Sampai Disangka Buta

Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah dikenal rajin menundukkan pandangannya … Suatu saat ia pernah melewati sekumpulan wanita. Ia tidak sanggup memandang wanita-wanita tadi, yang ia lakukan adalah ia menundukkan pandangannya dan memandang dadanya sendiri. Sampai para wanita pun menyangka, jangan-jangan Rabi’ itu buta. (Sumber: http://osodalsalaf.yoo7.com/t49-topic) Padahal Rabi’ di situ hanyalah ingin menjaga pandangannyan, jangan sampai melihat suatu yang haram. — KALAU KITA … Malah tidak tahan lihat gambar wanita, lebih-lebih telanjang … Lebih-lebih lagi kalau tahu itu ada adegan hotnya, tangan begitu gatal untuk menggeser mouse dan mengkliknya. Padahal Allah perintahkan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31) Yang patut diingat pula, إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36) Sebaik-baik contoh adalah dari para salaf. Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai macam godaan yang merusak. —- Darush Sholihin, 9 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang zina

Sampai Disangka Buta

Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah dikenal rajin menundukkan pandangannya … Suatu saat ia pernah melewati sekumpulan wanita. Ia tidak sanggup memandang wanita-wanita tadi, yang ia lakukan adalah ia menundukkan pandangannya dan memandang dadanya sendiri. Sampai para wanita pun menyangka, jangan-jangan Rabi’ itu buta. (Sumber: http://osodalsalaf.yoo7.com/t49-topic) Padahal Rabi’ di situ hanyalah ingin menjaga pandangannyan, jangan sampai melihat suatu yang haram. — KALAU KITA … Malah tidak tahan lihat gambar wanita, lebih-lebih telanjang … Lebih-lebih lagi kalau tahu itu ada adegan hotnya, tangan begitu gatal untuk menggeser mouse dan mengkliknya. Padahal Allah perintahkan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31) Yang patut diingat pula, إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36) Sebaik-baik contoh adalah dari para salaf. Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai macam godaan yang merusak. —- Darush Sholihin, 9 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang zina
Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah dikenal rajin menundukkan pandangannya … Suatu saat ia pernah melewati sekumpulan wanita. Ia tidak sanggup memandang wanita-wanita tadi, yang ia lakukan adalah ia menundukkan pandangannya dan memandang dadanya sendiri. Sampai para wanita pun menyangka, jangan-jangan Rabi’ itu buta. (Sumber: http://osodalsalaf.yoo7.com/t49-topic) Padahal Rabi’ di situ hanyalah ingin menjaga pandangannyan, jangan sampai melihat suatu yang haram. — KALAU KITA … Malah tidak tahan lihat gambar wanita, lebih-lebih telanjang … Lebih-lebih lagi kalau tahu itu ada adegan hotnya, tangan begitu gatal untuk menggeser mouse dan mengkliknya. Padahal Allah perintahkan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31) Yang patut diingat pula, إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36) Sebaik-baik contoh adalah dari para salaf. Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai macam godaan yang merusak. —- Darush Sholihin, 9 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang zina


Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah dikenal rajin menundukkan pandangannya … Suatu saat ia pernah melewati sekumpulan wanita. Ia tidak sanggup memandang wanita-wanita tadi, yang ia lakukan adalah ia menundukkan pandangannya dan memandang dadanya sendiri. Sampai para wanita pun menyangka, jangan-jangan Rabi’ itu buta. (Sumber: http://osodalsalaf.yoo7.com/t49-topic) Padahal Rabi’ di situ hanyalah ingin menjaga pandangannyan, jangan sampai melihat suatu yang haram. — KALAU KITA … Malah tidak tahan lihat gambar wanita, lebih-lebih telanjang … Lebih-lebih lagi kalau tahu itu ada adegan hotnya, tangan begitu gatal untuk menggeser mouse dan mengkliknya. Padahal Allah perintahkan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31) Yang patut diingat pula, إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36) Sebaik-baik contoh adalah dari para salaf. Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai macam godaan yang merusak. —- Darush Sholihin, 9 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang zina

Casing Bagus

Casing bagus belum tentu menunjukkan dalamnya juga ikut bagus.   Casing Bagus   Ibaratnya seperti kita memilih hape. Casingnya kita lihat bagus, menarik, kinclong. Namun jeroannya (bagian dalamnya) belum tentu demikian. Bagian dalam handphone tersebut belum tentu sebaik casingnya. Terus, kita dapat menilai hape tersebut baik bagaimana? Yah tentu, tanya-tanya dong orang yang sudah pernah menggunakan hape tersebut. Pasti dia bisa memberi komentar. “Ooh, hape ini baterainya gak kuat, gak bisa bertahan lama.” “Hape ini, loadingnya lambat.” “Hape tersebut, RAM-nya kecil.” “Hape ini kameranya kurang bagus hasilnya.” Orang yang pernah menggunakan hape semacam itu akan mudah sekali dalam memberikan penilaian.   Casing Manusia   Casing manusia juga demikian adanya. Kita memang hanya bisa tahu seseorang dari tampilan luarnya atau lahiriyahnya. Untuk dalamnya, niat hatinya, kita tak tahu. Hatinya suka bermaksiat, kita tidak bisa tahu. Kegemarannya yang suka bermaksiat kala sendiri pun, kita tak tahu. Terus bagaimana kita menilainya? Hal ini sangat dibutuhkan oleh seseorang yang ingin mencari pasangan hidup, mencari suami atau istri. Bisa saja diketahui dari orang-orang yang pernah bersama dengannya. Mereka akan bisa beri penilaian. Namun sulit bagi kita bertanya pada orang yang memproduksi, karena pasti orang yang akan dinilai selalu dapat penilaian positif dan sisi negatif selalu ditutup-tutupi.   Karenanya tanyalah pada teman karibnya. Tanyalah pada teman kosnya. Tanyalah pada teman kampusnya. Tanyalah pada seorang alim yang dekat dengannya. Mereka-mereka tadi akan lebih tahu isi casing tersebut. Karena kadang kita temui … Ada orang yang terlihat alim dilihat dari penampilan, tak tahunya punya hubungan gelap dengan perempuan. Ada orang yang terlihat berjubah, tak tahunya berpemahaman sesat. Ada orang yang lantunan bacaan qurannya bagus, tak tahunya kelakuannya sering tonton video yang tidak genah. Ada orang yang terlihat biasa-biasa, eehh … malah dialah yang lebih mulia di sisi Allah. Allah Nilai Hati   Yang jelas Allah menilai hati kita, bukan casing kita. Kita tak perlu pamerkan casing kita yang bagus, berusahalah terus memperbaiki hati kita. Dari Abu Hurairah ‘Abdurrahman bin Shakr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ ». وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ “Sesungguhnya Allah tidaklah melihat pada tubuh kalian. Akan tetapi, Allah melihat pada hati kalian.” Beliau berisyarat menunjuk dadanya dengan jari-jemarinya. (HR. Muslim, no. 2564)   Cara Menilai Orang   Kala menilai orang … Kita hukumi orang sebatas lahiriyah, tak bisa kita hukumi batinnya. Namun kadang kita bisa tahu jeleknya seseorang dari komentar orang yang pernah dekat dengannya atau ada bukti aktual yang membongkar kejelekannya sendiri.   Tak Perlu Berlebihan Menilai   Dari sini kita bisa ambil pelajaran, jangan berlebihan dalam menilai dan memuji casing yang bagus karena dalamnya kita tak tahu. Al-Qurthubi memaparkan dalam Al-Mufhim limaa Asykala min Talkhish Kitab Muslim (6: 539), “Kalau hati itu yang memperbagus amalan lahiriyah dan amalan hati adalah suatu yang ghaib bagi kita, maka janganlah menebak-nebak hal batin seseorang dengan mudah karena cuma sekedar melihat dari casing luar dari ketaatan atau kesalahan yang dilakukan. Siapa saja yang menjaga amalan baik secara lahiriyah, Allah-lah yang mengetahui bagaimana sifat jelek atau tercela yang ada dalam hatinya. Sebaliknya, siapa pun yang melihat seseorang berbuat jelek dan itu nampak, maka barangkali ada sifat baik dalam hatinya yang menyebabkan kesalahannya diampuni. Karenanya amalan lahiriyah hanya jadi sangkaan kuat, namun tak menunjukkan secara tegas isi hati seseorang baik ataukah tidak. Sehingga kita tidak boleh berlebihan dalam mengagungkan orang yang kita lihat secara lahiriyah nampak gemar beramal shalih. Begitu pula jangan sampai menganggap hina orang muslim yang secara lahiriyah dilihat jelek. Kita tetap mencela perbuatan jelek yang dilakukan, namun bukan mencela individunya untuk selamanya. Perhatikanlah masalah ini perbedaannya sangatlah tipis.” Ingat hati manusia itu bisa berbolak-balik. Bisa jadi saat ini ia sesat dan gemar maksiat, namun keesokan hari, ia berubah menjadi shalih. Bisa jadi pula malah sebaliknya. Hati manusia –ingatlah- di antara jari-jemari Ar-Rahman.   Hati Manusia di antara Jari-Jemari Ar-Rahman   Dari ‘Amr bin Al-‘Ash, ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ». ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ » “Sesungguhnya seluruh manusia hatinya di antara jari-jemari Ar-Rahman, seperti satu hati. Sekehendak-Nya hati itu dibolak-balikkan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengucapkan do’a, “Allahumma musharrifal qulub sharrif quluubanaa ‘ala tho’atik (artinya: Ya Allah, Yang Maha Membolak-Balikkan hati, tetapkanlah hati kami terus dalam ketaatan pada-Mu).” (HR. Muslim, no. 2654)   Moga Allah terus meneguhkan hati kita dalam ketaatan pada-Nya. Allahumma musharrifal qulub sharrif quluubanaa ‘ala tho’atik — Disusun ba’da Magrib setelah hujan mengguyur Darush Sholihin Panggang, 8 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanajemen hati

Casing Bagus

Casing bagus belum tentu menunjukkan dalamnya juga ikut bagus.   Casing Bagus   Ibaratnya seperti kita memilih hape. Casingnya kita lihat bagus, menarik, kinclong. Namun jeroannya (bagian dalamnya) belum tentu demikian. Bagian dalam handphone tersebut belum tentu sebaik casingnya. Terus, kita dapat menilai hape tersebut baik bagaimana? Yah tentu, tanya-tanya dong orang yang sudah pernah menggunakan hape tersebut. Pasti dia bisa memberi komentar. “Ooh, hape ini baterainya gak kuat, gak bisa bertahan lama.” “Hape ini, loadingnya lambat.” “Hape tersebut, RAM-nya kecil.” “Hape ini kameranya kurang bagus hasilnya.” Orang yang pernah menggunakan hape semacam itu akan mudah sekali dalam memberikan penilaian.   Casing Manusia   Casing manusia juga demikian adanya. Kita memang hanya bisa tahu seseorang dari tampilan luarnya atau lahiriyahnya. Untuk dalamnya, niat hatinya, kita tak tahu. Hatinya suka bermaksiat, kita tidak bisa tahu. Kegemarannya yang suka bermaksiat kala sendiri pun, kita tak tahu. Terus bagaimana kita menilainya? Hal ini sangat dibutuhkan oleh seseorang yang ingin mencari pasangan hidup, mencari suami atau istri. Bisa saja diketahui dari orang-orang yang pernah bersama dengannya. Mereka akan bisa beri penilaian. Namun sulit bagi kita bertanya pada orang yang memproduksi, karena pasti orang yang akan dinilai selalu dapat penilaian positif dan sisi negatif selalu ditutup-tutupi.   Karenanya tanyalah pada teman karibnya. Tanyalah pada teman kosnya. Tanyalah pada teman kampusnya. Tanyalah pada seorang alim yang dekat dengannya. Mereka-mereka tadi akan lebih tahu isi casing tersebut. Karena kadang kita temui … Ada orang yang terlihat alim dilihat dari penampilan, tak tahunya punya hubungan gelap dengan perempuan. Ada orang yang terlihat berjubah, tak tahunya berpemahaman sesat. Ada orang yang lantunan bacaan qurannya bagus, tak tahunya kelakuannya sering tonton video yang tidak genah. Ada orang yang terlihat biasa-biasa, eehh … malah dialah yang lebih mulia di sisi Allah. Allah Nilai Hati   Yang jelas Allah menilai hati kita, bukan casing kita. Kita tak perlu pamerkan casing kita yang bagus, berusahalah terus memperbaiki hati kita. Dari Abu Hurairah ‘Abdurrahman bin Shakr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ ». وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ “Sesungguhnya Allah tidaklah melihat pada tubuh kalian. Akan tetapi, Allah melihat pada hati kalian.” Beliau berisyarat menunjuk dadanya dengan jari-jemarinya. (HR. Muslim, no. 2564)   Cara Menilai Orang   Kala menilai orang … Kita hukumi orang sebatas lahiriyah, tak bisa kita hukumi batinnya. Namun kadang kita bisa tahu jeleknya seseorang dari komentar orang yang pernah dekat dengannya atau ada bukti aktual yang membongkar kejelekannya sendiri.   Tak Perlu Berlebihan Menilai   Dari sini kita bisa ambil pelajaran, jangan berlebihan dalam menilai dan memuji casing yang bagus karena dalamnya kita tak tahu. Al-Qurthubi memaparkan dalam Al-Mufhim limaa Asykala min Talkhish Kitab Muslim (6: 539), “Kalau hati itu yang memperbagus amalan lahiriyah dan amalan hati adalah suatu yang ghaib bagi kita, maka janganlah menebak-nebak hal batin seseorang dengan mudah karena cuma sekedar melihat dari casing luar dari ketaatan atau kesalahan yang dilakukan. Siapa saja yang menjaga amalan baik secara lahiriyah, Allah-lah yang mengetahui bagaimana sifat jelek atau tercela yang ada dalam hatinya. Sebaliknya, siapa pun yang melihat seseorang berbuat jelek dan itu nampak, maka barangkali ada sifat baik dalam hatinya yang menyebabkan kesalahannya diampuni. Karenanya amalan lahiriyah hanya jadi sangkaan kuat, namun tak menunjukkan secara tegas isi hati seseorang baik ataukah tidak. Sehingga kita tidak boleh berlebihan dalam mengagungkan orang yang kita lihat secara lahiriyah nampak gemar beramal shalih. Begitu pula jangan sampai menganggap hina orang muslim yang secara lahiriyah dilihat jelek. Kita tetap mencela perbuatan jelek yang dilakukan, namun bukan mencela individunya untuk selamanya. Perhatikanlah masalah ini perbedaannya sangatlah tipis.” Ingat hati manusia itu bisa berbolak-balik. Bisa jadi saat ini ia sesat dan gemar maksiat, namun keesokan hari, ia berubah menjadi shalih. Bisa jadi pula malah sebaliknya. Hati manusia –ingatlah- di antara jari-jemari Ar-Rahman.   Hati Manusia di antara Jari-Jemari Ar-Rahman   Dari ‘Amr bin Al-‘Ash, ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ». ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ » “Sesungguhnya seluruh manusia hatinya di antara jari-jemari Ar-Rahman, seperti satu hati. Sekehendak-Nya hati itu dibolak-balikkan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengucapkan do’a, “Allahumma musharrifal qulub sharrif quluubanaa ‘ala tho’atik (artinya: Ya Allah, Yang Maha Membolak-Balikkan hati, tetapkanlah hati kami terus dalam ketaatan pada-Mu).” (HR. Muslim, no. 2654)   Moga Allah terus meneguhkan hati kita dalam ketaatan pada-Nya. Allahumma musharrifal qulub sharrif quluubanaa ‘ala tho’atik — Disusun ba’da Magrib setelah hujan mengguyur Darush Sholihin Panggang, 8 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanajemen hati
Casing bagus belum tentu menunjukkan dalamnya juga ikut bagus.   Casing Bagus   Ibaratnya seperti kita memilih hape. Casingnya kita lihat bagus, menarik, kinclong. Namun jeroannya (bagian dalamnya) belum tentu demikian. Bagian dalam handphone tersebut belum tentu sebaik casingnya. Terus, kita dapat menilai hape tersebut baik bagaimana? Yah tentu, tanya-tanya dong orang yang sudah pernah menggunakan hape tersebut. Pasti dia bisa memberi komentar. “Ooh, hape ini baterainya gak kuat, gak bisa bertahan lama.” “Hape ini, loadingnya lambat.” “Hape tersebut, RAM-nya kecil.” “Hape ini kameranya kurang bagus hasilnya.” Orang yang pernah menggunakan hape semacam itu akan mudah sekali dalam memberikan penilaian.   Casing Manusia   Casing manusia juga demikian adanya. Kita memang hanya bisa tahu seseorang dari tampilan luarnya atau lahiriyahnya. Untuk dalamnya, niat hatinya, kita tak tahu. Hatinya suka bermaksiat, kita tidak bisa tahu. Kegemarannya yang suka bermaksiat kala sendiri pun, kita tak tahu. Terus bagaimana kita menilainya? Hal ini sangat dibutuhkan oleh seseorang yang ingin mencari pasangan hidup, mencari suami atau istri. Bisa saja diketahui dari orang-orang yang pernah bersama dengannya. Mereka akan bisa beri penilaian. Namun sulit bagi kita bertanya pada orang yang memproduksi, karena pasti orang yang akan dinilai selalu dapat penilaian positif dan sisi negatif selalu ditutup-tutupi.   Karenanya tanyalah pada teman karibnya. Tanyalah pada teman kosnya. Tanyalah pada teman kampusnya. Tanyalah pada seorang alim yang dekat dengannya. Mereka-mereka tadi akan lebih tahu isi casing tersebut. Karena kadang kita temui … Ada orang yang terlihat alim dilihat dari penampilan, tak tahunya punya hubungan gelap dengan perempuan. Ada orang yang terlihat berjubah, tak tahunya berpemahaman sesat. Ada orang yang lantunan bacaan qurannya bagus, tak tahunya kelakuannya sering tonton video yang tidak genah. Ada orang yang terlihat biasa-biasa, eehh … malah dialah yang lebih mulia di sisi Allah. Allah Nilai Hati   Yang jelas Allah menilai hati kita, bukan casing kita. Kita tak perlu pamerkan casing kita yang bagus, berusahalah terus memperbaiki hati kita. Dari Abu Hurairah ‘Abdurrahman bin Shakr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ ». وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ “Sesungguhnya Allah tidaklah melihat pada tubuh kalian. Akan tetapi, Allah melihat pada hati kalian.” Beliau berisyarat menunjuk dadanya dengan jari-jemarinya. (HR. Muslim, no. 2564)   Cara Menilai Orang   Kala menilai orang … Kita hukumi orang sebatas lahiriyah, tak bisa kita hukumi batinnya. Namun kadang kita bisa tahu jeleknya seseorang dari komentar orang yang pernah dekat dengannya atau ada bukti aktual yang membongkar kejelekannya sendiri.   Tak Perlu Berlebihan Menilai   Dari sini kita bisa ambil pelajaran, jangan berlebihan dalam menilai dan memuji casing yang bagus karena dalamnya kita tak tahu. Al-Qurthubi memaparkan dalam Al-Mufhim limaa Asykala min Talkhish Kitab Muslim (6: 539), “Kalau hati itu yang memperbagus amalan lahiriyah dan amalan hati adalah suatu yang ghaib bagi kita, maka janganlah menebak-nebak hal batin seseorang dengan mudah karena cuma sekedar melihat dari casing luar dari ketaatan atau kesalahan yang dilakukan. Siapa saja yang menjaga amalan baik secara lahiriyah, Allah-lah yang mengetahui bagaimana sifat jelek atau tercela yang ada dalam hatinya. Sebaliknya, siapa pun yang melihat seseorang berbuat jelek dan itu nampak, maka barangkali ada sifat baik dalam hatinya yang menyebabkan kesalahannya diampuni. Karenanya amalan lahiriyah hanya jadi sangkaan kuat, namun tak menunjukkan secara tegas isi hati seseorang baik ataukah tidak. Sehingga kita tidak boleh berlebihan dalam mengagungkan orang yang kita lihat secara lahiriyah nampak gemar beramal shalih. Begitu pula jangan sampai menganggap hina orang muslim yang secara lahiriyah dilihat jelek. Kita tetap mencela perbuatan jelek yang dilakukan, namun bukan mencela individunya untuk selamanya. Perhatikanlah masalah ini perbedaannya sangatlah tipis.” Ingat hati manusia itu bisa berbolak-balik. Bisa jadi saat ini ia sesat dan gemar maksiat, namun keesokan hari, ia berubah menjadi shalih. Bisa jadi pula malah sebaliknya. Hati manusia –ingatlah- di antara jari-jemari Ar-Rahman.   Hati Manusia di antara Jari-Jemari Ar-Rahman   Dari ‘Amr bin Al-‘Ash, ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ». ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ » “Sesungguhnya seluruh manusia hatinya di antara jari-jemari Ar-Rahman, seperti satu hati. Sekehendak-Nya hati itu dibolak-balikkan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengucapkan do’a, “Allahumma musharrifal qulub sharrif quluubanaa ‘ala tho’atik (artinya: Ya Allah, Yang Maha Membolak-Balikkan hati, tetapkanlah hati kami terus dalam ketaatan pada-Mu).” (HR. Muslim, no. 2654)   Moga Allah terus meneguhkan hati kita dalam ketaatan pada-Nya. Allahumma musharrifal qulub sharrif quluubanaa ‘ala tho’atik — Disusun ba’da Magrib setelah hujan mengguyur Darush Sholihin Panggang, 8 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanajemen hati


Casing bagus belum tentu menunjukkan dalamnya juga ikut bagus.   Casing Bagus   Ibaratnya seperti kita memilih hape. Casingnya kita lihat bagus, menarik, kinclong. Namun jeroannya (bagian dalamnya) belum tentu demikian. Bagian dalam handphone tersebut belum tentu sebaik casingnya. Terus, kita dapat menilai hape tersebut baik bagaimana? Yah tentu, tanya-tanya dong orang yang sudah pernah menggunakan hape tersebut. Pasti dia bisa memberi komentar. “Ooh, hape ini baterainya gak kuat, gak bisa bertahan lama.” “Hape ini, loadingnya lambat.” “Hape tersebut, RAM-nya kecil.” “Hape ini kameranya kurang bagus hasilnya.” Orang yang pernah menggunakan hape semacam itu akan mudah sekali dalam memberikan penilaian.   Casing Manusia   Casing manusia juga demikian adanya. Kita memang hanya bisa tahu seseorang dari tampilan luarnya atau lahiriyahnya. Untuk dalamnya, niat hatinya, kita tak tahu. Hatinya suka bermaksiat, kita tidak bisa tahu. Kegemarannya yang suka bermaksiat kala sendiri pun, kita tak tahu. Terus bagaimana kita menilainya? Hal ini sangat dibutuhkan oleh seseorang yang ingin mencari pasangan hidup, mencari suami atau istri. Bisa saja diketahui dari orang-orang yang pernah bersama dengannya. Mereka akan bisa beri penilaian. Namun sulit bagi kita bertanya pada orang yang memproduksi, karena pasti orang yang akan dinilai selalu dapat penilaian positif dan sisi negatif selalu ditutup-tutupi.   Karenanya tanyalah pada teman karibnya. Tanyalah pada teman kosnya. Tanyalah pada teman kampusnya. Tanyalah pada seorang alim yang dekat dengannya. Mereka-mereka tadi akan lebih tahu isi casing tersebut. Karena kadang kita temui … Ada orang yang terlihat alim dilihat dari penampilan, tak tahunya punya hubungan gelap dengan perempuan. Ada orang yang terlihat berjubah, tak tahunya berpemahaman sesat. Ada orang yang lantunan bacaan qurannya bagus, tak tahunya kelakuannya sering tonton video yang tidak genah. Ada orang yang terlihat biasa-biasa, eehh … malah dialah yang lebih mulia di sisi Allah. Allah Nilai Hati   Yang jelas Allah menilai hati kita, bukan casing kita. Kita tak perlu pamerkan casing kita yang bagus, berusahalah terus memperbaiki hati kita. Dari Abu Hurairah ‘Abdurrahman bin Shakr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ ». وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ “Sesungguhnya Allah tidaklah melihat pada tubuh kalian. Akan tetapi, Allah melihat pada hati kalian.” Beliau berisyarat menunjuk dadanya dengan jari-jemarinya. (HR. Muslim, no. 2564)   Cara Menilai Orang   Kala menilai orang … Kita hukumi orang sebatas lahiriyah, tak bisa kita hukumi batinnya. Namun kadang kita bisa tahu jeleknya seseorang dari komentar orang yang pernah dekat dengannya atau ada bukti aktual yang membongkar kejelekannya sendiri.   Tak Perlu Berlebihan Menilai   Dari sini kita bisa ambil pelajaran, jangan berlebihan dalam menilai dan memuji casing yang bagus karena dalamnya kita tak tahu. Al-Qurthubi memaparkan dalam Al-Mufhim limaa Asykala min Talkhish Kitab Muslim (6: 539), “Kalau hati itu yang memperbagus amalan lahiriyah dan amalan hati adalah suatu yang ghaib bagi kita, maka janganlah menebak-nebak hal batin seseorang dengan mudah karena cuma sekedar melihat dari casing luar dari ketaatan atau kesalahan yang dilakukan. Siapa saja yang menjaga amalan baik secara lahiriyah, Allah-lah yang mengetahui bagaimana sifat jelek atau tercela yang ada dalam hatinya. Sebaliknya, siapa pun yang melihat seseorang berbuat jelek dan itu nampak, maka barangkali ada sifat baik dalam hatinya yang menyebabkan kesalahannya diampuni. Karenanya amalan lahiriyah hanya jadi sangkaan kuat, namun tak menunjukkan secara tegas isi hati seseorang baik ataukah tidak. Sehingga kita tidak boleh berlebihan dalam mengagungkan orang yang kita lihat secara lahiriyah nampak gemar beramal shalih. Begitu pula jangan sampai menganggap hina orang muslim yang secara lahiriyah dilihat jelek. Kita tetap mencela perbuatan jelek yang dilakukan, namun bukan mencela individunya untuk selamanya. Perhatikanlah masalah ini perbedaannya sangatlah tipis.” Ingat hati manusia itu bisa berbolak-balik. Bisa jadi saat ini ia sesat dan gemar maksiat, namun keesokan hari, ia berubah menjadi shalih. Bisa jadi pula malah sebaliknya. Hati manusia –ingatlah- di antara jari-jemari Ar-Rahman.   Hati Manusia di antara Jari-Jemari Ar-Rahman   Dari ‘Amr bin Al-‘Ash, ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ». ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ » “Sesungguhnya seluruh manusia hatinya di antara jari-jemari Ar-Rahman, seperti satu hati. Sekehendak-Nya hati itu dibolak-balikkan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengucapkan do’a, “Allahumma musharrifal qulub sharrif quluubanaa ‘ala tho’atik (artinya: Ya Allah, Yang Maha Membolak-Balikkan hati, tetapkanlah hati kami terus dalam ketaatan pada-Mu).” (HR. Muslim, no. 2654)   Moga Allah terus meneguhkan hati kita dalam ketaatan pada-Nya. Allahumma musharrifal qulub sharrif quluubanaa ‘ala tho’atik — Disusun ba’da Magrib setelah hujan mengguyur Darush Sholihin Panggang, 8 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanajemen hati

Dari Miras Sampai Zina (Khamar, Biang Kerusakan)

Minuman keras (miras), kita tahu adalah minuman yang berbahaya. Berbahaya bagi individu, juga berbahaya bagi masyarakat. Bahkan dapat dikata, khamar adalah biangnya kerusakan lainnya.   Jauhilah Khamar Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Ma-idah: 90-91) Dalam ayat ini dari beberapa sisi kita dapat melihat keharaman khamar: Khamar dalam ayat tersebut dikaitkan dengan penyembahan pada berhala. Allah menyebut rijsun (kotor). Khamar termasuk perbuatan setan. Setan pastilah datang dengan membawa kejelekan dan hal yang kotor. Kita diperintahkan untuk menjauhi khamar. Seseorang yang menjauhinya akan mendapatkan keberuntungan. Jika seseorang malah mendekati khamar, malah termasuk orang yang merugi. Khamar dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian. Allah menutup dengan mengatakan (فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ), berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dari sini, kita katakan miras (minuman keras) itu haram.   Khamar Dilaknat Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ “Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya,penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya dan orang yang meminta diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674; Ibnu Majah no. 3380. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2356) Maksud khamar itu dilaknat oleh Allah, agar setiap orang menjauhi minuman haram tersebut. Bisa pula yang dimaksudkan dengan “Allah melaknat khamar” adalah melaknat memakan hasil upah dari penjualan khamar.  (‘Aun Al-Ma’bud, 10: 86)   Siksaan Akhirat bagi Pecandu Khamar Pertama, pecandu khamar disamakan dengan para penyembah berhala. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مُدْمِنُ الْخَمْرِ كَعَابِدِ وَثَنٍ “Pecandu khamar seperti penyembah berhala.” (HR. Ibnu Majah, no. 3375. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan) Dalam Hasyiyah As-Sindi ‘ala Ibni Majah (6: 357), disebutkan bahwa Allah Ta’ala akan mengumpulkan peminum khamar dengan penyembah berhala karena Allah menyebutkan mereka satu dalam ayat ‘innamal khamaru wal maysiru …’ (surat Al-Maidah ayat 90). Begitu pula shalat keduanya tidak diterima. Orang kafir kalaulah ia shalat, shalatnya tidak diterima. Sama halnya dengan peminum khamar. Wal ‘iyadzu billah …   Kedua, pecandu khamar diancam tidak masuk surga Dari Abu Ad-Darda’, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ مُدْمِنُ خَمْرٍ “Pecandu khamar tidak akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 3376. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Khamar itu Biang Kerusakan Hal ini memang benar adanya. Para pemabuk biasa membuat kerusakan. Mereka buat keonaran, buat kekacauan, saling bertengkar dan saling benci. Bahkan mabuk bisa jadi biang maksiat lainnya seperti zina, bahkan pembunuhan. Khamar memang biang kerusakan atau induk berbagai macam kejahatan. Ada kisah menarik yang bisa diambil pelajaran berikut ini. Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan, “Jauhilah khamar (minuman keras), karena khamar itu merupakan induk segala keburukan (biang kerusakan). ‘Utsman bercerita, Dahulu ada seorang ‘abid (ahli ibadah) yang biasa pergi ke masjid di antara orang-orang sebelum kalian dan ia disukai oleh seorang pelacur. Pelacur tersebut mengutus pembantunya untuk menyampaikan pesan, “Kami mengundang engkau untuk suatu kesaksian.” Ahli ibadah itu pun pergi bersama pembantu tersebut. Ketika dia sudah sampai dan masuk ke rumah sang pelacur, segera pelacur itu menutup rapat semua pintu rumahnya, dan tak ada orang lain. Mata sang abid tertuju ke sosok seorang wanita yang amat cantik (bahenol dan seksi dengan pakaian yang menantang) sambil membawa secawan khamar dan dekatnya ada bayi yang masih kecil. Wanita tersebut berkata, “Demi Allah, aku tidak mengundangmu untuk sebuah kesaksian, tapi aku mengundangmu agar engkau bercinta denganku, atau engkau ikut minum khamar barang segelas bersamaku, atau engkau harus membunuh bayi ini.” (Kalau engkau menolaknya, maka saya akan menjerit dan berteriak, ‘ada orang memasuki rumahku.’) Akhirnya sang ahli ibadah bertekuk lutut dan dia berkata, “Zina, saya tidak mau. Membunuh juga tidak.” Lalu ia memilih untuk meminum khamar seteguk demi seteguk hingga akhirnya ia mabuk. Dan setelah mabuk hilanglah akal sehatnya yang pada akhirnya ia berzina pada pelacur tersebut dan juga membunuh bayi itu. Lantas ‘Utsman berkata, فَاجْتَنِبُوا الْخَمْرَ فَإِنَّهَا وَاللَّهِ لا يَجْتَمِعُ الإِيمَانُ وَإِدْمَانُ الْخَمْرِ إِلا لَيُوشِكُ أَنْ يُخْرِجَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ Karena itu jauhilah khamar (miras), karena demi Allah, sesungguhnya iman tidak dapat menyatu dengan khamar dalam dada seseorang, melainkan harus keluar salah satunya. (HR. An-Nasa’i, no. 5669; 5670. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Ada hadits yang menyebutkan, الخَمْرُ أُمُّ الخَبَائِثِ، فَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ تُقْبَلْ صَلاَتُهُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، فَإِنْ مَاتَ وَهِيَ فِي بَطْنِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً “Khamar adalah induk berbagai macam kerusakan. Siapa yang meminumnya, shalatnya selama 40 hari tidaklah diterima. Jika ia mati dalam keadaan khamar masih di perutnya, berarti ia mati seperti matinya orang Jahiliyyah.” (HR. Ath-Thabrani. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1854 menyatkaan bahwa hadits ini hasan)   Dan memang ada yang mati dalam keadaan mabuk … Bahkan ada yang kena penyakit kronis gara-gara jadi pecandu dulunya. Na’udzu billahi min dzalik. Semoga kita bisa saling mengingatkan dan Allah memberi kita taufik untuk menjauhi dosa-dosa besar. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat sore, 5 Rabi’uts Tsani 1437 H Naskah Khutbah Jumat di Masjid Jami Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, 5 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsalkohol zina

Dari Miras Sampai Zina (Khamar, Biang Kerusakan)

Minuman keras (miras), kita tahu adalah minuman yang berbahaya. Berbahaya bagi individu, juga berbahaya bagi masyarakat. Bahkan dapat dikata, khamar adalah biangnya kerusakan lainnya.   Jauhilah Khamar Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Ma-idah: 90-91) Dalam ayat ini dari beberapa sisi kita dapat melihat keharaman khamar: Khamar dalam ayat tersebut dikaitkan dengan penyembahan pada berhala. Allah menyebut rijsun (kotor). Khamar termasuk perbuatan setan. Setan pastilah datang dengan membawa kejelekan dan hal yang kotor. Kita diperintahkan untuk menjauhi khamar. Seseorang yang menjauhinya akan mendapatkan keberuntungan. Jika seseorang malah mendekati khamar, malah termasuk orang yang merugi. Khamar dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian. Allah menutup dengan mengatakan (فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ), berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dari sini, kita katakan miras (minuman keras) itu haram.   Khamar Dilaknat Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ “Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya,penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya dan orang yang meminta diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674; Ibnu Majah no. 3380. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2356) Maksud khamar itu dilaknat oleh Allah, agar setiap orang menjauhi minuman haram tersebut. Bisa pula yang dimaksudkan dengan “Allah melaknat khamar” adalah melaknat memakan hasil upah dari penjualan khamar.  (‘Aun Al-Ma’bud, 10: 86)   Siksaan Akhirat bagi Pecandu Khamar Pertama, pecandu khamar disamakan dengan para penyembah berhala. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مُدْمِنُ الْخَمْرِ كَعَابِدِ وَثَنٍ “Pecandu khamar seperti penyembah berhala.” (HR. Ibnu Majah, no. 3375. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan) Dalam Hasyiyah As-Sindi ‘ala Ibni Majah (6: 357), disebutkan bahwa Allah Ta’ala akan mengumpulkan peminum khamar dengan penyembah berhala karena Allah menyebutkan mereka satu dalam ayat ‘innamal khamaru wal maysiru …’ (surat Al-Maidah ayat 90). Begitu pula shalat keduanya tidak diterima. Orang kafir kalaulah ia shalat, shalatnya tidak diterima. Sama halnya dengan peminum khamar. Wal ‘iyadzu billah …   Kedua, pecandu khamar diancam tidak masuk surga Dari Abu Ad-Darda’, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ مُدْمِنُ خَمْرٍ “Pecandu khamar tidak akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 3376. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Khamar itu Biang Kerusakan Hal ini memang benar adanya. Para pemabuk biasa membuat kerusakan. Mereka buat keonaran, buat kekacauan, saling bertengkar dan saling benci. Bahkan mabuk bisa jadi biang maksiat lainnya seperti zina, bahkan pembunuhan. Khamar memang biang kerusakan atau induk berbagai macam kejahatan. Ada kisah menarik yang bisa diambil pelajaran berikut ini. Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan, “Jauhilah khamar (minuman keras), karena khamar itu merupakan induk segala keburukan (biang kerusakan). ‘Utsman bercerita, Dahulu ada seorang ‘abid (ahli ibadah) yang biasa pergi ke masjid di antara orang-orang sebelum kalian dan ia disukai oleh seorang pelacur. Pelacur tersebut mengutus pembantunya untuk menyampaikan pesan, “Kami mengundang engkau untuk suatu kesaksian.” Ahli ibadah itu pun pergi bersama pembantu tersebut. Ketika dia sudah sampai dan masuk ke rumah sang pelacur, segera pelacur itu menutup rapat semua pintu rumahnya, dan tak ada orang lain. Mata sang abid tertuju ke sosok seorang wanita yang amat cantik (bahenol dan seksi dengan pakaian yang menantang) sambil membawa secawan khamar dan dekatnya ada bayi yang masih kecil. Wanita tersebut berkata, “Demi Allah, aku tidak mengundangmu untuk sebuah kesaksian, tapi aku mengundangmu agar engkau bercinta denganku, atau engkau ikut minum khamar barang segelas bersamaku, atau engkau harus membunuh bayi ini.” (Kalau engkau menolaknya, maka saya akan menjerit dan berteriak, ‘ada orang memasuki rumahku.’) Akhirnya sang ahli ibadah bertekuk lutut dan dia berkata, “Zina, saya tidak mau. Membunuh juga tidak.” Lalu ia memilih untuk meminum khamar seteguk demi seteguk hingga akhirnya ia mabuk. Dan setelah mabuk hilanglah akal sehatnya yang pada akhirnya ia berzina pada pelacur tersebut dan juga membunuh bayi itu. Lantas ‘Utsman berkata, فَاجْتَنِبُوا الْخَمْرَ فَإِنَّهَا وَاللَّهِ لا يَجْتَمِعُ الإِيمَانُ وَإِدْمَانُ الْخَمْرِ إِلا لَيُوشِكُ أَنْ يُخْرِجَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ Karena itu jauhilah khamar (miras), karena demi Allah, sesungguhnya iman tidak dapat menyatu dengan khamar dalam dada seseorang, melainkan harus keluar salah satunya. (HR. An-Nasa’i, no. 5669; 5670. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Ada hadits yang menyebutkan, الخَمْرُ أُمُّ الخَبَائِثِ، فَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ تُقْبَلْ صَلاَتُهُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، فَإِنْ مَاتَ وَهِيَ فِي بَطْنِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً “Khamar adalah induk berbagai macam kerusakan. Siapa yang meminumnya, shalatnya selama 40 hari tidaklah diterima. Jika ia mati dalam keadaan khamar masih di perutnya, berarti ia mati seperti matinya orang Jahiliyyah.” (HR. Ath-Thabrani. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1854 menyatkaan bahwa hadits ini hasan)   Dan memang ada yang mati dalam keadaan mabuk … Bahkan ada yang kena penyakit kronis gara-gara jadi pecandu dulunya. Na’udzu billahi min dzalik. Semoga kita bisa saling mengingatkan dan Allah memberi kita taufik untuk menjauhi dosa-dosa besar. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat sore, 5 Rabi’uts Tsani 1437 H Naskah Khutbah Jumat di Masjid Jami Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, 5 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsalkohol zina
Minuman keras (miras), kita tahu adalah minuman yang berbahaya. Berbahaya bagi individu, juga berbahaya bagi masyarakat. Bahkan dapat dikata, khamar adalah biangnya kerusakan lainnya.   Jauhilah Khamar Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Ma-idah: 90-91) Dalam ayat ini dari beberapa sisi kita dapat melihat keharaman khamar: Khamar dalam ayat tersebut dikaitkan dengan penyembahan pada berhala. Allah menyebut rijsun (kotor). Khamar termasuk perbuatan setan. Setan pastilah datang dengan membawa kejelekan dan hal yang kotor. Kita diperintahkan untuk menjauhi khamar. Seseorang yang menjauhinya akan mendapatkan keberuntungan. Jika seseorang malah mendekati khamar, malah termasuk orang yang merugi. Khamar dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian. Allah menutup dengan mengatakan (فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ), berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dari sini, kita katakan miras (minuman keras) itu haram.   Khamar Dilaknat Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ “Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya,penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya dan orang yang meminta diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674; Ibnu Majah no. 3380. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2356) Maksud khamar itu dilaknat oleh Allah, agar setiap orang menjauhi minuman haram tersebut. Bisa pula yang dimaksudkan dengan “Allah melaknat khamar” adalah melaknat memakan hasil upah dari penjualan khamar.  (‘Aun Al-Ma’bud, 10: 86)   Siksaan Akhirat bagi Pecandu Khamar Pertama, pecandu khamar disamakan dengan para penyembah berhala. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مُدْمِنُ الْخَمْرِ كَعَابِدِ وَثَنٍ “Pecandu khamar seperti penyembah berhala.” (HR. Ibnu Majah, no. 3375. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan) Dalam Hasyiyah As-Sindi ‘ala Ibni Majah (6: 357), disebutkan bahwa Allah Ta’ala akan mengumpulkan peminum khamar dengan penyembah berhala karena Allah menyebutkan mereka satu dalam ayat ‘innamal khamaru wal maysiru …’ (surat Al-Maidah ayat 90). Begitu pula shalat keduanya tidak diterima. Orang kafir kalaulah ia shalat, shalatnya tidak diterima. Sama halnya dengan peminum khamar. Wal ‘iyadzu billah …   Kedua, pecandu khamar diancam tidak masuk surga Dari Abu Ad-Darda’, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ مُدْمِنُ خَمْرٍ “Pecandu khamar tidak akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 3376. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Khamar itu Biang Kerusakan Hal ini memang benar adanya. Para pemabuk biasa membuat kerusakan. Mereka buat keonaran, buat kekacauan, saling bertengkar dan saling benci. Bahkan mabuk bisa jadi biang maksiat lainnya seperti zina, bahkan pembunuhan. Khamar memang biang kerusakan atau induk berbagai macam kejahatan. Ada kisah menarik yang bisa diambil pelajaran berikut ini. Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan, “Jauhilah khamar (minuman keras), karena khamar itu merupakan induk segala keburukan (biang kerusakan). ‘Utsman bercerita, Dahulu ada seorang ‘abid (ahli ibadah) yang biasa pergi ke masjid di antara orang-orang sebelum kalian dan ia disukai oleh seorang pelacur. Pelacur tersebut mengutus pembantunya untuk menyampaikan pesan, “Kami mengundang engkau untuk suatu kesaksian.” Ahli ibadah itu pun pergi bersama pembantu tersebut. Ketika dia sudah sampai dan masuk ke rumah sang pelacur, segera pelacur itu menutup rapat semua pintu rumahnya, dan tak ada orang lain. Mata sang abid tertuju ke sosok seorang wanita yang amat cantik (bahenol dan seksi dengan pakaian yang menantang) sambil membawa secawan khamar dan dekatnya ada bayi yang masih kecil. Wanita tersebut berkata, “Demi Allah, aku tidak mengundangmu untuk sebuah kesaksian, tapi aku mengundangmu agar engkau bercinta denganku, atau engkau ikut minum khamar barang segelas bersamaku, atau engkau harus membunuh bayi ini.” (Kalau engkau menolaknya, maka saya akan menjerit dan berteriak, ‘ada orang memasuki rumahku.’) Akhirnya sang ahli ibadah bertekuk lutut dan dia berkata, “Zina, saya tidak mau. Membunuh juga tidak.” Lalu ia memilih untuk meminum khamar seteguk demi seteguk hingga akhirnya ia mabuk. Dan setelah mabuk hilanglah akal sehatnya yang pada akhirnya ia berzina pada pelacur tersebut dan juga membunuh bayi itu. Lantas ‘Utsman berkata, فَاجْتَنِبُوا الْخَمْرَ فَإِنَّهَا وَاللَّهِ لا يَجْتَمِعُ الإِيمَانُ وَإِدْمَانُ الْخَمْرِ إِلا لَيُوشِكُ أَنْ يُخْرِجَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ Karena itu jauhilah khamar (miras), karena demi Allah, sesungguhnya iman tidak dapat menyatu dengan khamar dalam dada seseorang, melainkan harus keluar salah satunya. (HR. An-Nasa’i, no. 5669; 5670. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Ada hadits yang menyebutkan, الخَمْرُ أُمُّ الخَبَائِثِ، فَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ تُقْبَلْ صَلاَتُهُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، فَإِنْ مَاتَ وَهِيَ فِي بَطْنِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً “Khamar adalah induk berbagai macam kerusakan. Siapa yang meminumnya, shalatnya selama 40 hari tidaklah diterima. Jika ia mati dalam keadaan khamar masih di perutnya, berarti ia mati seperti matinya orang Jahiliyyah.” (HR. Ath-Thabrani. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1854 menyatkaan bahwa hadits ini hasan)   Dan memang ada yang mati dalam keadaan mabuk … Bahkan ada yang kena penyakit kronis gara-gara jadi pecandu dulunya. Na’udzu billahi min dzalik. Semoga kita bisa saling mengingatkan dan Allah memberi kita taufik untuk menjauhi dosa-dosa besar. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat sore, 5 Rabi’uts Tsani 1437 H Naskah Khutbah Jumat di Masjid Jami Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, 5 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsalkohol zina


Minuman keras (miras), kita tahu adalah minuman yang berbahaya. Berbahaya bagi individu, juga berbahaya bagi masyarakat. Bahkan dapat dikata, khamar adalah biangnya kerusakan lainnya.   Jauhilah Khamar Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Ma-idah: 90-91) Dalam ayat ini dari beberapa sisi kita dapat melihat keharaman khamar: Khamar dalam ayat tersebut dikaitkan dengan penyembahan pada berhala. Allah menyebut rijsun (kotor). Khamar termasuk perbuatan setan. Setan pastilah datang dengan membawa kejelekan dan hal yang kotor. Kita diperintahkan untuk menjauhi khamar. Seseorang yang menjauhinya akan mendapatkan keberuntungan. Jika seseorang malah mendekati khamar, malah termasuk orang yang merugi. Khamar dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian. Allah menutup dengan mengatakan (فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ), berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dari sini, kita katakan miras (minuman keras) itu haram.   Khamar Dilaknat Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ “Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya,penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya dan orang yang meminta diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674; Ibnu Majah no. 3380. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2356) Maksud khamar itu dilaknat oleh Allah, agar setiap orang menjauhi minuman haram tersebut. Bisa pula yang dimaksudkan dengan “Allah melaknat khamar” adalah melaknat memakan hasil upah dari penjualan khamar.  (‘Aun Al-Ma’bud, 10: 86)   Siksaan Akhirat bagi Pecandu Khamar Pertama, pecandu khamar disamakan dengan para penyembah berhala. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مُدْمِنُ الْخَمْرِ كَعَابِدِ وَثَنٍ “Pecandu khamar seperti penyembah berhala.” (HR. Ibnu Majah, no. 3375. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan) Dalam Hasyiyah As-Sindi ‘ala Ibni Majah (6: 357), disebutkan bahwa Allah Ta’ala akan mengumpulkan peminum khamar dengan penyembah berhala karena Allah menyebutkan mereka satu dalam ayat ‘innamal khamaru wal maysiru …’ (surat Al-Maidah ayat 90). Begitu pula shalat keduanya tidak diterima. Orang kafir kalaulah ia shalat, shalatnya tidak diterima. Sama halnya dengan peminum khamar. Wal ‘iyadzu billah …   Kedua, pecandu khamar diancam tidak masuk surga Dari Abu Ad-Darda’, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ مُدْمِنُ خَمْرٍ “Pecandu khamar tidak akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 3376. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Khamar itu Biang Kerusakan Hal ini memang benar adanya. Para pemabuk biasa membuat kerusakan. Mereka buat keonaran, buat kekacauan, saling bertengkar dan saling benci. Bahkan mabuk bisa jadi biang maksiat lainnya seperti zina, bahkan pembunuhan. Khamar memang biang kerusakan atau induk berbagai macam kejahatan. Ada kisah menarik yang bisa diambil pelajaran berikut ini. Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan, “Jauhilah khamar (minuman keras), karena khamar itu merupakan induk segala keburukan (biang kerusakan). ‘Utsman bercerita, Dahulu ada seorang ‘abid (ahli ibadah) yang biasa pergi ke masjid di antara orang-orang sebelum kalian dan ia disukai oleh seorang pelacur. Pelacur tersebut mengutus pembantunya untuk menyampaikan pesan, “Kami mengundang engkau untuk suatu kesaksian.” Ahli ibadah itu pun pergi bersama pembantu tersebut. Ketika dia sudah sampai dan masuk ke rumah sang pelacur, segera pelacur itu menutup rapat semua pintu rumahnya, dan tak ada orang lain. Mata sang abid tertuju ke sosok seorang wanita yang amat cantik (bahenol dan seksi dengan pakaian yang menantang) sambil membawa secawan khamar dan dekatnya ada bayi yang masih kecil. Wanita tersebut berkata, “Demi Allah, aku tidak mengundangmu untuk sebuah kesaksian, tapi aku mengundangmu agar engkau bercinta denganku, atau engkau ikut minum khamar barang segelas bersamaku, atau engkau harus membunuh bayi ini.” (Kalau engkau menolaknya, maka saya akan menjerit dan berteriak, ‘ada orang memasuki rumahku.’) Akhirnya sang ahli ibadah bertekuk lutut dan dia berkata, “Zina, saya tidak mau. Membunuh juga tidak.” Lalu ia memilih untuk meminum khamar seteguk demi seteguk hingga akhirnya ia mabuk. Dan setelah mabuk hilanglah akal sehatnya yang pada akhirnya ia berzina pada pelacur tersebut dan juga membunuh bayi itu. Lantas ‘Utsman berkata, فَاجْتَنِبُوا الْخَمْرَ فَإِنَّهَا وَاللَّهِ لا يَجْتَمِعُ الإِيمَانُ وَإِدْمَانُ الْخَمْرِ إِلا لَيُوشِكُ أَنْ يُخْرِجَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ Karena itu jauhilah khamar (miras), karena demi Allah, sesungguhnya iman tidak dapat menyatu dengan khamar dalam dada seseorang, melainkan harus keluar salah satunya. (HR. An-Nasa’i, no. 5669; 5670. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Ada hadits yang menyebutkan, الخَمْرُ أُمُّ الخَبَائِثِ، فَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ تُقْبَلْ صَلاَتُهُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، فَإِنْ مَاتَ وَهِيَ فِي بَطْنِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً “Khamar adalah induk berbagai macam kerusakan. Siapa yang meminumnya, shalatnya selama 40 hari tidaklah diterima. Jika ia mati dalam keadaan khamar masih di perutnya, berarti ia mati seperti matinya orang Jahiliyyah.” (HR. Ath-Thabrani. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1854 menyatkaan bahwa hadits ini hasan)   Dan memang ada yang mati dalam keadaan mabuk … Bahkan ada yang kena penyakit kronis gara-gara jadi pecandu dulunya. Na’udzu billahi min dzalik. Semoga kita bisa saling mengingatkan dan Allah memberi kita taufik untuk menjauhi dosa-dosa besar. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat sore, 5 Rabi’uts Tsani 1437 H Naskah Khutbah Jumat di Masjid Jami Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, 5 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsalkohol zina

Rahmat Allah dalam Penegakan Hukum Had

خطبة الجمعة من المسجد النبوي  5 ربيع الأخير 1437 هـالخطيب / فضيلة الشيخ على الحذيفىترجمت إلى لغة الملايو الإندونيسية تحت إشراف إدارة الترجمة بوكالة الرئاسة العامةلشئون المسجد النبويKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, Yang menyayangi hamba-hambaNya melalui ketetapan syariatNya. Yang mengguyurkan kepada mereka bergudang-gudang anugerah, karunia dan nikmatNya. Yang mengawasi setiap jiwa dan amal perbuatannya. Segala tindakan hambaNya dicatat, diberiNya pahala jika taat, namun  tetap santun terhadap yang maksiat. Maka Dia tidak menyegerakan hukuman terhadapnya, boleh jadi hamba itu bertobat lalu dengan senang Dia terima pertobatan itu.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, baik dalam rububiyah-Nya maupun uluhiyah-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita dan penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan rasul-Nya, nabi yang teristimewa  di atas seluruh makhluk-Nya.Ya Allah, sampaikanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya… Marilah kita bertakwa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Tempuhlah jalan menuju Allah melalui ketakwaan, niscaya kalian meraih perlindunganNya, rahmatNya dan ridhaNya, kalian pun pasti aman dari murkaNya dan azabNya yang menghinakan.Kaum muslimin!Kami mengajak kalian untuk mengingat rahmat Allah yang cukup membesarkan hati para hambaNya sebagaimana kita jumpai di permulaan setiap surah Al-Qur’an, yaitu :بسـم الله الرحمن الرحيم“Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”Allah -subhanahu wa ta’ala- mensifati Dzatnya dengan sifat rahmat kasih sayang di beberapa ayat Al-Qur’an. Dia-pun mensifati rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam- dengan sifat rahmat kasih sayang dalam beberapa hadis.Firman Allah :وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [ الأعراف/156]“ Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. Qs Al-A’raf : 156Sabda Nabi :” إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي فَهُوَ مَكْتُوبٌ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ”  رواه البخاري من حديث أبى هريرة“Sesungguhnya Allah menetapkan satu ketetapan sebelum mencipta penciptaan bahwa ‘rahmat-Ku lebih mendahului kemurkaan-Ku”. HR Bukhari dari hadis Abu Hurairah.Rahmat paling agung yang Allah berikan kepada hambaNya ialah bahwa Dia telah memasang rambu-rambu untuk meraih segala kebaikan, kebahagiaan dan kejayaan ketika hidup dan sesudah mati, yaitu dengan menyambut seruan Allah Tuhan yang Maha Pengasih, serta menyambut ajakan rasulNya – shallallahu alaihi wa sallam – yang telah menyampaikan amanat.Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [ الأنفال/ 24]“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan bagimu”. Qs Al-Anfal : 24Firman Allah :قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ [ النور/54]“Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. Qs An-Nur : 54Allah – subhanahu wa ta’ala – membuat perundang-udangan yang demikian itu agar seorang muslim menggapai kehidupan yang aman, sentosa dan bahagia, selain agar terhindar dari sanksi hukuman dunia dan akhirat.Penetapan syariat Allah bagi orang-orang mukallaf itu adakalanya berupa perintah wajib, sunnah, atau berupa larangan, sanksi hukuman yang membuat jera, ancaman, atau berupa hukuman kebijaksanaan (ta’zir). Semua itu dimaksudkan sebagai perwujudan kasih sayang Allah – subhanahu wa ta’ala –kepada hamba-hambaNya, serta telaksananya kemaslahatan, kepentingan, kemudahan dan rasa keadilan bagi mereka.Firman Allah :يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ [ البقرة/185]“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. Qs Al-Baqarah : 185Firman Allah :وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى [ الأعلى/ 8]“dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah” Qs Al-A’la : 8Firman Allah :مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [المائدة/6]“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. Qs Al-Maidah : 6Firman Allah :إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ [ النحل/90]“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan”. Qs An-Nahl : 90Hukum syariat Islam dapat mewujudkan kehidupan sejahtera bagi manusia dalam kehidupan dunianya, dan menempatkannya di surga yang penuh kenikmatan kelak di akhirat.Allah –subhanahu wa ta’ala – dengan pemberlakuan hukum syariatNya dan sanksi pidana agamaNya bermaksud menghindarkan hamba-hambaNya dari ketetapan hukum alamNya (yang pasti berlaku). Ketika manusia menerapkan hukum syariat, Allah tidak menjatuhkan hukuman terhadap mereka lantaran perbuatan dosa. Allah jauhkan mereka dari bencana yang membinasakan di dunia ini dan menyelamatkan mereka pula dari azab di akhirat kelak. Tetapi jika manusia tidak mengindahkan hukum syariat, maka berlakulah ketetapan hukum alam terhadap mereka yang tidak mengindahkannya itu sebagai balasan dan ganjaran atas pelanggaran mereka.Firman Allah :لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا [النساء/123]“ bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan setimpal dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah”. Qs An-Nisa : 123Hukuman alam yang telah menjadi ketetapan Allah lantaran dosa-dosa mereka itu sungguh keras dan menyakitkan.Firman Allah :وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ [ هود/102]“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”. Qs Hud : 102Sabda Nabi :” إنَّ اللهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ “ “Sesungguhnya Allah memberi kelonggaran waktu untuk orang yang zalim sehingga jika telah tiba waktunya, Allah tidak akan melepaskannya”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Musa –radhiyallahu anhu-.Firman Allah :إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ [ البروج/12]“ Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras”. Qs Al-Buruj : 12Firman Allah :قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ [ الأنعام/65]“Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan orang-orang (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. Qs Al-An’am : 65Sebagai bukti rahmat kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya ialah bahwa Dia tidak mempercepat menghukum mereka yang berbuat zalim, tetapi Allah memberi mereka kesempatan hingga waktu tertentu.Firman Allah :وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًا [ الكهف/58]“Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang telah ditentukan  (untuk mendapat azab), mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya”.Qs Alkahfi : 58Firman Allah :وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى [ النحل/61]“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan”. Qs An-Nahl :61Jika sanksi hukuman alam memang sudah saat dijatuhkan, maka Allah jatuhkannya kepada orang-orang yang benar-benar pantas menerimanya untuk mengingatkan mereka akan adanya hukuman yang lebih dahsyat dari pada hukuman alam tersebut, agar pelakunya yang mengundang murka Allah itu sadar dan insaf.Firman Allah :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الروم/41]“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Qs Ar-Rum : 41Firman Allah :وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [ السجدة/21]“Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Qs As-Sajdah : 21Barangsiapa yang sadar dan kembali ke jalan yang benar, Allah menyambutnya. Tetapi barangsiapa yang membandel dan tetap nekat, sedangkan Allah melihatnya tidak bakal kembali ke jalan yang benar, maka ketika itulah Allah menghukumnya  sekeras-kerasnya sesuai ketetapan takdirNya yang berlaku, sedangkan hukuman yang dahsyat di akhirat adalah neraka Jahanam.Jelaslah, sanksi hukuman syariat dan penerapan hukum pidananya tidaklah berarti apa-apa bila dibandingkan dengan sanksi hukuman alam lainnya, apalagi azab yang dahsyat di akhirat.Maka, mari berpikir wahai sesama manusia, betapa luasnya rahmat kasih sayang Allah dan sifat santunNya. Bagaimana Allah mensyariatkan untuk Anda berupa perintah, larangan, hukum perundang-undangan (syariat), dan hukum pidanaNya ( hudud ). Tujuannya adalah agar Anda terhindar dari hukuman alam yang pasti berlaku dan terhindar pula dari hukuman siksa yang amat dahsyat selama Anda hidup dan sesudah mati. Selain itu agar Anda memperoleh segi kemaslahatan dari hukum yang Allah syariatkan, dan terhindar dari segala keburukan.Maka ambil-lah hikmah dari semua itu, bercerminlah kepada para sahabat Nabi-radhiyallahu anhum- ketika mereka menyambut dakwah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- dengan mencintai syariat dan menerapkannya, ketika itulah Allah –subhanahu wa ta’ala- menghindarkan mereka dari bencana alam yang pernah menimpa bangsa-bangsa di masa silam, berupa kehinaan hukuman, musibah tenggelam, pekikan yang mematikan, terhempit batu, badai, gempa bumi dan berubah muka. Namun demikian Allah masih menghidupkan mereka kembali di dunia secara baik, memberi mereka kejayaan dan kekuasaan di bumi serta memenangkan mereka dalam menghadapi musuh, meskipun jumlah mereka sedikit, persenjataan mereka terbatas. Itu semua berkat keimanan, keikhlasan, kepasrahan dan ketaatan mereka.Umar Bin Khatab – radhiyallahu anhu – berkata kepada panglima perangnya :“Saya berpesan kepada Anda dan para prajurit yang bersama Anda agar tetap bertakwa kepada allah dalam keadaan apapun. Sebab takwa adalah senjata yang paling ampuh untuk mengalahkan musuh, dan strategi yang paling jitu dalam perang. Hendaklah Anda bersama segenap staf lebih takut berbuat maksiat dari pada takut menghadapi musuh kalian. Sebab lawan-lawan kalian lebih takut kepada dosa mereka dari pada kepada kalian. Kalau bukan karena itu, kalian tidak akan sanggup menghadapi mereka, sebab jumlah kita sedikit tidak sebanding dengan jumlah mereka, demikian pula persenjataan kita sangat minim dibanding persenjataan mereka.Kalaulah dosa-dosa kita sepadan dengan ukuran dosa-dosa mereka, itupun mereka masih tetap unggul dari segi kekuatan dari pada kita. Maka kita bisa menang atas mereka lantaran ketaatan kita kepada Allah. Kita tidak bisa mengalahkan musuh dengan mengandalkan kekuatan semata. Itulah sebabnya, para sahabat – radhiyallahu anhum – dan generasi yang mengikuti jejak mereka dalam kebaikan berhak menerima penghargaan sesuai janji Allah dalam Al-Qur’an.Firman Allah :وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [ التوبة / 100 ]“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. QS At-Taubah : 100 Perhatikanlah, bagaimana Allah –subhanahu wa ta’ala- mendatangkan segala kebaikan dan menolak segala macam keburukan bagi orang-orang yang berpegang teguh kepada agama Allah. Lalu lihatlah kondisi mereka yang berpaling dari seruan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-, yang menentang hukum syariat, yang menyerang ajaran Islam, yang berseberangan dengan para kekasih Allah.Renungkanlah, bagaimana para pembangkang itu terkepung oleh bencana hukuman Allah di alam ini sehingga mereka merasakan penderitaan yang menyakitkan karena terhina, tersakiti, terasing, terlantar, terpojokkan, terbuang dan berbagai malapetaka alam dalam kehidupan ini.Firman Allah :وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [ التوبة / 40 ]“ Dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Qs At-Taubah : 40Dan Allah berfirman :إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ كُبِتُواْ كَمَا كُبِتَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ وَقَدۡ أَنزَلۡنَآ ءَايَٰتِۢ بَيِّنَٰتٖۚ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٞ مُّهِينٞ [  المجادلة  / 5 ]“Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan”. (QS Al-Mujaadilah : 5)Dan Allah berfirman :إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡأَذَلِّينَ [ المجادلة / 20 ]“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina”. (QS Al-Mujaadilah : 20)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وَجُعِلَتِ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي“Dan dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi yang menyelisihi perintahku”Adapun siksaan yang ditetapkan di akhirat bagi orang-orang kafir adalah neraka Jahannam. Allah berfirman ;قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ سَتُغۡلَبُونَ وَتُحۡشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمِهَادُ [ آل عمران/ 12 ]“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya”. (QS Ali ‘Imron : 12)Maka apakah yang engkau cari wahai muslim setelah semua pemuliaan ini?, dan apakah yang bisa lebih dari rahmat Robmu yang memerintahkanmu kepada seluruh kebaikan dan melarangmu dari seluruh keburukan?, dan Allah telah memerinci hukum-hukum bagimu dan telah mensyari’atkan bagimu hukuman-hukuman had dan perkara-perkara yang menjerakan.Perintah-perintah merupakan persiapan untuk mencapai kesempurnaan manusia, dan pensucian serta pembersihan bagi tubuh, untuk memperkuat ruh dan memperkuat kehendak untuk berbuat kebajikan serta tarbiah yang sempurna untuk membentuk seluruh akhlak yang mulia, untuk memperkokoh hati dan memuliakan manusia. Allah berfirman :وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفۡسِهِۦۚ [ فاطر/18]“Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri”. (QS Fathir : 18)Allah berfirman :قَدۡ أَفۡلَحَ مَن تَزَكَّىٰ ،  وَذَكَرَ ٱسۡمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ [ الأعلى / 14-15]“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang”. (QS Al-A’la : 14-15)Allah berfirman :قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ، وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا [ الشمس / 9-10]“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS Asy-Syams : 9-10)Perintah yang pertama kali Allah keluarkan adalah mentauhidkan Allah dan beribadah kepadaNya. Barangsiapa yang merealisasikan tauhid maka Allah menjamin baginya keamanan di dunia dan akhirat dan Allah mensucikan jiwanya. Allah berfirman :ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ [ الأنعام / 82]Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Al-An’aam : 82)Dan telah berulang-ulang perintah untuk menjalankan rukun-rukun Islam dan penjelasan bahwa padanya ada pensucian, pembersihan, ganjaran yang agung, manfa’at-manfa’at, dan banyak keberkahan bagi individu dan masyarakat. Barangsiapa yang menelaah dalil-dalil maka akan jelas baginya hal ini. Dan rukun-rukun tersebutlah yang dibangun di atasnya seluruh perintah, dan seluruh motivasi kembali kepadanya.Adapun larangan-larangan maka demi memberi penjagaan bagi hati dari penyakit-penyakit syubhat dan syahwat, serta menjaga manusia dari perkara-perkara yang buruk, penyakit-penyakit, kerusakan-kerusakan, dan kejahatan-kejahatan, karena hal-hal yang dilarang itu ibarat racun bagi tubuh, dan perintah-perintah itu ibarat nutrisi bagi tubuh. Allah berfirman :إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ [ النحل/90]“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan”. (QS An-Nahl : 90)Adapun hukuman-hukuman had maka Allah mensyari’atkannya untuk menjaga agama, menjaga nyawa, menjaga kehormatan, menjaga akal dan menjaga harta, dan bukan karena mengikuti hawa nafsu seseorang. Adanya hukum had bagi murtad adalah untuk menjaga agama, dan adanya hukum qisos untuk menjaga nyawa, adanya hukum had zina demi menjaga kehormatan, dan adanya hukum had khomr dan narkoba adalah untuk menjaga akal, adanya hukum had mencuri adalah untuk menjaga harta. Dan inilah lima perkara darurat (primer) yang dijaga dengan pencegah yang agamis intern.Perkara yang paling kuat untuk menjaga lima perkara primer tersebut adalah penegakan hukum had, karena Allah memperbaiki dengan kekuatan perkara yang tidak terbaiki dengan Al-Qur’an. Dan para ulama pakar ushul fiqh telah memberikan perhatian terhadap lima perkara primer ini. Dan barangsiapa yang mencela hukum-hukum had dan menolaknya dengan akalnya maka ia telah berdusta atas nama Allah dan telah berani terhadap Allah hanya dengan persangkaannya bahwa hukum had adalah bentuk membuang hak-hak manusia. Dan siapakah yang lebih kasih sayang kepada manusia dari pada Allah?, siapakah yang lebih mengetahui dari Allah?, siapakah yang lebih bijak dari Allah? Siapakah yang lebih adil dari Allah?. Allah berfirman :وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ [ المائدة/ 50]“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin”. (QS Al-Maidah : 50)Dan hukum-hukum had merupakan penjera dan pencegah dari melakukan hal-hal yang menyebabkan hukum had, dan sebagai kafarah (pembersih) dosa-dosa, serta menjaga kehidupan dari gangguan dan pelanggaran. Dan dalam hadits :إِقَامَةُ حَدٍّ فِي الأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِيْنَ صَبَاحَا“Menegakan hadud ( hukum pidana) di dunia lebih baik bagi penghuni bumi dari pada turun hujan bagi mereka selama empat puluh hari” (HR An-Nasaai dan Ibnu Majah dari hadits Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu).Dan hukum had merupakan pembersih dosa bagi seorang muslim berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Al-Aslami yang Nabi telah merajamnya:وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهُ الآنَ لَفِي أَنْهَارِ الْجَنَّةِ يَنْغَمِسُ فِيْهَا“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya ia sekarang berada di sungai-sungai surga, ia menyelam di dalamnya” (HR Abu Dawud)Dan darah yang terjaga serta harta yang terjaga termasuk dari lima perkara yang primer yang benar-benar diperhatikan dan diagungkan perkaranya oleh seluruh syari’at yang penutupnya adalah syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pemimpin seluruh manusia.Yang sekarang kaum khawarij masa kini serta teroris telah menganggap sepele dan ringan terhadap nyawa-nyawa yang diharamkan untuk dibunuh, dan mudah untuk berbuat pelanggaran terhadap nyawa-nyawa tersebut dengan menumpahkan darahnya, serta pelanggaran terhadap harta-harta dengan merusaknya, terhadap mesjid-mesjid dan yayasan-yayasan.Sungguh hal ini merupakan fitnah zaman ini yang merusak, yang dilakukan oleh sebagian non muslim dan sebagain orang yang berafiliasi kepada Islam, namun Islam berlepas diri dari kejahatan, kezoliman, dan kriminal mereka.Jadilah terorisme perkara yang dibenci dan kejahatan bagi manusia, banyak orang menjadi korbannya di banyak tempat. Dan negara yang paling menjadi korbannya adalah negeri Al-Haromain.Dengan adanya pembentukan persekutuan pasukan Islami yang dipimpin oleh Arab Saudi adalah untuk mencegah kejahatan terorisme agar tidak mengenai manusia. Dan orang-orangpun gembira berharap kebaikan dengan adanya persekutuan Islami ini, mereka telah melihat tanda-tanda buah kabaikannya. Dan diantara hak-hak negara-negara yang bersekutu tersebut adalah menjaga rakyatnya dan membentengi para pemudanya serta menjaga aqidah mereka dari penyimpangan, serta memperhatikan kemaslahatan mereka dan pengkokohan stabilitas keamanan dan ketentraman, dan riset tentang metode-metode yang mendatangkan seluruh kebaikan bagi negeri dan masyarakat.Dan yang wajib pertama dan terakhir bagi kaum muslimin baik masyarakat maupun negara, untuk menolong permasalahan-permasalahan kaum muslimin, dan agar mereka menjaga rakyat mereka dari serangan akidah yang menyimpang yang menyelisihi akidah Islam yaitu akidahnya para sahabat dan tabi’in, yang merupakan akidah yang tengah dan adil, dan hendaknya mereka menjaga rakyat mereka dari sikap terlepas dari ajaran-ajaran Islam dan kecondongan kepada syahwat dan perkara-perkara haram, dan kita memohon kepada Allah agar menjadikan persekutukan Islam ini bermanfaat bagi negeri dan rakyat. Allah berfirman :يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ، وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ [ آل عمران / 102-103]Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (QS Ali ‘Imron 102-103)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an yang agung.============Khutbah Kedua            Segala puji Allah Penguasa alam semesta, Yang menjadikan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kesudahan yang buruk bagi orang-orang zolim. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadanya dan beristighfar kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Yang Maha kuat dan kokoh. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya, pemimpin seluruh manusia dari awal hingga akhir. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan juga kepada keluarganya dan seluruh sahabatnya. Kemudian dari pada itu…Maka bertakwalah kepada Allah dan sembahlah Ia, karena Dialah yang telah memelihara kalian dengan berbagai kenikmatan dan telah memalingkan dari kalian berbagai keburukan dan bencana. Kaum muslimin sekalian, renungkanlah tentang kandungan firman Allah ta’aala :وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ [ المائدة/ 2]Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS Al-Maidah : 2).Maka dengan kerjasama Allah menggabungkan seluruh kebaikan dan menolak seluruh keburukan. Dan dengan meninggalkan kerja sama maka akan terluput banyak kebaikan dan akan muncul banyak keburukan. Para pemuda sekalian, hendaknya kalian semangat menuntut ilmu yang bermanfaat, dan beramal sholeh, dan bersungguh-sungguhlah dalam memperbaiki dunia dan akhirat kalian dengan berbagai macam ilmu dan dengan amal yang bermanfaat dan berfaedah. Waspadalah kalian dari jerat-jerat terorisme dan jalan-jalan khawarij, dan jika engkau diajak kepadanya maka lihatlah kondisi para dari mereka dalam perjalanan mereka, maka engkau akan tahu bahwasanya mereka adalah pecinta dunia dan tukang pembuat onar. Dan sesungguhnya piramida mereka, dan perantara-perantara mereka untuk menjeratmu adalah orang-orang yang majhul (tidak dikenal), mereka menghendaki seluruh keburukan bagi umat ini, mereka ingin engkau mengguncang stabilitas keamanan, mereka ingin engkau mengangkat senjata untuk memerangi polisi dan tentara yang mereka sedang melayani umat. Mereka ingin menculikmu dari penjagaan kedua orang tuamu dan memakaikan kepadamu pakaian ketakutan, kehinaan, dan pengusiran. Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi….=================Penerjemah : Firanda Hatim dan Usman Hatimhttps://firanda.com/   

Rahmat Allah dalam Penegakan Hukum Had

خطبة الجمعة من المسجد النبوي  5 ربيع الأخير 1437 هـالخطيب / فضيلة الشيخ على الحذيفىترجمت إلى لغة الملايو الإندونيسية تحت إشراف إدارة الترجمة بوكالة الرئاسة العامةلشئون المسجد النبويKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, Yang menyayangi hamba-hambaNya melalui ketetapan syariatNya. Yang mengguyurkan kepada mereka bergudang-gudang anugerah, karunia dan nikmatNya. Yang mengawasi setiap jiwa dan amal perbuatannya. Segala tindakan hambaNya dicatat, diberiNya pahala jika taat, namun  tetap santun terhadap yang maksiat. Maka Dia tidak menyegerakan hukuman terhadapnya, boleh jadi hamba itu bertobat lalu dengan senang Dia terima pertobatan itu.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, baik dalam rububiyah-Nya maupun uluhiyah-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita dan penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan rasul-Nya, nabi yang teristimewa  di atas seluruh makhluk-Nya.Ya Allah, sampaikanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya… Marilah kita bertakwa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Tempuhlah jalan menuju Allah melalui ketakwaan, niscaya kalian meraih perlindunganNya, rahmatNya dan ridhaNya, kalian pun pasti aman dari murkaNya dan azabNya yang menghinakan.Kaum muslimin!Kami mengajak kalian untuk mengingat rahmat Allah yang cukup membesarkan hati para hambaNya sebagaimana kita jumpai di permulaan setiap surah Al-Qur’an, yaitu :بسـم الله الرحمن الرحيم“Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”Allah -subhanahu wa ta’ala- mensifati Dzatnya dengan sifat rahmat kasih sayang di beberapa ayat Al-Qur’an. Dia-pun mensifati rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam- dengan sifat rahmat kasih sayang dalam beberapa hadis.Firman Allah :وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [ الأعراف/156]“ Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. Qs Al-A’raf : 156Sabda Nabi :” إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي فَهُوَ مَكْتُوبٌ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ”  رواه البخاري من حديث أبى هريرة“Sesungguhnya Allah menetapkan satu ketetapan sebelum mencipta penciptaan bahwa ‘rahmat-Ku lebih mendahului kemurkaan-Ku”. HR Bukhari dari hadis Abu Hurairah.Rahmat paling agung yang Allah berikan kepada hambaNya ialah bahwa Dia telah memasang rambu-rambu untuk meraih segala kebaikan, kebahagiaan dan kejayaan ketika hidup dan sesudah mati, yaitu dengan menyambut seruan Allah Tuhan yang Maha Pengasih, serta menyambut ajakan rasulNya – shallallahu alaihi wa sallam – yang telah menyampaikan amanat.Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [ الأنفال/ 24]“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan bagimu”. Qs Al-Anfal : 24Firman Allah :قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ [ النور/54]“Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. Qs An-Nur : 54Allah – subhanahu wa ta’ala – membuat perundang-udangan yang demikian itu agar seorang muslim menggapai kehidupan yang aman, sentosa dan bahagia, selain agar terhindar dari sanksi hukuman dunia dan akhirat.Penetapan syariat Allah bagi orang-orang mukallaf itu adakalanya berupa perintah wajib, sunnah, atau berupa larangan, sanksi hukuman yang membuat jera, ancaman, atau berupa hukuman kebijaksanaan (ta’zir). Semua itu dimaksudkan sebagai perwujudan kasih sayang Allah – subhanahu wa ta’ala –kepada hamba-hambaNya, serta telaksananya kemaslahatan, kepentingan, kemudahan dan rasa keadilan bagi mereka.Firman Allah :يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ [ البقرة/185]“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. Qs Al-Baqarah : 185Firman Allah :وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى [ الأعلى/ 8]“dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah” Qs Al-A’la : 8Firman Allah :مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [المائدة/6]“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. Qs Al-Maidah : 6Firman Allah :إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ [ النحل/90]“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan”. Qs An-Nahl : 90Hukum syariat Islam dapat mewujudkan kehidupan sejahtera bagi manusia dalam kehidupan dunianya, dan menempatkannya di surga yang penuh kenikmatan kelak di akhirat.Allah –subhanahu wa ta’ala – dengan pemberlakuan hukum syariatNya dan sanksi pidana agamaNya bermaksud menghindarkan hamba-hambaNya dari ketetapan hukum alamNya (yang pasti berlaku). Ketika manusia menerapkan hukum syariat, Allah tidak menjatuhkan hukuman terhadap mereka lantaran perbuatan dosa. Allah jauhkan mereka dari bencana yang membinasakan di dunia ini dan menyelamatkan mereka pula dari azab di akhirat kelak. Tetapi jika manusia tidak mengindahkan hukum syariat, maka berlakulah ketetapan hukum alam terhadap mereka yang tidak mengindahkannya itu sebagai balasan dan ganjaran atas pelanggaran mereka.Firman Allah :لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا [النساء/123]“ bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan setimpal dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah”. Qs An-Nisa : 123Hukuman alam yang telah menjadi ketetapan Allah lantaran dosa-dosa mereka itu sungguh keras dan menyakitkan.Firman Allah :وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ [ هود/102]“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”. Qs Hud : 102Sabda Nabi :” إنَّ اللهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ “ “Sesungguhnya Allah memberi kelonggaran waktu untuk orang yang zalim sehingga jika telah tiba waktunya, Allah tidak akan melepaskannya”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Musa –radhiyallahu anhu-.Firman Allah :إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ [ البروج/12]“ Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras”. Qs Al-Buruj : 12Firman Allah :قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ [ الأنعام/65]“Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan orang-orang (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. Qs Al-An’am : 65Sebagai bukti rahmat kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya ialah bahwa Dia tidak mempercepat menghukum mereka yang berbuat zalim, tetapi Allah memberi mereka kesempatan hingga waktu tertentu.Firman Allah :وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًا [ الكهف/58]“Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang telah ditentukan  (untuk mendapat azab), mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya”.Qs Alkahfi : 58Firman Allah :وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى [ النحل/61]“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan”. Qs An-Nahl :61Jika sanksi hukuman alam memang sudah saat dijatuhkan, maka Allah jatuhkannya kepada orang-orang yang benar-benar pantas menerimanya untuk mengingatkan mereka akan adanya hukuman yang lebih dahsyat dari pada hukuman alam tersebut, agar pelakunya yang mengundang murka Allah itu sadar dan insaf.Firman Allah :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الروم/41]“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Qs Ar-Rum : 41Firman Allah :وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [ السجدة/21]“Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Qs As-Sajdah : 21Barangsiapa yang sadar dan kembali ke jalan yang benar, Allah menyambutnya. Tetapi barangsiapa yang membandel dan tetap nekat, sedangkan Allah melihatnya tidak bakal kembali ke jalan yang benar, maka ketika itulah Allah menghukumnya  sekeras-kerasnya sesuai ketetapan takdirNya yang berlaku, sedangkan hukuman yang dahsyat di akhirat adalah neraka Jahanam.Jelaslah, sanksi hukuman syariat dan penerapan hukum pidananya tidaklah berarti apa-apa bila dibandingkan dengan sanksi hukuman alam lainnya, apalagi azab yang dahsyat di akhirat.Maka, mari berpikir wahai sesama manusia, betapa luasnya rahmat kasih sayang Allah dan sifat santunNya. Bagaimana Allah mensyariatkan untuk Anda berupa perintah, larangan, hukum perundang-undangan (syariat), dan hukum pidanaNya ( hudud ). Tujuannya adalah agar Anda terhindar dari hukuman alam yang pasti berlaku dan terhindar pula dari hukuman siksa yang amat dahsyat selama Anda hidup dan sesudah mati. Selain itu agar Anda memperoleh segi kemaslahatan dari hukum yang Allah syariatkan, dan terhindar dari segala keburukan.Maka ambil-lah hikmah dari semua itu, bercerminlah kepada para sahabat Nabi-radhiyallahu anhum- ketika mereka menyambut dakwah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- dengan mencintai syariat dan menerapkannya, ketika itulah Allah –subhanahu wa ta’ala- menghindarkan mereka dari bencana alam yang pernah menimpa bangsa-bangsa di masa silam, berupa kehinaan hukuman, musibah tenggelam, pekikan yang mematikan, terhempit batu, badai, gempa bumi dan berubah muka. Namun demikian Allah masih menghidupkan mereka kembali di dunia secara baik, memberi mereka kejayaan dan kekuasaan di bumi serta memenangkan mereka dalam menghadapi musuh, meskipun jumlah mereka sedikit, persenjataan mereka terbatas. Itu semua berkat keimanan, keikhlasan, kepasrahan dan ketaatan mereka.Umar Bin Khatab – radhiyallahu anhu – berkata kepada panglima perangnya :“Saya berpesan kepada Anda dan para prajurit yang bersama Anda agar tetap bertakwa kepada allah dalam keadaan apapun. Sebab takwa adalah senjata yang paling ampuh untuk mengalahkan musuh, dan strategi yang paling jitu dalam perang. Hendaklah Anda bersama segenap staf lebih takut berbuat maksiat dari pada takut menghadapi musuh kalian. Sebab lawan-lawan kalian lebih takut kepada dosa mereka dari pada kepada kalian. Kalau bukan karena itu, kalian tidak akan sanggup menghadapi mereka, sebab jumlah kita sedikit tidak sebanding dengan jumlah mereka, demikian pula persenjataan kita sangat minim dibanding persenjataan mereka.Kalaulah dosa-dosa kita sepadan dengan ukuran dosa-dosa mereka, itupun mereka masih tetap unggul dari segi kekuatan dari pada kita. Maka kita bisa menang atas mereka lantaran ketaatan kita kepada Allah. Kita tidak bisa mengalahkan musuh dengan mengandalkan kekuatan semata. Itulah sebabnya, para sahabat – radhiyallahu anhum – dan generasi yang mengikuti jejak mereka dalam kebaikan berhak menerima penghargaan sesuai janji Allah dalam Al-Qur’an.Firman Allah :وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [ التوبة / 100 ]“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. QS At-Taubah : 100 Perhatikanlah, bagaimana Allah –subhanahu wa ta’ala- mendatangkan segala kebaikan dan menolak segala macam keburukan bagi orang-orang yang berpegang teguh kepada agama Allah. Lalu lihatlah kondisi mereka yang berpaling dari seruan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-, yang menentang hukum syariat, yang menyerang ajaran Islam, yang berseberangan dengan para kekasih Allah.Renungkanlah, bagaimana para pembangkang itu terkepung oleh bencana hukuman Allah di alam ini sehingga mereka merasakan penderitaan yang menyakitkan karena terhina, tersakiti, terasing, terlantar, terpojokkan, terbuang dan berbagai malapetaka alam dalam kehidupan ini.Firman Allah :وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [ التوبة / 40 ]“ Dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Qs At-Taubah : 40Dan Allah berfirman :إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ كُبِتُواْ كَمَا كُبِتَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ وَقَدۡ أَنزَلۡنَآ ءَايَٰتِۢ بَيِّنَٰتٖۚ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٞ مُّهِينٞ [  المجادلة  / 5 ]“Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan”. (QS Al-Mujaadilah : 5)Dan Allah berfirman :إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡأَذَلِّينَ [ المجادلة / 20 ]“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina”. (QS Al-Mujaadilah : 20)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وَجُعِلَتِ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي“Dan dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi yang menyelisihi perintahku”Adapun siksaan yang ditetapkan di akhirat bagi orang-orang kafir adalah neraka Jahannam. Allah berfirman ;قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ سَتُغۡلَبُونَ وَتُحۡشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمِهَادُ [ آل عمران/ 12 ]“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya”. (QS Ali ‘Imron : 12)Maka apakah yang engkau cari wahai muslim setelah semua pemuliaan ini?, dan apakah yang bisa lebih dari rahmat Robmu yang memerintahkanmu kepada seluruh kebaikan dan melarangmu dari seluruh keburukan?, dan Allah telah memerinci hukum-hukum bagimu dan telah mensyari’atkan bagimu hukuman-hukuman had dan perkara-perkara yang menjerakan.Perintah-perintah merupakan persiapan untuk mencapai kesempurnaan manusia, dan pensucian serta pembersihan bagi tubuh, untuk memperkuat ruh dan memperkuat kehendak untuk berbuat kebajikan serta tarbiah yang sempurna untuk membentuk seluruh akhlak yang mulia, untuk memperkokoh hati dan memuliakan manusia. Allah berfirman :وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفۡسِهِۦۚ [ فاطر/18]“Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri”. (QS Fathir : 18)Allah berfirman :قَدۡ أَفۡلَحَ مَن تَزَكَّىٰ ،  وَذَكَرَ ٱسۡمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ [ الأعلى / 14-15]“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang”. (QS Al-A’la : 14-15)Allah berfirman :قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ، وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا [ الشمس / 9-10]“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS Asy-Syams : 9-10)Perintah yang pertama kali Allah keluarkan adalah mentauhidkan Allah dan beribadah kepadaNya. Barangsiapa yang merealisasikan tauhid maka Allah menjamin baginya keamanan di dunia dan akhirat dan Allah mensucikan jiwanya. Allah berfirman :ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ [ الأنعام / 82]Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Al-An’aam : 82)Dan telah berulang-ulang perintah untuk menjalankan rukun-rukun Islam dan penjelasan bahwa padanya ada pensucian, pembersihan, ganjaran yang agung, manfa’at-manfa’at, dan banyak keberkahan bagi individu dan masyarakat. Barangsiapa yang menelaah dalil-dalil maka akan jelas baginya hal ini. Dan rukun-rukun tersebutlah yang dibangun di atasnya seluruh perintah, dan seluruh motivasi kembali kepadanya.Adapun larangan-larangan maka demi memberi penjagaan bagi hati dari penyakit-penyakit syubhat dan syahwat, serta menjaga manusia dari perkara-perkara yang buruk, penyakit-penyakit, kerusakan-kerusakan, dan kejahatan-kejahatan, karena hal-hal yang dilarang itu ibarat racun bagi tubuh, dan perintah-perintah itu ibarat nutrisi bagi tubuh. Allah berfirman :إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ [ النحل/90]“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan”. (QS An-Nahl : 90)Adapun hukuman-hukuman had maka Allah mensyari’atkannya untuk menjaga agama, menjaga nyawa, menjaga kehormatan, menjaga akal dan menjaga harta, dan bukan karena mengikuti hawa nafsu seseorang. Adanya hukum had bagi murtad adalah untuk menjaga agama, dan adanya hukum qisos untuk menjaga nyawa, adanya hukum had zina demi menjaga kehormatan, dan adanya hukum had khomr dan narkoba adalah untuk menjaga akal, adanya hukum had mencuri adalah untuk menjaga harta. Dan inilah lima perkara darurat (primer) yang dijaga dengan pencegah yang agamis intern.Perkara yang paling kuat untuk menjaga lima perkara primer tersebut adalah penegakan hukum had, karena Allah memperbaiki dengan kekuatan perkara yang tidak terbaiki dengan Al-Qur’an. Dan para ulama pakar ushul fiqh telah memberikan perhatian terhadap lima perkara primer ini. Dan barangsiapa yang mencela hukum-hukum had dan menolaknya dengan akalnya maka ia telah berdusta atas nama Allah dan telah berani terhadap Allah hanya dengan persangkaannya bahwa hukum had adalah bentuk membuang hak-hak manusia. Dan siapakah yang lebih kasih sayang kepada manusia dari pada Allah?, siapakah yang lebih mengetahui dari Allah?, siapakah yang lebih bijak dari Allah? Siapakah yang lebih adil dari Allah?. Allah berfirman :وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ [ المائدة/ 50]“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin”. (QS Al-Maidah : 50)Dan hukum-hukum had merupakan penjera dan pencegah dari melakukan hal-hal yang menyebabkan hukum had, dan sebagai kafarah (pembersih) dosa-dosa, serta menjaga kehidupan dari gangguan dan pelanggaran. Dan dalam hadits :إِقَامَةُ حَدٍّ فِي الأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِيْنَ صَبَاحَا“Menegakan hadud ( hukum pidana) di dunia lebih baik bagi penghuni bumi dari pada turun hujan bagi mereka selama empat puluh hari” (HR An-Nasaai dan Ibnu Majah dari hadits Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu).Dan hukum had merupakan pembersih dosa bagi seorang muslim berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Al-Aslami yang Nabi telah merajamnya:وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهُ الآنَ لَفِي أَنْهَارِ الْجَنَّةِ يَنْغَمِسُ فِيْهَا“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya ia sekarang berada di sungai-sungai surga, ia menyelam di dalamnya” (HR Abu Dawud)Dan darah yang terjaga serta harta yang terjaga termasuk dari lima perkara yang primer yang benar-benar diperhatikan dan diagungkan perkaranya oleh seluruh syari’at yang penutupnya adalah syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pemimpin seluruh manusia.Yang sekarang kaum khawarij masa kini serta teroris telah menganggap sepele dan ringan terhadap nyawa-nyawa yang diharamkan untuk dibunuh, dan mudah untuk berbuat pelanggaran terhadap nyawa-nyawa tersebut dengan menumpahkan darahnya, serta pelanggaran terhadap harta-harta dengan merusaknya, terhadap mesjid-mesjid dan yayasan-yayasan.Sungguh hal ini merupakan fitnah zaman ini yang merusak, yang dilakukan oleh sebagian non muslim dan sebagain orang yang berafiliasi kepada Islam, namun Islam berlepas diri dari kejahatan, kezoliman, dan kriminal mereka.Jadilah terorisme perkara yang dibenci dan kejahatan bagi manusia, banyak orang menjadi korbannya di banyak tempat. Dan negara yang paling menjadi korbannya adalah negeri Al-Haromain.Dengan adanya pembentukan persekutuan pasukan Islami yang dipimpin oleh Arab Saudi adalah untuk mencegah kejahatan terorisme agar tidak mengenai manusia. Dan orang-orangpun gembira berharap kebaikan dengan adanya persekutuan Islami ini, mereka telah melihat tanda-tanda buah kabaikannya. Dan diantara hak-hak negara-negara yang bersekutu tersebut adalah menjaga rakyatnya dan membentengi para pemudanya serta menjaga aqidah mereka dari penyimpangan, serta memperhatikan kemaslahatan mereka dan pengkokohan stabilitas keamanan dan ketentraman, dan riset tentang metode-metode yang mendatangkan seluruh kebaikan bagi negeri dan masyarakat.Dan yang wajib pertama dan terakhir bagi kaum muslimin baik masyarakat maupun negara, untuk menolong permasalahan-permasalahan kaum muslimin, dan agar mereka menjaga rakyat mereka dari serangan akidah yang menyimpang yang menyelisihi akidah Islam yaitu akidahnya para sahabat dan tabi’in, yang merupakan akidah yang tengah dan adil, dan hendaknya mereka menjaga rakyat mereka dari sikap terlepas dari ajaran-ajaran Islam dan kecondongan kepada syahwat dan perkara-perkara haram, dan kita memohon kepada Allah agar menjadikan persekutukan Islam ini bermanfaat bagi negeri dan rakyat. Allah berfirman :يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ، وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ [ آل عمران / 102-103]Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (QS Ali ‘Imron 102-103)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an yang agung.============Khutbah Kedua            Segala puji Allah Penguasa alam semesta, Yang menjadikan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kesudahan yang buruk bagi orang-orang zolim. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadanya dan beristighfar kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Yang Maha kuat dan kokoh. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya, pemimpin seluruh manusia dari awal hingga akhir. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan juga kepada keluarganya dan seluruh sahabatnya. Kemudian dari pada itu…Maka bertakwalah kepada Allah dan sembahlah Ia, karena Dialah yang telah memelihara kalian dengan berbagai kenikmatan dan telah memalingkan dari kalian berbagai keburukan dan bencana. Kaum muslimin sekalian, renungkanlah tentang kandungan firman Allah ta’aala :وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ [ المائدة/ 2]Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS Al-Maidah : 2).Maka dengan kerjasama Allah menggabungkan seluruh kebaikan dan menolak seluruh keburukan. Dan dengan meninggalkan kerja sama maka akan terluput banyak kebaikan dan akan muncul banyak keburukan. Para pemuda sekalian, hendaknya kalian semangat menuntut ilmu yang bermanfaat, dan beramal sholeh, dan bersungguh-sungguhlah dalam memperbaiki dunia dan akhirat kalian dengan berbagai macam ilmu dan dengan amal yang bermanfaat dan berfaedah. Waspadalah kalian dari jerat-jerat terorisme dan jalan-jalan khawarij, dan jika engkau diajak kepadanya maka lihatlah kondisi para dari mereka dalam perjalanan mereka, maka engkau akan tahu bahwasanya mereka adalah pecinta dunia dan tukang pembuat onar. Dan sesungguhnya piramida mereka, dan perantara-perantara mereka untuk menjeratmu adalah orang-orang yang majhul (tidak dikenal), mereka menghendaki seluruh keburukan bagi umat ini, mereka ingin engkau mengguncang stabilitas keamanan, mereka ingin engkau mengangkat senjata untuk memerangi polisi dan tentara yang mereka sedang melayani umat. Mereka ingin menculikmu dari penjagaan kedua orang tuamu dan memakaikan kepadamu pakaian ketakutan, kehinaan, dan pengusiran. Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi….=================Penerjemah : Firanda Hatim dan Usman Hatimhttps://firanda.com/   
خطبة الجمعة من المسجد النبوي  5 ربيع الأخير 1437 هـالخطيب / فضيلة الشيخ على الحذيفىترجمت إلى لغة الملايو الإندونيسية تحت إشراف إدارة الترجمة بوكالة الرئاسة العامةلشئون المسجد النبويKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, Yang menyayangi hamba-hambaNya melalui ketetapan syariatNya. Yang mengguyurkan kepada mereka bergudang-gudang anugerah, karunia dan nikmatNya. Yang mengawasi setiap jiwa dan amal perbuatannya. Segala tindakan hambaNya dicatat, diberiNya pahala jika taat, namun  tetap santun terhadap yang maksiat. Maka Dia tidak menyegerakan hukuman terhadapnya, boleh jadi hamba itu bertobat lalu dengan senang Dia terima pertobatan itu.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, baik dalam rububiyah-Nya maupun uluhiyah-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita dan penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan rasul-Nya, nabi yang teristimewa  di atas seluruh makhluk-Nya.Ya Allah, sampaikanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya… Marilah kita bertakwa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Tempuhlah jalan menuju Allah melalui ketakwaan, niscaya kalian meraih perlindunganNya, rahmatNya dan ridhaNya, kalian pun pasti aman dari murkaNya dan azabNya yang menghinakan.Kaum muslimin!Kami mengajak kalian untuk mengingat rahmat Allah yang cukup membesarkan hati para hambaNya sebagaimana kita jumpai di permulaan setiap surah Al-Qur’an, yaitu :بسـم الله الرحمن الرحيم“Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”Allah -subhanahu wa ta’ala- mensifati Dzatnya dengan sifat rahmat kasih sayang di beberapa ayat Al-Qur’an. Dia-pun mensifati rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam- dengan sifat rahmat kasih sayang dalam beberapa hadis.Firman Allah :وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [ الأعراف/156]“ Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. Qs Al-A’raf : 156Sabda Nabi :” إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي فَهُوَ مَكْتُوبٌ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ”  رواه البخاري من حديث أبى هريرة“Sesungguhnya Allah menetapkan satu ketetapan sebelum mencipta penciptaan bahwa ‘rahmat-Ku lebih mendahului kemurkaan-Ku”. HR Bukhari dari hadis Abu Hurairah.Rahmat paling agung yang Allah berikan kepada hambaNya ialah bahwa Dia telah memasang rambu-rambu untuk meraih segala kebaikan, kebahagiaan dan kejayaan ketika hidup dan sesudah mati, yaitu dengan menyambut seruan Allah Tuhan yang Maha Pengasih, serta menyambut ajakan rasulNya – shallallahu alaihi wa sallam – yang telah menyampaikan amanat.Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [ الأنفال/ 24]“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan bagimu”. Qs Al-Anfal : 24Firman Allah :قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ [ النور/54]“Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. Qs An-Nur : 54Allah – subhanahu wa ta’ala – membuat perundang-udangan yang demikian itu agar seorang muslim menggapai kehidupan yang aman, sentosa dan bahagia, selain agar terhindar dari sanksi hukuman dunia dan akhirat.Penetapan syariat Allah bagi orang-orang mukallaf itu adakalanya berupa perintah wajib, sunnah, atau berupa larangan, sanksi hukuman yang membuat jera, ancaman, atau berupa hukuman kebijaksanaan (ta’zir). Semua itu dimaksudkan sebagai perwujudan kasih sayang Allah – subhanahu wa ta’ala –kepada hamba-hambaNya, serta telaksananya kemaslahatan, kepentingan, kemudahan dan rasa keadilan bagi mereka.Firman Allah :يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ [ البقرة/185]“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. Qs Al-Baqarah : 185Firman Allah :وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى [ الأعلى/ 8]“dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah” Qs Al-A’la : 8Firman Allah :مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [المائدة/6]“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. Qs Al-Maidah : 6Firman Allah :إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ [ النحل/90]“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan”. Qs An-Nahl : 90Hukum syariat Islam dapat mewujudkan kehidupan sejahtera bagi manusia dalam kehidupan dunianya, dan menempatkannya di surga yang penuh kenikmatan kelak di akhirat.Allah –subhanahu wa ta’ala – dengan pemberlakuan hukum syariatNya dan sanksi pidana agamaNya bermaksud menghindarkan hamba-hambaNya dari ketetapan hukum alamNya (yang pasti berlaku). Ketika manusia menerapkan hukum syariat, Allah tidak menjatuhkan hukuman terhadap mereka lantaran perbuatan dosa. Allah jauhkan mereka dari bencana yang membinasakan di dunia ini dan menyelamatkan mereka pula dari azab di akhirat kelak. Tetapi jika manusia tidak mengindahkan hukum syariat, maka berlakulah ketetapan hukum alam terhadap mereka yang tidak mengindahkannya itu sebagai balasan dan ganjaran atas pelanggaran mereka.Firman Allah :لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا [النساء/123]“ bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan setimpal dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah”. Qs An-Nisa : 123Hukuman alam yang telah menjadi ketetapan Allah lantaran dosa-dosa mereka itu sungguh keras dan menyakitkan.Firman Allah :وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ [ هود/102]“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”. Qs Hud : 102Sabda Nabi :” إنَّ اللهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ “ “Sesungguhnya Allah memberi kelonggaran waktu untuk orang yang zalim sehingga jika telah tiba waktunya, Allah tidak akan melepaskannya”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Musa –radhiyallahu anhu-.Firman Allah :إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ [ البروج/12]“ Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras”. Qs Al-Buruj : 12Firman Allah :قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ [ الأنعام/65]“Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan orang-orang (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. Qs Al-An’am : 65Sebagai bukti rahmat kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya ialah bahwa Dia tidak mempercepat menghukum mereka yang berbuat zalim, tetapi Allah memberi mereka kesempatan hingga waktu tertentu.Firman Allah :وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًا [ الكهف/58]“Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang telah ditentukan  (untuk mendapat azab), mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya”.Qs Alkahfi : 58Firman Allah :وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى [ النحل/61]“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan”. Qs An-Nahl :61Jika sanksi hukuman alam memang sudah saat dijatuhkan, maka Allah jatuhkannya kepada orang-orang yang benar-benar pantas menerimanya untuk mengingatkan mereka akan adanya hukuman yang lebih dahsyat dari pada hukuman alam tersebut, agar pelakunya yang mengundang murka Allah itu sadar dan insaf.Firman Allah :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الروم/41]“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Qs Ar-Rum : 41Firman Allah :وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [ السجدة/21]“Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Qs As-Sajdah : 21Barangsiapa yang sadar dan kembali ke jalan yang benar, Allah menyambutnya. Tetapi barangsiapa yang membandel dan tetap nekat, sedangkan Allah melihatnya tidak bakal kembali ke jalan yang benar, maka ketika itulah Allah menghukumnya  sekeras-kerasnya sesuai ketetapan takdirNya yang berlaku, sedangkan hukuman yang dahsyat di akhirat adalah neraka Jahanam.Jelaslah, sanksi hukuman syariat dan penerapan hukum pidananya tidaklah berarti apa-apa bila dibandingkan dengan sanksi hukuman alam lainnya, apalagi azab yang dahsyat di akhirat.Maka, mari berpikir wahai sesama manusia, betapa luasnya rahmat kasih sayang Allah dan sifat santunNya. Bagaimana Allah mensyariatkan untuk Anda berupa perintah, larangan, hukum perundang-undangan (syariat), dan hukum pidanaNya ( hudud ). Tujuannya adalah agar Anda terhindar dari hukuman alam yang pasti berlaku dan terhindar pula dari hukuman siksa yang amat dahsyat selama Anda hidup dan sesudah mati. Selain itu agar Anda memperoleh segi kemaslahatan dari hukum yang Allah syariatkan, dan terhindar dari segala keburukan.Maka ambil-lah hikmah dari semua itu, bercerminlah kepada para sahabat Nabi-radhiyallahu anhum- ketika mereka menyambut dakwah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- dengan mencintai syariat dan menerapkannya, ketika itulah Allah –subhanahu wa ta’ala- menghindarkan mereka dari bencana alam yang pernah menimpa bangsa-bangsa di masa silam, berupa kehinaan hukuman, musibah tenggelam, pekikan yang mematikan, terhempit batu, badai, gempa bumi dan berubah muka. Namun demikian Allah masih menghidupkan mereka kembali di dunia secara baik, memberi mereka kejayaan dan kekuasaan di bumi serta memenangkan mereka dalam menghadapi musuh, meskipun jumlah mereka sedikit, persenjataan mereka terbatas. Itu semua berkat keimanan, keikhlasan, kepasrahan dan ketaatan mereka.Umar Bin Khatab – radhiyallahu anhu – berkata kepada panglima perangnya :“Saya berpesan kepada Anda dan para prajurit yang bersama Anda agar tetap bertakwa kepada allah dalam keadaan apapun. Sebab takwa adalah senjata yang paling ampuh untuk mengalahkan musuh, dan strategi yang paling jitu dalam perang. Hendaklah Anda bersama segenap staf lebih takut berbuat maksiat dari pada takut menghadapi musuh kalian. Sebab lawan-lawan kalian lebih takut kepada dosa mereka dari pada kepada kalian. Kalau bukan karena itu, kalian tidak akan sanggup menghadapi mereka, sebab jumlah kita sedikit tidak sebanding dengan jumlah mereka, demikian pula persenjataan kita sangat minim dibanding persenjataan mereka.Kalaulah dosa-dosa kita sepadan dengan ukuran dosa-dosa mereka, itupun mereka masih tetap unggul dari segi kekuatan dari pada kita. Maka kita bisa menang atas mereka lantaran ketaatan kita kepada Allah. Kita tidak bisa mengalahkan musuh dengan mengandalkan kekuatan semata. Itulah sebabnya, para sahabat – radhiyallahu anhum – dan generasi yang mengikuti jejak mereka dalam kebaikan berhak menerima penghargaan sesuai janji Allah dalam Al-Qur’an.Firman Allah :وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [ التوبة / 100 ]“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. QS At-Taubah : 100 Perhatikanlah, bagaimana Allah –subhanahu wa ta’ala- mendatangkan segala kebaikan dan menolak segala macam keburukan bagi orang-orang yang berpegang teguh kepada agama Allah. Lalu lihatlah kondisi mereka yang berpaling dari seruan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-, yang menentang hukum syariat, yang menyerang ajaran Islam, yang berseberangan dengan para kekasih Allah.Renungkanlah, bagaimana para pembangkang itu terkepung oleh bencana hukuman Allah di alam ini sehingga mereka merasakan penderitaan yang menyakitkan karena terhina, tersakiti, terasing, terlantar, terpojokkan, terbuang dan berbagai malapetaka alam dalam kehidupan ini.Firman Allah :وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [ التوبة / 40 ]“ Dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Qs At-Taubah : 40Dan Allah berfirman :إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ كُبِتُواْ كَمَا كُبِتَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ وَقَدۡ أَنزَلۡنَآ ءَايَٰتِۢ بَيِّنَٰتٖۚ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٞ مُّهِينٞ [  المجادلة  / 5 ]“Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan”. (QS Al-Mujaadilah : 5)Dan Allah berfirman :إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡأَذَلِّينَ [ المجادلة / 20 ]“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina”. (QS Al-Mujaadilah : 20)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وَجُعِلَتِ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي“Dan dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi yang menyelisihi perintahku”Adapun siksaan yang ditetapkan di akhirat bagi orang-orang kafir adalah neraka Jahannam. Allah berfirman ;قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ سَتُغۡلَبُونَ وَتُحۡشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمِهَادُ [ آل عمران/ 12 ]“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya”. (QS Ali ‘Imron : 12)Maka apakah yang engkau cari wahai muslim setelah semua pemuliaan ini?, dan apakah yang bisa lebih dari rahmat Robmu yang memerintahkanmu kepada seluruh kebaikan dan melarangmu dari seluruh keburukan?, dan Allah telah memerinci hukum-hukum bagimu dan telah mensyari’atkan bagimu hukuman-hukuman had dan perkara-perkara yang menjerakan.Perintah-perintah merupakan persiapan untuk mencapai kesempurnaan manusia, dan pensucian serta pembersihan bagi tubuh, untuk memperkuat ruh dan memperkuat kehendak untuk berbuat kebajikan serta tarbiah yang sempurna untuk membentuk seluruh akhlak yang mulia, untuk memperkokoh hati dan memuliakan manusia. Allah berfirman :وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفۡسِهِۦۚ [ فاطر/18]“Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri”. (QS Fathir : 18)Allah berfirman :قَدۡ أَفۡلَحَ مَن تَزَكَّىٰ ،  وَذَكَرَ ٱسۡمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ [ الأعلى / 14-15]“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang”. (QS Al-A’la : 14-15)Allah berfirman :قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ، وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا [ الشمس / 9-10]“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS Asy-Syams : 9-10)Perintah yang pertama kali Allah keluarkan adalah mentauhidkan Allah dan beribadah kepadaNya. Barangsiapa yang merealisasikan tauhid maka Allah menjamin baginya keamanan di dunia dan akhirat dan Allah mensucikan jiwanya. Allah berfirman :ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ [ الأنعام / 82]Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Al-An’aam : 82)Dan telah berulang-ulang perintah untuk menjalankan rukun-rukun Islam dan penjelasan bahwa padanya ada pensucian, pembersihan, ganjaran yang agung, manfa’at-manfa’at, dan banyak keberkahan bagi individu dan masyarakat. Barangsiapa yang menelaah dalil-dalil maka akan jelas baginya hal ini. Dan rukun-rukun tersebutlah yang dibangun di atasnya seluruh perintah, dan seluruh motivasi kembali kepadanya.Adapun larangan-larangan maka demi memberi penjagaan bagi hati dari penyakit-penyakit syubhat dan syahwat, serta menjaga manusia dari perkara-perkara yang buruk, penyakit-penyakit, kerusakan-kerusakan, dan kejahatan-kejahatan, karena hal-hal yang dilarang itu ibarat racun bagi tubuh, dan perintah-perintah itu ibarat nutrisi bagi tubuh. Allah berfirman :إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ [ النحل/90]“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan”. (QS An-Nahl : 90)Adapun hukuman-hukuman had maka Allah mensyari’atkannya untuk menjaga agama, menjaga nyawa, menjaga kehormatan, menjaga akal dan menjaga harta, dan bukan karena mengikuti hawa nafsu seseorang. Adanya hukum had bagi murtad adalah untuk menjaga agama, dan adanya hukum qisos untuk menjaga nyawa, adanya hukum had zina demi menjaga kehormatan, dan adanya hukum had khomr dan narkoba adalah untuk menjaga akal, adanya hukum had mencuri adalah untuk menjaga harta. Dan inilah lima perkara darurat (primer) yang dijaga dengan pencegah yang agamis intern.Perkara yang paling kuat untuk menjaga lima perkara primer tersebut adalah penegakan hukum had, karena Allah memperbaiki dengan kekuatan perkara yang tidak terbaiki dengan Al-Qur’an. Dan para ulama pakar ushul fiqh telah memberikan perhatian terhadap lima perkara primer ini. Dan barangsiapa yang mencela hukum-hukum had dan menolaknya dengan akalnya maka ia telah berdusta atas nama Allah dan telah berani terhadap Allah hanya dengan persangkaannya bahwa hukum had adalah bentuk membuang hak-hak manusia. Dan siapakah yang lebih kasih sayang kepada manusia dari pada Allah?, siapakah yang lebih mengetahui dari Allah?, siapakah yang lebih bijak dari Allah? Siapakah yang lebih adil dari Allah?. Allah berfirman :وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ [ المائدة/ 50]“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin”. (QS Al-Maidah : 50)Dan hukum-hukum had merupakan penjera dan pencegah dari melakukan hal-hal yang menyebabkan hukum had, dan sebagai kafarah (pembersih) dosa-dosa, serta menjaga kehidupan dari gangguan dan pelanggaran. Dan dalam hadits :إِقَامَةُ حَدٍّ فِي الأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِيْنَ صَبَاحَا“Menegakan hadud ( hukum pidana) di dunia lebih baik bagi penghuni bumi dari pada turun hujan bagi mereka selama empat puluh hari” (HR An-Nasaai dan Ibnu Majah dari hadits Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu).Dan hukum had merupakan pembersih dosa bagi seorang muslim berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Al-Aslami yang Nabi telah merajamnya:وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهُ الآنَ لَفِي أَنْهَارِ الْجَنَّةِ يَنْغَمِسُ فِيْهَا“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya ia sekarang berada di sungai-sungai surga, ia menyelam di dalamnya” (HR Abu Dawud)Dan darah yang terjaga serta harta yang terjaga termasuk dari lima perkara yang primer yang benar-benar diperhatikan dan diagungkan perkaranya oleh seluruh syari’at yang penutupnya adalah syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pemimpin seluruh manusia.Yang sekarang kaum khawarij masa kini serta teroris telah menganggap sepele dan ringan terhadap nyawa-nyawa yang diharamkan untuk dibunuh, dan mudah untuk berbuat pelanggaran terhadap nyawa-nyawa tersebut dengan menumpahkan darahnya, serta pelanggaran terhadap harta-harta dengan merusaknya, terhadap mesjid-mesjid dan yayasan-yayasan.Sungguh hal ini merupakan fitnah zaman ini yang merusak, yang dilakukan oleh sebagian non muslim dan sebagain orang yang berafiliasi kepada Islam, namun Islam berlepas diri dari kejahatan, kezoliman, dan kriminal mereka.Jadilah terorisme perkara yang dibenci dan kejahatan bagi manusia, banyak orang menjadi korbannya di banyak tempat. Dan negara yang paling menjadi korbannya adalah negeri Al-Haromain.Dengan adanya pembentukan persekutuan pasukan Islami yang dipimpin oleh Arab Saudi adalah untuk mencegah kejahatan terorisme agar tidak mengenai manusia. Dan orang-orangpun gembira berharap kebaikan dengan adanya persekutuan Islami ini, mereka telah melihat tanda-tanda buah kabaikannya. Dan diantara hak-hak negara-negara yang bersekutu tersebut adalah menjaga rakyatnya dan membentengi para pemudanya serta menjaga aqidah mereka dari penyimpangan, serta memperhatikan kemaslahatan mereka dan pengkokohan stabilitas keamanan dan ketentraman, dan riset tentang metode-metode yang mendatangkan seluruh kebaikan bagi negeri dan masyarakat.Dan yang wajib pertama dan terakhir bagi kaum muslimin baik masyarakat maupun negara, untuk menolong permasalahan-permasalahan kaum muslimin, dan agar mereka menjaga rakyat mereka dari serangan akidah yang menyimpang yang menyelisihi akidah Islam yaitu akidahnya para sahabat dan tabi’in, yang merupakan akidah yang tengah dan adil, dan hendaknya mereka menjaga rakyat mereka dari sikap terlepas dari ajaran-ajaran Islam dan kecondongan kepada syahwat dan perkara-perkara haram, dan kita memohon kepada Allah agar menjadikan persekutukan Islam ini bermanfaat bagi negeri dan rakyat. Allah berfirman :يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ، وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ [ آل عمران / 102-103]Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (QS Ali ‘Imron 102-103)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an yang agung.============Khutbah Kedua            Segala puji Allah Penguasa alam semesta, Yang menjadikan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kesudahan yang buruk bagi orang-orang zolim. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadanya dan beristighfar kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Yang Maha kuat dan kokoh. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya, pemimpin seluruh manusia dari awal hingga akhir. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan juga kepada keluarganya dan seluruh sahabatnya. Kemudian dari pada itu…Maka bertakwalah kepada Allah dan sembahlah Ia, karena Dialah yang telah memelihara kalian dengan berbagai kenikmatan dan telah memalingkan dari kalian berbagai keburukan dan bencana. Kaum muslimin sekalian, renungkanlah tentang kandungan firman Allah ta’aala :وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ [ المائدة/ 2]Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS Al-Maidah : 2).Maka dengan kerjasama Allah menggabungkan seluruh kebaikan dan menolak seluruh keburukan. Dan dengan meninggalkan kerja sama maka akan terluput banyak kebaikan dan akan muncul banyak keburukan. Para pemuda sekalian, hendaknya kalian semangat menuntut ilmu yang bermanfaat, dan beramal sholeh, dan bersungguh-sungguhlah dalam memperbaiki dunia dan akhirat kalian dengan berbagai macam ilmu dan dengan amal yang bermanfaat dan berfaedah. Waspadalah kalian dari jerat-jerat terorisme dan jalan-jalan khawarij, dan jika engkau diajak kepadanya maka lihatlah kondisi para dari mereka dalam perjalanan mereka, maka engkau akan tahu bahwasanya mereka adalah pecinta dunia dan tukang pembuat onar. Dan sesungguhnya piramida mereka, dan perantara-perantara mereka untuk menjeratmu adalah orang-orang yang majhul (tidak dikenal), mereka menghendaki seluruh keburukan bagi umat ini, mereka ingin engkau mengguncang stabilitas keamanan, mereka ingin engkau mengangkat senjata untuk memerangi polisi dan tentara yang mereka sedang melayani umat. Mereka ingin menculikmu dari penjagaan kedua orang tuamu dan memakaikan kepadamu pakaian ketakutan, kehinaan, dan pengusiran. Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi….=================Penerjemah : Firanda Hatim dan Usman Hatimhttps://firanda.com/   


خطبة الجمعة من المسجد النبوي  5 ربيع الأخير 1437 هـالخطيب / فضيلة الشيخ على الحذيفىترجمت إلى لغة الملايو الإندونيسية تحت إشراف إدارة الترجمة بوكالة الرئاسة العامةلشئون المسجد النبويKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, Yang menyayangi hamba-hambaNya melalui ketetapan syariatNya. Yang mengguyurkan kepada mereka bergudang-gudang anugerah, karunia dan nikmatNya. Yang mengawasi setiap jiwa dan amal perbuatannya. Segala tindakan hambaNya dicatat, diberiNya pahala jika taat, namun  tetap santun terhadap yang maksiat. Maka Dia tidak menyegerakan hukuman terhadapnya, boleh jadi hamba itu bertobat lalu dengan senang Dia terima pertobatan itu.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, baik dalam rububiyah-Nya maupun uluhiyah-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita dan penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan rasul-Nya, nabi yang teristimewa  di atas seluruh makhluk-Nya.Ya Allah, sampaikanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya… Marilah kita bertakwa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Tempuhlah jalan menuju Allah melalui ketakwaan, niscaya kalian meraih perlindunganNya, rahmatNya dan ridhaNya, kalian pun pasti aman dari murkaNya dan azabNya yang menghinakan.Kaum muslimin!Kami mengajak kalian untuk mengingat rahmat Allah yang cukup membesarkan hati para hambaNya sebagaimana kita jumpai di permulaan setiap surah Al-Qur’an, yaitu :بسـم الله الرحمن الرحيم“Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”Allah -subhanahu wa ta’ala- mensifati Dzatnya dengan sifat rahmat kasih sayang di beberapa ayat Al-Qur’an. Dia-pun mensifati rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam- dengan sifat rahmat kasih sayang dalam beberapa hadis.Firman Allah :وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [ الأعراف/156]“ Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. Qs Al-A’raf : 156Sabda Nabi :” إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي فَهُوَ مَكْتُوبٌ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ”  رواه البخاري من حديث أبى هريرة“Sesungguhnya Allah menetapkan satu ketetapan sebelum mencipta penciptaan bahwa ‘rahmat-Ku lebih mendahului kemurkaan-Ku”. HR Bukhari dari hadis Abu Hurairah.Rahmat paling agung yang Allah berikan kepada hambaNya ialah bahwa Dia telah memasang rambu-rambu untuk meraih segala kebaikan, kebahagiaan dan kejayaan ketika hidup dan sesudah mati, yaitu dengan menyambut seruan Allah Tuhan yang Maha Pengasih, serta menyambut ajakan rasulNya – shallallahu alaihi wa sallam – yang telah menyampaikan amanat.Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [ الأنفال/ 24]“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan bagimu”. Qs Al-Anfal : 24Firman Allah :قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ [ النور/54]“Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. Qs An-Nur : 54Allah – subhanahu wa ta’ala – membuat perundang-udangan yang demikian itu agar seorang muslim menggapai kehidupan yang aman, sentosa dan bahagia, selain agar terhindar dari sanksi hukuman dunia dan akhirat.Penetapan syariat Allah bagi orang-orang mukallaf itu adakalanya berupa perintah wajib, sunnah, atau berupa larangan, sanksi hukuman yang membuat jera, ancaman, atau berupa hukuman kebijaksanaan (ta’zir). Semua itu dimaksudkan sebagai perwujudan kasih sayang Allah – subhanahu wa ta’ala –kepada hamba-hambaNya, serta telaksananya kemaslahatan, kepentingan, kemudahan dan rasa keadilan bagi mereka.Firman Allah :يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ [ البقرة/185]“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. Qs Al-Baqarah : 185Firman Allah :وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى [ الأعلى/ 8]“dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah” Qs Al-A’la : 8Firman Allah :مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [المائدة/6]“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. Qs Al-Maidah : 6Firman Allah :إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ [ النحل/90]“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan”. Qs An-Nahl : 90Hukum syariat Islam dapat mewujudkan kehidupan sejahtera bagi manusia dalam kehidupan dunianya, dan menempatkannya di surga yang penuh kenikmatan kelak di akhirat.Allah –subhanahu wa ta’ala – dengan pemberlakuan hukum syariatNya dan sanksi pidana agamaNya bermaksud menghindarkan hamba-hambaNya dari ketetapan hukum alamNya (yang pasti berlaku). Ketika manusia menerapkan hukum syariat, Allah tidak menjatuhkan hukuman terhadap mereka lantaran perbuatan dosa. Allah jauhkan mereka dari bencana yang membinasakan di dunia ini dan menyelamatkan mereka pula dari azab di akhirat kelak. Tetapi jika manusia tidak mengindahkan hukum syariat, maka berlakulah ketetapan hukum alam terhadap mereka yang tidak mengindahkannya itu sebagai balasan dan ganjaran atas pelanggaran mereka.Firman Allah :لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا [النساء/123]“ bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan setimpal dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah”. Qs An-Nisa : 123Hukuman alam yang telah menjadi ketetapan Allah lantaran dosa-dosa mereka itu sungguh keras dan menyakitkan.Firman Allah :وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ [ هود/102]“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”. Qs Hud : 102Sabda Nabi :” إنَّ اللهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ “ “Sesungguhnya Allah memberi kelonggaran waktu untuk orang yang zalim sehingga jika telah tiba waktunya, Allah tidak akan melepaskannya”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Musa –radhiyallahu anhu-.Firman Allah :إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ [ البروج/12]“ Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras”. Qs Al-Buruj : 12Firman Allah :قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ [ الأنعام/65]“Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan orang-orang (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. Qs Al-An’am : 65Sebagai bukti rahmat kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya ialah bahwa Dia tidak mempercepat menghukum mereka yang berbuat zalim, tetapi Allah memberi mereka kesempatan hingga waktu tertentu.Firman Allah :وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًا [ الكهف/58]“Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang telah ditentukan  (untuk mendapat azab), mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya”.Qs Alkahfi : 58Firman Allah :وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى [ النحل/61]“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan”. Qs An-Nahl :61Jika sanksi hukuman alam memang sudah saat dijatuhkan, maka Allah jatuhkannya kepada orang-orang yang benar-benar pantas menerimanya untuk mengingatkan mereka akan adanya hukuman yang lebih dahsyat dari pada hukuman alam tersebut, agar pelakunya yang mengundang murka Allah itu sadar dan insaf.Firman Allah :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الروم/41]“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Qs Ar-Rum : 41Firman Allah :وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [ السجدة/21]“Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Qs As-Sajdah : 21Barangsiapa yang sadar dan kembali ke jalan yang benar, Allah menyambutnya. Tetapi barangsiapa yang membandel dan tetap nekat, sedangkan Allah melihatnya tidak bakal kembali ke jalan yang benar, maka ketika itulah Allah menghukumnya  sekeras-kerasnya sesuai ketetapan takdirNya yang berlaku, sedangkan hukuman yang dahsyat di akhirat adalah neraka Jahanam.Jelaslah, sanksi hukuman syariat dan penerapan hukum pidananya tidaklah berarti apa-apa bila dibandingkan dengan sanksi hukuman alam lainnya, apalagi azab yang dahsyat di akhirat.Maka, mari berpikir wahai sesama manusia, betapa luasnya rahmat kasih sayang Allah dan sifat santunNya. Bagaimana Allah mensyariatkan untuk Anda berupa perintah, larangan, hukum perundang-undangan (syariat), dan hukum pidanaNya ( hudud ). Tujuannya adalah agar Anda terhindar dari hukuman alam yang pasti berlaku dan terhindar pula dari hukuman siksa yang amat dahsyat selama Anda hidup dan sesudah mati. Selain itu agar Anda memperoleh segi kemaslahatan dari hukum yang Allah syariatkan, dan terhindar dari segala keburukan.Maka ambil-lah hikmah dari semua itu, bercerminlah kepada para sahabat Nabi-radhiyallahu anhum- ketika mereka menyambut dakwah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- dengan mencintai syariat dan menerapkannya, ketika itulah Allah –subhanahu wa ta’ala- menghindarkan mereka dari bencana alam yang pernah menimpa bangsa-bangsa di masa silam, berupa kehinaan hukuman, musibah tenggelam, pekikan yang mematikan, terhempit batu, badai, gempa bumi dan berubah muka. Namun demikian Allah masih menghidupkan mereka kembali di dunia secara baik, memberi mereka kejayaan dan kekuasaan di bumi serta memenangkan mereka dalam menghadapi musuh, meskipun jumlah mereka sedikit, persenjataan mereka terbatas. Itu semua berkat keimanan, keikhlasan, kepasrahan dan ketaatan mereka.Umar Bin Khatab – radhiyallahu anhu – berkata kepada panglima perangnya :“Saya berpesan kepada Anda dan para prajurit yang bersama Anda agar tetap bertakwa kepada allah dalam keadaan apapun. Sebab takwa adalah senjata yang paling ampuh untuk mengalahkan musuh, dan strategi yang paling jitu dalam perang. Hendaklah Anda bersama segenap staf lebih takut berbuat maksiat dari pada takut menghadapi musuh kalian. Sebab lawan-lawan kalian lebih takut kepada dosa mereka dari pada kepada kalian. Kalau bukan karena itu, kalian tidak akan sanggup menghadapi mereka, sebab jumlah kita sedikit tidak sebanding dengan jumlah mereka, demikian pula persenjataan kita sangat minim dibanding persenjataan mereka.Kalaulah dosa-dosa kita sepadan dengan ukuran dosa-dosa mereka, itupun mereka masih tetap unggul dari segi kekuatan dari pada kita. Maka kita bisa menang atas mereka lantaran ketaatan kita kepada Allah. Kita tidak bisa mengalahkan musuh dengan mengandalkan kekuatan semata. Itulah sebabnya, para sahabat – radhiyallahu anhum – dan generasi yang mengikuti jejak mereka dalam kebaikan berhak menerima penghargaan sesuai janji Allah dalam Al-Qur’an.Firman Allah :وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [ التوبة / 100 ]“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. QS At-Taubah : 100 Perhatikanlah, bagaimana Allah –subhanahu wa ta’ala- mendatangkan segala kebaikan dan menolak segala macam keburukan bagi orang-orang yang berpegang teguh kepada agama Allah. Lalu lihatlah kondisi mereka yang berpaling dari seruan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-, yang menentang hukum syariat, yang menyerang ajaran Islam, yang berseberangan dengan para kekasih Allah.Renungkanlah, bagaimana para pembangkang itu terkepung oleh bencana hukuman Allah di alam ini sehingga mereka merasakan penderitaan yang menyakitkan karena terhina, tersakiti, terasing, terlantar, terpojokkan, terbuang dan berbagai malapetaka alam dalam kehidupan ini.Firman Allah :وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [ التوبة / 40 ]“ Dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Qs At-Taubah : 40Dan Allah berfirman :إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ كُبِتُواْ كَمَا كُبِتَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ وَقَدۡ أَنزَلۡنَآ ءَايَٰتِۢ بَيِّنَٰتٖۚ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٞ مُّهِينٞ [  المجادلة  / 5 ]“Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan”. (QS Al-Mujaadilah : 5)Dan Allah berfirman :إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡأَذَلِّينَ [ المجادلة / 20 ]“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina”. (QS Al-Mujaadilah : 20)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وَجُعِلَتِ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي“Dan dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi yang menyelisihi perintahku”Adapun siksaan yang ditetapkan di akhirat bagi orang-orang kafir adalah neraka Jahannam. Allah berfirman ;قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ سَتُغۡلَبُونَ وَتُحۡشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمِهَادُ [ آل عمران/ 12 ]“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya”. (QS Ali ‘Imron : 12)Maka apakah yang engkau cari wahai muslim setelah semua pemuliaan ini?, dan apakah yang bisa lebih dari rahmat Robmu yang memerintahkanmu kepada seluruh kebaikan dan melarangmu dari seluruh keburukan?, dan Allah telah memerinci hukum-hukum bagimu dan telah mensyari’atkan bagimu hukuman-hukuman had dan perkara-perkara yang menjerakan.Perintah-perintah merupakan persiapan untuk mencapai kesempurnaan manusia, dan pensucian serta pembersihan bagi tubuh, untuk memperkuat ruh dan memperkuat kehendak untuk berbuat kebajikan serta tarbiah yang sempurna untuk membentuk seluruh akhlak yang mulia, untuk memperkokoh hati dan memuliakan manusia. Allah berfirman :وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفۡسِهِۦۚ [ فاطر/18]“Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri”. (QS Fathir : 18)Allah berfirman :قَدۡ أَفۡلَحَ مَن تَزَكَّىٰ ،  وَذَكَرَ ٱسۡمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ [ الأعلى / 14-15]“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang”. (QS Al-A’la : 14-15)Allah berfirman :قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ، وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا [ الشمس / 9-10]“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS Asy-Syams : 9-10)Perintah yang pertama kali Allah keluarkan adalah mentauhidkan Allah dan beribadah kepadaNya. Barangsiapa yang merealisasikan tauhid maka Allah menjamin baginya keamanan di dunia dan akhirat dan Allah mensucikan jiwanya. Allah berfirman :ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ [ الأنعام / 82]Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Al-An’aam : 82)Dan telah berulang-ulang perintah untuk menjalankan rukun-rukun Islam dan penjelasan bahwa padanya ada pensucian, pembersihan, ganjaran yang agung, manfa’at-manfa’at, dan banyak keberkahan bagi individu dan masyarakat. Barangsiapa yang menelaah dalil-dalil maka akan jelas baginya hal ini. Dan rukun-rukun tersebutlah yang dibangun di atasnya seluruh perintah, dan seluruh motivasi kembali kepadanya.Adapun larangan-larangan maka demi memberi penjagaan bagi hati dari penyakit-penyakit syubhat dan syahwat, serta menjaga manusia dari perkara-perkara yang buruk, penyakit-penyakit, kerusakan-kerusakan, dan kejahatan-kejahatan, karena hal-hal yang dilarang itu ibarat racun bagi tubuh, dan perintah-perintah itu ibarat nutrisi bagi tubuh. Allah berfirman :إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ [ النحل/90]“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan”. (QS An-Nahl : 90)Adapun hukuman-hukuman had maka Allah mensyari’atkannya untuk menjaga agama, menjaga nyawa, menjaga kehormatan, menjaga akal dan menjaga harta, dan bukan karena mengikuti hawa nafsu seseorang. Adanya hukum had bagi murtad adalah untuk menjaga agama, dan adanya hukum qisos untuk menjaga nyawa, adanya hukum had zina demi menjaga kehormatan, dan adanya hukum had khomr dan narkoba adalah untuk menjaga akal, adanya hukum had mencuri adalah untuk menjaga harta. Dan inilah lima perkara darurat (primer) yang dijaga dengan pencegah yang agamis intern.Perkara yang paling kuat untuk menjaga lima perkara primer tersebut adalah penegakan hukum had, karena Allah memperbaiki dengan kekuatan perkara yang tidak terbaiki dengan Al-Qur’an. Dan para ulama pakar ushul fiqh telah memberikan perhatian terhadap lima perkara primer ini. Dan barangsiapa yang mencela hukum-hukum had dan menolaknya dengan akalnya maka ia telah berdusta atas nama Allah dan telah berani terhadap Allah hanya dengan persangkaannya bahwa hukum had adalah bentuk membuang hak-hak manusia. Dan siapakah yang lebih kasih sayang kepada manusia dari pada Allah?, siapakah yang lebih mengetahui dari Allah?, siapakah yang lebih bijak dari Allah? Siapakah yang lebih adil dari Allah?. Allah berfirman :وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ [ المائدة/ 50]“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin”. (QS Al-Maidah : 50)Dan hukum-hukum had merupakan penjera dan pencegah dari melakukan hal-hal yang menyebabkan hukum had, dan sebagai kafarah (pembersih) dosa-dosa, serta menjaga kehidupan dari gangguan dan pelanggaran. Dan dalam hadits :إِقَامَةُ حَدٍّ فِي الأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِيْنَ صَبَاحَا“Menegakan hadud ( hukum pidana) di dunia lebih baik bagi penghuni bumi dari pada turun hujan bagi mereka selama empat puluh hari” (HR An-Nasaai dan Ibnu Majah dari hadits Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu).Dan hukum had merupakan pembersih dosa bagi seorang muslim berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Al-Aslami yang Nabi telah merajamnya:وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهُ الآنَ لَفِي أَنْهَارِ الْجَنَّةِ يَنْغَمِسُ فِيْهَا“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya ia sekarang berada di sungai-sungai surga, ia menyelam di dalamnya” (HR Abu Dawud)Dan darah yang terjaga serta harta yang terjaga termasuk dari lima perkara yang primer yang benar-benar diperhatikan dan diagungkan perkaranya oleh seluruh syari’at yang penutupnya adalah syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pemimpin seluruh manusia.Yang sekarang kaum khawarij masa kini serta teroris telah menganggap sepele dan ringan terhadap nyawa-nyawa yang diharamkan untuk dibunuh, dan mudah untuk berbuat pelanggaran terhadap nyawa-nyawa tersebut dengan menumpahkan darahnya, serta pelanggaran terhadap harta-harta dengan merusaknya, terhadap mesjid-mesjid dan yayasan-yayasan.Sungguh hal ini merupakan fitnah zaman ini yang merusak, yang dilakukan oleh sebagian non muslim dan sebagain orang yang berafiliasi kepada Islam, namun Islam berlepas diri dari kejahatan, kezoliman, dan kriminal mereka.Jadilah terorisme perkara yang dibenci dan kejahatan bagi manusia, banyak orang menjadi korbannya di banyak tempat. Dan negara yang paling menjadi korbannya adalah negeri Al-Haromain.Dengan adanya pembentukan persekutuan pasukan Islami yang dipimpin oleh Arab Saudi adalah untuk mencegah kejahatan terorisme agar tidak mengenai manusia. Dan orang-orangpun gembira berharap kebaikan dengan adanya persekutuan Islami ini, mereka telah melihat tanda-tanda buah kabaikannya. Dan diantara hak-hak negara-negara yang bersekutu tersebut adalah menjaga rakyatnya dan membentengi para pemudanya serta menjaga aqidah mereka dari penyimpangan, serta memperhatikan kemaslahatan mereka dan pengkokohan stabilitas keamanan dan ketentraman, dan riset tentang metode-metode yang mendatangkan seluruh kebaikan bagi negeri dan masyarakat.Dan yang wajib pertama dan terakhir bagi kaum muslimin baik masyarakat maupun negara, untuk menolong permasalahan-permasalahan kaum muslimin, dan agar mereka menjaga rakyat mereka dari serangan akidah yang menyimpang yang menyelisihi akidah Islam yaitu akidahnya para sahabat dan tabi’in, yang merupakan akidah yang tengah dan adil, dan hendaknya mereka menjaga rakyat mereka dari sikap terlepas dari ajaran-ajaran Islam dan kecondongan kepada syahwat dan perkara-perkara haram, dan kita memohon kepada Allah agar menjadikan persekutukan Islam ini bermanfaat bagi negeri dan rakyat. Allah berfirman :يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ، وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ [ آل عمران / 102-103]Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (QS Ali ‘Imron 102-103)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an yang agung.============Khutbah Kedua            Segala puji Allah Penguasa alam semesta, Yang menjadikan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kesudahan yang buruk bagi orang-orang zolim. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadanya dan beristighfar kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Yang Maha kuat dan kokoh. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya, pemimpin seluruh manusia dari awal hingga akhir. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan juga kepada keluarganya dan seluruh sahabatnya. Kemudian dari pada itu…Maka bertakwalah kepada Allah dan sembahlah Ia, karena Dialah yang telah memelihara kalian dengan berbagai kenikmatan dan telah memalingkan dari kalian berbagai keburukan dan bencana. Kaum muslimin sekalian, renungkanlah tentang kandungan firman Allah ta’aala :وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ [ المائدة/ 2]Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS Al-Maidah : 2).Maka dengan kerjasama Allah menggabungkan seluruh kebaikan dan menolak seluruh keburukan. Dan dengan meninggalkan kerja sama maka akan terluput banyak kebaikan dan akan muncul banyak keburukan. Para pemuda sekalian, hendaknya kalian semangat menuntut ilmu yang bermanfaat, dan beramal sholeh, dan bersungguh-sungguhlah dalam memperbaiki dunia dan akhirat kalian dengan berbagai macam ilmu dan dengan amal yang bermanfaat dan berfaedah. Waspadalah kalian dari jerat-jerat terorisme dan jalan-jalan khawarij, dan jika engkau diajak kepadanya maka lihatlah kondisi para dari mereka dalam perjalanan mereka, maka engkau akan tahu bahwasanya mereka adalah pecinta dunia dan tukang pembuat onar. Dan sesungguhnya piramida mereka, dan perantara-perantara mereka untuk menjeratmu adalah orang-orang yang majhul (tidak dikenal), mereka menghendaki seluruh keburukan bagi umat ini, mereka ingin engkau mengguncang stabilitas keamanan, mereka ingin engkau mengangkat senjata untuk memerangi polisi dan tentara yang mereka sedang melayani umat. Mereka ingin menculikmu dari penjagaan kedua orang tuamu dan memakaikan kepadamu pakaian ketakutan, kehinaan, dan pengusiran. Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi….=================Penerjemah : Firanda Hatim dan Usman Hatimhttps://firanda.com/   

Puting Beliung Menerpa Masjid Flores

Masjid ini sudah masuk dalam program Yayasan Darush Sholihin sejak tahun lalu. Masjid ini bernama Masjid Nurul Husna terletak di Dusun Nepawutung, Desa Watohari, Kecamatan Solor Timur, Kabupetan Flores Timur, NTT. Jumlah KK satu dusun adalau 44 KK atau terdiri dari 160 jiwa. Masjid tersebut sudah dibangun hingga kerangka atap. Namun qadarullah wa maa sya-a fa’al, terjadi angin puting beliung sekitar tanggal 20 Desember 2015 yang menghancurkan bagian atas masjid yang masih berupa kerangka. Karena sudah musim hujan saat ini, pembangunan masjid sementara ditunda hingga bulan Maret. Namun untuk membangun ulang hingga rampung membutuhkan dana sekitar 250 juta rupiah. Oleh karenanya dibutuhkan donasi dari kaum muslimin yang punya kelebihan harta untuk maksud ini. Bagi yang berminat untuk berdonasi, silakan ditransfer ke rekening: BCA: 8950093791 (Kode: 014) BSM: 3107011155 (Kode: 451) atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal. Setelah transfer diharapkan konfirmasi ke 082313950500 via SMS dengan format: Donasi Masjid Solor – NTT # Nama Donatur # Alamat Donatur # Bank Tujuan Transfer # Tanggal Transfer # Besar Donasi Conto konfirmasi: Donasi Masjid Solor – NTT # Muhammad # Jogja # BSM # 14/01/2016 # Rp.100.000,-   * Dana pembangunan masjid ini pula akan digunakan untuk pembangunan masjid lain di Indonesia Timur (Maluku dan NTT) serta Gunungkidul. Untuk NTT, pembangunan masjid yang ada dimudahkan karena bekerjasama dengan putera Solor yang bermukim di Jawa lewat Yayasan Hode Hama Yogyakarta.   Info Donasi DS via WA/ Telp: 0811267791 (Mas Jarot)   Info Yayasan Hode Hama via WA/ Telp: ‪081328886180 (Natsir Nurdin)   Mohon bantuan untuk menshare info ini pada yang lainnya. Moga Anda pun mendapatkan bagian pahala.   —   Channel Telegram @RumayshoCom • @DarushSholihin Info Rumaysho.Com • DarushSholihin.Com Tagsrenovasi masjid

Puting Beliung Menerpa Masjid Flores

Masjid ini sudah masuk dalam program Yayasan Darush Sholihin sejak tahun lalu. Masjid ini bernama Masjid Nurul Husna terletak di Dusun Nepawutung, Desa Watohari, Kecamatan Solor Timur, Kabupetan Flores Timur, NTT. Jumlah KK satu dusun adalau 44 KK atau terdiri dari 160 jiwa. Masjid tersebut sudah dibangun hingga kerangka atap. Namun qadarullah wa maa sya-a fa’al, terjadi angin puting beliung sekitar tanggal 20 Desember 2015 yang menghancurkan bagian atas masjid yang masih berupa kerangka. Karena sudah musim hujan saat ini, pembangunan masjid sementara ditunda hingga bulan Maret. Namun untuk membangun ulang hingga rampung membutuhkan dana sekitar 250 juta rupiah. Oleh karenanya dibutuhkan donasi dari kaum muslimin yang punya kelebihan harta untuk maksud ini. Bagi yang berminat untuk berdonasi, silakan ditransfer ke rekening: BCA: 8950093791 (Kode: 014) BSM: 3107011155 (Kode: 451) atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal. Setelah transfer diharapkan konfirmasi ke 082313950500 via SMS dengan format: Donasi Masjid Solor – NTT # Nama Donatur # Alamat Donatur # Bank Tujuan Transfer # Tanggal Transfer # Besar Donasi Conto konfirmasi: Donasi Masjid Solor – NTT # Muhammad # Jogja # BSM # 14/01/2016 # Rp.100.000,-   * Dana pembangunan masjid ini pula akan digunakan untuk pembangunan masjid lain di Indonesia Timur (Maluku dan NTT) serta Gunungkidul. Untuk NTT, pembangunan masjid yang ada dimudahkan karena bekerjasama dengan putera Solor yang bermukim di Jawa lewat Yayasan Hode Hama Yogyakarta.   Info Donasi DS via WA/ Telp: 0811267791 (Mas Jarot)   Info Yayasan Hode Hama via WA/ Telp: ‪081328886180 (Natsir Nurdin)   Mohon bantuan untuk menshare info ini pada yang lainnya. Moga Anda pun mendapatkan bagian pahala.   —   Channel Telegram @RumayshoCom • @DarushSholihin Info Rumaysho.Com • DarushSholihin.Com Tagsrenovasi masjid
Masjid ini sudah masuk dalam program Yayasan Darush Sholihin sejak tahun lalu. Masjid ini bernama Masjid Nurul Husna terletak di Dusun Nepawutung, Desa Watohari, Kecamatan Solor Timur, Kabupetan Flores Timur, NTT. Jumlah KK satu dusun adalau 44 KK atau terdiri dari 160 jiwa. Masjid tersebut sudah dibangun hingga kerangka atap. Namun qadarullah wa maa sya-a fa’al, terjadi angin puting beliung sekitar tanggal 20 Desember 2015 yang menghancurkan bagian atas masjid yang masih berupa kerangka. Karena sudah musim hujan saat ini, pembangunan masjid sementara ditunda hingga bulan Maret. Namun untuk membangun ulang hingga rampung membutuhkan dana sekitar 250 juta rupiah. Oleh karenanya dibutuhkan donasi dari kaum muslimin yang punya kelebihan harta untuk maksud ini. Bagi yang berminat untuk berdonasi, silakan ditransfer ke rekening: BCA: 8950093791 (Kode: 014) BSM: 3107011155 (Kode: 451) atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal. Setelah transfer diharapkan konfirmasi ke 082313950500 via SMS dengan format: Donasi Masjid Solor – NTT # Nama Donatur # Alamat Donatur # Bank Tujuan Transfer # Tanggal Transfer # Besar Donasi Conto konfirmasi: Donasi Masjid Solor – NTT # Muhammad # Jogja # BSM # 14/01/2016 # Rp.100.000,-   * Dana pembangunan masjid ini pula akan digunakan untuk pembangunan masjid lain di Indonesia Timur (Maluku dan NTT) serta Gunungkidul. Untuk NTT, pembangunan masjid yang ada dimudahkan karena bekerjasama dengan putera Solor yang bermukim di Jawa lewat Yayasan Hode Hama Yogyakarta.   Info Donasi DS via WA/ Telp: 0811267791 (Mas Jarot)   Info Yayasan Hode Hama via WA/ Telp: ‪081328886180 (Natsir Nurdin)   Mohon bantuan untuk menshare info ini pada yang lainnya. Moga Anda pun mendapatkan bagian pahala.   —   Channel Telegram @RumayshoCom • @DarushSholihin Info Rumaysho.Com • DarushSholihin.Com Tagsrenovasi masjid


Masjid ini sudah masuk dalam program Yayasan Darush Sholihin sejak tahun lalu. Masjid ini bernama Masjid Nurul Husna terletak di Dusun Nepawutung, Desa Watohari, Kecamatan Solor Timur, Kabupetan Flores Timur, NTT. Jumlah KK satu dusun adalau 44 KK atau terdiri dari 160 jiwa. Masjid tersebut sudah dibangun hingga kerangka atap. Namun qadarullah wa maa sya-a fa’al, terjadi angin puting beliung sekitar tanggal 20 Desember 2015 yang menghancurkan bagian atas masjid yang masih berupa kerangka. Karena sudah musim hujan saat ini, pembangunan masjid sementara ditunda hingga bulan Maret. Namun untuk membangun ulang hingga rampung membutuhkan dana sekitar 250 juta rupiah. Oleh karenanya dibutuhkan donasi dari kaum muslimin yang punya kelebihan harta untuk maksud ini. Bagi yang berminat untuk berdonasi, silakan ditransfer ke rekening: BCA: 8950093791 (Kode: 014) BSM: 3107011155 (Kode: 451) atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal. Setelah transfer diharapkan konfirmasi ke 082313950500 via SMS dengan format: Donasi Masjid Solor – NTT # Nama Donatur # Alamat Donatur # Bank Tujuan Transfer # Tanggal Transfer # Besar Donasi Conto konfirmasi: Donasi Masjid Solor – NTT # Muhammad # Jogja # BSM # 14/01/2016 # Rp.100.000,-   * Dana pembangunan masjid ini pula akan digunakan untuk pembangunan masjid lain di Indonesia Timur (Maluku dan NTT) serta Gunungkidul. Untuk NTT, pembangunan masjid yang ada dimudahkan karena bekerjasama dengan putera Solor yang bermukim di Jawa lewat Yayasan Hode Hama Yogyakarta.   Info Donasi DS via WA/ Telp: 0811267791 (Mas Jarot)   Info Yayasan Hode Hama via WA/ Telp: ‪081328886180 (Natsir Nurdin)   Mohon bantuan untuk menshare info ini pada yang lainnya. Moga Anda pun mendapatkan bagian pahala.   —   Channel Telegram @RumayshoCom • @DarushSholihin Info Rumaysho.Com • DarushSholihin.Com Tagsrenovasi masjid

Syahid untuk Teroris

Tepatkah orang-orang yang pergi berjihad saat ini (baca: mujahid) disebut syahid? Bagaimana pula dengan pelaku terorisme (baca: teroris)?   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa ‘penghulu syuhada Hamzah (bin Abdul Mutholib) …’[1]. Bagaimanakah aturan dalam menggunakan kata syahid? Apakah kata syahid boleh disandang oleh orang yang mati di medan perang atau digunakan pada orang shalih yang dipenjara kemudian mati?   Beliau rahimahullah menjawab: Tidak diragukan lagi, kata ‘syahid’ adalah suatu kata yang sangat disukai (dicintai), sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, وَالشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ “Dan para syuhada di sisi Rabb mereka, bagi mereka pahala dan cahaya mereka.” (QS. Al Hadid : 19) Akan tetapi, kita tidak boleh menyatakan bahwa orang tertentu itu syahid kecuali jika Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memastikannya. Hal ini karena beberapa alasan:   PERTAMA Seandainya kita melihat ada orang yag berperang melawan orang kafir lalu ia terbunuh, kita tidak boleh mengatakan orang ini syahid. Akan tetapi, kita cukup menyatakan dalam bentuk do’a, “Kami berharap orang ini syahid”, atau mengatakan dalam bentuk umum, “Semua orang yang mati di jalan Allah, maka dia syahid.” Kenapa tidak boleh memastikan si  fulan itu syahid karena pernyataan semacam ini adalah perkara yang tidak kita ketahui. Kita mesti melihat apa yang ada dalam hatinya terlebih dahulu. Namun sesuatu yang ada dalam hati adalah perkara yang tidak kita ketahui (tidak dapat diungkap). Coba perhatikan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang terluka di jalan-Nya, Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya … [2].” Inilah sebaik-baik bentuk kehati-hatian dalam berucap. Maksud hadits ini adalah seakan-akan beliau mengatakan ‘janganlah kalian memastikan setiap orang yang mati atau terluka di jalan Allah dengan menyatakan mereka telah betul-betul mati di jalan-Nya (alias ‘mati syahid’). Karena Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya’. Oleh karena itu, pada saat ini janganlah kita menilai seseorang secara lahiriyah saja saja. Maksudnya, janganlah kita menetapkan bahwa orang ini syahid karena terkadang kita tidak mengetahui sesuatu dalam hatinya. Boleh jadi dia berperang hanya karena mau disebut pemberani. Boleh jadi pula dia berperang karena mau disebut ksatria. Boleh jadi dia berperang atas dasar fanatisme golongan. Atau dia mungkin berperang karena ingin menegakkan kalimat Allah itu jaya. Yang terakhir barulah disebut mati di jalan Allah. Namun, ingatlah bahwa ini semua di bangun di atas niat (harus dilihat apa yang dalam hati terlebih dahulu).   KEDUA Kita tidaklah mengatakan bahwa si fulan itu syahid karena seandainya kita mengatakan demikian maka ini berarti kita telah memastikan dia adalah ahli surga. Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang yang syahid pasti masuk surga. Padahal tidak boleh bagi kita untuk memastikan orang tertentu sebagai ahli surga kecuali bagi orang yang telah dipastikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kita tidak memastikan bahwa orang tersebut syahid, padahal di sisi Allah orang tersebut dinilai syahid, maka ketidakpastian yang kita munculkan tidaklah akan membahayakan dirinya. Namun sebaliknya, jika kita memastikan bahwa orang tersebut syahid, padahal di sisi Allah orang tersebut tidak dinilai syahid, apakah pemastian kita seperti ini akan bermanfaat bagi dirinya? Jika memang demikian, lalu kenapa kita mengatakan perkara yang sebenarnya tidak kita ketahui? Sebaiknya kita mengatakan, “Siapa saja yang terbunuh di jalan Allah, maka dia syahid. Kami mengharapkan agar orang tersebut termasuk orang yang benar-benar mati di jalan Allah, semoga dia mendapatkan kesyahidan.” [Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh, kaset no. 32]   Kesimpulan Dari penjelasan di atas, tepatlah mengatakan syahid pada seorang mujahid? Kalau dalam bentuk do’a, itu boleh. Bagaimana dengan para teroris yang sudah salah jalan? Apa tepat mereka dinyatakan mati syahid? Yang jelas Islam saja benci terorisme, bagaimana kata syahid itu disematkan pada mereka. Coba baca artikel Rumaysho[dot]Com: Islam Mengajarkan Terorisme?   Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberikan petunjuk. — Disusun di Panggang – Gunung Kidul di pagi hari yang penuh berkah, di bulan yang utama untuk beramal sholeh, 1 Dzulhijah 1429 H Direvisi ulang, 4 Rabi’uts Tsani 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul     Footnote: [1] HR. Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 374 mengatakan bahwa hadits ini shahih. [2] Lafazh hadits tersebut adalah : وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُكْلَمُ أَحَدٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ – وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِى سَبِيلِهِ – إِلاَّ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Tidaklah seseorang terluka di jalan Allah –Allah lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya-, kecuali pada hari kiamat nanti, dia akan datang dengan warna yang merupakan warna darah dan dengan bau bagaikan bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 2803) Tagsbunuh diri teroris

Syahid untuk Teroris

Tepatkah orang-orang yang pergi berjihad saat ini (baca: mujahid) disebut syahid? Bagaimana pula dengan pelaku terorisme (baca: teroris)?   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa ‘penghulu syuhada Hamzah (bin Abdul Mutholib) …’[1]. Bagaimanakah aturan dalam menggunakan kata syahid? Apakah kata syahid boleh disandang oleh orang yang mati di medan perang atau digunakan pada orang shalih yang dipenjara kemudian mati?   Beliau rahimahullah menjawab: Tidak diragukan lagi, kata ‘syahid’ adalah suatu kata yang sangat disukai (dicintai), sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, وَالشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ “Dan para syuhada di sisi Rabb mereka, bagi mereka pahala dan cahaya mereka.” (QS. Al Hadid : 19) Akan tetapi, kita tidak boleh menyatakan bahwa orang tertentu itu syahid kecuali jika Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memastikannya. Hal ini karena beberapa alasan:   PERTAMA Seandainya kita melihat ada orang yag berperang melawan orang kafir lalu ia terbunuh, kita tidak boleh mengatakan orang ini syahid. Akan tetapi, kita cukup menyatakan dalam bentuk do’a, “Kami berharap orang ini syahid”, atau mengatakan dalam bentuk umum, “Semua orang yang mati di jalan Allah, maka dia syahid.” Kenapa tidak boleh memastikan si  fulan itu syahid karena pernyataan semacam ini adalah perkara yang tidak kita ketahui. Kita mesti melihat apa yang ada dalam hatinya terlebih dahulu. Namun sesuatu yang ada dalam hati adalah perkara yang tidak kita ketahui (tidak dapat diungkap). Coba perhatikan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang terluka di jalan-Nya, Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya … [2].” Inilah sebaik-baik bentuk kehati-hatian dalam berucap. Maksud hadits ini adalah seakan-akan beliau mengatakan ‘janganlah kalian memastikan setiap orang yang mati atau terluka di jalan Allah dengan menyatakan mereka telah betul-betul mati di jalan-Nya (alias ‘mati syahid’). Karena Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya’. Oleh karena itu, pada saat ini janganlah kita menilai seseorang secara lahiriyah saja saja. Maksudnya, janganlah kita menetapkan bahwa orang ini syahid karena terkadang kita tidak mengetahui sesuatu dalam hatinya. Boleh jadi dia berperang hanya karena mau disebut pemberani. Boleh jadi pula dia berperang karena mau disebut ksatria. Boleh jadi dia berperang atas dasar fanatisme golongan. Atau dia mungkin berperang karena ingin menegakkan kalimat Allah itu jaya. Yang terakhir barulah disebut mati di jalan Allah. Namun, ingatlah bahwa ini semua di bangun di atas niat (harus dilihat apa yang dalam hati terlebih dahulu).   KEDUA Kita tidaklah mengatakan bahwa si fulan itu syahid karena seandainya kita mengatakan demikian maka ini berarti kita telah memastikan dia adalah ahli surga. Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang yang syahid pasti masuk surga. Padahal tidak boleh bagi kita untuk memastikan orang tertentu sebagai ahli surga kecuali bagi orang yang telah dipastikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kita tidak memastikan bahwa orang tersebut syahid, padahal di sisi Allah orang tersebut dinilai syahid, maka ketidakpastian yang kita munculkan tidaklah akan membahayakan dirinya. Namun sebaliknya, jika kita memastikan bahwa orang tersebut syahid, padahal di sisi Allah orang tersebut tidak dinilai syahid, apakah pemastian kita seperti ini akan bermanfaat bagi dirinya? Jika memang demikian, lalu kenapa kita mengatakan perkara yang sebenarnya tidak kita ketahui? Sebaiknya kita mengatakan, “Siapa saja yang terbunuh di jalan Allah, maka dia syahid. Kami mengharapkan agar orang tersebut termasuk orang yang benar-benar mati di jalan Allah, semoga dia mendapatkan kesyahidan.” [Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh, kaset no. 32]   Kesimpulan Dari penjelasan di atas, tepatlah mengatakan syahid pada seorang mujahid? Kalau dalam bentuk do’a, itu boleh. Bagaimana dengan para teroris yang sudah salah jalan? Apa tepat mereka dinyatakan mati syahid? Yang jelas Islam saja benci terorisme, bagaimana kata syahid itu disematkan pada mereka. Coba baca artikel Rumaysho[dot]Com: Islam Mengajarkan Terorisme?   Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberikan petunjuk. — Disusun di Panggang – Gunung Kidul di pagi hari yang penuh berkah, di bulan yang utama untuk beramal sholeh, 1 Dzulhijah 1429 H Direvisi ulang, 4 Rabi’uts Tsani 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul     Footnote: [1] HR. Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 374 mengatakan bahwa hadits ini shahih. [2] Lafazh hadits tersebut adalah : وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُكْلَمُ أَحَدٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ – وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِى سَبِيلِهِ – إِلاَّ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Tidaklah seseorang terluka di jalan Allah –Allah lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya-, kecuali pada hari kiamat nanti, dia akan datang dengan warna yang merupakan warna darah dan dengan bau bagaikan bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 2803) Tagsbunuh diri teroris
Tepatkah orang-orang yang pergi berjihad saat ini (baca: mujahid) disebut syahid? Bagaimana pula dengan pelaku terorisme (baca: teroris)?   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa ‘penghulu syuhada Hamzah (bin Abdul Mutholib) …’[1]. Bagaimanakah aturan dalam menggunakan kata syahid? Apakah kata syahid boleh disandang oleh orang yang mati di medan perang atau digunakan pada orang shalih yang dipenjara kemudian mati?   Beliau rahimahullah menjawab: Tidak diragukan lagi, kata ‘syahid’ adalah suatu kata yang sangat disukai (dicintai), sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, وَالشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ “Dan para syuhada di sisi Rabb mereka, bagi mereka pahala dan cahaya mereka.” (QS. Al Hadid : 19) Akan tetapi, kita tidak boleh menyatakan bahwa orang tertentu itu syahid kecuali jika Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memastikannya. Hal ini karena beberapa alasan:   PERTAMA Seandainya kita melihat ada orang yag berperang melawan orang kafir lalu ia terbunuh, kita tidak boleh mengatakan orang ini syahid. Akan tetapi, kita cukup menyatakan dalam bentuk do’a, “Kami berharap orang ini syahid”, atau mengatakan dalam bentuk umum, “Semua orang yang mati di jalan Allah, maka dia syahid.” Kenapa tidak boleh memastikan si  fulan itu syahid karena pernyataan semacam ini adalah perkara yang tidak kita ketahui. Kita mesti melihat apa yang ada dalam hatinya terlebih dahulu. Namun sesuatu yang ada dalam hati adalah perkara yang tidak kita ketahui (tidak dapat diungkap). Coba perhatikan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang terluka di jalan-Nya, Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya … [2].” Inilah sebaik-baik bentuk kehati-hatian dalam berucap. Maksud hadits ini adalah seakan-akan beliau mengatakan ‘janganlah kalian memastikan setiap orang yang mati atau terluka di jalan Allah dengan menyatakan mereka telah betul-betul mati di jalan-Nya (alias ‘mati syahid’). Karena Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya’. Oleh karena itu, pada saat ini janganlah kita menilai seseorang secara lahiriyah saja saja. Maksudnya, janganlah kita menetapkan bahwa orang ini syahid karena terkadang kita tidak mengetahui sesuatu dalam hatinya. Boleh jadi dia berperang hanya karena mau disebut pemberani. Boleh jadi pula dia berperang karena mau disebut ksatria. Boleh jadi dia berperang atas dasar fanatisme golongan. Atau dia mungkin berperang karena ingin menegakkan kalimat Allah itu jaya. Yang terakhir barulah disebut mati di jalan Allah. Namun, ingatlah bahwa ini semua di bangun di atas niat (harus dilihat apa yang dalam hati terlebih dahulu).   KEDUA Kita tidaklah mengatakan bahwa si fulan itu syahid karena seandainya kita mengatakan demikian maka ini berarti kita telah memastikan dia adalah ahli surga. Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang yang syahid pasti masuk surga. Padahal tidak boleh bagi kita untuk memastikan orang tertentu sebagai ahli surga kecuali bagi orang yang telah dipastikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kita tidak memastikan bahwa orang tersebut syahid, padahal di sisi Allah orang tersebut dinilai syahid, maka ketidakpastian yang kita munculkan tidaklah akan membahayakan dirinya. Namun sebaliknya, jika kita memastikan bahwa orang tersebut syahid, padahal di sisi Allah orang tersebut tidak dinilai syahid, apakah pemastian kita seperti ini akan bermanfaat bagi dirinya? Jika memang demikian, lalu kenapa kita mengatakan perkara yang sebenarnya tidak kita ketahui? Sebaiknya kita mengatakan, “Siapa saja yang terbunuh di jalan Allah, maka dia syahid. Kami mengharapkan agar orang tersebut termasuk orang yang benar-benar mati di jalan Allah, semoga dia mendapatkan kesyahidan.” [Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh, kaset no. 32]   Kesimpulan Dari penjelasan di atas, tepatlah mengatakan syahid pada seorang mujahid? Kalau dalam bentuk do’a, itu boleh. Bagaimana dengan para teroris yang sudah salah jalan? Apa tepat mereka dinyatakan mati syahid? Yang jelas Islam saja benci terorisme, bagaimana kata syahid itu disematkan pada mereka. Coba baca artikel Rumaysho[dot]Com: Islam Mengajarkan Terorisme?   Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberikan petunjuk. — Disusun di Panggang – Gunung Kidul di pagi hari yang penuh berkah, di bulan yang utama untuk beramal sholeh, 1 Dzulhijah 1429 H Direvisi ulang, 4 Rabi’uts Tsani 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul     Footnote: [1] HR. Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 374 mengatakan bahwa hadits ini shahih. [2] Lafazh hadits tersebut adalah : وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُكْلَمُ أَحَدٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ – وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِى سَبِيلِهِ – إِلاَّ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Tidaklah seseorang terluka di jalan Allah –Allah lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya-, kecuali pada hari kiamat nanti, dia akan datang dengan warna yang merupakan warna darah dan dengan bau bagaikan bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 2803) Tagsbunuh diri teroris


Tepatkah orang-orang yang pergi berjihad saat ini (baca: mujahid) disebut syahid? Bagaimana pula dengan pelaku terorisme (baca: teroris)?   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa ‘penghulu syuhada Hamzah (bin Abdul Mutholib) …’[1]. Bagaimanakah aturan dalam menggunakan kata syahid? Apakah kata syahid boleh disandang oleh orang yang mati di medan perang atau digunakan pada orang shalih yang dipenjara kemudian mati?   Beliau rahimahullah menjawab: Tidak diragukan lagi, kata ‘syahid’ adalah suatu kata yang sangat disukai (dicintai), sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, وَالشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ “Dan para syuhada di sisi Rabb mereka, bagi mereka pahala dan cahaya mereka.” (QS. Al Hadid : 19) Akan tetapi, kita tidak boleh menyatakan bahwa orang tertentu itu syahid kecuali jika Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memastikannya. Hal ini karena beberapa alasan:   PERTAMA Seandainya kita melihat ada orang yag berperang melawan orang kafir lalu ia terbunuh, kita tidak boleh mengatakan orang ini syahid. Akan tetapi, kita cukup menyatakan dalam bentuk do’a, “Kami berharap orang ini syahid”, atau mengatakan dalam bentuk umum, “Semua orang yang mati di jalan Allah, maka dia syahid.” Kenapa tidak boleh memastikan si  fulan itu syahid karena pernyataan semacam ini adalah perkara yang tidak kita ketahui. Kita mesti melihat apa yang ada dalam hatinya terlebih dahulu. Namun sesuatu yang ada dalam hati adalah perkara yang tidak kita ketahui (tidak dapat diungkap). Coba perhatikan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang terluka di jalan-Nya, Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya … [2].” Inilah sebaik-baik bentuk kehati-hatian dalam berucap. Maksud hadits ini adalah seakan-akan beliau mengatakan ‘janganlah kalian memastikan setiap orang yang mati atau terluka di jalan Allah dengan menyatakan mereka telah betul-betul mati di jalan-Nya (alias ‘mati syahid’). Karena Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya’. Oleh karena itu, pada saat ini janganlah kita menilai seseorang secara lahiriyah saja saja. Maksudnya, janganlah kita menetapkan bahwa orang ini syahid karena terkadang kita tidak mengetahui sesuatu dalam hatinya. Boleh jadi dia berperang hanya karena mau disebut pemberani. Boleh jadi pula dia berperang karena mau disebut ksatria. Boleh jadi dia berperang atas dasar fanatisme golongan. Atau dia mungkin berperang karena ingin menegakkan kalimat Allah itu jaya. Yang terakhir barulah disebut mati di jalan Allah. Namun, ingatlah bahwa ini semua di bangun di atas niat (harus dilihat apa yang dalam hati terlebih dahulu).   KEDUA Kita tidaklah mengatakan bahwa si fulan itu syahid karena seandainya kita mengatakan demikian maka ini berarti kita telah memastikan dia adalah ahli surga. Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang yang syahid pasti masuk surga. Padahal tidak boleh bagi kita untuk memastikan orang tertentu sebagai ahli surga kecuali bagi orang yang telah dipastikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kita tidak memastikan bahwa orang tersebut syahid, padahal di sisi Allah orang tersebut dinilai syahid, maka ketidakpastian yang kita munculkan tidaklah akan membahayakan dirinya. Namun sebaliknya, jika kita memastikan bahwa orang tersebut syahid, padahal di sisi Allah orang tersebut tidak dinilai syahid, apakah pemastian kita seperti ini akan bermanfaat bagi dirinya? Jika memang demikian, lalu kenapa kita mengatakan perkara yang sebenarnya tidak kita ketahui? Sebaiknya kita mengatakan, “Siapa saja yang terbunuh di jalan Allah, maka dia syahid. Kami mengharapkan agar orang tersebut termasuk orang yang benar-benar mati di jalan Allah, semoga dia mendapatkan kesyahidan.” [Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh, kaset no. 32]   Kesimpulan Dari penjelasan di atas, tepatlah mengatakan syahid pada seorang mujahid? Kalau dalam bentuk do’a, itu boleh. Bagaimana dengan para teroris yang sudah salah jalan? Apa tepat mereka dinyatakan mati syahid? Yang jelas Islam saja benci terorisme, bagaimana kata syahid itu disematkan pada mereka. Coba baca artikel Rumaysho[dot]Com: Islam Mengajarkan Terorisme?   Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberikan petunjuk. — Disusun di Panggang – Gunung Kidul di pagi hari yang penuh berkah, di bulan yang utama untuk beramal sholeh, 1 Dzulhijah 1429 H Direvisi ulang, 4 Rabi’uts Tsani 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul     Footnote: [1] HR. Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 374 mengatakan bahwa hadits ini shahih. [2] Lafazh hadits tersebut adalah : وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُكْلَمُ أَحَدٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ – وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِى سَبِيلِهِ – إِلاَّ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Tidaklah seseorang terluka di jalan Allah –Allah lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya-, kecuali pada hari kiamat nanti, dia akan datang dengan warna yang merupakan warna darah dan dengan bau bagaikan bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 2803) Tagsbunuh diri teroris

Apa Hukum Mempelajari Bahasa Arab?

Apa hukum mempelajari bahasa Arab? Apa setiap muslim wajib mempelajari bahasa Arab?   Mempelajari bahasa Arab adalah fardhu kifayah, artinya harus ada sebagian orang yang mempelajarinya. Tujuan bahasa Arab dipelajari adalah supaya mudah dalam memahami Al-Qur’an sebagai referensi kita dalam kehidupan. Tadi pandangan dari sisi umat. Namun jika dipandang tiap individu, setiap orang harus mempelajari bahasa Arab sekadar ilmu wajib yang bisa membantunya untuk menjalankan yang wajib seperti membantunya untuk shalat, membaca Al-Qur’an atau berdzikir. Karena amalan-amalan tadi tidak bisa kecuali dengan bahasa Arab. Berarti harus bisa baca Al-Qur’an dengan bahasa Arab walau hanya dari hafalan, bisa shalat dengan bacaan bahasa Arab, begitu pula harus bisa berdzikir memakai bahasa Arab.   Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ العَرَبِ مَا يَبْلُغُ جُهْدَهُ فِي أَدَاءِ فَرْضِهِ “Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab dengan sekuat tenaga agar bisa menjalankan yang wajib.”   Selain untuk bisa menjalankan yang wajib dengan bahasa Arab, mempelajari bahasa Arab untuk maksud lainnya dihukumi sunnah. Adapun orang yang ingin paham syari’at secara mendalam tetap wajib baginya mempelajari bahasa Arab supaya bisa memahami Al-Qur’an dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar.   Imam Asy-Syathibi berkata, “Al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab secara keseluruhan. Untuk memahaminya dituntut harus dengan mempelajari bahasa Arab secara khusus. Karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ “Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195). لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ “Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)   Dan memang memahami bahasa Arab akan mudah untuk memahami kalamullah, Al-Qur’an.   Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,  “Sudah semestinya untuk Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dipahami lafazhnya dengan yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana kalam Allah bisa dipahami? Tentu dengan mempelajari bahasa Arab di mana bahasa inilah yang dijadikan bahasa dialog dengan kita. Dari pemahaman pada bahasa itulah kita bisa tahu kehendak Allah dan Rasul-Nya.”(Majmu’ah Al-Fatawa, 7: 116)   Sumber rujukan: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=31941   — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, Darush Sholihin, malam 4 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar

Apa Hukum Mempelajari Bahasa Arab?

Apa hukum mempelajari bahasa Arab? Apa setiap muslim wajib mempelajari bahasa Arab?   Mempelajari bahasa Arab adalah fardhu kifayah, artinya harus ada sebagian orang yang mempelajarinya. Tujuan bahasa Arab dipelajari adalah supaya mudah dalam memahami Al-Qur’an sebagai referensi kita dalam kehidupan. Tadi pandangan dari sisi umat. Namun jika dipandang tiap individu, setiap orang harus mempelajari bahasa Arab sekadar ilmu wajib yang bisa membantunya untuk menjalankan yang wajib seperti membantunya untuk shalat, membaca Al-Qur’an atau berdzikir. Karena amalan-amalan tadi tidak bisa kecuali dengan bahasa Arab. Berarti harus bisa baca Al-Qur’an dengan bahasa Arab walau hanya dari hafalan, bisa shalat dengan bacaan bahasa Arab, begitu pula harus bisa berdzikir memakai bahasa Arab.   Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ العَرَبِ مَا يَبْلُغُ جُهْدَهُ فِي أَدَاءِ فَرْضِهِ “Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab dengan sekuat tenaga agar bisa menjalankan yang wajib.”   Selain untuk bisa menjalankan yang wajib dengan bahasa Arab, mempelajari bahasa Arab untuk maksud lainnya dihukumi sunnah. Adapun orang yang ingin paham syari’at secara mendalam tetap wajib baginya mempelajari bahasa Arab supaya bisa memahami Al-Qur’an dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar.   Imam Asy-Syathibi berkata, “Al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab secara keseluruhan. Untuk memahaminya dituntut harus dengan mempelajari bahasa Arab secara khusus. Karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ “Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195). لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ “Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)   Dan memang memahami bahasa Arab akan mudah untuk memahami kalamullah, Al-Qur’an.   Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,  “Sudah semestinya untuk Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dipahami lafazhnya dengan yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana kalam Allah bisa dipahami? Tentu dengan mempelajari bahasa Arab di mana bahasa inilah yang dijadikan bahasa dialog dengan kita. Dari pemahaman pada bahasa itulah kita bisa tahu kehendak Allah dan Rasul-Nya.”(Majmu’ah Al-Fatawa, 7: 116)   Sumber rujukan: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=31941   — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, Darush Sholihin, malam 4 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar
Apa hukum mempelajari bahasa Arab? Apa setiap muslim wajib mempelajari bahasa Arab?   Mempelajari bahasa Arab adalah fardhu kifayah, artinya harus ada sebagian orang yang mempelajarinya. Tujuan bahasa Arab dipelajari adalah supaya mudah dalam memahami Al-Qur’an sebagai referensi kita dalam kehidupan. Tadi pandangan dari sisi umat. Namun jika dipandang tiap individu, setiap orang harus mempelajari bahasa Arab sekadar ilmu wajib yang bisa membantunya untuk menjalankan yang wajib seperti membantunya untuk shalat, membaca Al-Qur’an atau berdzikir. Karena amalan-amalan tadi tidak bisa kecuali dengan bahasa Arab. Berarti harus bisa baca Al-Qur’an dengan bahasa Arab walau hanya dari hafalan, bisa shalat dengan bacaan bahasa Arab, begitu pula harus bisa berdzikir memakai bahasa Arab.   Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ العَرَبِ مَا يَبْلُغُ جُهْدَهُ فِي أَدَاءِ فَرْضِهِ “Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab dengan sekuat tenaga agar bisa menjalankan yang wajib.”   Selain untuk bisa menjalankan yang wajib dengan bahasa Arab, mempelajari bahasa Arab untuk maksud lainnya dihukumi sunnah. Adapun orang yang ingin paham syari’at secara mendalam tetap wajib baginya mempelajari bahasa Arab supaya bisa memahami Al-Qur’an dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar.   Imam Asy-Syathibi berkata, “Al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab secara keseluruhan. Untuk memahaminya dituntut harus dengan mempelajari bahasa Arab secara khusus. Karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ “Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195). لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ “Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)   Dan memang memahami bahasa Arab akan mudah untuk memahami kalamullah, Al-Qur’an.   Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,  “Sudah semestinya untuk Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dipahami lafazhnya dengan yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana kalam Allah bisa dipahami? Tentu dengan mempelajari bahasa Arab di mana bahasa inilah yang dijadikan bahasa dialog dengan kita. Dari pemahaman pada bahasa itulah kita bisa tahu kehendak Allah dan Rasul-Nya.”(Majmu’ah Al-Fatawa, 7: 116)   Sumber rujukan: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=31941   — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, Darush Sholihin, malam 4 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar


Apa hukum mempelajari bahasa Arab? Apa setiap muslim wajib mempelajari bahasa Arab?   Mempelajari bahasa Arab adalah fardhu kifayah, artinya harus ada sebagian orang yang mempelajarinya. Tujuan bahasa Arab dipelajari adalah supaya mudah dalam memahami Al-Qur’an sebagai referensi kita dalam kehidupan. Tadi pandangan dari sisi umat. Namun jika dipandang tiap individu, setiap orang harus mempelajari bahasa Arab sekadar ilmu wajib yang bisa membantunya untuk menjalankan yang wajib seperti membantunya untuk shalat, membaca Al-Qur’an atau berdzikir. Karena amalan-amalan tadi tidak bisa kecuali dengan bahasa Arab. Berarti harus bisa baca Al-Qur’an dengan bahasa Arab walau hanya dari hafalan, bisa shalat dengan bacaan bahasa Arab, begitu pula harus bisa berdzikir memakai bahasa Arab.   Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ العَرَبِ مَا يَبْلُغُ جُهْدَهُ فِي أَدَاءِ فَرْضِهِ “Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab dengan sekuat tenaga agar bisa menjalankan yang wajib.”   Selain untuk bisa menjalankan yang wajib dengan bahasa Arab, mempelajari bahasa Arab untuk maksud lainnya dihukumi sunnah. Adapun orang yang ingin paham syari’at secara mendalam tetap wajib baginya mempelajari bahasa Arab supaya bisa memahami Al-Qur’an dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar.   Imam Asy-Syathibi berkata, “Al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab secara keseluruhan. Untuk memahaminya dituntut harus dengan mempelajari bahasa Arab secara khusus. Karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ “Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195). لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ “Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)   Dan memang memahami bahasa Arab akan mudah untuk memahami kalamullah, Al-Qur’an.   Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,  “Sudah semestinya untuk Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dipahami lafazhnya dengan yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana kalam Allah bisa dipahami? Tentu dengan mempelajari bahasa Arab di mana bahasa inilah yang dijadikan bahasa dialog dengan kita. Dari pemahaman pada bahasa itulah kita bisa tahu kehendak Allah dan Rasul-Nya.”(Majmu’ah Al-Fatawa, 7: 116)   Sumber rujukan: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=31941   — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, Darush Sholihin, malam 4 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar

7 Alasan Harus Belajar Bahasa Arab

Kenapa mesti belajar bahasa Arab? Apa manfaatnya? Walau kita bukan orang Arab, namun manfaatnya cukup besar jika kita mau mempelajari bahasa Arab. Ini beberapa alasan kenapa kita mesti luangkan waktu untuk belajar bahasa Arab.   Pertama: Keutamaan bahasa Arab amatlah jelas karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an Al-Karim. Cukup alasan inilah yang jadi alasan besar kenapa kita harus mempelajari bahasa Arab. Keistimewaan bahasa Arab disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari sepuluh tempat, di antaranya pada ayat, وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ . قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 27-28) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, اللِّسَانُ العَرَبِي شِعَارُ الإِسْلاَمِ وَأَهْلِهِ “Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan syi’ar kaum muslimin.” Disebutkan dalam Iqtidha’ Shirath Al-Mustaqim.   Kedua: Dengan mempelajari bahasa Arab lebih mudah dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Dengan modal bahasa Arab akan mudah pula dalam memahami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkan, menjelaskan serta mengamalkannya.   Ketiga: Orang yang paham bahasa Arab, terutama paham kaedah-kaedah dalam ilmu nahwu akan semakin mudah memahami Islam daripada yang tidak mempelajarinya sama sekali. Apalagi jika tugas seseorang sebagai penyampai dakwah, menjadi seorang da’i, kyai atau ustadz, tentu lebih urgent lagi mempelajarinya agar mudah memberikan pemahaman agama yang benar pada orang banyak.   Keempat: Orang yang paham bahasa Arab akan mudah menggali ilmu dari ulama secara langsung atau membaca berbagai karya ulama yang sudah banyak tersebar hingga saat ini. Sedangkan yang tidak paham bahasa Arab hanya bisa mengandalkan kitab terjemahan dan itu sifatnya terbatas.   Kelima: Bahasa Arab itu bahasa yang lembut dan lebih mengenakkan hati, serta menentramkan jiwa. Ibnu Katsir saat menjelaskan surat Yusuf ayat kedua menyatakan, لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس “Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas (kosakatanya), dan paling banyak mengandung makna yang menentramkan jiwa.”   Keenam: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan, فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه “Karena Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan pada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang mulia yaitu bulan Ramadhan. Dari berbagai sisi itu, kita bisa menilai bagaimanakah mulianya kitab suci Al-Qur’an.” Oleh karena itu Allah nyatakan tentang bahasa Arab, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)   Ketujuh: Bahasa Arab adalah bahasa yang lurus, mudah dipahami dan mudah digunakan sebagai hukum bagi manusia. Allah menyatakan sendiri, قُرْآَنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 28) Dalam ayat lain disebutkan, وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) “Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195). Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi, Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yaitu bahasanya orang Quraisy yang setiap orang mudah memahaminya. Juga dalam ayat lain disebutkan, وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا “Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab.” (QS. Ar-Ra’du: 37). Disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain, bahasa Arab digunakan sebagai hukum di tengah-tengah manusia. Dalam Zaad Al-Masiir disebutkan bahwa bahasa Arab bisa digunakan untuk menerangkan hukum-hukum yang wajib. Masih tak tergerak hati Anda untuk mempelajari bahasa yang paling mulia dan dicintai oleh Allah? Semoga Allah mudahkan untuk mempelajari bahasa Arab. Ihrish ‘ala maa yanfa’uk, semangatlah dalam hal yang manfaat untukmu. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 2 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar

7 Alasan Harus Belajar Bahasa Arab

Kenapa mesti belajar bahasa Arab? Apa manfaatnya? Walau kita bukan orang Arab, namun manfaatnya cukup besar jika kita mau mempelajari bahasa Arab. Ini beberapa alasan kenapa kita mesti luangkan waktu untuk belajar bahasa Arab.   Pertama: Keutamaan bahasa Arab amatlah jelas karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an Al-Karim. Cukup alasan inilah yang jadi alasan besar kenapa kita harus mempelajari bahasa Arab. Keistimewaan bahasa Arab disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari sepuluh tempat, di antaranya pada ayat, وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ . قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 27-28) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, اللِّسَانُ العَرَبِي شِعَارُ الإِسْلاَمِ وَأَهْلِهِ “Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan syi’ar kaum muslimin.” Disebutkan dalam Iqtidha’ Shirath Al-Mustaqim.   Kedua: Dengan mempelajari bahasa Arab lebih mudah dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Dengan modal bahasa Arab akan mudah pula dalam memahami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkan, menjelaskan serta mengamalkannya.   Ketiga: Orang yang paham bahasa Arab, terutama paham kaedah-kaedah dalam ilmu nahwu akan semakin mudah memahami Islam daripada yang tidak mempelajarinya sama sekali. Apalagi jika tugas seseorang sebagai penyampai dakwah, menjadi seorang da’i, kyai atau ustadz, tentu lebih urgent lagi mempelajarinya agar mudah memberikan pemahaman agama yang benar pada orang banyak.   Keempat: Orang yang paham bahasa Arab akan mudah menggali ilmu dari ulama secara langsung atau membaca berbagai karya ulama yang sudah banyak tersebar hingga saat ini. Sedangkan yang tidak paham bahasa Arab hanya bisa mengandalkan kitab terjemahan dan itu sifatnya terbatas.   Kelima: Bahasa Arab itu bahasa yang lembut dan lebih mengenakkan hati, serta menentramkan jiwa. Ibnu Katsir saat menjelaskan surat Yusuf ayat kedua menyatakan, لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس “Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas (kosakatanya), dan paling banyak mengandung makna yang menentramkan jiwa.”   Keenam: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan, فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه “Karena Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan pada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang mulia yaitu bulan Ramadhan. Dari berbagai sisi itu, kita bisa menilai bagaimanakah mulianya kitab suci Al-Qur’an.” Oleh karena itu Allah nyatakan tentang bahasa Arab, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)   Ketujuh: Bahasa Arab adalah bahasa yang lurus, mudah dipahami dan mudah digunakan sebagai hukum bagi manusia. Allah menyatakan sendiri, قُرْآَنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 28) Dalam ayat lain disebutkan, وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) “Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195). Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi, Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yaitu bahasanya orang Quraisy yang setiap orang mudah memahaminya. Juga dalam ayat lain disebutkan, وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا “Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab.” (QS. Ar-Ra’du: 37). Disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain, bahasa Arab digunakan sebagai hukum di tengah-tengah manusia. Dalam Zaad Al-Masiir disebutkan bahwa bahasa Arab bisa digunakan untuk menerangkan hukum-hukum yang wajib. Masih tak tergerak hati Anda untuk mempelajari bahasa yang paling mulia dan dicintai oleh Allah? Semoga Allah mudahkan untuk mempelajari bahasa Arab. Ihrish ‘ala maa yanfa’uk, semangatlah dalam hal yang manfaat untukmu. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 2 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar
Kenapa mesti belajar bahasa Arab? Apa manfaatnya? Walau kita bukan orang Arab, namun manfaatnya cukup besar jika kita mau mempelajari bahasa Arab. Ini beberapa alasan kenapa kita mesti luangkan waktu untuk belajar bahasa Arab.   Pertama: Keutamaan bahasa Arab amatlah jelas karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an Al-Karim. Cukup alasan inilah yang jadi alasan besar kenapa kita harus mempelajari bahasa Arab. Keistimewaan bahasa Arab disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari sepuluh tempat, di antaranya pada ayat, وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ . قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 27-28) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, اللِّسَانُ العَرَبِي شِعَارُ الإِسْلاَمِ وَأَهْلِهِ “Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan syi’ar kaum muslimin.” Disebutkan dalam Iqtidha’ Shirath Al-Mustaqim.   Kedua: Dengan mempelajari bahasa Arab lebih mudah dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Dengan modal bahasa Arab akan mudah pula dalam memahami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkan, menjelaskan serta mengamalkannya.   Ketiga: Orang yang paham bahasa Arab, terutama paham kaedah-kaedah dalam ilmu nahwu akan semakin mudah memahami Islam daripada yang tidak mempelajarinya sama sekali. Apalagi jika tugas seseorang sebagai penyampai dakwah, menjadi seorang da’i, kyai atau ustadz, tentu lebih urgent lagi mempelajarinya agar mudah memberikan pemahaman agama yang benar pada orang banyak.   Keempat: Orang yang paham bahasa Arab akan mudah menggali ilmu dari ulama secara langsung atau membaca berbagai karya ulama yang sudah banyak tersebar hingga saat ini. Sedangkan yang tidak paham bahasa Arab hanya bisa mengandalkan kitab terjemahan dan itu sifatnya terbatas.   Kelima: Bahasa Arab itu bahasa yang lembut dan lebih mengenakkan hati, serta menentramkan jiwa. Ibnu Katsir saat menjelaskan surat Yusuf ayat kedua menyatakan, لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس “Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas (kosakatanya), dan paling banyak mengandung makna yang menentramkan jiwa.”   Keenam: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan, فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه “Karena Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan pada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang mulia yaitu bulan Ramadhan. Dari berbagai sisi itu, kita bisa menilai bagaimanakah mulianya kitab suci Al-Qur’an.” Oleh karena itu Allah nyatakan tentang bahasa Arab, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)   Ketujuh: Bahasa Arab adalah bahasa yang lurus, mudah dipahami dan mudah digunakan sebagai hukum bagi manusia. Allah menyatakan sendiri, قُرْآَنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 28) Dalam ayat lain disebutkan, وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) “Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195). Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi, Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yaitu bahasanya orang Quraisy yang setiap orang mudah memahaminya. Juga dalam ayat lain disebutkan, وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا “Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab.” (QS. Ar-Ra’du: 37). Disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain, bahasa Arab digunakan sebagai hukum di tengah-tengah manusia. Dalam Zaad Al-Masiir disebutkan bahwa bahasa Arab bisa digunakan untuk menerangkan hukum-hukum yang wajib. Masih tak tergerak hati Anda untuk mempelajari bahasa yang paling mulia dan dicintai oleh Allah? Semoga Allah mudahkan untuk mempelajari bahasa Arab. Ihrish ‘ala maa yanfa’uk, semangatlah dalam hal yang manfaat untukmu. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 2 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar


Kenapa mesti belajar bahasa Arab? Apa manfaatnya? Walau kita bukan orang Arab, namun manfaatnya cukup besar jika kita mau mempelajari bahasa Arab. Ini beberapa alasan kenapa kita mesti luangkan waktu untuk belajar bahasa Arab.   Pertama: Keutamaan bahasa Arab amatlah jelas karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an Al-Karim. Cukup alasan inilah yang jadi alasan besar kenapa kita harus mempelajari bahasa Arab. Keistimewaan bahasa Arab disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari sepuluh tempat, di antaranya pada ayat, وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ . قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 27-28) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, اللِّسَانُ العَرَبِي شِعَارُ الإِسْلاَمِ وَأَهْلِهِ “Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan syi’ar kaum muslimin.” Disebutkan dalam Iqtidha’ Shirath Al-Mustaqim.   Kedua: Dengan mempelajari bahasa Arab lebih mudah dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Dengan modal bahasa Arab akan mudah pula dalam memahami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkan, menjelaskan serta mengamalkannya.   Ketiga: Orang yang paham bahasa Arab, terutama paham kaedah-kaedah dalam ilmu nahwu akan semakin mudah memahami Islam daripada yang tidak mempelajarinya sama sekali. Apalagi jika tugas seseorang sebagai penyampai dakwah, menjadi seorang da’i, kyai atau ustadz, tentu lebih urgent lagi mempelajarinya agar mudah memberikan pemahaman agama yang benar pada orang banyak.   Keempat: Orang yang paham bahasa Arab akan mudah menggali ilmu dari ulama secara langsung atau membaca berbagai karya ulama yang sudah banyak tersebar hingga saat ini. Sedangkan yang tidak paham bahasa Arab hanya bisa mengandalkan kitab terjemahan dan itu sifatnya terbatas.   Kelima: Bahasa Arab itu bahasa yang lembut dan lebih mengenakkan hati, serta menentramkan jiwa. Ibnu Katsir saat menjelaskan surat Yusuf ayat kedua menyatakan, لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس “Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas (kosakatanya), dan paling banyak mengandung makna yang menentramkan jiwa.”   Keenam: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan, فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه “Karena Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan pada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang mulia yaitu bulan Ramadhan. Dari berbagai sisi itu, kita bisa menilai bagaimanakah mulianya kitab suci Al-Qur’an.” Oleh karena itu Allah nyatakan tentang bahasa Arab, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)   Ketujuh: Bahasa Arab adalah bahasa yang lurus, mudah dipahami dan mudah digunakan sebagai hukum bagi manusia. Allah menyatakan sendiri, قُرْآَنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 28) Dalam ayat lain disebutkan, وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) “Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195). Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi, Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yaitu bahasanya orang Quraisy yang setiap orang mudah memahaminya. Juga dalam ayat lain disebutkan, وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا “Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab.” (QS. Ar-Ra’du: 37). Disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain, bahasa Arab digunakan sebagai hukum di tengah-tengah manusia. Dalam Zaad Al-Masiir disebutkan bahwa bahasa Arab bisa digunakan untuk menerangkan hukum-hukum yang wajib. Masih tak tergerak hati Anda untuk mempelajari bahasa yang paling mulia dan dicintai oleh Allah? Semoga Allah mudahkan untuk mempelajari bahasa Arab. Ihrish ‘ala maa yanfa’uk, semangatlah dalam hal yang manfaat untukmu. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 2 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar

Ketenangan Jiwa dalam Majelis Ilmu

Semua ingin raih ketenangan jiwa. Meskipun mencari dengan mengeluarkan biaya besar. Sehingga ada yang mencarinya lewat lantunan musik. Ada yang mencarinya lewat night club. Ada yang mencarinya di berbagai tempat rekreasi di pinggir pantai. Apakah mereka dapat ketenangan sebenarnya? Tidak, itu ketenangan semu. Ketenangan hakiki hanya didapati dengan iman. Ketenangan seperti itu didapati hanya dalam majelis ilmu syar’i.   Cobalah rasakan ketenangan lewat majelis ilmu kala Al-Qur’an disenandungkan, kala hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disuarakan. Silakan rasakan kenikmatan yang berbeda.   Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)   Ada empat keutamaan yang disebutkan bagi orang yang duduk di rumah Allah dan mempelajari kitab Allah:   Pertama: Akan raih ketenangan. Sebagaimana disebutkan saat dibacakan surat Al-Kahfi. Disebutan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, بَيْنَمَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ، وَفَرَسٌ لَهُ مَرْبُوطٌ فِى الدَّارِ ، فَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ فَنَظَرَ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا ، وَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ » “Ada seseorang yang sedang membaca (surat Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat di rumah. Lantas kuda tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar dan melihat-lihat ternyata ia tidak melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang pergi lari. Ketika datang pagi hari, peristiwa tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Itulah yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar Al-Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 74)   Kedua: Akan dinaungi rahmat Allah. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan, إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56) Dalam hadits Salman, ada yang berdzikir pada Allah, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat ketika itu, beliau pun bersabda, “ مَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ الرَّحْمَةَ تَنْزِلُ عَلَيْكُمْ ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُشَارِكَكُمْ فِيْهَا “Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).   Ketiga: Malaikat akan mengelilingi majelis ilmu. Tanda bahwasanya malaikat ridha dan suka pada orang-orang yang berada dalam majelis ilmu. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; At-Tirmidzi, no. 2682. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Atau maksudnya pula malaikat turun dan ikut dalam majelis ilmu. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 493)   Keempat: Akan disebut oleh Allah di sisi makhluk-makhluk mulia. Coba kalau kita di dunia ini disanjung-sanjung di hadapan presiden atau tokok terkemuka, kita pasti merasa seperti berada di atas. Pujian bagi penuntut ilmu lebih dari itu. Karena mereka disanjung-sanjung di hadapan makhluk yang mulia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُ “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku. Aku bersamanya kala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, maka aku akan menyebut-nyebutnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu.” (HR. Muslim, no. 2675) Tak inginkah kita mendapatkan ketenangan jiwa dan keutamaan seperti dikemukakan dalam hadits di atas. Cobalah meraihnya dalam majelis ilmu syar’i, bukan pada majelis warung kopi, bukan majelis yang penuh dengan kesia-siaan. Moga Allah memberkahi waktu dan umur kita dalam kebaikan.   Referensi Utama: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Senin saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, 1 Rabi’uts Tsani 1437 H, 04: 09 PM Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu

Ketenangan Jiwa dalam Majelis Ilmu

Semua ingin raih ketenangan jiwa. Meskipun mencari dengan mengeluarkan biaya besar. Sehingga ada yang mencarinya lewat lantunan musik. Ada yang mencarinya lewat night club. Ada yang mencarinya di berbagai tempat rekreasi di pinggir pantai. Apakah mereka dapat ketenangan sebenarnya? Tidak, itu ketenangan semu. Ketenangan hakiki hanya didapati dengan iman. Ketenangan seperti itu didapati hanya dalam majelis ilmu syar’i.   Cobalah rasakan ketenangan lewat majelis ilmu kala Al-Qur’an disenandungkan, kala hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disuarakan. Silakan rasakan kenikmatan yang berbeda.   Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)   Ada empat keutamaan yang disebutkan bagi orang yang duduk di rumah Allah dan mempelajari kitab Allah:   Pertama: Akan raih ketenangan. Sebagaimana disebutkan saat dibacakan surat Al-Kahfi. Disebutan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, بَيْنَمَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ، وَفَرَسٌ لَهُ مَرْبُوطٌ فِى الدَّارِ ، فَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ فَنَظَرَ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا ، وَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ » “Ada seseorang yang sedang membaca (surat Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat di rumah. Lantas kuda tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar dan melihat-lihat ternyata ia tidak melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang pergi lari. Ketika datang pagi hari, peristiwa tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Itulah yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar Al-Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 74)   Kedua: Akan dinaungi rahmat Allah. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan, إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56) Dalam hadits Salman, ada yang berdzikir pada Allah, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat ketika itu, beliau pun bersabda, “ مَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ الرَّحْمَةَ تَنْزِلُ عَلَيْكُمْ ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُشَارِكَكُمْ فِيْهَا “Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).   Ketiga: Malaikat akan mengelilingi majelis ilmu. Tanda bahwasanya malaikat ridha dan suka pada orang-orang yang berada dalam majelis ilmu. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; At-Tirmidzi, no. 2682. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Atau maksudnya pula malaikat turun dan ikut dalam majelis ilmu. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 493)   Keempat: Akan disebut oleh Allah di sisi makhluk-makhluk mulia. Coba kalau kita di dunia ini disanjung-sanjung di hadapan presiden atau tokok terkemuka, kita pasti merasa seperti berada di atas. Pujian bagi penuntut ilmu lebih dari itu. Karena mereka disanjung-sanjung di hadapan makhluk yang mulia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُ “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku. Aku bersamanya kala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, maka aku akan menyebut-nyebutnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu.” (HR. Muslim, no. 2675) Tak inginkah kita mendapatkan ketenangan jiwa dan keutamaan seperti dikemukakan dalam hadits di atas. Cobalah meraihnya dalam majelis ilmu syar’i, bukan pada majelis warung kopi, bukan majelis yang penuh dengan kesia-siaan. Moga Allah memberkahi waktu dan umur kita dalam kebaikan.   Referensi Utama: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Senin saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, 1 Rabi’uts Tsani 1437 H, 04: 09 PM Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu
Semua ingin raih ketenangan jiwa. Meskipun mencari dengan mengeluarkan biaya besar. Sehingga ada yang mencarinya lewat lantunan musik. Ada yang mencarinya lewat night club. Ada yang mencarinya di berbagai tempat rekreasi di pinggir pantai. Apakah mereka dapat ketenangan sebenarnya? Tidak, itu ketenangan semu. Ketenangan hakiki hanya didapati dengan iman. Ketenangan seperti itu didapati hanya dalam majelis ilmu syar’i.   Cobalah rasakan ketenangan lewat majelis ilmu kala Al-Qur’an disenandungkan, kala hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disuarakan. Silakan rasakan kenikmatan yang berbeda.   Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)   Ada empat keutamaan yang disebutkan bagi orang yang duduk di rumah Allah dan mempelajari kitab Allah:   Pertama: Akan raih ketenangan. Sebagaimana disebutkan saat dibacakan surat Al-Kahfi. Disebutan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, بَيْنَمَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ، وَفَرَسٌ لَهُ مَرْبُوطٌ فِى الدَّارِ ، فَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ فَنَظَرَ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا ، وَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ » “Ada seseorang yang sedang membaca (surat Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat di rumah. Lantas kuda tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar dan melihat-lihat ternyata ia tidak melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang pergi lari. Ketika datang pagi hari, peristiwa tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Itulah yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar Al-Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 74)   Kedua: Akan dinaungi rahmat Allah. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan, إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56) Dalam hadits Salman, ada yang berdzikir pada Allah, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat ketika itu, beliau pun bersabda, “ مَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ الرَّحْمَةَ تَنْزِلُ عَلَيْكُمْ ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُشَارِكَكُمْ فِيْهَا “Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).   Ketiga: Malaikat akan mengelilingi majelis ilmu. Tanda bahwasanya malaikat ridha dan suka pada orang-orang yang berada dalam majelis ilmu. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; At-Tirmidzi, no. 2682. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Atau maksudnya pula malaikat turun dan ikut dalam majelis ilmu. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 493)   Keempat: Akan disebut oleh Allah di sisi makhluk-makhluk mulia. Coba kalau kita di dunia ini disanjung-sanjung di hadapan presiden atau tokok terkemuka, kita pasti merasa seperti berada di atas. Pujian bagi penuntut ilmu lebih dari itu. Karena mereka disanjung-sanjung di hadapan makhluk yang mulia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُ “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku. Aku bersamanya kala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, maka aku akan menyebut-nyebutnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu.” (HR. Muslim, no. 2675) Tak inginkah kita mendapatkan ketenangan jiwa dan keutamaan seperti dikemukakan dalam hadits di atas. Cobalah meraihnya dalam majelis ilmu syar’i, bukan pada majelis warung kopi, bukan majelis yang penuh dengan kesia-siaan. Moga Allah memberkahi waktu dan umur kita dalam kebaikan.   Referensi Utama: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Senin saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, 1 Rabi’uts Tsani 1437 H, 04: 09 PM Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu


Semua ingin raih ketenangan jiwa. Meskipun mencari dengan mengeluarkan biaya besar. Sehingga ada yang mencarinya lewat lantunan musik. Ada yang mencarinya lewat night club. Ada yang mencarinya di berbagai tempat rekreasi di pinggir pantai. Apakah mereka dapat ketenangan sebenarnya? Tidak, itu ketenangan semu. Ketenangan hakiki hanya didapati dengan iman. Ketenangan seperti itu didapati hanya dalam majelis ilmu syar’i.   Cobalah rasakan ketenangan lewat majelis ilmu kala Al-Qur’an disenandungkan, kala hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disuarakan. Silakan rasakan kenikmatan yang berbeda.   Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)   Ada empat keutamaan yang disebutkan bagi orang yang duduk di rumah Allah dan mempelajari kitab Allah:   Pertama: Akan raih ketenangan. Sebagaimana disebutkan saat dibacakan surat Al-Kahfi. Disebutan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, بَيْنَمَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ، وَفَرَسٌ لَهُ مَرْبُوطٌ فِى الدَّارِ ، فَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ فَنَظَرَ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا ، وَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ » “Ada seseorang yang sedang membaca (surat Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat di rumah. Lantas kuda tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar dan melihat-lihat ternyata ia tidak melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang pergi lari. Ketika datang pagi hari, peristiwa tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Itulah yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar Al-Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 74)   Kedua: Akan dinaungi rahmat Allah. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan, إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56) Dalam hadits Salman, ada yang berdzikir pada Allah, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat ketika itu, beliau pun bersabda, “ مَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ الرَّحْمَةَ تَنْزِلُ عَلَيْكُمْ ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُشَارِكَكُمْ فِيْهَا “Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).   Ketiga: Malaikat akan mengelilingi majelis ilmu. Tanda bahwasanya malaikat ridha dan suka pada orang-orang yang berada dalam majelis ilmu. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; At-Tirmidzi, no. 2682. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Atau maksudnya pula malaikat turun dan ikut dalam majelis ilmu. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 493)   Keempat: Akan disebut oleh Allah di sisi makhluk-makhluk mulia. Coba kalau kita di dunia ini disanjung-sanjung di hadapan presiden atau tokok terkemuka, kita pasti merasa seperti berada di atas. Pujian bagi penuntut ilmu lebih dari itu. Karena mereka disanjung-sanjung di hadapan makhluk yang mulia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُ “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku. Aku bersamanya kala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, maka aku akan menyebut-nyebutnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu.” (HR. Muslim, no. 2675) Tak inginkah kita mendapatkan ketenangan jiwa dan keutamaan seperti dikemukakan dalam hadits di atas. Cobalah meraihnya dalam majelis ilmu syar’i, bukan pada majelis warung kopi, bukan majelis yang penuh dengan kesia-siaan. Moga Allah memberkahi waktu dan umur kita dalam kebaikan.   Referensi Utama: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Senin saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, 1 Rabi’uts Tsani 1437 H, 04: 09 PM Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu

Manfaat Shalat Jamaah (3)

Manfaat shalat jamaah lainnya adalah kita merasa satu dan lainnya berada dalam satu derajat meskipun berbeda strata sosial.   11. Kaum muslimin merasa berada dalam satu derajat karena berada dalam jamaah yang sama. Karena di dalam masjid, menyatu berbagai jamaah dari strata sosial yang berbeda. Orang kaya akan berdampingan dengan orang miskin dalam satu shaf. Seorang kepala atau pemimpin akan berada satu jama’ah dengan orang yang ia perintah. Seorang hakim bisa berdampingan dengan orang yang diadili. Anak kecil bisa di samping orang tua saat shalat berjama’ah. Jadi, mereka akan merasa sama, sehingga timbul rasa cinta. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan shaf, اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “Luruskanlah shaf kalian. Janganlah berselisih (dalam badan, pen.), maka nantinya hati-hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang mendekatiku orang yang sudah baligh dan berakal, kemudian yang semisal itu dan semisal itu lagi.” (HR. Muslim, no. 432, dari Ibnu Mas’ud. Lihat keterangan dalam Tuhfah Al-Ahwadzi) Dalam lafazh lainnya disebutkan, لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ “Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” (HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.” (Syarh Muslim, 4: 157)   12. Mengikuti generasi awal Islam yang rajin berjamaah Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ “Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim, no. 654)   13. Bersatunya kaum muslimin di masjid akan turun berkah. 14. Menambah semangat jika berjamaah karena di masjid berkumpul pula orang-orang yang semangat untuk ibadah. 15. Semakin menambah pahala jika jamaah semakin banyak. 16. Dengan shalat jama’ah akan ada dakwah dengan perkataan dan perbuatan. Pahala shalat jama’ah yang begitu banyak intinya termaktub dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ “Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649).   Referensi: Shalat Al-Mu’min. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd. hlm. 517-519 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah

Manfaat Shalat Jamaah (3)

Manfaat shalat jamaah lainnya adalah kita merasa satu dan lainnya berada dalam satu derajat meskipun berbeda strata sosial.   11. Kaum muslimin merasa berada dalam satu derajat karena berada dalam jamaah yang sama. Karena di dalam masjid, menyatu berbagai jamaah dari strata sosial yang berbeda. Orang kaya akan berdampingan dengan orang miskin dalam satu shaf. Seorang kepala atau pemimpin akan berada satu jama’ah dengan orang yang ia perintah. Seorang hakim bisa berdampingan dengan orang yang diadili. Anak kecil bisa di samping orang tua saat shalat berjama’ah. Jadi, mereka akan merasa sama, sehingga timbul rasa cinta. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan shaf, اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “Luruskanlah shaf kalian. Janganlah berselisih (dalam badan, pen.), maka nantinya hati-hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang mendekatiku orang yang sudah baligh dan berakal, kemudian yang semisal itu dan semisal itu lagi.” (HR. Muslim, no. 432, dari Ibnu Mas’ud. Lihat keterangan dalam Tuhfah Al-Ahwadzi) Dalam lafazh lainnya disebutkan, لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ “Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” (HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.” (Syarh Muslim, 4: 157)   12. Mengikuti generasi awal Islam yang rajin berjamaah Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ “Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim, no. 654)   13. Bersatunya kaum muslimin di masjid akan turun berkah. 14. Menambah semangat jika berjamaah karena di masjid berkumpul pula orang-orang yang semangat untuk ibadah. 15. Semakin menambah pahala jika jamaah semakin banyak. 16. Dengan shalat jama’ah akan ada dakwah dengan perkataan dan perbuatan. Pahala shalat jama’ah yang begitu banyak intinya termaktub dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ “Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649).   Referensi: Shalat Al-Mu’min. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd. hlm. 517-519 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah
Manfaat shalat jamaah lainnya adalah kita merasa satu dan lainnya berada dalam satu derajat meskipun berbeda strata sosial.   11. Kaum muslimin merasa berada dalam satu derajat karena berada dalam jamaah yang sama. Karena di dalam masjid, menyatu berbagai jamaah dari strata sosial yang berbeda. Orang kaya akan berdampingan dengan orang miskin dalam satu shaf. Seorang kepala atau pemimpin akan berada satu jama’ah dengan orang yang ia perintah. Seorang hakim bisa berdampingan dengan orang yang diadili. Anak kecil bisa di samping orang tua saat shalat berjama’ah. Jadi, mereka akan merasa sama, sehingga timbul rasa cinta. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan shaf, اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “Luruskanlah shaf kalian. Janganlah berselisih (dalam badan, pen.), maka nantinya hati-hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang mendekatiku orang yang sudah baligh dan berakal, kemudian yang semisal itu dan semisal itu lagi.” (HR. Muslim, no. 432, dari Ibnu Mas’ud. Lihat keterangan dalam Tuhfah Al-Ahwadzi) Dalam lafazh lainnya disebutkan, لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ “Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” (HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.” (Syarh Muslim, 4: 157)   12. Mengikuti generasi awal Islam yang rajin berjamaah Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ “Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim, no. 654)   13. Bersatunya kaum muslimin di masjid akan turun berkah. 14. Menambah semangat jika berjamaah karena di masjid berkumpul pula orang-orang yang semangat untuk ibadah. 15. Semakin menambah pahala jika jamaah semakin banyak. 16. Dengan shalat jama’ah akan ada dakwah dengan perkataan dan perbuatan. Pahala shalat jama’ah yang begitu banyak intinya termaktub dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ “Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649).   Referensi: Shalat Al-Mu’min. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd. hlm. 517-519 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah


Manfaat shalat jamaah lainnya adalah kita merasa satu dan lainnya berada dalam satu derajat meskipun berbeda strata sosial.   11. Kaum muslimin merasa berada dalam satu derajat karena berada dalam jamaah yang sama. Karena di dalam masjid, menyatu berbagai jamaah dari strata sosial yang berbeda. Orang kaya akan berdampingan dengan orang miskin dalam satu shaf. Seorang kepala atau pemimpin akan berada satu jama’ah dengan orang yang ia perintah. Seorang hakim bisa berdampingan dengan orang yang diadili. Anak kecil bisa di samping orang tua saat shalat berjama’ah. Jadi, mereka akan merasa sama, sehingga timbul rasa cinta. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan shaf, اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “Luruskanlah shaf kalian. Janganlah berselisih (dalam badan, pen.), maka nantinya hati-hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang mendekatiku orang yang sudah baligh dan berakal, kemudian yang semisal itu dan semisal itu lagi.” (HR. Muslim, no. 432, dari Ibnu Mas’ud. Lihat keterangan dalam Tuhfah Al-Ahwadzi) Dalam lafazh lainnya disebutkan, لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ “Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” (HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.” (Syarh Muslim, 4: 157)   12. Mengikuti generasi awal Islam yang rajin berjamaah Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ “Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim, no. 654)   13. Bersatunya kaum muslimin di masjid akan turun berkah. 14. Menambah semangat jika berjamaah karena di masjid berkumpul pula orang-orang yang semangat untuk ibadah. 15. Semakin menambah pahala jika jamaah semakin banyak. 16. Dengan shalat jama’ah akan ada dakwah dengan perkataan dan perbuatan. Pahala shalat jama’ah yang begitu banyak intinya termaktub dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ “Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649).   Referensi: Shalat Al-Mu’min. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd. hlm. 517-519 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah

Manfaat Shalat Jamaah (2)

Manfaat shalat jamaah lainnya adalah mengajarkan umat untuk bersatu dan mengikuti satu pemimpin.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   8. Menyatukan umat Islam, tidak menjadikan mereka berpecah belah Ada yang punya pemahaman berbeda-beda. Ada yang pakai qunut shubuh, ada yang tidak, bisa menyatu dengan shalat jama’ah. Ada yang punya amalan tertentu dan ada yang tidak, bisa menyatu kala shalat Jum’at. Ada yang punya perangai yang jelek, ada yang baik, bisa menyatu pula kala sudah masuk dalam masjid untuk berjama’ah. Semuanya bisa mengerjakan shalat dengan jumlah raka’at yang sama, berada di bawah satu imam. Terwujudlah kesatuan ketika itu, tidak berpecah belah.   9. Belajar untuk mengikuti seorang pemimpin Taat pada imam di sini bentuknya juga adalah tidak mendahului dan tidak sangat terlambat dari imam. Karena barangsiapa yang mendahului imam dalam keadaan tahu dan sengaja, shalatnya batal.  Hal ini dikarenakan ancaman yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ “Salah seorang di antara kalian dikhawatirkan dijadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau rupanya menjadi rupa keledai ketika ia mengangkat kepalanya sebelum imam.” (HR. Bukhari, no. 691) Ini juga menunjukkan pengajaran, kalau dalam wilayah lebih kecil seperti dalam shalat jama’ah, kita harus patuh pada imam, maka untuk wilayah lebih luas, kita harus taat juga pada pemimpin yang sah. Shalat jama’ah berarti mengajarkan kita untuk bersatu dan taat pada pemimpin. Sebagaimana hal ini merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Umar berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).   Baca bahasan Rumaysho[dot]Com tentang Taat pada Pemimpin: Taat pada Pemimpin Berarti Taat Rasul. Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat. Tidak Taat pada Pemimpin Akhirnya Mati Jahiliyah.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi hari, 28 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah

Manfaat Shalat Jamaah (2)

Manfaat shalat jamaah lainnya adalah mengajarkan umat untuk bersatu dan mengikuti satu pemimpin.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   8. Menyatukan umat Islam, tidak menjadikan mereka berpecah belah Ada yang punya pemahaman berbeda-beda. Ada yang pakai qunut shubuh, ada yang tidak, bisa menyatu dengan shalat jama’ah. Ada yang punya amalan tertentu dan ada yang tidak, bisa menyatu kala shalat Jum’at. Ada yang punya perangai yang jelek, ada yang baik, bisa menyatu pula kala sudah masuk dalam masjid untuk berjama’ah. Semuanya bisa mengerjakan shalat dengan jumlah raka’at yang sama, berada di bawah satu imam. Terwujudlah kesatuan ketika itu, tidak berpecah belah.   9. Belajar untuk mengikuti seorang pemimpin Taat pada imam di sini bentuknya juga adalah tidak mendahului dan tidak sangat terlambat dari imam. Karena barangsiapa yang mendahului imam dalam keadaan tahu dan sengaja, shalatnya batal.  Hal ini dikarenakan ancaman yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ “Salah seorang di antara kalian dikhawatirkan dijadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau rupanya menjadi rupa keledai ketika ia mengangkat kepalanya sebelum imam.” (HR. Bukhari, no. 691) Ini juga menunjukkan pengajaran, kalau dalam wilayah lebih kecil seperti dalam shalat jama’ah, kita harus patuh pada imam, maka untuk wilayah lebih luas, kita harus taat juga pada pemimpin yang sah. Shalat jama’ah berarti mengajarkan kita untuk bersatu dan taat pada pemimpin. Sebagaimana hal ini merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Umar berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).   Baca bahasan Rumaysho[dot]Com tentang Taat pada Pemimpin: Taat pada Pemimpin Berarti Taat Rasul. Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat. Tidak Taat pada Pemimpin Akhirnya Mati Jahiliyah.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi hari, 28 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah
Manfaat shalat jamaah lainnya adalah mengajarkan umat untuk bersatu dan mengikuti satu pemimpin.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   8. Menyatukan umat Islam, tidak menjadikan mereka berpecah belah Ada yang punya pemahaman berbeda-beda. Ada yang pakai qunut shubuh, ada yang tidak, bisa menyatu dengan shalat jama’ah. Ada yang punya amalan tertentu dan ada yang tidak, bisa menyatu kala shalat Jum’at. Ada yang punya perangai yang jelek, ada yang baik, bisa menyatu pula kala sudah masuk dalam masjid untuk berjama’ah. Semuanya bisa mengerjakan shalat dengan jumlah raka’at yang sama, berada di bawah satu imam. Terwujudlah kesatuan ketika itu, tidak berpecah belah.   9. Belajar untuk mengikuti seorang pemimpin Taat pada imam di sini bentuknya juga adalah tidak mendahului dan tidak sangat terlambat dari imam. Karena barangsiapa yang mendahului imam dalam keadaan tahu dan sengaja, shalatnya batal.  Hal ini dikarenakan ancaman yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ “Salah seorang di antara kalian dikhawatirkan dijadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau rupanya menjadi rupa keledai ketika ia mengangkat kepalanya sebelum imam.” (HR. Bukhari, no. 691) Ini juga menunjukkan pengajaran, kalau dalam wilayah lebih kecil seperti dalam shalat jama’ah, kita harus patuh pada imam, maka untuk wilayah lebih luas, kita harus taat juga pada pemimpin yang sah. Shalat jama’ah berarti mengajarkan kita untuk bersatu dan taat pada pemimpin. Sebagaimana hal ini merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Umar berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).   Baca bahasan Rumaysho[dot]Com tentang Taat pada Pemimpin: Taat pada Pemimpin Berarti Taat Rasul. Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat. Tidak Taat pada Pemimpin Akhirnya Mati Jahiliyah.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi hari, 28 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah


Manfaat shalat jamaah lainnya adalah mengajarkan umat untuk bersatu dan mengikuti satu pemimpin.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   8. Menyatukan umat Islam, tidak menjadikan mereka berpecah belah Ada yang punya pemahaman berbeda-beda. Ada yang pakai qunut shubuh, ada yang tidak, bisa menyatu dengan shalat jama’ah. Ada yang punya amalan tertentu dan ada yang tidak, bisa menyatu kala shalat Jum’at. Ada yang punya perangai yang jelek, ada yang baik, bisa menyatu pula kala sudah masuk dalam masjid untuk berjama’ah. Semuanya bisa mengerjakan shalat dengan jumlah raka’at yang sama, berada di bawah satu imam. Terwujudlah kesatuan ketika itu, tidak berpecah belah.   9. Belajar untuk mengikuti seorang pemimpin Taat pada imam di sini bentuknya juga adalah tidak mendahului dan tidak sangat terlambat dari imam. Karena barangsiapa yang mendahului imam dalam keadaan tahu dan sengaja, shalatnya batal.  Hal ini dikarenakan ancaman yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ “Salah seorang di antara kalian dikhawatirkan dijadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau rupanya menjadi rupa keledai ketika ia mengangkat kepalanya sebelum imam.” (HR. Bukhari, no. 691) Ini juga menunjukkan pengajaran, kalau dalam wilayah lebih kecil seperti dalam shalat jama’ah, kita harus patuh pada imam, maka untuk wilayah lebih luas, kita harus taat juga pada pemimpin yang sah. Shalat jama’ah berarti mengajarkan kita untuk bersatu dan taat pada pemimpin. Sebagaimana hal ini merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Umar berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).   Baca bahasan Rumaysho[dot]Com tentang Taat pada Pemimpin: Taat pada Pemimpin Berarti Taat Rasul. Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat. Tidak Taat pada Pemimpin Akhirnya Mati Jahiliyah.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi hari, 28 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah

Keaguangan Do’a

Khotbah Jumat Masjid Nabawi21 Rabiul Awal 1437 HKhathib : Syekh Ali bin Abdurrahman Al HudzaifiKhotbah pertamaDengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah Tuhan Pencipta bumi dan langit, Maha Mendengar doa, memulai dengan penganugerahan aneka kenikmatan dan pengangkatan keburukan dan bencana.Aku memuji Tuhanku dan bersyukur serta bertobat kepadaNya dengan memohon ampunNya.           Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, tidak ada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Perkasa. Akupun bersaksi bahwa nabi kita dan pemuka kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasulNya yang diutus untuk membawa syariat yang sempurna dan gemilang.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam-, keluarganya, dan para sahabatnya yang selalu berada di garis terdepan dalam setiap kebajikan dan upaya-upaya amal yang terpuji. Selanjutnya :Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Sebab orang yang berpegang teguh pada ketakwaan akan Allah himpunkan baginya kebaikan dunia dan akhirat, sedangkan orang yang menjauh dari ketakwaan akan celaka pada ronde-ronde terakhir dalam segala urusannya sekalipun dari segi duniawinya dalam kemapanan.Para hamba Allah !          Allah telah menetapkan jalur-jalur kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana Dia-pun telah tentukan jalur-jalur keburukan. Barangsiapa yang mengikuti jalur kebaikan dan kebahagiaan pastilah Allah jamin kesuksesan urusan duniawinya di samping kesuksesan yang gemilang pada momen-momen terakhir dengan kekekalan tinggal di surga sebagai tempat kenikmatan dan meraih keridhaan Tuhan yang Maha Pemurah. Firman Allah :( هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ)  [ الرحمن / 60 ](Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula) Qs Ar-Rahman : 60Orang yang mengikuti jalur keburukan akan memetik hasil perbuatan buruknya semasa hidupnya dan sesudah matinya. Firman Allah :( لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا) [ النساء/123]( Bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak [pula] menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak [pula] penolong baginya selain dari Allah) Qs An-Nisa : 123Camkanlah, di antara penyebab perolehan keberuntungan, kejayaan, keberhasilan dan silih bergantinya kebaikan serta penghindaran dari segala bencana dan hukuman, juga pengangkatan malapetaka yang melanda dan kemalangan adalah doa dengan tulus ikhlas dalam kekhusukan dan kesungguhan hati dalam doa. Sesungguhnya Allah-subhanahu wa ta’ala- suka dimohon dan justru memerintahkan kita untuk selalu memohon. Sebab permohonan doa dapat memberikan manfaat, baik dari hal-hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Firman Allah :وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [غافر/60](Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina). Qs Ghafir : 60Doa merupakan ibadah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Nu’man Bin Bashir bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ ) رواه أبو داود والترمذى(Doa adalah ibadah) HR Abu Daud dan Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan shahih.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ليْسَ شَيْءٌ َأكْرَمَ عَلى اللهِ تَعَاَلى مِنَ الدُّعَاءِ ( رواه الترمذى (Tidak ada suatu [zikir dan ibadah] yang lebih mulia di sisi Allah dari pada doa). HR Tirmizi, Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Alhakim.Dikatakannya sebagai hadis yang shahih sanadnya.Doa sangat dianjurkan setiap waktu sebagai ibadah yang berpahala sangat besar. Doa dapat mewujudkan segala kebutuhan pribadi dan umum, urusan dunia dan agama, ketika hidup dan setelah mati.Mengingat manfaat doa yang demikian besar, maka Allah-subhanahu wa ta’ala- mensyariatkannya dalam ibadah-ibadah fardhu sebagai perbuatan yang wajib dilaksanakan atau disunnahkan. Hal itu merupakan bentuk kasih sayang, penghargaan dan anugerah dari Allah-subhanahu wa ta’ala-  agar kita ikuti jalan yang telah Dia diajarkan kepada kita. Sekiranya bukan karena pengajaran Allah tentang doa, tentu akal pikiran kita tidak akan menemukannya. Firman Allah :( وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُم )  [ الأنعام/91]( padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya). Qs Al-An’am : 91Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah sebanyak-banyaknya dan seindah-indahnya dengan penuh keberkahan di dalamnya sebagaimana yang dikehendaki dan diridhai oleh-Nya. Kebutuhan akan doa menjadi sangat mendesak terutama pada zaman sekarang di tengah-tengah menggejolaknya fitnah dan melandanya bencana yang menghancurkan dan menimbulnya petaka yang menimpa kaum muslimin. Juga munculnya kelompok-kelompok pelaku bid’ah yang dapat memecah belah barisan umat Islam, menghalalkan darah dan harta benda yang seharusnya terjaga, bersikap angkuh terhadap ilmu dan para pengemban ilmu, memberi fatwa dengan kebodohan dan penyesatan.Di zaman di mana musuh-musuh Islam mengepungnya dan bersekongkol jahat terhadap kaum beriman, bersikap acuh dan berseberangan serta bersengketa di antara kaum muslimin sendiri, dengan bermacam-macam problematika yang melekat pada setiap individu umat Islam, mereka terusir dari kampung halamannya secara semena-mena sehingga mengalami penderitaan dan kesulitan ekonomi. Maka dalam situasi genting yang memanaskan hati kaum muslimin yang tinggal di negara-negara yang terlanda malapetaka seperti itulah kebutuhan akan doa semakin mendesak.Allah –subhanahu wa ta’ala- memuji mereka yang berdoa dengan penuh kerendahan hati kepadaNya ketika tertimpa persoalan-persoalan genting dan krisis. Firman Allah mengisahkan Nabi Adam dan istrinya’ –alaihimas-salam- :( قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ )  [ الأعراف/23](Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi) Qs Al-A’raf : 23Firman Allah :( وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ)  [ البقرة/155-157](Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk) Qs Al-Baqarah : 155-157Firman Allah tentang Nabi Yunus :( فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )  [الأنبياء/87]( maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim). Qs Al-Anbiya : 87 Sa’ad Bin Abi Waqash –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ) [ رواه الترمذى والحاكم(Doa Dzun Nun [Nabi Yunus] ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah:( لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )[Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya].Sesungguhnya tidaklah seorang muslim pun berdoa dengannya ketika menghadapi suatu persoalan melainkan Allah kabulkan doanya.) HR. Ahmad, Tirmidzi dan Alhakim, dikatakannya sebagai hadis yang ber-isnad shahih.Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- mengajak suku Tsaqef memeluk Islam, mereka menolak ajakan beliau, bahkan melempari beliau dengan batu, lalu beliau berdoa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- :( اللهمّ أشكو ضعف قوّتي، وقلّة حيلتي، وهواني على النّاس، يا أرحم الرّاحمين، إلى مَن تَكِلُني؟ إلى عدو يتجهَّمني؟ أم إلى عدوٍّ ملّكتَه أمري؟ إن لم يكن بك غضبٌ عليَّ فلا أبالي، ولكن عافيتك أوسع لي، أعوذ بنور وجهِك الذي أشرقتْ له الظّلمات، وصَلَح عليه أمر الدّنيا والآخرة من أن يحل بي غضبَك، أو ينزل بي سخطك، لك العُتْبَى حتى ترضى، ولا حول ولا قوّة إلا بك)(Ya Allah, kepadaMu aku mengadu kelemahanku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, Engkaulah Tuhan orang yang tertindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku ini? Kepada orang asing yang akan garang terhadapku ataukah kepada musuh yang menguasai diriku? Sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak pedulikan semua itu. Namun afiat-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung dengan Nur wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan dan membuat keteraturan segala urusan dunia dan akhirat, dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku atau menimpanya murkaMu atas diriku ini. KepadaMulah aku mengadukan nasib sehingga Engkau ridha. Tiada daya dan tiada upaya kecuali atas petunjukMu jua). Maka hanya dengan doa sajalah segala kesulitan dan malapetaka dalam hidup ini dapat diatasi karena ketidak berdayaan manusia untuk menolaknya.Tsauban meriwayatkan, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :(إنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ) رواه الترمذي والحاكم(Sungguh doa itu bermanfaat untuk mengatasi persoalan yang sudah terjadi dan yang belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa wahai hamba Allah). HR. Tirmizi dan Alhakim.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, sesungguhnya Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman  :( أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دعاَنِى ) رواه البخاري ومسلم(Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepadaKu. Aku selalu bersamanya ketika ia memohon kepadaKu). HR Bukhari dan MuslimCukuplah besar pahala dan karunia Tuhan itu. Di satu sisi, Allah-–subhanahu wa ta’ala- mencela mereka yang enggan berdoa ketika terkena bencana dan tertimpa malapetaka. Firman Allah :( وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ ) [المؤمنون /76](Sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan [juga] tidak memohon kepada-Nya dengan merendahkan diri) Qs Almukminun : 76Firman Allah :(وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُون ، فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)  [ الأنعام/42 ](Sesungguhnya Kami telah mengutus [rasul-rasul] kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan [menimpakan] kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan). Qs Al-An’am : 42Firman Allah :( وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ) [ الأعراف / 94 ](Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri). Qs Al-A’raf : 94 Meninggalkan doa dalam kondisi krisis merupakan sikap nekat dan terlalu berani dalam berbuat dosa dengan menyepelekan sanksi hukuman Allah yang sangat pedih. Firman Allah :( إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ) [ البروج 12]( Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras ) Qs Al-Buruj : 12 Doa merupakan faktor utama bagi turunnya kebaikan dan keberkahan serta tertangkisnya dan terangkatnya keburukan dari orang yang berdoa. Doa pula sebagai solusi yang dominan untuk melepaskan diri dari persoalan yang terjadi dan kesulitan yang menimpa. Firman Allah :( وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ ) [ الأنبياء / 83-84 ](Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah). Qs Al-Anbiya : 83-84Firman Allah :( أمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ )  [ النمل / 62 ](Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan). Qs An-Naml : 62Tentu tidak ada seorang pun yang mampu berbuat banyak kecuali Allah –subhanahu wa ta’ala- .Firman Allah :( قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ) [الأنعام/63](Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur). Qs Al-An’am : 63Seorang muslim sudah seharusnya mendekatkan diri kepada Allah dalam upaya melakukan perbaikan terhadap segala urusan dan melaporkan segala kebutuhannya kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Hendaklah memohon kepada Allah, apapun yang dibutuhkannya, sedangkan klimaks dari segala permohonan adalah surga dan terhindar dari siksa neraka. Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ  ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ ) رواه مسلم(Wahai hamba-Ku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya kalian Aku beri hidayah. Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan kecuali siapa yang aku beri makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya kalian Aku beri makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah telanjang kecuali siapa yang aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya kalian Aku beri pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya kalian akan Aku ampuni).HR Muslim dari hadis Abu Dzar – radhiyallahu anhu -.Artinya, mintalah kalian petunjuk, makanan, pakaian dan ampunan kepadaKu niscaya Aku penuhi permintaan kalian. Hadits ini merupakan penekanan agar seseorang selalu memohon kepada Allah, sampai dalam persoalan tali alas kakinya dan rasa asin (garam) pada makanannya-pun diperintahkan untuk dimohonkan kepadaNya.Betapa banyak doa yang mampu merubah perjalanan sejarah dari kondisi buruk menjadi baik, dan dari kondisi baik menjadi lebih baik. Firman Allah -subhanahu wa ta’ala- tentang Nabi Ibrahim – alaihis-salam-  :(رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) [البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana). Qs Al-Baqarah : 129 Abu Umamah – radhiyallahu anhu- berkata, aku bertanya, Ya Rasulullah!( مَا كَانَ أَوَّلُ بَدْء أَمْرِكَ؟ قَالَ: “دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبُشْرَى عِيسَى بِي، وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ ) رواه أحمد)Apa sebenarnya permulaan dari urusanmu? Nabi Saw. menjawab, “Doa ayahku Ibrahim, berita gembira oleh Isa mengenai aku, dan ibuku melihat dalam mimpinya telah keluar dari tubuhnya suatu cahaya yang menerangi gedung-gedung negeri Syam”) HR Ahmad.Kaum muslimin selalu dalam kebaikan berkat doa itu. Bumi ini pun mendapatkan keberkahan dari doa mereka. Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh -alaihissalam- membawa keberkahan bagi seluruh orang-orang beriman yang meng-esa-kan Allah, dan mendatangkan bencana bagi kaum pagan [orang-orang musyrik]. Demikian pula doa Nabi Isa –alaihissalam- dan sahabat-sahabatnya yang terkepung di Tursina pada akhir zaman merupakan kemenangan bagi kaum muslimin dan kehancuran bagi Gog dan Magog sebagai bangsa laksana belalang yang bertebaran di bumi, mereka adalah sejahat-jahat mahluk dan paling banyak berbuat kerusakan, keonaran dan arogansi.Disebutkan dalam hadis Annawas Bin Sam’an –radhiyallahu anhu- sesudah Nabi Isa-alaihissalam- selesai membunuh Almasih Dajal :( إذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لاَ يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لِأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لِأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ رضِيَ الله ُعَنهُمْ إلَى اللهِ تعَالى فيَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ عَلَيْهِمُ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ وَهُوَ الدُّوْدُ فَيُصْبِحُونَ مَوْتَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اْلأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِي اْلأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللهِ يَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ تَعَالَى ) رواه مسلمKetika Allah -subhanahu wa ta’ala- mewahyukan kepada Isa –alaihissalam-: Sesungguhnya Aku mengeluarkan hamba-hambaKu yang tidak ada kemampuan bagi seorang pun untuk memeranginya. Maka biarkanlah mereka hamba-hambaKu menuju Tursina. Lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- keluarkan Gog dan Magog yang mana mereka mengalir dari setiap tempat yang tinggi. Gelombang pertama melewati danau Tabariah, dan meminum seluruh air yang ada padanya, hingga ketika barisan paling belakang telah sampai pada danau tersebut mereka berkata: “Sungguh dahulu di sini masih ada airnya.” Ketika itu Nabi Isa –alaihissalam- dan para sahabatnya terkepung, hingga kepala sapi bagi mereka saat itu lebih berharga dari pada seratus dinar kalian saat ini. Maka Isa dan para sahabatnya berharap [berdoa] kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, lalu Allah-pun mengirim sejenis ulat yang menyerang leher mereka. Maka pagi harinya mereka seluruhnya binasa menjadi bangkai-bangkai dalam waktu yang hampir bersamaan. Kemudian turunlah Nabi Isa-alaihissalam- [dari gunung Tursina] bersama para sahabatnya, ketika itulah tidak didapati satu jengkal pun tempat kecuali penuh dengan bangkai dan bau busuk mereka. Maka Nabi Isa –alaihissalam- pun berharap (berdoa) kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Maka Allah lalu mengirimkan burung-burung yang lehernya seperti unta, membawa bangkai-bangkai mereka dan kemudian dilemparkan di tempat yang Allah kehendaki). HR. Muslim Doa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- pemimpin umat manusia bersama sahabat-sahabatnya di Badar merupakan kemenangan bagi Islam secara permanen dan kenistaan bagi kekafiran untuk selama-lamanya. Firman Allah :( إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ) [ الأنفال /9](Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan untukmu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut). Qs Al-Anfal : 9Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- berdoa dengan sepenuh hati di Badar sehingga kain selendang beliau melorot. Abu Bakar- radhiyallahu anhu- mendampingi beliau lalu berkata : Cukuplah sudah Ya Rasulullah apa yang engkau mohonkan kepada Tuhan, karena Allah sungguh memenuhi janjiNya kepada engkau. Doa memohon untuk kemenangan bagi kebenaran dan kehancuran bagi kebatilan merupakan kebulatan hati dalam berbuat baik kepada Allah, kitabNya, rasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin pada umumnya. Oleh karena itu, tidak mungkin meninggalkan doa kecuali orang yang jelas terhalang dari nasib mujur di dunia dan akhirat, yang menyia-nyiakan tugas wajibnya terhadap Islam dan sesama muslim.Di sebutkan dalam hadis :” مَنْ لَمْ يَهْتَم بِأمِرِ المْسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ ““Barangsiapa yang tidak peduli pada urusan kaum muslimin, tidaklah ia termasuk golongan mereka”.Jika kita teliti secara seksama pengaruh doa, keberkahan, kebaikan dan dampak positifnya yang mengagumkan, tentu perlu pemaparan yang panjang lebar. Namun di sini cukuplah apa yang kami singgung di atas.Berdoa tentu ada syarat-syaratnya dan etikanya. Antara lain, hendaknya orang yang berdoa memakan makanan yang halal dan mengenakan pakaian yang halal. Rasulullah –shallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Sa’ad Bin Abi Waqash : “Wahai Sa’ad, bersihkanlah makananmu niscaya doamu terkabulkan”. Di antara syarat berdoa ialah tetap dalam koridor Sunnah Nabi dan mengikuti ketetapan Allah dengan menjalankan perintah-perintahnya. Allah berfirman :(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ) [البقرة/186](Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah], bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah-Ku] dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran). Qs Albaqarah : 186Firman Allah :( وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ) [ الشورى/26](Dan Dia memperkenankan [doa] orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah [pahala] bagi mereka dari karunia-Nya). Qs As-Syura : 26 Perlu diingat, doa orang yang teraniaya adalah mustajabah meskipun dia itu orang kafir atau pelaku bid’ah. Di antara syarat berdoa ialah ikhlas dan kehadiran hati serta kemauan bulat dalam memohon dengan mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ) [ غافر/14](Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai). Qs Ghafir : 14Disebutkan dalam hadis :“Allah tidak menerima doa seseorang yang hatinya lalai dan melayang”.Di antara syarat terkabulnya doa ialah tidak berdoa untuk sesuatu yang berakibat dosa atau pemutusan tali kekerabatan, dan tidak berdoa untuk sesuatu yang melampaui batas-batas kewajaran. Di antara sebab terkabulnya doa ialah memuji Allah dengan menyebut nama-namaNya yang baik (Asmaul-Husna) dan sifat-sifatNya yang luhur serta bershalawat kepada Nabi-shallallahu alaihi wa sallam-.Dalam suatu riwayat disebutkan, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- mendengar seorang lelaki berdoa : ( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد). رواه أبوداود والترمذى(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi segala sesuatu membutuhkan-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak seorang pun yang menyamaiNya). Maka beliau – shallallahu alaihi wa sallam- berkata kepadanya : “ Sungguh kamu telah memohon kepada Allah melalui asma-Nya yang agung yang bilamana seseorang memohon dengannya niscaya diberi, dan bilamana ia berdoa dengannya, niscaya doanya dikabulkan pula.) HR Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Fudhalah Bin Ubaid-radhiyallahu anhu- berkata : Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- sedang duduk, tiba-tiba ada seorang lelaki masuk lalu berdoa :( اللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى )( Ya Allah, ampunilah aku dan kasihanilah aku ), maka Rasulullah- shallallahu alaihi wa sallam- menegurnya seraya berkata : “Kamu terlalu tergesa-gesa hai orang yang sedang berdoa. Jika kamu berdoa lalu duduk, pujilah Allah sebagaimana lazimnya dengan Allah, sesudah itu berdoalah shalawat untukku, lalu memohonlah kepada Allah”. HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Dalam hadis lain disebutkan bahwa doa seseorang senantiasa tergantung di antara langit dan bumi sehingga orang tersebut menyampaikan doa shalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.Di antara etika dan syarat terkabulnya doa, seorang yang berdoa hendaklah tidak tergesa-gesa, tetapi bersabar. Disebutkan dalam hadis, “Akan terpenuhi doa salah seorang di antara kalian selagi tidak tergesa-gesa, sambil bergumam, “aku sudah berdoa, namun belum kunjung dikabulkan juga”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Bersamaan dengan kelanggengan berdoa, akan terkabul doa seseorang. Disebutkan dalam hadis, : “Tidak seorang pun muslim di atas bumi yang berdoa melainkan Allah memperkenankan apa yang diminta atau menghindarkannya dari keburukan yang setara dengannya selagi dirinya tidak memohon sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan tali kekerabatan, maka tiba-tiba ada seorang lelaki yang berkata, “Kalau demikian kami memperbanyak doa. Maka Nabi-sallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Allah-pun akan memperbanyak pemberianNya”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan shahih. Diriwayatkan pula oleh Alhakim melalui jalur Abu Said dengan tambahan redaksi :” أو يَدًّخِرُ لَهُ مِنْ مِثْلِهَا “( Atau Allah mendepositokan baginya kebaikan yang setara dengannya ). Maka seyogianya seorang muslim membidik waktu-waktu yang mustajabah untuk berdoa. Rasulullah- sallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya, “Ya Rasulallah, doa apakah yang paling didengar oleh Allah?”. Beliau menjawab, “Doa di akhir tengah malam dan di setiap selesai shalat fardhu”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan dari hadis Abu Umamah.Dalam hadis disebutkan :( يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ) رواه البخاري ومسلم (Tuhan kita -tabaaraka wa ta’ala- turun pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni). HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Doa di waktu antara azan dan iqamah tidak akan tertolak. Demikian pula pada saat bersujud. Disebutkan dalam hadis,( أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ) رواه مسلم(Keadaan paling dekat bagi seorang hamba kepada Tuhan-nya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah berdoa). HR. Muslim dari hadis Abu Hurairah.Ketika melihat Ka’bah, ketika turunnya hujan, ketika sedang dalam keadaan darurat, setelah mengkhatamkan Al-Qur’an dan setelah bersedekah pun doa seseorang terkabulkan.Betapa besar kebahagiaan, keberuntungan dan pahala bagi orang yang hatinya selalu tersambung dengan Allah –subhanahu wa ta’ala-, yang selalu memohon, mengharap, bertawakal dan meminta pertolonganNya.Sungguh celaka dan terlampau jauh kemusyrikan dan kekafiran orang yang memohon kepada pemakaman dan pekuburan atau menyampaikan hajat hidupnya kepada malaikat atau nabi. Tugas para nabi dan rasul adalah mengajak umat manusia untuk memohon kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- semata, dan memurnikan permohonan hanya kepadaNya. Demikian pula para wali, kita diperintahkan untuk berbuat seperti apa yang mereka perbuat dan meneladani mereka, kita dilarang berdoa, mengharap dan memohon kepada mereka. Firman Allah :( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا )  [ الجن / 18 ](Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping [menyembah] Allah) Qs Al-Jin : 18Firman Allah :( قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا ) [ الجن / 20 ](Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya) Qs Al-Jin : 20Seseorang yang menghilang dan orang-orang mati, tidak ada seorangpun di antara mereka yang bisa memenuhi permohonan yang ditujukan kepada mereka, sebab yang bisa memenuhi dan mengabulkan doa hanyalah Allah -subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ ) [ الرعد/14](Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka). Qs Ar-Ra’d : 14Firman Allah :( وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ ، وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ ، [ الأحقاف/5 – 6](Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari [memperhatikan] doa mereka.  Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka). Qs Al-Ahqaf : 5-6Allah pun berfirman dalam konteks pengisahan tentang pekerjaan-pekerjaanNya :يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ ، إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ) [ فاطر/ 13 – 14 ](Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang [berbuat] demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru [sembah] selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui ) Qs Fathir : 13-14 Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak mengizinkan seseorangpun memohon kepada selainNya meskipan yang dimohon itu malaikat yang dekat kepada Allah.Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman mengisahkan Nabi Isa Bin Maryam –alaihissalam-  :( وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ ) [ المائدة / 72 ]( Al Masih [sendiri] berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun). Qs Al-Maidah : 72 ( مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ )  رواه البخاري(Barang siapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka masuklah ia kedalam neraka). HR. Bukhari dari hadis Abdullah Bin Mas’ud.Saudaraku sesama muslim!          Itulah pesan Kitab Allah dan Sunnah rasulNya –shallallahu alaihi wa sallam- yang menandaskan bahwa doa pada hakikatnya adalah ibadah, Oleh karena itu doa hanya boleh ditujukan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Barangsiapa yang melibatkan seseorang selain Allah dalam doa, maka ia telah melakukan kemusyrikan besar. Maka dalam hal kesesatan dan kemusyrikan ini janganlah ada seseorang yang meniru-niru orang lain, sebab tidak seorangpun terjebak dalam kemusyrikan dan kekafiran kecuali akibat sikapnya yang suka meniru-niru dan mengikuti orang-orang yang tersesat.Firman Allah :( أَذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ، إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ ،  إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ، طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ، فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ ، ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ ، ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ ، إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ ، فَهُمْ عَلَى آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ ) [ الصافات / 62-70](Makanan surga itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka  benar-benar ke neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.) Qs. Ashshafat : 62-70 Firman Allah : ( ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ) ( الأعراف/55](Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas). Qs Al-A’raf : 55Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadaku dan kepada kalian berkat pengamalan Al-Qur’an yang agung !—————–Khotbah kedua Segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih dan Pemurah, Maha Perkasah dan Bijaksana. BagiNya nama-nama yang banik dan indah dengan sifat-sifatNya yang luhur dan agung. Aku bersaksi nahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Agung. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita dan pemimpin kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul pilihanNya.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu, rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang konsisten dalam ketakwaan.Selanjutnya :          Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan memperbaiki amal perbuatan kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang beruntung di dunia sekarang dan di akhirat kelak.Hamba-hamba Allah!          Tetaplah kalian tersambung dengan Allah dengan selalu memohon kepadaNya dalam doa. Tidak akan kecewa orang yang memohon kepadaNya dan tidak akan terhalang dari anugerahNya orang yang mengharapkan karuniaNya.          Kebutuhan hidup setiap menusia akan tetap ada, dengan berbagai macam tuntutan yang muncul setiap waktu. Maka hendaklah setiap individu memohon kepada Tuhannya apa saja yang dinilainya sebagai suatu kebaikan, dan hendaklah berlindung kepadaNya dari apapun yang diduganya mendatangkan keburukan.          Puncak dari permohonan adalah ridha Ilahi dan surgaNya, sedangkan perlindungan yang paling urgen adalah terhindar dari hukuman neraka. Oleh sebab itu sepatutnya setiap muslim bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Tuhan apapun hajat yang mendesak baginya, karena Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha Pemurah dan Maha Terpuji, Maha Dermawan, Maha Agung dan Maha Kuasa.Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ). رواه مسلم (Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal itu tidak menambah apa yang Aku miliki sedikitpun.  Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin, semuanya dalam keadaan paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada padaKu sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya  sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir  semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada padaKu kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan). HR Muslim          Dianjurkan bagi seorang muslim memilih doa sapu jagat yang diajarkan oleh Nabi – shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana dalam ayat Al-Qur’an :( رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )  [ البقرة / 201 ](Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka). Qs Albaqarah : 201Dan doa ma’tsur lainnya seperti :اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.(Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ridha dan surga-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka dan neraka-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya). Hamba-hamba Allah!          Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian dan sampaikan salam kepadanya!.—- Selesai —-Penerjemah: Usman Hatim

Keaguangan Do’a

Khotbah Jumat Masjid Nabawi21 Rabiul Awal 1437 HKhathib : Syekh Ali bin Abdurrahman Al HudzaifiKhotbah pertamaDengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah Tuhan Pencipta bumi dan langit, Maha Mendengar doa, memulai dengan penganugerahan aneka kenikmatan dan pengangkatan keburukan dan bencana.Aku memuji Tuhanku dan bersyukur serta bertobat kepadaNya dengan memohon ampunNya.           Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, tidak ada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Perkasa. Akupun bersaksi bahwa nabi kita dan pemuka kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasulNya yang diutus untuk membawa syariat yang sempurna dan gemilang.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam-, keluarganya, dan para sahabatnya yang selalu berada di garis terdepan dalam setiap kebajikan dan upaya-upaya amal yang terpuji. Selanjutnya :Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Sebab orang yang berpegang teguh pada ketakwaan akan Allah himpunkan baginya kebaikan dunia dan akhirat, sedangkan orang yang menjauh dari ketakwaan akan celaka pada ronde-ronde terakhir dalam segala urusannya sekalipun dari segi duniawinya dalam kemapanan.Para hamba Allah !          Allah telah menetapkan jalur-jalur kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana Dia-pun telah tentukan jalur-jalur keburukan. Barangsiapa yang mengikuti jalur kebaikan dan kebahagiaan pastilah Allah jamin kesuksesan urusan duniawinya di samping kesuksesan yang gemilang pada momen-momen terakhir dengan kekekalan tinggal di surga sebagai tempat kenikmatan dan meraih keridhaan Tuhan yang Maha Pemurah. Firman Allah :( هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ)  [ الرحمن / 60 ](Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula) Qs Ar-Rahman : 60Orang yang mengikuti jalur keburukan akan memetik hasil perbuatan buruknya semasa hidupnya dan sesudah matinya. Firman Allah :( لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا) [ النساء/123]( Bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak [pula] menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak [pula] penolong baginya selain dari Allah) Qs An-Nisa : 123Camkanlah, di antara penyebab perolehan keberuntungan, kejayaan, keberhasilan dan silih bergantinya kebaikan serta penghindaran dari segala bencana dan hukuman, juga pengangkatan malapetaka yang melanda dan kemalangan adalah doa dengan tulus ikhlas dalam kekhusukan dan kesungguhan hati dalam doa. Sesungguhnya Allah-subhanahu wa ta’ala- suka dimohon dan justru memerintahkan kita untuk selalu memohon. Sebab permohonan doa dapat memberikan manfaat, baik dari hal-hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Firman Allah :وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [غافر/60](Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina). Qs Ghafir : 60Doa merupakan ibadah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Nu’man Bin Bashir bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ ) رواه أبو داود والترمذى(Doa adalah ibadah) HR Abu Daud dan Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan shahih.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ليْسَ شَيْءٌ َأكْرَمَ عَلى اللهِ تَعَاَلى مِنَ الدُّعَاءِ ( رواه الترمذى (Tidak ada suatu [zikir dan ibadah] yang lebih mulia di sisi Allah dari pada doa). HR Tirmizi, Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Alhakim.Dikatakannya sebagai hadis yang shahih sanadnya.Doa sangat dianjurkan setiap waktu sebagai ibadah yang berpahala sangat besar. Doa dapat mewujudkan segala kebutuhan pribadi dan umum, urusan dunia dan agama, ketika hidup dan setelah mati.Mengingat manfaat doa yang demikian besar, maka Allah-subhanahu wa ta’ala- mensyariatkannya dalam ibadah-ibadah fardhu sebagai perbuatan yang wajib dilaksanakan atau disunnahkan. Hal itu merupakan bentuk kasih sayang, penghargaan dan anugerah dari Allah-subhanahu wa ta’ala-  agar kita ikuti jalan yang telah Dia diajarkan kepada kita. Sekiranya bukan karena pengajaran Allah tentang doa, tentu akal pikiran kita tidak akan menemukannya. Firman Allah :( وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُم )  [ الأنعام/91]( padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya). Qs Al-An’am : 91Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah sebanyak-banyaknya dan seindah-indahnya dengan penuh keberkahan di dalamnya sebagaimana yang dikehendaki dan diridhai oleh-Nya. Kebutuhan akan doa menjadi sangat mendesak terutama pada zaman sekarang di tengah-tengah menggejolaknya fitnah dan melandanya bencana yang menghancurkan dan menimbulnya petaka yang menimpa kaum muslimin. Juga munculnya kelompok-kelompok pelaku bid’ah yang dapat memecah belah barisan umat Islam, menghalalkan darah dan harta benda yang seharusnya terjaga, bersikap angkuh terhadap ilmu dan para pengemban ilmu, memberi fatwa dengan kebodohan dan penyesatan.Di zaman di mana musuh-musuh Islam mengepungnya dan bersekongkol jahat terhadap kaum beriman, bersikap acuh dan berseberangan serta bersengketa di antara kaum muslimin sendiri, dengan bermacam-macam problematika yang melekat pada setiap individu umat Islam, mereka terusir dari kampung halamannya secara semena-mena sehingga mengalami penderitaan dan kesulitan ekonomi. Maka dalam situasi genting yang memanaskan hati kaum muslimin yang tinggal di negara-negara yang terlanda malapetaka seperti itulah kebutuhan akan doa semakin mendesak.Allah –subhanahu wa ta’ala- memuji mereka yang berdoa dengan penuh kerendahan hati kepadaNya ketika tertimpa persoalan-persoalan genting dan krisis. Firman Allah mengisahkan Nabi Adam dan istrinya’ –alaihimas-salam- :( قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ )  [ الأعراف/23](Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi) Qs Al-A’raf : 23Firman Allah :( وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ)  [ البقرة/155-157](Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk) Qs Al-Baqarah : 155-157Firman Allah tentang Nabi Yunus :( فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )  [الأنبياء/87]( maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim). Qs Al-Anbiya : 87 Sa’ad Bin Abi Waqash –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ) [ رواه الترمذى والحاكم(Doa Dzun Nun [Nabi Yunus] ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah:( لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )[Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya].Sesungguhnya tidaklah seorang muslim pun berdoa dengannya ketika menghadapi suatu persoalan melainkan Allah kabulkan doanya.) HR. Ahmad, Tirmidzi dan Alhakim, dikatakannya sebagai hadis yang ber-isnad shahih.Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- mengajak suku Tsaqef memeluk Islam, mereka menolak ajakan beliau, bahkan melempari beliau dengan batu, lalu beliau berdoa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- :( اللهمّ أشكو ضعف قوّتي، وقلّة حيلتي، وهواني على النّاس، يا أرحم الرّاحمين، إلى مَن تَكِلُني؟ إلى عدو يتجهَّمني؟ أم إلى عدوٍّ ملّكتَه أمري؟ إن لم يكن بك غضبٌ عليَّ فلا أبالي، ولكن عافيتك أوسع لي، أعوذ بنور وجهِك الذي أشرقتْ له الظّلمات، وصَلَح عليه أمر الدّنيا والآخرة من أن يحل بي غضبَك، أو ينزل بي سخطك، لك العُتْبَى حتى ترضى، ولا حول ولا قوّة إلا بك)(Ya Allah, kepadaMu aku mengadu kelemahanku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, Engkaulah Tuhan orang yang tertindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku ini? Kepada orang asing yang akan garang terhadapku ataukah kepada musuh yang menguasai diriku? Sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak pedulikan semua itu. Namun afiat-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung dengan Nur wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan dan membuat keteraturan segala urusan dunia dan akhirat, dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku atau menimpanya murkaMu atas diriku ini. KepadaMulah aku mengadukan nasib sehingga Engkau ridha. Tiada daya dan tiada upaya kecuali atas petunjukMu jua). Maka hanya dengan doa sajalah segala kesulitan dan malapetaka dalam hidup ini dapat diatasi karena ketidak berdayaan manusia untuk menolaknya.Tsauban meriwayatkan, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :(إنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ) رواه الترمذي والحاكم(Sungguh doa itu bermanfaat untuk mengatasi persoalan yang sudah terjadi dan yang belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa wahai hamba Allah). HR. Tirmizi dan Alhakim.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, sesungguhnya Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman  :( أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دعاَنِى ) رواه البخاري ومسلم(Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepadaKu. Aku selalu bersamanya ketika ia memohon kepadaKu). HR Bukhari dan MuslimCukuplah besar pahala dan karunia Tuhan itu. Di satu sisi, Allah-–subhanahu wa ta’ala- mencela mereka yang enggan berdoa ketika terkena bencana dan tertimpa malapetaka. Firman Allah :( وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ ) [المؤمنون /76](Sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan [juga] tidak memohon kepada-Nya dengan merendahkan diri) Qs Almukminun : 76Firman Allah :(وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُون ، فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)  [ الأنعام/42 ](Sesungguhnya Kami telah mengutus [rasul-rasul] kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan [menimpakan] kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan). Qs Al-An’am : 42Firman Allah :( وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ) [ الأعراف / 94 ](Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri). Qs Al-A’raf : 94 Meninggalkan doa dalam kondisi krisis merupakan sikap nekat dan terlalu berani dalam berbuat dosa dengan menyepelekan sanksi hukuman Allah yang sangat pedih. Firman Allah :( إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ) [ البروج 12]( Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras ) Qs Al-Buruj : 12 Doa merupakan faktor utama bagi turunnya kebaikan dan keberkahan serta tertangkisnya dan terangkatnya keburukan dari orang yang berdoa. Doa pula sebagai solusi yang dominan untuk melepaskan diri dari persoalan yang terjadi dan kesulitan yang menimpa. Firman Allah :( وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ ) [ الأنبياء / 83-84 ](Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah). Qs Al-Anbiya : 83-84Firman Allah :( أمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ )  [ النمل / 62 ](Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan). Qs An-Naml : 62Tentu tidak ada seorang pun yang mampu berbuat banyak kecuali Allah –subhanahu wa ta’ala- .Firman Allah :( قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ) [الأنعام/63](Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur). Qs Al-An’am : 63Seorang muslim sudah seharusnya mendekatkan diri kepada Allah dalam upaya melakukan perbaikan terhadap segala urusan dan melaporkan segala kebutuhannya kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Hendaklah memohon kepada Allah, apapun yang dibutuhkannya, sedangkan klimaks dari segala permohonan adalah surga dan terhindar dari siksa neraka. Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ  ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ ) رواه مسلم(Wahai hamba-Ku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya kalian Aku beri hidayah. Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan kecuali siapa yang aku beri makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya kalian Aku beri makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah telanjang kecuali siapa yang aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya kalian Aku beri pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya kalian akan Aku ampuni).HR Muslim dari hadis Abu Dzar – radhiyallahu anhu -.Artinya, mintalah kalian petunjuk, makanan, pakaian dan ampunan kepadaKu niscaya Aku penuhi permintaan kalian. Hadits ini merupakan penekanan agar seseorang selalu memohon kepada Allah, sampai dalam persoalan tali alas kakinya dan rasa asin (garam) pada makanannya-pun diperintahkan untuk dimohonkan kepadaNya.Betapa banyak doa yang mampu merubah perjalanan sejarah dari kondisi buruk menjadi baik, dan dari kondisi baik menjadi lebih baik. Firman Allah -subhanahu wa ta’ala- tentang Nabi Ibrahim – alaihis-salam-  :(رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) [البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana). Qs Al-Baqarah : 129 Abu Umamah – radhiyallahu anhu- berkata, aku bertanya, Ya Rasulullah!( مَا كَانَ أَوَّلُ بَدْء أَمْرِكَ؟ قَالَ: “دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبُشْرَى عِيسَى بِي، وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ ) رواه أحمد)Apa sebenarnya permulaan dari urusanmu? Nabi Saw. menjawab, “Doa ayahku Ibrahim, berita gembira oleh Isa mengenai aku, dan ibuku melihat dalam mimpinya telah keluar dari tubuhnya suatu cahaya yang menerangi gedung-gedung negeri Syam”) HR Ahmad.Kaum muslimin selalu dalam kebaikan berkat doa itu. Bumi ini pun mendapatkan keberkahan dari doa mereka. Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh -alaihissalam- membawa keberkahan bagi seluruh orang-orang beriman yang meng-esa-kan Allah, dan mendatangkan bencana bagi kaum pagan [orang-orang musyrik]. Demikian pula doa Nabi Isa –alaihissalam- dan sahabat-sahabatnya yang terkepung di Tursina pada akhir zaman merupakan kemenangan bagi kaum muslimin dan kehancuran bagi Gog dan Magog sebagai bangsa laksana belalang yang bertebaran di bumi, mereka adalah sejahat-jahat mahluk dan paling banyak berbuat kerusakan, keonaran dan arogansi.Disebutkan dalam hadis Annawas Bin Sam’an –radhiyallahu anhu- sesudah Nabi Isa-alaihissalam- selesai membunuh Almasih Dajal :( إذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لاَ يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لِأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لِأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ رضِيَ الله ُعَنهُمْ إلَى اللهِ تعَالى فيَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ عَلَيْهِمُ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ وَهُوَ الدُّوْدُ فَيُصْبِحُونَ مَوْتَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اْلأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِي اْلأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللهِ يَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ تَعَالَى ) رواه مسلمKetika Allah -subhanahu wa ta’ala- mewahyukan kepada Isa –alaihissalam-: Sesungguhnya Aku mengeluarkan hamba-hambaKu yang tidak ada kemampuan bagi seorang pun untuk memeranginya. Maka biarkanlah mereka hamba-hambaKu menuju Tursina. Lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- keluarkan Gog dan Magog yang mana mereka mengalir dari setiap tempat yang tinggi. Gelombang pertama melewati danau Tabariah, dan meminum seluruh air yang ada padanya, hingga ketika barisan paling belakang telah sampai pada danau tersebut mereka berkata: “Sungguh dahulu di sini masih ada airnya.” Ketika itu Nabi Isa –alaihissalam- dan para sahabatnya terkepung, hingga kepala sapi bagi mereka saat itu lebih berharga dari pada seratus dinar kalian saat ini. Maka Isa dan para sahabatnya berharap [berdoa] kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, lalu Allah-pun mengirim sejenis ulat yang menyerang leher mereka. Maka pagi harinya mereka seluruhnya binasa menjadi bangkai-bangkai dalam waktu yang hampir bersamaan. Kemudian turunlah Nabi Isa-alaihissalam- [dari gunung Tursina] bersama para sahabatnya, ketika itulah tidak didapati satu jengkal pun tempat kecuali penuh dengan bangkai dan bau busuk mereka. Maka Nabi Isa –alaihissalam- pun berharap (berdoa) kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Maka Allah lalu mengirimkan burung-burung yang lehernya seperti unta, membawa bangkai-bangkai mereka dan kemudian dilemparkan di tempat yang Allah kehendaki). HR. Muslim Doa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- pemimpin umat manusia bersama sahabat-sahabatnya di Badar merupakan kemenangan bagi Islam secara permanen dan kenistaan bagi kekafiran untuk selama-lamanya. Firman Allah :( إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ) [ الأنفال /9](Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan untukmu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut). Qs Al-Anfal : 9Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- berdoa dengan sepenuh hati di Badar sehingga kain selendang beliau melorot. Abu Bakar- radhiyallahu anhu- mendampingi beliau lalu berkata : Cukuplah sudah Ya Rasulullah apa yang engkau mohonkan kepada Tuhan, karena Allah sungguh memenuhi janjiNya kepada engkau. Doa memohon untuk kemenangan bagi kebenaran dan kehancuran bagi kebatilan merupakan kebulatan hati dalam berbuat baik kepada Allah, kitabNya, rasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin pada umumnya. Oleh karena itu, tidak mungkin meninggalkan doa kecuali orang yang jelas terhalang dari nasib mujur di dunia dan akhirat, yang menyia-nyiakan tugas wajibnya terhadap Islam dan sesama muslim.Di sebutkan dalam hadis :” مَنْ لَمْ يَهْتَم بِأمِرِ المْسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ ““Barangsiapa yang tidak peduli pada urusan kaum muslimin, tidaklah ia termasuk golongan mereka”.Jika kita teliti secara seksama pengaruh doa, keberkahan, kebaikan dan dampak positifnya yang mengagumkan, tentu perlu pemaparan yang panjang lebar. Namun di sini cukuplah apa yang kami singgung di atas.Berdoa tentu ada syarat-syaratnya dan etikanya. Antara lain, hendaknya orang yang berdoa memakan makanan yang halal dan mengenakan pakaian yang halal. Rasulullah –shallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Sa’ad Bin Abi Waqash : “Wahai Sa’ad, bersihkanlah makananmu niscaya doamu terkabulkan”. Di antara syarat berdoa ialah tetap dalam koridor Sunnah Nabi dan mengikuti ketetapan Allah dengan menjalankan perintah-perintahnya. Allah berfirman :(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ) [البقرة/186](Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah], bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah-Ku] dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran). Qs Albaqarah : 186Firman Allah :( وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ) [ الشورى/26](Dan Dia memperkenankan [doa] orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah [pahala] bagi mereka dari karunia-Nya). Qs As-Syura : 26 Perlu diingat, doa orang yang teraniaya adalah mustajabah meskipun dia itu orang kafir atau pelaku bid’ah. Di antara syarat berdoa ialah ikhlas dan kehadiran hati serta kemauan bulat dalam memohon dengan mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ) [ غافر/14](Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai). Qs Ghafir : 14Disebutkan dalam hadis :“Allah tidak menerima doa seseorang yang hatinya lalai dan melayang”.Di antara syarat terkabulnya doa ialah tidak berdoa untuk sesuatu yang berakibat dosa atau pemutusan tali kekerabatan, dan tidak berdoa untuk sesuatu yang melampaui batas-batas kewajaran. Di antara sebab terkabulnya doa ialah memuji Allah dengan menyebut nama-namaNya yang baik (Asmaul-Husna) dan sifat-sifatNya yang luhur serta bershalawat kepada Nabi-shallallahu alaihi wa sallam-.Dalam suatu riwayat disebutkan, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- mendengar seorang lelaki berdoa : ( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد). رواه أبوداود والترمذى(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi segala sesuatu membutuhkan-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak seorang pun yang menyamaiNya). Maka beliau – shallallahu alaihi wa sallam- berkata kepadanya : “ Sungguh kamu telah memohon kepada Allah melalui asma-Nya yang agung yang bilamana seseorang memohon dengannya niscaya diberi, dan bilamana ia berdoa dengannya, niscaya doanya dikabulkan pula.) HR Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Fudhalah Bin Ubaid-radhiyallahu anhu- berkata : Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- sedang duduk, tiba-tiba ada seorang lelaki masuk lalu berdoa :( اللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى )( Ya Allah, ampunilah aku dan kasihanilah aku ), maka Rasulullah- shallallahu alaihi wa sallam- menegurnya seraya berkata : “Kamu terlalu tergesa-gesa hai orang yang sedang berdoa. Jika kamu berdoa lalu duduk, pujilah Allah sebagaimana lazimnya dengan Allah, sesudah itu berdoalah shalawat untukku, lalu memohonlah kepada Allah”. HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Dalam hadis lain disebutkan bahwa doa seseorang senantiasa tergantung di antara langit dan bumi sehingga orang tersebut menyampaikan doa shalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.Di antara etika dan syarat terkabulnya doa, seorang yang berdoa hendaklah tidak tergesa-gesa, tetapi bersabar. Disebutkan dalam hadis, “Akan terpenuhi doa salah seorang di antara kalian selagi tidak tergesa-gesa, sambil bergumam, “aku sudah berdoa, namun belum kunjung dikabulkan juga”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Bersamaan dengan kelanggengan berdoa, akan terkabul doa seseorang. Disebutkan dalam hadis, : “Tidak seorang pun muslim di atas bumi yang berdoa melainkan Allah memperkenankan apa yang diminta atau menghindarkannya dari keburukan yang setara dengannya selagi dirinya tidak memohon sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan tali kekerabatan, maka tiba-tiba ada seorang lelaki yang berkata, “Kalau demikian kami memperbanyak doa. Maka Nabi-sallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Allah-pun akan memperbanyak pemberianNya”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan shahih. Diriwayatkan pula oleh Alhakim melalui jalur Abu Said dengan tambahan redaksi :” أو يَدًّخِرُ لَهُ مِنْ مِثْلِهَا “( Atau Allah mendepositokan baginya kebaikan yang setara dengannya ). Maka seyogianya seorang muslim membidik waktu-waktu yang mustajabah untuk berdoa. Rasulullah- sallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya, “Ya Rasulallah, doa apakah yang paling didengar oleh Allah?”. Beliau menjawab, “Doa di akhir tengah malam dan di setiap selesai shalat fardhu”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan dari hadis Abu Umamah.Dalam hadis disebutkan :( يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ) رواه البخاري ومسلم (Tuhan kita -tabaaraka wa ta’ala- turun pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni). HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Doa di waktu antara azan dan iqamah tidak akan tertolak. Demikian pula pada saat bersujud. Disebutkan dalam hadis,( أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ) رواه مسلم(Keadaan paling dekat bagi seorang hamba kepada Tuhan-nya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah berdoa). HR. Muslim dari hadis Abu Hurairah.Ketika melihat Ka’bah, ketika turunnya hujan, ketika sedang dalam keadaan darurat, setelah mengkhatamkan Al-Qur’an dan setelah bersedekah pun doa seseorang terkabulkan.Betapa besar kebahagiaan, keberuntungan dan pahala bagi orang yang hatinya selalu tersambung dengan Allah –subhanahu wa ta’ala-, yang selalu memohon, mengharap, bertawakal dan meminta pertolonganNya.Sungguh celaka dan terlampau jauh kemusyrikan dan kekafiran orang yang memohon kepada pemakaman dan pekuburan atau menyampaikan hajat hidupnya kepada malaikat atau nabi. Tugas para nabi dan rasul adalah mengajak umat manusia untuk memohon kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- semata, dan memurnikan permohonan hanya kepadaNya. Demikian pula para wali, kita diperintahkan untuk berbuat seperti apa yang mereka perbuat dan meneladani mereka, kita dilarang berdoa, mengharap dan memohon kepada mereka. Firman Allah :( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا )  [ الجن / 18 ](Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping [menyembah] Allah) Qs Al-Jin : 18Firman Allah :( قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا ) [ الجن / 20 ](Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya) Qs Al-Jin : 20Seseorang yang menghilang dan orang-orang mati, tidak ada seorangpun di antara mereka yang bisa memenuhi permohonan yang ditujukan kepada mereka, sebab yang bisa memenuhi dan mengabulkan doa hanyalah Allah -subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ ) [ الرعد/14](Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka). Qs Ar-Ra’d : 14Firman Allah :( وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ ، وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ ، [ الأحقاف/5 – 6](Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari [memperhatikan] doa mereka.  Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka). Qs Al-Ahqaf : 5-6Allah pun berfirman dalam konteks pengisahan tentang pekerjaan-pekerjaanNya :يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ ، إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ) [ فاطر/ 13 – 14 ](Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang [berbuat] demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru [sembah] selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui ) Qs Fathir : 13-14 Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak mengizinkan seseorangpun memohon kepada selainNya meskipan yang dimohon itu malaikat yang dekat kepada Allah.Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman mengisahkan Nabi Isa Bin Maryam –alaihissalam-  :( وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ ) [ المائدة / 72 ]( Al Masih [sendiri] berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun). Qs Al-Maidah : 72 ( مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ )  رواه البخاري(Barang siapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka masuklah ia kedalam neraka). HR. Bukhari dari hadis Abdullah Bin Mas’ud.Saudaraku sesama muslim!          Itulah pesan Kitab Allah dan Sunnah rasulNya –shallallahu alaihi wa sallam- yang menandaskan bahwa doa pada hakikatnya adalah ibadah, Oleh karena itu doa hanya boleh ditujukan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Barangsiapa yang melibatkan seseorang selain Allah dalam doa, maka ia telah melakukan kemusyrikan besar. Maka dalam hal kesesatan dan kemusyrikan ini janganlah ada seseorang yang meniru-niru orang lain, sebab tidak seorangpun terjebak dalam kemusyrikan dan kekafiran kecuali akibat sikapnya yang suka meniru-niru dan mengikuti orang-orang yang tersesat.Firman Allah :( أَذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ، إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ ،  إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ، طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ، فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ ، ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ ، ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ ، إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ ، فَهُمْ عَلَى آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ ) [ الصافات / 62-70](Makanan surga itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka  benar-benar ke neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.) Qs. Ashshafat : 62-70 Firman Allah : ( ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ) ( الأعراف/55](Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas). Qs Al-A’raf : 55Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadaku dan kepada kalian berkat pengamalan Al-Qur’an yang agung !—————–Khotbah kedua Segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih dan Pemurah, Maha Perkasah dan Bijaksana. BagiNya nama-nama yang banik dan indah dengan sifat-sifatNya yang luhur dan agung. Aku bersaksi nahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Agung. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita dan pemimpin kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul pilihanNya.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu, rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang konsisten dalam ketakwaan.Selanjutnya :          Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan memperbaiki amal perbuatan kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang beruntung di dunia sekarang dan di akhirat kelak.Hamba-hamba Allah!          Tetaplah kalian tersambung dengan Allah dengan selalu memohon kepadaNya dalam doa. Tidak akan kecewa orang yang memohon kepadaNya dan tidak akan terhalang dari anugerahNya orang yang mengharapkan karuniaNya.          Kebutuhan hidup setiap menusia akan tetap ada, dengan berbagai macam tuntutan yang muncul setiap waktu. Maka hendaklah setiap individu memohon kepada Tuhannya apa saja yang dinilainya sebagai suatu kebaikan, dan hendaklah berlindung kepadaNya dari apapun yang diduganya mendatangkan keburukan.          Puncak dari permohonan adalah ridha Ilahi dan surgaNya, sedangkan perlindungan yang paling urgen adalah terhindar dari hukuman neraka. Oleh sebab itu sepatutnya setiap muslim bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Tuhan apapun hajat yang mendesak baginya, karena Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha Pemurah dan Maha Terpuji, Maha Dermawan, Maha Agung dan Maha Kuasa.Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ). رواه مسلم (Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal itu tidak menambah apa yang Aku miliki sedikitpun.  Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin, semuanya dalam keadaan paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada padaKu sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya  sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir  semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada padaKu kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan). HR Muslim          Dianjurkan bagi seorang muslim memilih doa sapu jagat yang diajarkan oleh Nabi – shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana dalam ayat Al-Qur’an :( رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )  [ البقرة / 201 ](Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka). Qs Albaqarah : 201Dan doa ma’tsur lainnya seperti :اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.(Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ridha dan surga-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka dan neraka-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya). Hamba-hamba Allah!          Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian dan sampaikan salam kepadanya!.—- Selesai —-Penerjemah: Usman Hatim
Khotbah Jumat Masjid Nabawi21 Rabiul Awal 1437 HKhathib : Syekh Ali bin Abdurrahman Al HudzaifiKhotbah pertamaDengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah Tuhan Pencipta bumi dan langit, Maha Mendengar doa, memulai dengan penganugerahan aneka kenikmatan dan pengangkatan keburukan dan bencana.Aku memuji Tuhanku dan bersyukur serta bertobat kepadaNya dengan memohon ampunNya.           Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, tidak ada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Perkasa. Akupun bersaksi bahwa nabi kita dan pemuka kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasulNya yang diutus untuk membawa syariat yang sempurna dan gemilang.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam-, keluarganya, dan para sahabatnya yang selalu berada di garis terdepan dalam setiap kebajikan dan upaya-upaya amal yang terpuji. Selanjutnya :Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Sebab orang yang berpegang teguh pada ketakwaan akan Allah himpunkan baginya kebaikan dunia dan akhirat, sedangkan orang yang menjauh dari ketakwaan akan celaka pada ronde-ronde terakhir dalam segala urusannya sekalipun dari segi duniawinya dalam kemapanan.Para hamba Allah !          Allah telah menetapkan jalur-jalur kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana Dia-pun telah tentukan jalur-jalur keburukan. Barangsiapa yang mengikuti jalur kebaikan dan kebahagiaan pastilah Allah jamin kesuksesan urusan duniawinya di samping kesuksesan yang gemilang pada momen-momen terakhir dengan kekekalan tinggal di surga sebagai tempat kenikmatan dan meraih keridhaan Tuhan yang Maha Pemurah. Firman Allah :( هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ)  [ الرحمن / 60 ](Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula) Qs Ar-Rahman : 60Orang yang mengikuti jalur keburukan akan memetik hasil perbuatan buruknya semasa hidupnya dan sesudah matinya. Firman Allah :( لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا) [ النساء/123]( Bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak [pula] menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak [pula] penolong baginya selain dari Allah) Qs An-Nisa : 123Camkanlah, di antara penyebab perolehan keberuntungan, kejayaan, keberhasilan dan silih bergantinya kebaikan serta penghindaran dari segala bencana dan hukuman, juga pengangkatan malapetaka yang melanda dan kemalangan adalah doa dengan tulus ikhlas dalam kekhusukan dan kesungguhan hati dalam doa. Sesungguhnya Allah-subhanahu wa ta’ala- suka dimohon dan justru memerintahkan kita untuk selalu memohon. Sebab permohonan doa dapat memberikan manfaat, baik dari hal-hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Firman Allah :وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [غافر/60](Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina). Qs Ghafir : 60Doa merupakan ibadah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Nu’man Bin Bashir bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ ) رواه أبو داود والترمذى(Doa adalah ibadah) HR Abu Daud dan Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan shahih.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ليْسَ شَيْءٌ َأكْرَمَ عَلى اللهِ تَعَاَلى مِنَ الدُّعَاءِ ( رواه الترمذى (Tidak ada suatu [zikir dan ibadah] yang lebih mulia di sisi Allah dari pada doa). HR Tirmizi, Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Alhakim.Dikatakannya sebagai hadis yang shahih sanadnya.Doa sangat dianjurkan setiap waktu sebagai ibadah yang berpahala sangat besar. Doa dapat mewujudkan segala kebutuhan pribadi dan umum, urusan dunia dan agama, ketika hidup dan setelah mati.Mengingat manfaat doa yang demikian besar, maka Allah-subhanahu wa ta’ala- mensyariatkannya dalam ibadah-ibadah fardhu sebagai perbuatan yang wajib dilaksanakan atau disunnahkan. Hal itu merupakan bentuk kasih sayang, penghargaan dan anugerah dari Allah-subhanahu wa ta’ala-  agar kita ikuti jalan yang telah Dia diajarkan kepada kita. Sekiranya bukan karena pengajaran Allah tentang doa, tentu akal pikiran kita tidak akan menemukannya. Firman Allah :( وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُم )  [ الأنعام/91]( padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya). Qs Al-An’am : 91Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah sebanyak-banyaknya dan seindah-indahnya dengan penuh keberkahan di dalamnya sebagaimana yang dikehendaki dan diridhai oleh-Nya. Kebutuhan akan doa menjadi sangat mendesak terutama pada zaman sekarang di tengah-tengah menggejolaknya fitnah dan melandanya bencana yang menghancurkan dan menimbulnya petaka yang menimpa kaum muslimin. Juga munculnya kelompok-kelompok pelaku bid’ah yang dapat memecah belah barisan umat Islam, menghalalkan darah dan harta benda yang seharusnya terjaga, bersikap angkuh terhadap ilmu dan para pengemban ilmu, memberi fatwa dengan kebodohan dan penyesatan.Di zaman di mana musuh-musuh Islam mengepungnya dan bersekongkol jahat terhadap kaum beriman, bersikap acuh dan berseberangan serta bersengketa di antara kaum muslimin sendiri, dengan bermacam-macam problematika yang melekat pada setiap individu umat Islam, mereka terusir dari kampung halamannya secara semena-mena sehingga mengalami penderitaan dan kesulitan ekonomi. Maka dalam situasi genting yang memanaskan hati kaum muslimin yang tinggal di negara-negara yang terlanda malapetaka seperti itulah kebutuhan akan doa semakin mendesak.Allah –subhanahu wa ta’ala- memuji mereka yang berdoa dengan penuh kerendahan hati kepadaNya ketika tertimpa persoalan-persoalan genting dan krisis. Firman Allah mengisahkan Nabi Adam dan istrinya’ –alaihimas-salam- :( قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ )  [ الأعراف/23](Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi) Qs Al-A’raf : 23Firman Allah :( وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ)  [ البقرة/155-157](Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk) Qs Al-Baqarah : 155-157Firman Allah tentang Nabi Yunus :( فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )  [الأنبياء/87]( maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim). Qs Al-Anbiya : 87 Sa’ad Bin Abi Waqash –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ) [ رواه الترمذى والحاكم(Doa Dzun Nun [Nabi Yunus] ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah:( لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )[Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya].Sesungguhnya tidaklah seorang muslim pun berdoa dengannya ketika menghadapi suatu persoalan melainkan Allah kabulkan doanya.) HR. Ahmad, Tirmidzi dan Alhakim, dikatakannya sebagai hadis yang ber-isnad shahih.Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- mengajak suku Tsaqef memeluk Islam, mereka menolak ajakan beliau, bahkan melempari beliau dengan batu, lalu beliau berdoa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- :( اللهمّ أشكو ضعف قوّتي، وقلّة حيلتي، وهواني على النّاس، يا أرحم الرّاحمين، إلى مَن تَكِلُني؟ إلى عدو يتجهَّمني؟ أم إلى عدوٍّ ملّكتَه أمري؟ إن لم يكن بك غضبٌ عليَّ فلا أبالي، ولكن عافيتك أوسع لي، أعوذ بنور وجهِك الذي أشرقتْ له الظّلمات، وصَلَح عليه أمر الدّنيا والآخرة من أن يحل بي غضبَك، أو ينزل بي سخطك، لك العُتْبَى حتى ترضى، ولا حول ولا قوّة إلا بك)(Ya Allah, kepadaMu aku mengadu kelemahanku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, Engkaulah Tuhan orang yang tertindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku ini? Kepada orang asing yang akan garang terhadapku ataukah kepada musuh yang menguasai diriku? Sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak pedulikan semua itu. Namun afiat-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung dengan Nur wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan dan membuat keteraturan segala urusan dunia dan akhirat, dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku atau menimpanya murkaMu atas diriku ini. KepadaMulah aku mengadukan nasib sehingga Engkau ridha. Tiada daya dan tiada upaya kecuali atas petunjukMu jua). Maka hanya dengan doa sajalah segala kesulitan dan malapetaka dalam hidup ini dapat diatasi karena ketidak berdayaan manusia untuk menolaknya.Tsauban meriwayatkan, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :(إنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ) رواه الترمذي والحاكم(Sungguh doa itu bermanfaat untuk mengatasi persoalan yang sudah terjadi dan yang belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa wahai hamba Allah). HR. Tirmizi dan Alhakim.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, sesungguhnya Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman  :( أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دعاَنِى ) رواه البخاري ومسلم(Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepadaKu. Aku selalu bersamanya ketika ia memohon kepadaKu). HR Bukhari dan MuslimCukuplah besar pahala dan karunia Tuhan itu. Di satu sisi, Allah-–subhanahu wa ta’ala- mencela mereka yang enggan berdoa ketika terkena bencana dan tertimpa malapetaka. Firman Allah :( وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ ) [المؤمنون /76](Sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan [juga] tidak memohon kepada-Nya dengan merendahkan diri) Qs Almukminun : 76Firman Allah :(وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُون ، فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)  [ الأنعام/42 ](Sesungguhnya Kami telah mengutus [rasul-rasul] kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan [menimpakan] kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan). Qs Al-An’am : 42Firman Allah :( وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ) [ الأعراف / 94 ](Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri). Qs Al-A’raf : 94 Meninggalkan doa dalam kondisi krisis merupakan sikap nekat dan terlalu berani dalam berbuat dosa dengan menyepelekan sanksi hukuman Allah yang sangat pedih. Firman Allah :( إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ) [ البروج 12]( Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras ) Qs Al-Buruj : 12 Doa merupakan faktor utama bagi turunnya kebaikan dan keberkahan serta tertangkisnya dan terangkatnya keburukan dari orang yang berdoa. Doa pula sebagai solusi yang dominan untuk melepaskan diri dari persoalan yang terjadi dan kesulitan yang menimpa. Firman Allah :( وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ ) [ الأنبياء / 83-84 ](Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah). Qs Al-Anbiya : 83-84Firman Allah :( أمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ )  [ النمل / 62 ](Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan). Qs An-Naml : 62Tentu tidak ada seorang pun yang mampu berbuat banyak kecuali Allah –subhanahu wa ta’ala- .Firman Allah :( قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ) [الأنعام/63](Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur). Qs Al-An’am : 63Seorang muslim sudah seharusnya mendekatkan diri kepada Allah dalam upaya melakukan perbaikan terhadap segala urusan dan melaporkan segala kebutuhannya kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Hendaklah memohon kepada Allah, apapun yang dibutuhkannya, sedangkan klimaks dari segala permohonan adalah surga dan terhindar dari siksa neraka. Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ  ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ ) رواه مسلم(Wahai hamba-Ku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya kalian Aku beri hidayah. Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan kecuali siapa yang aku beri makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya kalian Aku beri makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah telanjang kecuali siapa yang aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya kalian Aku beri pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya kalian akan Aku ampuni).HR Muslim dari hadis Abu Dzar – radhiyallahu anhu -.Artinya, mintalah kalian petunjuk, makanan, pakaian dan ampunan kepadaKu niscaya Aku penuhi permintaan kalian. Hadits ini merupakan penekanan agar seseorang selalu memohon kepada Allah, sampai dalam persoalan tali alas kakinya dan rasa asin (garam) pada makanannya-pun diperintahkan untuk dimohonkan kepadaNya.Betapa banyak doa yang mampu merubah perjalanan sejarah dari kondisi buruk menjadi baik, dan dari kondisi baik menjadi lebih baik. Firman Allah -subhanahu wa ta’ala- tentang Nabi Ibrahim – alaihis-salam-  :(رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) [البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana). Qs Al-Baqarah : 129 Abu Umamah – radhiyallahu anhu- berkata, aku bertanya, Ya Rasulullah!( مَا كَانَ أَوَّلُ بَدْء أَمْرِكَ؟ قَالَ: “دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبُشْرَى عِيسَى بِي، وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ ) رواه أحمد)Apa sebenarnya permulaan dari urusanmu? Nabi Saw. menjawab, “Doa ayahku Ibrahim, berita gembira oleh Isa mengenai aku, dan ibuku melihat dalam mimpinya telah keluar dari tubuhnya suatu cahaya yang menerangi gedung-gedung negeri Syam”) HR Ahmad.Kaum muslimin selalu dalam kebaikan berkat doa itu. Bumi ini pun mendapatkan keberkahan dari doa mereka. Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh -alaihissalam- membawa keberkahan bagi seluruh orang-orang beriman yang meng-esa-kan Allah, dan mendatangkan bencana bagi kaum pagan [orang-orang musyrik]. Demikian pula doa Nabi Isa –alaihissalam- dan sahabat-sahabatnya yang terkepung di Tursina pada akhir zaman merupakan kemenangan bagi kaum muslimin dan kehancuran bagi Gog dan Magog sebagai bangsa laksana belalang yang bertebaran di bumi, mereka adalah sejahat-jahat mahluk dan paling banyak berbuat kerusakan, keonaran dan arogansi.Disebutkan dalam hadis Annawas Bin Sam’an –radhiyallahu anhu- sesudah Nabi Isa-alaihissalam- selesai membunuh Almasih Dajal :( إذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لاَ يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لِأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لِأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ رضِيَ الله ُعَنهُمْ إلَى اللهِ تعَالى فيَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ عَلَيْهِمُ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ وَهُوَ الدُّوْدُ فَيُصْبِحُونَ مَوْتَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اْلأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِي اْلأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللهِ يَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ تَعَالَى ) رواه مسلمKetika Allah -subhanahu wa ta’ala- mewahyukan kepada Isa –alaihissalam-: Sesungguhnya Aku mengeluarkan hamba-hambaKu yang tidak ada kemampuan bagi seorang pun untuk memeranginya. Maka biarkanlah mereka hamba-hambaKu menuju Tursina. Lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- keluarkan Gog dan Magog yang mana mereka mengalir dari setiap tempat yang tinggi. Gelombang pertama melewati danau Tabariah, dan meminum seluruh air yang ada padanya, hingga ketika barisan paling belakang telah sampai pada danau tersebut mereka berkata: “Sungguh dahulu di sini masih ada airnya.” Ketika itu Nabi Isa –alaihissalam- dan para sahabatnya terkepung, hingga kepala sapi bagi mereka saat itu lebih berharga dari pada seratus dinar kalian saat ini. Maka Isa dan para sahabatnya berharap [berdoa] kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, lalu Allah-pun mengirim sejenis ulat yang menyerang leher mereka. Maka pagi harinya mereka seluruhnya binasa menjadi bangkai-bangkai dalam waktu yang hampir bersamaan. Kemudian turunlah Nabi Isa-alaihissalam- [dari gunung Tursina] bersama para sahabatnya, ketika itulah tidak didapati satu jengkal pun tempat kecuali penuh dengan bangkai dan bau busuk mereka. Maka Nabi Isa –alaihissalam- pun berharap (berdoa) kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Maka Allah lalu mengirimkan burung-burung yang lehernya seperti unta, membawa bangkai-bangkai mereka dan kemudian dilemparkan di tempat yang Allah kehendaki). HR. Muslim Doa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- pemimpin umat manusia bersama sahabat-sahabatnya di Badar merupakan kemenangan bagi Islam secara permanen dan kenistaan bagi kekafiran untuk selama-lamanya. Firman Allah :( إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ) [ الأنفال /9](Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan untukmu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut). Qs Al-Anfal : 9Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- berdoa dengan sepenuh hati di Badar sehingga kain selendang beliau melorot. Abu Bakar- radhiyallahu anhu- mendampingi beliau lalu berkata : Cukuplah sudah Ya Rasulullah apa yang engkau mohonkan kepada Tuhan, karena Allah sungguh memenuhi janjiNya kepada engkau. Doa memohon untuk kemenangan bagi kebenaran dan kehancuran bagi kebatilan merupakan kebulatan hati dalam berbuat baik kepada Allah, kitabNya, rasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin pada umumnya. Oleh karena itu, tidak mungkin meninggalkan doa kecuali orang yang jelas terhalang dari nasib mujur di dunia dan akhirat, yang menyia-nyiakan tugas wajibnya terhadap Islam dan sesama muslim.Di sebutkan dalam hadis :” مَنْ لَمْ يَهْتَم بِأمِرِ المْسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ ““Barangsiapa yang tidak peduli pada urusan kaum muslimin, tidaklah ia termasuk golongan mereka”.Jika kita teliti secara seksama pengaruh doa, keberkahan, kebaikan dan dampak positifnya yang mengagumkan, tentu perlu pemaparan yang panjang lebar. Namun di sini cukuplah apa yang kami singgung di atas.Berdoa tentu ada syarat-syaratnya dan etikanya. Antara lain, hendaknya orang yang berdoa memakan makanan yang halal dan mengenakan pakaian yang halal. Rasulullah –shallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Sa’ad Bin Abi Waqash : “Wahai Sa’ad, bersihkanlah makananmu niscaya doamu terkabulkan”. Di antara syarat berdoa ialah tetap dalam koridor Sunnah Nabi dan mengikuti ketetapan Allah dengan menjalankan perintah-perintahnya. Allah berfirman :(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ) [البقرة/186](Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah], bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah-Ku] dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran). Qs Albaqarah : 186Firman Allah :( وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ) [ الشورى/26](Dan Dia memperkenankan [doa] orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah [pahala] bagi mereka dari karunia-Nya). Qs As-Syura : 26 Perlu diingat, doa orang yang teraniaya adalah mustajabah meskipun dia itu orang kafir atau pelaku bid’ah. Di antara syarat berdoa ialah ikhlas dan kehadiran hati serta kemauan bulat dalam memohon dengan mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ) [ غافر/14](Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai). Qs Ghafir : 14Disebutkan dalam hadis :“Allah tidak menerima doa seseorang yang hatinya lalai dan melayang”.Di antara syarat terkabulnya doa ialah tidak berdoa untuk sesuatu yang berakibat dosa atau pemutusan tali kekerabatan, dan tidak berdoa untuk sesuatu yang melampaui batas-batas kewajaran. Di antara sebab terkabulnya doa ialah memuji Allah dengan menyebut nama-namaNya yang baik (Asmaul-Husna) dan sifat-sifatNya yang luhur serta bershalawat kepada Nabi-shallallahu alaihi wa sallam-.Dalam suatu riwayat disebutkan, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- mendengar seorang lelaki berdoa : ( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد). رواه أبوداود والترمذى(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi segala sesuatu membutuhkan-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak seorang pun yang menyamaiNya). Maka beliau – shallallahu alaihi wa sallam- berkata kepadanya : “ Sungguh kamu telah memohon kepada Allah melalui asma-Nya yang agung yang bilamana seseorang memohon dengannya niscaya diberi, dan bilamana ia berdoa dengannya, niscaya doanya dikabulkan pula.) HR Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Fudhalah Bin Ubaid-radhiyallahu anhu- berkata : Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- sedang duduk, tiba-tiba ada seorang lelaki masuk lalu berdoa :( اللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى )( Ya Allah, ampunilah aku dan kasihanilah aku ), maka Rasulullah- shallallahu alaihi wa sallam- menegurnya seraya berkata : “Kamu terlalu tergesa-gesa hai orang yang sedang berdoa. Jika kamu berdoa lalu duduk, pujilah Allah sebagaimana lazimnya dengan Allah, sesudah itu berdoalah shalawat untukku, lalu memohonlah kepada Allah”. HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Dalam hadis lain disebutkan bahwa doa seseorang senantiasa tergantung di antara langit dan bumi sehingga orang tersebut menyampaikan doa shalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.Di antara etika dan syarat terkabulnya doa, seorang yang berdoa hendaklah tidak tergesa-gesa, tetapi bersabar. Disebutkan dalam hadis, “Akan terpenuhi doa salah seorang di antara kalian selagi tidak tergesa-gesa, sambil bergumam, “aku sudah berdoa, namun belum kunjung dikabulkan juga”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Bersamaan dengan kelanggengan berdoa, akan terkabul doa seseorang. Disebutkan dalam hadis, : “Tidak seorang pun muslim di atas bumi yang berdoa melainkan Allah memperkenankan apa yang diminta atau menghindarkannya dari keburukan yang setara dengannya selagi dirinya tidak memohon sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan tali kekerabatan, maka tiba-tiba ada seorang lelaki yang berkata, “Kalau demikian kami memperbanyak doa. Maka Nabi-sallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Allah-pun akan memperbanyak pemberianNya”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan shahih. Diriwayatkan pula oleh Alhakim melalui jalur Abu Said dengan tambahan redaksi :” أو يَدًّخِرُ لَهُ مِنْ مِثْلِهَا “( Atau Allah mendepositokan baginya kebaikan yang setara dengannya ). Maka seyogianya seorang muslim membidik waktu-waktu yang mustajabah untuk berdoa. Rasulullah- sallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya, “Ya Rasulallah, doa apakah yang paling didengar oleh Allah?”. Beliau menjawab, “Doa di akhir tengah malam dan di setiap selesai shalat fardhu”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan dari hadis Abu Umamah.Dalam hadis disebutkan :( يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ) رواه البخاري ومسلم (Tuhan kita -tabaaraka wa ta’ala- turun pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni). HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Doa di waktu antara azan dan iqamah tidak akan tertolak. Demikian pula pada saat bersujud. Disebutkan dalam hadis,( أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ) رواه مسلم(Keadaan paling dekat bagi seorang hamba kepada Tuhan-nya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah berdoa). HR. Muslim dari hadis Abu Hurairah.Ketika melihat Ka’bah, ketika turunnya hujan, ketika sedang dalam keadaan darurat, setelah mengkhatamkan Al-Qur’an dan setelah bersedekah pun doa seseorang terkabulkan.Betapa besar kebahagiaan, keberuntungan dan pahala bagi orang yang hatinya selalu tersambung dengan Allah –subhanahu wa ta’ala-, yang selalu memohon, mengharap, bertawakal dan meminta pertolonganNya.Sungguh celaka dan terlampau jauh kemusyrikan dan kekafiran orang yang memohon kepada pemakaman dan pekuburan atau menyampaikan hajat hidupnya kepada malaikat atau nabi. Tugas para nabi dan rasul adalah mengajak umat manusia untuk memohon kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- semata, dan memurnikan permohonan hanya kepadaNya. Demikian pula para wali, kita diperintahkan untuk berbuat seperti apa yang mereka perbuat dan meneladani mereka, kita dilarang berdoa, mengharap dan memohon kepada mereka. Firman Allah :( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا )  [ الجن / 18 ](Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping [menyembah] Allah) Qs Al-Jin : 18Firman Allah :( قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا ) [ الجن / 20 ](Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya) Qs Al-Jin : 20Seseorang yang menghilang dan orang-orang mati, tidak ada seorangpun di antara mereka yang bisa memenuhi permohonan yang ditujukan kepada mereka, sebab yang bisa memenuhi dan mengabulkan doa hanyalah Allah -subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ ) [ الرعد/14](Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka). Qs Ar-Ra’d : 14Firman Allah :( وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ ، وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ ، [ الأحقاف/5 – 6](Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari [memperhatikan] doa mereka.  Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka). Qs Al-Ahqaf : 5-6Allah pun berfirman dalam konteks pengisahan tentang pekerjaan-pekerjaanNya :يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ ، إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ) [ فاطر/ 13 – 14 ](Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang [berbuat] demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru [sembah] selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui ) Qs Fathir : 13-14 Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak mengizinkan seseorangpun memohon kepada selainNya meskipan yang dimohon itu malaikat yang dekat kepada Allah.Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman mengisahkan Nabi Isa Bin Maryam –alaihissalam-  :( وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ ) [ المائدة / 72 ]( Al Masih [sendiri] berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun). Qs Al-Maidah : 72 ( مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ )  رواه البخاري(Barang siapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka masuklah ia kedalam neraka). HR. Bukhari dari hadis Abdullah Bin Mas’ud.Saudaraku sesama muslim!          Itulah pesan Kitab Allah dan Sunnah rasulNya –shallallahu alaihi wa sallam- yang menandaskan bahwa doa pada hakikatnya adalah ibadah, Oleh karena itu doa hanya boleh ditujukan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Barangsiapa yang melibatkan seseorang selain Allah dalam doa, maka ia telah melakukan kemusyrikan besar. Maka dalam hal kesesatan dan kemusyrikan ini janganlah ada seseorang yang meniru-niru orang lain, sebab tidak seorangpun terjebak dalam kemusyrikan dan kekafiran kecuali akibat sikapnya yang suka meniru-niru dan mengikuti orang-orang yang tersesat.Firman Allah :( أَذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ، إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ ،  إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ، طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ، فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ ، ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ ، ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ ، إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ ، فَهُمْ عَلَى آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ ) [ الصافات / 62-70](Makanan surga itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka  benar-benar ke neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.) Qs. Ashshafat : 62-70 Firman Allah : ( ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ) ( الأعراف/55](Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas). Qs Al-A’raf : 55Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadaku dan kepada kalian berkat pengamalan Al-Qur’an yang agung !—————–Khotbah kedua Segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih dan Pemurah, Maha Perkasah dan Bijaksana. BagiNya nama-nama yang banik dan indah dengan sifat-sifatNya yang luhur dan agung. Aku bersaksi nahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Agung. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita dan pemimpin kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul pilihanNya.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu, rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang konsisten dalam ketakwaan.Selanjutnya :          Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan memperbaiki amal perbuatan kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang beruntung di dunia sekarang dan di akhirat kelak.Hamba-hamba Allah!          Tetaplah kalian tersambung dengan Allah dengan selalu memohon kepadaNya dalam doa. Tidak akan kecewa orang yang memohon kepadaNya dan tidak akan terhalang dari anugerahNya orang yang mengharapkan karuniaNya.          Kebutuhan hidup setiap menusia akan tetap ada, dengan berbagai macam tuntutan yang muncul setiap waktu. Maka hendaklah setiap individu memohon kepada Tuhannya apa saja yang dinilainya sebagai suatu kebaikan, dan hendaklah berlindung kepadaNya dari apapun yang diduganya mendatangkan keburukan.          Puncak dari permohonan adalah ridha Ilahi dan surgaNya, sedangkan perlindungan yang paling urgen adalah terhindar dari hukuman neraka. Oleh sebab itu sepatutnya setiap muslim bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Tuhan apapun hajat yang mendesak baginya, karena Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha Pemurah dan Maha Terpuji, Maha Dermawan, Maha Agung dan Maha Kuasa.Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ). رواه مسلم (Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal itu tidak menambah apa yang Aku miliki sedikitpun.  Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin, semuanya dalam keadaan paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada padaKu sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya  sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir  semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada padaKu kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan). HR Muslim          Dianjurkan bagi seorang muslim memilih doa sapu jagat yang diajarkan oleh Nabi – shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana dalam ayat Al-Qur’an :( رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )  [ البقرة / 201 ](Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka). Qs Albaqarah : 201Dan doa ma’tsur lainnya seperti :اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.(Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ridha dan surga-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka dan neraka-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya). Hamba-hamba Allah!          Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian dan sampaikan salam kepadanya!.—- Selesai —-Penerjemah: Usman Hatim


Khotbah Jumat Masjid Nabawi21 Rabiul Awal 1437 HKhathib : Syekh Ali bin Abdurrahman Al HudzaifiKhotbah pertamaDengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah Tuhan Pencipta bumi dan langit, Maha Mendengar doa, memulai dengan penganugerahan aneka kenikmatan dan pengangkatan keburukan dan bencana.Aku memuji Tuhanku dan bersyukur serta bertobat kepadaNya dengan memohon ampunNya.           Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, tidak ada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Perkasa. Akupun bersaksi bahwa nabi kita dan pemuka kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasulNya yang diutus untuk membawa syariat yang sempurna dan gemilang.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam-, keluarganya, dan para sahabatnya yang selalu berada di garis terdepan dalam setiap kebajikan dan upaya-upaya amal yang terpuji. Selanjutnya :Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Sebab orang yang berpegang teguh pada ketakwaan akan Allah himpunkan baginya kebaikan dunia dan akhirat, sedangkan orang yang menjauh dari ketakwaan akan celaka pada ronde-ronde terakhir dalam segala urusannya sekalipun dari segi duniawinya dalam kemapanan.Para hamba Allah !          Allah telah menetapkan jalur-jalur kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana Dia-pun telah tentukan jalur-jalur keburukan. Barangsiapa yang mengikuti jalur kebaikan dan kebahagiaan pastilah Allah jamin kesuksesan urusan duniawinya di samping kesuksesan yang gemilang pada momen-momen terakhir dengan kekekalan tinggal di surga sebagai tempat kenikmatan dan meraih keridhaan Tuhan yang Maha Pemurah. Firman Allah :( هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ)  [ الرحمن / 60 ](Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula) Qs Ar-Rahman : 60Orang yang mengikuti jalur keburukan akan memetik hasil perbuatan buruknya semasa hidupnya dan sesudah matinya. Firman Allah :( لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا) [ النساء/123]( Bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak [pula] menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak [pula] penolong baginya selain dari Allah) Qs An-Nisa : 123Camkanlah, di antara penyebab perolehan keberuntungan, kejayaan, keberhasilan dan silih bergantinya kebaikan serta penghindaran dari segala bencana dan hukuman, juga pengangkatan malapetaka yang melanda dan kemalangan adalah doa dengan tulus ikhlas dalam kekhusukan dan kesungguhan hati dalam doa. Sesungguhnya Allah-subhanahu wa ta’ala- suka dimohon dan justru memerintahkan kita untuk selalu memohon. Sebab permohonan doa dapat memberikan manfaat, baik dari hal-hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Firman Allah :وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [غافر/60](Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina). Qs Ghafir : 60Doa merupakan ibadah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Nu’man Bin Bashir bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ ) رواه أبو داود والترمذى(Doa adalah ibadah) HR Abu Daud dan Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan shahih.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ليْسَ شَيْءٌ َأكْرَمَ عَلى اللهِ تَعَاَلى مِنَ الدُّعَاءِ ( رواه الترمذى (Tidak ada suatu [zikir dan ibadah] yang lebih mulia di sisi Allah dari pada doa). HR Tirmizi, Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Alhakim.Dikatakannya sebagai hadis yang shahih sanadnya.Doa sangat dianjurkan setiap waktu sebagai ibadah yang berpahala sangat besar. Doa dapat mewujudkan segala kebutuhan pribadi dan umum, urusan dunia dan agama, ketika hidup dan setelah mati.Mengingat manfaat doa yang demikian besar, maka Allah-subhanahu wa ta’ala- mensyariatkannya dalam ibadah-ibadah fardhu sebagai perbuatan yang wajib dilaksanakan atau disunnahkan. Hal itu merupakan bentuk kasih sayang, penghargaan dan anugerah dari Allah-subhanahu wa ta’ala-  agar kita ikuti jalan yang telah Dia diajarkan kepada kita. Sekiranya bukan karena pengajaran Allah tentang doa, tentu akal pikiran kita tidak akan menemukannya. Firman Allah :( وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُم )  [ الأنعام/91]( padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya). Qs Al-An’am : 91Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah sebanyak-banyaknya dan seindah-indahnya dengan penuh keberkahan di dalamnya sebagaimana yang dikehendaki dan diridhai oleh-Nya. Kebutuhan akan doa menjadi sangat mendesak terutama pada zaman sekarang di tengah-tengah menggejolaknya fitnah dan melandanya bencana yang menghancurkan dan menimbulnya petaka yang menimpa kaum muslimin. Juga munculnya kelompok-kelompok pelaku bid’ah yang dapat memecah belah barisan umat Islam, menghalalkan darah dan harta benda yang seharusnya terjaga, bersikap angkuh terhadap ilmu dan para pengemban ilmu, memberi fatwa dengan kebodohan dan penyesatan.Di zaman di mana musuh-musuh Islam mengepungnya dan bersekongkol jahat terhadap kaum beriman, bersikap acuh dan berseberangan serta bersengketa di antara kaum muslimin sendiri, dengan bermacam-macam problematika yang melekat pada setiap individu umat Islam, mereka terusir dari kampung halamannya secara semena-mena sehingga mengalami penderitaan dan kesulitan ekonomi. Maka dalam situasi genting yang memanaskan hati kaum muslimin yang tinggal di negara-negara yang terlanda malapetaka seperti itulah kebutuhan akan doa semakin mendesak.Allah –subhanahu wa ta’ala- memuji mereka yang berdoa dengan penuh kerendahan hati kepadaNya ketika tertimpa persoalan-persoalan genting dan krisis. Firman Allah mengisahkan Nabi Adam dan istrinya’ –alaihimas-salam- :( قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ )  [ الأعراف/23](Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi) Qs Al-A’raf : 23Firman Allah :( وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ)  [ البقرة/155-157](Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk) Qs Al-Baqarah : 155-157Firman Allah tentang Nabi Yunus :( فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )  [الأنبياء/87]( maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim). Qs Al-Anbiya : 87 Sa’ad Bin Abi Waqash –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ) [ رواه الترمذى والحاكم(Doa Dzun Nun [Nabi Yunus] ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah:( لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )[Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya].Sesungguhnya tidaklah seorang muslim pun berdoa dengannya ketika menghadapi suatu persoalan melainkan Allah kabulkan doanya.) HR. Ahmad, Tirmidzi dan Alhakim, dikatakannya sebagai hadis yang ber-isnad shahih.Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- mengajak suku Tsaqef memeluk Islam, mereka menolak ajakan beliau, bahkan melempari beliau dengan batu, lalu beliau berdoa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- :( اللهمّ أشكو ضعف قوّتي، وقلّة حيلتي، وهواني على النّاس، يا أرحم الرّاحمين، إلى مَن تَكِلُني؟ إلى عدو يتجهَّمني؟ أم إلى عدوٍّ ملّكتَه أمري؟ إن لم يكن بك غضبٌ عليَّ فلا أبالي، ولكن عافيتك أوسع لي، أعوذ بنور وجهِك الذي أشرقتْ له الظّلمات، وصَلَح عليه أمر الدّنيا والآخرة من أن يحل بي غضبَك، أو ينزل بي سخطك، لك العُتْبَى حتى ترضى، ولا حول ولا قوّة إلا بك)(Ya Allah, kepadaMu aku mengadu kelemahanku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, Engkaulah Tuhan orang yang tertindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku ini? Kepada orang asing yang akan garang terhadapku ataukah kepada musuh yang menguasai diriku? Sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak pedulikan semua itu. Namun afiat-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung dengan Nur wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan dan membuat keteraturan segala urusan dunia dan akhirat, dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku atau menimpanya murkaMu atas diriku ini. KepadaMulah aku mengadukan nasib sehingga Engkau ridha. Tiada daya dan tiada upaya kecuali atas petunjukMu jua). Maka hanya dengan doa sajalah segala kesulitan dan malapetaka dalam hidup ini dapat diatasi karena ketidak berdayaan manusia untuk menolaknya.Tsauban meriwayatkan, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :(إنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ) رواه الترمذي والحاكم(Sungguh doa itu bermanfaat untuk mengatasi persoalan yang sudah terjadi dan yang belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa wahai hamba Allah). HR. Tirmizi dan Alhakim.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, sesungguhnya Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman  :( أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دعاَنِى ) رواه البخاري ومسلم(Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepadaKu. Aku selalu bersamanya ketika ia memohon kepadaKu). HR Bukhari dan MuslimCukuplah besar pahala dan karunia Tuhan itu. Di satu sisi, Allah-–subhanahu wa ta’ala- mencela mereka yang enggan berdoa ketika terkena bencana dan tertimpa malapetaka. Firman Allah :( وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ ) [المؤمنون /76](Sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan [juga] tidak memohon kepada-Nya dengan merendahkan diri) Qs Almukminun : 76Firman Allah :(وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُون ، فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)  [ الأنعام/42 ](Sesungguhnya Kami telah mengutus [rasul-rasul] kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan [menimpakan] kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan). Qs Al-An’am : 42Firman Allah :( وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ) [ الأعراف / 94 ](Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri). Qs Al-A’raf : 94 Meninggalkan doa dalam kondisi krisis merupakan sikap nekat dan terlalu berani dalam berbuat dosa dengan menyepelekan sanksi hukuman Allah yang sangat pedih. Firman Allah :( إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ) [ البروج 12]( Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras ) Qs Al-Buruj : 12 Doa merupakan faktor utama bagi turunnya kebaikan dan keberkahan serta tertangkisnya dan terangkatnya keburukan dari orang yang berdoa. Doa pula sebagai solusi yang dominan untuk melepaskan diri dari persoalan yang terjadi dan kesulitan yang menimpa. Firman Allah :( وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ ) [ الأنبياء / 83-84 ](Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah). Qs Al-Anbiya : 83-84Firman Allah :( أمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ )  [ النمل / 62 ](Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan). Qs An-Naml : 62Tentu tidak ada seorang pun yang mampu berbuat banyak kecuali Allah –subhanahu wa ta’ala- .Firman Allah :( قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ) [الأنعام/63](Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur). Qs Al-An’am : 63Seorang muslim sudah seharusnya mendekatkan diri kepada Allah dalam upaya melakukan perbaikan terhadap segala urusan dan melaporkan segala kebutuhannya kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Hendaklah memohon kepada Allah, apapun yang dibutuhkannya, sedangkan klimaks dari segala permohonan adalah surga dan terhindar dari siksa neraka. Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ  ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ ) رواه مسلم(Wahai hamba-Ku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya kalian Aku beri hidayah. Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan kecuali siapa yang aku beri makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya kalian Aku beri makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah telanjang kecuali siapa yang aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya kalian Aku beri pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya kalian akan Aku ampuni).HR Muslim dari hadis Abu Dzar – radhiyallahu anhu -.Artinya, mintalah kalian petunjuk, makanan, pakaian dan ampunan kepadaKu niscaya Aku penuhi permintaan kalian. Hadits ini merupakan penekanan agar seseorang selalu memohon kepada Allah, sampai dalam persoalan tali alas kakinya dan rasa asin (garam) pada makanannya-pun diperintahkan untuk dimohonkan kepadaNya.Betapa banyak doa yang mampu merubah perjalanan sejarah dari kondisi buruk menjadi baik, dan dari kondisi baik menjadi lebih baik. Firman Allah -subhanahu wa ta’ala- tentang Nabi Ibrahim – alaihis-salam-  :(رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) [البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana). Qs Al-Baqarah : 129 Abu Umamah – radhiyallahu anhu- berkata, aku bertanya, Ya Rasulullah!( مَا كَانَ أَوَّلُ بَدْء أَمْرِكَ؟ قَالَ: “دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبُشْرَى عِيسَى بِي، وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ ) رواه أحمد)Apa sebenarnya permulaan dari urusanmu? Nabi Saw. menjawab, “Doa ayahku Ibrahim, berita gembira oleh Isa mengenai aku, dan ibuku melihat dalam mimpinya telah keluar dari tubuhnya suatu cahaya yang menerangi gedung-gedung negeri Syam”) HR Ahmad.Kaum muslimin selalu dalam kebaikan berkat doa itu. Bumi ini pun mendapatkan keberkahan dari doa mereka. Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh -alaihissalam- membawa keberkahan bagi seluruh orang-orang beriman yang meng-esa-kan Allah, dan mendatangkan bencana bagi kaum pagan [orang-orang musyrik]. Demikian pula doa Nabi Isa –alaihissalam- dan sahabat-sahabatnya yang terkepung di Tursina pada akhir zaman merupakan kemenangan bagi kaum muslimin dan kehancuran bagi Gog dan Magog sebagai bangsa laksana belalang yang bertebaran di bumi, mereka adalah sejahat-jahat mahluk dan paling banyak berbuat kerusakan, keonaran dan arogansi.Disebutkan dalam hadis Annawas Bin Sam’an –radhiyallahu anhu- sesudah Nabi Isa-alaihissalam- selesai membunuh Almasih Dajal :( إذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لاَ يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لِأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لِأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ رضِيَ الله ُعَنهُمْ إلَى اللهِ تعَالى فيَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ عَلَيْهِمُ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ وَهُوَ الدُّوْدُ فَيُصْبِحُونَ مَوْتَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اْلأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِي اْلأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللهِ يَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ تَعَالَى ) رواه مسلمKetika Allah -subhanahu wa ta’ala- mewahyukan kepada Isa –alaihissalam-: Sesungguhnya Aku mengeluarkan hamba-hambaKu yang tidak ada kemampuan bagi seorang pun untuk memeranginya. Maka biarkanlah mereka hamba-hambaKu menuju Tursina. Lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- keluarkan Gog dan Magog yang mana mereka mengalir dari setiap tempat yang tinggi. Gelombang pertama melewati danau Tabariah, dan meminum seluruh air yang ada padanya, hingga ketika barisan paling belakang telah sampai pada danau tersebut mereka berkata: “Sungguh dahulu di sini masih ada airnya.” Ketika itu Nabi Isa –alaihissalam- dan para sahabatnya terkepung, hingga kepala sapi bagi mereka saat itu lebih berharga dari pada seratus dinar kalian saat ini. Maka Isa dan para sahabatnya berharap [berdoa] kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, lalu Allah-pun mengirim sejenis ulat yang menyerang leher mereka. Maka pagi harinya mereka seluruhnya binasa menjadi bangkai-bangkai dalam waktu yang hampir bersamaan. Kemudian turunlah Nabi Isa-alaihissalam- [dari gunung Tursina] bersama para sahabatnya, ketika itulah tidak didapati satu jengkal pun tempat kecuali penuh dengan bangkai dan bau busuk mereka. Maka Nabi Isa –alaihissalam- pun berharap (berdoa) kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Maka Allah lalu mengirimkan burung-burung yang lehernya seperti unta, membawa bangkai-bangkai mereka dan kemudian dilemparkan di tempat yang Allah kehendaki). HR. Muslim Doa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- pemimpin umat manusia bersama sahabat-sahabatnya di Badar merupakan kemenangan bagi Islam secara permanen dan kenistaan bagi kekafiran untuk selama-lamanya. Firman Allah :( إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ) [ الأنفال /9](Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan untukmu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut). Qs Al-Anfal : 9Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- berdoa dengan sepenuh hati di Badar sehingga kain selendang beliau melorot. Abu Bakar- radhiyallahu anhu- mendampingi beliau lalu berkata : Cukuplah sudah Ya Rasulullah apa yang engkau mohonkan kepada Tuhan, karena Allah sungguh memenuhi janjiNya kepada engkau. Doa memohon untuk kemenangan bagi kebenaran dan kehancuran bagi kebatilan merupakan kebulatan hati dalam berbuat baik kepada Allah, kitabNya, rasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin pada umumnya. Oleh karena itu, tidak mungkin meninggalkan doa kecuali orang yang jelas terhalang dari nasib mujur di dunia dan akhirat, yang menyia-nyiakan tugas wajibnya terhadap Islam dan sesama muslim.Di sebutkan dalam hadis :” مَنْ لَمْ يَهْتَم بِأمِرِ المْسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ ““Barangsiapa yang tidak peduli pada urusan kaum muslimin, tidaklah ia termasuk golongan mereka”.Jika kita teliti secara seksama pengaruh doa, keberkahan, kebaikan dan dampak positifnya yang mengagumkan, tentu perlu pemaparan yang panjang lebar. Namun di sini cukuplah apa yang kami singgung di atas.Berdoa tentu ada syarat-syaratnya dan etikanya. Antara lain, hendaknya orang yang berdoa memakan makanan yang halal dan mengenakan pakaian yang halal. Rasulullah –shallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Sa’ad Bin Abi Waqash : “Wahai Sa’ad, bersihkanlah makananmu niscaya doamu terkabulkan”. Di antara syarat berdoa ialah tetap dalam koridor Sunnah Nabi dan mengikuti ketetapan Allah dengan menjalankan perintah-perintahnya. Allah berfirman :(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ) [البقرة/186](Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah], bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah-Ku] dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran). Qs Albaqarah : 186Firman Allah :( وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ) [ الشورى/26](Dan Dia memperkenankan [doa] orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah [pahala] bagi mereka dari karunia-Nya). Qs As-Syura : 26 Perlu diingat, doa orang yang teraniaya adalah mustajabah meskipun dia itu orang kafir atau pelaku bid’ah. Di antara syarat berdoa ialah ikhlas dan kehadiran hati serta kemauan bulat dalam memohon dengan mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ) [ غافر/14](Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai). Qs Ghafir : 14Disebutkan dalam hadis :“Allah tidak menerima doa seseorang yang hatinya lalai dan melayang”.Di antara syarat terkabulnya doa ialah tidak berdoa untuk sesuatu yang berakibat dosa atau pemutusan tali kekerabatan, dan tidak berdoa untuk sesuatu yang melampaui batas-batas kewajaran. Di antara sebab terkabulnya doa ialah memuji Allah dengan menyebut nama-namaNya yang baik (Asmaul-Husna) dan sifat-sifatNya yang luhur serta bershalawat kepada Nabi-shallallahu alaihi wa sallam-.Dalam suatu riwayat disebutkan, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- mendengar seorang lelaki berdoa : ( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد). رواه أبوداود والترمذى(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi segala sesuatu membutuhkan-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak seorang pun yang menyamaiNya). Maka beliau – shallallahu alaihi wa sallam- berkata kepadanya : “ Sungguh kamu telah memohon kepada Allah melalui asma-Nya yang agung yang bilamana seseorang memohon dengannya niscaya diberi, dan bilamana ia berdoa dengannya, niscaya doanya dikabulkan pula.) HR Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Fudhalah Bin Ubaid-radhiyallahu anhu- berkata : Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- sedang duduk, tiba-tiba ada seorang lelaki masuk lalu berdoa :( اللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى )( Ya Allah, ampunilah aku dan kasihanilah aku ), maka Rasulullah- shallallahu alaihi wa sallam- menegurnya seraya berkata : “Kamu terlalu tergesa-gesa hai orang yang sedang berdoa. Jika kamu berdoa lalu duduk, pujilah Allah sebagaimana lazimnya dengan Allah, sesudah itu berdoalah shalawat untukku, lalu memohonlah kepada Allah”. HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Dalam hadis lain disebutkan bahwa doa seseorang senantiasa tergantung di antara langit dan bumi sehingga orang tersebut menyampaikan doa shalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.Di antara etika dan syarat terkabulnya doa, seorang yang berdoa hendaklah tidak tergesa-gesa, tetapi bersabar. Disebutkan dalam hadis, “Akan terpenuhi doa salah seorang di antara kalian selagi tidak tergesa-gesa, sambil bergumam, “aku sudah berdoa, namun belum kunjung dikabulkan juga”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Bersamaan dengan kelanggengan berdoa, akan terkabul doa seseorang. Disebutkan dalam hadis, : “Tidak seorang pun muslim di atas bumi yang berdoa melainkan Allah memperkenankan apa yang diminta atau menghindarkannya dari keburukan yang setara dengannya selagi dirinya tidak memohon sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan tali kekerabatan, maka tiba-tiba ada seorang lelaki yang berkata, “Kalau demikian kami memperbanyak doa. Maka Nabi-sallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Allah-pun akan memperbanyak pemberianNya”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan shahih. Diriwayatkan pula oleh Alhakim melalui jalur Abu Said dengan tambahan redaksi :” أو يَدًّخِرُ لَهُ مِنْ مِثْلِهَا “( Atau Allah mendepositokan baginya kebaikan yang setara dengannya ). Maka seyogianya seorang muslim membidik waktu-waktu yang mustajabah untuk berdoa. Rasulullah- sallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya, “Ya Rasulallah, doa apakah yang paling didengar oleh Allah?”. Beliau menjawab, “Doa di akhir tengah malam dan di setiap selesai shalat fardhu”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan dari hadis Abu Umamah.Dalam hadis disebutkan :( يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ) رواه البخاري ومسلم (Tuhan kita -tabaaraka wa ta’ala- turun pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni). HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Doa di waktu antara azan dan iqamah tidak akan tertolak. Demikian pula pada saat bersujud. Disebutkan dalam hadis,( أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ) رواه مسلم(Keadaan paling dekat bagi seorang hamba kepada Tuhan-nya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah berdoa). HR. Muslim dari hadis Abu Hurairah.Ketika melihat Ka’bah, ketika turunnya hujan, ketika sedang dalam keadaan darurat, setelah mengkhatamkan Al-Qur’an dan setelah bersedekah pun doa seseorang terkabulkan.Betapa besar kebahagiaan, keberuntungan dan pahala bagi orang yang hatinya selalu tersambung dengan Allah –subhanahu wa ta’ala-, yang selalu memohon, mengharap, bertawakal dan meminta pertolonganNya.Sungguh celaka dan terlampau jauh kemusyrikan dan kekafiran orang yang memohon kepada pemakaman dan pekuburan atau menyampaikan hajat hidupnya kepada malaikat atau nabi. Tugas para nabi dan rasul adalah mengajak umat manusia untuk memohon kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- semata, dan memurnikan permohonan hanya kepadaNya. Demikian pula para wali, kita diperintahkan untuk berbuat seperti apa yang mereka perbuat dan meneladani mereka, kita dilarang berdoa, mengharap dan memohon kepada mereka. Firman Allah :( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا )  [ الجن / 18 ](Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping [menyembah] Allah) Qs Al-Jin : 18Firman Allah :( قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا ) [ الجن / 20 ](Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya) Qs Al-Jin : 20Seseorang yang menghilang dan orang-orang mati, tidak ada seorangpun di antara mereka yang bisa memenuhi permohonan yang ditujukan kepada mereka, sebab yang bisa memenuhi dan mengabulkan doa hanyalah Allah -subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ ) [ الرعد/14](Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka). Qs Ar-Ra’d : 14Firman Allah :( وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ ، وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ ، [ الأحقاف/5 – 6](Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari [memperhatikan] doa mereka.  Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka). Qs Al-Ahqaf : 5-6Allah pun berfirman dalam konteks pengisahan tentang pekerjaan-pekerjaanNya :يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ ، إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ) [ فاطر/ 13 – 14 ](Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang [berbuat] demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru [sembah] selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui ) Qs Fathir : 13-14 Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak mengizinkan seseorangpun memohon kepada selainNya meskipan yang dimohon itu malaikat yang dekat kepada Allah.Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman mengisahkan Nabi Isa Bin Maryam –alaihissalam-  :( وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ ) [ المائدة / 72 ]( Al Masih [sendiri] berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun). Qs Al-Maidah : 72 ( مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ )  رواه البخاري(Barang siapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka masuklah ia kedalam neraka). HR. Bukhari dari hadis Abdullah Bin Mas’ud.Saudaraku sesama muslim!          Itulah pesan Kitab Allah dan Sunnah rasulNya –shallallahu alaihi wa sallam- yang menandaskan bahwa doa pada hakikatnya adalah ibadah, Oleh karena itu doa hanya boleh ditujukan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Barangsiapa yang melibatkan seseorang selain Allah dalam doa, maka ia telah melakukan kemusyrikan besar. Maka dalam hal kesesatan dan kemusyrikan ini janganlah ada seseorang yang meniru-niru orang lain, sebab tidak seorangpun terjebak dalam kemusyrikan dan kekafiran kecuali akibat sikapnya yang suka meniru-niru dan mengikuti orang-orang yang tersesat.Firman Allah :( أَذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ، إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ ،  إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ، طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ، فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ ، ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ ، ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ ، إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ ، فَهُمْ عَلَى آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ ) [ الصافات / 62-70](Makanan surga itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka  benar-benar ke neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.) Qs. Ashshafat : 62-70 Firman Allah : ( ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ) ( الأعراف/55](Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas). Qs Al-A’raf : 55Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadaku dan kepada kalian berkat pengamalan Al-Qur’an yang agung !—————–Khotbah kedua Segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih dan Pemurah, Maha Perkasah dan Bijaksana. BagiNya nama-nama yang banik dan indah dengan sifat-sifatNya yang luhur dan agung. Aku bersaksi nahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Agung. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita dan pemimpin kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul pilihanNya.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu, rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang konsisten dalam ketakwaan.Selanjutnya :          Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan memperbaiki amal perbuatan kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang beruntung di dunia sekarang dan di akhirat kelak.Hamba-hamba Allah!          Tetaplah kalian tersambung dengan Allah dengan selalu memohon kepadaNya dalam doa. Tidak akan kecewa orang yang memohon kepadaNya dan tidak akan terhalang dari anugerahNya orang yang mengharapkan karuniaNya.          Kebutuhan hidup setiap menusia akan tetap ada, dengan berbagai macam tuntutan yang muncul setiap waktu. Maka hendaklah setiap individu memohon kepada Tuhannya apa saja yang dinilainya sebagai suatu kebaikan, dan hendaklah berlindung kepadaNya dari apapun yang diduganya mendatangkan keburukan.          Puncak dari permohonan adalah ridha Ilahi dan surgaNya, sedangkan perlindungan yang paling urgen adalah terhindar dari hukuman neraka. Oleh sebab itu sepatutnya setiap muslim bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Tuhan apapun hajat yang mendesak baginya, karena Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha Pemurah dan Maha Terpuji, Maha Dermawan, Maha Agung dan Maha Kuasa.Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ). رواه مسلم (Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal itu tidak menambah apa yang Aku miliki sedikitpun.  Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin, semuanya dalam keadaan paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada padaKu sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya  sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir  semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada padaKu kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan). HR Muslim          Dianjurkan bagi seorang muslim memilih doa sapu jagat yang diajarkan oleh Nabi – shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana dalam ayat Al-Qur’an :( رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )  [ البقرة / 201 ](Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka). Qs Albaqarah : 201Dan doa ma’tsur lainnya seperti :اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.(Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ridha dan surga-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka dan neraka-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya). Hamba-hamba Allah!          Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian dan sampaikan salam kepadanya!.—- Selesai —-Penerjemah: Usman Hatim
Prev     Next