INGIN MEMILIKI PAHALA YANG TERUS MENGALIR WALAUPUN TELAH MATI?

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له  وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلّى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينSegala puji bagi Allah atas nikmatNya kemudian atas dukungan dari kaum Muslimin sehingga kami panitia pembebasan tanah wakaf untuk pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua di Kota Sorong dapat melaksanakan program pembebasan tanah wakaf tersebut. Mulanya tanah yang akan dibebaskan adalah seluas satu hektar dengan estimasi harga sebesar 3,5 milyar rupiah, alhamdulillah atas karunia dari Allah sematalah sehingga lahan yang saat ini telah berhasil dibebaskan (yang telah dibeli menggunakan dana wakaf tunai dari kaum Muslimin) adalah seluas 19.000 M2 (1,9 hektar)  dengan harga Rp. 1.630.000.000,- (satu Milyar Enam Ratus Tiga Puluh Juta Rupiah). Kemudian dilakukan penimbunan sebagian lahan tersebut menggunakan pasir timbunan sebanyak 10.000 rit (sekitar 20.000 M3) dengan harga per ritnya @ Rp. 92.500,- sehingga total biaya penimbunan lahan sampai saat ini adalah Rp. 925.000.000,- (Sembilan Ratus Dua Puluh Lima Juta Rupiah). Kami Panitia Pelaksana Pembebasan Tanah Wakaf tersebut mengucapkan terimakasih serta mendoakan seluruh muhsinin dan kaum muslimin yang telah berpartisipasi dalam amal sholeh ini semoga Allah  memberikan keberkahan pada usia, keluarga, harta yang telah diinfakkan dan yang dimiliki serta menjadikannya sebagai pemberat timbangan amal sholeh di akhirat kelak. Aamiin Alhamdulillaah saat ini lahan wakaf yang telah ditimbun tersebut in syaa Allah telah siap untuk dibangun di atasnya Masjid dan Pondok Pesantren (gambar lahan terlampir), oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini kami kembali mengajak Kaum Muslimin di manapun berada untuk turut mendukung pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren tersebut dengan menginfakkan sebahagian harta yang telah Allah karuniakan kepada Bapak/Ibu kaum Muslimin sekalian demi tegaknya kalimatullah di Tanah Papua kemudian demi kemaslahatan kaum muslimin. Tentunya setiap rupiah yang Bapak/Ibu Kaum Muslimin infakkan di jalan Allah karena mengharap keridaanNya semata tidak akan pernah sia-sia karena Allah telah berjanji akan menggantinya. Sebagaimana janji Allah di dalam firmanNya yang artinya :“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang sebaik-baiknya”  (Q.S. Saba’ (34) : 39).Al-Imam Ibnu Katsir rahimahulloohu menjelaskan di dalam Tafsirnya  (Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhiim cetakan Maktabah Auladis Syaikh Lit Turoots : Jilid 11 halaman 293) tentang makna ayat di atas adalah : “Apapun yang engkau infakkan dalam hal yang telah Allah perintahkan kepadamu dan perkara yang mubah, maka Allah akan memberikan gantinya di dunia dan memberikan pahala serta balasan di hari akhir”.  Sebagaimana  firman Allah di dalam hadits qudsi :أَّنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ (رواه البخاري : ٤٦٨٤)Artinya : “Berinfaklah engkau maka Aku akan menafkahimu” (H.R. Bukari : 4684).Demikian ajakan ini kami sampaikan kepada bapak/Ibu kaum Muslimin di manapun berada dan semoga Allah  menjadikan kita termasuk penolong-penolong Agama Allah. Aamiin                  INFORMASI bisa kontak kami di 0813 812 306 24 (Ustadz Sutriyono Sardi Lc.)Semoga Allah membalas kebaikan para muhsinin yang telah sudi membantu dalam kebaikan ini. Moga Allah memberkahi rizkinya, memudahkan kita untuk bisa taat kepada-Nya. AmiinWassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.  Jadwal Kajian Rutin di SorongLAPORAN DONASI PEMBANGUNAN MASJID DAN PESANTREN CAHAYA ISLAM PAPUA (terupdate setiap bulan, in syaa Allah)Berikut kami laporkan hasil penggalangan dana untuk Pembangunan Masjid & Pesantren Serta Pembebasan Lahan Wakaf yang dilaksanakan oleh Yayasan Cahaya Islam Papua Sampai dengan 21 Shafar 1439 H / 10 November 2017 M :1. Saldo Dana Pembebasan Lahan Wakaf Untuk Pembangunan Masjid Dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 292.328.680,- (Dua Ratus Sembilan Puluh Dua Juta, Tiga Ratus Dua Puluh Delapan Ribu, Enam Ratus Delapan Puluh Rupiah)2. Donasi Pembangunan Masjid Cahaya Islam Papua : Rp. 191.399.564,- (Seratus Sembilan Puluh Satu Juta, Tiga Ratus Sembilan Puluh Sembilan Ribu, Lima Ratus Enam Puluh Empat Rupiah)3. Donasi Pembangunan Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 203.163.828,- (Dua Ratus Tiga Juta, Seratus Enam Puluh Tiga Ribu, Delapan Ratus Dua Puluh Delapan Rupiah)Adapun rincian dana masuk pada poin no 1, 2 & 3 beserta penggunaannya dapat dilihat di link berikut ini :https://app.box.com/s/xmd02qgd4zsgid4949eqvvrv65xlfjav جَزَا اللَّهُ الْمُحْسِنِيْنَ خَيْرًاوَبَارَكَ اللَّهُ فِيْ أَعْمَارِهِمْوَأَهْلِيْهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ فِيْمَا أَنْفَقُوْا وَفِيْمَا أَمْسَكُوْا“Semoga Allooh memberikan balasan kebaikan (yg berlipat ganda) bagi para muhsinin dan memberikan keberkahan pada usia , keluarga serta harta mereka”

INGIN MEMILIKI PAHALA YANG TERUS MENGALIR WALAUPUN TELAH MATI?

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له  وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلّى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينSegala puji bagi Allah atas nikmatNya kemudian atas dukungan dari kaum Muslimin sehingga kami panitia pembebasan tanah wakaf untuk pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua di Kota Sorong dapat melaksanakan program pembebasan tanah wakaf tersebut. Mulanya tanah yang akan dibebaskan adalah seluas satu hektar dengan estimasi harga sebesar 3,5 milyar rupiah, alhamdulillah atas karunia dari Allah sematalah sehingga lahan yang saat ini telah berhasil dibebaskan (yang telah dibeli menggunakan dana wakaf tunai dari kaum Muslimin) adalah seluas 19.000 M2 (1,9 hektar)  dengan harga Rp. 1.630.000.000,- (satu Milyar Enam Ratus Tiga Puluh Juta Rupiah). Kemudian dilakukan penimbunan sebagian lahan tersebut menggunakan pasir timbunan sebanyak 10.000 rit (sekitar 20.000 M3) dengan harga per ritnya @ Rp. 92.500,- sehingga total biaya penimbunan lahan sampai saat ini adalah Rp. 925.000.000,- (Sembilan Ratus Dua Puluh Lima Juta Rupiah). Kami Panitia Pelaksana Pembebasan Tanah Wakaf tersebut mengucapkan terimakasih serta mendoakan seluruh muhsinin dan kaum muslimin yang telah berpartisipasi dalam amal sholeh ini semoga Allah  memberikan keberkahan pada usia, keluarga, harta yang telah diinfakkan dan yang dimiliki serta menjadikannya sebagai pemberat timbangan amal sholeh di akhirat kelak. Aamiin Alhamdulillaah saat ini lahan wakaf yang telah ditimbun tersebut in syaa Allah telah siap untuk dibangun di atasnya Masjid dan Pondok Pesantren (gambar lahan terlampir), oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini kami kembali mengajak Kaum Muslimin di manapun berada untuk turut mendukung pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren tersebut dengan menginfakkan sebahagian harta yang telah Allah karuniakan kepada Bapak/Ibu kaum Muslimin sekalian demi tegaknya kalimatullah di Tanah Papua kemudian demi kemaslahatan kaum muslimin. Tentunya setiap rupiah yang Bapak/Ibu Kaum Muslimin infakkan di jalan Allah karena mengharap keridaanNya semata tidak akan pernah sia-sia karena Allah telah berjanji akan menggantinya. Sebagaimana janji Allah di dalam firmanNya yang artinya :“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang sebaik-baiknya”  (Q.S. Saba’ (34) : 39).Al-Imam Ibnu Katsir rahimahulloohu menjelaskan di dalam Tafsirnya  (Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhiim cetakan Maktabah Auladis Syaikh Lit Turoots : Jilid 11 halaman 293) tentang makna ayat di atas adalah : “Apapun yang engkau infakkan dalam hal yang telah Allah perintahkan kepadamu dan perkara yang mubah, maka Allah akan memberikan gantinya di dunia dan memberikan pahala serta balasan di hari akhir”.  Sebagaimana  firman Allah di dalam hadits qudsi :أَّنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ (رواه البخاري : ٤٦٨٤)Artinya : “Berinfaklah engkau maka Aku akan menafkahimu” (H.R. Bukari : 4684).Demikian ajakan ini kami sampaikan kepada bapak/Ibu kaum Muslimin di manapun berada dan semoga Allah  menjadikan kita termasuk penolong-penolong Agama Allah. Aamiin                  INFORMASI bisa kontak kami di 0813 812 306 24 (Ustadz Sutriyono Sardi Lc.)Semoga Allah membalas kebaikan para muhsinin yang telah sudi membantu dalam kebaikan ini. Moga Allah memberkahi rizkinya, memudahkan kita untuk bisa taat kepada-Nya. AmiinWassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.  Jadwal Kajian Rutin di SorongLAPORAN DONASI PEMBANGUNAN MASJID DAN PESANTREN CAHAYA ISLAM PAPUA (terupdate setiap bulan, in syaa Allah)Berikut kami laporkan hasil penggalangan dana untuk Pembangunan Masjid & Pesantren Serta Pembebasan Lahan Wakaf yang dilaksanakan oleh Yayasan Cahaya Islam Papua Sampai dengan 21 Shafar 1439 H / 10 November 2017 M :1. Saldo Dana Pembebasan Lahan Wakaf Untuk Pembangunan Masjid Dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 292.328.680,- (Dua Ratus Sembilan Puluh Dua Juta, Tiga Ratus Dua Puluh Delapan Ribu, Enam Ratus Delapan Puluh Rupiah)2. Donasi Pembangunan Masjid Cahaya Islam Papua : Rp. 191.399.564,- (Seratus Sembilan Puluh Satu Juta, Tiga Ratus Sembilan Puluh Sembilan Ribu, Lima Ratus Enam Puluh Empat Rupiah)3. Donasi Pembangunan Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 203.163.828,- (Dua Ratus Tiga Juta, Seratus Enam Puluh Tiga Ribu, Delapan Ratus Dua Puluh Delapan Rupiah)Adapun rincian dana masuk pada poin no 1, 2 & 3 beserta penggunaannya dapat dilihat di link berikut ini :https://app.box.com/s/xmd02qgd4zsgid4949eqvvrv65xlfjav جَزَا اللَّهُ الْمُحْسِنِيْنَ خَيْرًاوَبَارَكَ اللَّهُ فِيْ أَعْمَارِهِمْوَأَهْلِيْهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ فِيْمَا أَنْفَقُوْا وَفِيْمَا أَمْسَكُوْا“Semoga Allooh memberikan balasan kebaikan (yg berlipat ganda) bagi para muhsinin dan memberikan keberkahan pada usia , keluarga serta harta mereka”
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له  وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلّى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينSegala puji bagi Allah atas nikmatNya kemudian atas dukungan dari kaum Muslimin sehingga kami panitia pembebasan tanah wakaf untuk pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua di Kota Sorong dapat melaksanakan program pembebasan tanah wakaf tersebut. Mulanya tanah yang akan dibebaskan adalah seluas satu hektar dengan estimasi harga sebesar 3,5 milyar rupiah, alhamdulillah atas karunia dari Allah sematalah sehingga lahan yang saat ini telah berhasil dibebaskan (yang telah dibeli menggunakan dana wakaf tunai dari kaum Muslimin) adalah seluas 19.000 M2 (1,9 hektar)  dengan harga Rp. 1.630.000.000,- (satu Milyar Enam Ratus Tiga Puluh Juta Rupiah). Kemudian dilakukan penimbunan sebagian lahan tersebut menggunakan pasir timbunan sebanyak 10.000 rit (sekitar 20.000 M3) dengan harga per ritnya @ Rp. 92.500,- sehingga total biaya penimbunan lahan sampai saat ini adalah Rp. 925.000.000,- (Sembilan Ratus Dua Puluh Lima Juta Rupiah). Kami Panitia Pelaksana Pembebasan Tanah Wakaf tersebut mengucapkan terimakasih serta mendoakan seluruh muhsinin dan kaum muslimin yang telah berpartisipasi dalam amal sholeh ini semoga Allah  memberikan keberkahan pada usia, keluarga, harta yang telah diinfakkan dan yang dimiliki serta menjadikannya sebagai pemberat timbangan amal sholeh di akhirat kelak. Aamiin Alhamdulillaah saat ini lahan wakaf yang telah ditimbun tersebut in syaa Allah telah siap untuk dibangun di atasnya Masjid dan Pondok Pesantren (gambar lahan terlampir), oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini kami kembali mengajak Kaum Muslimin di manapun berada untuk turut mendukung pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren tersebut dengan menginfakkan sebahagian harta yang telah Allah karuniakan kepada Bapak/Ibu kaum Muslimin sekalian demi tegaknya kalimatullah di Tanah Papua kemudian demi kemaslahatan kaum muslimin. Tentunya setiap rupiah yang Bapak/Ibu Kaum Muslimin infakkan di jalan Allah karena mengharap keridaanNya semata tidak akan pernah sia-sia karena Allah telah berjanji akan menggantinya. Sebagaimana janji Allah di dalam firmanNya yang artinya :“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang sebaik-baiknya”  (Q.S. Saba’ (34) : 39).Al-Imam Ibnu Katsir rahimahulloohu menjelaskan di dalam Tafsirnya  (Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhiim cetakan Maktabah Auladis Syaikh Lit Turoots : Jilid 11 halaman 293) tentang makna ayat di atas adalah : “Apapun yang engkau infakkan dalam hal yang telah Allah perintahkan kepadamu dan perkara yang mubah, maka Allah akan memberikan gantinya di dunia dan memberikan pahala serta balasan di hari akhir”.  Sebagaimana  firman Allah di dalam hadits qudsi :أَّنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ (رواه البخاري : ٤٦٨٤)Artinya : “Berinfaklah engkau maka Aku akan menafkahimu” (H.R. Bukari : 4684).Demikian ajakan ini kami sampaikan kepada bapak/Ibu kaum Muslimin di manapun berada dan semoga Allah  menjadikan kita termasuk penolong-penolong Agama Allah. Aamiin                  INFORMASI bisa kontak kami di 0813 812 306 24 (Ustadz Sutriyono Sardi Lc.)Semoga Allah membalas kebaikan para muhsinin yang telah sudi membantu dalam kebaikan ini. Moga Allah memberkahi rizkinya, memudahkan kita untuk bisa taat kepada-Nya. AmiinWassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.  Jadwal Kajian Rutin di SorongLAPORAN DONASI PEMBANGUNAN MASJID DAN PESANTREN CAHAYA ISLAM PAPUA (terupdate setiap bulan, in syaa Allah)Berikut kami laporkan hasil penggalangan dana untuk Pembangunan Masjid & Pesantren Serta Pembebasan Lahan Wakaf yang dilaksanakan oleh Yayasan Cahaya Islam Papua Sampai dengan 21 Shafar 1439 H / 10 November 2017 M :1. Saldo Dana Pembebasan Lahan Wakaf Untuk Pembangunan Masjid Dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 292.328.680,- (Dua Ratus Sembilan Puluh Dua Juta, Tiga Ratus Dua Puluh Delapan Ribu, Enam Ratus Delapan Puluh Rupiah)2. Donasi Pembangunan Masjid Cahaya Islam Papua : Rp. 191.399.564,- (Seratus Sembilan Puluh Satu Juta, Tiga Ratus Sembilan Puluh Sembilan Ribu, Lima Ratus Enam Puluh Empat Rupiah)3. Donasi Pembangunan Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 203.163.828,- (Dua Ratus Tiga Juta, Seratus Enam Puluh Tiga Ribu, Delapan Ratus Dua Puluh Delapan Rupiah)Adapun rincian dana masuk pada poin no 1, 2 & 3 beserta penggunaannya dapat dilihat di link berikut ini :https://app.box.com/s/xmd02qgd4zsgid4949eqvvrv65xlfjav جَزَا اللَّهُ الْمُحْسِنِيْنَ خَيْرًاوَبَارَكَ اللَّهُ فِيْ أَعْمَارِهِمْوَأَهْلِيْهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ فِيْمَا أَنْفَقُوْا وَفِيْمَا أَمْسَكُوْا“Semoga Allooh memberikan balasan kebaikan (yg berlipat ganda) bagi para muhsinin dan memberikan keberkahan pada usia , keluarga serta harta mereka”


الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له  وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلّى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينSegala puji bagi Allah atas nikmatNya kemudian atas dukungan dari kaum Muslimin sehingga kami panitia pembebasan tanah wakaf untuk pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua di Kota Sorong dapat melaksanakan program pembebasan tanah wakaf tersebut. Mulanya tanah yang akan dibebaskan adalah seluas satu hektar dengan estimasi harga sebesar 3,5 milyar rupiah, alhamdulillah atas karunia dari Allah sematalah sehingga lahan yang saat ini telah berhasil dibebaskan (yang telah dibeli menggunakan dana wakaf tunai dari kaum Muslimin) adalah seluas 19.000 M2 (1,9 hektar)  dengan harga Rp. 1.630.000.000,- (satu Milyar Enam Ratus Tiga Puluh Juta Rupiah). Kemudian dilakukan penimbunan sebagian lahan tersebut menggunakan pasir timbunan sebanyak 10.000 rit (sekitar 20.000 M3) dengan harga per ritnya @ Rp. 92.500,- sehingga total biaya penimbunan lahan sampai saat ini adalah Rp. 925.000.000,- (Sembilan Ratus Dua Puluh Lima Juta Rupiah). Kami Panitia Pelaksana Pembebasan Tanah Wakaf tersebut mengucapkan terimakasih serta mendoakan seluruh muhsinin dan kaum muslimin yang telah berpartisipasi dalam amal sholeh ini semoga Allah  memberikan keberkahan pada usia, keluarga, harta yang telah diinfakkan dan yang dimiliki serta menjadikannya sebagai pemberat timbangan amal sholeh di akhirat kelak. Aamiin Alhamdulillaah saat ini lahan wakaf yang telah ditimbun tersebut in syaa Allah telah siap untuk dibangun di atasnya Masjid dan Pondok Pesantren (gambar lahan terlampir), oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini kami kembali mengajak Kaum Muslimin di manapun berada untuk turut mendukung pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren tersebut dengan menginfakkan sebahagian harta yang telah Allah karuniakan kepada Bapak/Ibu kaum Muslimin sekalian demi tegaknya kalimatullah di Tanah Papua kemudian demi kemaslahatan kaum muslimin. Tentunya setiap rupiah yang Bapak/Ibu Kaum Muslimin infakkan di jalan Allah karena mengharap keridaanNya semata tidak akan pernah sia-sia karena Allah telah berjanji akan menggantinya. Sebagaimana janji Allah di dalam firmanNya yang artinya :“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang sebaik-baiknya”  (Q.S. Saba’ (34) : 39).Al-Imam Ibnu Katsir rahimahulloohu menjelaskan di dalam Tafsirnya  (Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhiim cetakan Maktabah Auladis Syaikh Lit Turoots : Jilid 11 halaman 293) tentang makna ayat di atas adalah : “Apapun yang engkau infakkan dalam hal yang telah Allah perintahkan kepadamu dan perkara yang mubah, maka Allah akan memberikan gantinya di dunia dan memberikan pahala serta balasan di hari akhir”.  Sebagaimana  firman Allah di dalam hadits qudsi :أَّنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ (رواه البخاري : ٤٦٨٤)Artinya : “Berinfaklah engkau maka Aku akan menafkahimu” (H.R. Bukari : 4684).Demikian ajakan ini kami sampaikan kepada bapak/Ibu kaum Muslimin di manapun berada dan semoga Allah  menjadikan kita termasuk penolong-penolong Agama Allah. Aamiin                  INFORMASI bisa kontak kami di 0813 812 306 24 (Ustadz Sutriyono Sardi Lc.)Semoga Allah membalas kebaikan para muhsinin yang telah sudi membantu dalam kebaikan ini. Moga Allah memberkahi rizkinya, memudahkan kita untuk bisa taat kepada-Nya. AmiinWassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.  Jadwal Kajian Rutin di SorongLAPORAN DONASI PEMBANGUNAN MASJID DAN PESANTREN CAHAYA ISLAM PAPUA (terupdate setiap bulan, in syaa Allah)Berikut kami laporkan hasil penggalangan dana untuk Pembangunan Masjid & Pesantren Serta Pembebasan Lahan Wakaf yang dilaksanakan oleh Yayasan Cahaya Islam Papua Sampai dengan 21 Shafar 1439 H / 10 November 2017 M :1. Saldo Dana Pembebasan Lahan Wakaf Untuk Pembangunan Masjid Dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 292.328.680,- (Dua Ratus Sembilan Puluh Dua Juta, Tiga Ratus Dua Puluh Delapan Ribu, Enam Ratus Delapan Puluh Rupiah)2. Donasi Pembangunan Masjid Cahaya Islam Papua : Rp. 191.399.564,- (Seratus Sembilan Puluh Satu Juta, Tiga Ratus Sembilan Puluh Sembilan Ribu, Lima Ratus Enam Puluh Empat Rupiah)3. Donasi Pembangunan Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 203.163.828,- (Dua Ratus Tiga Juta, Seratus Enam Puluh Tiga Ribu, Delapan Ratus Dua Puluh Delapan Rupiah)Adapun rincian dana masuk pada poin no 1, 2 & 3 beserta penggunaannya dapat dilihat di link berikut ini :https://app.box.com/s/xmd02qgd4zsgid4949eqvvrv65xlfjav جَزَا اللَّهُ الْمُحْسِنِيْنَ خَيْرًاوَبَارَكَ اللَّهُ فِيْ أَعْمَارِهِمْوَأَهْلِيْهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ فِيْمَا أَنْفَقُوْا وَفِيْمَا أَمْسَكُوْا“Semoga Allooh memberikan balasan kebaikan (yg berlipat ganda) bagi para muhsinin dan memberikan keberkahan pada usia , keluarga serta harta mereka”

Manfaat Shalat Jamaah (1)

Apa saja manfaat shalat jama’ah? Mungkin karena kurang mengetahui manfaatnya sehingga jarang berkumpul di masjid untuk berjamaah. Moga bisa pelajari dari tulisan berikut.   1. Agar bisa berkumpul di waktu tertentu, juga agar bisa mengatur waktu dengan baik Karena ada shalat lima waktu yang diadakan di siang dan malam hari. Ada pula shalat pekanan seperti shalat Jum’at. Ada juga shalat yang berulang setiap tahunnya yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha. Ada juga berkumpul untuk seluruh negeri di tempat tertentu pada waktu tertentu, yaitu di padang Arafah pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) untuk melaksanakan wukuf di Arafah. Dan memang orang yang senang berjamaah di masjid akan mudah belajar mengatur waktu dengan baik.   2. Beribadah kepada Allah dengan bentuk berkumpul. Maksudnya berkumpul dalam shalat jama’ah di sini dengan tujuan meraih pahala, takut akan siksa-Nya dan selalu mengharap karunia di sisi-Nya.   3. Menumbuhkan rasa cinta sesama Orang yang terbiasa melakukan shalat berjamaah di masjid akan tahu keadaan jamaah yang rutin hadir. Jika ada yang tidak hadir, maka nanti ada yang akan menjenguknya. Jika ada yang mati, maka ada yang layat. Jika terdapat berita sesama jama’ah ada yang susah, maka yang lainnya akan membantu. Karena pertemuan seperti dalam shalat jama’ah akan lebih melekatkan hubungan dan menimbulkan kasih sayang.   4. Saling mengenal satu dan lainnya Jika seseorang shalat berjama’ah, maka akan saling mengenal satu dan lainnya. Yang kaya akan mengenal yang miskin. Tetangga jauh akan kenal tetangga dekat. Yang tua akan mengenal yang muda.   5. Menyuarakan syi’ar Allah Seandainya setiap orang memilih shalat di rumah, maka tidak ada yang akan tahu ada tuntunan shalat berjama’ah, syi’ar Islam semakin tidak diketahui.   6. Menampakkan besarnya Islam Jika semua orang (laki-laki) masuk masjid, lantas keluarnya berbarengan seperti saat waktu jum’at, maka semakin menunjukkan besarnya Islam, orang kafir dan orang munafik akan semakin kecil nyalinya. Sehingga orang muslim pun untuk meniru dan mengikuti jalan mereka semakin kecil.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah

Manfaat Shalat Jamaah (1)

Apa saja manfaat shalat jama’ah? Mungkin karena kurang mengetahui manfaatnya sehingga jarang berkumpul di masjid untuk berjamaah. Moga bisa pelajari dari tulisan berikut.   1. Agar bisa berkumpul di waktu tertentu, juga agar bisa mengatur waktu dengan baik Karena ada shalat lima waktu yang diadakan di siang dan malam hari. Ada pula shalat pekanan seperti shalat Jum’at. Ada juga shalat yang berulang setiap tahunnya yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha. Ada juga berkumpul untuk seluruh negeri di tempat tertentu pada waktu tertentu, yaitu di padang Arafah pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) untuk melaksanakan wukuf di Arafah. Dan memang orang yang senang berjamaah di masjid akan mudah belajar mengatur waktu dengan baik.   2. Beribadah kepada Allah dengan bentuk berkumpul. Maksudnya berkumpul dalam shalat jama’ah di sini dengan tujuan meraih pahala, takut akan siksa-Nya dan selalu mengharap karunia di sisi-Nya.   3. Menumbuhkan rasa cinta sesama Orang yang terbiasa melakukan shalat berjamaah di masjid akan tahu keadaan jamaah yang rutin hadir. Jika ada yang tidak hadir, maka nanti ada yang akan menjenguknya. Jika ada yang mati, maka ada yang layat. Jika terdapat berita sesama jama’ah ada yang susah, maka yang lainnya akan membantu. Karena pertemuan seperti dalam shalat jama’ah akan lebih melekatkan hubungan dan menimbulkan kasih sayang.   4. Saling mengenal satu dan lainnya Jika seseorang shalat berjama’ah, maka akan saling mengenal satu dan lainnya. Yang kaya akan mengenal yang miskin. Tetangga jauh akan kenal tetangga dekat. Yang tua akan mengenal yang muda.   5. Menyuarakan syi’ar Allah Seandainya setiap orang memilih shalat di rumah, maka tidak ada yang akan tahu ada tuntunan shalat berjama’ah, syi’ar Islam semakin tidak diketahui.   6. Menampakkan besarnya Islam Jika semua orang (laki-laki) masuk masjid, lantas keluarnya berbarengan seperti saat waktu jum’at, maka semakin menunjukkan besarnya Islam, orang kafir dan orang munafik akan semakin kecil nyalinya. Sehingga orang muslim pun untuk meniru dan mengikuti jalan mereka semakin kecil.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah
Apa saja manfaat shalat jama’ah? Mungkin karena kurang mengetahui manfaatnya sehingga jarang berkumpul di masjid untuk berjamaah. Moga bisa pelajari dari tulisan berikut.   1. Agar bisa berkumpul di waktu tertentu, juga agar bisa mengatur waktu dengan baik Karena ada shalat lima waktu yang diadakan di siang dan malam hari. Ada pula shalat pekanan seperti shalat Jum’at. Ada juga shalat yang berulang setiap tahunnya yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha. Ada juga berkumpul untuk seluruh negeri di tempat tertentu pada waktu tertentu, yaitu di padang Arafah pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) untuk melaksanakan wukuf di Arafah. Dan memang orang yang senang berjamaah di masjid akan mudah belajar mengatur waktu dengan baik.   2. Beribadah kepada Allah dengan bentuk berkumpul. Maksudnya berkumpul dalam shalat jama’ah di sini dengan tujuan meraih pahala, takut akan siksa-Nya dan selalu mengharap karunia di sisi-Nya.   3. Menumbuhkan rasa cinta sesama Orang yang terbiasa melakukan shalat berjamaah di masjid akan tahu keadaan jamaah yang rutin hadir. Jika ada yang tidak hadir, maka nanti ada yang akan menjenguknya. Jika ada yang mati, maka ada yang layat. Jika terdapat berita sesama jama’ah ada yang susah, maka yang lainnya akan membantu. Karena pertemuan seperti dalam shalat jama’ah akan lebih melekatkan hubungan dan menimbulkan kasih sayang.   4. Saling mengenal satu dan lainnya Jika seseorang shalat berjama’ah, maka akan saling mengenal satu dan lainnya. Yang kaya akan mengenal yang miskin. Tetangga jauh akan kenal tetangga dekat. Yang tua akan mengenal yang muda.   5. Menyuarakan syi’ar Allah Seandainya setiap orang memilih shalat di rumah, maka tidak ada yang akan tahu ada tuntunan shalat berjama’ah, syi’ar Islam semakin tidak diketahui.   6. Menampakkan besarnya Islam Jika semua orang (laki-laki) masuk masjid, lantas keluarnya berbarengan seperti saat waktu jum’at, maka semakin menunjukkan besarnya Islam, orang kafir dan orang munafik akan semakin kecil nyalinya. Sehingga orang muslim pun untuk meniru dan mengikuti jalan mereka semakin kecil.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah


Apa saja manfaat shalat jama’ah? Mungkin karena kurang mengetahui manfaatnya sehingga jarang berkumpul di masjid untuk berjamaah. Moga bisa pelajari dari tulisan berikut.   1. Agar bisa berkumpul di waktu tertentu, juga agar bisa mengatur waktu dengan baik Karena ada shalat lima waktu yang diadakan di siang dan malam hari. Ada pula shalat pekanan seperti shalat Jum’at. Ada juga shalat yang berulang setiap tahunnya yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha. Ada juga berkumpul untuk seluruh negeri di tempat tertentu pada waktu tertentu, yaitu di padang Arafah pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) untuk melaksanakan wukuf di Arafah. Dan memang orang yang senang berjamaah di masjid akan mudah belajar mengatur waktu dengan baik.   2. Beribadah kepada Allah dengan bentuk berkumpul. Maksudnya berkumpul dalam shalat jama’ah di sini dengan tujuan meraih pahala, takut akan siksa-Nya dan selalu mengharap karunia di sisi-Nya.   3. Menumbuhkan rasa cinta sesama Orang yang terbiasa melakukan shalat berjamaah di masjid akan tahu keadaan jamaah yang rutin hadir. Jika ada yang tidak hadir, maka nanti ada yang akan menjenguknya. Jika ada yang mati, maka ada yang layat. Jika terdapat berita sesama jama’ah ada yang susah, maka yang lainnya akan membantu. Karena pertemuan seperti dalam shalat jama’ah akan lebih melekatkan hubungan dan menimbulkan kasih sayang.   4. Saling mengenal satu dan lainnya Jika seseorang shalat berjama’ah, maka akan saling mengenal satu dan lainnya. Yang kaya akan mengenal yang miskin. Tetangga jauh akan kenal tetangga dekat. Yang tua akan mengenal yang muda.   5. Menyuarakan syi’ar Allah Seandainya setiap orang memilih shalat di rumah, maka tidak ada yang akan tahu ada tuntunan shalat berjama’ah, syi’ar Islam semakin tidak diketahui.   6. Menampakkan besarnya Islam Jika semua orang (laki-laki) masuk masjid, lantas keluarnya berbarengan seperti saat waktu jum’at, maka semakin menunjukkan besarnya Islam, orang kafir dan orang munafik akan semakin kecil nyalinya. Sehingga orang muslim pun untuk meniru dan mengikuti jalan mereka semakin kecil.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah

Kalender Rumaysho.Com 2016

Dapatkan kalender 2016 berisi nasihat Rumaysho[dot]Com. Terdiri dari 6 lembar. Ukuran 30×48 cm. Kertas; Art paper 120 gr Desainer: SWOZ Contoh kalender: klik di sini Kalender ini dijual murni untuk mencari donasi Radio dan TV Darush Sholihin. Yang saat ini sudah mengudara (walau masih ujicoba di malam hari Maghrib – 21.00). Jangkauannya bisa hingga 15 KM dari Pesantren Darush Sholihin. Warga DS yang biasa rutin menghadiri kajian Malam Kamis secara rutin adalah 2000 jama’ah, saat ini sudah bisa menikmati ceramah kajian dari rumah lewat TV atau Radio kala tidak bisa hadir. Bagi yang minat, biaya per kalender adalah 30.000 rupiah untuk infak, sudah termasuk ongkos kirim. Silakan hubungi CP 0811267791 (Mas Jarot), guna pemesanan karena disediakan stok yang amat terbatas. Rekening untuk transfer: Bank Syariah Mandiri an Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul 7068478612. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi berupa SMS ke 082313950500 dengan format: Kalender DS# jumlah pesan# nama donatur# alamat# rekening tujuan# tanggal transfer# besar donasi. Moga rezekinya berkah karena turun membantu dalam dakwah TV dan radio DS. — Info DarushSholihin.Com Channel Telegram @DarushSholihin, @RumayshoCom Tagsradio

Kalender Rumaysho.Com 2016

Dapatkan kalender 2016 berisi nasihat Rumaysho[dot]Com. Terdiri dari 6 lembar. Ukuran 30×48 cm. Kertas; Art paper 120 gr Desainer: SWOZ Contoh kalender: klik di sini Kalender ini dijual murni untuk mencari donasi Radio dan TV Darush Sholihin. Yang saat ini sudah mengudara (walau masih ujicoba di malam hari Maghrib – 21.00). Jangkauannya bisa hingga 15 KM dari Pesantren Darush Sholihin. Warga DS yang biasa rutin menghadiri kajian Malam Kamis secara rutin adalah 2000 jama’ah, saat ini sudah bisa menikmati ceramah kajian dari rumah lewat TV atau Radio kala tidak bisa hadir. Bagi yang minat, biaya per kalender adalah 30.000 rupiah untuk infak, sudah termasuk ongkos kirim. Silakan hubungi CP 0811267791 (Mas Jarot), guna pemesanan karena disediakan stok yang amat terbatas. Rekening untuk transfer: Bank Syariah Mandiri an Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul 7068478612. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi berupa SMS ke 082313950500 dengan format: Kalender DS# jumlah pesan# nama donatur# alamat# rekening tujuan# tanggal transfer# besar donasi. Moga rezekinya berkah karena turun membantu dalam dakwah TV dan radio DS. — Info DarushSholihin.Com Channel Telegram @DarushSholihin, @RumayshoCom Tagsradio
Dapatkan kalender 2016 berisi nasihat Rumaysho[dot]Com. Terdiri dari 6 lembar. Ukuran 30×48 cm. Kertas; Art paper 120 gr Desainer: SWOZ Contoh kalender: klik di sini Kalender ini dijual murni untuk mencari donasi Radio dan TV Darush Sholihin. Yang saat ini sudah mengudara (walau masih ujicoba di malam hari Maghrib – 21.00). Jangkauannya bisa hingga 15 KM dari Pesantren Darush Sholihin. Warga DS yang biasa rutin menghadiri kajian Malam Kamis secara rutin adalah 2000 jama’ah, saat ini sudah bisa menikmati ceramah kajian dari rumah lewat TV atau Radio kala tidak bisa hadir. Bagi yang minat, biaya per kalender adalah 30.000 rupiah untuk infak, sudah termasuk ongkos kirim. Silakan hubungi CP 0811267791 (Mas Jarot), guna pemesanan karena disediakan stok yang amat terbatas. Rekening untuk transfer: Bank Syariah Mandiri an Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul 7068478612. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi berupa SMS ke 082313950500 dengan format: Kalender DS# jumlah pesan# nama donatur# alamat# rekening tujuan# tanggal transfer# besar donasi. Moga rezekinya berkah karena turun membantu dalam dakwah TV dan radio DS. — Info DarushSholihin.Com Channel Telegram @DarushSholihin, @RumayshoCom Tagsradio


Dapatkan kalender 2016 berisi nasihat Rumaysho[dot]Com. Terdiri dari 6 lembar. Ukuran 30×48 cm. Kertas; Art paper 120 gr Desainer: SWOZ Contoh kalender: klik di sini Kalender ini dijual murni untuk mencari donasi Radio dan TV Darush Sholihin. Yang saat ini sudah mengudara (walau masih ujicoba di malam hari Maghrib – 21.00). Jangkauannya bisa hingga 15 KM dari Pesantren Darush Sholihin. Warga DS yang biasa rutin menghadiri kajian Malam Kamis secara rutin adalah 2000 jama’ah, saat ini sudah bisa menikmati ceramah kajian dari rumah lewat TV atau Radio kala tidak bisa hadir. Bagi yang minat, biaya per kalender adalah 30.000 rupiah untuk infak, sudah termasuk ongkos kirim. Silakan hubungi CP 0811267791 (Mas Jarot), guna pemesanan karena disediakan stok yang amat terbatas. Rekening untuk transfer: Bank Syariah Mandiri an Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul 7068478612. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi berupa SMS ke 082313950500 dengan format: Kalender DS# jumlah pesan# nama donatur# alamat# rekening tujuan# tanggal transfer# besar donasi. Moga rezekinya berkah karena turun membantu dalam dakwah TV dan radio DS. — Info DarushSholihin.Com Channel Telegram @DarushSholihin, @RumayshoCom Tagsradio

Di Tengah Berdiri Shalat Mengambil Barang yang Jatuh

Bagaimana jika seseorang di tengah-tengah shalat mengambil tisu yang jatuh, sehingga ia mesti membungkuk? Apakah dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya bagaimana jika ada seseorang melakukan shalat Zhuhur, lantas tisu yang ia miliki jatuh sedangkan ia dalam posisi berdiri. Kemudian ia mengambil tisu tersebut. Apakah shalatnya batal dengan melakukan gerakan seperti itu? Syaikh Muhammad rahimahullah menjawab, Iya. Shalatnya batal karena gerakan tersebut. Ketika ia melakukannya, berarti ia membungkuk sampai membentuk ruku’. Berarti ia menambah gerakan ruku’ saat posisi berdiri. Akan tetapi jika ia tidak tahu, tidak ada dosa untuknya. رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا “Ya Rabb kami, janganlah hukum kami ketika kami lupa atau keliru.” (QS. Al-Baqarah: 286) Oleh karena itu, jika ada tisu terjatuh, maka biarkanlah dan silakan diambil saat sujud. Atau bisa pula mengambil tisu tersebut dalam keadaan berdiri lalu ditarik dengan kaki. Lantas tangan kita mengambilnya pada kaki tersebut asalkan saat itu kita bisa berdiri dengan satu kaki. Adapun yang dilakukan tadi sambil membungkuk, berarti ada ruku’ tambahan padahal dalam posisi berdiri. Melakukan seperti itu tentu tidak boleh.   Sumber: Silsilah Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 37, pelajaran sifat shalat.   Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a. Ya Allah, kami meminta pada-Mu ilmu yang bermanfaat. — @ Saudia Airlines menuju Soeta, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat pembatal shalat

Di Tengah Berdiri Shalat Mengambil Barang yang Jatuh

Bagaimana jika seseorang di tengah-tengah shalat mengambil tisu yang jatuh, sehingga ia mesti membungkuk? Apakah dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya bagaimana jika ada seseorang melakukan shalat Zhuhur, lantas tisu yang ia miliki jatuh sedangkan ia dalam posisi berdiri. Kemudian ia mengambil tisu tersebut. Apakah shalatnya batal dengan melakukan gerakan seperti itu? Syaikh Muhammad rahimahullah menjawab, Iya. Shalatnya batal karena gerakan tersebut. Ketika ia melakukannya, berarti ia membungkuk sampai membentuk ruku’. Berarti ia menambah gerakan ruku’ saat posisi berdiri. Akan tetapi jika ia tidak tahu, tidak ada dosa untuknya. رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا “Ya Rabb kami, janganlah hukum kami ketika kami lupa atau keliru.” (QS. Al-Baqarah: 286) Oleh karena itu, jika ada tisu terjatuh, maka biarkanlah dan silakan diambil saat sujud. Atau bisa pula mengambil tisu tersebut dalam keadaan berdiri lalu ditarik dengan kaki. Lantas tangan kita mengambilnya pada kaki tersebut asalkan saat itu kita bisa berdiri dengan satu kaki. Adapun yang dilakukan tadi sambil membungkuk, berarti ada ruku’ tambahan padahal dalam posisi berdiri. Melakukan seperti itu tentu tidak boleh.   Sumber: Silsilah Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 37, pelajaran sifat shalat.   Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a. Ya Allah, kami meminta pada-Mu ilmu yang bermanfaat. — @ Saudia Airlines menuju Soeta, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat pembatal shalat
Bagaimana jika seseorang di tengah-tengah shalat mengambil tisu yang jatuh, sehingga ia mesti membungkuk? Apakah dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya bagaimana jika ada seseorang melakukan shalat Zhuhur, lantas tisu yang ia miliki jatuh sedangkan ia dalam posisi berdiri. Kemudian ia mengambil tisu tersebut. Apakah shalatnya batal dengan melakukan gerakan seperti itu? Syaikh Muhammad rahimahullah menjawab, Iya. Shalatnya batal karena gerakan tersebut. Ketika ia melakukannya, berarti ia membungkuk sampai membentuk ruku’. Berarti ia menambah gerakan ruku’ saat posisi berdiri. Akan tetapi jika ia tidak tahu, tidak ada dosa untuknya. رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا “Ya Rabb kami, janganlah hukum kami ketika kami lupa atau keliru.” (QS. Al-Baqarah: 286) Oleh karena itu, jika ada tisu terjatuh, maka biarkanlah dan silakan diambil saat sujud. Atau bisa pula mengambil tisu tersebut dalam keadaan berdiri lalu ditarik dengan kaki. Lantas tangan kita mengambilnya pada kaki tersebut asalkan saat itu kita bisa berdiri dengan satu kaki. Adapun yang dilakukan tadi sambil membungkuk, berarti ada ruku’ tambahan padahal dalam posisi berdiri. Melakukan seperti itu tentu tidak boleh.   Sumber: Silsilah Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 37, pelajaran sifat shalat.   Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a. Ya Allah, kami meminta pada-Mu ilmu yang bermanfaat. — @ Saudia Airlines menuju Soeta, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat pembatal shalat


Bagaimana jika seseorang di tengah-tengah shalat mengambil tisu yang jatuh, sehingga ia mesti membungkuk? Apakah dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya bagaimana jika ada seseorang melakukan shalat Zhuhur, lantas tisu yang ia miliki jatuh sedangkan ia dalam posisi berdiri. Kemudian ia mengambil tisu tersebut. Apakah shalatnya batal dengan melakukan gerakan seperti itu? Syaikh Muhammad rahimahullah menjawab, Iya. Shalatnya batal karena gerakan tersebut. Ketika ia melakukannya, berarti ia membungkuk sampai membentuk ruku’. Berarti ia menambah gerakan ruku’ saat posisi berdiri. Akan tetapi jika ia tidak tahu, tidak ada dosa untuknya. رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا “Ya Rabb kami, janganlah hukum kami ketika kami lupa atau keliru.” (QS. Al-Baqarah: 286) Oleh karena itu, jika ada tisu terjatuh, maka biarkanlah dan silakan diambil saat sujud. Atau bisa pula mengambil tisu tersebut dalam keadaan berdiri lalu ditarik dengan kaki. Lantas tangan kita mengambilnya pada kaki tersebut asalkan saat itu kita bisa berdiri dengan satu kaki. Adapun yang dilakukan tadi sambil membungkuk, berarti ada ruku’ tambahan padahal dalam posisi berdiri. Melakukan seperti itu tentu tidak boleh.   Sumber: Silsilah Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 37, pelajaran sifat shalat.   Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a. Ya Allah, kami meminta pada-Mu ilmu yang bermanfaat. — @ Saudia Airlines menuju Soeta, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat pembatal shalat

Muslim Wajib Beriman pada Isa (5)

Inilah bahasan terakhir tentang keyakinan seorang muslim pada Nabi Isa. Pada hari kiamat, Nabi Isa sendiri akan berlepas diri dari kaum Nashrani yang mengangkatnya jadi sesembahan selain Allah.   Ketigabelas: Nabi Isa ‘alaihis salam berlepas diri pada hari kiamat dari yang mengangkat beliau sebagai ilah (sesembahan). وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 116-117) Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan tentang dialog antara Allah dengan Isa ‘alaihis salam selaku hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah berkata pada Isa pada hari kiamat tentang orang yang mengangkat dirinyda dan ibunya Maryam sebagai sesembahan selain Allah. Lalu Isa menyangkal hal itu, beliau berlepas diri dari menjadi sekutu bagi Allah. Bahkan Nabi Isa memerintahkan hanya menyembah Allah semata. Karena Allah adalah Rabb Isa dan Rabb manusia sekalian. Inilah keyakinan muslim pada Nabi Isa ‘alaihis salam. Intinya, keutamaan mengimani Nabi Isa disebutkan dalam hadits berikut: “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28) Musa saja wajib mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia hidup di tengah-tengah kita saat ini. Sama halnya pula dengan Nabi Isa dan umatnya. Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِى “Seandainya Nabi Musa hidup di tengah-tengah kalian, ia tetap harus mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 338. Sanad hadits ini dha’if kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth) Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi Utama: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, http://islamqa.info/ar/43148 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 26 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Muslim Wajib Beriman pada Isa (5)

Inilah bahasan terakhir tentang keyakinan seorang muslim pada Nabi Isa. Pada hari kiamat, Nabi Isa sendiri akan berlepas diri dari kaum Nashrani yang mengangkatnya jadi sesembahan selain Allah.   Ketigabelas: Nabi Isa ‘alaihis salam berlepas diri pada hari kiamat dari yang mengangkat beliau sebagai ilah (sesembahan). وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 116-117) Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan tentang dialog antara Allah dengan Isa ‘alaihis salam selaku hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah berkata pada Isa pada hari kiamat tentang orang yang mengangkat dirinyda dan ibunya Maryam sebagai sesembahan selain Allah. Lalu Isa menyangkal hal itu, beliau berlepas diri dari menjadi sekutu bagi Allah. Bahkan Nabi Isa memerintahkan hanya menyembah Allah semata. Karena Allah adalah Rabb Isa dan Rabb manusia sekalian. Inilah keyakinan muslim pada Nabi Isa ‘alaihis salam. Intinya, keutamaan mengimani Nabi Isa disebutkan dalam hadits berikut: “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28) Musa saja wajib mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia hidup di tengah-tengah kita saat ini. Sama halnya pula dengan Nabi Isa dan umatnya. Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِى “Seandainya Nabi Musa hidup di tengah-tengah kalian, ia tetap harus mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 338. Sanad hadits ini dha’if kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth) Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi Utama: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, http://islamqa.info/ar/43148 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 26 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa
Inilah bahasan terakhir tentang keyakinan seorang muslim pada Nabi Isa. Pada hari kiamat, Nabi Isa sendiri akan berlepas diri dari kaum Nashrani yang mengangkatnya jadi sesembahan selain Allah.   Ketigabelas: Nabi Isa ‘alaihis salam berlepas diri pada hari kiamat dari yang mengangkat beliau sebagai ilah (sesembahan). وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 116-117) Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan tentang dialog antara Allah dengan Isa ‘alaihis salam selaku hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah berkata pada Isa pada hari kiamat tentang orang yang mengangkat dirinyda dan ibunya Maryam sebagai sesembahan selain Allah. Lalu Isa menyangkal hal itu, beliau berlepas diri dari menjadi sekutu bagi Allah. Bahkan Nabi Isa memerintahkan hanya menyembah Allah semata. Karena Allah adalah Rabb Isa dan Rabb manusia sekalian. Inilah keyakinan muslim pada Nabi Isa ‘alaihis salam. Intinya, keutamaan mengimani Nabi Isa disebutkan dalam hadits berikut: “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28) Musa saja wajib mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia hidup di tengah-tengah kita saat ini. Sama halnya pula dengan Nabi Isa dan umatnya. Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِى “Seandainya Nabi Musa hidup di tengah-tengah kalian, ia tetap harus mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 338. Sanad hadits ini dha’if kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth) Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi Utama: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, http://islamqa.info/ar/43148 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 26 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa


Inilah bahasan terakhir tentang keyakinan seorang muslim pada Nabi Isa. Pada hari kiamat, Nabi Isa sendiri akan berlepas diri dari kaum Nashrani yang mengangkatnya jadi sesembahan selain Allah.   Ketigabelas: Nabi Isa ‘alaihis salam berlepas diri pada hari kiamat dari yang mengangkat beliau sebagai ilah (sesembahan). وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 116-117) Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan tentang dialog antara Allah dengan Isa ‘alaihis salam selaku hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah berkata pada Isa pada hari kiamat tentang orang yang mengangkat dirinyda dan ibunya Maryam sebagai sesembahan selain Allah. Lalu Isa menyangkal hal itu, beliau berlepas diri dari menjadi sekutu bagi Allah. Bahkan Nabi Isa memerintahkan hanya menyembah Allah semata. Karena Allah adalah Rabb Isa dan Rabb manusia sekalian. Inilah keyakinan muslim pada Nabi Isa ‘alaihis salam. Intinya, keutamaan mengimani Nabi Isa disebutkan dalam hadits berikut: “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28) Musa saja wajib mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia hidup di tengah-tengah kita saat ini. Sama halnya pula dengan Nabi Isa dan umatnya. Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِى “Seandainya Nabi Musa hidup di tengah-tengah kalian, ia tetap harus mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 338. Sanad hadits ini dha’if kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth) Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi Utama: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, http://islamqa.info/ar/43148 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 26 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Shalat di Musholla Pesawat

Waktu menunjukkan pukul 04.30 di jam tangan kami. Dan memang sengaja kami setting agar tetap mengikuti Waktu Indonesia Barat. Menurut kebiasaan, jam segitu sudah menunjukkan masuk shalat shubuh untuk Pulau Jawa. Namun masalahnya pesawat baru memasuki perairan Thailand, sekitar laut Andaman. Pada waktu tersebut, kami sudah dibangunkan oleh teman di samping. Kami lihat ke langit-langit, belum masuk waktu Shubuh. Beranjak ke bagian buritan pesawat. Kami lihat ada seorang pramugara di belakang (tampak wajah Saudi) sedang duduk di kursi penumpang sambil mengutak-atik layar. Kami bertanya, “Saya ingin tahu waktu shalat shubuh.” Ia menjawab, “Insya-Allah nanti akan diumumkan.” Saat itu … orang-orang berhidung mancung, nampak sekali perawakan Saudi sedang menuju bagian belakang dari pesawat. Kami lihat-lihat, ternyata di bagian belakang memang ada musholla, tempat shalat. Walhamdulillah … Mereka semangat berbondong-bondong ke ruang shalat (musholla pesawat) padahal waktu masih menunjukkan jam lima pagi. Sambil menunggu, masing-masing sibuk shalat sunnah. Mumpung masih ada kesempatan menambah shalat tahajud dan witir. Saat pukul 05.35, waktu di jam tangan kami, dari ruang pilot sudah meneriakkan, “Sekarang waktu Shalat Fajar (Shalat Shubuh).” Barulah saat itu dilaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah dengan jamaah sekitar sepuluh orang. Ternyata habis shalat, sudah banyak yang mengantri di belakang. Dan orang-orang yang ingin shalat terus berdatangan ke musholla yang hanya berukuran dua kali dua.   —   Pelajaran Penting  1. Orang Saudi sangat memperhatikan waktu shalat, sepertinya mereka sudah merasa Shubuh sudah akan masuk karena sebelum waktu shalat tiba, mereka sudah berkumpul untuk menanti. 2. Kami baru tahu ada musholla di dalam pesawat. Ini baru kami temui di pesawat Saudia Airlines, belum di maskapai lainnya. 3. Pilot Saudia sangat memperhatikan kemaslahatan jamaah, sebelum masuk shubuh ia selalu memperhatikan keadaan langit. Lalu ia umumkan mengenai waktu shalat. 4. Sempat terjadi dialog dengan orang Indo yang ikut shalat. Kala itu ia mengambil tayamum dengan debu di dinding pesawat. Orang Saudi sempat menasihati. “Masih ada air dan bisa gunakan sedikit-sedikit saja. Tidak boleh beralih pada tayamum.” Memang benar, kami juga praktikkan seperti itu selama shalat di pesawat. Air masih ada, dan Insya-Allah masih cukup untuk jamaah 400-an. Tak boleh beralih sama sekali pada tayamum dalam kondisi ada air yang mencukupi seperti itu. Akhirnya, setelah dinasihati dengan baik dan santun, sambil kami juga menerjemahkan perkataan orang Saudi, orang Indo pun beralih memakai air. 5. Semangat shalat malam walau di pesawat. 6. Mau rela ngantri menunggu gantian menggunakan musholla. 7. Tetap semangat menjaga shalat jamaah meskipun di pesawat. 8. Tetap melakukan shalat dalam keadaan berdiri dan menghadap kiblat sedangkan arah pesawat saat itu ke arah timur.   Semoga bisa jadi pelajaran berharga dan jadi penyemangat kita untuk beribadah. — Berbagi cerita saat di Saudia Airlines, Rabu, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom #RumayshoSaatPagi Tagscara shalat Safar shalat jamaah

Shalat di Musholla Pesawat

Waktu menunjukkan pukul 04.30 di jam tangan kami. Dan memang sengaja kami setting agar tetap mengikuti Waktu Indonesia Barat. Menurut kebiasaan, jam segitu sudah menunjukkan masuk shalat shubuh untuk Pulau Jawa. Namun masalahnya pesawat baru memasuki perairan Thailand, sekitar laut Andaman. Pada waktu tersebut, kami sudah dibangunkan oleh teman di samping. Kami lihat ke langit-langit, belum masuk waktu Shubuh. Beranjak ke bagian buritan pesawat. Kami lihat ada seorang pramugara di belakang (tampak wajah Saudi) sedang duduk di kursi penumpang sambil mengutak-atik layar. Kami bertanya, “Saya ingin tahu waktu shalat shubuh.” Ia menjawab, “Insya-Allah nanti akan diumumkan.” Saat itu … orang-orang berhidung mancung, nampak sekali perawakan Saudi sedang menuju bagian belakang dari pesawat. Kami lihat-lihat, ternyata di bagian belakang memang ada musholla, tempat shalat. Walhamdulillah … Mereka semangat berbondong-bondong ke ruang shalat (musholla pesawat) padahal waktu masih menunjukkan jam lima pagi. Sambil menunggu, masing-masing sibuk shalat sunnah. Mumpung masih ada kesempatan menambah shalat tahajud dan witir. Saat pukul 05.35, waktu di jam tangan kami, dari ruang pilot sudah meneriakkan, “Sekarang waktu Shalat Fajar (Shalat Shubuh).” Barulah saat itu dilaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah dengan jamaah sekitar sepuluh orang. Ternyata habis shalat, sudah banyak yang mengantri di belakang. Dan orang-orang yang ingin shalat terus berdatangan ke musholla yang hanya berukuran dua kali dua.   —   Pelajaran Penting  1. Orang Saudi sangat memperhatikan waktu shalat, sepertinya mereka sudah merasa Shubuh sudah akan masuk karena sebelum waktu shalat tiba, mereka sudah berkumpul untuk menanti. 2. Kami baru tahu ada musholla di dalam pesawat. Ini baru kami temui di pesawat Saudia Airlines, belum di maskapai lainnya. 3. Pilot Saudia sangat memperhatikan kemaslahatan jamaah, sebelum masuk shubuh ia selalu memperhatikan keadaan langit. Lalu ia umumkan mengenai waktu shalat. 4. Sempat terjadi dialog dengan orang Indo yang ikut shalat. Kala itu ia mengambil tayamum dengan debu di dinding pesawat. Orang Saudi sempat menasihati. “Masih ada air dan bisa gunakan sedikit-sedikit saja. Tidak boleh beralih pada tayamum.” Memang benar, kami juga praktikkan seperti itu selama shalat di pesawat. Air masih ada, dan Insya-Allah masih cukup untuk jamaah 400-an. Tak boleh beralih sama sekali pada tayamum dalam kondisi ada air yang mencukupi seperti itu. Akhirnya, setelah dinasihati dengan baik dan santun, sambil kami juga menerjemahkan perkataan orang Saudi, orang Indo pun beralih memakai air. 5. Semangat shalat malam walau di pesawat. 6. Mau rela ngantri menunggu gantian menggunakan musholla. 7. Tetap semangat menjaga shalat jamaah meskipun di pesawat. 8. Tetap melakukan shalat dalam keadaan berdiri dan menghadap kiblat sedangkan arah pesawat saat itu ke arah timur.   Semoga bisa jadi pelajaran berharga dan jadi penyemangat kita untuk beribadah. — Berbagi cerita saat di Saudia Airlines, Rabu, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom #RumayshoSaatPagi Tagscara shalat Safar shalat jamaah
Waktu menunjukkan pukul 04.30 di jam tangan kami. Dan memang sengaja kami setting agar tetap mengikuti Waktu Indonesia Barat. Menurut kebiasaan, jam segitu sudah menunjukkan masuk shalat shubuh untuk Pulau Jawa. Namun masalahnya pesawat baru memasuki perairan Thailand, sekitar laut Andaman. Pada waktu tersebut, kami sudah dibangunkan oleh teman di samping. Kami lihat ke langit-langit, belum masuk waktu Shubuh. Beranjak ke bagian buritan pesawat. Kami lihat ada seorang pramugara di belakang (tampak wajah Saudi) sedang duduk di kursi penumpang sambil mengutak-atik layar. Kami bertanya, “Saya ingin tahu waktu shalat shubuh.” Ia menjawab, “Insya-Allah nanti akan diumumkan.” Saat itu … orang-orang berhidung mancung, nampak sekali perawakan Saudi sedang menuju bagian belakang dari pesawat. Kami lihat-lihat, ternyata di bagian belakang memang ada musholla, tempat shalat. Walhamdulillah … Mereka semangat berbondong-bondong ke ruang shalat (musholla pesawat) padahal waktu masih menunjukkan jam lima pagi. Sambil menunggu, masing-masing sibuk shalat sunnah. Mumpung masih ada kesempatan menambah shalat tahajud dan witir. Saat pukul 05.35, waktu di jam tangan kami, dari ruang pilot sudah meneriakkan, “Sekarang waktu Shalat Fajar (Shalat Shubuh).” Barulah saat itu dilaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah dengan jamaah sekitar sepuluh orang. Ternyata habis shalat, sudah banyak yang mengantri di belakang. Dan orang-orang yang ingin shalat terus berdatangan ke musholla yang hanya berukuran dua kali dua.   —   Pelajaran Penting  1. Orang Saudi sangat memperhatikan waktu shalat, sepertinya mereka sudah merasa Shubuh sudah akan masuk karena sebelum waktu shalat tiba, mereka sudah berkumpul untuk menanti. 2. Kami baru tahu ada musholla di dalam pesawat. Ini baru kami temui di pesawat Saudia Airlines, belum di maskapai lainnya. 3. Pilot Saudia sangat memperhatikan kemaslahatan jamaah, sebelum masuk shubuh ia selalu memperhatikan keadaan langit. Lalu ia umumkan mengenai waktu shalat. 4. Sempat terjadi dialog dengan orang Indo yang ikut shalat. Kala itu ia mengambil tayamum dengan debu di dinding pesawat. Orang Saudi sempat menasihati. “Masih ada air dan bisa gunakan sedikit-sedikit saja. Tidak boleh beralih pada tayamum.” Memang benar, kami juga praktikkan seperti itu selama shalat di pesawat. Air masih ada, dan Insya-Allah masih cukup untuk jamaah 400-an. Tak boleh beralih sama sekali pada tayamum dalam kondisi ada air yang mencukupi seperti itu. Akhirnya, setelah dinasihati dengan baik dan santun, sambil kami juga menerjemahkan perkataan orang Saudi, orang Indo pun beralih memakai air. 5. Semangat shalat malam walau di pesawat. 6. Mau rela ngantri menunggu gantian menggunakan musholla. 7. Tetap semangat menjaga shalat jamaah meskipun di pesawat. 8. Tetap melakukan shalat dalam keadaan berdiri dan menghadap kiblat sedangkan arah pesawat saat itu ke arah timur.   Semoga bisa jadi pelajaran berharga dan jadi penyemangat kita untuk beribadah. — Berbagi cerita saat di Saudia Airlines, Rabu, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom #RumayshoSaatPagi Tagscara shalat Safar shalat jamaah


Waktu menunjukkan pukul 04.30 di jam tangan kami. Dan memang sengaja kami setting agar tetap mengikuti Waktu Indonesia Barat. Menurut kebiasaan, jam segitu sudah menunjukkan masuk shalat shubuh untuk Pulau Jawa. Namun masalahnya pesawat baru memasuki perairan Thailand, sekitar laut Andaman. Pada waktu tersebut, kami sudah dibangunkan oleh teman di samping. Kami lihat ke langit-langit, belum masuk waktu Shubuh. Beranjak ke bagian buritan pesawat. Kami lihat ada seorang pramugara di belakang (tampak wajah Saudi) sedang duduk di kursi penumpang sambil mengutak-atik layar. Kami bertanya, “Saya ingin tahu waktu shalat shubuh.” Ia menjawab, “Insya-Allah nanti akan diumumkan.” Saat itu … orang-orang berhidung mancung, nampak sekali perawakan Saudi sedang menuju bagian belakang dari pesawat. Kami lihat-lihat, ternyata di bagian belakang memang ada musholla, tempat shalat. Walhamdulillah … Mereka semangat berbondong-bondong ke ruang shalat (musholla pesawat) padahal waktu masih menunjukkan jam lima pagi. Sambil menunggu, masing-masing sibuk shalat sunnah. Mumpung masih ada kesempatan menambah shalat tahajud dan witir. Saat pukul 05.35, waktu di jam tangan kami, dari ruang pilot sudah meneriakkan, “Sekarang waktu Shalat Fajar (Shalat Shubuh).” Barulah saat itu dilaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah dengan jamaah sekitar sepuluh orang. Ternyata habis shalat, sudah banyak yang mengantri di belakang. Dan orang-orang yang ingin shalat terus berdatangan ke musholla yang hanya berukuran dua kali dua.   —   Pelajaran Penting  1. Orang Saudi sangat memperhatikan waktu shalat, sepertinya mereka sudah merasa Shubuh sudah akan masuk karena sebelum waktu shalat tiba, mereka sudah berkumpul untuk menanti. 2. Kami baru tahu ada musholla di dalam pesawat. Ini baru kami temui di pesawat Saudia Airlines, belum di maskapai lainnya. 3. Pilot Saudia sangat memperhatikan kemaslahatan jamaah, sebelum masuk shubuh ia selalu memperhatikan keadaan langit. Lalu ia umumkan mengenai waktu shalat. 4. Sempat terjadi dialog dengan orang Indo yang ikut shalat. Kala itu ia mengambil tayamum dengan debu di dinding pesawat. Orang Saudi sempat menasihati. “Masih ada air dan bisa gunakan sedikit-sedikit saja. Tidak boleh beralih pada tayamum.” Memang benar, kami juga praktikkan seperti itu selama shalat di pesawat. Air masih ada, dan Insya-Allah masih cukup untuk jamaah 400-an. Tak boleh beralih sama sekali pada tayamum dalam kondisi ada air yang mencukupi seperti itu. Akhirnya, setelah dinasihati dengan baik dan santun, sambil kami juga menerjemahkan perkataan orang Saudi, orang Indo pun beralih memakai air. 5. Semangat shalat malam walau di pesawat. 6. Mau rela ngantri menunggu gantian menggunakan musholla. 7. Tetap semangat menjaga shalat jamaah meskipun di pesawat. 8. Tetap melakukan shalat dalam keadaan berdiri dan menghadap kiblat sedangkan arah pesawat saat itu ke arah timur.   Semoga bisa jadi pelajaran berharga dan jadi penyemangat kita untuk beribadah. — Berbagi cerita saat di Saudia Airlines, Rabu, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom #RumayshoSaatPagi Tagscara shalat Safar shalat jamaah

Keaguangan al-Quran

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 14 Rabiul Awal 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul-Muhsin Bin Qasim Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – wahai hamba-hamba Allah – dengan sesungguhnya. Takwa adalah mengikuti petunjuk, sedangkan kebutaan adalah karena mengikuti hawa nafsu.Kaum muslimin!            Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha sempurna zatNya, nama-namaNya dan sifat-sifatNya. Tiada yang setara dan sebanding denganNya. Sifat-sifatNya demikian sempurna dan indah yang di antara sifatNya adalah berfirman. Allah berfirman kapanpun Dia berkehendak manakala Dia menghendaki dengan apapun yang Dia kehendaki, kalimat-kalimatNya tidak terhingga. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدً [ الكهف/109](Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk [menulis] kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis [ditulis] kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu [pula]” ) Qs Al-Kahfi : 109Firman-Nya adalah sebaik-baik perkataan. Keunggulan firmanNya atas ucapan makhluk bagaikan keunggulan Allah Sang Pencipta atas makhluk ciptaanNya.  Setiap nabi terangkat keutamaannya manakala Allah berbicara dengannya secara langsung tanpa perantara.  Allah berfirman  :تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ [ البقرة / 253 ](Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata [langsung] dengannya). Qs Al-Baqarah : 253Karena kebijaksanaan dan kasih sayang Allah kepada manusia, diutuslah olehNya para rasul dari kalangan mereka dan diturunkan kepada mereka kitab-kitabNya. Maka Allah – subhanahu wa ta’ala – turunkan kitab Taurat, Injil, Zabur dan lembaran-lembaran Nabi Ibrahim dan Nabi Musa –alaihimassalam- yang kemudian ditutupNya kitab-kitab itu dengan menurunkan Al-Qur’an yang agung sebagai kitab yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya, untuk membenarkan kitab-kitab yang telah ada sebelumnya serta sebagai pengontrol terhadap kitab-kitab itu dan penghapus serta pengemban amanat dari pada isi kitab-kitab tersebut. Seluruh nabi telah menubuatkan Al-Qur’an sebelum diturunkannya. Allah berfirman :وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ [ الشعراء/ 196](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar disebut dalam kitab-kitab orang yang dahulu) Qs As-Syu’ara : 196Ibnu Katsir  -rahimahullah- berkata : “Penyebutan dan penyaksian tentang Al-Qur’an telah ada pada kitab-kitab umat terdahulu yang dinukil dari para nabi mereka. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail –alaihimas salam- memohon dalam doa agar Allah – subhanahu wa ta’ala – mengutus seorang nabi untuk membacakan dan mengajarkan Al-Qur’an.رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [ البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab [Al Quran] dan Al-Hikmah [As-Sunnah] serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana) Qs Al-Baqarah : 129Al-Qur’an adalah firman Allah, Tuhan semesta alam, Dia berbicara dengan firman itu secara hakiki dengan huruf dan suara, dari Allah-lah firman itu berawal dan kepadaNya pula kembali. Firman itu didengar oleh Malaikat Jibril Al-amin dari Allah dan diturunkannya kepada Nabi Muhammad –shallahu alaihi wa sallam-, lalu beliau sampaikan, maka dengan Al-Qur’an beliau memungkasi misi seluruh para rasul dan beliau-pun berjasa besar terhadap umatnya yang tergolong ummiyin (buta aksara saat turunnya). Allah berfirman :لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ [ آل عمران / 164](Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan [jiwa] mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum [kedatangan Nabi] itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata) Qs Ali Imran : 164Al-Qur’an turun untuk sebaik-baik umat, dengan bahasa paling unggul dan paling lengkap, turun pada malam paling mulia di tanah yang paling suci.  Maka dengan Al-Qur’an kita terbebas dari kegelapan menuju ke cahaya terang, dan dari ketidak-tahuan mengarah ke dunia ilmu pengetahuan. Firman Allah :كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ [ إبراهيم/1](Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, [yaitu] menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji) Qs Ibrahim : 1Tidak sah keimanan seseorang kecuali jika dirinya mengimani Al-Qur’an secara totalitas dan detail. Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ [ النساء /136](Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya). Qs An-Nisa : 136Allah memuji DzatNya sendiri atas penurunan Al-Qur’an. Firman Allah :الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا [ الكهف/1](Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya) Qs Al-Kahfi :1Allah-pun bersumpah dengan Al-Qur’an sebagaimana firmanNya ;يس ، وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ [ يس/1-2](Yaa siin, Demi Al Quran yang penuh hikmah) Qs Yasin : 1-2Allah-pun bersumpah atas keagungan Al-Qur’an :فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ، وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ، إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 75- 76 – 77](Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia). Qs Al-Qaqi’ah : 75- 76-77Allah –subhanahu wa ta’ala- memudahkan Al-Qur’an untuk hamba-hambaNya sehingga tidak sulit dan tidak menyusahkan, bisa dihafal oleh orang Arab dan non Arab, pria dan wanita, anak kecil dan orang dewasa, si kaya dan si miskin, bahkan orang yang tuna netra, yang lanjut usia dan yang jompo pun mudah menghafalnya. Firman Allah :وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ [ القمر / 17 ](Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran). Qs Al-Qamar :17Sungguh besar derajat Al-Qur’an, oleh karenanya Allah menempatkannya paling depan di antara sederetan nikmatNya. Firman Allah :الرَّحْمَنُ ، عَلَّمَ الْقُرْآنَ [ الرحمن / 1-2 ](Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran) Qs Ar-Rahman : 1-2فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ ، مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ ، بِأَيْدِي سَفَرَةٍ ،  كِرَامٍ بَرَرَةٍ  [ عبس / 13 – 16 ]( Al-Qur’an, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti) Qs Abasa : 13-16Allah –subhanahu wa ta’ala- telah menjaganya sebelum (pra) menurunkannya. Firman Allah :بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ  [ البروج /  21 ](Bahkan yang didustakan mereka itu adalah Al Qur’an yang mulia) Qs Al-Buruj : 21Allah–subhanahu wa ta’ala- melindunginya dari setan-setan saat penurunannya. Firman Allah :وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ ، وَمَا يَنْبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ [ الشعراء / 210-211 ](Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan kuasa ) Qs As-Syu’ara : 210-211Al-Qur’an tetap terjaga pasca penurunannya.  Firman Allah :إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [ الحجر/9](Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya). Qs Al-Hijr : 9Al-Qur’an aman dari penambahan dan pengurangan, aman dari pengubahan dan penggantian. Allah menjadikannya petunjuk dan pengingat bagi umat semesta alam, bersifat universal untuk seluruh umat manusia sama dengan keuniversalan misi kerasulan  Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- bukan spesialis untuk suatu umat tanpa menjangkau umat yang lain. Firman Allah :إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ [ التكوير/ 27](Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam) Qs At-Takwir : 27Al-Qur’an menjadi pelajaran bagi orang yang punya rasa takut, juga menjadi argumen pembungkam terhadap orang yang menyimpang. Allah –subhanahu wa ta’ala- men-deskripsikannya dengan beragam sifat dan menggelarinya dengan berbagai sebutan. Maka Al-Qur’an merupakan kebenaran mutlak yang tidak ada kebatilan dan keraguan sama sekali di dalamnya. Firman Allah :بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ [ السجدة / 3](Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Tuhan-mu) Qs As-Sajdah : 3Firman Allah :كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ [ هود/1](Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi [Allah] Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu) Qs Fushshilat : 1Ayat-ayatnya serupa satu dengan yang lain dan saling membenarkan;كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ [ الزمر / 23 ]( Kitab Al Qur’an yang serupa [ayat-ayatnya] lagi berulang-ulang) Qs Az-Zumar : 23Lurus, tidak bengkok, tidak kontroversial dan tidak pula kontradiksi. Firman Allah :وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا [ النساء / 82 ]( Kalau sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya) Qs An-Nisa : 82Al-Qur’an merupakan perkataan yang paling baik dan paling unggul.Firman Allah :اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ [ الزمر/ 23]( Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik ) Qs Az-Zumar : 23            Imam Nawawi – rahimahullah- berkomentar : Ayat ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an merupakan perkataan terbaik dibanding perkataan-perkataan lainnya yang turun dari Allah-subhanahu wa ta’ala- maupun yang selain itu.Allah- subhanahu wa ta’ala- menyifatkan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang agung :وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ [ الحجر/ 87](Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung) Qs Al-Hijr : 87Allah menetapkan Al-Qur’an sebagai perkataan yang memiliki ketinggian jati diri dan kedudukannya. Firman Allah :وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ [ الزخرف/ 4](Dan sesungguhnya Al Qur’an itu dalam induk Al Kitab [Lauh Mahfuzh] di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi [kedudukannya] dan amat banyak kandungan hikmahnya) Qs Az-Zukhruf : 4Sangat jelas redaksi dan maknanya sebagai penjelas tentang segala sesuatu. Firman Allah:هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ [ آل عمران/ 138](Inilah [Al-Qur’an] penerang bagi seluruh umat manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa) Qs Ali Imran : 138Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- berkata : “Allah jelaskan kepada kita dalam Al-Qur’an segala ilmu yang mencakup semua aspeknya”.Al-Qur’an penuh kearifan, mengandung lautan hikmah, barangsiapa yang dikaruniai hikmah (kearifan) sungguh dirinya telah mendapat kebaikan yang banyak. Al-Qur’an mulia di sisi Allah, kemuliaan yang terkandung di dalamnya sangat tinggi nilainya. Maka dengan kemuliaan Al-Qur’an, seseorang menjadi terhormat dan mulia pula dalam pandangan Allah dan sesama makhluk. Firman Allah :إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 77](Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia) Qs Al-Waqiah :77Di dalamnya terdapat petunjuk jalan hidup [hidayah] bagi manusia dan jalan keselamatan, kejayaan dan kebahagiaan. Seseorang tidak bisa lepas dari hidayah Al-Qur’an. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman kepada seorang hambaNya sebagai manusia paling sempurna dan paling cerdas akal pikirannya :قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي [ سبأ / 50 ](Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku menyesatkan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku.) Qs Saba : 50Orang-orang yang beriman seharusnya manusia yang paling layak mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Sebab Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :هُدًى لِلْمُتَّقِينَ [ البقرة/2](Al Qur’an ini, petunjuk bagi mereka yang bertakwa) Qs Al-Baqarah : 2Di samping petunjuk jalan hidup [ hidayah], Al-Qur’an juga rahmat. Firman Allah :هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  [ الأعراف/52](Al Quran, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman) Qs. Al-A’raf : 52Terlindunglah dari kesesatan orang yang berpegang kepadanya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :( تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به. كتاب الله) رواه مسلم(Sungguh telah aku tinggalkan kepada kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat; Kitabullah) HR MuslimSungguh tinggi, agung dan di puncak kemuliaan. Firman Allah :ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ [ ق /1](Qaaf, Demi Al Quran yang sangat mulia) Qs Qaf : 1Sebaik-baik peringatan dan setinggi-tinggi zikir. Dengan Al-Qur’an akan tercapai keimanan dengan upaya peningkatannya.تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ [ الزمر/23]( Karena [Al-Qur’an] gemetarlah kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi hening kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah). Qs. Az-Zumar : 23Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- pernah membaca surah An-Nisa di hadapan Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-, ketika sampai pada ayat :فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا [ النساء / 41](Maka bagaimanakah [halnya orang kafir nanti] apabila Kami mendatangkan seseorang saksi [rasul] dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu [Muhammad] sebagai saksi atas mereka itu [sebagai umatmu] ) Qs An-Nisa : 41Berkatalah Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- kepadanya, “cukup-cukup”. Kata Ibnu Mas’ud : Maka aku menoleh kepada beliau, tiba-tiba air mata telah meleleh membasahi kedua mata beliau”. HR BukhariSegudang kebaikan dan kemanfaatan serta pintu-pintu keberkahan ada di dalamnya. Firman Allah  :وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ   [ الأنعام / 155](Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati) Qs Al-An’am : 15Siapapun membacanya, mengamalkannya dan menyebar luaskannya ke segenap penjuru pastilah jaya dan mendapatkan keamanan dan kemakmuran.Ibnu Katsir – rahimahullah- berkata : Semasa pemerintahan Usman Bin Affan – radhiyallahu ‘anhu- wilayah kekuasaan Islam terbentang luas menjangkau timur jauh dan barat, hal itu berkat pembacaan dan kajian Al-Qur’an yang dilakukannya serta upaya-upayanya memotivasi umat untuk menghafalnya.Al-Qur’an adalah cahaya kehidupan yang menyoroti segala urusan dunia dan akhirat; urusan bisnis dan keagamaan. Firman Allah :قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ [ المائدة/15](Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan). Qs Al-Maidah : 15Dengan Al-Qur’an, jiwa menjadi hidup kembali, karena Al-Qur’an memberikan kehidupan kepada siapa saja yang meresponnya. Firman Allah :اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [ الأنفال/24]( Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu) Qs Al-Anfal : 24Qatadah – rahimahullah- berkata : “Itulah hebatnya Al-Qur’an ini, di samping memberikan kehidupan, ia juga Allah jadikan sebagai obat penawar bagi segala penyakit fisik. “Seorang lelaki disengat kalajengking (scorpio), lalu dibacakan Al-Fatihah untuknya, maka sembuhlah dia” HR BukhariAl-Qur’an pelindung dari segala kejahatan. Firman Allah :وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا [ الإسراء /45](Dan ketika kamu membaca Al Quran, Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup) Qs Al-Isra : 45Membuat kelapangan dan ketegaran hati orang yang membacanya. Firman Allah :كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ [ الفرقان/32]( Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya) Qs Al-Furqan : 32Al-Qur’an merupakan petuah sekaligus obat penyembuh bagi penyakit hati, di samping penghias diri bagi pembacanya. Berkat Al-Qur’an pula dapat terajut persatuan umat. Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [ آل عمران /103](Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai). Qs Ali Imran : 103Dengan Al-Qur’an persengketaan dapat diputuskan. Al-Qur’an adalah jalan keselamatan, merupakan kata pemutus yang tegas, tidak ada senda gurau di dalamnya. Sebagai kitab yang kokoh hukumnya, Allah menantang generasi terdahulu dan yang datang kemudian, baik dari kalangan manusia maupun jin. Firman Allah :قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا [ الإسراء/88](Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain). Qs Al-Isra : 88Tidak ada seorangpun memiliki kemampuan menandingi Al-Qur’an. Tiada seorang cerdik cendekiawan yang mendengarnya kecuali mengakui bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah Tuhan semesta alam. Jin-pun mendengar Al-Qur’an, lalu berkata kepada sesamanya, dengarkanlah dengan seksama, lalu usai mendengar mereka kembali kepada kaumnya seraya berkata :إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا [ الجن/1]( Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang sangat mengagumkan) Qs Al-Jin:1Kaum Kristiani Arab ketika mendengar Al-Qur’an, spontanitas meneteskan air mata mereka. Al-Qur’an dibacakan di hadapan raja Negus (penguasa Ethiopia) sebelum masuk Islam, maka menangislah raja itu.Jubair Bin Muth’im –radhiyallahu anhu- sewaktu mendengar firman Allah :أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ ، أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ ، أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ [ الطور/ 35-37](Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri]Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini [apa yang mereka katakan]. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa) Qs At-Thur : 35-37Berkatalah ia, “hampir saja hatiku melayang”. Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kita melindungi orang yang memohon suaka hingga ia mendengar Al-Qur’an. Firman Allah :وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ [ التوبة/6](Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta suaka (perlindungan) kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah) Qs At-Taubah :6Al-Qur’an menampung ilmu pengetahuan (sains) yang begitu luas dan memuat pengetahuan kognitif yang demikian bermanfaat. Pengamalnya yang memahami maknanya adalah para penyandang ilmu. Firman Allah :بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ [ العنكبوت/ 49](Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu) Qs Al-Ankabut : 49Pemahaman terletak pada pengetahuan seseorang tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Pengajar dan pelajar Al-Qur’an adalah manusia terbaik. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( خيركم من تعلم القرآن وعلمه ) رواه مسلم(Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya) . HR Bukhari.Berkat ketinggian derajat Al-Qur’an, terangkat pula derajat ilmu. Di dalam Al-Qur’an terdapat sebaik-baik kisah, perumpamaan yang paling efektif, hikmah yang paling elok. Terdapat berita yang paling akurat dan argumen yang paling kuat. Retorika dan gaya bahasa yang paling indah. Hujah yang membungkam seluruh umat manusia. Terdapat pula kabar gembira sekaligus berita buruk untuk menjadi pelajaran bagi manusia di dunia. Tinggi maknanya, indah susunan bahasanya, moderat metodenya, universal ketentuan hukumnya, adil keputusannya, bijak perintahnya dan larangannya. Penuh karisma, memiliki kekuatan dan pengaruh yang menakjubkan, melumpuhkan lawan hanya dengan beberapa susunan kata semata, menjadi petunjuk yang jelas dengan indikasi-indikasi dalil yang memudahkan, ayat yang cemerlang dan mukjizat yang jelas, tali Allah yang sangat kuat dan jalanNya yang lurus. Siapapun yang mengamalkannya meraih pahala, yang mengadili dengan ketentuan hukumnya akan mencerminkan rasa keadilan, yang berpegang teguh dengannya terlindungi, yang mengikuti ajarannya mendapatkan rahmat kasih sayang.Firman Allah :فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [ الأنعام/155]( maka ikutilah dia [ Al-Qur’an] dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat) Qs Al-An’am : 155Allah –subhanahu wa ta’ala- menganugerahkan Al-Qur’an dan menyempurnakan nikmatNya ini. Firman Allah :أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [ العنكبوت/ 51](Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab [Al Quran] sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam [Al Quran] itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman) Qs Al-Ankabut : 51Al-Qur’an merupakan penghormatan bagi Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- dan umatnya. Firman Allah :وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ [ الزخرف/44](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu). Qs Az-Zukhruf : 44Sekiranya Allah menurunkan Al-Qur’an kepada gunung, pastilah gunung itu tak berdaya dan terpecah-pecah karena ketundukkan dan ketaatannya kepada Allah. Firman Allah :لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ  [ الحشر / 21 ](Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah). Qs Al-Hasyar : 21            وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى  [ الرعد/31](Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, [tentulah Al Quran itulah dia] ). Qs Ar-Ra’d : 21Jelaslah tidak ada suatu perkataan atau bacaan yang dapat mengungguli Al-Qur’an.            Berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan mengamalkan isinya merupakan pesan Nabi–shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya. Abdullah Bin Abi Aufa –radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya tentang pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-, maka dia menjawab : “Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- berpesan agar berpegang kepada Kitab Allah [Al-Qur’an]”. HR Bukhari.Ibnu Hajar – rahimahullah- berkata : “Yang dimaksud dengan pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah adalah menjaganya secara fisik dan kandungan isinya, yaitu dengan memuliakannya dan merawatnya serta mengamalkan isinya, senantiasa membacanya, mengkajinya dan mengajarkannya”.            Siapapun yang berinteraksi dengan Al-Qur’an pasti jaya dan mulia. Para pengemban Al-Qur’an disebut “Ahlullah”       (keluarga Allah) dan orang-orang dekatNya. Penghafal Al-Qur’an terhormat dalam hidupnya dan di alam kuburnya. Faktanya, ketika hidup di dunia, yang berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling indah bacaan Al-Qur’an-nya. HR Muslim. Setelah meninggal dunia, terbukti Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengumpulkan dua lelaki di antara kaum muslimin yang gugur dalam pertempuran uhud, lalu beliau bertanya : “Manakah di antara mereka yang lebih banyak peduli kepada Al-Qur’an ? maka beliau mendahulukannya masuk ke liang lahad”. HR Bukhari.(Para pembaca Al-Qur’an adalah mereka yang turut hadir dalam majelis diskusi Umar).HR Bukhari.Amal kebajikan yang paling agung untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah memperbanyak baca Al-Qur’an, menyimak bacaannya dengan merenungkan dan berusaha memahami maknanya. Allah – subhanahu wa ta’ala- menyanjung orang yang membaca Al-Qur’an dan memuji orang-orang yang mengamalkannya serta menjanjikan akan memenuhi janjiNya dan meningkatkan balasan kebaikan bagi mereka. Firman Allah :إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ ، لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ . [ فاطر/29](Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.) . Qs Fathir : 29-30Inilah bisnis yang menguntungkan. Maka “Barangsiapa membaca satu huruf dalam Kitabullah, baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak katakan Alif Laam Miim hanya satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf”. HR Turmuzi.            ” الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ” رواه الترمذي(Orang yang lancar membaca Al Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti).HR TurmuziMajlis-majlis Al-Qur’an adalah tempat-tempat turunnya ketenteraman hati karena di sana rahmat kasih sayang menyelimuti para pengajar dan pelajar Al-Qur’an. Dalam konteks ini Nabi  – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة ، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده  ) رواه أبو داود(Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah-rumah Allah sambil membaca Kitabullah, dan saling mempelajarinya, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dan mereka tersirami rahmat serta diliputi naungan malaikat. Dan mereka disebut-sebut oleh Allah di kalangan orang-orang yang di sisiNya).HR Abu DaudDengan menyimak bacaan Al-Qur’an, kucuran rahmat didapat. Firman Allah :وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [  الأعراف/204](Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat). Qs Al-A’raf : 204Al-Qur’an merupakan dzikir yang paling besar dan paling lengkap manfaatnya. Persaingan dalam Al-Qur’an sangatlah terpuji.( لاحسد الا في اثنين : رجل آتاه القران فهو يقوم آناء الليل وآناءالنهار , ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار ) متفق عليه(Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua hal; yaitu orang yang telah Allah beri Al-Qur’an (menerima kebenaran dalam Al-Qur’an) dan ia membacanya di waktu malam dan di siang hari. Kedua, orang yang Allah memberinya harta kekayaan lalu ia menginfakkannya di waktu malam dan di siang hari). Muttafaq alaihMemenangkan perolehan kebenaran Al-Qur’an lebih baik dari pada harta kekayaan dunia yang fana ini. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ  . فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ : أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ .) رواه مسلم (Siapakah di antara kalian yang suka berangkat pagi setiap hari ke Bathhan atau ‘Aqiq dan pulangnya membawa dua onta yang besar punuknya tanpa melakukan dosa dan memutuskan tali silaturrahim?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.” Beliau bersabda: “Tidak adakah salah seorang di antara kamu yang pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat Alquran? Yang sesungguhnya hal itu lebih baik dari pada memperoleh dua ekor onta, tiga ayat lebih baik dari pada tiga ekor onta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor onta dan [jika lebih] tentu sesuai jumlah itu pula beberapa ekor onta-nya). HR. MuslimAl-Qur’an akan menjadi hujah pembela bagi pengembannya pada hari kiamat kelak, dan pemberi syafaat yang diterima syafaatnya di sisi Tuhan semesta alam. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لصَاحِبِه ) رواه أحمد( Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.) HR AhmadPara pengemban Al-Qur’an yang mengamalkan kandungannya menempati derajat tertinggi di surga na’im.(يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا ) رواه أبو داود(Dikatakan kepada orang yang membaca dan menghafalkan Al Qur’an : ‘Bacalah dan tingkatkanlah serta tartilkan-lah sebagaimana engkau di dunia mentartilkannya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca ) HR. Abu DaudKaum muslimin !            Al-Qur’an akan menjadi hujah pembelaan antara Allah dan makhlukNya, suatu kemuliaan dan kebanggaan bagi kaum muslimin, kemajuan dan kebesaran generasi, pengaman dan keberkahan bagi masyarakat. Di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keluhuran serta keridhaan Allah Tuhan semesta alam. Maka sepantasnyalah seorang muslim mengharumkan mulutnya, hatinya, tempat tinggalnya, tempat sujudnya, waktunya melalui bacaan Al-Qur’an serta perenungannya dan penghayatannya. Demikian pula dengan mengekspresikan rasa senang, pengagungan dan kepasrahan terhadap kandungannya. Tidak menelantarkannya dan tidak pula menentangnya.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutukمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ  [ فاطر/10]( Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur). Qs Fathir : 10 Semoga Allah memberkahi kita semua berkat pengamalan kitab suci Al-Qur’an yang agung !============ Khotbah keduaSegala puji bagi Allah atas anugerahnya, puji syukur kepadaNya atas bimbingan taufiqNya dan karuniaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dengan mengagungkanNya. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya – shallallahu alaihi wa sallam- Semoga shalawat dan salam tercurahkan sebanyak-banyaknya kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin !Barangsiapa yang mengikuti Al-Qur’an pasti menggapai petunjuknya, dan barangsiapa yang berpaling darinya akan tetap dalam keterpurukan dan kehinaan. Allah berfirman :فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى ،  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى [ طه / 123-124](Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta). Qs Thaha : 123-124Tidak ada jalan lain untuk mendapatkan hidayah kecuali melalui petunjuk Al-Qur’an. Siapapun orangnya yang terhalang hatinya untuk memperoleh petunjuk Al-Qur’an, tidaklah berguna baginya petunjuk manapun di luar Al-Qur’an. Allah berfirman :فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ  [  الجاثية / 6 ]( maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah firman Allah (Al-Qur’an) dan keterangan-keterangan-Nya? ) Qs Al-Jatsiyah : 6Jika Al-Qur’an meninggikan derajat seseorang yang mengembannya, maka iapun merendahkan harga diri orang yang memusuhinya. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-( إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ ) . رواه مسلم .(Sesungguhnya Allah memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al Qur`an) dan menghinakan kaum yang lain). HR MuslimFirman Allah – subhanahu wa ta’ala – sungguh mulia. Barangsiapa yang mengingkarinya meskipun hanya satu huruf atau melecehkannya, kafirlah ia. Allah berfirman :( قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ،  لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ) [ التوبة / 65 ]( Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu mengejek?. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.). Qs At-Taubah : 65-66Tidak ada seorangpun yang berani menghinakan kitab Allah atau merendahkan para pengemban kitab Allah melainkan Allah pasti menghinakannya dan merendahkannya.Maka sudah sepantasnyalah seorang muslim melakukan pembelaan terhadap kitabullah dengan perasaan bangga agar dapat meraih ketinggian derajat di surga.Selanjutnya, ketahuilah bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kalian untuk bershalawat dan menyampaikan salam sejahtera kepada nabi-Nya . . .======  Selesai  ======Penerjemah: Usman Hatim

Keaguangan al-Quran

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 14 Rabiul Awal 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul-Muhsin Bin Qasim Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – wahai hamba-hamba Allah – dengan sesungguhnya. Takwa adalah mengikuti petunjuk, sedangkan kebutaan adalah karena mengikuti hawa nafsu.Kaum muslimin!            Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha sempurna zatNya, nama-namaNya dan sifat-sifatNya. Tiada yang setara dan sebanding denganNya. Sifat-sifatNya demikian sempurna dan indah yang di antara sifatNya adalah berfirman. Allah berfirman kapanpun Dia berkehendak manakala Dia menghendaki dengan apapun yang Dia kehendaki, kalimat-kalimatNya tidak terhingga. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدً [ الكهف/109](Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk [menulis] kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis [ditulis] kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu [pula]” ) Qs Al-Kahfi : 109Firman-Nya adalah sebaik-baik perkataan. Keunggulan firmanNya atas ucapan makhluk bagaikan keunggulan Allah Sang Pencipta atas makhluk ciptaanNya.  Setiap nabi terangkat keutamaannya manakala Allah berbicara dengannya secara langsung tanpa perantara.  Allah berfirman  :تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ [ البقرة / 253 ](Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata [langsung] dengannya). Qs Al-Baqarah : 253Karena kebijaksanaan dan kasih sayang Allah kepada manusia, diutuslah olehNya para rasul dari kalangan mereka dan diturunkan kepada mereka kitab-kitabNya. Maka Allah – subhanahu wa ta’ala – turunkan kitab Taurat, Injil, Zabur dan lembaran-lembaran Nabi Ibrahim dan Nabi Musa –alaihimassalam- yang kemudian ditutupNya kitab-kitab itu dengan menurunkan Al-Qur’an yang agung sebagai kitab yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya, untuk membenarkan kitab-kitab yang telah ada sebelumnya serta sebagai pengontrol terhadap kitab-kitab itu dan penghapus serta pengemban amanat dari pada isi kitab-kitab tersebut. Seluruh nabi telah menubuatkan Al-Qur’an sebelum diturunkannya. Allah berfirman :وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ [ الشعراء/ 196](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar disebut dalam kitab-kitab orang yang dahulu) Qs As-Syu’ara : 196Ibnu Katsir  -rahimahullah- berkata : “Penyebutan dan penyaksian tentang Al-Qur’an telah ada pada kitab-kitab umat terdahulu yang dinukil dari para nabi mereka. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail –alaihimas salam- memohon dalam doa agar Allah – subhanahu wa ta’ala – mengutus seorang nabi untuk membacakan dan mengajarkan Al-Qur’an.رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [ البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab [Al Quran] dan Al-Hikmah [As-Sunnah] serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana) Qs Al-Baqarah : 129Al-Qur’an adalah firman Allah, Tuhan semesta alam, Dia berbicara dengan firman itu secara hakiki dengan huruf dan suara, dari Allah-lah firman itu berawal dan kepadaNya pula kembali. Firman itu didengar oleh Malaikat Jibril Al-amin dari Allah dan diturunkannya kepada Nabi Muhammad –shallahu alaihi wa sallam-, lalu beliau sampaikan, maka dengan Al-Qur’an beliau memungkasi misi seluruh para rasul dan beliau-pun berjasa besar terhadap umatnya yang tergolong ummiyin (buta aksara saat turunnya). Allah berfirman :لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ [ آل عمران / 164](Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan [jiwa] mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum [kedatangan Nabi] itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata) Qs Ali Imran : 164Al-Qur’an turun untuk sebaik-baik umat, dengan bahasa paling unggul dan paling lengkap, turun pada malam paling mulia di tanah yang paling suci.  Maka dengan Al-Qur’an kita terbebas dari kegelapan menuju ke cahaya terang, dan dari ketidak-tahuan mengarah ke dunia ilmu pengetahuan. Firman Allah :كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ [ إبراهيم/1](Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, [yaitu] menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji) Qs Ibrahim : 1Tidak sah keimanan seseorang kecuali jika dirinya mengimani Al-Qur’an secara totalitas dan detail. Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ [ النساء /136](Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya). Qs An-Nisa : 136Allah memuji DzatNya sendiri atas penurunan Al-Qur’an. Firman Allah :الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا [ الكهف/1](Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya) Qs Al-Kahfi :1Allah-pun bersumpah dengan Al-Qur’an sebagaimana firmanNya ;يس ، وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ [ يس/1-2](Yaa siin, Demi Al Quran yang penuh hikmah) Qs Yasin : 1-2Allah-pun bersumpah atas keagungan Al-Qur’an :فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ، وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ، إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 75- 76 – 77](Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia). Qs Al-Qaqi’ah : 75- 76-77Allah –subhanahu wa ta’ala- memudahkan Al-Qur’an untuk hamba-hambaNya sehingga tidak sulit dan tidak menyusahkan, bisa dihafal oleh orang Arab dan non Arab, pria dan wanita, anak kecil dan orang dewasa, si kaya dan si miskin, bahkan orang yang tuna netra, yang lanjut usia dan yang jompo pun mudah menghafalnya. Firman Allah :وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ [ القمر / 17 ](Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran). Qs Al-Qamar :17Sungguh besar derajat Al-Qur’an, oleh karenanya Allah menempatkannya paling depan di antara sederetan nikmatNya. Firman Allah :الرَّحْمَنُ ، عَلَّمَ الْقُرْآنَ [ الرحمن / 1-2 ](Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran) Qs Ar-Rahman : 1-2فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ ، مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ ، بِأَيْدِي سَفَرَةٍ ،  كِرَامٍ بَرَرَةٍ  [ عبس / 13 – 16 ]( Al-Qur’an, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti) Qs Abasa : 13-16Allah –subhanahu wa ta’ala- telah menjaganya sebelum (pra) menurunkannya. Firman Allah :بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ  [ البروج /  21 ](Bahkan yang didustakan mereka itu adalah Al Qur’an yang mulia) Qs Al-Buruj : 21Allah–subhanahu wa ta’ala- melindunginya dari setan-setan saat penurunannya. Firman Allah :وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ ، وَمَا يَنْبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ [ الشعراء / 210-211 ](Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan kuasa ) Qs As-Syu’ara : 210-211Al-Qur’an tetap terjaga pasca penurunannya.  Firman Allah :إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [ الحجر/9](Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya). Qs Al-Hijr : 9Al-Qur’an aman dari penambahan dan pengurangan, aman dari pengubahan dan penggantian. Allah menjadikannya petunjuk dan pengingat bagi umat semesta alam, bersifat universal untuk seluruh umat manusia sama dengan keuniversalan misi kerasulan  Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- bukan spesialis untuk suatu umat tanpa menjangkau umat yang lain. Firman Allah :إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ [ التكوير/ 27](Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam) Qs At-Takwir : 27Al-Qur’an menjadi pelajaran bagi orang yang punya rasa takut, juga menjadi argumen pembungkam terhadap orang yang menyimpang. Allah –subhanahu wa ta’ala- men-deskripsikannya dengan beragam sifat dan menggelarinya dengan berbagai sebutan. Maka Al-Qur’an merupakan kebenaran mutlak yang tidak ada kebatilan dan keraguan sama sekali di dalamnya. Firman Allah :بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ [ السجدة / 3](Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Tuhan-mu) Qs As-Sajdah : 3Firman Allah :كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ [ هود/1](Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi [Allah] Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu) Qs Fushshilat : 1Ayat-ayatnya serupa satu dengan yang lain dan saling membenarkan;كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ [ الزمر / 23 ]( Kitab Al Qur’an yang serupa [ayat-ayatnya] lagi berulang-ulang) Qs Az-Zumar : 23Lurus, tidak bengkok, tidak kontroversial dan tidak pula kontradiksi. Firman Allah :وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا [ النساء / 82 ]( Kalau sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya) Qs An-Nisa : 82Al-Qur’an merupakan perkataan yang paling baik dan paling unggul.Firman Allah :اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ [ الزمر/ 23]( Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik ) Qs Az-Zumar : 23            Imam Nawawi – rahimahullah- berkomentar : Ayat ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an merupakan perkataan terbaik dibanding perkataan-perkataan lainnya yang turun dari Allah-subhanahu wa ta’ala- maupun yang selain itu.Allah- subhanahu wa ta’ala- menyifatkan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang agung :وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ [ الحجر/ 87](Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung) Qs Al-Hijr : 87Allah menetapkan Al-Qur’an sebagai perkataan yang memiliki ketinggian jati diri dan kedudukannya. Firman Allah :وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ [ الزخرف/ 4](Dan sesungguhnya Al Qur’an itu dalam induk Al Kitab [Lauh Mahfuzh] di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi [kedudukannya] dan amat banyak kandungan hikmahnya) Qs Az-Zukhruf : 4Sangat jelas redaksi dan maknanya sebagai penjelas tentang segala sesuatu. Firman Allah:هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ [ آل عمران/ 138](Inilah [Al-Qur’an] penerang bagi seluruh umat manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa) Qs Ali Imran : 138Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- berkata : “Allah jelaskan kepada kita dalam Al-Qur’an segala ilmu yang mencakup semua aspeknya”.Al-Qur’an penuh kearifan, mengandung lautan hikmah, barangsiapa yang dikaruniai hikmah (kearifan) sungguh dirinya telah mendapat kebaikan yang banyak. Al-Qur’an mulia di sisi Allah, kemuliaan yang terkandung di dalamnya sangat tinggi nilainya. Maka dengan kemuliaan Al-Qur’an, seseorang menjadi terhormat dan mulia pula dalam pandangan Allah dan sesama makhluk. Firman Allah :إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 77](Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia) Qs Al-Waqiah :77Di dalamnya terdapat petunjuk jalan hidup [hidayah] bagi manusia dan jalan keselamatan, kejayaan dan kebahagiaan. Seseorang tidak bisa lepas dari hidayah Al-Qur’an. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman kepada seorang hambaNya sebagai manusia paling sempurna dan paling cerdas akal pikirannya :قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي [ سبأ / 50 ](Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku menyesatkan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku.) Qs Saba : 50Orang-orang yang beriman seharusnya manusia yang paling layak mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Sebab Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :هُدًى لِلْمُتَّقِينَ [ البقرة/2](Al Qur’an ini, petunjuk bagi mereka yang bertakwa) Qs Al-Baqarah : 2Di samping petunjuk jalan hidup [ hidayah], Al-Qur’an juga rahmat. Firman Allah :هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  [ الأعراف/52](Al Quran, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman) Qs. Al-A’raf : 52Terlindunglah dari kesesatan orang yang berpegang kepadanya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :( تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به. كتاب الله) رواه مسلم(Sungguh telah aku tinggalkan kepada kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat; Kitabullah) HR MuslimSungguh tinggi, agung dan di puncak kemuliaan. Firman Allah :ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ [ ق /1](Qaaf, Demi Al Quran yang sangat mulia) Qs Qaf : 1Sebaik-baik peringatan dan setinggi-tinggi zikir. Dengan Al-Qur’an akan tercapai keimanan dengan upaya peningkatannya.تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ [ الزمر/23]( Karena [Al-Qur’an] gemetarlah kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi hening kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah). Qs. Az-Zumar : 23Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- pernah membaca surah An-Nisa di hadapan Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-, ketika sampai pada ayat :فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا [ النساء / 41](Maka bagaimanakah [halnya orang kafir nanti] apabila Kami mendatangkan seseorang saksi [rasul] dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu [Muhammad] sebagai saksi atas mereka itu [sebagai umatmu] ) Qs An-Nisa : 41Berkatalah Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- kepadanya, “cukup-cukup”. Kata Ibnu Mas’ud : Maka aku menoleh kepada beliau, tiba-tiba air mata telah meleleh membasahi kedua mata beliau”. HR BukhariSegudang kebaikan dan kemanfaatan serta pintu-pintu keberkahan ada di dalamnya. Firman Allah  :وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ   [ الأنعام / 155](Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati) Qs Al-An’am : 15Siapapun membacanya, mengamalkannya dan menyebar luaskannya ke segenap penjuru pastilah jaya dan mendapatkan keamanan dan kemakmuran.Ibnu Katsir – rahimahullah- berkata : Semasa pemerintahan Usman Bin Affan – radhiyallahu ‘anhu- wilayah kekuasaan Islam terbentang luas menjangkau timur jauh dan barat, hal itu berkat pembacaan dan kajian Al-Qur’an yang dilakukannya serta upaya-upayanya memotivasi umat untuk menghafalnya.Al-Qur’an adalah cahaya kehidupan yang menyoroti segala urusan dunia dan akhirat; urusan bisnis dan keagamaan. Firman Allah :قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ [ المائدة/15](Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan). Qs Al-Maidah : 15Dengan Al-Qur’an, jiwa menjadi hidup kembali, karena Al-Qur’an memberikan kehidupan kepada siapa saja yang meresponnya. Firman Allah :اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [ الأنفال/24]( Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu) Qs Al-Anfal : 24Qatadah – rahimahullah- berkata : “Itulah hebatnya Al-Qur’an ini, di samping memberikan kehidupan, ia juga Allah jadikan sebagai obat penawar bagi segala penyakit fisik. “Seorang lelaki disengat kalajengking (scorpio), lalu dibacakan Al-Fatihah untuknya, maka sembuhlah dia” HR BukhariAl-Qur’an pelindung dari segala kejahatan. Firman Allah :وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا [ الإسراء /45](Dan ketika kamu membaca Al Quran, Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup) Qs Al-Isra : 45Membuat kelapangan dan ketegaran hati orang yang membacanya. Firman Allah :كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ [ الفرقان/32]( Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya) Qs Al-Furqan : 32Al-Qur’an merupakan petuah sekaligus obat penyembuh bagi penyakit hati, di samping penghias diri bagi pembacanya. Berkat Al-Qur’an pula dapat terajut persatuan umat. Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [ آل عمران /103](Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai). Qs Ali Imran : 103Dengan Al-Qur’an persengketaan dapat diputuskan. Al-Qur’an adalah jalan keselamatan, merupakan kata pemutus yang tegas, tidak ada senda gurau di dalamnya. Sebagai kitab yang kokoh hukumnya, Allah menantang generasi terdahulu dan yang datang kemudian, baik dari kalangan manusia maupun jin. Firman Allah :قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا [ الإسراء/88](Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain). Qs Al-Isra : 88Tidak ada seorangpun memiliki kemampuan menandingi Al-Qur’an. Tiada seorang cerdik cendekiawan yang mendengarnya kecuali mengakui bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah Tuhan semesta alam. Jin-pun mendengar Al-Qur’an, lalu berkata kepada sesamanya, dengarkanlah dengan seksama, lalu usai mendengar mereka kembali kepada kaumnya seraya berkata :إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا [ الجن/1]( Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang sangat mengagumkan) Qs Al-Jin:1Kaum Kristiani Arab ketika mendengar Al-Qur’an, spontanitas meneteskan air mata mereka. Al-Qur’an dibacakan di hadapan raja Negus (penguasa Ethiopia) sebelum masuk Islam, maka menangislah raja itu.Jubair Bin Muth’im –radhiyallahu anhu- sewaktu mendengar firman Allah :أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ ، أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ ، أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ [ الطور/ 35-37](Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri]Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini [apa yang mereka katakan]. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa) Qs At-Thur : 35-37Berkatalah ia, “hampir saja hatiku melayang”. Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kita melindungi orang yang memohon suaka hingga ia mendengar Al-Qur’an. Firman Allah :وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ [ التوبة/6](Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta suaka (perlindungan) kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah) Qs At-Taubah :6Al-Qur’an menampung ilmu pengetahuan (sains) yang begitu luas dan memuat pengetahuan kognitif yang demikian bermanfaat. Pengamalnya yang memahami maknanya adalah para penyandang ilmu. Firman Allah :بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ [ العنكبوت/ 49](Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu) Qs Al-Ankabut : 49Pemahaman terletak pada pengetahuan seseorang tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Pengajar dan pelajar Al-Qur’an adalah manusia terbaik. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( خيركم من تعلم القرآن وعلمه ) رواه مسلم(Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya) . HR Bukhari.Berkat ketinggian derajat Al-Qur’an, terangkat pula derajat ilmu. Di dalam Al-Qur’an terdapat sebaik-baik kisah, perumpamaan yang paling efektif, hikmah yang paling elok. Terdapat berita yang paling akurat dan argumen yang paling kuat. Retorika dan gaya bahasa yang paling indah. Hujah yang membungkam seluruh umat manusia. Terdapat pula kabar gembira sekaligus berita buruk untuk menjadi pelajaran bagi manusia di dunia. Tinggi maknanya, indah susunan bahasanya, moderat metodenya, universal ketentuan hukumnya, adil keputusannya, bijak perintahnya dan larangannya. Penuh karisma, memiliki kekuatan dan pengaruh yang menakjubkan, melumpuhkan lawan hanya dengan beberapa susunan kata semata, menjadi petunjuk yang jelas dengan indikasi-indikasi dalil yang memudahkan, ayat yang cemerlang dan mukjizat yang jelas, tali Allah yang sangat kuat dan jalanNya yang lurus. Siapapun yang mengamalkannya meraih pahala, yang mengadili dengan ketentuan hukumnya akan mencerminkan rasa keadilan, yang berpegang teguh dengannya terlindungi, yang mengikuti ajarannya mendapatkan rahmat kasih sayang.Firman Allah :فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [ الأنعام/155]( maka ikutilah dia [ Al-Qur’an] dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat) Qs Al-An’am : 155Allah –subhanahu wa ta’ala- menganugerahkan Al-Qur’an dan menyempurnakan nikmatNya ini. Firman Allah :أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [ العنكبوت/ 51](Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab [Al Quran] sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam [Al Quran] itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman) Qs Al-Ankabut : 51Al-Qur’an merupakan penghormatan bagi Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- dan umatnya. Firman Allah :وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ [ الزخرف/44](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu). Qs Az-Zukhruf : 44Sekiranya Allah menurunkan Al-Qur’an kepada gunung, pastilah gunung itu tak berdaya dan terpecah-pecah karena ketundukkan dan ketaatannya kepada Allah. Firman Allah :لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ  [ الحشر / 21 ](Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah). Qs Al-Hasyar : 21            وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى  [ الرعد/31](Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, [tentulah Al Quran itulah dia] ). Qs Ar-Ra’d : 21Jelaslah tidak ada suatu perkataan atau bacaan yang dapat mengungguli Al-Qur’an.            Berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan mengamalkan isinya merupakan pesan Nabi–shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya. Abdullah Bin Abi Aufa –radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya tentang pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-, maka dia menjawab : “Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- berpesan agar berpegang kepada Kitab Allah [Al-Qur’an]”. HR Bukhari.Ibnu Hajar – rahimahullah- berkata : “Yang dimaksud dengan pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah adalah menjaganya secara fisik dan kandungan isinya, yaitu dengan memuliakannya dan merawatnya serta mengamalkan isinya, senantiasa membacanya, mengkajinya dan mengajarkannya”.            Siapapun yang berinteraksi dengan Al-Qur’an pasti jaya dan mulia. Para pengemban Al-Qur’an disebut “Ahlullah”       (keluarga Allah) dan orang-orang dekatNya. Penghafal Al-Qur’an terhormat dalam hidupnya dan di alam kuburnya. Faktanya, ketika hidup di dunia, yang berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling indah bacaan Al-Qur’an-nya. HR Muslim. Setelah meninggal dunia, terbukti Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengumpulkan dua lelaki di antara kaum muslimin yang gugur dalam pertempuran uhud, lalu beliau bertanya : “Manakah di antara mereka yang lebih banyak peduli kepada Al-Qur’an ? maka beliau mendahulukannya masuk ke liang lahad”. HR Bukhari.(Para pembaca Al-Qur’an adalah mereka yang turut hadir dalam majelis diskusi Umar).HR Bukhari.Amal kebajikan yang paling agung untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah memperbanyak baca Al-Qur’an, menyimak bacaannya dengan merenungkan dan berusaha memahami maknanya. Allah – subhanahu wa ta’ala- menyanjung orang yang membaca Al-Qur’an dan memuji orang-orang yang mengamalkannya serta menjanjikan akan memenuhi janjiNya dan meningkatkan balasan kebaikan bagi mereka. Firman Allah :إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ ، لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ . [ فاطر/29](Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.) . Qs Fathir : 29-30Inilah bisnis yang menguntungkan. Maka “Barangsiapa membaca satu huruf dalam Kitabullah, baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak katakan Alif Laam Miim hanya satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf”. HR Turmuzi.            ” الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ” رواه الترمذي(Orang yang lancar membaca Al Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti).HR TurmuziMajlis-majlis Al-Qur’an adalah tempat-tempat turunnya ketenteraman hati karena di sana rahmat kasih sayang menyelimuti para pengajar dan pelajar Al-Qur’an. Dalam konteks ini Nabi  – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة ، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده  ) رواه أبو داود(Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah-rumah Allah sambil membaca Kitabullah, dan saling mempelajarinya, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dan mereka tersirami rahmat serta diliputi naungan malaikat. Dan mereka disebut-sebut oleh Allah di kalangan orang-orang yang di sisiNya).HR Abu DaudDengan menyimak bacaan Al-Qur’an, kucuran rahmat didapat. Firman Allah :وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [  الأعراف/204](Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat). Qs Al-A’raf : 204Al-Qur’an merupakan dzikir yang paling besar dan paling lengkap manfaatnya. Persaingan dalam Al-Qur’an sangatlah terpuji.( لاحسد الا في اثنين : رجل آتاه القران فهو يقوم آناء الليل وآناءالنهار , ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار ) متفق عليه(Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua hal; yaitu orang yang telah Allah beri Al-Qur’an (menerima kebenaran dalam Al-Qur’an) dan ia membacanya di waktu malam dan di siang hari. Kedua, orang yang Allah memberinya harta kekayaan lalu ia menginfakkannya di waktu malam dan di siang hari). Muttafaq alaihMemenangkan perolehan kebenaran Al-Qur’an lebih baik dari pada harta kekayaan dunia yang fana ini. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ  . فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ : أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ .) رواه مسلم (Siapakah di antara kalian yang suka berangkat pagi setiap hari ke Bathhan atau ‘Aqiq dan pulangnya membawa dua onta yang besar punuknya tanpa melakukan dosa dan memutuskan tali silaturrahim?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.” Beliau bersabda: “Tidak adakah salah seorang di antara kamu yang pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat Alquran? Yang sesungguhnya hal itu lebih baik dari pada memperoleh dua ekor onta, tiga ayat lebih baik dari pada tiga ekor onta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor onta dan [jika lebih] tentu sesuai jumlah itu pula beberapa ekor onta-nya). HR. MuslimAl-Qur’an akan menjadi hujah pembela bagi pengembannya pada hari kiamat kelak, dan pemberi syafaat yang diterima syafaatnya di sisi Tuhan semesta alam. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لصَاحِبِه ) رواه أحمد( Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.) HR AhmadPara pengemban Al-Qur’an yang mengamalkan kandungannya menempati derajat tertinggi di surga na’im.(يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا ) رواه أبو داود(Dikatakan kepada orang yang membaca dan menghafalkan Al Qur’an : ‘Bacalah dan tingkatkanlah serta tartilkan-lah sebagaimana engkau di dunia mentartilkannya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca ) HR. Abu DaudKaum muslimin !            Al-Qur’an akan menjadi hujah pembelaan antara Allah dan makhlukNya, suatu kemuliaan dan kebanggaan bagi kaum muslimin, kemajuan dan kebesaran generasi, pengaman dan keberkahan bagi masyarakat. Di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keluhuran serta keridhaan Allah Tuhan semesta alam. Maka sepantasnyalah seorang muslim mengharumkan mulutnya, hatinya, tempat tinggalnya, tempat sujudnya, waktunya melalui bacaan Al-Qur’an serta perenungannya dan penghayatannya. Demikian pula dengan mengekspresikan rasa senang, pengagungan dan kepasrahan terhadap kandungannya. Tidak menelantarkannya dan tidak pula menentangnya.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutukمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ  [ فاطر/10]( Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur). Qs Fathir : 10 Semoga Allah memberkahi kita semua berkat pengamalan kitab suci Al-Qur’an yang agung !============ Khotbah keduaSegala puji bagi Allah atas anugerahnya, puji syukur kepadaNya atas bimbingan taufiqNya dan karuniaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dengan mengagungkanNya. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya – shallallahu alaihi wa sallam- Semoga shalawat dan salam tercurahkan sebanyak-banyaknya kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin !Barangsiapa yang mengikuti Al-Qur’an pasti menggapai petunjuknya, dan barangsiapa yang berpaling darinya akan tetap dalam keterpurukan dan kehinaan. Allah berfirman :فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى ،  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى [ طه / 123-124](Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta). Qs Thaha : 123-124Tidak ada jalan lain untuk mendapatkan hidayah kecuali melalui petunjuk Al-Qur’an. Siapapun orangnya yang terhalang hatinya untuk memperoleh petunjuk Al-Qur’an, tidaklah berguna baginya petunjuk manapun di luar Al-Qur’an. Allah berfirman :فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ  [  الجاثية / 6 ]( maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah firman Allah (Al-Qur’an) dan keterangan-keterangan-Nya? ) Qs Al-Jatsiyah : 6Jika Al-Qur’an meninggikan derajat seseorang yang mengembannya, maka iapun merendahkan harga diri orang yang memusuhinya. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-( إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ ) . رواه مسلم .(Sesungguhnya Allah memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al Qur`an) dan menghinakan kaum yang lain). HR MuslimFirman Allah – subhanahu wa ta’ala – sungguh mulia. Barangsiapa yang mengingkarinya meskipun hanya satu huruf atau melecehkannya, kafirlah ia. Allah berfirman :( قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ،  لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ) [ التوبة / 65 ]( Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu mengejek?. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.). Qs At-Taubah : 65-66Tidak ada seorangpun yang berani menghinakan kitab Allah atau merendahkan para pengemban kitab Allah melainkan Allah pasti menghinakannya dan merendahkannya.Maka sudah sepantasnyalah seorang muslim melakukan pembelaan terhadap kitabullah dengan perasaan bangga agar dapat meraih ketinggian derajat di surga.Selanjutnya, ketahuilah bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kalian untuk bershalawat dan menyampaikan salam sejahtera kepada nabi-Nya . . .======  Selesai  ======Penerjemah: Usman Hatim
Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 14 Rabiul Awal 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul-Muhsin Bin Qasim Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – wahai hamba-hamba Allah – dengan sesungguhnya. Takwa adalah mengikuti petunjuk, sedangkan kebutaan adalah karena mengikuti hawa nafsu.Kaum muslimin!            Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha sempurna zatNya, nama-namaNya dan sifat-sifatNya. Tiada yang setara dan sebanding denganNya. Sifat-sifatNya demikian sempurna dan indah yang di antara sifatNya adalah berfirman. Allah berfirman kapanpun Dia berkehendak manakala Dia menghendaki dengan apapun yang Dia kehendaki, kalimat-kalimatNya tidak terhingga. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدً [ الكهف/109](Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk [menulis] kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis [ditulis] kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu [pula]” ) Qs Al-Kahfi : 109Firman-Nya adalah sebaik-baik perkataan. Keunggulan firmanNya atas ucapan makhluk bagaikan keunggulan Allah Sang Pencipta atas makhluk ciptaanNya.  Setiap nabi terangkat keutamaannya manakala Allah berbicara dengannya secara langsung tanpa perantara.  Allah berfirman  :تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ [ البقرة / 253 ](Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata [langsung] dengannya). Qs Al-Baqarah : 253Karena kebijaksanaan dan kasih sayang Allah kepada manusia, diutuslah olehNya para rasul dari kalangan mereka dan diturunkan kepada mereka kitab-kitabNya. Maka Allah – subhanahu wa ta’ala – turunkan kitab Taurat, Injil, Zabur dan lembaran-lembaran Nabi Ibrahim dan Nabi Musa –alaihimassalam- yang kemudian ditutupNya kitab-kitab itu dengan menurunkan Al-Qur’an yang agung sebagai kitab yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya, untuk membenarkan kitab-kitab yang telah ada sebelumnya serta sebagai pengontrol terhadap kitab-kitab itu dan penghapus serta pengemban amanat dari pada isi kitab-kitab tersebut. Seluruh nabi telah menubuatkan Al-Qur’an sebelum diturunkannya. Allah berfirman :وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ [ الشعراء/ 196](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar disebut dalam kitab-kitab orang yang dahulu) Qs As-Syu’ara : 196Ibnu Katsir  -rahimahullah- berkata : “Penyebutan dan penyaksian tentang Al-Qur’an telah ada pada kitab-kitab umat terdahulu yang dinukil dari para nabi mereka. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail –alaihimas salam- memohon dalam doa agar Allah – subhanahu wa ta’ala – mengutus seorang nabi untuk membacakan dan mengajarkan Al-Qur’an.رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [ البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab [Al Quran] dan Al-Hikmah [As-Sunnah] serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana) Qs Al-Baqarah : 129Al-Qur’an adalah firman Allah, Tuhan semesta alam, Dia berbicara dengan firman itu secara hakiki dengan huruf dan suara, dari Allah-lah firman itu berawal dan kepadaNya pula kembali. Firman itu didengar oleh Malaikat Jibril Al-amin dari Allah dan diturunkannya kepada Nabi Muhammad –shallahu alaihi wa sallam-, lalu beliau sampaikan, maka dengan Al-Qur’an beliau memungkasi misi seluruh para rasul dan beliau-pun berjasa besar terhadap umatnya yang tergolong ummiyin (buta aksara saat turunnya). Allah berfirman :لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ [ آل عمران / 164](Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan [jiwa] mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum [kedatangan Nabi] itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata) Qs Ali Imran : 164Al-Qur’an turun untuk sebaik-baik umat, dengan bahasa paling unggul dan paling lengkap, turun pada malam paling mulia di tanah yang paling suci.  Maka dengan Al-Qur’an kita terbebas dari kegelapan menuju ke cahaya terang, dan dari ketidak-tahuan mengarah ke dunia ilmu pengetahuan. Firman Allah :كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ [ إبراهيم/1](Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, [yaitu] menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji) Qs Ibrahim : 1Tidak sah keimanan seseorang kecuali jika dirinya mengimani Al-Qur’an secara totalitas dan detail. Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ [ النساء /136](Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya). Qs An-Nisa : 136Allah memuji DzatNya sendiri atas penurunan Al-Qur’an. Firman Allah :الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا [ الكهف/1](Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya) Qs Al-Kahfi :1Allah-pun bersumpah dengan Al-Qur’an sebagaimana firmanNya ;يس ، وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ [ يس/1-2](Yaa siin, Demi Al Quran yang penuh hikmah) Qs Yasin : 1-2Allah-pun bersumpah atas keagungan Al-Qur’an :فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ، وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ، إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 75- 76 – 77](Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia). Qs Al-Qaqi’ah : 75- 76-77Allah –subhanahu wa ta’ala- memudahkan Al-Qur’an untuk hamba-hambaNya sehingga tidak sulit dan tidak menyusahkan, bisa dihafal oleh orang Arab dan non Arab, pria dan wanita, anak kecil dan orang dewasa, si kaya dan si miskin, bahkan orang yang tuna netra, yang lanjut usia dan yang jompo pun mudah menghafalnya. Firman Allah :وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ [ القمر / 17 ](Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran). Qs Al-Qamar :17Sungguh besar derajat Al-Qur’an, oleh karenanya Allah menempatkannya paling depan di antara sederetan nikmatNya. Firman Allah :الرَّحْمَنُ ، عَلَّمَ الْقُرْآنَ [ الرحمن / 1-2 ](Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran) Qs Ar-Rahman : 1-2فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ ، مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ ، بِأَيْدِي سَفَرَةٍ ،  كِرَامٍ بَرَرَةٍ  [ عبس / 13 – 16 ]( Al-Qur’an, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti) Qs Abasa : 13-16Allah –subhanahu wa ta’ala- telah menjaganya sebelum (pra) menurunkannya. Firman Allah :بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ  [ البروج /  21 ](Bahkan yang didustakan mereka itu adalah Al Qur’an yang mulia) Qs Al-Buruj : 21Allah–subhanahu wa ta’ala- melindunginya dari setan-setan saat penurunannya. Firman Allah :وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ ، وَمَا يَنْبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ [ الشعراء / 210-211 ](Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan kuasa ) Qs As-Syu’ara : 210-211Al-Qur’an tetap terjaga pasca penurunannya.  Firman Allah :إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [ الحجر/9](Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya). Qs Al-Hijr : 9Al-Qur’an aman dari penambahan dan pengurangan, aman dari pengubahan dan penggantian. Allah menjadikannya petunjuk dan pengingat bagi umat semesta alam, bersifat universal untuk seluruh umat manusia sama dengan keuniversalan misi kerasulan  Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- bukan spesialis untuk suatu umat tanpa menjangkau umat yang lain. Firman Allah :إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ [ التكوير/ 27](Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam) Qs At-Takwir : 27Al-Qur’an menjadi pelajaran bagi orang yang punya rasa takut, juga menjadi argumen pembungkam terhadap orang yang menyimpang. Allah –subhanahu wa ta’ala- men-deskripsikannya dengan beragam sifat dan menggelarinya dengan berbagai sebutan. Maka Al-Qur’an merupakan kebenaran mutlak yang tidak ada kebatilan dan keraguan sama sekali di dalamnya. Firman Allah :بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ [ السجدة / 3](Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Tuhan-mu) Qs As-Sajdah : 3Firman Allah :كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ [ هود/1](Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi [Allah] Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu) Qs Fushshilat : 1Ayat-ayatnya serupa satu dengan yang lain dan saling membenarkan;كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ [ الزمر / 23 ]( Kitab Al Qur’an yang serupa [ayat-ayatnya] lagi berulang-ulang) Qs Az-Zumar : 23Lurus, tidak bengkok, tidak kontroversial dan tidak pula kontradiksi. Firman Allah :وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا [ النساء / 82 ]( Kalau sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya) Qs An-Nisa : 82Al-Qur’an merupakan perkataan yang paling baik dan paling unggul.Firman Allah :اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ [ الزمر/ 23]( Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik ) Qs Az-Zumar : 23            Imam Nawawi – rahimahullah- berkomentar : Ayat ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an merupakan perkataan terbaik dibanding perkataan-perkataan lainnya yang turun dari Allah-subhanahu wa ta’ala- maupun yang selain itu.Allah- subhanahu wa ta’ala- menyifatkan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang agung :وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ [ الحجر/ 87](Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung) Qs Al-Hijr : 87Allah menetapkan Al-Qur’an sebagai perkataan yang memiliki ketinggian jati diri dan kedudukannya. Firman Allah :وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ [ الزخرف/ 4](Dan sesungguhnya Al Qur’an itu dalam induk Al Kitab [Lauh Mahfuzh] di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi [kedudukannya] dan amat banyak kandungan hikmahnya) Qs Az-Zukhruf : 4Sangat jelas redaksi dan maknanya sebagai penjelas tentang segala sesuatu. Firman Allah:هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ [ آل عمران/ 138](Inilah [Al-Qur’an] penerang bagi seluruh umat manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa) Qs Ali Imran : 138Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- berkata : “Allah jelaskan kepada kita dalam Al-Qur’an segala ilmu yang mencakup semua aspeknya”.Al-Qur’an penuh kearifan, mengandung lautan hikmah, barangsiapa yang dikaruniai hikmah (kearifan) sungguh dirinya telah mendapat kebaikan yang banyak. Al-Qur’an mulia di sisi Allah, kemuliaan yang terkandung di dalamnya sangat tinggi nilainya. Maka dengan kemuliaan Al-Qur’an, seseorang menjadi terhormat dan mulia pula dalam pandangan Allah dan sesama makhluk. Firman Allah :إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 77](Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia) Qs Al-Waqiah :77Di dalamnya terdapat petunjuk jalan hidup [hidayah] bagi manusia dan jalan keselamatan, kejayaan dan kebahagiaan. Seseorang tidak bisa lepas dari hidayah Al-Qur’an. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman kepada seorang hambaNya sebagai manusia paling sempurna dan paling cerdas akal pikirannya :قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي [ سبأ / 50 ](Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku menyesatkan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku.) Qs Saba : 50Orang-orang yang beriman seharusnya manusia yang paling layak mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Sebab Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :هُدًى لِلْمُتَّقِينَ [ البقرة/2](Al Qur’an ini, petunjuk bagi mereka yang bertakwa) Qs Al-Baqarah : 2Di samping petunjuk jalan hidup [ hidayah], Al-Qur’an juga rahmat. Firman Allah :هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  [ الأعراف/52](Al Quran, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman) Qs. Al-A’raf : 52Terlindunglah dari kesesatan orang yang berpegang kepadanya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :( تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به. كتاب الله) رواه مسلم(Sungguh telah aku tinggalkan kepada kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat; Kitabullah) HR MuslimSungguh tinggi, agung dan di puncak kemuliaan. Firman Allah :ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ [ ق /1](Qaaf, Demi Al Quran yang sangat mulia) Qs Qaf : 1Sebaik-baik peringatan dan setinggi-tinggi zikir. Dengan Al-Qur’an akan tercapai keimanan dengan upaya peningkatannya.تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ [ الزمر/23]( Karena [Al-Qur’an] gemetarlah kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi hening kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah). Qs. Az-Zumar : 23Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- pernah membaca surah An-Nisa di hadapan Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-, ketika sampai pada ayat :فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا [ النساء / 41](Maka bagaimanakah [halnya orang kafir nanti] apabila Kami mendatangkan seseorang saksi [rasul] dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu [Muhammad] sebagai saksi atas mereka itu [sebagai umatmu] ) Qs An-Nisa : 41Berkatalah Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- kepadanya, “cukup-cukup”. Kata Ibnu Mas’ud : Maka aku menoleh kepada beliau, tiba-tiba air mata telah meleleh membasahi kedua mata beliau”. HR BukhariSegudang kebaikan dan kemanfaatan serta pintu-pintu keberkahan ada di dalamnya. Firman Allah  :وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ   [ الأنعام / 155](Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati) Qs Al-An’am : 15Siapapun membacanya, mengamalkannya dan menyebar luaskannya ke segenap penjuru pastilah jaya dan mendapatkan keamanan dan kemakmuran.Ibnu Katsir – rahimahullah- berkata : Semasa pemerintahan Usman Bin Affan – radhiyallahu ‘anhu- wilayah kekuasaan Islam terbentang luas menjangkau timur jauh dan barat, hal itu berkat pembacaan dan kajian Al-Qur’an yang dilakukannya serta upaya-upayanya memotivasi umat untuk menghafalnya.Al-Qur’an adalah cahaya kehidupan yang menyoroti segala urusan dunia dan akhirat; urusan bisnis dan keagamaan. Firman Allah :قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ [ المائدة/15](Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan). Qs Al-Maidah : 15Dengan Al-Qur’an, jiwa menjadi hidup kembali, karena Al-Qur’an memberikan kehidupan kepada siapa saja yang meresponnya. Firman Allah :اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [ الأنفال/24]( Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu) Qs Al-Anfal : 24Qatadah – rahimahullah- berkata : “Itulah hebatnya Al-Qur’an ini, di samping memberikan kehidupan, ia juga Allah jadikan sebagai obat penawar bagi segala penyakit fisik. “Seorang lelaki disengat kalajengking (scorpio), lalu dibacakan Al-Fatihah untuknya, maka sembuhlah dia” HR BukhariAl-Qur’an pelindung dari segala kejahatan. Firman Allah :وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا [ الإسراء /45](Dan ketika kamu membaca Al Quran, Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup) Qs Al-Isra : 45Membuat kelapangan dan ketegaran hati orang yang membacanya. Firman Allah :كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ [ الفرقان/32]( Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya) Qs Al-Furqan : 32Al-Qur’an merupakan petuah sekaligus obat penyembuh bagi penyakit hati, di samping penghias diri bagi pembacanya. Berkat Al-Qur’an pula dapat terajut persatuan umat. Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [ آل عمران /103](Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai). Qs Ali Imran : 103Dengan Al-Qur’an persengketaan dapat diputuskan. Al-Qur’an adalah jalan keselamatan, merupakan kata pemutus yang tegas, tidak ada senda gurau di dalamnya. Sebagai kitab yang kokoh hukumnya, Allah menantang generasi terdahulu dan yang datang kemudian, baik dari kalangan manusia maupun jin. Firman Allah :قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا [ الإسراء/88](Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain). Qs Al-Isra : 88Tidak ada seorangpun memiliki kemampuan menandingi Al-Qur’an. Tiada seorang cerdik cendekiawan yang mendengarnya kecuali mengakui bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah Tuhan semesta alam. Jin-pun mendengar Al-Qur’an, lalu berkata kepada sesamanya, dengarkanlah dengan seksama, lalu usai mendengar mereka kembali kepada kaumnya seraya berkata :إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا [ الجن/1]( Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang sangat mengagumkan) Qs Al-Jin:1Kaum Kristiani Arab ketika mendengar Al-Qur’an, spontanitas meneteskan air mata mereka. Al-Qur’an dibacakan di hadapan raja Negus (penguasa Ethiopia) sebelum masuk Islam, maka menangislah raja itu.Jubair Bin Muth’im –radhiyallahu anhu- sewaktu mendengar firman Allah :أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ ، أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ ، أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ [ الطور/ 35-37](Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri]Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini [apa yang mereka katakan]. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa) Qs At-Thur : 35-37Berkatalah ia, “hampir saja hatiku melayang”. Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kita melindungi orang yang memohon suaka hingga ia mendengar Al-Qur’an. Firman Allah :وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ [ التوبة/6](Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta suaka (perlindungan) kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah) Qs At-Taubah :6Al-Qur’an menampung ilmu pengetahuan (sains) yang begitu luas dan memuat pengetahuan kognitif yang demikian bermanfaat. Pengamalnya yang memahami maknanya adalah para penyandang ilmu. Firman Allah :بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ [ العنكبوت/ 49](Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu) Qs Al-Ankabut : 49Pemahaman terletak pada pengetahuan seseorang tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Pengajar dan pelajar Al-Qur’an adalah manusia terbaik. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( خيركم من تعلم القرآن وعلمه ) رواه مسلم(Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya) . HR Bukhari.Berkat ketinggian derajat Al-Qur’an, terangkat pula derajat ilmu. Di dalam Al-Qur’an terdapat sebaik-baik kisah, perumpamaan yang paling efektif, hikmah yang paling elok. Terdapat berita yang paling akurat dan argumen yang paling kuat. Retorika dan gaya bahasa yang paling indah. Hujah yang membungkam seluruh umat manusia. Terdapat pula kabar gembira sekaligus berita buruk untuk menjadi pelajaran bagi manusia di dunia. Tinggi maknanya, indah susunan bahasanya, moderat metodenya, universal ketentuan hukumnya, adil keputusannya, bijak perintahnya dan larangannya. Penuh karisma, memiliki kekuatan dan pengaruh yang menakjubkan, melumpuhkan lawan hanya dengan beberapa susunan kata semata, menjadi petunjuk yang jelas dengan indikasi-indikasi dalil yang memudahkan, ayat yang cemerlang dan mukjizat yang jelas, tali Allah yang sangat kuat dan jalanNya yang lurus. Siapapun yang mengamalkannya meraih pahala, yang mengadili dengan ketentuan hukumnya akan mencerminkan rasa keadilan, yang berpegang teguh dengannya terlindungi, yang mengikuti ajarannya mendapatkan rahmat kasih sayang.Firman Allah :فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [ الأنعام/155]( maka ikutilah dia [ Al-Qur’an] dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat) Qs Al-An’am : 155Allah –subhanahu wa ta’ala- menganugerahkan Al-Qur’an dan menyempurnakan nikmatNya ini. Firman Allah :أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [ العنكبوت/ 51](Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab [Al Quran] sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam [Al Quran] itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman) Qs Al-Ankabut : 51Al-Qur’an merupakan penghormatan bagi Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- dan umatnya. Firman Allah :وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ [ الزخرف/44](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu). Qs Az-Zukhruf : 44Sekiranya Allah menurunkan Al-Qur’an kepada gunung, pastilah gunung itu tak berdaya dan terpecah-pecah karena ketundukkan dan ketaatannya kepada Allah. Firman Allah :لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ  [ الحشر / 21 ](Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah). Qs Al-Hasyar : 21            وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى  [ الرعد/31](Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, [tentulah Al Quran itulah dia] ). Qs Ar-Ra’d : 21Jelaslah tidak ada suatu perkataan atau bacaan yang dapat mengungguli Al-Qur’an.            Berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan mengamalkan isinya merupakan pesan Nabi–shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya. Abdullah Bin Abi Aufa –radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya tentang pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-, maka dia menjawab : “Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- berpesan agar berpegang kepada Kitab Allah [Al-Qur’an]”. HR Bukhari.Ibnu Hajar – rahimahullah- berkata : “Yang dimaksud dengan pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah adalah menjaganya secara fisik dan kandungan isinya, yaitu dengan memuliakannya dan merawatnya serta mengamalkan isinya, senantiasa membacanya, mengkajinya dan mengajarkannya”.            Siapapun yang berinteraksi dengan Al-Qur’an pasti jaya dan mulia. Para pengemban Al-Qur’an disebut “Ahlullah”       (keluarga Allah) dan orang-orang dekatNya. Penghafal Al-Qur’an terhormat dalam hidupnya dan di alam kuburnya. Faktanya, ketika hidup di dunia, yang berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling indah bacaan Al-Qur’an-nya. HR Muslim. Setelah meninggal dunia, terbukti Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengumpulkan dua lelaki di antara kaum muslimin yang gugur dalam pertempuran uhud, lalu beliau bertanya : “Manakah di antara mereka yang lebih banyak peduli kepada Al-Qur’an ? maka beliau mendahulukannya masuk ke liang lahad”. HR Bukhari.(Para pembaca Al-Qur’an adalah mereka yang turut hadir dalam majelis diskusi Umar).HR Bukhari.Amal kebajikan yang paling agung untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah memperbanyak baca Al-Qur’an, menyimak bacaannya dengan merenungkan dan berusaha memahami maknanya. Allah – subhanahu wa ta’ala- menyanjung orang yang membaca Al-Qur’an dan memuji orang-orang yang mengamalkannya serta menjanjikan akan memenuhi janjiNya dan meningkatkan balasan kebaikan bagi mereka. Firman Allah :إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ ، لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ . [ فاطر/29](Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.) . Qs Fathir : 29-30Inilah bisnis yang menguntungkan. Maka “Barangsiapa membaca satu huruf dalam Kitabullah, baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak katakan Alif Laam Miim hanya satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf”. HR Turmuzi.            ” الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ” رواه الترمذي(Orang yang lancar membaca Al Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti).HR TurmuziMajlis-majlis Al-Qur’an adalah tempat-tempat turunnya ketenteraman hati karena di sana rahmat kasih sayang menyelimuti para pengajar dan pelajar Al-Qur’an. Dalam konteks ini Nabi  – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة ، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده  ) رواه أبو داود(Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah-rumah Allah sambil membaca Kitabullah, dan saling mempelajarinya, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dan mereka tersirami rahmat serta diliputi naungan malaikat. Dan mereka disebut-sebut oleh Allah di kalangan orang-orang yang di sisiNya).HR Abu DaudDengan menyimak bacaan Al-Qur’an, kucuran rahmat didapat. Firman Allah :وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [  الأعراف/204](Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat). Qs Al-A’raf : 204Al-Qur’an merupakan dzikir yang paling besar dan paling lengkap manfaatnya. Persaingan dalam Al-Qur’an sangatlah terpuji.( لاحسد الا في اثنين : رجل آتاه القران فهو يقوم آناء الليل وآناءالنهار , ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار ) متفق عليه(Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua hal; yaitu orang yang telah Allah beri Al-Qur’an (menerima kebenaran dalam Al-Qur’an) dan ia membacanya di waktu malam dan di siang hari. Kedua, orang yang Allah memberinya harta kekayaan lalu ia menginfakkannya di waktu malam dan di siang hari). Muttafaq alaihMemenangkan perolehan kebenaran Al-Qur’an lebih baik dari pada harta kekayaan dunia yang fana ini. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ  . فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ : أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ .) رواه مسلم (Siapakah di antara kalian yang suka berangkat pagi setiap hari ke Bathhan atau ‘Aqiq dan pulangnya membawa dua onta yang besar punuknya tanpa melakukan dosa dan memutuskan tali silaturrahim?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.” Beliau bersabda: “Tidak adakah salah seorang di antara kamu yang pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat Alquran? Yang sesungguhnya hal itu lebih baik dari pada memperoleh dua ekor onta, tiga ayat lebih baik dari pada tiga ekor onta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor onta dan [jika lebih] tentu sesuai jumlah itu pula beberapa ekor onta-nya). HR. MuslimAl-Qur’an akan menjadi hujah pembela bagi pengembannya pada hari kiamat kelak, dan pemberi syafaat yang diterima syafaatnya di sisi Tuhan semesta alam. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لصَاحِبِه ) رواه أحمد( Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.) HR AhmadPara pengemban Al-Qur’an yang mengamalkan kandungannya menempati derajat tertinggi di surga na’im.(يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا ) رواه أبو داود(Dikatakan kepada orang yang membaca dan menghafalkan Al Qur’an : ‘Bacalah dan tingkatkanlah serta tartilkan-lah sebagaimana engkau di dunia mentartilkannya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca ) HR. Abu DaudKaum muslimin !            Al-Qur’an akan menjadi hujah pembelaan antara Allah dan makhlukNya, suatu kemuliaan dan kebanggaan bagi kaum muslimin, kemajuan dan kebesaran generasi, pengaman dan keberkahan bagi masyarakat. Di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keluhuran serta keridhaan Allah Tuhan semesta alam. Maka sepantasnyalah seorang muslim mengharumkan mulutnya, hatinya, tempat tinggalnya, tempat sujudnya, waktunya melalui bacaan Al-Qur’an serta perenungannya dan penghayatannya. Demikian pula dengan mengekspresikan rasa senang, pengagungan dan kepasrahan terhadap kandungannya. Tidak menelantarkannya dan tidak pula menentangnya.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutukمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ  [ فاطر/10]( Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur). Qs Fathir : 10 Semoga Allah memberkahi kita semua berkat pengamalan kitab suci Al-Qur’an yang agung !============ Khotbah keduaSegala puji bagi Allah atas anugerahnya, puji syukur kepadaNya atas bimbingan taufiqNya dan karuniaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dengan mengagungkanNya. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya – shallallahu alaihi wa sallam- Semoga shalawat dan salam tercurahkan sebanyak-banyaknya kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin !Barangsiapa yang mengikuti Al-Qur’an pasti menggapai petunjuknya, dan barangsiapa yang berpaling darinya akan tetap dalam keterpurukan dan kehinaan. Allah berfirman :فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى ،  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى [ طه / 123-124](Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta). Qs Thaha : 123-124Tidak ada jalan lain untuk mendapatkan hidayah kecuali melalui petunjuk Al-Qur’an. Siapapun orangnya yang terhalang hatinya untuk memperoleh petunjuk Al-Qur’an, tidaklah berguna baginya petunjuk manapun di luar Al-Qur’an. Allah berfirman :فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ  [  الجاثية / 6 ]( maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah firman Allah (Al-Qur’an) dan keterangan-keterangan-Nya? ) Qs Al-Jatsiyah : 6Jika Al-Qur’an meninggikan derajat seseorang yang mengembannya, maka iapun merendahkan harga diri orang yang memusuhinya. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-( إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ ) . رواه مسلم .(Sesungguhnya Allah memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al Qur`an) dan menghinakan kaum yang lain). HR MuslimFirman Allah – subhanahu wa ta’ala – sungguh mulia. Barangsiapa yang mengingkarinya meskipun hanya satu huruf atau melecehkannya, kafirlah ia. Allah berfirman :( قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ،  لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ) [ التوبة / 65 ]( Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu mengejek?. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.). Qs At-Taubah : 65-66Tidak ada seorangpun yang berani menghinakan kitab Allah atau merendahkan para pengemban kitab Allah melainkan Allah pasti menghinakannya dan merendahkannya.Maka sudah sepantasnyalah seorang muslim melakukan pembelaan terhadap kitabullah dengan perasaan bangga agar dapat meraih ketinggian derajat di surga.Selanjutnya, ketahuilah bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kalian untuk bershalawat dan menyampaikan salam sejahtera kepada nabi-Nya . . .======  Selesai  ======Penerjemah: Usman Hatim


Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 14 Rabiul Awal 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul-Muhsin Bin Qasim Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – wahai hamba-hamba Allah – dengan sesungguhnya. Takwa adalah mengikuti petunjuk, sedangkan kebutaan adalah karena mengikuti hawa nafsu.Kaum muslimin!            Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha sempurna zatNya, nama-namaNya dan sifat-sifatNya. Tiada yang setara dan sebanding denganNya. Sifat-sifatNya demikian sempurna dan indah yang di antara sifatNya adalah berfirman. Allah berfirman kapanpun Dia berkehendak manakala Dia menghendaki dengan apapun yang Dia kehendaki, kalimat-kalimatNya tidak terhingga. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدً [ الكهف/109](Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk [menulis] kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis [ditulis] kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu [pula]” ) Qs Al-Kahfi : 109Firman-Nya adalah sebaik-baik perkataan. Keunggulan firmanNya atas ucapan makhluk bagaikan keunggulan Allah Sang Pencipta atas makhluk ciptaanNya.  Setiap nabi terangkat keutamaannya manakala Allah berbicara dengannya secara langsung tanpa perantara.  Allah berfirman  :تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ [ البقرة / 253 ](Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata [langsung] dengannya). Qs Al-Baqarah : 253Karena kebijaksanaan dan kasih sayang Allah kepada manusia, diutuslah olehNya para rasul dari kalangan mereka dan diturunkan kepada mereka kitab-kitabNya. Maka Allah – subhanahu wa ta’ala – turunkan kitab Taurat, Injil, Zabur dan lembaran-lembaran Nabi Ibrahim dan Nabi Musa –alaihimassalam- yang kemudian ditutupNya kitab-kitab itu dengan menurunkan Al-Qur’an yang agung sebagai kitab yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya, untuk membenarkan kitab-kitab yang telah ada sebelumnya serta sebagai pengontrol terhadap kitab-kitab itu dan penghapus serta pengemban amanat dari pada isi kitab-kitab tersebut. Seluruh nabi telah menubuatkan Al-Qur’an sebelum diturunkannya. Allah berfirman :وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ [ الشعراء/ 196](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar disebut dalam kitab-kitab orang yang dahulu) Qs As-Syu’ara : 196Ibnu Katsir  -rahimahullah- berkata : “Penyebutan dan penyaksian tentang Al-Qur’an telah ada pada kitab-kitab umat terdahulu yang dinukil dari para nabi mereka. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail –alaihimas salam- memohon dalam doa agar Allah – subhanahu wa ta’ala – mengutus seorang nabi untuk membacakan dan mengajarkan Al-Qur’an.رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [ البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab [Al Quran] dan Al-Hikmah [As-Sunnah] serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana) Qs Al-Baqarah : 129Al-Qur’an adalah firman Allah, Tuhan semesta alam, Dia berbicara dengan firman itu secara hakiki dengan huruf dan suara, dari Allah-lah firman itu berawal dan kepadaNya pula kembali. Firman itu didengar oleh Malaikat Jibril Al-amin dari Allah dan diturunkannya kepada Nabi Muhammad –shallahu alaihi wa sallam-, lalu beliau sampaikan, maka dengan Al-Qur’an beliau memungkasi misi seluruh para rasul dan beliau-pun berjasa besar terhadap umatnya yang tergolong ummiyin (buta aksara saat turunnya). Allah berfirman :لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ [ آل عمران / 164](Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan [jiwa] mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum [kedatangan Nabi] itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata) Qs Ali Imran : 164Al-Qur’an turun untuk sebaik-baik umat, dengan bahasa paling unggul dan paling lengkap, turun pada malam paling mulia di tanah yang paling suci.  Maka dengan Al-Qur’an kita terbebas dari kegelapan menuju ke cahaya terang, dan dari ketidak-tahuan mengarah ke dunia ilmu pengetahuan. Firman Allah :كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ [ إبراهيم/1](Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, [yaitu] menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji) Qs Ibrahim : 1Tidak sah keimanan seseorang kecuali jika dirinya mengimani Al-Qur’an secara totalitas dan detail. Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ [ النساء /136](Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya). Qs An-Nisa : 136Allah memuji DzatNya sendiri atas penurunan Al-Qur’an. Firman Allah :الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا [ الكهف/1](Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya) Qs Al-Kahfi :1Allah-pun bersumpah dengan Al-Qur’an sebagaimana firmanNya ;يس ، وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ [ يس/1-2](Yaa siin, Demi Al Quran yang penuh hikmah) Qs Yasin : 1-2Allah-pun bersumpah atas keagungan Al-Qur’an :فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ، وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ، إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 75- 76 – 77](Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia). Qs Al-Qaqi’ah : 75- 76-77Allah –subhanahu wa ta’ala- memudahkan Al-Qur’an untuk hamba-hambaNya sehingga tidak sulit dan tidak menyusahkan, bisa dihafal oleh orang Arab dan non Arab, pria dan wanita, anak kecil dan orang dewasa, si kaya dan si miskin, bahkan orang yang tuna netra, yang lanjut usia dan yang jompo pun mudah menghafalnya. Firman Allah :وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ [ القمر / 17 ](Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran). Qs Al-Qamar :17Sungguh besar derajat Al-Qur’an, oleh karenanya Allah menempatkannya paling depan di antara sederetan nikmatNya. Firman Allah :الرَّحْمَنُ ، عَلَّمَ الْقُرْآنَ [ الرحمن / 1-2 ](Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran) Qs Ar-Rahman : 1-2فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ ، مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ ، بِأَيْدِي سَفَرَةٍ ،  كِرَامٍ بَرَرَةٍ  [ عبس / 13 – 16 ]( Al-Qur’an, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti) Qs Abasa : 13-16Allah –subhanahu wa ta’ala- telah menjaganya sebelum (pra) menurunkannya. Firman Allah :بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ  [ البروج /  21 ](Bahkan yang didustakan mereka itu adalah Al Qur’an yang mulia) Qs Al-Buruj : 21Allah–subhanahu wa ta’ala- melindunginya dari setan-setan saat penurunannya. Firman Allah :وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ ، وَمَا يَنْبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ [ الشعراء / 210-211 ](Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan kuasa ) Qs As-Syu’ara : 210-211Al-Qur’an tetap terjaga pasca penurunannya.  Firman Allah :إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [ الحجر/9](Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya). Qs Al-Hijr : 9Al-Qur’an aman dari penambahan dan pengurangan, aman dari pengubahan dan penggantian. Allah menjadikannya petunjuk dan pengingat bagi umat semesta alam, bersifat universal untuk seluruh umat manusia sama dengan keuniversalan misi kerasulan  Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- bukan spesialis untuk suatu umat tanpa menjangkau umat yang lain. Firman Allah :إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ [ التكوير/ 27](Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam) Qs At-Takwir : 27Al-Qur’an menjadi pelajaran bagi orang yang punya rasa takut, juga menjadi argumen pembungkam terhadap orang yang menyimpang. Allah –subhanahu wa ta’ala- men-deskripsikannya dengan beragam sifat dan menggelarinya dengan berbagai sebutan. Maka Al-Qur’an merupakan kebenaran mutlak yang tidak ada kebatilan dan keraguan sama sekali di dalamnya. Firman Allah :بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ [ السجدة / 3](Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Tuhan-mu) Qs As-Sajdah : 3Firman Allah :كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ [ هود/1](Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi [Allah] Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu) Qs Fushshilat : 1Ayat-ayatnya serupa satu dengan yang lain dan saling membenarkan;كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ [ الزمر / 23 ]( Kitab Al Qur’an yang serupa [ayat-ayatnya] lagi berulang-ulang) Qs Az-Zumar : 23Lurus, tidak bengkok, tidak kontroversial dan tidak pula kontradiksi. Firman Allah :وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا [ النساء / 82 ]( Kalau sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya) Qs An-Nisa : 82Al-Qur’an merupakan perkataan yang paling baik dan paling unggul.Firman Allah :اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ [ الزمر/ 23]( Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik ) Qs Az-Zumar : 23            Imam Nawawi – rahimahullah- berkomentar : Ayat ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an merupakan perkataan terbaik dibanding perkataan-perkataan lainnya yang turun dari Allah-subhanahu wa ta’ala- maupun yang selain itu.Allah- subhanahu wa ta’ala- menyifatkan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang agung :وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ [ الحجر/ 87](Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung) Qs Al-Hijr : 87Allah menetapkan Al-Qur’an sebagai perkataan yang memiliki ketinggian jati diri dan kedudukannya. Firman Allah :وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ [ الزخرف/ 4](Dan sesungguhnya Al Qur’an itu dalam induk Al Kitab [Lauh Mahfuzh] di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi [kedudukannya] dan amat banyak kandungan hikmahnya) Qs Az-Zukhruf : 4Sangat jelas redaksi dan maknanya sebagai penjelas tentang segala sesuatu. Firman Allah:هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ [ آل عمران/ 138](Inilah [Al-Qur’an] penerang bagi seluruh umat manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa) Qs Ali Imran : 138Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- berkata : “Allah jelaskan kepada kita dalam Al-Qur’an segala ilmu yang mencakup semua aspeknya”.Al-Qur’an penuh kearifan, mengandung lautan hikmah, barangsiapa yang dikaruniai hikmah (kearifan) sungguh dirinya telah mendapat kebaikan yang banyak. Al-Qur’an mulia di sisi Allah, kemuliaan yang terkandung di dalamnya sangat tinggi nilainya. Maka dengan kemuliaan Al-Qur’an, seseorang menjadi terhormat dan mulia pula dalam pandangan Allah dan sesama makhluk. Firman Allah :إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 77](Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia) Qs Al-Waqiah :77Di dalamnya terdapat petunjuk jalan hidup [hidayah] bagi manusia dan jalan keselamatan, kejayaan dan kebahagiaan. Seseorang tidak bisa lepas dari hidayah Al-Qur’an. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman kepada seorang hambaNya sebagai manusia paling sempurna dan paling cerdas akal pikirannya :قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي [ سبأ / 50 ](Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku menyesatkan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku.) Qs Saba : 50Orang-orang yang beriman seharusnya manusia yang paling layak mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Sebab Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :هُدًى لِلْمُتَّقِينَ [ البقرة/2](Al Qur’an ini, petunjuk bagi mereka yang bertakwa) Qs Al-Baqarah : 2Di samping petunjuk jalan hidup [ hidayah], Al-Qur’an juga rahmat. Firman Allah :هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  [ الأعراف/52](Al Quran, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman) Qs. Al-A’raf : 52Terlindunglah dari kesesatan orang yang berpegang kepadanya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :( تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به. كتاب الله) رواه مسلم(Sungguh telah aku tinggalkan kepada kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat; Kitabullah) HR MuslimSungguh tinggi, agung dan di puncak kemuliaan. Firman Allah :ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ [ ق /1](Qaaf, Demi Al Quran yang sangat mulia) Qs Qaf : 1Sebaik-baik peringatan dan setinggi-tinggi zikir. Dengan Al-Qur’an akan tercapai keimanan dengan upaya peningkatannya.تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ [ الزمر/23]( Karena [Al-Qur’an] gemetarlah kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi hening kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah). Qs. Az-Zumar : 23Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- pernah membaca surah An-Nisa di hadapan Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-, ketika sampai pada ayat :فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا [ النساء / 41](Maka bagaimanakah [halnya orang kafir nanti] apabila Kami mendatangkan seseorang saksi [rasul] dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu [Muhammad] sebagai saksi atas mereka itu [sebagai umatmu] ) Qs An-Nisa : 41Berkatalah Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- kepadanya, “cukup-cukup”. Kata Ibnu Mas’ud : Maka aku menoleh kepada beliau, tiba-tiba air mata telah meleleh membasahi kedua mata beliau”. HR BukhariSegudang kebaikan dan kemanfaatan serta pintu-pintu keberkahan ada di dalamnya. Firman Allah  :وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ   [ الأنعام / 155](Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati) Qs Al-An’am : 15Siapapun membacanya, mengamalkannya dan menyebar luaskannya ke segenap penjuru pastilah jaya dan mendapatkan keamanan dan kemakmuran.Ibnu Katsir – rahimahullah- berkata : Semasa pemerintahan Usman Bin Affan – radhiyallahu ‘anhu- wilayah kekuasaan Islam terbentang luas menjangkau timur jauh dan barat, hal itu berkat pembacaan dan kajian Al-Qur’an yang dilakukannya serta upaya-upayanya memotivasi umat untuk menghafalnya.Al-Qur’an adalah cahaya kehidupan yang menyoroti segala urusan dunia dan akhirat; urusan bisnis dan keagamaan. Firman Allah :قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ [ المائدة/15](Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan). Qs Al-Maidah : 15Dengan Al-Qur’an, jiwa menjadi hidup kembali, karena Al-Qur’an memberikan kehidupan kepada siapa saja yang meresponnya. Firman Allah :اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [ الأنفال/24]( Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu) Qs Al-Anfal : 24Qatadah – rahimahullah- berkata : “Itulah hebatnya Al-Qur’an ini, di samping memberikan kehidupan, ia juga Allah jadikan sebagai obat penawar bagi segala penyakit fisik. “Seorang lelaki disengat kalajengking (scorpio), lalu dibacakan Al-Fatihah untuknya, maka sembuhlah dia” HR BukhariAl-Qur’an pelindung dari segala kejahatan. Firman Allah :وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا [ الإسراء /45](Dan ketika kamu membaca Al Quran, Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup) Qs Al-Isra : 45Membuat kelapangan dan ketegaran hati orang yang membacanya. Firman Allah :كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ [ الفرقان/32]( Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya) Qs Al-Furqan : 32Al-Qur’an merupakan petuah sekaligus obat penyembuh bagi penyakit hati, di samping penghias diri bagi pembacanya. Berkat Al-Qur’an pula dapat terajut persatuan umat. Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [ آل عمران /103](Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai). Qs Ali Imran : 103Dengan Al-Qur’an persengketaan dapat diputuskan. Al-Qur’an adalah jalan keselamatan, merupakan kata pemutus yang tegas, tidak ada senda gurau di dalamnya. Sebagai kitab yang kokoh hukumnya, Allah menantang generasi terdahulu dan yang datang kemudian, baik dari kalangan manusia maupun jin. Firman Allah :قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا [ الإسراء/88](Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain). Qs Al-Isra : 88Tidak ada seorangpun memiliki kemampuan menandingi Al-Qur’an. Tiada seorang cerdik cendekiawan yang mendengarnya kecuali mengakui bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah Tuhan semesta alam. Jin-pun mendengar Al-Qur’an, lalu berkata kepada sesamanya, dengarkanlah dengan seksama, lalu usai mendengar mereka kembali kepada kaumnya seraya berkata :إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا [ الجن/1]( Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang sangat mengagumkan) Qs Al-Jin:1Kaum Kristiani Arab ketika mendengar Al-Qur’an, spontanitas meneteskan air mata mereka. Al-Qur’an dibacakan di hadapan raja Negus (penguasa Ethiopia) sebelum masuk Islam, maka menangislah raja itu.Jubair Bin Muth’im –radhiyallahu anhu- sewaktu mendengar firman Allah :أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ ، أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ ، أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ [ الطور/ 35-37](Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri]Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini [apa yang mereka katakan]. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa) Qs At-Thur : 35-37Berkatalah ia, “hampir saja hatiku melayang”. Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kita melindungi orang yang memohon suaka hingga ia mendengar Al-Qur’an. Firman Allah :وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ [ التوبة/6](Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta suaka (perlindungan) kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah) Qs At-Taubah :6Al-Qur’an menampung ilmu pengetahuan (sains) yang begitu luas dan memuat pengetahuan kognitif yang demikian bermanfaat. Pengamalnya yang memahami maknanya adalah para penyandang ilmu. Firman Allah :بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ [ العنكبوت/ 49](Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu) Qs Al-Ankabut : 49Pemahaman terletak pada pengetahuan seseorang tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Pengajar dan pelajar Al-Qur’an adalah manusia terbaik. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( خيركم من تعلم القرآن وعلمه ) رواه مسلم(Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya) . HR Bukhari.Berkat ketinggian derajat Al-Qur’an, terangkat pula derajat ilmu. Di dalam Al-Qur’an terdapat sebaik-baik kisah, perumpamaan yang paling efektif, hikmah yang paling elok. Terdapat berita yang paling akurat dan argumen yang paling kuat. Retorika dan gaya bahasa yang paling indah. Hujah yang membungkam seluruh umat manusia. Terdapat pula kabar gembira sekaligus berita buruk untuk menjadi pelajaran bagi manusia di dunia. Tinggi maknanya, indah susunan bahasanya, moderat metodenya, universal ketentuan hukumnya, adil keputusannya, bijak perintahnya dan larangannya. Penuh karisma, memiliki kekuatan dan pengaruh yang menakjubkan, melumpuhkan lawan hanya dengan beberapa susunan kata semata, menjadi petunjuk yang jelas dengan indikasi-indikasi dalil yang memudahkan, ayat yang cemerlang dan mukjizat yang jelas, tali Allah yang sangat kuat dan jalanNya yang lurus. Siapapun yang mengamalkannya meraih pahala, yang mengadili dengan ketentuan hukumnya akan mencerminkan rasa keadilan, yang berpegang teguh dengannya terlindungi, yang mengikuti ajarannya mendapatkan rahmat kasih sayang.Firman Allah :فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [ الأنعام/155]( maka ikutilah dia [ Al-Qur’an] dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat) Qs Al-An’am : 155Allah –subhanahu wa ta’ala- menganugerahkan Al-Qur’an dan menyempurnakan nikmatNya ini. Firman Allah :أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [ العنكبوت/ 51](Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab [Al Quran] sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam [Al Quran] itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman) Qs Al-Ankabut : 51Al-Qur’an merupakan penghormatan bagi Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- dan umatnya. Firman Allah :وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ [ الزخرف/44](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu). Qs Az-Zukhruf : 44Sekiranya Allah menurunkan Al-Qur’an kepada gunung, pastilah gunung itu tak berdaya dan terpecah-pecah karena ketundukkan dan ketaatannya kepada Allah. Firman Allah :لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ  [ الحشر / 21 ](Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah). Qs Al-Hasyar : 21            وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى  [ الرعد/31](Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, [tentulah Al Quran itulah dia] ). Qs Ar-Ra’d : 21Jelaslah tidak ada suatu perkataan atau bacaan yang dapat mengungguli Al-Qur’an.            Berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan mengamalkan isinya merupakan pesan Nabi–shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya. Abdullah Bin Abi Aufa –radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya tentang pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-, maka dia menjawab : “Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- berpesan agar berpegang kepada Kitab Allah [Al-Qur’an]”. HR Bukhari.Ibnu Hajar – rahimahullah- berkata : “Yang dimaksud dengan pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah adalah menjaganya secara fisik dan kandungan isinya, yaitu dengan memuliakannya dan merawatnya serta mengamalkan isinya, senantiasa membacanya, mengkajinya dan mengajarkannya”.            Siapapun yang berinteraksi dengan Al-Qur’an pasti jaya dan mulia. Para pengemban Al-Qur’an disebut “Ahlullah”       (keluarga Allah) dan orang-orang dekatNya. Penghafal Al-Qur’an terhormat dalam hidupnya dan di alam kuburnya. Faktanya, ketika hidup di dunia, yang berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling indah bacaan Al-Qur’an-nya. HR Muslim. Setelah meninggal dunia, terbukti Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengumpulkan dua lelaki di antara kaum muslimin yang gugur dalam pertempuran uhud, lalu beliau bertanya : “Manakah di antara mereka yang lebih banyak peduli kepada Al-Qur’an ? maka beliau mendahulukannya masuk ke liang lahad”. HR Bukhari.(Para pembaca Al-Qur’an adalah mereka yang turut hadir dalam majelis diskusi Umar).HR Bukhari.Amal kebajikan yang paling agung untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah memperbanyak baca Al-Qur’an, menyimak bacaannya dengan merenungkan dan berusaha memahami maknanya. Allah – subhanahu wa ta’ala- menyanjung orang yang membaca Al-Qur’an dan memuji orang-orang yang mengamalkannya serta menjanjikan akan memenuhi janjiNya dan meningkatkan balasan kebaikan bagi mereka. Firman Allah :إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ ، لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ . [ فاطر/29](Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.) . Qs Fathir : 29-30Inilah bisnis yang menguntungkan. Maka “Barangsiapa membaca satu huruf dalam Kitabullah, baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak katakan Alif Laam Miim hanya satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf”. HR Turmuzi.            ” الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ” رواه الترمذي(Orang yang lancar membaca Al Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti).HR TurmuziMajlis-majlis Al-Qur’an adalah tempat-tempat turunnya ketenteraman hati karena di sana rahmat kasih sayang menyelimuti para pengajar dan pelajar Al-Qur’an. Dalam konteks ini Nabi  – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة ، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده  ) رواه أبو داود(Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah-rumah Allah sambil membaca Kitabullah, dan saling mempelajarinya, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dan mereka tersirami rahmat serta diliputi naungan malaikat. Dan mereka disebut-sebut oleh Allah di kalangan orang-orang yang di sisiNya).HR Abu DaudDengan menyimak bacaan Al-Qur’an, kucuran rahmat didapat. Firman Allah :وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [  الأعراف/204](Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat). Qs Al-A’raf : 204Al-Qur’an merupakan dzikir yang paling besar dan paling lengkap manfaatnya. Persaingan dalam Al-Qur’an sangatlah terpuji.( لاحسد الا في اثنين : رجل آتاه القران فهو يقوم آناء الليل وآناءالنهار , ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار ) متفق عليه(Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua hal; yaitu orang yang telah Allah beri Al-Qur’an (menerima kebenaran dalam Al-Qur’an) dan ia membacanya di waktu malam dan di siang hari. Kedua, orang yang Allah memberinya harta kekayaan lalu ia menginfakkannya di waktu malam dan di siang hari). Muttafaq alaihMemenangkan perolehan kebenaran Al-Qur’an lebih baik dari pada harta kekayaan dunia yang fana ini. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ  . فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ : أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ .) رواه مسلم (Siapakah di antara kalian yang suka berangkat pagi setiap hari ke Bathhan atau ‘Aqiq dan pulangnya membawa dua onta yang besar punuknya tanpa melakukan dosa dan memutuskan tali silaturrahim?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.” Beliau bersabda: “Tidak adakah salah seorang di antara kamu yang pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat Alquran? Yang sesungguhnya hal itu lebih baik dari pada memperoleh dua ekor onta, tiga ayat lebih baik dari pada tiga ekor onta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor onta dan [jika lebih] tentu sesuai jumlah itu pula beberapa ekor onta-nya). HR. MuslimAl-Qur’an akan menjadi hujah pembela bagi pengembannya pada hari kiamat kelak, dan pemberi syafaat yang diterima syafaatnya di sisi Tuhan semesta alam. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لصَاحِبِه ) رواه أحمد( Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.) HR AhmadPara pengemban Al-Qur’an yang mengamalkan kandungannya menempati derajat tertinggi di surga na’im.(يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا ) رواه أبو داود(Dikatakan kepada orang yang membaca dan menghafalkan Al Qur’an : ‘Bacalah dan tingkatkanlah serta tartilkan-lah sebagaimana engkau di dunia mentartilkannya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca ) HR. Abu DaudKaum muslimin !            Al-Qur’an akan menjadi hujah pembelaan antara Allah dan makhlukNya, suatu kemuliaan dan kebanggaan bagi kaum muslimin, kemajuan dan kebesaran generasi, pengaman dan keberkahan bagi masyarakat. Di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keluhuran serta keridhaan Allah Tuhan semesta alam. Maka sepantasnyalah seorang muslim mengharumkan mulutnya, hatinya, tempat tinggalnya, tempat sujudnya, waktunya melalui bacaan Al-Qur’an serta perenungannya dan penghayatannya. Demikian pula dengan mengekspresikan rasa senang, pengagungan dan kepasrahan terhadap kandungannya. Tidak menelantarkannya dan tidak pula menentangnya.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutukمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ  [ فاطر/10]( Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur). Qs Fathir : 10 Semoga Allah memberkahi kita semua berkat pengamalan kitab suci Al-Qur’an yang agung !============ Khotbah keduaSegala puji bagi Allah atas anugerahnya, puji syukur kepadaNya atas bimbingan taufiqNya dan karuniaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dengan mengagungkanNya. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya – shallallahu alaihi wa sallam- Semoga shalawat dan salam tercurahkan sebanyak-banyaknya kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin !Barangsiapa yang mengikuti Al-Qur’an pasti menggapai petunjuknya, dan barangsiapa yang berpaling darinya akan tetap dalam keterpurukan dan kehinaan. Allah berfirman :فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى ،  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى [ طه / 123-124](Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta). Qs Thaha : 123-124Tidak ada jalan lain untuk mendapatkan hidayah kecuali melalui petunjuk Al-Qur’an. Siapapun orangnya yang terhalang hatinya untuk memperoleh petunjuk Al-Qur’an, tidaklah berguna baginya petunjuk manapun di luar Al-Qur’an. Allah berfirman :فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ  [  الجاثية / 6 ]( maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah firman Allah (Al-Qur’an) dan keterangan-keterangan-Nya? ) Qs Al-Jatsiyah : 6Jika Al-Qur’an meninggikan derajat seseorang yang mengembannya, maka iapun merendahkan harga diri orang yang memusuhinya. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-( إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ ) . رواه مسلم .(Sesungguhnya Allah memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al Qur`an) dan menghinakan kaum yang lain). HR MuslimFirman Allah – subhanahu wa ta’ala – sungguh mulia. Barangsiapa yang mengingkarinya meskipun hanya satu huruf atau melecehkannya, kafirlah ia. Allah berfirman :( قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ،  لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ) [ التوبة / 65 ]( Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu mengejek?. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.). Qs At-Taubah : 65-66Tidak ada seorangpun yang berani menghinakan kitab Allah atau merendahkan para pengemban kitab Allah melainkan Allah pasti menghinakannya dan merendahkannya.Maka sudah sepantasnyalah seorang muslim melakukan pembelaan terhadap kitabullah dengan perasaan bangga agar dapat meraih ketinggian derajat di surga.Selanjutnya, ketahuilah bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kalian untuk bershalawat dan menyampaikan salam sejahtera kepada nabi-Nya . . .======  Selesai  ======Penerjemah: Usman Hatim

Dosa Karena Meninggalkan Amalan Sunnah

Apakah meninggalkan suatu amalan yang dihukumi sunnah (tidak wajib) mendapatkan dosa, termasuk dalam celaan bahkan dihukumi berbuat bid’ah? Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya: Dalam ringkasan Kitab Al-I’tisham karya Imam Asy-Syatibi, meninggalkan suatu perkara sunnah ataukah wajib apakah dapat digolongkan berbuat bid’ah? Meninggalkan perkara yang diperintahkan itu ada dua macam. Ada meninggalkannya bukan dianggap sebagai bentuk ibadah. Perkara tersebut ditinggalkan karena malas-malasan atau menganggap remeh atau alasan pribadi lainnya. Bentuk pertama ini berarti melakukan suatu pelanggaran. Jika yang ditinggalkan adalah perkara wajib, maka dihukumi maksiat. Adapun pertanyaannya. Jika meninggalkan perkara sunnah (yang bukan wajib) dihukumi bukan maksiat, jika memang yang ditinggalkan sebagian amalan saja. Bagaimana jika yang ditinggalkan adalah seluruh perkara sunnah? Jawab Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah, seperti itu bukanlah maksiat, tergantung kondisinya. Jika disebut meninggalkan seluruh perkara sunnah itu maksiat, maka perlu ditinjau lagi. Namun sepertinya pemahaman itu diambil dari perkataan Imam Ahmad rahimahullah, “Siapa yang meninggalkan shalat witir, maka ia adalah rajulun suu’ (laki-laki yang jelek), janganlah terima persaksiaannya.” Padahal diketahui bahwa shalat witir dihukumi sunnah (bukan wajib) seperti yang diyakini pula oleh Imam Ahmad. Begitu pula ulama Hambali menyatakan bahwa meninggalkan shalat rawatib juga tidak diterima persaksiaannya padahal shalat rawatib tidaklah wajib. Namun kalau kita rinci, itu lebih baik. Kita katakan: Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah dianggap sebagai suatu bentuk ibadah, malah termasuk dalam orang yang berbuat bid’ah. Karena meninggalkan sesuatu sama hal dalam hukum melakukannya. Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah karena malas-malasan atau menganggap remeh. Ia menyatakan, yang wajib tetaplah wajib dan yang tidak wajib tetaplah tidak wajib. Seperti itu tidak dihukumi dosa, baik ia meninggalkan sebagian atau seluruh perkara yang dihukumi sunnah.   Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan no. 136, pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu.   Memang orang yang meninggalkan amalan yang tidak wajib (baca: sunnah) tidaklah berdosa, cuma ia mendapatkan kerugian karena tidak ada kesempatan untuk menambah kebaikan. Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang nantinya menyesal di akhirat karena amalannya yang kurang. — Diselesaikan di King Abdul Aziz Airport, Saudia Airlines, Jeddah, 24 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Tagsamalan sunnah

Dosa Karena Meninggalkan Amalan Sunnah

Apakah meninggalkan suatu amalan yang dihukumi sunnah (tidak wajib) mendapatkan dosa, termasuk dalam celaan bahkan dihukumi berbuat bid’ah? Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya: Dalam ringkasan Kitab Al-I’tisham karya Imam Asy-Syatibi, meninggalkan suatu perkara sunnah ataukah wajib apakah dapat digolongkan berbuat bid’ah? Meninggalkan perkara yang diperintahkan itu ada dua macam. Ada meninggalkannya bukan dianggap sebagai bentuk ibadah. Perkara tersebut ditinggalkan karena malas-malasan atau menganggap remeh atau alasan pribadi lainnya. Bentuk pertama ini berarti melakukan suatu pelanggaran. Jika yang ditinggalkan adalah perkara wajib, maka dihukumi maksiat. Adapun pertanyaannya. Jika meninggalkan perkara sunnah (yang bukan wajib) dihukumi bukan maksiat, jika memang yang ditinggalkan sebagian amalan saja. Bagaimana jika yang ditinggalkan adalah seluruh perkara sunnah? Jawab Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah, seperti itu bukanlah maksiat, tergantung kondisinya. Jika disebut meninggalkan seluruh perkara sunnah itu maksiat, maka perlu ditinjau lagi. Namun sepertinya pemahaman itu diambil dari perkataan Imam Ahmad rahimahullah, “Siapa yang meninggalkan shalat witir, maka ia adalah rajulun suu’ (laki-laki yang jelek), janganlah terima persaksiaannya.” Padahal diketahui bahwa shalat witir dihukumi sunnah (bukan wajib) seperti yang diyakini pula oleh Imam Ahmad. Begitu pula ulama Hambali menyatakan bahwa meninggalkan shalat rawatib juga tidak diterima persaksiaannya padahal shalat rawatib tidaklah wajib. Namun kalau kita rinci, itu lebih baik. Kita katakan: Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah dianggap sebagai suatu bentuk ibadah, malah termasuk dalam orang yang berbuat bid’ah. Karena meninggalkan sesuatu sama hal dalam hukum melakukannya. Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah karena malas-malasan atau menganggap remeh. Ia menyatakan, yang wajib tetaplah wajib dan yang tidak wajib tetaplah tidak wajib. Seperti itu tidak dihukumi dosa, baik ia meninggalkan sebagian atau seluruh perkara yang dihukumi sunnah.   Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan no. 136, pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu.   Memang orang yang meninggalkan amalan yang tidak wajib (baca: sunnah) tidaklah berdosa, cuma ia mendapatkan kerugian karena tidak ada kesempatan untuk menambah kebaikan. Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang nantinya menyesal di akhirat karena amalannya yang kurang. — Diselesaikan di King Abdul Aziz Airport, Saudia Airlines, Jeddah, 24 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Tagsamalan sunnah
Apakah meninggalkan suatu amalan yang dihukumi sunnah (tidak wajib) mendapatkan dosa, termasuk dalam celaan bahkan dihukumi berbuat bid’ah? Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya: Dalam ringkasan Kitab Al-I’tisham karya Imam Asy-Syatibi, meninggalkan suatu perkara sunnah ataukah wajib apakah dapat digolongkan berbuat bid’ah? Meninggalkan perkara yang diperintahkan itu ada dua macam. Ada meninggalkannya bukan dianggap sebagai bentuk ibadah. Perkara tersebut ditinggalkan karena malas-malasan atau menganggap remeh atau alasan pribadi lainnya. Bentuk pertama ini berarti melakukan suatu pelanggaran. Jika yang ditinggalkan adalah perkara wajib, maka dihukumi maksiat. Adapun pertanyaannya. Jika meninggalkan perkara sunnah (yang bukan wajib) dihukumi bukan maksiat, jika memang yang ditinggalkan sebagian amalan saja. Bagaimana jika yang ditinggalkan adalah seluruh perkara sunnah? Jawab Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah, seperti itu bukanlah maksiat, tergantung kondisinya. Jika disebut meninggalkan seluruh perkara sunnah itu maksiat, maka perlu ditinjau lagi. Namun sepertinya pemahaman itu diambil dari perkataan Imam Ahmad rahimahullah, “Siapa yang meninggalkan shalat witir, maka ia adalah rajulun suu’ (laki-laki yang jelek), janganlah terima persaksiaannya.” Padahal diketahui bahwa shalat witir dihukumi sunnah (bukan wajib) seperti yang diyakini pula oleh Imam Ahmad. Begitu pula ulama Hambali menyatakan bahwa meninggalkan shalat rawatib juga tidak diterima persaksiaannya padahal shalat rawatib tidaklah wajib. Namun kalau kita rinci, itu lebih baik. Kita katakan: Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah dianggap sebagai suatu bentuk ibadah, malah termasuk dalam orang yang berbuat bid’ah. Karena meninggalkan sesuatu sama hal dalam hukum melakukannya. Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah karena malas-malasan atau menganggap remeh. Ia menyatakan, yang wajib tetaplah wajib dan yang tidak wajib tetaplah tidak wajib. Seperti itu tidak dihukumi dosa, baik ia meninggalkan sebagian atau seluruh perkara yang dihukumi sunnah.   Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan no. 136, pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu.   Memang orang yang meninggalkan amalan yang tidak wajib (baca: sunnah) tidaklah berdosa, cuma ia mendapatkan kerugian karena tidak ada kesempatan untuk menambah kebaikan. Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang nantinya menyesal di akhirat karena amalannya yang kurang. — Diselesaikan di King Abdul Aziz Airport, Saudia Airlines, Jeddah, 24 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Tagsamalan sunnah


Apakah meninggalkan suatu amalan yang dihukumi sunnah (tidak wajib) mendapatkan dosa, termasuk dalam celaan bahkan dihukumi berbuat bid’ah? Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya: Dalam ringkasan Kitab Al-I’tisham karya Imam Asy-Syatibi, meninggalkan suatu perkara sunnah ataukah wajib apakah dapat digolongkan berbuat bid’ah? Meninggalkan perkara yang diperintahkan itu ada dua macam. Ada meninggalkannya bukan dianggap sebagai bentuk ibadah. Perkara tersebut ditinggalkan karena malas-malasan atau menganggap remeh atau alasan pribadi lainnya. Bentuk pertama ini berarti melakukan suatu pelanggaran. Jika yang ditinggalkan adalah perkara wajib, maka dihukumi maksiat. Adapun pertanyaannya. Jika meninggalkan perkara sunnah (yang bukan wajib) dihukumi bukan maksiat, jika memang yang ditinggalkan sebagian amalan saja. Bagaimana jika yang ditinggalkan adalah seluruh perkara sunnah? Jawab Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah, seperti itu bukanlah maksiat, tergantung kondisinya. Jika disebut meninggalkan seluruh perkara sunnah itu maksiat, maka perlu ditinjau lagi. Namun sepertinya pemahaman itu diambil dari perkataan Imam Ahmad rahimahullah, “Siapa yang meninggalkan shalat witir, maka ia adalah rajulun suu’ (laki-laki yang jelek), janganlah terima persaksiaannya.” Padahal diketahui bahwa shalat witir dihukumi sunnah (bukan wajib) seperti yang diyakini pula oleh Imam Ahmad. Begitu pula ulama Hambali menyatakan bahwa meninggalkan shalat rawatib juga tidak diterima persaksiaannya padahal shalat rawatib tidaklah wajib. Namun kalau kita rinci, itu lebih baik. Kita katakan: Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah dianggap sebagai suatu bentuk ibadah, malah termasuk dalam orang yang berbuat bid’ah. Karena meninggalkan sesuatu sama hal dalam hukum melakukannya. Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah karena malas-malasan atau menganggap remeh. Ia menyatakan, yang wajib tetaplah wajib dan yang tidak wajib tetaplah tidak wajib. Seperti itu tidak dihukumi dosa, baik ia meninggalkan sebagian atau seluruh perkara yang dihukumi sunnah.   Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan no. 136, pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu.   Memang orang yang meninggalkan amalan yang tidak wajib (baca: sunnah) tidaklah berdosa, cuma ia mendapatkan kerugian karena tidak ada kesempatan untuk menambah kebaikan. Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang nantinya menyesal di akhirat karena amalannya yang kurang. — Diselesaikan di King Abdul Aziz Airport, Saudia Airlines, Jeddah, 24 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Tagsamalan sunnah

Tidak Tahu, Pasti Dimaafkan?

Bisakah orang yang tidak tahu alias bodoh pada suatu amalan dihukumi dosa? Apakah setiap tindakan tidak tahu pasti dimaafkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya tentang hal ini, “Kebanyakan kami dengar bahwa seseorang bisa diberi uzur karena kebodohan. Kalau memang ada uzur karena tidak tahu, apa syaratnya bisa dikatakan sebagai uzur dalam masalah hukum syari’at?” Syaikh Muhammad rahimahullah menjawab bahwa bodoh (jahel) –semoga Allah berkahi yang bertanya- artinya tidak memiliki ilmu. Terkadang seseorang diberi uzur ketika tidak tahu dalam hal lampau, bukan saat ini. Contoh hadits Bukhari-Muslim dari sahabat Abu Hurairah bahwa ada seseorang yang shalat tanpa thuma’ninah (artinya: cepat-cepat). Lalu ia datang menghampiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengucapkan salam. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan padanya, “Ulangilah shalatmu karena engkau sebenarnya belum shalat.” Seperti itu terjadi berulang sampai tiga kali. Lantas orang itu berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, sebelumnya aku tidak pernah melakukan seperti ini. Ajarkanlah aku (bagaimana shalat yang benar).” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarkan dia, namun untuk shalat yang sudah berlalu tidak diperintahkan untuk diqadha’. Karena dahulu ia tidak tahu (jahel). Ia hanya diperintah untuk mengulangi shalat saat ini saja. Misalnya, ada seseorang tidak menunaikan shalat di masa silam karena ia berada di pelosok yang jauh misalnya, tidak ada tempat untuk bertanya, maka shalatnya yang dulu-dulu tidak perlu diqadha’ karena dia adalah orang yang diberi maaf. Adapun di negeri yang memiliki ulama, lalu ia luput dari suatu pelajaran, maka seperti itu tidaklah ada uzur ketika bodoh (tidak tahu). Masalah seperti ini sering didapati pada permasalah pada wanita yang sebenarnya telah haidh. Dahulu ia menyangka bahwa disebut baligh itu ketika sudah mencapai usia 15 tahun. Lantas ia meninggalkan puasa karena menganggap dirinya belum baligh. Setelah itu ia bertanya, lalu dihukumilah ia telah baligh (dewasa). Misalnya sekitar dua atau tiga tahun tidak berpuasa, apakah puasanya mesti diqadha’? Di sini mesti dilihat, apakah ia hidup di negeri yang ada tempat untuk bertanya pada ahli ilmu, berarti ia orang yang lalai, tetap ada qadha’. Adapun jika ia berada di tempat yang jauh dari ulama, seperti orang-orang nomaden, maka ia tidak ada kewajiban qadha’.  Kondisi ini menunjukkan ia mendapatkan uzur karena tidak ada rujukan baginya untuk bertanya. Juga ilmu syar’i belum tertanam di negeri tersebut. Ia dimaafkan dalam kondisi ini. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا “Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra’: 15) Juga dalam ayat, وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ “Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. Al-Qashash: 59)   Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh no. 19, Pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu.   Moga Allah terus menambahkan kita ilmu yang bermanfaat.   — @ Makkah Al-Mukarramah, 23 Rabi’ul Awwal 1437 H Al-Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar

Tidak Tahu, Pasti Dimaafkan?

Bisakah orang yang tidak tahu alias bodoh pada suatu amalan dihukumi dosa? Apakah setiap tindakan tidak tahu pasti dimaafkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya tentang hal ini, “Kebanyakan kami dengar bahwa seseorang bisa diberi uzur karena kebodohan. Kalau memang ada uzur karena tidak tahu, apa syaratnya bisa dikatakan sebagai uzur dalam masalah hukum syari’at?” Syaikh Muhammad rahimahullah menjawab bahwa bodoh (jahel) –semoga Allah berkahi yang bertanya- artinya tidak memiliki ilmu. Terkadang seseorang diberi uzur ketika tidak tahu dalam hal lampau, bukan saat ini. Contoh hadits Bukhari-Muslim dari sahabat Abu Hurairah bahwa ada seseorang yang shalat tanpa thuma’ninah (artinya: cepat-cepat). Lalu ia datang menghampiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengucapkan salam. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan padanya, “Ulangilah shalatmu karena engkau sebenarnya belum shalat.” Seperti itu terjadi berulang sampai tiga kali. Lantas orang itu berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, sebelumnya aku tidak pernah melakukan seperti ini. Ajarkanlah aku (bagaimana shalat yang benar).” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarkan dia, namun untuk shalat yang sudah berlalu tidak diperintahkan untuk diqadha’. Karena dahulu ia tidak tahu (jahel). Ia hanya diperintah untuk mengulangi shalat saat ini saja. Misalnya, ada seseorang tidak menunaikan shalat di masa silam karena ia berada di pelosok yang jauh misalnya, tidak ada tempat untuk bertanya, maka shalatnya yang dulu-dulu tidak perlu diqadha’ karena dia adalah orang yang diberi maaf. Adapun di negeri yang memiliki ulama, lalu ia luput dari suatu pelajaran, maka seperti itu tidaklah ada uzur ketika bodoh (tidak tahu). Masalah seperti ini sering didapati pada permasalah pada wanita yang sebenarnya telah haidh. Dahulu ia menyangka bahwa disebut baligh itu ketika sudah mencapai usia 15 tahun. Lantas ia meninggalkan puasa karena menganggap dirinya belum baligh. Setelah itu ia bertanya, lalu dihukumilah ia telah baligh (dewasa). Misalnya sekitar dua atau tiga tahun tidak berpuasa, apakah puasanya mesti diqadha’? Di sini mesti dilihat, apakah ia hidup di negeri yang ada tempat untuk bertanya pada ahli ilmu, berarti ia orang yang lalai, tetap ada qadha’. Adapun jika ia berada di tempat yang jauh dari ulama, seperti orang-orang nomaden, maka ia tidak ada kewajiban qadha’.  Kondisi ini menunjukkan ia mendapatkan uzur karena tidak ada rujukan baginya untuk bertanya. Juga ilmu syar’i belum tertanam di negeri tersebut. Ia dimaafkan dalam kondisi ini. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا “Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra’: 15) Juga dalam ayat, وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ “Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. Al-Qashash: 59)   Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh no. 19, Pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu.   Moga Allah terus menambahkan kita ilmu yang bermanfaat.   — @ Makkah Al-Mukarramah, 23 Rabi’ul Awwal 1437 H Al-Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar
Bisakah orang yang tidak tahu alias bodoh pada suatu amalan dihukumi dosa? Apakah setiap tindakan tidak tahu pasti dimaafkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya tentang hal ini, “Kebanyakan kami dengar bahwa seseorang bisa diberi uzur karena kebodohan. Kalau memang ada uzur karena tidak tahu, apa syaratnya bisa dikatakan sebagai uzur dalam masalah hukum syari’at?” Syaikh Muhammad rahimahullah menjawab bahwa bodoh (jahel) –semoga Allah berkahi yang bertanya- artinya tidak memiliki ilmu. Terkadang seseorang diberi uzur ketika tidak tahu dalam hal lampau, bukan saat ini. Contoh hadits Bukhari-Muslim dari sahabat Abu Hurairah bahwa ada seseorang yang shalat tanpa thuma’ninah (artinya: cepat-cepat). Lalu ia datang menghampiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengucapkan salam. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan padanya, “Ulangilah shalatmu karena engkau sebenarnya belum shalat.” Seperti itu terjadi berulang sampai tiga kali. Lantas orang itu berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, sebelumnya aku tidak pernah melakukan seperti ini. Ajarkanlah aku (bagaimana shalat yang benar).” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarkan dia, namun untuk shalat yang sudah berlalu tidak diperintahkan untuk diqadha’. Karena dahulu ia tidak tahu (jahel). Ia hanya diperintah untuk mengulangi shalat saat ini saja. Misalnya, ada seseorang tidak menunaikan shalat di masa silam karena ia berada di pelosok yang jauh misalnya, tidak ada tempat untuk bertanya, maka shalatnya yang dulu-dulu tidak perlu diqadha’ karena dia adalah orang yang diberi maaf. Adapun di negeri yang memiliki ulama, lalu ia luput dari suatu pelajaran, maka seperti itu tidaklah ada uzur ketika bodoh (tidak tahu). Masalah seperti ini sering didapati pada permasalah pada wanita yang sebenarnya telah haidh. Dahulu ia menyangka bahwa disebut baligh itu ketika sudah mencapai usia 15 tahun. Lantas ia meninggalkan puasa karena menganggap dirinya belum baligh. Setelah itu ia bertanya, lalu dihukumilah ia telah baligh (dewasa). Misalnya sekitar dua atau tiga tahun tidak berpuasa, apakah puasanya mesti diqadha’? Di sini mesti dilihat, apakah ia hidup di negeri yang ada tempat untuk bertanya pada ahli ilmu, berarti ia orang yang lalai, tetap ada qadha’. Adapun jika ia berada di tempat yang jauh dari ulama, seperti orang-orang nomaden, maka ia tidak ada kewajiban qadha’.  Kondisi ini menunjukkan ia mendapatkan uzur karena tidak ada rujukan baginya untuk bertanya. Juga ilmu syar’i belum tertanam di negeri tersebut. Ia dimaafkan dalam kondisi ini. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا “Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra’: 15) Juga dalam ayat, وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ “Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. Al-Qashash: 59)   Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh no. 19, Pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu.   Moga Allah terus menambahkan kita ilmu yang bermanfaat.   — @ Makkah Al-Mukarramah, 23 Rabi’ul Awwal 1437 H Al-Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar


Bisakah orang yang tidak tahu alias bodoh pada suatu amalan dihukumi dosa? Apakah setiap tindakan tidak tahu pasti dimaafkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya tentang hal ini, “Kebanyakan kami dengar bahwa seseorang bisa diberi uzur karena kebodohan. Kalau memang ada uzur karena tidak tahu, apa syaratnya bisa dikatakan sebagai uzur dalam masalah hukum syari’at?” Syaikh Muhammad rahimahullah menjawab bahwa bodoh (jahel) –semoga Allah berkahi yang bertanya- artinya tidak memiliki ilmu. Terkadang seseorang diberi uzur ketika tidak tahu dalam hal lampau, bukan saat ini. Contoh hadits Bukhari-Muslim dari sahabat Abu Hurairah bahwa ada seseorang yang shalat tanpa thuma’ninah (artinya: cepat-cepat). Lalu ia datang menghampiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengucapkan salam. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan padanya, “Ulangilah shalatmu karena engkau sebenarnya belum shalat.” Seperti itu terjadi berulang sampai tiga kali. Lantas orang itu berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, sebelumnya aku tidak pernah melakukan seperti ini. Ajarkanlah aku (bagaimana shalat yang benar).” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarkan dia, namun untuk shalat yang sudah berlalu tidak diperintahkan untuk diqadha’. Karena dahulu ia tidak tahu (jahel). Ia hanya diperintah untuk mengulangi shalat saat ini saja. Misalnya, ada seseorang tidak menunaikan shalat di masa silam karena ia berada di pelosok yang jauh misalnya, tidak ada tempat untuk bertanya, maka shalatnya yang dulu-dulu tidak perlu diqadha’ karena dia adalah orang yang diberi maaf. Adapun di negeri yang memiliki ulama, lalu ia luput dari suatu pelajaran, maka seperti itu tidaklah ada uzur ketika bodoh (tidak tahu). Masalah seperti ini sering didapati pada permasalah pada wanita yang sebenarnya telah haidh. Dahulu ia menyangka bahwa disebut baligh itu ketika sudah mencapai usia 15 tahun. Lantas ia meninggalkan puasa karena menganggap dirinya belum baligh. Setelah itu ia bertanya, lalu dihukumilah ia telah baligh (dewasa). Misalnya sekitar dua atau tiga tahun tidak berpuasa, apakah puasanya mesti diqadha’? Di sini mesti dilihat, apakah ia hidup di negeri yang ada tempat untuk bertanya pada ahli ilmu, berarti ia orang yang lalai, tetap ada qadha’. Adapun jika ia berada di tempat yang jauh dari ulama, seperti orang-orang nomaden, maka ia tidak ada kewajiban qadha’.  Kondisi ini menunjukkan ia mendapatkan uzur karena tidak ada rujukan baginya untuk bertanya. Juga ilmu syar’i belum tertanam di negeri tersebut. Ia dimaafkan dalam kondisi ini. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا “Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra’: 15) Juga dalam ayat, وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ “Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. Al-Qashash: 59)   Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh no. 19, Pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu.   Moga Allah terus menambahkan kita ilmu yang bermanfaat.   — @ Makkah Al-Mukarramah, 23 Rabi’ul Awwal 1437 H Al-Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar

Makna Darurat Membolehkan Sesuatu yang Haram

Apa maksud kaedah darurat membolehkan sesuatu yang haram? Apakah dalam keadaan darurat boleh berobat dengan yang haram? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah memberikan penjelasan singkat dalam fatawa Nur ‘ala Ad-Darb tentang kaedah ini. Kaedah ini bermakna, jika seseorang berada dalam keadaan darurat untuk menerjang yang haram untuk menghindarkan diri dari suatu mudharat (bahaya), sesuatu yang haram akhirnya menjadi suatu yang mubah (boleh). Contoh: Seseorang dalam keadaan sangat-sangat lapar dan tidak ada sesuatu selain bangkai (maytah) untuk dimakan. Jika memakan bangkai, ia akan selamat dari kematian. Jika tidak, ia akan mati. Keadaan seperti ini, boleh baginya memakan bangkai karena keadaannya darurat. Begitu pula ketika yang ada hanyalah daging babi dan ia dalam keadaan sangat-sangat lapar. Jika memakannya, ia akan tetap hidup. Jika tidak, maka ia akan mati. Keadaan seperti ini boleh baginya menyantapnya. Alasannya, keadaan darurat membolehkan sesuatu yang diharamkan. Adapun berkaitan dengan berobat, sebagian orang menyatakan termasuk dalam kaedah ini. Sehingga dipahami, boleh berobat dengan sesuatu yang diharamkan jika dalam keadaan darurat. Pemahaman seperti itu sebenarnya keliru. Karena berobat tidaklah bisa menghilangkan darurat secara yakin. Bahkan ada yang tidak berobat pun bisa sembuh. Ada pula yang berobat dengan sesuatu yang manfaat, itu pun tidak sembuh. Sedangkan ada di sisi lain yang tidak berobat, malah sembuh dengan izin Allah. (Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 371, Pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu)   Guru kami, Syaikh Prof. Dr. ‘Abdus Salam Asy Syuwai’ir -semoga Allah senantiasa menjaga beliau- menerangkan bahwa yang dimaksud darurat sehingga mendapatkan keringanan di atas adalah: (1) darurat yang terjadi saat itu juga bukan yang nantinya terjadi, (2) harus jelas atau dipastikan bahwa tidak ada jalan lain selain mengkonsumsi yang haram, (3) harus dipastikan bahwa yang haram tersebut bermanfaat untuk menghilangkan bahaya. (Faedah dari kajian Qowa’idil Fiqh bersama beliau saat Dauroh Shoifiyah Jami Ibnu Taimiyah 1433 H, dari kitab Qowaid Muhimmah wa Fawaid Jammah karya Syaikh As Sa’di).   Baca bahasan penting: Hukum Berobat dengan Yang Haram Keadaan Darurat Membolehkan Sesuatu yang Terlarang   Semoga manfaat.   — Selesai disusun di kota suci Makkah Al-Mukarramah, 22 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarurat kaedah fikih

Makna Darurat Membolehkan Sesuatu yang Haram

Apa maksud kaedah darurat membolehkan sesuatu yang haram? Apakah dalam keadaan darurat boleh berobat dengan yang haram? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah memberikan penjelasan singkat dalam fatawa Nur ‘ala Ad-Darb tentang kaedah ini. Kaedah ini bermakna, jika seseorang berada dalam keadaan darurat untuk menerjang yang haram untuk menghindarkan diri dari suatu mudharat (bahaya), sesuatu yang haram akhirnya menjadi suatu yang mubah (boleh). Contoh: Seseorang dalam keadaan sangat-sangat lapar dan tidak ada sesuatu selain bangkai (maytah) untuk dimakan. Jika memakan bangkai, ia akan selamat dari kematian. Jika tidak, ia akan mati. Keadaan seperti ini, boleh baginya memakan bangkai karena keadaannya darurat. Begitu pula ketika yang ada hanyalah daging babi dan ia dalam keadaan sangat-sangat lapar. Jika memakannya, ia akan tetap hidup. Jika tidak, maka ia akan mati. Keadaan seperti ini boleh baginya menyantapnya. Alasannya, keadaan darurat membolehkan sesuatu yang diharamkan. Adapun berkaitan dengan berobat, sebagian orang menyatakan termasuk dalam kaedah ini. Sehingga dipahami, boleh berobat dengan sesuatu yang diharamkan jika dalam keadaan darurat. Pemahaman seperti itu sebenarnya keliru. Karena berobat tidaklah bisa menghilangkan darurat secara yakin. Bahkan ada yang tidak berobat pun bisa sembuh. Ada pula yang berobat dengan sesuatu yang manfaat, itu pun tidak sembuh. Sedangkan ada di sisi lain yang tidak berobat, malah sembuh dengan izin Allah. (Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 371, Pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu)   Guru kami, Syaikh Prof. Dr. ‘Abdus Salam Asy Syuwai’ir -semoga Allah senantiasa menjaga beliau- menerangkan bahwa yang dimaksud darurat sehingga mendapatkan keringanan di atas adalah: (1) darurat yang terjadi saat itu juga bukan yang nantinya terjadi, (2) harus jelas atau dipastikan bahwa tidak ada jalan lain selain mengkonsumsi yang haram, (3) harus dipastikan bahwa yang haram tersebut bermanfaat untuk menghilangkan bahaya. (Faedah dari kajian Qowa’idil Fiqh bersama beliau saat Dauroh Shoifiyah Jami Ibnu Taimiyah 1433 H, dari kitab Qowaid Muhimmah wa Fawaid Jammah karya Syaikh As Sa’di).   Baca bahasan penting: Hukum Berobat dengan Yang Haram Keadaan Darurat Membolehkan Sesuatu yang Terlarang   Semoga manfaat.   — Selesai disusun di kota suci Makkah Al-Mukarramah, 22 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarurat kaedah fikih
Apa maksud kaedah darurat membolehkan sesuatu yang haram? Apakah dalam keadaan darurat boleh berobat dengan yang haram? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah memberikan penjelasan singkat dalam fatawa Nur ‘ala Ad-Darb tentang kaedah ini. Kaedah ini bermakna, jika seseorang berada dalam keadaan darurat untuk menerjang yang haram untuk menghindarkan diri dari suatu mudharat (bahaya), sesuatu yang haram akhirnya menjadi suatu yang mubah (boleh). Contoh: Seseorang dalam keadaan sangat-sangat lapar dan tidak ada sesuatu selain bangkai (maytah) untuk dimakan. Jika memakan bangkai, ia akan selamat dari kematian. Jika tidak, ia akan mati. Keadaan seperti ini, boleh baginya memakan bangkai karena keadaannya darurat. Begitu pula ketika yang ada hanyalah daging babi dan ia dalam keadaan sangat-sangat lapar. Jika memakannya, ia akan tetap hidup. Jika tidak, maka ia akan mati. Keadaan seperti ini boleh baginya menyantapnya. Alasannya, keadaan darurat membolehkan sesuatu yang diharamkan. Adapun berkaitan dengan berobat, sebagian orang menyatakan termasuk dalam kaedah ini. Sehingga dipahami, boleh berobat dengan sesuatu yang diharamkan jika dalam keadaan darurat. Pemahaman seperti itu sebenarnya keliru. Karena berobat tidaklah bisa menghilangkan darurat secara yakin. Bahkan ada yang tidak berobat pun bisa sembuh. Ada pula yang berobat dengan sesuatu yang manfaat, itu pun tidak sembuh. Sedangkan ada di sisi lain yang tidak berobat, malah sembuh dengan izin Allah. (Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 371, Pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu)   Guru kami, Syaikh Prof. Dr. ‘Abdus Salam Asy Syuwai’ir -semoga Allah senantiasa menjaga beliau- menerangkan bahwa yang dimaksud darurat sehingga mendapatkan keringanan di atas adalah: (1) darurat yang terjadi saat itu juga bukan yang nantinya terjadi, (2) harus jelas atau dipastikan bahwa tidak ada jalan lain selain mengkonsumsi yang haram, (3) harus dipastikan bahwa yang haram tersebut bermanfaat untuk menghilangkan bahaya. (Faedah dari kajian Qowa’idil Fiqh bersama beliau saat Dauroh Shoifiyah Jami Ibnu Taimiyah 1433 H, dari kitab Qowaid Muhimmah wa Fawaid Jammah karya Syaikh As Sa’di).   Baca bahasan penting: Hukum Berobat dengan Yang Haram Keadaan Darurat Membolehkan Sesuatu yang Terlarang   Semoga manfaat.   — Selesai disusun di kota suci Makkah Al-Mukarramah, 22 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarurat kaedah fikih


Apa maksud kaedah darurat membolehkan sesuatu yang haram? Apakah dalam keadaan darurat boleh berobat dengan yang haram? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah memberikan penjelasan singkat dalam fatawa Nur ‘ala Ad-Darb tentang kaedah ini. Kaedah ini bermakna, jika seseorang berada dalam keadaan darurat untuk menerjang yang haram untuk menghindarkan diri dari suatu mudharat (bahaya), sesuatu yang haram akhirnya menjadi suatu yang mubah (boleh). Contoh: Seseorang dalam keadaan sangat-sangat lapar dan tidak ada sesuatu selain bangkai (maytah) untuk dimakan. Jika memakan bangkai, ia akan selamat dari kematian. Jika tidak, ia akan mati. Keadaan seperti ini, boleh baginya memakan bangkai karena keadaannya darurat. Begitu pula ketika yang ada hanyalah daging babi dan ia dalam keadaan sangat-sangat lapar. Jika memakannya, ia akan tetap hidup. Jika tidak, maka ia akan mati. Keadaan seperti ini boleh baginya menyantapnya. Alasannya, keadaan darurat membolehkan sesuatu yang diharamkan. Adapun berkaitan dengan berobat, sebagian orang menyatakan termasuk dalam kaedah ini. Sehingga dipahami, boleh berobat dengan sesuatu yang diharamkan jika dalam keadaan darurat. Pemahaman seperti itu sebenarnya keliru. Karena berobat tidaklah bisa menghilangkan darurat secara yakin. Bahkan ada yang tidak berobat pun bisa sembuh. Ada pula yang berobat dengan sesuatu yang manfaat, itu pun tidak sembuh. Sedangkan ada di sisi lain yang tidak berobat, malah sembuh dengan izin Allah. (Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 371, Pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu)   Guru kami, Syaikh Prof. Dr. ‘Abdus Salam Asy Syuwai’ir -semoga Allah senantiasa menjaga beliau- menerangkan bahwa yang dimaksud darurat sehingga mendapatkan keringanan di atas adalah: (1) darurat yang terjadi saat itu juga bukan yang nantinya terjadi, (2) harus jelas atau dipastikan bahwa tidak ada jalan lain selain mengkonsumsi yang haram, (3) harus dipastikan bahwa yang haram tersebut bermanfaat untuk menghilangkan bahaya. (Faedah dari kajian Qowa’idil Fiqh bersama beliau saat Dauroh Shoifiyah Jami Ibnu Taimiyah 1433 H, dari kitab Qowaid Muhimmah wa Fawaid Jammah karya Syaikh As Sa’di).   Baca bahasan penting: Hukum Berobat dengan Yang Haram Keadaan Darurat Membolehkan Sesuatu yang Terlarang   Semoga manfaat.   — Selesai disusun di kota suci Makkah Al-Mukarramah, 22 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarurat kaedah fikih

Muslim Wajib Beriman pada Isa (4)

Di antara yang harus diyakini seorang muslim, Nabi Isa belumlah mati, ia diangkat ke langit. Lalu Nabi Isa akan turun di akhir zaman, lalu ia akan mati, kemudian dishalatkan dan dikuburkan oleh kaum muslimin.   Kesebelas: Nabi Isa ‘alaihis salam akan turun di akhir zaman. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, hadits yang membicarakan mengenai turunnya Nabi Isa di akhir zaman adalah hadits yang mutawatir (mutawatir makna) yaitu terdiri dari banyak hadits dan membicarakan satu maksud yaitu bahwa Nabi Isa akan turun menjelang hari kiamat Dalam kesempatan yang lain, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Hadits-hadits tersebut (yang membicarakan turunnya Isa di akhir zaman, pen.) adalah hadits yang mutawatir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari riwayat Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Utsman bin Abil ‘Ash, Abu Umamah, An-Nawas bin Sam’an, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, Mujammi’ bin Jariyah, Abu Sarihah, dan Hudzaifah bin Usaid.” Di antara bukti dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dari Abu Hurairah, beliau bersabda, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً ، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ ، حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا. ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ ( وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا ) “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Sebentar lagi Isa bin Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti), harta semakin banyak dan semakin berkah sampai seseorang tidak ada yang menerima harta itu lagi (sebagai sedekah, pen), dan sujud seseorang lebih disukai daripada dunia dan seisinya.” Abu Hurairah lalu mengatakan, “Bacalah jika kalian suka: “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An-Nisa’: 159)” (HR. Bukhari no. 3448 dan Muslim no. 155) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ – قَالَ – فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ -صلى الله عليه وسلم- فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا. فَيَقُولُ لاَ. إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ. تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الأُمَّةَ “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang memperjuangkan kebenaran dan meraih kemenangan hingga hari kiamat.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Kemudia Isa bin Maryam turun ke muka bumi. Lalu pemimpin mereka-mereka tadi mengatakan pada Isa, “Jadilah imam shalat bersama kami.” “Tidak. Sesungguhnya di antara kalian sudah menjadi pemimpin bagi yang lain. Allah betul-betul telah memuliakan umat ini”, jawab Isa. (HR. Muslim no. 156)   Keduabelas: Nabi Isa akan mati dan akan dishalatkan dan dikuburkan oleh kaum muslimin. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ لأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ . . . ثم ذكر نزوله عليه السلام في آخر الزمان . ثم قال : فَيَمْكُثُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثَ ، ثُمَّ يُتَوَفَّى فَيُصَلِّيَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ وَيَدْفِنُونَهُ “Aku adalah orang yang paling dekat masanya dengan Isa bin Maryam karena tidak ada antaraku denganya seorang Nabi pun. Kemudian disebutkan tentang turunnya Isa di akhir zaman, di mana disebutkan, “Ia tinggal di muka bumi sesuai dengan kehendak Allah yang ia mau. Kemudian ia akan diwafatkan lantas dishalatkan serta dikuburkan oleh kaum muslimin.” (HR. Ahmad 2: 437. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyebutkan bahwa hadits ini shahih lighairihi)   Masih berlanjut insya Allah. Semoga bermanfaat.   — Selesai disusun di kota Nabi, 20 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Muslim Wajib Beriman pada Isa (4)

Di antara yang harus diyakini seorang muslim, Nabi Isa belumlah mati, ia diangkat ke langit. Lalu Nabi Isa akan turun di akhir zaman, lalu ia akan mati, kemudian dishalatkan dan dikuburkan oleh kaum muslimin.   Kesebelas: Nabi Isa ‘alaihis salam akan turun di akhir zaman. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, hadits yang membicarakan mengenai turunnya Nabi Isa di akhir zaman adalah hadits yang mutawatir (mutawatir makna) yaitu terdiri dari banyak hadits dan membicarakan satu maksud yaitu bahwa Nabi Isa akan turun menjelang hari kiamat Dalam kesempatan yang lain, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Hadits-hadits tersebut (yang membicarakan turunnya Isa di akhir zaman, pen.) adalah hadits yang mutawatir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari riwayat Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Utsman bin Abil ‘Ash, Abu Umamah, An-Nawas bin Sam’an, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, Mujammi’ bin Jariyah, Abu Sarihah, dan Hudzaifah bin Usaid.” Di antara bukti dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dari Abu Hurairah, beliau bersabda, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً ، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ ، حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا. ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ ( وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا ) “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Sebentar lagi Isa bin Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti), harta semakin banyak dan semakin berkah sampai seseorang tidak ada yang menerima harta itu lagi (sebagai sedekah, pen), dan sujud seseorang lebih disukai daripada dunia dan seisinya.” Abu Hurairah lalu mengatakan, “Bacalah jika kalian suka: “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An-Nisa’: 159)” (HR. Bukhari no. 3448 dan Muslim no. 155) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ – قَالَ – فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ -صلى الله عليه وسلم- فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا. فَيَقُولُ لاَ. إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ. تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الأُمَّةَ “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang memperjuangkan kebenaran dan meraih kemenangan hingga hari kiamat.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Kemudia Isa bin Maryam turun ke muka bumi. Lalu pemimpin mereka-mereka tadi mengatakan pada Isa, “Jadilah imam shalat bersama kami.” “Tidak. Sesungguhnya di antara kalian sudah menjadi pemimpin bagi yang lain. Allah betul-betul telah memuliakan umat ini”, jawab Isa. (HR. Muslim no. 156)   Keduabelas: Nabi Isa akan mati dan akan dishalatkan dan dikuburkan oleh kaum muslimin. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ لأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ . . . ثم ذكر نزوله عليه السلام في آخر الزمان . ثم قال : فَيَمْكُثُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثَ ، ثُمَّ يُتَوَفَّى فَيُصَلِّيَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ وَيَدْفِنُونَهُ “Aku adalah orang yang paling dekat masanya dengan Isa bin Maryam karena tidak ada antaraku denganya seorang Nabi pun. Kemudian disebutkan tentang turunnya Isa di akhir zaman, di mana disebutkan, “Ia tinggal di muka bumi sesuai dengan kehendak Allah yang ia mau. Kemudian ia akan diwafatkan lantas dishalatkan serta dikuburkan oleh kaum muslimin.” (HR. Ahmad 2: 437. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyebutkan bahwa hadits ini shahih lighairihi)   Masih berlanjut insya Allah. Semoga bermanfaat.   — Selesai disusun di kota Nabi, 20 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa
Di antara yang harus diyakini seorang muslim, Nabi Isa belumlah mati, ia diangkat ke langit. Lalu Nabi Isa akan turun di akhir zaman, lalu ia akan mati, kemudian dishalatkan dan dikuburkan oleh kaum muslimin.   Kesebelas: Nabi Isa ‘alaihis salam akan turun di akhir zaman. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, hadits yang membicarakan mengenai turunnya Nabi Isa di akhir zaman adalah hadits yang mutawatir (mutawatir makna) yaitu terdiri dari banyak hadits dan membicarakan satu maksud yaitu bahwa Nabi Isa akan turun menjelang hari kiamat Dalam kesempatan yang lain, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Hadits-hadits tersebut (yang membicarakan turunnya Isa di akhir zaman, pen.) adalah hadits yang mutawatir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari riwayat Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Utsman bin Abil ‘Ash, Abu Umamah, An-Nawas bin Sam’an, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, Mujammi’ bin Jariyah, Abu Sarihah, dan Hudzaifah bin Usaid.” Di antara bukti dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dari Abu Hurairah, beliau bersabda, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً ، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ ، حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا. ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ ( وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا ) “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Sebentar lagi Isa bin Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti), harta semakin banyak dan semakin berkah sampai seseorang tidak ada yang menerima harta itu lagi (sebagai sedekah, pen), dan sujud seseorang lebih disukai daripada dunia dan seisinya.” Abu Hurairah lalu mengatakan, “Bacalah jika kalian suka: “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An-Nisa’: 159)” (HR. Bukhari no. 3448 dan Muslim no. 155) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ – قَالَ – فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ -صلى الله عليه وسلم- فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا. فَيَقُولُ لاَ. إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ. تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الأُمَّةَ “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang memperjuangkan kebenaran dan meraih kemenangan hingga hari kiamat.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Kemudia Isa bin Maryam turun ke muka bumi. Lalu pemimpin mereka-mereka tadi mengatakan pada Isa, “Jadilah imam shalat bersama kami.” “Tidak. Sesungguhnya di antara kalian sudah menjadi pemimpin bagi yang lain. Allah betul-betul telah memuliakan umat ini”, jawab Isa. (HR. Muslim no. 156)   Keduabelas: Nabi Isa akan mati dan akan dishalatkan dan dikuburkan oleh kaum muslimin. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ لأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ . . . ثم ذكر نزوله عليه السلام في آخر الزمان . ثم قال : فَيَمْكُثُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثَ ، ثُمَّ يُتَوَفَّى فَيُصَلِّيَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ وَيَدْفِنُونَهُ “Aku adalah orang yang paling dekat masanya dengan Isa bin Maryam karena tidak ada antaraku denganya seorang Nabi pun. Kemudian disebutkan tentang turunnya Isa di akhir zaman, di mana disebutkan, “Ia tinggal di muka bumi sesuai dengan kehendak Allah yang ia mau. Kemudian ia akan diwafatkan lantas dishalatkan serta dikuburkan oleh kaum muslimin.” (HR. Ahmad 2: 437. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyebutkan bahwa hadits ini shahih lighairihi)   Masih berlanjut insya Allah. Semoga bermanfaat.   — Selesai disusun di kota Nabi, 20 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa


Di antara yang harus diyakini seorang muslim, Nabi Isa belumlah mati, ia diangkat ke langit. Lalu Nabi Isa akan turun di akhir zaman, lalu ia akan mati, kemudian dishalatkan dan dikuburkan oleh kaum muslimin.   Kesebelas: Nabi Isa ‘alaihis salam akan turun di akhir zaman. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, hadits yang membicarakan mengenai turunnya Nabi Isa di akhir zaman adalah hadits yang mutawatir (mutawatir makna) yaitu terdiri dari banyak hadits dan membicarakan satu maksud yaitu bahwa Nabi Isa akan turun menjelang hari kiamat Dalam kesempatan yang lain, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Hadits-hadits tersebut (yang membicarakan turunnya Isa di akhir zaman, pen.) adalah hadits yang mutawatir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari riwayat Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Utsman bin Abil ‘Ash, Abu Umamah, An-Nawas bin Sam’an, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, Mujammi’ bin Jariyah, Abu Sarihah, dan Hudzaifah bin Usaid.” Di antara bukti dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dari Abu Hurairah, beliau bersabda, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً ، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ ، حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا. ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ ( وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا ) “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Sebentar lagi Isa bin Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti), harta semakin banyak dan semakin berkah sampai seseorang tidak ada yang menerima harta itu lagi (sebagai sedekah, pen), dan sujud seseorang lebih disukai daripada dunia dan seisinya.” Abu Hurairah lalu mengatakan, “Bacalah jika kalian suka: “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An-Nisa’: 159)” (HR. Bukhari no. 3448 dan Muslim no. 155) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ – قَالَ – فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ -صلى الله عليه وسلم- فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا. فَيَقُولُ لاَ. إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ. تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الأُمَّةَ “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang memperjuangkan kebenaran dan meraih kemenangan hingga hari kiamat.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Kemudia Isa bin Maryam turun ke muka bumi. Lalu pemimpin mereka-mereka tadi mengatakan pada Isa, “Jadilah imam shalat bersama kami.” “Tidak. Sesungguhnya di antara kalian sudah menjadi pemimpin bagi yang lain. Allah betul-betul telah memuliakan umat ini”, jawab Isa. (HR. Muslim no. 156)   Keduabelas: Nabi Isa akan mati dan akan dishalatkan dan dikuburkan oleh kaum muslimin. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ لأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ . . . ثم ذكر نزوله عليه السلام في آخر الزمان . ثم قال : فَيَمْكُثُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثَ ، ثُمَّ يُتَوَفَّى فَيُصَلِّيَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ وَيَدْفِنُونَهُ “Aku adalah orang yang paling dekat masanya dengan Isa bin Maryam karena tidak ada antaraku denganya seorang Nabi pun. Kemudian disebutkan tentang turunnya Isa di akhir zaman, di mana disebutkan, “Ia tinggal di muka bumi sesuai dengan kehendak Allah yang ia mau. Kemudian ia akan diwafatkan lantas dishalatkan serta dikuburkan oleh kaum muslimin.” (HR. Ahmad 2: 437. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyebutkan bahwa hadits ini shahih lighairihi)   Masih berlanjut insya Allah. Semoga bermanfaat.   — Selesai disusun di kota Nabi, 20 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Sudah Maklum

Ada suatu perkara dalam agama ini disebut dengan “maklum minad diini bid-dhoruroh”. Apa maksud suatu maklum secara darurat tersebut? Berikut keterangan dari ulama besar kita yang hidup di abad ke-20, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Beliau ditanya: Ahsanallahu ilaikum Syaikh Muhammad (semoga Allah memberikan kebaikan untukmu wahai Syaikh Muhammad). Sebagian orang awam sempat bertanya-tanya tentang maksud “maklum minad-diini bidh-dhoruroh”. Beliau rahimahullah (semoga Allah merahmati beliau menjawab). Para ulama ketika mengibaratkan seperti itu maksudnya, ajaran dalam agama ini ada yang sifatnya darurat untuk diketahui. Contoh shalat lima waktu sudah dimaklumi wajibnya. Khamar (minuman keras) sudah dimaklumi haramnya. Segala sesuatu yang setiap muslim tidak mungkin tidak paham tentangnya, itulah yang disebut maklum minad-diini bid-dhoruroh.   Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 331, pelajaran Ushul Fiqh wa Qawa’iduhu   Allahumma inna nas-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaraat, Ya Allah kami meminta pada-Mu untuk bisa mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. — Disusun di Saudia Airlines menuju kota Nabi, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagssepakat ulama

Sudah Maklum

Ada suatu perkara dalam agama ini disebut dengan “maklum minad diini bid-dhoruroh”. Apa maksud suatu maklum secara darurat tersebut? Berikut keterangan dari ulama besar kita yang hidup di abad ke-20, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Beliau ditanya: Ahsanallahu ilaikum Syaikh Muhammad (semoga Allah memberikan kebaikan untukmu wahai Syaikh Muhammad). Sebagian orang awam sempat bertanya-tanya tentang maksud “maklum minad-diini bidh-dhoruroh”. Beliau rahimahullah (semoga Allah merahmati beliau menjawab). Para ulama ketika mengibaratkan seperti itu maksudnya, ajaran dalam agama ini ada yang sifatnya darurat untuk diketahui. Contoh shalat lima waktu sudah dimaklumi wajibnya. Khamar (minuman keras) sudah dimaklumi haramnya. Segala sesuatu yang setiap muslim tidak mungkin tidak paham tentangnya, itulah yang disebut maklum minad-diini bid-dhoruroh.   Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 331, pelajaran Ushul Fiqh wa Qawa’iduhu   Allahumma inna nas-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaraat, Ya Allah kami meminta pada-Mu untuk bisa mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. — Disusun di Saudia Airlines menuju kota Nabi, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagssepakat ulama
Ada suatu perkara dalam agama ini disebut dengan “maklum minad diini bid-dhoruroh”. Apa maksud suatu maklum secara darurat tersebut? Berikut keterangan dari ulama besar kita yang hidup di abad ke-20, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Beliau ditanya: Ahsanallahu ilaikum Syaikh Muhammad (semoga Allah memberikan kebaikan untukmu wahai Syaikh Muhammad). Sebagian orang awam sempat bertanya-tanya tentang maksud “maklum minad-diini bidh-dhoruroh”. Beliau rahimahullah (semoga Allah merahmati beliau menjawab). Para ulama ketika mengibaratkan seperti itu maksudnya, ajaran dalam agama ini ada yang sifatnya darurat untuk diketahui. Contoh shalat lima waktu sudah dimaklumi wajibnya. Khamar (minuman keras) sudah dimaklumi haramnya. Segala sesuatu yang setiap muslim tidak mungkin tidak paham tentangnya, itulah yang disebut maklum minad-diini bid-dhoruroh.   Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 331, pelajaran Ushul Fiqh wa Qawa’iduhu   Allahumma inna nas-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaraat, Ya Allah kami meminta pada-Mu untuk bisa mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. — Disusun di Saudia Airlines menuju kota Nabi, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagssepakat ulama


Ada suatu perkara dalam agama ini disebut dengan “maklum minad diini bid-dhoruroh”. Apa maksud suatu maklum secara darurat tersebut? Berikut keterangan dari ulama besar kita yang hidup di abad ke-20, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Beliau ditanya: Ahsanallahu ilaikum Syaikh Muhammad (semoga Allah memberikan kebaikan untukmu wahai Syaikh Muhammad). Sebagian orang awam sempat bertanya-tanya tentang maksud “maklum minad-diini bidh-dhoruroh”. Beliau rahimahullah (semoga Allah merahmati beliau menjawab). Para ulama ketika mengibaratkan seperti itu maksudnya, ajaran dalam agama ini ada yang sifatnya darurat untuk diketahui. Contoh shalat lima waktu sudah dimaklumi wajibnya. Khamar (minuman keras) sudah dimaklumi haramnya. Segala sesuatu yang setiap muslim tidak mungkin tidak paham tentangnya, itulah yang disebut maklum minad-diini bid-dhoruroh.   Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 331, pelajaran Ushul Fiqh wa Qawa’iduhu   Allahumma inna nas-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaraat, Ya Allah kami meminta pada-Mu untuk bisa mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. — Disusun di Saudia Airlines menuju kota Nabi, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagssepakat ulama

Madzhab Rasul

Wajibkah orang awam bermadzhab? Wajibkah ia mengikuti salah satu dari madzhab yang empat? Pertanyaan seperti di atas pernah diajukan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin sebagai berikut. Apakah orang awam yang bukan seorang yang alim dalam hal madzhab wajib baginya mengikuti madzhab tertentu dari empat madzhab yang ada? Lalu mana madzhab yang baiknya diikuti? Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin: Yang tepat, tidak wajib bagi seorang pun untuk memilih madzhab tertentu. Madzhab yang jelas yang wajib untuk diikuti adalah madzhab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan seluruh imam yang empat juga menginginkan agar kita bisa berpegang teguh dengan madzhab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena manusia (selain Rasul) bisa benar dan salah. Jadi tidak ada manusia selain Rasul yang wajib mutlak untuk diikuti. Namun kami nyatakan bahwa siapa saja dari imam tadi yang berada di atas kebenaran, maka wajib untuk diikuti karena kita memandang bahwa ia benar, bukan karena memandang person atau sosoknya. Inilah jawaban kami untuk persoalan seperti ini. Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 56. Semoga jadi ilmu yang bermanfaat. — Diterjemahkan di Saudia Airlines saat menuju Madinah, kota Nabi, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsfanatik kebenaran madzhab

Madzhab Rasul

Wajibkah orang awam bermadzhab? Wajibkah ia mengikuti salah satu dari madzhab yang empat? Pertanyaan seperti di atas pernah diajukan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin sebagai berikut. Apakah orang awam yang bukan seorang yang alim dalam hal madzhab wajib baginya mengikuti madzhab tertentu dari empat madzhab yang ada? Lalu mana madzhab yang baiknya diikuti? Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin: Yang tepat, tidak wajib bagi seorang pun untuk memilih madzhab tertentu. Madzhab yang jelas yang wajib untuk diikuti adalah madzhab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan seluruh imam yang empat juga menginginkan agar kita bisa berpegang teguh dengan madzhab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena manusia (selain Rasul) bisa benar dan salah. Jadi tidak ada manusia selain Rasul yang wajib mutlak untuk diikuti. Namun kami nyatakan bahwa siapa saja dari imam tadi yang berada di atas kebenaran, maka wajib untuk diikuti karena kita memandang bahwa ia benar, bukan karena memandang person atau sosoknya. Inilah jawaban kami untuk persoalan seperti ini. Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 56. Semoga jadi ilmu yang bermanfaat. — Diterjemahkan di Saudia Airlines saat menuju Madinah, kota Nabi, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsfanatik kebenaran madzhab
Wajibkah orang awam bermadzhab? Wajibkah ia mengikuti salah satu dari madzhab yang empat? Pertanyaan seperti di atas pernah diajukan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin sebagai berikut. Apakah orang awam yang bukan seorang yang alim dalam hal madzhab wajib baginya mengikuti madzhab tertentu dari empat madzhab yang ada? Lalu mana madzhab yang baiknya diikuti? Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin: Yang tepat, tidak wajib bagi seorang pun untuk memilih madzhab tertentu. Madzhab yang jelas yang wajib untuk diikuti adalah madzhab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan seluruh imam yang empat juga menginginkan agar kita bisa berpegang teguh dengan madzhab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena manusia (selain Rasul) bisa benar dan salah. Jadi tidak ada manusia selain Rasul yang wajib mutlak untuk diikuti. Namun kami nyatakan bahwa siapa saja dari imam tadi yang berada di atas kebenaran, maka wajib untuk diikuti karena kita memandang bahwa ia benar, bukan karena memandang person atau sosoknya. Inilah jawaban kami untuk persoalan seperti ini. Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 56. Semoga jadi ilmu yang bermanfaat. — Diterjemahkan di Saudia Airlines saat menuju Madinah, kota Nabi, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsfanatik kebenaran madzhab


Wajibkah orang awam bermadzhab? Wajibkah ia mengikuti salah satu dari madzhab yang empat? Pertanyaan seperti di atas pernah diajukan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin sebagai berikut. Apakah orang awam yang bukan seorang yang alim dalam hal madzhab wajib baginya mengikuti madzhab tertentu dari empat madzhab yang ada? Lalu mana madzhab yang baiknya diikuti? Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin: Yang tepat, tidak wajib bagi seorang pun untuk memilih madzhab tertentu. Madzhab yang jelas yang wajib untuk diikuti adalah madzhab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan seluruh imam yang empat juga menginginkan agar kita bisa berpegang teguh dengan madzhab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena manusia (selain Rasul) bisa benar dan salah. Jadi tidak ada manusia selain Rasul yang wajib mutlak untuk diikuti. Namun kami nyatakan bahwa siapa saja dari imam tadi yang berada di atas kebenaran, maka wajib untuk diikuti karena kita memandang bahwa ia benar, bukan karena memandang person atau sosoknya. Inilah jawaban kami untuk persoalan seperti ini. Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 56. Semoga jadi ilmu yang bermanfaat. — Diterjemahkan di Saudia Airlines saat menuju Madinah, kota Nabi, 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsfanatik kebenaran madzhab

Muslim Wajib Beriman pada Isa (3)

Ada beberapa hal lainnya yang perlu diimani dari Nabi Isa oleh seorang muslim. Di antaranya Nabi Isa belumlah hati. Terus di mana?   Kedelapan: Isa diutus dan dijadikan halal beberapa yang diharamkan bagi Yahudi. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, وَمُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ “Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) daripada Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (QS. Ali Imran: 50). Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan dihalalkan di sini adalah ikan maupun burung yang tidak memiliki taji atau tanduk.   Kesembilan: Nabi Isa tidaklah mati. Musuh beliau dari kalangan Yahudi tidaklah membunuhnya. Namun Allah-lah yang menyelamatkan beliau dari mereka. Beliau sekarang masih hidup, terangkat ke langit. Tatkala Allah membicarakan orang Yahudi, وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 156-158)   Kesepuluh: Nabi Isa sudah mengabarkan akan datangnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرائيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash-Shaff: 6) Masih bersambung insya Allah … Nantikan bahasan selanjutnya. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, malam 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Muslim Wajib Beriman pada Isa (3)

Ada beberapa hal lainnya yang perlu diimani dari Nabi Isa oleh seorang muslim. Di antaranya Nabi Isa belumlah hati. Terus di mana?   Kedelapan: Isa diutus dan dijadikan halal beberapa yang diharamkan bagi Yahudi. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, وَمُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ “Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) daripada Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (QS. Ali Imran: 50). Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan dihalalkan di sini adalah ikan maupun burung yang tidak memiliki taji atau tanduk.   Kesembilan: Nabi Isa tidaklah mati. Musuh beliau dari kalangan Yahudi tidaklah membunuhnya. Namun Allah-lah yang menyelamatkan beliau dari mereka. Beliau sekarang masih hidup, terangkat ke langit. Tatkala Allah membicarakan orang Yahudi, وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 156-158)   Kesepuluh: Nabi Isa sudah mengabarkan akan datangnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرائيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash-Shaff: 6) Masih bersambung insya Allah … Nantikan bahasan selanjutnya. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, malam 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa
Ada beberapa hal lainnya yang perlu diimani dari Nabi Isa oleh seorang muslim. Di antaranya Nabi Isa belumlah hati. Terus di mana?   Kedelapan: Isa diutus dan dijadikan halal beberapa yang diharamkan bagi Yahudi. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, وَمُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ “Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) daripada Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (QS. Ali Imran: 50). Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan dihalalkan di sini adalah ikan maupun burung yang tidak memiliki taji atau tanduk.   Kesembilan: Nabi Isa tidaklah mati. Musuh beliau dari kalangan Yahudi tidaklah membunuhnya. Namun Allah-lah yang menyelamatkan beliau dari mereka. Beliau sekarang masih hidup, terangkat ke langit. Tatkala Allah membicarakan orang Yahudi, وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 156-158)   Kesepuluh: Nabi Isa sudah mengabarkan akan datangnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرائيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash-Shaff: 6) Masih bersambung insya Allah … Nantikan bahasan selanjutnya. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, malam 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa


Ada beberapa hal lainnya yang perlu diimani dari Nabi Isa oleh seorang muslim. Di antaranya Nabi Isa belumlah hati. Terus di mana?   Kedelapan: Isa diutus dan dijadikan halal beberapa yang diharamkan bagi Yahudi. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, وَمُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ “Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) daripada Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (QS. Ali Imran: 50). Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan dihalalkan di sini adalah ikan maupun burung yang tidak memiliki taji atau tanduk.   Kesembilan: Nabi Isa tidaklah mati. Musuh beliau dari kalangan Yahudi tidaklah membunuhnya. Namun Allah-lah yang menyelamatkan beliau dari mereka. Beliau sekarang masih hidup, terangkat ke langit. Tatkala Allah membicarakan orang Yahudi, وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 156-158)   Kesepuluh: Nabi Isa sudah mengabarkan akan datangnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرائيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash-Shaff: 6) Masih bersambung insya Allah … Nantikan bahasan selanjutnya. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, malam 17 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa
Prev     Next