Siapa Ibu Susu Nabi Muhammad ﷺ? Kisah Halimah, Tsuwaibah, dan Ummu Aiman

Siapa sebenarnya yang menyusui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kecil? Nama Ummu Aiman sering disebut bersama para ibu susu Nabi ﷺ, padahal beliau sebenarnya adalah pengasuh Nabi ﷺ, bukan wanita yang menyusui beliau. Kisah para wanita yang merawat Rasulullah ﷺ ini bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi menyimpan pelajaran tentang pendidikan anak, menjaga bahasa, membalas kebaikan, hingga menjaga hubungan dengan orang-orang yang berjasa dalam kehidupan kita.  Daftar Isi tutup 1. Berapa Jumlah Wanita yang Menyusui Nabi ﷺ? 1.1. Pertama: Aminah binti Wahb 1.2. Kedua: Tsuwaibah, Maulah Abu Lahab 1.3. Ketiga: Halimah As-Sa‘diyyah 1.4. Keempat: Seorang Wanita dari Bani Sa‘d 2. Ummu Aiman Bukan Ibu Susu Nabi ﷺ 2.1. Siapakah Ummu Aiman? 2.2. Ummu Aiman, “Ibuku Setelah Ibuku” 2.3. Ummu Aiman Menikah dengan Zaid bin Haritsah 3. Zaid, Zainab binti Jahsy, dan Penghapusan Tradisi Jahiliah 4. Mengapa Anak-Anak Arab Disusukan di Pedalaman? 5. Nabi ﷺ Tetap Memuliakan Orang yang Mengasuhnya 6. Abu Bakr dan Umar Melanjutkan Kebiasaan Nabi ﷺ Mengunjungi Ummu Aiman 7. Pelajaran dari Imam An-Nawawi tentang Mengunjungi Ummu Aiman 8. Ummu Aiman Menangis karena Wahyu Telah Terputus 9. Beberapa Pelajaran Penting 10. Nasihat Terakhir  Berapa Jumlah Wanita yang Menyusui Nabi ﷺ?Para ahli sirah menyebutkan empat wanita yang pernah menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ibunda beliau sendiri ikut dihitung. Mereka adalah:Aminah binti Wahb, ibu kandung Nabi ﷺ.Tsuwaibah, maulah Abu Lahab.Halimah binti Abi Dzu’aib As-Sa‘diyyah.Seorang wanita dari Bani Sa‘d yang juga menjadi ibu susu Hamzah bin ‘Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu.Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan mengenai para wanita yang menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَمِنْهُنَّ ثُوَيْبَةُ مَوْلَاةُ أَبِي لَهَبٍ، أَرْضَعَتْهُ أَيَّامًا، وَأَرْضَعَتْ مَعَهُ أَبَا سَلَمَةَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ الْأَسَدِ الْمَخْزُومِيَّ بِلَبَنِ ابْنِهَا مَسْرُوحٍ، وَأَرْضَعَتْ مَعَهُمَا عَمَّهُ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ.“Di antara mereka adalah Tsuwaibah, maulah Abu Lahab. Ia menyusui Nabi ﷺ selama beberapa hari. Bersama beliau, Tsuwaibah juga menyusui Abu Salamah ‘Abdullah bin ‘Abdul Asad Al-Makhzumi dengan air susu untuk putranya, Masruh. Bersama keduanya, Tsuwaibah juga menyusui paman Nabi ﷺ, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib.”Kemudian Ibnul Qayyim mengatakan,ثُمَّ أَرْضَعَتْهُ حَلِيمَةُ السَّعْدِيَّةُ بِلَبَنِ ابْنِهَا عَبْدِ اللَّهِ، وَكَانَ عَمُّهُ حَمْزَةُ مُسْتَرْضَعًا فِي بَنِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ، فَأَرْضَعَتْ أُمُّهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا وَهُوَ عِنْدَ أُمِّهِ حَلِيمَةَ.“Kemudian Halimah As-Sa‘diyyah menyusui beliau dengan air susu untuk putranya, ‘Abdullah. Paman beliau, Hamzah, juga sedang disusukan di tengah Bani Sa‘d bin Bakr. Ibu susu Hamzah pernah menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama satu hari ketika beliau berada bersama ibu susunya, Halimah.” (Zād Al-Ma‘ād).Dengan demikian, Hamzah radhiyallahu ‘anhu menjadi saudara sepersusuan Nabi ﷺ melalui dua jalur, yaitu melalui Tsuwaibah dan melalui seorang wanita dari Bani Sa‘d. Pertama: Aminah binti WahbWanita pertama yang menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibu beliau sendiri, Aminah binti Wahb. Setelah itu, beliau disusui oleh wanita-wanita lain sebagaimana kebiasaan masyarakat Arab ketika itu. Kedua: Tsuwaibah, Maulah Abu LahabSetelah Aminah, wanita pertama yang menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Tsuwaibah, maulah Abu Lahab.Tsuwaibah menyusui Rasulullah ﷺ dengan air susu untuk putranya yang bernama Masruh. Sebelumnya, ia juga menyusui Hamzah bin ‘Abdul Muththalib. Setelah itu, ia juga menyusui Abu Salamah bin ‘Abdul Asad.Karena itu, Hamzah memiliki hubungan saudara sepersusuan dengan Nabi ﷺ.Tentang hukum persusuan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditawari untuk menikahi putri Hamzah. Beliau menjawab,لَا تَحِلُّ لِي، يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ، هِيَ بِنْتُ أَخِي مِنَ الرَّضَاعَةِ“Ia tidak halal bagiku. Apa yang haram karena persusuan sama seperti yang haram karena hubungan nasab. Ia adalah putri dari saudara sepersusuanku.” (HR. Bukhari, no. 2645).Ini menunjukkan bahwa persusuan dapat melahirkan hubungan mahram sebagaimana hubungan nasab. Ketiga: Halimah As-Sa‘diyyahNama lengkapnya adalah Halimah binti Abi Dzu’aib As-Sa‘diyyah.Halimah termasuk rombongan wanita Bani Sa‘d yang datang ke Makkah untuk mencari bayi yang dapat mereka susui. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya dibawa oleh Halimah dan tinggal di lingkungan Bani Sa‘d.Dalam kitab-kitab sirah sangat terkenal kisah datangnya keberkahan kepada keluarga Halimah setelah membawa Nabi Muhammad ﷺ. Halimah pun sangat berharap agar Muhammad kecil tetap tinggal bersamanya setelah masa penyusuan selesai.Namun, perlu diperhatikan bahwa rincian kisah-kisah mengenai Halimah yang tersebar dalam kitab-kitab sirah tidak seluruhnya memiliki tingkat kesahihan yang sama. Karena itu, riwayat-riwayat tersebut hendaknya disampaikan sesuai dengan derajatnya. Keempat: Seorang Wanita dari Bani Sa‘dSelain Halimah, seorang wanita dari Bani Sa‘d yang menjadi ibu susu Hamzah radhiyallahu ‘anhu juga pernah menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika itu, Nabi ﷺ sedang berada dalam pengasuhan Halimah. Wanita tersebut disebut pernah menyusui Nabi ﷺ selama satu hari.Namanya tidak disebutkan secara pasti dalam keterangan tersebut.Dengan demikian, jika Aminah binti Wahb ikut dihitung, para ahli sirah menyebut empat wanita yang menyusui Nabi ﷺ. Ummu Aiman Bukan Ibu Susu Nabi ﷺAda hal yang perlu diluruskan. Ummu Aiman tidak termasuk wanita yang menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Islamweb secara tegas menyatakan,وَلَيْسَتْ مِنْهُنَّ أُمُّ أَيْمَنَ، وَإِنَّمَا هِيَ مَوْلَاتُهُ وَحَاضِنَتُهُ وَلَمْ تُرْضِعْهُ.“Ummu Aiman tidak termasuk di antara wanita yang menyusui Nabi ﷺ. Ia adalah maulah dan pengasuh beliau, dan ia tidak pernah menyusui beliau.”Dengan demikian, lebih tepat mengatakan bahwa Ummu Aiman adalah pengasuh Nabi ﷺ, bukan ibu susu beliau. Siapakah Ummu Aiman?Ummu Aiman adalah seorang sahabiyah yang mulia. Nama beliau adalah:بَرَكَةُ بِنْتُ ثَعْلَبَةَ بْنِ حِصْنِ بْنِ مَالِكٍ الْحَبَشِيَّةُBarakah binti Tsa‘labah bin Hishn bin Malik Al-Habasyiyyah.Beliau lebih dikenal dengan kunyahnya, Ummu Aiman.Ummu Aiman adalah maulah sekaligus pengasuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi ﷺ mewarisinya dari ayah beliau, dan ada pula pendapat yang mengatakan dari ibu beliau. Kemudian Nabi ﷺ memerdekakannya ketika beliau menikahi Khadijah radhiyallahu ‘anha.Ummu Aiman termasuk orang yang masuk Islam sejak masa awal. Beliau juga mengikuti dua hijrah, yaitu hijrah ke Habasyah dan hijrah ke Madinah.Disebutkan bahwa beliau wafat lima bulan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa beliau masih hidup hingga awal kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Ummu Aiman, “Ibuku Setelah Ibuku”Muhibbuddin Ath-Thabari dalam Dzakhā’ir Al-‘Uqbā fī Manāqib Dzawī Al-Qurbā menyebutkan,وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: أُمُّ أَيْمَنَ أُمِّي بَعْدَ أُمِّي.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengatakan, ‘Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku.’”Ungkapan ini menunjukkan kedudukan Ummu Aiman sebagai wanita yang mengasuh dan merawat Nabi ﷺ sejak kecil, bukan menunjukkan hubungan persusuan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga biasa mengunjungi Ummu Aiman. Ummu Aiman Menikah dengan Zaid bin HaritsahUmmu Aiman kemudian menikah dengan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu.Dari pernikahan tersebut lahirlah Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma. Usamah dikenal sebagai orang yang dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan putra dari orang yang beliau cintai.Zaid sendiri memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Dahulu, sebelum syariat mengenai nasab anak angkat diturunkan, Zaid bahkan dikenal dengan sebutan Zaid bin Muhammad.Allah kemudian berfirman,وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ“Dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu.” (QS. Al-Ahzab: 4).Allah Ta‘ala juga berfirman,ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ“Panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5).Sejak itu, Zaid kembali dipanggil dengan nasab ayah kandungnya, Zaid bin Haritsah. Zaid, Zainab binti Jahsy, dan Penghapusan Tradisi JahiliahZaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu juga pernah menikah dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Ibu Zainab adalah Umaimah binti ‘Abdul Muththalib, bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Rumah tangga Zaid dan Zainab akhirnya berakhir dengan perceraian.Setelah Zaid menceraikan Zainab dan selesai keperluannya dengannya, Allah menikahkan Zainab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Ta‘ala berfirman,فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا“Maka ketika Zaid telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya (lalu menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan Zainab agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk menikahi istri-istri anak angkat mereka apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37).Di balik pernikahan tersebut terdapat tujuan syariat yang sangat penting, yaitu menghapus kebiasaan jahiliah yang menyamakan anak angkat dengan anak kandung dalam masalah nasab dan hukum pernikahan.Zaid bukan anak kandung Nabi ﷺ. Karena itu, mantan istri Zaid tidak memiliki kedudukan seperti mantan istri anak kandung Nabi ﷺ.Allah bahkan menyatakan,زَوَّجْنَاكَهَا“Kami nikahkan engkau dengannya.”Dengan pernikahan tersebut, Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha menjadi salah seorang Ummul Mukminin.Pelajarannya, Islam sangat menganjurkan menyayangi, mendidik, dan memperhatikan anak angkat. Namun, kasih sayang tersebut tidak boleh mengubah nasab dan hukum-hukum syariat yang berkaitan dengannya. Mengapa Anak-Anak Arab Disusukan di Pedalaman?Menyusukan bayi kepada wanita pedalaman bukanlah sesuatu yang khusus dilakukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hal tersebut merupakan kebiasaan yang dikenal di tengah masyarakat Arab, terutama keluarga-keluarga terpandang. Anak-anak dibawa ke pedalaman untuk mendapatkan lingkungan pertumbuhan yang lebih baik.Di antara hikmahnya adalah agar tubuh mereka tumbuh lebih kuat dan bahasa Arab mereka lebih fasih.Lingkungan pedalaman juga lebih jauh dari hiruk-pikuk kota. Makkah merupakan kota yang banyak didatangi manusia dari berbagai daerah untuk berhaji, berdagang, dan berbagai keperluan lainnya.Anak-anak yang tumbuh di pedalaman juga terbiasa mendengar bahasa Arab yang masih murni dan fasih.Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya mempelajari bahasa Arab. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,وَأَيْضًا فَإِنَّ نَفْسَ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ مِنَ الدِّينِ، وَمَعْرِفَتُهَا فَرْضٌ وَاجِبٌ، فَإِنَّ فَهْمَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَرْضٌ، وَلَا يُفْهَمُ إِلَّا بِفَهْمِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ، وَمَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ.“Bahasa Arab itu sendiri merupakan bagian dari agama. Mempelajarinya adalah suatu kewajiban. Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah wajib, sedangkan keduanya tidak dapat dipahami dengan baik kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sesuatu yang menjadi sarana untuk menyempurnakan suatu kewajiban, maka sarana tersebut juga menjadi wajib.” (Iqtidā’ Ash-Shirāth Al-Mustaqīm, 1:527). Nabi ﷺ Tetap Memuliakan Orang yang MengasuhnyaSalah satu pelajaran indah dari kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak melupakan jasa orang yang pernah berbuat baik kepada beliau.Allah Ta‘ala berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ“Siapa yang berbuat baik kepada kalian, balaslah kebaikannya. Jika kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, doakanlah ia sampai kalian merasa telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud, no. 1672 dan An-Nasa’i, no. 2568).Ummu Aiman telah mengasuh Nabi ﷺ ketika kecil. Setelah Nabi ﷺ dewasa, beliau tidak melupakannya. Rasulullah ﷺ tetap mengunjungi dan memuliakannya. Abu Bakr dan Umar Melanjutkan Kebiasaan Nabi ﷺ Mengunjungi Ummu AimanSetelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakr Ash-Shiddiq mengajak Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma mengunjungi Ummu Aiman.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ: انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا، كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا.“Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Umar, ‘Mari kita pergi menemui Ummu Aiman untuk mengunjunginya sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengunjunginya.’”Ketika keduanya sampai di tempat Ummu Aiman, ia menangis. Abu Bakr dan Umar bertanya kepadanya mengapa ia menangis, sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya.Ummu Aiman menjawab,مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ.“Aku menangis bukan karena aku tidak mengetahui bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya. Namun, aku menangis karena wahyu dari langit telah terputus.”Ucapan Ummu Aiman tersebut membuat Abu Bakr dan Umar ikut menangis bersamanya. (HR. Muslim, no. 2454).Perhatikan alasan Abu Bakr mengajak Umar:نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا“Kita mengunjunginya sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya.”Mereka ingin meneruskan hubungan baik yang dahulu dijaga oleh Rasulullah ﷺ. Pelajaran dari Imam An-Nawawi tentang Mengunjungi Ummu AimanImam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan beberapa faedah hadis tersebut. Di antaranya,فِيهِ زِيَارَةُ الصَّالِحِينَ وَفَضْلُهَا، وَزِيَارَةُ الصَّالِحِ لِمَنْ هُوَ دُونَهُ، وَزِيَارَةُ الْإِنْسَانِ لِمَنْ كَانَ صَدِيقُهُ يَزُورُهُ، وَلِأَهْلِ وُدِّ صَدِيقِهِ.“Dalam hadits ini terdapat anjuran mengunjungi orang-orang saleh dan keutamaan melakukannya. Hadits ini juga menunjukkan bolehnya orang yang memiliki keutamaan mengunjungi orang yang kedudukannya di bawahnya, serta seseorang mengunjungi orang yang dahulu biasa dikunjungi oleh sahabatnya dan orang-orang yang dicintai sahabatnya.” (Al-Minhāj Syarh Shahīh Muslim).Ada pelajaran besar di sini. Kecintaan dan kesetiaan kepada seseorang tidak harus berakhir ketika orang tersebut meninggal dunia. Salah satu bentuk ketulusan cinta adalah tetap menjaga hubungan dengan orang-orang yang dahulu dicintai dan dimuliakannya.Hal serupa terdapat dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ“Sesungguhnya termasuk bentuk bakti yang paling utama adalah seorang anak menyambung hubungan dengan orang-orang yang dicintai ayahnya.” (HR. Muslim).Abu Bakr dan Umar mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ memuliakan Ummu Aiman. Setelah Nabi ﷺ wafat, keduanya tidak membiarkan hubungan tersebut terputus. Ummu Aiman Menangis karena Wahyu Telah TerputusTangisan Ummu Aiman juga memberikan pelajaran iman yang sangat dalam.Beliau tidak menangis semata-mata karena kehilangan sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Aiman memahami bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya.Yang membuatnya menangis adalah,أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ“Wahyu dari langit telah terputus.”Betapa berharganya wahyu bagi generasi sahabat. Mereka hidup bersama turunnya wahyu, kemudian merasakan betapa besarnya kehilangan ketika wahyu tidak lagi turun dari langit.Kita yang hidup jauh setelah masa kenabian semestinya bertanya kepada diri sendiri: jika Ummu Aiman menangis karena wahyu telah berhenti turun, sudah seberapa dekat kita dengan wahyu yang kini berada di hadapan kita berupa Al-Qur’an dan Sunnah? Beberapa Pelajaran PentingDari kisah persusuan dan pengasuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita dapat mengambil beberapa pelajaran.Pertama, Ummu Aiman bukan ibu susu Nabi ﷺ, tetapi pengasuh beliau yang memiliki kedudukan sangat mulia.Kedua, para wanita yang disebut oleh ahli sirah pernah menyusui Nabi ﷺ adalah Aminah binti Wahb, Tsuwaibah, Halimah As-Sa‘diyyah, dan seorang wanita dari Bani Sa‘d yang menjadi ibu susu Hamzah.Ketiga, persusuan menimbulkan hubungan mahram sebagaimana dijelaskan dalam syariat.Keempat, lingkungan pendidikan anak sangat penting. Orang Arab dahulu bahkan memilih lingkungan pedalaman agar anak tumbuh sehat dan memiliki bahasa Arab yang fasih.Kelima, jangan melupakan orang yang pernah berjasa dalam kehidupan kita. Nabi ﷺ tetap memuliakan Ummu Aiman setelah beliau dewasa.Keenam, termasuk bentuk kesetiaan kepada orang yang telah meninggal dunia adalah menjaga hubungan dengan orang-orang yang dahulu dicintainya. Inilah yang dilakukan Abu Bakr dan Umar kepada Ummu Aiman.Ketujuh, kasih sayang kepada anak angkat tidak boleh mengubah nasabnya. Pernikahan Nabi ﷺ dengan Zainab binti Jahsy menjadi penerapan nyata untuk menghapus tradisi jahiliah yang menyamakan anak angkat dengan anak kandung dalam hukum nasab.Kedelapan, generasi sahabat memiliki hubungan yang sangat kuat dengan wahyu. Ummu Aiman menangis bukan sekadar karena kehilangan Rasulullah ﷺ, tetapi karena wahyu dari langit telah terputus. Nasihat TerakhirDi zaman sekarang, kita mudah mengingat orang ketika membutuhkan jasanya, tetapi mudah melupakannya setelah kebutuhan kita selesai. Sirah Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kebaikan orang yang pernah merawat, mendidik, membantu, dan menemani kita pantas dikenang dan dibalas dengan kebaikan. Jangan pula sampai perhatian kita kepada berbagai urusan dunia membuat hubungan kita dengan Al-Qur’an semakin jauh, padahal Ummu Aiman menangis ketika wahyu berhenti turun. Mari belajar menjadi orang yang pandai mengenang jasa, menjaga silaturahmi, memperhatikan pendidikan anak, dan menjadikan wahyu sebagai petunjuk hidup.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang mencintai Rasulullah ﷺ, mengikuti sunnah beliau, pandai membalas kebaikan, dan selalu dekat dengan Al-Qur’an.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَحُسْنَ الْوَفَاءِ لِأَهْلِ الْفَضْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَاجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا.Allāhumma-rzuqnā hubba nabiyyika shallallāhu ‘alaihi wa sallam, wattibā‘a sunnatihi, wa husnal-wafā’i li ahlil-fadhli wal-ihsān, waj‘alil-Qur’āna rabī‘a qulūbinā wa nūra shudūrinā.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemampuan mengikuti sunnahnya, kesetiaan yang baik kepada orang-orang yang berjasa dan berbuat baik, serta jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati dan cahaya dalam dada kami.”Wallahu waliyyut taufiq. ReferensiAl-Bukhari, M. ibn I. (n.d.). Shahih Al-Bukhari.Al-Jauziyyah, I. Q. (n.d.). Zād Al-Ma‘ād fī Hadyi Khair Al-‘Ibād. Muassasah Ar-Risalah.An-Nawawi, Y. ibn S. (2012). Al-Minhāj Syarh Shahīh Muslim ibn Al-Hajjāj. Dar Ibn Hazm.Ibn Taimiyyah, A. ibn ‘A. (2000). Iqtidā’ Ash-Shirāth Al-Mustaqīm li Mukhālafati Ash-hāb Al-Jahīm. Maktabah Ar-Rusyd.Islamweb. (2005, June 2). Murḍi‘ātu An-Nabī shallallāhu ‘alaihi wa sallam [Fatwa No. 62806].Islamweb. (2005, November 13). Ummu Aiman laisat min murḍi‘ātihi shallallāhu ‘alaihi wa sallam [Fatwa No. 69109].Islamweb. (2011, June 16). Murḍi‘ātu An-Nabī shallallāhu ‘alaihi wa sallam [Fatwa No. 158859].Islamweb. (2016, March 17). Ta‘rīf bi zaujati Ash-Shahābī Zaid ibn Hāritsah [Fatwa No. 324862].Muslim ibn Al-Hajjaj. (n.d.). Shahih Muslim.Tuasikal, M. A. (2017, July 24). Faedah sirah Nabi: Ibu susu Nabi Muhammad. Rumaysho.Com.—Diselesaikan di Imogiri, 31 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsHalimah As-Sa‘diyyah ibu susu Nabi nabi muhammad pendidikan anak riyadhus sholihin sahabat nabi sirah nabi Tsuwaibah Ummu Aiman Zaid bin Haritsah Zainab binti Jahsy

Siapa Ibu Susu Nabi Muhammad ﷺ? Kisah Halimah, Tsuwaibah, dan Ummu Aiman

Siapa sebenarnya yang menyusui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kecil? Nama Ummu Aiman sering disebut bersama para ibu susu Nabi ﷺ, padahal beliau sebenarnya adalah pengasuh Nabi ﷺ, bukan wanita yang menyusui beliau. Kisah para wanita yang merawat Rasulullah ﷺ ini bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi menyimpan pelajaran tentang pendidikan anak, menjaga bahasa, membalas kebaikan, hingga menjaga hubungan dengan orang-orang yang berjasa dalam kehidupan kita.  Daftar Isi tutup 1. Berapa Jumlah Wanita yang Menyusui Nabi ﷺ? 1.1. Pertama: Aminah binti Wahb 1.2. Kedua: Tsuwaibah, Maulah Abu Lahab 1.3. Ketiga: Halimah As-Sa‘diyyah 1.4. Keempat: Seorang Wanita dari Bani Sa‘d 2. Ummu Aiman Bukan Ibu Susu Nabi ﷺ 2.1. Siapakah Ummu Aiman? 2.2. Ummu Aiman, “Ibuku Setelah Ibuku” 2.3. Ummu Aiman Menikah dengan Zaid bin Haritsah 3. Zaid, Zainab binti Jahsy, dan Penghapusan Tradisi Jahiliah 4. Mengapa Anak-Anak Arab Disusukan di Pedalaman? 5. Nabi ﷺ Tetap Memuliakan Orang yang Mengasuhnya 6. Abu Bakr dan Umar Melanjutkan Kebiasaan Nabi ﷺ Mengunjungi Ummu Aiman 7. Pelajaran dari Imam An-Nawawi tentang Mengunjungi Ummu Aiman 8. Ummu Aiman Menangis karena Wahyu Telah Terputus 9. Beberapa Pelajaran Penting 10. Nasihat Terakhir  Berapa Jumlah Wanita yang Menyusui Nabi ﷺ?Para ahli sirah menyebutkan empat wanita yang pernah menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ibunda beliau sendiri ikut dihitung. Mereka adalah:Aminah binti Wahb, ibu kandung Nabi ﷺ.Tsuwaibah, maulah Abu Lahab.Halimah binti Abi Dzu’aib As-Sa‘diyyah.Seorang wanita dari Bani Sa‘d yang juga menjadi ibu susu Hamzah bin ‘Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu.Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan mengenai para wanita yang menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَمِنْهُنَّ ثُوَيْبَةُ مَوْلَاةُ أَبِي لَهَبٍ، أَرْضَعَتْهُ أَيَّامًا، وَأَرْضَعَتْ مَعَهُ أَبَا سَلَمَةَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ الْأَسَدِ الْمَخْزُومِيَّ بِلَبَنِ ابْنِهَا مَسْرُوحٍ، وَأَرْضَعَتْ مَعَهُمَا عَمَّهُ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ.“Di antara mereka adalah Tsuwaibah, maulah Abu Lahab. Ia menyusui Nabi ﷺ selama beberapa hari. Bersama beliau, Tsuwaibah juga menyusui Abu Salamah ‘Abdullah bin ‘Abdul Asad Al-Makhzumi dengan air susu untuk putranya, Masruh. Bersama keduanya, Tsuwaibah juga menyusui paman Nabi ﷺ, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib.”Kemudian Ibnul Qayyim mengatakan,ثُمَّ أَرْضَعَتْهُ حَلِيمَةُ السَّعْدِيَّةُ بِلَبَنِ ابْنِهَا عَبْدِ اللَّهِ، وَكَانَ عَمُّهُ حَمْزَةُ مُسْتَرْضَعًا فِي بَنِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ، فَأَرْضَعَتْ أُمُّهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا وَهُوَ عِنْدَ أُمِّهِ حَلِيمَةَ.“Kemudian Halimah As-Sa‘diyyah menyusui beliau dengan air susu untuk putranya, ‘Abdullah. Paman beliau, Hamzah, juga sedang disusukan di tengah Bani Sa‘d bin Bakr. Ibu susu Hamzah pernah menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama satu hari ketika beliau berada bersama ibu susunya, Halimah.” (Zād Al-Ma‘ād).Dengan demikian, Hamzah radhiyallahu ‘anhu menjadi saudara sepersusuan Nabi ﷺ melalui dua jalur, yaitu melalui Tsuwaibah dan melalui seorang wanita dari Bani Sa‘d. Pertama: Aminah binti WahbWanita pertama yang menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibu beliau sendiri, Aminah binti Wahb. Setelah itu, beliau disusui oleh wanita-wanita lain sebagaimana kebiasaan masyarakat Arab ketika itu. Kedua: Tsuwaibah, Maulah Abu LahabSetelah Aminah, wanita pertama yang menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Tsuwaibah, maulah Abu Lahab.Tsuwaibah menyusui Rasulullah ﷺ dengan air susu untuk putranya yang bernama Masruh. Sebelumnya, ia juga menyusui Hamzah bin ‘Abdul Muththalib. Setelah itu, ia juga menyusui Abu Salamah bin ‘Abdul Asad.Karena itu, Hamzah memiliki hubungan saudara sepersusuan dengan Nabi ﷺ.Tentang hukum persusuan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditawari untuk menikahi putri Hamzah. Beliau menjawab,لَا تَحِلُّ لِي، يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ، هِيَ بِنْتُ أَخِي مِنَ الرَّضَاعَةِ“Ia tidak halal bagiku. Apa yang haram karena persusuan sama seperti yang haram karena hubungan nasab. Ia adalah putri dari saudara sepersusuanku.” (HR. Bukhari, no. 2645).Ini menunjukkan bahwa persusuan dapat melahirkan hubungan mahram sebagaimana hubungan nasab. Ketiga: Halimah As-Sa‘diyyahNama lengkapnya adalah Halimah binti Abi Dzu’aib As-Sa‘diyyah.Halimah termasuk rombongan wanita Bani Sa‘d yang datang ke Makkah untuk mencari bayi yang dapat mereka susui. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya dibawa oleh Halimah dan tinggal di lingkungan Bani Sa‘d.Dalam kitab-kitab sirah sangat terkenal kisah datangnya keberkahan kepada keluarga Halimah setelah membawa Nabi Muhammad ﷺ. Halimah pun sangat berharap agar Muhammad kecil tetap tinggal bersamanya setelah masa penyusuan selesai.Namun, perlu diperhatikan bahwa rincian kisah-kisah mengenai Halimah yang tersebar dalam kitab-kitab sirah tidak seluruhnya memiliki tingkat kesahihan yang sama. Karena itu, riwayat-riwayat tersebut hendaknya disampaikan sesuai dengan derajatnya. Keempat: Seorang Wanita dari Bani Sa‘dSelain Halimah, seorang wanita dari Bani Sa‘d yang menjadi ibu susu Hamzah radhiyallahu ‘anhu juga pernah menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika itu, Nabi ﷺ sedang berada dalam pengasuhan Halimah. Wanita tersebut disebut pernah menyusui Nabi ﷺ selama satu hari.Namanya tidak disebutkan secara pasti dalam keterangan tersebut.Dengan demikian, jika Aminah binti Wahb ikut dihitung, para ahli sirah menyebut empat wanita yang menyusui Nabi ﷺ. Ummu Aiman Bukan Ibu Susu Nabi ﷺAda hal yang perlu diluruskan. Ummu Aiman tidak termasuk wanita yang menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Islamweb secara tegas menyatakan,وَلَيْسَتْ مِنْهُنَّ أُمُّ أَيْمَنَ، وَإِنَّمَا هِيَ مَوْلَاتُهُ وَحَاضِنَتُهُ وَلَمْ تُرْضِعْهُ.“Ummu Aiman tidak termasuk di antara wanita yang menyusui Nabi ﷺ. Ia adalah maulah dan pengasuh beliau, dan ia tidak pernah menyusui beliau.”Dengan demikian, lebih tepat mengatakan bahwa Ummu Aiman adalah pengasuh Nabi ﷺ, bukan ibu susu beliau. Siapakah Ummu Aiman?Ummu Aiman adalah seorang sahabiyah yang mulia. Nama beliau adalah:بَرَكَةُ بِنْتُ ثَعْلَبَةَ بْنِ حِصْنِ بْنِ مَالِكٍ الْحَبَشِيَّةُBarakah binti Tsa‘labah bin Hishn bin Malik Al-Habasyiyyah.Beliau lebih dikenal dengan kunyahnya, Ummu Aiman.Ummu Aiman adalah maulah sekaligus pengasuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi ﷺ mewarisinya dari ayah beliau, dan ada pula pendapat yang mengatakan dari ibu beliau. Kemudian Nabi ﷺ memerdekakannya ketika beliau menikahi Khadijah radhiyallahu ‘anha.Ummu Aiman termasuk orang yang masuk Islam sejak masa awal. Beliau juga mengikuti dua hijrah, yaitu hijrah ke Habasyah dan hijrah ke Madinah.Disebutkan bahwa beliau wafat lima bulan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa beliau masih hidup hingga awal kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Ummu Aiman, “Ibuku Setelah Ibuku”Muhibbuddin Ath-Thabari dalam Dzakhā’ir Al-‘Uqbā fī Manāqib Dzawī Al-Qurbā menyebutkan,وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: أُمُّ أَيْمَنَ أُمِّي بَعْدَ أُمِّي.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengatakan, ‘Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku.’”Ungkapan ini menunjukkan kedudukan Ummu Aiman sebagai wanita yang mengasuh dan merawat Nabi ﷺ sejak kecil, bukan menunjukkan hubungan persusuan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga biasa mengunjungi Ummu Aiman. Ummu Aiman Menikah dengan Zaid bin HaritsahUmmu Aiman kemudian menikah dengan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu.Dari pernikahan tersebut lahirlah Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma. Usamah dikenal sebagai orang yang dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan putra dari orang yang beliau cintai.Zaid sendiri memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Dahulu, sebelum syariat mengenai nasab anak angkat diturunkan, Zaid bahkan dikenal dengan sebutan Zaid bin Muhammad.Allah kemudian berfirman,وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ“Dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu.” (QS. Al-Ahzab: 4).Allah Ta‘ala juga berfirman,ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ“Panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5).Sejak itu, Zaid kembali dipanggil dengan nasab ayah kandungnya, Zaid bin Haritsah. Zaid, Zainab binti Jahsy, dan Penghapusan Tradisi JahiliahZaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu juga pernah menikah dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Ibu Zainab adalah Umaimah binti ‘Abdul Muththalib, bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Rumah tangga Zaid dan Zainab akhirnya berakhir dengan perceraian.Setelah Zaid menceraikan Zainab dan selesai keperluannya dengannya, Allah menikahkan Zainab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Ta‘ala berfirman,فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا“Maka ketika Zaid telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya (lalu menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan Zainab agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk menikahi istri-istri anak angkat mereka apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37).Di balik pernikahan tersebut terdapat tujuan syariat yang sangat penting, yaitu menghapus kebiasaan jahiliah yang menyamakan anak angkat dengan anak kandung dalam masalah nasab dan hukum pernikahan.Zaid bukan anak kandung Nabi ﷺ. Karena itu, mantan istri Zaid tidak memiliki kedudukan seperti mantan istri anak kandung Nabi ﷺ.Allah bahkan menyatakan,زَوَّجْنَاكَهَا“Kami nikahkan engkau dengannya.”Dengan pernikahan tersebut, Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha menjadi salah seorang Ummul Mukminin.Pelajarannya, Islam sangat menganjurkan menyayangi, mendidik, dan memperhatikan anak angkat. Namun, kasih sayang tersebut tidak boleh mengubah nasab dan hukum-hukum syariat yang berkaitan dengannya. Mengapa Anak-Anak Arab Disusukan di Pedalaman?Menyusukan bayi kepada wanita pedalaman bukanlah sesuatu yang khusus dilakukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hal tersebut merupakan kebiasaan yang dikenal di tengah masyarakat Arab, terutama keluarga-keluarga terpandang. Anak-anak dibawa ke pedalaman untuk mendapatkan lingkungan pertumbuhan yang lebih baik.Di antara hikmahnya adalah agar tubuh mereka tumbuh lebih kuat dan bahasa Arab mereka lebih fasih.Lingkungan pedalaman juga lebih jauh dari hiruk-pikuk kota. Makkah merupakan kota yang banyak didatangi manusia dari berbagai daerah untuk berhaji, berdagang, dan berbagai keperluan lainnya.Anak-anak yang tumbuh di pedalaman juga terbiasa mendengar bahasa Arab yang masih murni dan fasih.Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya mempelajari bahasa Arab. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,وَأَيْضًا فَإِنَّ نَفْسَ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ مِنَ الدِّينِ، وَمَعْرِفَتُهَا فَرْضٌ وَاجِبٌ، فَإِنَّ فَهْمَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَرْضٌ، وَلَا يُفْهَمُ إِلَّا بِفَهْمِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ، وَمَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ.“Bahasa Arab itu sendiri merupakan bagian dari agama. Mempelajarinya adalah suatu kewajiban. Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah wajib, sedangkan keduanya tidak dapat dipahami dengan baik kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sesuatu yang menjadi sarana untuk menyempurnakan suatu kewajiban, maka sarana tersebut juga menjadi wajib.” (Iqtidā’ Ash-Shirāth Al-Mustaqīm, 1:527). Nabi ﷺ Tetap Memuliakan Orang yang MengasuhnyaSalah satu pelajaran indah dari kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak melupakan jasa orang yang pernah berbuat baik kepada beliau.Allah Ta‘ala berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ“Siapa yang berbuat baik kepada kalian, balaslah kebaikannya. Jika kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, doakanlah ia sampai kalian merasa telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud, no. 1672 dan An-Nasa’i, no. 2568).Ummu Aiman telah mengasuh Nabi ﷺ ketika kecil. Setelah Nabi ﷺ dewasa, beliau tidak melupakannya. Rasulullah ﷺ tetap mengunjungi dan memuliakannya. Abu Bakr dan Umar Melanjutkan Kebiasaan Nabi ﷺ Mengunjungi Ummu AimanSetelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakr Ash-Shiddiq mengajak Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma mengunjungi Ummu Aiman.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ: انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا، كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا.“Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Umar, ‘Mari kita pergi menemui Ummu Aiman untuk mengunjunginya sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengunjunginya.’”Ketika keduanya sampai di tempat Ummu Aiman, ia menangis. Abu Bakr dan Umar bertanya kepadanya mengapa ia menangis, sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya.Ummu Aiman menjawab,مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ.“Aku menangis bukan karena aku tidak mengetahui bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya. Namun, aku menangis karena wahyu dari langit telah terputus.”Ucapan Ummu Aiman tersebut membuat Abu Bakr dan Umar ikut menangis bersamanya. (HR. Muslim, no. 2454).Perhatikan alasan Abu Bakr mengajak Umar:نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا“Kita mengunjunginya sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya.”Mereka ingin meneruskan hubungan baik yang dahulu dijaga oleh Rasulullah ﷺ. Pelajaran dari Imam An-Nawawi tentang Mengunjungi Ummu AimanImam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan beberapa faedah hadis tersebut. Di antaranya,فِيهِ زِيَارَةُ الصَّالِحِينَ وَفَضْلُهَا، وَزِيَارَةُ الصَّالِحِ لِمَنْ هُوَ دُونَهُ، وَزِيَارَةُ الْإِنْسَانِ لِمَنْ كَانَ صَدِيقُهُ يَزُورُهُ، وَلِأَهْلِ وُدِّ صَدِيقِهِ.“Dalam hadits ini terdapat anjuran mengunjungi orang-orang saleh dan keutamaan melakukannya. Hadits ini juga menunjukkan bolehnya orang yang memiliki keutamaan mengunjungi orang yang kedudukannya di bawahnya, serta seseorang mengunjungi orang yang dahulu biasa dikunjungi oleh sahabatnya dan orang-orang yang dicintai sahabatnya.” (Al-Minhāj Syarh Shahīh Muslim).Ada pelajaran besar di sini. Kecintaan dan kesetiaan kepada seseorang tidak harus berakhir ketika orang tersebut meninggal dunia. Salah satu bentuk ketulusan cinta adalah tetap menjaga hubungan dengan orang-orang yang dahulu dicintai dan dimuliakannya.Hal serupa terdapat dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ“Sesungguhnya termasuk bentuk bakti yang paling utama adalah seorang anak menyambung hubungan dengan orang-orang yang dicintai ayahnya.” (HR. Muslim).Abu Bakr dan Umar mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ memuliakan Ummu Aiman. Setelah Nabi ﷺ wafat, keduanya tidak membiarkan hubungan tersebut terputus. Ummu Aiman Menangis karena Wahyu Telah TerputusTangisan Ummu Aiman juga memberikan pelajaran iman yang sangat dalam.Beliau tidak menangis semata-mata karena kehilangan sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Aiman memahami bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya.Yang membuatnya menangis adalah,أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ“Wahyu dari langit telah terputus.”Betapa berharganya wahyu bagi generasi sahabat. Mereka hidup bersama turunnya wahyu, kemudian merasakan betapa besarnya kehilangan ketika wahyu tidak lagi turun dari langit.Kita yang hidup jauh setelah masa kenabian semestinya bertanya kepada diri sendiri: jika Ummu Aiman menangis karena wahyu telah berhenti turun, sudah seberapa dekat kita dengan wahyu yang kini berada di hadapan kita berupa Al-Qur’an dan Sunnah? Beberapa Pelajaran PentingDari kisah persusuan dan pengasuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita dapat mengambil beberapa pelajaran.Pertama, Ummu Aiman bukan ibu susu Nabi ﷺ, tetapi pengasuh beliau yang memiliki kedudukan sangat mulia.Kedua, para wanita yang disebut oleh ahli sirah pernah menyusui Nabi ﷺ adalah Aminah binti Wahb, Tsuwaibah, Halimah As-Sa‘diyyah, dan seorang wanita dari Bani Sa‘d yang menjadi ibu susu Hamzah.Ketiga, persusuan menimbulkan hubungan mahram sebagaimana dijelaskan dalam syariat.Keempat, lingkungan pendidikan anak sangat penting. Orang Arab dahulu bahkan memilih lingkungan pedalaman agar anak tumbuh sehat dan memiliki bahasa Arab yang fasih.Kelima, jangan melupakan orang yang pernah berjasa dalam kehidupan kita. Nabi ﷺ tetap memuliakan Ummu Aiman setelah beliau dewasa.Keenam, termasuk bentuk kesetiaan kepada orang yang telah meninggal dunia adalah menjaga hubungan dengan orang-orang yang dahulu dicintainya. Inilah yang dilakukan Abu Bakr dan Umar kepada Ummu Aiman.Ketujuh, kasih sayang kepada anak angkat tidak boleh mengubah nasabnya. Pernikahan Nabi ﷺ dengan Zainab binti Jahsy menjadi penerapan nyata untuk menghapus tradisi jahiliah yang menyamakan anak angkat dengan anak kandung dalam hukum nasab.Kedelapan, generasi sahabat memiliki hubungan yang sangat kuat dengan wahyu. Ummu Aiman menangis bukan sekadar karena kehilangan Rasulullah ﷺ, tetapi karena wahyu dari langit telah terputus. Nasihat TerakhirDi zaman sekarang, kita mudah mengingat orang ketika membutuhkan jasanya, tetapi mudah melupakannya setelah kebutuhan kita selesai. Sirah Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kebaikan orang yang pernah merawat, mendidik, membantu, dan menemani kita pantas dikenang dan dibalas dengan kebaikan. Jangan pula sampai perhatian kita kepada berbagai urusan dunia membuat hubungan kita dengan Al-Qur’an semakin jauh, padahal Ummu Aiman menangis ketika wahyu berhenti turun. Mari belajar menjadi orang yang pandai mengenang jasa, menjaga silaturahmi, memperhatikan pendidikan anak, dan menjadikan wahyu sebagai petunjuk hidup.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang mencintai Rasulullah ﷺ, mengikuti sunnah beliau, pandai membalas kebaikan, dan selalu dekat dengan Al-Qur’an.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَحُسْنَ الْوَفَاءِ لِأَهْلِ الْفَضْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَاجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا.Allāhumma-rzuqnā hubba nabiyyika shallallāhu ‘alaihi wa sallam, wattibā‘a sunnatihi, wa husnal-wafā’i li ahlil-fadhli wal-ihsān, waj‘alil-Qur’āna rabī‘a qulūbinā wa nūra shudūrinā.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemampuan mengikuti sunnahnya, kesetiaan yang baik kepada orang-orang yang berjasa dan berbuat baik, serta jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati dan cahaya dalam dada kami.”Wallahu waliyyut taufiq. ReferensiAl-Bukhari, M. ibn I. (n.d.). Shahih Al-Bukhari.Al-Jauziyyah, I. Q. (n.d.). Zād Al-Ma‘ād fī Hadyi Khair Al-‘Ibād. Muassasah Ar-Risalah.An-Nawawi, Y. ibn S. (2012). Al-Minhāj Syarh Shahīh Muslim ibn Al-Hajjāj. Dar Ibn Hazm.Ibn Taimiyyah, A. ibn ‘A. (2000). Iqtidā’ Ash-Shirāth Al-Mustaqīm li Mukhālafati Ash-hāb Al-Jahīm. Maktabah Ar-Rusyd.Islamweb. (2005, June 2). Murḍi‘ātu An-Nabī shallallāhu ‘alaihi wa sallam [Fatwa No. 62806].Islamweb. (2005, November 13). Ummu Aiman laisat min murḍi‘ātihi shallallāhu ‘alaihi wa sallam [Fatwa No. 69109].Islamweb. (2011, June 16). Murḍi‘ātu An-Nabī shallallāhu ‘alaihi wa sallam [Fatwa No. 158859].Islamweb. (2016, March 17). Ta‘rīf bi zaujati Ash-Shahābī Zaid ibn Hāritsah [Fatwa No. 324862].Muslim ibn Al-Hajjaj. (n.d.). Shahih Muslim.Tuasikal, M. A. (2017, July 24). Faedah sirah Nabi: Ibu susu Nabi Muhammad. Rumaysho.Com.—Diselesaikan di Imogiri, 31 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsHalimah As-Sa‘diyyah ibu susu Nabi nabi muhammad pendidikan anak riyadhus sholihin sahabat nabi sirah nabi Tsuwaibah Ummu Aiman Zaid bin Haritsah Zainab binti Jahsy
Siapa sebenarnya yang menyusui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kecil? Nama Ummu Aiman sering disebut bersama para ibu susu Nabi ﷺ, padahal beliau sebenarnya adalah pengasuh Nabi ﷺ, bukan wanita yang menyusui beliau. Kisah para wanita yang merawat Rasulullah ﷺ ini bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi menyimpan pelajaran tentang pendidikan anak, menjaga bahasa, membalas kebaikan, hingga menjaga hubungan dengan orang-orang yang berjasa dalam kehidupan kita.  Daftar Isi tutup 1. Berapa Jumlah Wanita yang Menyusui Nabi ﷺ? 1.1. Pertama: Aminah binti Wahb 1.2. Kedua: Tsuwaibah, Maulah Abu Lahab 1.3. Ketiga: Halimah As-Sa‘diyyah 1.4. Keempat: Seorang Wanita dari Bani Sa‘d 2. Ummu Aiman Bukan Ibu Susu Nabi ﷺ 2.1. Siapakah Ummu Aiman? 2.2. Ummu Aiman, “Ibuku Setelah Ibuku” 2.3. Ummu Aiman Menikah dengan Zaid bin Haritsah 3. Zaid, Zainab binti Jahsy, dan Penghapusan Tradisi Jahiliah 4. Mengapa Anak-Anak Arab Disusukan di Pedalaman? 5. Nabi ﷺ Tetap Memuliakan Orang yang Mengasuhnya 6. Abu Bakr dan Umar Melanjutkan Kebiasaan Nabi ﷺ Mengunjungi Ummu Aiman 7. Pelajaran dari Imam An-Nawawi tentang Mengunjungi Ummu Aiman 8. Ummu Aiman Menangis karena Wahyu Telah Terputus 9. Beberapa Pelajaran Penting 10. Nasihat Terakhir  Berapa Jumlah Wanita yang Menyusui Nabi ﷺ?Para ahli sirah menyebutkan empat wanita yang pernah menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ibunda beliau sendiri ikut dihitung. Mereka adalah:Aminah binti Wahb, ibu kandung Nabi ﷺ.Tsuwaibah, maulah Abu Lahab.Halimah binti Abi Dzu’aib As-Sa‘diyyah.Seorang wanita dari Bani Sa‘d yang juga menjadi ibu susu Hamzah bin ‘Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu.Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan mengenai para wanita yang menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَمِنْهُنَّ ثُوَيْبَةُ مَوْلَاةُ أَبِي لَهَبٍ، أَرْضَعَتْهُ أَيَّامًا، وَأَرْضَعَتْ مَعَهُ أَبَا سَلَمَةَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ الْأَسَدِ الْمَخْزُومِيَّ بِلَبَنِ ابْنِهَا مَسْرُوحٍ، وَأَرْضَعَتْ مَعَهُمَا عَمَّهُ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ.“Di antara mereka adalah Tsuwaibah, maulah Abu Lahab. Ia menyusui Nabi ﷺ selama beberapa hari. Bersama beliau, Tsuwaibah juga menyusui Abu Salamah ‘Abdullah bin ‘Abdul Asad Al-Makhzumi dengan air susu untuk putranya, Masruh. Bersama keduanya, Tsuwaibah juga menyusui paman Nabi ﷺ, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib.”Kemudian Ibnul Qayyim mengatakan,ثُمَّ أَرْضَعَتْهُ حَلِيمَةُ السَّعْدِيَّةُ بِلَبَنِ ابْنِهَا عَبْدِ اللَّهِ، وَكَانَ عَمُّهُ حَمْزَةُ مُسْتَرْضَعًا فِي بَنِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ، فَأَرْضَعَتْ أُمُّهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا وَهُوَ عِنْدَ أُمِّهِ حَلِيمَةَ.“Kemudian Halimah As-Sa‘diyyah menyusui beliau dengan air susu untuk putranya, ‘Abdullah. Paman beliau, Hamzah, juga sedang disusukan di tengah Bani Sa‘d bin Bakr. Ibu susu Hamzah pernah menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama satu hari ketika beliau berada bersama ibu susunya, Halimah.” (Zād Al-Ma‘ād).Dengan demikian, Hamzah radhiyallahu ‘anhu menjadi saudara sepersusuan Nabi ﷺ melalui dua jalur, yaitu melalui Tsuwaibah dan melalui seorang wanita dari Bani Sa‘d. Pertama: Aminah binti WahbWanita pertama yang menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibu beliau sendiri, Aminah binti Wahb. Setelah itu, beliau disusui oleh wanita-wanita lain sebagaimana kebiasaan masyarakat Arab ketika itu. Kedua: Tsuwaibah, Maulah Abu LahabSetelah Aminah, wanita pertama yang menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Tsuwaibah, maulah Abu Lahab.Tsuwaibah menyusui Rasulullah ﷺ dengan air susu untuk putranya yang bernama Masruh. Sebelumnya, ia juga menyusui Hamzah bin ‘Abdul Muththalib. Setelah itu, ia juga menyusui Abu Salamah bin ‘Abdul Asad.Karena itu, Hamzah memiliki hubungan saudara sepersusuan dengan Nabi ﷺ.Tentang hukum persusuan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditawari untuk menikahi putri Hamzah. Beliau menjawab,لَا تَحِلُّ لِي، يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ، هِيَ بِنْتُ أَخِي مِنَ الرَّضَاعَةِ“Ia tidak halal bagiku. Apa yang haram karena persusuan sama seperti yang haram karena hubungan nasab. Ia adalah putri dari saudara sepersusuanku.” (HR. Bukhari, no. 2645).Ini menunjukkan bahwa persusuan dapat melahirkan hubungan mahram sebagaimana hubungan nasab. Ketiga: Halimah As-Sa‘diyyahNama lengkapnya adalah Halimah binti Abi Dzu’aib As-Sa‘diyyah.Halimah termasuk rombongan wanita Bani Sa‘d yang datang ke Makkah untuk mencari bayi yang dapat mereka susui. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya dibawa oleh Halimah dan tinggal di lingkungan Bani Sa‘d.Dalam kitab-kitab sirah sangat terkenal kisah datangnya keberkahan kepada keluarga Halimah setelah membawa Nabi Muhammad ﷺ. Halimah pun sangat berharap agar Muhammad kecil tetap tinggal bersamanya setelah masa penyusuan selesai.Namun, perlu diperhatikan bahwa rincian kisah-kisah mengenai Halimah yang tersebar dalam kitab-kitab sirah tidak seluruhnya memiliki tingkat kesahihan yang sama. Karena itu, riwayat-riwayat tersebut hendaknya disampaikan sesuai dengan derajatnya. Keempat: Seorang Wanita dari Bani Sa‘dSelain Halimah, seorang wanita dari Bani Sa‘d yang menjadi ibu susu Hamzah radhiyallahu ‘anhu juga pernah menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika itu, Nabi ﷺ sedang berada dalam pengasuhan Halimah. Wanita tersebut disebut pernah menyusui Nabi ﷺ selama satu hari.Namanya tidak disebutkan secara pasti dalam keterangan tersebut.Dengan demikian, jika Aminah binti Wahb ikut dihitung, para ahli sirah menyebut empat wanita yang menyusui Nabi ﷺ. Ummu Aiman Bukan Ibu Susu Nabi ﷺAda hal yang perlu diluruskan. Ummu Aiman tidak termasuk wanita yang menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Islamweb secara tegas menyatakan,وَلَيْسَتْ مِنْهُنَّ أُمُّ أَيْمَنَ، وَإِنَّمَا هِيَ مَوْلَاتُهُ وَحَاضِنَتُهُ وَلَمْ تُرْضِعْهُ.“Ummu Aiman tidak termasuk di antara wanita yang menyusui Nabi ﷺ. Ia adalah maulah dan pengasuh beliau, dan ia tidak pernah menyusui beliau.”Dengan demikian, lebih tepat mengatakan bahwa Ummu Aiman adalah pengasuh Nabi ﷺ, bukan ibu susu beliau. Siapakah Ummu Aiman?Ummu Aiman adalah seorang sahabiyah yang mulia. Nama beliau adalah:بَرَكَةُ بِنْتُ ثَعْلَبَةَ بْنِ حِصْنِ بْنِ مَالِكٍ الْحَبَشِيَّةُBarakah binti Tsa‘labah bin Hishn bin Malik Al-Habasyiyyah.Beliau lebih dikenal dengan kunyahnya, Ummu Aiman.Ummu Aiman adalah maulah sekaligus pengasuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi ﷺ mewarisinya dari ayah beliau, dan ada pula pendapat yang mengatakan dari ibu beliau. Kemudian Nabi ﷺ memerdekakannya ketika beliau menikahi Khadijah radhiyallahu ‘anha.Ummu Aiman termasuk orang yang masuk Islam sejak masa awal. Beliau juga mengikuti dua hijrah, yaitu hijrah ke Habasyah dan hijrah ke Madinah.Disebutkan bahwa beliau wafat lima bulan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa beliau masih hidup hingga awal kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Ummu Aiman, “Ibuku Setelah Ibuku”Muhibbuddin Ath-Thabari dalam Dzakhā’ir Al-‘Uqbā fī Manāqib Dzawī Al-Qurbā menyebutkan,وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: أُمُّ أَيْمَنَ أُمِّي بَعْدَ أُمِّي.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengatakan, ‘Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku.’”Ungkapan ini menunjukkan kedudukan Ummu Aiman sebagai wanita yang mengasuh dan merawat Nabi ﷺ sejak kecil, bukan menunjukkan hubungan persusuan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga biasa mengunjungi Ummu Aiman. Ummu Aiman Menikah dengan Zaid bin HaritsahUmmu Aiman kemudian menikah dengan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu.Dari pernikahan tersebut lahirlah Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma. Usamah dikenal sebagai orang yang dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan putra dari orang yang beliau cintai.Zaid sendiri memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Dahulu, sebelum syariat mengenai nasab anak angkat diturunkan, Zaid bahkan dikenal dengan sebutan Zaid bin Muhammad.Allah kemudian berfirman,وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ“Dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu.” (QS. Al-Ahzab: 4).Allah Ta‘ala juga berfirman,ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ“Panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5).Sejak itu, Zaid kembali dipanggil dengan nasab ayah kandungnya, Zaid bin Haritsah. Zaid, Zainab binti Jahsy, dan Penghapusan Tradisi JahiliahZaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu juga pernah menikah dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Ibu Zainab adalah Umaimah binti ‘Abdul Muththalib, bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Rumah tangga Zaid dan Zainab akhirnya berakhir dengan perceraian.Setelah Zaid menceraikan Zainab dan selesai keperluannya dengannya, Allah menikahkan Zainab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Ta‘ala berfirman,فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا“Maka ketika Zaid telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya (lalu menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan Zainab agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk menikahi istri-istri anak angkat mereka apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37).Di balik pernikahan tersebut terdapat tujuan syariat yang sangat penting, yaitu menghapus kebiasaan jahiliah yang menyamakan anak angkat dengan anak kandung dalam masalah nasab dan hukum pernikahan.Zaid bukan anak kandung Nabi ﷺ. Karena itu, mantan istri Zaid tidak memiliki kedudukan seperti mantan istri anak kandung Nabi ﷺ.Allah bahkan menyatakan,زَوَّجْنَاكَهَا“Kami nikahkan engkau dengannya.”Dengan pernikahan tersebut, Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha menjadi salah seorang Ummul Mukminin.Pelajarannya, Islam sangat menganjurkan menyayangi, mendidik, dan memperhatikan anak angkat. Namun, kasih sayang tersebut tidak boleh mengubah nasab dan hukum-hukum syariat yang berkaitan dengannya. Mengapa Anak-Anak Arab Disusukan di Pedalaman?Menyusukan bayi kepada wanita pedalaman bukanlah sesuatu yang khusus dilakukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hal tersebut merupakan kebiasaan yang dikenal di tengah masyarakat Arab, terutama keluarga-keluarga terpandang. Anak-anak dibawa ke pedalaman untuk mendapatkan lingkungan pertumbuhan yang lebih baik.Di antara hikmahnya adalah agar tubuh mereka tumbuh lebih kuat dan bahasa Arab mereka lebih fasih.Lingkungan pedalaman juga lebih jauh dari hiruk-pikuk kota. Makkah merupakan kota yang banyak didatangi manusia dari berbagai daerah untuk berhaji, berdagang, dan berbagai keperluan lainnya.Anak-anak yang tumbuh di pedalaman juga terbiasa mendengar bahasa Arab yang masih murni dan fasih.Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya mempelajari bahasa Arab. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,وَأَيْضًا فَإِنَّ نَفْسَ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ مِنَ الدِّينِ، وَمَعْرِفَتُهَا فَرْضٌ وَاجِبٌ، فَإِنَّ فَهْمَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَرْضٌ، وَلَا يُفْهَمُ إِلَّا بِفَهْمِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ، وَمَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ.“Bahasa Arab itu sendiri merupakan bagian dari agama. Mempelajarinya adalah suatu kewajiban. Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah wajib, sedangkan keduanya tidak dapat dipahami dengan baik kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sesuatu yang menjadi sarana untuk menyempurnakan suatu kewajiban, maka sarana tersebut juga menjadi wajib.” (Iqtidā’ Ash-Shirāth Al-Mustaqīm, 1:527). Nabi ﷺ Tetap Memuliakan Orang yang MengasuhnyaSalah satu pelajaran indah dari kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak melupakan jasa orang yang pernah berbuat baik kepada beliau.Allah Ta‘ala berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ“Siapa yang berbuat baik kepada kalian, balaslah kebaikannya. Jika kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, doakanlah ia sampai kalian merasa telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud, no. 1672 dan An-Nasa’i, no. 2568).Ummu Aiman telah mengasuh Nabi ﷺ ketika kecil. Setelah Nabi ﷺ dewasa, beliau tidak melupakannya. Rasulullah ﷺ tetap mengunjungi dan memuliakannya. Abu Bakr dan Umar Melanjutkan Kebiasaan Nabi ﷺ Mengunjungi Ummu AimanSetelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakr Ash-Shiddiq mengajak Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma mengunjungi Ummu Aiman.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ: انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا، كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا.“Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Umar, ‘Mari kita pergi menemui Ummu Aiman untuk mengunjunginya sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengunjunginya.’”Ketika keduanya sampai di tempat Ummu Aiman, ia menangis. Abu Bakr dan Umar bertanya kepadanya mengapa ia menangis, sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya.Ummu Aiman menjawab,مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ.“Aku menangis bukan karena aku tidak mengetahui bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya. Namun, aku menangis karena wahyu dari langit telah terputus.”Ucapan Ummu Aiman tersebut membuat Abu Bakr dan Umar ikut menangis bersamanya. (HR. Muslim, no. 2454).Perhatikan alasan Abu Bakr mengajak Umar:نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا“Kita mengunjunginya sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya.”Mereka ingin meneruskan hubungan baik yang dahulu dijaga oleh Rasulullah ﷺ. Pelajaran dari Imam An-Nawawi tentang Mengunjungi Ummu AimanImam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan beberapa faedah hadis tersebut. Di antaranya,فِيهِ زِيَارَةُ الصَّالِحِينَ وَفَضْلُهَا، وَزِيَارَةُ الصَّالِحِ لِمَنْ هُوَ دُونَهُ، وَزِيَارَةُ الْإِنْسَانِ لِمَنْ كَانَ صَدِيقُهُ يَزُورُهُ، وَلِأَهْلِ وُدِّ صَدِيقِهِ.“Dalam hadits ini terdapat anjuran mengunjungi orang-orang saleh dan keutamaan melakukannya. Hadits ini juga menunjukkan bolehnya orang yang memiliki keutamaan mengunjungi orang yang kedudukannya di bawahnya, serta seseorang mengunjungi orang yang dahulu biasa dikunjungi oleh sahabatnya dan orang-orang yang dicintai sahabatnya.” (Al-Minhāj Syarh Shahīh Muslim).Ada pelajaran besar di sini. Kecintaan dan kesetiaan kepada seseorang tidak harus berakhir ketika orang tersebut meninggal dunia. Salah satu bentuk ketulusan cinta adalah tetap menjaga hubungan dengan orang-orang yang dahulu dicintai dan dimuliakannya.Hal serupa terdapat dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ“Sesungguhnya termasuk bentuk bakti yang paling utama adalah seorang anak menyambung hubungan dengan orang-orang yang dicintai ayahnya.” (HR. Muslim).Abu Bakr dan Umar mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ memuliakan Ummu Aiman. Setelah Nabi ﷺ wafat, keduanya tidak membiarkan hubungan tersebut terputus. Ummu Aiman Menangis karena Wahyu Telah TerputusTangisan Ummu Aiman juga memberikan pelajaran iman yang sangat dalam.Beliau tidak menangis semata-mata karena kehilangan sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Aiman memahami bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya.Yang membuatnya menangis adalah,أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ“Wahyu dari langit telah terputus.”Betapa berharganya wahyu bagi generasi sahabat. Mereka hidup bersama turunnya wahyu, kemudian merasakan betapa besarnya kehilangan ketika wahyu tidak lagi turun dari langit.Kita yang hidup jauh setelah masa kenabian semestinya bertanya kepada diri sendiri: jika Ummu Aiman menangis karena wahyu telah berhenti turun, sudah seberapa dekat kita dengan wahyu yang kini berada di hadapan kita berupa Al-Qur’an dan Sunnah? Beberapa Pelajaran PentingDari kisah persusuan dan pengasuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita dapat mengambil beberapa pelajaran.Pertama, Ummu Aiman bukan ibu susu Nabi ﷺ, tetapi pengasuh beliau yang memiliki kedudukan sangat mulia.Kedua, para wanita yang disebut oleh ahli sirah pernah menyusui Nabi ﷺ adalah Aminah binti Wahb, Tsuwaibah, Halimah As-Sa‘diyyah, dan seorang wanita dari Bani Sa‘d yang menjadi ibu susu Hamzah.Ketiga, persusuan menimbulkan hubungan mahram sebagaimana dijelaskan dalam syariat.Keempat, lingkungan pendidikan anak sangat penting. Orang Arab dahulu bahkan memilih lingkungan pedalaman agar anak tumbuh sehat dan memiliki bahasa Arab yang fasih.Kelima, jangan melupakan orang yang pernah berjasa dalam kehidupan kita. Nabi ﷺ tetap memuliakan Ummu Aiman setelah beliau dewasa.Keenam, termasuk bentuk kesetiaan kepada orang yang telah meninggal dunia adalah menjaga hubungan dengan orang-orang yang dahulu dicintainya. Inilah yang dilakukan Abu Bakr dan Umar kepada Ummu Aiman.Ketujuh, kasih sayang kepada anak angkat tidak boleh mengubah nasabnya. Pernikahan Nabi ﷺ dengan Zainab binti Jahsy menjadi penerapan nyata untuk menghapus tradisi jahiliah yang menyamakan anak angkat dengan anak kandung dalam hukum nasab.Kedelapan, generasi sahabat memiliki hubungan yang sangat kuat dengan wahyu. Ummu Aiman menangis bukan sekadar karena kehilangan Rasulullah ﷺ, tetapi karena wahyu dari langit telah terputus. Nasihat TerakhirDi zaman sekarang, kita mudah mengingat orang ketika membutuhkan jasanya, tetapi mudah melupakannya setelah kebutuhan kita selesai. Sirah Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kebaikan orang yang pernah merawat, mendidik, membantu, dan menemani kita pantas dikenang dan dibalas dengan kebaikan. Jangan pula sampai perhatian kita kepada berbagai urusan dunia membuat hubungan kita dengan Al-Qur’an semakin jauh, padahal Ummu Aiman menangis ketika wahyu berhenti turun. Mari belajar menjadi orang yang pandai mengenang jasa, menjaga silaturahmi, memperhatikan pendidikan anak, dan menjadikan wahyu sebagai petunjuk hidup.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang mencintai Rasulullah ﷺ, mengikuti sunnah beliau, pandai membalas kebaikan, dan selalu dekat dengan Al-Qur’an.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَحُسْنَ الْوَفَاءِ لِأَهْلِ الْفَضْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَاجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا.Allāhumma-rzuqnā hubba nabiyyika shallallāhu ‘alaihi wa sallam, wattibā‘a sunnatihi, wa husnal-wafā’i li ahlil-fadhli wal-ihsān, waj‘alil-Qur’āna rabī‘a qulūbinā wa nūra shudūrinā.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemampuan mengikuti sunnahnya, kesetiaan yang baik kepada orang-orang yang berjasa dan berbuat baik, serta jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati dan cahaya dalam dada kami.”Wallahu waliyyut taufiq. ReferensiAl-Bukhari, M. ibn I. (n.d.). Shahih Al-Bukhari.Al-Jauziyyah, I. Q. (n.d.). Zād Al-Ma‘ād fī Hadyi Khair Al-‘Ibād. Muassasah Ar-Risalah.An-Nawawi, Y. ibn S. (2012). Al-Minhāj Syarh Shahīh Muslim ibn Al-Hajjāj. Dar Ibn Hazm.Ibn Taimiyyah, A. ibn ‘A. (2000). Iqtidā’ Ash-Shirāth Al-Mustaqīm li Mukhālafati Ash-hāb Al-Jahīm. Maktabah Ar-Rusyd.Islamweb. (2005, June 2). Murḍi‘ātu An-Nabī shallallāhu ‘alaihi wa sallam [Fatwa No. 62806].Islamweb. (2005, November 13). Ummu Aiman laisat min murḍi‘ātihi shallallāhu ‘alaihi wa sallam [Fatwa No. 69109].Islamweb. (2011, June 16). Murḍi‘ātu An-Nabī shallallāhu ‘alaihi wa sallam [Fatwa No. 158859].Islamweb. (2016, March 17). Ta‘rīf bi zaujati Ash-Shahābī Zaid ibn Hāritsah [Fatwa No. 324862].Muslim ibn Al-Hajjaj. (n.d.). Shahih Muslim.Tuasikal, M. A. (2017, July 24). Faedah sirah Nabi: Ibu susu Nabi Muhammad. Rumaysho.Com.—Diselesaikan di Imogiri, 31 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsHalimah As-Sa‘diyyah ibu susu Nabi nabi muhammad pendidikan anak riyadhus sholihin sahabat nabi sirah nabi Tsuwaibah Ummu Aiman Zaid bin Haritsah Zainab binti Jahsy


Siapa sebenarnya yang menyusui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kecil? Nama Ummu Aiman sering disebut bersama para ibu susu Nabi ﷺ, padahal beliau sebenarnya adalah pengasuh Nabi ﷺ, bukan wanita yang menyusui beliau. Kisah para wanita yang merawat Rasulullah ﷺ ini bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi menyimpan pelajaran tentang pendidikan anak, menjaga bahasa, membalas kebaikan, hingga menjaga hubungan dengan orang-orang yang berjasa dalam kehidupan kita.  Daftar Isi tutup 1. Berapa Jumlah Wanita yang Menyusui Nabi ﷺ? 1.1. Pertama: Aminah binti Wahb 1.2. Kedua: Tsuwaibah, Maulah Abu Lahab 1.3. Ketiga: Halimah As-Sa‘diyyah 1.4. Keempat: Seorang Wanita dari Bani Sa‘d 2. Ummu Aiman Bukan Ibu Susu Nabi ﷺ 2.1. Siapakah Ummu Aiman? 2.2. Ummu Aiman, “Ibuku Setelah Ibuku” 2.3. Ummu Aiman Menikah dengan Zaid bin Haritsah 3. Zaid, Zainab binti Jahsy, dan Penghapusan Tradisi Jahiliah 4. Mengapa Anak-Anak Arab Disusukan di Pedalaman? 5. Nabi ﷺ Tetap Memuliakan Orang yang Mengasuhnya 6. Abu Bakr dan Umar Melanjutkan Kebiasaan Nabi ﷺ Mengunjungi Ummu Aiman 7. Pelajaran dari Imam An-Nawawi tentang Mengunjungi Ummu Aiman 8. Ummu Aiman Menangis karena Wahyu Telah Terputus 9. Beberapa Pelajaran Penting 10. Nasihat Terakhir  Berapa Jumlah Wanita yang Menyusui Nabi ﷺ?Para ahli sirah menyebutkan empat wanita yang pernah menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ibunda beliau sendiri ikut dihitung. Mereka adalah:Aminah binti Wahb, ibu kandung Nabi ﷺ.Tsuwaibah, maulah Abu Lahab.Halimah binti Abi Dzu’aib As-Sa‘diyyah.Seorang wanita dari Bani Sa‘d yang juga menjadi ibu susu Hamzah bin ‘Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu.Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan mengenai para wanita yang menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَمِنْهُنَّ ثُوَيْبَةُ مَوْلَاةُ أَبِي لَهَبٍ، أَرْضَعَتْهُ أَيَّامًا، وَأَرْضَعَتْ مَعَهُ أَبَا سَلَمَةَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ الْأَسَدِ الْمَخْزُومِيَّ بِلَبَنِ ابْنِهَا مَسْرُوحٍ، وَأَرْضَعَتْ مَعَهُمَا عَمَّهُ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ.“Di antara mereka adalah Tsuwaibah, maulah Abu Lahab. Ia menyusui Nabi ﷺ selama beberapa hari. Bersama beliau, Tsuwaibah juga menyusui Abu Salamah ‘Abdullah bin ‘Abdul Asad Al-Makhzumi dengan air susu untuk putranya, Masruh. Bersama keduanya, Tsuwaibah juga menyusui paman Nabi ﷺ, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib.”Kemudian Ibnul Qayyim mengatakan,ثُمَّ أَرْضَعَتْهُ حَلِيمَةُ السَّعْدِيَّةُ بِلَبَنِ ابْنِهَا عَبْدِ اللَّهِ، وَكَانَ عَمُّهُ حَمْزَةُ مُسْتَرْضَعًا فِي بَنِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ، فَأَرْضَعَتْ أُمُّهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا وَهُوَ عِنْدَ أُمِّهِ حَلِيمَةَ.“Kemudian Halimah As-Sa‘diyyah menyusui beliau dengan air susu untuk putranya, ‘Abdullah. Paman beliau, Hamzah, juga sedang disusukan di tengah Bani Sa‘d bin Bakr. Ibu susu Hamzah pernah menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama satu hari ketika beliau berada bersama ibu susunya, Halimah.” (Zād Al-Ma‘ād).Dengan demikian, Hamzah radhiyallahu ‘anhu menjadi saudara sepersusuan Nabi ﷺ melalui dua jalur, yaitu melalui Tsuwaibah dan melalui seorang wanita dari Bani Sa‘d. Pertama: Aminah binti WahbWanita pertama yang menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibu beliau sendiri, Aminah binti Wahb. Setelah itu, beliau disusui oleh wanita-wanita lain sebagaimana kebiasaan masyarakat Arab ketika itu. Kedua: Tsuwaibah, Maulah Abu LahabSetelah Aminah, wanita pertama yang menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Tsuwaibah, maulah Abu Lahab.Tsuwaibah menyusui Rasulullah ﷺ dengan air susu untuk putranya yang bernama Masruh. Sebelumnya, ia juga menyusui Hamzah bin ‘Abdul Muththalib. Setelah itu, ia juga menyusui Abu Salamah bin ‘Abdul Asad.Karena itu, Hamzah memiliki hubungan saudara sepersusuan dengan Nabi ﷺ.Tentang hukum persusuan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditawari untuk menikahi putri Hamzah. Beliau menjawab,لَا تَحِلُّ لِي، يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ، هِيَ بِنْتُ أَخِي مِنَ الرَّضَاعَةِ“Ia tidak halal bagiku. Apa yang haram karena persusuan sama seperti yang haram karena hubungan nasab. Ia adalah putri dari saudara sepersusuanku.” (HR. Bukhari, no. 2645).Ini menunjukkan bahwa persusuan dapat melahirkan hubungan mahram sebagaimana hubungan nasab. Ketiga: Halimah As-Sa‘diyyahNama lengkapnya adalah Halimah binti Abi Dzu’aib As-Sa‘diyyah.Halimah termasuk rombongan wanita Bani Sa‘d yang datang ke Makkah untuk mencari bayi yang dapat mereka susui. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya dibawa oleh Halimah dan tinggal di lingkungan Bani Sa‘d.Dalam kitab-kitab sirah sangat terkenal kisah datangnya keberkahan kepada keluarga Halimah setelah membawa Nabi Muhammad ﷺ. Halimah pun sangat berharap agar Muhammad kecil tetap tinggal bersamanya setelah masa penyusuan selesai.Namun, perlu diperhatikan bahwa rincian kisah-kisah mengenai Halimah yang tersebar dalam kitab-kitab sirah tidak seluruhnya memiliki tingkat kesahihan yang sama. Karena itu, riwayat-riwayat tersebut hendaknya disampaikan sesuai dengan derajatnya. Keempat: Seorang Wanita dari Bani Sa‘dSelain Halimah, seorang wanita dari Bani Sa‘d yang menjadi ibu susu Hamzah radhiyallahu ‘anhu juga pernah menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika itu, Nabi ﷺ sedang berada dalam pengasuhan Halimah. Wanita tersebut disebut pernah menyusui Nabi ﷺ selama satu hari.Namanya tidak disebutkan secara pasti dalam keterangan tersebut.Dengan demikian, jika Aminah binti Wahb ikut dihitung, para ahli sirah menyebut empat wanita yang menyusui Nabi ﷺ. Ummu Aiman Bukan Ibu Susu Nabi ﷺAda hal yang perlu diluruskan. Ummu Aiman tidak termasuk wanita yang menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Islamweb secara tegas menyatakan,وَلَيْسَتْ مِنْهُنَّ أُمُّ أَيْمَنَ، وَإِنَّمَا هِيَ مَوْلَاتُهُ وَحَاضِنَتُهُ وَلَمْ تُرْضِعْهُ.“Ummu Aiman tidak termasuk di antara wanita yang menyusui Nabi ﷺ. Ia adalah maulah dan pengasuh beliau, dan ia tidak pernah menyusui beliau.”Dengan demikian, lebih tepat mengatakan bahwa Ummu Aiman adalah pengasuh Nabi ﷺ, bukan ibu susu beliau. Siapakah Ummu Aiman?Ummu Aiman adalah seorang sahabiyah yang mulia. Nama beliau adalah:بَرَكَةُ بِنْتُ ثَعْلَبَةَ بْنِ حِصْنِ بْنِ مَالِكٍ الْحَبَشِيَّةُBarakah binti Tsa‘labah bin Hishn bin Malik Al-Habasyiyyah.Beliau lebih dikenal dengan kunyahnya, Ummu Aiman.Ummu Aiman adalah maulah sekaligus pengasuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi ﷺ mewarisinya dari ayah beliau, dan ada pula pendapat yang mengatakan dari ibu beliau. Kemudian Nabi ﷺ memerdekakannya ketika beliau menikahi Khadijah radhiyallahu ‘anha.Ummu Aiman termasuk orang yang masuk Islam sejak masa awal. Beliau juga mengikuti dua hijrah, yaitu hijrah ke Habasyah dan hijrah ke Madinah.Disebutkan bahwa beliau wafat lima bulan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa beliau masih hidup hingga awal kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Ummu Aiman, “Ibuku Setelah Ibuku”Muhibbuddin Ath-Thabari dalam Dzakhā’ir Al-‘Uqbā fī Manāqib Dzawī Al-Qurbā menyebutkan,وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: أُمُّ أَيْمَنَ أُمِّي بَعْدَ أُمِّي.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengatakan, ‘Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku.’”Ungkapan ini menunjukkan kedudukan Ummu Aiman sebagai wanita yang mengasuh dan merawat Nabi ﷺ sejak kecil, bukan menunjukkan hubungan persusuan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga biasa mengunjungi Ummu Aiman. Ummu Aiman Menikah dengan Zaid bin HaritsahUmmu Aiman kemudian menikah dengan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu.Dari pernikahan tersebut lahirlah Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma. Usamah dikenal sebagai orang yang dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan putra dari orang yang beliau cintai.Zaid sendiri memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Dahulu, sebelum syariat mengenai nasab anak angkat diturunkan, Zaid bahkan dikenal dengan sebutan Zaid bin Muhammad.Allah kemudian berfirman,وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ“Dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu.” (QS. Al-Ahzab: 4).Allah Ta‘ala juga berfirman,ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ“Panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5).Sejak itu, Zaid kembali dipanggil dengan nasab ayah kandungnya, Zaid bin Haritsah. Zaid, Zainab binti Jahsy, dan Penghapusan Tradisi JahiliahZaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu juga pernah menikah dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Ibu Zainab adalah Umaimah binti ‘Abdul Muththalib, bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Rumah tangga Zaid dan Zainab akhirnya berakhir dengan perceraian.Setelah Zaid menceraikan Zainab dan selesai keperluannya dengannya, Allah menikahkan Zainab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Ta‘ala berfirman,فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا“Maka ketika Zaid telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya (lalu menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan Zainab agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk menikahi istri-istri anak angkat mereka apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37).Di balik pernikahan tersebut terdapat tujuan syariat yang sangat penting, yaitu menghapus kebiasaan jahiliah yang menyamakan anak angkat dengan anak kandung dalam masalah nasab dan hukum pernikahan.Zaid bukan anak kandung Nabi ﷺ. Karena itu, mantan istri Zaid tidak memiliki kedudukan seperti mantan istri anak kandung Nabi ﷺ.Allah bahkan menyatakan,زَوَّجْنَاكَهَا“Kami nikahkan engkau dengannya.”Dengan pernikahan tersebut, Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha menjadi salah seorang Ummul Mukminin.Pelajarannya, Islam sangat menganjurkan menyayangi, mendidik, dan memperhatikan anak angkat. Namun, kasih sayang tersebut tidak boleh mengubah nasab dan hukum-hukum syariat yang berkaitan dengannya. Mengapa Anak-Anak Arab Disusukan di Pedalaman?Menyusukan bayi kepada wanita pedalaman bukanlah sesuatu yang khusus dilakukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hal tersebut merupakan kebiasaan yang dikenal di tengah masyarakat Arab, terutama keluarga-keluarga terpandang. Anak-anak dibawa ke pedalaman untuk mendapatkan lingkungan pertumbuhan yang lebih baik.Di antara hikmahnya adalah agar tubuh mereka tumbuh lebih kuat dan bahasa Arab mereka lebih fasih.Lingkungan pedalaman juga lebih jauh dari hiruk-pikuk kota. Makkah merupakan kota yang banyak didatangi manusia dari berbagai daerah untuk berhaji, berdagang, dan berbagai keperluan lainnya.Anak-anak yang tumbuh di pedalaman juga terbiasa mendengar bahasa Arab yang masih murni dan fasih.Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya mempelajari bahasa Arab. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,وَأَيْضًا فَإِنَّ نَفْسَ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ مِنَ الدِّينِ، وَمَعْرِفَتُهَا فَرْضٌ وَاجِبٌ، فَإِنَّ فَهْمَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَرْضٌ، وَلَا يُفْهَمُ إِلَّا بِفَهْمِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ، وَمَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ.“Bahasa Arab itu sendiri merupakan bagian dari agama. Mempelajarinya adalah suatu kewajiban. Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah wajib, sedangkan keduanya tidak dapat dipahami dengan baik kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sesuatu yang menjadi sarana untuk menyempurnakan suatu kewajiban, maka sarana tersebut juga menjadi wajib.” (Iqtidā’ Ash-Shirāth Al-Mustaqīm, 1:527). Nabi ﷺ Tetap Memuliakan Orang yang MengasuhnyaSalah satu pelajaran indah dari kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak melupakan jasa orang yang pernah berbuat baik kepada beliau.Allah Ta‘ala berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ“Siapa yang berbuat baik kepada kalian, balaslah kebaikannya. Jika kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, doakanlah ia sampai kalian merasa telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud, no. 1672 dan An-Nasa’i, no. 2568).Ummu Aiman telah mengasuh Nabi ﷺ ketika kecil. Setelah Nabi ﷺ dewasa, beliau tidak melupakannya. Rasulullah ﷺ tetap mengunjungi dan memuliakannya. Abu Bakr dan Umar Melanjutkan Kebiasaan Nabi ﷺ Mengunjungi Ummu AimanSetelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakr Ash-Shiddiq mengajak Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma mengunjungi Ummu Aiman.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ: انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا، كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا.“Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Umar, ‘Mari kita pergi menemui Ummu Aiman untuk mengunjunginya sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengunjunginya.’”Ketika keduanya sampai di tempat Ummu Aiman, ia menangis. Abu Bakr dan Umar bertanya kepadanya mengapa ia menangis, sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya.Ummu Aiman menjawab,مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ.“Aku menangis bukan karena aku tidak mengetahui bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya. Namun, aku menangis karena wahyu dari langit telah terputus.”Ucapan Ummu Aiman tersebut membuat Abu Bakr dan Umar ikut menangis bersamanya. (HR. Muslim, no. 2454).Perhatikan alasan Abu Bakr mengajak Umar:نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا“Kita mengunjunginya sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya.”Mereka ingin meneruskan hubungan baik yang dahulu dijaga oleh Rasulullah ﷺ. Pelajaran dari Imam An-Nawawi tentang Mengunjungi Ummu AimanImam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan beberapa faedah hadis tersebut. Di antaranya,فِيهِ زِيَارَةُ الصَّالِحِينَ وَفَضْلُهَا، وَزِيَارَةُ الصَّالِحِ لِمَنْ هُوَ دُونَهُ، وَزِيَارَةُ الْإِنْسَانِ لِمَنْ كَانَ صَدِيقُهُ يَزُورُهُ، وَلِأَهْلِ وُدِّ صَدِيقِهِ.“Dalam hadits ini terdapat anjuran mengunjungi orang-orang saleh dan keutamaan melakukannya. Hadits ini juga menunjukkan bolehnya orang yang memiliki keutamaan mengunjungi orang yang kedudukannya di bawahnya, serta seseorang mengunjungi orang yang dahulu biasa dikunjungi oleh sahabatnya dan orang-orang yang dicintai sahabatnya.” (Al-Minhāj Syarh Shahīh Muslim).Ada pelajaran besar di sini. Kecintaan dan kesetiaan kepada seseorang tidak harus berakhir ketika orang tersebut meninggal dunia. Salah satu bentuk ketulusan cinta adalah tetap menjaga hubungan dengan orang-orang yang dahulu dicintai dan dimuliakannya.Hal serupa terdapat dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ“Sesungguhnya termasuk bentuk bakti yang paling utama adalah seorang anak menyambung hubungan dengan orang-orang yang dicintai ayahnya.” (HR. Muslim).Abu Bakr dan Umar mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ memuliakan Ummu Aiman. Setelah Nabi ﷺ wafat, keduanya tidak membiarkan hubungan tersebut terputus. Ummu Aiman Menangis karena Wahyu Telah TerputusTangisan Ummu Aiman juga memberikan pelajaran iman yang sangat dalam.Beliau tidak menangis semata-mata karena kehilangan sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Aiman memahami bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya.Yang membuatnya menangis adalah,أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ“Wahyu dari langit telah terputus.”Betapa berharganya wahyu bagi generasi sahabat. Mereka hidup bersama turunnya wahyu, kemudian merasakan betapa besarnya kehilangan ketika wahyu tidak lagi turun dari langit.Kita yang hidup jauh setelah masa kenabian semestinya bertanya kepada diri sendiri: jika Ummu Aiman menangis karena wahyu telah berhenti turun, sudah seberapa dekat kita dengan wahyu yang kini berada di hadapan kita berupa Al-Qur’an dan Sunnah? Beberapa Pelajaran PentingDari kisah persusuan dan pengasuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita dapat mengambil beberapa pelajaran.Pertama, Ummu Aiman bukan ibu susu Nabi ﷺ, tetapi pengasuh beliau yang memiliki kedudukan sangat mulia.Kedua, para wanita yang disebut oleh ahli sirah pernah menyusui Nabi ﷺ adalah Aminah binti Wahb, Tsuwaibah, Halimah As-Sa‘diyyah, dan seorang wanita dari Bani Sa‘d yang menjadi ibu susu Hamzah.Ketiga, persusuan menimbulkan hubungan mahram sebagaimana dijelaskan dalam syariat.Keempat, lingkungan pendidikan anak sangat penting. Orang Arab dahulu bahkan memilih lingkungan pedalaman agar anak tumbuh sehat dan memiliki bahasa Arab yang fasih.Kelima, jangan melupakan orang yang pernah berjasa dalam kehidupan kita. Nabi ﷺ tetap memuliakan Ummu Aiman setelah beliau dewasa.Keenam, termasuk bentuk kesetiaan kepada orang yang telah meninggal dunia adalah menjaga hubungan dengan orang-orang yang dahulu dicintainya. Inilah yang dilakukan Abu Bakr dan Umar kepada Ummu Aiman.Ketujuh, kasih sayang kepada anak angkat tidak boleh mengubah nasabnya. Pernikahan Nabi ﷺ dengan Zainab binti Jahsy menjadi penerapan nyata untuk menghapus tradisi jahiliah yang menyamakan anak angkat dengan anak kandung dalam hukum nasab.Kedelapan, generasi sahabat memiliki hubungan yang sangat kuat dengan wahyu. Ummu Aiman menangis bukan sekadar karena kehilangan Rasulullah ﷺ, tetapi karena wahyu dari langit telah terputus. Nasihat TerakhirDi zaman sekarang, kita mudah mengingat orang ketika membutuhkan jasanya, tetapi mudah melupakannya setelah kebutuhan kita selesai. Sirah Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kebaikan orang yang pernah merawat, mendidik, membantu, dan menemani kita pantas dikenang dan dibalas dengan kebaikan. Jangan pula sampai perhatian kita kepada berbagai urusan dunia membuat hubungan kita dengan Al-Qur’an semakin jauh, padahal Ummu Aiman menangis ketika wahyu berhenti turun. Mari belajar menjadi orang yang pandai mengenang jasa, menjaga silaturahmi, memperhatikan pendidikan anak, dan menjadikan wahyu sebagai petunjuk hidup.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang mencintai Rasulullah ﷺ, mengikuti sunnah beliau, pandai membalas kebaikan, dan selalu dekat dengan Al-Qur’an.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَحُسْنَ الْوَفَاءِ لِأَهْلِ الْفَضْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَاجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا.Allāhumma-rzuqnā hubba nabiyyika shallallāhu ‘alaihi wa sallam, wattibā‘a sunnatihi, wa husnal-wafā’i li ahlil-fadhli wal-ihsān, waj‘alil-Qur’āna rabī‘a qulūbinā wa nūra shudūrinā.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemampuan mengikuti sunnahnya, kesetiaan yang baik kepada orang-orang yang berjasa dan berbuat baik, serta jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati dan cahaya dalam dada kami.”Wallahu waliyyut taufiq. ReferensiAl-Bukhari, M. ibn I. (n.d.). Shahih Al-Bukhari.Al-Jauziyyah, I. Q. (n.d.). Zād Al-Ma‘ād fī Hadyi Khair Al-‘Ibād. Muassasah Ar-Risalah.An-Nawawi, Y. ibn S. (2012). Al-Minhāj Syarh Shahīh Muslim ibn Al-Hajjāj. Dar Ibn Hazm.Ibn Taimiyyah, A. ibn ‘A. (2000). Iqtidā’ Ash-Shirāth Al-Mustaqīm li Mukhālafati Ash-hāb Al-Jahīm. Maktabah Ar-Rusyd.Islamweb. (2005, June 2). Murḍi‘ātu An-Nabī shallallāhu ‘alaihi wa sallam [Fatwa No. 62806].Islamweb. (2005, November 13). Ummu Aiman laisat min murḍi‘ātihi shallallāhu ‘alaihi wa sallam [Fatwa No. 69109].Islamweb. (2011, June 16). Murḍi‘ātu An-Nabī shallallāhu ‘alaihi wa sallam [Fatwa No. 158859].Islamweb. (2016, March 17). Ta‘rīf bi zaujati Ash-Shahābī Zaid ibn Hāritsah [Fatwa No. 324862].Muslim ibn Al-Hajjaj. (n.d.). Shahih Muslim.Tuasikal, M. A. (2017, July 24). Faedah sirah Nabi: Ibu susu Nabi Muhammad. Rumaysho.Com.—Diselesaikan di Imogiri, 31 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsHalimah As-Sa‘diyyah ibu susu Nabi nabi muhammad pendidikan anak riyadhus sholihin sahabat nabi sirah nabi Tsuwaibah Ummu Aiman Zaid bin Haritsah Zainab binti Jahsy

Tafsir Surah Al-Infitar (Bag. 2): Amalmu Tercatat dan Engkau Harus Bertanggungjawab

Sebelumnya, kita telah ber-tadabbur tentang hal-hal luar biasa yang terjadi pada hari kiamat. Setelah itu, manusia akan ingat segala amal yang telah dikerjakan di dunia, mereka ingat dan ketakutan karena harus mempertanggungjawabkan amal tersebut di akhirat. Allah juga mencela manusia-manusia yang durhaka kepada-Nya, padahal Allah telah memberikan banyak sekali kenikmatan yang tidak dapat dihitung jumlahnya oleh manusia.Sekarang, kita memasuki tadabbur terhadap penggalan kedua dari surah ini. Allah memulai dengan menyebutkan apa alasan manusia bisa durhaka kepada-Nya. Allah jelaskan pula bahwa kedurhakaan dan ketaatan, semuanya tercatat dalam catatan malaikat, hingga semua catatan tersebut harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Serta surah ini ditutup dengan keadaan manusia yang taat dan yang durhaka. Maka, mari kita simak tadabbur kedua dari surah ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُوْنَ بِالدِّيْنِۙ“Jangan sekali-kali begitu! Bahkan, kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infiṭār: 9)Pada penggalan sebelum ayat ini, Allah jelaskan bahwa manusia banyak yang durhaka kepada-Nya. Allah mencela mereka dengan kalimat tanya, “Apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada Allah, Rabb yang Maha mulia dan Maha dermawan?” Padahal, Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya.Maka, alasan dan sebab durhaka manusia, Allah jelaskan dalam ayat kesembilan ini, yaitu karena mereka mendustakan dan tidak percaya dengan adanya hari pembalasan, yaitu hari kiamat. Mereka tidak percaya bahwa setelah mati akan dibangkitkan. Mereka tidak percaya akan bertanggungjawab dengan amal mereka nanti.Oleh karena itu, mereka merasa bebas melakukan kezaliman apapun di dunia; yang kuat mengalahkan dan membunuh yang lemah, yang kaya memperbudak yang miskin. Mereka merasa harus menikmati dunia sebanyak-banyaknya, dengan cara apapun, dengan menzalimi orang lain tidak apa-apa, toh setelah mati selesai, tidak ada kehidupan lagi, tidak ada pertanggungjawaban. Itu yang keluar dari mulut-mulut kotor mereka, keluar karena kebodohan mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ“Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) pengawas.” (QS. Al-Infiṭār: 10)Allah kemudian mempertegas bahwa manusia benar-benar akan dibangkitkan, serta tidak ada satupun dari amal mereka yang luput diawasi dan dicatat oleh malaikat. Penegasan ini untuk mengikis kesombongan dan pendustaan mereka terhadap hari kiamat, mereka dibuat semakin takut bahwa setiap gerak-gerik, bahkan ucapan hati mereka, ada malaikat pengawas yang siap mencatat dan tidak akan pernah berbohong.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كِرَامًا كٰتِبِيْنَۙ“Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu).” (QS. Al-Infiṭār: 11)Sifat lain yang Allah sebutkan dari malaikat yang bertugas mencatat amal manusia, mereka adalah malaikat yang mulia di sisi Allah Ta’ala. Mulia karena memiliki sifat-sifat yang mulia, seperti senantiasa patuh atas perintah Allah, profesional tidak pernah luput dan salah dalam mencatat amal, tidak bisa disogok agar menjadikan catatan maksiat menjadi catatan taat, serta tidak pernah berbohong atas apa yang mereka catat. Bukan hanya mulia di sisi manusia dan makhluk lain, akan tetapi mulia di sisi Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ“Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infiṭār: 12)Mereka diberikan kemampuan untuk mengawasi manusia di manapun dan kapanpun, mencatat semua amal tersebut.Berkaitan dengan malaikat pencatat amal ini, terdapat kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Mujahid dengan sanad mursal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,أكرموا الكرام الكاتبين الذين لا يفارقونكم إلا عند إحدى حالتين: الجنابة والغائط. فإذا اغتسل أحدكم فليستتر بجرم حائط، أو ببعيره، أو ليستره أخوه“Muliakanlah para malaikat pencatat amal yang mulia, di mana mereka tidak pernah berpisah dari kalian kecuali pada dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Oleh karena itu, apabila salah seorang dari kalian mandi, hendaklah dia menutup diri di balik dinding, atau di balik untanya, atau ditutupi oleh saudaranya.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.” (QS. Al-Infiṭār: 13)Setelah Allah jelaskan bahwa catatan amal malaikat itu aman dan amanah, catatan amalan tersebut akan menjadi bukti dalam persidangan manusia kelak di hari kiamat. Dengan dilakukannya persidangan, maka manusia terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu golongan yang selamat dan golongan yang sengsara.Pertama, manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah ketika menjalani kehidupan dunia. Mereka berada dalam kenikmatan yang tiada batasanya di surga kelak. Bermain-main di taman-taman surga yang sangat indah; keindahan ini adalah keindahan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terlewat (terbersit) di hati manusia manapun, kekal bersenang-senang di dalamnya.Meskipun demikian, Allah tetap menyifati dan menceritakan surga dengan hal indah di dunia yang dapat dirasakan oeh panca indra dan dimengerti oleh akal manusia. Hal ini agar manusia memiliki gambaran tentang surga, meskipun dengan gambaran yang berbeda-beda antar manusia. Mereka semua sepakat pasti surga adalah tempat yang penuh keindahan, karena digambarkan dengan berbagai hal indah yang mereka saksikan di dunia. Ini adalah salah satu bentuk kemukjizatan visualisasi dari Al-Qur’an, membuat manusia bisa membayangkan, kemudian berharap, kemudian beramal untuk meraihnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّاِنَّ الْفُجَّارَ لَفِيْ جَحِيْمٍ“Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam (neraka) Jahim.” (QS. Al-Infiṭār: 14)Orang-orang kafir lagi durhaka, senang melakukan kezaliman, baik kezaliman pada diri sendiri, kepada makhluk lain, serta kepada Allah, maka mereka akan dibakar di neraka Jahim selama-lamanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَاۤىِٕبِيْنَۗ“Mereka tidak mungkin keluar dari (neraka) itu.” (QS. Al-Infiṭār: 16)Orang-orang kafir berada di neraka selama-lamanya, mereka tidak bisa melarikan diri dari neraka, tidak bisa mendapatkan tempat sembunyi untuk sekedar menarik nafas. Sedetik pun tidak pernah malaikat zabaniyah luput dari menyiksa mereka, membakar mereka, memukuli mereka, menyanyat-nyayat mereka. Setiap kali kulit dan daging mereka gosong karena dibakar, maka akan Allah tumbuhkan kembali, agar saraf-saraf rasa sakit mereka ada lagi, sehingga tetap merasakan sakitnya azab neraka yang mengerikan.Suatu gambaran siksaan yang sangat mengerikan. Ketiga ayat ini seharusnya sudah sangat cukup bagi kita menjadi motivasi memperbanyak dan memperbaiki amal kita, menjadikan amal kita lebih ikhlas, serta semakin berharap agar Allah menyelamatkan kita dengan rahmat-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۙ , ثُمَّ مَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۗ“Tahukah engkau apakah hari pembalasan itu? Kemudian, tahukah engkau apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infiṭār: 17-18)Allah memberikan bentuk pertanyaan kepada manusia tentang apakah mereka mengetahui apa itu hari pembalasan. Pertanyaan ini diulang dengan maksud untuk menggetarkan jiwa bahwa hari kiamat adalah perkara yang sangat agung, agar manusia mengerti betapa mengerikannya hari itu, agar hati tersentak, kemudian berhenti, dan merenungi apa yang selama ini telah dilakukannya di dunia.Seandainya, dan duh benar-benar seandainya manusia mengerti bagaimana kengerian hari ini sebagaimana Rasulullah mengerti, maka mereka tak akan mau lepas dari ketaatan kepada Allah meski sekejap mata, tidak akan ada hati yang berani punya niat mendekat meski sesaat saja dengan kemaksiatan. Akan tetapi realitanya, manusia penuh dengan ketidaktahuan, jadilah mereka lalai dan terperdaya dengan dunia yang fana ini dan segala isinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۗوَالْاَمْرُ يَوْمَىِٕذٍ لِّلّٰهِ ࣖ“(Itulah) hari (ketika) seseorang tidak berdaya (menolong) orang lain sedikit pun. Segala urusan pada hari itu adalah milik Allah.” (QS. Al-Infiṭār: 19)Allah sendiri yang menjawab tentang hari itu, dengan jawaban yang menggetarkan hati. Hari itu adalah hari dimana tidak ada satupun jiwa yang bisa menolong jiwa yang lain, betapun tingginya kedudukan jiwa tersebut, kecuali jika Allah izinkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mewanti-wanti keluarganya untuk bertakwa kepada Allah, agar mereka bisa menyelamatkan diri mereka masing-masing di hari itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,يا بني هاشم، أنقذوا أنفسكم من النار، لا أملك لكم من الله شيئا“Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian masing-masing dari neraka. Sungguh aku tidak memiliki kuasa sedikitpun di harapan Allah (untuk menyelamatkan kalian).”Seseorang baru bisa selamat serta menyelamatkan orang lain, jika dirinya sudah mendapatkan rahmat dan izin dari Allah Ta’ala. Semua syafaat adalah milik Allah semata, maka kita hanya memintanya dari Allah. Adapun ketika Allah memberikan izin bagi person tertentu untuk memberi syafaat, maka statusnya adalah bentuk pemuliaan bagi person tersebut, bukan karena person tersebut memiliki hak syafaat yang independen.Akhir kata, hari itu adalah milik Allah, segala urusan kembali kepada-Nya, Allah yang akan menetapkan hukum dengan keadilan dan hikmah, tidak ada satupun makhluk yang akan dizalimi dan dikurangi haknya. Maka, mari kita banyak beramal saleh dan banyak berharap semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki: Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah Al-Infitar (Bag. 2): Amalmu Tercatat dan Engkau Harus Bertanggungjawab

Sebelumnya, kita telah ber-tadabbur tentang hal-hal luar biasa yang terjadi pada hari kiamat. Setelah itu, manusia akan ingat segala amal yang telah dikerjakan di dunia, mereka ingat dan ketakutan karena harus mempertanggungjawabkan amal tersebut di akhirat. Allah juga mencela manusia-manusia yang durhaka kepada-Nya, padahal Allah telah memberikan banyak sekali kenikmatan yang tidak dapat dihitung jumlahnya oleh manusia.Sekarang, kita memasuki tadabbur terhadap penggalan kedua dari surah ini. Allah memulai dengan menyebutkan apa alasan manusia bisa durhaka kepada-Nya. Allah jelaskan pula bahwa kedurhakaan dan ketaatan, semuanya tercatat dalam catatan malaikat, hingga semua catatan tersebut harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Serta surah ini ditutup dengan keadaan manusia yang taat dan yang durhaka. Maka, mari kita simak tadabbur kedua dari surah ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُوْنَ بِالدِّيْنِۙ“Jangan sekali-kali begitu! Bahkan, kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infiṭār: 9)Pada penggalan sebelum ayat ini, Allah jelaskan bahwa manusia banyak yang durhaka kepada-Nya. Allah mencela mereka dengan kalimat tanya, “Apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada Allah, Rabb yang Maha mulia dan Maha dermawan?” Padahal, Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya.Maka, alasan dan sebab durhaka manusia, Allah jelaskan dalam ayat kesembilan ini, yaitu karena mereka mendustakan dan tidak percaya dengan adanya hari pembalasan, yaitu hari kiamat. Mereka tidak percaya bahwa setelah mati akan dibangkitkan. Mereka tidak percaya akan bertanggungjawab dengan amal mereka nanti.Oleh karena itu, mereka merasa bebas melakukan kezaliman apapun di dunia; yang kuat mengalahkan dan membunuh yang lemah, yang kaya memperbudak yang miskin. Mereka merasa harus menikmati dunia sebanyak-banyaknya, dengan cara apapun, dengan menzalimi orang lain tidak apa-apa, toh setelah mati selesai, tidak ada kehidupan lagi, tidak ada pertanggungjawaban. Itu yang keluar dari mulut-mulut kotor mereka, keluar karena kebodohan mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ“Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) pengawas.” (QS. Al-Infiṭār: 10)Allah kemudian mempertegas bahwa manusia benar-benar akan dibangkitkan, serta tidak ada satupun dari amal mereka yang luput diawasi dan dicatat oleh malaikat. Penegasan ini untuk mengikis kesombongan dan pendustaan mereka terhadap hari kiamat, mereka dibuat semakin takut bahwa setiap gerak-gerik, bahkan ucapan hati mereka, ada malaikat pengawas yang siap mencatat dan tidak akan pernah berbohong.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كِرَامًا كٰتِبِيْنَۙ“Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu).” (QS. Al-Infiṭār: 11)Sifat lain yang Allah sebutkan dari malaikat yang bertugas mencatat amal manusia, mereka adalah malaikat yang mulia di sisi Allah Ta’ala. Mulia karena memiliki sifat-sifat yang mulia, seperti senantiasa patuh atas perintah Allah, profesional tidak pernah luput dan salah dalam mencatat amal, tidak bisa disogok agar menjadikan catatan maksiat menjadi catatan taat, serta tidak pernah berbohong atas apa yang mereka catat. Bukan hanya mulia di sisi manusia dan makhluk lain, akan tetapi mulia di sisi Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ“Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infiṭār: 12)Mereka diberikan kemampuan untuk mengawasi manusia di manapun dan kapanpun, mencatat semua amal tersebut.Berkaitan dengan malaikat pencatat amal ini, terdapat kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Mujahid dengan sanad mursal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,أكرموا الكرام الكاتبين الذين لا يفارقونكم إلا عند إحدى حالتين: الجنابة والغائط. فإذا اغتسل أحدكم فليستتر بجرم حائط، أو ببعيره، أو ليستره أخوه“Muliakanlah para malaikat pencatat amal yang mulia, di mana mereka tidak pernah berpisah dari kalian kecuali pada dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Oleh karena itu, apabila salah seorang dari kalian mandi, hendaklah dia menutup diri di balik dinding, atau di balik untanya, atau ditutupi oleh saudaranya.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.” (QS. Al-Infiṭār: 13)Setelah Allah jelaskan bahwa catatan amal malaikat itu aman dan amanah, catatan amalan tersebut akan menjadi bukti dalam persidangan manusia kelak di hari kiamat. Dengan dilakukannya persidangan, maka manusia terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu golongan yang selamat dan golongan yang sengsara.Pertama, manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah ketika menjalani kehidupan dunia. Mereka berada dalam kenikmatan yang tiada batasanya di surga kelak. Bermain-main di taman-taman surga yang sangat indah; keindahan ini adalah keindahan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terlewat (terbersit) di hati manusia manapun, kekal bersenang-senang di dalamnya.Meskipun demikian, Allah tetap menyifati dan menceritakan surga dengan hal indah di dunia yang dapat dirasakan oeh panca indra dan dimengerti oleh akal manusia. Hal ini agar manusia memiliki gambaran tentang surga, meskipun dengan gambaran yang berbeda-beda antar manusia. Mereka semua sepakat pasti surga adalah tempat yang penuh keindahan, karena digambarkan dengan berbagai hal indah yang mereka saksikan di dunia. Ini adalah salah satu bentuk kemukjizatan visualisasi dari Al-Qur’an, membuat manusia bisa membayangkan, kemudian berharap, kemudian beramal untuk meraihnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّاِنَّ الْفُجَّارَ لَفِيْ جَحِيْمٍ“Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam (neraka) Jahim.” (QS. Al-Infiṭār: 14)Orang-orang kafir lagi durhaka, senang melakukan kezaliman, baik kezaliman pada diri sendiri, kepada makhluk lain, serta kepada Allah, maka mereka akan dibakar di neraka Jahim selama-lamanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَاۤىِٕبِيْنَۗ“Mereka tidak mungkin keluar dari (neraka) itu.” (QS. Al-Infiṭār: 16)Orang-orang kafir berada di neraka selama-lamanya, mereka tidak bisa melarikan diri dari neraka, tidak bisa mendapatkan tempat sembunyi untuk sekedar menarik nafas. Sedetik pun tidak pernah malaikat zabaniyah luput dari menyiksa mereka, membakar mereka, memukuli mereka, menyanyat-nyayat mereka. Setiap kali kulit dan daging mereka gosong karena dibakar, maka akan Allah tumbuhkan kembali, agar saraf-saraf rasa sakit mereka ada lagi, sehingga tetap merasakan sakitnya azab neraka yang mengerikan.Suatu gambaran siksaan yang sangat mengerikan. Ketiga ayat ini seharusnya sudah sangat cukup bagi kita menjadi motivasi memperbanyak dan memperbaiki amal kita, menjadikan amal kita lebih ikhlas, serta semakin berharap agar Allah menyelamatkan kita dengan rahmat-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۙ , ثُمَّ مَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۗ“Tahukah engkau apakah hari pembalasan itu? Kemudian, tahukah engkau apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infiṭār: 17-18)Allah memberikan bentuk pertanyaan kepada manusia tentang apakah mereka mengetahui apa itu hari pembalasan. Pertanyaan ini diulang dengan maksud untuk menggetarkan jiwa bahwa hari kiamat adalah perkara yang sangat agung, agar manusia mengerti betapa mengerikannya hari itu, agar hati tersentak, kemudian berhenti, dan merenungi apa yang selama ini telah dilakukannya di dunia.Seandainya, dan duh benar-benar seandainya manusia mengerti bagaimana kengerian hari ini sebagaimana Rasulullah mengerti, maka mereka tak akan mau lepas dari ketaatan kepada Allah meski sekejap mata, tidak akan ada hati yang berani punya niat mendekat meski sesaat saja dengan kemaksiatan. Akan tetapi realitanya, manusia penuh dengan ketidaktahuan, jadilah mereka lalai dan terperdaya dengan dunia yang fana ini dan segala isinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۗوَالْاَمْرُ يَوْمَىِٕذٍ لِّلّٰهِ ࣖ“(Itulah) hari (ketika) seseorang tidak berdaya (menolong) orang lain sedikit pun. Segala urusan pada hari itu adalah milik Allah.” (QS. Al-Infiṭār: 19)Allah sendiri yang menjawab tentang hari itu, dengan jawaban yang menggetarkan hati. Hari itu adalah hari dimana tidak ada satupun jiwa yang bisa menolong jiwa yang lain, betapun tingginya kedudukan jiwa tersebut, kecuali jika Allah izinkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mewanti-wanti keluarganya untuk bertakwa kepada Allah, agar mereka bisa menyelamatkan diri mereka masing-masing di hari itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,يا بني هاشم، أنقذوا أنفسكم من النار، لا أملك لكم من الله شيئا“Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian masing-masing dari neraka. Sungguh aku tidak memiliki kuasa sedikitpun di harapan Allah (untuk menyelamatkan kalian).”Seseorang baru bisa selamat serta menyelamatkan orang lain, jika dirinya sudah mendapatkan rahmat dan izin dari Allah Ta’ala. Semua syafaat adalah milik Allah semata, maka kita hanya memintanya dari Allah. Adapun ketika Allah memberikan izin bagi person tertentu untuk memberi syafaat, maka statusnya adalah bentuk pemuliaan bagi person tersebut, bukan karena person tersebut memiliki hak syafaat yang independen.Akhir kata, hari itu adalah milik Allah, segala urusan kembali kepada-Nya, Allah yang akan menetapkan hukum dengan keadilan dan hikmah, tidak ada satupun makhluk yang akan dizalimi dan dikurangi haknya. Maka, mari kita banyak beramal saleh dan banyak berharap semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki: Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Sebelumnya, kita telah ber-tadabbur tentang hal-hal luar biasa yang terjadi pada hari kiamat. Setelah itu, manusia akan ingat segala amal yang telah dikerjakan di dunia, mereka ingat dan ketakutan karena harus mempertanggungjawabkan amal tersebut di akhirat. Allah juga mencela manusia-manusia yang durhaka kepada-Nya, padahal Allah telah memberikan banyak sekali kenikmatan yang tidak dapat dihitung jumlahnya oleh manusia.Sekarang, kita memasuki tadabbur terhadap penggalan kedua dari surah ini. Allah memulai dengan menyebutkan apa alasan manusia bisa durhaka kepada-Nya. Allah jelaskan pula bahwa kedurhakaan dan ketaatan, semuanya tercatat dalam catatan malaikat, hingga semua catatan tersebut harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Serta surah ini ditutup dengan keadaan manusia yang taat dan yang durhaka. Maka, mari kita simak tadabbur kedua dari surah ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُوْنَ بِالدِّيْنِۙ“Jangan sekali-kali begitu! Bahkan, kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infiṭār: 9)Pada penggalan sebelum ayat ini, Allah jelaskan bahwa manusia banyak yang durhaka kepada-Nya. Allah mencela mereka dengan kalimat tanya, “Apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada Allah, Rabb yang Maha mulia dan Maha dermawan?” Padahal, Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya.Maka, alasan dan sebab durhaka manusia, Allah jelaskan dalam ayat kesembilan ini, yaitu karena mereka mendustakan dan tidak percaya dengan adanya hari pembalasan, yaitu hari kiamat. Mereka tidak percaya bahwa setelah mati akan dibangkitkan. Mereka tidak percaya akan bertanggungjawab dengan amal mereka nanti.Oleh karena itu, mereka merasa bebas melakukan kezaliman apapun di dunia; yang kuat mengalahkan dan membunuh yang lemah, yang kaya memperbudak yang miskin. Mereka merasa harus menikmati dunia sebanyak-banyaknya, dengan cara apapun, dengan menzalimi orang lain tidak apa-apa, toh setelah mati selesai, tidak ada kehidupan lagi, tidak ada pertanggungjawaban. Itu yang keluar dari mulut-mulut kotor mereka, keluar karena kebodohan mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ“Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) pengawas.” (QS. Al-Infiṭār: 10)Allah kemudian mempertegas bahwa manusia benar-benar akan dibangkitkan, serta tidak ada satupun dari amal mereka yang luput diawasi dan dicatat oleh malaikat. Penegasan ini untuk mengikis kesombongan dan pendustaan mereka terhadap hari kiamat, mereka dibuat semakin takut bahwa setiap gerak-gerik, bahkan ucapan hati mereka, ada malaikat pengawas yang siap mencatat dan tidak akan pernah berbohong.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كِرَامًا كٰتِبِيْنَۙ“Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu).” (QS. Al-Infiṭār: 11)Sifat lain yang Allah sebutkan dari malaikat yang bertugas mencatat amal manusia, mereka adalah malaikat yang mulia di sisi Allah Ta’ala. Mulia karena memiliki sifat-sifat yang mulia, seperti senantiasa patuh atas perintah Allah, profesional tidak pernah luput dan salah dalam mencatat amal, tidak bisa disogok agar menjadikan catatan maksiat menjadi catatan taat, serta tidak pernah berbohong atas apa yang mereka catat. Bukan hanya mulia di sisi manusia dan makhluk lain, akan tetapi mulia di sisi Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ“Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infiṭār: 12)Mereka diberikan kemampuan untuk mengawasi manusia di manapun dan kapanpun, mencatat semua amal tersebut.Berkaitan dengan malaikat pencatat amal ini, terdapat kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Mujahid dengan sanad mursal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,أكرموا الكرام الكاتبين الذين لا يفارقونكم إلا عند إحدى حالتين: الجنابة والغائط. فإذا اغتسل أحدكم فليستتر بجرم حائط، أو ببعيره، أو ليستره أخوه“Muliakanlah para malaikat pencatat amal yang mulia, di mana mereka tidak pernah berpisah dari kalian kecuali pada dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Oleh karena itu, apabila salah seorang dari kalian mandi, hendaklah dia menutup diri di balik dinding, atau di balik untanya, atau ditutupi oleh saudaranya.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.” (QS. Al-Infiṭār: 13)Setelah Allah jelaskan bahwa catatan amal malaikat itu aman dan amanah, catatan amalan tersebut akan menjadi bukti dalam persidangan manusia kelak di hari kiamat. Dengan dilakukannya persidangan, maka manusia terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu golongan yang selamat dan golongan yang sengsara.Pertama, manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah ketika menjalani kehidupan dunia. Mereka berada dalam kenikmatan yang tiada batasanya di surga kelak. Bermain-main di taman-taman surga yang sangat indah; keindahan ini adalah keindahan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terlewat (terbersit) di hati manusia manapun, kekal bersenang-senang di dalamnya.Meskipun demikian, Allah tetap menyifati dan menceritakan surga dengan hal indah di dunia yang dapat dirasakan oeh panca indra dan dimengerti oleh akal manusia. Hal ini agar manusia memiliki gambaran tentang surga, meskipun dengan gambaran yang berbeda-beda antar manusia. Mereka semua sepakat pasti surga adalah tempat yang penuh keindahan, karena digambarkan dengan berbagai hal indah yang mereka saksikan di dunia. Ini adalah salah satu bentuk kemukjizatan visualisasi dari Al-Qur’an, membuat manusia bisa membayangkan, kemudian berharap, kemudian beramal untuk meraihnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّاِنَّ الْفُجَّارَ لَفِيْ جَحِيْمٍ“Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam (neraka) Jahim.” (QS. Al-Infiṭār: 14)Orang-orang kafir lagi durhaka, senang melakukan kezaliman, baik kezaliman pada diri sendiri, kepada makhluk lain, serta kepada Allah, maka mereka akan dibakar di neraka Jahim selama-lamanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَاۤىِٕبِيْنَۗ“Mereka tidak mungkin keluar dari (neraka) itu.” (QS. Al-Infiṭār: 16)Orang-orang kafir berada di neraka selama-lamanya, mereka tidak bisa melarikan diri dari neraka, tidak bisa mendapatkan tempat sembunyi untuk sekedar menarik nafas. Sedetik pun tidak pernah malaikat zabaniyah luput dari menyiksa mereka, membakar mereka, memukuli mereka, menyanyat-nyayat mereka. Setiap kali kulit dan daging mereka gosong karena dibakar, maka akan Allah tumbuhkan kembali, agar saraf-saraf rasa sakit mereka ada lagi, sehingga tetap merasakan sakitnya azab neraka yang mengerikan.Suatu gambaran siksaan yang sangat mengerikan. Ketiga ayat ini seharusnya sudah sangat cukup bagi kita menjadi motivasi memperbanyak dan memperbaiki amal kita, menjadikan amal kita lebih ikhlas, serta semakin berharap agar Allah menyelamatkan kita dengan rahmat-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۙ , ثُمَّ مَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۗ“Tahukah engkau apakah hari pembalasan itu? Kemudian, tahukah engkau apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infiṭār: 17-18)Allah memberikan bentuk pertanyaan kepada manusia tentang apakah mereka mengetahui apa itu hari pembalasan. Pertanyaan ini diulang dengan maksud untuk menggetarkan jiwa bahwa hari kiamat adalah perkara yang sangat agung, agar manusia mengerti betapa mengerikannya hari itu, agar hati tersentak, kemudian berhenti, dan merenungi apa yang selama ini telah dilakukannya di dunia.Seandainya, dan duh benar-benar seandainya manusia mengerti bagaimana kengerian hari ini sebagaimana Rasulullah mengerti, maka mereka tak akan mau lepas dari ketaatan kepada Allah meski sekejap mata, tidak akan ada hati yang berani punya niat mendekat meski sesaat saja dengan kemaksiatan. Akan tetapi realitanya, manusia penuh dengan ketidaktahuan, jadilah mereka lalai dan terperdaya dengan dunia yang fana ini dan segala isinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۗوَالْاَمْرُ يَوْمَىِٕذٍ لِّلّٰهِ ࣖ“(Itulah) hari (ketika) seseorang tidak berdaya (menolong) orang lain sedikit pun. Segala urusan pada hari itu adalah milik Allah.” (QS. Al-Infiṭār: 19)Allah sendiri yang menjawab tentang hari itu, dengan jawaban yang menggetarkan hati. Hari itu adalah hari dimana tidak ada satupun jiwa yang bisa menolong jiwa yang lain, betapun tingginya kedudukan jiwa tersebut, kecuali jika Allah izinkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mewanti-wanti keluarganya untuk bertakwa kepada Allah, agar mereka bisa menyelamatkan diri mereka masing-masing di hari itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,يا بني هاشم، أنقذوا أنفسكم من النار، لا أملك لكم من الله شيئا“Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian masing-masing dari neraka. Sungguh aku tidak memiliki kuasa sedikitpun di harapan Allah (untuk menyelamatkan kalian).”Seseorang baru bisa selamat serta menyelamatkan orang lain, jika dirinya sudah mendapatkan rahmat dan izin dari Allah Ta’ala. Semua syafaat adalah milik Allah semata, maka kita hanya memintanya dari Allah. Adapun ketika Allah memberikan izin bagi person tertentu untuk memberi syafaat, maka statusnya adalah bentuk pemuliaan bagi person tersebut, bukan karena person tersebut memiliki hak syafaat yang independen.Akhir kata, hari itu adalah milik Allah, segala urusan kembali kepada-Nya, Allah yang akan menetapkan hukum dengan keadilan dan hikmah, tidak ada satupun makhluk yang akan dizalimi dan dikurangi haknya. Maka, mari kita banyak beramal saleh dan banyak berharap semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki: Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Sebelumnya, kita telah ber-tadabbur tentang hal-hal luar biasa yang terjadi pada hari kiamat. Setelah itu, manusia akan ingat segala amal yang telah dikerjakan di dunia, mereka ingat dan ketakutan karena harus mempertanggungjawabkan amal tersebut di akhirat. Allah juga mencela manusia-manusia yang durhaka kepada-Nya, padahal Allah telah memberikan banyak sekali kenikmatan yang tidak dapat dihitung jumlahnya oleh manusia.Sekarang, kita memasuki tadabbur terhadap penggalan kedua dari surah ini. Allah memulai dengan menyebutkan apa alasan manusia bisa durhaka kepada-Nya. Allah jelaskan pula bahwa kedurhakaan dan ketaatan, semuanya tercatat dalam catatan malaikat, hingga semua catatan tersebut harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Serta surah ini ditutup dengan keadaan manusia yang taat dan yang durhaka. Maka, mari kita simak tadabbur kedua dari surah ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُوْنَ بِالدِّيْنِۙ“Jangan sekali-kali begitu! Bahkan, kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infiṭār: 9)Pada penggalan sebelum ayat ini, Allah jelaskan bahwa manusia banyak yang durhaka kepada-Nya. Allah mencela mereka dengan kalimat tanya, “Apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada Allah, Rabb yang Maha mulia dan Maha dermawan?” Padahal, Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya.Maka, alasan dan sebab durhaka manusia, Allah jelaskan dalam ayat kesembilan ini, yaitu karena mereka mendustakan dan tidak percaya dengan adanya hari pembalasan, yaitu hari kiamat. Mereka tidak percaya bahwa setelah mati akan dibangkitkan. Mereka tidak percaya akan bertanggungjawab dengan amal mereka nanti.Oleh karena itu, mereka merasa bebas melakukan kezaliman apapun di dunia; yang kuat mengalahkan dan membunuh yang lemah, yang kaya memperbudak yang miskin. Mereka merasa harus menikmati dunia sebanyak-banyaknya, dengan cara apapun, dengan menzalimi orang lain tidak apa-apa, toh setelah mati selesai, tidak ada kehidupan lagi, tidak ada pertanggungjawaban. Itu yang keluar dari mulut-mulut kotor mereka, keluar karena kebodohan mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ“Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) pengawas.” (QS. Al-Infiṭār: 10)Allah kemudian mempertegas bahwa manusia benar-benar akan dibangkitkan, serta tidak ada satupun dari amal mereka yang luput diawasi dan dicatat oleh malaikat. Penegasan ini untuk mengikis kesombongan dan pendustaan mereka terhadap hari kiamat, mereka dibuat semakin takut bahwa setiap gerak-gerik, bahkan ucapan hati mereka, ada malaikat pengawas yang siap mencatat dan tidak akan pernah berbohong.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كِرَامًا كٰتِبِيْنَۙ“Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu).” (QS. Al-Infiṭār: 11)Sifat lain yang Allah sebutkan dari malaikat yang bertugas mencatat amal manusia, mereka adalah malaikat yang mulia di sisi Allah Ta’ala. Mulia karena memiliki sifat-sifat yang mulia, seperti senantiasa patuh atas perintah Allah, profesional tidak pernah luput dan salah dalam mencatat amal, tidak bisa disogok agar menjadikan catatan maksiat menjadi catatan taat, serta tidak pernah berbohong atas apa yang mereka catat. Bukan hanya mulia di sisi manusia dan makhluk lain, akan tetapi mulia di sisi Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ“Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infiṭār: 12)Mereka diberikan kemampuan untuk mengawasi manusia di manapun dan kapanpun, mencatat semua amal tersebut.Berkaitan dengan malaikat pencatat amal ini, terdapat kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Mujahid dengan sanad mursal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,أكرموا الكرام الكاتبين الذين لا يفارقونكم إلا عند إحدى حالتين: الجنابة والغائط. فإذا اغتسل أحدكم فليستتر بجرم حائط، أو ببعيره، أو ليستره أخوه“Muliakanlah para malaikat pencatat amal yang mulia, di mana mereka tidak pernah berpisah dari kalian kecuali pada dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Oleh karena itu, apabila salah seorang dari kalian mandi, hendaklah dia menutup diri di balik dinding, atau di balik untanya, atau ditutupi oleh saudaranya.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.” (QS. Al-Infiṭār: 13)Setelah Allah jelaskan bahwa catatan amal malaikat itu aman dan amanah, catatan amalan tersebut akan menjadi bukti dalam persidangan manusia kelak di hari kiamat. Dengan dilakukannya persidangan, maka manusia terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu golongan yang selamat dan golongan yang sengsara.Pertama, manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah ketika menjalani kehidupan dunia. Mereka berada dalam kenikmatan yang tiada batasanya di surga kelak. Bermain-main di taman-taman surga yang sangat indah; keindahan ini adalah keindahan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terlewat (terbersit) di hati manusia manapun, kekal bersenang-senang di dalamnya.Meskipun demikian, Allah tetap menyifati dan menceritakan surga dengan hal indah di dunia yang dapat dirasakan oeh panca indra dan dimengerti oleh akal manusia. Hal ini agar manusia memiliki gambaran tentang surga, meskipun dengan gambaran yang berbeda-beda antar manusia. Mereka semua sepakat pasti surga adalah tempat yang penuh keindahan, karena digambarkan dengan berbagai hal indah yang mereka saksikan di dunia. Ini adalah salah satu bentuk kemukjizatan visualisasi dari Al-Qur’an, membuat manusia bisa membayangkan, kemudian berharap, kemudian beramal untuk meraihnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّاِنَّ الْفُجَّارَ لَفِيْ جَحِيْمٍ“Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam (neraka) Jahim.” (QS. Al-Infiṭār: 14)Orang-orang kafir lagi durhaka, senang melakukan kezaliman, baik kezaliman pada diri sendiri, kepada makhluk lain, serta kepada Allah, maka mereka akan dibakar di neraka Jahim selama-lamanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَاۤىِٕبِيْنَۗ“Mereka tidak mungkin keluar dari (neraka) itu.” (QS. Al-Infiṭār: 16)Orang-orang kafir berada di neraka selama-lamanya, mereka tidak bisa melarikan diri dari neraka, tidak bisa mendapatkan tempat sembunyi untuk sekedar menarik nafas. Sedetik pun tidak pernah malaikat zabaniyah luput dari menyiksa mereka, membakar mereka, memukuli mereka, menyanyat-nyayat mereka. Setiap kali kulit dan daging mereka gosong karena dibakar, maka akan Allah tumbuhkan kembali, agar saraf-saraf rasa sakit mereka ada lagi, sehingga tetap merasakan sakitnya azab neraka yang mengerikan.Suatu gambaran siksaan yang sangat mengerikan. Ketiga ayat ini seharusnya sudah sangat cukup bagi kita menjadi motivasi memperbanyak dan memperbaiki amal kita, menjadikan amal kita lebih ikhlas, serta semakin berharap agar Allah menyelamatkan kita dengan rahmat-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۙ , ثُمَّ مَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۗ“Tahukah engkau apakah hari pembalasan itu? Kemudian, tahukah engkau apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infiṭār: 17-18)Allah memberikan bentuk pertanyaan kepada manusia tentang apakah mereka mengetahui apa itu hari pembalasan. Pertanyaan ini diulang dengan maksud untuk menggetarkan jiwa bahwa hari kiamat adalah perkara yang sangat agung, agar manusia mengerti betapa mengerikannya hari itu, agar hati tersentak, kemudian berhenti, dan merenungi apa yang selama ini telah dilakukannya di dunia.Seandainya, dan duh benar-benar seandainya manusia mengerti bagaimana kengerian hari ini sebagaimana Rasulullah mengerti, maka mereka tak akan mau lepas dari ketaatan kepada Allah meski sekejap mata, tidak akan ada hati yang berani punya niat mendekat meski sesaat saja dengan kemaksiatan. Akan tetapi realitanya, manusia penuh dengan ketidaktahuan, jadilah mereka lalai dan terperdaya dengan dunia yang fana ini dan segala isinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۗوَالْاَمْرُ يَوْمَىِٕذٍ لِّلّٰهِ ࣖ“(Itulah) hari (ketika) seseorang tidak berdaya (menolong) orang lain sedikit pun. Segala urusan pada hari itu adalah milik Allah.” (QS. Al-Infiṭār: 19)Allah sendiri yang menjawab tentang hari itu, dengan jawaban yang menggetarkan hati. Hari itu adalah hari dimana tidak ada satupun jiwa yang bisa menolong jiwa yang lain, betapun tingginya kedudukan jiwa tersebut, kecuali jika Allah izinkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mewanti-wanti keluarganya untuk bertakwa kepada Allah, agar mereka bisa menyelamatkan diri mereka masing-masing di hari itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,يا بني هاشم، أنقذوا أنفسكم من النار، لا أملك لكم من الله شيئا“Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian masing-masing dari neraka. Sungguh aku tidak memiliki kuasa sedikitpun di harapan Allah (untuk menyelamatkan kalian).”Seseorang baru bisa selamat serta menyelamatkan orang lain, jika dirinya sudah mendapatkan rahmat dan izin dari Allah Ta’ala. Semua syafaat adalah milik Allah semata, maka kita hanya memintanya dari Allah. Adapun ketika Allah memberikan izin bagi person tertentu untuk memberi syafaat, maka statusnya adalah bentuk pemuliaan bagi person tersebut, bukan karena person tersebut memiliki hak syafaat yang independen.Akhir kata, hari itu adalah milik Allah, segala urusan kembali kepada-Nya, Allah yang akan menetapkan hukum dengan keadilan dan hikmah, tidak ada satupun makhluk yang akan dizalimi dan dikurangi haknya. Maka, mari kita banyak beramal saleh dan banyak berharap semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki: Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

RAHASIA AGAR HATI MUDAH TAAT KEPADA ALLAH – Syaikh Hasan bin Abdul Hamid Bukhari #NasehatUlama

Mari sejenak kita membahas zikir kepada Allah Subhanahu dan kedudukannya dalam syariat Islam. Zikir kepada Allah adalah kehidupan bagi hati dan makanan bagi ruh. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Allah Ta’ala menjadikan zikir kepada-Nya sebagai sebab terangkatnya kegundahan dan hilangnya berbagai kesulitan. Zikir kepada Allah adalah penghimpun ajaran Islam. Bukankah pernah datang seorang lelaki lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam terasa banyak bagiku. Maka tunjukkanlah kepadaku satu pintu yang menghimpun semuanya, yang dapat kami pegang teguh.” (Lihat HR. At-Tirmidzi no. 2329, Ahmad no. 17680, dengan lafaz yang berbeda). Sahabat tersebut radhiyallahu ‘anhu ingin agar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kepadanya satu pintu syariat yang menghimpun baginya berbagai syariat Islam yang begitu banyak, tersebar, dan bercabang-cabang. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam terasa banyak bagiku. Maka tunjukkanlah satu pintu yang menghimpun semuanya.” Maksudnya, “Tunjukkanlah kepadaku satu pintu yang menghimpun semuanya, yang jika aku berpegang teguh dengannya, aku telah berpegang teguh dengan syariat-syariat Islam.” Seandainya pertanyaan ini ditujukan kepadaku atau kepadamu, lalu kita ditanya oleh seseorang yang baru masuk Islam, mungkin kita akan duduk berpikir, “Apa yang akan kita katakan kepadanya? Salat?” Atau kita katakan kepadanya, “Rukun Islam yang lima.” Namun Nabi ‘alaihish shalatu was salam memberinya jawaban yang menakjubkan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Lihat HR. At-Tirmidzi no. 2329, Ahmad no. 17680, dengan lafaz yang berbeda). Lalu, bagaimana dengan salat? Bagaimana dengan puasa? Bagaimana dengan zakat? Bagaimana dengan haji? Bagaimana dengan rukun-rukun Islam? Lelaki tadi meminta, “Tunjukkanlah satu pintu yang menghimpun semuanya, yang dapat kami pegang teguh!” Nabi ‘alaihish shalatu was salam mengajarkan kepadanya satu pintu yang jika ia tempuh, akan menghimpun baginya seluruh syariat Islam. Lalu, bagaimana zikir kepada Allah Subhanahu dapat menjadi pintu yang menghimpun semua itu? Karena apabila seorang hamba banyak berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, terus-menerus melakukannya, dan lisannya telah terbiasa dengannya, dan hatinya menjadi tenteram dengannya, maka ia akan tunduk untuk menaati Allah, mencintai Allah, mencari keridaan Allah, serta menjalankan seluruh syariat Islam, baik yang berupa rukun, kewajiban, maupun amalan sunah, tanpa terkecuali. Jika kecintaan kepada Allah telah tertanam di dalam hati, engkau tidak perlu lagi mengatakan kepadanya, “Salat itu wajib.” Engkau tidak perlu lagi berkata kepadanya, “Mengapa engkau melakukan sesuatu yang haram?” Jika ia telah mencintai Allah, ia akan tunduk. Ia tunduk karena cinta, dengan sukarela, penuh keinginan, dan keimanan. Inilah rahasia menakjubkan dalam zikir kepada Allah Subhanahu.“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) ===== نَقِفُ مَعَ مَسْأَلَةِ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَوَزْنِهَا فِي شَرِيعَةِ الْإِسْلَامِ ذِكْرُ اللهِ حَيَاةُ الْقُلُوبِ، مَادَّةُ غِذَاءِ الْأَرْوَاحِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِي ذِكْرِهِ سُبْحَانَهُ انْفِرَاجَ الْهُمُومِ وَانْجِلَاءَ الْكُرُبَاتِ ذِكْرُ اللهِ جِمَاعُ الْإِسْلَامِ أَمَا جَاءَ الرَّجُلُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَبَابٌ جَامِعٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ أَرَادَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنْ يَدُلَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَابٍ مِنَ الشَّرِيعَةِ يَجْمَعُ لَهُ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ الَّتِي كَثُرَتْ وَتَنَاثَرَتْ وَتَفَرَّعَتْ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَبَابٌ جَامِعٌ يَعْنِي دُلَّنِي عَلَى بَابٍ جَامِعٍ إِذَا تَمَسَّكْتُ بِهِ أَمْسَكْتُ بِشَرَائِعِ الْإِسْلَامِ لَوْ كَانَ السُّؤَالُ لِي أَوْ لَكَ، وَسَأَلَنَا رَجُلٌ حَدِيثُ عَهْدٍ بِالْإِسْلَامِ رُبَّمَا جَلَسْنَا نُفَكِّرُ: مَاذَا نَقُولُ لَهُ؟ الصَّلَاةُ؟ أَوْ نَقُولُ لَهُ: أَرْكَانُ الْإِسْلَامِ الْخَمْسَةُ لَكِنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَجَابَهُ بِجَوَابٍ عَجِيبٍ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُ: لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ، فَأَيْنَ الصَّلَاةُ؟ وَأَيْنَ الصِّيَامُ؟ وَأَيْنَ الزَّكَاةُ؟ وَأَيْنَ الْحَجُّ؟ أَيْنَ أَرْكَانُ الْإِسْلَامِ؟ الرَّجُلُ يَقُولُ: فَبَابٌ جَامِعٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ عَلَّمَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَابًا لَوْ سَلَكَهُ جُمِعَتْ لَهُ كُلُّ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ فَكَيْفَ أَصْبَحَ هَذَا هُوَ ذِكْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ؟ لِأَنَّ ذِكْرَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَكْثَرَ مِنْهُ الْعَبْدُ وَأَدْمَنَهُ، وَأَلِفَهُ لِسَانُهُ وَاطْمَأَنَّ بِهِ قَلْبُهُ انْقَادَ إِلَى طَاعَةِ اللهِ وَمَحَبَّةِ اللهِ وَمَرْضَاةِ اللهِ وَكُلِّ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ أَرْكَانًا وَوَاجِبَاتٍ وَمُسْتَحَبَّاتٍ بِلَا اسْتِثْنَاءٍ مَتَى زُرِعَ فِي الْقَلْبِ مَحَبَّةُ اللهِ، مَا احْتَجْتَ أَنْ تَقُولَ لَهُ: الصَّلَاةُ وَاجِبٌ مَا احْتَجْتَ أَنْ تَقُولَ لَهُ: لِمَاذَا فَعَلْتَ الْحَرَامَ؟ وَإِذَا أَحَبَّ اللهَ انْقَادَ مَحَبَّةً وَطَوَاعِيَةً وَرَغْبَةً وَإِيمَانًا هَذَا سِرٌّ عَجِيبٌ فِي ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

RAHASIA AGAR HATI MUDAH TAAT KEPADA ALLAH – Syaikh Hasan bin Abdul Hamid Bukhari #NasehatUlama

Mari sejenak kita membahas zikir kepada Allah Subhanahu dan kedudukannya dalam syariat Islam. Zikir kepada Allah adalah kehidupan bagi hati dan makanan bagi ruh. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Allah Ta’ala menjadikan zikir kepada-Nya sebagai sebab terangkatnya kegundahan dan hilangnya berbagai kesulitan. Zikir kepada Allah adalah penghimpun ajaran Islam. Bukankah pernah datang seorang lelaki lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam terasa banyak bagiku. Maka tunjukkanlah kepadaku satu pintu yang menghimpun semuanya, yang dapat kami pegang teguh.” (Lihat HR. At-Tirmidzi no. 2329, Ahmad no. 17680, dengan lafaz yang berbeda). Sahabat tersebut radhiyallahu ‘anhu ingin agar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kepadanya satu pintu syariat yang menghimpun baginya berbagai syariat Islam yang begitu banyak, tersebar, dan bercabang-cabang. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam terasa banyak bagiku. Maka tunjukkanlah satu pintu yang menghimpun semuanya.” Maksudnya, “Tunjukkanlah kepadaku satu pintu yang menghimpun semuanya, yang jika aku berpegang teguh dengannya, aku telah berpegang teguh dengan syariat-syariat Islam.” Seandainya pertanyaan ini ditujukan kepadaku atau kepadamu, lalu kita ditanya oleh seseorang yang baru masuk Islam, mungkin kita akan duduk berpikir, “Apa yang akan kita katakan kepadanya? Salat?” Atau kita katakan kepadanya, “Rukun Islam yang lima.” Namun Nabi ‘alaihish shalatu was salam memberinya jawaban yang menakjubkan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Lihat HR. At-Tirmidzi no. 2329, Ahmad no. 17680, dengan lafaz yang berbeda). Lalu, bagaimana dengan salat? Bagaimana dengan puasa? Bagaimana dengan zakat? Bagaimana dengan haji? Bagaimana dengan rukun-rukun Islam? Lelaki tadi meminta, “Tunjukkanlah satu pintu yang menghimpun semuanya, yang dapat kami pegang teguh!” Nabi ‘alaihish shalatu was salam mengajarkan kepadanya satu pintu yang jika ia tempuh, akan menghimpun baginya seluruh syariat Islam. Lalu, bagaimana zikir kepada Allah Subhanahu dapat menjadi pintu yang menghimpun semua itu? Karena apabila seorang hamba banyak berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, terus-menerus melakukannya, dan lisannya telah terbiasa dengannya, dan hatinya menjadi tenteram dengannya, maka ia akan tunduk untuk menaati Allah, mencintai Allah, mencari keridaan Allah, serta menjalankan seluruh syariat Islam, baik yang berupa rukun, kewajiban, maupun amalan sunah, tanpa terkecuali. Jika kecintaan kepada Allah telah tertanam di dalam hati, engkau tidak perlu lagi mengatakan kepadanya, “Salat itu wajib.” Engkau tidak perlu lagi berkata kepadanya, “Mengapa engkau melakukan sesuatu yang haram?” Jika ia telah mencintai Allah, ia akan tunduk. Ia tunduk karena cinta, dengan sukarela, penuh keinginan, dan keimanan. Inilah rahasia menakjubkan dalam zikir kepada Allah Subhanahu.“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) ===== نَقِفُ مَعَ مَسْأَلَةِ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَوَزْنِهَا فِي شَرِيعَةِ الْإِسْلَامِ ذِكْرُ اللهِ حَيَاةُ الْقُلُوبِ، مَادَّةُ غِذَاءِ الْأَرْوَاحِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِي ذِكْرِهِ سُبْحَانَهُ انْفِرَاجَ الْهُمُومِ وَانْجِلَاءَ الْكُرُبَاتِ ذِكْرُ اللهِ جِمَاعُ الْإِسْلَامِ أَمَا جَاءَ الرَّجُلُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَبَابٌ جَامِعٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ أَرَادَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنْ يَدُلَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَابٍ مِنَ الشَّرِيعَةِ يَجْمَعُ لَهُ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ الَّتِي كَثُرَتْ وَتَنَاثَرَتْ وَتَفَرَّعَتْ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَبَابٌ جَامِعٌ يَعْنِي دُلَّنِي عَلَى بَابٍ جَامِعٍ إِذَا تَمَسَّكْتُ بِهِ أَمْسَكْتُ بِشَرَائِعِ الْإِسْلَامِ لَوْ كَانَ السُّؤَالُ لِي أَوْ لَكَ، وَسَأَلَنَا رَجُلٌ حَدِيثُ عَهْدٍ بِالْإِسْلَامِ رُبَّمَا جَلَسْنَا نُفَكِّرُ: مَاذَا نَقُولُ لَهُ؟ الصَّلَاةُ؟ أَوْ نَقُولُ لَهُ: أَرْكَانُ الْإِسْلَامِ الْخَمْسَةُ لَكِنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَجَابَهُ بِجَوَابٍ عَجِيبٍ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُ: لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ، فَأَيْنَ الصَّلَاةُ؟ وَأَيْنَ الصِّيَامُ؟ وَأَيْنَ الزَّكَاةُ؟ وَأَيْنَ الْحَجُّ؟ أَيْنَ أَرْكَانُ الْإِسْلَامِ؟ الرَّجُلُ يَقُولُ: فَبَابٌ جَامِعٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ عَلَّمَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَابًا لَوْ سَلَكَهُ جُمِعَتْ لَهُ كُلُّ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ فَكَيْفَ أَصْبَحَ هَذَا هُوَ ذِكْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ؟ لِأَنَّ ذِكْرَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَكْثَرَ مِنْهُ الْعَبْدُ وَأَدْمَنَهُ، وَأَلِفَهُ لِسَانُهُ وَاطْمَأَنَّ بِهِ قَلْبُهُ انْقَادَ إِلَى طَاعَةِ اللهِ وَمَحَبَّةِ اللهِ وَمَرْضَاةِ اللهِ وَكُلِّ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ أَرْكَانًا وَوَاجِبَاتٍ وَمُسْتَحَبَّاتٍ بِلَا اسْتِثْنَاءٍ مَتَى زُرِعَ فِي الْقَلْبِ مَحَبَّةُ اللهِ، مَا احْتَجْتَ أَنْ تَقُولَ لَهُ: الصَّلَاةُ وَاجِبٌ مَا احْتَجْتَ أَنْ تَقُولَ لَهُ: لِمَاذَا فَعَلْتَ الْحَرَامَ؟ وَإِذَا أَحَبَّ اللهَ انْقَادَ مَحَبَّةً وَطَوَاعِيَةً وَرَغْبَةً وَإِيمَانًا هَذَا سِرٌّ عَجِيبٌ فِي ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Mari sejenak kita membahas zikir kepada Allah Subhanahu dan kedudukannya dalam syariat Islam. Zikir kepada Allah adalah kehidupan bagi hati dan makanan bagi ruh. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Allah Ta’ala menjadikan zikir kepada-Nya sebagai sebab terangkatnya kegundahan dan hilangnya berbagai kesulitan. Zikir kepada Allah adalah penghimpun ajaran Islam. Bukankah pernah datang seorang lelaki lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam terasa banyak bagiku. Maka tunjukkanlah kepadaku satu pintu yang menghimpun semuanya, yang dapat kami pegang teguh.” (Lihat HR. At-Tirmidzi no. 2329, Ahmad no. 17680, dengan lafaz yang berbeda). Sahabat tersebut radhiyallahu ‘anhu ingin agar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kepadanya satu pintu syariat yang menghimpun baginya berbagai syariat Islam yang begitu banyak, tersebar, dan bercabang-cabang. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam terasa banyak bagiku. Maka tunjukkanlah satu pintu yang menghimpun semuanya.” Maksudnya, “Tunjukkanlah kepadaku satu pintu yang menghimpun semuanya, yang jika aku berpegang teguh dengannya, aku telah berpegang teguh dengan syariat-syariat Islam.” Seandainya pertanyaan ini ditujukan kepadaku atau kepadamu, lalu kita ditanya oleh seseorang yang baru masuk Islam, mungkin kita akan duduk berpikir, “Apa yang akan kita katakan kepadanya? Salat?” Atau kita katakan kepadanya, “Rukun Islam yang lima.” Namun Nabi ‘alaihish shalatu was salam memberinya jawaban yang menakjubkan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Lihat HR. At-Tirmidzi no. 2329, Ahmad no. 17680, dengan lafaz yang berbeda). Lalu, bagaimana dengan salat? Bagaimana dengan puasa? Bagaimana dengan zakat? Bagaimana dengan haji? Bagaimana dengan rukun-rukun Islam? Lelaki tadi meminta, “Tunjukkanlah satu pintu yang menghimpun semuanya, yang dapat kami pegang teguh!” Nabi ‘alaihish shalatu was salam mengajarkan kepadanya satu pintu yang jika ia tempuh, akan menghimpun baginya seluruh syariat Islam. Lalu, bagaimana zikir kepada Allah Subhanahu dapat menjadi pintu yang menghimpun semua itu? Karena apabila seorang hamba banyak berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, terus-menerus melakukannya, dan lisannya telah terbiasa dengannya, dan hatinya menjadi tenteram dengannya, maka ia akan tunduk untuk menaati Allah, mencintai Allah, mencari keridaan Allah, serta menjalankan seluruh syariat Islam, baik yang berupa rukun, kewajiban, maupun amalan sunah, tanpa terkecuali. Jika kecintaan kepada Allah telah tertanam di dalam hati, engkau tidak perlu lagi mengatakan kepadanya, “Salat itu wajib.” Engkau tidak perlu lagi berkata kepadanya, “Mengapa engkau melakukan sesuatu yang haram?” Jika ia telah mencintai Allah, ia akan tunduk. Ia tunduk karena cinta, dengan sukarela, penuh keinginan, dan keimanan. Inilah rahasia menakjubkan dalam zikir kepada Allah Subhanahu.“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) ===== نَقِفُ مَعَ مَسْأَلَةِ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَوَزْنِهَا فِي شَرِيعَةِ الْإِسْلَامِ ذِكْرُ اللهِ حَيَاةُ الْقُلُوبِ، مَادَّةُ غِذَاءِ الْأَرْوَاحِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِي ذِكْرِهِ سُبْحَانَهُ انْفِرَاجَ الْهُمُومِ وَانْجِلَاءَ الْكُرُبَاتِ ذِكْرُ اللهِ جِمَاعُ الْإِسْلَامِ أَمَا جَاءَ الرَّجُلُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَبَابٌ جَامِعٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ أَرَادَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنْ يَدُلَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَابٍ مِنَ الشَّرِيعَةِ يَجْمَعُ لَهُ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ الَّتِي كَثُرَتْ وَتَنَاثَرَتْ وَتَفَرَّعَتْ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَبَابٌ جَامِعٌ يَعْنِي دُلَّنِي عَلَى بَابٍ جَامِعٍ إِذَا تَمَسَّكْتُ بِهِ أَمْسَكْتُ بِشَرَائِعِ الْإِسْلَامِ لَوْ كَانَ السُّؤَالُ لِي أَوْ لَكَ، وَسَأَلَنَا رَجُلٌ حَدِيثُ عَهْدٍ بِالْإِسْلَامِ رُبَّمَا جَلَسْنَا نُفَكِّرُ: مَاذَا نَقُولُ لَهُ؟ الصَّلَاةُ؟ أَوْ نَقُولُ لَهُ: أَرْكَانُ الْإِسْلَامِ الْخَمْسَةُ لَكِنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَجَابَهُ بِجَوَابٍ عَجِيبٍ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُ: لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ، فَأَيْنَ الصَّلَاةُ؟ وَأَيْنَ الصِّيَامُ؟ وَأَيْنَ الزَّكَاةُ؟ وَأَيْنَ الْحَجُّ؟ أَيْنَ أَرْكَانُ الْإِسْلَامِ؟ الرَّجُلُ يَقُولُ: فَبَابٌ جَامِعٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ عَلَّمَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَابًا لَوْ سَلَكَهُ جُمِعَتْ لَهُ كُلُّ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ فَكَيْفَ أَصْبَحَ هَذَا هُوَ ذِكْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ؟ لِأَنَّ ذِكْرَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَكْثَرَ مِنْهُ الْعَبْدُ وَأَدْمَنَهُ، وَأَلِفَهُ لِسَانُهُ وَاطْمَأَنَّ بِهِ قَلْبُهُ انْقَادَ إِلَى طَاعَةِ اللهِ وَمَحَبَّةِ اللهِ وَمَرْضَاةِ اللهِ وَكُلِّ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ أَرْكَانًا وَوَاجِبَاتٍ وَمُسْتَحَبَّاتٍ بِلَا اسْتِثْنَاءٍ مَتَى زُرِعَ فِي الْقَلْبِ مَحَبَّةُ اللهِ، مَا احْتَجْتَ أَنْ تَقُولَ لَهُ: الصَّلَاةُ وَاجِبٌ مَا احْتَجْتَ أَنْ تَقُولَ لَهُ: لِمَاذَا فَعَلْتَ الْحَرَامَ؟ وَإِذَا أَحَبَّ اللهَ انْقَادَ مَحَبَّةً وَطَوَاعِيَةً وَرَغْبَةً وَإِيمَانًا هَذَا سِرٌّ عَجِيبٌ فِي ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ


Mari sejenak kita membahas zikir kepada Allah Subhanahu dan kedudukannya dalam syariat Islam. Zikir kepada Allah adalah kehidupan bagi hati dan makanan bagi ruh. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Allah Ta’ala menjadikan zikir kepada-Nya sebagai sebab terangkatnya kegundahan dan hilangnya berbagai kesulitan. Zikir kepada Allah adalah penghimpun ajaran Islam. Bukankah pernah datang seorang lelaki lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam terasa banyak bagiku. Maka tunjukkanlah kepadaku satu pintu yang menghimpun semuanya, yang dapat kami pegang teguh.” (Lihat HR. At-Tirmidzi no. 2329, Ahmad no. 17680, dengan lafaz yang berbeda). Sahabat tersebut radhiyallahu ‘anhu ingin agar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kepadanya satu pintu syariat yang menghimpun baginya berbagai syariat Islam yang begitu banyak, tersebar, dan bercabang-cabang. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam terasa banyak bagiku. Maka tunjukkanlah satu pintu yang menghimpun semuanya.” Maksudnya, “Tunjukkanlah kepadaku satu pintu yang menghimpun semuanya, yang jika aku berpegang teguh dengannya, aku telah berpegang teguh dengan syariat-syariat Islam.” Seandainya pertanyaan ini ditujukan kepadaku atau kepadamu, lalu kita ditanya oleh seseorang yang baru masuk Islam, mungkin kita akan duduk berpikir, “Apa yang akan kita katakan kepadanya? Salat?” Atau kita katakan kepadanya, “Rukun Islam yang lima.” Namun Nabi ‘alaihish shalatu was salam memberinya jawaban yang menakjubkan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Lihat HR. At-Tirmidzi no. 2329, Ahmad no. 17680, dengan lafaz yang berbeda). Lalu, bagaimana dengan salat? Bagaimana dengan puasa? Bagaimana dengan zakat? Bagaimana dengan haji? Bagaimana dengan rukun-rukun Islam? Lelaki tadi meminta, “Tunjukkanlah satu pintu yang menghimpun semuanya, yang dapat kami pegang teguh!” Nabi ‘alaihish shalatu was salam mengajarkan kepadanya satu pintu yang jika ia tempuh, akan menghimpun baginya seluruh syariat Islam. Lalu, bagaimana zikir kepada Allah Subhanahu dapat menjadi pintu yang menghimpun semua itu? Karena apabila seorang hamba banyak berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, terus-menerus melakukannya, dan lisannya telah terbiasa dengannya, dan hatinya menjadi tenteram dengannya, maka ia akan tunduk untuk menaati Allah, mencintai Allah, mencari keridaan Allah, serta menjalankan seluruh syariat Islam, baik yang berupa rukun, kewajiban, maupun amalan sunah, tanpa terkecuali. Jika kecintaan kepada Allah telah tertanam di dalam hati, engkau tidak perlu lagi mengatakan kepadanya, “Salat itu wajib.” Engkau tidak perlu lagi berkata kepadanya, “Mengapa engkau melakukan sesuatu yang haram?” Jika ia telah mencintai Allah, ia akan tunduk. Ia tunduk karena cinta, dengan sukarela, penuh keinginan, dan keimanan. Inilah rahasia menakjubkan dalam zikir kepada Allah Subhanahu.“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) ===== نَقِفُ مَعَ مَسْأَلَةِ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَوَزْنِهَا فِي شَرِيعَةِ الْإِسْلَامِ ذِكْرُ اللهِ حَيَاةُ الْقُلُوبِ، مَادَّةُ غِذَاءِ الْأَرْوَاحِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِي ذِكْرِهِ سُبْحَانَهُ انْفِرَاجَ الْهُمُومِ وَانْجِلَاءَ الْكُرُبَاتِ ذِكْرُ اللهِ جِمَاعُ الْإِسْلَامِ أَمَا جَاءَ الرَّجُلُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَبَابٌ جَامِعٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ أَرَادَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنْ يَدُلَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَابٍ مِنَ الشَّرِيعَةِ يَجْمَعُ لَهُ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ الَّتِي كَثُرَتْ وَتَنَاثَرَتْ وَتَفَرَّعَتْ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَبَابٌ جَامِعٌ يَعْنِي دُلَّنِي عَلَى بَابٍ جَامِعٍ إِذَا تَمَسَّكْتُ بِهِ أَمْسَكْتُ بِشَرَائِعِ الْإِسْلَامِ لَوْ كَانَ السُّؤَالُ لِي أَوْ لَكَ، وَسَأَلَنَا رَجُلٌ حَدِيثُ عَهْدٍ بِالْإِسْلَامِ رُبَّمَا جَلَسْنَا نُفَكِّرُ: مَاذَا نَقُولُ لَهُ؟ الصَّلَاةُ؟ أَوْ نَقُولُ لَهُ: أَرْكَانُ الْإِسْلَامِ الْخَمْسَةُ لَكِنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَجَابَهُ بِجَوَابٍ عَجِيبٍ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُ: لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ، فَأَيْنَ الصَّلَاةُ؟ وَأَيْنَ الصِّيَامُ؟ وَأَيْنَ الزَّكَاةُ؟ وَأَيْنَ الْحَجُّ؟ أَيْنَ أَرْكَانُ الْإِسْلَامِ؟ الرَّجُلُ يَقُولُ: فَبَابٌ جَامِعٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ عَلَّمَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَابًا لَوْ سَلَكَهُ جُمِعَتْ لَهُ كُلُّ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ فَكَيْفَ أَصْبَحَ هَذَا هُوَ ذِكْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ؟ لِأَنَّ ذِكْرَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَكْثَرَ مِنْهُ الْعَبْدُ وَأَدْمَنَهُ، وَأَلِفَهُ لِسَانُهُ وَاطْمَأَنَّ بِهِ قَلْبُهُ انْقَادَ إِلَى طَاعَةِ اللهِ وَمَحَبَّةِ اللهِ وَمَرْضَاةِ اللهِ وَكُلِّ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ أَرْكَانًا وَوَاجِبَاتٍ وَمُسْتَحَبَّاتٍ بِلَا اسْتِثْنَاءٍ مَتَى زُرِعَ فِي الْقَلْبِ مَحَبَّةُ اللهِ، مَا احْتَجْتَ أَنْ تَقُولَ لَهُ: الصَّلَاةُ وَاجِبٌ مَا احْتَجْتَ أَنْ تَقُولَ لَهُ: لِمَاذَا فَعَلْتَ الْحَرَامَ؟ وَإِذَا أَحَبَّ اللهَ انْقَادَ مَحَبَّةً وَطَوَاعِيَةً وَرَغْبَةً وَإِيمَانًا هَذَا سِرٌّ عَجِيبٌ فِي ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

RAHASIA MEMBENTUK HATI YANG PEMBERANI – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad Al-Badr

Beliau rahimahullah berkata, “Keberanian adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, tetapi ada hal-hal yang dapat menguatkannya.” Ini menjawab pertanyaan: Bagaimana agar aku menjadi pemberani? Bagaimana aku menguatkan keberanian di dalam hatiku? Bagaimana agar aku menjadi berani? Apa saja yang dapat membantuku memiliki keberanian? Inilah yang dijelaskan oleh Syaikh di sini. Beliau berkata, “Ada hal-hal yang dapat menguatkannya…” “Menguatkannya,” yakni menguatkan sifat ini, yaitu sifat keberanian. Hal terbesar yang menguatkan dan menumbuhkan keberanian adalah iman, yakni iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kepada segala sesuatu yang Allah Tabaraka wa Ta’ala perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengimaninya. Serta kuatnya tawakal kepada Allah. Kuatnya tawakal kepada-Nya. Ketika seorang hamba bertawakal kepada Allah, menyerahkan urusannya kepada Allah, dan memiliki keyakinan penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika berbagai hal yang menakutkan datang, hatinya akan tetap teguh. Hatinya tetap teguh karena ia bertawakal kepada Allah. Ia yakin bahwa tidak akan ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Dan seandainya seluruh makhluk bersatu untuk mencelakakannya, mereka tidak akan mampu mencelakakannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasnya. Karena itu, hatinya tetap teguh ketika menghadapi hal-hal yang menakutkan. Di antara hadis dalam bab ini adalah hadis Jabir yang terdapat dalam kitab Sahih, ketika Nabi ‘alaihish shalatu was salam singgah bersama para sahabat setelah kembali dari sebuah peperangan. Mereka beristirahat siang di bawah naungan pepohonan. Kemudian seorang lelaki dari pihak musuh datang menyusup. Ia mencabut pedang Nabi ‘alaihish shalatu was salam dan menghunusnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membuka mata beliau. Tiba-tiba pedang telah terhunus dan lelaki itu berkata kepada Nabi ‘alaihissalam, “Siapa yang akan melindungimu dariku?” atau, “Siapa yang akan menjagamu dariku?” Dengan penuh keberanian, beliau ‘alaihish shalatu was salam menjawab, “Allah.” Maka tawakal kepada Allah, yakin kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan menyerahkan urusan kepada-Nya akan memberikan keberanian kepada hati. Beliau menjawab, “Allah.” Tiba-tiba tangan lelaki itu tidak mampu lagi memegang pedang. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghentikan gerak tangannya, sehingga pedang itu jatuh dari tangannya. Nabi ‘alaihish shalatu was salam kemudian mengambil pedang itu dan bertanya kepadanya, “Siapa yang akan melindungimu dariku?” Lelaki itu pun mulai memohon-mohon kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Engkau orang yang mulia,” dan berbagai pujian lainnya, memohon agar beliau ‘alaihish shalatu was salam memaafkannya. Maka tawakal kepada Allah, yakin kepada-Nya, iman kepada takdir, dan meyakini bahwa segala urusan terjadi dengan takdir Allah, serta meyakini bahwa tidak akan ada yang menimpa kita kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kita, semua ini menumbuhkan keberanian di dalam hati. Beliau berkata, “Kuatnya tawakal kepada Allah, sempurnanya keyakinan kepada-Nya, serta pengetahuan seorang hamba bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak mungkin menimpanya.” Hal lain yang juga menguatkannya, yakni menguatkan sifat ini, adalah memperbanyak zikir dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian bertemu dengan pasukan musuh, maka berteguh hatilah dan banyaklah mengingat Allah agar kalian beruntung.” (QS. Al-Anfal: 45) Maka zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala menguatkan hati dan memberinya keberanian. Beliau berkata, “Ketika iman seorang hamba kepada Allah serta iman kepada qada dan takdir-Nya semakin kuat, dan keyakinannya terhadap pahala dan siksa semakin kuat, tawakalnya kepada Allah menjadi sempurna, ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya, dan mengetahui bahwa makhluk tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat, bahwa ubun-ubun mereka berada di tangan Allah, serta mengetahui berbagai pengaruh agung yang lahir dari keberanian, maka berbagai pemahaman ini akan tertanam kuat di dalam hatinya.” Ketika semua pemahaman itu telah tertanam kuat di dalam hatinya, hatinya pun menjadi kuat, hatinya menjadi tenteram, dan ia berani mengambil langkah dalam setiap ucapan maupun perbuatan yang bermanfaat untuk dilakukan. Beliau berkata, “Orang yang keadaannya seperti ini”—yakni menghiasi dirinya dengan akidah dan sifat-sifat yang agung tersebut—“pasti akan Allah kuatkan dengan pertolongan dari sisi-Nya, yang tidak mampu diraih seorang hamba dengan daya dan kekuatannya sendiri.” Sesungguhnya, barang siapa yang Allah bersamanya, tidak ada yang perlu ia takutkan. Barang siapa yang Allah bersamanya, berbagai kesulitan akan terasa ringan baginya, dan Allah akan menjauhkan darinya berbagai hal yang tidak ia sukai. Allah Ta’ala berfirman, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249) ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَالشَّجَاعَةُ خُلُقٌ نَفْسِيٌّ، وَلَكِنْ لَهُ مَوَادُّ تُمِدُّهُ وَهَذَا فِيهِ جَوَابٌ عَلَى سُؤَالٍ: كَيْفَ أَكُونُ شُجَاعًا؟ كَيْفَ أُقَوِّي الشَّجَاعَةَ فِي قَلْبِي؟ كَيْفَ أُصْبِحُ شُجَاعًا؟ مَا هِيَ الْأُمُورُ الَّتِي تُعِينُنِي عَلَى الشَّجَاعَةِ؟ هَذَا مَا يُبَيِّنُهُ الشَّيْخُ هُنَا، يَقُولُ: وَلَكِنْ لَهُ مَوَادُّ تُمِدُّهُ تُمِدُّهُ أَيْ تُمِدُّ هَذَا الْخُلُقَ خُلُقَ الشَّجَاعَةِ فَأَعْظَمُ مَا يُمِدُّهُ وَيُنَمِّيهِ: الْإِيمَانُ أَيْ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِكُلِّ مَا أَمَرَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عِبَادَهُ بِالْإِيمَانِ بِهِ وَقُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَيْهِ وَقُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَيْهِ الْعَبْدُ عِنْدَمَا يَكُونُ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللهِ، مُفَوِّضًا أَمْرَهُ إِلَى اللهِ، عَلَى ثِقَةٍ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عِنْدَمَا تَأْتِي الْمَخَاوِفُ يَكُونُ قَلْبُهُ ثَابِتًا يَكُونُ قَلْبُهُ ثَابِتًا لِأَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ وَيَعْلَمُ يَقِينًا أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَهُ اللهُ لَهُ وَأَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ لَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوهُ بِشَيْءٍ، لَنْ يَضُرُّوهُ إِلَّا بِشَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَيَثْبُتُ قَلْبُهُ فِي الْمَخَاوِفِ وَمِمَّا وَرَدَ فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثُ جَابِرٍ فِي الصَّحِيحِ لَمَّا كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ نَزَلَ مَعَ أَصْحَابِهِ وَقَدْ عَادُوا مِنْ غَزْوَةٍ فِي ظِلِّ شَجَرَةٍ يَقِيلُونَ تَحْتَهَا فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الْأَعْدَاءِ وَتَسَلَّلَ، وَاخْتَرَطَ سَيْفَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَسَلَّهُ صَلْتًا فَفَتَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَيْنَيْهِ، وَإِذَا بِالسَّيْفِ وَالرَّجُلُ يَقُولُ لِلنَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ السَّلَامُ مَنْ يَحْمِيكَ مِنِّي؟ أَوْ مَنْ يَقِيكَ مِنِّي؟ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِكُلِّ شَجَاعَةٍ: اللهُ فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ، وَالثِّقَةُ بِهِ، وَاللُّجُوءُ إِلَيْهِ، وَتَفْوِيضُ الْأَمْرِ، يُعْطِي الْقَلْبَ شَجَاعَةً فَقَالَ: اللهُ وَأَصْبَحَتْ يَدُ ذَلِكَ الرَّجُلِ لَا تَسْتَطِيعُ حَمْلَ السَّيْفِ عَطَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهَا حَرَكَتَهَا فَسَقَطَ السَّيْفُ مِنْ يَدِهِ وَأَخَذَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ السَّيْفَ، وَقَالَ لَهُ: مَنْ يَقِيكَ مِنِّي؟ فَأَخَذَ يَتَوَسَّلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ: أَنْتَ كَرِيمٌ وَأَنْتَ كَذَا يَطْلُبُ مِنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنْ يَصْفَحَ عَنْهُ فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ وَالثِّقَةُ بِاللهِ، وَأَيْضًا الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ، وَأَنَّ الْأُمُورَ بِقَدَرِ اللهِ وَأَنَّهُ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا هَذَا كُلُّهُ مِمَّا يُكْسِبُ الْقَلْبَ الشَّجَاعَةَ قَالَ: قُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ وَكَمَالُ الثِّقَةِ بِهِ وَعِلْمُ الْعَبْدِ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ، وَمَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ وَيُمِدُّهُ أَيْضًا أَيْ يُمِدُّ هَذَا الْخُلُقَ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْتَدَلَّ لِذَلِكَ بِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ فَذِكْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُمِدُّ الْقَلْبَ بِالْقُوَّةِ وَالشَّجَاعَةِ قَالَ: فَمَتَى قَوِيَ إِيمَانُ الْعَبْدِ بِاللهِ وَبِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ، وَقَوِيَ يَقِينُهُ بِالثَّوَابِ وَالْعِقَابِ وَتَمَّ تَوَكُّلُهُ عَلَى اللهِ وَثِقَتُهُ بِكِفَايَةِ اللهِ، وَعَلِمَ أَنَّ الْخَلْقَ لَا يَضُرُّونَ وَلَا يَنْفَعُونَ وَأَنَّ نَوَاصِيَهُمْ بِيَدِ اللهِ، وَعَلِمَ الْآثَارَ الْجَلِيلَةَ النَّاشِئَةَ عَنِ الشَّجَاعَةِ تَمَكَّنَتْ هَذِهِ الْمَعَارِفُ مِنْ قَلْبِهِ مَتَى تَمَكَّنَتْ هَذِهِ الْمَعَارِفُ مِنْ قَلْبِهِ قَوِيَ قَلْبُهُ وَاطْمَأَنَّ فُؤَادُهُ، وَأَقْدَمَ عَلَى كُلِّ قَوْلٍ وَفِعْلٍ يَنْفَعُ الْإِقْدَامُ عَلَيْهِ قَالَ: وَلَا بُدَّ لِمَنْ كَانَتْ هَذِهِ حَالُهُ أَيْ مُتَحَلِّيًا بِهَذِهِ الْعَقَائِدِ وَهَذِهِ الصِّفَاتِ الْعَظِيمَةِ أَنْ يُمِدَّهُ اللهُ بِمَدَدٍ مِنْ عِنْدِهِ لَا يُدْرِكُهُ الْعَبْدُ بِحَوْلِهِ وَلَا قُوَّتِهِ فَإِنَّ مَنْ كَانَ اللهُ مَعَهُ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِ وَمَنْ كَانَ اللهُ مَعَهُ هَانَتْ عَلَيْهِ الْمَصَاعِبُ وَدَفَعَ اللهُ عَنْهُ الْمَكَارِهَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

RAHASIA MEMBENTUK HATI YANG PEMBERANI – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad Al-Badr

Beliau rahimahullah berkata, “Keberanian adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, tetapi ada hal-hal yang dapat menguatkannya.” Ini menjawab pertanyaan: Bagaimana agar aku menjadi pemberani? Bagaimana aku menguatkan keberanian di dalam hatiku? Bagaimana agar aku menjadi berani? Apa saja yang dapat membantuku memiliki keberanian? Inilah yang dijelaskan oleh Syaikh di sini. Beliau berkata, “Ada hal-hal yang dapat menguatkannya…” “Menguatkannya,” yakni menguatkan sifat ini, yaitu sifat keberanian. Hal terbesar yang menguatkan dan menumbuhkan keberanian adalah iman, yakni iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kepada segala sesuatu yang Allah Tabaraka wa Ta’ala perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengimaninya. Serta kuatnya tawakal kepada Allah. Kuatnya tawakal kepada-Nya. Ketika seorang hamba bertawakal kepada Allah, menyerahkan urusannya kepada Allah, dan memiliki keyakinan penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika berbagai hal yang menakutkan datang, hatinya akan tetap teguh. Hatinya tetap teguh karena ia bertawakal kepada Allah. Ia yakin bahwa tidak akan ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Dan seandainya seluruh makhluk bersatu untuk mencelakakannya, mereka tidak akan mampu mencelakakannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasnya. Karena itu, hatinya tetap teguh ketika menghadapi hal-hal yang menakutkan. Di antara hadis dalam bab ini adalah hadis Jabir yang terdapat dalam kitab Sahih, ketika Nabi ‘alaihish shalatu was salam singgah bersama para sahabat setelah kembali dari sebuah peperangan. Mereka beristirahat siang di bawah naungan pepohonan. Kemudian seorang lelaki dari pihak musuh datang menyusup. Ia mencabut pedang Nabi ‘alaihish shalatu was salam dan menghunusnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membuka mata beliau. Tiba-tiba pedang telah terhunus dan lelaki itu berkata kepada Nabi ‘alaihissalam, “Siapa yang akan melindungimu dariku?” atau, “Siapa yang akan menjagamu dariku?” Dengan penuh keberanian, beliau ‘alaihish shalatu was salam menjawab, “Allah.” Maka tawakal kepada Allah, yakin kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan menyerahkan urusan kepada-Nya akan memberikan keberanian kepada hati. Beliau menjawab, “Allah.” Tiba-tiba tangan lelaki itu tidak mampu lagi memegang pedang. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghentikan gerak tangannya, sehingga pedang itu jatuh dari tangannya. Nabi ‘alaihish shalatu was salam kemudian mengambil pedang itu dan bertanya kepadanya, “Siapa yang akan melindungimu dariku?” Lelaki itu pun mulai memohon-mohon kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Engkau orang yang mulia,” dan berbagai pujian lainnya, memohon agar beliau ‘alaihish shalatu was salam memaafkannya. Maka tawakal kepada Allah, yakin kepada-Nya, iman kepada takdir, dan meyakini bahwa segala urusan terjadi dengan takdir Allah, serta meyakini bahwa tidak akan ada yang menimpa kita kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kita, semua ini menumbuhkan keberanian di dalam hati. Beliau berkata, “Kuatnya tawakal kepada Allah, sempurnanya keyakinan kepada-Nya, serta pengetahuan seorang hamba bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak mungkin menimpanya.” Hal lain yang juga menguatkannya, yakni menguatkan sifat ini, adalah memperbanyak zikir dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian bertemu dengan pasukan musuh, maka berteguh hatilah dan banyaklah mengingat Allah agar kalian beruntung.” (QS. Al-Anfal: 45) Maka zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala menguatkan hati dan memberinya keberanian. Beliau berkata, “Ketika iman seorang hamba kepada Allah serta iman kepada qada dan takdir-Nya semakin kuat, dan keyakinannya terhadap pahala dan siksa semakin kuat, tawakalnya kepada Allah menjadi sempurna, ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya, dan mengetahui bahwa makhluk tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat, bahwa ubun-ubun mereka berada di tangan Allah, serta mengetahui berbagai pengaruh agung yang lahir dari keberanian, maka berbagai pemahaman ini akan tertanam kuat di dalam hatinya.” Ketika semua pemahaman itu telah tertanam kuat di dalam hatinya, hatinya pun menjadi kuat, hatinya menjadi tenteram, dan ia berani mengambil langkah dalam setiap ucapan maupun perbuatan yang bermanfaat untuk dilakukan. Beliau berkata, “Orang yang keadaannya seperti ini”—yakni menghiasi dirinya dengan akidah dan sifat-sifat yang agung tersebut—“pasti akan Allah kuatkan dengan pertolongan dari sisi-Nya, yang tidak mampu diraih seorang hamba dengan daya dan kekuatannya sendiri.” Sesungguhnya, barang siapa yang Allah bersamanya, tidak ada yang perlu ia takutkan. Barang siapa yang Allah bersamanya, berbagai kesulitan akan terasa ringan baginya, dan Allah akan menjauhkan darinya berbagai hal yang tidak ia sukai. Allah Ta’ala berfirman, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249) ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَالشَّجَاعَةُ خُلُقٌ نَفْسِيٌّ، وَلَكِنْ لَهُ مَوَادُّ تُمِدُّهُ وَهَذَا فِيهِ جَوَابٌ عَلَى سُؤَالٍ: كَيْفَ أَكُونُ شُجَاعًا؟ كَيْفَ أُقَوِّي الشَّجَاعَةَ فِي قَلْبِي؟ كَيْفَ أُصْبِحُ شُجَاعًا؟ مَا هِيَ الْأُمُورُ الَّتِي تُعِينُنِي عَلَى الشَّجَاعَةِ؟ هَذَا مَا يُبَيِّنُهُ الشَّيْخُ هُنَا، يَقُولُ: وَلَكِنْ لَهُ مَوَادُّ تُمِدُّهُ تُمِدُّهُ أَيْ تُمِدُّ هَذَا الْخُلُقَ خُلُقَ الشَّجَاعَةِ فَأَعْظَمُ مَا يُمِدُّهُ وَيُنَمِّيهِ: الْإِيمَانُ أَيْ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِكُلِّ مَا أَمَرَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عِبَادَهُ بِالْإِيمَانِ بِهِ وَقُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَيْهِ وَقُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَيْهِ الْعَبْدُ عِنْدَمَا يَكُونُ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللهِ، مُفَوِّضًا أَمْرَهُ إِلَى اللهِ، عَلَى ثِقَةٍ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عِنْدَمَا تَأْتِي الْمَخَاوِفُ يَكُونُ قَلْبُهُ ثَابِتًا يَكُونُ قَلْبُهُ ثَابِتًا لِأَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ وَيَعْلَمُ يَقِينًا أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَهُ اللهُ لَهُ وَأَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ لَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوهُ بِشَيْءٍ، لَنْ يَضُرُّوهُ إِلَّا بِشَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَيَثْبُتُ قَلْبُهُ فِي الْمَخَاوِفِ وَمِمَّا وَرَدَ فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثُ جَابِرٍ فِي الصَّحِيحِ لَمَّا كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ نَزَلَ مَعَ أَصْحَابِهِ وَقَدْ عَادُوا مِنْ غَزْوَةٍ فِي ظِلِّ شَجَرَةٍ يَقِيلُونَ تَحْتَهَا فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الْأَعْدَاءِ وَتَسَلَّلَ، وَاخْتَرَطَ سَيْفَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَسَلَّهُ صَلْتًا فَفَتَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَيْنَيْهِ، وَإِذَا بِالسَّيْفِ وَالرَّجُلُ يَقُولُ لِلنَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ السَّلَامُ مَنْ يَحْمِيكَ مِنِّي؟ أَوْ مَنْ يَقِيكَ مِنِّي؟ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِكُلِّ شَجَاعَةٍ: اللهُ فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ، وَالثِّقَةُ بِهِ، وَاللُّجُوءُ إِلَيْهِ، وَتَفْوِيضُ الْأَمْرِ، يُعْطِي الْقَلْبَ شَجَاعَةً فَقَالَ: اللهُ وَأَصْبَحَتْ يَدُ ذَلِكَ الرَّجُلِ لَا تَسْتَطِيعُ حَمْلَ السَّيْفِ عَطَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهَا حَرَكَتَهَا فَسَقَطَ السَّيْفُ مِنْ يَدِهِ وَأَخَذَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ السَّيْفَ، وَقَالَ لَهُ: مَنْ يَقِيكَ مِنِّي؟ فَأَخَذَ يَتَوَسَّلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ: أَنْتَ كَرِيمٌ وَأَنْتَ كَذَا يَطْلُبُ مِنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنْ يَصْفَحَ عَنْهُ فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ وَالثِّقَةُ بِاللهِ، وَأَيْضًا الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ، وَأَنَّ الْأُمُورَ بِقَدَرِ اللهِ وَأَنَّهُ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا هَذَا كُلُّهُ مِمَّا يُكْسِبُ الْقَلْبَ الشَّجَاعَةَ قَالَ: قُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ وَكَمَالُ الثِّقَةِ بِهِ وَعِلْمُ الْعَبْدِ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ، وَمَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ وَيُمِدُّهُ أَيْضًا أَيْ يُمِدُّ هَذَا الْخُلُقَ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْتَدَلَّ لِذَلِكَ بِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ فَذِكْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُمِدُّ الْقَلْبَ بِالْقُوَّةِ وَالشَّجَاعَةِ قَالَ: فَمَتَى قَوِيَ إِيمَانُ الْعَبْدِ بِاللهِ وَبِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ، وَقَوِيَ يَقِينُهُ بِالثَّوَابِ وَالْعِقَابِ وَتَمَّ تَوَكُّلُهُ عَلَى اللهِ وَثِقَتُهُ بِكِفَايَةِ اللهِ، وَعَلِمَ أَنَّ الْخَلْقَ لَا يَضُرُّونَ وَلَا يَنْفَعُونَ وَأَنَّ نَوَاصِيَهُمْ بِيَدِ اللهِ، وَعَلِمَ الْآثَارَ الْجَلِيلَةَ النَّاشِئَةَ عَنِ الشَّجَاعَةِ تَمَكَّنَتْ هَذِهِ الْمَعَارِفُ مِنْ قَلْبِهِ مَتَى تَمَكَّنَتْ هَذِهِ الْمَعَارِفُ مِنْ قَلْبِهِ قَوِيَ قَلْبُهُ وَاطْمَأَنَّ فُؤَادُهُ، وَأَقْدَمَ عَلَى كُلِّ قَوْلٍ وَفِعْلٍ يَنْفَعُ الْإِقْدَامُ عَلَيْهِ قَالَ: وَلَا بُدَّ لِمَنْ كَانَتْ هَذِهِ حَالُهُ أَيْ مُتَحَلِّيًا بِهَذِهِ الْعَقَائِدِ وَهَذِهِ الصِّفَاتِ الْعَظِيمَةِ أَنْ يُمِدَّهُ اللهُ بِمَدَدٍ مِنْ عِنْدِهِ لَا يُدْرِكُهُ الْعَبْدُ بِحَوْلِهِ وَلَا قُوَّتِهِ فَإِنَّ مَنْ كَانَ اللهُ مَعَهُ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِ وَمَنْ كَانَ اللهُ مَعَهُ هَانَتْ عَلَيْهِ الْمَصَاعِبُ وَدَفَعَ اللهُ عَنْهُ الْمَكَارِهَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
Beliau rahimahullah berkata, “Keberanian adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, tetapi ada hal-hal yang dapat menguatkannya.” Ini menjawab pertanyaan: Bagaimana agar aku menjadi pemberani? Bagaimana aku menguatkan keberanian di dalam hatiku? Bagaimana agar aku menjadi berani? Apa saja yang dapat membantuku memiliki keberanian? Inilah yang dijelaskan oleh Syaikh di sini. Beliau berkata, “Ada hal-hal yang dapat menguatkannya…” “Menguatkannya,” yakni menguatkan sifat ini, yaitu sifat keberanian. Hal terbesar yang menguatkan dan menumbuhkan keberanian adalah iman, yakni iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kepada segala sesuatu yang Allah Tabaraka wa Ta’ala perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengimaninya. Serta kuatnya tawakal kepada Allah. Kuatnya tawakal kepada-Nya. Ketika seorang hamba bertawakal kepada Allah, menyerahkan urusannya kepada Allah, dan memiliki keyakinan penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika berbagai hal yang menakutkan datang, hatinya akan tetap teguh. Hatinya tetap teguh karena ia bertawakal kepada Allah. Ia yakin bahwa tidak akan ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Dan seandainya seluruh makhluk bersatu untuk mencelakakannya, mereka tidak akan mampu mencelakakannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasnya. Karena itu, hatinya tetap teguh ketika menghadapi hal-hal yang menakutkan. Di antara hadis dalam bab ini adalah hadis Jabir yang terdapat dalam kitab Sahih, ketika Nabi ‘alaihish shalatu was salam singgah bersama para sahabat setelah kembali dari sebuah peperangan. Mereka beristirahat siang di bawah naungan pepohonan. Kemudian seorang lelaki dari pihak musuh datang menyusup. Ia mencabut pedang Nabi ‘alaihish shalatu was salam dan menghunusnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membuka mata beliau. Tiba-tiba pedang telah terhunus dan lelaki itu berkata kepada Nabi ‘alaihissalam, “Siapa yang akan melindungimu dariku?” atau, “Siapa yang akan menjagamu dariku?” Dengan penuh keberanian, beliau ‘alaihish shalatu was salam menjawab, “Allah.” Maka tawakal kepada Allah, yakin kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan menyerahkan urusan kepada-Nya akan memberikan keberanian kepada hati. Beliau menjawab, “Allah.” Tiba-tiba tangan lelaki itu tidak mampu lagi memegang pedang. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghentikan gerak tangannya, sehingga pedang itu jatuh dari tangannya. Nabi ‘alaihish shalatu was salam kemudian mengambil pedang itu dan bertanya kepadanya, “Siapa yang akan melindungimu dariku?” Lelaki itu pun mulai memohon-mohon kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Engkau orang yang mulia,” dan berbagai pujian lainnya, memohon agar beliau ‘alaihish shalatu was salam memaafkannya. Maka tawakal kepada Allah, yakin kepada-Nya, iman kepada takdir, dan meyakini bahwa segala urusan terjadi dengan takdir Allah, serta meyakini bahwa tidak akan ada yang menimpa kita kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kita, semua ini menumbuhkan keberanian di dalam hati. Beliau berkata, “Kuatnya tawakal kepada Allah, sempurnanya keyakinan kepada-Nya, serta pengetahuan seorang hamba bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak mungkin menimpanya.” Hal lain yang juga menguatkannya, yakni menguatkan sifat ini, adalah memperbanyak zikir dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian bertemu dengan pasukan musuh, maka berteguh hatilah dan banyaklah mengingat Allah agar kalian beruntung.” (QS. Al-Anfal: 45) Maka zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala menguatkan hati dan memberinya keberanian. Beliau berkata, “Ketika iman seorang hamba kepada Allah serta iman kepada qada dan takdir-Nya semakin kuat, dan keyakinannya terhadap pahala dan siksa semakin kuat, tawakalnya kepada Allah menjadi sempurna, ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya, dan mengetahui bahwa makhluk tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat, bahwa ubun-ubun mereka berada di tangan Allah, serta mengetahui berbagai pengaruh agung yang lahir dari keberanian, maka berbagai pemahaman ini akan tertanam kuat di dalam hatinya.” Ketika semua pemahaman itu telah tertanam kuat di dalam hatinya, hatinya pun menjadi kuat, hatinya menjadi tenteram, dan ia berani mengambil langkah dalam setiap ucapan maupun perbuatan yang bermanfaat untuk dilakukan. Beliau berkata, “Orang yang keadaannya seperti ini”—yakni menghiasi dirinya dengan akidah dan sifat-sifat yang agung tersebut—“pasti akan Allah kuatkan dengan pertolongan dari sisi-Nya, yang tidak mampu diraih seorang hamba dengan daya dan kekuatannya sendiri.” Sesungguhnya, barang siapa yang Allah bersamanya, tidak ada yang perlu ia takutkan. Barang siapa yang Allah bersamanya, berbagai kesulitan akan terasa ringan baginya, dan Allah akan menjauhkan darinya berbagai hal yang tidak ia sukai. Allah Ta’ala berfirman, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249) ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَالشَّجَاعَةُ خُلُقٌ نَفْسِيٌّ، وَلَكِنْ لَهُ مَوَادُّ تُمِدُّهُ وَهَذَا فِيهِ جَوَابٌ عَلَى سُؤَالٍ: كَيْفَ أَكُونُ شُجَاعًا؟ كَيْفَ أُقَوِّي الشَّجَاعَةَ فِي قَلْبِي؟ كَيْفَ أُصْبِحُ شُجَاعًا؟ مَا هِيَ الْأُمُورُ الَّتِي تُعِينُنِي عَلَى الشَّجَاعَةِ؟ هَذَا مَا يُبَيِّنُهُ الشَّيْخُ هُنَا، يَقُولُ: وَلَكِنْ لَهُ مَوَادُّ تُمِدُّهُ تُمِدُّهُ أَيْ تُمِدُّ هَذَا الْخُلُقَ خُلُقَ الشَّجَاعَةِ فَأَعْظَمُ مَا يُمِدُّهُ وَيُنَمِّيهِ: الْإِيمَانُ أَيْ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِكُلِّ مَا أَمَرَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عِبَادَهُ بِالْإِيمَانِ بِهِ وَقُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَيْهِ وَقُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَيْهِ الْعَبْدُ عِنْدَمَا يَكُونُ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللهِ، مُفَوِّضًا أَمْرَهُ إِلَى اللهِ، عَلَى ثِقَةٍ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عِنْدَمَا تَأْتِي الْمَخَاوِفُ يَكُونُ قَلْبُهُ ثَابِتًا يَكُونُ قَلْبُهُ ثَابِتًا لِأَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ وَيَعْلَمُ يَقِينًا أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَهُ اللهُ لَهُ وَأَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ لَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوهُ بِشَيْءٍ، لَنْ يَضُرُّوهُ إِلَّا بِشَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَيَثْبُتُ قَلْبُهُ فِي الْمَخَاوِفِ وَمِمَّا وَرَدَ فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثُ جَابِرٍ فِي الصَّحِيحِ لَمَّا كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ نَزَلَ مَعَ أَصْحَابِهِ وَقَدْ عَادُوا مِنْ غَزْوَةٍ فِي ظِلِّ شَجَرَةٍ يَقِيلُونَ تَحْتَهَا فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الْأَعْدَاءِ وَتَسَلَّلَ، وَاخْتَرَطَ سَيْفَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَسَلَّهُ صَلْتًا فَفَتَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَيْنَيْهِ، وَإِذَا بِالسَّيْفِ وَالرَّجُلُ يَقُولُ لِلنَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ السَّلَامُ مَنْ يَحْمِيكَ مِنِّي؟ أَوْ مَنْ يَقِيكَ مِنِّي؟ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِكُلِّ شَجَاعَةٍ: اللهُ فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ، وَالثِّقَةُ بِهِ، وَاللُّجُوءُ إِلَيْهِ، وَتَفْوِيضُ الْأَمْرِ، يُعْطِي الْقَلْبَ شَجَاعَةً فَقَالَ: اللهُ وَأَصْبَحَتْ يَدُ ذَلِكَ الرَّجُلِ لَا تَسْتَطِيعُ حَمْلَ السَّيْفِ عَطَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهَا حَرَكَتَهَا فَسَقَطَ السَّيْفُ مِنْ يَدِهِ وَأَخَذَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ السَّيْفَ، وَقَالَ لَهُ: مَنْ يَقِيكَ مِنِّي؟ فَأَخَذَ يَتَوَسَّلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ: أَنْتَ كَرِيمٌ وَأَنْتَ كَذَا يَطْلُبُ مِنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنْ يَصْفَحَ عَنْهُ فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ وَالثِّقَةُ بِاللهِ، وَأَيْضًا الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ، وَأَنَّ الْأُمُورَ بِقَدَرِ اللهِ وَأَنَّهُ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا هَذَا كُلُّهُ مِمَّا يُكْسِبُ الْقَلْبَ الشَّجَاعَةَ قَالَ: قُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ وَكَمَالُ الثِّقَةِ بِهِ وَعِلْمُ الْعَبْدِ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ، وَمَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ وَيُمِدُّهُ أَيْضًا أَيْ يُمِدُّ هَذَا الْخُلُقَ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْتَدَلَّ لِذَلِكَ بِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ فَذِكْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُمِدُّ الْقَلْبَ بِالْقُوَّةِ وَالشَّجَاعَةِ قَالَ: فَمَتَى قَوِيَ إِيمَانُ الْعَبْدِ بِاللهِ وَبِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ، وَقَوِيَ يَقِينُهُ بِالثَّوَابِ وَالْعِقَابِ وَتَمَّ تَوَكُّلُهُ عَلَى اللهِ وَثِقَتُهُ بِكِفَايَةِ اللهِ، وَعَلِمَ أَنَّ الْخَلْقَ لَا يَضُرُّونَ وَلَا يَنْفَعُونَ وَأَنَّ نَوَاصِيَهُمْ بِيَدِ اللهِ، وَعَلِمَ الْآثَارَ الْجَلِيلَةَ النَّاشِئَةَ عَنِ الشَّجَاعَةِ تَمَكَّنَتْ هَذِهِ الْمَعَارِفُ مِنْ قَلْبِهِ مَتَى تَمَكَّنَتْ هَذِهِ الْمَعَارِفُ مِنْ قَلْبِهِ قَوِيَ قَلْبُهُ وَاطْمَأَنَّ فُؤَادُهُ، وَأَقْدَمَ عَلَى كُلِّ قَوْلٍ وَفِعْلٍ يَنْفَعُ الْإِقْدَامُ عَلَيْهِ قَالَ: وَلَا بُدَّ لِمَنْ كَانَتْ هَذِهِ حَالُهُ أَيْ مُتَحَلِّيًا بِهَذِهِ الْعَقَائِدِ وَهَذِهِ الصِّفَاتِ الْعَظِيمَةِ أَنْ يُمِدَّهُ اللهُ بِمَدَدٍ مِنْ عِنْدِهِ لَا يُدْرِكُهُ الْعَبْدُ بِحَوْلِهِ وَلَا قُوَّتِهِ فَإِنَّ مَنْ كَانَ اللهُ مَعَهُ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِ وَمَنْ كَانَ اللهُ مَعَهُ هَانَتْ عَلَيْهِ الْمَصَاعِبُ وَدَفَعَ اللهُ عَنْهُ الْمَكَارِهَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ


Beliau rahimahullah berkata, “Keberanian adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, tetapi ada hal-hal yang dapat menguatkannya.” Ini menjawab pertanyaan: Bagaimana agar aku menjadi pemberani? Bagaimana aku menguatkan keberanian di dalam hatiku? Bagaimana agar aku menjadi berani? Apa saja yang dapat membantuku memiliki keberanian? Inilah yang dijelaskan oleh Syaikh di sini. Beliau berkata, “Ada hal-hal yang dapat menguatkannya…” “Menguatkannya,” yakni menguatkan sifat ini, yaitu sifat keberanian. Hal terbesar yang menguatkan dan menumbuhkan keberanian adalah iman, yakni iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kepada segala sesuatu yang Allah Tabaraka wa Ta’ala perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengimaninya. Serta kuatnya tawakal kepada Allah. Kuatnya tawakal kepada-Nya. Ketika seorang hamba bertawakal kepada Allah, menyerahkan urusannya kepada Allah, dan memiliki keyakinan penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika berbagai hal yang menakutkan datang, hatinya akan tetap teguh. Hatinya tetap teguh karena ia bertawakal kepada Allah. Ia yakin bahwa tidak akan ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Dan seandainya seluruh makhluk bersatu untuk mencelakakannya, mereka tidak akan mampu mencelakakannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasnya. Karena itu, hatinya tetap teguh ketika menghadapi hal-hal yang menakutkan. Di antara hadis dalam bab ini adalah hadis Jabir yang terdapat dalam kitab Sahih, ketika Nabi ‘alaihish shalatu was salam singgah bersama para sahabat setelah kembali dari sebuah peperangan. Mereka beristirahat siang di bawah naungan pepohonan. Kemudian seorang lelaki dari pihak musuh datang menyusup. Ia mencabut pedang Nabi ‘alaihish shalatu was salam dan menghunusnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membuka mata beliau. Tiba-tiba pedang telah terhunus dan lelaki itu berkata kepada Nabi ‘alaihissalam, “Siapa yang akan melindungimu dariku?” atau, “Siapa yang akan menjagamu dariku?” Dengan penuh keberanian, beliau ‘alaihish shalatu was salam menjawab, “Allah.” Maka tawakal kepada Allah, yakin kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan menyerahkan urusan kepada-Nya akan memberikan keberanian kepada hati. Beliau menjawab, “Allah.” Tiba-tiba tangan lelaki itu tidak mampu lagi memegang pedang. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghentikan gerak tangannya, sehingga pedang itu jatuh dari tangannya. Nabi ‘alaihish shalatu was salam kemudian mengambil pedang itu dan bertanya kepadanya, “Siapa yang akan melindungimu dariku?” Lelaki itu pun mulai memohon-mohon kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Engkau orang yang mulia,” dan berbagai pujian lainnya, memohon agar beliau ‘alaihish shalatu was salam memaafkannya. Maka tawakal kepada Allah, yakin kepada-Nya, iman kepada takdir, dan meyakini bahwa segala urusan terjadi dengan takdir Allah, serta meyakini bahwa tidak akan ada yang menimpa kita kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kita, semua ini menumbuhkan keberanian di dalam hati. Beliau berkata, “Kuatnya tawakal kepada Allah, sempurnanya keyakinan kepada-Nya, serta pengetahuan seorang hamba bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak mungkin menimpanya.” Hal lain yang juga menguatkannya, yakni menguatkan sifat ini, adalah memperbanyak zikir dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian bertemu dengan pasukan musuh, maka berteguh hatilah dan banyaklah mengingat Allah agar kalian beruntung.” (QS. Al-Anfal: 45) Maka zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala menguatkan hati dan memberinya keberanian. Beliau berkata, “Ketika iman seorang hamba kepada Allah serta iman kepada qada dan takdir-Nya semakin kuat, dan keyakinannya terhadap pahala dan siksa semakin kuat, tawakalnya kepada Allah menjadi sempurna, ia yakin bahwa Allah akan mencukupinya, dan mengetahui bahwa makhluk tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat, bahwa ubun-ubun mereka berada di tangan Allah, serta mengetahui berbagai pengaruh agung yang lahir dari keberanian, maka berbagai pemahaman ini akan tertanam kuat di dalam hatinya.” Ketika semua pemahaman itu telah tertanam kuat di dalam hatinya, hatinya pun menjadi kuat, hatinya menjadi tenteram, dan ia berani mengambil langkah dalam setiap ucapan maupun perbuatan yang bermanfaat untuk dilakukan. Beliau berkata, “Orang yang keadaannya seperti ini”—yakni menghiasi dirinya dengan akidah dan sifat-sifat yang agung tersebut—“pasti akan Allah kuatkan dengan pertolongan dari sisi-Nya, yang tidak mampu diraih seorang hamba dengan daya dan kekuatannya sendiri.” Sesungguhnya, barang siapa yang Allah bersamanya, tidak ada yang perlu ia takutkan. Barang siapa yang Allah bersamanya, berbagai kesulitan akan terasa ringan baginya, dan Allah akan menjauhkan darinya berbagai hal yang tidak ia sukai. Allah Ta’ala berfirman, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249) ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَالشَّجَاعَةُ خُلُقٌ نَفْسِيٌّ، وَلَكِنْ لَهُ مَوَادُّ تُمِدُّهُ وَهَذَا فِيهِ جَوَابٌ عَلَى سُؤَالٍ: كَيْفَ أَكُونُ شُجَاعًا؟ كَيْفَ أُقَوِّي الشَّجَاعَةَ فِي قَلْبِي؟ كَيْفَ أُصْبِحُ شُجَاعًا؟ مَا هِيَ الْأُمُورُ الَّتِي تُعِينُنِي عَلَى الشَّجَاعَةِ؟ هَذَا مَا يُبَيِّنُهُ الشَّيْخُ هُنَا، يَقُولُ: وَلَكِنْ لَهُ مَوَادُّ تُمِدُّهُ تُمِدُّهُ أَيْ تُمِدُّ هَذَا الْخُلُقَ خُلُقَ الشَّجَاعَةِ فَأَعْظَمُ مَا يُمِدُّهُ وَيُنَمِّيهِ: الْإِيمَانُ أَيْ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِكُلِّ مَا أَمَرَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عِبَادَهُ بِالْإِيمَانِ بِهِ وَقُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَيْهِ وَقُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَيْهِ الْعَبْدُ عِنْدَمَا يَكُونُ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللهِ، مُفَوِّضًا أَمْرَهُ إِلَى اللهِ، عَلَى ثِقَةٍ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عِنْدَمَا تَأْتِي الْمَخَاوِفُ يَكُونُ قَلْبُهُ ثَابِتًا يَكُونُ قَلْبُهُ ثَابِتًا لِأَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ وَيَعْلَمُ يَقِينًا أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَهُ اللهُ لَهُ وَأَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ لَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوهُ بِشَيْءٍ، لَنْ يَضُرُّوهُ إِلَّا بِشَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَيَثْبُتُ قَلْبُهُ فِي الْمَخَاوِفِ وَمِمَّا وَرَدَ فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثُ جَابِرٍ فِي الصَّحِيحِ لَمَّا كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ نَزَلَ مَعَ أَصْحَابِهِ وَقَدْ عَادُوا مِنْ غَزْوَةٍ فِي ظِلِّ شَجَرَةٍ يَقِيلُونَ تَحْتَهَا فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الْأَعْدَاءِ وَتَسَلَّلَ، وَاخْتَرَطَ سَيْفَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَسَلَّهُ صَلْتًا فَفَتَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَيْنَيْهِ، وَإِذَا بِالسَّيْفِ وَالرَّجُلُ يَقُولُ لِلنَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ السَّلَامُ مَنْ يَحْمِيكَ مِنِّي؟ أَوْ مَنْ يَقِيكَ مِنِّي؟ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِكُلِّ شَجَاعَةٍ: اللهُ فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ، وَالثِّقَةُ بِهِ، وَاللُّجُوءُ إِلَيْهِ، وَتَفْوِيضُ الْأَمْرِ، يُعْطِي الْقَلْبَ شَجَاعَةً فَقَالَ: اللهُ وَأَصْبَحَتْ يَدُ ذَلِكَ الرَّجُلِ لَا تَسْتَطِيعُ حَمْلَ السَّيْفِ عَطَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهَا حَرَكَتَهَا فَسَقَطَ السَّيْفُ مِنْ يَدِهِ وَأَخَذَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ السَّيْفَ، وَقَالَ لَهُ: مَنْ يَقِيكَ مِنِّي؟ فَأَخَذَ يَتَوَسَّلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ: أَنْتَ كَرِيمٌ وَأَنْتَ كَذَا يَطْلُبُ مِنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنْ يَصْفَحَ عَنْهُ فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ وَالثِّقَةُ بِاللهِ، وَأَيْضًا الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ، وَأَنَّ الْأُمُورَ بِقَدَرِ اللهِ وَأَنَّهُ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا هَذَا كُلُّهُ مِمَّا يُكْسِبُ الْقَلْبَ الشَّجَاعَةَ قَالَ: قُوَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ وَكَمَالُ الثِّقَةِ بِهِ وَعِلْمُ الْعَبْدِ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ، وَمَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ وَيُمِدُّهُ أَيْضًا أَيْ يُمِدُّ هَذَا الْخُلُقَ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْتَدَلَّ لِذَلِكَ بِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ فَذِكْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُمِدُّ الْقَلْبَ بِالْقُوَّةِ وَالشَّجَاعَةِ قَالَ: فَمَتَى قَوِيَ إِيمَانُ الْعَبْدِ بِاللهِ وَبِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ، وَقَوِيَ يَقِينُهُ بِالثَّوَابِ وَالْعِقَابِ وَتَمَّ تَوَكُّلُهُ عَلَى اللهِ وَثِقَتُهُ بِكِفَايَةِ اللهِ، وَعَلِمَ أَنَّ الْخَلْقَ لَا يَضُرُّونَ وَلَا يَنْفَعُونَ وَأَنَّ نَوَاصِيَهُمْ بِيَدِ اللهِ، وَعَلِمَ الْآثَارَ الْجَلِيلَةَ النَّاشِئَةَ عَنِ الشَّجَاعَةِ تَمَكَّنَتْ هَذِهِ الْمَعَارِفُ مِنْ قَلْبِهِ مَتَى تَمَكَّنَتْ هَذِهِ الْمَعَارِفُ مِنْ قَلْبِهِ قَوِيَ قَلْبُهُ وَاطْمَأَنَّ فُؤَادُهُ، وَأَقْدَمَ عَلَى كُلِّ قَوْلٍ وَفِعْلٍ يَنْفَعُ الْإِقْدَامُ عَلَيْهِ قَالَ: وَلَا بُدَّ لِمَنْ كَانَتْ هَذِهِ حَالُهُ أَيْ مُتَحَلِّيًا بِهَذِهِ الْعَقَائِدِ وَهَذِهِ الصِّفَاتِ الْعَظِيمَةِ أَنْ يُمِدَّهُ اللهُ بِمَدَدٍ مِنْ عِنْدِهِ لَا يُدْرِكُهُ الْعَبْدُ بِحَوْلِهِ وَلَا قُوَّتِهِ فَإِنَّ مَنْ كَانَ اللهُ مَعَهُ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِ وَمَنْ كَانَ اللهُ مَعَهُ هَانَتْ عَلَيْهِ الْمَصَاعِبُ وَدَفَعَ اللهُ عَنْهُ الْمَكَارِهَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Bolehkah Menunda Mandi Junub?

Sebagian orang mengira bahwa setelah berhubungan intim atau mengalami junub, ia harus segera mandi saat itu juga. Padahal, syariat memberikan kelonggaran untuk menunda mandi junub, bahkan seseorang boleh tidur terlebih dahulu sebelum mandi. Namun, ada batas penting yang tidak boleh dilanggar: jangan sampai menunda mandi menyebabkan shalat keluar dari waktunya.  Daftar Isi tutup 1. Mandi junub tidak harus langsung dilakukan 2. Kaidah fikih: Ada kewajiban yang tidak harus ditunaikan seketika 3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junub 4. Jika hendak tidur, disunnahkan berwudhu terlebih dahulu 5. Menunda mandi berbeda dengan menunda shalat 6. Jangan salah memahami istilah “mandi wajib” 7. Ringkasnya, kapan mandi junub boleh ditunda? 8. Nasihat terakhir  Mandi junub tidak harus langsung dilakukanOrang yang berada dalam keadaan junub memang wajib mandi sebelum melakukan ibadah yang mensyaratkan suci dari hadas besar, seperti shalat. Namun, mandi tersebut tidak harus dilakukan seketika setelah sebab junub terjadi.Islamweb menjelaskan,فَيَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ تَأْخِيرُ غُسْلِ الْجَنَابَةِ إِلَى قِيَامِهِ لِلصَّلَاةِ، وَلَوْ لِغَيْرِ ضَرُورَةٍ؛ لِأَنَّ غُسْلَ الْجَنَابَةِ وَاجِبٌ وُجُوبًا مُتَرَاخِيًا، وَلَيْسَ عَلَى الْفَوْرِ، وَإِنَّمَا يَجِبُ عِنْدَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلَاةِ.“Boleh bagi seseorang menunda mandi junub hingga ia hendak melaksanakan shalat, meskipun tanpa adanya keadaan darurat. Sebab, mandi junub merupakan kewajiban yang boleh ditunaikan dengan jeda dan tidak wajib dilakukan seketika. Mandi tersebut baru wajib dilaksanakan ketika seseorang hendak menunaikan shalat.”Hal ini menunjukkan bahwa orang yang junub tidak berdosa hanya karena ia tidak langsung mandi setelah berhubungan intim atau keluar mani.Baca juga: Tata Cara Mandi Wajib (1) Kaidah fikih: Ada kewajiban yang tidak harus ditunaikan seketikaDalam pembahasan fikih dan usul fikih dikenal pembahasan al-fawr wa at-tarākhī (الفَوْرُ وَالتَّرَاخِي), yaitu apakah suatu kewajiban harus segera ditunaikan atau masih boleh ditunda.Dalam masalah mandi junub berlaku:غُسْلُ الْجَنَابَةِ وَاجِبٌ وُجُوبًا مُتَرَاخِيًا، وَلَيْسَ عَلَى الْفَوْرِ.“Mandi janabah adalah kewajiban yang boleh ditunaikan dengan jeda dan tidak wajib dilakukan seketika.”Maksudnya, ketika seseorang mengalami junub pada malam hari, ia tidak harus langsung bangkit menuju kamar mandi saat itu juga. Ia boleh menunda mandi hingga menjelang pelaksanaan shalat.Namun, perlu dipahami bahwa kelonggaran ini bukan berarti mandi junub boleh ditunda sesuka hati tanpa batas.Baca juga: Matan Taqrib: Cara Mandi Junub, Lengkap dengan Dalil, Wajib, dan Sunnahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junubDi antara dalil yang menunjukkan bolehnya menunda mandi adalah hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ketika beliau ditanya mengenai keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika junub, beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ، رُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ، وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ.“Semua itu pernah dilakukan oleh beliau. Kadang beliau mandi kemudian tidur dan kadang beliau berwudhu kemudian tidur.” (HR. Muslim, no. 307)Hadits ini menjadi dalil bahwa seseorang yang junub boleh tidur sebelum mandi.Ibnu Hajar rahimahullah juga menerangkan,وَفِيهِ جَوَازُ تَأْخِيرِ الِاغْتِسَالِ عَنْ أَوَّلِ وُجُوبِهِ.“Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya menunda mandi dari awal waktu kewajibannya.”Dengan demikian, misalnya suami istri berhubungan intim pada pukul 23.00, keduanya tidak wajib langsung mandi pada saat itu. Mereka boleh tidur terlebih dahulu kemudian mandi sebelum melaksanakan shalat Subuh.Baca juga: Hukum Tidur dalam Keadaan Junub Jika hendak tidur, disunnahkan berwudhu terlebih dahuluWalaupun mandi junub boleh ditunda, seseorang yang hendak tidur dalam keadaan junub dianjurkan berwudhu terlebih dahulu.Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهُوَ جُنُبٌ؟“Apakah salah seorang di antara kami boleh tidur ketika sedang junub?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ.“Ya. Jika salah seorang di antara kalian telah berwudhu, silakan ia tidur dalam keadaan junub.” (HR. Bukhari, no. 287 dan Muslim, no. 306)Dalam riwayat lain disebutkan,تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ ثُمَّ نَمْ.“Berwudhulah, cucilah kemaluanmu, kemudian tidurlah.” (HR. Bukhari, no. 288)Oleh karena itu, jika mandi belum dilakukan, dianjurkan mencuci kemaluan dan berwudhu sebelum tidur.Baca juga: Manhajus Salikin: Tata Cara Mandi Junub yang Ringkas, Sempurna, dan Mandi Setelah Haidh Menunda mandi berbeda dengan menunda shalatInilah poin yang sangat penting.Menunda mandi junub hukumnya boleh. Namun, menunda mandi sampai menyebabkan shalat keluar dari waktunya hukumnya tidak boleh.Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)IslamQA menjelaskan,يَجُوزُ تَأْخِيرُ الْغُسْلِ مِنَ الْجَنَابَةِ بِشَرْطِ أَلَّا يَخْرُجَ وَقْتُ الصَّلَاةِ.“Boleh menunda mandi janabah dengan syarat waktu shalat tidak sampai habis.”Contohnya, seseorang berhubungan intim pada malam hari kemudian tidur dalam keadaan junub. Ia boleh melakukan hal tersebut. Namun, ia wajib bangun untuk mandi dan mengerjakan shalat Subuh sebelum matahari terbit.Tidak tepat jika seseorang berkata, “Bukankah mandi junub boleh ditunda?” kemudian menjadikannya alasan untuk bangun setelah matahari terbit dan baru melaksanakan shalat Subuh.Yang diberikan kelonggaran untuk ditunda adalah mandinya, bukan shalatnya sampai keluar waktu.Baca juga: Cara Mandi Junub yang Paling Ringkas Jangan salah memahami istilah “mandi wajib”Sebutan “mandi wajib” terkadang membuat sebagian orang memahami bahwa mandi tersebut harus segera dilakukan saat itu juga.Padahal, kata “wajib” menunjukkan hukum pelaksanaannya, bukan berarti setiap kewajiban harus selalu dilaksanakan pada detik pertama kewajiban itu muncul.Karena itu, orang yang junub pada malam hari tetap berstatus wajib mandi, tetapi pelaksanaan mandinya boleh ditunda sampai ia membutuhkannya untuk melaksanakan shalat.Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai penundaan tersebut menyebabkan kewajiban lain terbengkalai.Baca juga: Bulughul Maram tentang Sebab dan Tata Cara Mandi Junub (Bahas Tuntas) Ringkasnya, kapan mandi junub boleh ditunda?Ada beberapa keadaan yang perlu dipahami:Junub pada malam hari lalu langsung mandi sebelum tidur: boleh dan ini lebih sempurna.Junub lalu mencuci kemaluan dan berwudhu sebelum tidur: boleh dan sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Junub lalu tidur dan mandi menjelang Subuh: boleh, selama tetap dapat melaksanakan shalat Subuh pada waktunya.Sengaja menunda mandi hingga shalat keluar dari waktunya: tidak boleh dan berdosa karena telah menyia-nyiakan waktu shalat.Jadi, batas utamanya bukan berapa menit seseorang berada dalam keadaan junub, melainkan apakah penundaan tersebut menyebabkan kewajiban lain yang membutuhkan bersuci menjadi terabaikan. Nasihat terakhirSyariat Islam adalah syariat yang mudah, tetapi kemudahan tidak berarti meremehkan kewajiban. Orang yang junub tidak perlu merasa bahwa ia berdosa hanya karena belum langsung mandi, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah tidur dalam keadaan junub. Namun, jangan sampai kelonggaran ini membuat kita bermudah-mudahan dalam perkara shalat. Aturlah waktu istirahat dan pasang alarm agar mandi serta shalat tetap dapat dilakukan tepat pada waktunya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang menjaga kesucian dan shalat pada waktunya.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَAllāhumma a‘innā ‘alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik.“Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” ReferensiIslam Question & Answer. (2020). حكم تأخير غسل الجنابة حتى يخرج وقت الفجر لضمان وصول المني للرحم وتحصيل الإنجاب. IslamQA.Islam Question & Answer. (2023, April 12). ما هو الواجب الموسع؟ وهل كل أوقاته سواء؟ IslamQA.Islamweb. (2004, January 26). تأخير غسل الجنابة ولو لغير ضرورة لا حرج فيه. Islamweb.Islamweb. (2017, October 10). تأخير غسل الجنابة حتى يخرج وقت الصلاة. Islamweb.Tuasikal, M. A. (2013, November 14). Hukum tidur dalam keadaan junub. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2020). Bulughul Maram tentang sebab dan tata cara mandi junub (bahas tuntas). Rumaysho.Com. @ Pondok Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul DIY, 30 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara mandi junub fikih keluarga fikih thaharah hubungan suami istri junub mandi janabah mandi junub mandi wajib shalat Subuh thaharah

Bolehkah Menunda Mandi Junub?

Sebagian orang mengira bahwa setelah berhubungan intim atau mengalami junub, ia harus segera mandi saat itu juga. Padahal, syariat memberikan kelonggaran untuk menunda mandi junub, bahkan seseorang boleh tidur terlebih dahulu sebelum mandi. Namun, ada batas penting yang tidak boleh dilanggar: jangan sampai menunda mandi menyebabkan shalat keluar dari waktunya.  Daftar Isi tutup 1. Mandi junub tidak harus langsung dilakukan 2. Kaidah fikih: Ada kewajiban yang tidak harus ditunaikan seketika 3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junub 4. Jika hendak tidur, disunnahkan berwudhu terlebih dahulu 5. Menunda mandi berbeda dengan menunda shalat 6. Jangan salah memahami istilah “mandi wajib” 7. Ringkasnya, kapan mandi junub boleh ditunda? 8. Nasihat terakhir  Mandi junub tidak harus langsung dilakukanOrang yang berada dalam keadaan junub memang wajib mandi sebelum melakukan ibadah yang mensyaratkan suci dari hadas besar, seperti shalat. Namun, mandi tersebut tidak harus dilakukan seketika setelah sebab junub terjadi.Islamweb menjelaskan,فَيَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ تَأْخِيرُ غُسْلِ الْجَنَابَةِ إِلَى قِيَامِهِ لِلصَّلَاةِ، وَلَوْ لِغَيْرِ ضَرُورَةٍ؛ لِأَنَّ غُسْلَ الْجَنَابَةِ وَاجِبٌ وُجُوبًا مُتَرَاخِيًا، وَلَيْسَ عَلَى الْفَوْرِ، وَإِنَّمَا يَجِبُ عِنْدَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلَاةِ.“Boleh bagi seseorang menunda mandi junub hingga ia hendak melaksanakan shalat, meskipun tanpa adanya keadaan darurat. Sebab, mandi junub merupakan kewajiban yang boleh ditunaikan dengan jeda dan tidak wajib dilakukan seketika. Mandi tersebut baru wajib dilaksanakan ketika seseorang hendak menunaikan shalat.”Hal ini menunjukkan bahwa orang yang junub tidak berdosa hanya karena ia tidak langsung mandi setelah berhubungan intim atau keluar mani.Baca juga: Tata Cara Mandi Wajib (1) Kaidah fikih: Ada kewajiban yang tidak harus ditunaikan seketikaDalam pembahasan fikih dan usul fikih dikenal pembahasan al-fawr wa at-tarākhī (الفَوْرُ وَالتَّرَاخِي), yaitu apakah suatu kewajiban harus segera ditunaikan atau masih boleh ditunda.Dalam masalah mandi junub berlaku:غُسْلُ الْجَنَابَةِ وَاجِبٌ وُجُوبًا مُتَرَاخِيًا، وَلَيْسَ عَلَى الْفَوْرِ.“Mandi janabah adalah kewajiban yang boleh ditunaikan dengan jeda dan tidak wajib dilakukan seketika.”Maksudnya, ketika seseorang mengalami junub pada malam hari, ia tidak harus langsung bangkit menuju kamar mandi saat itu juga. Ia boleh menunda mandi hingga menjelang pelaksanaan shalat.Namun, perlu dipahami bahwa kelonggaran ini bukan berarti mandi junub boleh ditunda sesuka hati tanpa batas.Baca juga: Matan Taqrib: Cara Mandi Junub, Lengkap dengan Dalil, Wajib, dan Sunnahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junubDi antara dalil yang menunjukkan bolehnya menunda mandi adalah hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ketika beliau ditanya mengenai keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika junub, beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ، رُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ، وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ.“Semua itu pernah dilakukan oleh beliau. Kadang beliau mandi kemudian tidur dan kadang beliau berwudhu kemudian tidur.” (HR. Muslim, no. 307)Hadits ini menjadi dalil bahwa seseorang yang junub boleh tidur sebelum mandi.Ibnu Hajar rahimahullah juga menerangkan,وَفِيهِ جَوَازُ تَأْخِيرِ الِاغْتِسَالِ عَنْ أَوَّلِ وُجُوبِهِ.“Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya menunda mandi dari awal waktu kewajibannya.”Dengan demikian, misalnya suami istri berhubungan intim pada pukul 23.00, keduanya tidak wajib langsung mandi pada saat itu. Mereka boleh tidur terlebih dahulu kemudian mandi sebelum melaksanakan shalat Subuh.Baca juga: Hukum Tidur dalam Keadaan Junub Jika hendak tidur, disunnahkan berwudhu terlebih dahuluWalaupun mandi junub boleh ditunda, seseorang yang hendak tidur dalam keadaan junub dianjurkan berwudhu terlebih dahulu.Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهُوَ جُنُبٌ؟“Apakah salah seorang di antara kami boleh tidur ketika sedang junub?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ.“Ya. Jika salah seorang di antara kalian telah berwudhu, silakan ia tidur dalam keadaan junub.” (HR. Bukhari, no. 287 dan Muslim, no. 306)Dalam riwayat lain disebutkan,تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ ثُمَّ نَمْ.“Berwudhulah, cucilah kemaluanmu, kemudian tidurlah.” (HR. Bukhari, no. 288)Oleh karena itu, jika mandi belum dilakukan, dianjurkan mencuci kemaluan dan berwudhu sebelum tidur.Baca juga: Manhajus Salikin: Tata Cara Mandi Junub yang Ringkas, Sempurna, dan Mandi Setelah Haidh Menunda mandi berbeda dengan menunda shalatInilah poin yang sangat penting.Menunda mandi junub hukumnya boleh. Namun, menunda mandi sampai menyebabkan shalat keluar dari waktunya hukumnya tidak boleh.Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)IslamQA menjelaskan,يَجُوزُ تَأْخِيرُ الْغُسْلِ مِنَ الْجَنَابَةِ بِشَرْطِ أَلَّا يَخْرُجَ وَقْتُ الصَّلَاةِ.“Boleh menunda mandi janabah dengan syarat waktu shalat tidak sampai habis.”Contohnya, seseorang berhubungan intim pada malam hari kemudian tidur dalam keadaan junub. Ia boleh melakukan hal tersebut. Namun, ia wajib bangun untuk mandi dan mengerjakan shalat Subuh sebelum matahari terbit.Tidak tepat jika seseorang berkata, “Bukankah mandi junub boleh ditunda?” kemudian menjadikannya alasan untuk bangun setelah matahari terbit dan baru melaksanakan shalat Subuh.Yang diberikan kelonggaran untuk ditunda adalah mandinya, bukan shalatnya sampai keluar waktu.Baca juga: Cara Mandi Junub yang Paling Ringkas Jangan salah memahami istilah “mandi wajib”Sebutan “mandi wajib” terkadang membuat sebagian orang memahami bahwa mandi tersebut harus segera dilakukan saat itu juga.Padahal, kata “wajib” menunjukkan hukum pelaksanaannya, bukan berarti setiap kewajiban harus selalu dilaksanakan pada detik pertama kewajiban itu muncul.Karena itu, orang yang junub pada malam hari tetap berstatus wajib mandi, tetapi pelaksanaan mandinya boleh ditunda sampai ia membutuhkannya untuk melaksanakan shalat.Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai penundaan tersebut menyebabkan kewajiban lain terbengkalai.Baca juga: Bulughul Maram tentang Sebab dan Tata Cara Mandi Junub (Bahas Tuntas) Ringkasnya, kapan mandi junub boleh ditunda?Ada beberapa keadaan yang perlu dipahami:Junub pada malam hari lalu langsung mandi sebelum tidur: boleh dan ini lebih sempurna.Junub lalu mencuci kemaluan dan berwudhu sebelum tidur: boleh dan sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Junub lalu tidur dan mandi menjelang Subuh: boleh, selama tetap dapat melaksanakan shalat Subuh pada waktunya.Sengaja menunda mandi hingga shalat keluar dari waktunya: tidak boleh dan berdosa karena telah menyia-nyiakan waktu shalat.Jadi, batas utamanya bukan berapa menit seseorang berada dalam keadaan junub, melainkan apakah penundaan tersebut menyebabkan kewajiban lain yang membutuhkan bersuci menjadi terabaikan. Nasihat terakhirSyariat Islam adalah syariat yang mudah, tetapi kemudahan tidak berarti meremehkan kewajiban. Orang yang junub tidak perlu merasa bahwa ia berdosa hanya karena belum langsung mandi, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah tidur dalam keadaan junub. Namun, jangan sampai kelonggaran ini membuat kita bermudah-mudahan dalam perkara shalat. Aturlah waktu istirahat dan pasang alarm agar mandi serta shalat tetap dapat dilakukan tepat pada waktunya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang menjaga kesucian dan shalat pada waktunya.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَAllāhumma a‘innā ‘alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik.“Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” ReferensiIslam Question & Answer. (2020). حكم تأخير غسل الجنابة حتى يخرج وقت الفجر لضمان وصول المني للرحم وتحصيل الإنجاب. IslamQA.Islam Question & Answer. (2023, April 12). ما هو الواجب الموسع؟ وهل كل أوقاته سواء؟ IslamQA.Islamweb. (2004, January 26). تأخير غسل الجنابة ولو لغير ضرورة لا حرج فيه. Islamweb.Islamweb. (2017, October 10). تأخير غسل الجنابة حتى يخرج وقت الصلاة. Islamweb.Tuasikal, M. A. (2013, November 14). Hukum tidur dalam keadaan junub. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2020). Bulughul Maram tentang sebab dan tata cara mandi junub (bahas tuntas). Rumaysho.Com. @ Pondok Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul DIY, 30 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara mandi junub fikih keluarga fikih thaharah hubungan suami istri junub mandi janabah mandi junub mandi wajib shalat Subuh thaharah
Sebagian orang mengira bahwa setelah berhubungan intim atau mengalami junub, ia harus segera mandi saat itu juga. Padahal, syariat memberikan kelonggaran untuk menunda mandi junub, bahkan seseorang boleh tidur terlebih dahulu sebelum mandi. Namun, ada batas penting yang tidak boleh dilanggar: jangan sampai menunda mandi menyebabkan shalat keluar dari waktunya.  Daftar Isi tutup 1. Mandi junub tidak harus langsung dilakukan 2. Kaidah fikih: Ada kewajiban yang tidak harus ditunaikan seketika 3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junub 4. Jika hendak tidur, disunnahkan berwudhu terlebih dahulu 5. Menunda mandi berbeda dengan menunda shalat 6. Jangan salah memahami istilah “mandi wajib” 7. Ringkasnya, kapan mandi junub boleh ditunda? 8. Nasihat terakhir  Mandi junub tidak harus langsung dilakukanOrang yang berada dalam keadaan junub memang wajib mandi sebelum melakukan ibadah yang mensyaratkan suci dari hadas besar, seperti shalat. Namun, mandi tersebut tidak harus dilakukan seketika setelah sebab junub terjadi.Islamweb menjelaskan,فَيَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ تَأْخِيرُ غُسْلِ الْجَنَابَةِ إِلَى قِيَامِهِ لِلصَّلَاةِ، وَلَوْ لِغَيْرِ ضَرُورَةٍ؛ لِأَنَّ غُسْلَ الْجَنَابَةِ وَاجِبٌ وُجُوبًا مُتَرَاخِيًا، وَلَيْسَ عَلَى الْفَوْرِ، وَإِنَّمَا يَجِبُ عِنْدَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلَاةِ.“Boleh bagi seseorang menunda mandi junub hingga ia hendak melaksanakan shalat, meskipun tanpa adanya keadaan darurat. Sebab, mandi junub merupakan kewajiban yang boleh ditunaikan dengan jeda dan tidak wajib dilakukan seketika. Mandi tersebut baru wajib dilaksanakan ketika seseorang hendak menunaikan shalat.”Hal ini menunjukkan bahwa orang yang junub tidak berdosa hanya karena ia tidak langsung mandi setelah berhubungan intim atau keluar mani.Baca juga: Tata Cara Mandi Wajib (1) Kaidah fikih: Ada kewajiban yang tidak harus ditunaikan seketikaDalam pembahasan fikih dan usul fikih dikenal pembahasan al-fawr wa at-tarākhī (الفَوْرُ وَالتَّرَاخِي), yaitu apakah suatu kewajiban harus segera ditunaikan atau masih boleh ditunda.Dalam masalah mandi junub berlaku:غُسْلُ الْجَنَابَةِ وَاجِبٌ وُجُوبًا مُتَرَاخِيًا، وَلَيْسَ عَلَى الْفَوْرِ.“Mandi janabah adalah kewajiban yang boleh ditunaikan dengan jeda dan tidak wajib dilakukan seketika.”Maksudnya, ketika seseorang mengalami junub pada malam hari, ia tidak harus langsung bangkit menuju kamar mandi saat itu juga. Ia boleh menunda mandi hingga menjelang pelaksanaan shalat.Namun, perlu dipahami bahwa kelonggaran ini bukan berarti mandi junub boleh ditunda sesuka hati tanpa batas.Baca juga: Matan Taqrib: Cara Mandi Junub, Lengkap dengan Dalil, Wajib, dan Sunnahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junubDi antara dalil yang menunjukkan bolehnya menunda mandi adalah hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ketika beliau ditanya mengenai keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika junub, beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ، رُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ، وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ.“Semua itu pernah dilakukan oleh beliau. Kadang beliau mandi kemudian tidur dan kadang beliau berwudhu kemudian tidur.” (HR. Muslim, no. 307)Hadits ini menjadi dalil bahwa seseorang yang junub boleh tidur sebelum mandi.Ibnu Hajar rahimahullah juga menerangkan,وَفِيهِ جَوَازُ تَأْخِيرِ الِاغْتِسَالِ عَنْ أَوَّلِ وُجُوبِهِ.“Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya menunda mandi dari awal waktu kewajibannya.”Dengan demikian, misalnya suami istri berhubungan intim pada pukul 23.00, keduanya tidak wajib langsung mandi pada saat itu. Mereka boleh tidur terlebih dahulu kemudian mandi sebelum melaksanakan shalat Subuh.Baca juga: Hukum Tidur dalam Keadaan Junub Jika hendak tidur, disunnahkan berwudhu terlebih dahuluWalaupun mandi junub boleh ditunda, seseorang yang hendak tidur dalam keadaan junub dianjurkan berwudhu terlebih dahulu.Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهُوَ جُنُبٌ؟“Apakah salah seorang di antara kami boleh tidur ketika sedang junub?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ.“Ya. Jika salah seorang di antara kalian telah berwudhu, silakan ia tidur dalam keadaan junub.” (HR. Bukhari, no. 287 dan Muslim, no. 306)Dalam riwayat lain disebutkan,تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ ثُمَّ نَمْ.“Berwudhulah, cucilah kemaluanmu, kemudian tidurlah.” (HR. Bukhari, no. 288)Oleh karena itu, jika mandi belum dilakukan, dianjurkan mencuci kemaluan dan berwudhu sebelum tidur.Baca juga: Manhajus Salikin: Tata Cara Mandi Junub yang Ringkas, Sempurna, dan Mandi Setelah Haidh Menunda mandi berbeda dengan menunda shalatInilah poin yang sangat penting.Menunda mandi junub hukumnya boleh. Namun, menunda mandi sampai menyebabkan shalat keluar dari waktunya hukumnya tidak boleh.Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)IslamQA menjelaskan,يَجُوزُ تَأْخِيرُ الْغُسْلِ مِنَ الْجَنَابَةِ بِشَرْطِ أَلَّا يَخْرُجَ وَقْتُ الصَّلَاةِ.“Boleh menunda mandi janabah dengan syarat waktu shalat tidak sampai habis.”Contohnya, seseorang berhubungan intim pada malam hari kemudian tidur dalam keadaan junub. Ia boleh melakukan hal tersebut. Namun, ia wajib bangun untuk mandi dan mengerjakan shalat Subuh sebelum matahari terbit.Tidak tepat jika seseorang berkata, “Bukankah mandi junub boleh ditunda?” kemudian menjadikannya alasan untuk bangun setelah matahari terbit dan baru melaksanakan shalat Subuh.Yang diberikan kelonggaran untuk ditunda adalah mandinya, bukan shalatnya sampai keluar waktu.Baca juga: Cara Mandi Junub yang Paling Ringkas Jangan salah memahami istilah “mandi wajib”Sebutan “mandi wajib” terkadang membuat sebagian orang memahami bahwa mandi tersebut harus segera dilakukan saat itu juga.Padahal, kata “wajib” menunjukkan hukum pelaksanaannya, bukan berarti setiap kewajiban harus selalu dilaksanakan pada detik pertama kewajiban itu muncul.Karena itu, orang yang junub pada malam hari tetap berstatus wajib mandi, tetapi pelaksanaan mandinya boleh ditunda sampai ia membutuhkannya untuk melaksanakan shalat.Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai penundaan tersebut menyebabkan kewajiban lain terbengkalai.Baca juga: Bulughul Maram tentang Sebab dan Tata Cara Mandi Junub (Bahas Tuntas) Ringkasnya, kapan mandi junub boleh ditunda?Ada beberapa keadaan yang perlu dipahami:Junub pada malam hari lalu langsung mandi sebelum tidur: boleh dan ini lebih sempurna.Junub lalu mencuci kemaluan dan berwudhu sebelum tidur: boleh dan sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Junub lalu tidur dan mandi menjelang Subuh: boleh, selama tetap dapat melaksanakan shalat Subuh pada waktunya.Sengaja menunda mandi hingga shalat keluar dari waktunya: tidak boleh dan berdosa karena telah menyia-nyiakan waktu shalat.Jadi, batas utamanya bukan berapa menit seseorang berada dalam keadaan junub, melainkan apakah penundaan tersebut menyebabkan kewajiban lain yang membutuhkan bersuci menjadi terabaikan. Nasihat terakhirSyariat Islam adalah syariat yang mudah, tetapi kemudahan tidak berarti meremehkan kewajiban. Orang yang junub tidak perlu merasa bahwa ia berdosa hanya karena belum langsung mandi, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah tidur dalam keadaan junub. Namun, jangan sampai kelonggaran ini membuat kita bermudah-mudahan dalam perkara shalat. Aturlah waktu istirahat dan pasang alarm agar mandi serta shalat tetap dapat dilakukan tepat pada waktunya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang menjaga kesucian dan shalat pada waktunya.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَAllāhumma a‘innā ‘alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik.“Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” ReferensiIslam Question & Answer. (2020). حكم تأخير غسل الجنابة حتى يخرج وقت الفجر لضمان وصول المني للرحم وتحصيل الإنجاب. IslamQA.Islam Question & Answer. (2023, April 12). ما هو الواجب الموسع؟ وهل كل أوقاته سواء؟ IslamQA.Islamweb. (2004, January 26). تأخير غسل الجنابة ولو لغير ضرورة لا حرج فيه. Islamweb.Islamweb. (2017, October 10). تأخير غسل الجنابة حتى يخرج وقت الصلاة. Islamweb.Tuasikal, M. A. (2013, November 14). Hukum tidur dalam keadaan junub. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2020). Bulughul Maram tentang sebab dan tata cara mandi junub (bahas tuntas). Rumaysho.Com. @ Pondok Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul DIY, 30 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara mandi junub fikih keluarga fikih thaharah hubungan suami istri junub mandi janabah mandi junub mandi wajib shalat Subuh thaharah


Sebagian orang mengira bahwa setelah berhubungan intim atau mengalami junub, ia harus segera mandi saat itu juga. Padahal, syariat memberikan kelonggaran untuk menunda mandi junub, bahkan seseorang boleh tidur terlebih dahulu sebelum mandi. Namun, ada batas penting yang tidak boleh dilanggar: jangan sampai menunda mandi menyebabkan shalat keluar dari waktunya.  Daftar Isi tutup 1. Mandi junub tidak harus langsung dilakukan 2. Kaidah fikih: Ada kewajiban yang tidak harus ditunaikan seketika 3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junub 4. Jika hendak tidur, disunnahkan berwudhu terlebih dahulu 5. Menunda mandi berbeda dengan menunda shalat 6. Jangan salah memahami istilah “mandi wajib” 7. Ringkasnya, kapan mandi junub boleh ditunda? 8. Nasihat terakhir  Mandi junub tidak harus langsung dilakukanOrang yang berada dalam keadaan junub memang wajib mandi sebelum melakukan ibadah yang mensyaratkan suci dari hadas besar, seperti shalat. Namun, mandi tersebut tidak harus dilakukan seketika setelah sebab junub terjadi.Islamweb menjelaskan,فَيَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ تَأْخِيرُ غُسْلِ الْجَنَابَةِ إِلَى قِيَامِهِ لِلصَّلَاةِ، وَلَوْ لِغَيْرِ ضَرُورَةٍ؛ لِأَنَّ غُسْلَ الْجَنَابَةِ وَاجِبٌ وُجُوبًا مُتَرَاخِيًا، وَلَيْسَ عَلَى الْفَوْرِ، وَإِنَّمَا يَجِبُ عِنْدَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلَاةِ.“Boleh bagi seseorang menunda mandi junub hingga ia hendak melaksanakan shalat, meskipun tanpa adanya keadaan darurat. Sebab, mandi junub merupakan kewajiban yang boleh ditunaikan dengan jeda dan tidak wajib dilakukan seketika. Mandi tersebut baru wajib dilaksanakan ketika seseorang hendak menunaikan shalat.”Hal ini menunjukkan bahwa orang yang junub tidak berdosa hanya karena ia tidak langsung mandi setelah berhubungan intim atau keluar mani.Baca juga: Tata Cara Mandi Wajib (1) Kaidah fikih: Ada kewajiban yang tidak harus ditunaikan seketikaDalam pembahasan fikih dan usul fikih dikenal pembahasan al-fawr wa at-tarākhī (الفَوْرُ وَالتَّرَاخِي), yaitu apakah suatu kewajiban harus segera ditunaikan atau masih boleh ditunda.Dalam masalah mandi junub berlaku:غُسْلُ الْجَنَابَةِ وَاجِبٌ وُجُوبًا مُتَرَاخِيًا، وَلَيْسَ عَلَى الْفَوْرِ.“Mandi janabah adalah kewajiban yang boleh ditunaikan dengan jeda dan tidak wajib dilakukan seketika.”Maksudnya, ketika seseorang mengalami junub pada malam hari, ia tidak harus langsung bangkit menuju kamar mandi saat itu juga. Ia boleh menunda mandi hingga menjelang pelaksanaan shalat.Namun, perlu dipahami bahwa kelonggaran ini bukan berarti mandi junub boleh ditunda sesuka hati tanpa batas.Baca juga: Matan Taqrib: Cara Mandi Junub, Lengkap dengan Dalil, Wajib, dan Sunnahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junubDi antara dalil yang menunjukkan bolehnya menunda mandi adalah hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ketika beliau ditanya mengenai keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika junub, beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ، رُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ، وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ.“Semua itu pernah dilakukan oleh beliau. Kadang beliau mandi kemudian tidur dan kadang beliau berwudhu kemudian tidur.” (HR. Muslim, no. 307)Hadits ini menjadi dalil bahwa seseorang yang junub boleh tidur sebelum mandi.Ibnu Hajar rahimahullah juga menerangkan,وَفِيهِ جَوَازُ تَأْخِيرِ الِاغْتِسَالِ عَنْ أَوَّلِ وُجُوبِهِ.“Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya menunda mandi dari awal waktu kewajibannya.”Dengan demikian, misalnya suami istri berhubungan intim pada pukul 23.00, keduanya tidak wajib langsung mandi pada saat itu. Mereka boleh tidur terlebih dahulu kemudian mandi sebelum melaksanakan shalat Subuh.Baca juga: Hukum Tidur dalam Keadaan Junub Jika hendak tidur, disunnahkan berwudhu terlebih dahuluWalaupun mandi junub boleh ditunda, seseorang yang hendak tidur dalam keadaan junub dianjurkan berwudhu terlebih dahulu.Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهُوَ جُنُبٌ؟“Apakah salah seorang di antara kami boleh tidur ketika sedang junub?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ.“Ya. Jika salah seorang di antara kalian telah berwudhu, silakan ia tidur dalam keadaan junub.” (HR. Bukhari, no. 287 dan Muslim, no. 306)Dalam riwayat lain disebutkan,تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ ثُمَّ نَمْ.“Berwudhulah, cucilah kemaluanmu, kemudian tidurlah.” (HR. Bukhari, no. 288)Oleh karena itu, jika mandi belum dilakukan, dianjurkan mencuci kemaluan dan berwudhu sebelum tidur.Baca juga: Manhajus Salikin: Tata Cara Mandi Junub yang Ringkas, Sempurna, dan Mandi Setelah Haidh Menunda mandi berbeda dengan menunda shalatInilah poin yang sangat penting.Menunda mandi junub hukumnya boleh. Namun, menunda mandi sampai menyebabkan shalat keluar dari waktunya hukumnya tidak boleh.Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)IslamQA menjelaskan,يَجُوزُ تَأْخِيرُ الْغُسْلِ مِنَ الْجَنَابَةِ بِشَرْطِ أَلَّا يَخْرُجَ وَقْتُ الصَّلَاةِ.“Boleh menunda mandi janabah dengan syarat waktu shalat tidak sampai habis.”Contohnya, seseorang berhubungan intim pada malam hari kemudian tidur dalam keadaan junub. Ia boleh melakukan hal tersebut. Namun, ia wajib bangun untuk mandi dan mengerjakan shalat Subuh sebelum matahari terbit.Tidak tepat jika seseorang berkata, “Bukankah mandi junub boleh ditunda?” kemudian menjadikannya alasan untuk bangun setelah matahari terbit dan baru melaksanakan shalat Subuh.Yang diberikan kelonggaran untuk ditunda adalah mandinya, bukan shalatnya sampai keluar waktu.Baca juga: Cara Mandi Junub yang Paling Ringkas Jangan salah memahami istilah “mandi wajib”Sebutan “mandi wajib” terkadang membuat sebagian orang memahami bahwa mandi tersebut harus segera dilakukan saat itu juga.Padahal, kata “wajib” menunjukkan hukum pelaksanaannya, bukan berarti setiap kewajiban harus selalu dilaksanakan pada detik pertama kewajiban itu muncul.Karena itu, orang yang junub pada malam hari tetap berstatus wajib mandi, tetapi pelaksanaan mandinya boleh ditunda sampai ia membutuhkannya untuk melaksanakan shalat.Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai penundaan tersebut menyebabkan kewajiban lain terbengkalai.Baca juga: Bulughul Maram tentang Sebab dan Tata Cara Mandi Junub (Bahas Tuntas) Ringkasnya, kapan mandi junub boleh ditunda?Ada beberapa keadaan yang perlu dipahami:Junub pada malam hari lalu langsung mandi sebelum tidur: boleh dan ini lebih sempurna.Junub lalu mencuci kemaluan dan berwudhu sebelum tidur: boleh dan sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Junub lalu tidur dan mandi menjelang Subuh: boleh, selama tetap dapat melaksanakan shalat Subuh pada waktunya.Sengaja menunda mandi hingga shalat keluar dari waktunya: tidak boleh dan berdosa karena telah menyia-nyiakan waktu shalat.Jadi, batas utamanya bukan berapa menit seseorang berada dalam keadaan junub, melainkan apakah penundaan tersebut menyebabkan kewajiban lain yang membutuhkan bersuci menjadi terabaikan. Nasihat terakhirSyariat Islam adalah syariat yang mudah, tetapi kemudahan tidak berarti meremehkan kewajiban. Orang yang junub tidak perlu merasa bahwa ia berdosa hanya karena belum langsung mandi, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah tidur dalam keadaan junub. Namun, jangan sampai kelonggaran ini membuat kita bermudah-mudahan dalam perkara shalat. Aturlah waktu istirahat dan pasang alarm agar mandi serta shalat tetap dapat dilakukan tepat pada waktunya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang menjaga kesucian dan shalat pada waktunya.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَAllāhumma a‘innā ‘alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik.“Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” ReferensiIslam Question & Answer. (2020). حكم تأخير غسل الجنابة حتى يخرج وقت الفجر لضمان وصول المني للرحم وتحصيل الإنجاب. IslamQA.Islam Question & Answer. (2023, April 12). ما هو الواجب الموسع؟ وهل كل أوقاته سواء؟ IslamQA.Islamweb. (2004, January 26). تأخير غسل الجنابة ولو لغير ضرورة لا حرج فيه. Islamweb.Islamweb. (2017, October 10). تأخير غسل الجنابة حتى يخرج وقت الصلاة. Islamweb.Tuasikal, M. A. (2013, November 14). Hukum tidur dalam keadaan junub. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2020). Bulughul Maram tentang sebab dan tata cara mandi junub (bahas tuntas). Rumaysho.Com. @ Pondok Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul DIY, 30 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara mandi junub fikih keluarga fikih thaharah hubungan suami istri junub mandi janabah mandi junub mandi wajib shalat Subuh thaharah

Tafsir Surah Al-Infitar (Bag. 1): Wahai Manusia, Apa yang Membuat Kalian Durhaka kepada Allah?

Surah Al-Infithar adalah surah Makiyah yang teletak setelah surah At-Takwir. Dinamakan dengan surah Al-Infitar atau “sesuatu yang terbelah” karena dibuka dengan ayat pertama yang menyebutkan langit yang terbelah pada hari kiamat. Surah ini adalah surah nomor 82 dalam urutan mushaf. Adapun dalam urutan turunnya, maka surah ini turun sebelum surah An-Naziat dan setelah surah Al-Insyiqaq.Surah ini dimulai dengan pembicaraan tentang kejadian-kejadian luar biasa nan mengerikan yang terjadi di langit dan bumi pada hari kiamat. Setelah itu, Allah menjelaskan tentang kedurhakaan dan kekufuran manusia kepada nikmat yang telah Allah anugerahkan. Kemudian Allah jelaskan tentang sebab mengapa manusia menentang Rabb mereka, yaitu karena mengingkari adanya hari pembalasan.Allah juga menjelaskan bahwa catatan amal manusia senantiasa terjaga oleh malaikat sampai pada hari dilaksanakannya persidangan, yaitu hari kiamat. Kemudian Allah berbicara tentang manusia yang terbagi menjadi dua kelompok pada hari kiamat, yaitu yang selamat dan yang binasa. Terakhir, Allah menutup surah ini dengan peringatan atas datangnya kiamat, serta manusia akan dihisab satu persatu, sendiri-sendiri di hadapan Allah Ta’ala.Di antara keutamaan surah Al-Infithar adalah Nabi pernah menjelaskan bahwa barangsiapa ingin melihat gambaran kiamat seakan-akan hal itu terjadi di depan matanya, maka bacalah surah ini. Keutamaan yang lain adalah surah ini menjadi salah satu surah yang Nabi ajarkan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal untuk dibaca saat salat Isya jika ingin memanjangkan berdirinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infiṭār: 1)Allah memulai surah ini dengan menjelaskan apa yang terjadi pada langit ketika hari kiamat tiba. Pada hari itu, hari kiamat yang hanya Allah yang tahu kapan terjadinya, langit akan hancur dan terbelah. Terbelahnya langit ini agar para malaikat bisa turun menuju bumi, sebagaimana dalam surah Al-Furqan ayat 25,وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاۤءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلٰۤىِٕكَةُ تَنْزِيْلًا“(Ingatlah) hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih dan malaikat diturunkan (secara) bergelombang.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْۙ“Apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” (QS. Al-Infiṭār: 2)Pada hari kiamat, bintang-bintang yang berada di langit jatuh berserakan, saling berjatuhan, satu saling menabrak yang lain, berhamburan, semua karena Allah telah mencabut garis edarnya yang stabil selama jutaan tahun. Mereka lepas dari garis edarnya kemudian berjatuhan.Pada ayat ini, terdapat gaya bahasa isti’arah makniyyah (استعارة مكنية), yaitu bentuk metafora yang tersirat. Di sini, lafal al-kawakib atau bintang-bintang diserupakan dengan kalung permata yang untaian benangnya putus sehingga rontok tercerai-berai dan berhamburan ke berbagai arah. Akan tetapi, obyek penyerupaan -yaitu kalung mutiara- dihapus dari redaksi kalimat, hanya disisakan qarinah atau suatu sifat intrinsik yang hanya dapat melekat pada kalung mutiara, yaitu انْتَثَرَتْۙ atau berserakan.Maka, bintang-bintang yang kita lihat berada dengan sangat rapi pada garis edar dan gugusannya, akan berjatuhan tercerai-berai kemudian berserakan, seperti berserakannya kalung mutiara yang ditarik kemudian putuslah benangnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْۙ“Apabila lautan diluapkan.” (QS. Al-Infiṭār: 3)Kejadian mengerikan juga terjadi di bumi ketika kiamat datang, di antaranya adalah lautan diluapkan. Artinya, satu laut digabungkan dengan laut yang lain, serta air tawar digabungkan dengan air asin, sehingga melebur dan jadilah hanya ada satu lautan besar. Setelah lautan bersatu, kemudian dinyalakan api dari dalam, sehingga berkobar, meluap-luap, mendidih, seakan hamparan api yang menghanguskan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْقُبُوْرُ بُعْثِرَتْۙ“Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.” (QS. Al-Infiṭār: 4)Pada hari itu, Allah membalikkan tanah yang ada di bumi, bagian atasnya menjadi bagian bawah, bagian bawahnya menjadi bagian atas. Setelah itu, dikeluarkanlah jenazah dari kubur mereka, lalu dimasukkan kembali ruh pada jasadnya agar bisa dilakukan pertanggungjawaban amal.Kemudian setelah disebutkan empat hal yang terjadi di hari kiamat dengan bentuk syarat atau dengan redaksi “apabila terjadi hal ini dan hal itu”, maka setelah ini Allah memberikan keterangan tentang apa yang akan terjadi setelahnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَاَخَّرَتْۗ“Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(-nya).” (QS. Al-Infiṭār: 5)Pada hari itu manusia tesadar, teringat, dan mengakui segala hal yang telah dilakukannya di dunia. Dirinya ingat perbuatan dan amal yang dilakukan semasa di dunia, baik amal-amal yang dirinya bersegera melakukannya, atau terlambat dia kerjakan karena malas, atau bahkan yang lengah (lalai) sehingga tidak dia kerjakan. Semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.Momen manusia mengetahui amal apa yang telah dia kerjakan dan telah dia lalaikan adalah ketika lembaran catatan amal dibagikan dan dibuka oleh masing-masing orang. Pada saat ini, seorang hamba mengetahui dengan pengetahuan yang rinci atas semua amalnya. Adapun pengetahuannya secara global atau garis besar apakah dia selamat atau tidak, sebenarnya sudah didapatkannya sejak masa pembangkitan dari kubur. Sebab pada masa ini, manusia yang saleh telah mendapatkan tanda-tanda kebahagiaan, sedangkan manusia yang jelek amalnya telah melihat tanda-tanda kesengsaraannya. Akan tetapi, pengetahuan terperinci tentang amalnya baru akan dia peroleh ketika catatan amal dibagikan.Pendapat dalam tafsir yang lain mengatakan bahwa makna قَدَّمَتْ adalah amal-amal yang membuatnya maju menuju surga berupa amal-amal ketaatan, dan makna وَاَخَّرَتْۗ adalah amal-amal yang membuatnya mundur dari surga menuju neraka, berupa amal-amal maksiat. Karena sejatinya, manusia sedang berjalan pulang; jika dirinya beramal saleh, maka dirinya sedang berjalan maju ke surga, karena memang itu adalah kampung halaman kita. Adapun jika dirinya beramal maksiat, maka dia akan mundur menuju neraka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِۙ“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia.” (QS. Al-Infiṭār: 6)Setelah manusia dibangkitkan dari kubu mereka, serta mereka telah mengetahui bagaimana catatan amal mereka, tanda-tanda kebahagiaan atau kesengsaraan juga telah jelas terlihat, maka pada ayat ini Allah mencela orang-orang yang durhaka kepada-Nya, lalai dari taat kepada-Nya, tidak bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Rabb semesta alam.Pendapat yang kuat menyatakan bahwa ayat ini tidak tertuju khusus kepada orang-orang yang kafir dan musyrik saja, akan tetapi bahkan tertuju kepada semua orang yang melakukan maksiat, baik itu seorang muslim yang tidak menjalankan ketaatan dengan baik atau menerjang larangannya karena menuruti hawa nafsu.Bentuk kalimat pertanyaan di sini bukanlah bentuk kalimat yang membutuhkan jawaban, akan tetapi bentuk tahdid atau ancaman. Fudhail bin Iyadh rahimahullah memberikan perenungan, “Bayangkan, jika Allah menghadirkan hari kiamat tepat di depan wajahmu, kemudian bertanya apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada Rabb yang Maha mulia? Maka, apa yang akan engkau jawab?”Dalam ayat yang indah sekaligus mencekam ini, Allah mendahulukan penyebutan namanya, yaitu Ar-Rabb, kemudian baru disusulkan dengan nama Al-Karim (Yang Maha mulia). Lalu, apa rahasianya?Allah pertama menyebutkan kata Rabb, yang artinya tuhan atau pencipta dan pengatur alam raya untuk mengingatkan manusia bahwa mereka hanyalah makhluk yang diciptakan dan dimulai dari ketiadaan. Hal ini menunjukkan makna penciptaan dan penjagaan manusia. Kemudian disusul dengan Al-Karim (Yang Maha mulia dan Maha dermawan), sebagai bentuk pengingat terhadap berbagai nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia, yang seyogyanya manusia mensyukurinya dengan bentuk kepatuhan yang tulus kepada Allah, bukan malah menggunakan nikmat tersebut untuk durhaka kepada-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰىكَ فَعَدَلَكَۙ“Yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang?” (QS. Al-Infiṭār: 7)Allah Ta’ala kemudian menyebutkan beberapa kenikmatan yang seharusnya disadari oleh manusia. Allah telah menciptakan manusia dari ketiadaan, lalu menjadikan mereka sebagai makhluk yang sempurna serta proporsional, yang memiliki anggota tubuh yang sehat dan berfungsi baik, sehingga manusia dapat mendengar, melihat, serta berpikir.Allah Ta’ala juga membuat manusia berkembang dan hidup dalam bentuk yang seimbang, memiliki postur tubuh terbaik dan terindah dari semua makhluk. Manusia hidup dengan tegak, seimbang, simetris, tidak berat atau panjang sebelah, serta memiliki fungsi tubuh paling ideal untuk menjadi khalifah dan pengelola muka bumi ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْٓ اَيِّ صُوْرَةٍ مَّا شَاۤءَ رَكَّبَكَۗ“Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu.” (QS. Al-Infiṭār: 8)Allah membentuk manusia dan menyusun anatomi tubuh mereka sesuai dengan kehendak-Nya, berupa susunan tubuh yang indah dan mengangumkan, kompleks dan berfungsi dengan sempurna. Sampai sebagian cendekiawan mengatakan bahwa manusia adalah semesta mikroskopis karena sangat kompleksnya anatomi serta fungsi tubuh mereka. Allah juga tidak membuat manusia berbentuk seperti binatang dengan berjalan menggunakan empat kaki atau bahkan melata seperti ular.Seandainya manusia mau merenungi nikmat yang luar biasa ini, kemudian sadar betapa besar kasih sayang Allah kepada mereka, pastilah manusia akan mengerahkan semua daya dan upayanya untuk tunduk patuh, bersyukur, menyembah kepada-Nya, Rabb semesta alam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki: Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah Al-Infitar (Bag. 1): Wahai Manusia, Apa yang Membuat Kalian Durhaka kepada Allah?

Surah Al-Infithar adalah surah Makiyah yang teletak setelah surah At-Takwir. Dinamakan dengan surah Al-Infitar atau “sesuatu yang terbelah” karena dibuka dengan ayat pertama yang menyebutkan langit yang terbelah pada hari kiamat. Surah ini adalah surah nomor 82 dalam urutan mushaf. Adapun dalam urutan turunnya, maka surah ini turun sebelum surah An-Naziat dan setelah surah Al-Insyiqaq.Surah ini dimulai dengan pembicaraan tentang kejadian-kejadian luar biasa nan mengerikan yang terjadi di langit dan bumi pada hari kiamat. Setelah itu, Allah menjelaskan tentang kedurhakaan dan kekufuran manusia kepada nikmat yang telah Allah anugerahkan. Kemudian Allah jelaskan tentang sebab mengapa manusia menentang Rabb mereka, yaitu karena mengingkari adanya hari pembalasan.Allah juga menjelaskan bahwa catatan amal manusia senantiasa terjaga oleh malaikat sampai pada hari dilaksanakannya persidangan, yaitu hari kiamat. Kemudian Allah berbicara tentang manusia yang terbagi menjadi dua kelompok pada hari kiamat, yaitu yang selamat dan yang binasa. Terakhir, Allah menutup surah ini dengan peringatan atas datangnya kiamat, serta manusia akan dihisab satu persatu, sendiri-sendiri di hadapan Allah Ta’ala.Di antara keutamaan surah Al-Infithar adalah Nabi pernah menjelaskan bahwa barangsiapa ingin melihat gambaran kiamat seakan-akan hal itu terjadi di depan matanya, maka bacalah surah ini. Keutamaan yang lain adalah surah ini menjadi salah satu surah yang Nabi ajarkan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal untuk dibaca saat salat Isya jika ingin memanjangkan berdirinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infiṭār: 1)Allah memulai surah ini dengan menjelaskan apa yang terjadi pada langit ketika hari kiamat tiba. Pada hari itu, hari kiamat yang hanya Allah yang tahu kapan terjadinya, langit akan hancur dan terbelah. Terbelahnya langit ini agar para malaikat bisa turun menuju bumi, sebagaimana dalam surah Al-Furqan ayat 25,وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاۤءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلٰۤىِٕكَةُ تَنْزِيْلًا“(Ingatlah) hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih dan malaikat diturunkan (secara) bergelombang.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْۙ“Apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” (QS. Al-Infiṭār: 2)Pada hari kiamat, bintang-bintang yang berada di langit jatuh berserakan, saling berjatuhan, satu saling menabrak yang lain, berhamburan, semua karena Allah telah mencabut garis edarnya yang stabil selama jutaan tahun. Mereka lepas dari garis edarnya kemudian berjatuhan.Pada ayat ini, terdapat gaya bahasa isti’arah makniyyah (استعارة مكنية), yaitu bentuk metafora yang tersirat. Di sini, lafal al-kawakib atau bintang-bintang diserupakan dengan kalung permata yang untaian benangnya putus sehingga rontok tercerai-berai dan berhamburan ke berbagai arah. Akan tetapi, obyek penyerupaan -yaitu kalung mutiara- dihapus dari redaksi kalimat, hanya disisakan qarinah atau suatu sifat intrinsik yang hanya dapat melekat pada kalung mutiara, yaitu انْتَثَرَتْۙ atau berserakan.Maka, bintang-bintang yang kita lihat berada dengan sangat rapi pada garis edar dan gugusannya, akan berjatuhan tercerai-berai kemudian berserakan, seperti berserakannya kalung mutiara yang ditarik kemudian putuslah benangnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْۙ“Apabila lautan diluapkan.” (QS. Al-Infiṭār: 3)Kejadian mengerikan juga terjadi di bumi ketika kiamat datang, di antaranya adalah lautan diluapkan. Artinya, satu laut digabungkan dengan laut yang lain, serta air tawar digabungkan dengan air asin, sehingga melebur dan jadilah hanya ada satu lautan besar. Setelah lautan bersatu, kemudian dinyalakan api dari dalam, sehingga berkobar, meluap-luap, mendidih, seakan hamparan api yang menghanguskan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْقُبُوْرُ بُعْثِرَتْۙ“Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.” (QS. Al-Infiṭār: 4)Pada hari itu, Allah membalikkan tanah yang ada di bumi, bagian atasnya menjadi bagian bawah, bagian bawahnya menjadi bagian atas. Setelah itu, dikeluarkanlah jenazah dari kubur mereka, lalu dimasukkan kembali ruh pada jasadnya agar bisa dilakukan pertanggungjawaban amal.Kemudian setelah disebutkan empat hal yang terjadi di hari kiamat dengan bentuk syarat atau dengan redaksi “apabila terjadi hal ini dan hal itu”, maka setelah ini Allah memberikan keterangan tentang apa yang akan terjadi setelahnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَاَخَّرَتْۗ“Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(-nya).” (QS. Al-Infiṭār: 5)Pada hari itu manusia tesadar, teringat, dan mengakui segala hal yang telah dilakukannya di dunia. Dirinya ingat perbuatan dan amal yang dilakukan semasa di dunia, baik amal-amal yang dirinya bersegera melakukannya, atau terlambat dia kerjakan karena malas, atau bahkan yang lengah (lalai) sehingga tidak dia kerjakan. Semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.Momen manusia mengetahui amal apa yang telah dia kerjakan dan telah dia lalaikan adalah ketika lembaran catatan amal dibagikan dan dibuka oleh masing-masing orang. Pada saat ini, seorang hamba mengetahui dengan pengetahuan yang rinci atas semua amalnya. Adapun pengetahuannya secara global atau garis besar apakah dia selamat atau tidak, sebenarnya sudah didapatkannya sejak masa pembangkitan dari kubur. Sebab pada masa ini, manusia yang saleh telah mendapatkan tanda-tanda kebahagiaan, sedangkan manusia yang jelek amalnya telah melihat tanda-tanda kesengsaraannya. Akan tetapi, pengetahuan terperinci tentang amalnya baru akan dia peroleh ketika catatan amal dibagikan.Pendapat dalam tafsir yang lain mengatakan bahwa makna قَدَّمَتْ adalah amal-amal yang membuatnya maju menuju surga berupa amal-amal ketaatan, dan makna وَاَخَّرَتْۗ adalah amal-amal yang membuatnya mundur dari surga menuju neraka, berupa amal-amal maksiat. Karena sejatinya, manusia sedang berjalan pulang; jika dirinya beramal saleh, maka dirinya sedang berjalan maju ke surga, karena memang itu adalah kampung halaman kita. Adapun jika dirinya beramal maksiat, maka dia akan mundur menuju neraka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِۙ“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia.” (QS. Al-Infiṭār: 6)Setelah manusia dibangkitkan dari kubu mereka, serta mereka telah mengetahui bagaimana catatan amal mereka, tanda-tanda kebahagiaan atau kesengsaraan juga telah jelas terlihat, maka pada ayat ini Allah mencela orang-orang yang durhaka kepada-Nya, lalai dari taat kepada-Nya, tidak bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Rabb semesta alam.Pendapat yang kuat menyatakan bahwa ayat ini tidak tertuju khusus kepada orang-orang yang kafir dan musyrik saja, akan tetapi bahkan tertuju kepada semua orang yang melakukan maksiat, baik itu seorang muslim yang tidak menjalankan ketaatan dengan baik atau menerjang larangannya karena menuruti hawa nafsu.Bentuk kalimat pertanyaan di sini bukanlah bentuk kalimat yang membutuhkan jawaban, akan tetapi bentuk tahdid atau ancaman. Fudhail bin Iyadh rahimahullah memberikan perenungan, “Bayangkan, jika Allah menghadirkan hari kiamat tepat di depan wajahmu, kemudian bertanya apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada Rabb yang Maha mulia? Maka, apa yang akan engkau jawab?”Dalam ayat yang indah sekaligus mencekam ini, Allah mendahulukan penyebutan namanya, yaitu Ar-Rabb, kemudian baru disusulkan dengan nama Al-Karim (Yang Maha mulia). Lalu, apa rahasianya?Allah pertama menyebutkan kata Rabb, yang artinya tuhan atau pencipta dan pengatur alam raya untuk mengingatkan manusia bahwa mereka hanyalah makhluk yang diciptakan dan dimulai dari ketiadaan. Hal ini menunjukkan makna penciptaan dan penjagaan manusia. Kemudian disusul dengan Al-Karim (Yang Maha mulia dan Maha dermawan), sebagai bentuk pengingat terhadap berbagai nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia, yang seyogyanya manusia mensyukurinya dengan bentuk kepatuhan yang tulus kepada Allah, bukan malah menggunakan nikmat tersebut untuk durhaka kepada-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰىكَ فَعَدَلَكَۙ“Yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang?” (QS. Al-Infiṭār: 7)Allah Ta’ala kemudian menyebutkan beberapa kenikmatan yang seharusnya disadari oleh manusia. Allah telah menciptakan manusia dari ketiadaan, lalu menjadikan mereka sebagai makhluk yang sempurna serta proporsional, yang memiliki anggota tubuh yang sehat dan berfungsi baik, sehingga manusia dapat mendengar, melihat, serta berpikir.Allah Ta’ala juga membuat manusia berkembang dan hidup dalam bentuk yang seimbang, memiliki postur tubuh terbaik dan terindah dari semua makhluk. Manusia hidup dengan tegak, seimbang, simetris, tidak berat atau panjang sebelah, serta memiliki fungsi tubuh paling ideal untuk menjadi khalifah dan pengelola muka bumi ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْٓ اَيِّ صُوْرَةٍ مَّا شَاۤءَ رَكَّبَكَۗ“Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu.” (QS. Al-Infiṭār: 8)Allah membentuk manusia dan menyusun anatomi tubuh mereka sesuai dengan kehendak-Nya, berupa susunan tubuh yang indah dan mengangumkan, kompleks dan berfungsi dengan sempurna. Sampai sebagian cendekiawan mengatakan bahwa manusia adalah semesta mikroskopis karena sangat kompleksnya anatomi serta fungsi tubuh mereka. Allah juga tidak membuat manusia berbentuk seperti binatang dengan berjalan menggunakan empat kaki atau bahkan melata seperti ular.Seandainya manusia mau merenungi nikmat yang luar biasa ini, kemudian sadar betapa besar kasih sayang Allah kepada mereka, pastilah manusia akan mengerahkan semua daya dan upayanya untuk tunduk patuh, bersyukur, menyembah kepada-Nya, Rabb semesta alam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki: Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Surah Al-Infithar adalah surah Makiyah yang teletak setelah surah At-Takwir. Dinamakan dengan surah Al-Infitar atau “sesuatu yang terbelah” karena dibuka dengan ayat pertama yang menyebutkan langit yang terbelah pada hari kiamat. Surah ini adalah surah nomor 82 dalam urutan mushaf. Adapun dalam urutan turunnya, maka surah ini turun sebelum surah An-Naziat dan setelah surah Al-Insyiqaq.Surah ini dimulai dengan pembicaraan tentang kejadian-kejadian luar biasa nan mengerikan yang terjadi di langit dan bumi pada hari kiamat. Setelah itu, Allah menjelaskan tentang kedurhakaan dan kekufuran manusia kepada nikmat yang telah Allah anugerahkan. Kemudian Allah jelaskan tentang sebab mengapa manusia menentang Rabb mereka, yaitu karena mengingkari adanya hari pembalasan.Allah juga menjelaskan bahwa catatan amal manusia senantiasa terjaga oleh malaikat sampai pada hari dilaksanakannya persidangan, yaitu hari kiamat. Kemudian Allah berbicara tentang manusia yang terbagi menjadi dua kelompok pada hari kiamat, yaitu yang selamat dan yang binasa. Terakhir, Allah menutup surah ini dengan peringatan atas datangnya kiamat, serta manusia akan dihisab satu persatu, sendiri-sendiri di hadapan Allah Ta’ala.Di antara keutamaan surah Al-Infithar adalah Nabi pernah menjelaskan bahwa barangsiapa ingin melihat gambaran kiamat seakan-akan hal itu terjadi di depan matanya, maka bacalah surah ini. Keutamaan yang lain adalah surah ini menjadi salah satu surah yang Nabi ajarkan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal untuk dibaca saat salat Isya jika ingin memanjangkan berdirinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infiṭār: 1)Allah memulai surah ini dengan menjelaskan apa yang terjadi pada langit ketika hari kiamat tiba. Pada hari itu, hari kiamat yang hanya Allah yang tahu kapan terjadinya, langit akan hancur dan terbelah. Terbelahnya langit ini agar para malaikat bisa turun menuju bumi, sebagaimana dalam surah Al-Furqan ayat 25,وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاۤءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلٰۤىِٕكَةُ تَنْزِيْلًا“(Ingatlah) hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih dan malaikat diturunkan (secara) bergelombang.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْۙ“Apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” (QS. Al-Infiṭār: 2)Pada hari kiamat, bintang-bintang yang berada di langit jatuh berserakan, saling berjatuhan, satu saling menabrak yang lain, berhamburan, semua karena Allah telah mencabut garis edarnya yang stabil selama jutaan tahun. Mereka lepas dari garis edarnya kemudian berjatuhan.Pada ayat ini, terdapat gaya bahasa isti’arah makniyyah (استعارة مكنية), yaitu bentuk metafora yang tersirat. Di sini, lafal al-kawakib atau bintang-bintang diserupakan dengan kalung permata yang untaian benangnya putus sehingga rontok tercerai-berai dan berhamburan ke berbagai arah. Akan tetapi, obyek penyerupaan -yaitu kalung mutiara- dihapus dari redaksi kalimat, hanya disisakan qarinah atau suatu sifat intrinsik yang hanya dapat melekat pada kalung mutiara, yaitu انْتَثَرَتْۙ atau berserakan.Maka, bintang-bintang yang kita lihat berada dengan sangat rapi pada garis edar dan gugusannya, akan berjatuhan tercerai-berai kemudian berserakan, seperti berserakannya kalung mutiara yang ditarik kemudian putuslah benangnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْۙ“Apabila lautan diluapkan.” (QS. Al-Infiṭār: 3)Kejadian mengerikan juga terjadi di bumi ketika kiamat datang, di antaranya adalah lautan diluapkan. Artinya, satu laut digabungkan dengan laut yang lain, serta air tawar digabungkan dengan air asin, sehingga melebur dan jadilah hanya ada satu lautan besar. Setelah lautan bersatu, kemudian dinyalakan api dari dalam, sehingga berkobar, meluap-luap, mendidih, seakan hamparan api yang menghanguskan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْقُبُوْرُ بُعْثِرَتْۙ“Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.” (QS. Al-Infiṭār: 4)Pada hari itu, Allah membalikkan tanah yang ada di bumi, bagian atasnya menjadi bagian bawah, bagian bawahnya menjadi bagian atas. Setelah itu, dikeluarkanlah jenazah dari kubur mereka, lalu dimasukkan kembali ruh pada jasadnya agar bisa dilakukan pertanggungjawaban amal.Kemudian setelah disebutkan empat hal yang terjadi di hari kiamat dengan bentuk syarat atau dengan redaksi “apabila terjadi hal ini dan hal itu”, maka setelah ini Allah memberikan keterangan tentang apa yang akan terjadi setelahnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَاَخَّرَتْۗ“Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(-nya).” (QS. Al-Infiṭār: 5)Pada hari itu manusia tesadar, teringat, dan mengakui segala hal yang telah dilakukannya di dunia. Dirinya ingat perbuatan dan amal yang dilakukan semasa di dunia, baik amal-amal yang dirinya bersegera melakukannya, atau terlambat dia kerjakan karena malas, atau bahkan yang lengah (lalai) sehingga tidak dia kerjakan. Semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.Momen manusia mengetahui amal apa yang telah dia kerjakan dan telah dia lalaikan adalah ketika lembaran catatan amal dibagikan dan dibuka oleh masing-masing orang. Pada saat ini, seorang hamba mengetahui dengan pengetahuan yang rinci atas semua amalnya. Adapun pengetahuannya secara global atau garis besar apakah dia selamat atau tidak, sebenarnya sudah didapatkannya sejak masa pembangkitan dari kubur. Sebab pada masa ini, manusia yang saleh telah mendapatkan tanda-tanda kebahagiaan, sedangkan manusia yang jelek amalnya telah melihat tanda-tanda kesengsaraannya. Akan tetapi, pengetahuan terperinci tentang amalnya baru akan dia peroleh ketika catatan amal dibagikan.Pendapat dalam tafsir yang lain mengatakan bahwa makna قَدَّمَتْ adalah amal-amal yang membuatnya maju menuju surga berupa amal-amal ketaatan, dan makna وَاَخَّرَتْۗ adalah amal-amal yang membuatnya mundur dari surga menuju neraka, berupa amal-amal maksiat. Karena sejatinya, manusia sedang berjalan pulang; jika dirinya beramal saleh, maka dirinya sedang berjalan maju ke surga, karena memang itu adalah kampung halaman kita. Adapun jika dirinya beramal maksiat, maka dia akan mundur menuju neraka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِۙ“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia.” (QS. Al-Infiṭār: 6)Setelah manusia dibangkitkan dari kubu mereka, serta mereka telah mengetahui bagaimana catatan amal mereka, tanda-tanda kebahagiaan atau kesengsaraan juga telah jelas terlihat, maka pada ayat ini Allah mencela orang-orang yang durhaka kepada-Nya, lalai dari taat kepada-Nya, tidak bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Rabb semesta alam.Pendapat yang kuat menyatakan bahwa ayat ini tidak tertuju khusus kepada orang-orang yang kafir dan musyrik saja, akan tetapi bahkan tertuju kepada semua orang yang melakukan maksiat, baik itu seorang muslim yang tidak menjalankan ketaatan dengan baik atau menerjang larangannya karena menuruti hawa nafsu.Bentuk kalimat pertanyaan di sini bukanlah bentuk kalimat yang membutuhkan jawaban, akan tetapi bentuk tahdid atau ancaman. Fudhail bin Iyadh rahimahullah memberikan perenungan, “Bayangkan, jika Allah menghadirkan hari kiamat tepat di depan wajahmu, kemudian bertanya apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada Rabb yang Maha mulia? Maka, apa yang akan engkau jawab?”Dalam ayat yang indah sekaligus mencekam ini, Allah mendahulukan penyebutan namanya, yaitu Ar-Rabb, kemudian baru disusulkan dengan nama Al-Karim (Yang Maha mulia). Lalu, apa rahasianya?Allah pertama menyebutkan kata Rabb, yang artinya tuhan atau pencipta dan pengatur alam raya untuk mengingatkan manusia bahwa mereka hanyalah makhluk yang diciptakan dan dimulai dari ketiadaan. Hal ini menunjukkan makna penciptaan dan penjagaan manusia. Kemudian disusul dengan Al-Karim (Yang Maha mulia dan Maha dermawan), sebagai bentuk pengingat terhadap berbagai nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia, yang seyogyanya manusia mensyukurinya dengan bentuk kepatuhan yang tulus kepada Allah, bukan malah menggunakan nikmat tersebut untuk durhaka kepada-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰىكَ فَعَدَلَكَۙ“Yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang?” (QS. Al-Infiṭār: 7)Allah Ta’ala kemudian menyebutkan beberapa kenikmatan yang seharusnya disadari oleh manusia. Allah telah menciptakan manusia dari ketiadaan, lalu menjadikan mereka sebagai makhluk yang sempurna serta proporsional, yang memiliki anggota tubuh yang sehat dan berfungsi baik, sehingga manusia dapat mendengar, melihat, serta berpikir.Allah Ta’ala juga membuat manusia berkembang dan hidup dalam bentuk yang seimbang, memiliki postur tubuh terbaik dan terindah dari semua makhluk. Manusia hidup dengan tegak, seimbang, simetris, tidak berat atau panjang sebelah, serta memiliki fungsi tubuh paling ideal untuk menjadi khalifah dan pengelola muka bumi ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْٓ اَيِّ صُوْرَةٍ مَّا شَاۤءَ رَكَّبَكَۗ“Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu.” (QS. Al-Infiṭār: 8)Allah membentuk manusia dan menyusun anatomi tubuh mereka sesuai dengan kehendak-Nya, berupa susunan tubuh yang indah dan mengangumkan, kompleks dan berfungsi dengan sempurna. Sampai sebagian cendekiawan mengatakan bahwa manusia adalah semesta mikroskopis karena sangat kompleksnya anatomi serta fungsi tubuh mereka. Allah juga tidak membuat manusia berbentuk seperti binatang dengan berjalan menggunakan empat kaki atau bahkan melata seperti ular.Seandainya manusia mau merenungi nikmat yang luar biasa ini, kemudian sadar betapa besar kasih sayang Allah kepada mereka, pastilah manusia akan mengerahkan semua daya dan upayanya untuk tunduk patuh, bersyukur, menyembah kepada-Nya, Rabb semesta alam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki: Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Surah Al-Infithar adalah surah Makiyah yang teletak setelah surah At-Takwir. Dinamakan dengan surah Al-Infitar atau “sesuatu yang terbelah” karena dibuka dengan ayat pertama yang menyebutkan langit yang terbelah pada hari kiamat. Surah ini adalah surah nomor 82 dalam urutan mushaf. Adapun dalam urutan turunnya, maka surah ini turun sebelum surah An-Naziat dan setelah surah Al-Insyiqaq.Surah ini dimulai dengan pembicaraan tentang kejadian-kejadian luar biasa nan mengerikan yang terjadi di langit dan bumi pada hari kiamat. Setelah itu, Allah menjelaskan tentang kedurhakaan dan kekufuran manusia kepada nikmat yang telah Allah anugerahkan. Kemudian Allah jelaskan tentang sebab mengapa manusia menentang Rabb mereka, yaitu karena mengingkari adanya hari pembalasan.Allah juga menjelaskan bahwa catatan amal manusia senantiasa terjaga oleh malaikat sampai pada hari dilaksanakannya persidangan, yaitu hari kiamat. Kemudian Allah berbicara tentang manusia yang terbagi menjadi dua kelompok pada hari kiamat, yaitu yang selamat dan yang binasa. Terakhir, Allah menutup surah ini dengan peringatan atas datangnya kiamat, serta manusia akan dihisab satu persatu, sendiri-sendiri di hadapan Allah Ta’ala.Di antara keutamaan surah Al-Infithar adalah Nabi pernah menjelaskan bahwa barangsiapa ingin melihat gambaran kiamat seakan-akan hal itu terjadi di depan matanya, maka bacalah surah ini. Keutamaan yang lain adalah surah ini menjadi salah satu surah yang Nabi ajarkan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal untuk dibaca saat salat Isya jika ingin memanjangkan berdirinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infiṭār: 1)Allah memulai surah ini dengan menjelaskan apa yang terjadi pada langit ketika hari kiamat tiba. Pada hari itu, hari kiamat yang hanya Allah yang tahu kapan terjadinya, langit akan hancur dan terbelah. Terbelahnya langit ini agar para malaikat bisa turun menuju bumi, sebagaimana dalam surah Al-Furqan ayat 25,وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاۤءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلٰۤىِٕكَةُ تَنْزِيْلًا“(Ingatlah) hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih dan malaikat diturunkan (secara) bergelombang.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْۙ“Apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” (QS. Al-Infiṭār: 2)Pada hari kiamat, bintang-bintang yang berada di langit jatuh berserakan, saling berjatuhan, satu saling menabrak yang lain, berhamburan, semua karena Allah telah mencabut garis edarnya yang stabil selama jutaan tahun. Mereka lepas dari garis edarnya kemudian berjatuhan.Pada ayat ini, terdapat gaya bahasa isti’arah makniyyah (استعارة مكنية), yaitu bentuk metafora yang tersirat. Di sini, lafal al-kawakib atau bintang-bintang diserupakan dengan kalung permata yang untaian benangnya putus sehingga rontok tercerai-berai dan berhamburan ke berbagai arah. Akan tetapi, obyek penyerupaan -yaitu kalung mutiara- dihapus dari redaksi kalimat, hanya disisakan qarinah atau suatu sifat intrinsik yang hanya dapat melekat pada kalung mutiara, yaitu انْتَثَرَتْۙ atau berserakan.Maka, bintang-bintang yang kita lihat berada dengan sangat rapi pada garis edar dan gugusannya, akan berjatuhan tercerai-berai kemudian berserakan, seperti berserakannya kalung mutiara yang ditarik kemudian putuslah benangnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْۙ“Apabila lautan diluapkan.” (QS. Al-Infiṭār: 3)Kejadian mengerikan juga terjadi di bumi ketika kiamat datang, di antaranya adalah lautan diluapkan. Artinya, satu laut digabungkan dengan laut yang lain, serta air tawar digabungkan dengan air asin, sehingga melebur dan jadilah hanya ada satu lautan besar. Setelah lautan bersatu, kemudian dinyalakan api dari dalam, sehingga berkobar, meluap-luap, mendidih, seakan hamparan api yang menghanguskan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْقُبُوْرُ بُعْثِرَتْۙ“Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.” (QS. Al-Infiṭār: 4)Pada hari itu, Allah membalikkan tanah yang ada di bumi, bagian atasnya menjadi bagian bawah, bagian bawahnya menjadi bagian atas. Setelah itu, dikeluarkanlah jenazah dari kubur mereka, lalu dimasukkan kembali ruh pada jasadnya agar bisa dilakukan pertanggungjawaban amal.Kemudian setelah disebutkan empat hal yang terjadi di hari kiamat dengan bentuk syarat atau dengan redaksi “apabila terjadi hal ini dan hal itu”, maka setelah ini Allah memberikan keterangan tentang apa yang akan terjadi setelahnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَاَخَّرَتْۗ“Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(-nya).” (QS. Al-Infiṭār: 5)Pada hari itu manusia tesadar, teringat, dan mengakui segala hal yang telah dilakukannya di dunia. Dirinya ingat perbuatan dan amal yang dilakukan semasa di dunia, baik amal-amal yang dirinya bersegera melakukannya, atau terlambat dia kerjakan karena malas, atau bahkan yang lengah (lalai) sehingga tidak dia kerjakan. Semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.Momen manusia mengetahui amal apa yang telah dia kerjakan dan telah dia lalaikan adalah ketika lembaran catatan amal dibagikan dan dibuka oleh masing-masing orang. Pada saat ini, seorang hamba mengetahui dengan pengetahuan yang rinci atas semua amalnya. Adapun pengetahuannya secara global atau garis besar apakah dia selamat atau tidak, sebenarnya sudah didapatkannya sejak masa pembangkitan dari kubur. Sebab pada masa ini, manusia yang saleh telah mendapatkan tanda-tanda kebahagiaan, sedangkan manusia yang jelek amalnya telah melihat tanda-tanda kesengsaraannya. Akan tetapi, pengetahuan terperinci tentang amalnya baru akan dia peroleh ketika catatan amal dibagikan.Pendapat dalam tafsir yang lain mengatakan bahwa makna قَدَّمَتْ adalah amal-amal yang membuatnya maju menuju surga berupa amal-amal ketaatan, dan makna وَاَخَّرَتْۗ adalah amal-amal yang membuatnya mundur dari surga menuju neraka, berupa amal-amal maksiat. Karena sejatinya, manusia sedang berjalan pulang; jika dirinya beramal saleh, maka dirinya sedang berjalan maju ke surga, karena memang itu adalah kampung halaman kita. Adapun jika dirinya beramal maksiat, maka dia akan mundur menuju neraka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِۙ“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia.” (QS. Al-Infiṭār: 6)Setelah manusia dibangkitkan dari kubu mereka, serta mereka telah mengetahui bagaimana catatan amal mereka, tanda-tanda kebahagiaan atau kesengsaraan juga telah jelas terlihat, maka pada ayat ini Allah mencela orang-orang yang durhaka kepada-Nya, lalai dari taat kepada-Nya, tidak bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Rabb semesta alam.Pendapat yang kuat menyatakan bahwa ayat ini tidak tertuju khusus kepada orang-orang yang kafir dan musyrik saja, akan tetapi bahkan tertuju kepada semua orang yang melakukan maksiat, baik itu seorang muslim yang tidak menjalankan ketaatan dengan baik atau menerjang larangannya karena menuruti hawa nafsu.Bentuk kalimat pertanyaan di sini bukanlah bentuk kalimat yang membutuhkan jawaban, akan tetapi bentuk tahdid atau ancaman. Fudhail bin Iyadh rahimahullah memberikan perenungan, “Bayangkan, jika Allah menghadirkan hari kiamat tepat di depan wajahmu, kemudian bertanya apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada Rabb yang Maha mulia? Maka, apa yang akan engkau jawab?”Dalam ayat yang indah sekaligus mencekam ini, Allah mendahulukan penyebutan namanya, yaitu Ar-Rabb, kemudian baru disusulkan dengan nama Al-Karim (Yang Maha mulia). Lalu, apa rahasianya?Allah pertama menyebutkan kata Rabb, yang artinya tuhan atau pencipta dan pengatur alam raya untuk mengingatkan manusia bahwa mereka hanyalah makhluk yang diciptakan dan dimulai dari ketiadaan. Hal ini menunjukkan makna penciptaan dan penjagaan manusia. Kemudian disusul dengan Al-Karim (Yang Maha mulia dan Maha dermawan), sebagai bentuk pengingat terhadap berbagai nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia, yang seyogyanya manusia mensyukurinya dengan bentuk kepatuhan yang tulus kepada Allah, bukan malah menggunakan nikmat tersebut untuk durhaka kepada-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰىكَ فَعَدَلَكَۙ“Yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang?” (QS. Al-Infiṭār: 7)Allah Ta’ala kemudian menyebutkan beberapa kenikmatan yang seharusnya disadari oleh manusia. Allah telah menciptakan manusia dari ketiadaan, lalu menjadikan mereka sebagai makhluk yang sempurna serta proporsional, yang memiliki anggota tubuh yang sehat dan berfungsi baik, sehingga manusia dapat mendengar, melihat, serta berpikir.Allah Ta’ala juga membuat manusia berkembang dan hidup dalam bentuk yang seimbang, memiliki postur tubuh terbaik dan terindah dari semua makhluk. Manusia hidup dengan tegak, seimbang, simetris, tidak berat atau panjang sebelah, serta memiliki fungsi tubuh paling ideal untuk menjadi khalifah dan pengelola muka bumi ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْٓ اَيِّ صُوْرَةٍ مَّا شَاۤءَ رَكَّبَكَۗ“Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu.” (QS. Al-Infiṭār: 8)Allah membentuk manusia dan menyusun anatomi tubuh mereka sesuai dengan kehendak-Nya, berupa susunan tubuh yang indah dan mengangumkan, kompleks dan berfungsi dengan sempurna. Sampai sebagian cendekiawan mengatakan bahwa manusia adalah semesta mikroskopis karena sangat kompleksnya anatomi serta fungsi tubuh mereka. Allah juga tidak membuat manusia berbentuk seperti binatang dengan berjalan menggunakan empat kaki atau bahkan melata seperti ular.Seandainya manusia mau merenungi nikmat yang luar biasa ini, kemudian sadar betapa besar kasih sayang Allah kepada mereka, pastilah manusia akan mengerahkan semua daya dan upayanya untuk tunduk patuh, bersyukur, menyembah kepada-Nya, Rabb semesta alam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki: Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Istri Salehah yang Memahami Suami: 10 Nasihat Rumah Tangga Muslimah Masa Kini

Banyak istri berharap mendapatkan suami yang memahami perasaannya, mengetahui love language-nya, menghargai perjuangannya, dan peka terhadap kebutuhannya. Harapan itu wajar, tetapi pernikahan tidak akan kokoh jika masing-masing hanya sibuk menuntut untuk dipahami tanpa belajar memahami pasangannya. Islam mengajarkan sesuatu yang lebih indah: suami dan istri sama-sama menjalankan amanahnya karena Allah, saling berbuat baik, dan menjadikan pernikahan sebagai jalan menuju surga.  Daftar Isi tutup 1. Belajar dari istri Imam Ahmad: 30 tahun hidup bersama tanpa perselisihan dalam perkataan 2. 1. Semua ingin dipahami, tetapi sudahkah kita memahami suami? 3. 2. Jangan biarkan Instagram dan media sosial menentukan standar suami 4. 3. Suami bukan ATM berjalan, hargailah perjuangannya 5. 4. Perempuan boleh mandiri, tetapi jangan kehilangan seni menghormati suami 6. 5. Rumah bukan hotel dan pasangan bukan pembantu 6.1. Teladan Asma’ binti Abu Bakar dalam membantu Az-Zubair 7. 6. Jangan jadikan HP sebagai orang ketiga dalam pernikahan 8. 7. Jangan hanya cantik ketika keluar rumah 9. 8. Keintiman bukan alat menghukum pasangan 10. 9. Mertua bukan saingan 11. 10. Tujuannya bukan menjadi istri sempurna, tetapi menjadi teman menuju surga 12. Renungan untuk para istri  Belajar dari istri Imam Ahmad: 30 tahun hidup bersama tanpa perselisihan dalam perkataanAda sebuah kisah indah dari rumah tangga Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.Beliau menikah dengan Ummu Shalih. Istrinya tersebut mendampingi beliau selama sekitar tiga puluh tahun. Imam Ahmad mengenangnya dengan sebuah kalimat yang sangat indah:أَقَامَتْ أُمُّ صَالِحٍ مَعِي ثَلَاثِينَ سَنَةً، فَمَا اخْتَلَفْتُ أَنَا وَهِيَ فِي كَلِمَةٍ.“Ummu Shalih hidup bersamaku selama tiga puluh tahun. Aku dan dia tidak pernah berselisih dalam satu perkataan pun.”Riwayat ini dinukil dari Imam Ahmad melalui Al-Marwazi. Kisah kehidupan keluarga Imam Ahmad disebutkan dalam kitab-kitab biografi beliau, di antaranya Siyar A‘lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi dan Manaqib Al-Imam Ahmad karya Ibnul Jauzi.Tentu maksudnya bukan bahwa selama tiga puluh tahun keduanya tidak pernah memiliki perbedaan pendapat sedikit pun. Yang menakjubkan adalah bagaimana perbedaan itu dikelola sehingga Imam Ahmad mengenang kehidupan bersama istrinya dengan kalimat tersebut.Bayangkan, tiga puluh tahun.Bukan tiga bulan.Bukan pula tiga tahun.Imam Ahmad melewati kehidupan yang tidak ringan. Beliau menghadapi keterbatasan ekonomi, perjalanan menuntut ilmu, tekanan penguasa, bahkan ujian besar dalam mempertahankan akidah.Namun, rumah menjadi tempat beliau mendapatkan ketenangan.Kalau kelak suami kita diminta menceritakan tentang kita, kira-kira kalimat apa yang akan keluar dari lisannya?Kita sering bertanya,“Apakah suamiku memahami perasaanku?”“Apakah dia tahu love language-ku?”“Mengapa dia tidak peka?”Pertanyaan itu tidak selalu salah.Namun, ada pertanyaan yang juga penting:Sudahkah aku memahami suamiku?Suami adalah qawwam dalam rumah tanggaAllah Ta‘ala berfirman,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ“Laki-laki (suami) itu adalah penanggung jawab atas para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka wanita-wanita yang salehah adalah yang taat dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah menjaga mereka.” (QS. An-Nisa’: 34)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,يَقُولُ تَعَالَى: ﴿الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ﴾ أَيْ: الرَّجُلُ قَيِّمٌ عَلَى الْمَرْأَةِ، أَيْ: هُوَ رَئِيسُهَا وَكَبِيرُهَا، وَالْحَاكِمُ عَلَيْهَا، وَمُؤَدِّبُهَا إِذَا اعْوَجَّتْ.“Allah Ta‘ala berfirman, ‘Kaum laki-laki adalah qawwam bagi kaum wanita’, maksudnya laki-laki adalah orang yang mengurus dan bertanggung jawab atas wanita. Ia adalah pemimpinnya, orang yang dituakan baginya, yang mengatur urusannya, dan mendidiknya ketika ia menyimpang.”Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah,﴿وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ﴾ أَيْ: مِنَ الْمُهُورِ وَالنَّفَقَاتِ وَالْكُلَفِ الَّتِي أَوْجَبَهَا اللَّهُ عَلَيْهِمْ لَهُنَّ فِي كِتَابِهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.“Firman Allah, ‘Dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka’, maksudnya berupa mahar, nafkah, dan berbagai beban yang Allah wajibkan kepada laki-laki untuk para wanita dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, tafsir QS. An-Nisa’: 34).Qiwamah berarti kepemimpinan yang disertai tanggung jawab. Suami bukan sekadar menuntut untuk ditaati. Ia harus menafkahi, melindungi, membimbing, mendidik, dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.Setelah menjelaskan suami sebagai qawwam, Allah menyebut sifat istri salehah,فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ“Maka wanita-wanita yang salehah adalah wanita yang taat dan menjaga ketika suaminya tidak ada.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata,﴿فَالصَّالِحَاتُ﴾ أَيْ: مِنَ النِّسَاءِ، ﴿قَانِتَاتٌ﴾ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ: يَعْنِي مُطِيعَاتٍ لِأَزْوَاجِهِنَّ، ﴿حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ﴾ قَالَ السُّدِّيُّ وَغَيْرُهُ: أَيْ تَحْفَظُ زَوْجَهَا فِي غَيْبَتِهِ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ.“Firman Allah, ‘Wanita-wanita salehah’, yaitu dari kalangan wanita. ‘Qanitat’, Ibnu ‘Abbas dan sejumlah ulama mengatakan, maksudnya adalah wanita yang taat kepada suami mereka. ‘Menjaga ketika suami tidak ada’, As-Suddi dan ulama lainnya berkata, maksudnya ia menjaga suaminya ketika suaminya tidak ada, yaitu dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.”Inilah fondasi kita dalam memahami pembahasan selanjutnya.1. Semua ingin dipahami, tetapi sudahkah kita memahami suami?Zaman sekarang kita mengenal istilah love language, quality time, toxic relationship, red flag, inner child, emotional availability, dan berbagai istilah hubungan lainnya.Sebagiannya bermanfaat jika dipahami dengan benar.Namun, jangan sampai setelah mempelajari semua itu seorang istri hanya semakin pandai membuat daftar kekurangan suaminya.“Suamiku kurang peka.”“Suamiku kurang romantis.”“Suamiku tidak mengerti perasaanku.”“Suamiku tidak seperti suami si Fulanah.”Pernikahan tidak hanya berbicara tentang:“Apa yang aku dapatkan?”Namun juga:“Apa yang sudah aku berikan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ.“Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, berpuasa pada bulannya (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban. Dinilai sahih oleh Syaikh Syu‘aib Al-Arnauth).Maka, belajar memahami suami bukan berarti menghapus hak-hak istri. Suami pun mempunyai kewajiban besar terhadap istrinya. Namun, seorang mukmin selalu bertanya terlebih dahulu tentang kewajibannya di hadapan Allah sebelum sibuk menuntut haknya dari manusia. 2. Jangan biarkan Instagram dan media sosial menentukan standar suamiDahulu seorang istri mungkin hanya membandingkan kehidupan rumah tangganya dengan beberapa tetangga.Sekarang seseorang bisa membandingkan suaminya dengan ratusan bahkan ribuan laki-laki hanya dengan menggulir layar telepon genggam.“Suami dia memberikan bunga.”“Suami dia mengajak liburan ke luar negeri.”“Suami dia penghasilannya besar.”“Suami dia romantis.”Masalahnya, media sosial memperlihatkan beberapa menit terbaik dari rumah tangga orang lain, sedangkan kita melihat seluruh kekurangan rumah tangga sendiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ.“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dalam urusan dunia dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim, no. 2963)Media sosial memperlihatkan highlight rumah tangga orang lain. Jangan sampai kita membandingkannya dengan seluruh realitas rumah tangga kita sendiri.Perbandingan tanpa henti bisa menjadi pencuri syukur. 3. Suami bukan ATM berjalan, hargailah perjuangannyaAda suami yang tidak pandai mengucapkan kata-kata romantis, tetapi setiap pagi ia berangkat mencari nafkah.Ada yang tidak sering memberikan bunga, tetapi setiap bulan memikirkan uang sekolah anak.Ada yang pulang dengan wajah lelah, tetapi memilih tidak menceritakan seluruh tekanan pekerjaannya agar istrinya tidak ikut terbebani.Jangan sampai satu kekurangan suami menghapus seribu kebaikannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang salah satu sebab banyaknya wanita yang beliau lihat di neraka,يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.“Mereka mengingkari kebaikan suami dan mengingkari kebaikan yang diberikan kepada mereka. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia melihat satu hal yang tidak disukainya darimu, ia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Bukhari, no. 5197 dan Muslim, no. 907)Karena itu, qana‘ah sangat penting.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari, no. 6446 dan Muslim, no. 1051)Ketika keadaan ekonomi suami sedang turun, jangan buru-buru menjadi orang yang pertama meninggalkannya. Bisa jadi pada saat itulah ia paling membutuhkan seseorang yang mengatakan, “Kita hadapi bersama.” 4. Perempuan boleh mandiri, tetapi jangan kehilangan seni menghormati suamiSeorang istri boleh berpendidikan tinggi.Ia boleh menjadi dokter, dosen, pengusaha, profesional, atau mempunyai penghasilan sendiri.Bahkan bisa jadi penghasilannya lebih tinggi daripada suaminya.Namun, pencapaian tersebut jangan sampai melahirkan kalimat dalam hati, “Aku sebenarnya bisa hidup tanpa kamu.”Kesuksesan seorang Muslimah tidak seharusnya menghapus adabnya sebagai istri.Allah tetap berfirman,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ“Laki-laki adalah qawwam atas wanita.” (QS. An-Nisa’: 34)Perempuan hebat bukan perempuan yang harus mengecilkan dirinya agar suaminya terlihat besar. Namun, perempuan hebat adalah perempuan yang mampu membawa kecerdasan, pendidikan, dan prestasinya ke dalam rumah tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan pasangannya. 5. Rumah bukan hotel dan pasangan bukan pembantuSalah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, “Apakah memasak dan membersihkan rumah wajib bagi istri?”Para ulama memang berbeda pendapat tentang rincian kewajiban khidmah istri kepada suami. Karena itu, jangan menyederhanakan masalah khilafiah ini seakan tidak ada perbedaan pendapat.Namun, ada pelajaran akhlak yang lebih tinggi:Apakah semua kebaikan dalam pernikahan harus menunggu sampai terbukti hukumnya wajib? Teladan Asma’ binti Abu Bakar dalam membantu Az-ZubairAsma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,كُنْتُ أَخْدُمُ الزُّبَيْرَ خِدْمَةَ الْبَيْتِ كُلِّهِ، وَكَانَ لَهُ فَرَسٌ، وَكُنْتُ أَسُوسُهُ، وَكُنْتُ أَحْتَشُّ لَهُ وَأَقُومُ عَلَيْهِ.“Aku melayani Az-Zubair dalam seluruh urusan rumah. Ia mempunyai seekor kuda, dan aku merawat kuda tersebut. Aku mencarikan rumput untuknya dan mengurusnya.”Dalam riwayat sahih lainnya, Asma’ menceritakan bahwa ia memberi makan kuda, mengambil air, menambal timba, membuat adonan, dan membawa biji kurma di atas kepalanya dari tanah milik Az-Zubair yang jaraknya sekitar dua pertiga farsakh.Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Ibnul Qayyim juga membahasnya dalam Zad Al-Ma‘ad, 5:170.Asma’ adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq.Ia bukan perempuan tanpa kedudukan.Namun, ketika menjalani kehidupan bersama Az-Zubair, ia mau berjuang bersama suaminya.Fathimah radhiyallahu ‘anha sampai tangannya merasakan beratnya pekerjaan‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Fathimah radhiyallahu ‘anha mengalami kesulitan akibat menggiling dengan penggilingan. Ketika mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperoleh tawanan, ia ingin meminta seorang pembantu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendatangi ‘Ali dan Fathimah ketika keduanya telah berada di tempat tidur dan mengajarkan,أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى خَيْرٍ مِمَّا سَأَلْتُمَا؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ، وَاحْمَدَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَسَبِّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَإِنَّ ذَلِكَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ.“Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta? Apabila kalian telah berada di tempat tidur, bertakbirlah kepada Allah 34 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertasbihlah 33 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikanlah.Fathimah adalah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, kehidupan rumah tangganya tetap mengenal lelah.Pernikahan yang bahagia bukan berarti seluruh beban kehidupan hilang. Kadang bebannya tetap ada, tetapi Allah memberikan kekuatan kepada dua orang untuk menjalaninya bersama.Karena itu, rumah tangga akan terasa berat jika setiap saat suami dan istri hanya bertanya, “Ini sebenarnya kewajiban siapa?”Rumah akan terasa lebih ringan jika keduanya bertanya, “Apa yang bisa kubantu?” 6. Jangan jadikan HP sebagai orang ketiga dalam pernikahanAda orang yang secara fisik berada di samping suaminya, tetapi hatinya berjam-jam berada di tempat lain melalui layar telepon genggam.Ada pula yang setiap mengalami masalah rumah tangga langsung menulis status.Ada yang menjadikan close friends sebagai tempat membuka kekurangan suami.Ada yang menceritakan konflik rumah tangga di grup WhatsApp.Ada yang menjaga kehormatan di dunia nyata, tetapi tidak menjaga batas interaksi dengan lawan jenis melalui DM.Padahal Allah memuji istri salehah dengan firman-Nya,حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ“Wanita-wanita yang menjaga ketika suaminya tidak ada.” (QS. An-Nisa’: 34)Pada zaman dahulu, menjaga ketika suami tidak ada berarti menjaga diri, kehormatan, rumah, rahasia, dan harta.Pada zaman digital, prinsip tersebut juga menuntut seorang Muslimah untuk menjaga chat, DM, foto pribadi, rahasia keluarga, interaksi dengan lawan jenis, pengeluaran digital, dan aib pasangannya.Tidak semua masalah rumah tangga pantas menjadi konten.Tidak semua kesalahan suami pantas diceritakan kepada teman.Tidak semua yang terjadi di kamar kita harus diketahui dunia.Jangan biarkan HP menjadi orang ketiga dalam pernikahan. 7. Jangan hanya cantik ketika keluar rumahIslam mendorong seorang istri menjadi sosok yang menyenangkan suaminya.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟ قَالَ: الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ.Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Beliau menjawab, “Wanita yang menyenangkan suaminya ketika dipandang, menaatinya ketika diperintah, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dalam sesuatu yang dibencinya.” (HR. An-Nasa’i, no. 3231 dan Ahmad)Aneh jika ketika akan bertemu teman penampilan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, tetapi ketika bertemu suami muncul pikiran, “Dia kan sudah menjadi suamiku.”Berhias untuk suami bukan sekadar persoalan kosmetik.Ada pesan cinta di baliknya: “Setelah sekian lama menikah, aku masih ingin menjadi seseorang yang menyenangkan matamu.”Tentu nasihat ini berlaku dua arah. Suami pun hendaknya menjaga kebersihan, aroma tubuh, pakaian, dan penampilannya untuk istrinya. 8. Keintiman bukan alat menghukum pasanganHubungan intim dalam Islam bukan sekadar pemenuhan kebutuhan biologis.Ia bisa bernilai ibadah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ.“Pada hubungan intim salah seorang dari kalian terdapat sedekah.”Para sahabat bertanya bagaimana seseorang memenuhi syahwatnya tetapi memperoleh pahala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sebagaimana menempatkannya pada yang haram mendatangkan dosa, menempatkannya pada yang halal mendatangkan pahala. (HR. Muslim, no. 1006)Di sisi lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan keras terhadap istri yang menolak ajakan suaminya tanpa alasan yang dibenarkan.Beliau bersabda,إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيءَ، لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ.“Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya kemudian istrinya enggan datang, para malaikat melaknatnya hingga pagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)Namun, hadis ini jangan digunakan untuk membenarkan sikap kasar atau mengabaikan keadaan istri. Kehidupan intim juga berada di bawah prinsip mu‘asyarah bil ma‘ruf. Suami perlu memahami keadaan fisik dan emosional istrinya, memperlakukannya dengan lembut, serta tidak menjadikan hubungan intim sekadar pelampiasan syahwat.Sebaliknya, istri jangan menjadikan hubungan intim sebagai senjata untuk menghukum suami ketika sedang marah.Keintiman seharusnya menjadi tempat cinta, ketenteraman, perlindungan dari yang haram, dan jalan memperoleh pahala. 9. Mertua bukan sainganSetelah menikah, kadang muncul persaingan yang sebenarnya tidak perlu. “Suamiku kok lebih perhatian kepada ibunya?”“Kenapa setelah menikah dia masih dekat dengan ibunya?”Ingatlah, ibu mempunyai hak sebagai ibu.Istri mempunyai hak sebagai istri.Keduanya tidak perlu dipertandingkan.Berbuat baik kepada keluarga suami termasuk akhlak yang sangat mulia. Bagaimanapun, ibu mertua itulah yang dahulu mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita.Namun, perlu diluruskan bahwa istri tidak memiliki kewajiban berbakti kepada mertua sebagaimana kewajiban seorang anak berbakti kepada orang tuanya sendiri. Ia tetap dianjurkan berbuat ihsan, menjaga hubungan baik, dan menghormati mertua.Mertua pun harus menjaga batas.Mertua yang baik tidak terlalu ikut campur dalam rumah tangga anaknya, tidak membanding-bandingkan menantu, tidak mencari kesalahannya, tidak menuntut berlebihan, dan menjaga aib keluarga.Karena itu, nasihatnya bukan hanya: “Jadilah menantu yang baik.”Namun juga: “Jadilah mertua yang membuat menantu mudah berbuat baik.” 10. Tujuannya bukan menjadi istri sempurna, tetapi menjadi teman menuju surgaTidak ada suami sempurna.Tidak ada istri sempurna.Rumah tangga yang baik juga bukan rumah tangga yang sama sekali tidak pernah berbeda pendapat.Lihatlah satu kisah menarik dari generasi tabi‘in.Putri Sa‘id bin Al-Musayyib: berilmu sekaligus memahami hak suamiSa‘id bin Al-Musayyib rahimahullah mempunyai seorang putri yang dikenal berilmu. Beliau menikahkannya dengan salah seorang muridnya, Katsir bin Abi Wada‘ah.Dalam kisah yang masyhur, setelah menikah Katsir menggambarkan istrinya,فَإِذَا هِيَ مِنْ أَجْمَلِ النَّاسِ، وَأَحْفَظِ النَّاسِ لِكِتَابِ اللَّهِ، وَأَعْلَمِهِمْ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَعْرَفِهِمْ بِحَقِّ زَوْجٍ.“Ternyata ia termasuk wanita yang paling cantik, paling hafal Kitab Allah, paling mengetahui Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan paling mengetahui hak seorang suami.”Kisah ini disebutkan dalam kitab-kitab biografi Sa‘id bin Al-Musayyib, di antaranya Siyar A‘lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi.Perhatikan empat sifat tersebut:Cantik.Dekat dengan Al-Qur’an.Berilmu tentang Sunnah.Mengetahui hak suami.Ilmu agama ternyata tidak berhenti di majelis.Ilmu masuk ke dalam rumah.Ilmu membentuk cara seorang istri berbicara kepada suami.Ilmu membentuk caranya menghadapi kekurangan pasangan.Ilmu membentuk caranya menjaga rumah ketika suaminya tidak ada.Inilah istri salehah.Bukan perempuan tanpa kekurangan.Bukan perempuan yang tidak pernah lelah.Bukan perempuan yang tidak pernah berbeda pendapat dengan suaminya.Namun, ia adalah perempuan yang terus belajar menjadikan pernikahannya sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.Suami juga senang dimintai izin dan hartanya dijagaSalah satu bentuk memahami suami adalah memahami bahwa ia memikul tanggung jawab atas rumah dan hartanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ.“Tidak halal bagi seorang wanita berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya hadir kecuali dengan izinnya, dan ia tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumah suaminya kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam masalah harta, istri yang menjadi pengelola harta keluarga hendaknya amanah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا أَنْفَقَتِ الْمَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ، كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ، وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ.“Apabila seorang istri menginfakkan makanan dari rumahnya tanpa bermaksud merusak, ia mendapatkan pahala karena apa yang ia infakkan dan suaminya memperoleh pahala karena apa yang ia usahakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di zaman sekarang, amanah harta juga mencakup bagaimana keluarga mengelola transfer bank, kartu, dompet digital, belanja online, cicilan, dan berbagai pengeluaran yang begitu mudah dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan pada layar.Istri salehah menjadi penolong suaminya menuju Allah Pada akhirnya, tingkatan tertinggi memahami suami bukanlah sekadar mengetahui makanan kesukaannya, menyiapkan rumah yang nyaman, memahami kebutuhan biologisnya, atau mengetahui love language-nya.Lebih tinggi daripada semua itu adalah:mengetahui bagaimana membantu suami sampai ke surga.Ketika suami futur, ia mengingatkan.Ketika suami sedang diuji rezekinya, ia menguatkan.Ketika suami mulai jauh dari Allah, ia tidak membiarkannya.Ketika suami memperjuangkan kebaikan, ia menjadi orang yang mendukungnya.Ketika suami salah, ia menasihatinya dengan cara yang baik.Ketika suami pulang dalam keadaan berat, rumah tidak menjadi tempat bertambahnya beban.Maka, pernikahan bukan lagi sekadar:“Aku bahagia bersamamu.”Namun naik menjadi:“Aku ingin sampai ke surga bersamamu.” Renungan untuk para istriMungkin selama ini kita terlalu sering bertanya,“Kenapa suamiku tidak memahami aku?”Cobalah sesekali membalik pertanyaannya.Sudahkah aku memahami perjuangannya?Sudahkah aku mensyukuri kebaikannya?Sudahkah aku menjaga kehormatannya ketika ia tidak ada?Sudahkah aku menjadi tempat paling nyaman baginya untuk pulang?Sudahkah keberadaanku membuatnya semakin dekat kepada Allah?Kita tidak sedang berusaha menjadi istri sempurna karena itu tidak mungkin.Kita sedang belajar menjadi istri salehah.Istri yang ketika dipandang menyenangkan.Ketika suami memimpin dalam kebaikan, ia mendukung.Ketika suami tidak ada, ia menjaga amanah.Ketika rumah tangga diuji, ia tidak buru-buru membandingkan.Ketika suami lemah, ia membantu menguatkan.Dan ketika perjalanan dunia selesai, ia berharap bisa kembali bertemu suaminya dalam keadaan Allah rida kepada keduanya.Semoga Allah memperbaiki para suami dan istri, menjadikan rumah-rumah kaum muslimin dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta menjadikan pasangan hidup sebagai penolong menuju surga.وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ. Referensi Ibnu Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, tafsir QS. An-Nisa’: 34.Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Zad Al-Ma‘ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad, pembahasan khidmah istri kepada suami.Adz-Dzahabi, Syamsuddin. Siyar A‘lam An-Nubala’, biografi Imam Ahmad bin Hanbal dan Sa‘id bin Al-Musayyib.Ibnul Jauzi. Manaqib Al-Imam Ahmad.Al-Bukhari. Shahih Al-Bukhari.Muslim. Shahih Muslim.An-Nasa’i. Sunan An-Nasa’i.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad. @ Jakarta, 29 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab istri hak suami istri salehah keluarga bahagia keluarga sakinah kewajiban istri memahami suami nasihat pernikahan qiwamah suami rumah tangga Islam

Istri Salehah yang Memahami Suami: 10 Nasihat Rumah Tangga Muslimah Masa Kini

Banyak istri berharap mendapatkan suami yang memahami perasaannya, mengetahui love language-nya, menghargai perjuangannya, dan peka terhadap kebutuhannya. Harapan itu wajar, tetapi pernikahan tidak akan kokoh jika masing-masing hanya sibuk menuntut untuk dipahami tanpa belajar memahami pasangannya. Islam mengajarkan sesuatu yang lebih indah: suami dan istri sama-sama menjalankan amanahnya karena Allah, saling berbuat baik, dan menjadikan pernikahan sebagai jalan menuju surga.  Daftar Isi tutup 1. Belajar dari istri Imam Ahmad: 30 tahun hidup bersama tanpa perselisihan dalam perkataan 2. 1. Semua ingin dipahami, tetapi sudahkah kita memahami suami? 3. 2. Jangan biarkan Instagram dan media sosial menentukan standar suami 4. 3. Suami bukan ATM berjalan, hargailah perjuangannya 5. 4. Perempuan boleh mandiri, tetapi jangan kehilangan seni menghormati suami 6. 5. Rumah bukan hotel dan pasangan bukan pembantu 6.1. Teladan Asma’ binti Abu Bakar dalam membantu Az-Zubair 7. 6. Jangan jadikan HP sebagai orang ketiga dalam pernikahan 8. 7. Jangan hanya cantik ketika keluar rumah 9. 8. Keintiman bukan alat menghukum pasangan 10. 9. Mertua bukan saingan 11. 10. Tujuannya bukan menjadi istri sempurna, tetapi menjadi teman menuju surga 12. Renungan untuk para istri  Belajar dari istri Imam Ahmad: 30 tahun hidup bersama tanpa perselisihan dalam perkataanAda sebuah kisah indah dari rumah tangga Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.Beliau menikah dengan Ummu Shalih. Istrinya tersebut mendampingi beliau selama sekitar tiga puluh tahun. Imam Ahmad mengenangnya dengan sebuah kalimat yang sangat indah:أَقَامَتْ أُمُّ صَالِحٍ مَعِي ثَلَاثِينَ سَنَةً، فَمَا اخْتَلَفْتُ أَنَا وَهِيَ فِي كَلِمَةٍ.“Ummu Shalih hidup bersamaku selama tiga puluh tahun. Aku dan dia tidak pernah berselisih dalam satu perkataan pun.”Riwayat ini dinukil dari Imam Ahmad melalui Al-Marwazi. Kisah kehidupan keluarga Imam Ahmad disebutkan dalam kitab-kitab biografi beliau, di antaranya Siyar A‘lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi dan Manaqib Al-Imam Ahmad karya Ibnul Jauzi.Tentu maksudnya bukan bahwa selama tiga puluh tahun keduanya tidak pernah memiliki perbedaan pendapat sedikit pun. Yang menakjubkan adalah bagaimana perbedaan itu dikelola sehingga Imam Ahmad mengenang kehidupan bersama istrinya dengan kalimat tersebut.Bayangkan, tiga puluh tahun.Bukan tiga bulan.Bukan pula tiga tahun.Imam Ahmad melewati kehidupan yang tidak ringan. Beliau menghadapi keterbatasan ekonomi, perjalanan menuntut ilmu, tekanan penguasa, bahkan ujian besar dalam mempertahankan akidah.Namun, rumah menjadi tempat beliau mendapatkan ketenangan.Kalau kelak suami kita diminta menceritakan tentang kita, kira-kira kalimat apa yang akan keluar dari lisannya?Kita sering bertanya,“Apakah suamiku memahami perasaanku?”“Apakah dia tahu love language-ku?”“Mengapa dia tidak peka?”Pertanyaan itu tidak selalu salah.Namun, ada pertanyaan yang juga penting:Sudahkah aku memahami suamiku?Suami adalah qawwam dalam rumah tanggaAllah Ta‘ala berfirman,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ“Laki-laki (suami) itu adalah penanggung jawab atas para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka wanita-wanita yang salehah adalah yang taat dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah menjaga mereka.” (QS. An-Nisa’: 34)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,يَقُولُ تَعَالَى: ﴿الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ﴾ أَيْ: الرَّجُلُ قَيِّمٌ عَلَى الْمَرْأَةِ، أَيْ: هُوَ رَئِيسُهَا وَكَبِيرُهَا، وَالْحَاكِمُ عَلَيْهَا، وَمُؤَدِّبُهَا إِذَا اعْوَجَّتْ.“Allah Ta‘ala berfirman, ‘Kaum laki-laki adalah qawwam bagi kaum wanita’, maksudnya laki-laki adalah orang yang mengurus dan bertanggung jawab atas wanita. Ia adalah pemimpinnya, orang yang dituakan baginya, yang mengatur urusannya, dan mendidiknya ketika ia menyimpang.”Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah,﴿وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ﴾ أَيْ: مِنَ الْمُهُورِ وَالنَّفَقَاتِ وَالْكُلَفِ الَّتِي أَوْجَبَهَا اللَّهُ عَلَيْهِمْ لَهُنَّ فِي كِتَابِهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.“Firman Allah, ‘Dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka’, maksudnya berupa mahar, nafkah, dan berbagai beban yang Allah wajibkan kepada laki-laki untuk para wanita dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, tafsir QS. An-Nisa’: 34).Qiwamah berarti kepemimpinan yang disertai tanggung jawab. Suami bukan sekadar menuntut untuk ditaati. Ia harus menafkahi, melindungi, membimbing, mendidik, dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.Setelah menjelaskan suami sebagai qawwam, Allah menyebut sifat istri salehah,فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ“Maka wanita-wanita yang salehah adalah wanita yang taat dan menjaga ketika suaminya tidak ada.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata,﴿فَالصَّالِحَاتُ﴾ أَيْ: مِنَ النِّسَاءِ، ﴿قَانِتَاتٌ﴾ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ: يَعْنِي مُطِيعَاتٍ لِأَزْوَاجِهِنَّ، ﴿حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ﴾ قَالَ السُّدِّيُّ وَغَيْرُهُ: أَيْ تَحْفَظُ زَوْجَهَا فِي غَيْبَتِهِ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ.“Firman Allah, ‘Wanita-wanita salehah’, yaitu dari kalangan wanita. ‘Qanitat’, Ibnu ‘Abbas dan sejumlah ulama mengatakan, maksudnya adalah wanita yang taat kepada suami mereka. ‘Menjaga ketika suami tidak ada’, As-Suddi dan ulama lainnya berkata, maksudnya ia menjaga suaminya ketika suaminya tidak ada, yaitu dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.”Inilah fondasi kita dalam memahami pembahasan selanjutnya.1. Semua ingin dipahami, tetapi sudahkah kita memahami suami?Zaman sekarang kita mengenal istilah love language, quality time, toxic relationship, red flag, inner child, emotional availability, dan berbagai istilah hubungan lainnya.Sebagiannya bermanfaat jika dipahami dengan benar.Namun, jangan sampai setelah mempelajari semua itu seorang istri hanya semakin pandai membuat daftar kekurangan suaminya.“Suamiku kurang peka.”“Suamiku kurang romantis.”“Suamiku tidak mengerti perasaanku.”“Suamiku tidak seperti suami si Fulanah.”Pernikahan tidak hanya berbicara tentang:“Apa yang aku dapatkan?”Namun juga:“Apa yang sudah aku berikan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ.“Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, berpuasa pada bulannya (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban. Dinilai sahih oleh Syaikh Syu‘aib Al-Arnauth).Maka, belajar memahami suami bukan berarti menghapus hak-hak istri. Suami pun mempunyai kewajiban besar terhadap istrinya. Namun, seorang mukmin selalu bertanya terlebih dahulu tentang kewajibannya di hadapan Allah sebelum sibuk menuntut haknya dari manusia. 2. Jangan biarkan Instagram dan media sosial menentukan standar suamiDahulu seorang istri mungkin hanya membandingkan kehidupan rumah tangganya dengan beberapa tetangga.Sekarang seseorang bisa membandingkan suaminya dengan ratusan bahkan ribuan laki-laki hanya dengan menggulir layar telepon genggam.“Suami dia memberikan bunga.”“Suami dia mengajak liburan ke luar negeri.”“Suami dia penghasilannya besar.”“Suami dia romantis.”Masalahnya, media sosial memperlihatkan beberapa menit terbaik dari rumah tangga orang lain, sedangkan kita melihat seluruh kekurangan rumah tangga sendiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ.“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dalam urusan dunia dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim, no. 2963)Media sosial memperlihatkan highlight rumah tangga orang lain. Jangan sampai kita membandingkannya dengan seluruh realitas rumah tangga kita sendiri.Perbandingan tanpa henti bisa menjadi pencuri syukur. 3. Suami bukan ATM berjalan, hargailah perjuangannyaAda suami yang tidak pandai mengucapkan kata-kata romantis, tetapi setiap pagi ia berangkat mencari nafkah.Ada yang tidak sering memberikan bunga, tetapi setiap bulan memikirkan uang sekolah anak.Ada yang pulang dengan wajah lelah, tetapi memilih tidak menceritakan seluruh tekanan pekerjaannya agar istrinya tidak ikut terbebani.Jangan sampai satu kekurangan suami menghapus seribu kebaikannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang salah satu sebab banyaknya wanita yang beliau lihat di neraka,يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.“Mereka mengingkari kebaikan suami dan mengingkari kebaikan yang diberikan kepada mereka. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia melihat satu hal yang tidak disukainya darimu, ia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Bukhari, no. 5197 dan Muslim, no. 907)Karena itu, qana‘ah sangat penting.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari, no. 6446 dan Muslim, no. 1051)Ketika keadaan ekonomi suami sedang turun, jangan buru-buru menjadi orang yang pertama meninggalkannya. Bisa jadi pada saat itulah ia paling membutuhkan seseorang yang mengatakan, “Kita hadapi bersama.” 4. Perempuan boleh mandiri, tetapi jangan kehilangan seni menghormati suamiSeorang istri boleh berpendidikan tinggi.Ia boleh menjadi dokter, dosen, pengusaha, profesional, atau mempunyai penghasilan sendiri.Bahkan bisa jadi penghasilannya lebih tinggi daripada suaminya.Namun, pencapaian tersebut jangan sampai melahirkan kalimat dalam hati, “Aku sebenarnya bisa hidup tanpa kamu.”Kesuksesan seorang Muslimah tidak seharusnya menghapus adabnya sebagai istri.Allah tetap berfirman,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ“Laki-laki adalah qawwam atas wanita.” (QS. An-Nisa’: 34)Perempuan hebat bukan perempuan yang harus mengecilkan dirinya agar suaminya terlihat besar. Namun, perempuan hebat adalah perempuan yang mampu membawa kecerdasan, pendidikan, dan prestasinya ke dalam rumah tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan pasangannya. 5. Rumah bukan hotel dan pasangan bukan pembantuSalah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, “Apakah memasak dan membersihkan rumah wajib bagi istri?”Para ulama memang berbeda pendapat tentang rincian kewajiban khidmah istri kepada suami. Karena itu, jangan menyederhanakan masalah khilafiah ini seakan tidak ada perbedaan pendapat.Namun, ada pelajaran akhlak yang lebih tinggi:Apakah semua kebaikan dalam pernikahan harus menunggu sampai terbukti hukumnya wajib? Teladan Asma’ binti Abu Bakar dalam membantu Az-ZubairAsma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,كُنْتُ أَخْدُمُ الزُّبَيْرَ خِدْمَةَ الْبَيْتِ كُلِّهِ، وَكَانَ لَهُ فَرَسٌ، وَكُنْتُ أَسُوسُهُ، وَكُنْتُ أَحْتَشُّ لَهُ وَأَقُومُ عَلَيْهِ.“Aku melayani Az-Zubair dalam seluruh urusan rumah. Ia mempunyai seekor kuda, dan aku merawat kuda tersebut. Aku mencarikan rumput untuknya dan mengurusnya.”Dalam riwayat sahih lainnya, Asma’ menceritakan bahwa ia memberi makan kuda, mengambil air, menambal timba, membuat adonan, dan membawa biji kurma di atas kepalanya dari tanah milik Az-Zubair yang jaraknya sekitar dua pertiga farsakh.Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Ibnul Qayyim juga membahasnya dalam Zad Al-Ma‘ad, 5:170.Asma’ adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq.Ia bukan perempuan tanpa kedudukan.Namun, ketika menjalani kehidupan bersama Az-Zubair, ia mau berjuang bersama suaminya.Fathimah radhiyallahu ‘anha sampai tangannya merasakan beratnya pekerjaan‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Fathimah radhiyallahu ‘anha mengalami kesulitan akibat menggiling dengan penggilingan. Ketika mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperoleh tawanan, ia ingin meminta seorang pembantu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendatangi ‘Ali dan Fathimah ketika keduanya telah berada di tempat tidur dan mengajarkan,أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى خَيْرٍ مِمَّا سَأَلْتُمَا؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ، وَاحْمَدَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَسَبِّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَإِنَّ ذَلِكَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ.“Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta? Apabila kalian telah berada di tempat tidur, bertakbirlah kepada Allah 34 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertasbihlah 33 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikanlah.Fathimah adalah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, kehidupan rumah tangganya tetap mengenal lelah.Pernikahan yang bahagia bukan berarti seluruh beban kehidupan hilang. Kadang bebannya tetap ada, tetapi Allah memberikan kekuatan kepada dua orang untuk menjalaninya bersama.Karena itu, rumah tangga akan terasa berat jika setiap saat suami dan istri hanya bertanya, “Ini sebenarnya kewajiban siapa?”Rumah akan terasa lebih ringan jika keduanya bertanya, “Apa yang bisa kubantu?” 6. Jangan jadikan HP sebagai orang ketiga dalam pernikahanAda orang yang secara fisik berada di samping suaminya, tetapi hatinya berjam-jam berada di tempat lain melalui layar telepon genggam.Ada pula yang setiap mengalami masalah rumah tangga langsung menulis status.Ada yang menjadikan close friends sebagai tempat membuka kekurangan suami.Ada yang menceritakan konflik rumah tangga di grup WhatsApp.Ada yang menjaga kehormatan di dunia nyata, tetapi tidak menjaga batas interaksi dengan lawan jenis melalui DM.Padahal Allah memuji istri salehah dengan firman-Nya,حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ“Wanita-wanita yang menjaga ketika suaminya tidak ada.” (QS. An-Nisa’: 34)Pada zaman dahulu, menjaga ketika suami tidak ada berarti menjaga diri, kehormatan, rumah, rahasia, dan harta.Pada zaman digital, prinsip tersebut juga menuntut seorang Muslimah untuk menjaga chat, DM, foto pribadi, rahasia keluarga, interaksi dengan lawan jenis, pengeluaran digital, dan aib pasangannya.Tidak semua masalah rumah tangga pantas menjadi konten.Tidak semua kesalahan suami pantas diceritakan kepada teman.Tidak semua yang terjadi di kamar kita harus diketahui dunia.Jangan biarkan HP menjadi orang ketiga dalam pernikahan. 7. Jangan hanya cantik ketika keluar rumahIslam mendorong seorang istri menjadi sosok yang menyenangkan suaminya.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟ قَالَ: الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ.Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Beliau menjawab, “Wanita yang menyenangkan suaminya ketika dipandang, menaatinya ketika diperintah, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dalam sesuatu yang dibencinya.” (HR. An-Nasa’i, no. 3231 dan Ahmad)Aneh jika ketika akan bertemu teman penampilan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, tetapi ketika bertemu suami muncul pikiran, “Dia kan sudah menjadi suamiku.”Berhias untuk suami bukan sekadar persoalan kosmetik.Ada pesan cinta di baliknya: “Setelah sekian lama menikah, aku masih ingin menjadi seseorang yang menyenangkan matamu.”Tentu nasihat ini berlaku dua arah. Suami pun hendaknya menjaga kebersihan, aroma tubuh, pakaian, dan penampilannya untuk istrinya. 8. Keintiman bukan alat menghukum pasanganHubungan intim dalam Islam bukan sekadar pemenuhan kebutuhan biologis.Ia bisa bernilai ibadah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ.“Pada hubungan intim salah seorang dari kalian terdapat sedekah.”Para sahabat bertanya bagaimana seseorang memenuhi syahwatnya tetapi memperoleh pahala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sebagaimana menempatkannya pada yang haram mendatangkan dosa, menempatkannya pada yang halal mendatangkan pahala. (HR. Muslim, no. 1006)Di sisi lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan keras terhadap istri yang menolak ajakan suaminya tanpa alasan yang dibenarkan.Beliau bersabda,إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيءَ، لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ.“Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya kemudian istrinya enggan datang, para malaikat melaknatnya hingga pagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)Namun, hadis ini jangan digunakan untuk membenarkan sikap kasar atau mengabaikan keadaan istri. Kehidupan intim juga berada di bawah prinsip mu‘asyarah bil ma‘ruf. Suami perlu memahami keadaan fisik dan emosional istrinya, memperlakukannya dengan lembut, serta tidak menjadikan hubungan intim sekadar pelampiasan syahwat.Sebaliknya, istri jangan menjadikan hubungan intim sebagai senjata untuk menghukum suami ketika sedang marah.Keintiman seharusnya menjadi tempat cinta, ketenteraman, perlindungan dari yang haram, dan jalan memperoleh pahala. 9. Mertua bukan sainganSetelah menikah, kadang muncul persaingan yang sebenarnya tidak perlu. “Suamiku kok lebih perhatian kepada ibunya?”“Kenapa setelah menikah dia masih dekat dengan ibunya?”Ingatlah, ibu mempunyai hak sebagai ibu.Istri mempunyai hak sebagai istri.Keduanya tidak perlu dipertandingkan.Berbuat baik kepada keluarga suami termasuk akhlak yang sangat mulia. Bagaimanapun, ibu mertua itulah yang dahulu mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita.Namun, perlu diluruskan bahwa istri tidak memiliki kewajiban berbakti kepada mertua sebagaimana kewajiban seorang anak berbakti kepada orang tuanya sendiri. Ia tetap dianjurkan berbuat ihsan, menjaga hubungan baik, dan menghormati mertua.Mertua pun harus menjaga batas.Mertua yang baik tidak terlalu ikut campur dalam rumah tangga anaknya, tidak membanding-bandingkan menantu, tidak mencari kesalahannya, tidak menuntut berlebihan, dan menjaga aib keluarga.Karena itu, nasihatnya bukan hanya: “Jadilah menantu yang baik.”Namun juga: “Jadilah mertua yang membuat menantu mudah berbuat baik.” 10. Tujuannya bukan menjadi istri sempurna, tetapi menjadi teman menuju surgaTidak ada suami sempurna.Tidak ada istri sempurna.Rumah tangga yang baik juga bukan rumah tangga yang sama sekali tidak pernah berbeda pendapat.Lihatlah satu kisah menarik dari generasi tabi‘in.Putri Sa‘id bin Al-Musayyib: berilmu sekaligus memahami hak suamiSa‘id bin Al-Musayyib rahimahullah mempunyai seorang putri yang dikenal berilmu. Beliau menikahkannya dengan salah seorang muridnya, Katsir bin Abi Wada‘ah.Dalam kisah yang masyhur, setelah menikah Katsir menggambarkan istrinya,فَإِذَا هِيَ مِنْ أَجْمَلِ النَّاسِ، وَأَحْفَظِ النَّاسِ لِكِتَابِ اللَّهِ، وَأَعْلَمِهِمْ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَعْرَفِهِمْ بِحَقِّ زَوْجٍ.“Ternyata ia termasuk wanita yang paling cantik, paling hafal Kitab Allah, paling mengetahui Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan paling mengetahui hak seorang suami.”Kisah ini disebutkan dalam kitab-kitab biografi Sa‘id bin Al-Musayyib, di antaranya Siyar A‘lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi.Perhatikan empat sifat tersebut:Cantik.Dekat dengan Al-Qur’an.Berilmu tentang Sunnah.Mengetahui hak suami.Ilmu agama ternyata tidak berhenti di majelis.Ilmu masuk ke dalam rumah.Ilmu membentuk cara seorang istri berbicara kepada suami.Ilmu membentuk caranya menghadapi kekurangan pasangan.Ilmu membentuk caranya menjaga rumah ketika suaminya tidak ada.Inilah istri salehah.Bukan perempuan tanpa kekurangan.Bukan perempuan yang tidak pernah lelah.Bukan perempuan yang tidak pernah berbeda pendapat dengan suaminya.Namun, ia adalah perempuan yang terus belajar menjadikan pernikahannya sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.Suami juga senang dimintai izin dan hartanya dijagaSalah satu bentuk memahami suami adalah memahami bahwa ia memikul tanggung jawab atas rumah dan hartanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ.“Tidak halal bagi seorang wanita berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya hadir kecuali dengan izinnya, dan ia tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumah suaminya kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam masalah harta, istri yang menjadi pengelola harta keluarga hendaknya amanah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا أَنْفَقَتِ الْمَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ، كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ، وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ.“Apabila seorang istri menginfakkan makanan dari rumahnya tanpa bermaksud merusak, ia mendapatkan pahala karena apa yang ia infakkan dan suaminya memperoleh pahala karena apa yang ia usahakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di zaman sekarang, amanah harta juga mencakup bagaimana keluarga mengelola transfer bank, kartu, dompet digital, belanja online, cicilan, dan berbagai pengeluaran yang begitu mudah dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan pada layar.Istri salehah menjadi penolong suaminya menuju Allah Pada akhirnya, tingkatan tertinggi memahami suami bukanlah sekadar mengetahui makanan kesukaannya, menyiapkan rumah yang nyaman, memahami kebutuhan biologisnya, atau mengetahui love language-nya.Lebih tinggi daripada semua itu adalah:mengetahui bagaimana membantu suami sampai ke surga.Ketika suami futur, ia mengingatkan.Ketika suami sedang diuji rezekinya, ia menguatkan.Ketika suami mulai jauh dari Allah, ia tidak membiarkannya.Ketika suami memperjuangkan kebaikan, ia menjadi orang yang mendukungnya.Ketika suami salah, ia menasihatinya dengan cara yang baik.Ketika suami pulang dalam keadaan berat, rumah tidak menjadi tempat bertambahnya beban.Maka, pernikahan bukan lagi sekadar:“Aku bahagia bersamamu.”Namun naik menjadi:“Aku ingin sampai ke surga bersamamu.” Renungan untuk para istriMungkin selama ini kita terlalu sering bertanya,“Kenapa suamiku tidak memahami aku?”Cobalah sesekali membalik pertanyaannya.Sudahkah aku memahami perjuangannya?Sudahkah aku mensyukuri kebaikannya?Sudahkah aku menjaga kehormatannya ketika ia tidak ada?Sudahkah aku menjadi tempat paling nyaman baginya untuk pulang?Sudahkah keberadaanku membuatnya semakin dekat kepada Allah?Kita tidak sedang berusaha menjadi istri sempurna karena itu tidak mungkin.Kita sedang belajar menjadi istri salehah.Istri yang ketika dipandang menyenangkan.Ketika suami memimpin dalam kebaikan, ia mendukung.Ketika suami tidak ada, ia menjaga amanah.Ketika rumah tangga diuji, ia tidak buru-buru membandingkan.Ketika suami lemah, ia membantu menguatkan.Dan ketika perjalanan dunia selesai, ia berharap bisa kembali bertemu suaminya dalam keadaan Allah rida kepada keduanya.Semoga Allah memperbaiki para suami dan istri, menjadikan rumah-rumah kaum muslimin dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta menjadikan pasangan hidup sebagai penolong menuju surga.وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ. Referensi Ibnu Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, tafsir QS. An-Nisa’: 34.Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Zad Al-Ma‘ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad, pembahasan khidmah istri kepada suami.Adz-Dzahabi, Syamsuddin. Siyar A‘lam An-Nubala’, biografi Imam Ahmad bin Hanbal dan Sa‘id bin Al-Musayyib.Ibnul Jauzi. Manaqib Al-Imam Ahmad.Al-Bukhari. Shahih Al-Bukhari.Muslim. Shahih Muslim.An-Nasa’i. Sunan An-Nasa’i.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad. @ Jakarta, 29 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab istri hak suami istri salehah keluarga bahagia keluarga sakinah kewajiban istri memahami suami nasihat pernikahan qiwamah suami rumah tangga Islam
Banyak istri berharap mendapatkan suami yang memahami perasaannya, mengetahui love language-nya, menghargai perjuangannya, dan peka terhadap kebutuhannya. Harapan itu wajar, tetapi pernikahan tidak akan kokoh jika masing-masing hanya sibuk menuntut untuk dipahami tanpa belajar memahami pasangannya. Islam mengajarkan sesuatu yang lebih indah: suami dan istri sama-sama menjalankan amanahnya karena Allah, saling berbuat baik, dan menjadikan pernikahan sebagai jalan menuju surga.  Daftar Isi tutup 1. Belajar dari istri Imam Ahmad: 30 tahun hidup bersama tanpa perselisihan dalam perkataan 2. 1. Semua ingin dipahami, tetapi sudahkah kita memahami suami? 3. 2. Jangan biarkan Instagram dan media sosial menentukan standar suami 4. 3. Suami bukan ATM berjalan, hargailah perjuangannya 5. 4. Perempuan boleh mandiri, tetapi jangan kehilangan seni menghormati suami 6. 5. Rumah bukan hotel dan pasangan bukan pembantu 6.1. Teladan Asma’ binti Abu Bakar dalam membantu Az-Zubair 7. 6. Jangan jadikan HP sebagai orang ketiga dalam pernikahan 8. 7. Jangan hanya cantik ketika keluar rumah 9. 8. Keintiman bukan alat menghukum pasangan 10. 9. Mertua bukan saingan 11. 10. Tujuannya bukan menjadi istri sempurna, tetapi menjadi teman menuju surga 12. Renungan untuk para istri  Belajar dari istri Imam Ahmad: 30 tahun hidup bersama tanpa perselisihan dalam perkataanAda sebuah kisah indah dari rumah tangga Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.Beliau menikah dengan Ummu Shalih. Istrinya tersebut mendampingi beliau selama sekitar tiga puluh tahun. Imam Ahmad mengenangnya dengan sebuah kalimat yang sangat indah:أَقَامَتْ أُمُّ صَالِحٍ مَعِي ثَلَاثِينَ سَنَةً، فَمَا اخْتَلَفْتُ أَنَا وَهِيَ فِي كَلِمَةٍ.“Ummu Shalih hidup bersamaku selama tiga puluh tahun. Aku dan dia tidak pernah berselisih dalam satu perkataan pun.”Riwayat ini dinukil dari Imam Ahmad melalui Al-Marwazi. Kisah kehidupan keluarga Imam Ahmad disebutkan dalam kitab-kitab biografi beliau, di antaranya Siyar A‘lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi dan Manaqib Al-Imam Ahmad karya Ibnul Jauzi.Tentu maksudnya bukan bahwa selama tiga puluh tahun keduanya tidak pernah memiliki perbedaan pendapat sedikit pun. Yang menakjubkan adalah bagaimana perbedaan itu dikelola sehingga Imam Ahmad mengenang kehidupan bersama istrinya dengan kalimat tersebut.Bayangkan, tiga puluh tahun.Bukan tiga bulan.Bukan pula tiga tahun.Imam Ahmad melewati kehidupan yang tidak ringan. Beliau menghadapi keterbatasan ekonomi, perjalanan menuntut ilmu, tekanan penguasa, bahkan ujian besar dalam mempertahankan akidah.Namun, rumah menjadi tempat beliau mendapatkan ketenangan.Kalau kelak suami kita diminta menceritakan tentang kita, kira-kira kalimat apa yang akan keluar dari lisannya?Kita sering bertanya,“Apakah suamiku memahami perasaanku?”“Apakah dia tahu love language-ku?”“Mengapa dia tidak peka?”Pertanyaan itu tidak selalu salah.Namun, ada pertanyaan yang juga penting:Sudahkah aku memahami suamiku?Suami adalah qawwam dalam rumah tanggaAllah Ta‘ala berfirman,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ“Laki-laki (suami) itu adalah penanggung jawab atas para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka wanita-wanita yang salehah adalah yang taat dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah menjaga mereka.” (QS. An-Nisa’: 34)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,يَقُولُ تَعَالَى: ﴿الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ﴾ أَيْ: الرَّجُلُ قَيِّمٌ عَلَى الْمَرْأَةِ، أَيْ: هُوَ رَئِيسُهَا وَكَبِيرُهَا، وَالْحَاكِمُ عَلَيْهَا، وَمُؤَدِّبُهَا إِذَا اعْوَجَّتْ.“Allah Ta‘ala berfirman, ‘Kaum laki-laki adalah qawwam bagi kaum wanita’, maksudnya laki-laki adalah orang yang mengurus dan bertanggung jawab atas wanita. Ia adalah pemimpinnya, orang yang dituakan baginya, yang mengatur urusannya, dan mendidiknya ketika ia menyimpang.”Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah,﴿وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ﴾ أَيْ: مِنَ الْمُهُورِ وَالنَّفَقَاتِ وَالْكُلَفِ الَّتِي أَوْجَبَهَا اللَّهُ عَلَيْهِمْ لَهُنَّ فِي كِتَابِهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.“Firman Allah, ‘Dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka’, maksudnya berupa mahar, nafkah, dan berbagai beban yang Allah wajibkan kepada laki-laki untuk para wanita dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, tafsir QS. An-Nisa’: 34).Qiwamah berarti kepemimpinan yang disertai tanggung jawab. Suami bukan sekadar menuntut untuk ditaati. Ia harus menafkahi, melindungi, membimbing, mendidik, dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.Setelah menjelaskan suami sebagai qawwam, Allah menyebut sifat istri salehah,فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ“Maka wanita-wanita yang salehah adalah wanita yang taat dan menjaga ketika suaminya tidak ada.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata,﴿فَالصَّالِحَاتُ﴾ أَيْ: مِنَ النِّسَاءِ، ﴿قَانِتَاتٌ﴾ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ: يَعْنِي مُطِيعَاتٍ لِأَزْوَاجِهِنَّ، ﴿حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ﴾ قَالَ السُّدِّيُّ وَغَيْرُهُ: أَيْ تَحْفَظُ زَوْجَهَا فِي غَيْبَتِهِ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ.“Firman Allah, ‘Wanita-wanita salehah’, yaitu dari kalangan wanita. ‘Qanitat’, Ibnu ‘Abbas dan sejumlah ulama mengatakan, maksudnya adalah wanita yang taat kepada suami mereka. ‘Menjaga ketika suami tidak ada’, As-Suddi dan ulama lainnya berkata, maksudnya ia menjaga suaminya ketika suaminya tidak ada, yaitu dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.”Inilah fondasi kita dalam memahami pembahasan selanjutnya.1. Semua ingin dipahami, tetapi sudahkah kita memahami suami?Zaman sekarang kita mengenal istilah love language, quality time, toxic relationship, red flag, inner child, emotional availability, dan berbagai istilah hubungan lainnya.Sebagiannya bermanfaat jika dipahami dengan benar.Namun, jangan sampai setelah mempelajari semua itu seorang istri hanya semakin pandai membuat daftar kekurangan suaminya.“Suamiku kurang peka.”“Suamiku kurang romantis.”“Suamiku tidak mengerti perasaanku.”“Suamiku tidak seperti suami si Fulanah.”Pernikahan tidak hanya berbicara tentang:“Apa yang aku dapatkan?”Namun juga:“Apa yang sudah aku berikan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ.“Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, berpuasa pada bulannya (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban. Dinilai sahih oleh Syaikh Syu‘aib Al-Arnauth).Maka, belajar memahami suami bukan berarti menghapus hak-hak istri. Suami pun mempunyai kewajiban besar terhadap istrinya. Namun, seorang mukmin selalu bertanya terlebih dahulu tentang kewajibannya di hadapan Allah sebelum sibuk menuntut haknya dari manusia. 2. Jangan biarkan Instagram dan media sosial menentukan standar suamiDahulu seorang istri mungkin hanya membandingkan kehidupan rumah tangganya dengan beberapa tetangga.Sekarang seseorang bisa membandingkan suaminya dengan ratusan bahkan ribuan laki-laki hanya dengan menggulir layar telepon genggam.“Suami dia memberikan bunga.”“Suami dia mengajak liburan ke luar negeri.”“Suami dia penghasilannya besar.”“Suami dia romantis.”Masalahnya, media sosial memperlihatkan beberapa menit terbaik dari rumah tangga orang lain, sedangkan kita melihat seluruh kekurangan rumah tangga sendiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ.“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dalam urusan dunia dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim, no. 2963)Media sosial memperlihatkan highlight rumah tangga orang lain. Jangan sampai kita membandingkannya dengan seluruh realitas rumah tangga kita sendiri.Perbandingan tanpa henti bisa menjadi pencuri syukur. 3. Suami bukan ATM berjalan, hargailah perjuangannyaAda suami yang tidak pandai mengucapkan kata-kata romantis, tetapi setiap pagi ia berangkat mencari nafkah.Ada yang tidak sering memberikan bunga, tetapi setiap bulan memikirkan uang sekolah anak.Ada yang pulang dengan wajah lelah, tetapi memilih tidak menceritakan seluruh tekanan pekerjaannya agar istrinya tidak ikut terbebani.Jangan sampai satu kekurangan suami menghapus seribu kebaikannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang salah satu sebab banyaknya wanita yang beliau lihat di neraka,يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.“Mereka mengingkari kebaikan suami dan mengingkari kebaikan yang diberikan kepada mereka. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia melihat satu hal yang tidak disukainya darimu, ia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Bukhari, no. 5197 dan Muslim, no. 907)Karena itu, qana‘ah sangat penting.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari, no. 6446 dan Muslim, no. 1051)Ketika keadaan ekonomi suami sedang turun, jangan buru-buru menjadi orang yang pertama meninggalkannya. Bisa jadi pada saat itulah ia paling membutuhkan seseorang yang mengatakan, “Kita hadapi bersama.” 4. Perempuan boleh mandiri, tetapi jangan kehilangan seni menghormati suamiSeorang istri boleh berpendidikan tinggi.Ia boleh menjadi dokter, dosen, pengusaha, profesional, atau mempunyai penghasilan sendiri.Bahkan bisa jadi penghasilannya lebih tinggi daripada suaminya.Namun, pencapaian tersebut jangan sampai melahirkan kalimat dalam hati, “Aku sebenarnya bisa hidup tanpa kamu.”Kesuksesan seorang Muslimah tidak seharusnya menghapus adabnya sebagai istri.Allah tetap berfirman,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ“Laki-laki adalah qawwam atas wanita.” (QS. An-Nisa’: 34)Perempuan hebat bukan perempuan yang harus mengecilkan dirinya agar suaminya terlihat besar. Namun, perempuan hebat adalah perempuan yang mampu membawa kecerdasan, pendidikan, dan prestasinya ke dalam rumah tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan pasangannya. 5. Rumah bukan hotel dan pasangan bukan pembantuSalah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, “Apakah memasak dan membersihkan rumah wajib bagi istri?”Para ulama memang berbeda pendapat tentang rincian kewajiban khidmah istri kepada suami. Karena itu, jangan menyederhanakan masalah khilafiah ini seakan tidak ada perbedaan pendapat.Namun, ada pelajaran akhlak yang lebih tinggi:Apakah semua kebaikan dalam pernikahan harus menunggu sampai terbukti hukumnya wajib? Teladan Asma’ binti Abu Bakar dalam membantu Az-ZubairAsma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,كُنْتُ أَخْدُمُ الزُّبَيْرَ خِدْمَةَ الْبَيْتِ كُلِّهِ، وَكَانَ لَهُ فَرَسٌ، وَكُنْتُ أَسُوسُهُ، وَكُنْتُ أَحْتَشُّ لَهُ وَأَقُومُ عَلَيْهِ.“Aku melayani Az-Zubair dalam seluruh urusan rumah. Ia mempunyai seekor kuda, dan aku merawat kuda tersebut. Aku mencarikan rumput untuknya dan mengurusnya.”Dalam riwayat sahih lainnya, Asma’ menceritakan bahwa ia memberi makan kuda, mengambil air, menambal timba, membuat adonan, dan membawa biji kurma di atas kepalanya dari tanah milik Az-Zubair yang jaraknya sekitar dua pertiga farsakh.Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Ibnul Qayyim juga membahasnya dalam Zad Al-Ma‘ad, 5:170.Asma’ adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq.Ia bukan perempuan tanpa kedudukan.Namun, ketika menjalani kehidupan bersama Az-Zubair, ia mau berjuang bersama suaminya.Fathimah radhiyallahu ‘anha sampai tangannya merasakan beratnya pekerjaan‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Fathimah radhiyallahu ‘anha mengalami kesulitan akibat menggiling dengan penggilingan. Ketika mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperoleh tawanan, ia ingin meminta seorang pembantu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendatangi ‘Ali dan Fathimah ketika keduanya telah berada di tempat tidur dan mengajarkan,أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى خَيْرٍ مِمَّا سَأَلْتُمَا؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ، وَاحْمَدَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَسَبِّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَإِنَّ ذَلِكَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ.“Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta? Apabila kalian telah berada di tempat tidur, bertakbirlah kepada Allah 34 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertasbihlah 33 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikanlah.Fathimah adalah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, kehidupan rumah tangganya tetap mengenal lelah.Pernikahan yang bahagia bukan berarti seluruh beban kehidupan hilang. Kadang bebannya tetap ada, tetapi Allah memberikan kekuatan kepada dua orang untuk menjalaninya bersama.Karena itu, rumah tangga akan terasa berat jika setiap saat suami dan istri hanya bertanya, “Ini sebenarnya kewajiban siapa?”Rumah akan terasa lebih ringan jika keduanya bertanya, “Apa yang bisa kubantu?” 6. Jangan jadikan HP sebagai orang ketiga dalam pernikahanAda orang yang secara fisik berada di samping suaminya, tetapi hatinya berjam-jam berada di tempat lain melalui layar telepon genggam.Ada pula yang setiap mengalami masalah rumah tangga langsung menulis status.Ada yang menjadikan close friends sebagai tempat membuka kekurangan suami.Ada yang menceritakan konflik rumah tangga di grup WhatsApp.Ada yang menjaga kehormatan di dunia nyata, tetapi tidak menjaga batas interaksi dengan lawan jenis melalui DM.Padahal Allah memuji istri salehah dengan firman-Nya,حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ“Wanita-wanita yang menjaga ketika suaminya tidak ada.” (QS. An-Nisa’: 34)Pada zaman dahulu, menjaga ketika suami tidak ada berarti menjaga diri, kehormatan, rumah, rahasia, dan harta.Pada zaman digital, prinsip tersebut juga menuntut seorang Muslimah untuk menjaga chat, DM, foto pribadi, rahasia keluarga, interaksi dengan lawan jenis, pengeluaran digital, dan aib pasangannya.Tidak semua masalah rumah tangga pantas menjadi konten.Tidak semua kesalahan suami pantas diceritakan kepada teman.Tidak semua yang terjadi di kamar kita harus diketahui dunia.Jangan biarkan HP menjadi orang ketiga dalam pernikahan. 7. Jangan hanya cantik ketika keluar rumahIslam mendorong seorang istri menjadi sosok yang menyenangkan suaminya.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟ قَالَ: الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ.Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Beliau menjawab, “Wanita yang menyenangkan suaminya ketika dipandang, menaatinya ketika diperintah, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dalam sesuatu yang dibencinya.” (HR. An-Nasa’i, no. 3231 dan Ahmad)Aneh jika ketika akan bertemu teman penampilan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, tetapi ketika bertemu suami muncul pikiran, “Dia kan sudah menjadi suamiku.”Berhias untuk suami bukan sekadar persoalan kosmetik.Ada pesan cinta di baliknya: “Setelah sekian lama menikah, aku masih ingin menjadi seseorang yang menyenangkan matamu.”Tentu nasihat ini berlaku dua arah. Suami pun hendaknya menjaga kebersihan, aroma tubuh, pakaian, dan penampilannya untuk istrinya. 8. Keintiman bukan alat menghukum pasanganHubungan intim dalam Islam bukan sekadar pemenuhan kebutuhan biologis.Ia bisa bernilai ibadah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ.“Pada hubungan intim salah seorang dari kalian terdapat sedekah.”Para sahabat bertanya bagaimana seseorang memenuhi syahwatnya tetapi memperoleh pahala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sebagaimana menempatkannya pada yang haram mendatangkan dosa, menempatkannya pada yang halal mendatangkan pahala. (HR. Muslim, no. 1006)Di sisi lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan keras terhadap istri yang menolak ajakan suaminya tanpa alasan yang dibenarkan.Beliau bersabda,إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيءَ، لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ.“Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya kemudian istrinya enggan datang, para malaikat melaknatnya hingga pagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)Namun, hadis ini jangan digunakan untuk membenarkan sikap kasar atau mengabaikan keadaan istri. Kehidupan intim juga berada di bawah prinsip mu‘asyarah bil ma‘ruf. Suami perlu memahami keadaan fisik dan emosional istrinya, memperlakukannya dengan lembut, serta tidak menjadikan hubungan intim sekadar pelampiasan syahwat.Sebaliknya, istri jangan menjadikan hubungan intim sebagai senjata untuk menghukum suami ketika sedang marah.Keintiman seharusnya menjadi tempat cinta, ketenteraman, perlindungan dari yang haram, dan jalan memperoleh pahala. 9. Mertua bukan sainganSetelah menikah, kadang muncul persaingan yang sebenarnya tidak perlu. “Suamiku kok lebih perhatian kepada ibunya?”“Kenapa setelah menikah dia masih dekat dengan ibunya?”Ingatlah, ibu mempunyai hak sebagai ibu.Istri mempunyai hak sebagai istri.Keduanya tidak perlu dipertandingkan.Berbuat baik kepada keluarga suami termasuk akhlak yang sangat mulia. Bagaimanapun, ibu mertua itulah yang dahulu mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita.Namun, perlu diluruskan bahwa istri tidak memiliki kewajiban berbakti kepada mertua sebagaimana kewajiban seorang anak berbakti kepada orang tuanya sendiri. Ia tetap dianjurkan berbuat ihsan, menjaga hubungan baik, dan menghormati mertua.Mertua pun harus menjaga batas.Mertua yang baik tidak terlalu ikut campur dalam rumah tangga anaknya, tidak membanding-bandingkan menantu, tidak mencari kesalahannya, tidak menuntut berlebihan, dan menjaga aib keluarga.Karena itu, nasihatnya bukan hanya: “Jadilah menantu yang baik.”Namun juga: “Jadilah mertua yang membuat menantu mudah berbuat baik.” 10. Tujuannya bukan menjadi istri sempurna, tetapi menjadi teman menuju surgaTidak ada suami sempurna.Tidak ada istri sempurna.Rumah tangga yang baik juga bukan rumah tangga yang sama sekali tidak pernah berbeda pendapat.Lihatlah satu kisah menarik dari generasi tabi‘in.Putri Sa‘id bin Al-Musayyib: berilmu sekaligus memahami hak suamiSa‘id bin Al-Musayyib rahimahullah mempunyai seorang putri yang dikenal berilmu. Beliau menikahkannya dengan salah seorang muridnya, Katsir bin Abi Wada‘ah.Dalam kisah yang masyhur, setelah menikah Katsir menggambarkan istrinya,فَإِذَا هِيَ مِنْ أَجْمَلِ النَّاسِ، وَأَحْفَظِ النَّاسِ لِكِتَابِ اللَّهِ، وَأَعْلَمِهِمْ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَعْرَفِهِمْ بِحَقِّ زَوْجٍ.“Ternyata ia termasuk wanita yang paling cantik, paling hafal Kitab Allah, paling mengetahui Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan paling mengetahui hak seorang suami.”Kisah ini disebutkan dalam kitab-kitab biografi Sa‘id bin Al-Musayyib, di antaranya Siyar A‘lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi.Perhatikan empat sifat tersebut:Cantik.Dekat dengan Al-Qur’an.Berilmu tentang Sunnah.Mengetahui hak suami.Ilmu agama ternyata tidak berhenti di majelis.Ilmu masuk ke dalam rumah.Ilmu membentuk cara seorang istri berbicara kepada suami.Ilmu membentuk caranya menghadapi kekurangan pasangan.Ilmu membentuk caranya menjaga rumah ketika suaminya tidak ada.Inilah istri salehah.Bukan perempuan tanpa kekurangan.Bukan perempuan yang tidak pernah lelah.Bukan perempuan yang tidak pernah berbeda pendapat dengan suaminya.Namun, ia adalah perempuan yang terus belajar menjadikan pernikahannya sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.Suami juga senang dimintai izin dan hartanya dijagaSalah satu bentuk memahami suami adalah memahami bahwa ia memikul tanggung jawab atas rumah dan hartanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ.“Tidak halal bagi seorang wanita berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya hadir kecuali dengan izinnya, dan ia tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumah suaminya kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam masalah harta, istri yang menjadi pengelola harta keluarga hendaknya amanah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا أَنْفَقَتِ الْمَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ، كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ، وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ.“Apabila seorang istri menginfakkan makanan dari rumahnya tanpa bermaksud merusak, ia mendapatkan pahala karena apa yang ia infakkan dan suaminya memperoleh pahala karena apa yang ia usahakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di zaman sekarang, amanah harta juga mencakup bagaimana keluarga mengelola transfer bank, kartu, dompet digital, belanja online, cicilan, dan berbagai pengeluaran yang begitu mudah dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan pada layar.Istri salehah menjadi penolong suaminya menuju Allah Pada akhirnya, tingkatan tertinggi memahami suami bukanlah sekadar mengetahui makanan kesukaannya, menyiapkan rumah yang nyaman, memahami kebutuhan biologisnya, atau mengetahui love language-nya.Lebih tinggi daripada semua itu adalah:mengetahui bagaimana membantu suami sampai ke surga.Ketika suami futur, ia mengingatkan.Ketika suami sedang diuji rezekinya, ia menguatkan.Ketika suami mulai jauh dari Allah, ia tidak membiarkannya.Ketika suami memperjuangkan kebaikan, ia menjadi orang yang mendukungnya.Ketika suami salah, ia menasihatinya dengan cara yang baik.Ketika suami pulang dalam keadaan berat, rumah tidak menjadi tempat bertambahnya beban.Maka, pernikahan bukan lagi sekadar:“Aku bahagia bersamamu.”Namun naik menjadi:“Aku ingin sampai ke surga bersamamu.” Renungan untuk para istriMungkin selama ini kita terlalu sering bertanya,“Kenapa suamiku tidak memahami aku?”Cobalah sesekali membalik pertanyaannya.Sudahkah aku memahami perjuangannya?Sudahkah aku mensyukuri kebaikannya?Sudahkah aku menjaga kehormatannya ketika ia tidak ada?Sudahkah aku menjadi tempat paling nyaman baginya untuk pulang?Sudahkah keberadaanku membuatnya semakin dekat kepada Allah?Kita tidak sedang berusaha menjadi istri sempurna karena itu tidak mungkin.Kita sedang belajar menjadi istri salehah.Istri yang ketika dipandang menyenangkan.Ketika suami memimpin dalam kebaikan, ia mendukung.Ketika suami tidak ada, ia menjaga amanah.Ketika rumah tangga diuji, ia tidak buru-buru membandingkan.Ketika suami lemah, ia membantu menguatkan.Dan ketika perjalanan dunia selesai, ia berharap bisa kembali bertemu suaminya dalam keadaan Allah rida kepada keduanya.Semoga Allah memperbaiki para suami dan istri, menjadikan rumah-rumah kaum muslimin dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta menjadikan pasangan hidup sebagai penolong menuju surga.وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ. Referensi Ibnu Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, tafsir QS. An-Nisa’: 34.Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Zad Al-Ma‘ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad, pembahasan khidmah istri kepada suami.Adz-Dzahabi, Syamsuddin. Siyar A‘lam An-Nubala’, biografi Imam Ahmad bin Hanbal dan Sa‘id bin Al-Musayyib.Ibnul Jauzi. Manaqib Al-Imam Ahmad.Al-Bukhari. Shahih Al-Bukhari.Muslim. Shahih Muslim.An-Nasa’i. Sunan An-Nasa’i.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad. @ Jakarta, 29 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab istri hak suami istri salehah keluarga bahagia keluarga sakinah kewajiban istri memahami suami nasihat pernikahan qiwamah suami rumah tangga Islam


Banyak istri berharap mendapatkan suami yang memahami perasaannya, mengetahui love language-nya, menghargai perjuangannya, dan peka terhadap kebutuhannya. Harapan itu wajar, tetapi pernikahan tidak akan kokoh jika masing-masing hanya sibuk menuntut untuk dipahami tanpa belajar memahami pasangannya. Islam mengajarkan sesuatu yang lebih indah: suami dan istri sama-sama menjalankan amanahnya karena Allah, saling berbuat baik, dan menjadikan pernikahan sebagai jalan menuju surga.  Daftar Isi tutup 1. Belajar dari istri Imam Ahmad: 30 tahun hidup bersama tanpa perselisihan dalam perkataan 2. 1. Semua ingin dipahami, tetapi sudahkah kita memahami suami? 3. 2. Jangan biarkan Instagram dan media sosial menentukan standar suami 4. 3. Suami bukan ATM berjalan, hargailah perjuangannya 5. 4. Perempuan boleh mandiri, tetapi jangan kehilangan seni menghormati suami 6. 5. Rumah bukan hotel dan pasangan bukan pembantu 6.1. Teladan Asma’ binti Abu Bakar dalam membantu Az-Zubair 7. 6. Jangan jadikan HP sebagai orang ketiga dalam pernikahan 8. 7. Jangan hanya cantik ketika keluar rumah 9. 8. Keintiman bukan alat menghukum pasangan 10. 9. Mertua bukan saingan 11. 10. Tujuannya bukan menjadi istri sempurna, tetapi menjadi teman menuju surga 12. Renungan untuk para istri  Belajar dari istri Imam Ahmad: 30 tahun hidup bersama tanpa perselisihan dalam perkataanAda sebuah kisah indah dari rumah tangga Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.Beliau menikah dengan Ummu Shalih. Istrinya tersebut mendampingi beliau selama sekitar tiga puluh tahun. Imam Ahmad mengenangnya dengan sebuah kalimat yang sangat indah:أَقَامَتْ أُمُّ صَالِحٍ مَعِي ثَلَاثِينَ سَنَةً، فَمَا اخْتَلَفْتُ أَنَا وَهِيَ فِي كَلِمَةٍ.“Ummu Shalih hidup bersamaku selama tiga puluh tahun. Aku dan dia tidak pernah berselisih dalam satu perkataan pun.”Riwayat ini dinukil dari Imam Ahmad melalui Al-Marwazi. Kisah kehidupan keluarga Imam Ahmad disebutkan dalam kitab-kitab biografi beliau, di antaranya Siyar A‘lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi dan Manaqib Al-Imam Ahmad karya Ibnul Jauzi.Tentu maksudnya bukan bahwa selama tiga puluh tahun keduanya tidak pernah memiliki perbedaan pendapat sedikit pun. Yang menakjubkan adalah bagaimana perbedaan itu dikelola sehingga Imam Ahmad mengenang kehidupan bersama istrinya dengan kalimat tersebut.Bayangkan, tiga puluh tahun.Bukan tiga bulan.Bukan pula tiga tahun.Imam Ahmad melewati kehidupan yang tidak ringan. Beliau menghadapi keterbatasan ekonomi, perjalanan menuntut ilmu, tekanan penguasa, bahkan ujian besar dalam mempertahankan akidah.Namun, rumah menjadi tempat beliau mendapatkan ketenangan.Kalau kelak suami kita diminta menceritakan tentang kita, kira-kira kalimat apa yang akan keluar dari lisannya?Kita sering bertanya,“Apakah suamiku memahami perasaanku?”“Apakah dia tahu love language-ku?”“Mengapa dia tidak peka?”Pertanyaan itu tidak selalu salah.Namun, ada pertanyaan yang juga penting:Sudahkah aku memahami suamiku?Suami adalah qawwam dalam rumah tanggaAllah Ta‘ala berfirman,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ“Laki-laki (suami) itu adalah penanggung jawab atas para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka wanita-wanita yang salehah adalah yang taat dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah menjaga mereka.” (QS. An-Nisa’: 34)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,يَقُولُ تَعَالَى: ﴿الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ﴾ أَيْ: الرَّجُلُ قَيِّمٌ عَلَى الْمَرْأَةِ، أَيْ: هُوَ رَئِيسُهَا وَكَبِيرُهَا، وَالْحَاكِمُ عَلَيْهَا، وَمُؤَدِّبُهَا إِذَا اعْوَجَّتْ.“Allah Ta‘ala berfirman, ‘Kaum laki-laki adalah qawwam bagi kaum wanita’, maksudnya laki-laki adalah orang yang mengurus dan bertanggung jawab atas wanita. Ia adalah pemimpinnya, orang yang dituakan baginya, yang mengatur urusannya, dan mendidiknya ketika ia menyimpang.”Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah,﴿وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ﴾ أَيْ: مِنَ الْمُهُورِ وَالنَّفَقَاتِ وَالْكُلَفِ الَّتِي أَوْجَبَهَا اللَّهُ عَلَيْهِمْ لَهُنَّ فِي كِتَابِهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.“Firman Allah, ‘Dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka’, maksudnya berupa mahar, nafkah, dan berbagai beban yang Allah wajibkan kepada laki-laki untuk para wanita dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, tafsir QS. An-Nisa’: 34).Qiwamah berarti kepemimpinan yang disertai tanggung jawab. Suami bukan sekadar menuntut untuk ditaati. Ia harus menafkahi, melindungi, membimbing, mendidik, dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.Setelah menjelaskan suami sebagai qawwam, Allah menyebut sifat istri salehah,فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ“Maka wanita-wanita yang salehah adalah wanita yang taat dan menjaga ketika suaminya tidak ada.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata,﴿فَالصَّالِحَاتُ﴾ أَيْ: مِنَ النِّسَاءِ، ﴿قَانِتَاتٌ﴾ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ: يَعْنِي مُطِيعَاتٍ لِأَزْوَاجِهِنَّ، ﴿حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ﴾ قَالَ السُّدِّيُّ وَغَيْرُهُ: أَيْ تَحْفَظُ زَوْجَهَا فِي غَيْبَتِهِ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ.“Firman Allah, ‘Wanita-wanita salehah’, yaitu dari kalangan wanita. ‘Qanitat’, Ibnu ‘Abbas dan sejumlah ulama mengatakan, maksudnya adalah wanita yang taat kepada suami mereka. ‘Menjaga ketika suami tidak ada’, As-Suddi dan ulama lainnya berkata, maksudnya ia menjaga suaminya ketika suaminya tidak ada, yaitu dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.”Inilah fondasi kita dalam memahami pembahasan selanjutnya.1. Semua ingin dipahami, tetapi sudahkah kita memahami suami?Zaman sekarang kita mengenal istilah love language, quality time, toxic relationship, red flag, inner child, emotional availability, dan berbagai istilah hubungan lainnya.Sebagiannya bermanfaat jika dipahami dengan benar.Namun, jangan sampai setelah mempelajari semua itu seorang istri hanya semakin pandai membuat daftar kekurangan suaminya.“Suamiku kurang peka.”“Suamiku kurang romantis.”“Suamiku tidak mengerti perasaanku.”“Suamiku tidak seperti suami si Fulanah.”Pernikahan tidak hanya berbicara tentang:“Apa yang aku dapatkan?”Namun juga:“Apa yang sudah aku berikan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ.“Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, berpuasa pada bulannya (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban. Dinilai sahih oleh Syaikh Syu‘aib Al-Arnauth).Maka, belajar memahami suami bukan berarti menghapus hak-hak istri. Suami pun mempunyai kewajiban besar terhadap istrinya. Namun, seorang mukmin selalu bertanya terlebih dahulu tentang kewajibannya di hadapan Allah sebelum sibuk menuntut haknya dari manusia. 2. Jangan biarkan Instagram dan media sosial menentukan standar suamiDahulu seorang istri mungkin hanya membandingkan kehidupan rumah tangganya dengan beberapa tetangga.Sekarang seseorang bisa membandingkan suaminya dengan ratusan bahkan ribuan laki-laki hanya dengan menggulir layar telepon genggam.“Suami dia memberikan bunga.”“Suami dia mengajak liburan ke luar negeri.”“Suami dia penghasilannya besar.”“Suami dia romantis.”Masalahnya, media sosial memperlihatkan beberapa menit terbaik dari rumah tangga orang lain, sedangkan kita melihat seluruh kekurangan rumah tangga sendiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ.“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dalam urusan dunia dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim, no. 2963)Media sosial memperlihatkan highlight rumah tangga orang lain. Jangan sampai kita membandingkannya dengan seluruh realitas rumah tangga kita sendiri.Perbandingan tanpa henti bisa menjadi pencuri syukur. 3. Suami bukan ATM berjalan, hargailah perjuangannyaAda suami yang tidak pandai mengucapkan kata-kata romantis, tetapi setiap pagi ia berangkat mencari nafkah.Ada yang tidak sering memberikan bunga, tetapi setiap bulan memikirkan uang sekolah anak.Ada yang pulang dengan wajah lelah, tetapi memilih tidak menceritakan seluruh tekanan pekerjaannya agar istrinya tidak ikut terbebani.Jangan sampai satu kekurangan suami menghapus seribu kebaikannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang salah satu sebab banyaknya wanita yang beliau lihat di neraka,يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.“Mereka mengingkari kebaikan suami dan mengingkari kebaikan yang diberikan kepada mereka. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia melihat satu hal yang tidak disukainya darimu, ia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Bukhari, no. 5197 dan Muslim, no. 907)Karena itu, qana‘ah sangat penting.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari, no. 6446 dan Muslim, no. 1051)Ketika keadaan ekonomi suami sedang turun, jangan buru-buru menjadi orang yang pertama meninggalkannya. Bisa jadi pada saat itulah ia paling membutuhkan seseorang yang mengatakan, “Kita hadapi bersama.” 4. Perempuan boleh mandiri, tetapi jangan kehilangan seni menghormati suamiSeorang istri boleh berpendidikan tinggi.Ia boleh menjadi dokter, dosen, pengusaha, profesional, atau mempunyai penghasilan sendiri.Bahkan bisa jadi penghasilannya lebih tinggi daripada suaminya.Namun, pencapaian tersebut jangan sampai melahirkan kalimat dalam hati, “Aku sebenarnya bisa hidup tanpa kamu.”Kesuksesan seorang Muslimah tidak seharusnya menghapus adabnya sebagai istri.Allah tetap berfirman,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ“Laki-laki adalah qawwam atas wanita.” (QS. An-Nisa’: 34)Perempuan hebat bukan perempuan yang harus mengecilkan dirinya agar suaminya terlihat besar. Namun, perempuan hebat adalah perempuan yang mampu membawa kecerdasan, pendidikan, dan prestasinya ke dalam rumah tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan pasangannya. 5. Rumah bukan hotel dan pasangan bukan pembantuSalah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, “Apakah memasak dan membersihkan rumah wajib bagi istri?”Para ulama memang berbeda pendapat tentang rincian kewajiban khidmah istri kepada suami. Karena itu, jangan menyederhanakan masalah khilafiah ini seakan tidak ada perbedaan pendapat.Namun, ada pelajaran akhlak yang lebih tinggi:Apakah semua kebaikan dalam pernikahan harus menunggu sampai terbukti hukumnya wajib? Teladan Asma’ binti Abu Bakar dalam membantu Az-ZubairAsma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,كُنْتُ أَخْدُمُ الزُّبَيْرَ خِدْمَةَ الْبَيْتِ كُلِّهِ، وَكَانَ لَهُ فَرَسٌ، وَكُنْتُ أَسُوسُهُ، وَكُنْتُ أَحْتَشُّ لَهُ وَأَقُومُ عَلَيْهِ.“Aku melayani Az-Zubair dalam seluruh urusan rumah. Ia mempunyai seekor kuda, dan aku merawat kuda tersebut. Aku mencarikan rumput untuknya dan mengurusnya.”Dalam riwayat sahih lainnya, Asma’ menceritakan bahwa ia memberi makan kuda, mengambil air, menambal timba, membuat adonan, dan membawa biji kurma di atas kepalanya dari tanah milik Az-Zubair yang jaraknya sekitar dua pertiga farsakh.Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Ibnul Qayyim juga membahasnya dalam Zad Al-Ma‘ad, 5:170.Asma’ adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq.Ia bukan perempuan tanpa kedudukan.Namun, ketika menjalani kehidupan bersama Az-Zubair, ia mau berjuang bersama suaminya.Fathimah radhiyallahu ‘anha sampai tangannya merasakan beratnya pekerjaan‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Fathimah radhiyallahu ‘anha mengalami kesulitan akibat menggiling dengan penggilingan. Ketika mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperoleh tawanan, ia ingin meminta seorang pembantu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendatangi ‘Ali dan Fathimah ketika keduanya telah berada di tempat tidur dan mengajarkan,أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى خَيْرٍ مِمَّا سَأَلْتُمَا؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ، وَاحْمَدَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَسَبِّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَإِنَّ ذَلِكَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ.“Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta? Apabila kalian telah berada di tempat tidur, bertakbirlah kepada Allah 34 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertasbihlah 33 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikanlah.Fathimah adalah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, kehidupan rumah tangganya tetap mengenal lelah.Pernikahan yang bahagia bukan berarti seluruh beban kehidupan hilang. Kadang bebannya tetap ada, tetapi Allah memberikan kekuatan kepada dua orang untuk menjalaninya bersama.Karena itu, rumah tangga akan terasa berat jika setiap saat suami dan istri hanya bertanya, “Ini sebenarnya kewajiban siapa?”Rumah akan terasa lebih ringan jika keduanya bertanya, “Apa yang bisa kubantu?” 6. Jangan jadikan HP sebagai orang ketiga dalam pernikahanAda orang yang secara fisik berada di samping suaminya, tetapi hatinya berjam-jam berada di tempat lain melalui layar telepon genggam.Ada pula yang setiap mengalami masalah rumah tangga langsung menulis status.Ada yang menjadikan close friends sebagai tempat membuka kekurangan suami.Ada yang menceritakan konflik rumah tangga di grup WhatsApp.Ada yang menjaga kehormatan di dunia nyata, tetapi tidak menjaga batas interaksi dengan lawan jenis melalui DM.Padahal Allah memuji istri salehah dengan firman-Nya,حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ“Wanita-wanita yang menjaga ketika suaminya tidak ada.” (QS. An-Nisa’: 34)Pada zaman dahulu, menjaga ketika suami tidak ada berarti menjaga diri, kehormatan, rumah, rahasia, dan harta.Pada zaman digital, prinsip tersebut juga menuntut seorang Muslimah untuk menjaga chat, DM, foto pribadi, rahasia keluarga, interaksi dengan lawan jenis, pengeluaran digital, dan aib pasangannya.Tidak semua masalah rumah tangga pantas menjadi konten.Tidak semua kesalahan suami pantas diceritakan kepada teman.Tidak semua yang terjadi di kamar kita harus diketahui dunia.Jangan biarkan HP menjadi orang ketiga dalam pernikahan. 7. Jangan hanya cantik ketika keluar rumahIslam mendorong seorang istri menjadi sosok yang menyenangkan suaminya.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟ قَالَ: الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ.Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Beliau menjawab, “Wanita yang menyenangkan suaminya ketika dipandang, menaatinya ketika diperintah, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dalam sesuatu yang dibencinya.” (HR. An-Nasa’i, no. 3231 dan Ahmad)Aneh jika ketika akan bertemu teman penampilan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, tetapi ketika bertemu suami muncul pikiran, “Dia kan sudah menjadi suamiku.”Berhias untuk suami bukan sekadar persoalan kosmetik.Ada pesan cinta di baliknya: “Setelah sekian lama menikah, aku masih ingin menjadi seseorang yang menyenangkan matamu.”Tentu nasihat ini berlaku dua arah. Suami pun hendaknya menjaga kebersihan, aroma tubuh, pakaian, dan penampilannya untuk istrinya. 8. Keintiman bukan alat menghukum pasanganHubungan intim dalam Islam bukan sekadar pemenuhan kebutuhan biologis.Ia bisa bernilai ibadah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ.“Pada hubungan intim salah seorang dari kalian terdapat sedekah.”Para sahabat bertanya bagaimana seseorang memenuhi syahwatnya tetapi memperoleh pahala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sebagaimana menempatkannya pada yang haram mendatangkan dosa, menempatkannya pada yang halal mendatangkan pahala. (HR. Muslim, no. 1006)Di sisi lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan keras terhadap istri yang menolak ajakan suaminya tanpa alasan yang dibenarkan.Beliau bersabda,إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيءَ، لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ.“Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya kemudian istrinya enggan datang, para malaikat melaknatnya hingga pagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)Namun, hadis ini jangan digunakan untuk membenarkan sikap kasar atau mengabaikan keadaan istri. Kehidupan intim juga berada di bawah prinsip mu‘asyarah bil ma‘ruf. Suami perlu memahami keadaan fisik dan emosional istrinya, memperlakukannya dengan lembut, serta tidak menjadikan hubungan intim sekadar pelampiasan syahwat.Sebaliknya, istri jangan menjadikan hubungan intim sebagai senjata untuk menghukum suami ketika sedang marah.Keintiman seharusnya menjadi tempat cinta, ketenteraman, perlindungan dari yang haram, dan jalan memperoleh pahala. 9. Mertua bukan sainganSetelah menikah, kadang muncul persaingan yang sebenarnya tidak perlu. “Suamiku kok lebih perhatian kepada ibunya?”“Kenapa setelah menikah dia masih dekat dengan ibunya?”Ingatlah, ibu mempunyai hak sebagai ibu.Istri mempunyai hak sebagai istri.Keduanya tidak perlu dipertandingkan.Berbuat baik kepada keluarga suami termasuk akhlak yang sangat mulia. Bagaimanapun, ibu mertua itulah yang dahulu mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita.Namun, perlu diluruskan bahwa istri tidak memiliki kewajiban berbakti kepada mertua sebagaimana kewajiban seorang anak berbakti kepada orang tuanya sendiri. Ia tetap dianjurkan berbuat ihsan, menjaga hubungan baik, dan menghormati mertua.Mertua pun harus menjaga batas.Mertua yang baik tidak terlalu ikut campur dalam rumah tangga anaknya, tidak membanding-bandingkan menantu, tidak mencari kesalahannya, tidak menuntut berlebihan, dan menjaga aib keluarga.Karena itu, nasihatnya bukan hanya: “Jadilah menantu yang baik.”Namun juga: “Jadilah mertua yang membuat menantu mudah berbuat baik.” 10. Tujuannya bukan menjadi istri sempurna, tetapi menjadi teman menuju surgaTidak ada suami sempurna.Tidak ada istri sempurna.Rumah tangga yang baik juga bukan rumah tangga yang sama sekali tidak pernah berbeda pendapat.Lihatlah satu kisah menarik dari generasi tabi‘in.Putri Sa‘id bin Al-Musayyib: berilmu sekaligus memahami hak suamiSa‘id bin Al-Musayyib rahimahullah mempunyai seorang putri yang dikenal berilmu. Beliau menikahkannya dengan salah seorang muridnya, Katsir bin Abi Wada‘ah.Dalam kisah yang masyhur, setelah menikah Katsir menggambarkan istrinya,فَإِذَا هِيَ مِنْ أَجْمَلِ النَّاسِ، وَأَحْفَظِ النَّاسِ لِكِتَابِ اللَّهِ، وَأَعْلَمِهِمْ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَعْرَفِهِمْ بِحَقِّ زَوْجٍ.“Ternyata ia termasuk wanita yang paling cantik, paling hafal Kitab Allah, paling mengetahui Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan paling mengetahui hak seorang suami.”Kisah ini disebutkan dalam kitab-kitab biografi Sa‘id bin Al-Musayyib, di antaranya Siyar A‘lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi.Perhatikan empat sifat tersebut:Cantik.Dekat dengan Al-Qur’an.Berilmu tentang Sunnah.Mengetahui hak suami.Ilmu agama ternyata tidak berhenti di majelis.Ilmu masuk ke dalam rumah.Ilmu membentuk cara seorang istri berbicara kepada suami.Ilmu membentuk caranya menghadapi kekurangan pasangan.Ilmu membentuk caranya menjaga rumah ketika suaminya tidak ada.Inilah istri salehah.Bukan perempuan tanpa kekurangan.Bukan perempuan yang tidak pernah lelah.Bukan perempuan yang tidak pernah berbeda pendapat dengan suaminya.Namun, ia adalah perempuan yang terus belajar menjadikan pernikahannya sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.Suami juga senang dimintai izin dan hartanya dijagaSalah satu bentuk memahami suami adalah memahami bahwa ia memikul tanggung jawab atas rumah dan hartanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ.“Tidak halal bagi seorang wanita berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya hadir kecuali dengan izinnya, dan ia tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumah suaminya kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam masalah harta, istri yang menjadi pengelola harta keluarga hendaknya amanah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا أَنْفَقَتِ الْمَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ، كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ، وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ.“Apabila seorang istri menginfakkan makanan dari rumahnya tanpa bermaksud merusak, ia mendapatkan pahala karena apa yang ia infakkan dan suaminya memperoleh pahala karena apa yang ia usahakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di zaman sekarang, amanah harta juga mencakup bagaimana keluarga mengelola transfer bank, kartu, dompet digital, belanja online, cicilan, dan berbagai pengeluaran yang begitu mudah dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan pada layar.Istri salehah menjadi penolong suaminya menuju Allah Pada akhirnya, tingkatan tertinggi memahami suami bukanlah sekadar mengetahui makanan kesukaannya, menyiapkan rumah yang nyaman, memahami kebutuhan biologisnya, atau mengetahui love language-nya.Lebih tinggi daripada semua itu adalah:mengetahui bagaimana membantu suami sampai ke surga.Ketika suami futur, ia mengingatkan.Ketika suami sedang diuji rezekinya, ia menguatkan.Ketika suami mulai jauh dari Allah, ia tidak membiarkannya.Ketika suami memperjuangkan kebaikan, ia menjadi orang yang mendukungnya.Ketika suami salah, ia menasihatinya dengan cara yang baik.Ketika suami pulang dalam keadaan berat, rumah tidak menjadi tempat bertambahnya beban.Maka, pernikahan bukan lagi sekadar:“Aku bahagia bersamamu.”Namun naik menjadi:“Aku ingin sampai ke surga bersamamu.” Renungan untuk para istriMungkin selama ini kita terlalu sering bertanya,“Kenapa suamiku tidak memahami aku?”Cobalah sesekali membalik pertanyaannya.Sudahkah aku memahami perjuangannya?Sudahkah aku mensyukuri kebaikannya?Sudahkah aku menjaga kehormatannya ketika ia tidak ada?Sudahkah aku menjadi tempat paling nyaman baginya untuk pulang?Sudahkah keberadaanku membuatnya semakin dekat kepada Allah?Kita tidak sedang berusaha menjadi istri sempurna karena itu tidak mungkin.Kita sedang belajar menjadi istri salehah.Istri yang ketika dipandang menyenangkan.Ketika suami memimpin dalam kebaikan, ia mendukung.Ketika suami tidak ada, ia menjaga amanah.Ketika rumah tangga diuji, ia tidak buru-buru membandingkan.Ketika suami lemah, ia membantu menguatkan.Dan ketika perjalanan dunia selesai, ia berharap bisa kembali bertemu suaminya dalam keadaan Allah rida kepada keduanya.Semoga Allah memperbaiki para suami dan istri, menjadikan rumah-rumah kaum muslimin dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta menjadikan pasangan hidup sebagai penolong menuju surga.وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ. Referensi Ibnu Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, tafsir QS. An-Nisa’: 34.Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Zad Al-Ma‘ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad, pembahasan khidmah istri kepada suami.Adz-Dzahabi, Syamsuddin. Siyar A‘lam An-Nubala’, biografi Imam Ahmad bin Hanbal dan Sa‘id bin Al-Musayyib.Ibnul Jauzi. Manaqib Al-Imam Ahmad.Al-Bukhari. Shahih Al-Bukhari.Muslim. Shahih Muslim.An-Nasa’i. Sunan An-Nasa’i.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad. @ Jakarta, 29 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab istri hak suami istri salehah keluarga bahagia keluarga sakinah kewajiban istri memahami suami nasihat pernikahan qiwamah suami rumah tangga Islam

MASIH SERING MENYESALI APA YANG SUDAH TERJADI? – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

Jika sesuatu menimpamu, janganlah berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.” Maksudnya, setelah engkau bersungguh-sungguh, mengerahkan usaha, memohon pertolongan kepada Allah, dan terus berusaha, kemudian hasilnya ternyata tidak sesuai dengan yang engkau inginkan, jangan berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini.” Sebab, perkara itu berada di luar kehendakmu. Engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu, tetapi Allah ‘Azza wa Jalla Maha Berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Contohnya, seseorang melakukan perjalanan, misalnya, ia melakukan perjalanan untuk menunaikan umrah, namun di tengah perjalanan mobilnya mogok, sehingga ia pun kembali. Lalu ia berkata, “Seandainya aku menggunakan mobil yang satunya, tentu lebih baik dan tidak akan mengalami mogok seperti ini.” Kita katakan kepadanya, “Jangan berkata demikian, karena engkau telah mengerahkan usaha. Sekiranya Allah ‘Azza wa Jalla menghendakimu sampai untuk menunaikan umrah, niscaya Allah akan memudahkan urusan itu bagimu. Akan tetapi, Allah tidak menghendaki hal itu.” Maka, apabila seseorang telah mengerahkan segala yang ia mampu sesuai dengan yang diperintahkan kepadanya, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan, maka saat itulah ia menyerahkan urusannya kepada Allah, karena ia telah melakukan apa yang mampu ia lakukan. Karena itu, Nabi bersabda, “Jika sesuatu menimpamu…” yakni setelah mengerahkan usaha dan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, “janganlah berkata, ‘Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.’” (HR. Muslim) Semoga Allah membalas Nabi kita dengan sebaik-baik balasan atas jasa beliau kepada kita. Beliau telah menjelaskan hikmah di balik larangan tersebut. Beliau bersabda, “Karena kata ‘seandainya’ membuka pintu amalan setan.” Kata itu membuka pintu waswas, kesedihan, penyesalan, dan kegundahan bagimu. “Seandainya aku berbuat begini, tentu akan begini. Seandainya aku melakukan itu, tentu akan begini.” Jangan berkata demikian! Perkaranya sudah selesai dan tidak mungkin lagi mengubah apa yang telah terjadi. Semua itu merupakan ketetapan yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz, lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Hal itu akan terjadi pada waktu yang telah ditetapkan, apa pun yang engkau lakukan. Karena itu, Nabi bersabda, “Tetapi katakanlah, ‘Qodarullaah’.” Maksudnya, inilah takdir Allah, yakni ketetapan dan keputusan Allah. “Dan apa yang Allah kehendaki, Allah lakukan.” Apa pun yang Allah ‘Azza wa Jalla kehendaki, Allah melakukannya. Sesungguhnya Rabbmu Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki. Tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi-Nya untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki dalam kerajaan-Nya. Apa yang Allah kehendaki, Dia lakukan. Namun, kita harus mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Bihamdihi tidak melakukan sesuatu melainkan karena suatu hikmah, baik hikmah itu tersembunyi dari kita maupun tampak bagi kita. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan: 30) Ayat ini menunjukkan bahwa kehendak Allah selalu disertai hikmah dan ilmu-Nya. Betapa banyak kejadian yang tidak disukai seseorang, tetapi akhirnya justru menjadi kebaikan baginya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216) Sungguh, telah terjadi banyak peristiwa yang membuktikan makna ayat ini. Beberapa tahun yang lalu, sebuah pesawat lepas landas dari Riyadh menuju Jeddah. Di dalamnya terdapat banyak penumpang, lebih dari tiga ratus orang. Ada seorang penumpang yang telah terdaftar dalam penerbangan tersebut sedang berada di ruang tunggu. Rasa kantuk mengalahkannya hingga ia tertidur. Pengumuman keberangkatan pesawat pun disampaikan, dan para penumpang berangkat untuk menaiki pesawat. Ternyata lelaki itu baru terbangun setelah pintu pesawat ditutup. Ia pun sangat menyesal. Bagaimana mungkin ia sampai ketinggalan pesawat? Kemudian Allah, dengan hikmah-Nya, menakdirkan pesawat tersebut terbakar bersama para penumpangnya. Subhanallah! Bagaimana lelaki ini bisa selamat? Semula ia tidak suka karena ketinggalan pesawat, tetapi ternyata hal itu merupakan kebaikan baginya. Benar-benar menjadi kebaikan baginya. Maka, apabila engkau telah mengerahkan usaha dan memohon pertolongan kepada Allah, kemudian hasilnya ternyata tidak sesuai dengan keinginanmu, janganlah menyesal! Janganlah berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini.” Jika engkau berkata demikian, akan terbuka bagimu berbagai waswas, penyesalan, dan kesedihan yang akan mengganggu kesabaranmu. Perkaranya sudah selesai. Semuanya telah berlalu. Serahkan urusan itu kepada Allah, Al-Malik Al-Jabbar ‘Azza wa Jalla. Katakan, “Qodarullaah wa maa syaa-a fa’al (ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan).” Demi Allah, sekiranya kita menjalani hidup sesuai petunjuk hadis ini, niscaya hidup kita akan jauh lebih tenang. Namun, engkau mendapati sebagian dari kita: pertama, tidak bersungguh-sungguh mengejar apa yang bermanfaat baginya. Siang dan malamnya berlalu tanpa manfaat, waktunya terbuang sia-sia. Kedua, apabila ia ternyata telah bersungguh-sungguh dalam perkara yang bermanfaat baginya, tetapi kemudian perkara itu luput dan hasilnya tidak sesuai dengan yang ia harapkan, engkau mendapatinya menyesal, “Seandainya dahulu aku tidak melakukan ini. Seandainya aku melakukan itu, tentu akan begini.” Sikap seperti ini tidak benar. Engkau telah menunaikan apa yang menjadi kewajibanmu. Setelah itu, serahkanlah urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. ===== فَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي بَعْدَ أَنْ تَحْرِصَ وَتَبْذُلَ الْجُهْدَ وَتَسْتَعِينَ بِاللهِ وَتَسْتَمِرَّ ثُمَّ يَخْرُجُ الْأَمْرُ عَلَى خِلَافِ مَا تُرِيدُ، لَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ فَوْقَ إِرَادَتِكَ أَنْتَ فَعَلْتَ الَّذِي تُؤْمَرُ بِهِ، وَلَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ مِثَالُ ذَلِكَ: رَجُلٌ سَافَرَ يُرِيدُ الْعُمْرَةَ مَثَلًا لَكِنَّهُ فِي أَثْنَاءِ الطَّرِيقِ تَعَطَّلَتِ السَّيَّارَةُ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ: لَوْ أَنِّي أَخَذْتُ السَّيَّارَةَ الْأُخْرَى لَكَانَ أَحْسَنَ، وَلَمَا حَصَلَ عَلَيْهِ التَّعَطُّلُ نَقُولُ: لَا تَقُلْ هَكَذَا، لِأَنَّكَ أَنْتَ بَذَلْتَ الْجُهْدَ وَلَوْ كَانَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَرَادَ أَنْ تَبْلُغَ الْعُمْرَةَ لَيَسَّرَ لَكَ الْأَمْرَ وَلَكِنَّ اللهَ لَمْ يُرِدْ ذَلِكَ فَالْإِنْسَانُ إِذَا بَذَلَ مَا يَسْتَطِيعُ مِمَّا أُمِرَ بِبَذْلِهِ وَأَخْلَفَتِ الْأُمُورُ فَحِينَئِذٍ يُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ لِأَنَّهُ فَعَلَ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ وَلِهَذَا قَالَ: وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ يَعْنِي بَعْدَ بَذْلِ الْجُهْدِ وَالِاسْتِعَانَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا جَزَى اللهُ عَنَّا نَبِيَّنَا خَيْرًا بَيَّنَ الْحِكْمَةَ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ: فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ تَفْتَحُ عَلَيْكَ الْوَسَاوِسَ وَالْأَحْزَانَ وَالنَّدَمَ وَالْهُمُومَ لَوْ أَنِّي سَوَّيْتُ لَكَانَ كَذَا، لَوْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا لَا تَقُلْ هَكَذَا الْأَمْرُ انْتَهَى، وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَغَيَّرَ عَمَّا وَقَعَ هَذَا أَمْرٌ مَكْتُوبٌ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ قَبْلَ أَنْ تُخْلَقَ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ سَيَكُونُ عَلَى هَذَا الْوَقْتِ مَهْمَا عَمِلْتَ وَلِهَذَا قَالَ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ، أَيْ هَذَا قَدَرُ اللهِ أَيْ تَقْدِيرُ اللهِ وَقَضَاؤُهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، مَا شَاءَ عَزَّ وَجَلَّ فَعَلَهُ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ لَا أَحَدَ يَمْنَعُهُ أَنْ يَفْعَلَ فِي مُلْكِهِ مَا يَشَاءُ، مَا شَاءَ فَعَلَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ نَعْلَمَ أَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا إِلَّا لِحِكْمَةٍ خَفِيَتْ عَلَيْنَا أَوْ ظَهَرَتْ لَنَا وَالدَّلِيلُ عَلَى هَذَا قَوْلُهُ تَعَالَى: وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا فَبَيَّنَ أَنَّ مَشِيئَتَهُ مَقْرُونَةٌ بِالْحِكْمَةِ وَالْعِلْمِ وَكَمْ مِنْ شَيْءٍ كَرِهَ الْإِنْسَانُ وُقُوعَهُ فَصَارَتِ الْعَاقِبَةُ خَيْرًا لَهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَلَقَدْ جَرَتْ حَوَادِثُ كَثِيرَةٌ تَدُلُّ عَلَى هَذِهِ الْآيَةِ قَبْلَ كَمْ سَنَةٍ أَقْلَعَتْ طَائِرَةٌ مِنَ الرِّيَاضِ مُتَّجِهَةً إِلَى جُدَّةَ وَفِيهَا رُكَّابٌ كَثِيرٌ فَوْقَ ثَلَاثِمِائَةِ رَاكِبٍ وَكَانَ أَحَدُ الرُّكَّابِ الَّذِينَ سَجَّلُوا فِي هَذِهِ الطَّائِرَةِ فِي قَاعَةِ الِانْتِظَارِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى نَامَ وَأُعْلِنَ عَنْ إِقْلَاعِ الطَّائِرَةِ، وَذَهَبَ الرُّكَّابُ وَرَكِبُوا فَإِذَا بِالرَّجُلِ يَسْتَيْقِظُ بَعْدَ أَنْ أُغْلِقَ الْبَابُ فَنَدِمَ نَدَامَةً شَدِيدَةً كَيْفَ فَاتَتْهُ الطَّائِرَةُ؟ ثُمَّ إِنَّ اللهَ قَدَّرَ بِحِكْمَتِهِ أَنْ تَحْتَرِقَ الطَّائِرَةُ وَرُكَّابُهَا فَسُبْحَانَ اللهِ! كَيْفَ نَجَا هَذَا الرَّجُلُ؟ كَرِهَ أَنَّهُ فَاتَتْهُ الطَّائِرَةُ، وَلَكِنْ كَانَ ذَلِكَ خَيْرًا لَهُ كَانَ ذَلِكَ خَيْرًا لَهُ فَأَنْتَ إِذَا بَذَلْتَ الْجُهْدَ وَاسْتَعَنْتَ بِاللهِ وَصَارَ الْأَمْرُ عَلَى خِلَافِ مَا تُرِيدُ، لَا تَنْدَمْ لَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا إِذَا قُلْتَ هَذَا، انْفَتَحَ عَلَيْكَ مِنَ الْوَسَاوِسِ وَالنَّدَمِ وَالْأَحْزَانِ مَا يُكَدِّرُ عَلَيْكَ الصَّبْرَ انْتَهَى الْأَمْرُ رَاحَ سَلِّمِ الْأَمْرَ لِلْمَلِكِ الْجَبَّارِ عَزَّ وَجَلَّ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَاللهِ لَوْ أَنَّنَا سِرْنَا عَلَى هَدْيِ هَذَا الْحَدِيثِ لَاسْتَرَحْنَا كَثِيرًا لَكِنْ تَجِدُ الْإِنْسَانَ مِنَّا أَوَّلًا، مَا يَحْرِصُ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ تَمْضِي أَوْقَاتُهُ لَيْلًا وَنَهَارًا بِدُونِ فَائِدَةٍ تَضِيعُ عَلَيْهِ سُدًى ثَانِيًا، إِذَا قُدِّرَ أَنَّهُ اجْتَهَدَ فِي أَمْرٍ يَنْفَعُهُ ثُمَّ فَاتَ الْأَمْرُ وَلَمْ يَكُنْ عَلَى مَا تَوَقَّعَ تَجِدُهُ يَنْدَمُ يَا لَيْتَنِي مَا سَوَّيْتُ كَذَا، وَلَوْ أَنِّي سَوَّيْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا هَذَا مَا هُوَ صَحِيحٌ أَنْتَ أَدَّيْتَ مَا عَلَيْكَ، ثُمَّ بَعْدَ هَذَا فَوِّضِ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

MASIH SERING MENYESALI APA YANG SUDAH TERJADI? – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

Jika sesuatu menimpamu, janganlah berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.” Maksudnya, setelah engkau bersungguh-sungguh, mengerahkan usaha, memohon pertolongan kepada Allah, dan terus berusaha, kemudian hasilnya ternyata tidak sesuai dengan yang engkau inginkan, jangan berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini.” Sebab, perkara itu berada di luar kehendakmu. Engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu, tetapi Allah ‘Azza wa Jalla Maha Berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Contohnya, seseorang melakukan perjalanan, misalnya, ia melakukan perjalanan untuk menunaikan umrah, namun di tengah perjalanan mobilnya mogok, sehingga ia pun kembali. Lalu ia berkata, “Seandainya aku menggunakan mobil yang satunya, tentu lebih baik dan tidak akan mengalami mogok seperti ini.” Kita katakan kepadanya, “Jangan berkata demikian, karena engkau telah mengerahkan usaha. Sekiranya Allah ‘Azza wa Jalla menghendakimu sampai untuk menunaikan umrah, niscaya Allah akan memudahkan urusan itu bagimu. Akan tetapi, Allah tidak menghendaki hal itu.” Maka, apabila seseorang telah mengerahkan segala yang ia mampu sesuai dengan yang diperintahkan kepadanya, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan, maka saat itulah ia menyerahkan urusannya kepada Allah, karena ia telah melakukan apa yang mampu ia lakukan. Karena itu, Nabi bersabda, “Jika sesuatu menimpamu…” yakni setelah mengerahkan usaha dan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, “janganlah berkata, ‘Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.’” (HR. Muslim) Semoga Allah membalas Nabi kita dengan sebaik-baik balasan atas jasa beliau kepada kita. Beliau telah menjelaskan hikmah di balik larangan tersebut. Beliau bersabda, “Karena kata ‘seandainya’ membuka pintu amalan setan.” Kata itu membuka pintu waswas, kesedihan, penyesalan, dan kegundahan bagimu. “Seandainya aku berbuat begini, tentu akan begini. Seandainya aku melakukan itu, tentu akan begini.” Jangan berkata demikian! Perkaranya sudah selesai dan tidak mungkin lagi mengubah apa yang telah terjadi. Semua itu merupakan ketetapan yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz, lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Hal itu akan terjadi pada waktu yang telah ditetapkan, apa pun yang engkau lakukan. Karena itu, Nabi bersabda, “Tetapi katakanlah, ‘Qodarullaah’.” Maksudnya, inilah takdir Allah, yakni ketetapan dan keputusan Allah. “Dan apa yang Allah kehendaki, Allah lakukan.” Apa pun yang Allah ‘Azza wa Jalla kehendaki, Allah melakukannya. Sesungguhnya Rabbmu Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki. Tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi-Nya untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki dalam kerajaan-Nya. Apa yang Allah kehendaki, Dia lakukan. Namun, kita harus mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Bihamdihi tidak melakukan sesuatu melainkan karena suatu hikmah, baik hikmah itu tersembunyi dari kita maupun tampak bagi kita. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan: 30) Ayat ini menunjukkan bahwa kehendak Allah selalu disertai hikmah dan ilmu-Nya. Betapa banyak kejadian yang tidak disukai seseorang, tetapi akhirnya justru menjadi kebaikan baginya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216) Sungguh, telah terjadi banyak peristiwa yang membuktikan makna ayat ini. Beberapa tahun yang lalu, sebuah pesawat lepas landas dari Riyadh menuju Jeddah. Di dalamnya terdapat banyak penumpang, lebih dari tiga ratus orang. Ada seorang penumpang yang telah terdaftar dalam penerbangan tersebut sedang berada di ruang tunggu. Rasa kantuk mengalahkannya hingga ia tertidur. Pengumuman keberangkatan pesawat pun disampaikan, dan para penumpang berangkat untuk menaiki pesawat. Ternyata lelaki itu baru terbangun setelah pintu pesawat ditutup. Ia pun sangat menyesal. Bagaimana mungkin ia sampai ketinggalan pesawat? Kemudian Allah, dengan hikmah-Nya, menakdirkan pesawat tersebut terbakar bersama para penumpangnya. Subhanallah! Bagaimana lelaki ini bisa selamat? Semula ia tidak suka karena ketinggalan pesawat, tetapi ternyata hal itu merupakan kebaikan baginya. Benar-benar menjadi kebaikan baginya. Maka, apabila engkau telah mengerahkan usaha dan memohon pertolongan kepada Allah, kemudian hasilnya ternyata tidak sesuai dengan keinginanmu, janganlah menyesal! Janganlah berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini.” Jika engkau berkata demikian, akan terbuka bagimu berbagai waswas, penyesalan, dan kesedihan yang akan mengganggu kesabaranmu. Perkaranya sudah selesai. Semuanya telah berlalu. Serahkan urusan itu kepada Allah, Al-Malik Al-Jabbar ‘Azza wa Jalla. Katakan, “Qodarullaah wa maa syaa-a fa’al (ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan).” Demi Allah, sekiranya kita menjalani hidup sesuai petunjuk hadis ini, niscaya hidup kita akan jauh lebih tenang. Namun, engkau mendapati sebagian dari kita: pertama, tidak bersungguh-sungguh mengejar apa yang bermanfaat baginya. Siang dan malamnya berlalu tanpa manfaat, waktunya terbuang sia-sia. Kedua, apabila ia ternyata telah bersungguh-sungguh dalam perkara yang bermanfaat baginya, tetapi kemudian perkara itu luput dan hasilnya tidak sesuai dengan yang ia harapkan, engkau mendapatinya menyesal, “Seandainya dahulu aku tidak melakukan ini. Seandainya aku melakukan itu, tentu akan begini.” Sikap seperti ini tidak benar. Engkau telah menunaikan apa yang menjadi kewajibanmu. Setelah itu, serahkanlah urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. ===== فَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي بَعْدَ أَنْ تَحْرِصَ وَتَبْذُلَ الْجُهْدَ وَتَسْتَعِينَ بِاللهِ وَتَسْتَمِرَّ ثُمَّ يَخْرُجُ الْأَمْرُ عَلَى خِلَافِ مَا تُرِيدُ، لَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ فَوْقَ إِرَادَتِكَ أَنْتَ فَعَلْتَ الَّذِي تُؤْمَرُ بِهِ، وَلَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ مِثَالُ ذَلِكَ: رَجُلٌ سَافَرَ يُرِيدُ الْعُمْرَةَ مَثَلًا لَكِنَّهُ فِي أَثْنَاءِ الطَّرِيقِ تَعَطَّلَتِ السَّيَّارَةُ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ: لَوْ أَنِّي أَخَذْتُ السَّيَّارَةَ الْأُخْرَى لَكَانَ أَحْسَنَ، وَلَمَا حَصَلَ عَلَيْهِ التَّعَطُّلُ نَقُولُ: لَا تَقُلْ هَكَذَا، لِأَنَّكَ أَنْتَ بَذَلْتَ الْجُهْدَ وَلَوْ كَانَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَرَادَ أَنْ تَبْلُغَ الْعُمْرَةَ لَيَسَّرَ لَكَ الْأَمْرَ وَلَكِنَّ اللهَ لَمْ يُرِدْ ذَلِكَ فَالْإِنْسَانُ إِذَا بَذَلَ مَا يَسْتَطِيعُ مِمَّا أُمِرَ بِبَذْلِهِ وَأَخْلَفَتِ الْأُمُورُ فَحِينَئِذٍ يُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ لِأَنَّهُ فَعَلَ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ وَلِهَذَا قَالَ: وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ يَعْنِي بَعْدَ بَذْلِ الْجُهْدِ وَالِاسْتِعَانَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا جَزَى اللهُ عَنَّا نَبِيَّنَا خَيْرًا بَيَّنَ الْحِكْمَةَ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ: فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ تَفْتَحُ عَلَيْكَ الْوَسَاوِسَ وَالْأَحْزَانَ وَالنَّدَمَ وَالْهُمُومَ لَوْ أَنِّي سَوَّيْتُ لَكَانَ كَذَا، لَوْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا لَا تَقُلْ هَكَذَا الْأَمْرُ انْتَهَى، وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَغَيَّرَ عَمَّا وَقَعَ هَذَا أَمْرٌ مَكْتُوبٌ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ قَبْلَ أَنْ تُخْلَقَ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ سَيَكُونُ عَلَى هَذَا الْوَقْتِ مَهْمَا عَمِلْتَ وَلِهَذَا قَالَ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ، أَيْ هَذَا قَدَرُ اللهِ أَيْ تَقْدِيرُ اللهِ وَقَضَاؤُهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، مَا شَاءَ عَزَّ وَجَلَّ فَعَلَهُ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ لَا أَحَدَ يَمْنَعُهُ أَنْ يَفْعَلَ فِي مُلْكِهِ مَا يَشَاءُ، مَا شَاءَ فَعَلَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ نَعْلَمَ أَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا إِلَّا لِحِكْمَةٍ خَفِيَتْ عَلَيْنَا أَوْ ظَهَرَتْ لَنَا وَالدَّلِيلُ عَلَى هَذَا قَوْلُهُ تَعَالَى: وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا فَبَيَّنَ أَنَّ مَشِيئَتَهُ مَقْرُونَةٌ بِالْحِكْمَةِ وَالْعِلْمِ وَكَمْ مِنْ شَيْءٍ كَرِهَ الْإِنْسَانُ وُقُوعَهُ فَصَارَتِ الْعَاقِبَةُ خَيْرًا لَهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَلَقَدْ جَرَتْ حَوَادِثُ كَثِيرَةٌ تَدُلُّ عَلَى هَذِهِ الْآيَةِ قَبْلَ كَمْ سَنَةٍ أَقْلَعَتْ طَائِرَةٌ مِنَ الرِّيَاضِ مُتَّجِهَةً إِلَى جُدَّةَ وَفِيهَا رُكَّابٌ كَثِيرٌ فَوْقَ ثَلَاثِمِائَةِ رَاكِبٍ وَكَانَ أَحَدُ الرُّكَّابِ الَّذِينَ سَجَّلُوا فِي هَذِهِ الطَّائِرَةِ فِي قَاعَةِ الِانْتِظَارِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى نَامَ وَأُعْلِنَ عَنْ إِقْلَاعِ الطَّائِرَةِ، وَذَهَبَ الرُّكَّابُ وَرَكِبُوا فَإِذَا بِالرَّجُلِ يَسْتَيْقِظُ بَعْدَ أَنْ أُغْلِقَ الْبَابُ فَنَدِمَ نَدَامَةً شَدِيدَةً كَيْفَ فَاتَتْهُ الطَّائِرَةُ؟ ثُمَّ إِنَّ اللهَ قَدَّرَ بِحِكْمَتِهِ أَنْ تَحْتَرِقَ الطَّائِرَةُ وَرُكَّابُهَا فَسُبْحَانَ اللهِ! كَيْفَ نَجَا هَذَا الرَّجُلُ؟ كَرِهَ أَنَّهُ فَاتَتْهُ الطَّائِرَةُ، وَلَكِنْ كَانَ ذَلِكَ خَيْرًا لَهُ كَانَ ذَلِكَ خَيْرًا لَهُ فَأَنْتَ إِذَا بَذَلْتَ الْجُهْدَ وَاسْتَعَنْتَ بِاللهِ وَصَارَ الْأَمْرُ عَلَى خِلَافِ مَا تُرِيدُ، لَا تَنْدَمْ لَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا إِذَا قُلْتَ هَذَا، انْفَتَحَ عَلَيْكَ مِنَ الْوَسَاوِسِ وَالنَّدَمِ وَالْأَحْزَانِ مَا يُكَدِّرُ عَلَيْكَ الصَّبْرَ انْتَهَى الْأَمْرُ رَاحَ سَلِّمِ الْأَمْرَ لِلْمَلِكِ الْجَبَّارِ عَزَّ وَجَلَّ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَاللهِ لَوْ أَنَّنَا سِرْنَا عَلَى هَدْيِ هَذَا الْحَدِيثِ لَاسْتَرَحْنَا كَثِيرًا لَكِنْ تَجِدُ الْإِنْسَانَ مِنَّا أَوَّلًا، مَا يَحْرِصُ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ تَمْضِي أَوْقَاتُهُ لَيْلًا وَنَهَارًا بِدُونِ فَائِدَةٍ تَضِيعُ عَلَيْهِ سُدًى ثَانِيًا، إِذَا قُدِّرَ أَنَّهُ اجْتَهَدَ فِي أَمْرٍ يَنْفَعُهُ ثُمَّ فَاتَ الْأَمْرُ وَلَمْ يَكُنْ عَلَى مَا تَوَقَّعَ تَجِدُهُ يَنْدَمُ يَا لَيْتَنِي مَا سَوَّيْتُ كَذَا، وَلَوْ أَنِّي سَوَّيْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا هَذَا مَا هُوَ صَحِيحٌ أَنْتَ أَدَّيْتَ مَا عَلَيْكَ، ثُمَّ بَعْدَ هَذَا فَوِّضِ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Jika sesuatu menimpamu, janganlah berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.” Maksudnya, setelah engkau bersungguh-sungguh, mengerahkan usaha, memohon pertolongan kepada Allah, dan terus berusaha, kemudian hasilnya ternyata tidak sesuai dengan yang engkau inginkan, jangan berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini.” Sebab, perkara itu berada di luar kehendakmu. Engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu, tetapi Allah ‘Azza wa Jalla Maha Berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Contohnya, seseorang melakukan perjalanan, misalnya, ia melakukan perjalanan untuk menunaikan umrah, namun di tengah perjalanan mobilnya mogok, sehingga ia pun kembali. Lalu ia berkata, “Seandainya aku menggunakan mobil yang satunya, tentu lebih baik dan tidak akan mengalami mogok seperti ini.” Kita katakan kepadanya, “Jangan berkata demikian, karena engkau telah mengerahkan usaha. Sekiranya Allah ‘Azza wa Jalla menghendakimu sampai untuk menunaikan umrah, niscaya Allah akan memudahkan urusan itu bagimu. Akan tetapi, Allah tidak menghendaki hal itu.” Maka, apabila seseorang telah mengerahkan segala yang ia mampu sesuai dengan yang diperintahkan kepadanya, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan, maka saat itulah ia menyerahkan urusannya kepada Allah, karena ia telah melakukan apa yang mampu ia lakukan. Karena itu, Nabi bersabda, “Jika sesuatu menimpamu…” yakni setelah mengerahkan usaha dan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, “janganlah berkata, ‘Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.’” (HR. Muslim) Semoga Allah membalas Nabi kita dengan sebaik-baik balasan atas jasa beliau kepada kita. Beliau telah menjelaskan hikmah di balik larangan tersebut. Beliau bersabda, “Karena kata ‘seandainya’ membuka pintu amalan setan.” Kata itu membuka pintu waswas, kesedihan, penyesalan, dan kegundahan bagimu. “Seandainya aku berbuat begini, tentu akan begini. Seandainya aku melakukan itu, tentu akan begini.” Jangan berkata demikian! Perkaranya sudah selesai dan tidak mungkin lagi mengubah apa yang telah terjadi. Semua itu merupakan ketetapan yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz, lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Hal itu akan terjadi pada waktu yang telah ditetapkan, apa pun yang engkau lakukan. Karena itu, Nabi bersabda, “Tetapi katakanlah, ‘Qodarullaah’.” Maksudnya, inilah takdir Allah, yakni ketetapan dan keputusan Allah. “Dan apa yang Allah kehendaki, Allah lakukan.” Apa pun yang Allah ‘Azza wa Jalla kehendaki, Allah melakukannya. Sesungguhnya Rabbmu Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki. Tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi-Nya untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki dalam kerajaan-Nya. Apa yang Allah kehendaki, Dia lakukan. Namun, kita harus mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Bihamdihi tidak melakukan sesuatu melainkan karena suatu hikmah, baik hikmah itu tersembunyi dari kita maupun tampak bagi kita. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan: 30) Ayat ini menunjukkan bahwa kehendak Allah selalu disertai hikmah dan ilmu-Nya. Betapa banyak kejadian yang tidak disukai seseorang, tetapi akhirnya justru menjadi kebaikan baginya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216) Sungguh, telah terjadi banyak peristiwa yang membuktikan makna ayat ini. Beberapa tahun yang lalu, sebuah pesawat lepas landas dari Riyadh menuju Jeddah. Di dalamnya terdapat banyak penumpang, lebih dari tiga ratus orang. Ada seorang penumpang yang telah terdaftar dalam penerbangan tersebut sedang berada di ruang tunggu. Rasa kantuk mengalahkannya hingga ia tertidur. Pengumuman keberangkatan pesawat pun disampaikan, dan para penumpang berangkat untuk menaiki pesawat. Ternyata lelaki itu baru terbangun setelah pintu pesawat ditutup. Ia pun sangat menyesal. Bagaimana mungkin ia sampai ketinggalan pesawat? Kemudian Allah, dengan hikmah-Nya, menakdirkan pesawat tersebut terbakar bersama para penumpangnya. Subhanallah! Bagaimana lelaki ini bisa selamat? Semula ia tidak suka karena ketinggalan pesawat, tetapi ternyata hal itu merupakan kebaikan baginya. Benar-benar menjadi kebaikan baginya. Maka, apabila engkau telah mengerahkan usaha dan memohon pertolongan kepada Allah, kemudian hasilnya ternyata tidak sesuai dengan keinginanmu, janganlah menyesal! Janganlah berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini.” Jika engkau berkata demikian, akan terbuka bagimu berbagai waswas, penyesalan, dan kesedihan yang akan mengganggu kesabaranmu. Perkaranya sudah selesai. Semuanya telah berlalu. Serahkan urusan itu kepada Allah, Al-Malik Al-Jabbar ‘Azza wa Jalla. Katakan, “Qodarullaah wa maa syaa-a fa’al (ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan).” Demi Allah, sekiranya kita menjalani hidup sesuai petunjuk hadis ini, niscaya hidup kita akan jauh lebih tenang. Namun, engkau mendapati sebagian dari kita: pertama, tidak bersungguh-sungguh mengejar apa yang bermanfaat baginya. Siang dan malamnya berlalu tanpa manfaat, waktunya terbuang sia-sia. Kedua, apabila ia ternyata telah bersungguh-sungguh dalam perkara yang bermanfaat baginya, tetapi kemudian perkara itu luput dan hasilnya tidak sesuai dengan yang ia harapkan, engkau mendapatinya menyesal, “Seandainya dahulu aku tidak melakukan ini. Seandainya aku melakukan itu, tentu akan begini.” Sikap seperti ini tidak benar. Engkau telah menunaikan apa yang menjadi kewajibanmu. Setelah itu, serahkanlah urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. ===== فَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي بَعْدَ أَنْ تَحْرِصَ وَتَبْذُلَ الْجُهْدَ وَتَسْتَعِينَ بِاللهِ وَتَسْتَمِرَّ ثُمَّ يَخْرُجُ الْأَمْرُ عَلَى خِلَافِ مَا تُرِيدُ، لَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ فَوْقَ إِرَادَتِكَ أَنْتَ فَعَلْتَ الَّذِي تُؤْمَرُ بِهِ، وَلَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ مِثَالُ ذَلِكَ: رَجُلٌ سَافَرَ يُرِيدُ الْعُمْرَةَ مَثَلًا لَكِنَّهُ فِي أَثْنَاءِ الطَّرِيقِ تَعَطَّلَتِ السَّيَّارَةُ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ: لَوْ أَنِّي أَخَذْتُ السَّيَّارَةَ الْأُخْرَى لَكَانَ أَحْسَنَ، وَلَمَا حَصَلَ عَلَيْهِ التَّعَطُّلُ نَقُولُ: لَا تَقُلْ هَكَذَا، لِأَنَّكَ أَنْتَ بَذَلْتَ الْجُهْدَ وَلَوْ كَانَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَرَادَ أَنْ تَبْلُغَ الْعُمْرَةَ لَيَسَّرَ لَكَ الْأَمْرَ وَلَكِنَّ اللهَ لَمْ يُرِدْ ذَلِكَ فَالْإِنْسَانُ إِذَا بَذَلَ مَا يَسْتَطِيعُ مِمَّا أُمِرَ بِبَذْلِهِ وَأَخْلَفَتِ الْأُمُورُ فَحِينَئِذٍ يُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ لِأَنَّهُ فَعَلَ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ وَلِهَذَا قَالَ: وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ يَعْنِي بَعْدَ بَذْلِ الْجُهْدِ وَالِاسْتِعَانَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا جَزَى اللهُ عَنَّا نَبِيَّنَا خَيْرًا بَيَّنَ الْحِكْمَةَ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ: فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ تَفْتَحُ عَلَيْكَ الْوَسَاوِسَ وَالْأَحْزَانَ وَالنَّدَمَ وَالْهُمُومَ لَوْ أَنِّي سَوَّيْتُ لَكَانَ كَذَا، لَوْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا لَا تَقُلْ هَكَذَا الْأَمْرُ انْتَهَى، وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَغَيَّرَ عَمَّا وَقَعَ هَذَا أَمْرٌ مَكْتُوبٌ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ قَبْلَ أَنْ تُخْلَقَ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ سَيَكُونُ عَلَى هَذَا الْوَقْتِ مَهْمَا عَمِلْتَ وَلِهَذَا قَالَ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ، أَيْ هَذَا قَدَرُ اللهِ أَيْ تَقْدِيرُ اللهِ وَقَضَاؤُهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، مَا شَاءَ عَزَّ وَجَلَّ فَعَلَهُ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ لَا أَحَدَ يَمْنَعُهُ أَنْ يَفْعَلَ فِي مُلْكِهِ مَا يَشَاءُ، مَا شَاءَ فَعَلَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ نَعْلَمَ أَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا إِلَّا لِحِكْمَةٍ خَفِيَتْ عَلَيْنَا أَوْ ظَهَرَتْ لَنَا وَالدَّلِيلُ عَلَى هَذَا قَوْلُهُ تَعَالَى: وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا فَبَيَّنَ أَنَّ مَشِيئَتَهُ مَقْرُونَةٌ بِالْحِكْمَةِ وَالْعِلْمِ وَكَمْ مِنْ شَيْءٍ كَرِهَ الْإِنْسَانُ وُقُوعَهُ فَصَارَتِ الْعَاقِبَةُ خَيْرًا لَهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَلَقَدْ جَرَتْ حَوَادِثُ كَثِيرَةٌ تَدُلُّ عَلَى هَذِهِ الْآيَةِ قَبْلَ كَمْ سَنَةٍ أَقْلَعَتْ طَائِرَةٌ مِنَ الرِّيَاضِ مُتَّجِهَةً إِلَى جُدَّةَ وَفِيهَا رُكَّابٌ كَثِيرٌ فَوْقَ ثَلَاثِمِائَةِ رَاكِبٍ وَكَانَ أَحَدُ الرُّكَّابِ الَّذِينَ سَجَّلُوا فِي هَذِهِ الطَّائِرَةِ فِي قَاعَةِ الِانْتِظَارِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى نَامَ وَأُعْلِنَ عَنْ إِقْلَاعِ الطَّائِرَةِ، وَذَهَبَ الرُّكَّابُ وَرَكِبُوا فَإِذَا بِالرَّجُلِ يَسْتَيْقِظُ بَعْدَ أَنْ أُغْلِقَ الْبَابُ فَنَدِمَ نَدَامَةً شَدِيدَةً كَيْفَ فَاتَتْهُ الطَّائِرَةُ؟ ثُمَّ إِنَّ اللهَ قَدَّرَ بِحِكْمَتِهِ أَنْ تَحْتَرِقَ الطَّائِرَةُ وَرُكَّابُهَا فَسُبْحَانَ اللهِ! كَيْفَ نَجَا هَذَا الرَّجُلُ؟ كَرِهَ أَنَّهُ فَاتَتْهُ الطَّائِرَةُ، وَلَكِنْ كَانَ ذَلِكَ خَيْرًا لَهُ كَانَ ذَلِكَ خَيْرًا لَهُ فَأَنْتَ إِذَا بَذَلْتَ الْجُهْدَ وَاسْتَعَنْتَ بِاللهِ وَصَارَ الْأَمْرُ عَلَى خِلَافِ مَا تُرِيدُ، لَا تَنْدَمْ لَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا إِذَا قُلْتَ هَذَا، انْفَتَحَ عَلَيْكَ مِنَ الْوَسَاوِسِ وَالنَّدَمِ وَالْأَحْزَانِ مَا يُكَدِّرُ عَلَيْكَ الصَّبْرَ انْتَهَى الْأَمْرُ رَاحَ سَلِّمِ الْأَمْرَ لِلْمَلِكِ الْجَبَّارِ عَزَّ وَجَلَّ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَاللهِ لَوْ أَنَّنَا سِرْنَا عَلَى هَدْيِ هَذَا الْحَدِيثِ لَاسْتَرَحْنَا كَثِيرًا لَكِنْ تَجِدُ الْإِنْسَانَ مِنَّا أَوَّلًا، مَا يَحْرِصُ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ تَمْضِي أَوْقَاتُهُ لَيْلًا وَنَهَارًا بِدُونِ فَائِدَةٍ تَضِيعُ عَلَيْهِ سُدًى ثَانِيًا، إِذَا قُدِّرَ أَنَّهُ اجْتَهَدَ فِي أَمْرٍ يَنْفَعُهُ ثُمَّ فَاتَ الْأَمْرُ وَلَمْ يَكُنْ عَلَى مَا تَوَقَّعَ تَجِدُهُ يَنْدَمُ يَا لَيْتَنِي مَا سَوَّيْتُ كَذَا، وَلَوْ أَنِّي سَوَّيْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا هَذَا مَا هُوَ صَحِيحٌ أَنْتَ أَدَّيْتَ مَا عَلَيْكَ، ثُمَّ بَعْدَ هَذَا فَوِّضِ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ


Jika sesuatu menimpamu, janganlah berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.” Maksudnya, setelah engkau bersungguh-sungguh, mengerahkan usaha, memohon pertolongan kepada Allah, dan terus berusaha, kemudian hasilnya ternyata tidak sesuai dengan yang engkau inginkan, jangan berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini.” Sebab, perkara itu berada di luar kehendakmu. Engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu, tetapi Allah ‘Azza wa Jalla Maha Berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Contohnya, seseorang melakukan perjalanan, misalnya, ia melakukan perjalanan untuk menunaikan umrah, namun di tengah perjalanan mobilnya mogok, sehingga ia pun kembali. Lalu ia berkata, “Seandainya aku menggunakan mobil yang satunya, tentu lebih baik dan tidak akan mengalami mogok seperti ini.” Kita katakan kepadanya, “Jangan berkata demikian, karena engkau telah mengerahkan usaha. Sekiranya Allah ‘Azza wa Jalla menghendakimu sampai untuk menunaikan umrah, niscaya Allah akan memudahkan urusan itu bagimu. Akan tetapi, Allah tidak menghendaki hal itu.” Maka, apabila seseorang telah mengerahkan segala yang ia mampu sesuai dengan yang diperintahkan kepadanya, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan, maka saat itulah ia menyerahkan urusannya kepada Allah, karena ia telah melakukan apa yang mampu ia lakukan. Karena itu, Nabi bersabda, “Jika sesuatu menimpamu…” yakni setelah mengerahkan usaha dan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, “janganlah berkata, ‘Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.’” (HR. Muslim) Semoga Allah membalas Nabi kita dengan sebaik-baik balasan atas jasa beliau kepada kita. Beliau telah menjelaskan hikmah di balik larangan tersebut. Beliau bersabda, “Karena kata ‘seandainya’ membuka pintu amalan setan.” Kata itu membuka pintu waswas, kesedihan, penyesalan, dan kegundahan bagimu. “Seandainya aku berbuat begini, tentu akan begini. Seandainya aku melakukan itu, tentu akan begini.” Jangan berkata demikian! Perkaranya sudah selesai dan tidak mungkin lagi mengubah apa yang telah terjadi. Semua itu merupakan ketetapan yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz, lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Hal itu akan terjadi pada waktu yang telah ditetapkan, apa pun yang engkau lakukan. Karena itu, Nabi bersabda, “Tetapi katakanlah, ‘Qodarullaah’.” Maksudnya, inilah takdir Allah, yakni ketetapan dan keputusan Allah. “Dan apa yang Allah kehendaki, Allah lakukan.” Apa pun yang Allah ‘Azza wa Jalla kehendaki, Allah melakukannya. Sesungguhnya Rabbmu Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki. Tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi-Nya untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki dalam kerajaan-Nya. Apa yang Allah kehendaki, Dia lakukan. Namun, kita harus mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Bihamdihi tidak melakukan sesuatu melainkan karena suatu hikmah, baik hikmah itu tersembunyi dari kita maupun tampak bagi kita. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan: 30) Ayat ini menunjukkan bahwa kehendak Allah selalu disertai hikmah dan ilmu-Nya. Betapa banyak kejadian yang tidak disukai seseorang, tetapi akhirnya justru menjadi kebaikan baginya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216) Sungguh, telah terjadi banyak peristiwa yang membuktikan makna ayat ini. Beberapa tahun yang lalu, sebuah pesawat lepas landas dari Riyadh menuju Jeddah. Di dalamnya terdapat banyak penumpang, lebih dari tiga ratus orang. Ada seorang penumpang yang telah terdaftar dalam penerbangan tersebut sedang berada di ruang tunggu. Rasa kantuk mengalahkannya hingga ia tertidur. Pengumuman keberangkatan pesawat pun disampaikan, dan para penumpang berangkat untuk menaiki pesawat. Ternyata lelaki itu baru terbangun setelah pintu pesawat ditutup. Ia pun sangat menyesal. Bagaimana mungkin ia sampai ketinggalan pesawat? Kemudian Allah, dengan hikmah-Nya, menakdirkan pesawat tersebut terbakar bersama para penumpangnya. Subhanallah! Bagaimana lelaki ini bisa selamat? Semula ia tidak suka karena ketinggalan pesawat, tetapi ternyata hal itu merupakan kebaikan baginya. Benar-benar menjadi kebaikan baginya. Maka, apabila engkau telah mengerahkan usaha dan memohon pertolongan kepada Allah, kemudian hasilnya ternyata tidak sesuai dengan keinginanmu, janganlah menyesal! Janganlah berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini.” Jika engkau berkata demikian, akan terbuka bagimu berbagai waswas, penyesalan, dan kesedihan yang akan mengganggu kesabaranmu. Perkaranya sudah selesai. Semuanya telah berlalu. Serahkan urusan itu kepada Allah, Al-Malik Al-Jabbar ‘Azza wa Jalla. Katakan, “Qodarullaah wa maa syaa-a fa’al (ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan).” Demi Allah, sekiranya kita menjalani hidup sesuai petunjuk hadis ini, niscaya hidup kita akan jauh lebih tenang. Namun, engkau mendapati sebagian dari kita: pertama, tidak bersungguh-sungguh mengejar apa yang bermanfaat baginya. Siang dan malamnya berlalu tanpa manfaat, waktunya terbuang sia-sia. Kedua, apabila ia ternyata telah bersungguh-sungguh dalam perkara yang bermanfaat baginya, tetapi kemudian perkara itu luput dan hasilnya tidak sesuai dengan yang ia harapkan, engkau mendapatinya menyesal, “Seandainya dahulu aku tidak melakukan ini. Seandainya aku melakukan itu, tentu akan begini.” Sikap seperti ini tidak benar. Engkau telah menunaikan apa yang menjadi kewajibanmu. Setelah itu, serahkanlah urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. ===== فَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي بَعْدَ أَنْ تَحْرِصَ وَتَبْذُلَ الْجُهْدَ وَتَسْتَعِينَ بِاللهِ وَتَسْتَمِرَّ ثُمَّ يَخْرُجُ الْأَمْرُ عَلَى خِلَافِ مَا تُرِيدُ، لَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ فَوْقَ إِرَادَتِكَ أَنْتَ فَعَلْتَ الَّذِي تُؤْمَرُ بِهِ، وَلَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ مِثَالُ ذَلِكَ: رَجُلٌ سَافَرَ يُرِيدُ الْعُمْرَةَ مَثَلًا لَكِنَّهُ فِي أَثْنَاءِ الطَّرِيقِ تَعَطَّلَتِ السَّيَّارَةُ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ: لَوْ أَنِّي أَخَذْتُ السَّيَّارَةَ الْأُخْرَى لَكَانَ أَحْسَنَ، وَلَمَا حَصَلَ عَلَيْهِ التَّعَطُّلُ نَقُولُ: لَا تَقُلْ هَكَذَا، لِأَنَّكَ أَنْتَ بَذَلْتَ الْجُهْدَ وَلَوْ كَانَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَرَادَ أَنْ تَبْلُغَ الْعُمْرَةَ لَيَسَّرَ لَكَ الْأَمْرَ وَلَكِنَّ اللهَ لَمْ يُرِدْ ذَلِكَ فَالْإِنْسَانُ إِذَا بَذَلَ مَا يَسْتَطِيعُ مِمَّا أُمِرَ بِبَذْلِهِ وَأَخْلَفَتِ الْأُمُورُ فَحِينَئِذٍ يُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ لِأَنَّهُ فَعَلَ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ وَلِهَذَا قَالَ: وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ يَعْنِي بَعْدَ بَذْلِ الْجُهْدِ وَالِاسْتِعَانَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا جَزَى اللهُ عَنَّا نَبِيَّنَا خَيْرًا بَيَّنَ الْحِكْمَةَ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ: فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ تَفْتَحُ عَلَيْكَ الْوَسَاوِسَ وَالْأَحْزَانَ وَالنَّدَمَ وَالْهُمُومَ لَوْ أَنِّي سَوَّيْتُ لَكَانَ كَذَا، لَوْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا لَا تَقُلْ هَكَذَا الْأَمْرُ انْتَهَى، وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَغَيَّرَ عَمَّا وَقَعَ هَذَا أَمْرٌ مَكْتُوبٌ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ قَبْلَ أَنْ تُخْلَقَ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ سَيَكُونُ عَلَى هَذَا الْوَقْتِ مَهْمَا عَمِلْتَ وَلِهَذَا قَالَ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ، أَيْ هَذَا قَدَرُ اللهِ أَيْ تَقْدِيرُ اللهِ وَقَضَاؤُهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، مَا شَاءَ عَزَّ وَجَلَّ فَعَلَهُ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ لَا أَحَدَ يَمْنَعُهُ أَنْ يَفْعَلَ فِي مُلْكِهِ مَا يَشَاءُ، مَا شَاءَ فَعَلَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ نَعْلَمَ أَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا إِلَّا لِحِكْمَةٍ خَفِيَتْ عَلَيْنَا أَوْ ظَهَرَتْ لَنَا وَالدَّلِيلُ عَلَى هَذَا قَوْلُهُ تَعَالَى: وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا فَبَيَّنَ أَنَّ مَشِيئَتَهُ مَقْرُونَةٌ بِالْحِكْمَةِ وَالْعِلْمِ وَكَمْ مِنْ شَيْءٍ كَرِهَ الْإِنْسَانُ وُقُوعَهُ فَصَارَتِ الْعَاقِبَةُ خَيْرًا لَهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَلَقَدْ جَرَتْ حَوَادِثُ كَثِيرَةٌ تَدُلُّ عَلَى هَذِهِ الْآيَةِ قَبْلَ كَمْ سَنَةٍ أَقْلَعَتْ طَائِرَةٌ مِنَ الرِّيَاضِ مُتَّجِهَةً إِلَى جُدَّةَ وَفِيهَا رُكَّابٌ كَثِيرٌ فَوْقَ ثَلَاثِمِائَةِ رَاكِبٍ وَكَانَ أَحَدُ الرُّكَّابِ الَّذِينَ سَجَّلُوا فِي هَذِهِ الطَّائِرَةِ فِي قَاعَةِ الِانْتِظَارِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى نَامَ وَأُعْلِنَ عَنْ إِقْلَاعِ الطَّائِرَةِ، وَذَهَبَ الرُّكَّابُ وَرَكِبُوا فَإِذَا بِالرَّجُلِ يَسْتَيْقِظُ بَعْدَ أَنْ أُغْلِقَ الْبَابُ فَنَدِمَ نَدَامَةً شَدِيدَةً كَيْفَ فَاتَتْهُ الطَّائِرَةُ؟ ثُمَّ إِنَّ اللهَ قَدَّرَ بِحِكْمَتِهِ أَنْ تَحْتَرِقَ الطَّائِرَةُ وَرُكَّابُهَا فَسُبْحَانَ اللهِ! كَيْفَ نَجَا هَذَا الرَّجُلُ؟ كَرِهَ أَنَّهُ فَاتَتْهُ الطَّائِرَةُ، وَلَكِنْ كَانَ ذَلِكَ خَيْرًا لَهُ كَانَ ذَلِكَ خَيْرًا لَهُ فَأَنْتَ إِذَا بَذَلْتَ الْجُهْدَ وَاسْتَعَنْتَ بِاللهِ وَصَارَ الْأَمْرُ عَلَى خِلَافِ مَا تُرِيدُ، لَا تَنْدَمْ لَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا إِذَا قُلْتَ هَذَا، انْفَتَحَ عَلَيْكَ مِنَ الْوَسَاوِسِ وَالنَّدَمِ وَالْأَحْزَانِ مَا يُكَدِّرُ عَلَيْكَ الصَّبْرَ انْتَهَى الْأَمْرُ رَاحَ سَلِّمِ الْأَمْرَ لِلْمَلِكِ الْجَبَّارِ عَزَّ وَجَلَّ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَاللهِ لَوْ أَنَّنَا سِرْنَا عَلَى هَدْيِ هَذَا الْحَدِيثِ لَاسْتَرَحْنَا كَثِيرًا لَكِنْ تَجِدُ الْإِنْسَانَ مِنَّا أَوَّلًا، مَا يَحْرِصُ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ تَمْضِي أَوْقَاتُهُ لَيْلًا وَنَهَارًا بِدُونِ فَائِدَةٍ تَضِيعُ عَلَيْهِ سُدًى ثَانِيًا، إِذَا قُدِّرَ أَنَّهُ اجْتَهَدَ فِي أَمْرٍ يَنْفَعُهُ ثُمَّ فَاتَ الْأَمْرُ وَلَمْ يَكُنْ عَلَى مَا تَوَقَّعَ تَجِدُهُ يَنْدَمُ يَا لَيْتَنِي مَا سَوَّيْتُ كَذَا، وَلَوْ أَنِّي سَوَّيْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا هَذَا مَا هُوَ صَحِيحٌ أَنْتَ أَدَّيْتَ مَا عَلَيْكَ، ثُمَّ بَعْدَ هَذَا فَوِّضِ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Mengenal Akidah Maturidiyyah (Bag. 2): Pokok-Pokok Keyakinan Maturidiyyah dan Bantahan Ahlus Sunnah

Daftar Isi TogglePokok-pokok keyakinan Maturidiyyah dan bantahan Ahlus sunah Pertama, menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuKedua, menolak hujjah hadis ahad dalam akidahKetiga, menafikan sifat khabariyyah dan sifat ikhtiyariyyahKeempat, dilema antara tafwidh dan takwil serta kontradiksi pembatasan sifatKelima, penyimpangan dalam bab kalamullah dan imanRelasi dan perbandingan Maturidiyyah dengan Asy’ariyyahKedudukan Maturidiyyah dalam timbangan ulama salafPenutupMempelajari sejarah aliran teologi tidak cukup hanya dengan mengetahui siapa tokoh pendirinya dan di wilayah mana mazhab tersebut menyebar. Bagi seorang penuntut ilmu, kajian sejarah hanyalah pintu masuk untuk menelaah hal yang jauh lebih esensial, yaitu menimbang pokok-pokok keyakinan yang dibangun aliran tersebut dengan neraca Al-Qur’an, As-Sunah, dan pemahaman generasi salaf.Langkah ini sangat diperlukan agar seseorang tidak mudah menyimpulkan bahwa suatu kelompok otomatis berada di atas manhaj yang lurus hanya karena luasnya jaringan pendidikan atau besarnya jumlah pengikut mereka di dunia Islam. Di antara aliran teologi dalam Islam yang eksis adalah Maturidiyyah.Pokok-pokok keyakinan Maturidiyyah dan bantahan Ahlus sunah Maturidiyyah lahir dari tekad untuk membela agama dari serangan kaum rasionalis Mu’tazilah. Akan tetapi, perangkat argumentasi yang digunakan justru meminjam tradisi Ilmu Kalam yang didasarkan pada logika filosofis. Dampaknya, muncullah sejumlah penyimpangan metodologis dalam penetapan akidah yang menyelisihi jalan para sahabat dan imam ahlul hadis.Pertama, menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuTitik pangkal dari seluruh persoalan teologi Maturidiyyah adalah penempatan logika sebagai sumber utama dalam menetapkan akidah. Abu Manshur al-Maturidi sendiri menegaskan kaidah ini sejak awal dalam karya babonnya,إن العلم بالله وبأمره عرض لا يدرك إلا بالاستدلال“Sesungguhnya ilmu tentang Allah dan perintah-Nya adalah ‘ardh yang tidak dapat diketahui kecuali dengan istidlal (penalaran).” [1]Penalaran yang dimaksud adalah pembuktian rasional yang berpusat pada akal. Dalam pandangan mereka, urusan agama terbagi menjadi wilayah ‘aqliyyat (yang bisa dicapai akal) dan sam’iyyat (yang hanya diketahui lewat wahyu). Pada wilayah ‘aqliyyat, akal diangkat sebagai hakim pemutus. Ketika terdapat dalil wahyu yang dianggap tidak sejalan dengan kesimpulan logika mereka, maka hadis ahad akan ditolak, sedangkan ayat atau hadis mutawatir akan ditakwilkan dari makna zahirnya. [2]Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani rahimahullah memberikan kaidah emas untuk membongkar keruntuhan cara berpikir tersebut. Beliau berkata,اعلم أن فصل ما بيننا وبين المبتدعة هو مسألة العقل؛ فإنهم أسسوا دينهم على المعقول وجعلوا الاتباع والمأثور تبعا للمعقول، وأما أهل السنة قالوا: الأصل في الدين الاتباع والعقول تبع، ولو كان أساس الدين على المعقول لاستغنى الخلق عن الوحي وعن الأنبياء صلوات الله عليهم ولبطل معنى الأمر والنهي ولقال من شاء ما شاء“Ketahuilah bahwa pembeda antara kami dengan ahli bid’ah adalah masalah akal. Mereka membangun agama mereka di atas akal dan menjadikan ittiba’ dan atsar sebagai pengikut akal. Adapun Ahlus sunah mengatakan: pokok dalam agama adalah ittiba’ (mengikuti dalil, ed.), dan akal adalah pengikut. Seandainya asas agama adalah akal, niscaya makhluk tidak butuh wahyu dan tidak butuh para Nabi. Dan batallah makna perintah dan larangan, sehingga siapa saja bisa berkata sesukanya.” [3]Ahlus sunah menegaskan bahwa akal manusia memiliki batas kemampuan yang tidak akan mampu menjangkau hakikat ketuhanan tanpa bimbingan wahyu. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا“Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan, melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra: 85)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani melengkapi kaidah ini dengan mengingatkan esensi kepatuhan seorang hamba terhadap nash syariat,وإنما علينا أن نقبل ما عقلناه إيماناً وتصديقاً، وما لم نعقله قبلناه تسليماً واستسلاماً، وهذا معنى قول القائل من أهل السنة: إن الإسلام قنطرة لا تعبر إلا بالتسليم“Sesungguhnya yang wajib atas kita adalah menerima apa yang kita pahami dengan iman dan tashdiq (membenarkan dalam hati, ed.), dan yang tidak kita pahami kita terima dengan taslim dan istislam (menerima, tunduk, dan patuh, ed.). Inilah makna perkataan sebagian Ahlus sunah: sesungguhnya Islam adalah jembatan yang tidak bisa diseberangi kecuali dengan taslim.” [4]Kedua, menolak hujjah hadis ahad dalam akidahPengagungan terhadap akal berlanjut pada penolakan terhadap hadis ahad dalam masalah iktikad. Maturidiyyah beranggapan bahwa hadis ahad hanya menghasilkan praduga (zhanni), sedangkan akidah harus dibangun di atas kepastian (yushil ilal yaqin). Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani menepis argumen yang menyelisihi kesepakatan ulama salaf ini dengan menerangkan,قولهم: إن أخبار الآحاد لا تقبل فيما طريقه العلم رأي سمعت به المبتدعة في رد الأخبار. إذ أن الخبر إذا صح ورواه الثقات والأئمة، وتلقته الأمة بالقبول فإنه يوجب العلم“Perkataan mereka, ‘Sesungguhnya khabar ahad tidak diterima dalam hal yang jalannya ilmu adalah pendapat yang menjadi tempat berpegang ahli bid’ah untuk menolak khabar. Padahal, jika khabar itu sahih, diriwayatkan oleh para tsiqah dan para imam, serta diterima oleh umat, maka ia menghasilkan ilmu.” [5]Ibnul Qayyim rahimahullah turut menjelaskan bahwa pemisahan antara hadis untuk hukum amaliah dan hadis untuk akidah adalah perkara baru yang tidak pernah dikenal di masa salaf. Beliau menegaskan,ولم تزل الصحابة والتابعون وتابعوهم، وأهل الحديث والسنة يحتجون بهذه الأخبار في مسائل الصفات والقدر والأسماء والأحكام، ولم ينقل عن أحد منهم البتة أنه جوّز الاحتجاج بها في مسائل الأحكام دون الإخبار عن الله، وأسمائه وصفاته“Para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, ahli hadis, dan Ahli sunah senantiasa berhujjah dengan khabar-khabar ini dalam masalah sifat, qadar, asma (nama Allah), dan hukum. Dan tidak dinukil sama sekali dari salah seorang di antara mereka bahwa ia membolehkan berhujjah dengannya dalam masalah hukum saja tanpa masalah khabar tentang Allah, nama, dan sifat-Nya.” [6]Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan kesaksian sejarah umat Islam,ونحن نشهد بالله ولله شهادةً على البت والقطع أن الصحابة رضي الله عنهم كانوا يجزمون بما يحدث به أحدهم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يقل أحد منهم لمن حدثه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: خبرك خبر واحدٍ لا يفيد العلم حتى يتواتر“Kami bersaksi dengan Allah dan untuk Allah, kesaksian yang pasti dan tegas, bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum benar-benar memastikan apa yang diriwayatkan oleh salah seorang mereka dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak seorang pun dari mereka berkata kepada orang yang meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Khabarmu adalah khabar ahad yang tidak menghasilkan ilmu sehingga ia harus mutawatir.’” [7]Dalil dari sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggugurkan klaim Maturidiyyah ini sangatlah banyak. Di antaranya adalah hadis Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji keimanan seorang budak wanita dengan pertanyaan akidah,أَيْنَ اللَّهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ“Di mana Allah? Budak wanita itu menjawab: Di atas langit. Beliau bertanya lagi: Siapa aku? Budak itu menjawab: Engkau adalah utusan Allah. Beliau pun bersabda: Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia seorang mukminah.” (HR. Muslim no. 537)Hadis ini merupakan hadis ahad, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai standar keabsahan iman dalam masalah yang sangat agung, yaitu sifat ﻋﻠو (ketinggian) Allah di atas makhluk-Nya. Bahkan, Imam Abu Hanifah rahimahullah sendiri berdalil dengan hadis budak wanita ini dalam menetapkan sifat uluww Allah Ta’ala. [8]Ketiga, menafikan sifat khabariyyah dan sifat ikhtiyariyyahPenyimpangan teologis Maturidiyyah yang cukup berat tampak pada penolakan mereka terhadap sifat-sifat khabariyyah yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunah (seperti wajah, kedua tangan, atau istiwa’ di atas Arsy), serta sifat-sifat perbuatan yang terkait dengan kehendak Allah (shifat ikhtiyariyyah atau fi’liyyah lazimah). Mereka mengira penetapan sifat tersebut akan menyamakan Pencipta dengan makhluk. Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi merangkum pokok pikiran mereka dalam risalah ilmiahnya,قالت الماتريدية بنفي جميع الصفات الخبرية التي وردت في الكتاب والسنة، وذلك لأن مصدرهم في التلقي هو العقل، ولاعتقادهم أن إثبات هذه الصفات على حقيقتها يستلزم التشبيه والتجسيم، واحتجوا لقولهم هذا بشُبه فاسدة“Maturidiyyah menafikan seluruh sifat khabariyyah yang datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Ini karena sumber talaqqi mereka adalah akal, dan karena keyakinan mereka bahwa menetapkan sifat-sifat ini dalam makna sesungguhnya melazimkan tasybih dan tajsim. Mereka berhujjah untuk pendapat ini dengan syubhat-syubhat yang batil.” [9]Beliau juga mencatat penolakan mereka terhadap sifat-sifat perbuatan yang bersifat lazimah,نفت الماتريدية الصفات الفعلية اللازمة، وذلك لأن الأصل في ثبوتها الخبر، ولأنها صفات اختيارية، وهم يمنعون أن تقوم بالله صفة اختيارية حذراً من التشبيه وفراراً منه“Maturidiyyah menafikan sifat-sifat fi’liyyah yang lazimah karena asal penetapannya adalah khabar, dan karena ia merupakan sifat ikhtiyariyyah. Mereka melarang Allah memiliki sifat ikhtiyariyyah karena khawatir dan lari dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk, ed.).” [10]Dr. Syamsuddin Al-Afghani dalam kajian mendalamnya membongkar akar masalah tersebut dengan menunjukkan bahwa mereka keliru dalam memahami batasan tasybih dan tanzih. Beliau menulis,إن الماتريدية لم يعرفوا حقيقة التشبيه الذي يجب نفيه عن الله تعالى، فأدخلوا في مفهوم التشبيه كثيراً من الصفات فنفوها“Sesungguhnya Maturidiyyah tidak mengetahui hakikat tasybih yang wajib dinafikan dari Allah. Maka, mereka memasukkan banyak sifat ke dalam pengertian tasybih, lalu mereka nafikan sifat-sifat itu.” [11]Pada saat yang sama, beliau melanjutkan keterangannya,كما أنهم لم يعرفوا حقيقة التنزيه الذي يجب إثباته لله سبحانه، فأدخلوا في مفهوم التنزيه نفي كثير من الصفات فعطلوها“Sebagaimana mereka juga tidak mengetahui hakikat tanzih yang wajib ditetapkan bagi Allah. Maka, mereka memasukkan penafian banyak sifat ke dalam pengertian tanzih, lalu mereka ta’thil sifat-sifat itu.” [12]Manhaj salaf menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya tanpa tasybih dan tanpa ta’thil, berdasarkan firman Allah Ta’ala,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)Ayat ini membantah kaum musyabbihah pada firman-Nya (“tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”), sekaligus membantah kaum mu’aththilah dan penafsir kalam pada firman-Nya (“dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”).Keempat, dilema antara tafwidh dan takwil serta kontradiksi pembatasan sifatDalam menyikapi ayat-ayat sifat, Maturidiyyah menempuh dua jalan yang sama-sama menyimpang dari jalan salaf, yaitu tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah) dan takwil (memalingkan dari makna lahirnya). Namun dalam praktiknya, jalan takwil jauh lebih mendominasi literatur mereka. Dr. Syamsuddin al-Afghani memotret realitas madrasah ini dengan perkataan,لكن قولهم بالتفويض للتخلص من نصوص السلف القاطعة الصريحة في الإثبات فقط، وإلا مذهبهم الذي استقروا عليه وطبقوه عملياً هو التأويل المبتدع الذي هو عين التحريف والتعطيل“Perkataan mereka dengan tafwidh sebenarnya hanya untuk lepas dari nash-nash salaf yang qath’i dan sharih dalam menetapkan sifat. Adapun mazhab yang mereka pegang teguh dan mereka aplikasikan secara nyata adalah takwil yang bid’ah, yang pada hakikatnya adalah tahrif dan ta’thil.” [13]Klaim sebagian tokoh mereka bahwa tafwidh mutlak (menyerahkan makna sekaligus kaifiyat) adalah mazhab salaf juga disanggah secara keras oleh para peneliti akidah. Dr. Syamsuddin al-Afghani menegaskan,ادعت الماتريدية على السلف تفويضاً مطلقاً في الكيف والمعنى جميعاً، وهذه الدعوى باطلة على السلف لا حقيقة لها، وأنها خطأ عليهم، وافتراء شنيع وبهتان فظيع وتقول وتقويل“Maturidiyyah mendakwakan atas para salaf tafwidh mutlak dalam kaifiyat dan makna sekaligus. Dakwaan ini batil atas para salaf, tidak memiliki hakikat, ia merupakan kesalahan atas mereka, iftira’ yang keji, buhtan (kebohongan) yang dahsyat, dan taqawwul (mengarang-ngarang atas nama mereka).” [14]Sisi kelemahan argumen Maturidiyyah terlihat jelas dari ketidakkonsistenan mereka dalam menetapkan sifat. Mereka menetapkan delapan sifat namun menolak sifat-sifat lainnya, padahal alasan logika yang mereka pakai untuk menolak sifat khabariyyah dapat pula diterapkan pada sifat yang mereka tetapkan. Dr. Syamsuddin Al-Afghani membongkar kontradiksi tersebut,الماتريدية متناقضون في قضية التأويل حيث أثبتوا بعض الصفات وأولوا بعضها فإما أن يثبتوا جميع الصفات، وإما أن يؤولوا جميعها، لأن الدافع للتأويل وهو شبهة التشبيه، وتحقيق التنزيه موجود فيما أثبتوه أيضاً“Maturidiyyah kontradiktif dalam masalah takwil. Mereka menetapkan sebagian sifat dan mentakwil sebagian yang lain. Seharusnya, mereka menetapkan seluruh sifat, atau mentakwil semuanya. Karena pendorong takwil, yaitu syubhat tasybih dan usaha tanzih, juga ada pada sifat-sifat yang mereka tetapkan.” [15]Pembatasan mereka pada delapan sifat saja yaitu qudrah, ilmu, hayat, iradah, sam’, bashar, kalam, dan takwin dinilai oleh para ulama sebagai pembedaan tanpa dasar dalil dari akal maupun nash wahyu (takhshish tanpa mukhashshish). [16]Kelima, penyimpangan dalam bab kalamullah dan imanDalam persoalan kalamullah, Maturidiyyah mengadopsi konsep kalam nafsi dari Ibn Kullab. Syekh Ahmad al-Harbi merangkum keyakinan mereka,قالت الماتريدية في كلام الله: أنه معنىً واحد، قديم أزلي، ليس له تعلق بمشيئته تعالى وقدرته، وأنه ليس بحرف ولا صوت، وأنه كلام نفسي، وأنه لا يسمع إنما يسمع ما هو عبارة عنه“Maturidiyyah berpendapat tentang kalam Allah: bahwa ia adalah satu makna, qadim azali, tidak berkaitan dengan masyi’ah (kehendak) dan qudrah-Nya, tidak berupa huruf dan tidak pula suara, ia adalah kalam nafsi, dan tidak dapat didengar. Yang didengar hanyalah ‘ibarah (ungkapan) tentangnya.” [17]Manhaj salaf menetapkan bahwa Allah berbicara dengan huruf dan suara sesuai kehendak-Nya yang didengar oleh siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa: 164)Adapun dalam bab iman, Maturidiyyah membatasi iman pada pembenaran hati saja atau pembenaran hati disertai ikrar lisan tanpa adanya penambahan dan pengurangan. Syekh Ahmad al-Harbi menjelaskan,ذهبت الماتريدية إلى أن الإيمان هو التصديق بالقلب فقط، وقال بعضهم بأنه التصديق بالقلب والإقرار باللسان. ومنعوا زيادته ونقصانه، وقالوا بتحريم الاستثناء فيه“Maturidiyyah berpendapat bahwa iman adalah tashdiq dalam hati saja. Sebagian mereka mengatakan bahwa iman adalah tashdiq dalam hati dan iqrar dengan lisan. Mereka menolak bertambah dan berkurangnya iman, serta mengharamkan istitsna’ dalam iman.” [18]Mereka juga membolehkan iman orang yang bertaklid (iman muqallid) meskipun dinilai berdosa jika meninggalkan kewajiban penalaran akal. Syekh Ahmad al-Harbi menilai asas ini,أن الماتريدية قالت بصحة إيمان المقلد مع الإثم على ترك النظر والاستدلال وقولهم هذا باطل؛ لأنه بني على أصلٍ باطل، وهو أن النظر والاستدلال أصل الدين والإيمان“Sesungguhnya Maturidiyyah berpendapat sahnya iman muqallid disertai dosa atas peninggalan nazhar dan istidlal. Perkataan mereka ini batil karena dibangun di atas pokok yang batil, yaitu bahwa nazhar dan istidlal adalah pokok agama dan keimanan.” [19]Ahlus Sunah menetapkan bahwa iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ“Supaya keimanan mereka bertambah bersama keimanan mereka yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4)Relasi dan perbandingan Maturidiyyah dengan Asy’ariyyahSetelah memahami di mana letak persimpangan Maturidiyyah dengan manhaj salaf, kita perlu mendudukkan posisi mereka ketika disandingkan dengan Asy’ariyyah. Kedua aliran ini sering disebut beriringan dalam kitab-kitab kalam. Keselarasan di antara keduanya terjadi karena keduanya bertumbuh dari akar yang sama, yaitu aliran Kullabiyyah. Syekh Ahmad al-Harbi menyimpulkan hubungan kedua madrasah tersebut dalam risalahnya,أن هناك توافقٌ كبيرٌ بين الماتريدية والأشاعرة، وسر هذا التوافق أن كلتا الفرقتين انبثقتا من الكلابية. وما بينهما من خلاف فإنما يقع في مسائل معدودة“Terdapat kesamaan yang sangat besar antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah. Rahasia kesamaan ini adalah bahwa kedua aliran ini sama-sama berasal dari Kullabiyyah. Adapun perbedaan di antara keduanya, itu hanya terjadi pada beberapa masalah yang terbatas.” [20]Syekh Muhammad al-Khadhr Husain mempertegas relasi tersebut sekaligus menyifati batasan perbedaannya dalam risalah beliau,وبين الماتريدية والأشاعرة خلاف في مسائل معدودة لا تتجاوز ثلاث عشرة مسألة، منها: اختلافهم في السعادة والشقاوة، فهما عند الأشعري مقدرتان في الأزل لا يتغيران ولا يتبدلان؛ لأن السعادة هي الموت على الإسلام، والشقاوة الموت على الكفر“Dan antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah terdapat perbedaan pada beberapa masalah yang tidak melebihi tiga belas masalah. Di antaranya: perbedaan mereka dalam masalah sa’adah (kebahagiaan abadi) dan syaqawah (kecelakaan abadi). Keduanya menurut al-Asy’ari telah ditetapkan sejak azal, tidak berubah dan tidak berganti; karena sa’adah adalah mati di atas keislaman, sedangkan syaqawah adalah mati di atas kekafiran.” [21]Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi dalam kajiannya atas kitab Al-‘Arsy menjelaskan akar pertemuan kedua madrasah tersebut,فالماتريدي لا يبعد كثيراً عن أبي الحسن الأشعري (في طوره الثاني) فهو خصم لدود للمعتزلة، إلا أنه كان متأثراً بالمنهج الكلامي على طريقة ابن كلاب من الاعتماد على المناهج الكلامية في تقرير المسائل الاعتقادية شأنه في ذلك شأن أبي الحسن الأشعري، فكلاهما يعتبر امتداداً لمدرسة ابن كلاب“Maka al-Maturidi tidak jauh berbeda dari Abu al-Hasan al-Asy’ari (pada fase keduanya). Ia adalah musuh bebuyutan Mu’tazilah, namun ia tetap terpengaruh oleh metode kalam ala Ibnu Kullab dalam menetapkan masalah-masalah akidah, sama halnya dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari. Keduanya dianggap sebagai kelanjutan dari madrasah Ibn Kullab.” [22]Adapun perbedaan teknis di antara keduanya, selain masalah sa’adah dan syaqawah yang telah disinggung di atas, adalah dalam bab sifat takwin. Maturidiyyah menetapkan bahwa Allah memiliki sifat takwin (menciptakan) sebagai sifat azali yang berdiri sendiri, terpisah dari qudrah dan iradah. Syekh Ahmad al-Harbi menguraikan pandangan ini,ترى الماتريدية أن جميع صفات الأفعال المتعدية ترجع إلى صفةٍ واحدةٍ وهي التكوين. وقالوا إن التكوين غير المكون، وأنه أزلي لا يتجدد ولا تعلق له بالمشيئة والقدرة“Maturidiyyah berpendapat bahwa seluruh sifat perbuatan (fi’liyyah) yang muta’addi kembali kepada satu sifat, yaitu takwin. Mereka mengatakan bahwa takwin berbeda dari mukawwan (yang diciptakan), dan bahwa ia bersifat azali, tidak baru, serta tidak terkait dengan masyi’ah (kehendak) dan qudrah.” [23]Asy’ariyyah menolak takwin sebagai sifat yang berdiri sendiri dan mengembalikannya pada konsekuensi sifat kuasa dan kehendak. Rincian perbandingan ini memperlihatkan bahwa perdebatan Maturidiyyah dan Asy’ariyyah hanyalah berkutat pada persoalan furu’ dalam tradisi ilmu kalam. Secara fondasi asas, keduanya tetap berada pada alur yang sama dalam mendahulukan rasionalisme kalam di atas penyerahan diri kepada nash wahyu.Kedudukan Maturidiyyah dalam timbangan ulama salafSetelah menelaah pokok keyakinan dan perbandingannya, seorang penuntut ilmu perlu bersikap insyaf dan berimbang. Para ulama Ahlus sunah tidak menafikan jasa ilmiah ulama Maturidiyyah, namun tetap memberikan batas tegas terkait kelurusan akidah mereka.Dr. Syamsuddin al-Afghani mendudukkan status mereka secara adil dengan perkataan,“Mereka, karena banyaknya kebenaran yang ada pada mereka, dianggap sebagai Ahlus sunah dalam pengertian umum, dan bukan Ahlus sunah dalam pengertian yang murni (mahdhah).” [24]Penyebutan sebagai bagian dari Ahlus sunah dalam arti umum didasarkan pada besarnya peran ulama Maturidiyyah dalam membantah aliran-aliran zindik seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan Rafidhah, serta kontribusi besar mereka dalam membela syariat Islam di berbagai penjuru negeri. Syekh Ahmad Al-Harbi menutup ulasannya dengan memberi nasihat mengenai adab berinteraksi dengan mereka,فهؤلاء لما عندهم من الحق يعدون من أهل السنة بالمعنى العام، وليسوا من أهل السنة المحضة“Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersikap adil terhadap Maturidiyyah dan memberi mereka hak yang wajar. Mereka mengakui kebenaran yang ada pada mujtahid atau pencari kebenaran di antara mereka, demikian juga mereka mencela orang yang zalim, ta’ashub, dan pengikut hawa nafsu.” [25]PenutupMemperhatikan konstruksi akidah Maturidiyyah memberikan pelajaran berharga bahwa tujuan yang baik dalam membela Islam harus dipadukan dengan metodologi yang benar. Ketika Abu Manshur al-Maturidi menempuh jalur penalaran kalam ala Kullabiyyah dalam melawan Mu’tazilah, aliran yang dibentuknya justru mewarisi berbagai keruntuhan metode, mulai dari dominasi akal atas wahyu, penolakan hujjah hadis ahad, hingga kontradiksi dalam penakwilan sifat Allah.Perbedaan teknis antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah dalam masalah takwin, kalam nafsi, iman muqallid, maupun sa’adah dan syaqawah tidak merubah fakta bahwa kedua aliran ini berdiri di atas fondasi rasionalisme yang serupa.Sikap terbaik bagi setiap muslim adalah meneladani keadilan ulama salaf: mengakui kebaikan serta warisan ilmu para ulama dalam bidang fikih dan tafsir, sembari menjaga kemurnian akidah dari penyimpangan ilmu kalam. Sebab, jalan kebenaran dalam mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya belumlah pernah berubah, yaitu meniti petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunah sesuai dengan pemahaman para sahabat dan imam ahlul hadis yang senantiasa menundukkan akal di bawah bimbingan wahyu.Wallahu a’lam bish-shawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, Al-Maaturidiyyah, hal. 11.[2] Syamsuddin as-Salafi al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 537-540.[3] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar li Ahli al-Hadits, hal. 182-183; dinukil dalam Al-Maaturidiyyah karya al-Wa’lan, hal. 11.[4] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar li Ahli al-Hadits, hal. 183.[5] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar; dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 2: 504-508.[6] Ibnul Qayyim, Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 2: 509-510.[7] Ibnul Qayyim, Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 3: 473-475.[8] Dinukil dalam Mausu’ah al-Firaq al-Muntasibah lil-Islam, 2: 362.[9] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah bin Dakhil al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 199.[10] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200.[11] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 484-498; Khathimah, hal. 203.[12] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 498-508; Khathimah, hal. 203.[13] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 131; Khathimah, hal. 202.[14] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 127-129; Khathimah, hal. 202.[15] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 340-353; Khathimah, hal. 203.[16] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, Khathimah, hal. 199; lihat pula Dr. Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 426-433.[17] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200.[18] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200-201.[19] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal.[20] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal.[21] Syekh Muhammad al-Khadhr Husain, Mausu’ah al-A’mal al-Kamilah lil-Imam Muhammad al-Khadhr Husain, 4: 184.[22] Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, dalam Muqaddimah tahqiq kitab Al-‘Arsy karya Imam Adz-Dzahabi, 1: 69-70 (atau hal. 168-170 cetakan اﻟﻌﻠﻣﻲ اﻟﺑﺣث ﻋﻣﺎدة).[23] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 199.[24] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 401-406; Khathimah, hal. 202.[25] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 201. Daftar PustakaAl-Afghani, Syamsuddin as-Salafi. Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat. Cet. ke-1. Thaif: Maktabah ash-Shiddiq, 1413 H.Al-Harbi, Ahmad bin ‘Audhullah bin Dakhil. Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman. Cet. ke-1. Riyadh: Dar al-‘Ashimah, 1413 H.Al-Khadhr Husain, Muhammad. Mausu’ah al-A’mal al-Kamilah lil-Imam Muhammad al-Khadhr Husain. Cet. ke-1. Suriah: Dar an-Nawadir, 1431 H.Al-Maturidi, Abu Manshur Muhammad bin Muhammad. Kitab at-Tauhid. Kairo: Dar al-Jami’at al-Misriyyah, 1970 M.As-Sam’ani, Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad. Al-Intishar li Ahli al-Hadits.‘Awaji, Ghalib bin ‘Ali. Firaq Mu’ashirah Tantasib ila al-Islam wa Bayan Mauqif al-Islam Minha. Cet. ke-4. Jeddah: al-Maktabah al-‘Ashriyyah adz-Dzahabiyyah, 1422 H.Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Al-‘Arsy. Tahqiq: Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi. Cet. ke-2. Madinah: ‘Imadah al-Bahts al-‘Ilmi bil-Jami’ah al-Islamiyyah, 1424 H.Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr. Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah ‘ala al-Jahmiyyah wal Mu’aththilah. Riyadh: Adwa’ as-Salaf, 1425 H.As-Saqqaf, ‘Alawi bin ‘Abdul Qadir (peny.). Mausu’ah al-Firaq al-Muntasibah lil-Islam. Situs Dorar.net.Al-Wa’lan, Abdul Majid bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah. Maktabah Syamilah.                      

Mengenal Akidah Maturidiyyah (Bag. 2): Pokok-Pokok Keyakinan Maturidiyyah dan Bantahan Ahlus Sunnah

Daftar Isi TogglePokok-pokok keyakinan Maturidiyyah dan bantahan Ahlus sunah Pertama, menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuKedua, menolak hujjah hadis ahad dalam akidahKetiga, menafikan sifat khabariyyah dan sifat ikhtiyariyyahKeempat, dilema antara tafwidh dan takwil serta kontradiksi pembatasan sifatKelima, penyimpangan dalam bab kalamullah dan imanRelasi dan perbandingan Maturidiyyah dengan Asy’ariyyahKedudukan Maturidiyyah dalam timbangan ulama salafPenutupMempelajari sejarah aliran teologi tidak cukup hanya dengan mengetahui siapa tokoh pendirinya dan di wilayah mana mazhab tersebut menyebar. Bagi seorang penuntut ilmu, kajian sejarah hanyalah pintu masuk untuk menelaah hal yang jauh lebih esensial, yaitu menimbang pokok-pokok keyakinan yang dibangun aliran tersebut dengan neraca Al-Qur’an, As-Sunah, dan pemahaman generasi salaf.Langkah ini sangat diperlukan agar seseorang tidak mudah menyimpulkan bahwa suatu kelompok otomatis berada di atas manhaj yang lurus hanya karena luasnya jaringan pendidikan atau besarnya jumlah pengikut mereka di dunia Islam. Di antara aliran teologi dalam Islam yang eksis adalah Maturidiyyah.Pokok-pokok keyakinan Maturidiyyah dan bantahan Ahlus sunah Maturidiyyah lahir dari tekad untuk membela agama dari serangan kaum rasionalis Mu’tazilah. Akan tetapi, perangkat argumentasi yang digunakan justru meminjam tradisi Ilmu Kalam yang didasarkan pada logika filosofis. Dampaknya, muncullah sejumlah penyimpangan metodologis dalam penetapan akidah yang menyelisihi jalan para sahabat dan imam ahlul hadis.Pertama, menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuTitik pangkal dari seluruh persoalan teologi Maturidiyyah adalah penempatan logika sebagai sumber utama dalam menetapkan akidah. Abu Manshur al-Maturidi sendiri menegaskan kaidah ini sejak awal dalam karya babonnya,إن العلم بالله وبأمره عرض لا يدرك إلا بالاستدلال“Sesungguhnya ilmu tentang Allah dan perintah-Nya adalah ‘ardh yang tidak dapat diketahui kecuali dengan istidlal (penalaran).” [1]Penalaran yang dimaksud adalah pembuktian rasional yang berpusat pada akal. Dalam pandangan mereka, urusan agama terbagi menjadi wilayah ‘aqliyyat (yang bisa dicapai akal) dan sam’iyyat (yang hanya diketahui lewat wahyu). Pada wilayah ‘aqliyyat, akal diangkat sebagai hakim pemutus. Ketika terdapat dalil wahyu yang dianggap tidak sejalan dengan kesimpulan logika mereka, maka hadis ahad akan ditolak, sedangkan ayat atau hadis mutawatir akan ditakwilkan dari makna zahirnya. [2]Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani rahimahullah memberikan kaidah emas untuk membongkar keruntuhan cara berpikir tersebut. Beliau berkata,اعلم أن فصل ما بيننا وبين المبتدعة هو مسألة العقل؛ فإنهم أسسوا دينهم على المعقول وجعلوا الاتباع والمأثور تبعا للمعقول، وأما أهل السنة قالوا: الأصل في الدين الاتباع والعقول تبع، ولو كان أساس الدين على المعقول لاستغنى الخلق عن الوحي وعن الأنبياء صلوات الله عليهم ولبطل معنى الأمر والنهي ولقال من شاء ما شاء“Ketahuilah bahwa pembeda antara kami dengan ahli bid’ah adalah masalah akal. Mereka membangun agama mereka di atas akal dan menjadikan ittiba’ dan atsar sebagai pengikut akal. Adapun Ahlus sunah mengatakan: pokok dalam agama adalah ittiba’ (mengikuti dalil, ed.), dan akal adalah pengikut. Seandainya asas agama adalah akal, niscaya makhluk tidak butuh wahyu dan tidak butuh para Nabi. Dan batallah makna perintah dan larangan, sehingga siapa saja bisa berkata sesukanya.” [3]Ahlus sunah menegaskan bahwa akal manusia memiliki batas kemampuan yang tidak akan mampu menjangkau hakikat ketuhanan tanpa bimbingan wahyu. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا“Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan, melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra: 85)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani melengkapi kaidah ini dengan mengingatkan esensi kepatuhan seorang hamba terhadap nash syariat,وإنما علينا أن نقبل ما عقلناه إيماناً وتصديقاً، وما لم نعقله قبلناه تسليماً واستسلاماً، وهذا معنى قول القائل من أهل السنة: إن الإسلام قنطرة لا تعبر إلا بالتسليم“Sesungguhnya yang wajib atas kita adalah menerima apa yang kita pahami dengan iman dan tashdiq (membenarkan dalam hati, ed.), dan yang tidak kita pahami kita terima dengan taslim dan istislam (menerima, tunduk, dan patuh, ed.). Inilah makna perkataan sebagian Ahlus sunah: sesungguhnya Islam adalah jembatan yang tidak bisa diseberangi kecuali dengan taslim.” [4]Kedua, menolak hujjah hadis ahad dalam akidahPengagungan terhadap akal berlanjut pada penolakan terhadap hadis ahad dalam masalah iktikad. Maturidiyyah beranggapan bahwa hadis ahad hanya menghasilkan praduga (zhanni), sedangkan akidah harus dibangun di atas kepastian (yushil ilal yaqin). Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani menepis argumen yang menyelisihi kesepakatan ulama salaf ini dengan menerangkan,قولهم: إن أخبار الآحاد لا تقبل فيما طريقه العلم رأي سمعت به المبتدعة في رد الأخبار. إذ أن الخبر إذا صح ورواه الثقات والأئمة، وتلقته الأمة بالقبول فإنه يوجب العلم“Perkataan mereka, ‘Sesungguhnya khabar ahad tidak diterima dalam hal yang jalannya ilmu adalah pendapat yang menjadi tempat berpegang ahli bid’ah untuk menolak khabar. Padahal, jika khabar itu sahih, diriwayatkan oleh para tsiqah dan para imam, serta diterima oleh umat, maka ia menghasilkan ilmu.” [5]Ibnul Qayyim rahimahullah turut menjelaskan bahwa pemisahan antara hadis untuk hukum amaliah dan hadis untuk akidah adalah perkara baru yang tidak pernah dikenal di masa salaf. Beliau menegaskan,ولم تزل الصحابة والتابعون وتابعوهم، وأهل الحديث والسنة يحتجون بهذه الأخبار في مسائل الصفات والقدر والأسماء والأحكام، ولم ينقل عن أحد منهم البتة أنه جوّز الاحتجاج بها في مسائل الأحكام دون الإخبار عن الله، وأسمائه وصفاته“Para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, ahli hadis, dan Ahli sunah senantiasa berhujjah dengan khabar-khabar ini dalam masalah sifat, qadar, asma (nama Allah), dan hukum. Dan tidak dinukil sama sekali dari salah seorang di antara mereka bahwa ia membolehkan berhujjah dengannya dalam masalah hukum saja tanpa masalah khabar tentang Allah, nama, dan sifat-Nya.” [6]Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan kesaksian sejarah umat Islam,ونحن نشهد بالله ولله شهادةً على البت والقطع أن الصحابة رضي الله عنهم كانوا يجزمون بما يحدث به أحدهم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يقل أحد منهم لمن حدثه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: خبرك خبر واحدٍ لا يفيد العلم حتى يتواتر“Kami bersaksi dengan Allah dan untuk Allah, kesaksian yang pasti dan tegas, bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum benar-benar memastikan apa yang diriwayatkan oleh salah seorang mereka dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak seorang pun dari mereka berkata kepada orang yang meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Khabarmu adalah khabar ahad yang tidak menghasilkan ilmu sehingga ia harus mutawatir.’” [7]Dalil dari sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggugurkan klaim Maturidiyyah ini sangatlah banyak. Di antaranya adalah hadis Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji keimanan seorang budak wanita dengan pertanyaan akidah,أَيْنَ اللَّهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ“Di mana Allah? Budak wanita itu menjawab: Di atas langit. Beliau bertanya lagi: Siapa aku? Budak itu menjawab: Engkau adalah utusan Allah. Beliau pun bersabda: Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia seorang mukminah.” (HR. Muslim no. 537)Hadis ini merupakan hadis ahad, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai standar keabsahan iman dalam masalah yang sangat agung, yaitu sifat ﻋﻠو (ketinggian) Allah di atas makhluk-Nya. Bahkan, Imam Abu Hanifah rahimahullah sendiri berdalil dengan hadis budak wanita ini dalam menetapkan sifat uluww Allah Ta’ala. [8]Ketiga, menafikan sifat khabariyyah dan sifat ikhtiyariyyahPenyimpangan teologis Maturidiyyah yang cukup berat tampak pada penolakan mereka terhadap sifat-sifat khabariyyah yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunah (seperti wajah, kedua tangan, atau istiwa’ di atas Arsy), serta sifat-sifat perbuatan yang terkait dengan kehendak Allah (shifat ikhtiyariyyah atau fi’liyyah lazimah). Mereka mengira penetapan sifat tersebut akan menyamakan Pencipta dengan makhluk. Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi merangkum pokok pikiran mereka dalam risalah ilmiahnya,قالت الماتريدية بنفي جميع الصفات الخبرية التي وردت في الكتاب والسنة، وذلك لأن مصدرهم في التلقي هو العقل، ولاعتقادهم أن إثبات هذه الصفات على حقيقتها يستلزم التشبيه والتجسيم، واحتجوا لقولهم هذا بشُبه فاسدة“Maturidiyyah menafikan seluruh sifat khabariyyah yang datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Ini karena sumber talaqqi mereka adalah akal, dan karena keyakinan mereka bahwa menetapkan sifat-sifat ini dalam makna sesungguhnya melazimkan tasybih dan tajsim. Mereka berhujjah untuk pendapat ini dengan syubhat-syubhat yang batil.” [9]Beliau juga mencatat penolakan mereka terhadap sifat-sifat perbuatan yang bersifat lazimah,نفت الماتريدية الصفات الفعلية اللازمة، وذلك لأن الأصل في ثبوتها الخبر، ولأنها صفات اختيارية، وهم يمنعون أن تقوم بالله صفة اختيارية حذراً من التشبيه وفراراً منه“Maturidiyyah menafikan sifat-sifat fi’liyyah yang lazimah karena asal penetapannya adalah khabar, dan karena ia merupakan sifat ikhtiyariyyah. Mereka melarang Allah memiliki sifat ikhtiyariyyah karena khawatir dan lari dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk, ed.).” [10]Dr. Syamsuddin Al-Afghani dalam kajian mendalamnya membongkar akar masalah tersebut dengan menunjukkan bahwa mereka keliru dalam memahami batasan tasybih dan tanzih. Beliau menulis,إن الماتريدية لم يعرفوا حقيقة التشبيه الذي يجب نفيه عن الله تعالى، فأدخلوا في مفهوم التشبيه كثيراً من الصفات فنفوها“Sesungguhnya Maturidiyyah tidak mengetahui hakikat tasybih yang wajib dinafikan dari Allah. Maka, mereka memasukkan banyak sifat ke dalam pengertian tasybih, lalu mereka nafikan sifat-sifat itu.” [11]Pada saat yang sama, beliau melanjutkan keterangannya,كما أنهم لم يعرفوا حقيقة التنزيه الذي يجب إثباته لله سبحانه، فأدخلوا في مفهوم التنزيه نفي كثير من الصفات فعطلوها“Sebagaimana mereka juga tidak mengetahui hakikat tanzih yang wajib ditetapkan bagi Allah. Maka, mereka memasukkan penafian banyak sifat ke dalam pengertian tanzih, lalu mereka ta’thil sifat-sifat itu.” [12]Manhaj salaf menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya tanpa tasybih dan tanpa ta’thil, berdasarkan firman Allah Ta’ala,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)Ayat ini membantah kaum musyabbihah pada firman-Nya (“tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”), sekaligus membantah kaum mu’aththilah dan penafsir kalam pada firman-Nya (“dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”).Keempat, dilema antara tafwidh dan takwil serta kontradiksi pembatasan sifatDalam menyikapi ayat-ayat sifat, Maturidiyyah menempuh dua jalan yang sama-sama menyimpang dari jalan salaf, yaitu tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah) dan takwil (memalingkan dari makna lahirnya). Namun dalam praktiknya, jalan takwil jauh lebih mendominasi literatur mereka. Dr. Syamsuddin al-Afghani memotret realitas madrasah ini dengan perkataan,لكن قولهم بالتفويض للتخلص من نصوص السلف القاطعة الصريحة في الإثبات فقط، وإلا مذهبهم الذي استقروا عليه وطبقوه عملياً هو التأويل المبتدع الذي هو عين التحريف والتعطيل“Perkataan mereka dengan tafwidh sebenarnya hanya untuk lepas dari nash-nash salaf yang qath’i dan sharih dalam menetapkan sifat. Adapun mazhab yang mereka pegang teguh dan mereka aplikasikan secara nyata adalah takwil yang bid’ah, yang pada hakikatnya adalah tahrif dan ta’thil.” [13]Klaim sebagian tokoh mereka bahwa tafwidh mutlak (menyerahkan makna sekaligus kaifiyat) adalah mazhab salaf juga disanggah secara keras oleh para peneliti akidah. Dr. Syamsuddin al-Afghani menegaskan,ادعت الماتريدية على السلف تفويضاً مطلقاً في الكيف والمعنى جميعاً، وهذه الدعوى باطلة على السلف لا حقيقة لها، وأنها خطأ عليهم، وافتراء شنيع وبهتان فظيع وتقول وتقويل“Maturidiyyah mendakwakan atas para salaf tafwidh mutlak dalam kaifiyat dan makna sekaligus. Dakwaan ini batil atas para salaf, tidak memiliki hakikat, ia merupakan kesalahan atas mereka, iftira’ yang keji, buhtan (kebohongan) yang dahsyat, dan taqawwul (mengarang-ngarang atas nama mereka).” [14]Sisi kelemahan argumen Maturidiyyah terlihat jelas dari ketidakkonsistenan mereka dalam menetapkan sifat. Mereka menetapkan delapan sifat namun menolak sifat-sifat lainnya, padahal alasan logika yang mereka pakai untuk menolak sifat khabariyyah dapat pula diterapkan pada sifat yang mereka tetapkan. Dr. Syamsuddin Al-Afghani membongkar kontradiksi tersebut,الماتريدية متناقضون في قضية التأويل حيث أثبتوا بعض الصفات وأولوا بعضها فإما أن يثبتوا جميع الصفات، وإما أن يؤولوا جميعها، لأن الدافع للتأويل وهو شبهة التشبيه، وتحقيق التنزيه موجود فيما أثبتوه أيضاً“Maturidiyyah kontradiktif dalam masalah takwil. Mereka menetapkan sebagian sifat dan mentakwil sebagian yang lain. Seharusnya, mereka menetapkan seluruh sifat, atau mentakwil semuanya. Karena pendorong takwil, yaitu syubhat tasybih dan usaha tanzih, juga ada pada sifat-sifat yang mereka tetapkan.” [15]Pembatasan mereka pada delapan sifat saja yaitu qudrah, ilmu, hayat, iradah, sam’, bashar, kalam, dan takwin dinilai oleh para ulama sebagai pembedaan tanpa dasar dalil dari akal maupun nash wahyu (takhshish tanpa mukhashshish). [16]Kelima, penyimpangan dalam bab kalamullah dan imanDalam persoalan kalamullah, Maturidiyyah mengadopsi konsep kalam nafsi dari Ibn Kullab. Syekh Ahmad al-Harbi merangkum keyakinan mereka,قالت الماتريدية في كلام الله: أنه معنىً واحد، قديم أزلي، ليس له تعلق بمشيئته تعالى وقدرته، وأنه ليس بحرف ولا صوت، وأنه كلام نفسي، وأنه لا يسمع إنما يسمع ما هو عبارة عنه“Maturidiyyah berpendapat tentang kalam Allah: bahwa ia adalah satu makna, qadim azali, tidak berkaitan dengan masyi’ah (kehendak) dan qudrah-Nya, tidak berupa huruf dan tidak pula suara, ia adalah kalam nafsi, dan tidak dapat didengar. Yang didengar hanyalah ‘ibarah (ungkapan) tentangnya.” [17]Manhaj salaf menetapkan bahwa Allah berbicara dengan huruf dan suara sesuai kehendak-Nya yang didengar oleh siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa: 164)Adapun dalam bab iman, Maturidiyyah membatasi iman pada pembenaran hati saja atau pembenaran hati disertai ikrar lisan tanpa adanya penambahan dan pengurangan. Syekh Ahmad al-Harbi menjelaskan,ذهبت الماتريدية إلى أن الإيمان هو التصديق بالقلب فقط، وقال بعضهم بأنه التصديق بالقلب والإقرار باللسان. ومنعوا زيادته ونقصانه، وقالوا بتحريم الاستثناء فيه“Maturidiyyah berpendapat bahwa iman adalah tashdiq dalam hati saja. Sebagian mereka mengatakan bahwa iman adalah tashdiq dalam hati dan iqrar dengan lisan. Mereka menolak bertambah dan berkurangnya iman, serta mengharamkan istitsna’ dalam iman.” [18]Mereka juga membolehkan iman orang yang bertaklid (iman muqallid) meskipun dinilai berdosa jika meninggalkan kewajiban penalaran akal. Syekh Ahmad al-Harbi menilai asas ini,أن الماتريدية قالت بصحة إيمان المقلد مع الإثم على ترك النظر والاستدلال وقولهم هذا باطل؛ لأنه بني على أصلٍ باطل، وهو أن النظر والاستدلال أصل الدين والإيمان“Sesungguhnya Maturidiyyah berpendapat sahnya iman muqallid disertai dosa atas peninggalan nazhar dan istidlal. Perkataan mereka ini batil karena dibangun di atas pokok yang batil, yaitu bahwa nazhar dan istidlal adalah pokok agama dan keimanan.” [19]Ahlus Sunah menetapkan bahwa iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ“Supaya keimanan mereka bertambah bersama keimanan mereka yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4)Relasi dan perbandingan Maturidiyyah dengan Asy’ariyyahSetelah memahami di mana letak persimpangan Maturidiyyah dengan manhaj salaf, kita perlu mendudukkan posisi mereka ketika disandingkan dengan Asy’ariyyah. Kedua aliran ini sering disebut beriringan dalam kitab-kitab kalam. Keselarasan di antara keduanya terjadi karena keduanya bertumbuh dari akar yang sama, yaitu aliran Kullabiyyah. Syekh Ahmad al-Harbi menyimpulkan hubungan kedua madrasah tersebut dalam risalahnya,أن هناك توافقٌ كبيرٌ بين الماتريدية والأشاعرة، وسر هذا التوافق أن كلتا الفرقتين انبثقتا من الكلابية. وما بينهما من خلاف فإنما يقع في مسائل معدودة“Terdapat kesamaan yang sangat besar antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah. Rahasia kesamaan ini adalah bahwa kedua aliran ini sama-sama berasal dari Kullabiyyah. Adapun perbedaan di antara keduanya, itu hanya terjadi pada beberapa masalah yang terbatas.” [20]Syekh Muhammad al-Khadhr Husain mempertegas relasi tersebut sekaligus menyifati batasan perbedaannya dalam risalah beliau,وبين الماتريدية والأشاعرة خلاف في مسائل معدودة لا تتجاوز ثلاث عشرة مسألة، منها: اختلافهم في السعادة والشقاوة، فهما عند الأشعري مقدرتان في الأزل لا يتغيران ولا يتبدلان؛ لأن السعادة هي الموت على الإسلام، والشقاوة الموت على الكفر“Dan antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah terdapat perbedaan pada beberapa masalah yang tidak melebihi tiga belas masalah. Di antaranya: perbedaan mereka dalam masalah sa’adah (kebahagiaan abadi) dan syaqawah (kecelakaan abadi). Keduanya menurut al-Asy’ari telah ditetapkan sejak azal, tidak berubah dan tidak berganti; karena sa’adah adalah mati di atas keislaman, sedangkan syaqawah adalah mati di atas kekafiran.” [21]Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi dalam kajiannya atas kitab Al-‘Arsy menjelaskan akar pertemuan kedua madrasah tersebut,فالماتريدي لا يبعد كثيراً عن أبي الحسن الأشعري (في طوره الثاني) فهو خصم لدود للمعتزلة، إلا أنه كان متأثراً بالمنهج الكلامي على طريقة ابن كلاب من الاعتماد على المناهج الكلامية في تقرير المسائل الاعتقادية شأنه في ذلك شأن أبي الحسن الأشعري، فكلاهما يعتبر امتداداً لمدرسة ابن كلاب“Maka al-Maturidi tidak jauh berbeda dari Abu al-Hasan al-Asy’ari (pada fase keduanya). Ia adalah musuh bebuyutan Mu’tazilah, namun ia tetap terpengaruh oleh metode kalam ala Ibnu Kullab dalam menetapkan masalah-masalah akidah, sama halnya dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari. Keduanya dianggap sebagai kelanjutan dari madrasah Ibn Kullab.” [22]Adapun perbedaan teknis di antara keduanya, selain masalah sa’adah dan syaqawah yang telah disinggung di atas, adalah dalam bab sifat takwin. Maturidiyyah menetapkan bahwa Allah memiliki sifat takwin (menciptakan) sebagai sifat azali yang berdiri sendiri, terpisah dari qudrah dan iradah. Syekh Ahmad al-Harbi menguraikan pandangan ini,ترى الماتريدية أن جميع صفات الأفعال المتعدية ترجع إلى صفةٍ واحدةٍ وهي التكوين. وقالوا إن التكوين غير المكون، وأنه أزلي لا يتجدد ولا تعلق له بالمشيئة والقدرة“Maturidiyyah berpendapat bahwa seluruh sifat perbuatan (fi’liyyah) yang muta’addi kembali kepada satu sifat, yaitu takwin. Mereka mengatakan bahwa takwin berbeda dari mukawwan (yang diciptakan), dan bahwa ia bersifat azali, tidak baru, serta tidak terkait dengan masyi’ah (kehendak) dan qudrah.” [23]Asy’ariyyah menolak takwin sebagai sifat yang berdiri sendiri dan mengembalikannya pada konsekuensi sifat kuasa dan kehendak. Rincian perbandingan ini memperlihatkan bahwa perdebatan Maturidiyyah dan Asy’ariyyah hanyalah berkutat pada persoalan furu’ dalam tradisi ilmu kalam. Secara fondasi asas, keduanya tetap berada pada alur yang sama dalam mendahulukan rasionalisme kalam di atas penyerahan diri kepada nash wahyu.Kedudukan Maturidiyyah dalam timbangan ulama salafSetelah menelaah pokok keyakinan dan perbandingannya, seorang penuntut ilmu perlu bersikap insyaf dan berimbang. Para ulama Ahlus sunah tidak menafikan jasa ilmiah ulama Maturidiyyah, namun tetap memberikan batas tegas terkait kelurusan akidah mereka.Dr. Syamsuddin al-Afghani mendudukkan status mereka secara adil dengan perkataan,“Mereka, karena banyaknya kebenaran yang ada pada mereka, dianggap sebagai Ahlus sunah dalam pengertian umum, dan bukan Ahlus sunah dalam pengertian yang murni (mahdhah).” [24]Penyebutan sebagai bagian dari Ahlus sunah dalam arti umum didasarkan pada besarnya peran ulama Maturidiyyah dalam membantah aliran-aliran zindik seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan Rafidhah, serta kontribusi besar mereka dalam membela syariat Islam di berbagai penjuru negeri. Syekh Ahmad Al-Harbi menutup ulasannya dengan memberi nasihat mengenai adab berinteraksi dengan mereka,فهؤلاء لما عندهم من الحق يعدون من أهل السنة بالمعنى العام، وليسوا من أهل السنة المحضة“Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersikap adil terhadap Maturidiyyah dan memberi mereka hak yang wajar. Mereka mengakui kebenaran yang ada pada mujtahid atau pencari kebenaran di antara mereka, demikian juga mereka mencela orang yang zalim, ta’ashub, dan pengikut hawa nafsu.” [25]PenutupMemperhatikan konstruksi akidah Maturidiyyah memberikan pelajaran berharga bahwa tujuan yang baik dalam membela Islam harus dipadukan dengan metodologi yang benar. Ketika Abu Manshur al-Maturidi menempuh jalur penalaran kalam ala Kullabiyyah dalam melawan Mu’tazilah, aliran yang dibentuknya justru mewarisi berbagai keruntuhan metode, mulai dari dominasi akal atas wahyu, penolakan hujjah hadis ahad, hingga kontradiksi dalam penakwilan sifat Allah.Perbedaan teknis antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah dalam masalah takwin, kalam nafsi, iman muqallid, maupun sa’adah dan syaqawah tidak merubah fakta bahwa kedua aliran ini berdiri di atas fondasi rasionalisme yang serupa.Sikap terbaik bagi setiap muslim adalah meneladani keadilan ulama salaf: mengakui kebaikan serta warisan ilmu para ulama dalam bidang fikih dan tafsir, sembari menjaga kemurnian akidah dari penyimpangan ilmu kalam. Sebab, jalan kebenaran dalam mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya belumlah pernah berubah, yaitu meniti petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunah sesuai dengan pemahaman para sahabat dan imam ahlul hadis yang senantiasa menundukkan akal di bawah bimbingan wahyu.Wallahu a’lam bish-shawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, Al-Maaturidiyyah, hal. 11.[2] Syamsuddin as-Salafi al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 537-540.[3] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar li Ahli al-Hadits, hal. 182-183; dinukil dalam Al-Maaturidiyyah karya al-Wa’lan, hal. 11.[4] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar li Ahli al-Hadits, hal. 183.[5] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar; dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 2: 504-508.[6] Ibnul Qayyim, Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 2: 509-510.[7] Ibnul Qayyim, Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 3: 473-475.[8] Dinukil dalam Mausu’ah al-Firaq al-Muntasibah lil-Islam, 2: 362.[9] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah bin Dakhil al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 199.[10] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200.[11] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 484-498; Khathimah, hal. 203.[12] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 498-508; Khathimah, hal. 203.[13] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 131; Khathimah, hal. 202.[14] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 127-129; Khathimah, hal. 202.[15] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 340-353; Khathimah, hal. 203.[16] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, Khathimah, hal. 199; lihat pula Dr. Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 426-433.[17] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200.[18] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200-201.[19] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal.[20] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal.[21] Syekh Muhammad al-Khadhr Husain, Mausu’ah al-A’mal al-Kamilah lil-Imam Muhammad al-Khadhr Husain, 4: 184.[22] Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, dalam Muqaddimah tahqiq kitab Al-‘Arsy karya Imam Adz-Dzahabi, 1: 69-70 (atau hal. 168-170 cetakan اﻟﻌﻠﻣﻲ اﻟﺑﺣث ﻋﻣﺎدة).[23] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 199.[24] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 401-406; Khathimah, hal. 202.[25] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 201. Daftar PustakaAl-Afghani, Syamsuddin as-Salafi. Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat. Cet. ke-1. Thaif: Maktabah ash-Shiddiq, 1413 H.Al-Harbi, Ahmad bin ‘Audhullah bin Dakhil. Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman. Cet. ke-1. Riyadh: Dar al-‘Ashimah, 1413 H.Al-Khadhr Husain, Muhammad. Mausu’ah al-A’mal al-Kamilah lil-Imam Muhammad al-Khadhr Husain. Cet. ke-1. Suriah: Dar an-Nawadir, 1431 H.Al-Maturidi, Abu Manshur Muhammad bin Muhammad. Kitab at-Tauhid. Kairo: Dar al-Jami’at al-Misriyyah, 1970 M.As-Sam’ani, Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad. Al-Intishar li Ahli al-Hadits.‘Awaji, Ghalib bin ‘Ali. Firaq Mu’ashirah Tantasib ila al-Islam wa Bayan Mauqif al-Islam Minha. Cet. ke-4. Jeddah: al-Maktabah al-‘Ashriyyah adz-Dzahabiyyah, 1422 H.Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Al-‘Arsy. Tahqiq: Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi. Cet. ke-2. Madinah: ‘Imadah al-Bahts al-‘Ilmi bil-Jami’ah al-Islamiyyah, 1424 H.Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr. Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah ‘ala al-Jahmiyyah wal Mu’aththilah. Riyadh: Adwa’ as-Salaf, 1425 H.As-Saqqaf, ‘Alawi bin ‘Abdul Qadir (peny.). Mausu’ah al-Firaq al-Muntasibah lil-Islam. Situs Dorar.net.Al-Wa’lan, Abdul Majid bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah. Maktabah Syamilah.                      
Daftar Isi TogglePokok-pokok keyakinan Maturidiyyah dan bantahan Ahlus sunah Pertama, menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuKedua, menolak hujjah hadis ahad dalam akidahKetiga, menafikan sifat khabariyyah dan sifat ikhtiyariyyahKeempat, dilema antara tafwidh dan takwil serta kontradiksi pembatasan sifatKelima, penyimpangan dalam bab kalamullah dan imanRelasi dan perbandingan Maturidiyyah dengan Asy’ariyyahKedudukan Maturidiyyah dalam timbangan ulama salafPenutupMempelajari sejarah aliran teologi tidak cukup hanya dengan mengetahui siapa tokoh pendirinya dan di wilayah mana mazhab tersebut menyebar. Bagi seorang penuntut ilmu, kajian sejarah hanyalah pintu masuk untuk menelaah hal yang jauh lebih esensial, yaitu menimbang pokok-pokok keyakinan yang dibangun aliran tersebut dengan neraca Al-Qur’an, As-Sunah, dan pemahaman generasi salaf.Langkah ini sangat diperlukan agar seseorang tidak mudah menyimpulkan bahwa suatu kelompok otomatis berada di atas manhaj yang lurus hanya karena luasnya jaringan pendidikan atau besarnya jumlah pengikut mereka di dunia Islam. Di antara aliran teologi dalam Islam yang eksis adalah Maturidiyyah.Pokok-pokok keyakinan Maturidiyyah dan bantahan Ahlus sunah Maturidiyyah lahir dari tekad untuk membela agama dari serangan kaum rasionalis Mu’tazilah. Akan tetapi, perangkat argumentasi yang digunakan justru meminjam tradisi Ilmu Kalam yang didasarkan pada logika filosofis. Dampaknya, muncullah sejumlah penyimpangan metodologis dalam penetapan akidah yang menyelisihi jalan para sahabat dan imam ahlul hadis.Pertama, menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuTitik pangkal dari seluruh persoalan teologi Maturidiyyah adalah penempatan logika sebagai sumber utama dalam menetapkan akidah. Abu Manshur al-Maturidi sendiri menegaskan kaidah ini sejak awal dalam karya babonnya,إن العلم بالله وبأمره عرض لا يدرك إلا بالاستدلال“Sesungguhnya ilmu tentang Allah dan perintah-Nya adalah ‘ardh yang tidak dapat diketahui kecuali dengan istidlal (penalaran).” [1]Penalaran yang dimaksud adalah pembuktian rasional yang berpusat pada akal. Dalam pandangan mereka, urusan agama terbagi menjadi wilayah ‘aqliyyat (yang bisa dicapai akal) dan sam’iyyat (yang hanya diketahui lewat wahyu). Pada wilayah ‘aqliyyat, akal diangkat sebagai hakim pemutus. Ketika terdapat dalil wahyu yang dianggap tidak sejalan dengan kesimpulan logika mereka, maka hadis ahad akan ditolak, sedangkan ayat atau hadis mutawatir akan ditakwilkan dari makna zahirnya. [2]Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani rahimahullah memberikan kaidah emas untuk membongkar keruntuhan cara berpikir tersebut. Beliau berkata,اعلم أن فصل ما بيننا وبين المبتدعة هو مسألة العقل؛ فإنهم أسسوا دينهم على المعقول وجعلوا الاتباع والمأثور تبعا للمعقول، وأما أهل السنة قالوا: الأصل في الدين الاتباع والعقول تبع، ولو كان أساس الدين على المعقول لاستغنى الخلق عن الوحي وعن الأنبياء صلوات الله عليهم ولبطل معنى الأمر والنهي ولقال من شاء ما شاء“Ketahuilah bahwa pembeda antara kami dengan ahli bid’ah adalah masalah akal. Mereka membangun agama mereka di atas akal dan menjadikan ittiba’ dan atsar sebagai pengikut akal. Adapun Ahlus sunah mengatakan: pokok dalam agama adalah ittiba’ (mengikuti dalil, ed.), dan akal adalah pengikut. Seandainya asas agama adalah akal, niscaya makhluk tidak butuh wahyu dan tidak butuh para Nabi. Dan batallah makna perintah dan larangan, sehingga siapa saja bisa berkata sesukanya.” [3]Ahlus sunah menegaskan bahwa akal manusia memiliki batas kemampuan yang tidak akan mampu menjangkau hakikat ketuhanan tanpa bimbingan wahyu. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا“Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan, melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra: 85)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani melengkapi kaidah ini dengan mengingatkan esensi kepatuhan seorang hamba terhadap nash syariat,وإنما علينا أن نقبل ما عقلناه إيماناً وتصديقاً، وما لم نعقله قبلناه تسليماً واستسلاماً، وهذا معنى قول القائل من أهل السنة: إن الإسلام قنطرة لا تعبر إلا بالتسليم“Sesungguhnya yang wajib atas kita adalah menerima apa yang kita pahami dengan iman dan tashdiq (membenarkan dalam hati, ed.), dan yang tidak kita pahami kita terima dengan taslim dan istislam (menerima, tunduk, dan patuh, ed.). Inilah makna perkataan sebagian Ahlus sunah: sesungguhnya Islam adalah jembatan yang tidak bisa diseberangi kecuali dengan taslim.” [4]Kedua, menolak hujjah hadis ahad dalam akidahPengagungan terhadap akal berlanjut pada penolakan terhadap hadis ahad dalam masalah iktikad. Maturidiyyah beranggapan bahwa hadis ahad hanya menghasilkan praduga (zhanni), sedangkan akidah harus dibangun di atas kepastian (yushil ilal yaqin). Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani menepis argumen yang menyelisihi kesepakatan ulama salaf ini dengan menerangkan,قولهم: إن أخبار الآحاد لا تقبل فيما طريقه العلم رأي سمعت به المبتدعة في رد الأخبار. إذ أن الخبر إذا صح ورواه الثقات والأئمة، وتلقته الأمة بالقبول فإنه يوجب العلم“Perkataan mereka, ‘Sesungguhnya khabar ahad tidak diterima dalam hal yang jalannya ilmu adalah pendapat yang menjadi tempat berpegang ahli bid’ah untuk menolak khabar. Padahal, jika khabar itu sahih, diriwayatkan oleh para tsiqah dan para imam, serta diterima oleh umat, maka ia menghasilkan ilmu.” [5]Ibnul Qayyim rahimahullah turut menjelaskan bahwa pemisahan antara hadis untuk hukum amaliah dan hadis untuk akidah adalah perkara baru yang tidak pernah dikenal di masa salaf. Beliau menegaskan,ولم تزل الصحابة والتابعون وتابعوهم، وأهل الحديث والسنة يحتجون بهذه الأخبار في مسائل الصفات والقدر والأسماء والأحكام، ولم ينقل عن أحد منهم البتة أنه جوّز الاحتجاج بها في مسائل الأحكام دون الإخبار عن الله، وأسمائه وصفاته“Para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, ahli hadis, dan Ahli sunah senantiasa berhujjah dengan khabar-khabar ini dalam masalah sifat, qadar, asma (nama Allah), dan hukum. Dan tidak dinukil sama sekali dari salah seorang di antara mereka bahwa ia membolehkan berhujjah dengannya dalam masalah hukum saja tanpa masalah khabar tentang Allah, nama, dan sifat-Nya.” [6]Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan kesaksian sejarah umat Islam,ونحن نشهد بالله ولله شهادةً على البت والقطع أن الصحابة رضي الله عنهم كانوا يجزمون بما يحدث به أحدهم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يقل أحد منهم لمن حدثه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: خبرك خبر واحدٍ لا يفيد العلم حتى يتواتر“Kami bersaksi dengan Allah dan untuk Allah, kesaksian yang pasti dan tegas, bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum benar-benar memastikan apa yang diriwayatkan oleh salah seorang mereka dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak seorang pun dari mereka berkata kepada orang yang meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Khabarmu adalah khabar ahad yang tidak menghasilkan ilmu sehingga ia harus mutawatir.’” [7]Dalil dari sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggugurkan klaim Maturidiyyah ini sangatlah banyak. Di antaranya adalah hadis Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji keimanan seorang budak wanita dengan pertanyaan akidah,أَيْنَ اللَّهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ“Di mana Allah? Budak wanita itu menjawab: Di atas langit. Beliau bertanya lagi: Siapa aku? Budak itu menjawab: Engkau adalah utusan Allah. Beliau pun bersabda: Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia seorang mukminah.” (HR. Muslim no. 537)Hadis ini merupakan hadis ahad, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai standar keabsahan iman dalam masalah yang sangat agung, yaitu sifat ﻋﻠو (ketinggian) Allah di atas makhluk-Nya. Bahkan, Imam Abu Hanifah rahimahullah sendiri berdalil dengan hadis budak wanita ini dalam menetapkan sifat uluww Allah Ta’ala. [8]Ketiga, menafikan sifat khabariyyah dan sifat ikhtiyariyyahPenyimpangan teologis Maturidiyyah yang cukup berat tampak pada penolakan mereka terhadap sifat-sifat khabariyyah yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunah (seperti wajah, kedua tangan, atau istiwa’ di atas Arsy), serta sifat-sifat perbuatan yang terkait dengan kehendak Allah (shifat ikhtiyariyyah atau fi’liyyah lazimah). Mereka mengira penetapan sifat tersebut akan menyamakan Pencipta dengan makhluk. Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi merangkum pokok pikiran mereka dalam risalah ilmiahnya,قالت الماتريدية بنفي جميع الصفات الخبرية التي وردت في الكتاب والسنة، وذلك لأن مصدرهم في التلقي هو العقل، ولاعتقادهم أن إثبات هذه الصفات على حقيقتها يستلزم التشبيه والتجسيم، واحتجوا لقولهم هذا بشُبه فاسدة“Maturidiyyah menafikan seluruh sifat khabariyyah yang datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Ini karena sumber talaqqi mereka adalah akal, dan karena keyakinan mereka bahwa menetapkan sifat-sifat ini dalam makna sesungguhnya melazimkan tasybih dan tajsim. Mereka berhujjah untuk pendapat ini dengan syubhat-syubhat yang batil.” [9]Beliau juga mencatat penolakan mereka terhadap sifat-sifat perbuatan yang bersifat lazimah,نفت الماتريدية الصفات الفعلية اللازمة، وذلك لأن الأصل في ثبوتها الخبر، ولأنها صفات اختيارية، وهم يمنعون أن تقوم بالله صفة اختيارية حذراً من التشبيه وفراراً منه“Maturidiyyah menafikan sifat-sifat fi’liyyah yang lazimah karena asal penetapannya adalah khabar, dan karena ia merupakan sifat ikhtiyariyyah. Mereka melarang Allah memiliki sifat ikhtiyariyyah karena khawatir dan lari dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk, ed.).” [10]Dr. Syamsuddin Al-Afghani dalam kajian mendalamnya membongkar akar masalah tersebut dengan menunjukkan bahwa mereka keliru dalam memahami batasan tasybih dan tanzih. Beliau menulis,إن الماتريدية لم يعرفوا حقيقة التشبيه الذي يجب نفيه عن الله تعالى، فأدخلوا في مفهوم التشبيه كثيراً من الصفات فنفوها“Sesungguhnya Maturidiyyah tidak mengetahui hakikat tasybih yang wajib dinafikan dari Allah. Maka, mereka memasukkan banyak sifat ke dalam pengertian tasybih, lalu mereka nafikan sifat-sifat itu.” [11]Pada saat yang sama, beliau melanjutkan keterangannya,كما أنهم لم يعرفوا حقيقة التنزيه الذي يجب إثباته لله سبحانه، فأدخلوا في مفهوم التنزيه نفي كثير من الصفات فعطلوها“Sebagaimana mereka juga tidak mengetahui hakikat tanzih yang wajib ditetapkan bagi Allah. Maka, mereka memasukkan penafian banyak sifat ke dalam pengertian tanzih, lalu mereka ta’thil sifat-sifat itu.” [12]Manhaj salaf menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya tanpa tasybih dan tanpa ta’thil, berdasarkan firman Allah Ta’ala,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)Ayat ini membantah kaum musyabbihah pada firman-Nya (“tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”), sekaligus membantah kaum mu’aththilah dan penafsir kalam pada firman-Nya (“dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”).Keempat, dilema antara tafwidh dan takwil serta kontradiksi pembatasan sifatDalam menyikapi ayat-ayat sifat, Maturidiyyah menempuh dua jalan yang sama-sama menyimpang dari jalan salaf, yaitu tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah) dan takwil (memalingkan dari makna lahirnya). Namun dalam praktiknya, jalan takwil jauh lebih mendominasi literatur mereka. Dr. Syamsuddin al-Afghani memotret realitas madrasah ini dengan perkataan,لكن قولهم بالتفويض للتخلص من نصوص السلف القاطعة الصريحة في الإثبات فقط، وإلا مذهبهم الذي استقروا عليه وطبقوه عملياً هو التأويل المبتدع الذي هو عين التحريف والتعطيل“Perkataan mereka dengan tafwidh sebenarnya hanya untuk lepas dari nash-nash salaf yang qath’i dan sharih dalam menetapkan sifat. Adapun mazhab yang mereka pegang teguh dan mereka aplikasikan secara nyata adalah takwil yang bid’ah, yang pada hakikatnya adalah tahrif dan ta’thil.” [13]Klaim sebagian tokoh mereka bahwa tafwidh mutlak (menyerahkan makna sekaligus kaifiyat) adalah mazhab salaf juga disanggah secara keras oleh para peneliti akidah. Dr. Syamsuddin al-Afghani menegaskan,ادعت الماتريدية على السلف تفويضاً مطلقاً في الكيف والمعنى جميعاً، وهذه الدعوى باطلة على السلف لا حقيقة لها، وأنها خطأ عليهم، وافتراء شنيع وبهتان فظيع وتقول وتقويل“Maturidiyyah mendakwakan atas para salaf tafwidh mutlak dalam kaifiyat dan makna sekaligus. Dakwaan ini batil atas para salaf, tidak memiliki hakikat, ia merupakan kesalahan atas mereka, iftira’ yang keji, buhtan (kebohongan) yang dahsyat, dan taqawwul (mengarang-ngarang atas nama mereka).” [14]Sisi kelemahan argumen Maturidiyyah terlihat jelas dari ketidakkonsistenan mereka dalam menetapkan sifat. Mereka menetapkan delapan sifat namun menolak sifat-sifat lainnya, padahal alasan logika yang mereka pakai untuk menolak sifat khabariyyah dapat pula diterapkan pada sifat yang mereka tetapkan. Dr. Syamsuddin Al-Afghani membongkar kontradiksi tersebut,الماتريدية متناقضون في قضية التأويل حيث أثبتوا بعض الصفات وأولوا بعضها فإما أن يثبتوا جميع الصفات، وإما أن يؤولوا جميعها، لأن الدافع للتأويل وهو شبهة التشبيه، وتحقيق التنزيه موجود فيما أثبتوه أيضاً“Maturidiyyah kontradiktif dalam masalah takwil. Mereka menetapkan sebagian sifat dan mentakwil sebagian yang lain. Seharusnya, mereka menetapkan seluruh sifat, atau mentakwil semuanya. Karena pendorong takwil, yaitu syubhat tasybih dan usaha tanzih, juga ada pada sifat-sifat yang mereka tetapkan.” [15]Pembatasan mereka pada delapan sifat saja yaitu qudrah, ilmu, hayat, iradah, sam’, bashar, kalam, dan takwin dinilai oleh para ulama sebagai pembedaan tanpa dasar dalil dari akal maupun nash wahyu (takhshish tanpa mukhashshish). [16]Kelima, penyimpangan dalam bab kalamullah dan imanDalam persoalan kalamullah, Maturidiyyah mengadopsi konsep kalam nafsi dari Ibn Kullab. Syekh Ahmad al-Harbi merangkum keyakinan mereka,قالت الماتريدية في كلام الله: أنه معنىً واحد، قديم أزلي، ليس له تعلق بمشيئته تعالى وقدرته، وأنه ليس بحرف ولا صوت، وأنه كلام نفسي، وأنه لا يسمع إنما يسمع ما هو عبارة عنه“Maturidiyyah berpendapat tentang kalam Allah: bahwa ia adalah satu makna, qadim azali, tidak berkaitan dengan masyi’ah (kehendak) dan qudrah-Nya, tidak berupa huruf dan tidak pula suara, ia adalah kalam nafsi, dan tidak dapat didengar. Yang didengar hanyalah ‘ibarah (ungkapan) tentangnya.” [17]Manhaj salaf menetapkan bahwa Allah berbicara dengan huruf dan suara sesuai kehendak-Nya yang didengar oleh siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa: 164)Adapun dalam bab iman, Maturidiyyah membatasi iman pada pembenaran hati saja atau pembenaran hati disertai ikrar lisan tanpa adanya penambahan dan pengurangan. Syekh Ahmad al-Harbi menjelaskan,ذهبت الماتريدية إلى أن الإيمان هو التصديق بالقلب فقط، وقال بعضهم بأنه التصديق بالقلب والإقرار باللسان. ومنعوا زيادته ونقصانه، وقالوا بتحريم الاستثناء فيه“Maturidiyyah berpendapat bahwa iman adalah tashdiq dalam hati saja. Sebagian mereka mengatakan bahwa iman adalah tashdiq dalam hati dan iqrar dengan lisan. Mereka menolak bertambah dan berkurangnya iman, serta mengharamkan istitsna’ dalam iman.” [18]Mereka juga membolehkan iman orang yang bertaklid (iman muqallid) meskipun dinilai berdosa jika meninggalkan kewajiban penalaran akal. Syekh Ahmad al-Harbi menilai asas ini,أن الماتريدية قالت بصحة إيمان المقلد مع الإثم على ترك النظر والاستدلال وقولهم هذا باطل؛ لأنه بني على أصلٍ باطل، وهو أن النظر والاستدلال أصل الدين والإيمان“Sesungguhnya Maturidiyyah berpendapat sahnya iman muqallid disertai dosa atas peninggalan nazhar dan istidlal. Perkataan mereka ini batil karena dibangun di atas pokok yang batil, yaitu bahwa nazhar dan istidlal adalah pokok agama dan keimanan.” [19]Ahlus Sunah menetapkan bahwa iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ“Supaya keimanan mereka bertambah bersama keimanan mereka yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4)Relasi dan perbandingan Maturidiyyah dengan Asy’ariyyahSetelah memahami di mana letak persimpangan Maturidiyyah dengan manhaj salaf, kita perlu mendudukkan posisi mereka ketika disandingkan dengan Asy’ariyyah. Kedua aliran ini sering disebut beriringan dalam kitab-kitab kalam. Keselarasan di antara keduanya terjadi karena keduanya bertumbuh dari akar yang sama, yaitu aliran Kullabiyyah. Syekh Ahmad al-Harbi menyimpulkan hubungan kedua madrasah tersebut dalam risalahnya,أن هناك توافقٌ كبيرٌ بين الماتريدية والأشاعرة، وسر هذا التوافق أن كلتا الفرقتين انبثقتا من الكلابية. وما بينهما من خلاف فإنما يقع في مسائل معدودة“Terdapat kesamaan yang sangat besar antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah. Rahasia kesamaan ini adalah bahwa kedua aliran ini sama-sama berasal dari Kullabiyyah. Adapun perbedaan di antara keduanya, itu hanya terjadi pada beberapa masalah yang terbatas.” [20]Syekh Muhammad al-Khadhr Husain mempertegas relasi tersebut sekaligus menyifati batasan perbedaannya dalam risalah beliau,وبين الماتريدية والأشاعرة خلاف في مسائل معدودة لا تتجاوز ثلاث عشرة مسألة، منها: اختلافهم في السعادة والشقاوة، فهما عند الأشعري مقدرتان في الأزل لا يتغيران ولا يتبدلان؛ لأن السعادة هي الموت على الإسلام، والشقاوة الموت على الكفر“Dan antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah terdapat perbedaan pada beberapa masalah yang tidak melebihi tiga belas masalah. Di antaranya: perbedaan mereka dalam masalah sa’adah (kebahagiaan abadi) dan syaqawah (kecelakaan abadi). Keduanya menurut al-Asy’ari telah ditetapkan sejak azal, tidak berubah dan tidak berganti; karena sa’adah adalah mati di atas keislaman, sedangkan syaqawah adalah mati di atas kekafiran.” [21]Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi dalam kajiannya atas kitab Al-‘Arsy menjelaskan akar pertemuan kedua madrasah tersebut,فالماتريدي لا يبعد كثيراً عن أبي الحسن الأشعري (في طوره الثاني) فهو خصم لدود للمعتزلة، إلا أنه كان متأثراً بالمنهج الكلامي على طريقة ابن كلاب من الاعتماد على المناهج الكلامية في تقرير المسائل الاعتقادية شأنه في ذلك شأن أبي الحسن الأشعري، فكلاهما يعتبر امتداداً لمدرسة ابن كلاب“Maka al-Maturidi tidak jauh berbeda dari Abu al-Hasan al-Asy’ari (pada fase keduanya). Ia adalah musuh bebuyutan Mu’tazilah, namun ia tetap terpengaruh oleh metode kalam ala Ibnu Kullab dalam menetapkan masalah-masalah akidah, sama halnya dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari. Keduanya dianggap sebagai kelanjutan dari madrasah Ibn Kullab.” [22]Adapun perbedaan teknis di antara keduanya, selain masalah sa’adah dan syaqawah yang telah disinggung di atas, adalah dalam bab sifat takwin. Maturidiyyah menetapkan bahwa Allah memiliki sifat takwin (menciptakan) sebagai sifat azali yang berdiri sendiri, terpisah dari qudrah dan iradah. Syekh Ahmad al-Harbi menguraikan pandangan ini,ترى الماتريدية أن جميع صفات الأفعال المتعدية ترجع إلى صفةٍ واحدةٍ وهي التكوين. وقالوا إن التكوين غير المكون، وأنه أزلي لا يتجدد ولا تعلق له بالمشيئة والقدرة“Maturidiyyah berpendapat bahwa seluruh sifat perbuatan (fi’liyyah) yang muta’addi kembali kepada satu sifat, yaitu takwin. Mereka mengatakan bahwa takwin berbeda dari mukawwan (yang diciptakan), dan bahwa ia bersifat azali, tidak baru, serta tidak terkait dengan masyi’ah (kehendak) dan qudrah.” [23]Asy’ariyyah menolak takwin sebagai sifat yang berdiri sendiri dan mengembalikannya pada konsekuensi sifat kuasa dan kehendak. Rincian perbandingan ini memperlihatkan bahwa perdebatan Maturidiyyah dan Asy’ariyyah hanyalah berkutat pada persoalan furu’ dalam tradisi ilmu kalam. Secara fondasi asas, keduanya tetap berada pada alur yang sama dalam mendahulukan rasionalisme kalam di atas penyerahan diri kepada nash wahyu.Kedudukan Maturidiyyah dalam timbangan ulama salafSetelah menelaah pokok keyakinan dan perbandingannya, seorang penuntut ilmu perlu bersikap insyaf dan berimbang. Para ulama Ahlus sunah tidak menafikan jasa ilmiah ulama Maturidiyyah, namun tetap memberikan batas tegas terkait kelurusan akidah mereka.Dr. Syamsuddin al-Afghani mendudukkan status mereka secara adil dengan perkataan,“Mereka, karena banyaknya kebenaran yang ada pada mereka, dianggap sebagai Ahlus sunah dalam pengertian umum, dan bukan Ahlus sunah dalam pengertian yang murni (mahdhah).” [24]Penyebutan sebagai bagian dari Ahlus sunah dalam arti umum didasarkan pada besarnya peran ulama Maturidiyyah dalam membantah aliran-aliran zindik seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan Rafidhah, serta kontribusi besar mereka dalam membela syariat Islam di berbagai penjuru negeri. Syekh Ahmad Al-Harbi menutup ulasannya dengan memberi nasihat mengenai adab berinteraksi dengan mereka,فهؤلاء لما عندهم من الحق يعدون من أهل السنة بالمعنى العام، وليسوا من أهل السنة المحضة“Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersikap adil terhadap Maturidiyyah dan memberi mereka hak yang wajar. Mereka mengakui kebenaran yang ada pada mujtahid atau pencari kebenaran di antara mereka, demikian juga mereka mencela orang yang zalim, ta’ashub, dan pengikut hawa nafsu.” [25]PenutupMemperhatikan konstruksi akidah Maturidiyyah memberikan pelajaran berharga bahwa tujuan yang baik dalam membela Islam harus dipadukan dengan metodologi yang benar. Ketika Abu Manshur al-Maturidi menempuh jalur penalaran kalam ala Kullabiyyah dalam melawan Mu’tazilah, aliran yang dibentuknya justru mewarisi berbagai keruntuhan metode, mulai dari dominasi akal atas wahyu, penolakan hujjah hadis ahad, hingga kontradiksi dalam penakwilan sifat Allah.Perbedaan teknis antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah dalam masalah takwin, kalam nafsi, iman muqallid, maupun sa’adah dan syaqawah tidak merubah fakta bahwa kedua aliran ini berdiri di atas fondasi rasionalisme yang serupa.Sikap terbaik bagi setiap muslim adalah meneladani keadilan ulama salaf: mengakui kebaikan serta warisan ilmu para ulama dalam bidang fikih dan tafsir, sembari menjaga kemurnian akidah dari penyimpangan ilmu kalam. Sebab, jalan kebenaran dalam mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya belumlah pernah berubah, yaitu meniti petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunah sesuai dengan pemahaman para sahabat dan imam ahlul hadis yang senantiasa menundukkan akal di bawah bimbingan wahyu.Wallahu a’lam bish-shawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, Al-Maaturidiyyah, hal. 11.[2] Syamsuddin as-Salafi al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 537-540.[3] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar li Ahli al-Hadits, hal. 182-183; dinukil dalam Al-Maaturidiyyah karya al-Wa’lan, hal. 11.[4] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar li Ahli al-Hadits, hal. 183.[5] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar; dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 2: 504-508.[6] Ibnul Qayyim, Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 2: 509-510.[7] Ibnul Qayyim, Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 3: 473-475.[8] Dinukil dalam Mausu’ah al-Firaq al-Muntasibah lil-Islam, 2: 362.[9] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah bin Dakhil al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 199.[10] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200.[11] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 484-498; Khathimah, hal. 203.[12] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 498-508; Khathimah, hal. 203.[13] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 131; Khathimah, hal. 202.[14] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 127-129; Khathimah, hal. 202.[15] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 340-353; Khathimah, hal. 203.[16] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, Khathimah, hal. 199; lihat pula Dr. Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 426-433.[17] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200.[18] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200-201.[19] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal.[20] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal.[21] Syekh Muhammad al-Khadhr Husain, Mausu’ah al-A’mal al-Kamilah lil-Imam Muhammad al-Khadhr Husain, 4: 184.[22] Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, dalam Muqaddimah tahqiq kitab Al-‘Arsy karya Imam Adz-Dzahabi, 1: 69-70 (atau hal. 168-170 cetakan اﻟﻌﻠﻣﻲ اﻟﺑﺣث ﻋﻣﺎدة).[23] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 199.[24] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 401-406; Khathimah, hal. 202.[25] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 201. Daftar PustakaAl-Afghani, Syamsuddin as-Salafi. Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat. Cet. ke-1. Thaif: Maktabah ash-Shiddiq, 1413 H.Al-Harbi, Ahmad bin ‘Audhullah bin Dakhil. Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman. Cet. ke-1. Riyadh: Dar al-‘Ashimah, 1413 H.Al-Khadhr Husain, Muhammad. Mausu’ah al-A’mal al-Kamilah lil-Imam Muhammad al-Khadhr Husain. Cet. ke-1. Suriah: Dar an-Nawadir, 1431 H.Al-Maturidi, Abu Manshur Muhammad bin Muhammad. Kitab at-Tauhid. Kairo: Dar al-Jami’at al-Misriyyah, 1970 M.As-Sam’ani, Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad. Al-Intishar li Ahli al-Hadits.‘Awaji, Ghalib bin ‘Ali. Firaq Mu’ashirah Tantasib ila al-Islam wa Bayan Mauqif al-Islam Minha. Cet. ke-4. Jeddah: al-Maktabah al-‘Ashriyyah adz-Dzahabiyyah, 1422 H.Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Al-‘Arsy. Tahqiq: Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi. Cet. ke-2. Madinah: ‘Imadah al-Bahts al-‘Ilmi bil-Jami’ah al-Islamiyyah, 1424 H.Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr. Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah ‘ala al-Jahmiyyah wal Mu’aththilah. Riyadh: Adwa’ as-Salaf, 1425 H.As-Saqqaf, ‘Alawi bin ‘Abdul Qadir (peny.). Mausu’ah al-Firaq al-Muntasibah lil-Islam. Situs Dorar.net.Al-Wa’lan, Abdul Majid bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah. Maktabah Syamilah.                      


Daftar Isi TogglePokok-pokok keyakinan Maturidiyyah dan bantahan Ahlus sunah Pertama, menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuKedua, menolak hujjah hadis ahad dalam akidahKetiga, menafikan sifat khabariyyah dan sifat ikhtiyariyyahKeempat, dilema antara tafwidh dan takwil serta kontradiksi pembatasan sifatKelima, penyimpangan dalam bab kalamullah dan imanRelasi dan perbandingan Maturidiyyah dengan Asy’ariyyahKedudukan Maturidiyyah dalam timbangan ulama salafPenutupMempelajari sejarah aliran teologi tidak cukup hanya dengan mengetahui siapa tokoh pendirinya dan di wilayah mana mazhab tersebut menyebar. Bagi seorang penuntut ilmu, kajian sejarah hanyalah pintu masuk untuk menelaah hal yang jauh lebih esensial, yaitu menimbang pokok-pokok keyakinan yang dibangun aliran tersebut dengan neraca Al-Qur’an, As-Sunah, dan pemahaman generasi salaf.Langkah ini sangat diperlukan agar seseorang tidak mudah menyimpulkan bahwa suatu kelompok otomatis berada di atas manhaj yang lurus hanya karena luasnya jaringan pendidikan atau besarnya jumlah pengikut mereka di dunia Islam. Di antara aliran teologi dalam Islam yang eksis adalah Maturidiyyah.Pokok-pokok keyakinan Maturidiyyah dan bantahan Ahlus sunah Maturidiyyah lahir dari tekad untuk membela agama dari serangan kaum rasionalis Mu’tazilah. Akan tetapi, perangkat argumentasi yang digunakan justru meminjam tradisi Ilmu Kalam yang didasarkan pada logika filosofis. Dampaknya, muncullah sejumlah penyimpangan metodologis dalam penetapan akidah yang menyelisihi jalan para sahabat dan imam ahlul hadis.Pertama, menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuTitik pangkal dari seluruh persoalan teologi Maturidiyyah adalah penempatan logika sebagai sumber utama dalam menetapkan akidah. Abu Manshur al-Maturidi sendiri menegaskan kaidah ini sejak awal dalam karya babonnya,إن العلم بالله وبأمره عرض لا يدرك إلا بالاستدلال“Sesungguhnya ilmu tentang Allah dan perintah-Nya adalah ‘ardh yang tidak dapat diketahui kecuali dengan istidlal (penalaran).” [1]Penalaran yang dimaksud adalah pembuktian rasional yang berpusat pada akal. Dalam pandangan mereka, urusan agama terbagi menjadi wilayah ‘aqliyyat (yang bisa dicapai akal) dan sam’iyyat (yang hanya diketahui lewat wahyu). Pada wilayah ‘aqliyyat, akal diangkat sebagai hakim pemutus. Ketika terdapat dalil wahyu yang dianggap tidak sejalan dengan kesimpulan logika mereka, maka hadis ahad akan ditolak, sedangkan ayat atau hadis mutawatir akan ditakwilkan dari makna zahirnya. [2]Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani rahimahullah memberikan kaidah emas untuk membongkar keruntuhan cara berpikir tersebut. Beliau berkata,اعلم أن فصل ما بيننا وبين المبتدعة هو مسألة العقل؛ فإنهم أسسوا دينهم على المعقول وجعلوا الاتباع والمأثور تبعا للمعقول، وأما أهل السنة قالوا: الأصل في الدين الاتباع والعقول تبع، ولو كان أساس الدين على المعقول لاستغنى الخلق عن الوحي وعن الأنبياء صلوات الله عليهم ولبطل معنى الأمر والنهي ولقال من شاء ما شاء“Ketahuilah bahwa pembeda antara kami dengan ahli bid’ah adalah masalah akal. Mereka membangun agama mereka di atas akal dan menjadikan ittiba’ dan atsar sebagai pengikut akal. Adapun Ahlus sunah mengatakan: pokok dalam agama adalah ittiba’ (mengikuti dalil, ed.), dan akal adalah pengikut. Seandainya asas agama adalah akal, niscaya makhluk tidak butuh wahyu dan tidak butuh para Nabi. Dan batallah makna perintah dan larangan, sehingga siapa saja bisa berkata sesukanya.” [3]Ahlus sunah menegaskan bahwa akal manusia memiliki batas kemampuan yang tidak akan mampu menjangkau hakikat ketuhanan tanpa bimbingan wahyu. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا“Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan, melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra: 85)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani melengkapi kaidah ini dengan mengingatkan esensi kepatuhan seorang hamba terhadap nash syariat,وإنما علينا أن نقبل ما عقلناه إيماناً وتصديقاً، وما لم نعقله قبلناه تسليماً واستسلاماً، وهذا معنى قول القائل من أهل السنة: إن الإسلام قنطرة لا تعبر إلا بالتسليم“Sesungguhnya yang wajib atas kita adalah menerima apa yang kita pahami dengan iman dan tashdiq (membenarkan dalam hati, ed.), dan yang tidak kita pahami kita terima dengan taslim dan istislam (menerima, tunduk, dan patuh, ed.). Inilah makna perkataan sebagian Ahlus sunah: sesungguhnya Islam adalah jembatan yang tidak bisa diseberangi kecuali dengan taslim.” [4]Kedua, menolak hujjah hadis ahad dalam akidahPengagungan terhadap akal berlanjut pada penolakan terhadap hadis ahad dalam masalah iktikad. Maturidiyyah beranggapan bahwa hadis ahad hanya menghasilkan praduga (zhanni), sedangkan akidah harus dibangun di atas kepastian (yushil ilal yaqin). Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani menepis argumen yang menyelisihi kesepakatan ulama salaf ini dengan menerangkan,قولهم: إن أخبار الآحاد لا تقبل فيما طريقه العلم رأي سمعت به المبتدعة في رد الأخبار. إذ أن الخبر إذا صح ورواه الثقات والأئمة، وتلقته الأمة بالقبول فإنه يوجب العلم“Perkataan mereka, ‘Sesungguhnya khabar ahad tidak diterima dalam hal yang jalannya ilmu adalah pendapat yang menjadi tempat berpegang ahli bid’ah untuk menolak khabar. Padahal, jika khabar itu sahih, diriwayatkan oleh para tsiqah dan para imam, serta diterima oleh umat, maka ia menghasilkan ilmu.” [5]Ibnul Qayyim rahimahullah turut menjelaskan bahwa pemisahan antara hadis untuk hukum amaliah dan hadis untuk akidah adalah perkara baru yang tidak pernah dikenal di masa salaf. Beliau menegaskan,ولم تزل الصحابة والتابعون وتابعوهم، وأهل الحديث والسنة يحتجون بهذه الأخبار في مسائل الصفات والقدر والأسماء والأحكام، ولم ينقل عن أحد منهم البتة أنه جوّز الاحتجاج بها في مسائل الأحكام دون الإخبار عن الله، وأسمائه وصفاته“Para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, ahli hadis, dan Ahli sunah senantiasa berhujjah dengan khabar-khabar ini dalam masalah sifat, qadar, asma (nama Allah), dan hukum. Dan tidak dinukil sama sekali dari salah seorang di antara mereka bahwa ia membolehkan berhujjah dengannya dalam masalah hukum saja tanpa masalah khabar tentang Allah, nama, dan sifat-Nya.” [6]Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan kesaksian sejarah umat Islam,ونحن نشهد بالله ولله شهادةً على البت والقطع أن الصحابة رضي الله عنهم كانوا يجزمون بما يحدث به أحدهم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يقل أحد منهم لمن حدثه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: خبرك خبر واحدٍ لا يفيد العلم حتى يتواتر“Kami bersaksi dengan Allah dan untuk Allah, kesaksian yang pasti dan tegas, bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum benar-benar memastikan apa yang diriwayatkan oleh salah seorang mereka dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak seorang pun dari mereka berkata kepada orang yang meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Khabarmu adalah khabar ahad yang tidak menghasilkan ilmu sehingga ia harus mutawatir.’” [7]Dalil dari sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggugurkan klaim Maturidiyyah ini sangatlah banyak. Di antaranya adalah hadis Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji keimanan seorang budak wanita dengan pertanyaan akidah,أَيْنَ اللَّهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ“Di mana Allah? Budak wanita itu menjawab: Di atas langit. Beliau bertanya lagi: Siapa aku? Budak itu menjawab: Engkau adalah utusan Allah. Beliau pun bersabda: Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia seorang mukminah.” (HR. Muslim no. 537)Hadis ini merupakan hadis ahad, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai standar keabsahan iman dalam masalah yang sangat agung, yaitu sifat ﻋﻠو (ketinggian) Allah di atas makhluk-Nya. Bahkan, Imam Abu Hanifah rahimahullah sendiri berdalil dengan hadis budak wanita ini dalam menetapkan sifat uluww Allah Ta’ala. [8]Ketiga, menafikan sifat khabariyyah dan sifat ikhtiyariyyahPenyimpangan teologis Maturidiyyah yang cukup berat tampak pada penolakan mereka terhadap sifat-sifat khabariyyah yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunah (seperti wajah, kedua tangan, atau istiwa’ di atas Arsy), serta sifat-sifat perbuatan yang terkait dengan kehendak Allah (shifat ikhtiyariyyah atau fi’liyyah lazimah). Mereka mengira penetapan sifat tersebut akan menyamakan Pencipta dengan makhluk. Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi merangkum pokok pikiran mereka dalam risalah ilmiahnya,قالت الماتريدية بنفي جميع الصفات الخبرية التي وردت في الكتاب والسنة، وذلك لأن مصدرهم في التلقي هو العقل، ولاعتقادهم أن إثبات هذه الصفات على حقيقتها يستلزم التشبيه والتجسيم، واحتجوا لقولهم هذا بشُبه فاسدة“Maturidiyyah menafikan seluruh sifat khabariyyah yang datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Ini karena sumber talaqqi mereka adalah akal, dan karena keyakinan mereka bahwa menetapkan sifat-sifat ini dalam makna sesungguhnya melazimkan tasybih dan tajsim. Mereka berhujjah untuk pendapat ini dengan syubhat-syubhat yang batil.” [9]Beliau juga mencatat penolakan mereka terhadap sifat-sifat perbuatan yang bersifat lazimah,نفت الماتريدية الصفات الفعلية اللازمة، وذلك لأن الأصل في ثبوتها الخبر، ولأنها صفات اختيارية، وهم يمنعون أن تقوم بالله صفة اختيارية حذراً من التشبيه وفراراً منه“Maturidiyyah menafikan sifat-sifat fi’liyyah yang lazimah karena asal penetapannya adalah khabar, dan karena ia merupakan sifat ikhtiyariyyah. Mereka melarang Allah memiliki sifat ikhtiyariyyah karena khawatir dan lari dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk, ed.).” [10]Dr. Syamsuddin Al-Afghani dalam kajian mendalamnya membongkar akar masalah tersebut dengan menunjukkan bahwa mereka keliru dalam memahami batasan tasybih dan tanzih. Beliau menulis,إن الماتريدية لم يعرفوا حقيقة التشبيه الذي يجب نفيه عن الله تعالى، فأدخلوا في مفهوم التشبيه كثيراً من الصفات فنفوها“Sesungguhnya Maturidiyyah tidak mengetahui hakikat tasybih yang wajib dinafikan dari Allah. Maka, mereka memasukkan banyak sifat ke dalam pengertian tasybih, lalu mereka nafikan sifat-sifat itu.” [11]Pada saat yang sama, beliau melanjutkan keterangannya,كما أنهم لم يعرفوا حقيقة التنزيه الذي يجب إثباته لله سبحانه، فأدخلوا في مفهوم التنزيه نفي كثير من الصفات فعطلوها“Sebagaimana mereka juga tidak mengetahui hakikat tanzih yang wajib ditetapkan bagi Allah. Maka, mereka memasukkan penafian banyak sifat ke dalam pengertian tanzih, lalu mereka ta’thil sifat-sifat itu.” [12]Manhaj salaf menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya tanpa tasybih dan tanpa ta’thil, berdasarkan firman Allah Ta’ala,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)Ayat ini membantah kaum musyabbihah pada firman-Nya (“tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”), sekaligus membantah kaum mu’aththilah dan penafsir kalam pada firman-Nya (“dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”).Keempat, dilema antara tafwidh dan takwil serta kontradiksi pembatasan sifatDalam menyikapi ayat-ayat sifat, Maturidiyyah menempuh dua jalan yang sama-sama menyimpang dari jalan salaf, yaitu tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah) dan takwil (memalingkan dari makna lahirnya). Namun dalam praktiknya, jalan takwil jauh lebih mendominasi literatur mereka. Dr. Syamsuddin al-Afghani memotret realitas madrasah ini dengan perkataan,لكن قولهم بالتفويض للتخلص من نصوص السلف القاطعة الصريحة في الإثبات فقط، وإلا مذهبهم الذي استقروا عليه وطبقوه عملياً هو التأويل المبتدع الذي هو عين التحريف والتعطيل“Perkataan mereka dengan tafwidh sebenarnya hanya untuk lepas dari nash-nash salaf yang qath’i dan sharih dalam menetapkan sifat. Adapun mazhab yang mereka pegang teguh dan mereka aplikasikan secara nyata adalah takwil yang bid’ah, yang pada hakikatnya adalah tahrif dan ta’thil.” [13]Klaim sebagian tokoh mereka bahwa tafwidh mutlak (menyerahkan makna sekaligus kaifiyat) adalah mazhab salaf juga disanggah secara keras oleh para peneliti akidah. Dr. Syamsuddin al-Afghani menegaskan,ادعت الماتريدية على السلف تفويضاً مطلقاً في الكيف والمعنى جميعاً، وهذه الدعوى باطلة على السلف لا حقيقة لها، وأنها خطأ عليهم، وافتراء شنيع وبهتان فظيع وتقول وتقويل“Maturidiyyah mendakwakan atas para salaf tafwidh mutlak dalam kaifiyat dan makna sekaligus. Dakwaan ini batil atas para salaf, tidak memiliki hakikat, ia merupakan kesalahan atas mereka, iftira’ yang keji, buhtan (kebohongan) yang dahsyat, dan taqawwul (mengarang-ngarang atas nama mereka).” [14]Sisi kelemahan argumen Maturidiyyah terlihat jelas dari ketidakkonsistenan mereka dalam menetapkan sifat. Mereka menetapkan delapan sifat namun menolak sifat-sifat lainnya, padahal alasan logika yang mereka pakai untuk menolak sifat khabariyyah dapat pula diterapkan pada sifat yang mereka tetapkan. Dr. Syamsuddin Al-Afghani membongkar kontradiksi tersebut,الماتريدية متناقضون في قضية التأويل حيث أثبتوا بعض الصفات وأولوا بعضها فإما أن يثبتوا جميع الصفات، وإما أن يؤولوا جميعها، لأن الدافع للتأويل وهو شبهة التشبيه، وتحقيق التنزيه موجود فيما أثبتوه أيضاً“Maturidiyyah kontradiktif dalam masalah takwil. Mereka menetapkan sebagian sifat dan mentakwil sebagian yang lain. Seharusnya, mereka menetapkan seluruh sifat, atau mentakwil semuanya. Karena pendorong takwil, yaitu syubhat tasybih dan usaha tanzih, juga ada pada sifat-sifat yang mereka tetapkan.” [15]Pembatasan mereka pada delapan sifat saja yaitu qudrah, ilmu, hayat, iradah, sam’, bashar, kalam, dan takwin dinilai oleh para ulama sebagai pembedaan tanpa dasar dalil dari akal maupun nash wahyu (takhshish tanpa mukhashshish). [16]Kelima, penyimpangan dalam bab kalamullah dan imanDalam persoalan kalamullah, Maturidiyyah mengadopsi konsep kalam nafsi dari Ibn Kullab. Syekh Ahmad al-Harbi merangkum keyakinan mereka,قالت الماتريدية في كلام الله: أنه معنىً واحد، قديم أزلي، ليس له تعلق بمشيئته تعالى وقدرته، وأنه ليس بحرف ولا صوت، وأنه كلام نفسي، وأنه لا يسمع إنما يسمع ما هو عبارة عنه“Maturidiyyah berpendapat tentang kalam Allah: bahwa ia adalah satu makna, qadim azali, tidak berkaitan dengan masyi’ah (kehendak) dan qudrah-Nya, tidak berupa huruf dan tidak pula suara, ia adalah kalam nafsi, dan tidak dapat didengar. Yang didengar hanyalah ‘ibarah (ungkapan) tentangnya.” [17]Manhaj salaf menetapkan bahwa Allah berbicara dengan huruf dan suara sesuai kehendak-Nya yang didengar oleh siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa: 164)Adapun dalam bab iman, Maturidiyyah membatasi iman pada pembenaran hati saja atau pembenaran hati disertai ikrar lisan tanpa adanya penambahan dan pengurangan. Syekh Ahmad al-Harbi menjelaskan,ذهبت الماتريدية إلى أن الإيمان هو التصديق بالقلب فقط، وقال بعضهم بأنه التصديق بالقلب والإقرار باللسان. ومنعوا زيادته ونقصانه، وقالوا بتحريم الاستثناء فيه“Maturidiyyah berpendapat bahwa iman adalah tashdiq dalam hati saja. Sebagian mereka mengatakan bahwa iman adalah tashdiq dalam hati dan iqrar dengan lisan. Mereka menolak bertambah dan berkurangnya iman, serta mengharamkan istitsna’ dalam iman.” [18]Mereka juga membolehkan iman orang yang bertaklid (iman muqallid) meskipun dinilai berdosa jika meninggalkan kewajiban penalaran akal. Syekh Ahmad al-Harbi menilai asas ini,أن الماتريدية قالت بصحة إيمان المقلد مع الإثم على ترك النظر والاستدلال وقولهم هذا باطل؛ لأنه بني على أصلٍ باطل، وهو أن النظر والاستدلال أصل الدين والإيمان“Sesungguhnya Maturidiyyah berpendapat sahnya iman muqallid disertai dosa atas peninggalan nazhar dan istidlal. Perkataan mereka ini batil karena dibangun di atas pokok yang batil, yaitu bahwa nazhar dan istidlal adalah pokok agama dan keimanan.” [19]Ahlus Sunah menetapkan bahwa iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ“Supaya keimanan mereka bertambah bersama keimanan mereka yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4)Relasi dan perbandingan Maturidiyyah dengan Asy’ariyyahSetelah memahami di mana letak persimpangan Maturidiyyah dengan manhaj salaf, kita perlu mendudukkan posisi mereka ketika disandingkan dengan Asy’ariyyah. Kedua aliran ini sering disebut beriringan dalam kitab-kitab kalam. Keselarasan di antara keduanya terjadi karena keduanya bertumbuh dari akar yang sama, yaitu aliran Kullabiyyah. Syekh Ahmad al-Harbi menyimpulkan hubungan kedua madrasah tersebut dalam risalahnya,أن هناك توافقٌ كبيرٌ بين الماتريدية والأشاعرة، وسر هذا التوافق أن كلتا الفرقتين انبثقتا من الكلابية. وما بينهما من خلاف فإنما يقع في مسائل معدودة“Terdapat kesamaan yang sangat besar antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah. Rahasia kesamaan ini adalah bahwa kedua aliran ini sama-sama berasal dari Kullabiyyah. Adapun perbedaan di antara keduanya, itu hanya terjadi pada beberapa masalah yang terbatas.” [20]Syekh Muhammad al-Khadhr Husain mempertegas relasi tersebut sekaligus menyifati batasan perbedaannya dalam risalah beliau,وبين الماتريدية والأشاعرة خلاف في مسائل معدودة لا تتجاوز ثلاث عشرة مسألة، منها: اختلافهم في السعادة والشقاوة، فهما عند الأشعري مقدرتان في الأزل لا يتغيران ولا يتبدلان؛ لأن السعادة هي الموت على الإسلام، والشقاوة الموت على الكفر“Dan antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah terdapat perbedaan pada beberapa masalah yang tidak melebihi tiga belas masalah. Di antaranya: perbedaan mereka dalam masalah sa’adah (kebahagiaan abadi) dan syaqawah (kecelakaan abadi). Keduanya menurut al-Asy’ari telah ditetapkan sejak azal, tidak berubah dan tidak berganti; karena sa’adah adalah mati di atas keislaman, sedangkan syaqawah adalah mati di atas kekafiran.” [21]Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi dalam kajiannya atas kitab Al-‘Arsy menjelaskan akar pertemuan kedua madrasah tersebut,فالماتريدي لا يبعد كثيراً عن أبي الحسن الأشعري (في طوره الثاني) فهو خصم لدود للمعتزلة، إلا أنه كان متأثراً بالمنهج الكلامي على طريقة ابن كلاب من الاعتماد على المناهج الكلامية في تقرير المسائل الاعتقادية شأنه في ذلك شأن أبي الحسن الأشعري، فكلاهما يعتبر امتداداً لمدرسة ابن كلاب“Maka al-Maturidi tidak jauh berbeda dari Abu al-Hasan al-Asy’ari (pada fase keduanya). Ia adalah musuh bebuyutan Mu’tazilah, namun ia tetap terpengaruh oleh metode kalam ala Ibnu Kullab dalam menetapkan masalah-masalah akidah, sama halnya dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari. Keduanya dianggap sebagai kelanjutan dari madrasah Ibn Kullab.” [22]Adapun perbedaan teknis di antara keduanya, selain masalah sa’adah dan syaqawah yang telah disinggung di atas, adalah dalam bab sifat takwin. Maturidiyyah menetapkan bahwa Allah memiliki sifat takwin (menciptakan) sebagai sifat azali yang berdiri sendiri, terpisah dari qudrah dan iradah. Syekh Ahmad al-Harbi menguraikan pandangan ini,ترى الماتريدية أن جميع صفات الأفعال المتعدية ترجع إلى صفةٍ واحدةٍ وهي التكوين. وقالوا إن التكوين غير المكون، وأنه أزلي لا يتجدد ولا تعلق له بالمشيئة والقدرة“Maturidiyyah berpendapat bahwa seluruh sifat perbuatan (fi’liyyah) yang muta’addi kembali kepada satu sifat, yaitu takwin. Mereka mengatakan bahwa takwin berbeda dari mukawwan (yang diciptakan), dan bahwa ia bersifat azali, tidak baru, serta tidak terkait dengan masyi’ah (kehendak) dan qudrah.” [23]Asy’ariyyah menolak takwin sebagai sifat yang berdiri sendiri dan mengembalikannya pada konsekuensi sifat kuasa dan kehendak. Rincian perbandingan ini memperlihatkan bahwa perdebatan Maturidiyyah dan Asy’ariyyah hanyalah berkutat pada persoalan furu’ dalam tradisi ilmu kalam. Secara fondasi asas, keduanya tetap berada pada alur yang sama dalam mendahulukan rasionalisme kalam di atas penyerahan diri kepada nash wahyu.Kedudukan Maturidiyyah dalam timbangan ulama salafSetelah menelaah pokok keyakinan dan perbandingannya, seorang penuntut ilmu perlu bersikap insyaf dan berimbang. Para ulama Ahlus sunah tidak menafikan jasa ilmiah ulama Maturidiyyah, namun tetap memberikan batas tegas terkait kelurusan akidah mereka.Dr. Syamsuddin al-Afghani mendudukkan status mereka secara adil dengan perkataan,“Mereka, karena banyaknya kebenaran yang ada pada mereka, dianggap sebagai Ahlus sunah dalam pengertian umum, dan bukan Ahlus sunah dalam pengertian yang murni (mahdhah).” [24]Penyebutan sebagai bagian dari Ahlus sunah dalam arti umum didasarkan pada besarnya peran ulama Maturidiyyah dalam membantah aliran-aliran zindik seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan Rafidhah, serta kontribusi besar mereka dalam membela syariat Islam di berbagai penjuru negeri. Syekh Ahmad Al-Harbi menutup ulasannya dengan memberi nasihat mengenai adab berinteraksi dengan mereka,فهؤلاء لما عندهم من الحق يعدون من أهل السنة بالمعنى العام، وليسوا من أهل السنة المحضة“Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersikap adil terhadap Maturidiyyah dan memberi mereka hak yang wajar. Mereka mengakui kebenaran yang ada pada mujtahid atau pencari kebenaran di antara mereka, demikian juga mereka mencela orang yang zalim, ta’ashub, dan pengikut hawa nafsu.” [25]PenutupMemperhatikan konstruksi akidah Maturidiyyah memberikan pelajaran berharga bahwa tujuan yang baik dalam membela Islam harus dipadukan dengan metodologi yang benar. Ketika Abu Manshur al-Maturidi menempuh jalur penalaran kalam ala Kullabiyyah dalam melawan Mu’tazilah, aliran yang dibentuknya justru mewarisi berbagai keruntuhan metode, mulai dari dominasi akal atas wahyu, penolakan hujjah hadis ahad, hingga kontradiksi dalam penakwilan sifat Allah.Perbedaan teknis antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah dalam masalah takwin, kalam nafsi, iman muqallid, maupun sa’adah dan syaqawah tidak merubah fakta bahwa kedua aliran ini berdiri di atas fondasi rasionalisme yang serupa.Sikap terbaik bagi setiap muslim adalah meneladani keadilan ulama salaf: mengakui kebaikan serta warisan ilmu para ulama dalam bidang fikih dan tafsir, sembari menjaga kemurnian akidah dari penyimpangan ilmu kalam. Sebab, jalan kebenaran dalam mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya belumlah pernah berubah, yaitu meniti petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunah sesuai dengan pemahaman para sahabat dan imam ahlul hadis yang senantiasa menundukkan akal di bawah bimbingan wahyu.Wallahu a’lam bish-shawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, Al-Maaturidiyyah, hal. 11.[2] Syamsuddin as-Salafi al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 537-540.[3] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar li Ahli al-Hadits, hal. 182-183; dinukil dalam Al-Maaturidiyyah karya al-Wa’lan, hal. 11.[4] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar li Ahli al-Hadits, hal. 183.[5] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar; dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 2: 504-508.[6] Ibnul Qayyim, Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 2: 509-510.[7] Ibnul Qayyim, Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 3: 473-475.[8] Dinukil dalam Mausu’ah al-Firaq al-Muntasibah lil-Islam, 2: 362.[9] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah bin Dakhil al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 199.[10] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200.[11] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 484-498; Khathimah, hal. 203.[12] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 498-508; Khathimah, hal. 203.[13] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 131; Khathimah, hal. 202.[14] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 127-129; Khathimah, hal. 202.[15] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 340-353; Khathimah, hal. 203.[16] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, Khathimah, hal. 199; lihat pula Dr. Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 426-433.[17] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200.[18] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200-201.[19] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal.[20] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal.[21] Syekh Muhammad al-Khadhr Husain, Mausu’ah al-A’mal al-Kamilah lil-Imam Muhammad al-Khadhr Husain, 4: 184.[22] Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, dalam Muqaddimah tahqiq kitab Al-‘Arsy karya Imam Adz-Dzahabi, 1: 69-70 (atau hal. 168-170 cetakan اﻟﻌﻠﻣﻲ اﻟﺑﺣث ﻋﻣﺎدة).[23] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 199.[24] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 401-406; Khathimah, hal. 202.[25] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 201. Daftar PustakaAl-Afghani, Syamsuddin as-Salafi. Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat. Cet. ke-1. Thaif: Maktabah ash-Shiddiq, 1413 H.Al-Harbi, Ahmad bin ‘Audhullah bin Dakhil. Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman. Cet. ke-1. Riyadh: Dar al-‘Ashimah, 1413 H.Al-Khadhr Husain, Muhammad. Mausu’ah al-A’mal al-Kamilah lil-Imam Muhammad al-Khadhr Husain. Cet. ke-1. Suriah: Dar an-Nawadir, 1431 H.Al-Maturidi, Abu Manshur Muhammad bin Muhammad. Kitab at-Tauhid. Kairo: Dar al-Jami’at al-Misriyyah, 1970 M.As-Sam’ani, Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad. Al-Intishar li Ahli al-Hadits.‘Awaji, Ghalib bin ‘Ali. Firaq Mu’ashirah Tantasib ila al-Islam wa Bayan Mauqif al-Islam Minha. Cet. ke-4. Jeddah: al-Maktabah al-‘Ashriyyah adz-Dzahabiyyah, 1422 H.Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Al-‘Arsy. Tahqiq: Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi. Cet. ke-2. Madinah: ‘Imadah al-Bahts al-‘Ilmi bil-Jami’ah al-Islamiyyah, 1424 H.Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr. Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah ‘ala al-Jahmiyyah wal Mu’aththilah. Riyadh: Adwa’ as-Salaf, 1425 H.As-Saqqaf, ‘Alawi bin ‘Abdul Qadir (peny.). Mausu’ah al-Firaq al-Muntasibah lil-Islam. Situs Dorar.net.Al-Wa’lan, Abdul Majid bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah. Maktabah Syamilah.                      

Capek Jadi Dewasa? Ini Cara Islam Menghadapi Hidup yang Terasa Berat

Ada masa ketika kita masih kecil dan ingin sekali cepat menjadi dewasa.Kita membayangkan, menjadi dewasa berarti bebas. Bisa menentukan pilihan sendiri. Punya uang sendiri. Bisa pergi ke mana saja. Tidak lagi disuruh belajar oleh orang tua.Namun setelah benar-benar dewasa, ternyata ceritanya berbeda.Ada yang berkata: “Ternyata hidup begini, ya?”Kuliah capek.Mencari kerja capek.Sudah kerja juga capek.Belum punya uang kepikiran.Sudah punya penghasilan, muncul kebutuhan lain.Belum menikah ditanya kapan menikah.Sudah menikah ternyata muncul masalah rumah tangga.Kemudian kita melihat orang tua yang dahulu tampak begitu kuat, sekarang rambutnya mulai memutih dan tubuhnya tidak sekuat dahulu.Di titik tertentu seseorang akhirnya berkata,“Aku capek jadi dewasa.”Namun pertanyaannya:Apakah ada yang salah dengan hidup kita karena kita merasa capek?   Daftar Isi tutup 1. 1. ALLAH SUDAH MEMBERI TAHU: HIDUP MEMANG PENUH PERJUANGAN 2. 2. DUNIA MEMANG BUKAN TEMPAT ISTIRAHAT TERAKHIR 3. 3. UJIAN BUKAN HANYA KETIKA HIDUP SUSAH 4. 4. KENAPA SEMAKIN DEWASA HIDUP TERASA SEMAKIN BERAT? 5. 5. GEN Z DAN PENYAKIT “AKU KETINGGALAN” 5.1. Belajar dari keadaan dunia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 6. 6. JANGAN MEMAKSA HIDUP MENGIKUTI TIMELINE ORANG LAIN 7. 7. ADA CAPEK YANG TIDAK SELESAI DENGAN TIDUR 8. 8. IRONISNYA: SAAT HIDUP SEMAKIN BERAT, SHALAT JUSTRU MULAI DITINGGALKAN 9. 9. KITA TIDAK HARUS MENYELESAIKAN MASALAH SEPULUH TAHUN KE DEPAN HARI INI 10. 10. JANGAN SAMPAI CAPEK DENGAN DUNIA MEMBUAT KITA MENINGGALKAN ALLAH 11. 11. ORANG BERIMAN JUGA BISA SEDIH 12. 12. BISA JADI UJIAN YANG MEMBUATMU MENANGIS JUSTRU SEDANG MENYELAMATKANMU 13. 13. SEMAKIN DEWASA, KITA AKAN BELAJAR KEHILANGAN 14. 14. CAPEK BOLEH, MENYERAH DARI KETAATAN JANGAN 15. 15. JANGAN HANYA BERTANYA: “KAPAN HIDUPKU AKAN ENAK?” 16. PENUTUP: TERNYATA KITA TIDAK BUTUH KEMBALI MENJADI ANAK-ANAK 17. JANGAN PERNAH BERHENTI KEMBALI KEPADA ALLAH.  1. ALLAH SUDAH MEMBERI TAHU: HIDUP MEMANG PENUH PERJUANGANAllah Ta‘ala berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)Kata الْكَبَدُ menunjukkan kesulitan, kepayahan, dan perjuangan.Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:وَرَوَى مِنْ طَرِيقِ أَبِي مَوْدُودٍ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ﴾، قَالَ: يُكَابِدُ أَمْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا، وَأَمْرًا مِنْ أَمْرِ الْآخِرَةِ. وَفِي رِوَايَةٍ: يُكَابِدُ مَضَايِقَ الدُّنْيَا وَشَدَائِدَ الْآخِرَةِ.“Diriwayatkan melalui jalur Abu Maudud, ia berkata, ‘Aku mendengar Al-Hasan membaca ayat ini, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah” (QS. Al-Balad: 4). Al-Hasan berkata, ‘Manusia menghadapi berbagai kesulitan dalam urusan dunia dan berbagai kesulitan dalam urusan akhirat.’ Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Manusia menghadapi berbagai kesempitan dunia dan berbagai kesulitan akhirat.’”Manusia sejak awal kehidupannya sudah melewati berbagai kesulitan. Lahir dengan susah payah, belajar berjalan, belajar berbicara, mencari ilmu, mencari nafkah, membangun keluarga, menghadapi penyakit, menua, lalu akhirnya menghadapi kematian.Maka jangan membayangkan bahwa hidup yang benar adalah hidup yang tidak memiliki masalah. Hidup tanpa masalah bukan janji Allah di dunia.Tabiat kehidupan dunia memang merupakan tempat ujian. Jika seorang mukmin tidak mempersiapkan dirinya untuk menerima kenyataan tersebut dan tidak menjadikan sabar sebagai bekalnya, ia justru akan membuat kehidupannya semakin berat dan kehilangan pahala dari ujian tersebut.Para ulama berkata,الدُّنْيَا دَارُ ابْتِلَاءٍ“Dunia adalah negeri ujian.”Allah Ta’ala berfirman,أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka.” (QS. Al-‘Ankabut: 2–3)Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata,سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِمْ، فَمَنْ ثَخُنَ دِينُهُ اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَمَنْ ضَعُفَ دِينُهُ ضَعُفَ بَلَاؤُهُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُصِيبُهُ الْبَلَاءُ حَتَّى يَمْشِيَ فِي النَّاسِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang yang paling utama setelah mereka, kemudian yang paling utama setelah mereka. Manusia diuji sesuai kadar agamanya. Siapa yang kuat agamanya, semakin berat pula ujiannya. Siapa yang lemah agamanya, ujiannya pun sesuai dengan kelemahannya. Sungguh, seseorang terus ditimpa ujian hingga ia berjalan di tengah-tengah manusia dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Hibban, no. 578; Tirmidzi, no. 2398; Ibnu Majah, no. 4023; dan Ahmad, no. 1494. Lafaz hadis ini adalah lafaz Ibnu Hibban. Syaikh Al-Albani menilai hadis ini sahih dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 3402). Ketaatan bukan jaminan hidup tanpa ujian. Bahkan keimanan itu sendiri akan diuji. Bahkan para nabi, manusia-manusia terbaik, tidak terbebas dari ujian.Maka: Jangan mengukur cinta Allah kepada kita dari sedikit atau banyaknya masalah yang kita hadapi. 2. DUNIA MEMANG BUKAN TEMPAT ISTIRAHAT TERAKHIRRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ » “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan, “Orang mukmin terpenjara di dunia karena mesti menahan diri dari berbagai syahwat yang diharamkan dan dimakruhkan. Orang mukmin juga diperintah untuk melakukan ketaatan. Ketika ia mati, barulah ia rehat dari hal itu. Kemudian ia akan memperoleh apa yang telah Allah janjikan dengan kenikmatan dunia yang kekal, mendapati peristirahatan yang jauh dari sifat kurang.Adapun orang kafir, dunia yang ia peroleh sedikit atau pun banyak, ketika ia meninggal dunia, ia akan mendapatkan azab (siksa) yang kekal abadi.”Bukan berarti seorang muslim harus selalu sengsara.Namun seorang mukmin menyadari bahwa dunia bukan tempat mendapatkan seluruh yang diinginkannya.Ada keinginan yang tidak tercapai.Ada doa yang belum dikabulkan sesuai harapan kita.Ada orang yang kita cintai tetapi akhirnya pergi.Ada cita-cita yang ternyata tidak menjadi kenyataan.Ada sesuatu yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun, tetapi akhirnya bukan menjadi milik kita.Mengapa?Karena dunia bukan surga.Kalau semua keinginan harus terpenuhi, semua orang harus menyukai kita, tubuh tidak pernah sakit, orang tua tidak pernah meninggal, pekerjaan selalu berjalan sesuai rencana, dan semua doa langsung terkabul sesuai keinginan, lalu apa bedanya dunia dengan surga?Allah Ta‘ala berfirman,وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ“Di dalamnya (surga) kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh pula apa yang kalian minta.” (QS. Fussilat: 31)Maka salah satu sebab kita lelah adalah kita menuntut dunia memberikan sesuatu yang baru Allah janjikan secara sempurna di surga. 3. UJIAN BUKAN HANYA KETIKA HIDUP SUSAHAllah Ta‘ala berfirman,وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)IslamWeb menjelaskan bahwa الِابْتِلَاءُ bermakna ujian dan cobaan, dan ujian tersebut dapat berbentuk keburukan maupun kebaikan.Berarti:Tidak punya uang adalah ujian.Punya banyak uang juga ujian.Belum mendapatkan pekerjaan adalah ujian.Mendapat jabatan juga ujian.Belum menikah adalah ujian.Sudah menikah juga ujian.Tidak terkenal adalah ujian.Punya banyak followers juga ujian.Mengenai surah Al-Anbiya’ ayat 35, Imam Ibnu Katsir menyebutkan:Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengenai firman Allah, “Dan Kami menguji kalian,” beliau berkata “Maksudnya, Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan; dengan kesulitan dan kelapangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, yang halal dan yang haram, ketaatan dan kemaksiatan, serta petunjuk dan kesesatan.”Maka pertanyaan seorang mukmin bukan sekadar:“Kenapa hidupku susah?”Namun:“Dalam keadaan hidupku sekarang, Allah ingin melihat aku berbuat apa?” 4. KENAPA SEMAKIN DEWASA HIDUP TERASA SEMAKIN BERAT?Karena ketika dewasa, kita mulai memikul sesuatu yang dahulu dipikul oleh orang lain.Ketika kecil, kita lapar tinggal mengatakan lapar.Ketika dewasa, kita harus berpikir:“Besok makan dari mana?”Dahulu sakit, orang tua yang panik.Sekarang orang tua sakit, kita yang panik.Dahulu kita meminta uang kepada orang tua.Suatu hari keadaan berbalik:orang tua mungkin membutuhkan uang dari kita.Inilah kedewasaan.Bukan sekadar bertambah umur, tetapi bertambah amanah.Dahulu orang tua merawat kita ketika kecil, kemudian mereka mencapai usia tua di sisi kita dan giliran kita yang merawat mereka. Allah Ta‘ala mengingatkan keadaan orang tua dulu yang memiliki beban berat membesarkan kita,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ۝ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, janganlah membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku ketika kecil.’” (QS. Al-Isra’: 23–24)Dahulu kita adalah beban yang mereka pikul dengan cinta. Ketika mereka menua, jangan sampai kita memandang mereka hanya sebagai beban. 5. GEN Z DAN PENYAKIT “AKU KETINGGALAN”Salah satu yang membuat hidup hari ini semakin melelahkan bukan hanya beratnya kehidupan kita.Namun kita dapat melihat kehidupan ribuan orang setiap hari.Buka Instagram:teman menikah.Scroll lagi:teman wisuda.Scroll lagi:teman pergi ke luar negeri.Scroll lagi:teman membeli mobil.Scroll lagi:teman membangun rumah.Lalu kita menutup handphone dan melihat kehidupan sendiri.“Kok aku masih begini?”Padahal kita sedang melakukan sesuatu yang tidak adil:Membandingkan seluruh kehidupan kita dengan beberapa detik terbaik kehidupan orang lain.Allah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya.” (QS. Thaha: 131)Perhatikan:Yang kita lihat sebagai achievement, oleh Allah disebut bisa menjadi fitnah—ujian.Karena kita hanya melihat apa yang dimiliki seseorang.Kita tidak tahu apa yang sedang Allah ujikan kepadanya. Belajar dari keadaan dunia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamKetika ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika ‘Umar naik menemui beliau di sebuah kamar atas, pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menjauh dari istri-istri beliau—‘Umar melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas tikar yang meninggalkan bekas pada sisi tubuh beliau.Melihat keadaan tersebut, kedua mata ‘Umar spontan meneteskan air mata.‘Umar berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا كِسْرَى وَقَيْصَرُ فِيمَا هُمَا فِيهِ، وَأَنْتَ صَفْوَةُ اللَّهِ مِنْ خَلْقِهِ.“Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar hidup dalam berbagai kenikmatan yang mereka nikmati, sedangkan engkau adalah manusia pilihan Allah di antara makhluk-Nya.”Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersandar. Beliau kemudian duduk dan bersabda,أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟“Apakah engkau masih berada dalam keraguan, wahai Ibnul Khaththab?”Kemudian beliau bersabda,أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي حَيَاتِهِمُ الدُّنْيَا“Mereka adalah kaum yang kenikmatan-kenikmatan mereka telah disegerakan untuk mereka dalam kehidupan dunia.”Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟“Tidakkah engkau ridha bahwa dunia menjadi bagian mereka, sedangkan akhirat menjadi bagian kita?”Lihat Tafsir Ibnu Katsir, penjelasan Surah Az-Zukhruf ayat 35.6. JANGAN MEMAKSA HIDUP MENGIKUTI TIMELINE ORANG LAINUmur 22 harus lulus.Umur 25 harus menikah.Umur 30 harus punya rumah.Umur sekian harus punya anak.Umur sekian harus mapan.Pertanyaannya:Siapa yang membuat timeline tersebut?Syariat tidak pernah mengatakan semua manusia harus mendapatkan kenikmatan dunia pada umur yang sama.Ada Nabi Yusuf ‘alaihis salam yang harus melewati sumur dan penjara sebelum mendapatkan kedudukan.Ada Nabi Ayyub ‘alaihis salam yang diuji dengan penyakit.Ada Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam yang bertahun-tahun kehilangan Yusuf.Artinya:Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.Jangan sampai kita membenci takdir Allah hanya karena kehidupan kita tidak bergerak secepat kehidupan teman kita.Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216) 7. ADA CAPEK YANG TIDAK SELESAI DENGAN TIDURIni yang perlu disadari anak muda.Tubuh memang membutuhkan istirahat.Namun tidak semua kelelahan berasal dari tubuh.Ada capeknya hati.Tidur delapan jam, bangun masih merasa kosong.Healing sudah.Nongkrong sudah.Main game sudah.Nonton sudah.Scrolling sampai tengah malam sudah.Tetapi ketika handphone diletakkan dan kamar kembali sunyi, hati kembali gelisah.Mengapa?Karena kebutuhan hati berbeda dengan kebutuhan badan.Allah Ta‘ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Maka ada kalimat yang penting ditanamkan:Tidak semua rasa capek membutuhkan liburan. Ada rasa capek yang membutuhkan sujud.8. IRONISNYA: SAAT HIDUP SEMAKIN BERAT, SHALAT JUSTRU MULAI DITINGGALKANSaat tugas menumpuk:shalat terlambat.Saat pekerjaan banyak:shalat terburu-buru.Saat masalah semakin berat:Al-Qur’an semakin jarang dibuka.Padahal Allah justru berfirman,وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah: 45)Sabar dan shalat adalah dua penolong utama seorang muslim ketika menghadapi ujian kehidupan.Jadi logikanya jangan dibalik.Bukan:“Nanti kalau masalahku sudah selesai, aku akan kembali memperbaiki ibadah.”Namun:“Karena masalahku belum selesai, aku semakin membutuhkan Allah.”9. KITA TIDAK HARUS MENYELESAIKAN MASALAH SEPULUH TAHUN KE DEPAN HARI INISalah satu penyebab manusia lelah adalah pikirannya hidup terlalu jauh di masa depan.“Bagaimana kalau aku tidak dapat pekerjaan?”“Bagaimana kalau tidak menikah?”“Bagaimana kalau usahaku gagal?”“Bagaimana kalau nanti orang tuaku meninggal?”“Bagaimana kalau…?”Padahal semua itu belum terjadi.Allah berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti tidak membuat rencana.Kita tetap belajar.Kita tetap bekerja.Kita tetap mencari jodoh.Kita tetap menabung.Kita tetap berobat ketika sakit.Namun setelah melakukan sebab, hati tidak bergantung kepada sebab.Hati bergantung kepada Allah. 10. JANGAN SAMPAI CAPEK DENGAN DUNIA MEMBUAT KITA MENINGGALKAN ALLAHInilah bahaya yang paling besar.Musibah terbesar bukan musibah dunia, tetapi musibah yang menimpa agama seseorang.Kehilangan pekerjaan memang berat.Tetapi kehilangan shalat jauh lebih berat.Putus cinta memang menyakitkan.Tetapi karena putus cinta kemudian terjerumus dalam maksiat adalah musibah yang lebih besar.Tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan memang mengecewakan.Tetapi kehilangan husnuzan kepada Allah jauh lebih berbahaya.Maka:Capek kuliah, jangan tinggalkan shalat.Capek bekerja, jangan mencari penghasilan haram.Capek menunggu jodoh, jangan mengambil jalan zina.Capek menghadapi orang tua, jangan durhaka.Capek menghadapi pasangan, jangan zalim.Capek menghadapi hidup, jangan meninggalkan Allah. 11. ORANG BERIMAN JUGA BISA SEDIHJangan membuat anak muda merasa bahwa kalau beriman berarti tidak boleh menangis.Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam menangis karena kehilangan Yusuf.Allah berfirman,وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ“Kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia menahan amarahnya.” (QS. Yusuf: 84)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis ketika putranya Ibrahim meninggal.Beliau bersabda,إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا“Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali sesuatu yang diridhai Rabb kami.” (HR. Bukhari)Jadi Islam tidak menyuruh kita berpura-pura kuat.Sedih boleh. Menangis boleh. Merasa lelah boleh.Yang dijaga adalah jangan sampai kesedihan membuat lisan dan perbuatan kita keluar dari sesuatu yang Allah ridhai.12. BISA JADI UJIAN YANG MEMBUATMU MENANGIS JUSTRU SEDANG MENYELAMATKANMUTidak setiap ujian berarti Allah sedang menghukum.Beberapa hikmah di balik ujian:menggugurkan kesalahan,menghapus dosa,meninggikan derajat,menambah pahala,menguji dan menampakkan keimanan seseorang.Ujian yang dihadapi seorang mukmin dengan sabar dapat menjadi jalan menuju tingkatan orang-orang yang sabar dan pahala yang besar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik.”Kemudian beliau menjelaskan bahwa ketika mendapatkan kesenangan ia bersyukur, dan ketika mendapatkan kesusahan ia bersabar. (HR. Muslim, no. 2999)Maka boleh jadi sesuatu yang hari ini kita tanyakan,“Ya Allah, kenapa harus aku?”kelak justru membuat kita berkata,“Alhamdulillah dahulu Allah tidak memberikan semua yang aku inginkan.”13. SEMAKIN DEWASA, KITA AKAN BELAJAR KEHILANGANIni salah satu bagian paling berat dari kedewasaan.Semakin bertambah umur, lingkaran kehidupan kita berubah.Teman yang dahulu setiap hari bersama, sekarang sibuk dengan keluarganya.Guru-guru kita menua.Orang tua kita menua.Kakek dan nenek mulai pergi.Suatu saat orang yang biasanya kita telepon mungkin tidak bisa lagi mengangkat telepon kita.Allah berfirman,كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26–27)Kedewasaan akhirnya mengajari kita:Jangan menggantungkan seluruh hati kepada sesuatu yang akan pergi.Semua manusia akan pergi.Semua harta akan ditinggalkan.Semua jabatan akan selesai.Semua popularitas akan hilang.Yang tidak pernah meninggalkan kita adalah Allah.14. CAPEK BOLEH, MENYERAH DARI KETAATAN JANGANAllah Ta‘ala berfirman,فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ۝ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ“Apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bersungguh-sungguh. Dan hanya kepada Rabbmu berharaplah.” (QS. Asy-Syarh: 7–8)Seorang muslim boleh berhenti sebentar untuk beristirahat.Tetapi ia tidak berhenti menjadi hamba Allah.Hari ini gagal?Coba lagi.Hari ini kecewa?Perbaiki lagi.Hari ini menangis?Besok bangun lagi.Hari ini merasa jauh dari Allah?Malam ini pulanglah kepada Allah.Karena masalah terbesar bukan ketika kita jatuh.Masalah terbesar adalah ketika jatuh lalu tidak mau kembali kepada Allah.15. JANGAN HANYA BERTANYA: “KAPAN HIDUPKU AKAN ENAK?”Pertanyaan yang lebih penting:“Apakah semua yang sedang aku alami membuatku semakin dekat kepada Allah?”Karena ada orang hidupnya nyaman tetapi jauh dari Allah.Ada orang penghasilannya bertambah tetapi shalatnya berkurang.Ada orang followers-nya bertambah tetapi keikhlasannya berkurang.Ada orang kariernya naik tetapi akhiratnya justru turun.Maka standar keberhasilan seorang mukmin bukan:“Apakah hidupku selalu mudah?”Namun:“Apakah dalam keadaan mudah maupun sulit aku tetap menjadi hamba Allah?”PENUTUP: TERNYATA KITA TIDAK BUTUH KEMBALI MENJADI ANAK-ANAKMungkin hari ini kita berkata,“Ya Allah, aku capek jadi dewasa.”Sebenarnya kita tidak membutuhkan mesin waktu untuk kembali menjadi anak kecil.Yang kita butuhkan adalah hati yang kembali kepada Allah.Karena dahulu ketika kecil kita tenang karena percaya bahwa ada ayah dan ibu yang mengurus kita.Ketika dewasa kita seharusnya memiliki keyakinan yang jauh lebih besar:Ada Allah yang mengatur hidup kita.Kita tidak mengetahui bagaimana kehidupan kita lima tahun mendatang.Kita tidak mengetahui dengan siapa kita menikah.Kita tidak mengetahui berapa rezeki kita.Kita tidak mengetahui berapa lama orang tua masih bersama kita.Bahkan kita tidak mengetahui apakah besok masih hidup.Namun ada satu hal yang kita ketahui:Allah tidak pernah kehilangan kendali atas kehidupan kita.Maka kalau hari ini capek:istirahatlah.Kalau sedih:menangislah.Kalau bingung:mintalah nasihat.Kalau memiliki masalah:carilah jalan keluarnya.Tetapi apa pun yang terjadi,JANGAN PERNAH BERHENTI KEMBALI KEPADA ALLAH.Karena dunia bukan tempat kita beristirahat selamanya.Ada suatu hari ketika seluruh kelelahan seorang mukmin akan berakhir.Allah Ta‘ala berfirman,ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ“Masuklah ke dalamnya dengan selamat dan aman.” (QS. Al-Hijr: 46)Semoga setelah lelah menjalani kehidupan dunia, tempat istirahat terakhir kita adalah surga Allah. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِAllāhumma innā nas’alukal-jannah, wa na‘ūdzu bika minan-nār.“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu surga dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka.”Āmīn. – @ Darush Sholihin I Jumat, 28 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscapek jadi dewasa Gen Z Muslim hidup terasa berat kembali kepada Allah ketenangan hati masalah hidup nasihat anak muda sabar dalam Islam tawakal ujian hidup

Capek Jadi Dewasa? Ini Cara Islam Menghadapi Hidup yang Terasa Berat

Ada masa ketika kita masih kecil dan ingin sekali cepat menjadi dewasa.Kita membayangkan, menjadi dewasa berarti bebas. Bisa menentukan pilihan sendiri. Punya uang sendiri. Bisa pergi ke mana saja. Tidak lagi disuruh belajar oleh orang tua.Namun setelah benar-benar dewasa, ternyata ceritanya berbeda.Ada yang berkata: “Ternyata hidup begini, ya?”Kuliah capek.Mencari kerja capek.Sudah kerja juga capek.Belum punya uang kepikiran.Sudah punya penghasilan, muncul kebutuhan lain.Belum menikah ditanya kapan menikah.Sudah menikah ternyata muncul masalah rumah tangga.Kemudian kita melihat orang tua yang dahulu tampak begitu kuat, sekarang rambutnya mulai memutih dan tubuhnya tidak sekuat dahulu.Di titik tertentu seseorang akhirnya berkata,“Aku capek jadi dewasa.”Namun pertanyaannya:Apakah ada yang salah dengan hidup kita karena kita merasa capek?   Daftar Isi tutup 1. 1. ALLAH SUDAH MEMBERI TAHU: HIDUP MEMANG PENUH PERJUANGAN 2. 2. DUNIA MEMANG BUKAN TEMPAT ISTIRAHAT TERAKHIR 3. 3. UJIAN BUKAN HANYA KETIKA HIDUP SUSAH 4. 4. KENAPA SEMAKIN DEWASA HIDUP TERASA SEMAKIN BERAT? 5. 5. GEN Z DAN PENYAKIT “AKU KETINGGALAN” 5.1. Belajar dari keadaan dunia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 6. 6. JANGAN MEMAKSA HIDUP MENGIKUTI TIMELINE ORANG LAIN 7. 7. ADA CAPEK YANG TIDAK SELESAI DENGAN TIDUR 8. 8. IRONISNYA: SAAT HIDUP SEMAKIN BERAT, SHALAT JUSTRU MULAI DITINGGALKAN 9. 9. KITA TIDAK HARUS MENYELESAIKAN MASALAH SEPULUH TAHUN KE DEPAN HARI INI 10. 10. JANGAN SAMPAI CAPEK DENGAN DUNIA MEMBUAT KITA MENINGGALKAN ALLAH 11. 11. ORANG BERIMAN JUGA BISA SEDIH 12. 12. BISA JADI UJIAN YANG MEMBUATMU MENANGIS JUSTRU SEDANG MENYELAMATKANMU 13. 13. SEMAKIN DEWASA, KITA AKAN BELAJAR KEHILANGAN 14. 14. CAPEK BOLEH, MENYERAH DARI KETAATAN JANGAN 15. 15. JANGAN HANYA BERTANYA: “KAPAN HIDUPKU AKAN ENAK?” 16. PENUTUP: TERNYATA KITA TIDAK BUTUH KEMBALI MENJADI ANAK-ANAK 17. JANGAN PERNAH BERHENTI KEMBALI KEPADA ALLAH.  1. ALLAH SUDAH MEMBERI TAHU: HIDUP MEMANG PENUH PERJUANGANAllah Ta‘ala berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)Kata الْكَبَدُ menunjukkan kesulitan, kepayahan, dan perjuangan.Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:وَرَوَى مِنْ طَرِيقِ أَبِي مَوْدُودٍ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ﴾، قَالَ: يُكَابِدُ أَمْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا، وَأَمْرًا مِنْ أَمْرِ الْآخِرَةِ. وَفِي رِوَايَةٍ: يُكَابِدُ مَضَايِقَ الدُّنْيَا وَشَدَائِدَ الْآخِرَةِ.“Diriwayatkan melalui jalur Abu Maudud, ia berkata, ‘Aku mendengar Al-Hasan membaca ayat ini, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah” (QS. Al-Balad: 4). Al-Hasan berkata, ‘Manusia menghadapi berbagai kesulitan dalam urusan dunia dan berbagai kesulitan dalam urusan akhirat.’ Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Manusia menghadapi berbagai kesempitan dunia dan berbagai kesulitan akhirat.’”Manusia sejak awal kehidupannya sudah melewati berbagai kesulitan. Lahir dengan susah payah, belajar berjalan, belajar berbicara, mencari ilmu, mencari nafkah, membangun keluarga, menghadapi penyakit, menua, lalu akhirnya menghadapi kematian.Maka jangan membayangkan bahwa hidup yang benar adalah hidup yang tidak memiliki masalah. Hidup tanpa masalah bukan janji Allah di dunia.Tabiat kehidupan dunia memang merupakan tempat ujian. Jika seorang mukmin tidak mempersiapkan dirinya untuk menerima kenyataan tersebut dan tidak menjadikan sabar sebagai bekalnya, ia justru akan membuat kehidupannya semakin berat dan kehilangan pahala dari ujian tersebut.Para ulama berkata,الدُّنْيَا دَارُ ابْتِلَاءٍ“Dunia adalah negeri ujian.”Allah Ta’ala berfirman,أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka.” (QS. Al-‘Ankabut: 2–3)Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata,سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِمْ، فَمَنْ ثَخُنَ دِينُهُ اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَمَنْ ضَعُفَ دِينُهُ ضَعُفَ بَلَاؤُهُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُصِيبُهُ الْبَلَاءُ حَتَّى يَمْشِيَ فِي النَّاسِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang yang paling utama setelah mereka, kemudian yang paling utama setelah mereka. Manusia diuji sesuai kadar agamanya. Siapa yang kuat agamanya, semakin berat pula ujiannya. Siapa yang lemah agamanya, ujiannya pun sesuai dengan kelemahannya. Sungguh, seseorang terus ditimpa ujian hingga ia berjalan di tengah-tengah manusia dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Hibban, no. 578; Tirmidzi, no. 2398; Ibnu Majah, no. 4023; dan Ahmad, no. 1494. Lafaz hadis ini adalah lafaz Ibnu Hibban. Syaikh Al-Albani menilai hadis ini sahih dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 3402). Ketaatan bukan jaminan hidup tanpa ujian. Bahkan keimanan itu sendiri akan diuji. Bahkan para nabi, manusia-manusia terbaik, tidak terbebas dari ujian.Maka: Jangan mengukur cinta Allah kepada kita dari sedikit atau banyaknya masalah yang kita hadapi. 2. DUNIA MEMANG BUKAN TEMPAT ISTIRAHAT TERAKHIRRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ » “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan, “Orang mukmin terpenjara di dunia karena mesti menahan diri dari berbagai syahwat yang diharamkan dan dimakruhkan. Orang mukmin juga diperintah untuk melakukan ketaatan. Ketika ia mati, barulah ia rehat dari hal itu. Kemudian ia akan memperoleh apa yang telah Allah janjikan dengan kenikmatan dunia yang kekal, mendapati peristirahatan yang jauh dari sifat kurang.Adapun orang kafir, dunia yang ia peroleh sedikit atau pun banyak, ketika ia meninggal dunia, ia akan mendapatkan azab (siksa) yang kekal abadi.”Bukan berarti seorang muslim harus selalu sengsara.Namun seorang mukmin menyadari bahwa dunia bukan tempat mendapatkan seluruh yang diinginkannya.Ada keinginan yang tidak tercapai.Ada doa yang belum dikabulkan sesuai harapan kita.Ada orang yang kita cintai tetapi akhirnya pergi.Ada cita-cita yang ternyata tidak menjadi kenyataan.Ada sesuatu yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun, tetapi akhirnya bukan menjadi milik kita.Mengapa?Karena dunia bukan surga.Kalau semua keinginan harus terpenuhi, semua orang harus menyukai kita, tubuh tidak pernah sakit, orang tua tidak pernah meninggal, pekerjaan selalu berjalan sesuai rencana, dan semua doa langsung terkabul sesuai keinginan, lalu apa bedanya dunia dengan surga?Allah Ta‘ala berfirman,وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ“Di dalamnya (surga) kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh pula apa yang kalian minta.” (QS. Fussilat: 31)Maka salah satu sebab kita lelah adalah kita menuntut dunia memberikan sesuatu yang baru Allah janjikan secara sempurna di surga. 3. UJIAN BUKAN HANYA KETIKA HIDUP SUSAHAllah Ta‘ala berfirman,وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)IslamWeb menjelaskan bahwa الِابْتِلَاءُ bermakna ujian dan cobaan, dan ujian tersebut dapat berbentuk keburukan maupun kebaikan.Berarti:Tidak punya uang adalah ujian.Punya banyak uang juga ujian.Belum mendapatkan pekerjaan adalah ujian.Mendapat jabatan juga ujian.Belum menikah adalah ujian.Sudah menikah juga ujian.Tidak terkenal adalah ujian.Punya banyak followers juga ujian.Mengenai surah Al-Anbiya’ ayat 35, Imam Ibnu Katsir menyebutkan:Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengenai firman Allah, “Dan Kami menguji kalian,” beliau berkata “Maksudnya, Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan; dengan kesulitan dan kelapangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, yang halal dan yang haram, ketaatan dan kemaksiatan, serta petunjuk dan kesesatan.”Maka pertanyaan seorang mukmin bukan sekadar:“Kenapa hidupku susah?”Namun:“Dalam keadaan hidupku sekarang, Allah ingin melihat aku berbuat apa?” 4. KENAPA SEMAKIN DEWASA HIDUP TERASA SEMAKIN BERAT?Karena ketika dewasa, kita mulai memikul sesuatu yang dahulu dipikul oleh orang lain.Ketika kecil, kita lapar tinggal mengatakan lapar.Ketika dewasa, kita harus berpikir:“Besok makan dari mana?”Dahulu sakit, orang tua yang panik.Sekarang orang tua sakit, kita yang panik.Dahulu kita meminta uang kepada orang tua.Suatu hari keadaan berbalik:orang tua mungkin membutuhkan uang dari kita.Inilah kedewasaan.Bukan sekadar bertambah umur, tetapi bertambah amanah.Dahulu orang tua merawat kita ketika kecil, kemudian mereka mencapai usia tua di sisi kita dan giliran kita yang merawat mereka. Allah Ta‘ala mengingatkan keadaan orang tua dulu yang memiliki beban berat membesarkan kita,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ۝ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, janganlah membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku ketika kecil.’” (QS. Al-Isra’: 23–24)Dahulu kita adalah beban yang mereka pikul dengan cinta. Ketika mereka menua, jangan sampai kita memandang mereka hanya sebagai beban. 5. GEN Z DAN PENYAKIT “AKU KETINGGALAN”Salah satu yang membuat hidup hari ini semakin melelahkan bukan hanya beratnya kehidupan kita.Namun kita dapat melihat kehidupan ribuan orang setiap hari.Buka Instagram:teman menikah.Scroll lagi:teman wisuda.Scroll lagi:teman pergi ke luar negeri.Scroll lagi:teman membeli mobil.Scroll lagi:teman membangun rumah.Lalu kita menutup handphone dan melihat kehidupan sendiri.“Kok aku masih begini?”Padahal kita sedang melakukan sesuatu yang tidak adil:Membandingkan seluruh kehidupan kita dengan beberapa detik terbaik kehidupan orang lain.Allah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya.” (QS. Thaha: 131)Perhatikan:Yang kita lihat sebagai achievement, oleh Allah disebut bisa menjadi fitnah—ujian.Karena kita hanya melihat apa yang dimiliki seseorang.Kita tidak tahu apa yang sedang Allah ujikan kepadanya. Belajar dari keadaan dunia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamKetika ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika ‘Umar naik menemui beliau di sebuah kamar atas, pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menjauh dari istri-istri beliau—‘Umar melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas tikar yang meninggalkan bekas pada sisi tubuh beliau.Melihat keadaan tersebut, kedua mata ‘Umar spontan meneteskan air mata.‘Umar berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا كِسْرَى وَقَيْصَرُ فِيمَا هُمَا فِيهِ، وَأَنْتَ صَفْوَةُ اللَّهِ مِنْ خَلْقِهِ.“Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar hidup dalam berbagai kenikmatan yang mereka nikmati, sedangkan engkau adalah manusia pilihan Allah di antara makhluk-Nya.”Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersandar. Beliau kemudian duduk dan bersabda,أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟“Apakah engkau masih berada dalam keraguan, wahai Ibnul Khaththab?”Kemudian beliau bersabda,أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي حَيَاتِهِمُ الدُّنْيَا“Mereka adalah kaum yang kenikmatan-kenikmatan mereka telah disegerakan untuk mereka dalam kehidupan dunia.”Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟“Tidakkah engkau ridha bahwa dunia menjadi bagian mereka, sedangkan akhirat menjadi bagian kita?”Lihat Tafsir Ibnu Katsir, penjelasan Surah Az-Zukhruf ayat 35.6. JANGAN MEMAKSA HIDUP MENGIKUTI TIMELINE ORANG LAINUmur 22 harus lulus.Umur 25 harus menikah.Umur 30 harus punya rumah.Umur sekian harus punya anak.Umur sekian harus mapan.Pertanyaannya:Siapa yang membuat timeline tersebut?Syariat tidak pernah mengatakan semua manusia harus mendapatkan kenikmatan dunia pada umur yang sama.Ada Nabi Yusuf ‘alaihis salam yang harus melewati sumur dan penjara sebelum mendapatkan kedudukan.Ada Nabi Ayyub ‘alaihis salam yang diuji dengan penyakit.Ada Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam yang bertahun-tahun kehilangan Yusuf.Artinya:Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.Jangan sampai kita membenci takdir Allah hanya karena kehidupan kita tidak bergerak secepat kehidupan teman kita.Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216) 7. ADA CAPEK YANG TIDAK SELESAI DENGAN TIDURIni yang perlu disadari anak muda.Tubuh memang membutuhkan istirahat.Namun tidak semua kelelahan berasal dari tubuh.Ada capeknya hati.Tidur delapan jam, bangun masih merasa kosong.Healing sudah.Nongkrong sudah.Main game sudah.Nonton sudah.Scrolling sampai tengah malam sudah.Tetapi ketika handphone diletakkan dan kamar kembali sunyi, hati kembali gelisah.Mengapa?Karena kebutuhan hati berbeda dengan kebutuhan badan.Allah Ta‘ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Maka ada kalimat yang penting ditanamkan:Tidak semua rasa capek membutuhkan liburan. Ada rasa capek yang membutuhkan sujud.8. IRONISNYA: SAAT HIDUP SEMAKIN BERAT, SHALAT JUSTRU MULAI DITINGGALKANSaat tugas menumpuk:shalat terlambat.Saat pekerjaan banyak:shalat terburu-buru.Saat masalah semakin berat:Al-Qur’an semakin jarang dibuka.Padahal Allah justru berfirman,وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah: 45)Sabar dan shalat adalah dua penolong utama seorang muslim ketika menghadapi ujian kehidupan.Jadi logikanya jangan dibalik.Bukan:“Nanti kalau masalahku sudah selesai, aku akan kembali memperbaiki ibadah.”Namun:“Karena masalahku belum selesai, aku semakin membutuhkan Allah.”9. KITA TIDAK HARUS MENYELESAIKAN MASALAH SEPULUH TAHUN KE DEPAN HARI INISalah satu penyebab manusia lelah adalah pikirannya hidup terlalu jauh di masa depan.“Bagaimana kalau aku tidak dapat pekerjaan?”“Bagaimana kalau tidak menikah?”“Bagaimana kalau usahaku gagal?”“Bagaimana kalau nanti orang tuaku meninggal?”“Bagaimana kalau…?”Padahal semua itu belum terjadi.Allah berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti tidak membuat rencana.Kita tetap belajar.Kita tetap bekerja.Kita tetap mencari jodoh.Kita tetap menabung.Kita tetap berobat ketika sakit.Namun setelah melakukan sebab, hati tidak bergantung kepada sebab.Hati bergantung kepada Allah. 10. JANGAN SAMPAI CAPEK DENGAN DUNIA MEMBUAT KITA MENINGGALKAN ALLAHInilah bahaya yang paling besar.Musibah terbesar bukan musibah dunia, tetapi musibah yang menimpa agama seseorang.Kehilangan pekerjaan memang berat.Tetapi kehilangan shalat jauh lebih berat.Putus cinta memang menyakitkan.Tetapi karena putus cinta kemudian terjerumus dalam maksiat adalah musibah yang lebih besar.Tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan memang mengecewakan.Tetapi kehilangan husnuzan kepada Allah jauh lebih berbahaya.Maka:Capek kuliah, jangan tinggalkan shalat.Capek bekerja, jangan mencari penghasilan haram.Capek menunggu jodoh, jangan mengambil jalan zina.Capek menghadapi orang tua, jangan durhaka.Capek menghadapi pasangan, jangan zalim.Capek menghadapi hidup, jangan meninggalkan Allah. 11. ORANG BERIMAN JUGA BISA SEDIHJangan membuat anak muda merasa bahwa kalau beriman berarti tidak boleh menangis.Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam menangis karena kehilangan Yusuf.Allah berfirman,وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ“Kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia menahan amarahnya.” (QS. Yusuf: 84)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis ketika putranya Ibrahim meninggal.Beliau bersabda,إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا“Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali sesuatu yang diridhai Rabb kami.” (HR. Bukhari)Jadi Islam tidak menyuruh kita berpura-pura kuat.Sedih boleh. Menangis boleh. Merasa lelah boleh.Yang dijaga adalah jangan sampai kesedihan membuat lisan dan perbuatan kita keluar dari sesuatu yang Allah ridhai.12. BISA JADI UJIAN YANG MEMBUATMU MENANGIS JUSTRU SEDANG MENYELAMATKANMUTidak setiap ujian berarti Allah sedang menghukum.Beberapa hikmah di balik ujian:menggugurkan kesalahan,menghapus dosa,meninggikan derajat,menambah pahala,menguji dan menampakkan keimanan seseorang.Ujian yang dihadapi seorang mukmin dengan sabar dapat menjadi jalan menuju tingkatan orang-orang yang sabar dan pahala yang besar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik.”Kemudian beliau menjelaskan bahwa ketika mendapatkan kesenangan ia bersyukur, dan ketika mendapatkan kesusahan ia bersabar. (HR. Muslim, no. 2999)Maka boleh jadi sesuatu yang hari ini kita tanyakan,“Ya Allah, kenapa harus aku?”kelak justru membuat kita berkata,“Alhamdulillah dahulu Allah tidak memberikan semua yang aku inginkan.”13. SEMAKIN DEWASA, KITA AKAN BELAJAR KEHILANGANIni salah satu bagian paling berat dari kedewasaan.Semakin bertambah umur, lingkaran kehidupan kita berubah.Teman yang dahulu setiap hari bersama, sekarang sibuk dengan keluarganya.Guru-guru kita menua.Orang tua kita menua.Kakek dan nenek mulai pergi.Suatu saat orang yang biasanya kita telepon mungkin tidak bisa lagi mengangkat telepon kita.Allah berfirman,كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26–27)Kedewasaan akhirnya mengajari kita:Jangan menggantungkan seluruh hati kepada sesuatu yang akan pergi.Semua manusia akan pergi.Semua harta akan ditinggalkan.Semua jabatan akan selesai.Semua popularitas akan hilang.Yang tidak pernah meninggalkan kita adalah Allah.14. CAPEK BOLEH, MENYERAH DARI KETAATAN JANGANAllah Ta‘ala berfirman,فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ۝ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ“Apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bersungguh-sungguh. Dan hanya kepada Rabbmu berharaplah.” (QS. Asy-Syarh: 7–8)Seorang muslim boleh berhenti sebentar untuk beristirahat.Tetapi ia tidak berhenti menjadi hamba Allah.Hari ini gagal?Coba lagi.Hari ini kecewa?Perbaiki lagi.Hari ini menangis?Besok bangun lagi.Hari ini merasa jauh dari Allah?Malam ini pulanglah kepada Allah.Karena masalah terbesar bukan ketika kita jatuh.Masalah terbesar adalah ketika jatuh lalu tidak mau kembali kepada Allah.15. JANGAN HANYA BERTANYA: “KAPAN HIDUPKU AKAN ENAK?”Pertanyaan yang lebih penting:“Apakah semua yang sedang aku alami membuatku semakin dekat kepada Allah?”Karena ada orang hidupnya nyaman tetapi jauh dari Allah.Ada orang penghasilannya bertambah tetapi shalatnya berkurang.Ada orang followers-nya bertambah tetapi keikhlasannya berkurang.Ada orang kariernya naik tetapi akhiratnya justru turun.Maka standar keberhasilan seorang mukmin bukan:“Apakah hidupku selalu mudah?”Namun:“Apakah dalam keadaan mudah maupun sulit aku tetap menjadi hamba Allah?”PENUTUP: TERNYATA KITA TIDAK BUTUH KEMBALI MENJADI ANAK-ANAKMungkin hari ini kita berkata,“Ya Allah, aku capek jadi dewasa.”Sebenarnya kita tidak membutuhkan mesin waktu untuk kembali menjadi anak kecil.Yang kita butuhkan adalah hati yang kembali kepada Allah.Karena dahulu ketika kecil kita tenang karena percaya bahwa ada ayah dan ibu yang mengurus kita.Ketika dewasa kita seharusnya memiliki keyakinan yang jauh lebih besar:Ada Allah yang mengatur hidup kita.Kita tidak mengetahui bagaimana kehidupan kita lima tahun mendatang.Kita tidak mengetahui dengan siapa kita menikah.Kita tidak mengetahui berapa rezeki kita.Kita tidak mengetahui berapa lama orang tua masih bersama kita.Bahkan kita tidak mengetahui apakah besok masih hidup.Namun ada satu hal yang kita ketahui:Allah tidak pernah kehilangan kendali atas kehidupan kita.Maka kalau hari ini capek:istirahatlah.Kalau sedih:menangislah.Kalau bingung:mintalah nasihat.Kalau memiliki masalah:carilah jalan keluarnya.Tetapi apa pun yang terjadi,JANGAN PERNAH BERHENTI KEMBALI KEPADA ALLAH.Karena dunia bukan tempat kita beristirahat selamanya.Ada suatu hari ketika seluruh kelelahan seorang mukmin akan berakhir.Allah Ta‘ala berfirman,ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ“Masuklah ke dalamnya dengan selamat dan aman.” (QS. Al-Hijr: 46)Semoga setelah lelah menjalani kehidupan dunia, tempat istirahat terakhir kita adalah surga Allah. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِAllāhumma innā nas’alukal-jannah, wa na‘ūdzu bika minan-nār.“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu surga dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka.”Āmīn. – @ Darush Sholihin I Jumat, 28 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscapek jadi dewasa Gen Z Muslim hidup terasa berat kembali kepada Allah ketenangan hati masalah hidup nasihat anak muda sabar dalam Islam tawakal ujian hidup
Ada masa ketika kita masih kecil dan ingin sekali cepat menjadi dewasa.Kita membayangkan, menjadi dewasa berarti bebas. Bisa menentukan pilihan sendiri. Punya uang sendiri. Bisa pergi ke mana saja. Tidak lagi disuruh belajar oleh orang tua.Namun setelah benar-benar dewasa, ternyata ceritanya berbeda.Ada yang berkata: “Ternyata hidup begini, ya?”Kuliah capek.Mencari kerja capek.Sudah kerja juga capek.Belum punya uang kepikiran.Sudah punya penghasilan, muncul kebutuhan lain.Belum menikah ditanya kapan menikah.Sudah menikah ternyata muncul masalah rumah tangga.Kemudian kita melihat orang tua yang dahulu tampak begitu kuat, sekarang rambutnya mulai memutih dan tubuhnya tidak sekuat dahulu.Di titik tertentu seseorang akhirnya berkata,“Aku capek jadi dewasa.”Namun pertanyaannya:Apakah ada yang salah dengan hidup kita karena kita merasa capek?   Daftar Isi tutup 1. 1. ALLAH SUDAH MEMBERI TAHU: HIDUP MEMANG PENUH PERJUANGAN 2. 2. DUNIA MEMANG BUKAN TEMPAT ISTIRAHAT TERAKHIR 3. 3. UJIAN BUKAN HANYA KETIKA HIDUP SUSAH 4. 4. KENAPA SEMAKIN DEWASA HIDUP TERASA SEMAKIN BERAT? 5. 5. GEN Z DAN PENYAKIT “AKU KETINGGALAN” 5.1. Belajar dari keadaan dunia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 6. 6. JANGAN MEMAKSA HIDUP MENGIKUTI TIMELINE ORANG LAIN 7. 7. ADA CAPEK YANG TIDAK SELESAI DENGAN TIDUR 8. 8. IRONISNYA: SAAT HIDUP SEMAKIN BERAT, SHALAT JUSTRU MULAI DITINGGALKAN 9. 9. KITA TIDAK HARUS MENYELESAIKAN MASALAH SEPULUH TAHUN KE DEPAN HARI INI 10. 10. JANGAN SAMPAI CAPEK DENGAN DUNIA MEMBUAT KITA MENINGGALKAN ALLAH 11. 11. ORANG BERIMAN JUGA BISA SEDIH 12. 12. BISA JADI UJIAN YANG MEMBUATMU MENANGIS JUSTRU SEDANG MENYELAMATKANMU 13. 13. SEMAKIN DEWASA, KITA AKAN BELAJAR KEHILANGAN 14. 14. CAPEK BOLEH, MENYERAH DARI KETAATAN JANGAN 15. 15. JANGAN HANYA BERTANYA: “KAPAN HIDUPKU AKAN ENAK?” 16. PENUTUP: TERNYATA KITA TIDAK BUTUH KEMBALI MENJADI ANAK-ANAK 17. JANGAN PERNAH BERHENTI KEMBALI KEPADA ALLAH.  1. ALLAH SUDAH MEMBERI TAHU: HIDUP MEMANG PENUH PERJUANGANAllah Ta‘ala berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)Kata الْكَبَدُ menunjukkan kesulitan, kepayahan, dan perjuangan.Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:وَرَوَى مِنْ طَرِيقِ أَبِي مَوْدُودٍ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ﴾، قَالَ: يُكَابِدُ أَمْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا، وَأَمْرًا مِنْ أَمْرِ الْآخِرَةِ. وَفِي رِوَايَةٍ: يُكَابِدُ مَضَايِقَ الدُّنْيَا وَشَدَائِدَ الْآخِرَةِ.“Diriwayatkan melalui jalur Abu Maudud, ia berkata, ‘Aku mendengar Al-Hasan membaca ayat ini, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah” (QS. Al-Balad: 4). Al-Hasan berkata, ‘Manusia menghadapi berbagai kesulitan dalam urusan dunia dan berbagai kesulitan dalam urusan akhirat.’ Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Manusia menghadapi berbagai kesempitan dunia dan berbagai kesulitan akhirat.’”Manusia sejak awal kehidupannya sudah melewati berbagai kesulitan. Lahir dengan susah payah, belajar berjalan, belajar berbicara, mencari ilmu, mencari nafkah, membangun keluarga, menghadapi penyakit, menua, lalu akhirnya menghadapi kematian.Maka jangan membayangkan bahwa hidup yang benar adalah hidup yang tidak memiliki masalah. Hidup tanpa masalah bukan janji Allah di dunia.Tabiat kehidupan dunia memang merupakan tempat ujian. Jika seorang mukmin tidak mempersiapkan dirinya untuk menerima kenyataan tersebut dan tidak menjadikan sabar sebagai bekalnya, ia justru akan membuat kehidupannya semakin berat dan kehilangan pahala dari ujian tersebut.Para ulama berkata,الدُّنْيَا دَارُ ابْتِلَاءٍ“Dunia adalah negeri ujian.”Allah Ta’ala berfirman,أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka.” (QS. Al-‘Ankabut: 2–3)Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata,سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِمْ، فَمَنْ ثَخُنَ دِينُهُ اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَمَنْ ضَعُفَ دِينُهُ ضَعُفَ بَلَاؤُهُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُصِيبُهُ الْبَلَاءُ حَتَّى يَمْشِيَ فِي النَّاسِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang yang paling utama setelah mereka, kemudian yang paling utama setelah mereka. Manusia diuji sesuai kadar agamanya. Siapa yang kuat agamanya, semakin berat pula ujiannya. Siapa yang lemah agamanya, ujiannya pun sesuai dengan kelemahannya. Sungguh, seseorang terus ditimpa ujian hingga ia berjalan di tengah-tengah manusia dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Hibban, no. 578; Tirmidzi, no. 2398; Ibnu Majah, no. 4023; dan Ahmad, no. 1494. Lafaz hadis ini adalah lafaz Ibnu Hibban. Syaikh Al-Albani menilai hadis ini sahih dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 3402). Ketaatan bukan jaminan hidup tanpa ujian. Bahkan keimanan itu sendiri akan diuji. Bahkan para nabi, manusia-manusia terbaik, tidak terbebas dari ujian.Maka: Jangan mengukur cinta Allah kepada kita dari sedikit atau banyaknya masalah yang kita hadapi. 2. DUNIA MEMANG BUKAN TEMPAT ISTIRAHAT TERAKHIRRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ » “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan, “Orang mukmin terpenjara di dunia karena mesti menahan diri dari berbagai syahwat yang diharamkan dan dimakruhkan. Orang mukmin juga diperintah untuk melakukan ketaatan. Ketika ia mati, barulah ia rehat dari hal itu. Kemudian ia akan memperoleh apa yang telah Allah janjikan dengan kenikmatan dunia yang kekal, mendapati peristirahatan yang jauh dari sifat kurang.Adapun orang kafir, dunia yang ia peroleh sedikit atau pun banyak, ketika ia meninggal dunia, ia akan mendapatkan azab (siksa) yang kekal abadi.”Bukan berarti seorang muslim harus selalu sengsara.Namun seorang mukmin menyadari bahwa dunia bukan tempat mendapatkan seluruh yang diinginkannya.Ada keinginan yang tidak tercapai.Ada doa yang belum dikabulkan sesuai harapan kita.Ada orang yang kita cintai tetapi akhirnya pergi.Ada cita-cita yang ternyata tidak menjadi kenyataan.Ada sesuatu yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun, tetapi akhirnya bukan menjadi milik kita.Mengapa?Karena dunia bukan surga.Kalau semua keinginan harus terpenuhi, semua orang harus menyukai kita, tubuh tidak pernah sakit, orang tua tidak pernah meninggal, pekerjaan selalu berjalan sesuai rencana, dan semua doa langsung terkabul sesuai keinginan, lalu apa bedanya dunia dengan surga?Allah Ta‘ala berfirman,وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ“Di dalamnya (surga) kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh pula apa yang kalian minta.” (QS. Fussilat: 31)Maka salah satu sebab kita lelah adalah kita menuntut dunia memberikan sesuatu yang baru Allah janjikan secara sempurna di surga. 3. UJIAN BUKAN HANYA KETIKA HIDUP SUSAHAllah Ta‘ala berfirman,وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)IslamWeb menjelaskan bahwa الِابْتِلَاءُ bermakna ujian dan cobaan, dan ujian tersebut dapat berbentuk keburukan maupun kebaikan.Berarti:Tidak punya uang adalah ujian.Punya banyak uang juga ujian.Belum mendapatkan pekerjaan adalah ujian.Mendapat jabatan juga ujian.Belum menikah adalah ujian.Sudah menikah juga ujian.Tidak terkenal adalah ujian.Punya banyak followers juga ujian.Mengenai surah Al-Anbiya’ ayat 35, Imam Ibnu Katsir menyebutkan:Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengenai firman Allah, “Dan Kami menguji kalian,” beliau berkata “Maksudnya, Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan; dengan kesulitan dan kelapangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, yang halal dan yang haram, ketaatan dan kemaksiatan, serta petunjuk dan kesesatan.”Maka pertanyaan seorang mukmin bukan sekadar:“Kenapa hidupku susah?”Namun:“Dalam keadaan hidupku sekarang, Allah ingin melihat aku berbuat apa?” 4. KENAPA SEMAKIN DEWASA HIDUP TERASA SEMAKIN BERAT?Karena ketika dewasa, kita mulai memikul sesuatu yang dahulu dipikul oleh orang lain.Ketika kecil, kita lapar tinggal mengatakan lapar.Ketika dewasa, kita harus berpikir:“Besok makan dari mana?”Dahulu sakit, orang tua yang panik.Sekarang orang tua sakit, kita yang panik.Dahulu kita meminta uang kepada orang tua.Suatu hari keadaan berbalik:orang tua mungkin membutuhkan uang dari kita.Inilah kedewasaan.Bukan sekadar bertambah umur, tetapi bertambah amanah.Dahulu orang tua merawat kita ketika kecil, kemudian mereka mencapai usia tua di sisi kita dan giliran kita yang merawat mereka. Allah Ta‘ala mengingatkan keadaan orang tua dulu yang memiliki beban berat membesarkan kita,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ۝ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, janganlah membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku ketika kecil.’” (QS. Al-Isra’: 23–24)Dahulu kita adalah beban yang mereka pikul dengan cinta. Ketika mereka menua, jangan sampai kita memandang mereka hanya sebagai beban. 5. GEN Z DAN PENYAKIT “AKU KETINGGALAN”Salah satu yang membuat hidup hari ini semakin melelahkan bukan hanya beratnya kehidupan kita.Namun kita dapat melihat kehidupan ribuan orang setiap hari.Buka Instagram:teman menikah.Scroll lagi:teman wisuda.Scroll lagi:teman pergi ke luar negeri.Scroll lagi:teman membeli mobil.Scroll lagi:teman membangun rumah.Lalu kita menutup handphone dan melihat kehidupan sendiri.“Kok aku masih begini?”Padahal kita sedang melakukan sesuatu yang tidak adil:Membandingkan seluruh kehidupan kita dengan beberapa detik terbaik kehidupan orang lain.Allah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya.” (QS. Thaha: 131)Perhatikan:Yang kita lihat sebagai achievement, oleh Allah disebut bisa menjadi fitnah—ujian.Karena kita hanya melihat apa yang dimiliki seseorang.Kita tidak tahu apa yang sedang Allah ujikan kepadanya. Belajar dari keadaan dunia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamKetika ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika ‘Umar naik menemui beliau di sebuah kamar atas, pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menjauh dari istri-istri beliau—‘Umar melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas tikar yang meninggalkan bekas pada sisi tubuh beliau.Melihat keadaan tersebut, kedua mata ‘Umar spontan meneteskan air mata.‘Umar berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا كِسْرَى وَقَيْصَرُ فِيمَا هُمَا فِيهِ، وَأَنْتَ صَفْوَةُ اللَّهِ مِنْ خَلْقِهِ.“Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar hidup dalam berbagai kenikmatan yang mereka nikmati, sedangkan engkau adalah manusia pilihan Allah di antara makhluk-Nya.”Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersandar. Beliau kemudian duduk dan bersabda,أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟“Apakah engkau masih berada dalam keraguan, wahai Ibnul Khaththab?”Kemudian beliau bersabda,أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي حَيَاتِهِمُ الدُّنْيَا“Mereka adalah kaum yang kenikmatan-kenikmatan mereka telah disegerakan untuk mereka dalam kehidupan dunia.”Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟“Tidakkah engkau ridha bahwa dunia menjadi bagian mereka, sedangkan akhirat menjadi bagian kita?”Lihat Tafsir Ibnu Katsir, penjelasan Surah Az-Zukhruf ayat 35.6. JANGAN MEMAKSA HIDUP MENGIKUTI TIMELINE ORANG LAINUmur 22 harus lulus.Umur 25 harus menikah.Umur 30 harus punya rumah.Umur sekian harus punya anak.Umur sekian harus mapan.Pertanyaannya:Siapa yang membuat timeline tersebut?Syariat tidak pernah mengatakan semua manusia harus mendapatkan kenikmatan dunia pada umur yang sama.Ada Nabi Yusuf ‘alaihis salam yang harus melewati sumur dan penjara sebelum mendapatkan kedudukan.Ada Nabi Ayyub ‘alaihis salam yang diuji dengan penyakit.Ada Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam yang bertahun-tahun kehilangan Yusuf.Artinya:Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.Jangan sampai kita membenci takdir Allah hanya karena kehidupan kita tidak bergerak secepat kehidupan teman kita.Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216) 7. ADA CAPEK YANG TIDAK SELESAI DENGAN TIDURIni yang perlu disadari anak muda.Tubuh memang membutuhkan istirahat.Namun tidak semua kelelahan berasal dari tubuh.Ada capeknya hati.Tidur delapan jam, bangun masih merasa kosong.Healing sudah.Nongkrong sudah.Main game sudah.Nonton sudah.Scrolling sampai tengah malam sudah.Tetapi ketika handphone diletakkan dan kamar kembali sunyi, hati kembali gelisah.Mengapa?Karena kebutuhan hati berbeda dengan kebutuhan badan.Allah Ta‘ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Maka ada kalimat yang penting ditanamkan:Tidak semua rasa capek membutuhkan liburan. Ada rasa capek yang membutuhkan sujud.8. IRONISNYA: SAAT HIDUP SEMAKIN BERAT, SHALAT JUSTRU MULAI DITINGGALKANSaat tugas menumpuk:shalat terlambat.Saat pekerjaan banyak:shalat terburu-buru.Saat masalah semakin berat:Al-Qur’an semakin jarang dibuka.Padahal Allah justru berfirman,وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah: 45)Sabar dan shalat adalah dua penolong utama seorang muslim ketika menghadapi ujian kehidupan.Jadi logikanya jangan dibalik.Bukan:“Nanti kalau masalahku sudah selesai, aku akan kembali memperbaiki ibadah.”Namun:“Karena masalahku belum selesai, aku semakin membutuhkan Allah.”9. KITA TIDAK HARUS MENYELESAIKAN MASALAH SEPULUH TAHUN KE DEPAN HARI INISalah satu penyebab manusia lelah adalah pikirannya hidup terlalu jauh di masa depan.“Bagaimana kalau aku tidak dapat pekerjaan?”“Bagaimana kalau tidak menikah?”“Bagaimana kalau usahaku gagal?”“Bagaimana kalau nanti orang tuaku meninggal?”“Bagaimana kalau…?”Padahal semua itu belum terjadi.Allah berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti tidak membuat rencana.Kita tetap belajar.Kita tetap bekerja.Kita tetap mencari jodoh.Kita tetap menabung.Kita tetap berobat ketika sakit.Namun setelah melakukan sebab, hati tidak bergantung kepada sebab.Hati bergantung kepada Allah. 10. JANGAN SAMPAI CAPEK DENGAN DUNIA MEMBUAT KITA MENINGGALKAN ALLAHInilah bahaya yang paling besar.Musibah terbesar bukan musibah dunia, tetapi musibah yang menimpa agama seseorang.Kehilangan pekerjaan memang berat.Tetapi kehilangan shalat jauh lebih berat.Putus cinta memang menyakitkan.Tetapi karena putus cinta kemudian terjerumus dalam maksiat adalah musibah yang lebih besar.Tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan memang mengecewakan.Tetapi kehilangan husnuzan kepada Allah jauh lebih berbahaya.Maka:Capek kuliah, jangan tinggalkan shalat.Capek bekerja, jangan mencari penghasilan haram.Capek menunggu jodoh, jangan mengambil jalan zina.Capek menghadapi orang tua, jangan durhaka.Capek menghadapi pasangan, jangan zalim.Capek menghadapi hidup, jangan meninggalkan Allah. 11. ORANG BERIMAN JUGA BISA SEDIHJangan membuat anak muda merasa bahwa kalau beriman berarti tidak boleh menangis.Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam menangis karena kehilangan Yusuf.Allah berfirman,وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ“Kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia menahan amarahnya.” (QS. Yusuf: 84)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis ketika putranya Ibrahim meninggal.Beliau bersabda,إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا“Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali sesuatu yang diridhai Rabb kami.” (HR. Bukhari)Jadi Islam tidak menyuruh kita berpura-pura kuat.Sedih boleh. Menangis boleh. Merasa lelah boleh.Yang dijaga adalah jangan sampai kesedihan membuat lisan dan perbuatan kita keluar dari sesuatu yang Allah ridhai.12. BISA JADI UJIAN YANG MEMBUATMU MENANGIS JUSTRU SEDANG MENYELAMATKANMUTidak setiap ujian berarti Allah sedang menghukum.Beberapa hikmah di balik ujian:menggugurkan kesalahan,menghapus dosa,meninggikan derajat,menambah pahala,menguji dan menampakkan keimanan seseorang.Ujian yang dihadapi seorang mukmin dengan sabar dapat menjadi jalan menuju tingkatan orang-orang yang sabar dan pahala yang besar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik.”Kemudian beliau menjelaskan bahwa ketika mendapatkan kesenangan ia bersyukur, dan ketika mendapatkan kesusahan ia bersabar. (HR. Muslim, no. 2999)Maka boleh jadi sesuatu yang hari ini kita tanyakan,“Ya Allah, kenapa harus aku?”kelak justru membuat kita berkata,“Alhamdulillah dahulu Allah tidak memberikan semua yang aku inginkan.”13. SEMAKIN DEWASA, KITA AKAN BELAJAR KEHILANGANIni salah satu bagian paling berat dari kedewasaan.Semakin bertambah umur, lingkaran kehidupan kita berubah.Teman yang dahulu setiap hari bersama, sekarang sibuk dengan keluarganya.Guru-guru kita menua.Orang tua kita menua.Kakek dan nenek mulai pergi.Suatu saat orang yang biasanya kita telepon mungkin tidak bisa lagi mengangkat telepon kita.Allah berfirman,كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26–27)Kedewasaan akhirnya mengajari kita:Jangan menggantungkan seluruh hati kepada sesuatu yang akan pergi.Semua manusia akan pergi.Semua harta akan ditinggalkan.Semua jabatan akan selesai.Semua popularitas akan hilang.Yang tidak pernah meninggalkan kita adalah Allah.14. CAPEK BOLEH, MENYERAH DARI KETAATAN JANGANAllah Ta‘ala berfirman,فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ۝ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ“Apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bersungguh-sungguh. Dan hanya kepada Rabbmu berharaplah.” (QS. Asy-Syarh: 7–8)Seorang muslim boleh berhenti sebentar untuk beristirahat.Tetapi ia tidak berhenti menjadi hamba Allah.Hari ini gagal?Coba lagi.Hari ini kecewa?Perbaiki lagi.Hari ini menangis?Besok bangun lagi.Hari ini merasa jauh dari Allah?Malam ini pulanglah kepada Allah.Karena masalah terbesar bukan ketika kita jatuh.Masalah terbesar adalah ketika jatuh lalu tidak mau kembali kepada Allah.15. JANGAN HANYA BERTANYA: “KAPAN HIDUPKU AKAN ENAK?”Pertanyaan yang lebih penting:“Apakah semua yang sedang aku alami membuatku semakin dekat kepada Allah?”Karena ada orang hidupnya nyaman tetapi jauh dari Allah.Ada orang penghasilannya bertambah tetapi shalatnya berkurang.Ada orang followers-nya bertambah tetapi keikhlasannya berkurang.Ada orang kariernya naik tetapi akhiratnya justru turun.Maka standar keberhasilan seorang mukmin bukan:“Apakah hidupku selalu mudah?”Namun:“Apakah dalam keadaan mudah maupun sulit aku tetap menjadi hamba Allah?”PENUTUP: TERNYATA KITA TIDAK BUTUH KEMBALI MENJADI ANAK-ANAKMungkin hari ini kita berkata,“Ya Allah, aku capek jadi dewasa.”Sebenarnya kita tidak membutuhkan mesin waktu untuk kembali menjadi anak kecil.Yang kita butuhkan adalah hati yang kembali kepada Allah.Karena dahulu ketika kecil kita tenang karena percaya bahwa ada ayah dan ibu yang mengurus kita.Ketika dewasa kita seharusnya memiliki keyakinan yang jauh lebih besar:Ada Allah yang mengatur hidup kita.Kita tidak mengetahui bagaimana kehidupan kita lima tahun mendatang.Kita tidak mengetahui dengan siapa kita menikah.Kita tidak mengetahui berapa rezeki kita.Kita tidak mengetahui berapa lama orang tua masih bersama kita.Bahkan kita tidak mengetahui apakah besok masih hidup.Namun ada satu hal yang kita ketahui:Allah tidak pernah kehilangan kendali atas kehidupan kita.Maka kalau hari ini capek:istirahatlah.Kalau sedih:menangislah.Kalau bingung:mintalah nasihat.Kalau memiliki masalah:carilah jalan keluarnya.Tetapi apa pun yang terjadi,JANGAN PERNAH BERHENTI KEMBALI KEPADA ALLAH.Karena dunia bukan tempat kita beristirahat selamanya.Ada suatu hari ketika seluruh kelelahan seorang mukmin akan berakhir.Allah Ta‘ala berfirman,ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ“Masuklah ke dalamnya dengan selamat dan aman.” (QS. Al-Hijr: 46)Semoga setelah lelah menjalani kehidupan dunia, tempat istirahat terakhir kita adalah surga Allah. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِAllāhumma innā nas’alukal-jannah, wa na‘ūdzu bika minan-nār.“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu surga dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka.”Āmīn. – @ Darush Sholihin I Jumat, 28 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscapek jadi dewasa Gen Z Muslim hidup terasa berat kembali kepada Allah ketenangan hati masalah hidup nasihat anak muda sabar dalam Islam tawakal ujian hidup


Ada masa ketika kita masih kecil dan ingin sekali cepat menjadi dewasa.Kita membayangkan, menjadi dewasa berarti bebas. Bisa menentukan pilihan sendiri. Punya uang sendiri. Bisa pergi ke mana saja. Tidak lagi disuruh belajar oleh orang tua.Namun setelah benar-benar dewasa, ternyata ceritanya berbeda.Ada yang berkata: “Ternyata hidup begini, ya?”Kuliah capek.Mencari kerja capek.Sudah kerja juga capek.Belum punya uang kepikiran.Sudah punya penghasilan, muncul kebutuhan lain.Belum menikah ditanya kapan menikah.Sudah menikah ternyata muncul masalah rumah tangga.Kemudian kita melihat orang tua yang dahulu tampak begitu kuat, sekarang rambutnya mulai memutih dan tubuhnya tidak sekuat dahulu.Di titik tertentu seseorang akhirnya berkata,“Aku capek jadi dewasa.”Namun pertanyaannya:Apakah ada yang salah dengan hidup kita karena kita merasa capek?   Daftar Isi tutup 1. 1. ALLAH SUDAH MEMBERI TAHU: HIDUP MEMANG PENUH PERJUANGAN 2. 2. DUNIA MEMANG BUKAN TEMPAT ISTIRAHAT TERAKHIR 3. 3. UJIAN BUKAN HANYA KETIKA HIDUP SUSAH 4. 4. KENAPA SEMAKIN DEWASA HIDUP TERASA SEMAKIN BERAT? 5. 5. GEN Z DAN PENYAKIT “AKU KETINGGALAN” 5.1. Belajar dari keadaan dunia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 6. 6. JANGAN MEMAKSA HIDUP MENGIKUTI TIMELINE ORANG LAIN 7. 7. ADA CAPEK YANG TIDAK SELESAI DENGAN TIDUR 8. 8. IRONISNYA: SAAT HIDUP SEMAKIN BERAT, SHALAT JUSTRU MULAI DITINGGALKAN 9. 9. KITA TIDAK HARUS MENYELESAIKAN MASALAH SEPULUH TAHUN KE DEPAN HARI INI 10. 10. JANGAN SAMPAI CAPEK DENGAN DUNIA MEMBUAT KITA MENINGGALKAN ALLAH 11. 11. ORANG BERIMAN JUGA BISA SEDIH 12. 12. BISA JADI UJIAN YANG MEMBUATMU MENANGIS JUSTRU SEDANG MENYELAMATKANMU 13. 13. SEMAKIN DEWASA, KITA AKAN BELAJAR KEHILANGAN 14. 14. CAPEK BOLEH, MENYERAH DARI KETAATAN JANGAN 15. 15. JANGAN HANYA BERTANYA: “KAPAN HIDUPKU AKAN ENAK?” 16. PENUTUP: TERNYATA KITA TIDAK BUTUH KEMBALI MENJADI ANAK-ANAK 17. JANGAN PERNAH BERHENTI KEMBALI KEPADA ALLAH.  1. ALLAH SUDAH MEMBERI TAHU: HIDUP MEMANG PENUH PERJUANGANAllah Ta‘ala berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)Kata الْكَبَدُ menunjukkan kesulitan, kepayahan, dan perjuangan.Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:وَرَوَى مِنْ طَرِيقِ أَبِي مَوْدُودٍ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ﴾، قَالَ: يُكَابِدُ أَمْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا، وَأَمْرًا مِنْ أَمْرِ الْآخِرَةِ. وَفِي رِوَايَةٍ: يُكَابِدُ مَضَايِقَ الدُّنْيَا وَشَدَائِدَ الْآخِرَةِ.“Diriwayatkan melalui jalur Abu Maudud, ia berkata, ‘Aku mendengar Al-Hasan membaca ayat ini, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah” (QS. Al-Balad: 4). Al-Hasan berkata, ‘Manusia menghadapi berbagai kesulitan dalam urusan dunia dan berbagai kesulitan dalam urusan akhirat.’ Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Manusia menghadapi berbagai kesempitan dunia dan berbagai kesulitan akhirat.’”Manusia sejak awal kehidupannya sudah melewati berbagai kesulitan. Lahir dengan susah payah, belajar berjalan, belajar berbicara, mencari ilmu, mencari nafkah, membangun keluarga, menghadapi penyakit, menua, lalu akhirnya menghadapi kematian.Maka jangan membayangkan bahwa hidup yang benar adalah hidup yang tidak memiliki masalah. Hidup tanpa masalah bukan janji Allah di dunia.Tabiat kehidupan dunia memang merupakan tempat ujian. Jika seorang mukmin tidak mempersiapkan dirinya untuk menerima kenyataan tersebut dan tidak menjadikan sabar sebagai bekalnya, ia justru akan membuat kehidupannya semakin berat dan kehilangan pahala dari ujian tersebut.Para ulama berkata,الدُّنْيَا دَارُ ابْتِلَاءٍ“Dunia adalah negeri ujian.”Allah Ta’ala berfirman,أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka.” (QS. Al-‘Ankabut: 2–3)Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata,سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِمْ، فَمَنْ ثَخُنَ دِينُهُ اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَمَنْ ضَعُفَ دِينُهُ ضَعُفَ بَلَاؤُهُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُصِيبُهُ الْبَلَاءُ حَتَّى يَمْشِيَ فِي النَّاسِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang yang paling utama setelah mereka, kemudian yang paling utama setelah mereka. Manusia diuji sesuai kadar agamanya. Siapa yang kuat agamanya, semakin berat pula ujiannya. Siapa yang lemah agamanya, ujiannya pun sesuai dengan kelemahannya. Sungguh, seseorang terus ditimpa ujian hingga ia berjalan di tengah-tengah manusia dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Hibban, no. 578; Tirmidzi, no. 2398; Ibnu Majah, no. 4023; dan Ahmad, no. 1494. Lafaz hadis ini adalah lafaz Ibnu Hibban. Syaikh Al-Albani menilai hadis ini sahih dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 3402). Ketaatan bukan jaminan hidup tanpa ujian. Bahkan keimanan itu sendiri akan diuji. Bahkan para nabi, manusia-manusia terbaik, tidak terbebas dari ujian.Maka: Jangan mengukur cinta Allah kepada kita dari sedikit atau banyaknya masalah yang kita hadapi. 2. DUNIA MEMANG BUKAN TEMPAT ISTIRAHAT TERAKHIRRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ » “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan, “Orang mukmin terpenjara di dunia karena mesti menahan diri dari berbagai syahwat yang diharamkan dan dimakruhkan. Orang mukmin juga diperintah untuk melakukan ketaatan. Ketika ia mati, barulah ia rehat dari hal itu. Kemudian ia akan memperoleh apa yang telah Allah janjikan dengan kenikmatan dunia yang kekal, mendapati peristirahatan yang jauh dari sifat kurang.Adapun orang kafir, dunia yang ia peroleh sedikit atau pun banyak, ketika ia meninggal dunia, ia akan mendapatkan azab (siksa) yang kekal abadi.”Bukan berarti seorang muslim harus selalu sengsara.Namun seorang mukmin menyadari bahwa dunia bukan tempat mendapatkan seluruh yang diinginkannya.Ada keinginan yang tidak tercapai.Ada doa yang belum dikabulkan sesuai harapan kita.Ada orang yang kita cintai tetapi akhirnya pergi.Ada cita-cita yang ternyata tidak menjadi kenyataan.Ada sesuatu yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun, tetapi akhirnya bukan menjadi milik kita.Mengapa?Karena dunia bukan surga.Kalau semua keinginan harus terpenuhi, semua orang harus menyukai kita, tubuh tidak pernah sakit, orang tua tidak pernah meninggal, pekerjaan selalu berjalan sesuai rencana, dan semua doa langsung terkabul sesuai keinginan, lalu apa bedanya dunia dengan surga?Allah Ta‘ala berfirman,وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ“Di dalamnya (surga) kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh pula apa yang kalian minta.” (QS. Fussilat: 31)Maka salah satu sebab kita lelah adalah kita menuntut dunia memberikan sesuatu yang baru Allah janjikan secara sempurna di surga. 3. UJIAN BUKAN HANYA KETIKA HIDUP SUSAHAllah Ta‘ala berfirman,وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)IslamWeb menjelaskan bahwa الِابْتِلَاءُ bermakna ujian dan cobaan, dan ujian tersebut dapat berbentuk keburukan maupun kebaikan.Berarti:Tidak punya uang adalah ujian.Punya banyak uang juga ujian.Belum mendapatkan pekerjaan adalah ujian.Mendapat jabatan juga ujian.Belum menikah adalah ujian.Sudah menikah juga ujian.Tidak terkenal adalah ujian.Punya banyak followers juga ujian.Mengenai surah Al-Anbiya’ ayat 35, Imam Ibnu Katsir menyebutkan:Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengenai firman Allah, “Dan Kami menguji kalian,” beliau berkata “Maksudnya, Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan; dengan kesulitan dan kelapangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, yang halal dan yang haram, ketaatan dan kemaksiatan, serta petunjuk dan kesesatan.”Maka pertanyaan seorang mukmin bukan sekadar:“Kenapa hidupku susah?”Namun:“Dalam keadaan hidupku sekarang, Allah ingin melihat aku berbuat apa?” 4. KENAPA SEMAKIN DEWASA HIDUP TERASA SEMAKIN BERAT?Karena ketika dewasa, kita mulai memikul sesuatu yang dahulu dipikul oleh orang lain.Ketika kecil, kita lapar tinggal mengatakan lapar.Ketika dewasa, kita harus berpikir:“Besok makan dari mana?”Dahulu sakit, orang tua yang panik.Sekarang orang tua sakit, kita yang panik.Dahulu kita meminta uang kepada orang tua.Suatu hari keadaan berbalik:orang tua mungkin membutuhkan uang dari kita.Inilah kedewasaan.Bukan sekadar bertambah umur, tetapi bertambah amanah.Dahulu orang tua merawat kita ketika kecil, kemudian mereka mencapai usia tua di sisi kita dan giliran kita yang merawat mereka. Allah Ta‘ala mengingatkan keadaan orang tua dulu yang memiliki beban berat membesarkan kita,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ۝ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, janganlah membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku ketika kecil.’” (QS. Al-Isra’: 23–24)Dahulu kita adalah beban yang mereka pikul dengan cinta. Ketika mereka menua, jangan sampai kita memandang mereka hanya sebagai beban. 5. GEN Z DAN PENYAKIT “AKU KETINGGALAN”Salah satu yang membuat hidup hari ini semakin melelahkan bukan hanya beratnya kehidupan kita.Namun kita dapat melihat kehidupan ribuan orang setiap hari.Buka Instagram:teman menikah.Scroll lagi:teman wisuda.Scroll lagi:teman pergi ke luar negeri.Scroll lagi:teman membeli mobil.Scroll lagi:teman membangun rumah.Lalu kita menutup handphone dan melihat kehidupan sendiri.“Kok aku masih begini?”Padahal kita sedang melakukan sesuatu yang tidak adil:Membandingkan seluruh kehidupan kita dengan beberapa detik terbaik kehidupan orang lain.Allah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya.” (QS. Thaha: 131)Perhatikan:Yang kita lihat sebagai achievement, oleh Allah disebut bisa menjadi fitnah—ujian.Karena kita hanya melihat apa yang dimiliki seseorang.Kita tidak tahu apa yang sedang Allah ujikan kepadanya. Belajar dari keadaan dunia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamKetika ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika ‘Umar naik menemui beliau di sebuah kamar atas, pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menjauh dari istri-istri beliau—‘Umar melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas tikar yang meninggalkan bekas pada sisi tubuh beliau.Melihat keadaan tersebut, kedua mata ‘Umar spontan meneteskan air mata.‘Umar berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا كِسْرَى وَقَيْصَرُ فِيمَا هُمَا فِيهِ، وَأَنْتَ صَفْوَةُ اللَّهِ مِنْ خَلْقِهِ.“Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar hidup dalam berbagai kenikmatan yang mereka nikmati, sedangkan engkau adalah manusia pilihan Allah di antara makhluk-Nya.”Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersandar. Beliau kemudian duduk dan bersabda,أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟“Apakah engkau masih berada dalam keraguan, wahai Ibnul Khaththab?”Kemudian beliau bersabda,أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي حَيَاتِهِمُ الدُّنْيَا“Mereka adalah kaum yang kenikmatan-kenikmatan mereka telah disegerakan untuk mereka dalam kehidupan dunia.”Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟“Tidakkah engkau ridha bahwa dunia menjadi bagian mereka, sedangkan akhirat menjadi bagian kita?”Lihat Tafsir Ibnu Katsir, penjelasan Surah Az-Zukhruf ayat 35.6. JANGAN MEMAKSA HIDUP MENGIKUTI TIMELINE ORANG LAINUmur 22 harus lulus.Umur 25 harus menikah.Umur 30 harus punya rumah.Umur sekian harus punya anak.Umur sekian harus mapan.Pertanyaannya:Siapa yang membuat timeline tersebut?Syariat tidak pernah mengatakan semua manusia harus mendapatkan kenikmatan dunia pada umur yang sama.Ada Nabi Yusuf ‘alaihis salam yang harus melewati sumur dan penjara sebelum mendapatkan kedudukan.Ada Nabi Ayyub ‘alaihis salam yang diuji dengan penyakit.Ada Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam yang bertahun-tahun kehilangan Yusuf.Artinya:Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.Jangan sampai kita membenci takdir Allah hanya karena kehidupan kita tidak bergerak secepat kehidupan teman kita.Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216) 7. ADA CAPEK YANG TIDAK SELESAI DENGAN TIDURIni yang perlu disadari anak muda.Tubuh memang membutuhkan istirahat.Namun tidak semua kelelahan berasal dari tubuh.Ada capeknya hati.Tidur delapan jam, bangun masih merasa kosong.Healing sudah.Nongkrong sudah.Main game sudah.Nonton sudah.Scrolling sampai tengah malam sudah.Tetapi ketika handphone diletakkan dan kamar kembali sunyi, hati kembali gelisah.Mengapa?Karena kebutuhan hati berbeda dengan kebutuhan badan.Allah Ta‘ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Maka ada kalimat yang penting ditanamkan:Tidak semua rasa capek membutuhkan liburan. Ada rasa capek yang membutuhkan sujud.8. IRONISNYA: SAAT HIDUP SEMAKIN BERAT, SHALAT JUSTRU MULAI DITINGGALKANSaat tugas menumpuk:shalat terlambat.Saat pekerjaan banyak:shalat terburu-buru.Saat masalah semakin berat:Al-Qur’an semakin jarang dibuka.Padahal Allah justru berfirman,وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah: 45)Sabar dan shalat adalah dua penolong utama seorang muslim ketika menghadapi ujian kehidupan.Jadi logikanya jangan dibalik.Bukan:“Nanti kalau masalahku sudah selesai, aku akan kembali memperbaiki ibadah.”Namun:“Karena masalahku belum selesai, aku semakin membutuhkan Allah.”9. KITA TIDAK HARUS MENYELESAIKAN MASALAH SEPULUH TAHUN KE DEPAN HARI INISalah satu penyebab manusia lelah adalah pikirannya hidup terlalu jauh di masa depan.“Bagaimana kalau aku tidak dapat pekerjaan?”“Bagaimana kalau tidak menikah?”“Bagaimana kalau usahaku gagal?”“Bagaimana kalau nanti orang tuaku meninggal?”“Bagaimana kalau…?”Padahal semua itu belum terjadi.Allah berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti tidak membuat rencana.Kita tetap belajar.Kita tetap bekerja.Kita tetap mencari jodoh.Kita tetap menabung.Kita tetap berobat ketika sakit.Namun setelah melakukan sebab, hati tidak bergantung kepada sebab.Hati bergantung kepada Allah. 10. JANGAN SAMPAI CAPEK DENGAN DUNIA MEMBUAT KITA MENINGGALKAN ALLAHInilah bahaya yang paling besar.Musibah terbesar bukan musibah dunia, tetapi musibah yang menimpa agama seseorang.Kehilangan pekerjaan memang berat.Tetapi kehilangan shalat jauh lebih berat.Putus cinta memang menyakitkan.Tetapi karena putus cinta kemudian terjerumus dalam maksiat adalah musibah yang lebih besar.Tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan memang mengecewakan.Tetapi kehilangan husnuzan kepada Allah jauh lebih berbahaya.Maka:Capek kuliah, jangan tinggalkan shalat.Capek bekerja, jangan mencari penghasilan haram.Capek menunggu jodoh, jangan mengambil jalan zina.Capek menghadapi orang tua, jangan durhaka.Capek menghadapi pasangan, jangan zalim.Capek menghadapi hidup, jangan meninggalkan Allah. 11. ORANG BERIMAN JUGA BISA SEDIHJangan membuat anak muda merasa bahwa kalau beriman berarti tidak boleh menangis.Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam menangis karena kehilangan Yusuf.Allah berfirman,وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ“Kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia menahan amarahnya.” (QS. Yusuf: 84)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis ketika putranya Ibrahim meninggal.Beliau bersabda,إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا“Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali sesuatu yang diridhai Rabb kami.” (HR. Bukhari)Jadi Islam tidak menyuruh kita berpura-pura kuat.Sedih boleh. Menangis boleh. Merasa lelah boleh.Yang dijaga adalah jangan sampai kesedihan membuat lisan dan perbuatan kita keluar dari sesuatu yang Allah ridhai.12. BISA JADI UJIAN YANG MEMBUATMU MENANGIS JUSTRU SEDANG MENYELAMATKANMUTidak setiap ujian berarti Allah sedang menghukum.Beberapa hikmah di balik ujian:menggugurkan kesalahan,menghapus dosa,meninggikan derajat,menambah pahala,menguji dan menampakkan keimanan seseorang.Ujian yang dihadapi seorang mukmin dengan sabar dapat menjadi jalan menuju tingkatan orang-orang yang sabar dan pahala yang besar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik.”Kemudian beliau menjelaskan bahwa ketika mendapatkan kesenangan ia bersyukur, dan ketika mendapatkan kesusahan ia bersabar. (HR. Muslim, no. 2999)Maka boleh jadi sesuatu yang hari ini kita tanyakan,“Ya Allah, kenapa harus aku?”kelak justru membuat kita berkata,“Alhamdulillah dahulu Allah tidak memberikan semua yang aku inginkan.”13. SEMAKIN DEWASA, KITA AKAN BELAJAR KEHILANGANIni salah satu bagian paling berat dari kedewasaan.Semakin bertambah umur, lingkaran kehidupan kita berubah.Teman yang dahulu setiap hari bersama, sekarang sibuk dengan keluarganya.Guru-guru kita menua.Orang tua kita menua.Kakek dan nenek mulai pergi.Suatu saat orang yang biasanya kita telepon mungkin tidak bisa lagi mengangkat telepon kita.Allah berfirman,كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26–27)Kedewasaan akhirnya mengajari kita:Jangan menggantungkan seluruh hati kepada sesuatu yang akan pergi.Semua manusia akan pergi.Semua harta akan ditinggalkan.Semua jabatan akan selesai.Semua popularitas akan hilang.Yang tidak pernah meninggalkan kita adalah Allah.14. CAPEK BOLEH, MENYERAH DARI KETAATAN JANGANAllah Ta‘ala berfirman,فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ۝ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ“Apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bersungguh-sungguh. Dan hanya kepada Rabbmu berharaplah.” (QS. Asy-Syarh: 7–8)Seorang muslim boleh berhenti sebentar untuk beristirahat.Tetapi ia tidak berhenti menjadi hamba Allah.Hari ini gagal?Coba lagi.Hari ini kecewa?Perbaiki lagi.Hari ini menangis?Besok bangun lagi.Hari ini merasa jauh dari Allah?Malam ini pulanglah kepada Allah.Karena masalah terbesar bukan ketika kita jatuh.Masalah terbesar adalah ketika jatuh lalu tidak mau kembali kepada Allah.15. JANGAN HANYA BERTANYA: “KAPAN HIDUPKU AKAN ENAK?”Pertanyaan yang lebih penting:“Apakah semua yang sedang aku alami membuatku semakin dekat kepada Allah?”Karena ada orang hidupnya nyaman tetapi jauh dari Allah.Ada orang penghasilannya bertambah tetapi shalatnya berkurang.Ada orang followers-nya bertambah tetapi keikhlasannya berkurang.Ada orang kariernya naik tetapi akhiratnya justru turun.Maka standar keberhasilan seorang mukmin bukan:“Apakah hidupku selalu mudah?”Namun:“Apakah dalam keadaan mudah maupun sulit aku tetap menjadi hamba Allah?”PENUTUP: TERNYATA KITA TIDAK BUTUH KEMBALI MENJADI ANAK-ANAKMungkin hari ini kita berkata,“Ya Allah, aku capek jadi dewasa.”Sebenarnya kita tidak membutuhkan mesin waktu untuk kembali menjadi anak kecil.Yang kita butuhkan adalah hati yang kembali kepada Allah.Karena dahulu ketika kecil kita tenang karena percaya bahwa ada ayah dan ibu yang mengurus kita.Ketika dewasa kita seharusnya memiliki keyakinan yang jauh lebih besar:Ada Allah yang mengatur hidup kita.Kita tidak mengetahui bagaimana kehidupan kita lima tahun mendatang.Kita tidak mengetahui dengan siapa kita menikah.Kita tidak mengetahui berapa rezeki kita.Kita tidak mengetahui berapa lama orang tua masih bersama kita.Bahkan kita tidak mengetahui apakah besok masih hidup.Namun ada satu hal yang kita ketahui:Allah tidak pernah kehilangan kendali atas kehidupan kita.Maka kalau hari ini capek:istirahatlah.Kalau sedih:menangislah.Kalau bingung:mintalah nasihat.Kalau memiliki masalah:carilah jalan keluarnya.Tetapi apa pun yang terjadi,JANGAN PERNAH BERHENTI KEMBALI KEPADA ALLAH.Karena dunia bukan tempat kita beristirahat selamanya.Ada suatu hari ketika seluruh kelelahan seorang mukmin akan berakhir.Allah Ta‘ala berfirman,ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ“Masuklah ke dalamnya dengan selamat dan aman.” (QS. Al-Hijr: 46)Semoga setelah lelah menjalani kehidupan dunia, tempat istirahat terakhir kita adalah surga Allah. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِAllāhumma innā nas’alukal-jannah, wa na‘ūdzu bika minan-nār.“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu surga dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka.”Āmīn. – @ Darush Sholihin I Jumat, 28 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscapek jadi dewasa Gen Z Muslim hidup terasa berat kembali kepada Allah ketenangan hati masalah hidup nasihat anak muda sabar dalam Islam tawakal ujian hidup

Memilih Hobi yang Bermanfaat

Daftar Isi ToggleWaktu luang: Nikmat besar yang sering terlupakanIslam tidak melarang hiburanHobi yang mendekatkan diri kepada AllahMengubah hobi menjadi ibadahHobi yang menguatkan fisik dan mentalBahaya hobi yang tidak terarahSetiap manusia pasti memiliki waktu luang. Di sela kesibukan belajar, bekerja, atau menjalani berbagai aktivitas kehidupan, selalu ada saat-saat ketika seseorang bebas memilih apa yang ingin ia lakukan. Pada waktu itulah manusia biasanya melakukan sesuatu yang ia sukai, yang sering disebut sebagai hobi.Bagi sebagian orang, hobi dianggap sebagai hal yang ringan, sekadar hiburan untuk mengisi waktu senggang. Namun bagi seorang Muslim, hobi bukanlah sekadar kegiatan pengisi waktu. Ia merupakan bagian dari bagaimana seseorang menggunakan umur yang Allah amanahkan kepadanya.Setiap detik kehidupan manusia sangat berharga. Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali, dan setiap detik itu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن [أربع]: عمره فيمَ أفناه؟ وعن علمه فيمَ فعل؟ وعن ماله من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه فيمَ أبلاه“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; (2) tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya; (3) tentang hartanya, dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya; (4) serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Hadis ini mengingatkan bahwa umur adalah amanah. Maka bagaimana seseorang mengisi waktu luangnya juga merupakan bagian dari amanah tersebut.Waktu luang: Nikmat besar yang sering terlupakanDi antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah kesehatan dan waktu luang. Namun ironisnya, dua nikmat ini justru sering tidak disadari oleh banyak manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Banyak orang baru menyadari nilai waktu setelah kehilangan kesempatan. Ketika masa muda telah berlalu, ketika kesehatan mulai melemah, atau ketika kesempatan telah hilang, barulah seseorang menyesal karena tidak memanfaatkan waktunya dengan baik.Allah bahkan bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur’an,وَالْعَصْرِ  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ“Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Asr: 1–2)Islam tidak melarang hiburanSebagian orang beranggapan bahwa agama melarang kesenangan atau hiburan. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Islam adalah agama yang sangat memahami dan menjaga fitrah manusia. Allah menciptakan manusia dengan kebutuhan untuk beristirahat, bersantai, dan menikmati kehidupan dunia dalam batas yang diperbolehkan.Allah berfirman,قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ  قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ  كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ“Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk kaum yang mengetahui.” (QS. Al-A‘raf: 32)Ayat ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, menikmati hal-hal yang baik adalah sesuatu yang diperbolehkan, selama tidak melanggar batas syariat.Di antara hadis tentang permainan dan hiburan yang dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat adalah hadis tentang orang-orang Habasyah yang bermain tombak di masjid. Dari Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,رَأيتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَستُرُني برِدائِه، وأنا أنظُرُ إلى الحَبَشةِ يَلعَبونَ في المَسجِدِ، حتَّى أكونَ أنا التي أسأمُ، فاقدُروا قدرَ الجاريةِ الحَديثةِ السِّنِّ، الحَريصةِ على اللَّهوِ“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupiku dengan selendang beliau, sementara aku melihat orang-orang Habasyah bermain di masjid. Beliau membiarkanku melihat hingga aku sendiri yang merasa bosan. Maka pahamilah keadaan seorang gadis muda yang senang terhadap hiburan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka bermain dengan tombak dan perisai sebagai bentuk latihan ketangkasan.Ada pula hadis tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha,سابقتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فسبقتُهُ ، فلمَّا حملتُ اللحمَ سابقتُهُ فسبقني ، فقال : هذهِ بتِلْكَ“Aku pernah berlomba lari dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku mengalahkannya. Ketika tubuhku mulai berisi, aku berlomba lagi dengan beliau. Beliau pun mengalahkanku. Beliau berkata, ‘Kemenangan ini sebagai balasan kemenangan yang dahulu.’” (HR. Ath-Thahawi dan Abu Dawud)Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang hiburan, tetapi mengaturnya agar tetap berada dalam batas yang benar. Hiburan yang diperbolehkan dapat menjadi sarana untuk menyegarkan jiwa setelah kelelahan menjalani aktivitas. Namun, hiburan tidak boleh menjadi tujuan hidup atau membuat seseorang lalai dari kewajiban.Hobi yang mendekatkan diri kepada AllahHobi yang paling baik adalah hobi yang membantu seseorang menjadi lebih baik dalam agama maupun dalam kehidupan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Carilah dengan apa yang Allah berikan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Seorang Muslim tidak meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi juga tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.Beberapa contoh hobi yang bermanfaat antara lain:– Membaca buku dan menuntut ilmu;– Menghafal Al-Qur’an;– Menulis dan berdakwah;– Berolahraga untuk menjaga kesehatan;– Berkebun atau memelihara tanaman;– Belajar keterampilan baru yang bermanfaat.Aktivitas seperti ini bukan hanya mengisi waktu, tetapi juga memberi nilai positif bagi kehidupan seseorang.Mengubah hobi menjadi ibadahSalah satu keindahan ajaran Islam adalah bahwa perkara yang mubah bisa berubah menjadi ibadah jika disertai niat yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Misalnya:– Olahraga diniatkan untuk menjaga kesehatan agar kuat beribadah;– Menulis diniatkan untuk menyebarkan ilmu;– Berkebun diniatkan untuk memberi manfaat bagi keluarga.Dengan niat yang benar, aktivitas yang tampaknya sederhana bisa menjadi amal yang bernilai pahala.Hobi yang menguatkan fisik dan mentalIslam juga mendorong umatnya untuk memiliki fisik yang kuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المؤمنُ القويُّ خيرٌ وأحبُّ إلى اللهِ من المؤمنِ الضعيفِ وفي كلٍ خيرٌ“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan.” (HR. Muslim)Dalam beberapa riwayat, disebutkan anjuran untuk mempelajari keterampilan seperti:– Memanah;– Berkuda;– Berenang.Aktivitas seperti ini tidak hanya melatih kekuatan fisik, tetapi juga melatih disiplin, kesabaran, dan keberanian.Bahaya hobi yang tidak terarahSebaliknya, tidak semua hobi membawa kebaikan. Sebagian hobi justru dapat menghabiskan waktu tanpa manfaat. Allah berfirman,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara sia-sia?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Hobi yang tidak terarah dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti:– Lalai dari ibadah;– Menghabiskan waktu berlebihan;– Menimbulkan kecanduan hiburan;– Mengurangi produktivitas;– Melemahkan semangat menuntut ilmu.Padahal, setiap detik waktu adalah bagian dari umur yang tidak akan kembali.Pada akhirnya, hobi bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, tetapi bagian dari bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Seorang Muslim hendaknya memahami bahwa waktu adalah nikmat sekaligus amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, memilih hobi yang bermanfaat merupakan bentuk kecerdasan dalam memanfaatkan umur.Islam tidak melarang hiburan dan kesenangan, selama tetap berada dalam batas yang halal dan tidak melalaikan dari kewajiban. Bahkan, hobi dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah apabila dilakukan dengan niat yang baik dan memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.Maka hendaknya seorang Muslim memilih aktivitas yang dapat menambah ilmu, menjaga kesehatan, menguatkan mental, serta memperbaiki akhlak dan produktivitas. Jangan sampai waktu habis hanya untuk hal yang sia-sia, sementara umur terus berkurang setiap harinya.Semoga Allah menjadikan waktu-waktu kita penuh keberkahan, memberikan taufik untuk memanfaatkan usia dalam kebaikan, dan menjadikan setiap aktivitas yang kita lakukan bernilai ibadah di sisi-Nya. Aamiin.Wallahu Ta’ala a’lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Memilih Hobi yang Bermanfaat

Daftar Isi ToggleWaktu luang: Nikmat besar yang sering terlupakanIslam tidak melarang hiburanHobi yang mendekatkan diri kepada AllahMengubah hobi menjadi ibadahHobi yang menguatkan fisik dan mentalBahaya hobi yang tidak terarahSetiap manusia pasti memiliki waktu luang. Di sela kesibukan belajar, bekerja, atau menjalani berbagai aktivitas kehidupan, selalu ada saat-saat ketika seseorang bebas memilih apa yang ingin ia lakukan. Pada waktu itulah manusia biasanya melakukan sesuatu yang ia sukai, yang sering disebut sebagai hobi.Bagi sebagian orang, hobi dianggap sebagai hal yang ringan, sekadar hiburan untuk mengisi waktu senggang. Namun bagi seorang Muslim, hobi bukanlah sekadar kegiatan pengisi waktu. Ia merupakan bagian dari bagaimana seseorang menggunakan umur yang Allah amanahkan kepadanya.Setiap detik kehidupan manusia sangat berharga. Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali, dan setiap detik itu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن [أربع]: عمره فيمَ أفناه؟ وعن علمه فيمَ فعل؟ وعن ماله من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه فيمَ أبلاه“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; (2) tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya; (3) tentang hartanya, dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya; (4) serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Hadis ini mengingatkan bahwa umur adalah amanah. Maka bagaimana seseorang mengisi waktu luangnya juga merupakan bagian dari amanah tersebut.Waktu luang: Nikmat besar yang sering terlupakanDi antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah kesehatan dan waktu luang. Namun ironisnya, dua nikmat ini justru sering tidak disadari oleh banyak manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Banyak orang baru menyadari nilai waktu setelah kehilangan kesempatan. Ketika masa muda telah berlalu, ketika kesehatan mulai melemah, atau ketika kesempatan telah hilang, barulah seseorang menyesal karena tidak memanfaatkan waktunya dengan baik.Allah bahkan bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur’an,وَالْعَصْرِ  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ“Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Asr: 1–2)Islam tidak melarang hiburanSebagian orang beranggapan bahwa agama melarang kesenangan atau hiburan. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Islam adalah agama yang sangat memahami dan menjaga fitrah manusia. Allah menciptakan manusia dengan kebutuhan untuk beristirahat, bersantai, dan menikmati kehidupan dunia dalam batas yang diperbolehkan.Allah berfirman,قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ  قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ  كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ“Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk kaum yang mengetahui.” (QS. Al-A‘raf: 32)Ayat ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, menikmati hal-hal yang baik adalah sesuatu yang diperbolehkan, selama tidak melanggar batas syariat.Di antara hadis tentang permainan dan hiburan yang dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat adalah hadis tentang orang-orang Habasyah yang bermain tombak di masjid. Dari Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,رَأيتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَستُرُني برِدائِه، وأنا أنظُرُ إلى الحَبَشةِ يَلعَبونَ في المَسجِدِ، حتَّى أكونَ أنا التي أسأمُ، فاقدُروا قدرَ الجاريةِ الحَديثةِ السِّنِّ، الحَريصةِ على اللَّهوِ“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupiku dengan selendang beliau, sementara aku melihat orang-orang Habasyah bermain di masjid. Beliau membiarkanku melihat hingga aku sendiri yang merasa bosan. Maka pahamilah keadaan seorang gadis muda yang senang terhadap hiburan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka bermain dengan tombak dan perisai sebagai bentuk latihan ketangkasan.Ada pula hadis tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha,سابقتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فسبقتُهُ ، فلمَّا حملتُ اللحمَ سابقتُهُ فسبقني ، فقال : هذهِ بتِلْكَ“Aku pernah berlomba lari dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku mengalahkannya. Ketika tubuhku mulai berisi, aku berlomba lagi dengan beliau. Beliau pun mengalahkanku. Beliau berkata, ‘Kemenangan ini sebagai balasan kemenangan yang dahulu.’” (HR. Ath-Thahawi dan Abu Dawud)Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang hiburan, tetapi mengaturnya agar tetap berada dalam batas yang benar. Hiburan yang diperbolehkan dapat menjadi sarana untuk menyegarkan jiwa setelah kelelahan menjalani aktivitas. Namun, hiburan tidak boleh menjadi tujuan hidup atau membuat seseorang lalai dari kewajiban.Hobi yang mendekatkan diri kepada AllahHobi yang paling baik adalah hobi yang membantu seseorang menjadi lebih baik dalam agama maupun dalam kehidupan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Carilah dengan apa yang Allah berikan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Seorang Muslim tidak meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi juga tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.Beberapa contoh hobi yang bermanfaat antara lain:– Membaca buku dan menuntut ilmu;– Menghafal Al-Qur’an;– Menulis dan berdakwah;– Berolahraga untuk menjaga kesehatan;– Berkebun atau memelihara tanaman;– Belajar keterampilan baru yang bermanfaat.Aktivitas seperti ini bukan hanya mengisi waktu, tetapi juga memberi nilai positif bagi kehidupan seseorang.Mengubah hobi menjadi ibadahSalah satu keindahan ajaran Islam adalah bahwa perkara yang mubah bisa berubah menjadi ibadah jika disertai niat yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Misalnya:– Olahraga diniatkan untuk menjaga kesehatan agar kuat beribadah;– Menulis diniatkan untuk menyebarkan ilmu;– Berkebun diniatkan untuk memberi manfaat bagi keluarga.Dengan niat yang benar, aktivitas yang tampaknya sederhana bisa menjadi amal yang bernilai pahala.Hobi yang menguatkan fisik dan mentalIslam juga mendorong umatnya untuk memiliki fisik yang kuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المؤمنُ القويُّ خيرٌ وأحبُّ إلى اللهِ من المؤمنِ الضعيفِ وفي كلٍ خيرٌ“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan.” (HR. Muslim)Dalam beberapa riwayat, disebutkan anjuran untuk mempelajari keterampilan seperti:– Memanah;– Berkuda;– Berenang.Aktivitas seperti ini tidak hanya melatih kekuatan fisik, tetapi juga melatih disiplin, kesabaran, dan keberanian.Bahaya hobi yang tidak terarahSebaliknya, tidak semua hobi membawa kebaikan. Sebagian hobi justru dapat menghabiskan waktu tanpa manfaat. Allah berfirman,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara sia-sia?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Hobi yang tidak terarah dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti:– Lalai dari ibadah;– Menghabiskan waktu berlebihan;– Menimbulkan kecanduan hiburan;– Mengurangi produktivitas;– Melemahkan semangat menuntut ilmu.Padahal, setiap detik waktu adalah bagian dari umur yang tidak akan kembali.Pada akhirnya, hobi bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, tetapi bagian dari bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Seorang Muslim hendaknya memahami bahwa waktu adalah nikmat sekaligus amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, memilih hobi yang bermanfaat merupakan bentuk kecerdasan dalam memanfaatkan umur.Islam tidak melarang hiburan dan kesenangan, selama tetap berada dalam batas yang halal dan tidak melalaikan dari kewajiban. Bahkan, hobi dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah apabila dilakukan dengan niat yang baik dan memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.Maka hendaknya seorang Muslim memilih aktivitas yang dapat menambah ilmu, menjaga kesehatan, menguatkan mental, serta memperbaiki akhlak dan produktivitas. Jangan sampai waktu habis hanya untuk hal yang sia-sia, sementara umur terus berkurang setiap harinya.Semoga Allah menjadikan waktu-waktu kita penuh keberkahan, memberikan taufik untuk memanfaatkan usia dalam kebaikan, dan menjadikan setiap aktivitas yang kita lakukan bernilai ibadah di sisi-Nya. Aamiin.Wallahu Ta’ala a’lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleWaktu luang: Nikmat besar yang sering terlupakanIslam tidak melarang hiburanHobi yang mendekatkan diri kepada AllahMengubah hobi menjadi ibadahHobi yang menguatkan fisik dan mentalBahaya hobi yang tidak terarahSetiap manusia pasti memiliki waktu luang. Di sela kesibukan belajar, bekerja, atau menjalani berbagai aktivitas kehidupan, selalu ada saat-saat ketika seseorang bebas memilih apa yang ingin ia lakukan. Pada waktu itulah manusia biasanya melakukan sesuatu yang ia sukai, yang sering disebut sebagai hobi.Bagi sebagian orang, hobi dianggap sebagai hal yang ringan, sekadar hiburan untuk mengisi waktu senggang. Namun bagi seorang Muslim, hobi bukanlah sekadar kegiatan pengisi waktu. Ia merupakan bagian dari bagaimana seseorang menggunakan umur yang Allah amanahkan kepadanya.Setiap detik kehidupan manusia sangat berharga. Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali, dan setiap detik itu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن [أربع]: عمره فيمَ أفناه؟ وعن علمه فيمَ فعل؟ وعن ماله من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه فيمَ أبلاه“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; (2) tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya; (3) tentang hartanya, dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya; (4) serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Hadis ini mengingatkan bahwa umur adalah amanah. Maka bagaimana seseorang mengisi waktu luangnya juga merupakan bagian dari amanah tersebut.Waktu luang: Nikmat besar yang sering terlupakanDi antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah kesehatan dan waktu luang. Namun ironisnya, dua nikmat ini justru sering tidak disadari oleh banyak manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Banyak orang baru menyadari nilai waktu setelah kehilangan kesempatan. Ketika masa muda telah berlalu, ketika kesehatan mulai melemah, atau ketika kesempatan telah hilang, barulah seseorang menyesal karena tidak memanfaatkan waktunya dengan baik.Allah bahkan bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur’an,وَالْعَصْرِ  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ“Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Asr: 1–2)Islam tidak melarang hiburanSebagian orang beranggapan bahwa agama melarang kesenangan atau hiburan. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Islam adalah agama yang sangat memahami dan menjaga fitrah manusia. Allah menciptakan manusia dengan kebutuhan untuk beristirahat, bersantai, dan menikmati kehidupan dunia dalam batas yang diperbolehkan.Allah berfirman,قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ  قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ  كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ“Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk kaum yang mengetahui.” (QS. Al-A‘raf: 32)Ayat ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, menikmati hal-hal yang baik adalah sesuatu yang diperbolehkan, selama tidak melanggar batas syariat.Di antara hadis tentang permainan dan hiburan yang dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat adalah hadis tentang orang-orang Habasyah yang bermain tombak di masjid. Dari Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,رَأيتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَستُرُني برِدائِه، وأنا أنظُرُ إلى الحَبَشةِ يَلعَبونَ في المَسجِدِ، حتَّى أكونَ أنا التي أسأمُ، فاقدُروا قدرَ الجاريةِ الحَديثةِ السِّنِّ، الحَريصةِ على اللَّهوِ“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupiku dengan selendang beliau, sementara aku melihat orang-orang Habasyah bermain di masjid. Beliau membiarkanku melihat hingga aku sendiri yang merasa bosan. Maka pahamilah keadaan seorang gadis muda yang senang terhadap hiburan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka bermain dengan tombak dan perisai sebagai bentuk latihan ketangkasan.Ada pula hadis tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha,سابقتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فسبقتُهُ ، فلمَّا حملتُ اللحمَ سابقتُهُ فسبقني ، فقال : هذهِ بتِلْكَ“Aku pernah berlomba lari dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku mengalahkannya. Ketika tubuhku mulai berisi, aku berlomba lagi dengan beliau. Beliau pun mengalahkanku. Beliau berkata, ‘Kemenangan ini sebagai balasan kemenangan yang dahulu.’” (HR. Ath-Thahawi dan Abu Dawud)Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang hiburan, tetapi mengaturnya agar tetap berada dalam batas yang benar. Hiburan yang diperbolehkan dapat menjadi sarana untuk menyegarkan jiwa setelah kelelahan menjalani aktivitas. Namun, hiburan tidak boleh menjadi tujuan hidup atau membuat seseorang lalai dari kewajiban.Hobi yang mendekatkan diri kepada AllahHobi yang paling baik adalah hobi yang membantu seseorang menjadi lebih baik dalam agama maupun dalam kehidupan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Carilah dengan apa yang Allah berikan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Seorang Muslim tidak meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi juga tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.Beberapa contoh hobi yang bermanfaat antara lain:– Membaca buku dan menuntut ilmu;– Menghafal Al-Qur’an;– Menulis dan berdakwah;– Berolahraga untuk menjaga kesehatan;– Berkebun atau memelihara tanaman;– Belajar keterampilan baru yang bermanfaat.Aktivitas seperti ini bukan hanya mengisi waktu, tetapi juga memberi nilai positif bagi kehidupan seseorang.Mengubah hobi menjadi ibadahSalah satu keindahan ajaran Islam adalah bahwa perkara yang mubah bisa berubah menjadi ibadah jika disertai niat yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Misalnya:– Olahraga diniatkan untuk menjaga kesehatan agar kuat beribadah;– Menulis diniatkan untuk menyebarkan ilmu;– Berkebun diniatkan untuk memberi manfaat bagi keluarga.Dengan niat yang benar, aktivitas yang tampaknya sederhana bisa menjadi amal yang bernilai pahala.Hobi yang menguatkan fisik dan mentalIslam juga mendorong umatnya untuk memiliki fisik yang kuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المؤمنُ القويُّ خيرٌ وأحبُّ إلى اللهِ من المؤمنِ الضعيفِ وفي كلٍ خيرٌ“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan.” (HR. Muslim)Dalam beberapa riwayat, disebutkan anjuran untuk mempelajari keterampilan seperti:– Memanah;– Berkuda;– Berenang.Aktivitas seperti ini tidak hanya melatih kekuatan fisik, tetapi juga melatih disiplin, kesabaran, dan keberanian.Bahaya hobi yang tidak terarahSebaliknya, tidak semua hobi membawa kebaikan. Sebagian hobi justru dapat menghabiskan waktu tanpa manfaat. Allah berfirman,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara sia-sia?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Hobi yang tidak terarah dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti:– Lalai dari ibadah;– Menghabiskan waktu berlebihan;– Menimbulkan kecanduan hiburan;– Mengurangi produktivitas;– Melemahkan semangat menuntut ilmu.Padahal, setiap detik waktu adalah bagian dari umur yang tidak akan kembali.Pada akhirnya, hobi bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, tetapi bagian dari bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Seorang Muslim hendaknya memahami bahwa waktu adalah nikmat sekaligus amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, memilih hobi yang bermanfaat merupakan bentuk kecerdasan dalam memanfaatkan umur.Islam tidak melarang hiburan dan kesenangan, selama tetap berada dalam batas yang halal dan tidak melalaikan dari kewajiban. Bahkan, hobi dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah apabila dilakukan dengan niat yang baik dan memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.Maka hendaknya seorang Muslim memilih aktivitas yang dapat menambah ilmu, menjaga kesehatan, menguatkan mental, serta memperbaiki akhlak dan produktivitas. Jangan sampai waktu habis hanya untuk hal yang sia-sia, sementara umur terus berkurang setiap harinya.Semoga Allah menjadikan waktu-waktu kita penuh keberkahan, memberikan taufik untuk memanfaatkan usia dalam kebaikan, dan menjadikan setiap aktivitas yang kita lakukan bernilai ibadah di sisi-Nya. Aamiin.Wallahu Ta’ala a’lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleWaktu luang: Nikmat besar yang sering terlupakanIslam tidak melarang hiburanHobi yang mendekatkan diri kepada AllahMengubah hobi menjadi ibadahHobi yang menguatkan fisik dan mentalBahaya hobi yang tidak terarahSetiap manusia pasti memiliki waktu luang. Di sela kesibukan belajar, bekerja, atau menjalani berbagai aktivitas kehidupan, selalu ada saat-saat ketika seseorang bebas memilih apa yang ingin ia lakukan. Pada waktu itulah manusia biasanya melakukan sesuatu yang ia sukai, yang sering disebut sebagai hobi.Bagi sebagian orang, hobi dianggap sebagai hal yang ringan, sekadar hiburan untuk mengisi waktu senggang. Namun bagi seorang Muslim, hobi bukanlah sekadar kegiatan pengisi waktu. Ia merupakan bagian dari bagaimana seseorang menggunakan umur yang Allah amanahkan kepadanya.Setiap detik kehidupan manusia sangat berharga. Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali, dan setiap detik itu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن [أربع]: عمره فيمَ أفناه؟ وعن علمه فيمَ فعل؟ وعن ماله من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه فيمَ أبلاه“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; (2) tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya; (3) tentang hartanya, dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya; (4) serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Hadis ini mengingatkan bahwa umur adalah amanah. Maka bagaimana seseorang mengisi waktu luangnya juga merupakan bagian dari amanah tersebut.Waktu luang: Nikmat besar yang sering terlupakanDi antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah kesehatan dan waktu luang. Namun ironisnya, dua nikmat ini justru sering tidak disadari oleh banyak manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Banyak orang baru menyadari nilai waktu setelah kehilangan kesempatan. Ketika masa muda telah berlalu, ketika kesehatan mulai melemah, atau ketika kesempatan telah hilang, barulah seseorang menyesal karena tidak memanfaatkan waktunya dengan baik.Allah bahkan bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur’an,وَالْعَصْرِ  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ“Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Asr: 1–2)Islam tidak melarang hiburanSebagian orang beranggapan bahwa agama melarang kesenangan atau hiburan. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Islam adalah agama yang sangat memahami dan menjaga fitrah manusia. Allah menciptakan manusia dengan kebutuhan untuk beristirahat, bersantai, dan menikmati kehidupan dunia dalam batas yang diperbolehkan.Allah berfirman,قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ  قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ  كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ“Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk kaum yang mengetahui.” (QS. Al-A‘raf: 32)Ayat ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, menikmati hal-hal yang baik adalah sesuatu yang diperbolehkan, selama tidak melanggar batas syariat.Di antara hadis tentang permainan dan hiburan yang dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat adalah hadis tentang orang-orang Habasyah yang bermain tombak di masjid. Dari Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,رَأيتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَستُرُني برِدائِه، وأنا أنظُرُ إلى الحَبَشةِ يَلعَبونَ في المَسجِدِ، حتَّى أكونَ أنا التي أسأمُ، فاقدُروا قدرَ الجاريةِ الحَديثةِ السِّنِّ، الحَريصةِ على اللَّهوِ“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupiku dengan selendang beliau, sementara aku melihat orang-orang Habasyah bermain di masjid. Beliau membiarkanku melihat hingga aku sendiri yang merasa bosan. Maka pahamilah keadaan seorang gadis muda yang senang terhadap hiburan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka bermain dengan tombak dan perisai sebagai bentuk latihan ketangkasan.Ada pula hadis tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha,سابقتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فسبقتُهُ ، فلمَّا حملتُ اللحمَ سابقتُهُ فسبقني ، فقال : هذهِ بتِلْكَ“Aku pernah berlomba lari dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku mengalahkannya. Ketika tubuhku mulai berisi, aku berlomba lagi dengan beliau. Beliau pun mengalahkanku. Beliau berkata, ‘Kemenangan ini sebagai balasan kemenangan yang dahulu.’” (HR. Ath-Thahawi dan Abu Dawud)Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang hiburan, tetapi mengaturnya agar tetap berada dalam batas yang benar. Hiburan yang diperbolehkan dapat menjadi sarana untuk menyegarkan jiwa setelah kelelahan menjalani aktivitas. Namun, hiburan tidak boleh menjadi tujuan hidup atau membuat seseorang lalai dari kewajiban.Hobi yang mendekatkan diri kepada AllahHobi yang paling baik adalah hobi yang membantu seseorang menjadi lebih baik dalam agama maupun dalam kehidupan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Carilah dengan apa yang Allah berikan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Seorang Muslim tidak meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi juga tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.Beberapa contoh hobi yang bermanfaat antara lain:– Membaca buku dan menuntut ilmu;– Menghafal Al-Qur’an;– Menulis dan berdakwah;– Berolahraga untuk menjaga kesehatan;– Berkebun atau memelihara tanaman;– Belajar keterampilan baru yang bermanfaat.Aktivitas seperti ini bukan hanya mengisi waktu, tetapi juga memberi nilai positif bagi kehidupan seseorang.Mengubah hobi menjadi ibadahSalah satu keindahan ajaran Islam adalah bahwa perkara yang mubah bisa berubah menjadi ibadah jika disertai niat yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Misalnya:– Olahraga diniatkan untuk menjaga kesehatan agar kuat beribadah;– Menulis diniatkan untuk menyebarkan ilmu;– Berkebun diniatkan untuk memberi manfaat bagi keluarga.Dengan niat yang benar, aktivitas yang tampaknya sederhana bisa menjadi amal yang bernilai pahala.Hobi yang menguatkan fisik dan mentalIslam juga mendorong umatnya untuk memiliki fisik yang kuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المؤمنُ القويُّ خيرٌ وأحبُّ إلى اللهِ من المؤمنِ الضعيفِ وفي كلٍ خيرٌ“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan.” (HR. Muslim)Dalam beberapa riwayat, disebutkan anjuran untuk mempelajari keterampilan seperti:– Memanah;– Berkuda;– Berenang.Aktivitas seperti ini tidak hanya melatih kekuatan fisik, tetapi juga melatih disiplin, kesabaran, dan keberanian.Bahaya hobi yang tidak terarahSebaliknya, tidak semua hobi membawa kebaikan. Sebagian hobi justru dapat menghabiskan waktu tanpa manfaat. Allah berfirman,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara sia-sia?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Hobi yang tidak terarah dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti:– Lalai dari ibadah;– Menghabiskan waktu berlebihan;– Menimbulkan kecanduan hiburan;– Mengurangi produktivitas;– Melemahkan semangat menuntut ilmu.Padahal, setiap detik waktu adalah bagian dari umur yang tidak akan kembali.Pada akhirnya, hobi bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, tetapi bagian dari bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Seorang Muslim hendaknya memahami bahwa waktu adalah nikmat sekaligus amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, memilih hobi yang bermanfaat merupakan bentuk kecerdasan dalam memanfaatkan umur.Islam tidak melarang hiburan dan kesenangan, selama tetap berada dalam batas yang halal dan tidak melalaikan dari kewajiban. Bahkan, hobi dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah apabila dilakukan dengan niat yang baik dan memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.Maka hendaknya seorang Muslim memilih aktivitas yang dapat menambah ilmu, menjaga kesehatan, menguatkan mental, serta memperbaiki akhlak dan produktivitas. Jangan sampai waktu habis hanya untuk hal yang sia-sia, sementara umur terus berkurang setiap harinya.Semoga Allah menjadikan waktu-waktu kita penuh keberkahan, memberikan taufik untuk memanfaatkan usia dalam kebaikan, dan menjadikan setiap aktivitas yang kita lakukan bernilai ibadah di sisi-Nya. Aamiin.Wallahu Ta’ala a’lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ’Arabi (Bag. 2)

Daftar Isi TogglePemahaman dan keyakinan yang keliruSikap para ulama terhadap Ibnu ‘ArabiPerbedaan antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ‘Arabi mengantarkan kita untuk mengetahui perbedaan antara kebenaran dan kekeliruan. Dengan mengetahui keduanya, akan dapat dipahami bagaimana perhatian para ulama dalam menjelaskan kesalahan dan penyimpangan dalam keyakinan dan pemikiran tanpa melihat person tertentu.Penyimpangan dijelaskan agar terbedakan antara yang haq dengan yang bathil, sehingga kalaupun dalam penjelasan tersebut terdapat isytibah (keserupaan) nama misalnya, maka tentu kekeliruan dan penyimpangan tersebut harus dijelaskan dari person tersebut, agar penyimpangan tidak berkembang biak di antara kaum muslimin.Pemahaman dan keyakinan yang keliruDi antara pemahaman keliru bahkan cenderung fatal, yang bersumber dari pemahaman dan keyakinan Ibnu ‘Arabi adalah,– Pemahaman wihdatul wujud. Pemahaman ini merupakan pemahaman ilhadiyah (kufur) yang muncul setelah dipenuhi dengan keyakinan hulul, yaitu bersatunya makhluk dengan Tuhan pada sebagian makhluk, tidak ada keterpisahan di antara keduanya.Tentunya ini merupakan pemahaman yang kufur. Di antara penggalan sya’ir yang ditulis oleh Ibnu ‘Arabi adalah,الْعَبْدُ رَبٌّ وَالرَّبُّ عَبْدٌ   يَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَنِ الْمُكَلَّفُHamba adalah Rabb, dan Rabb merupakan hamba.Aku bingung, siapa gerangan yang menjadi mukallaf.عَقَدَ الْخَلَائِقُ فِيْ الْإلِه عَقَائِدَ   وَأَنَا اعْتَقَدْتُ جَمِيْعَ اعْتَقَدُوهُSemua makhluk berkeyakinan tentang ilah (sesembahan) dengan berbagai keyakinan.Dan aku berkeyakinan (tentang ilah) dengan seluruh yang mereka yakini itu. [1]Tentu pemahaman ini merupakan pemahaman yang menyimpang dan pemahaman yang kufur. Tatkala menerangkan pemahaman ini, Imam Taqiyuddin Al-Farisi rahimahullah mengatakan,وَقَدِ اتَّفَقَ سَلَفُ الأُمَّةِ وَأَئِمَّتُهَا، عَلَى أَنَّ الخَالِقَ تَعَالَى  بَائِنٌ مِنْ مَخْلُوْقَاتِهِ: لَيْسَ فِي ذَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوْقَاتِهِ، وَلَا فِي مَخْلُوْقَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ ذَاتِهِ“Dan sungguh, generasi Salaf umat ini beserta para imamnya telah bersepakat bahwa Al-Khaliq (Sang Pencipta) itu Maha Tinggi, terpisah dari makhluk-makhluk-Nya. Tidak ada sedikit pun dari makhluk-Nya yang berada pada Zat-Nya, dan tidak ada sedikit pun dari Zat-Nya yang berada pada makhluk-makhluk-Nya.” [2]Syekh ’Ali Hasan Al-Halabi rahimahullah berkata ketika mengomentari penjelasan dari perkataan Imam Taqiyuddin di atas, ”Ini merupakan penafsiran yang tepat dan benar terhadap kata ”ba’in”, yang mana sebagian (orang) kesulitan dalam menafsirkannya.” [3]– Di antara pemahaman dan keyakinan yang keliru, beliau mengklaim karya tulisnya -yang kemudian ia sebarkan- bahwa hal itu berdasarkan izin dari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam melalui mimpi yang diklaim telah dialaminya. Padahal, sebagian besar isi dari bukunya itu bertentangan dengan kitab-kitab yang diturunkan Allah Ta’ala.– Meyakini Nabi Adam ’alaihissalam dinamakan dengan insan (manusia) dikarenakan kedudukannya bagi Al-Haq (Allah) sepertin insan al-’ain (pupil mata) bagi mata, yang dengannya penglihatan terjadi. Artinya, Nabi Adam merupakan bagian dari Allah Ta’ala. Tentu kalimat seperti ini adalah kalimat kufur. Na’udzubillahi min dzalik.– Beliau berkata tentang kaum Nabi Nuh ’alaihissalam, ”Sesungguhnya jika mereka meninggalkan penyembahan terhadap Wadd, Suwa’, Yaghuts, dan Ya’uq, niscaya mereka akan menjadi lebih bodoh tentang Allah Ta’ala.”– Syekhul Islam Ibnu Tamiyah rahimahullah berkata, “Cukuplah bagimu sebagai bukti kekufuran mereka bahwa di antara ucapan mereka yang paling ringan adalah pernyataan bahwa Firaun mati dalam keadaan beriman dan bersih dari dosa-dosa. –Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Arabi-. Dan Nabi Musa menjadi penyejuk mata (qurrata ‘ain) bagi Firaun dengan keimanan yang Allah berikan kepadanya ketika ia tenggelam. Maka Allah mencabut nyawanya dalam keadaan suci dan disucikan, tidak ada sedikit pun kotoran pada dirinya, sebelum dicatat atasnya suatu dosa pun, sedangkan Islam menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya.’Padahal, telah diketahui secara mendasar/pasti (ma’lum bid dharurah) dalam ajaran agama-agama—baik kaum Muslimin, Yahudi, maupun Nasrani—bahwa Firaun adalah termasuk makhluk yang paling kafir.” [4]Di antara penyebabnya adalah beberapa hal, sebagaimana dinukil oleh Adz-Dzahabi rahimahullah, Ibnu Rafi’ menukilkan kepadaku dengan tulisannya Abul Fath, beliau mengatakan, “Menurutku Muhyiddin (Ibnu ‘Arabi) tidak bermaksud sengaja berbohong, melainkan khalwat (menyendiri) dan rasa lapar (yang berlebihan) telah mempengaruhinya, sehingga menimbulkan kerusakan, halusinasi, dan sejenis kegilaan.” [5]Sikap para ulama terhadap Ibnu ‘ArabiSikap para ulama terhadap Ibnu ‘Arabi terbagi menjadi beberapa sikap, di antaranya:– Meyakini kewalian Ibnu ‘Arabi, di antaranya Asy-Syaikh Tajuddin bin ‘Athaillah (di antara ulama Maliki), Asy-Syaikh ‘Afifuddin Al-Yafi’i (di antara ulama Syafi’i), dan ulama lainnya. [6]– Meyakini kesesatan Ibnu ‘Arabi, dan terang-terangan dalam membantahnya. Di antaranya adalah Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Badruddin bin Jama’ah (penulis kitab Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim), Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Jamaluddin Al-Mizzi, dan para ulama lainnya rahimahullah.Adapun Adz-Dzahabi rahimahullah, sikap beliau terhadap Ibnu ‘Arabi sangatlah kritis dalam mengkritik penyimpangan-penyimpangannya, terutama yang bersifat ketuhanan. Beliau menyampaikan dengan penuh kehati-hatian.وَقَوْلِي أَنَا فِيهِ: إِنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ الَّذِينَ اجْتَذَبَهُمُ الْحَقُّ إِلَى جَنَابِهِ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَخُتِمَ لَهُ بِالْحُسْنَى. فَأَمَّا كَلَامُهُ، فَمَنْ فَهِمَهُ وَعَرَفَهُ عَلَى قَوَاعِدِ الِاتِّحَادِيَّةِ وَعَلِمَ مَحَطَّ الْقَوْمِ، وَجَمَعَ بَيْنَ أَطْرَافِ عِبَارَاتِهِمْ — تَبَيَّنَ لَهُ الْحَقُّ فِي خِلَافِ قَوْلِهِمْ“Adapun pendapatku tentang dirinya (Ibnu ‘Arabi), bahwasanya boleh jadi (kemungkinan) dia termasuk di antara wali-wali Allah yang ditarik oleh Al-Haq (Allah) ke sisi-Nya saat menjelang ajal, dan ditutup usianya dengan kebaikan (husnul khatimah). Adapun perkataannya (karya Ibnu ‘Arabi), maka barangsiapa yang memahami dan mengetahuinya berdasarkan kaidah-kaidah paham ittihadiyah (paham penyatuan/wihdatul wujud), mengetahui muara pemikiran kelompok tersebut, serta mengumpulkan seluruh sudut ungkapan-ungkapan mereka, niscaya akan jelas baginya bahwa kebenaran itu berada pada posisi yang bersebrangan dengan ucapan mereka.” [7]Beberapa orang kurang tepat dalam memahami ucapan Adz-Dzahabi rahimahullah dari perkataan beliau,اجْتَذَبَهُمُ الْحَقُّ“Ditarik oleh Al-Haq (Allah)….” Dipahami oleh sebagian orang bahwasanya Adz-Dzahabi meyakini bahwa Ibnu ‘Arabi termasuk wali majdzub, yaitu seseorang yang dikultuskan menjadi wali di mana akalnya ditarik oleh Allah sehingga menjadi gila, sebagaimana yang diiyakini oleh kaum Sufi. Padahal, ini merupakan sifat inshaf (pertengahan) dari beliau, yaitu beliau meyakini kesesatan pemikiran dari Ibnu ‘Arabi, namun di sisi lain beliau tetap mengharapkan hidayah untuk Ibnu ‘Arabi.Maksud dari perkataan beliau di atas (“Ditarik oleh Al-Haq (Allah)”), bukanlah ditarik akalnya sebagaimana yang diyakini oleh kaum Sufi. Namun maksudnya, Adz-Dzahabi berharap barangkali di akhir hayatnya Allah menarik kesesatan dari hatinya dan memberikan hidayah kepadanya di akhir hayat sebagaimana wali-wali Allah yang lainnya dan akhir hayatnya ditutup dengan husnul khatimah.قُلْتُ: إِنْ كَانَ مُحْيِي الدِّيْنِ رَجَعَ عَنْ مَقَالاَتِهِ تِلْكَ قَبْلَ المَوْتِ، فَقَدْ فَازَ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ“Aku (Adz-Dzahabi) berkata, “Andaikata yang digelari dengan Muhyiddin (Ibnu ’Arabi) ingin rujuk (kembali) dari pendapat-pendapatnya sebelum mati, maka beruntunglah ia. Dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.” [8]Di akhir pembahasan Ibnu ’Arabi, Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam kitabnya, Mizaanul ’Itidal, menutup pembahasan dengan perkataannya,فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَعِيشَ الْمُسْلِمُ جَاهِلًا خَلْفَ الْبَقَرِ لَا يَعْرِفُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا سِوَى سُوَرٍ مِنَ الْقُرْآنِ يُصَلِّي بِهَا الصَّلَوَاتِ وَيُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ – خَيْرٌ لَهُ بِكَثِيرٍ مِنْ هَذَا الْعِرْفَانِ وَهَذِهِ الْحَقَائِقِ، وَلَوْ قَرَأَ مِائَةَ كِتَابٍ أَوْ عَمِلَ مِائَةَ خَلْوَةٍ“Demi Allah, sungguh jika seorang muslim hidup dalam keadaan awam (tanpa pengetahuan rumit) di belakang penggembalaan sapi, tidak mengetahui ilmu apa pun selain beberapa surah Al-Qur’an yang ia gunakan untuk mendirikan salat, serta beriman kepada Allah dan hari akhir, itu jauh lebih baik baginya daripada sufisme/kearifan dan hakikat-hakikat ini, meskipun ia telah membaca seratus buku atau melakukan seratus kali khalwat (menyendiri untuk ibadah).” [9]Demikianlah sikap dari seorang ulama yang mulia, Adz-Dzahabi rahimahullah. Berangkat dari hal ini, ulama berikutnya menyematkan bahwasanya Adz-Dzahabi bersikap pertengahan terhadap Ibnu ‘Arabi. Di antara yang berkata demikian adalah As-Suyuthi rahimahullah di dalam karyanya, Tanbi’atul Ghabi bi Tabri’ati Ibnu ‘Arabi.Pelajaran yang sangat berharga dari Adz-Dzahabi rahimahullah, bahwa bersamaan dengan kesesatan dan penyimpangan dari Ibnu ‘Arabi, beliau tetap mengharapkan hidayah kepada Ibnu ‘Arabi. Bahkan setiap membahas tokoh-tokoh menyimpang di dalam kitab-kitabnya, beliau senantiasa menutup pembahasan tersebut dengan doa agar terhindar dari segala macam bentuk kesesatan. Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Fushushul Hikam, hal. 345; dinukil dari Da’watut Taqrib, 1: 386.[2] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19.[3] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19; di footnote.[4] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19.[5] Mizaanul ‘Itidal, 3: 659.[6] Tanbi’atul Ghabiy, hal. 2.[7] Mizaanul ‘Itidal, 3: 660.[8] Siyar A’lamin Nubala, 23: 49.[9] Mizaanul ‘Itidal, 3: 660. Referensi:Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Siyar Aʿlām an-Nubalā’. Di-tahqiq oleh Shuʿayb al-Arnā’ūṭ, Bashshār ʿAwwād Maʿrūf, dkk. Cet. ke-3. 25 jilid. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1405 H/1985 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Mīzān al-Iʿtidāl fī Naqd ar-Rijāl. Di-tahqiq oleh ʿAlī Muḥammad al-Bijāwī. Cet. ke-1. 4 jilid. Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1382 H/1963 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)Al-Fāsī, Taqiyuddīn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Alī. Juz’un fīhi ‘Aqīdah Ibn ‘Arabī wa Hayātuh wa Mā Qālahu al-Mu’arrikhūn wa al-‘Ulamā’u Fīh. Di-tahqiq oleh ‘Alī Hasan ‘Alī ‘Abd al-Hamīd. Cet. ke-1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1404 H/1984 M.Al-Qādhī, Ahmad ibn ‘Abd ar-Rahmān ibn ‘Uthmān. Da‘wah at-Taqrīb baina al-Adyān: Dirāsah Naqdiyyah fī Dhaw’i al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah. Cet. ke-1. 2 jilid. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1421 H/2000 M.As-Suyuthi, Jalaluddin. Tanbi’atul Ghabi bi Tabri’ati Ibnu ‘Arabi.

Antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ’Arabi (Bag. 2)

Daftar Isi TogglePemahaman dan keyakinan yang keliruSikap para ulama terhadap Ibnu ‘ArabiPerbedaan antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ‘Arabi mengantarkan kita untuk mengetahui perbedaan antara kebenaran dan kekeliruan. Dengan mengetahui keduanya, akan dapat dipahami bagaimana perhatian para ulama dalam menjelaskan kesalahan dan penyimpangan dalam keyakinan dan pemikiran tanpa melihat person tertentu.Penyimpangan dijelaskan agar terbedakan antara yang haq dengan yang bathil, sehingga kalaupun dalam penjelasan tersebut terdapat isytibah (keserupaan) nama misalnya, maka tentu kekeliruan dan penyimpangan tersebut harus dijelaskan dari person tersebut, agar penyimpangan tidak berkembang biak di antara kaum muslimin.Pemahaman dan keyakinan yang keliruDi antara pemahaman keliru bahkan cenderung fatal, yang bersumber dari pemahaman dan keyakinan Ibnu ‘Arabi adalah,– Pemahaman wihdatul wujud. Pemahaman ini merupakan pemahaman ilhadiyah (kufur) yang muncul setelah dipenuhi dengan keyakinan hulul, yaitu bersatunya makhluk dengan Tuhan pada sebagian makhluk, tidak ada keterpisahan di antara keduanya.Tentunya ini merupakan pemahaman yang kufur. Di antara penggalan sya’ir yang ditulis oleh Ibnu ‘Arabi adalah,الْعَبْدُ رَبٌّ وَالرَّبُّ عَبْدٌ   يَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَنِ الْمُكَلَّفُHamba adalah Rabb, dan Rabb merupakan hamba.Aku bingung, siapa gerangan yang menjadi mukallaf.عَقَدَ الْخَلَائِقُ فِيْ الْإلِه عَقَائِدَ   وَأَنَا اعْتَقَدْتُ جَمِيْعَ اعْتَقَدُوهُSemua makhluk berkeyakinan tentang ilah (sesembahan) dengan berbagai keyakinan.Dan aku berkeyakinan (tentang ilah) dengan seluruh yang mereka yakini itu. [1]Tentu pemahaman ini merupakan pemahaman yang menyimpang dan pemahaman yang kufur. Tatkala menerangkan pemahaman ini, Imam Taqiyuddin Al-Farisi rahimahullah mengatakan,وَقَدِ اتَّفَقَ سَلَفُ الأُمَّةِ وَأَئِمَّتُهَا، عَلَى أَنَّ الخَالِقَ تَعَالَى  بَائِنٌ مِنْ مَخْلُوْقَاتِهِ: لَيْسَ فِي ذَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوْقَاتِهِ، وَلَا فِي مَخْلُوْقَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ ذَاتِهِ“Dan sungguh, generasi Salaf umat ini beserta para imamnya telah bersepakat bahwa Al-Khaliq (Sang Pencipta) itu Maha Tinggi, terpisah dari makhluk-makhluk-Nya. Tidak ada sedikit pun dari makhluk-Nya yang berada pada Zat-Nya, dan tidak ada sedikit pun dari Zat-Nya yang berada pada makhluk-makhluk-Nya.” [2]Syekh ’Ali Hasan Al-Halabi rahimahullah berkata ketika mengomentari penjelasan dari perkataan Imam Taqiyuddin di atas, ”Ini merupakan penafsiran yang tepat dan benar terhadap kata ”ba’in”, yang mana sebagian (orang) kesulitan dalam menafsirkannya.” [3]– Di antara pemahaman dan keyakinan yang keliru, beliau mengklaim karya tulisnya -yang kemudian ia sebarkan- bahwa hal itu berdasarkan izin dari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam melalui mimpi yang diklaim telah dialaminya. Padahal, sebagian besar isi dari bukunya itu bertentangan dengan kitab-kitab yang diturunkan Allah Ta’ala.– Meyakini Nabi Adam ’alaihissalam dinamakan dengan insan (manusia) dikarenakan kedudukannya bagi Al-Haq (Allah) sepertin insan al-’ain (pupil mata) bagi mata, yang dengannya penglihatan terjadi. Artinya, Nabi Adam merupakan bagian dari Allah Ta’ala. Tentu kalimat seperti ini adalah kalimat kufur. Na’udzubillahi min dzalik.– Beliau berkata tentang kaum Nabi Nuh ’alaihissalam, ”Sesungguhnya jika mereka meninggalkan penyembahan terhadap Wadd, Suwa’, Yaghuts, dan Ya’uq, niscaya mereka akan menjadi lebih bodoh tentang Allah Ta’ala.”– Syekhul Islam Ibnu Tamiyah rahimahullah berkata, “Cukuplah bagimu sebagai bukti kekufuran mereka bahwa di antara ucapan mereka yang paling ringan adalah pernyataan bahwa Firaun mati dalam keadaan beriman dan bersih dari dosa-dosa. –Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Arabi-. Dan Nabi Musa menjadi penyejuk mata (qurrata ‘ain) bagi Firaun dengan keimanan yang Allah berikan kepadanya ketika ia tenggelam. Maka Allah mencabut nyawanya dalam keadaan suci dan disucikan, tidak ada sedikit pun kotoran pada dirinya, sebelum dicatat atasnya suatu dosa pun, sedangkan Islam menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya.’Padahal, telah diketahui secara mendasar/pasti (ma’lum bid dharurah) dalam ajaran agama-agama—baik kaum Muslimin, Yahudi, maupun Nasrani—bahwa Firaun adalah termasuk makhluk yang paling kafir.” [4]Di antara penyebabnya adalah beberapa hal, sebagaimana dinukil oleh Adz-Dzahabi rahimahullah, Ibnu Rafi’ menukilkan kepadaku dengan tulisannya Abul Fath, beliau mengatakan, “Menurutku Muhyiddin (Ibnu ‘Arabi) tidak bermaksud sengaja berbohong, melainkan khalwat (menyendiri) dan rasa lapar (yang berlebihan) telah mempengaruhinya, sehingga menimbulkan kerusakan, halusinasi, dan sejenis kegilaan.” [5]Sikap para ulama terhadap Ibnu ‘ArabiSikap para ulama terhadap Ibnu ‘Arabi terbagi menjadi beberapa sikap, di antaranya:– Meyakini kewalian Ibnu ‘Arabi, di antaranya Asy-Syaikh Tajuddin bin ‘Athaillah (di antara ulama Maliki), Asy-Syaikh ‘Afifuddin Al-Yafi’i (di antara ulama Syafi’i), dan ulama lainnya. [6]– Meyakini kesesatan Ibnu ‘Arabi, dan terang-terangan dalam membantahnya. Di antaranya adalah Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Badruddin bin Jama’ah (penulis kitab Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim), Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Jamaluddin Al-Mizzi, dan para ulama lainnya rahimahullah.Adapun Adz-Dzahabi rahimahullah, sikap beliau terhadap Ibnu ‘Arabi sangatlah kritis dalam mengkritik penyimpangan-penyimpangannya, terutama yang bersifat ketuhanan. Beliau menyampaikan dengan penuh kehati-hatian.وَقَوْلِي أَنَا فِيهِ: إِنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ الَّذِينَ اجْتَذَبَهُمُ الْحَقُّ إِلَى جَنَابِهِ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَخُتِمَ لَهُ بِالْحُسْنَى. فَأَمَّا كَلَامُهُ، فَمَنْ فَهِمَهُ وَعَرَفَهُ عَلَى قَوَاعِدِ الِاتِّحَادِيَّةِ وَعَلِمَ مَحَطَّ الْقَوْمِ، وَجَمَعَ بَيْنَ أَطْرَافِ عِبَارَاتِهِمْ — تَبَيَّنَ لَهُ الْحَقُّ فِي خِلَافِ قَوْلِهِمْ“Adapun pendapatku tentang dirinya (Ibnu ‘Arabi), bahwasanya boleh jadi (kemungkinan) dia termasuk di antara wali-wali Allah yang ditarik oleh Al-Haq (Allah) ke sisi-Nya saat menjelang ajal, dan ditutup usianya dengan kebaikan (husnul khatimah). Adapun perkataannya (karya Ibnu ‘Arabi), maka barangsiapa yang memahami dan mengetahuinya berdasarkan kaidah-kaidah paham ittihadiyah (paham penyatuan/wihdatul wujud), mengetahui muara pemikiran kelompok tersebut, serta mengumpulkan seluruh sudut ungkapan-ungkapan mereka, niscaya akan jelas baginya bahwa kebenaran itu berada pada posisi yang bersebrangan dengan ucapan mereka.” [7]Beberapa orang kurang tepat dalam memahami ucapan Adz-Dzahabi rahimahullah dari perkataan beliau,اجْتَذَبَهُمُ الْحَقُّ“Ditarik oleh Al-Haq (Allah)….” Dipahami oleh sebagian orang bahwasanya Adz-Dzahabi meyakini bahwa Ibnu ‘Arabi termasuk wali majdzub, yaitu seseorang yang dikultuskan menjadi wali di mana akalnya ditarik oleh Allah sehingga menjadi gila, sebagaimana yang diiyakini oleh kaum Sufi. Padahal, ini merupakan sifat inshaf (pertengahan) dari beliau, yaitu beliau meyakini kesesatan pemikiran dari Ibnu ‘Arabi, namun di sisi lain beliau tetap mengharapkan hidayah untuk Ibnu ‘Arabi.Maksud dari perkataan beliau di atas (“Ditarik oleh Al-Haq (Allah)”), bukanlah ditarik akalnya sebagaimana yang diyakini oleh kaum Sufi. Namun maksudnya, Adz-Dzahabi berharap barangkali di akhir hayatnya Allah menarik kesesatan dari hatinya dan memberikan hidayah kepadanya di akhir hayat sebagaimana wali-wali Allah yang lainnya dan akhir hayatnya ditutup dengan husnul khatimah.قُلْتُ: إِنْ كَانَ مُحْيِي الدِّيْنِ رَجَعَ عَنْ مَقَالاَتِهِ تِلْكَ قَبْلَ المَوْتِ، فَقَدْ فَازَ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ“Aku (Adz-Dzahabi) berkata, “Andaikata yang digelari dengan Muhyiddin (Ibnu ’Arabi) ingin rujuk (kembali) dari pendapat-pendapatnya sebelum mati, maka beruntunglah ia. Dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.” [8]Di akhir pembahasan Ibnu ’Arabi, Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam kitabnya, Mizaanul ’Itidal, menutup pembahasan dengan perkataannya,فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَعِيشَ الْمُسْلِمُ جَاهِلًا خَلْفَ الْبَقَرِ لَا يَعْرِفُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا سِوَى سُوَرٍ مِنَ الْقُرْآنِ يُصَلِّي بِهَا الصَّلَوَاتِ وَيُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ – خَيْرٌ لَهُ بِكَثِيرٍ مِنْ هَذَا الْعِرْفَانِ وَهَذِهِ الْحَقَائِقِ، وَلَوْ قَرَأَ مِائَةَ كِتَابٍ أَوْ عَمِلَ مِائَةَ خَلْوَةٍ“Demi Allah, sungguh jika seorang muslim hidup dalam keadaan awam (tanpa pengetahuan rumit) di belakang penggembalaan sapi, tidak mengetahui ilmu apa pun selain beberapa surah Al-Qur’an yang ia gunakan untuk mendirikan salat, serta beriman kepada Allah dan hari akhir, itu jauh lebih baik baginya daripada sufisme/kearifan dan hakikat-hakikat ini, meskipun ia telah membaca seratus buku atau melakukan seratus kali khalwat (menyendiri untuk ibadah).” [9]Demikianlah sikap dari seorang ulama yang mulia, Adz-Dzahabi rahimahullah. Berangkat dari hal ini, ulama berikutnya menyematkan bahwasanya Adz-Dzahabi bersikap pertengahan terhadap Ibnu ‘Arabi. Di antara yang berkata demikian adalah As-Suyuthi rahimahullah di dalam karyanya, Tanbi’atul Ghabi bi Tabri’ati Ibnu ‘Arabi.Pelajaran yang sangat berharga dari Adz-Dzahabi rahimahullah, bahwa bersamaan dengan kesesatan dan penyimpangan dari Ibnu ‘Arabi, beliau tetap mengharapkan hidayah kepada Ibnu ‘Arabi. Bahkan setiap membahas tokoh-tokoh menyimpang di dalam kitab-kitabnya, beliau senantiasa menutup pembahasan tersebut dengan doa agar terhindar dari segala macam bentuk kesesatan. Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Fushushul Hikam, hal. 345; dinukil dari Da’watut Taqrib, 1: 386.[2] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19.[3] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19; di footnote.[4] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19.[5] Mizaanul ‘Itidal, 3: 659.[6] Tanbi’atul Ghabiy, hal. 2.[7] Mizaanul ‘Itidal, 3: 660.[8] Siyar A’lamin Nubala, 23: 49.[9] Mizaanul ‘Itidal, 3: 660. Referensi:Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Siyar Aʿlām an-Nubalā’. Di-tahqiq oleh Shuʿayb al-Arnā’ūṭ, Bashshār ʿAwwād Maʿrūf, dkk. Cet. ke-3. 25 jilid. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1405 H/1985 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Mīzān al-Iʿtidāl fī Naqd ar-Rijāl. Di-tahqiq oleh ʿAlī Muḥammad al-Bijāwī. Cet. ke-1. 4 jilid. Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1382 H/1963 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)Al-Fāsī, Taqiyuddīn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Alī. Juz’un fīhi ‘Aqīdah Ibn ‘Arabī wa Hayātuh wa Mā Qālahu al-Mu’arrikhūn wa al-‘Ulamā’u Fīh. Di-tahqiq oleh ‘Alī Hasan ‘Alī ‘Abd al-Hamīd. Cet. ke-1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1404 H/1984 M.Al-Qādhī, Ahmad ibn ‘Abd ar-Rahmān ibn ‘Uthmān. Da‘wah at-Taqrīb baina al-Adyān: Dirāsah Naqdiyyah fī Dhaw’i al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah. Cet. ke-1. 2 jilid. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1421 H/2000 M.As-Suyuthi, Jalaluddin. Tanbi’atul Ghabi bi Tabri’ati Ibnu ‘Arabi.
Daftar Isi TogglePemahaman dan keyakinan yang keliruSikap para ulama terhadap Ibnu ‘ArabiPerbedaan antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ‘Arabi mengantarkan kita untuk mengetahui perbedaan antara kebenaran dan kekeliruan. Dengan mengetahui keduanya, akan dapat dipahami bagaimana perhatian para ulama dalam menjelaskan kesalahan dan penyimpangan dalam keyakinan dan pemikiran tanpa melihat person tertentu.Penyimpangan dijelaskan agar terbedakan antara yang haq dengan yang bathil, sehingga kalaupun dalam penjelasan tersebut terdapat isytibah (keserupaan) nama misalnya, maka tentu kekeliruan dan penyimpangan tersebut harus dijelaskan dari person tersebut, agar penyimpangan tidak berkembang biak di antara kaum muslimin.Pemahaman dan keyakinan yang keliruDi antara pemahaman keliru bahkan cenderung fatal, yang bersumber dari pemahaman dan keyakinan Ibnu ‘Arabi adalah,– Pemahaman wihdatul wujud. Pemahaman ini merupakan pemahaman ilhadiyah (kufur) yang muncul setelah dipenuhi dengan keyakinan hulul, yaitu bersatunya makhluk dengan Tuhan pada sebagian makhluk, tidak ada keterpisahan di antara keduanya.Tentunya ini merupakan pemahaman yang kufur. Di antara penggalan sya’ir yang ditulis oleh Ibnu ‘Arabi adalah,الْعَبْدُ رَبٌّ وَالرَّبُّ عَبْدٌ   يَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَنِ الْمُكَلَّفُHamba adalah Rabb, dan Rabb merupakan hamba.Aku bingung, siapa gerangan yang menjadi mukallaf.عَقَدَ الْخَلَائِقُ فِيْ الْإلِه عَقَائِدَ   وَأَنَا اعْتَقَدْتُ جَمِيْعَ اعْتَقَدُوهُSemua makhluk berkeyakinan tentang ilah (sesembahan) dengan berbagai keyakinan.Dan aku berkeyakinan (tentang ilah) dengan seluruh yang mereka yakini itu. [1]Tentu pemahaman ini merupakan pemahaman yang menyimpang dan pemahaman yang kufur. Tatkala menerangkan pemahaman ini, Imam Taqiyuddin Al-Farisi rahimahullah mengatakan,وَقَدِ اتَّفَقَ سَلَفُ الأُمَّةِ وَأَئِمَّتُهَا، عَلَى أَنَّ الخَالِقَ تَعَالَى  بَائِنٌ مِنْ مَخْلُوْقَاتِهِ: لَيْسَ فِي ذَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوْقَاتِهِ، وَلَا فِي مَخْلُوْقَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ ذَاتِهِ“Dan sungguh, generasi Salaf umat ini beserta para imamnya telah bersepakat bahwa Al-Khaliq (Sang Pencipta) itu Maha Tinggi, terpisah dari makhluk-makhluk-Nya. Tidak ada sedikit pun dari makhluk-Nya yang berada pada Zat-Nya, dan tidak ada sedikit pun dari Zat-Nya yang berada pada makhluk-makhluk-Nya.” [2]Syekh ’Ali Hasan Al-Halabi rahimahullah berkata ketika mengomentari penjelasan dari perkataan Imam Taqiyuddin di atas, ”Ini merupakan penafsiran yang tepat dan benar terhadap kata ”ba’in”, yang mana sebagian (orang) kesulitan dalam menafsirkannya.” [3]– Di antara pemahaman dan keyakinan yang keliru, beliau mengklaim karya tulisnya -yang kemudian ia sebarkan- bahwa hal itu berdasarkan izin dari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam melalui mimpi yang diklaim telah dialaminya. Padahal, sebagian besar isi dari bukunya itu bertentangan dengan kitab-kitab yang diturunkan Allah Ta’ala.– Meyakini Nabi Adam ’alaihissalam dinamakan dengan insan (manusia) dikarenakan kedudukannya bagi Al-Haq (Allah) sepertin insan al-’ain (pupil mata) bagi mata, yang dengannya penglihatan terjadi. Artinya, Nabi Adam merupakan bagian dari Allah Ta’ala. Tentu kalimat seperti ini adalah kalimat kufur. Na’udzubillahi min dzalik.– Beliau berkata tentang kaum Nabi Nuh ’alaihissalam, ”Sesungguhnya jika mereka meninggalkan penyembahan terhadap Wadd, Suwa’, Yaghuts, dan Ya’uq, niscaya mereka akan menjadi lebih bodoh tentang Allah Ta’ala.”– Syekhul Islam Ibnu Tamiyah rahimahullah berkata, “Cukuplah bagimu sebagai bukti kekufuran mereka bahwa di antara ucapan mereka yang paling ringan adalah pernyataan bahwa Firaun mati dalam keadaan beriman dan bersih dari dosa-dosa. –Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Arabi-. Dan Nabi Musa menjadi penyejuk mata (qurrata ‘ain) bagi Firaun dengan keimanan yang Allah berikan kepadanya ketika ia tenggelam. Maka Allah mencabut nyawanya dalam keadaan suci dan disucikan, tidak ada sedikit pun kotoran pada dirinya, sebelum dicatat atasnya suatu dosa pun, sedangkan Islam menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya.’Padahal, telah diketahui secara mendasar/pasti (ma’lum bid dharurah) dalam ajaran agama-agama—baik kaum Muslimin, Yahudi, maupun Nasrani—bahwa Firaun adalah termasuk makhluk yang paling kafir.” [4]Di antara penyebabnya adalah beberapa hal, sebagaimana dinukil oleh Adz-Dzahabi rahimahullah, Ibnu Rafi’ menukilkan kepadaku dengan tulisannya Abul Fath, beliau mengatakan, “Menurutku Muhyiddin (Ibnu ‘Arabi) tidak bermaksud sengaja berbohong, melainkan khalwat (menyendiri) dan rasa lapar (yang berlebihan) telah mempengaruhinya, sehingga menimbulkan kerusakan, halusinasi, dan sejenis kegilaan.” [5]Sikap para ulama terhadap Ibnu ‘ArabiSikap para ulama terhadap Ibnu ‘Arabi terbagi menjadi beberapa sikap, di antaranya:– Meyakini kewalian Ibnu ‘Arabi, di antaranya Asy-Syaikh Tajuddin bin ‘Athaillah (di antara ulama Maliki), Asy-Syaikh ‘Afifuddin Al-Yafi’i (di antara ulama Syafi’i), dan ulama lainnya. [6]– Meyakini kesesatan Ibnu ‘Arabi, dan terang-terangan dalam membantahnya. Di antaranya adalah Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Badruddin bin Jama’ah (penulis kitab Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim), Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Jamaluddin Al-Mizzi, dan para ulama lainnya rahimahullah.Adapun Adz-Dzahabi rahimahullah, sikap beliau terhadap Ibnu ‘Arabi sangatlah kritis dalam mengkritik penyimpangan-penyimpangannya, terutama yang bersifat ketuhanan. Beliau menyampaikan dengan penuh kehati-hatian.وَقَوْلِي أَنَا فِيهِ: إِنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ الَّذِينَ اجْتَذَبَهُمُ الْحَقُّ إِلَى جَنَابِهِ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَخُتِمَ لَهُ بِالْحُسْنَى. فَأَمَّا كَلَامُهُ، فَمَنْ فَهِمَهُ وَعَرَفَهُ عَلَى قَوَاعِدِ الِاتِّحَادِيَّةِ وَعَلِمَ مَحَطَّ الْقَوْمِ، وَجَمَعَ بَيْنَ أَطْرَافِ عِبَارَاتِهِمْ — تَبَيَّنَ لَهُ الْحَقُّ فِي خِلَافِ قَوْلِهِمْ“Adapun pendapatku tentang dirinya (Ibnu ‘Arabi), bahwasanya boleh jadi (kemungkinan) dia termasuk di antara wali-wali Allah yang ditarik oleh Al-Haq (Allah) ke sisi-Nya saat menjelang ajal, dan ditutup usianya dengan kebaikan (husnul khatimah). Adapun perkataannya (karya Ibnu ‘Arabi), maka barangsiapa yang memahami dan mengetahuinya berdasarkan kaidah-kaidah paham ittihadiyah (paham penyatuan/wihdatul wujud), mengetahui muara pemikiran kelompok tersebut, serta mengumpulkan seluruh sudut ungkapan-ungkapan mereka, niscaya akan jelas baginya bahwa kebenaran itu berada pada posisi yang bersebrangan dengan ucapan mereka.” [7]Beberapa orang kurang tepat dalam memahami ucapan Adz-Dzahabi rahimahullah dari perkataan beliau,اجْتَذَبَهُمُ الْحَقُّ“Ditarik oleh Al-Haq (Allah)….” Dipahami oleh sebagian orang bahwasanya Adz-Dzahabi meyakini bahwa Ibnu ‘Arabi termasuk wali majdzub, yaitu seseorang yang dikultuskan menjadi wali di mana akalnya ditarik oleh Allah sehingga menjadi gila, sebagaimana yang diiyakini oleh kaum Sufi. Padahal, ini merupakan sifat inshaf (pertengahan) dari beliau, yaitu beliau meyakini kesesatan pemikiran dari Ibnu ‘Arabi, namun di sisi lain beliau tetap mengharapkan hidayah untuk Ibnu ‘Arabi.Maksud dari perkataan beliau di atas (“Ditarik oleh Al-Haq (Allah)”), bukanlah ditarik akalnya sebagaimana yang diyakini oleh kaum Sufi. Namun maksudnya, Adz-Dzahabi berharap barangkali di akhir hayatnya Allah menarik kesesatan dari hatinya dan memberikan hidayah kepadanya di akhir hayat sebagaimana wali-wali Allah yang lainnya dan akhir hayatnya ditutup dengan husnul khatimah.قُلْتُ: إِنْ كَانَ مُحْيِي الدِّيْنِ رَجَعَ عَنْ مَقَالاَتِهِ تِلْكَ قَبْلَ المَوْتِ، فَقَدْ فَازَ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ“Aku (Adz-Dzahabi) berkata, “Andaikata yang digelari dengan Muhyiddin (Ibnu ’Arabi) ingin rujuk (kembali) dari pendapat-pendapatnya sebelum mati, maka beruntunglah ia. Dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.” [8]Di akhir pembahasan Ibnu ’Arabi, Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam kitabnya, Mizaanul ’Itidal, menutup pembahasan dengan perkataannya,فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَعِيشَ الْمُسْلِمُ جَاهِلًا خَلْفَ الْبَقَرِ لَا يَعْرِفُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا سِوَى سُوَرٍ مِنَ الْقُرْآنِ يُصَلِّي بِهَا الصَّلَوَاتِ وَيُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ – خَيْرٌ لَهُ بِكَثِيرٍ مِنْ هَذَا الْعِرْفَانِ وَهَذِهِ الْحَقَائِقِ، وَلَوْ قَرَأَ مِائَةَ كِتَابٍ أَوْ عَمِلَ مِائَةَ خَلْوَةٍ“Demi Allah, sungguh jika seorang muslim hidup dalam keadaan awam (tanpa pengetahuan rumit) di belakang penggembalaan sapi, tidak mengetahui ilmu apa pun selain beberapa surah Al-Qur’an yang ia gunakan untuk mendirikan salat, serta beriman kepada Allah dan hari akhir, itu jauh lebih baik baginya daripada sufisme/kearifan dan hakikat-hakikat ini, meskipun ia telah membaca seratus buku atau melakukan seratus kali khalwat (menyendiri untuk ibadah).” [9]Demikianlah sikap dari seorang ulama yang mulia, Adz-Dzahabi rahimahullah. Berangkat dari hal ini, ulama berikutnya menyematkan bahwasanya Adz-Dzahabi bersikap pertengahan terhadap Ibnu ‘Arabi. Di antara yang berkata demikian adalah As-Suyuthi rahimahullah di dalam karyanya, Tanbi’atul Ghabi bi Tabri’ati Ibnu ‘Arabi.Pelajaran yang sangat berharga dari Adz-Dzahabi rahimahullah, bahwa bersamaan dengan kesesatan dan penyimpangan dari Ibnu ‘Arabi, beliau tetap mengharapkan hidayah kepada Ibnu ‘Arabi. Bahkan setiap membahas tokoh-tokoh menyimpang di dalam kitab-kitabnya, beliau senantiasa menutup pembahasan tersebut dengan doa agar terhindar dari segala macam bentuk kesesatan. Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Fushushul Hikam, hal. 345; dinukil dari Da’watut Taqrib, 1: 386.[2] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19.[3] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19; di footnote.[4] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19.[5] Mizaanul ‘Itidal, 3: 659.[6] Tanbi’atul Ghabiy, hal. 2.[7] Mizaanul ‘Itidal, 3: 660.[8] Siyar A’lamin Nubala, 23: 49.[9] Mizaanul ‘Itidal, 3: 660. Referensi:Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Siyar Aʿlām an-Nubalā’. Di-tahqiq oleh Shuʿayb al-Arnā’ūṭ, Bashshār ʿAwwād Maʿrūf, dkk. Cet. ke-3. 25 jilid. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1405 H/1985 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Mīzān al-Iʿtidāl fī Naqd ar-Rijāl. Di-tahqiq oleh ʿAlī Muḥammad al-Bijāwī. Cet. ke-1. 4 jilid. Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1382 H/1963 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)Al-Fāsī, Taqiyuddīn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Alī. Juz’un fīhi ‘Aqīdah Ibn ‘Arabī wa Hayātuh wa Mā Qālahu al-Mu’arrikhūn wa al-‘Ulamā’u Fīh. Di-tahqiq oleh ‘Alī Hasan ‘Alī ‘Abd al-Hamīd. Cet. ke-1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1404 H/1984 M.Al-Qādhī, Ahmad ibn ‘Abd ar-Rahmān ibn ‘Uthmān. Da‘wah at-Taqrīb baina al-Adyān: Dirāsah Naqdiyyah fī Dhaw’i al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah. Cet. ke-1. 2 jilid. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1421 H/2000 M.As-Suyuthi, Jalaluddin. Tanbi’atul Ghabi bi Tabri’ati Ibnu ‘Arabi.


Daftar Isi TogglePemahaman dan keyakinan yang keliruSikap para ulama terhadap Ibnu ‘ArabiPerbedaan antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ‘Arabi mengantarkan kita untuk mengetahui perbedaan antara kebenaran dan kekeliruan. Dengan mengetahui keduanya, akan dapat dipahami bagaimana perhatian para ulama dalam menjelaskan kesalahan dan penyimpangan dalam keyakinan dan pemikiran tanpa melihat person tertentu.Penyimpangan dijelaskan agar terbedakan antara yang haq dengan yang bathil, sehingga kalaupun dalam penjelasan tersebut terdapat isytibah (keserupaan) nama misalnya, maka tentu kekeliruan dan penyimpangan tersebut harus dijelaskan dari person tersebut, agar penyimpangan tidak berkembang biak di antara kaum muslimin.Pemahaman dan keyakinan yang keliruDi antara pemahaman keliru bahkan cenderung fatal, yang bersumber dari pemahaman dan keyakinan Ibnu ‘Arabi adalah,– Pemahaman wihdatul wujud. Pemahaman ini merupakan pemahaman ilhadiyah (kufur) yang muncul setelah dipenuhi dengan keyakinan hulul, yaitu bersatunya makhluk dengan Tuhan pada sebagian makhluk, tidak ada keterpisahan di antara keduanya.Tentunya ini merupakan pemahaman yang kufur. Di antara penggalan sya’ir yang ditulis oleh Ibnu ‘Arabi adalah,الْعَبْدُ رَبٌّ وَالرَّبُّ عَبْدٌ   يَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَنِ الْمُكَلَّفُHamba adalah Rabb, dan Rabb merupakan hamba.Aku bingung, siapa gerangan yang menjadi mukallaf.عَقَدَ الْخَلَائِقُ فِيْ الْإلِه عَقَائِدَ   وَأَنَا اعْتَقَدْتُ جَمِيْعَ اعْتَقَدُوهُSemua makhluk berkeyakinan tentang ilah (sesembahan) dengan berbagai keyakinan.Dan aku berkeyakinan (tentang ilah) dengan seluruh yang mereka yakini itu. [1]Tentu pemahaman ini merupakan pemahaman yang menyimpang dan pemahaman yang kufur. Tatkala menerangkan pemahaman ini, Imam Taqiyuddin Al-Farisi rahimahullah mengatakan,وَقَدِ اتَّفَقَ سَلَفُ الأُمَّةِ وَأَئِمَّتُهَا، عَلَى أَنَّ الخَالِقَ تَعَالَى  بَائِنٌ مِنْ مَخْلُوْقَاتِهِ: لَيْسَ فِي ذَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوْقَاتِهِ، وَلَا فِي مَخْلُوْقَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ ذَاتِهِ“Dan sungguh, generasi Salaf umat ini beserta para imamnya telah bersepakat bahwa Al-Khaliq (Sang Pencipta) itu Maha Tinggi, terpisah dari makhluk-makhluk-Nya. Tidak ada sedikit pun dari makhluk-Nya yang berada pada Zat-Nya, dan tidak ada sedikit pun dari Zat-Nya yang berada pada makhluk-makhluk-Nya.” [2]Syekh ’Ali Hasan Al-Halabi rahimahullah berkata ketika mengomentari penjelasan dari perkataan Imam Taqiyuddin di atas, ”Ini merupakan penafsiran yang tepat dan benar terhadap kata ”ba’in”, yang mana sebagian (orang) kesulitan dalam menafsirkannya.” [3]– Di antara pemahaman dan keyakinan yang keliru, beliau mengklaim karya tulisnya -yang kemudian ia sebarkan- bahwa hal itu berdasarkan izin dari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam melalui mimpi yang diklaim telah dialaminya. Padahal, sebagian besar isi dari bukunya itu bertentangan dengan kitab-kitab yang diturunkan Allah Ta’ala.– Meyakini Nabi Adam ’alaihissalam dinamakan dengan insan (manusia) dikarenakan kedudukannya bagi Al-Haq (Allah) sepertin insan al-’ain (pupil mata) bagi mata, yang dengannya penglihatan terjadi. Artinya, Nabi Adam merupakan bagian dari Allah Ta’ala. Tentu kalimat seperti ini adalah kalimat kufur. Na’udzubillahi min dzalik.– Beliau berkata tentang kaum Nabi Nuh ’alaihissalam, ”Sesungguhnya jika mereka meninggalkan penyembahan terhadap Wadd, Suwa’, Yaghuts, dan Ya’uq, niscaya mereka akan menjadi lebih bodoh tentang Allah Ta’ala.”– Syekhul Islam Ibnu Tamiyah rahimahullah berkata, “Cukuplah bagimu sebagai bukti kekufuran mereka bahwa di antara ucapan mereka yang paling ringan adalah pernyataan bahwa Firaun mati dalam keadaan beriman dan bersih dari dosa-dosa. –Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Arabi-. Dan Nabi Musa menjadi penyejuk mata (qurrata ‘ain) bagi Firaun dengan keimanan yang Allah berikan kepadanya ketika ia tenggelam. Maka Allah mencabut nyawanya dalam keadaan suci dan disucikan, tidak ada sedikit pun kotoran pada dirinya, sebelum dicatat atasnya suatu dosa pun, sedangkan Islam menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya.’Padahal, telah diketahui secara mendasar/pasti (ma’lum bid dharurah) dalam ajaran agama-agama—baik kaum Muslimin, Yahudi, maupun Nasrani—bahwa Firaun adalah termasuk makhluk yang paling kafir.” [4]Di antara penyebabnya adalah beberapa hal, sebagaimana dinukil oleh Adz-Dzahabi rahimahullah, Ibnu Rafi’ menukilkan kepadaku dengan tulisannya Abul Fath, beliau mengatakan, “Menurutku Muhyiddin (Ibnu ‘Arabi) tidak bermaksud sengaja berbohong, melainkan khalwat (menyendiri) dan rasa lapar (yang berlebihan) telah mempengaruhinya, sehingga menimbulkan kerusakan, halusinasi, dan sejenis kegilaan.” [5]Sikap para ulama terhadap Ibnu ‘ArabiSikap para ulama terhadap Ibnu ‘Arabi terbagi menjadi beberapa sikap, di antaranya:– Meyakini kewalian Ibnu ‘Arabi, di antaranya Asy-Syaikh Tajuddin bin ‘Athaillah (di antara ulama Maliki), Asy-Syaikh ‘Afifuddin Al-Yafi’i (di antara ulama Syafi’i), dan ulama lainnya. [6]– Meyakini kesesatan Ibnu ‘Arabi, dan terang-terangan dalam membantahnya. Di antaranya adalah Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Badruddin bin Jama’ah (penulis kitab Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim), Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Jamaluddin Al-Mizzi, dan para ulama lainnya rahimahullah.Adapun Adz-Dzahabi rahimahullah, sikap beliau terhadap Ibnu ‘Arabi sangatlah kritis dalam mengkritik penyimpangan-penyimpangannya, terutama yang bersifat ketuhanan. Beliau menyampaikan dengan penuh kehati-hatian.وَقَوْلِي أَنَا فِيهِ: إِنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ الَّذِينَ اجْتَذَبَهُمُ الْحَقُّ إِلَى جَنَابِهِ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَخُتِمَ لَهُ بِالْحُسْنَى. فَأَمَّا كَلَامُهُ، فَمَنْ فَهِمَهُ وَعَرَفَهُ عَلَى قَوَاعِدِ الِاتِّحَادِيَّةِ وَعَلِمَ مَحَطَّ الْقَوْمِ، وَجَمَعَ بَيْنَ أَطْرَافِ عِبَارَاتِهِمْ — تَبَيَّنَ لَهُ الْحَقُّ فِي خِلَافِ قَوْلِهِمْ“Adapun pendapatku tentang dirinya (Ibnu ‘Arabi), bahwasanya boleh jadi (kemungkinan) dia termasuk di antara wali-wali Allah yang ditarik oleh Al-Haq (Allah) ke sisi-Nya saat menjelang ajal, dan ditutup usianya dengan kebaikan (husnul khatimah). Adapun perkataannya (karya Ibnu ‘Arabi), maka barangsiapa yang memahami dan mengetahuinya berdasarkan kaidah-kaidah paham ittihadiyah (paham penyatuan/wihdatul wujud), mengetahui muara pemikiran kelompok tersebut, serta mengumpulkan seluruh sudut ungkapan-ungkapan mereka, niscaya akan jelas baginya bahwa kebenaran itu berada pada posisi yang bersebrangan dengan ucapan mereka.” [7]Beberapa orang kurang tepat dalam memahami ucapan Adz-Dzahabi rahimahullah dari perkataan beliau,اجْتَذَبَهُمُ الْحَقُّ“Ditarik oleh Al-Haq (Allah)….” Dipahami oleh sebagian orang bahwasanya Adz-Dzahabi meyakini bahwa Ibnu ‘Arabi termasuk wali majdzub, yaitu seseorang yang dikultuskan menjadi wali di mana akalnya ditarik oleh Allah sehingga menjadi gila, sebagaimana yang diiyakini oleh kaum Sufi. Padahal, ini merupakan sifat inshaf (pertengahan) dari beliau, yaitu beliau meyakini kesesatan pemikiran dari Ibnu ‘Arabi, namun di sisi lain beliau tetap mengharapkan hidayah untuk Ibnu ‘Arabi.Maksud dari perkataan beliau di atas (“Ditarik oleh Al-Haq (Allah)”), bukanlah ditarik akalnya sebagaimana yang diyakini oleh kaum Sufi. Namun maksudnya, Adz-Dzahabi berharap barangkali di akhir hayatnya Allah menarik kesesatan dari hatinya dan memberikan hidayah kepadanya di akhir hayat sebagaimana wali-wali Allah yang lainnya dan akhir hayatnya ditutup dengan husnul khatimah.قُلْتُ: إِنْ كَانَ مُحْيِي الدِّيْنِ رَجَعَ عَنْ مَقَالاَتِهِ تِلْكَ قَبْلَ المَوْتِ، فَقَدْ فَازَ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ“Aku (Adz-Dzahabi) berkata, “Andaikata yang digelari dengan Muhyiddin (Ibnu ’Arabi) ingin rujuk (kembali) dari pendapat-pendapatnya sebelum mati, maka beruntunglah ia. Dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.” [8]Di akhir pembahasan Ibnu ’Arabi, Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam kitabnya, Mizaanul ’Itidal, menutup pembahasan dengan perkataannya,فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَعِيشَ الْمُسْلِمُ جَاهِلًا خَلْفَ الْبَقَرِ لَا يَعْرِفُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا سِوَى سُوَرٍ مِنَ الْقُرْآنِ يُصَلِّي بِهَا الصَّلَوَاتِ وَيُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ – خَيْرٌ لَهُ بِكَثِيرٍ مِنْ هَذَا الْعِرْفَانِ وَهَذِهِ الْحَقَائِقِ، وَلَوْ قَرَأَ مِائَةَ كِتَابٍ أَوْ عَمِلَ مِائَةَ خَلْوَةٍ“Demi Allah, sungguh jika seorang muslim hidup dalam keadaan awam (tanpa pengetahuan rumit) di belakang penggembalaan sapi, tidak mengetahui ilmu apa pun selain beberapa surah Al-Qur’an yang ia gunakan untuk mendirikan salat, serta beriman kepada Allah dan hari akhir, itu jauh lebih baik baginya daripada sufisme/kearifan dan hakikat-hakikat ini, meskipun ia telah membaca seratus buku atau melakukan seratus kali khalwat (menyendiri untuk ibadah).” [9]Demikianlah sikap dari seorang ulama yang mulia, Adz-Dzahabi rahimahullah. Berangkat dari hal ini, ulama berikutnya menyematkan bahwasanya Adz-Dzahabi bersikap pertengahan terhadap Ibnu ‘Arabi. Di antara yang berkata demikian adalah As-Suyuthi rahimahullah di dalam karyanya, Tanbi’atul Ghabi bi Tabri’ati Ibnu ‘Arabi.Pelajaran yang sangat berharga dari Adz-Dzahabi rahimahullah, bahwa bersamaan dengan kesesatan dan penyimpangan dari Ibnu ‘Arabi, beliau tetap mengharapkan hidayah kepada Ibnu ‘Arabi. Bahkan setiap membahas tokoh-tokoh menyimpang di dalam kitab-kitabnya, beliau senantiasa menutup pembahasan tersebut dengan doa agar terhindar dari segala macam bentuk kesesatan. Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Fushushul Hikam, hal. 345; dinukil dari Da’watut Taqrib, 1: 386.[2] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19.[3] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19; di footnote.[4] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19.[5] Mizaanul ‘Itidal, 3: 659.[6] Tanbi’atul Ghabiy, hal. 2.[7] Mizaanul ‘Itidal, 3: 660.[8] Siyar A’lamin Nubala, 23: 49.[9] Mizaanul ‘Itidal, 3: 660. Referensi:Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Siyar Aʿlām an-Nubalā’. Di-tahqiq oleh Shuʿayb al-Arnā’ūṭ, Bashshār ʿAwwād Maʿrūf, dkk. Cet. ke-3. 25 jilid. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1405 H/1985 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Mīzān al-Iʿtidāl fī Naqd ar-Rijāl. Di-tahqiq oleh ʿAlī Muḥammad al-Bijāwī. Cet. ke-1. 4 jilid. Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1382 H/1963 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)Al-Fāsī, Taqiyuddīn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Alī. Juz’un fīhi ‘Aqīdah Ibn ‘Arabī wa Hayātuh wa Mā Qālahu al-Mu’arrikhūn wa al-‘Ulamā’u Fīh. Di-tahqiq oleh ‘Alī Hasan ‘Alī ‘Abd al-Hamīd. Cet. ke-1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1404 H/1984 M.Al-Qādhī, Ahmad ibn ‘Abd ar-Rahmān ibn ‘Uthmān. Da‘wah at-Taqrīb baina al-Adyān: Dirāsah Naqdiyyah fī Dhaw’i al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah. Cet. ke-1. 2 jilid. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1421 H/2000 M.As-Suyuthi, Jalaluddin. Tanbi’atul Ghabi bi Tabri’ati Ibnu ‘Arabi.

SERING MALAS DAN KEHILANGAN SEMANGAT? INI SOLUSINYA

Syaikh kami yang mulia, semoga Allah memberkahi Anda. Sudah menjadi tabiat manusia mengalami futur (melemahnya semangat). Lantas, bagaimana cara mengatasinya dan mencegahnya? Mohon berikan faedah kepada kami. Semoga Allah memberkahi Anda. Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada sebaik-baik ciptaan Allah, keluarga dan para sahabat beliau, serta siapa pun yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Dan katakanlah, ‘Beramallah kalian, maka Allah akan melihat amal kalian…’” (QS. At-Taubah: 105) Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Allah menjadikan alam ini berjalan dengan prinsip timbal balik. Allah berfirman, “Penuhilah janji-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 40) Nabi juga bersabda, “Al-Mufarridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya, “Siapakah Al-Mufarridun?” Nabi menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Dan Allah memuji orang-orang yang menjauhkan lambung mereka dari tempat tidur dan menginfakkan harta mereka, lalu berfirman tentang mereka, “Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa kenikmatan yang menyenangkan hati…” (QS. As-Sajdah: 17) Berdasarkan hal ini, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh melawan berbagai penyebab futur. Di antara penyebab futur adalah makan terlalu kenyang. Penyebab lainnya adalah tidak memberi tubuh istirahat yang cukup. Termasuk pula penyebabnya, terlalu sibuk dengan hal-hal sepele. Serta bergaul dengan teman-teman buruk dan lemah semangatnya. Di antara penyebab futur lainnya, mengejar syahwat yang ada di depan mata dan tidak berminat pada kedudukan-kedudukan yang sangat tinggi. Jadi, ada berbagai penyebab futur. Apabila seorang pelajar muslim memahami dan mempelajari hal ini, ia akan mengetahui manfaat bersungguh-sungguh dan bahaya futur. Karena itu, Rabb kita Jalla wa ‘Ala berfirman kepada Nabi-Nya agar berlindung kepada-Nya dari kemalasan. “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan penindasan manusia.” (Lihat HR. Bukhari no. 6369, dengan lafaz yang berbeda). Karena semua ini membahayakan. Kemalasan menghalangi seseorang dari ilmu, menghalanginya dari berbagi, dan menghalanginya dari berkarya. Karena itu, seorang muslim hendaknya terlebih dahulu menjaga kesehatan tubuhnya agar tetap bersemangat. Hendaknya ia juga memahami manfaat kesungguhan dan amal, serta meninggalkan kemalasan dan futur. Ia juga perlu memahami bahwa tubuh adalah ciptaan Allah yang memerlukan istirahat. Ia juga hendaknya mengatur waktu, karena dirinya memiliki hak, keluarganya memiliki hak, dan pasangannya pun memiliki hak. Hendaknya pula ia mengatur waktunya agar mampu menunaikan berbagai kewajiban yang dibebankan kepadanya, serta berusaha menunaikannya dengan tepat dan sebaik mungkin. Seorang penuntut ilmu dan siapa pun yang ingin produktif harus memberi tubuhnya istirahat, agar dapat terus berkarya, baik dengan tidur, bersantai, maupun makan yang baik. Kurangi bergaul, kecuali dengan orang yang dapat kau buat lebih baik atau yang membuatmu lebih baik. Dengan hal-hal ini, seseorang akan lebih banyak mengambil manfaat dari hidupnya dan produktivitasnya pun meningkat. Dan yang paling sering kami sampaikan bahwa penghalang-penghalang yang menghambat itu adalah manusia, harta, diri sendiri, dan setan. Dan semua obat untuk mengatasinya terdapat dalam dalil-dalil, dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Banyak pula karya yang membahasnya. Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar memberi kita pandangan yang jelas tentang kebenaran, dan menganugerahi kita kemampuan untuk mengikutinya, serta memberi kita pandangan yang jelas tentang kebatilan dan menganugerahi kita kemampuan untuk menjauhinya, dan agar perkara itu tidak menjadi samar bagi kita. Sungguh, Allah adalah sebaik-baik Dzat yang dimintai dan Maha Kuasa atas semua itu. Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau. ===== شَيْخَنَا الْفَاضِلَ، بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ مِنْ طَبِيعَةِ الْإِنْسَانِ أَنْ يُصِيبَهُ الْفُتُورُ فَمَا السَّبِيلُ إِلَى عِلَاجِ ذَلِكَ وَالْوِقَايَةِ مِنْهُ؟ أَفِيدُونَا بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ الْحَمْدُ لِلهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ الْآيَةَ وَيَقُولُ جَلَّ وَعَلَا: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَجَعَلَ هَذَا الْكَوْنَ يُحْكَمُ بِقَانُونِ الْمُعَاوَضَةِ قَالَ: وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَقَالَ: سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ قَالَ: الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ وَمَدَحَ الَّذِينَ يُبْعِدُونَ جُنُوبَهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ وَيَبْذُلُونَ أَمْوَالَهُمْ فَقَالَ فِي حَقِّهِمْ: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ وَبِنَاءً عَلَى هَذَا يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُكَابِدَ وَسَائِلَ الْفُتُورِ فَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ الِامْتِلَاءُ مِنَ الطَّعَامِ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ عَدَمُ إِعْطَاءِ الْجِسْمِ الرَّاحَةَ الْكَافِيَةَ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ التَّعَلُّقُ بِالتَّوَافِهِ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ صُحْبَةُ الْأَشْرَارِ وَضِعَافِ الْهِمَمِ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ الرَّغْبَةُ فِي الشَّهْوَةِ الْحَاضِرَةِ وَالزُّهْدُ فِي الْمَقَامَاتِ الْعُلْيَا الَّتِي هِيَ عَالِيَةٌ فَهُنَاكَ وَسَائِلُ فَإِذَا فَهِمَ الطَّالِبُ الْمُسْلِمُ وَتَعَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ يَعْرِفُ مَا فِي الِاجْتِهَادِ وَمَا فِي الْفُتُورِ مِنَ الضَّرَرِ وَلِذَلِكَ رَبُّنَا جَلَّ وَعَلَا قَالَ لِنَبِيِّهِ إِنَّهُ يَسْتَعِيذُ مِنَ الْكَسَلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ لِأَنَّ هَذِهِ أُمُورٌ مُضِرَّةٌ، فَالْكَسَلُ يَمْنَعُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْعِلْمِ وَيَمْنَعُهُ مِنَ الْبَذْلِ، وَيَمْنَعُهُ مِنَ الْإِنْتَاجِ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَعْتَنِيَ بِصِحَّةِ بَدَنِهِ أَوَّلًا حَتَّى يَكُونَ نَشِيطًا وَيَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ بِالْعِلْمِ فِي فَائِدَةِ الِاجْتِهَادِ وَالْعَمَلِ وَتَرْكِ التَّكَاسُلِ وَالْفُتُورِ وَيَنْبَغِي أَيْضًا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ الْجِسْمَ مَخْلُوقٌ وَيَحْتَاجُ إِلَى نَوْعٍ مِنَ الرَّاحَةِ كَمَا أَنَّهُ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُنَظِّمَ الْوَقْتَ لِأَنَّ لِلنَّفْسِ حَقًّا، وَلِلْأَهْلِ حَقًّا، وَلِلزَّوْجِ حَقًّا فَيَنْبَغِي أَنْ يُنَظِّمَ وَقْتَهُ حَتَّى يَسْتَطِيعَ أَنْ يُؤَدِّيَ الْوَاجِبَاتِ الْمَفْرُوضَةَ عَلَيْهِ وَيُسَدِّدَ وَيُقَارِبَ وَلَا بُدَّ لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَالَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُنْتِجَ أَنْ يُعْطِيَ لِجِسْمِهِ رَاحَةً حَتَّى يَسْتَطِيعَ أَنْ يُنْتِجَ مِنَ النَّوْمِ وَمِنَ الِاسْتِجْمَامِ وَمِنَ الْأَكْلِ الْجَيِّدِ وَمِنْ قِلَّةِ مُخَالَطَةِ غَيْرِ مَنْ تَرْفَعُهُ أَوْ يَرْفَعُكَ بِهَذِهِ الْأُمُورِ الْإِنْسَانُ يَسْتَفِيدُ فِي حَيَاتِهِ وَيَكْثُرُ إِنْتَاجُهُ وَأَكْثَرُ مَا قُلْنَا إِنَّ الْمُعَوِّقَاتِ الَّتِي تُعَوِّقُ هِيَ النَّاسُ وَالْمَالُ وَالنَّفْسُ وَالشَّيْطَانُ وَكُلُّ عِلَاجِ ذَلِكَ مَوْجُودٌ فِي النُّصُوصِ وَفِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَفِيهِ تَآلِيفُ كَثِيرَةٌ نَرْجُو اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يُبَصِّرَنَا بِالْحَقِّ وَيَرْزُقَنَا اتِّبَاعَهُ وَأَنْ يُبَصِّرَنَا بِالْبَاطِلِ وَيَرْزُقَنَا اجْتِنَابَهُ وَأَنْ لَا يَجْعَلَ الْأَمْرَ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا إِنَّهُ خَيْرُ مَسْؤُولٍ وَالْقَادِرُ عَلَى ذَلِكَ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ

SERING MALAS DAN KEHILANGAN SEMANGAT? INI SOLUSINYA

Syaikh kami yang mulia, semoga Allah memberkahi Anda. Sudah menjadi tabiat manusia mengalami futur (melemahnya semangat). Lantas, bagaimana cara mengatasinya dan mencegahnya? Mohon berikan faedah kepada kami. Semoga Allah memberkahi Anda. Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada sebaik-baik ciptaan Allah, keluarga dan para sahabat beliau, serta siapa pun yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Dan katakanlah, ‘Beramallah kalian, maka Allah akan melihat amal kalian…’” (QS. At-Taubah: 105) Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Allah menjadikan alam ini berjalan dengan prinsip timbal balik. Allah berfirman, “Penuhilah janji-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 40) Nabi juga bersabda, “Al-Mufarridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya, “Siapakah Al-Mufarridun?” Nabi menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Dan Allah memuji orang-orang yang menjauhkan lambung mereka dari tempat tidur dan menginfakkan harta mereka, lalu berfirman tentang mereka, “Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa kenikmatan yang menyenangkan hati…” (QS. As-Sajdah: 17) Berdasarkan hal ini, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh melawan berbagai penyebab futur. Di antara penyebab futur adalah makan terlalu kenyang. Penyebab lainnya adalah tidak memberi tubuh istirahat yang cukup. Termasuk pula penyebabnya, terlalu sibuk dengan hal-hal sepele. Serta bergaul dengan teman-teman buruk dan lemah semangatnya. Di antara penyebab futur lainnya, mengejar syahwat yang ada di depan mata dan tidak berminat pada kedudukan-kedudukan yang sangat tinggi. Jadi, ada berbagai penyebab futur. Apabila seorang pelajar muslim memahami dan mempelajari hal ini, ia akan mengetahui manfaat bersungguh-sungguh dan bahaya futur. Karena itu, Rabb kita Jalla wa ‘Ala berfirman kepada Nabi-Nya agar berlindung kepada-Nya dari kemalasan. “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan penindasan manusia.” (Lihat HR. Bukhari no. 6369, dengan lafaz yang berbeda). Karena semua ini membahayakan. Kemalasan menghalangi seseorang dari ilmu, menghalanginya dari berbagi, dan menghalanginya dari berkarya. Karena itu, seorang muslim hendaknya terlebih dahulu menjaga kesehatan tubuhnya agar tetap bersemangat. Hendaknya ia juga memahami manfaat kesungguhan dan amal, serta meninggalkan kemalasan dan futur. Ia juga perlu memahami bahwa tubuh adalah ciptaan Allah yang memerlukan istirahat. Ia juga hendaknya mengatur waktu, karena dirinya memiliki hak, keluarganya memiliki hak, dan pasangannya pun memiliki hak. Hendaknya pula ia mengatur waktunya agar mampu menunaikan berbagai kewajiban yang dibebankan kepadanya, serta berusaha menunaikannya dengan tepat dan sebaik mungkin. Seorang penuntut ilmu dan siapa pun yang ingin produktif harus memberi tubuhnya istirahat, agar dapat terus berkarya, baik dengan tidur, bersantai, maupun makan yang baik. Kurangi bergaul, kecuali dengan orang yang dapat kau buat lebih baik atau yang membuatmu lebih baik. Dengan hal-hal ini, seseorang akan lebih banyak mengambil manfaat dari hidupnya dan produktivitasnya pun meningkat. Dan yang paling sering kami sampaikan bahwa penghalang-penghalang yang menghambat itu adalah manusia, harta, diri sendiri, dan setan. Dan semua obat untuk mengatasinya terdapat dalam dalil-dalil, dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Banyak pula karya yang membahasnya. Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar memberi kita pandangan yang jelas tentang kebenaran, dan menganugerahi kita kemampuan untuk mengikutinya, serta memberi kita pandangan yang jelas tentang kebatilan dan menganugerahi kita kemampuan untuk menjauhinya, dan agar perkara itu tidak menjadi samar bagi kita. Sungguh, Allah adalah sebaik-baik Dzat yang dimintai dan Maha Kuasa atas semua itu. Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau. ===== شَيْخَنَا الْفَاضِلَ، بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ مِنْ طَبِيعَةِ الْإِنْسَانِ أَنْ يُصِيبَهُ الْفُتُورُ فَمَا السَّبِيلُ إِلَى عِلَاجِ ذَلِكَ وَالْوِقَايَةِ مِنْهُ؟ أَفِيدُونَا بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ الْحَمْدُ لِلهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ الْآيَةَ وَيَقُولُ جَلَّ وَعَلَا: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَجَعَلَ هَذَا الْكَوْنَ يُحْكَمُ بِقَانُونِ الْمُعَاوَضَةِ قَالَ: وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَقَالَ: سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ قَالَ: الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ وَمَدَحَ الَّذِينَ يُبْعِدُونَ جُنُوبَهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ وَيَبْذُلُونَ أَمْوَالَهُمْ فَقَالَ فِي حَقِّهِمْ: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ وَبِنَاءً عَلَى هَذَا يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُكَابِدَ وَسَائِلَ الْفُتُورِ فَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ الِامْتِلَاءُ مِنَ الطَّعَامِ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ عَدَمُ إِعْطَاءِ الْجِسْمِ الرَّاحَةَ الْكَافِيَةَ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ التَّعَلُّقُ بِالتَّوَافِهِ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ صُحْبَةُ الْأَشْرَارِ وَضِعَافِ الْهِمَمِ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ الرَّغْبَةُ فِي الشَّهْوَةِ الْحَاضِرَةِ وَالزُّهْدُ فِي الْمَقَامَاتِ الْعُلْيَا الَّتِي هِيَ عَالِيَةٌ فَهُنَاكَ وَسَائِلُ فَإِذَا فَهِمَ الطَّالِبُ الْمُسْلِمُ وَتَعَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ يَعْرِفُ مَا فِي الِاجْتِهَادِ وَمَا فِي الْفُتُورِ مِنَ الضَّرَرِ وَلِذَلِكَ رَبُّنَا جَلَّ وَعَلَا قَالَ لِنَبِيِّهِ إِنَّهُ يَسْتَعِيذُ مِنَ الْكَسَلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ لِأَنَّ هَذِهِ أُمُورٌ مُضِرَّةٌ، فَالْكَسَلُ يَمْنَعُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْعِلْمِ وَيَمْنَعُهُ مِنَ الْبَذْلِ، وَيَمْنَعُهُ مِنَ الْإِنْتَاجِ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَعْتَنِيَ بِصِحَّةِ بَدَنِهِ أَوَّلًا حَتَّى يَكُونَ نَشِيطًا وَيَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ بِالْعِلْمِ فِي فَائِدَةِ الِاجْتِهَادِ وَالْعَمَلِ وَتَرْكِ التَّكَاسُلِ وَالْفُتُورِ وَيَنْبَغِي أَيْضًا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ الْجِسْمَ مَخْلُوقٌ وَيَحْتَاجُ إِلَى نَوْعٍ مِنَ الرَّاحَةِ كَمَا أَنَّهُ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُنَظِّمَ الْوَقْتَ لِأَنَّ لِلنَّفْسِ حَقًّا، وَلِلْأَهْلِ حَقًّا، وَلِلزَّوْجِ حَقًّا فَيَنْبَغِي أَنْ يُنَظِّمَ وَقْتَهُ حَتَّى يَسْتَطِيعَ أَنْ يُؤَدِّيَ الْوَاجِبَاتِ الْمَفْرُوضَةَ عَلَيْهِ وَيُسَدِّدَ وَيُقَارِبَ وَلَا بُدَّ لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَالَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُنْتِجَ أَنْ يُعْطِيَ لِجِسْمِهِ رَاحَةً حَتَّى يَسْتَطِيعَ أَنْ يُنْتِجَ مِنَ النَّوْمِ وَمِنَ الِاسْتِجْمَامِ وَمِنَ الْأَكْلِ الْجَيِّدِ وَمِنْ قِلَّةِ مُخَالَطَةِ غَيْرِ مَنْ تَرْفَعُهُ أَوْ يَرْفَعُكَ بِهَذِهِ الْأُمُورِ الْإِنْسَانُ يَسْتَفِيدُ فِي حَيَاتِهِ وَيَكْثُرُ إِنْتَاجُهُ وَأَكْثَرُ مَا قُلْنَا إِنَّ الْمُعَوِّقَاتِ الَّتِي تُعَوِّقُ هِيَ النَّاسُ وَالْمَالُ وَالنَّفْسُ وَالشَّيْطَانُ وَكُلُّ عِلَاجِ ذَلِكَ مَوْجُودٌ فِي النُّصُوصِ وَفِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَفِيهِ تَآلِيفُ كَثِيرَةٌ نَرْجُو اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يُبَصِّرَنَا بِالْحَقِّ وَيَرْزُقَنَا اتِّبَاعَهُ وَأَنْ يُبَصِّرَنَا بِالْبَاطِلِ وَيَرْزُقَنَا اجْتِنَابَهُ وَأَنْ لَا يَجْعَلَ الْأَمْرَ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا إِنَّهُ خَيْرُ مَسْؤُولٍ وَالْقَادِرُ عَلَى ذَلِكَ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
Syaikh kami yang mulia, semoga Allah memberkahi Anda. Sudah menjadi tabiat manusia mengalami futur (melemahnya semangat). Lantas, bagaimana cara mengatasinya dan mencegahnya? Mohon berikan faedah kepada kami. Semoga Allah memberkahi Anda. Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada sebaik-baik ciptaan Allah, keluarga dan para sahabat beliau, serta siapa pun yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Dan katakanlah, ‘Beramallah kalian, maka Allah akan melihat amal kalian…’” (QS. At-Taubah: 105) Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Allah menjadikan alam ini berjalan dengan prinsip timbal balik. Allah berfirman, “Penuhilah janji-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 40) Nabi juga bersabda, “Al-Mufarridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya, “Siapakah Al-Mufarridun?” Nabi menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Dan Allah memuji orang-orang yang menjauhkan lambung mereka dari tempat tidur dan menginfakkan harta mereka, lalu berfirman tentang mereka, “Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa kenikmatan yang menyenangkan hati…” (QS. As-Sajdah: 17) Berdasarkan hal ini, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh melawan berbagai penyebab futur. Di antara penyebab futur adalah makan terlalu kenyang. Penyebab lainnya adalah tidak memberi tubuh istirahat yang cukup. Termasuk pula penyebabnya, terlalu sibuk dengan hal-hal sepele. Serta bergaul dengan teman-teman buruk dan lemah semangatnya. Di antara penyebab futur lainnya, mengejar syahwat yang ada di depan mata dan tidak berminat pada kedudukan-kedudukan yang sangat tinggi. Jadi, ada berbagai penyebab futur. Apabila seorang pelajar muslim memahami dan mempelajari hal ini, ia akan mengetahui manfaat bersungguh-sungguh dan bahaya futur. Karena itu, Rabb kita Jalla wa ‘Ala berfirman kepada Nabi-Nya agar berlindung kepada-Nya dari kemalasan. “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan penindasan manusia.” (Lihat HR. Bukhari no. 6369, dengan lafaz yang berbeda). Karena semua ini membahayakan. Kemalasan menghalangi seseorang dari ilmu, menghalanginya dari berbagi, dan menghalanginya dari berkarya. Karena itu, seorang muslim hendaknya terlebih dahulu menjaga kesehatan tubuhnya agar tetap bersemangat. Hendaknya ia juga memahami manfaat kesungguhan dan amal, serta meninggalkan kemalasan dan futur. Ia juga perlu memahami bahwa tubuh adalah ciptaan Allah yang memerlukan istirahat. Ia juga hendaknya mengatur waktu, karena dirinya memiliki hak, keluarganya memiliki hak, dan pasangannya pun memiliki hak. Hendaknya pula ia mengatur waktunya agar mampu menunaikan berbagai kewajiban yang dibebankan kepadanya, serta berusaha menunaikannya dengan tepat dan sebaik mungkin. Seorang penuntut ilmu dan siapa pun yang ingin produktif harus memberi tubuhnya istirahat, agar dapat terus berkarya, baik dengan tidur, bersantai, maupun makan yang baik. Kurangi bergaul, kecuali dengan orang yang dapat kau buat lebih baik atau yang membuatmu lebih baik. Dengan hal-hal ini, seseorang akan lebih banyak mengambil manfaat dari hidupnya dan produktivitasnya pun meningkat. Dan yang paling sering kami sampaikan bahwa penghalang-penghalang yang menghambat itu adalah manusia, harta, diri sendiri, dan setan. Dan semua obat untuk mengatasinya terdapat dalam dalil-dalil, dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Banyak pula karya yang membahasnya. Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar memberi kita pandangan yang jelas tentang kebenaran, dan menganugerahi kita kemampuan untuk mengikutinya, serta memberi kita pandangan yang jelas tentang kebatilan dan menganugerahi kita kemampuan untuk menjauhinya, dan agar perkara itu tidak menjadi samar bagi kita. Sungguh, Allah adalah sebaik-baik Dzat yang dimintai dan Maha Kuasa atas semua itu. Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau. ===== شَيْخَنَا الْفَاضِلَ، بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ مِنْ طَبِيعَةِ الْإِنْسَانِ أَنْ يُصِيبَهُ الْفُتُورُ فَمَا السَّبِيلُ إِلَى عِلَاجِ ذَلِكَ وَالْوِقَايَةِ مِنْهُ؟ أَفِيدُونَا بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ الْحَمْدُ لِلهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ الْآيَةَ وَيَقُولُ جَلَّ وَعَلَا: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَجَعَلَ هَذَا الْكَوْنَ يُحْكَمُ بِقَانُونِ الْمُعَاوَضَةِ قَالَ: وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَقَالَ: سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ قَالَ: الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ وَمَدَحَ الَّذِينَ يُبْعِدُونَ جُنُوبَهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ وَيَبْذُلُونَ أَمْوَالَهُمْ فَقَالَ فِي حَقِّهِمْ: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ وَبِنَاءً عَلَى هَذَا يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُكَابِدَ وَسَائِلَ الْفُتُورِ فَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ الِامْتِلَاءُ مِنَ الطَّعَامِ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ عَدَمُ إِعْطَاءِ الْجِسْمِ الرَّاحَةَ الْكَافِيَةَ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ التَّعَلُّقُ بِالتَّوَافِهِ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ صُحْبَةُ الْأَشْرَارِ وَضِعَافِ الْهِمَمِ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ الرَّغْبَةُ فِي الشَّهْوَةِ الْحَاضِرَةِ وَالزُّهْدُ فِي الْمَقَامَاتِ الْعُلْيَا الَّتِي هِيَ عَالِيَةٌ فَهُنَاكَ وَسَائِلُ فَإِذَا فَهِمَ الطَّالِبُ الْمُسْلِمُ وَتَعَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ يَعْرِفُ مَا فِي الِاجْتِهَادِ وَمَا فِي الْفُتُورِ مِنَ الضَّرَرِ وَلِذَلِكَ رَبُّنَا جَلَّ وَعَلَا قَالَ لِنَبِيِّهِ إِنَّهُ يَسْتَعِيذُ مِنَ الْكَسَلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ لِأَنَّ هَذِهِ أُمُورٌ مُضِرَّةٌ، فَالْكَسَلُ يَمْنَعُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْعِلْمِ وَيَمْنَعُهُ مِنَ الْبَذْلِ، وَيَمْنَعُهُ مِنَ الْإِنْتَاجِ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَعْتَنِيَ بِصِحَّةِ بَدَنِهِ أَوَّلًا حَتَّى يَكُونَ نَشِيطًا وَيَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ بِالْعِلْمِ فِي فَائِدَةِ الِاجْتِهَادِ وَالْعَمَلِ وَتَرْكِ التَّكَاسُلِ وَالْفُتُورِ وَيَنْبَغِي أَيْضًا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ الْجِسْمَ مَخْلُوقٌ وَيَحْتَاجُ إِلَى نَوْعٍ مِنَ الرَّاحَةِ كَمَا أَنَّهُ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُنَظِّمَ الْوَقْتَ لِأَنَّ لِلنَّفْسِ حَقًّا، وَلِلْأَهْلِ حَقًّا، وَلِلزَّوْجِ حَقًّا فَيَنْبَغِي أَنْ يُنَظِّمَ وَقْتَهُ حَتَّى يَسْتَطِيعَ أَنْ يُؤَدِّيَ الْوَاجِبَاتِ الْمَفْرُوضَةَ عَلَيْهِ وَيُسَدِّدَ وَيُقَارِبَ وَلَا بُدَّ لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَالَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُنْتِجَ أَنْ يُعْطِيَ لِجِسْمِهِ رَاحَةً حَتَّى يَسْتَطِيعَ أَنْ يُنْتِجَ مِنَ النَّوْمِ وَمِنَ الِاسْتِجْمَامِ وَمِنَ الْأَكْلِ الْجَيِّدِ وَمِنْ قِلَّةِ مُخَالَطَةِ غَيْرِ مَنْ تَرْفَعُهُ أَوْ يَرْفَعُكَ بِهَذِهِ الْأُمُورِ الْإِنْسَانُ يَسْتَفِيدُ فِي حَيَاتِهِ وَيَكْثُرُ إِنْتَاجُهُ وَأَكْثَرُ مَا قُلْنَا إِنَّ الْمُعَوِّقَاتِ الَّتِي تُعَوِّقُ هِيَ النَّاسُ وَالْمَالُ وَالنَّفْسُ وَالشَّيْطَانُ وَكُلُّ عِلَاجِ ذَلِكَ مَوْجُودٌ فِي النُّصُوصِ وَفِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَفِيهِ تَآلِيفُ كَثِيرَةٌ نَرْجُو اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يُبَصِّرَنَا بِالْحَقِّ وَيَرْزُقَنَا اتِّبَاعَهُ وَأَنْ يُبَصِّرَنَا بِالْبَاطِلِ وَيَرْزُقَنَا اجْتِنَابَهُ وَأَنْ لَا يَجْعَلَ الْأَمْرَ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا إِنَّهُ خَيْرُ مَسْؤُولٍ وَالْقَادِرُ عَلَى ذَلِكَ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ


Syaikh kami yang mulia, semoga Allah memberkahi Anda. Sudah menjadi tabiat manusia mengalami futur (melemahnya semangat). Lantas, bagaimana cara mengatasinya dan mencegahnya? Mohon berikan faedah kepada kami. Semoga Allah memberkahi Anda. Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada sebaik-baik ciptaan Allah, keluarga dan para sahabat beliau, serta siapa pun yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Dan katakanlah, ‘Beramallah kalian, maka Allah akan melihat amal kalian…’” (QS. At-Taubah: 105) Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Allah menjadikan alam ini berjalan dengan prinsip timbal balik. Allah berfirman, “Penuhilah janji-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 40) Nabi juga bersabda, “Al-Mufarridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya, “Siapakah Al-Mufarridun?” Nabi menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Dan Allah memuji orang-orang yang menjauhkan lambung mereka dari tempat tidur dan menginfakkan harta mereka, lalu berfirman tentang mereka, “Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa kenikmatan yang menyenangkan hati…” (QS. As-Sajdah: 17) Berdasarkan hal ini, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh melawan berbagai penyebab futur. Di antara penyebab futur adalah makan terlalu kenyang. Penyebab lainnya adalah tidak memberi tubuh istirahat yang cukup. Termasuk pula penyebabnya, terlalu sibuk dengan hal-hal sepele. Serta bergaul dengan teman-teman buruk dan lemah semangatnya. Di antara penyebab futur lainnya, mengejar syahwat yang ada di depan mata dan tidak berminat pada kedudukan-kedudukan yang sangat tinggi. Jadi, ada berbagai penyebab futur. Apabila seorang pelajar muslim memahami dan mempelajari hal ini, ia akan mengetahui manfaat bersungguh-sungguh dan bahaya futur. Karena itu, Rabb kita Jalla wa ‘Ala berfirman kepada Nabi-Nya agar berlindung kepada-Nya dari kemalasan. “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan penindasan manusia.” (Lihat HR. Bukhari no. 6369, dengan lafaz yang berbeda). Karena semua ini membahayakan. Kemalasan menghalangi seseorang dari ilmu, menghalanginya dari berbagi, dan menghalanginya dari berkarya. Karena itu, seorang muslim hendaknya terlebih dahulu menjaga kesehatan tubuhnya agar tetap bersemangat. Hendaknya ia juga memahami manfaat kesungguhan dan amal, serta meninggalkan kemalasan dan futur. Ia juga perlu memahami bahwa tubuh adalah ciptaan Allah yang memerlukan istirahat. Ia juga hendaknya mengatur waktu, karena dirinya memiliki hak, keluarganya memiliki hak, dan pasangannya pun memiliki hak. Hendaknya pula ia mengatur waktunya agar mampu menunaikan berbagai kewajiban yang dibebankan kepadanya, serta berusaha menunaikannya dengan tepat dan sebaik mungkin. Seorang penuntut ilmu dan siapa pun yang ingin produktif harus memberi tubuhnya istirahat, agar dapat terus berkarya, baik dengan tidur, bersantai, maupun makan yang baik. Kurangi bergaul, kecuali dengan orang yang dapat kau buat lebih baik atau yang membuatmu lebih baik. Dengan hal-hal ini, seseorang akan lebih banyak mengambil manfaat dari hidupnya dan produktivitasnya pun meningkat. Dan yang paling sering kami sampaikan bahwa penghalang-penghalang yang menghambat itu adalah manusia, harta, diri sendiri, dan setan. Dan semua obat untuk mengatasinya terdapat dalam dalil-dalil, dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Banyak pula karya yang membahasnya. Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar memberi kita pandangan yang jelas tentang kebenaran, dan menganugerahi kita kemampuan untuk mengikutinya, serta memberi kita pandangan yang jelas tentang kebatilan dan menganugerahi kita kemampuan untuk menjauhinya, dan agar perkara itu tidak menjadi samar bagi kita. Sungguh, Allah adalah sebaik-baik Dzat yang dimintai dan Maha Kuasa atas semua itu. Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau. ===== شَيْخَنَا الْفَاضِلَ، بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ مِنْ طَبِيعَةِ الْإِنْسَانِ أَنْ يُصِيبَهُ الْفُتُورُ فَمَا السَّبِيلُ إِلَى عِلَاجِ ذَلِكَ وَالْوِقَايَةِ مِنْهُ؟ أَفِيدُونَا بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ الْحَمْدُ لِلهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ الْآيَةَ وَيَقُولُ جَلَّ وَعَلَا: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَجَعَلَ هَذَا الْكَوْنَ يُحْكَمُ بِقَانُونِ الْمُعَاوَضَةِ قَالَ: وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَقَالَ: سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ قَالَ: الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ وَمَدَحَ الَّذِينَ يُبْعِدُونَ جُنُوبَهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ وَيَبْذُلُونَ أَمْوَالَهُمْ فَقَالَ فِي حَقِّهِمْ: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ وَبِنَاءً عَلَى هَذَا يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُكَابِدَ وَسَائِلَ الْفُتُورِ فَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ الِامْتِلَاءُ مِنَ الطَّعَامِ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ عَدَمُ إِعْطَاءِ الْجِسْمِ الرَّاحَةَ الْكَافِيَةَ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ التَّعَلُّقُ بِالتَّوَافِهِ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ صُحْبَةُ الْأَشْرَارِ وَضِعَافِ الْهِمَمِ وَمِنْ وَسَائِلِ الْفُتُورِ الرَّغْبَةُ فِي الشَّهْوَةِ الْحَاضِرَةِ وَالزُّهْدُ فِي الْمَقَامَاتِ الْعُلْيَا الَّتِي هِيَ عَالِيَةٌ فَهُنَاكَ وَسَائِلُ فَإِذَا فَهِمَ الطَّالِبُ الْمُسْلِمُ وَتَعَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ يَعْرِفُ مَا فِي الِاجْتِهَادِ وَمَا فِي الْفُتُورِ مِنَ الضَّرَرِ وَلِذَلِكَ رَبُّنَا جَلَّ وَعَلَا قَالَ لِنَبِيِّهِ إِنَّهُ يَسْتَعِيذُ مِنَ الْكَسَلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ لِأَنَّ هَذِهِ أُمُورٌ مُضِرَّةٌ، فَالْكَسَلُ يَمْنَعُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْعِلْمِ وَيَمْنَعُهُ مِنَ الْبَذْلِ، وَيَمْنَعُهُ مِنَ الْإِنْتَاجِ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَعْتَنِيَ بِصِحَّةِ بَدَنِهِ أَوَّلًا حَتَّى يَكُونَ نَشِيطًا وَيَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ بِالْعِلْمِ فِي فَائِدَةِ الِاجْتِهَادِ وَالْعَمَلِ وَتَرْكِ التَّكَاسُلِ وَالْفُتُورِ وَيَنْبَغِي أَيْضًا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ الْجِسْمَ مَخْلُوقٌ وَيَحْتَاجُ إِلَى نَوْعٍ مِنَ الرَّاحَةِ كَمَا أَنَّهُ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُنَظِّمَ الْوَقْتَ لِأَنَّ لِلنَّفْسِ حَقًّا، وَلِلْأَهْلِ حَقًّا، وَلِلزَّوْجِ حَقًّا فَيَنْبَغِي أَنْ يُنَظِّمَ وَقْتَهُ حَتَّى يَسْتَطِيعَ أَنْ يُؤَدِّيَ الْوَاجِبَاتِ الْمَفْرُوضَةَ عَلَيْهِ وَيُسَدِّدَ وَيُقَارِبَ وَلَا بُدَّ لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَالَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُنْتِجَ أَنْ يُعْطِيَ لِجِسْمِهِ رَاحَةً حَتَّى يَسْتَطِيعَ أَنْ يُنْتِجَ مِنَ النَّوْمِ وَمِنَ الِاسْتِجْمَامِ وَمِنَ الْأَكْلِ الْجَيِّدِ وَمِنْ قِلَّةِ مُخَالَطَةِ غَيْرِ مَنْ تَرْفَعُهُ أَوْ يَرْفَعُكَ بِهَذِهِ الْأُمُورِ الْإِنْسَانُ يَسْتَفِيدُ فِي حَيَاتِهِ وَيَكْثُرُ إِنْتَاجُهُ وَأَكْثَرُ مَا قُلْنَا إِنَّ الْمُعَوِّقَاتِ الَّتِي تُعَوِّقُ هِيَ النَّاسُ وَالْمَالُ وَالنَّفْسُ وَالشَّيْطَانُ وَكُلُّ عِلَاجِ ذَلِكَ مَوْجُودٌ فِي النُّصُوصِ وَفِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَفِيهِ تَآلِيفُ كَثِيرَةٌ نَرْجُو اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يُبَصِّرَنَا بِالْحَقِّ وَيَرْزُقَنَا اتِّبَاعَهُ وَأَنْ يُبَصِّرَنَا بِالْبَاطِلِ وَيَرْزُقَنَا اجْتِنَابَهُ وَأَنْ لَا يَجْعَلَ الْأَمْرَ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا إِنَّهُ خَيْرُ مَسْؤُولٍ وَالْقَادِرُ عَلَى ذَلِكَ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ

KUNCI HATI TENANG DAN MENTAL KUAT DI ZAMAN PENUH KETAKUTAN – Syaikh Abdul Aziz bin Rayyis Ar-Rayyis

Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, setan memiliki tujuan besar dan kesungguhan luar biasa untuk menanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang beriman, yakni setan menanamkan rasa takut kepada selain Allah ke dalam hati orang-orang beriman. Sebab, sebesar rasa takutnya kepada selain Allah, sebesar itu pula iman dan tauhidnya melemah. Apabila seorang mukmin takut kepada selain Allah, rasa takut itu menjadi pintu masuk bagi setan. Seperti rasa sedih, setan sangat berambisi membuat orang-orang beriman bersedih, sebagaimana Allah Subhanahu berfirman, “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu hanyalah dari setan agar orang-orang yang beriman bersedih.” (QS. Al-Mujadilah: 10) Setan benar-benar berambisi membuat orang-orang beriman bersedih. Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala menyebutkan dalam kitab Madarijus Salikin dan Thariqul Hijratain, bahwa Allah tidak menyukai kesedihan, kesedihan melemahkan iman, sedangkan setan menyukai kesedihan. Mengapa? Karena kesedihan menyibukkan seorang hamba dari ketaatan kepada Allah, melemahkan dirinya dan melemahkan hatinya. Demikian pula dengan rasa takut. Maka, wahai orang-orang beriman, waspadalah terhadap rasa takut kepada selain Allah. Manusia hari ini hidup dalam kepanikan, kegelisahan, ketakutan akan masa depan, dan berbagai kekhawatiran yang sebenarnya tidak ada, belum lagi kekhawatiran terhadap hal-hal yang memang mungkin terjadi. Namun, ketika iman dan tauhid telah kuat di dalam hati, ia tidak takut kecuali kepada Allah. Ketika seseorang berselisih dengan teman atau mitra dalam mencari rezeki, jangan ia menganggap bahwa rezekinya telah berakhir. Hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan mitranya. Jika kerja sama itu berlanjut, alhamdulillah. Jika tidak, boleh jadi Allah telah menjauhkannya dari suatu keburukan. Ketika ia berselisih dengan istrinya, ia merasa dunia telah sempit dan segalanya berakhir. Padahal, boleh jadi Allah menghendaki kebaikan melalui perpisahan mereka, dan boleh jadi Allah menghendaki kebaikan dengan terjalinnya kembali hubungan yang jauh lebih baik setelah itu. Maka, janganlah seseorang berlebihan dalam kekhawatiran. Anaknya sakit, ia pun panik. Ia terkena kanker atau penyakit lainnya semisal kanker. Ia merasa, “Sudah berakhir. Semuanya telah berakhir.” Tidak, belum berakhir! Engkau seorang mukmin. Kehidupan dunia adalah negeri ujian dan tempat persinggahan. Dunia ini tidak ada apa-apanya. Demi Allah Yang Maha Agung, orang yang meninggal karena penyakit seperti kanker dan penyakit lainnya, dari satu sisi, lebih baik keadaannya daripada orang yang meninggal secara mendadak. Sebab, sakit yang dilaluinya menjadi penghapus dosa dan peringatan baginya untuk mengoreksi dirinya. Adapun orang yang meninggal secara mendadak, dari satu sisi ia tidak memperoleh kesempatan seperti ini. Allah Maha Pengasih dan Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya. Maka berbaik sangkalah kepada Allah. “Sedangkan segolongan lain telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah, seperti sangkaan jahiliah.” (QS. Ali ‘Imran: 154) Maka, wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian takut kecuali kepada Allah. Jangan takut terhadap masa depan, kemiskinan, maupun penyakit, juga ketakutan atas dirimu, anakmu, dan selainnya. Seluruh urusan adalah milik Allah. Jika engkau menengok kembali perjalanan hidupmu, niscaya engkau mendapati perkara-perkara yang dahulu sangat engkau sesali, namun engkau mendapati ternyata menyimpan kebaikan yang tak pernah terlintas di benakmu. Demikian pula dalam berbagai kisah manusia. Ada yang diberhentikan dari pekerjaannya, lalu orang-orang menyangka rezekinya telah berakhir, namun ternyata dibukakan baginya rezeki yang sangat besar. Sang Maha Pemberi Rezeki adalah Allah. Apa yang telah ditetapkan untukmu pasti akan datang kepadamu. Ketahuilah, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim, jika kemiskinan ditakdirkan atasmu, maka itu adalah kebaikan bagimu, karena engkau bukan dipersiapkan untuk dunia, melainkan untuk akhirat. Dan jika penyakit ditakdirkan atasmu, maka itu adalah kebaikan bagimu, karena Allah menghendakimu untuk akhirat. Demikian seterusnya. Aku memohon kepada Allah agar meliputi kami dan kalian dengan rahmat-Nya serta menganugerahkan keyakinan kepada kita. Dialah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, dan semoga kita tidak takut kecuali kepada Allah Subhanahu. Apakah ini berarti kita meninggalkan sebab-sebab (ikhtiar)? Tentu tidak. Hari ini kita justru menghadapi krisis berupa sikap berlebihan terhadap sebab-sebab, dengan dalih bahwa kita tidak boleh meninggalkan sebab-sebab (ikhtiar). ===== لِذَا يَا إِخْوَانِي إِنَّ لِلشَّيْطَانِ مَقْصَدًا كَبِيرًا وَاجْتِهَادًا عَظِيمًا فِي أَنْ يَغْرِسَ الْخَوْفَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَغْرِسَ الْخَوْفَ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِأَنَّهُ بِقَدْرِ مَا يَخَافُ مِنْ غَيْرِ اللهِ يَضْعُفُ الْإِيمَانُ وَيَضْعُفُ التَّوْحِيدُ فَإِذَا خَافَ الْمُؤْمِنُ مِنْ غَيْرِ اللهِ صَارَ مَدْخَلًا لِلشَّيْطَانِ كَالْحُزْنِ الشَّيْطَانُ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ يُحْزِنَ أَهْلَ الْإِيمَانِ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا فَالشَّيْطَانُ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ يُحْزِنَ أَهْلَ الْإِيمَانِ قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِ مَدَارِجِ السَّالِكِينَ وَطَرِيقِ الْهِجْرَتَيْنِ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْحُزْنَ وَالْحُزْنُ يُضْعِفُ الْإِيمَانَ، وَالشَّيْطَانُ يُحِبُّ الْحُزْنَ لِمَاذَا؟ إِنَّهُ يَشْغَلُ الْعَبْدَ عَنْ طَاعَةِ اللهِ يُضْعِفُهُ وَيُضْعِفُ قَلْبَهُ، وَمِنْ ذَلِكَ الْخَوْفُ فَيَا أَهْلَ الْإِيمَانِ إِيَّاكُمْ وَالْخَوْفَ مِنْ غَيْرِ اللهِ وَالنَّاسُ يَعِيشُونَ الْيَوْمَ هَلَعًا وَجَزَعًا وَخَوْفًا مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ وَأَوْهَامًا لَا وُجُودَ لَهَا فَضْلًا عَنِ الْأَوْهَامِ الَّتِي قَدْ تَكُونُ لَكِنْ إِذَا قَوِيَ الْإِيمَانُ فِي الْقَلْبِ وَقَوِيَ التَّوْحِيدُ لَا يَخْشَى إِلَّا اللهَ اخْتَلَفَ مَعَ صَاحِبِهِ وَشَرِيكِهِ فِي طَلَبِ رِزْقِهِ لَا يَعُدُّ الرِّزْقَ انْتَهَى يَتَّقِي اللهَ فِي شَرِيكِهِ إِنْ تَمَّ فَالْحَمْدُ لِلهِ، مَا تَمَّ فَلَعَلَّ اللهَ قَدْ صَرَفَهُ عَنْ شَرٍّ اخْتَلَفَ هُوَ وَزَوْجَتُهُ يَشْعُرُ الدُّنْيَا ضَاقَتْ وَانْتَهَتْ لَعَلَّ اللهَ أَرَادَ خَيْرًا بِفِرَاقِهَا وَلَعَلَّ اللهَ أَرَادَ خَيْرًا بِأَنْ يَحْصُلَ وِفَاقٌ بَعْدَ ذَلِكَ أَحْسَنَ وَأَحْسَنَ فَلَا يُبَالِغُ الْإِنْسَانُ فِي الْهُمُومِ مَرِضَ وَلَدُهُ يَهْلَعُ أُصِيبَ بِالسَّرَطَانِ، بِهَذِهِ الْأَمْرَاضِ كَالسَّرَطَانِ وَغَيْرِهِ انْتَهَتْ انْتَهَى الْأَمْرُ مَا انْتَهَى أَنْتَ مُؤْمِنٌ حَيَاةُ الدُّنْيَا دَارُ الِابْتِلَاءِ وَدَارُ الْعُبُورِ لَيْسَتْ شَيْئًا وَاللهِ الْعَظِيمِ، إِنَّ مَنْ مَاتَ بِأَمْرَاضٍ كَالسَّرَطَانِ وَغَيْرِهِ أَحْسَنُ مِنْ وَجْهٍ مِمَّنْ مَاتَ فَجْأَةً لِأَنَّ هَذَا مَرَّ بِكَفَّارَاتٍ وَصَارَ إِنْذَارًا لَهُ، وَيَرَى أَنْ يُرَاجِعَ نَفْسَهُ أَمَّا الَّذِي مَاتَ فَجْأَةً فَمِنْ وَجْهٍ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ مِثْلُ هَذَا فَاللهُ رَحْمَنٌ، اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ، فَأَحْسِنِ الظَّنَّ بِاللهِ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَا إِخْوَانُ لَا تَخَافُوا إِلَّا مِنَ اللهِ لَا الْخَوْفَ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، لَا الْخَوْفَ مِنَ الْفَقْرِ، لَا الْخَوْفَ مِنَ الْمَرَضِ لَا الْخَوْفَ عَلَى نَفْسِكَ وَعَلَى وَلَدِكَ وَغَيْرِ ذَلِكَ الْأَمْرُ كُلُّهُ لِلهِ وَلَوْ رَأَيْتَ فِي حَيَاتِكَ وَرَاجَعْتَهَا وَجَدْتَ أُمُورًا كُنْتَ مُتَحَسِّرًا لَهَا رَأَيْتَ فِيهَا خَيْرًا لَمْ يَخْطُرْ لَكَ بِالْبَالِ وَكَذَا فِي أَخْبَارِ النَّاسِ وَقِصَصِهِمْ مِنْهُمْ مَنْ فُصِلَ مِنْ عَمَلِهِ فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ انْتَهَى رِزْقُهُ فَقَدْ فُتِحَ عَلَيْهِ رِزْقٌ عَظِيمٌ الرَّزَّاقُ هُوَ اللهُ مَا كَتَبَ لَكَ سَيَأْتِيكَ وَاعْلَمْ كَمَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ: أَنَّهُ إِذَا قُدِّرَ عَلَيْكَ الْفَقْرُ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ لِأَنَّكَ لَسْتَ مُرَادًا لِلدُّنْيَا، إِنَّمَا مُرَادٌ لِلْآخِرَةِ وَإِنْ قُدِّرَ عَلَيْكَ الْمَرَضُ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ لِأَنَّ اللهَ يُرِيدُكَ لِلْآخِرَةِ وَهَكَذَا أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَعُمَّنَا وَإِيَّاكُمْ بِرَحْمَتِهِ وَأَنْ يَرْزُقَنَا الْيَقِينَ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ وَأَلَّا نَخَافَ إِلَّا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ هَلْ يَعْنِي هَذَا تَرْكَ الْأَسْبَابِ؟ كَلَّا الْيَوْمَ نَحْنُ نَعِيشُ أَزْمَةَ الْمُبَالَغَةِ فِي الْأَسْبَابِ بِحُجَّةِ عَدَمِ تَرْكِ الْأَسْبَابِ

KUNCI HATI TENANG DAN MENTAL KUAT DI ZAMAN PENUH KETAKUTAN – Syaikh Abdul Aziz bin Rayyis Ar-Rayyis

Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, setan memiliki tujuan besar dan kesungguhan luar biasa untuk menanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang beriman, yakni setan menanamkan rasa takut kepada selain Allah ke dalam hati orang-orang beriman. Sebab, sebesar rasa takutnya kepada selain Allah, sebesar itu pula iman dan tauhidnya melemah. Apabila seorang mukmin takut kepada selain Allah, rasa takut itu menjadi pintu masuk bagi setan. Seperti rasa sedih, setan sangat berambisi membuat orang-orang beriman bersedih, sebagaimana Allah Subhanahu berfirman, “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu hanyalah dari setan agar orang-orang yang beriman bersedih.” (QS. Al-Mujadilah: 10) Setan benar-benar berambisi membuat orang-orang beriman bersedih. Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala menyebutkan dalam kitab Madarijus Salikin dan Thariqul Hijratain, bahwa Allah tidak menyukai kesedihan, kesedihan melemahkan iman, sedangkan setan menyukai kesedihan. Mengapa? Karena kesedihan menyibukkan seorang hamba dari ketaatan kepada Allah, melemahkan dirinya dan melemahkan hatinya. Demikian pula dengan rasa takut. Maka, wahai orang-orang beriman, waspadalah terhadap rasa takut kepada selain Allah. Manusia hari ini hidup dalam kepanikan, kegelisahan, ketakutan akan masa depan, dan berbagai kekhawatiran yang sebenarnya tidak ada, belum lagi kekhawatiran terhadap hal-hal yang memang mungkin terjadi. Namun, ketika iman dan tauhid telah kuat di dalam hati, ia tidak takut kecuali kepada Allah. Ketika seseorang berselisih dengan teman atau mitra dalam mencari rezeki, jangan ia menganggap bahwa rezekinya telah berakhir. Hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan mitranya. Jika kerja sama itu berlanjut, alhamdulillah. Jika tidak, boleh jadi Allah telah menjauhkannya dari suatu keburukan. Ketika ia berselisih dengan istrinya, ia merasa dunia telah sempit dan segalanya berakhir. Padahal, boleh jadi Allah menghendaki kebaikan melalui perpisahan mereka, dan boleh jadi Allah menghendaki kebaikan dengan terjalinnya kembali hubungan yang jauh lebih baik setelah itu. Maka, janganlah seseorang berlebihan dalam kekhawatiran. Anaknya sakit, ia pun panik. Ia terkena kanker atau penyakit lainnya semisal kanker. Ia merasa, “Sudah berakhir. Semuanya telah berakhir.” Tidak, belum berakhir! Engkau seorang mukmin. Kehidupan dunia adalah negeri ujian dan tempat persinggahan. Dunia ini tidak ada apa-apanya. Demi Allah Yang Maha Agung, orang yang meninggal karena penyakit seperti kanker dan penyakit lainnya, dari satu sisi, lebih baik keadaannya daripada orang yang meninggal secara mendadak. Sebab, sakit yang dilaluinya menjadi penghapus dosa dan peringatan baginya untuk mengoreksi dirinya. Adapun orang yang meninggal secara mendadak, dari satu sisi ia tidak memperoleh kesempatan seperti ini. Allah Maha Pengasih dan Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya. Maka berbaik sangkalah kepada Allah. “Sedangkan segolongan lain telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah, seperti sangkaan jahiliah.” (QS. Ali ‘Imran: 154) Maka, wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian takut kecuali kepada Allah. Jangan takut terhadap masa depan, kemiskinan, maupun penyakit, juga ketakutan atas dirimu, anakmu, dan selainnya. Seluruh urusan adalah milik Allah. Jika engkau menengok kembali perjalanan hidupmu, niscaya engkau mendapati perkara-perkara yang dahulu sangat engkau sesali, namun engkau mendapati ternyata menyimpan kebaikan yang tak pernah terlintas di benakmu. Demikian pula dalam berbagai kisah manusia. Ada yang diberhentikan dari pekerjaannya, lalu orang-orang menyangka rezekinya telah berakhir, namun ternyata dibukakan baginya rezeki yang sangat besar. Sang Maha Pemberi Rezeki adalah Allah. Apa yang telah ditetapkan untukmu pasti akan datang kepadamu. Ketahuilah, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim, jika kemiskinan ditakdirkan atasmu, maka itu adalah kebaikan bagimu, karena engkau bukan dipersiapkan untuk dunia, melainkan untuk akhirat. Dan jika penyakit ditakdirkan atasmu, maka itu adalah kebaikan bagimu, karena Allah menghendakimu untuk akhirat. Demikian seterusnya. Aku memohon kepada Allah agar meliputi kami dan kalian dengan rahmat-Nya serta menganugerahkan keyakinan kepada kita. Dialah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, dan semoga kita tidak takut kecuali kepada Allah Subhanahu. Apakah ini berarti kita meninggalkan sebab-sebab (ikhtiar)? Tentu tidak. Hari ini kita justru menghadapi krisis berupa sikap berlebihan terhadap sebab-sebab, dengan dalih bahwa kita tidak boleh meninggalkan sebab-sebab (ikhtiar). ===== لِذَا يَا إِخْوَانِي إِنَّ لِلشَّيْطَانِ مَقْصَدًا كَبِيرًا وَاجْتِهَادًا عَظِيمًا فِي أَنْ يَغْرِسَ الْخَوْفَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَغْرِسَ الْخَوْفَ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِأَنَّهُ بِقَدْرِ مَا يَخَافُ مِنْ غَيْرِ اللهِ يَضْعُفُ الْإِيمَانُ وَيَضْعُفُ التَّوْحِيدُ فَإِذَا خَافَ الْمُؤْمِنُ مِنْ غَيْرِ اللهِ صَارَ مَدْخَلًا لِلشَّيْطَانِ كَالْحُزْنِ الشَّيْطَانُ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ يُحْزِنَ أَهْلَ الْإِيمَانِ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا فَالشَّيْطَانُ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ يُحْزِنَ أَهْلَ الْإِيمَانِ قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِ مَدَارِجِ السَّالِكِينَ وَطَرِيقِ الْهِجْرَتَيْنِ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْحُزْنَ وَالْحُزْنُ يُضْعِفُ الْإِيمَانَ، وَالشَّيْطَانُ يُحِبُّ الْحُزْنَ لِمَاذَا؟ إِنَّهُ يَشْغَلُ الْعَبْدَ عَنْ طَاعَةِ اللهِ يُضْعِفُهُ وَيُضْعِفُ قَلْبَهُ، وَمِنْ ذَلِكَ الْخَوْفُ فَيَا أَهْلَ الْإِيمَانِ إِيَّاكُمْ وَالْخَوْفَ مِنْ غَيْرِ اللهِ وَالنَّاسُ يَعِيشُونَ الْيَوْمَ هَلَعًا وَجَزَعًا وَخَوْفًا مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ وَأَوْهَامًا لَا وُجُودَ لَهَا فَضْلًا عَنِ الْأَوْهَامِ الَّتِي قَدْ تَكُونُ لَكِنْ إِذَا قَوِيَ الْإِيمَانُ فِي الْقَلْبِ وَقَوِيَ التَّوْحِيدُ لَا يَخْشَى إِلَّا اللهَ اخْتَلَفَ مَعَ صَاحِبِهِ وَشَرِيكِهِ فِي طَلَبِ رِزْقِهِ لَا يَعُدُّ الرِّزْقَ انْتَهَى يَتَّقِي اللهَ فِي شَرِيكِهِ إِنْ تَمَّ فَالْحَمْدُ لِلهِ، مَا تَمَّ فَلَعَلَّ اللهَ قَدْ صَرَفَهُ عَنْ شَرٍّ اخْتَلَفَ هُوَ وَزَوْجَتُهُ يَشْعُرُ الدُّنْيَا ضَاقَتْ وَانْتَهَتْ لَعَلَّ اللهَ أَرَادَ خَيْرًا بِفِرَاقِهَا وَلَعَلَّ اللهَ أَرَادَ خَيْرًا بِأَنْ يَحْصُلَ وِفَاقٌ بَعْدَ ذَلِكَ أَحْسَنَ وَأَحْسَنَ فَلَا يُبَالِغُ الْإِنْسَانُ فِي الْهُمُومِ مَرِضَ وَلَدُهُ يَهْلَعُ أُصِيبَ بِالسَّرَطَانِ، بِهَذِهِ الْأَمْرَاضِ كَالسَّرَطَانِ وَغَيْرِهِ انْتَهَتْ انْتَهَى الْأَمْرُ مَا انْتَهَى أَنْتَ مُؤْمِنٌ حَيَاةُ الدُّنْيَا دَارُ الِابْتِلَاءِ وَدَارُ الْعُبُورِ لَيْسَتْ شَيْئًا وَاللهِ الْعَظِيمِ، إِنَّ مَنْ مَاتَ بِأَمْرَاضٍ كَالسَّرَطَانِ وَغَيْرِهِ أَحْسَنُ مِنْ وَجْهٍ مِمَّنْ مَاتَ فَجْأَةً لِأَنَّ هَذَا مَرَّ بِكَفَّارَاتٍ وَصَارَ إِنْذَارًا لَهُ، وَيَرَى أَنْ يُرَاجِعَ نَفْسَهُ أَمَّا الَّذِي مَاتَ فَجْأَةً فَمِنْ وَجْهٍ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ مِثْلُ هَذَا فَاللهُ رَحْمَنٌ، اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ، فَأَحْسِنِ الظَّنَّ بِاللهِ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَا إِخْوَانُ لَا تَخَافُوا إِلَّا مِنَ اللهِ لَا الْخَوْفَ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، لَا الْخَوْفَ مِنَ الْفَقْرِ، لَا الْخَوْفَ مِنَ الْمَرَضِ لَا الْخَوْفَ عَلَى نَفْسِكَ وَعَلَى وَلَدِكَ وَغَيْرِ ذَلِكَ الْأَمْرُ كُلُّهُ لِلهِ وَلَوْ رَأَيْتَ فِي حَيَاتِكَ وَرَاجَعْتَهَا وَجَدْتَ أُمُورًا كُنْتَ مُتَحَسِّرًا لَهَا رَأَيْتَ فِيهَا خَيْرًا لَمْ يَخْطُرْ لَكَ بِالْبَالِ وَكَذَا فِي أَخْبَارِ النَّاسِ وَقِصَصِهِمْ مِنْهُمْ مَنْ فُصِلَ مِنْ عَمَلِهِ فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ انْتَهَى رِزْقُهُ فَقَدْ فُتِحَ عَلَيْهِ رِزْقٌ عَظِيمٌ الرَّزَّاقُ هُوَ اللهُ مَا كَتَبَ لَكَ سَيَأْتِيكَ وَاعْلَمْ كَمَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ: أَنَّهُ إِذَا قُدِّرَ عَلَيْكَ الْفَقْرُ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ لِأَنَّكَ لَسْتَ مُرَادًا لِلدُّنْيَا، إِنَّمَا مُرَادٌ لِلْآخِرَةِ وَإِنْ قُدِّرَ عَلَيْكَ الْمَرَضُ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ لِأَنَّ اللهَ يُرِيدُكَ لِلْآخِرَةِ وَهَكَذَا أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَعُمَّنَا وَإِيَّاكُمْ بِرَحْمَتِهِ وَأَنْ يَرْزُقَنَا الْيَقِينَ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ وَأَلَّا نَخَافَ إِلَّا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ هَلْ يَعْنِي هَذَا تَرْكَ الْأَسْبَابِ؟ كَلَّا الْيَوْمَ نَحْنُ نَعِيشُ أَزْمَةَ الْمُبَالَغَةِ فِي الْأَسْبَابِ بِحُجَّةِ عَدَمِ تَرْكِ الْأَسْبَابِ
Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, setan memiliki tujuan besar dan kesungguhan luar biasa untuk menanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang beriman, yakni setan menanamkan rasa takut kepada selain Allah ke dalam hati orang-orang beriman. Sebab, sebesar rasa takutnya kepada selain Allah, sebesar itu pula iman dan tauhidnya melemah. Apabila seorang mukmin takut kepada selain Allah, rasa takut itu menjadi pintu masuk bagi setan. Seperti rasa sedih, setan sangat berambisi membuat orang-orang beriman bersedih, sebagaimana Allah Subhanahu berfirman, “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu hanyalah dari setan agar orang-orang yang beriman bersedih.” (QS. Al-Mujadilah: 10) Setan benar-benar berambisi membuat orang-orang beriman bersedih. Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala menyebutkan dalam kitab Madarijus Salikin dan Thariqul Hijratain, bahwa Allah tidak menyukai kesedihan, kesedihan melemahkan iman, sedangkan setan menyukai kesedihan. Mengapa? Karena kesedihan menyibukkan seorang hamba dari ketaatan kepada Allah, melemahkan dirinya dan melemahkan hatinya. Demikian pula dengan rasa takut. Maka, wahai orang-orang beriman, waspadalah terhadap rasa takut kepada selain Allah. Manusia hari ini hidup dalam kepanikan, kegelisahan, ketakutan akan masa depan, dan berbagai kekhawatiran yang sebenarnya tidak ada, belum lagi kekhawatiran terhadap hal-hal yang memang mungkin terjadi. Namun, ketika iman dan tauhid telah kuat di dalam hati, ia tidak takut kecuali kepada Allah. Ketika seseorang berselisih dengan teman atau mitra dalam mencari rezeki, jangan ia menganggap bahwa rezekinya telah berakhir. Hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan mitranya. Jika kerja sama itu berlanjut, alhamdulillah. Jika tidak, boleh jadi Allah telah menjauhkannya dari suatu keburukan. Ketika ia berselisih dengan istrinya, ia merasa dunia telah sempit dan segalanya berakhir. Padahal, boleh jadi Allah menghendaki kebaikan melalui perpisahan mereka, dan boleh jadi Allah menghendaki kebaikan dengan terjalinnya kembali hubungan yang jauh lebih baik setelah itu. Maka, janganlah seseorang berlebihan dalam kekhawatiran. Anaknya sakit, ia pun panik. Ia terkena kanker atau penyakit lainnya semisal kanker. Ia merasa, “Sudah berakhir. Semuanya telah berakhir.” Tidak, belum berakhir! Engkau seorang mukmin. Kehidupan dunia adalah negeri ujian dan tempat persinggahan. Dunia ini tidak ada apa-apanya. Demi Allah Yang Maha Agung, orang yang meninggal karena penyakit seperti kanker dan penyakit lainnya, dari satu sisi, lebih baik keadaannya daripada orang yang meninggal secara mendadak. Sebab, sakit yang dilaluinya menjadi penghapus dosa dan peringatan baginya untuk mengoreksi dirinya. Adapun orang yang meninggal secara mendadak, dari satu sisi ia tidak memperoleh kesempatan seperti ini. Allah Maha Pengasih dan Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya. Maka berbaik sangkalah kepada Allah. “Sedangkan segolongan lain telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah, seperti sangkaan jahiliah.” (QS. Ali ‘Imran: 154) Maka, wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian takut kecuali kepada Allah. Jangan takut terhadap masa depan, kemiskinan, maupun penyakit, juga ketakutan atas dirimu, anakmu, dan selainnya. Seluruh urusan adalah milik Allah. Jika engkau menengok kembali perjalanan hidupmu, niscaya engkau mendapati perkara-perkara yang dahulu sangat engkau sesali, namun engkau mendapati ternyata menyimpan kebaikan yang tak pernah terlintas di benakmu. Demikian pula dalam berbagai kisah manusia. Ada yang diberhentikan dari pekerjaannya, lalu orang-orang menyangka rezekinya telah berakhir, namun ternyata dibukakan baginya rezeki yang sangat besar. Sang Maha Pemberi Rezeki adalah Allah. Apa yang telah ditetapkan untukmu pasti akan datang kepadamu. Ketahuilah, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim, jika kemiskinan ditakdirkan atasmu, maka itu adalah kebaikan bagimu, karena engkau bukan dipersiapkan untuk dunia, melainkan untuk akhirat. Dan jika penyakit ditakdirkan atasmu, maka itu adalah kebaikan bagimu, karena Allah menghendakimu untuk akhirat. Demikian seterusnya. Aku memohon kepada Allah agar meliputi kami dan kalian dengan rahmat-Nya serta menganugerahkan keyakinan kepada kita. Dialah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, dan semoga kita tidak takut kecuali kepada Allah Subhanahu. Apakah ini berarti kita meninggalkan sebab-sebab (ikhtiar)? Tentu tidak. Hari ini kita justru menghadapi krisis berupa sikap berlebihan terhadap sebab-sebab, dengan dalih bahwa kita tidak boleh meninggalkan sebab-sebab (ikhtiar). ===== لِذَا يَا إِخْوَانِي إِنَّ لِلشَّيْطَانِ مَقْصَدًا كَبِيرًا وَاجْتِهَادًا عَظِيمًا فِي أَنْ يَغْرِسَ الْخَوْفَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَغْرِسَ الْخَوْفَ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِأَنَّهُ بِقَدْرِ مَا يَخَافُ مِنْ غَيْرِ اللهِ يَضْعُفُ الْإِيمَانُ وَيَضْعُفُ التَّوْحِيدُ فَإِذَا خَافَ الْمُؤْمِنُ مِنْ غَيْرِ اللهِ صَارَ مَدْخَلًا لِلشَّيْطَانِ كَالْحُزْنِ الشَّيْطَانُ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ يُحْزِنَ أَهْلَ الْإِيمَانِ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا فَالشَّيْطَانُ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ يُحْزِنَ أَهْلَ الْإِيمَانِ قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِ مَدَارِجِ السَّالِكِينَ وَطَرِيقِ الْهِجْرَتَيْنِ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْحُزْنَ وَالْحُزْنُ يُضْعِفُ الْإِيمَانَ، وَالشَّيْطَانُ يُحِبُّ الْحُزْنَ لِمَاذَا؟ إِنَّهُ يَشْغَلُ الْعَبْدَ عَنْ طَاعَةِ اللهِ يُضْعِفُهُ وَيُضْعِفُ قَلْبَهُ، وَمِنْ ذَلِكَ الْخَوْفُ فَيَا أَهْلَ الْإِيمَانِ إِيَّاكُمْ وَالْخَوْفَ مِنْ غَيْرِ اللهِ وَالنَّاسُ يَعِيشُونَ الْيَوْمَ هَلَعًا وَجَزَعًا وَخَوْفًا مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ وَأَوْهَامًا لَا وُجُودَ لَهَا فَضْلًا عَنِ الْأَوْهَامِ الَّتِي قَدْ تَكُونُ لَكِنْ إِذَا قَوِيَ الْإِيمَانُ فِي الْقَلْبِ وَقَوِيَ التَّوْحِيدُ لَا يَخْشَى إِلَّا اللهَ اخْتَلَفَ مَعَ صَاحِبِهِ وَشَرِيكِهِ فِي طَلَبِ رِزْقِهِ لَا يَعُدُّ الرِّزْقَ انْتَهَى يَتَّقِي اللهَ فِي شَرِيكِهِ إِنْ تَمَّ فَالْحَمْدُ لِلهِ، مَا تَمَّ فَلَعَلَّ اللهَ قَدْ صَرَفَهُ عَنْ شَرٍّ اخْتَلَفَ هُوَ وَزَوْجَتُهُ يَشْعُرُ الدُّنْيَا ضَاقَتْ وَانْتَهَتْ لَعَلَّ اللهَ أَرَادَ خَيْرًا بِفِرَاقِهَا وَلَعَلَّ اللهَ أَرَادَ خَيْرًا بِأَنْ يَحْصُلَ وِفَاقٌ بَعْدَ ذَلِكَ أَحْسَنَ وَأَحْسَنَ فَلَا يُبَالِغُ الْإِنْسَانُ فِي الْهُمُومِ مَرِضَ وَلَدُهُ يَهْلَعُ أُصِيبَ بِالسَّرَطَانِ، بِهَذِهِ الْأَمْرَاضِ كَالسَّرَطَانِ وَغَيْرِهِ انْتَهَتْ انْتَهَى الْأَمْرُ مَا انْتَهَى أَنْتَ مُؤْمِنٌ حَيَاةُ الدُّنْيَا دَارُ الِابْتِلَاءِ وَدَارُ الْعُبُورِ لَيْسَتْ شَيْئًا وَاللهِ الْعَظِيمِ، إِنَّ مَنْ مَاتَ بِأَمْرَاضٍ كَالسَّرَطَانِ وَغَيْرِهِ أَحْسَنُ مِنْ وَجْهٍ مِمَّنْ مَاتَ فَجْأَةً لِأَنَّ هَذَا مَرَّ بِكَفَّارَاتٍ وَصَارَ إِنْذَارًا لَهُ، وَيَرَى أَنْ يُرَاجِعَ نَفْسَهُ أَمَّا الَّذِي مَاتَ فَجْأَةً فَمِنْ وَجْهٍ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ مِثْلُ هَذَا فَاللهُ رَحْمَنٌ، اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ، فَأَحْسِنِ الظَّنَّ بِاللهِ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَا إِخْوَانُ لَا تَخَافُوا إِلَّا مِنَ اللهِ لَا الْخَوْفَ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، لَا الْخَوْفَ مِنَ الْفَقْرِ، لَا الْخَوْفَ مِنَ الْمَرَضِ لَا الْخَوْفَ عَلَى نَفْسِكَ وَعَلَى وَلَدِكَ وَغَيْرِ ذَلِكَ الْأَمْرُ كُلُّهُ لِلهِ وَلَوْ رَأَيْتَ فِي حَيَاتِكَ وَرَاجَعْتَهَا وَجَدْتَ أُمُورًا كُنْتَ مُتَحَسِّرًا لَهَا رَأَيْتَ فِيهَا خَيْرًا لَمْ يَخْطُرْ لَكَ بِالْبَالِ وَكَذَا فِي أَخْبَارِ النَّاسِ وَقِصَصِهِمْ مِنْهُمْ مَنْ فُصِلَ مِنْ عَمَلِهِ فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ انْتَهَى رِزْقُهُ فَقَدْ فُتِحَ عَلَيْهِ رِزْقٌ عَظِيمٌ الرَّزَّاقُ هُوَ اللهُ مَا كَتَبَ لَكَ سَيَأْتِيكَ وَاعْلَمْ كَمَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ: أَنَّهُ إِذَا قُدِّرَ عَلَيْكَ الْفَقْرُ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ لِأَنَّكَ لَسْتَ مُرَادًا لِلدُّنْيَا، إِنَّمَا مُرَادٌ لِلْآخِرَةِ وَإِنْ قُدِّرَ عَلَيْكَ الْمَرَضُ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ لِأَنَّ اللهَ يُرِيدُكَ لِلْآخِرَةِ وَهَكَذَا أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَعُمَّنَا وَإِيَّاكُمْ بِرَحْمَتِهِ وَأَنْ يَرْزُقَنَا الْيَقِينَ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ وَأَلَّا نَخَافَ إِلَّا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ هَلْ يَعْنِي هَذَا تَرْكَ الْأَسْبَابِ؟ كَلَّا الْيَوْمَ نَحْنُ نَعِيشُ أَزْمَةَ الْمُبَالَغَةِ فِي الْأَسْبَابِ بِحُجَّةِ عَدَمِ تَرْكِ الْأَسْبَابِ


Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, setan memiliki tujuan besar dan kesungguhan luar biasa untuk menanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang beriman, yakni setan menanamkan rasa takut kepada selain Allah ke dalam hati orang-orang beriman. Sebab, sebesar rasa takutnya kepada selain Allah, sebesar itu pula iman dan tauhidnya melemah. Apabila seorang mukmin takut kepada selain Allah, rasa takut itu menjadi pintu masuk bagi setan. Seperti rasa sedih, setan sangat berambisi membuat orang-orang beriman bersedih, sebagaimana Allah Subhanahu berfirman, “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu hanyalah dari setan agar orang-orang yang beriman bersedih.” (QS. Al-Mujadilah: 10) Setan benar-benar berambisi membuat orang-orang beriman bersedih. Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala menyebutkan dalam kitab Madarijus Salikin dan Thariqul Hijratain, bahwa Allah tidak menyukai kesedihan, kesedihan melemahkan iman, sedangkan setan menyukai kesedihan. Mengapa? Karena kesedihan menyibukkan seorang hamba dari ketaatan kepada Allah, melemahkan dirinya dan melemahkan hatinya. Demikian pula dengan rasa takut. Maka, wahai orang-orang beriman, waspadalah terhadap rasa takut kepada selain Allah. Manusia hari ini hidup dalam kepanikan, kegelisahan, ketakutan akan masa depan, dan berbagai kekhawatiran yang sebenarnya tidak ada, belum lagi kekhawatiran terhadap hal-hal yang memang mungkin terjadi. Namun, ketika iman dan tauhid telah kuat di dalam hati, ia tidak takut kecuali kepada Allah. Ketika seseorang berselisih dengan teman atau mitra dalam mencari rezeki, jangan ia menganggap bahwa rezekinya telah berakhir. Hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan mitranya. Jika kerja sama itu berlanjut, alhamdulillah. Jika tidak, boleh jadi Allah telah menjauhkannya dari suatu keburukan. Ketika ia berselisih dengan istrinya, ia merasa dunia telah sempit dan segalanya berakhir. Padahal, boleh jadi Allah menghendaki kebaikan melalui perpisahan mereka, dan boleh jadi Allah menghendaki kebaikan dengan terjalinnya kembali hubungan yang jauh lebih baik setelah itu. Maka, janganlah seseorang berlebihan dalam kekhawatiran. Anaknya sakit, ia pun panik. Ia terkena kanker atau penyakit lainnya semisal kanker. Ia merasa, “Sudah berakhir. Semuanya telah berakhir.” Tidak, belum berakhir! Engkau seorang mukmin. Kehidupan dunia adalah negeri ujian dan tempat persinggahan. Dunia ini tidak ada apa-apanya. Demi Allah Yang Maha Agung, orang yang meninggal karena penyakit seperti kanker dan penyakit lainnya, dari satu sisi, lebih baik keadaannya daripada orang yang meninggal secara mendadak. Sebab, sakit yang dilaluinya menjadi penghapus dosa dan peringatan baginya untuk mengoreksi dirinya. Adapun orang yang meninggal secara mendadak, dari satu sisi ia tidak memperoleh kesempatan seperti ini. Allah Maha Pengasih dan Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya. Maka berbaik sangkalah kepada Allah. “Sedangkan segolongan lain telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah, seperti sangkaan jahiliah.” (QS. Ali ‘Imran: 154) Maka, wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian takut kecuali kepada Allah. Jangan takut terhadap masa depan, kemiskinan, maupun penyakit, juga ketakutan atas dirimu, anakmu, dan selainnya. Seluruh urusan adalah milik Allah. Jika engkau menengok kembali perjalanan hidupmu, niscaya engkau mendapati perkara-perkara yang dahulu sangat engkau sesali, namun engkau mendapati ternyata menyimpan kebaikan yang tak pernah terlintas di benakmu. Demikian pula dalam berbagai kisah manusia. Ada yang diberhentikan dari pekerjaannya, lalu orang-orang menyangka rezekinya telah berakhir, namun ternyata dibukakan baginya rezeki yang sangat besar. Sang Maha Pemberi Rezeki adalah Allah. Apa yang telah ditetapkan untukmu pasti akan datang kepadamu. Ketahuilah, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim, jika kemiskinan ditakdirkan atasmu, maka itu adalah kebaikan bagimu, karena engkau bukan dipersiapkan untuk dunia, melainkan untuk akhirat. Dan jika penyakit ditakdirkan atasmu, maka itu adalah kebaikan bagimu, karena Allah menghendakimu untuk akhirat. Demikian seterusnya. Aku memohon kepada Allah agar meliputi kami dan kalian dengan rahmat-Nya serta menganugerahkan keyakinan kepada kita. Dialah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, dan semoga kita tidak takut kecuali kepada Allah Subhanahu. Apakah ini berarti kita meninggalkan sebab-sebab (ikhtiar)? Tentu tidak. Hari ini kita justru menghadapi krisis berupa sikap berlebihan terhadap sebab-sebab, dengan dalih bahwa kita tidak boleh meninggalkan sebab-sebab (ikhtiar). ===== لِذَا يَا إِخْوَانِي إِنَّ لِلشَّيْطَانِ مَقْصَدًا كَبِيرًا وَاجْتِهَادًا عَظِيمًا فِي أَنْ يَغْرِسَ الْخَوْفَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَغْرِسَ الْخَوْفَ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِأَنَّهُ بِقَدْرِ مَا يَخَافُ مِنْ غَيْرِ اللهِ يَضْعُفُ الْإِيمَانُ وَيَضْعُفُ التَّوْحِيدُ فَإِذَا خَافَ الْمُؤْمِنُ مِنْ غَيْرِ اللهِ صَارَ مَدْخَلًا لِلشَّيْطَانِ كَالْحُزْنِ الشَّيْطَانُ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ يُحْزِنَ أَهْلَ الْإِيمَانِ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا فَالشَّيْطَانُ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ يُحْزِنَ أَهْلَ الْإِيمَانِ قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِ مَدَارِجِ السَّالِكِينَ وَطَرِيقِ الْهِجْرَتَيْنِ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْحُزْنَ وَالْحُزْنُ يُضْعِفُ الْإِيمَانَ، وَالشَّيْطَانُ يُحِبُّ الْحُزْنَ لِمَاذَا؟ إِنَّهُ يَشْغَلُ الْعَبْدَ عَنْ طَاعَةِ اللهِ يُضْعِفُهُ وَيُضْعِفُ قَلْبَهُ، وَمِنْ ذَلِكَ الْخَوْفُ فَيَا أَهْلَ الْإِيمَانِ إِيَّاكُمْ وَالْخَوْفَ مِنْ غَيْرِ اللهِ وَالنَّاسُ يَعِيشُونَ الْيَوْمَ هَلَعًا وَجَزَعًا وَخَوْفًا مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ وَأَوْهَامًا لَا وُجُودَ لَهَا فَضْلًا عَنِ الْأَوْهَامِ الَّتِي قَدْ تَكُونُ لَكِنْ إِذَا قَوِيَ الْإِيمَانُ فِي الْقَلْبِ وَقَوِيَ التَّوْحِيدُ لَا يَخْشَى إِلَّا اللهَ اخْتَلَفَ مَعَ صَاحِبِهِ وَشَرِيكِهِ فِي طَلَبِ رِزْقِهِ لَا يَعُدُّ الرِّزْقَ انْتَهَى يَتَّقِي اللهَ فِي شَرِيكِهِ إِنْ تَمَّ فَالْحَمْدُ لِلهِ، مَا تَمَّ فَلَعَلَّ اللهَ قَدْ صَرَفَهُ عَنْ شَرٍّ اخْتَلَفَ هُوَ وَزَوْجَتُهُ يَشْعُرُ الدُّنْيَا ضَاقَتْ وَانْتَهَتْ لَعَلَّ اللهَ أَرَادَ خَيْرًا بِفِرَاقِهَا وَلَعَلَّ اللهَ أَرَادَ خَيْرًا بِأَنْ يَحْصُلَ وِفَاقٌ بَعْدَ ذَلِكَ أَحْسَنَ وَأَحْسَنَ فَلَا يُبَالِغُ الْإِنْسَانُ فِي الْهُمُومِ مَرِضَ وَلَدُهُ يَهْلَعُ أُصِيبَ بِالسَّرَطَانِ، بِهَذِهِ الْأَمْرَاضِ كَالسَّرَطَانِ وَغَيْرِهِ انْتَهَتْ انْتَهَى الْأَمْرُ مَا انْتَهَى أَنْتَ مُؤْمِنٌ حَيَاةُ الدُّنْيَا دَارُ الِابْتِلَاءِ وَدَارُ الْعُبُورِ لَيْسَتْ شَيْئًا وَاللهِ الْعَظِيمِ، إِنَّ مَنْ مَاتَ بِأَمْرَاضٍ كَالسَّرَطَانِ وَغَيْرِهِ أَحْسَنُ مِنْ وَجْهٍ مِمَّنْ مَاتَ فَجْأَةً لِأَنَّ هَذَا مَرَّ بِكَفَّارَاتٍ وَصَارَ إِنْذَارًا لَهُ، وَيَرَى أَنْ يُرَاجِعَ نَفْسَهُ أَمَّا الَّذِي مَاتَ فَجْأَةً فَمِنْ وَجْهٍ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ مِثْلُ هَذَا فَاللهُ رَحْمَنٌ، اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ، فَأَحْسِنِ الظَّنَّ بِاللهِ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَا إِخْوَانُ لَا تَخَافُوا إِلَّا مِنَ اللهِ لَا الْخَوْفَ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، لَا الْخَوْفَ مِنَ الْفَقْرِ، لَا الْخَوْفَ مِنَ الْمَرَضِ لَا الْخَوْفَ عَلَى نَفْسِكَ وَعَلَى وَلَدِكَ وَغَيْرِ ذَلِكَ الْأَمْرُ كُلُّهُ لِلهِ وَلَوْ رَأَيْتَ فِي حَيَاتِكَ وَرَاجَعْتَهَا وَجَدْتَ أُمُورًا كُنْتَ مُتَحَسِّرًا لَهَا رَأَيْتَ فِيهَا خَيْرًا لَمْ يَخْطُرْ لَكَ بِالْبَالِ وَكَذَا فِي أَخْبَارِ النَّاسِ وَقِصَصِهِمْ مِنْهُمْ مَنْ فُصِلَ مِنْ عَمَلِهِ فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ انْتَهَى رِزْقُهُ فَقَدْ فُتِحَ عَلَيْهِ رِزْقٌ عَظِيمٌ الرَّزَّاقُ هُوَ اللهُ مَا كَتَبَ لَكَ سَيَأْتِيكَ وَاعْلَمْ كَمَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ: أَنَّهُ إِذَا قُدِّرَ عَلَيْكَ الْفَقْرُ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ لِأَنَّكَ لَسْتَ مُرَادًا لِلدُّنْيَا، إِنَّمَا مُرَادٌ لِلْآخِرَةِ وَإِنْ قُدِّرَ عَلَيْكَ الْمَرَضُ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ لِأَنَّ اللهَ يُرِيدُكَ لِلْآخِرَةِ وَهَكَذَا أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَعُمَّنَا وَإِيَّاكُمْ بِرَحْمَتِهِ وَأَنْ يَرْزُقَنَا الْيَقِينَ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ وَأَلَّا نَخَافَ إِلَّا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ هَلْ يَعْنِي هَذَا تَرْكَ الْأَسْبَابِ؟ كَلَّا الْيَوْمَ نَحْنُ نَعِيشُ أَزْمَةَ الْمُبَالَغَةِ فِي الْأَسْبَابِ بِحُجَّةِ عَدَمِ تَرْكِ الْأَسْبَابِ
Prev     Next