Baca Al-Ikhlas Saat Macet, Ubah Jadi Pahala Khatam Al-Quran – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Syaikh kami, jazakallahu khairan. Anda telah menyebutkan wasiat yang bermanfaat untuk Abu Abdul Karim. Karena beliau akan menempuh perjalanan jauh. Musim panas ini, banyak orang juga bepergian jauh, pergi dan pulang. Kami ingin menyebarkan wasiat ini, agar banyak orang mengambil manfaat darinya. Benar. Saya katakan, siapa pun yang berada di mobil selama berjam-jam, hendaknya ia memanfaatkan waktunya untuk hal yang bermanfaat. Jangan biarkan waktu terbuang sia-sia. Di antara wasiat yang membuat seorang muslim meraih pahala besar, padahal amalannya ringan, adalah membaca Surah Al-Ikhlas, “Qul Huwallahu Ahad,” dan mengulang-ulangnya. Karena Surah Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Jika ia membacanya tiga kali, seakan ia memperoleh pahala satu kali khatam. Enam kali, seperti dua kali khatam. Sembilan kali, seperti tiga kali khatam. Demikian seterusnya. Misalnya ia berada di mobil, sedang menuju Makkah. Berapa lama? Sekitar sembilan jam, kurang lebih. Jika ia membaca Surah Al-Ikhlas ratusan kali, berapa banyak pahala khatam yang ia dapatkan? Ini pahala yang sangat besar untuk amalan yang ringan. Menarik! Tapi sebagian orang, wahai Syaikh, mungkin merasa itu terlalu banyak. Misalnya ia membacanya seribu kali. Berarti ia mendapatkan kurang lebih tiga ratus kali khatam, wahai Syaikh. Lebih dari tiga ratus kali khatam. Itulah karunia Allah. Dan karunia Allah Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Ini contoh amalan ringan yang pahalanya sangat besar. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para sahabat, “Berkumpullah kalian.” Ketika mereka telah berkumpul, beliau bersabda, “Aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur’an.” Lalu beliau membaca Surah Qul Huwallahu Ahad, kemudian bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh surah ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (Lihat HR. Muslim no. 812, At-Tirmidzi no. 2900) Jazakumullahu khairan, Syaikh kami. Semoga Allah memberkahi Anda. Jadi inilah wasiatnya, wahai saudara-saudara. Saat engkau di mobil, baik sedang macet maupun perjalanan jauh, ulang-ulangilah surah ini. Bergembiralah dengan kebaikan besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana disebutkan Syaikh kami. Semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-baik balasan. Terima kasih. Semoga engkau pulang dengan selamat, insya Allah, wahai Abu Abdul Karim. Semoga Allah menyelamatkanmu. Semoga Allah menjagamu. Jazakallahu khairan. ===== شَيْخَنَا، أَنْتَ جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا، ذَكَرْتَ وَصِيَّةً نَافِعَةً لِأَبِي عَبْدِ الْكَرِيمِ لِأَنَّهُ بِيَمْسِك خَطًّا، وَالنَّاسُ ذَا الصَّيْفِ يَمْسِكُونَ خُطُوطًا، رَايْحِينَ جَايِّينَ وِدِّنَا نَنْشُرُ هَذِهِ الْوَصِيَّةَ، يَنْتَفِعُ بِهَا النَّاسُ نَعَمْ، أَقُولُ: مَنْ كَانَ فِي السَّيَّارَةِ وَيَبْقَى سَاعَاتٍ طَوِيلَةً يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ الْوَقْتَ فِيمَا يَنْفَعُهُ، لَا يُضَيِّعُ عَلَيْهِ الْوَقْتَ وَمِنَ الْوَصَايَا الَّتِي يَكْسِبُ بِهَا الْمُسْلِمُ أُجُورًا عَظِيمَةً مَعَ كَوْنِ الْعَمَلِ يَسِيرًا، أَنْ يَقْرَأَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، يُكَرِّرُهَا لِأَنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ إِذَا قَرَأَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ كَأَنَّمَا خَتَمَ خَتْمَةً سِتَّ مَرَّاتٍ خَتْمَتَيْنِ، تِسْعَ مَرَّاتٍ ثَلَاثَ خَتَمَاتٍ، وَهَكَذَا فَإِذَا كَانَ مَثَلًا فِي السَّيَّارَةِ، هُوَ ذَاهِبٌ الْآنَ إِلَى مَكَّةَ، يَعْنِي كَمْ؟ تِسْعَ سَاعَاتٍ تَقْرِيبًا يَعْنِي لَوْ قَرَأَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ مِئَاتِ الْمَرَّاتِ، كَمْ يَخْتِمُ مِنْ خَتْمَةٍ؟ فَهَذِهِ أُجُورٌ عَظِيمَةٌ عَلَى عَمَلٍ يَسِيرٍ جَمِيلٌ. وَبَعْضُ النَّاسِ يَا شَيْخُ مُمْكِن يَقُولُ يَشْعُرُ أَنَّهَا كَثِيرَةٌ يَعْنِي كَمْ بِيَقْرَأهَا؟ أَلْفَ مَرَّةٍ؟ مَعْنَاتْهَا بِتْصِيرُ لَهُ تَقْرِيبًا ثَلَاثَ مِئَةِ خَتْمَةٍ مُمْكِن كَذَا يَا شَيخُ أَكْثَرُ مِنْ ثَلَاثِ مِئَةِ خَتْمَةٍ هَذَا فَضْلُ اللهِ، وَفَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَهَذَا مِثَالٌ لِلْأَعْمَالِ الْيَسِيرَةِ الَّتِي أُجُورُهَا عَظِيمَةٌ وَلِهَذَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلصَّحَابَةِ: احْشُدُوا لَمَّا اجْتَمَعُوا، قَالَ سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ ثُمَّ قَرَأَ سُورَةَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا شَيْخَنَا، وَبَارَكَ اللهُ فِيكُمْ إِذًا هَذِهِ الْوَصِيَّةُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ، يَعْنِي أَنْتَ فِي سَيَّارَتِكَ، فِي زَحْمَةٍ وَلَا فِي خَطٍّ كَرِّرْ هَذِهِ السُّورَةَ، وَأَبْشِرْ بِالْخَيْرِ الْعَظِيمِ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِثْلَ مَا ذَكَرَ شَيْخُنَا، اللهُ يَجْزَاهُ خَيْرَ الْجَزَاءِ. شُكْرًا لَكُمْ وَتَجِي بِالسَّلَامَةِ إِنْ شَاءَ اللهُ، أَبَا عَبْدِ الْكَرِيمِ اللهُ يُسَلِّمكَ، اللهُ يَحْفَظكَ، جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

Baca Al-Ikhlas Saat Macet, Ubah Jadi Pahala Khatam Al-Quran – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Syaikh kami, jazakallahu khairan. Anda telah menyebutkan wasiat yang bermanfaat untuk Abu Abdul Karim. Karena beliau akan menempuh perjalanan jauh. Musim panas ini, banyak orang juga bepergian jauh, pergi dan pulang. Kami ingin menyebarkan wasiat ini, agar banyak orang mengambil manfaat darinya. Benar. Saya katakan, siapa pun yang berada di mobil selama berjam-jam, hendaknya ia memanfaatkan waktunya untuk hal yang bermanfaat. Jangan biarkan waktu terbuang sia-sia. Di antara wasiat yang membuat seorang muslim meraih pahala besar, padahal amalannya ringan, adalah membaca Surah Al-Ikhlas, “Qul Huwallahu Ahad,” dan mengulang-ulangnya. Karena Surah Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Jika ia membacanya tiga kali, seakan ia memperoleh pahala satu kali khatam. Enam kali, seperti dua kali khatam. Sembilan kali, seperti tiga kali khatam. Demikian seterusnya. Misalnya ia berada di mobil, sedang menuju Makkah. Berapa lama? Sekitar sembilan jam, kurang lebih. Jika ia membaca Surah Al-Ikhlas ratusan kali, berapa banyak pahala khatam yang ia dapatkan? Ini pahala yang sangat besar untuk amalan yang ringan. Menarik! Tapi sebagian orang, wahai Syaikh, mungkin merasa itu terlalu banyak. Misalnya ia membacanya seribu kali. Berarti ia mendapatkan kurang lebih tiga ratus kali khatam, wahai Syaikh. Lebih dari tiga ratus kali khatam. Itulah karunia Allah. Dan karunia Allah Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Ini contoh amalan ringan yang pahalanya sangat besar. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para sahabat, “Berkumpullah kalian.” Ketika mereka telah berkumpul, beliau bersabda, “Aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur’an.” Lalu beliau membaca Surah Qul Huwallahu Ahad, kemudian bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh surah ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (Lihat HR. Muslim no. 812, At-Tirmidzi no. 2900) Jazakumullahu khairan, Syaikh kami. Semoga Allah memberkahi Anda. Jadi inilah wasiatnya, wahai saudara-saudara. Saat engkau di mobil, baik sedang macet maupun perjalanan jauh, ulang-ulangilah surah ini. Bergembiralah dengan kebaikan besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana disebutkan Syaikh kami. Semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-baik balasan. Terima kasih. Semoga engkau pulang dengan selamat, insya Allah, wahai Abu Abdul Karim. Semoga Allah menyelamatkanmu. Semoga Allah menjagamu. Jazakallahu khairan. ===== شَيْخَنَا، أَنْتَ جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا، ذَكَرْتَ وَصِيَّةً نَافِعَةً لِأَبِي عَبْدِ الْكَرِيمِ لِأَنَّهُ بِيَمْسِك خَطًّا، وَالنَّاسُ ذَا الصَّيْفِ يَمْسِكُونَ خُطُوطًا، رَايْحِينَ جَايِّينَ وِدِّنَا نَنْشُرُ هَذِهِ الْوَصِيَّةَ، يَنْتَفِعُ بِهَا النَّاسُ نَعَمْ، أَقُولُ: مَنْ كَانَ فِي السَّيَّارَةِ وَيَبْقَى سَاعَاتٍ طَوِيلَةً يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ الْوَقْتَ فِيمَا يَنْفَعُهُ، لَا يُضَيِّعُ عَلَيْهِ الْوَقْتَ وَمِنَ الْوَصَايَا الَّتِي يَكْسِبُ بِهَا الْمُسْلِمُ أُجُورًا عَظِيمَةً مَعَ كَوْنِ الْعَمَلِ يَسِيرًا، أَنْ يَقْرَأَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، يُكَرِّرُهَا لِأَنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ إِذَا قَرَأَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ كَأَنَّمَا خَتَمَ خَتْمَةً سِتَّ مَرَّاتٍ خَتْمَتَيْنِ، تِسْعَ مَرَّاتٍ ثَلَاثَ خَتَمَاتٍ، وَهَكَذَا فَإِذَا كَانَ مَثَلًا فِي السَّيَّارَةِ، هُوَ ذَاهِبٌ الْآنَ إِلَى مَكَّةَ، يَعْنِي كَمْ؟ تِسْعَ سَاعَاتٍ تَقْرِيبًا يَعْنِي لَوْ قَرَأَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ مِئَاتِ الْمَرَّاتِ، كَمْ يَخْتِمُ مِنْ خَتْمَةٍ؟ فَهَذِهِ أُجُورٌ عَظِيمَةٌ عَلَى عَمَلٍ يَسِيرٍ جَمِيلٌ. وَبَعْضُ النَّاسِ يَا شَيْخُ مُمْكِن يَقُولُ يَشْعُرُ أَنَّهَا كَثِيرَةٌ يَعْنِي كَمْ بِيَقْرَأهَا؟ أَلْفَ مَرَّةٍ؟ مَعْنَاتْهَا بِتْصِيرُ لَهُ تَقْرِيبًا ثَلَاثَ مِئَةِ خَتْمَةٍ مُمْكِن كَذَا يَا شَيخُ أَكْثَرُ مِنْ ثَلَاثِ مِئَةِ خَتْمَةٍ هَذَا فَضْلُ اللهِ، وَفَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَهَذَا مِثَالٌ لِلْأَعْمَالِ الْيَسِيرَةِ الَّتِي أُجُورُهَا عَظِيمَةٌ وَلِهَذَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلصَّحَابَةِ: احْشُدُوا لَمَّا اجْتَمَعُوا، قَالَ سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ ثُمَّ قَرَأَ سُورَةَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا شَيْخَنَا، وَبَارَكَ اللهُ فِيكُمْ إِذًا هَذِهِ الْوَصِيَّةُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ، يَعْنِي أَنْتَ فِي سَيَّارَتِكَ، فِي زَحْمَةٍ وَلَا فِي خَطٍّ كَرِّرْ هَذِهِ السُّورَةَ، وَأَبْشِرْ بِالْخَيْرِ الْعَظِيمِ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِثْلَ مَا ذَكَرَ شَيْخُنَا، اللهُ يَجْزَاهُ خَيْرَ الْجَزَاءِ. شُكْرًا لَكُمْ وَتَجِي بِالسَّلَامَةِ إِنْ شَاءَ اللهُ، أَبَا عَبْدِ الْكَرِيمِ اللهُ يُسَلِّمكَ، اللهُ يَحْفَظكَ، جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا
Syaikh kami, jazakallahu khairan. Anda telah menyebutkan wasiat yang bermanfaat untuk Abu Abdul Karim. Karena beliau akan menempuh perjalanan jauh. Musim panas ini, banyak orang juga bepergian jauh, pergi dan pulang. Kami ingin menyebarkan wasiat ini, agar banyak orang mengambil manfaat darinya. Benar. Saya katakan, siapa pun yang berada di mobil selama berjam-jam, hendaknya ia memanfaatkan waktunya untuk hal yang bermanfaat. Jangan biarkan waktu terbuang sia-sia. Di antara wasiat yang membuat seorang muslim meraih pahala besar, padahal amalannya ringan, adalah membaca Surah Al-Ikhlas, “Qul Huwallahu Ahad,” dan mengulang-ulangnya. Karena Surah Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Jika ia membacanya tiga kali, seakan ia memperoleh pahala satu kali khatam. Enam kali, seperti dua kali khatam. Sembilan kali, seperti tiga kali khatam. Demikian seterusnya. Misalnya ia berada di mobil, sedang menuju Makkah. Berapa lama? Sekitar sembilan jam, kurang lebih. Jika ia membaca Surah Al-Ikhlas ratusan kali, berapa banyak pahala khatam yang ia dapatkan? Ini pahala yang sangat besar untuk amalan yang ringan. Menarik! Tapi sebagian orang, wahai Syaikh, mungkin merasa itu terlalu banyak. Misalnya ia membacanya seribu kali. Berarti ia mendapatkan kurang lebih tiga ratus kali khatam, wahai Syaikh. Lebih dari tiga ratus kali khatam. Itulah karunia Allah. Dan karunia Allah Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Ini contoh amalan ringan yang pahalanya sangat besar. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para sahabat, “Berkumpullah kalian.” Ketika mereka telah berkumpul, beliau bersabda, “Aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur’an.” Lalu beliau membaca Surah Qul Huwallahu Ahad, kemudian bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh surah ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (Lihat HR. Muslim no. 812, At-Tirmidzi no. 2900) Jazakumullahu khairan, Syaikh kami. Semoga Allah memberkahi Anda. Jadi inilah wasiatnya, wahai saudara-saudara. Saat engkau di mobil, baik sedang macet maupun perjalanan jauh, ulang-ulangilah surah ini. Bergembiralah dengan kebaikan besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana disebutkan Syaikh kami. Semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-baik balasan. Terima kasih. Semoga engkau pulang dengan selamat, insya Allah, wahai Abu Abdul Karim. Semoga Allah menyelamatkanmu. Semoga Allah menjagamu. Jazakallahu khairan. ===== شَيْخَنَا، أَنْتَ جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا، ذَكَرْتَ وَصِيَّةً نَافِعَةً لِأَبِي عَبْدِ الْكَرِيمِ لِأَنَّهُ بِيَمْسِك خَطًّا، وَالنَّاسُ ذَا الصَّيْفِ يَمْسِكُونَ خُطُوطًا، رَايْحِينَ جَايِّينَ وِدِّنَا نَنْشُرُ هَذِهِ الْوَصِيَّةَ، يَنْتَفِعُ بِهَا النَّاسُ نَعَمْ، أَقُولُ: مَنْ كَانَ فِي السَّيَّارَةِ وَيَبْقَى سَاعَاتٍ طَوِيلَةً يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ الْوَقْتَ فِيمَا يَنْفَعُهُ، لَا يُضَيِّعُ عَلَيْهِ الْوَقْتَ وَمِنَ الْوَصَايَا الَّتِي يَكْسِبُ بِهَا الْمُسْلِمُ أُجُورًا عَظِيمَةً مَعَ كَوْنِ الْعَمَلِ يَسِيرًا، أَنْ يَقْرَأَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، يُكَرِّرُهَا لِأَنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ إِذَا قَرَأَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ كَأَنَّمَا خَتَمَ خَتْمَةً سِتَّ مَرَّاتٍ خَتْمَتَيْنِ، تِسْعَ مَرَّاتٍ ثَلَاثَ خَتَمَاتٍ، وَهَكَذَا فَإِذَا كَانَ مَثَلًا فِي السَّيَّارَةِ، هُوَ ذَاهِبٌ الْآنَ إِلَى مَكَّةَ، يَعْنِي كَمْ؟ تِسْعَ سَاعَاتٍ تَقْرِيبًا يَعْنِي لَوْ قَرَأَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ مِئَاتِ الْمَرَّاتِ، كَمْ يَخْتِمُ مِنْ خَتْمَةٍ؟ فَهَذِهِ أُجُورٌ عَظِيمَةٌ عَلَى عَمَلٍ يَسِيرٍ جَمِيلٌ. وَبَعْضُ النَّاسِ يَا شَيْخُ مُمْكِن يَقُولُ يَشْعُرُ أَنَّهَا كَثِيرَةٌ يَعْنِي كَمْ بِيَقْرَأهَا؟ أَلْفَ مَرَّةٍ؟ مَعْنَاتْهَا بِتْصِيرُ لَهُ تَقْرِيبًا ثَلَاثَ مِئَةِ خَتْمَةٍ مُمْكِن كَذَا يَا شَيخُ أَكْثَرُ مِنْ ثَلَاثِ مِئَةِ خَتْمَةٍ هَذَا فَضْلُ اللهِ، وَفَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَهَذَا مِثَالٌ لِلْأَعْمَالِ الْيَسِيرَةِ الَّتِي أُجُورُهَا عَظِيمَةٌ وَلِهَذَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلصَّحَابَةِ: احْشُدُوا لَمَّا اجْتَمَعُوا، قَالَ سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ ثُمَّ قَرَأَ سُورَةَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا شَيْخَنَا، وَبَارَكَ اللهُ فِيكُمْ إِذًا هَذِهِ الْوَصِيَّةُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ، يَعْنِي أَنْتَ فِي سَيَّارَتِكَ، فِي زَحْمَةٍ وَلَا فِي خَطٍّ كَرِّرْ هَذِهِ السُّورَةَ، وَأَبْشِرْ بِالْخَيْرِ الْعَظِيمِ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِثْلَ مَا ذَكَرَ شَيْخُنَا، اللهُ يَجْزَاهُ خَيْرَ الْجَزَاءِ. شُكْرًا لَكُمْ وَتَجِي بِالسَّلَامَةِ إِنْ شَاءَ اللهُ، أَبَا عَبْدِ الْكَرِيمِ اللهُ يُسَلِّمكَ، اللهُ يَحْفَظكَ، جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا


Syaikh kami, jazakallahu khairan. Anda telah menyebutkan wasiat yang bermanfaat untuk Abu Abdul Karim. Karena beliau akan menempuh perjalanan jauh. Musim panas ini, banyak orang juga bepergian jauh, pergi dan pulang. Kami ingin menyebarkan wasiat ini, agar banyak orang mengambil manfaat darinya. Benar. Saya katakan, siapa pun yang berada di mobil selama berjam-jam, hendaknya ia memanfaatkan waktunya untuk hal yang bermanfaat. Jangan biarkan waktu terbuang sia-sia. Di antara wasiat yang membuat seorang muslim meraih pahala besar, padahal amalannya ringan, adalah membaca Surah Al-Ikhlas, “Qul Huwallahu Ahad,” dan mengulang-ulangnya. Karena Surah Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Jika ia membacanya tiga kali, seakan ia memperoleh pahala satu kali khatam. Enam kali, seperti dua kali khatam. Sembilan kali, seperti tiga kali khatam. Demikian seterusnya. Misalnya ia berada di mobil, sedang menuju Makkah. Berapa lama? Sekitar sembilan jam, kurang lebih. Jika ia membaca Surah Al-Ikhlas ratusan kali, berapa banyak pahala khatam yang ia dapatkan? Ini pahala yang sangat besar untuk amalan yang ringan. Menarik! Tapi sebagian orang, wahai Syaikh, mungkin merasa itu terlalu banyak. Misalnya ia membacanya seribu kali. Berarti ia mendapatkan kurang lebih tiga ratus kali khatam, wahai Syaikh. Lebih dari tiga ratus kali khatam. Itulah karunia Allah. Dan karunia Allah Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Ini contoh amalan ringan yang pahalanya sangat besar. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para sahabat, “Berkumpullah kalian.” Ketika mereka telah berkumpul, beliau bersabda, “Aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur’an.” Lalu beliau membaca Surah Qul Huwallahu Ahad, kemudian bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh surah ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (Lihat HR. Muslim no. 812, At-Tirmidzi no. 2900) Jazakumullahu khairan, Syaikh kami. Semoga Allah memberkahi Anda. Jadi inilah wasiatnya, wahai saudara-saudara. Saat engkau di mobil, baik sedang macet maupun perjalanan jauh, ulang-ulangilah surah ini. Bergembiralah dengan kebaikan besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana disebutkan Syaikh kami. Semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-baik balasan. Terima kasih. Semoga engkau pulang dengan selamat, insya Allah, wahai Abu Abdul Karim. Semoga Allah menyelamatkanmu. Semoga Allah menjagamu. Jazakallahu khairan. ===== شَيْخَنَا، أَنْتَ جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا، ذَكَرْتَ وَصِيَّةً نَافِعَةً لِأَبِي عَبْدِ الْكَرِيمِ لِأَنَّهُ بِيَمْسِك خَطًّا، وَالنَّاسُ ذَا الصَّيْفِ يَمْسِكُونَ خُطُوطًا، رَايْحِينَ جَايِّينَ وِدِّنَا نَنْشُرُ هَذِهِ الْوَصِيَّةَ، يَنْتَفِعُ بِهَا النَّاسُ نَعَمْ، أَقُولُ: مَنْ كَانَ فِي السَّيَّارَةِ وَيَبْقَى سَاعَاتٍ طَوِيلَةً يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ الْوَقْتَ فِيمَا يَنْفَعُهُ، لَا يُضَيِّعُ عَلَيْهِ الْوَقْتَ وَمِنَ الْوَصَايَا الَّتِي يَكْسِبُ بِهَا الْمُسْلِمُ أُجُورًا عَظِيمَةً مَعَ كَوْنِ الْعَمَلِ يَسِيرًا، أَنْ يَقْرَأَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، يُكَرِّرُهَا لِأَنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ إِذَا قَرَأَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ كَأَنَّمَا خَتَمَ خَتْمَةً سِتَّ مَرَّاتٍ خَتْمَتَيْنِ، تِسْعَ مَرَّاتٍ ثَلَاثَ خَتَمَاتٍ، وَهَكَذَا فَإِذَا كَانَ مَثَلًا فِي السَّيَّارَةِ، هُوَ ذَاهِبٌ الْآنَ إِلَى مَكَّةَ، يَعْنِي كَمْ؟ تِسْعَ سَاعَاتٍ تَقْرِيبًا يَعْنِي لَوْ قَرَأَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ مِئَاتِ الْمَرَّاتِ، كَمْ يَخْتِمُ مِنْ خَتْمَةٍ؟ فَهَذِهِ أُجُورٌ عَظِيمَةٌ عَلَى عَمَلٍ يَسِيرٍ جَمِيلٌ. وَبَعْضُ النَّاسِ يَا شَيْخُ مُمْكِن يَقُولُ يَشْعُرُ أَنَّهَا كَثِيرَةٌ يَعْنِي كَمْ بِيَقْرَأهَا؟ أَلْفَ مَرَّةٍ؟ مَعْنَاتْهَا بِتْصِيرُ لَهُ تَقْرِيبًا ثَلَاثَ مِئَةِ خَتْمَةٍ مُمْكِن كَذَا يَا شَيخُ أَكْثَرُ مِنْ ثَلَاثِ مِئَةِ خَتْمَةٍ هَذَا فَضْلُ اللهِ، وَفَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَهَذَا مِثَالٌ لِلْأَعْمَالِ الْيَسِيرَةِ الَّتِي أُجُورُهَا عَظِيمَةٌ وَلِهَذَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلصَّحَابَةِ: احْشُدُوا لَمَّا اجْتَمَعُوا، قَالَ سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ ثُمَّ قَرَأَ سُورَةَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا شَيْخَنَا، وَبَارَكَ اللهُ فِيكُمْ إِذًا هَذِهِ الْوَصِيَّةُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ، يَعْنِي أَنْتَ فِي سَيَّارَتِكَ، فِي زَحْمَةٍ وَلَا فِي خَطٍّ كَرِّرْ هَذِهِ السُّورَةَ، وَأَبْشِرْ بِالْخَيْرِ الْعَظِيمِ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِثْلَ مَا ذَكَرَ شَيْخُنَا، اللهُ يَجْزَاهُ خَيْرَ الْجَزَاءِ. شُكْرًا لَكُمْ وَتَجِي بِالسَّلَامَةِ إِنْ شَاءَ اللهُ، أَبَا عَبْدِ الْكَرِيمِ اللهُ يُسَلِّمكَ، اللهُ يَحْفَظكَ، جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

Awal Fase Dakwah Islam Secara Terang-Terangan (Bag. 1)

Daftar Isi TogglePerintah memperingatkan kerabat terdekatPertemuan Bani Hasyim dalam riwayat sirahPenegasan untuk menyampaikan dakwah secara terbukaFase dakwah secara sembunyi-sembunyi telah berlangsung kurang lebih tiga tahun. Dalam masa tersebut, jumlah orang yang menerima Islam terus bertambah. Lalu, bagaimana Rasulullah ﷺ mulai membawa dakwah ini ke ruang publik? Dalam artikel ini, kita akan membahas awal fase dakwah secara terang-terangan atau jahriyyah.Perintah memperingatkan kerabat terdekatSalah satu perintah awal yang berkaitan dengan dakwah secara terang-terangan adalah firman Allah Ta’ala,وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ“Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara’: 214)Setelah ayat tersebut turun, Rasulullah ﷺ naik ke Bukit Shafa kemudian menyeru,يَا صَبَاحَاهْ!“Wahai kaumku, waspadalah terhadap bahaya yang mengancam!”Kabilah-kabilah Quraisy pun berkumpul. Rasulullah ﷺ mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah, mengimani kerasulan beliau, dan mengimani hari akhir.Imam al-Bukhari meriwayatkan sebagian kisah ini dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa tatkala ayat tersebut turun, Rasulullah naik ke Bukit Shafa, kemudian memanggil,يَا بَنِي فِهْرٍ! يَا بَنِي عَدِيٍّ“Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Adi!” dan kabilah-kabilah Quraisy lainnya hingga mereka berkumpul. Bahkan, seseorang yang tidak dapat hadir sendiri mengutus orang lain untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Hadir pula Abu Lahab ketika itu. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالْوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟“Bagaimana menurut kalian jika aku kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?” Mereka menjawab,نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا“Ya. Kami tidak pernah mendapati darimu selain kejujuran.”Rasulullah pun bersabda,فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang berat.”Abu Lahab lalu merespon, “Celakalah engkau sepanjang hari ini! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” Maka turunlah firman Allah Ta’ala,تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ“Binasalah kedua tangan Abu Lahab,” hingga akhir surah.Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan bahwa tatkala surah Asy-Syu’ara’ ayat 214 turun, Rasulullah ﷺ menyeru kaum Quraisy secara umum, kemudian menyebut beberapa keluarga dan kerabat secara khusus. Beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا مَعْشَرَ بَنِي كَعْبٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا“Wahai seluruh kaum Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Demi Allah, sesungguhnya aku tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk melindungi kalian dari azab Allah. Hanya saja, kalian memiliki hubungan kekerabatan denganku yang akan tetap aku sambung sebagaimana mestinya.”Baca juga: Dakwah Para Nabi dan RasulPertemuan Bani Hasyim dalam riwayat sirahSebagian riwayat sirah juga menyebutkan bahwa setelah turunnya surah Asy-Syu’ara’ ayat 214, Rasulullah ﷺ mengundang Bani Hasyim. Sejumlah orang dari Bani al-Muththalib juga turut hadir. Dalam riwayat tersebut, dinukil bahwa Rasulullah ﷺ menyampaikan,إِنَّ الرَّائِدَ لَا يَكْذِبُ أَهْلَهُ، وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ خَاصَّةً، وَإِلَى النَّاسِ عَامَّةً، وَاللَّهِ لَتَمُوتُنَّ كَمَا تَنَامُونَ، وَلَتُبْعَثُنَّ كَمَا تَسْتَيْقِظُونَ، وَلَتُحَاسَبُنَّ بِمَا تَعْمَلُونَ، وَإِنَّهَا الْجَنَّةُ أَبَدًا أَوِ النَّارُ أَبَدًا.“Sesungguhnya seorang pengintai tidak akan berdusta kepada keluarganya. Demi Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada seluruh manusia secara umum. Demi Allah, sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur, lalu kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian terbangun. Kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian. Setelah itu, yang ada hanyalah surga untuk selama-lamanya atau neraka untuk selama-lamanya.”Abu Thalib kemudian berkata, “Betapa senangnya kami dapat membantumu. Kami menerima nasihatmu dan sangat membenarkan perkataanmu. Inilah keluarga ayahmu yang telah berkumpul. Aku hanyalah salah seorang di antara mereka, tetapi akulah yang paling cepat mendukung apa yang engkau sukai. Maka teruskanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku akan senantiasa menjaga dan melindungimu. Hanya saja, jiwaku tidak sanggup meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib.”Abu Lahab berkata, “Demi Allah, ini benar-benar suatu keburukan. Cegahlah dia sebelum orang lain bertindak terhadap kalian.”Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, kami akan terus melindunginya selama kami masih hidup.”Rincian pidato dan dialog dalam riwayat tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari Nabi ﷺ. Meskipun demikian, pokok peringatan beliau kepada kerabat terdekat telah ditetapkan dalam hadis sahih al-Bukhari dan Muslim.Penegasan untuk menyampaikan dakwah secara terbukaDalam fase dakwah secara terang-terangan tersebut, Allah juga menegaskan kepada Rasulullah ﷺ agar menyampaikan kebenaran secara terbuka dan tidak menghiraukan penentangan kaum musyrikin. Allah Ta’ala berfirman,فَاصْدَعْ بِما تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala sesuatu yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mulai membongkar berbagai kebatilan kesyirikan setelah turunnya ayat tersebut. Akibatnya, kemarahan dan penolakan merebak di tengah masyarakat Makkah. Kaum Quraisy bangkit untuk bersiap memadamkan dakwah Rasulullah ﷺ lantaran khawatir tradisi dan warisan nenek moyang mereka akan hancur.Menurut al-Mubarakfuri, kaum Quraisy menyadari besarnya konsekuensi dakwah tauhid. Mengimani bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, membenarkan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, dan beriman kepada hari akhir berarti tunduk sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak lagi bebas bertindak semaunya terhadap diri, harta, maupun orang lain. Dakwah tersebut juga mengancam kekuasaan dan kebanggaan sosial yang selama ini menopang kedudukan mereka di tengah bangsa Arab. Selain itu, mereka harus meninggalkan kezaliman terhadap masyarakat lemah dan tidak lagi dapat mendahulukan keinginan pribadi di atas kehendak Allah dan Rasul-Nya.Jiwa mereka menolak menerima keadaan yang dianggap “menghinakan” itu. Penolakan tersebut bukanlah demi menjaga kemuliaan ataupun kebaikan, tetapi sebagaimana firman Allah Ta’ala,بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسانُ لِيَفْجُرَ أَمامَهُ“Bahkan manusia hendak terus berbuat maksiat pada masa yang akan datang.” (QS. Al-Qiyamah: 5)Menurut al-Mubarakfuri, Quraisy kebingungan menghadapi seorang laki-laki yang jujur dan terpercaya, teladan tertinggi dalam nilai-nilai kemanusiaan dan kemuliaan akhlak. Sepanjang sejarah kaum dan nenek moyang mereka, tidak pernah mereka mengenal seseorang yang sebanding dengan Rasulullah  ﷺ dalam kejujuran dan kemuliaan akhlak.Setelah mempertimbangkan berbagai cara, akhirnya kaum musyrikin Quraisy memutuskan untuk mendatangi Abu Thalib. Mereka berharap paman Rasulullah ﷺ itu bersedia menghentikan dakwah keponakannya yang semakin meluas.Bagaimana tanggapan Abu Thalib terhadap tuntutan kaum Quraisy? Insyaallah, kisahnya akan dibahas dalam artikel selanjutnya.[Bersambung]***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.

Awal Fase Dakwah Islam Secara Terang-Terangan (Bag. 1)

Daftar Isi TogglePerintah memperingatkan kerabat terdekatPertemuan Bani Hasyim dalam riwayat sirahPenegasan untuk menyampaikan dakwah secara terbukaFase dakwah secara sembunyi-sembunyi telah berlangsung kurang lebih tiga tahun. Dalam masa tersebut, jumlah orang yang menerima Islam terus bertambah. Lalu, bagaimana Rasulullah ﷺ mulai membawa dakwah ini ke ruang publik? Dalam artikel ini, kita akan membahas awal fase dakwah secara terang-terangan atau jahriyyah.Perintah memperingatkan kerabat terdekatSalah satu perintah awal yang berkaitan dengan dakwah secara terang-terangan adalah firman Allah Ta’ala,وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ“Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara’: 214)Setelah ayat tersebut turun, Rasulullah ﷺ naik ke Bukit Shafa kemudian menyeru,يَا صَبَاحَاهْ!“Wahai kaumku, waspadalah terhadap bahaya yang mengancam!”Kabilah-kabilah Quraisy pun berkumpul. Rasulullah ﷺ mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah, mengimani kerasulan beliau, dan mengimani hari akhir.Imam al-Bukhari meriwayatkan sebagian kisah ini dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa tatkala ayat tersebut turun, Rasulullah naik ke Bukit Shafa, kemudian memanggil,يَا بَنِي فِهْرٍ! يَا بَنِي عَدِيٍّ“Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Adi!” dan kabilah-kabilah Quraisy lainnya hingga mereka berkumpul. Bahkan, seseorang yang tidak dapat hadir sendiri mengutus orang lain untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Hadir pula Abu Lahab ketika itu. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالْوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟“Bagaimana menurut kalian jika aku kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?” Mereka menjawab,نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا“Ya. Kami tidak pernah mendapati darimu selain kejujuran.”Rasulullah pun bersabda,فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang berat.”Abu Lahab lalu merespon, “Celakalah engkau sepanjang hari ini! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” Maka turunlah firman Allah Ta’ala,تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ“Binasalah kedua tangan Abu Lahab,” hingga akhir surah.Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan bahwa tatkala surah Asy-Syu’ara’ ayat 214 turun, Rasulullah ﷺ menyeru kaum Quraisy secara umum, kemudian menyebut beberapa keluarga dan kerabat secara khusus. Beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا مَعْشَرَ بَنِي كَعْبٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا“Wahai seluruh kaum Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Demi Allah, sesungguhnya aku tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk melindungi kalian dari azab Allah. Hanya saja, kalian memiliki hubungan kekerabatan denganku yang akan tetap aku sambung sebagaimana mestinya.”Baca juga: Dakwah Para Nabi dan RasulPertemuan Bani Hasyim dalam riwayat sirahSebagian riwayat sirah juga menyebutkan bahwa setelah turunnya surah Asy-Syu’ara’ ayat 214, Rasulullah ﷺ mengundang Bani Hasyim. Sejumlah orang dari Bani al-Muththalib juga turut hadir. Dalam riwayat tersebut, dinukil bahwa Rasulullah ﷺ menyampaikan,إِنَّ الرَّائِدَ لَا يَكْذِبُ أَهْلَهُ، وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ خَاصَّةً، وَإِلَى النَّاسِ عَامَّةً، وَاللَّهِ لَتَمُوتُنَّ كَمَا تَنَامُونَ، وَلَتُبْعَثُنَّ كَمَا تَسْتَيْقِظُونَ، وَلَتُحَاسَبُنَّ بِمَا تَعْمَلُونَ، وَإِنَّهَا الْجَنَّةُ أَبَدًا أَوِ النَّارُ أَبَدًا.“Sesungguhnya seorang pengintai tidak akan berdusta kepada keluarganya. Demi Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada seluruh manusia secara umum. Demi Allah, sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur, lalu kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian terbangun. Kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian. Setelah itu, yang ada hanyalah surga untuk selama-lamanya atau neraka untuk selama-lamanya.”Abu Thalib kemudian berkata, “Betapa senangnya kami dapat membantumu. Kami menerima nasihatmu dan sangat membenarkan perkataanmu. Inilah keluarga ayahmu yang telah berkumpul. Aku hanyalah salah seorang di antara mereka, tetapi akulah yang paling cepat mendukung apa yang engkau sukai. Maka teruskanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku akan senantiasa menjaga dan melindungimu. Hanya saja, jiwaku tidak sanggup meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib.”Abu Lahab berkata, “Demi Allah, ini benar-benar suatu keburukan. Cegahlah dia sebelum orang lain bertindak terhadap kalian.”Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, kami akan terus melindunginya selama kami masih hidup.”Rincian pidato dan dialog dalam riwayat tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari Nabi ﷺ. Meskipun demikian, pokok peringatan beliau kepada kerabat terdekat telah ditetapkan dalam hadis sahih al-Bukhari dan Muslim.Penegasan untuk menyampaikan dakwah secara terbukaDalam fase dakwah secara terang-terangan tersebut, Allah juga menegaskan kepada Rasulullah ﷺ agar menyampaikan kebenaran secara terbuka dan tidak menghiraukan penentangan kaum musyrikin. Allah Ta’ala berfirman,فَاصْدَعْ بِما تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala sesuatu yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mulai membongkar berbagai kebatilan kesyirikan setelah turunnya ayat tersebut. Akibatnya, kemarahan dan penolakan merebak di tengah masyarakat Makkah. Kaum Quraisy bangkit untuk bersiap memadamkan dakwah Rasulullah ﷺ lantaran khawatir tradisi dan warisan nenek moyang mereka akan hancur.Menurut al-Mubarakfuri, kaum Quraisy menyadari besarnya konsekuensi dakwah tauhid. Mengimani bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, membenarkan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, dan beriman kepada hari akhir berarti tunduk sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak lagi bebas bertindak semaunya terhadap diri, harta, maupun orang lain. Dakwah tersebut juga mengancam kekuasaan dan kebanggaan sosial yang selama ini menopang kedudukan mereka di tengah bangsa Arab. Selain itu, mereka harus meninggalkan kezaliman terhadap masyarakat lemah dan tidak lagi dapat mendahulukan keinginan pribadi di atas kehendak Allah dan Rasul-Nya.Jiwa mereka menolak menerima keadaan yang dianggap “menghinakan” itu. Penolakan tersebut bukanlah demi menjaga kemuliaan ataupun kebaikan, tetapi sebagaimana firman Allah Ta’ala,بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسانُ لِيَفْجُرَ أَمامَهُ“Bahkan manusia hendak terus berbuat maksiat pada masa yang akan datang.” (QS. Al-Qiyamah: 5)Menurut al-Mubarakfuri, Quraisy kebingungan menghadapi seorang laki-laki yang jujur dan terpercaya, teladan tertinggi dalam nilai-nilai kemanusiaan dan kemuliaan akhlak. Sepanjang sejarah kaum dan nenek moyang mereka, tidak pernah mereka mengenal seseorang yang sebanding dengan Rasulullah  ﷺ dalam kejujuran dan kemuliaan akhlak.Setelah mempertimbangkan berbagai cara, akhirnya kaum musyrikin Quraisy memutuskan untuk mendatangi Abu Thalib. Mereka berharap paman Rasulullah ﷺ itu bersedia menghentikan dakwah keponakannya yang semakin meluas.Bagaimana tanggapan Abu Thalib terhadap tuntutan kaum Quraisy? Insyaallah, kisahnya akan dibahas dalam artikel selanjutnya.[Bersambung]***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.
Daftar Isi TogglePerintah memperingatkan kerabat terdekatPertemuan Bani Hasyim dalam riwayat sirahPenegasan untuk menyampaikan dakwah secara terbukaFase dakwah secara sembunyi-sembunyi telah berlangsung kurang lebih tiga tahun. Dalam masa tersebut, jumlah orang yang menerima Islam terus bertambah. Lalu, bagaimana Rasulullah ﷺ mulai membawa dakwah ini ke ruang publik? Dalam artikel ini, kita akan membahas awal fase dakwah secara terang-terangan atau jahriyyah.Perintah memperingatkan kerabat terdekatSalah satu perintah awal yang berkaitan dengan dakwah secara terang-terangan adalah firman Allah Ta’ala,وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ“Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara’: 214)Setelah ayat tersebut turun, Rasulullah ﷺ naik ke Bukit Shafa kemudian menyeru,يَا صَبَاحَاهْ!“Wahai kaumku, waspadalah terhadap bahaya yang mengancam!”Kabilah-kabilah Quraisy pun berkumpul. Rasulullah ﷺ mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah, mengimani kerasulan beliau, dan mengimani hari akhir.Imam al-Bukhari meriwayatkan sebagian kisah ini dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa tatkala ayat tersebut turun, Rasulullah naik ke Bukit Shafa, kemudian memanggil,يَا بَنِي فِهْرٍ! يَا بَنِي عَدِيٍّ“Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Adi!” dan kabilah-kabilah Quraisy lainnya hingga mereka berkumpul. Bahkan, seseorang yang tidak dapat hadir sendiri mengutus orang lain untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Hadir pula Abu Lahab ketika itu. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالْوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟“Bagaimana menurut kalian jika aku kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?” Mereka menjawab,نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا“Ya. Kami tidak pernah mendapati darimu selain kejujuran.”Rasulullah pun bersabda,فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang berat.”Abu Lahab lalu merespon, “Celakalah engkau sepanjang hari ini! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” Maka turunlah firman Allah Ta’ala,تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ“Binasalah kedua tangan Abu Lahab,” hingga akhir surah.Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan bahwa tatkala surah Asy-Syu’ara’ ayat 214 turun, Rasulullah ﷺ menyeru kaum Quraisy secara umum, kemudian menyebut beberapa keluarga dan kerabat secara khusus. Beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا مَعْشَرَ بَنِي كَعْبٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا“Wahai seluruh kaum Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Demi Allah, sesungguhnya aku tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk melindungi kalian dari azab Allah. Hanya saja, kalian memiliki hubungan kekerabatan denganku yang akan tetap aku sambung sebagaimana mestinya.”Baca juga: Dakwah Para Nabi dan RasulPertemuan Bani Hasyim dalam riwayat sirahSebagian riwayat sirah juga menyebutkan bahwa setelah turunnya surah Asy-Syu’ara’ ayat 214, Rasulullah ﷺ mengundang Bani Hasyim. Sejumlah orang dari Bani al-Muththalib juga turut hadir. Dalam riwayat tersebut, dinukil bahwa Rasulullah ﷺ menyampaikan,إِنَّ الرَّائِدَ لَا يَكْذِبُ أَهْلَهُ، وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ خَاصَّةً، وَإِلَى النَّاسِ عَامَّةً، وَاللَّهِ لَتَمُوتُنَّ كَمَا تَنَامُونَ، وَلَتُبْعَثُنَّ كَمَا تَسْتَيْقِظُونَ، وَلَتُحَاسَبُنَّ بِمَا تَعْمَلُونَ، وَإِنَّهَا الْجَنَّةُ أَبَدًا أَوِ النَّارُ أَبَدًا.“Sesungguhnya seorang pengintai tidak akan berdusta kepada keluarganya. Demi Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada seluruh manusia secara umum. Demi Allah, sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur, lalu kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian terbangun. Kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian. Setelah itu, yang ada hanyalah surga untuk selama-lamanya atau neraka untuk selama-lamanya.”Abu Thalib kemudian berkata, “Betapa senangnya kami dapat membantumu. Kami menerima nasihatmu dan sangat membenarkan perkataanmu. Inilah keluarga ayahmu yang telah berkumpul. Aku hanyalah salah seorang di antara mereka, tetapi akulah yang paling cepat mendukung apa yang engkau sukai. Maka teruskanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku akan senantiasa menjaga dan melindungimu. Hanya saja, jiwaku tidak sanggup meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib.”Abu Lahab berkata, “Demi Allah, ini benar-benar suatu keburukan. Cegahlah dia sebelum orang lain bertindak terhadap kalian.”Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, kami akan terus melindunginya selama kami masih hidup.”Rincian pidato dan dialog dalam riwayat tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari Nabi ﷺ. Meskipun demikian, pokok peringatan beliau kepada kerabat terdekat telah ditetapkan dalam hadis sahih al-Bukhari dan Muslim.Penegasan untuk menyampaikan dakwah secara terbukaDalam fase dakwah secara terang-terangan tersebut, Allah juga menegaskan kepada Rasulullah ﷺ agar menyampaikan kebenaran secara terbuka dan tidak menghiraukan penentangan kaum musyrikin. Allah Ta’ala berfirman,فَاصْدَعْ بِما تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala sesuatu yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mulai membongkar berbagai kebatilan kesyirikan setelah turunnya ayat tersebut. Akibatnya, kemarahan dan penolakan merebak di tengah masyarakat Makkah. Kaum Quraisy bangkit untuk bersiap memadamkan dakwah Rasulullah ﷺ lantaran khawatir tradisi dan warisan nenek moyang mereka akan hancur.Menurut al-Mubarakfuri, kaum Quraisy menyadari besarnya konsekuensi dakwah tauhid. Mengimani bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, membenarkan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, dan beriman kepada hari akhir berarti tunduk sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak lagi bebas bertindak semaunya terhadap diri, harta, maupun orang lain. Dakwah tersebut juga mengancam kekuasaan dan kebanggaan sosial yang selama ini menopang kedudukan mereka di tengah bangsa Arab. Selain itu, mereka harus meninggalkan kezaliman terhadap masyarakat lemah dan tidak lagi dapat mendahulukan keinginan pribadi di atas kehendak Allah dan Rasul-Nya.Jiwa mereka menolak menerima keadaan yang dianggap “menghinakan” itu. Penolakan tersebut bukanlah demi menjaga kemuliaan ataupun kebaikan, tetapi sebagaimana firman Allah Ta’ala,بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسانُ لِيَفْجُرَ أَمامَهُ“Bahkan manusia hendak terus berbuat maksiat pada masa yang akan datang.” (QS. Al-Qiyamah: 5)Menurut al-Mubarakfuri, Quraisy kebingungan menghadapi seorang laki-laki yang jujur dan terpercaya, teladan tertinggi dalam nilai-nilai kemanusiaan dan kemuliaan akhlak. Sepanjang sejarah kaum dan nenek moyang mereka, tidak pernah mereka mengenal seseorang yang sebanding dengan Rasulullah  ﷺ dalam kejujuran dan kemuliaan akhlak.Setelah mempertimbangkan berbagai cara, akhirnya kaum musyrikin Quraisy memutuskan untuk mendatangi Abu Thalib. Mereka berharap paman Rasulullah ﷺ itu bersedia menghentikan dakwah keponakannya yang semakin meluas.Bagaimana tanggapan Abu Thalib terhadap tuntutan kaum Quraisy? Insyaallah, kisahnya akan dibahas dalam artikel selanjutnya.[Bersambung]***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.


Daftar Isi TogglePerintah memperingatkan kerabat terdekatPertemuan Bani Hasyim dalam riwayat sirahPenegasan untuk menyampaikan dakwah secara terbukaFase dakwah secara sembunyi-sembunyi telah berlangsung kurang lebih tiga tahun. Dalam masa tersebut, jumlah orang yang menerima Islam terus bertambah. Lalu, bagaimana Rasulullah ﷺ mulai membawa dakwah ini ke ruang publik? Dalam artikel ini, kita akan membahas awal fase dakwah secara terang-terangan atau jahriyyah.Perintah memperingatkan kerabat terdekatSalah satu perintah awal yang berkaitan dengan dakwah secara terang-terangan adalah firman Allah Ta’ala,وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ“Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara’: 214)Setelah ayat tersebut turun, Rasulullah ﷺ naik ke Bukit Shafa kemudian menyeru,يَا صَبَاحَاهْ!“Wahai kaumku, waspadalah terhadap bahaya yang mengancam!”Kabilah-kabilah Quraisy pun berkumpul. Rasulullah ﷺ mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah, mengimani kerasulan beliau, dan mengimani hari akhir.Imam al-Bukhari meriwayatkan sebagian kisah ini dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa tatkala ayat tersebut turun, Rasulullah naik ke Bukit Shafa, kemudian memanggil,يَا بَنِي فِهْرٍ! يَا بَنِي عَدِيٍّ“Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Adi!” dan kabilah-kabilah Quraisy lainnya hingga mereka berkumpul. Bahkan, seseorang yang tidak dapat hadir sendiri mengutus orang lain untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Hadir pula Abu Lahab ketika itu. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالْوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟“Bagaimana menurut kalian jika aku kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?” Mereka menjawab,نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا“Ya. Kami tidak pernah mendapati darimu selain kejujuran.”Rasulullah pun bersabda,فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang berat.”Abu Lahab lalu merespon, “Celakalah engkau sepanjang hari ini! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” Maka turunlah firman Allah Ta’ala,تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ“Binasalah kedua tangan Abu Lahab,” hingga akhir surah.Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan bahwa tatkala surah Asy-Syu’ara’ ayat 214 turun, Rasulullah ﷺ menyeru kaum Quraisy secara umum, kemudian menyebut beberapa keluarga dan kerabat secara khusus. Beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا مَعْشَرَ بَنِي كَعْبٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا“Wahai seluruh kaum Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Demi Allah, sesungguhnya aku tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk melindungi kalian dari azab Allah. Hanya saja, kalian memiliki hubungan kekerabatan denganku yang akan tetap aku sambung sebagaimana mestinya.”Baca juga: Dakwah Para Nabi dan RasulPertemuan Bani Hasyim dalam riwayat sirahSebagian riwayat sirah juga menyebutkan bahwa setelah turunnya surah Asy-Syu’ara’ ayat 214, Rasulullah ﷺ mengundang Bani Hasyim. Sejumlah orang dari Bani al-Muththalib juga turut hadir. Dalam riwayat tersebut, dinukil bahwa Rasulullah ﷺ menyampaikan,إِنَّ الرَّائِدَ لَا يَكْذِبُ أَهْلَهُ، وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ خَاصَّةً، وَإِلَى النَّاسِ عَامَّةً، وَاللَّهِ لَتَمُوتُنَّ كَمَا تَنَامُونَ، وَلَتُبْعَثُنَّ كَمَا تَسْتَيْقِظُونَ، وَلَتُحَاسَبُنَّ بِمَا تَعْمَلُونَ، وَإِنَّهَا الْجَنَّةُ أَبَدًا أَوِ النَّارُ أَبَدًا.“Sesungguhnya seorang pengintai tidak akan berdusta kepada keluarganya. Demi Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada seluruh manusia secara umum. Demi Allah, sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur, lalu kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian terbangun. Kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian. Setelah itu, yang ada hanyalah surga untuk selama-lamanya atau neraka untuk selama-lamanya.”Abu Thalib kemudian berkata, “Betapa senangnya kami dapat membantumu. Kami menerima nasihatmu dan sangat membenarkan perkataanmu. Inilah keluarga ayahmu yang telah berkumpul. Aku hanyalah salah seorang di antara mereka, tetapi akulah yang paling cepat mendukung apa yang engkau sukai. Maka teruskanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku akan senantiasa menjaga dan melindungimu. Hanya saja, jiwaku tidak sanggup meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib.”Abu Lahab berkata, “Demi Allah, ini benar-benar suatu keburukan. Cegahlah dia sebelum orang lain bertindak terhadap kalian.”Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, kami akan terus melindunginya selama kami masih hidup.”Rincian pidato dan dialog dalam riwayat tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari Nabi ﷺ. Meskipun demikian, pokok peringatan beliau kepada kerabat terdekat telah ditetapkan dalam hadis sahih al-Bukhari dan Muslim.Penegasan untuk menyampaikan dakwah secara terbukaDalam fase dakwah secara terang-terangan tersebut, Allah juga menegaskan kepada Rasulullah ﷺ agar menyampaikan kebenaran secara terbuka dan tidak menghiraukan penentangan kaum musyrikin. Allah Ta’ala berfirman,فَاصْدَعْ بِما تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala sesuatu yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mulai membongkar berbagai kebatilan kesyirikan setelah turunnya ayat tersebut. Akibatnya, kemarahan dan penolakan merebak di tengah masyarakat Makkah. Kaum Quraisy bangkit untuk bersiap memadamkan dakwah Rasulullah ﷺ lantaran khawatir tradisi dan warisan nenek moyang mereka akan hancur.Menurut al-Mubarakfuri, kaum Quraisy menyadari besarnya konsekuensi dakwah tauhid. Mengimani bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, membenarkan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, dan beriman kepada hari akhir berarti tunduk sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak lagi bebas bertindak semaunya terhadap diri, harta, maupun orang lain. Dakwah tersebut juga mengancam kekuasaan dan kebanggaan sosial yang selama ini menopang kedudukan mereka di tengah bangsa Arab. Selain itu, mereka harus meninggalkan kezaliman terhadap masyarakat lemah dan tidak lagi dapat mendahulukan keinginan pribadi di atas kehendak Allah dan Rasul-Nya.Jiwa mereka menolak menerima keadaan yang dianggap “menghinakan” itu. Penolakan tersebut bukanlah demi menjaga kemuliaan ataupun kebaikan, tetapi sebagaimana firman Allah Ta’ala,بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسانُ لِيَفْجُرَ أَمامَهُ“Bahkan manusia hendak terus berbuat maksiat pada masa yang akan datang.” (QS. Al-Qiyamah: 5)Menurut al-Mubarakfuri, Quraisy kebingungan menghadapi seorang laki-laki yang jujur dan terpercaya, teladan tertinggi dalam nilai-nilai kemanusiaan dan kemuliaan akhlak. Sepanjang sejarah kaum dan nenek moyang mereka, tidak pernah mereka mengenal seseorang yang sebanding dengan Rasulullah  ﷺ dalam kejujuran dan kemuliaan akhlak.Setelah mempertimbangkan berbagai cara, akhirnya kaum musyrikin Quraisy memutuskan untuk mendatangi Abu Thalib. Mereka berharap paman Rasulullah ﷺ itu bersedia menghentikan dakwah keponakannya yang semakin meluas.Bagaimana tanggapan Abu Thalib terhadap tuntutan kaum Quraisy? Insyaallah, kisahnya akan dibahas dalam artikel selanjutnya.[Bersambung]***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.

Sejarah Kemunculan Asy’ariyyah (Bag. 2): Tokoh-Tokoh, Pergeseran Corak, dan Penyebarannya di Dunia Islam

Daftar Isi ToggleAsy’ariyyah setelah Abu al-Hasan al-Asy’ariAl-Baqillani: Penyusun kerangka Asy’ariyyahAl-Juwaini: Titik pergeseranAl-Ghazali: Meluasnya pengaruhFakhruddin ar-Razi: Kalam dan filsafat menyatuPenyebaran Asy’ariyyahPenutupAsy’ariyyah tidak berhenti pada sosok Abu al-Hasan al-Asy’ari semata. Setelah muncul sebagai salah satu arus teologi dalam Islam, aliran ini terus berkembang melalui tangan para murid, penerus, dan tokoh-tokoh sesudahnya. Dalam proses itu, coraknya tidak selalu tetap. Ada fase ketika ia masih dekat dengan bentuk awalnya, ada pula fase ketika perangkat ilmu kalam semakin dominan, bahkan pada masa-masa belakangan mulai bercampur dengan pembahasan filsafat dan mantiq. Oleh karena itu, perkembangan Asy’ariyyah perlu dibaca sebagai sebuah proses yang panjang, bukan sebagai bangunan pemikiran yang sejak awal berdiri dalam bentuk yang sama.Dari sini dapat dipahami bahwa pembahasan tentang perkembangan Asy’ariyyah tidak cukup hanya dengan menyebut nama-nama tokohnya, tetapi juga perlu melihat perubahan corak yang terjadi di dalamnya. Sebab, Asy’ariyyah pada masa awal tidak selalu identik dengan Asy’ariyyah pada masa-masa sesudahnya. Nama yang dipakai tetap sama, tetapi cara berargumentasi, keluasan pembahasan, dan metode yang ditempuh mengalami perkembangan. Maka, untuk memahami posisi Asy’ariyyah secara lebih utuh, perlu dilihat bagaimana aliran ini tumbuh setelah Abu al-Hasan al-Asy’ari, siapa saja tokoh yang membentuknya, dan melalui jalur apa ia kemudian menyebar di dunia Islam.Asy’ariyyah setelah Abu al-Hasan al-Asy’ariSepeninggal Abu al-Hasan al-Asy’ari, mazhab ini belum langsung berdiri kokoh. Ia masih berupa corak pemikiran yang sedang mencari bentuknya. Para murid langsung al-Asy’ari seperti Abu al-Hasan al-Bahili dan Ibnu Mujahid al-Bashri berperan meneruskan apa yang mereka terima dari gurunya. Adz-Dzahabi menyebutkan hal ini dalam Siyar A’lam an-Nubala’,أخذ عنه أئمة منهم :أبو الحسن الباهلي وأبو الحسن الكرماني، وأبو زيد المروزي، وأبو عبد الله بن مجاهد البصري، وبندار بن الحسين الشيرازي ، وأبو محمد العراقي ، وزاهر بن أحمد السرخسي ، وأبو سهل الصعلوكي ، وأبو نصر الكواز الشيرازي“Banyak imam yang menimba ilmu darinya, di antaranya adalah: Abu al-Hasan al-Bahili, Abu al-Hasan al-Kirmani, Abu Zaid al-Marwazi, Abu Abdullah bin Mujahid al-Bashri, Bundar bin al-Husain asy-Syirazi, Abu Muhammad al-Iraqi, Zahir bin Ahmad as-Sarkhasi, Abu Sahl as-Sa’luki, dan Abu Nashr al-Kawwaz asy-Syirazi.” [1]Catatan tertulis dari generasi pertama ini tidak sebanyak generasi sesudahnya. Oleh karena itu, bangunan Asy’ariyyah yang lebih tertata baru muncul di tangan tokoh-tokoh setelah mereka.Al-Baqillani: Penyusun kerangka Asy’ariyyahTokoh yang paling berperan merapikan bangunan Asy’ariyyah setelah Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah Abu Bakr al-Baqillani. Dalam Siyar A’lam an-Nubala’, Adz-Dzahabi menyebut kedudukan al-Baqillani,الإِمَامُ، العَلَّامَةُ، أَوْحَدُ المُتَكَلِّمِينَ، مُقَدَّمُ الأُصُولِيِّينَ، القَاضِي أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الطَّيِّبِ البَاقِلَّانِيُّ“Imam, ulama besar, tokoh paling menonjol di kalangan ahli kalam, terdepan di antara para ushuliyyin, Qadhi Abu Bakr Muhammad bin ath-Thayyib al-Baqillani.” [2]Di tangan al-Baqillani, Asy’ariyyah mulai punya bentuk yang lebih terlihat coraknya. Ia menulis karya-karya penting seperti at-Tamhid yang di dalamnya, ia menyusun dalil-dalil akal secara masif dan tertata.Satu hal yang perlu dicatat dari fase al-Baqillani adalah sikapnya terhadap sifat khabariyyah. Pada masanya, Asy’ariyyah belum sejauh generasi sesudahnya dalam masalah takwil. Al-Baqillani masih menetapkan sifat wajah dan tangan bagi Allah. Ia menyebutkan dalam al-Inshaf,وَالْيَدَيْنِ اللَّتَيْنِ نَطَقَ بِإِثْبَاتِهِمَا لَهُ الْقُرْآنُ، فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: (بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ)، وَقَوْلِهِ: (مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ)، وَأَنَّهُمَا لَيْسَتَا بِجَارِحَتَيْنِ، وَلَا ذَوِي صُورَةٍ وَهَيْئَةٍ“Dan (menetapkan) kedua tangan yang Al-Qur’an sendiri telah berfirman untuk menetapkannya bagi Allah, sebagaimana firman-Nya, ‘Bahkan kedua tangan-Nya terbuka lebar,’ dan firman-Nya, ‘Apa yang menghalangimu untuk bersujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku.’ Dan sesungguhnya kedua tangan tersebut bukanlah anggota badan, juga tidak memiliki bentuk maupun rupa tertentu.” [3]Ini menunjukkan bahwa Asy’ariyyah pada fase al-Baqillani belum sampai pada titik menakwilkan seluruh sifat khabariyyah. Pergeseran ke arah itu baru terjadi pada generasi berikutnya.Al-Juwaini: Titik pergeseranPerubahan corak Asy’ariyyah yang paling terasa terjadi pada masa Imam al-Haramain al-Juwaini. Adz-Dzahabi menyebutkan kedudukannya,الإِمَامُ الكَبِيرُ، شَيْخُ الشَّافِعِيَّةِ، إِمَامُ الحَرَمَيْنِ، أَبُو المَعَالِي عَبْدُ المَلِكِ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ يُوسُفَ الجُوَيْنِيُّ“Imam besar, guru besarnya kalangan Syafi’iyyah, Imam al-Haramain, Abu al-Ma’ali ‘Abd al-Malik bin ‘Abdillah bin Yusuf al-Juwaini.” [4]Al-Juwaini mengembangkan Asy’ariyyah ke arah yang lebih filosofis. Pada masanya, pembahasan kalam tidak lagi sekadar bantahan terhadap Mu’tazilah, tetapi sudah menjadi bangunan teoretis yang berdiri sendiri. Dalam masalah sifat, al-Juwaini mulai menakwilkan sebagian sifat khabariyyah yang sebelumnya masih ditetapkan oleh al-Asy’ari dan al-Baqillani. Ini adalah pergeseran yang cukup mendasar. Beliau menyebutkan dalam al-Irsyad,ذَهَبَ بَعْضُ أَئِمَّتِنَا إِلَى أَنَّ الْيَدَيْنِ وَالْعَيْنَيْنِ وَالْوَجْهَ صِفَاتٌ ثَابِتَةٌ لِلرَّبِّ تَعَالَى، وَالسَّبِيلُ إِلَى إِثْبَاتِهَا السَّمْعُ دُونَ قَضِيَّةِ الْعَقْلِ، وَالَّذِي يَصِحُّ عِنْدَنَا حَمْلُ الْيَدَيْنِ عَلَى الْقُدْرَةِ، وَحَمْلُ الْعَيْنَيْنِ عَلَى الْبَصَرِ، وَحَمْلُ الْوَجْهِ عَلَى الْوُجُودِ.“Sebagian imam kami berpendapat bahwa kedua tangan, kedua mata, dan wajah adalah sifat-sifat yang tetap bagi Allah Ta’ala, yang jalannya ditetapkan melalui dalil naqli (wahyu) bukan melalui ketetapan akal. Namun, yang benar menurut kami adalah membawa makna kedua tangan kepada kekuasaan, membawa makna kedua mata kepada penglihatan, dan membawa makna wajah kepada eksistensi (keberadaan).” [5]Pada fase akhir kehidupannya, tampak adanya perubahan pendekatan Imam al-Haramayn al-Juwaini dalam pembahasan sifat-sifat Allah. Jika dalam karya-karya sebelumnya, seperti al-Irsyād, ia cenderung menggunakan metode takwil, maka dalam karya akhirnya, al-‘Aqīdah an-Niẓāmiyyah, ia menyatakan bahwa pendapat yang dipilihnya adalah mengikuti manhaj salaf dalam masalah tersebut. al-Allamah Muhammad Amin asy-Syinqithi menyebutkan bahwa al-Juwani menuliskan,وَقَدِ اخْتَلَفَتْ مَسَالِكُ الْعُلَمَاءِ فِي الظَّوَاهِرِ الَّتِي وَرَدَتْ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ… وَذَهَبَ أَئِمَّةُ السَّلَفِ إِلَى الِانْكِفَافِ عَنِ التَّأْوِيلِ، وَإِجْرَاءِ الظَّوَاهِرِ عَلَى مَوَارِدِهَا، وَتَفْوِيضِ مَعَانِيهَا إِلَى الرَّبِّ سُبْحَانَهُ، وَالَّذِي نَرْتَضِيهِ رَأْيًا وَنَدِينُ اللَّهَ بِهِ عَقْدًا: اتِّبَاعُ سَلَفِ الْأُمَّةِ، فَالْأَوْلَى الِاتِّبَاعُ وَتَرْكُ الِابْتِدَاعِ“Metode para ulama telah berbeda-beda dalam menyikapi dalil-dalil zahir yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah… Para imam salaf berpendapat untuk menahan diri dari takwil, membiarkan dalil-dalil zahir sebagaimana adanya, serta menyerahkan (tafwidh) maknanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun pendapat yang kami ridai dan kami jadikan keyakinan dalam beragama kepada Allah adalah mengikuti salaf umat ini, karena yang paling utama adalah mengikuti (ittiba’) dan meninggalkan bidah (ibtida’).” [6]Pernyataan ini menunjukkan bahwa dalam al-‘Aqīdah an-Niẓāmiyyah, al-Juwaini memilih metode salaf dalam pembahasan ayat-ayat sifat, yaitu tidak melakukan takwil secara terperinci dan menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah (tafwīḍ). Hal ini berbeda dengan pendekatan yang ia tempuh dalam sebagian karya sebelumnya, seperti al-Irsyād.Kalau pernyataan ini dibaca dalam konteks perjalanan intelektual al-Juwaini yang panjang di dunia kalam, maka ini menunjukkan bahwa meski seseorang sudah sangat dalam masuk ke ranah kalam, kesadaran akan keutamaan jalan para pendahulu umat tetap bisa muncul.Al-Ghazali: Meluasnya pengaruhMurid al-Juwaini yang paling berpengaruh adalah Abu Hamid al-Ghazali. Adz-Dzahabi menyebutkan tentang al-Ghazali,الشَّيْخُ الإِمَامُ، البَحْرُ، حُجَّةُ الإِسْلَامِ، أَعْجُوبَةُ الزَّمَانِ، أَبُو حَامِدٍ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الطُّوسِيُّ الغَزَّالِيُّ الشَّافِعِيُّ“Syekh, imam, lautan (ilmu), hujjatul Islam, keajaiban zamannya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad ath-Thusi al-Ghazali asy-Syafi’i.”Al-Ghazali bukan sekadar penerus, ia adalah tokoh yang membuat Asy’ariyyah melampaui lingkaran debat teologis dan masuk ke ranah pendidikan, ushul fikih, dan tasawuf. Pengaruhnya meluas karena ia pernah mengajar di Madrasah Nizhamiyyah Baghdad. Adz-Dzahabi juga menyebutkan,وَوَلِيَ التَّدْرِيسَ بِالنِّظَامِيَّةِ بِبَغْدَادَ“Dan ia memegang pengajaran di Madrasah Nizhamiyyah Baghdad.” [7]Dari sini, pemikiran Asy’ariyyah tidak lagi terbatas pada halaqah-halaqah kecil. Ia menjadi bagian dari kurikulum pendidikan resmi yang menjangkau wilayah luas. Peran Madrasah Nizhamiyyah ini sangat besar dalam menyebarkan Asy’ariyyah, karena para pengajar di sana sebagian besar berasal dari kalangan yang berakidah Asy’ariyyah. Di sinilah ilmu kalam mulai sangat dijadikan sandaran. Ibnu Khaldun di dalam al-Muqaddimah menyebutkan,أول من كتب في طريقة الكلام على هذا المنحى الغزالي رحمه الله“Yang pertama kali membahas masalah ini dengan pendekatan ilmu kalam adalah al-Ghazali.” [8]Namun, sebagaimana al-Juwaini, al-Ghazali juga punya fase akhir yang perlu dicatat, yaitu ia lebih dekat dengan ahlul hadis (salaf). Dalam Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam, ia menulis,الدليل على أن مذهب السلف هو الحق: أن نقيضه بدعة، والبدعة مذمومة وضلالة“Dalil bahwa madzhab salaf itulah yang benar adalah karena menyelisihinya merupakan kebid’ahan. Kebid`ahan itu tercela dan kesesatan.” [9] Bahkan, banyak ulama yang menceritakan bahwa ketika beliau meninggal, dalam dekapan dadanya terdapat kitab Shahih Bukhari.Pernyataan ini datang dari salah satu tokoh terbesar Asy’ariyyah. Bobotnya menjadi lebih berat justru karena ia keluar dari orang yang sudah sangat dalam menyelami ilmu kalam.Fakhruddin ar-Razi: Kalam dan filsafat menyatuSetelah al-Ghazali, perkembangan Asy’ariyyah semakin bergerak ke arah percampuran dengan filsafat. Tokoh yang paling mewakili fase ini adalah Fakhruddin ar-Razi. Adz-Dzahabi menyebutkan,العَلَّامَةُ الكَبِيرُ، ذُو الفُنُونِ، فَخْرُ الدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ الحُسَيْنِ الرَّازِيُّ“Ulama besar, pemilik berbagai cabang ilmu, Fakhruddin Muhammad bin ‘Umar bin al-Husain ar-Razi.” [10]Pada masa Fakhruddin ar-Razi, pembahasan ilmu kalam Asy’ari mencapai bentuk yang jauh lebih sistematis dan kompleks. Dalam karya-karyanya, khususnya Mafātīḥ al-Ghayb, pembahasan ayat-ayat sifat dipadukan dengan argumentasi kalam, logika, dan filsafat, sehingga corak pemikirannya berbeda dari penyajian Abu al-Hasan al-Asy’ari dalam karya-karya awal seperti al-Ibanah. Ibnu Khaldun menjelaskan dalam al-Muqaddimah,وتبعه الإمام ابن الخطيب وجماعة قفوا أثرهم… ثم توغل المتأخرون من بعدهم في مخالطة كتب الفلسف“Langkah ini (pendekatan akidah dengan ilmu kalam) diikuti oleh Imam Ibn al-Khathib (Fakhruddin ar-Razi) dan sekelompok ulama yang mengikuti jejak mereka… Kemudian, para ulama generasi belakangan setelah mereka semakin jauh tenggelam dalam mencampuradukkan pemikiran dengan buku-buku filsafat.” [11]Tetapi justru dari ar-Razi inilah dinukil pengakuan yang menjadi salah satu kutipan paling masyhur dalam sejarah kritik terhadap ilmu kalam. Ibnu Taimiyah menceritakan bahwa ar-Razi di dalam kitabnya menyebutkan,لَقَدْ تَأَمَّلْتُ الطُّرُقَ الكَلَامِيَّةَ وَالمَنَاهِجَ الفَلْسَفِيَّةَ، فَمَا رَأَيْتُهَا تَشْفِي عَلِيلًا وَلَا تَرْوِي غَلِيلًا، وَرَأَيْتُ أَقْرَبَ الطُّرُقِ طَرِيقَةَ القُرْآنِ“Sungguh aku telah merenungkan jalan-jalan kalam dan metode-metode filsafat. Aku tidak mendapatinya bisa menyembuhkan orang yang sakit dan tidak pula melepaskan dahaga. Dan aku mendapati jalan yang paling dekat adalah jalan Al-Qur’an.” [12]Seorang tokoh yang menghabiskan hidupnya membangun argumen kalam dan filsafat, di akhir perjalanannya mengaku bahwa semua itu tidak memberi ketenangan. Pola ini (kegelisahan para tokoh besar kalam di akhir hayat mereka), berulang pada al-Juwaini, al-Ghazali, dan ar-Razi. Kalau tiga nama sebesar itu saja sampai pada kesimpulan yang serupa, maka hal itu layak menjadi bahan renungan bagi siapa pun yang mempelajari sejarah pemikiran ini.Penyebaran Asy’ariyyahSelain berkembang secara intelektual, Asy’ariyyah juga menyebar secara geografis. Di antara faktor yang paling berpengaruh dalam penyebarannya adalah dukungan penguasa serta berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan. Pada masa Dinasti Saljuk, Wazir Nizham al-Mulk mendirikan jaringan Madrasah Nizhamiyyah di berbagai kota yang kemudian menjadi pusat pembelajaran ilmu-ilmu keislaman. Mengenai jasanya tersebut, Ibnu Khallikan berkata,وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ بَنَى الْمَدَارِسَ، فَاقْتَدَى النَّاسُ بِهِ فِي ذَلِكَ“Dialah orang pertama yang membangun madrasah-madrasah, kemudian orang-orang mengikuti jejaknya dalam hal tersebut.” [13]Keberadaan madrasah-madrasah ini menjadi lebih berpengaruh lagi ketika tokoh-tokoh besar Asy’ariyyah menempati posisi pengajaran di dalamnya. Selain faktor lembaga pendidikan, penyebaran Asy’ariyyah juga terkait erat dengan mazhab fikih, terutama di kalangan Syafi‘iyyah dan Malikiyyah. Hubungan ini membuat Asy’ariyyah tersebar luas di wilayah-wilayah yang didominasi kedua mazhab tersebut. Taj ad-Din as-Subki bahkan menggambarkan kuatnya hubungan ini dengan ungkapan,هَؤُلَاءِ الحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالمَالِكِيَّةُ وَفُضَلَاءُ الحَنَابِلَةِ فِي العَقَائِدِ يَدٌ وَاحِدَةٌ، كُلُّهُمْ عَلَى رَأْيِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ، يَدِينُونَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِطَرِيقِ الشَّيْخِ أَبِي الحَسَنِ الأَشْعَرِيِّ، لَا يَحِيدُ عَنْهَا إِلَّا رَعَاعٌ“Mereka, yakni kalangan Hanafiyyah, Syafi‘iyyah, Malikiyyah, dan para ulama utama Hanabilah, dalam masalah akidah adalah satu barisan. Semuanya berada di atas pendapat Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, beragama kepada Allah dengan jalan Syekh Abu al-Hasan al-Asy‘ari, dan tidak menyimpang dari jalan itu kecuali orang-orang rendahan.” [14]Ungkapan as-Subki ini tentu merepresentasikan pandangan dari kalangan yang mendukung Asy’ariyyah. Oleh karena itu, ia tidak bisa dibaca sebagai ijmak seluruh ulama Islam. Akan tetapi, nukilan tersebut tetap penting untuk menunjukkan betapa kuatnya posisi Asy’ariyyah di dalam jaringan ulama Syafi‘iyyah dan sebagian Malikiyyah pada masa-masa setelahnya. Dari sini dapat dipahami bahwa luasnya penyebaran Asy’ariyyah bukan semata karena kekuatan argumentasinya, tetapi juga karena ditopang oleh jaringan ulama, lembaga pendidikan, dan dukungan politik yang mendukung pertumbuhannya.PenutupPerkembangan Asy’ariyyah menunjukkan bahwa sebuah aliran pemikiran bisa berubah cukup jauh dari titik awalnya. Asy’ariyyah bermula dari upaya Abu al-Hasan al-Asy’ari keluar dari Mu’tazilah, kemudian diperkuat oleh al-Baqillani, diperluas oleh al-Juwaini dan al-Ghazali, lalu semakin teknis dan filosofis pada fase ar-Razi dan sesudahnya.Tidak tepat kalau seluruh fase ini disamakan begitu saja. Ada perbedaan yang nyata antara Asy’ariyyah awal dan Asy’ariyyah muta’akhkhirin. Dan dari dalam tubuh Asy’ariyyah sendiri, tokoh-tokoh terbesarnya satu per satu mengisyaratkan bahwa jalan yang mereka tempuh tidak sepenuhnya memberi ketenangan, dan bahwa jalan para pendahulu umat tetap lebih utama dan lebih selamat.Wallahu a’lam bish-shawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 15: 86.[2] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 18: 468.[3] Abu Bakr al-Baqillani, al-Inshaf fima Yajibu I’tiqaduhu wa la Yajuzu al-Jahlu bihi, hal. 36–37.[4] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 18: 468.[5] Imam al-Juwaini, al-Irsyad ila Qawathi’ al-Adillah fi Usul al-I’tiqad, hal. 155.[6] Syekh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Adhwa’ al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, 7: 504.[7] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 19: 322.[8] Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah, 1: 482–483.[9] Al-Ghazali, Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam, hal. 73.[10] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 21: 500.[11] Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah, 1: 483.[12] Syekh al-Islam Ibn Taimiyah, al-Intishar li Ahl al-Atsar (Naqdh al-Manthiq), hal. 106.[13] Ibnu Khallikan, Wafayat al-A’yan wa Anba’ Abna’ az-Zaman, 2: 129.[14] Imam Tajuddin as-Subki, Mu’id an-Ni’am wa Mubid an-Niqam, hal. 62. Daftar Pustaka:al-Baqillani, Abu Bakr Muhammad bin al-Thayyib. al-Inshaf fima Yajibu I’tiqaduhu wa la Yajuzu al-Jahlu bihi. Ed. Muhammad Zahid al-Kautstari. Cet. 2. Kairo: al-Maktabah al-Azhariyyah li at-Turats, 1421 H / 2000 M.adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman. Siyar A’lam an-Nubala’. islamweb.net.al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam. Jeddah: Dar al-Minhaj, 1439 H / 2017 M.Ibn Khaldun, ‘Abd ar-Rahman bin Muhammad. al-Muqaddimah. Beirut: Dar al-Fikr.Ibn Khallikan, Abu al-‘Abbas Syamsuddin Ahmad bin Muhammad. Wafayat al-A’yan wa Anba’ Abna’ az-Zaman. Ed. Ihsan ‘Abbas. Beirut: Dar Sadir, 1994 M.Ibn Taimiyyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. al-Intishar li Ahl al-Atsar al-Mathbu’ bi ismi Naqdh al-Manthiq. Ed. ‘Abd ar-Rahman bin Hasan Qa’id. Cet. 3. Riyadh: Dar ‘Atha’at al-‘Ilm, 1440 H / 2019 M.al-Juwaini, Abu al-Ma’ali ‘Abd al-Malik bin ‘Abdullah. al-Irsyad ila Qawathi’ al-Adillah fi Usul al-I’tiqad. Ed. Muhammad Yusuf Musa dan ‘Ali ‘Abd al-Mun’im ‘Abd al-Hamid. Kairo: Maktabah al-Khanji, 1369 H / 1950 M.as-Subki, Tajuddin ‘Abd al-Wahhab bin Taqiyy ad-Din. Mu’id an-Ni’am wa Mubid an-Niqam. Cet. 1. Beirut: Mu’assasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah, 1407 H / 1986 M.asy-Syinqithi, Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar. Adhwa’ al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an. Cet. 5. Riyadh: Dar ‘Atha’at al-‘Ilm, 1441 H / 2019 M.

Sejarah Kemunculan Asy’ariyyah (Bag. 2): Tokoh-Tokoh, Pergeseran Corak, dan Penyebarannya di Dunia Islam

Daftar Isi ToggleAsy’ariyyah setelah Abu al-Hasan al-Asy’ariAl-Baqillani: Penyusun kerangka Asy’ariyyahAl-Juwaini: Titik pergeseranAl-Ghazali: Meluasnya pengaruhFakhruddin ar-Razi: Kalam dan filsafat menyatuPenyebaran Asy’ariyyahPenutupAsy’ariyyah tidak berhenti pada sosok Abu al-Hasan al-Asy’ari semata. Setelah muncul sebagai salah satu arus teologi dalam Islam, aliran ini terus berkembang melalui tangan para murid, penerus, dan tokoh-tokoh sesudahnya. Dalam proses itu, coraknya tidak selalu tetap. Ada fase ketika ia masih dekat dengan bentuk awalnya, ada pula fase ketika perangkat ilmu kalam semakin dominan, bahkan pada masa-masa belakangan mulai bercampur dengan pembahasan filsafat dan mantiq. Oleh karena itu, perkembangan Asy’ariyyah perlu dibaca sebagai sebuah proses yang panjang, bukan sebagai bangunan pemikiran yang sejak awal berdiri dalam bentuk yang sama.Dari sini dapat dipahami bahwa pembahasan tentang perkembangan Asy’ariyyah tidak cukup hanya dengan menyebut nama-nama tokohnya, tetapi juga perlu melihat perubahan corak yang terjadi di dalamnya. Sebab, Asy’ariyyah pada masa awal tidak selalu identik dengan Asy’ariyyah pada masa-masa sesudahnya. Nama yang dipakai tetap sama, tetapi cara berargumentasi, keluasan pembahasan, dan metode yang ditempuh mengalami perkembangan. Maka, untuk memahami posisi Asy’ariyyah secara lebih utuh, perlu dilihat bagaimana aliran ini tumbuh setelah Abu al-Hasan al-Asy’ari, siapa saja tokoh yang membentuknya, dan melalui jalur apa ia kemudian menyebar di dunia Islam.Asy’ariyyah setelah Abu al-Hasan al-Asy’ariSepeninggal Abu al-Hasan al-Asy’ari, mazhab ini belum langsung berdiri kokoh. Ia masih berupa corak pemikiran yang sedang mencari bentuknya. Para murid langsung al-Asy’ari seperti Abu al-Hasan al-Bahili dan Ibnu Mujahid al-Bashri berperan meneruskan apa yang mereka terima dari gurunya. Adz-Dzahabi menyebutkan hal ini dalam Siyar A’lam an-Nubala’,أخذ عنه أئمة منهم :أبو الحسن الباهلي وأبو الحسن الكرماني، وأبو زيد المروزي، وأبو عبد الله بن مجاهد البصري، وبندار بن الحسين الشيرازي ، وأبو محمد العراقي ، وزاهر بن أحمد السرخسي ، وأبو سهل الصعلوكي ، وأبو نصر الكواز الشيرازي“Banyak imam yang menimba ilmu darinya, di antaranya adalah: Abu al-Hasan al-Bahili, Abu al-Hasan al-Kirmani, Abu Zaid al-Marwazi, Abu Abdullah bin Mujahid al-Bashri, Bundar bin al-Husain asy-Syirazi, Abu Muhammad al-Iraqi, Zahir bin Ahmad as-Sarkhasi, Abu Sahl as-Sa’luki, dan Abu Nashr al-Kawwaz asy-Syirazi.” [1]Catatan tertulis dari generasi pertama ini tidak sebanyak generasi sesudahnya. Oleh karena itu, bangunan Asy’ariyyah yang lebih tertata baru muncul di tangan tokoh-tokoh setelah mereka.Al-Baqillani: Penyusun kerangka Asy’ariyyahTokoh yang paling berperan merapikan bangunan Asy’ariyyah setelah Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah Abu Bakr al-Baqillani. Dalam Siyar A’lam an-Nubala’, Adz-Dzahabi menyebut kedudukan al-Baqillani,الإِمَامُ، العَلَّامَةُ، أَوْحَدُ المُتَكَلِّمِينَ، مُقَدَّمُ الأُصُولِيِّينَ، القَاضِي أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الطَّيِّبِ البَاقِلَّانِيُّ“Imam, ulama besar, tokoh paling menonjol di kalangan ahli kalam, terdepan di antara para ushuliyyin, Qadhi Abu Bakr Muhammad bin ath-Thayyib al-Baqillani.” [2]Di tangan al-Baqillani, Asy’ariyyah mulai punya bentuk yang lebih terlihat coraknya. Ia menulis karya-karya penting seperti at-Tamhid yang di dalamnya, ia menyusun dalil-dalil akal secara masif dan tertata.Satu hal yang perlu dicatat dari fase al-Baqillani adalah sikapnya terhadap sifat khabariyyah. Pada masanya, Asy’ariyyah belum sejauh generasi sesudahnya dalam masalah takwil. Al-Baqillani masih menetapkan sifat wajah dan tangan bagi Allah. Ia menyebutkan dalam al-Inshaf,وَالْيَدَيْنِ اللَّتَيْنِ نَطَقَ بِإِثْبَاتِهِمَا لَهُ الْقُرْآنُ، فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: (بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ)، وَقَوْلِهِ: (مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ)، وَأَنَّهُمَا لَيْسَتَا بِجَارِحَتَيْنِ، وَلَا ذَوِي صُورَةٍ وَهَيْئَةٍ“Dan (menetapkan) kedua tangan yang Al-Qur’an sendiri telah berfirman untuk menetapkannya bagi Allah, sebagaimana firman-Nya, ‘Bahkan kedua tangan-Nya terbuka lebar,’ dan firman-Nya, ‘Apa yang menghalangimu untuk bersujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku.’ Dan sesungguhnya kedua tangan tersebut bukanlah anggota badan, juga tidak memiliki bentuk maupun rupa tertentu.” [3]Ini menunjukkan bahwa Asy’ariyyah pada fase al-Baqillani belum sampai pada titik menakwilkan seluruh sifat khabariyyah. Pergeseran ke arah itu baru terjadi pada generasi berikutnya.Al-Juwaini: Titik pergeseranPerubahan corak Asy’ariyyah yang paling terasa terjadi pada masa Imam al-Haramain al-Juwaini. Adz-Dzahabi menyebutkan kedudukannya,الإِمَامُ الكَبِيرُ، شَيْخُ الشَّافِعِيَّةِ، إِمَامُ الحَرَمَيْنِ، أَبُو المَعَالِي عَبْدُ المَلِكِ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ يُوسُفَ الجُوَيْنِيُّ“Imam besar, guru besarnya kalangan Syafi’iyyah, Imam al-Haramain, Abu al-Ma’ali ‘Abd al-Malik bin ‘Abdillah bin Yusuf al-Juwaini.” [4]Al-Juwaini mengembangkan Asy’ariyyah ke arah yang lebih filosofis. Pada masanya, pembahasan kalam tidak lagi sekadar bantahan terhadap Mu’tazilah, tetapi sudah menjadi bangunan teoretis yang berdiri sendiri. Dalam masalah sifat, al-Juwaini mulai menakwilkan sebagian sifat khabariyyah yang sebelumnya masih ditetapkan oleh al-Asy’ari dan al-Baqillani. Ini adalah pergeseran yang cukup mendasar. Beliau menyebutkan dalam al-Irsyad,ذَهَبَ بَعْضُ أَئِمَّتِنَا إِلَى أَنَّ الْيَدَيْنِ وَالْعَيْنَيْنِ وَالْوَجْهَ صِفَاتٌ ثَابِتَةٌ لِلرَّبِّ تَعَالَى، وَالسَّبِيلُ إِلَى إِثْبَاتِهَا السَّمْعُ دُونَ قَضِيَّةِ الْعَقْلِ، وَالَّذِي يَصِحُّ عِنْدَنَا حَمْلُ الْيَدَيْنِ عَلَى الْقُدْرَةِ، وَحَمْلُ الْعَيْنَيْنِ عَلَى الْبَصَرِ، وَحَمْلُ الْوَجْهِ عَلَى الْوُجُودِ.“Sebagian imam kami berpendapat bahwa kedua tangan, kedua mata, dan wajah adalah sifat-sifat yang tetap bagi Allah Ta’ala, yang jalannya ditetapkan melalui dalil naqli (wahyu) bukan melalui ketetapan akal. Namun, yang benar menurut kami adalah membawa makna kedua tangan kepada kekuasaan, membawa makna kedua mata kepada penglihatan, dan membawa makna wajah kepada eksistensi (keberadaan).” [5]Pada fase akhir kehidupannya, tampak adanya perubahan pendekatan Imam al-Haramayn al-Juwaini dalam pembahasan sifat-sifat Allah. Jika dalam karya-karya sebelumnya, seperti al-Irsyād, ia cenderung menggunakan metode takwil, maka dalam karya akhirnya, al-‘Aqīdah an-Niẓāmiyyah, ia menyatakan bahwa pendapat yang dipilihnya adalah mengikuti manhaj salaf dalam masalah tersebut. al-Allamah Muhammad Amin asy-Syinqithi menyebutkan bahwa al-Juwani menuliskan,وَقَدِ اخْتَلَفَتْ مَسَالِكُ الْعُلَمَاءِ فِي الظَّوَاهِرِ الَّتِي وَرَدَتْ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ… وَذَهَبَ أَئِمَّةُ السَّلَفِ إِلَى الِانْكِفَافِ عَنِ التَّأْوِيلِ، وَإِجْرَاءِ الظَّوَاهِرِ عَلَى مَوَارِدِهَا، وَتَفْوِيضِ مَعَانِيهَا إِلَى الرَّبِّ سُبْحَانَهُ، وَالَّذِي نَرْتَضِيهِ رَأْيًا وَنَدِينُ اللَّهَ بِهِ عَقْدًا: اتِّبَاعُ سَلَفِ الْأُمَّةِ، فَالْأَوْلَى الِاتِّبَاعُ وَتَرْكُ الِابْتِدَاعِ“Metode para ulama telah berbeda-beda dalam menyikapi dalil-dalil zahir yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah… Para imam salaf berpendapat untuk menahan diri dari takwil, membiarkan dalil-dalil zahir sebagaimana adanya, serta menyerahkan (tafwidh) maknanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun pendapat yang kami ridai dan kami jadikan keyakinan dalam beragama kepada Allah adalah mengikuti salaf umat ini, karena yang paling utama adalah mengikuti (ittiba’) dan meninggalkan bidah (ibtida’).” [6]Pernyataan ini menunjukkan bahwa dalam al-‘Aqīdah an-Niẓāmiyyah, al-Juwaini memilih metode salaf dalam pembahasan ayat-ayat sifat, yaitu tidak melakukan takwil secara terperinci dan menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah (tafwīḍ). Hal ini berbeda dengan pendekatan yang ia tempuh dalam sebagian karya sebelumnya, seperti al-Irsyād.Kalau pernyataan ini dibaca dalam konteks perjalanan intelektual al-Juwaini yang panjang di dunia kalam, maka ini menunjukkan bahwa meski seseorang sudah sangat dalam masuk ke ranah kalam, kesadaran akan keutamaan jalan para pendahulu umat tetap bisa muncul.Al-Ghazali: Meluasnya pengaruhMurid al-Juwaini yang paling berpengaruh adalah Abu Hamid al-Ghazali. Adz-Dzahabi menyebutkan tentang al-Ghazali,الشَّيْخُ الإِمَامُ، البَحْرُ، حُجَّةُ الإِسْلَامِ، أَعْجُوبَةُ الزَّمَانِ، أَبُو حَامِدٍ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الطُّوسِيُّ الغَزَّالِيُّ الشَّافِعِيُّ“Syekh, imam, lautan (ilmu), hujjatul Islam, keajaiban zamannya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad ath-Thusi al-Ghazali asy-Syafi’i.”Al-Ghazali bukan sekadar penerus, ia adalah tokoh yang membuat Asy’ariyyah melampaui lingkaran debat teologis dan masuk ke ranah pendidikan, ushul fikih, dan tasawuf. Pengaruhnya meluas karena ia pernah mengajar di Madrasah Nizhamiyyah Baghdad. Adz-Dzahabi juga menyebutkan,وَوَلِيَ التَّدْرِيسَ بِالنِّظَامِيَّةِ بِبَغْدَادَ“Dan ia memegang pengajaran di Madrasah Nizhamiyyah Baghdad.” [7]Dari sini, pemikiran Asy’ariyyah tidak lagi terbatas pada halaqah-halaqah kecil. Ia menjadi bagian dari kurikulum pendidikan resmi yang menjangkau wilayah luas. Peran Madrasah Nizhamiyyah ini sangat besar dalam menyebarkan Asy’ariyyah, karena para pengajar di sana sebagian besar berasal dari kalangan yang berakidah Asy’ariyyah. Di sinilah ilmu kalam mulai sangat dijadikan sandaran. Ibnu Khaldun di dalam al-Muqaddimah menyebutkan,أول من كتب في طريقة الكلام على هذا المنحى الغزالي رحمه الله“Yang pertama kali membahas masalah ini dengan pendekatan ilmu kalam adalah al-Ghazali.” [8]Namun, sebagaimana al-Juwaini, al-Ghazali juga punya fase akhir yang perlu dicatat, yaitu ia lebih dekat dengan ahlul hadis (salaf). Dalam Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam, ia menulis,الدليل على أن مذهب السلف هو الحق: أن نقيضه بدعة، والبدعة مذمومة وضلالة“Dalil bahwa madzhab salaf itulah yang benar adalah karena menyelisihinya merupakan kebid’ahan. Kebid`ahan itu tercela dan kesesatan.” [9] Bahkan, banyak ulama yang menceritakan bahwa ketika beliau meninggal, dalam dekapan dadanya terdapat kitab Shahih Bukhari.Pernyataan ini datang dari salah satu tokoh terbesar Asy’ariyyah. Bobotnya menjadi lebih berat justru karena ia keluar dari orang yang sudah sangat dalam menyelami ilmu kalam.Fakhruddin ar-Razi: Kalam dan filsafat menyatuSetelah al-Ghazali, perkembangan Asy’ariyyah semakin bergerak ke arah percampuran dengan filsafat. Tokoh yang paling mewakili fase ini adalah Fakhruddin ar-Razi. Adz-Dzahabi menyebutkan,العَلَّامَةُ الكَبِيرُ، ذُو الفُنُونِ، فَخْرُ الدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ الحُسَيْنِ الرَّازِيُّ“Ulama besar, pemilik berbagai cabang ilmu, Fakhruddin Muhammad bin ‘Umar bin al-Husain ar-Razi.” [10]Pada masa Fakhruddin ar-Razi, pembahasan ilmu kalam Asy’ari mencapai bentuk yang jauh lebih sistematis dan kompleks. Dalam karya-karyanya, khususnya Mafātīḥ al-Ghayb, pembahasan ayat-ayat sifat dipadukan dengan argumentasi kalam, logika, dan filsafat, sehingga corak pemikirannya berbeda dari penyajian Abu al-Hasan al-Asy’ari dalam karya-karya awal seperti al-Ibanah. Ibnu Khaldun menjelaskan dalam al-Muqaddimah,وتبعه الإمام ابن الخطيب وجماعة قفوا أثرهم… ثم توغل المتأخرون من بعدهم في مخالطة كتب الفلسف“Langkah ini (pendekatan akidah dengan ilmu kalam) diikuti oleh Imam Ibn al-Khathib (Fakhruddin ar-Razi) dan sekelompok ulama yang mengikuti jejak mereka… Kemudian, para ulama generasi belakangan setelah mereka semakin jauh tenggelam dalam mencampuradukkan pemikiran dengan buku-buku filsafat.” [11]Tetapi justru dari ar-Razi inilah dinukil pengakuan yang menjadi salah satu kutipan paling masyhur dalam sejarah kritik terhadap ilmu kalam. Ibnu Taimiyah menceritakan bahwa ar-Razi di dalam kitabnya menyebutkan,لَقَدْ تَأَمَّلْتُ الطُّرُقَ الكَلَامِيَّةَ وَالمَنَاهِجَ الفَلْسَفِيَّةَ، فَمَا رَأَيْتُهَا تَشْفِي عَلِيلًا وَلَا تَرْوِي غَلِيلًا، وَرَأَيْتُ أَقْرَبَ الطُّرُقِ طَرِيقَةَ القُرْآنِ“Sungguh aku telah merenungkan jalan-jalan kalam dan metode-metode filsafat. Aku tidak mendapatinya bisa menyembuhkan orang yang sakit dan tidak pula melepaskan dahaga. Dan aku mendapati jalan yang paling dekat adalah jalan Al-Qur’an.” [12]Seorang tokoh yang menghabiskan hidupnya membangun argumen kalam dan filsafat, di akhir perjalanannya mengaku bahwa semua itu tidak memberi ketenangan. Pola ini (kegelisahan para tokoh besar kalam di akhir hayat mereka), berulang pada al-Juwaini, al-Ghazali, dan ar-Razi. Kalau tiga nama sebesar itu saja sampai pada kesimpulan yang serupa, maka hal itu layak menjadi bahan renungan bagi siapa pun yang mempelajari sejarah pemikiran ini.Penyebaran Asy’ariyyahSelain berkembang secara intelektual, Asy’ariyyah juga menyebar secara geografis. Di antara faktor yang paling berpengaruh dalam penyebarannya adalah dukungan penguasa serta berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan. Pada masa Dinasti Saljuk, Wazir Nizham al-Mulk mendirikan jaringan Madrasah Nizhamiyyah di berbagai kota yang kemudian menjadi pusat pembelajaran ilmu-ilmu keislaman. Mengenai jasanya tersebut, Ibnu Khallikan berkata,وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ بَنَى الْمَدَارِسَ، فَاقْتَدَى النَّاسُ بِهِ فِي ذَلِكَ“Dialah orang pertama yang membangun madrasah-madrasah, kemudian orang-orang mengikuti jejaknya dalam hal tersebut.” [13]Keberadaan madrasah-madrasah ini menjadi lebih berpengaruh lagi ketika tokoh-tokoh besar Asy’ariyyah menempati posisi pengajaran di dalamnya. Selain faktor lembaga pendidikan, penyebaran Asy’ariyyah juga terkait erat dengan mazhab fikih, terutama di kalangan Syafi‘iyyah dan Malikiyyah. Hubungan ini membuat Asy’ariyyah tersebar luas di wilayah-wilayah yang didominasi kedua mazhab tersebut. Taj ad-Din as-Subki bahkan menggambarkan kuatnya hubungan ini dengan ungkapan,هَؤُلَاءِ الحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالمَالِكِيَّةُ وَفُضَلَاءُ الحَنَابِلَةِ فِي العَقَائِدِ يَدٌ وَاحِدَةٌ، كُلُّهُمْ عَلَى رَأْيِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ، يَدِينُونَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِطَرِيقِ الشَّيْخِ أَبِي الحَسَنِ الأَشْعَرِيِّ، لَا يَحِيدُ عَنْهَا إِلَّا رَعَاعٌ“Mereka, yakni kalangan Hanafiyyah, Syafi‘iyyah, Malikiyyah, dan para ulama utama Hanabilah, dalam masalah akidah adalah satu barisan. Semuanya berada di atas pendapat Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, beragama kepada Allah dengan jalan Syekh Abu al-Hasan al-Asy‘ari, dan tidak menyimpang dari jalan itu kecuali orang-orang rendahan.” [14]Ungkapan as-Subki ini tentu merepresentasikan pandangan dari kalangan yang mendukung Asy’ariyyah. Oleh karena itu, ia tidak bisa dibaca sebagai ijmak seluruh ulama Islam. Akan tetapi, nukilan tersebut tetap penting untuk menunjukkan betapa kuatnya posisi Asy’ariyyah di dalam jaringan ulama Syafi‘iyyah dan sebagian Malikiyyah pada masa-masa setelahnya. Dari sini dapat dipahami bahwa luasnya penyebaran Asy’ariyyah bukan semata karena kekuatan argumentasinya, tetapi juga karena ditopang oleh jaringan ulama, lembaga pendidikan, dan dukungan politik yang mendukung pertumbuhannya.PenutupPerkembangan Asy’ariyyah menunjukkan bahwa sebuah aliran pemikiran bisa berubah cukup jauh dari titik awalnya. Asy’ariyyah bermula dari upaya Abu al-Hasan al-Asy’ari keluar dari Mu’tazilah, kemudian diperkuat oleh al-Baqillani, diperluas oleh al-Juwaini dan al-Ghazali, lalu semakin teknis dan filosofis pada fase ar-Razi dan sesudahnya.Tidak tepat kalau seluruh fase ini disamakan begitu saja. Ada perbedaan yang nyata antara Asy’ariyyah awal dan Asy’ariyyah muta’akhkhirin. Dan dari dalam tubuh Asy’ariyyah sendiri, tokoh-tokoh terbesarnya satu per satu mengisyaratkan bahwa jalan yang mereka tempuh tidak sepenuhnya memberi ketenangan, dan bahwa jalan para pendahulu umat tetap lebih utama dan lebih selamat.Wallahu a’lam bish-shawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 15: 86.[2] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 18: 468.[3] Abu Bakr al-Baqillani, al-Inshaf fima Yajibu I’tiqaduhu wa la Yajuzu al-Jahlu bihi, hal. 36–37.[4] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 18: 468.[5] Imam al-Juwaini, al-Irsyad ila Qawathi’ al-Adillah fi Usul al-I’tiqad, hal. 155.[6] Syekh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Adhwa’ al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, 7: 504.[7] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 19: 322.[8] Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah, 1: 482–483.[9] Al-Ghazali, Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam, hal. 73.[10] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 21: 500.[11] Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah, 1: 483.[12] Syekh al-Islam Ibn Taimiyah, al-Intishar li Ahl al-Atsar (Naqdh al-Manthiq), hal. 106.[13] Ibnu Khallikan, Wafayat al-A’yan wa Anba’ Abna’ az-Zaman, 2: 129.[14] Imam Tajuddin as-Subki, Mu’id an-Ni’am wa Mubid an-Niqam, hal. 62. Daftar Pustaka:al-Baqillani, Abu Bakr Muhammad bin al-Thayyib. al-Inshaf fima Yajibu I’tiqaduhu wa la Yajuzu al-Jahlu bihi. Ed. Muhammad Zahid al-Kautstari. Cet. 2. Kairo: al-Maktabah al-Azhariyyah li at-Turats, 1421 H / 2000 M.adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman. Siyar A’lam an-Nubala’. islamweb.net.al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam. Jeddah: Dar al-Minhaj, 1439 H / 2017 M.Ibn Khaldun, ‘Abd ar-Rahman bin Muhammad. al-Muqaddimah. Beirut: Dar al-Fikr.Ibn Khallikan, Abu al-‘Abbas Syamsuddin Ahmad bin Muhammad. Wafayat al-A’yan wa Anba’ Abna’ az-Zaman. Ed. Ihsan ‘Abbas. Beirut: Dar Sadir, 1994 M.Ibn Taimiyyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. al-Intishar li Ahl al-Atsar al-Mathbu’ bi ismi Naqdh al-Manthiq. Ed. ‘Abd ar-Rahman bin Hasan Qa’id. Cet. 3. Riyadh: Dar ‘Atha’at al-‘Ilm, 1440 H / 2019 M.al-Juwaini, Abu al-Ma’ali ‘Abd al-Malik bin ‘Abdullah. al-Irsyad ila Qawathi’ al-Adillah fi Usul al-I’tiqad. Ed. Muhammad Yusuf Musa dan ‘Ali ‘Abd al-Mun’im ‘Abd al-Hamid. Kairo: Maktabah al-Khanji, 1369 H / 1950 M.as-Subki, Tajuddin ‘Abd al-Wahhab bin Taqiyy ad-Din. Mu’id an-Ni’am wa Mubid an-Niqam. Cet. 1. Beirut: Mu’assasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah, 1407 H / 1986 M.asy-Syinqithi, Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar. Adhwa’ al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an. Cet. 5. Riyadh: Dar ‘Atha’at al-‘Ilm, 1441 H / 2019 M.
Daftar Isi ToggleAsy’ariyyah setelah Abu al-Hasan al-Asy’ariAl-Baqillani: Penyusun kerangka Asy’ariyyahAl-Juwaini: Titik pergeseranAl-Ghazali: Meluasnya pengaruhFakhruddin ar-Razi: Kalam dan filsafat menyatuPenyebaran Asy’ariyyahPenutupAsy’ariyyah tidak berhenti pada sosok Abu al-Hasan al-Asy’ari semata. Setelah muncul sebagai salah satu arus teologi dalam Islam, aliran ini terus berkembang melalui tangan para murid, penerus, dan tokoh-tokoh sesudahnya. Dalam proses itu, coraknya tidak selalu tetap. Ada fase ketika ia masih dekat dengan bentuk awalnya, ada pula fase ketika perangkat ilmu kalam semakin dominan, bahkan pada masa-masa belakangan mulai bercampur dengan pembahasan filsafat dan mantiq. Oleh karena itu, perkembangan Asy’ariyyah perlu dibaca sebagai sebuah proses yang panjang, bukan sebagai bangunan pemikiran yang sejak awal berdiri dalam bentuk yang sama.Dari sini dapat dipahami bahwa pembahasan tentang perkembangan Asy’ariyyah tidak cukup hanya dengan menyebut nama-nama tokohnya, tetapi juga perlu melihat perubahan corak yang terjadi di dalamnya. Sebab, Asy’ariyyah pada masa awal tidak selalu identik dengan Asy’ariyyah pada masa-masa sesudahnya. Nama yang dipakai tetap sama, tetapi cara berargumentasi, keluasan pembahasan, dan metode yang ditempuh mengalami perkembangan. Maka, untuk memahami posisi Asy’ariyyah secara lebih utuh, perlu dilihat bagaimana aliran ini tumbuh setelah Abu al-Hasan al-Asy’ari, siapa saja tokoh yang membentuknya, dan melalui jalur apa ia kemudian menyebar di dunia Islam.Asy’ariyyah setelah Abu al-Hasan al-Asy’ariSepeninggal Abu al-Hasan al-Asy’ari, mazhab ini belum langsung berdiri kokoh. Ia masih berupa corak pemikiran yang sedang mencari bentuknya. Para murid langsung al-Asy’ari seperti Abu al-Hasan al-Bahili dan Ibnu Mujahid al-Bashri berperan meneruskan apa yang mereka terima dari gurunya. Adz-Dzahabi menyebutkan hal ini dalam Siyar A’lam an-Nubala’,أخذ عنه أئمة منهم :أبو الحسن الباهلي وأبو الحسن الكرماني، وأبو زيد المروزي، وأبو عبد الله بن مجاهد البصري، وبندار بن الحسين الشيرازي ، وأبو محمد العراقي ، وزاهر بن أحمد السرخسي ، وأبو سهل الصعلوكي ، وأبو نصر الكواز الشيرازي“Banyak imam yang menimba ilmu darinya, di antaranya adalah: Abu al-Hasan al-Bahili, Abu al-Hasan al-Kirmani, Abu Zaid al-Marwazi, Abu Abdullah bin Mujahid al-Bashri, Bundar bin al-Husain asy-Syirazi, Abu Muhammad al-Iraqi, Zahir bin Ahmad as-Sarkhasi, Abu Sahl as-Sa’luki, dan Abu Nashr al-Kawwaz asy-Syirazi.” [1]Catatan tertulis dari generasi pertama ini tidak sebanyak generasi sesudahnya. Oleh karena itu, bangunan Asy’ariyyah yang lebih tertata baru muncul di tangan tokoh-tokoh setelah mereka.Al-Baqillani: Penyusun kerangka Asy’ariyyahTokoh yang paling berperan merapikan bangunan Asy’ariyyah setelah Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah Abu Bakr al-Baqillani. Dalam Siyar A’lam an-Nubala’, Adz-Dzahabi menyebut kedudukan al-Baqillani,الإِمَامُ، العَلَّامَةُ، أَوْحَدُ المُتَكَلِّمِينَ، مُقَدَّمُ الأُصُولِيِّينَ، القَاضِي أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الطَّيِّبِ البَاقِلَّانِيُّ“Imam, ulama besar, tokoh paling menonjol di kalangan ahli kalam, terdepan di antara para ushuliyyin, Qadhi Abu Bakr Muhammad bin ath-Thayyib al-Baqillani.” [2]Di tangan al-Baqillani, Asy’ariyyah mulai punya bentuk yang lebih terlihat coraknya. Ia menulis karya-karya penting seperti at-Tamhid yang di dalamnya, ia menyusun dalil-dalil akal secara masif dan tertata.Satu hal yang perlu dicatat dari fase al-Baqillani adalah sikapnya terhadap sifat khabariyyah. Pada masanya, Asy’ariyyah belum sejauh generasi sesudahnya dalam masalah takwil. Al-Baqillani masih menetapkan sifat wajah dan tangan bagi Allah. Ia menyebutkan dalam al-Inshaf,وَالْيَدَيْنِ اللَّتَيْنِ نَطَقَ بِإِثْبَاتِهِمَا لَهُ الْقُرْآنُ، فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: (بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ)، وَقَوْلِهِ: (مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ)، وَأَنَّهُمَا لَيْسَتَا بِجَارِحَتَيْنِ، وَلَا ذَوِي صُورَةٍ وَهَيْئَةٍ“Dan (menetapkan) kedua tangan yang Al-Qur’an sendiri telah berfirman untuk menetapkannya bagi Allah, sebagaimana firman-Nya, ‘Bahkan kedua tangan-Nya terbuka lebar,’ dan firman-Nya, ‘Apa yang menghalangimu untuk bersujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku.’ Dan sesungguhnya kedua tangan tersebut bukanlah anggota badan, juga tidak memiliki bentuk maupun rupa tertentu.” [3]Ini menunjukkan bahwa Asy’ariyyah pada fase al-Baqillani belum sampai pada titik menakwilkan seluruh sifat khabariyyah. Pergeseran ke arah itu baru terjadi pada generasi berikutnya.Al-Juwaini: Titik pergeseranPerubahan corak Asy’ariyyah yang paling terasa terjadi pada masa Imam al-Haramain al-Juwaini. Adz-Dzahabi menyebutkan kedudukannya,الإِمَامُ الكَبِيرُ، شَيْخُ الشَّافِعِيَّةِ، إِمَامُ الحَرَمَيْنِ، أَبُو المَعَالِي عَبْدُ المَلِكِ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ يُوسُفَ الجُوَيْنِيُّ“Imam besar, guru besarnya kalangan Syafi’iyyah, Imam al-Haramain, Abu al-Ma’ali ‘Abd al-Malik bin ‘Abdillah bin Yusuf al-Juwaini.” [4]Al-Juwaini mengembangkan Asy’ariyyah ke arah yang lebih filosofis. Pada masanya, pembahasan kalam tidak lagi sekadar bantahan terhadap Mu’tazilah, tetapi sudah menjadi bangunan teoretis yang berdiri sendiri. Dalam masalah sifat, al-Juwaini mulai menakwilkan sebagian sifat khabariyyah yang sebelumnya masih ditetapkan oleh al-Asy’ari dan al-Baqillani. Ini adalah pergeseran yang cukup mendasar. Beliau menyebutkan dalam al-Irsyad,ذَهَبَ بَعْضُ أَئِمَّتِنَا إِلَى أَنَّ الْيَدَيْنِ وَالْعَيْنَيْنِ وَالْوَجْهَ صِفَاتٌ ثَابِتَةٌ لِلرَّبِّ تَعَالَى، وَالسَّبِيلُ إِلَى إِثْبَاتِهَا السَّمْعُ دُونَ قَضِيَّةِ الْعَقْلِ، وَالَّذِي يَصِحُّ عِنْدَنَا حَمْلُ الْيَدَيْنِ عَلَى الْقُدْرَةِ، وَحَمْلُ الْعَيْنَيْنِ عَلَى الْبَصَرِ، وَحَمْلُ الْوَجْهِ عَلَى الْوُجُودِ.“Sebagian imam kami berpendapat bahwa kedua tangan, kedua mata, dan wajah adalah sifat-sifat yang tetap bagi Allah Ta’ala, yang jalannya ditetapkan melalui dalil naqli (wahyu) bukan melalui ketetapan akal. Namun, yang benar menurut kami adalah membawa makna kedua tangan kepada kekuasaan, membawa makna kedua mata kepada penglihatan, dan membawa makna wajah kepada eksistensi (keberadaan).” [5]Pada fase akhir kehidupannya, tampak adanya perubahan pendekatan Imam al-Haramayn al-Juwaini dalam pembahasan sifat-sifat Allah. Jika dalam karya-karya sebelumnya, seperti al-Irsyād, ia cenderung menggunakan metode takwil, maka dalam karya akhirnya, al-‘Aqīdah an-Niẓāmiyyah, ia menyatakan bahwa pendapat yang dipilihnya adalah mengikuti manhaj salaf dalam masalah tersebut. al-Allamah Muhammad Amin asy-Syinqithi menyebutkan bahwa al-Juwani menuliskan,وَقَدِ اخْتَلَفَتْ مَسَالِكُ الْعُلَمَاءِ فِي الظَّوَاهِرِ الَّتِي وَرَدَتْ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ… وَذَهَبَ أَئِمَّةُ السَّلَفِ إِلَى الِانْكِفَافِ عَنِ التَّأْوِيلِ، وَإِجْرَاءِ الظَّوَاهِرِ عَلَى مَوَارِدِهَا، وَتَفْوِيضِ مَعَانِيهَا إِلَى الرَّبِّ سُبْحَانَهُ، وَالَّذِي نَرْتَضِيهِ رَأْيًا وَنَدِينُ اللَّهَ بِهِ عَقْدًا: اتِّبَاعُ سَلَفِ الْأُمَّةِ، فَالْأَوْلَى الِاتِّبَاعُ وَتَرْكُ الِابْتِدَاعِ“Metode para ulama telah berbeda-beda dalam menyikapi dalil-dalil zahir yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah… Para imam salaf berpendapat untuk menahan diri dari takwil, membiarkan dalil-dalil zahir sebagaimana adanya, serta menyerahkan (tafwidh) maknanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun pendapat yang kami ridai dan kami jadikan keyakinan dalam beragama kepada Allah adalah mengikuti salaf umat ini, karena yang paling utama adalah mengikuti (ittiba’) dan meninggalkan bidah (ibtida’).” [6]Pernyataan ini menunjukkan bahwa dalam al-‘Aqīdah an-Niẓāmiyyah, al-Juwaini memilih metode salaf dalam pembahasan ayat-ayat sifat, yaitu tidak melakukan takwil secara terperinci dan menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah (tafwīḍ). Hal ini berbeda dengan pendekatan yang ia tempuh dalam sebagian karya sebelumnya, seperti al-Irsyād.Kalau pernyataan ini dibaca dalam konteks perjalanan intelektual al-Juwaini yang panjang di dunia kalam, maka ini menunjukkan bahwa meski seseorang sudah sangat dalam masuk ke ranah kalam, kesadaran akan keutamaan jalan para pendahulu umat tetap bisa muncul.Al-Ghazali: Meluasnya pengaruhMurid al-Juwaini yang paling berpengaruh adalah Abu Hamid al-Ghazali. Adz-Dzahabi menyebutkan tentang al-Ghazali,الشَّيْخُ الإِمَامُ، البَحْرُ، حُجَّةُ الإِسْلَامِ، أَعْجُوبَةُ الزَّمَانِ، أَبُو حَامِدٍ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الطُّوسِيُّ الغَزَّالِيُّ الشَّافِعِيُّ“Syekh, imam, lautan (ilmu), hujjatul Islam, keajaiban zamannya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad ath-Thusi al-Ghazali asy-Syafi’i.”Al-Ghazali bukan sekadar penerus, ia adalah tokoh yang membuat Asy’ariyyah melampaui lingkaran debat teologis dan masuk ke ranah pendidikan, ushul fikih, dan tasawuf. Pengaruhnya meluas karena ia pernah mengajar di Madrasah Nizhamiyyah Baghdad. Adz-Dzahabi juga menyebutkan,وَوَلِيَ التَّدْرِيسَ بِالنِّظَامِيَّةِ بِبَغْدَادَ“Dan ia memegang pengajaran di Madrasah Nizhamiyyah Baghdad.” [7]Dari sini, pemikiran Asy’ariyyah tidak lagi terbatas pada halaqah-halaqah kecil. Ia menjadi bagian dari kurikulum pendidikan resmi yang menjangkau wilayah luas. Peran Madrasah Nizhamiyyah ini sangat besar dalam menyebarkan Asy’ariyyah, karena para pengajar di sana sebagian besar berasal dari kalangan yang berakidah Asy’ariyyah. Di sinilah ilmu kalam mulai sangat dijadikan sandaran. Ibnu Khaldun di dalam al-Muqaddimah menyebutkan,أول من كتب في طريقة الكلام على هذا المنحى الغزالي رحمه الله“Yang pertama kali membahas masalah ini dengan pendekatan ilmu kalam adalah al-Ghazali.” [8]Namun, sebagaimana al-Juwaini, al-Ghazali juga punya fase akhir yang perlu dicatat, yaitu ia lebih dekat dengan ahlul hadis (salaf). Dalam Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam, ia menulis,الدليل على أن مذهب السلف هو الحق: أن نقيضه بدعة، والبدعة مذمومة وضلالة“Dalil bahwa madzhab salaf itulah yang benar adalah karena menyelisihinya merupakan kebid’ahan. Kebid`ahan itu tercela dan kesesatan.” [9] Bahkan, banyak ulama yang menceritakan bahwa ketika beliau meninggal, dalam dekapan dadanya terdapat kitab Shahih Bukhari.Pernyataan ini datang dari salah satu tokoh terbesar Asy’ariyyah. Bobotnya menjadi lebih berat justru karena ia keluar dari orang yang sudah sangat dalam menyelami ilmu kalam.Fakhruddin ar-Razi: Kalam dan filsafat menyatuSetelah al-Ghazali, perkembangan Asy’ariyyah semakin bergerak ke arah percampuran dengan filsafat. Tokoh yang paling mewakili fase ini adalah Fakhruddin ar-Razi. Adz-Dzahabi menyebutkan,العَلَّامَةُ الكَبِيرُ، ذُو الفُنُونِ، فَخْرُ الدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ الحُسَيْنِ الرَّازِيُّ“Ulama besar, pemilik berbagai cabang ilmu, Fakhruddin Muhammad bin ‘Umar bin al-Husain ar-Razi.” [10]Pada masa Fakhruddin ar-Razi, pembahasan ilmu kalam Asy’ari mencapai bentuk yang jauh lebih sistematis dan kompleks. Dalam karya-karyanya, khususnya Mafātīḥ al-Ghayb, pembahasan ayat-ayat sifat dipadukan dengan argumentasi kalam, logika, dan filsafat, sehingga corak pemikirannya berbeda dari penyajian Abu al-Hasan al-Asy’ari dalam karya-karya awal seperti al-Ibanah. Ibnu Khaldun menjelaskan dalam al-Muqaddimah,وتبعه الإمام ابن الخطيب وجماعة قفوا أثرهم… ثم توغل المتأخرون من بعدهم في مخالطة كتب الفلسف“Langkah ini (pendekatan akidah dengan ilmu kalam) diikuti oleh Imam Ibn al-Khathib (Fakhruddin ar-Razi) dan sekelompok ulama yang mengikuti jejak mereka… Kemudian, para ulama generasi belakangan setelah mereka semakin jauh tenggelam dalam mencampuradukkan pemikiran dengan buku-buku filsafat.” [11]Tetapi justru dari ar-Razi inilah dinukil pengakuan yang menjadi salah satu kutipan paling masyhur dalam sejarah kritik terhadap ilmu kalam. Ibnu Taimiyah menceritakan bahwa ar-Razi di dalam kitabnya menyebutkan,لَقَدْ تَأَمَّلْتُ الطُّرُقَ الكَلَامِيَّةَ وَالمَنَاهِجَ الفَلْسَفِيَّةَ، فَمَا رَأَيْتُهَا تَشْفِي عَلِيلًا وَلَا تَرْوِي غَلِيلًا، وَرَأَيْتُ أَقْرَبَ الطُّرُقِ طَرِيقَةَ القُرْآنِ“Sungguh aku telah merenungkan jalan-jalan kalam dan metode-metode filsafat. Aku tidak mendapatinya bisa menyembuhkan orang yang sakit dan tidak pula melepaskan dahaga. Dan aku mendapati jalan yang paling dekat adalah jalan Al-Qur’an.” [12]Seorang tokoh yang menghabiskan hidupnya membangun argumen kalam dan filsafat, di akhir perjalanannya mengaku bahwa semua itu tidak memberi ketenangan. Pola ini (kegelisahan para tokoh besar kalam di akhir hayat mereka), berulang pada al-Juwaini, al-Ghazali, dan ar-Razi. Kalau tiga nama sebesar itu saja sampai pada kesimpulan yang serupa, maka hal itu layak menjadi bahan renungan bagi siapa pun yang mempelajari sejarah pemikiran ini.Penyebaran Asy’ariyyahSelain berkembang secara intelektual, Asy’ariyyah juga menyebar secara geografis. Di antara faktor yang paling berpengaruh dalam penyebarannya adalah dukungan penguasa serta berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan. Pada masa Dinasti Saljuk, Wazir Nizham al-Mulk mendirikan jaringan Madrasah Nizhamiyyah di berbagai kota yang kemudian menjadi pusat pembelajaran ilmu-ilmu keislaman. Mengenai jasanya tersebut, Ibnu Khallikan berkata,وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ بَنَى الْمَدَارِسَ، فَاقْتَدَى النَّاسُ بِهِ فِي ذَلِكَ“Dialah orang pertama yang membangun madrasah-madrasah, kemudian orang-orang mengikuti jejaknya dalam hal tersebut.” [13]Keberadaan madrasah-madrasah ini menjadi lebih berpengaruh lagi ketika tokoh-tokoh besar Asy’ariyyah menempati posisi pengajaran di dalamnya. Selain faktor lembaga pendidikan, penyebaran Asy’ariyyah juga terkait erat dengan mazhab fikih, terutama di kalangan Syafi‘iyyah dan Malikiyyah. Hubungan ini membuat Asy’ariyyah tersebar luas di wilayah-wilayah yang didominasi kedua mazhab tersebut. Taj ad-Din as-Subki bahkan menggambarkan kuatnya hubungan ini dengan ungkapan,هَؤُلَاءِ الحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالمَالِكِيَّةُ وَفُضَلَاءُ الحَنَابِلَةِ فِي العَقَائِدِ يَدٌ وَاحِدَةٌ، كُلُّهُمْ عَلَى رَأْيِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ، يَدِينُونَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِطَرِيقِ الشَّيْخِ أَبِي الحَسَنِ الأَشْعَرِيِّ، لَا يَحِيدُ عَنْهَا إِلَّا رَعَاعٌ“Mereka, yakni kalangan Hanafiyyah, Syafi‘iyyah, Malikiyyah, dan para ulama utama Hanabilah, dalam masalah akidah adalah satu barisan. Semuanya berada di atas pendapat Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, beragama kepada Allah dengan jalan Syekh Abu al-Hasan al-Asy‘ari, dan tidak menyimpang dari jalan itu kecuali orang-orang rendahan.” [14]Ungkapan as-Subki ini tentu merepresentasikan pandangan dari kalangan yang mendukung Asy’ariyyah. Oleh karena itu, ia tidak bisa dibaca sebagai ijmak seluruh ulama Islam. Akan tetapi, nukilan tersebut tetap penting untuk menunjukkan betapa kuatnya posisi Asy’ariyyah di dalam jaringan ulama Syafi‘iyyah dan sebagian Malikiyyah pada masa-masa setelahnya. Dari sini dapat dipahami bahwa luasnya penyebaran Asy’ariyyah bukan semata karena kekuatan argumentasinya, tetapi juga karena ditopang oleh jaringan ulama, lembaga pendidikan, dan dukungan politik yang mendukung pertumbuhannya.PenutupPerkembangan Asy’ariyyah menunjukkan bahwa sebuah aliran pemikiran bisa berubah cukup jauh dari titik awalnya. Asy’ariyyah bermula dari upaya Abu al-Hasan al-Asy’ari keluar dari Mu’tazilah, kemudian diperkuat oleh al-Baqillani, diperluas oleh al-Juwaini dan al-Ghazali, lalu semakin teknis dan filosofis pada fase ar-Razi dan sesudahnya.Tidak tepat kalau seluruh fase ini disamakan begitu saja. Ada perbedaan yang nyata antara Asy’ariyyah awal dan Asy’ariyyah muta’akhkhirin. Dan dari dalam tubuh Asy’ariyyah sendiri, tokoh-tokoh terbesarnya satu per satu mengisyaratkan bahwa jalan yang mereka tempuh tidak sepenuhnya memberi ketenangan, dan bahwa jalan para pendahulu umat tetap lebih utama dan lebih selamat.Wallahu a’lam bish-shawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 15: 86.[2] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 18: 468.[3] Abu Bakr al-Baqillani, al-Inshaf fima Yajibu I’tiqaduhu wa la Yajuzu al-Jahlu bihi, hal. 36–37.[4] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 18: 468.[5] Imam al-Juwaini, al-Irsyad ila Qawathi’ al-Adillah fi Usul al-I’tiqad, hal. 155.[6] Syekh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Adhwa’ al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, 7: 504.[7] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 19: 322.[8] Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah, 1: 482–483.[9] Al-Ghazali, Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam, hal. 73.[10] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 21: 500.[11] Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah, 1: 483.[12] Syekh al-Islam Ibn Taimiyah, al-Intishar li Ahl al-Atsar (Naqdh al-Manthiq), hal. 106.[13] Ibnu Khallikan, Wafayat al-A’yan wa Anba’ Abna’ az-Zaman, 2: 129.[14] Imam Tajuddin as-Subki, Mu’id an-Ni’am wa Mubid an-Niqam, hal. 62. Daftar Pustaka:al-Baqillani, Abu Bakr Muhammad bin al-Thayyib. al-Inshaf fima Yajibu I’tiqaduhu wa la Yajuzu al-Jahlu bihi. Ed. Muhammad Zahid al-Kautstari. Cet. 2. Kairo: al-Maktabah al-Azhariyyah li at-Turats, 1421 H / 2000 M.adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman. Siyar A’lam an-Nubala’. islamweb.net.al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam. Jeddah: Dar al-Minhaj, 1439 H / 2017 M.Ibn Khaldun, ‘Abd ar-Rahman bin Muhammad. al-Muqaddimah. Beirut: Dar al-Fikr.Ibn Khallikan, Abu al-‘Abbas Syamsuddin Ahmad bin Muhammad. Wafayat al-A’yan wa Anba’ Abna’ az-Zaman. Ed. Ihsan ‘Abbas. Beirut: Dar Sadir, 1994 M.Ibn Taimiyyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. al-Intishar li Ahl al-Atsar al-Mathbu’ bi ismi Naqdh al-Manthiq. Ed. ‘Abd ar-Rahman bin Hasan Qa’id. Cet. 3. Riyadh: Dar ‘Atha’at al-‘Ilm, 1440 H / 2019 M.al-Juwaini, Abu al-Ma’ali ‘Abd al-Malik bin ‘Abdullah. al-Irsyad ila Qawathi’ al-Adillah fi Usul al-I’tiqad. Ed. Muhammad Yusuf Musa dan ‘Ali ‘Abd al-Mun’im ‘Abd al-Hamid. Kairo: Maktabah al-Khanji, 1369 H / 1950 M.as-Subki, Tajuddin ‘Abd al-Wahhab bin Taqiyy ad-Din. Mu’id an-Ni’am wa Mubid an-Niqam. Cet. 1. Beirut: Mu’assasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah, 1407 H / 1986 M.asy-Syinqithi, Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar. Adhwa’ al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an. Cet. 5. Riyadh: Dar ‘Atha’at al-‘Ilm, 1441 H / 2019 M.


Daftar Isi ToggleAsy’ariyyah setelah Abu al-Hasan al-Asy’ariAl-Baqillani: Penyusun kerangka Asy’ariyyahAl-Juwaini: Titik pergeseranAl-Ghazali: Meluasnya pengaruhFakhruddin ar-Razi: Kalam dan filsafat menyatuPenyebaran Asy’ariyyahPenutupAsy’ariyyah tidak berhenti pada sosok Abu al-Hasan al-Asy’ari semata. Setelah muncul sebagai salah satu arus teologi dalam Islam, aliran ini terus berkembang melalui tangan para murid, penerus, dan tokoh-tokoh sesudahnya. Dalam proses itu, coraknya tidak selalu tetap. Ada fase ketika ia masih dekat dengan bentuk awalnya, ada pula fase ketika perangkat ilmu kalam semakin dominan, bahkan pada masa-masa belakangan mulai bercampur dengan pembahasan filsafat dan mantiq. Oleh karena itu, perkembangan Asy’ariyyah perlu dibaca sebagai sebuah proses yang panjang, bukan sebagai bangunan pemikiran yang sejak awal berdiri dalam bentuk yang sama.Dari sini dapat dipahami bahwa pembahasan tentang perkembangan Asy’ariyyah tidak cukup hanya dengan menyebut nama-nama tokohnya, tetapi juga perlu melihat perubahan corak yang terjadi di dalamnya. Sebab, Asy’ariyyah pada masa awal tidak selalu identik dengan Asy’ariyyah pada masa-masa sesudahnya. Nama yang dipakai tetap sama, tetapi cara berargumentasi, keluasan pembahasan, dan metode yang ditempuh mengalami perkembangan. Maka, untuk memahami posisi Asy’ariyyah secara lebih utuh, perlu dilihat bagaimana aliran ini tumbuh setelah Abu al-Hasan al-Asy’ari, siapa saja tokoh yang membentuknya, dan melalui jalur apa ia kemudian menyebar di dunia Islam.Asy’ariyyah setelah Abu al-Hasan al-Asy’ariSepeninggal Abu al-Hasan al-Asy’ari, mazhab ini belum langsung berdiri kokoh. Ia masih berupa corak pemikiran yang sedang mencari bentuknya. Para murid langsung al-Asy’ari seperti Abu al-Hasan al-Bahili dan Ibnu Mujahid al-Bashri berperan meneruskan apa yang mereka terima dari gurunya. Adz-Dzahabi menyebutkan hal ini dalam Siyar A’lam an-Nubala’,أخذ عنه أئمة منهم :أبو الحسن الباهلي وأبو الحسن الكرماني، وأبو زيد المروزي، وأبو عبد الله بن مجاهد البصري، وبندار بن الحسين الشيرازي ، وأبو محمد العراقي ، وزاهر بن أحمد السرخسي ، وأبو سهل الصعلوكي ، وأبو نصر الكواز الشيرازي“Banyak imam yang menimba ilmu darinya, di antaranya adalah: Abu al-Hasan al-Bahili, Abu al-Hasan al-Kirmani, Abu Zaid al-Marwazi, Abu Abdullah bin Mujahid al-Bashri, Bundar bin al-Husain asy-Syirazi, Abu Muhammad al-Iraqi, Zahir bin Ahmad as-Sarkhasi, Abu Sahl as-Sa’luki, dan Abu Nashr al-Kawwaz asy-Syirazi.” [1]Catatan tertulis dari generasi pertama ini tidak sebanyak generasi sesudahnya. Oleh karena itu, bangunan Asy’ariyyah yang lebih tertata baru muncul di tangan tokoh-tokoh setelah mereka.Al-Baqillani: Penyusun kerangka Asy’ariyyahTokoh yang paling berperan merapikan bangunan Asy’ariyyah setelah Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah Abu Bakr al-Baqillani. Dalam Siyar A’lam an-Nubala’, Adz-Dzahabi menyebut kedudukan al-Baqillani,الإِمَامُ، العَلَّامَةُ، أَوْحَدُ المُتَكَلِّمِينَ، مُقَدَّمُ الأُصُولِيِّينَ، القَاضِي أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الطَّيِّبِ البَاقِلَّانِيُّ“Imam, ulama besar, tokoh paling menonjol di kalangan ahli kalam, terdepan di antara para ushuliyyin, Qadhi Abu Bakr Muhammad bin ath-Thayyib al-Baqillani.” [2]Di tangan al-Baqillani, Asy’ariyyah mulai punya bentuk yang lebih terlihat coraknya. Ia menulis karya-karya penting seperti at-Tamhid yang di dalamnya, ia menyusun dalil-dalil akal secara masif dan tertata.Satu hal yang perlu dicatat dari fase al-Baqillani adalah sikapnya terhadap sifat khabariyyah. Pada masanya, Asy’ariyyah belum sejauh generasi sesudahnya dalam masalah takwil. Al-Baqillani masih menetapkan sifat wajah dan tangan bagi Allah. Ia menyebutkan dalam al-Inshaf,وَالْيَدَيْنِ اللَّتَيْنِ نَطَقَ بِإِثْبَاتِهِمَا لَهُ الْقُرْآنُ، فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: (بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ)، وَقَوْلِهِ: (مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ)، وَأَنَّهُمَا لَيْسَتَا بِجَارِحَتَيْنِ، وَلَا ذَوِي صُورَةٍ وَهَيْئَةٍ“Dan (menetapkan) kedua tangan yang Al-Qur’an sendiri telah berfirman untuk menetapkannya bagi Allah, sebagaimana firman-Nya, ‘Bahkan kedua tangan-Nya terbuka lebar,’ dan firman-Nya, ‘Apa yang menghalangimu untuk bersujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku.’ Dan sesungguhnya kedua tangan tersebut bukanlah anggota badan, juga tidak memiliki bentuk maupun rupa tertentu.” [3]Ini menunjukkan bahwa Asy’ariyyah pada fase al-Baqillani belum sampai pada titik menakwilkan seluruh sifat khabariyyah. Pergeseran ke arah itu baru terjadi pada generasi berikutnya.Al-Juwaini: Titik pergeseranPerubahan corak Asy’ariyyah yang paling terasa terjadi pada masa Imam al-Haramain al-Juwaini. Adz-Dzahabi menyebutkan kedudukannya,الإِمَامُ الكَبِيرُ، شَيْخُ الشَّافِعِيَّةِ، إِمَامُ الحَرَمَيْنِ، أَبُو المَعَالِي عَبْدُ المَلِكِ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ يُوسُفَ الجُوَيْنِيُّ“Imam besar, guru besarnya kalangan Syafi’iyyah, Imam al-Haramain, Abu al-Ma’ali ‘Abd al-Malik bin ‘Abdillah bin Yusuf al-Juwaini.” [4]Al-Juwaini mengembangkan Asy’ariyyah ke arah yang lebih filosofis. Pada masanya, pembahasan kalam tidak lagi sekadar bantahan terhadap Mu’tazilah, tetapi sudah menjadi bangunan teoretis yang berdiri sendiri. Dalam masalah sifat, al-Juwaini mulai menakwilkan sebagian sifat khabariyyah yang sebelumnya masih ditetapkan oleh al-Asy’ari dan al-Baqillani. Ini adalah pergeseran yang cukup mendasar. Beliau menyebutkan dalam al-Irsyad,ذَهَبَ بَعْضُ أَئِمَّتِنَا إِلَى أَنَّ الْيَدَيْنِ وَالْعَيْنَيْنِ وَالْوَجْهَ صِفَاتٌ ثَابِتَةٌ لِلرَّبِّ تَعَالَى، وَالسَّبِيلُ إِلَى إِثْبَاتِهَا السَّمْعُ دُونَ قَضِيَّةِ الْعَقْلِ، وَالَّذِي يَصِحُّ عِنْدَنَا حَمْلُ الْيَدَيْنِ عَلَى الْقُدْرَةِ، وَحَمْلُ الْعَيْنَيْنِ عَلَى الْبَصَرِ، وَحَمْلُ الْوَجْهِ عَلَى الْوُجُودِ.“Sebagian imam kami berpendapat bahwa kedua tangan, kedua mata, dan wajah adalah sifat-sifat yang tetap bagi Allah Ta’ala, yang jalannya ditetapkan melalui dalil naqli (wahyu) bukan melalui ketetapan akal. Namun, yang benar menurut kami adalah membawa makna kedua tangan kepada kekuasaan, membawa makna kedua mata kepada penglihatan, dan membawa makna wajah kepada eksistensi (keberadaan).” [5]Pada fase akhir kehidupannya, tampak adanya perubahan pendekatan Imam al-Haramayn al-Juwaini dalam pembahasan sifat-sifat Allah. Jika dalam karya-karya sebelumnya, seperti al-Irsyād, ia cenderung menggunakan metode takwil, maka dalam karya akhirnya, al-‘Aqīdah an-Niẓāmiyyah, ia menyatakan bahwa pendapat yang dipilihnya adalah mengikuti manhaj salaf dalam masalah tersebut. al-Allamah Muhammad Amin asy-Syinqithi menyebutkan bahwa al-Juwani menuliskan,وَقَدِ اخْتَلَفَتْ مَسَالِكُ الْعُلَمَاءِ فِي الظَّوَاهِرِ الَّتِي وَرَدَتْ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ… وَذَهَبَ أَئِمَّةُ السَّلَفِ إِلَى الِانْكِفَافِ عَنِ التَّأْوِيلِ، وَإِجْرَاءِ الظَّوَاهِرِ عَلَى مَوَارِدِهَا، وَتَفْوِيضِ مَعَانِيهَا إِلَى الرَّبِّ سُبْحَانَهُ، وَالَّذِي نَرْتَضِيهِ رَأْيًا وَنَدِينُ اللَّهَ بِهِ عَقْدًا: اتِّبَاعُ سَلَفِ الْأُمَّةِ، فَالْأَوْلَى الِاتِّبَاعُ وَتَرْكُ الِابْتِدَاعِ“Metode para ulama telah berbeda-beda dalam menyikapi dalil-dalil zahir yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah… Para imam salaf berpendapat untuk menahan diri dari takwil, membiarkan dalil-dalil zahir sebagaimana adanya, serta menyerahkan (tafwidh) maknanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun pendapat yang kami ridai dan kami jadikan keyakinan dalam beragama kepada Allah adalah mengikuti salaf umat ini, karena yang paling utama adalah mengikuti (ittiba’) dan meninggalkan bidah (ibtida’).” [6]Pernyataan ini menunjukkan bahwa dalam al-‘Aqīdah an-Niẓāmiyyah, al-Juwaini memilih metode salaf dalam pembahasan ayat-ayat sifat, yaitu tidak melakukan takwil secara terperinci dan menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah (tafwīḍ). Hal ini berbeda dengan pendekatan yang ia tempuh dalam sebagian karya sebelumnya, seperti al-Irsyād.Kalau pernyataan ini dibaca dalam konteks perjalanan intelektual al-Juwaini yang panjang di dunia kalam, maka ini menunjukkan bahwa meski seseorang sudah sangat dalam masuk ke ranah kalam, kesadaran akan keutamaan jalan para pendahulu umat tetap bisa muncul.Al-Ghazali: Meluasnya pengaruhMurid al-Juwaini yang paling berpengaruh adalah Abu Hamid al-Ghazali. Adz-Dzahabi menyebutkan tentang al-Ghazali,الشَّيْخُ الإِمَامُ، البَحْرُ، حُجَّةُ الإِسْلَامِ، أَعْجُوبَةُ الزَّمَانِ، أَبُو حَامِدٍ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الطُّوسِيُّ الغَزَّالِيُّ الشَّافِعِيُّ“Syekh, imam, lautan (ilmu), hujjatul Islam, keajaiban zamannya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad ath-Thusi al-Ghazali asy-Syafi’i.”Al-Ghazali bukan sekadar penerus, ia adalah tokoh yang membuat Asy’ariyyah melampaui lingkaran debat teologis dan masuk ke ranah pendidikan, ushul fikih, dan tasawuf. Pengaruhnya meluas karena ia pernah mengajar di Madrasah Nizhamiyyah Baghdad. Adz-Dzahabi juga menyebutkan,وَوَلِيَ التَّدْرِيسَ بِالنِّظَامِيَّةِ بِبَغْدَادَ“Dan ia memegang pengajaran di Madrasah Nizhamiyyah Baghdad.” [7]Dari sini, pemikiran Asy’ariyyah tidak lagi terbatas pada halaqah-halaqah kecil. Ia menjadi bagian dari kurikulum pendidikan resmi yang menjangkau wilayah luas. Peran Madrasah Nizhamiyyah ini sangat besar dalam menyebarkan Asy’ariyyah, karena para pengajar di sana sebagian besar berasal dari kalangan yang berakidah Asy’ariyyah. Di sinilah ilmu kalam mulai sangat dijadikan sandaran. Ibnu Khaldun di dalam al-Muqaddimah menyebutkan,أول من كتب في طريقة الكلام على هذا المنحى الغزالي رحمه الله“Yang pertama kali membahas masalah ini dengan pendekatan ilmu kalam adalah al-Ghazali.” [8]Namun, sebagaimana al-Juwaini, al-Ghazali juga punya fase akhir yang perlu dicatat, yaitu ia lebih dekat dengan ahlul hadis (salaf). Dalam Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam, ia menulis,الدليل على أن مذهب السلف هو الحق: أن نقيضه بدعة، والبدعة مذمومة وضلالة“Dalil bahwa madzhab salaf itulah yang benar adalah karena menyelisihinya merupakan kebid’ahan. Kebid`ahan itu tercela dan kesesatan.” [9] Bahkan, banyak ulama yang menceritakan bahwa ketika beliau meninggal, dalam dekapan dadanya terdapat kitab Shahih Bukhari.Pernyataan ini datang dari salah satu tokoh terbesar Asy’ariyyah. Bobotnya menjadi lebih berat justru karena ia keluar dari orang yang sudah sangat dalam menyelami ilmu kalam.Fakhruddin ar-Razi: Kalam dan filsafat menyatuSetelah al-Ghazali, perkembangan Asy’ariyyah semakin bergerak ke arah percampuran dengan filsafat. Tokoh yang paling mewakili fase ini adalah Fakhruddin ar-Razi. Adz-Dzahabi menyebutkan,العَلَّامَةُ الكَبِيرُ، ذُو الفُنُونِ، فَخْرُ الدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ الحُسَيْنِ الرَّازِيُّ“Ulama besar, pemilik berbagai cabang ilmu, Fakhruddin Muhammad bin ‘Umar bin al-Husain ar-Razi.” [10]Pada masa Fakhruddin ar-Razi, pembahasan ilmu kalam Asy’ari mencapai bentuk yang jauh lebih sistematis dan kompleks. Dalam karya-karyanya, khususnya Mafātīḥ al-Ghayb, pembahasan ayat-ayat sifat dipadukan dengan argumentasi kalam, logika, dan filsafat, sehingga corak pemikirannya berbeda dari penyajian Abu al-Hasan al-Asy’ari dalam karya-karya awal seperti al-Ibanah. Ibnu Khaldun menjelaskan dalam al-Muqaddimah,وتبعه الإمام ابن الخطيب وجماعة قفوا أثرهم… ثم توغل المتأخرون من بعدهم في مخالطة كتب الفلسف“Langkah ini (pendekatan akidah dengan ilmu kalam) diikuti oleh Imam Ibn al-Khathib (Fakhruddin ar-Razi) dan sekelompok ulama yang mengikuti jejak mereka… Kemudian, para ulama generasi belakangan setelah mereka semakin jauh tenggelam dalam mencampuradukkan pemikiran dengan buku-buku filsafat.” [11]Tetapi justru dari ar-Razi inilah dinukil pengakuan yang menjadi salah satu kutipan paling masyhur dalam sejarah kritik terhadap ilmu kalam. Ibnu Taimiyah menceritakan bahwa ar-Razi di dalam kitabnya menyebutkan,لَقَدْ تَأَمَّلْتُ الطُّرُقَ الكَلَامِيَّةَ وَالمَنَاهِجَ الفَلْسَفِيَّةَ، فَمَا رَأَيْتُهَا تَشْفِي عَلِيلًا وَلَا تَرْوِي غَلِيلًا، وَرَأَيْتُ أَقْرَبَ الطُّرُقِ طَرِيقَةَ القُرْآنِ“Sungguh aku telah merenungkan jalan-jalan kalam dan metode-metode filsafat. Aku tidak mendapatinya bisa menyembuhkan orang yang sakit dan tidak pula melepaskan dahaga. Dan aku mendapati jalan yang paling dekat adalah jalan Al-Qur’an.” [12]Seorang tokoh yang menghabiskan hidupnya membangun argumen kalam dan filsafat, di akhir perjalanannya mengaku bahwa semua itu tidak memberi ketenangan. Pola ini (kegelisahan para tokoh besar kalam di akhir hayat mereka), berulang pada al-Juwaini, al-Ghazali, dan ar-Razi. Kalau tiga nama sebesar itu saja sampai pada kesimpulan yang serupa, maka hal itu layak menjadi bahan renungan bagi siapa pun yang mempelajari sejarah pemikiran ini.Penyebaran Asy’ariyyahSelain berkembang secara intelektual, Asy’ariyyah juga menyebar secara geografis. Di antara faktor yang paling berpengaruh dalam penyebarannya adalah dukungan penguasa serta berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan. Pada masa Dinasti Saljuk, Wazir Nizham al-Mulk mendirikan jaringan Madrasah Nizhamiyyah di berbagai kota yang kemudian menjadi pusat pembelajaran ilmu-ilmu keislaman. Mengenai jasanya tersebut, Ibnu Khallikan berkata,وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ بَنَى الْمَدَارِسَ، فَاقْتَدَى النَّاسُ بِهِ فِي ذَلِكَ“Dialah orang pertama yang membangun madrasah-madrasah, kemudian orang-orang mengikuti jejaknya dalam hal tersebut.” [13]Keberadaan madrasah-madrasah ini menjadi lebih berpengaruh lagi ketika tokoh-tokoh besar Asy’ariyyah menempati posisi pengajaran di dalamnya. Selain faktor lembaga pendidikan, penyebaran Asy’ariyyah juga terkait erat dengan mazhab fikih, terutama di kalangan Syafi‘iyyah dan Malikiyyah. Hubungan ini membuat Asy’ariyyah tersebar luas di wilayah-wilayah yang didominasi kedua mazhab tersebut. Taj ad-Din as-Subki bahkan menggambarkan kuatnya hubungan ini dengan ungkapan,هَؤُلَاءِ الحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالمَالِكِيَّةُ وَفُضَلَاءُ الحَنَابِلَةِ فِي العَقَائِدِ يَدٌ وَاحِدَةٌ، كُلُّهُمْ عَلَى رَأْيِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ، يَدِينُونَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِطَرِيقِ الشَّيْخِ أَبِي الحَسَنِ الأَشْعَرِيِّ، لَا يَحِيدُ عَنْهَا إِلَّا رَعَاعٌ“Mereka, yakni kalangan Hanafiyyah, Syafi‘iyyah, Malikiyyah, dan para ulama utama Hanabilah, dalam masalah akidah adalah satu barisan. Semuanya berada di atas pendapat Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, beragama kepada Allah dengan jalan Syekh Abu al-Hasan al-Asy‘ari, dan tidak menyimpang dari jalan itu kecuali orang-orang rendahan.” [14]Ungkapan as-Subki ini tentu merepresentasikan pandangan dari kalangan yang mendukung Asy’ariyyah. Oleh karena itu, ia tidak bisa dibaca sebagai ijmak seluruh ulama Islam. Akan tetapi, nukilan tersebut tetap penting untuk menunjukkan betapa kuatnya posisi Asy’ariyyah di dalam jaringan ulama Syafi‘iyyah dan sebagian Malikiyyah pada masa-masa setelahnya. Dari sini dapat dipahami bahwa luasnya penyebaran Asy’ariyyah bukan semata karena kekuatan argumentasinya, tetapi juga karena ditopang oleh jaringan ulama, lembaga pendidikan, dan dukungan politik yang mendukung pertumbuhannya.PenutupPerkembangan Asy’ariyyah menunjukkan bahwa sebuah aliran pemikiran bisa berubah cukup jauh dari titik awalnya. Asy’ariyyah bermula dari upaya Abu al-Hasan al-Asy’ari keluar dari Mu’tazilah, kemudian diperkuat oleh al-Baqillani, diperluas oleh al-Juwaini dan al-Ghazali, lalu semakin teknis dan filosofis pada fase ar-Razi dan sesudahnya.Tidak tepat kalau seluruh fase ini disamakan begitu saja. Ada perbedaan yang nyata antara Asy’ariyyah awal dan Asy’ariyyah muta’akhkhirin. Dan dari dalam tubuh Asy’ariyyah sendiri, tokoh-tokoh terbesarnya satu per satu mengisyaratkan bahwa jalan yang mereka tempuh tidak sepenuhnya memberi ketenangan, dan bahwa jalan para pendahulu umat tetap lebih utama dan lebih selamat.Wallahu a’lam bish-shawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 15: 86.[2] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 18: 468.[3] Abu Bakr al-Baqillani, al-Inshaf fima Yajibu I’tiqaduhu wa la Yajuzu al-Jahlu bihi, hal. 36–37.[4] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 18: 468.[5] Imam al-Juwaini, al-Irsyad ila Qawathi’ al-Adillah fi Usul al-I’tiqad, hal. 155.[6] Syekh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Adhwa’ al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, 7: 504.[7] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 19: 322.[8] Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah, 1: 482–483.[9] Al-Ghazali, Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam, hal. 73.[10] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 21: 500.[11] Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah, 1: 483.[12] Syekh al-Islam Ibn Taimiyah, al-Intishar li Ahl al-Atsar (Naqdh al-Manthiq), hal. 106.[13] Ibnu Khallikan, Wafayat al-A’yan wa Anba’ Abna’ az-Zaman, 2: 129.[14] Imam Tajuddin as-Subki, Mu’id an-Ni’am wa Mubid an-Niqam, hal. 62. Daftar Pustaka:al-Baqillani, Abu Bakr Muhammad bin al-Thayyib. al-Inshaf fima Yajibu I’tiqaduhu wa la Yajuzu al-Jahlu bihi. Ed. Muhammad Zahid al-Kautstari. Cet. 2. Kairo: al-Maktabah al-Azhariyyah li at-Turats, 1421 H / 2000 M.adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman. Siyar A’lam an-Nubala’. islamweb.net.al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam. Jeddah: Dar al-Minhaj, 1439 H / 2017 M.Ibn Khaldun, ‘Abd ar-Rahman bin Muhammad. al-Muqaddimah. Beirut: Dar al-Fikr.Ibn Khallikan, Abu al-‘Abbas Syamsuddin Ahmad bin Muhammad. Wafayat al-A’yan wa Anba’ Abna’ az-Zaman. Ed. Ihsan ‘Abbas. Beirut: Dar Sadir, 1994 M.Ibn Taimiyyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. al-Intishar li Ahl al-Atsar al-Mathbu’ bi ismi Naqdh al-Manthiq. Ed. ‘Abd ar-Rahman bin Hasan Qa’id. Cet. 3. Riyadh: Dar ‘Atha’at al-‘Ilm, 1440 H / 2019 M.al-Juwaini, Abu al-Ma’ali ‘Abd al-Malik bin ‘Abdullah. al-Irsyad ila Qawathi’ al-Adillah fi Usul al-I’tiqad. Ed. Muhammad Yusuf Musa dan ‘Ali ‘Abd al-Mun’im ‘Abd al-Hamid. Kairo: Maktabah al-Khanji, 1369 H / 1950 M.as-Subki, Tajuddin ‘Abd al-Wahhab bin Taqiyy ad-Din. Mu’id an-Ni’am wa Mubid an-Niqam. Cet. 1. Beirut: Mu’assasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah, 1407 H / 1986 M.asy-Syinqithi, Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar. Adhwa’ al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an. Cet. 5. Riyadh: Dar ‘Atha’at al-‘Ilm, 1441 H / 2019 M.

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleSyarat-syarat taubat nasuhaPertama, ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam bertobatKedua, menyesali dosa yang telah dilakukanKetiga, segera meninggalkan dosa tersebut saat itu jugaKeempat, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagiKelima, tobat dilakukan pada waktu yang masih diterimaTobat dari dosa yang berkaitan dengan hak manusiaPenutupSetelah memahami betapa pentingnya tobat dalam kehidupan seorang mukmin, hendaknya ia tidak menunda-nundanya karena ajalnya dapat datang kapan saja. Setiap manusia pasti pernah berbuat salah dan membutuhkan tobat, tetapi Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa membuka pintu rahmat-Nya bagi hamba yang ingin bertobat dan kembali kepada-Nya dengan penuh kesungguhan.Syarat-syarat taubat nasuhaSyekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,وللتوبة شروط خمسة :الأول :الإخلاص لله عز وجل في التوبة، والثاني: الندم على ما حصل منه من الذنب، والثالث: الإقلاع عنه في الحال، والرابع: العزم على أن لا يعود، والخامس: أن تكون التوبة في الوقت الذي تقبل فيه“Tobat memiliki lima syarat: (1) Ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam bertobat. (2) Menyesali dosa yang telah dilakukan. (3) Segera meninggalkan dosa tersebut saat itu juga. (4) Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.  (5) Tobat dilakukan pada waktu yang masih diterima (sebelum ajal tiba atau sebelum matahari terbit dari arah barat).” (Lihat Syarah Riyadhus Shalihin, 1: 147)Pertama, ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam bertobatSyarat pertama dan yang paling penting adalah ikhlas. Tobat harus dilakukan semata-mata karena mengharap rida Allah ‘Azza wa Jalla, bukan karena alasan duniawi dan semisalnya.Sebagian orang meninggalkan suatu maksiat karena takut kehilangan jabatan, takut dipermalukan, atau karena kondisi fisiknya yang tidak lagi memungkinkan melakukan maksiat tersebut. Meninggalkan dosa dengan alasan seperti ini belum termasuk tobat yang sempurna jika tidak disertai niat kembali kepada Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Keikhlasan merupakan pondasi utama seluruh ibadah. Suatu ibadah tidaklah Allah terima kecuali ibadah tersebut didasari keikhlasan karena Allah ‘Azza wa Jalla semata, termasuk masalah tobat ini.Kedua, menyesali dosa yang telah dilakukanSeseorang yang secara zahir sudah bertobat, tetapi jika ia tidak merasa menyesali perbuatan dosanya, maka tobatnya bisa jadi tidak diterima Allah ‘Azza wa Jalla. Karena jika tidak menyesalinya, berarti ia rida dengan perbuatan dosa tersebut. Ini yang menghalangi tobatnya diterima. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Penyesalan adalah tobat.” (HR. Ibnu Majah no. 4252, disahihkan oleh Al-Albani)Hadis ini menunjukkan bahwa penyesalan merupakan pondasi dan salah satu unsur terpenting dalam tobat. Orang yang benar-benar menyesal akan merasa sedih karena telah bermaksiat kepada Rabb yang telah memberinya berbagai nikmat. Sebaliknya, seseorang yang masih merasa bangga dengan dosa yang pernah dilakukannya menunjukkan bahwa tobatnya belum sempurna.Ketiga, segera meninggalkan dosa tersebut saat itu jugaTidaklah seseorang dikatakan bertobat sementara ia masih terus melakukan maksiat yang ia ingin bertobat darinya. Misalnya, seseorang ingin bertobat dari riba, maka ia wajib segera meninggalkan praktik riba tersebut. Orang yang ingin bertobat dari gibah harus menghentikan kebiasaan menggunjing. Demikian pula orang yang ingin bertobat dari meninggalkan salat wajib, dia segera menegakkan salat ketika masuk waktunya.Ketahuilah, tobat bukan sekadar ucapan di lisan saja, tetapi harus dibuktikan dengan amalan yang nyata.Keempat, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagiHendaknya jika seseorang itu benar-benar betobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia harus memiliki tekad yang kuat untuk tidak mengulangi dosa yang ia lakukkan di waktu yang akan datang.Apabila seseorang berkata, “Saya bertobat sekarang, tetapi nanti kalau ada kesempatan, saya akan mengulanginya lagi,” maka tobat seperti ini tidak sah karena tidak memenuhi syarat ini.Namun, apabila seseorang telah bertobat dengan sungguh-sungguh, lalu di kemudian hari tergelincir kembali karena kelemahan dirinya, maka tobat pertamanya tetap sah. Ia hanya wajib memperbarui tobatnya atas dosa yang baru dilakukan.Kelima, tobat dilakukan pada waktu yang masih diterimaSecara umum, terdapat dua waktu yang menjadi batas diterimanya tobat. Yang pertama adalah sebelum nyawa sampai di tenggorokan ketika sakaratul maut.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ“Dan tidaklah tobat itu diterima bagi orang-orang yang terus-menerus melakukan kejahatan, hingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, barulah ia berkata, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’” (QS. An-Nisa’: 18)Yang kedua adalah sebelum matahari terbit dari arah barat sebagai salah satu tanda besar kiamat. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis,مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ“Barang siapa bertobat sebelum matahari terbit dari arah barat, maka Allah menerima tobatnya.” (HR. Muslim no. 2703)Oleh karena itu, tidak ada jaminan bahwa seseorang masih memiliki kesempatan untuk bertobat esok hari. Kesempatan terbaik untuk kembali dan bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah sekarang.Tobat dari dosa yang berkaitan dengan hak manusiaSelain dosa yang berkaitan dengan hak Allah Ta’ala, terdapat pula dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia (huququl ‘ibad). Tobat dari jenis dosa ini memiliki konsekuensi tambahan selain syarat-syarat tobat yang telah disebutkan sebelumnya. Hal ini karena Islam sangat menjaga hak dan kehormatan manusia, sehingga seseorang tidak cukup hanya memohon ampun kepada Allah Ta’ala saja, tetapi juga harus menyelesaikan hak orang yang telah dizaliminya dengan meminta maaf dan kehalalannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatan maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta dihalalkan darinya pada hari ini sebelum datang hari yang tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Bukhari no. 2449)Para ulama menjelaskan bahwa apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak manusia, maka selain memenuhi syarat-syarat tobat yang umum, pelakunya juga wajib mengembalikan hak tersebut atau meminta kerelaan dari orang yang dizalimi.Sebagai contoh, apabila seseorang mengambil harta orang lain, maka ia wajib mengembalikannya. Jika ia melakukan fitnah atau tuduhan dusta, maka ia harus meminta maaf dan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan. Jika ia melakukan ghibah (menggunjing), para ulama menjelaskan bahwa ia harus bertobat kepada Allah Ta’ala serta berusaha memperbaiki dampak buruk yang ditimbulkan oleh perbuatannya, seperti mendoakan kebaikan bagi orang yang digunjingnya dan menyebutkan kebaikannya di tempat-tempat yang dahulu ia mencelanya.Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam Majmu’ Al-Fatawa (10: 45) menjelaskan bahwa hak manusia dibangun di atas prinsip keadilan dan penyelesaian hak, sehingga tidak cukup hanya dengan penyesalan hati semata. Oleh karena itu, seseorang yang benar-benar ingin melakukan taubat nasuha harus berusaha semaksimal mungkin menghilangkan kezaliman yang pernah ia lakukan kepada orang lain.Dengan demikian, tobat dari dosa yang berkaitan dengan hak manusia memiliki syarat tambahan, yaitu mengembalikan hak kepada pemiliknya atau meminta kerelaannya. Inilah bentuk kesempurnaan tobat yang menunjukkan kejujuran seorang hamba dalam kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membersihkan dirinya dari segala bentuk kezaliman terhadap siapapun.PenutupMenunda tobat merupakan kerugian besar yang sering kali tidak disadari seseorang. Setan selalu menghiasi angan-angan panjang sehingga seseorang merasa masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki diri. Padahal, kematian dapat datang kapan saja, sementara dosa yang terus dilakukan akan semakin mengeraskan hati.Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak menunggu hari esok untuk kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Waktu terbaik untuk bertobat bukanlah ketika usia telah senja, melainkan saat ini juga. Selama pintu tobat masih terbuka dan nyawa belum sampai di kerongkongan, kesempatan bertobat dan istigfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala masih tersedia.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan seluruh orang mukmin termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa beristigfar kepada-Nya, segera bertobat ketika melakukan kesalahan, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleSyarat-syarat taubat nasuhaPertama, ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam bertobatKedua, menyesali dosa yang telah dilakukanKetiga, segera meninggalkan dosa tersebut saat itu jugaKeempat, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagiKelima, tobat dilakukan pada waktu yang masih diterimaTobat dari dosa yang berkaitan dengan hak manusiaPenutupSetelah memahami betapa pentingnya tobat dalam kehidupan seorang mukmin, hendaknya ia tidak menunda-nundanya karena ajalnya dapat datang kapan saja. Setiap manusia pasti pernah berbuat salah dan membutuhkan tobat, tetapi Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa membuka pintu rahmat-Nya bagi hamba yang ingin bertobat dan kembali kepada-Nya dengan penuh kesungguhan.Syarat-syarat taubat nasuhaSyekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,وللتوبة شروط خمسة :الأول :الإخلاص لله عز وجل في التوبة، والثاني: الندم على ما حصل منه من الذنب، والثالث: الإقلاع عنه في الحال، والرابع: العزم على أن لا يعود، والخامس: أن تكون التوبة في الوقت الذي تقبل فيه“Tobat memiliki lima syarat: (1) Ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam bertobat. (2) Menyesali dosa yang telah dilakukan. (3) Segera meninggalkan dosa tersebut saat itu juga. (4) Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.  (5) Tobat dilakukan pada waktu yang masih diterima (sebelum ajal tiba atau sebelum matahari terbit dari arah barat).” (Lihat Syarah Riyadhus Shalihin, 1: 147)Pertama, ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam bertobatSyarat pertama dan yang paling penting adalah ikhlas. Tobat harus dilakukan semata-mata karena mengharap rida Allah ‘Azza wa Jalla, bukan karena alasan duniawi dan semisalnya.Sebagian orang meninggalkan suatu maksiat karena takut kehilangan jabatan, takut dipermalukan, atau karena kondisi fisiknya yang tidak lagi memungkinkan melakukan maksiat tersebut. Meninggalkan dosa dengan alasan seperti ini belum termasuk tobat yang sempurna jika tidak disertai niat kembali kepada Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Keikhlasan merupakan pondasi utama seluruh ibadah. Suatu ibadah tidaklah Allah terima kecuali ibadah tersebut didasari keikhlasan karena Allah ‘Azza wa Jalla semata, termasuk masalah tobat ini.Kedua, menyesali dosa yang telah dilakukanSeseorang yang secara zahir sudah bertobat, tetapi jika ia tidak merasa menyesali perbuatan dosanya, maka tobatnya bisa jadi tidak diterima Allah ‘Azza wa Jalla. Karena jika tidak menyesalinya, berarti ia rida dengan perbuatan dosa tersebut. Ini yang menghalangi tobatnya diterima. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Penyesalan adalah tobat.” (HR. Ibnu Majah no. 4252, disahihkan oleh Al-Albani)Hadis ini menunjukkan bahwa penyesalan merupakan pondasi dan salah satu unsur terpenting dalam tobat. Orang yang benar-benar menyesal akan merasa sedih karena telah bermaksiat kepada Rabb yang telah memberinya berbagai nikmat. Sebaliknya, seseorang yang masih merasa bangga dengan dosa yang pernah dilakukannya menunjukkan bahwa tobatnya belum sempurna.Ketiga, segera meninggalkan dosa tersebut saat itu jugaTidaklah seseorang dikatakan bertobat sementara ia masih terus melakukan maksiat yang ia ingin bertobat darinya. Misalnya, seseorang ingin bertobat dari riba, maka ia wajib segera meninggalkan praktik riba tersebut. Orang yang ingin bertobat dari gibah harus menghentikan kebiasaan menggunjing. Demikian pula orang yang ingin bertobat dari meninggalkan salat wajib, dia segera menegakkan salat ketika masuk waktunya.Ketahuilah, tobat bukan sekadar ucapan di lisan saja, tetapi harus dibuktikan dengan amalan yang nyata.Keempat, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagiHendaknya jika seseorang itu benar-benar betobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia harus memiliki tekad yang kuat untuk tidak mengulangi dosa yang ia lakukkan di waktu yang akan datang.Apabila seseorang berkata, “Saya bertobat sekarang, tetapi nanti kalau ada kesempatan, saya akan mengulanginya lagi,” maka tobat seperti ini tidak sah karena tidak memenuhi syarat ini.Namun, apabila seseorang telah bertobat dengan sungguh-sungguh, lalu di kemudian hari tergelincir kembali karena kelemahan dirinya, maka tobat pertamanya tetap sah. Ia hanya wajib memperbarui tobatnya atas dosa yang baru dilakukan.Kelima, tobat dilakukan pada waktu yang masih diterimaSecara umum, terdapat dua waktu yang menjadi batas diterimanya tobat. Yang pertama adalah sebelum nyawa sampai di tenggorokan ketika sakaratul maut.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ“Dan tidaklah tobat itu diterima bagi orang-orang yang terus-menerus melakukan kejahatan, hingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, barulah ia berkata, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’” (QS. An-Nisa’: 18)Yang kedua adalah sebelum matahari terbit dari arah barat sebagai salah satu tanda besar kiamat. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis,مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ“Barang siapa bertobat sebelum matahari terbit dari arah barat, maka Allah menerima tobatnya.” (HR. Muslim no. 2703)Oleh karena itu, tidak ada jaminan bahwa seseorang masih memiliki kesempatan untuk bertobat esok hari. Kesempatan terbaik untuk kembali dan bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah sekarang.Tobat dari dosa yang berkaitan dengan hak manusiaSelain dosa yang berkaitan dengan hak Allah Ta’ala, terdapat pula dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia (huququl ‘ibad). Tobat dari jenis dosa ini memiliki konsekuensi tambahan selain syarat-syarat tobat yang telah disebutkan sebelumnya. Hal ini karena Islam sangat menjaga hak dan kehormatan manusia, sehingga seseorang tidak cukup hanya memohon ampun kepada Allah Ta’ala saja, tetapi juga harus menyelesaikan hak orang yang telah dizaliminya dengan meminta maaf dan kehalalannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatan maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta dihalalkan darinya pada hari ini sebelum datang hari yang tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Bukhari no. 2449)Para ulama menjelaskan bahwa apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak manusia, maka selain memenuhi syarat-syarat tobat yang umum, pelakunya juga wajib mengembalikan hak tersebut atau meminta kerelaan dari orang yang dizalimi.Sebagai contoh, apabila seseorang mengambil harta orang lain, maka ia wajib mengembalikannya. Jika ia melakukan fitnah atau tuduhan dusta, maka ia harus meminta maaf dan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan. Jika ia melakukan ghibah (menggunjing), para ulama menjelaskan bahwa ia harus bertobat kepada Allah Ta’ala serta berusaha memperbaiki dampak buruk yang ditimbulkan oleh perbuatannya, seperti mendoakan kebaikan bagi orang yang digunjingnya dan menyebutkan kebaikannya di tempat-tempat yang dahulu ia mencelanya.Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam Majmu’ Al-Fatawa (10: 45) menjelaskan bahwa hak manusia dibangun di atas prinsip keadilan dan penyelesaian hak, sehingga tidak cukup hanya dengan penyesalan hati semata. Oleh karena itu, seseorang yang benar-benar ingin melakukan taubat nasuha harus berusaha semaksimal mungkin menghilangkan kezaliman yang pernah ia lakukan kepada orang lain.Dengan demikian, tobat dari dosa yang berkaitan dengan hak manusia memiliki syarat tambahan, yaitu mengembalikan hak kepada pemiliknya atau meminta kerelaannya. Inilah bentuk kesempurnaan tobat yang menunjukkan kejujuran seorang hamba dalam kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membersihkan dirinya dari segala bentuk kezaliman terhadap siapapun.PenutupMenunda tobat merupakan kerugian besar yang sering kali tidak disadari seseorang. Setan selalu menghiasi angan-angan panjang sehingga seseorang merasa masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki diri. Padahal, kematian dapat datang kapan saja, sementara dosa yang terus dilakukan akan semakin mengeraskan hati.Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak menunggu hari esok untuk kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Waktu terbaik untuk bertobat bukanlah ketika usia telah senja, melainkan saat ini juga. Selama pintu tobat masih terbuka dan nyawa belum sampai di kerongkongan, kesempatan bertobat dan istigfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala masih tersedia.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan seluruh orang mukmin termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa beristigfar kepada-Nya, segera bertobat ketika melakukan kesalahan, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleSyarat-syarat taubat nasuhaPertama, ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam bertobatKedua, menyesali dosa yang telah dilakukanKetiga, segera meninggalkan dosa tersebut saat itu jugaKeempat, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagiKelima, tobat dilakukan pada waktu yang masih diterimaTobat dari dosa yang berkaitan dengan hak manusiaPenutupSetelah memahami betapa pentingnya tobat dalam kehidupan seorang mukmin, hendaknya ia tidak menunda-nundanya karena ajalnya dapat datang kapan saja. Setiap manusia pasti pernah berbuat salah dan membutuhkan tobat, tetapi Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa membuka pintu rahmat-Nya bagi hamba yang ingin bertobat dan kembali kepada-Nya dengan penuh kesungguhan.Syarat-syarat taubat nasuhaSyekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,وللتوبة شروط خمسة :الأول :الإخلاص لله عز وجل في التوبة، والثاني: الندم على ما حصل منه من الذنب، والثالث: الإقلاع عنه في الحال، والرابع: العزم على أن لا يعود، والخامس: أن تكون التوبة في الوقت الذي تقبل فيه“Tobat memiliki lima syarat: (1) Ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam bertobat. (2) Menyesali dosa yang telah dilakukan. (3) Segera meninggalkan dosa tersebut saat itu juga. (4) Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.  (5) Tobat dilakukan pada waktu yang masih diterima (sebelum ajal tiba atau sebelum matahari terbit dari arah barat).” (Lihat Syarah Riyadhus Shalihin, 1: 147)Pertama, ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam bertobatSyarat pertama dan yang paling penting adalah ikhlas. Tobat harus dilakukan semata-mata karena mengharap rida Allah ‘Azza wa Jalla, bukan karena alasan duniawi dan semisalnya.Sebagian orang meninggalkan suatu maksiat karena takut kehilangan jabatan, takut dipermalukan, atau karena kondisi fisiknya yang tidak lagi memungkinkan melakukan maksiat tersebut. Meninggalkan dosa dengan alasan seperti ini belum termasuk tobat yang sempurna jika tidak disertai niat kembali kepada Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Keikhlasan merupakan pondasi utama seluruh ibadah. Suatu ibadah tidaklah Allah terima kecuali ibadah tersebut didasari keikhlasan karena Allah ‘Azza wa Jalla semata, termasuk masalah tobat ini.Kedua, menyesali dosa yang telah dilakukanSeseorang yang secara zahir sudah bertobat, tetapi jika ia tidak merasa menyesali perbuatan dosanya, maka tobatnya bisa jadi tidak diterima Allah ‘Azza wa Jalla. Karena jika tidak menyesalinya, berarti ia rida dengan perbuatan dosa tersebut. Ini yang menghalangi tobatnya diterima. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Penyesalan adalah tobat.” (HR. Ibnu Majah no. 4252, disahihkan oleh Al-Albani)Hadis ini menunjukkan bahwa penyesalan merupakan pondasi dan salah satu unsur terpenting dalam tobat. Orang yang benar-benar menyesal akan merasa sedih karena telah bermaksiat kepada Rabb yang telah memberinya berbagai nikmat. Sebaliknya, seseorang yang masih merasa bangga dengan dosa yang pernah dilakukannya menunjukkan bahwa tobatnya belum sempurna.Ketiga, segera meninggalkan dosa tersebut saat itu jugaTidaklah seseorang dikatakan bertobat sementara ia masih terus melakukan maksiat yang ia ingin bertobat darinya. Misalnya, seseorang ingin bertobat dari riba, maka ia wajib segera meninggalkan praktik riba tersebut. Orang yang ingin bertobat dari gibah harus menghentikan kebiasaan menggunjing. Demikian pula orang yang ingin bertobat dari meninggalkan salat wajib, dia segera menegakkan salat ketika masuk waktunya.Ketahuilah, tobat bukan sekadar ucapan di lisan saja, tetapi harus dibuktikan dengan amalan yang nyata.Keempat, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagiHendaknya jika seseorang itu benar-benar betobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia harus memiliki tekad yang kuat untuk tidak mengulangi dosa yang ia lakukkan di waktu yang akan datang.Apabila seseorang berkata, “Saya bertobat sekarang, tetapi nanti kalau ada kesempatan, saya akan mengulanginya lagi,” maka tobat seperti ini tidak sah karena tidak memenuhi syarat ini.Namun, apabila seseorang telah bertobat dengan sungguh-sungguh, lalu di kemudian hari tergelincir kembali karena kelemahan dirinya, maka tobat pertamanya tetap sah. Ia hanya wajib memperbarui tobatnya atas dosa yang baru dilakukan.Kelima, tobat dilakukan pada waktu yang masih diterimaSecara umum, terdapat dua waktu yang menjadi batas diterimanya tobat. Yang pertama adalah sebelum nyawa sampai di tenggorokan ketika sakaratul maut.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ“Dan tidaklah tobat itu diterima bagi orang-orang yang terus-menerus melakukan kejahatan, hingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, barulah ia berkata, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’” (QS. An-Nisa’: 18)Yang kedua adalah sebelum matahari terbit dari arah barat sebagai salah satu tanda besar kiamat. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis,مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ“Barang siapa bertobat sebelum matahari terbit dari arah barat, maka Allah menerima tobatnya.” (HR. Muslim no. 2703)Oleh karena itu, tidak ada jaminan bahwa seseorang masih memiliki kesempatan untuk bertobat esok hari. Kesempatan terbaik untuk kembali dan bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah sekarang.Tobat dari dosa yang berkaitan dengan hak manusiaSelain dosa yang berkaitan dengan hak Allah Ta’ala, terdapat pula dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia (huququl ‘ibad). Tobat dari jenis dosa ini memiliki konsekuensi tambahan selain syarat-syarat tobat yang telah disebutkan sebelumnya. Hal ini karena Islam sangat menjaga hak dan kehormatan manusia, sehingga seseorang tidak cukup hanya memohon ampun kepada Allah Ta’ala saja, tetapi juga harus menyelesaikan hak orang yang telah dizaliminya dengan meminta maaf dan kehalalannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatan maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta dihalalkan darinya pada hari ini sebelum datang hari yang tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Bukhari no. 2449)Para ulama menjelaskan bahwa apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak manusia, maka selain memenuhi syarat-syarat tobat yang umum, pelakunya juga wajib mengembalikan hak tersebut atau meminta kerelaan dari orang yang dizalimi.Sebagai contoh, apabila seseorang mengambil harta orang lain, maka ia wajib mengembalikannya. Jika ia melakukan fitnah atau tuduhan dusta, maka ia harus meminta maaf dan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan. Jika ia melakukan ghibah (menggunjing), para ulama menjelaskan bahwa ia harus bertobat kepada Allah Ta’ala serta berusaha memperbaiki dampak buruk yang ditimbulkan oleh perbuatannya, seperti mendoakan kebaikan bagi orang yang digunjingnya dan menyebutkan kebaikannya di tempat-tempat yang dahulu ia mencelanya.Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam Majmu’ Al-Fatawa (10: 45) menjelaskan bahwa hak manusia dibangun di atas prinsip keadilan dan penyelesaian hak, sehingga tidak cukup hanya dengan penyesalan hati semata. Oleh karena itu, seseorang yang benar-benar ingin melakukan taubat nasuha harus berusaha semaksimal mungkin menghilangkan kezaliman yang pernah ia lakukan kepada orang lain.Dengan demikian, tobat dari dosa yang berkaitan dengan hak manusia memiliki syarat tambahan, yaitu mengembalikan hak kepada pemiliknya atau meminta kerelaannya. Inilah bentuk kesempurnaan tobat yang menunjukkan kejujuran seorang hamba dalam kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membersihkan dirinya dari segala bentuk kezaliman terhadap siapapun.PenutupMenunda tobat merupakan kerugian besar yang sering kali tidak disadari seseorang. Setan selalu menghiasi angan-angan panjang sehingga seseorang merasa masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki diri. Padahal, kematian dapat datang kapan saja, sementara dosa yang terus dilakukan akan semakin mengeraskan hati.Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak menunggu hari esok untuk kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Waktu terbaik untuk bertobat bukanlah ketika usia telah senja, melainkan saat ini juga. Selama pintu tobat masih terbuka dan nyawa belum sampai di kerongkongan, kesempatan bertobat dan istigfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala masih tersedia.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan seluruh orang mukmin termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa beristigfar kepada-Nya, segera bertobat ketika melakukan kesalahan, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleSyarat-syarat taubat nasuhaPertama, ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam bertobatKedua, menyesali dosa yang telah dilakukanKetiga, segera meninggalkan dosa tersebut saat itu jugaKeempat, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagiKelima, tobat dilakukan pada waktu yang masih diterimaTobat dari dosa yang berkaitan dengan hak manusiaPenutupSetelah memahami betapa pentingnya tobat dalam kehidupan seorang mukmin, hendaknya ia tidak menunda-nundanya karena ajalnya dapat datang kapan saja. Setiap manusia pasti pernah berbuat salah dan membutuhkan tobat, tetapi Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa membuka pintu rahmat-Nya bagi hamba yang ingin bertobat dan kembali kepada-Nya dengan penuh kesungguhan.Syarat-syarat taubat nasuhaSyekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,وللتوبة شروط خمسة :الأول :الإخلاص لله عز وجل في التوبة، والثاني: الندم على ما حصل منه من الذنب، والثالث: الإقلاع عنه في الحال، والرابع: العزم على أن لا يعود، والخامس: أن تكون التوبة في الوقت الذي تقبل فيه“Tobat memiliki lima syarat: (1) Ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam bertobat. (2) Menyesali dosa yang telah dilakukan. (3) Segera meninggalkan dosa tersebut saat itu juga. (4) Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.  (5) Tobat dilakukan pada waktu yang masih diterima (sebelum ajal tiba atau sebelum matahari terbit dari arah barat).” (Lihat Syarah Riyadhus Shalihin, 1: 147)Pertama, ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam bertobatSyarat pertama dan yang paling penting adalah ikhlas. Tobat harus dilakukan semata-mata karena mengharap rida Allah ‘Azza wa Jalla, bukan karena alasan duniawi dan semisalnya.Sebagian orang meninggalkan suatu maksiat karena takut kehilangan jabatan, takut dipermalukan, atau karena kondisi fisiknya yang tidak lagi memungkinkan melakukan maksiat tersebut. Meninggalkan dosa dengan alasan seperti ini belum termasuk tobat yang sempurna jika tidak disertai niat kembali kepada Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Keikhlasan merupakan pondasi utama seluruh ibadah. Suatu ibadah tidaklah Allah terima kecuali ibadah tersebut didasari keikhlasan karena Allah ‘Azza wa Jalla semata, termasuk masalah tobat ini.Kedua, menyesali dosa yang telah dilakukanSeseorang yang secara zahir sudah bertobat, tetapi jika ia tidak merasa menyesali perbuatan dosanya, maka tobatnya bisa jadi tidak diterima Allah ‘Azza wa Jalla. Karena jika tidak menyesalinya, berarti ia rida dengan perbuatan dosa tersebut. Ini yang menghalangi tobatnya diterima. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Penyesalan adalah tobat.” (HR. Ibnu Majah no. 4252, disahihkan oleh Al-Albani)Hadis ini menunjukkan bahwa penyesalan merupakan pondasi dan salah satu unsur terpenting dalam tobat. Orang yang benar-benar menyesal akan merasa sedih karena telah bermaksiat kepada Rabb yang telah memberinya berbagai nikmat. Sebaliknya, seseorang yang masih merasa bangga dengan dosa yang pernah dilakukannya menunjukkan bahwa tobatnya belum sempurna.Ketiga, segera meninggalkan dosa tersebut saat itu jugaTidaklah seseorang dikatakan bertobat sementara ia masih terus melakukan maksiat yang ia ingin bertobat darinya. Misalnya, seseorang ingin bertobat dari riba, maka ia wajib segera meninggalkan praktik riba tersebut. Orang yang ingin bertobat dari gibah harus menghentikan kebiasaan menggunjing. Demikian pula orang yang ingin bertobat dari meninggalkan salat wajib, dia segera menegakkan salat ketika masuk waktunya.Ketahuilah, tobat bukan sekadar ucapan di lisan saja, tetapi harus dibuktikan dengan amalan yang nyata.Keempat, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagiHendaknya jika seseorang itu benar-benar betobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia harus memiliki tekad yang kuat untuk tidak mengulangi dosa yang ia lakukkan di waktu yang akan datang.Apabila seseorang berkata, “Saya bertobat sekarang, tetapi nanti kalau ada kesempatan, saya akan mengulanginya lagi,” maka tobat seperti ini tidak sah karena tidak memenuhi syarat ini.Namun, apabila seseorang telah bertobat dengan sungguh-sungguh, lalu di kemudian hari tergelincir kembali karena kelemahan dirinya, maka tobat pertamanya tetap sah. Ia hanya wajib memperbarui tobatnya atas dosa yang baru dilakukan.Kelima, tobat dilakukan pada waktu yang masih diterimaSecara umum, terdapat dua waktu yang menjadi batas diterimanya tobat. Yang pertama adalah sebelum nyawa sampai di tenggorokan ketika sakaratul maut.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ“Dan tidaklah tobat itu diterima bagi orang-orang yang terus-menerus melakukan kejahatan, hingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, barulah ia berkata, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’” (QS. An-Nisa’: 18)Yang kedua adalah sebelum matahari terbit dari arah barat sebagai salah satu tanda besar kiamat. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis,مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ“Barang siapa bertobat sebelum matahari terbit dari arah barat, maka Allah menerima tobatnya.” (HR. Muslim no. 2703)Oleh karena itu, tidak ada jaminan bahwa seseorang masih memiliki kesempatan untuk bertobat esok hari. Kesempatan terbaik untuk kembali dan bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah sekarang.Tobat dari dosa yang berkaitan dengan hak manusiaSelain dosa yang berkaitan dengan hak Allah Ta’ala, terdapat pula dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia (huququl ‘ibad). Tobat dari jenis dosa ini memiliki konsekuensi tambahan selain syarat-syarat tobat yang telah disebutkan sebelumnya. Hal ini karena Islam sangat menjaga hak dan kehormatan manusia, sehingga seseorang tidak cukup hanya memohon ampun kepada Allah Ta’ala saja, tetapi juga harus menyelesaikan hak orang yang telah dizaliminya dengan meminta maaf dan kehalalannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatan maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta dihalalkan darinya pada hari ini sebelum datang hari yang tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Bukhari no. 2449)Para ulama menjelaskan bahwa apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak manusia, maka selain memenuhi syarat-syarat tobat yang umum, pelakunya juga wajib mengembalikan hak tersebut atau meminta kerelaan dari orang yang dizalimi.Sebagai contoh, apabila seseorang mengambil harta orang lain, maka ia wajib mengembalikannya. Jika ia melakukan fitnah atau tuduhan dusta, maka ia harus meminta maaf dan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan. Jika ia melakukan ghibah (menggunjing), para ulama menjelaskan bahwa ia harus bertobat kepada Allah Ta’ala serta berusaha memperbaiki dampak buruk yang ditimbulkan oleh perbuatannya, seperti mendoakan kebaikan bagi orang yang digunjingnya dan menyebutkan kebaikannya di tempat-tempat yang dahulu ia mencelanya.Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam Majmu’ Al-Fatawa (10: 45) menjelaskan bahwa hak manusia dibangun di atas prinsip keadilan dan penyelesaian hak, sehingga tidak cukup hanya dengan penyesalan hati semata. Oleh karena itu, seseorang yang benar-benar ingin melakukan taubat nasuha harus berusaha semaksimal mungkin menghilangkan kezaliman yang pernah ia lakukan kepada orang lain.Dengan demikian, tobat dari dosa yang berkaitan dengan hak manusia memiliki syarat tambahan, yaitu mengembalikan hak kepada pemiliknya atau meminta kerelaannya. Inilah bentuk kesempurnaan tobat yang menunjukkan kejujuran seorang hamba dalam kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membersihkan dirinya dari segala bentuk kezaliman terhadap siapapun.PenutupMenunda tobat merupakan kerugian besar yang sering kali tidak disadari seseorang. Setan selalu menghiasi angan-angan panjang sehingga seseorang merasa masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki diri. Padahal, kematian dapat datang kapan saja, sementara dosa yang terus dilakukan akan semakin mengeraskan hati.Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak menunggu hari esok untuk kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Waktu terbaik untuk bertobat bukanlah ketika usia telah senja, melainkan saat ini juga. Selama pintu tobat masih terbuka dan nyawa belum sampai di kerongkongan, kesempatan bertobat dan istigfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala masih tersedia.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan seluruh orang mukmin termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa beristigfar kepada-Nya, segera bertobat ketika melakukan kesalahan, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Mengenal Nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Kandungan makna nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Makna bahasa dari “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Penyebutan “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” secara berpasanganMakna “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” dalam konteks AllahKonsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” bagi seorang hambaPertama, meyakini bahwa Allah meninggikan wali-wali-Nya dan merendahkan musuh-musuh-NyaKedua, memahami bahwa ketinggian yang hakiki bukan ukuran duniaKetiga, menempuh jalan ketaatan agar diangkat oleh AllahKeempat, takut dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahanDi antara nama-nama Allah yang menanamkan rasa tunduk, tawadhu’, takut, dan berharap kepada-Nya adalah Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’. Keduanya sering dibahas secara berpasangan, karena kesempurnaan maknanya lebih tampak ketika dipahami bersama. Allah merendahkan siapa yang Dia kehendaki dengan keadilan-Nya, dan meninggikan siapa yang Dia kehendaki dengan hikmah serta rahmat-Nya.Seorang hamba yang memahami dua nama ini akan mengetahui bahwa ukuran kemuliaan dan kehinaan yang hakiki bukanlah di tangan manusia. Bukan harta yang meninggikan, bukan jabatan yang memuliakan, dan bukan pula banyaknya pengikut yang menjadikan seseorang tinggi di sisi Allah. Yang benar-benar meninggikan dan merendahkan hanyalah Allah Ta’ala. Dalam tulisan ini, kita akan mengulas dalil-dalil dua nama ini, kandungan maknanya, serta konsekuensi iman kepadanya bagi seorang mukmin. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.Dalil nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Para ulama yang memasukkan Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’ ke dalam Asmaaul Husna berdalil dengan riwayat yang memuat penyebutan nama-nama Allah. Para ulama banyak menukil di kitab-kitab mereka,الخَافِضُ الرَّافِعُ“Yang Merendahkan dan Yang Meninggikan.” [1]Sebagian ulama yang memasukkan keduanya juga membahas secara berpasangan dalam kitab-kitab mereka. Syekh Shalih Alu asy-Syaikh menjelaskan,الخافض ليس من الأسماء الحسنى في نفسه، لكن الرافع الخافض من الأسماء الحسنى وهكذ“Al-Khaafidh bukan termasuk Asmaul Husna jika berdiri sendiri. Akan tetapi, Ar-Raafi’ Al-Khaafidh termasuk Asmaul Husna. Demikian pula yang semisalnya.” [2]Adapun makna dua nama ini sangat jelas ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Di antaranya firman Allah Ta’ala,خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ“(Kiamat itu) merendahkan dan meninggikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 3)Ketika menjelaskan ayat ini, az-Zajjaj mengatakan sebagaimana dinukil oleh Ibn Manzhur,المعنى أنها تخفض أهل المعاصي وترفع أهل الطاعة“Maknanya adalah bahwa Dia merendahkan ahli maksiat dan meninggikan ahli ketaatan.” [3]Ibn Manzhur juga menukil penjelasan lain tentang ayat tersebut,تخفض قوما فتحطهم عن مراتب آخرين ترفعهم إليها، والذين خفضوا يسلفون إلى النار، والمرفوعون يرفعون إلى غرف الجنان“Ia merendahkan suatu kaum, lalu menjatuhkan mereka dari derajat yang diberikan kepada kaum lain yang diangkat ke sana. Orang-orang yang direndahkan digiring ke neraka, sedangkan orang-orang yang diangkat ditinggikan menuju kamar-kamar surga.” [4]Di antara ayat yang menunjukkan makna ar-raf’ adalah firman Allah Ta’ala,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah: 11)Dan firman-Nya,بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا“Tetapi Allah telah mengangkatnya kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’: 158)Juga firman-Nya,إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ“Kepada-Nya naik perkataan yang baik, dan amal saleh diangkat-Nya.” (QS. Faathir: 10)Syekh Abdurrazzaq al-Badr, ketika menyebut ayat-ayat semacam ini, menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang menyempitkan, melapangkan, merendahkan, dan meninggikan secara takdir. Beliau menyebutkan,وإن كان الله تعالى هو القابض الباسط الخافض الرافع قدرا“Dan sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Dzat yang Menyempitkan, Melapangkan, Merendahkan, dan Meninggikan secara takdir.” [5]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Kandungan makna nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini dengan baik, kita perlu melihat makna katanya secara bahasa, lalu memahami maknanya ketika dua nama tersebut disandarkan kepada Allah Ta’ala. Sebab, nama-nama Allah tidak hanya indah dari sisi lafaz, tetapi juga sangat agung dari sisi makna.Makna bahasa dari “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Kata Al-Khaafidh berasal dari kata خفض. Ibn Manzhur menjelaskan,الخَفْضُ: ضِدُّ الرَّفْعِ. خَفَضَهُ يَخْفِضُهُ خَفْضًا فَانْخَفَضَ وَاخْتَفَضَ“Al-khafdh adalah lawan dari ar-raf’. Dikatakan: khafadhahu yakhfidhuhu khafdhan, lalu sesuatu itu menjadi rendah.” [6]Dari penjelasan ini, jelas bahwa Al-Khaafidh secara bahasa berarti “yang merendahkan” atau “yang menurunkan”. Adapun Ar-Raafi’ adalah lawannya, yaitu “yang meninggikan” atau “yang mengangkat”. Sehingga dari sisi bahasa saja, sudah tampak bahwa dua nama ini memang saling berkaitan dan saling menjelaskan.Penyebutan “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” secara berpasanganSebagian nama Allah lebih sempurna jika disebutkan bersama dengan pasangannya. Di antara contohnya adalah Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa kesempurnaan makna dua nama ini terletak pada penyebutan keduanya secara bersamaan.Ibnul Qayyim berkata,الأسماء المزدوجة تجري الأسماء منها مجرى الاسم الواحد الذي يمتنع فصل بعض حروفه عن بعض، فهي وإن تعددت جارية مجرى الاسم الواحد ولذلك لم تجئ مفردة ولم تطلق عليه إلا مقترنة“Nama-nama yang berpasangan itu berjalan seperti satu nama yang tidak boleh dipisahkan sebagian hurufnya dari sebagian yang lain. Walaupun jumlahnya lebih dari satu, ia diperlakukan seperti satu nama. Oleh karena itu, ia tidak datang dalam bentuk tunggal dan tidak disandarkan kepada Allah kecuali dalam keadaan berpasangan.” [7]Dari sini bisa dipahami bahwa pembahasan Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’ memang lebih tepat jika digabungkan. Sebab, jika hanya disebut “yang merendahkan” saja, maknanya belum utuh. Demikian pula jika hanya disebut “yang meninggikan” saja. Kesempurnaan maknanya tampak ketika keduanya disebut bersama: Allah merendahkan siapa yang Dia kehendaki dan meninggikan siapa yang Dia kehendaki.Makna “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” dalam konteks AllahJika dua nama ini disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka maknanya jauh lebih agung dan lebih sempurna. Imam al-Baihaqi menjelaskan,الخافض الرافع: فالخافض هو الذي يخفض من يشاء بانتقامه، والرافع هو الذي يرفع من يشاء بإنعامه“Al-Khaafidh Ar-Raafi’: Al-Khaafidh adalah Dzat yang merendahkan siapa yang Dia kehendaki dengan hukuman-Nya, dan Ar-Raafi’ adalah Dzat yang meninggikan siapa yang Dia kehendaki dengan karunia-Nya.” [8]Makna ini juga selaras dengan penjelasan Ibn Manzhur ketika membahas nama Allah Al-Khaafidh,في أسماء الله تعالى الخافض: هو الذي يخفض الجبارين والفراعنة أي: يضعهم ويهينهم ويخفض كل شيء يريد خفضه“Di antara nama Allah Ta’ala adalah Al-Khaafidh, yaitu Dzat yang merendahkan para jabbar dan fir’aun-fir’aun, yakni Dia menempatkan mereka dalam kehinaan dan merendahkan segala sesuatu yang Dia kehendaki untuk direndahkan.” [9]Jadi, Allah merendahkan orang-orang yang sombong, melampaui batas, dan memusuhi kebenaran. Sebaliknya, Allah meninggikan para wali-Nya, ahli iman, ahli ilmu, dan ahli ketaatan. Inilah makna yang sangat jelas dalam dua nama ini.Ibnul Qayyim menjelaskan makna tersebut dengan sangat indah. Sebagaimana dinukil oleh Musyrif al-Ghamidi,أن المؤمن عندما يدرك اتصافه تعالى بالخفض والرفع يوقن أن الله تعالى يرفع أولياءه بالطاعة فيعلي مراتبهم وينصرهم على أعدائه ويجعل العاقبة لهم كما أنه يخفض الجبارين ويذل الفراعنة المتكبرين“Sesungguhnya ketika seorang mukmin memahami bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat merendahkan dan meninggikan, ia akan yakin bahwa Allah meninggikan para wali-Nya dengan ketaatan, mengangkat derajat mereka, menolong mereka atas musuh-musuh-Nya, dan menjadikan akibat yang baik bagi mereka. Sebagaimana Allah juga merendahkan para jabbar dan menghinakan para fir’aun yang sombong.” [10]Maka, ketinggian dan kerendahan itu bukan hasil interpretasi bebas akal manusia yang liar, bukan pula sekadar permainan dunia. Semuanya kembali kepada hikmah Allah, pertolongan-Nya, dan keadilan-Nya.Konsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” bagi seorang hambaIman kepada dua nama ini akan berpengaruh besar pada cara seorang hamba memandang dirinya, memandang manusia, dan memandang jalan hidup yang sedang ia tempuh.Pertama, meyakini bahwa Allah meninggikan wali-wali-Nya dan merendahkan musuh-musuh-NyaKonsekuensi pertama adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah meninggikan orang-orang yang taat kepada-Nya dan merendahkan orang-orang yang memusuhi-Nya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak silau dengan ketinggian orang-orang yang sombong. Ia tahu bahwa ketinggian dunia yang terlepas dari hidayah Allah tidak selalu berarti kemuliaan yang hakiki.Begitu juga, ia tidak meremehkan orang-orang yang hidup sederhana, tidak dikenal, atau tidak punya kedudukan di mata manusia. Sebab, sangat mungkin mereka justru mulia di sisi Allah.Kedua, memahami bahwa ketinggian yang hakiki bukan ukuran duniaIbnul Qayyim menjelaskan bahwa kemuliaan hakiki bukan terletak pada penampilan duniawi, tumpukan harta, atau kedudukan sosial. Beliau berkata,وليس المرفوع قدراً، والمعلى شأناً وأمراً، والمستحق مجداً وفخراً من رفع الطين على الطين وتكبر على المساكين وتجبر على أشكاله بكثرة ماله، واستقامة أحواله، وإنما المشرف شأناً والمعلى رتبة ومكاناً من رفعه الله بتوفيقه، وأيده لتصديقه، وهداه إلى طريقته، صفى قلبه وخلى له وجهه“Bukanlah orang yang tinggi kedudukannya, mulia urusannya, dan berhak mendapatkan kemuliaan serta kebanggaan itu orang yang menumpuk tanah di atas tanah, lalu menyombongkan diri atas orang-orang miskin dan berlaku sewenang-wenang terhadap sesamanya karena banyaknya harta dan baiknya keadaan dunianya. Akan tetapi, orang yang benar-benar mulia dan tinggi derajatnya adalah orang yang Allah angkat dengan taufik-Nya, Allah kuatkan dengan pembenaran-Nya, Allah tunjukkan ke jalan-Nya, Allah sucikan hatinya, dan Allah lapangkan urusannya.” [11]Beliau kemudian menguatkan makna ini dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ“Betapa banyak orang yang kusut rambutnya, tertolak dari pintu-pintu, kalau ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR. Muslim) [12]Hadis ini mengajarkan bahwa penilaian manusia dan penilaian Allah tidak selalu sama. Orang yang dipandang rendah oleh manusia belum tentu rendah di sisi Allah.Ketiga, menempuh jalan ketaatan agar diangkat oleh AllahKalau Allah meninggikan wali-wali-Nya dengan ketaatan, maka seorang mukmin harus tahu jalan apa yang harus ditempuh jika ia ingin diangkat oleh Allah. Jalannya bukan kesombongan, bukan kezaliman, bukan pula mencari pujian manusia. Jalannya adalah taat kepada Allah, mengikuti Rasul-Nya, membenahi hati, dan berjalan di atas syariat.Penjelasan Ibnul Qayyim yang telah disebutkan tadi sangat jelas: Allah meninggikan wali-wali-Nya dengan ketaatan. Maka siapa yang ingin diangkat oleh Allah, hendaknya ia memperbaiki iman, ibadah, amal, dan akhlaknya.Keempat, takut dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahanSebaliknya, seorang hamba juga harus takut dari sebab-sebab yang membuatnya direndahkan oleh Allah. Sombong, maksiat, melampaui batas, dan berpaling dari jalan kebenaran adalah sebab-sebab kerendahan. Oleh karena itu, iman kepada nama Al-Khaafidh membuat seorang mukmin lebih waspada terhadap dosa dan lebih takut terhadap akibat buruk kesombongan.Al-Qurthubi menjelaskan,الرفع والخفض أمارتان للجزاء، فمن فتحت لروحه أبواب السماء فرفع واستبشر ومن نكس إلى أسفل أبعد وآيس، وبحسب ذلك الأعمال بشارات ونذارات“Ketinggian dan kerendahan adalah dua tanda balasan. Siapa yang dibukakan pintu-pintu langit bagi ruhnya, maka ia diangkat dan diberi kabar gembira. Dan siapa yang dijungkirkan ke bawah, maka ia dijauhkan dan dibuat putus asa. Dan sesuai dengan itu, amal-amal menjadi kabar gembira dan peringatan.” [13]Penjelasan ini menegaskan bahwa amalan seorang hamba punya hubungan langsung dengan kemuliaan atau kehinaannya. Ada amal yang menjadi sebab diangkatnya seorang hamba, dan ada amal yang menjadi sebab jatuhnya ia ke dalam kerendahan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diangkat dengan iman, ilmu, ketaatan, dan ketakwaan, serta dilindungi dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahan. Aamiin.Baca juga: Memahami Nama dan Sifat Allah dengan Benar***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] ‘Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asma’il Husna, hal. 55[2] Shalih bin Abdul Aziz Alu asy-Syaikh, Syarh al-Aqidah ath-Thahaawiyah; Ithaf as-Saa’il bimaa fi ath-Thahaawiyah min Masaa’il, hal. 234.[3] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112; beliau menukil keterangan az-Zajjaj.[4] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.[5] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 297.[6] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.[7] Ibnul Qayyim, Badaa’i al-Fawaa’id, 1: 184.[8] Al-Baihaqi, Al-I’tiqaad ilaa Sabiil ar-Rasyaad, 1: 55.[9] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.[10] Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani al-Ghamidi, Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 426.[11] Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani al-Ghamidi, Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 426.[12] HR. Muslim no. 2622, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[13] Al-Qurthubi, Al-Asna fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 1: 398. Daftar PustakaAl-Badr, Abdur Razzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin al-Husain. Al-I’tiqaad ilaa Sabiil ar-Rasyaad.Al-Ghamidi, Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani. Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. https://archive.org/Ibn Manzhur. Lisan al-Arab. Maktabah SyamilahIbnul Qayyim. Badaa’i al-Fawaa’id. IslamWeb.orgIbnul Qayyim. Madaarij as-Saalikiin. Maktabah SyamilahAl-Qurthubi. Al-Asna fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna.Alu asy-Syaikh, Shalih bin Abdul Aziz. Syarh al-Aqidah ath-Thahaawiyah: Ithaf as-Saa’il bimaa fi ath-Thahaawiyah min Masaa’il.

Mengenal Nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Kandungan makna nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Makna bahasa dari “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Penyebutan “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” secara berpasanganMakna “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” dalam konteks AllahKonsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” bagi seorang hambaPertama, meyakini bahwa Allah meninggikan wali-wali-Nya dan merendahkan musuh-musuh-NyaKedua, memahami bahwa ketinggian yang hakiki bukan ukuran duniaKetiga, menempuh jalan ketaatan agar diangkat oleh AllahKeempat, takut dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahanDi antara nama-nama Allah yang menanamkan rasa tunduk, tawadhu’, takut, dan berharap kepada-Nya adalah Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’. Keduanya sering dibahas secara berpasangan, karena kesempurnaan maknanya lebih tampak ketika dipahami bersama. Allah merendahkan siapa yang Dia kehendaki dengan keadilan-Nya, dan meninggikan siapa yang Dia kehendaki dengan hikmah serta rahmat-Nya.Seorang hamba yang memahami dua nama ini akan mengetahui bahwa ukuran kemuliaan dan kehinaan yang hakiki bukanlah di tangan manusia. Bukan harta yang meninggikan, bukan jabatan yang memuliakan, dan bukan pula banyaknya pengikut yang menjadikan seseorang tinggi di sisi Allah. Yang benar-benar meninggikan dan merendahkan hanyalah Allah Ta’ala. Dalam tulisan ini, kita akan mengulas dalil-dalil dua nama ini, kandungan maknanya, serta konsekuensi iman kepadanya bagi seorang mukmin. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.Dalil nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Para ulama yang memasukkan Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’ ke dalam Asmaaul Husna berdalil dengan riwayat yang memuat penyebutan nama-nama Allah. Para ulama banyak menukil di kitab-kitab mereka,الخَافِضُ الرَّافِعُ“Yang Merendahkan dan Yang Meninggikan.” [1]Sebagian ulama yang memasukkan keduanya juga membahas secara berpasangan dalam kitab-kitab mereka. Syekh Shalih Alu asy-Syaikh menjelaskan,الخافض ليس من الأسماء الحسنى في نفسه، لكن الرافع الخافض من الأسماء الحسنى وهكذ“Al-Khaafidh bukan termasuk Asmaul Husna jika berdiri sendiri. Akan tetapi, Ar-Raafi’ Al-Khaafidh termasuk Asmaul Husna. Demikian pula yang semisalnya.” [2]Adapun makna dua nama ini sangat jelas ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Di antaranya firman Allah Ta’ala,خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ“(Kiamat itu) merendahkan dan meninggikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 3)Ketika menjelaskan ayat ini, az-Zajjaj mengatakan sebagaimana dinukil oleh Ibn Manzhur,المعنى أنها تخفض أهل المعاصي وترفع أهل الطاعة“Maknanya adalah bahwa Dia merendahkan ahli maksiat dan meninggikan ahli ketaatan.” [3]Ibn Manzhur juga menukil penjelasan lain tentang ayat tersebut,تخفض قوما فتحطهم عن مراتب آخرين ترفعهم إليها، والذين خفضوا يسلفون إلى النار، والمرفوعون يرفعون إلى غرف الجنان“Ia merendahkan suatu kaum, lalu menjatuhkan mereka dari derajat yang diberikan kepada kaum lain yang diangkat ke sana. Orang-orang yang direndahkan digiring ke neraka, sedangkan orang-orang yang diangkat ditinggikan menuju kamar-kamar surga.” [4]Di antara ayat yang menunjukkan makna ar-raf’ adalah firman Allah Ta’ala,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah: 11)Dan firman-Nya,بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا“Tetapi Allah telah mengangkatnya kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’: 158)Juga firman-Nya,إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ“Kepada-Nya naik perkataan yang baik, dan amal saleh diangkat-Nya.” (QS. Faathir: 10)Syekh Abdurrazzaq al-Badr, ketika menyebut ayat-ayat semacam ini, menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang menyempitkan, melapangkan, merendahkan, dan meninggikan secara takdir. Beliau menyebutkan,وإن كان الله تعالى هو القابض الباسط الخافض الرافع قدرا“Dan sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Dzat yang Menyempitkan, Melapangkan, Merendahkan, dan Meninggikan secara takdir.” [5]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Kandungan makna nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini dengan baik, kita perlu melihat makna katanya secara bahasa, lalu memahami maknanya ketika dua nama tersebut disandarkan kepada Allah Ta’ala. Sebab, nama-nama Allah tidak hanya indah dari sisi lafaz, tetapi juga sangat agung dari sisi makna.Makna bahasa dari “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Kata Al-Khaafidh berasal dari kata خفض. Ibn Manzhur menjelaskan,الخَفْضُ: ضِدُّ الرَّفْعِ. خَفَضَهُ يَخْفِضُهُ خَفْضًا فَانْخَفَضَ وَاخْتَفَضَ“Al-khafdh adalah lawan dari ar-raf’. Dikatakan: khafadhahu yakhfidhuhu khafdhan, lalu sesuatu itu menjadi rendah.” [6]Dari penjelasan ini, jelas bahwa Al-Khaafidh secara bahasa berarti “yang merendahkan” atau “yang menurunkan”. Adapun Ar-Raafi’ adalah lawannya, yaitu “yang meninggikan” atau “yang mengangkat”. Sehingga dari sisi bahasa saja, sudah tampak bahwa dua nama ini memang saling berkaitan dan saling menjelaskan.Penyebutan “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” secara berpasanganSebagian nama Allah lebih sempurna jika disebutkan bersama dengan pasangannya. Di antara contohnya adalah Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa kesempurnaan makna dua nama ini terletak pada penyebutan keduanya secara bersamaan.Ibnul Qayyim berkata,الأسماء المزدوجة تجري الأسماء منها مجرى الاسم الواحد الذي يمتنع فصل بعض حروفه عن بعض، فهي وإن تعددت جارية مجرى الاسم الواحد ولذلك لم تجئ مفردة ولم تطلق عليه إلا مقترنة“Nama-nama yang berpasangan itu berjalan seperti satu nama yang tidak boleh dipisahkan sebagian hurufnya dari sebagian yang lain. Walaupun jumlahnya lebih dari satu, ia diperlakukan seperti satu nama. Oleh karena itu, ia tidak datang dalam bentuk tunggal dan tidak disandarkan kepada Allah kecuali dalam keadaan berpasangan.” [7]Dari sini bisa dipahami bahwa pembahasan Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’ memang lebih tepat jika digabungkan. Sebab, jika hanya disebut “yang merendahkan” saja, maknanya belum utuh. Demikian pula jika hanya disebut “yang meninggikan” saja. Kesempurnaan maknanya tampak ketika keduanya disebut bersama: Allah merendahkan siapa yang Dia kehendaki dan meninggikan siapa yang Dia kehendaki.Makna “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” dalam konteks AllahJika dua nama ini disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka maknanya jauh lebih agung dan lebih sempurna. Imam al-Baihaqi menjelaskan,الخافض الرافع: فالخافض هو الذي يخفض من يشاء بانتقامه، والرافع هو الذي يرفع من يشاء بإنعامه“Al-Khaafidh Ar-Raafi’: Al-Khaafidh adalah Dzat yang merendahkan siapa yang Dia kehendaki dengan hukuman-Nya, dan Ar-Raafi’ adalah Dzat yang meninggikan siapa yang Dia kehendaki dengan karunia-Nya.” [8]Makna ini juga selaras dengan penjelasan Ibn Manzhur ketika membahas nama Allah Al-Khaafidh,في أسماء الله تعالى الخافض: هو الذي يخفض الجبارين والفراعنة أي: يضعهم ويهينهم ويخفض كل شيء يريد خفضه“Di antara nama Allah Ta’ala adalah Al-Khaafidh, yaitu Dzat yang merendahkan para jabbar dan fir’aun-fir’aun, yakni Dia menempatkan mereka dalam kehinaan dan merendahkan segala sesuatu yang Dia kehendaki untuk direndahkan.” [9]Jadi, Allah merendahkan orang-orang yang sombong, melampaui batas, dan memusuhi kebenaran. Sebaliknya, Allah meninggikan para wali-Nya, ahli iman, ahli ilmu, dan ahli ketaatan. Inilah makna yang sangat jelas dalam dua nama ini.Ibnul Qayyim menjelaskan makna tersebut dengan sangat indah. Sebagaimana dinukil oleh Musyrif al-Ghamidi,أن المؤمن عندما يدرك اتصافه تعالى بالخفض والرفع يوقن أن الله تعالى يرفع أولياءه بالطاعة فيعلي مراتبهم وينصرهم على أعدائه ويجعل العاقبة لهم كما أنه يخفض الجبارين ويذل الفراعنة المتكبرين“Sesungguhnya ketika seorang mukmin memahami bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat merendahkan dan meninggikan, ia akan yakin bahwa Allah meninggikan para wali-Nya dengan ketaatan, mengangkat derajat mereka, menolong mereka atas musuh-musuh-Nya, dan menjadikan akibat yang baik bagi mereka. Sebagaimana Allah juga merendahkan para jabbar dan menghinakan para fir’aun yang sombong.” [10]Maka, ketinggian dan kerendahan itu bukan hasil interpretasi bebas akal manusia yang liar, bukan pula sekadar permainan dunia. Semuanya kembali kepada hikmah Allah, pertolongan-Nya, dan keadilan-Nya.Konsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” bagi seorang hambaIman kepada dua nama ini akan berpengaruh besar pada cara seorang hamba memandang dirinya, memandang manusia, dan memandang jalan hidup yang sedang ia tempuh.Pertama, meyakini bahwa Allah meninggikan wali-wali-Nya dan merendahkan musuh-musuh-NyaKonsekuensi pertama adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah meninggikan orang-orang yang taat kepada-Nya dan merendahkan orang-orang yang memusuhi-Nya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak silau dengan ketinggian orang-orang yang sombong. Ia tahu bahwa ketinggian dunia yang terlepas dari hidayah Allah tidak selalu berarti kemuliaan yang hakiki.Begitu juga, ia tidak meremehkan orang-orang yang hidup sederhana, tidak dikenal, atau tidak punya kedudukan di mata manusia. Sebab, sangat mungkin mereka justru mulia di sisi Allah.Kedua, memahami bahwa ketinggian yang hakiki bukan ukuran duniaIbnul Qayyim menjelaskan bahwa kemuliaan hakiki bukan terletak pada penampilan duniawi, tumpukan harta, atau kedudukan sosial. Beliau berkata,وليس المرفوع قدراً، والمعلى شأناً وأمراً، والمستحق مجداً وفخراً من رفع الطين على الطين وتكبر على المساكين وتجبر على أشكاله بكثرة ماله، واستقامة أحواله، وإنما المشرف شأناً والمعلى رتبة ومكاناً من رفعه الله بتوفيقه، وأيده لتصديقه، وهداه إلى طريقته، صفى قلبه وخلى له وجهه“Bukanlah orang yang tinggi kedudukannya, mulia urusannya, dan berhak mendapatkan kemuliaan serta kebanggaan itu orang yang menumpuk tanah di atas tanah, lalu menyombongkan diri atas orang-orang miskin dan berlaku sewenang-wenang terhadap sesamanya karena banyaknya harta dan baiknya keadaan dunianya. Akan tetapi, orang yang benar-benar mulia dan tinggi derajatnya adalah orang yang Allah angkat dengan taufik-Nya, Allah kuatkan dengan pembenaran-Nya, Allah tunjukkan ke jalan-Nya, Allah sucikan hatinya, dan Allah lapangkan urusannya.” [11]Beliau kemudian menguatkan makna ini dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ“Betapa banyak orang yang kusut rambutnya, tertolak dari pintu-pintu, kalau ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR. Muslim) [12]Hadis ini mengajarkan bahwa penilaian manusia dan penilaian Allah tidak selalu sama. Orang yang dipandang rendah oleh manusia belum tentu rendah di sisi Allah.Ketiga, menempuh jalan ketaatan agar diangkat oleh AllahKalau Allah meninggikan wali-wali-Nya dengan ketaatan, maka seorang mukmin harus tahu jalan apa yang harus ditempuh jika ia ingin diangkat oleh Allah. Jalannya bukan kesombongan, bukan kezaliman, bukan pula mencari pujian manusia. Jalannya adalah taat kepada Allah, mengikuti Rasul-Nya, membenahi hati, dan berjalan di atas syariat.Penjelasan Ibnul Qayyim yang telah disebutkan tadi sangat jelas: Allah meninggikan wali-wali-Nya dengan ketaatan. Maka siapa yang ingin diangkat oleh Allah, hendaknya ia memperbaiki iman, ibadah, amal, dan akhlaknya.Keempat, takut dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahanSebaliknya, seorang hamba juga harus takut dari sebab-sebab yang membuatnya direndahkan oleh Allah. Sombong, maksiat, melampaui batas, dan berpaling dari jalan kebenaran adalah sebab-sebab kerendahan. Oleh karena itu, iman kepada nama Al-Khaafidh membuat seorang mukmin lebih waspada terhadap dosa dan lebih takut terhadap akibat buruk kesombongan.Al-Qurthubi menjelaskan,الرفع والخفض أمارتان للجزاء، فمن فتحت لروحه أبواب السماء فرفع واستبشر ومن نكس إلى أسفل أبعد وآيس، وبحسب ذلك الأعمال بشارات ونذارات“Ketinggian dan kerendahan adalah dua tanda balasan. Siapa yang dibukakan pintu-pintu langit bagi ruhnya, maka ia diangkat dan diberi kabar gembira. Dan siapa yang dijungkirkan ke bawah, maka ia dijauhkan dan dibuat putus asa. Dan sesuai dengan itu, amal-amal menjadi kabar gembira dan peringatan.” [13]Penjelasan ini menegaskan bahwa amalan seorang hamba punya hubungan langsung dengan kemuliaan atau kehinaannya. Ada amal yang menjadi sebab diangkatnya seorang hamba, dan ada amal yang menjadi sebab jatuhnya ia ke dalam kerendahan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diangkat dengan iman, ilmu, ketaatan, dan ketakwaan, serta dilindungi dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahan. Aamiin.Baca juga: Memahami Nama dan Sifat Allah dengan Benar***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] ‘Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asma’il Husna, hal. 55[2] Shalih bin Abdul Aziz Alu asy-Syaikh, Syarh al-Aqidah ath-Thahaawiyah; Ithaf as-Saa’il bimaa fi ath-Thahaawiyah min Masaa’il, hal. 234.[3] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112; beliau menukil keterangan az-Zajjaj.[4] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.[5] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 297.[6] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.[7] Ibnul Qayyim, Badaa’i al-Fawaa’id, 1: 184.[8] Al-Baihaqi, Al-I’tiqaad ilaa Sabiil ar-Rasyaad, 1: 55.[9] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.[10] Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani al-Ghamidi, Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 426.[11] Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani al-Ghamidi, Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 426.[12] HR. Muslim no. 2622, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[13] Al-Qurthubi, Al-Asna fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 1: 398. Daftar PustakaAl-Badr, Abdur Razzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin al-Husain. Al-I’tiqaad ilaa Sabiil ar-Rasyaad.Al-Ghamidi, Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani. Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. https://archive.org/Ibn Manzhur. Lisan al-Arab. Maktabah SyamilahIbnul Qayyim. Badaa’i al-Fawaa’id. IslamWeb.orgIbnul Qayyim. Madaarij as-Saalikiin. Maktabah SyamilahAl-Qurthubi. Al-Asna fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna.Alu asy-Syaikh, Shalih bin Abdul Aziz. Syarh al-Aqidah ath-Thahaawiyah: Ithaf as-Saa’il bimaa fi ath-Thahaawiyah min Masaa’il.
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Kandungan makna nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Makna bahasa dari “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Penyebutan “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” secara berpasanganMakna “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” dalam konteks AllahKonsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” bagi seorang hambaPertama, meyakini bahwa Allah meninggikan wali-wali-Nya dan merendahkan musuh-musuh-NyaKedua, memahami bahwa ketinggian yang hakiki bukan ukuran duniaKetiga, menempuh jalan ketaatan agar diangkat oleh AllahKeempat, takut dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahanDi antara nama-nama Allah yang menanamkan rasa tunduk, tawadhu’, takut, dan berharap kepada-Nya adalah Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’. Keduanya sering dibahas secara berpasangan, karena kesempurnaan maknanya lebih tampak ketika dipahami bersama. Allah merendahkan siapa yang Dia kehendaki dengan keadilan-Nya, dan meninggikan siapa yang Dia kehendaki dengan hikmah serta rahmat-Nya.Seorang hamba yang memahami dua nama ini akan mengetahui bahwa ukuran kemuliaan dan kehinaan yang hakiki bukanlah di tangan manusia. Bukan harta yang meninggikan, bukan jabatan yang memuliakan, dan bukan pula banyaknya pengikut yang menjadikan seseorang tinggi di sisi Allah. Yang benar-benar meninggikan dan merendahkan hanyalah Allah Ta’ala. Dalam tulisan ini, kita akan mengulas dalil-dalil dua nama ini, kandungan maknanya, serta konsekuensi iman kepadanya bagi seorang mukmin. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.Dalil nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Para ulama yang memasukkan Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’ ke dalam Asmaaul Husna berdalil dengan riwayat yang memuat penyebutan nama-nama Allah. Para ulama banyak menukil di kitab-kitab mereka,الخَافِضُ الرَّافِعُ“Yang Merendahkan dan Yang Meninggikan.” [1]Sebagian ulama yang memasukkan keduanya juga membahas secara berpasangan dalam kitab-kitab mereka. Syekh Shalih Alu asy-Syaikh menjelaskan,الخافض ليس من الأسماء الحسنى في نفسه، لكن الرافع الخافض من الأسماء الحسنى وهكذ“Al-Khaafidh bukan termasuk Asmaul Husna jika berdiri sendiri. Akan tetapi, Ar-Raafi’ Al-Khaafidh termasuk Asmaul Husna. Demikian pula yang semisalnya.” [2]Adapun makna dua nama ini sangat jelas ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Di antaranya firman Allah Ta’ala,خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ“(Kiamat itu) merendahkan dan meninggikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 3)Ketika menjelaskan ayat ini, az-Zajjaj mengatakan sebagaimana dinukil oleh Ibn Manzhur,المعنى أنها تخفض أهل المعاصي وترفع أهل الطاعة“Maknanya adalah bahwa Dia merendahkan ahli maksiat dan meninggikan ahli ketaatan.” [3]Ibn Manzhur juga menukil penjelasan lain tentang ayat tersebut,تخفض قوما فتحطهم عن مراتب آخرين ترفعهم إليها، والذين خفضوا يسلفون إلى النار، والمرفوعون يرفعون إلى غرف الجنان“Ia merendahkan suatu kaum, lalu menjatuhkan mereka dari derajat yang diberikan kepada kaum lain yang diangkat ke sana. Orang-orang yang direndahkan digiring ke neraka, sedangkan orang-orang yang diangkat ditinggikan menuju kamar-kamar surga.” [4]Di antara ayat yang menunjukkan makna ar-raf’ adalah firman Allah Ta’ala,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah: 11)Dan firman-Nya,بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا“Tetapi Allah telah mengangkatnya kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’: 158)Juga firman-Nya,إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ“Kepada-Nya naik perkataan yang baik, dan amal saleh diangkat-Nya.” (QS. Faathir: 10)Syekh Abdurrazzaq al-Badr, ketika menyebut ayat-ayat semacam ini, menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang menyempitkan, melapangkan, merendahkan, dan meninggikan secara takdir. Beliau menyebutkan,وإن كان الله تعالى هو القابض الباسط الخافض الرافع قدرا“Dan sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Dzat yang Menyempitkan, Melapangkan, Merendahkan, dan Meninggikan secara takdir.” [5]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Kandungan makna nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini dengan baik, kita perlu melihat makna katanya secara bahasa, lalu memahami maknanya ketika dua nama tersebut disandarkan kepada Allah Ta’ala. Sebab, nama-nama Allah tidak hanya indah dari sisi lafaz, tetapi juga sangat agung dari sisi makna.Makna bahasa dari “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Kata Al-Khaafidh berasal dari kata خفض. Ibn Manzhur menjelaskan,الخَفْضُ: ضِدُّ الرَّفْعِ. خَفَضَهُ يَخْفِضُهُ خَفْضًا فَانْخَفَضَ وَاخْتَفَضَ“Al-khafdh adalah lawan dari ar-raf’. Dikatakan: khafadhahu yakhfidhuhu khafdhan, lalu sesuatu itu menjadi rendah.” [6]Dari penjelasan ini, jelas bahwa Al-Khaafidh secara bahasa berarti “yang merendahkan” atau “yang menurunkan”. Adapun Ar-Raafi’ adalah lawannya, yaitu “yang meninggikan” atau “yang mengangkat”. Sehingga dari sisi bahasa saja, sudah tampak bahwa dua nama ini memang saling berkaitan dan saling menjelaskan.Penyebutan “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” secara berpasanganSebagian nama Allah lebih sempurna jika disebutkan bersama dengan pasangannya. Di antara contohnya adalah Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa kesempurnaan makna dua nama ini terletak pada penyebutan keduanya secara bersamaan.Ibnul Qayyim berkata,الأسماء المزدوجة تجري الأسماء منها مجرى الاسم الواحد الذي يمتنع فصل بعض حروفه عن بعض، فهي وإن تعددت جارية مجرى الاسم الواحد ولذلك لم تجئ مفردة ولم تطلق عليه إلا مقترنة“Nama-nama yang berpasangan itu berjalan seperti satu nama yang tidak boleh dipisahkan sebagian hurufnya dari sebagian yang lain. Walaupun jumlahnya lebih dari satu, ia diperlakukan seperti satu nama. Oleh karena itu, ia tidak datang dalam bentuk tunggal dan tidak disandarkan kepada Allah kecuali dalam keadaan berpasangan.” [7]Dari sini bisa dipahami bahwa pembahasan Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’ memang lebih tepat jika digabungkan. Sebab, jika hanya disebut “yang merendahkan” saja, maknanya belum utuh. Demikian pula jika hanya disebut “yang meninggikan” saja. Kesempurnaan maknanya tampak ketika keduanya disebut bersama: Allah merendahkan siapa yang Dia kehendaki dan meninggikan siapa yang Dia kehendaki.Makna “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” dalam konteks AllahJika dua nama ini disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka maknanya jauh lebih agung dan lebih sempurna. Imam al-Baihaqi menjelaskan,الخافض الرافع: فالخافض هو الذي يخفض من يشاء بانتقامه، والرافع هو الذي يرفع من يشاء بإنعامه“Al-Khaafidh Ar-Raafi’: Al-Khaafidh adalah Dzat yang merendahkan siapa yang Dia kehendaki dengan hukuman-Nya, dan Ar-Raafi’ adalah Dzat yang meninggikan siapa yang Dia kehendaki dengan karunia-Nya.” [8]Makna ini juga selaras dengan penjelasan Ibn Manzhur ketika membahas nama Allah Al-Khaafidh,في أسماء الله تعالى الخافض: هو الذي يخفض الجبارين والفراعنة أي: يضعهم ويهينهم ويخفض كل شيء يريد خفضه“Di antara nama Allah Ta’ala adalah Al-Khaafidh, yaitu Dzat yang merendahkan para jabbar dan fir’aun-fir’aun, yakni Dia menempatkan mereka dalam kehinaan dan merendahkan segala sesuatu yang Dia kehendaki untuk direndahkan.” [9]Jadi, Allah merendahkan orang-orang yang sombong, melampaui batas, dan memusuhi kebenaran. Sebaliknya, Allah meninggikan para wali-Nya, ahli iman, ahli ilmu, dan ahli ketaatan. Inilah makna yang sangat jelas dalam dua nama ini.Ibnul Qayyim menjelaskan makna tersebut dengan sangat indah. Sebagaimana dinukil oleh Musyrif al-Ghamidi,أن المؤمن عندما يدرك اتصافه تعالى بالخفض والرفع يوقن أن الله تعالى يرفع أولياءه بالطاعة فيعلي مراتبهم وينصرهم على أعدائه ويجعل العاقبة لهم كما أنه يخفض الجبارين ويذل الفراعنة المتكبرين“Sesungguhnya ketika seorang mukmin memahami bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat merendahkan dan meninggikan, ia akan yakin bahwa Allah meninggikan para wali-Nya dengan ketaatan, mengangkat derajat mereka, menolong mereka atas musuh-musuh-Nya, dan menjadikan akibat yang baik bagi mereka. Sebagaimana Allah juga merendahkan para jabbar dan menghinakan para fir’aun yang sombong.” [10]Maka, ketinggian dan kerendahan itu bukan hasil interpretasi bebas akal manusia yang liar, bukan pula sekadar permainan dunia. Semuanya kembali kepada hikmah Allah, pertolongan-Nya, dan keadilan-Nya.Konsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” bagi seorang hambaIman kepada dua nama ini akan berpengaruh besar pada cara seorang hamba memandang dirinya, memandang manusia, dan memandang jalan hidup yang sedang ia tempuh.Pertama, meyakini bahwa Allah meninggikan wali-wali-Nya dan merendahkan musuh-musuh-NyaKonsekuensi pertama adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah meninggikan orang-orang yang taat kepada-Nya dan merendahkan orang-orang yang memusuhi-Nya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak silau dengan ketinggian orang-orang yang sombong. Ia tahu bahwa ketinggian dunia yang terlepas dari hidayah Allah tidak selalu berarti kemuliaan yang hakiki.Begitu juga, ia tidak meremehkan orang-orang yang hidup sederhana, tidak dikenal, atau tidak punya kedudukan di mata manusia. Sebab, sangat mungkin mereka justru mulia di sisi Allah.Kedua, memahami bahwa ketinggian yang hakiki bukan ukuran duniaIbnul Qayyim menjelaskan bahwa kemuliaan hakiki bukan terletak pada penampilan duniawi, tumpukan harta, atau kedudukan sosial. Beliau berkata,وليس المرفوع قدراً، والمعلى شأناً وأمراً، والمستحق مجداً وفخراً من رفع الطين على الطين وتكبر على المساكين وتجبر على أشكاله بكثرة ماله، واستقامة أحواله، وإنما المشرف شأناً والمعلى رتبة ومكاناً من رفعه الله بتوفيقه، وأيده لتصديقه، وهداه إلى طريقته، صفى قلبه وخلى له وجهه“Bukanlah orang yang tinggi kedudukannya, mulia urusannya, dan berhak mendapatkan kemuliaan serta kebanggaan itu orang yang menumpuk tanah di atas tanah, lalu menyombongkan diri atas orang-orang miskin dan berlaku sewenang-wenang terhadap sesamanya karena banyaknya harta dan baiknya keadaan dunianya. Akan tetapi, orang yang benar-benar mulia dan tinggi derajatnya adalah orang yang Allah angkat dengan taufik-Nya, Allah kuatkan dengan pembenaran-Nya, Allah tunjukkan ke jalan-Nya, Allah sucikan hatinya, dan Allah lapangkan urusannya.” [11]Beliau kemudian menguatkan makna ini dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ“Betapa banyak orang yang kusut rambutnya, tertolak dari pintu-pintu, kalau ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR. Muslim) [12]Hadis ini mengajarkan bahwa penilaian manusia dan penilaian Allah tidak selalu sama. Orang yang dipandang rendah oleh manusia belum tentu rendah di sisi Allah.Ketiga, menempuh jalan ketaatan agar diangkat oleh AllahKalau Allah meninggikan wali-wali-Nya dengan ketaatan, maka seorang mukmin harus tahu jalan apa yang harus ditempuh jika ia ingin diangkat oleh Allah. Jalannya bukan kesombongan, bukan kezaliman, bukan pula mencari pujian manusia. Jalannya adalah taat kepada Allah, mengikuti Rasul-Nya, membenahi hati, dan berjalan di atas syariat.Penjelasan Ibnul Qayyim yang telah disebutkan tadi sangat jelas: Allah meninggikan wali-wali-Nya dengan ketaatan. Maka siapa yang ingin diangkat oleh Allah, hendaknya ia memperbaiki iman, ibadah, amal, dan akhlaknya.Keempat, takut dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahanSebaliknya, seorang hamba juga harus takut dari sebab-sebab yang membuatnya direndahkan oleh Allah. Sombong, maksiat, melampaui batas, dan berpaling dari jalan kebenaran adalah sebab-sebab kerendahan. Oleh karena itu, iman kepada nama Al-Khaafidh membuat seorang mukmin lebih waspada terhadap dosa dan lebih takut terhadap akibat buruk kesombongan.Al-Qurthubi menjelaskan,الرفع والخفض أمارتان للجزاء، فمن فتحت لروحه أبواب السماء فرفع واستبشر ومن نكس إلى أسفل أبعد وآيس، وبحسب ذلك الأعمال بشارات ونذارات“Ketinggian dan kerendahan adalah dua tanda balasan. Siapa yang dibukakan pintu-pintu langit bagi ruhnya, maka ia diangkat dan diberi kabar gembira. Dan siapa yang dijungkirkan ke bawah, maka ia dijauhkan dan dibuat putus asa. Dan sesuai dengan itu, amal-amal menjadi kabar gembira dan peringatan.” [13]Penjelasan ini menegaskan bahwa amalan seorang hamba punya hubungan langsung dengan kemuliaan atau kehinaannya. Ada amal yang menjadi sebab diangkatnya seorang hamba, dan ada amal yang menjadi sebab jatuhnya ia ke dalam kerendahan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diangkat dengan iman, ilmu, ketaatan, dan ketakwaan, serta dilindungi dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahan. Aamiin.Baca juga: Memahami Nama dan Sifat Allah dengan Benar***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] ‘Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asma’il Husna, hal. 55[2] Shalih bin Abdul Aziz Alu asy-Syaikh, Syarh al-Aqidah ath-Thahaawiyah; Ithaf as-Saa’il bimaa fi ath-Thahaawiyah min Masaa’il, hal. 234.[3] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112; beliau menukil keterangan az-Zajjaj.[4] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.[5] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 297.[6] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.[7] Ibnul Qayyim, Badaa’i al-Fawaa’id, 1: 184.[8] Al-Baihaqi, Al-I’tiqaad ilaa Sabiil ar-Rasyaad, 1: 55.[9] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.[10] Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani al-Ghamidi, Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 426.[11] Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani al-Ghamidi, Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 426.[12] HR. Muslim no. 2622, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[13] Al-Qurthubi, Al-Asna fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 1: 398. Daftar PustakaAl-Badr, Abdur Razzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin al-Husain. Al-I’tiqaad ilaa Sabiil ar-Rasyaad.Al-Ghamidi, Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani. Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. https://archive.org/Ibn Manzhur. Lisan al-Arab. Maktabah SyamilahIbnul Qayyim. Badaa’i al-Fawaa’id. IslamWeb.orgIbnul Qayyim. Madaarij as-Saalikiin. Maktabah SyamilahAl-Qurthubi. Al-Asna fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna.Alu asy-Syaikh, Shalih bin Abdul Aziz. Syarh al-Aqidah ath-Thahaawiyah: Ithaf as-Saa’il bimaa fi ath-Thahaawiyah min Masaa’il.


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Kandungan makna nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Makna bahasa dari “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Penyebutan “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” secara berpasanganMakna “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” dalam konteks AllahKonsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” bagi seorang hambaPertama, meyakini bahwa Allah meninggikan wali-wali-Nya dan merendahkan musuh-musuh-NyaKedua, memahami bahwa ketinggian yang hakiki bukan ukuran duniaKetiga, menempuh jalan ketaatan agar diangkat oleh AllahKeempat, takut dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahanDi antara nama-nama Allah yang menanamkan rasa tunduk, tawadhu’, takut, dan berharap kepada-Nya adalah Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’. Keduanya sering dibahas secara berpasangan, karena kesempurnaan maknanya lebih tampak ketika dipahami bersama. Allah merendahkan siapa yang Dia kehendaki dengan keadilan-Nya, dan meninggikan siapa yang Dia kehendaki dengan hikmah serta rahmat-Nya.Seorang hamba yang memahami dua nama ini akan mengetahui bahwa ukuran kemuliaan dan kehinaan yang hakiki bukanlah di tangan manusia. Bukan harta yang meninggikan, bukan jabatan yang memuliakan, dan bukan pula banyaknya pengikut yang menjadikan seseorang tinggi di sisi Allah. Yang benar-benar meninggikan dan merendahkan hanyalah Allah Ta’ala. Dalam tulisan ini, kita akan mengulas dalil-dalil dua nama ini, kandungan maknanya, serta konsekuensi iman kepadanya bagi seorang mukmin. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.Dalil nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Para ulama yang memasukkan Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’ ke dalam Asmaaul Husna berdalil dengan riwayat yang memuat penyebutan nama-nama Allah. Para ulama banyak menukil di kitab-kitab mereka,الخَافِضُ الرَّافِعُ“Yang Merendahkan dan Yang Meninggikan.” [1]Sebagian ulama yang memasukkan keduanya juga membahas secara berpasangan dalam kitab-kitab mereka. Syekh Shalih Alu asy-Syaikh menjelaskan,الخافض ليس من الأسماء الحسنى في نفسه، لكن الرافع الخافض من الأسماء الحسنى وهكذ“Al-Khaafidh bukan termasuk Asmaul Husna jika berdiri sendiri. Akan tetapi, Ar-Raafi’ Al-Khaafidh termasuk Asmaul Husna. Demikian pula yang semisalnya.” [2]Adapun makna dua nama ini sangat jelas ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Di antaranya firman Allah Ta’ala,خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ“(Kiamat itu) merendahkan dan meninggikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 3)Ketika menjelaskan ayat ini, az-Zajjaj mengatakan sebagaimana dinukil oleh Ibn Manzhur,المعنى أنها تخفض أهل المعاصي وترفع أهل الطاعة“Maknanya adalah bahwa Dia merendahkan ahli maksiat dan meninggikan ahli ketaatan.” [3]Ibn Manzhur juga menukil penjelasan lain tentang ayat tersebut,تخفض قوما فتحطهم عن مراتب آخرين ترفعهم إليها، والذين خفضوا يسلفون إلى النار، والمرفوعون يرفعون إلى غرف الجنان“Ia merendahkan suatu kaum, lalu menjatuhkan mereka dari derajat yang diberikan kepada kaum lain yang diangkat ke sana. Orang-orang yang direndahkan digiring ke neraka, sedangkan orang-orang yang diangkat ditinggikan menuju kamar-kamar surga.” [4]Di antara ayat yang menunjukkan makna ar-raf’ adalah firman Allah Ta’ala,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah: 11)Dan firman-Nya,بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا“Tetapi Allah telah mengangkatnya kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’: 158)Juga firman-Nya,إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ“Kepada-Nya naik perkataan yang baik, dan amal saleh diangkat-Nya.” (QS. Faathir: 10)Syekh Abdurrazzaq al-Badr, ketika menyebut ayat-ayat semacam ini, menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang menyempitkan, melapangkan, merendahkan, dan meninggikan secara takdir. Beliau menyebutkan,وإن كان الله تعالى هو القابض الباسط الخافض الرافع قدرا“Dan sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Dzat yang Menyempitkan, Melapangkan, Merendahkan, dan Meninggikan secara takdir.” [5]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Kandungan makna nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini dengan baik, kita perlu melihat makna katanya secara bahasa, lalu memahami maknanya ketika dua nama tersebut disandarkan kepada Allah Ta’ala. Sebab, nama-nama Allah tidak hanya indah dari sisi lafaz, tetapi juga sangat agung dari sisi makna.Makna bahasa dari “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”Kata Al-Khaafidh berasal dari kata خفض. Ibn Manzhur menjelaskan,الخَفْضُ: ضِدُّ الرَّفْعِ. خَفَضَهُ يَخْفِضُهُ خَفْضًا فَانْخَفَضَ وَاخْتَفَضَ“Al-khafdh adalah lawan dari ar-raf’. Dikatakan: khafadhahu yakhfidhuhu khafdhan, lalu sesuatu itu menjadi rendah.” [6]Dari penjelasan ini, jelas bahwa Al-Khaafidh secara bahasa berarti “yang merendahkan” atau “yang menurunkan”. Adapun Ar-Raafi’ adalah lawannya, yaitu “yang meninggikan” atau “yang mengangkat”. Sehingga dari sisi bahasa saja, sudah tampak bahwa dua nama ini memang saling berkaitan dan saling menjelaskan.Penyebutan “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” secara berpasanganSebagian nama Allah lebih sempurna jika disebutkan bersama dengan pasangannya. Di antara contohnya adalah Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa kesempurnaan makna dua nama ini terletak pada penyebutan keduanya secara bersamaan.Ibnul Qayyim berkata,الأسماء المزدوجة تجري الأسماء منها مجرى الاسم الواحد الذي يمتنع فصل بعض حروفه عن بعض، فهي وإن تعددت جارية مجرى الاسم الواحد ولذلك لم تجئ مفردة ولم تطلق عليه إلا مقترنة“Nama-nama yang berpasangan itu berjalan seperti satu nama yang tidak boleh dipisahkan sebagian hurufnya dari sebagian yang lain. Walaupun jumlahnya lebih dari satu, ia diperlakukan seperti satu nama. Oleh karena itu, ia tidak datang dalam bentuk tunggal dan tidak disandarkan kepada Allah kecuali dalam keadaan berpasangan.” [7]Dari sini bisa dipahami bahwa pembahasan Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’ memang lebih tepat jika digabungkan. Sebab, jika hanya disebut “yang merendahkan” saja, maknanya belum utuh. Demikian pula jika hanya disebut “yang meninggikan” saja. Kesempurnaan maknanya tampak ketika keduanya disebut bersama: Allah merendahkan siapa yang Dia kehendaki dan meninggikan siapa yang Dia kehendaki.Makna “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” dalam konteks AllahJika dua nama ini disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka maknanya jauh lebih agung dan lebih sempurna. Imam al-Baihaqi menjelaskan,الخافض الرافع: فالخافض هو الذي يخفض من يشاء بانتقامه، والرافع هو الذي يرفع من يشاء بإنعامه“Al-Khaafidh Ar-Raafi’: Al-Khaafidh adalah Dzat yang merendahkan siapa yang Dia kehendaki dengan hukuman-Nya, dan Ar-Raafi’ adalah Dzat yang meninggikan siapa yang Dia kehendaki dengan karunia-Nya.” [8]Makna ini juga selaras dengan penjelasan Ibn Manzhur ketika membahas nama Allah Al-Khaafidh,في أسماء الله تعالى الخافض: هو الذي يخفض الجبارين والفراعنة أي: يضعهم ويهينهم ويخفض كل شيء يريد خفضه“Di antara nama Allah Ta’ala adalah Al-Khaafidh, yaitu Dzat yang merendahkan para jabbar dan fir’aun-fir’aun, yakni Dia menempatkan mereka dalam kehinaan dan merendahkan segala sesuatu yang Dia kehendaki untuk direndahkan.” [9]Jadi, Allah merendahkan orang-orang yang sombong, melampaui batas, dan memusuhi kebenaran. Sebaliknya, Allah meninggikan para wali-Nya, ahli iman, ahli ilmu, dan ahli ketaatan. Inilah makna yang sangat jelas dalam dua nama ini.Ibnul Qayyim menjelaskan makna tersebut dengan sangat indah. Sebagaimana dinukil oleh Musyrif al-Ghamidi,أن المؤمن عندما يدرك اتصافه تعالى بالخفض والرفع يوقن أن الله تعالى يرفع أولياءه بالطاعة فيعلي مراتبهم وينصرهم على أعدائه ويجعل العاقبة لهم كما أنه يخفض الجبارين ويذل الفراعنة المتكبرين“Sesungguhnya ketika seorang mukmin memahami bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat merendahkan dan meninggikan, ia akan yakin bahwa Allah meninggikan para wali-Nya dengan ketaatan, mengangkat derajat mereka, menolong mereka atas musuh-musuh-Nya, dan menjadikan akibat yang baik bagi mereka. Sebagaimana Allah juga merendahkan para jabbar dan menghinakan para fir’aun yang sombong.” [10]Maka, ketinggian dan kerendahan itu bukan hasil interpretasi bebas akal manusia yang liar, bukan pula sekadar permainan dunia. Semuanya kembali kepada hikmah Allah, pertolongan-Nya, dan keadilan-Nya.Konsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” bagi seorang hambaIman kepada dua nama ini akan berpengaruh besar pada cara seorang hamba memandang dirinya, memandang manusia, dan memandang jalan hidup yang sedang ia tempuh.Pertama, meyakini bahwa Allah meninggikan wali-wali-Nya dan merendahkan musuh-musuh-NyaKonsekuensi pertama adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah meninggikan orang-orang yang taat kepada-Nya dan merendahkan orang-orang yang memusuhi-Nya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak silau dengan ketinggian orang-orang yang sombong. Ia tahu bahwa ketinggian dunia yang terlepas dari hidayah Allah tidak selalu berarti kemuliaan yang hakiki.Begitu juga, ia tidak meremehkan orang-orang yang hidup sederhana, tidak dikenal, atau tidak punya kedudukan di mata manusia. Sebab, sangat mungkin mereka justru mulia di sisi Allah.Kedua, memahami bahwa ketinggian yang hakiki bukan ukuran duniaIbnul Qayyim menjelaskan bahwa kemuliaan hakiki bukan terletak pada penampilan duniawi, tumpukan harta, atau kedudukan sosial. Beliau berkata,وليس المرفوع قدراً، والمعلى شأناً وأمراً، والمستحق مجداً وفخراً من رفع الطين على الطين وتكبر على المساكين وتجبر على أشكاله بكثرة ماله، واستقامة أحواله، وإنما المشرف شأناً والمعلى رتبة ومكاناً من رفعه الله بتوفيقه، وأيده لتصديقه، وهداه إلى طريقته، صفى قلبه وخلى له وجهه“Bukanlah orang yang tinggi kedudukannya, mulia urusannya, dan berhak mendapatkan kemuliaan serta kebanggaan itu orang yang menumpuk tanah di atas tanah, lalu menyombongkan diri atas orang-orang miskin dan berlaku sewenang-wenang terhadap sesamanya karena banyaknya harta dan baiknya keadaan dunianya. Akan tetapi, orang yang benar-benar mulia dan tinggi derajatnya adalah orang yang Allah angkat dengan taufik-Nya, Allah kuatkan dengan pembenaran-Nya, Allah tunjukkan ke jalan-Nya, Allah sucikan hatinya, dan Allah lapangkan urusannya.” [11]Beliau kemudian menguatkan makna ini dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ“Betapa banyak orang yang kusut rambutnya, tertolak dari pintu-pintu, kalau ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR. Muslim) [12]Hadis ini mengajarkan bahwa penilaian manusia dan penilaian Allah tidak selalu sama. Orang yang dipandang rendah oleh manusia belum tentu rendah di sisi Allah.Ketiga, menempuh jalan ketaatan agar diangkat oleh AllahKalau Allah meninggikan wali-wali-Nya dengan ketaatan, maka seorang mukmin harus tahu jalan apa yang harus ditempuh jika ia ingin diangkat oleh Allah. Jalannya bukan kesombongan, bukan kezaliman, bukan pula mencari pujian manusia. Jalannya adalah taat kepada Allah, mengikuti Rasul-Nya, membenahi hati, dan berjalan di atas syariat.Penjelasan Ibnul Qayyim yang telah disebutkan tadi sangat jelas: Allah meninggikan wali-wali-Nya dengan ketaatan. Maka siapa yang ingin diangkat oleh Allah, hendaknya ia memperbaiki iman, ibadah, amal, dan akhlaknya.Keempat, takut dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahanSebaliknya, seorang hamba juga harus takut dari sebab-sebab yang membuatnya direndahkan oleh Allah. Sombong, maksiat, melampaui batas, dan berpaling dari jalan kebenaran adalah sebab-sebab kerendahan. Oleh karena itu, iman kepada nama Al-Khaafidh membuat seorang mukmin lebih waspada terhadap dosa dan lebih takut terhadap akibat buruk kesombongan.Al-Qurthubi menjelaskan,الرفع والخفض أمارتان للجزاء، فمن فتحت لروحه أبواب السماء فرفع واستبشر ومن نكس إلى أسفل أبعد وآيس، وبحسب ذلك الأعمال بشارات ونذارات“Ketinggian dan kerendahan adalah dua tanda balasan. Siapa yang dibukakan pintu-pintu langit bagi ruhnya, maka ia diangkat dan diberi kabar gembira. Dan siapa yang dijungkirkan ke bawah, maka ia dijauhkan dan dibuat putus asa. Dan sesuai dengan itu, amal-amal menjadi kabar gembira dan peringatan.” [13]Penjelasan ini menegaskan bahwa amalan seorang hamba punya hubungan langsung dengan kemuliaan atau kehinaannya. Ada amal yang menjadi sebab diangkatnya seorang hamba, dan ada amal yang menjadi sebab jatuhnya ia ke dalam kerendahan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diangkat dengan iman, ilmu, ketaatan, dan ketakwaan, serta dilindungi dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahan. Aamiin.Baca juga: Memahami Nama dan Sifat Allah dengan Benar***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] ‘Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asma’il Husna, hal. 55[2] Shalih bin Abdul Aziz Alu asy-Syaikh, Syarh al-Aqidah ath-Thahaawiyah; Ithaf as-Saa’il bimaa fi ath-Thahaawiyah min Masaa’il, hal. 234.[3] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112; beliau menukil keterangan az-Zajjaj.[4] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.[5] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 297.[6] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.[7] Ibnul Qayyim, Badaa’i al-Fawaa’id, 1: 184.[8] Al-Baihaqi, Al-I’tiqaad ilaa Sabiil ar-Rasyaad, 1: 55.[9] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.[10] Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani al-Ghamidi, Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 426.[11] Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani al-Ghamidi, Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 426.[12] HR. Muslim no. 2622, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[13] Al-Qurthubi, Al-Asna fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 1: 398. Daftar PustakaAl-Badr, Abdur Razzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin al-Husain. Al-I’tiqaad ilaa Sabiil ar-Rasyaad.Al-Ghamidi, Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani. Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. https://archive.org/Ibn Manzhur. Lisan al-Arab. Maktabah SyamilahIbnul Qayyim. Badaa’i al-Fawaa’id. IslamWeb.orgIbnul Qayyim. Madaarij as-Saalikiin. Maktabah SyamilahAl-Qurthubi. Al-Asna fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna.Alu asy-Syaikh, Shalih bin Abdul Aziz. Syarh al-Aqidah ath-Thahaawiyah: Ithaf as-Saa’il bimaa fi ath-Thahaawiyah min Masaa’il.

Jangan Sering Bersumpah Saat Jual Beli, Keuntungan Bisa Hilang Berkah

Banyak pedagang mengira bahwa semakin pandai meyakinkan pembeli, semakin besar pula keuntungan yang akan diperoleh. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan sumpah sebagai senjata agar dagangannya cepat laku. Padahal, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa sumpah memang bisa melariskan barang, tetapi juga dapat menghapus keberkahan hasil usaha. Lalu, bagaimana seharusnya seorang muslim berdagang?  Daftar Isi tutup 1. Kosakata Hadits 2. Faedah Hadits  Imam Nawawi rahimahullah membawa bahasan dałam kitab larangan dari Riyadhush Sholihin318. Bab: Makruh Bersumpah Saat Berjual Beli, Meskipun Jujur1/1720 — Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«الْحَلِفُ مَنْفَقَةٌ لِلسِّلْعَةِ، مَمْحَقَةٌ لِلْكَسْبِ»“Sumpah memang dapat melariskan barang dagangan, tetapi menghilangkan keberkahan hasil usahanya.” (Muttafaq ‘alaih)2/1721 — Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ، فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ»“Jauhilah kebiasaan banyak bersumpah dalam jual beli. Sebab, sumpah itu memang dapat melariskan barang, tetapi kemudian menghapus keberkahannya.” (HR. Muslim) Kosakata Haditsمَنْفَقَةٌ لِلسِّلْعَةِ: menjadi sebab barang dagangan cepat laku.مَمْحَقَةٌ لِلْكَسْبِ: menjadi sebab hilangnya keberkahan hasil usaha. Faedah HaditsMakruh bersumpah ketika melakukan jual beli, meskipun orang yang bersumpah berkata jujur. Seorang pedagang hendaknya membiasakan kejujuran tanpa perlu menguatkannya dengan sumpah.Tolok ukur keberhasilan dalam berdagang bukanlah banyaknya transaksi atau besarnya keuntungan semata, tetapi keberkahan yang Allah berikan pada rezeki tersebut. Rezeki yang sedikit namun penuh berkah jauh lebih baik daripada keuntungan besar yang kehilangan keberkahan.Hadits ini mengajarkan etika bisnis Islam, yaitu membangun kepercayaan dengan kejujuran, amanah, dan akhlak yang baik, bukan dengan sering mengucapkan sumpah untuk meyakinkan pembeli. Rezeki yang diberkahi akan membawa ketenangan, manfaat, dan kebaikan bagi pemiliknya di dunia maupun di akhirat.Pada akhirnya, yang kita cari dalam setiap transaksi bukanlah sekadar barang cepat laku atau keuntungan yang besar, melainkan keberkahan dari Allah. Karena itu, marilah kita senantiasa memohon kepada-Nya agar diberi kecukupan melalui jalan yang halal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat indah untuk tujuan tersebut, yaitu:اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ“Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi, no. 3563; Ahmad, 1:153; dan Al-Hakim, 1:538. Hadits ini dinilai hasan menurut At-Tirmidzi. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy menyetujui hasannya hadits ini sebagaimana dalam Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 2:509-510).Ingatlah rezeki yang halal walau sedikit itu pasti lebih berkah. Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin Taimiyyah Al-Harrani (661-728 H) rahimahullah pernah berkata,وَالْقَلِيلُ مِنْ الْحَلَالِ يُبَارَكُ فِيهِ وَالْحَرَامُ الْكَثِيرُ يَذْهَبُ وَيَمْحَقُهُ اللَّهُ تَعَالَى“Sedikit dari yang halal itu lebih bawa berkah di dalamnya. Sedangkan yang haram yang jumlahnya banyak hanya cepat hilang dan Allah akan menghancurkannya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:646) —– Kamis, 23 Juli 2027Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdagang bisnis syariah etika bisnis Islam hadis jual beli jual beli keberkahan rezeki muamalah Islam pedagang muslim rezeki halal riyadhus sholihin riyadhus sholihin larangan sumpah dalam jual beli

Jangan Sering Bersumpah Saat Jual Beli, Keuntungan Bisa Hilang Berkah

Banyak pedagang mengira bahwa semakin pandai meyakinkan pembeli, semakin besar pula keuntungan yang akan diperoleh. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan sumpah sebagai senjata agar dagangannya cepat laku. Padahal, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa sumpah memang bisa melariskan barang, tetapi juga dapat menghapus keberkahan hasil usaha. Lalu, bagaimana seharusnya seorang muslim berdagang?  Daftar Isi tutup 1. Kosakata Hadits 2. Faedah Hadits  Imam Nawawi rahimahullah membawa bahasan dałam kitab larangan dari Riyadhush Sholihin318. Bab: Makruh Bersumpah Saat Berjual Beli, Meskipun Jujur1/1720 — Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«الْحَلِفُ مَنْفَقَةٌ لِلسِّلْعَةِ، مَمْحَقَةٌ لِلْكَسْبِ»“Sumpah memang dapat melariskan barang dagangan, tetapi menghilangkan keberkahan hasil usahanya.” (Muttafaq ‘alaih)2/1721 — Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ، فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ»“Jauhilah kebiasaan banyak bersumpah dalam jual beli. Sebab, sumpah itu memang dapat melariskan barang, tetapi kemudian menghapus keberkahannya.” (HR. Muslim) Kosakata Haditsمَنْفَقَةٌ لِلسِّلْعَةِ: menjadi sebab barang dagangan cepat laku.مَمْحَقَةٌ لِلْكَسْبِ: menjadi sebab hilangnya keberkahan hasil usaha. Faedah HaditsMakruh bersumpah ketika melakukan jual beli, meskipun orang yang bersumpah berkata jujur. Seorang pedagang hendaknya membiasakan kejujuran tanpa perlu menguatkannya dengan sumpah.Tolok ukur keberhasilan dalam berdagang bukanlah banyaknya transaksi atau besarnya keuntungan semata, tetapi keberkahan yang Allah berikan pada rezeki tersebut. Rezeki yang sedikit namun penuh berkah jauh lebih baik daripada keuntungan besar yang kehilangan keberkahan.Hadits ini mengajarkan etika bisnis Islam, yaitu membangun kepercayaan dengan kejujuran, amanah, dan akhlak yang baik, bukan dengan sering mengucapkan sumpah untuk meyakinkan pembeli. Rezeki yang diberkahi akan membawa ketenangan, manfaat, dan kebaikan bagi pemiliknya di dunia maupun di akhirat.Pada akhirnya, yang kita cari dalam setiap transaksi bukanlah sekadar barang cepat laku atau keuntungan yang besar, melainkan keberkahan dari Allah. Karena itu, marilah kita senantiasa memohon kepada-Nya agar diberi kecukupan melalui jalan yang halal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat indah untuk tujuan tersebut, yaitu:اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ“Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi, no. 3563; Ahmad, 1:153; dan Al-Hakim, 1:538. Hadits ini dinilai hasan menurut At-Tirmidzi. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy menyetujui hasannya hadits ini sebagaimana dalam Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 2:509-510).Ingatlah rezeki yang halal walau sedikit itu pasti lebih berkah. Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin Taimiyyah Al-Harrani (661-728 H) rahimahullah pernah berkata,وَالْقَلِيلُ مِنْ الْحَلَالِ يُبَارَكُ فِيهِ وَالْحَرَامُ الْكَثِيرُ يَذْهَبُ وَيَمْحَقُهُ اللَّهُ تَعَالَى“Sedikit dari yang halal itu lebih bawa berkah di dalamnya. Sedangkan yang haram yang jumlahnya banyak hanya cepat hilang dan Allah akan menghancurkannya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:646) —– Kamis, 23 Juli 2027Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdagang bisnis syariah etika bisnis Islam hadis jual beli jual beli keberkahan rezeki muamalah Islam pedagang muslim rezeki halal riyadhus sholihin riyadhus sholihin larangan sumpah dalam jual beli
Banyak pedagang mengira bahwa semakin pandai meyakinkan pembeli, semakin besar pula keuntungan yang akan diperoleh. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan sumpah sebagai senjata agar dagangannya cepat laku. Padahal, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa sumpah memang bisa melariskan barang, tetapi juga dapat menghapus keberkahan hasil usaha. Lalu, bagaimana seharusnya seorang muslim berdagang?  Daftar Isi tutup 1. Kosakata Hadits 2. Faedah Hadits  Imam Nawawi rahimahullah membawa bahasan dałam kitab larangan dari Riyadhush Sholihin318. Bab: Makruh Bersumpah Saat Berjual Beli, Meskipun Jujur1/1720 — Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«الْحَلِفُ مَنْفَقَةٌ لِلسِّلْعَةِ، مَمْحَقَةٌ لِلْكَسْبِ»“Sumpah memang dapat melariskan barang dagangan, tetapi menghilangkan keberkahan hasil usahanya.” (Muttafaq ‘alaih)2/1721 — Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ، فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ»“Jauhilah kebiasaan banyak bersumpah dalam jual beli. Sebab, sumpah itu memang dapat melariskan barang, tetapi kemudian menghapus keberkahannya.” (HR. Muslim) Kosakata Haditsمَنْفَقَةٌ لِلسِّلْعَةِ: menjadi sebab barang dagangan cepat laku.مَمْحَقَةٌ لِلْكَسْبِ: menjadi sebab hilangnya keberkahan hasil usaha. Faedah HaditsMakruh bersumpah ketika melakukan jual beli, meskipun orang yang bersumpah berkata jujur. Seorang pedagang hendaknya membiasakan kejujuran tanpa perlu menguatkannya dengan sumpah.Tolok ukur keberhasilan dalam berdagang bukanlah banyaknya transaksi atau besarnya keuntungan semata, tetapi keberkahan yang Allah berikan pada rezeki tersebut. Rezeki yang sedikit namun penuh berkah jauh lebih baik daripada keuntungan besar yang kehilangan keberkahan.Hadits ini mengajarkan etika bisnis Islam, yaitu membangun kepercayaan dengan kejujuran, amanah, dan akhlak yang baik, bukan dengan sering mengucapkan sumpah untuk meyakinkan pembeli. Rezeki yang diberkahi akan membawa ketenangan, manfaat, dan kebaikan bagi pemiliknya di dunia maupun di akhirat.Pada akhirnya, yang kita cari dalam setiap transaksi bukanlah sekadar barang cepat laku atau keuntungan yang besar, melainkan keberkahan dari Allah. Karena itu, marilah kita senantiasa memohon kepada-Nya agar diberi kecukupan melalui jalan yang halal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat indah untuk tujuan tersebut, yaitu:اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ“Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi, no. 3563; Ahmad, 1:153; dan Al-Hakim, 1:538. Hadits ini dinilai hasan menurut At-Tirmidzi. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy menyetujui hasannya hadits ini sebagaimana dalam Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 2:509-510).Ingatlah rezeki yang halal walau sedikit itu pasti lebih berkah. Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin Taimiyyah Al-Harrani (661-728 H) rahimahullah pernah berkata,وَالْقَلِيلُ مِنْ الْحَلَالِ يُبَارَكُ فِيهِ وَالْحَرَامُ الْكَثِيرُ يَذْهَبُ وَيَمْحَقُهُ اللَّهُ تَعَالَى“Sedikit dari yang halal itu lebih bawa berkah di dalamnya. Sedangkan yang haram yang jumlahnya banyak hanya cepat hilang dan Allah akan menghancurkannya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:646) —– Kamis, 23 Juli 2027Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdagang bisnis syariah etika bisnis Islam hadis jual beli jual beli keberkahan rezeki muamalah Islam pedagang muslim rezeki halal riyadhus sholihin riyadhus sholihin larangan sumpah dalam jual beli


Banyak pedagang mengira bahwa semakin pandai meyakinkan pembeli, semakin besar pula keuntungan yang akan diperoleh. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan sumpah sebagai senjata agar dagangannya cepat laku. Padahal, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa sumpah memang bisa melariskan barang, tetapi juga dapat menghapus keberkahan hasil usaha. Lalu, bagaimana seharusnya seorang muslim berdagang?  Daftar Isi tutup 1. Kosakata Hadits 2. Faedah Hadits  Imam Nawawi rahimahullah membawa bahasan dałam kitab larangan dari Riyadhush Sholihin318. Bab: Makruh Bersumpah Saat Berjual Beli, Meskipun Jujur1/1720 — Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«الْحَلِفُ مَنْفَقَةٌ لِلسِّلْعَةِ، مَمْحَقَةٌ لِلْكَسْبِ»“Sumpah memang dapat melariskan barang dagangan, tetapi menghilangkan keberkahan hasil usahanya.” (Muttafaq ‘alaih)2/1721 — Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ، فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ»“Jauhilah kebiasaan banyak bersumpah dalam jual beli. Sebab, sumpah itu memang dapat melariskan barang, tetapi kemudian menghapus keberkahannya.” (HR. Muslim) Kosakata Haditsمَنْفَقَةٌ لِلسِّلْعَةِ: menjadi sebab barang dagangan cepat laku.مَمْحَقَةٌ لِلْكَسْبِ: menjadi sebab hilangnya keberkahan hasil usaha. Faedah HaditsMakruh bersumpah ketika melakukan jual beli, meskipun orang yang bersumpah berkata jujur. Seorang pedagang hendaknya membiasakan kejujuran tanpa perlu menguatkannya dengan sumpah.Tolok ukur keberhasilan dalam berdagang bukanlah banyaknya transaksi atau besarnya keuntungan semata, tetapi keberkahan yang Allah berikan pada rezeki tersebut. Rezeki yang sedikit namun penuh berkah jauh lebih baik daripada keuntungan besar yang kehilangan keberkahan.Hadits ini mengajarkan etika bisnis Islam, yaitu membangun kepercayaan dengan kejujuran, amanah, dan akhlak yang baik, bukan dengan sering mengucapkan sumpah untuk meyakinkan pembeli. Rezeki yang diberkahi akan membawa ketenangan, manfaat, dan kebaikan bagi pemiliknya di dunia maupun di akhirat.Pada akhirnya, yang kita cari dalam setiap transaksi bukanlah sekadar barang cepat laku atau keuntungan yang besar, melainkan keberkahan dari Allah. Karena itu, marilah kita senantiasa memohon kepada-Nya agar diberi kecukupan melalui jalan yang halal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat indah untuk tujuan tersebut, yaitu:اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ“Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi, no. 3563; Ahmad, 1:153; dan Al-Hakim, 1:538. Hadits ini dinilai hasan menurut At-Tirmidzi. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy menyetujui hasannya hadits ini sebagaimana dalam Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 2:509-510).Ingatlah rezeki yang halal walau sedikit itu pasti lebih berkah. Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin Taimiyyah Al-Harrani (661-728 H) rahimahullah pernah berkata,وَالْقَلِيلُ مِنْ الْحَلَالِ يُبَارَكُ فِيهِ وَالْحَرَامُ الْكَثِيرُ يَذْهَبُ وَيَمْحَقُهُ اللَّهُ تَعَالَى“Sedikit dari yang halal itu lebih bawa berkah di dalamnya. Sedangkan yang haram yang jumlahnya banyak hanya cepat hilang dan Allah akan menghancurkannya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:646) —– Kamis, 23 Juli 2027Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdagang bisnis syariah etika bisnis Islam hadis jual beli jual beli keberkahan rezeki muamalah Islam pedagang muslim rezeki halal riyadhus sholihin riyadhus sholihin larangan sumpah dalam jual beli

Sejarah Kemunculan Asy’ariyyah (Bag. 1): Latar Belakang, Tokoh Pendiri, dan Faktor Kemunculannya

Daftar Isi ToggleKondisi pemikiran Islam sebelum kemunculan Asy’ariyyahMu’tazilah dan dominasinyaKullabiyyah: Cikal bakal sebelum Asy’ariyyahMengenal Abu al-Hasan al-Asy’ariFase-fase intelektual Abu al-Hasan al-Asy’ariFase pertama: Bersama Mu’tazilahFase kedua: Perpisahan dengan Mu’tazilahFase ketiga: Perumusan teologi Asy’ariyyahFase keempat: Kembali kepada manhaj ahlul hadis (salaf)Faktor-faktor kemunculan Asy’ariyyahPertama: Kelemahan argumentasi Mu’tazilahKedua: Kebutuhan merespons argumen dengan metode kalamKetiga: Kondisi sosial-politik pasca mihnahKeempat: Pengaruh intelektual KullabiyyahPenutupSejarah pemikiran Islam tidak pernah adanya perbedaan pendapat dan pemikiran. Sejak abad pertama Hijriah, berbagai pertanyaan besar tentang sifat Allah, takdir, dan hakikat iman mulai bermunculan, mendorong para ulama untuk merumuskan jawaban yang mereka yakini paling sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dari pergulatan intelektual inilah, berbagai aliran teologi Islam terbentuk, salah satunya adalah Asy’ariyyah, yang hingga hari ini menjadi salah satu aliran teologi terbesar dalam dunia Islam.Asy’ariyyah adalah aliran teologi Islam yang dinisbatkan kepada Abu al-Hasan al-Asy’ari, seorang ulama asal Bashrah yang hidup pada abad ketiga dan keempat Hijriah. Aliran ini lahir dari konteks pergolakan pemikiran yang sangat dinamis, di mana berbagai aliran teologi saling beradu argumentasi dalam memahami pokok-pokok akidah Islam. Untuk memahami Asy’ariyyah secara utuh, maka perlu terlebih dahulu dipahami kondisi pemikiran Islam yang menjadi latar belakang kemunculannya.Kondisi pemikiran Islam sebelum kemunculan Asy’ariyyahPada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, persoalan akidah dipahami dan diyakini berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah secara langsung. Pertanyaan-pertanyaan spekulatif tentang hakikat sifat Allah, hubungan antara kehendak Allah dan perbuatan manusia, serta persoalan-persoalan teologis lainnya belum menjadi bahan perdebatan yang terorganisasi. Para sahabat menerima nash wahyu dengan keimanan, tanpa masuk ke dalam diskursus filsafat.Memasuki abad kedua Hijriah, situasi mulai berubah. Ekspansi Islam yang luas membawa umat Islam bersentuhan dengan berbagai peradaban dan tradisi intelektual, terutama filsafat Yunani. Penerjemahan karya-karya filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab, yang berkembang pesat pada masa Dinasti Abbasiyah, membuka pintu masuknya metode berpikir baru ke dalam dunia Islam.Di tengah situasi ini, muncullah berbagai aliran teologi (kalam) yang masing-masing memiliki metode dan kesimpulan berbeda. Di antara aliran yang paling berpengaruh dan menimbulkan pergolakan besar adalah Mu’tazilah.Mu’tazilah dan dominasinyaMu’tazilah adalah aliran teologi yang menjadikan akal sebagai hakim utama dalam memahami persoalan akidah, termasuk sifat-sifat Allah. Mereka menafikan sebagian sifat-sifat Allah dengan alasan bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut berarti menetapkan sesuatu yang qadim selain dzat Allah, yang menurut mereka bertentangan dengan tauhid.Ibnu Taimiyah menyebutkan pokok-pokok pemikiran Mu’tazilah,أصولهم خمسة يسمونها: التوحيد والعدل وإنفاذ الوعيد والمنزلة بين المنزلتين والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر“Pokok-pokok pemikiran Mu’tazilah ada lima: tauhid, keadilan, janji dan ancaman, posisi antara dua posisi, dan amar ma’ruf nahi munkar.” [1]Lebih berdampak lagi, pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Watsiq, pemikiran Mu’tazilah dijadikan akidah resmi negara. Pada periode inilah terjadi peristiwa yang dikenal sebagai mihnah (ujian), di mana para ulama yang menolak doktrin Mu’tazilah tentang kemakhlukan Al-Qur’an diancam dan dipaksa. Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah satu ulama yang paling dikenal karena keteguhannya menolak doktrin tersebut meskipun menghadapi siksaan.Ibnu Katsir mengisahkan peristiwa mihnah ini dalam al-Bidayah wa an-Nihayah secara panjang lebar pada pembahasan peristiwa tahun 218 H dan sesudahnya. Ketika kekuasaan Mu’tazilah melemah setelah Khalifah al-Mutawakkil mencabut kebijakan mihnah, perdebatan teologis tidak berhenti. Kebutuhan untuk merespons argumen-argumen Mu’tazilah dengan metode yang mereka gunakan sendiri (yaitu ilmu kalam) mendorong munculnya upaya formulasi teologi baru. [2]Kullabiyyah: Cikal bakal sebelum Asy’ariyyahSebelum Asy’ariyyah, terdapat kelompok yang juga cukup mengedepankan ilmu kalam dalam memahami konsep beragama yang dikenal dengan Kullabiyyah, dinisbatkan kepada ‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab. Ibnu Kullab berusaha membantah Mu’tazilah dengan menggunakan metode kalam, namun tetap menetapkan sifat-sifat Allah. Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ menyebutkan profil Ibnu Kullab,رأس المتكلمين بالبصرة في زمانه، أبو محمد، عبد الله بن سعيد بن كلاب القطان البصري صاحب التصانيف في الرد على المعتزلة، وربما وافقهم“Pemimpin para ahli kalam di Basrah pada masanya, Abu Muhammad, Abdullah bin Said bin Kullab al-Qattan al-Basri, penulis berbagai kitab bantahan terhadap kaum Mu’tazilah, dan terkadang ia sependapat dengan mereka.” [3]Pemikiran Kullabiyyah menjadi salah satu fondasi penting bagi Abu al-Hasan al-Asy’ari dalam merumuskan sistem teologinya. Ibnu Taimiyah dalam Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql menyebutkan hubungan antara Kullabiyyah dan Asy’ariyyah,وأبو الحسن الأشعري لما رجع عن مذهب المعتزلة سلك طريقة ابن كلاب، ومال إلى أهل السنة والحديث“Abu al-Hasan al-Asy’ari, ketika meninggalkan mazhab Mu’tazilah, menempuh jalannya Ibnu Kullab. Setelah itu, beliau lebih condong ke ahlus sunnah dan hadis.” [4]Mengenal Abu al-Hasan al-Asy’ariTokoh pendiri Asy’ariyyah adalah Abu al-Hasan ‘Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin ‘Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa al-Asy’ari. Ia lahir di Bashrah pada tahun 260 H. Nasabnya tersambung kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Adz-Dzahabi menyebutkan dalam Siyar A’lam an-Nubala’,العلامة إمام المتكلمين أبو الحسن علي بن إسماعيل بن أبي بشر إسحاق بن سالم بن إسماعيل بن عبد الله بن موسى بن أمير البصرة بلال بن أبي بردة بن صاحب رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أبي موسى عبد الله بن قيس بن حضار ، الأشعري اليماني البصري“Sosok ulama besar, imamnya para ahli kalam, yakni Abu al-Hasan ‘Ali bin Isma‘il bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Isma‘il bin ‘Abdullah bin Musa bin Bilal (Gubernur Basra) bin Abi Burdah bin sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Musa ‘Abdullah bin Qais bin Hadhar, al-Asy‘ari al-Yamani al-Bashri.” [5]Sejak muda, al-Asy’ari menimba ilmu kalam dari Abu ‘Ali al-Jubbai, salah satu tokoh terkemuka Mu’tazilah. Ibnu ‘Asakir mencatat hubungan guru-murid ini,كَانَ الْأَشْعَرِيّ تلميذ الجبائي يدرس عَلَيْهِ فيتعلم مِنْهُ وَيَأْخُذ عَنهُ لَا يُفَارِقهُ أَرْبَعِينَ سنة“Dulu Imam al-Asy’ari adalah murid al-Jubba’i. Beliau belajar kepadanya, menimba ilmu darinya, dan tidak pernah meninggalkannya (berguru) selama empat puluh tahun.” [6]Baca juga: Bermadzhab Syafi’i, Berakidah Asy’ariFase-fase intelektual Abu al-Hasan al-Asy’ariPara peneliti sejarah pemikiran Islam umumnya membagi perjalanan intelektual al-Asy’ari menjadi tiga sampai empat fase utama.Fase pertama: Bersama Mu’tazilahPada fase ini, al-Asy’ari sepenuhnya mengikuti manhaj Mu’tazilah di bawah bimbingan al-Jubbai selama kurang lebih empat puluh tahun.Fase kedua: Perpisahan dengan Mu’tazilah Titik balik terjadi ketika al-Asy’ari meninggalkan pemikiran Mu’tazilah. Imam al-Asy’ari menyatakan perpindahannya secara terbuka,أخذ علم الكلام أولًا عن أبي علي الجبائي شيخ المعتزلة، ثم فارقه، ورجع عن الاعتزال، وأظهر ذلك، وشرع في الرد عليهم، والتصنيف على خلافهم“Beliau mulanya menimba ilmu kalam dari Abu Ali al-Jubba’i, gurunya orang-orang Muktazilah. Namun, beliau kemudian meninggalkannya, bertobat dari pemikiran Muktazilah, dan mengumumkannya secara terang-terangan. Setelah itu, beliau mulai membantah mereka dan menyusun tulisan-tulisan yang menyelisihi pendapat mereka sebelumnya.” [7]Di antara riwayat yang masyhur tentang perpindahan ini adalah kisah perdebatan al-Asy’ari dengan al-Jubbai tentang nasib tiga bersaudara, meskipun sebagian peneliti mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam menerima riwayat ini karena persoalan sanad.Fase ketiga: Perumusan teologi Asy’ariyyahSetelah berpisah dari Mu’tazilah, al-Asy’ari menyatakan bahwa ia mengikuti manhaj Imam Ahmad bin Hanbal. Pernyataan ini ia tulis secara eksplisit dalam karyanya, al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah,قَوْلُنَا الَّذِي نَقُولُ بِهِ وَدِيَانَتُنَا الَّتِي نَدِينُ بِهَا: التَّمَسُّكُ بِكِتَابِ اللَّهِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ وَبِسُنَّةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا رُوِيَ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَأَئِمَّةِ الْحَدِيثِ، وَنَحْنُ بِذَلِكَ مُعْتَصِمُونَ، وَبِمَا كَانَ يَقُولُ بِهِ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ نَضَّرَ اللَّهُ وَجْهَهُ وَرَفَعَ دَرَجَتَهُ وَأَجْزَلَ مَثُوبَتَهُ قَائِلُونَ“Perkataan yang kami pegangi dan agama yang kami anut adalah: berpegang teguh dengan Kitab Allah Rabb kami ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi’in, dan imam-imam hadis. Kami berpegang teguh dengan itu, dan kami mengikuti apa yang dikatakan oleh Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, semoga Allah mencerahkan wajahnya, meninggikan derajatnya, dan memperindah pahalanya.” [8]Meskipun al-Asy’ari menyatakan hal ini, para ulama mencatat bahwa metode yang ia gunakan yaitu ilmu kalam, berbeda dengan metode yang ditempuh oleh Imam Ahmad. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa menyebutkan,وَكَانَ ” أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ ” لَمَّا رَجَعَ عَنْ الِاعْتِزَالِ سَلَكَ طَرِيقَةَ أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ كُلَّابٍ فَصَارَ طَائِفَةٌ يَنْتَسِبُونَ إلَى السُّنَّةِ وَالْحَدِيثِ مِنْ السالمية وَغَيْرِهِمْ“Setelah Abu al-Hasan al-Asy’ari bertobat dari paham Mu’tazilah, beliau menempuh jalan yang diajarkan oleh Abu Muhammad bin Kullab. Hal ini kemudian membuat sekelompok orang dari golongan Salimiyyah dan lainnya menyandarkan diri mereka kepada As-Sunnah dan hadis ...” [9]Fase keempat: Kembali kepada manhaj ahlul hadis (salaf) Sebagian ulama berpendapat bahwa pada akhir kehidupannya, Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari semakin mendekati, bahkan kembali kepada manhaj ahlul hadis (ahlus sunnah) dalam masalah akidah. Pendapat ini didasarkan pada beberapa karya beliau di masa akhir. Syekh Muḥammad Aman al-Jami menyebutkan,وقد نقل غير واحد من أهل العلم بالتاريخ وعلم الرجال، رجوع أبي الحسن الأشعري عن الاشتغال بعلم الكلام، إلى الانتصار لمذهب السلف والدفاع عنه وأنه ألف في ذلك مؤلفات من أهمها آخر كتاب ألفه في إثبات صفات الله تعالى دون تفريق بين الصفات الذاتية والصفات الفعلية، وبعبارة أخرى بين الصفات العقلية والصفات الخبرية السمعية وهو كتابه (الإبانة في أصول الديانة)“Tidak sedikit ahli sejarah dan ahli rijal (biografi tokoh) yang meriwayatkan bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari meninggalkan kesibukannya dalam ilmu kalam dan beralih membela serta mempertahankan mazhab salaf. Beliau menyusun banyak karya terkait hal ini, dan yang terpenting adalah kitab terakhir yang beliau tulis mengenai penetapan sifat-sifat Allah tanpa membedakan antara sifat dzatiyyah dan sifat fi‘liyyah, atau dengan kata lain, antara sifat ‘aqliyyah dan sifat khabariyyah sam‘iyyah. Kitab yang dimaksud adalah al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah.” [10]Faktor-faktor kemunculan Asy’ariyyahKemunculan Asy’ariyah sebagai aliran teologi tersendiri tidak dapat dilepaskan dari sejumlah faktor yang saling berkaitan.Pertama: Kelemahan argumentasi Mu’tazilahPerubahan pemikiran Imam Abul Hasan al-Asy’ari berangkat dari ketidakpuasan beliau terhadap sejumlah prinsip Mu’tazilah yang telah lama dianutnya. Selama berguru kepada Abu Ali al-Jubba’i, beliau menyaksikan bahwa dominasi akal dalam mazhab tersebut sering kali berujung pada penakwilan nash dan penolakan terhadap riwayat-riwayat yang dianggap bertentangan dengan logika. Bagi Imam al-Asy’ari, cara seperti ini tidak lagi memadai untuk menjelaskan persoalan akidah secara utuh. Dari sinilah muncul dorongan untuk mencari pendekatan yang menurut beliau lebih dekat dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar para salaf.Kedua: Kebutuhan merespons argumen dengan metode kalamMeskipun telah meninggalkan Mu’tazilah, Imam al-Asy’ari tetap menggunakan ilmu kalam sebagai sarana berdebat. Menurut beliau, syubhat yang dibangun dengan argumentasi rasional perlu dijawab dengan metode yang serupa agar lebih mudah dipahami oleh lawan bicara. Oleh karena itu, yang berubah bukanlah alat yang digunakan, melainkan pokok-pokok akidah yang beliau bela.Ketiga: Kondisi sosial-politik pasca mihnahBerakhirnya peristiwa mihnah pada masa Khalifah al-Mutawakkil mengubah peta perdebatan akidah di dunia Islam. Pengaruh Mu’tazilah mulai melemah dan ruang bagi berbagai pemikiran semakin terbuka. Dalam kondisi tersebut, Imam al-Asy’ari tampil menyampaikan kritik terhadap metode Mu’tazilah sekaligus menawarkan rumusan teologi yang menurut beliau lebih sesuai dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, serta riwayat para salaf. Sikap tersebut tampak jelas dalam mukadimah al-Ibanah, ketika beliau berkata,فَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الزَّائِغِينَ عَنِ الْحَقِّ مِنَ الْمُعْتَزِلَةِ وَأَهْلِ الْقَدَرِ مَالَتْ بِهِمْ أَهْوَاؤُهُمْ إِلَى تَقْلِيدِ رُؤَسَائِهِمْ وَمَنْ مَضَى مِنْ أَسْلَافِهِمْ، فَتَأَوَّلُوا الْقُرْآنَ عَلَى آرَائِهِمْ تَأْوِيلًا لَمْ يُنْزِلْ بِهِ اللَّهُ سُلْطَانًا، وَلَا أَوْضَحَ بِهِ بُرْهَانًا، وَلَا نَقَلُوهُ عَنْ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَلَا عَنِ السَّلَفِ الْمُتَقَدِّمِينَ، وَخَالَفُوا رِوَايَاتِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَنْ نَبِيِّ اللَّهِ ﷺ فِي رُؤْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْأَبْصَارِ، وَقَدْ جَاءَتْ فِي ذَلِكَ الرِّوَايَاتُ مِنَ الْجِهَاتِ الْمُخْتَلِفَاتِ، وَتَوَاتَرَتْ بِهَا الْآثَارُ وَتَتَابَعَتْ بِهَا الْأَخْبَارُ.“Banyak orang yang menyimpang dari kebenaran, seperti golongan Mu’tazilah dan Qadariyyah, telah mengikuti hawa nafsu dengan bertaklid kepada para pemimpin mereka. Mereka menakwilkan Al-Qur’an berdasarkan pendapat sendiri tanpa dasar dari Allah, tanpa hujah yang jelas, serta tidak meriwayatkannya dari Rasulullah maupun para salaf terdahulu. Mereka juga menyelisihi riwayat-riwayat para sahabat dari Nabi ﷺ tentang ru’yatullah, padahal riwayat-riwayat tersebut datang melalui berbagai jalur, atsar-atsarnya telah mencapai derajat mutawatir, dan khabar-khabarnya datang secara beruntun.” [11]Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberatan Imam al-Asy’ari tidak hanya tertuju pada hasil pemikiran Mu’tazilah, tetapi juga pada metode yang mereka gunakan dalam memahami dalil-dalil syariat.Keempat: Pengaruh intelektual KullabiyyahDalam merumuskan teologinya, Imam al-Asy’ari banyak dipengaruhi oleh pemikiran Abu Muhammad Ibnu Kullab, terutama dalam pembahasan sifat-sifat Allah. Pengaruh tersebut membuat metode yang beliau gunakan berbeda dengan manhaj ahlul hadis, meskipun pada fase berikutnya, sebagian ulama berpendapat bahwa beliau kembali mendekati manhaj tersebut pada akhir hayatnya.PenutupKemunculan Asy’ariyyah merupakan bagian dari dinamika panjang sejarah pemikiran Islam. Aliran ini lahir dari pergolakan intelektual antara berbagai aliran teologi pada abad ketiga dan keempat Hijriah. Abu al-Hasan al-Asy’ari, sebagai tokoh pendirinya, adalah seorang ulama yang memiliki perjalanan intelektual yang cukup dinamis, dari seorang murid Mu’tazilah, hingga menjadi tokoh yang mendirikan aliran teologi tersendiri dengan menggunakan metode kalam.Memahami sejarah kemunculan Asy’ariyyah secara lengkap mengharuskan kita melihatnya dalam konteks zamannya: sebuah era di mana perdebatan teologi sangat intens, pengaruh filsafat mulai merambah cara berpikir sebagian kalangan Muslim, dan para ulama merumuskan jawaban atas berbagai persoalan akidah yang muncul. Bagaimana Asy’ariyyah kemudian berkembang dan menyebar di dunia Islam akan dibahas dalam tulisan selanjutnya.Wallahu a’lam bish-shawab.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh al-Islam Ibn Taimiyah, Ahkam ‘Usat al-Mu’minin, hal. 118.[2] Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, 14: 208.[3] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 11: 174.[4] Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah, Dar’u Ta’arud al-‘Aql wa an-Naql, 2: 16.[5] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 15: 86.[6] Ibnu ‘Asakir, Tabiyin Kadzib al-Muftari fima Nusiba ila al-Asy’ari, hal. 91.[7] Ibnu at-Tilmisani, Syarh al-Ma’alim fi Usul al-Fiqh, 1: 106.[8] Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah, hal. 20.[9] Syekh al-Islam Ibn Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, 5: 556.[10] Syekh Muhammad Aman al-Jami, ash-Shifat al-Ilahiyyah fi al-Kitab wa as-Sunnah, hal. 157.[11] Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah, hal. 14. Daftar Pustaka:al-Asy’ari, Abu al-Hasan ‘Ali bin Isma’il. al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah. Ed. Fawqiyyah Husain Mahmud. Cet. 1. Kairo: Dar al-Anshar, 1397 H.adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman. Siyar A’lam an-Nubala’.Ibnu ‘Asakir, Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan. Tabiyin Kadzib al-Muftari fima Nusiba ila al-Imam Abi al-Hasan al-Asy’ari. Cet. 3. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1404 H.Ibnu at-Tilmisani, ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Ali. Syarh al-Ma’alim fi Usul al-Fiqh. ‘Adil Ahmad ‘Abd al-Mawjud dan ‘Ali Muhammad Mu’awwad. Cet. 1. Beirut: ‘Alam al-Kutub, 1419 H / 1999 M.Ibnu Katsir, Isma’il bin ‘Umar al-Qurasyi ad-Dimasyqi. al-Bidayah wa an-Nihayah.Ibnu Taimiyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Ahkam ‘Usat al-Mu’minin. Ed. Marwan Kajak. Cet. 1. Kairo: Dar al-Kalimah ath-Thayyibah, 1405 H / 1985 M.Ibnu Taimiyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Dar’u Ta’arud al-‘Aql wa an-Naql. Ed. Muhammad Rasyad Salim. Cet. 2. Riyadh: Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, 1411 H / 1991 M.Ibnu Taimiyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Majmu’ al-Fatawa. Ed. ‘Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Qasim. Madinah: Majma’ al-Malik Fahd li Thibaa’at al-Mushaf asy-Syarif, 1425 H / 2004 M.al-Jami, Muhammad Aman bin ‘Ali. ash-Shifat al-Ilahiyyah fi al-Kitab wa as-Sunnah an-Nabawiyyah fi Dhaw’ al-Ithbat wa at-Tanzih. Cet. 1. Madinah: al-Majlis al-‘Ilmi bi al-Jami’ah al-Islamiyyah, 1408 H.

Sejarah Kemunculan Asy’ariyyah (Bag. 1): Latar Belakang, Tokoh Pendiri, dan Faktor Kemunculannya

Daftar Isi ToggleKondisi pemikiran Islam sebelum kemunculan Asy’ariyyahMu’tazilah dan dominasinyaKullabiyyah: Cikal bakal sebelum Asy’ariyyahMengenal Abu al-Hasan al-Asy’ariFase-fase intelektual Abu al-Hasan al-Asy’ariFase pertama: Bersama Mu’tazilahFase kedua: Perpisahan dengan Mu’tazilahFase ketiga: Perumusan teologi Asy’ariyyahFase keempat: Kembali kepada manhaj ahlul hadis (salaf)Faktor-faktor kemunculan Asy’ariyyahPertama: Kelemahan argumentasi Mu’tazilahKedua: Kebutuhan merespons argumen dengan metode kalamKetiga: Kondisi sosial-politik pasca mihnahKeempat: Pengaruh intelektual KullabiyyahPenutupSejarah pemikiran Islam tidak pernah adanya perbedaan pendapat dan pemikiran. Sejak abad pertama Hijriah, berbagai pertanyaan besar tentang sifat Allah, takdir, dan hakikat iman mulai bermunculan, mendorong para ulama untuk merumuskan jawaban yang mereka yakini paling sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dari pergulatan intelektual inilah, berbagai aliran teologi Islam terbentuk, salah satunya adalah Asy’ariyyah, yang hingga hari ini menjadi salah satu aliran teologi terbesar dalam dunia Islam.Asy’ariyyah adalah aliran teologi Islam yang dinisbatkan kepada Abu al-Hasan al-Asy’ari, seorang ulama asal Bashrah yang hidup pada abad ketiga dan keempat Hijriah. Aliran ini lahir dari konteks pergolakan pemikiran yang sangat dinamis, di mana berbagai aliran teologi saling beradu argumentasi dalam memahami pokok-pokok akidah Islam. Untuk memahami Asy’ariyyah secara utuh, maka perlu terlebih dahulu dipahami kondisi pemikiran Islam yang menjadi latar belakang kemunculannya.Kondisi pemikiran Islam sebelum kemunculan Asy’ariyyahPada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, persoalan akidah dipahami dan diyakini berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah secara langsung. Pertanyaan-pertanyaan spekulatif tentang hakikat sifat Allah, hubungan antara kehendak Allah dan perbuatan manusia, serta persoalan-persoalan teologis lainnya belum menjadi bahan perdebatan yang terorganisasi. Para sahabat menerima nash wahyu dengan keimanan, tanpa masuk ke dalam diskursus filsafat.Memasuki abad kedua Hijriah, situasi mulai berubah. Ekspansi Islam yang luas membawa umat Islam bersentuhan dengan berbagai peradaban dan tradisi intelektual, terutama filsafat Yunani. Penerjemahan karya-karya filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab, yang berkembang pesat pada masa Dinasti Abbasiyah, membuka pintu masuknya metode berpikir baru ke dalam dunia Islam.Di tengah situasi ini, muncullah berbagai aliran teologi (kalam) yang masing-masing memiliki metode dan kesimpulan berbeda. Di antara aliran yang paling berpengaruh dan menimbulkan pergolakan besar adalah Mu’tazilah.Mu’tazilah dan dominasinyaMu’tazilah adalah aliran teologi yang menjadikan akal sebagai hakim utama dalam memahami persoalan akidah, termasuk sifat-sifat Allah. Mereka menafikan sebagian sifat-sifat Allah dengan alasan bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut berarti menetapkan sesuatu yang qadim selain dzat Allah, yang menurut mereka bertentangan dengan tauhid.Ibnu Taimiyah menyebutkan pokok-pokok pemikiran Mu’tazilah,أصولهم خمسة يسمونها: التوحيد والعدل وإنفاذ الوعيد والمنزلة بين المنزلتين والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر“Pokok-pokok pemikiran Mu’tazilah ada lima: tauhid, keadilan, janji dan ancaman, posisi antara dua posisi, dan amar ma’ruf nahi munkar.” [1]Lebih berdampak lagi, pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Watsiq, pemikiran Mu’tazilah dijadikan akidah resmi negara. Pada periode inilah terjadi peristiwa yang dikenal sebagai mihnah (ujian), di mana para ulama yang menolak doktrin Mu’tazilah tentang kemakhlukan Al-Qur’an diancam dan dipaksa. Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah satu ulama yang paling dikenal karena keteguhannya menolak doktrin tersebut meskipun menghadapi siksaan.Ibnu Katsir mengisahkan peristiwa mihnah ini dalam al-Bidayah wa an-Nihayah secara panjang lebar pada pembahasan peristiwa tahun 218 H dan sesudahnya. Ketika kekuasaan Mu’tazilah melemah setelah Khalifah al-Mutawakkil mencabut kebijakan mihnah, perdebatan teologis tidak berhenti. Kebutuhan untuk merespons argumen-argumen Mu’tazilah dengan metode yang mereka gunakan sendiri (yaitu ilmu kalam) mendorong munculnya upaya formulasi teologi baru. [2]Kullabiyyah: Cikal bakal sebelum Asy’ariyyahSebelum Asy’ariyyah, terdapat kelompok yang juga cukup mengedepankan ilmu kalam dalam memahami konsep beragama yang dikenal dengan Kullabiyyah, dinisbatkan kepada ‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab. Ibnu Kullab berusaha membantah Mu’tazilah dengan menggunakan metode kalam, namun tetap menetapkan sifat-sifat Allah. Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ menyebutkan profil Ibnu Kullab,رأس المتكلمين بالبصرة في زمانه، أبو محمد، عبد الله بن سعيد بن كلاب القطان البصري صاحب التصانيف في الرد على المعتزلة، وربما وافقهم“Pemimpin para ahli kalam di Basrah pada masanya, Abu Muhammad, Abdullah bin Said bin Kullab al-Qattan al-Basri, penulis berbagai kitab bantahan terhadap kaum Mu’tazilah, dan terkadang ia sependapat dengan mereka.” [3]Pemikiran Kullabiyyah menjadi salah satu fondasi penting bagi Abu al-Hasan al-Asy’ari dalam merumuskan sistem teologinya. Ibnu Taimiyah dalam Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql menyebutkan hubungan antara Kullabiyyah dan Asy’ariyyah,وأبو الحسن الأشعري لما رجع عن مذهب المعتزلة سلك طريقة ابن كلاب، ومال إلى أهل السنة والحديث“Abu al-Hasan al-Asy’ari, ketika meninggalkan mazhab Mu’tazilah, menempuh jalannya Ibnu Kullab. Setelah itu, beliau lebih condong ke ahlus sunnah dan hadis.” [4]Mengenal Abu al-Hasan al-Asy’ariTokoh pendiri Asy’ariyyah adalah Abu al-Hasan ‘Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin ‘Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa al-Asy’ari. Ia lahir di Bashrah pada tahun 260 H. Nasabnya tersambung kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Adz-Dzahabi menyebutkan dalam Siyar A’lam an-Nubala’,العلامة إمام المتكلمين أبو الحسن علي بن إسماعيل بن أبي بشر إسحاق بن سالم بن إسماعيل بن عبد الله بن موسى بن أمير البصرة بلال بن أبي بردة بن صاحب رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أبي موسى عبد الله بن قيس بن حضار ، الأشعري اليماني البصري“Sosok ulama besar, imamnya para ahli kalam, yakni Abu al-Hasan ‘Ali bin Isma‘il bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Isma‘il bin ‘Abdullah bin Musa bin Bilal (Gubernur Basra) bin Abi Burdah bin sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Musa ‘Abdullah bin Qais bin Hadhar, al-Asy‘ari al-Yamani al-Bashri.” [5]Sejak muda, al-Asy’ari menimba ilmu kalam dari Abu ‘Ali al-Jubbai, salah satu tokoh terkemuka Mu’tazilah. Ibnu ‘Asakir mencatat hubungan guru-murid ini,كَانَ الْأَشْعَرِيّ تلميذ الجبائي يدرس عَلَيْهِ فيتعلم مِنْهُ وَيَأْخُذ عَنهُ لَا يُفَارِقهُ أَرْبَعِينَ سنة“Dulu Imam al-Asy’ari adalah murid al-Jubba’i. Beliau belajar kepadanya, menimba ilmu darinya, dan tidak pernah meninggalkannya (berguru) selama empat puluh tahun.” [6]Baca juga: Bermadzhab Syafi’i, Berakidah Asy’ariFase-fase intelektual Abu al-Hasan al-Asy’ariPara peneliti sejarah pemikiran Islam umumnya membagi perjalanan intelektual al-Asy’ari menjadi tiga sampai empat fase utama.Fase pertama: Bersama Mu’tazilahPada fase ini, al-Asy’ari sepenuhnya mengikuti manhaj Mu’tazilah di bawah bimbingan al-Jubbai selama kurang lebih empat puluh tahun.Fase kedua: Perpisahan dengan Mu’tazilah Titik balik terjadi ketika al-Asy’ari meninggalkan pemikiran Mu’tazilah. Imam al-Asy’ari menyatakan perpindahannya secara terbuka,أخذ علم الكلام أولًا عن أبي علي الجبائي شيخ المعتزلة، ثم فارقه، ورجع عن الاعتزال، وأظهر ذلك، وشرع في الرد عليهم، والتصنيف على خلافهم“Beliau mulanya menimba ilmu kalam dari Abu Ali al-Jubba’i, gurunya orang-orang Muktazilah. Namun, beliau kemudian meninggalkannya, bertobat dari pemikiran Muktazilah, dan mengumumkannya secara terang-terangan. Setelah itu, beliau mulai membantah mereka dan menyusun tulisan-tulisan yang menyelisihi pendapat mereka sebelumnya.” [7]Di antara riwayat yang masyhur tentang perpindahan ini adalah kisah perdebatan al-Asy’ari dengan al-Jubbai tentang nasib tiga bersaudara, meskipun sebagian peneliti mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam menerima riwayat ini karena persoalan sanad.Fase ketiga: Perumusan teologi Asy’ariyyahSetelah berpisah dari Mu’tazilah, al-Asy’ari menyatakan bahwa ia mengikuti manhaj Imam Ahmad bin Hanbal. Pernyataan ini ia tulis secara eksplisit dalam karyanya, al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah,قَوْلُنَا الَّذِي نَقُولُ بِهِ وَدِيَانَتُنَا الَّتِي نَدِينُ بِهَا: التَّمَسُّكُ بِكِتَابِ اللَّهِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ وَبِسُنَّةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا رُوِيَ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَأَئِمَّةِ الْحَدِيثِ، وَنَحْنُ بِذَلِكَ مُعْتَصِمُونَ، وَبِمَا كَانَ يَقُولُ بِهِ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ نَضَّرَ اللَّهُ وَجْهَهُ وَرَفَعَ دَرَجَتَهُ وَأَجْزَلَ مَثُوبَتَهُ قَائِلُونَ“Perkataan yang kami pegangi dan agama yang kami anut adalah: berpegang teguh dengan Kitab Allah Rabb kami ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi’in, dan imam-imam hadis. Kami berpegang teguh dengan itu, dan kami mengikuti apa yang dikatakan oleh Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, semoga Allah mencerahkan wajahnya, meninggikan derajatnya, dan memperindah pahalanya.” [8]Meskipun al-Asy’ari menyatakan hal ini, para ulama mencatat bahwa metode yang ia gunakan yaitu ilmu kalam, berbeda dengan metode yang ditempuh oleh Imam Ahmad. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa menyebutkan,وَكَانَ ” أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ ” لَمَّا رَجَعَ عَنْ الِاعْتِزَالِ سَلَكَ طَرِيقَةَ أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ كُلَّابٍ فَصَارَ طَائِفَةٌ يَنْتَسِبُونَ إلَى السُّنَّةِ وَالْحَدِيثِ مِنْ السالمية وَغَيْرِهِمْ“Setelah Abu al-Hasan al-Asy’ari bertobat dari paham Mu’tazilah, beliau menempuh jalan yang diajarkan oleh Abu Muhammad bin Kullab. Hal ini kemudian membuat sekelompok orang dari golongan Salimiyyah dan lainnya menyandarkan diri mereka kepada As-Sunnah dan hadis ...” [9]Fase keempat: Kembali kepada manhaj ahlul hadis (salaf) Sebagian ulama berpendapat bahwa pada akhir kehidupannya, Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari semakin mendekati, bahkan kembali kepada manhaj ahlul hadis (ahlus sunnah) dalam masalah akidah. Pendapat ini didasarkan pada beberapa karya beliau di masa akhir. Syekh Muḥammad Aman al-Jami menyebutkan,وقد نقل غير واحد من أهل العلم بالتاريخ وعلم الرجال، رجوع أبي الحسن الأشعري عن الاشتغال بعلم الكلام، إلى الانتصار لمذهب السلف والدفاع عنه وأنه ألف في ذلك مؤلفات من أهمها آخر كتاب ألفه في إثبات صفات الله تعالى دون تفريق بين الصفات الذاتية والصفات الفعلية، وبعبارة أخرى بين الصفات العقلية والصفات الخبرية السمعية وهو كتابه (الإبانة في أصول الديانة)“Tidak sedikit ahli sejarah dan ahli rijal (biografi tokoh) yang meriwayatkan bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari meninggalkan kesibukannya dalam ilmu kalam dan beralih membela serta mempertahankan mazhab salaf. Beliau menyusun banyak karya terkait hal ini, dan yang terpenting adalah kitab terakhir yang beliau tulis mengenai penetapan sifat-sifat Allah tanpa membedakan antara sifat dzatiyyah dan sifat fi‘liyyah, atau dengan kata lain, antara sifat ‘aqliyyah dan sifat khabariyyah sam‘iyyah. Kitab yang dimaksud adalah al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah.” [10]Faktor-faktor kemunculan Asy’ariyyahKemunculan Asy’ariyah sebagai aliran teologi tersendiri tidak dapat dilepaskan dari sejumlah faktor yang saling berkaitan.Pertama: Kelemahan argumentasi Mu’tazilahPerubahan pemikiran Imam Abul Hasan al-Asy’ari berangkat dari ketidakpuasan beliau terhadap sejumlah prinsip Mu’tazilah yang telah lama dianutnya. Selama berguru kepada Abu Ali al-Jubba’i, beliau menyaksikan bahwa dominasi akal dalam mazhab tersebut sering kali berujung pada penakwilan nash dan penolakan terhadap riwayat-riwayat yang dianggap bertentangan dengan logika. Bagi Imam al-Asy’ari, cara seperti ini tidak lagi memadai untuk menjelaskan persoalan akidah secara utuh. Dari sinilah muncul dorongan untuk mencari pendekatan yang menurut beliau lebih dekat dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar para salaf.Kedua: Kebutuhan merespons argumen dengan metode kalamMeskipun telah meninggalkan Mu’tazilah, Imam al-Asy’ari tetap menggunakan ilmu kalam sebagai sarana berdebat. Menurut beliau, syubhat yang dibangun dengan argumentasi rasional perlu dijawab dengan metode yang serupa agar lebih mudah dipahami oleh lawan bicara. Oleh karena itu, yang berubah bukanlah alat yang digunakan, melainkan pokok-pokok akidah yang beliau bela.Ketiga: Kondisi sosial-politik pasca mihnahBerakhirnya peristiwa mihnah pada masa Khalifah al-Mutawakkil mengubah peta perdebatan akidah di dunia Islam. Pengaruh Mu’tazilah mulai melemah dan ruang bagi berbagai pemikiran semakin terbuka. Dalam kondisi tersebut, Imam al-Asy’ari tampil menyampaikan kritik terhadap metode Mu’tazilah sekaligus menawarkan rumusan teologi yang menurut beliau lebih sesuai dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, serta riwayat para salaf. Sikap tersebut tampak jelas dalam mukadimah al-Ibanah, ketika beliau berkata,فَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الزَّائِغِينَ عَنِ الْحَقِّ مِنَ الْمُعْتَزِلَةِ وَأَهْلِ الْقَدَرِ مَالَتْ بِهِمْ أَهْوَاؤُهُمْ إِلَى تَقْلِيدِ رُؤَسَائِهِمْ وَمَنْ مَضَى مِنْ أَسْلَافِهِمْ، فَتَأَوَّلُوا الْقُرْآنَ عَلَى آرَائِهِمْ تَأْوِيلًا لَمْ يُنْزِلْ بِهِ اللَّهُ سُلْطَانًا، وَلَا أَوْضَحَ بِهِ بُرْهَانًا، وَلَا نَقَلُوهُ عَنْ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَلَا عَنِ السَّلَفِ الْمُتَقَدِّمِينَ، وَخَالَفُوا رِوَايَاتِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَنْ نَبِيِّ اللَّهِ ﷺ فِي رُؤْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْأَبْصَارِ، وَقَدْ جَاءَتْ فِي ذَلِكَ الرِّوَايَاتُ مِنَ الْجِهَاتِ الْمُخْتَلِفَاتِ، وَتَوَاتَرَتْ بِهَا الْآثَارُ وَتَتَابَعَتْ بِهَا الْأَخْبَارُ.“Banyak orang yang menyimpang dari kebenaran, seperti golongan Mu’tazilah dan Qadariyyah, telah mengikuti hawa nafsu dengan bertaklid kepada para pemimpin mereka. Mereka menakwilkan Al-Qur’an berdasarkan pendapat sendiri tanpa dasar dari Allah, tanpa hujah yang jelas, serta tidak meriwayatkannya dari Rasulullah maupun para salaf terdahulu. Mereka juga menyelisihi riwayat-riwayat para sahabat dari Nabi ﷺ tentang ru’yatullah, padahal riwayat-riwayat tersebut datang melalui berbagai jalur, atsar-atsarnya telah mencapai derajat mutawatir, dan khabar-khabarnya datang secara beruntun.” [11]Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberatan Imam al-Asy’ari tidak hanya tertuju pada hasil pemikiran Mu’tazilah, tetapi juga pada metode yang mereka gunakan dalam memahami dalil-dalil syariat.Keempat: Pengaruh intelektual KullabiyyahDalam merumuskan teologinya, Imam al-Asy’ari banyak dipengaruhi oleh pemikiran Abu Muhammad Ibnu Kullab, terutama dalam pembahasan sifat-sifat Allah. Pengaruh tersebut membuat metode yang beliau gunakan berbeda dengan manhaj ahlul hadis, meskipun pada fase berikutnya, sebagian ulama berpendapat bahwa beliau kembali mendekati manhaj tersebut pada akhir hayatnya.PenutupKemunculan Asy’ariyyah merupakan bagian dari dinamika panjang sejarah pemikiran Islam. Aliran ini lahir dari pergolakan intelektual antara berbagai aliran teologi pada abad ketiga dan keempat Hijriah. Abu al-Hasan al-Asy’ari, sebagai tokoh pendirinya, adalah seorang ulama yang memiliki perjalanan intelektual yang cukup dinamis, dari seorang murid Mu’tazilah, hingga menjadi tokoh yang mendirikan aliran teologi tersendiri dengan menggunakan metode kalam.Memahami sejarah kemunculan Asy’ariyyah secara lengkap mengharuskan kita melihatnya dalam konteks zamannya: sebuah era di mana perdebatan teologi sangat intens, pengaruh filsafat mulai merambah cara berpikir sebagian kalangan Muslim, dan para ulama merumuskan jawaban atas berbagai persoalan akidah yang muncul. Bagaimana Asy’ariyyah kemudian berkembang dan menyebar di dunia Islam akan dibahas dalam tulisan selanjutnya.Wallahu a’lam bish-shawab.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh al-Islam Ibn Taimiyah, Ahkam ‘Usat al-Mu’minin, hal. 118.[2] Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, 14: 208.[3] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 11: 174.[4] Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah, Dar’u Ta’arud al-‘Aql wa an-Naql, 2: 16.[5] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 15: 86.[6] Ibnu ‘Asakir, Tabiyin Kadzib al-Muftari fima Nusiba ila al-Asy’ari, hal. 91.[7] Ibnu at-Tilmisani, Syarh al-Ma’alim fi Usul al-Fiqh, 1: 106.[8] Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah, hal. 20.[9] Syekh al-Islam Ibn Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, 5: 556.[10] Syekh Muhammad Aman al-Jami, ash-Shifat al-Ilahiyyah fi al-Kitab wa as-Sunnah, hal. 157.[11] Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah, hal. 14. Daftar Pustaka:al-Asy’ari, Abu al-Hasan ‘Ali bin Isma’il. al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah. Ed. Fawqiyyah Husain Mahmud. Cet. 1. Kairo: Dar al-Anshar, 1397 H.adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman. Siyar A’lam an-Nubala’.Ibnu ‘Asakir, Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan. Tabiyin Kadzib al-Muftari fima Nusiba ila al-Imam Abi al-Hasan al-Asy’ari. Cet. 3. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1404 H.Ibnu at-Tilmisani, ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Ali. Syarh al-Ma’alim fi Usul al-Fiqh. ‘Adil Ahmad ‘Abd al-Mawjud dan ‘Ali Muhammad Mu’awwad. Cet. 1. Beirut: ‘Alam al-Kutub, 1419 H / 1999 M.Ibnu Katsir, Isma’il bin ‘Umar al-Qurasyi ad-Dimasyqi. al-Bidayah wa an-Nihayah.Ibnu Taimiyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Ahkam ‘Usat al-Mu’minin. Ed. Marwan Kajak. Cet. 1. Kairo: Dar al-Kalimah ath-Thayyibah, 1405 H / 1985 M.Ibnu Taimiyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Dar’u Ta’arud al-‘Aql wa an-Naql. Ed. Muhammad Rasyad Salim. Cet. 2. Riyadh: Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, 1411 H / 1991 M.Ibnu Taimiyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Majmu’ al-Fatawa. Ed. ‘Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Qasim. Madinah: Majma’ al-Malik Fahd li Thibaa’at al-Mushaf asy-Syarif, 1425 H / 2004 M.al-Jami, Muhammad Aman bin ‘Ali. ash-Shifat al-Ilahiyyah fi al-Kitab wa as-Sunnah an-Nabawiyyah fi Dhaw’ al-Ithbat wa at-Tanzih. Cet. 1. Madinah: al-Majlis al-‘Ilmi bi al-Jami’ah al-Islamiyyah, 1408 H.
Daftar Isi ToggleKondisi pemikiran Islam sebelum kemunculan Asy’ariyyahMu’tazilah dan dominasinyaKullabiyyah: Cikal bakal sebelum Asy’ariyyahMengenal Abu al-Hasan al-Asy’ariFase-fase intelektual Abu al-Hasan al-Asy’ariFase pertama: Bersama Mu’tazilahFase kedua: Perpisahan dengan Mu’tazilahFase ketiga: Perumusan teologi Asy’ariyyahFase keempat: Kembali kepada manhaj ahlul hadis (salaf)Faktor-faktor kemunculan Asy’ariyyahPertama: Kelemahan argumentasi Mu’tazilahKedua: Kebutuhan merespons argumen dengan metode kalamKetiga: Kondisi sosial-politik pasca mihnahKeempat: Pengaruh intelektual KullabiyyahPenutupSejarah pemikiran Islam tidak pernah adanya perbedaan pendapat dan pemikiran. Sejak abad pertama Hijriah, berbagai pertanyaan besar tentang sifat Allah, takdir, dan hakikat iman mulai bermunculan, mendorong para ulama untuk merumuskan jawaban yang mereka yakini paling sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dari pergulatan intelektual inilah, berbagai aliran teologi Islam terbentuk, salah satunya adalah Asy’ariyyah, yang hingga hari ini menjadi salah satu aliran teologi terbesar dalam dunia Islam.Asy’ariyyah adalah aliran teologi Islam yang dinisbatkan kepada Abu al-Hasan al-Asy’ari, seorang ulama asal Bashrah yang hidup pada abad ketiga dan keempat Hijriah. Aliran ini lahir dari konteks pergolakan pemikiran yang sangat dinamis, di mana berbagai aliran teologi saling beradu argumentasi dalam memahami pokok-pokok akidah Islam. Untuk memahami Asy’ariyyah secara utuh, maka perlu terlebih dahulu dipahami kondisi pemikiran Islam yang menjadi latar belakang kemunculannya.Kondisi pemikiran Islam sebelum kemunculan Asy’ariyyahPada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, persoalan akidah dipahami dan diyakini berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah secara langsung. Pertanyaan-pertanyaan spekulatif tentang hakikat sifat Allah, hubungan antara kehendak Allah dan perbuatan manusia, serta persoalan-persoalan teologis lainnya belum menjadi bahan perdebatan yang terorganisasi. Para sahabat menerima nash wahyu dengan keimanan, tanpa masuk ke dalam diskursus filsafat.Memasuki abad kedua Hijriah, situasi mulai berubah. Ekspansi Islam yang luas membawa umat Islam bersentuhan dengan berbagai peradaban dan tradisi intelektual, terutama filsafat Yunani. Penerjemahan karya-karya filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab, yang berkembang pesat pada masa Dinasti Abbasiyah, membuka pintu masuknya metode berpikir baru ke dalam dunia Islam.Di tengah situasi ini, muncullah berbagai aliran teologi (kalam) yang masing-masing memiliki metode dan kesimpulan berbeda. Di antara aliran yang paling berpengaruh dan menimbulkan pergolakan besar adalah Mu’tazilah.Mu’tazilah dan dominasinyaMu’tazilah adalah aliran teologi yang menjadikan akal sebagai hakim utama dalam memahami persoalan akidah, termasuk sifat-sifat Allah. Mereka menafikan sebagian sifat-sifat Allah dengan alasan bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut berarti menetapkan sesuatu yang qadim selain dzat Allah, yang menurut mereka bertentangan dengan tauhid.Ibnu Taimiyah menyebutkan pokok-pokok pemikiran Mu’tazilah,أصولهم خمسة يسمونها: التوحيد والعدل وإنفاذ الوعيد والمنزلة بين المنزلتين والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر“Pokok-pokok pemikiran Mu’tazilah ada lima: tauhid, keadilan, janji dan ancaman, posisi antara dua posisi, dan amar ma’ruf nahi munkar.” [1]Lebih berdampak lagi, pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Watsiq, pemikiran Mu’tazilah dijadikan akidah resmi negara. Pada periode inilah terjadi peristiwa yang dikenal sebagai mihnah (ujian), di mana para ulama yang menolak doktrin Mu’tazilah tentang kemakhlukan Al-Qur’an diancam dan dipaksa. Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah satu ulama yang paling dikenal karena keteguhannya menolak doktrin tersebut meskipun menghadapi siksaan.Ibnu Katsir mengisahkan peristiwa mihnah ini dalam al-Bidayah wa an-Nihayah secara panjang lebar pada pembahasan peristiwa tahun 218 H dan sesudahnya. Ketika kekuasaan Mu’tazilah melemah setelah Khalifah al-Mutawakkil mencabut kebijakan mihnah, perdebatan teologis tidak berhenti. Kebutuhan untuk merespons argumen-argumen Mu’tazilah dengan metode yang mereka gunakan sendiri (yaitu ilmu kalam) mendorong munculnya upaya formulasi teologi baru. [2]Kullabiyyah: Cikal bakal sebelum Asy’ariyyahSebelum Asy’ariyyah, terdapat kelompok yang juga cukup mengedepankan ilmu kalam dalam memahami konsep beragama yang dikenal dengan Kullabiyyah, dinisbatkan kepada ‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab. Ibnu Kullab berusaha membantah Mu’tazilah dengan menggunakan metode kalam, namun tetap menetapkan sifat-sifat Allah. Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ menyebutkan profil Ibnu Kullab,رأس المتكلمين بالبصرة في زمانه، أبو محمد، عبد الله بن سعيد بن كلاب القطان البصري صاحب التصانيف في الرد على المعتزلة، وربما وافقهم“Pemimpin para ahli kalam di Basrah pada masanya, Abu Muhammad, Abdullah bin Said bin Kullab al-Qattan al-Basri, penulis berbagai kitab bantahan terhadap kaum Mu’tazilah, dan terkadang ia sependapat dengan mereka.” [3]Pemikiran Kullabiyyah menjadi salah satu fondasi penting bagi Abu al-Hasan al-Asy’ari dalam merumuskan sistem teologinya. Ibnu Taimiyah dalam Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql menyebutkan hubungan antara Kullabiyyah dan Asy’ariyyah,وأبو الحسن الأشعري لما رجع عن مذهب المعتزلة سلك طريقة ابن كلاب، ومال إلى أهل السنة والحديث“Abu al-Hasan al-Asy’ari, ketika meninggalkan mazhab Mu’tazilah, menempuh jalannya Ibnu Kullab. Setelah itu, beliau lebih condong ke ahlus sunnah dan hadis.” [4]Mengenal Abu al-Hasan al-Asy’ariTokoh pendiri Asy’ariyyah adalah Abu al-Hasan ‘Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin ‘Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa al-Asy’ari. Ia lahir di Bashrah pada tahun 260 H. Nasabnya tersambung kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Adz-Dzahabi menyebutkan dalam Siyar A’lam an-Nubala’,العلامة إمام المتكلمين أبو الحسن علي بن إسماعيل بن أبي بشر إسحاق بن سالم بن إسماعيل بن عبد الله بن موسى بن أمير البصرة بلال بن أبي بردة بن صاحب رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أبي موسى عبد الله بن قيس بن حضار ، الأشعري اليماني البصري“Sosok ulama besar, imamnya para ahli kalam, yakni Abu al-Hasan ‘Ali bin Isma‘il bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Isma‘il bin ‘Abdullah bin Musa bin Bilal (Gubernur Basra) bin Abi Burdah bin sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Musa ‘Abdullah bin Qais bin Hadhar, al-Asy‘ari al-Yamani al-Bashri.” [5]Sejak muda, al-Asy’ari menimba ilmu kalam dari Abu ‘Ali al-Jubbai, salah satu tokoh terkemuka Mu’tazilah. Ibnu ‘Asakir mencatat hubungan guru-murid ini,كَانَ الْأَشْعَرِيّ تلميذ الجبائي يدرس عَلَيْهِ فيتعلم مِنْهُ وَيَأْخُذ عَنهُ لَا يُفَارِقهُ أَرْبَعِينَ سنة“Dulu Imam al-Asy’ari adalah murid al-Jubba’i. Beliau belajar kepadanya, menimba ilmu darinya, dan tidak pernah meninggalkannya (berguru) selama empat puluh tahun.” [6]Baca juga: Bermadzhab Syafi’i, Berakidah Asy’ariFase-fase intelektual Abu al-Hasan al-Asy’ariPara peneliti sejarah pemikiran Islam umumnya membagi perjalanan intelektual al-Asy’ari menjadi tiga sampai empat fase utama.Fase pertama: Bersama Mu’tazilahPada fase ini, al-Asy’ari sepenuhnya mengikuti manhaj Mu’tazilah di bawah bimbingan al-Jubbai selama kurang lebih empat puluh tahun.Fase kedua: Perpisahan dengan Mu’tazilah Titik balik terjadi ketika al-Asy’ari meninggalkan pemikiran Mu’tazilah. Imam al-Asy’ari menyatakan perpindahannya secara terbuka,أخذ علم الكلام أولًا عن أبي علي الجبائي شيخ المعتزلة، ثم فارقه، ورجع عن الاعتزال، وأظهر ذلك، وشرع في الرد عليهم، والتصنيف على خلافهم“Beliau mulanya menimba ilmu kalam dari Abu Ali al-Jubba’i, gurunya orang-orang Muktazilah. Namun, beliau kemudian meninggalkannya, bertobat dari pemikiran Muktazilah, dan mengumumkannya secara terang-terangan. Setelah itu, beliau mulai membantah mereka dan menyusun tulisan-tulisan yang menyelisihi pendapat mereka sebelumnya.” [7]Di antara riwayat yang masyhur tentang perpindahan ini adalah kisah perdebatan al-Asy’ari dengan al-Jubbai tentang nasib tiga bersaudara, meskipun sebagian peneliti mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam menerima riwayat ini karena persoalan sanad.Fase ketiga: Perumusan teologi Asy’ariyyahSetelah berpisah dari Mu’tazilah, al-Asy’ari menyatakan bahwa ia mengikuti manhaj Imam Ahmad bin Hanbal. Pernyataan ini ia tulis secara eksplisit dalam karyanya, al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah,قَوْلُنَا الَّذِي نَقُولُ بِهِ وَدِيَانَتُنَا الَّتِي نَدِينُ بِهَا: التَّمَسُّكُ بِكِتَابِ اللَّهِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ وَبِسُنَّةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا رُوِيَ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَأَئِمَّةِ الْحَدِيثِ، وَنَحْنُ بِذَلِكَ مُعْتَصِمُونَ، وَبِمَا كَانَ يَقُولُ بِهِ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ نَضَّرَ اللَّهُ وَجْهَهُ وَرَفَعَ دَرَجَتَهُ وَأَجْزَلَ مَثُوبَتَهُ قَائِلُونَ“Perkataan yang kami pegangi dan agama yang kami anut adalah: berpegang teguh dengan Kitab Allah Rabb kami ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi’in, dan imam-imam hadis. Kami berpegang teguh dengan itu, dan kami mengikuti apa yang dikatakan oleh Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, semoga Allah mencerahkan wajahnya, meninggikan derajatnya, dan memperindah pahalanya.” [8]Meskipun al-Asy’ari menyatakan hal ini, para ulama mencatat bahwa metode yang ia gunakan yaitu ilmu kalam, berbeda dengan metode yang ditempuh oleh Imam Ahmad. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa menyebutkan,وَكَانَ ” أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ ” لَمَّا رَجَعَ عَنْ الِاعْتِزَالِ سَلَكَ طَرِيقَةَ أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ كُلَّابٍ فَصَارَ طَائِفَةٌ يَنْتَسِبُونَ إلَى السُّنَّةِ وَالْحَدِيثِ مِنْ السالمية وَغَيْرِهِمْ“Setelah Abu al-Hasan al-Asy’ari bertobat dari paham Mu’tazilah, beliau menempuh jalan yang diajarkan oleh Abu Muhammad bin Kullab. Hal ini kemudian membuat sekelompok orang dari golongan Salimiyyah dan lainnya menyandarkan diri mereka kepada As-Sunnah dan hadis ...” [9]Fase keempat: Kembali kepada manhaj ahlul hadis (salaf) Sebagian ulama berpendapat bahwa pada akhir kehidupannya, Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari semakin mendekati, bahkan kembali kepada manhaj ahlul hadis (ahlus sunnah) dalam masalah akidah. Pendapat ini didasarkan pada beberapa karya beliau di masa akhir. Syekh Muḥammad Aman al-Jami menyebutkan,وقد نقل غير واحد من أهل العلم بالتاريخ وعلم الرجال، رجوع أبي الحسن الأشعري عن الاشتغال بعلم الكلام، إلى الانتصار لمذهب السلف والدفاع عنه وأنه ألف في ذلك مؤلفات من أهمها آخر كتاب ألفه في إثبات صفات الله تعالى دون تفريق بين الصفات الذاتية والصفات الفعلية، وبعبارة أخرى بين الصفات العقلية والصفات الخبرية السمعية وهو كتابه (الإبانة في أصول الديانة)“Tidak sedikit ahli sejarah dan ahli rijal (biografi tokoh) yang meriwayatkan bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari meninggalkan kesibukannya dalam ilmu kalam dan beralih membela serta mempertahankan mazhab salaf. Beliau menyusun banyak karya terkait hal ini, dan yang terpenting adalah kitab terakhir yang beliau tulis mengenai penetapan sifat-sifat Allah tanpa membedakan antara sifat dzatiyyah dan sifat fi‘liyyah, atau dengan kata lain, antara sifat ‘aqliyyah dan sifat khabariyyah sam‘iyyah. Kitab yang dimaksud adalah al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah.” [10]Faktor-faktor kemunculan Asy’ariyyahKemunculan Asy’ariyah sebagai aliran teologi tersendiri tidak dapat dilepaskan dari sejumlah faktor yang saling berkaitan.Pertama: Kelemahan argumentasi Mu’tazilahPerubahan pemikiran Imam Abul Hasan al-Asy’ari berangkat dari ketidakpuasan beliau terhadap sejumlah prinsip Mu’tazilah yang telah lama dianutnya. Selama berguru kepada Abu Ali al-Jubba’i, beliau menyaksikan bahwa dominasi akal dalam mazhab tersebut sering kali berujung pada penakwilan nash dan penolakan terhadap riwayat-riwayat yang dianggap bertentangan dengan logika. Bagi Imam al-Asy’ari, cara seperti ini tidak lagi memadai untuk menjelaskan persoalan akidah secara utuh. Dari sinilah muncul dorongan untuk mencari pendekatan yang menurut beliau lebih dekat dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar para salaf.Kedua: Kebutuhan merespons argumen dengan metode kalamMeskipun telah meninggalkan Mu’tazilah, Imam al-Asy’ari tetap menggunakan ilmu kalam sebagai sarana berdebat. Menurut beliau, syubhat yang dibangun dengan argumentasi rasional perlu dijawab dengan metode yang serupa agar lebih mudah dipahami oleh lawan bicara. Oleh karena itu, yang berubah bukanlah alat yang digunakan, melainkan pokok-pokok akidah yang beliau bela.Ketiga: Kondisi sosial-politik pasca mihnahBerakhirnya peristiwa mihnah pada masa Khalifah al-Mutawakkil mengubah peta perdebatan akidah di dunia Islam. Pengaruh Mu’tazilah mulai melemah dan ruang bagi berbagai pemikiran semakin terbuka. Dalam kondisi tersebut, Imam al-Asy’ari tampil menyampaikan kritik terhadap metode Mu’tazilah sekaligus menawarkan rumusan teologi yang menurut beliau lebih sesuai dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, serta riwayat para salaf. Sikap tersebut tampak jelas dalam mukadimah al-Ibanah, ketika beliau berkata,فَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الزَّائِغِينَ عَنِ الْحَقِّ مِنَ الْمُعْتَزِلَةِ وَأَهْلِ الْقَدَرِ مَالَتْ بِهِمْ أَهْوَاؤُهُمْ إِلَى تَقْلِيدِ رُؤَسَائِهِمْ وَمَنْ مَضَى مِنْ أَسْلَافِهِمْ، فَتَأَوَّلُوا الْقُرْآنَ عَلَى آرَائِهِمْ تَأْوِيلًا لَمْ يُنْزِلْ بِهِ اللَّهُ سُلْطَانًا، وَلَا أَوْضَحَ بِهِ بُرْهَانًا، وَلَا نَقَلُوهُ عَنْ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَلَا عَنِ السَّلَفِ الْمُتَقَدِّمِينَ، وَخَالَفُوا رِوَايَاتِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَنْ نَبِيِّ اللَّهِ ﷺ فِي رُؤْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْأَبْصَارِ، وَقَدْ جَاءَتْ فِي ذَلِكَ الرِّوَايَاتُ مِنَ الْجِهَاتِ الْمُخْتَلِفَاتِ، وَتَوَاتَرَتْ بِهَا الْآثَارُ وَتَتَابَعَتْ بِهَا الْأَخْبَارُ.“Banyak orang yang menyimpang dari kebenaran, seperti golongan Mu’tazilah dan Qadariyyah, telah mengikuti hawa nafsu dengan bertaklid kepada para pemimpin mereka. Mereka menakwilkan Al-Qur’an berdasarkan pendapat sendiri tanpa dasar dari Allah, tanpa hujah yang jelas, serta tidak meriwayatkannya dari Rasulullah maupun para salaf terdahulu. Mereka juga menyelisihi riwayat-riwayat para sahabat dari Nabi ﷺ tentang ru’yatullah, padahal riwayat-riwayat tersebut datang melalui berbagai jalur, atsar-atsarnya telah mencapai derajat mutawatir, dan khabar-khabarnya datang secara beruntun.” [11]Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberatan Imam al-Asy’ari tidak hanya tertuju pada hasil pemikiran Mu’tazilah, tetapi juga pada metode yang mereka gunakan dalam memahami dalil-dalil syariat.Keempat: Pengaruh intelektual KullabiyyahDalam merumuskan teologinya, Imam al-Asy’ari banyak dipengaruhi oleh pemikiran Abu Muhammad Ibnu Kullab, terutama dalam pembahasan sifat-sifat Allah. Pengaruh tersebut membuat metode yang beliau gunakan berbeda dengan manhaj ahlul hadis, meskipun pada fase berikutnya, sebagian ulama berpendapat bahwa beliau kembali mendekati manhaj tersebut pada akhir hayatnya.PenutupKemunculan Asy’ariyyah merupakan bagian dari dinamika panjang sejarah pemikiran Islam. Aliran ini lahir dari pergolakan intelektual antara berbagai aliran teologi pada abad ketiga dan keempat Hijriah. Abu al-Hasan al-Asy’ari, sebagai tokoh pendirinya, adalah seorang ulama yang memiliki perjalanan intelektual yang cukup dinamis, dari seorang murid Mu’tazilah, hingga menjadi tokoh yang mendirikan aliran teologi tersendiri dengan menggunakan metode kalam.Memahami sejarah kemunculan Asy’ariyyah secara lengkap mengharuskan kita melihatnya dalam konteks zamannya: sebuah era di mana perdebatan teologi sangat intens, pengaruh filsafat mulai merambah cara berpikir sebagian kalangan Muslim, dan para ulama merumuskan jawaban atas berbagai persoalan akidah yang muncul. Bagaimana Asy’ariyyah kemudian berkembang dan menyebar di dunia Islam akan dibahas dalam tulisan selanjutnya.Wallahu a’lam bish-shawab.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh al-Islam Ibn Taimiyah, Ahkam ‘Usat al-Mu’minin, hal. 118.[2] Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, 14: 208.[3] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 11: 174.[4] Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah, Dar’u Ta’arud al-‘Aql wa an-Naql, 2: 16.[5] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 15: 86.[6] Ibnu ‘Asakir, Tabiyin Kadzib al-Muftari fima Nusiba ila al-Asy’ari, hal. 91.[7] Ibnu at-Tilmisani, Syarh al-Ma’alim fi Usul al-Fiqh, 1: 106.[8] Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah, hal. 20.[9] Syekh al-Islam Ibn Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, 5: 556.[10] Syekh Muhammad Aman al-Jami, ash-Shifat al-Ilahiyyah fi al-Kitab wa as-Sunnah, hal. 157.[11] Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah, hal. 14. Daftar Pustaka:al-Asy’ari, Abu al-Hasan ‘Ali bin Isma’il. al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah. Ed. Fawqiyyah Husain Mahmud. Cet. 1. Kairo: Dar al-Anshar, 1397 H.adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman. Siyar A’lam an-Nubala’.Ibnu ‘Asakir, Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan. Tabiyin Kadzib al-Muftari fima Nusiba ila al-Imam Abi al-Hasan al-Asy’ari. Cet. 3. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1404 H.Ibnu at-Tilmisani, ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Ali. Syarh al-Ma’alim fi Usul al-Fiqh. ‘Adil Ahmad ‘Abd al-Mawjud dan ‘Ali Muhammad Mu’awwad. Cet. 1. Beirut: ‘Alam al-Kutub, 1419 H / 1999 M.Ibnu Katsir, Isma’il bin ‘Umar al-Qurasyi ad-Dimasyqi. al-Bidayah wa an-Nihayah.Ibnu Taimiyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Ahkam ‘Usat al-Mu’minin. Ed. Marwan Kajak. Cet. 1. Kairo: Dar al-Kalimah ath-Thayyibah, 1405 H / 1985 M.Ibnu Taimiyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Dar’u Ta’arud al-‘Aql wa an-Naql. Ed. Muhammad Rasyad Salim. Cet. 2. Riyadh: Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, 1411 H / 1991 M.Ibnu Taimiyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Majmu’ al-Fatawa. Ed. ‘Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Qasim. Madinah: Majma’ al-Malik Fahd li Thibaa’at al-Mushaf asy-Syarif, 1425 H / 2004 M.al-Jami, Muhammad Aman bin ‘Ali. ash-Shifat al-Ilahiyyah fi al-Kitab wa as-Sunnah an-Nabawiyyah fi Dhaw’ al-Ithbat wa at-Tanzih. Cet. 1. Madinah: al-Majlis al-‘Ilmi bi al-Jami’ah al-Islamiyyah, 1408 H.


Daftar Isi ToggleKondisi pemikiran Islam sebelum kemunculan Asy’ariyyahMu’tazilah dan dominasinyaKullabiyyah: Cikal bakal sebelum Asy’ariyyahMengenal Abu al-Hasan al-Asy’ariFase-fase intelektual Abu al-Hasan al-Asy’ariFase pertama: Bersama Mu’tazilahFase kedua: Perpisahan dengan Mu’tazilahFase ketiga: Perumusan teologi Asy’ariyyahFase keempat: Kembali kepada manhaj ahlul hadis (salaf)Faktor-faktor kemunculan Asy’ariyyahPertama: Kelemahan argumentasi Mu’tazilahKedua: Kebutuhan merespons argumen dengan metode kalamKetiga: Kondisi sosial-politik pasca mihnahKeempat: Pengaruh intelektual KullabiyyahPenutupSejarah pemikiran Islam tidak pernah adanya perbedaan pendapat dan pemikiran. Sejak abad pertama Hijriah, berbagai pertanyaan besar tentang sifat Allah, takdir, dan hakikat iman mulai bermunculan, mendorong para ulama untuk merumuskan jawaban yang mereka yakini paling sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dari pergulatan intelektual inilah, berbagai aliran teologi Islam terbentuk, salah satunya adalah Asy’ariyyah, yang hingga hari ini menjadi salah satu aliran teologi terbesar dalam dunia Islam.Asy’ariyyah adalah aliran teologi Islam yang dinisbatkan kepada Abu al-Hasan al-Asy’ari, seorang ulama asal Bashrah yang hidup pada abad ketiga dan keempat Hijriah. Aliran ini lahir dari konteks pergolakan pemikiran yang sangat dinamis, di mana berbagai aliran teologi saling beradu argumentasi dalam memahami pokok-pokok akidah Islam. Untuk memahami Asy’ariyyah secara utuh, maka perlu terlebih dahulu dipahami kondisi pemikiran Islam yang menjadi latar belakang kemunculannya.Kondisi pemikiran Islam sebelum kemunculan Asy’ariyyahPada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, persoalan akidah dipahami dan diyakini berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah secara langsung. Pertanyaan-pertanyaan spekulatif tentang hakikat sifat Allah, hubungan antara kehendak Allah dan perbuatan manusia, serta persoalan-persoalan teologis lainnya belum menjadi bahan perdebatan yang terorganisasi. Para sahabat menerima nash wahyu dengan keimanan, tanpa masuk ke dalam diskursus filsafat.Memasuki abad kedua Hijriah, situasi mulai berubah. Ekspansi Islam yang luas membawa umat Islam bersentuhan dengan berbagai peradaban dan tradisi intelektual, terutama filsafat Yunani. Penerjemahan karya-karya filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab, yang berkembang pesat pada masa Dinasti Abbasiyah, membuka pintu masuknya metode berpikir baru ke dalam dunia Islam.Di tengah situasi ini, muncullah berbagai aliran teologi (kalam) yang masing-masing memiliki metode dan kesimpulan berbeda. Di antara aliran yang paling berpengaruh dan menimbulkan pergolakan besar adalah Mu’tazilah.Mu’tazilah dan dominasinyaMu’tazilah adalah aliran teologi yang menjadikan akal sebagai hakim utama dalam memahami persoalan akidah, termasuk sifat-sifat Allah. Mereka menafikan sebagian sifat-sifat Allah dengan alasan bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut berarti menetapkan sesuatu yang qadim selain dzat Allah, yang menurut mereka bertentangan dengan tauhid.Ibnu Taimiyah menyebutkan pokok-pokok pemikiran Mu’tazilah,أصولهم خمسة يسمونها: التوحيد والعدل وإنفاذ الوعيد والمنزلة بين المنزلتين والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر“Pokok-pokok pemikiran Mu’tazilah ada lima: tauhid, keadilan, janji dan ancaman, posisi antara dua posisi, dan amar ma’ruf nahi munkar.” [1]Lebih berdampak lagi, pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Watsiq, pemikiran Mu’tazilah dijadikan akidah resmi negara. Pada periode inilah terjadi peristiwa yang dikenal sebagai mihnah (ujian), di mana para ulama yang menolak doktrin Mu’tazilah tentang kemakhlukan Al-Qur’an diancam dan dipaksa. Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah satu ulama yang paling dikenal karena keteguhannya menolak doktrin tersebut meskipun menghadapi siksaan.Ibnu Katsir mengisahkan peristiwa mihnah ini dalam al-Bidayah wa an-Nihayah secara panjang lebar pada pembahasan peristiwa tahun 218 H dan sesudahnya. Ketika kekuasaan Mu’tazilah melemah setelah Khalifah al-Mutawakkil mencabut kebijakan mihnah, perdebatan teologis tidak berhenti. Kebutuhan untuk merespons argumen-argumen Mu’tazilah dengan metode yang mereka gunakan sendiri (yaitu ilmu kalam) mendorong munculnya upaya formulasi teologi baru. [2]Kullabiyyah: Cikal bakal sebelum Asy’ariyyahSebelum Asy’ariyyah, terdapat kelompok yang juga cukup mengedepankan ilmu kalam dalam memahami konsep beragama yang dikenal dengan Kullabiyyah, dinisbatkan kepada ‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab. Ibnu Kullab berusaha membantah Mu’tazilah dengan menggunakan metode kalam, namun tetap menetapkan sifat-sifat Allah. Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ menyebutkan profil Ibnu Kullab,رأس المتكلمين بالبصرة في زمانه، أبو محمد، عبد الله بن سعيد بن كلاب القطان البصري صاحب التصانيف في الرد على المعتزلة، وربما وافقهم“Pemimpin para ahli kalam di Basrah pada masanya, Abu Muhammad, Abdullah bin Said bin Kullab al-Qattan al-Basri, penulis berbagai kitab bantahan terhadap kaum Mu’tazilah, dan terkadang ia sependapat dengan mereka.” [3]Pemikiran Kullabiyyah menjadi salah satu fondasi penting bagi Abu al-Hasan al-Asy’ari dalam merumuskan sistem teologinya. Ibnu Taimiyah dalam Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql menyebutkan hubungan antara Kullabiyyah dan Asy’ariyyah,وأبو الحسن الأشعري لما رجع عن مذهب المعتزلة سلك طريقة ابن كلاب، ومال إلى أهل السنة والحديث“Abu al-Hasan al-Asy’ari, ketika meninggalkan mazhab Mu’tazilah, menempuh jalannya Ibnu Kullab. Setelah itu, beliau lebih condong ke ahlus sunnah dan hadis.” [4]Mengenal Abu al-Hasan al-Asy’ariTokoh pendiri Asy’ariyyah adalah Abu al-Hasan ‘Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin ‘Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa al-Asy’ari. Ia lahir di Bashrah pada tahun 260 H. Nasabnya tersambung kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Adz-Dzahabi menyebutkan dalam Siyar A’lam an-Nubala’,العلامة إمام المتكلمين أبو الحسن علي بن إسماعيل بن أبي بشر إسحاق بن سالم بن إسماعيل بن عبد الله بن موسى بن أمير البصرة بلال بن أبي بردة بن صاحب رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أبي موسى عبد الله بن قيس بن حضار ، الأشعري اليماني البصري“Sosok ulama besar, imamnya para ahli kalam, yakni Abu al-Hasan ‘Ali bin Isma‘il bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Isma‘il bin ‘Abdullah bin Musa bin Bilal (Gubernur Basra) bin Abi Burdah bin sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Musa ‘Abdullah bin Qais bin Hadhar, al-Asy‘ari al-Yamani al-Bashri.” [5]Sejak muda, al-Asy’ari menimba ilmu kalam dari Abu ‘Ali al-Jubbai, salah satu tokoh terkemuka Mu’tazilah. Ibnu ‘Asakir mencatat hubungan guru-murid ini,كَانَ الْأَشْعَرِيّ تلميذ الجبائي يدرس عَلَيْهِ فيتعلم مِنْهُ وَيَأْخُذ عَنهُ لَا يُفَارِقهُ أَرْبَعِينَ سنة“Dulu Imam al-Asy’ari adalah murid al-Jubba’i. Beliau belajar kepadanya, menimba ilmu darinya, dan tidak pernah meninggalkannya (berguru) selama empat puluh tahun.” [6]Baca juga: Bermadzhab Syafi’i, Berakidah Asy’ariFase-fase intelektual Abu al-Hasan al-Asy’ariPara peneliti sejarah pemikiran Islam umumnya membagi perjalanan intelektual al-Asy’ari menjadi tiga sampai empat fase utama.Fase pertama: Bersama Mu’tazilahPada fase ini, al-Asy’ari sepenuhnya mengikuti manhaj Mu’tazilah di bawah bimbingan al-Jubbai selama kurang lebih empat puluh tahun.Fase kedua: Perpisahan dengan Mu’tazilah Titik balik terjadi ketika al-Asy’ari meninggalkan pemikiran Mu’tazilah. Imam al-Asy’ari menyatakan perpindahannya secara terbuka,أخذ علم الكلام أولًا عن أبي علي الجبائي شيخ المعتزلة، ثم فارقه، ورجع عن الاعتزال، وأظهر ذلك، وشرع في الرد عليهم، والتصنيف على خلافهم“Beliau mulanya menimba ilmu kalam dari Abu Ali al-Jubba’i, gurunya orang-orang Muktazilah. Namun, beliau kemudian meninggalkannya, bertobat dari pemikiran Muktazilah, dan mengumumkannya secara terang-terangan. Setelah itu, beliau mulai membantah mereka dan menyusun tulisan-tulisan yang menyelisihi pendapat mereka sebelumnya.” [7]Di antara riwayat yang masyhur tentang perpindahan ini adalah kisah perdebatan al-Asy’ari dengan al-Jubbai tentang nasib tiga bersaudara, meskipun sebagian peneliti mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam menerima riwayat ini karena persoalan sanad.Fase ketiga: Perumusan teologi Asy’ariyyahSetelah berpisah dari Mu’tazilah, al-Asy’ari menyatakan bahwa ia mengikuti manhaj Imam Ahmad bin Hanbal. Pernyataan ini ia tulis secara eksplisit dalam karyanya, al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah,قَوْلُنَا الَّذِي نَقُولُ بِهِ وَدِيَانَتُنَا الَّتِي نَدِينُ بِهَا: التَّمَسُّكُ بِكِتَابِ اللَّهِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ وَبِسُنَّةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا رُوِيَ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَأَئِمَّةِ الْحَدِيثِ، وَنَحْنُ بِذَلِكَ مُعْتَصِمُونَ، وَبِمَا كَانَ يَقُولُ بِهِ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ نَضَّرَ اللَّهُ وَجْهَهُ وَرَفَعَ دَرَجَتَهُ وَأَجْزَلَ مَثُوبَتَهُ قَائِلُونَ“Perkataan yang kami pegangi dan agama yang kami anut adalah: berpegang teguh dengan Kitab Allah Rabb kami ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi’in, dan imam-imam hadis. Kami berpegang teguh dengan itu, dan kami mengikuti apa yang dikatakan oleh Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, semoga Allah mencerahkan wajahnya, meninggikan derajatnya, dan memperindah pahalanya.” [8]Meskipun al-Asy’ari menyatakan hal ini, para ulama mencatat bahwa metode yang ia gunakan yaitu ilmu kalam, berbeda dengan metode yang ditempuh oleh Imam Ahmad. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa menyebutkan,وَكَانَ ” أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ ” لَمَّا رَجَعَ عَنْ الِاعْتِزَالِ سَلَكَ طَرِيقَةَ أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ كُلَّابٍ فَصَارَ طَائِفَةٌ يَنْتَسِبُونَ إلَى السُّنَّةِ وَالْحَدِيثِ مِنْ السالمية وَغَيْرِهِمْ“Setelah Abu al-Hasan al-Asy’ari bertobat dari paham Mu’tazilah, beliau menempuh jalan yang diajarkan oleh Abu Muhammad bin Kullab. Hal ini kemudian membuat sekelompok orang dari golongan Salimiyyah dan lainnya menyandarkan diri mereka kepada As-Sunnah dan hadis ...” [9]Fase keempat: Kembali kepada manhaj ahlul hadis (salaf) Sebagian ulama berpendapat bahwa pada akhir kehidupannya, Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari semakin mendekati, bahkan kembali kepada manhaj ahlul hadis (ahlus sunnah) dalam masalah akidah. Pendapat ini didasarkan pada beberapa karya beliau di masa akhir. Syekh Muḥammad Aman al-Jami menyebutkan,وقد نقل غير واحد من أهل العلم بالتاريخ وعلم الرجال، رجوع أبي الحسن الأشعري عن الاشتغال بعلم الكلام، إلى الانتصار لمذهب السلف والدفاع عنه وأنه ألف في ذلك مؤلفات من أهمها آخر كتاب ألفه في إثبات صفات الله تعالى دون تفريق بين الصفات الذاتية والصفات الفعلية، وبعبارة أخرى بين الصفات العقلية والصفات الخبرية السمعية وهو كتابه (الإبانة في أصول الديانة)“Tidak sedikit ahli sejarah dan ahli rijal (biografi tokoh) yang meriwayatkan bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari meninggalkan kesibukannya dalam ilmu kalam dan beralih membela serta mempertahankan mazhab salaf. Beliau menyusun banyak karya terkait hal ini, dan yang terpenting adalah kitab terakhir yang beliau tulis mengenai penetapan sifat-sifat Allah tanpa membedakan antara sifat dzatiyyah dan sifat fi‘liyyah, atau dengan kata lain, antara sifat ‘aqliyyah dan sifat khabariyyah sam‘iyyah. Kitab yang dimaksud adalah al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah.” [10]Faktor-faktor kemunculan Asy’ariyyahKemunculan Asy’ariyah sebagai aliran teologi tersendiri tidak dapat dilepaskan dari sejumlah faktor yang saling berkaitan.Pertama: Kelemahan argumentasi Mu’tazilahPerubahan pemikiran Imam Abul Hasan al-Asy’ari berangkat dari ketidakpuasan beliau terhadap sejumlah prinsip Mu’tazilah yang telah lama dianutnya. Selama berguru kepada Abu Ali al-Jubba’i, beliau menyaksikan bahwa dominasi akal dalam mazhab tersebut sering kali berujung pada penakwilan nash dan penolakan terhadap riwayat-riwayat yang dianggap bertentangan dengan logika. Bagi Imam al-Asy’ari, cara seperti ini tidak lagi memadai untuk menjelaskan persoalan akidah secara utuh. Dari sinilah muncul dorongan untuk mencari pendekatan yang menurut beliau lebih dekat dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar para salaf.Kedua: Kebutuhan merespons argumen dengan metode kalamMeskipun telah meninggalkan Mu’tazilah, Imam al-Asy’ari tetap menggunakan ilmu kalam sebagai sarana berdebat. Menurut beliau, syubhat yang dibangun dengan argumentasi rasional perlu dijawab dengan metode yang serupa agar lebih mudah dipahami oleh lawan bicara. Oleh karena itu, yang berubah bukanlah alat yang digunakan, melainkan pokok-pokok akidah yang beliau bela.Ketiga: Kondisi sosial-politik pasca mihnahBerakhirnya peristiwa mihnah pada masa Khalifah al-Mutawakkil mengubah peta perdebatan akidah di dunia Islam. Pengaruh Mu’tazilah mulai melemah dan ruang bagi berbagai pemikiran semakin terbuka. Dalam kondisi tersebut, Imam al-Asy’ari tampil menyampaikan kritik terhadap metode Mu’tazilah sekaligus menawarkan rumusan teologi yang menurut beliau lebih sesuai dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, serta riwayat para salaf. Sikap tersebut tampak jelas dalam mukadimah al-Ibanah, ketika beliau berkata,فَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الزَّائِغِينَ عَنِ الْحَقِّ مِنَ الْمُعْتَزِلَةِ وَأَهْلِ الْقَدَرِ مَالَتْ بِهِمْ أَهْوَاؤُهُمْ إِلَى تَقْلِيدِ رُؤَسَائِهِمْ وَمَنْ مَضَى مِنْ أَسْلَافِهِمْ، فَتَأَوَّلُوا الْقُرْآنَ عَلَى آرَائِهِمْ تَأْوِيلًا لَمْ يُنْزِلْ بِهِ اللَّهُ سُلْطَانًا، وَلَا أَوْضَحَ بِهِ بُرْهَانًا، وَلَا نَقَلُوهُ عَنْ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَلَا عَنِ السَّلَفِ الْمُتَقَدِّمِينَ، وَخَالَفُوا رِوَايَاتِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَنْ نَبِيِّ اللَّهِ ﷺ فِي رُؤْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْأَبْصَارِ، وَقَدْ جَاءَتْ فِي ذَلِكَ الرِّوَايَاتُ مِنَ الْجِهَاتِ الْمُخْتَلِفَاتِ، وَتَوَاتَرَتْ بِهَا الْآثَارُ وَتَتَابَعَتْ بِهَا الْأَخْبَارُ.“Banyak orang yang menyimpang dari kebenaran, seperti golongan Mu’tazilah dan Qadariyyah, telah mengikuti hawa nafsu dengan bertaklid kepada para pemimpin mereka. Mereka menakwilkan Al-Qur’an berdasarkan pendapat sendiri tanpa dasar dari Allah, tanpa hujah yang jelas, serta tidak meriwayatkannya dari Rasulullah maupun para salaf terdahulu. Mereka juga menyelisihi riwayat-riwayat para sahabat dari Nabi ﷺ tentang ru’yatullah, padahal riwayat-riwayat tersebut datang melalui berbagai jalur, atsar-atsarnya telah mencapai derajat mutawatir, dan khabar-khabarnya datang secara beruntun.” [11]Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberatan Imam al-Asy’ari tidak hanya tertuju pada hasil pemikiran Mu’tazilah, tetapi juga pada metode yang mereka gunakan dalam memahami dalil-dalil syariat.Keempat: Pengaruh intelektual KullabiyyahDalam merumuskan teologinya, Imam al-Asy’ari banyak dipengaruhi oleh pemikiran Abu Muhammad Ibnu Kullab, terutama dalam pembahasan sifat-sifat Allah. Pengaruh tersebut membuat metode yang beliau gunakan berbeda dengan manhaj ahlul hadis, meskipun pada fase berikutnya, sebagian ulama berpendapat bahwa beliau kembali mendekati manhaj tersebut pada akhir hayatnya.PenutupKemunculan Asy’ariyyah merupakan bagian dari dinamika panjang sejarah pemikiran Islam. Aliran ini lahir dari pergolakan intelektual antara berbagai aliran teologi pada abad ketiga dan keempat Hijriah. Abu al-Hasan al-Asy’ari, sebagai tokoh pendirinya, adalah seorang ulama yang memiliki perjalanan intelektual yang cukup dinamis, dari seorang murid Mu’tazilah, hingga menjadi tokoh yang mendirikan aliran teologi tersendiri dengan menggunakan metode kalam.Memahami sejarah kemunculan Asy’ariyyah secara lengkap mengharuskan kita melihatnya dalam konteks zamannya: sebuah era di mana perdebatan teologi sangat intens, pengaruh filsafat mulai merambah cara berpikir sebagian kalangan Muslim, dan para ulama merumuskan jawaban atas berbagai persoalan akidah yang muncul. Bagaimana Asy’ariyyah kemudian berkembang dan menyebar di dunia Islam akan dibahas dalam tulisan selanjutnya.Wallahu a’lam bish-shawab.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh al-Islam Ibn Taimiyah, Ahkam ‘Usat al-Mu’minin, hal. 118.[2] Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, 14: 208.[3] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 11: 174.[4] Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah, Dar’u Ta’arud al-‘Aql wa an-Naql, 2: 16.[5] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 15: 86.[6] Ibnu ‘Asakir, Tabiyin Kadzib al-Muftari fima Nusiba ila al-Asy’ari, hal. 91.[7] Ibnu at-Tilmisani, Syarh al-Ma’alim fi Usul al-Fiqh, 1: 106.[8] Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah, hal. 20.[9] Syekh al-Islam Ibn Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, 5: 556.[10] Syekh Muhammad Aman al-Jami, ash-Shifat al-Ilahiyyah fi al-Kitab wa as-Sunnah, hal. 157.[11] Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah, hal. 14. Daftar Pustaka:al-Asy’ari, Abu al-Hasan ‘Ali bin Isma’il. al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah. Ed. Fawqiyyah Husain Mahmud. Cet. 1. Kairo: Dar al-Anshar, 1397 H.adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman. Siyar A’lam an-Nubala’.Ibnu ‘Asakir, Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan. Tabiyin Kadzib al-Muftari fima Nusiba ila al-Imam Abi al-Hasan al-Asy’ari. Cet. 3. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1404 H.Ibnu at-Tilmisani, ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Ali. Syarh al-Ma’alim fi Usul al-Fiqh. ‘Adil Ahmad ‘Abd al-Mawjud dan ‘Ali Muhammad Mu’awwad. Cet. 1. Beirut: ‘Alam al-Kutub, 1419 H / 1999 M.Ibnu Katsir, Isma’il bin ‘Umar al-Qurasyi ad-Dimasyqi. al-Bidayah wa an-Nihayah.Ibnu Taimiyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Ahkam ‘Usat al-Mu’minin. Ed. Marwan Kajak. Cet. 1. Kairo: Dar al-Kalimah ath-Thayyibah, 1405 H / 1985 M.Ibnu Taimiyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Dar’u Ta’arud al-‘Aql wa an-Naql. Ed. Muhammad Rasyad Salim. Cet. 2. Riyadh: Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, 1411 H / 1991 M.Ibnu Taimiyah, Taqiyy ad-Din Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Majmu’ al-Fatawa. Ed. ‘Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Qasim. Madinah: Majma’ al-Malik Fahd li Thibaa’at al-Mushaf asy-Syarif, 1425 H / 2004 M.al-Jami, Muhammad Aman bin ‘Ali. ash-Shifat al-Ilahiyyah fi al-Kitab wa as-Sunnah an-Nabawiyyah fi Dhaw’ al-Ithbat wa at-Tanzih. Cet. 1. Madinah: al-Majlis al-‘Ilmi bi al-Jami’ah al-Islamiyyah, 1408 H.

Nasihat Penting untuk Anda yang Merasa Berakidah Salaf – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Ini adalah poin ketiga yang kita lalui dalam majelis yang sama, ketika menjelaskan salah satu wujud nyata dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. Jejak dan wujud nyata rahmat Allah termasuk perkara yang paling luas di alam ini. Ini sesuai kandungan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Rabb kami meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu-Nya.” (Lihat QS. Al-A’raf: 89 dan QS. Ghafir: 7) Ibnul Qayyim dalam kitab Ash-Shawa’iq Al-Mursalah memiliki penjelasan yang indah tentang jejak rahmat Allah ‘Azza wa Jalla pada makhluk-Nya. Ini adalah cabang dari apa yang pernah saya sebutkan kepada kalian tentang ilmu Asmaul Husna. Sebab, nama Ar-Rahim dan Ar-Rahman, jika seseorang ingin membahasnya melalui jejak-jejaknya dalam syariat dan alam semesta, maka itu memerlukan waktu yang panjang. Jika pembahasan lisannya saja demikian luas, lalu bagaimana seharusnya makna itu hidup dalam hati yang benar-benar memahaminya? Bagaimana seharusnya penyaksian terhadap kedudukan ini tertanam dalam hati yang memahami berbagai sisi rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala? Inilah bagian terbesar dari ilmu akidah, karena di dalamnya terdapat pengenalan makhluk kepada Rabb mereka Subhanahu wa Ta’ala. Ilmu akidah menuntun manusia untuk mengenal Allah. Namun bukan seperti cara akidah dipelajari sekarang: Asya’irah berkata begini, Muktazilah berkata begitu, kelompok ini berkata begini, kelompok itu berkata begitu. Itu adalah ilmu milal wal firaq, pembahasan tentang agama dan kelompok-kelompok. Ilmu seperti itu dipelajari belakangan, bukan di awal. Yang pertama kali harus diambil adalah ilmu akidah sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan Sunah. Dengan menetapkan maknanya, menjelaskan batas-batasnya, dan merinci pokok-pokok besarnya. Jika akidah itu telah meresap ke dalam hati, barulah hati benar-benar memahaminya. Adapun jika ia belum meresap ke dalam hati, engkau akan melihat hati itu terjatuh dalam kebodohan yang luas dalam perkara akidah. Sekarang, banyak orang menisbatkan dirinya kepada agama dan ilmu. Namun dalam perkara akidah, engkau dapati agama dan akidahnya lemah, sementara ia tidak menyadarinya. Ia mengira akidahnya kokoh, dan ia merasa berada di atas akidah Salaf Ahlusunah yang murni. Akidah Salaf Ahlusunah yang murni itu bukan sekadar informasi. Akidah Salaf Ahlusunah yang murni adalah apa yang benar-benar didapati seseorang di dalam hatinya berupa hakikat-hakikat keimanan. Itulah akidah Ahlusunah yang murni. Adapun ketika engkau mendapati seseorang melakukan perkara-perkara besar yang berkaitan dengan ucapan atau perbuatannya, lalu ia tetap menisbatkan dirinya kepada akidah Ahlusunah yang murni, maka ketahuilah: akidah Ahlusunah yang murni itu tidak semudah itu. Ada seseorang yang pernah bertemu Raja Abdul Aziz rahimahullah. Raja Abdul Aziz berkata kepadanya, “Berdoalah kepada Allah agar Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya.” Maka orang alim yang mengenal Allah itu menjawab, “Jangan katakan, ‘Semoga Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya…’ Sebab, jika Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya, niscaya kita binasa. Namun katakanlah, ‘Semoga Allah memperlakukan kita dengan karunia-Nya.’” Perhatikan. Dua lafaz itu tampak dekat. Sama-sama berakhir dengan lam dan ha. Yang berbeda hanya dua huruf: ‘adl dengan ‘ain dan dal, sedangkan fadhl dengan fa dan dhad. Namun orang yang mengenal hakikat akidah tidak akan menerima redaksi doa seperti itu. Di antara contohnya, guru kami, Syaikh Fahd bin Humayyin rahimahullah Ta’ala, beliau adalah dosen akidah di Universitas Al-Imam. Suatu ketika, beberapa ikhwan bertemu beliau di depan pintu. Mereka ingin menyalami beliau saat beliau hendak masuk, lalu mereka pun mengucapkan salam. Syaikh bertanya tentang kabar mereka. Salah seorang ikhwan menjawab, dengan maksud menyenangkan hati Syaikh dan menunaikan hak beliau, Ia menjawab, “Kami tetap dalam kebaikan selama Anda dan orang-orang seperti Anda masih berada di tengah-tengah kami.” Maka Syaikh berkata, “Jangan katakan begitu. Kalian akan tetap dalam kebaikan selama tauhid masih ada pada kalian.” Perhatikan. Inilah orang yang benar-benar mengenal Allah ‘Azza wa Jalla. Ia berkata, “Kalian berada dalam kebaikan selama tauhid masih ada pada kalian.” Kita ini makhluk. Kita hidup dan mati. Namun jika tauhid tetap ada pada kalian, kebaikan pun akan tetap ada pada kalian. Jika tauhid hilang dari kalian, kebaikan pun akan hilang dari kalian. Salah seorang pejabat rahimahullah pernah berkata kepada Syaikh Shalih bin Fauzan waffaqahullah, ketika ia melihat beliau setelah lama tidak berjumpa. Pejabat itu berkata, “Wahai Syaikh Shalih, kepada siapa Anda meninggalkan kami? Mengapa kami jarang sekali melihat Anda?” Beliau menjawab, “Kami meninggalkan kalian kepada Allah. Jika kalian menaati-Nya, kalian tidak memerlukan kami. Jika kalian durhaka kepada-Nya, kami tidak akan dapat memberi manfaat kepada kalian.” Mereka itulah ahli tauhid. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar memahami akidah. Akidah bukan sekadar informasi.Lalu di Twitter, lihatlah berbagai hal yang menyelisihi akidah. Inilah akidah yang hak. Akidah yang memenuhi hati, dan membuat hati merasakan manisnya. Engkau pun mengetahui bahwa akidah itulah yang mendekatkanmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menjadikan hatimu bersih, jiwamu suci, dan batinmu indah. Maka seseorang akan merasakan lezatnya akidah yang mengenalkannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mengagungkan hak-Nya. Adapun kalau hanya sekadar informasi, misalnya, “Ahlusunah wal Jamaah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah.” “Asya’irah menetapkan nama-nama Allah dan tujuh sifat, lalu menakwilkan sifat-sifat yang lain.” “Muktazilah menetapkan nama-nama Allah dan menafikan sifat-sifat-Nya. Jahmiyah menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah.” Namun di dalam hatimu, engkau bersama siapa? Tinggalkan dulu lisanmu. Di dalam hatimu, engkau bersama siapa? Betapa banyak orang yang tidak bermuamalah dengan Allah ‘Azza wa Jalla berdasarkan sifat-sifat Ilahi, tetapi hanya bermuamalah dengan Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala dengan ilmu lahiriah semata. Ia tidak memelihara hubungan kekerabatan dengan kaum mukminin, tidak pula mengindahkan perjanjian; tidak ada kasih sayang, tidak ada rasa kasihan, dan tidak pula rasa takut. Lalu ia menisbatkan dirinya kepada jurusan akidah, karena mengira penisbatan itu menjadikannya pemilik akidah salaf. Pemilik akidah salaf yang sejati adalah orang yang lebih menjaga hak Allah daripada menjaga pandangan makhluk, dan lebih takut kepada Allah daripada takut kepada makhluk. Ia mengatakan di hadapan Allah apa yang ia katakan di hadapan manusia. Tidak ada rahasia yang ia sembunyikan. Ia memperlakukan manusia sesuai dengan apa yang Allah inginkan, bukan sekadar mengikuti apa yang manusia inginkan. Ucapannya kepada penguasa sama seperti ucapannya kepada rakyat. Ucapannya kepada orang dekat sama seperti ucapannya kepada orang jauh. Inilah orang yang jujur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka setiap kita seharusnya mencari akidah seperti ini. Akidah seperti ini tidak didapat hanya dengan menghadiri majelis kajian kitab Al-Wasithiyah, Lum’atul I’tiqad, Al-Hamawiyah, dan At-Tadmuriyah. Akidah ini akan ditemukan ketika engkau menyendiri bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika seseorang duduk mengintrospeksi dirinya, dalam majelis sunyi antara dirinya dengan Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala, di sanalah ia akan menemukan akidah yang mendekatkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang hamba seharusnya memiliki waktu-waktu khusus untuk menyendiri bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia mengintrospeksi dirinya, menegurnya, mencelanya, mengecamnya dengan keras, menahannya dari penyimpangan, dan mengingatkannya tentang kewajiban dirinya. Sebagian salaf dahulu menganjurkan agar hal ini dilakukan setiap hari. Jika seseorang terhalang melakukannya karena banyak kesibukan, maka minimal ia menyendiri bersama Rabbnya pada hari Jumat. Orang-orang saleh terdahulu menjadikan hari Jumat sebagai hari yang mendekatkan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun sekarang, banyak manusia justru semakin jauh dari Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Jumat, karena maksiat-maksiat baru yang mereka lakukan. Adapun para salaf, engkau dapati sepanjang hari Jumat mereka berada dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka melakukan ketaatan yang membuat sebagian orang mengira bahwa cerita itu terlalu berlebihan. Namun orang-orang yang jujur, yang benar-benar mengenal cara menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mampu melakukan hal seperti itu. Dahulu guru kami, Syaikh Abdul Aziz bin Shalih bin Mursyid rahimahullah Ta’ala, beliau wafat pada tahun 1417 H, dalam usia 104 tahun. Beliau memiliki beberapa kali khatam Al-Qur’an setiap bulannya. Salah satunya, beliau khatam setiap hari Jumat. Beliau memulainya setelah Salat Subuh, lalu khatam sebelum khatib naik ke mimbar. Bagi beliau, itu seperti minum seteguk air. Ringan sekali. Namun kita tidak mampu melakukannya. Mengapa? Karena hakikat ilmu, pengenalan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan kesibukan mencari kedekatan kepada-Nya yang ada di hati mereka berbeda dengan keadaan kita. Kita telah teperdaya oleh dunia. Kita condong kepadanya dan bersandar padanya. Manusia sekarang lebih memperhatikan penampilan lahiriahnya daripada hakikat batinnya. Saat itulah ia terhalang dari permata-permata batin, sibuk dengan yang tampak di luar, lalu kehilangan makna-makna agung seperti ini. Namun kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kita semua, agar Dia menyelamatkan kita dengan rahmat-Nya. Semoga Allah meliputi kita dengan ampunan-Nya, menjaga kita dengan pemeliharaan-Nya, dan menolong kita menghadapi diri kita sendiri. ===== هَذَا مَوْضِعٌ ثَالِثٌ يَمُرُّ مَعَنَا فِي نَفْسِ الْمَجْلِسِ فِي بَيَانِ مَشْهَدٍ مِنْ مَشَاهِدِ رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَرَحْمَةُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى آثَارُهَا وَمَشَاهِدُهَا مِنْ أَوْسَعِ مَا فِي الْوُجُودِ هَذَا تَصْدِيقُ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا وَابْنُ الْقَيِّمِ فِي الصَّوَاعِقِ الْمُرْسَلَةِ لَهُ كَلَامٌ حَسَنٌ فِي آثَارِ رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْخَلْقِ وَهَذَا فَرْعٌ مِمَّا ذَكَرْتُ لَكُمْ مِنْ عِلْمِ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى فَإِنَّ اسْمَ الرَّحِيمِ وَالرَّحْمَنِ، لَوْ أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِيهِ بِمَا يُشْهَدُ مِنْ آثَارِهِ فِي الشَّرْعِ وَالْوُجُودِ لَاحْتَاجَ ذَلِكَ إِلَى وَقْتٍ كَثِيرٍ وَإِذَا كَانَ هَذَا فِي الْكَلَامِ الْمُعَبَّرِ بِهِ، فَكَيْفَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِي الْقَلْبِ الْمُدْرِكِ لَهُ؟ كَيْفَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ شُهُودُ هَذَا الْمَقَامِ فِي الْقَلْبِ الَّذِي يُدْرِكُ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى؟ وَهَذَا جُلُّ عِلْمِ الِاعْتِقَادِ لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْرِيفِ الْخَلْقِ بِرَبِّهِمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عِلْمُ الِاعْتِقَادِ يَدُلُّ النَّاسَ عَلَى مَعْرِفَةِ اللهِ لَكِنْ لَيْسَ كَمَا يُدْرَسُ الْآنَ عِلْمُ الِاعْتِقَادِ: قَالَ الْأَشَاعِرَةُ، وَقَالَ الْمُعْتَزِلَةُ، وَقَالَ كَذَا، وَقَالَ كَذَا هَذَا عِلْمُ الْمِلَلِ وَالْفِرَقِ، وَهَذِهِ تُؤْخَذُ آخِرًا وَلَا تُؤْخَذُ أَوَّلًا أَوَّلًا يُؤْخَذُ عِلْمُ الِاعْتِقَادِ كَمَا جَاءَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ تَقْرِيرِ مَعَانِيهِ، وَإِيضَاحِ حُدُودِهِ، وَتَفَاصِيلِ جُمَلِهِ فَإِذَا تَغَرْغَرَتِ الْقُلُوبُ بِهَا عَقَلَتْ ذَلِكَ وَأَمَّا إِذَا لَمْ تَتَغَرْغَرِ الْقُلُوبُ بِهَا، تَجِدُهَا تَقَعُ فِي جَهْلٍ عَرِيضٍ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالِاعْتِقَادِ الْآنَ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَنْتَسِبُ إِلَى الدِّينِ وَالْعِلْمِ تَجِدُ أَنَّهُ فِي أُمُورِ الِاعْتِقَادِ يَضْعُفُ دِينُهُ وَاعْتِقَادُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ يَظُنُّ أَنَّ اعْتِقَادَهُ مَتِينٌ وَأَنَّهُ عَلَى عَقِيدَةٍ سَلَفِيَّةٍ سُنِّيَّةٍ صَافِيَةٍ الْعَقِيدَةُ السَّلَفِيَّةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ لَيْسَتِ الْمَعْلُومَاتِ الْعَقِيدَةُ السَّلَفِيَّةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ مَا يَجِدُهُ الْإِنْسَانُ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْحَقَائِقِ الْإِيمَانِيَّةِ هَذِهِ هِيَ الْعَقِيدَةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ أَمَّا أَنْ تَجِدَ الْإِنْسَانَ تَقَعُ مِنْهُ أُمُورٌ عِظَامٌ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِكَلَامِهِ أَوْ بِفِعْلِهِ ثُمَّ يَنْسُبُ نَفْسَهُ إِلَى الْعَقِيدَةِ السُّنِّيَّةِ الصَّافِيَةِ! الْعَقِيدَةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ لَيْسَتْ سَهْلَةً قَالَ رَجُلٌ لَمَّا عَرَضَ لِلْمَلِكِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَحِمَهُ اللهُ، قَالَ لَهُ الْمَلِكُ عَبْدُ الْعَزِيزِ: ادْعُ اللهَ أَنْ يُعَامِلَنَا بِعَدْلِهِ فَقَالَ ذَلِكَ الْعَالِمُ بِاللهِ: لَا تَقُل اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ فَإِنَّهُ لَوْ عَامَلَنَا بِعَدْلِهِ لَهَلَكْنَا وَلَكِنْ قُلِ اللهُ يُعَامِلُنَا بِفَضْلِهِ شُوفْ! كُلُّهَا فِيهَا لَامٌ وَهَاءٌ، يَعْنِي حَرْفَيْنِ. عَدْلٌ: الْعَيْنُ وَالدَّالُ، وَفَضْلٌ: الْفَاءُ وَالضَّادُ لَكِنَّ الَّذِي يَعْرِفُ حَقِيقَةَ الْعَقِيدَةِ لَا يَقْبَلُ بِمِثْلِ هَذَا وَلِذَلِكَ مِنْ شَوَاهِدِ هَذَا، أَنَّ شَيْخَنَا فَهْدَ بْنَ حُمَيِّنٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كَانَ أُسْتَاذًا لِلْعَقِيدَةِ فِي جَامِعَةِ الْإِمَامِ لَقِيَهُ بَعْضُ الْإِخْوَانِ عِنْدَ بَابِهِ وَقَدْ أَرَادُوا السَّلَامَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَدْخُلَ، فَسَلَّمُوا عَلَيْهِ فَسَأَلَ الشَّيْخُ الْإِخْوَانَ عَنْ حَالِهِمْ، فَقَالَ أَحَدُ الْإِخْوَانِ مُرِيدًا تَطْيِيبَ خَاطِرِ الشَّيْخِ وَأَدَاءَ حَقِّهِ عَلَيْهِ قَالَ: نَحْنُ بِخَيْرٍ مَا زِلْتَ أَنْتَ وَأَمْثَالُكَ فِينَا فَقَالَ لَهُ: لَا تَقُلْ هَذَا، فَإِنَّكُمْ لَا تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ التَّوْحِيدُ فِيكُمْ شُوفْ! هَذَا اللَّي عَرَفَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، يَقُولُ: أَنْتُمْ بِخَيْرٍ مَا دَامَ التَّوْحِيدُ فِيكُمْ إِحْنَا خَلْقٌ نَمُوتُ وَنَحْيَا، لَكِنْ إِذَا بَقِيَ فِيكُمُ التَّوْحِيدُ يَبْقَى فِيكُم الْخَيْرُ وَإِذَا ذَهَبَ مِنْكُمُ التَّوْحِيدُ فَإِنَّهُ يَذْهَبُ مِنْكُم الْخَيْرُ قَالَ أَحَدُ الْمَسْؤُولِينَ رَحِمَهُ اللهُ لِلشَّيْخِ صَالِحِ بْنِ فَوْزَانَ وَفَّقَهُ اللهُ وَقَدْ رَآهُ بَعْدَ غِيَابٍ طَوِيلٍ قَالَ لَهُ ذَلِكَ الْمَسْؤُولُ: يَا شَيْخُ صَالِحُ لِمَنْ تَتْرُكُونَنَا؟ لِمَاذَا مَا نَرَاكُمْ إِلَّا قَلِيلًا؟ قَالَ: نَتْرُكُكُمْ لِلهِ فَإِنْ أَطَعْتُمُوهُ اسْتَغْنَيْتُمْ عَنَّا، وَإِنْ عَصَيْتُمُوهُ لَمْ نَنْفَعْكُمْ هَذُولِ الْمُوَحِّدِينَ، هَذُولِ اللَّي يَعْرِفُونَ الْعَقِيدَةَ، مَا هِي بِالْعَقِيدَةِ الْمَعْلُومَاتِ ثُمَّ فِي التُّوِيتَرِ شُوفْ مَا يُخَالِفُ الْعَقِيدَةَ هَذِهِ الْعَقِيدَةُ الْحَقَّةُ الَّتِي تُمْلَأُ بِهَا الْقُلُوبُ وَتَذُوقُ حَلَاوَتَهَا وَتَعْرِفُ أَنَّ الْعَقِيدَةَ هِيَ الَّتِي تُقَرِّبُكَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، تَجْعَلُكَ صَافِيَ الْقَلْبِ، طَاهِرَ النَّفْسِ، حُلْوَ السَّرِيرَةِ فَيَجِدُ الْإِنْسَانُ لَذَّةَ الْعَقِيدَةِ الْمُعَرِّفَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمُعَظِّمَةِ لِحَقِّهِ وَأَمَّا الْمَعْلُومَاتُ: وَأَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَالصِّفَاتِ وَالْأَشَاعِرَةُ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَسَبْعَ صِفَاتٍ وَيُؤَوِّلُونَ الْبَاقِيَ وَالْمُعْتَزِلَةُ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَيَنْفُونَ الصِّفَاتِ، وَالْجَهْمِيَّةُ يَنْفُونَ الْأَسْمَاءَ وَالصِّفَاتِ وَأَنْتَ فِي قَلْبِكَ مَعَ مَنْ؟ دَعْكَ مِنْ لِسَانِكَ، أَنْتَ فِي قَلْبِكَ مَعَ مَنْ؟ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ لَا يُعَامِلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِالصِّفَاتِ الْإِلَهِيَّةِ، وَإِنَّمَا يُعَامِلُ رَبَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْعِلْمِ الظَّاهِرِ لَا يَرْقُبُ فِي الْمُؤْمِنِينَ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً، وَلَا رَحْمَةَ، وَلَا شَفَقَةَ، وَلَا خَوْفَ وَيَنْتَسِبُ إِلَى قِسْمِ الْعَقِيدَةِ، ظَنًّا أَنَّ الِانْتِسَابَ إِلَى قِسْمِ الْعَقِيدَةِ يَجْعَلُهُ صَاحِبَ عَقِيدَةٍ سَلَفِيَّةٍ صَاحِبُ الْعَقِيدَةِ السَّلَفِيَّةِ الَّذِي يَرْعَى اللهَ أَعْظَمَ مِنْ رِعَايَةِ الْخَلْقِ، وَيَخَافُ اللهَ أَعْظَمَ مِنْ خَوْفِ الْخَلْقِ وَيَقُولُ أَمَامَ اللهِ مَا يَقُولُ أَمَامَ الْخَلْقِ فَلَيْسَ عِنْدَهُ سِرٌّ يُخْفِيهِ فَهُوَ يُعَامِلُ الْخَلْقَ بِمَا يُرِيدُهُ اللهُ وَلَا يُعَامِلُ الْخَلْقَ بِمَا يُرِيدُهُ الْخَلْقُ فَقَوْلُهُ لِلْحَاكِمِ كَقَوْلِهِ لِلْمَحْكُومِ، وَقَوْلُهُ لِلْقَرِيبِ كَقَوْلِهِ لِلْبَعِيدِ، هَذَا هُوَ الصَّادِقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي أَنْ يَطْلُبَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا هَذِهِ الْعَقِيدَةَ هَذِهِ الْعَقِيدَةُ لَا تُوجَدُ فِي حُضُورِ مَجَالِسِ الْوَاسِطِيَّةِ وَلُمْعَةِ الِاعْتِقَادِ وَالْحَمَوِيَّةِ وَالتَّدْمُرِيَّةِ هَذِهِ الْعَقِيدَةُ تُوجَدُ إِذَا كُنْتَ وَحْدَكَ مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِذَا جَلَسَ الْإِنْسَانُ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ فِي مَجْلِسٍ يَخْلُو بِهِ مَعَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَجِدُ هَذِهِ الْعَقِيدَةَ الَّتِي تُقَرِّبُهُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لِلْعَبْدِ مِنْ نَفْسِهِ مَقَامَاتٌ يَخْلُو فِيهَا مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُحَاسِبُهَا، وَيُعَاتِبُهَا، وَيَلُومُهَا، وَيُعَنِّفُهَا، وَيَرُدُّهَا عَنْ غَيِّهَا، وَيُذَكِّرُهَا بِمَا يَجِبُ عَلَيْهَا وَكَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يَكُونَ هَذَا كُلَّ يَوْمٍ وَإِذَا حُرِمَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذَلِكَ لِكَثْرَةِ الشَّوَاغِلِ، فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يَخْلُوَ بِنَفْسِهِ مَعَ رَبِّهِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَكَانَ مَنْ مَضَى مِنَ الصَّالِحِينَ يَكُونُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ لَهُ مُقَرِّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْآنَ أَكْثَرُ النَّاسِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَبْعُدُونَ فِيهِ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يَسْتَجِدُّ لَهُمْ مِنَ الْمَعَاصِي وَأَمَّا مَنْ سَلَفَ، تَجِدُهُمْ طُولَ يَوْمِهِمْ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ مَعَ طَاعَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَقَعُ مِنْهُمْ مِنَ الطَّاعَاتِ مَا يَظُنُّ الْإِنْسَانُ أَنَّ هَذَا مِنَ الْمُجَازَفَاتِ وَلَكِنَّ الصَّادِقِينَ الَّذِينَ يَعْرِفُونَ الْإِقْبَالَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَأْتُونَ بِمِثْلِ هَذَا فَقَدْ كَانَ شَيْخُنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صَالِحِ بْنِ مُرْشِدٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْمُتَوَفَّى سَنَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ بَعْدَ الْأَرْبَعِمِئَةِ وَالْأَلْفِ، عَنْ أَرْبَعِ سَنَوَاتٍ بَعْدَ الْمِئَةِ لَهُ خَتَمَاتٌ فِي شَهْرِهِ، مِنْهَا خَتْمَةٌ كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ يَبْدَأُ فِيهَا بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، ثُمَّ يَخْتِمُ قَبْلَ صُعُودِ الْخَطِيبِ عَلَى الْمِنْبَرِ وَمِثْلُ شَرْبَةِ الْمَوَيَةِ، عِنْدَهُ مِثْلُ شَرْبَةِ الْمَوَيَةِ، وَلَكِنْ نَحْنُ لَا نَسْتَطِيعُ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ حَقَائِقَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْعِلْمِ وَالْمَعْرِفَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالِاشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُهُمْ غَيْرُ مَا عَلَيْنَا نَحْنُ اغْتَرَرْنَا بِهَذِهِ الدُّنْيَا وَمِلْنَا إِلَيْهَا وَرَكَنَّا إِلَيْهَا صَارَ الْإِنْسَانُ يَهْتَمُّ بِمَظْهَرِهِ أَعْظَمَ مِنْ عِنَايَتِهِ بِجَوْهَرِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ يُحْرَمُ الْجَوَاهِرَ وَيُشْغَلُ بِالظَّاهِرِ، فَيَذْهَبُ عَنْ مِثْلِ هَذِهِ الْمَعَانِي لَكِنْ نَحْنُ نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَنَا جَمِيعًا أَنْ يَتَدَارَكَنَا بِرَحْمَتِهِ وَأَنْ يَشْمَلَنَا بِعَفْوِهِ، وَأَنْ يَكْلَأَنَا بِرِعَايَتِهِ، وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا

Nasihat Penting untuk Anda yang Merasa Berakidah Salaf – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Ini adalah poin ketiga yang kita lalui dalam majelis yang sama, ketika menjelaskan salah satu wujud nyata dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. Jejak dan wujud nyata rahmat Allah termasuk perkara yang paling luas di alam ini. Ini sesuai kandungan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Rabb kami meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu-Nya.” (Lihat QS. Al-A’raf: 89 dan QS. Ghafir: 7) Ibnul Qayyim dalam kitab Ash-Shawa’iq Al-Mursalah memiliki penjelasan yang indah tentang jejak rahmat Allah ‘Azza wa Jalla pada makhluk-Nya. Ini adalah cabang dari apa yang pernah saya sebutkan kepada kalian tentang ilmu Asmaul Husna. Sebab, nama Ar-Rahim dan Ar-Rahman, jika seseorang ingin membahasnya melalui jejak-jejaknya dalam syariat dan alam semesta, maka itu memerlukan waktu yang panjang. Jika pembahasan lisannya saja demikian luas, lalu bagaimana seharusnya makna itu hidup dalam hati yang benar-benar memahaminya? Bagaimana seharusnya penyaksian terhadap kedudukan ini tertanam dalam hati yang memahami berbagai sisi rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala? Inilah bagian terbesar dari ilmu akidah, karena di dalamnya terdapat pengenalan makhluk kepada Rabb mereka Subhanahu wa Ta’ala. Ilmu akidah menuntun manusia untuk mengenal Allah. Namun bukan seperti cara akidah dipelajari sekarang: Asya’irah berkata begini, Muktazilah berkata begitu, kelompok ini berkata begini, kelompok itu berkata begitu. Itu adalah ilmu milal wal firaq, pembahasan tentang agama dan kelompok-kelompok. Ilmu seperti itu dipelajari belakangan, bukan di awal. Yang pertama kali harus diambil adalah ilmu akidah sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan Sunah. Dengan menetapkan maknanya, menjelaskan batas-batasnya, dan merinci pokok-pokok besarnya. Jika akidah itu telah meresap ke dalam hati, barulah hati benar-benar memahaminya. Adapun jika ia belum meresap ke dalam hati, engkau akan melihat hati itu terjatuh dalam kebodohan yang luas dalam perkara akidah. Sekarang, banyak orang menisbatkan dirinya kepada agama dan ilmu. Namun dalam perkara akidah, engkau dapati agama dan akidahnya lemah, sementara ia tidak menyadarinya. Ia mengira akidahnya kokoh, dan ia merasa berada di atas akidah Salaf Ahlusunah yang murni. Akidah Salaf Ahlusunah yang murni itu bukan sekadar informasi. Akidah Salaf Ahlusunah yang murni adalah apa yang benar-benar didapati seseorang di dalam hatinya berupa hakikat-hakikat keimanan. Itulah akidah Ahlusunah yang murni. Adapun ketika engkau mendapati seseorang melakukan perkara-perkara besar yang berkaitan dengan ucapan atau perbuatannya, lalu ia tetap menisbatkan dirinya kepada akidah Ahlusunah yang murni, maka ketahuilah: akidah Ahlusunah yang murni itu tidak semudah itu. Ada seseorang yang pernah bertemu Raja Abdul Aziz rahimahullah. Raja Abdul Aziz berkata kepadanya, “Berdoalah kepada Allah agar Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya.” Maka orang alim yang mengenal Allah itu menjawab, “Jangan katakan, ‘Semoga Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya…’ Sebab, jika Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya, niscaya kita binasa. Namun katakanlah, ‘Semoga Allah memperlakukan kita dengan karunia-Nya.’” Perhatikan. Dua lafaz itu tampak dekat. Sama-sama berakhir dengan lam dan ha. Yang berbeda hanya dua huruf: ‘adl dengan ‘ain dan dal, sedangkan fadhl dengan fa dan dhad. Namun orang yang mengenal hakikat akidah tidak akan menerima redaksi doa seperti itu. Di antara contohnya, guru kami, Syaikh Fahd bin Humayyin rahimahullah Ta’ala, beliau adalah dosen akidah di Universitas Al-Imam. Suatu ketika, beberapa ikhwan bertemu beliau di depan pintu. Mereka ingin menyalami beliau saat beliau hendak masuk, lalu mereka pun mengucapkan salam. Syaikh bertanya tentang kabar mereka. Salah seorang ikhwan menjawab, dengan maksud menyenangkan hati Syaikh dan menunaikan hak beliau, Ia menjawab, “Kami tetap dalam kebaikan selama Anda dan orang-orang seperti Anda masih berada di tengah-tengah kami.” Maka Syaikh berkata, “Jangan katakan begitu. Kalian akan tetap dalam kebaikan selama tauhid masih ada pada kalian.” Perhatikan. Inilah orang yang benar-benar mengenal Allah ‘Azza wa Jalla. Ia berkata, “Kalian berada dalam kebaikan selama tauhid masih ada pada kalian.” Kita ini makhluk. Kita hidup dan mati. Namun jika tauhid tetap ada pada kalian, kebaikan pun akan tetap ada pada kalian. Jika tauhid hilang dari kalian, kebaikan pun akan hilang dari kalian. Salah seorang pejabat rahimahullah pernah berkata kepada Syaikh Shalih bin Fauzan waffaqahullah, ketika ia melihat beliau setelah lama tidak berjumpa. Pejabat itu berkata, “Wahai Syaikh Shalih, kepada siapa Anda meninggalkan kami? Mengapa kami jarang sekali melihat Anda?” Beliau menjawab, “Kami meninggalkan kalian kepada Allah. Jika kalian menaati-Nya, kalian tidak memerlukan kami. Jika kalian durhaka kepada-Nya, kami tidak akan dapat memberi manfaat kepada kalian.” Mereka itulah ahli tauhid. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar memahami akidah. Akidah bukan sekadar informasi.Lalu di Twitter, lihatlah berbagai hal yang menyelisihi akidah. Inilah akidah yang hak. Akidah yang memenuhi hati, dan membuat hati merasakan manisnya. Engkau pun mengetahui bahwa akidah itulah yang mendekatkanmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menjadikan hatimu bersih, jiwamu suci, dan batinmu indah. Maka seseorang akan merasakan lezatnya akidah yang mengenalkannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mengagungkan hak-Nya. Adapun kalau hanya sekadar informasi, misalnya, “Ahlusunah wal Jamaah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah.” “Asya’irah menetapkan nama-nama Allah dan tujuh sifat, lalu menakwilkan sifat-sifat yang lain.” “Muktazilah menetapkan nama-nama Allah dan menafikan sifat-sifat-Nya. Jahmiyah menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah.” Namun di dalam hatimu, engkau bersama siapa? Tinggalkan dulu lisanmu. Di dalam hatimu, engkau bersama siapa? Betapa banyak orang yang tidak bermuamalah dengan Allah ‘Azza wa Jalla berdasarkan sifat-sifat Ilahi, tetapi hanya bermuamalah dengan Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala dengan ilmu lahiriah semata. Ia tidak memelihara hubungan kekerabatan dengan kaum mukminin, tidak pula mengindahkan perjanjian; tidak ada kasih sayang, tidak ada rasa kasihan, dan tidak pula rasa takut. Lalu ia menisbatkan dirinya kepada jurusan akidah, karena mengira penisbatan itu menjadikannya pemilik akidah salaf. Pemilik akidah salaf yang sejati adalah orang yang lebih menjaga hak Allah daripada menjaga pandangan makhluk, dan lebih takut kepada Allah daripada takut kepada makhluk. Ia mengatakan di hadapan Allah apa yang ia katakan di hadapan manusia. Tidak ada rahasia yang ia sembunyikan. Ia memperlakukan manusia sesuai dengan apa yang Allah inginkan, bukan sekadar mengikuti apa yang manusia inginkan. Ucapannya kepada penguasa sama seperti ucapannya kepada rakyat. Ucapannya kepada orang dekat sama seperti ucapannya kepada orang jauh. Inilah orang yang jujur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka setiap kita seharusnya mencari akidah seperti ini. Akidah seperti ini tidak didapat hanya dengan menghadiri majelis kajian kitab Al-Wasithiyah, Lum’atul I’tiqad, Al-Hamawiyah, dan At-Tadmuriyah. Akidah ini akan ditemukan ketika engkau menyendiri bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika seseorang duduk mengintrospeksi dirinya, dalam majelis sunyi antara dirinya dengan Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala, di sanalah ia akan menemukan akidah yang mendekatkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang hamba seharusnya memiliki waktu-waktu khusus untuk menyendiri bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia mengintrospeksi dirinya, menegurnya, mencelanya, mengecamnya dengan keras, menahannya dari penyimpangan, dan mengingatkannya tentang kewajiban dirinya. Sebagian salaf dahulu menganjurkan agar hal ini dilakukan setiap hari. Jika seseorang terhalang melakukannya karena banyak kesibukan, maka minimal ia menyendiri bersama Rabbnya pada hari Jumat. Orang-orang saleh terdahulu menjadikan hari Jumat sebagai hari yang mendekatkan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun sekarang, banyak manusia justru semakin jauh dari Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Jumat, karena maksiat-maksiat baru yang mereka lakukan. Adapun para salaf, engkau dapati sepanjang hari Jumat mereka berada dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka melakukan ketaatan yang membuat sebagian orang mengira bahwa cerita itu terlalu berlebihan. Namun orang-orang yang jujur, yang benar-benar mengenal cara menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mampu melakukan hal seperti itu. Dahulu guru kami, Syaikh Abdul Aziz bin Shalih bin Mursyid rahimahullah Ta’ala, beliau wafat pada tahun 1417 H, dalam usia 104 tahun. Beliau memiliki beberapa kali khatam Al-Qur’an setiap bulannya. Salah satunya, beliau khatam setiap hari Jumat. Beliau memulainya setelah Salat Subuh, lalu khatam sebelum khatib naik ke mimbar. Bagi beliau, itu seperti minum seteguk air. Ringan sekali. Namun kita tidak mampu melakukannya. Mengapa? Karena hakikat ilmu, pengenalan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan kesibukan mencari kedekatan kepada-Nya yang ada di hati mereka berbeda dengan keadaan kita. Kita telah teperdaya oleh dunia. Kita condong kepadanya dan bersandar padanya. Manusia sekarang lebih memperhatikan penampilan lahiriahnya daripada hakikat batinnya. Saat itulah ia terhalang dari permata-permata batin, sibuk dengan yang tampak di luar, lalu kehilangan makna-makna agung seperti ini. Namun kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kita semua, agar Dia menyelamatkan kita dengan rahmat-Nya. Semoga Allah meliputi kita dengan ampunan-Nya, menjaga kita dengan pemeliharaan-Nya, dan menolong kita menghadapi diri kita sendiri. ===== هَذَا مَوْضِعٌ ثَالِثٌ يَمُرُّ مَعَنَا فِي نَفْسِ الْمَجْلِسِ فِي بَيَانِ مَشْهَدٍ مِنْ مَشَاهِدِ رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَرَحْمَةُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى آثَارُهَا وَمَشَاهِدُهَا مِنْ أَوْسَعِ مَا فِي الْوُجُودِ هَذَا تَصْدِيقُ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا وَابْنُ الْقَيِّمِ فِي الصَّوَاعِقِ الْمُرْسَلَةِ لَهُ كَلَامٌ حَسَنٌ فِي آثَارِ رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْخَلْقِ وَهَذَا فَرْعٌ مِمَّا ذَكَرْتُ لَكُمْ مِنْ عِلْمِ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى فَإِنَّ اسْمَ الرَّحِيمِ وَالرَّحْمَنِ، لَوْ أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِيهِ بِمَا يُشْهَدُ مِنْ آثَارِهِ فِي الشَّرْعِ وَالْوُجُودِ لَاحْتَاجَ ذَلِكَ إِلَى وَقْتٍ كَثِيرٍ وَإِذَا كَانَ هَذَا فِي الْكَلَامِ الْمُعَبَّرِ بِهِ، فَكَيْفَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِي الْقَلْبِ الْمُدْرِكِ لَهُ؟ كَيْفَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ شُهُودُ هَذَا الْمَقَامِ فِي الْقَلْبِ الَّذِي يُدْرِكُ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى؟ وَهَذَا جُلُّ عِلْمِ الِاعْتِقَادِ لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْرِيفِ الْخَلْقِ بِرَبِّهِمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عِلْمُ الِاعْتِقَادِ يَدُلُّ النَّاسَ عَلَى مَعْرِفَةِ اللهِ لَكِنْ لَيْسَ كَمَا يُدْرَسُ الْآنَ عِلْمُ الِاعْتِقَادِ: قَالَ الْأَشَاعِرَةُ، وَقَالَ الْمُعْتَزِلَةُ، وَقَالَ كَذَا، وَقَالَ كَذَا هَذَا عِلْمُ الْمِلَلِ وَالْفِرَقِ، وَهَذِهِ تُؤْخَذُ آخِرًا وَلَا تُؤْخَذُ أَوَّلًا أَوَّلًا يُؤْخَذُ عِلْمُ الِاعْتِقَادِ كَمَا جَاءَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ تَقْرِيرِ مَعَانِيهِ، وَإِيضَاحِ حُدُودِهِ، وَتَفَاصِيلِ جُمَلِهِ فَإِذَا تَغَرْغَرَتِ الْقُلُوبُ بِهَا عَقَلَتْ ذَلِكَ وَأَمَّا إِذَا لَمْ تَتَغَرْغَرِ الْقُلُوبُ بِهَا، تَجِدُهَا تَقَعُ فِي جَهْلٍ عَرِيضٍ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالِاعْتِقَادِ الْآنَ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَنْتَسِبُ إِلَى الدِّينِ وَالْعِلْمِ تَجِدُ أَنَّهُ فِي أُمُورِ الِاعْتِقَادِ يَضْعُفُ دِينُهُ وَاعْتِقَادُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ يَظُنُّ أَنَّ اعْتِقَادَهُ مَتِينٌ وَأَنَّهُ عَلَى عَقِيدَةٍ سَلَفِيَّةٍ سُنِّيَّةٍ صَافِيَةٍ الْعَقِيدَةُ السَّلَفِيَّةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ لَيْسَتِ الْمَعْلُومَاتِ الْعَقِيدَةُ السَّلَفِيَّةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ مَا يَجِدُهُ الْإِنْسَانُ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْحَقَائِقِ الْإِيمَانِيَّةِ هَذِهِ هِيَ الْعَقِيدَةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ أَمَّا أَنْ تَجِدَ الْإِنْسَانَ تَقَعُ مِنْهُ أُمُورٌ عِظَامٌ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِكَلَامِهِ أَوْ بِفِعْلِهِ ثُمَّ يَنْسُبُ نَفْسَهُ إِلَى الْعَقِيدَةِ السُّنِّيَّةِ الصَّافِيَةِ! الْعَقِيدَةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ لَيْسَتْ سَهْلَةً قَالَ رَجُلٌ لَمَّا عَرَضَ لِلْمَلِكِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَحِمَهُ اللهُ، قَالَ لَهُ الْمَلِكُ عَبْدُ الْعَزِيزِ: ادْعُ اللهَ أَنْ يُعَامِلَنَا بِعَدْلِهِ فَقَالَ ذَلِكَ الْعَالِمُ بِاللهِ: لَا تَقُل اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ فَإِنَّهُ لَوْ عَامَلَنَا بِعَدْلِهِ لَهَلَكْنَا وَلَكِنْ قُلِ اللهُ يُعَامِلُنَا بِفَضْلِهِ شُوفْ! كُلُّهَا فِيهَا لَامٌ وَهَاءٌ، يَعْنِي حَرْفَيْنِ. عَدْلٌ: الْعَيْنُ وَالدَّالُ، وَفَضْلٌ: الْفَاءُ وَالضَّادُ لَكِنَّ الَّذِي يَعْرِفُ حَقِيقَةَ الْعَقِيدَةِ لَا يَقْبَلُ بِمِثْلِ هَذَا وَلِذَلِكَ مِنْ شَوَاهِدِ هَذَا، أَنَّ شَيْخَنَا فَهْدَ بْنَ حُمَيِّنٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كَانَ أُسْتَاذًا لِلْعَقِيدَةِ فِي جَامِعَةِ الْإِمَامِ لَقِيَهُ بَعْضُ الْإِخْوَانِ عِنْدَ بَابِهِ وَقَدْ أَرَادُوا السَّلَامَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَدْخُلَ، فَسَلَّمُوا عَلَيْهِ فَسَأَلَ الشَّيْخُ الْإِخْوَانَ عَنْ حَالِهِمْ، فَقَالَ أَحَدُ الْإِخْوَانِ مُرِيدًا تَطْيِيبَ خَاطِرِ الشَّيْخِ وَأَدَاءَ حَقِّهِ عَلَيْهِ قَالَ: نَحْنُ بِخَيْرٍ مَا زِلْتَ أَنْتَ وَأَمْثَالُكَ فِينَا فَقَالَ لَهُ: لَا تَقُلْ هَذَا، فَإِنَّكُمْ لَا تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ التَّوْحِيدُ فِيكُمْ شُوفْ! هَذَا اللَّي عَرَفَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، يَقُولُ: أَنْتُمْ بِخَيْرٍ مَا دَامَ التَّوْحِيدُ فِيكُمْ إِحْنَا خَلْقٌ نَمُوتُ وَنَحْيَا، لَكِنْ إِذَا بَقِيَ فِيكُمُ التَّوْحِيدُ يَبْقَى فِيكُم الْخَيْرُ وَإِذَا ذَهَبَ مِنْكُمُ التَّوْحِيدُ فَإِنَّهُ يَذْهَبُ مِنْكُم الْخَيْرُ قَالَ أَحَدُ الْمَسْؤُولِينَ رَحِمَهُ اللهُ لِلشَّيْخِ صَالِحِ بْنِ فَوْزَانَ وَفَّقَهُ اللهُ وَقَدْ رَآهُ بَعْدَ غِيَابٍ طَوِيلٍ قَالَ لَهُ ذَلِكَ الْمَسْؤُولُ: يَا شَيْخُ صَالِحُ لِمَنْ تَتْرُكُونَنَا؟ لِمَاذَا مَا نَرَاكُمْ إِلَّا قَلِيلًا؟ قَالَ: نَتْرُكُكُمْ لِلهِ فَإِنْ أَطَعْتُمُوهُ اسْتَغْنَيْتُمْ عَنَّا، وَإِنْ عَصَيْتُمُوهُ لَمْ نَنْفَعْكُمْ هَذُولِ الْمُوَحِّدِينَ، هَذُولِ اللَّي يَعْرِفُونَ الْعَقِيدَةَ، مَا هِي بِالْعَقِيدَةِ الْمَعْلُومَاتِ ثُمَّ فِي التُّوِيتَرِ شُوفْ مَا يُخَالِفُ الْعَقِيدَةَ هَذِهِ الْعَقِيدَةُ الْحَقَّةُ الَّتِي تُمْلَأُ بِهَا الْقُلُوبُ وَتَذُوقُ حَلَاوَتَهَا وَتَعْرِفُ أَنَّ الْعَقِيدَةَ هِيَ الَّتِي تُقَرِّبُكَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، تَجْعَلُكَ صَافِيَ الْقَلْبِ، طَاهِرَ النَّفْسِ، حُلْوَ السَّرِيرَةِ فَيَجِدُ الْإِنْسَانُ لَذَّةَ الْعَقِيدَةِ الْمُعَرِّفَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمُعَظِّمَةِ لِحَقِّهِ وَأَمَّا الْمَعْلُومَاتُ: وَأَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَالصِّفَاتِ وَالْأَشَاعِرَةُ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَسَبْعَ صِفَاتٍ وَيُؤَوِّلُونَ الْبَاقِيَ وَالْمُعْتَزِلَةُ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَيَنْفُونَ الصِّفَاتِ، وَالْجَهْمِيَّةُ يَنْفُونَ الْأَسْمَاءَ وَالصِّفَاتِ وَأَنْتَ فِي قَلْبِكَ مَعَ مَنْ؟ دَعْكَ مِنْ لِسَانِكَ، أَنْتَ فِي قَلْبِكَ مَعَ مَنْ؟ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ لَا يُعَامِلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِالصِّفَاتِ الْإِلَهِيَّةِ، وَإِنَّمَا يُعَامِلُ رَبَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْعِلْمِ الظَّاهِرِ لَا يَرْقُبُ فِي الْمُؤْمِنِينَ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً، وَلَا رَحْمَةَ، وَلَا شَفَقَةَ، وَلَا خَوْفَ وَيَنْتَسِبُ إِلَى قِسْمِ الْعَقِيدَةِ، ظَنًّا أَنَّ الِانْتِسَابَ إِلَى قِسْمِ الْعَقِيدَةِ يَجْعَلُهُ صَاحِبَ عَقِيدَةٍ سَلَفِيَّةٍ صَاحِبُ الْعَقِيدَةِ السَّلَفِيَّةِ الَّذِي يَرْعَى اللهَ أَعْظَمَ مِنْ رِعَايَةِ الْخَلْقِ، وَيَخَافُ اللهَ أَعْظَمَ مِنْ خَوْفِ الْخَلْقِ وَيَقُولُ أَمَامَ اللهِ مَا يَقُولُ أَمَامَ الْخَلْقِ فَلَيْسَ عِنْدَهُ سِرٌّ يُخْفِيهِ فَهُوَ يُعَامِلُ الْخَلْقَ بِمَا يُرِيدُهُ اللهُ وَلَا يُعَامِلُ الْخَلْقَ بِمَا يُرِيدُهُ الْخَلْقُ فَقَوْلُهُ لِلْحَاكِمِ كَقَوْلِهِ لِلْمَحْكُومِ، وَقَوْلُهُ لِلْقَرِيبِ كَقَوْلِهِ لِلْبَعِيدِ، هَذَا هُوَ الصَّادِقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي أَنْ يَطْلُبَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا هَذِهِ الْعَقِيدَةَ هَذِهِ الْعَقِيدَةُ لَا تُوجَدُ فِي حُضُورِ مَجَالِسِ الْوَاسِطِيَّةِ وَلُمْعَةِ الِاعْتِقَادِ وَالْحَمَوِيَّةِ وَالتَّدْمُرِيَّةِ هَذِهِ الْعَقِيدَةُ تُوجَدُ إِذَا كُنْتَ وَحْدَكَ مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِذَا جَلَسَ الْإِنْسَانُ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ فِي مَجْلِسٍ يَخْلُو بِهِ مَعَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَجِدُ هَذِهِ الْعَقِيدَةَ الَّتِي تُقَرِّبُهُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لِلْعَبْدِ مِنْ نَفْسِهِ مَقَامَاتٌ يَخْلُو فِيهَا مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُحَاسِبُهَا، وَيُعَاتِبُهَا، وَيَلُومُهَا، وَيُعَنِّفُهَا، وَيَرُدُّهَا عَنْ غَيِّهَا، وَيُذَكِّرُهَا بِمَا يَجِبُ عَلَيْهَا وَكَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يَكُونَ هَذَا كُلَّ يَوْمٍ وَإِذَا حُرِمَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذَلِكَ لِكَثْرَةِ الشَّوَاغِلِ، فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يَخْلُوَ بِنَفْسِهِ مَعَ رَبِّهِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَكَانَ مَنْ مَضَى مِنَ الصَّالِحِينَ يَكُونُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ لَهُ مُقَرِّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْآنَ أَكْثَرُ النَّاسِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَبْعُدُونَ فِيهِ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يَسْتَجِدُّ لَهُمْ مِنَ الْمَعَاصِي وَأَمَّا مَنْ سَلَفَ، تَجِدُهُمْ طُولَ يَوْمِهِمْ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ مَعَ طَاعَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَقَعُ مِنْهُمْ مِنَ الطَّاعَاتِ مَا يَظُنُّ الْإِنْسَانُ أَنَّ هَذَا مِنَ الْمُجَازَفَاتِ وَلَكِنَّ الصَّادِقِينَ الَّذِينَ يَعْرِفُونَ الْإِقْبَالَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَأْتُونَ بِمِثْلِ هَذَا فَقَدْ كَانَ شَيْخُنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صَالِحِ بْنِ مُرْشِدٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْمُتَوَفَّى سَنَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ بَعْدَ الْأَرْبَعِمِئَةِ وَالْأَلْفِ، عَنْ أَرْبَعِ سَنَوَاتٍ بَعْدَ الْمِئَةِ لَهُ خَتَمَاتٌ فِي شَهْرِهِ، مِنْهَا خَتْمَةٌ كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ يَبْدَأُ فِيهَا بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، ثُمَّ يَخْتِمُ قَبْلَ صُعُودِ الْخَطِيبِ عَلَى الْمِنْبَرِ وَمِثْلُ شَرْبَةِ الْمَوَيَةِ، عِنْدَهُ مِثْلُ شَرْبَةِ الْمَوَيَةِ، وَلَكِنْ نَحْنُ لَا نَسْتَطِيعُ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ حَقَائِقَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْعِلْمِ وَالْمَعْرِفَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالِاشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُهُمْ غَيْرُ مَا عَلَيْنَا نَحْنُ اغْتَرَرْنَا بِهَذِهِ الدُّنْيَا وَمِلْنَا إِلَيْهَا وَرَكَنَّا إِلَيْهَا صَارَ الْإِنْسَانُ يَهْتَمُّ بِمَظْهَرِهِ أَعْظَمَ مِنْ عِنَايَتِهِ بِجَوْهَرِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ يُحْرَمُ الْجَوَاهِرَ وَيُشْغَلُ بِالظَّاهِرِ، فَيَذْهَبُ عَنْ مِثْلِ هَذِهِ الْمَعَانِي لَكِنْ نَحْنُ نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَنَا جَمِيعًا أَنْ يَتَدَارَكَنَا بِرَحْمَتِهِ وَأَنْ يَشْمَلَنَا بِعَفْوِهِ، وَأَنْ يَكْلَأَنَا بِرِعَايَتِهِ، وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا
Ini adalah poin ketiga yang kita lalui dalam majelis yang sama, ketika menjelaskan salah satu wujud nyata dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. Jejak dan wujud nyata rahmat Allah termasuk perkara yang paling luas di alam ini. Ini sesuai kandungan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Rabb kami meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu-Nya.” (Lihat QS. Al-A’raf: 89 dan QS. Ghafir: 7) Ibnul Qayyim dalam kitab Ash-Shawa’iq Al-Mursalah memiliki penjelasan yang indah tentang jejak rahmat Allah ‘Azza wa Jalla pada makhluk-Nya. Ini adalah cabang dari apa yang pernah saya sebutkan kepada kalian tentang ilmu Asmaul Husna. Sebab, nama Ar-Rahim dan Ar-Rahman, jika seseorang ingin membahasnya melalui jejak-jejaknya dalam syariat dan alam semesta, maka itu memerlukan waktu yang panjang. Jika pembahasan lisannya saja demikian luas, lalu bagaimana seharusnya makna itu hidup dalam hati yang benar-benar memahaminya? Bagaimana seharusnya penyaksian terhadap kedudukan ini tertanam dalam hati yang memahami berbagai sisi rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala? Inilah bagian terbesar dari ilmu akidah, karena di dalamnya terdapat pengenalan makhluk kepada Rabb mereka Subhanahu wa Ta’ala. Ilmu akidah menuntun manusia untuk mengenal Allah. Namun bukan seperti cara akidah dipelajari sekarang: Asya’irah berkata begini, Muktazilah berkata begitu, kelompok ini berkata begini, kelompok itu berkata begitu. Itu adalah ilmu milal wal firaq, pembahasan tentang agama dan kelompok-kelompok. Ilmu seperti itu dipelajari belakangan, bukan di awal. Yang pertama kali harus diambil adalah ilmu akidah sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan Sunah. Dengan menetapkan maknanya, menjelaskan batas-batasnya, dan merinci pokok-pokok besarnya. Jika akidah itu telah meresap ke dalam hati, barulah hati benar-benar memahaminya. Adapun jika ia belum meresap ke dalam hati, engkau akan melihat hati itu terjatuh dalam kebodohan yang luas dalam perkara akidah. Sekarang, banyak orang menisbatkan dirinya kepada agama dan ilmu. Namun dalam perkara akidah, engkau dapati agama dan akidahnya lemah, sementara ia tidak menyadarinya. Ia mengira akidahnya kokoh, dan ia merasa berada di atas akidah Salaf Ahlusunah yang murni. Akidah Salaf Ahlusunah yang murni itu bukan sekadar informasi. Akidah Salaf Ahlusunah yang murni adalah apa yang benar-benar didapati seseorang di dalam hatinya berupa hakikat-hakikat keimanan. Itulah akidah Ahlusunah yang murni. Adapun ketika engkau mendapati seseorang melakukan perkara-perkara besar yang berkaitan dengan ucapan atau perbuatannya, lalu ia tetap menisbatkan dirinya kepada akidah Ahlusunah yang murni, maka ketahuilah: akidah Ahlusunah yang murni itu tidak semudah itu. Ada seseorang yang pernah bertemu Raja Abdul Aziz rahimahullah. Raja Abdul Aziz berkata kepadanya, “Berdoalah kepada Allah agar Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya.” Maka orang alim yang mengenal Allah itu menjawab, “Jangan katakan, ‘Semoga Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya…’ Sebab, jika Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya, niscaya kita binasa. Namun katakanlah, ‘Semoga Allah memperlakukan kita dengan karunia-Nya.’” Perhatikan. Dua lafaz itu tampak dekat. Sama-sama berakhir dengan lam dan ha. Yang berbeda hanya dua huruf: ‘adl dengan ‘ain dan dal, sedangkan fadhl dengan fa dan dhad. Namun orang yang mengenal hakikat akidah tidak akan menerima redaksi doa seperti itu. Di antara contohnya, guru kami, Syaikh Fahd bin Humayyin rahimahullah Ta’ala, beliau adalah dosen akidah di Universitas Al-Imam. Suatu ketika, beberapa ikhwan bertemu beliau di depan pintu. Mereka ingin menyalami beliau saat beliau hendak masuk, lalu mereka pun mengucapkan salam. Syaikh bertanya tentang kabar mereka. Salah seorang ikhwan menjawab, dengan maksud menyenangkan hati Syaikh dan menunaikan hak beliau, Ia menjawab, “Kami tetap dalam kebaikan selama Anda dan orang-orang seperti Anda masih berada di tengah-tengah kami.” Maka Syaikh berkata, “Jangan katakan begitu. Kalian akan tetap dalam kebaikan selama tauhid masih ada pada kalian.” Perhatikan. Inilah orang yang benar-benar mengenal Allah ‘Azza wa Jalla. Ia berkata, “Kalian berada dalam kebaikan selama tauhid masih ada pada kalian.” Kita ini makhluk. Kita hidup dan mati. Namun jika tauhid tetap ada pada kalian, kebaikan pun akan tetap ada pada kalian. Jika tauhid hilang dari kalian, kebaikan pun akan hilang dari kalian. Salah seorang pejabat rahimahullah pernah berkata kepada Syaikh Shalih bin Fauzan waffaqahullah, ketika ia melihat beliau setelah lama tidak berjumpa. Pejabat itu berkata, “Wahai Syaikh Shalih, kepada siapa Anda meninggalkan kami? Mengapa kami jarang sekali melihat Anda?” Beliau menjawab, “Kami meninggalkan kalian kepada Allah. Jika kalian menaati-Nya, kalian tidak memerlukan kami. Jika kalian durhaka kepada-Nya, kami tidak akan dapat memberi manfaat kepada kalian.” Mereka itulah ahli tauhid. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar memahami akidah. Akidah bukan sekadar informasi.Lalu di Twitter, lihatlah berbagai hal yang menyelisihi akidah. Inilah akidah yang hak. Akidah yang memenuhi hati, dan membuat hati merasakan manisnya. Engkau pun mengetahui bahwa akidah itulah yang mendekatkanmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menjadikan hatimu bersih, jiwamu suci, dan batinmu indah. Maka seseorang akan merasakan lezatnya akidah yang mengenalkannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mengagungkan hak-Nya. Adapun kalau hanya sekadar informasi, misalnya, “Ahlusunah wal Jamaah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah.” “Asya’irah menetapkan nama-nama Allah dan tujuh sifat, lalu menakwilkan sifat-sifat yang lain.” “Muktazilah menetapkan nama-nama Allah dan menafikan sifat-sifat-Nya. Jahmiyah menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah.” Namun di dalam hatimu, engkau bersama siapa? Tinggalkan dulu lisanmu. Di dalam hatimu, engkau bersama siapa? Betapa banyak orang yang tidak bermuamalah dengan Allah ‘Azza wa Jalla berdasarkan sifat-sifat Ilahi, tetapi hanya bermuamalah dengan Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala dengan ilmu lahiriah semata. Ia tidak memelihara hubungan kekerabatan dengan kaum mukminin, tidak pula mengindahkan perjanjian; tidak ada kasih sayang, tidak ada rasa kasihan, dan tidak pula rasa takut. Lalu ia menisbatkan dirinya kepada jurusan akidah, karena mengira penisbatan itu menjadikannya pemilik akidah salaf. Pemilik akidah salaf yang sejati adalah orang yang lebih menjaga hak Allah daripada menjaga pandangan makhluk, dan lebih takut kepada Allah daripada takut kepada makhluk. Ia mengatakan di hadapan Allah apa yang ia katakan di hadapan manusia. Tidak ada rahasia yang ia sembunyikan. Ia memperlakukan manusia sesuai dengan apa yang Allah inginkan, bukan sekadar mengikuti apa yang manusia inginkan. Ucapannya kepada penguasa sama seperti ucapannya kepada rakyat. Ucapannya kepada orang dekat sama seperti ucapannya kepada orang jauh. Inilah orang yang jujur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka setiap kita seharusnya mencari akidah seperti ini. Akidah seperti ini tidak didapat hanya dengan menghadiri majelis kajian kitab Al-Wasithiyah, Lum’atul I’tiqad, Al-Hamawiyah, dan At-Tadmuriyah. Akidah ini akan ditemukan ketika engkau menyendiri bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika seseorang duduk mengintrospeksi dirinya, dalam majelis sunyi antara dirinya dengan Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala, di sanalah ia akan menemukan akidah yang mendekatkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang hamba seharusnya memiliki waktu-waktu khusus untuk menyendiri bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia mengintrospeksi dirinya, menegurnya, mencelanya, mengecamnya dengan keras, menahannya dari penyimpangan, dan mengingatkannya tentang kewajiban dirinya. Sebagian salaf dahulu menganjurkan agar hal ini dilakukan setiap hari. Jika seseorang terhalang melakukannya karena banyak kesibukan, maka minimal ia menyendiri bersama Rabbnya pada hari Jumat. Orang-orang saleh terdahulu menjadikan hari Jumat sebagai hari yang mendekatkan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun sekarang, banyak manusia justru semakin jauh dari Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Jumat, karena maksiat-maksiat baru yang mereka lakukan. Adapun para salaf, engkau dapati sepanjang hari Jumat mereka berada dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka melakukan ketaatan yang membuat sebagian orang mengira bahwa cerita itu terlalu berlebihan. Namun orang-orang yang jujur, yang benar-benar mengenal cara menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mampu melakukan hal seperti itu. Dahulu guru kami, Syaikh Abdul Aziz bin Shalih bin Mursyid rahimahullah Ta’ala, beliau wafat pada tahun 1417 H, dalam usia 104 tahun. Beliau memiliki beberapa kali khatam Al-Qur’an setiap bulannya. Salah satunya, beliau khatam setiap hari Jumat. Beliau memulainya setelah Salat Subuh, lalu khatam sebelum khatib naik ke mimbar. Bagi beliau, itu seperti minum seteguk air. Ringan sekali. Namun kita tidak mampu melakukannya. Mengapa? Karena hakikat ilmu, pengenalan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan kesibukan mencari kedekatan kepada-Nya yang ada di hati mereka berbeda dengan keadaan kita. Kita telah teperdaya oleh dunia. Kita condong kepadanya dan bersandar padanya. Manusia sekarang lebih memperhatikan penampilan lahiriahnya daripada hakikat batinnya. Saat itulah ia terhalang dari permata-permata batin, sibuk dengan yang tampak di luar, lalu kehilangan makna-makna agung seperti ini. Namun kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kita semua, agar Dia menyelamatkan kita dengan rahmat-Nya. Semoga Allah meliputi kita dengan ampunan-Nya, menjaga kita dengan pemeliharaan-Nya, dan menolong kita menghadapi diri kita sendiri. ===== هَذَا مَوْضِعٌ ثَالِثٌ يَمُرُّ مَعَنَا فِي نَفْسِ الْمَجْلِسِ فِي بَيَانِ مَشْهَدٍ مِنْ مَشَاهِدِ رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَرَحْمَةُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى آثَارُهَا وَمَشَاهِدُهَا مِنْ أَوْسَعِ مَا فِي الْوُجُودِ هَذَا تَصْدِيقُ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا وَابْنُ الْقَيِّمِ فِي الصَّوَاعِقِ الْمُرْسَلَةِ لَهُ كَلَامٌ حَسَنٌ فِي آثَارِ رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْخَلْقِ وَهَذَا فَرْعٌ مِمَّا ذَكَرْتُ لَكُمْ مِنْ عِلْمِ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى فَإِنَّ اسْمَ الرَّحِيمِ وَالرَّحْمَنِ، لَوْ أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِيهِ بِمَا يُشْهَدُ مِنْ آثَارِهِ فِي الشَّرْعِ وَالْوُجُودِ لَاحْتَاجَ ذَلِكَ إِلَى وَقْتٍ كَثِيرٍ وَإِذَا كَانَ هَذَا فِي الْكَلَامِ الْمُعَبَّرِ بِهِ، فَكَيْفَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِي الْقَلْبِ الْمُدْرِكِ لَهُ؟ كَيْفَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ شُهُودُ هَذَا الْمَقَامِ فِي الْقَلْبِ الَّذِي يُدْرِكُ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى؟ وَهَذَا جُلُّ عِلْمِ الِاعْتِقَادِ لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْرِيفِ الْخَلْقِ بِرَبِّهِمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عِلْمُ الِاعْتِقَادِ يَدُلُّ النَّاسَ عَلَى مَعْرِفَةِ اللهِ لَكِنْ لَيْسَ كَمَا يُدْرَسُ الْآنَ عِلْمُ الِاعْتِقَادِ: قَالَ الْأَشَاعِرَةُ، وَقَالَ الْمُعْتَزِلَةُ، وَقَالَ كَذَا، وَقَالَ كَذَا هَذَا عِلْمُ الْمِلَلِ وَالْفِرَقِ، وَهَذِهِ تُؤْخَذُ آخِرًا وَلَا تُؤْخَذُ أَوَّلًا أَوَّلًا يُؤْخَذُ عِلْمُ الِاعْتِقَادِ كَمَا جَاءَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ تَقْرِيرِ مَعَانِيهِ، وَإِيضَاحِ حُدُودِهِ، وَتَفَاصِيلِ جُمَلِهِ فَإِذَا تَغَرْغَرَتِ الْقُلُوبُ بِهَا عَقَلَتْ ذَلِكَ وَأَمَّا إِذَا لَمْ تَتَغَرْغَرِ الْقُلُوبُ بِهَا، تَجِدُهَا تَقَعُ فِي جَهْلٍ عَرِيضٍ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالِاعْتِقَادِ الْآنَ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَنْتَسِبُ إِلَى الدِّينِ وَالْعِلْمِ تَجِدُ أَنَّهُ فِي أُمُورِ الِاعْتِقَادِ يَضْعُفُ دِينُهُ وَاعْتِقَادُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ يَظُنُّ أَنَّ اعْتِقَادَهُ مَتِينٌ وَأَنَّهُ عَلَى عَقِيدَةٍ سَلَفِيَّةٍ سُنِّيَّةٍ صَافِيَةٍ الْعَقِيدَةُ السَّلَفِيَّةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ لَيْسَتِ الْمَعْلُومَاتِ الْعَقِيدَةُ السَّلَفِيَّةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ مَا يَجِدُهُ الْإِنْسَانُ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْحَقَائِقِ الْإِيمَانِيَّةِ هَذِهِ هِيَ الْعَقِيدَةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ أَمَّا أَنْ تَجِدَ الْإِنْسَانَ تَقَعُ مِنْهُ أُمُورٌ عِظَامٌ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِكَلَامِهِ أَوْ بِفِعْلِهِ ثُمَّ يَنْسُبُ نَفْسَهُ إِلَى الْعَقِيدَةِ السُّنِّيَّةِ الصَّافِيَةِ! الْعَقِيدَةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ لَيْسَتْ سَهْلَةً قَالَ رَجُلٌ لَمَّا عَرَضَ لِلْمَلِكِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَحِمَهُ اللهُ، قَالَ لَهُ الْمَلِكُ عَبْدُ الْعَزِيزِ: ادْعُ اللهَ أَنْ يُعَامِلَنَا بِعَدْلِهِ فَقَالَ ذَلِكَ الْعَالِمُ بِاللهِ: لَا تَقُل اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ فَإِنَّهُ لَوْ عَامَلَنَا بِعَدْلِهِ لَهَلَكْنَا وَلَكِنْ قُلِ اللهُ يُعَامِلُنَا بِفَضْلِهِ شُوفْ! كُلُّهَا فِيهَا لَامٌ وَهَاءٌ، يَعْنِي حَرْفَيْنِ. عَدْلٌ: الْعَيْنُ وَالدَّالُ، وَفَضْلٌ: الْفَاءُ وَالضَّادُ لَكِنَّ الَّذِي يَعْرِفُ حَقِيقَةَ الْعَقِيدَةِ لَا يَقْبَلُ بِمِثْلِ هَذَا وَلِذَلِكَ مِنْ شَوَاهِدِ هَذَا، أَنَّ شَيْخَنَا فَهْدَ بْنَ حُمَيِّنٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كَانَ أُسْتَاذًا لِلْعَقِيدَةِ فِي جَامِعَةِ الْإِمَامِ لَقِيَهُ بَعْضُ الْإِخْوَانِ عِنْدَ بَابِهِ وَقَدْ أَرَادُوا السَّلَامَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَدْخُلَ، فَسَلَّمُوا عَلَيْهِ فَسَأَلَ الشَّيْخُ الْإِخْوَانَ عَنْ حَالِهِمْ، فَقَالَ أَحَدُ الْإِخْوَانِ مُرِيدًا تَطْيِيبَ خَاطِرِ الشَّيْخِ وَأَدَاءَ حَقِّهِ عَلَيْهِ قَالَ: نَحْنُ بِخَيْرٍ مَا زِلْتَ أَنْتَ وَأَمْثَالُكَ فِينَا فَقَالَ لَهُ: لَا تَقُلْ هَذَا، فَإِنَّكُمْ لَا تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ التَّوْحِيدُ فِيكُمْ شُوفْ! هَذَا اللَّي عَرَفَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، يَقُولُ: أَنْتُمْ بِخَيْرٍ مَا دَامَ التَّوْحِيدُ فِيكُمْ إِحْنَا خَلْقٌ نَمُوتُ وَنَحْيَا، لَكِنْ إِذَا بَقِيَ فِيكُمُ التَّوْحِيدُ يَبْقَى فِيكُم الْخَيْرُ وَإِذَا ذَهَبَ مِنْكُمُ التَّوْحِيدُ فَإِنَّهُ يَذْهَبُ مِنْكُم الْخَيْرُ قَالَ أَحَدُ الْمَسْؤُولِينَ رَحِمَهُ اللهُ لِلشَّيْخِ صَالِحِ بْنِ فَوْزَانَ وَفَّقَهُ اللهُ وَقَدْ رَآهُ بَعْدَ غِيَابٍ طَوِيلٍ قَالَ لَهُ ذَلِكَ الْمَسْؤُولُ: يَا شَيْخُ صَالِحُ لِمَنْ تَتْرُكُونَنَا؟ لِمَاذَا مَا نَرَاكُمْ إِلَّا قَلِيلًا؟ قَالَ: نَتْرُكُكُمْ لِلهِ فَإِنْ أَطَعْتُمُوهُ اسْتَغْنَيْتُمْ عَنَّا، وَإِنْ عَصَيْتُمُوهُ لَمْ نَنْفَعْكُمْ هَذُولِ الْمُوَحِّدِينَ، هَذُولِ اللَّي يَعْرِفُونَ الْعَقِيدَةَ، مَا هِي بِالْعَقِيدَةِ الْمَعْلُومَاتِ ثُمَّ فِي التُّوِيتَرِ شُوفْ مَا يُخَالِفُ الْعَقِيدَةَ هَذِهِ الْعَقِيدَةُ الْحَقَّةُ الَّتِي تُمْلَأُ بِهَا الْقُلُوبُ وَتَذُوقُ حَلَاوَتَهَا وَتَعْرِفُ أَنَّ الْعَقِيدَةَ هِيَ الَّتِي تُقَرِّبُكَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، تَجْعَلُكَ صَافِيَ الْقَلْبِ، طَاهِرَ النَّفْسِ، حُلْوَ السَّرِيرَةِ فَيَجِدُ الْإِنْسَانُ لَذَّةَ الْعَقِيدَةِ الْمُعَرِّفَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمُعَظِّمَةِ لِحَقِّهِ وَأَمَّا الْمَعْلُومَاتُ: وَأَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَالصِّفَاتِ وَالْأَشَاعِرَةُ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَسَبْعَ صِفَاتٍ وَيُؤَوِّلُونَ الْبَاقِيَ وَالْمُعْتَزِلَةُ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَيَنْفُونَ الصِّفَاتِ، وَالْجَهْمِيَّةُ يَنْفُونَ الْأَسْمَاءَ وَالصِّفَاتِ وَأَنْتَ فِي قَلْبِكَ مَعَ مَنْ؟ دَعْكَ مِنْ لِسَانِكَ، أَنْتَ فِي قَلْبِكَ مَعَ مَنْ؟ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ لَا يُعَامِلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِالصِّفَاتِ الْإِلَهِيَّةِ، وَإِنَّمَا يُعَامِلُ رَبَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْعِلْمِ الظَّاهِرِ لَا يَرْقُبُ فِي الْمُؤْمِنِينَ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً، وَلَا رَحْمَةَ، وَلَا شَفَقَةَ، وَلَا خَوْفَ وَيَنْتَسِبُ إِلَى قِسْمِ الْعَقِيدَةِ، ظَنًّا أَنَّ الِانْتِسَابَ إِلَى قِسْمِ الْعَقِيدَةِ يَجْعَلُهُ صَاحِبَ عَقِيدَةٍ سَلَفِيَّةٍ صَاحِبُ الْعَقِيدَةِ السَّلَفِيَّةِ الَّذِي يَرْعَى اللهَ أَعْظَمَ مِنْ رِعَايَةِ الْخَلْقِ، وَيَخَافُ اللهَ أَعْظَمَ مِنْ خَوْفِ الْخَلْقِ وَيَقُولُ أَمَامَ اللهِ مَا يَقُولُ أَمَامَ الْخَلْقِ فَلَيْسَ عِنْدَهُ سِرٌّ يُخْفِيهِ فَهُوَ يُعَامِلُ الْخَلْقَ بِمَا يُرِيدُهُ اللهُ وَلَا يُعَامِلُ الْخَلْقَ بِمَا يُرِيدُهُ الْخَلْقُ فَقَوْلُهُ لِلْحَاكِمِ كَقَوْلِهِ لِلْمَحْكُومِ، وَقَوْلُهُ لِلْقَرِيبِ كَقَوْلِهِ لِلْبَعِيدِ، هَذَا هُوَ الصَّادِقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي أَنْ يَطْلُبَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا هَذِهِ الْعَقِيدَةَ هَذِهِ الْعَقِيدَةُ لَا تُوجَدُ فِي حُضُورِ مَجَالِسِ الْوَاسِطِيَّةِ وَلُمْعَةِ الِاعْتِقَادِ وَالْحَمَوِيَّةِ وَالتَّدْمُرِيَّةِ هَذِهِ الْعَقِيدَةُ تُوجَدُ إِذَا كُنْتَ وَحْدَكَ مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِذَا جَلَسَ الْإِنْسَانُ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ فِي مَجْلِسٍ يَخْلُو بِهِ مَعَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَجِدُ هَذِهِ الْعَقِيدَةَ الَّتِي تُقَرِّبُهُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لِلْعَبْدِ مِنْ نَفْسِهِ مَقَامَاتٌ يَخْلُو فِيهَا مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُحَاسِبُهَا، وَيُعَاتِبُهَا، وَيَلُومُهَا، وَيُعَنِّفُهَا، وَيَرُدُّهَا عَنْ غَيِّهَا، وَيُذَكِّرُهَا بِمَا يَجِبُ عَلَيْهَا وَكَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يَكُونَ هَذَا كُلَّ يَوْمٍ وَإِذَا حُرِمَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذَلِكَ لِكَثْرَةِ الشَّوَاغِلِ، فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يَخْلُوَ بِنَفْسِهِ مَعَ رَبِّهِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَكَانَ مَنْ مَضَى مِنَ الصَّالِحِينَ يَكُونُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ لَهُ مُقَرِّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْآنَ أَكْثَرُ النَّاسِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَبْعُدُونَ فِيهِ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يَسْتَجِدُّ لَهُمْ مِنَ الْمَعَاصِي وَأَمَّا مَنْ سَلَفَ، تَجِدُهُمْ طُولَ يَوْمِهِمْ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ مَعَ طَاعَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَقَعُ مِنْهُمْ مِنَ الطَّاعَاتِ مَا يَظُنُّ الْإِنْسَانُ أَنَّ هَذَا مِنَ الْمُجَازَفَاتِ وَلَكِنَّ الصَّادِقِينَ الَّذِينَ يَعْرِفُونَ الْإِقْبَالَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَأْتُونَ بِمِثْلِ هَذَا فَقَدْ كَانَ شَيْخُنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صَالِحِ بْنِ مُرْشِدٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْمُتَوَفَّى سَنَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ بَعْدَ الْأَرْبَعِمِئَةِ وَالْأَلْفِ، عَنْ أَرْبَعِ سَنَوَاتٍ بَعْدَ الْمِئَةِ لَهُ خَتَمَاتٌ فِي شَهْرِهِ، مِنْهَا خَتْمَةٌ كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ يَبْدَأُ فِيهَا بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، ثُمَّ يَخْتِمُ قَبْلَ صُعُودِ الْخَطِيبِ عَلَى الْمِنْبَرِ وَمِثْلُ شَرْبَةِ الْمَوَيَةِ، عِنْدَهُ مِثْلُ شَرْبَةِ الْمَوَيَةِ، وَلَكِنْ نَحْنُ لَا نَسْتَطِيعُ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ حَقَائِقَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْعِلْمِ وَالْمَعْرِفَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالِاشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُهُمْ غَيْرُ مَا عَلَيْنَا نَحْنُ اغْتَرَرْنَا بِهَذِهِ الدُّنْيَا وَمِلْنَا إِلَيْهَا وَرَكَنَّا إِلَيْهَا صَارَ الْإِنْسَانُ يَهْتَمُّ بِمَظْهَرِهِ أَعْظَمَ مِنْ عِنَايَتِهِ بِجَوْهَرِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ يُحْرَمُ الْجَوَاهِرَ وَيُشْغَلُ بِالظَّاهِرِ، فَيَذْهَبُ عَنْ مِثْلِ هَذِهِ الْمَعَانِي لَكِنْ نَحْنُ نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَنَا جَمِيعًا أَنْ يَتَدَارَكَنَا بِرَحْمَتِهِ وَأَنْ يَشْمَلَنَا بِعَفْوِهِ، وَأَنْ يَكْلَأَنَا بِرِعَايَتِهِ، وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا


Ini adalah poin ketiga yang kita lalui dalam majelis yang sama, ketika menjelaskan salah satu wujud nyata dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. Jejak dan wujud nyata rahmat Allah termasuk perkara yang paling luas di alam ini. Ini sesuai kandungan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Rabb kami meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu-Nya.” (Lihat QS. Al-A’raf: 89 dan QS. Ghafir: 7) Ibnul Qayyim dalam kitab Ash-Shawa’iq Al-Mursalah memiliki penjelasan yang indah tentang jejak rahmat Allah ‘Azza wa Jalla pada makhluk-Nya. Ini adalah cabang dari apa yang pernah saya sebutkan kepada kalian tentang ilmu Asmaul Husna. Sebab, nama Ar-Rahim dan Ar-Rahman, jika seseorang ingin membahasnya melalui jejak-jejaknya dalam syariat dan alam semesta, maka itu memerlukan waktu yang panjang. Jika pembahasan lisannya saja demikian luas, lalu bagaimana seharusnya makna itu hidup dalam hati yang benar-benar memahaminya? Bagaimana seharusnya penyaksian terhadap kedudukan ini tertanam dalam hati yang memahami berbagai sisi rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala? Inilah bagian terbesar dari ilmu akidah, karena di dalamnya terdapat pengenalan makhluk kepada Rabb mereka Subhanahu wa Ta’ala. Ilmu akidah menuntun manusia untuk mengenal Allah. Namun bukan seperti cara akidah dipelajari sekarang: Asya’irah berkata begini, Muktazilah berkata begitu, kelompok ini berkata begini, kelompok itu berkata begitu. Itu adalah ilmu milal wal firaq, pembahasan tentang agama dan kelompok-kelompok. Ilmu seperti itu dipelajari belakangan, bukan di awal. Yang pertama kali harus diambil adalah ilmu akidah sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan Sunah. Dengan menetapkan maknanya, menjelaskan batas-batasnya, dan merinci pokok-pokok besarnya. Jika akidah itu telah meresap ke dalam hati, barulah hati benar-benar memahaminya. Adapun jika ia belum meresap ke dalam hati, engkau akan melihat hati itu terjatuh dalam kebodohan yang luas dalam perkara akidah. Sekarang, banyak orang menisbatkan dirinya kepada agama dan ilmu. Namun dalam perkara akidah, engkau dapati agama dan akidahnya lemah, sementara ia tidak menyadarinya. Ia mengira akidahnya kokoh, dan ia merasa berada di atas akidah Salaf Ahlusunah yang murni. Akidah Salaf Ahlusunah yang murni itu bukan sekadar informasi. Akidah Salaf Ahlusunah yang murni adalah apa yang benar-benar didapati seseorang di dalam hatinya berupa hakikat-hakikat keimanan. Itulah akidah Ahlusunah yang murni. Adapun ketika engkau mendapati seseorang melakukan perkara-perkara besar yang berkaitan dengan ucapan atau perbuatannya, lalu ia tetap menisbatkan dirinya kepada akidah Ahlusunah yang murni, maka ketahuilah: akidah Ahlusunah yang murni itu tidak semudah itu. Ada seseorang yang pernah bertemu Raja Abdul Aziz rahimahullah. Raja Abdul Aziz berkata kepadanya, “Berdoalah kepada Allah agar Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya.” Maka orang alim yang mengenal Allah itu menjawab, “Jangan katakan, ‘Semoga Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya…’ Sebab, jika Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya, niscaya kita binasa. Namun katakanlah, ‘Semoga Allah memperlakukan kita dengan karunia-Nya.’” Perhatikan. Dua lafaz itu tampak dekat. Sama-sama berakhir dengan lam dan ha. Yang berbeda hanya dua huruf: ‘adl dengan ‘ain dan dal, sedangkan fadhl dengan fa dan dhad. Namun orang yang mengenal hakikat akidah tidak akan menerima redaksi doa seperti itu. Di antara contohnya, guru kami, Syaikh Fahd bin Humayyin rahimahullah Ta’ala, beliau adalah dosen akidah di Universitas Al-Imam. Suatu ketika, beberapa ikhwan bertemu beliau di depan pintu. Mereka ingin menyalami beliau saat beliau hendak masuk, lalu mereka pun mengucapkan salam. Syaikh bertanya tentang kabar mereka. Salah seorang ikhwan menjawab, dengan maksud menyenangkan hati Syaikh dan menunaikan hak beliau, Ia menjawab, “Kami tetap dalam kebaikan selama Anda dan orang-orang seperti Anda masih berada di tengah-tengah kami.” Maka Syaikh berkata, “Jangan katakan begitu. Kalian akan tetap dalam kebaikan selama tauhid masih ada pada kalian.” Perhatikan. Inilah orang yang benar-benar mengenal Allah ‘Azza wa Jalla. Ia berkata, “Kalian berada dalam kebaikan selama tauhid masih ada pada kalian.” Kita ini makhluk. Kita hidup dan mati. Namun jika tauhid tetap ada pada kalian, kebaikan pun akan tetap ada pada kalian. Jika tauhid hilang dari kalian, kebaikan pun akan hilang dari kalian. Salah seorang pejabat rahimahullah pernah berkata kepada Syaikh Shalih bin Fauzan waffaqahullah, ketika ia melihat beliau setelah lama tidak berjumpa. Pejabat itu berkata, “Wahai Syaikh Shalih, kepada siapa Anda meninggalkan kami? Mengapa kami jarang sekali melihat Anda?” Beliau menjawab, “Kami meninggalkan kalian kepada Allah. Jika kalian menaati-Nya, kalian tidak memerlukan kami. Jika kalian durhaka kepada-Nya, kami tidak akan dapat memberi manfaat kepada kalian.” Mereka itulah ahli tauhid. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar memahami akidah. Akidah bukan sekadar informasi.Lalu di Twitter, lihatlah berbagai hal yang menyelisihi akidah. Inilah akidah yang hak. Akidah yang memenuhi hati, dan membuat hati merasakan manisnya. Engkau pun mengetahui bahwa akidah itulah yang mendekatkanmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menjadikan hatimu bersih, jiwamu suci, dan batinmu indah. Maka seseorang akan merasakan lezatnya akidah yang mengenalkannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mengagungkan hak-Nya. Adapun kalau hanya sekadar informasi, misalnya, “Ahlusunah wal Jamaah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah.” “Asya’irah menetapkan nama-nama Allah dan tujuh sifat, lalu menakwilkan sifat-sifat yang lain.” “Muktazilah menetapkan nama-nama Allah dan menafikan sifat-sifat-Nya. Jahmiyah menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah.” Namun di dalam hatimu, engkau bersama siapa? Tinggalkan dulu lisanmu. Di dalam hatimu, engkau bersama siapa? Betapa banyak orang yang tidak bermuamalah dengan Allah ‘Azza wa Jalla berdasarkan sifat-sifat Ilahi, tetapi hanya bermuamalah dengan Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala dengan ilmu lahiriah semata. Ia tidak memelihara hubungan kekerabatan dengan kaum mukminin, tidak pula mengindahkan perjanjian; tidak ada kasih sayang, tidak ada rasa kasihan, dan tidak pula rasa takut. Lalu ia menisbatkan dirinya kepada jurusan akidah, karena mengira penisbatan itu menjadikannya pemilik akidah salaf. Pemilik akidah salaf yang sejati adalah orang yang lebih menjaga hak Allah daripada menjaga pandangan makhluk, dan lebih takut kepada Allah daripada takut kepada makhluk. Ia mengatakan di hadapan Allah apa yang ia katakan di hadapan manusia. Tidak ada rahasia yang ia sembunyikan. Ia memperlakukan manusia sesuai dengan apa yang Allah inginkan, bukan sekadar mengikuti apa yang manusia inginkan. Ucapannya kepada penguasa sama seperti ucapannya kepada rakyat. Ucapannya kepada orang dekat sama seperti ucapannya kepada orang jauh. Inilah orang yang jujur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka setiap kita seharusnya mencari akidah seperti ini. Akidah seperti ini tidak didapat hanya dengan menghadiri majelis kajian kitab Al-Wasithiyah, Lum’atul I’tiqad, Al-Hamawiyah, dan At-Tadmuriyah. Akidah ini akan ditemukan ketika engkau menyendiri bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika seseorang duduk mengintrospeksi dirinya, dalam majelis sunyi antara dirinya dengan Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala, di sanalah ia akan menemukan akidah yang mendekatkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang hamba seharusnya memiliki waktu-waktu khusus untuk menyendiri bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia mengintrospeksi dirinya, menegurnya, mencelanya, mengecamnya dengan keras, menahannya dari penyimpangan, dan mengingatkannya tentang kewajiban dirinya. Sebagian salaf dahulu menganjurkan agar hal ini dilakukan setiap hari. Jika seseorang terhalang melakukannya karena banyak kesibukan, maka minimal ia menyendiri bersama Rabbnya pada hari Jumat. Orang-orang saleh terdahulu menjadikan hari Jumat sebagai hari yang mendekatkan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun sekarang, banyak manusia justru semakin jauh dari Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Jumat, karena maksiat-maksiat baru yang mereka lakukan. Adapun para salaf, engkau dapati sepanjang hari Jumat mereka berada dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka melakukan ketaatan yang membuat sebagian orang mengira bahwa cerita itu terlalu berlebihan. Namun orang-orang yang jujur, yang benar-benar mengenal cara menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mampu melakukan hal seperti itu. Dahulu guru kami, Syaikh Abdul Aziz bin Shalih bin Mursyid rahimahullah Ta’ala, beliau wafat pada tahun 1417 H, dalam usia 104 tahun. Beliau memiliki beberapa kali khatam Al-Qur’an setiap bulannya. Salah satunya, beliau khatam setiap hari Jumat. Beliau memulainya setelah Salat Subuh, lalu khatam sebelum khatib naik ke mimbar. Bagi beliau, itu seperti minum seteguk air. Ringan sekali. Namun kita tidak mampu melakukannya. Mengapa? Karena hakikat ilmu, pengenalan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan kesibukan mencari kedekatan kepada-Nya yang ada di hati mereka berbeda dengan keadaan kita. Kita telah teperdaya oleh dunia. Kita condong kepadanya dan bersandar padanya. Manusia sekarang lebih memperhatikan penampilan lahiriahnya daripada hakikat batinnya. Saat itulah ia terhalang dari permata-permata batin, sibuk dengan yang tampak di luar, lalu kehilangan makna-makna agung seperti ini. Namun kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kita semua, agar Dia menyelamatkan kita dengan rahmat-Nya. Semoga Allah meliputi kita dengan ampunan-Nya, menjaga kita dengan pemeliharaan-Nya, dan menolong kita menghadapi diri kita sendiri. ===== هَذَا مَوْضِعٌ ثَالِثٌ يَمُرُّ مَعَنَا فِي نَفْسِ الْمَجْلِسِ فِي بَيَانِ مَشْهَدٍ مِنْ مَشَاهِدِ رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَرَحْمَةُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى آثَارُهَا وَمَشَاهِدُهَا مِنْ أَوْسَعِ مَا فِي الْوُجُودِ هَذَا تَصْدِيقُ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا وَابْنُ الْقَيِّمِ فِي الصَّوَاعِقِ الْمُرْسَلَةِ لَهُ كَلَامٌ حَسَنٌ فِي آثَارِ رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْخَلْقِ وَهَذَا فَرْعٌ مِمَّا ذَكَرْتُ لَكُمْ مِنْ عِلْمِ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى فَإِنَّ اسْمَ الرَّحِيمِ وَالرَّحْمَنِ، لَوْ أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِيهِ بِمَا يُشْهَدُ مِنْ آثَارِهِ فِي الشَّرْعِ وَالْوُجُودِ لَاحْتَاجَ ذَلِكَ إِلَى وَقْتٍ كَثِيرٍ وَإِذَا كَانَ هَذَا فِي الْكَلَامِ الْمُعَبَّرِ بِهِ، فَكَيْفَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِي الْقَلْبِ الْمُدْرِكِ لَهُ؟ كَيْفَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ شُهُودُ هَذَا الْمَقَامِ فِي الْقَلْبِ الَّذِي يُدْرِكُ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى؟ وَهَذَا جُلُّ عِلْمِ الِاعْتِقَادِ لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْرِيفِ الْخَلْقِ بِرَبِّهِمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عِلْمُ الِاعْتِقَادِ يَدُلُّ النَّاسَ عَلَى مَعْرِفَةِ اللهِ لَكِنْ لَيْسَ كَمَا يُدْرَسُ الْآنَ عِلْمُ الِاعْتِقَادِ: قَالَ الْأَشَاعِرَةُ، وَقَالَ الْمُعْتَزِلَةُ، وَقَالَ كَذَا، وَقَالَ كَذَا هَذَا عِلْمُ الْمِلَلِ وَالْفِرَقِ، وَهَذِهِ تُؤْخَذُ آخِرًا وَلَا تُؤْخَذُ أَوَّلًا أَوَّلًا يُؤْخَذُ عِلْمُ الِاعْتِقَادِ كَمَا جَاءَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ تَقْرِيرِ مَعَانِيهِ، وَإِيضَاحِ حُدُودِهِ، وَتَفَاصِيلِ جُمَلِهِ فَإِذَا تَغَرْغَرَتِ الْقُلُوبُ بِهَا عَقَلَتْ ذَلِكَ وَأَمَّا إِذَا لَمْ تَتَغَرْغَرِ الْقُلُوبُ بِهَا، تَجِدُهَا تَقَعُ فِي جَهْلٍ عَرِيضٍ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالِاعْتِقَادِ الْآنَ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَنْتَسِبُ إِلَى الدِّينِ وَالْعِلْمِ تَجِدُ أَنَّهُ فِي أُمُورِ الِاعْتِقَادِ يَضْعُفُ دِينُهُ وَاعْتِقَادُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ يَظُنُّ أَنَّ اعْتِقَادَهُ مَتِينٌ وَأَنَّهُ عَلَى عَقِيدَةٍ سَلَفِيَّةٍ سُنِّيَّةٍ صَافِيَةٍ الْعَقِيدَةُ السَّلَفِيَّةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ لَيْسَتِ الْمَعْلُومَاتِ الْعَقِيدَةُ السَّلَفِيَّةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ مَا يَجِدُهُ الْإِنْسَانُ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْحَقَائِقِ الْإِيمَانِيَّةِ هَذِهِ هِيَ الْعَقِيدَةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ أَمَّا أَنْ تَجِدَ الْإِنْسَانَ تَقَعُ مِنْهُ أُمُورٌ عِظَامٌ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِكَلَامِهِ أَوْ بِفِعْلِهِ ثُمَّ يَنْسُبُ نَفْسَهُ إِلَى الْعَقِيدَةِ السُّنِّيَّةِ الصَّافِيَةِ! الْعَقِيدَةُ السُّنِّيَّةُ الصَّافِيَةُ لَيْسَتْ سَهْلَةً قَالَ رَجُلٌ لَمَّا عَرَضَ لِلْمَلِكِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَحِمَهُ اللهُ، قَالَ لَهُ الْمَلِكُ عَبْدُ الْعَزِيزِ: ادْعُ اللهَ أَنْ يُعَامِلَنَا بِعَدْلِهِ فَقَالَ ذَلِكَ الْعَالِمُ بِاللهِ: لَا تَقُل اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ فَإِنَّهُ لَوْ عَامَلَنَا بِعَدْلِهِ لَهَلَكْنَا وَلَكِنْ قُلِ اللهُ يُعَامِلُنَا بِفَضْلِهِ شُوفْ! كُلُّهَا فِيهَا لَامٌ وَهَاءٌ، يَعْنِي حَرْفَيْنِ. عَدْلٌ: الْعَيْنُ وَالدَّالُ، وَفَضْلٌ: الْفَاءُ وَالضَّادُ لَكِنَّ الَّذِي يَعْرِفُ حَقِيقَةَ الْعَقِيدَةِ لَا يَقْبَلُ بِمِثْلِ هَذَا وَلِذَلِكَ مِنْ شَوَاهِدِ هَذَا، أَنَّ شَيْخَنَا فَهْدَ بْنَ حُمَيِّنٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كَانَ أُسْتَاذًا لِلْعَقِيدَةِ فِي جَامِعَةِ الْإِمَامِ لَقِيَهُ بَعْضُ الْإِخْوَانِ عِنْدَ بَابِهِ وَقَدْ أَرَادُوا السَّلَامَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَدْخُلَ، فَسَلَّمُوا عَلَيْهِ فَسَأَلَ الشَّيْخُ الْإِخْوَانَ عَنْ حَالِهِمْ، فَقَالَ أَحَدُ الْإِخْوَانِ مُرِيدًا تَطْيِيبَ خَاطِرِ الشَّيْخِ وَأَدَاءَ حَقِّهِ عَلَيْهِ قَالَ: نَحْنُ بِخَيْرٍ مَا زِلْتَ أَنْتَ وَأَمْثَالُكَ فِينَا فَقَالَ لَهُ: لَا تَقُلْ هَذَا، فَإِنَّكُمْ لَا تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ التَّوْحِيدُ فِيكُمْ شُوفْ! هَذَا اللَّي عَرَفَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، يَقُولُ: أَنْتُمْ بِخَيْرٍ مَا دَامَ التَّوْحِيدُ فِيكُمْ إِحْنَا خَلْقٌ نَمُوتُ وَنَحْيَا، لَكِنْ إِذَا بَقِيَ فِيكُمُ التَّوْحِيدُ يَبْقَى فِيكُم الْخَيْرُ وَإِذَا ذَهَبَ مِنْكُمُ التَّوْحِيدُ فَإِنَّهُ يَذْهَبُ مِنْكُم الْخَيْرُ قَالَ أَحَدُ الْمَسْؤُولِينَ رَحِمَهُ اللهُ لِلشَّيْخِ صَالِحِ بْنِ فَوْزَانَ وَفَّقَهُ اللهُ وَقَدْ رَآهُ بَعْدَ غِيَابٍ طَوِيلٍ قَالَ لَهُ ذَلِكَ الْمَسْؤُولُ: يَا شَيْخُ صَالِحُ لِمَنْ تَتْرُكُونَنَا؟ لِمَاذَا مَا نَرَاكُمْ إِلَّا قَلِيلًا؟ قَالَ: نَتْرُكُكُمْ لِلهِ فَإِنْ أَطَعْتُمُوهُ اسْتَغْنَيْتُمْ عَنَّا، وَإِنْ عَصَيْتُمُوهُ لَمْ نَنْفَعْكُمْ هَذُولِ الْمُوَحِّدِينَ، هَذُولِ اللَّي يَعْرِفُونَ الْعَقِيدَةَ، مَا هِي بِالْعَقِيدَةِ الْمَعْلُومَاتِ ثُمَّ فِي التُّوِيتَرِ شُوفْ مَا يُخَالِفُ الْعَقِيدَةَ هَذِهِ الْعَقِيدَةُ الْحَقَّةُ الَّتِي تُمْلَأُ بِهَا الْقُلُوبُ وَتَذُوقُ حَلَاوَتَهَا وَتَعْرِفُ أَنَّ الْعَقِيدَةَ هِيَ الَّتِي تُقَرِّبُكَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، تَجْعَلُكَ صَافِيَ الْقَلْبِ، طَاهِرَ النَّفْسِ، حُلْوَ السَّرِيرَةِ فَيَجِدُ الْإِنْسَانُ لَذَّةَ الْعَقِيدَةِ الْمُعَرِّفَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمُعَظِّمَةِ لِحَقِّهِ وَأَمَّا الْمَعْلُومَاتُ: وَأَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَالصِّفَاتِ وَالْأَشَاعِرَةُ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَسَبْعَ صِفَاتٍ وَيُؤَوِّلُونَ الْبَاقِيَ وَالْمُعْتَزِلَةُ يُثْبِتُونَ الْأَسْمَاءَ وَيَنْفُونَ الصِّفَاتِ، وَالْجَهْمِيَّةُ يَنْفُونَ الْأَسْمَاءَ وَالصِّفَاتِ وَأَنْتَ فِي قَلْبِكَ مَعَ مَنْ؟ دَعْكَ مِنْ لِسَانِكَ، أَنْتَ فِي قَلْبِكَ مَعَ مَنْ؟ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ لَا يُعَامِلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِالصِّفَاتِ الْإِلَهِيَّةِ، وَإِنَّمَا يُعَامِلُ رَبَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْعِلْمِ الظَّاهِرِ لَا يَرْقُبُ فِي الْمُؤْمِنِينَ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً، وَلَا رَحْمَةَ، وَلَا شَفَقَةَ، وَلَا خَوْفَ وَيَنْتَسِبُ إِلَى قِسْمِ الْعَقِيدَةِ، ظَنًّا أَنَّ الِانْتِسَابَ إِلَى قِسْمِ الْعَقِيدَةِ يَجْعَلُهُ صَاحِبَ عَقِيدَةٍ سَلَفِيَّةٍ صَاحِبُ الْعَقِيدَةِ السَّلَفِيَّةِ الَّذِي يَرْعَى اللهَ أَعْظَمَ مِنْ رِعَايَةِ الْخَلْقِ، وَيَخَافُ اللهَ أَعْظَمَ مِنْ خَوْفِ الْخَلْقِ وَيَقُولُ أَمَامَ اللهِ مَا يَقُولُ أَمَامَ الْخَلْقِ فَلَيْسَ عِنْدَهُ سِرٌّ يُخْفِيهِ فَهُوَ يُعَامِلُ الْخَلْقَ بِمَا يُرِيدُهُ اللهُ وَلَا يُعَامِلُ الْخَلْقَ بِمَا يُرِيدُهُ الْخَلْقُ فَقَوْلُهُ لِلْحَاكِمِ كَقَوْلِهِ لِلْمَحْكُومِ، وَقَوْلُهُ لِلْقَرِيبِ كَقَوْلِهِ لِلْبَعِيدِ، هَذَا هُوَ الصَّادِقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي أَنْ يَطْلُبَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا هَذِهِ الْعَقِيدَةَ هَذِهِ الْعَقِيدَةُ لَا تُوجَدُ فِي حُضُورِ مَجَالِسِ الْوَاسِطِيَّةِ وَلُمْعَةِ الِاعْتِقَادِ وَالْحَمَوِيَّةِ وَالتَّدْمُرِيَّةِ هَذِهِ الْعَقِيدَةُ تُوجَدُ إِذَا كُنْتَ وَحْدَكَ مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِذَا جَلَسَ الْإِنْسَانُ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ فِي مَجْلِسٍ يَخْلُو بِهِ مَعَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَجِدُ هَذِهِ الْعَقِيدَةَ الَّتِي تُقَرِّبُهُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لِلْعَبْدِ مِنْ نَفْسِهِ مَقَامَاتٌ يَخْلُو فِيهَا مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُحَاسِبُهَا، وَيُعَاتِبُهَا، وَيَلُومُهَا، وَيُعَنِّفُهَا، وَيَرُدُّهَا عَنْ غَيِّهَا، وَيُذَكِّرُهَا بِمَا يَجِبُ عَلَيْهَا وَكَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يَكُونَ هَذَا كُلَّ يَوْمٍ وَإِذَا حُرِمَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذَلِكَ لِكَثْرَةِ الشَّوَاغِلِ، فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يَخْلُوَ بِنَفْسِهِ مَعَ رَبِّهِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَكَانَ مَنْ مَضَى مِنَ الصَّالِحِينَ يَكُونُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ لَهُ مُقَرِّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْآنَ أَكْثَرُ النَّاسِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَبْعُدُونَ فِيهِ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يَسْتَجِدُّ لَهُمْ مِنَ الْمَعَاصِي وَأَمَّا مَنْ سَلَفَ، تَجِدُهُمْ طُولَ يَوْمِهِمْ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ مَعَ طَاعَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَقَعُ مِنْهُمْ مِنَ الطَّاعَاتِ مَا يَظُنُّ الْإِنْسَانُ أَنَّ هَذَا مِنَ الْمُجَازَفَاتِ وَلَكِنَّ الصَّادِقِينَ الَّذِينَ يَعْرِفُونَ الْإِقْبَالَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَأْتُونَ بِمِثْلِ هَذَا فَقَدْ كَانَ شَيْخُنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صَالِحِ بْنِ مُرْشِدٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْمُتَوَفَّى سَنَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ بَعْدَ الْأَرْبَعِمِئَةِ وَالْأَلْفِ، عَنْ أَرْبَعِ سَنَوَاتٍ بَعْدَ الْمِئَةِ لَهُ خَتَمَاتٌ فِي شَهْرِهِ، مِنْهَا خَتْمَةٌ كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ يَبْدَأُ فِيهَا بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، ثُمَّ يَخْتِمُ قَبْلَ صُعُودِ الْخَطِيبِ عَلَى الْمِنْبَرِ وَمِثْلُ شَرْبَةِ الْمَوَيَةِ، عِنْدَهُ مِثْلُ شَرْبَةِ الْمَوَيَةِ، وَلَكِنْ نَحْنُ لَا نَسْتَطِيعُ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ حَقَائِقَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْعِلْمِ وَالْمَعْرِفَةِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالِاشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُهُمْ غَيْرُ مَا عَلَيْنَا نَحْنُ اغْتَرَرْنَا بِهَذِهِ الدُّنْيَا وَمِلْنَا إِلَيْهَا وَرَكَنَّا إِلَيْهَا صَارَ الْإِنْسَانُ يَهْتَمُّ بِمَظْهَرِهِ أَعْظَمَ مِنْ عِنَايَتِهِ بِجَوْهَرِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ يُحْرَمُ الْجَوَاهِرَ وَيُشْغَلُ بِالظَّاهِرِ، فَيَذْهَبُ عَنْ مِثْلِ هَذِهِ الْمَعَانِي لَكِنْ نَحْنُ نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَنَا جَمِيعًا أَنْ يَتَدَارَكَنَا بِرَحْمَتِهِ وَأَنْ يَشْمَلَنَا بِعَفْوِهِ، وَأَنْ يَكْلَأَنَا بِرِعَايَتِهِ، وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا

Menggunakan ‘Privilege’ untuk Ketaatan (Bag. 2)

Daftar Isi TogglePrivilege popularitas dan pengaruhPrivilege waktu dan kesehatanJangan tertipu oleh privilegeTeladan para Nabi dalam mengelola privilegeBagaimana menggunakan privilege untuk ketaatanSemua kenikmatan adalah privilege dan amanahPrivilege popularitas dan pengaruhDi era digital, popularitas dan pengaruh di media sosial termasuk privilege yang sangat besar. Satu unggahan, satu video, atau satu pernyataan bisa menjangkau ribuan, atau bahkan jutaan orang dalam hitungan menit. Ini adalah kekuatan yang dulu tidak dimiliki banyak orang, tetapi hari ini bisa dimiliki siapa saja.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa pengaruh bisa menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Mengajak kepada salat, menebarkan ilmu yang benar, menguatkan semangat berbuat baik, meluruskan pemahaman, atau sekadar menyebarkan pesan kebaikan, semuanya bisa menjadi amal jariyah selama pengaruh itu terus hidup.Namun sebaliknya, pengaruh juga bisa menjadi sumber dosa yang terus mengalir. Jika digunakan untuk menyebarkan maksiat, membuka aib, menormalisasi kemungkaran, memprovokasi kebencian, atau menyesatkan pemikiran, maka setiap orang yang terpengaruh akan menjadi beban dosa bagi penyebarnya.Oleh karena itu, privilege popularitas bukan sekadar tentang jumlah pengikut, tetapi tentang arah yang kita bawa. Apakah pengaruh itu menjadi cahaya yang menerangi, atau api yang membakar? Setiap kata yang disebarkan adalah amanah, dan setiap pengaruh akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.Privilege waktu dan kesehatanTidak semua privilege berbentuk harta atau jabatan. Waktu luang dan kesehatan adalah nikmat besar yang sering diremehkan. Banyak orang baru menyadari nilainya ketika sakit atau ketika waktu telah habis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Allah Azza wa Jalla juga bersumpah dengan waktu dalam surah Al-‘Ashr,وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”Jika seseorang memiliki waktu dan kesehatan, ia memiliki kesempatan besar untuk memperbanyak ibadah, menuntut ilmu, membantu orang lain, dan membangun amal jariyah. Namun jika keduanya dihabiskan dalam kelalaian, maka kerugianlah yang akan didapat. Oleh karena itu, privilege waktu dan kesehatan adalah amanah. Ia harus dimanfaatkan sebelum datang sakit dan sebelum waktu benar-benar habis.Jangan tertipu oleh privilegePrivilege sering kali membuat manusia merasa aman, unggul, dan lebih tinggi dari yang lain. Padahal ia hanyalah titipan. Allah Azza wa Jalla memberi contoh tentang Qarun, seorang yang memiliki kekayaan luar biasa, tetapi tertipu oleh apa yang ia miliki.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ“Lalu ia keluar kepada kaumnya dengan kemegahannya.” (QS. Al-Qashash: 79)Qarun menampilkan kemewahannya dengan penuh kebanggaan. Ia merasa istimewa, merasa lebih pantas dihormati, dan lupa bahwa semua itu hanyalah pemberian Allah. Bahkan ketika dinasihati, ia berkata,إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)Ia menganggap keberhasilannya murni karena kemampuannya sendiri. Inilah akar kesombongan: merasa bahwa privilege berasal dari diri sendiri, bukan dari Allah. Akhirnya, Allah membinasakannya dan menenggelamkannya bersama hartanya ke dalam bumi.Kisah ini menjadi pelajaran bahwa privilege tanpa syukur melahirkan kesombongan, dan kesombongan mengundang kehancuran.Setiap keistimewaan yang tidak disyukuri akan berubah menjadi ujian yang berat. Harta yang tidak mendekatkan kepada Allah akan melalaikan. Jabatan yang tidak digunakan untuk keadilan akan menjerumuskan. Ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi hujah yang memberatkan. Popularitas yang tidak diarahkan kepada kebaikan akan menjadi sumber dosa.Teladan para Nabi dalam mengelola privilegeAl-Qur’an tidak hanya memperingatkan tentang bahaya privilege seperti pada kisah Qarun, tetapi juga menghadirkan teladan agung tentang bagaimana keistimewaan digunakan untuk ketaatan. Di antara contoh terbaik adalah Nabi Sulaiman dan Nabi Yusuf عليهما السلام.Nabi Sulaiman عليه السلام diberi kerajaan yang sangat besar, kekuasaan yang luas, kemampuan mengendalikan angin, serta jin yang tunduk kepadanya. Ini adalah privilege luar biasa yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia. Namun ketika beliau melihat kemegahan yang ada di hadapannya, beliau tidak terpesona dan tidak pula menyandarkan keberhasilan pada dirinya. Beliau berkata,هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS. An-Naml: 40)Kalimat ini menunjukkan kesadaran yang dalam bahwa privilege adalah ujian, bukan sekadar penghormatan. Kekuasaan tidak menjadikan beliau sombong, tetapi justru semakin tunduk dan bersyukur. Semakin besar nikmatnya, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah.Demikian pula Nabi Yusuf عليه السلام. Setelah melalui ujian panjang dari dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, dipenjara tanpa kesalahan, akhirnya beliau diberi kedudukan tinggi di Mesir dan memegang kendali ekonomi negara. Beliau berkata,اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ“Jadikan aku pengelola perbendaharaan negeri ini, sesungguhnya aku orang yang menjaga dan berilmu.” (QS. Yusuf: 55)Permintaan ini bukan karena ambisi dunia, tetapi karena kesiapan dan tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan masyarakat. Dengan kedudukan tersebut, beliau menyelamatkan Mesir dan sekitarnya dari krisis kelaparan.Dari kedua kisah ini tampak jelas bahwa privilege bukan untuk dinikmati semata, tetapi untuk diamanahkan. Bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dimanfaatkan. Bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk menegakkan keadilan dan membawa maslahat.Keistimewaan yang dikelola dengan syukur dan amanah akan menjadi jalan kemuliaan. Namun keistimewaan yang dikelola dengan kesombongan akan menjadi sebab kehancuran. Para Nabi mengajarkan bahwa semakin besar privilege, semakin besar pula rasa tanggung jawab dan ketundukan kepada Allah.Bagaimana menggunakan privilege untuk ketaatanPrivilege baru bernilai jika diarahkan kepada ketaatan. Langkah pertama adalah menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan segala nikmat yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Kesadaran ini menumbuhkan syukur dan kerendahan hati. Harta digunakan untuk sedekah, ilmu untuk membimbing, kedudukan untuk keadilan, relasi untuk membuka pintu kebaikan, dan pengaruh untuk menyebarkan nilai Islam. Dengan niat yang benar, semua fasilitas hidup bisa menjadi ibadah. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)Privilege mempercepat langkah menuju kebaikan jika digunakan dengan benar, tetapi juga memperberat hisab jika disalahgunakan. Oleh karena itu, privilege bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.Semua kenikmatan adalah privilege dan amanahPada hakikatnya, seluruh kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia adalah privilege atau keistimewaan yang tidak semua orang miliki dalam kadar dan bentuk yang sama. Privilege bukan hanya tentang harta, jabatan, ilmu, atau popularitas. Anak, pasangan, keluarga yang harmonis, kesehatan, keamanan, bahkan hidayah dan kemudahan beribadah, semuanya adalah nikmat istimewa yang akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً“Dan Dia menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya yang lahir dan yang batin.” (QS. Luqmaan: 20)Dan Allah juga mengingatkan,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun nikmat yang bebas dari hisab.Memiliki anak adalah privilege besar, namun juga ujian. Allah berfirman,إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian.” (QS. At-Taghabun: 15)Anak bisa menjadi jalan pahala yang terus mengalir jika dididik dalam iman dan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa ketika seseorang meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim). Maka anak bukan sekadar kebahagiaan dunia, tetapi amanah akhirat.Pasangan hidup dan rumah tangga yang tenteram juga termasuk privilege. Allah berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian pasangan agar kalian merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Rum: 21)Tidak semua orang merasakan ketenangan dalam rumah tangga. Maka keharmonisan adalah nikmat yang harus dijaga dengan tanggung jawab, kasih sayang, dan keadilan.Keamanan dan kesehatan pun demikian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa siapa yang bangun pagi dalam keadaan aman, sehat, dan memiliki makanan untuk hari itu, seakan-akan dunia telah diberikan kepadanya (HR. Tirmidzi). Banyak manusia hidup dalam ketakutan dan kekurangan. Maka hidup dalam ketenangan adalah privilege yang sering tidak disadari.Yang lebih besar lagi adalah privilege hidayah. Tidak semua orang diberi hati yang terbuka untuk menerima kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)Bisa mencintai salat, menikmati membaca Al-Qur’an, hadir di majelis ilmu, dan merasa takut kepada Allah, itu semua adalah nikmat yang sangat istimewa.Pada akhirnya, semua kenikmatan adalah amanah. Setiap privilege akan membawa dua kemungkinan: menjadi jalan menuju surga jika disyukuri dan digunakan untuk ketaatan, atau menjadi sebab hisab dan penyesalan jika disalahgunakan dan dilalaikan.Maka pertanyaan yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tetapi untuk apa kita menggunakannya. Karena pada hari ketika semua manusia berdiri di hadapan Allah, setiap nikmat akan berbicara, dan setiap amanah akan dimintai jawaban.Ya Allah, jadikan setiap nikmat yang Engkau berikan kepada kami sebagai jalan menuju rida-Mu, bukan sebab kelalaian dan penyesalan. Bimbing kami untuk mensyukuri dan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Mu. Aamiin.Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Menggunakan ‘Privilege’ untuk Ketaatan (Bag. 2)

Daftar Isi TogglePrivilege popularitas dan pengaruhPrivilege waktu dan kesehatanJangan tertipu oleh privilegeTeladan para Nabi dalam mengelola privilegeBagaimana menggunakan privilege untuk ketaatanSemua kenikmatan adalah privilege dan amanahPrivilege popularitas dan pengaruhDi era digital, popularitas dan pengaruh di media sosial termasuk privilege yang sangat besar. Satu unggahan, satu video, atau satu pernyataan bisa menjangkau ribuan, atau bahkan jutaan orang dalam hitungan menit. Ini adalah kekuatan yang dulu tidak dimiliki banyak orang, tetapi hari ini bisa dimiliki siapa saja.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa pengaruh bisa menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Mengajak kepada salat, menebarkan ilmu yang benar, menguatkan semangat berbuat baik, meluruskan pemahaman, atau sekadar menyebarkan pesan kebaikan, semuanya bisa menjadi amal jariyah selama pengaruh itu terus hidup.Namun sebaliknya, pengaruh juga bisa menjadi sumber dosa yang terus mengalir. Jika digunakan untuk menyebarkan maksiat, membuka aib, menormalisasi kemungkaran, memprovokasi kebencian, atau menyesatkan pemikiran, maka setiap orang yang terpengaruh akan menjadi beban dosa bagi penyebarnya.Oleh karena itu, privilege popularitas bukan sekadar tentang jumlah pengikut, tetapi tentang arah yang kita bawa. Apakah pengaruh itu menjadi cahaya yang menerangi, atau api yang membakar? Setiap kata yang disebarkan adalah amanah, dan setiap pengaruh akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.Privilege waktu dan kesehatanTidak semua privilege berbentuk harta atau jabatan. Waktu luang dan kesehatan adalah nikmat besar yang sering diremehkan. Banyak orang baru menyadari nilainya ketika sakit atau ketika waktu telah habis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Allah Azza wa Jalla juga bersumpah dengan waktu dalam surah Al-‘Ashr,وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”Jika seseorang memiliki waktu dan kesehatan, ia memiliki kesempatan besar untuk memperbanyak ibadah, menuntut ilmu, membantu orang lain, dan membangun amal jariyah. Namun jika keduanya dihabiskan dalam kelalaian, maka kerugianlah yang akan didapat. Oleh karena itu, privilege waktu dan kesehatan adalah amanah. Ia harus dimanfaatkan sebelum datang sakit dan sebelum waktu benar-benar habis.Jangan tertipu oleh privilegePrivilege sering kali membuat manusia merasa aman, unggul, dan lebih tinggi dari yang lain. Padahal ia hanyalah titipan. Allah Azza wa Jalla memberi contoh tentang Qarun, seorang yang memiliki kekayaan luar biasa, tetapi tertipu oleh apa yang ia miliki.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ“Lalu ia keluar kepada kaumnya dengan kemegahannya.” (QS. Al-Qashash: 79)Qarun menampilkan kemewahannya dengan penuh kebanggaan. Ia merasa istimewa, merasa lebih pantas dihormati, dan lupa bahwa semua itu hanyalah pemberian Allah. Bahkan ketika dinasihati, ia berkata,إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)Ia menganggap keberhasilannya murni karena kemampuannya sendiri. Inilah akar kesombongan: merasa bahwa privilege berasal dari diri sendiri, bukan dari Allah. Akhirnya, Allah membinasakannya dan menenggelamkannya bersama hartanya ke dalam bumi.Kisah ini menjadi pelajaran bahwa privilege tanpa syukur melahirkan kesombongan, dan kesombongan mengundang kehancuran.Setiap keistimewaan yang tidak disyukuri akan berubah menjadi ujian yang berat. Harta yang tidak mendekatkan kepada Allah akan melalaikan. Jabatan yang tidak digunakan untuk keadilan akan menjerumuskan. Ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi hujah yang memberatkan. Popularitas yang tidak diarahkan kepada kebaikan akan menjadi sumber dosa.Teladan para Nabi dalam mengelola privilegeAl-Qur’an tidak hanya memperingatkan tentang bahaya privilege seperti pada kisah Qarun, tetapi juga menghadirkan teladan agung tentang bagaimana keistimewaan digunakan untuk ketaatan. Di antara contoh terbaik adalah Nabi Sulaiman dan Nabi Yusuf عليهما السلام.Nabi Sulaiman عليه السلام diberi kerajaan yang sangat besar, kekuasaan yang luas, kemampuan mengendalikan angin, serta jin yang tunduk kepadanya. Ini adalah privilege luar biasa yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia. Namun ketika beliau melihat kemegahan yang ada di hadapannya, beliau tidak terpesona dan tidak pula menyandarkan keberhasilan pada dirinya. Beliau berkata,هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS. An-Naml: 40)Kalimat ini menunjukkan kesadaran yang dalam bahwa privilege adalah ujian, bukan sekadar penghormatan. Kekuasaan tidak menjadikan beliau sombong, tetapi justru semakin tunduk dan bersyukur. Semakin besar nikmatnya, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah.Demikian pula Nabi Yusuf عليه السلام. Setelah melalui ujian panjang dari dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, dipenjara tanpa kesalahan, akhirnya beliau diberi kedudukan tinggi di Mesir dan memegang kendali ekonomi negara. Beliau berkata,اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ“Jadikan aku pengelola perbendaharaan negeri ini, sesungguhnya aku orang yang menjaga dan berilmu.” (QS. Yusuf: 55)Permintaan ini bukan karena ambisi dunia, tetapi karena kesiapan dan tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan masyarakat. Dengan kedudukan tersebut, beliau menyelamatkan Mesir dan sekitarnya dari krisis kelaparan.Dari kedua kisah ini tampak jelas bahwa privilege bukan untuk dinikmati semata, tetapi untuk diamanahkan. Bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dimanfaatkan. Bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk menegakkan keadilan dan membawa maslahat.Keistimewaan yang dikelola dengan syukur dan amanah akan menjadi jalan kemuliaan. Namun keistimewaan yang dikelola dengan kesombongan akan menjadi sebab kehancuran. Para Nabi mengajarkan bahwa semakin besar privilege, semakin besar pula rasa tanggung jawab dan ketundukan kepada Allah.Bagaimana menggunakan privilege untuk ketaatanPrivilege baru bernilai jika diarahkan kepada ketaatan. Langkah pertama adalah menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan segala nikmat yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Kesadaran ini menumbuhkan syukur dan kerendahan hati. Harta digunakan untuk sedekah, ilmu untuk membimbing, kedudukan untuk keadilan, relasi untuk membuka pintu kebaikan, dan pengaruh untuk menyebarkan nilai Islam. Dengan niat yang benar, semua fasilitas hidup bisa menjadi ibadah. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)Privilege mempercepat langkah menuju kebaikan jika digunakan dengan benar, tetapi juga memperberat hisab jika disalahgunakan. Oleh karena itu, privilege bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.Semua kenikmatan adalah privilege dan amanahPada hakikatnya, seluruh kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia adalah privilege atau keistimewaan yang tidak semua orang miliki dalam kadar dan bentuk yang sama. Privilege bukan hanya tentang harta, jabatan, ilmu, atau popularitas. Anak, pasangan, keluarga yang harmonis, kesehatan, keamanan, bahkan hidayah dan kemudahan beribadah, semuanya adalah nikmat istimewa yang akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً“Dan Dia menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya yang lahir dan yang batin.” (QS. Luqmaan: 20)Dan Allah juga mengingatkan,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun nikmat yang bebas dari hisab.Memiliki anak adalah privilege besar, namun juga ujian. Allah berfirman,إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian.” (QS. At-Taghabun: 15)Anak bisa menjadi jalan pahala yang terus mengalir jika dididik dalam iman dan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa ketika seseorang meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim). Maka anak bukan sekadar kebahagiaan dunia, tetapi amanah akhirat.Pasangan hidup dan rumah tangga yang tenteram juga termasuk privilege. Allah berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian pasangan agar kalian merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Rum: 21)Tidak semua orang merasakan ketenangan dalam rumah tangga. Maka keharmonisan adalah nikmat yang harus dijaga dengan tanggung jawab, kasih sayang, dan keadilan.Keamanan dan kesehatan pun demikian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa siapa yang bangun pagi dalam keadaan aman, sehat, dan memiliki makanan untuk hari itu, seakan-akan dunia telah diberikan kepadanya (HR. Tirmidzi). Banyak manusia hidup dalam ketakutan dan kekurangan. Maka hidup dalam ketenangan adalah privilege yang sering tidak disadari.Yang lebih besar lagi adalah privilege hidayah. Tidak semua orang diberi hati yang terbuka untuk menerima kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)Bisa mencintai salat, menikmati membaca Al-Qur’an, hadir di majelis ilmu, dan merasa takut kepada Allah, itu semua adalah nikmat yang sangat istimewa.Pada akhirnya, semua kenikmatan adalah amanah. Setiap privilege akan membawa dua kemungkinan: menjadi jalan menuju surga jika disyukuri dan digunakan untuk ketaatan, atau menjadi sebab hisab dan penyesalan jika disalahgunakan dan dilalaikan.Maka pertanyaan yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tetapi untuk apa kita menggunakannya. Karena pada hari ketika semua manusia berdiri di hadapan Allah, setiap nikmat akan berbicara, dan setiap amanah akan dimintai jawaban.Ya Allah, jadikan setiap nikmat yang Engkau berikan kepada kami sebagai jalan menuju rida-Mu, bukan sebab kelalaian dan penyesalan. Bimbing kami untuk mensyukuri dan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Mu. Aamiin.Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePrivilege popularitas dan pengaruhPrivilege waktu dan kesehatanJangan tertipu oleh privilegeTeladan para Nabi dalam mengelola privilegeBagaimana menggunakan privilege untuk ketaatanSemua kenikmatan adalah privilege dan amanahPrivilege popularitas dan pengaruhDi era digital, popularitas dan pengaruh di media sosial termasuk privilege yang sangat besar. Satu unggahan, satu video, atau satu pernyataan bisa menjangkau ribuan, atau bahkan jutaan orang dalam hitungan menit. Ini adalah kekuatan yang dulu tidak dimiliki banyak orang, tetapi hari ini bisa dimiliki siapa saja.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa pengaruh bisa menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Mengajak kepada salat, menebarkan ilmu yang benar, menguatkan semangat berbuat baik, meluruskan pemahaman, atau sekadar menyebarkan pesan kebaikan, semuanya bisa menjadi amal jariyah selama pengaruh itu terus hidup.Namun sebaliknya, pengaruh juga bisa menjadi sumber dosa yang terus mengalir. Jika digunakan untuk menyebarkan maksiat, membuka aib, menormalisasi kemungkaran, memprovokasi kebencian, atau menyesatkan pemikiran, maka setiap orang yang terpengaruh akan menjadi beban dosa bagi penyebarnya.Oleh karena itu, privilege popularitas bukan sekadar tentang jumlah pengikut, tetapi tentang arah yang kita bawa. Apakah pengaruh itu menjadi cahaya yang menerangi, atau api yang membakar? Setiap kata yang disebarkan adalah amanah, dan setiap pengaruh akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.Privilege waktu dan kesehatanTidak semua privilege berbentuk harta atau jabatan. Waktu luang dan kesehatan adalah nikmat besar yang sering diremehkan. Banyak orang baru menyadari nilainya ketika sakit atau ketika waktu telah habis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Allah Azza wa Jalla juga bersumpah dengan waktu dalam surah Al-‘Ashr,وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”Jika seseorang memiliki waktu dan kesehatan, ia memiliki kesempatan besar untuk memperbanyak ibadah, menuntut ilmu, membantu orang lain, dan membangun amal jariyah. Namun jika keduanya dihabiskan dalam kelalaian, maka kerugianlah yang akan didapat. Oleh karena itu, privilege waktu dan kesehatan adalah amanah. Ia harus dimanfaatkan sebelum datang sakit dan sebelum waktu benar-benar habis.Jangan tertipu oleh privilegePrivilege sering kali membuat manusia merasa aman, unggul, dan lebih tinggi dari yang lain. Padahal ia hanyalah titipan. Allah Azza wa Jalla memberi contoh tentang Qarun, seorang yang memiliki kekayaan luar biasa, tetapi tertipu oleh apa yang ia miliki.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ“Lalu ia keluar kepada kaumnya dengan kemegahannya.” (QS. Al-Qashash: 79)Qarun menampilkan kemewahannya dengan penuh kebanggaan. Ia merasa istimewa, merasa lebih pantas dihormati, dan lupa bahwa semua itu hanyalah pemberian Allah. Bahkan ketika dinasihati, ia berkata,إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)Ia menganggap keberhasilannya murni karena kemampuannya sendiri. Inilah akar kesombongan: merasa bahwa privilege berasal dari diri sendiri, bukan dari Allah. Akhirnya, Allah membinasakannya dan menenggelamkannya bersama hartanya ke dalam bumi.Kisah ini menjadi pelajaran bahwa privilege tanpa syukur melahirkan kesombongan, dan kesombongan mengundang kehancuran.Setiap keistimewaan yang tidak disyukuri akan berubah menjadi ujian yang berat. Harta yang tidak mendekatkan kepada Allah akan melalaikan. Jabatan yang tidak digunakan untuk keadilan akan menjerumuskan. Ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi hujah yang memberatkan. Popularitas yang tidak diarahkan kepada kebaikan akan menjadi sumber dosa.Teladan para Nabi dalam mengelola privilegeAl-Qur’an tidak hanya memperingatkan tentang bahaya privilege seperti pada kisah Qarun, tetapi juga menghadirkan teladan agung tentang bagaimana keistimewaan digunakan untuk ketaatan. Di antara contoh terbaik adalah Nabi Sulaiman dan Nabi Yusuf عليهما السلام.Nabi Sulaiman عليه السلام diberi kerajaan yang sangat besar, kekuasaan yang luas, kemampuan mengendalikan angin, serta jin yang tunduk kepadanya. Ini adalah privilege luar biasa yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia. Namun ketika beliau melihat kemegahan yang ada di hadapannya, beliau tidak terpesona dan tidak pula menyandarkan keberhasilan pada dirinya. Beliau berkata,هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS. An-Naml: 40)Kalimat ini menunjukkan kesadaran yang dalam bahwa privilege adalah ujian, bukan sekadar penghormatan. Kekuasaan tidak menjadikan beliau sombong, tetapi justru semakin tunduk dan bersyukur. Semakin besar nikmatnya, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah.Demikian pula Nabi Yusuf عليه السلام. Setelah melalui ujian panjang dari dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, dipenjara tanpa kesalahan, akhirnya beliau diberi kedudukan tinggi di Mesir dan memegang kendali ekonomi negara. Beliau berkata,اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ“Jadikan aku pengelola perbendaharaan negeri ini, sesungguhnya aku orang yang menjaga dan berilmu.” (QS. Yusuf: 55)Permintaan ini bukan karena ambisi dunia, tetapi karena kesiapan dan tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan masyarakat. Dengan kedudukan tersebut, beliau menyelamatkan Mesir dan sekitarnya dari krisis kelaparan.Dari kedua kisah ini tampak jelas bahwa privilege bukan untuk dinikmati semata, tetapi untuk diamanahkan. Bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dimanfaatkan. Bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk menegakkan keadilan dan membawa maslahat.Keistimewaan yang dikelola dengan syukur dan amanah akan menjadi jalan kemuliaan. Namun keistimewaan yang dikelola dengan kesombongan akan menjadi sebab kehancuran. Para Nabi mengajarkan bahwa semakin besar privilege, semakin besar pula rasa tanggung jawab dan ketundukan kepada Allah.Bagaimana menggunakan privilege untuk ketaatanPrivilege baru bernilai jika diarahkan kepada ketaatan. Langkah pertama adalah menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan segala nikmat yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Kesadaran ini menumbuhkan syukur dan kerendahan hati. Harta digunakan untuk sedekah, ilmu untuk membimbing, kedudukan untuk keadilan, relasi untuk membuka pintu kebaikan, dan pengaruh untuk menyebarkan nilai Islam. Dengan niat yang benar, semua fasilitas hidup bisa menjadi ibadah. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)Privilege mempercepat langkah menuju kebaikan jika digunakan dengan benar, tetapi juga memperberat hisab jika disalahgunakan. Oleh karena itu, privilege bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.Semua kenikmatan adalah privilege dan amanahPada hakikatnya, seluruh kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia adalah privilege atau keistimewaan yang tidak semua orang miliki dalam kadar dan bentuk yang sama. Privilege bukan hanya tentang harta, jabatan, ilmu, atau popularitas. Anak, pasangan, keluarga yang harmonis, kesehatan, keamanan, bahkan hidayah dan kemudahan beribadah, semuanya adalah nikmat istimewa yang akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً“Dan Dia menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya yang lahir dan yang batin.” (QS. Luqmaan: 20)Dan Allah juga mengingatkan,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun nikmat yang bebas dari hisab.Memiliki anak adalah privilege besar, namun juga ujian. Allah berfirman,إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian.” (QS. At-Taghabun: 15)Anak bisa menjadi jalan pahala yang terus mengalir jika dididik dalam iman dan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa ketika seseorang meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim). Maka anak bukan sekadar kebahagiaan dunia, tetapi amanah akhirat.Pasangan hidup dan rumah tangga yang tenteram juga termasuk privilege. Allah berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian pasangan agar kalian merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Rum: 21)Tidak semua orang merasakan ketenangan dalam rumah tangga. Maka keharmonisan adalah nikmat yang harus dijaga dengan tanggung jawab, kasih sayang, dan keadilan.Keamanan dan kesehatan pun demikian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa siapa yang bangun pagi dalam keadaan aman, sehat, dan memiliki makanan untuk hari itu, seakan-akan dunia telah diberikan kepadanya (HR. Tirmidzi). Banyak manusia hidup dalam ketakutan dan kekurangan. Maka hidup dalam ketenangan adalah privilege yang sering tidak disadari.Yang lebih besar lagi adalah privilege hidayah. Tidak semua orang diberi hati yang terbuka untuk menerima kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)Bisa mencintai salat, menikmati membaca Al-Qur’an, hadir di majelis ilmu, dan merasa takut kepada Allah, itu semua adalah nikmat yang sangat istimewa.Pada akhirnya, semua kenikmatan adalah amanah. Setiap privilege akan membawa dua kemungkinan: menjadi jalan menuju surga jika disyukuri dan digunakan untuk ketaatan, atau menjadi sebab hisab dan penyesalan jika disalahgunakan dan dilalaikan.Maka pertanyaan yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tetapi untuk apa kita menggunakannya. Karena pada hari ketika semua manusia berdiri di hadapan Allah, setiap nikmat akan berbicara, dan setiap amanah akan dimintai jawaban.Ya Allah, jadikan setiap nikmat yang Engkau berikan kepada kami sebagai jalan menuju rida-Mu, bukan sebab kelalaian dan penyesalan. Bimbing kami untuk mensyukuri dan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Mu. Aamiin.Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePrivilege popularitas dan pengaruhPrivilege waktu dan kesehatanJangan tertipu oleh privilegeTeladan para Nabi dalam mengelola privilegeBagaimana menggunakan privilege untuk ketaatanSemua kenikmatan adalah privilege dan amanahPrivilege popularitas dan pengaruhDi era digital, popularitas dan pengaruh di media sosial termasuk privilege yang sangat besar. Satu unggahan, satu video, atau satu pernyataan bisa menjangkau ribuan, atau bahkan jutaan orang dalam hitungan menit. Ini adalah kekuatan yang dulu tidak dimiliki banyak orang, tetapi hari ini bisa dimiliki siapa saja.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa pengaruh bisa menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Mengajak kepada salat, menebarkan ilmu yang benar, menguatkan semangat berbuat baik, meluruskan pemahaman, atau sekadar menyebarkan pesan kebaikan, semuanya bisa menjadi amal jariyah selama pengaruh itu terus hidup.Namun sebaliknya, pengaruh juga bisa menjadi sumber dosa yang terus mengalir. Jika digunakan untuk menyebarkan maksiat, membuka aib, menormalisasi kemungkaran, memprovokasi kebencian, atau menyesatkan pemikiran, maka setiap orang yang terpengaruh akan menjadi beban dosa bagi penyebarnya.Oleh karena itu, privilege popularitas bukan sekadar tentang jumlah pengikut, tetapi tentang arah yang kita bawa. Apakah pengaruh itu menjadi cahaya yang menerangi, atau api yang membakar? Setiap kata yang disebarkan adalah amanah, dan setiap pengaruh akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.Privilege waktu dan kesehatanTidak semua privilege berbentuk harta atau jabatan. Waktu luang dan kesehatan adalah nikmat besar yang sering diremehkan. Banyak orang baru menyadari nilainya ketika sakit atau ketika waktu telah habis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Allah Azza wa Jalla juga bersumpah dengan waktu dalam surah Al-‘Ashr,وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”Jika seseorang memiliki waktu dan kesehatan, ia memiliki kesempatan besar untuk memperbanyak ibadah, menuntut ilmu, membantu orang lain, dan membangun amal jariyah. Namun jika keduanya dihabiskan dalam kelalaian, maka kerugianlah yang akan didapat. Oleh karena itu, privilege waktu dan kesehatan adalah amanah. Ia harus dimanfaatkan sebelum datang sakit dan sebelum waktu benar-benar habis.Jangan tertipu oleh privilegePrivilege sering kali membuat manusia merasa aman, unggul, dan lebih tinggi dari yang lain. Padahal ia hanyalah titipan. Allah Azza wa Jalla memberi contoh tentang Qarun, seorang yang memiliki kekayaan luar biasa, tetapi tertipu oleh apa yang ia miliki.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ“Lalu ia keluar kepada kaumnya dengan kemegahannya.” (QS. Al-Qashash: 79)Qarun menampilkan kemewahannya dengan penuh kebanggaan. Ia merasa istimewa, merasa lebih pantas dihormati, dan lupa bahwa semua itu hanyalah pemberian Allah. Bahkan ketika dinasihati, ia berkata,إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)Ia menganggap keberhasilannya murni karena kemampuannya sendiri. Inilah akar kesombongan: merasa bahwa privilege berasal dari diri sendiri, bukan dari Allah. Akhirnya, Allah membinasakannya dan menenggelamkannya bersama hartanya ke dalam bumi.Kisah ini menjadi pelajaran bahwa privilege tanpa syukur melahirkan kesombongan, dan kesombongan mengundang kehancuran.Setiap keistimewaan yang tidak disyukuri akan berubah menjadi ujian yang berat. Harta yang tidak mendekatkan kepada Allah akan melalaikan. Jabatan yang tidak digunakan untuk keadilan akan menjerumuskan. Ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi hujah yang memberatkan. Popularitas yang tidak diarahkan kepada kebaikan akan menjadi sumber dosa.Teladan para Nabi dalam mengelola privilegeAl-Qur’an tidak hanya memperingatkan tentang bahaya privilege seperti pada kisah Qarun, tetapi juga menghadirkan teladan agung tentang bagaimana keistimewaan digunakan untuk ketaatan. Di antara contoh terbaik adalah Nabi Sulaiman dan Nabi Yusuf عليهما السلام.Nabi Sulaiman عليه السلام diberi kerajaan yang sangat besar, kekuasaan yang luas, kemampuan mengendalikan angin, serta jin yang tunduk kepadanya. Ini adalah privilege luar biasa yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia. Namun ketika beliau melihat kemegahan yang ada di hadapannya, beliau tidak terpesona dan tidak pula menyandarkan keberhasilan pada dirinya. Beliau berkata,هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS. An-Naml: 40)Kalimat ini menunjukkan kesadaran yang dalam bahwa privilege adalah ujian, bukan sekadar penghormatan. Kekuasaan tidak menjadikan beliau sombong, tetapi justru semakin tunduk dan bersyukur. Semakin besar nikmatnya, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah.Demikian pula Nabi Yusuf عليه السلام. Setelah melalui ujian panjang dari dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, dipenjara tanpa kesalahan, akhirnya beliau diberi kedudukan tinggi di Mesir dan memegang kendali ekonomi negara. Beliau berkata,اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ“Jadikan aku pengelola perbendaharaan negeri ini, sesungguhnya aku orang yang menjaga dan berilmu.” (QS. Yusuf: 55)Permintaan ini bukan karena ambisi dunia, tetapi karena kesiapan dan tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan masyarakat. Dengan kedudukan tersebut, beliau menyelamatkan Mesir dan sekitarnya dari krisis kelaparan.Dari kedua kisah ini tampak jelas bahwa privilege bukan untuk dinikmati semata, tetapi untuk diamanahkan. Bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dimanfaatkan. Bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk menegakkan keadilan dan membawa maslahat.Keistimewaan yang dikelola dengan syukur dan amanah akan menjadi jalan kemuliaan. Namun keistimewaan yang dikelola dengan kesombongan akan menjadi sebab kehancuran. Para Nabi mengajarkan bahwa semakin besar privilege, semakin besar pula rasa tanggung jawab dan ketundukan kepada Allah.Bagaimana menggunakan privilege untuk ketaatanPrivilege baru bernilai jika diarahkan kepada ketaatan. Langkah pertama adalah menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan segala nikmat yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Kesadaran ini menumbuhkan syukur dan kerendahan hati. Harta digunakan untuk sedekah, ilmu untuk membimbing, kedudukan untuk keadilan, relasi untuk membuka pintu kebaikan, dan pengaruh untuk menyebarkan nilai Islam. Dengan niat yang benar, semua fasilitas hidup bisa menjadi ibadah. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)Privilege mempercepat langkah menuju kebaikan jika digunakan dengan benar, tetapi juga memperberat hisab jika disalahgunakan. Oleh karena itu, privilege bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.Semua kenikmatan adalah privilege dan amanahPada hakikatnya, seluruh kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia adalah privilege atau keistimewaan yang tidak semua orang miliki dalam kadar dan bentuk yang sama. Privilege bukan hanya tentang harta, jabatan, ilmu, atau popularitas. Anak, pasangan, keluarga yang harmonis, kesehatan, keamanan, bahkan hidayah dan kemudahan beribadah, semuanya adalah nikmat istimewa yang akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً“Dan Dia menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya yang lahir dan yang batin.” (QS. Luqmaan: 20)Dan Allah juga mengingatkan,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun nikmat yang bebas dari hisab.Memiliki anak adalah privilege besar, namun juga ujian. Allah berfirman,إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian.” (QS. At-Taghabun: 15)Anak bisa menjadi jalan pahala yang terus mengalir jika dididik dalam iman dan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa ketika seseorang meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim). Maka anak bukan sekadar kebahagiaan dunia, tetapi amanah akhirat.Pasangan hidup dan rumah tangga yang tenteram juga termasuk privilege. Allah berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian pasangan agar kalian merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Rum: 21)Tidak semua orang merasakan ketenangan dalam rumah tangga. Maka keharmonisan adalah nikmat yang harus dijaga dengan tanggung jawab, kasih sayang, dan keadilan.Keamanan dan kesehatan pun demikian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa siapa yang bangun pagi dalam keadaan aman, sehat, dan memiliki makanan untuk hari itu, seakan-akan dunia telah diberikan kepadanya (HR. Tirmidzi). Banyak manusia hidup dalam ketakutan dan kekurangan. Maka hidup dalam ketenangan adalah privilege yang sering tidak disadari.Yang lebih besar lagi adalah privilege hidayah. Tidak semua orang diberi hati yang terbuka untuk menerima kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)Bisa mencintai salat, menikmati membaca Al-Qur’an, hadir di majelis ilmu, dan merasa takut kepada Allah, itu semua adalah nikmat yang sangat istimewa.Pada akhirnya, semua kenikmatan adalah amanah. Setiap privilege akan membawa dua kemungkinan: menjadi jalan menuju surga jika disyukuri dan digunakan untuk ketaatan, atau menjadi sebab hisab dan penyesalan jika disalahgunakan dan dilalaikan.Maka pertanyaan yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tetapi untuk apa kita menggunakannya. Karena pada hari ketika semua manusia berdiri di hadapan Allah, setiap nikmat akan berbicara, dan setiap amanah akan dimintai jawaban.Ya Allah, jadikan setiap nikmat yang Engkau berikan kepada kami sebagai jalan menuju rida-Mu, bukan sebab kelalaian dan penyesalan. Bimbing kami untuk mensyukuri dan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Mu. Aamiin.Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Dua Makna Nama Allah: As-Sami’ – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

As-Sami’ (Yang Maha Mendengar) adalah salah satu nama Allah Ta’ala. Nama As-Sami’ memiliki dua makna. [MAKNA PERTAMA] Pendengaran yang menjangkau setiap suara. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah Ta’ala. Setiap suara pasti Allah dengar. Sejauh apa pun dan selemah apa pun suara itu. Ketika Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya, “Sungguh Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan perihalnya kepada Allah Dan Allah mendengar percakapan kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujadilah: 1). Ayat ini tentang seorang wanita yang datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengatakan bahwa suaminya telah menziharnya. Zihar, maksudnya, sang suami berkata kepadanya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Pada masa jahiliah, ucapan ini dianggap sebagai talak ba’in. Seperti talak tiga. Padahal ucapan itu dusta dan mungkar. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sungguh, mereka benar-benar mengucapkan perkataan yang mungkar dan dusta.” (QS. Al-Mujadilah: 2). Lalu wanita itu datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah menurunkan ayat ini: “Sungguh Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan perihalnya kepada Allah…” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi semua suara. Demi Allah, wanita yang mengadu itu benar-benar datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wanita itu berbicara kepada Nabi, sementara aku berada di dalam kamar…Namun sebagian ucapannya tidak terdengar olehku…Sedangkan Allah Ta’ala, yang berada di atas tujuh langit, mendengar ucapannya.” Maka Allah Ta’ala mendengar ucapanmu, meskipun samar. “Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya Kami mendengar, dan para utusan Kami mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 80). Maka jangan sampai engkau memperdengarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla ucapan yang tidak diridhai-Nya. Berupayalah memperdengarkan kepada Allah ucapan yang Dia ridhai darimu. [MAKNA KEDUA] Di antara makna As-Sami’ adalah bahwa Allah Maha Mendengar doa. Maksudnya, Allah Maha Mengabulkan doa. Sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis shalatu wassalam, “Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Mendengar doa.” (QS. Ibrahim: 39) Maksudnya, mengabulkan doa. Allah Jalla wa ‘Ala mengabulkan doa. Allah mengabulkan doa orang yang sangat terdesak, meskipun ia kafir. Karena itu, Allah Ta’ala mengabulkan doa orang-orang yang sangat terdesak di tengah laut. “Apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Luqman: 32) Lalu Allah menyelamatkan mereka. Allah Jalla wa ‘Ala juga mengabulkan doa orang yang dizalimi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doa itu dengan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengabulkan doa orang yang beribadah kepada-Nya, memuji-Nya, dan menyanjung-Nya. Sebagaimana ucapan orang yang salat, “Sami’allaahu liman hamidah” (Allah mendengar, yakni mengabulkan, orang yang memuji-Nya). ===== السَّمِيعُ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ تَعَالَى وَلَهَا مَعْنَيَانِ الْأَوَّلُ: السَّمْعُ الَّذِي هُوَ إِدْرَاكُ كُلِّ صَوْتٍ فَاللهُ تَعَالَى لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ كُلُّ صَوْتٍ فَاللهُ يَسْمَعُهُ مَهْمَا بَعُدَ وَمَهْمَا ضَعُفَ لَمَّا أَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى قَدْ سَمِعَ اللهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ وَهِيَ امْرَأَةٌ جَاءَتْ تَشْتَكِي لِلرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، تَقُولُ إِنَّ زَوْجَهَا ظَاهَرَ مِنْهَا يَعْنِي قَالَ لَهَا: أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ أُمِّي وَهَذَا الْقَوْلُ يُعَدُّ فِي الْجَاهِلِيَّةِ طَلَاقًا بَائِنًا مِثْلَ الطَّلَاقِ الثَّلَاثِ وَهُوَ كَذِبٌ وَمُنْكَرٌ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُورًا فَجَاءَتْ تَشْتَكِي لِلرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَأَنْزَلَ اللهُ هَذِهِ الْآيَةَ قَدْ سَمِعَ اللهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللهِ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ وَاللهِ لَقَدْ جَاءَتِ الْمُجَادِلَةُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُكَلِّمُهُ وَإِنِّي لَفِي الْحُجْرَةِ وَيَخْفَى عَلَيَّ بَعْضُ حَدِيثِهَا وَاللهُ تَعَالَى فَوْقَ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ يَسْمَعُ كَلَامَهَا فَاللهُ تَعَالَى يَسْمَعُ كَلَامَكَ وَإِنْ خَفِيَ أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُم بَلَىٰ وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ فَإِيَّاكَ أَنْ تُسْمِعَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَا لَا يَرْضَاهُ مِنْكَ مِنَ الْقَوْلِ وَاحْرِصْ عَلَى أَنْ تُسْمِعَ اللهَ مَا يَرْضَاهُ مِنْكَ وَمِنَ الْمَعَانِي لِلسَّمِيعِ أَنَّهُ سَمِيعُ الدُّعَاءِ أَيْ مُجِيبُ الدُّعَاءِ كَمَا قَالَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ أَيْ مُجِيبُهُ فَهُوَ جَلَّ وَعَلَا يُجِيبُ الدُّعَاءَ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا وَلِهَذَا يُجِيبُ اللهُ تَعَالَى دُعَاءَ الْمُضْطَرِّينَ فِي الْبَحْرِ وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَيُنَجِّيهِمْ وَيُجِيبُ جَلَّ وَعَلَا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ وَيُجِيبُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْ تَعَبَّدَ لَهُ وَحَمِدَهُ وَأَثْنَى عَلَيْهِ كَمَا يَقُولُ الْمُصَلِّي: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

Dua Makna Nama Allah: As-Sami’ – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

As-Sami’ (Yang Maha Mendengar) adalah salah satu nama Allah Ta’ala. Nama As-Sami’ memiliki dua makna. [MAKNA PERTAMA] Pendengaran yang menjangkau setiap suara. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah Ta’ala. Setiap suara pasti Allah dengar. Sejauh apa pun dan selemah apa pun suara itu. Ketika Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya, “Sungguh Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan perihalnya kepada Allah Dan Allah mendengar percakapan kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujadilah: 1). Ayat ini tentang seorang wanita yang datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengatakan bahwa suaminya telah menziharnya. Zihar, maksudnya, sang suami berkata kepadanya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Pada masa jahiliah, ucapan ini dianggap sebagai talak ba’in. Seperti talak tiga. Padahal ucapan itu dusta dan mungkar. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sungguh, mereka benar-benar mengucapkan perkataan yang mungkar dan dusta.” (QS. Al-Mujadilah: 2). Lalu wanita itu datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah menurunkan ayat ini: “Sungguh Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan perihalnya kepada Allah…” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi semua suara. Demi Allah, wanita yang mengadu itu benar-benar datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wanita itu berbicara kepada Nabi, sementara aku berada di dalam kamar…Namun sebagian ucapannya tidak terdengar olehku…Sedangkan Allah Ta’ala, yang berada di atas tujuh langit, mendengar ucapannya.” Maka Allah Ta’ala mendengar ucapanmu, meskipun samar. “Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya Kami mendengar, dan para utusan Kami mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 80). Maka jangan sampai engkau memperdengarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla ucapan yang tidak diridhai-Nya. Berupayalah memperdengarkan kepada Allah ucapan yang Dia ridhai darimu. [MAKNA KEDUA] Di antara makna As-Sami’ adalah bahwa Allah Maha Mendengar doa. Maksudnya, Allah Maha Mengabulkan doa. Sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis shalatu wassalam, “Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Mendengar doa.” (QS. Ibrahim: 39) Maksudnya, mengabulkan doa. Allah Jalla wa ‘Ala mengabulkan doa. Allah mengabulkan doa orang yang sangat terdesak, meskipun ia kafir. Karena itu, Allah Ta’ala mengabulkan doa orang-orang yang sangat terdesak di tengah laut. “Apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Luqman: 32) Lalu Allah menyelamatkan mereka. Allah Jalla wa ‘Ala juga mengabulkan doa orang yang dizalimi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doa itu dengan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengabulkan doa orang yang beribadah kepada-Nya, memuji-Nya, dan menyanjung-Nya. Sebagaimana ucapan orang yang salat, “Sami’allaahu liman hamidah” (Allah mendengar, yakni mengabulkan, orang yang memuji-Nya). ===== السَّمِيعُ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ تَعَالَى وَلَهَا مَعْنَيَانِ الْأَوَّلُ: السَّمْعُ الَّذِي هُوَ إِدْرَاكُ كُلِّ صَوْتٍ فَاللهُ تَعَالَى لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ كُلُّ صَوْتٍ فَاللهُ يَسْمَعُهُ مَهْمَا بَعُدَ وَمَهْمَا ضَعُفَ لَمَّا أَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى قَدْ سَمِعَ اللهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ وَهِيَ امْرَأَةٌ جَاءَتْ تَشْتَكِي لِلرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، تَقُولُ إِنَّ زَوْجَهَا ظَاهَرَ مِنْهَا يَعْنِي قَالَ لَهَا: أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ أُمِّي وَهَذَا الْقَوْلُ يُعَدُّ فِي الْجَاهِلِيَّةِ طَلَاقًا بَائِنًا مِثْلَ الطَّلَاقِ الثَّلَاثِ وَهُوَ كَذِبٌ وَمُنْكَرٌ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُورًا فَجَاءَتْ تَشْتَكِي لِلرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَأَنْزَلَ اللهُ هَذِهِ الْآيَةَ قَدْ سَمِعَ اللهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللهِ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ وَاللهِ لَقَدْ جَاءَتِ الْمُجَادِلَةُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُكَلِّمُهُ وَإِنِّي لَفِي الْحُجْرَةِ وَيَخْفَى عَلَيَّ بَعْضُ حَدِيثِهَا وَاللهُ تَعَالَى فَوْقَ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ يَسْمَعُ كَلَامَهَا فَاللهُ تَعَالَى يَسْمَعُ كَلَامَكَ وَإِنْ خَفِيَ أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُم بَلَىٰ وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ فَإِيَّاكَ أَنْ تُسْمِعَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَا لَا يَرْضَاهُ مِنْكَ مِنَ الْقَوْلِ وَاحْرِصْ عَلَى أَنْ تُسْمِعَ اللهَ مَا يَرْضَاهُ مِنْكَ وَمِنَ الْمَعَانِي لِلسَّمِيعِ أَنَّهُ سَمِيعُ الدُّعَاءِ أَيْ مُجِيبُ الدُّعَاءِ كَمَا قَالَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ أَيْ مُجِيبُهُ فَهُوَ جَلَّ وَعَلَا يُجِيبُ الدُّعَاءَ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا وَلِهَذَا يُجِيبُ اللهُ تَعَالَى دُعَاءَ الْمُضْطَرِّينَ فِي الْبَحْرِ وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَيُنَجِّيهِمْ وَيُجِيبُ جَلَّ وَعَلَا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ وَيُجِيبُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْ تَعَبَّدَ لَهُ وَحَمِدَهُ وَأَثْنَى عَلَيْهِ كَمَا يَقُولُ الْمُصَلِّي: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
As-Sami’ (Yang Maha Mendengar) adalah salah satu nama Allah Ta’ala. Nama As-Sami’ memiliki dua makna. [MAKNA PERTAMA] Pendengaran yang menjangkau setiap suara. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah Ta’ala. Setiap suara pasti Allah dengar. Sejauh apa pun dan selemah apa pun suara itu. Ketika Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya, “Sungguh Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan perihalnya kepada Allah Dan Allah mendengar percakapan kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujadilah: 1). Ayat ini tentang seorang wanita yang datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengatakan bahwa suaminya telah menziharnya. Zihar, maksudnya, sang suami berkata kepadanya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Pada masa jahiliah, ucapan ini dianggap sebagai talak ba’in. Seperti talak tiga. Padahal ucapan itu dusta dan mungkar. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sungguh, mereka benar-benar mengucapkan perkataan yang mungkar dan dusta.” (QS. Al-Mujadilah: 2). Lalu wanita itu datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah menurunkan ayat ini: “Sungguh Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan perihalnya kepada Allah…” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi semua suara. Demi Allah, wanita yang mengadu itu benar-benar datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wanita itu berbicara kepada Nabi, sementara aku berada di dalam kamar…Namun sebagian ucapannya tidak terdengar olehku…Sedangkan Allah Ta’ala, yang berada di atas tujuh langit, mendengar ucapannya.” Maka Allah Ta’ala mendengar ucapanmu, meskipun samar. “Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya Kami mendengar, dan para utusan Kami mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 80). Maka jangan sampai engkau memperdengarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla ucapan yang tidak diridhai-Nya. Berupayalah memperdengarkan kepada Allah ucapan yang Dia ridhai darimu. [MAKNA KEDUA] Di antara makna As-Sami’ adalah bahwa Allah Maha Mendengar doa. Maksudnya, Allah Maha Mengabulkan doa. Sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis shalatu wassalam, “Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Mendengar doa.” (QS. Ibrahim: 39) Maksudnya, mengabulkan doa. Allah Jalla wa ‘Ala mengabulkan doa. Allah mengabulkan doa orang yang sangat terdesak, meskipun ia kafir. Karena itu, Allah Ta’ala mengabulkan doa orang-orang yang sangat terdesak di tengah laut. “Apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Luqman: 32) Lalu Allah menyelamatkan mereka. Allah Jalla wa ‘Ala juga mengabulkan doa orang yang dizalimi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doa itu dengan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengabulkan doa orang yang beribadah kepada-Nya, memuji-Nya, dan menyanjung-Nya. Sebagaimana ucapan orang yang salat, “Sami’allaahu liman hamidah” (Allah mendengar, yakni mengabulkan, orang yang memuji-Nya). ===== السَّمِيعُ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ تَعَالَى وَلَهَا مَعْنَيَانِ الْأَوَّلُ: السَّمْعُ الَّذِي هُوَ إِدْرَاكُ كُلِّ صَوْتٍ فَاللهُ تَعَالَى لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ كُلُّ صَوْتٍ فَاللهُ يَسْمَعُهُ مَهْمَا بَعُدَ وَمَهْمَا ضَعُفَ لَمَّا أَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى قَدْ سَمِعَ اللهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ وَهِيَ امْرَأَةٌ جَاءَتْ تَشْتَكِي لِلرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، تَقُولُ إِنَّ زَوْجَهَا ظَاهَرَ مِنْهَا يَعْنِي قَالَ لَهَا: أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ أُمِّي وَهَذَا الْقَوْلُ يُعَدُّ فِي الْجَاهِلِيَّةِ طَلَاقًا بَائِنًا مِثْلَ الطَّلَاقِ الثَّلَاثِ وَهُوَ كَذِبٌ وَمُنْكَرٌ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُورًا فَجَاءَتْ تَشْتَكِي لِلرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَأَنْزَلَ اللهُ هَذِهِ الْآيَةَ قَدْ سَمِعَ اللهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللهِ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ وَاللهِ لَقَدْ جَاءَتِ الْمُجَادِلَةُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُكَلِّمُهُ وَإِنِّي لَفِي الْحُجْرَةِ وَيَخْفَى عَلَيَّ بَعْضُ حَدِيثِهَا وَاللهُ تَعَالَى فَوْقَ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ يَسْمَعُ كَلَامَهَا فَاللهُ تَعَالَى يَسْمَعُ كَلَامَكَ وَإِنْ خَفِيَ أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُم بَلَىٰ وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ فَإِيَّاكَ أَنْ تُسْمِعَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَا لَا يَرْضَاهُ مِنْكَ مِنَ الْقَوْلِ وَاحْرِصْ عَلَى أَنْ تُسْمِعَ اللهَ مَا يَرْضَاهُ مِنْكَ وَمِنَ الْمَعَانِي لِلسَّمِيعِ أَنَّهُ سَمِيعُ الدُّعَاءِ أَيْ مُجِيبُ الدُّعَاءِ كَمَا قَالَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ أَيْ مُجِيبُهُ فَهُوَ جَلَّ وَعَلَا يُجِيبُ الدُّعَاءَ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا وَلِهَذَا يُجِيبُ اللهُ تَعَالَى دُعَاءَ الْمُضْطَرِّينَ فِي الْبَحْرِ وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَيُنَجِّيهِمْ وَيُجِيبُ جَلَّ وَعَلَا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ وَيُجِيبُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْ تَعَبَّدَ لَهُ وَحَمِدَهُ وَأَثْنَى عَلَيْهِ كَمَا يَقُولُ الْمُصَلِّي: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ


As-Sami’ (Yang Maha Mendengar) adalah salah satu nama Allah Ta’ala. Nama As-Sami’ memiliki dua makna. [MAKNA PERTAMA] Pendengaran yang menjangkau setiap suara. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah Ta’ala. Setiap suara pasti Allah dengar. Sejauh apa pun dan selemah apa pun suara itu. Ketika Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya, “Sungguh Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan perihalnya kepada Allah Dan Allah mendengar percakapan kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujadilah: 1). Ayat ini tentang seorang wanita yang datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengatakan bahwa suaminya telah menziharnya. Zihar, maksudnya, sang suami berkata kepadanya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Pada masa jahiliah, ucapan ini dianggap sebagai talak ba’in. Seperti talak tiga. Padahal ucapan itu dusta dan mungkar. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sungguh, mereka benar-benar mengucapkan perkataan yang mungkar dan dusta.” (QS. Al-Mujadilah: 2). Lalu wanita itu datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah menurunkan ayat ini: “Sungguh Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan perihalnya kepada Allah…” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi semua suara. Demi Allah, wanita yang mengadu itu benar-benar datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wanita itu berbicara kepada Nabi, sementara aku berada di dalam kamar…Namun sebagian ucapannya tidak terdengar olehku…Sedangkan Allah Ta’ala, yang berada di atas tujuh langit, mendengar ucapannya.” Maka Allah Ta’ala mendengar ucapanmu, meskipun samar. “Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya Kami mendengar, dan para utusan Kami mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 80). Maka jangan sampai engkau memperdengarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla ucapan yang tidak diridhai-Nya. Berupayalah memperdengarkan kepada Allah ucapan yang Dia ridhai darimu. [MAKNA KEDUA] Di antara makna As-Sami’ adalah bahwa Allah Maha Mendengar doa. Maksudnya, Allah Maha Mengabulkan doa. Sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis shalatu wassalam, “Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Mendengar doa.” (QS. Ibrahim: 39) Maksudnya, mengabulkan doa. Allah Jalla wa ‘Ala mengabulkan doa. Allah mengabulkan doa orang yang sangat terdesak, meskipun ia kafir. Karena itu, Allah Ta’ala mengabulkan doa orang-orang yang sangat terdesak di tengah laut. “Apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Luqman: 32) Lalu Allah menyelamatkan mereka. Allah Jalla wa ‘Ala juga mengabulkan doa orang yang dizalimi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doa itu dengan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengabulkan doa orang yang beribadah kepada-Nya, memuji-Nya, dan menyanjung-Nya. Sebagaimana ucapan orang yang salat, “Sami’allaahu liman hamidah” (Allah mendengar, yakni mengabulkan, orang yang memuji-Nya). ===== السَّمِيعُ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ تَعَالَى وَلَهَا مَعْنَيَانِ الْأَوَّلُ: السَّمْعُ الَّذِي هُوَ إِدْرَاكُ كُلِّ صَوْتٍ فَاللهُ تَعَالَى لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ كُلُّ صَوْتٍ فَاللهُ يَسْمَعُهُ مَهْمَا بَعُدَ وَمَهْمَا ضَعُفَ لَمَّا أَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى قَدْ سَمِعَ اللهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ وَهِيَ امْرَأَةٌ جَاءَتْ تَشْتَكِي لِلرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، تَقُولُ إِنَّ زَوْجَهَا ظَاهَرَ مِنْهَا يَعْنِي قَالَ لَهَا: أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ أُمِّي وَهَذَا الْقَوْلُ يُعَدُّ فِي الْجَاهِلِيَّةِ طَلَاقًا بَائِنًا مِثْلَ الطَّلَاقِ الثَّلَاثِ وَهُوَ كَذِبٌ وَمُنْكَرٌ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُورًا فَجَاءَتْ تَشْتَكِي لِلرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَأَنْزَلَ اللهُ هَذِهِ الْآيَةَ قَدْ سَمِعَ اللهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللهِ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ وَاللهِ لَقَدْ جَاءَتِ الْمُجَادِلَةُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُكَلِّمُهُ وَإِنِّي لَفِي الْحُجْرَةِ وَيَخْفَى عَلَيَّ بَعْضُ حَدِيثِهَا وَاللهُ تَعَالَى فَوْقَ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ يَسْمَعُ كَلَامَهَا فَاللهُ تَعَالَى يَسْمَعُ كَلَامَكَ وَإِنْ خَفِيَ أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُم بَلَىٰ وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ فَإِيَّاكَ أَنْ تُسْمِعَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَا لَا يَرْضَاهُ مِنْكَ مِنَ الْقَوْلِ وَاحْرِصْ عَلَى أَنْ تُسْمِعَ اللهَ مَا يَرْضَاهُ مِنْكَ وَمِنَ الْمَعَانِي لِلسَّمِيعِ أَنَّهُ سَمِيعُ الدُّعَاءِ أَيْ مُجِيبُ الدُّعَاءِ كَمَا قَالَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ أَيْ مُجِيبُهُ فَهُوَ جَلَّ وَعَلَا يُجِيبُ الدُّعَاءَ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا وَلِهَذَا يُجِيبُ اللهُ تَعَالَى دُعَاءَ الْمُضْطَرِّينَ فِي الْبَحْرِ وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَيُنَجِّيهِمْ وَيُجِيبُ جَلَّ وَعَلَا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ وَيُجِيبُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْ تَعَبَّدَ لَهُ وَحَمِدَهُ وَأَثْنَى عَلَيْهِ كَمَا يَقُولُ الْمُصَلِّي: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

Menggunakan ‘Privilege’ untuk Ketaatan (Bag. 1)

Daftar Isi TogglePrivilege bukan jaminan kemuliaanHarta sebagai privilegeIlmu dan pendidikan sebagai privilegePrivilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratDalam kehidupan ini, tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga terpandang, ada yang tumbuh dalam kesederhanaan. Ada yang memiliki akses pendidikan tinggi, ada yang harus berjuang sejak kecil. Ada yang memiliki relasi luas, jabatan strategis, pengaruh sosial, dan kemudahan ekonomi.Di zaman sekarang, istilah yang sering digunakan adalah privilege, yaitu keistimewaan atau kemudahan yang dimiliki seseorang karena latar belakang keluarga, ekonomi, pendidikan, relasi, atau kedudukan sosial.Namun dalam pandangan Islam, privilege bukan sekadar keberuntungan. Ia adalah ujian. Ia adalah amanah. Ia adalah sesuatu yang kelak akan dipertanyakan secara rinci di hadapan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ“Dialah yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi dan meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian terhadap apa yang Dia berikan kepada kalian.” (QS. Al-An‘am: 165)Perbedaan derajat bukan semata-mata kelebihan. Hakikatnya itu semua adalah ujian. Allah Azza wa Jalla berfirman,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian pada hari itu kalian pasti akan ditanya tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)Privilege bukan jaminan kemuliaanSering kali seseorang merasa bangga dengan keistimewaannya. Jabatan, harta, pendidikan tinggi, jaringan luas, atau akses terhadap kekuasaan membuatnya merasa lebih unggul. Kemuliaan sejati tetap ditentukan oleh ketakwaan,`إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling terkenal. Bukan yang paling berpengaruh. Kemuliaan di sisi Allah bukan ditentukan oleh privilege, tetapi oleh bagaimana privilege itu digunakan.Harta sebagai privilegeHarta adalah salah satu privilege terbesar dalam kehidupan. Bahkan bagi sebagian orang, privilege terbesar adalah apabila memiliki harta yang melimpah. Padahal harta adalah salah satu fitnah bagi umat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن لكل أُمَّة فتنة، وفِتنة أُمَّتي: المال“Setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad)Harta bukan hanya nikmat. Ia adalah pertanyaan yang kelak harus dijawab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Ingatlah bahwa segala kenikmatan, terutama harta, itu murni dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا“Dia telah memberikan kepada kalian dari segala yang kalian minta. Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)Jika seseorang memiliki kelapangan harta, maka ia memiliki peluang besar untuk bersedekah, membangun masjid, membantu pendidikan, menolong fakir miskin, dan membiayai dakwah. Dan justru Allah akan melipatgandakan harta yang digunakan di jalan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah itu seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)Privilege harta bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan untuk sedekah, membantu dakwah, dan menolong yang lemah. Tetapi ia bisa menjadi sebab kebinasaan jika melahirkan kesombongan dan cinta dunia berlebihan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya,وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)Ilmu dan pendidikan sebagai privilegeDi era modern, pendidikan adalah privilege besar. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Dan orang yang mendapatkan privilege ini seharusnya bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Allah Azza wa Jalla berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Katakanlah: apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Allah Azza wa Jalla juga berfirman,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)Namun, ilmu bukan untuk kebanggaan pribadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,من تعلَّم علمًا مما يبتغى به وجهَ اللهِ تعالى ، لا يتعلَّمُه إلا ليُصيبَ به عرضًا من الدنيا لم يجِدْ عَرْفَ الجنةِ يومَ القيامةِ . يعني ريحَها“Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya dituntut untuk mencari wajah Allah (karena Allah), tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.” Yang dimaksud dengan ‘araf al-jannah adalah bau harum surga. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)Privilege ilmu seharusnya melahirkan kepedulian, bukan kesombongan. Ia harus menjadikan seseorang lebih rendah hati, lebih sabar dalam mengajar, lebih lembut dalam menasihati, dan lebih tulus dalam melayani umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المؤمن يألف ويؤلف ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف وخير الناس أنفعهم للناس“Seorang mukmin itu mudah bergaul dan disenangi (mampu menjalin kedekatan dengan orang lain). Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bisa bergaul dan tidak disukai. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani)Dan ini berlaku dalam segala bidang ilmu, bukan hanya ilmu agama. Ilmu kedokteran seharusnya melahirkan empati kepada pasien, bukan sekadar prestise profesi. Ilmu hukum seharusnya menegakkan keadilan, bukan menjadi alat permainan kepentingan. Ilmu ekonomi seharusnya menghadirkan kesejahteraan, bukan memperlebar kesenjangan. Ilmu pendidikan seharusnya mencerdaskan dan membentuk akhlak, bukan hanya menghasilkan angka-angka nilai. Ilmu teknologi seharusnya memudahkan kehidupan manusia, bukan memperbanyak kerusakan atau penyebaran keburukan.Dalam setiap disiplin, ilmu adalah cahaya. Namun cahaya itu bisa menjadi penerang atau justru menjadi api kesombongan, tergantung niat dan cara menggunakannya. Orang yang berilmu tetapi tidak peduli pada manusia, sesungguhnya belum memahami hakikat ilmunya.Karena itu, siapa pun yang diberi kelebihan dalam ilmu hendaknya terus bertanya pada dirinya:Sudahkah ilmuku memudahkan orang lain?Sudahkah ia menyelesaikan masalah, meringankan beban, atau membuka jalan kebaikan?Ataukah ia hanya menjadi kebanggaan pribadi, pajangan gelar, dan sumber pujian?Privilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratSalah satu privilege terbesar adalah kedudukan dan jabatan. Baik sebagai pejabat, pemimpin, tokoh masyarakat, pengusaha berpengaruh, ataupun figur publik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا“Sesungguhnya itu adalah amanah; dan pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sayangnya, banyak orang mengejar posisi dan jabatan karena melihat kehormatan dan fasilitasnya. Padahal di balik itu ada tanggung jawab yang sangat berat. Kekuasaan bisa menjadi jalan menuju surga bagi orang yang adil, amanah, dan takut kepada Allah. Namun ia juga bisa menjadi sebab kehancuran bagi orang yang zalim, sombong, dan menyalahgunakannya.Jabatan bukan tentang dilayani, tetapi tentang melayani. Bukan tentang dihormati, tetapi tentang memikul beban. Bukan tentang memperkaya diri, tetapi tentang memperluas manfaat.Oleh karena itu, siapa pun yang diberi privilege kekuasaan, hendaknya selalu bertanya: apakah kedudukan ini mendekatkanku kepada Allah, atau justru menjauhkan? Apakah ia menjadi jalan keadilan, atau sarana kepentingan pribadi?Jika seseorang memiliki privilege berupa jabatan, ia memiliki kesempatan besar untuk menegakkan keadilan dan mencegah kezaliman. Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.” (QS. An-Nahl: 90)Ingatlah balasan bagi pemimpin yang adil dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (yang pertama) pemimpin yang adil …” (HR. Bukhari dan Muslim)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Menggunakan ‘Privilege’ untuk Ketaatan (Bag. 1)

Daftar Isi TogglePrivilege bukan jaminan kemuliaanHarta sebagai privilegeIlmu dan pendidikan sebagai privilegePrivilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratDalam kehidupan ini, tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga terpandang, ada yang tumbuh dalam kesederhanaan. Ada yang memiliki akses pendidikan tinggi, ada yang harus berjuang sejak kecil. Ada yang memiliki relasi luas, jabatan strategis, pengaruh sosial, dan kemudahan ekonomi.Di zaman sekarang, istilah yang sering digunakan adalah privilege, yaitu keistimewaan atau kemudahan yang dimiliki seseorang karena latar belakang keluarga, ekonomi, pendidikan, relasi, atau kedudukan sosial.Namun dalam pandangan Islam, privilege bukan sekadar keberuntungan. Ia adalah ujian. Ia adalah amanah. Ia adalah sesuatu yang kelak akan dipertanyakan secara rinci di hadapan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ“Dialah yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi dan meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian terhadap apa yang Dia berikan kepada kalian.” (QS. Al-An‘am: 165)Perbedaan derajat bukan semata-mata kelebihan. Hakikatnya itu semua adalah ujian. Allah Azza wa Jalla berfirman,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian pada hari itu kalian pasti akan ditanya tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)Privilege bukan jaminan kemuliaanSering kali seseorang merasa bangga dengan keistimewaannya. Jabatan, harta, pendidikan tinggi, jaringan luas, atau akses terhadap kekuasaan membuatnya merasa lebih unggul. Kemuliaan sejati tetap ditentukan oleh ketakwaan,`إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling terkenal. Bukan yang paling berpengaruh. Kemuliaan di sisi Allah bukan ditentukan oleh privilege, tetapi oleh bagaimana privilege itu digunakan.Harta sebagai privilegeHarta adalah salah satu privilege terbesar dalam kehidupan. Bahkan bagi sebagian orang, privilege terbesar adalah apabila memiliki harta yang melimpah. Padahal harta adalah salah satu fitnah bagi umat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن لكل أُمَّة فتنة، وفِتنة أُمَّتي: المال“Setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad)Harta bukan hanya nikmat. Ia adalah pertanyaan yang kelak harus dijawab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Ingatlah bahwa segala kenikmatan, terutama harta, itu murni dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا“Dia telah memberikan kepada kalian dari segala yang kalian minta. Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)Jika seseorang memiliki kelapangan harta, maka ia memiliki peluang besar untuk bersedekah, membangun masjid, membantu pendidikan, menolong fakir miskin, dan membiayai dakwah. Dan justru Allah akan melipatgandakan harta yang digunakan di jalan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah itu seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)Privilege harta bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan untuk sedekah, membantu dakwah, dan menolong yang lemah. Tetapi ia bisa menjadi sebab kebinasaan jika melahirkan kesombongan dan cinta dunia berlebihan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya,وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)Ilmu dan pendidikan sebagai privilegeDi era modern, pendidikan adalah privilege besar. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Dan orang yang mendapatkan privilege ini seharusnya bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Allah Azza wa Jalla berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Katakanlah: apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Allah Azza wa Jalla juga berfirman,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)Namun, ilmu bukan untuk kebanggaan pribadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,من تعلَّم علمًا مما يبتغى به وجهَ اللهِ تعالى ، لا يتعلَّمُه إلا ليُصيبَ به عرضًا من الدنيا لم يجِدْ عَرْفَ الجنةِ يومَ القيامةِ . يعني ريحَها“Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya dituntut untuk mencari wajah Allah (karena Allah), tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.” Yang dimaksud dengan ‘araf al-jannah adalah bau harum surga. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)Privilege ilmu seharusnya melahirkan kepedulian, bukan kesombongan. Ia harus menjadikan seseorang lebih rendah hati, lebih sabar dalam mengajar, lebih lembut dalam menasihati, dan lebih tulus dalam melayani umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المؤمن يألف ويؤلف ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف وخير الناس أنفعهم للناس“Seorang mukmin itu mudah bergaul dan disenangi (mampu menjalin kedekatan dengan orang lain). Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bisa bergaul dan tidak disukai. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani)Dan ini berlaku dalam segala bidang ilmu, bukan hanya ilmu agama. Ilmu kedokteran seharusnya melahirkan empati kepada pasien, bukan sekadar prestise profesi. Ilmu hukum seharusnya menegakkan keadilan, bukan menjadi alat permainan kepentingan. Ilmu ekonomi seharusnya menghadirkan kesejahteraan, bukan memperlebar kesenjangan. Ilmu pendidikan seharusnya mencerdaskan dan membentuk akhlak, bukan hanya menghasilkan angka-angka nilai. Ilmu teknologi seharusnya memudahkan kehidupan manusia, bukan memperbanyak kerusakan atau penyebaran keburukan.Dalam setiap disiplin, ilmu adalah cahaya. Namun cahaya itu bisa menjadi penerang atau justru menjadi api kesombongan, tergantung niat dan cara menggunakannya. Orang yang berilmu tetapi tidak peduli pada manusia, sesungguhnya belum memahami hakikat ilmunya.Karena itu, siapa pun yang diberi kelebihan dalam ilmu hendaknya terus bertanya pada dirinya:Sudahkah ilmuku memudahkan orang lain?Sudahkah ia menyelesaikan masalah, meringankan beban, atau membuka jalan kebaikan?Ataukah ia hanya menjadi kebanggaan pribadi, pajangan gelar, dan sumber pujian?Privilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratSalah satu privilege terbesar adalah kedudukan dan jabatan. Baik sebagai pejabat, pemimpin, tokoh masyarakat, pengusaha berpengaruh, ataupun figur publik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا“Sesungguhnya itu adalah amanah; dan pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sayangnya, banyak orang mengejar posisi dan jabatan karena melihat kehormatan dan fasilitasnya. Padahal di balik itu ada tanggung jawab yang sangat berat. Kekuasaan bisa menjadi jalan menuju surga bagi orang yang adil, amanah, dan takut kepada Allah. Namun ia juga bisa menjadi sebab kehancuran bagi orang yang zalim, sombong, dan menyalahgunakannya.Jabatan bukan tentang dilayani, tetapi tentang melayani. Bukan tentang dihormati, tetapi tentang memikul beban. Bukan tentang memperkaya diri, tetapi tentang memperluas manfaat.Oleh karena itu, siapa pun yang diberi privilege kekuasaan, hendaknya selalu bertanya: apakah kedudukan ini mendekatkanku kepada Allah, atau justru menjauhkan? Apakah ia menjadi jalan keadilan, atau sarana kepentingan pribadi?Jika seseorang memiliki privilege berupa jabatan, ia memiliki kesempatan besar untuk menegakkan keadilan dan mencegah kezaliman. Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.” (QS. An-Nahl: 90)Ingatlah balasan bagi pemimpin yang adil dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (yang pertama) pemimpin yang adil …” (HR. Bukhari dan Muslim)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePrivilege bukan jaminan kemuliaanHarta sebagai privilegeIlmu dan pendidikan sebagai privilegePrivilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratDalam kehidupan ini, tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga terpandang, ada yang tumbuh dalam kesederhanaan. Ada yang memiliki akses pendidikan tinggi, ada yang harus berjuang sejak kecil. Ada yang memiliki relasi luas, jabatan strategis, pengaruh sosial, dan kemudahan ekonomi.Di zaman sekarang, istilah yang sering digunakan adalah privilege, yaitu keistimewaan atau kemudahan yang dimiliki seseorang karena latar belakang keluarga, ekonomi, pendidikan, relasi, atau kedudukan sosial.Namun dalam pandangan Islam, privilege bukan sekadar keberuntungan. Ia adalah ujian. Ia adalah amanah. Ia adalah sesuatu yang kelak akan dipertanyakan secara rinci di hadapan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ“Dialah yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi dan meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian terhadap apa yang Dia berikan kepada kalian.” (QS. Al-An‘am: 165)Perbedaan derajat bukan semata-mata kelebihan. Hakikatnya itu semua adalah ujian. Allah Azza wa Jalla berfirman,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian pada hari itu kalian pasti akan ditanya tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)Privilege bukan jaminan kemuliaanSering kali seseorang merasa bangga dengan keistimewaannya. Jabatan, harta, pendidikan tinggi, jaringan luas, atau akses terhadap kekuasaan membuatnya merasa lebih unggul. Kemuliaan sejati tetap ditentukan oleh ketakwaan,`إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling terkenal. Bukan yang paling berpengaruh. Kemuliaan di sisi Allah bukan ditentukan oleh privilege, tetapi oleh bagaimana privilege itu digunakan.Harta sebagai privilegeHarta adalah salah satu privilege terbesar dalam kehidupan. Bahkan bagi sebagian orang, privilege terbesar adalah apabila memiliki harta yang melimpah. Padahal harta adalah salah satu fitnah bagi umat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن لكل أُمَّة فتنة، وفِتنة أُمَّتي: المال“Setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad)Harta bukan hanya nikmat. Ia adalah pertanyaan yang kelak harus dijawab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Ingatlah bahwa segala kenikmatan, terutama harta, itu murni dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا“Dia telah memberikan kepada kalian dari segala yang kalian minta. Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)Jika seseorang memiliki kelapangan harta, maka ia memiliki peluang besar untuk bersedekah, membangun masjid, membantu pendidikan, menolong fakir miskin, dan membiayai dakwah. Dan justru Allah akan melipatgandakan harta yang digunakan di jalan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah itu seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)Privilege harta bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan untuk sedekah, membantu dakwah, dan menolong yang lemah. Tetapi ia bisa menjadi sebab kebinasaan jika melahirkan kesombongan dan cinta dunia berlebihan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya,وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)Ilmu dan pendidikan sebagai privilegeDi era modern, pendidikan adalah privilege besar. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Dan orang yang mendapatkan privilege ini seharusnya bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Allah Azza wa Jalla berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Katakanlah: apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Allah Azza wa Jalla juga berfirman,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)Namun, ilmu bukan untuk kebanggaan pribadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,من تعلَّم علمًا مما يبتغى به وجهَ اللهِ تعالى ، لا يتعلَّمُه إلا ليُصيبَ به عرضًا من الدنيا لم يجِدْ عَرْفَ الجنةِ يومَ القيامةِ . يعني ريحَها“Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya dituntut untuk mencari wajah Allah (karena Allah), tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.” Yang dimaksud dengan ‘araf al-jannah adalah bau harum surga. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)Privilege ilmu seharusnya melahirkan kepedulian, bukan kesombongan. Ia harus menjadikan seseorang lebih rendah hati, lebih sabar dalam mengajar, lebih lembut dalam menasihati, dan lebih tulus dalam melayani umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المؤمن يألف ويؤلف ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف وخير الناس أنفعهم للناس“Seorang mukmin itu mudah bergaul dan disenangi (mampu menjalin kedekatan dengan orang lain). Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bisa bergaul dan tidak disukai. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani)Dan ini berlaku dalam segala bidang ilmu, bukan hanya ilmu agama. Ilmu kedokteran seharusnya melahirkan empati kepada pasien, bukan sekadar prestise profesi. Ilmu hukum seharusnya menegakkan keadilan, bukan menjadi alat permainan kepentingan. Ilmu ekonomi seharusnya menghadirkan kesejahteraan, bukan memperlebar kesenjangan. Ilmu pendidikan seharusnya mencerdaskan dan membentuk akhlak, bukan hanya menghasilkan angka-angka nilai. Ilmu teknologi seharusnya memudahkan kehidupan manusia, bukan memperbanyak kerusakan atau penyebaran keburukan.Dalam setiap disiplin, ilmu adalah cahaya. Namun cahaya itu bisa menjadi penerang atau justru menjadi api kesombongan, tergantung niat dan cara menggunakannya. Orang yang berilmu tetapi tidak peduli pada manusia, sesungguhnya belum memahami hakikat ilmunya.Karena itu, siapa pun yang diberi kelebihan dalam ilmu hendaknya terus bertanya pada dirinya:Sudahkah ilmuku memudahkan orang lain?Sudahkah ia menyelesaikan masalah, meringankan beban, atau membuka jalan kebaikan?Ataukah ia hanya menjadi kebanggaan pribadi, pajangan gelar, dan sumber pujian?Privilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratSalah satu privilege terbesar adalah kedudukan dan jabatan. Baik sebagai pejabat, pemimpin, tokoh masyarakat, pengusaha berpengaruh, ataupun figur publik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا“Sesungguhnya itu adalah amanah; dan pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sayangnya, banyak orang mengejar posisi dan jabatan karena melihat kehormatan dan fasilitasnya. Padahal di balik itu ada tanggung jawab yang sangat berat. Kekuasaan bisa menjadi jalan menuju surga bagi orang yang adil, amanah, dan takut kepada Allah. Namun ia juga bisa menjadi sebab kehancuran bagi orang yang zalim, sombong, dan menyalahgunakannya.Jabatan bukan tentang dilayani, tetapi tentang melayani. Bukan tentang dihormati, tetapi tentang memikul beban. Bukan tentang memperkaya diri, tetapi tentang memperluas manfaat.Oleh karena itu, siapa pun yang diberi privilege kekuasaan, hendaknya selalu bertanya: apakah kedudukan ini mendekatkanku kepada Allah, atau justru menjauhkan? Apakah ia menjadi jalan keadilan, atau sarana kepentingan pribadi?Jika seseorang memiliki privilege berupa jabatan, ia memiliki kesempatan besar untuk menegakkan keadilan dan mencegah kezaliman. Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.” (QS. An-Nahl: 90)Ingatlah balasan bagi pemimpin yang adil dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (yang pertama) pemimpin yang adil …” (HR. Bukhari dan Muslim)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePrivilege bukan jaminan kemuliaanHarta sebagai privilegeIlmu dan pendidikan sebagai privilegePrivilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratDalam kehidupan ini, tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga terpandang, ada yang tumbuh dalam kesederhanaan. Ada yang memiliki akses pendidikan tinggi, ada yang harus berjuang sejak kecil. Ada yang memiliki relasi luas, jabatan strategis, pengaruh sosial, dan kemudahan ekonomi.Di zaman sekarang, istilah yang sering digunakan adalah privilege, yaitu keistimewaan atau kemudahan yang dimiliki seseorang karena latar belakang keluarga, ekonomi, pendidikan, relasi, atau kedudukan sosial.Namun dalam pandangan Islam, privilege bukan sekadar keberuntungan. Ia adalah ujian. Ia adalah amanah. Ia adalah sesuatu yang kelak akan dipertanyakan secara rinci di hadapan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ“Dialah yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi dan meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian terhadap apa yang Dia berikan kepada kalian.” (QS. Al-An‘am: 165)Perbedaan derajat bukan semata-mata kelebihan. Hakikatnya itu semua adalah ujian. Allah Azza wa Jalla berfirman,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian pada hari itu kalian pasti akan ditanya tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)Privilege bukan jaminan kemuliaanSering kali seseorang merasa bangga dengan keistimewaannya. Jabatan, harta, pendidikan tinggi, jaringan luas, atau akses terhadap kekuasaan membuatnya merasa lebih unggul. Kemuliaan sejati tetap ditentukan oleh ketakwaan,`إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling terkenal. Bukan yang paling berpengaruh. Kemuliaan di sisi Allah bukan ditentukan oleh privilege, tetapi oleh bagaimana privilege itu digunakan.Harta sebagai privilegeHarta adalah salah satu privilege terbesar dalam kehidupan. Bahkan bagi sebagian orang, privilege terbesar adalah apabila memiliki harta yang melimpah. Padahal harta adalah salah satu fitnah bagi umat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن لكل أُمَّة فتنة، وفِتنة أُمَّتي: المال“Setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad)Harta bukan hanya nikmat. Ia adalah pertanyaan yang kelak harus dijawab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Ingatlah bahwa segala kenikmatan, terutama harta, itu murni dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا“Dia telah memberikan kepada kalian dari segala yang kalian minta. Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)Jika seseorang memiliki kelapangan harta, maka ia memiliki peluang besar untuk bersedekah, membangun masjid, membantu pendidikan, menolong fakir miskin, dan membiayai dakwah. Dan justru Allah akan melipatgandakan harta yang digunakan di jalan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah itu seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)Privilege harta bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan untuk sedekah, membantu dakwah, dan menolong yang lemah. Tetapi ia bisa menjadi sebab kebinasaan jika melahirkan kesombongan dan cinta dunia berlebihan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya,وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)Ilmu dan pendidikan sebagai privilegeDi era modern, pendidikan adalah privilege besar. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Dan orang yang mendapatkan privilege ini seharusnya bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Allah Azza wa Jalla berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Katakanlah: apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Allah Azza wa Jalla juga berfirman,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)Namun, ilmu bukan untuk kebanggaan pribadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,من تعلَّم علمًا مما يبتغى به وجهَ اللهِ تعالى ، لا يتعلَّمُه إلا ليُصيبَ به عرضًا من الدنيا لم يجِدْ عَرْفَ الجنةِ يومَ القيامةِ . يعني ريحَها“Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya dituntut untuk mencari wajah Allah (karena Allah), tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.” Yang dimaksud dengan ‘araf al-jannah adalah bau harum surga. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)Privilege ilmu seharusnya melahirkan kepedulian, bukan kesombongan. Ia harus menjadikan seseorang lebih rendah hati, lebih sabar dalam mengajar, lebih lembut dalam menasihati, dan lebih tulus dalam melayani umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المؤمن يألف ويؤلف ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف وخير الناس أنفعهم للناس“Seorang mukmin itu mudah bergaul dan disenangi (mampu menjalin kedekatan dengan orang lain). Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bisa bergaul dan tidak disukai. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani)Dan ini berlaku dalam segala bidang ilmu, bukan hanya ilmu agama. Ilmu kedokteran seharusnya melahirkan empati kepada pasien, bukan sekadar prestise profesi. Ilmu hukum seharusnya menegakkan keadilan, bukan menjadi alat permainan kepentingan. Ilmu ekonomi seharusnya menghadirkan kesejahteraan, bukan memperlebar kesenjangan. Ilmu pendidikan seharusnya mencerdaskan dan membentuk akhlak, bukan hanya menghasilkan angka-angka nilai. Ilmu teknologi seharusnya memudahkan kehidupan manusia, bukan memperbanyak kerusakan atau penyebaran keburukan.Dalam setiap disiplin, ilmu adalah cahaya. Namun cahaya itu bisa menjadi penerang atau justru menjadi api kesombongan, tergantung niat dan cara menggunakannya. Orang yang berilmu tetapi tidak peduli pada manusia, sesungguhnya belum memahami hakikat ilmunya.Karena itu, siapa pun yang diberi kelebihan dalam ilmu hendaknya terus bertanya pada dirinya:Sudahkah ilmuku memudahkan orang lain?Sudahkah ia menyelesaikan masalah, meringankan beban, atau membuka jalan kebaikan?Ataukah ia hanya menjadi kebanggaan pribadi, pajangan gelar, dan sumber pujian?Privilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratSalah satu privilege terbesar adalah kedudukan dan jabatan. Baik sebagai pejabat, pemimpin, tokoh masyarakat, pengusaha berpengaruh, ataupun figur publik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا“Sesungguhnya itu adalah amanah; dan pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sayangnya, banyak orang mengejar posisi dan jabatan karena melihat kehormatan dan fasilitasnya. Padahal di balik itu ada tanggung jawab yang sangat berat. Kekuasaan bisa menjadi jalan menuju surga bagi orang yang adil, amanah, dan takut kepada Allah. Namun ia juga bisa menjadi sebab kehancuran bagi orang yang zalim, sombong, dan menyalahgunakannya.Jabatan bukan tentang dilayani, tetapi tentang melayani. Bukan tentang dihormati, tetapi tentang memikul beban. Bukan tentang memperkaya diri, tetapi tentang memperluas manfaat.Oleh karena itu, siapa pun yang diberi privilege kekuasaan, hendaknya selalu bertanya: apakah kedudukan ini mendekatkanku kepada Allah, atau justru menjauhkan? Apakah ia menjadi jalan keadilan, atau sarana kepentingan pribadi?Jika seseorang memiliki privilege berupa jabatan, ia memiliki kesempatan besar untuk menegakkan keadilan dan mencegah kezaliman. Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.” (QS. An-Nahl: 90)Ingatlah balasan bagi pemimpin yang adil dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (yang pertama) pemimpin yang adil …” (HR. Bukhari dan Muslim)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Overthinking tentang Hari Tua: Bagaimana Islam Mengatasinya?

Semakin bertambah usia, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul dalam benak seseorang. “Bagaimana jika nanti aku sakit?”, “Siapa yang akan merawatku?”, atau “Apakah aku masih bisa beribadah dengan baik?” Jika pertanyaan-pertanyaan itu terus menguasai hati hingga menghilangkan ketenangan, berarti seseorang telah terjebak dalam overthinking tentang masa tua. Islam tidak mengajarkan kita hidup dalam bayang-bayang ketakutan, tetapi mempersiapkan masa depan dengan keyakinan kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa Tua 1.1. 1. Takut Kehilangan Kesehatan 1.2. 2. Takut Kehilangan Kemandirian 1.3. 3. Takut Kekurangan Harta 1.4. 4. Takut Kesepian 2. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua? 3. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa Tua 4. Bahaya Overthinking tentang Masa Tua 5. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?” 6. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 7. Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa Tua  Baca juga: Overthinking dalam Islam: Kapan Berpikir Menjadi Masalah? Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa TuaBerbagai penelitian dalam bidang psikologi dan kesehatan lansia menunjukkan bahwa ketika seseorang mulai memikirkan masa tua, kekhawatirannya umumnya berputar pada beberapa hal berikut.1. Takut Kehilangan KesehatanInilah kekhawatiran yang paling banyak dirasakan.Seseorang mulai membayangkan dirinya terserang penyakit kronis, sulit berjalan, tidak mampu lagi beraktivitas, atau mengalami penurunan daya ingat. Bahkan, sebagian orang yang masih sehat sudah merasa cemas terhadap penyakit yang belum tentu akan menimpanya.Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga kesehatan sebagai nikmat Allah, tetapi tidak tenggelam dalam ketakutan terhadap sesuatu yang masih berada dalam ketentuan-Nya. 2. Takut Kehilangan KemandirianBanyak orang sebenarnya bukan takut sakit, melainkan takut bergantung kepada orang lain.Mereka khawatir suatu saat tidak mampu mengurus dirinya sendiri, harus dibantu ketika makan, berjalan, atau menjalankan aktivitas sehari-hari. Perasaan menjadi beban bagi keluarga sering kali lebih menakutkan daripada penyakit itu sendiri.Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan doa agar tidak dikembalikan kepada أَرْذَلِ الْعُمُرِ, yaitu usia yang sangat lemah sehingga kemampuan fisik dan akal mengalami penurunan. 3. Takut Kekurangan HartaSetelah tidak lagi produktif bekerja, sebagian orang mulai bertanya,“Apakah tabunganku cukup?”“Bagaimana jika biaya berobat sangat mahal?”“Bagaimana jika aku hidup lebih lama daripada kemampuan finansialku?”Kekhawatiran seperti ini dapat mendorong seseorang menjadi terlalu pelit, sulit bersedekah, bahkan kehilangan tawakal kepada Allah. 4. Takut KesepianManusia diciptakan sebagai makhluk sosial.Karena itu, tidak sedikit orang yang membayangkan masa tua sebagai masa yang sunyi. Mereka khawatir pasangan meninggal lebih dahulu, anak-anak tinggal berjauhan, atau tidak lagi memiliki teman berbagi cerita.Padahal, seorang mukmin yang hatinya dekat dengan Allah tidak pernah benar-benar sendirian. Ia selalu ditemani dengan zikir, doa, Al-Qur’an, dan amal saleh. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua?Tidak sedikit orang yang belum memasuki usia lanjut, tetapi pikirannya sudah dipenuhi berbagai kekhawatiran tentang masa tua. Ketika usia bertambah, bayangan tentang hari-hari yang akan datang mulai bermunculan. Ada yang membayangkan dirinya akan jatuh sakit, ada yang khawatir tidak lagi produktif, ada pula yang takut menjadi beban bagi keluarga.Berbagai pertanyaan pun memenuhi benaknya.“Bagaimana nanti ketika pensiun dan tidak lagi memiliki penghasilan?”“Kalau suatu saat aku sakit, siapa yang akan merawatku?”“Bagaimana jika pasangan meninggal lebih dahulu sehingga aku harus hidup sendirian?”“Bagaimana jika anak-anak sibuk dengan keluarganya masing-masing dan tidak lagi memperhatikanku?”“Bagaimana jika tabunganku habis sebelum ajal datang?”“Bagaimana jika aku mengalami pikun dan tidak mampu lagi mengurus diri sendiri?”“Bagaimana jika di usia tua aku tidak lagi memiliki teman dan harus menjalani hari-hari seorang diri?”Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang manusiawi. Islam tidak melarang seseorang memikirkan masa depan atau mempersiapkan hari tua. Bahkan seorang muslim dianjurkan bekerja, menjaga kesehatan, mengelola harta dengan baik, mendidik anak-anak, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadapi masa depan.Namun, masalah muncul ketika kekhawatiran tersebut terus berputar di dalam pikiran hingga menguasai hati. Seseorang akhirnya lebih sibuk membayangkan berbagai kemungkinan buruk daripada menjalani hari ini dengan penuh syukur dan ketaatan. Ia merasa cemas terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu akan terjadi.Di sinilah overthinking mulai menggerogoti ketenangan hati.Padahal, salah satu cara setan melemahkan manusia adalah dengan memenuhi hatinya dengan rasa takut terhadap masa depan, terutama ketakutan terhadap kemiskinan. Allah Ta’ala berfirman,ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.“(QS. Al-Baqarah: 268)Ayat ini menunjukkan bahwa rasa takut terhadap masa depan dapat menjadi pintu masuk bagi setan untuk melemahkan keyakinan seorang hamba kepada Rabbnya. Setan terus membisikkan bahwa masa depan akan penuh kesulitan, harta akan habis, kesehatan akan hilang, dan kehidupan akan semakin berat. Sebaliknya, Allah menguatkan hati orang-orang beriman dengan janji ampunan, pertolongan, dan karunia-Nya.Dalam Tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat ini disebutkan: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ، وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً، فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ الْأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada hati anak Adam, demikian pula malaikat memiliki bisikan. Bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan membuat seseorang mendustakan kebenaran. Adapun bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan mendorong untuk membenarkan kebenaran. Barang siapa merasakan bisikan yang baik itu, hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah, lalu hendaklah ia memuji Allah. Sebaliknya, barang siapa merasakan bisikan yang lain, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah,﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ [البقرة: ٢٦٨]“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268).Tentu saja, tidak setiap kekhawatiran berasal dari setan. Rasa takut terhadap masa depan adalah fitrah manusia. Akan tetapi, ketika rasa takut itu membuat seseorang kehilangan ketenangan, berburuk sangka kepada Allah, enggan beramal, bahkan selalu dihantui berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi, maka rasa takut tersebut telah berubah menjadi overthinking yang melemahkan tawakal.Seorang mukmin diperintahkan untuk mempersiapkan masa depan dengan ikhtiar yang benar, tetapi hatinya tetap bersandar kepada Allah. Ia merencanakan kehidupan hari esok, namun tidak membiarkan pikirannya dikuasai oleh bayangan-bayangan buruk yang belum tentu menjadi kenyataan. Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: berikhtiar tanpa kehilangan tawakal, dan berpikir tanpa terjerumus dalam overthinking. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa TuaSebagian orang mengira bahwa memikirkan masa tua berarti kurang bertawakal kepada Allah. Anggapan ini tidak tepat. Islam tidak pernah melarang seorang muslim mempersiapkan masa depannya. Bahkan, syariat justru mendorong seorang hamba untuk berikhtiar dan mempersiapkan bekal sebelum datang hari-hari yang membutuhkan persiapan tersebut.Perbedaannya terletak pada sikap hati. Islam mengajarkan persiapan, bukan kepanikan. Islam mendorong seorang muslim berpikir jauh ke depan, tetapi tidak membiarkan pikirannya terus-menerus dipenuhi kecemasan yang melemahkan semangat hidup dan ibadah.Persiapan menghadapi masa tua dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadap Allah, menjaga kesehatan agar tetap kuat beribadah, bekerja dan mengelola harta dengan baik, memperbanyak doa memohon keberkahan usia, serta mendidik anak-anak menjadi pribadi yang saleh sehingga kelak menjadi penyejuk hati dan terus mendoakan kedua orang tuanya.Doa yang bisa kita amalkan,اللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”Doa ini bersumber dari hadits dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah dari ayahnya (Abu Bakrah) bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ »“Wahai Rasulullah, manusia seperti apa yang dikatakan baik?” Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya dan baik amalnya.” “Lalu manusia seperti apa yang dikatakan jelek?”, tanya laki-laki tadi. Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun jelek amalnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2330. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadits ini shahih lighairihi). Yang dimaksud dengan “baik amalnya” adalah apabila amalan tersebut dilakukan dengan ikhlas dan ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahaya Overthinking tentang Masa TuaOverthinking tentang masa tua tidak membuat seseorang lebih siap menghadapinya. Sebaliknya, hal itu justru menguras energi, menghilangkan ketenangan, dan membuat seseorang sulit menikmati nikmat yang Allah berikan hari ini.Orang yang terus-menerus dikuasai overthinking biasanya akan mengalami beberapa dampak berikut.Sulit menikmati usia yang sedang dijalani. Pikirannya terus melayang kepada masa depan hingga lupa mensyukuri nikmat hari ini.Selalu dihantui rasa cemas. Setiap kemungkinan buruk dibayangkan seolah-olah pasti akan terjadi.Kurang bersyukur atas karunia Allah. Fokusnya lebih tertuju pada apa yang mungkin hilang daripada nikmat yang masih dimiliki.Semangat beribadah mulai melemah. Waktu dan pikirannya habis untuk mencemaskan masa depan, bukan memperbanyak bekal menuju akhirat.Mudah berputus asa. Ia merasa masa depannya suram sebelum benar-benar mengalaminya.Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia benar-benar akan sampai pada usia tua. Bisa jadi seseorang begitu sibuk mengkhawatirkan masa tuanya, padahal ajal menjemput lebih dahulu. Karena itu, seorang mukmin hendaknya lebih banyak mempersiapkan amal saleh daripada menghabiskan waktu untuk mencemaskan sesuatu yang masih berada dalam ilmu Allah. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?”Salah satu penyebab overthinking tentang masa tua adalah karena seseorang terlalu sibuk memikirkan kapan berbagai hal buruk akan terjadi. Ia terus bertanya, “Kapan aku sakit?”, “Kapan aku menjadi lemah?”, atau “Kapan ajal akan menjemputku?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak akan memberikan ketenangan, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan semua itu akan terjadi.Islam mengajarkan cara pandang yang berbeda. Yang terpenting bukanlah mengetahui kapan kematian datang, tetapi bagaimana keadaan kita ketika kematian itu datang. Karena itu, seorang muslim tidak diperintahkan untuk sibuk menebak sisa umurnya, melainkan mempersiapkan bekal terbaik sebelum ajal tiba.Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan umatnya untuk sering mengingat kematian. Tujuannya bukan agar hidup dipenuhi rasa takut dan kecemasan, melainkan agar seseorang semakin semangat bertobat, memperbanyak amal saleh, dan tidak terlena oleh kehidupan dunia. Mengingat kematian yang benar akan mendorong seseorang menjadi lebih baik, bukan membuatnya putus asa atau kehilangan semangat hidup.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,وَلِهَذَا نَقُولُ: أَنْتَ لَا تَسْأَلُ مَتَى تَمُوتُ، وَلَا أَيْنَ تَمُوتُ؛ لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ لَا يَحْتَاجُ إِلَى سُؤَالٍ، أَمْرٌ مَفْرُوغٌ مِنْهُ، وَلَابُدَّ أَنْ يَكُونَ، وَمَهْمَا طَالَتْ بِكَ الدُّنْيَا، فَكَأَنَّمَا بَقِيتَ يَوْمًا وَاحِدًا، بَلْ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا﴾ [النَّازِعَاتِ: ٤٦]. وَلَكِنِ السُّؤَالُ الَّذِي يَجِبُ أَنْ يَرِدَ عَلَى النَّفْسِ، وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لَدَيْكَ جَوَابٌ عَلَيْهِ هُوَ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟! وَلَسْتُ أُرِيدُ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ، هَلْ أَنْتَ غَنِيٌّ أَوْ فَقِيرٌ، أَوْ قَوِيٌّ أَوْ ضَعِيفٌ، أَوْ ذُو عِيَالٍ أَوْ عَقِيمٌ، بَلْ عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ فِي الْعَمَلِ؟ فَإِذَا كُنْتَ تُسَائِلُ نَفْسَكَ هَذَا السُّؤَالَ، فَلَابُدَّ أَنْ تَسْتَعِدَّ؛ لِأَنَّكَ لَا تَدْرِي مَتَى يَفْجَؤُكَ الْمَوْتُ، كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ يَقُودُ سَيَّارَتَهُ، وَرَجَعَ بِهِ مَحْمُولًا عَلَى الْأَكْتَافِ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ مِنْ أَهْلِهِ يَقُولُ: هَيِّئُوا لِي طَعَامَ الْغَدَاءِ أَوِ الْعَشَاءِ، وَلَكِنْ لَمْ يَأْكُلْهُ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ لَبِسَ قَمِيصَهُ وَزَرَّ أَزِرَّتَهُ، وَلَمْ يَفُكَّهَا إِلَّا الْغَاسِلُ يُغَسِّلُهُ. هَذَا أَمْرٌ مُشَاهَدٌ بِحَوَادِثِ الْبَغْتَةِ، فَانْظُرِ الْآنَ وَفَكِّرْ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَكَ أَنْ تُكْثِرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ مَا اسْتَطَعْتَ، فَإِنَّ الِاسْتِغْفَارَ فِيهِ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا.“Karena itu, kami mengatakan: Janganlah engkau bertanya, ‘Kapan aku akan mati?’ atau ‘Di mana aku akan mati?’ Sebab, hal itu tidak perlu dipertanyakan. Semua itu telah Allah tetapkan dan pasti akan terjadi. Seandainya pun umurmu sangat panjang, pada akhirnya kehidupan dunia akan terasa seolah-olah hanya berlangsung sehari saja. Bahkan Allah berfirman,‘Pada hari mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seakan-akan hanya tinggal di dunia pada waktu sore atau pagi hari saja.’ (QS. An-Nazi’at: 46)Namun, pertanyaan yang seharusnya selalu engkau ajukan kepada dirimu adalah: ‘Dalam keadaan bagaimana aku akan mati?’ Bukan apakah saat itu engkau kaya atau miskin, kuat atau lemah, memiliki banyak anak atau tidak. Akan tetapi, dalam keadaan bagaimana amalmu ketika kematian datang?Jika engkau terus menanyakan hal itu kepada dirimu, tentu engkau akan mempersiapkan diri. Sebab, tidak ada yang tahu kapan kematian datang secara tiba-tiba. Betapa banyak orang yang keluar mengendarai mobilnya, tetapi pulang dalam keadaan dipikul di atas bahu. Betapa banyak orang yang berpamitan kepada keluarganya sambil berkata, ‘Siapkan makan siang atau makan malam untukku,’ tetapi ternyata ia tidak sempat memakannya. Betapa banyak orang yang mengenakan bajunya dan mengancingkannya, namun tidak ada yang membuka kancing itu selain orang yang memandikannya setelah ia meninggal dunia. Peristiwa seperti ini sering kita saksikan dalam kehidupan. Karena itu, renungkanlah, dalam keadaan bagaimana engkau ingin menemui kematian.Oleh sebab itu, perbanyaklah istigfar semampumu. Sebab, dengan istigfar Allah memberikan jalan keluar dari setiap kegelisahan dan memberikan kelapangan dari setiap kesempitan.” (Liqā’ al-Bāb al-Maftūḥ, pertemuan ke-17).Inilah yang membedakan seorang mukmin dengan orang yang dikuasai overthinking. Orang yang overthinking menghabiskan waktunya untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi. Adapun seorang mukmin menggunakan waktunya untuk memperbaiki amal hari ini, karena ia sadar bahwa kapan pun kematian datang, bekal terbaik yang dapat dibawa hanyalah iman dan amal saleh. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ. فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.“Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa TuaDoa #05 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Berlindung dari Kemalasan Beribadah, Masa Tua yang Jelek, dan Syahwat Duniaاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI, WA A’UUDZU BIKA AN ARUDDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UUDZU BIKA MIN FITNATID DUN-YAA, WA A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI. Artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari sifat lemah dalam melakukan ibadah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari godaan syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban, pen.), dan aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur. (HR. Bukhari, no. 2822) Doa #08 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa agar Diperbagus Setiap Urusanاللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِALLOOHUMMA AHSIN ‘AAQIBATANAA FIL UMUURI KULLIHAA, WA AJIRNAA MIN KHIZYID DUN-YAA WA ‘ADZAAِBIL AAKHIROH.Artinya: Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat. (HR. Ahmad, 4:181, dari Busr bin Arthah Al-Qurasyi) Doa #13 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Meminta Panjang Umur dan Bagusnya Amalاللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”  —– Selasa, 21 Juli 2027Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh doa nabi hari tua husnul khatimah kematian masa tua overthinking persiapan akhirat psikologi Islam tawakal

Overthinking tentang Hari Tua: Bagaimana Islam Mengatasinya?

Semakin bertambah usia, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul dalam benak seseorang. “Bagaimana jika nanti aku sakit?”, “Siapa yang akan merawatku?”, atau “Apakah aku masih bisa beribadah dengan baik?” Jika pertanyaan-pertanyaan itu terus menguasai hati hingga menghilangkan ketenangan, berarti seseorang telah terjebak dalam overthinking tentang masa tua. Islam tidak mengajarkan kita hidup dalam bayang-bayang ketakutan, tetapi mempersiapkan masa depan dengan keyakinan kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa Tua 1.1. 1. Takut Kehilangan Kesehatan 1.2. 2. Takut Kehilangan Kemandirian 1.3. 3. Takut Kekurangan Harta 1.4. 4. Takut Kesepian 2. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua? 3. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa Tua 4. Bahaya Overthinking tentang Masa Tua 5. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?” 6. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 7. Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa Tua  Baca juga: Overthinking dalam Islam: Kapan Berpikir Menjadi Masalah? Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa TuaBerbagai penelitian dalam bidang psikologi dan kesehatan lansia menunjukkan bahwa ketika seseorang mulai memikirkan masa tua, kekhawatirannya umumnya berputar pada beberapa hal berikut.1. Takut Kehilangan KesehatanInilah kekhawatiran yang paling banyak dirasakan.Seseorang mulai membayangkan dirinya terserang penyakit kronis, sulit berjalan, tidak mampu lagi beraktivitas, atau mengalami penurunan daya ingat. Bahkan, sebagian orang yang masih sehat sudah merasa cemas terhadap penyakit yang belum tentu akan menimpanya.Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga kesehatan sebagai nikmat Allah, tetapi tidak tenggelam dalam ketakutan terhadap sesuatu yang masih berada dalam ketentuan-Nya. 2. Takut Kehilangan KemandirianBanyak orang sebenarnya bukan takut sakit, melainkan takut bergantung kepada orang lain.Mereka khawatir suatu saat tidak mampu mengurus dirinya sendiri, harus dibantu ketika makan, berjalan, atau menjalankan aktivitas sehari-hari. Perasaan menjadi beban bagi keluarga sering kali lebih menakutkan daripada penyakit itu sendiri.Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan doa agar tidak dikembalikan kepada أَرْذَلِ الْعُمُرِ, yaitu usia yang sangat lemah sehingga kemampuan fisik dan akal mengalami penurunan. 3. Takut Kekurangan HartaSetelah tidak lagi produktif bekerja, sebagian orang mulai bertanya,“Apakah tabunganku cukup?”“Bagaimana jika biaya berobat sangat mahal?”“Bagaimana jika aku hidup lebih lama daripada kemampuan finansialku?”Kekhawatiran seperti ini dapat mendorong seseorang menjadi terlalu pelit, sulit bersedekah, bahkan kehilangan tawakal kepada Allah. 4. Takut KesepianManusia diciptakan sebagai makhluk sosial.Karena itu, tidak sedikit orang yang membayangkan masa tua sebagai masa yang sunyi. Mereka khawatir pasangan meninggal lebih dahulu, anak-anak tinggal berjauhan, atau tidak lagi memiliki teman berbagi cerita.Padahal, seorang mukmin yang hatinya dekat dengan Allah tidak pernah benar-benar sendirian. Ia selalu ditemani dengan zikir, doa, Al-Qur’an, dan amal saleh. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua?Tidak sedikit orang yang belum memasuki usia lanjut, tetapi pikirannya sudah dipenuhi berbagai kekhawatiran tentang masa tua. Ketika usia bertambah, bayangan tentang hari-hari yang akan datang mulai bermunculan. Ada yang membayangkan dirinya akan jatuh sakit, ada yang khawatir tidak lagi produktif, ada pula yang takut menjadi beban bagi keluarga.Berbagai pertanyaan pun memenuhi benaknya.“Bagaimana nanti ketika pensiun dan tidak lagi memiliki penghasilan?”“Kalau suatu saat aku sakit, siapa yang akan merawatku?”“Bagaimana jika pasangan meninggal lebih dahulu sehingga aku harus hidup sendirian?”“Bagaimana jika anak-anak sibuk dengan keluarganya masing-masing dan tidak lagi memperhatikanku?”“Bagaimana jika tabunganku habis sebelum ajal datang?”“Bagaimana jika aku mengalami pikun dan tidak mampu lagi mengurus diri sendiri?”“Bagaimana jika di usia tua aku tidak lagi memiliki teman dan harus menjalani hari-hari seorang diri?”Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang manusiawi. Islam tidak melarang seseorang memikirkan masa depan atau mempersiapkan hari tua. Bahkan seorang muslim dianjurkan bekerja, menjaga kesehatan, mengelola harta dengan baik, mendidik anak-anak, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadapi masa depan.Namun, masalah muncul ketika kekhawatiran tersebut terus berputar di dalam pikiran hingga menguasai hati. Seseorang akhirnya lebih sibuk membayangkan berbagai kemungkinan buruk daripada menjalani hari ini dengan penuh syukur dan ketaatan. Ia merasa cemas terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu akan terjadi.Di sinilah overthinking mulai menggerogoti ketenangan hati.Padahal, salah satu cara setan melemahkan manusia adalah dengan memenuhi hatinya dengan rasa takut terhadap masa depan, terutama ketakutan terhadap kemiskinan. Allah Ta’ala berfirman,ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.“(QS. Al-Baqarah: 268)Ayat ini menunjukkan bahwa rasa takut terhadap masa depan dapat menjadi pintu masuk bagi setan untuk melemahkan keyakinan seorang hamba kepada Rabbnya. Setan terus membisikkan bahwa masa depan akan penuh kesulitan, harta akan habis, kesehatan akan hilang, dan kehidupan akan semakin berat. Sebaliknya, Allah menguatkan hati orang-orang beriman dengan janji ampunan, pertolongan, dan karunia-Nya.Dalam Tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat ini disebutkan: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ، وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً، فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ الْأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada hati anak Adam, demikian pula malaikat memiliki bisikan. Bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan membuat seseorang mendustakan kebenaran. Adapun bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan mendorong untuk membenarkan kebenaran. Barang siapa merasakan bisikan yang baik itu, hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah, lalu hendaklah ia memuji Allah. Sebaliknya, barang siapa merasakan bisikan yang lain, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah,﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ [البقرة: ٢٦٨]“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268).Tentu saja, tidak setiap kekhawatiran berasal dari setan. Rasa takut terhadap masa depan adalah fitrah manusia. Akan tetapi, ketika rasa takut itu membuat seseorang kehilangan ketenangan, berburuk sangka kepada Allah, enggan beramal, bahkan selalu dihantui berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi, maka rasa takut tersebut telah berubah menjadi overthinking yang melemahkan tawakal.Seorang mukmin diperintahkan untuk mempersiapkan masa depan dengan ikhtiar yang benar, tetapi hatinya tetap bersandar kepada Allah. Ia merencanakan kehidupan hari esok, namun tidak membiarkan pikirannya dikuasai oleh bayangan-bayangan buruk yang belum tentu menjadi kenyataan. Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: berikhtiar tanpa kehilangan tawakal, dan berpikir tanpa terjerumus dalam overthinking. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa TuaSebagian orang mengira bahwa memikirkan masa tua berarti kurang bertawakal kepada Allah. Anggapan ini tidak tepat. Islam tidak pernah melarang seorang muslim mempersiapkan masa depannya. Bahkan, syariat justru mendorong seorang hamba untuk berikhtiar dan mempersiapkan bekal sebelum datang hari-hari yang membutuhkan persiapan tersebut.Perbedaannya terletak pada sikap hati. Islam mengajarkan persiapan, bukan kepanikan. Islam mendorong seorang muslim berpikir jauh ke depan, tetapi tidak membiarkan pikirannya terus-menerus dipenuhi kecemasan yang melemahkan semangat hidup dan ibadah.Persiapan menghadapi masa tua dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadap Allah, menjaga kesehatan agar tetap kuat beribadah, bekerja dan mengelola harta dengan baik, memperbanyak doa memohon keberkahan usia, serta mendidik anak-anak menjadi pribadi yang saleh sehingga kelak menjadi penyejuk hati dan terus mendoakan kedua orang tuanya.Doa yang bisa kita amalkan,اللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”Doa ini bersumber dari hadits dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah dari ayahnya (Abu Bakrah) bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ »“Wahai Rasulullah, manusia seperti apa yang dikatakan baik?” Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya dan baik amalnya.” “Lalu manusia seperti apa yang dikatakan jelek?”, tanya laki-laki tadi. Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun jelek amalnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2330. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadits ini shahih lighairihi). Yang dimaksud dengan “baik amalnya” adalah apabila amalan tersebut dilakukan dengan ikhlas dan ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahaya Overthinking tentang Masa TuaOverthinking tentang masa tua tidak membuat seseorang lebih siap menghadapinya. Sebaliknya, hal itu justru menguras energi, menghilangkan ketenangan, dan membuat seseorang sulit menikmati nikmat yang Allah berikan hari ini.Orang yang terus-menerus dikuasai overthinking biasanya akan mengalami beberapa dampak berikut.Sulit menikmati usia yang sedang dijalani. Pikirannya terus melayang kepada masa depan hingga lupa mensyukuri nikmat hari ini.Selalu dihantui rasa cemas. Setiap kemungkinan buruk dibayangkan seolah-olah pasti akan terjadi.Kurang bersyukur atas karunia Allah. Fokusnya lebih tertuju pada apa yang mungkin hilang daripada nikmat yang masih dimiliki.Semangat beribadah mulai melemah. Waktu dan pikirannya habis untuk mencemaskan masa depan, bukan memperbanyak bekal menuju akhirat.Mudah berputus asa. Ia merasa masa depannya suram sebelum benar-benar mengalaminya.Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia benar-benar akan sampai pada usia tua. Bisa jadi seseorang begitu sibuk mengkhawatirkan masa tuanya, padahal ajal menjemput lebih dahulu. Karena itu, seorang mukmin hendaknya lebih banyak mempersiapkan amal saleh daripada menghabiskan waktu untuk mencemaskan sesuatu yang masih berada dalam ilmu Allah. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?”Salah satu penyebab overthinking tentang masa tua adalah karena seseorang terlalu sibuk memikirkan kapan berbagai hal buruk akan terjadi. Ia terus bertanya, “Kapan aku sakit?”, “Kapan aku menjadi lemah?”, atau “Kapan ajal akan menjemputku?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak akan memberikan ketenangan, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan semua itu akan terjadi.Islam mengajarkan cara pandang yang berbeda. Yang terpenting bukanlah mengetahui kapan kematian datang, tetapi bagaimana keadaan kita ketika kematian itu datang. Karena itu, seorang muslim tidak diperintahkan untuk sibuk menebak sisa umurnya, melainkan mempersiapkan bekal terbaik sebelum ajal tiba.Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan umatnya untuk sering mengingat kematian. Tujuannya bukan agar hidup dipenuhi rasa takut dan kecemasan, melainkan agar seseorang semakin semangat bertobat, memperbanyak amal saleh, dan tidak terlena oleh kehidupan dunia. Mengingat kematian yang benar akan mendorong seseorang menjadi lebih baik, bukan membuatnya putus asa atau kehilangan semangat hidup.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,وَلِهَذَا نَقُولُ: أَنْتَ لَا تَسْأَلُ مَتَى تَمُوتُ، وَلَا أَيْنَ تَمُوتُ؛ لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ لَا يَحْتَاجُ إِلَى سُؤَالٍ، أَمْرٌ مَفْرُوغٌ مِنْهُ، وَلَابُدَّ أَنْ يَكُونَ، وَمَهْمَا طَالَتْ بِكَ الدُّنْيَا، فَكَأَنَّمَا بَقِيتَ يَوْمًا وَاحِدًا، بَلْ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا﴾ [النَّازِعَاتِ: ٤٦]. وَلَكِنِ السُّؤَالُ الَّذِي يَجِبُ أَنْ يَرِدَ عَلَى النَّفْسِ، وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لَدَيْكَ جَوَابٌ عَلَيْهِ هُوَ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟! وَلَسْتُ أُرِيدُ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ، هَلْ أَنْتَ غَنِيٌّ أَوْ فَقِيرٌ، أَوْ قَوِيٌّ أَوْ ضَعِيفٌ، أَوْ ذُو عِيَالٍ أَوْ عَقِيمٌ، بَلْ عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ فِي الْعَمَلِ؟ فَإِذَا كُنْتَ تُسَائِلُ نَفْسَكَ هَذَا السُّؤَالَ، فَلَابُدَّ أَنْ تَسْتَعِدَّ؛ لِأَنَّكَ لَا تَدْرِي مَتَى يَفْجَؤُكَ الْمَوْتُ، كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ يَقُودُ سَيَّارَتَهُ، وَرَجَعَ بِهِ مَحْمُولًا عَلَى الْأَكْتَافِ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ مِنْ أَهْلِهِ يَقُولُ: هَيِّئُوا لِي طَعَامَ الْغَدَاءِ أَوِ الْعَشَاءِ، وَلَكِنْ لَمْ يَأْكُلْهُ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ لَبِسَ قَمِيصَهُ وَزَرَّ أَزِرَّتَهُ، وَلَمْ يَفُكَّهَا إِلَّا الْغَاسِلُ يُغَسِّلُهُ. هَذَا أَمْرٌ مُشَاهَدٌ بِحَوَادِثِ الْبَغْتَةِ، فَانْظُرِ الْآنَ وَفَكِّرْ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَكَ أَنْ تُكْثِرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ مَا اسْتَطَعْتَ، فَإِنَّ الِاسْتِغْفَارَ فِيهِ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا.“Karena itu, kami mengatakan: Janganlah engkau bertanya, ‘Kapan aku akan mati?’ atau ‘Di mana aku akan mati?’ Sebab, hal itu tidak perlu dipertanyakan. Semua itu telah Allah tetapkan dan pasti akan terjadi. Seandainya pun umurmu sangat panjang, pada akhirnya kehidupan dunia akan terasa seolah-olah hanya berlangsung sehari saja. Bahkan Allah berfirman,‘Pada hari mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seakan-akan hanya tinggal di dunia pada waktu sore atau pagi hari saja.’ (QS. An-Nazi’at: 46)Namun, pertanyaan yang seharusnya selalu engkau ajukan kepada dirimu adalah: ‘Dalam keadaan bagaimana aku akan mati?’ Bukan apakah saat itu engkau kaya atau miskin, kuat atau lemah, memiliki banyak anak atau tidak. Akan tetapi, dalam keadaan bagaimana amalmu ketika kematian datang?Jika engkau terus menanyakan hal itu kepada dirimu, tentu engkau akan mempersiapkan diri. Sebab, tidak ada yang tahu kapan kematian datang secara tiba-tiba. Betapa banyak orang yang keluar mengendarai mobilnya, tetapi pulang dalam keadaan dipikul di atas bahu. Betapa banyak orang yang berpamitan kepada keluarganya sambil berkata, ‘Siapkan makan siang atau makan malam untukku,’ tetapi ternyata ia tidak sempat memakannya. Betapa banyak orang yang mengenakan bajunya dan mengancingkannya, namun tidak ada yang membuka kancing itu selain orang yang memandikannya setelah ia meninggal dunia. Peristiwa seperti ini sering kita saksikan dalam kehidupan. Karena itu, renungkanlah, dalam keadaan bagaimana engkau ingin menemui kematian.Oleh sebab itu, perbanyaklah istigfar semampumu. Sebab, dengan istigfar Allah memberikan jalan keluar dari setiap kegelisahan dan memberikan kelapangan dari setiap kesempitan.” (Liqā’ al-Bāb al-Maftūḥ, pertemuan ke-17).Inilah yang membedakan seorang mukmin dengan orang yang dikuasai overthinking. Orang yang overthinking menghabiskan waktunya untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi. Adapun seorang mukmin menggunakan waktunya untuk memperbaiki amal hari ini, karena ia sadar bahwa kapan pun kematian datang, bekal terbaik yang dapat dibawa hanyalah iman dan amal saleh. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ. فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.“Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa TuaDoa #05 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Berlindung dari Kemalasan Beribadah, Masa Tua yang Jelek, dan Syahwat Duniaاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI, WA A’UUDZU BIKA AN ARUDDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UUDZU BIKA MIN FITNATID DUN-YAA, WA A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI. Artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari sifat lemah dalam melakukan ibadah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari godaan syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban, pen.), dan aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur. (HR. Bukhari, no. 2822) Doa #08 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa agar Diperbagus Setiap Urusanاللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِALLOOHUMMA AHSIN ‘AAQIBATANAA FIL UMUURI KULLIHAA, WA AJIRNAA MIN KHIZYID DUN-YAA WA ‘ADZAAِBIL AAKHIROH.Artinya: Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat. (HR. Ahmad, 4:181, dari Busr bin Arthah Al-Qurasyi) Doa #13 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Meminta Panjang Umur dan Bagusnya Amalاللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”  —– Selasa, 21 Juli 2027Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh doa nabi hari tua husnul khatimah kematian masa tua overthinking persiapan akhirat psikologi Islam tawakal
Semakin bertambah usia, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul dalam benak seseorang. “Bagaimana jika nanti aku sakit?”, “Siapa yang akan merawatku?”, atau “Apakah aku masih bisa beribadah dengan baik?” Jika pertanyaan-pertanyaan itu terus menguasai hati hingga menghilangkan ketenangan, berarti seseorang telah terjebak dalam overthinking tentang masa tua. Islam tidak mengajarkan kita hidup dalam bayang-bayang ketakutan, tetapi mempersiapkan masa depan dengan keyakinan kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa Tua 1.1. 1. Takut Kehilangan Kesehatan 1.2. 2. Takut Kehilangan Kemandirian 1.3. 3. Takut Kekurangan Harta 1.4. 4. Takut Kesepian 2. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua? 3. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa Tua 4. Bahaya Overthinking tentang Masa Tua 5. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?” 6. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 7. Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa Tua  Baca juga: Overthinking dalam Islam: Kapan Berpikir Menjadi Masalah? Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa TuaBerbagai penelitian dalam bidang psikologi dan kesehatan lansia menunjukkan bahwa ketika seseorang mulai memikirkan masa tua, kekhawatirannya umumnya berputar pada beberapa hal berikut.1. Takut Kehilangan KesehatanInilah kekhawatiran yang paling banyak dirasakan.Seseorang mulai membayangkan dirinya terserang penyakit kronis, sulit berjalan, tidak mampu lagi beraktivitas, atau mengalami penurunan daya ingat. Bahkan, sebagian orang yang masih sehat sudah merasa cemas terhadap penyakit yang belum tentu akan menimpanya.Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga kesehatan sebagai nikmat Allah, tetapi tidak tenggelam dalam ketakutan terhadap sesuatu yang masih berada dalam ketentuan-Nya. 2. Takut Kehilangan KemandirianBanyak orang sebenarnya bukan takut sakit, melainkan takut bergantung kepada orang lain.Mereka khawatir suatu saat tidak mampu mengurus dirinya sendiri, harus dibantu ketika makan, berjalan, atau menjalankan aktivitas sehari-hari. Perasaan menjadi beban bagi keluarga sering kali lebih menakutkan daripada penyakit itu sendiri.Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan doa agar tidak dikembalikan kepada أَرْذَلِ الْعُمُرِ, yaitu usia yang sangat lemah sehingga kemampuan fisik dan akal mengalami penurunan. 3. Takut Kekurangan HartaSetelah tidak lagi produktif bekerja, sebagian orang mulai bertanya,“Apakah tabunganku cukup?”“Bagaimana jika biaya berobat sangat mahal?”“Bagaimana jika aku hidup lebih lama daripada kemampuan finansialku?”Kekhawatiran seperti ini dapat mendorong seseorang menjadi terlalu pelit, sulit bersedekah, bahkan kehilangan tawakal kepada Allah. 4. Takut KesepianManusia diciptakan sebagai makhluk sosial.Karena itu, tidak sedikit orang yang membayangkan masa tua sebagai masa yang sunyi. Mereka khawatir pasangan meninggal lebih dahulu, anak-anak tinggal berjauhan, atau tidak lagi memiliki teman berbagi cerita.Padahal, seorang mukmin yang hatinya dekat dengan Allah tidak pernah benar-benar sendirian. Ia selalu ditemani dengan zikir, doa, Al-Qur’an, dan amal saleh. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua?Tidak sedikit orang yang belum memasuki usia lanjut, tetapi pikirannya sudah dipenuhi berbagai kekhawatiran tentang masa tua. Ketika usia bertambah, bayangan tentang hari-hari yang akan datang mulai bermunculan. Ada yang membayangkan dirinya akan jatuh sakit, ada yang khawatir tidak lagi produktif, ada pula yang takut menjadi beban bagi keluarga.Berbagai pertanyaan pun memenuhi benaknya.“Bagaimana nanti ketika pensiun dan tidak lagi memiliki penghasilan?”“Kalau suatu saat aku sakit, siapa yang akan merawatku?”“Bagaimana jika pasangan meninggal lebih dahulu sehingga aku harus hidup sendirian?”“Bagaimana jika anak-anak sibuk dengan keluarganya masing-masing dan tidak lagi memperhatikanku?”“Bagaimana jika tabunganku habis sebelum ajal datang?”“Bagaimana jika aku mengalami pikun dan tidak mampu lagi mengurus diri sendiri?”“Bagaimana jika di usia tua aku tidak lagi memiliki teman dan harus menjalani hari-hari seorang diri?”Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang manusiawi. Islam tidak melarang seseorang memikirkan masa depan atau mempersiapkan hari tua. Bahkan seorang muslim dianjurkan bekerja, menjaga kesehatan, mengelola harta dengan baik, mendidik anak-anak, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadapi masa depan.Namun, masalah muncul ketika kekhawatiran tersebut terus berputar di dalam pikiran hingga menguasai hati. Seseorang akhirnya lebih sibuk membayangkan berbagai kemungkinan buruk daripada menjalani hari ini dengan penuh syukur dan ketaatan. Ia merasa cemas terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu akan terjadi.Di sinilah overthinking mulai menggerogoti ketenangan hati.Padahal, salah satu cara setan melemahkan manusia adalah dengan memenuhi hatinya dengan rasa takut terhadap masa depan, terutama ketakutan terhadap kemiskinan. Allah Ta’ala berfirman,ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.“(QS. Al-Baqarah: 268)Ayat ini menunjukkan bahwa rasa takut terhadap masa depan dapat menjadi pintu masuk bagi setan untuk melemahkan keyakinan seorang hamba kepada Rabbnya. Setan terus membisikkan bahwa masa depan akan penuh kesulitan, harta akan habis, kesehatan akan hilang, dan kehidupan akan semakin berat. Sebaliknya, Allah menguatkan hati orang-orang beriman dengan janji ampunan, pertolongan, dan karunia-Nya.Dalam Tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat ini disebutkan: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ، وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً، فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ الْأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada hati anak Adam, demikian pula malaikat memiliki bisikan. Bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan membuat seseorang mendustakan kebenaran. Adapun bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan mendorong untuk membenarkan kebenaran. Barang siapa merasakan bisikan yang baik itu, hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah, lalu hendaklah ia memuji Allah. Sebaliknya, barang siapa merasakan bisikan yang lain, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah,﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ [البقرة: ٢٦٨]“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268).Tentu saja, tidak setiap kekhawatiran berasal dari setan. Rasa takut terhadap masa depan adalah fitrah manusia. Akan tetapi, ketika rasa takut itu membuat seseorang kehilangan ketenangan, berburuk sangka kepada Allah, enggan beramal, bahkan selalu dihantui berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi, maka rasa takut tersebut telah berubah menjadi overthinking yang melemahkan tawakal.Seorang mukmin diperintahkan untuk mempersiapkan masa depan dengan ikhtiar yang benar, tetapi hatinya tetap bersandar kepada Allah. Ia merencanakan kehidupan hari esok, namun tidak membiarkan pikirannya dikuasai oleh bayangan-bayangan buruk yang belum tentu menjadi kenyataan. Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: berikhtiar tanpa kehilangan tawakal, dan berpikir tanpa terjerumus dalam overthinking. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa TuaSebagian orang mengira bahwa memikirkan masa tua berarti kurang bertawakal kepada Allah. Anggapan ini tidak tepat. Islam tidak pernah melarang seorang muslim mempersiapkan masa depannya. Bahkan, syariat justru mendorong seorang hamba untuk berikhtiar dan mempersiapkan bekal sebelum datang hari-hari yang membutuhkan persiapan tersebut.Perbedaannya terletak pada sikap hati. Islam mengajarkan persiapan, bukan kepanikan. Islam mendorong seorang muslim berpikir jauh ke depan, tetapi tidak membiarkan pikirannya terus-menerus dipenuhi kecemasan yang melemahkan semangat hidup dan ibadah.Persiapan menghadapi masa tua dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadap Allah, menjaga kesehatan agar tetap kuat beribadah, bekerja dan mengelola harta dengan baik, memperbanyak doa memohon keberkahan usia, serta mendidik anak-anak menjadi pribadi yang saleh sehingga kelak menjadi penyejuk hati dan terus mendoakan kedua orang tuanya.Doa yang bisa kita amalkan,اللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”Doa ini bersumber dari hadits dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah dari ayahnya (Abu Bakrah) bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ »“Wahai Rasulullah, manusia seperti apa yang dikatakan baik?” Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya dan baik amalnya.” “Lalu manusia seperti apa yang dikatakan jelek?”, tanya laki-laki tadi. Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun jelek amalnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2330. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadits ini shahih lighairihi). Yang dimaksud dengan “baik amalnya” adalah apabila amalan tersebut dilakukan dengan ikhlas dan ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahaya Overthinking tentang Masa TuaOverthinking tentang masa tua tidak membuat seseorang lebih siap menghadapinya. Sebaliknya, hal itu justru menguras energi, menghilangkan ketenangan, dan membuat seseorang sulit menikmati nikmat yang Allah berikan hari ini.Orang yang terus-menerus dikuasai overthinking biasanya akan mengalami beberapa dampak berikut.Sulit menikmati usia yang sedang dijalani. Pikirannya terus melayang kepada masa depan hingga lupa mensyukuri nikmat hari ini.Selalu dihantui rasa cemas. Setiap kemungkinan buruk dibayangkan seolah-olah pasti akan terjadi.Kurang bersyukur atas karunia Allah. Fokusnya lebih tertuju pada apa yang mungkin hilang daripada nikmat yang masih dimiliki.Semangat beribadah mulai melemah. Waktu dan pikirannya habis untuk mencemaskan masa depan, bukan memperbanyak bekal menuju akhirat.Mudah berputus asa. Ia merasa masa depannya suram sebelum benar-benar mengalaminya.Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia benar-benar akan sampai pada usia tua. Bisa jadi seseorang begitu sibuk mengkhawatirkan masa tuanya, padahal ajal menjemput lebih dahulu. Karena itu, seorang mukmin hendaknya lebih banyak mempersiapkan amal saleh daripada menghabiskan waktu untuk mencemaskan sesuatu yang masih berada dalam ilmu Allah. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?”Salah satu penyebab overthinking tentang masa tua adalah karena seseorang terlalu sibuk memikirkan kapan berbagai hal buruk akan terjadi. Ia terus bertanya, “Kapan aku sakit?”, “Kapan aku menjadi lemah?”, atau “Kapan ajal akan menjemputku?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak akan memberikan ketenangan, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan semua itu akan terjadi.Islam mengajarkan cara pandang yang berbeda. Yang terpenting bukanlah mengetahui kapan kematian datang, tetapi bagaimana keadaan kita ketika kematian itu datang. Karena itu, seorang muslim tidak diperintahkan untuk sibuk menebak sisa umurnya, melainkan mempersiapkan bekal terbaik sebelum ajal tiba.Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan umatnya untuk sering mengingat kematian. Tujuannya bukan agar hidup dipenuhi rasa takut dan kecemasan, melainkan agar seseorang semakin semangat bertobat, memperbanyak amal saleh, dan tidak terlena oleh kehidupan dunia. Mengingat kematian yang benar akan mendorong seseorang menjadi lebih baik, bukan membuatnya putus asa atau kehilangan semangat hidup.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,وَلِهَذَا نَقُولُ: أَنْتَ لَا تَسْأَلُ مَتَى تَمُوتُ، وَلَا أَيْنَ تَمُوتُ؛ لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ لَا يَحْتَاجُ إِلَى سُؤَالٍ، أَمْرٌ مَفْرُوغٌ مِنْهُ، وَلَابُدَّ أَنْ يَكُونَ، وَمَهْمَا طَالَتْ بِكَ الدُّنْيَا، فَكَأَنَّمَا بَقِيتَ يَوْمًا وَاحِدًا، بَلْ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا﴾ [النَّازِعَاتِ: ٤٦]. وَلَكِنِ السُّؤَالُ الَّذِي يَجِبُ أَنْ يَرِدَ عَلَى النَّفْسِ، وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لَدَيْكَ جَوَابٌ عَلَيْهِ هُوَ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟! وَلَسْتُ أُرِيدُ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ، هَلْ أَنْتَ غَنِيٌّ أَوْ فَقِيرٌ، أَوْ قَوِيٌّ أَوْ ضَعِيفٌ، أَوْ ذُو عِيَالٍ أَوْ عَقِيمٌ، بَلْ عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ فِي الْعَمَلِ؟ فَإِذَا كُنْتَ تُسَائِلُ نَفْسَكَ هَذَا السُّؤَالَ، فَلَابُدَّ أَنْ تَسْتَعِدَّ؛ لِأَنَّكَ لَا تَدْرِي مَتَى يَفْجَؤُكَ الْمَوْتُ، كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ يَقُودُ سَيَّارَتَهُ، وَرَجَعَ بِهِ مَحْمُولًا عَلَى الْأَكْتَافِ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ مِنْ أَهْلِهِ يَقُولُ: هَيِّئُوا لِي طَعَامَ الْغَدَاءِ أَوِ الْعَشَاءِ، وَلَكِنْ لَمْ يَأْكُلْهُ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ لَبِسَ قَمِيصَهُ وَزَرَّ أَزِرَّتَهُ، وَلَمْ يَفُكَّهَا إِلَّا الْغَاسِلُ يُغَسِّلُهُ. هَذَا أَمْرٌ مُشَاهَدٌ بِحَوَادِثِ الْبَغْتَةِ، فَانْظُرِ الْآنَ وَفَكِّرْ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَكَ أَنْ تُكْثِرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ مَا اسْتَطَعْتَ، فَإِنَّ الِاسْتِغْفَارَ فِيهِ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا.“Karena itu, kami mengatakan: Janganlah engkau bertanya, ‘Kapan aku akan mati?’ atau ‘Di mana aku akan mati?’ Sebab, hal itu tidak perlu dipertanyakan. Semua itu telah Allah tetapkan dan pasti akan terjadi. Seandainya pun umurmu sangat panjang, pada akhirnya kehidupan dunia akan terasa seolah-olah hanya berlangsung sehari saja. Bahkan Allah berfirman,‘Pada hari mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seakan-akan hanya tinggal di dunia pada waktu sore atau pagi hari saja.’ (QS. An-Nazi’at: 46)Namun, pertanyaan yang seharusnya selalu engkau ajukan kepada dirimu adalah: ‘Dalam keadaan bagaimana aku akan mati?’ Bukan apakah saat itu engkau kaya atau miskin, kuat atau lemah, memiliki banyak anak atau tidak. Akan tetapi, dalam keadaan bagaimana amalmu ketika kematian datang?Jika engkau terus menanyakan hal itu kepada dirimu, tentu engkau akan mempersiapkan diri. Sebab, tidak ada yang tahu kapan kematian datang secara tiba-tiba. Betapa banyak orang yang keluar mengendarai mobilnya, tetapi pulang dalam keadaan dipikul di atas bahu. Betapa banyak orang yang berpamitan kepada keluarganya sambil berkata, ‘Siapkan makan siang atau makan malam untukku,’ tetapi ternyata ia tidak sempat memakannya. Betapa banyak orang yang mengenakan bajunya dan mengancingkannya, namun tidak ada yang membuka kancing itu selain orang yang memandikannya setelah ia meninggal dunia. Peristiwa seperti ini sering kita saksikan dalam kehidupan. Karena itu, renungkanlah, dalam keadaan bagaimana engkau ingin menemui kematian.Oleh sebab itu, perbanyaklah istigfar semampumu. Sebab, dengan istigfar Allah memberikan jalan keluar dari setiap kegelisahan dan memberikan kelapangan dari setiap kesempitan.” (Liqā’ al-Bāb al-Maftūḥ, pertemuan ke-17).Inilah yang membedakan seorang mukmin dengan orang yang dikuasai overthinking. Orang yang overthinking menghabiskan waktunya untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi. Adapun seorang mukmin menggunakan waktunya untuk memperbaiki amal hari ini, karena ia sadar bahwa kapan pun kematian datang, bekal terbaik yang dapat dibawa hanyalah iman dan amal saleh. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ. فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.“Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa TuaDoa #05 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Berlindung dari Kemalasan Beribadah, Masa Tua yang Jelek, dan Syahwat Duniaاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI, WA A’UUDZU BIKA AN ARUDDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UUDZU BIKA MIN FITNATID DUN-YAA, WA A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI. Artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari sifat lemah dalam melakukan ibadah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari godaan syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban, pen.), dan aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur. (HR. Bukhari, no. 2822) Doa #08 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa agar Diperbagus Setiap Urusanاللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِALLOOHUMMA AHSIN ‘AAQIBATANAA FIL UMUURI KULLIHAA, WA AJIRNAA MIN KHIZYID DUN-YAA WA ‘ADZAAِBIL AAKHIROH.Artinya: Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat. (HR. Ahmad, 4:181, dari Busr bin Arthah Al-Qurasyi) Doa #13 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Meminta Panjang Umur dan Bagusnya Amalاللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”  —– Selasa, 21 Juli 2027Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh doa nabi hari tua husnul khatimah kematian masa tua overthinking persiapan akhirat psikologi Islam tawakal


Semakin bertambah usia, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul dalam benak seseorang. “Bagaimana jika nanti aku sakit?”, “Siapa yang akan merawatku?”, atau “Apakah aku masih bisa beribadah dengan baik?” Jika pertanyaan-pertanyaan itu terus menguasai hati hingga menghilangkan ketenangan, berarti seseorang telah terjebak dalam overthinking tentang masa tua. Islam tidak mengajarkan kita hidup dalam bayang-bayang ketakutan, tetapi mempersiapkan masa depan dengan keyakinan kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa Tua 1.1. 1. Takut Kehilangan Kesehatan 1.2. 2. Takut Kehilangan Kemandirian 1.3. 3. Takut Kekurangan Harta 1.4. 4. Takut Kesepian 2. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua? 3. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa Tua 4. Bahaya Overthinking tentang Masa Tua 5. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?” 6. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 7. Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa Tua  Baca juga: Overthinking dalam Islam: Kapan Berpikir Menjadi Masalah? Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa TuaBerbagai penelitian dalam bidang psikologi dan kesehatan lansia menunjukkan bahwa ketika seseorang mulai memikirkan masa tua, kekhawatirannya umumnya berputar pada beberapa hal berikut.1. Takut Kehilangan KesehatanInilah kekhawatiran yang paling banyak dirasakan.Seseorang mulai membayangkan dirinya terserang penyakit kronis, sulit berjalan, tidak mampu lagi beraktivitas, atau mengalami penurunan daya ingat. Bahkan, sebagian orang yang masih sehat sudah merasa cemas terhadap penyakit yang belum tentu akan menimpanya.Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga kesehatan sebagai nikmat Allah, tetapi tidak tenggelam dalam ketakutan terhadap sesuatu yang masih berada dalam ketentuan-Nya. 2. Takut Kehilangan KemandirianBanyak orang sebenarnya bukan takut sakit, melainkan takut bergantung kepada orang lain.Mereka khawatir suatu saat tidak mampu mengurus dirinya sendiri, harus dibantu ketika makan, berjalan, atau menjalankan aktivitas sehari-hari. Perasaan menjadi beban bagi keluarga sering kali lebih menakutkan daripada penyakit itu sendiri.Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan doa agar tidak dikembalikan kepada أَرْذَلِ الْعُمُرِ, yaitu usia yang sangat lemah sehingga kemampuan fisik dan akal mengalami penurunan. 3. Takut Kekurangan HartaSetelah tidak lagi produktif bekerja, sebagian orang mulai bertanya,“Apakah tabunganku cukup?”“Bagaimana jika biaya berobat sangat mahal?”“Bagaimana jika aku hidup lebih lama daripada kemampuan finansialku?”Kekhawatiran seperti ini dapat mendorong seseorang menjadi terlalu pelit, sulit bersedekah, bahkan kehilangan tawakal kepada Allah. 4. Takut KesepianManusia diciptakan sebagai makhluk sosial.Karena itu, tidak sedikit orang yang membayangkan masa tua sebagai masa yang sunyi. Mereka khawatir pasangan meninggal lebih dahulu, anak-anak tinggal berjauhan, atau tidak lagi memiliki teman berbagi cerita.Padahal, seorang mukmin yang hatinya dekat dengan Allah tidak pernah benar-benar sendirian. Ia selalu ditemani dengan zikir, doa, Al-Qur’an, dan amal saleh. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua?Tidak sedikit orang yang belum memasuki usia lanjut, tetapi pikirannya sudah dipenuhi berbagai kekhawatiran tentang masa tua. Ketika usia bertambah, bayangan tentang hari-hari yang akan datang mulai bermunculan. Ada yang membayangkan dirinya akan jatuh sakit, ada yang khawatir tidak lagi produktif, ada pula yang takut menjadi beban bagi keluarga.Berbagai pertanyaan pun memenuhi benaknya.“Bagaimana nanti ketika pensiun dan tidak lagi memiliki penghasilan?”“Kalau suatu saat aku sakit, siapa yang akan merawatku?”“Bagaimana jika pasangan meninggal lebih dahulu sehingga aku harus hidup sendirian?”“Bagaimana jika anak-anak sibuk dengan keluarganya masing-masing dan tidak lagi memperhatikanku?”“Bagaimana jika tabunganku habis sebelum ajal datang?”“Bagaimana jika aku mengalami pikun dan tidak mampu lagi mengurus diri sendiri?”“Bagaimana jika di usia tua aku tidak lagi memiliki teman dan harus menjalani hari-hari seorang diri?”Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang manusiawi. Islam tidak melarang seseorang memikirkan masa depan atau mempersiapkan hari tua. Bahkan seorang muslim dianjurkan bekerja, menjaga kesehatan, mengelola harta dengan baik, mendidik anak-anak, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadapi masa depan.Namun, masalah muncul ketika kekhawatiran tersebut terus berputar di dalam pikiran hingga menguasai hati. Seseorang akhirnya lebih sibuk membayangkan berbagai kemungkinan buruk daripada menjalani hari ini dengan penuh syukur dan ketaatan. Ia merasa cemas terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu akan terjadi.Di sinilah overthinking mulai menggerogoti ketenangan hati.Padahal, salah satu cara setan melemahkan manusia adalah dengan memenuhi hatinya dengan rasa takut terhadap masa depan, terutama ketakutan terhadap kemiskinan. Allah Ta’ala berfirman,ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.“(QS. Al-Baqarah: 268)Ayat ini menunjukkan bahwa rasa takut terhadap masa depan dapat menjadi pintu masuk bagi setan untuk melemahkan keyakinan seorang hamba kepada Rabbnya. Setan terus membisikkan bahwa masa depan akan penuh kesulitan, harta akan habis, kesehatan akan hilang, dan kehidupan akan semakin berat. Sebaliknya, Allah menguatkan hati orang-orang beriman dengan janji ampunan, pertolongan, dan karunia-Nya.Dalam Tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat ini disebutkan: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ، وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً، فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ الْأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada hati anak Adam, demikian pula malaikat memiliki bisikan. Bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan membuat seseorang mendustakan kebenaran. Adapun bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan mendorong untuk membenarkan kebenaran. Barang siapa merasakan bisikan yang baik itu, hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah, lalu hendaklah ia memuji Allah. Sebaliknya, barang siapa merasakan bisikan yang lain, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah,﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ [البقرة: ٢٦٨]“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268).Tentu saja, tidak setiap kekhawatiran berasal dari setan. Rasa takut terhadap masa depan adalah fitrah manusia. Akan tetapi, ketika rasa takut itu membuat seseorang kehilangan ketenangan, berburuk sangka kepada Allah, enggan beramal, bahkan selalu dihantui berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi, maka rasa takut tersebut telah berubah menjadi overthinking yang melemahkan tawakal.Seorang mukmin diperintahkan untuk mempersiapkan masa depan dengan ikhtiar yang benar, tetapi hatinya tetap bersandar kepada Allah. Ia merencanakan kehidupan hari esok, namun tidak membiarkan pikirannya dikuasai oleh bayangan-bayangan buruk yang belum tentu menjadi kenyataan. Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: berikhtiar tanpa kehilangan tawakal, dan berpikir tanpa terjerumus dalam overthinking. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa TuaSebagian orang mengira bahwa memikirkan masa tua berarti kurang bertawakal kepada Allah. Anggapan ini tidak tepat. Islam tidak pernah melarang seorang muslim mempersiapkan masa depannya. Bahkan, syariat justru mendorong seorang hamba untuk berikhtiar dan mempersiapkan bekal sebelum datang hari-hari yang membutuhkan persiapan tersebut.Perbedaannya terletak pada sikap hati. Islam mengajarkan persiapan, bukan kepanikan. Islam mendorong seorang muslim berpikir jauh ke depan, tetapi tidak membiarkan pikirannya terus-menerus dipenuhi kecemasan yang melemahkan semangat hidup dan ibadah.Persiapan menghadapi masa tua dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadap Allah, menjaga kesehatan agar tetap kuat beribadah, bekerja dan mengelola harta dengan baik, memperbanyak doa memohon keberkahan usia, serta mendidik anak-anak menjadi pribadi yang saleh sehingga kelak menjadi penyejuk hati dan terus mendoakan kedua orang tuanya.Doa yang bisa kita amalkan,اللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”Doa ini bersumber dari hadits dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah dari ayahnya (Abu Bakrah) bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ »“Wahai Rasulullah, manusia seperti apa yang dikatakan baik?” Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya dan baik amalnya.” “Lalu manusia seperti apa yang dikatakan jelek?”, tanya laki-laki tadi. Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun jelek amalnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2330. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadits ini shahih lighairihi). Yang dimaksud dengan “baik amalnya” adalah apabila amalan tersebut dilakukan dengan ikhlas dan ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahaya Overthinking tentang Masa TuaOverthinking tentang masa tua tidak membuat seseorang lebih siap menghadapinya. Sebaliknya, hal itu justru menguras energi, menghilangkan ketenangan, dan membuat seseorang sulit menikmati nikmat yang Allah berikan hari ini.Orang yang terus-menerus dikuasai overthinking biasanya akan mengalami beberapa dampak berikut.Sulit menikmati usia yang sedang dijalani. Pikirannya terus melayang kepada masa depan hingga lupa mensyukuri nikmat hari ini.Selalu dihantui rasa cemas. Setiap kemungkinan buruk dibayangkan seolah-olah pasti akan terjadi.Kurang bersyukur atas karunia Allah. Fokusnya lebih tertuju pada apa yang mungkin hilang daripada nikmat yang masih dimiliki.Semangat beribadah mulai melemah. Waktu dan pikirannya habis untuk mencemaskan masa depan, bukan memperbanyak bekal menuju akhirat.Mudah berputus asa. Ia merasa masa depannya suram sebelum benar-benar mengalaminya.Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia benar-benar akan sampai pada usia tua. Bisa jadi seseorang begitu sibuk mengkhawatirkan masa tuanya, padahal ajal menjemput lebih dahulu. Karena itu, seorang mukmin hendaknya lebih banyak mempersiapkan amal saleh daripada menghabiskan waktu untuk mencemaskan sesuatu yang masih berada dalam ilmu Allah. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?”Salah satu penyebab overthinking tentang masa tua adalah karena seseorang terlalu sibuk memikirkan kapan berbagai hal buruk akan terjadi. Ia terus bertanya, “Kapan aku sakit?”, “Kapan aku menjadi lemah?”, atau “Kapan ajal akan menjemputku?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak akan memberikan ketenangan, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan semua itu akan terjadi.Islam mengajarkan cara pandang yang berbeda. Yang terpenting bukanlah mengetahui kapan kematian datang, tetapi bagaimana keadaan kita ketika kematian itu datang. Karena itu, seorang muslim tidak diperintahkan untuk sibuk menebak sisa umurnya, melainkan mempersiapkan bekal terbaik sebelum ajal tiba.Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan umatnya untuk sering mengingat kematian. Tujuannya bukan agar hidup dipenuhi rasa takut dan kecemasan, melainkan agar seseorang semakin semangat bertobat, memperbanyak amal saleh, dan tidak terlena oleh kehidupan dunia. Mengingat kematian yang benar akan mendorong seseorang menjadi lebih baik, bukan membuatnya putus asa atau kehilangan semangat hidup.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,وَلِهَذَا نَقُولُ: أَنْتَ لَا تَسْأَلُ مَتَى تَمُوتُ، وَلَا أَيْنَ تَمُوتُ؛ لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ لَا يَحْتَاجُ إِلَى سُؤَالٍ، أَمْرٌ مَفْرُوغٌ مِنْهُ، وَلَابُدَّ أَنْ يَكُونَ، وَمَهْمَا طَالَتْ بِكَ الدُّنْيَا، فَكَأَنَّمَا بَقِيتَ يَوْمًا وَاحِدًا، بَلْ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا﴾ [النَّازِعَاتِ: ٤٦]. وَلَكِنِ السُّؤَالُ الَّذِي يَجِبُ أَنْ يَرِدَ عَلَى النَّفْسِ، وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لَدَيْكَ جَوَابٌ عَلَيْهِ هُوَ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟! وَلَسْتُ أُرِيدُ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ، هَلْ أَنْتَ غَنِيٌّ أَوْ فَقِيرٌ، أَوْ قَوِيٌّ أَوْ ضَعِيفٌ، أَوْ ذُو عِيَالٍ أَوْ عَقِيمٌ، بَلْ عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ فِي الْعَمَلِ؟ فَإِذَا كُنْتَ تُسَائِلُ نَفْسَكَ هَذَا السُّؤَالَ، فَلَابُدَّ أَنْ تَسْتَعِدَّ؛ لِأَنَّكَ لَا تَدْرِي مَتَى يَفْجَؤُكَ الْمَوْتُ، كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ يَقُودُ سَيَّارَتَهُ، وَرَجَعَ بِهِ مَحْمُولًا عَلَى الْأَكْتَافِ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ مِنْ أَهْلِهِ يَقُولُ: هَيِّئُوا لِي طَعَامَ الْغَدَاءِ أَوِ الْعَشَاءِ، وَلَكِنْ لَمْ يَأْكُلْهُ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ لَبِسَ قَمِيصَهُ وَزَرَّ أَزِرَّتَهُ، وَلَمْ يَفُكَّهَا إِلَّا الْغَاسِلُ يُغَسِّلُهُ. هَذَا أَمْرٌ مُشَاهَدٌ بِحَوَادِثِ الْبَغْتَةِ، فَانْظُرِ الْآنَ وَفَكِّرْ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَكَ أَنْ تُكْثِرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ مَا اسْتَطَعْتَ، فَإِنَّ الِاسْتِغْفَارَ فِيهِ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا.“Karena itu, kami mengatakan: Janganlah engkau bertanya, ‘Kapan aku akan mati?’ atau ‘Di mana aku akan mati?’ Sebab, hal itu tidak perlu dipertanyakan. Semua itu telah Allah tetapkan dan pasti akan terjadi. Seandainya pun umurmu sangat panjang, pada akhirnya kehidupan dunia akan terasa seolah-olah hanya berlangsung sehari saja. Bahkan Allah berfirman,‘Pada hari mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seakan-akan hanya tinggal di dunia pada waktu sore atau pagi hari saja.’ (QS. An-Nazi’at: 46)Namun, pertanyaan yang seharusnya selalu engkau ajukan kepada dirimu adalah: ‘Dalam keadaan bagaimana aku akan mati?’ Bukan apakah saat itu engkau kaya atau miskin, kuat atau lemah, memiliki banyak anak atau tidak. Akan tetapi, dalam keadaan bagaimana amalmu ketika kematian datang?Jika engkau terus menanyakan hal itu kepada dirimu, tentu engkau akan mempersiapkan diri. Sebab, tidak ada yang tahu kapan kematian datang secara tiba-tiba. Betapa banyak orang yang keluar mengendarai mobilnya, tetapi pulang dalam keadaan dipikul di atas bahu. Betapa banyak orang yang berpamitan kepada keluarganya sambil berkata, ‘Siapkan makan siang atau makan malam untukku,’ tetapi ternyata ia tidak sempat memakannya. Betapa banyak orang yang mengenakan bajunya dan mengancingkannya, namun tidak ada yang membuka kancing itu selain orang yang memandikannya setelah ia meninggal dunia. Peristiwa seperti ini sering kita saksikan dalam kehidupan. Karena itu, renungkanlah, dalam keadaan bagaimana engkau ingin menemui kematian.Oleh sebab itu, perbanyaklah istigfar semampumu. Sebab, dengan istigfar Allah memberikan jalan keluar dari setiap kegelisahan dan memberikan kelapangan dari setiap kesempitan.” (Liqā’ al-Bāb al-Maftūḥ, pertemuan ke-17).Inilah yang membedakan seorang mukmin dengan orang yang dikuasai overthinking. Orang yang overthinking menghabiskan waktunya untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi. Adapun seorang mukmin menggunakan waktunya untuk memperbaiki amal hari ini, karena ia sadar bahwa kapan pun kematian datang, bekal terbaik yang dapat dibawa hanyalah iman dan amal saleh. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ. فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.“Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa TuaDoa #05 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Berlindung dari Kemalasan Beribadah, Masa Tua yang Jelek, dan Syahwat Duniaاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI, WA A’UUDZU BIKA AN ARUDDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UUDZU BIKA MIN FITNATID DUN-YAA, WA A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI. Artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari sifat lemah dalam melakukan ibadah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari godaan syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban, pen.), dan aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur. (HR. Bukhari, no. 2822) Doa #08 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa agar Diperbagus Setiap Urusanاللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِALLOOHUMMA AHSIN ‘AAQIBATANAA FIL UMUURI KULLIHAA, WA AJIRNAA MIN KHIZYID DUN-YAA WA ‘ADZAAِBIL AAKHIROH.Artinya: Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat. (HR. Ahmad, 4:181, dari Busr bin Arthah Al-Qurasyi) Doa #13 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Meminta Panjang Umur dan Bagusnya Amalاللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”  —– Selasa, 21 Juli 2027Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh doa nabi hari tua husnul khatimah kematian masa tua overthinking persiapan akhirat psikologi Islam tawakal

Tafsir Surah Abasa (Bag. 2): Al-Qur’an adalah Nasihat bagi Jiwa Manusia

Pada penggalan ayat sebelumnya, Allah bercerita tentang Nabi yang bermuka masam ketika konsentrasi beliau dalam mendakwahi pembesar Quraisy “diganggu” oleh Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Maka dalam penggalan ayat berikutnya, Allah memulai dengan kalimat “Kalla” yang bermakna “Jangan melakukan hal seperti itu lagi”, menjadi pelajaran bagi kita semua untuk memperhatikan para orang-orang lemah dan jangan berpaling dengan silaunya harta dunia milik orang-orang kaya dan tamak menginginkan bagian tersebut dari mereka.Al-Qur’an memberikan pelajaran atas hal tersebut, bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, mempelajarinya, kemudian mengamalkannya. Akan tetapi, Al-Qur’an juga akan menuntut kita di hari kiamat jika kita menelantarkannya. Maka hal ini adalah kandungan yang akan kita tadabburi bersama dalam lanjutan tafsir ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ“Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.” (QS. Abasa: 11)Allah menjelaskan kepada Nabi, wahai Rasulullah, janganlah engkau melakukan kembali seperti apa yang terjadi pada Ibnu Ummi Maktum.Perkara yang dijelaskan oleh Nabi adalah Al-Qur’an, surat yang terkandung dan ayat yang terangkai indah semuanya adalah nasihat serta peringatan bagi seluruh makhluk. Peganglah dengan kuat semua ayatnya serta amalkan, maka niscaya hal itu akan cukup menjadi peringatan agar tidak terjurumus ke dalam gelapnya kesyirikan dan kekufuran.Dalam ayat ini, terkandung pengagungan terhadap kedudukan Al-Qur’an, baik orang-orang kafir itu mau menerima hidayahnya atau tidak mau, maka Al-Qur’an tetaplah mulia dan penuh dengan hidayah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ“Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya.” (QS. Abasa: 12)Al-Qur’an adalah pemberi peringatan yang sangat jelas. Setiap orang yang dijelaskan kandungannya pasti akan mampu untuk memahami dan menyadari hidayah di dalamnya. Siapa saja yang berniat memperhatikan dengan baik, maka Allah akan berikan jalan untuk memahaminya.Ayat ini menjadi bantahan bagi mereka yang mengatakan, “Kalau memang Al-Qur’an itu hidayah, mengapa masih banyak orang yang tersesat?” Maka jawabannya, kesalahan bukan ada pada Al-Qur’an, akan tetapi kesalahannya terletak pada mereka yang tidak mau menggunakan akalnya untuk merenungi Al-Qur’an. Mereka hanya menggunakan akalnya untuk meraup keuntungan duniawi dan hidup enak di dunia saja, namun tidak mau merenungi kehidupan akhirat, tidak mau merenungi dan menelaah bahwa ada kitab suci terakhir yang bernama Al-Qur’an.Kesalahan juga ada pada mereka yang sudah merenungi dan mempelajari Al-Qur’an, akan tetapi hatinya menolak hidayah karena kesombongan. Sebagaimana kisah Fir’aun yang hatinya mengetahui bahwa yang disampaikan Nabi Musa adalah kebenaran, namun tubuh dan lisannya menolak karena kesombongan yang ada pada hatinya. Kesombongannya mengalahkan hidayah yang telah Allah berikan, maka Allah campakkan dia dalam kesesatan yang semakin gelap.Kemudian Allah melanjutkan penjelasan tentang keagungan Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ , مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ , بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ , كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ“Di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan, di tangan para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbudi.” (QS. Abasa: 13-16)Al-Qur’an adalah untaian hidayah, suatu kitab berisi ilmu serta hikmah, yang terjaga dengan sempurna pada lembaran-lembaran yang dimuliakan oleh Allah.Allah meninggikan derajat Al-Qur’an dan orang-orang yang berinteraksi dengan baik dengannya. Allah menyucikannya dari semua kesalahan, baik teks maupun makna yang terkandung padanya, tidak ada satu pun kesalahan ada padanya yang dapat mengotorinya.Allah menjaga Al-Qur’an dari dikotori oleh setan dalam bentuk manusia dan jin. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah selama berangsur-angsur, Allah perketat penjagaan pada tiap pintu dan lapis langit, agar setan jin tidak bisa menguping atau mengganggu turunnya wahyu yang agung ini.Ketika Al-Qur’an sudah lengkap, Allah juga menjaga kitab suci ini dari tangan-tangan kotor orang kafir yang ingin menambah dan mengurangi isinya, menggantinya, bahkan membuat tandingannya. Allah hinakan semua orang yang berniat buruk kepadanya.Allah juga memuliakan para malaikat yang membawanya dari langit sampai ke hati Rasulullah. Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa kata “safarah” dalam ayat tersebut adalah malaikat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ“Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!” (QS. Abasa: 17)Kalimat ini adalah bentuk kalimat yang biasa dipakai orang Arab untuk menunjukkan perasaan “kaget” dan heran. Kita diajak berpikir, kok bisa-bisanya ada manusia yang kafir berpaling dari iman.Allah telah tunjukkan berbagai bukti kekuasaannya lewat indahnya alam semesta kepada manusia, seharusnya mereka berpikir bahwa “pastilah ada yang menciptakan semua ini”. Kemudian Allah juga telah mengutus Rasul untuk menjelaskan kebenaran. Allah juga mengabadikan Al-Qur’an sampai menjelang hari kiamat sehingga mereka bisa belajar dan mencari petunjuk. Lebih jauh, Allah juga senantiasa mengadakan para dai di setiap zaman untuk mendakwahkan isi Al-Qur’an, mengajak manusia memahami bahwa alam semesta ini ada penciptanya, dan penciptanya adalah Allah, serta mengajak untuk menyembahnya dengan ikhlas.Lantas, dengan semua sarana dan jalan hidayah ini, sangat mengherankan bagaimana bisa sebagian orang tetap berada dalam kekafiran menentang dan tidak percaya kepada Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ , مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ“Dari apakah Dia menciptakannya? Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.” (QS. Abasa: 18-19)Allah mencela orang-orang kafir, yang menentang setelah dijelaskan hidayah menuju kebenaran. Celaan ini sangatlah dalam, “Orang-orang kafir itu, mereka diciptakan oleh Allah dari air yang hina lagi rendah, kemudian setelah bisa berpikir malah dengan beraninya menentang Allah.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ“Kemudian, jalannya Dia mudahkan.” (QS. Abasa: 20)Terdapat dua tafsir untuk ayat ini, sebagian mufasir menjelaskan bahwa ayat ini bermakna Allah memudahkan mereka keluar dari perut ibunya, dengan berbagai mekanisme biologis yang menakjubkan, yang tidak mungkin dapat ditiru oleh manusia. Allah berikan kemudahan mereka keluar, lalu setelah keluar dari perut ibunya dengan selamat dan dapat berpikir ketika dewasa, mereka kufur kepada Allah.Tafsir lain menyebutkan bahwa makna ayat ini adalah Allah berikan dua jalan kepada mereka, jalan menuju kebaikan dan jalan keburukan, kemudian mereka memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Allah memberikan pilihan kepada mereka, sehingga mereka akan dibalas dengan pahala atau dosa atas pilihan apa yang mereka ambil.Semua manusia telah Allah memberikan berbagai kejadian dalam hidupnya yang menjadi jalan hidayah baginya, akan ada saat dimana hatinya terketuk oleh cahaya hidayah. Kemudian tugas selanjutnya adalah apakah dia mau menjemput hidayah tersebut atau malah abai tidak peduli dengan ketukan hidayah tersebut.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ , ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ“Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya. Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (QS. Abasa: 21-22)Setelah manusia hidup di dunia, menghabiskan jatah umur dan rezeki mereka, maka pasti mereka akan merasakan kematian. Manusia dikuburkan dalam tanah sebagai bentuk penghormatan kepada mereka, di antaranya agar tubuh mereka tidak dimakan oleh binatang buas. Adapun bentuk pemulasaraan jenazah dengan bentuk lain seperti dibakar (kremasi), diawetkan dalam bentuk mumi, dan semisalnya adalah bentuk penghinaan dan keburukan kepada jenazah.Setelah dikuburkan, Allah akan membangkitkan mereka pada waktunya, di hari kiamat, hari yang pasti terjadi, namun tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan terjadinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ“Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.” (QS. Abasa: 23)Ayat ini menjadi teguran dan peringatan bagi kita manusia, seberapapun kita telah menjalankan ketaatan pasti terdapat kekurangan padanya. Sebagian manusia menjerumuskan dirinya dalam kekafiran, sebagian lainnya berkubang pada dosa-dosa besar, sebagian lainnya banyak melakukan dosa kecil, sebagian lainnya masih belum maksimal dalam taat kepada Allah sang Pencipta. Menimbang berbagai kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, serta berbagai syariat yang ditetapkan kepada kita, pasti ada kekurangan dalam ketaatan kita kepadanya.Ketika kita telah berbuat suatu kesalahan atau kurang dalam ketaatan, segeralah kembali kepada Allah. Jangan sampai kita menyeret diri kita ke dalam maksiat yang lebih besar. Setan menggelincirkan manusia sejengkal demi sejengkal, sedikit demi sedikit, tidak langsung seketika, godaannya sangat halus namun pasti. Awalnya dari meremehkan ketaatan yang bersifat sunah, lalu mulai menggoda dengan melakukan dosa kecil, lalu dari dosa kecil naik ke dosa besar, dari dosa besar naik menjadi kemusyrikan dan kekufuran.Maka, ketika kita merasa salah arah, kemudian Allah tegur kita dengan teguran yang lembut dan halus, segeralah kembali, Allah pasti memaafkan kita selama kita tulus bertobat. Kembalilah, sebelum semakin jauh.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah Abasa (Bag. 2): Al-Qur’an adalah Nasihat bagi Jiwa Manusia

Pada penggalan ayat sebelumnya, Allah bercerita tentang Nabi yang bermuka masam ketika konsentrasi beliau dalam mendakwahi pembesar Quraisy “diganggu” oleh Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Maka dalam penggalan ayat berikutnya, Allah memulai dengan kalimat “Kalla” yang bermakna “Jangan melakukan hal seperti itu lagi”, menjadi pelajaran bagi kita semua untuk memperhatikan para orang-orang lemah dan jangan berpaling dengan silaunya harta dunia milik orang-orang kaya dan tamak menginginkan bagian tersebut dari mereka.Al-Qur’an memberikan pelajaran atas hal tersebut, bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, mempelajarinya, kemudian mengamalkannya. Akan tetapi, Al-Qur’an juga akan menuntut kita di hari kiamat jika kita menelantarkannya. Maka hal ini adalah kandungan yang akan kita tadabburi bersama dalam lanjutan tafsir ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ“Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.” (QS. Abasa: 11)Allah menjelaskan kepada Nabi, wahai Rasulullah, janganlah engkau melakukan kembali seperti apa yang terjadi pada Ibnu Ummi Maktum.Perkara yang dijelaskan oleh Nabi adalah Al-Qur’an, surat yang terkandung dan ayat yang terangkai indah semuanya adalah nasihat serta peringatan bagi seluruh makhluk. Peganglah dengan kuat semua ayatnya serta amalkan, maka niscaya hal itu akan cukup menjadi peringatan agar tidak terjurumus ke dalam gelapnya kesyirikan dan kekufuran.Dalam ayat ini, terkandung pengagungan terhadap kedudukan Al-Qur’an, baik orang-orang kafir itu mau menerima hidayahnya atau tidak mau, maka Al-Qur’an tetaplah mulia dan penuh dengan hidayah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ“Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya.” (QS. Abasa: 12)Al-Qur’an adalah pemberi peringatan yang sangat jelas. Setiap orang yang dijelaskan kandungannya pasti akan mampu untuk memahami dan menyadari hidayah di dalamnya. Siapa saja yang berniat memperhatikan dengan baik, maka Allah akan berikan jalan untuk memahaminya.Ayat ini menjadi bantahan bagi mereka yang mengatakan, “Kalau memang Al-Qur’an itu hidayah, mengapa masih banyak orang yang tersesat?” Maka jawabannya, kesalahan bukan ada pada Al-Qur’an, akan tetapi kesalahannya terletak pada mereka yang tidak mau menggunakan akalnya untuk merenungi Al-Qur’an. Mereka hanya menggunakan akalnya untuk meraup keuntungan duniawi dan hidup enak di dunia saja, namun tidak mau merenungi kehidupan akhirat, tidak mau merenungi dan menelaah bahwa ada kitab suci terakhir yang bernama Al-Qur’an.Kesalahan juga ada pada mereka yang sudah merenungi dan mempelajari Al-Qur’an, akan tetapi hatinya menolak hidayah karena kesombongan. Sebagaimana kisah Fir’aun yang hatinya mengetahui bahwa yang disampaikan Nabi Musa adalah kebenaran, namun tubuh dan lisannya menolak karena kesombongan yang ada pada hatinya. Kesombongannya mengalahkan hidayah yang telah Allah berikan, maka Allah campakkan dia dalam kesesatan yang semakin gelap.Kemudian Allah melanjutkan penjelasan tentang keagungan Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ , مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ , بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ , كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ“Di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan, di tangan para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbudi.” (QS. Abasa: 13-16)Al-Qur’an adalah untaian hidayah, suatu kitab berisi ilmu serta hikmah, yang terjaga dengan sempurna pada lembaran-lembaran yang dimuliakan oleh Allah.Allah meninggikan derajat Al-Qur’an dan orang-orang yang berinteraksi dengan baik dengannya. Allah menyucikannya dari semua kesalahan, baik teks maupun makna yang terkandung padanya, tidak ada satu pun kesalahan ada padanya yang dapat mengotorinya.Allah menjaga Al-Qur’an dari dikotori oleh setan dalam bentuk manusia dan jin. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah selama berangsur-angsur, Allah perketat penjagaan pada tiap pintu dan lapis langit, agar setan jin tidak bisa menguping atau mengganggu turunnya wahyu yang agung ini.Ketika Al-Qur’an sudah lengkap, Allah juga menjaga kitab suci ini dari tangan-tangan kotor orang kafir yang ingin menambah dan mengurangi isinya, menggantinya, bahkan membuat tandingannya. Allah hinakan semua orang yang berniat buruk kepadanya.Allah juga memuliakan para malaikat yang membawanya dari langit sampai ke hati Rasulullah. Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa kata “safarah” dalam ayat tersebut adalah malaikat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ“Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!” (QS. Abasa: 17)Kalimat ini adalah bentuk kalimat yang biasa dipakai orang Arab untuk menunjukkan perasaan “kaget” dan heran. Kita diajak berpikir, kok bisa-bisanya ada manusia yang kafir berpaling dari iman.Allah telah tunjukkan berbagai bukti kekuasaannya lewat indahnya alam semesta kepada manusia, seharusnya mereka berpikir bahwa “pastilah ada yang menciptakan semua ini”. Kemudian Allah juga telah mengutus Rasul untuk menjelaskan kebenaran. Allah juga mengabadikan Al-Qur’an sampai menjelang hari kiamat sehingga mereka bisa belajar dan mencari petunjuk. Lebih jauh, Allah juga senantiasa mengadakan para dai di setiap zaman untuk mendakwahkan isi Al-Qur’an, mengajak manusia memahami bahwa alam semesta ini ada penciptanya, dan penciptanya adalah Allah, serta mengajak untuk menyembahnya dengan ikhlas.Lantas, dengan semua sarana dan jalan hidayah ini, sangat mengherankan bagaimana bisa sebagian orang tetap berada dalam kekafiran menentang dan tidak percaya kepada Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ , مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ“Dari apakah Dia menciptakannya? Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.” (QS. Abasa: 18-19)Allah mencela orang-orang kafir, yang menentang setelah dijelaskan hidayah menuju kebenaran. Celaan ini sangatlah dalam, “Orang-orang kafir itu, mereka diciptakan oleh Allah dari air yang hina lagi rendah, kemudian setelah bisa berpikir malah dengan beraninya menentang Allah.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ“Kemudian, jalannya Dia mudahkan.” (QS. Abasa: 20)Terdapat dua tafsir untuk ayat ini, sebagian mufasir menjelaskan bahwa ayat ini bermakna Allah memudahkan mereka keluar dari perut ibunya, dengan berbagai mekanisme biologis yang menakjubkan, yang tidak mungkin dapat ditiru oleh manusia. Allah berikan kemudahan mereka keluar, lalu setelah keluar dari perut ibunya dengan selamat dan dapat berpikir ketika dewasa, mereka kufur kepada Allah.Tafsir lain menyebutkan bahwa makna ayat ini adalah Allah berikan dua jalan kepada mereka, jalan menuju kebaikan dan jalan keburukan, kemudian mereka memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Allah memberikan pilihan kepada mereka, sehingga mereka akan dibalas dengan pahala atau dosa atas pilihan apa yang mereka ambil.Semua manusia telah Allah memberikan berbagai kejadian dalam hidupnya yang menjadi jalan hidayah baginya, akan ada saat dimana hatinya terketuk oleh cahaya hidayah. Kemudian tugas selanjutnya adalah apakah dia mau menjemput hidayah tersebut atau malah abai tidak peduli dengan ketukan hidayah tersebut.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ , ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ“Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya. Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (QS. Abasa: 21-22)Setelah manusia hidup di dunia, menghabiskan jatah umur dan rezeki mereka, maka pasti mereka akan merasakan kematian. Manusia dikuburkan dalam tanah sebagai bentuk penghormatan kepada mereka, di antaranya agar tubuh mereka tidak dimakan oleh binatang buas. Adapun bentuk pemulasaraan jenazah dengan bentuk lain seperti dibakar (kremasi), diawetkan dalam bentuk mumi, dan semisalnya adalah bentuk penghinaan dan keburukan kepada jenazah.Setelah dikuburkan, Allah akan membangkitkan mereka pada waktunya, di hari kiamat, hari yang pasti terjadi, namun tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan terjadinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ“Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.” (QS. Abasa: 23)Ayat ini menjadi teguran dan peringatan bagi kita manusia, seberapapun kita telah menjalankan ketaatan pasti terdapat kekurangan padanya. Sebagian manusia menjerumuskan dirinya dalam kekafiran, sebagian lainnya berkubang pada dosa-dosa besar, sebagian lainnya banyak melakukan dosa kecil, sebagian lainnya masih belum maksimal dalam taat kepada Allah sang Pencipta. Menimbang berbagai kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, serta berbagai syariat yang ditetapkan kepada kita, pasti ada kekurangan dalam ketaatan kita kepadanya.Ketika kita telah berbuat suatu kesalahan atau kurang dalam ketaatan, segeralah kembali kepada Allah. Jangan sampai kita menyeret diri kita ke dalam maksiat yang lebih besar. Setan menggelincirkan manusia sejengkal demi sejengkal, sedikit demi sedikit, tidak langsung seketika, godaannya sangat halus namun pasti. Awalnya dari meremehkan ketaatan yang bersifat sunah, lalu mulai menggoda dengan melakukan dosa kecil, lalu dari dosa kecil naik ke dosa besar, dari dosa besar naik menjadi kemusyrikan dan kekufuran.Maka, ketika kita merasa salah arah, kemudian Allah tegur kita dengan teguran yang lembut dan halus, segeralah kembali, Allah pasti memaafkan kita selama kita tulus bertobat. Kembalilah, sebelum semakin jauh.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Pada penggalan ayat sebelumnya, Allah bercerita tentang Nabi yang bermuka masam ketika konsentrasi beliau dalam mendakwahi pembesar Quraisy “diganggu” oleh Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Maka dalam penggalan ayat berikutnya, Allah memulai dengan kalimat “Kalla” yang bermakna “Jangan melakukan hal seperti itu lagi”, menjadi pelajaran bagi kita semua untuk memperhatikan para orang-orang lemah dan jangan berpaling dengan silaunya harta dunia milik orang-orang kaya dan tamak menginginkan bagian tersebut dari mereka.Al-Qur’an memberikan pelajaran atas hal tersebut, bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, mempelajarinya, kemudian mengamalkannya. Akan tetapi, Al-Qur’an juga akan menuntut kita di hari kiamat jika kita menelantarkannya. Maka hal ini adalah kandungan yang akan kita tadabburi bersama dalam lanjutan tafsir ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ“Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.” (QS. Abasa: 11)Allah menjelaskan kepada Nabi, wahai Rasulullah, janganlah engkau melakukan kembali seperti apa yang terjadi pada Ibnu Ummi Maktum.Perkara yang dijelaskan oleh Nabi adalah Al-Qur’an, surat yang terkandung dan ayat yang terangkai indah semuanya adalah nasihat serta peringatan bagi seluruh makhluk. Peganglah dengan kuat semua ayatnya serta amalkan, maka niscaya hal itu akan cukup menjadi peringatan agar tidak terjurumus ke dalam gelapnya kesyirikan dan kekufuran.Dalam ayat ini, terkandung pengagungan terhadap kedudukan Al-Qur’an, baik orang-orang kafir itu mau menerima hidayahnya atau tidak mau, maka Al-Qur’an tetaplah mulia dan penuh dengan hidayah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ“Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya.” (QS. Abasa: 12)Al-Qur’an adalah pemberi peringatan yang sangat jelas. Setiap orang yang dijelaskan kandungannya pasti akan mampu untuk memahami dan menyadari hidayah di dalamnya. Siapa saja yang berniat memperhatikan dengan baik, maka Allah akan berikan jalan untuk memahaminya.Ayat ini menjadi bantahan bagi mereka yang mengatakan, “Kalau memang Al-Qur’an itu hidayah, mengapa masih banyak orang yang tersesat?” Maka jawabannya, kesalahan bukan ada pada Al-Qur’an, akan tetapi kesalahannya terletak pada mereka yang tidak mau menggunakan akalnya untuk merenungi Al-Qur’an. Mereka hanya menggunakan akalnya untuk meraup keuntungan duniawi dan hidup enak di dunia saja, namun tidak mau merenungi kehidupan akhirat, tidak mau merenungi dan menelaah bahwa ada kitab suci terakhir yang bernama Al-Qur’an.Kesalahan juga ada pada mereka yang sudah merenungi dan mempelajari Al-Qur’an, akan tetapi hatinya menolak hidayah karena kesombongan. Sebagaimana kisah Fir’aun yang hatinya mengetahui bahwa yang disampaikan Nabi Musa adalah kebenaran, namun tubuh dan lisannya menolak karena kesombongan yang ada pada hatinya. Kesombongannya mengalahkan hidayah yang telah Allah berikan, maka Allah campakkan dia dalam kesesatan yang semakin gelap.Kemudian Allah melanjutkan penjelasan tentang keagungan Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ , مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ , بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ , كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ“Di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan, di tangan para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbudi.” (QS. Abasa: 13-16)Al-Qur’an adalah untaian hidayah, suatu kitab berisi ilmu serta hikmah, yang terjaga dengan sempurna pada lembaran-lembaran yang dimuliakan oleh Allah.Allah meninggikan derajat Al-Qur’an dan orang-orang yang berinteraksi dengan baik dengannya. Allah menyucikannya dari semua kesalahan, baik teks maupun makna yang terkandung padanya, tidak ada satu pun kesalahan ada padanya yang dapat mengotorinya.Allah menjaga Al-Qur’an dari dikotori oleh setan dalam bentuk manusia dan jin. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah selama berangsur-angsur, Allah perketat penjagaan pada tiap pintu dan lapis langit, agar setan jin tidak bisa menguping atau mengganggu turunnya wahyu yang agung ini.Ketika Al-Qur’an sudah lengkap, Allah juga menjaga kitab suci ini dari tangan-tangan kotor orang kafir yang ingin menambah dan mengurangi isinya, menggantinya, bahkan membuat tandingannya. Allah hinakan semua orang yang berniat buruk kepadanya.Allah juga memuliakan para malaikat yang membawanya dari langit sampai ke hati Rasulullah. Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa kata “safarah” dalam ayat tersebut adalah malaikat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ“Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!” (QS. Abasa: 17)Kalimat ini adalah bentuk kalimat yang biasa dipakai orang Arab untuk menunjukkan perasaan “kaget” dan heran. Kita diajak berpikir, kok bisa-bisanya ada manusia yang kafir berpaling dari iman.Allah telah tunjukkan berbagai bukti kekuasaannya lewat indahnya alam semesta kepada manusia, seharusnya mereka berpikir bahwa “pastilah ada yang menciptakan semua ini”. Kemudian Allah juga telah mengutus Rasul untuk menjelaskan kebenaran. Allah juga mengabadikan Al-Qur’an sampai menjelang hari kiamat sehingga mereka bisa belajar dan mencari petunjuk. Lebih jauh, Allah juga senantiasa mengadakan para dai di setiap zaman untuk mendakwahkan isi Al-Qur’an, mengajak manusia memahami bahwa alam semesta ini ada penciptanya, dan penciptanya adalah Allah, serta mengajak untuk menyembahnya dengan ikhlas.Lantas, dengan semua sarana dan jalan hidayah ini, sangat mengherankan bagaimana bisa sebagian orang tetap berada dalam kekafiran menentang dan tidak percaya kepada Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ , مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ“Dari apakah Dia menciptakannya? Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.” (QS. Abasa: 18-19)Allah mencela orang-orang kafir, yang menentang setelah dijelaskan hidayah menuju kebenaran. Celaan ini sangatlah dalam, “Orang-orang kafir itu, mereka diciptakan oleh Allah dari air yang hina lagi rendah, kemudian setelah bisa berpikir malah dengan beraninya menentang Allah.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ“Kemudian, jalannya Dia mudahkan.” (QS. Abasa: 20)Terdapat dua tafsir untuk ayat ini, sebagian mufasir menjelaskan bahwa ayat ini bermakna Allah memudahkan mereka keluar dari perut ibunya, dengan berbagai mekanisme biologis yang menakjubkan, yang tidak mungkin dapat ditiru oleh manusia. Allah berikan kemudahan mereka keluar, lalu setelah keluar dari perut ibunya dengan selamat dan dapat berpikir ketika dewasa, mereka kufur kepada Allah.Tafsir lain menyebutkan bahwa makna ayat ini adalah Allah berikan dua jalan kepada mereka, jalan menuju kebaikan dan jalan keburukan, kemudian mereka memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Allah memberikan pilihan kepada mereka, sehingga mereka akan dibalas dengan pahala atau dosa atas pilihan apa yang mereka ambil.Semua manusia telah Allah memberikan berbagai kejadian dalam hidupnya yang menjadi jalan hidayah baginya, akan ada saat dimana hatinya terketuk oleh cahaya hidayah. Kemudian tugas selanjutnya adalah apakah dia mau menjemput hidayah tersebut atau malah abai tidak peduli dengan ketukan hidayah tersebut.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ , ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ“Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya. Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (QS. Abasa: 21-22)Setelah manusia hidup di dunia, menghabiskan jatah umur dan rezeki mereka, maka pasti mereka akan merasakan kematian. Manusia dikuburkan dalam tanah sebagai bentuk penghormatan kepada mereka, di antaranya agar tubuh mereka tidak dimakan oleh binatang buas. Adapun bentuk pemulasaraan jenazah dengan bentuk lain seperti dibakar (kremasi), diawetkan dalam bentuk mumi, dan semisalnya adalah bentuk penghinaan dan keburukan kepada jenazah.Setelah dikuburkan, Allah akan membangkitkan mereka pada waktunya, di hari kiamat, hari yang pasti terjadi, namun tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan terjadinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ“Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.” (QS. Abasa: 23)Ayat ini menjadi teguran dan peringatan bagi kita manusia, seberapapun kita telah menjalankan ketaatan pasti terdapat kekurangan padanya. Sebagian manusia menjerumuskan dirinya dalam kekafiran, sebagian lainnya berkubang pada dosa-dosa besar, sebagian lainnya banyak melakukan dosa kecil, sebagian lainnya masih belum maksimal dalam taat kepada Allah sang Pencipta. Menimbang berbagai kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, serta berbagai syariat yang ditetapkan kepada kita, pasti ada kekurangan dalam ketaatan kita kepadanya.Ketika kita telah berbuat suatu kesalahan atau kurang dalam ketaatan, segeralah kembali kepada Allah. Jangan sampai kita menyeret diri kita ke dalam maksiat yang lebih besar. Setan menggelincirkan manusia sejengkal demi sejengkal, sedikit demi sedikit, tidak langsung seketika, godaannya sangat halus namun pasti. Awalnya dari meremehkan ketaatan yang bersifat sunah, lalu mulai menggoda dengan melakukan dosa kecil, lalu dari dosa kecil naik ke dosa besar, dari dosa besar naik menjadi kemusyrikan dan kekufuran.Maka, ketika kita merasa salah arah, kemudian Allah tegur kita dengan teguran yang lembut dan halus, segeralah kembali, Allah pasti memaafkan kita selama kita tulus bertobat. Kembalilah, sebelum semakin jauh.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Pada penggalan ayat sebelumnya, Allah bercerita tentang Nabi yang bermuka masam ketika konsentrasi beliau dalam mendakwahi pembesar Quraisy “diganggu” oleh Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Maka dalam penggalan ayat berikutnya, Allah memulai dengan kalimat “Kalla” yang bermakna “Jangan melakukan hal seperti itu lagi”, menjadi pelajaran bagi kita semua untuk memperhatikan para orang-orang lemah dan jangan berpaling dengan silaunya harta dunia milik orang-orang kaya dan tamak menginginkan bagian tersebut dari mereka.Al-Qur’an memberikan pelajaran atas hal tersebut, bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, mempelajarinya, kemudian mengamalkannya. Akan tetapi, Al-Qur’an juga akan menuntut kita di hari kiamat jika kita menelantarkannya. Maka hal ini adalah kandungan yang akan kita tadabburi bersama dalam lanjutan tafsir ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ“Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.” (QS. Abasa: 11)Allah menjelaskan kepada Nabi, wahai Rasulullah, janganlah engkau melakukan kembali seperti apa yang terjadi pada Ibnu Ummi Maktum.Perkara yang dijelaskan oleh Nabi adalah Al-Qur’an, surat yang terkandung dan ayat yang terangkai indah semuanya adalah nasihat serta peringatan bagi seluruh makhluk. Peganglah dengan kuat semua ayatnya serta amalkan, maka niscaya hal itu akan cukup menjadi peringatan agar tidak terjurumus ke dalam gelapnya kesyirikan dan kekufuran.Dalam ayat ini, terkandung pengagungan terhadap kedudukan Al-Qur’an, baik orang-orang kafir itu mau menerima hidayahnya atau tidak mau, maka Al-Qur’an tetaplah mulia dan penuh dengan hidayah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ“Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya.” (QS. Abasa: 12)Al-Qur’an adalah pemberi peringatan yang sangat jelas. Setiap orang yang dijelaskan kandungannya pasti akan mampu untuk memahami dan menyadari hidayah di dalamnya. Siapa saja yang berniat memperhatikan dengan baik, maka Allah akan berikan jalan untuk memahaminya.Ayat ini menjadi bantahan bagi mereka yang mengatakan, “Kalau memang Al-Qur’an itu hidayah, mengapa masih banyak orang yang tersesat?” Maka jawabannya, kesalahan bukan ada pada Al-Qur’an, akan tetapi kesalahannya terletak pada mereka yang tidak mau menggunakan akalnya untuk merenungi Al-Qur’an. Mereka hanya menggunakan akalnya untuk meraup keuntungan duniawi dan hidup enak di dunia saja, namun tidak mau merenungi kehidupan akhirat, tidak mau merenungi dan menelaah bahwa ada kitab suci terakhir yang bernama Al-Qur’an.Kesalahan juga ada pada mereka yang sudah merenungi dan mempelajari Al-Qur’an, akan tetapi hatinya menolak hidayah karena kesombongan. Sebagaimana kisah Fir’aun yang hatinya mengetahui bahwa yang disampaikan Nabi Musa adalah kebenaran, namun tubuh dan lisannya menolak karena kesombongan yang ada pada hatinya. Kesombongannya mengalahkan hidayah yang telah Allah berikan, maka Allah campakkan dia dalam kesesatan yang semakin gelap.Kemudian Allah melanjutkan penjelasan tentang keagungan Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ , مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ , بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ , كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ“Di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan, di tangan para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbudi.” (QS. Abasa: 13-16)Al-Qur’an adalah untaian hidayah, suatu kitab berisi ilmu serta hikmah, yang terjaga dengan sempurna pada lembaran-lembaran yang dimuliakan oleh Allah.Allah meninggikan derajat Al-Qur’an dan orang-orang yang berinteraksi dengan baik dengannya. Allah menyucikannya dari semua kesalahan, baik teks maupun makna yang terkandung padanya, tidak ada satu pun kesalahan ada padanya yang dapat mengotorinya.Allah menjaga Al-Qur’an dari dikotori oleh setan dalam bentuk manusia dan jin. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah selama berangsur-angsur, Allah perketat penjagaan pada tiap pintu dan lapis langit, agar setan jin tidak bisa menguping atau mengganggu turunnya wahyu yang agung ini.Ketika Al-Qur’an sudah lengkap, Allah juga menjaga kitab suci ini dari tangan-tangan kotor orang kafir yang ingin menambah dan mengurangi isinya, menggantinya, bahkan membuat tandingannya. Allah hinakan semua orang yang berniat buruk kepadanya.Allah juga memuliakan para malaikat yang membawanya dari langit sampai ke hati Rasulullah. Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa kata “safarah” dalam ayat tersebut adalah malaikat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ“Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!” (QS. Abasa: 17)Kalimat ini adalah bentuk kalimat yang biasa dipakai orang Arab untuk menunjukkan perasaan “kaget” dan heran. Kita diajak berpikir, kok bisa-bisanya ada manusia yang kafir berpaling dari iman.Allah telah tunjukkan berbagai bukti kekuasaannya lewat indahnya alam semesta kepada manusia, seharusnya mereka berpikir bahwa “pastilah ada yang menciptakan semua ini”. Kemudian Allah juga telah mengutus Rasul untuk menjelaskan kebenaran. Allah juga mengabadikan Al-Qur’an sampai menjelang hari kiamat sehingga mereka bisa belajar dan mencari petunjuk. Lebih jauh, Allah juga senantiasa mengadakan para dai di setiap zaman untuk mendakwahkan isi Al-Qur’an, mengajak manusia memahami bahwa alam semesta ini ada penciptanya, dan penciptanya adalah Allah, serta mengajak untuk menyembahnya dengan ikhlas.Lantas, dengan semua sarana dan jalan hidayah ini, sangat mengherankan bagaimana bisa sebagian orang tetap berada dalam kekafiran menentang dan tidak percaya kepada Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ , مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ“Dari apakah Dia menciptakannya? Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.” (QS. Abasa: 18-19)Allah mencela orang-orang kafir, yang menentang setelah dijelaskan hidayah menuju kebenaran. Celaan ini sangatlah dalam, “Orang-orang kafir itu, mereka diciptakan oleh Allah dari air yang hina lagi rendah, kemudian setelah bisa berpikir malah dengan beraninya menentang Allah.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ“Kemudian, jalannya Dia mudahkan.” (QS. Abasa: 20)Terdapat dua tafsir untuk ayat ini, sebagian mufasir menjelaskan bahwa ayat ini bermakna Allah memudahkan mereka keluar dari perut ibunya, dengan berbagai mekanisme biologis yang menakjubkan, yang tidak mungkin dapat ditiru oleh manusia. Allah berikan kemudahan mereka keluar, lalu setelah keluar dari perut ibunya dengan selamat dan dapat berpikir ketika dewasa, mereka kufur kepada Allah.Tafsir lain menyebutkan bahwa makna ayat ini adalah Allah berikan dua jalan kepada mereka, jalan menuju kebaikan dan jalan keburukan, kemudian mereka memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Allah memberikan pilihan kepada mereka, sehingga mereka akan dibalas dengan pahala atau dosa atas pilihan apa yang mereka ambil.Semua manusia telah Allah memberikan berbagai kejadian dalam hidupnya yang menjadi jalan hidayah baginya, akan ada saat dimana hatinya terketuk oleh cahaya hidayah. Kemudian tugas selanjutnya adalah apakah dia mau menjemput hidayah tersebut atau malah abai tidak peduli dengan ketukan hidayah tersebut.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ , ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ“Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya. Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (QS. Abasa: 21-22)Setelah manusia hidup di dunia, menghabiskan jatah umur dan rezeki mereka, maka pasti mereka akan merasakan kematian. Manusia dikuburkan dalam tanah sebagai bentuk penghormatan kepada mereka, di antaranya agar tubuh mereka tidak dimakan oleh binatang buas. Adapun bentuk pemulasaraan jenazah dengan bentuk lain seperti dibakar (kremasi), diawetkan dalam bentuk mumi, dan semisalnya adalah bentuk penghinaan dan keburukan kepada jenazah.Setelah dikuburkan, Allah akan membangkitkan mereka pada waktunya, di hari kiamat, hari yang pasti terjadi, namun tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan terjadinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ“Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.” (QS. Abasa: 23)Ayat ini menjadi teguran dan peringatan bagi kita manusia, seberapapun kita telah menjalankan ketaatan pasti terdapat kekurangan padanya. Sebagian manusia menjerumuskan dirinya dalam kekafiran, sebagian lainnya berkubang pada dosa-dosa besar, sebagian lainnya banyak melakukan dosa kecil, sebagian lainnya masih belum maksimal dalam taat kepada Allah sang Pencipta. Menimbang berbagai kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, serta berbagai syariat yang ditetapkan kepada kita, pasti ada kekurangan dalam ketaatan kita kepadanya.Ketika kita telah berbuat suatu kesalahan atau kurang dalam ketaatan, segeralah kembali kepada Allah. Jangan sampai kita menyeret diri kita ke dalam maksiat yang lebih besar. Setan menggelincirkan manusia sejengkal demi sejengkal, sedikit demi sedikit, tidak langsung seketika, godaannya sangat halus namun pasti. Awalnya dari meremehkan ketaatan yang bersifat sunah, lalu mulai menggoda dengan melakukan dosa kecil, lalu dari dosa kecil naik ke dosa besar, dari dosa besar naik menjadi kemusyrikan dan kekufuran.Maka, ketika kita merasa salah arah, kemudian Allah tegur kita dengan teguran yang lembut dan halus, segeralah kembali, Allah pasti memaafkan kita selama kita tulus bertobat. Kembalilah, sebelum semakin jauh.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Mengapa Nabi Muhammad ﷺ Wafat Lebih Dahulu? Ini Rahmat Allah bagi Umat Islam

Mengapa Allah mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ sebelum seluruh umatnya? Bukankah kehadiran beliau menjadi rahmat terbesar bagi kaum muslimin? Ternyata, di balik wafatnya Rasulullah ﷺ terdapat hikmah besar yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat ini, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits sahih.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap) 2. Hadits 28/439 3. Kosa Kata Hadits 4. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap)Hadits 28/439 وَعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى رَحْمَةَ أُمَّةٍ، قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَهَا، فَجَعَلَهُ لَهَا فَرَطًا وَسَلَفًا بَيْنَ يَدَيْهَا، وَإِذَا أَرَادَ هَلَكَةَ أُمَّةٍ، عَذَّبَهَا وَنَبِيُّهَا حَيٌّ، فَأَهْلَكَهَا وَهُوَ حَيٌّ يَنْظُرُ، فَأَقَرَّ عَيْنَهُ بِهَلَاكِهَا حِينَ كَذَّبُوهُ وَعَصَوْا أَمْرَهُ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Apabila Allah Ta’ala menghendaki rahmat bagi suatu umat, Dia mewafatkan nabi mereka lebih dahulu. Dengan demikian, nabi itu menjadi pendahulu dan orang yang lebih dahulu menyongsong mereka. Namun, apabila Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, Dia mengazab mereka ketika nabi mereka masih hidup. Lalu Allah membinasakan mereka sementara nabi mereka menyaksikannya, sehingga Allah menyejukkan pandangannya dengan kebinasaan mereka sebagai balasan karena mereka telah mendustakan dan mendurhakai perintahnya.”(HR. Muslim, no. 2288) Kosa Kata Haditsفَرَطًا (farathan): orang yang mendahului dan lebih dahulu sampai.بَيْنَ يَدَيْهَا (baina yadaihā): di hadapan mereka.فَأَقَرَّ عَيْنَهُ (fa aqarrā ‘ainahu): Allah memberikan kegembiraan kepadanya dengan menyaksikan kebinasaan mereka sebagai balasan atas pendustaan dan kedurhakaan mereka. Faedah Hadits1. Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat yang dirahmati Allah.Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada umat ini adalah Dia mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ lebih dahulu sebelum umatnya. Karena itu, umat ini adalah umat yang mendapatkan rahmat. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pendahulu yang menanti kita di telaga (Al-Haudh) pada hari kiamat.2. Para nabi sangat memperhatikan umat mereka.Para nabi memiliki perhatian yang besar terhadap kaumnya. Mereka bersungguh-sungguh menjaga, membimbing, dan berusaha memperbaiki keadaan umatnya agar selamat di dunia dan akhirat.3. Azab bagi orang-orang kafir merupakan kemenangan bagi para nabi dan para pengikutnya.Ketika orang-orang kafir terus-menerus mendustakan para rasul dan membangkang terhadap perintah Allah, lalu Allah membinasakan mereka, maka hal itu menjadi bentuk pertolongan Allah kepada para nabi dan pengikut mereka. Dengan demikian, tampaklah kemenangan kebenaran atas kebatilan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —– Senin, 20 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah islam hadis Muslim hari kiamat kajian hadis kisah para nabi nabi muhammad Rahmat Allah riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap sunnah nabi telaga Al-Haudh umat Islam

Mengapa Nabi Muhammad ﷺ Wafat Lebih Dahulu? Ini Rahmat Allah bagi Umat Islam

Mengapa Allah mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ sebelum seluruh umatnya? Bukankah kehadiran beliau menjadi rahmat terbesar bagi kaum muslimin? Ternyata, di balik wafatnya Rasulullah ﷺ terdapat hikmah besar yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat ini, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits sahih.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap) 2. Hadits 28/439 3. Kosa Kata Hadits 4. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap)Hadits 28/439 وَعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى رَحْمَةَ أُمَّةٍ، قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَهَا، فَجَعَلَهُ لَهَا فَرَطًا وَسَلَفًا بَيْنَ يَدَيْهَا، وَإِذَا أَرَادَ هَلَكَةَ أُمَّةٍ، عَذَّبَهَا وَنَبِيُّهَا حَيٌّ، فَأَهْلَكَهَا وَهُوَ حَيٌّ يَنْظُرُ، فَأَقَرَّ عَيْنَهُ بِهَلَاكِهَا حِينَ كَذَّبُوهُ وَعَصَوْا أَمْرَهُ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Apabila Allah Ta’ala menghendaki rahmat bagi suatu umat, Dia mewafatkan nabi mereka lebih dahulu. Dengan demikian, nabi itu menjadi pendahulu dan orang yang lebih dahulu menyongsong mereka. Namun, apabila Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, Dia mengazab mereka ketika nabi mereka masih hidup. Lalu Allah membinasakan mereka sementara nabi mereka menyaksikannya, sehingga Allah menyejukkan pandangannya dengan kebinasaan mereka sebagai balasan karena mereka telah mendustakan dan mendurhakai perintahnya.”(HR. Muslim, no. 2288) Kosa Kata Haditsفَرَطًا (farathan): orang yang mendahului dan lebih dahulu sampai.بَيْنَ يَدَيْهَا (baina yadaihā): di hadapan mereka.فَأَقَرَّ عَيْنَهُ (fa aqarrā ‘ainahu): Allah memberikan kegembiraan kepadanya dengan menyaksikan kebinasaan mereka sebagai balasan atas pendustaan dan kedurhakaan mereka. Faedah Hadits1. Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat yang dirahmati Allah.Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada umat ini adalah Dia mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ lebih dahulu sebelum umatnya. Karena itu, umat ini adalah umat yang mendapatkan rahmat. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pendahulu yang menanti kita di telaga (Al-Haudh) pada hari kiamat.2. Para nabi sangat memperhatikan umat mereka.Para nabi memiliki perhatian yang besar terhadap kaumnya. Mereka bersungguh-sungguh menjaga, membimbing, dan berusaha memperbaiki keadaan umatnya agar selamat di dunia dan akhirat.3. Azab bagi orang-orang kafir merupakan kemenangan bagi para nabi dan para pengikutnya.Ketika orang-orang kafir terus-menerus mendustakan para rasul dan membangkang terhadap perintah Allah, lalu Allah membinasakan mereka, maka hal itu menjadi bentuk pertolongan Allah kepada para nabi dan pengikut mereka. Dengan demikian, tampaklah kemenangan kebenaran atas kebatilan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —– Senin, 20 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah islam hadis Muslim hari kiamat kajian hadis kisah para nabi nabi muhammad Rahmat Allah riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap sunnah nabi telaga Al-Haudh umat Islam
Mengapa Allah mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ sebelum seluruh umatnya? Bukankah kehadiran beliau menjadi rahmat terbesar bagi kaum muslimin? Ternyata, di balik wafatnya Rasulullah ﷺ terdapat hikmah besar yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat ini, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits sahih.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap) 2. Hadits 28/439 3. Kosa Kata Hadits 4. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap)Hadits 28/439 وَعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى رَحْمَةَ أُمَّةٍ، قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَهَا، فَجَعَلَهُ لَهَا فَرَطًا وَسَلَفًا بَيْنَ يَدَيْهَا، وَإِذَا أَرَادَ هَلَكَةَ أُمَّةٍ، عَذَّبَهَا وَنَبِيُّهَا حَيٌّ، فَأَهْلَكَهَا وَهُوَ حَيٌّ يَنْظُرُ، فَأَقَرَّ عَيْنَهُ بِهَلَاكِهَا حِينَ كَذَّبُوهُ وَعَصَوْا أَمْرَهُ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Apabila Allah Ta’ala menghendaki rahmat bagi suatu umat, Dia mewafatkan nabi mereka lebih dahulu. Dengan demikian, nabi itu menjadi pendahulu dan orang yang lebih dahulu menyongsong mereka. Namun, apabila Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, Dia mengazab mereka ketika nabi mereka masih hidup. Lalu Allah membinasakan mereka sementara nabi mereka menyaksikannya, sehingga Allah menyejukkan pandangannya dengan kebinasaan mereka sebagai balasan karena mereka telah mendustakan dan mendurhakai perintahnya.”(HR. Muslim, no. 2288) Kosa Kata Haditsفَرَطًا (farathan): orang yang mendahului dan lebih dahulu sampai.بَيْنَ يَدَيْهَا (baina yadaihā): di hadapan mereka.فَأَقَرَّ عَيْنَهُ (fa aqarrā ‘ainahu): Allah memberikan kegembiraan kepadanya dengan menyaksikan kebinasaan mereka sebagai balasan atas pendustaan dan kedurhakaan mereka. Faedah Hadits1. Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat yang dirahmati Allah.Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada umat ini adalah Dia mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ lebih dahulu sebelum umatnya. Karena itu, umat ini adalah umat yang mendapatkan rahmat. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pendahulu yang menanti kita di telaga (Al-Haudh) pada hari kiamat.2. Para nabi sangat memperhatikan umat mereka.Para nabi memiliki perhatian yang besar terhadap kaumnya. Mereka bersungguh-sungguh menjaga, membimbing, dan berusaha memperbaiki keadaan umatnya agar selamat di dunia dan akhirat.3. Azab bagi orang-orang kafir merupakan kemenangan bagi para nabi dan para pengikutnya.Ketika orang-orang kafir terus-menerus mendustakan para rasul dan membangkang terhadap perintah Allah, lalu Allah membinasakan mereka, maka hal itu menjadi bentuk pertolongan Allah kepada para nabi dan pengikut mereka. Dengan demikian, tampaklah kemenangan kebenaran atas kebatilan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —– Senin, 20 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah islam hadis Muslim hari kiamat kajian hadis kisah para nabi nabi muhammad Rahmat Allah riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap sunnah nabi telaga Al-Haudh umat Islam


Mengapa Allah mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ sebelum seluruh umatnya? Bukankah kehadiran beliau menjadi rahmat terbesar bagi kaum muslimin? Ternyata, di balik wafatnya Rasulullah ﷺ terdapat hikmah besar yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat ini, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits sahih.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap) 2. Hadits 28/439 3. Kosa Kata Hadits 4. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap)Hadits 28/439 وَعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى رَحْمَةَ أُمَّةٍ، قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَهَا، فَجَعَلَهُ لَهَا فَرَطًا وَسَلَفًا بَيْنَ يَدَيْهَا، وَإِذَا أَرَادَ هَلَكَةَ أُمَّةٍ، عَذَّبَهَا وَنَبِيُّهَا حَيٌّ، فَأَهْلَكَهَا وَهُوَ حَيٌّ يَنْظُرُ، فَأَقَرَّ عَيْنَهُ بِهَلَاكِهَا حِينَ كَذَّبُوهُ وَعَصَوْا أَمْرَهُ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Apabila Allah Ta’ala menghendaki rahmat bagi suatu umat, Dia mewafatkan nabi mereka lebih dahulu. Dengan demikian, nabi itu menjadi pendahulu dan orang yang lebih dahulu menyongsong mereka. Namun, apabila Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, Dia mengazab mereka ketika nabi mereka masih hidup. Lalu Allah membinasakan mereka sementara nabi mereka menyaksikannya, sehingga Allah menyejukkan pandangannya dengan kebinasaan mereka sebagai balasan karena mereka telah mendustakan dan mendurhakai perintahnya.”(HR. Muslim, no. 2288) Kosa Kata Haditsفَرَطًا (farathan): orang yang mendahului dan lebih dahulu sampai.بَيْنَ يَدَيْهَا (baina yadaihā): di hadapan mereka.فَأَقَرَّ عَيْنَهُ (fa aqarrā ‘ainahu): Allah memberikan kegembiraan kepadanya dengan menyaksikan kebinasaan mereka sebagai balasan atas pendustaan dan kedurhakaan mereka. Faedah Hadits1. Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat yang dirahmati Allah.Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada umat ini adalah Dia mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ lebih dahulu sebelum umatnya. Karena itu, umat ini adalah umat yang mendapatkan rahmat. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pendahulu yang menanti kita di telaga (Al-Haudh) pada hari kiamat.2. Para nabi sangat memperhatikan umat mereka.Para nabi memiliki perhatian yang besar terhadap kaumnya. Mereka bersungguh-sungguh menjaga, membimbing, dan berusaha memperbaiki keadaan umatnya agar selamat di dunia dan akhirat.3. Azab bagi orang-orang kafir merupakan kemenangan bagi para nabi dan para pengikutnya.Ketika orang-orang kafir terus-menerus mendustakan para rasul dan membangkang terhadap perintah Allah, lalu Allah membinasakan mereka, maka hal itu menjadi bentuk pertolongan Allah kepada para nabi dan pengikut mereka. Dengan demikian, tampaklah kemenangan kebenaran atas kebatilan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —– Senin, 20 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah islam hadis Muslim hari kiamat kajian hadis kisah para nabi nabi muhammad Rahmat Allah riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap sunnah nabi telaga Al-Haudh umat Islam
Prev     Next