Pikir Maksiat, Dosakah?

Apakah lintasan maksiat di benak kita sudah termasuk dalam hitungan dosa? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya: Apakah jika di benak kita terlintas keinginan untuk berbuat dosa atau maksiat, namun tidak sampai melakukannya sudahkah dianggap dosa atau keharaman? Jawaban Syaikh Muhammad rahimahullah: Punya pikiran untuk bermaksiat tidak dianggap sebagai suatu dosa atau keharaman. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku jika hanya terlintas dalam dirinya selama tidak diamalkan atau tidak dibicarakan.” (HR. Abu Daud dalam sunannya) Namun jika ia sudah bertekad untuk melakukan maksiat lalu ia tahan karena takut pada Allah sehingga ia pun mengurungkan melakukan maksiat, maka seperti itu dicatat sebagai satu kebaikan yang sempurna. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Allah mencatatnya mendapat satu kebaikan yang sempurna. Akan disebut, ia telah meninggalkan maksiat karena Allah. Akan tetapi, jika seseorang terpikir maksiat, hendaknya ia memalingkan dari pikiran semacam itu. Pikiran seperti itu bisa terus berkembang dan bertambah parah, sehingga menjadi tekad dan azam yang kuat yang akhirnya bisa berujung pada amalan maksiat. Tentu, yang bisa selamat hanya orang-orang yang diselamatkan oleh Allah. Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 289, bahasan Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a. Ya Allah, kami memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat. — Kota Nabi, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdosa besar maksiat

Pikir Maksiat, Dosakah?

Apakah lintasan maksiat di benak kita sudah termasuk dalam hitungan dosa? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya: Apakah jika di benak kita terlintas keinginan untuk berbuat dosa atau maksiat, namun tidak sampai melakukannya sudahkah dianggap dosa atau keharaman? Jawaban Syaikh Muhammad rahimahullah: Punya pikiran untuk bermaksiat tidak dianggap sebagai suatu dosa atau keharaman. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku jika hanya terlintas dalam dirinya selama tidak diamalkan atau tidak dibicarakan.” (HR. Abu Daud dalam sunannya) Namun jika ia sudah bertekad untuk melakukan maksiat lalu ia tahan karena takut pada Allah sehingga ia pun mengurungkan melakukan maksiat, maka seperti itu dicatat sebagai satu kebaikan yang sempurna. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Allah mencatatnya mendapat satu kebaikan yang sempurna. Akan disebut, ia telah meninggalkan maksiat karena Allah. Akan tetapi, jika seseorang terpikir maksiat, hendaknya ia memalingkan dari pikiran semacam itu. Pikiran seperti itu bisa terus berkembang dan bertambah parah, sehingga menjadi tekad dan azam yang kuat yang akhirnya bisa berujung pada amalan maksiat. Tentu, yang bisa selamat hanya orang-orang yang diselamatkan oleh Allah. Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 289, bahasan Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a. Ya Allah, kami memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat. — Kota Nabi, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdosa besar maksiat
Apakah lintasan maksiat di benak kita sudah termasuk dalam hitungan dosa? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya: Apakah jika di benak kita terlintas keinginan untuk berbuat dosa atau maksiat, namun tidak sampai melakukannya sudahkah dianggap dosa atau keharaman? Jawaban Syaikh Muhammad rahimahullah: Punya pikiran untuk bermaksiat tidak dianggap sebagai suatu dosa atau keharaman. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku jika hanya terlintas dalam dirinya selama tidak diamalkan atau tidak dibicarakan.” (HR. Abu Daud dalam sunannya) Namun jika ia sudah bertekad untuk melakukan maksiat lalu ia tahan karena takut pada Allah sehingga ia pun mengurungkan melakukan maksiat, maka seperti itu dicatat sebagai satu kebaikan yang sempurna. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Allah mencatatnya mendapat satu kebaikan yang sempurna. Akan disebut, ia telah meninggalkan maksiat karena Allah. Akan tetapi, jika seseorang terpikir maksiat, hendaknya ia memalingkan dari pikiran semacam itu. Pikiran seperti itu bisa terus berkembang dan bertambah parah, sehingga menjadi tekad dan azam yang kuat yang akhirnya bisa berujung pada amalan maksiat. Tentu, yang bisa selamat hanya orang-orang yang diselamatkan oleh Allah. Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 289, bahasan Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a. Ya Allah, kami memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat. — Kota Nabi, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdosa besar maksiat


Apakah lintasan maksiat di benak kita sudah termasuk dalam hitungan dosa? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya: Apakah jika di benak kita terlintas keinginan untuk berbuat dosa atau maksiat, namun tidak sampai melakukannya sudahkah dianggap dosa atau keharaman? Jawaban Syaikh Muhammad rahimahullah: Punya pikiran untuk bermaksiat tidak dianggap sebagai suatu dosa atau keharaman. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku jika hanya terlintas dalam dirinya selama tidak diamalkan atau tidak dibicarakan.” (HR. Abu Daud dalam sunannya) Namun jika ia sudah bertekad untuk melakukan maksiat lalu ia tahan karena takut pada Allah sehingga ia pun mengurungkan melakukan maksiat, maka seperti itu dicatat sebagai satu kebaikan yang sempurna. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Allah mencatatnya mendapat satu kebaikan yang sempurna. Akan disebut, ia telah meninggalkan maksiat karena Allah. Akan tetapi, jika seseorang terpikir maksiat, hendaknya ia memalingkan dari pikiran semacam itu. Pikiran seperti itu bisa terus berkembang dan bertambah parah, sehingga menjadi tekad dan azam yang kuat yang akhirnya bisa berujung pada amalan maksiat. Tentu, yang bisa selamat hanya orang-orang yang diselamatkan oleh Allah. Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 289, bahasan Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a. Ya Allah, kami memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat. — Kota Nabi, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdosa besar maksiat

Tahun Baru, Perayaan Jahiliyah

Adakah tahun baru di masa Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabannya, ada. Dahulu ada dua hari raya besar sebelum penetapan Idul Fithri dan Idul Adha, yaitu hari besar Nairuz dan Mihrajan. Apa yang dimaksud dua hari raya tersebut? Ada hadits sebagai berikut. عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, dahulu orang-orang Jahiliyyah memiliki dua haridi setiap tahun yang malan mereka biasa bersenang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota Madinah, beliau bersabda, “Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.” (HR. Abu Daud no. 1134; An-Nasa’i no. 1556. Sanad hadits ini shahih menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 4: 142) Kalau kita melihat keterangan para ulama, hari Nairuz adalah perayaan awal tahun Syamsiyah. Sedangkan Mihrajan adalah perayaan enam bulan setelahnya. Lihat keterangan dalam Minhah Al-‘Allam, 4: 142. Hadits di atas menunjukkan bahwa Allah telah membatalkan dua perayaan yang diadakan orang-orang jahiliyah tersebut dan diganti dengan dua hari ied yang dimiliki oleh umat Islam saat ini yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Dan dinyatakan bahwa dua hari ied kita lebih baik, namun itu bukan pertanda bahwa dua hari besar jahiliyah sebelumnya ada kebaikan. Tetap tidak ada kebaikan pada dua hari jahiliyah tersebut. Hari Idul Fithri dan Idul Adha adalah hari kegembiraan dan hari besar. Idul Fithri adalah hari di mana kita bersyukur karena telah menjalankan puasa sebulan penuh. Idul Adha adalah hari di mana kita bersyukur karena telah diberi kemudahan melaksanakan manasik haji dan ibadah qurban. Semua ibadah yang dilaksanakan tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Dari hadits juga menunjukkan bahwa di hari ied disunnahkan untuk menampakkan kegembiraan. Juga hendaklah orang yang melarang dari sesuatu memberikan ganti, bukan hanya sekedar melarang. Itulah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua hari ied tersebut.   Kesimpulan … Kalau memang hari Nairuz sudah digantikan dengan hari ied kita saat ini dan digolongkan hari Nairuz sebagai hari Jahiliyah, bagaimana Anda menilai perayaana tahun baru yang dimeriahkan saat ini? Bukankah sama dengan hari Nairuz di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata hari besar jahiliyah masih diwariskan dalam tubuh umat ini. Wallahul musta’an. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Disusun di Soeta Airport saat safar, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsjahiliyah tahun baru

Tahun Baru, Perayaan Jahiliyah

Adakah tahun baru di masa Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabannya, ada. Dahulu ada dua hari raya besar sebelum penetapan Idul Fithri dan Idul Adha, yaitu hari besar Nairuz dan Mihrajan. Apa yang dimaksud dua hari raya tersebut? Ada hadits sebagai berikut. عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, dahulu orang-orang Jahiliyyah memiliki dua haridi setiap tahun yang malan mereka biasa bersenang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota Madinah, beliau bersabda, “Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.” (HR. Abu Daud no. 1134; An-Nasa’i no. 1556. Sanad hadits ini shahih menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 4: 142) Kalau kita melihat keterangan para ulama, hari Nairuz adalah perayaan awal tahun Syamsiyah. Sedangkan Mihrajan adalah perayaan enam bulan setelahnya. Lihat keterangan dalam Minhah Al-‘Allam, 4: 142. Hadits di atas menunjukkan bahwa Allah telah membatalkan dua perayaan yang diadakan orang-orang jahiliyah tersebut dan diganti dengan dua hari ied yang dimiliki oleh umat Islam saat ini yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Dan dinyatakan bahwa dua hari ied kita lebih baik, namun itu bukan pertanda bahwa dua hari besar jahiliyah sebelumnya ada kebaikan. Tetap tidak ada kebaikan pada dua hari jahiliyah tersebut. Hari Idul Fithri dan Idul Adha adalah hari kegembiraan dan hari besar. Idul Fithri adalah hari di mana kita bersyukur karena telah menjalankan puasa sebulan penuh. Idul Adha adalah hari di mana kita bersyukur karena telah diberi kemudahan melaksanakan manasik haji dan ibadah qurban. Semua ibadah yang dilaksanakan tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Dari hadits juga menunjukkan bahwa di hari ied disunnahkan untuk menampakkan kegembiraan. Juga hendaklah orang yang melarang dari sesuatu memberikan ganti, bukan hanya sekedar melarang. Itulah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua hari ied tersebut.   Kesimpulan … Kalau memang hari Nairuz sudah digantikan dengan hari ied kita saat ini dan digolongkan hari Nairuz sebagai hari Jahiliyah, bagaimana Anda menilai perayaana tahun baru yang dimeriahkan saat ini? Bukankah sama dengan hari Nairuz di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata hari besar jahiliyah masih diwariskan dalam tubuh umat ini. Wallahul musta’an. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Disusun di Soeta Airport saat safar, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsjahiliyah tahun baru
Adakah tahun baru di masa Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabannya, ada. Dahulu ada dua hari raya besar sebelum penetapan Idul Fithri dan Idul Adha, yaitu hari besar Nairuz dan Mihrajan. Apa yang dimaksud dua hari raya tersebut? Ada hadits sebagai berikut. عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, dahulu orang-orang Jahiliyyah memiliki dua haridi setiap tahun yang malan mereka biasa bersenang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota Madinah, beliau bersabda, “Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.” (HR. Abu Daud no. 1134; An-Nasa’i no. 1556. Sanad hadits ini shahih menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 4: 142) Kalau kita melihat keterangan para ulama, hari Nairuz adalah perayaan awal tahun Syamsiyah. Sedangkan Mihrajan adalah perayaan enam bulan setelahnya. Lihat keterangan dalam Minhah Al-‘Allam, 4: 142. Hadits di atas menunjukkan bahwa Allah telah membatalkan dua perayaan yang diadakan orang-orang jahiliyah tersebut dan diganti dengan dua hari ied yang dimiliki oleh umat Islam saat ini yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Dan dinyatakan bahwa dua hari ied kita lebih baik, namun itu bukan pertanda bahwa dua hari besar jahiliyah sebelumnya ada kebaikan. Tetap tidak ada kebaikan pada dua hari jahiliyah tersebut. Hari Idul Fithri dan Idul Adha adalah hari kegembiraan dan hari besar. Idul Fithri adalah hari di mana kita bersyukur karena telah menjalankan puasa sebulan penuh. Idul Adha adalah hari di mana kita bersyukur karena telah diberi kemudahan melaksanakan manasik haji dan ibadah qurban. Semua ibadah yang dilaksanakan tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Dari hadits juga menunjukkan bahwa di hari ied disunnahkan untuk menampakkan kegembiraan. Juga hendaklah orang yang melarang dari sesuatu memberikan ganti, bukan hanya sekedar melarang. Itulah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua hari ied tersebut.   Kesimpulan … Kalau memang hari Nairuz sudah digantikan dengan hari ied kita saat ini dan digolongkan hari Nairuz sebagai hari Jahiliyah, bagaimana Anda menilai perayaana tahun baru yang dimeriahkan saat ini? Bukankah sama dengan hari Nairuz di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata hari besar jahiliyah masih diwariskan dalam tubuh umat ini. Wallahul musta’an. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Disusun di Soeta Airport saat safar, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsjahiliyah tahun baru


Adakah tahun baru di masa Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabannya, ada. Dahulu ada dua hari raya besar sebelum penetapan Idul Fithri dan Idul Adha, yaitu hari besar Nairuz dan Mihrajan. Apa yang dimaksud dua hari raya tersebut? Ada hadits sebagai berikut. عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, dahulu orang-orang Jahiliyyah memiliki dua haridi setiap tahun yang malan mereka biasa bersenang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota Madinah, beliau bersabda, “Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.” (HR. Abu Daud no. 1134; An-Nasa’i no. 1556. Sanad hadits ini shahih menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 4: 142) Kalau kita melihat keterangan para ulama, hari Nairuz adalah perayaan awal tahun Syamsiyah. Sedangkan Mihrajan adalah perayaan enam bulan setelahnya. Lihat keterangan dalam Minhah Al-‘Allam, 4: 142. Hadits di atas menunjukkan bahwa Allah telah membatalkan dua perayaan yang diadakan orang-orang jahiliyah tersebut dan diganti dengan dua hari ied yang dimiliki oleh umat Islam saat ini yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Dan dinyatakan bahwa dua hari ied kita lebih baik, namun itu bukan pertanda bahwa dua hari besar jahiliyah sebelumnya ada kebaikan. Tetap tidak ada kebaikan pada dua hari jahiliyah tersebut. Hari Idul Fithri dan Idul Adha adalah hari kegembiraan dan hari besar. Idul Fithri adalah hari di mana kita bersyukur karena telah menjalankan puasa sebulan penuh. Idul Adha adalah hari di mana kita bersyukur karena telah diberi kemudahan melaksanakan manasik haji dan ibadah qurban. Semua ibadah yang dilaksanakan tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Dari hadits juga menunjukkan bahwa di hari ied disunnahkan untuk menampakkan kegembiraan. Juga hendaklah orang yang melarang dari sesuatu memberikan ganti, bukan hanya sekedar melarang. Itulah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua hari ied tersebut.   Kesimpulan … Kalau memang hari Nairuz sudah digantikan dengan hari ied kita saat ini dan digolongkan hari Nairuz sebagai hari Jahiliyah, bagaimana Anda menilai perayaana tahun baru yang dimeriahkan saat ini? Bukankah sama dengan hari Nairuz di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata hari besar jahiliyah masih diwariskan dalam tubuh umat ini. Wallahul musta’an. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Disusun di Soeta Airport saat safar, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsjahiliyah tahun baru

Apa Benar Nabi Isa Disalib?

Apakah benar Nabi Isa yang mati di tiang salib? Bagaimana keyakinan Islam tentang hal ini? Yang mati di tiang salib bukanlah Nabi Isa ‘alaihis salam, namun orang yang diserupakan dengannya. Sedangkan Nabi Isa sendri diangkat ke sisi Allah. Seperti yang disebutkan dalam ayat, وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 156-158) Yang diserupakan adalah murid Isa yang masih berusia muda dan setia padanya. Bukti dari hal ini adalah sebuah cerita yang dibawakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut. “Ketika Allah ingin mengangkat Isa -‘alaihis salam– ke langit, beliau pun keluar menuju para sahabatnya dan ketika itu dalam rumah terdapat 12 orang sahabat Al- Hawariyyun. Beliau keluar menuju mereka dan kepala beliau terus meneteskan air. Lalu Isa mengatakan, “Sesungguhnya di antara kalian ada yang mengkufuriku sebanyak 12 kali setelah ia beriman padaku.” Kemudian Isa berkata lagi, “Ada di antara kalian yang akan diserupakan denganku. Ia akan dibunuh karena kedudukanku. Dia pun akan menjadi teman dekatku.” Kemudian di antara para sahabat beliau tadi yang masih muda berdiri, lantas Isa mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa kembali lagi pada mereka, pemuda tadi pun berdiri kembali. Isa pun mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa datang lagi ketiga kalinya dan pemuda tadi masih tetap berdiri dan ia mengatakan, “Aku, wahai Isa.” “Betulkah engkau yang ingin diserupakan denganku?” ujar Nabi Isa. Kemudian pemuda tadi diserupakan dengan Nabi Isa. Isa pun diangkat melalui lobang tembok di rumah tersebut menuju langit. Kemudian datanglah rombongan orang Yahudi. Lantas mereka membawa pemuda yang diserupakan dengan Nabi Isa tadi. Mereka membunuhnya dan menyalibnya. Sebagian mereka pun mengkufuri Isa sebanyak 12 kali setelah sebelumnya mereka beriman padanya. Mereka pun terpecah menjadi tiga golongan. Kelompok pertama mengatakan, “Allah berada di tengah-tengah kita sesuai kehendak-Nya kemudian Dia naik ke langit.” Mereka inilah Ya’qubiyah. Kelompok kedua mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada anak Allah sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Mereka inilah An-Nas-thuriyah. Kelompok ketiga mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada hamba Allah dan Rasul-Nya sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Merekalah kaum muslimin. Kelompok pertama dan kedua yang kafir akan mengalahkan kelompok ketika yang muslim. Kelompok yang muslim itu pun sirna, sampai Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu Katsir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih sampai Ibnu ‘Abbas. An-Nasa’i meriwayatkan hadits ini dari Abu Kuraib dan dari Abu Mu’awiyah serta semisalnya. Seperti disebutkan pula oleh ulama salaf yang lain. Nabi Isa berkata kepada murid-muridnya, “Siapa yang mau diserupakan sepertiku? Lantas ia yang nanti menggantikan posisiku. Dialah yang nanti jadi teman dekatku di surga nanti.” Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 254-255.   Pelajaran Penting Dari riwayat ini ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik: Setelah Isa diangkat ke langit, ada sebagian murid Isa (Al-Hawariyyun) yang beriman dan sebagian lainnya kufur pada beliau. Nabi Isa tidak mati dan tidak disalib, namun beliau diangkat ke langit. Yang mati dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan beliau. Yang dibunuh dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa, yaitu murid beliau yang setia pada beliau (bukan murid pengkhianat) seperti yang disebutkan dalam riwayat Ibnu ‘Abbas di atas. Sedangkan Ibnu Jarir lebih menguatkan pendapat yang diserupakan dengan Isa adalah seluruh muridnya. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (3: 257). Murid-murid Isa terpecah menjadi tiga golongan. Satu golongan beriman yaitu meyakini bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah. Sedangkan dua golongan lain kufur. Sebagian meyakini bahwa Isa adalah Allah. Dan sebagian lainnya meyakini bahwa Isa adalah anak Allah. Yang menang ketika itu adalah dua golongan yang kafir sedangkan golongan yang beriman musnah sampai diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun ulang, malam 17 Rabi’ul Awwal 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Apa Benar Nabi Isa Disalib?

Apakah benar Nabi Isa yang mati di tiang salib? Bagaimana keyakinan Islam tentang hal ini? Yang mati di tiang salib bukanlah Nabi Isa ‘alaihis salam, namun orang yang diserupakan dengannya. Sedangkan Nabi Isa sendri diangkat ke sisi Allah. Seperti yang disebutkan dalam ayat, وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 156-158) Yang diserupakan adalah murid Isa yang masih berusia muda dan setia padanya. Bukti dari hal ini adalah sebuah cerita yang dibawakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut. “Ketika Allah ingin mengangkat Isa -‘alaihis salam– ke langit, beliau pun keluar menuju para sahabatnya dan ketika itu dalam rumah terdapat 12 orang sahabat Al- Hawariyyun. Beliau keluar menuju mereka dan kepala beliau terus meneteskan air. Lalu Isa mengatakan, “Sesungguhnya di antara kalian ada yang mengkufuriku sebanyak 12 kali setelah ia beriman padaku.” Kemudian Isa berkata lagi, “Ada di antara kalian yang akan diserupakan denganku. Ia akan dibunuh karena kedudukanku. Dia pun akan menjadi teman dekatku.” Kemudian di antara para sahabat beliau tadi yang masih muda berdiri, lantas Isa mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa kembali lagi pada mereka, pemuda tadi pun berdiri kembali. Isa pun mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa datang lagi ketiga kalinya dan pemuda tadi masih tetap berdiri dan ia mengatakan, “Aku, wahai Isa.” “Betulkah engkau yang ingin diserupakan denganku?” ujar Nabi Isa. Kemudian pemuda tadi diserupakan dengan Nabi Isa. Isa pun diangkat melalui lobang tembok di rumah tersebut menuju langit. Kemudian datanglah rombongan orang Yahudi. Lantas mereka membawa pemuda yang diserupakan dengan Nabi Isa tadi. Mereka membunuhnya dan menyalibnya. Sebagian mereka pun mengkufuri Isa sebanyak 12 kali setelah sebelumnya mereka beriman padanya. Mereka pun terpecah menjadi tiga golongan. Kelompok pertama mengatakan, “Allah berada di tengah-tengah kita sesuai kehendak-Nya kemudian Dia naik ke langit.” Mereka inilah Ya’qubiyah. Kelompok kedua mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada anak Allah sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Mereka inilah An-Nas-thuriyah. Kelompok ketiga mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada hamba Allah dan Rasul-Nya sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Merekalah kaum muslimin. Kelompok pertama dan kedua yang kafir akan mengalahkan kelompok ketika yang muslim. Kelompok yang muslim itu pun sirna, sampai Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu Katsir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih sampai Ibnu ‘Abbas. An-Nasa’i meriwayatkan hadits ini dari Abu Kuraib dan dari Abu Mu’awiyah serta semisalnya. Seperti disebutkan pula oleh ulama salaf yang lain. Nabi Isa berkata kepada murid-muridnya, “Siapa yang mau diserupakan sepertiku? Lantas ia yang nanti menggantikan posisiku. Dialah yang nanti jadi teman dekatku di surga nanti.” Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 254-255.   Pelajaran Penting Dari riwayat ini ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik: Setelah Isa diangkat ke langit, ada sebagian murid Isa (Al-Hawariyyun) yang beriman dan sebagian lainnya kufur pada beliau. Nabi Isa tidak mati dan tidak disalib, namun beliau diangkat ke langit. Yang mati dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan beliau. Yang dibunuh dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa, yaitu murid beliau yang setia pada beliau (bukan murid pengkhianat) seperti yang disebutkan dalam riwayat Ibnu ‘Abbas di atas. Sedangkan Ibnu Jarir lebih menguatkan pendapat yang diserupakan dengan Isa adalah seluruh muridnya. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (3: 257). Murid-murid Isa terpecah menjadi tiga golongan. Satu golongan beriman yaitu meyakini bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah. Sedangkan dua golongan lain kufur. Sebagian meyakini bahwa Isa adalah Allah. Dan sebagian lainnya meyakini bahwa Isa adalah anak Allah. Yang menang ketika itu adalah dua golongan yang kafir sedangkan golongan yang beriman musnah sampai diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun ulang, malam 17 Rabi’ul Awwal 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa
Apakah benar Nabi Isa yang mati di tiang salib? Bagaimana keyakinan Islam tentang hal ini? Yang mati di tiang salib bukanlah Nabi Isa ‘alaihis salam, namun orang yang diserupakan dengannya. Sedangkan Nabi Isa sendri diangkat ke sisi Allah. Seperti yang disebutkan dalam ayat, وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 156-158) Yang diserupakan adalah murid Isa yang masih berusia muda dan setia padanya. Bukti dari hal ini adalah sebuah cerita yang dibawakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut. “Ketika Allah ingin mengangkat Isa -‘alaihis salam– ke langit, beliau pun keluar menuju para sahabatnya dan ketika itu dalam rumah terdapat 12 orang sahabat Al- Hawariyyun. Beliau keluar menuju mereka dan kepala beliau terus meneteskan air. Lalu Isa mengatakan, “Sesungguhnya di antara kalian ada yang mengkufuriku sebanyak 12 kali setelah ia beriman padaku.” Kemudian Isa berkata lagi, “Ada di antara kalian yang akan diserupakan denganku. Ia akan dibunuh karena kedudukanku. Dia pun akan menjadi teman dekatku.” Kemudian di antara para sahabat beliau tadi yang masih muda berdiri, lantas Isa mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa kembali lagi pada mereka, pemuda tadi pun berdiri kembali. Isa pun mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa datang lagi ketiga kalinya dan pemuda tadi masih tetap berdiri dan ia mengatakan, “Aku, wahai Isa.” “Betulkah engkau yang ingin diserupakan denganku?” ujar Nabi Isa. Kemudian pemuda tadi diserupakan dengan Nabi Isa. Isa pun diangkat melalui lobang tembok di rumah tersebut menuju langit. Kemudian datanglah rombongan orang Yahudi. Lantas mereka membawa pemuda yang diserupakan dengan Nabi Isa tadi. Mereka membunuhnya dan menyalibnya. Sebagian mereka pun mengkufuri Isa sebanyak 12 kali setelah sebelumnya mereka beriman padanya. Mereka pun terpecah menjadi tiga golongan. Kelompok pertama mengatakan, “Allah berada di tengah-tengah kita sesuai kehendak-Nya kemudian Dia naik ke langit.” Mereka inilah Ya’qubiyah. Kelompok kedua mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada anak Allah sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Mereka inilah An-Nas-thuriyah. Kelompok ketiga mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada hamba Allah dan Rasul-Nya sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Merekalah kaum muslimin. Kelompok pertama dan kedua yang kafir akan mengalahkan kelompok ketika yang muslim. Kelompok yang muslim itu pun sirna, sampai Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu Katsir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih sampai Ibnu ‘Abbas. An-Nasa’i meriwayatkan hadits ini dari Abu Kuraib dan dari Abu Mu’awiyah serta semisalnya. Seperti disebutkan pula oleh ulama salaf yang lain. Nabi Isa berkata kepada murid-muridnya, “Siapa yang mau diserupakan sepertiku? Lantas ia yang nanti menggantikan posisiku. Dialah yang nanti jadi teman dekatku di surga nanti.” Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 254-255.   Pelajaran Penting Dari riwayat ini ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik: Setelah Isa diangkat ke langit, ada sebagian murid Isa (Al-Hawariyyun) yang beriman dan sebagian lainnya kufur pada beliau. Nabi Isa tidak mati dan tidak disalib, namun beliau diangkat ke langit. Yang mati dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan beliau. Yang dibunuh dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa, yaitu murid beliau yang setia pada beliau (bukan murid pengkhianat) seperti yang disebutkan dalam riwayat Ibnu ‘Abbas di atas. Sedangkan Ibnu Jarir lebih menguatkan pendapat yang diserupakan dengan Isa adalah seluruh muridnya. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (3: 257). Murid-murid Isa terpecah menjadi tiga golongan. Satu golongan beriman yaitu meyakini bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah. Sedangkan dua golongan lain kufur. Sebagian meyakini bahwa Isa adalah Allah. Dan sebagian lainnya meyakini bahwa Isa adalah anak Allah. Yang menang ketika itu adalah dua golongan yang kafir sedangkan golongan yang beriman musnah sampai diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun ulang, malam 17 Rabi’ul Awwal 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa


Apakah benar Nabi Isa yang mati di tiang salib? Bagaimana keyakinan Islam tentang hal ini? Yang mati di tiang salib bukanlah Nabi Isa ‘alaihis salam, namun orang yang diserupakan dengannya. Sedangkan Nabi Isa sendri diangkat ke sisi Allah. Seperti yang disebutkan dalam ayat, وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 156-158) Yang diserupakan adalah murid Isa yang masih berusia muda dan setia padanya. Bukti dari hal ini adalah sebuah cerita yang dibawakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut. “Ketika Allah ingin mengangkat Isa -‘alaihis salam– ke langit, beliau pun keluar menuju para sahabatnya dan ketika itu dalam rumah terdapat 12 orang sahabat Al- Hawariyyun. Beliau keluar menuju mereka dan kepala beliau terus meneteskan air. Lalu Isa mengatakan, “Sesungguhnya di antara kalian ada yang mengkufuriku sebanyak 12 kali setelah ia beriman padaku.” Kemudian Isa berkata lagi, “Ada di antara kalian yang akan diserupakan denganku. Ia akan dibunuh karena kedudukanku. Dia pun akan menjadi teman dekatku.” Kemudian di antara para sahabat beliau tadi yang masih muda berdiri, lantas Isa mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa kembali lagi pada mereka, pemuda tadi pun berdiri kembali. Isa pun mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa datang lagi ketiga kalinya dan pemuda tadi masih tetap berdiri dan ia mengatakan, “Aku, wahai Isa.” “Betulkah engkau yang ingin diserupakan denganku?” ujar Nabi Isa. Kemudian pemuda tadi diserupakan dengan Nabi Isa. Isa pun diangkat melalui lobang tembok di rumah tersebut menuju langit. Kemudian datanglah rombongan orang Yahudi. Lantas mereka membawa pemuda yang diserupakan dengan Nabi Isa tadi. Mereka membunuhnya dan menyalibnya. Sebagian mereka pun mengkufuri Isa sebanyak 12 kali setelah sebelumnya mereka beriman padanya. Mereka pun terpecah menjadi tiga golongan. Kelompok pertama mengatakan, “Allah berada di tengah-tengah kita sesuai kehendak-Nya kemudian Dia naik ke langit.” Mereka inilah Ya’qubiyah. Kelompok kedua mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada anak Allah sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Mereka inilah An-Nas-thuriyah. Kelompok ketiga mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada hamba Allah dan Rasul-Nya sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Merekalah kaum muslimin. Kelompok pertama dan kedua yang kafir akan mengalahkan kelompok ketika yang muslim. Kelompok yang muslim itu pun sirna, sampai Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu Katsir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih sampai Ibnu ‘Abbas. An-Nasa’i meriwayatkan hadits ini dari Abu Kuraib dan dari Abu Mu’awiyah serta semisalnya. Seperti disebutkan pula oleh ulama salaf yang lain. Nabi Isa berkata kepada murid-muridnya, “Siapa yang mau diserupakan sepertiku? Lantas ia yang nanti menggantikan posisiku. Dialah yang nanti jadi teman dekatku di surga nanti.” Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 254-255.   Pelajaran Penting Dari riwayat ini ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik: Setelah Isa diangkat ke langit, ada sebagian murid Isa (Al-Hawariyyun) yang beriman dan sebagian lainnya kufur pada beliau. Nabi Isa tidak mati dan tidak disalib, namun beliau diangkat ke langit. Yang mati dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan beliau. Yang dibunuh dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa, yaitu murid beliau yang setia pada beliau (bukan murid pengkhianat) seperti yang disebutkan dalam riwayat Ibnu ‘Abbas di atas. Sedangkan Ibnu Jarir lebih menguatkan pendapat yang diserupakan dengan Isa adalah seluruh muridnya. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (3: 257). Murid-murid Isa terpecah menjadi tiga golongan. Satu golongan beriman yaitu meyakini bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah. Sedangkan dua golongan lain kufur. Sebagian meyakini bahwa Isa adalah Allah. Dan sebagian lainnya meyakini bahwa Isa adalah anak Allah. Yang menang ketika itu adalah dua golongan yang kafir sedangkan golongan yang beriman musnah sampai diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun ulang, malam 17 Rabi’ul Awwal 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Radio dan TV DS Butuh Kamera dan Pemancar Jarak Jauh

Saat ini radio dan TV DS sudah mengudara walau masih uji coba antara Maghrib hingga pukul sembilan malam, namun antusias masyarakat untuk menyaksikan siaran tersebut sangat besar sekali. Saat ini, radio dan TV DS sedang membutuhkan tambahan kamera dan perlengkapan pemancar jarak jauh. Pemancar ini berguna untuk memudahkan siaran tanpa kabel, hingga jarak 800 meter.   Apa Manfaat Adanya Radio dan TV DS?  Manfaat untuk 2000 jamaah pengajian rutin, 4000 jamaah kajian akbar dari empat kecamatan di selatan Gunungkidul: Panggang, Purwosari, Saptosari, dan Paliyan. Orang yang punya uzur untuk hadir dalam majelis bisa terus raih manfaat. Yang belum dapat hidayah dalam mengenal Islam lebih dekat, bisa dapat hidayah. TV dan radio masyarakat beralih dari hal yang kurang manfaat menjadi hal yang manfaat. Walaupun awalnya, radio dan TV hanyalah komunitas, dapat dijangkau dalam radius 7 – 13 km, kami masih menaruh harapan bisa berkembang menjadi komersial sehingga lebih luas pengaruhnya.   Perkembangan Pembangunan Radio dan TV DS  Pengurusan akta pendirian di notaris, untuk selanjutnya pengurusan izin di Balmon Jogja dan KPID Jogja. Ujicoba siaran radio dan TV. Menambah perlengkapan kamera, lampu lighting, adapter dan lensa. Desain ruangan kedap suara untuk dua studio TV dan radio. Kebutuhan Dana  Dana minus sekitar 180 juta rupiah yang ditutup dari anggaran lain. Kebutuhan dana ruang kedap suara: Rp.57.000.000,- adapter lensa kamera: Rp.10.000.000,- pemancar jarak jauh: Rp.25.000.000,- Yang Ingin Berdonasi Amal Jariyah  Silakan transfer ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Kamera dan Pemancar Radio TV # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Kamera dan Pemancar Radio TV # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Donasi tahap #3 ini diberlakukan hingga terpenuhi dana. Lihat donasi tahap #1.   Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Ikuti info Pesantren Masyarakat Darush Sholihin di Channel Telegram: @DarushSholihin. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsradio

Radio dan TV DS Butuh Kamera dan Pemancar Jarak Jauh

Saat ini radio dan TV DS sudah mengudara walau masih uji coba antara Maghrib hingga pukul sembilan malam, namun antusias masyarakat untuk menyaksikan siaran tersebut sangat besar sekali. Saat ini, radio dan TV DS sedang membutuhkan tambahan kamera dan perlengkapan pemancar jarak jauh. Pemancar ini berguna untuk memudahkan siaran tanpa kabel, hingga jarak 800 meter.   Apa Manfaat Adanya Radio dan TV DS?  Manfaat untuk 2000 jamaah pengajian rutin, 4000 jamaah kajian akbar dari empat kecamatan di selatan Gunungkidul: Panggang, Purwosari, Saptosari, dan Paliyan. Orang yang punya uzur untuk hadir dalam majelis bisa terus raih manfaat. Yang belum dapat hidayah dalam mengenal Islam lebih dekat, bisa dapat hidayah. TV dan radio masyarakat beralih dari hal yang kurang manfaat menjadi hal yang manfaat. Walaupun awalnya, radio dan TV hanyalah komunitas, dapat dijangkau dalam radius 7 – 13 km, kami masih menaruh harapan bisa berkembang menjadi komersial sehingga lebih luas pengaruhnya.   Perkembangan Pembangunan Radio dan TV DS  Pengurusan akta pendirian di notaris, untuk selanjutnya pengurusan izin di Balmon Jogja dan KPID Jogja. Ujicoba siaran radio dan TV. Menambah perlengkapan kamera, lampu lighting, adapter dan lensa. Desain ruangan kedap suara untuk dua studio TV dan radio. Kebutuhan Dana  Dana minus sekitar 180 juta rupiah yang ditutup dari anggaran lain. Kebutuhan dana ruang kedap suara: Rp.57.000.000,- adapter lensa kamera: Rp.10.000.000,- pemancar jarak jauh: Rp.25.000.000,- Yang Ingin Berdonasi Amal Jariyah  Silakan transfer ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Kamera dan Pemancar Radio TV # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Kamera dan Pemancar Radio TV # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Donasi tahap #3 ini diberlakukan hingga terpenuhi dana. Lihat donasi tahap #1.   Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Ikuti info Pesantren Masyarakat Darush Sholihin di Channel Telegram: @DarushSholihin. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsradio
Saat ini radio dan TV DS sudah mengudara walau masih uji coba antara Maghrib hingga pukul sembilan malam, namun antusias masyarakat untuk menyaksikan siaran tersebut sangat besar sekali. Saat ini, radio dan TV DS sedang membutuhkan tambahan kamera dan perlengkapan pemancar jarak jauh. Pemancar ini berguna untuk memudahkan siaran tanpa kabel, hingga jarak 800 meter.   Apa Manfaat Adanya Radio dan TV DS?  Manfaat untuk 2000 jamaah pengajian rutin, 4000 jamaah kajian akbar dari empat kecamatan di selatan Gunungkidul: Panggang, Purwosari, Saptosari, dan Paliyan. Orang yang punya uzur untuk hadir dalam majelis bisa terus raih manfaat. Yang belum dapat hidayah dalam mengenal Islam lebih dekat, bisa dapat hidayah. TV dan radio masyarakat beralih dari hal yang kurang manfaat menjadi hal yang manfaat. Walaupun awalnya, radio dan TV hanyalah komunitas, dapat dijangkau dalam radius 7 – 13 km, kami masih menaruh harapan bisa berkembang menjadi komersial sehingga lebih luas pengaruhnya.   Perkembangan Pembangunan Radio dan TV DS  Pengurusan akta pendirian di notaris, untuk selanjutnya pengurusan izin di Balmon Jogja dan KPID Jogja. Ujicoba siaran radio dan TV. Menambah perlengkapan kamera, lampu lighting, adapter dan lensa. Desain ruangan kedap suara untuk dua studio TV dan radio. Kebutuhan Dana  Dana minus sekitar 180 juta rupiah yang ditutup dari anggaran lain. Kebutuhan dana ruang kedap suara: Rp.57.000.000,- adapter lensa kamera: Rp.10.000.000,- pemancar jarak jauh: Rp.25.000.000,- Yang Ingin Berdonasi Amal Jariyah  Silakan transfer ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Kamera dan Pemancar Radio TV # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Kamera dan Pemancar Radio TV # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Donasi tahap #3 ini diberlakukan hingga terpenuhi dana. Lihat donasi tahap #1.   Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Ikuti info Pesantren Masyarakat Darush Sholihin di Channel Telegram: @DarushSholihin. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsradio


Saat ini radio dan TV DS sudah mengudara walau masih uji coba antara Maghrib hingga pukul sembilan malam, namun antusias masyarakat untuk menyaksikan siaran tersebut sangat besar sekali. Saat ini, radio dan TV DS sedang membutuhkan tambahan kamera dan perlengkapan pemancar jarak jauh. Pemancar ini berguna untuk memudahkan siaran tanpa kabel, hingga jarak 800 meter.   Apa Manfaat Adanya Radio dan TV DS?  Manfaat untuk 2000 jamaah pengajian rutin, 4000 jamaah kajian akbar dari empat kecamatan di selatan Gunungkidul: Panggang, Purwosari, Saptosari, dan Paliyan. Orang yang punya uzur untuk hadir dalam majelis bisa terus raih manfaat. Yang belum dapat hidayah dalam mengenal Islam lebih dekat, bisa dapat hidayah. TV dan radio masyarakat beralih dari hal yang kurang manfaat menjadi hal yang manfaat. Walaupun awalnya, radio dan TV hanyalah komunitas, dapat dijangkau dalam radius 7 – 13 km, kami masih menaruh harapan bisa berkembang menjadi komersial sehingga lebih luas pengaruhnya.   Perkembangan Pembangunan Radio dan TV DS  Pengurusan akta pendirian di notaris, untuk selanjutnya pengurusan izin di Balmon Jogja dan KPID Jogja. Ujicoba siaran radio dan TV. Menambah perlengkapan kamera, lampu lighting, adapter dan lensa. Desain ruangan kedap suara untuk dua studio TV dan radio. Kebutuhan Dana  Dana minus sekitar 180 juta rupiah yang ditutup dari anggaran lain. Kebutuhan dana ruang kedap suara: Rp.57.000.000,- adapter lensa kamera: Rp.10.000.000,- pemancar jarak jauh: Rp.25.000.000,- Yang Ingin Berdonasi Amal Jariyah  Silakan transfer ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Kamera dan Pemancar Radio TV # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Kamera dan Pemancar Radio TV # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Donasi tahap #3 ini diberlakukan hingga terpenuhi dana. Lihat donasi tahap #1.   Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Ikuti info Pesantren Masyarakat Darush Sholihin di Channel Telegram: @DarushSholihin. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsradio

Ikutilah Aku (Isa)

Apakah benar dalam ayat Al-Quran disebutkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk mengikuti Nabi Isa? Apa maksudnya?   Sifat Fisik Nabi Isa Beliau adalah seorang lelaki yang posturnya tidak terlalu tinggi, tidak pula terlalu pendek, kulitnya kemerahan, dadanya bidang, rambutnya lurus melebihi ujung telinganya, rambutnya terurai sampai pundak. Rambutnya meneteskan air seolah-olah baru keluar dari kamar mandi.[1]   Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman Allah Ta’ala berfirman, وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) ”Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Az Zukhruf : 61) Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil ‘Azhim mengatakan, ”Tafsir dari Ibnu Ishaq telah disebutkan, yaitu yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah diutusnya Isa ‘alaihis salam di mana beliau ‘alaihis salam akan menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta serta penyakit lainnya.” Kemudian selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan,”Yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah mengenai turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam sebelum hari kiamat. Sebagaimana terdapat pula dalam firman Allah, وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepada Isa (‘alaihis salam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’ [4] : 159). Hal ini juga dikuatkan dengan qiro’ah (bacaan) lain dari ayat ini, “وإنه لعَلَم للساعة” Yang artinya ‘Sungguh Isa adalah sebagai tanda datangnya hari kiamat’ yaitu Isa sebagai tanda atau petunjuk akan terjadinya kiamat. Dan Mujahid berkata mengenai ayat ini bahwa sebagai tanda hari kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat. Demikianlah yag diriwayatkan dari Abu Huroiroh, Ibnu Abbas, Abul ‘Aliyah, Abu Malik, ‘Ikrimah, Qotadah, Adh Dhohak, dan selainnya. Juga terdapat hadits mutawatir (melalui banyak jalan periwayatan) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Isa ‘alaihis salam akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam dan hakim yang adil.   Pertanyaan: Apakah Nabi Isa turun kembali untuk membela orang-orang Nashrani? Dijawab oleh Al Baghowi dalam tafsirnya, beliau berkata, وروينا عن النبي صلى الله عليه وسلم: “ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكمًا عادلا يكسر الصليب، ويقتل الخنزير ويضع الجزية، وتهلك في زمانه الملل كلها إلا الإسلام”. ”Kami telah mendapatkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,’Sungguh hampir dekat waktunya turun di tengah-tengah kalian (Isa) bin Maryam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghilangkan jizyah (upeti, karena kafir dzimmi sudah tidak ada lagi. Semuanya muslim). Akan dihancurkan seluruh agama di zaman beliau kecuali Islam’.”(HR. Bukhari) Perhatikan Nabi Isa akan datang bukan untuk membela agama Nashrani, tetapi akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghancurkan agama tersebut. Dan yang dimaksudkan bahwa beliau menjadi hakim yang adil adalah beliau menjadi hakim dengan menggunakan syari’at Islam, bukan dengan syari’at Nashrani atau syari’at yang baru. Karena tatkala Isa bin Maryam itu turun, syari’at Islam masih tetap berlaku dan tidak terhapus. Bahkan Nabi Isa akan menjadi salah seorang hakim umat ini. Yang menguatkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Thobroni, dari Abdullah bin Mughoffal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَنْزِل عِيسَى اِبْن مَرْيَم مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدِ عَلَى مِلَّته “Isa bin Maryam akan turun dengan membenarkan agama yang dibawa Nabi Muhammad.” Lihatlah penjelasan tentang hal ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar. Bahkan Nabi Isa akan menjadi makmum di belakang imam kaum muslimin karena Allah memuliakan umat ini. Al Baghowi menceritakan dalam tafsirnya bahwa ketika Isa mendatangi Baitul Maqdis sedangkan orang-orang sedang melakukan shalat Ashar, maka Imam di masjid itu mundur dan menyuruh Isa untuk maju. Namun, Nabi Isa enggan, dan dia tetap shalat di belakang Imam tadi dengan syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Abu Daud dan Ahmad).   Misi Nabi Isa Saat Turun ke Bumi Sebagaimana telah dijelaskan dari beberapa hadits yang telah lewat, Nabi Isa ‘alaihis salam turun ke muka bumi ini dengan membawa beberapa misi, di antaranya :   1- Menjadi hakim yang adil An Nawawi dalam Syarh Muslim (1/281) mengatakan, “Yakni beliau turun sebagai hakim dengan membawa syari’at Islam, bukan turun sebagai nabi yang membawa risalah tersendiri atau membawa ajaran yang menghapus ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau adalah seorang hakim di antara hakim-hakim umat ini.“   2- Menghancurkan Salib Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (10/250) mengatakan, “Yakni membatalkan agama Nashrani dengan cara betul-betul menghancurkan salib serta membatalkan keyakinan orang Nashrani tentang keagungannya.“   3- Membunuh Babi 4- Menghilangkan Jizyah Jizyah adalah semacam upeti yang dibebankan kepada ahlul kitab yang hidup di negeri muslim, ketika mereka tidak mau memeluk agama Islam. Dengan itu, mereka boleh tinggal di negeri Islam serta mendapatkan jaminan keamanan dari kaum muslimin. An Nawawi dalam Syarh Muslim (1/281) mengatakan,“Maksud menghilangkan jizyah adalah bahwa jizyah tidak diterima lagi. Yang diterima dari orang kafir hanyalah Islam (yaitu agar mereka masuk Islam, pen).  Barangsiapa ingin mendapatkan keamanan di negeri Islam dengan membayar jizyah maka hal itu tidaklah mencukupi. Hanya ada dua pilihan bagi orang kafir yaitu masuk Islam atau dibunuh. Inilah pendapat Imam Abu Sulaiman Al Khothobi dan selainnya. “   Hikmah Turunnya Nabi Isa Pertama, untuk membantah klaim Yahudi bahwa merekalah yang membunuh Isa dan menyalibnya. Dengan turunnya Nabi Isa, justru membuktikan bahwa Nabi Isa-lah yang akan membunuh orang Yahudi sekaligus pemimpin mereka yakni Dajjal. Kedua, untuk membantah orang-orang Nashrani yang telah menuhankan Nabi Isa, menolak agama Islam, mengagungkan salib dan menghalalkan babi. Justru Nabi Isa nanti akan mengajak mereka untuk masuk Islam, memerangi orang agar masuk Islam, berhukum dengan syari’at Islam, tidak menerima dari Ahlu Kitab kecuali Islam, tidak lagi menerima jizyah, salib akan dihancurkan dan babi akan dibunuh. Pada akhirnya nabi Isa akan wafat sebagaimana manusia biasa, bukan sebagai Tuhan atau anak Tuhan atau salah dari yang tiga.   Baca selengkapnya tentang turunnya Nabi Isa: Turunnya Nabi Isa seri 1 Turunnya Nabi Isa seri 2 Turunnya Nabi Isa seri 3   [1] Penjelasan ini terdapat dalam beberapa riwayat dalam Bukhari dan Muslim — Direvisi ulang 16 Rabi’ul Awwal 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Ikutilah Aku (Isa)

Apakah benar dalam ayat Al-Quran disebutkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk mengikuti Nabi Isa? Apa maksudnya?   Sifat Fisik Nabi Isa Beliau adalah seorang lelaki yang posturnya tidak terlalu tinggi, tidak pula terlalu pendek, kulitnya kemerahan, dadanya bidang, rambutnya lurus melebihi ujung telinganya, rambutnya terurai sampai pundak. Rambutnya meneteskan air seolah-olah baru keluar dari kamar mandi.[1]   Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman Allah Ta’ala berfirman, وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) ”Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Az Zukhruf : 61) Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil ‘Azhim mengatakan, ”Tafsir dari Ibnu Ishaq telah disebutkan, yaitu yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah diutusnya Isa ‘alaihis salam di mana beliau ‘alaihis salam akan menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta serta penyakit lainnya.” Kemudian selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan,”Yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah mengenai turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam sebelum hari kiamat. Sebagaimana terdapat pula dalam firman Allah, وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepada Isa (‘alaihis salam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’ [4] : 159). Hal ini juga dikuatkan dengan qiro’ah (bacaan) lain dari ayat ini, “وإنه لعَلَم للساعة” Yang artinya ‘Sungguh Isa adalah sebagai tanda datangnya hari kiamat’ yaitu Isa sebagai tanda atau petunjuk akan terjadinya kiamat. Dan Mujahid berkata mengenai ayat ini bahwa sebagai tanda hari kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat. Demikianlah yag diriwayatkan dari Abu Huroiroh, Ibnu Abbas, Abul ‘Aliyah, Abu Malik, ‘Ikrimah, Qotadah, Adh Dhohak, dan selainnya. Juga terdapat hadits mutawatir (melalui banyak jalan periwayatan) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Isa ‘alaihis salam akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam dan hakim yang adil.   Pertanyaan: Apakah Nabi Isa turun kembali untuk membela orang-orang Nashrani? Dijawab oleh Al Baghowi dalam tafsirnya, beliau berkata, وروينا عن النبي صلى الله عليه وسلم: “ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكمًا عادلا يكسر الصليب، ويقتل الخنزير ويضع الجزية، وتهلك في زمانه الملل كلها إلا الإسلام”. ”Kami telah mendapatkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,’Sungguh hampir dekat waktunya turun di tengah-tengah kalian (Isa) bin Maryam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghilangkan jizyah (upeti, karena kafir dzimmi sudah tidak ada lagi. Semuanya muslim). Akan dihancurkan seluruh agama di zaman beliau kecuali Islam’.”(HR. Bukhari) Perhatikan Nabi Isa akan datang bukan untuk membela agama Nashrani, tetapi akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghancurkan agama tersebut. Dan yang dimaksudkan bahwa beliau menjadi hakim yang adil adalah beliau menjadi hakim dengan menggunakan syari’at Islam, bukan dengan syari’at Nashrani atau syari’at yang baru. Karena tatkala Isa bin Maryam itu turun, syari’at Islam masih tetap berlaku dan tidak terhapus. Bahkan Nabi Isa akan menjadi salah seorang hakim umat ini. Yang menguatkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Thobroni, dari Abdullah bin Mughoffal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَنْزِل عِيسَى اِبْن مَرْيَم مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدِ عَلَى مِلَّته “Isa bin Maryam akan turun dengan membenarkan agama yang dibawa Nabi Muhammad.” Lihatlah penjelasan tentang hal ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar. Bahkan Nabi Isa akan menjadi makmum di belakang imam kaum muslimin karena Allah memuliakan umat ini. Al Baghowi menceritakan dalam tafsirnya bahwa ketika Isa mendatangi Baitul Maqdis sedangkan orang-orang sedang melakukan shalat Ashar, maka Imam di masjid itu mundur dan menyuruh Isa untuk maju. Namun, Nabi Isa enggan, dan dia tetap shalat di belakang Imam tadi dengan syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Abu Daud dan Ahmad).   Misi Nabi Isa Saat Turun ke Bumi Sebagaimana telah dijelaskan dari beberapa hadits yang telah lewat, Nabi Isa ‘alaihis salam turun ke muka bumi ini dengan membawa beberapa misi, di antaranya :   1- Menjadi hakim yang adil An Nawawi dalam Syarh Muslim (1/281) mengatakan, “Yakni beliau turun sebagai hakim dengan membawa syari’at Islam, bukan turun sebagai nabi yang membawa risalah tersendiri atau membawa ajaran yang menghapus ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau adalah seorang hakim di antara hakim-hakim umat ini.“   2- Menghancurkan Salib Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (10/250) mengatakan, “Yakni membatalkan agama Nashrani dengan cara betul-betul menghancurkan salib serta membatalkan keyakinan orang Nashrani tentang keagungannya.“   3- Membunuh Babi 4- Menghilangkan Jizyah Jizyah adalah semacam upeti yang dibebankan kepada ahlul kitab yang hidup di negeri muslim, ketika mereka tidak mau memeluk agama Islam. Dengan itu, mereka boleh tinggal di negeri Islam serta mendapatkan jaminan keamanan dari kaum muslimin. An Nawawi dalam Syarh Muslim (1/281) mengatakan,“Maksud menghilangkan jizyah adalah bahwa jizyah tidak diterima lagi. Yang diterima dari orang kafir hanyalah Islam (yaitu agar mereka masuk Islam, pen).  Barangsiapa ingin mendapatkan keamanan di negeri Islam dengan membayar jizyah maka hal itu tidaklah mencukupi. Hanya ada dua pilihan bagi orang kafir yaitu masuk Islam atau dibunuh. Inilah pendapat Imam Abu Sulaiman Al Khothobi dan selainnya. “   Hikmah Turunnya Nabi Isa Pertama, untuk membantah klaim Yahudi bahwa merekalah yang membunuh Isa dan menyalibnya. Dengan turunnya Nabi Isa, justru membuktikan bahwa Nabi Isa-lah yang akan membunuh orang Yahudi sekaligus pemimpin mereka yakni Dajjal. Kedua, untuk membantah orang-orang Nashrani yang telah menuhankan Nabi Isa, menolak agama Islam, mengagungkan salib dan menghalalkan babi. Justru Nabi Isa nanti akan mengajak mereka untuk masuk Islam, memerangi orang agar masuk Islam, berhukum dengan syari’at Islam, tidak menerima dari Ahlu Kitab kecuali Islam, tidak lagi menerima jizyah, salib akan dihancurkan dan babi akan dibunuh. Pada akhirnya nabi Isa akan wafat sebagaimana manusia biasa, bukan sebagai Tuhan atau anak Tuhan atau salah dari yang tiga.   Baca selengkapnya tentang turunnya Nabi Isa: Turunnya Nabi Isa seri 1 Turunnya Nabi Isa seri 2 Turunnya Nabi Isa seri 3   [1] Penjelasan ini terdapat dalam beberapa riwayat dalam Bukhari dan Muslim — Direvisi ulang 16 Rabi’ul Awwal 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa
Apakah benar dalam ayat Al-Quran disebutkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk mengikuti Nabi Isa? Apa maksudnya?   Sifat Fisik Nabi Isa Beliau adalah seorang lelaki yang posturnya tidak terlalu tinggi, tidak pula terlalu pendek, kulitnya kemerahan, dadanya bidang, rambutnya lurus melebihi ujung telinganya, rambutnya terurai sampai pundak. Rambutnya meneteskan air seolah-olah baru keluar dari kamar mandi.[1]   Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman Allah Ta’ala berfirman, وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) ”Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Az Zukhruf : 61) Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil ‘Azhim mengatakan, ”Tafsir dari Ibnu Ishaq telah disebutkan, yaitu yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah diutusnya Isa ‘alaihis salam di mana beliau ‘alaihis salam akan menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta serta penyakit lainnya.” Kemudian selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan,”Yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah mengenai turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam sebelum hari kiamat. Sebagaimana terdapat pula dalam firman Allah, وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepada Isa (‘alaihis salam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’ [4] : 159). Hal ini juga dikuatkan dengan qiro’ah (bacaan) lain dari ayat ini, “وإنه لعَلَم للساعة” Yang artinya ‘Sungguh Isa adalah sebagai tanda datangnya hari kiamat’ yaitu Isa sebagai tanda atau petunjuk akan terjadinya kiamat. Dan Mujahid berkata mengenai ayat ini bahwa sebagai tanda hari kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat. Demikianlah yag diriwayatkan dari Abu Huroiroh, Ibnu Abbas, Abul ‘Aliyah, Abu Malik, ‘Ikrimah, Qotadah, Adh Dhohak, dan selainnya. Juga terdapat hadits mutawatir (melalui banyak jalan periwayatan) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Isa ‘alaihis salam akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam dan hakim yang adil.   Pertanyaan: Apakah Nabi Isa turun kembali untuk membela orang-orang Nashrani? Dijawab oleh Al Baghowi dalam tafsirnya, beliau berkata, وروينا عن النبي صلى الله عليه وسلم: “ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكمًا عادلا يكسر الصليب، ويقتل الخنزير ويضع الجزية، وتهلك في زمانه الملل كلها إلا الإسلام”. ”Kami telah mendapatkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,’Sungguh hampir dekat waktunya turun di tengah-tengah kalian (Isa) bin Maryam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghilangkan jizyah (upeti, karena kafir dzimmi sudah tidak ada lagi. Semuanya muslim). Akan dihancurkan seluruh agama di zaman beliau kecuali Islam’.”(HR. Bukhari) Perhatikan Nabi Isa akan datang bukan untuk membela agama Nashrani, tetapi akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghancurkan agama tersebut. Dan yang dimaksudkan bahwa beliau menjadi hakim yang adil adalah beliau menjadi hakim dengan menggunakan syari’at Islam, bukan dengan syari’at Nashrani atau syari’at yang baru. Karena tatkala Isa bin Maryam itu turun, syari’at Islam masih tetap berlaku dan tidak terhapus. Bahkan Nabi Isa akan menjadi salah seorang hakim umat ini. Yang menguatkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Thobroni, dari Abdullah bin Mughoffal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَنْزِل عِيسَى اِبْن مَرْيَم مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدِ عَلَى مِلَّته “Isa bin Maryam akan turun dengan membenarkan agama yang dibawa Nabi Muhammad.” Lihatlah penjelasan tentang hal ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar. Bahkan Nabi Isa akan menjadi makmum di belakang imam kaum muslimin karena Allah memuliakan umat ini. Al Baghowi menceritakan dalam tafsirnya bahwa ketika Isa mendatangi Baitul Maqdis sedangkan orang-orang sedang melakukan shalat Ashar, maka Imam di masjid itu mundur dan menyuruh Isa untuk maju. Namun, Nabi Isa enggan, dan dia tetap shalat di belakang Imam tadi dengan syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Abu Daud dan Ahmad).   Misi Nabi Isa Saat Turun ke Bumi Sebagaimana telah dijelaskan dari beberapa hadits yang telah lewat, Nabi Isa ‘alaihis salam turun ke muka bumi ini dengan membawa beberapa misi, di antaranya :   1- Menjadi hakim yang adil An Nawawi dalam Syarh Muslim (1/281) mengatakan, “Yakni beliau turun sebagai hakim dengan membawa syari’at Islam, bukan turun sebagai nabi yang membawa risalah tersendiri atau membawa ajaran yang menghapus ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau adalah seorang hakim di antara hakim-hakim umat ini.“   2- Menghancurkan Salib Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (10/250) mengatakan, “Yakni membatalkan agama Nashrani dengan cara betul-betul menghancurkan salib serta membatalkan keyakinan orang Nashrani tentang keagungannya.“   3- Membunuh Babi 4- Menghilangkan Jizyah Jizyah adalah semacam upeti yang dibebankan kepada ahlul kitab yang hidup di negeri muslim, ketika mereka tidak mau memeluk agama Islam. Dengan itu, mereka boleh tinggal di negeri Islam serta mendapatkan jaminan keamanan dari kaum muslimin. An Nawawi dalam Syarh Muslim (1/281) mengatakan,“Maksud menghilangkan jizyah adalah bahwa jizyah tidak diterima lagi. Yang diterima dari orang kafir hanyalah Islam (yaitu agar mereka masuk Islam, pen).  Barangsiapa ingin mendapatkan keamanan di negeri Islam dengan membayar jizyah maka hal itu tidaklah mencukupi. Hanya ada dua pilihan bagi orang kafir yaitu masuk Islam atau dibunuh. Inilah pendapat Imam Abu Sulaiman Al Khothobi dan selainnya. “   Hikmah Turunnya Nabi Isa Pertama, untuk membantah klaim Yahudi bahwa merekalah yang membunuh Isa dan menyalibnya. Dengan turunnya Nabi Isa, justru membuktikan bahwa Nabi Isa-lah yang akan membunuh orang Yahudi sekaligus pemimpin mereka yakni Dajjal. Kedua, untuk membantah orang-orang Nashrani yang telah menuhankan Nabi Isa, menolak agama Islam, mengagungkan salib dan menghalalkan babi. Justru Nabi Isa nanti akan mengajak mereka untuk masuk Islam, memerangi orang agar masuk Islam, berhukum dengan syari’at Islam, tidak menerima dari Ahlu Kitab kecuali Islam, tidak lagi menerima jizyah, salib akan dihancurkan dan babi akan dibunuh. Pada akhirnya nabi Isa akan wafat sebagaimana manusia biasa, bukan sebagai Tuhan atau anak Tuhan atau salah dari yang tiga.   Baca selengkapnya tentang turunnya Nabi Isa: Turunnya Nabi Isa seri 1 Turunnya Nabi Isa seri 2 Turunnya Nabi Isa seri 3   [1] Penjelasan ini terdapat dalam beberapa riwayat dalam Bukhari dan Muslim — Direvisi ulang 16 Rabi’ul Awwal 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa


Apakah benar dalam ayat Al-Quran disebutkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk mengikuti Nabi Isa? Apa maksudnya?   Sifat Fisik Nabi Isa Beliau adalah seorang lelaki yang posturnya tidak terlalu tinggi, tidak pula terlalu pendek, kulitnya kemerahan, dadanya bidang, rambutnya lurus melebihi ujung telinganya, rambutnya terurai sampai pundak. Rambutnya meneteskan air seolah-olah baru keluar dari kamar mandi.[1]   Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman Allah Ta’ala berfirman, وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) ”Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Az Zukhruf : 61) Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil ‘Azhim mengatakan, ”Tafsir dari Ibnu Ishaq telah disebutkan, yaitu yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah diutusnya Isa ‘alaihis salam di mana beliau ‘alaihis salam akan menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta serta penyakit lainnya.” Kemudian selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan,”Yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah mengenai turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam sebelum hari kiamat. Sebagaimana terdapat pula dalam firman Allah, وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepada Isa (‘alaihis salam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’ [4] : 159). Hal ini juga dikuatkan dengan qiro’ah (bacaan) lain dari ayat ini, “وإنه لعَلَم للساعة” Yang artinya ‘Sungguh Isa adalah sebagai tanda datangnya hari kiamat’ yaitu Isa sebagai tanda atau petunjuk akan terjadinya kiamat. Dan Mujahid berkata mengenai ayat ini bahwa sebagai tanda hari kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat. Demikianlah yag diriwayatkan dari Abu Huroiroh, Ibnu Abbas, Abul ‘Aliyah, Abu Malik, ‘Ikrimah, Qotadah, Adh Dhohak, dan selainnya. Juga terdapat hadits mutawatir (melalui banyak jalan periwayatan) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Isa ‘alaihis salam akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam dan hakim yang adil.   Pertanyaan: Apakah Nabi Isa turun kembali untuk membela orang-orang Nashrani? Dijawab oleh Al Baghowi dalam tafsirnya, beliau berkata, وروينا عن النبي صلى الله عليه وسلم: “ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكمًا عادلا يكسر الصليب، ويقتل الخنزير ويضع الجزية، وتهلك في زمانه الملل كلها إلا الإسلام”. ”Kami telah mendapatkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,’Sungguh hampir dekat waktunya turun di tengah-tengah kalian (Isa) bin Maryam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghilangkan jizyah (upeti, karena kafir dzimmi sudah tidak ada lagi. Semuanya muslim). Akan dihancurkan seluruh agama di zaman beliau kecuali Islam’.”(HR. Bukhari) Perhatikan Nabi Isa akan datang bukan untuk membela agama Nashrani, tetapi akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghancurkan agama tersebut. Dan yang dimaksudkan bahwa beliau menjadi hakim yang adil adalah beliau menjadi hakim dengan menggunakan syari’at Islam, bukan dengan syari’at Nashrani atau syari’at yang baru. Karena tatkala Isa bin Maryam itu turun, syari’at Islam masih tetap berlaku dan tidak terhapus. Bahkan Nabi Isa akan menjadi salah seorang hakim umat ini. Yang menguatkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Thobroni, dari Abdullah bin Mughoffal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَنْزِل عِيسَى اِبْن مَرْيَم مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدِ عَلَى مِلَّته “Isa bin Maryam akan turun dengan membenarkan agama yang dibawa Nabi Muhammad.” Lihatlah penjelasan tentang hal ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar. Bahkan Nabi Isa akan menjadi makmum di belakang imam kaum muslimin karena Allah memuliakan umat ini. Al Baghowi menceritakan dalam tafsirnya bahwa ketika Isa mendatangi Baitul Maqdis sedangkan orang-orang sedang melakukan shalat Ashar, maka Imam di masjid itu mundur dan menyuruh Isa untuk maju. Namun, Nabi Isa enggan, dan dia tetap shalat di belakang Imam tadi dengan syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Abu Daud dan Ahmad).   Misi Nabi Isa Saat Turun ke Bumi Sebagaimana telah dijelaskan dari beberapa hadits yang telah lewat, Nabi Isa ‘alaihis salam turun ke muka bumi ini dengan membawa beberapa misi, di antaranya :   1- Menjadi hakim yang adil An Nawawi dalam Syarh Muslim (1/281) mengatakan, “Yakni beliau turun sebagai hakim dengan membawa syari’at Islam, bukan turun sebagai nabi yang membawa risalah tersendiri atau membawa ajaran yang menghapus ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau adalah seorang hakim di antara hakim-hakim umat ini.“   2- Menghancurkan Salib Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (10/250) mengatakan, “Yakni membatalkan agama Nashrani dengan cara betul-betul menghancurkan salib serta membatalkan keyakinan orang Nashrani tentang keagungannya.“   3- Membunuh Babi 4- Menghilangkan Jizyah Jizyah adalah semacam upeti yang dibebankan kepada ahlul kitab yang hidup di negeri muslim, ketika mereka tidak mau memeluk agama Islam. Dengan itu, mereka boleh tinggal di negeri Islam serta mendapatkan jaminan keamanan dari kaum muslimin. An Nawawi dalam Syarh Muslim (1/281) mengatakan,“Maksud menghilangkan jizyah adalah bahwa jizyah tidak diterima lagi. Yang diterima dari orang kafir hanyalah Islam (yaitu agar mereka masuk Islam, pen).  Barangsiapa ingin mendapatkan keamanan di negeri Islam dengan membayar jizyah maka hal itu tidaklah mencukupi. Hanya ada dua pilihan bagi orang kafir yaitu masuk Islam atau dibunuh. Inilah pendapat Imam Abu Sulaiman Al Khothobi dan selainnya. “   Hikmah Turunnya Nabi Isa Pertama, untuk membantah klaim Yahudi bahwa merekalah yang membunuh Isa dan menyalibnya. Dengan turunnya Nabi Isa, justru membuktikan bahwa Nabi Isa-lah yang akan membunuh orang Yahudi sekaligus pemimpin mereka yakni Dajjal. Kedua, untuk membantah orang-orang Nashrani yang telah menuhankan Nabi Isa, menolak agama Islam, mengagungkan salib dan menghalalkan babi. Justru Nabi Isa nanti akan mengajak mereka untuk masuk Islam, memerangi orang agar masuk Islam, berhukum dengan syari’at Islam, tidak menerima dari Ahlu Kitab kecuali Islam, tidak lagi menerima jizyah, salib akan dihancurkan dan babi akan dibunuh. Pada akhirnya nabi Isa akan wafat sebagaimana manusia biasa, bukan sebagai Tuhan atau anak Tuhan atau salah dari yang tiga.   Baca selengkapnya tentang turunnya Nabi Isa: Turunnya Nabi Isa seri 1 Turunnya Nabi Isa seri 2 Turunnya Nabi Isa seri 3   [1] Penjelasan ini terdapat dalam beberapa riwayat dalam Bukhari dan Muslim — Direvisi ulang 16 Rabi’ul Awwal 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Muslim Wajib Beriman pada Isa (2)

Ada beberapa hal lagi yang wajib diimani oleh seorang muslim pada Nabi Isa. Di antaranya, Isa diciptakan tanpa bapak.   Kelima: Allah menunjukkan akan benarnya Isa ‘alaihis salam lewat beberapa bukti. Allah Ta’ala berfirman, إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنْ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ. “(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak ia dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit kulit dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (QS. Al-Maidah: 110)   Keenam: Nabi Isa ‘alaihis salam diciptakan tanpa ayah, Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan tanpa ayah dan tanpa ibu. Seharusnya Nabi Isa ‘alaihis salam diperlakukan seperti Nabi Adam, yaitu sama-sama manusia, bukan diistimewakan sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Ali Imran: 59) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat di atas, Nabi Isa ‘alaihis salam diciptakan dengan kehendak Allah tanpa bapak. Sebagaimana Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan tanpa bapak dan tanpa ibu. Bahkan Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan dari tanah. Jika Allah saja mampu menciptakan Nabi Adam seperti itu, maka tentu mudah bagi Allah menjadiakan Nabi Isa ‘alaihis salam tanpa bapak. Kalau Nabi Isa ‘alaihis salam dianggap sebagai anak Tuhan karena ia adalah makhluk yang dilahirkan tanpa bapak, maka seharusnya Nabi Adam lebih pantas diperlakukan semisal itu pula. Namun kita sepakati meyakini seperti itu adalah suatu kekeliruan. Pengakuan pada Nabi Isa ‘alaihis salam seperti itu lebih jelas batil dan kerusakannya. Akan tetapi Allah ingin menampakkan kemampuannya pada makhluk-Nya ketika Allah menciptakan Adam tanpa laki-laki dan perempuan. Lalu menciptakan Hawa lewat laki-laki tanpa perempuan. Sedangkan Isa dijadikan dari perempuan tanpa laki-laki. Sedangkan manusia lainnya diciptakan dari laki-laki dan perempuan. Oleh karenanya, Allah nyatakan pada surat Maryam, قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آَيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا “Jibril berkata: “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS. Maryam: 21). Demikian keterangan dari Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. Dalam Al-Mukhtashor fi At-Tafsir (hlm. 57) dinyatakan, Nabi Isa diciptakan begitu istimewa sama seperti Nabi Adam yang diciptakan dari tanah, tanpa bapak dan tanpa ibu. Adam diciptakan dengan kalimat ‘kun’ (jadilah), maka jadilah manusia sebagaimana yang Allah inginkan. Sungguh aneh jika Isa diangkat sebagai Tuhan karena ia diciptakan tanpa bapak, sedangkan Adam dianggap seperti manusia saja padahal Adam lebih dahsyat lagi diciptakan tanpa bapak dan tanpa ibu.   Ketujuh: Mudah bagi Allah menciptakan Isa tanpa bapak. Allah katakan ‘kun’, maka jadilah sesuai kehendak-Nya. Allah Ta’ala berfirman, إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ (45) وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ (46) قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (47) “(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang shalih.” Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.” (QS. Ali Imran: 45-47) Masih bersambung insya Allah … Nantikan bahasan selanjutnya. Moga semakin menguatkan iman kita pada Islam. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 15 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Muslim Wajib Beriman pada Isa (2)

Ada beberapa hal lagi yang wajib diimani oleh seorang muslim pada Nabi Isa. Di antaranya, Isa diciptakan tanpa bapak.   Kelima: Allah menunjukkan akan benarnya Isa ‘alaihis salam lewat beberapa bukti. Allah Ta’ala berfirman, إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنْ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ. “(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak ia dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit kulit dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (QS. Al-Maidah: 110)   Keenam: Nabi Isa ‘alaihis salam diciptakan tanpa ayah, Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan tanpa ayah dan tanpa ibu. Seharusnya Nabi Isa ‘alaihis salam diperlakukan seperti Nabi Adam, yaitu sama-sama manusia, bukan diistimewakan sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Ali Imran: 59) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat di atas, Nabi Isa ‘alaihis salam diciptakan dengan kehendak Allah tanpa bapak. Sebagaimana Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan tanpa bapak dan tanpa ibu. Bahkan Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan dari tanah. Jika Allah saja mampu menciptakan Nabi Adam seperti itu, maka tentu mudah bagi Allah menjadiakan Nabi Isa ‘alaihis salam tanpa bapak. Kalau Nabi Isa ‘alaihis salam dianggap sebagai anak Tuhan karena ia adalah makhluk yang dilahirkan tanpa bapak, maka seharusnya Nabi Adam lebih pantas diperlakukan semisal itu pula. Namun kita sepakati meyakini seperti itu adalah suatu kekeliruan. Pengakuan pada Nabi Isa ‘alaihis salam seperti itu lebih jelas batil dan kerusakannya. Akan tetapi Allah ingin menampakkan kemampuannya pada makhluk-Nya ketika Allah menciptakan Adam tanpa laki-laki dan perempuan. Lalu menciptakan Hawa lewat laki-laki tanpa perempuan. Sedangkan Isa dijadikan dari perempuan tanpa laki-laki. Sedangkan manusia lainnya diciptakan dari laki-laki dan perempuan. Oleh karenanya, Allah nyatakan pada surat Maryam, قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آَيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا “Jibril berkata: “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS. Maryam: 21). Demikian keterangan dari Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. Dalam Al-Mukhtashor fi At-Tafsir (hlm. 57) dinyatakan, Nabi Isa diciptakan begitu istimewa sama seperti Nabi Adam yang diciptakan dari tanah, tanpa bapak dan tanpa ibu. Adam diciptakan dengan kalimat ‘kun’ (jadilah), maka jadilah manusia sebagaimana yang Allah inginkan. Sungguh aneh jika Isa diangkat sebagai Tuhan karena ia diciptakan tanpa bapak, sedangkan Adam dianggap seperti manusia saja padahal Adam lebih dahsyat lagi diciptakan tanpa bapak dan tanpa ibu.   Ketujuh: Mudah bagi Allah menciptakan Isa tanpa bapak. Allah katakan ‘kun’, maka jadilah sesuai kehendak-Nya. Allah Ta’ala berfirman, إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ (45) وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ (46) قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (47) “(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang shalih.” Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.” (QS. Ali Imran: 45-47) Masih bersambung insya Allah … Nantikan bahasan selanjutnya. Moga semakin menguatkan iman kita pada Islam. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 15 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa
Ada beberapa hal lagi yang wajib diimani oleh seorang muslim pada Nabi Isa. Di antaranya, Isa diciptakan tanpa bapak.   Kelima: Allah menunjukkan akan benarnya Isa ‘alaihis salam lewat beberapa bukti. Allah Ta’ala berfirman, إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنْ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ. “(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak ia dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit kulit dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (QS. Al-Maidah: 110)   Keenam: Nabi Isa ‘alaihis salam diciptakan tanpa ayah, Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan tanpa ayah dan tanpa ibu. Seharusnya Nabi Isa ‘alaihis salam diperlakukan seperti Nabi Adam, yaitu sama-sama manusia, bukan diistimewakan sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Ali Imran: 59) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat di atas, Nabi Isa ‘alaihis salam diciptakan dengan kehendak Allah tanpa bapak. Sebagaimana Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan tanpa bapak dan tanpa ibu. Bahkan Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan dari tanah. Jika Allah saja mampu menciptakan Nabi Adam seperti itu, maka tentu mudah bagi Allah menjadiakan Nabi Isa ‘alaihis salam tanpa bapak. Kalau Nabi Isa ‘alaihis salam dianggap sebagai anak Tuhan karena ia adalah makhluk yang dilahirkan tanpa bapak, maka seharusnya Nabi Adam lebih pantas diperlakukan semisal itu pula. Namun kita sepakati meyakini seperti itu adalah suatu kekeliruan. Pengakuan pada Nabi Isa ‘alaihis salam seperti itu lebih jelas batil dan kerusakannya. Akan tetapi Allah ingin menampakkan kemampuannya pada makhluk-Nya ketika Allah menciptakan Adam tanpa laki-laki dan perempuan. Lalu menciptakan Hawa lewat laki-laki tanpa perempuan. Sedangkan Isa dijadikan dari perempuan tanpa laki-laki. Sedangkan manusia lainnya diciptakan dari laki-laki dan perempuan. Oleh karenanya, Allah nyatakan pada surat Maryam, قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آَيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا “Jibril berkata: “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS. Maryam: 21). Demikian keterangan dari Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. Dalam Al-Mukhtashor fi At-Tafsir (hlm. 57) dinyatakan, Nabi Isa diciptakan begitu istimewa sama seperti Nabi Adam yang diciptakan dari tanah, tanpa bapak dan tanpa ibu. Adam diciptakan dengan kalimat ‘kun’ (jadilah), maka jadilah manusia sebagaimana yang Allah inginkan. Sungguh aneh jika Isa diangkat sebagai Tuhan karena ia diciptakan tanpa bapak, sedangkan Adam dianggap seperti manusia saja padahal Adam lebih dahsyat lagi diciptakan tanpa bapak dan tanpa ibu.   Ketujuh: Mudah bagi Allah menciptakan Isa tanpa bapak. Allah katakan ‘kun’, maka jadilah sesuai kehendak-Nya. Allah Ta’ala berfirman, إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ (45) وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ (46) قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (47) “(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang shalih.” Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.” (QS. Ali Imran: 45-47) Masih bersambung insya Allah … Nantikan bahasan selanjutnya. Moga semakin menguatkan iman kita pada Islam. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 15 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa


Ada beberapa hal lagi yang wajib diimani oleh seorang muslim pada Nabi Isa. Di antaranya, Isa diciptakan tanpa bapak.   Kelima: Allah menunjukkan akan benarnya Isa ‘alaihis salam lewat beberapa bukti. Allah Ta’ala berfirman, إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنْ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ. “(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak ia dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit kulit dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (QS. Al-Maidah: 110)   Keenam: Nabi Isa ‘alaihis salam diciptakan tanpa ayah, Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan tanpa ayah dan tanpa ibu. Seharusnya Nabi Isa ‘alaihis salam diperlakukan seperti Nabi Adam, yaitu sama-sama manusia, bukan diistimewakan sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Ali Imran: 59) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat di atas, Nabi Isa ‘alaihis salam diciptakan dengan kehendak Allah tanpa bapak. Sebagaimana Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan tanpa bapak dan tanpa ibu. Bahkan Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan dari tanah. Jika Allah saja mampu menciptakan Nabi Adam seperti itu, maka tentu mudah bagi Allah menjadiakan Nabi Isa ‘alaihis salam tanpa bapak. Kalau Nabi Isa ‘alaihis salam dianggap sebagai anak Tuhan karena ia adalah makhluk yang dilahirkan tanpa bapak, maka seharusnya Nabi Adam lebih pantas diperlakukan semisal itu pula. Namun kita sepakati meyakini seperti itu adalah suatu kekeliruan. Pengakuan pada Nabi Isa ‘alaihis salam seperti itu lebih jelas batil dan kerusakannya. Akan tetapi Allah ingin menampakkan kemampuannya pada makhluk-Nya ketika Allah menciptakan Adam tanpa laki-laki dan perempuan. Lalu menciptakan Hawa lewat laki-laki tanpa perempuan. Sedangkan Isa dijadikan dari perempuan tanpa laki-laki. Sedangkan manusia lainnya diciptakan dari laki-laki dan perempuan. Oleh karenanya, Allah nyatakan pada surat Maryam, قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آَيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا “Jibril berkata: “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS. Maryam: 21). Demikian keterangan dari Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. Dalam Al-Mukhtashor fi At-Tafsir (hlm. 57) dinyatakan, Nabi Isa diciptakan begitu istimewa sama seperti Nabi Adam yang diciptakan dari tanah, tanpa bapak dan tanpa ibu. Adam diciptakan dengan kalimat ‘kun’ (jadilah), maka jadilah manusia sebagaimana yang Allah inginkan. Sungguh aneh jika Isa diangkat sebagai Tuhan karena ia diciptakan tanpa bapak, sedangkan Adam dianggap seperti manusia saja padahal Adam lebih dahsyat lagi diciptakan tanpa bapak dan tanpa ibu.   Ketujuh: Mudah bagi Allah menciptakan Isa tanpa bapak. Allah katakan ‘kun’, maka jadilah sesuai kehendak-Nya. Allah Ta’ala berfirman, إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ (45) وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ (46) قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (47) “(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang shalih.” Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.” (QS. Ali Imran: 45-47) Masih bersambung insya Allah … Nantikan bahasan selanjutnya. Moga semakin menguatkan iman kita pada Islam. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 15 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Muslim Wajib Beriman pada Isa (1)

Ada beberapa hal yang harus diimani oleh seorang Muslim pada Nabi Isa ‘alaihis salam yang kami rinci satu per satu berikut ini.   Pertama: Orang Muslim itu wajib beriman pada Isa. Muslim harus percaya pada Isa, barulah ia masuk surga. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28) Dalam lafazh Muslim disebutkan, أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ “Allah akan memasukkannya ke pintu surga mana saja dari delapan pintu yang ia suka.”   Kedua: Isa bukanlah Tuhan dan bukanlah anak Tuhan. لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam.” (QS. Al-Maidah: 72) وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah: 30)   Ketiga: Bahkan Isa sendiri menyatakan bahwa ia adalah hamba Allah. Ia menyatakan hal ini ketika masih berada dalam gendongan, dapat berbicara dengan izin Allah. قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِي الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا “Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (QS. Maryam: 30)   Keempat: Isa mengajak untuk menyembah Allah, bukan menyembah dirinya. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرائيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “Padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72) Masih bersambung insya Allah … Semoga Allah terus memperbaiki iman kita. — Selesai disusun menjelang Ashar, 14 Rabi’ul Awwal 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Muslim Wajib Beriman pada Isa (1)

Ada beberapa hal yang harus diimani oleh seorang Muslim pada Nabi Isa ‘alaihis salam yang kami rinci satu per satu berikut ini.   Pertama: Orang Muslim itu wajib beriman pada Isa. Muslim harus percaya pada Isa, barulah ia masuk surga. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28) Dalam lafazh Muslim disebutkan, أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ “Allah akan memasukkannya ke pintu surga mana saja dari delapan pintu yang ia suka.”   Kedua: Isa bukanlah Tuhan dan bukanlah anak Tuhan. لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam.” (QS. Al-Maidah: 72) وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah: 30)   Ketiga: Bahkan Isa sendiri menyatakan bahwa ia adalah hamba Allah. Ia menyatakan hal ini ketika masih berada dalam gendongan, dapat berbicara dengan izin Allah. قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِي الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا “Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (QS. Maryam: 30)   Keempat: Isa mengajak untuk menyembah Allah, bukan menyembah dirinya. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرائيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “Padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72) Masih bersambung insya Allah … Semoga Allah terus memperbaiki iman kita. — Selesai disusun menjelang Ashar, 14 Rabi’ul Awwal 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa
Ada beberapa hal yang harus diimani oleh seorang Muslim pada Nabi Isa ‘alaihis salam yang kami rinci satu per satu berikut ini.   Pertama: Orang Muslim itu wajib beriman pada Isa. Muslim harus percaya pada Isa, barulah ia masuk surga. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28) Dalam lafazh Muslim disebutkan, أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ “Allah akan memasukkannya ke pintu surga mana saja dari delapan pintu yang ia suka.”   Kedua: Isa bukanlah Tuhan dan bukanlah anak Tuhan. لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam.” (QS. Al-Maidah: 72) وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah: 30)   Ketiga: Bahkan Isa sendiri menyatakan bahwa ia adalah hamba Allah. Ia menyatakan hal ini ketika masih berada dalam gendongan, dapat berbicara dengan izin Allah. قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِي الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا “Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (QS. Maryam: 30)   Keempat: Isa mengajak untuk menyembah Allah, bukan menyembah dirinya. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرائيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “Padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72) Masih bersambung insya Allah … Semoga Allah terus memperbaiki iman kita. — Selesai disusun menjelang Ashar, 14 Rabi’ul Awwal 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa


Ada beberapa hal yang harus diimani oleh seorang Muslim pada Nabi Isa ‘alaihis salam yang kami rinci satu per satu berikut ini.   Pertama: Orang Muslim itu wajib beriman pada Isa. Muslim harus percaya pada Isa, barulah ia masuk surga. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28) Dalam lafazh Muslim disebutkan, أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ “Allah akan memasukkannya ke pintu surga mana saja dari delapan pintu yang ia suka.”   Kedua: Isa bukanlah Tuhan dan bukanlah anak Tuhan. لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam.” (QS. Al-Maidah: 72) وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah: 30)   Ketiga: Bahkan Isa sendiri menyatakan bahwa ia adalah hamba Allah. Ia menyatakan hal ini ketika masih berada dalam gendongan, dapat berbicara dengan izin Allah. قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِي الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا “Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (QS. Maryam: 30)   Keempat: Isa mengajak untuk menyembah Allah, bukan menyembah dirinya. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرائيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “Padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72) Masih bersambung insya Allah … Semoga Allah terus memperbaiki iman kita. — Selesai disusun menjelang Ashar, 14 Rabi’ul Awwal 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Hati-Hati Berkata Bid’ah

Di antara strategi yang bisa diterapkan bagi para da’i adalah berhati-hati dalam mengeluarkan statement, “Ini bid’ah”. Kenapa? Sebagian masyarakat, terutama yang masih awam, yang jarang baca, yang juga sangat terpengaruh dari kyai, sangat phobia pada da’i-da’i yang mudah mengeluarkan kata bid’ah. Mereka bahkan sudah menyatakan dirinya anti dengan bid’ah. Coba kata bid’ah diganti dengan “amalan yang tidak ada tuntunan” atau “amalan itu tidak ada dalilnya”. Pilihan kalimat semacam ini lebih mudah mengena dan tepat sasaran. Maksudnya pun sama, namun lebih halus. Karena sebagian masyarakat kita masih menganggap bahwa bid’ah itu ada yang baik dan ada yang buruk, yaitu bid’ah hasanah atau bid’ah sayyi’ah. Namun coba langsung dijawab, “Itu tidak ada tuntunannya, pak”. Mereka akan lebih mudah menerima, dan tidak akan keluar lagi statement hasanah atau sayyi’ah dari jama’ah atau mad’u. Ini sedikit kiat yang seringkali kami terapkan. Apalagi ketika mengisi di masyarakat awam. Pernah kami mengisi di Kampung Betawi di Jakarta, materinya adalah kesempurnaan Islam. Tentu saja kami harus menyinggung masalah bid’ah. Namun sama sekali dalam kajian tidak ada kata bid’ah yang keluar. Yang ada kami memakai kalimat, “Seperti itu tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Yang biasa gawe masalah, itu yang nanya. Biasa keluar pertanyaan begini dari jama’ah, “Ini bid’ah atau bukan, Ustadz?” Da’i harus pintar-pintar memberikan jawaban untuk masalah ini. Dan semestinya jama’ah yang sudah paham bisa mengatur baik-baik pertanyaannya sehingga tidak membuat jama’ah yang lain resah. Silakan dipraktikkan, ini di antara kiat dakwah yang kami terapkan di Gunungkidul di mana jama’ah terus semangat meneriman ilmu karena mereka mau menerima jika dakwah disampaikan dengan strategi yang tepat. Ingatlah, tetap harus yakin Allah-lah yang beri taufik, kita manusia hanya penyampai semata. Bid’ah yang dimaksud adalah sesuatu yang baru dalam hal agama atau ibadah yang tidak ada dalilnya. Ini yang diingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih). Lihat tulisan kami: Tiga Syarat Disebut Bid’ah. Wallahu waliyyut taufiq. —   Silakan tonton video Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal: Hati-Hati dengan Bid’ah   [youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=vhjdOqi5PsE&index=2&list=PLhpkpy-1OEGA1TjT8pt3omYWmx40AgNla” width=”560″ height=”315″]     — Selesai disusun 13 Rabi’ul Awwal 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbid'ah strategi dakwah

Hati-Hati Berkata Bid’ah

Di antara strategi yang bisa diterapkan bagi para da’i adalah berhati-hati dalam mengeluarkan statement, “Ini bid’ah”. Kenapa? Sebagian masyarakat, terutama yang masih awam, yang jarang baca, yang juga sangat terpengaruh dari kyai, sangat phobia pada da’i-da’i yang mudah mengeluarkan kata bid’ah. Mereka bahkan sudah menyatakan dirinya anti dengan bid’ah. Coba kata bid’ah diganti dengan “amalan yang tidak ada tuntunan” atau “amalan itu tidak ada dalilnya”. Pilihan kalimat semacam ini lebih mudah mengena dan tepat sasaran. Maksudnya pun sama, namun lebih halus. Karena sebagian masyarakat kita masih menganggap bahwa bid’ah itu ada yang baik dan ada yang buruk, yaitu bid’ah hasanah atau bid’ah sayyi’ah. Namun coba langsung dijawab, “Itu tidak ada tuntunannya, pak”. Mereka akan lebih mudah menerima, dan tidak akan keluar lagi statement hasanah atau sayyi’ah dari jama’ah atau mad’u. Ini sedikit kiat yang seringkali kami terapkan. Apalagi ketika mengisi di masyarakat awam. Pernah kami mengisi di Kampung Betawi di Jakarta, materinya adalah kesempurnaan Islam. Tentu saja kami harus menyinggung masalah bid’ah. Namun sama sekali dalam kajian tidak ada kata bid’ah yang keluar. Yang ada kami memakai kalimat, “Seperti itu tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Yang biasa gawe masalah, itu yang nanya. Biasa keluar pertanyaan begini dari jama’ah, “Ini bid’ah atau bukan, Ustadz?” Da’i harus pintar-pintar memberikan jawaban untuk masalah ini. Dan semestinya jama’ah yang sudah paham bisa mengatur baik-baik pertanyaannya sehingga tidak membuat jama’ah yang lain resah. Silakan dipraktikkan, ini di antara kiat dakwah yang kami terapkan di Gunungkidul di mana jama’ah terus semangat meneriman ilmu karena mereka mau menerima jika dakwah disampaikan dengan strategi yang tepat. Ingatlah, tetap harus yakin Allah-lah yang beri taufik, kita manusia hanya penyampai semata. Bid’ah yang dimaksud adalah sesuatu yang baru dalam hal agama atau ibadah yang tidak ada dalilnya. Ini yang diingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih). Lihat tulisan kami: Tiga Syarat Disebut Bid’ah. Wallahu waliyyut taufiq. —   Silakan tonton video Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal: Hati-Hati dengan Bid’ah   [youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=vhjdOqi5PsE&index=2&list=PLhpkpy-1OEGA1TjT8pt3omYWmx40AgNla” width=”560″ height=”315″]     — Selesai disusun 13 Rabi’ul Awwal 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbid'ah strategi dakwah
Di antara strategi yang bisa diterapkan bagi para da’i adalah berhati-hati dalam mengeluarkan statement, “Ini bid’ah”. Kenapa? Sebagian masyarakat, terutama yang masih awam, yang jarang baca, yang juga sangat terpengaruh dari kyai, sangat phobia pada da’i-da’i yang mudah mengeluarkan kata bid’ah. Mereka bahkan sudah menyatakan dirinya anti dengan bid’ah. Coba kata bid’ah diganti dengan “amalan yang tidak ada tuntunan” atau “amalan itu tidak ada dalilnya”. Pilihan kalimat semacam ini lebih mudah mengena dan tepat sasaran. Maksudnya pun sama, namun lebih halus. Karena sebagian masyarakat kita masih menganggap bahwa bid’ah itu ada yang baik dan ada yang buruk, yaitu bid’ah hasanah atau bid’ah sayyi’ah. Namun coba langsung dijawab, “Itu tidak ada tuntunannya, pak”. Mereka akan lebih mudah menerima, dan tidak akan keluar lagi statement hasanah atau sayyi’ah dari jama’ah atau mad’u. Ini sedikit kiat yang seringkali kami terapkan. Apalagi ketika mengisi di masyarakat awam. Pernah kami mengisi di Kampung Betawi di Jakarta, materinya adalah kesempurnaan Islam. Tentu saja kami harus menyinggung masalah bid’ah. Namun sama sekali dalam kajian tidak ada kata bid’ah yang keluar. Yang ada kami memakai kalimat, “Seperti itu tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Yang biasa gawe masalah, itu yang nanya. Biasa keluar pertanyaan begini dari jama’ah, “Ini bid’ah atau bukan, Ustadz?” Da’i harus pintar-pintar memberikan jawaban untuk masalah ini. Dan semestinya jama’ah yang sudah paham bisa mengatur baik-baik pertanyaannya sehingga tidak membuat jama’ah yang lain resah. Silakan dipraktikkan, ini di antara kiat dakwah yang kami terapkan di Gunungkidul di mana jama’ah terus semangat meneriman ilmu karena mereka mau menerima jika dakwah disampaikan dengan strategi yang tepat. Ingatlah, tetap harus yakin Allah-lah yang beri taufik, kita manusia hanya penyampai semata. Bid’ah yang dimaksud adalah sesuatu yang baru dalam hal agama atau ibadah yang tidak ada dalilnya. Ini yang diingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih). Lihat tulisan kami: Tiga Syarat Disebut Bid’ah. Wallahu waliyyut taufiq. —   Silakan tonton video Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal: Hati-Hati dengan Bid’ah   [youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=vhjdOqi5PsE&index=2&list=PLhpkpy-1OEGA1TjT8pt3omYWmx40AgNla” width=”560″ height=”315″]     — Selesai disusun 13 Rabi’ul Awwal 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbid'ah strategi dakwah


Di antara strategi yang bisa diterapkan bagi para da’i adalah berhati-hati dalam mengeluarkan statement, “Ini bid’ah”. Kenapa? Sebagian masyarakat, terutama yang masih awam, yang jarang baca, yang juga sangat terpengaruh dari kyai, sangat phobia pada da’i-da’i yang mudah mengeluarkan kata bid’ah. Mereka bahkan sudah menyatakan dirinya anti dengan bid’ah. Coba kata bid’ah diganti dengan “amalan yang tidak ada tuntunan” atau “amalan itu tidak ada dalilnya”. Pilihan kalimat semacam ini lebih mudah mengena dan tepat sasaran. Maksudnya pun sama, namun lebih halus. Karena sebagian masyarakat kita masih menganggap bahwa bid’ah itu ada yang baik dan ada yang buruk, yaitu bid’ah hasanah atau bid’ah sayyi’ah. Namun coba langsung dijawab, “Itu tidak ada tuntunannya, pak”. Mereka akan lebih mudah menerima, dan tidak akan keluar lagi statement hasanah atau sayyi’ah dari jama’ah atau mad’u. Ini sedikit kiat yang seringkali kami terapkan. Apalagi ketika mengisi di masyarakat awam. Pernah kami mengisi di Kampung Betawi di Jakarta, materinya adalah kesempurnaan Islam. Tentu saja kami harus menyinggung masalah bid’ah. Namun sama sekali dalam kajian tidak ada kata bid’ah yang keluar. Yang ada kami memakai kalimat, “Seperti itu tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Yang biasa gawe masalah, itu yang nanya. Biasa keluar pertanyaan begini dari jama’ah, “Ini bid’ah atau bukan, Ustadz?” Da’i harus pintar-pintar memberikan jawaban untuk masalah ini. Dan semestinya jama’ah yang sudah paham bisa mengatur baik-baik pertanyaannya sehingga tidak membuat jama’ah yang lain resah. Silakan dipraktikkan, ini di antara kiat dakwah yang kami terapkan di Gunungkidul di mana jama’ah terus semangat meneriman ilmu karena mereka mau menerima jika dakwah disampaikan dengan strategi yang tepat. Ingatlah, tetap harus yakin Allah-lah yang beri taufik, kita manusia hanya penyampai semata. Bid’ah yang dimaksud adalah sesuatu yang baru dalam hal agama atau ibadah yang tidak ada dalilnya. Ini yang diingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih). Lihat tulisan kami: Tiga Syarat Disebut Bid’ah. Wallahu waliyyut taufiq. —   Silakan tonton video Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal: Hati-Hati dengan Bid’ah   [youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=vhjdOqi5PsE&index=2&list=PLhpkpy-1OEGA1TjT8pt3omYWmx40AgNla” width=”560″ height=”315″]     — Selesai disusun 13 Rabi’ul Awwal 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbid'ah strategi dakwah

Menundukkan Hawa Nafsu Demi Mengikuti Ajaran Nabi

Kita diperintahkan untuk menundukkan hawa nafsu kita demi mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Menundukkan Hawa Nafsu Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih menurut Imam Nawawi. Namun penshahihan hadits ini tidak tepat menurut Ibnu Rajab). Walau hadits di atas adalah hadits yang dha’if, namun maknanya benar. Makna hadits tersebut menurut Ibnu Rajab Al-Hambali, kita dikatakan memiliki iman yang sempurna yang sifatnya wajib ketika kita tunduk pada ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya serta mencintai perintah dan membenci setiap larangan. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 395. Banyak dalil lain yang menjelaskan semisal itu. Seperti firman Allah Ta’ala, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65) Dalam ayat lain juga disebutkan, وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36) Sedangkan orang yang membenci sesuatu yang Allah cintai atau mencintai sesuatu yang Allah benci, dialah yang mendapatkan celaaan. Allah Ta’ala berfirman, ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9) Juga disebutkan dalam surat yang sama, ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 28)   Melakukan yang Wajib dan Sunnah, Meninggalkan yang Haram dan Makruh Wajib bagi setiap mukmin mencintai segala yang Allah cintai sehingga harus baginya melakukan perkara yang wajib. Jika kecintaannya bertambah, ia menambah lagi dengan melakukan amalan sunnah. Itulah tambahan untuknya. Begitu pula wajib bagi setiap muslim membenci segala yang Allah benci sehingga sudah selayaknya baginya menahan diri dari segala perkara yang haram. Rasa bencinya ditambah lagi dengan meninggalkan hal yang makruh (makruh tanzih). Ada hadits dalam shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman sampai aku lebih ia cintai dari orang tua, anak dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari, no. 15; Muslim, no. 44) Dalam riwayat Muslim disebutkan, لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih ia cintai dari keluarga, harta, dan manusia seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 44)   Jangan Sampai Cinta Allah dan Rasul Dikalahkan oleh Dunia Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Dalam ayat disebutkan harta yang ia usahakan. Dikhususkan demikian karena yang memiliki harta tentu sangat cinta sekali pada hartanya. Apalagi harta tersebut diperoleh dengan keletihan dan kepayahan tentu lebih dicintai dibanding dengan yang tidak demikian. Sedangkan yang dimaksudkan perdagangan dalam ayat di atas itu umum, mencakup berbagai bentuk perdagangan dan berbagai aset yang dijual, ada berupa alat tukar, bejana, senjata, barang-barang, biji-bijian, tanaman dan ternak. Begitu pula tempat tinggal yang bagus dan penuh dengan berbagai perhiasan serta rumah yang sesuai keinginan. Jika itu semua lebih dicintai dari Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan Allah, maka ia termasuk orang yang fasik lagi zalim. Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Taisir Al-Karim Ar-Rahman.   Bahkan Rasul Harus Lebih Dicintai dari Diri Sendiri Dari ‘Abdullah bin Hisyam, ia berkata, كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ » . فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « الآنَ يَا عُمَرُ » “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ketika itu memegang tangan Umar bin Al-Khattab. ‘Umar berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, pokoknya aku tetap harus lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar pun berkata, “Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokoknya mulai dari sekarang wahai Umar.”  (HR. Bukhari, no. 6632).   Timbulnya Maksiat dan Bid’ah Semua maksiat timbul karena seseorang mendahulukan hawa nafsu daripada kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Contoh yang disebutkan oleh Allah tentang orang musyrik, فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashshash: 50) Begitu pula bid’ah bisa muncul karena mendahulukan hawa nafsu daripada mengikuti syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, sudahkah kita benar-benar mencintai Rasul dan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah kita malah mengedepankan hawa nafsu kita? Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat, Jumat Pon, 13 Rabi’ul Awwal 1437 H di Masjid Adz-Dzikro, Ngampel, Warak, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbid'ah cinta nabi hawa nafsu

Menundukkan Hawa Nafsu Demi Mengikuti Ajaran Nabi

Kita diperintahkan untuk menundukkan hawa nafsu kita demi mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Menundukkan Hawa Nafsu Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih menurut Imam Nawawi. Namun penshahihan hadits ini tidak tepat menurut Ibnu Rajab). Walau hadits di atas adalah hadits yang dha’if, namun maknanya benar. Makna hadits tersebut menurut Ibnu Rajab Al-Hambali, kita dikatakan memiliki iman yang sempurna yang sifatnya wajib ketika kita tunduk pada ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya serta mencintai perintah dan membenci setiap larangan. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 395. Banyak dalil lain yang menjelaskan semisal itu. Seperti firman Allah Ta’ala, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65) Dalam ayat lain juga disebutkan, وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36) Sedangkan orang yang membenci sesuatu yang Allah cintai atau mencintai sesuatu yang Allah benci, dialah yang mendapatkan celaaan. Allah Ta’ala berfirman, ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9) Juga disebutkan dalam surat yang sama, ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 28)   Melakukan yang Wajib dan Sunnah, Meninggalkan yang Haram dan Makruh Wajib bagi setiap mukmin mencintai segala yang Allah cintai sehingga harus baginya melakukan perkara yang wajib. Jika kecintaannya bertambah, ia menambah lagi dengan melakukan amalan sunnah. Itulah tambahan untuknya. Begitu pula wajib bagi setiap muslim membenci segala yang Allah benci sehingga sudah selayaknya baginya menahan diri dari segala perkara yang haram. Rasa bencinya ditambah lagi dengan meninggalkan hal yang makruh (makruh tanzih). Ada hadits dalam shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman sampai aku lebih ia cintai dari orang tua, anak dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari, no. 15; Muslim, no. 44) Dalam riwayat Muslim disebutkan, لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih ia cintai dari keluarga, harta, dan manusia seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 44)   Jangan Sampai Cinta Allah dan Rasul Dikalahkan oleh Dunia Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Dalam ayat disebutkan harta yang ia usahakan. Dikhususkan demikian karena yang memiliki harta tentu sangat cinta sekali pada hartanya. Apalagi harta tersebut diperoleh dengan keletihan dan kepayahan tentu lebih dicintai dibanding dengan yang tidak demikian. Sedangkan yang dimaksudkan perdagangan dalam ayat di atas itu umum, mencakup berbagai bentuk perdagangan dan berbagai aset yang dijual, ada berupa alat tukar, bejana, senjata, barang-barang, biji-bijian, tanaman dan ternak. Begitu pula tempat tinggal yang bagus dan penuh dengan berbagai perhiasan serta rumah yang sesuai keinginan. Jika itu semua lebih dicintai dari Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan Allah, maka ia termasuk orang yang fasik lagi zalim. Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Taisir Al-Karim Ar-Rahman.   Bahkan Rasul Harus Lebih Dicintai dari Diri Sendiri Dari ‘Abdullah bin Hisyam, ia berkata, كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ » . فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « الآنَ يَا عُمَرُ » “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ketika itu memegang tangan Umar bin Al-Khattab. ‘Umar berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, pokoknya aku tetap harus lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar pun berkata, “Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokoknya mulai dari sekarang wahai Umar.”  (HR. Bukhari, no. 6632).   Timbulnya Maksiat dan Bid’ah Semua maksiat timbul karena seseorang mendahulukan hawa nafsu daripada kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Contoh yang disebutkan oleh Allah tentang orang musyrik, فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashshash: 50) Begitu pula bid’ah bisa muncul karena mendahulukan hawa nafsu daripada mengikuti syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, sudahkah kita benar-benar mencintai Rasul dan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah kita malah mengedepankan hawa nafsu kita? Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat, Jumat Pon, 13 Rabi’ul Awwal 1437 H di Masjid Adz-Dzikro, Ngampel, Warak, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbid'ah cinta nabi hawa nafsu
Kita diperintahkan untuk menundukkan hawa nafsu kita demi mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Menundukkan Hawa Nafsu Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih menurut Imam Nawawi. Namun penshahihan hadits ini tidak tepat menurut Ibnu Rajab). Walau hadits di atas adalah hadits yang dha’if, namun maknanya benar. Makna hadits tersebut menurut Ibnu Rajab Al-Hambali, kita dikatakan memiliki iman yang sempurna yang sifatnya wajib ketika kita tunduk pada ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya serta mencintai perintah dan membenci setiap larangan. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 395. Banyak dalil lain yang menjelaskan semisal itu. Seperti firman Allah Ta’ala, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65) Dalam ayat lain juga disebutkan, وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36) Sedangkan orang yang membenci sesuatu yang Allah cintai atau mencintai sesuatu yang Allah benci, dialah yang mendapatkan celaaan. Allah Ta’ala berfirman, ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9) Juga disebutkan dalam surat yang sama, ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 28)   Melakukan yang Wajib dan Sunnah, Meninggalkan yang Haram dan Makruh Wajib bagi setiap mukmin mencintai segala yang Allah cintai sehingga harus baginya melakukan perkara yang wajib. Jika kecintaannya bertambah, ia menambah lagi dengan melakukan amalan sunnah. Itulah tambahan untuknya. Begitu pula wajib bagi setiap muslim membenci segala yang Allah benci sehingga sudah selayaknya baginya menahan diri dari segala perkara yang haram. Rasa bencinya ditambah lagi dengan meninggalkan hal yang makruh (makruh tanzih). Ada hadits dalam shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman sampai aku lebih ia cintai dari orang tua, anak dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari, no. 15; Muslim, no. 44) Dalam riwayat Muslim disebutkan, لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih ia cintai dari keluarga, harta, dan manusia seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 44)   Jangan Sampai Cinta Allah dan Rasul Dikalahkan oleh Dunia Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Dalam ayat disebutkan harta yang ia usahakan. Dikhususkan demikian karena yang memiliki harta tentu sangat cinta sekali pada hartanya. Apalagi harta tersebut diperoleh dengan keletihan dan kepayahan tentu lebih dicintai dibanding dengan yang tidak demikian. Sedangkan yang dimaksudkan perdagangan dalam ayat di atas itu umum, mencakup berbagai bentuk perdagangan dan berbagai aset yang dijual, ada berupa alat tukar, bejana, senjata, barang-barang, biji-bijian, tanaman dan ternak. Begitu pula tempat tinggal yang bagus dan penuh dengan berbagai perhiasan serta rumah yang sesuai keinginan. Jika itu semua lebih dicintai dari Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan Allah, maka ia termasuk orang yang fasik lagi zalim. Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Taisir Al-Karim Ar-Rahman.   Bahkan Rasul Harus Lebih Dicintai dari Diri Sendiri Dari ‘Abdullah bin Hisyam, ia berkata, كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ » . فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « الآنَ يَا عُمَرُ » “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ketika itu memegang tangan Umar bin Al-Khattab. ‘Umar berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, pokoknya aku tetap harus lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar pun berkata, “Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokoknya mulai dari sekarang wahai Umar.”  (HR. Bukhari, no. 6632).   Timbulnya Maksiat dan Bid’ah Semua maksiat timbul karena seseorang mendahulukan hawa nafsu daripada kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Contoh yang disebutkan oleh Allah tentang orang musyrik, فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashshash: 50) Begitu pula bid’ah bisa muncul karena mendahulukan hawa nafsu daripada mengikuti syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, sudahkah kita benar-benar mencintai Rasul dan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah kita malah mengedepankan hawa nafsu kita? Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat, Jumat Pon, 13 Rabi’ul Awwal 1437 H di Masjid Adz-Dzikro, Ngampel, Warak, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbid'ah cinta nabi hawa nafsu


Kita diperintahkan untuk menundukkan hawa nafsu kita demi mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Menundukkan Hawa Nafsu Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih menurut Imam Nawawi. Namun penshahihan hadits ini tidak tepat menurut Ibnu Rajab). Walau hadits di atas adalah hadits yang dha’if, namun maknanya benar. Makna hadits tersebut menurut Ibnu Rajab Al-Hambali, kita dikatakan memiliki iman yang sempurna yang sifatnya wajib ketika kita tunduk pada ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya serta mencintai perintah dan membenci setiap larangan. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 395. Banyak dalil lain yang menjelaskan semisal itu. Seperti firman Allah Ta’ala, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65) Dalam ayat lain juga disebutkan, وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36) Sedangkan orang yang membenci sesuatu yang Allah cintai atau mencintai sesuatu yang Allah benci, dialah yang mendapatkan celaaan. Allah Ta’ala berfirman, ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9) Juga disebutkan dalam surat yang sama, ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 28)   Melakukan yang Wajib dan Sunnah, Meninggalkan yang Haram dan Makruh Wajib bagi setiap mukmin mencintai segala yang Allah cintai sehingga harus baginya melakukan perkara yang wajib. Jika kecintaannya bertambah, ia menambah lagi dengan melakukan amalan sunnah. Itulah tambahan untuknya. Begitu pula wajib bagi setiap muslim membenci segala yang Allah benci sehingga sudah selayaknya baginya menahan diri dari segala perkara yang haram. Rasa bencinya ditambah lagi dengan meninggalkan hal yang makruh (makruh tanzih). Ada hadits dalam shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman sampai aku lebih ia cintai dari orang tua, anak dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari, no. 15; Muslim, no. 44) Dalam riwayat Muslim disebutkan, لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih ia cintai dari keluarga, harta, dan manusia seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 44)   Jangan Sampai Cinta Allah dan Rasul Dikalahkan oleh Dunia Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Dalam ayat disebutkan harta yang ia usahakan. Dikhususkan demikian karena yang memiliki harta tentu sangat cinta sekali pada hartanya. Apalagi harta tersebut diperoleh dengan keletihan dan kepayahan tentu lebih dicintai dibanding dengan yang tidak demikian. Sedangkan yang dimaksudkan perdagangan dalam ayat di atas itu umum, mencakup berbagai bentuk perdagangan dan berbagai aset yang dijual, ada berupa alat tukar, bejana, senjata, barang-barang, biji-bijian, tanaman dan ternak. Begitu pula tempat tinggal yang bagus dan penuh dengan berbagai perhiasan serta rumah yang sesuai keinginan. Jika itu semua lebih dicintai dari Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan Allah, maka ia termasuk orang yang fasik lagi zalim. Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Taisir Al-Karim Ar-Rahman.   Bahkan Rasul Harus Lebih Dicintai dari Diri Sendiri Dari ‘Abdullah bin Hisyam, ia berkata, كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ » . فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « الآنَ يَا عُمَرُ » “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ketika itu memegang tangan Umar bin Al-Khattab. ‘Umar berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, pokoknya aku tetap harus lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar pun berkata, “Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokoknya mulai dari sekarang wahai Umar.”  (HR. Bukhari, no. 6632).   Timbulnya Maksiat dan Bid’ah Semua maksiat timbul karena seseorang mendahulukan hawa nafsu daripada kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Contoh yang disebutkan oleh Allah tentang orang musyrik, فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashshash: 50) Begitu pula bid’ah bisa muncul karena mendahulukan hawa nafsu daripada mengikuti syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, sudahkah kita benar-benar mencintai Rasul dan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah kita malah mengedepankan hawa nafsu kita? Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat, Jumat Pon, 13 Rabi’ul Awwal 1437 H di Masjid Adz-Dzikro, Ngampel, Warak, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbid'ah cinta nabi hawa nafsu

Anda Muslim Masih Mengucapkan Selamat Natal?

Kami dulunya tinggal di Papua yang mayoritas Nashrani Kami bertetangga dengan mereka Bahkan rumah kami berdampingan dengan rumah-rumah mereka Kami tahu perayaan mereka Bahkan dahulu kami bertamu Bahkan kami bantu dan gotong royong Bahkan acara kebaktian mereka pun kami tahu Sampai mengucapkan selamat pun kami anggap hal umrah   Namun kala kami hijrah ke Jawa …   Kami tahu mengucapkan selamat untuk perayaan mereka itu tidak boleh. Kami tahu bertamu ke tempat mereka untuk mengucapkan selamat pun tidak boleh. Padahal teman dan rekan kami banyak yang berbeda akidah. Kami tahu tak perlu merayakan bersama, walau secara prinsip muamalah tetap baik. Karena prinsip kami “Lakum diinukum wa liyadiin”. Bagi kalian ajaran kalian, bagiku ajaranku. Kalian silakan rayakan, tanpa kami turut serta dan dukung, kalian pun tidak kami ganggu.   Bagi yang rela dan ridha ucapkan, Tak takutkah murka Allah? Bukankah mereka meyakini bahwa Isa itu bagian dari yang tiga. Teori trinitas yang mereka yakini, Isa adalah Bapak, Putera dan Roh Kudus. Padahal prinsip Islam adalah lam yalid wa lam yuulad. Yaitu Allah itu Esa, tidak ada putera atau istilah anak Tuhan.   Jika Anda ucapkan, sama saja Anda mengucapkan selamat atas kelahiran anak Tuhan.   Kami yang dahulu dari Papua, berusaha tidak ucapkan lagi … Sedangkan Anda? Akidah dan keyakinan rela dikorbankan cuma karena ingin dibilang tolerir dan baik. Padahal baik dengan mereka itu boleh selama bukan ranah agama.   Anda Muslim masih ucapkan selamat Natal? Masih mendukung? Masih membantu? Masih merayakan bersama?   Terserahlah … Anda harus siap menjawab jika ditanya di hadapan Allah kelak. Hisab di sisi Allah itu sungguh berat.   Tugas kami hanyalah memberi penjelasan, Sedangkan hidayah milik Allah. Wallahu waliyyut taufiq.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’ul Awwal 1437 H By: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnatal

Anda Muslim Masih Mengucapkan Selamat Natal?

Kami dulunya tinggal di Papua yang mayoritas Nashrani Kami bertetangga dengan mereka Bahkan rumah kami berdampingan dengan rumah-rumah mereka Kami tahu perayaan mereka Bahkan dahulu kami bertamu Bahkan kami bantu dan gotong royong Bahkan acara kebaktian mereka pun kami tahu Sampai mengucapkan selamat pun kami anggap hal umrah   Namun kala kami hijrah ke Jawa …   Kami tahu mengucapkan selamat untuk perayaan mereka itu tidak boleh. Kami tahu bertamu ke tempat mereka untuk mengucapkan selamat pun tidak boleh. Padahal teman dan rekan kami banyak yang berbeda akidah. Kami tahu tak perlu merayakan bersama, walau secara prinsip muamalah tetap baik. Karena prinsip kami “Lakum diinukum wa liyadiin”. Bagi kalian ajaran kalian, bagiku ajaranku. Kalian silakan rayakan, tanpa kami turut serta dan dukung, kalian pun tidak kami ganggu.   Bagi yang rela dan ridha ucapkan, Tak takutkah murka Allah? Bukankah mereka meyakini bahwa Isa itu bagian dari yang tiga. Teori trinitas yang mereka yakini, Isa adalah Bapak, Putera dan Roh Kudus. Padahal prinsip Islam adalah lam yalid wa lam yuulad. Yaitu Allah itu Esa, tidak ada putera atau istilah anak Tuhan.   Jika Anda ucapkan, sama saja Anda mengucapkan selamat atas kelahiran anak Tuhan.   Kami yang dahulu dari Papua, berusaha tidak ucapkan lagi … Sedangkan Anda? Akidah dan keyakinan rela dikorbankan cuma karena ingin dibilang tolerir dan baik. Padahal baik dengan mereka itu boleh selama bukan ranah agama.   Anda Muslim masih ucapkan selamat Natal? Masih mendukung? Masih membantu? Masih merayakan bersama?   Terserahlah … Anda harus siap menjawab jika ditanya di hadapan Allah kelak. Hisab di sisi Allah itu sungguh berat.   Tugas kami hanyalah memberi penjelasan, Sedangkan hidayah milik Allah. Wallahu waliyyut taufiq.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’ul Awwal 1437 H By: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnatal
Kami dulunya tinggal di Papua yang mayoritas Nashrani Kami bertetangga dengan mereka Bahkan rumah kami berdampingan dengan rumah-rumah mereka Kami tahu perayaan mereka Bahkan dahulu kami bertamu Bahkan kami bantu dan gotong royong Bahkan acara kebaktian mereka pun kami tahu Sampai mengucapkan selamat pun kami anggap hal umrah   Namun kala kami hijrah ke Jawa …   Kami tahu mengucapkan selamat untuk perayaan mereka itu tidak boleh. Kami tahu bertamu ke tempat mereka untuk mengucapkan selamat pun tidak boleh. Padahal teman dan rekan kami banyak yang berbeda akidah. Kami tahu tak perlu merayakan bersama, walau secara prinsip muamalah tetap baik. Karena prinsip kami “Lakum diinukum wa liyadiin”. Bagi kalian ajaran kalian, bagiku ajaranku. Kalian silakan rayakan, tanpa kami turut serta dan dukung, kalian pun tidak kami ganggu.   Bagi yang rela dan ridha ucapkan, Tak takutkah murka Allah? Bukankah mereka meyakini bahwa Isa itu bagian dari yang tiga. Teori trinitas yang mereka yakini, Isa adalah Bapak, Putera dan Roh Kudus. Padahal prinsip Islam adalah lam yalid wa lam yuulad. Yaitu Allah itu Esa, tidak ada putera atau istilah anak Tuhan.   Jika Anda ucapkan, sama saja Anda mengucapkan selamat atas kelahiran anak Tuhan.   Kami yang dahulu dari Papua, berusaha tidak ucapkan lagi … Sedangkan Anda? Akidah dan keyakinan rela dikorbankan cuma karena ingin dibilang tolerir dan baik. Padahal baik dengan mereka itu boleh selama bukan ranah agama.   Anda Muslim masih ucapkan selamat Natal? Masih mendukung? Masih membantu? Masih merayakan bersama?   Terserahlah … Anda harus siap menjawab jika ditanya di hadapan Allah kelak. Hisab di sisi Allah itu sungguh berat.   Tugas kami hanyalah memberi penjelasan, Sedangkan hidayah milik Allah. Wallahu waliyyut taufiq.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’ul Awwal 1437 H By: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnatal


Kami dulunya tinggal di Papua yang mayoritas Nashrani Kami bertetangga dengan mereka Bahkan rumah kami berdampingan dengan rumah-rumah mereka Kami tahu perayaan mereka Bahkan dahulu kami bertamu Bahkan kami bantu dan gotong royong Bahkan acara kebaktian mereka pun kami tahu Sampai mengucapkan selamat pun kami anggap hal umrah   Namun kala kami hijrah ke Jawa …   Kami tahu mengucapkan selamat untuk perayaan mereka itu tidak boleh. Kami tahu bertamu ke tempat mereka untuk mengucapkan selamat pun tidak boleh. Padahal teman dan rekan kami banyak yang berbeda akidah. Kami tahu tak perlu merayakan bersama, walau secara prinsip muamalah tetap baik. Karena prinsip kami “Lakum diinukum wa liyadiin”. Bagi kalian ajaran kalian, bagiku ajaranku. Kalian silakan rayakan, tanpa kami turut serta dan dukung, kalian pun tidak kami ganggu.   Bagi yang rela dan ridha ucapkan, Tak takutkah murka Allah? Bukankah mereka meyakini bahwa Isa itu bagian dari yang tiga. Teori trinitas yang mereka yakini, Isa adalah Bapak, Putera dan Roh Kudus. Padahal prinsip Islam adalah lam yalid wa lam yuulad. Yaitu Allah itu Esa, tidak ada putera atau istilah anak Tuhan.   Jika Anda ucapkan, sama saja Anda mengucapkan selamat atas kelahiran anak Tuhan.   Kami yang dahulu dari Papua, berusaha tidak ucapkan lagi … Sedangkan Anda? Akidah dan keyakinan rela dikorbankan cuma karena ingin dibilang tolerir dan baik. Padahal baik dengan mereka itu boleh selama bukan ranah agama.   Anda Muslim masih ucapkan selamat Natal? Masih mendukung? Masih membantu? Masih merayakan bersama?   Terserahlah … Anda harus siap menjawab jika ditanya di hadapan Allah kelak. Hisab di sisi Allah itu sungguh berat.   Tugas kami hanyalah memberi penjelasan, Sedangkan hidayah milik Allah. Wallahu waliyyut taufiq.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’ul Awwal 1437 H By: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnatal

Mati Saat Menuntut Ilmu

Di antara tanda husnul khatimah adalah mati saat menuntut ilmu. # MATI SAAT MENUNTUT ILMU قال الحافظ ابن عبد البر رحمه الله: ‏ “من مات طالباً للعلم فهو من علامات حسن الخاتمة”. ‏لأنه مات على طاعة عظيمة Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr berkata: Siapa yang mati dalam keadaan menuntut ilmu, maka ia berada dalam tanda husnul khatimah (mati yang baik) karena ia telah mati dalam ketaatan yang sangat besar. (Diambil dari status telegram Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid: @almunajjid) — Terus semangat dalam menuntut ilmu. Channel Telegram @UntaianNasihat. Tagsbelajar husnul khatimah

Mati Saat Menuntut Ilmu

Di antara tanda husnul khatimah adalah mati saat menuntut ilmu. # MATI SAAT MENUNTUT ILMU قال الحافظ ابن عبد البر رحمه الله: ‏ “من مات طالباً للعلم فهو من علامات حسن الخاتمة”. ‏لأنه مات على طاعة عظيمة Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr berkata: Siapa yang mati dalam keadaan menuntut ilmu, maka ia berada dalam tanda husnul khatimah (mati yang baik) karena ia telah mati dalam ketaatan yang sangat besar. (Diambil dari status telegram Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid: @almunajjid) — Terus semangat dalam menuntut ilmu. Channel Telegram @UntaianNasihat. Tagsbelajar husnul khatimah
Di antara tanda husnul khatimah adalah mati saat menuntut ilmu. # MATI SAAT MENUNTUT ILMU قال الحافظ ابن عبد البر رحمه الله: ‏ “من مات طالباً للعلم فهو من علامات حسن الخاتمة”. ‏لأنه مات على طاعة عظيمة Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr berkata: Siapa yang mati dalam keadaan menuntut ilmu, maka ia berada dalam tanda husnul khatimah (mati yang baik) karena ia telah mati dalam ketaatan yang sangat besar. (Diambil dari status telegram Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid: @almunajjid) — Terus semangat dalam menuntut ilmu. Channel Telegram @UntaianNasihat. Tagsbelajar husnul khatimah


Di antara tanda husnul khatimah adalah mati saat menuntut ilmu. # MATI SAAT MENUNTUT ILMU قال الحافظ ابن عبد البر رحمه الله: ‏ “من مات طالباً للعلم فهو من علامات حسن الخاتمة”. ‏لأنه مات على طاعة عظيمة Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr berkata: Siapa yang mati dalam keadaan menuntut ilmu, maka ia berada dalam tanda husnul khatimah (mati yang baik) karena ia telah mati dalam ketaatan yang sangat besar. (Diambil dari status telegram Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid: @almunajjid) — Terus semangat dalam menuntut ilmu. Channel Telegram @UntaianNasihat. Tagsbelajar husnul khatimah

10 Alasan Istri Tidak Mau Dipoligami

Perlu dipahami … Sebagian wanita khawatir sekali jika suaminya memilih poligami … Tahu tidak kenapa?   Alasan pertama … Karena istri tersebut sangat menyayangi suami.   Alasan kedua … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan dirinya.   Alasan ketiga … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan anak-anaknya.   Alasan keempat … Karena istri tersebut khawatir suaminya tidak bisa adil dalam hal nafkah. Walau masalah cinta sulit untuk dibuat adil.   Alasan kelima … Karena istri tahu bahwa suami tidak bisa adil dalam memberikan jatah malam antara istri tua dan muda. Padahal tidak bisa adil dalam hal ini, kena ancaman berat pada hari kiamat.   Alasan keenam … Karena istri merasa suami masih kurang berilmu, sehingga sulit membina rumah tangga poligami dengan baik.   Alasan ketujuh … Karena istri tidak mau keluarga besarnya yang belum paham kecewa dan sedih.   Alasan kedelapan … Karena istri merasa keinginan suami hanya ingin dibilang paling mengikuti sunnah, bukan lillahi ta’ala.   Alasan kesembilan … Karena istri tidak mau suami merusak rumah tangga yang telah lama dibangun.   Alasan kesepuluh … Karena istri tidak mau jauh dari suami, ingin terus bersama, sehidup sesurga.   So … Syukurlah kalau alasannya seperti itu ada pada istri Anda. Itu tanda istri benar-benar menyayagi Anda, maka jagalah ia dengan baik. Setiap yang punya keinginan berpoligami seharusnya memikirkan bahwa melanjutkan rumah tangga itu lebih mudah daripada membangun dari awal lagi.   Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Halim Perdana Kusuma, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnafkah poligami

10 Alasan Istri Tidak Mau Dipoligami

Perlu dipahami … Sebagian wanita khawatir sekali jika suaminya memilih poligami … Tahu tidak kenapa?   Alasan pertama … Karena istri tersebut sangat menyayangi suami.   Alasan kedua … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan dirinya.   Alasan ketiga … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan anak-anaknya.   Alasan keempat … Karena istri tersebut khawatir suaminya tidak bisa adil dalam hal nafkah. Walau masalah cinta sulit untuk dibuat adil.   Alasan kelima … Karena istri tahu bahwa suami tidak bisa adil dalam memberikan jatah malam antara istri tua dan muda. Padahal tidak bisa adil dalam hal ini, kena ancaman berat pada hari kiamat.   Alasan keenam … Karena istri merasa suami masih kurang berilmu, sehingga sulit membina rumah tangga poligami dengan baik.   Alasan ketujuh … Karena istri tidak mau keluarga besarnya yang belum paham kecewa dan sedih.   Alasan kedelapan … Karena istri merasa keinginan suami hanya ingin dibilang paling mengikuti sunnah, bukan lillahi ta’ala.   Alasan kesembilan … Karena istri tidak mau suami merusak rumah tangga yang telah lama dibangun.   Alasan kesepuluh … Karena istri tidak mau jauh dari suami, ingin terus bersama, sehidup sesurga.   So … Syukurlah kalau alasannya seperti itu ada pada istri Anda. Itu tanda istri benar-benar menyayagi Anda, maka jagalah ia dengan baik. Setiap yang punya keinginan berpoligami seharusnya memikirkan bahwa melanjutkan rumah tangga itu lebih mudah daripada membangun dari awal lagi.   Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Halim Perdana Kusuma, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnafkah poligami
Perlu dipahami … Sebagian wanita khawatir sekali jika suaminya memilih poligami … Tahu tidak kenapa?   Alasan pertama … Karena istri tersebut sangat menyayangi suami.   Alasan kedua … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan dirinya.   Alasan ketiga … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan anak-anaknya.   Alasan keempat … Karena istri tersebut khawatir suaminya tidak bisa adil dalam hal nafkah. Walau masalah cinta sulit untuk dibuat adil.   Alasan kelima … Karena istri tahu bahwa suami tidak bisa adil dalam memberikan jatah malam antara istri tua dan muda. Padahal tidak bisa adil dalam hal ini, kena ancaman berat pada hari kiamat.   Alasan keenam … Karena istri merasa suami masih kurang berilmu, sehingga sulit membina rumah tangga poligami dengan baik.   Alasan ketujuh … Karena istri tidak mau keluarga besarnya yang belum paham kecewa dan sedih.   Alasan kedelapan … Karena istri merasa keinginan suami hanya ingin dibilang paling mengikuti sunnah, bukan lillahi ta’ala.   Alasan kesembilan … Karena istri tidak mau suami merusak rumah tangga yang telah lama dibangun.   Alasan kesepuluh … Karena istri tidak mau jauh dari suami, ingin terus bersama, sehidup sesurga.   So … Syukurlah kalau alasannya seperti itu ada pada istri Anda. Itu tanda istri benar-benar menyayagi Anda, maka jagalah ia dengan baik. Setiap yang punya keinginan berpoligami seharusnya memikirkan bahwa melanjutkan rumah tangga itu lebih mudah daripada membangun dari awal lagi.   Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Halim Perdana Kusuma, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnafkah poligami


Perlu dipahami … Sebagian wanita khawatir sekali jika suaminya memilih poligami … Tahu tidak kenapa?   Alasan pertama … Karena istri tersebut sangat menyayangi suami.   Alasan kedua … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan dirinya.   Alasan ketiga … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan anak-anaknya.   Alasan keempat … Karena istri tersebut khawatir suaminya tidak bisa adil dalam hal nafkah. Walau masalah cinta sulit untuk dibuat adil.   Alasan kelima … Karena istri tahu bahwa suami tidak bisa adil dalam memberikan jatah malam antara istri tua dan muda. Padahal tidak bisa adil dalam hal ini, kena ancaman berat pada hari kiamat.   Alasan keenam … Karena istri merasa suami masih kurang berilmu, sehingga sulit membina rumah tangga poligami dengan baik.   Alasan ketujuh … Karena istri tidak mau keluarga besarnya yang belum paham kecewa dan sedih.   Alasan kedelapan … Karena istri merasa keinginan suami hanya ingin dibilang paling mengikuti sunnah, bukan lillahi ta’ala.   Alasan kesembilan … Karena istri tidak mau suami merusak rumah tangga yang telah lama dibangun.   Alasan kesepuluh … Karena istri tidak mau jauh dari suami, ingin terus bersama, sehidup sesurga.   So … Syukurlah kalau alasannya seperti itu ada pada istri Anda. Itu tanda istri benar-benar menyayagi Anda, maka jagalah ia dengan baik. Setiap yang punya keinginan berpoligami seharusnya memikirkan bahwa melanjutkan rumah tangga itu lebih mudah daripada membangun dari awal lagi.   Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Halim Perdana Kusuma, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnafkah poligami

Waktu dan Tempat untuk Bershalawat (8)

Di antara kesempatan terbaik untuk bershalawat, kata Ibnul Qayyim adalah saat mengkhatamkan Al-Qur’an.   15- Setelah mengkhatamkan Al-Qur’an. Karena setelah mengkhatamkan Al-Qur’an adalah kesempatan untuk berdoa. Ada riwayat dari Imam Ahmad yang menunjukkan anjuran do’a setelah khatam Al-Qur’an. Ada riwayat dari Abul Harits, “Ketika Anas mengkhatamkan Al-Qur’an, ia mengumpulkan keluarga dan anaknya.” Diriwayatkan dari Ibnu Abi Daud dalam Fadhail Al-Qur’an, dari Al-Hakam, ia berkata bahwa Mujahid dan ‘Abdah bin Abi Lubabah mengutus kepadanya, bahwa mereka ingin mengkhatamkan Al-Qur’an. Lalu disebutkan, “Sesungguhnya doa itu mudah diijabahi ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an. Lantas ia berdo’a dengan beberapa do’a.” Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Siapa yang mengkhatamkan Al-Qur’an, maka ia memiliki doa yang mustajab (terkabulkan).” Mujahid juga berkata, “Rahmat itu turun ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an.” Ibnul Qayyim berakta, “Jika tempat terbaik dan waktu terijabahnya do’a adalah ketika khatam Al-Qur’an, maka tempat terbaik ketika bershalawat ketika itu pula.” (Jala’ Al-Alfham, hlm. 354-356) Silakan amalkan … Tunggu lanjutan bahasan shalawat lainnya.   Referensi: Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alamil Fawaid, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun menjelang ‘Ashar, 10 Rabi’ul Awwal1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin   Tagsshalawat

Waktu dan Tempat untuk Bershalawat (8)

Di antara kesempatan terbaik untuk bershalawat, kata Ibnul Qayyim adalah saat mengkhatamkan Al-Qur’an.   15- Setelah mengkhatamkan Al-Qur’an. Karena setelah mengkhatamkan Al-Qur’an adalah kesempatan untuk berdoa. Ada riwayat dari Imam Ahmad yang menunjukkan anjuran do’a setelah khatam Al-Qur’an. Ada riwayat dari Abul Harits, “Ketika Anas mengkhatamkan Al-Qur’an, ia mengumpulkan keluarga dan anaknya.” Diriwayatkan dari Ibnu Abi Daud dalam Fadhail Al-Qur’an, dari Al-Hakam, ia berkata bahwa Mujahid dan ‘Abdah bin Abi Lubabah mengutus kepadanya, bahwa mereka ingin mengkhatamkan Al-Qur’an. Lalu disebutkan, “Sesungguhnya doa itu mudah diijabahi ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an. Lantas ia berdo’a dengan beberapa do’a.” Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Siapa yang mengkhatamkan Al-Qur’an, maka ia memiliki doa yang mustajab (terkabulkan).” Mujahid juga berkata, “Rahmat itu turun ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an.” Ibnul Qayyim berakta, “Jika tempat terbaik dan waktu terijabahnya do’a adalah ketika khatam Al-Qur’an, maka tempat terbaik ketika bershalawat ketika itu pula.” (Jala’ Al-Alfham, hlm. 354-356) Silakan amalkan … Tunggu lanjutan bahasan shalawat lainnya.   Referensi: Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alamil Fawaid, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun menjelang ‘Ashar, 10 Rabi’ul Awwal1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin   Tagsshalawat
Di antara kesempatan terbaik untuk bershalawat, kata Ibnul Qayyim adalah saat mengkhatamkan Al-Qur’an.   15- Setelah mengkhatamkan Al-Qur’an. Karena setelah mengkhatamkan Al-Qur’an adalah kesempatan untuk berdoa. Ada riwayat dari Imam Ahmad yang menunjukkan anjuran do’a setelah khatam Al-Qur’an. Ada riwayat dari Abul Harits, “Ketika Anas mengkhatamkan Al-Qur’an, ia mengumpulkan keluarga dan anaknya.” Diriwayatkan dari Ibnu Abi Daud dalam Fadhail Al-Qur’an, dari Al-Hakam, ia berkata bahwa Mujahid dan ‘Abdah bin Abi Lubabah mengutus kepadanya, bahwa mereka ingin mengkhatamkan Al-Qur’an. Lalu disebutkan, “Sesungguhnya doa itu mudah diijabahi ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an. Lantas ia berdo’a dengan beberapa do’a.” Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Siapa yang mengkhatamkan Al-Qur’an, maka ia memiliki doa yang mustajab (terkabulkan).” Mujahid juga berkata, “Rahmat itu turun ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an.” Ibnul Qayyim berakta, “Jika tempat terbaik dan waktu terijabahnya do’a adalah ketika khatam Al-Qur’an, maka tempat terbaik ketika bershalawat ketika itu pula.” (Jala’ Al-Alfham, hlm. 354-356) Silakan amalkan … Tunggu lanjutan bahasan shalawat lainnya.   Referensi: Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alamil Fawaid, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun menjelang ‘Ashar, 10 Rabi’ul Awwal1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin   Tagsshalawat


Di antara kesempatan terbaik untuk bershalawat, kata Ibnul Qayyim adalah saat mengkhatamkan Al-Qur’an.   15- Setelah mengkhatamkan Al-Qur’an. Karena setelah mengkhatamkan Al-Qur’an adalah kesempatan untuk berdoa. Ada riwayat dari Imam Ahmad yang menunjukkan anjuran do’a setelah khatam Al-Qur’an. Ada riwayat dari Abul Harits, “Ketika Anas mengkhatamkan Al-Qur’an, ia mengumpulkan keluarga dan anaknya.” Diriwayatkan dari Ibnu Abi Daud dalam Fadhail Al-Qur’an, dari Al-Hakam, ia berkata bahwa Mujahid dan ‘Abdah bin Abi Lubabah mengutus kepadanya, bahwa mereka ingin mengkhatamkan Al-Qur’an. Lalu disebutkan, “Sesungguhnya doa itu mudah diijabahi ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an. Lantas ia berdo’a dengan beberapa do’a.” Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Siapa yang mengkhatamkan Al-Qur’an, maka ia memiliki doa yang mustajab (terkabulkan).” Mujahid juga berkata, “Rahmat itu turun ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an.” Ibnul Qayyim berakta, “Jika tempat terbaik dan waktu terijabahnya do’a adalah ketika khatam Al-Qur’an, maka tempat terbaik ketika bershalawat ketika itu pula.” (Jala’ Al-Alfham, hlm. 354-356) Silakan amalkan … Tunggu lanjutan bahasan shalawat lainnya.   Referensi: Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alamil Fawaid, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun menjelang ‘Ashar, 10 Rabi’ul Awwal1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin   Tagsshalawat
Prev     Next