Hukum Al-Fatihah (2): Mengeraskan Basmalah dalam Shalat

Bagaimana hukum mengeraskan basmalah saat membaca Al-Fatihah, apakah suatu kewajiban? Sebagian belum memahami perbedaan dalam masalah ini sehingga menganggap orang lain keliru. Padahal kita sendiri sebenarnya yang belum paham. Para fuqaha berbeda pendapat dalam hal hukum membaca basmalah bagi imam, makmum dan orang yang shalat sendirian. Perbedaan ini muncul dari masalah apakah basmalah merupakan bagian dari Al-Fatihah ataukah bukan. Dalam madzhab Hanafiyah, disunnahkan membaca basmalah secara lirih bagi imam dan orang yang shalat sendirian di setiap membaca awal Al-Fatihah di setiap raka’at. Namun tidak disunnahkan membaca basmalah antara Al-Fatihah dan surat lainnya secara mutlak menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf karena menurut mereka basmalah bukan merupakan bagian dari Al-Fatihah. Penyebutan basmalah hanya untuk mengambil berkah (tabarruk). Yang masyhur dalam madzhab Malikiyah, basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah. Sehingga basmalah tidak dibaca dalam shalat wajib yang sirr (Zhuhur dan Ashar) dan jaher (Maghrib, Isya dan Shubuh), baik bagi imam, makmum maupun munfarid (orang yang shalat sendirian). Pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, wajib bagi imam dan makmum serta munfarid untuk membaca basmalah dalam setiap raka’at sebelum membaca Al-Fatihah, baik shalat tersebut wajib ataukah sunnah, begitu pula berlaku dalam shalat sirr (Zhuhur dan Ashar) dan shalat jaher (Maghrib, Isya dan Shubuh). Pendapat yang paling kuat dalam madzhab Hambali, tidak wajib membaca basmalah saat membaca Al-Fatihah, begitu pula surat lainnya di setiap raka’at. Juga pendapat terkuat dalam madhzab Imam Ahmad, disunnahkan membaca basmalah secara lirih pada dua raka’at pertama dari setiap shalat. Begitu pula basmalah dibaca pada awal surat setelah surat Al-Fatihah, namun lirih. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 86-88) Adapun ulama yang berdalil bahwa bismillahirrahmanirrahim tidak dikeraskan adalah berdasarkan hadits dari ‘Aisyah, ia berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membuka shalatnya dengan takbir lalu membaca alhamdulillahi robbil ‘alamin.” (HR. Muslim no. 498). Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di ketika menjelaskan hadits di atas dalam ‘Umdah Al-Ahkam, beliau berkata, “Ini adalah dalil bahwa bacaan basmalah tidaklah dijahrkan (dikeraskan).” (Syarh ‘Umdah Al-Ahkam karya Syaikh As-Sa’di, hlm. 161). Juga dalil lainnya adalah hadits Anas, di mana ia berkata, صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga bersama Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, aku tidak pernah mendengar salah seorang dari mereka membaca ‘ bismillahir rahmanir rahiim’.” (HR. Muslim no. 399). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Yang sesuai sunnah, basmalah dibaca sebelum surat Al Fatihah dan bacaan tersebut dilirihkan (tidak dikeraskan).” (Kitab Shifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah karya Ibnu Taimiyah, hlm. 105).   Saran kami: Kalau seseorang menjadi imam untuk jamaah yang belum paham akan masalah mensirrkan (memelankan) bacaan basmalah, baiknya tetap dibaca keras agar lebih menarik hati jama’ah kala itu. Dan masalah ini pun bukan masalah besar yang sampai jatuh pada keharaman. Coba lihat bagaimana contoh dari Syaikh ‘Abdurrahman As-Sudais (imam besar Masjidil Haram Makkah) saat bertamu dan saat memimpin shalat di Masjid Istiqlal yang notabene di negeri kita ini mengambil pendapat madzhab Syafi’i yang mewajibkan membaca basmalah,  beliau tetap mengeraskan bacaan basmalah kala itu. Semoga pembahasan ini juga semakin membuka pemahaman kalangan yang belum mengetahui adanya beda pendapat dalam masalah ini. Intinya, yang berbeda padahal sama-sama muslim, hendaklah kita berprasangka baik bahwa ia barangkali mempunyai dalil yang belum kita pahami. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram, Instagram, Twitter @RumayshoCom Tagscara shalat tafsir al fatihah

Hukum Al-Fatihah (2): Mengeraskan Basmalah dalam Shalat

Bagaimana hukum mengeraskan basmalah saat membaca Al-Fatihah, apakah suatu kewajiban? Sebagian belum memahami perbedaan dalam masalah ini sehingga menganggap orang lain keliru. Padahal kita sendiri sebenarnya yang belum paham. Para fuqaha berbeda pendapat dalam hal hukum membaca basmalah bagi imam, makmum dan orang yang shalat sendirian. Perbedaan ini muncul dari masalah apakah basmalah merupakan bagian dari Al-Fatihah ataukah bukan. Dalam madzhab Hanafiyah, disunnahkan membaca basmalah secara lirih bagi imam dan orang yang shalat sendirian di setiap membaca awal Al-Fatihah di setiap raka’at. Namun tidak disunnahkan membaca basmalah antara Al-Fatihah dan surat lainnya secara mutlak menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf karena menurut mereka basmalah bukan merupakan bagian dari Al-Fatihah. Penyebutan basmalah hanya untuk mengambil berkah (tabarruk). Yang masyhur dalam madzhab Malikiyah, basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah. Sehingga basmalah tidak dibaca dalam shalat wajib yang sirr (Zhuhur dan Ashar) dan jaher (Maghrib, Isya dan Shubuh), baik bagi imam, makmum maupun munfarid (orang yang shalat sendirian). Pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, wajib bagi imam dan makmum serta munfarid untuk membaca basmalah dalam setiap raka’at sebelum membaca Al-Fatihah, baik shalat tersebut wajib ataukah sunnah, begitu pula berlaku dalam shalat sirr (Zhuhur dan Ashar) dan shalat jaher (Maghrib, Isya dan Shubuh). Pendapat yang paling kuat dalam madzhab Hambali, tidak wajib membaca basmalah saat membaca Al-Fatihah, begitu pula surat lainnya di setiap raka’at. Juga pendapat terkuat dalam madhzab Imam Ahmad, disunnahkan membaca basmalah secara lirih pada dua raka’at pertama dari setiap shalat. Begitu pula basmalah dibaca pada awal surat setelah surat Al-Fatihah, namun lirih. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 86-88) Adapun ulama yang berdalil bahwa bismillahirrahmanirrahim tidak dikeraskan adalah berdasarkan hadits dari ‘Aisyah, ia berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membuka shalatnya dengan takbir lalu membaca alhamdulillahi robbil ‘alamin.” (HR. Muslim no. 498). Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di ketika menjelaskan hadits di atas dalam ‘Umdah Al-Ahkam, beliau berkata, “Ini adalah dalil bahwa bacaan basmalah tidaklah dijahrkan (dikeraskan).” (Syarh ‘Umdah Al-Ahkam karya Syaikh As-Sa’di, hlm. 161). Juga dalil lainnya adalah hadits Anas, di mana ia berkata, صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga bersama Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, aku tidak pernah mendengar salah seorang dari mereka membaca ‘ bismillahir rahmanir rahiim’.” (HR. Muslim no. 399). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Yang sesuai sunnah, basmalah dibaca sebelum surat Al Fatihah dan bacaan tersebut dilirihkan (tidak dikeraskan).” (Kitab Shifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah karya Ibnu Taimiyah, hlm. 105).   Saran kami: Kalau seseorang menjadi imam untuk jamaah yang belum paham akan masalah mensirrkan (memelankan) bacaan basmalah, baiknya tetap dibaca keras agar lebih menarik hati jama’ah kala itu. Dan masalah ini pun bukan masalah besar yang sampai jatuh pada keharaman. Coba lihat bagaimana contoh dari Syaikh ‘Abdurrahman As-Sudais (imam besar Masjidil Haram Makkah) saat bertamu dan saat memimpin shalat di Masjid Istiqlal yang notabene di negeri kita ini mengambil pendapat madzhab Syafi’i yang mewajibkan membaca basmalah,  beliau tetap mengeraskan bacaan basmalah kala itu. Semoga pembahasan ini juga semakin membuka pemahaman kalangan yang belum mengetahui adanya beda pendapat dalam masalah ini. Intinya, yang berbeda padahal sama-sama muslim, hendaklah kita berprasangka baik bahwa ia barangkali mempunyai dalil yang belum kita pahami. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram, Instagram, Twitter @RumayshoCom Tagscara shalat tafsir al fatihah
Bagaimana hukum mengeraskan basmalah saat membaca Al-Fatihah, apakah suatu kewajiban? Sebagian belum memahami perbedaan dalam masalah ini sehingga menganggap orang lain keliru. Padahal kita sendiri sebenarnya yang belum paham. Para fuqaha berbeda pendapat dalam hal hukum membaca basmalah bagi imam, makmum dan orang yang shalat sendirian. Perbedaan ini muncul dari masalah apakah basmalah merupakan bagian dari Al-Fatihah ataukah bukan. Dalam madzhab Hanafiyah, disunnahkan membaca basmalah secara lirih bagi imam dan orang yang shalat sendirian di setiap membaca awal Al-Fatihah di setiap raka’at. Namun tidak disunnahkan membaca basmalah antara Al-Fatihah dan surat lainnya secara mutlak menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf karena menurut mereka basmalah bukan merupakan bagian dari Al-Fatihah. Penyebutan basmalah hanya untuk mengambil berkah (tabarruk). Yang masyhur dalam madzhab Malikiyah, basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah. Sehingga basmalah tidak dibaca dalam shalat wajib yang sirr (Zhuhur dan Ashar) dan jaher (Maghrib, Isya dan Shubuh), baik bagi imam, makmum maupun munfarid (orang yang shalat sendirian). Pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, wajib bagi imam dan makmum serta munfarid untuk membaca basmalah dalam setiap raka’at sebelum membaca Al-Fatihah, baik shalat tersebut wajib ataukah sunnah, begitu pula berlaku dalam shalat sirr (Zhuhur dan Ashar) dan shalat jaher (Maghrib, Isya dan Shubuh). Pendapat yang paling kuat dalam madzhab Hambali, tidak wajib membaca basmalah saat membaca Al-Fatihah, begitu pula surat lainnya di setiap raka’at. Juga pendapat terkuat dalam madhzab Imam Ahmad, disunnahkan membaca basmalah secara lirih pada dua raka’at pertama dari setiap shalat. Begitu pula basmalah dibaca pada awal surat setelah surat Al-Fatihah, namun lirih. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 86-88) Adapun ulama yang berdalil bahwa bismillahirrahmanirrahim tidak dikeraskan adalah berdasarkan hadits dari ‘Aisyah, ia berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membuka shalatnya dengan takbir lalu membaca alhamdulillahi robbil ‘alamin.” (HR. Muslim no. 498). Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di ketika menjelaskan hadits di atas dalam ‘Umdah Al-Ahkam, beliau berkata, “Ini adalah dalil bahwa bacaan basmalah tidaklah dijahrkan (dikeraskan).” (Syarh ‘Umdah Al-Ahkam karya Syaikh As-Sa’di, hlm. 161). Juga dalil lainnya adalah hadits Anas, di mana ia berkata, صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga bersama Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, aku tidak pernah mendengar salah seorang dari mereka membaca ‘ bismillahir rahmanir rahiim’.” (HR. Muslim no. 399). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Yang sesuai sunnah, basmalah dibaca sebelum surat Al Fatihah dan bacaan tersebut dilirihkan (tidak dikeraskan).” (Kitab Shifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah karya Ibnu Taimiyah, hlm. 105).   Saran kami: Kalau seseorang menjadi imam untuk jamaah yang belum paham akan masalah mensirrkan (memelankan) bacaan basmalah, baiknya tetap dibaca keras agar lebih menarik hati jama’ah kala itu. Dan masalah ini pun bukan masalah besar yang sampai jatuh pada keharaman. Coba lihat bagaimana contoh dari Syaikh ‘Abdurrahman As-Sudais (imam besar Masjidil Haram Makkah) saat bertamu dan saat memimpin shalat di Masjid Istiqlal yang notabene di negeri kita ini mengambil pendapat madzhab Syafi’i yang mewajibkan membaca basmalah,  beliau tetap mengeraskan bacaan basmalah kala itu. Semoga pembahasan ini juga semakin membuka pemahaman kalangan yang belum mengetahui adanya beda pendapat dalam masalah ini. Intinya, yang berbeda padahal sama-sama muslim, hendaklah kita berprasangka baik bahwa ia barangkali mempunyai dalil yang belum kita pahami. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram, Instagram, Twitter @RumayshoCom Tagscara shalat tafsir al fatihah


Bagaimana hukum mengeraskan basmalah saat membaca Al-Fatihah, apakah suatu kewajiban? Sebagian belum memahami perbedaan dalam masalah ini sehingga menganggap orang lain keliru. Padahal kita sendiri sebenarnya yang belum paham. Para fuqaha berbeda pendapat dalam hal hukum membaca basmalah bagi imam, makmum dan orang yang shalat sendirian. Perbedaan ini muncul dari masalah apakah basmalah merupakan bagian dari Al-Fatihah ataukah bukan. Dalam madzhab Hanafiyah, disunnahkan membaca basmalah secara lirih bagi imam dan orang yang shalat sendirian di setiap membaca awal Al-Fatihah di setiap raka’at. Namun tidak disunnahkan membaca basmalah antara Al-Fatihah dan surat lainnya secara mutlak menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf karena menurut mereka basmalah bukan merupakan bagian dari Al-Fatihah. Penyebutan basmalah hanya untuk mengambil berkah (tabarruk). Yang masyhur dalam madzhab Malikiyah, basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah. Sehingga basmalah tidak dibaca dalam shalat wajib yang sirr (Zhuhur dan Ashar) dan jaher (Maghrib, Isya dan Shubuh), baik bagi imam, makmum maupun munfarid (orang yang shalat sendirian). Pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, wajib bagi imam dan makmum serta munfarid untuk membaca basmalah dalam setiap raka’at sebelum membaca Al-Fatihah, baik shalat tersebut wajib ataukah sunnah, begitu pula berlaku dalam shalat sirr (Zhuhur dan Ashar) dan shalat jaher (Maghrib, Isya dan Shubuh). Pendapat yang paling kuat dalam madzhab Hambali, tidak wajib membaca basmalah saat membaca Al-Fatihah, begitu pula surat lainnya di setiap raka’at. Juga pendapat terkuat dalam madhzab Imam Ahmad, disunnahkan membaca basmalah secara lirih pada dua raka’at pertama dari setiap shalat. Begitu pula basmalah dibaca pada awal surat setelah surat Al-Fatihah, namun lirih. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 86-88) Adapun ulama yang berdalil bahwa bismillahirrahmanirrahim tidak dikeraskan adalah berdasarkan hadits dari ‘Aisyah, ia berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membuka shalatnya dengan takbir lalu membaca alhamdulillahi robbil ‘alamin.” (HR. Muslim no. 498). Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di ketika menjelaskan hadits di atas dalam ‘Umdah Al-Ahkam, beliau berkata, “Ini adalah dalil bahwa bacaan basmalah tidaklah dijahrkan (dikeraskan).” (Syarh ‘Umdah Al-Ahkam karya Syaikh As-Sa’di, hlm. 161). Juga dalil lainnya adalah hadits Anas, di mana ia berkata, صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga bersama Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, aku tidak pernah mendengar salah seorang dari mereka membaca ‘ bismillahir rahmanir rahiim’.” (HR. Muslim no. 399). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Yang sesuai sunnah, basmalah dibaca sebelum surat Al Fatihah dan bacaan tersebut dilirihkan (tidak dikeraskan).” (Kitab Shifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah karya Ibnu Taimiyah, hlm. 105).   Saran kami: Kalau seseorang menjadi imam untuk jamaah yang belum paham akan masalah mensirrkan (memelankan) bacaan basmalah, baiknya tetap dibaca keras agar lebih menarik hati jama’ah kala itu. Dan masalah ini pun bukan masalah besar yang sampai jatuh pada keharaman. Coba lihat bagaimana contoh dari Syaikh ‘Abdurrahman As-Sudais (imam besar Masjidil Haram Makkah) saat bertamu dan saat memimpin shalat di Masjid Istiqlal yang notabene di negeri kita ini mengambil pendapat madzhab Syafi’i yang mewajibkan membaca basmalah,  beliau tetap mengeraskan bacaan basmalah kala itu. Semoga pembahasan ini juga semakin membuka pemahaman kalangan yang belum mengetahui adanya beda pendapat dalam masalah ini. Intinya, yang berbeda padahal sama-sama muslim, hendaklah kita berprasangka baik bahwa ia barangkali mempunyai dalil yang belum kita pahami. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram, Instagram, Twitter @RumayshoCom Tagscara shalat tafsir al fatihah

Hukum Al-Fatihah (1): Basmalah Bagian Al Fatihah atau Bukan?

Pembahasan serial pertama, apakah basmalah bagian dari Al-Fatihah ataukah bukan? Para ulama sepakat bahwa basmalah adalah bagian dari ayat Al-Qur’an yaitu firman Allah Ta’ala, إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Naml: 30) Para ulama berselisih pendapat dalam masalah apakah basmalah (bacaan: bismillahirrahmanirrahim) merupakan bagian dari Al-Fatihah ataukah bukan, juga apakah bagian dari surat lainnya. Menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Hanafiyah, pendapat yang paling shahih dalam madzhab Hambali, dan menjadi pendapat kebanyakan fuqaha, basmalah bukanlah bagian dari Al-Fatihah dan bukan bagian dari awal surat apa pun dalam Al-Qur’an. Namun basmalah adalah ayat yang ada dalam Al-Qur’an. Fungsi basmalah adalah untuk memisah satu surat dan lainnya. Basmalah disebut di awal surat Al-Fatihah. Dalil bahwasanya basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah. Dalam hadits qudsi dari sahabat Abu Hurairah, « قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى – فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ ». “Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat (maksudnya: Al Fatihah) menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan hamba-Ku dua bagian dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika hamba mengucapkan ’alhamdulillahi robbil ‘alamin (segala puji hanya milik Allah)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘ar rahmanir rahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘maaliki yaumiddiin (Yang Menguasai hari pembalasan)’, Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Beliau berkata sesekali: Hamba-Ku telah memberi kuasa penuh pada-Ku. Jika ia mengucapkan ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu kami menyebah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)’, Allah berfirman: Ini antara-Ku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan ‘ihdiinash shiroothol mustaqiim, shirootolladzina an’amta ‘alaihim, ghoiril magdhuubi ‘alaihim wa laaddhoollin’ (tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang sesat), Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”  (HR. Muslim no. 395). Dalam hadits di atas surat Al-Fatihah dimulai dari “Alhamdulilah lillahi rabbil ‘alamiin”. Ini menunjukkan bahwa bismillahirrahmanirrahim bhkan ayat pertama dari Al-Fatihah. Seandainya merupakan bagian dari Al-Fatihah, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan sebutkan dalam hadits di atas. Alasan lainnya, kalau basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah, paslah di tengah surat itu adalah iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Sedangkan menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Malikiyyah, basmalah bukan bagian dari ayat Al-Qur’an kecuali pada surat An-Naml. Menurut Imam Ahmad sendiri, basmalah adalah bagian dari Al-Fatihah. Karena alasannya, para sahabat menetapkan dalam mushaf. Abu Hurairah juga pernah membaca Al-Fatihah dimulai dari bismillahirrahmanirrahim. Ibnul Mubarak sampai-sampai mengatakan, “Siapa yang meninggalkan bismillahirrahmanirrahim, maka ia meninggalkan 113 ayat (surat).” Dalam pendapat lain dari Imam Ahmad, basmalah adalah ayat tersendiri. Basmalah diturunkan di antara dua surat sebagai pemisah. Adapun dalam madzhab Syafi’i,mereka menganggap bahwa basmalah adalah ayat sempurna dari Al-Fatihah dan dari setiap surat. Namun para ulama empat madzhab menyatakan bahwa siapa yang tidak menyetujui kalau Al-Fatihah itu bagian dari awal-awal surat, maka ia tidak dianggap kafir. Karena ada perbedaan di atas yang telah disebutkan. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 83-85) Catatan: Meskipun demikian, tetapi di mushaf Al-Qur’an yang tersebar di negeri kita nampak bahwa basmalah tetap dianggap ayat pertama. Hal ini menunjukkan bahwa para ulama yang menyusun mushaf Al-Qur’an tidak terlalu mempermasalahkan besar perkara ini.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram, Instagram, Twitter @RumayshoCom Tagstafsir al fatihah

Hukum Al-Fatihah (1): Basmalah Bagian Al Fatihah atau Bukan?

Pembahasan serial pertama, apakah basmalah bagian dari Al-Fatihah ataukah bukan? Para ulama sepakat bahwa basmalah adalah bagian dari ayat Al-Qur’an yaitu firman Allah Ta’ala, إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Naml: 30) Para ulama berselisih pendapat dalam masalah apakah basmalah (bacaan: bismillahirrahmanirrahim) merupakan bagian dari Al-Fatihah ataukah bukan, juga apakah bagian dari surat lainnya. Menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Hanafiyah, pendapat yang paling shahih dalam madzhab Hambali, dan menjadi pendapat kebanyakan fuqaha, basmalah bukanlah bagian dari Al-Fatihah dan bukan bagian dari awal surat apa pun dalam Al-Qur’an. Namun basmalah adalah ayat yang ada dalam Al-Qur’an. Fungsi basmalah adalah untuk memisah satu surat dan lainnya. Basmalah disebut di awal surat Al-Fatihah. Dalil bahwasanya basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah. Dalam hadits qudsi dari sahabat Abu Hurairah, « قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى – فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ ». “Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat (maksudnya: Al Fatihah) menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan hamba-Ku dua bagian dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika hamba mengucapkan ’alhamdulillahi robbil ‘alamin (segala puji hanya milik Allah)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘ar rahmanir rahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘maaliki yaumiddiin (Yang Menguasai hari pembalasan)’, Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Beliau berkata sesekali: Hamba-Ku telah memberi kuasa penuh pada-Ku. Jika ia mengucapkan ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu kami menyebah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)’, Allah berfirman: Ini antara-Ku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan ‘ihdiinash shiroothol mustaqiim, shirootolladzina an’amta ‘alaihim, ghoiril magdhuubi ‘alaihim wa laaddhoollin’ (tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang sesat), Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”  (HR. Muslim no. 395). Dalam hadits di atas surat Al-Fatihah dimulai dari “Alhamdulilah lillahi rabbil ‘alamiin”. Ini menunjukkan bahwa bismillahirrahmanirrahim bhkan ayat pertama dari Al-Fatihah. Seandainya merupakan bagian dari Al-Fatihah, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan sebutkan dalam hadits di atas. Alasan lainnya, kalau basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah, paslah di tengah surat itu adalah iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Sedangkan menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Malikiyyah, basmalah bukan bagian dari ayat Al-Qur’an kecuali pada surat An-Naml. Menurut Imam Ahmad sendiri, basmalah adalah bagian dari Al-Fatihah. Karena alasannya, para sahabat menetapkan dalam mushaf. Abu Hurairah juga pernah membaca Al-Fatihah dimulai dari bismillahirrahmanirrahim. Ibnul Mubarak sampai-sampai mengatakan, “Siapa yang meninggalkan bismillahirrahmanirrahim, maka ia meninggalkan 113 ayat (surat).” Dalam pendapat lain dari Imam Ahmad, basmalah adalah ayat tersendiri. Basmalah diturunkan di antara dua surat sebagai pemisah. Adapun dalam madzhab Syafi’i,mereka menganggap bahwa basmalah adalah ayat sempurna dari Al-Fatihah dan dari setiap surat. Namun para ulama empat madzhab menyatakan bahwa siapa yang tidak menyetujui kalau Al-Fatihah itu bagian dari awal-awal surat, maka ia tidak dianggap kafir. Karena ada perbedaan di atas yang telah disebutkan. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 83-85) Catatan: Meskipun demikian, tetapi di mushaf Al-Qur’an yang tersebar di negeri kita nampak bahwa basmalah tetap dianggap ayat pertama. Hal ini menunjukkan bahwa para ulama yang menyusun mushaf Al-Qur’an tidak terlalu mempermasalahkan besar perkara ini.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram, Instagram, Twitter @RumayshoCom Tagstafsir al fatihah
Pembahasan serial pertama, apakah basmalah bagian dari Al-Fatihah ataukah bukan? Para ulama sepakat bahwa basmalah adalah bagian dari ayat Al-Qur’an yaitu firman Allah Ta’ala, إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Naml: 30) Para ulama berselisih pendapat dalam masalah apakah basmalah (bacaan: bismillahirrahmanirrahim) merupakan bagian dari Al-Fatihah ataukah bukan, juga apakah bagian dari surat lainnya. Menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Hanafiyah, pendapat yang paling shahih dalam madzhab Hambali, dan menjadi pendapat kebanyakan fuqaha, basmalah bukanlah bagian dari Al-Fatihah dan bukan bagian dari awal surat apa pun dalam Al-Qur’an. Namun basmalah adalah ayat yang ada dalam Al-Qur’an. Fungsi basmalah adalah untuk memisah satu surat dan lainnya. Basmalah disebut di awal surat Al-Fatihah. Dalil bahwasanya basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah. Dalam hadits qudsi dari sahabat Abu Hurairah, « قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى – فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ ». “Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat (maksudnya: Al Fatihah) menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan hamba-Ku dua bagian dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika hamba mengucapkan ’alhamdulillahi robbil ‘alamin (segala puji hanya milik Allah)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘ar rahmanir rahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘maaliki yaumiddiin (Yang Menguasai hari pembalasan)’, Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Beliau berkata sesekali: Hamba-Ku telah memberi kuasa penuh pada-Ku. Jika ia mengucapkan ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu kami menyebah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)’, Allah berfirman: Ini antara-Ku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan ‘ihdiinash shiroothol mustaqiim, shirootolladzina an’amta ‘alaihim, ghoiril magdhuubi ‘alaihim wa laaddhoollin’ (tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang sesat), Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”  (HR. Muslim no. 395). Dalam hadits di atas surat Al-Fatihah dimulai dari “Alhamdulilah lillahi rabbil ‘alamiin”. Ini menunjukkan bahwa bismillahirrahmanirrahim bhkan ayat pertama dari Al-Fatihah. Seandainya merupakan bagian dari Al-Fatihah, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan sebutkan dalam hadits di atas. Alasan lainnya, kalau basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah, paslah di tengah surat itu adalah iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Sedangkan menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Malikiyyah, basmalah bukan bagian dari ayat Al-Qur’an kecuali pada surat An-Naml. Menurut Imam Ahmad sendiri, basmalah adalah bagian dari Al-Fatihah. Karena alasannya, para sahabat menetapkan dalam mushaf. Abu Hurairah juga pernah membaca Al-Fatihah dimulai dari bismillahirrahmanirrahim. Ibnul Mubarak sampai-sampai mengatakan, “Siapa yang meninggalkan bismillahirrahmanirrahim, maka ia meninggalkan 113 ayat (surat).” Dalam pendapat lain dari Imam Ahmad, basmalah adalah ayat tersendiri. Basmalah diturunkan di antara dua surat sebagai pemisah. Adapun dalam madzhab Syafi’i,mereka menganggap bahwa basmalah adalah ayat sempurna dari Al-Fatihah dan dari setiap surat. Namun para ulama empat madzhab menyatakan bahwa siapa yang tidak menyetujui kalau Al-Fatihah itu bagian dari awal-awal surat, maka ia tidak dianggap kafir. Karena ada perbedaan di atas yang telah disebutkan. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 83-85) Catatan: Meskipun demikian, tetapi di mushaf Al-Qur’an yang tersebar di negeri kita nampak bahwa basmalah tetap dianggap ayat pertama. Hal ini menunjukkan bahwa para ulama yang menyusun mushaf Al-Qur’an tidak terlalu mempermasalahkan besar perkara ini.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram, Instagram, Twitter @RumayshoCom Tagstafsir al fatihah


Pembahasan serial pertama, apakah basmalah bagian dari Al-Fatihah ataukah bukan? Para ulama sepakat bahwa basmalah adalah bagian dari ayat Al-Qur’an yaitu firman Allah Ta’ala, إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Naml: 30) Para ulama berselisih pendapat dalam masalah apakah basmalah (bacaan: bismillahirrahmanirrahim) merupakan bagian dari Al-Fatihah ataukah bukan, juga apakah bagian dari surat lainnya. Menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Hanafiyah, pendapat yang paling shahih dalam madzhab Hambali, dan menjadi pendapat kebanyakan fuqaha, basmalah bukanlah bagian dari Al-Fatihah dan bukan bagian dari awal surat apa pun dalam Al-Qur’an. Namun basmalah adalah ayat yang ada dalam Al-Qur’an. Fungsi basmalah adalah untuk memisah satu surat dan lainnya. Basmalah disebut di awal surat Al-Fatihah. Dalil bahwasanya basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah. Dalam hadits qudsi dari sahabat Abu Hurairah, « قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى – فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ ». “Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat (maksudnya: Al Fatihah) menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan hamba-Ku dua bagian dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika hamba mengucapkan ’alhamdulillahi robbil ‘alamin (segala puji hanya milik Allah)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘ar rahmanir rahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘maaliki yaumiddiin (Yang Menguasai hari pembalasan)’, Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Beliau berkata sesekali: Hamba-Ku telah memberi kuasa penuh pada-Ku. Jika ia mengucapkan ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu kami menyebah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)’, Allah berfirman: Ini antara-Ku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan ‘ihdiinash shiroothol mustaqiim, shirootolladzina an’amta ‘alaihim, ghoiril magdhuubi ‘alaihim wa laaddhoollin’ (tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang sesat), Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”  (HR. Muslim no. 395). Dalam hadits di atas surat Al-Fatihah dimulai dari “Alhamdulilah lillahi rabbil ‘alamiin”. Ini menunjukkan bahwa bismillahirrahmanirrahim bhkan ayat pertama dari Al-Fatihah. Seandainya merupakan bagian dari Al-Fatihah, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan sebutkan dalam hadits di atas. Alasan lainnya, kalau basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah, paslah di tengah surat itu adalah iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Sedangkan menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Malikiyyah, basmalah bukan bagian dari ayat Al-Qur’an kecuali pada surat An-Naml. Menurut Imam Ahmad sendiri, basmalah adalah bagian dari Al-Fatihah. Karena alasannya, para sahabat menetapkan dalam mushaf. Abu Hurairah juga pernah membaca Al-Fatihah dimulai dari bismillahirrahmanirrahim. Ibnul Mubarak sampai-sampai mengatakan, “Siapa yang meninggalkan bismillahirrahmanirrahim, maka ia meninggalkan 113 ayat (surat).” Dalam pendapat lain dari Imam Ahmad, basmalah adalah ayat tersendiri. Basmalah diturunkan di antara dua surat sebagai pemisah. Adapun dalam madzhab Syafi’i,mereka menganggap bahwa basmalah adalah ayat sempurna dari Al-Fatihah dan dari setiap surat. Namun para ulama empat madzhab menyatakan bahwa siapa yang tidak menyetujui kalau Al-Fatihah itu bagian dari awal-awal surat, maka ia tidak dianggap kafir. Karena ada perbedaan di atas yang telah disebutkan. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 83-85) Catatan: Meskipun demikian, tetapi di mushaf Al-Qur’an yang tersebar di negeri kita nampak bahwa basmalah tetap dianggap ayat pertama. Hal ini menunjukkan bahwa para ulama yang menyusun mushaf Al-Qur’an tidak terlalu mempermasalahkan besar perkara ini.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram, Instagram, Twitter @RumayshoCom Tagstafsir al fatihah

Sudah Manfaatkah Ilmu Kita?

Kita sudah banyak belajar, namun kadang ilmu yang kita pelajari tidak membekas atau tidak manfaat. Bagaimana kita bisa tahu kalau ilmu tersebut bermanfaat? Beberapa hal berikut bisa sebagai indikasi kalau ilmu yang kita pelajari selama ini bermanfaat.   Pertama: Ilmu tersebut semakin membuat kita takut pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28) Ibnul Qayyim menyatakan, “Ayat tersebut menunjukkan dua hal: (1) yang takut pada Allah hanyalah ulama, (2) tidaklah disebut alim (orang berilmu) kecuali punya rasa takut pada Allah. Yang takut pada Allah hanyalah ulama. Semakin hilang ilmu, semakin hilang rasa takut. Jika rasa takut hilang, maka ilmu pun akan makin redup.” (Syifa’ Al-‘Alil, 2: 949)   Kedua: Ilmu tersebut mendorong kita untuk semakin semangat melakukan ketaatan dan semakin semangat menjauhi maksiat. Sebagian ulama salaf berkata, “Siapa yang takut pada Allah, maka dialah ‘alim, seorang yang berilmu. Siapa yang bermaksiat pada Allah, dialah jahil (orang yang jauh dari ilmu).”   Ketiga: Ilmu yang manfaat akan mengantarkan pada sifat qana’ah (selalu merasa cukup) dan zuhud pada dunia. Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Sesungguhnya orang yang berilmu adalah orang yang zuhud pada dunia dan semangat mencari akhirat. Ia paham akan urusan agamanya dan rutin melakukan ibadah pada Rabbnya.”   Keempat: Tawadhu’ (rendah hati) dan mudah menerima kebenaran dari siapa pun, lalu ingin menerapkan kebenaran tersebut.   Kelima: Benci pujian dan enggan menyucikan diri sendiri, juga tidak suka ketenaran. Jika ia disanjung lalu menjadi populer bukan karena keinginan dan pilihannya, ia pun takut dengan rasa takut yang besar, takut akan akibat jeleknya.   Keenam: Ilmu yang dipelajari tidak jadi kebanggaan dan kesombongan di hadapan lainnya. Ia tahu bahwa para salaf dahulu lebih mulia dan ia pun selalu berprasangka baik padanya. Wallahu Ta’ala a’lam.            Sudahkah ilmu kita membuahkan hal-hal di atas sehingga dapat disebut ilmu itu manfaat? Semoga … Dinukil dari bahasan Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 10: 475-476. اللَّهُمَّ انْفَعْنِى بِمَا عَلَّمْتَنِى وَعَلِّمْنِى مَا يَنْفَعُنِى وَزِدْنِى عِلْمًا [Allahummanfa’nii bimaa ‘allamtanii wa ‘allimnii maa yanfa’unii, wa zidnii ‘ilmaa] “Ya Allah, berilah manfaat pada ilmu yang telah Engkau ajarkan padaku, ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat untukku, dan tambahkanlah aku ilmu.” (HR. Ibnu Majah, no. 251 dan Tirmidzi, no. 3599, shahih)   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Fauzan Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram, Instagram, Twitter @RumayshoCom Tagsbelajar

Sudah Manfaatkah Ilmu Kita?

Kita sudah banyak belajar, namun kadang ilmu yang kita pelajari tidak membekas atau tidak manfaat. Bagaimana kita bisa tahu kalau ilmu tersebut bermanfaat? Beberapa hal berikut bisa sebagai indikasi kalau ilmu yang kita pelajari selama ini bermanfaat.   Pertama: Ilmu tersebut semakin membuat kita takut pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28) Ibnul Qayyim menyatakan, “Ayat tersebut menunjukkan dua hal: (1) yang takut pada Allah hanyalah ulama, (2) tidaklah disebut alim (orang berilmu) kecuali punya rasa takut pada Allah. Yang takut pada Allah hanyalah ulama. Semakin hilang ilmu, semakin hilang rasa takut. Jika rasa takut hilang, maka ilmu pun akan makin redup.” (Syifa’ Al-‘Alil, 2: 949)   Kedua: Ilmu tersebut mendorong kita untuk semakin semangat melakukan ketaatan dan semakin semangat menjauhi maksiat. Sebagian ulama salaf berkata, “Siapa yang takut pada Allah, maka dialah ‘alim, seorang yang berilmu. Siapa yang bermaksiat pada Allah, dialah jahil (orang yang jauh dari ilmu).”   Ketiga: Ilmu yang manfaat akan mengantarkan pada sifat qana’ah (selalu merasa cukup) dan zuhud pada dunia. Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Sesungguhnya orang yang berilmu adalah orang yang zuhud pada dunia dan semangat mencari akhirat. Ia paham akan urusan agamanya dan rutin melakukan ibadah pada Rabbnya.”   Keempat: Tawadhu’ (rendah hati) dan mudah menerima kebenaran dari siapa pun, lalu ingin menerapkan kebenaran tersebut.   Kelima: Benci pujian dan enggan menyucikan diri sendiri, juga tidak suka ketenaran. Jika ia disanjung lalu menjadi populer bukan karena keinginan dan pilihannya, ia pun takut dengan rasa takut yang besar, takut akan akibat jeleknya.   Keenam: Ilmu yang dipelajari tidak jadi kebanggaan dan kesombongan di hadapan lainnya. Ia tahu bahwa para salaf dahulu lebih mulia dan ia pun selalu berprasangka baik padanya. Wallahu Ta’ala a’lam.            Sudahkah ilmu kita membuahkan hal-hal di atas sehingga dapat disebut ilmu itu manfaat? Semoga … Dinukil dari bahasan Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 10: 475-476. اللَّهُمَّ انْفَعْنِى بِمَا عَلَّمْتَنِى وَعَلِّمْنِى مَا يَنْفَعُنِى وَزِدْنِى عِلْمًا [Allahummanfa’nii bimaa ‘allamtanii wa ‘allimnii maa yanfa’unii, wa zidnii ‘ilmaa] “Ya Allah, berilah manfaat pada ilmu yang telah Engkau ajarkan padaku, ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat untukku, dan tambahkanlah aku ilmu.” (HR. Ibnu Majah, no. 251 dan Tirmidzi, no. 3599, shahih)   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Fauzan Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram, Instagram, Twitter @RumayshoCom Tagsbelajar
Kita sudah banyak belajar, namun kadang ilmu yang kita pelajari tidak membekas atau tidak manfaat. Bagaimana kita bisa tahu kalau ilmu tersebut bermanfaat? Beberapa hal berikut bisa sebagai indikasi kalau ilmu yang kita pelajari selama ini bermanfaat.   Pertama: Ilmu tersebut semakin membuat kita takut pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28) Ibnul Qayyim menyatakan, “Ayat tersebut menunjukkan dua hal: (1) yang takut pada Allah hanyalah ulama, (2) tidaklah disebut alim (orang berilmu) kecuali punya rasa takut pada Allah. Yang takut pada Allah hanyalah ulama. Semakin hilang ilmu, semakin hilang rasa takut. Jika rasa takut hilang, maka ilmu pun akan makin redup.” (Syifa’ Al-‘Alil, 2: 949)   Kedua: Ilmu tersebut mendorong kita untuk semakin semangat melakukan ketaatan dan semakin semangat menjauhi maksiat. Sebagian ulama salaf berkata, “Siapa yang takut pada Allah, maka dialah ‘alim, seorang yang berilmu. Siapa yang bermaksiat pada Allah, dialah jahil (orang yang jauh dari ilmu).”   Ketiga: Ilmu yang manfaat akan mengantarkan pada sifat qana’ah (selalu merasa cukup) dan zuhud pada dunia. Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Sesungguhnya orang yang berilmu adalah orang yang zuhud pada dunia dan semangat mencari akhirat. Ia paham akan urusan agamanya dan rutin melakukan ibadah pada Rabbnya.”   Keempat: Tawadhu’ (rendah hati) dan mudah menerima kebenaran dari siapa pun, lalu ingin menerapkan kebenaran tersebut.   Kelima: Benci pujian dan enggan menyucikan diri sendiri, juga tidak suka ketenaran. Jika ia disanjung lalu menjadi populer bukan karena keinginan dan pilihannya, ia pun takut dengan rasa takut yang besar, takut akan akibat jeleknya.   Keenam: Ilmu yang dipelajari tidak jadi kebanggaan dan kesombongan di hadapan lainnya. Ia tahu bahwa para salaf dahulu lebih mulia dan ia pun selalu berprasangka baik padanya. Wallahu Ta’ala a’lam.            Sudahkah ilmu kita membuahkan hal-hal di atas sehingga dapat disebut ilmu itu manfaat? Semoga … Dinukil dari bahasan Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 10: 475-476. اللَّهُمَّ انْفَعْنِى بِمَا عَلَّمْتَنِى وَعَلِّمْنِى مَا يَنْفَعُنِى وَزِدْنِى عِلْمًا [Allahummanfa’nii bimaa ‘allamtanii wa ‘allimnii maa yanfa’unii, wa zidnii ‘ilmaa] “Ya Allah, berilah manfaat pada ilmu yang telah Engkau ajarkan padaku, ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat untukku, dan tambahkanlah aku ilmu.” (HR. Ibnu Majah, no. 251 dan Tirmidzi, no. 3599, shahih)   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Fauzan Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram, Instagram, Twitter @RumayshoCom Tagsbelajar


Kita sudah banyak belajar, namun kadang ilmu yang kita pelajari tidak membekas atau tidak manfaat. Bagaimana kita bisa tahu kalau ilmu tersebut bermanfaat? Beberapa hal berikut bisa sebagai indikasi kalau ilmu yang kita pelajari selama ini bermanfaat.   Pertama: Ilmu tersebut semakin membuat kita takut pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28) Ibnul Qayyim menyatakan, “Ayat tersebut menunjukkan dua hal: (1) yang takut pada Allah hanyalah ulama, (2) tidaklah disebut alim (orang berilmu) kecuali punya rasa takut pada Allah. Yang takut pada Allah hanyalah ulama. Semakin hilang ilmu, semakin hilang rasa takut. Jika rasa takut hilang, maka ilmu pun akan makin redup.” (Syifa’ Al-‘Alil, 2: 949)   Kedua: Ilmu tersebut mendorong kita untuk semakin semangat melakukan ketaatan dan semakin semangat menjauhi maksiat. Sebagian ulama salaf berkata, “Siapa yang takut pada Allah, maka dialah ‘alim, seorang yang berilmu. Siapa yang bermaksiat pada Allah, dialah jahil (orang yang jauh dari ilmu).”   Ketiga: Ilmu yang manfaat akan mengantarkan pada sifat qana’ah (selalu merasa cukup) dan zuhud pada dunia. Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Sesungguhnya orang yang berilmu adalah orang yang zuhud pada dunia dan semangat mencari akhirat. Ia paham akan urusan agamanya dan rutin melakukan ibadah pada Rabbnya.”   Keempat: Tawadhu’ (rendah hati) dan mudah menerima kebenaran dari siapa pun, lalu ingin menerapkan kebenaran tersebut.   Kelima: Benci pujian dan enggan menyucikan diri sendiri, juga tidak suka ketenaran. Jika ia disanjung lalu menjadi populer bukan karena keinginan dan pilihannya, ia pun takut dengan rasa takut yang besar, takut akan akibat jeleknya.   Keenam: Ilmu yang dipelajari tidak jadi kebanggaan dan kesombongan di hadapan lainnya. Ia tahu bahwa para salaf dahulu lebih mulia dan ia pun selalu berprasangka baik padanya. Wallahu Ta’ala a’lam.            Sudahkah ilmu kita membuahkan hal-hal di atas sehingga dapat disebut ilmu itu manfaat? Semoga … Dinukil dari bahasan Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 10: 475-476. اللَّهُمَّ انْفَعْنِى بِمَا عَلَّمْتَنِى وَعَلِّمْنِى مَا يَنْفَعُنِى وَزِدْنِى عِلْمًا [Allahummanfa’nii bimaa ‘allamtanii wa ‘allimnii maa yanfa’unii, wa zidnii ‘ilmaa] “Ya Allah, berilah manfaat pada ilmu yang telah Engkau ajarkan padaku, ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat untukku, dan tambahkanlah aku ilmu.” (HR. Ibnu Majah, no. 251 dan Tirmidzi, no. 3599, shahih)   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Fauzan Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram, Instagram, Twitter @RumayshoCom Tagsbelajar

Tahap Desember 2015 Butuh 200 Juta untuk Pelebaran Jalan

Warak, 18 Safar 1437 H (01 Desember 2015 ):  Sudah 6 bulan berjalan untuk pelebaran jalan di sekitar Pesantren Darush Sholihin yaitu di dua dusun (Dusun  Warak dan Krambil). Pelebaran ini bertujuan untuk mengatasi kemacetan dan sebagai lahan parkir untuk kendaraan yang datang. Kajian rutin malam Kamis saja sudah dihadiri 2000 jama’ah. Lebih-lebih lagi Kajian Akbar seperti yang terakhir diisi oleh Ustadz Badrusalam (Rodja TV) dihadiri 3800 jama’ah dan Ustadz Sa’id (Wonosari) dihadiri 4000 jama’ah. Sehingga pelebaran jalan ini terasa sangat urgent. Sampai saat ini masih berlangsung pelebaran dan sudah mencapai 90%. Hasilnya sudah dirasakan oleh masyarakat di sekitar pesantren. Jalan yang tadinya sempit dan rawan kecelakaan, sekarang sudah relatif lebih aman. Di samping itu juga kegiatan pelebaran in adalah membuka lapangan kerja bagi para pengangguran atau warga yang biasa bekerja di Jogja, akhirnya cukup bekerja di dekat rumah. Adapun dana yang telah dihabiskan selama 6 bulan terakir adalah Rp.608.105.500,- dan dana tersebut kami dapatkan dari sumbangan para donatur melalui dana riba, syubhat maupun dana sosial khusus untuk pelebaran jalan. Laporan pengeluaran selama ini bisa dilihat di sini. Foto-foto terkini bisa lihat di sini. Untuk tahap Desember 2015 ini, selama satu minggu (hingga 7 Desember 2015) dibuka donasi dengan kebutuhan 200 juta rupiah. Bagi yang berminat menyalurkan dana riba, dana syubhat (tidak jelas), atau dana sosial, silakan mentransfer via Rekening khusus dana sosial: BCA KCP Wonosari 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BCA # 1 Desember 2015 # Rp.100.000.   Info donasi, silakan CALL, SMS, atau WA ke nomor: 0811 267791/0877 3825 5559 (Mas Jarot)   Semoga Allah memberkahi rizkinya.   Pelebaran jalan di Dusun Warak.   Pelebaran jalan di RT 07 Dusun Warak. — 18 Safar 1437 H Join Channel Telegram: @RumayshoCom, @DarushSholihin   Tagsriba

Tahap Desember 2015 Butuh 200 Juta untuk Pelebaran Jalan

Warak, 18 Safar 1437 H (01 Desember 2015 ):  Sudah 6 bulan berjalan untuk pelebaran jalan di sekitar Pesantren Darush Sholihin yaitu di dua dusun (Dusun  Warak dan Krambil). Pelebaran ini bertujuan untuk mengatasi kemacetan dan sebagai lahan parkir untuk kendaraan yang datang. Kajian rutin malam Kamis saja sudah dihadiri 2000 jama’ah. Lebih-lebih lagi Kajian Akbar seperti yang terakhir diisi oleh Ustadz Badrusalam (Rodja TV) dihadiri 3800 jama’ah dan Ustadz Sa’id (Wonosari) dihadiri 4000 jama’ah. Sehingga pelebaran jalan ini terasa sangat urgent. Sampai saat ini masih berlangsung pelebaran dan sudah mencapai 90%. Hasilnya sudah dirasakan oleh masyarakat di sekitar pesantren. Jalan yang tadinya sempit dan rawan kecelakaan, sekarang sudah relatif lebih aman. Di samping itu juga kegiatan pelebaran in adalah membuka lapangan kerja bagi para pengangguran atau warga yang biasa bekerja di Jogja, akhirnya cukup bekerja di dekat rumah. Adapun dana yang telah dihabiskan selama 6 bulan terakir adalah Rp.608.105.500,- dan dana tersebut kami dapatkan dari sumbangan para donatur melalui dana riba, syubhat maupun dana sosial khusus untuk pelebaran jalan. Laporan pengeluaran selama ini bisa dilihat di sini. Foto-foto terkini bisa lihat di sini. Untuk tahap Desember 2015 ini, selama satu minggu (hingga 7 Desember 2015) dibuka donasi dengan kebutuhan 200 juta rupiah. Bagi yang berminat menyalurkan dana riba, dana syubhat (tidak jelas), atau dana sosial, silakan mentransfer via Rekening khusus dana sosial: BCA KCP Wonosari 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BCA # 1 Desember 2015 # Rp.100.000.   Info donasi, silakan CALL, SMS, atau WA ke nomor: 0811 267791/0877 3825 5559 (Mas Jarot)   Semoga Allah memberkahi rizkinya.   Pelebaran jalan di Dusun Warak.   Pelebaran jalan di RT 07 Dusun Warak. — 18 Safar 1437 H Join Channel Telegram: @RumayshoCom, @DarushSholihin   Tagsriba
Warak, 18 Safar 1437 H (01 Desember 2015 ):  Sudah 6 bulan berjalan untuk pelebaran jalan di sekitar Pesantren Darush Sholihin yaitu di dua dusun (Dusun  Warak dan Krambil). Pelebaran ini bertujuan untuk mengatasi kemacetan dan sebagai lahan parkir untuk kendaraan yang datang. Kajian rutin malam Kamis saja sudah dihadiri 2000 jama’ah. Lebih-lebih lagi Kajian Akbar seperti yang terakhir diisi oleh Ustadz Badrusalam (Rodja TV) dihadiri 3800 jama’ah dan Ustadz Sa’id (Wonosari) dihadiri 4000 jama’ah. Sehingga pelebaran jalan ini terasa sangat urgent. Sampai saat ini masih berlangsung pelebaran dan sudah mencapai 90%. Hasilnya sudah dirasakan oleh masyarakat di sekitar pesantren. Jalan yang tadinya sempit dan rawan kecelakaan, sekarang sudah relatif lebih aman. Di samping itu juga kegiatan pelebaran in adalah membuka lapangan kerja bagi para pengangguran atau warga yang biasa bekerja di Jogja, akhirnya cukup bekerja di dekat rumah. Adapun dana yang telah dihabiskan selama 6 bulan terakir adalah Rp.608.105.500,- dan dana tersebut kami dapatkan dari sumbangan para donatur melalui dana riba, syubhat maupun dana sosial khusus untuk pelebaran jalan. Laporan pengeluaran selama ini bisa dilihat di sini. Foto-foto terkini bisa lihat di sini. Untuk tahap Desember 2015 ini, selama satu minggu (hingga 7 Desember 2015) dibuka donasi dengan kebutuhan 200 juta rupiah. Bagi yang berminat menyalurkan dana riba, dana syubhat (tidak jelas), atau dana sosial, silakan mentransfer via Rekening khusus dana sosial: BCA KCP Wonosari 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BCA # 1 Desember 2015 # Rp.100.000.   Info donasi, silakan CALL, SMS, atau WA ke nomor: 0811 267791/0877 3825 5559 (Mas Jarot)   Semoga Allah memberkahi rizkinya.   Pelebaran jalan di Dusun Warak.   Pelebaran jalan di RT 07 Dusun Warak. — 18 Safar 1437 H Join Channel Telegram: @RumayshoCom, @DarushSholihin   Tagsriba


Warak, 18 Safar 1437 H (01 Desember 2015 ):  Sudah 6 bulan berjalan untuk pelebaran jalan di sekitar Pesantren Darush Sholihin yaitu di dua dusun (Dusun  Warak dan Krambil). Pelebaran ini bertujuan untuk mengatasi kemacetan dan sebagai lahan parkir untuk kendaraan yang datang. Kajian rutin malam Kamis saja sudah dihadiri 2000 jama’ah. Lebih-lebih lagi Kajian Akbar seperti yang terakhir diisi oleh Ustadz Badrusalam (Rodja TV) dihadiri 3800 jama’ah dan Ustadz Sa’id (Wonosari) dihadiri 4000 jama’ah. Sehingga pelebaran jalan ini terasa sangat urgent. Sampai saat ini masih berlangsung pelebaran dan sudah mencapai 90%. Hasilnya sudah dirasakan oleh masyarakat di sekitar pesantren. Jalan yang tadinya sempit dan rawan kecelakaan, sekarang sudah relatif lebih aman. Di samping itu juga kegiatan pelebaran in adalah membuka lapangan kerja bagi para pengangguran atau warga yang biasa bekerja di Jogja, akhirnya cukup bekerja di dekat rumah. Adapun dana yang telah dihabiskan selama 6 bulan terakir adalah Rp.608.105.500,- dan dana tersebut kami dapatkan dari sumbangan para donatur melalui dana riba, syubhat maupun dana sosial khusus untuk pelebaran jalan. Laporan pengeluaran selama ini bisa dilihat di sini. Foto-foto terkini bisa lihat di sini. Untuk tahap Desember 2015 ini, selama satu minggu (hingga 7 Desember 2015) dibuka donasi dengan kebutuhan 200 juta rupiah. Bagi yang berminat menyalurkan dana riba, dana syubhat (tidak jelas), atau dana sosial, silakan mentransfer via Rekening khusus dana sosial: BCA KCP Wonosari 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BCA # 1 Desember 2015 # Rp.100.000.   Info donasi, silakan CALL, SMS, atau WA ke nomor: 0811 267791/0877 3825 5559 (Mas Jarot)   Semoga Allah memberkahi rizkinya.   Pelebaran jalan di Dusun Warak.   Pelebaran jalan di RT 07 Dusun Warak. — 18 Safar 1437 H Join Channel Telegram: @RumayshoCom, @DarushSholihin   Tagsriba

Adakah Dosa Waris dalam Islam?

Adakah dosa waris? Maksudnya apakah dalam Islam menghukumi orang lain karena kesalahan yang lain padahal orang lain yang dihukumi tadi tidak bersalah. Adakah dosa waris seperti itu dalam Islam? Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164) Makna ayat ini kata Ibnul Jauzi dalam Zaad Al-Masiir, لا يؤخذ أحد بذنب غيره “Janganlah hukum seseseorang karena perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang lain.” Ibnu Katsir menerangkan pula dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim bahwa demikianlah balasan, hukum dan keadilan dari Allah. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalan yang ia perbuat. Jika amalan tersebut baik, maka kebaikan yang akan dibalas. Jika yang diperbuat jelek, maka jelek pula yang dibalas. Ingatlah, seseorang tidak akan memikul dosa yang diperbuat oleh orang lain. Itulah keadilan Allah Ta’ala. Guru kami, Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata, seseorang tidak akan menanggung kezaliman yang lain walaupun yang berbuat adalah kerabat (sedulur) seperti anak pamannya, orang tuanya, atau anaknya. Seseorang dihukumi salah pada tindakan kejahatan adalah karena yang ia perbuat sendiri, bukan dihukumi karena kejahatan orang lain yang berbuat tindak kriminal secara sengaja. Termasuk kezaliman jika ada yang menghukumi orang lain yang tidak sengaja berbuat dihukumi seperti orang yang sengaja bertindak kejahatan. Ini tidak dibenarkan dalam Islam. Misalnya ujar Syaikh Shalih Al-Fauzan, jika ada seseorang berasal dari suatu suku atau marga tertentu lantas ia berbuat kejahatan, yang disalahkan adalah pimpinan dari suku tersebut yang tidak berbuat apa-apa. Tindakan seperti ini adalah perilaku jahiliyyah yang jelas jeleknya. Yang dinamakan adil, hukuman tindakan kejahatan dikenakan pada pelakunya saja tidak pada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman, فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ “Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (QS. Al-Baqarah: 194) Kaedah penting yang perlu diingat dalam masalah ini: Hukuman bagi pelaku kejahatan adalah khusus untuk dirinya, tidak pada lainnya yang tidak berbuat. (Syarh Masail Al-Jahiliyyah, hlm. 267-268) Kaedah ini silakan diterapkan untuk para pelaku kejahatan, sungguh tidak adil jika kita masih memberlakukan hingga anak keturunannya. Hanya Allah yang memberi taufik. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 18 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsdosa besar maksiat

Adakah Dosa Waris dalam Islam?

Adakah dosa waris? Maksudnya apakah dalam Islam menghukumi orang lain karena kesalahan yang lain padahal orang lain yang dihukumi tadi tidak bersalah. Adakah dosa waris seperti itu dalam Islam? Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164) Makna ayat ini kata Ibnul Jauzi dalam Zaad Al-Masiir, لا يؤخذ أحد بذنب غيره “Janganlah hukum seseseorang karena perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang lain.” Ibnu Katsir menerangkan pula dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim bahwa demikianlah balasan, hukum dan keadilan dari Allah. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalan yang ia perbuat. Jika amalan tersebut baik, maka kebaikan yang akan dibalas. Jika yang diperbuat jelek, maka jelek pula yang dibalas. Ingatlah, seseorang tidak akan memikul dosa yang diperbuat oleh orang lain. Itulah keadilan Allah Ta’ala. Guru kami, Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata, seseorang tidak akan menanggung kezaliman yang lain walaupun yang berbuat adalah kerabat (sedulur) seperti anak pamannya, orang tuanya, atau anaknya. Seseorang dihukumi salah pada tindakan kejahatan adalah karena yang ia perbuat sendiri, bukan dihukumi karena kejahatan orang lain yang berbuat tindak kriminal secara sengaja. Termasuk kezaliman jika ada yang menghukumi orang lain yang tidak sengaja berbuat dihukumi seperti orang yang sengaja bertindak kejahatan. Ini tidak dibenarkan dalam Islam. Misalnya ujar Syaikh Shalih Al-Fauzan, jika ada seseorang berasal dari suatu suku atau marga tertentu lantas ia berbuat kejahatan, yang disalahkan adalah pimpinan dari suku tersebut yang tidak berbuat apa-apa. Tindakan seperti ini adalah perilaku jahiliyyah yang jelas jeleknya. Yang dinamakan adil, hukuman tindakan kejahatan dikenakan pada pelakunya saja tidak pada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman, فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ “Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (QS. Al-Baqarah: 194) Kaedah penting yang perlu diingat dalam masalah ini: Hukuman bagi pelaku kejahatan adalah khusus untuk dirinya, tidak pada lainnya yang tidak berbuat. (Syarh Masail Al-Jahiliyyah, hlm. 267-268) Kaedah ini silakan diterapkan untuk para pelaku kejahatan, sungguh tidak adil jika kita masih memberlakukan hingga anak keturunannya. Hanya Allah yang memberi taufik. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 18 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsdosa besar maksiat
Adakah dosa waris? Maksudnya apakah dalam Islam menghukumi orang lain karena kesalahan yang lain padahal orang lain yang dihukumi tadi tidak bersalah. Adakah dosa waris seperti itu dalam Islam? Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164) Makna ayat ini kata Ibnul Jauzi dalam Zaad Al-Masiir, لا يؤخذ أحد بذنب غيره “Janganlah hukum seseseorang karena perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang lain.” Ibnu Katsir menerangkan pula dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim bahwa demikianlah balasan, hukum dan keadilan dari Allah. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalan yang ia perbuat. Jika amalan tersebut baik, maka kebaikan yang akan dibalas. Jika yang diperbuat jelek, maka jelek pula yang dibalas. Ingatlah, seseorang tidak akan memikul dosa yang diperbuat oleh orang lain. Itulah keadilan Allah Ta’ala. Guru kami, Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata, seseorang tidak akan menanggung kezaliman yang lain walaupun yang berbuat adalah kerabat (sedulur) seperti anak pamannya, orang tuanya, atau anaknya. Seseorang dihukumi salah pada tindakan kejahatan adalah karena yang ia perbuat sendiri, bukan dihukumi karena kejahatan orang lain yang berbuat tindak kriminal secara sengaja. Termasuk kezaliman jika ada yang menghukumi orang lain yang tidak sengaja berbuat dihukumi seperti orang yang sengaja bertindak kejahatan. Ini tidak dibenarkan dalam Islam. Misalnya ujar Syaikh Shalih Al-Fauzan, jika ada seseorang berasal dari suatu suku atau marga tertentu lantas ia berbuat kejahatan, yang disalahkan adalah pimpinan dari suku tersebut yang tidak berbuat apa-apa. Tindakan seperti ini adalah perilaku jahiliyyah yang jelas jeleknya. Yang dinamakan adil, hukuman tindakan kejahatan dikenakan pada pelakunya saja tidak pada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman, فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ “Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (QS. Al-Baqarah: 194) Kaedah penting yang perlu diingat dalam masalah ini: Hukuman bagi pelaku kejahatan adalah khusus untuk dirinya, tidak pada lainnya yang tidak berbuat. (Syarh Masail Al-Jahiliyyah, hlm. 267-268) Kaedah ini silakan diterapkan untuk para pelaku kejahatan, sungguh tidak adil jika kita masih memberlakukan hingga anak keturunannya. Hanya Allah yang memberi taufik. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 18 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsdosa besar maksiat


Adakah dosa waris? Maksudnya apakah dalam Islam menghukumi orang lain karena kesalahan yang lain padahal orang lain yang dihukumi tadi tidak bersalah. Adakah dosa waris seperti itu dalam Islam? Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164) Makna ayat ini kata Ibnul Jauzi dalam Zaad Al-Masiir, لا يؤخذ أحد بذنب غيره “Janganlah hukum seseseorang karena perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang lain.” Ibnu Katsir menerangkan pula dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim bahwa demikianlah balasan, hukum dan keadilan dari Allah. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalan yang ia perbuat. Jika amalan tersebut baik, maka kebaikan yang akan dibalas. Jika yang diperbuat jelek, maka jelek pula yang dibalas. Ingatlah, seseorang tidak akan memikul dosa yang diperbuat oleh orang lain. Itulah keadilan Allah Ta’ala. Guru kami, Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata, seseorang tidak akan menanggung kezaliman yang lain walaupun yang berbuat adalah kerabat (sedulur) seperti anak pamannya, orang tuanya, atau anaknya. Seseorang dihukumi salah pada tindakan kejahatan adalah karena yang ia perbuat sendiri, bukan dihukumi karena kejahatan orang lain yang berbuat tindak kriminal secara sengaja. Termasuk kezaliman jika ada yang menghukumi orang lain yang tidak sengaja berbuat dihukumi seperti orang yang sengaja bertindak kejahatan. Ini tidak dibenarkan dalam Islam. Misalnya ujar Syaikh Shalih Al-Fauzan, jika ada seseorang berasal dari suatu suku atau marga tertentu lantas ia berbuat kejahatan, yang disalahkan adalah pimpinan dari suku tersebut yang tidak berbuat apa-apa. Tindakan seperti ini adalah perilaku jahiliyyah yang jelas jeleknya. Yang dinamakan adil, hukuman tindakan kejahatan dikenakan pada pelakunya saja tidak pada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman, فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ “Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (QS. Al-Baqarah: 194) Kaedah penting yang perlu diingat dalam masalah ini: Hukuman bagi pelaku kejahatan adalah khusus untuk dirinya, tidak pada lainnya yang tidak berbuat. (Syarh Masail Al-Jahiliyyah, hlm. 267-268) Kaedah ini silakan diterapkan untuk para pelaku kejahatan, sungguh tidak adil jika kita masih memberlakukan hingga anak keturunannya. Hanya Allah yang memberi taufik. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 18 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsdosa besar maksiat

Tiga Buku Promo: Dagang, Dzikir, Safar

Yuk beli buku promo (tiga judul buku), sisa dua hari, sampai Senin, 30 November 2015. Free ongkir untuk Jawa hanya 100 ribu rupiah. Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang, menjelaskan seputar hukum dagang, sampai pada berbagai jual beli yang terlarang. (@Rp.30.000,-) Panduan Ibadah Saat Safar, sangat bermanfaat bagi yang suka travelling. (@Rp.30.000,-) Lima Buku: Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sebelum Tidur dan Dzikir Sesudah Shalat. (@Rp.8.000,-) Ayo buruan …. Pesan via WA ke 085200171222 (CS, atas nama Mas Slamet) — Toko Online Ruwaifi.Com Info Rumaysho.Com, Join Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihinCom Tagsbuku promo buku terbaru

Tiga Buku Promo: Dagang, Dzikir, Safar

Yuk beli buku promo (tiga judul buku), sisa dua hari, sampai Senin, 30 November 2015. Free ongkir untuk Jawa hanya 100 ribu rupiah. Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang, menjelaskan seputar hukum dagang, sampai pada berbagai jual beli yang terlarang. (@Rp.30.000,-) Panduan Ibadah Saat Safar, sangat bermanfaat bagi yang suka travelling. (@Rp.30.000,-) Lima Buku: Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sebelum Tidur dan Dzikir Sesudah Shalat. (@Rp.8.000,-) Ayo buruan …. Pesan via WA ke 085200171222 (CS, atas nama Mas Slamet) — Toko Online Ruwaifi.Com Info Rumaysho.Com, Join Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihinCom Tagsbuku promo buku terbaru
Yuk beli buku promo (tiga judul buku), sisa dua hari, sampai Senin, 30 November 2015. Free ongkir untuk Jawa hanya 100 ribu rupiah. Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang, menjelaskan seputar hukum dagang, sampai pada berbagai jual beli yang terlarang. (@Rp.30.000,-) Panduan Ibadah Saat Safar, sangat bermanfaat bagi yang suka travelling. (@Rp.30.000,-) Lima Buku: Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sebelum Tidur dan Dzikir Sesudah Shalat. (@Rp.8.000,-) Ayo buruan …. Pesan via WA ke 085200171222 (CS, atas nama Mas Slamet) — Toko Online Ruwaifi.Com Info Rumaysho.Com, Join Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihinCom Tagsbuku promo buku terbaru


Yuk beli buku promo (tiga judul buku), sisa dua hari, sampai Senin, 30 November 2015. Free ongkir untuk Jawa hanya 100 ribu rupiah. Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang, menjelaskan seputar hukum dagang, sampai pada berbagai jual beli yang terlarang. (@Rp.30.000,-) Panduan Ibadah Saat Safar, sangat bermanfaat bagi yang suka travelling. (@Rp.30.000,-) Lima Buku: Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sebelum Tidur dan Dzikir Sesudah Shalat. (@Rp.8.000,-) Ayo buruan …. Pesan via WA ke 085200171222 (CS, atas nama Mas Slamet) — Toko Online Ruwaifi.Com Info Rumaysho.Com, Join Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihinCom Tagsbuku promo buku terbaru

Istriku, Aku Tak Sempurna

“Istriku, diriku memang tak sempurna.” Dalam kisah syafa’atul uzhma (syafa’at besar yang akan diberikan pada hari kiamat), dapat kita ambil pelajaran sebab para nabi enggan meminta syafa’at untuk umatnya karena merasa punya salah. 1- Nabi Adam pernah melanggar pohon larangan. 2- Nabi Nuh, ia memiliki doa yang mustajab yang ia gunakan untuk mendoakan jelek kaumnya. 3- Nabi Ibrahim pernah berbohong tiga kali. 4- Nabi Musa membunuh satu jiwa yang tidak halal untuk dibunuh. 5- Nabi Isa mengaku punya salah namun ia tidak menyebutkan kesalahannya. * HR. Bukhari dan Muslim dalam hadits yang panjang.   Lihatlah para nabi besar punya salah. APALAGI KITA-KITA. Begitu pula orang dekat kita, pasti ada kekurangan dan keleliruan. “Tak ada gading yang tak retak.” Tugas kita tetap saling menasihati dalam kebaikan dan mengingatkan ketika keliru antara orang dekat, antara pasangan suami-istri, antara shahib dan kawan. Kita sendiri tidak sempurna, begitu pula orang lain. Sama seperti kita menyikapi ulama, wali Allah, orang shalih, para ulama, para da’i dan ustadz-ustadz kita. Mereka pun tak lepas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan. Kesempurnaan hanya milik Sang Khaliq, Allah Jalla wa ‘Ala. Aku sebagai suami, memang tak sempurna … Maafkan diriku yah sayang … I miss you.   * Untuk istriku … Dari suamimu yang penuh kekurangan.   Baca juga: Suami Harus Sabar Menghadapi Istri   Menanti mentari pagi, 16 Safar 1437 H di Bumi Sekar, Gunung Selatan Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagscinta suami istri

Istriku, Aku Tak Sempurna

“Istriku, diriku memang tak sempurna.” Dalam kisah syafa’atul uzhma (syafa’at besar yang akan diberikan pada hari kiamat), dapat kita ambil pelajaran sebab para nabi enggan meminta syafa’at untuk umatnya karena merasa punya salah. 1- Nabi Adam pernah melanggar pohon larangan. 2- Nabi Nuh, ia memiliki doa yang mustajab yang ia gunakan untuk mendoakan jelek kaumnya. 3- Nabi Ibrahim pernah berbohong tiga kali. 4- Nabi Musa membunuh satu jiwa yang tidak halal untuk dibunuh. 5- Nabi Isa mengaku punya salah namun ia tidak menyebutkan kesalahannya. * HR. Bukhari dan Muslim dalam hadits yang panjang.   Lihatlah para nabi besar punya salah. APALAGI KITA-KITA. Begitu pula orang dekat kita, pasti ada kekurangan dan keleliruan. “Tak ada gading yang tak retak.” Tugas kita tetap saling menasihati dalam kebaikan dan mengingatkan ketika keliru antara orang dekat, antara pasangan suami-istri, antara shahib dan kawan. Kita sendiri tidak sempurna, begitu pula orang lain. Sama seperti kita menyikapi ulama, wali Allah, orang shalih, para ulama, para da’i dan ustadz-ustadz kita. Mereka pun tak lepas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan. Kesempurnaan hanya milik Sang Khaliq, Allah Jalla wa ‘Ala. Aku sebagai suami, memang tak sempurna … Maafkan diriku yah sayang … I miss you.   * Untuk istriku … Dari suamimu yang penuh kekurangan.   Baca juga: Suami Harus Sabar Menghadapi Istri   Menanti mentari pagi, 16 Safar 1437 H di Bumi Sekar, Gunung Selatan Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagscinta suami istri
“Istriku, diriku memang tak sempurna.” Dalam kisah syafa’atul uzhma (syafa’at besar yang akan diberikan pada hari kiamat), dapat kita ambil pelajaran sebab para nabi enggan meminta syafa’at untuk umatnya karena merasa punya salah. 1- Nabi Adam pernah melanggar pohon larangan. 2- Nabi Nuh, ia memiliki doa yang mustajab yang ia gunakan untuk mendoakan jelek kaumnya. 3- Nabi Ibrahim pernah berbohong tiga kali. 4- Nabi Musa membunuh satu jiwa yang tidak halal untuk dibunuh. 5- Nabi Isa mengaku punya salah namun ia tidak menyebutkan kesalahannya. * HR. Bukhari dan Muslim dalam hadits yang panjang.   Lihatlah para nabi besar punya salah. APALAGI KITA-KITA. Begitu pula orang dekat kita, pasti ada kekurangan dan keleliruan. “Tak ada gading yang tak retak.” Tugas kita tetap saling menasihati dalam kebaikan dan mengingatkan ketika keliru antara orang dekat, antara pasangan suami-istri, antara shahib dan kawan. Kita sendiri tidak sempurna, begitu pula orang lain. Sama seperti kita menyikapi ulama, wali Allah, orang shalih, para ulama, para da’i dan ustadz-ustadz kita. Mereka pun tak lepas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan. Kesempurnaan hanya milik Sang Khaliq, Allah Jalla wa ‘Ala. Aku sebagai suami, memang tak sempurna … Maafkan diriku yah sayang … I miss you.   * Untuk istriku … Dari suamimu yang penuh kekurangan.   Baca juga: Suami Harus Sabar Menghadapi Istri   Menanti mentari pagi, 16 Safar 1437 H di Bumi Sekar, Gunung Selatan Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagscinta suami istri


“Istriku, diriku memang tak sempurna.” Dalam kisah syafa’atul uzhma (syafa’at besar yang akan diberikan pada hari kiamat), dapat kita ambil pelajaran sebab para nabi enggan meminta syafa’at untuk umatnya karena merasa punya salah. 1- Nabi Adam pernah melanggar pohon larangan. 2- Nabi Nuh, ia memiliki doa yang mustajab yang ia gunakan untuk mendoakan jelek kaumnya. 3- Nabi Ibrahim pernah berbohong tiga kali. 4- Nabi Musa membunuh satu jiwa yang tidak halal untuk dibunuh. 5- Nabi Isa mengaku punya salah namun ia tidak menyebutkan kesalahannya. * HR. Bukhari dan Muslim dalam hadits yang panjang.   Lihatlah para nabi besar punya salah. APALAGI KITA-KITA. Begitu pula orang dekat kita, pasti ada kekurangan dan keleliruan. “Tak ada gading yang tak retak.” Tugas kita tetap saling menasihati dalam kebaikan dan mengingatkan ketika keliru antara orang dekat, antara pasangan suami-istri, antara shahib dan kawan. Kita sendiri tidak sempurna, begitu pula orang lain. Sama seperti kita menyikapi ulama, wali Allah, orang shalih, para ulama, para da’i dan ustadz-ustadz kita. Mereka pun tak lepas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan. Kesempurnaan hanya milik Sang Khaliq, Allah Jalla wa ‘Ala. Aku sebagai suami, memang tak sempurna … Maafkan diriku yah sayang … I miss you.   * Untuk istriku … Dari suamimu yang penuh kekurangan.   Baca juga: Suami Harus Sabar Menghadapi Istri   Menanti mentari pagi, 16 Safar 1437 H di Bumi Sekar, Gunung Selatan Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagscinta suami istri

Untaian Keajaiban Akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: (1) Tidak Komentar Mencela Makanan

Prolog :Mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangatlah banyak, sampai-sampai para ulama menghimpun mukjizat-mukjizat tersebut dalam kitab-kitab khusus yang mereka beri judul “Dalail An-Nubuwwah” (Bukti-bukti kenabian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam). Diantara mukjizat-mukjizat tersebut contohnya adalah kisah al-Israa’ wa al-Mi’rooj, keluarnya air dari jari-jari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, terdengarnya suara tasbih dari makanan, batu memberi salam kepada Nabi, terdengarnya suara rintihan batang kurma yang merindukan Nabi, pengkhabaran-pengkhabaran Nabi tentang apa yang akan terjadi di masa depan dan ternyata sebagiannya telah terjadi, dan lain-lain, yang semuanya menunjukkan akan perkara-perkara yang ajaib.Namun diantara perkara yang menarik perhatian penulis bahwasanya ternyata akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya merupakan mukjizat tersendiri. Sebagaimana mukjizat-mukjizat Nabi yang lain mendatangkan keajaiban, maka sesungguhnya akhlak Nabi –yang datang dalam sebagian hadits- juga menunjukkan keajaiban, karena sulit atau mustahil untuk bisa dilakukan oleh orang biasa.Berikut ini penulis mencoba mengumpulkan sebagian hadits-hadits tersebut, meskipun tentunya penulis tidak mampu untuk menghimpun seluruh hadits-hadits yang menunjukkan akan hal ini –karena keterbatasan ilmu dan waktu-. Akan tetapi semoga yang sedikit ini sudah bisa memberi gambaran akan keajaiban akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Pertama : Nabi tidak pernah mengomentari jelek terhadap makanan Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu berkata :مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطٌّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِلاَّ تَرَكَهُ“Nabi tidak pernah mencela makanan sama sekali, jika beliau menyukainya maka beliau memakannya, dan jika tidak maka beliau tinggalkan” (HR Al-Bukhari no 3563 dan Muslim no 2064)Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata tentang hadits ini :هَذَا مِنْ آدَابِ الطَّعَامِ الْمُتَأَكِّدَةِ وَعَيْبُ الطَعَامِ كَقَوْلِهِ : مَالِحٌ، قَلِيْلُ الْمِلْحِ، حَامِضٌ، رَقِيْقٌ، غَلِيْظٌ، غَيْرُ نَاضِجٍ، وَنَحْوُ ذَلِكَ“Hal ini (tidak mencela makanan) termasuk adab makan yang ditekankan. Dan mencela makanan yaitu seperti ia berkata, “Ini keasinan”, “Kurang asin”, “Kecut”, “Terlalu lembut”, “Masih kasar”, “Belum masak”, dan yang semisalnya” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim)Seorang yang sepintas membaca hadits ini dengan kurang perhatian, maka seakan-akan perkara ini merupakan perkara sepele. Namun bagi Al-Imam An-Nawawi bukanlah perkara yang sepele, bahkan beliau menegaskan bahwa tidak mencela makanan merupakan adab makan yang ditekankan.Dan ternyata perkara ini pun tentunya tidak dianggap sepele oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, demikian juga tidak dianggap sepele oleh para sahabat, sampai-sampai Abu Huroiroh radhiallahu anhu dalam hadits diatas berkata, “Nabi sama sekali tidak pernah mencela makanan”. Hal ini menunjukan perhatian Abu Huroiroh terhadap adab ini.          Jika kita perhatikan kondisi kaum muslimin secara umum –termasuk kondisi para pembaca yang budiman sekalian dan juga terlebih kondisi penulis sendiri- coba kita renungkan, siapa diantara kita yang tidak pernah mencela makanan?, yang tidak pernah mengatakan terhadap makanan, “Terlalu asin”, “Kemanisan”, “Keenceran”, “Terlalu garing”, “Kurang garam”, “Kurang rasa bumbunya”, dan komentar-komentar lain yang menunjukkan celaan terhadap makanan?Kenyataan menunjukkan bahwa tidak seorangpun dari kita yang selamat dari mencela makanan, dari mengomentari makanan. Makanan istri kita komentari…?, Jangankan makanan yang kita beli mahal di restaurant yang kita komentari, bahkan makanan yang dibagi gratis pun tidak luput dari komentar kita.Yang lebih menakjubkan lagi, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diminta untuk mengomentari makanan yang ia tidak suka dan ia tinggalkan, ternyata beliau tetap bisa menjaga komentarnya agar tidak mencela makanan.Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata :أَنَّ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَيْمُونَةَ وَهِيَ خَالَتُهُ وَخَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ فَوَجَدَ عِنْدَهَا ضَبًّا مَحْنُوذًا فَقَدَّمَتِ الضَّبَّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَنِ الضَّبِّ فَقَالَ خَالِدٌ: أَحْرَامٌ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «لَا وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ» قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيّ“Kholid bin Al-Walid r.a mengabarkan kepada beliau bahwasanya beliau bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Maimunah (istri Nabi) dan Maimunah adalah bibiknya Kholid dan juga bibiknya Ibnu Abbas. Maka Kholid mendapati ada dhob (semacam hewan bebentuk iguana-pen) yang dipanggang (di atas batu panas). Lalu Dhob tersebutpun dihidangkan kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam. Nabi pun mengangkat tangannya tidak menyentuh dhob. Maka Kholid bertanya, “Apakah dhob itu haram wahai Rasulullah?’. Nabi berkata, “Tidak, akan tetapi dhob tidak ada di kampung kaumku, maka aku mendapati diriku tidak menyukainya”. Kholid berkata, “Akupun mengambilnya lalu menyantapnya, dan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam hanya memandang kepadaku” (HR Al-Bukhari no 5391)Perhatikanlah dalam riwayat ini Kholid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu meminta komentar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sebab kenapa beliau tidak jadi makan dhob yang telah dihidangkan?Dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hampir saja memakan dhob tersebut, karena ketidak tahuan beliau bahwa yang dihidangkan adalah dhob.فَأَهْوَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ إِلَى الضَّبِّ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنَ النِّسْوَةِ الْحُضُوْرِ أَخْبِرْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا قَدَّمْتُنَّ لَهُ، قُلْنَ هُوَ الضَّبُّ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَرَفَعَ رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ“Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjulurkan tangannya untuk mengambil dhob. Maka ada seorang wanita diantara para wanita yang hadir tatkala itu berkata, “Kabarkanlah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apa makanan yang kalian hidangkan untuk beliau !”. Maka mereka berkata, “Itu adalah dhob wahai Rasulullah”. Maka Rasulullah pun menahan tangannya (tidak jadi menyentuh dhob-pen)”. (HR Muslim no 1946)Ternyata waktu diminta untuk berkomentar, Nabi tetap berkomentar dengan komentar yang tidak menunjukkan pencelaan terhadap dhob tersebut. Beliau berkata, “Karena dhob tidak ada di kampung kaumku, maka aku tidak menyukainya”.Faidah-faidah hadits di atas;Pertama :. Sisi keajaiban dari kisah di atas, yaitu Nabi sama sekali tidak pernah mencela makanan sama sekali. Yang tidak mungkin dilakukan oleh seorangpun di atas muka bumi ini. Siapakah diantara kita yang tidak pernah komentar terhadap makanan yang ia tidak sukai?. Jika salah seorang dari kita mampu untuk tidak mengomentari makanan dalam sepekan, namun apakah ia mampu tidak berkomentar selama sebulan? Apalagi seumur hidup tidak komentar !!. Pasti lisannya gatal untuk komentar, apalagi manusia hobinya adalah komentar.Kedua : Nabi bahkan tatkala diminta untuk mengomentari makanan yang ia tidak sukai maka ia tetap berkomentar dengan komentar yang tidak menunjukkan pencelaan terhadap makanan tersebut. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :وَأَمَّا حَدِيْثُ تَرْكِ أَكْلِ الضَّبِّ فَلَيْسَ هُوَ مِنْ عَيْبِ الطَّعَامِ، إِنَّمَا هُوَ إخْبَارٌ بِأَّنَّ هَذَا الطَّعَامَ الخَّاصَ لاَ أَشْتَهِيْهِ“Adapun hadits tentang Nabi tidak memakan dhob maka tidak termasuk dalam mencela makanan, akan tetapi hanya pengkhabaran bahwasanya makanan ini secara khusus aku tidak menyukainya” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/26)Diantara kita tetap berkomentar mencela makanan meskipun tidak diminta untuk berkomentar, apalagi jika diminta untuk berkomentar??!. Maka sungguh menakjubkan akhlak Nabi, beliau diminta untuk berkomentar, akan tetapi tetap tidak mencela makanan.Ketiga : Hadits ini juga menunjukkan keajaiban akhlak Nabi dari sisi-sisi yang lain, diantaranya akhlak Nabi tidak hanya berkaitan dengan sesama manusia, bahkan Nabi mengajarkan bahwa terhadap makanan -yang itu merupakan karunia dari Allah- seorang muslim pun harus berakhlak mulia.Keempat : Diantara hikmah tidak mencela makanan adalah bisa jadi seseorang tidak suka makanan tertentu, sementara orang lain tidak demikian. Jika iapun mulai mencela makanan tersebut karena lidahnya yang tidak cocok, maka bisa jadi orang lain yang seharusnya lidahnya dan seleranya cocok akhirnya tidak jadi memakan makanan tersebut, maka akhirnya makanan tersebut terbuang sia-sia. (lihat Kasyful Musykil min Hadits As-Shahihain 3/479)Kelima : Diantaranya hikmah tidak mencela makanan adalah bisa jadi kita tatkala mencela makanan maka akan menyakiti hati orang lain. Menyakiti hati orang yang menghidangkannya misalnya. Bayangkan jika istri kita yang menghidangkan makanan lalu kita menyatakan kepadanya “Tidak enak”, “Kurang asin”, “Kurang manis”, dll, maka tentu akan menyakiti hatinya yang telah bersusah payah menghidangkan makanan tersebut. Tapi kita bisa menggunakan bahasa yang lain, misalnya, “Masya Allah makanannya enak, tolong ambilkan garam, kalau di kasih garam tentu lebih enak lagi”. Ini sikap kita terhadap istri yang lebih bisa memahami kita.Nah bagaimana lagi kalau kita mencela makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah?, tentu celaan tersebut akan menyakiti hati sang tuan rumah. Maka seseorang bersabar untuk menahan lisannya, jika ia tidak suka maka ia tinggalkan makanan tersebut dan memakan makanan lain yang ia sukai.Madinah, 17-02-1437 H / 29-11-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Untaian Keajaiban Akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: (1) Tidak Komentar Mencela Makanan

Prolog :Mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangatlah banyak, sampai-sampai para ulama menghimpun mukjizat-mukjizat tersebut dalam kitab-kitab khusus yang mereka beri judul “Dalail An-Nubuwwah” (Bukti-bukti kenabian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam). Diantara mukjizat-mukjizat tersebut contohnya adalah kisah al-Israa’ wa al-Mi’rooj, keluarnya air dari jari-jari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, terdengarnya suara tasbih dari makanan, batu memberi salam kepada Nabi, terdengarnya suara rintihan batang kurma yang merindukan Nabi, pengkhabaran-pengkhabaran Nabi tentang apa yang akan terjadi di masa depan dan ternyata sebagiannya telah terjadi, dan lain-lain, yang semuanya menunjukkan akan perkara-perkara yang ajaib.Namun diantara perkara yang menarik perhatian penulis bahwasanya ternyata akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya merupakan mukjizat tersendiri. Sebagaimana mukjizat-mukjizat Nabi yang lain mendatangkan keajaiban, maka sesungguhnya akhlak Nabi –yang datang dalam sebagian hadits- juga menunjukkan keajaiban, karena sulit atau mustahil untuk bisa dilakukan oleh orang biasa.Berikut ini penulis mencoba mengumpulkan sebagian hadits-hadits tersebut, meskipun tentunya penulis tidak mampu untuk menghimpun seluruh hadits-hadits yang menunjukkan akan hal ini –karena keterbatasan ilmu dan waktu-. Akan tetapi semoga yang sedikit ini sudah bisa memberi gambaran akan keajaiban akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Pertama : Nabi tidak pernah mengomentari jelek terhadap makanan Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu berkata :مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطٌّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِلاَّ تَرَكَهُ“Nabi tidak pernah mencela makanan sama sekali, jika beliau menyukainya maka beliau memakannya, dan jika tidak maka beliau tinggalkan” (HR Al-Bukhari no 3563 dan Muslim no 2064)Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata tentang hadits ini :هَذَا مِنْ آدَابِ الطَّعَامِ الْمُتَأَكِّدَةِ وَعَيْبُ الطَعَامِ كَقَوْلِهِ : مَالِحٌ، قَلِيْلُ الْمِلْحِ، حَامِضٌ، رَقِيْقٌ، غَلِيْظٌ، غَيْرُ نَاضِجٍ، وَنَحْوُ ذَلِكَ“Hal ini (tidak mencela makanan) termasuk adab makan yang ditekankan. Dan mencela makanan yaitu seperti ia berkata, “Ini keasinan”, “Kurang asin”, “Kecut”, “Terlalu lembut”, “Masih kasar”, “Belum masak”, dan yang semisalnya” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim)Seorang yang sepintas membaca hadits ini dengan kurang perhatian, maka seakan-akan perkara ini merupakan perkara sepele. Namun bagi Al-Imam An-Nawawi bukanlah perkara yang sepele, bahkan beliau menegaskan bahwa tidak mencela makanan merupakan adab makan yang ditekankan.Dan ternyata perkara ini pun tentunya tidak dianggap sepele oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, demikian juga tidak dianggap sepele oleh para sahabat, sampai-sampai Abu Huroiroh radhiallahu anhu dalam hadits diatas berkata, “Nabi sama sekali tidak pernah mencela makanan”. Hal ini menunjukan perhatian Abu Huroiroh terhadap adab ini.          Jika kita perhatikan kondisi kaum muslimin secara umum –termasuk kondisi para pembaca yang budiman sekalian dan juga terlebih kondisi penulis sendiri- coba kita renungkan, siapa diantara kita yang tidak pernah mencela makanan?, yang tidak pernah mengatakan terhadap makanan, “Terlalu asin”, “Kemanisan”, “Keenceran”, “Terlalu garing”, “Kurang garam”, “Kurang rasa bumbunya”, dan komentar-komentar lain yang menunjukkan celaan terhadap makanan?Kenyataan menunjukkan bahwa tidak seorangpun dari kita yang selamat dari mencela makanan, dari mengomentari makanan. Makanan istri kita komentari…?, Jangankan makanan yang kita beli mahal di restaurant yang kita komentari, bahkan makanan yang dibagi gratis pun tidak luput dari komentar kita.Yang lebih menakjubkan lagi, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diminta untuk mengomentari makanan yang ia tidak suka dan ia tinggalkan, ternyata beliau tetap bisa menjaga komentarnya agar tidak mencela makanan.Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata :أَنَّ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَيْمُونَةَ وَهِيَ خَالَتُهُ وَخَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ فَوَجَدَ عِنْدَهَا ضَبًّا مَحْنُوذًا فَقَدَّمَتِ الضَّبَّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَنِ الضَّبِّ فَقَالَ خَالِدٌ: أَحْرَامٌ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «لَا وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ» قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيّ“Kholid bin Al-Walid r.a mengabarkan kepada beliau bahwasanya beliau bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Maimunah (istri Nabi) dan Maimunah adalah bibiknya Kholid dan juga bibiknya Ibnu Abbas. Maka Kholid mendapati ada dhob (semacam hewan bebentuk iguana-pen) yang dipanggang (di atas batu panas). Lalu Dhob tersebutpun dihidangkan kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam. Nabi pun mengangkat tangannya tidak menyentuh dhob. Maka Kholid bertanya, “Apakah dhob itu haram wahai Rasulullah?’. Nabi berkata, “Tidak, akan tetapi dhob tidak ada di kampung kaumku, maka aku mendapati diriku tidak menyukainya”. Kholid berkata, “Akupun mengambilnya lalu menyantapnya, dan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam hanya memandang kepadaku” (HR Al-Bukhari no 5391)Perhatikanlah dalam riwayat ini Kholid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu meminta komentar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sebab kenapa beliau tidak jadi makan dhob yang telah dihidangkan?Dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hampir saja memakan dhob tersebut, karena ketidak tahuan beliau bahwa yang dihidangkan adalah dhob.فَأَهْوَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ إِلَى الضَّبِّ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنَ النِّسْوَةِ الْحُضُوْرِ أَخْبِرْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا قَدَّمْتُنَّ لَهُ، قُلْنَ هُوَ الضَّبُّ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَرَفَعَ رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ“Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjulurkan tangannya untuk mengambil dhob. Maka ada seorang wanita diantara para wanita yang hadir tatkala itu berkata, “Kabarkanlah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apa makanan yang kalian hidangkan untuk beliau !”. Maka mereka berkata, “Itu adalah dhob wahai Rasulullah”. Maka Rasulullah pun menahan tangannya (tidak jadi menyentuh dhob-pen)”. (HR Muslim no 1946)Ternyata waktu diminta untuk berkomentar, Nabi tetap berkomentar dengan komentar yang tidak menunjukkan pencelaan terhadap dhob tersebut. Beliau berkata, “Karena dhob tidak ada di kampung kaumku, maka aku tidak menyukainya”.Faidah-faidah hadits di atas;Pertama :. Sisi keajaiban dari kisah di atas, yaitu Nabi sama sekali tidak pernah mencela makanan sama sekali. Yang tidak mungkin dilakukan oleh seorangpun di atas muka bumi ini. Siapakah diantara kita yang tidak pernah komentar terhadap makanan yang ia tidak sukai?. Jika salah seorang dari kita mampu untuk tidak mengomentari makanan dalam sepekan, namun apakah ia mampu tidak berkomentar selama sebulan? Apalagi seumur hidup tidak komentar !!. Pasti lisannya gatal untuk komentar, apalagi manusia hobinya adalah komentar.Kedua : Nabi bahkan tatkala diminta untuk mengomentari makanan yang ia tidak sukai maka ia tetap berkomentar dengan komentar yang tidak menunjukkan pencelaan terhadap makanan tersebut. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :وَأَمَّا حَدِيْثُ تَرْكِ أَكْلِ الضَّبِّ فَلَيْسَ هُوَ مِنْ عَيْبِ الطَّعَامِ، إِنَّمَا هُوَ إخْبَارٌ بِأَّنَّ هَذَا الطَّعَامَ الخَّاصَ لاَ أَشْتَهِيْهِ“Adapun hadits tentang Nabi tidak memakan dhob maka tidak termasuk dalam mencela makanan, akan tetapi hanya pengkhabaran bahwasanya makanan ini secara khusus aku tidak menyukainya” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/26)Diantara kita tetap berkomentar mencela makanan meskipun tidak diminta untuk berkomentar, apalagi jika diminta untuk berkomentar??!. Maka sungguh menakjubkan akhlak Nabi, beliau diminta untuk berkomentar, akan tetapi tetap tidak mencela makanan.Ketiga : Hadits ini juga menunjukkan keajaiban akhlak Nabi dari sisi-sisi yang lain, diantaranya akhlak Nabi tidak hanya berkaitan dengan sesama manusia, bahkan Nabi mengajarkan bahwa terhadap makanan -yang itu merupakan karunia dari Allah- seorang muslim pun harus berakhlak mulia.Keempat : Diantara hikmah tidak mencela makanan adalah bisa jadi seseorang tidak suka makanan tertentu, sementara orang lain tidak demikian. Jika iapun mulai mencela makanan tersebut karena lidahnya yang tidak cocok, maka bisa jadi orang lain yang seharusnya lidahnya dan seleranya cocok akhirnya tidak jadi memakan makanan tersebut, maka akhirnya makanan tersebut terbuang sia-sia. (lihat Kasyful Musykil min Hadits As-Shahihain 3/479)Kelima : Diantaranya hikmah tidak mencela makanan adalah bisa jadi kita tatkala mencela makanan maka akan menyakiti hati orang lain. Menyakiti hati orang yang menghidangkannya misalnya. Bayangkan jika istri kita yang menghidangkan makanan lalu kita menyatakan kepadanya “Tidak enak”, “Kurang asin”, “Kurang manis”, dll, maka tentu akan menyakiti hatinya yang telah bersusah payah menghidangkan makanan tersebut. Tapi kita bisa menggunakan bahasa yang lain, misalnya, “Masya Allah makanannya enak, tolong ambilkan garam, kalau di kasih garam tentu lebih enak lagi”. Ini sikap kita terhadap istri yang lebih bisa memahami kita.Nah bagaimana lagi kalau kita mencela makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah?, tentu celaan tersebut akan menyakiti hati sang tuan rumah. Maka seseorang bersabar untuk menahan lisannya, jika ia tidak suka maka ia tinggalkan makanan tersebut dan memakan makanan lain yang ia sukai.Madinah, 17-02-1437 H / 29-11-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Prolog :Mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangatlah banyak, sampai-sampai para ulama menghimpun mukjizat-mukjizat tersebut dalam kitab-kitab khusus yang mereka beri judul “Dalail An-Nubuwwah” (Bukti-bukti kenabian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam). Diantara mukjizat-mukjizat tersebut contohnya adalah kisah al-Israa’ wa al-Mi’rooj, keluarnya air dari jari-jari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, terdengarnya suara tasbih dari makanan, batu memberi salam kepada Nabi, terdengarnya suara rintihan batang kurma yang merindukan Nabi, pengkhabaran-pengkhabaran Nabi tentang apa yang akan terjadi di masa depan dan ternyata sebagiannya telah terjadi, dan lain-lain, yang semuanya menunjukkan akan perkara-perkara yang ajaib.Namun diantara perkara yang menarik perhatian penulis bahwasanya ternyata akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya merupakan mukjizat tersendiri. Sebagaimana mukjizat-mukjizat Nabi yang lain mendatangkan keajaiban, maka sesungguhnya akhlak Nabi –yang datang dalam sebagian hadits- juga menunjukkan keajaiban, karena sulit atau mustahil untuk bisa dilakukan oleh orang biasa.Berikut ini penulis mencoba mengumpulkan sebagian hadits-hadits tersebut, meskipun tentunya penulis tidak mampu untuk menghimpun seluruh hadits-hadits yang menunjukkan akan hal ini –karena keterbatasan ilmu dan waktu-. Akan tetapi semoga yang sedikit ini sudah bisa memberi gambaran akan keajaiban akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Pertama : Nabi tidak pernah mengomentari jelek terhadap makanan Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu berkata :مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطٌّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِلاَّ تَرَكَهُ“Nabi tidak pernah mencela makanan sama sekali, jika beliau menyukainya maka beliau memakannya, dan jika tidak maka beliau tinggalkan” (HR Al-Bukhari no 3563 dan Muslim no 2064)Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata tentang hadits ini :هَذَا مِنْ آدَابِ الطَّعَامِ الْمُتَأَكِّدَةِ وَعَيْبُ الطَعَامِ كَقَوْلِهِ : مَالِحٌ، قَلِيْلُ الْمِلْحِ، حَامِضٌ، رَقِيْقٌ، غَلِيْظٌ، غَيْرُ نَاضِجٍ، وَنَحْوُ ذَلِكَ“Hal ini (tidak mencela makanan) termasuk adab makan yang ditekankan. Dan mencela makanan yaitu seperti ia berkata, “Ini keasinan”, “Kurang asin”, “Kecut”, “Terlalu lembut”, “Masih kasar”, “Belum masak”, dan yang semisalnya” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim)Seorang yang sepintas membaca hadits ini dengan kurang perhatian, maka seakan-akan perkara ini merupakan perkara sepele. Namun bagi Al-Imam An-Nawawi bukanlah perkara yang sepele, bahkan beliau menegaskan bahwa tidak mencela makanan merupakan adab makan yang ditekankan.Dan ternyata perkara ini pun tentunya tidak dianggap sepele oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, demikian juga tidak dianggap sepele oleh para sahabat, sampai-sampai Abu Huroiroh radhiallahu anhu dalam hadits diatas berkata, “Nabi sama sekali tidak pernah mencela makanan”. Hal ini menunjukan perhatian Abu Huroiroh terhadap adab ini.          Jika kita perhatikan kondisi kaum muslimin secara umum –termasuk kondisi para pembaca yang budiman sekalian dan juga terlebih kondisi penulis sendiri- coba kita renungkan, siapa diantara kita yang tidak pernah mencela makanan?, yang tidak pernah mengatakan terhadap makanan, “Terlalu asin”, “Kemanisan”, “Keenceran”, “Terlalu garing”, “Kurang garam”, “Kurang rasa bumbunya”, dan komentar-komentar lain yang menunjukkan celaan terhadap makanan?Kenyataan menunjukkan bahwa tidak seorangpun dari kita yang selamat dari mencela makanan, dari mengomentari makanan. Makanan istri kita komentari…?, Jangankan makanan yang kita beli mahal di restaurant yang kita komentari, bahkan makanan yang dibagi gratis pun tidak luput dari komentar kita.Yang lebih menakjubkan lagi, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diminta untuk mengomentari makanan yang ia tidak suka dan ia tinggalkan, ternyata beliau tetap bisa menjaga komentarnya agar tidak mencela makanan.Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata :أَنَّ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَيْمُونَةَ وَهِيَ خَالَتُهُ وَخَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ فَوَجَدَ عِنْدَهَا ضَبًّا مَحْنُوذًا فَقَدَّمَتِ الضَّبَّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَنِ الضَّبِّ فَقَالَ خَالِدٌ: أَحْرَامٌ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «لَا وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ» قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيّ“Kholid bin Al-Walid r.a mengabarkan kepada beliau bahwasanya beliau bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Maimunah (istri Nabi) dan Maimunah adalah bibiknya Kholid dan juga bibiknya Ibnu Abbas. Maka Kholid mendapati ada dhob (semacam hewan bebentuk iguana-pen) yang dipanggang (di atas batu panas). Lalu Dhob tersebutpun dihidangkan kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam. Nabi pun mengangkat tangannya tidak menyentuh dhob. Maka Kholid bertanya, “Apakah dhob itu haram wahai Rasulullah?’. Nabi berkata, “Tidak, akan tetapi dhob tidak ada di kampung kaumku, maka aku mendapati diriku tidak menyukainya”. Kholid berkata, “Akupun mengambilnya lalu menyantapnya, dan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam hanya memandang kepadaku” (HR Al-Bukhari no 5391)Perhatikanlah dalam riwayat ini Kholid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu meminta komentar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sebab kenapa beliau tidak jadi makan dhob yang telah dihidangkan?Dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hampir saja memakan dhob tersebut, karena ketidak tahuan beliau bahwa yang dihidangkan adalah dhob.فَأَهْوَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ إِلَى الضَّبِّ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنَ النِّسْوَةِ الْحُضُوْرِ أَخْبِرْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا قَدَّمْتُنَّ لَهُ، قُلْنَ هُوَ الضَّبُّ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَرَفَعَ رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ“Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjulurkan tangannya untuk mengambil dhob. Maka ada seorang wanita diantara para wanita yang hadir tatkala itu berkata, “Kabarkanlah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apa makanan yang kalian hidangkan untuk beliau !”. Maka mereka berkata, “Itu adalah dhob wahai Rasulullah”. Maka Rasulullah pun menahan tangannya (tidak jadi menyentuh dhob-pen)”. (HR Muslim no 1946)Ternyata waktu diminta untuk berkomentar, Nabi tetap berkomentar dengan komentar yang tidak menunjukkan pencelaan terhadap dhob tersebut. Beliau berkata, “Karena dhob tidak ada di kampung kaumku, maka aku tidak menyukainya”.Faidah-faidah hadits di atas;Pertama :. Sisi keajaiban dari kisah di atas, yaitu Nabi sama sekali tidak pernah mencela makanan sama sekali. Yang tidak mungkin dilakukan oleh seorangpun di atas muka bumi ini. Siapakah diantara kita yang tidak pernah komentar terhadap makanan yang ia tidak sukai?. Jika salah seorang dari kita mampu untuk tidak mengomentari makanan dalam sepekan, namun apakah ia mampu tidak berkomentar selama sebulan? Apalagi seumur hidup tidak komentar !!. Pasti lisannya gatal untuk komentar, apalagi manusia hobinya adalah komentar.Kedua : Nabi bahkan tatkala diminta untuk mengomentari makanan yang ia tidak sukai maka ia tetap berkomentar dengan komentar yang tidak menunjukkan pencelaan terhadap makanan tersebut. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :وَأَمَّا حَدِيْثُ تَرْكِ أَكْلِ الضَّبِّ فَلَيْسَ هُوَ مِنْ عَيْبِ الطَّعَامِ، إِنَّمَا هُوَ إخْبَارٌ بِأَّنَّ هَذَا الطَّعَامَ الخَّاصَ لاَ أَشْتَهِيْهِ“Adapun hadits tentang Nabi tidak memakan dhob maka tidak termasuk dalam mencela makanan, akan tetapi hanya pengkhabaran bahwasanya makanan ini secara khusus aku tidak menyukainya” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/26)Diantara kita tetap berkomentar mencela makanan meskipun tidak diminta untuk berkomentar, apalagi jika diminta untuk berkomentar??!. Maka sungguh menakjubkan akhlak Nabi, beliau diminta untuk berkomentar, akan tetapi tetap tidak mencela makanan.Ketiga : Hadits ini juga menunjukkan keajaiban akhlak Nabi dari sisi-sisi yang lain, diantaranya akhlak Nabi tidak hanya berkaitan dengan sesama manusia, bahkan Nabi mengajarkan bahwa terhadap makanan -yang itu merupakan karunia dari Allah- seorang muslim pun harus berakhlak mulia.Keempat : Diantara hikmah tidak mencela makanan adalah bisa jadi seseorang tidak suka makanan tertentu, sementara orang lain tidak demikian. Jika iapun mulai mencela makanan tersebut karena lidahnya yang tidak cocok, maka bisa jadi orang lain yang seharusnya lidahnya dan seleranya cocok akhirnya tidak jadi memakan makanan tersebut, maka akhirnya makanan tersebut terbuang sia-sia. (lihat Kasyful Musykil min Hadits As-Shahihain 3/479)Kelima : Diantaranya hikmah tidak mencela makanan adalah bisa jadi kita tatkala mencela makanan maka akan menyakiti hati orang lain. Menyakiti hati orang yang menghidangkannya misalnya. Bayangkan jika istri kita yang menghidangkan makanan lalu kita menyatakan kepadanya “Tidak enak”, “Kurang asin”, “Kurang manis”, dll, maka tentu akan menyakiti hatinya yang telah bersusah payah menghidangkan makanan tersebut. Tapi kita bisa menggunakan bahasa yang lain, misalnya, “Masya Allah makanannya enak, tolong ambilkan garam, kalau di kasih garam tentu lebih enak lagi”. Ini sikap kita terhadap istri yang lebih bisa memahami kita.Nah bagaimana lagi kalau kita mencela makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah?, tentu celaan tersebut akan menyakiti hati sang tuan rumah. Maka seseorang bersabar untuk menahan lisannya, jika ia tidak suka maka ia tinggalkan makanan tersebut dan memakan makanan lain yang ia sukai.Madinah, 17-02-1437 H / 29-11-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Prolog :Mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangatlah banyak, sampai-sampai para ulama menghimpun mukjizat-mukjizat tersebut dalam kitab-kitab khusus yang mereka beri judul “Dalail An-Nubuwwah” (Bukti-bukti kenabian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam). Diantara mukjizat-mukjizat tersebut contohnya adalah kisah al-Israa’ wa al-Mi’rooj, keluarnya air dari jari-jari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, terdengarnya suara tasbih dari makanan, batu memberi salam kepada Nabi, terdengarnya suara rintihan batang kurma yang merindukan Nabi, pengkhabaran-pengkhabaran Nabi tentang apa yang akan terjadi di masa depan dan ternyata sebagiannya telah terjadi, dan lain-lain, yang semuanya menunjukkan akan perkara-perkara yang ajaib.Namun diantara perkara yang menarik perhatian penulis bahwasanya ternyata akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya merupakan mukjizat tersendiri. Sebagaimana mukjizat-mukjizat Nabi yang lain mendatangkan keajaiban, maka sesungguhnya akhlak Nabi –yang datang dalam sebagian hadits- juga menunjukkan keajaiban, karena sulit atau mustahil untuk bisa dilakukan oleh orang biasa.Berikut ini penulis mencoba mengumpulkan sebagian hadits-hadits tersebut, meskipun tentunya penulis tidak mampu untuk menghimpun seluruh hadits-hadits yang menunjukkan akan hal ini –karena keterbatasan ilmu dan waktu-. Akan tetapi semoga yang sedikit ini sudah bisa memberi gambaran akan keajaiban akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Pertama : Nabi tidak pernah mengomentari jelek terhadap makanan Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu berkata :مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطٌّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِلاَّ تَرَكَهُ“Nabi tidak pernah mencela makanan sama sekali, jika beliau menyukainya maka beliau memakannya, dan jika tidak maka beliau tinggalkan” (HR Al-Bukhari no 3563 dan Muslim no 2064)Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata tentang hadits ini :هَذَا مِنْ آدَابِ الطَّعَامِ الْمُتَأَكِّدَةِ وَعَيْبُ الطَعَامِ كَقَوْلِهِ : مَالِحٌ، قَلِيْلُ الْمِلْحِ، حَامِضٌ، رَقِيْقٌ، غَلِيْظٌ، غَيْرُ نَاضِجٍ، وَنَحْوُ ذَلِكَ“Hal ini (tidak mencela makanan) termasuk adab makan yang ditekankan. Dan mencela makanan yaitu seperti ia berkata, “Ini keasinan”, “Kurang asin”, “Kecut”, “Terlalu lembut”, “Masih kasar”, “Belum masak”, dan yang semisalnya” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim)Seorang yang sepintas membaca hadits ini dengan kurang perhatian, maka seakan-akan perkara ini merupakan perkara sepele. Namun bagi Al-Imam An-Nawawi bukanlah perkara yang sepele, bahkan beliau menegaskan bahwa tidak mencela makanan merupakan adab makan yang ditekankan.Dan ternyata perkara ini pun tentunya tidak dianggap sepele oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, demikian juga tidak dianggap sepele oleh para sahabat, sampai-sampai Abu Huroiroh radhiallahu anhu dalam hadits diatas berkata, “Nabi sama sekali tidak pernah mencela makanan”. Hal ini menunjukan perhatian Abu Huroiroh terhadap adab ini.          Jika kita perhatikan kondisi kaum muslimin secara umum –termasuk kondisi para pembaca yang budiman sekalian dan juga terlebih kondisi penulis sendiri- coba kita renungkan, siapa diantara kita yang tidak pernah mencela makanan?, yang tidak pernah mengatakan terhadap makanan, “Terlalu asin”, “Kemanisan”, “Keenceran”, “Terlalu garing”, “Kurang garam”, “Kurang rasa bumbunya”, dan komentar-komentar lain yang menunjukkan celaan terhadap makanan?Kenyataan menunjukkan bahwa tidak seorangpun dari kita yang selamat dari mencela makanan, dari mengomentari makanan. Makanan istri kita komentari…?, Jangankan makanan yang kita beli mahal di restaurant yang kita komentari, bahkan makanan yang dibagi gratis pun tidak luput dari komentar kita.Yang lebih menakjubkan lagi, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diminta untuk mengomentari makanan yang ia tidak suka dan ia tinggalkan, ternyata beliau tetap bisa menjaga komentarnya agar tidak mencela makanan.Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata :أَنَّ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَيْمُونَةَ وَهِيَ خَالَتُهُ وَخَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ فَوَجَدَ عِنْدَهَا ضَبًّا مَحْنُوذًا فَقَدَّمَتِ الضَّبَّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَنِ الضَّبِّ فَقَالَ خَالِدٌ: أَحْرَامٌ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «لَا وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ» قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيّ“Kholid bin Al-Walid r.a mengabarkan kepada beliau bahwasanya beliau bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Maimunah (istri Nabi) dan Maimunah adalah bibiknya Kholid dan juga bibiknya Ibnu Abbas. Maka Kholid mendapati ada dhob (semacam hewan bebentuk iguana-pen) yang dipanggang (di atas batu panas). Lalu Dhob tersebutpun dihidangkan kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam. Nabi pun mengangkat tangannya tidak menyentuh dhob. Maka Kholid bertanya, “Apakah dhob itu haram wahai Rasulullah?’. Nabi berkata, “Tidak, akan tetapi dhob tidak ada di kampung kaumku, maka aku mendapati diriku tidak menyukainya”. Kholid berkata, “Akupun mengambilnya lalu menyantapnya, dan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam hanya memandang kepadaku” (HR Al-Bukhari no 5391)Perhatikanlah dalam riwayat ini Kholid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu meminta komentar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sebab kenapa beliau tidak jadi makan dhob yang telah dihidangkan?Dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hampir saja memakan dhob tersebut, karena ketidak tahuan beliau bahwa yang dihidangkan adalah dhob.فَأَهْوَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ إِلَى الضَّبِّ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنَ النِّسْوَةِ الْحُضُوْرِ أَخْبِرْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا قَدَّمْتُنَّ لَهُ، قُلْنَ هُوَ الضَّبُّ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَرَفَعَ رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ“Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjulurkan tangannya untuk mengambil dhob. Maka ada seorang wanita diantara para wanita yang hadir tatkala itu berkata, “Kabarkanlah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apa makanan yang kalian hidangkan untuk beliau !”. Maka mereka berkata, “Itu adalah dhob wahai Rasulullah”. Maka Rasulullah pun menahan tangannya (tidak jadi menyentuh dhob-pen)”. (HR Muslim no 1946)Ternyata waktu diminta untuk berkomentar, Nabi tetap berkomentar dengan komentar yang tidak menunjukkan pencelaan terhadap dhob tersebut. Beliau berkata, “Karena dhob tidak ada di kampung kaumku, maka aku tidak menyukainya”.Faidah-faidah hadits di atas;Pertama :. Sisi keajaiban dari kisah di atas, yaitu Nabi sama sekali tidak pernah mencela makanan sama sekali. Yang tidak mungkin dilakukan oleh seorangpun di atas muka bumi ini. Siapakah diantara kita yang tidak pernah komentar terhadap makanan yang ia tidak sukai?. Jika salah seorang dari kita mampu untuk tidak mengomentari makanan dalam sepekan, namun apakah ia mampu tidak berkomentar selama sebulan? Apalagi seumur hidup tidak komentar !!. Pasti lisannya gatal untuk komentar, apalagi manusia hobinya adalah komentar.Kedua : Nabi bahkan tatkala diminta untuk mengomentari makanan yang ia tidak sukai maka ia tetap berkomentar dengan komentar yang tidak menunjukkan pencelaan terhadap makanan tersebut. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :وَأَمَّا حَدِيْثُ تَرْكِ أَكْلِ الضَّبِّ فَلَيْسَ هُوَ مِنْ عَيْبِ الطَّعَامِ، إِنَّمَا هُوَ إخْبَارٌ بِأَّنَّ هَذَا الطَّعَامَ الخَّاصَ لاَ أَشْتَهِيْهِ“Adapun hadits tentang Nabi tidak memakan dhob maka tidak termasuk dalam mencela makanan, akan tetapi hanya pengkhabaran bahwasanya makanan ini secara khusus aku tidak menyukainya” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/26)Diantara kita tetap berkomentar mencela makanan meskipun tidak diminta untuk berkomentar, apalagi jika diminta untuk berkomentar??!. Maka sungguh menakjubkan akhlak Nabi, beliau diminta untuk berkomentar, akan tetapi tetap tidak mencela makanan.Ketiga : Hadits ini juga menunjukkan keajaiban akhlak Nabi dari sisi-sisi yang lain, diantaranya akhlak Nabi tidak hanya berkaitan dengan sesama manusia, bahkan Nabi mengajarkan bahwa terhadap makanan -yang itu merupakan karunia dari Allah- seorang muslim pun harus berakhlak mulia.Keempat : Diantara hikmah tidak mencela makanan adalah bisa jadi seseorang tidak suka makanan tertentu, sementara orang lain tidak demikian. Jika iapun mulai mencela makanan tersebut karena lidahnya yang tidak cocok, maka bisa jadi orang lain yang seharusnya lidahnya dan seleranya cocok akhirnya tidak jadi memakan makanan tersebut, maka akhirnya makanan tersebut terbuang sia-sia. (lihat Kasyful Musykil min Hadits As-Shahihain 3/479)Kelima : Diantaranya hikmah tidak mencela makanan adalah bisa jadi kita tatkala mencela makanan maka akan menyakiti hati orang lain. Menyakiti hati orang yang menghidangkannya misalnya. Bayangkan jika istri kita yang menghidangkan makanan lalu kita menyatakan kepadanya “Tidak enak”, “Kurang asin”, “Kurang manis”, dll, maka tentu akan menyakiti hatinya yang telah bersusah payah menghidangkan makanan tersebut. Tapi kita bisa menggunakan bahasa yang lain, misalnya, “Masya Allah makanannya enak, tolong ambilkan garam, kalau di kasih garam tentu lebih enak lagi”. Ini sikap kita terhadap istri yang lebih bisa memahami kita.Nah bagaimana lagi kalau kita mencela makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah?, tentu celaan tersebut akan menyakiti hati sang tuan rumah. Maka seseorang bersabar untuk menahan lisannya, jika ia tidak suka maka ia tinggalkan makanan tersebut dan memakan makanan lain yang ia sukai.Madinah, 17-02-1437 H / 29-11-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Kenapa Bisa Selingkuh?

Lihat berbagai kasus selingkuh di masyarakat, bahkan ada yang ketangkap basah sampai diekspos pula ke media, apa sih sebab seseorang bisa selingkuh padahal sudah punya pasangan yang sah?   Ini beberapa penilaian kami: Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Kurang menundukkan pandangan. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah. Memenangkan hawa nafsu dari akal sehat. Karena ingatlah bahwa manusia memiliki akal dan hawa nafsu, sedangkan binatang hanya memiliki hawa nafsu saja. Jika manusia memenangkan hawa nafsu dari akal, maka sifat binatang yang dimenangkan.   Sebab Utama Perselingkuhan   Jauh dari agama. Ilmu agama tentu saja akan lebih membentengi dan mengantarkan pada kebaikan. Dengan ilmu akan selalu menjaga seseorang dari maksiat dan seseorang akan selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga muncullah rasa takut. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Seseorang juga akan mudah meraih kebaikan dengan ilmu termasuk selamat dari zina. Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037). Coba bandingkan dengan orang yang tidak paham agama, peluang untuk berselingkuh lebih besar.   Kurang menjaga kehormatan diri dan tidak menutup aurat ketika keluar rumah (bagi wanita). Padahal Allah Ta’ala memerintahkan, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al-Ahzab: 33). Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ “Apabila seorang wanita memakai wewangian, lalu keluar menjumpai orang-orang hingga mereka mencium wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina.” (HR. Ahmad, 4: 413. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid) Dari Abul Ahwash, dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi, no. 1173. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)   Tidak bisa menahan pandangan karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)   Kurang menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengantarkan pada zina. Seperti berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram atau bentuknya bermesraan lewat telepon genggam. Dalam ayat disebutkan, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari ‘Abdullah bin ‘Amir, yaitu Ibnu Rabi’ah, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih lighairihi)   Wanita bekerja di luar rumah. Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا” “Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah menjauhkan kita dan keluarga kita dari perbuatan zina. — Selesai disusun menjelang Maghrib, 15 Safar 1437 H, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagszina

Kenapa Bisa Selingkuh?

Lihat berbagai kasus selingkuh di masyarakat, bahkan ada yang ketangkap basah sampai diekspos pula ke media, apa sih sebab seseorang bisa selingkuh padahal sudah punya pasangan yang sah?   Ini beberapa penilaian kami: Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Kurang menundukkan pandangan. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah. Memenangkan hawa nafsu dari akal sehat. Karena ingatlah bahwa manusia memiliki akal dan hawa nafsu, sedangkan binatang hanya memiliki hawa nafsu saja. Jika manusia memenangkan hawa nafsu dari akal, maka sifat binatang yang dimenangkan.   Sebab Utama Perselingkuhan   Jauh dari agama. Ilmu agama tentu saja akan lebih membentengi dan mengantarkan pada kebaikan. Dengan ilmu akan selalu menjaga seseorang dari maksiat dan seseorang akan selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga muncullah rasa takut. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Seseorang juga akan mudah meraih kebaikan dengan ilmu termasuk selamat dari zina. Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037). Coba bandingkan dengan orang yang tidak paham agama, peluang untuk berselingkuh lebih besar.   Kurang menjaga kehormatan diri dan tidak menutup aurat ketika keluar rumah (bagi wanita). Padahal Allah Ta’ala memerintahkan, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al-Ahzab: 33). Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ “Apabila seorang wanita memakai wewangian, lalu keluar menjumpai orang-orang hingga mereka mencium wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina.” (HR. Ahmad, 4: 413. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid) Dari Abul Ahwash, dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi, no. 1173. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)   Tidak bisa menahan pandangan karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)   Kurang menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengantarkan pada zina. Seperti berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram atau bentuknya bermesraan lewat telepon genggam. Dalam ayat disebutkan, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari ‘Abdullah bin ‘Amir, yaitu Ibnu Rabi’ah, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih lighairihi)   Wanita bekerja di luar rumah. Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا” “Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah menjauhkan kita dan keluarga kita dari perbuatan zina. — Selesai disusun menjelang Maghrib, 15 Safar 1437 H, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagszina
Lihat berbagai kasus selingkuh di masyarakat, bahkan ada yang ketangkap basah sampai diekspos pula ke media, apa sih sebab seseorang bisa selingkuh padahal sudah punya pasangan yang sah?   Ini beberapa penilaian kami: Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Kurang menundukkan pandangan. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah. Memenangkan hawa nafsu dari akal sehat. Karena ingatlah bahwa manusia memiliki akal dan hawa nafsu, sedangkan binatang hanya memiliki hawa nafsu saja. Jika manusia memenangkan hawa nafsu dari akal, maka sifat binatang yang dimenangkan.   Sebab Utama Perselingkuhan   Jauh dari agama. Ilmu agama tentu saja akan lebih membentengi dan mengantarkan pada kebaikan. Dengan ilmu akan selalu menjaga seseorang dari maksiat dan seseorang akan selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga muncullah rasa takut. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Seseorang juga akan mudah meraih kebaikan dengan ilmu termasuk selamat dari zina. Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037). Coba bandingkan dengan orang yang tidak paham agama, peluang untuk berselingkuh lebih besar.   Kurang menjaga kehormatan diri dan tidak menutup aurat ketika keluar rumah (bagi wanita). Padahal Allah Ta’ala memerintahkan, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al-Ahzab: 33). Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ “Apabila seorang wanita memakai wewangian, lalu keluar menjumpai orang-orang hingga mereka mencium wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina.” (HR. Ahmad, 4: 413. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid) Dari Abul Ahwash, dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi, no. 1173. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)   Tidak bisa menahan pandangan karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)   Kurang menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengantarkan pada zina. Seperti berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram atau bentuknya bermesraan lewat telepon genggam. Dalam ayat disebutkan, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari ‘Abdullah bin ‘Amir, yaitu Ibnu Rabi’ah, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih lighairihi)   Wanita bekerja di luar rumah. Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا” “Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah menjauhkan kita dan keluarga kita dari perbuatan zina. — Selesai disusun menjelang Maghrib, 15 Safar 1437 H, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagszina


Lihat berbagai kasus selingkuh di masyarakat, bahkan ada yang ketangkap basah sampai diekspos pula ke media, apa sih sebab seseorang bisa selingkuh padahal sudah punya pasangan yang sah?   Ini beberapa penilaian kami: Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Kurang menundukkan pandangan. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah. Memenangkan hawa nafsu dari akal sehat. Karena ingatlah bahwa manusia memiliki akal dan hawa nafsu, sedangkan binatang hanya memiliki hawa nafsu saja. Jika manusia memenangkan hawa nafsu dari akal, maka sifat binatang yang dimenangkan.   Sebab Utama Perselingkuhan   Jauh dari agama. Ilmu agama tentu saja akan lebih membentengi dan mengantarkan pada kebaikan. Dengan ilmu akan selalu menjaga seseorang dari maksiat dan seseorang akan selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga muncullah rasa takut. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Seseorang juga akan mudah meraih kebaikan dengan ilmu termasuk selamat dari zina. Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037). Coba bandingkan dengan orang yang tidak paham agama, peluang untuk berselingkuh lebih besar.   Kurang menjaga kehormatan diri dan tidak menutup aurat ketika keluar rumah (bagi wanita). Padahal Allah Ta’ala memerintahkan, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al-Ahzab: 33). Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ “Apabila seorang wanita memakai wewangian, lalu keluar menjumpai orang-orang hingga mereka mencium wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina.” (HR. Ahmad, 4: 413. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid) Dari Abul Ahwash, dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi, no. 1173. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)   Tidak bisa menahan pandangan karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)   Kurang menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengantarkan pada zina. Seperti berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram atau bentuknya bermesraan lewat telepon genggam. Dalam ayat disebutkan, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari ‘Abdullah bin ‘Amir, yaitu Ibnu Rabi’ah, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih lighairihi)   Wanita bekerja di luar rumah. Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا” “Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah menjauhkan kita dan keluarga kita dari perbuatan zina. — Selesai disusun menjelang Maghrib, 15 Safar 1437 H, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagszina

Ilmu Makin Hilang Hingga Datang Kiamat

Bagaimana ilmu bisa semakin hilang? Iya, di akhir zaman, ilmu akan hilang hingga datang kiamat.   Ibnu Rajab Al-Hambali menerangkan sebagai berikut. Suatu saat ilmu itu akan hilang sebagaimana diutarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada yang bertanya, “Bagaimana ilmu itu bisa hilang padahal saat ini Al-Quran gemar kita baca, para wanita dan anak-anak kita pun demikian?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Lihat saja Taurat dan Injil di tangan Yahudi dan Nashrani, apa manfaat untuk mereka?” ‘Ubadah bin Ash-Shamit ditanya tentang hadits di atas lantas ia berkata, “Seandainya mau kuberitahu tentang ilmu yang pertama kali diangkat yaitu khusyu’.”   Karena memang ilmu itu ada dua:   Pertama: Ilmu yang berbuah di hati manusia. Yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang nama dan sifat-Nya serta perbuatan-Nya. Ilmu semacam ini akan membuahkan rasa takut, pengagungan, ketundukan, kecintaan, harapan, doa, tawakkal dan lainnya. Itulah yang disebut ilmu yang bermanfaat. Ibnu Mas’ud berkata, “Suatu kaum ada yang membaca Al-Qur’an yang tidak melewati kerongkongan mereka. Jika saja ilmu itu tertanam dalam hati, tentu akan bermanfaat.” Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ada ilmu pada lisan (omongan belaka). Jika ilmu hanya di lisan, maka ilmu itu yang malah akan menjatuhkan kita pada hari kiamat. Ilmu yang menancap dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat.”   Kedua: Ilmu yang hanya sekedar hiasan di bibir. Ilmu semacam inilah yang nanti akan melemahkan manusia itu sendiri sebagaimana disebutkan dalam hadits, وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Al-Qur’an bisa menjadi argumen untuk membelamu atau menjatuhkanmu.” (HR. Muslim, no. 223) Jadi ilmu yang akan terangkat pertama kali adalah ilmu naafi’ (ilmu yang bermanfaat) yaitu ilmu yang menancap dalam batin, bersemayam dalam hati dan ilmu yang memperbaiki hati. Ilmu yang ada nantinya adalah ilmu yang jadi hiasan bibir. Ilmu itu malah nantinya dihinakan. Tak ada lagi yang tahu praktik dari ilmu tersebut. Tidak ada pula ulama yang memikul ilmu itu lagi, tidaklah aku dan tidak pula mereka. Lambat laun ilmu tersebut hilang bersama dengan hilangnya para guru yang mengajarkan ilmu (ulama). Yang ada nantinya cuma goresan tulisan di mushaf. Tak ada lagi yang tahu maknanya. Tak ada lagi yang paham akan batasan dan hukumnya. Sampai nanti di akhir zaman sama sekali tak ada lagi ilmu di mushaf-mushaf dan di hati manusia. Setelah itu terjadilah kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ النَّاسِ “Hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada manusia yang paling jelek.” (HR. Muslim, no. 2949) Juga dalam hadits lainnya disebutkan, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ عَلَى أَحَدٍ يَقُولُ اللَّهُ اللَّهُ “Hari kiamat tidaklah akan terjadi ketika ada seseorang yang mengucapkan: Allah, Allah.” (HR. Muslim, no. 148) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 299-300) Apakah saat ini kita sudah masuk pada waktu ilmu itu hanya sekedar jadi hiasan bibir? Semoga jadi renungan bersama yang membuat kita semakin memperbaiki diri.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Selesai disusun saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Jumat, 15 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Ilmu Makin Hilang Hingga Datang Kiamat

Bagaimana ilmu bisa semakin hilang? Iya, di akhir zaman, ilmu akan hilang hingga datang kiamat.   Ibnu Rajab Al-Hambali menerangkan sebagai berikut. Suatu saat ilmu itu akan hilang sebagaimana diutarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada yang bertanya, “Bagaimana ilmu itu bisa hilang padahal saat ini Al-Quran gemar kita baca, para wanita dan anak-anak kita pun demikian?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Lihat saja Taurat dan Injil di tangan Yahudi dan Nashrani, apa manfaat untuk mereka?” ‘Ubadah bin Ash-Shamit ditanya tentang hadits di atas lantas ia berkata, “Seandainya mau kuberitahu tentang ilmu yang pertama kali diangkat yaitu khusyu’.”   Karena memang ilmu itu ada dua:   Pertama: Ilmu yang berbuah di hati manusia. Yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang nama dan sifat-Nya serta perbuatan-Nya. Ilmu semacam ini akan membuahkan rasa takut, pengagungan, ketundukan, kecintaan, harapan, doa, tawakkal dan lainnya. Itulah yang disebut ilmu yang bermanfaat. Ibnu Mas’ud berkata, “Suatu kaum ada yang membaca Al-Qur’an yang tidak melewati kerongkongan mereka. Jika saja ilmu itu tertanam dalam hati, tentu akan bermanfaat.” Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ada ilmu pada lisan (omongan belaka). Jika ilmu hanya di lisan, maka ilmu itu yang malah akan menjatuhkan kita pada hari kiamat. Ilmu yang menancap dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat.”   Kedua: Ilmu yang hanya sekedar hiasan di bibir. Ilmu semacam inilah yang nanti akan melemahkan manusia itu sendiri sebagaimana disebutkan dalam hadits, وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Al-Qur’an bisa menjadi argumen untuk membelamu atau menjatuhkanmu.” (HR. Muslim, no. 223) Jadi ilmu yang akan terangkat pertama kali adalah ilmu naafi’ (ilmu yang bermanfaat) yaitu ilmu yang menancap dalam batin, bersemayam dalam hati dan ilmu yang memperbaiki hati. Ilmu yang ada nantinya adalah ilmu yang jadi hiasan bibir. Ilmu itu malah nantinya dihinakan. Tak ada lagi yang tahu praktik dari ilmu tersebut. Tidak ada pula ulama yang memikul ilmu itu lagi, tidaklah aku dan tidak pula mereka. Lambat laun ilmu tersebut hilang bersama dengan hilangnya para guru yang mengajarkan ilmu (ulama). Yang ada nantinya cuma goresan tulisan di mushaf. Tak ada lagi yang tahu maknanya. Tak ada lagi yang paham akan batasan dan hukumnya. Sampai nanti di akhir zaman sama sekali tak ada lagi ilmu di mushaf-mushaf dan di hati manusia. Setelah itu terjadilah kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ النَّاسِ “Hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada manusia yang paling jelek.” (HR. Muslim, no. 2949) Juga dalam hadits lainnya disebutkan, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ عَلَى أَحَدٍ يَقُولُ اللَّهُ اللَّهُ “Hari kiamat tidaklah akan terjadi ketika ada seseorang yang mengucapkan: Allah, Allah.” (HR. Muslim, no. 148) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 299-300) Apakah saat ini kita sudah masuk pada waktu ilmu itu hanya sekedar jadi hiasan bibir? Semoga jadi renungan bersama yang membuat kita semakin memperbaiki diri.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Selesai disusun saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Jumat, 15 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar
Bagaimana ilmu bisa semakin hilang? Iya, di akhir zaman, ilmu akan hilang hingga datang kiamat.   Ibnu Rajab Al-Hambali menerangkan sebagai berikut. Suatu saat ilmu itu akan hilang sebagaimana diutarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada yang bertanya, “Bagaimana ilmu itu bisa hilang padahal saat ini Al-Quran gemar kita baca, para wanita dan anak-anak kita pun demikian?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Lihat saja Taurat dan Injil di tangan Yahudi dan Nashrani, apa manfaat untuk mereka?” ‘Ubadah bin Ash-Shamit ditanya tentang hadits di atas lantas ia berkata, “Seandainya mau kuberitahu tentang ilmu yang pertama kali diangkat yaitu khusyu’.”   Karena memang ilmu itu ada dua:   Pertama: Ilmu yang berbuah di hati manusia. Yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang nama dan sifat-Nya serta perbuatan-Nya. Ilmu semacam ini akan membuahkan rasa takut, pengagungan, ketundukan, kecintaan, harapan, doa, tawakkal dan lainnya. Itulah yang disebut ilmu yang bermanfaat. Ibnu Mas’ud berkata, “Suatu kaum ada yang membaca Al-Qur’an yang tidak melewati kerongkongan mereka. Jika saja ilmu itu tertanam dalam hati, tentu akan bermanfaat.” Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ada ilmu pada lisan (omongan belaka). Jika ilmu hanya di lisan, maka ilmu itu yang malah akan menjatuhkan kita pada hari kiamat. Ilmu yang menancap dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat.”   Kedua: Ilmu yang hanya sekedar hiasan di bibir. Ilmu semacam inilah yang nanti akan melemahkan manusia itu sendiri sebagaimana disebutkan dalam hadits, وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Al-Qur’an bisa menjadi argumen untuk membelamu atau menjatuhkanmu.” (HR. Muslim, no. 223) Jadi ilmu yang akan terangkat pertama kali adalah ilmu naafi’ (ilmu yang bermanfaat) yaitu ilmu yang menancap dalam batin, bersemayam dalam hati dan ilmu yang memperbaiki hati. Ilmu yang ada nantinya adalah ilmu yang jadi hiasan bibir. Ilmu itu malah nantinya dihinakan. Tak ada lagi yang tahu praktik dari ilmu tersebut. Tidak ada pula ulama yang memikul ilmu itu lagi, tidaklah aku dan tidak pula mereka. Lambat laun ilmu tersebut hilang bersama dengan hilangnya para guru yang mengajarkan ilmu (ulama). Yang ada nantinya cuma goresan tulisan di mushaf. Tak ada lagi yang tahu maknanya. Tak ada lagi yang paham akan batasan dan hukumnya. Sampai nanti di akhir zaman sama sekali tak ada lagi ilmu di mushaf-mushaf dan di hati manusia. Setelah itu terjadilah kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ النَّاسِ “Hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada manusia yang paling jelek.” (HR. Muslim, no. 2949) Juga dalam hadits lainnya disebutkan, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ عَلَى أَحَدٍ يَقُولُ اللَّهُ اللَّهُ “Hari kiamat tidaklah akan terjadi ketika ada seseorang yang mengucapkan: Allah, Allah.” (HR. Muslim, no. 148) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 299-300) Apakah saat ini kita sudah masuk pada waktu ilmu itu hanya sekedar jadi hiasan bibir? Semoga jadi renungan bersama yang membuat kita semakin memperbaiki diri.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Selesai disusun saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Jumat, 15 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar


Bagaimana ilmu bisa semakin hilang? Iya, di akhir zaman, ilmu akan hilang hingga datang kiamat.   Ibnu Rajab Al-Hambali menerangkan sebagai berikut. Suatu saat ilmu itu akan hilang sebagaimana diutarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada yang bertanya, “Bagaimana ilmu itu bisa hilang padahal saat ini Al-Quran gemar kita baca, para wanita dan anak-anak kita pun demikian?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Lihat saja Taurat dan Injil di tangan Yahudi dan Nashrani, apa manfaat untuk mereka?” ‘Ubadah bin Ash-Shamit ditanya tentang hadits di atas lantas ia berkata, “Seandainya mau kuberitahu tentang ilmu yang pertama kali diangkat yaitu khusyu’.”   Karena memang ilmu itu ada dua:   Pertama: Ilmu yang berbuah di hati manusia. Yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang nama dan sifat-Nya serta perbuatan-Nya. Ilmu semacam ini akan membuahkan rasa takut, pengagungan, ketundukan, kecintaan, harapan, doa, tawakkal dan lainnya. Itulah yang disebut ilmu yang bermanfaat. Ibnu Mas’ud berkata, “Suatu kaum ada yang membaca Al-Qur’an yang tidak melewati kerongkongan mereka. Jika saja ilmu itu tertanam dalam hati, tentu akan bermanfaat.” Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ada ilmu pada lisan (omongan belaka). Jika ilmu hanya di lisan, maka ilmu itu yang malah akan menjatuhkan kita pada hari kiamat. Ilmu yang menancap dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat.”   Kedua: Ilmu yang hanya sekedar hiasan di bibir. Ilmu semacam inilah yang nanti akan melemahkan manusia itu sendiri sebagaimana disebutkan dalam hadits, وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Al-Qur’an bisa menjadi argumen untuk membelamu atau menjatuhkanmu.” (HR. Muslim, no. 223) Jadi ilmu yang akan terangkat pertama kali adalah ilmu naafi’ (ilmu yang bermanfaat) yaitu ilmu yang menancap dalam batin, bersemayam dalam hati dan ilmu yang memperbaiki hati. Ilmu yang ada nantinya adalah ilmu yang jadi hiasan bibir. Ilmu itu malah nantinya dihinakan. Tak ada lagi yang tahu praktik dari ilmu tersebut. Tidak ada pula ulama yang memikul ilmu itu lagi, tidaklah aku dan tidak pula mereka. Lambat laun ilmu tersebut hilang bersama dengan hilangnya para guru yang mengajarkan ilmu (ulama). Yang ada nantinya cuma goresan tulisan di mushaf. Tak ada lagi yang tahu maknanya. Tak ada lagi yang paham akan batasan dan hukumnya. Sampai nanti di akhir zaman sama sekali tak ada lagi ilmu di mushaf-mushaf dan di hati manusia. Setelah itu terjadilah kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ النَّاسِ “Hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada manusia yang paling jelek.” (HR. Muslim, no. 2949) Juga dalam hadits lainnya disebutkan, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ عَلَى أَحَدٍ يَقُولُ اللَّهُ اللَّهُ “Hari kiamat tidaklah akan terjadi ketika ada seseorang yang mengucapkan: Allah, Allah.” (HR. Muslim, no. 148) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 299-300) Apakah saat ini kita sudah masuk pada waktu ilmu itu hanya sekedar jadi hiasan bibir? Semoga jadi renungan bersama yang membuat kita semakin memperbaiki diri.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Selesai disusun saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Jumat, 15 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Hati Yang Bersih

(Khotbah Jum’ah Masjid Nabawi 15 Shafar 1437 H)Oleh: Asy-Syaikh Al-Hudzaifi hafizohullahSegala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang shalih, Dia memberikan bimbingan taufiq kepada siapa saja yang dikehendakiNya atas anugerahNya dan rahmatNya sehingga jadilah orang tersebut beruntung. Dia biarkan orang yang dikehendakiNya mengurus dirinya sendiri atas keadilanNya dan kebijaksanaanNya sehingga orang tersebut menempuh selain jalur orang-orang yang beriman. Aku memuji Tuhanku, berterima kasih dan bertobat kepadaNya serta memohon ampunanNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, Tuhan Yang Maha Benar dan Nyata. Aku bersaksi bahwa junjungan kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya, yang senantasa benar janjinya dan terpercaya amanatnya. Ya Allah ! curahkanlah rahmat kasih sayang dan doa keselamatan serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh pengikutnya !Selanjutnya..Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah memasukkan kalian ke dalam rahmatNya dan menyelamatkan kalian dari murkaNya dan sanksi hukumanNya. Sungguh beruntung orang yang bertakwa dan merugi orang yang berdusta dan melampaui batas.Para hamba Allah ! setiap orang berusaha untuk meraih kebahagiaan abadi dan kehidupan yang memuaskan hati. Ada di antara manusia yang memang mendapatkan bimbingan Tuhan untuk menempuh jalanNya sehingga Allah memberinya kebahagiaan yang abadi dan kehidupan duniawi yang memuaskan hati. Tetapi ada pula orang yang yang segala perhatiannya hanya tertuju kepada dunia dan melupakan akhiratnya sehingga Allah memberinya jatahnya dari dunia yang memang telah Allah tetapkan untuknya, namun di akhirat kelak ia tidak mendapatkan bagian apa-apa. Sedangkan jatah duniawi yang diperolehnya tidaklah jernih tanpa kekeruhan, kekalutan, gangguan dan keburukan. Firman Allah Swt :مَنْ كانَ يُرِيدُ الْعاجِلَةَ عَجَّلْنا لَهُ فِيها مَا نَشاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاها مَذْمُوماً مَدْحُوراً[ الإسراء / 18 ](Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir ) Qs Al-Isra : 18Firman Allah :وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ أَعْمى ، قالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيراً،  قالَ كَذلِكَ أَتَتْكَ آياتُنا فَنَسِيتَها وَكَذلِكَ الْيَوْمَ تُنْسى ، [ طه / 124-126 ]( Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan” ) Qs Thaha : 124-126Jika faktanya memang demikian, yaitu masing-masing orang berusaha meraih kebahagiaan duniawi dan berkerja keras meraih kebahagiaan ukhrawi yang kekal abadi sebagai kehidupan yang terbaik dan kenikmatan yang paling prima, maka perlu diketahui bahwa kebahagiaan dunia yang menyenangkan dan kebahagiaan akhirat yang kekal abadi itu tidak akan mungkin diraih kecuali dengan jiwa yang tulus dan hati yang bersih. Firman Allah :يَوْمَ لا يَنْفَعُ مالٌ وَلا بَنُونَ ،  إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  ، وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ ،  وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغاوِينَ ، [ الشعراء / 88 – 91 ]( pada hari, harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, pada hari itu, surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat ) Qs As-Syu’ara : 88-91Firman Allah  :مَنْ عَمِلَ صالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَياةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ ما كانُوا يَعْمَلُونَ  [ النحل / 97 ](Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan) Qs An-Nahl : 97Amal shalih tidak mungkin terlaksana kecuali oleh orang yang berhati ikhlas dan tulus. Firman Allah :لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً  [ الفتح / 18 ]( Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya) Qs Al-Fath : 18Artinya Allah mengetahui kemurnian iman, kesungguhan niat dan kesucian batin yang ada dalam hati mereka, yang aman dari sifat kemunafikan dan cabang-cabangnya. ( عَن عبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ    ) حديث صحيح رواه ابن ماجهAbdullah bin ‘Amru berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ; “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau menjawab: “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan tutur katanya benar.” Mereka berkata; “Tutur kata yang benar telah kami sudah mengerti, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda: “Yaitu hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezoliman, kedengkian dan hasad di dalamnya.” (Hadis shahih riwayat Ibn Majah).Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( حُرِمَ عَلَى النَّارِ كُلِّ هَيِنٍ لَيِّن قَرِيبٍ مِنَ الّناسِ ) رواه أحمد والترمذى(Diharamkan (terlindung dari neraka) setiap orang yang suka memudahkan, lemah lembut, dan akrab dengan sesama manusia ).” HR. Ahmad dan TirmiziPerhatikan wahai saudaraku sesama muslim bagaimana hati yang tulus ikhlas dan bersih itu dapat mengangkat seseorang kepada derajat yang demikian tinggi di surga, dan dapat menyelamatkannya dari neraka dan akibat yang membinasakannya.Hati yang bersih dekat dari segala kebaikan, jauh dari segala keburukan. Hati yang bersih dapat menampung semua perilaku yang baik sebagaimana tanah yang landai dapat menampung air. Hati yang baik akan mampu menolak semua perilaku kerendahan sebagaimana tempa besi dapat menghilangkan karat pada emas dan perak. Hati yang bersih dapat manaungi pemiliknya dengan rahmat Allah, perlindunganNya, penjagaanNya dan bimbinganNya.Firman Allah  :وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ ، الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلى ما أَصابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاةِ وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ  [ الحج / 34 – 35 ]) Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah, [yaitu] orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka) Qs Al-Haj : 34-35Firman Allah  :إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَى رَبِّهِمْ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  [ هود / 23 ]( Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya ) Qs Hud : 23Sikap merendakan diri kepada Allah Swt merupakan sifat yang melekat pada hati yang bersih. Ada yang menafsirkannya sebagai sikap tawadhu’ ( dalam arti patuh dan taat ) kepada Allah Swt serta merasa tenteram dalam menjalankan syariatNya dan firmanNya, pun pula merasa nyaman mengerjakan amal kebajikan dan puas dengannya. Firman Allah  :الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ النحل / 32 ]( orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan [kepada mereka]: “Salaamun´alaikum”, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan ) Qs An-Nahl : 32Yang dimaksud dengan “mereka wafat dalam keadaan baik” di sini adalah “hati yang bersih dalam keimanan”.Diriwayatkan dari Iyadh Bin Himmar radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( أَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى، وَمُسْلِمٍ، وَرَجُلٌ فَقِيرٌ عَفِيْفٌ مُتَصَدِّقٌ ) رواه ابن حبان ( Ahli surga itu ada tiga :Pertama : orang yang punya kekuasaan dan berlaku adil serta mau bersedekah atas pertolongan Allah.Kedua ; orang yang di dalam hatinya terdapat rasa belas kasihan kepada sanak saudara dan sesama muslim.Ketiga  : orang miskin yang mampu menjaga harga dirinya [dari meminta-minta], dan ia-pun masih mau bersedekah ) HR Ibnu Hibban.Hati yang bersih punya sifat dan ciri khas tertentu, yang paling menonjol dan terpenting ialah terbebasnya hati seseorang dari kemusyrikan besar ( syirik akbar ) dan kecil ( syirik asghar ) beserta cabang-cabangnya, juga terhindarnya dosa-dosa besar dan kecil, terjauhkan dari sifat-sifat tercela dan perilaku nista, seperti kikir, terlampau pelit, iri hati, dengki, sombong, menipu, curang, khianat, tipu muslihat, dusta dan sifat-sifat hati tak terpuji lainnya. Di samping itu, hati yang bersih pemiliknya selalu menjalankan kewajiban dan memperbanyak ibadah sunah serta menghindari hal-hal yang makruh.Adapun sebaik-baik karakter dan sifat hati yang bersih dan yang paling tinggi tingkat kesuciannya ialah sebagaimana yang sifat-sifat hati bersih yang disandang oleh para Nabi –alaihimussalam- .Firman Allah mengkisahkan rasul kekasihNya, Ibrahim a.s.  :وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْراهِيمَ ، إِذْ جاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  [ الصافات / 83-84 ](Dan sesungguhnya benar-benar termasuk golongannya [Nuh] adalah Ibrahim. ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci) Qs Ash-Shafat: 83-84Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ   ) رواه أبو داود والترمذى( Tidaklah seseorang di antara sahabat-sahabatku yang menyampaikan sesuatu kepadaku dari seseorang, [melainkan] aku sungguh senang jika aku keluar menemui kalian sementara aku dalam keadaan hati yang bersih) HR Abu Dawud dan Tirmizi.Dari Syaddad Bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kami doa ini :( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ، وَالعَزِيمَةَ على الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا سَلِيمًا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوبِ )رواه أحمد والترمذى والنسائي(Ya Allah, aku mohon kepadaMu ketetapan hati dalam segala urusan dan keteguhan kehendak menuju kebenaran. Dan aku memohon agar aku dapat mensyukuri nikmatMu dan beribadah kepadaMu dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, aku memohon kepadaMu tutur kata yang benar, hati yang bersih, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan apa yang Engkau ketahui, aku memohon kepadaMu kebaikan dari apa yang Engkau ketahui, aku memohon ampun kepadaMu dari apapun yang Engkau ketahui, sesungguhnya hanya Engkau jualah yang Maha Mengetahui yang ghaib). HR Ahmad, Tirmizi dan Nasai.Sebaik-baik kondisi hati, yang paling sempurna dan paling tinggi derajatnya adalah bersihnya hati dan baiknya hati. Dan kesempurnaan bersihnya hati bertingkat-tingkat. Maka barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam meneladani para nabi –’alaihimus salam- maka ia akan meraih kebersihan hati sesuai kadar keteladanannya. Barangsiapa yang mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengan sunnahnya yang mulia maka ia telah dibimbing kepada petunjuk yang terbaik, amal dan keyakinan yang terbaik. Dan Allah akan menganugerahkan kepadanya hati yang bersih sebagaimana Allah menganugerahkan hati yang bersih kepada para sahabat yang meneladani petunjuk Nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengannya. Allah berfiman :وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ´mencintai´ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada hasad dalam dada mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada kaum muhajirin; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (QS Al-Hasyr : 9)Dan orang-orang kemudian yang mengikuti para sahabat dengan baik mereka diberikan hati yang bersih juga. Allah berfirmanوَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ ١٠Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hasyr : 10)          Hati yang bersih ganjarannya adalah surga (di akhirat) dan tubuh yang sehat di dunia. Dari Anas r.a ia berkata :كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun berkata : “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga”. Maka munculah seseorang dari kaum Anshoor, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, “Silahkan”.Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya :وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ“Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aaash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh. Abdullah bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Orang itu berkata : “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat”. Abdullah bertutur : “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”. Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampui” (HR Ahmad, Ibnu Katsir berkata : Ini sanadnya shahih)Jika seorang muslim bersungguh-sungguh untuk meraih dan melakukan sebab-sebab bersihnya hati dan akhirnya ia meraih kedudukan yang tinggi ini maka sungguh dia telah menang dan beruntung dan ia akan menjalani hidup di dunia dengan sehat (selamat) dan Allah akan menjamin baginya derajat yang tinggi di akhirat. Ia akan dibimbing oleh Allah untuk menasehati dan ia terlepas dari penipuan, maka iapun melakukan yang terbaik kepada Allah, kepada kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan kepada keumuman kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Agama adalah nasehat (sebanyak 3 kali). Para sahabat bertanya, “Nasehat untuk siapa”, Nabi berkata, “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan keumuman kaum muslimin” (HR Muslim dari sahabat Tamim Ad-Dary).Dan bentuk nasehat kepada Allah adalah beribadah kepadanya dengan ikhlas, dan nasehat kepada kitabNya adalah mempelajarinya dan mengajarkannya serta mengamalkannya. Nasahat kepada RasulNya adalah dengan mengikuti sunnahnya dan berdakwah kepada sunnahnya. Nasehat kepada para pemimpin (penguasa) adalah dengan tidak memberontak kepada mereka serta membantu mereka dalam menjalankan beban amanah yang dipikul oleh mereka. Nasehat bagi kaum muslimin adalah dengan menunaikan hak-hak mereka, menjaganya, dan memberi pelajaran bagi mereka serta menyumbangkan kebaikan bagi mereka dan menahan diri dari berbuat keburukan terhadap mereka. Barangsiapa yang sempurna bersihnya hatinya maka ia menyukai bagi kaum muslimin apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri, dan ia akan diselamatkan dari sifat pelit sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Anas)Ibnu Rojab berkata tentang hadits ini : “Hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin membahagiakannya apa yang membahagiakan saudaranya seiman, dan ia ingin untuk saudaranya tersebut kebaikan yang ia inginkan untuk dirinya. Ini semuanya timbul dari sempurnanya bersihnya hati dari dengki, jahat, dan hasad. Karena hasad melazimkan orang yang hasad benci seorangpun mengunggulinya atau menyamainya dalam perkara kebaikan, karena ia maunya menjadi spesial di hadapan manusia dengan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya dan ia ingin menjadi sendirian yang istimewa diantara mereka. Dan keimanan melazimkan lawan dari yang demikian ini, yaitu dia ingin kaum mukminin seluruhnya ikut merasakan kebaikan yang Allah anugrahkan kepadanya tanpa mengurangi kebaikan tersebut darinya.”Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata :إِنِّي لَأَمُرُّ بِالآيَةِ فَأَعْلَمُ مِنْهَا مَا أَعْلَمُ فَأَتَمَنَّى أَنَّ كُلَّ مُسْلِمٍ يَعْلَمُ مِنْهَا مَا عَلِمْتُSesungguhnya aku membaca sebuah ayat lalu mengetahui ilmu dari ayat tersebut maka akupun berangan-angan agar semua muslim mengetahui ilmu tentang ayat tersebut”Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :وَدِدْتُ أَنَّ النَّاسَ تَعَلَّمُوا هَذَا الْعِلْمَ وَلَمْ يُنْسَبْ إِلَيَّ مِنْهُ شَيْئٌ“Aku ingin orang-orang mempelajari ilmu (ku) ini lalu tidak dinisbahkan kepadaku sedikitpun dari ilmu tersebut”Dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan seluruh hartanya demi kemaslahatan kaum muslimin, dan Umar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan setengah hartanya.Dan diantara dampak dari hati yang bersih adalah sikap memaafkan, mengalah, sabar, dan lemah lembut terhadap kaum muslimin. Dan Nabi shallallahu ‘alihi wasallam telah memuji Abu Dhomdhom karena hal tersebut. Jika beliau di pagi hari beliau berkata :اللَّهُمَّ لاَ مَالَ لِي لِأَتَصَدَّقَ بِهِ عَلَى النَّاسِ، وَقَدْ تَصَدَّقْتُ عَلَيْهِمْ بِشَتْمِ عِرْضِي، فَمَنْ شَتَمَنِي أَوْ قَذَفَنِي فَهُوَ حِلٌّ“Ya Allah sesungguhnya aku tidak memiliki harta untuk bersedekah dengannya kepada orang-orang, dan aku telah bersedekah kepada mereka dengan cacian terhadap harga diriku, maka barangsiapa yang mencaci maki aku atau menuduhku (dengan tuduhan tidak benar) maka ia telah aku halalkan”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَنْ يَسْتَطِيْعُ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ كَأَبِي ضَمْضَمَ؟“Siapa diantara kalian yang mampu seperti Abu Dhomdhom?” (HR Al-Hakim, Ibnu Abdilbar, dan Al-Bazzar, dan hadits ini hasan”Dan lawan dari hati yang bersih adalah hati yang sakit dengan berbagai macam penyakit yang dibenci dan tercela. Diantara penyakit hati yang  paling parah adalah pelit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya dari penyakit ini, beliau berkata :اتَّقُوا الظُّلْمَ؛ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، وَحَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ“Waspadalah kalian dari perbuatan menzolimi karena kezoliman adalah kegelapan yang bertumpuk-tumpuk pada hari qiamat, dan jauhilah kalian dari pelit, karena sikap pelit telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, sikap pelit ini mengantarkan mereka untuk menumpahkan darah mereka dan menghalalkan perkara-perkara yang haram’ (HR Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)Jika seorang yang berakal mengamati fitnah yang meluas dan yang khusus di dunia ini, maka ia akan mendapat bahwasanya diantara sebab utamanya adalah sikap pelit dan tamak (rakus). Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :«يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ» قَالُوا: وَمَا الْهَرْجُ؟ قَالَ: «الْقَتْلُ الْقَتْلُ»“Zaman semakin mendekat, dan amal semakin sedikit, dan muncullah fitnah-fitnah, dan dilemparkanlah sifat Asy-Syuh (pelit disertai semangat mengejar dunia) di hati dan banyaklah al-Harju”. Mereka bertanya, “Apakah itu al-Harju?”, Nabi berkata, “Pembunuhan, pembunuhan” (HR Al-Bukhari)Maka sikap Asy-Syuh (pelit kelas kakap) adalah semangat untuk mengejar dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berakta,مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّى أخْشَى عَلَيْكُمْ أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُم كَمَا أهْلَكَتْهُمْ“Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi dibentangkannya dunia pada kalian lalu kalian berlomba untuk memperebutkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba memperebutkannya, maka dunia tersebut membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka’Dan jika engkau telah mengetahui makna dari “pelit” maka engkau berusaha untuk menghindarinya. Dan engkau telah mengetahui bahwa fitnahnya penyakit ini yang telah menjadikan hati menjadi mati adalah sikap Asy-Syuh (pelit) yaitu tamak (rakus) dan semangat untuk meraih apa yang ada di tangan orang lain, dan berusaha dengan berbagai macam cara ditempuh untuk memilikinya di tanganmu, demikian hak-hak orang lain yang wajib yang ada ditanganmu kau tahan dan tidak kau tunaikan kepada mereka. Dan ini merupakan sifat yang paling buruk, maka Asy-Syuh lebih parah daripada hanya sekedar “kikir/pelit”, dan Asy-Syuh merupakan sebab terputusnya silaturahmi, melanggar hak-hak orang lain, dan menumpahkan darah orang lain, dan menahan hak-hak orang lain yang wajib untuk ditunaikan kepada mereka yang berhak menerimanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam“Waspadalah kalian dari penyakit Asy-Syuh, karena ia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Asy-Syuh telah memerintahkan mereka untuk berbuat dzolim maka merekapun menzolimi, memerintahkan mereka untuk berbuat fajir (maksiat) maka merekapun berbuat fajir, memerintahkan mereka untuk memutuskan silaturahmi maka merekapun memutuskan silaturahmi” (HR Ahmad dan Abu Dawud dari hadits Abdullah bin ‘Amr).Allah berfirmanفَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ وَٱسۡمَعُواْ وَأَطِيعُواْ وَأَنفِقُواْ خَيۡرٗا لِّأَنفُسِكُمۡۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٦Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS At-Tagobun : 16)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an.Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah yang maha perkasa, maha pengampun, yang mengetahui apa yang ada di dada manusia. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Yang Maha Penyantun dan Maha membalas kebaikan. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya, Allah mengutusnya dengan petunjuk dan cahaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya, serta orang-orang yang meneladani mereka dengan baik hingga hari kebangkitan.Selanjutnya, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, berpeganglah tali Islam dengan kuat. Hamba-hamba Allah sekalin, ketahuilah bahwasanya sehatnya hati dan bersihnya hati adalah dengan kesabaran dan keyakinan. Yaitu sabar untuk meninggalkan perkara-perkara yang haram, sabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban, dan memperbanyak menjalankan perkara-perkara yang mustahab, dan juga bersabar dalam menghadapi bencana-bencana dan perkara-perkara yang sudah ditakdirkan.Dan keyakinan akan memperkuat hati dan menolak syubhat-syubhat serta berbegai bentuk kemunafikan dan syahwat. Barangsiapa yang hatinya telah dikuasai oleh syubhat  atau syahwat hingga mati maka ia telah celaka dengan kecelakaan yang sangat besar. Allah berfirmanوَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ًٔاۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٤١Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar (QS Al-Maidah : 41)Mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh Allah adalah membersihkan dan mensucikan hati. Dan seluruh apa yang dilarang oleh Allah adalah dalam rangka untuk menjaga hati dari penyakit-penyakit.Maka wahai seorang muslim, carilah kebersihan hatimu dan sehatnya hatimu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan penyakit-penyakit hati yang tercela dan mematikan hati atau membuatnya sakit. Kalau hal ini tidak mampu untuk dikerjakan oleh seorang hamba maka tentu Allah tidak akan membebaninya dengan hal ini, dan Allah tidak akan membebani suatu jiwapun kecuali dengan apa yang mampu untuk ia lakukan. Dalam hadits Nabi bersabda :لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا“Janganlah kalian saling hasad, dan jangan saling memboikot, dan jangan saling bermusuhan” (HR Muslim dari Abu Huroiroh)Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah dan para malaikat bersolawat kepada Nabi.Diterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/

Hati Yang Bersih

(Khotbah Jum’ah Masjid Nabawi 15 Shafar 1437 H)Oleh: Asy-Syaikh Al-Hudzaifi hafizohullahSegala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang shalih, Dia memberikan bimbingan taufiq kepada siapa saja yang dikehendakiNya atas anugerahNya dan rahmatNya sehingga jadilah orang tersebut beruntung. Dia biarkan orang yang dikehendakiNya mengurus dirinya sendiri atas keadilanNya dan kebijaksanaanNya sehingga orang tersebut menempuh selain jalur orang-orang yang beriman. Aku memuji Tuhanku, berterima kasih dan bertobat kepadaNya serta memohon ampunanNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, Tuhan Yang Maha Benar dan Nyata. Aku bersaksi bahwa junjungan kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya, yang senantasa benar janjinya dan terpercaya amanatnya. Ya Allah ! curahkanlah rahmat kasih sayang dan doa keselamatan serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh pengikutnya !Selanjutnya..Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah memasukkan kalian ke dalam rahmatNya dan menyelamatkan kalian dari murkaNya dan sanksi hukumanNya. Sungguh beruntung orang yang bertakwa dan merugi orang yang berdusta dan melampaui batas.Para hamba Allah ! setiap orang berusaha untuk meraih kebahagiaan abadi dan kehidupan yang memuaskan hati. Ada di antara manusia yang memang mendapatkan bimbingan Tuhan untuk menempuh jalanNya sehingga Allah memberinya kebahagiaan yang abadi dan kehidupan duniawi yang memuaskan hati. Tetapi ada pula orang yang yang segala perhatiannya hanya tertuju kepada dunia dan melupakan akhiratnya sehingga Allah memberinya jatahnya dari dunia yang memang telah Allah tetapkan untuknya, namun di akhirat kelak ia tidak mendapatkan bagian apa-apa. Sedangkan jatah duniawi yang diperolehnya tidaklah jernih tanpa kekeruhan, kekalutan, gangguan dan keburukan. Firman Allah Swt :مَنْ كانَ يُرِيدُ الْعاجِلَةَ عَجَّلْنا لَهُ فِيها مَا نَشاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاها مَذْمُوماً مَدْحُوراً[ الإسراء / 18 ](Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir ) Qs Al-Isra : 18Firman Allah :وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ أَعْمى ، قالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيراً،  قالَ كَذلِكَ أَتَتْكَ آياتُنا فَنَسِيتَها وَكَذلِكَ الْيَوْمَ تُنْسى ، [ طه / 124-126 ]( Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan” ) Qs Thaha : 124-126Jika faktanya memang demikian, yaitu masing-masing orang berusaha meraih kebahagiaan duniawi dan berkerja keras meraih kebahagiaan ukhrawi yang kekal abadi sebagai kehidupan yang terbaik dan kenikmatan yang paling prima, maka perlu diketahui bahwa kebahagiaan dunia yang menyenangkan dan kebahagiaan akhirat yang kekal abadi itu tidak akan mungkin diraih kecuali dengan jiwa yang tulus dan hati yang bersih. Firman Allah :يَوْمَ لا يَنْفَعُ مالٌ وَلا بَنُونَ ،  إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  ، وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ ،  وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغاوِينَ ، [ الشعراء / 88 – 91 ]( pada hari, harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, pada hari itu, surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat ) Qs As-Syu’ara : 88-91Firman Allah  :مَنْ عَمِلَ صالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَياةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ ما كانُوا يَعْمَلُونَ  [ النحل / 97 ](Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan) Qs An-Nahl : 97Amal shalih tidak mungkin terlaksana kecuali oleh orang yang berhati ikhlas dan tulus. Firman Allah :لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً  [ الفتح / 18 ]( Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya) Qs Al-Fath : 18Artinya Allah mengetahui kemurnian iman, kesungguhan niat dan kesucian batin yang ada dalam hati mereka, yang aman dari sifat kemunafikan dan cabang-cabangnya. ( عَن عبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ    ) حديث صحيح رواه ابن ماجهAbdullah bin ‘Amru berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ; “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau menjawab: “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan tutur katanya benar.” Mereka berkata; “Tutur kata yang benar telah kami sudah mengerti, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda: “Yaitu hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezoliman, kedengkian dan hasad di dalamnya.” (Hadis shahih riwayat Ibn Majah).Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( حُرِمَ عَلَى النَّارِ كُلِّ هَيِنٍ لَيِّن قَرِيبٍ مِنَ الّناسِ ) رواه أحمد والترمذى(Diharamkan (terlindung dari neraka) setiap orang yang suka memudahkan, lemah lembut, dan akrab dengan sesama manusia ).” HR. Ahmad dan TirmiziPerhatikan wahai saudaraku sesama muslim bagaimana hati yang tulus ikhlas dan bersih itu dapat mengangkat seseorang kepada derajat yang demikian tinggi di surga, dan dapat menyelamatkannya dari neraka dan akibat yang membinasakannya.Hati yang bersih dekat dari segala kebaikan, jauh dari segala keburukan. Hati yang bersih dapat menampung semua perilaku yang baik sebagaimana tanah yang landai dapat menampung air. Hati yang baik akan mampu menolak semua perilaku kerendahan sebagaimana tempa besi dapat menghilangkan karat pada emas dan perak. Hati yang bersih dapat manaungi pemiliknya dengan rahmat Allah, perlindunganNya, penjagaanNya dan bimbinganNya.Firman Allah  :وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ ، الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلى ما أَصابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاةِ وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ  [ الحج / 34 – 35 ]) Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah, [yaitu] orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka) Qs Al-Haj : 34-35Firman Allah  :إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَى رَبِّهِمْ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  [ هود / 23 ]( Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya ) Qs Hud : 23Sikap merendakan diri kepada Allah Swt merupakan sifat yang melekat pada hati yang bersih. Ada yang menafsirkannya sebagai sikap tawadhu’ ( dalam arti patuh dan taat ) kepada Allah Swt serta merasa tenteram dalam menjalankan syariatNya dan firmanNya, pun pula merasa nyaman mengerjakan amal kebajikan dan puas dengannya. Firman Allah  :الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ النحل / 32 ]( orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan [kepada mereka]: “Salaamun´alaikum”, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan ) Qs An-Nahl : 32Yang dimaksud dengan “mereka wafat dalam keadaan baik” di sini adalah “hati yang bersih dalam keimanan”.Diriwayatkan dari Iyadh Bin Himmar radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( أَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى، وَمُسْلِمٍ، وَرَجُلٌ فَقِيرٌ عَفِيْفٌ مُتَصَدِّقٌ ) رواه ابن حبان ( Ahli surga itu ada tiga :Pertama : orang yang punya kekuasaan dan berlaku adil serta mau bersedekah atas pertolongan Allah.Kedua ; orang yang di dalam hatinya terdapat rasa belas kasihan kepada sanak saudara dan sesama muslim.Ketiga  : orang miskin yang mampu menjaga harga dirinya [dari meminta-minta], dan ia-pun masih mau bersedekah ) HR Ibnu Hibban.Hati yang bersih punya sifat dan ciri khas tertentu, yang paling menonjol dan terpenting ialah terbebasnya hati seseorang dari kemusyrikan besar ( syirik akbar ) dan kecil ( syirik asghar ) beserta cabang-cabangnya, juga terhindarnya dosa-dosa besar dan kecil, terjauhkan dari sifat-sifat tercela dan perilaku nista, seperti kikir, terlampau pelit, iri hati, dengki, sombong, menipu, curang, khianat, tipu muslihat, dusta dan sifat-sifat hati tak terpuji lainnya. Di samping itu, hati yang bersih pemiliknya selalu menjalankan kewajiban dan memperbanyak ibadah sunah serta menghindari hal-hal yang makruh.Adapun sebaik-baik karakter dan sifat hati yang bersih dan yang paling tinggi tingkat kesuciannya ialah sebagaimana yang sifat-sifat hati bersih yang disandang oleh para Nabi –alaihimussalam- .Firman Allah mengkisahkan rasul kekasihNya, Ibrahim a.s.  :وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْراهِيمَ ، إِذْ جاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  [ الصافات / 83-84 ](Dan sesungguhnya benar-benar termasuk golongannya [Nuh] adalah Ibrahim. ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci) Qs Ash-Shafat: 83-84Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ   ) رواه أبو داود والترمذى( Tidaklah seseorang di antara sahabat-sahabatku yang menyampaikan sesuatu kepadaku dari seseorang, [melainkan] aku sungguh senang jika aku keluar menemui kalian sementara aku dalam keadaan hati yang bersih) HR Abu Dawud dan Tirmizi.Dari Syaddad Bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kami doa ini :( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ، وَالعَزِيمَةَ على الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا سَلِيمًا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوبِ )رواه أحمد والترمذى والنسائي(Ya Allah, aku mohon kepadaMu ketetapan hati dalam segala urusan dan keteguhan kehendak menuju kebenaran. Dan aku memohon agar aku dapat mensyukuri nikmatMu dan beribadah kepadaMu dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, aku memohon kepadaMu tutur kata yang benar, hati yang bersih, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan apa yang Engkau ketahui, aku memohon kepadaMu kebaikan dari apa yang Engkau ketahui, aku memohon ampun kepadaMu dari apapun yang Engkau ketahui, sesungguhnya hanya Engkau jualah yang Maha Mengetahui yang ghaib). HR Ahmad, Tirmizi dan Nasai.Sebaik-baik kondisi hati, yang paling sempurna dan paling tinggi derajatnya adalah bersihnya hati dan baiknya hati. Dan kesempurnaan bersihnya hati bertingkat-tingkat. Maka barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam meneladani para nabi –’alaihimus salam- maka ia akan meraih kebersihan hati sesuai kadar keteladanannya. Barangsiapa yang mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengan sunnahnya yang mulia maka ia telah dibimbing kepada petunjuk yang terbaik, amal dan keyakinan yang terbaik. Dan Allah akan menganugerahkan kepadanya hati yang bersih sebagaimana Allah menganugerahkan hati yang bersih kepada para sahabat yang meneladani petunjuk Nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengannya. Allah berfiman :وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ´mencintai´ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada hasad dalam dada mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada kaum muhajirin; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (QS Al-Hasyr : 9)Dan orang-orang kemudian yang mengikuti para sahabat dengan baik mereka diberikan hati yang bersih juga. Allah berfirmanوَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ ١٠Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hasyr : 10)          Hati yang bersih ganjarannya adalah surga (di akhirat) dan tubuh yang sehat di dunia. Dari Anas r.a ia berkata :كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun berkata : “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga”. Maka munculah seseorang dari kaum Anshoor, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, “Silahkan”.Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya :وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ“Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aaash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh. Abdullah bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Orang itu berkata : “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat”. Abdullah bertutur : “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”. Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampui” (HR Ahmad, Ibnu Katsir berkata : Ini sanadnya shahih)Jika seorang muslim bersungguh-sungguh untuk meraih dan melakukan sebab-sebab bersihnya hati dan akhirnya ia meraih kedudukan yang tinggi ini maka sungguh dia telah menang dan beruntung dan ia akan menjalani hidup di dunia dengan sehat (selamat) dan Allah akan menjamin baginya derajat yang tinggi di akhirat. Ia akan dibimbing oleh Allah untuk menasehati dan ia terlepas dari penipuan, maka iapun melakukan yang terbaik kepada Allah, kepada kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan kepada keumuman kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Agama adalah nasehat (sebanyak 3 kali). Para sahabat bertanya, “Nasehat untuk siapa”, Nabi berkata, “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan keumuman kaum muslimin” (HR Muslim dari sahabat Tamim Ad-Dary).Dan bentuk nasehat kepada Allah adalah beribadah kepadanya dengan ikhlas, dan nasehat kepada kitabNya adalah mempelajarinya dan mengajarkannya serta mengamalkannya. Nasahat kepada RasulNya adalah dengan mengikuti sunnahnya dan berdakwah kepada sunnahnya. Nasehat kepada para pemimpin (penguasa) adalah dengan tidak memberontak kepada mereka serta membantu mereka dalam menjalankan beban amanah yang dipikul oleh mereka. Nasehat bagi kaum muslimin adalah dengan menunaikan hak-hak mereka, menjaganya, dan memberi pelajaran bagi mereka serta menyumbangkan kebaikan bagi mereka dan menahan diri dari berbuat keburukan terhadap mereka. Barangsiapa yang sempurna bersihnya hatinya maka ia menyukai bagi kaum muslimin apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri, dan ia akan diselamatkan dari sifat pelit sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Anas)Ibnu Rojab berkata tentang hadits ini : “Hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin membahagiakannya apa yang membahagiakan saudaranya seiman, dan ia ingin untuk saudaranya tersebut kebaikan yang ia inginkan untuk dirinya. Ini semuanya timbul dari sempurnanya bersihnya hati dari dengki, jahat, dan hasad. Karena hasad melazimkan orang yang hasad benci seorangpun mengunggulinya atau menyamainya dalam perkara kebaikan, karena ia maunya menjadi spesial di hadapan manusia dengan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya dan ia ingin menjadi sendirian yang istimewa diantara mereka. Dan keimanan melazimkan lawan dari yang demikian ini, yaitu dia ingin kaum mukminin seluruhnya ikut merasakan kebaikan yang Allah anugrahkan kepadanya tanpa mengurangi kebaikan tersebut darinya.”Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata :إِنِّي لَأَمُرُّ بِالآيَةِ فَأَعْلَمُ مِنْهَا مَا أَعْلَمُ فَأَتَمَنَّى أَنَّ كُلَّ مُسْلِمٍ يَعْلَمُ مِنْهَا مَا عَلِمْتُSesungguhnya aku membaca sebuah ayat lalu mengetahui ilmu dari ayat tersebut maka akupun berangan-angan agar semua muslim mengetahui ilmu tentang ayat tersebut”Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :وَدِدْتُ أَنَّ النَّاسَ تَعَلَّمُوا هَذَا الْعِلْمَ وَلَمْ يُنْسَبْ إِلَيَّ مِنْهُ شَيْئٌ“Aku ingin orang-orang mempelajari ilmu (ku) ini lalu tidak dinisbahkan kepadaku sedikitpun dari ilmu tersebut”Dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan seluruh hartanya demi kemaslahatan kaum muslimin, dan Umar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan setengah hartanya.Dan diantara dampak dari hati yang bersih adalah sikap memaafkan, mengalah, sabar, dan lemah lembut terhadap kaum muslimin. Dan Nabi shallallahu ‘alihi wasallam telah memuji Abu Dhomdhom karena hal tersebut. Jika beliau di pagi hari beliau berkata :اللَّهُمَّ لاَ مَالَ لِي لِأَتَصَدَّقَ بِهِ عَلَى النَّاسِ، وَقَدْ تَصَدَّقْتُ عَلَيْهِمْ بِشَتْمِ عِرْضِي، فَمَنْ شَتَمَنِي أَوْ قَذَفَنِي فَهُوَ حِلٌّ“Ya Allah sesungguhnya aku tidak memiliki harta untuk bersedekah dengannya kepada orang-orang, dan aku telah bersedekah kepada mereka dengan cacian terhadap harga diriku, maka barangsiapa yang mencaci maki aku atau menuduhku (dengan tuduhan tidak benar) maka ia telah aku halalkan”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَنْ يَسْتَطِيْعُ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ كَأَبِي ضَمْضَمَ؟“Siapa diantara kalian yang mampu seperti Abu Dhomdhom?” (HR Al-Hakim, Ibnu Abdilbar, dan Al-Bazzar, dan hadits ini hasan”Dan lawan dari hati yang bersih adalah hati yang sakit dengan berbagai macam penyakit yang dibenci dan tercela. Diantara penyakit hati yang  paling parah adalah pelit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya dari penyakit ini, beliau berkata :اتَّقُوا الظُّلْمَ؛ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، وَحَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ“Waspadalah kalian dari perbuatan menzolimi karena kezoliman adalah kegelapan yang bertumpuk-tumpuk pada hari qiamat, dan jauhilah kalian dari pelit, karena sikap pelit telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, sikap pelit ini mengantarkan mereka untuk menumpahkan darah mereka dan menghalalkan perkara-perkara yang haram’ (HR Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)Jika seorang yang berakal mengamati fitnah yang meluas dan yang khusus di dunia ini, maka ia akan mendapat bahwasanya diantara sebab utamanya adalah sikap pelit dan tamak (rakus). Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :«يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ» قَالُوا: وَمَا الْهَرْجُ؟ قَالَ: «الْقَتْلُ الْقَتْلُ»“Zaman semakin mendekat, dan amal semakin sedikit, dan muncullah fitnah-fitnah, dan dilemparkanlah sifat Asy-Syuh (pelit disertai semangat mengejar dunia) di hati dan banyaklah al-Harju”. Mereka bertanya, “Apakah itu al-Harju?”, Nabi berkata, “Pembunuhan, pembunuhan” (HR Al-Bukhari)Maka sikap Asy-Syuh (pelit kelas kakap) adalah semangat untuk mengejar dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berakta,مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّى أخْشَى عَلَيْكُمْ أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُم كَمَا أهْلَكَتْهُمْ“Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi dibentangkannya dunia pada kalian lalu kalian berlomba untuk memperebutkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba memperebutkannya, maka dunia tersebut membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka’Dan jika engkau telah mengetahui makna dari “pelit” maka engkau berusaha untuk menghindarinya. Dan engkau telah mengetahui bahwa fitnahnya penyakit ini yang telah menjadikan hati menjadi mati adalah sikap Asy-Syuh (pelit) yaitu tamak (rakus) dan semangat untuk meraih apa yang ada di tangan orang lain, dan berusaha dengan berbagai macam cara ditempuh untuk memilikinya di tanganmu, demikian hak-hak orang lain yang wajib yang ada ditanganmu kau tahan dan tidak kau tunaikan kepada mereka. Dan ini merupakan sifat yang paling buruk, maka Asy-Syuh lebih parah daripada hanya sekedar “kikir/pelit”, dan Asy-Syuh merupakan sebab terputusnya silaturahmi, melanggar hak-hak orang lain, dan menumpahkan darah orang lain, dan menahan hak-hak orang lain yang wajib untuk ditunaikan kepada mereka yang berhak menerimanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam“Waspadalah kalian dari penyakit Asy-Syuh, karena ia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Asy-Syuh telah memerintahkan mereka untuk berbuat dzolim maka merekapun menzolimi, memerintahkan mereka untuk berbuat fajir (maksiat) maka merekapun berbuat fajir, memerintahkan mereka untuk memutuskan silaturahmi maka merekapun memutuskan silaturahmi” (HR Ahmad dan Abu Dawud dari hadits Abdullah bin ‘Amr).Allah berfirmanفَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ وَٱسۡمَعُواْ وَأَطِيعُواْ وَأَنفِقُواْ خَيۡرٗا لِّأَنفُسِكُمۡۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٦Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS At-Tagobun : 16)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an.Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah yang maha perkasa, maha pengampun, yang mengetahui apa yang ada di dada manusia. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Yang Maha Penyantun dan Maha membalas kebaikan. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya, Allah mengutusnya dengan petunjuk dan cahaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya, serta orang-orang yang meneladani mereka dengan baik hingga hari kebangkitan.Selanjutnya, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, berpeganglah tali Islam dengan kuat. Hamba-hamba Allah sekalin, ketahuilah bahwasanya sehatnya hati dan bersihnya hati adalah dengan kesabaran dan keyakinan. Yaitu sabar untuk meninggalkan perkara-perkara yang haram, sabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban, dan memperbanyak menjalankan perkara-perkara yang mustahab, dan juga bersabar dalam menghadapi bencana-bencana dan perkara-perkara yang sudah ditakdirkan.Dan keyakinan akan memperkuat hati dan menolak syubhat-syubhat serta berbegai bentuk kemunafikan dan syahwat. Barangsiapa yang hatinya telah dikuasai oleh syubhat  atau syahwat hingga mati maka ia telah celaka dengan kecelakaan yang sangat besar. Allah berfirmanوَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ًٔاۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٤١Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar (QS Al-Maidah : 41)Mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh Allah adalah membersihkan dan mensucikan hati. Dan seluruh apa yang dilarang oleh Allah adalah dalam rangka untuk menjaga hati dari penyakit-penyakit.Maka wahai seorang muslim, carilah kebersihan hatimu dan sehatnya hatimu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan penyakit-penyakit hati yang tercela dan mematikan hati atau membuatnya sakit. Kalau hal ini tidak mampu untuk dikerjakan oleh seorang hamba maka tentu Allah tidak akan membebaninya dengan hal ini, dan Allah tidak akan membebani suatu jiwapun kecuali dengan apa yang mampu untuk ia lakukan. Dalam hadits Nabi bersabda :لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا“Janganlah kalian saling hasad, dan jangan saling memboikot, dan jangan saling bermusuhan” (HR Muslim dari Abu Huroiroh)Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah dan para malaikat bersolawat kepada Nabi.Diterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/
(Khotbah Jum’ah Masjid Nabawi 15 Shafar 1437 H)Oleh: Asy-Syaikh Al-Hudzaifi hafizohullahSegala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang shalih, Dia memberikan bimbingan taufiq kepada siapa saja yang dikehendakiNya atas anugerahNya dan rahmatNya sehingga jadilah orang tersebut beruntung. Dia biarkan orang yang dikehendakiNya mengurus dirinya sendiri atas keadilanNya dan kebijaksanaanNya sehingga orang tersebut menempuh selain jalur orang-orang yang beriman. Aku memuji Tuhanku, berterima kasih dan bertobat kepadaNya serta memohon ampunanNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, Tuhan Yang Maha Benar dan Nyata. Aku bersaksi bahwa junjungan kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya, yang senantasa benar janjinya dan terpercaya amanatnya. Ya Allah ! curahkanlah rahmat kasih sayang dan doa keselamatan serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh pengikutnya !Selanjutnya..Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah memasukkan kalian ke dalam rahmatNya dan menyelamatkan kalian dari murkaNya dan sanksi hukumanNya. Sungguh beruntung orang yang bertakwa dan merugi orang yang berdusta dan melampaui batas.Para hamba Allah ! setiap orang berusaha untuk meraih kebahagiaan abadi dan kehidupan yang memuaskan hati. Ada di antara manusia yang memang mendapatkan bimbingan Tuhan untuk menempuh jalanNya sehingga Allah memberinya kebahagiaan yang abadi dan kehidupan duniawi yang memuaskan hati. Tetapi ada pula orang yang yang segala perhatiannya hanya tertuju kepada dunia dan melupakan akhiratnya sehingga Allah memberinya jatahnya dari dunia yang memang telah Allah tetapkan untuknya, namun di akhirat kelak ia tidak mendapatkan bagian apa-apa. Sedangkan jatah duniawi yang diperolehnya tidaklah jernih tanpa kekeruhan, kekalutan, gangguan dan keburukan. Firman Allah Swt :مَنْ كانَ يُرِيدُ الْعاجِلَةَ عَجَّلْنا لَهُ فِيها مَا نَشاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاها مَذْمُوماً مَدْحُوراً[ الإسراء / 18 ](Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir ) Qs Al-Isra : 18Firman Allah :وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ أَعْمى ، قالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيراً،  قالَ كَذلِكَ أَتَتْكَ آياتُنا فَنَسِيتَها وَكَذلِكَ الْيَوْمَ تُنْسى ، [ طه / 124-126 ]( Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan” ) Qs Thaha : 124-126Jika faktanya memang demikian, yaitu masing-masing orang berusaha meraih kebahagiaan duniawi dan berkerja keras meraih kebahagiaan ukhrawi yang kekal abadi sebagai kehidupan yang terbaik dan kenikmatan yang paling prima, maka perlu diketahui bahwa kebahagiaan dunia yang menyenangkan dan kebahagiaan akhirat yang kekal abadi itu tidak akan mungkin diraih kecuali dengan jiwa yang tulus dan hati yang bersih. Firman Allah :يَوْمَ لا يَنْفَعُ مالٌ وَلا بَنُونَ ،  إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  ، وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ ،  وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغاوِينَ ، [ الشعراء / 88 – 91 ]( pada hari, harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, pada hari itu, surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat ) Qs As-Syu’ara : 88-91Firman Allah  :مَنْ عَمِلَ صالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَياةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ ما كانُوا يَعْمَلُونَ  [ النحل / 97 ](Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan) Qs An-Nahl : 97Amal shalih tidak mungkin terlaksana kecuali oleh orang yang berhati ikhlas dan tulus. Firman Allah :لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً  [ الفتح / 18 ]( Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya) Qs Al-Fath : 18Artinya Allah mengetahui kemurnian iman, kesungguhan niat dan kesucian batin yang ada dalam hati mereka, yang aman dari sifat kemunafikan dan cabang-cabangnya. ( عَن عبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ    ) حديث صحيح رواه ابن ماجهAbdullah bin ‘Amru berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ; “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau menjawab: “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan tutur katanya benar.” Mereka berkata; “Tutur kata yang benar telah kami sudah mengerti, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda: “Yaitu hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezoliman, kedengkian dan hasad di dalamnya.” (Hadis shahih riwayat Ibn Majah).Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( حُرِمَ عَلَى النَّارِ كُلِّ هَيِنٍ لَيِّن قَرِيبٍ مِنَ الّناسِ ) رواه أحمد والترمذى(Diharamkan (terlindung dari neraka) setiap orang yang suka memudahkan, lemah lembut, dan akrab dengan sesama manusia ).” HR. Ahmad dan TirmiziPerhatikan wahai saudaraku sesama muslim bagaimana hati yang tulus ikhlas dan bersih itu dapat mengangkat seseorang kepada derajat yang demikian tinggi di surga, dan dapat menyelamatkannya dari neraka dan akibat yang membinasakannya.Hati yang bersih dekat dari segala kebaikan, jauh dari segala keburukan. Hati yang bersih dapat menampung semua perilaku yang baik sebagaimana tanah yang landai dapat menampung air. Hati yang baik akan mampu menolak semua perilaku kerendahan sebagaimana tempa besi dapat menghilangkan karat pada emas dan perak. Hati yang bersih dapat manaungi pemiliknya dengan rahmat Allah, perlindunganNya, penjagaanNya dan bimbinganNya.Firman Allah  :وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ ، الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلى ما أَصابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاةِ وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ  [ الحج / 34 – 35 ]) Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah, [yaitu] orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka) Qs Al-Haj : 34-35Firman Allah  :إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَى رَبِّهِمْ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  [ هود / 23 ]( Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya ) Qs Hud : 23Sikap merendakan diri kepada Allah Swt merupakan sifat yang melekat pada hati yang bersih. Ada yang menafsirkannya sebagai sikap tawadhu’ ( dalam arti patuh dan taat ) kepada Allah Swt serta merasa tenteram dalam menjalankan syariatNya dan firmanNya, pun pula merasa nyaman mengerjakan amal kebajikan dan puas dengannya. Firman Allah  :الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ النحل / 32 ]( orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan [kepada mereka]: “Salaamun´alaikum”, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan ) Qs An-Nahl : 32Yang dimaksud dengan “mereka wafat dalam keadaan baik” di sini adalah “hati yang bersih dalam keimanan”.Diriwayatkan dari Iyadh Bin Himmar radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( أَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى، وَمُسْلِمٍ، وَرَجُلٌ فَقِيرٌ عَفِيْفٌ مُتَصَدِّقٌ ) رواه ابن حبان ( Ahli surga itu ada tiga :Pertama : orang yang punya kekuasaan dan berlaku adil serta mau bersedekah atas pertolongan Allah.Kedua ; orang yang di dalam hatinya terdapat rasa belas kasihan kepada sanak saudara dan sesama muslim.Ketiga  : orang miskin yang mampu menjaga harga dirinya [dari meminta-minta], dan ia-pun masih mau bersedekah ) HR Ibnu Hibban.Hati yang bersih punya sifat dan ciri khas tertentu, yang paling menonjol dan terpenting ialah terbebasnya hati seseorang dari kemusyrikan besar ( syirik akbar ) dan kecil ( syirik asghar ) beserta cabang-cabangnya, juga terhindarnya dosa-dosa besar dan kecil, terjauhkan dari sifat-sifat tercela dan perilaku nista, seperti kikir, terlampau pelit, iri hati, dengki, sombong, menipu, curang, khianat, tipu muslihat, dusta dan sifat-sifat hati tak terpuji lainnya. Di samping itu, hati yang bersih pemiliknya selalu menjalankan kewajiban dan memperbanyak ibadah sunah serta menghindari hal-hal yang makruh.Adapun sebaik-baik karakter dan sifat hati yang bersih dan yang paling tinggi tingkat kesuciannya ialah sebagaimana yang sifat-sifat hati bersih yang disandang oleh para Nabi –alaihimussalam- .Firman Allah mengkisahkan rasul kekasihNya, Ibrahim a.s.  :وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْراهِيمَ ، إِذْ جاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  [ الصافات / 83-84 ](Dan sesungguhnya benar-benar termasuk golongannya [Nuh] adalah Ibrahim. ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci) Qs Ash-Shafat: 83-84Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ   ) رواه أبو داود والترمذى( Tidaklah seseorang di antara sahabat-sahabatku yang menyampaikan sesuatu kepadaku dari seseorang, [melainkan] aku sungguh senang jika aku keluar menemui kalian sementara aku dalam keadaan hati yang bersih) HR Abu Dawud dan Tirmizi.Dari Syaddad Bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kami doa ini :( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ، وَالعَزِيمَةَ على الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا سَلِيمًا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوبِ )رواه أحمد والترمذى والنسائي(Ya Allah, aku mohon kepadaMu ketetapan hati dalam segala urusan dan keteguhan kehendak menuju kebenaran. Dan aku memohon agar aku dapat mensyukuri nikmatMu dan beribadah kepadaMu dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, aku memohon kepadaMu tutur kata yang benar, hati yang bersih, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan apa yang Engkau ketahui, aku memohon kepadaMu kebaikan dari apa yang Engkau ketahui, aku memohon ampun kepadaMu dari apapun yang Engkau ketahui, sesungguhnya hanya Engkau jualah yang Maha Mengetahui yang ghaib). HR Ahmad, Tirmizi dan Nasai.Sebaik-baik kondisi hati, yang paling sempurna dan paling tinggi derajatnya adalah bersihnya hati dan baiknya hati. Dan kesempurnaan bersihnya hati bertingkat-tingkat. Maka barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam meneladani para nabi –’alaihimus salam- maka ia akan meraih kebersihan hati sesuai kadar keteladanannya. Barangsiapa yang mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengan sunnahnya yang mulia maka ia telah dibimbing kepada petunjuk yang terbaik, amal dan keyakinan yang terbaik. Dan Allah akan menganugerahkan kepadanya hati yang bersih sebagaimana Allah menganugerahkan hati yang bersih kepada para sahabat yang meneladani petunjuk Nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengannya. Allah berfiman :وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ´mencintai´ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada hasad dalam dada mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada kaum muhajirin; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (QS Al-Hasyr : 9)Dan orang-orang kemudian yang mengikuti para sahabat dengan baik mereka diberikan hati yang bersih juga. Allah berfirmanوَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ ١٠Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hasyr : 10)          Hati yang bersih ganjarannya adalah surga (di akhirat) dan tubuh yang sehat di dunia. Dari Anas r.a ia berkata :كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun berkata : “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga”. Maka munculah seseorang dari kaum Anshoor, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, “Silahkan”.Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya :وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ“Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aaash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh. Abdullah bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Orang itu berkata : “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat”. Abdullah bertutur : “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”. Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampui” (HR Ahmad, Ibnu Katsir berkata : Ini sanadnya shahih)Jika seorang muslim bersungguh-sungguh untuk meraih dan melakukan sebab-sebab bersihnya hati dan akhirnya ia meraih kedudukan yang tinggi ini maka sungguh dia telah menang dan beruntung dan ia akan menjalani hidup di dunia dengan sehat (selamat) dan Allah akan menjamin baginya derajat yang tinggi di akhirat. Ia akan dibimbing oleh Allah untuk menasehati dan ia terlepas dari penipuan, maka iapun melakukan yang terbaik kepada Allah, kepada kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan kepada keumuman kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Agama adalah nasehat (sebanyak 3 kali). Para sahabat bertanya, “Nasehat untuk siapa”, Nabi berkata, “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan keumuman kaum muslimin” (HR Muslim dari sahabat Tamim Ad-Dary).Dan bentuk nasehat kepada Allah adalah beribadah kepadanya dengan ikhlas, dan nasehat kepada kitabNya adalah mempelajarinya dan mengajarkannya serta mengamalkannya. Nasahat kepada RasulNya adalah dengan mengikuti sunnahnya dan berdakwah kepada sunnahnya. Nasehat kepada para pemimpin (penguasa) adalah dengan tidak memberontak kepada mereka serta membantu mereka dalam menjalankan beban amanah yang dipikul oleh mereka. Nasehat bagi kaum muslimin adalah dengan menunaikan hak-hak mereka, menjaganya, dan memberi pelajaran bagi mereka serta menyumbangkan kebaikan bagi mereka dan menahan diri dari berbuat keburukan terhadap mereka. Barangsiapa yang sempurna bersihnya hatinya maka ia menyukai bagi kaum muslimin apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri, dan ia akan diselamatkan dari sifat pelit sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Anas)Ibnu Rojab berkata tentang hadits ini : “Hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin membahagiakannya apa yang membahagiakan saudaranya seiman, dan ia ingin untuk saudaranya tersebut kebaikan yang ia inginkan untuk dirinya. Ini semuanya timbul dari sempurnanya bersihnya hati dari dengki, jahat, dan hasad. Karena hasad melazimkan orang yang hasad benci seorangpun mengunggulinya atau menyamainya dalam perkara kebaikan, karena ia maunya menjadi spesial di hadapan manusia dengan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya dan ia ingin menjadi sendirian yang istimewa diantara mereka. Dan keimanan melazimkan lawan dari yang demikian ini, yaitu dia ingin kaum mukminin seluruhnya ikut merasakan kebaikan yang Allah anugrahkan kepadanya tanpa mengurangi kebaikan tersebut darinya.”Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata :إِنِّي لَأَمُرُّ بِالآيَةِ فَأَعْلَمُ مِنْهَا مَا أَعْلَمُ فَأَتَمَنَّى أَنَّ كُلَّ مُسْلِمٍ يَعْلَمُ مِنْهَا مَا عَلِمْتُSesungguhnya aku membaca sebuah ayat lalu mengetahui ilmu dari ayat tersebut maka akupun berangan-angan agar semua muslim mengetahui ilmu tentang ayat tersebut”Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :وَدِدْتُ أَنَّ النَّاسَ تَعَلَّمُوا هَذَا الْعِلْمَ وَلَمْ يُنْسَبْ إِلَيَّ مِنْهُ شَيْئٌ“Aku ingin orang-orang mempelajari ilmu (ku) ini lalu tidak dinisbahkan kepadaku sedikitpun dari ilmu tersebut”Dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan seluruh hartanya demi kemaslahatan kaum muslimin, dan Umar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan setengah hartanya.Dan diantara dampak dari hati yang bersih adalah sikap memaafkan, mengalah, sabar, dan lemah lembut terhadap kaum muslimin. Dan Nabi shallallahu ‘alihi wasallam telah memuji Abu Dhomdhom karena hal tersebut. Jika beliau di pagi hari beliau berkata :اللَّهُمَّ لاَ مَالَ لِي لِأَتَصَدَّقَ بِهِ عَلَى النَّاسِ، وَقَدْ تَصَدَّقْتُ عَلَيْهِمْ بِشَتْمِ عِرْضِي، فَمَنْ شَتَمَنِي أَوْ قَذَفَنِي فَهُوَ حِلٌّ“Ya Allah sesungguhnya aku tidak memiliki harta untuk bersedekah dengannya kepada orang-orang, dan aku telah bersedekah kepada mereka dengan cacian terhadap harga diriku, maka barangsiapa yang mencaci maki aku atau menuduhku (dengan tuduhan tidak benar) maka ia telah aku halalkan”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَنْ يَسْتَطِيْعُ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ كَأَبِي ضَمْضَمَ؟“Siapa diantara kalian yang mampu seperti Abu Dhomdhom?” (HR Al-Hakim, Ibnu Abdilbar, dan Al-Bazzar, dan hadits ini hasan”Dan lawan dari hati yang bersih adalah hati yang sakit dengan berbagai macam penyakit yang dibenci dan tercela. Diantara penyakit hati yang  paling parah adalah pelit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya dari penyakit ini, beliau berkata :اتَّقُوا الظُّلْمَ؛ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، وَحَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ“Waspadalah kalian dari perbuatan menzolimi karena kezoliman adalah kegelapan yang bertumpuk-tumpuk pada hari qiamat, dan jauhilah kalian dari pelit, karena sikap pelit telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, sikap pelit ini mengantarkan mereka untuk menumpahkan darah mereka dan menghalalkan perkara-perkara yang haram’ (HR Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)Jika seorang yang berakal mengamati fitnah yang meluas dan yang khusus di dunia ini, maka ia akan mendapat bahwasanya diantara sebab utamanya adalah sikap pelit dan tamak (rakus). Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :«يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ» قَالُوا: وَمَا الْهَرْجُ؟ قَالَ: «الْقَتْلُ الْقَتْلُ»“Zaman semakin mendekat, dan amal semakin sedikit, dan muncullah fitnah-fitnah, dan dilemparkanlah sifat Asy-Syuh (pelit disertai semangat mengejar dunia) di hati dan banyaklah al-Harju”. Mereka bertanya, “Apakah itu al-Harju?”, Nabi berkata, “Pembunuhan, pembunuhan” (HR Al-Bukhari)Maka sikap Asy-Syuh (pelit kelas kakap) adalah semangat untuk mengejar dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berakta,مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّى أخْشَى عَلَيْكُمْ أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُم كَمَا أهْلَكَتْهُمْ“Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi dibentangkannya dunia pada kalian lalu kalian berlomba untuk memperebutkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba memperebutkannya, maka dunia tersebut membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka’Dan jika engkau telah mengetahui makna dari “pelit” maka engkau berusaha untuk menghindarinya. Dan engkau telah mengetahui bahwa fitnahnya penyakit ini yang telah menjadikan hati menjadi mati adalah sikap Asy-Syuh (pelit) yaitu tamak (rakus) dan semangat untuk meraih apa yang ada di tangan orang lain, dan berusaha dengan berbagai macam cara ditempuh untuk memilikinya di tanganmu, demikian hak-hak orang lain yang wajib yang ada ditanganmu kau tahan dan tidak kau tunaikan kepada mereka. Dan ini merupakan sifat yang paling buruk, maka Asy-Syuh lebih parah daripada hanya sekedar “kikir/pelit”, dan Asy-Syuh merupakan sebab terputusnya silaturahmi, melanggar hak-hak orang lain, dan menumpahkan darah orang lain, dan menahan hak-hak orang lain yang wajib untuk ditunaikan kepada mereka yang berhak menerimanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam“Waspadalah kalian dari penyakit Asy-Syuh, karena ia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Asy-Syuh telah memerintahkan mereka untuk berbuat dzolim maka merekapun menzolimi, memerintahkan mereka untuk berbuat fajir (maksiat) maka merekapun berbuat fajir, memerintahkan mereka untuk memutuskan silaturahmi maka merekapun memutuskan silaturahmi” (HR Ahmad dan Abu Dawud dari hadits Abdullah bin ‘Amr).Allah berfirmanفَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ وَٱسۡمَعُواْ وَأَطِيعُواْ وَأَنفِقُواْ خَيۡرٗا لِّأَنفُسِكُمۡۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٦Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS At-Tagobun : 16)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an.Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah yang maha perkasa, maha pengampun, yang mengetahui apa yang ada di dada manusia. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Yang Maha Penyantun dan Maha membalas kebaikan. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya, Allah mengutusnya dengan petunjuk dan cahaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya, serta orang-orang yang meneladani mereka dengan baik hingga hari kebangkitan.Selanjutnya, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, berpeganglah tali Islam dengan kuat. Hamba-hamba Allah sekalin, ketahuilah bahwasanya sehatnya hati dan bersihnya hati adalah dengan kesabaran dan keyakinan. Yaitu sabar untuk meninggalkan perkara-perkara yang haram, sabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban, dan memperbanyak menjalankan perkara-perkara yang mustahab, dan juga bersabar dalam menghadapi bencana-bencana dan perkara-perkara yang sudah ditakdirkan.Dan keyakinan akan memperkuat hati dan menolak syubhat-syubhat serta berbegai bentuk kemunafikan dan syahwat. Barangsiapa yang hatinya telah dikuasai oleh syubhat  atau syahwat hingga mati maka ia telah celaka dengan kecelakaan yang sangat besar. Allah berfirmanوَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ًٔاۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٤١Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar (QS Al-Maidah : 41)Mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh Allah adalah membersihkan dan mensucikan hati. Dan seluruh apa yang dilarang oleh Allah adalah dalam rangka untuk menjaga hati dari penyakit-penyakit.Maka wahai seorang muslim, carilah kebersihan hatimu dan sehatnya hatimu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan penyakit-penyakit hati yang tercela dan mematikan hati atau membuatnya sakit. Kalau hal ini tidak mampu untuk dikerjakan oleh seorang hamba maka tentu Allah tidak akan membebaninya dengan hal ini, dan Allah tidak akan membebani suatu jiwapun kecuali dengan apa yang mampu untuk ia lakukan. Dalam hadits Nabi bersabda :لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا“Janganlah kalian saling hasad, dan jangan saling memboikot, dan jangan saling bermusuhan” (HR Muslim dari Abu Huroiroh)Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah dan para malaikat bersolawat kepada Nabi.Diterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/


(Khotbah Jum’ah Masjid Nabawi 15 Shafar 1437 H)Oleh: Asy-Syaikh Al-Hudzaifi hafizohullahSegala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang shalih, Dia memberikan bimbingan taufiq kepada siapa saja yang dikehendakiNya atas anugerahNya dan rahmatNya sehingga jadilah orang tersebut beruntung. Dia biarkan orang yang dikehendakiNya mengurus dirinya sendiri atas keadilanNya dan kebijaksanaanNya sehingga orang tersebut menempuh selain jalur orang-orang yang beriman. Aku memuji Tuhanku, berterima kasih dan bertobat kepadaNya serta memohon ampunanNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, Tuhan Yang Maha Benar dan Nyata. Aku bersaksi bahwa junjungan kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya, yang senantasa benar janjinya dan terpercaya amanatnya. Ya Allah ! curahkanlah rahmat kasih sayang dan doa keselamatan serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh pengikutnya !Selanjutnya..Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah memasukkan kalian ke dalam rahmatNya dan menyelamatkan kalian dari murkaNya dan sanksi hukumanNya. Sungguh beruntung orang yang bertakwa dan merugi orang yang berdusta dan melampaui batas.Para hamba Allah ! setiap orang berusaha untuk meraih kebahagiaan abadi dan kehidupan yang memuaskan hati. Ada di antara manusia yang memang mendapatkan bimbingan Tuhan untuk menempuh jalanNya sehingga Allah memberinya kebahagiaan yang abadi dan kehidupan duniawi yang memuaskan hati. Tetapi ada pula orang yang yang segala perhatiannya hanya tertuju kepada dunia dan melupakan akhiratnya sehingga Allah memberinya jatahnya dari dunia yang memang telah Allah tetapkan untuknya, namun di akhirat kelak ia tidak mendapatkan bagian apa-apa. Sedangkan jatah duniawi yang diperolehnya tidaklah jernih tanpa kekeruhan, kekalutan, gangguan dan keburukan. Firman Allah Swt :مَنْ كانَ يُرِيدُ الْعاجِلَةَ عَجَّلْنا لَهُ فِيها مَا نَشاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاها مَذْمُوماً مَدْحُوراً[ الإسراء / 18 ](Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir ) Qs Al-Isra : 18Firman Allah :وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ أَعْمى ، قالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيراً،  قالَ كَذلِكَ أَتَتْكَ آياتُنا فَنَسِيتَها وَكَذلِكَ الْيَوْمَ تُنْسى ، [ طه / 124-126 ]( Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan” ) Qs Thaha : 124-126Jika faktanya memang demikian, yaitu masing-masing orang berusaha meraih kebahagiaan duniawi dan berkerja keras meraih kebahagiaan ukhrawi yang kekal abadi sebagai kehidupan yang terbaik dan kenikmatan yang paling prima, maka perlu diketahui bahwa kebahagiaan dunia yang menyenangkan dan kebahagiaan akhirat yang kekal abadi itu tidak akan mungkin diraih kecuali dengan jiwa yang tulus dan hati yang bersih. Firman Allah :يَوْمَ لا يَنْفَعُ مالٌ وَلا بَنُونَ ،  إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  ، وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ ،  وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغاوِينَ ، [ الشعراء / 88 – 91 ]( pada hari, harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, pada hari itu, surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat ) Qs As-Syu’ara : 88-91Firman Allah  :مَنْ عَمِلَ صالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَياةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ ما كانُوا يَعْمَلُونَ  [ النحل / 97 ](Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan) Qs An-Nahl : 97Amal shalih tidak mungkin terlaksana kecuali oleh orang yang berhati ikhlas dan tulus. Firman Allah :لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً  [ الفتح / 18 ]( Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya) Qs Al-Fath : 18Artinya Allah mengetahui kemurnian iman, kesungguhan niat dan kesucian batin yang ada dalam hati mereka, yang aman dari sifat kemunafikan dan cabang-cabangnya. ( عَن عبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ    ) حديث صحيح رواه ابن ماجهAbdullah bin ‘Amru berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ; “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau menjawab: “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan tutur katanya benar.” Mereka berkata; “Tutur kata yang benar telah kami sudah mengerti, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda: “Yaitu hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezoliman, kedengkian dan hasad di dalamnya.” (Hadis shahih riwayat Ibn Majah).Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( حُرِمَ عَلَى النَّارِ كُلِّ هَيِنٍ لَيِّن قَرِيبٍ مِنَ الّناسِ ) رواه أحمد والترمذى(Diharamkan (terlindung dari neraka) setiap orang yang suka memudahkan, lemah lembut, dan akrab dengan sesama manusia ).” HR. Ahmad dan TirmiziPerhatikan wahai saudaraku sesama muslim bagaimana hati yang tulus ikhlas dan bersih itu dapat mengangkat seseorang kepada derajat yang demikian tinggi di surga, dan dapat menyelamatkannya dari neraka dan akibat yang membinasakannya.Hati yang bersih dekat dari segala kebaikan, jauh dari segala keburukan. Hati yang bersih dapat menampung semua perilaku yang baik sebagaimana tanah yang landai dapat menampung air. Hati yang baik akan mampu menolak semua perilaku kerendahan sebagaimana tempa besi dapat menghilangkan karat pada emas dan perak. Hati yang bersih dapat manaungi pemiliknya dengan rahmat Allah, perlindunganNya, penjagaanNya dan bimbinganNya.Firman Allah  :وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ ، الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلى ما أَصابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاةِ وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ  [ الحج / 34 – 35 ]) Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah, [yaitu] orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka) Qs Al-Haj : 34-35Firman Allah  :إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَى رَبِّهِمْ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  [ هود / 23 ]( Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya ) Qs Hud : 23Sikap merendakan diri kepada Allah Swt merupakan sifat yang melekat pada hati yang bersih. Ada yang menafsirkannya sebagai sikap tawadhu’ ( dalam arti patuh dan taat ) kepada Allah Swt serta merasa tenteram dalam menjalankan syariatNya dan firmanNya, pun pula merasa nyaman mengerjakan amal kebajikan dan puas dengannya. Firman Allah  :الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ النحل / 32 ]( orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan [kepada mereka]: “Salaamun´alaikum”, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan ) Qs An-Nahl : 32Yang dimaksud dengan “mereka wafat dalam keadaan baik” di sini adalah “hati yang bersih dalam keimanan”.Diriwayatkan dari Iyadh Bin Himmar radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( أَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى، وَمُسْلِمٍ، وَرَجُلٌ فَقِيرٌ عَفِيْفٌ مُتَصَدِّقٌ ) رواه ابن حبان ( Ahli surga itu ada tiga :Pertama : orang yang punya kekuasaan dan berlaku adil serta mau bersedekah atas pertolongan Allah.Kedua ; orang yang di dalam hatinya terdapat rasa belas kasihan kepada sanak saudara dan sesama muslim.Ketiga  : orang miskin yang mampu menjaga harga dirinya [dari meminta-minta], dan ia-pun masih mau bersedekah ) HR Ibnu Hibban.Hati yang bersih punya sifat dan ciri khas tertentu, yang paling menonjol dan terpenting ialah terbebasnya hati seseorang dari kemusyrikan besar ( syirik akbar ) dan kecil ( syirik asghar ) beserta cabang-cabangnya, juga terhindarnya dosa-dosa besar dan kecil, terjauhkan dari sifat-sifat tercela dan perilaku nista, seperti kikir, terlampau pelit, iri hati, dengki, sombong, menipu, curang, khianat, tipu muslihat, dusta dan sifat-sifat hati tak terpuji lainnya. Di samping itu, hati yang bersih pemiliknya selalu menjalankan kewajiban dan memperbanyak ibadah sunah serta menghindari hal-hal yang makruh.Adapun sebaik-baik karakter dan sifat hati yang bersih dan yang paling tinggi tingkat kesuciannya ialah sebagaimana yang sifat-sifat hati bersih yang disandang oleh para Nabi –alaihimussalam- .Firman Allah mengkisahkan rasul kekasihNya, Ibrahim a.s.  :وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْراهِيمَ ، إِذْ جاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  [ الصافات / 83-84 ](Dan sesungguhnya benar-benar termasuk golongannya [Nuh] adalah Ibrahim. ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci) Qs Ash-Shafat: 83-84Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ   ) رواه أبو داود والترمذى( Tidaklah seseorang di antara sahabat-sahabatku yang menyampaikan sesuatu kepadaku dari seseorang, [melainkan] aku sungguh senang jika aku keluar menemui kalian sementara aku dalam keadaan hati yang bersih) HR Abu Dawud dan Tirmizi.Dari Syaddad Bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kami doa ini :( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ، وَالعَزِيمَةَ على الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا سَلِيمًا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوبِ )رواه أحمد والترمذى والنسائي(Ya Allah, aku mohon kepadaMu ketetapan hati dalam segala urusan dan keteguhan kehendak menuju kebenaran. Dan aku memohon agar aku dapat mensyukuri nikmatMu dan beribadah kepadaMu dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, aku memohon kepadaMu tutur kata yang benar, hati yang bersih, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan apa yang Engkau ketahui, aku memohon kepadaMu kebaikan dari apa yang Engkau ketahui, aku memohon ampun kepadaMu dari apapun yang Engkau ketahui, sesungguhnya hanya Engkau jualah yang Maha Mengetahui yang ghaib). HR Ahmad, Tirmizi dan Nasai.Sebaik-baik kondisi hati, yang paling sempurna dan paling tinggi derajatnya adalah bersihnya hati dan baiknya hati. Dan kesempurnaan bersihnya hati bertingkat-tingkat. Maka barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam meneladani para nabi –’alaihimus salam- maka ia akan meraih kebersihan hati sesuai kadar keteladanannya. Barangsiapa yang mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengan sunnahnya yang mulia maka ia telah dibimbing kepada petunjuk yang terbaik, amal dan keyakinan yang terbaik. Dan Allah akan menganugerahkan kepadanya hati yang bersih sebagaimana Allah menganugerahkan hati yang bersih kepada para sahabat yang meneladani petunjuk Nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengannya. Allah berfiman :وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ´mencintai´ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada hasad dalam dada mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada kaum muhajirin; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (QS Al-Hasyr : 9)Dan orang-orang kemudian yang mengikuti para sahabat dengan baik mereka diberikan hati yang bersih juga. Allah berfirmanوَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ ١٠Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hasyr : 10)          Hati yang bersih ganjarannya adalah surga (di akhirat) dan tubuh yang sehat di dunia. Dari Anas r.a ia berkata :كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun berkata : “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga”. Maka munculah seseorang dari kaum Anshoor, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, “Silahkan”.Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya :وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ“Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aaash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh. Abdullah bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Orang itu berkata : “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat”. Abdullah bertutur : “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”. Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampui” (HR Ahmad, Ibnu Katsir berkata : Ini sanadnya shahih)Jika seorang muslim bersungguh-sungguh untuk meraih dan melakukan sebab-sebab bersihnya hati dan akhirnya ia meraih kedudukan yang tinggi ini maka sungguh dia telah menang dan beruntung dan ia akan menjalani hidup di dunia dengan sehat (selamat) dan Allah akan menjamin baginya derajat yang tinggi di akhirat. Ia akan dibimbing oleh Allah untuk menasehati dan ia terlepas dari penipuan, maka iapun melakukan yang terbaik kepada Allah, kepada kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan kepada keumuman kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Agama adalah nasehat (sebanyak 3 kali). Para sahabat bertanya, “Nasehat untuk siapa”, Nabi berkata, “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan keumuman kaum muslimin” (HR Muslim dari sahabat Tamim Ad-Dary).Dan bentuk nasehat kepada Allah adalah beribadah kepadanya dengan ikhlas, dan nasehat kepada kitabNya adalah mempelajarinya dan mengajarkannya serta mengamalkannya. Nasahat kepada RasulNya adalah dengan mengikuti sunnahnya dan berdakwah kepada sunnahnya. Nasehat kepada para pemimpin (penguasa) adalah dengan tidak memberontak kepada mereka serta membantu mereka dalam menjalankan beban amanah yang dipikul oleh mereka. Nasehat bagi kaum muslimin adalah dengan menunaikan hak-hak mereka, menjaganya, dan memberi pelajaran bagi mereka serta menyumbangkan kebaikan bagi mereka dan menahan diri dari berbuat keburukan terhadap mereka. Barangsiapa yang sempurna bersihnya hatinya maka ia menyukai bagi kaum muslimin apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri, dan ia akan diselamatkan dari sifat pelit sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Anas)Ibnu Rojab berkata tentang hadits ini : “Hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin membahagiakannya apa yang membahagiakan saudaranya seiman, dan ia ingin untuk saudaranya tersebut kebaikan yang ia inginkan untuk dirinya. Ini semuanya timbul dari sempurnanya bersihnya hati dari dengki, jahat, dan hasad. Karena hasad melazimkan orang yang hasad benci seorangpun mengunggulinya atau menyamainya dalam perkara kebaikan, karena ia maunya menjadi spesial di hadapan manusia dengan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya dan ia ingin menjadi sendirian yang istimewa diantara mereka. Dan keimanan melazimkan lawan dari yang demikian ini, yaitu dia ingin kaum mukminin seluruhnya ikut merasakan kebaikan yang Allah anugrahkan kepadanya tanpa mengurangi kebaikan tersebut darinya.”Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata :إِنِّي لَأَمُرُّ بِالآيَةِ فَأَعْلَمُ مِنْهَا مَا أَعْلَمُ فَأَتَمَنَّى أَنَّ كُلَّ مُسْلِمٍ يَعْلَمُ مِنْهَا مَا عَلِمْتُSesungguhnya aku membaca sebuah ayat lalu mengetahui ilmu dari ayat tersebut maka akupun berangan-angan agar semua muslim mengetahui ilmu tentang ayat tersebut”Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :وَدِدْتُ أَنَّ النَّاسَ تَعَلَّمُوا هَذَا الْعِلْمَ وَلَمْ يُنْسَبْ إِلَيَّ مِنْهُ شَيْئٌ“Aku ingin orang-orang mempelajari ilmu (ku) ini lalu tidak dinisbahkan kepadaku sedikitpun dari ilmu tersebut”Dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan seluruh hartanya demi kemaslahatan kaum muslimin, dan Umar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan setengah hartanya.Dan diantara dampak dari hati yang bersih adalah sikap memaafkan, mengalah, sabar, dan lemah lembut terhadap kaum muslimin. Dan Nabi shallallahu ‘alihi wasallam telah memuji Abu Dhomdhom karena hal tersebut. Jika beliau di pagi hari beliau berkata :اللَّهُمَّ لاَ مَالَ لِي لِأَتَصَدَّقَ بِهِ عَلَى النَّاسِ، وَقَدْ تَصَدَّقْتُ عَلَيْهِمْ بِشَتْمِ عِرْضِي، فَمَنْ شَتَمَنِي أَوْ قَذَفَنِي فَهُوَ حِلٌّ“Ya Allah sesungguhnya aku tidak memiliki harta untuk bersedekah dengannya kepada orang-orang, dan aku telah bersedekah kepada mereka dengan cacian terhadap harga diriku, maka barangsiapa yang mencaci maki aku atau menuduhku (dengan tuduhan tidak benar) maka ia telah aku halalkan”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَنْ يَسْتَطِيْعُ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ كَأَبِي ضَمْضَمَ؟“Siapa diantara kalian yang mampu seperti Abu Dhomdhom?” (HR Al-Hakim, Ibnu Abdilbar, dan Al-Bazzar, dan hadits ini hasan”Dan lawan dari hati yang bersih adalah hati yang sakit dengan berbagai macam penyakit yang dibenci dan tercela. Diantara penyakit hati yang  paling parah adalah pelit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya dari penyakit ini, beliau berkata :اتَّقُوا الظُّلْمَ؛ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، وَحَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ“Waspadalah kalian dari perbuatan menzolimi karena kezoliman adalah kegelapan yang bertumpuk-tumpuk pada hari qiamat, dan jauhilah kalian dari pelit, karena sikap pelit telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, sikap pelit ini mengantarkan mereka untuk menumpahkan darah mereka dan menghalalkan perkara-perkara yang haram’ (HR Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)Jika seorang yang berakal mengamati fitnah yang meluas dan yang khusus di dunia ini, maka ia akan mendapat bahwasanya diantara sebab utamanya adalah sikap pelit dan tamak (rakus). Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :«يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ» قَالُوا: وَمَا الْهَرْجُ؟ قَالَ: «الْقَتْلُ الْقَتْلُ»“Zaman semakin mendekat, dan amal semakin sedikit, dan muncullah fitnah-fitnah, dan dilemparkanlah sifat Asy-Syuh (pelit disertai semangat mengejar dunia) di hati dan banyaklah al-Harju”. Mereka bertanya, “Apakah itu al-Harju?”, Nabi berkata, “Pembunuhan, pembunuhan” (HR Al-Bukhari)Maka sikap Asy-Syuh (pelit kelas kakap) adalah semangat untuk mengejar dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berakta,مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّى أخْشَى عَلَيْكُمْ أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُم كَمَا أهْلَكَتْهُمْ“Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi dibentangkannya dunia pada kalian lalu kalian berlomba untuk memperebutkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba memperebutkannya, maka dunia tersebut membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka’Dan jika engkau telah mengetahui makna dari “pelit” maka engkau berusaha untuk menghindarinya. Dan engkau telah mengetahui bahwa fitnahnya penyakit ini yang telah menjadikan hati menjadi mati adalah sikap Asy-Syuh (pelit) yaitu tamak (rakus) dan semangat untuk meraih apa yang ada di tangan orang lain, dan berusaha dengan berbagai macam cara ditempuh untuk memilikinya di tanganmu, demikian hak-hak orang lain yang wajib yang ada ditanganmu kau tahan dan tidak kau tunaikan kepada mereka. Dan ini merupakan sifat yang paling buruk, maka Asy-Syuh lebih parah daripada hanya sekedar “kikir/pelit”, dan Asy-Syuh merupakan sebab terputusnya silaturahmi, melanggar hak-hak orang lain, dan menumpahkan darah orang lain, dan menahan hak-hak orang lain yang wajib untuk ditunaikan kepada mereka yang berhak menerimanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam“Waspadalah kalian dari penyakit Asy-Syuh, karena ia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Asy-Syuh telah memerintahkan mereka untuk berbuat dzolim maka merekapun menzolimi, memerintahkan mereka untuk berbuat fajir (maksiat) maka merekapun berbuat fajir, memerintahkan mereka untuk memutuskan silaturahmi maka merekapun memutuskan silaturahmi” (HR Ahmad dan Abu Dawud dari hadits Abdullah bin ‘Amr).Allah berfirmanفَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ وَٱسۡمَعُواْ وَأَطِيعُواْ وَأَنفِقُواْ خَيۡرٗا لِّأَنفُسِكُمۡۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٦Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS At-Tagobun : 16)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an.Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah yang maha perkasa, maha pengampun, yang mengetahui apa yang ada di dada manusia. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Yang Maha Penyantun dan Maha membalas kebaikan. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya, Allah mengutusnya dengan petunjuk dan cahaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya, serta orang-orang yang meneladani mereka dengan baik hingga hari kebangkitan.Selanjutnya, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, berpeganglah tali Islam dengan kuat. Hamba-hamba Allah sekalin, ketahuilah bahwasanya sehatnya hati dan bersihnya hati adalah dengan kesabaran dan keyakinan. Yaitu sabar untuk meninggalkan perkara-perkara yang haram, sabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban, dan memperbanyak menjalankan perkara-perkara yang mustahab, dan juga bersabar dalam menghadapi bencana-bencana dan perkara-perkara yang sudah ditakdirkan.Dan keyakinan akan memperkuat hati dan menolak syubhat-syubhat serta berbegai bentuk kemunafikan dan syahwat. Barangsiapa yang hatinya telah dikuasai oleh syubhat  atau syahwat hingga mati maka ia telah celaka dengan kecelakaan yang sangat besar. Allah berfirmanوَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ًٔاۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٤١Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar (QS Al-Maidah : 41)Mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh Allah adalah membersihkan dan mensucikan hati. Dan seluruh apa yang dilarang oleh Allah adalah dalam rangka untuk menjaga hati dari penyakit-penyakit.Maka wahai seorang muslim, carilah kebersihan hatimu dan sehatnya hatimu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan penyakit-penyakit hati yang tercela dan mematikan hati atau membuatnya sakit. Kalau hal ini tidak mampu untuk dikerjakan oleh seorang hamba maka tentu Allah tidak akan membebaninya dengan hal ini, dan Allah tidak akan membebani suatu jiwapun kecuali dengan apa yang mampu untuk ia lakukan. Dalam hadits Nabi bersabda :لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا“Janganlah kalian saling hasad, dan jangan saling memboikot, dan jangan saling bermusuhan” (HR Muslim dari Abu Huroiroh)Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah dan para malaikat bersolawat kepada Nabi.Diterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/

Mengalah Sama Istri…Mengalah Sama Suami

Nabi bersabdaأَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا“Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar”Apalagi mengalah sama orang terdekat…Apalagi mengalah sama istri…Apalagi mengalah sama suami…Namun mengalah bukan berarti tdk menasehati, silahkan menasehati tapi dengan pikiran yang tenang setelah hilang kemarahan dan kepenatan disertai senyuman…

Mengalah Sama Istri…Mengalah Sama Suami

Nabi bersabdaأَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا“Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar”Apalagi mengalah sama orang terdekat…Apalagi mengalah sama istri…Apalagi mengalah sama suami…Namun mengalah bukan berarti tdk menasehati, silahkan menasehati tapi dengan pikiran yang tenang setelah hilang kemarahan dan kepenatan disertai senyuman…
Nabi bersabdaأَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا“Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar”Apalagi mengalah sama orang terdekat…Apalagi mengalah sama istri…Apalagi mengalah sama suami…Namun mengalah bukan berarti tdk menasehati, silahkan menasehati tapi dengan pikiran yang tenang setelah hilang kemarahan dan kepenatan disertai senyuman…


Nabi bersabdaأَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا“Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar”Apalagi mengalah sama orang terdekat…Apalagi mengalah sama istri…Apalagi mengalah sama suami…Namun mengalah bukan berarti tdk menasehati, silahkan menasehati tapi dengan pikiran yang tenang setelah hilang kemarahan dan kepenatan disertai senyuman…

Buku Referensi Belajar Islam dari Dasar

Di antara kiat mendalami agama adalah belajar ilmu secara bertahap. Dalam postingan kali ini, Rumaysho.Com akan menyebutkan beberapa buku rujukan dari kitab Arab dalam belajar Islam dari dasar. Kitab Arab tersebut sudah banyak terjemahannya dari berbagai penerbit terpercaya di negeri kita. Mempelajari ilmu secara bertahap tetap dengan belajar langsung dari guru. Namun kita butuh belajar dengan memakai rujukan kitab secara berjenjang. Sehingga ketika belajar dari guru pun demikian, carilah guru yang mengajarkan ilmu dari dasar, setelah itu beranjak pada kitab yang lebih advance (lanjut). Kami berikan contoh kitab-kitab apa yang baiknya kita pelajari. Urutan nomor yang kami sebutkan adalah tingkatan dari dasar hingga lanjutan.   Kitab Masalah Tauhid: Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kitab At-Tauhid: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kasyfu Asy-Syubuhaat (Menyanggah Syubhat Seputar Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.   Kitab Akidah: Ushul As-Sittah: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Lum’atul I’tiqad: Ibnu Qudamah. Ushul As-Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: Ath-Thahawi, Syarh: Ibnu Abil ‘Izz. Untuk rujukan syarh atau penjelasan dari kitab-kitab akidah dan tauhid di atas bisa memakai berbagai kitab penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, guru kami Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Shalih Alu Syaikh dan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.   Kitab Tafsir: Tafsir Al-Jalalain: Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli, dengan catatan (ta’liq): Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri terutama koreksian terhadap Akidah Asma’ wa Sifat. Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, terbitan Muassasah ‘Abdullah bin Zaid Al-Ghanim Al-Khairiyyah. Tafsir Juz ‘Amma dan Tafsir Beberapa Surat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman): Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Aysar At-Tafasir: Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim: Ibnu Katsir. Tafsir Ath-Thabari: Ibnu Jarir Ath-Thabari.   Kitab Fikih merujuk pada Fikih Madzhab Syafi’i: Safinah An-Najah: Salim bin ‘Abdullah Ibnu Sumair Al-Hadrami Asy-Syafi’i. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib: Al-Qadhi Abi Syuja’ dengan berbagai kitab penjelasan: Fathul Qarib, At-Tadzhib, Al-Iqna’, Kifayatul Akhyar. Al-Fiqhu Al-Manhaji: Musthafa Al-Bugha, dkk. Minhaj Ath-Thalibin: Imam Nawawi. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab li Asy-Syairazi: Imam Nawawi.   Kitab Fikih dari Ulama Belakangan: Minhaj As-Salikin: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz: Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi. Fiqh As-Sunnah: Sayyid Sabiq. Shahih Fiqh As-Sunnah: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.   Kitab Hadits: Hadits Al-Arba’in An-Nawawiyyah: Imam Nawawi. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: Ibnu Rajab Al-Hambali. Bulugh Al-Maram: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh: Subulus Salam, Ash-Shan’ani; Minhatul ‘Allam, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. ‘Umdah Al-Ahkam: Syaikh Abdul Ghani Al-Maqdisi, Syarh terbaik dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Muntaqa Al-Akhbar: Majduddin Abul Barakat ‘Abdussalam Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (Jadd Ibnu Taimiyah), Syarh: Nail Al-Authar, Imam Asy-Syaukani. Kutub As-Sab’ah: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Musnad Al-Imam Ahmad.   Kitab Sirah Nabawiyah: Ar-Rahiq Al-Makhtum: Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Zaad Al-Ma’ad: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah: Imam At-Tirmidzi.   Kitab Tazkiyatun Nufus dan Adab: Riyadh Ash-Shalihin, Imam Nawawi. Syarh (penjelasan) terbaik dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin: Nuzhatul Muttaqin: Musthafa Al-Bugha dkk. Bahjatun Nazhirin: Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Syarh Riyadh Ash-Shalihin: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin (terlengkap 22 jilid).   Kitab Akhlak: Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari. Syarh terbaik dari Adab Al-Mufrad: Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Rassyul Barad Syarh Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Muhammad Luqman As-Salafi.   Kitab Amalan: Lathaif Al-Ma’arif: Ibnu Rajab Al-Hambali. Al-Adzkar: Imam Nawawi.   Kitab Dosa Besar: Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Sejarah Para Ulama: Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf): Al-Muyassar fi ‘Ilmi An-Nahwi: Aceng Zakariya. Al-Muqaddimah Al-Ajurromiyyah: Muhammad bin Muhammad bin Aajurroma Ash-Shinhaji. Mukhtarat Qawai’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Ustadz Aunur Rofiq Ghufran. Mulakhash Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Fuad Ni’mah.   Ada pula berbagai kitab dalam bidang tafsir, keadah tafsir, ilmu mutshalah hadits, ilmu ushul fikih, ilmu qawa’idul fikih yang merupakan ilmu alat yang bisa membantu dalam menguasai ilmu pokok. Semoga bermanfaat. Silakan cari buku tersebut dan belajarlah langsung dari seorang guru, itu cara terbaik. — Selesai disusun saat Allah menurunkan hujan di Darush Sholihin Panggang, GK, 14 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Buku Referensi Belajar Islam dari Dasar

Di antara kiat mendalami agama adalah belajar ilmu secara bertahap. Dalam postingan kali ini, Rumaysho.Com akan menyebutkan beberapa buku rujukan dari kitab Arab dalam belajar Islam dari dasar. Kitab Arab tersebut sudah banyak terjemahannya dari berbagai penerbit terpercaya di negeri kita. Mempelajari ilmu secara bertahap tetap dengan belajar langsung dari guru. Namun kita butuh belajar dengan memakai rujukan kitab secara berjenjang. Sehingga ketika belajar dari guru pun demikian, carilah guru yang mengajarkan ilmu dari dasar, setelah itu beranjak pada kitab yang lebih advance (lanjut). Kami berikan contoh kitab-kitab apa yang baiknya kita pelajari. Urutan nomor yang kami sebutkan adalah tingkatan dari dasar hingga lanjutan.   Kitab Masalah Tauhid: Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kitab At-Tauhid: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kasyfu Asy-Syubuhaat (Menyanggah Syubhat Seputar Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.   Kitab Akidah: Ushul As-Sittah: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Lum’atul I’tiqad: Ibnu Qudamah. Ushul As-Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: Ath-Thahawi, Syarh: Ibnu Abil ‘Izz. Untuk rujukan syarh atau penjelasan dari kitab-kitab akidah dan tauhid di atas bisa memakai berbagai kitab penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, guru kami Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Shalih Alu Syaikh dan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.   Kitab Tafsir: Tafsir Al-Jalalain: Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli, dengan catatan (ta’liq): Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri terutama koreksian terhadap Akidah Asma’ wa Sifat. Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, terbitan Muassasah ‘Abdullah bin Zaid Al-Ghanim Al-Khairiyyah. Tafsir Juz ‘Amma dan Tafsir Beberapa Surat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman): Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Aysar At-Tafasir: Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim: Ibnu Katsir. Tafsir Ath-Thabari: Ibnu Jarir Ath-Thabari.   Kitab Fikih merujuk pada Fikih Madzhab Syafi’i: Safinah An-Najah: Salim bin ‘Abdullah Ibnu Sumair Al-Hadrami Asy-Syafi’i. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib: Al-Qadhi Abi Syuja’ dengan berbagai kitab penjelasan: Fathul Qarib, At-Tadzhib, Al-Iqna’, Kifayatul Akhyar. Al-Fiqhu Al-Manhaji: Musthafa Al-Bugha, dkk. Minhaj Ath-Thalibin: Imam Nawawi. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab li Asy-Syairazi: Imam Nawawi.   Kitab Fikih dari Ulama Belakangan: Minhaj As-Salikin: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz: Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi. Fiqh As-Sunnah: Sayyid Sabiq. Shahih Fiqh As-Sunnah: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.   Kitab Hadits: Hadits Al-Arba’in An-Nawawiyyah: Imam Nawawi. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: Ibnu Rajab Al-Hambali. Bulugh Al-Maram: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh: Subulus Salam, Ash-Shan’ani; Minhatul ‘Allam, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. ‘Umdah Al-Ahkam: Syaikh Abdul Ghani Al-Maqdisi, Syarh terbaik dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Muntaqa Al-Akhbar: Majduddin Abul Barakat ‘Abdussalam Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (Jadd Ibnu Taimiyah), Syarh: Nail Al-Authar, Imam Asy-Syaukani. Kutub As-Sab’ah: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Musnad Al-Imam Ahmad.   Kitab Sirah Nabawiyah: Ar-Rahiq Al-Makhtum: Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Zaad Al-Ma’ad: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah: Imam At-Tirmidzi.   Kitab Tazkiyatun Nufus dan Adab: Riyadh Ash-Shalihin, Imam Nawawi. Syarh (penjelasan) terbaik dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin: Nuzhatul Muttaqin: Musthafa Al-Bugha dkk. Bahjatun Nazhirin: Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Syarh Riyadh Ash-Shalihin: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin (terlengkap 22 jilid).   Kitab Akhlak: Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari. Syarh terbaik dari Adab Al-Mufrad: Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Rassyul Barad Syarh Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Muhammad Luqman As-Salafi.   Kitab Amalan: Lathaif Al-Ma’arif: Ibnu Rajab Al-Hambali. Al-Adzkar: Imam Nawawi.   Kitab Dosa Besar: Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Sejarah Para Ulama: Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf): Al-Muyassar fi ‘Ilmi An-Nahwi: Aceng Zakariya. Al-Muqaddimah Al-Ajurromiyyah: Muhammad bin Muhammad bin Aajurroma Ash-Shinhaji. Mukhtarat Qawai’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Ustadz Aunur Rofiq Ghufran. Mulakhash Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Fuad Ni’mah.   Ada pula berbagai kitab dalam bidang tafsir, keadah tafsir, ilmu mutshalah hadits, ilmu ushul fikih, ilmu qawa’idul fikih yang merupakan ilmu alat yang bisa membantu dalam menguasai ilmu pokok. Semoga bermanfaat. Silakan cari buku tersebut dan belajarlah langsung dari seorang guru, itu cara terbaik. — Selesai disusun saat Allah menurunkan hujan di Darush Sholihin Panggang, GK, 14 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar
Di antara kiat mendalami agama adalah belajar ilmu secara bertahap. Dalam postingan kali ini, Rumaysho.Com akan menyebutkan beberapa buku rujukan dari kitab Arab dalam belajar Islam dari dasar. Kitab Arab tersebut sudah banyak terjemahannya dari berbagai penerbit terpercaya di negeri kita. Mempelajari ilmu secara bertahap tetap dengan belajar langsung dari guru. Namun kita butuh belajar dengan memakai rujukan kitab secara berjenjang. Sehingga ketika belajar dari guru pun demikian, carilah guru yang mengajarkan ilmu dari dasar, setelah itu beranjak pada kitab yang lebih advance (lanjut). Kami berikan contoh kitab-kitab apa yang baiknya kita pelajari. Urutan nomor yang kami sebutkan adalah tingkatan dari dasar hingga lanjutan.   Kitab Masalah Tauhid: Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kitab At-Tauhid: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kasyfu Asy-Syubuhaat (Menyanggah Syubhat Seputar Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.   Kitab Akidah: Ushul As-Sittah: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Lum’atul I’tiqad: Ibnu Qudamah. Ushul As-Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: Ath-Thahawi, Syarh: Ibnu Abil ‘Izz. Untuk rujukan syarh atau penjelasan dari kitab-kitab akidah dan tauhid di atas bisa memakai berbagai kitab penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, guru kami Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Shalih Alu Syaikh dan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.   Kitab Tafsir: Tafsir Al-Jalalain: Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli, dengan catatan (ta’liq): Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri terutama koreksian terhadap Akidah Asma’ wa Sifat. Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, terbitan Muassasah ‘Abdullah bin Zaid Al-Ghanim Al-Khairiyyah. Tafsir Juz ‘Amma dan Tafsir Beberapa Surat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman): Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Aysar At-Tafasir: Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim: Ibnu Katsir. Tafsir Ath-Thabari: Ibnu Jarir Ath-Thabari.   Kitab Fikih merujuk pada Fikih Madzhab Syafi’i: Safinah An-Najah: Salim bin ‘Abdullah Ibnu Sumair Al-Hadrami Asy-Syafi’i. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib: Al-Qadhi Abi Syuja’ dengan berbagai kitab penjelasan: Fathul Qarib, At-Tadzhib, Al-Iqna’, Kifayatul Akhyar. Al-Fiqhu Al-Manhaji: Musthafa Al-Bugha, dkk. Minhaj Ath-Thalibin: Imam Nawawi. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab li Asy-Syairazi: Imam Nawawi.   Kitab Fikih dari Ulama Belakangan: Minhaj As-Salikin: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz: Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi. Fiqh As-Sunnah: Sayyid Sabiq. Shahih Fiqh As-Sunnah: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.   Kitab Hadits: Hadits Al-Arba’in An-Nawawiyyah: Imam Nawawi. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: Ibnu Rajab Al-Hambali. Bulugh Al-Maram: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh: Subulus Salam, Ash-Shan’ani; Minhatul ‘Allam, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. ‘Umdah Al-Ahkam: Syaikh Abdul Ghani Al-Maqdisi, Syarh terbaik dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Muntaqa Al-Akhbar: Majduddin Abul Barakat ‘Abdussalam Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (Jadd Ibnu Taimiyah), Syarh: Nail Al-Authar, Imam Asy-Syaukani. Kutub As-Sab’ah: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Musnad Al-Imam Ahmad.   Kitab Sirah Nabawiyah: Ar-Rahiq Al-Makhtum: Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Zaad Al-Ma’ad: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah: Imam At-Tirmidzi.   Kitab Tazkiyatun Nufus dan Adab: Riyadh Ash-Shalihin, Imam Nawawi. Syarh (penjelasan) terbaik dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin: Nuzhatul Muttaqin: Musthafa Al-Bugha dkk. Bahjatun Nazhirin: Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Syarh Riyadh Ash-Shalihin: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin (terlengkap 22 jilid).   Kitab Akhlak: Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari. Syarh terbaik dari Adab Al-Mufrad: Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Rassyul Barad Syarh Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Muhammad Luqman As-Salafi.   Kitab Amalan: Lathaif Al-Ma’arif: Ibnu Rajab Al-Hambali. Al-Adzkar: Imam Nawawi.   Kitab Dosa Besar: Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Sejarah Para Ulama: Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf): Al-Muyassar fi ‘Ilmi An-Nahwi: Aceng Zakariya. Al-Muqaddimah Al-Ajurromiyyah: Muhammad bin Muhammad bin Aajurroma Ash-Shinhaji. Mukhtarat Qawai’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Ustadz Aunur Rofiq Ghufran. Mulakhash Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Fuad Ni’mah.   Ada pula berbagai kitab dalam bidang tafsir, keadah tafsir, ilmu mutshalah hadits, ilmu ushul fikih, ilmu qawa’idul fikih yang merupakan ilmu alat yang bisa membantu dalam menguasai ilmu pokok. Semoga bermanfaat. Silakan cari buku tersebut dan belajarlah langsung dari seorang guru, itu cara terbaik. — Selesai disusun saat Allah menurunkan hujan di Darush Sholihin Panggang, GK, 14 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar


Di antara kiat mendalami agama adalah belajar ilmu secara bertahap. Dalam postingan kali ini, Rumaysho.Com akan menyebutkan beberapa buku rujukan dari kitab Arab dalam belajar Islam dari dasar. Kitab Arab tersebut sudah banyak terjemahannya dari berbagai penerbit terpercaya di negeri kita. Mempelajari ilmu secara bertahap tetap dengan belajar langsung dari guru. Namun kita butuh belajar dengan memakai rujukan kitab secara berjenjang. Sehingga ketika belajar dari guru pun demikian, carilah guru yang mengajarkan ilmu dari dasar, setelah itu beranjak pada kitab yang lebih advance (lanjut). Kami berikan contoh kitab-kitab apa yang baiknya kita pelajari. Urutan nomor yang kami sebutkan adalah tingkatan dari dasar hingga lanjutan.   Kitab Masalah Tauhid: Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kitab At-Tauhid: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kasyfu Asy-Syubuhaat (Menyanggah Syubhat Seputar Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.   Kitab Akidah: Ushul As-Sittah: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Lum’atul I’tiqad: Ibnu Qudamah. Ushul As-Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: Ath-Thahawi, Syarh: Ibnu Abil ‘Izz. Untuk rujukan syarh atau penjelasan dari kitab-kitab akidah dan tauhid di atas bisa memakai berbagai kitab penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, guru kami Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Shalih Alu Syaikh dan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.   Kitab Tafsir: Tafsir Al-Jalalain: Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli, dengan catatan (ta’liq): Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri terutama koreksian terhadap Akidah Asma’ wa Sifat. Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, terbitan Muassasah ‘Abdullah bin Zaid Al-Ghanim Al-Khairiyyah. Tafsir Juz ‘Amma dan Tafsir Beberapa Surat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman): Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Aysar At-Tafasir: Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim: Ibnu Katsir. Tafsir Ath-Thabari: Ibnu Jarir Ath-Thabari.   Kitab Fikih merujuk pada Fikih Madzhab Syafi’i: Safinah An-Najah: Salim bin ‘Abdullah Ibnu Sumair Al-Hadrami Asy-Syafi’i. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib: Al-Qadhi Abi Syuja’ dengan berbagai kitab penjelasan: Fathul Qarib, At-Tadzhib, Al-Iqna’, Kifayatul Akhyar. Al-Fiqhu Al-Manhaji: Musthafa Al-Bugha, dkk. Minhaj Ath-Thalibin: Imam Nawawi. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab li Asy-Syairazi: Imam Nawawi.   Kitab Fikih dari Ulama Belakangan: Minhaj As-Salikin: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz: Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi. Fiqh As-Sunnah: Sayyid Sabiq. Shahih Fiqh As-Sunnah: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.   Kitab Hadits: Hadits Al-Arba’in An-Nawawiyyah: Imam Nawawi. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: Ibnu Rajab Al-Hambali. Bulugh Al-Maram: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh: Subulus Salam, Ash-Shan’ani; Minhatul ‘Allam, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. ‘Umdah Al-Ahkam: Syaikh Abdul Ghani Al-Maqdisi, Syarh terbaik dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Muntaqa Al-Akhbar: Majduddin Abul Barakat ‘Abdussalam Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (Jadd Ibnu Taimiyah), Syarh: Nail Al-Authar, Imam Asy-Syaukani. Kutub As-Sab’ah: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Musnad Al-Imam Ahmad.   Kitab Sirah Nabawiyah: Ar-Rahiq Al-Makhtum: Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Zaad Al-Ma’ad: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah: Imam At-Tirmidzi.   Kitab Tazkiyatun Nufus dan Adab: Riyadh Ash-Shalihin, Imam Nawawi. Syarh (penjelasan) terbaik dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin: Nuzhatul Muttaqin: Musthafa Al-Bugha dkk. Bahjatun Nazhirin: Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Syarh Riyadh Ash-Shalihin: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin (terlengkap 22 jilid).   Kitab Akhlak: Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari. Syarh terbaik dari Adab Al-Mufrad: Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Rassyul Barad Syarh Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Muhammad Luqman As-Salafi.   Kitab Amalan: Lathaif Al-Ma’arif: Ibnu Rajab Al-Hambali. Al-Adzkar: Imam Nawawi.   Kitab Dosa Besar: Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Sejarah Para Ulama: Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf): Al-Muyassar fi ‘Ilmi An-Nahwi: Aceng Zakariya. Al-Muqaddimah Al-Ajurromiyyah: Muhammad bin Muhammad bin Aajurroma Ash-Shinhaji. Mukhtarat Qawai’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Ustadz Aunur Rofiq Ghufran. Mulakhash Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Fuad Ni’mah.   Ada pula berbagai kitab dalam bidang tafsir, keadah tafsir, ilmu mutshalah hadits, ilmu ushul fikih, ilmu qawa’idul fikih yang merupakan ilmu alat yang bisa membantu dalam menguasai ilmu pokok. Semoga bermanfaat. Silakan cari buku tersebut dan belajarlah langsung dari seorang guru, itu cara terbaik. — Selesai disusun saat Allah menurunkan hujan di Darush Sholihin Panggang, GK, 14 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Yuk Donasi 6 Hari untuk Radio dan TV DS, Kebutuhan 373 Juta Rupiah

Yuk berdonasi untuk Radio dan TV DS, kebutuhan 373 juta rupiah. Dan kali ini dibuka donasi tahap 1 hingga 1 Desember 2015 (6 hari). Pesantren Darush Sholihin adalah pesantren masyarakat yang terletak di Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Dakwahnya saat ini sudah berkembang semakin luas karena yang dibina oleh pesantren bukan hanya anak-anak namun sampai pada kalangan remaja, ibu-ibu muda, bapak-bapak, hingga para sesepuh di desa. Perkembangannya, santri TPA telah mencapai 600-an anak. Sedangkan untuk pengajian Malam Kamis dihadiri 2000 jama’ah dari empat kecamatan yang berbeda. Adapun pengajian akbar yang lebih besar dengan mendatangkan da’i luar daerah, hal biasa dihadiri 4000 jama’ah. Saat ini, Pesantren Darush Sholihin sedang mengembangkan dakwah lebih luas lagi lewat udara dan layar TV. Radio DS dan DS TV sedang dalam proses pembangunan saat ini, mulai dari pembangunan gedung pemancar, pemasangan tower berbahan galvanis, hingga pada proses perizinan di Balmon (Balai Monitoring Frekuensi Radio di Yogyakarta) dan KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Yogyakarta). Perkembangan lainnya, radio DS dan DS TV sudah merancang desain logo untuk dua media tersebut yang rencana awal siarannya hanya tersebar local untuk satu kecamatan Panggang. Namun DS punya harapan untuk mengembangkan ke radio komersil nantinya. Untuk tujuan itulah dibutuhkan dana yang tidak sedikit yaitu mencapai Rp.373.500.000,- (tiga ratus tujuh puluh tiga juta lima ratus ribu rupiah). Anggaran pengeluaran: Pemancar radio dakwah FM: Rp.57.000.000,- Pemancar TV dakwah: Rp.163.500.000,- Perlengkapan ruang studio: Rp.11.000.000,- Perlengkapan TV: Rp.42.000.000,- Pembangunan bangunan studio dan pemancar: Rp.100.000.000,- Untuk rincian anggaran no. 1 sampai dengan 4 bisa didownload di sini. Dana yang dibutuhkan: Rp.373.500.000,- Kas donasi saat ini: – Rp.258.110.000,- (minus), memakai anggaran dari pos lain di pesantren. Rekening khusus Donasi Radio: BSM KCP Wonosari 3107011155 dan BRI 0029-01-101480-50-9 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Radio TV DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Radio TV DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Donasi tahap #1 ini kami berlakukan hingga 1 Desember 2015. Semoga menjadi amal jariyah bagi Anda sekalian yang membaca pesan ini. Moga mendapatkan pahala setelah menshare pada lainnya. Mohon doanya agar radio dan TV Darush Sholihin cepat mengudara. Pembangunan jalan menuju pemancar.   Stick tower yang akan dipasang.   Pemancar di puncak gunung. — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Join Channel Telegram: @DarushSholihin, @RumayshoCom   Tagsradio

Yuk Donasi 6 Hari untuk Radio dan TV DS, Kebutuhan 373 Juta Rupiah

Yuk berdonasi untuk Radio dan TV DS, kebutuhan 373 juta rupiah. Dan kali ini dibuka donasi tahap 1 hingga 1 Desember 2015 (6 hari). Pesantren Darush Sholihin adalah pesantren masyarakat yang terletak di Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Dakwahnya saat ini sudah berkembang semakin luas karena yang dibina oleh pesantren bukan hanya anak-anak namun sampai pada kalangan remaja, ibu-ibu muda, bapak-bapak, hingga para sesepuh di desa. Perkembangannya, santri TPA telah mencapai 600-an anak. Sedangkan untuk pengajian Malam Kamis dihadiri 2000 jama’ah dari empat kecamatan yang berbeda. Adapun pengajian akbar yang lebih besar dengan mendatangkan da’i luar daerah, hal biasa dihadiri 4000 jama’ah. Saat ini, Pesantren Darush Sholihin sedang mengembangkan dakwah lebih luas lagi lewat udara dan layar TV. Radio DS dan DS TV sedang dalam proses pembangunan saat ini, mulai dari pembangunan gedung pemancar, pemasangan tower berbahan galvanis, hingga pada proses perizinan di Balmon (Balai Monitoring Frekuensi Radio di Yogyakarta) dan KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Yogyakarta). Perkembangan lainnya, radio DS dan DS TV sudah merancang desain logo untuk dua media tersebut yang rencana awal siarannya hanya tersebar local untuk satu kecamatan Panggang. Namun DS punya harapan untuk mengembangkan ke radio komersil nantinya. Untuk tujuan itulah dibutuhkan dana yang tidak sedikit yaitu mencapai Rp.373.500.000,- (tiga ratus tujuh puluh tiga juta lima ratus ribu rupiah). Anggaran pengeluaran: Pemancar radio dakwah FM: Rp.57.000.000,- Pemancar TV dakwah: Rp.163.500.000,- Perlengkapan ruang studio: Rp.11.000.000,- Perlengkapan TV: Rp.42.000.000,- Pembangunan bangunan studio dan pemancar: Rp.100.000.000,- Untuk rincian anggaran no. 1 sampai dengan 4 bisa didownload di sini. Dana yang dibutuhkan: Rp.373.500.000,- Kas donasi saat ini: – Rp.258.110.000,- (minus), memakai anggaran dari pos lain di pesantren. Rekening khusus Donasi Radio: BSM KCP Wonosari 3107011155 dan BRI 0029-01-101480-50-9 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Radio TV DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Radio TV DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Donasi tahap #1 ini kami berlakukan hingga 1 Desember 2015. Semoga menjadi amal jariyah bagi Anda sekalian yang membaca pesan ini. Moga mendapatkan pahala setelah menshare pada lainnya. Mohon doanya agar radio dan TV Darush Sholihin cepat mengudara. Pembangunan jalan menuju pemancar.   Stick tower yang akan dipasang.   Pemancar di puncak gunung. — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Join Channel Telegram: @DarushSholihin, @RumayshoCom   Tagsradio
Yuk berdonasi untuk Radio dan TV DS, kebutuhan 373 juta rupiah. Dan kali ini dibuka donasi tahap 1 hingga 1 Desember 2015 (6 hari). Pesantren Darush Sholihin adalah pesantren masyarakat yang terletak di Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Dakwahnya saat ini sudah berkembang semakin luas karena yang dibina oleh pesantren bukan hanya anak-anak namun sampai pada kalangan remaja, ibu-ibu muda, bapak-bapak, hingga para sesepuh di desa. Perkembangannya, santri TPA telah mencapai 600-an anak. Sedangkan untuk pengajian Malam Kamis dihadiri 2000 jama’ah dari empat kecamatan yang berbeda. Adapun pengajian akbar yang lebih besar dengan mendatangkan da’i luar daerah, hal biasa dihadiri 4000 jama’ah. Saat ini, Pesantren Darush Sholihin sedang mengembangkan dakwah lebih luas lagi lewat udara dan layar TV. Radio DS dan DS TV sedang dalam proses pembangunan saat ini, mulai dari pembangunan gedung pemancar, pemasangan tower berbahan galvanis, hingga pada proses perizinan di Balmon (Balai Monitoring Frekuensi Radio di Yogyakarta) dan KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Yogyakarta). Perkembangan lainnya, radio DS dan DS TV sudah merancang desain logo untuk dua media tersebut yang rencana awal siarannya hanya tersebar local untuk satu kecamatan Panggang. Namun DS punya harapan untuk mengembangkan ke radio komersil nantinya. Untuk tujuan itulah dibutuhkan dana yang tidak sedikit yaitu mencapai Rp.373.500.000,- (tiga ratus tujuh puluh tiga juta lima ratus ribu rupiah). Anggaran pengeluaran: Pemancar radio dakwah FM: Rp.57.000.000,- Pemancar TV dakwah: Rp.163.500.000,- Perlengkapan ruang studio: Rp.11.000.000,- Perlengkapan TV: Rp.42.000.000,- Pembangunan bangunan studio dan pemancar: Rp.100.000.000,- Untuk rincian anggaran no. 1 sampai dengan 4 bisa didownload di sini. Dana yang dibutuhkan: Rp.373.500.000,- Kas donasi saat ini: – Rp.258.110.000,- (minus), memakai anggaran dari pos lain di pesantren. Rekening khusus Donasi Radio: BSM KCP Wonosari 3107011155 dan BRI 0029-01-101480-50-9 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Radio TV DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Radio TV DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Donasi tahap #1 ini kami berlakukan hingga 1 Desember 2015. Semoga menjadi amal jariyah bagi Anda sekalian yang membaca pesan ini. Moga mendapatkan pahala setelah menshare pada lainnya. Mohon doanya agar radio dan TV Darush Sholihin cepat mengudara. Pembangunan jalan menuju pemancar.   Stick tower yang akan dipasang.   Pemancar di puncak gunung. — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Join Channel Telegram: @DarushSholihin, @RumayshoCom   Tagsradio


Yuk berdonasi untuk Radio dan TV DS, kebutuhan 373 juta rupiah. Dan kali ini dibuka donasi tahap 1 hingga 1 Desember 2015 (6 hari). Pesantren Darush Sholihin adalah pesantren masyarakat yang terletak di Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Dakwahnya saat ini sudah berkembang semakin luas karena yang dibina oleh pesantren bukan hanya anak-anak namun sampai pada kalangan remaja, ibu-ibu muda, bapak-bapak, hingga para sesepuh di desa. Perkembangannya, santri TPA telah mencapai 600-an anak. Sedangkan untuk pengajian Malam Kamis dihadiri 2000 jama’ah dari empat kecamatan yang berbeda. Adapun pengajian akbar yang lebih besar dengan mendatangkan da’i luar daerah, hal biasa dihadiri 4000 jama’ah. Saat ini, Pesantren Darush Sholihin sedang mengembangkan dakwah lebih luas lagi lewat udara dan layar TV. Radio DS dan DS TV sedang dalam proses pembangunan saat ini, mulai dari pembangunan gedung pemancar, pemasangan tower berbahan galvanis, hingga pada proses perizinan di Balmon (Balai Monitoring Frekuensi Radio di Yogyakarta) dan KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Yogyakarta). Perkembangan lainnya, radio DS dan DS TV sudah merancang desain logo untuk dua media tersebut yang rencana awal siarannya hanya tersebar local untuk satu kecamatan Panggang. Namun DS punya harapan untuk mengembangkan ke radio komersil nantinya. Untuk tujuan itulah dibutuhkan dana yang tidak sedikit yaitu mencapai Rp.373.500.000,- (tiga ratus tujuh puluh tiga juta lima ratus ribu rupiah). Anggaran pengeluaran: Pemancar radio dakwah FM: Rp.57.000.000,- Pemancar TV dakwah: Rp.163.500.000,- Perlengkapan ruang studio: Rp.11.000.000,- Perlengkapan TV: Rp.42.000.000,- Pembangunan bangunan studio dan pemancar: Rp.100.000.000,- Untuk rincian anggaran no. 1 sampai dengan 4 bisa didownload di sini. Dana yang dibutuhkan: Rp.373.500.000,- Kas donasi saat ini: – Rp.258.110.000,- (minus), memakai anggaran dari pos lain di pesantren. Rekening khusus Donasi Radio: BSM KCP Wonosari 3107011155 dan BRI 0029-01-101480-50-9 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Radio TV DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Radio TV DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Donasi tahap #1 ini kami berlakukan hingga 1 Desember 2015. Semoga menjadi amal jariyah bagi Anda sekalian yang membaca pesan ini. Moga mendapatkan pahala setelah menshare pada lainnya. Mohon doanya agar radio dan TV Darush Sholihin cepat mengudara. Pembangunan jalan menuju pemancar.   Stick tower yang akan dipasang.   Pemancar di puncak gunung. — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Join Channel Telegram: @DarushSholihin, @RumayshoCom   Tagsradio
Prev     Next