramallah dan jangan berputus asa.”Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim (dengan lafaz ini) dan juga oleh Ibnu Jarir. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab)Kisah kedua ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Musa bin Marwan Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ‘Umar — yaitu Ibnu Ayyub — menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Burqan menceritakan dari Yazid bin Al-Asham, ia berkata: Dahulu ada seorang lelaki dari penduduk Syam yang dikenal kuat dan pemberani. Ia sering datang menemui ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu waktu ‘Umar tidak lagi melihatnya, lalu beliau bertanya,“Apa yang terjadi dengan si fulan bin fulan?”Mereka menjawab,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، يُتَابِعُ فِي هَذَا الشَّرَابِ“Wahai Amirul Mukminin, ia sekarang sering terjerumus dalam minuman keras.”Maka ‘Umar memanggil penulisnya dan berkata, “Tulislah:Dari ‘Umar bin Al-Khaththab kepada fulan bin fulan.Salam sejahtera untukmu. Amma ba‘du.Sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.”Kemudian ‘Umar berkata kepada para sahabatnya,اُدْعُوا اللَّهَ لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ، وَأَنْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.“Doakanlah saudara kalian ini agar hatinya kembali kepada Allah dan agar Allah menerima tobatnya.”Ketika surat ‘Umar sampai kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang sambil berkata,“غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ(Dia Yang mengampuni dosa, menerima tobat, dan keras hukuman-Nya).”Ia berkata, “Allah telah memperingatkanku dengan hukuman-Nya, namun juga menjanjikan ampunan bagiku.”Ia terus mengulang-ulang ayat itu pada dirinya, hingga akhirnya ia menangis. Setelah itu ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan bertobat dengan sebaik-baiknya.Ketika kabar tersebut sampai kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,هَكَذَا فَاصْنَعُوا، إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدِّدُوهُ وَوَفِّقُوهُ، وَادْعُوا اللَّهَ لَهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ.“Seperti inilah yang harus kalian lakukan. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah dan bantulah ia kembali ke jalan yang benar. Doakanlah agar Allah menerima tobatnya. Jangan sampai kalian justru menjadi penolong setan untuk menjatuhkannya.”Baca juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan TobatKisah ketiga ini adalah kelanjutan penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: ‘Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Hammad bin Waqid — Abu ‘Umar Ash-Shaffar — menceritakan kepada kami, Tsabit Al-Bunani berkata:Aku pernah bersama Mush‘ab bin Az-Zubair di wilayah sekitar Kufah. Lalu aku masuk ke sebuah kebun untuk menunaikan shalat dua rakaat. Aku memulai membaca Surah حم المؤمن (Surah Ghafir). Ketika sampai pada ayat:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُtiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku, menunggang bagal berwarna keabu-abuan. Ia mengenakan pakaian bergaris dari Yaman. Ia berkata kepadaku:“Jika engkau membaca غَافِرِ الذَّنْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Mengampuni dosa, ampunilah dosaku.’Jika engkau membaca وَقَابِلِ التَّوْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.’Jika engkau membaca شَدِيدِ الْعِقَابِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang sangat keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.’”Tsabit berkata: Aku pun menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat seorang pun. Lalu aku keluar menuju pintu kebun dan bertanya kepada orang-orang,“Apakah ada seseorang yang lewat di sini, mengenakan pakaian bergaris dari Yaman?”Mereka menjawab, “Kami tidak melihat siapa pun.”Sebagian orang kemudian beranggapan bahwa orang tersebut adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam.Riwayat ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari Tsabit dengan kisah yang serupa, namun dalam riwayat itu tidak disebutkan bahwa orang tersebut adalah Ilyas. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum TerlambatDi zaman sekarang, banyak orang terjatuh dalam dua sikap yang berbahaya. Sebagian terlalu merasa aman dari dosa sehingga terus menunda tobat, sementara sebagian lain justru putus asa dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: tetap takut kepada hukuman Allah, tetapi tetap berharap pada ampunan-Nya.Ayat ini mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seseorang yang pernah melakukan dosa besar sekalipun masih memiliki peluang kembali kepada Allah. Karena itu, jangan pernah menutup pintu harapan bagi diri sendiri maupun bagi saudara kita yang sedang jatuh dalam dosa.Sebaliknya, jika kita melihat saudara kita tergelincir, jangan malah mencela dan menjatuhkannya. Nasihati dengan lembut, doakan agar Allah memberinya hidayah, dan bantu ia kembali kepada jalan yang benar. Inilah akhlak para sahabat, sebagaimana nasihat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu agar kita tidak menjadi penolong setan atas saudara kita.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu hidup di antara rasa takut dan harapan, serta senantiasa kembali kepada-Nya dengan tobat yang tulus.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, rahmatilah kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar bertobat.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan ampunan harapan dan takut nasihat islam qs ghafir ayat 3 renungan ayat renungan quran sifat Allah tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran taubat dalam islam

Sudah Banyak Dosa? QS. Ghafir Ayat 3 Mengajarkan Jangan Putus Asa

Al-Qur’an sering menanamkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah. Seorang hamba tidak boleh terlalu merasa aman dari azab-Nya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Surah Ghafir ayat 3 merangkum keseimbangan tersebut melalui sifat Allah yang Maha Mengampuni, menerima tobat, namun juga keras dalam hukuman-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3 2. Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’an 3. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa Takut 4. Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh? 5. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab) 6. Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan Tobat 7. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Terlambat  Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3Allah Ta’ala berfirman,غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Dialah Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya segala sesuatu kembali.” (QS. Ghafir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.غَافِرِ الذَّنْبِ artinya Allah mengampuni dosa orang-orang yang berdosa.وَقَابِلِ التَّوْبِ artinya Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.شَدِيدِ الْعِقَابِ artinya Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang berani terus-menerus berbuat dosa dan tidak mau bertobat.ذِي الطَّوْلِ maksudnya Allah memiliki karunia, kebaikan, dan ihsan yang sangat luas serta meliputi.Setelah Allah menegaskan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan itu semua mengharuskan bahwa hanya Dia satu-satunya sesembahan yang pantas diibadahi serta hanya kepada-Nya amal diikhlaskan, maka Allah berfirman: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya tempat kembali.” Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’anSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini:Hubungan antara penyebutan turunnya Al-Qur’an dari Allah yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut mencakup seluruh kandungan makna Al-Qur’an.Sebab isi Al-Qur’an itu mencakup beberapa hal:Pertama, Al-Qur’an berisi berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu tercakup dalam ayat ini, karena di dalamnya disebut nama, sifat, dan perbuatan Allah.Kedua, Al-Qur’an berisi berita tentang perkara-perkara gaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang. Semua itu merupakan bagian dari pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya.Ketiga, Al-Qur’an berisi berita tentang nikmat-nikmat Allah yang agung, karunia-Nya yang besar, serta jalan untuk meraihnya melalui berbagai perintah. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: ذِي الطَّوْلِ.Keempat, Al-Qur’an berisi berita tentang azab Allah yang keras, serta berbagai perbuatan maksiat yang menyebabkan datangnya azab tersebut. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: شَدِيدِ الْعِقَابِ.Kelima, Al-Qur’an berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa agar bertobat, kembali kepada Allah, dan memohon ampun. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ.Keenam, Al-Qur’an berisi penjelasan bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Al-Qur’an juga menegakkan dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat tentang hal itu, mendorong manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang mereka dari menyembah selain-Nya, menerangkan rusaknya ibadah kepada selain Allah, serta memperingatkan manusia darinya. Semua ini ditunjukkan oleh firman-Nya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.Ketujuh, Al-Qur’an berisi berita tentang hukum balasan Allah yang adil, pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: إِلَيْهِ الْمَصِيرُ.Jadi, ayat ini secara ringkas telah merangkum seluruh pokok ajaran besar yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa TakutDalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan firman Allah:غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِArtinya, Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat pada masa yang akan datang bagi siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya.Kemudian firman-Nya:شَدِيدِ الْعِقَابِArtinya, Allah sangat keras hukuman-Nya bagi orang yang membangkang, melampaui batas, lebih memilih kehidupan dunia, menentang perintah Allah, dan berlaku zalim.Dalam ayat ini terkumpul dua hal sekaligus, yaitu harapan dan rasa takut. Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُوَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)Allah sering menyandingkan kedua sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur’an, agar seorang hamba selalu berada di antara harapan dan rasa takut.Selanjutnya firman Allah:ذِي الطَّوْلِIbnu ‘Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki keluasan dan kekayaan. Penafsiran ini juga dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.Yazid bin Al-Asham mengatakan bahwa maknanya adalah Allah memiliki kebaikan yang sangat banyak.Ikrimah menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki karunia dan pemberian.Sedangkan Qatadah menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah memiliki berbagai nikmat dan keutamaan.Makna keseluruhannya adalah bahwa Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya, memberikan berbagai anugerah dan nikmat kepada mereka, padahal mereka tidak mampu mensyukuri satu pun dari nikmat tersebut secara sempurna.Allah Ta’ala berfirman:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS. Ibrahim: 34)Kemudian firman-Nya:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَArtinya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.Firman-Nya:إِلَيْهِ الْمَصِيرُArtinya, hanya kepada-Nya tempat kembali dan tempat kembali terakhir. Di sana Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Sebagaimana firman-Nya:وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ“Dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh?Kisah pertama ini dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq As-Sabi‘i menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata,“Wahai Amirul Mukminin, aku telah melakukan pembunuhan. Apakah masih ada tobat bagiku?”Maka ‘Umar membacakan kepadanya ayat:حمتَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِغَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِKemudian beliau berkata,اِعْمَلْ وَلَا تَيْأَسْ“Beramallah dan jangan berputus asa.”Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim (dengan lafaz ini) dan juga oleh Ibnu Jarir. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab)Kisah kedua ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Musa bin Marwan Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ‘Umar — yaitu Ibnu Ayyub — menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Burqan menceritakan dari Yazid bin Al-Asham, ia berkata: Dahulu ada seorang lelaki dari penduduk Syam yang dikenal kuat dan pemberani. Ia sering datang menemui ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu waktu ‘Umar tidak lagi melihatnya, lalu beliau bertanya,“Apa yang terjadi dengan si fulan bin fulan?”Mereka menjawab,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، يُتَابِعُ فِي هَذَا الشَّرَابِ“Wahai Amirul Mukminin, ia sekarang sering terjerumus dalam minuman keras.”Maka ‘Umar memanggil penulisnya dan berkata, “Tulislah:Dari ‘Umar bin Al-Khaththab kepada fulan bin fulan.Salam sejahtera untukmu. Amma ba‘du.Sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.”Kemudian ‘Umar berkata kepada para sahabatnya,اُدْعُوا اللَّهَ لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ، وَأَنْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.“Doakanlah saudara kalian ini agar hatinya kembali kepada Allah dan agar Allah menerima tobatnya.”Ketika surat ‘Umar sampai kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang sambil berkata,“غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ(Dia Yang mengampuni dosa, menerima tobat, dan keras hukuman-Nya).”Ia berkata, “Allah telah memperingatkanku dengan hukuman-Nya, namun juga menjanjikan ampunan bagiku.”Ia terus mengulang-ulang ayat itu pada dirinya, hingga akhirnya ia menangis. Setelah itu ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan bertobat dengan sebaik-baiknya.Ketika kabar tersebut sampai kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,هَكَذَا فَاصْنَعُوا، إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدِّدُوهُ وَوَفِّقُوهُ، وَادْعُوا اللَّهَ لَهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ.“Seperti inilah yang harus kalian lakukan. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah dan bantulah ia kembali ke jalan yang benar. Doakanlah agar Allah menerima tobatnya. Jangan sampai kalian justru menjadi penolong setan untuk menjatuhkannya.”Baca juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan TobatKisah ketiga ini adalah kelanjutan penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: ‘Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Hammad bin Waqid — Abu ‘Umar Ash-Shaffar — menceritakan kepada kami, Tsabit Al-Bunani berkata:Aku pernah bersama Mush‘ab bin Az-Zubair di wilayah sekitar Kufah. Lalu aku masuk ke sebuah kebun untuk menunaikan shalat dua rakaat. Aku memulai membaca Surah حم المؤمن (Surah Ghafir). Ketika sampai pada ayat:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُtiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku, menunggang bagal berwarna keabu-abuan. Ia mengenakan pakaian bergaris dari Yaman. Ia berkata kepadaku:“Jika engkau membaca غَافِرِ الذَّنْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Mengampuni dosa, ampunilah dosaku.’Jika engkau membaca وَقَابِلِ التَّوْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.’Jika engkau membaca شَدِيدِ الْعِقَابِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang sangat keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.’”Tsabit berkata: Aku pun menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat seorang pun. Lalu aku keluar menuju pintu kebun dan bertanya kepada orang-orang,“Apakah ada seseorang yang lewat di sini, mengenakan pakaian bergaris dari Yaman?”Mereka menjawab, “Kami tidak melihat siapa pun.”Sebagian orang kemudian beranggapan bahwa orang tersebut adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam.Riwayat ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari Tsabit dengan kisah yang serupa, namun dalam riwayat itu tidak disebutkan bahwa orang tersebut adalah Ilyas. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum TerlambatDi zaman sekarang, banyak orang terjatuh dalam dua sikap yang berbahaya. Sebagian terlalu merasa aman dari dosa sehingga terus menunda tobat, sementara sebagian lain justru putus asa dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: tetap takut kepada hukuman Allah, tetapi tetap berharap pada ampunan-Nya.Ayat ini mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seseorang yang pernah melakukan dosa besar sekalipun masih memiliki peluang kembali kepada Allah. Karena itu, jangan pernah menutup pintu harapan bagi diri sendiri maupun bagi saudara kita yang sedang jatuh dalam dosa.Sebaliknya, jika kita melihat saudara kita tergelincir, jangan malah mencela dan menjatuhkannya. Nasihati dengan lembut, doakan agar Allah memberinya hidayah, dan bantu ia kembali kepada jalan yang benar. Inilah akhlak para sahabat, sebagaimana nasihat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu agar kita tidak menjadi penolong setan atas saudara kita.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu hidup di antara rasa takut dan harapan, serta senantiasa kembali kepada-Nya dengan tobat yang tulus.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, rahmatilah kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar bertobat.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan ampunan harapan dan takut nasihat islam qs ghafir ayat 3 renungan ayat renungan quran sifat Allah tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran taubat dalam islam
Al-Qur’an sering menanamkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah. Seorang hamba tidak boleh terlalu merasa aman dari azab-Nya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Surah Ghafir ayat 3 merangkum keseimbangan tersebut melalui sifat Allah yang Maha Mengampuni, menerima tobat, namun juga keras dalam hukuman-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3 2. Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’an 3. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa Takut 4. Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh? 5. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab) 6. Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan Tobat 7. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Terlambat  Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3Allah Ta’ala berfirman,غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Dialah Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya segala sesuatu kembali.” (QS. Ghafir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.غَافِرِ الذَّنْبِ artinya Allah mengampuni dosa orang-orang yang berdosa.وَقَابِلِ التَّوْبِ artinya Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.شَدِيدِ الْعِقَابِ artinya Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang berani terus-menerus berbuat dosa dan tidak mau bertobat.ذِي الطَّوْلِ maksudnya Allah memiliki karunia, kebaikan, dan ihsan yang sangat luas serta meliputi.Setelah Allah menegaskan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan itu semua mengharuskan bahwa hanya Dia satu-satunya sesembahan yang pantas diibadahi serta hanya kepada-Nya amal diikhlaskan, maka Allah berfirman: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya tempat kembali.” Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’anSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini:Hubungan antara penyebutan turunnya Al-Qur’an dari Allah yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut mencakup seluruh kandungan makna Al-Qur’an.Sebab isi Al-Qur’an itu mencakup beberapa hal:Pertama, Al-Qur’an berisi berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu tercakup dalam ayat ini, karena di dalamnya disebut nama, sifat, dan perbuatan Allah.Kedua, Al-Qur’an berisi berita tentang perkara-perkara gaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang. Semua itu merupakan bagian dari pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya.Ketiga, Al-Qur’an berisi berita tentang nikmat-nikmat Allah yang agung, karunia-Nya yang besar, serta jalan untuk meraihnya melalui berbagai perintah. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: ذِي الطَّوْلِ.Keempat, Al-Qur’an berisi berita tentang azab Allah yang keras, serta berbagai perbuatan maksiat yang menyebabkan datangnya azab tersebut. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: شَدِيدِ الْعِقَابِ.Kelima, Al-Qur’an berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa agar bertobat, kembali kepada Allah, dan memohon ampun. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ.Keenam, Al-Qur’an berisi penjelasan bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Al-Qur’an juga menegakkan dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat tentang hal itu, mendorong manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang mereka dari menyembah selain-Nya, menerangkan rusaknya ibadah kepada selain Allah, serta memperingatkan manusia darinya. Semua ini ditunjukkan oleh firman-Nya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.Ketujuh, Al-Qur’an berisi berita tentang hukum balasan Allah yang adil, pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: إِلَيْهِ الْمَصِيرُ.Jadi, ayat ini secara ringkas telah merangkum seluruh pokok ajaran besar yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa TakutDalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan firman Allah:غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِArtinya, Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat pada masa yang akan datang bagi siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya.Kemudian firman-Nya:شَدِيدِ الْعِقَابِArtinya, Allah sangat keras hukuman-Nya bagi orang yang membangkang, melampaui batas, lebih memilih kehidupan dunia, menentang perintah Allah, dan berlaku zalim.Dalam ayat ini terkumpul dua hal sekaligus, yaitu harapan dan rasa takut. Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُوَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)Allah sering menyandingkan kedua sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur’an, agar seorang hamba selalu berada di antara harapan dan rasa takut.Selanjutnya firman Allah:ذِي الطَّوْلِIbnu ‘Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki keluasan dan kekayaan. Penafsiran ini juga dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.Yazid bin Al-Asham mengatakan bahwa maknanya adalah Allah memiliki kebaikan yang sangat banyak.Ikrimah menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki karunia dan pemberian.Sedangkan Qatadah menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah memiliki berbagai nikmat dan keutamaan.Makna keseluruhannya adalah bahwa Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya, memberikan berbagai anugerah dan nikmat kepada mereka, padahal mereka tidak mampu mensyukuri satu pun dari nikmat tersebut secara sempurna.Allah Ta’ala berfirman:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS. Ibrahim: 34)Kemudian firman-Nya:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَArtinya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.Firman-Nya:إِلَيْهِ الْمَصِيرُArtinya, hanya kepada-Nya tempat kembali dan tempat kembali terakhir. Di sana Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Sebagaimana firman-Nya:وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ“Dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh?Kisah pertama ini dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq As-Sabi‘i menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata,“Wahai Amirul Mukminin, aku telah melakukan pembunuhan. Apakah masih ada tobat bagiku?”Maka ‘Umar membacakan kepadanya ayat:حمتَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِغَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِKemudian beliau berkata,اِعْمَلْ وَلَا تَيْأَسْ“Beramallah dan jangan berputus asa.”Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim (dengan lafaz ini) dan juga oleh Ibnu Jarir. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab)Kisah kedua ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Musa bin Marwan Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ‘Umar — yaitu Ibnu Ayyub — menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Burqan menceritakan dari Yazid bin Al-Asham, ia berkata: Dahulu ada seorang lelaki dari penduduk Syam yang dikenal kuat dan pemberani. Ia sering datang menemui ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu waktu ‘Umar tidak lagi melihatnya, lalu beliau bertanya,“Apa yang terjadi dengan si fulan bin fulan?”Mereka menjawab,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، يُتَابِعُ فِي هَذَا الشَّرَابِ“Wahai Amirul Mukminin, ia sekarang sering terjerumus dalam minuman keras.”Maka ‘Umar memanggil penulisnya dan berkata, “Tulislah:Dari ‘Umar bin Al-Khaththab kepada fulan bin fulan.Salam sejahtera untukmu. Amma ba‘du.Sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.”Kemudian ‘Umar berkata kepada para sahabatnya,اُدْعُوا اللَّهَ لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ، وَأَنْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.“Doakanlah saudara kalian ini agar hatinya kembali kepada Allah dan agar Allah menerima tobatnya.”Ketika surat ‘Umar sampai kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang sambil berkata,“غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ(Dia Yang mengampuni dosa, menerima tobat, dan keras hukuman-Nya).”Ia berkata, “Allah telah memperingatkanku dengan hukuman-Nya, namun juga menjanjikan ampunan bagiku.”Ia terus mengulang-ulang ayat itu pada dirinya, hingga akhirnya ia menangis. Setelah itu ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan bertobat dengan sebaik-baiknya.Ketika kabar tersebut sampai kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,هَكَذَا فَاصْنَعُوا، إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدِّدُوهُ وَوَفِّقُوهُ، وَادْعُوا اللَّهَ لَهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ.“Seperti inilah yang harus kalian lakukan. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah dan bantulah ia kembali ke jalan yang benar. Doakanlah agar Allah menerima tobatnya. Jangan sampai kalian justru menjadi penolong setan untuk menjatuhkannya.”Baca juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan TobatKisah ketiga ini adalah kelanjutan penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: ‘Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Hammad bin Waqid — Abu ‘Umar Ash-Shaffar — menceritakan kepada kami, Tsabit Al-Bunani berkata:Aku pernah bersama Mush‘ab bin Az-Zubair di wilayah sekitar Kufah. Lalu aku masuk ke sebuah kebun untuk menunaikan shalat dua rakaat. Aku memulai membaca Surah حم المؤمن (Surah Ghafir). Ketika sampai pada ayat:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُtiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku, menunggang bagal berwarna keabu-abuan. Ia mengenakan pakaian bergaris dari Yaman. Ia berkata kepadaku:“Jika engkau membaca غَافِرِ الذَّنْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Mengampuni dosa, ampunilah dosaku.’Jika engkau membaca وَقَابِلِ التَّوْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.’Jika engkau membaca شَدِيدِ الْعِقَابِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang sangat keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.’”Tsabit berkata: Aku pun menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat seorang pun. Lalu aku keluar menuju pintu kebun dan bertanya kepada orang-orang,“Apakah ada seseorang yang lewat di sini, mengenakan pakaian bergaris dari Yaman?”Mereka menjawab, “Kami tidak melihat siapa pun.”Sebagian orang kemudian beranggapan bahwa orang tersebut adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam.Riwayat ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari Tsabit dengan kisah yang serupa, namun dalam riwayat itu tidak disebutkan bahwa orang tersebut adalah Ilyas. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum TerlambatDi zaman sekarang, banyak orang terjatuh dalam dua sikap yang berbahaya. Sebagian terlalu merasa aman dari dosa sehingga terus menunda tobat, sementara sebagian lain justru putus asa dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: tetap takut kepada hukuman Allah, tetapi tetap berharap pada ampunan-Nya.Ayat ini mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seseorang yang pernah melakukan dosa besar sekalipun masih memiliki peluang kembali kepada Allah. Karena itu, jangan pernah menutup pintu harapan bagi diri sendiri maupun bagi saudara kita yang sedang jatuh dalam dosa.Sebaliknya, jika kita melihat saudara kita tergelincir, jangan malah mencela dan menjatuhkannya. Nasihati dengan lembut, doakan agar Allah memberinya hidayah, dan bantu ia kembali kepada jalan yang benar. Inilah akhlak para sahabat, sebagaimana nasihat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu agar kita tidak menjadi penolong setan atas saudara kita.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu hidup di antara rasa takut dan harapan, serta senantiasa kembali kepada-Nya dengan tobat yang tulus.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, rahmatilah kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar bertobat.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan ampunan harapan dan takut nasihat islam qs ghafir ayat 3 renungan ayat renungan quran sifat Allah tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran taubat dalam islam


Al-Qur’an sering menanamkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah. Seorang hamba tidak boleh terlalu merasa aman dari azab-Nya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Surah Ghafir ayat 3 merangkum keseimbangan tersebut melalui sifat Allah yang Maha Mengampuni, menerima tobat, namun juga keras dalam hukuman-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3 2. Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’an 3. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa Takut 4. Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh? 5. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab) 6. Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan Tobat 7. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Terlambat  Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3Allah Ta’ala berfirman,غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Dialah Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya segala sesuatu kembali.” (QS. Ghafir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.غَافِرِ الذَّنْبِ artinya Allah mengampuni dosa orang-orang yang berdosa.وَقَابِلِ التَّوْبِ artinya Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.شَدِيدِ الْعِقَابِ artinya Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang berani terus-menerus berbuat dosa dan tidak mau bertobat.ذِي الطَّوْلِ maksudnya Allah memiliki karunia, kebaikan, dan ihsan yang sangat luas serta meliputi.Setelah Allah menegaskan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan itu semua mengharuskan bahwa hanya Dia satu-satunya sesembahan yang pantas diibadahi serta hanya kepada-Nya amal diikhlaskan, maka Allah berfirman: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya tempat kembali.” Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’anSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini:Hubungan antara penyebutan turunnya Al-Qur’an dari Allah yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut mencakup seluruh kandungan makna Al-Qur’an.Sebab isi Al-Qur’an itu mencakup beberapa hal:Pertama, Al-Qur’an berisi berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu tercakup dalam ayat ini, karena di dalamnya disebut nama, sifat, dan perbuatan Allah.Kedua, Al-Qur’an berisi berita tentang perkara-perkara gaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang. Semua itu merupakan bagian dari pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya.Ketiga, Al-Qur’an berisi berita tentang nikmat-nikmat Allah yang agung, karunia-Nya yang besar, serta jalan untuk meraihnya melalui berbagai perintah. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: ذِي الطَّوْلِ.Keempat, Al-Qur’an berisi berita tentang azab Allah yang keras, serta berbagai perbuatan maksiat yang menyebabkan datangnya azab tersebut. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: شَدِيدِ الْعِقَابِ.Kelima, Al-Qur’an berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa agar bertobat, kembali kepada Allah, dan memohon ampun. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ.Keenam, Al-Qur’an berisi penjelasan bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Al-Qur’an juga menegakkan dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat tentang hal itu, mendorong manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang mereka dari menyembah selain-Nya, menerangkan rusaknya ibadah kepada selain Allah, serta memperingatkan manusia darinya. Semua ini ditunjukkan oleh firman-Nya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.Ketujuh, Al-Qur’an berisi berita tentang hukum balasan Allah yang adil, pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: إِلَيْهِ الْمَصِيرُ.Jadi, ayat ini secara ringkas telah merangkum seluruh pokok ajaran besar yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa TakutDalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan firman Allah:غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِArtinya, Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat pada masa yang akan datang bagi siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya.Kemudian firman-Nya:شَدِيدِ الْعِقَابِArtinya, Allah sangat keras hukuman-Nya bagi orang yang membangkang, melampaui batas, lebih memilih kehidupan dunia, menentang perintah Allah, dan berlaku zalim.Dalam ayat ini terkumpul dua hal sekaligus, yaitu harapan dan rasa takut. Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُوَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)Allah sering menyandingkan kedua sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur’an, agar seorang hamba selalu berada di antara harapan dan rasa takut.Selanjutnya firman Allah:ذِي الطَّوْلِIbnu ‘Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki keluasan dan kekayaan. Penafsiran ini juga dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.Yazid bin Al-Asham mengatakan bahwa maknanya adalah Allah memiliki kebaikan yang sangat banyak.Ikrimah menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki karunia dan pemberian.Sedangkan Qatadah menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah memiliki berbagai nikmat dan keutamaan.Makna keseluruhannya adalah bahwa Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya, memberikan berbagai anugerah dan nikmat kepada mereka, padahal mereka tidak mampu mensyukuri satu pun dari nikmat tersebut secara sempurna.Allah Ta’ala berfirman:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS. Ibrahim: 34)Kemudian firman-Nya:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَArtinya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.Firman-Nya:إِلَيْهِ الْمَصِيرُArtinya, hanya kepada-Nya tempat kembali dan tempat kembali terakhir. Di sana Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Sebagaimana firman-Nya:وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ“Dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh?Kisah pertama ini dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq As-Sabi‘i menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata,“Wahai Amirul Mukminin, aku telah melakukan pembunuhan. Apakah masih ada tobat bagiku?”Maka ‘Umar membacakan kepadanya ayat:حمتَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِغَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِKemudian beliau berkata,اِعْمَلْ وَلَا تَيْأَسْ“Beramallah dan jangan berputus asa.”Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim (dengan lafaz ini) dan juga oleh Ibnu Jarir. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab)Kisah kedua ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Musa bin Marwan Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ‘Umar — yaitu Ibnu Ayyub — menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Burqan menceritakan dari Yazid bin Al-Asham, ia berkata: Dahulu ada seorang lelaki dari penduduk Syam yang dikenal kuat dan pemberani. Ia sering datang menemui ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu waktu ‘Umar tidak lagi melihatnya, lalu beliau bertanya,“Apa yang terjadi dengan si fulan bin fulan?”Mereka menjawab,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، يُتَابِعُ فِي هَذَا الشَّرَابِ“Wahai Amirul Mukminin, ia sekarang sering terjerumus dalam minuman keras.”Maka ‘Umar memanggil penulisnya dan berkata, “Tulislah:Dari ‘Umar bin Al-Khaththab kepada fulan bin fulan.Salam sejahtera untukmu. Amma ba‘du.Sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.”Kemudian ‘Umar berkata kepada para sahabatnya,اُدْعُوا اللَّهَ لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ، وَأَنْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.“Doakanlah saudara kalian ini agar hatinya kembali kepada Allah dan agar Allah menerima tobatnya.”Ketika surat ‘Umar sampai kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang sambil berkata,“غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ(Dia Yang mengampuni dosa, menerima tobat, dan keras hukuman-Nya).”Ia berkata, “Allah telah memperingatkanku dengan hukuman-Nya, namun juga menjanjikan ampunan bagiku.”Ia terus mengulang-ulang ayat itu pada dirinya, hingga akhirnya ia menangis. Setelah itu ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan bertobat dengan sebaik-baiknya.Ketika kabar tersebut sampai kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,هَكَذَا فَاصْنَعُوا، إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدِّدُوهُ وَوَفِّقُوهُ، وَادْعُوا اللَّهَ لَهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ.“Seperti inilah yang harus kalian lakukan. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah dan bantulah ia kembali ke jalan yang benar. Doakanlah agar Allah menerima tobatnya. Jangan sampai kalian justru menjadi penolong setan untuk menjatuhkannya.”Baca juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan TobatKisah ketiga ini adalah kelanjutan penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: ‘Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Hammad bin Waqid — Abu ‘Umar Ash-Shaffar — menceritakan kepada kami, Tsabit Al-Bunani berkata:Aku pernah bersama Mush‘ab bin Az-Zubair di wilayah sekitar Kufah. Lalu aku masuk ke sebuah kebun untuk menunaikan shalat dua rakaat. Aku memulai membaca Surah حم المؤمن (Surah Ghafir). Ketika sampai pada ayat:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُtiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku, menunggang bagal berwarna keabu-abuan. Ia mengenakan pakaian bergaris dari Yaman. Ia berkata kepadaku:“Jika engkau membaca غَافِرِ الذَّنْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Mengampuni dosa, ampunilah dosaku.’Jika engkau membaca وَقَابِلِ التَّوْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.’Jika engkau membaca شَدِيدِ الْعِقَابِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang sangat keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.’”Tsabit berkata: Aku pun menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat seorang pun. Lalu aku keluar menuju pintu kebun dan bertanya kepada orang-orang,“Apakah ada seseorang yang lewat di sini, mengenakan pakaian bergaris dari Yaman?”Mereka menjawab, “Kami tidak melihat siapa pun.”Sebagian orang kemudian beranggapan bahwa orang tersebut adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam.Riwayat ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari Tsabit dengan kisah yang serupa, namun dalam riwayat itu tidak disebutkan bahwa orang tersebut adalah Ilyas. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum TerlambatDi zaman sekarang, banyak orang terjatuh dalam dua sikap yang berbahaya. Sebagian terlalu merasa aman dari dosa sehingga terus menunda tobat, sementara sebagian lain justru putus asa dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: tetap takut kepada hukuman Allah, tetapi tetap berharap pada ampunan-Nya.Ayat ini mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seseorang yang pernah melakukan dosa besar sekalipun masih memiliki peluang kembali kepada Allah. Karena itu, jangan pernah menutup pintu harapan bagi diri sendiri maupun bagi saudara kita yang sedang jatuh dalam dosa.Sebaliknya, jika kita melihat saudara kita tergelincir, jangan malah mencela dan menjatuhkannya. Nasihati dengan lembut, doakan agar Allah memberinya hidayah, dan bantu ia kembali kepada jalan yang benar. Inilah akhlak para sahabat, sebagaimana nasihat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu agar kita tidak menjadi penolong setan atas saudara kita.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu hidup di antara rasa takut dan harapan, serta senantiasa kembali kepada-Nya dengan tobat yang tulus.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, rahmatilah kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar bertobat.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan ampunan harapan dan takut nasihat islam qs ghafir ayat 3 renungan ayat renungan quran sifat Allah tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran taubat dalam islam

Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 1): Pemuda Yahudi yang Dicurigai Sebagai Dajjal

Daftar Isi ToggleMengenal Ibnu SayyadKeadaan Ibnu ShayyadUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadIbnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKematian Ibnu ShayyadAda pertanyaan yang muncul di benak kita mengenai siapa dan di mana keberadaan Dajjal. Apakah Dajjal hidup (saat ini)? Apakah ia sudah ada pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui dahulu tentang kisah Ibnu Shayyad. Pemuda Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicurigai sebagai Dajjal. Apakah dia Dajjal atau bukan? Jika Ibnu Shayyad bukan Dajjal, apakah Dajjal sudah ada sebelum kemunculannya dengan fitnahnya, atau baru muncul kemudian (saat menjelang hari kiamat)?Mengenal Ibnu SayyadNama aslinya adalah Shaff (ada yang mengatakan Abdullah) bin Shayyad atau Shaid. Ia merupakan seorang Yahudi dari Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Ia masih kecil ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah.Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad kemudian masuk Islam, dan anaknya, ‘Umarah, termasuk dari kalangan tabi’in yang terkemuka. Imam Malik dan lainnya meriwayatkan darinya.Adz-Dzhahabi menulis dalam bukunya Tajrid Asma’ as-Sahabah,عبد الله بن صيَّاد، أورده ابن شاهين، وقال: هو ابن صائد، كان أبوه يهوديًّا، فولد عبد الله أعور مختونًا، وهو الّذي قيل: إنّه الدَّجّال، ثمَّ أسلم، فهو تابعيٌّ، له رؤية“Abdullah bin Shayyad, disebut oleh Ibnu Shahin. Ayahnya seorang Yahudi, lahirlah Abdullah yang cacat mata dan disunat, dan orang mengatakan dialah Dajjal. Ia kemudian masuk Islam, sehingga termasuk tabi’in yang pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menulis dalam al-Isabah menekankan hal yang sama, dan menyebut anaknya ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad sebagai salah satu tabi’in yang terkemuka, yang meriwayatkan dari Imam Malik dan lainnya.Keadaan Ibnu ShayyadIbnu Shayyad dikenal sebagai seorang pendusta yang sering meramal. Terkadang ucapannya benar, dan terkadang salah. Karena sifatnya itu, berita tentang dirinya tersebar luas di tengah masyarakat, sampai muncul anggapan bahwa dialah Dajjal sebagaimana akan dijelaskan dalam kisah ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.Baca juga: Beriman Terhadap Munculnya DajalUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadKetika kabar tentang Ibnu Shayyad semakin melebar, dan banyak orang percaya bahwa ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memastikan kebenaran itu. Beliau mendatangi Ibnu Shayyad secara diam-diam agar tidak ketahuan, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang mengungkap hakikat dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuka jati diri Ibnu Shayyad.Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibnu Shayyad. Mereka menemukan Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah, dan ia sudah hampir baligh. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dan bertanya,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”Ibnu Shayyad menatap beliau dan menjawab,أشهد أنك رسول الأميين“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang yang ummi.”Dan Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dan menjawab,آمنت بالله وبرسله“Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,يأتيني صادق وكاذب“Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خلط عليك الأمر“Engkau telah bingung dan tercampur dalam urusanmu.”Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,إنِّي خبأت لك خبيئًا؟“Aku menyembunyikan sesuatu untukmu, coba katakan apa itu?”Ibnu Shayyad menjawab,هو الدُّخ“Ad-dukh…”Ia bermaksud mengatakan ad-dukhān (asap), namun hanya mampu mengucapkan sebagian kata itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,اخسأ فلن تعدو قدرك“Diam! Engkau tidak akan melampaui batasmu.”Umar kemudian berkata,دعني يا رسول الله أضرب عنقه“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن يكنه؛ فلن تسلط عليه، وإن لم يكنه؛ فلا خير لك في قتله“Jika memang dialah (Dajjal), engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika bukan dia, maka tidak ada gunanya engkau membunuhnya.” (HR. Bukhari)Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,أرى عرشًا على الماء“Aku melihat singgasana berada di atas air.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,ترى عرش إبليس على البحر، وما ترى؟“Engkau melihat singgasana Iblis di atas lautan. Apa lagi yang kau lihat?”Ia menjawab,أرى صادقين وكاذبًا، أو كاذبين وصادقًا.“Aku melihat dua yang benar dan satu yang dusta, atau dua yang dusta dan satu yang benar.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لُبِّسَ عليه، دعوه“Pikirannya telah dikacaukan. Biarkan saja dia.” (HR. Muslim)Ibnu Umar juga menceritakan bahwa setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka‘ab kembali mendatangi kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di balik pohon-pohon dengan harapan bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia sadar kedatangan beliau. Saat itu, Ibnu Sayyad sedang berbaring dengan selimutnya. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memanggil anaknya,يا صاف -وهو اسم ابن صياد-! هذا محمَّد صلى الله عليه وسلم.“Wahai Shaff! Itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”Ibnu Shayyad pun terkejut dan bangun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,لو تركته بيَّن“Seandainya ibunya membiarkannya, pasti urusannya menjadi jelas.” (HR. Bukhari)Abu Dzar pernah ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada ibu Ibnu Shayyad,سلها كم حملت به؟“Berapa lama engkau mengandungnya?”Sang ibu menjawab,حملتُ به اثني عشر شهرًا.“Aku mengandungnya selama dua belas bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Dzar untuk bertanya lagi,سلها عن صيحته حين وقع؟“Bagaimana tangisannya saat ia lahir?”Sang ibu menjawab,صاح صيحة الصبي ابن شهر“Ia menangis seperti bayi berusia satu bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad,إنِّي قد خبأت لك خبئًا“Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Apa itu?”Ibnu Sayyad menjawab,خبأت لي خطم شاة عفراء والدُّخان“Engkau menyembunyikan khitm (hidung) domba dan asap.”Ia ingin mengucapkan kata ad-dukhan (asap), tetapi ia hanya mampu mengucapkan,الدُّخ، الدُّخ“Ad-dukh… ad-dukh…”Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kata “ad-dukhan” merujuk pada firman Allah,فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ“Tunggulah pada hari ketika langit menurunkan asap yang jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan ayat ini sebagai ujian bagi Ibnu Sayyad.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,ابن صياد كاشف على طريقة الكهَّان، بلسان الجان، وهم يقرطون -أي: يقطعون- العبارة، ولهذا قال: هو الدُّخ يعني: الدُّخان، فعندها عرف رسول الله صلى الله عليه وسلم مادته، وأنّها شيطانية، فقال له: (اخسأ؛ فلن تعدو قدرك)“Ibnu Shayyad memiliki kemampuan seperti para dukun yang dibantu jin, sehingga ucapannya terpotong-potong. Oleh karena itu, ia hanya mampu mengatakan ad-dukh. Saat itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa sumbernya adalah dari setan. Beliau pun berkata, ‘Diam! Engkau tidak akan melampaui batas.’”Ibnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKisah Ibnu Shayyad ini pun ada yang mengatakan adalah kisah mitos saja bukan kenyataan. Salah satu yang berpendapat mengenai hal ini adalah Abu Ubaydah. Dia berkata,شخصية ابن صياد خرافة جازت على بعض العقول، فعاشت قصتها في بعض الكتب منسوبة إلى الرسول، والرسول عليه صلوات الله لا يصدر عنه من القول والفعل إِلَّا ما هو لُباب الحق ومُصاصه، ولقد آن الأوان لنأخذ بعين الاعتبار والجد روح الحديث ومعناه، ودلالته ومرماه؛ كما نأخذ سنده وطريقه؛ لتنجو مداركنا الإِسلامية من الشطط والغلط“Kepribadian Ibnu Shayyad adalah mitos yang diterima oleh beberapa orang, sehingga kisahnya hidup dalam beberapa kitab dan dikaitkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata atau berbuat kecuali yang merupakan inti kebenaran dan esensinya. Sudah saatnya kita memperhatikan ruh hadis, maknanya, petunjuk, dan tujuannya, sebagaimana kita memperhatikan sanad dan jalurnya, agar akal keislaman kita selamat dari penyimpangan dan kesalahan.”Namun, hal ini dapat dijawab: hadis-hadis yang menyebut Ibnu Shayyad adalah sahih, tercantum dalam kitab-kitab hadis seperti Ash-Shahihain dan lainnya. Tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadis atau inti kebenaran. Ibnu Shayyad, seperti telah disebutkan sebelumnya, memang membuat umat Islam bingung dan termasuk salah satu penipu (Dajjal) dari golongan penipu, dan Allah menampakkan kebohongannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Muslim.Kematian Ibnu ShayyadJabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,فقدنا ابن صيَّاد يوم الحرَّة“Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari Harrah.” (HR. Abu Daud)Ibnu Hajar rahimahullah menilai riwayat ini sahih. Sementara pendapat yang menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad wafat di Madinah dan bahwa orang-orang membukakan wajahnya serta mensalatinya, dianggap lemah oleh Ibnu Hajar.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 1): Pemuda Yahudi yang Dicurigai Sebagai Dajjal

Daftar Isi ToggleMengenal Ibnu SayyadKeadaan Ibnu ShayyadUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadIbnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKematian Ibnu ShayyadAda pertanyaan yang muncul di benak kita mengenai siapa dan di mana keberadaan Dajjal. Apakah Dajjal hidup (saat ini)? Apakah ia sudah ada pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui dahulu tentang kisah Ibnu Shayyad. Pemuda Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicurigai sebagai Dajjal. Apakah dia Dajjal atau bukan? Jika Ibnu Shayyad bukan Dajjal, apakah Dajjal sudah ada sebelum kemunculannya dengan fitnahnya, atau baru muncul kemudian (saat menjelang hari kiamat)?Mengenal Ibnu SayyadNama aslinya adalah Shaff (ada yang mengatakan Abdullah) bin Shayyad atau Shaid. Ia merupakan seorang Yahudi dari Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Ia masih kecil ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah.Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad kemudian masuk Islam, dan anaknya, ‘Umarah, termasuk dari kalangan tabi’in yang terkemuka. Imam Malik dan lainnya meriwayatkan darinya.Adz-Dzhahabi menulis dalam bukunya Tajrid Asma’ as-Sahabah,عبد الله بن صيَّاد، أورده ابن شاهين، وقال: هو ابن صائد، كان أبوه يهوديًّا، فولد عبد الله أعور مختونًا، وهو الّذي قيل: إنّه الدَّجّال، ثمَّ أسلم، فهو تابعيٌّ، له رؤية“Abdullah bin Shayyad, disebut oleh Ibnu Shahin. Ayahnya seorang Yahudi, lahirlah Abdullah yang cacat mata dan disunat, dan orang mengatakan dialah Dajjal. Ia kemudian masuk Islam, sehingga termasuk tabi’in yang pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menulis dalam al-Isabah menekankan hal yang sama, dan menyebut anaknya ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad sebagai salah satu tabi’in yang terkemuka, yang meriwayatkan dari Imam Malik dan lainnya.Keadaan Ibnu ShayyadIbnu Shayyad dikenal sebagai seorang pendusta yang sering meramal. Terkadang ucapannya benar, dan terkadang salah. Karena sifatnya itu, berita tentang dirinya tersebar luas di tengah masyarakat, sampai muncul anggapan bahwa dialah Dajjal sebagaimana akan dijelaskan dalam kisah ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.Baca juga: Beriman Terhadap Munculnya DajalUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadKetika kabar tentang Ibnu Shayyad semakin melebar, dan banyak orang percaya bahwa ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memastikan kebenaran itu. Beliau mendatangi Ibnu Shayyad secara diam-diam agar tidak ketahuan, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang mengungkap hakikat dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuka jati diri Ibnu Shayyad.Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibnu Shayyad. Mereka menemukan Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah, dan ia sudah hampir baligh. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dan bertanya,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”Ibnu Shayyad menatap beliau dan menjawab,أشهد أنك رسول الأميين“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang yang ummi.”Dan Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dan menjawab,آمنت بالله وبرسله“Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,يأتيني صادق وكاذب“Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خلط عليك الأمر“Engkau telah bingung dan tercampur dalam urusanmu.”Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,إنِّي خبأت لك خبيئًا؟“Aku menyembunyikan sesuatu untukmu, coba katakan apa itu?”Ibnu Shayyad menjawab,هو الدُّخ“Ad-dukh…”Ia bermaksud mengatakan ad-dukhān (asap), namun hanya mampu mengucapkan sebagian kata itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,اخسأ فلن تعدو قدرك“Diam! Engkau tidak akan melampaui batasmu.”Umar kemudian berkata,دعني يا رسول الله أضرب عنقه“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن يكنه؛ فلن تسلط عليه، وإن لم يكنه؛ فلا خير لك في قتله“Jika memang dialah (Dajjal), engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika bukan dia, maka tidak ada gunanya engkau membunuhnya.” (HR. Bukhari)Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,أرى عرشًا على الماء“Aku melihat singgasana berada di atas air.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,ترى عرش إبليس على البحر، وما ترى؟“Engkau melihat singgasana Iblis di atas lautan. Apa lagi yang kau lihat?”Ia menjawab,أرى صادقين وكاذبًا، أو كاذبين وصادقًا.“Aku melihat dua yang benar dan satu yang dusta, atau dua yang dusta dan satu yang benar.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لُبِّسَ عليه، دعوه“Pikirannya telah dikacaukan. Biarkan saja dia.” (HR. Muslim)Ibnu Umar juga menceritakan bahwa setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka‘ab kembali mendatangi kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di balik pohon-pohon dengan harapan bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia sadar kedatangan beliau. Saat itu, Ibnu Sayyad sedang berbaring dengan selimutnya. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memanggil anaknya,يا صاف -وهو اسم ابن صياد-! هذا محمَّد صلى الله عليه وسلم.“Wahai Shaff! Itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”Ibnu Shayyad pun terkejut dan bangun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,لو تركته بيَّن“Seandainya ibunya membiarkannya, pasti urusannya menjadi jelas.” (HR. Bukhari)Abu Dzar pernah ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada ibu Ibnu Shayyad,سلها كم حملت به؟“Berapa lama engkau mengandungnya?”Sang ibu menjawab,حملتُ به اثني عشر شهرًا.“Aku mengandungnya selama dua belas bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Dzar untuk bertanya lagi,سلها عن صيحته حين وقع؟“Bagaimana tangisannya saat ia lahir?”Sang ibu menjawab,صاح صيحة الصبي ابن شهر“Ia menangis seperti bayi berusia satu bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad,إنِّي قد خبأت لك خبئًا“Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Apa itu?”Ibnu Sayyad menjawab,خبأت لي خطم شاة عفراء والدُّخان“Engkau menyembunyikan khitm (hidung) domba dan asap.”Ia ingin mengucapkan kata ad-dukhan (asap), tetapi ia hanya mampu mengucapkan,الدُّخ، الدُّخ“Ad-dukh… ad-dukh…”Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kata “ad-dukhan” merujuk pada firman Allah,فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ“Tunggulah pada hari ketika langit menurunkan asap yang jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan ayat ini sebagai ujian bagi Ibnu Sayyad.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,ابن صياد كاشف على طريقة الكهَّان، بلسان الجان، وهم يقرطون -أي: يقطعون- العبارة، ولهذا قال: هو الدُّخ يعني: الدُّخان، فعندها عرف رسول الله صلى الله عليه وسلم مادته، وأنّها شيطانية، فقال له: (اخسأ؛ فلن تعدو قدرك)“Ibnu Shayyad memiliki kemampuan seperti para dukun yang dibantu jin, sehingga ucapannya terpotong-potong. Oleh karena itu, ia hanya mampu mengatakan ad-dukh. Saat itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa sumbernya adalah dari setan. Beliau pun berkata, ‘Diam! Engkau tidak akan melampaui batas.’”Ibnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKisah Ibnu Shayyad ini pun ada yang mengatakan adalah kisah mitos saja bukan kenyataan. Salah satu yang berpendapat mengenai hal ini adalah Abu Ubaydah. Dia berkata,شخصية ابن صياد خرافة جازت على بعض العقول، فعاشت قصتها في بعض الكتب منسوبة إلى الرسول، والرسول عليه صلوات الله لا يصدر عنه من القول والفعل إِلَّا ما هو لُباب الحق ومُصاصه، ولقد آن الأوان لنأخذ بعين الاعتبار والجد روح الحديث ومعناه، ودلالته ومرماه؛ كما نأخذ سنده وطريقه؛ لتنجو مداركنا الإِسلامية من الشطط والغلط“Kepribadian Ibnu Shayyad adalah mitos yang diterima oleh beberapa orang, sehingga kisahnya hidup dalam beberapa kitab dan dikaitkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata atau berbuat kecuali yang merupakan inti kebenaran dan esensinya. Sudah saatnya kita memperhatikan ruh hadis, maknanya, petunjuk, dan tujuannya, sebagaimana kita memperhatikan sanad dan jalurnya, agar akal keislaman kita selamat dari penyimpangan dan kesalahan.”Namun, hal ini dapat dijawab: hadis-hadis yang menyebut Ibnu Shayyad adalah sahih, tercantum dalam kitab-kitab hadis seperti Ash-Shahihain dan lainnya. Tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadis atau inti kebenaran. Ibnu Shayyad, seperti telah disebutkan sebelumnya, memang membuat umat Islam bingung dan termasuk salah satu penipu (Dajjal) dari golongan penipu, dan Allah menampakkan kebohongannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Muslim.Kematian Ibnu ShayyadJabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,فقدنا ابن صيَّاد يوم الحرَّة“Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari Harrah.” (HR. Abu Daud)Ibnu Hajar rahimahullah menilai riwayat ini sahih. Sementara pendapat yang menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad wafat di Madinah dan bahwa orang-orang membukakan wajahnya serta mensalatinya, dianggap lemah oleh Ibnu Hajar.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMengenal Ibnu SayyadKeadaan Ibnu ShayyadUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadIbnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKematian Ibnu ShayyadAda pertanyaan yang muncul di benak kita mengenai siapa dan di mana keberadaan Dajjal. Apakah Dajjal hidup (saat ini)? Apakah ia sudah ada pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui dahulu tentang kisah Ibnu Shayyad. Pemuda Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicurigai sebagai Dajjal. Apakah dia Dajjal atau bukan? Jika Ibnu Shayyad bukan Dajjal, apakah Dajjal sudah ada sebelum kemunculannya dengan fitnahnya, atau baru muncul kemudian (saat menjelang hari kiamat)?Mengenal Ibnu SayyadNama aslinya adalah Shaff (ada yang mengatakan Abdullah) bin Shayyad atau Shaid. Ia merupakan seorang Yahudi dari Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Ia masih kecil ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah.Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad kemudian masuk Islam, dan anaknya, ‘Umarah, termasuk dari kalangan tabi’in yang terkemuka. Imam Malik dan lainnya meriwayatkan darinya.Adz-Dzhahabi menulis dalam bukunya Tajrid Asma’ as-Sahabah,عبد الله بن صيَّاد، أورده ابن شاهين، وقال: هو ابن صائد، كان أبوه يهوديًّا، فولد عبد الله أعور مختونًا، وهو الّذي قيل: إنّه الدَّجّال، ثمَّ أسلم، فهو تابعيٌّ، له رؤية“Abdullah bin Shayyad, disebut oleh Ibnu Shahin. Ayahnya seorang Yahudi, lahirlah Abdullah yang cacat mata dan disunat, dan orang mengatakan dialah Dajjal. Ia kemudian masuk Islam, sehingga termasuk tabi’in yang pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menulis dalam al-Isabah menekankan hal yang sama, dan menyebut anaknya ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad sebagai salah satu tabi’in yang terkemuka, yang meriwayatkan dari Imam Malik dan lainnya.Keadaan Ibnu ShayyadIbnu Shayyad dikenal sebagai seorang pendusta yang sering meramal. Terkadang ucapannya benar, dan terkadang salah. Karena sifatnya itu, berita tentang dirinya tersebar luas di tengah masyarakat, sampai muncul anggapan bahwa dialah Dajjal sebagaimana akan dijelaskan dalam kisah ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.Baca juga: Beriman Terhadap Munculnya DajalUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadKetika kabar tentang Ibnu Shayyad semakin melebar, dan banyak orang percaya bahwa ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memastikan kebenaran itu. Beliau mendatangi Ibnu Shayyad secara diam-diam agar tidak ketahuan, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang mengungkap hakikat dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuka jati diri Ibnu Shayyad.Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibnu Shayyad. Mereka menemukan Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah, dan ia sudah hampir baligh. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dan bertanya,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”Ibnu Shayyad menatap beliau dan menjawab,أشهد أنك رسول الأميين“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang yang ummi.”Dan Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dan menjawab,آمنت بالله وبرسله“Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,يأتيني صادق وكاذب“Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خلط عليك الأمر“Engkau telah bingung dan tercampur dalam urusanmu.”Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,إنِّي خبأت لك خبيئًا؟“Aku menyembunyikan sesuatu untukmu, coba katakan apa itu?”Ibnu Shayyad menjawab,هو الدُّخ“Ad-dukh…”Ia bermaksud mengatakan ad-dukhān (asap), namun hanya mampu mengucapkan sebagian kata itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,اخسأ فلن تعدو قدرك“Diam! Engkau tidak akan melampaui batasmu.”Umar kemudian berkata,دعني يا رسول الله أضرب عنقه“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن يكنه؛ فلن تسلط عليه، وإن لم يكنه؛ فلا خير لك في قتله“Jika memang dialah (Dajjal), engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika bukan dia, maka tidak ada gunanya engkau membunuhnya.” (HR. Bukhari)Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,أرى عرشًا على الماء“Aku melihat singgasana berada di atas air.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,ترى عرش إبليس على البحر، وما ترى؟“Engkau melihat singgasana Iblis di atas lautan. Apa lagi yang kau lihat?”Ia menjawab,أرى صادقين وكاذبًا، أو كاذبين وصادقًا.“Aku melihat dua yang benar dan satu yang dusta, atau dua yang dusta dan satu yang benar.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لُبِّسَ عليه، دعوه“Pikirannya telah dikacaukan. Biarkan saja dia.” (HR. Muslim)Ibnu Umar juga menceritakan bahwa setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka‘ab kembali mendatangi kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di balik pohon-pohon dengan harapan bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia sadar kedatangan beliau. Saat itu, Ibnu Sayyad sedang berbaring dengan selimutnya. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memanggil anaknya,يا صاف -وهو اسم ابن صياد-! هذا محمَّد صلى الله عليه وسلم.“Wahai Shaff! Itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”Ibnu Shayyad pun terkejut dan bangun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,لو تركته بيَّن“Seandainya ibunya membiarkannya, pasti urusannya menjadi jelas.” (HR. Bukhari)Abu Dzar pernah ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada ibu Ibnu Shayyad,سلها كم حملت به؟“Berapa lama engkau mengandungnya?”Sang ibu menjawab,حملتُ به اثني عشر شهرًا.“Aku mengandungnya selama dua belas bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Dzar untuk bertanya lagi,سلها عن صيحته حين وقع؟“Bagaimana tangisannya saat ia lahir?”Sang ibu menjawab,صاح صيحة الصبي ابن شهر“Ia menangis seperti bayi berusia satu bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad,إنِّي قد خبأت لك خبئًا“Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Apa itu?”Ibnu Sayyad menjawab,خبأت لي خطم شاة عفراء والدُّخان“Engkau menyembunyikan khitm (hidung) domba dan asap.”Ia ingin mengucapkan kata ad-dukhan (asap), tetapi ia hanya mampu mengucapkan,الدُّخ، الدُّخ“Ad-dukh… ad-dukh…”Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kata “ad-dukhan” merujuk pada firman Allah,فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ“Tunggulah pada hari ketika langit menurunkan asap yang jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan ayat ini sebagai ujian bagi Ibnu Sayyad.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,ابن صياد كاشف على طريقة الكهَّان، بلسان الجان، وهم يقرطون -أي: يقطعون- العبارة، ولهذا قال: هو الدُّخ يعني: الدُّخان، فعندها عرف رسول الله صلى الله عليه وسلم مادته، وأنّها شيطانية، فقال له: (اخسأ؛ فلن تعدو قدرك)“Ibnu Shayyad memiliki kemampuan seperti para dukun yang dibantu jin, sehingga ucapannya terpotong-potong. Oleh karena itu, ia hanya mampu mengatakan ad-dukh. Saat itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa sumbernya adalah dari setan. Beliau pun berkata, ‘Diam! Engkau tidak akan melampaui batas.’”Ibnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKisah Ibnu Shayyad ini pun ada yang mengatakan adalah kisah mitos saja bukan kenyataan. Salah satu yang berpendapat mengenai hal ini adalah Abu Ubaydah. Dia berkata,شخصية ابن صياد خرافة جازت على بعض العقول، فعاشت قصتها في بعض الكتب منسوبة إلى الرسول، والرسول عليه صلوات الله لا يصدر عنه من القول والفعل إِلَّا ما هو لُباب الحق ومُصاصه، ولقد آن الأوان لنأخذ بعين الاعتبار والجد روح الحديث ومعناه، ودلالته ومرماه؛ كما نأخذ سنده وطريقه؛ لتنجو مداركنا الإِسلامية من الشطط والغلط“Kepribadian Ibnu Shayyad adalah mitos yang diterima oleh beberapa orang, sehingga kisahnya hidup dalam beberapa kitab dan dikaitkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata atau berbuat kecuali yang merupakan inti kebenaran dan esensinya. Sudah saatnya kita memperhatikan ruh hadis, maknanya, petunjuk, dan tujuannya, sebagaimana kita memperhatikan sanad dan jalurnya, agar akal keislaman kita selamat dari penyimpangan dan kesalahan.”Namun, hal ini dapat dijawab: hadis-hadis yang menyebut Ibnu Shayyad adalah sahih, tercantum dalam kitab-kitab hadis seperti Ash-Shahihain dan lainnya. Tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadis atau inti kebenaran. Ibnu Shayyad, seperti telah disebutkan sebelumnya, memang membuat umat Islam bingung dan termasuk salah satu penipu (Dajjal) dari golongan penipu, dan Allah menampakkan kebohongannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Muslim.Kematian Ibnu ShayyadJabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,فقدنا ابن صيَّاد يوم الحرَّة“Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari Harrah.” (HR. Abu Daud)Ibnu Hajar rahimahullah menilai riwayat ini sahih. Sementara pendapat yang menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad wafat di Madinah dan bahwa orang-orang membukakan wajahnya serta mensalatinya, dianggap lemah oleh Ibnu Hajar.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMengenal Ibnu SayyadKeadaan Ibnu ShayyadUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadIbnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKematian Ibnu ShayyadAda pertanyaan yang muncul di benak kita mengenai siapa dan di mana keberadaan Dajjal. Apakah Dajjal hidup (saat ini)? Apakah ia sudah ada pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui dahulu tentang kisah Ibnu Shayyad. Pemuda Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicurigai sebagai Dajjal. Apakah dia Dajjal atau bukan? Jika Ibnu Shayyad bukan Dajjal, apakah Dajjal sudah ada sebelum kemunculannya dengan fitnahnya, atau baru muncul kemudian (saat menjelang hari kiamat)?Mengenal Ibnu SayyadNama aslinya adalah Shaff (ada yang mengatakan Abdullah) bin Shayyad atau Shaid. Ia merupakan seorang Yahudi dari Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Ia masih kecil ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah.Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad kemudian masuk Islam, dan anaknya, ‘Umarah, termasuk dari kalangan tabi’in yang terkemuka. Imam Malik dan lainnya meriwayatkan darinya.Adz-Dzhahabi menulis dalam bukunya Tajrid Asma’ as-Sahabah,عبد الله بن صيَّاد، أورده ابن شاهين، وقال: هو ابن صائد، كان أبوه يهوديًّا، فولد عبد الله أعور مختونًا، وهو الّذي قيل: إنّه الدَّجّال، ثمَّ أسلم، فهو تابعيٌّ، له رؤية“Abdullah bin Shayyad, disebut oleh Ibnu Shahin. Ayahnya seorang Yahudi, lahirlah Abdullah yang cacat mata dan disunat, dan orang mengatakan dialah Dajjal. Ia kemudian masuk Islam, sehingga termasuk tabi’in yang pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menulis dalam al-Isabah menekankan hal yang sama, dan menyebut anaknya ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad sebagai salah satu tabi’in yang terkemuka, yang meriwayatkan dari Imam Malik dan lainnya.Keadaan Ibnu ShayyadIbnu Shayyad dikenal sebagai seorang pendusta yang sering meramal. Terkadang ucapannya benar, dan terkadang salah. Karena sifatnya itu, berita tentang dirinya tersebar luas di tengah masyarakat, sampai muncul anggapan bahwa dialah Dajjal sebagaimana akan dijelaskan dalam kisah ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.Baca juga: Beriman Terhadap Munculnya DajalUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadKetika kabar tentang Ibnu Shayyad semakin melebar, dan banyak orang percaya bahwa ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memastikan kebenaran itu. Beliau mendatangi Ibnu Shayyad secara diam-diam agar tidak ketahuan, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang mengungkap hakikat dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuka jati diri Ibnu Shayyad.Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibnu Shayyad. Mereka menemukan Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah, dan ia sudah hampir baligh. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dan bertanya,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”Ibnu Shayyad menatap beliau dan menjawab,أشهد أنك رسول الأميين“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang yang ummi.”Dan Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dan menjawab,آمنت بالله وبرسله“Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,يأتيني صادق وكاذب“Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خلط عليك الأمر“Engkau telah bingung dan tercampur dalam urusanmu.”Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,إنِّي خبأت لك خبيئًا؟“Aku menyembunyikan sesuatu untukmu, coba katakan apa itu?”Ibnu Shayyad menjawab,هو الدُّخ“Ad-dukh…”Ia bermaksud mengatakan ad-dukhān (asap), namun hanya mampu mengucapkan sebagian kata itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,اخسأ فلن تعدو قدرك“Diam! Engkau tidak akan melampaui batasmu.”Umar kemudian berkata,دعني يا رسول الله أضرب عنقه“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن يكنه؛ فلن تسلط عليه، وإن لم يكنه؛ فلا خير لك في قتله“Jika memang dialah (Dajjal), engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika bukan dia, maka tidak ada gunanya engkau membunuhnya.” (HR. Bukhari)Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,أرى عرشًا على الماء“Aku melihat singgasana berada di atas air.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,ترى عرش إبليس على البحر، وما ترى؟“Engkau melihat singgasana Iblis di atas lautan. Apa lagi yang kau lihat?”Ia menjawab,أرى صادقين وكاذبًا، أو كاذبين وصادقًا.“Aku melihat dua yang benar dan satu yang dusta, atau dua yang dusta dan satu yang benar.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لُبِّسَ عليه، دعوه“Pikirannya telah dikacaukan. Biarkan saja dia.” (HR. Muslim)Ibnu Umar juga menceritakan bahwa setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka‘ab kembali mendatangi kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di balik pohon-pohon dengan harapan bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia sadar kedatangan beliau. Saat itu, Ibnu Sayyad sedang berbaring dengan selimutnya. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memanggil anaknya,يا صاف -وهو اسم ابن صياد-! هذا محمَّد صلى الله عليه وسلم.“Wahai Shaff! Itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”Ibnu Shayyad pun terkejut dan bangun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,لو تركته بيَّن“Seandainya ibunya membiarkannya, pasti urusannya menjadi jelas.” (HR. Bukhari)Abu Dzar pernah ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada ibu Ibnu Shayyad,سلها كم حملت به؟“Berapa lama engkau mengandungnya?”Sang ibu menjawab,حملتُ به اثني عشر شهرًا.“Aku mengandungnya selama dua belas bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Dzar untuk bertanya lagi,سلها عن صيحته حين وقع؟“Bagaimana tangisannya saat ia lahir?”Sang ibu menjawab,صاح صيحة الصبي ابن شهر“Ia menangis seperti bayi berusia satu bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad,إنِّي قد خبأت لك خبئًا“Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Apa itu?”Ibnu Sayyad menjawab,خبأت لي خطم شاة عفراء والدُّخان“Engkau menyembunyikan khitm (hidung) domba dan asap.”Ia ingin mengucapkan kata ad-dukhan (asap), tetapi ia hanya mampu mengucapkan,الدُّخ، الدُّخ“Ad-dukh… ad-dukh…”Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kata “ad-dukhan” merujuk pada firman Allah,فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ“Tunggulah pada hari ketika langit menurunkan asap yang jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan ayat ini sebagai ujian bagi Ibnu Sayyad.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,ابن صياد كاشف على طريقة الكهَّان، بلسان الجان، وهم يقرطون -أي: يقطعون- العبارة، ولهذا قال: هو الدُّخ يعني: الدُّخان، فعندها عرف رسول الله صلى الله عليه وسلم مادته، وأنّها شيطانية، فقال له: (اخسأ؛ فلن تعدو قدرك)“Ibnu Shayyad memiliki kemampuan seperti para dukun yang dibantu jin, sehingga ucapannya terpotong-potong. Oleh karena itu, ia hanya mampu mengatakan ad-dukh. Saat itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa sumbernya adalah dari setan. Beliau pun berkata, ‘Diam! Engkau tidak akan melampaui batas.’”Ibnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKisah Ibnu Shayyad ini pun ada yang mengatakan adalah kisah mitos saja bukan kenyataan. Salah satu yang berpendapat mengenai hal ini adalah Abu Ubaydah. Dia berkata,شخصية ابن صياد خرافة جازت على بعض العقول، فعاشت قصتها في بعض الكتب منسوبة إلى الرسول، والرسول عليه صلوات الله لا يصدر عنه من القول والفعل إِلَّا ما هو لُباب الحق ومُصاصه، ولقد آن الأوان لنأخذ بعين الاعتبار والجد روح الحديث ومعناه، ودلالته ومرماه؛ كما نأخذ سنده وطريقه؛ لتنجو مداركنا الإِسلامية من الشطط والغلط“Kepribadian Ibnu Shayyad adalah mitos yang diterima oleh beberapa orang, sehingga kisahnya hidup dalam beberapa kitab dan dikaitkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata atau berbuat kecuali yang merupakan inti kebenaran dan esensinya. Sudah saatnya kita memperhatikan ruh hadis, maknanya, petunjuk, dan tujuannya, sebagaimana kita memperhatikan sanad dan jalurnya, agar akal keislaman kita selamat dari penyimpangan dan kesalahan.”Namun, hal ini dapat dijawab: hadis-hadis yang menyebut Ibnu Shayyad adalah sahih, tercantum dalam kitab-kitab hadis seperti Ash-Shahihain dan lainnya. Tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadis atau inti kebenaran. Ibnu Shayyad, seperti telah disebutkan sebelumnya, memang membuat umat Islam bingung dan termasuk salah satu penipu (Dajjal) dari golongan penipu, dan Allah menampakkan kebohongannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Muslim.Kematian Ibnu ShayyadJabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,فقدنا ابن صيَّاد يوم الحرَّة“Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari Harrah.” (HR. Abu Daud)Ibnu Hajar rahimahullah menilai riwayat ini sahih. Sementara pendapat yang menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad wafat di Madinah dan bahwa orang-orang membukakan wajahnya serta mensalatinya, dianggap lemah oleh Ibnu Hajar.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Ternyata Maksiat Ini Tetap Mengurangi Pahala Puasa Meski Puasa Anda Sah – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berpuasa, sebagaimana ia wajib menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala pembatal puasa lainnya, maka ia pun wajib menjauhi segala kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Nabi menyebutkan kemaksiatan lisan dengan sabda beliau: “Perkataan dusta.” Dan beliau menyebutkan kemaksiatan perbuatan dengan sabda beliau: “Serta mengamalkannya.” Maknanya, anggota tubuh orang yang berpuasa pun harus ikut berpuasa dari segala maksiat. Apabila anggota tubuhnya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan, maka setiap kemaksiatan yang ia lakukan akan mencederai puasanya dan mengurangi pahalanya. Jika kemaksiatan yang dilakukan semakin banyak, ia bisa sampai pada tingkatan yang disebutkan dalam hadis ini, yaitu: “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Yakni, ia tidak mendapatkan pahala atas puasanya tersebut. Meskipun secara hukum puasanya telah menggugurkan kewajiban, karena rukun dan syarat-syaratnya telah terpenuhi, tapi ia tidak mendapat pahala atas puasa itu. Ini serupa dengan shalat yang ia kerjakan, tapi pikirannya melantur ke mana-mana sejak takbiratul ihram hingga salam. Shalat itu sah dan telah menggugurkan kewajiban, karena terpenuhi rukun, syarat, dan wajib-wajibnya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai dengan kadar kekhusyukannya. Begitu pula dengan puasa, ia dianggap sah dan menggugurkan kewajiban selama ia menjauhi pembatal-pembatal puasa yang bersifat fisik. Namun jika maksiatnya terlalu banyak, ia bisa sampai pada kondisi tidak mendapatkan pahala sama sekali. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan akan terus mengurangi pahala orang yang berpuasa. Oleh sebab itu, banyak dari generasi salaf yang memilih berdiam di masjid saat berpuasa. Mereka berkata: “Kami ingin menjaga puasa kami dan tidak menggunjing siapa pun.” Jadi, puasa adalah madrasah bagi seorang muslim untuk mendidik diri agar memperbanyak ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hendaknya setiap orang yang berpuasa meresapi makna ini. Jika ia meresapinya, maka saat hendak terjerumus ke dalam gibah, ia akan segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, dan ia sadar bahwa gibah akan menggerus pahalanya. Begitu pula ucapan kotor dan keji akan mengurangi pahalanya. Mencaci maki juga akan mengurangi pahalanya. Menghina dan merendahkan orang lain dapat mengurangi pahalanya. Bahkan mendengarkan musik akan mengurangi pahala puasanya. Melihat hal yang haram mengurangi pahala puasanya, dan seterusnya. Maka hadis ini merupakan hadis yang agung, “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Maksudnya, puasa yang pelakunya tidak menjaga adab dengan menjauhi maksiat, Allah tidak memerlukan puasa yang seperti itu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat belaka. Melainkan juga menahan diri dari segala kemaksiatan dan menghiasi diri dengan adab-adab puasa. ===== وَهَذَا الْحَدِيثُ يُبَيِّنُ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الصَّائِمَ أَنَّ الصَّائِمَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَنِبَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالْجِمَاعَ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ كَذَلِكَ أَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ الْقَوْلِيَّةَ وَالْفِعْلِيَّةَ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْقَوْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ قَوْلَ الزُّورِ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْفِعْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّائِمَ تَصُومُ مَعَهُ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي وَإِلَّا إِذَا لَمْ تَصُمْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنْهُ تَخْدِشُ فِي صِيَامِهِ وَتُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ فَإِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنَ الصَّائِمِ فَقَدْ يَصِلُ لِلْمَرْحَلَةِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهِيَ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ أَيْ أَنَّهُ لَا يُؤْجَرُ وَلَا يُثَابُ عَلَى هَذَا الصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الصِّيَامُ تَقَعُ بِهِ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ لِأَنَّهُ قَدْ تَحَقَّقَتْ أَرْكَانُهُ وَشُرُوطُهُ لَكِنَّهُ لَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَنَظِيرُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ الَّتِي يُصَلِّيهَا وَهُوَ فِي هَوَاجِيسَ وَوَسَاوِسَ مِنْ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ هَذِهِ الصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ مُبْرِئَةٌ لِلذِّمَّةِ لِأَنَّهَا مُكْتَمِلَةُ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَالْوَاجِبَاتِ لَكِنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ أَجْرِ صَلَاتِهِ إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا عَقَلَ مِنْهَا هُنَا أَيْضًا الصِّيَامُ هُوَ صَحِيحٌ مُبْرِئٌ لِلذِّمَّةِ لِكَوْنِهِ الْتَزَمَ بِالِاجْتِنَابِ لِلْمُفَطِّرَاتِ الْحِسِّيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنْهُ فَقَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى الصِّيَامِ إِذًا كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنَ الصَّائِمِ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ وَلِهَذَا كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ إِذَا صَامُوا جَلَسُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا نَحْفَظُ صَوْمَنَا وَلَا نَغْتَابُ أَحَدًا فَالصِّيَامُ مَدْرَسَةٌ لِلْمُسْلِمِ يَتَرَبَّى فِيهَا عَلَى أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ فَلْيَسْتَحْضِرِ الصَّائِمُ هَذَا الْمَعْنَى لِأَنَّهُ إِنْ اسْتَحْضَرَ هَذَا الْمَعْنَى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقَعَ فِي غِيبَةٍ تَذَكَّرَ أَنَّهُ صَائِمٌ وَأَنَّ الْغِيبَةَ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ أَيْضًا الْكَلَامَ السَّيِّءَ وَالْفُحْشَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ السَّبَّ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الْهَمْزَ وَاللَّمْزَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْمَعَازِفِ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُحَرَّمَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَهَكَذَا فَيَعْنِي هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ عَظِيمٌ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ يَعْنِي هَذَا الصَّوْمُ الَّذِي لَمْ يَتَأَدَّبْ فِيهِ الصَّائِمُ بِاجْتِنَابِ مَعَاصٍ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي هَذَا الصَّوْمِ الصَّوْمُ لَيْسَ فَقَطْ إِمْسَاكًا عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوةِ إِنَّمَا هُوَ أَيْضًا إِمْسَاكٌ عَنِ الْمَعَاصِي وَتَأَدُّبٌ بِآدَابِ الصِّيَامِ

Ternyata Maksiat Ini Tetap Mengurangi Pahala Puasa Meski Puasa Anda Sah – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berpuasa, sebagaimana ia wajib menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala pembatal puasa lainnya, maka ia pun wajib menjauhi segala kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Nabi menyebutkan kemaksiatan lisan dengan sabda beliau: “Perkataan dusta.” Dan beliau menyebutkan kemaksiatan perbuatan dengan sabda beliau: “Serta mengamalkannya.” Maknanya, anggota tubuh orang yang berpuasa pun harus ikut berpuasa dari segala maksiat. Apabila anggota tubuhnya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan, maka setiap kemaksiatan yang ia lakukan akan mencederai puasanya dan mengurangi pahalanya. Jika kemaksiatan yang dilakukan semakin banyak, ia bisa sampai pada tingkatan yang disebutkan dalam hadis ini, yaitu: “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Yakni, ia tidak mendapatkan pahala atas puasanya tersebut. Meskipun secara hukum puasanya telah menggugurkan kewajiban, karena rukun dan syarat-syaratnya telah terpenuhi, tapi ia tidak mendapat pahala atas puasa itu. Ini serupa dengan shalat yang ia kerjakan, tapi pikirannya melantur ke mana-mana sejak takbiratul ihram hingga salam. Shalat itu sah dan telah menggugurkan kewajiban, karena terpenuhi rukun, syarat, dan wajib-wajibnya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai dengan kadar kekhusyukannya. Begitu pula dengan puasa, ia dianggap sah dan menggugurkan kewajiban selama ia menjauhi pembatal-pembatal puasa yang bersifat fisik. Namun jika maksiatnya terlalu banyak, ia bisa sampai pada kondisi tidak mendapatkan pahala sama sekali. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan akan terus mengurangi pahala orang yang berpuasa. Oleh sebab itu, banyak dari generasi salaf yang memilih berdiam di masjid saat berpuasa. Mereka berkata: “Kami ingin menjaga puasa kami dan tidak menggunjing siapa pun.” Jadi, puasa adalah madrasah bagi seorang muslim untuk mendidik diri agar memperbanyak ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hendaknya setiap orang yang berpuasa meresapi makna ini. Jika ia meresapinya, maka saat hendak terjerumus ke dalam gibah, ia akan segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, dan ia sadar bahwa gibah akan menggerus pahalanya. Begitu pula ucapan kotor dan keji akan mengurangi pahalanya. Mencaci maki juga akan mengurangi pahalanya. Menghina dan merendahkan orang lain dapat mengurangi pahalanya. Bahkan mendengarkan musik akan mengurangi pahala puasanya. Melihat hal yang haram mengurangi pahala puasanya, dan seterusnya. Maka hadis ini merupakan hadis yang agung, “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Maksudnya, puasa yang pelakunya tidak menjaga adab dengan menjauhi maksiat, Allah tidak memerlukan puasa yang seperti itu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat belaka. Melainkan juga menahan diri dari segala kemaksiatan dan menghiasi diri dengan adab-adab puasa. ===== وَهَذَا الْحَدِيثُ يُبَيِّنُ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الصَّائِمَ أَنَّ الصَّائِمَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَنِبَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالْجِمَاعَ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ كَذَلِكَ أَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ الْقَوْلِيَّةَ وَالْفِعْلِيَّةَ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْقَوْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ قَوْلَ الزُّورِ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْفِعْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّائِمَ تَصُومُ مَعَهُ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي وَإِلَّا إِذَا لَمْ تَصُمْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنْهُ تَخْدِشُ فِي صِيَامِهِ وَتُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ فَإِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنَ الصَّائِمِ فَقَدْ يَصِلُ لِلْمَرْحَلَةِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهِيَ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ أَيْ أَنَّهُ لَا يُؤْجَرُ وَلَا يُثَابُ عَلَى هَذَا الصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الصِّيَامُ تَقَعُ بِهِ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ لِأَنَّهُ قَدْ تَحَقَّقَتْ أَرْكَانُهُ وَشُرُوطُهُ لَكِنَّهُ لَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَنَظِيرُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ الَّتِي يُصَلِّيهَا وَهُوَ فِي هَوَاجِيسَ وَوَسَاوِسَ مِنْ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ هَذِهِ الصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ مُبْرِئَةٌ لِلذِّمَّةِ لِأَنَّهَا مُكْتَمِلَةُ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَالْوَاجِبَاتِ لَكِنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ أَجْرِ صَلَاتِهِ إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا عَقَلَ مِنْهَا هُنَا أَيْضًا الصِّيَامُ هُوَ صَحِيحٌ مُبْرِئٌ لِلذِّمَّةِ لِكَوْنِهِ الْتَزَمَ بِالِاجْتِنَابِ لِلْمُفَطِّرَاتِ الْحِسِّيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنْهُ فَقَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى الصِّيَامِ إِذًا كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنَ الصَّائِمِ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ وَلِهَذَا كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ إِذَا صَامُوا جَلَسُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا نَحْفَظُ صَوْمَنَا وَلَا نَغْتَابُ أَحَدًا فَالصِّيَامُ مَدْرَسَةٌ لِلْمُسْلِمِ يَتَرَبَّى فِيهَا عَلَى أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ فَلْيَسْتَحْضِرِ الصَّائِمُ هَذَا الْمَعْنَى لِأَنَّهُ إِنْ اسْتَحْضَرَ هَذَا الْمَعْنَى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقَعَ فِي غِيبَةٍ تَذَكَّرَ أَنَّهُ صَائِمٌ وَأَنَّ الْغِيبَةَ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ أَيْضًا الْكَلَامَ السَّيِّءَ وَالْفُحْشَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ السَّبَّ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الْهَمْزَ وَاللَّمْزَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْمَعَازِفِ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُحَرَّمَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَهَكَذَا فَيَعْنِي هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ عَظِيمٌ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ يَعْنِي هَذَا الصَّوْمُ الَّذِي لَمْ يَتَأَدَّبْ فِيهِ الصَّائِمُ بِاجْتِنَابِ مَعَاصٍ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي هَذَا الصَّوْمِ الصَّوْمُ لَيْسَ فَقَطْ إِمْسَاكًا عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوةِ إِنَّمَا هُوَ أَيْضًا إِمْسَاكٌ عَنِ الْمَعَاصِي وَتَأَدُّبٌ بِآدَابِ الصِّيَامِ
Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berpuasa, sebagaimana ia wajib menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala pembatal puasa lainnya, maka ia pun wajib menjauhi segala kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Nabi menyebutkan kemaksiatan lisan dengan sabda beliau: “Perkataan dusta.” Dan beliau menyebutkan kemaksiatan perbuatan dengan sabda beliau: “Serta mengamalkannya.” Maknanya, anggota tubuh orang yang berpuasa pun harus ikut berpuasa dari segala maksiat. Apabila anggota tubuhnya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan, maka setiap kemaksiatan yang ia lakukan akan mencederai puasanya dan mengurangi pahalanya. Jika kemaksiatan yang dilakukan semakin banyak, ia bisa sampai pada tingkatan yang disebutkan dalam hadis ini, yaitu: “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Yakni, ia tidak mendapatkan pahala atas puasanya tersebut. Meskipun secara hukum puasanya telah menggugurkan kewajiban, karena rukun dan syarat-syaratnya telah terpenuhi, tapi ia tidak mendapat pahala atas puasa itu. Ini serupa dengan shalat yang ia kerjakan, tapi pikirannya melantur ke mana-mana sejak takbiratul ihram hingga salam. Shalat itu sah dan telah menggugurkan kewajiban, karena terpenuhi rukun, syarat, dan wajib-wajibnya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai dengan kadar kekhusyukannya. Begitu pula dengan puasa, ia dianggap sah dan menggugurkan kewajiban selama ia menjauhi pembatal-pembatal puasa yang bersifat fisik. Namun jika maksiatnya terlalu banyak, ia bisa sampai pada kondisi tidak mendapatkan pahala sama sekali. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan akan terus mengurangi pahala orang yang berpuasa. Oleh sebab itu, banyak dari generasi salaf yang memilih berdiam di masjid saat berpuasa. Mereka berkata: “Kami ingin menjaga puasa kami dan tidak menggunjing siapa pun.” Jadi, puasa adalah madrasah bagi seorang muslim untuk mendidik diri agar memperbanyak ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hendaknya setiap orang yang berpuasa meresapi makna ini. Jika ia meresapinya, maka saat hendak terjerumus ke dalam gibah, ia akan segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, dan ia sadar bahwa gibah akan menggerus pahalanya. Begitu pula ucapan kotor dan keji akan mengurangi pahalanya. Mencaci maki juga akan mengurangi pahalanya. Menghina dan merendahkan orang lain dapat mengurangi pahalanya. Bahkan mendengarkan musik akan mengurangi pahala puasanya. Melihat hal yang haram mengurangi pahala puasanya, dan seterusnya. Maka hadis ini merupakan hadis yang agung, “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Maksudnya, puasa yang pelakunya tidak menjaga adab dengan menjauhi maksiat, Allah tidak memerlukan puasa yang seperti itu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat belaka. Melainkan juga menahan diri dari segala kemaksiatan dan menghiasi diri dengan adab-adab puasa. ===== وَهَذَا الْحَدِيثُ يُبَيِّنُ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الصَّائِمَ أَنَّ الصَّائِمَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَنِبَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالْجِمَاعَ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ كَذَلِكَ أَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ الْقَوْلِيَّةَ وَالْفِعْلِيَّةَ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْقَوْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ قَوْلَ الزُّورِ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْفِعْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّائِمَ تَصُومُ مَعَهُ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي وَإِلَّا إِذَا لَمْ تَصُمْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنْهُ تَخْدِشُ فِي صِيَامِهِ وَتُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ فَإِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنَ الصَّائِمِ فَقَدْ يَصِلُ لِلْمَرْحَلَةِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهِيَ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ أَيْ أَنَّهُ لَا يُؤْجَرُ وَلَا يُثَابُ عَلَى هَذَا الصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الصِّيَامُ تَقَعُ بِهِ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ لِأَنَّهُ قَدْ تَحَقَّقَتْ أَرْكَانُهُ وَشُرُوطُهُ لَكِنَّهُ لَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَنَظِيرُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ الَّتِي يُصَلِّيهَا وَهُوَ فِي هَوَاجِيسَ وَوَسَاوِسَ مِنْ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ هَذِهِ الصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ مُبْرِئَةٌ لِلذِّمَّةِ لِأَنَّهَا مُكْتَمِلَةُ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَالْوَاجِبَاتِ لَكِنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ أَجْرِ صَلَاتِهِ إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا عَقَلَ مِنْهَا هُنَا أَيْضًا الصِّيَامُ هُوَ صَحِيحٌ مُبْرِئٌ لِلذِّمَّةِ لِكَوْنِهِ الْتَزَمَ بِالِاجْتِنَابِ لِلْمُفَطِّرَاتِ الْحِسِّيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنْهُ فَقَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى الصِّيَامِ إِذًا كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنَ الصَّائِمِ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ وَلِهَذَا كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ إِذَا صَامُوا جَلَسُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا نَحْفَظُ صَوْمَنَا وَلَا نَغْتَابُ أَحَدًا فَالصِّيَامُ مَدْرَسَةٌ لِلْمُسْلِمِ يَتَرَبَّى فِيهَا عَلَى أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ فَلْيَسْتَحْضِرِ الصَّائِمُ هَذَا الْمَعْنَى لِأَنَّهُ إِنْ اسْتَحْضَرَ هَذَا الْمَعْنَى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقَعَ فِي غِيبَةٍ تَذَكَّرَ أَنَّهُ صَائِمٌ وَأَنَّ الْغِيبَةَ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ أَيْضًا الْكَلَامَ السَّيِّءَ وَالْفُحْشَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ السَّبَّ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الْهَمْزَ وَاللَّمْزَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْمَعَازِفِ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُحَرَّمَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَهَكَذَا فَيَعْنِي هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ عَظِيمٌ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ يَعْنِي هَذَا الصَّوْمُ الَّذِي لَمْ يَتَأَدَّبْ فِيهِ الصَّائِمُ بِاجْتِنَابِ مَعَاصٍ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي هَذَا الصَّوْمِ الصَّوْمُ لَيْسَ فَقَطْ إِمْسَاكًا عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوةِ إِنَّمَا هُوَ أَيْضًا إِمْسَاكٌ عَنِ الْمَعَاصِي وَتَأَدُّبٌ بِآدَابِ الصِّيَامِ


Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berpuasa, sebagaimana ia wajib menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala pembatal puasa lainnya, maka ia pun wajib menjauhi segala kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Nabi menyebutkan kemaksiatan lisan dengan sabda beliau: “Perkataan dusta.” Dan beliau menyebutkan kemaksiatan perbuatan dengan sabda beliau: “Serta mengamalkannya.” Maknanya, anggota tubuh orang yang berpuasa pun harus ikut berpuasa dari segala maksiat. Apabila anggota tubuhnya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan, maka setiap kemaksiatan yang ia lakukan akan mencederai puasanya dan mengurangi pahalanya. Jika kemaksiatan yang dilakukan semakin banyak, ia bisa sampai pada tingkatan yang disebutkan dalam hadis ini, yaitu: “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Yakni, ia tidak mendapatkan pahala atas puasanya tersebut. Meskipun secara hukum puasanya telah menggugurkan kewajiban, karena rukun dan syarat-syaratnya telah terpenuhi, tapi ia tidak mendapat pahala atas puasa itu. Ini serupa dengan shalat yang ia kerjakan, tapi pikirannya melantur ke mana-mana sejak takbiratul ihram hingga salam. Shalat itu sah dan telah menggugurkan kewajiban, karena terpenuhi rukun, syarat, dan wajib-wajibnya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai dengan kadar kekhusyukannya. Begitu pula dengan puasa, ia dianggap sah dan menggugurkan kewajiban selama ia menjauhi pembatal-pembatal puasa yang bersifat fisik. Namun jika maksiatnya terlalu banyak, ia bisa sampai pada kondisi tidak mendapatkan pahala sama sekali. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan akan terus mengurangi pahala orang yang berpuasa. Oleh sebab itu, banyak dari generasi salaf yang memilih berdiam di masjid saat berpuasa. Mereka berkata: “Kami ingin menjaga puasa kami dan tidak menggunjing siapa pun.” Jadi, puasa adalah madrasah bagi seorang muslim untuk mendidik diri agar memperbanyak ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hendaknya setiap orang yang berpuasa meresapi makna ini. Jika ia meresapinya, maka saat hendak terjerumus ke dalam gibah, ia akan segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, dan ia sadar bahwa gibah akan menggerus pahalanya. Begitu pula ucapan kotor dan keji akan mengurangi pahalanya. Mencaci maki juga akan mengurangi pahalanya. Menghina dan merendahkan orang lain dapat mengurangi pahalanya. Bahkan mendengarkan musik akan mengurangi pahala puasanya. Melihat hal yang haram mengurangi pahala puasanya, dan seterusnya. Maka hadis ini merupakan hadis yang agung, “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Maksudnya, puasa yang pelakunya tidak menjaga adab dengan menjauhi maksiat, Allah tidak memerlukan puasa yang seperti itu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat belaka. Melainkan juga menahan diri dari segala kemaksiatan dan menghiasi diri dengan adab-adab puasa. ===== وَهَذَا الْحَدِيثُ يُبَيِّنُ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الصَّائِمَ أَنَّ الصَّائِمَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَنِبَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالْجِمَاعَ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ كَذَلِكَ أَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ الْقَوْلِيَّةَ وَالْفِعْلِيَّةَ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْقَوْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ قَوْلَ الزُّورِ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْفِعْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّائِمَ تَصُومُ مَعَهُ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي وَإِلَّا إِذَا لَمْ تَصُمْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنْهُ تَخْدِشُ فِي صِيَامِهِ وَتُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ فَإِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنَ الصَّائِمِ فَقَدْ يَصِلُ لِلْمَرْحَلَةِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهِيَ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ أَيْ أَنَّهُ لَا يُؤْجَرُ وَلَا يُثَابُ عَلَى هَذَا الصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الصِّيَامُ تَقَعُ بِهِ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ لِأَنَّهُ قَدْ تَحَقَّقَتْ أَرْكَانُهُ وَشُرُوطُهُ لَكِنَّهُ لَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَنَظِيرُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ الَّتِي يُصَلِّيهَا وَهُوَ فِي هَوَاجِيسَ وَوَسَاوِسَ مِنْ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ هَذِهِ الصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ مُبْرِئَةٌ لِلذِّمَّةِ لِأَنَّهَا مُكْتَمِلَةُ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَالْوَاجِبَاتِ لَكِنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ أَجْرِ صَلَاتِهِ إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا عَقَلَ مِنْهَا هُنَا أَيْضًا الصِّيَامُ هُوَ صَحِيحٌ مُبْرِئٌ لِلذِّمَّةِ لِكَوْنِهِ الْتَزَمَ بِالِاجْتِنَابِ لِلْمُفَطِّرَاتِ الْحِسِّيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنْهُ فَقَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى الصِّيَامِ إِذًا كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنَ الصَّائِمِ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ وَلِهَذَا كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ إِذَا صَامُوا جَلَسُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا نَحْفَظُ صَوْمَنَا وَلَا نَغْتَابُ أَحَدًا فَالصِّيَامُ مَدْرَسَةٌ لِلْمُسْلِمِ يَتَرَبَّى فِيهَا عَلَى أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ فَلْيَسْتَحْضِرِ الصَّائِمُ هَذَا الْمَعْنَى لِأَنَّهُ إِنْ اسْتَحْضَرَ هَذَا الْمَعْنَى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقَعَ فِي غِيبَةٍ تَذَكَّرَ أَنَّهُ صَائِمٌ وَأَنَّ الْغِيبَةَ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ أَيْضًا الْكَلَامَ السَّيِّءَ وَالْفُحْشَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ السَّبَّ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الْهَمْزَ وَاللَّمْزَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْمَعَازِفِ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُحَرَّمَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَهَكَذَا فَيَعْنِي هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ عَظِيمٌ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ يَعْنِي هَذَا الصَّوْمُ الَّذِي لَمْ يَتَأَدَّبْ فِيهِ الصَّائِمُ بِاجْتِنَابِ مَعَاصٍ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي هَذَا الصَّوْمِ الصَّوْمُ لَيْسَ فَقَطْ إِمْسَاكًا عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوةِ إِنَّمَا هُوَ أَيْضًا إِمْسَاكٌ عَنِ الْمَعَاصِي وَتَأَدُّبٌ بِآدَابِ الصِّيَامِ

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail: Ujian Cinta kepada Allah yang Menggetarkan Hati

Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, adalah salah satu kisah paling agung dalam Al-Qur’an. Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta seorang hamba kepada Allah sehingga ia mendahulukan perintah-Nya di atas segalanya. Dari peristiwa ini kita belajar tentang keimanan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.Baca juga: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail  Daftar Isi tutup 1. Hijrah Nabi Ibrahim karena Tauhid 2. Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang Saleh 3. Kabar Gembira Kelahiran Nabi Ismail 4. Perintah Menyembelih Ismail dalam Mimpi 5. Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran Ismail 6. Allah Menghentikan Penyembelihan 7. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada Allah 8. Asal Syariat Qurban 9. Pujian Abadi untuk Nabi Ibrahim 10. Balasan bagi Orang yang Berbuat Ihsan 11. Nasihat Penutup  Hijrah Nabi Ibrahim karena TauhidAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As-Saffat: 99)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: Ketika mereka melakukan tindakan tersebut terhadapnya, sementara Ibrahim telah menegakkan hujah kepada mereka dan telah menyampaikan alasan yang jelas, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku,” yaitu berhijrah kepada-Nya dengan menuju negeri yang diberkahi, yaitu negeri Syam. “Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku,” yakni menunjukkan kepadaku jalan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi urusan agama dan duniaku. Dalam ayat lain beliau berkata,وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.” (QS. Maryam: 48) Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang SalehAllah Ta’ala berfirman,رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh. Ketika Ibrahim telah berputus asa dari kaumnya dan tidak melihat kebaikan pada mereka, ia berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, yang dapat memberi manfaat dalam kehidupannya dan setelah wafatnya. Kabar Gembira Kelahiran Nabi IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Saffat: 101)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Allah pun mengabulkan doanya dan berfirman, “Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” Anak tersebut adalah Ismail ‘alaihis salam tanpa keraguan. Setelah itu disebutkan kabar gembira tentang Ishaq. Allah berfirman dalam kabar gembira tentang Ishaq,وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang diperintahkan untuk disembelih. Allah menyifati Ismail dengan sifat halim (penyantun), yang mencakup kesabaran, akhlak yang baik, kelapangan dada, dan sikap memaafkan orang yang berbuat salah. Perintah Menyembelih Ismail dalam MimpiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. As-Saffat: 102)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika anak itu telah mencapai usia yang memungkinkan ia membantu ayahnya dan menjadi usia yang biasanya paling dicintai oleh kedua orang tuanya—karena kesulitannya telah berlalu dan manfaatnya mulai tampak—maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Maksudnya, ia melihat dalam mimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya. Mimpi para nabi adalah wahyu.Kemudian ia berkata, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Karena perintah Allah pasti harus dilaksanakan.Ismail menjawab dengan penuh kesabaran, mengharap pahala, ridha kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dirinya telah menyiapkan diri untuk bersabar. Ia juga mengaitkannya dengan kehendak Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.Baca juga: Yang Disembelih adalah Ishak, Bukan Ismail? Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika Ibrahim dan putranya Ismail sama-sama berserah diri kepada perintah Allah, Ibrahim telah bertekad menyembelih anaknya—buah hatinya—dalam rangka menaati perintah Tuhannya dan karena takut akan azab-Nya. Sementara sang anak telah menyiapkan diri untuk bersabar, dan hal itu menjadi ringan baginya demi menaati Tuhannya dan menyenangkan ayahnya.“Dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya,” yaitu Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah menghadap ke bawah agar ia dapat menyembelihnya, sehingga ia tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. Allah Menghentikan PenyembelihanAllah Ta’ala berfirman,وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim.” (QS. As-Saffat: 104)قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 105)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Pada saat yang sangat menegangkan dan menggetarkan itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu,” yaitu engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau telah menyiapkan dirimu untuk melaksanakannya dan telah melakukan semua sebabnya. Yang tersisa hanyalah menjalankan pisau di leher anakmu.“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” yaitu mereka yang mendahulukan keridaan Allah daripada keinginan diri mereka. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ujian yang Allah berikan kepada Ibrahim ini adalah ujian yang sangat jelas, yang menampakkan kemurnian dirinya serta kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ismail adalah anak yang sangat dicintainya, sedangkan Ibrahim adalah Khalilur Rahman, kekasih Allah. Tingkatan khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi dan tidak menerima sekutu.Ketika sebagian hatinya terikat kepada anaknya, Allah ingin memurnikan cintanya dan menguji kedudukannya sebagai khalil. Maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih sesuatu yang bersaing dengan kecintaannya kepada Allah.Ketika Ibrahim lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada keinginan dirinya dan telah bertekad menyembelih anaknya, maka hilanglah penghalang dalam hatinya. Karena itu penyembelihan tersebut tidak lagi diperlukan. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Asal Syariat QurbanAllah Ta’ala berfirman,وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan dari kambing yang besar, yang disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, karena termasuk ibadah yang agung, dan karena ia menjadi qurban serta sunnah yang terus berlangsung hingga hari kiamat.Baca juga: Ketentuan dan Hikmah Ibadah Qurban Pujian Abadi untuk Nabi IbrahimAllah Ta’ala berfirman,وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 108)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Artinya, Allah menetapkan bagi Ibrahim pujian yang baik di kalangan generasi setelahnya, sebagaimana ia juga dipuji oleh generasi sebelumnya. Setiap zaman setelah Ibrahim, ia selalu dicintai, dimuliakan, dan dipuji.Allah Ta’ala berfirman,سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” (QS. As-Saffat: 109)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ini adalah bentuk penghormatan dan doa keselamatan untuknya, sebagaimana firman Allah,قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (QS. An-Naml: 59) Balasan bagi Orang yang Berbuat IhsanAllah Ta’ala berfirman,كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 110)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah dan dalam memperlakukan sesama manusia, Allah memberikan balasan kepada mereka dengan menghilangkan kesulitan dari mereka serta menjadikan bagi mereka akhir yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ“Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat: 111)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ibrahim termasuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman terhadap apa yang diperintahkan untuk diimani, hingga imannya mencapai tingkat keyakinan yang tinggi. Sebagaimana firman Allah,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75) Nasihat PenutupKisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta lainnya: cinta kepada harta, jabatan, bahkan kepada keluarga. Di zaman sekarang, banyak orang rela melanggar perintah Allah demi menjaga kepentingan dunia, padahal seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan keridaan Allah di atas segala-galanya.Semoga kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kita kepada Allah dalam setiap keadaan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sabar dalam ujian, dan kuat dalam menaati perintah-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ فِي الْبَلَاءِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas, karuniakan kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian, dan tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibrah kisah nabi kisah kurban dalam al quran kisah nabi dalam al quran kisah Nabi Ibrahim kisah penyembelihan ismail nabi ibrahim dan ismail pelajaran dari nabi ibrahim pelajaran iman nabi ibrahim renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surat as saffat

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail: Ujian Cinta kepada Allah yang Menggetarkan Hati

Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, adalah salah satu kisah paling agung dalam Al-Qur’an. Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta seorang hamba kepada Allah sehingga ia mendahulukan perintah-Nya di atas segalanya. Dari peristiwa ini kita belajar tentang keimanan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.Baca juga: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail  Daftar Isi tutup 1. Hijrah Nabi Ibrahim karena Tauhid 2. Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang Saleh 3. Kabar Gembira Kelahiran Nabi Ismail 4. Perintah Menyembelih Ismail dalam Mimpi 5. Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran Ismail 6. Allah Menghentikan Penyembelihan 7. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada Allah 8. Asal Syariat Qurban 9. Pujian Abadi untuk Nabi Ibrahim 10. Balasan bagi Orang yang Berbuat Ihsan 11. Nasihat Penutup  Hijrah Nabi Ibrahim karena TauhidAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As-Saffat: 99)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: Ketika mereka melakukan tindakan tersebut terhadapnya, sementara Ibrahim telah menegakkan hujah kepada mereka dan telah menyampaikan alasan yang jelas, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku,” yaitu berhijrah kepada-Nya dengan menuju negeri yang diberkahi, yaitu negeri Syam. “Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku,” yakni menunjukkan kepadaku jalan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi urusan agama dan duniaku. Dalam ayat lain beliau berkata,وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.” (QS. Maryam: 48) Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang SalehAllah Ta’ala berfirman,رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh. Ketika Ibrahim telah berputus asa dari kaumnya dan tidak melihat kebaikan pada mereka, ia berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, yang dapat memberi manfaat dalam kehidupannya dan setelah wafatnya. Kabar Gembira Kelahiran Nabi IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Saffat: 101)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Allah pun mengabulkan doanya dan berfirman, “Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” Anak tersebut adalah Ismail ‘alaihis salam tanpa keraguan. Setelah itu disebutkan kabar gembira tentang Ishaq. Allah berfirman dalam kabar gembira tentang Ishaq,وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang diperintahkan untuk disembelih. Allah menyifati Ismail dengan sifat halim (penyantun), yang mencakup kesabaran, akhlak yang baik, kelapangan dada, dan sikap memaafkan orang yang berbuat salah. Perintah Menyembelih Ismail dalam MimpiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. As-Saffat: 102)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika anak itu telah mencapai usia yang memungkinkan ia membantu ayahnya dan menjadi usia yang biasanya paling dicintai oleh kedua orang tuanya—karena kesulitannya telah berlalu dan manfaatnya mulai tampak—maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Maksudnya, ia melihat dalam mimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya. Mimpi para nabi adalah wahyu.Kemudian ia berkata, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Karena perintah Allah pasti harus dilaksanakan.Ismail menjawab dengan penuh kesabaran, mengharap pahala, ridha kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dirinya telah menyiapkan diri untuk bersabar. Ia juga mengaitkannya dengan kehendak Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.Baca juga: Yang Disembelih adalah Ishak, Bukan Ismail? Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika Ibrahim dan putranya Ismail sama-sama berserah diri kepada perintah Allah, Ibrahim telah bertekad menyembelih anaknya—buah hatinya—dalam rangka menaati perintah Tuhannya dan karena takut akan azab-Nya. Sementara sang anak telah menyiapkan diri untuk bersabar, dan hal itu menjadi ringan baginya demi menaati Tuhannya dan menyenangkan ayahnya.“Dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya,” yaitu Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah menghadap ke bawah agar ia dapat menyembelihnya, sehingga ia tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. Allah Menghentikan PenyembelihanAllah Ta’ala berfirman,وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim.” (QS. As-Saffat: 104)قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 105)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Pada saat yang sangat menegangkan dan menggetarkan itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu,” yaitu engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau telah menyiapkan dirimu untuk melaksanakannya dan telah melakukan semua sebabnya. Yang tersisa hanyalah menjalankan pisau di leher anakmu.“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” yaitu mereka yang mendahulukan keridaan Allah daripada keinginan diri mereka. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ujian yang Allah berikan kepada Ibrahim ini adalah ujian yang sangat jelas, yang menampakkan kemurnian dirinya serta kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ismail adalah anak yang sangat dicintainya, sedangkan Ibrahim adalah Khalilur Rahman, kekasih Allah. Tingkatan khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi dan tidak menerima sekutu.Ketika sebagian hatinya terikat kepada anaknya, Allah ingin memurnikan cintanya dan menguji kedudukannya sebagai khalil. Maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih sesuatu yang bersaing dengan kecintaannya kepada Allah.Ketika Ibrahim lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada keinginan dirinya dan telah bertekad menyembelih anaknya, maka hilanglah penghalang dalam hatinya. Karena itu penyembelihan tersebut tidak lagi diperlukan. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Asal Syariat QurbanAllah Ta’ala berfirman,وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan dari kambing yang besar, yang disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, karena termasuk ibadah yang agung, dan karena ia menjadi qurban serta sunnah yang terus berlangsung hingga hari kiamat.Baca juga: Ketentuan dan Hikmah Ibadah Qurban Pujian Abadi untuk Nabi IbrahimAllah Ta’ala berfirman,وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 108)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Artinya, Allah menetapkan bagi Ibrahim pujian yang baik di kalangan generasi setelahnya, sebagaimana ia juga dipuji oleh generasi sebelumnya. Setiap zaman setelah Ibrahim, ia selalu dicintai, dimuliakan, dan dipuji.Allah Ta’ala berfirman,سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” (QS. As-Saffat: 109)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ini adalah bentuk penghormatan dan doa keselamatan untuknya, sebagaimana firman Allah,قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (QS. An-Naml: 59) Balasan bagi Orang yang Berbuat IhsanAllah Ta’ala berfirman,كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 110)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah dan dalam memperlakukan sesama manusia, Allah memberikan balasan kepada mereka dengan menghilangkan kesulitan dari mereka serta menjadikan bagi mereka akhir yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ“Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat: 111)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ibrahim termasuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman terhadap apa yang diperintahkan untuk diimani, hingga imannya mencapai tingkat keyakinan yang tinggi. Sebagaimana firman Allah,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75) Nasihat PenutupKisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta lainnya: cinta kepada harta, jabatan, bahkan kepada keluarga. Di zaman sekarang, banyak orang rela melanggar perintah Allah demi menjaga kepentingan dunia, padahal seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan keridaan Allah di atas segala-galanya.Semoga kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kita kepada Allah dalam setiap keadaan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sabar dalam ujian, dan kuat dalam menaati perintah-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ فِي الْبَلَاءِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas, karuniakan kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian, dan tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibrah kisah nabi kisah kurban dalam al quran kisah nabi dalam al quran kisah Nabi Ibrahim kisah penyembelihan ismail nabi ibrahim dan ismail pelajaran dari nabi ibrahim pelajaran iman nabi ibrahim renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surat as saffat
Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, adalah salah satu kisah paling agung dalam Al-Qur’an. Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta seorang hamba kepada Allah sehingga ia mendahulukan perintah-Nya di atas segalanya. Dari peristiwa ini kita belajar tentang keimanan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.Baca juga: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail  Daftar Isi tutup 1. Hijrah Nabi Ibrahim karena Tauhid 2. Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang Saleh 3. Kabar Gembira Kelahiran Nabi Ismail 4. Perintah Menyembelih Ismail dalam Mimpi 5. Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran Ismail 6. Allah Menghentikan Penyembelihan 7. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada Allah 8. Asal Syariat Qurban 9. Pujian Abadi untuk Nabi Ibrahim 10. Balasan bagi Orang yang Berbuat Ihsan 11. Nasihat Penutup  Hijrah Nabi Ibrahim karena TauhidAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As-Saffat: 99)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: Ketika mereka melakukan tindakan tersebut terhadapnya, sementara Ibrahim telah menegakkan hujah kepada mereka dan telah menyampaikan alasan yang jelas, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku,” yaitu berhijrah kepada-Nya dengan menuju negeri yang diberkahi, yaitu negeri Syam. “Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku,” yakni menunjukkan kepadaku jalan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi urusan agama dan duniaku. Dalam ayat lain beliau berkata,وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.” (QS. Maryam: 48) Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang SalehAllah Ta’ala berfirman,رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh. Ketika Ibrahim telah berputus asa dari kaumnya dan tidak melihat kebaikan pada mereka, ia berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, yang dapat memberi manfaat dalam kehidupannya dan setelah wafatnya. Kabar Gembira Kelahiran Nabi IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Saffat: 101)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Allah pun mengabulkan doanya dan berfirman, “Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” Anak tersebut adalah Ismail ‘alaihis salam tanpa keraguan. Setelah itu disebutkan kabar gembira tentang Ishaq. Allah berfirman dalam kabar gembira tentang Ishaq,وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang diperintahkan untuk disembelih. Allah menyifati Ismail dengan sifat halim (penyantun), yang mencakup kesabaran, akhlak yang baik, kelapangan dada, dan sikap memaafkan orang yang berbuat salah. Perintah Menyembelih Ismail dalam MimpiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. As-Saffat: 102)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika anak itu telah mencapai usia yang memungkinkan ia membantu ayahnya dan menjadi usia yang biasanya paling dicintai oleh kedua orang tuanya—karena kesulitannya telah berlalu dan manfaatnya mulai tampak—maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Maksudnya, ia melihat dalam mimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya. Mimpi para nabi adalah wahyu.Kemudian ia berkata, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Karena perintah Allah pasti harus dilaksanakan.Ismail menjawab dengan penuh kesabaran, mengharap pahala, ridha kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dirinya telah menyiapkan diri untuk bersabar. Ia juga mengaitkannya dengan kehendak Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.Baca juga: Yang Disembelih adalah Ishak, Bukan Ismail? Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika Ibrahim dan putranya Ismail sama-sama berserah diri kepada perintah Allah, Ibrahim telah bertekad menyembelih anaknya—buah hatinya—dalam rangka menaati perintah Tuhannya dan karena takut akan azab-Nya. Sementara sang anak telah menyiapkan diri untuk bersabar, dan hal itu menjadi ringan baginya demi menaati Tuhannya dan menyenangkan ayahnya.“Dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya,” yaitu Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah menghadap ke bawah agar ia dapat menyembelihnya, sehingga ia tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. Allah Menghentikan PenyembelihanAllah Ta’ala berfirman,وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim.” (QS. As-Saffat: 104)قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 105)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Pada saat yang sangat menegangkan dan menggetarkan itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu,” yaitu engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau telah menyiapkan dirimu untuk melaksanakannya dan telah melakukan semua sebabnya. Yang tersisa hanyalah menjalankan pisau di leher anakmu.“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” yaitu mereka yang mendahulukan keridaan Allah daripada keinginan diri mereka. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ujian yang Allah berikan kepada Ibrahim ini adalah ujian yang sangat jelas, yang menampakkan kemurnian dirinya serta kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ismail adalah anak yang sangat dicintainya, sedangkan Ibrahim adalah Khalilur Rahman, kekasih Allah. Tingkatan khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi dan tidak menerima sekutu.Ketika sebagian hatinya terikat kepada anaknya, Allah ingin memurnikan cintanya dan menguji kedudukannya sebagai khalil. Maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih sesuatu yang bersaing dengan kecintaannya kepada Allah.Ketika Ibrahim lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada keinginan dirinya dan telah bertekad menyembelih anaknya, maka hilanglah penghalang dalam hatinya. Karena itu penyembelihan tersebut tidak lagi diperlukan. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Asal Syariat QurbanAllah Ta’ala berfirman,وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan dari kambing yang besar, yang disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, karena termasuk ibadah yang agung, dan karena ia menjadi qurban serta sunnah yang terus berlangsung hingga hari kiamat.Baca juga: Ketentuan dan Hikmah Ibadah Qurban Pujian Abadi untuk Nabi IbrahimAllah Ta’ala berfirman,وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 108)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Artinya, Allah menetapkan bagi Ibrahim pujian yang baik di kalangan generasi setelahnya, sebagaimana ia juga dipuji oleh generasi sebelumnya. Setiap zaman setelah Ibrahim, ia selalu dicintai, dimuliakan, dan dipuji.Allah Ta’ala berfirman,سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” (QS. As-Saffat: 109)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ini adalah bentuk penghormatan dan doa keselamatan untuknya, sebagaimana firman Allah,قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (QS. An-Naml: 59) Balasan bagi Orang yang Berbuat IhsanAllah Ta’ala berfirman,كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 110)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah dan dalam memperlakukan sesama manusia, Allah memberikan balasan kepada mereka dengan menghilangkan kesulitan dari mereka serta menjadikan bagi mereka akhir yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ“Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat: 111)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ibrahim termasuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman terhadap apa yang diperintahkan untuk diimani, hingga imannya mencapai tingkat keyakinan yang tinggi. Sebagaimana firman Allah,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75) Nasihat PenutupKisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta lainnya: cinta kepada harta, jabatan, bahkan kepada keluarga. Di zaman sekarang, banyak orang rela melanggar perintah Allah demi menjaga kepentingan dunia, padahal seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan keridaan Allah di atas segala-galanya.Semoga kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kita kepada Allah dalam setiap keadaan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sabar dalam ujian, dan kuat dalam menaati perintah-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ فِي الْبَلَاءِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas, karuniakan kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian, dan tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibrah kisah nabi kisah kurban dalam al quran kisah nabi dalam al quran kisah Nabi Ibrahim kisah penyembelihan ismail nabi ibrahim dan ismail pelajaran dari nabi ibrahim pelajaran iman nabi ibrahim renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surat as saffat


Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, adalah salah satu kisah paling agung dalam Al-Qur’an. Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta seorang hamba kepada Allah sehingga ia mendahulukan perintah-Nya di atas segalanya. Dari peristiwa ini kita belajar tentang keimanan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.Baca juga: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail  Daftar Isi tutup 1. Hijrah Nabi Ibrahim karena Tauhid 2. Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang Saleh 3. Kabar Gembira Kelahiran Nabi Ismail 4. Perintah Menyembelih Ismail dalam Mimpi 5. Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran Ismail 6. Allah Menghentikan Penyembelihan 7. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada Allah 8. Asal Syariat Qurban 9. Pujian Abadi untuk Nabi Ibrahim 10. Balasan bagi Orang yang Berbuat Ihsan 11. Nasihat Penutup  Hijrah Nabi Ibrahim karena TauhidAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As-Saffat: 99)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: Ketika mereka melakukan tindakan tersebut terhadapnya, sementara Ibrahim telah menegakkan hujah kepada mereka dan telah menyampaikan alasan yang jelas, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku,” yaitu berhijrah kepada-Nya dengan menuju negeri yang diberkahi, yaitu negeri Syam. “Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku,” yakni menunjukkan kepadaku jalan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi urusan agama dan duniaku. Dalam ayat lain beliau berkata,وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.” (QS. Maryam: 48) Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang SalehAllah Ta’ala berfirman,رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh. Ketika Ibrahim telah berputus asa dari kaumnya dan tidak melihat kebaikan pada mereka, ia berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, yang dapat memberi manfaat dalam kehidupannya dan setelah wafatnya. Kabar Gembira Kelahiran Nabi IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Saffat: 101)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Allah pun mengabulkan doanya dan berfirman, “Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” Anak tersebut adalah Ismail ‘alaihis salam tanpa keraguan. Setelah itu disebutkan kabar gembira tentang Ishaq. Allah berfirman dalam kabar gembira tentang Ishaq,وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang diperintahkan untuk disembelih. Allah menyifati Ismail dengan sifat halim (penyantun), yang mencakup kesabaran, akhlak yang baik, kelapangan dada, dan sikap memaafkan orang yang berbuat salah. Perintah Menyembelih Ismail dalam MimpiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. As-Saffat: 102)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika anak itu telah mencapai usia yang memungkinkan ia membantu ayahnya dan menjadi usia yang biasanya paling dicintai oleh kedua orang tuanya—karena kesulitannya telah berlalu dan manfaatnya mulai tampak—maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Maksudnya, ia melihat dalam mimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya. Mimpi para nabi adalah wahyu.Kemudian ia berkata, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Karena perintah Allah pasti harus dilaksanakan.Ismail menjawab dengan penuh kesabaran, mengharap pahala, ridha kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dirinya telah menyiapkan diri untuk bersabar. Ia juga mengaitkannya dengan kehendak Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.Baca juga: Yang Disembelih adalah Ishak, Bukan Ismail? Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika Ibrahim dan putranya Ismail sama-sama berserah diri kepada perintah Allah, Ibrahim telah bertekad menyembelih anaknya—buah hatinya—dalam rangka menaati perintah Tuhannya dan karena takut akan azab-Nya. Sementara sang anak telah menyiapkan diri untuk bersabar, dan hal itu menjadi ringan baginya demi menaati Tuhannya dan menyenangkan ayahnya.“Dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya,” yaitu Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah menghadap ke bawah agar ia dapat menyembelihnya, sehingga ia tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. Allah Menghentikan PenyembelihanAllah Ta’ala berfirman,وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim.” (QS. As-Saffat: 104)قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 105)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Pada saat yang sangat menegangkan dan menggetarkan itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu,” yaitu engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau telah menyiapkan dirimu untuk melaksanakannya dan telah melakukan semua sebabnya. Yang tersisa hanyalah menjalankan pisau di leher anakmu.“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” yaitu mereka yang mendahulukan keridaan Allah daripada keinginan diri mereka. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ujian yang Allah berikan kepada Ibrahim ini adalah ujian yang sangat jelas, yang menampakkan kemurnian dirinya serta kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ismail adalah anak yang sangat dicintainya, sedangkan Ibrahim adalah Khalilur Rahman, kekasih Allah. Tingkatan khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi dan tidak menerima sekutu.Ketika sebagian hatinya terikat kepada anaknya, Allah ingin memurnikan cintanya dan menguji kedudukannya sebagai khalil. Maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih sesuatu yang bersaing dengan kecintaannya kepada Allah.Ketika Ibrahim lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada keinginan dirinya dan telah bertekad menyembelih anaknya, maka hilanglah penghalang dalam hatinya. Karena itu penyembelihan tersebut tidak lagi diperlukan. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Asal Syariat QurbanAllah Ta’ala berfirman,وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan dari kambing yang besar, yang disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, karena termasuk ibadah yang agung, dan karena ia menjadi qurban serta sunnah yang terus berlangsung hingga hari kiamat.Baca juga: Ketentuan dan Hikmah Ibadah Qurban Pujian Abadi untuk Nabi IbrahimAllah Ta’ala berfirman,وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 108)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Artinya, Allah menetapkan bagi Ibrahim pujian yang baik di kalangan generasi setelahnya, sebagaimana ia juga dipuji oleh generasi sebelumnya. Setiap zaman setelah Ibrahim, ia selalu dicintai, dimuliakan, dan dipuji.Allah Ta’ala berfirman,سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” (QS. As-Saffat: 109)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ini adalah bentuk penghormatan dan doa keselamatan untuknya, sebagaimana firman Allah,قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (QS. An-Naml: 59) Balasan bagi Orang yang Berbuat IhsanAllah Ta’ala berfirman,كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 110)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah dan dalam memperlakukan sesama manusia, Allah memberikan balasan kepada mereka dengan menghilangkan kesulitan dari mereka serta menjadikan bagi mereka akhir yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ“Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat: 111)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ibrahim termasuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman terhadap apa yang diperintahkan untuk diimani, hingga imannya mencapai tingkat keyakinan yang tinggi. Sebagaimana firman Allah,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75) Nasihat PenutupKisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta lainnya: cinta kepada harta, jabatan, bahkan kepada keluarga. Di zaman sekarang, banyak orang rela melanggar perintah Allah demi menjaga kepentingan dunia, padahal seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan keridaan Allah di atas segala-galanya.Semoga kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kita kepada Allah dalam setiap keadaan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sabar dalam ujian, dan kuat dalam menaati perintah-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ فِي الْبَلَاءِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas, karuniakan kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian, dan tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibrah kisah nabi kisah kurban dalam al quran kisah nabi dalam al quran kisah Nabi Ibrahim kisah penyembelihan ismail nabi ibrahim dan ismail pelajaran dari nabi ibrahim pelajaran iman nabi ibrahim renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surat as saffat
Prev     Next